Heng Thian Siau To 5

Eps 5 Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen

Baca online Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen

Cersil Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen.

"Apakah ada larangan bagi orang yang datang ketempat seluas Lo-hu-san ini? Adakah orang harus memberitahukan nama dan maksudnya dahulu baru boleh datang kemari?"

Sahutnya dengan tajam. Ki Ce-tiong terkesiap atas tajamnya mulut sinona itu. Tapi karena urusan itu amat penting, jadi dia tak mau mengalah juga.

"Sewaktu Siau-beng-siang tiba2 menjadi kalap, kau justeru berada disini. Adakah itu kurang pantas, kalau aku bertanya padamu?"

The Ing tertawa menghina, balasnya.

"Ucapan yang tekebur! Kalau aku tak menghiraukan, kau mau apa?"

Saat itu Kiau To yang terluka pundaknya tadi, datang juga melihat ramai2 itu.

Dia adalah seorang berangasan yang beradat keras.

Mendengar penyahutan The Ing yang memanaskan telinga itu, tanpa banyak kata lagi, dia terus ulurkan kelima jarinya untuk mencengkeram bahu The Ing.

Itulah gerak oh-liong-tham-jiau (naga hitam menjulurkan cakarnya), salah satu jurus yang terlihay dari ilmu cengkeram toh-beng-cap-jit-jian ( cengkeraman maut).

Melihat kekurang ajaran orang itu, The Ing makin gusar.

Secepatnya menghindar kesamping, dengan jari tengah dan manis, ia jemput tali cheng-si.

Setelah di-putar2 menjadi beberapa lingkaran merah, terus dilontarkan kemuka.

Kalau lain orang mungkin akan memandang remeh pada tali ceng-si yang sebesar rambut itu.

Tapi Kiau To benar orangnya berangasan, namun dalam ilmusilat, dia juga mempunyal pengetahuan yang luas.

Dalam ilmu permainan ruyung liok-kin-pian-hwat yang diterimanya dari sang suhu Tay Siang siansu, juga terdapat gerakan2 istimewa yang sukar diduga orang.

Melihat gaya melayangnya tall cheng-si itu, dia terkejut juga.

Itulah suatu permainan yang tak dibawah liok-kin-pian-hwatnya..

Cepat dia enjot kakinya loncat rmundur.

Jurus yang digunakan oleh The Ing itu, adalah jurus ceng-ay-ho-sin.

Begitu lawan menghindar kebelakang, cepat iapun turunkan tangan kebawah berganti jurus ham-ceng-meh-meh.

Lingkaran tali cheng-si itu tiba2 menurun ketanah.

Begitu tiba didekat Kiau To, The Ing berganti lagi dengan jurus ceng-hay-seng-bo.

Tahu2 lingkaran tali itu melayang keatas lagi.

Dalam kagetnya Kiau To buru2 menghindar lagi, tapi sesaat itu betisnya terasa terikat kencang untuk kemudian diseret kemuka.

Untuk kesekian kalinya Kiau To terperanjat lagi, bahkan kali ini serasa terbang semangatnya.

Dengan menggerung keras, dia salurkan kekuatannya kebawah untuk gunakan gerak cian-hin-tui (tindihan seribu kati).

Berpuluh tahun dia meyakinkan gerak cin-kin-tui itu, sehingga kedua kakinya itu se-olah2 terpancar kedalam bumi saja.

Tapi karena The Ing menarik, maka akibatnya betis Kiau To itu seperti disayat pisau silet, sakitnya jangan dikata lagi.

Saking marahnya, Kiau To menyabet dengan jwan-pian kearah tali ceng-si.

Ini suatu kekeliruan lagi.

Kalau dia tak begitu buru2 hendak menapas kutung tali cheng-si itu, mungkin saat itu Ki Ce-tiong akan maju menyerang The Ing.

Karena diserang itu, The Ingpun tentu akan kendorkan gubatannya untuk menghadapi Ki Ce-tiong.

Tapi karena dia (Kiau To) telah menghantamnya, bukannya tali itu putus, sebaliknya malah menambahkana daya tarik The Ing.

Seketika itu, betis kirinya yang tergubat tali ceng-si, kelihatan tertarik kemuka bebrapa inci.

The Ing tak sia2kan kesempatan itu.

Liang-cheng-siang-gwat dan ceng-hay-seng-bo, sekaligus dilontarkan ber-turut2.

Bluk......, dihadapan sekian banyak orang gagah dari Lo-hu-san, Kiau To siberangasan yang pernah menjabat pemimpin nomor dua dari Thian Te Hui itu, terjerembab jatuh mencium tanah.

Hinaan itu cukup meledakkan dada Kiau To.

Dan memangnya The Ing itu agak keliwatan juga.

Baru orang tengel2 bangun, atau ia sudah imbuhi lagi dengan gerak ham-ceng-meh-meh.

Tali cheng-si berkeliaran merubung kemuka Kiau To.

Pipi kiri siberangasan itu segera timbul 3 buah bengkak merah.

Kini baru The Ing puas.

Menarik pulang talinya, ia tertawa mengejek.

"Ho...., kukira kawanan hohan dari Lo-hu-san itu lihay2, sehingga main gertak pada setiap orang yang datang pesiar ke Lo-hu-san sini. Tak tahunya kalau mereka itu adalah bangsa kantong nasi belaka!"

Adanya The Ing mengobral olok2nya itu, bukan karena ia dituduh mencelakai Tio Jiang tadi, tapi karena teringat akan pengalaman Tong Ko yang pernah dipaksa bunuh diri oleh orang2 Lohu-san.

Maka ia hendak balaskan sakit hati pemuda yang dikasihinya itu.

Pada saat itu, Kiau To pun sudah bangun berdiri, dengan wajah beriagas dia hendak menyerang lagi, tapi berbareng dengan itu Tio In pun sudah mendahului berseru.

"Jangan lepaskan ia, ia sekaum dengan Tong Ko!"

Atas seruan Tio In, tertumpahlah amarah sekalian orang kepada The Ing.

Para orang gagah yang berkumpul di Lo-hu-san itu, adaIah patriot2 yang menentang penjajah Ceng.

Mereka tinggalkan rumah dan kekayaannya untuk menggabungkan diri ke Lo-husan.

Kebencian mereka terhadap pemerintah Ceng dan segala antek2nya, me-luap2lah sekali.

Dalam anggapan mereka, Tong Ko itu adalah salah seorang kaki tangan penjajah Ceng.

Putera bungsu dari Tio Jiang, mereka tuduh Tong Ko yang membunuhnya.

Maka kalau The Ing itu kawan Tong Ko, itu harus dihajar.

Berpuluh orang gagah2 segera mengepung The Ing dengan senjata terhunus.

Dari cahaya obor, The Ing seram juga melihat wajah orang2 itu sama beringas se-olah2 hendak meminum darahnya.

Cepat ia pasang kuda2, siap menunggu setiap serangan.

Tapi sampai sekian lama, tiada seorangpun yang mulai bergerak.

"Paman sekalian, ayah terang ia yang mencelakai, mengapa tak lekas2 menghajarnya?"

Seru Tio In sembari terus memberi contoh maju menyerang dengan jurus kiang-sim-poh-lou.

The Ing berlaku tenang, sedang Tio In tampak bernapsu, apalagi jurus itu tak seberapa hebatnya.

Baru orang hendak bergerak, The lng telah mendahuluinya dengan sebuah sabatan ceng-hay-seng-bo.

Seketika itu tangan Tio In terasa sakit sekali, tring.......

pedangnya jatuh ketanah.

The Ing tertawa dingin, begitu tangannya bergerak, ia libat pedang orang dengan tali cheng-si terus disentak keatas udara.

Ditingkah cahaya obor, pedang itu bagaikan sebuah meteor jatuh.

Tio In kesima seperti patung.

"Nona Tio, taruh kata aku benar sekaum dengan Tong Ko, toh belum tentu tergolong orang jahat. Bukantah kau sendiri menjadi gadis pujaan Tong Ko?"

The Ing tertawa lagi.

Serangan ini lebih tajam rasanya dari tali cheng-si itu.

Dada Tio In penuh sesak, matanya ber-kunang2, hampir2 ia rubuh coba tidak Kiau To buru2 memapahnya "Lekas katakan, kau apakan Siau-beng-siang Tio Jiang itu?

Kalau Siau-beng-siang bisa sembuh, kita tentu ada pertimbangan yang adil, jiwamu tetap terpelihara!"

Seru siberangasan itu. The Ing tertawa ter-kial2, serunya.

"Garang benar! Ya, memang aku kawan Tong Ko, kalau mau andalkan jumlah banyak, ayuh kalian boleh maju semual"

Jalan menggabung diri kedalam perserekatan Lo-husan, telah tertutup untuk The Ing.

Dia benci akan kelakuan bo-ceng-li dari orang2 Lo-hu-san, sebaliknya orang Lo-hu-sanpun keliru menyangkanya sebagai kaki tangan Ceng.

"Harap saudara2 mundur, biar kuminta pengajaran darinya beberapa jurus!"

Sahut Kiau To atas tantangan The Ing.

Setelah mendorong Tio In kesamping, lalu mainkan jwan-pian sebagai tanda siap bertempur.

Memang The Ing sudah menduga bakal menghadapi pertempu-an berat.

Asal kali ini ia dapat mengatasi Kiau To, mudahlah untuk lolos dari situ.

Tapi baru ia hendak gerakkan talinya, tiba2 orang banyak sama hiruk-pikuk lagi menyisih kesamping.

Kiau To menengoh kebelakang dan didapatinya Siau-beng-siang mengamuk kesitu.

Bebrapa ko-chiu yang mengepungnya tadi, kena dilukai semua.

Orang2 sama menyisih tadi, karena gentar melihat tandangnya.

Hati Kiau To seperti diremas.

Benar tadi ia bentrok dengan Tio Jiang karena urusan Go Sam-kui, tapi tali persaudaraan yang di pupuknya sejak berpuluh tahun itu, telah menganggap Tio Jiang itu seperti saudara sendiri, Apa boleh buat, ia tinggalkan The Ing dulu untuk menghadang Siau-beng-siang.

Tapi berbareng pada saat itu terdengarlah seseorang berseru keras.

"Kiau loji, kasih aku yang melayaninya!"

Ketika semua mata memandang kepada orang itu, ternyata dia seorang lelaki berusid 50 tahun lebih, mencekal sebatang pikulan, sikapnya seperti orang tukang cari kayu digunung.

Ho...., itulah si Hoa-san-kiau-cu Ma Cap-jit.

Ilmu permainan pikulannya itu, berasal dari salah seorang gagah dari perserekatan Liang-san yang bernama Long-cu Yan-ceng.

"Cap-jit-ko, hati2lah!"

Seru Kiau To.

Ma Cap-jit mengiakan, lalu menyongsong maju.

Bluk....., untuk pertama kali Tio Jiang rubuh mencium tanah.

Tio Jiang menggerung keras, begitu, loncat bangun dia terus merangsang Ma Cap-jit.

Tapi Hoa-san-kiau-cu itu tak menjadi gugup.

Begitu dia menghindar kesamping, pikulannya disodokkan kebawah.

Tio Jiang hendak membabatnya, tapi secepat kilat Ma Cap-jit kaitkan pikulan dan blug......, lagi2 Tio Jiang jatuh meloso.

Tio Jiang yang sudah tak ingat siapa2 lagi, makin beringas.

Dia loncat tinggi keatas, Magi masih diudara dia bolang balingkan pedangnya dalam jurus boan-thian-kok-hay, hay-siang-tiau-go dan ceng-wi-tiam-hay.

Bagaikan gunung pedang, roboh kearah kepala Ma Cap-jit.

Keistimewaan ilmu pikulan Hoa-san-kiau-cu itu yalah kalau lawan berada dibawah.

Atas serangan dari udara itu, betul2 dia menjadi gugup.

Apa boleh buat terpaksa ia tangkiskan pikulannia keatas.

Saat2 itu sangat menggelisahkan sekali.

Kalau pedang Siau-beng-siang tiba, tak ampun pikulan akan terpapas kutung dan Ma Cap-citpun tentu celaka.

Untung seketika itu, dari empat jurusan segera meluncur bantuan berupa ber-macam2 senjata rahasia.

Diantaranya yang paling hebat adalah senjata pelor yang dilepas oleh Sin-tan Gong Lian, seorang sahabat Sin-thok Ih Liok yang baru saja setahun yang lalu datang ke Lo-hu-san.

Jago yang berasal dari Shoatang itu seorang akhli Panah pelor.

Wut..., wut..., wut..., 8 butir pelor menghujani Siau-beng-siang.

Orang yang meminum hong-sin-san, walaupun pikirannya sudah kabur, tapi ilmu silatnya tetap tak terpengaruh.

Tio Jiang putar pedangnya untuk menghalau hujan senjata rahasia itu.

Ber-turut2 terdengar suara gemerincing dari benda logam yang tersampok jatuh.

Siau-beng-biang telah dapat menyapu bersih semua senjata rahasia itu.

Salah sebuah pelor darl Sin-tan Gong Lian telah mengenai punggung pedang Tio Jiang, tring....., pelor itu mental kelain arah dan menimpah pundak kawan sendiri.

Pedang Tio Jiang masih berputar, tring...., pikulan Ma Cap-jit terbabat kutung ujungnya.

Membarengi itu, Tio Jiang hendak teruskan menabas lawannya.

Melihat itu Gong Lian lepaskan lagi 8 buah pelor untuk meng-halang2inya.

Sebenarnya kalau semua orang gagah itu maju mengeroyok, Tio Jiang pasti keok.

Tapi yang sulit, tiada seorangpun yang tega untuk melukai Tio Jiang.

Mereka tahu, kelakuan Tio Jiang itu bukan atas kehendaknya sendiri.

Ada belasan orang yang maju lagi, tapi itu hanya penundaan sementara waktu saja, karena tak lama kemudian kembali orang2 itu kena dihajar kocar-kacir oleh Siau-beng-siang.

Kiau To makin gelisah.

Satu2nya jalan untuk menolong Siau-beng-siang yalah harus meringkus The Ing.

Tapi baru dia hendak bergerak maju, tiba-tiba muncullah Yan-chiu dipapah oleh dua orang wanita.

"Ki toako....., Kiau jiko....., kulihat Jiang suko itu macamnya seperti orang minum hong-sing-san!"

Seru Yan-chiu.

Kiau To seperti orang disadarkan.

Memang ketika Kui-ing-cu kalap digereja Ang Hun Kiong dahulu, tingkah lakunya seperti Tio Jiang sekarang.

Itu waktu beruntung mendapatkan obat penawarnya yang tersimpan ditubuh Ti-an Bik-san.

"Siao Chiu, apakah obatnya Kui-ing-cu itu masih ada?".

"Ini harus ditanyakan padanya sendiri. Dia bersama Thaysan sin-thok membuka warung minuman dikaki gunung sana. Lekas suruh orang memanggilnya!"

Sahut Yan-chiu.

"Biar kupergi sendiri!"

Kata Kiau To terus ayunkan langkah.

"Hai, bagaimana, apa tak jadi minta pengajaran dari aku?"

Tegur The Ing.

Kiau To berhenti, tapi dia hanya mendengus sebentar lalu lari kebawah gunung.

Melihat bahwa untuk sementara ini suaminya dapat dibatasi oleh kepungan orang2 gagah, Yan-chiu lalu arahkan perhatiannya kepada The Ing.

Setelah mengawasi beberapa jenak, bertanyalah ia "Siapakah nama nona yang mulia?

Suamiku tiada mempunyal dendaman padamu, mengapa kau kaniaya dia?"

"Namaku tidak mulia, sederhana saja yani The Ing. Memang aku tak mendendam apa2 terhadap Siau-beng-siang, juga tak mencelakainya. Adalah orang2mu itu sendiri yang menuduh serampangan saja!"

Yan-chiu mendapat kesan bahwa nona itu mirip dengan seseorang yang dikenalnya. Waktu mendengar nona itu orang she The, wajahnya segera berobah pucat, tanyanya dengan tandas .

"Entah siapakah ayah nona ini?"

The Ing terkesiap. Ayahnya pesan jangan ia mengatakan nama ayahnya itu kepada Bek Lian tapi tidak apa2 kalau kepada orang lain.

"Ayahku bernama The Go, pada 20 tahun yang lalu, orang menggelarinya sebagai Cian-bin-long kun!"

Serentak mendengar nama itu, naiklah darah Yan-chiu.

Oleh karena tadi ia sudah terluka berat, maka seketika itu juga ia segera muntahkan darah segar, namun dengan ter-engah2 ia paksakan diri berseru .

"Serigala tentu beranak serigala, saudara2 ayuh tangkap budak ini!". Ki Ce-tiongpun terpengaruh, tanpa banyak pikir lagi dia segera memberi komando untuk menyerang. Tiga orang gagah, cepat tampil kemuka. Mereka adalah sanak jauh dari Kang Siang Yan, yani 3 saudara she In. Senjatanya adalah 3 buah kim-kong-gwan (lingkaran baja, macam gelang besar). Tatkala masih digunung Sip-ban-tay-san, The Go sering menceritakan tentang kesesatannya dimasa mudanya, untuk itu dia benar2 menyesal dan insyaf. The Ing percaya penuh bahwa kini ayah-nya sudah bertobat betul2. Maka ia gusar sekali mendengar umpat caci Yan-chiu dan Ki Ce-tiong itu.

"Kalau mau berkelahi, aku sedia melayani. Tapi jangan mengobral caci makian terhadap ayahku!"

Ketiga saudara In itupun sudah siap mengepung The Ing, serunya.

"Kami bertiga saudara, selalu maju berbareng. Terhadap satu maupun seratus musuh, kami tetap begitu. Harap nona jangan tuduh kami main keroyok!"

"Terhadap kawanan babi, aku memang tak dapat memberi komentar apa2 lagi!"

Jawab The Ing sembari mainkan tali cheng-si untuk melingkungi tubuhnya.

Setelah saling memberi isyarat mata, ketiga orang itu lalu ber-suit keras dan mainkan kim-kong-gwan sebentar, terus dilontarkan kearah The Ing.

The Ing terkesiap, mengapa kim-kong-gwan dapat dilepas dan kembali ketangan, si-pemilik lagi?

Cepat ia mendak kebawah, lalu gerakkan jurus ceng-hay-seng-bo.

Sebenarnya dalam permainan tali cheng-si itu, ia baru saja habis meyakinkan jadi belum.

faham betul.

Tadi dicobanya terhadap Kiau To dan dalam percobaan itu ia mendapat pengalaman2 yang berharga lagi.

Maka dalam serangannya yang ini, gayanya makin hebat.

Ternyata ketiga, saudara itu, memiliki kim-kong-gwan yang serupa.

Habis melempar mereka lalu berputar, maka tak heranlah kalau kim-kong-gwan se-olah2 seperti kembali lagi ketangannya.

Serangan The Ing tadi benar dapat mengenyahkan mereka bebrapa langkah jauhnya, tapi dalam sekejab waktu mereka maju merapat lagi.

Demikianlah orang disuguhi dengan pertempuran yang menarik.

Si nona bagaikan seekor kupu2 menari2 diantara hujan kim-kong-gwan.

Benar tali cheng-si itu teramat halusnya, tapi setiap kali berbentur, tentu kim-kong-gwan itu terpental kesamping.

Begitulah pertempuran antara 3 orang lelaki lawan seorang gadis itu berjalan dengan serunya.

Dalam waktu setengah jam saja, pertempuran itu sudah berlangsung sampai tiga empat puluh jurus.

Karena halusnya tali cheng-si itu, maka sukarlah ketiga saudara In itu menjagainya.

Pundak dan lengan mereka bebrapa kali kena tersayat, benar tak parah tapi cukup membuatnya meringis kesakitan.

Sebaliknya The Ing pun nyaris dari bodor kepala, melainkan hanya rambutnya saja yang kena terpapas kim-kong-gwan itu.

Orang2 gagah yang berkumpul di Lo-hu-san itu datang dari seluruh peloksok.

Yang berasal dari daerah utara, sampai meliputi orang2 gagah daerah Kwangwa.

Sedang yang dari selatan, berasal dari Hun-lam.

