Heng Thian Siau To 6

Eps 6 Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen

Baca online Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen

Cersil Heng Thian Siau To - Liang Ie Shen.

Tong Ko tertawa, begitu miringkan tubuh, dia segera menabas dengan jurus lui-tong-in-in.

Benar lwekang si bongkok itu sudah mencapai tingkat sempurna, tapi berhadapan dengan golok pusaka kian-thian-it-gwan-pi-lik-to serta dengan jurus permainannya yang luar biasa anehnya, dia menjadi gugup.

Peristiwa aneh, ber-tubi2 terjadi didepan matanya.

Tubuh anak muda itu silang berganti dengan kilat benda, yang menyilaukan dan tahu2 ubun2 disambar angin.

Buru2 dia hendak kerahkan lwekang untuk menghalau, tapi anehnya, lwekang itu menjadi macet.

Kui-ing-cu buru2 loncat menghadang, tapi Tong Ko menenangkannya.

"Harap Kui lociangpwe jangan kuatir!"

Saat itu Ih Liok rasanya kepalanya silir, maka lekas2 dia loncat kesamping. Ketika merabah, setan alas ............ rambutnya sudah kelimis! Saking kagetnya, dia sampai kucurkan keringat dingin.

"Thocu, kau sudah tua jangan tetap berdarah panas. Ingat, dalam sungai Tiangkang, ombak yang dibelakang selalu mendorong yang dimuka. Dia mempunyai pi-lik-to, rasanya kita tak dapat berbuat apa2"

Kui-ing-cu setengah menghibur setengah menyesali si bongkok. Habis itu dia lalu tanyakan maksud kedatangan Tong Ko.

"Urusan ini, sebenarnya dulu sudah hendak kujelaskan, tapi karena kuatir orang tak mempercayai, jadi tetap kusimpan saja. Sekarang ayahku berada disini, mengenai rahasia itu, dia jelas, maka biarlah dia yang menuturkan!"

Kata Tong Ko.

"Urusan apa? Rupanya sangat penting!"

Tanya Kui-ing-cu dgn keheranan.

"Ko-ji, kau sajalah yang menceritakan!"

Kata The Go kepada Tong Ko.

"Baiklah!,"

Sahut Tong Ko.

"Kui locianpwe, Tio Tay-keng itu seorang kaki tangan musuh. Peracunan terhadap Siau-beng-siang itu, kemungkinan besar dialah yang melakukan!"

Kalau Kui-ing-cu terkesiap kaget, adalah si bongkok yang dengan kontan terus mendamprat.

"Ngaco, kau sendiri membawa kaki tangan Ceng membunuh putera Siau-beng-siang, mau menuduh orang lain yang bukan2!"

Tong Ko bergelak tawa, serunya.

"Thocu, kau seorang bongkok yang tak mengerti nul puntul urusan apa2, masakan mengerti?"

Sindiran itu hebat, diucapkan dengan nada yang jumawa. Belum pernah seumur hidupnya Ih Liok dihina macam begitu.

"Binatang, besar sekali nyalimu!""

Ih Liok tampil selangkah, matanya ber-api2 memancarkan kemarahan. Tong Kopun siap dengan pi-lik-tonya.

"Sebenarnya hal itu tak ada sangkut pautnya dengan diriku"

Kata Tong Ko.

"tapi karena hati nuraniku tak tega membiarkan sekalian orang gagah di Lo-hu-san binasa ditangan anak itu, terpaksa aku turut campur. Jika aku hanya bersentimen pada Tay-keng, tak usah kumenfitnahnya, tapi terus kubunuhnya saja, rasanya semudah orang membalikkan telapak tangan!"

"Ai, ai jangan gitu, engkoh kecil. Mungkiri kami berdua tua bangka ini bangsa kantong nasi yang tak berguna, tapi jika Siau-beng-siang dan isterinya sudah bergabung dengan pi-i-song-hong-kiamnya, rasanya kau tentu belum dapat mengalahkan"

Kata Kui-ing-cu dengan terus terang. Diam2 Tong Ko mengakui kebenaran ucapan tokoh itu. Dan hal itu makin membuatnya perihatin untuk mendapat ilmugolok it-gwan-to-hwat yang sakti itu.

"Tapi kedatanganku kemari, bukan mencari permusuhan tapi persahabatan"

Tong Ko menjelaskan kata2nya tadi.

Setelah itu dia lalu tuturkan pengalaman sendiri selama ini.

Bagaimana dia dipitenah oleh kawanan Sin Tok, bagaimana Tay-keng, hendak menukari pedang ayahnya dan apa yang dipercakapkan anak itu dengan Shin Hiat-ji tatkala dihutan Sip-ban-tay-san.

Kesemuanya itu merupakan rangkaian faktor yang menjelaskan siapakah Tay-keng itu sebenarnya.

The Go menyambung penuturan puteranya dengan ceritakan kejadian digereja Kong Hau Si.

Namun Kui-ing-cu dan si bongkok Ih Liok tak henti2nya menggeleng kepala, pertanda mereka masih belum percaya penuh.

Tong Ko marah2.

"Baik, aku hendak naik kepuncak untuk menanyai Tay-keng. Coba lihat saja dia berani menyangkal tidak!"

Serunya dgn gemas.

Kui-ing-cu setuju dan menyatakan suka ikut.

Begitulah mereka berlima segera naik kepuncak Gio-li-nia.

Sekalian orang gagah terkejut melihat Kui-ing-cu datang bersama seorang buntung.

Sikap tokoh aneh itu seperti sedang menghadapi persoalan penting.

Denqan berisik sekalian orang gagah disitu sama ber-bondong2 menuju keruang Cip-gi-tong (permusyawarahan).

Kala rombongan Kui-ing-cu masuk ke Cip-gi-tong, saat itu Siau beng-siang tengah berunding dengan beberapa orang tokoh.

Mereka kebanyakan adalah bekas pemuka2 Thien Te Hui yang lalu.

Benar mereka itu masing2 pernah meminum kopi pahit dari The Go, tapi setelah dia insyaf dan berbuat jasa terhadap Thian Te Hui khususnya dan kalangann pergerakan menentang penjajah Ceng umumnya, orang2 gagah itu sama menaruh perindahan.

Melihat kedatangan rombongan Kui-ing-cu dengan The Go yang tak di-sangka2nya itu, mereka ter-sipu2 menyambutnya.

"The-heng, sudah hampir 20 tahun kita tak berjumpa, angin apakah yang meniup The-heng kemari ini?"

Tanya"

Kiau To siberangasan itu.

The Go hanya ganda tertawa.

Begitupun ketika Yan-chiu perdengarkan suara ketawa sinis, diapun tak menghiraukan.

Kui-ing-cu minta sekalian orang sama duduk tenang.

Suasana mendiadi hening sejenak.

Memang Kui-ing-cu mempunyai wibawa besar terhadap orang2 gagah di Lo-hu-san itu.

Tampak tokoh itu menyapukan sepasang matanya yang ber-kilat2 kesekelilingnya sebentar, lalu memanggil anak muda yang berdiri disebelah Siau-beng-siang.

"Tay-keng, kemarilah!"

Sejak peristiwa ayahnya itu, saking takutnya Tay-keng tak berani keluar rumah.

Untung tiada orang yang menaruh kecurigaan padanya.

Tetapi orang yang berbuat jahat, selalu dikejar dengan perasaan takut.

Tampak dengan wajah keren Kui-ing-cu memanggilnya, pucatlah segera wajahnya.

"A............da apa?"

Ia tanya.

"Tay-keng, adanya Kui locianpwe memanggilmu tentu ada urusan, tak usah kau tanya ini itu!"

Bentak ayahnya.

"Tio suko, jangan keliwat bengis terhadap anaklah,"

Lagi-lagi Yan-chiu, ibu yang memanjakan anak itu, menyelutuk.

Ia tak puas dengan sikap Kui-ing-cu.

Mau tak mau terpaksa Tay-keng maju menghampiri ketempat Kui-ing-cu.

Sekalian orang yang berada disitu sama menahan napas.

Mereka tak-tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Hanya yang diketahui, biasanya Kui-ing-cu itu selalu periang, mengapa kalini begitu keren (bengis), tentu ada sesuatu urusan yang sangat gawatnya.

"Tay-keng, waktu kau memberikan racun, apa kau tahu kalau itu hong-sin-san?"

Begitu Tay-keng datang, Kui-ing-cu terus melancarkan pertanyaan langsung. Mimpipun tidak Tay-keng, bahwa locianpwe itu menanyakan urusan itu. Saking keras goncangan hatinya, dia kelepasan menyahut .

"Tidak tahu!"

Ucapan Tay-keng itu bagaikan halilintar berbunyi ditengah hari. Suasana ruang Cip-gi-tong situ menjadi tegang. Yan-chiu dan Tio Jiang serentak loncat berdiri dari tempat duduknya.

"Tay-keng, apa katamu? Jadi hong-sin-san itu kau yang meminumkan?!"

Seru Tio Jiang dengan bengis. Saat ini barulah Tay-keng tersadar dari kesalahannya omong. Karena gugup tadi dia telah memberi pengakuan. Tapi secepat itu dia sudah segera dapat memungkir, sahutnya .

"Yah, mana aku mau melakukan perbuatan serendah itu?"

Kui-ing-cu berpaling kearah The Go dan Tong Ko, serunya .

"Ayah dan anak orang she The, kini aku percaya pada keteranganmu!"

Setelah itu dia kembali menuding Tay-keng dan berkata .

"Tay-keng, mereka berdua mengatakan kau ini seorang kaki tangan Ceng, apa kata pembelaanmu?"

Tubuh Tay-keng bergemetaran. Dia insaf saat2 itulah yang menentukan nasibnya, mati atau hidup.

"Hem....., mengapa tuduhan mereka dipercaya?"

Ia coba membela diri.

"Sebenarnya akupun masih setengah tak mernpercayai, masakan kau dapat berbuat sehina itu. Tapi begitu kutanya kau lantas menyahut 'tidak tahu'. Jadi tak dapat disangsikan lagi, kaulah yang memberikan racun itu!"

Kata Kui-ing-cu. Kehilangan akal, Tay-keng berpaling kepada tiang andalannya.

"Ma, pertanyaan Kui locipwe itu, suruh aku bagaimana menjawabnya?"

Memang sudah tadi2 Yan-chiu tak puas, serentak menyahutlah dia dengan lantang .

"Kui locianpwe, tadi Tay-keng mengatakan bahwa dia tak tahu apa2, mengapa kau lantas tuduh dia kaki tangan. Ceng?"

Kui-ing-cu terbeliak. Jawaban Tay-keng "aku tak tahu"

Itu, dubieus (samar2 artinya, bisa diartikan begitu, tapi juga.

"Aku tak tahu"

Dapat diartikan . aku tak tahu bahwa racun itu adalah hong-sin-san (tafsiran Kui-ing-cu).

"Aku tak tahu"

Pun dapat diartikan . aku tak tahu urusan peracunan itu sama sekali (tafsiran Yan-chiu). Kui-ing-cu tampak ragu2. Melihat itu, Tay-keng melancarkan desakan .

"Kui locianpwe, kau termakan tipu merekalah!"

The Go perdengarkan tertawa dingin, tegurnya .

"Tio tay-keng, sewaktu kau bersama adikmu berada digereja Kong Hau Si, apa yang kau kerjakan?"

The Ing yang sedari tadi berdiri dibelakang mamahnya, pun teringat akan gerak gerik engkohnya yang aneh sewaktu di Kwiciu tempo hari. Maka iapun turut mengeluarkan suara .

"Ya, koko, apa yang sebenarnya terjadi dalam gereja Kong Hau Si itu?"

"Bah, siapa yang tahul"

Tay-keng mengangkat bahu.

"Hem"

The Go mendeham.

"kau berjanji dengan tay-lwe kochiu Shin Hiat-ji untuk bertemu diruang perpustakaan gereja itu. Surat dari Shin Hiat-ji, telah kutukar, sehingga ber-jam2 kau menunggunya dikakus umum. Surat Hiat-ji itu kuselipkan di tangan nona Tio, ia pergi keruang perpustakaan dan bertemu dengan Hiat-ji. Tapi disitu ia segera ditawan oleh Hiat-ji, dibawa kegedung ti-hu. Hampir saja ia tak dapat lolos dari sarang harimau itu. Benar atau tidak, nona Tio?"

Tio In mengangguk.

The Go dan Tong Ko lalu bentangkan semua apa yang dilihat dan didengarnya mengenai komplotan Hiat-ji yang menggunakan Tay-keng untuk meracuni Siau-beng-siang itu.

Seketika itu, gemparlah Cip-gi-tong.

Para orang gagah, baik yang berada didalam maupun diluar ruangan itu, sama hiruk pikuk.

Tay-keng tampak ber-kaok2 kalang kabut, wajahnya pucat seperti kertas.

Lagi Yan-chiu, induk semang yang keliwat memanjakan anak itu, unjuk gigi.

Diperhatikan bahwa wajah suaminya masih mengunjuk keraguan, maka induk betina yang selalu mengiloni puteranya itu, segera tampilkan suaranya.

"Tio suko, jangan percaya omongan mereka yang beracun. Suruh mereka membawa buktinya!"

Dalam istilah tinju, keadaan The Go dan Tong Ko disebut groggy (terhuyung) kena "pukulan"

Lidah Yan-chiu yang tajam itu.

Kalau Shin Leng-sian masih hidup, tentu bisa dijadikan bukti.

Pada saat itu, dimintai mengunjukkan bukti, sudah tentu tak dapat.

The Go dan Tong Ko kesima sedang ada bebrapa orang gagah yang sudah me-rabah2 senjatanya.

Begitu tajam Yan-chiu memainkan lidahnya, sehingga barang yang sudah hitam dapat dikatakan putih.

Akibatnya, beberapa orang yang cupat pandangan, segera terpengaruh.

Dalam keheningan yang exploisif (dapat meledak) itu, tiba2 ada seorang menobros masuk dan mendekati Siau-beng-siang.

Dia membisiki telinga Sian-beng-siang.

Entah apa yang dibisikkannya itu, tapi yang nyata wajah Siau-beng-siang berobah seketika.

Dia segera memberi kerlingan mata kepada Yan-chiu, habis itu lalu mencabut pedangnya, dan menuding pada The Go.

"Cian-bin long-kun, tak kira setelah kakimu buntung, kau masih tak insyaf. Dari laporan saudara2 kita di Kwiciu kau telah mengangkat guru pada. Liat Hwat cousu Mo Put-siu dan berhamba pada penjajah Ceng lagi. Bukantah kedatanganmu kemari ini karena hendak mengambil kepalaku?"

The Go terbeliak.

Diam2 dia mengakui luasnya jaring organisasi Lo-hu-san itu.

Rahasia yang belum diketahui umum itu, toh sudah diketahui mata2 Lo-hu-san.

Percuma saja dia hendak sumpah kerak keruk bahwa penaklukannya kepada pemerintah Ceng itu hanyalah suatu siasat saja, toh nanti orang2 Lo-husan itu akan menertawakannya saja.

"Ko-ji, ayuh kita pergi dari sini, nanti kita berunding lagi!"

Serentak berbangkit mengajak puteranya, The Go lalu tekankan tongkatnya kelantai.

Bagaikan burung alap2, dia sudah melayang bebrapa tombak jauhnya.

Beberapa orang yang tersambar anginnya, sudah sama terhuyung rubuh.

"Tahan"

Seru Tio Jiang dan isterinya sembari rangsangkan pedangnya.

Tapi secepat itu pula, Tong Ko sudah babatkan pi-lik-to, trang......seketika Tong Ko rasakan bahwa sepasang pedang yap-kun dan kuan-wi itu bukan olah2 hebatnya.

Memang benar seperti yang dikatakan Kui-ing-cu, dewasa itu dia (Tong-Ko) masih belum cukup kuat untuk menandingi suami isteri Siau-beng-siang.

Buru2 dia mundur keluar sembari bolang balingkan pi-lik-tonya, serunya.

"Jangan mendesak aku melukai orang, lekas menyingkir!"

Tapi kala itu semua orang gagah Lo-hu-san sudah sama menganggap, bahwa kedatangan The Go ayah dan anak itu, adalah hendak menumpas keluarga Siau-beng-siang.

Sudah tentu mereka tak mau melepaskan kedua "penjahat"

Itu.

Apa boleh buat, Tong Ko terpaksa unjuk gigi.

Trang....., trang....., trang...., bebrapa senjata telah kena dibabatnya putus.

Juga kala itu Siao-lan sudah dikepung oleh beberapa orang.

Diruang Cip-gi-tong situ, menjadi kalut.

Pedang, golok, ruyung, kepal, silih berganti berseliweran membawa samberan angin yang men-deru2.

Oleh karena tempatnya kecil orangnya banyak, maka pertempuran itu sifatnya desak mendesak tak dapat mengembangkan permainannya.

Beberapa kali The Go dan Tong Ko hendak menobros keluar, tapi selalu gagal.

Lawan keliwat banyak.

Sepasang suami isteri Tio Jiang dan Yan-chiu, dengan sepasang pedang yap-kun-kuan-wi dan sepasang ilmu pedang Hoan-kang-kiam-hwat dan To-haykiam-hwat, bagaikan sepasang naga muncul dari laut.

Meskipun ilmugolok Tong Ko cukup sakti, tapi toh hanya dapat bermain seri.

"Semua diharap mundur! Kui-heng, Kiau loji, Ki lotoa dan Ko-heng, kita menjagai pintu, biarkan Jiang koji dan isterinya yang menangkapnya!"

Si bongkok Ih Liok berseru untuk menguasai kekalutan itu.

Oleh karena hebatnya hiruk pikuk, jadi setelah menyerukan bebrapa kali, barulah orang2 sama menyingkir.

Sibangkok.

Sin-eng Ko Thay, Ki Ce-tiong dan Kiau To menjaga dipintu.

Siao-lan sudah dapat diringkus.

Selama dalam ramai2 itu, Kui-ing-cu hanya enak2 diam saja melihati dipinggir.

Tak mau dia turut2an mengumbar sentimen.

Kini yang tertinggal ditengah ruang Cip-gi-tong, hanyalah The Go dan Tong Ko berhadapan dengan Tio Jiang suami isteri.

Benar The Go dan Tong Ko dapat bertahan, tapi merekapun tak dapat lolos.

Kalau pertempuran ber-larut2 sampai lama tentu payahlah keadaannya.

Ini diinsyafi The Go.

"Ko-ji, tinggalkan aku, ada suatu hari urusan ini tentu menjadi terang. Meskipun aku terbunuh, kelak mereka tentu menyesal!"

The Go segera perintah puteranya.

"Tidak yah, biar mati aku tetap disampingmu!"

Tong Ko menyahut tegas sembari menangkis serangan Yan-chiu. Begitu pedang lawan terdorong, dia mendesak maju terus membabat. Tapi saat itu Tio Jiang sudah menabas, maka terpaksa Tong Ko mundur lagi.

"Tong-Ko, kau panggil apa pada Cian-bin-long-kun?"

Tegur Tio Jiang. Dia tadi agak terkejut mendengar pembicaraan ayah dan anak itu.

"Dia adalah ayahku!"

Sahut Tong Ko. Tio Jiang tertegun, lalu menegas pula.

"Kalau begitu, siapa mamahmu?"

Tring....., lebih dahulu Tong Ko menghalau serangan Tio Jiang ceng-wi-tiam-hay, baru dia menyahut.

"Say-hong-hong Bek Lian!"

Tio Jiang terperanjat bukan kepalang, buru2 dia tarik tangan isterinya untuk diajak loncat mundur.

"Ada apa?"

Tanya Yan-chiu keheranan.

Tio Jiang putar pedangnya dalam sebuah lingkaran sinar, lalu berseru agar The Go dan Tong Ko hentikan permainannya.

The Go menekan dengan tongkatnya, loncat berjajar dengan puteranya Juga kalian orang gagah sama menjadi heran.

Mengapa Siau-beng-siang itu?

"Siao Chiu,"

Sesaat kemudian terdengar Tio Jiang membuka mulut.

"memang sejak semula sudah kuduga, bahwa antara Tong Ko dan Lian suci yang seperti pinang dibelah dua itu tentu ada hubungannya darah. Maka bukan tak ada sebabnya mengapa begitu melihatnya, subo sudah begitu kegirangan sekali sehingga binasa!"

"Lalu bagaimana?"

Tanya Yan-chiu dengan tawar.

"Suhu mengembara sampai sekarang belum ketahuan rimbanya, subo, sudah meninggal. Dia adalah cucu luarnya suhu, kurasa kita maafkan dia sekali lagilah!"

Yan-chiu penasaran, sanggahnya.

"Kalau memberi ampun, sedikitnya harus. dipunahkan seluruh kepandaiannya!"

"Kentut!"

Damprat Tong Ko dengan tertawa sinis. Yan-chiu cepat angkat pedangnya hendak menyerang, tapi dicegah suaminya.

"Dengan memandang muka suhu, biarlah, kita lepaskan dia sekali lagi!"

"Kalau suhu berada disini, rasanya beliau tentu takkan mengampuni binatang itu!"

Tong Ko tertawa ter-bahak2, sahutnya dengap kontan.

"Kalau engkong luar disini, tak nanti dia menjadi orang buta macam kalian ini!"

Setapakpun Tong. Ko tak mau mundur, adu pedang atau adu tajamnya lidah. Pada saat itu barulah Kui-ing-cu berbangkit dari tempat duduknya, pe-lahan2 maju menghampiri.

"Siao Ciu, ucapan Jiang koji itu benar juga. Darah daging Bek-heng hanya tinggal satu ini, melepaskan mereka sekali lagi, tak lebih dari pantas!"

"Kui locianpwe, mengapa kau selalu berfihak pada mereka?"

Tanya Yan-ciu dengan tak puas. Kui-ing-cu tertawa, sahutnya.

"Karena aku tetap percaya keterangan mereka itu benar, Siao Chiu, coba pikirkan, pada malam Jiang koji keracunan, siapakah yang berada didekatnya? waktu racun itu mulai bekerja siapa yang berada dirumahmu?"

Yan-chiu terpukul knock-out dengan rangkaian pertanyaan itu. Lama baru dia buka mulut, bukan merupakan jawaban tapi balas bertanya.

"Tapi mengapa mereka mau lari dari sini?"

"Entahlah, tapi tentu ada sebabnya. Dihadapan sekalian saudara yang berada disini, aku berani mempertaruhkan jiwaku, bahwa setelah turun gunung, mereka tentu akan naik kemari lagi. Siau Chiu, Jiang koji, jagalah Tay-keng, sebelum mereka kembali kemari, jangan kasih anakmu pergi ke-mana2!"

Kata Kui-ing-cu, Ialu berpaling kepada Tong Ko.

"Nak akulah yang tanggung, kalian boleh turun gunung.!"

"Kui locianpwe, terima kasih atas kebaikanmu! Cepatnya satu bulan, lambatnya 3 bulan, aku tentu kembali kesini lagi!"

Habis berkata, Tong Ko lalu ajak ayahnya melangkah keluar.

Oleh karena Kui-ing-cu yang tanggung, maka tiada seorang yang berani menghadangnya.

Tiba dikaki gunung, mereka beristirahat.

Mengenangkan pengalamannya tadi, The Go menghela napas, tapi sebaliknya Tong Ko tertawa lepas.

"Ko-ji, mengapa kau tertawa?"

Tong Ko tak menyahut pertanyaan ayahnya itu, tapi tetap ketawa terus, namun wajahnya mengerutkan kemuraman.

Nyatalah anak muda itu hendak melepaskan kemarahannya dengan tertawa.

The Go pilu menampak keadaan puteranya itu.

Dia sih sudah tua dan cacad, sebaliknya Tong Ko adalah laksana matahari terbit, hari depannya penuh dengan harapan yang gilang gemilang.

Serentak dia mengambil dua pilihan.

kalau urusan Tay-keng itu dapat beres, itu tak menjadi persoalan lagi.

Tapi kalau tidak, dia hendak ke Kwiciu untuk mencari Liat Hwat.

Biarlah dia, terbunuh mati, asal dengan kematian itu Tong Ko akan diterima kedalam barisan orang gagah Lo-hu-san.

"Ko-ji, pergilah ke Sip-ban-tay-san untuk menengok bagaimana kesudahannya pertempuran antara sucou dan Kwan Tay-kin. Aku hendak ke Kwiciu untuk menolongi In-ji!"

Sudah tentu Tong Ko tak mengetahui isi hati ayahnya itu.

Coba dia tahu bagaimana ayahnya hendak berkorban untuknya, sudah tentu dia akan menolak.

Maka setelah mengiakan, mereka lalu berangkat.

Disuatu tempat, mereka berpisah, satu ke Sip-ban-taysan dan satu ke Kwiciu.

---oo*dwkz^0^kupay*oo---BAGIAN 32 .

ILMU GOLOK KIAN-THIAN-IT-GWAN-TO-HWAT Sekarang mari kita ikuti perjalanan Tong Ko lebih dahulu.

Karena pesatnya dia larikan kuda, dalam satu hari saja, tibalah sudah dia digunung Sip-ban-tay-san.

Didepan pondok ayahnya, didapatinya Ang Hwat cin-jin dan Kwan Tay-kin, duduk bersila berhadapan satu sama lain.

Mereka diam seperti patung.

Apakah kedua gembong itu masih saling mengadu lwekang, demikian Tong Ko bertanya dalain hati.

Tapi serta didekatinya, astaga.......kiranya kedua tokoh itu sudah kaku menjadi mayat!

Tentulah karena kehabisan lwekang, kedua gembong itu sama2 binasa.

Walaupun hanya setengah tahunan dia berkumpul dengan Ang Hwat tetapi Tong Ko merasa berhutang budi besar kepada cin-jin itu.

Kepandaiannya yang dimiliki sekarang ini, adalah berkat gemblengan sucounya itu, Ditendangnya tubuh Kwan tay-kin sehingga terpental sampai beberapa meter jauhnya.

Habis itu dia lalu menggali lubang untuk mengubur jenazah sucounya.

Tapi tiba2 diperhatikan sikap duduk suytounya itu agak aneh.

Tangannya kanan ditaruhkan didada, sedang tangan kiri menjulai kebawah, jari telunjuknya menjulur, seperti menunjuk sesuatu.

Ketika mata Tong Ko mengikuti arah yang ditunjuk itu, ternyata ditanah yang tertutup daun, seperti ada coretan tulisannya.

Waktu daun2 itu dikebutnya, ternyata disitu terdapat guratan tangan yang berbunyi begini.

"It-gwan-to-hwat berada di Thiat-san........."

Huruf "san" (gunung) dituliskan sangat kecil, pinggirnya agak mencong seperti hampir belum selesai.

Memang Tong Ko pernah mendengar, bahwa ilmugolok it-gwan-hwat itu berada pada suku Thiat-theng-biau (orang Biau dari daerah Thiat-theng).

Diapun pernah naik kepuncak Thiat nia untuk mencarinya.

Jadi dia yakin, huruf "san"

Kecil itu, tentulah kepala dari huruf "nia".

Dalam huruf Tionghoa huruf nia (puncak) itu, atasnya memakai huruf san (gunung).

Selesai mengubur jenazah Ang Hwat, dia segera ber-gegas2 menuju ke Thiat-nia.

Tapi baru berjalan belum jauh, matanya tertumbuk dengan mayat Shin Hiat-ji.

Kebenciannya terhadap anak muda itu meresep sampai ditulang.

Melihat orang sudah jadi mayat, Tong Ko tetap meluap amarahnya.

Diangkatnya mayat Hiat-ji terus dibanting jauh2.

Sekali, dua kali, ya sampai beberapa kali dia ulangi bantingannya itu.

Setelah tubuh Hiat-ji hancur mumur, barulah puas dia.

Untuk penutupnya, dia kirim sebuah tendangan kearah perut mayat.

Tiba2 secarik surat muntah keluar.

Buru2 Tong Ko mengambilnya.

Demi dibacanya, dia berjingkrak kegirangan.

"Yah!"

Serunya memanggil The Go.

Saking girangnya, lupa sesaat bahwa kala itu dia hanya seorang diri.

Sesaat kemudian, baru dia insyaf dan ter-sipu2.

Dibacanya sekali lagi surat itu.

Ternyata itu adalah sebuah surat perjanjian.

Separoh bagian adalah perjanjian hutang Tay-keng kepada Hiat-ji dan sebagian lagi pembelian sebuah rumah gedung dikota raja atas nama Tio Tay-keng.

Dalam surat pembelian rumah itu, terlampir sepucuk surat pernyataan terima kasih Tay-keng kepada Hiat-ji yang sudah membelikan rumah itu untuknya.

Ah, kalau kemaren lusa dia sudah dapat mengunjuk surat bukti itu kepada Tio Jiang, tak nanti dia sampai bentrok dengan orang2 gagah disana.

Sebenarnya pada saat itu, dia terus hendak menyusul ayahnya ke Kwiciu, tapi serta teringat akan it-gwan-tohwat, dia ambil putusan hendak ke Thiat-nia lebih dahulu.

Toh kesana pulang pergi hanya memakan waktu tak berapa lama.

---oo^dwkz*0*kupay^oo---Tak antara berapa lama tibalah dia dipuncak Thiat-nia.

Thiat nia.

itu sebenarnya tempat kediaman suku Thiat-theng-biau.

Tapi sejak pemimpin mereka Kit-bong-to binasa, mereka sama tinggalkan tempat itu.

Tiba dilamping gunung, tampak tempat itu sunyi lelap, hanya kawanan burung alap2 yang terbang kian kemari.

Hati Tong Ko serasa rawan melihat pemandangan yang menyayukan itu.

Gua2 tempat kediaman suku That-theng-biau, berobah menjadi sarang rumput yang lebat dan tinggi.

Disana sini Tong Ko tak menemukan sesuatu tanda apa2.

Akhirnya dia mengambil putusan untuk lekas2 menyusul ayahnya.

Tapi pada lain saat tiba2 dia teringat, ketika berada disitu tempo dulu, pernah dia melihat sebuah gua yang pintunya memakai tirai bambu dan dijaga oleh pengawal.

Ya........, tempat itu memang mencurigakan, baik ia mencarinya.

Tak lama dia mencari, benar juga ada sebuah gua yang memakai tirai bambu.

Buru2 dia melangkah masuk.

Dilihatnya ditengah gua situ, terdapat sebuah ciok-pay (alter batu).

Permukaan ciokpay itu diukir dengan lukisan sebuah golok bengkok, macamnya persis dengan pi-lik-to.

Sedang sebelah belakangnya, terdapat tulisan yang berbunyi "it-to, cap-to peh-to cian-to ban-to" (satu golok, sepuluh golok, seratus golok, seribu golok, selaksa golok).

Dibawah tulisan itu, kembali terdapat lukisan sebuah golok bengkok melayang diudara, berputar melingkar.

Lukisannya tampak hidup sekali.

Sampai sekian saat Tong Ko memandangnya ter-longong2.

Apakah artinya tulisan itu?

Adakan itu penuntun ilmugolok it-gwan-to-hwat?

Melihat lukisan golok melingkar itu, dia agak mengerti, tapi hanya samar2 sekali.

Bebrapa kali mulutnya menghafalkan tulisan itu.

Tiba2 dia teringat sesuatu.

Nama ilmugolok itu adalah it-gwan, ini diambil dari kata2 dalam kitab Chun Ciu yang artinya sumber dari segala apa.

Dengan begitu, bukankah yang dimaksudkan dengan kata it-gwan-to-hwat itu, sebenarnya hanya terdiri dari satu jurus saja?

Dari satu jurus itu, timbullah perobahan yang tak terbatas, dari sebatang golok menjadi sepuluh, dari sepuluh menjadi seratus, seribu dan sepuluh ribu!

Memikir sampai disini, dia mempelajari lukisan golok terbang melingkar itu dengan perdata.

Ah......, tampaknya sederhana sekali.

Tapi kembali dia teringat, bahwa sebelum jagad ini terbuka, bermula hanyalah sebuah gumpalan bundar yang samar2 perwujutannya.

Kemudian baru tercipta langit, bumi dan seluruh isi alam.

Lingkaran bundar itulah pokok pelajaran it-gwan-to-hwat, terdiri hanya satu jurus, jurus pertama yang juga menjadi jurus terakhir.

Satu jurus yang akan melahirkan sepuluh, seratus, seribu dan selaksa gerak perobahan!

Saking girangnya, Tong Ko sampai loncat ber-jingkrak2, jantungnya ber-tak2 seperti alu2 (bandul) lonceng.

Pi-lik-to diangkat terus diputar dalam sebuah lingkaran besar.

Selingkar sinar kilat, segera membungkus dirinya.

Tong Ko mengambil napas, lalu me-lingkar2-kan goloknya keempat jurusan, atas bawah dan kanan kiri.

Makin lama makin lancar, lingkaran sinarnya dari besar menjadi kecil dan pada lain saat pecahlah beribu lingkaran bola sinar, bertaburan disekitarnya.

Guruh angin yang men-deru2 juga makin gencar dan riuh.

Segera Tong Ko dapatkan bahwa sekalipun jurus permainan golok itu hanya terdiri satu gerakan melingkar, namun kedahsyatannya jauh berlipat kali dari ilmugolok 3 jurus ciptaan Ang Hwat cinjin itu.

Benar tokoh A ng Hwat itu seorang gembong persilatan yang tinggi ilmunya, namun untuk menciptakan suatu ilmu golok yang menyamainya tak usah melebihi, dari it-gwan-to-hwat, rasanya masih belum dapat.

Sederhana tampak ilmu golok sejurus itu, namun dia merupakan sumber kelahiran dari segala gerak perobahan yang tak terbatas banyaknya!

Tong Ko seperti kerangsokan setan.

Dia mainkan gerakan itu sampai setengah jam dengan non-stop.

Angin guruh yang ditimbulkannya, sampai menggoncangkan gua itu.

Sampai disitu barulah dia berhenti, terus menuju ke Kwiciu.

---oo^dwkz*0*kupay^oo---BAGIAN 33 .

BUKTI PENGHIANATAN Sekarang mari kita tengok keadaan The Go dahulu.

Tiba di Kwiciu dia sudah merancang.

Kalau langsung menuju kegedung tihu, Liat Hwat pasti akan gusar melihat dia datang seorang diri.

Dia tak takut mati, tapi jangan sampai hal itu menimpah diri puterinya juga.

Maka lebih dulu dia cari sebuah tempat penginapan didekat gedung tihu situ.

Siangnya dia tak berani keluar.

Setelah malam tiba, baru dia lakukan penyelidikan kegedung tihu.

Tapi sampai 10 malam ber-turut2 menyelidiki, tak berhasil masuk.

Penjagaan disitu teramat kuatnya, jangan kata manusia, sampaipun kawanan kelelawar tak dapat menobros masuk.

Kecerdikan otak Cian-bin long-kun menghadapi ujian berat.

Dia makin gelisah.

Hari makin berlarut panjang, berarti kecurigaan Liat Hwat makin bertambas besar.

Kemungkinan Liat Hwat akan mendapat laporan tentang peristiwa di Lo-hu-san, makin besar.

Sehari berlalu, sehari itu kemungkinan rahasia itu akan diketahui Liat Hwat.

Begitu mengetahui, Liat Hwat pasti akan bertindak terhadap The Ing.

Sampai pada malam ke 16, The Go tak dapat menahan diri lagi.

Lewat tengah malam, dia keluar dari penginapan.

Penginapan, itu dengan gedung tihu hanya terpisah dua buah jalan besar.

Dalam sekejab saja dia sudah berada didekat tembok gedung yang hampir dua tombak tingginya.

Dilihatnya lampu penerangan diatas tembok masih menyala.

Kalau sampai jam lampu itu dimatikan, sukarlah untuk menyelinap masuk.

Dia sudah membayangkan suatu pertempuran, apabila memasuki gedung itu.

Tapi masih ada satu kemungkinan, yalah kalau saja Liat Hwat masih belum mengendus peristiwa di Lo-hu-san itu, bukantah dia bisa mengelahuhi penjaganya?

Untung2an namanya, tapi biarlah dicobanya, toh sememangnya dia sudah bertekad bulat untuk mengadu jiwa.

mengapa berbanyak hati (ragu2).

Diam2 dia menyesali kebodohannya membuang waktu sampai hampir setengah bulan itu.

Begitu tiba dimuka pintu gerbang, segera terdengar dua buah suara berkerontangan.

Menyusul dengan itu, terdengar dua orong pengawal membentak .

"Siapa?"

"Kawanan orang buta, mengapa tak kenal padaku!"

The Go mendamprat dengan garang. Begitu menghampiri dekat, kedua pengawal itu segera berseru .

"Hai, kiranya The tayjin!"

Habis mengeluarkan kata2 itu, salah seorang tertawa menyengir, tapi kawannya buru2 memberi isyarat mata, hingga dia hentikan tertawanya.

"The tayjin, sudah bebrapa hari lamanya Liat Hwat sucou menunggu kedatanganmu!"

The Go yang tajam matanya segera mengetahui sikap yang aneh, dari penjaga itu. Bahwasanya penjagaan digedung tihu itu makin lama makin diperkuat, tentulah terjadi sesuatu yang luar biasa.

"Benarkah? Benar aku menyiksa pikiran dia siorang tua saja!"

Kata The Go dengan wajar sembari berjalan dengan tongkatnya ketengah kedua orang itu.

Matanya memandang kesekitar halaman dalam.

Kiranya disekitar pintu itu tiada lain orang selain kedua orang tadi.

Diam2 dia menduga, kedua orang itu tentu golongan jago yang berilmu.

Cepat The Go bertindak.

Hanya sekali tampak lengannya ditarik kebelakang, atau sikunya telah memakan jalan darah khi-hay-hiat salah seorang pengawal itu.

Hekk....., hanya terdengar mulut menguak sekali dan penjaga itu segera terkulai ditembok tak dapat berkutik lagi.

Melihat itu, kawannya terperanjat terus melolos golok kui-thau-to.

Tapi belum sempat dia gerakkan, kelima jari The Go yang bagaikan cakar garuda itu sudah mencengkeram dadanya sembari mengancam .

"Kalau berani berteriak, nyawamu hilang!"

Orang itu pucat, golok yang sudah diangkat keatas terpaksa diturunkan lagi.

"Apakah benar Liat Hwat cousu menunggu aku?"

Tanya The Go dengan berbisik. Orang itu mengangguk. The Go lalu tanyakan dimana adanya The Ing.

"Takut kau nyeleweng, maka Liat Hwat cousu telah menahan nona The didalam sebuah kamar, tapi ia tak kena apa2!"

Mata The Go berkicup sejenak mencari akal, lalu berkata.

"Bawalah nona The keluar kota!"

Orang itu meringis, dan kembali The Go ketawa dingin.

"Kau takut kehilangan baju kebesaran bukan? Tapi hanya dengan begitulah, jiwamu tetap terpelihara!"

Orang itupun mempunyai rencana.

Kalau nanti dilepas, dia tentu bebas melapor pada atasannya, maka diapun lantas menyanggupi.

Tapi The Go jauh lebih cerdas dari dia.

Melihat wajah orang, dia sudah tahu apa yang dikandungnya.

Jari tengahnya ditekankan pada jalan darah dipundak si orang, katanya.

"Jalan darahmu hu-kut-tiam-hiat sudah kututuk. Dalam 3 jam, kau tentu mati. Inilah ilmu tutukan ajaran Ang Hwat cinjin tempo dulu. Tapi nona The dapat membukanya. Jiwa atau pangkat, terserah padamu!"

Habis itu The Go tinggalkan dia, terus masuk kedalam.

Sebenarnya apakah sedemikian sakti ilmu tutukan Ang Hwat cinjin itu?

Tidak, cinjin yang termasyhur sakti itu, tidak mempunyai ilmu tutukan hu-kut-tiam-hiat yang dapat mematikan orang dalam waktu 3 jam.

Tapi untuk menghadapi perangkap yang telah disediakan Liat Hwat itu, The Go telah gunakan gertakan itu untuk menakuti orang.

Melangkah bebrapa meter jauhnya, dia masih belum mendengar orang berseru memanggilnya, tapi dia yakin orang itu tentu sudah kelabakan takut.

Sebenarnya setelah itu, The Go dapat lolos, namun tak mau dia.

Dia tetap hendak bertemu dengan Liat Hwat, agar penjaga tadi dapat lancar melakukan perintahnya.

Biar dia menghadapi bahaya, asal puterinya tertolong.

Orang yang ditinggalkan The Go tadi, ter-longong2 sampai bebrapa saat.

Akhirnya dia lebih menyayangi jiwanya dari kedudukan.

Dengan langkah gegas, dia segera menuju kekamar tempat The Ing.

Sepanjang lorong dia berjumpa dengan beberapa penjaga, tapi mereka sama tak mencurigainya.

"Liat. Hwat cousu memerintahkan supaya membawa nona The keluar ..............."

Melihat kawannya itu adalah orang kepercayaan Liat Hwat, penjaga kamar tahanan disitu main percaya dan mempersilahkannya masuk. Didapatinya wajah The Ing pucat ketakutan.

"Nona The, ayahmu menunggu diluar!"

Bisik siu-wi atau penjaga yang bakal mati dalam 3 jam itu.

Bahwa dia tak mengatakan kalau The Go masuk kedalam gedung situ, adalah untuk kepentingannya sendiri.

Kalau dia mengatakan begitu, The Ing tentu membangkang diajak pergi dan ini berarti jiwanya (penjaga itu) takkan tertolong.

"Apa kata2mu itu sungguh?"

Tanya The Ing masih setengah tak percaya. Orang itu tak mau membuang waktu terlalu banyak, dengan ter-sipu2 dia meyakinkan.

"Nona The, percayalah padaku! Mana aku berani berdusta, karena ayahmu telah menutuk jalan darahku hu-kut-hiat, dalam 3 jam jiwaku tentu lenyap. Akan kuantar kau keluar kota, tapi harap kau nanti buka jalan darahku itu!"

The Ing terbeliak.

Seingatnya, ayahnya tak mempunyai ilmu penutuk jalan darah yang disebut hu-kut-toa-hiat itu.

Tapi dari raut wajahnya, terang orang itu tak pura2.

Nona cerdas itupun segera dapat mengetahui kalau itu hanya siasat ayahnya saja.

"Ya, benar,"

Sahutnya tertawa "memang ilmu tutukan ayahku itu lihay sekali.

Duapuluh tahun yang lalu, tutukannya itu akan membinasakan orang dalam waktu 3 jam.

Tapi kini, karena dia lebih sakti, mungkin lebih cepat lagi dari itu!"

Muka orang itu berobah pucat seperti mayat, serunya.

"Ayuh, kita lekas pergi saja!"

Orang itu tak berani jalan pintu besar, tapi dari pintu samping.

Tapi baru tiba dimuka pintu itu, didalam ruangan gedung sana terdengar suara berisik.

Ha...., itu tentulah The Go sedang mengadu biru, maka diapun segera ajak The Ing lekas2 cepatkan langkah.

Justeru karena terjadi keributan itu, maka banyaklah para pengawal yang ber-lari2 masuk kedalam ruangan, jadi dengan lenggangnya dapatlah mereka berdua melewati pintu samping, menikung sebuah jalanan kecil terus menuju keluar kota.

Ya....., memang yang membikin keributan dalam gedung itu adalah The Go.

Memang dia telah bertekad untuk mengobrak-abrik gedung tihu.

Baru dia melangkah bebrapa tindak, dia sudah berpapasan dengan 3 orang siu-wi (penjaga).

Siu-wi itu sudah tentu tak mencurigai The tayjinnya.

Begitu dekat, tahu2 The Go sapukan tongkatnya.

Siu-wi yang berada dimuka segera rubuh, tubuhnya merabuhi kawannya kedua, membentur tembok dan pingsan.

Orang yang ketiga coba menghantam dengan golok.

tapi secepat kilat The Go sudah menyelinap kebelakang seraya tutukkan ujung tongkatnya kepunggung orang.

Disitulah terdapat jalan darah leng-ta-hiat atau disebut juga jin-sim-hiat, karena The Go menutuk keras, maka orang itupun melayang jiwanya.

The Go sudah hilap tampaknya.

Tanpa peduli diketahui orang, dia tinggalkan begitu saja ketiga mayat yang mayang melintang dijalan itu.

Tak lama berjalan masuk, kembali dia bersua dengan 3 orang siu-wi lagi, berbaris medatangi.

Baru The Go hendak turun tangan, atau siu-wi yang berada paling belakang sendiri memperingatkan kawannya.

"Hati2, The Go sudah menyelundup kemari!', Siu-wi yang dimuka sendiri mendongak dan hai.......

"penjahat"

Yang dimaksudkan itu sudah berada dihadapannya.

Cepat mereka loncat kesamping, tapi tak kurang cepatnya lagi The Go sudah lantas loncat menerjang.

Sewaktu masih melayang, ujung tongkatnya sudah ditusukkan kekepala orang, siapa coba berusaha menghindar kesamping.

Tapi The Go sudah robah gerakannya mengikuti gerak lawan.

Senjata sam-ciat-kun (ruyung 3 ruas) orang itu terpental menghantam kawannya sendiri.

Kedua siu-wi yang lain lalu men-jerit2 macam babi hendak disembelih.

Sekejab saja muncullah 4-5 puluh siu-wi mengepung The Go.

Tempat disitu merupakan sebuah lorong jalan yang sempit, kedua pinggirnya yalah tembok.

The Go tak mau lari, tapi hendak mengamuk mereka.

Dua buah tongkatnia berkelebatan kian kemari, sebentar kebawah atas, sebentar kekanan kiri, menyapu, menghantam, menutuk.

Ada kalanya tubuhnya melayang diudara bagaikan seekor burung alap2 sembari tarikan kedua tongkatnya.

Walaupun jumlah mereka banyak, tapi karena tempatnya sempit, jadi mereka tak dapat mengembangkan permainannya.

Tak berapa lamanya, The Go telah dapat menghajar mereka kocar kacir.

The Go tertawa lebar, tapi belum saja nada ketawanya itu sirap, atau terdengarlah serangkum ketawa melengking kecil.

Suara itu samar2 kedengarannya seperti teraling sesuatu barang.

Tapi itu sudah cukup menciutkan nyali The Go.

Juga kawanan siu-wi itu, lekas2 menyingkir mundur.

Ketawa itu datangnya dari sebelah kiri yang merupakan tembok tinggi.

The Go cepat mundur setombak kebelakang.

Suara ketawa itu makin dekat.

Tiba2 tembok bergemuruh rontok dan tembuslah sebuah lubang besar.

Bukan kepalang kejut The Go.

Kiranya masih satu meteran jauhnya, Liat Hwat sudah membuka jalan dengan menghantam tembok, menandakan sampai dimana kemajuan yang dicapai oleh cousu itu dalam penyakinannya ilmu ganas, hun-kang-hwat (lwekang awan api).

The Go cepat pusatkan perhatiannya ber-siap2.

Liat Hwat ajukan langkahnya kelubang tembok, lalu dengan suaranya yang seperti anak kecil melengking.

"Kau sudah pulang The Go? Bagaimana hasilnya ke Lo-hu-san?"

The Go merapat ketembok, jaraknya dengan Liat Hwat hanya tak lebih dari satu tombak. Sahutnya.

"Berhasil memuaskan! Seluruh pahlawan Lo-hu-san sudah masuk ke Kwiciu dan sebentar lagi akan menyerbu kemari!"

Liat Hwat tertawa meringkik, semprotnya.

"Bagus, kau akan menemani mereka menghadap Giam-ong!"

Tangannya diangkat keatas, lalu diajukan kemuka.

Benar samberan anginnya tak seberapa keras, tapi hawanya yang amat panas benar2 membakar orang.

The Go menginsyafi dirinya bukan tandingan cousu itu, namun dia tetap berusaha untuk memperpanjang kematiannya.

Dengan punggungnya dia bentur tembok dibelakang, dari situ dia menerobos kesebuah ruangan besar.

Liat Hwat mengejarnya sambil tertawa iblis seraya melontarkan 4 kali pukulan.

Sesaat The Go rasakan dirinya diselubungi oleh badai hujan yang hebat sehingga ter-huyung2.

Untung Liat Hwat masih agak jauh.

Dia segera tekankan tongkatnya ke!antai lalu melayang keluar pintu.

Ada dua orang siu-wi coba menghadangnya, tapi The Go cepat semprotkan ludahnya.

Salah seorang yang maju dimuka, segera menutupi mukanya ber-kaok2 kesakitan.

Sedang kawannya yang dibelakang terus hendak melarikan diri, namun sudah didahului dengan sebuah sapuan tongkat.

Orang itupun menggelapar jatuh.

Semula kejadian itu hanya berlangsung dalam sekejaban mata, namun saat itu dari belakang sudah terasa ada angin menyambar, terang kalau Liat Hwat sudah tiba.

Dengan kesebatan yang mengagumkan, The Go lontarkan tubuh orang itu kearah Liat Hwat.

Ketika Liat Hwat kaget dan menarik pulang tangannya, The Go sudah menyelinap masuk kedalam sebuah ruangan, dari situ loncat keluar jendela, melewati sebuah pintu bundar, tiba dikebun belakang.

Diatas pagar tembok sudah penuh ber-jajar2 barisan pengawal, tapi syukur mereka belum mengetahui kedatangan The Go.

The Go menyelinap bersembunyi dalam sebuah goa2an palsu.

Dia sudah memperhitungkan, bahwa Liat Hwat tentu akan mengadakan penggeledahan, tapi biarlah.

Setiap menit berlalu, setiap menit pula jiwanya masih terpelihara.

---oo^dwkz*0*kupay^oo---Sekarang mari kita tengok The Ing dan siu-wi yang menelantarnya keluar dari sarang harimau itu.

Begitu tiba diluar kota, bertanyalah The Ing.

"Hai......, mana ayahku?"

"Nona The, buka dulu jalan darahku, baru nanti aku bilang!"

The Ing cukup tahu bahwa sebenarnya jalan darah orang itu tak kena apa2, tapi untuk mengorek keterangan, iapun bersikap sungguh2.

"Sebelum berjumpa dengan ayah, aku tak mau membuka jalan darahmu itu!"

Siu-wi itu banting2 kaki, ujarnya.

"Ai, saat ini kukuatir ayahmu sudah binasa dibawah pukulan Liat Hwat cousu!"

"Apa?!"

Alangkah terkejutnya The Ing.

Orang itu lalu menceritakan segala yang terjadi.

The Ing terlongong2 kehilangan faham.

Ketika orang itu mendesaknya lagi, The Ing tak ambil mumet, terus hendak angkat kaki.

Sudah tentu bukan kepalang kejut orang itu.

Berseru memanggil nama The Ing, dia lari menyusulnya, The Ing sudah gemas.

Ia sangat cemas memikirkan keadaan ayahnya, kalau dapat, ingin dia mempunyai sayap supaya dapat lekas terbang kesana.

Melihat orang mengejar, tanpa berpaling lagi, ia segera kebutkan tali cheng-si dalam jurus ceng-hay-seng-boh.

Kala itu sudah malam, tali cheng-si hanya sebesar rambut orang halusnya, dilayangkan keudara sedikitpun tak mengeluarkan suara.

Sudah tentu orang itu mengaduh kesakitan ketika tali cheng-si menggurat mukanya dan kakinyapun serasa kejang (kramp) lalu rubuh ketanah.

Sedang waktu melayangkan tali itu, The Ing masih tetap berjalan.

Begitu ia tarik pulang talinya, diapun sudah berada beberapa tombak jauhnya.

Orang itu ternyata keliwat sayang jiwanya.

Mengira betul2 jiwanya terancam mati dalam 3 jam, dia lalu bangun dan mengejar lagi.

The Ing tak peduli, ia tancap gas berlari se-kencang2nya.

Pikirannya hanya tertuju kepada ayahnya.

Begitulah terjadi kejar mengejar.

Yang mengejar tak henti2nya berteriak2 me-manggil2.

Tak antara berapa lama, tiba2 ada selingkar cahaya api ber-gulung2 ditengah tegalan.

Melihat itu, girang The Ing bukan alang kepalang.

Setelah jelas siapa yang berada di balik cahaya api itu, berserulah ia dengan keras.

"Engkoh Ko, ayah..... ayah....."

Saking kesusu dan gugup, The Ing tak dapat bicara lampias.

Memang lingkaran api yang menghampiri datang itu bukan lain adalah pemuda Tong Ko yang telah mendapatkan rahasia ilmugolok kian-thian-it-gwan-to-hwat.

Cukup dengan tiga loncatan, Tong Ko sudah tiba ketempat si nona yang kini telah diketahui sebagai adiknya sendiri.

"In-moay, dimana ayah?"

Mendengar sipemuda menyebut "ayah"

Kepada The Go, The Ing terkesiap kaget.

"Kau maksudkan ayahku kan?"

Ia menegas.

"Benar, ayahmu dan ayahku juga!"

The Ing makin ter-heran2.

Secara ringkas, Tong Ko ceritakan apa yang telah terjadi.

Tepat pada saat itu, si siu-wi yang mengejar tadipun sudah tiba.

Tanpa berkata ba atau bu, Tong Ko menyambutnya dengan sebuah hantaman.

Siu-wi itu terlempar sampai bebrapa meter jauhnya.

Benar jiwanya tak sampai melayang, tapi kini hanya me-rintih2 tak dapat bangun lagi.

Serta tahu bahwa Tong Ko itu sebenarnya engkohnya sendiri, tersadarlah The Ing mengapa tempo hari ayahnya melarang keras ia bergaul rapat dengan pemuda itu.

Apa yang diceritakan oleh siu-wi tadi, dituturkan kepada engkohnya itu.

"Biar bagaimana juga kita harus kesana!"

Tong Ko memberi ketetapan.

Kedua engkoh beradik itu lalu berlari menuju ke Kwiciu.

Karena sudah malam, pintu kota sudah ditutup.

Mereka memanjat tembok kota, tapi segera pandangannya tersilau dengan cahaya obor yang terang benderang laksana siang hari.

Waktu mereka mendekati, ternyata disitu terdengar sorak-sorai yang hiruk sekali.

Diantara keributan itu, jelas terdengar suatu suara ketawa yang melengking nyaring.

Tahulah kedua saudara itu siapa yang ketawa itu.

Cepat Tong Ko ajak The Ing.

menuju kegedung tihu, terus memanjat temboknya.

Ketika melongok kebawah, tepat mereka berhadapan dengan kebun belakang.

Disitulah adanya penerangan obor yang menyilaukan tadi.

Ber-puluh2 orang dengan memegang obor tengah mengepung sebuah gunung2an palsu.

Gunung2an itu separoh bagian sudah didorong rubuh.

Didalam lingkaran kepungan itu, tampak Liat Hwat setapak demi setapak maju menghampiri The Go, sedang yang tersebut belakangan ini selangkah demi selangkah mundur kebelakang!

Tong Ko menginsyafi betapa gawatnya keadaan sang ayah.

Tiba2 dia mendongak tertawa keras2.

Lwekangnya kini sudah memasuki tingkat kesempurnaan seorang akhli jempolan.

Benar suara itu tak dapat menyirapkan lengking ketawa Liat Hwat, tapi kumandangnya mengejutkan seluruh suasana.

Semua orang memandang kearah Tong Ko.

Sebaliknya The Go terperanjat melihat kehadiran puteranya itu.

"Ko-ji, lekas... ....."

Belum sempat dia mengatakan "pergi", sesosok tubuh lain muncul didekat Tong Ko.

Makin gelisah resah perasaan The Go.

Putera dan puterinya datang kesitu, celaka, habislah keturunan orang she The.

Karena mengeluh, perhatiannya menjadi agak lengah dan tahu2 krak....krak...., kedua tongkatnya sudah kena terhantam putus oleh Liat Hwat.

Tongkat putus, orangnyapun turut terjerembab kebelakang.

Liat Hwat tak memandang mata pada Tong Ko.

The Go rubuh, dia segera maju menghantam dengan kedua tangannya.

The Go meramkan mata menunggu ajal.

Hawa panas yang menekannya, makin membara.

Tapi dalam keheranannya, tiba2 hawa panas itu lenyap dan perasaan tubuhnyapun enak kembali.

Ketika membuka mata, dia segera terkesiap.

Kiranya tubuh Tong Ko itu terbungkus dengan ribuan lingkaran sinar kecil2, berkilau2 macam kilat menyambar.

The Go tahu kalau sinar kilat itu terjadi dari golok pi-lik-to, tapi dia tak tahu mengapa puteranya dapat memainkan secara begitu sakti sekali.

Rambut Liat Hwat menebar lempang, sepasang tangannya bergerak2, tapi tak mempan terhadap anak muda itu.

Menyaksikan kesemuanya itu, girang The Go me-luap2.

Dan saat itu The Ingpun melayang turun sembari meng-gerak2an tangannya.

Belasan wi-su (penjaga) rubuh.

Gadis itu menghampiri kearah ayahnya.

The Go pulih semangat.

Dia loncat menerjang dua orang penjaga.

Sekali hantam dia sudah dapat merebut dua batang tombak.

The Go makin garang.

Dengan sebuah seruan mengguntur, kawanan wi-su itu sama menyingkir mundur.

"Ing-ji, kau menghendaki yang mana dulu?"

Tanyanya kepada sang anak.

"lni!"

Sahut The Ing sembari menuding seorang opsir.

"Baik,"

Kata The Go sembari tekannya ujung tombak kelantai terus melayang Dipartai sana, Liat Hwat tadi terkejut demi sudah mengetahui bahwa golok yang dimainkan Tong Ko itu bukan lain adalah golok pusaka kian-thian-it-gwan-pi-lik-to.

Maka dia lalu lepaskan The Go untuk menghadapi anak muda itu.

Pada saat itu dia sudah tumplak seluruh kepandaiannya.

Setiap pukulan yang dilancarkan, panasnya seperti api membakar.

Namun it-gwan-to-hwat itu mempunyai ribuan gerak perobahan yang tak habis2nya.

Hawa api itu tak dapat meranggas tubuh Tong Ko, bahkan kebalikannya, badai kilat yang men-deru2 dan ribuan pagutan golok, pelahan tapi tentu, makin mendesaknya.

Begitulah keduanya dalam beberapa kejab saja, sudah bertempur sampai 5-6 puluh jurus.

Sebenarnya menurut penilaian, kepandaian Liat Hwat jauh diatas Tong Ko.

Tapi anehnya, setiap serangannya selalu dikebut hilang laksana mega tertiup angin.

Kalau beberapa jurus Liat Hwat terpaksa menelan kerugian, adalah Tong Ko yang selama itu kebanyakan hanya bertahan jarang menyerang, kini mengetahui bahwa tenaga lawan sudah makin lemah.

Inilah yang di-nanti2-kan.

Membolang-balingkan pi-lik-to, dia berganti cara, dari bertahan menjadi menyerang!

Dalam saat Tong Ko masih melibat Liat Hwat itu, The Go dan The Ing sudah dapat menghalau mundur puluhan wi-su itu.

"Lekas panggilkan pasukan untuk mengurung kebun ini!"

Seru mereka kepada kawan2nya. Dengan seruan itu, mereka lalu pencarkan diri. The Go terperanjat. Kalau benar bala bantuan didatangkan secara besar2an, tentu sukar untuk meloloskan diri.

"Ing-ji, tempo berharga, kita bertiga selesaikan iblis itu!"

Serunya sembari terus layangkan tubuhnya menusuk punggung Liat Hwat.

Liat Hwat menyambar kebelakang terus menariknya kuat2, hingga tubuh The Go terhuyung bersama tombaknya kemuka.

Tapi tiba2 dia rasakan pundaknya dilekati sebuah tangan dari belakang.

Serempak ada aliran lwekang deras mengalir ketubuhnya, maka buru2 dia kerahkan tenaganya untuk menarik tombak yang hendak dirampas Liat Hwat itu.

Diluar dugaan, usahanya itu memberi hasil lebih dari yang diharapkan.

Bukan saja tombaknya dapat dirampas balik, pun tubuh Liat Hwat turut tertarik sampai dua langkah kemuka.

Dan untuk kekagetannya lagi, entah dari mana datangnya tahu2 ada sinar golok memapas kepala Liat Hwat.

Si kate dari Tibet itu, rompal rambutnya menjadi botak....

Tahu The Go kalau datang seorang ko-chiu yang membantunya.

Buru2 dia berpaling kebelakang dan hai, kiranya........

Kui-ing-cu adanya!

"Bukan 3 lawan 1, tapi 4 tanding 1.

Setelah kalian pergi, aku selalu kuatir, lalu menyusul ke Kwiciu.

Sebenarnya malam ini aku hendak "berdagang tanpa modal" (istilah kaum persilatan untuk mengambil uang dari hartawan atau pembesar jahat), tapi serta kudengar orang ribut2 hendak mengundang bala pasukan baru aku menyusul kemari!"

Kata tokoh aneh itu. Habis itu dia tertawa sejenak, lalu berkata kepada Liat Hwat.

"Mo Put-siu, kami orang Kwitang bukannya takut hidup bernasib jelek, tapi takut mendapat nama jelak. Namamu Put-siu (tidak panjang umur), hari ini benar2 menjadi kenyataan"

Habis mengejek, dia lantas layangkan sepasang tangannya.

Walaupun yang satu tak berjari lagi, tapi tak mengurangkan kedahsyatannya.

Pada jamannya, tokoh Kui-ing-tiu itu sama kelasnya dengan Ang Hwat cinjin, Tay Siang siansu dan lain2 tokoh sakti dari Kwiciu.

Itu jaman 20-an tahun yang lampau.

Kini sudah tentu makin hebat lagi.

Liat Hwat cousu Mo Put-siu satu lawan satu berhadapan dengan dia, hanya serie saja.

Apalagi kini ditambah dengan lwekang seorang akhli macam The Go, sudah tentu dia kontal.

Ketika dia hendak kerahkan seluruh tenaganya untuk menahan.

Tong Ko mendesak maju.

Pi-lik-to bergerak keluar dengan beribu sinar kemilau, sehingga membuat matanya silau.

Liat Hwat coba hendak menghindar kesamping, tapi tombak The Go sudah menyambutnya dari sebelah kiri, sedang kakinya (Liat Hwat) terasa terlibat tali kencang yang dilontarkan The Ing.

Jadi kini Liat Hwat mendapat tekanan dari empat jurusan!

Dari sebelah belakang dihantam Kui-ing-cu, dari muka diancam pi-lik-to, dari kiri disambut ujung tombak dan celakanya, kakinyapun serasa diikat dengan lingkaran benang halus yang tajam sekali Namun orang kate itu masih tak mau menyerah.

Diantara keempat pengepungnya itu, The Go lah yang dapat diatasi.

Secepat mengambil putusan, secepat itu pula dia lantas menyambar tombak The Go, lalu hendak menerjang kesebelah kiri.

Tapi belum lagi kakinya bergerak, pundaknya sudah remuk termakan pi-likto, menyusul terdengar lagi suara hantaman menggedebuk keras Punggungnya terkena pukulan Kui-ing-cu.

Hukkk....., baru saja Liat Hwat rasakan dadanya ampek mulutnya mengecap ludah manis2 amis, tangan The Ing sudah menyentak kuat2, buk......

tubuh jago kate itu terjengkang rubuh.

Sebagai finishing touch (penyelesaian), The Go tanamkan tombaknya kedada Liat Hwat "Sudah...., sudah selesai....., ayuh kita lekas2 tinggalkan tempat ini.

Kalau pasukan musuh datang, kita celaka!"

Buru2 Kui-ing-cu memperingatkan.

---oo^dwkz*0*kupay^oo---BAGIAN 34 .

AKHIR SEBUAH PENGHIANATAN Saat itu lapat2 sudah terdengar derap kaki kuda mendatangi.

Itulah pasukan Ceng yang kuat.

Tanpa berayal lagi keempat orang itu lalu loncat dari tembok.

Kui-ing-cu amat faham akan jalanan di Kwiciu situ.

Setelah berbilak-biluk beberapa kali mereka masuk kedalam sebuah rumah penduduk.

Disitu ada beberapa orang yang menyambutnya.

Kiranya tempat itu merupakan pos kaum Lo-hu-san untuk mencari berita di Kwiciu.

Setelah merasa aman, barulah keempat orang itu menarik napas lega, Tong Ko memperlihatkan surat utang yang ditulis Tay-keng itu.

Kui-ing-cu kedengaran menghela napas, ujarnya dengan nada rawan.

"Ah, seorang peribadi jujur perwira seperti Siau-beng-siang itu, tentu akan menderita pukulan bathin yang berat kalini!"

Keesokan harinya, mereka menyelundup keluar kota terus menuju ke Lo-hu-san.

Tiba dipuncak Giok-li-nia, sekalian orang gagah yang melihat The Go dan puteranya benar2 kembali lagi, malah ber-sama2 Kui-ing-cu, sama hiruk-pikuk mengerumuninya.

Walaupun ditawan, tapi ternyata Siao-lan mendapat perlakukan yang baik.

Demi melihat suami dan puterinya datang, iapun turut menyongsongnya.

Melangkah maju kedepan Ci-gi-tong, berserulah Tong Ko dengan lantangnya.

"Apakah Siau-beng-siang ada?"

"Kalau ada bagaimana, kalau tidak bagaimana!"

Yan-chiu si nyonya katak itu bertanya dengan dingin.

Tong Ko cepat berpaling dan dapatkan Tio In tengah berdiri disebelah mamahnya.

Dengan tindakan lebar, majulah Tong Ko menghampiri lalu berkata dengan nada yang lapang.

"In-moay, hari inilah kau betul2 bakal mengetahui bagaimana peribadiku itu!"

Baru dia berkata itu, Tio Jiang bersama Tay-keng muncul keluar.

Melihat itu Tong Ko segera kedipkan mata kepada Kui-ingcu dan tahu2 tokoh aneh itu melejit kemuka terus mencengkeram bahu Tay-keng.

Muncul2 dibegitukan sudah tentu Tay-keng kaget bukan buatan.

Wajahnyapun pucat seketika, namun dia tak berani berkutik, dan pura2 tenang2 saja.

"Siau-beng-siang, aku hendak mempersembahkan suatu hadiah padamu!"

Kata Tong Ko sembari merogoh keluar segulung kertas lalu diangsurkan pada Tio Jiang, Demi membacanya, wajah Tio Jiang menjadi pucat lesi.

Yan-chiu heran dan turut membaca.

lapun mendelik matanya.

Sambi!

melanjutkan baca, sepasang tangan Siau-beng-siang itu tampak gemeteran.

Rupanya getaran itu makin lama makin keras, hingga bebrapa lembar surat itu jatuh berhamburan tertiup aingin.

Beberapa orang gagah segera memungutinya.

Tatkala Tio In turut memungut selembar dan membacanya, ternyata surat itu berbunyi sebagai berikut.

Aku yang bertanda tangan dibawah ini, dengan surat ini benar mengakui telah meminjam uang sebanyak 500 tail perak pada Tay-lui-su-bin-si-wi Shin Hiat-ji.

Tertanda.

Tio Tay-keng.

Demi habis membaca surat pengakuan hutang itu, kini tersadarlah ia akan kesalahannya menuduh Tong Ko.

Diluar kemauannya, sang kaki membawanya menghampiri kedekat sang, kekasih itu, tapi tak tahu ia bagaimana harus menyatakan perasaan baru sesalnya itu.

"Ensoh yang baik!"

Tiba2 kedengaran ada orang berbisik didekat telinganya.

Ketika ditoleh, kiranya itulah The Ing.

Selebar Tio In berobah merah jambu.

Untuk menolong mukanya, cepat Tong Ko menyambuti tangan sang kekasih itu, lalu sama2 berputar memandang keruangan tengah.

Tampak saat itu Siau-beng-saing sudah merabah tangkai pedangnya, sepasang matanya ber-api2 melekat pada Tay-keng.

Wajahnya yang sebengis itu, seperti harimau yang hendak mengoyak-ngoyak kan mangsanya.

Tubuh Tay-keng menggigil seperti orang terserang malaria tropical.

"Yah, aku mengaku salah, aku mengaku berdosa!"

Serunya meratap-ratap. Tapi detik itu Tio Jiang sudah maju dua tindak. Tring....., begitu mencabut yap-kun-kiam, dia terus menusuk ulu hati puteranya.

"Aiiii......."Yan-chiu segera menjerit ngeri, sedang sekalian orangpun tak berani berbuat apa2.

"Tahan!"

Tiba2 terdengar ada dua orang berteriak, menyusul sebatang golok berkelebat menangkis pedang Tio Jiang.

Ketika Tio Jiang mengawasi kiranya itu tadi Tong Ko yang berbuat, sedang disampingnya tampak berdiri The Go.

"Aku sudah akan membunuh mati binatang itu, mengapa kalian menghalangi?" '' "Ucapan Tio-heng itu salah. Perbuatan puteramu itu, walaupun tersesat, tapi tetap belum memadai kedosaanku dimasa muda. Itu waktu aku hanya mendapat hukuman potong kaki, tapi masih hidup sampai sekarang. Dia masih muda, masakan tak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya?"

The Go menampilkan dirinya sebagai tauladan untuk membela Tay-keng.

Inilah peribadi The Go yang sekarang!

"Kalau lain orang, aku sih masih dapat memaafkan, terhadap binatang itu, aku tak dapat mengasih ampun lagi!"

Tio Jing berkeras. Bahwa dalam saat2 segenting itu, bahkan sebaliknya The Go dan Tong Ko yang membela mati2an pada puteranya, Yan-chiu bersyukur terharu.

"Jiang suko, luluskanlah permintaan mereka!"

Buru2 ia menghampiri dan membujuk suaminya.

Namun Siau-beng-siang tetap menggelengkan kepala.

Waktu membaca surat yang menyatakan siapa sebenarnya Tay-keng itu, tangan Tio Jiang sudah bergemetaran keras, kepalanya ber-kunang2 serasa bumi yang dipijaknya ini amblong.

Seekor harimau masakan beranak seekor serigala.

Arang yang menconteng (hinaan) dimukanya itu sudah sedemikian besarnya, hingga rela dia untuk membunuh satu2nya putera keturunannya itu.

Se-konyong2 Tong Ko tertawa keras lalu berseru.

"Kui locianpwe, harap menyingkir dahulu!"

Kui-ing-cu menurut. Begitu Tong Ko tampak mengangkat pi-lik-to, maka menjeritlah Tay-keng dengan ngerinya. Lengan kirinya sudah terpapas kutung.

"Potong lengan, rasanya cukup sebagai hukuman, janganlah Siau-beng-siang bersitegang leher!"

Seru Tong Ko dengan nyaring.

Tio Jiang menghela napas panjang, pedang dibanting ketanah, lalu ngeloior masuk.

Kelapangan dada Tong Ko itu, telah membangkitkan rasa kagum dan perindahan dari sekalian orang gagah.

Sejak itu, Tong Ko dan ayahnya tinggal di Lo-hu-san.

Bersama-sama para patriot, keduanya melanjutkan perjoangannya yang gigih untuk mengusir kaum kolonialis dari muka bumi ini.

Biarlah sejarah menjadi saksi!

---o0o---T A M A T ---o0o---.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/

Baca Juga: Badai Awan Angin Pendekar Sejati 5

Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 4

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger