Eps 1 Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen.
Kisah Bangsa Petualang Judul aslinya "Thay Tong Yoe Hiap Toan" (Hokkian) "Da Tang You Xia Zhuan" (Mandarin) Karya .
Liang Ie Sheng Saduran .
OKT 1.
Karangan Liang Ie Shen ini Judul aslinya "Thay Tong Yoe Hiap Toan" (Hokkian) atau "Da Tang You Xia Zhuan" (Mandarin)..Mulai dimuat sebagai cerita bersambung di koran Hongkong pada 1 Januari 1963, dan berakhir pada 14 Juni 1964..Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh OKT di tahun 1964, diterbitkan oleh penerbit Mekar Djaja, Jakarta, dalam 16 jilid.
Kemudian oleh Penerbit Sejahtera Indah Tahun 1980..Termasuk dalam seri karya Liang Ie Shen yang disebut sebagai "Serial Dinasti Tong", karena menceritakan kisah di jaman pemerintahan Kaisar Lie..Tokoh-tokoh ceritanya a.l.
Toan Kui Ciang, Tiat Mo Lek, Hee Leng Song, Khong-Khong Jie, dll..Urutan Trilogi Dinasti Tong adalah .
Pendekar Aneh [Nu Di Qi Ying Zhuan Lie Tee Kie Eng] disadur oleh Boe Beng Tjoe terdiri dari 12
Jilid diterbitkan oleh Mekar Jaya. b. Kisah bangsa Petualang, Serial ini dilanjutkan dengan "Tusuk Konde Pusaka"
Atau "Liong Hong Po Tjhee Yan" (Hokkian) atau "Long Feng Bao Chai Yuan" (Mandarin), dengan tokoh-tokoh ceritanya a.l.
Toan Kek Shia, Su Jiak Bwee, dll., di samping masih munculnya juga tokohtokoh dari "Kisah Bangsa Petualang".
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh S.
Liong di tahun 1965, diterbitkan oleh penerbit Pantja Satya, Semarang, dalam 18 jilid.
Serial ini diakhiri dengan cerita ke-3, berjudul "Jiwa Ksatria"
Atau "Hui Kiam Sim Mo' (Hokkian) atau "Hui Jian Xin Mo" (Mandarin), dengan tokoh-tokoh ceritanya a.l.
Can Pek Sin, Tiat Ceng, Tiat Leng, Thie Po Leng, Lauw Bong, Liong Seng Hong, dll., di samping masih munculnya juga tokoh-tokoh dari "Kisah Bangsa Petualang"
Dan "Tusuk Konde Pusaka". Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh O. P. A. di tahun 1967, diterbitkan oleh penerbit Marga Raya, Jakarta, dalam 16 jilid.
Jilid 1
"Selamat Tahun Baru!"
"Selamat Tahun baru !"
Demikian ucapan kebahagian pada pagi hari tanggal satu bulan satu dari tahun Thian Po ke dari masa kerajaah Tong dan ucapan itu dihaturkan kepada seorang She Su bernama It Jie, yang tinggal di dusun Su Kee Cun dusun pegunungan terpisah enam puluh lie lebih di luar kota Tiang an.
It Jie ini pada tahun Kay Goan ke 22 pernah lulus sebagai Cin Su, ujian tingkat tiga, oleh karena ia tidak suka memangku pangkat, belum sampai usia pertengahan, ia sudah pulang ke kampung halamannya, untuk hidup dalam ketenangannya si orang desa.
Oleh karena ia memiliki gelarnya itu dan hidupnya damai, penduduk kampung menghormati nya dan biasanya mereka datang pagi-pagi menghaturkan selamat pertukaran tahun.
Hari itu, habis mengantar tetamunya pulang, It Jie menggeleng-geleng kepala dan sambil.
menghela napas, ia berkata seorang diri .
"Selagi suasana begini rupa, apakah yang harus dibuat girang ?"
Justeru itu, dari dalam rumahnya ia mendengar suara "eyah ! eyah"
Dari bayi yang baru dilahirkan, di susul dengan letusannya petasan bambu yang berisik dan ramai ! Mendengar tangisan itu, Cin Su tersenyum dan berkata dalam hatinya .
"Kalau toh kegirangan maka itu mulainya saat hari ini ! Tambahnya satu anak akan membikin rumah tanggaku tambah gembira !"
Seorang pembantu lalu daiang. akan memberitahukannya atas lahirnya seorang anak lalu ia berkata pada pembantunya.
"Kau sediakan empat macam barang antarkan untuk Toan Toaya, antarkan sekarang juga sekalian kau undang dia datang kemari untuk minum arak !"
Sambil berkata demikian ia heran dan berpikir .
"Setiap tahun baru dia lah yang datang paling dulu memberi selamat padaku, kenapa hari ini dia tidak datang atau mungkin terlambat?"
Pembantu itu menerima baik perintah majikannya, akan tetapi belum ia pergi, ia sudah tertawa dan berkata .
"Loo ya, tak usah Toan Toaya di undang! lihat, bukankah ia sedang berjalan kemari?"
Pembantu itu menoleh sambil menunjuk keluar dan dari luar terlihat seseorang sedang menuju rumahnya sambil mulutnya ber-senandung.
"Haha, saudara Toan !"
Tertawa tuan rumah.
"Kenapa kau baru datang ? aku telah menyediakan arak untukmu!"
Toan Toaya itu namanya, Kui Ciang, berumur empat puluh lebih sedikit, tubuhnya kekar seperti orang yang mengerti ilmu silat, sebaliknya Su It Jie seorang sastrawan, maka persababatan mereka agak ganjil.
Tapi kenyataannya tidak demikian.
Disamping ilmu silat, Kui Ciang paham ilmu surat.
Tapi ia bukan penduduk asli Su Kee Cun.
la datang baru sepuluh tabun lebih.
Sebab ia jujur dan Bun Bu Coan Cay mengerti silat dan surat berbareng, maka It Jie suka bergaul dengannya, bahkan keduanya menjadi sahabat yang kekal Atas sambutan tuan rumah itu, Kui Ciang tertawa.
"Ada sebabnya kenapa aku terlambat, saudara Su !"
Katanya.
"Apakah itu ?".
"Istriku baru melahirkan seorang bayi !" ,.Oh! selamat, selamat!"
Seru It Jie.
"Sungguh kebetulan ! apakah anakmu itu pria, atau wanita ?"
Pria! sahut Kui Ciang.
"Eh, kau berkata begitu apakah enso pun melahirkan."
It Jie tertawa.
"Ya."
Sahutnya.
"Aku hanya memperoleh anak perempuan."
"Kalau begitu aku mesti menambah pemberian selamatku !"
It Jie heran. Kui Ciang tertawa "Saudara tahukah kejadian-kejadian belakangan in? ".
"Raja sudah merampas Yo Tay Cin Kui Hui. Yo Tay Cin itu isterinya pangeran Siu Ong Lie Mo Itulah ke jadian selama tahun Thian Po ke empit. Yo Khui Hui bukan main disayang Raja. Belum tiga tahun, ketiga kakaknya telah di angkat menjadi Tay Jin. Bahkan menurut kabar bulan yang lalu. kakak sepupunya, Yo Kok Tiong telah diang kat menjadi perdana mentri, hingga kedudukannya jadi sangat tinggi dan mulia. Inilah yang mengubah suasana, hingga kalau ada orang yang mendapat anak perempuan, sanak dan sahabat-sahabatnya pada berduyun-duyun datang memberi selamat. Katanya jaman sekarang mengutamakan anak perempuan bukan jaman menghargai anak lelaki, Kau telah mendapat anak perempuan, saudaraku, bukankah kau pantas diberi selamat dua kali lipat?"
Tapi It Jie tidak senang .
"Jika aku meng hargai pangkat, pada sepuluh tahun yang lalu tidak nantinya aku pulang ke kampungku untuk hidup sebagai orang desa seperti sekarang ini !"
Katanya.
"Tidak puas aku menyaksikan segala manusia hina main gila. memenuhkan istana ! mana dapat aku menelad contoh Yo Kok Cong?", Kui Ciang tertawa."
Jangan gusar saudara Su!. Mustahil aku tidak kenal sifatmu? aku hanya bergurau!"
Ia lantas menthela napas dan menambahkan lesu.
"keadaan sekarang menyedihkan hingga harus ditangiskan ... makin lama pemerintahan makin buruk, hingga entah bagaimana jadinya ...."
"Sudahlah buat apa kita perbatikan urusan itu !"
Kata It Jie.
"Mari kita minum sampai mabuk lalu keduanya minum sampai mabuk!. Lalu keduanya itu minum arak mereka masing-masing"
It Jie berjanji sambil mengetuk-ngetuk meja.
Ia menyanyikan syairnya Lie Tay Pek tetapi ia mengagumi Touw Hoe.
Katanya "Touw Hoe ada di Tiang an, diharuskan Raja berdiam didalam Istana, kalau tidak.
Pasti suka aku pergi menemuinya,..."
Disebutnya nama Touw Hu membuat Kui Ciang ingat syairnya penyair itu. Ia tertawa dan katanya .
"Saudara Su, di antara syairnya Touw Hu ada kata kata mengenai terlahirrya anak anak laki dan perempuan, bahwa anak perempuan baik sekali, maka itu pantas kau diberi selamat berlipat kali, sekarang jaman kacau perang meminta korban kalau diingat memang lebih baik mendapat anak perempuan !"
It Jie mengeringi tawanya. Masa bodoh syairnya Touw Hu itu ! katanya.
"Tetapi sekarang aku ingat suatu ..."
"Tentang anak-anak kita, bukankah mereka terlahir bersamaan dalam satu malam? Bagaimana jika kita berbesan ?"
Kui Ciang diam sejenak lantas ia menjadi girang sekali.
"Sebenarnya,"
Katanya.
"begitu aku mendengar kau memperoleh anak perempuan, telah ada dalam pikiranku itu banya aku tidak berani buka mulut, sekarang saudara yang mengajukannya, bagus sekali kebetulan aku mempunyai sepasang tusuk kondai kemala, baiklah itu dijadikan tanda mata. Ini dia !"
Orang she Toan ini merogo sakunya dan mengeluarkan perhiasan rambut itu.
Melihat tusuk Kondai itu It Jie melengak.
Kemala itu licin dan bersinar, indah mirip kemala Kothein, pula di kepalanya ada bertaburan mutiara, yang terang bercahaya.
"Bagaimana dia mempunyai kemala mustika ini ?"
Pikirannya heran.
Semenjak pindah ke Su Kee Cun, hidup-nya Toan Kui Ciang sempit sekali.
Dia cuma mengandalkan beberapa murid, yang belajar silat padanya.
Ada kalanya dia ditolong sahabatnya she Su.
Sekarang dia mempunyai pesalin kemala berharga itu aneh, bukan?
Meski demikian, ia percaya kejujuran orang ia tidak menyangka jelek.
Kui Ciang dapat menerka hati sahabatnya, tanpa bertanya, ia memberikan penjelasannya.
"Selama tahun Ceng Koan kakekku tutut Jenderal Lie, Ceng berperang dengan bangsa Turki, di sana di Kotheun ia mendapatkan sepasang tusuk kundai kemala. Pulang perang, Baginda Thay Coang menghadiahkan sepasang mutiara asal Lam Hay. Kakekku memanggil tukang yang pandai, mutiara itu ditaburkan pada tusuk kundai itu. Selanjutnya barang perhiasan itu disimpan sebagai pusaka keluarga Toan-Inilah sebabnya, meski aku hidup melarat, tak mau aku jual kemala ini."
"Pantas saudara gagah, tak tahunya kau-lah turunan Jenderal !"
Kata It Jie.
Di mulut ia berkata demikian, dihati ia heran, kenapa tak pernah Kui Ciang menuturkan sesuatu tentang leluhurnya itu.
Itu toh suatu kehormatan ?
Kui Ciang minum araknya, lalu ia berkata pula .
, Aku tidak mempunyai ba-rang simpanan lainnya, kecuali ini, maka tak pernah aku pisahkannya dari tubuhku.
Nama tusuk kundai ini ialah Liong Hong Poo Cee.
Tusuk kondai yang satu berukiran naga-nagaan, dan yang lainnya burung hong.
Sekarang yang burung hong ini aku jadikan tanda mata."
"Kau memakai pesalin mustika, saudara, aku berterima kasih."
Kata It Jie.
Ia sebenarnya berat menerimanya, akan tetapi mengingat, dibelakang hari barang toh akan kembali pada keluarga Toan ia menerima juga.
Kemudian ia periksa kemala itu ia girang dan kagum.
Ukirannya sangat bagus dan hidup la memuji.
"Sekarang coba saudara lihat yang naga ini."
Kata Kui Ciang, sambil menunjuk-kan yang satu lagi. Kembali It Jie menjadi kagum. Yang naga ini tak kalah indahnya. Kembali ia memberikan pujiannya.
"Sekarang ini dorna, mengusai Negara, entah bagaimana jadinya nanti,"
Kata Kui Ciang kemudian "maka ada maksudnya kenapa sepasang kemala ini aku pisahkan, aku jadikan pesalin ia agak sangsi ia tidak berkata terus."
"Apa maksudnya ?"
It Jie bertanya.
"kita sudah jadi sanak, diantara kita tak ada lagi. yang tak dapat diutarakan."
"Kau sadar saudara, meski hari ini harian tahun baru, aku percaya kau tidak akan menganggap aku bicara sial.. .aku maksudkan, andai kau di belakang hari keluarga kita bercerai , disebabkan bencana perang. anak anak kita bisa menggunakan kemala ini sebagai bukti untuk mereka melanjutkan pecakapan mereka...
"It Jie tertawa.
"Saudara terlalu memikir jauh !"
Katanya. Tapi dalam hatinya ia berkata "Kita tinggal bersama didalam sebuah desa. Umpama benar terjadi perang kita tetap akan bersama juga ! mana bisa kita berpisah ?"
Walaupun demikian, karena orang bicara dengan sungguh-sungguh ia mau, percaya itu mungkin suatu alamat buruk. Ia paksa tertawa. Ia kembalikan kemala yang satu.
"Anakku belum diberi nama."
Kata Kui Ciang kemudian.
"mengingat pengetahuan saudara luas tolong kau yang memilihkan dan memberikannya."
"Anakku juga belum diberi nama! kata It Jie tertawa. Waktu itu di luar rumah terlihat salju berterbangan, ada yang nempel di pohon bu-nga bwee. Melihat itu, tuan rumah menghirup araknya dan Katanya sambil tertawa.
"Aku paling suka bunga bwee. maka itu aku akan berikan nama Jiak Bwee pada anakku. Karena sekarang dorna memerintah dan mungkin saatnya datang untuk satu anak anak laki menunggang kuda untuk berperang, baik anak saudara dinamakan Kek Sia, Saudara setuju?". Koei Ciang menepuk tangan.
"Bagus! bagus! ia memuji, Jiak Bwee berarti mirip bunga Bwee dan Kek Sia berarti menakluki kesetanan. maka nama nama itu ialah nama nama yang tepat."
"Hah semoga setelah besar mereka tak menyia-nyiakan pengharapan orang tua mereka!"
It Jie pun girang dan turut bertepuk tangan. Tapi pada waktu itu d luar terdengar suara berisik, dari terompet, dan jeritan anak anak.
"Eh terjadi perkara apakah di luar?"
Kata It Jie heran "hari ini harian tahun baru, apa mungkin pembesar negeri memerintahkan hamba hamba nya memungut pajak? Mari kita lihat!"
Koei Ciang setuju, maka keduanya bangkit dan ke luar Maka setibanya di depan kedua besan ini dapat melibat debu beterbangan,yang disebabkan sebarisan serdadu, yang seragam dan senjatanya berkilau dan kudanya pilihan serdadu yang paling depan membawa sehelai bendera sulam benang emas yang lebar dan mentereng yang bersulamkan huruf "An"
Yang huruf sulamnya indah. Disusul oleh dua pembawa bendera lain, hanya kedua bendera ini bersulamkan huruf huruf "Peng Louw Ciat Touw Su"
Dan "Hoan yang ciat touw su".
Dijaman Tong, pangkat Ciat Touw Su suatu pangkat penting.
Didalam suatu kota, atau daerah, Ciat Touw Su menguasai pemerintah militer dan sipil, hingga dia mirip Raja kecil.
Sekarang satu orang merangkap jabatan Ciat Touw Su dari dua kota.
itulah hebat dan belum pernah terjadi dulu.
"Akhirnya An Lok San!". kata Su It Jie, hatinya bercekat. Dijaman itu, nama An Lok San tak ada yang tak tahu atau mendengamya, hanya orangnya baru kali ini Su It Jie melihatnya. Seragamnya mentereng sekali sikapnya garang. Dia duduk diatas kudanya, dan diiringi oleh hamba dan hanya sambil berseru-seru anak anak jangan perduli segala kunyuk di tengah jalan.
"Injak mati pada mereka. Tidak ada perkara-nya! larikan kudamu! hari ini Tayjin hendak pergi ke kota Tiang an untuk memberi selamat tahun baru pada Kui Huei Nin nio!".
"Kui huei Nio nio"
Ialah "Yang Mulia selir Raja".
An Lok San ketika baru tiba di Tiang-an kota Raja, dia langsung menempel Yo Kui.
Meskipun dia berusia lebih tua, selir Raja itu mengakui dia sebagai anak angkatnya.
Karena itu dihari tahun baru ini dia mesti memberi selamat tahun baru kepada ibu angkatnya itu!
Dia sudah diangkat jadi Ciat Touw Su kedua kota Peng louw dan Yang Hoan, dia belum puas dan ingin menjadi Ciat Touw Su wilayah Hoo Tong.
Maka ia perlu mengambil hati ibu angkatnya itu!
Di hari tahun baru semua orang bersuka ria, demikian juga di dusun Su Kee Cien dan sekitarnya orang saling berkunjung dan memberi selamat, anak anak tak terkecuali banyak diantara bermain melempar uang didepan jalan.
Pada saat itu lewatlah An Lok San dengan barisan pengiringnya yang garang, maka tidak ampun lagi rombongan anak-anak itu menjadi korban cambukkan bitigga menangis menjerit dan lari.
Diantara dewasapun ada beberapa korban hingga tak ada orang yang berani menolong anak-anak itu.
Tiga bocah dibawah usia sepuluh tahun menjadi lemas, tak dapat nienyingkir.
Berarti mereka akan jadi korban kaki kuda.
Tiba-tiba melesat sesosok bayangan.
menyambar kedua bocah di tangan kiri dan kanannya, kedua bocah itu dileparkan kepinggir jalanan.
Tinggal bocah yang ketiga.
Dan waktu itu seekor kuda lari kearahnya, dan penunggangnya memukulkan cambuk kearahnya Melihat ada orang ditengah jalan, kuda itu berjingkrak mengkat tinggi kedua-kaki depannya, celakalah penolong itu berikut sibocah, tapi dia gesit dan berkelit ke kiri.
Hanya tak dapat dia lolos dari cambuk, sehingga bajunya robek Su It Jie mulanya mengira Toan Kui ciang, sahabatnya tetapi setelah ia melibat jelas ternyata penolong itu ialah seorang desa yang muda.
Ketika barisan sudah lewat, pemuda itu menurunkan sibocah seraya berkata ."Tolong paman antarkan anak ini".
Dan kebetulan orang tua anak-anak itu datang mencari anaknya masing-masing.
Juga sejumlah orang lainnya datang berkumpul.
Ketika iiu.
diam-dlam pemuda desa itu pergi ketika orang hendak menghaturkan terima kasih padanya, ia sudah lenyap ...
Su It Jie tidak kenal pemuda itu Tanpa menoleh, ia bertanya kepada Toan Kui ciangg.
"Apakah saudara kenal dia?"
Dan ternyata dia tidak memperoleh jawaban Ketika ia berpaling sahabatnya itu tak ada disisinya langsung ia mencari.
Dan ia melihat sahabat-nya sudah pergi jauh dan cepat sekali dengan kepalanva dikerobongi seperti takut dingin.
Sebentar saja Kui ciangg sudah sampai dibawah pohon besar di depan rumahnya.
It Jie mau memanggil sahabatnya itu, tetapi ia merasa heran "Kui ciangg"
Suka menolong orang dan bukannya seorang pengecut tetapi kenapa tadi dia tak suka menolong anak-anak itu dan dengan diam-diam dia berlalu sampai dia tidak menyapa lagi padaku?
Ah mungkin dia takut ada yang mengenalinya ?
tanpa memanggil lagi, ia berjalan cepat pulang, Sampai didepan rumah-nya Kui ciangg sudah menanti diambang pintu.
begitu ia masuk pintu langsung ditutup sahabatnya itu, yang terus bertanya .
"apakah barisan serdadu itu sudah pergi jauh ? "
"sudah", sahut It Jie "mari kita bicara di dalam!"
Kui ciangg memotong, It Jie heran bukan main. Mereka masuk, disini Kui ciangg mengunci pintu pula.
"Saudara Koan""
Tanja It Jie, karena heran sehingga ia jadi curiga.
"apakah kau pernah melakukan suatu pelanggaran ? Kui ciangg menyeringai. Ia menuang arak dan menghirupnya sekali teguk, Apakah saudara mencurigai aku pernah melanggar undang-undang?"
Dia bertanya sambil menatap.
"Tidak sama sekali !"
It Jie mengawasi.
"Yang benar ialah aku pernah bentrok dengan satu bajingan!"
"Saudara"
Kata It Jie, heran .
"kau bukannya seorang pengecut, kenapa kau nampak jeri terhadapnya?"
Kui Ciang menghela napas.
"Panjang untuk menutur", katanya masgul. ,Saudara kira siapa bajingan itu? dialah An Lok San si Ci at Touw Su dari Peng Louw dan Hoan Yang yang barusan lewat itu!""
"Ah, An Lok San", It Jie terkejut.
"Ya"
Sahut Kui Ciang.
"Sudah beberapa tahun belum pernah aku menuturkan hal-ikhwalku, sekarang waktunya. Aku anak Yu Ciu, aku pindah kemari untuk menghindar dari An Lok San itu!"
It Jie mengawasi, ia tidak memotong kata-kacanya, Kui Ciang menghirup pula arak-nya, lalu melanjutkan ;
"kakekku berulang-ulang membuat jasa hingga dia diangkat menjadi panglima di kota Ya Ciu. suatu jabatan militer tak tinggi dan tak rendah. Sayang sekali ayahku mati muda maka itu aku mewariskan kepandaian silat kakekku itu Dalam usia muda aku bercampur dengan pemuda-pemuda yang tak karuan aku menganggap diriku sebagai seorang gagah yang. berhati mulia, dan aku suka mencampuri urusan yang tak adil. separuh dari