Tapi tiada seorangpun yang kenal akan permainan The Ing yang aneh itu.

Selagi mereka menikmati dengan penuh perhatian, tiba2 ada orang berteriak.

nyaring .

"Hore, itulah Kui locianpwe dan Thaysan sin-thok sudah datang!"

Siapa tokoh Kui-ing-cu itu, tentulah pembaca sudah maklum adanya.

Dia kini sudah menjadi seoranng kakek berusia 80-an tahun.

Sekalipun begitu, adatnya yang aneh itu, tetap masih dipraktekkan.

Begitu tokoh itu muncul, orang2 yang mengepung Tio Jiang tadipun segera menyingkir.

"Jiang ko-ji, apa2an kau ini? Apa kau sedang marah2 karena bertengkar dengan isterimu?"

Orang aneh itu berdiri dihadapan Tio Jiang sembari tertawa mengikik.

Ya, memang anehlah tokoh itu, masa dalam keadaan segenting itu, ia masih sempat ber-olok2.

Dalam sibuknya, The Ing mencuri kesempatan untuk melihatnya.

Seorang kakek yang pakaiannya penuh tambalan, tampak menghadapi Tio Jiang.

Sikap orang tua itu tiada sesuatu yang luar biasa, kecuali sepasang matanya yang ber-api2, pertanda dia itu seorang akhli Iwekang yang sudah mencapai kesempurnaan.

Benar kata2nya tadi secara bergurau, tapi ternyata kumandangnya melengking nyaring sekali sehingga memekakkan telinga orang.

Sampaipun Tio Jiang kelihatan tertegun sejenak, seperti agak sadar.

Tapi karena hebatnya pengaruh hong-sin-san, pada lain saat dia sudah lantas menyerang tenggorokan orang.

Kui-ing-cu masih mengikik, tegak seperti patung.

Melihat itu semua orang sama mengucurkan keringat dingin.

Tapi Kui-ing-cu adalah seorang cianpwe yang diagungkan kaum persilatan.

Tatkala ujung pedang terpisah hanya bebrapa dim dari tenggorokannya, barulah dia berkisar kesamping.

Tepat dan necis sekali penghindarannya itu, mata pedang yang membawa angin dingin itu, lewat disisi pipinya.

Secepat kilat, dua buah jari Kui-ing-cu menyulur kearah kedua mata Tio Jiang.

Tenang tapi ganaslah gerakan Kui-ing-cu itu, sehingga kalau bukan seorang ko-chiu pasti sukar menghindar dari serangannya itu.

Semua orang sama menahan napas, malah Yan-chiu cepat sudah menjerit ."Kui locianpwe!"

"Ho, ho, jangan kuatir, tak nanti kulukai lakimu ini!"

Sembari bergurau itu, tangan kiri Kui-ing-cu menerkam dada Tio Jiang.

Saat itu pada perasaan Tio Jiang, setiap orang yang dijumpai adalah musuhnya.

Dia rebahkan badannya kebelakang untuk menghindari terkaman jurus song-liong-jiang-cu (sepasang naga berebut mustika) itu.

Tapi Kui-ing-cu sudah memperhitungkan hal itu.

Tangan kanan yang hendak menerkam mata itu, diteruskan kemuka untuk mencengkeram dada orang.

Tapi sudah berulang kali diterangkan, keadaan Tio Jiang itu sudah seperti orang gila, maka tak anehlah kalau dia mempunyai pikiran untuk sama2 mati dengan "musuh"nya itu.

Sembari miringkan tubuh, dia babatkan pedangnya kepundak orang.

Gila benar Siau-beng-siang itu.

Tapi memang demikian ketekadannya.

Biar separoh tubuhnya kena dicengkeram, tapi pundak lawanpun tentu kena terpapas.

Sakti sekalipun tokoh Kui-ing-cu itu, namun pada saat itu tak urung ia terkejut juga.

Sebenarnya mudahlah ia untuk menghadapi serangan itu.

Cukup mengisar kesamping, lalu menghantam, To Jiang pasti tak dapat menghindar lagi, jiwanyapun tentu melayang.

Tapi kalau dia tak mau berbuat begitu, pundaknya tentu akan menjadi korban tabasan pedang.

Namun Kui-ing-cu bukan Kui-ing-cu kalau dia tak dapat memecahkan kesukaran itu.

Berbareng dengan datangnya pedang, diapun sudah mendapat siasat.

Apa boleh buat, dia balikkan lengan, lima jarinya yang bagai kaitan besi itu se-konyong2 merangsang.

Berbareng dengan mengeluarhan bentakan keras, tahu2 tangannya itu sudah menjepit batang pedang.

Kejadian itu hanya berlangsung dalam sekejap mata.

Tio Jiang hanya terpisah setengah meter darinya.

Kalau lain orang mungkin sudah terluka berat rontok pekakasnya dalam karena teriakan Kui-ing-cu yang sedahsyat halilintar memecah bumi itu.

Tapi oleh karena lwekang Tio Jiang sudah bertambah sempurna, jadl dia hanya tertegun sejenak saja.

Pada lain saat, ketika meerasa pedangnya dijepit orang, cepat2 dia menariknya kebelakang.

---oooo---BAGIAN 28 .

MEMBANTU MERINGKUS YANG MENGAMUK DI BALAS TUDUHAN MENGADU DOMBA Melihat Kui-ing-cu dapat merebut kemenangan, dalam kekalahan-nya.

Yan-chiu girang.

Tapi pada lain saat, ia menjadi cemas.

Pedang Tio Jiang yang diterkam Kui-ing-cu itu, adalah pedang pusaka yap-kun-kiam, pedang yang dapat menabas segala macam logam.

Kalau Kui-ing-cu sampai terluka, tiada lain orang lagi yang sanggup mengatasi Tio Jiang.

"Kui locianpwe, hati2lah!"

Seru nyonya itu memperingatkan.

Kui-ing-cu bukan tak tahu bagaimana pedang Tio Jiang itu.

Kalau pedang biasa, sekali tekan dapatlah tentu Kui-ing-cu mematahkannya.

Adanya dia berani mencengkeram pedang lihay itu, karena dengan perhitungan agar Tio Jiang tertegun sejenak dan saat itu Kui-ing-cu akan lepaskan cekalannya untuk mundur kebelakang.

Dalam 20 tahun belakangan ini, kepandaian Tio Jiang sudah mencapai hampir setingkat dengan Kui-ing-cu.

Memang terkesiap Tio Jiang waktu mendengar bentakan menggeledek dari Kui-ing-cu itu, tapi itu hanya sedetik, karena pada lain detik dia, segera tarik pulang pedangnya.

Sudah tentu Kui-ing-cu belum sempat melepaskan cekalannya.

Kelima jari tangannya kiri itu, terpapas kutung!

Bagaimanapun saktinya tokoh itu, namun tak dapat dia menahan kesakitan itu.

Dia loncat mundur seraya berseru.

"Siau Chiu, suamimu itu benar termakan racun hong-sin-san, makanya tenaganya begitu dahsyat. Obat penawarnya sudah kubawa, soalnya bagaimana cara meminumkan padanya!"

Melihat Kui-ing-cu menderita kekalahan, sekalian orang sama pucat.

"Kui-heng, lebih baik kau hajar mampus budak perempuan she The ini. la sudah mengakibatkan banyak saudara2 kita terluka!"

Seru Thaysan sin-tho, Si bongkok yang lihay itu ternyata sudah dapat meringkus The Ing.

Kui-ing-cu dan Thaysan sin-tho Ih Liok sedang minum arak diwarung yang mereka usahakan dikaki gunung.

Sewaktu Kiau To datang dan mengatakan bahwa Tio Jiang keracunan hong-sin-san, Kui-ing-cu cepat masuk kedalam untuk mengambil obat penawar, lalu lari se-cepat2nya keatas gunung.

Ih Liok menyusul, lalu Kiau To.

Begitu tiba, Kui-ing-cu lalu bertanding dengan Tio Jiang.

Waktu Ih Liok datang, Yan-chiu menyongsong dan mengatakan bahwa gadis yang meracuni suaminya itu, adalah anak perempuannya The Go.

Mendengar nama The Go, amarah si bongkok berkobar.

Dahulu tempo pasukan Ceng menyerang markas Hoasan Ih Liok pernah termakan tipu The Go.

Dengan membawa 3 laksa anak buah, dia menyerbu kemarkas Ceng tapi terperangkap.

Puluhan ribu anak buah Hoasan itu, ludas binasa semua.

Kesemuanya itu adalah berkat tipu muslihat The Go yang cerdik.

Saking marahnya, Ih Liok memapas jarinya selaku sumpah akan menuntut balas pada The Go Peristiwa itu terjadi pada 20-an tahun berselang, tapi si bongkok tak pernah melupakannya.

Yan-chiupun benci kepada The Go, tapi masih kalah sengitnya dengan Ih Liok.

Mendengar laporan Yan-chiu itu, serentak dia menghampiri The Ing.

"Saudara In, mundurlah, biar kuringkusnya!"

Mendengar seruan si bongkok itu, ketiga persaudaraan In segera loncat keluar gelanggang. The Ing terkesiap melihat seorang bongkok yang wajahnya kumal seperti tak pernah cuci muka itu.

"Bagus, mau bergiliran ya?"

Tanya nona yang tak tahu siapa si bongkok itu.

"Benar, kau mau apa! Aku si Ih Liok memang tak mau main jujur2an!"

Sahut si bongkok sembari layangkan pukulan.

Saat itu The Ing belum sempat gerakkan tali ceng-sinya, atau tahu2 ia merasa disambar angin dahsyat.

la coba menghindar kesamping, tapi ternyata pukulan lwekang biat-gong-ciang yang diIancarkan si bongkok itu, menggunakan 8-9 bagian dari tenaganya, jadi lingkaran radius anginnya luas sekali.

Benar The Ing tahu dan menghindar, namun tak urung ia terpental sampai setombak jauhnya.

Itupun ia masih ter-huyung2 beberapa tindak lagi baru dapat berdiri tegak.

Marahlah ia, tali ceng-si digerakkan, tapi lawan sudah menghilang dan tahu2 ada angin menyambar dari arah belakang.

Cepat dia memutar tubuh kebelakang dan tampak si bongkok melayang jatuh terlentang, punuknya mengenai tanah, tangannya me-ronta2.

The Ing terkesiap.

Mengapa si bongkok jatuh terlentang, tentulah karena ada seorang ko-chiu membantu The Ing.

Dugaannya jatuh kepada diri Bek Lian.

Serentak mulutnya berseru.

"Nona........"

Belum sampai ia mengucapkan kata "Bek......", begitu punuk menggentus tanah tahu2 tubuh si bongkok mencelat kemuka, menerjang The Ing.

Dalam kagetnya The Ing tak dapat menghindar lagi.

Tadi la sudah diperas habis tenaganya oleh ketiga saudara In kini si bongkok keluarkan permainannya yang luar biasa anehnya, maka seketika itu The Ing rasakan lambungnya kesemutan.

Masih ia coha meronta, tapi si bongkok jauh lebih tangkas.

Memang terhadap kaum pesilatan golongan hek-to (jahat), dia selalu turunkan tangan ganas.

Mengira bahwa The Ing itu seorang kaki tangan Ceng, maka si bongkokpun tak sungkan lagi.

The Ing terus ditelikung tangannya.

Sedikitpun ia tak dapat berkutik lagi.

Peringkusan itu hanya berjalan dalam sesingkat waktu, justeru saat Kui-ing-cu terluka dan loncat keluar tadi.

Maka Ih Liok segera berseru menyuruh Kui-ing-cu menghantam mampus nona yang dituduh menjadi biangkeladi huru hara keributan di Giok-li-nia itu.

Kui-ing-cu merobek secarik bajunya untuk membalut lukanya, lalu berseru.

"Tho-cu, kita berdua sama2 tak berjari, sejenis namanya, kau beresi sendirilah!"

Ih Liok mengangkat tangannya dan The Ing segera rasanya suatu tenaga dahsyat menekan kepalanya.

Mimpipun tidak ia kalau bakal mati secara begitu penasaran dan tanpa ada orang yang menuntutkan balas.

Sebelum mati berpantang ajal atau berusaha untuk menyelamatkan jiwa, adalah pembawaan setiap manusia The Ing menjerit keras2.

la duga, satu2nya orang yang kemungkinan besar berada disekeliling tempat situ, adalah Bek Lian.

"Nona Bek......, ayahku bernama The Go, tolong kasih tahu pada ayahku bahwa aku telah dibunuh oleh orang2 yang tak kenal aturan ini, biar dia menuntutkan balas!"

Serunya. Semoga Bek Lian mendengar, demikian harapan satu2nya. Dengan tangan masih berada diatas ubun sinona, Ih Liok, menyeringai.

"Kalau ayahmu datang, itulah memang yang kuharapkan, ayuh berteriak beberapa kali lagilah!"

The Ing menghamburkan makian "bangsat bongkok, setan jelek."

Dan macam2 lagi.

"Liok-siok, lekas beresi dia, Tio suko tiada yang dapat menahannya!"

Seru Yan-chiu.

Ada obat penawar, tapi tak berdaya untuk meminumkan.

Karena.

kecuali Kui-ing-cu dan Ih Liok tiada seorangpun yang dapat melawan Tio Jiang.

Maka setelah Kui-ing-cu terluka, Tio Jiang seperti kerbau gila mengamuk kesana sini.

"Baik!"

Sahut Ih Liok Tapi baru saja dia hendak turunkan tangannya, tiba2 terdengarlah suara tertawa ter-bahak2.

Suara tertawa yang bernada kejengkelan dan sindiran.

Baik Ih Liok maupun sekalian orang sama terkesiap.

Diatas sebuah batu menonjol disebelah muka sana, tampak tegak seorang anak muda mencekal sebatang golok bengkok yang ber-kilau2 cahayanya.

Orang itu mendongak sembari tertawa.

Kini dia melayang turun.

Mukanya yang cakap, sikapnya gagah, gerakannya yang indah diantar oleh kilau kemilau cahaya golok, telah mempesonakan sekalian orang.

Hanya ada dua nona yang segera berteriak berbareng.

"Engkoh Ko!"

Kedua nona itu bukan lain adalah Tio In dan The Ing.

Memang dewa yang melayang turun itu adalah Tong Ko.

Tong Ko memang seorang pemuda yang cakap seperti Arjuna.

Maka walaupun pemuda itu seorang kerucuk yang tak ternama, Tio In sampai jatuh hati kepadanya.

Hanya dalam waktu setengah tahun saja, sejak dia berjumpa, dengan Ang Hwat cinjin dan diberi petunjuk tentang cara meyakinkan kitab "72 gambar orang semedhi"

Ciptaan Tat Mo cousu itu, kini sudah menjadi seorang Tong Ko baru.

Kaum persilatan daerah Kwiciu pada 20 tahun yang lalu, mempunyai 4 orang datuk yani.

Ang Hwat cinjin, suami isteri Hay-te-kau (Ceng Bo Siangjin) dan Kiang Siang Yan dan Tay Siang siansu.

Menurut hierarkhi (urut2an), Tay Siang nomor satu, Ang Hwat nomor dua dan sepasang suami isteri itu nomor tiga.

Waktu Tong Ko bertemu lagi dengan cin-jin yang menjadi kakek guru The Go itu, Ang Hwat sudah mengasingkan diri selama 20 tahun, jadi ilmunya sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Walaupun tidak seluruhnya faham akan isi kitab pusaka Tat Mo itu, namun dia cukup mengerti.

Maka tak heranlah kalau kemajuan yang diperoleh Tong Ko itu ibarat dikatakan satu hari seribu li pesatnya.

Disamping itu, Ang Hwatpun menurunkan ilmu golok 3 jurus hasil ciptaannya sendiri kepada anak muda itu.

Setelah itu, golok bengkok pi-lik-to diserahkan juga.

Tong Ko menetap di Sip-ban-tay-san untuk bebrapa lama, mematangkan pelajarannya sembari menunggu kedatangan suami isteri The Go dan Siao Lan.

Tapi setelah sampai sekian lama suami isteri itu tak pulang, Tong Ko ambil putusan pergi ke Lo-hu-san.

Disana dia berpapasan dengan Bek Lian dan The Ing.

Buru2 dia mengumpat dibalik sebuah karang.

Pada lain saat tampak Tio Jiang dikepung oleh orang banyak turun kekaki gunung.

Karena tak mengerti duduk perkaranya, dia tinggal diam ditempat persem bunyiannya.

Sampai pada saat The Ing terancam jiwanya oleh si bongkok, barulah dia muncul.

Tertawanya berhasil mencegah tangan maut si bongkok.

Sebenarnya dia tak mau unjuk kesombongan.

Tapi ada dua hal yang menyebabkan dia marah, hal tersebut adalah .

Pertama, karena The Ing menderita panasaran.

Ayahnya yang berbuat jahat, anaknya yang dihina habis2an.

Pada hal kini menurut penglihatannya (Tong Ko), The Go itu sudah insyaf dan kembali kejalan yang lurus.

Kedua, mengingat bagaimana nasib dirinya yang diperlakukan se-wenang2 dan di tuduh menjadi kaki tangan Ceng oleh orang2 Lo-hu-san.

Pada hal dia menjadi korban fitnahan putera Tio Jiang sendiri.

Mengingat kedua hal yang menyakiti hati itu, Tong Ko sudah tumpahkan semua isi kemarahan hatinya dalam nada ketawanya yang sinis tadi.

Tong Ko pun terkesiap, mendengar suara dua orang gadis yang memanggilnya itu.

Dua ada yang berlagu satu.

rindu dendam.

Waktu Tio In dan The Ing berdebat mulut mengenai perhubungannya dengan Tong Ko, jelas diketahuinya bagaimana perasaan hati The Ing itu kepadanya (Tong Ko).

Tapi sewaktu memanggil namanya tadi, nyatalah bahwa Tio In itu sebenarnya tetap menyintai dirinya (Tong Ko).

Karena kehilangan faham, Tong Ko lampiaskan kesesakan dadanya dengan tertawa sampai 3 kali ber-turut2.

Habis itu dia mengerlingkan mata kearah Tio In, lalu menghampiri kearah The Ing.

Saking girangnya, The Ing menjerit .

"Engkoh Ko!". Tong Ko hanya tersenyum, lalu berkata kepada si bongkok.

"Liok-siok, harap lepaskan nona The ini, dia bukan si biang keladi!' Huak, cuh.......segumpal ludah menyembur dari mulut si bongkok, bentaknya.

"Kau bangsa kaki tangan Ceng, jangan, banyak bacot!"

Sebenarnya dapat Tong Ko menghindar dari semburan ludah itu, tapi demi orang mendampratnya sebagai kaki tangan Ceng, terkesiaplah dia.

Marah dan pedih menyesakkan ruang dadanya.

Dibiarkan ludah itu menempel dimukanya dan tertawalah dia se-lapang2 nya.

"Bagus, jempol, sekali lihat dapat mengetahui aku ini seorang kaki tangan Ceng Orang2 Giok-li-nia sini, benar2 gagah perwira!"

Tong Ko hamburkan ejekan dengan nyaring. Kiau To marah, bentaknya.

"Jangan kurang ajar! Siau-beng-siang pernah mengampuni jiwamu, tapi kau balas budinya dengan racun. Nah, kali ini kau tak dapat pengampunan lagi!"

"Siapa yang berani tak melepas aku?"

Serentak Tong Ko berhenti tertawa.

"Aku!"

Seru Kiau To sembari sabatkan ruyungnya.

Kiau To masih tetap tak memandang mata pada anak muda itu.

Tong Ko tertawa mengejek.

Tubuhnya bergerak.

Sesuai dengan namanya pi-lik-to (golok halilintar), maka golok bengkok itupun segera mengeluarkan angin men-deru2 laksana halilintar.

Dengan tangan kiri Tong Ko menghalau ruyung, sedang tangan kanan yang mencekal pi-lik-to segera menghantam.

Kiau To seperti tersambar halilintar kejutnya.

Pertama melihat sinar golok iang aneh bentuknya itu, dia sudah silau.

Lalu ruyungnya dihantam kesamping oleh tangan kiri, makin membuatnya kaget.

Masa tangan kosong dapat dibuat menangkis ruyung.

Tokoh persilatan yang memiliki kepandaian demikian, tak banyak jumlahnya.

Mengapa pemuda kerucuk macam Tong Ko tiba2 berobah begitu sakti.

Sungguh dia tak dapat menerima kejadian yang luar biasa itu!

Pada saat ujung pi-lik-to hampir mengenai dada Kiau To, tiba2 terkilas suatu pikiran pada Tong Ko.

Benar dia telah mendapat hinaan dan penasaran dari Kiau To, tapi orang itu adalah tokoh patriot yang gigih.

Kalau dia bunuh orang itu, berarti suatu kerugian bagi kekuatan kubu2 perjoangan pembebasan negara.

Penasaran adalah urusan peribadi, perjoangan negara diatas segala.

Cepat Tong Ko berpikir, cepat pula dia bertindak.

Tangannia di sentakkan kebelakang, ujung golok batal menusuk tapi sebagai gantinya tangkai golok menghantam pundak lawan.

Seketika itu terjungkallah Kiau To kebelakang, namun dia selamat tak kurang suatu apa2.

Kejadian itu, telah membuat Kiau To kesima.

Selagi Kiau To ter-longong2 karena merasa seperti orang mati yang hidup kembali, adalah Tong Ko sudah melesat kearah Ih Liok sembari memutar pi-lik-to.

Juga tokoh lihay itu terkejut karena tersambar angin keras, buru2 dia lepaskan cekalannya terhadap The Ing, lalu loncat menyingkir dua tombak jauhnya.

"Ha...., ha...., bukannya mencari tahu siapa yang meracuni hong-sin-san pada Siau-beng-siang, sebaliknya kamu orang sembarang menuduh orang. Coba jawab, bagaimana nona The dapat menobros penjagaan kuat untuk meracuni Siau-beng-siang?"

Tong Ko bertanya.

Pertanyaan itu telah membuat sekalian orang tersadar.

Tapi kesadaran mereka itu hanya terbatas bahwa The Ing bukan orang yang meracuni Tio Jiang.

Namun tuduhan mereka bahwa Tong Ko dan The Ing itu kaki tangan Ceng, masih tetap.

Adalah hanya seorang tokoh Kui-ing-cu yang cepat dapat meneropong peribadi Tong Ko.

Dia kagum dan merasa suka akan sikap dan gerak gerik pemuda yang gagah dan berwibawa itu.

Bahwa seorang yang dapat tertawa berkumandang jauh, tentulah seorang gagah yang berpambek luhur perwira.

Tak nanti orang semacam itu bisa menjadi kaki tangan musuh.

"Hai, siapa namamu? Rasanya aku pernah melihatmu". seru Kuiing-cu sembari menghampiri. Tong Ko tahu siapa peribadi Kui-ing-cu itu. Seorang beradat aneh licin, tapi berhati baik. Namun karena kala itu dadanya sudah penuh sesak dengan penasaran, maka dingin2 saja dia menyahut.

"Terima kasih atas perhatianmu. Aku bukan bangsa penjual negara, tapi orang2 gagah disini sama menuduh aku seorang kaki tangan Ceng, ha....., ha............ ha............, ha..........."

Sembari lintangkan pi-lik-to, didada, Tong Ko kembali umbar ter tawanya.

Sesaat itu Kui-ing-cu kehilangan kata2.

Dia mengawasi tajam2 kearah pemuda itu.

Sejenak kemudian, terdenglarlah hiruk-pikuk orang2 menjerit.

Kiranya, Siau-beng-siang kembali melukai dua orang.

"Tong Ko, senjata yang kau pegang itu rasanya adalah golok pusaka kian-thian-it-gwan-pi-lik-to. Hanya dengan golok itulah yap-kun-kiam Tio Jiang dapat diatasi. Asal kau dapat membikin lepas pedangnya, segala apa serahkan padaku!"

Kata Kui-ing-cu. Tong Ko membungkukkan badan, ujarnya.

"Kalau Kui-locianpwe yang menyuruh, tentu akan kuturut!"

Tapi baru dia melangkah maju setindak, tiba2 berpaling dan berseru dengan bengis.

"Barangsiapa berani mengganggu seujung rambut pada nona The, awas, pi-lik-to tak bermata!"

Habis itu, dia berputar lagi. Tapi baru sang kaki hendak melangkah, Yan-ciu berseru dengan nada gemetar.

"Kui locianpwe, jangan suruh dia yang maju!"

Tong Ko cukup memahami kata2 Yan-chiu itu. Nyonyah itu takut kalau Tong Ko membunuh suaminya. Dia hentikan langkah, tertawa keras. Begitu berputar kebelakang, segera dia ajak The Ing.

"Nona The, ayuh kita tinggalkan tempat suci ini"

Tapi rupanya The Ing masih penasaran, sahutnya.

"Engkoh Ko, begini saja kita berlalu, apakah tidak terlalu murah bagi mereka?"

Mata Tong Ko yang ber-kilat2 menyapu kearah Ih Liok dan Yan-chiu, ujarnya.

"Kulihat kawanan orang2 ini, walaupun membabi buta tak kenal nalar, tapi adalah pejoang2 menentang penjajah Ceng. Untuk kali ini biarlah kita mengalah!"

Suatu ucapan yang bernada ejekan jumawa.

Beda dengan dahulu ketika masih rendah ilmunya dia selalu merendah, kini Tong, Ko berobah ke-congkak2an.

Sebenarnya bukan begitu watak Tong Ko.

Hal itu karena luapan hatinya karena dituduh menjadi kaki tangan musuh.

Habis itu, segera dia tarik The Ing untuk diajak pergi.

"Saudara. Tong, tunggu!"

Tiba2 Kui-ing-cu mencegah. Ketika Tong Ko berhenti dan tanyakan maksud orang, berkatalah Kui-ing-cu.

"Tadi kau sudah sanggup untuk menundukkan Siau-beng-siang, kini mengapa kau pungkir janji?"

Tong Ko tertawa dingin, sahutnya.

"Nyonyah Siau-beng-siang yang terhormat, kuatir aku membunuh suaminya. Mengapa aku membuang tenaga yang tak diterima baik malah dicurigai?"

"Benar memang aku kuatir kau melukai Tio suko. A pa sudah lupa bagaimana kau membawa kaki tangan Ceng untuk membakar rumah dan membunuh puteraku?"

Yan-chiu menjawab dengan sengit. Kui-ing-cu memberi isyarat mata kepada Yan-chiu, lalu berseru.

"Saudara Tong, kupercaya kau tentu takkan mencelakai Siau-bengsiang, lekas majulah!"

Tong Ko menghela napas panjang.

"Ada orang yang mengetahui hatiku, matipun aku tak penasaran. Kui Locianpwe, Tong Ko akan melakukan titahmu!"

Sekali melesat, dia sudah loncat setombak jauhnya.

"Orang2 yang mengepung Siau-beng-siang, menyingkirlah!"

Oleh karena kini lwekang Tong Ko sudah tinggi, maka orang2 yang mengepung Tio Jiang sama terkesiap.

Apalagi memang mereka sudah gentar, jadi tak usah diulangi, mereka sudah sama menyingkir.

Kini berhadapan kedua jago itu.

Tio Jiang tegak berdiri, pedangnya masih bergemetaran.

Bagi seorang akhli tahulah sudah apa artinya itu.

Begitu to-hay-kiam-hoat dilancarkan, maka gerak-getarnya sukar dihentikan lagi, laksana ombak samudera mengalir.

Menghadapi seorang jago tua macam Siau-beng-siang, tak urung bercekat juga hati Tong Ko.

Sikapnya yang congkak tadi, hilang lenyap.

Dengan pelahan dia maju dua tindak.

Semua orang sama2 menahan napas.

Pertempuran antara pi-lik-to lawan yap-kunkiam, tentu bakal merupakan pertempuran yang maha dahsyat.

Diantara orang2 yang menguatirkan keselamatan Tio Jiang, adalah Yan-ciu yang paling hebat.

Ia tetap tak melupakan kematian puteranya.

la tetap menganggap Tong Ko itu seorang musuh.

Ah, kalau saja suaminya itu sampai binasa.

Yan-chiu ter-longong2 seperti patung tak berjiwa.

Tangannya geirretar, keringatnya ber-ketes2 keluar.

Melihat itu, buru2 Tio In menghampiri dan menghiburinya bahwa Tong Ko tak nanti mencelakai ayahnya, Yan-chiu dapat dibikin tenang.

Pada saat itu, Tio Jiang dan Tong Ko setindak demi setindak saling menghampiri.

Sepasang mata Tio Jiang merah darah, sikapnya buas.

Begitu jarak masing2 hanya terpisah satu setengah meteran, tangan Tio Jiang melayang.

Bagaikan bianglala, boan-thian-kok-hay menusuk tenggorokan Tong Ko.

Tong Ko tak berani lengah.

Cepat diapun putar pi-lik-to, wut, wut, anginnya menderu2 seperti angin puyuh Orang2 yang berkumpul disekitar gelanggang situ, adalah orang2 persilatan yang sudah belasan tahun makan asam garam golak, dunia persilatan.

Apalagi tokoh macam Kui-ing-cu dan Thaysan sin-tho Ih Liok, sudah ber-puluh2 tahun menyaksikan pertempuran dahsyat.

Pertempuran memakai senjata, sebenarnya sudah jamak.

Tapi tiada seorangpun yang pernah merasakan suasana yang begitu tegang meruncing macam pertempuran Tia Jiang lawan Tong Ko saat itu.

Tringngng......, pi-lik-to dan yap-kun-kiam saling berbentur.

Dering kumandangnya jauh mengaum sampai kelembah-lembah, hingga telinga orang2 serasa pecah dibuatnya.

Tong Ko sendiripun kaget.

Kuatir kalau pi-lik-to menderita kerusakan, buru2 dia loncat kesamping utk memeriksanya.

Kian-thian-it-gwan-pi-lik-to tetap ber-kilau2 memancarkan cahaya rembulan bening, sedikitpun tiada gempil.

Tong Ko lega, dia maju lagi.

Begitu angkat goloknya keatas, dia terus mengguratkan kebawah.

Kini dia mainkan ilmu golok ajaran Ang Hwat cinjin yang chas diciptakan untuk memainkan pilik-to.

Ilmu golok itu hanya terdiri dari 3 jurus saja.

Yang dimainkan Tong Ko yalah jurus pertama yang disebut lui-tong-in-in (halilintar berkumandang gemuruh).

Waktu menggurat turun, pi-likto mengeluar aum.....

kumandang suara angin dan guruh.

Jalannya golok bergoyang kian kemari, penuh dengan perobahan yang sukar diduga.

Karena bentuk golok itu bengkok melengkung, maka Ang Hwat cinjin sepesial menciptakan ilmu permainan yang, terdiri dari 3 jurus.

Hasil karya seorang tokoh kawak macam Ang Hwat, sudah tentu luar dari biasanya, Tio Jiang silau dan mundur selangkah.

Dia gerakkan jurus Tiok Ik cut-hay.

Turut ceritanya, Tio Ik atau Tio Hui dalam jaman Sam Kok, sewaktu menemukan serenceng uang tembaga, lalu dimasak dalam kuali.

Ketika air kuali mendidih, air lautpun turut ber-golak2.

Dari cerita inilah, maka jurus itu diberi nama.

Ketika dilancarkan memang perbawanya seperti air laut bergalak.

Ketika pi-lik-to menabas turun, Tong Ko kisarkan kaki kiri kesamping, tangannya kanan dilambaikan menurun menjadi setengah lingkaran.

Tiba2 dia robah gerakannya dalam jurus lui-tiankiau-co (kilat dan petir saling berbentur).

Ujung golok dipagutkan kebawah, berbareng tubuhnya menurun untuk menghindar pedang lawan.

Serang menyerang itu hanya berlangsung dalam dua jurus, namun indah hebatnya bukan kepalang.

Semua orang sama ter-longong2.

Ketika serangannya menemui tempat kosong, Tio Jiang belahkan pedangnya kebawah, justeru pada saat itu Tong Ko menjungkitkan golok keatas, tring......, kembali dua senjata pusaka itu saling beradu.

Tapi secepat itu, Tong Ko putar tangannya.

Karena bentuk goloknya luar biasa (melengkung), maka putaran itu berhasil mengait pedang lawan.

Sekali kerahkan tenaga, Tong Ko cepat menariknya kebelakang, tapi ternyata Siau-beng-siang tegak laksana sebuah gunung.

"Kui locianpwe, lekas bantu kemari!"

Teriak Tong Ko.

Kui-ing-cupun sudah menginsyafi bahwa sekalipun pemuda itu lihay, tapi untuk merampas pedang ditangan Siau-beng-siang, bukanlah suatu perkara yang mudah.

Diapun memang bermaksud memberi bantuan.

Maka tepat disaat Tong Ko mengucapkan kata2 terakhir, tangan Kui-ing-cu sudah menekan pundaknya.

Sesaat itu Tong Ko rasakan ada hawa hangat mengalir ketubuhnya.

Buru2 dia salurkan hawa murni untuk dipersatukan.

Berkat persatuan itu, sekali sentak dapatlah Tong Ko menarik lepas pedang Siau-beng-siang.

Pedang itu ber-kilau2 laksana sebuah bianglala melayang jauh sekali.

Setelah berhasil, Kui-ingcu dorong Tong Ko kebelakang, lalu julurkan jari menutuk jalan darah dipundak Tio Jiang, Siau-beng-siang gunakan ilmu kin-na-chiu (merampas senjata dengan tangan kosong) untuk menyambar siku lengan Kui-ing-tiu.

Tapi terniata serangan tokoh aneh itu hanya gertakan kosong.

Secepat lengannya ditarik turun, jarinya menusuk jalan darah jwan-hiat (pelemas) dilambung orang.

Tio Jiang menjerit keras, lalu rubuh tak berkutik Sekalian orang sama menarik napas longgar.

Kui-ing-cu cepat merogoh keluar obat penawar.

Tapi baru tangannya menjulur untuk memasukkan obat kedalam mulut Siau-beng-siang, tiba2 matanya disilaukan oleh cahaya kilat.

Saking kagetrrya, dia buru2 menyurut mundur, tapi tak urung segumpal rambutnya terpapas.

Ketika diawasi, ternyata Tong Ko yang melakukan serangan tadi.

Sudah tentu dia tak habis mengerti, tegurnya.

"Siau-beng-siang sudah sementara lama terkena racun, mengapa aku dilarang memberi obat?"

Tong Ko palangkan golok didada, dengan tertawa geram dia rnenuding kemuka.

"Lihatlah!"

Waktu Kui-ing-cu melihat kearah yang ditunjuk Tong Ko, diapun terkejut. Kiranya The Ing sedang dikepung oleh orang banyak. Yan-chiu dengan gemas hendak menyerangkan pedangnya.

"Kui locianpwe, tolong kau sampaikan pada nyonyah Tio, sedikit saja dia berani mengganggu The Ing, Siau-beng-siangpun tak bakal dapat minum obat!"

Kata Tong Ko dengan tertawa mengancam. Kui-ing-cu berpaling menatap anak muda itu, katanya dengan sungguh2.

"Engkoh kecil, lagak kegaranganmu itu, boleh jugalah!"

Tong Ko tertawa, sahutnya.

"Aku didesak begitu oleh orang2, bukan kemauanku sendiri!"

"Engkoh kecil, semoga kau tak mengalami tekanan orang lagi!"

Kata Kui-ing-tiu dengan mendalam. Habis itu dia melesat menghadang Yan-chiu.

"Ada apa lagi?"

Tegurnya. Singkat kata2nya itu, tapi nadanya mengunjuk kurang puas. Yan-chiu yang cerdas sudah tentu dapat memahami, teguran itu, sahutnya.

"Ketika pedang suko terlepas melayang diudara, baru aku hendak loncat menyanggapi, ia sudah merebut dengan tali merahnya. Waktu kuminta, dia tak mau menyerahkan. Apakah aku yang dipersalahkan?"

Ditempatnya yang agak jauh itu, Tong Ko perdengarkan ketawa sinis, serunya lantang2.

"Nonsens, pada sepasang pedang pi-i-song-hong-kiam itupun tak terukir huruf yang menyatakan bahwa mereka adalah milik orang she Tio dan orang she Liau. Nona The, karena kau yang memperoleh pedang itu, tak perlu dikembalikan! Siapa yang berani mengganggu kau. Siau-beng-siang sudah kukuasai!' Selesai mengucap, Tong Ko mendak kebawah, ujung pi-lik-to ditujukan kedada Siau-beng-siang. Sudah tentu Yan-chiu kaget tak terkira, tapi Kui-ing-cu mengedipkan mata kearahnya. Memang dengan kepandaian yang dimiliki sekarang, belumlah cukup bagi Tong Ko untuk menindas orang2 gagah yang berkumpul di Giokli-nia situ. Tapi pertama karena mempunyai golok pusaka, kedua karena pandainya menggunakan kesempatan, maka dapatlah Tong Ko menguasai orang2 itu. The Ing makin girang bukan kepalang, nyata2 anak muda itu memihak padanya. Malah saat itu Tong Ko suruh nona itu datang kedekatnya. Demi keselamatan suaminya, terpaksa Yan-chiu membiarkan nona itu berlalu. The Ing makin mangkak. Jalannya dibikin sedemikian rupa hingga menimbulkan kemarahan orang2, namun mereka tak berani berbuat apa2. Belum lagi The Ing tiba ditempat Tong Ko, sesosok tubuh langsing melesat kesamping Tong Ko dan berseru.

"Engkoh Ko, naikkan sedikit ujung golokmu; jangan terlalu melekat didada ayah!"

Itulah Tio In, Sanubari Tong Ko penuh sesak dengan pelbagai perasaan. Tanpa terasa, dia benar juga naikkan goloknya keatas. Melihat itu Tio In tertawa, kembali dia mengajukan permintaan.

"Engkoh Ko, sepasang pedang pi-i-song-hong-kiam adalah pusaka peninggalan sucouku, harap kau suruh nona The mengembalikan pada ayah!"

Semangat Tong Ko me-layang2, dia tak menyahut apa2 tapi mengangguk. Sepasang matanya terlongong memandang Tio In. Nona itu tundukkan kepala, bisiknya.

"Engkoh Ko, kau tak mencelakai ayahku, dulu aku telah salah faham padamu!"

Karena bisikan itu pelahan, jadi hanya Tong Ko seorang yang mendengarnya. Tanpa disadari meluncurlah dua patah kata dari mulut Tong Ko.

"In-moay!"

Mendengar itu, Tio In berputar kebelakang terus lari.

Tong Ko seperti lapang kesesakan dadanya.

Dia tahu bahwa sekarang gadis pujaannya itu sudah mengetahui peribadinya yang bersih.

Tapi oleh karena saat itu dalam suasana ketegangan jadi tak dapatlah dia menyusul kekasihnya itu.

Dengan hati gundah kelana, dia antar kepergian nona itu dengan sepasang sorot matanya yang mengandung beribu arti!

The Ing melihat jelas apa yang terjadi diantara Tong Ko dan Tio In tadi.

Walaupun hanya tukar pembicaraan sebentar, tapi nyata kalau Tong Ko masih berkobar asmaranya kepada puteri Siau-beng-siang itu, The Ing tahu bahwa tadi tentulah Tio In membujuk Tong Ko agar pemuda itu menyuruhnya (The Ing) mengembalikan pedang yan-kun-kiam itu kepada Tio Jiang.

Hatinya serasa rawan pilu, dan pedang yap-kun-kiam itu segera dibanting menancap kedalam tanah.

Tong Ko berpaling dan beradu mata dengan puteri The Go itu.

Mengacai pancaran sinar mata Tong Ko, lemas lunglailah sendi perasaan The Ing, bagaikan sebuah layang2 putus tali Kiranya pada sorot mata Tong Ko itu memancarkan sinar minta maaf.

Benar permintaan maaf itu dikarenakan Tong Ko terpaksa memintanya mengembalikan pedang itu, tapi hal itu tak layak dilakukan terhadap seorang kekasih.

Jadi nyatalah bahwa perasaan Tong Ko yang dikandung terhadap Tio In berlainan dengan yang ditujukan kepadanya.

Teringat ia akan pesan ayahnya (The Go), supaya dia jangan rapat perhubungan dengan Tong Ko.

Mungkin ayahnya yang mempunyai pandangan tajam itu sudah dapat mengetahui bahwa Tong Ko itu seorang pemuda yang setia-cinta.

Mungkinlah ayahnya itu kuatir jangan2 ia (The Ing) hanya akan menubruk bayangan kosong saja Lewat bebrapa saat kemudian, harulah Tong Ko ajak The Ing meninggalkan tempat itu.

The Ingpun mengiakan, terus mendahului berjalan.

Tong Ko melihat sejenak kearah orang2 itu.

Tampak disana Tio In menelungkupi bahu mamahnya, rupanya sedang ter-isak2 menangis.

Kui-ing-cu tengah mencekoki mulut Tio Jiang, dengan obat penawar.

Sekalian orang sama mengawasi kearah Siaubeng-siang.

Ah......., betapa inginnya Tong Ko menggabung diri dalam rombongan orang2 gagah patriot itu, berjoang melawan penjajah Ceng.

Tapi dalam prakteknya, tak mungkin dia diterima dalam kalangan mereka.

Berpikir begitu, buru,buru Tong Ko menyusul The Ing.

Tapi baru berjalan 3-4 tombak jauhnya, tiba2 dia teringat sesuatu, lalu berpaling dan berseru.

"Kui locianpwe, peristiwa Siau-beng-siang keracunan itu, sebenarnya tak aneh, memang cumi2 dalam rumah sukar dijaga!"

Memang orang2 gagah itu tak mengerti mengapa Siau-beng-siang sampai terminum racun jahat itu.

Waktu mendengar peringatan Tong Ko, tadi, mereka terkejut sekali.

Benarkah ada pengkhianat dikalangan dalam?

Sebenarnya tepat sekali saatnya, Tong Ko memberi peringatan itu.

Tapi lagi2 Yan-chiiu, wanita yang sudah tercengkeram oleh prasangka jelek itu, menyahut dengan sengit.

"Tong Ko, apa kau masih tak mau lekas2 enyah, masih mau mengadu domba lagi?"

Tajam, sekali pengaruh kata2 Yan-chiu itu.

Kecurigaan sekalian orang, lenyap seketika.

Tong Ko tertawa keras lalu melangkah pergi.

---oo(dwkz)0(kupay)oo---BAGIAN 29 .

MELUNASI HUTANG Kira2 dua jam berjalan dia dan The Ing sudah keluar dari Lo-hu-san.

Kala itu rembulan purnama.

Lapisan mega tipis sayup2 bertebaran melalui dewi malam itu.

Untuk melonggarkan kemengkelannya, Tong Ko mainkan goloknya dalam ilmugolok ajaran Ang Hwat cinjin.

Lui-tong-in-in, lui-tian-kiau-co, hong-luiki-seng, 3 jurus lengkap dia mainkan sampai selesai.

Sewaktu mengakhiri permainannya, Tong Ko papaskan goloknya kesebuah batu besar.

Tring......., terbelah batu besar itu menjadi dua.

Tong Ko maju mendekati dan menghantam lagi.

Dua belah batu itu, terhantam menjadi empat belah.

Setelah puas, barulah Tong Ko lintangkan goloknya dimuka dada.

Dengan tertawa dia berpaling, tanyanya.

"Nona The, kemana kita hendak pergi ini?"

The Ing tahu bahwa hati anak muda itu sedang gundah resah, maka iapun menyahut.

"Terserah padamu, hanya saja aku ingin sekali berjumpa dengan ayah dan mamahku!"

"Aku bagaikan seekor burung, empat penjuru lautan ini adalah rumahku. Baik, mari kita menuju ke Sip-ban-tay-san!"

Menjelang malam, mereka baru mencari rumah penginapan.

Keesokan harinya mereka lanjutkan perjalanan lagi.

Selama dalam perjalanan itu, mereka menuturkan pengalaman masing2 sejak berpisah.

Setelah jelas mengetahui bahwa anak muda itu masih tetap menyintai Tio In, maka sengaja The Ing perlambat perjalanannya.

Pertama karena ia berduka, kedua supaya dapat lebih lama berkumpul dengan Tong Ko.

Perjalanan ke Sip-ban-tay-san itu hampir memakan waktu satu bulan.

Begitu mendorong pintu rumah The Go, segera Tong Ko berseru.

"Ang Hwat cianpwe, aku sudah kembali!"

Tiada penyahutan. The Ing menyatakan herannya mengapa kedua ayah bundanyapun belum pulang, Tong Ko menghiburnya barangkali ayah bunda The Ing itu masih ada lain urusan.

"Engkoh Ko mengasohlah dahulu, biarlah kutangkapkan dua ekor ayam hutan untuk santapan!"

Kata The Ing terus menuju keluar.

Belum sempat Tong Ko mengiakan, atau The Ing kedengaran menjerit kaget.

Cepat Tong Ko loncat memburu.

Diatas dahan sehatang pohon lengkeng tua yang separoh bagian sudah kering, tampak ada sesosok tubuh bergelantungan dengan kaki diatas.

Puhun itu ada 6-7 tombak tingginya dan tubuhnya ber-goyang2 tertiup angin, jadi tak kelihatan jelas air mukanya.

"Aneh, pohon lengkeng itu sudah lama layu kering. Ketika masih kecil aku pernah memanjat dan putuslah dahan yang kuinjaknya. Ilmu gin-kang siapa yang dapat naik sedemikian tingginya?"

Kata The Ing. Setelah mendongak mengawasi sejenak, baru Tong Ko berkata.

"Nona The, ilmu ginkang orang itu memang sempurna, orang yang tergantung dipuhun itu sudah mati. Setelah mati, baru orang itu digantung!"

Jadi dapat dibayangkan bagaimana lihay ginkang orang itu.

"Ang Hwat cinjin?"

Seru The Ing dengan kagetnya. Tong Ko menggeleng.

"Ang Hwat cinjin tak nanti berbuat begitu, mari kita naik memeriksa keatas!"

Tong Ko enjot tubuhnya naik kesebatang dahan, tapi baru sang kaki menginjak, dahan itu segera patah.

Tong Ko cepat mencapai dahan lainnya sebelah atas, tapi dahan itupun patah dan jatuhlah Tong Ko bersama dahan itu.

"Engkoh Ko, separoh bagian dari pohon itu entah sudah berapa tahun kering kerontang, memang sukar dipanjat!"

"Aneh, mengapa dahan yang dibuat menggantung orang itu tak putus? Kita harus memeriksa keatas!"

"Untuk memanjat keatas, mudah saja. Kita harus melalui bagian batang yang tidak kering!"

Tong Ko lakukan usul itu dan tak lama kemudian dapatlah dia tiba dipuncaknya, tapi masih terpisah 2 meteran dari tubuh mayat itu.

Namun dari situ dapat dilihatnya jelas keadaan korban itu.

Umurnya kira2 50-an tahun, memelihara janggut pendek yang menjikrak.

Sikapnya menandakan seorang persilatan.

Kiranya dahan yang dibuat menggantung orang itu, bukan dahan puhun tapi sebatang tiang besi yang ujungnya dimasukkan kedalam batang puhun.

Sepintas pandang, tampaknya memang seperti dahan kering.

Tong Ko loncat keatas dan menurun mayat itu.

Tubuh korban itu tak terdapat luka apa melainkan punggungnya terdapat sebuah telapak tangan.

Inilah yang menyebabkan kematian orang itu.

Tong Ko belum pernah mendengar tentang akhli silat yang begitu hebat pukulannya.

"Nona The, mungkin si pembunuh belum jauh dari sini, ditilik dari kepandaiannya rasanya kita masih dibawahnya. Lebih baik kita ber-hati2, siapkan senjatamulah!"

Kata Tong Ko.

The Ing mengatakan bahwa tali cengsi-nya sudah siap segala waktu.

Tapi mencari kesekeliling situ sampai sekian lama, mereka tak bertemu dengan jejak apa2.

Terpaksa mereka kembali kedalam pondok lagi.

Baru The Ing hendak membuka mulut atau Tong Ko cepat memberi isyarat tangan supaya diam, karena, didengarnya dikamar sebelah ada suara orang tidur mendengkur.

Cepat dia mendorong pintu dan dapatkan diatas balai2 bambu tidur seorang gemuk dengan pulasnya.

Tong Ko belum pernah melihat orang itu.

"Ai, rasanya aku pernah kenal dianya!"

Kata The Ing.

Dan karena suara The Ing itu maka menggeliatlah orang itu bangun.

Dia memandang kearah kedua anak muda itu.

Tampak jelas bagaimana sorot matanya bersinar ungu.

Teringat akan telapak tangan ungu yang terdapat pada punggung mayat dipuhun itu, Tong Ko dan The Ing terkesiap.

"Hai, kau siapa, mengapa seenaknya sendiri tidur diranjang ayah ku?"

Tegur The Ing. Orang itu tertawa sahutnya.

"Aku selalu bebas berbuat sesukaku, sedang Tay Siang siansu saja tak dapat mengganggu usik diriku, masakan seorang budak perempuan berani usilan?"

Waktu orang itu mengungkit nama Tay Siang siansu, sesaat teringatlah The Ing sewaktu ia bersama Bek Lian melarikan diri dari kejaran Liat Hwat cousu digunung Lo-hu-san tempo hari.

Ia menjumpai Tay Siang siansu sedang duduk berhadapan dengan seorang gemuk.

Benar Tay Siang itu waktu tak memberi tahu, tapi pernah ayahnya (The Go) mengatakan sesuatu tentang orang itu.

Maka siraplah amarahnya dan berseru "Kau..."

Tapi belum ia lanjutkan kata2nya, Tong Ko sudah menyelutuk.

"Yang tergantung diatas puhun itu, apakah tuan yang melakukankan?"

Orang itu menguap dulu, baru acuh tak acuh menjawab.

"Benar, orang itu bergelar Tiat-pi-tong-kak Cin Gun!"

Tong Ko terbeliak. Tiat-pi-tong-kak (lengan besi kaki tembaga) Cin Gun, seorang tokoh kenamaan di daerah Kwisay yang sangat dihormati orang karena kemuliaan budinya.

"Mengapa kau mencelakainya?"

Tegur Tong Ko. Kembali orang itu menguap seperti oraang masih ngantuk, ujarnya.

"Untuk membunuh orang, masa harus mencari alasan? Tempo hari aku kena diakali si keledai gundul Tay Siang, diajak adu bersemedhi. Sudah tentu karena dia seorang paderi, aku tak dapat menang. Syukur kala itu datang seseorang membantunya untuk memukul aku, sehingga aku dapat keluar dari perangkapnya untuk meng-gantung2i orang, ha....., ha....., senang senang sekalii......!' Bagi orang itu menggantungi orang sudah menjadi hobbynya. Habis berkata kembali dia tampak menggeliat, justeru telapak tangannya menghadap kemuka. Tong Ko melihat jelas bagaimana telapak tangan orang aneh itu berwarna ke-ungu2an. Orang aneh, kepandaian aneh dan tingkah laku yang aneh pula.

"Cin Gun dihormati oleh kaum persilatan, apakah kau tak kuatir ada orang menuntut perhitungan padamu?"

Tanya Tong Ko pula. Habis menggeliat, orang itu tundukkan kepala dan matanya seperti tertumbuk pada pi-lik-to. Serentak mulutnya memuji.

"Golok bagus"! Seenaknya sendiri, dia ulurkan tangan, ujarnya.

"Berikan padaku!"

Tong Ko tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang tokoh sakti yang menyangsikan kelakuannya.

"Cunke, jangan ber-olok2!"

Serunya sembari mundur.

"Siapa yang ber-olok2 denganmu. Kalau tak mau memberikan kaupun tentu akan kugantung dipuhun tua itu supaya dapat menikmati pemandangan alam Sip-ban-tay-san sini!"

Bentaknya dengan marah.

Tong Ko yang selama itu tak lepaskan matanya kepada orang aneh itu, memperhatikan bahwa setiap kali tangan si gemuk itu diangkat naik.

tentu warnanya makin tua.

Selama digembleng dan diwejang ilmu silat oleh Ang Hwat cin-jin, baik kepandaian maupun pengetahuan Tong Ko mengenai ilmu itu, bertambah maju dan luas.

Dia yakin tangan ungu dari si gemuk itu tentu termasuk jenis lwekang yang sakti, kemungkinan besar sangat jahat.

Setelah menolak permintaan orang, dia mundur sembari isyarat anggukan kepala kepada The Ing.

Maksudnya suruh nona itu juga ikut mundur, tapi ternyata malah runyam.

Sememangnya The Ing sudah benci melihat kecongkakan orang itu.

Maka demi tampak Tong Po mengangguk, ia mengira kalau pemuda itu suruh dia turun tangan.

Tanpa berayal lagi, dia segera lambaikan tali cheng-sidalam gerak ceng-hay-sen-boh.

Ratusan lingkaran kecil warna merah segera bergelombang menabur kearah muka si gemuk.

"Nona The......"

Tong Ko menjerit kaget, tapi belum sempat dia lanjutkan kata2nya, orang gemuk itu dengan malas2an menyambar tali itu.

Seketika permainan tali cheng-si dalam jurus ceng-hay-sen-boh yang dahsyat itu, tak dapat digerakkan alias macet.

Sekali orang itu menarik tangannya keperut, The Ing seperti ditarik kemuka, jatuh tertelungkup kearah ruangan dalam.

Tong Ko bertindak sebat.

Cepat dia hantamkan pi-lik-to, begitu tali cheng-si putus, dia segera tarik tangan The Ing untuk diajak loncat keluar.

Untung dia berlaku sebat, karena sesaat itu terasa ada hawa amis menyambar, bau yang memaksa orang muntah2.

Tapi karena sudah berada diluar, mereka tak sampai begitu.

Jelas bahwa hawa amis itu, keluar dari telapak tangan si gemuk yang ungu itu, suatu tok-ciang (ilmu pukulan beracun) yang jarang terdapat.

Pada saat Tong Ko hendak mencari siasat menghadapi si gemuk jahat itu, tiba2 ada orang berseru diluar pintu.

"Nona The apa dirumah? Leng-cun (ayahmu) suruh aku mengantarkan surat kemari!"

Tong Ko seperti kenal dengan suara orang itu. Dia terkejut mengapa orang itu hendak mencari The Ing. Juga The Ing tak terkecuali herannya.

"Nada suara orang itu tak asing rasanya, mengapa ayah menyuruhnya kemari? Mari kita keluar menjenguknya!"

Katanya.

"Habis bagaimana dengan orang gemuk didalam kamar itu?"

Tanya Tong Ko.

The Ing mengintip kedalam dan tampak orang aneh itu menggeliat lalu terlentang tidur menggeros lagi.

The Ing segera ajak Tong Ko keluar menerima surat itu lebih dahulu.

Seorang yang mengenakan pakaian opsir Ceng dan seorang tinggi besar, tengah menggendong tangan berdiri membelakangi pintu.

Rupanya mereka tengah menikmati aIam pegunungan disitu.

"Siapa yang hendak menerimakan surat padaku?"

Tegur The Ing. Kedua orang itu serentak sama berputar diri. Tapi demi melihat Tong Ko, siorang tinggi besar itu segera berseru keras.

"Bagus, kau juga disini!"

"Ai, kiranya kau!"

The Ing pun tak kurang kagetnya demi mengetahui bahwa orang itu bukan lain sipemuda berumur 20-an tahun yang sudah menduduki jabatan sebagai tay-lwe ko-chiu (jagoan istana), si Cek-cing-long Shin Hiat-ji.

Anak itupun terperanjat melihat The Ing.

"Oh, kiranya nona itu adalah puterinya The sute, maaf karena belum mengenal tempo hari sudah kesalahan tangan. The sute mengirim sepucuk surat, harap nona terima!"

Secepat Hiat-ji dapat menguasai getar wajahnya, dia lantas memulai buka pembicaraan. The Ing terkesiap, serunya.

"Ngaco, apa katamu? Ayahku suruh kau kemari menyerahkan surat?"

"Benar,"

Hiat-ji tertawa, The Go yang dahulu dikenal orang sebagai Cian-bin-long-kun, kini sudah menjadi murid suhuku Liat Hwat cousu, ketua sebuah partai di Tibet.

Dengan begitu, walaupun aku lebih muda, tapi karena aku yang menjadi murid terdahulu, jadi.

dia menyebut aku suheng!"

The Ing tak percaya pendengarannya.

"Jangan mengoceh tak keruan. Ayahku mana sudi campur gaul dengan kamu kawanan bebodoran ini?"

Hiat-ji tak marah, katanya.

"Harap nona jangan marah2, bacalah suratnya dan kau tentu akan percaya!"

Dari saku bajunya, Hiat-ji mengambil sepucuk surat terus diserahkan pada sinona.

The Ing bersangsi, ia berpaling menghadap kearah Tong Ko dan tak mau menyambuti surat itu Tong Ko berapi2 matanya memandang.

pada Hiat-ji.

Sebentar lagi dia hendak menyelesaikan rekening-hinaan yang diutangnya dari anak itu.

Tapi demi dilihatnya surat itu bercoretkan tulisan yang indah garang, dia tak ragu lagi.

"Nona The, surat itu benar tulisan ayahmu!"

Serunya.

Ketika The Ing berpaling, memang benar apa yang dikatakan Tong Ko itu.

Dengan perasaan sangsi, surat itu disambutinya dan astaga, kiranya memang benar tulisan ayahnya.

Surat itu berbunyi demikian.

Kepada anakda Ing .

Harap anakda ketahui, bahwa putusan ayah untuk kembali menakluk, sungguh bukan pura2.

Lekas datang jangan ayal menemui aku.

Ayahmu The Go.

Uruf2-nya yang indah garang itu, memang buah tangan The Go.

The Ing terkesiap sejenak.

Diulanginya membaca sekali lagi.

Wajahnya berobah merah putih, penuh dengan seribu kesangsian.

Tong Ko menghampiri turut membaca.

"Gila, mengapa terjadi begini? Ah, tak mungkin!"

Serunya. Hiat-ji tertawa dingin, memberi komentar singkat.

"Saudara Tong, surat itu menjadi bukti yang berbicara!"

Melihat cecongor anak itu, amarah Tong Ko meluap-luap.

Walaupun perkenalannya dengan Cian-bin-long-kun tak berapa lama, tapi dalam waktu yang sesingkat itu dia sudah mengetahui jelas bagaimana peribadi ayah The Ing itu.

Tong Ko tak percaya barang serambutpun, bahwa The Go sudi bertindak menjadi pengkhianat lagi.

Tapi seperti yang dikatakan Hiat-ji, surat itu merupakan bukti hitam diatas putih yang tak dapat dibantah lagi.

Ketika dia mengamat2i sampulnya, ternyata pada tutup sampul itu tertera sebuah huruf "Sam" (tiga).

Memang pada jeman dulu, orang suka memberi sesuatu tanda tulisan diatas surat, agar pengantar surat itu atau lain orang tak sembarangan berani membuka mencuri baca isinya.

Tapi mengapa The Go juga membubuhi tanda itu, pada hal yang disuruh mengantarkan adalah Hiat-ji?

Dengan kecurigaan itu dia menanyakan The Ing.

"Nona The, lengcun menulis huruf "sam"

Pada tutup sampul, apakah artinya itu?"

The Ing teringat sesuatu bisiknya dengan pelahan.

"Benar, ayah sering bilang padaku, dalam keadaan genting, orang bisa menuliskan maksudnya secara rahasia dalam sebuah surat. Dengan adanya tanda huruf "sam"

Itu, ayah tentu menyuruh aku membaca setiap huruf yang ketiga. Disitulah terdapat maksud yang sebenarnya dari ayah!"

Tong Ko mulai membaca lagi menurut peraturan itu.

Huruf ketiga dari setiap perkataan, dia ambil keluar.

Huruf ketiga dari baris pertama yalah "Ing".

Huruf ketiga pada baris kedua dan selanjutnya adalah "ketahuilah", lalu "ayah"

Lalu "menakluk", lalU "pura2", lalu "jangan"

Dan terakhir "kemari". Apabila kedelapan huruf itu dirangkai maka terdapatlah pesan begini.

"Ing ketahuilah. A yah menakluk pura2 jangan kemari!"

Setelah yakin akan maksud sebenarnya dari surat itu, segera Tong Ko memberi isyarat mata kepada The Ing, bisiknya.

"Kau beresi si opsir, aku si Hiat-ji, biar mereka tak dapat pulang se-lama2nya!"

The Ing mengerti. Dengan tertawa-tawa, ia menghampiri Hiat-ji, ujarnya dengan ramah.

"Ya, memang surat dari ayahku, terima kasih!"

Sudah tentu Hiat-ji tak mengetahui mengapa sikap The Ing kini mendadak berobah seratus derajat. The Ing berpaling kepada si opsir dan tanyanya.

"Tuan opsir yang entah siapa namanya, aku membilang banyak terima kasih juga padamu!"

Selagi siopsir masih main aksi ke-sombong2an, The Ing sudah gerakkan tali merahnya dalam jurus ceng-hay-seng-boh.

Tahu2 leher siopsir itu serasa terlibat dengan tali tajam.

Sekali tangan The Ing menyentak, tanpa berkuik lagi opsir itu rubuh tak bernyawa!

Sementara itu, Tong Kopun maju menghampiri Hiat-ji dan berkata dengan dingin.

"Shin tayjin, urusan diantara kita berdua, sebaiknya juga diselesaikan sekarang!"

Hiat-ji tersenyum ewah, ujarnya.

"Sebenarnya setelah The Go menakluk kepada kerajaan Ceng, kau dan nona The seharusnyapun mengikuti tindakannya itu. Tapi kalau kau berkeras hendak menyelesaikan hutang itu, akupun terpaksa melayani juga!"

Tong Ko lintangkan goloknya pe-lahan2 kedada, setelah melepas tertawa, berserulah dia dengan girang.

"Shin tayjin, kau sungguh menolong mukaku!"

Kata2nya itu ditutup dengan sabetan pi-lik-to.

Tadi sebenarnya Hiat-ji pun sudah mengetahui bahwa golok ditangan anak muda itu sebuah senjata pusaka.

Tapi dikarenakan kesombongannya, dia sudah tak mau memandang mata.

Dia tetap mengira, lawannya itu adalah pemuda Tong Ko dahulu.

Mundur selangkah, dia gunakan tangan kosong gong-chiu-kin-na-tihiu untuk merebut senjata lawan.

Karena bencinya terhadap pemuda pengchianat itu, sekali gebrak Tong Ko sudah keluarkan jurus hong-lui-ki-seng, jurus yang paling lihay dari ilmugolok 3 jurus itu Golok itu menyemburkan badai dan kilat yang men-deru2.

Demi melihat Hiat-ji dengan sombongnya menggunakan tangan kosong, dengan tertawa gelak2 Tong Ko ber-putar2 memainkan golok pusakanya.

Belum reda suara ketawanya itu atau Hiat-ji sudah menjerit ngeri.

Tong Kopun lantas menarik pulang goloknya dan mengawasi keadaan lawan.

Hiat-ji ter-huyung2 jatuh kira2 8 tindak jauhnya, mukanya pucat seperti kertas dan yang mengerikan lengan kanannya sudah hilang "Shin tayjin, dengan membayar sebuah lengan ini, rasanya hutangmu itu masih belum lunas!"

Tong Ko tertawa dingin. Karena sakitnya, sebenarnya dengan wajah pucat mayat Hiat-ji sudah menunggu ajalnya. Tapi tiba2 matanya tertumbuk akan sesuatu bayangan dan berserulah dia keras2.

"Toa-supeh, kiranya kau berada disini. Kedatangan suhu kali ini keselatan, sebagian besar adalah untuk mencarimu!"

Tong Ko berpaling kebelakang. Si gemuk tadi kiranya sudah berdiri diambang pintu sambil molat molet (bergeliat).

"Kau ini anak murid siapa, mengapa mengomong tak keruan!"

Tegurnya.

Sewaktu kedua orang itu berbicara, Tong Ko merasa bakal terjadi sesuatu hal.

Cepat dia hampiri The Ing untuk bahu membahu menunggu setiap kemungkinan.

Tampak Hiat-ji paksakan diri untuk menyahut.

"Toa............... supeh, aku adalah.......muridnya Liat Hwat cousu............... apa kau sudah membalaskan sakit hati kedua suheng?"

"Hem, baru saja aku tiba di Lo-hu-san dalam perjalanan ke Kwitang, aku sudah ditantang adu semedhi oleh seorang paderi bangsat, dan itu telah menghabiskan waktuku sampai 10 tahun!"

Kata orang itu.

Memang si gemuk itu bukan lain adalah toa suheng dari Liat Hwat cousu.

Sepuluh tahun yang lalu dia berangkat dari Tibet untuk menuntutkan balas bagi kedua muridnya suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay, yang telah dibikin lumpuh punah kepandaiannya oleh Tay Siang siarisu.

Tapi begitu pergi, dia tak ada kabar beritanya lagi.

Sebenarnya Hiat-ji sudah tak kuat, hanya karena melihat munculnya sang toa-supeh yang tak di-duga2 itulah maka dia kuatkan, diri untuk memanggil.

Tapi habis itu, diapun segera rubuh terkulai tak bernyawa lagi.

Melihat sutitnya (murid keponakan) binasa, orang itu mengicupkan mata kearah Tong Ko.

Tong Ko tahu apa artinya itu dan pe-lahan2 dia kisiki The Ing mundur kebelakang.

"Shin-sutit tak dapat ditolong Iagi, diantara kalian berdua, siapa yang mengganti jiwa?"

Tanya si gemuk. Tong Ko tertawa, dingin, sahutnya.

"Dia mati itu sudah selayaknya, siapa yang mau mengganti jiwa-nya?"

Orang itu perdengarkan geraman aneh tubuhnya bergetar, tangannya pelahan2 diangkat.

Sesaat lagi, dia tentu bakal melancarkan pukulan amis.

Menyerang dulu, adalah siasat yang paling baik.

Demikian pikir Tong Ko dan dia segera serukan The Ing supaya menyingkir, lalu putar pi-lik-to menyerang orang gemuk itu.

Tepat pada saat itu pukulan lawanpun sudah melancar, serangkum bau amis memuakkan perut orang.

Buru2 Tong Ko tutup napas, tapi tetap tak tahan.

Tanpa menghindar, cukup dengan gerakkan telapak tangannya yang hitam, orang itu telah dapat menahan arus serangan Tong Ko.

Tong Ko terperanjat, terpaksa dia mundurkan langkah.

Orang itu kedengaran menguap beberapa kali, selangkah demi selangkah maju menghampiri.

Walaupun mempunyai golok pusaka yang dahsyat, namun Tong Ko tak berani maju menyongsong.

Cepat dia tarik The Ing untuk diajak lari.

Se-konyong2 dari arah samping terdengar suara seorang tua berseru.

"Akumuba! Inilah pemimpin besar dari Tibet yang digelari orang sebagai Sui-giam-lo soh-hun-ciang Kwan Tay-kin!"

Tong Ko berpaling dan dapatkan kakek gurunya, Ang Hwat cinjin berdiri disebelahnya.

Dadanya serasa longgar sekali.

Orang itu berhenti demi tampak ada seorang cin-jin muncul disitu "Bagus, diantara barisan ko-chiu daerah Kwiciu, aku sudah berjumpa derigan Tay Siang si kepala gundul, kini gilirannia dengan seorang imam gembel.

Apa kau juga mau ajak bertanding semedhi?"

"Kwan Tay-kin, kali ini entah berapa banyak sudah orang2 persilatan yang kau celakai? Kaum persilatan Kwiciu, tiada sudi menerima seorang bebodoran macam kau!"

Sahut Ang Hwat. Orang she Kwan itu jebikan. bibirnya, menyeringai .

"Bagus, mari kita segera mulai saja!"

Ketika dia hentikan langkah tadi, tangannya masih diacungkan keatas.

Habis mengucap dia lantas enjot tubuhnya loncat setombak jauhnya.

Gerakannya aneh, pesatnya bukan alang kepalang.

Karena loncatan itu, kembali ada serangkum angin amis menyampok.

Saking tak kuatnya, Tong Ko dan The Ing menyurut mundur.

Ang Hwat cinjin pun cepat kibaskan lengan baju, melayangkan sebuah pukulan.

Kedua gembong itu, jaraknya terpisah 3-4 meter, namun ketika kedua pukulan itu saling berbentur, terbitlah suatu angin puyuh besar sehingga puhun2 disekliling situ sama rontok daunnya, dahan2nya patah.

Bau amis itupun bertebaran ke-mana2.

Kedua tokoh itu sama2 mundur bebrapa langkah.

"Kalian berdua harus menyingkir pergi, makin jauh makin baik!"

Seru Ang Hwat kepada Tong Ko dan The Ing. Tong Ko tahu bahwa cin-jin itu telah mencapai kesaktian yang tinggi. Kwan Tay-kin lihay, tapi rasanya takkan dapat berbuat banyak kepadanya.

"Cin-jin, ayah The Ing berada di Kwiciu, entah mengapa dia melakukan siasat pura2 menakluk pada pemerintah Ceng, kami berdua hendak menyusul kesana!"

Seru Tong Ko.

"Pergilah!"

Sahut Ang Hwat tanpa menoleh.

Ketika kedua anak muda itu berjalan jauh tiba2 dari arah belakang sana terdengar suara menggelugur yang dahsyat.

Kiranya itulah puhun tua lengkeng yang roboh.

Mereka duga tentulah kedua gembong itu sedang bertempur didekat puhun situ, hingga puhun itu sempal separoh bagian.

Pertempuran antara dua gembong persilatan, merupakan hal yang jarang terjadi.

Beruntunglah mereka yang mempunyai kesempatan untuk menyaksikan, karena dalam pertempuran itu tentu akan dipertunjukkan ilmu sakti dan lain2 kepandaian istimewa yang jarang keluar.

Ini sangat berfaedah untuk menambah pengalaman.

Tong Ko dan The Ing saling berpandangan, dan The Ingpun tahu apa yang dimaksudkan anak muda itu.

Berkata Tong Ko dengan penuh kesungkanan ."Nona The, ayahmu di Kwiciu..........."

"Tak menjadi soal. Setelah dia mengabdi pada pemerintah Ceng, tentu keselamatan-nya terjamin. Sebaliknya kalau kita lewatkan pertempuran besar ini, kita tentu akan menyesal seumur hidup!"

The Ing buru2.

memotong.

Tong Ko mengiakan dan begitulah keduanya lalu diiam2 menyelinap kembali, bersembunyi dibalik sebuah batu besar.

Dilihatnya Ang Hwat cinjin seperti orang gila keadaannya.

Rambutnya yang berwarna merah itu riyap2 rebah berdiri, sikapnya menyeramkan sekali.

Sedang difihak lawan, Kwan Tay-kin matanya melotot, tak mengantuk seperti tadi.

Nyata2 kedua gembong itu sedang mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawannya yang berat.

Cek-hun-ciang atau pukulan awan ungu yang diyakinkan oleh Kwan Taykin, merupakan suatu ilmu ganas yang paling lihay sendiri diantara 7 macam ilmu ganas.

Dan karena peyakinannya itu sudah mencapai tingkat kesempurnaan, angin pukulannyapun bisa mengeluarkan hawa racun.

Andaikata yang diyakinkan itu bukan jenis Iwekang tok-ciang (pukulan racun), artinya meyakinkan ilmu Iwekang bisa, tingkatan yang dicapai oleh Kwan Tay-kin itu, akan dapat dibuat menangkis senjata lawan yang jaraknya beberapa meter jauhnya!

Adanya dia sampai meyakinkan pukulan ganas itu karena marah atas nasib yang diderita kedua muridnya (Hwat Siau dan Swat Moay).

Setelah berhasil meyakinkan, dia segera menuju ke Kwiciu untuk melakukan pembalasan.

Tapi apa lacur, ketika tiba di Lo-hu-san dia telah berpapasan dengan Tay Siang siansu.

Paderi agung yang sakti itu sepintas pandang segera mengetahui, bahwa orang itu memiliki ilmu yang keliwat saktinya.

Tapi sorot matanya mengunjuk kebuasan yang ganas sekali.

Hweshio agung itu mengambil putusan untuk menjinakkannya dengan pelajaran agama Hud.

Maka sengaja dia cari perkara dan tantang tokoh Tibet itu untuk bertanding duduk semedhi.

Kecuali ada orang yang membantu siansu itu atau dia (Kwan Tay-kin) berjanji takkan mengijakkan kaki didaerah Kwan-lwe (Tiongkok) lagi, barulah dia menang dan boleh bebas.

Gembong Tibet itu tinggi sekali adatnya (congkak).

Nafsu ingin menangnya, besar sekali.

Begitulah setiap hari mereka duduk bersemedhi sampai 8 jam dan kejadian itu berlarut sampai 10 tahun lamanya.

Dalam waktu sekian lama itu; dengan sendirinya, Kwan Tay-kin bertambah maju kepandaiannya.

Sedikit waktu lagi, dengan falsafah2 Hud Tay Siang percaya tentu dapat menerangi bathin orang itu.

Tapi ternyata jerih payah selama 10 tahun itu, lenyap hanya dalam satu hari saja.

Tanpa mendapat idin Tay Siang, Siao-lan telah menusukkan senjata garunya kepada orang itu.

Sesuai dengan janji yang telah diikrarkan dimuka, Kwan Taykin segera berbangkit dan pergi situ dengan lenggangnya.

Setiap tokoh persilatan yang dijumpainya, tentu dibunuh.

Habis dibunuh lalu digantung tinggi2.

Keenam orang persilatan yang ditemukan The Go tergantung diujung serambi pagoda bungalow, adalah orang, Tibet itu yang melakukan!

Sampai bebrapa saat kemudian, kedua gembong itu masih belum mulai lagi.

"Ai, mengapa mereka itu?"

Saking tak sabarnya The Ing segera menggerutu dengan pelahan.

Tapi Tong Ko menjawilnya supaya jangan banyak omong.

Benar juga, rupanya Ang Hwat seperti mendengar bisikan nona itu tadi.

Gerakan tubuhnya agak lambat justeru pada saat itu Kwan Tay-kin sudah melancarkan sebuah hantaman.

Ang Hwat buru2 membalas.

Kali ini jarak mereka lebih dekat.

Ketika terjadi benturan, Ang Hwat kedengaran bersuit panjang sedang Kwan Tay-kin tertawa seram.

Kembali keduanya sama.

berpencar lagi.

Kini mereka bergerak-gerak melakukan serang menyerang, dari pelahan menjadi cepat.

Apa yang tampak digelanggang situ, hanya, lah dua gulung sinar yang mengeluarkan deru angin dahsyat.

Se-konyong2 terdengar suara benturan keras, dan kedua gembong itu tampak tegak berdiri diam, tangannya saling menempel.

Melihat itu, bukan main kejutnya Tong Ko.

Terang mereka sedang mengadu lwekang.

Serentak berdiri, berteriaklah Tong Ko dengan cemasnya .

"Cin-jin, tangannya beracun!"

Ang Hwat berpaling. Wajahnya merah padam karena murka.

"Budak yang tak mau mendengar kata, lekas enyah. Kalau kudapatkan kau masih berada dalam jarak 100 Ii dari sini, awas jiwamu ya!"

Tong Ko tersipu-sipu.

Dia yakin Ang Hwat tentu sudah mempunyai pegangan.

Segera diajaknya The Ing berlalu.

Baru berdialan belum lama, mereka berpaling kebelakang tampak kedua gembong itu masih tegak berdiri seperti tiang.

"Engkoh Ko, kau berpendapat siapa yang menang nanti?"

Tanya The Ing setelah jauh sekali dari gelanggang itu.

Tapi Tong Ko hanya menggeleng kepala.

Belum sampai petang hari, mereka sudah keluar dari daerah Sip-ban-tay-san.

Malam itu mereka tidur disembarang tempat.

Keesokan harinya barulah meneruskan perjalanan ke Kwiciu.

Tiba disana, langsung mereka menuju kegedung tihu (residen).

Pintu kantor pembesar itu tertutup rapat.

Mereka mencari sebuah warung untuk berunding.

Tong Ko menyatakan supaya malam nanti melakukan penyelidikan kegedung tihu, The Ing diam saja, berselang bebrapa saat baru ia menyahut .

"Engkoh Ko, aku punya jalan! Bukantah dalam suratnya itu ayah menyuruh aku datang? Nah, dengan surat itu aku akan masuk kesana!"

"Benar, tapi kalau kau seorang diri, berbahaya sekali !"

The Ing menatap wajah Tong Ko, tiba2 ia tertawa geli.

Tong Ko heran dan mengira kalau mukanya itu apa barangkali kotor, maka sampai ditertawai sinona.

Buru-buru dia menghampiri kaca, tapi ternyata bersih2 saja.

"Kau menertawai apa?"

Tegurnya dengan heran.

"Aku punya akal, tapi, jangan2 kau tak mau!"

""Asal bisa menjumpai paman The, aku tentu tak menolak!"

"Kau menyaru jadi seorang nona dan ikut aku masuk. Mereka tentu tak mencurigai"

Kata The Ing sembari ketawa.

"Hai, apa2an itu?!"

"Kalau begitu biar aku pergi seorang diri saja,"

Kata The Ing dengan mengangkat pundak.

Setelah merenungkan sejenak, akhirnya Tong Ko menerima.

The Ing lekas2 keluar membeli pakaian wanita dan beberapa macam perhiasan.

Oleh karena sememangnya berparas cakap, maka ketika sudah berganti pakaian wanita, jadilah Tong Ko seorang nona cantik.

Malah The Ing sendiri sampai terkejut ."Ai, mengapa kau menyerupai benar dengan suatu orang?!"

"Siapa?"

"Say-hong-hong Bek Lian!"

Tong Ko tertawa, ujarnya ."Say-hong-hong Bek Lian adalah ratu bunga dari Kwiciu, masakan aku dapat menyamainya, sudah jangan omong tak keruan!"

The Ing tetap ngotot..

"Benar2 seperti pinang dibelah dua, percaya atau tidak itu terserah padamu!"

Tong Ko tak mau berbantah. Keesokan harinya, mereka menuju kegedung tihu.

"Mau apa?"

Hardik serdadu penjaga seraya menghadang. The Ing deliki mata.

"Kawanan yang tak bermata, kau kenal tidak dengan Shin Hiat-ji tayjin?"

Shin Hiat-ji adalah taylwe-wisu (barangkari keraton). Segera kawanan serdadu itu merobah sikapnya.

"Nona ini adalah........"

"Aku she The, kemari hendak menemui ayah!"

Ter-sipu2 kawanan serdadu itu membawa kedua nona itu masuk. Tiba disebuah ruangan, terdengar lengking suara Liat Hwat cousu berkata .

"Sudah bebrapa hari, mengapa Hiat-ji masih belum pulang? Jangan2 dia mendapat halangan ditengah jalan!"

"Kukira tidak!"

Sahut suara The Go. Mendengar itu, tak dapat The Ing menahan teriaknya lagi .

"Yah, aku sudah datang!"

Pintu ruangan itu terbuka sendiri.

Liat Hwat dan The Go duduk dikursi, sedang Siao-lan berdiri disisi suaminya.

Bermula The Go terbeliak melihat puterinya kesitu, tapi lebih kaget lagi demi tampak seorang nona mengikut dibelakang The Ing.

Pikiran The Go terbayang lagi akan kenangan pada duapuluh tahun berselang, Say-hong-hong Bek Lian, dewi jelita dari gunung Lo-hu-san..........

Juga Siao-lan terperanjat bukan terkira.

The Ing cukup cerdas dan buru2 memberi keterangan .

"Yah, Hiat-ji susiok sedang mempunyai lain urusan, jadi agak terlambat beberapa hari. Aku telah mengerti jelas isi suratmu itu, maka aku datang kemari !"

Sengaja ia tekankan kata2

"jelas"

Itu. Sebagai seorang yang berotak, tajam, The Go dapat menangkap isyarat itu.

"Ing-ji, lekas beri hormat pada sucoumu!"

Serunya sembari menatap tajam2 kearah "Bek Lian".

Ah, Bek-Lian tak semuda itu keadaannya.

Hai, itulah Tong Ko, secepat itu The Go sudah dapat meneropong penyaruan yang lihay itu.

Sebenarnya pada perkenalannya pertama dengan Tong Ko, The Go sudah dapat merabah-rabah asal usul anak muda itu.

Tapi dia anggap belum tiba saatnya untuk memberi tahu.

Hanya dia larang puterinya supaya jangan bergaul rapat dengan pemuda itu.

Maka sangatlah gelisahnya demi The Ing datang bersama Tong Ko, suatu tanda bahwa hubungan kedua anak muda itu tentu sudah makin akrab.

Namun dalam saat dan keadaan seperti itu, dia terpaksa tekan perasaannya dan pura2 berseri girang.

"Ha, kiranya tit-li (keponakan perempuan) juga ikut?"

Ujarnya.

"Titli ingin menyambangi susiok dan subo!"

Sahut Tong Ko dengan nada kecil.

Ternyata anak muda itu juga cakap bersandiwara.

Untuk membuktikan dirinya itu seorang nona sesungguhnya, dia kerutkan tenggorokannya supaya bisa bersuara kecil.

Adalah Siao-lan yang lamban pikirannya, tak dapat segera mengetahui sandiwara yang sedang dimainkan oleh suaminya dan anak muda itu.

Wajahnya menampil rasa heran.

Buru2 The Go menyentuhnya sebagai isyarat jangan bicara apa2.

Liat Hwat duduk anteng menerima pemberian hormat dari kedua gadis itu.

Rupanya dia sangat gembira dan tertawa ter-bahak2.

"Ha..., ha..., tak kira bisa mendapat tambahan dua orang titli yang cantik dan gagah,"

Ujarnya, lalu berkata kepada The Go .

"The Go, kau bilang hendak menyumbangkan suatu jasa pada pemerintah kerajaan, entah bagaimana caranya? Turut pendapatku, kembalimu kepada kerajaan itu, masih belum diketahui umum. Bunuhlah bebrapa tokoh pemberontak, barulah kerajaan menaruh kepercayaan penuh padamu!"

"Bukan begitu!"

Sahut The Go.

"Lalu bagaimana kau hendak mengunjuk jasa?"

Liat Hwat, berobah wajahnya dengan serius. The Go tertawa, ucapnya .

"Pepatah mengatakan 'tangkap kawanan penjahat harus ringkus dulu pemimpinnya'. Dengan membawa batang kepala Siau-beng-siang kemari, itulah baru suatu pahala besar!"

"Bagus, bagus! Tapi apakah prakteknya sernudah itu?"

"Segala usaha besar, tentu sukar. Tapi itu bukan berarti tak dapat dilakukan. Kalau aku suami isteri dan kedua anak perempuan itu diperboleh pergi kesana, tanggung tentu berhasil!"

Liat Hwat perdengarkan tertawa aneh, serunya .

"Kamu berdua suami isteri dan seorang titli bolehlah pergi, tapi anakmu perempuan itu harus inggal disini!"

The Go cerdik, tapi Liat Hwatpun tak mudah diakali. Mendengar pernyataan.

"suhunya"

Itu, hati The Go terkesiap, namun wajahnya tetap dikuasai, sahutnya dengan lapang .

"Kurang satu orangpun tak menjadi soal!"

Tapi Liat Hwat tetap menggeleng; katanya ."Tidak, lebih baik aku ikut pergi juga!"

Kali ini benar2 The Go terkejut sekali. Celaka, kalau setan kate itu turut pergi, dia tentu dipaksa untuk melakukan rencana itu.

"Guyon2 jadi sungguhan"

Namanya itu.

Tapi kini jelaslah sudah bahwa Liat Hwat masih tetap menaruh kecurigaan, maka tak mau biarkan dia (The Go anak isteri) pergi.

Untuk menolak maksud Liat Hwat, tentu akan makin mengentarai.

The Go bukanlah si Cian-bin-long-kun yang pernah menghabiskan laksa pejoang Hoasan, kalau berhadapan dengan Liat Hwat seorang saja, dia sudah menyerah.

"Kalau insu mau sekalian turut, itulah bagus sekali!"

Katanya dengan girang.

---oo^dwkz0kupay^oo---(Bersambung Ke Bagian 30) BAGIAN 29 .

MELUNASI HUTANG Kira2 dua jam berjalan dia dan The Ing sudah keluar dari Lo-hu-san.

Kala itu rembulan purnama.

Lapisan mega tipis sayup2 bertebaran melalui dewi malam itu.

Untuk melonggarkan kemengkelannya, Tong Ko mainkan goloknya dalam ilmugolok ajaran Ang Hwat cinjin.

Lui-tong-in-in, lui-tian-kiau-co, hong-luiki-seng, 3 jurus lengkap dia mainkan sampai selesai.

Sewaktu mengakhiri permainannya, Tong Ko papaskan goloknya kesebuah batu besar.

Tring......., terbelah batu besar itu menjadi dua.

Tong Ko maju mendekati dan menghantam lagi.

Dua belah batu itu, terhantam menjadi empat belah.

Setelah puas, barulah Tong Ko lintangkan goloknya dimuka dada.

Dengan tertawa dia berpaling, tanyanya.

"Nona The, kemana kita hendak pergi ini?"

The Ing tahu bahwa hati anak muda itu sedang gundah resah, maka iapun menyahut.

"Terserah padamu, hanya saja aku ingin sekali berjumpa dengan ayah dan mamahku!"

"Aku bagaikan seekor burung, empat penjuru lautan ini adalah rumahku. Baik, mari kita menuju ke Sip-ban-tay-san!"

Menjelang malam, mereka baru mencari rumah penginapan.

Keesokan harinya mereka lanjutkan perjalanan lagi.

Selama dalam perjalanan itu, mereka menuturkan pengalaman masing2 sejak berpisah.

Setelah jelas mengetahui bahwa anak muda itu masih tetap menyintai Tio In, maka sengaja The Ing perlambat perjalanannya.

Pertama karena ia berduka, kedua supaya dapat lebih lama berkumpul dengan Tong Ko.

Perjalanan ke Sip-ban-tay-san itu hampir memakan waktu satu bulan.

Begitu mendorong pintu rumah The Go, segera Tong Ko berseru.

"Ang Hwat cianpwe, aku sudah kembali!"

Tiada penyahutan. The Ing menyatakan herannya mengapa kedua ayah bundanyapun belum pulang, Tong Ko menghiburnya barangkali ayah bunda The Ing itu masih ada lain urusan.

"Engkoh Ko mengasohlah dahulu, biarlah kutangkapkan dua ekor ayam hutan untuk santapan!"

Kata The Ing terus menuju keluar.

Belum sempat Tong Ko mengiakan, atau The Ing kedengaran menjerit kaget.

Cepat Tong Ko loncat memburu.

Diatas dahan sehatang pohon lengkeng tua yang separoh bagian sudah kering, tampak ada sesosok tubuh bergelantungan dengan kaki diatas.

Puhun itu ada 6-7 tombak tingginya dan tubuhnya ber-goyang2 tertiup angin, jadi tak kelihatan jelas air mukanya.

"Aneh, pohon lengkeng itu sudah lama layu kering. Ketika masih kecil aku pernah memanjat dan putuslah dahan yang kuinjaknya. Ilmu gin-kang siapa yang dapat naik sedemikian tingginya?"

Kata The Ing. Setelah mendongak mengawasi sejenak, baru Tong Ko berkata.

"Nona The, ilmu ginkang orang itu memang sempurna, orang yang tergantung dipuhun itu sudah mati. Setelah mati, baru orang itu digantung!"

Jadi dapat dibayangkan bagaimana lihay ginkang orang itu.

"Ang Hwat cinjin?"

Seru The Ing dengan kagetnya. Tong Ko menggeleng.

"Ang Hwat cinjin tak nanti berbuat begitu, mari kita naik memeriksa keatas!"

Tong Ko enjot tubuhnya naik kesebatang dahan, tapi baru sang kaki menginjak, dahan itu segera patah.

Tong Ko cepat mencapai dahan lainnya sebelah atas, tapi dahan itupun patah dan jatuhlah Tong Ko bersama dahan itu.

"Engkoh Ko, separoh bagian dari pohon itu entah sudah berapa tahun kering kerontang, memang sukar dipanjat!"

"Aneh, mengapa dahan yang dibuat menggantung orang itu tak putus? Kita harus memeriksa keatas!"

"Untuk memanjat keatas, mudah saja. Kita harus melalui bagian batang yang tidak kering!"

Tong Ko lakukan usul itu dan tak lama kemudian dapatlah dia tiba dipuncaknya, tapi masih terpisah 2 meteran dari tubuh mayat itu.

Namun dari situ dapat dilihatnya jelas keadaan korban itu.

Umurnya kira2 50-an tahun, memelihara janggut pendek yang menjikrak.

Sikapnya menandakan seorang persilatan.

Kiranya dahan yang dibuat menggantung orang itu, bukan dahan puhun tapi sebatang tiang besi yang ujungnya dimasukkan kedalam batang puhun.

Sepintas pandang, tampaknya memang seperti dahan kering.

Tong Ko loncat keatas dan menurun mayat itu.

Tubuh korban itu tak terdapat luka apa melainkan punggungnya terdapat sebuah telapak tangan.

Inilah yang menyebabkan kematian orang itu.

Tong Ko belum pernah mendengar tentang akhli silat yang begitu hebat pukulannya.

"Nona The, mungkin si pembunuh belum jauh dari sini, ditilik dari kepandaiannya rasanya kita masih dibawahnya. Lebih baik kita ber-hati2, siapkan senjatamulah!"

Kata Tong Ko.

The Ing mengatakan bahwa tali cengsi-nya sudah siap segala waktu.

Tapi mencari kesekeliling situ sampai sekian lama, mereka tak bertemu dengan jejak apa2.

Terpaksa mereka kembali kedalam pondok lagi.

Baru The Ing hendak membuka mulut atau Tong Ko cepat memberi isyarat tangan supaya diam, karena, didengarnya dikamar sebelah ada suara orang tidur mendengkur.

Cepat dia mendorong pintu dan dapatkan diatas balai2 bambu tidur seorang gemuk dengan pulasnya.

Tong Ko belum pernah melihat orang itu.

"Ai, rasanya aku pernah kenal dianya!"

Kata The Ing.

Dan karena suara The Ing itu maka menggeliatlah orang itu bangun.

Dia memandang kearah kedua anak muda itu.

Tampak jelas bagaimana sorot matanya bersinar ungu.

Teringat akan telapak tangan ungu yang terdapat pada punggung mayat dipuhun itu, Tong Ko dan The Ing terkesiap.

"Hai, kau siapa, mengapa seenaknya sendiri tidur diranjang ayah ku?"

Tegur The Ing. Orang itu tertawa sahutnya.

"Aku selalu bebas berbuat sesukaku, sedang Tay Siang siansu saja tak dapat mengganggu usik diriku, masakan seorang budak perempuan berani usilan?"

Waktu orang itu mengungkit nama Tay Siang siansu, sesaat teringatlah The Ing sewaktu ia bersama Bek Lian melarikan diri dari kejaran Liat Hwat cousu digunung Lo-hu-san tempo hari.

Ia menjumpai Tay Siang siansu sedang duduk berhadapan dengan seorang gemuk.

Benar Tay Siang itu waktu tak memberi tahu, tapi pernah ayahnya (The Go) mengatakan sesuatu tentang orang itu.

Maka siraplah amarahnya dan berseru "Kau..."

Tapi belum ia lanjutkan kata2nya, Tong Ko sudah menyelutuk.

"Yang tergantung diatas puhun itu, apakah tuan yang melakukankan?"

Orang itu menguap dulu, baru acuh tak acuh menjawab.

"Benar, orang itu bergelar Tiat-pi-tong-kak Cin Gun!"

Tong Ko terbeliak. Tiat-pi-tong-kak (lengan besi kaki tembaga) Cin Gun, seorang tokoh kenamaan di daerah Kwisay yang sangat dihormati orang karena kemuliaan budinya.

"Mengapa kau mencelakainya?"

Tegur Tong Ko. Kembali orang itu menguap seperti oraang masih ngantuk, ujarnya.

"Untuk membunuh orang, masa harus mencari alasan? Tempo hari aku kena diakali si keledai gundul Tay Siang, diajak adu bersemedhi. Sudah tentu karena dia seorang paderi, aku tak dapat menang. Syukur kala itu datang seseorang membantunya untuk memukul aku, sehingga aku dapat keluar dari perangkapnya untuk meng-gantung2i orang, ha....., ha....., senang senang sekalii......!' Bagi orang itu menggantungi orang sudah menjadi hobbynya. Habis berkata kembali dia tampak menggeliat, justeru telapak tangannya menghadap kemuka. Tong Ko melihat jelas bagaimana telapak tangan orang aneh itu berwarna ke-ungu2an. Orang aneh, kepandaian aneh dan tingkah laku yang aneh pula.

"Cin Gun dihormati oleh kaum persilatan, apakah kau tak kuatir ada orang menuntut perhitungan padamu?"

Tanya Tong Ko pula. Habis menggeliat, orang itu tundukkan kepala dan matanya seperti tertumbuk pada pi-lik-to. Serentak mulutnya memuji.

"Golok bagus"! Seenaknya sendiri, dia ulurkan tangan, ujarnya.

"Berikan padaku!"

Tong Ko tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang tokoh sakti yang menyangsikan kelakuannya.

"Cunke, jangan ber-olok2!"

Serunya sembari mundur.

"Siapa yang ber-olok2 denganmu. Kalau tak mau memberikan kaupun tentu akan kugantung dipuhun tua itu supaya dapat menikmati pemandangan alam Sip-ban-tay-san sini!"

Bentaknya dengan marah.

Tong Ko yang selama itu tak lepaskan matanya kepada orang aneh itu, memperhatikan bahwa setiap kali tangan si gemuk itu diangkat naik.

tentu warnanya makin tua.

Selama digembleng dan diwejang ilmu silat oleh Ang Hwat cin-jin, baik kepandaian maupun pengetahuan Tong Ko mengenai ilmu itu, bertambah maju dan luas.

Dia yakin tangan ungu dari si gemuk itu tentu termasuk jenis lwekang yang sakti, kemungkinan besar sangat jahat.

Setelah menolak permintaan orang, dia mundur sembari isyarat anggukan kepala kepada The Ing.

Maksudnya suruh nona itu juga ikut mundur, tapi ternyata malah runyam.

Sememangnya The Ing sudah benci melihat kecongkakan orang itu.

Maka demi tampak Tong Po mengangguk, ia mengira kalau pemuda itu suruh dia turun tangan.

Tanpa berayal lagi, dia segera lambaikan tali cheng-sidalam gerak ceng-hay-sen-boh.

Ratusan lingkaran kecil warna merah segera bergelombang menabur kearah muka si gemuk.

"Nona The......"

Tong Ko menjerit kaget, tapi belum sempat dia lanjutkan kata2nya, orang gemuk itu dengan malas2an menyambar tali itu.

Seketika permainan tali cheng-si dalam jurus ceng-hay-sen-boh yang dahsyat itu, tak dapat digerakkan alias macet.

Sekali orang itu menarik tangannya keperut, The Ing seperti ditarik kemuka, jatuh tertelungkup kearah ruangan dalam.

Tong Ko bertindak sebat.

Cepat dia hantamkan pi-lik-to, begitu tali cheng-si putus, dia segera tarik tangan The Ing untuk diajak loncat keluar.

Untung dia berlaku sebat, karena sesaat itu terasa ada hawa amis menyambar, bau yang memaksa orang muntah2.

Tapi karena sudah berada diluar, mereka tak sampai begitu.

Jelas bahwa hawa amis itu, keluar dari telapak tangan si gemuk yang ungu itu, suatu tok-ciang (ilmu pukulan beracun) yang jarang terdapat.

Pada saat Tong Ko hendak mencari siasat menghadapi si gemuk jahat itu, tiba2 ada orang berseru diluar pintu.

"Nona The apa dirumah? Leng-cun (ayahmu) suruh aku mengantarkan surat kemari!"

Tong Ko seperti kenal dengan suara orang itu. Dia terkejut mengapa orang itu hendak mencari The Ing. Juga The Ing tak terkecuali herannya.

"Nada suara orang itu tak asing rasanya, mengapa ayah menyuruhnya kemari? Mari kita keluar menjenguknya!"

Katanya.

"Habis bagaimana dengan orang gemuk didalam kamar itu?"

Tanya Tong Ko.

The Ing mengintip kedalam dan tampak orang aneh itu menggeliat lalu terlentang tidur menggeros lagi.

The Ing segera ajak Tong Ko keluar menerima surat itu lebih dahulu.

Seorang yang mengenakan pakaian opsir Ceng dan seorang tinggi besar, tengah menggendong tangan berdiri membelakangi pintu.

Rupanya mereka tengah menikmati aIam pegunungan disitu.

"Siapa yang hendak menerimakan surat padaku?"

Tegur The Ing. Kedua orang itu serentak sama berputar diri. Tapi demi melihat Tong Ko, siorang tinggi besar itu segera berseru keras.

"Bagus, kau juga disini!"

"Ai, kiranya kau!"

The Ing pun tak kurang kagetnya demi mengetahui bahwa orang itu bukan lain sipemuda berumur 20-an tahun yang sudah menduduki jabatan sebagai tay-lwe ko-chiu (jagoan istana), si Cek-cing-long Shin Hiat-ji.

Anak itupun terperanjat melihat The Ing.

"Oh, kiranya nona itu adalah puterinya The sute, maaf karena belum mengenal tempo hari sudah kesalahan tangan. The sute mengirim sepucuk surat, harap nona terima!"

Secepat Hiat-ji dapat menguasai getar wajahnya, dia lantas memulai buka pembicaraan. The Ing terkesiap, serunya.

"Ngaco, apa katamu? Ayahku suruh kau kemari menyerahkan surat?"

"Benar,"

Hiat-ji tertawa, The Go yang dahulu dikenal orang sebagai Cian-bin-long-kun, kini sudah menjadi murid suhuku Liat Hwat cousu, ketua sebuah partai di Tibet.

Dengan begitu, walaupun aku lebih muda, tapi karena aku yang menjadi murid terdahulu, jadi.

dia menyebut aku suheng!"

The Ing tak percaya pendengarannya.

"Jangan mengoceh tak keruan. Ayahku mana sudi campur gaul dengan kamu kawanan bebodoran ini?"

Hiat-ji tak marah, katanya.

"Harap nona jangan marah2, bacalah suratnya dan kau tentu akan percaya!"

Dari saku bajunya, Hiat-ji mengambil sepucuk surat terus diserahkan pada sinona.

The Ing bersangsi, ia berpaling menghadap kearah Tong Ko dan tak mau menyambuti surat itu Tong Ko berapi2 matanya memandang.

pada Hiat-ji.

Sebentar lagi dia hendak menyelesaikan rekening-hinaan yang diutangnya dari anak itu.

Tapi demi dilihatnya surat itu bercoretkan tulisan yang indah garang, dia tak ragu lagi.

"Nona The, surat itu benar tulisan ayahmu!"

Serunya.

Ketika The Ing berpaling, memang benar apa yang dikatakan Tong Ko itu.

Dengan perasaan sangsi, surat itu disambutinya dan astaga, kiranya memang benar tulisan ayahnya.

Surat itu berbunyi demikian.

Kepada anakda Ing .

Harap anakda ketahui, bahwa putusan ayah untuk kembali menakluk, sungguh bukan pura2.

Lekas datang jangan ayal menemui aku.

Ayahmu The Go.

Uruf2-nya yang indah garang itu, memang buah tangan The Go.

The Ing terkesiap sejenak.

Diulanginya membaca sekali lagi.

Wajahnya berobah merah putih, penuh dengan seribu kesangsian.

Tong Ko menghampiri turut membaca.

"Gila, mengapa terjadi begini? Ah, tak mungkin!"

Serunya. Hiat-ji tertawa dingin, memberi komentar singkat.

"Saudara Tong, surat itu menjadi bukti yang berbicara!"

Melihat cecongor anak itu, amarah Tong Ko meluap-luap.

Walaupun perkenalannya dengan Cian-bin-long-kun tak berapa lama, tapi dalam waktu yang sesingkat itu dia sudah mengetahui jelas bagaimana peribadi ayah The Ing itu.

Tong Ko tak percaya barang serambutpun, bahwa The Go sudi bertindak menjadi pengkhianat lagi.

Tapi seperti yang dikatakan Hiat-ji, surat itu merupakan bukti hitam diatas putih yang tak dapat dibantah lagi.

Ketika dia mengamat2i sampulnya, ternyata pada tutup sampul itu tertera sebuah huruf "Sam" (tiga).

Memang pada jeman dulu, orang suka memberi sesuatu tanda tulisan diatas surat, agar pengantar surat itu atau lain orang tak sembarangan berani membuka mencuri baca isinya.

Tapi mengapa The Go juga membubuhi tanda itu, pada hal yang disuruh mengantarkan adalah Hiat-ji?

Dengan kecurigaan itu dia menanyakan The Ing.

"Nona The, lengcun menulis huruf "sam"

Pada tutup sampul, apakah artinya itu?"

The Ing teringat sesuatu bisiknya dengan pelahan.

"Benar, ayah sering bilang padaku, dalam keadaan genting, orang bisa menuliskan maksudnya secara rahasia dalam sebuah surat. Dengan adanya tanda huruf "sam"

Itu, ayah tentu menyuruh aku membaca setiap huruf yang ketiga. Disitulah terdapat maksud yang sebenarnya dari ayah!"

Tong Ko mulai membaca lagi menurut peraturan itu.

Huruf ketiga dari setiap perkataan, dia ambil keluar.

Huruf ketiga dari baris pertama yalah "Ing".

Huruf ketiga pada baris kedua dan selanjutnya adalah "ketahuilah", lalu "ayah"

Lalu "menakluk", lalU "pura2", lalu "jangan"

Dan terakhir "kemari". Apabila kedelapan huruf itu dirangkai maka terdapatlah pesan begini.

"Ing ketahuilah. A yah menakluk pura2 jangan kemari!"

Setelah yakin akan maksud sebenarnya dari surat itu, segera Tong Ko memberi isyarat mata kepada The Ing, bisiknya.

"Kau beresi si opsir, aku si Hiat-ji, biar mereka tak dapat pulang se-lama2nya!"

The Ing mengerti. Dengan tertawa-tawa, ia menghampiri Hiat-ji, ujarnya dengan ramah.

"Ya, memang surat dari ayahku, terima kasih!"

Sudah tentu Hiat-ji tak mengetahui mengapa sikap The Ing kini mendadak berobah seratus derajat. The Ing berpaling kepada si opsir dan tanyanya.

"Tuan opsir yang entah siapa namanya, aku membilang banyak terima kasih juga padamu!"

Selagi siopsir masih main aksi ke-sombong2an, The Ing sudah gerakkan tali merahnya dalam jurus ceng-hay-seng-boh.

Tahu2 leher siopsir itu serasa terlibat dengan tali tajam.

Sekali tangan The Ing menyentak, tanpa berkuik lagi opsir itu rubuh tak bernyawa!

Sementara itu, Tong Kopun maju menghampiri Hiat-ji dan berkata dengan dingin.

"Shin tayjin, urusan diantara kita berdua, sebaiknya juga diselesaikan sekarang!"

Hiat-ji tersenyum ewah, ujarnya.

"Sebenarnya setelah The Go menakluk kepada kerajaan Ceng, kau dan nona The seharusnyapun mengikuti tindakannya itu. Tapi kalau kau berkeras hendak menyelesaikan hutang itu, akupun terpaksa melayani juga!"

Tong Ko lintangkan goloknya pe-lahan2 kedada, setelah melepas tertawa, berserulah dia dengan girang.

"Shin tayjin, kau sungguh menolong mukaku!"

Kata2nya itu ditutup dengan sabetan pi-lik-to.

Tadi sebenarnya Hiat-ji pun sudah mengetahui bahwa golok ditangan anak muda itu sebuah senjata pusaka.

Tapi dikarenakan kesombongannya, dia sudah tak mau memandang mata.

Dia tetap mengira, lawannya itu adalah pemuda Tong Ko dahulu.

Mundur selangkah, dia gunakan tangan kosong gong-chiu-kin-na-tihiu untuk merebut senjata lawan.

Karena bencinya terhadap pemuda pengchianat itu, sekali gebrak Tong Ko sudah keluarkan jurus hong-lui-ki-seng, jurus yang paling lihay dari ilmugolok 3 jurus itu Golok itu menyemburkan badai dan kilat yang men-deru2.

Demi melihat Hiat-ji dengan sombongnya menggunakan tangan kosong, dengan tertawa gelak2 Tong Ko ber-putar2 memainkan golok pusakanya.

Belum reda suara ketawanya itu atau Hiat-ji sudah menjerit ngeri.

Tong Kopun lantas menarik pulang goloknya dan mengawasi keadaan lawan.

Hiat-ji ter-huyung2 jatuh kira2 8 tindak jauhnya, mukanya pucat seperti kertas dan yang mengerikan lengan kanannya sudah hilang "Shin tayjin, dengan membayar sebuah lengan ini, rasanya hutangmu itu masih belum lunas!"

Tong Ko tertawa dingin. Karena sakitnya, sebenarnya dengan wajah pucat mayat Hiat-ji sudah menunggu ajalnya. Tapi tiba2 matanya tertumbuk akan sesuatu bayangan dan berserulah dia keras2.

"Toa-supeh, kiranya kau berada disini. Kedatangan suhu kali ini keselatan, sebagian besar adalah untuk mencarimu!"

Tong Ko berpaling kebelakang. Si gemuk tadi kiranya sudah berdiri diambang pintu sambil molat molet (bergeliat).

"Kau ini anak murid siapa, mengapa mengomong tak keruan!"

Tegurnya.

Sewaktu kedua orang itu berbicara, Tong Ko merasa bakal terjadi sesuatu hal.

Cepat dia hampiri The Ing untuk bahu membahu menunggu setiap kemungkinan.

Tampak Hiat-ji paksakan diri untuk menyahut.

"Toa............... supeh, aku adalah.......muridnya Liat Hwat cousu............... apa kau sudah membalaskan sakit hati kedua suheng?"

"Hem, baru saja aku tiba di Lo-hu-san dalam perjalanan ke Kwitang, aku sudah ditantang adu semedhi oleh seorang paderi bangsat, dan itu telah menghabiskan waktuku sampai 10 tahun!"

Kata orang itu.

Memang si gemuk itu bukan lain adalah toa suheng dari Liat Hwat cousu.

Sepuluh tahun yang lalu dia berangkat dari Tibet untuk menuntutkan balas bagi kedua muridnya suami isteri Hwat Siau dan Swat Moay, yang telah dibikin lumpuh punah kepandaiannya oleh Tay Siang siarisu.

Tapi begitu pergi, dia tak ada kabar beritanya lagi.

Sebenarnya Hiat-ji sudah tak kuat, hanya karena melihat munculnya sang toa-supeh yang tak di-duga2 itulah maka dia kuatkan, diri untuk memanggil.

Tapi habis itu, diapun segera rubuh terkulai tak bernyawa lagi.

Melihat sutitnya (murid keponakan) binasa, orang itu mengicupkan mata kearah Tong Ko.

Tong Ko tahu apa artinya itu dan pe-lahan2 dia kisiki The Ing mundur kebelakang.

"Shin-sutit tak dapat ditolong Iagi, diantara kalian berdua, siapa yang mengganti jiwa?"

Tanya si gemuk. Tong Ko tertawa, dingin, sahutnya.

"Dia mati itu sudah selayaknya, siapa yang mau mengganti jiwa-nya?"

Orang itu perdengarkan geraman aneh tubuhnya bergetar, tangannya pelahan2 diangkat.

Sesaat lagi, dia tentu bakal melancarkan pukulan amis.

Menyerang dulu, adalah siasat yang paling baik.

Demikian pikir Tong Ko dan dia segera serukan The Ing supaya menyingkir, lalu putar pi-lik-to menyerang orang gemuk itu.

Tepat pada saat itu pukulan lawanpun sudah melancar, serangkum bau amis memuakkan perut orang.

Buru2 Tong Ko tutup napas, tapi tetap tak tahan.

Tanpa menghindar, cukup dengan gerakkan telapak tangannya yang hitam, orang itu telah dapat menahan arus serangan Tong Ko.

Tong Ko terperanjat, terpaksa dia mundurkan langkah.

Orang itu kedengaran menguap beberapa kali, selangkah demi selangkah maju menghampiri.

Walaupun mempunyai golok pusaka yang dahsyat, namun Tong Ko tak berani maju menyongsong.

Cepat dia tarik The Ing untuk diajak lari.

Se-konyong2 dari arah samping terdengar suara seorang tua berseru.

"Akumuba! Inilah pemimpin besar dari Tibet yang digelari orang sebagai Sui-giam-lo soh-hun-ciang Kwan Tay-kin!"

Tong Ko berpaling dan dapatkan kakek gurunya, Ang Hwat cinjin berdiri disebelahnya.

Dadanya serasa longgar sekali.

Orang itu berhenti demi tampak ada seorang cin-jin muncul disitu "Bagus, diantara barisan ko-chiu daerah Kwiciu, aku sudah berjumpa derigan Tay Siang si kepala gundul, kini gilirannia dengan seorang imam gembel.

Apa kau juga mau ajak bertanding semedhi?"

"Kwan Tay-kin, kali ini entah berapa banyak sudah orang2 persilatan yang kau celakai? Kaum persilatan Kwiciu, tiada sudi menerima seorang bebodoran macam kau!"

Sahut Ang Hwat. Orang she Kwan itu jebikan. bibirnya, menyeringai .

"Bagus, mari kita segera mulai saja!"

Ketika dia hentikan langkah tadi, tangannya masih diacungkan keatas.

Habis mengucap dia lantas enjot tubuhnya loncat setombak jauhnya.

Gerakannya aneh, pesatnya bukan alang kepalang.

Karena loncatan itu, kembali ada serangkum angin amis menyampok.

Saking tak kuatnya, Tong Ko dan The Ing menyurut mundur.

Ang Hwat cinjin pun cepat kibaskan lengan baju, melayangkan sebuah pukulan.

Kedua gembong itu, jaraknya terpisah 3-4 meter, namun ketika kedua pukulan itu saling berbentur, terbitlah suatu angin puyuh besar sehingga puhun2 disekliling situ sama rontok daunnya, dahan2nya patah.

Bau amis itupun bertebaran ke-mana2.

Kedua tokoh itu sama2 mundur bebrapa langkah.

"Kalian berdua harus menyingkir pergi, makin jauh makin baik!"

Seru Ang Hwat kepada Tong Ko dan The Ing. Tong Ko tahu bahwa cin-jin itu telah mencapai kesaktian yang tinggi. Kwan Tay-kin lihay, tapi rasanya takkan dapat berbuat banyak kepadanya.

"Cin-jin, ayah The Ing berada di Kwiciu, entah mengapa dia melakukan siasat pura2 menakluk pada pemerintah Ceng, kami berdua hendak menyusul kesana!"

Seru Tong Ko.

"Pergilah!"

Sahut Ang Hwat tanpa menoleh.

Ketika kedua anak muda itu berjalan jauh tiba2 dari arah belakang sana terdengar suara menggelugur yang dahsyat.

Kiranya itulah puhun tua lengkeng yang roboh.

Mereka duga tentulah kedua gembong itu sedang bertempur didekat puhun situ, hingga puhun itu sempal separoh bagian.

Pertempuran antara dua gembong persilatan, merupakan hal yang jarang terjadi.

Beruntunglah mereka yang mempunyai kesempatan untuk menyaksikan, karena dalam pertempuran itu tentu akan dipertunjukkan ilmu sakti dan lain2 kepandaian istimewa yang jarang keluar.

Ini sangat berfaedah untuk menambah pengalaman.

Tong Ko dan The Ing saling berpandangan, dan The Ingpun tahu apa yang dimaksudkan anak muda itu.

Berkata Tong Ko dengan penuh kesungkanan ."Nona The, ayahmu di Kwiciu..........."

"Tak menjadi soal. Setelah dia mengabdi pada pemerintah Ceng, tentu keselamatan-nya terjamin. Sebaliknya kalau kita lewatkan pertempuran besar ini, kita tentu akan menyesal seumur hidup!"

The Ing buru2.

memotong.

Tong Ko mengiakan dan begitulah keduanya lalu diiam2 menyelinap kembali, bersembunyi dibalik sebuah batu besar.

Dilihatnya Ang Hwat cinjin seperti orang gila keadaannya.

Rambutnya yang berwarna merah itu riyap2 rebah berdiri, sikapnya menyeramkan sekali.

Sedang difihak lawan, Kwan Tay-kin matanya melotot, tak mengantuk seperti tadi.

Nyata2 kedua gembong itu sedang mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawannya yang berat.

Cek-hun-ciang atau pukulan awan ungu yang diyakinkan oleh Kwan Taykin, merupakan suatu ilmu ganas yang paling lihay sendiri diantara 7 macam ilmu ganas.

Dan karena peyakinannya itu sudah mencapai tingkat kesempurnaan, angin pukulannyapun bisa mengeluarkan hawa racun.

Andaikata yang diyakinkan itu bukan jenis Iwekang tok-ciang (pukulan racun), artinya meyakinkan ilmu Iwekang bisa, tingkatan yang dicapai oleh Kwan Tay-kin itu, akan dapat dibuat menangkis senjata lawan yang jaraknya beberapa meter jauhnya!

Adanya dia sampai meyakinkan pukulan ganas itu karena marah atas nasib yang diderita kedua muridnya (Hwat Siau dan Swat Moay).

Setelah berhasil meyakinkan, dia segera menuju ke Kwiciu untuk melakukan pembalasan.

Tapi apa lacur, ketika tiba di Lo-hu-san dia telah berpapasan dengan Tay Siang siansu.

Paderi agung yang sakti itu sepintas pandang segera mengetahui, bahwa orang itu memiliki ilmu yang keliwat saktinya.

Tapi sorot matanya mengunjuk kebuasan yang ganas sekali.

Hweshio agung itu mengambil putusan untuk menjinakkannya dengan pelajaran agama Hud.

Maka sengaja dia cari perkara dan tantang tokoh Tibet itu untuk bertanding duduk semedhi.

Kecuali ada orang yang membantu siansu itu atau dia (Kwan Tay-kin) berjanji takkan mengijakkan kaki didaerah Kwan-lwe (Tiongkok) lagi, barulah dia menang dan boleh bebas.

Gembong Tibet itu tinggi sekali adatnya (congkak).

Nafsu ingin menangnya, besar sekali.

Begitulah setiap hari mereka duduk bersemedhi sampai 8 jam dan kejadian itu berlarut sampai 10 tahun lamanya.

Dalam waktu sekian lama itu; dengan sendirinya, Kwan Tay-kin bertambah maju kepandaiannya.

Sedikit waktu lagi, dengan falsafah2 Hud Tay Siang percaya tentu dapat menerangi bathin orang itu.

Tapi ternyata jerih payah selama 10 tahun itu, lenyap hanya dalam satu hari saja.

Tanpa mendapat idin Tay Siang, Siao-lan telah menusukkan senjata garunya kepada orang itu.

Sesuai dengan janji yang telah diikrarkan dimuka, Kwan Taykin segera berbangkit dan pergi situ dengan lenggangnya.

Setiap tokoh persilatan yang dijumpainya, tentu dibunuh.

Habis dibunuh lalu digantung tinggi2.

Keenam orang persilatan yang ditemukan The Go tergantung diujung serambi pagoda bungalow, adalah orang, Tibet itu yang melakukan!

Sampai bebrapa saat kemudian, kedua gembong itu masih belum mulai lagi.

"Ai, mengapa mereka itu?"

Saking tak sabarnya The Ing segera menggerutu dengan pelahan.

Tapi Tong Ko menjawilnya supaya jangan banyak omong.

Benar juga, rupanya Ang Hwat seperti mendengar bisikan nona itu tadi.

Gerakan tubuhnya agak lambat justeru pada saat itu Kwan Tay-kin sudah melancarkan sebuah hantaman.

Ang Hwat buru2 membalas.

Kali ini jarak mereka lebih dekat.

Ketika terjadi benturan, Ang Hwat kedengaran bersuit panjang sedang Kwan Tay-kin tertawa seram.

Kembali keduanya sama.

berpencar lagi.

Kini mereka bergerak-gerak melakukan serang menyerang, dari pelahan menjadi cepat.

Apa yang tampak digelanggang situ, hanya, lah dua gulung sinar yang mengeluarkan deru angin dahsyat.

Se-konyong2 terdengar suara benturan keras, dan kedua gembong itu tampak tegak berdiri diam, tangannya saling menempel.

Melihat itu, bukan main kejutnya Tong Ko.

Terang mereka sedang mengadu lwekang.

Serentak berdiri, berteriaklah Tong Ko dengan cemasnya .

"Cin-jin, tangannya beracun!"

Ang Hwat berpaling. Wajahnya merah padam karena murka.

"Budak yang tak mau mendengar kata, lekas enyah. Kalau kudapatkan kau masih berada dalam jarak 100 Ii dari sini, awas jiwamu ya!"

Tong Ko tersipu-sipu.

Dia yakin Ang Hwat tentu sudah mempunyai pegangan.

Segera diajaknya The Ing berlalu.

Baru berdialan belum lama, mereka berpaling kebelakang tampak kedua gembong itu masih tegak berdiri seperti tiang.

"Engkoh Ko, kau berpendapat siapa yang menang nanti?"

Tanya The Ing setelah jauh sekali dari gelanggang itu.

Tapi Tong Ko hanya menggeleng kepala.

Belum sampai petang hari, mereka sudah keluar dari daerah Sip-ban-tay-san.

Malam itu mereka tidur disembarang tempat.

Keesokan harinya barulah meneruskan perjalanan ke Kwiciu.

Tiba disana, langsung mereka menuju kegedung tihu (residen).

Pintu kantor pembesar itu tertutup rapat.

Mereka mencari sebuah warung untuk berunding.

Tong Ko menyatakan supaya malam nanti melakukan penyelidikan kegedung tihu, The Ing diam saja, berselang bebrapa saat baru ia menyahut .

"Engkoh Ko, aku punya jalan! Bukantah dalam suratnya itu ayah menyuruh aku datang? Nah, dengan surat itu aku akan masuk kesana!"

"Benar, tapi kalau kau seorang diri, berbahaya sekali !"

The Ing menatap wajah Tong Ko, tiba2 ia tertawa geli.

Tong Ko heran dan mengira kalau mukanya itu apa barangkali kotor, maka sampai ditertawai sinona.

Buru-buru dia menghampiri kaca, tapi ternyata bersih2 saja.

"Kau menertawai apa?"

Tegurnya dengan heran.

"Aku punya akal, tapi, jangan2 kau tak mau!"

""Asal bisa menjumpai paman The, aku tentu tak menolak!"

"Kau menyaru jadi seorang nona dan ikut aku masuk. Mereka tentu tak mencurigai"

Kata The Ing sembari ketawa.

"Hai, apa2an itu?!"

"Kalau begitu biar aku pergi seorang diri saja,"

Kata The Ing dengan mengangkat pundak.

Setelah merenungkan sejenak, akhirnya Tong Ko menerima.

The Ing lekas2 keluar membeli pakaian wanita dan beberapa macam perhiasan.

Oleh karena sememangnya berparas cakap, maka ketika sudah berganti pakaian wanita, jadilah Tong Ko seorang nona cantik.

Malah The Ing sendiri sampai terkejut ."Ai, mengapa kau menyerupai benar dengan suatu orang?!"

"Siapa?"

"Say-hong-hong Bek Lian!"

Tong Ko tertawa, ujarnya ."Say-hong-hong Bek Lian adalah ratu bunga dari Kwiciu, masakan aku dapat menyamainya, sudah jangan omong tak keruan!"

The Ing tetap ngotot..

"Benar2 seperti pinang dibelah dua, percaya atau tidak itu terserah padamu!"

Tong Ko tak mau berbantah. Keesokan harinya, mereka menuju kegedung tihu.

"Mau apa?"

Hardik serdadu penjaga seraya menghadang. The Ing deliki mata.

"Kawanan yang tak bermata, kau kenal tidak dengan Shin Hiat-ji tayjin?"

Shin Hiat-ji adalah taylwe-wisu (barangkari keraton). Segera kawanan serdadu itu merobah sikapnya.

"Nona ini adalah........"

"Aku she The, kemari hendak menemui ayah!"

Ter-sipu2 kawanan serdadu itu membawa kedua nona itu masuk. Tiba disebuah ruangan, terdengar lengking suara Liat Hwat cousu berkata .

"Sudah bebrapa hari, mengapa Hiat-ji masih belum pulang? Jangan2 dia mendapat halangan ditengah jalan!"

"Kukira tidak!"

Sahut suara The Go. Mendengar itu, tak dapat The Ing menahan teriaknya lagi .

"Yah, aku sudah datang!"

Pintu ruangan itu terbuka sendiri.

Liat Hwat dan The Go duduk dikursi, sedang Siao-lan berdiri disisi suaminya.

Bermula The Go terbeliak melihat puterinya kesitu, tapi lebih kaget lagi demi tampak seorang nona mengikut dibelakang The Ing.

Pikiran The Go terbayang lagi akan kenangan pada duapuluh tahun berselang, Say-hong-hong Bek Lian, dewi jelita dari gunung Lo-hu-san..........

Juga Siao-lan terperanjat bukan terkira.

The Ing cukup cerdas dan buru2 memberi keterangan .

"Yah, Hiat-ji susiok sedang mempunyai lain urusan, jadi agak terlambat beberapa hari. Aku telah mengerti jelas isi suratmu itu, maka aku datang kemari !"

Sengaja ia tekankan kata2

"jelas"

Itu. Sebagai seorang yang berotak, tajam, The Go dapat menangkap isyarat itu.

"Ing-ji, lekas beri hormat pada sucoumu!"

Serunya sembari menatap tajam2 kearah "Bek Lian".

Ah, Bek-Lian tak semuda itu keadaannya.

Hai, itulah Tong Ko, secepat itu The Go sudah dapat meneropong penyaruan yang lihay itu.

Sebenarnya pada perkenalannya pertama dengan Tong Ko, The Go sudah dapat merabah-rabah asal usul anak muda itu.

Tapi dia anggap belum tiba saatnya untuk memberi tahu.

Hanya dia larang puterinya supaya jangan bergaul rapat dengan pemuda itu.

Maka sangatlah gelisahnya demi The Ing datang bersama Tong Ko, suatu tanda bahwa hubungan kedua anak muda itu tentu sudah makin akrab.

Namun dalam saat dan keadaan seperti itu, dia terpaksa tekan perasaannya dan pura2 berseri girang.

"Ha, kiranya tit-li (keponakan perempuan) juga ikut?"

Ujarnya.

"Titli ingin menyambangi susiok dan subo!"

Sahut Tong Ko dengan nada kecil.

Ternyata anak muda itu juga cakap bersandiwara.

Untuk membuktikan dirinya itu seorang nona sesungguhnya, dia kerutkan tenggorokannya supaya bisa bersuara kecil.

Adalah Siao-lan yang lamban pikirannya, tak dapat segera mengetahui sandiwara yang sedang dimainkan oleh suaminya dan anak muda itu.

Wajahnya menampil rasa heran.

Buru2 The Go menyentuhnya sebagai isyarat jangan bicara apa2.

Liat Hwat duduk anteng menerima pemberian hormat dari kedua gadis itu.

Rupanya dia sangat gembira dan tertawa ter-bahak2.

"Ha..., ha..., tak kira bisa mendapat tambahan dua orang titli yang cantik dan gagah,"

Ujarnya, lalu berkata kepada The Go .

"The Go, kau bilang hendak menyumbangkan suatu jasa pada pemerintah kerajaan, entah bagaimana caranya? Turut pendapatku, kembalimu kepada kerajaan itu, masih belum diketahui umum. Bunuhlah bebrapa tokoh pemberontak, barulah kerajaan menaruh kepercayaan penuh padamu!"

"Bukan begitu!"

Sahut The Go.

"Lalu bagaimana kau hendak mengunjuk jasa?"

Liat Hwat, berobah wajahnya dengan serius. The Go tertawa, ucapnya .

"Pepatah mengatakan 'tangkap kawanan penjahat harus ringkus dulu pemimpinnya'. Dengan membawa batang kepala Siau-beng-siang kemari, itulah baru suatu pahala besar!"

"Bagus, bagus! Tapi apakah prakteknya sernudah itu?"

"Segala usaha besar, tentu sukar. Tapi itu bukan berarti tak dapat dilakukan. Kalau aku suami isteri dan kedua anak perempuan itu diperboleh pergi kesana, tanggung tentu berhasil!"

Liat Hwat perdengarkan tertawa aneh, serunya .

"Kamu berdua suami isteri dan seorang titli bolehlah pergi, tapi anakmu perempuan itu harus inggal disini!"

The Go cerdik, tapi Liat Hwatpun tak mudah diakali. Mendengar pernyataan.

"suhunya"

Itu, hati The Go terkesiap, namun wajahnya tetap dikuasai, sahutnya dengan lapang .

"Kurang satu orangpun tak menjadi soal!"

Tapi Liat Hwat tetap menggeleng; katanya ."Tidak, lebih baik aku ikut pergi juga!"

Kali ini benar2 The Go terkejut sekali. Celaka, kalau setan kate itu turut pergi, dia tentu dipaksa untuk melakukan rencana itu.

"Guyon2 jadi sungguhan"

Namanya itu.

Tapi kini jelaslah sudah bahwa Liat Hwat masih tetap menaruh kecurigaan, maka tak mau biarkan dia (The Go anak isteri) pergi.

Untuk menolak maksud Liat Hwat, tentu akan makin mengentarai.

The Go bukanlah si Cian-bin-long-kun yang pernah menghabiskan laksa pejoang Hoasan, kalau berhadapan dengan Liat Hwat seorang saja, dia sudah menyerah.

"Kalau insu mau sekalian turut, itulah bagus sekali!"

Katanya dengan girang. ---oo^dwkz0kupay^oo---BAGIAN 30 . AYAHKU Diluar dugaan setelah menatap sejenak kearah The Go, Liat Hwat kedengaran berkata .

"Tak usahlah, biar kusuruh Shin Leng-siau ikut kalian saja. Kapan kalian hendak berangkat?"

"Urusan ini amat penting, rasanya lebih baik berangkat sekarang juga!"

Serentak The Go memberi penegasan, lalu memesan The Ing .

"Ing-ji, kau tinggal disini belajar silat pada sucou. Paling lama setengah bulan, aku tentu kembali!"

The Ing kaget, namun dihadapan Liat Hwat, ia tak mau menyatakan apa2 dan hanya mengiakan. Tapi Tong Ko yang menguatirkan keselamatan nona itu, segera mengusulkan dirinya .

"Susiok, biarlah aku mengawani Ing-moay disini!"

"Kita kekurangan orang, sukar berhasil, lebih baik kau ikut!"

The Go tetap dengan pendiriannya. Tong Ko tak dapat membantah. Begitulah mereka berkemas, lalu bersama Shin Leng-siau berangkat naik kuda. Dua jam kemudian, mereka sudah jauh dari Kwiciu.

"The-heng, kemana rencana kita ini?"

Tanya Shin Leng-siau.

The Go hentikan kudanya, memberi isyarat pada Tong Ko Pemuda itu mengerti, diam2 siapkan golok pi-lik-to.

Setelah melihat disekeliling tempat itu sunyi dari orang, menyahutlah The Go .

"Kami bertiga hendak menuju ke Lo-hu-san, tapi Shin tayjin kelain tempat"

"Kemana aku?"

Tanya orang she Shin itu karena masih terselubung kegelapan. The Go tertawa, ujarnya .

"Ketempat yang aman sentausa, disebut neraka!"

Kejut Shin Leng-siau seperti orang disambar petir.

Dia jelas sudah apa artinya itu.

Baru dia hendak kebutkan kendali mencongklangkan kudanya, Tong Ko sudah loncat dari kuda menabas dergan jurus lui-tian-kiau-co.

Dalam kagetnya Shin Leng-siau buang dirinya kebawah, tapi tak kurang sebatnya begitu menginjak tanah, Tong Ko sudah lantas loncat menginjak lawan.

Sebelum Shin Leng-siau tengel2 bangun, tahu2 dadanya sudah terinjak kaki Tong Ko.

Teringat Tong Ko bagaimana fitnah muslihat Sin Tok, Shin Leng-siau dan Hiat-ji, Siau Beng-siang telah kehilangan seorang putera, sementara dia (Tong Ko) mengalami dera hinaan yang ber-tubi2.

Coba kalau tiada mempunyai peruntungan besar, siang2 dia tentu sudah binasa.

Saat itu kedengaran The Go mencegah jangan membunuhnya, tapi Tong Ko yang sudah kerangsokan setan haus darah, sudah seperti orang tuli dan terus hantamkan goloknya.

Tanpa berkuik lagi, tubuh Shin Leng-siau terbelah menjadi dua.

Tong Ko mengantar kematian musuhnya itu dengan serangkum tertawa panjang.

Puas tertawa dia berputar untuk, menghampiri The Go.

Tapi saat itu kedengaran Cian-bin-long-kun seperti menyesali perbuatannya tadi.

"Ing-ji masih ditawan di Kwiciu, kalau bangsat itu dibiarkan hidup, tentu ada gunanya. Tapi sekarang dia sudah mati, dan kita kehilangan barang pegangan!"

Mendengar ucapan suaminya itu, Siao-lanpun menjadi cemas, katanya .

"Engkoh Go, bagaimana dengan Ing-ji nanti?"

Tong Ko terkesiap. Sesaat darah mudanya mendidih, serentak dia berseru tegas .

"Harap jiwi jangan kuatir, dengan golok pi-lik-to ini aku sanggup masuk kesarang harimau untuk menolong Ing-moay."

Begitu naik keatas kuda, dia terus hendak kembali ke Kwiciu.

Tapi The Go cepat mencegahnya.

Tong Ko hentikan kudanya.

Memandang kearah The Go, didapatinya ayah The Ing itu ber-sungguh2 wajahnya.

Diam2 Tong Ko tercekat hatinya.

Pada lain saat kedengaran The Go menghela napas dan berkata ."Dimana kau berjumpa dengan Ing-ji lagi?"

Tong Ko menuturkan pengalamannya ketika menolongi The Ing yang sedang dikepung oleh orang2 Lo-hu-san. Dari situ ke Sip-ban-tay-san terus menuju ke Kwiciu.

"Apakah selama bergaul itu, kalian, telah melanggar batas2 kesusilaan?"

Nada The Go berobah dalam.

"Harap The pehpeh legakan pikiran. Aku hanya menyintai,Tio In, mana aku mau melakukan perbuatan seperti binatang itu?"

The Go menghembuskan napas lega, tukasnya .

"Tepat sekali makianmu itu, nak?"

"The pehpeh, aku tak memaki padamu!"

Tong Ko menjelaskan. Kembali The Go menghela napas panjang. Berputar tubuh kearah Siao-lan, dia bertanya .

"Siao-lan, siapakah anak muda ini, seharusnya sekarang kau tentu mengetahui?"

Tapi ternyata otak Siao-lan memang tumpul. la tetap tak mengetahui; lalu balas bertanya .

"Dia ini siapa? Masakan dia ini bukan Tong Ko?"

Sebaliknya Tong Ko yang cerdas menduga, tentu terselip sesuatu dalam pertanyaan The Go tadi, maka buru2 dia bertanya .

"The pehpeh, rasanya kau mengetahui jelas asal keturunanku ini, makanya mengatakan begitu tadi bukan?"

The Go menarik napas, ujarnya .

"Waktu kau di Lo-hu-san dulu masakan tidak merasakan sesuatu yang ganjil?"

"Ya, ada. Aku sendiripun sampai heran, Siau-beng-siang beberapa kali mengatakan diriku ini menyerupai seseorang. Dan begitu Kang Siang Yan melihat aku, dia tertawa kegirangan sampai putus uratnya!"

"Benar, memang begitulah. Baik Kang Siang Yan maupun Siau-beng-siang, keduanya sama terkenang akan seseorang. Orang itu bukan lain adalah sucinya Tio Jiang, suci yang pernah menjadi gadis pujaannya, ialah puteri tunggal dari Kang Siang Yan"

"Say-hong-hong Bek Lian!"

Tukas Tong Ko.

"apa hubunganku dengan dia?"

The Go tundukkan kepala, menyahut dengan terharu .

"Dahulu Say-hong-hong pernah melahirkan seorang putera, anak itu adalah kau!' Seperti ada gempa bumi, tubuh Tong Ko tampak menggigil keras. Memang pernah dia dengar cerita tentang percintaan antara Bek Lian dan The Go yang berakhir dengan tragis itu. Setelah melahirkan seorang putera, Bek Lian lalu mengasingkan diri entah kemana. Waktu Tong Ko bertemu pertama kali dengan The Go, memang The Go pernah menuturkan hal itu. Kalau Say-hong-hong itu ibunya, bukantah The Go itu ayahnya? Hal-hal yang tak terduga itu, telah menggoncangkan seluruh sendi perasaannya, hingga sesaat dia sampai ter-longong2. Pada lain saat, tampak anak itu mendongak dan tertawa keras2. The Go menghela napas.

"Ko-ji, aku telah keliwatan menyiksa kalian ibu dan anak. Sekarang apa kemauanmu, bilanglah !"

Tong Ko memutar tubuh berkata .

"The locianpwe, anggap saja kata2-mu tadi seperti sendau gurau, bukan hal yang sebenarnya. Sekarang aku hendak ke Kwiciu!"

The Go tahu bahwa dada anak muda itu tentu sedang dirundung kedukaan dan kemarahan.

Adanya The Go menyimpan rahasia itu sampai sekarang, adalah dikarenakan hal itu.

Cepat dia menghadang dimuka Tong Ko, ujarnya .

"Kau tak mau mengakui aku sebagai ayah, itu tak menjadi soal. Perbuatanku tempo dulu, membuat aku tak layak menjadi ayahmu. Tapi sekali-kali jangan kau kembali ke Kwiciu! Kau bukan tandingannya Liat Hwat ! Kau hanya memiliki pi-lik-to, tapi apa memperoleh juga ilmu permainannya ?"

Tong Ko menggeleng.

"Nah, itulah ! Lebih baik kita kubur mayat Shin Leng-siau, lalu menuju ke Lo-hu-san dulu saja !"

Kata The Go pula.

Tanpa mengucap apa-apa, Tong Ko menanam mayat Shin Leng-siau, lalu naiki kudanya ikut The Go.

Selama dalam perjalanan itu, mereka tak bicara.

Malamnya mereka bermalam disebuah hutan kecil.

Pikiran Tong Ko masih bergolak-golak, bagaimanapun matanya tak mau dibawa tidur.

Sejak berkenalan dengan The Go, dia anggap itulah dia orang pertama yang tahu betul peribadinya.

Tapi kalau mendadak sontak disuruh mengakuinya sebagai ayah, sungguh tak mudah termasuk dalam hatinya.

Tengah malam dia bangun dan menghampiri kesamping The Go.

Dilihatnya The Go tidur dengan pulasnya.

Tong Ko termangu-mangu mengawasinya.

Hubungan darah antara ayah dan anak, telah menangkan pertentangan batin Tong Ko.

Air matanya bercucuran, tanpa disadarinya, mulutnya berseru .

"Yah !"

Kiranya The Go masih belum tidur, cepat dia buka matanya dan tertawa, katanya menghiburi .

"Ko-ji, jangan terlalu goncang perasaanmu !"

Tong Ko berjongkok, keduanya saling berpandangan.

Bahwa puteranya telah mau mengakui dirinya sebagai ayah, hatinya meluap-luap sehingga tak dapat mengucap apa-apa.

Sampai sekian lama barulah dia berkata .

"Ko-ji dalam sepanjang hidupku, belum pernah aku merasakan kebahagiaan seperti waktu mendengar kata-katamu tadi!"

Tong Ko hanya tersenyum, lalu alihkan pembicaraan .

"Yah, kepergian kita ke Lo-hu-san ini sebenarnya untuk apa? Ing-moay ditahan Liat Hwat, cara bagaimana kita menolongnya ?"

The Go menghela napas, sahutnya ."Dua-duanya merupakan soal yang sulit, Tio Tay-keng bersekongkel dengan kaki tangan Ceng, mungkin Tio Jiang mau percaya, tapi susah bagi Yan-chiu untuk menerima kenyataan itu.

Sedang untuk menolong Ing-ji, ah !"

"Hanya Ang Hwat sucou seorang yang dapat mengatasi kesukaran itu !"

Tiba-tiba Tong Ko teringat. The Go menghela napas sedih, berkata ."Setelah mendengar penuturanmu tadi, saat ini kukuatir Ang Hwat cin-jin sudah tak berada didunia fana lagi !"

"Mengapa ?"

Tong Ko tersentak kaget.

"Adanya dia menyuruh kau berdua menyingkir jauh, ialah karena dia sudah bertekad hendak sama-sama binasa dengan Kwan Tay-kin itu. Kedua gembong itu tokoh2 sakti yang jarang terdapat didunia. Sekali mereka bertempur, sebelum ada kesudahannya tentu tak mau berhenti. Bagi kedua gembong itu, menang kalah serupa, tentu sama2 terluka parah atau mungkin binasa ! Sejak peristiwa digereja Ang Hun Kiong dahulu itu, beliau telah mengasingkan diri. Kuyakin bathin beliau tentu serupa dengan aku, sudah insyaf. Beliau tentu bercita-cita untuk melepas kebaikan pada kaum persilatan. Mati bersama Kwan Tay-kin, berarti menghilangkan suatu malapetaka bagi dunia persilatan. Rasanya beliau tentu akan puas dengan kematiannya yang berharga itu !"

Tong Ko menghibur ayahnya bahwa biar bagaimana dia tentu akan berhasil menolong The Ing, karena kini dia sudah memiliki sebuah golok pusaka macam pi-lik-to.

Melihat setelah ganti pakaian lelaki, puteranya itu tampak amat gagah, hati The Go terhibur, ujarnya .

"Konon kabarnya . ilmu golok it-gwan-to-hwat itu, mempunyai kesaktian yang sukar dijajaki. Kalau kau dapat mempelajari ilmu itu, mungkin baru bisa menandingi Liat Hwat!"

Memang Tong Ko yang mendapat pengunjukan dari Sik Losam sudah beberapa kali ke Sip-ban-tay-san untuk mencari jejak ilmu golok sakti itu, tapi selalu gagal.

Maka dia menjadi terdiam waktu mendengar pernyataan ayahnya itu.

---oo(dw^kz)0(kupay)oo---BAGIAN 31 .

NYARIS TERBUKA KEDOKNYA Dalam perjalanan selanjutnya, ayah dan anak itu selalu asyik bercakap-cakap dengan gembira.

Menjelang terang tanah, tibalah mereka dikaki gunung Lo-hu-san.

Ternyata setelah terjadi peristiwa peracunan pada Siau-beng-siang secara mysterieus itu, kini penjagaan di Lo-hu-san diperkuat.

Teringat bahwa satu-satunya orang Lo-hu-san yang symphati pada dirinya yalah Kui-ing-cu, Tong Ko ajak ayahnya mampir kewarung arak yang diusahakan oleh tokoh itu.

"Kui locianpwe!"

Tong Ko segera berseru begitu masuk kedalam ruangan warung. Kui-ing-cu dan Thaysan sin-tho berpaling. Serentak berbangkitlah si bongkok, lalu berseru keras2.

"Cian-bin long-kun, kau berani datang kemari lagi?"

Wut......, wut......, tangannya bergerak menghantamkan pukulan lwekang dan tubuhnyapun menyusuli loncat kemuka.

The Go cepat menghindar kesamping, sedang Tong Ko sudah sebat melintangkan pi-lik-to kedada, bentaknya.

"Thocu, kalau masih tak kenal adat, tentu kuhajar!"

"Bah....... anak busuk, kau berani kurangajar padaku!"

Bentak Ih Liok sembari terus rangsangkan tangannya kanan untuk menyambar siku Tong Ko.

Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 3

Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger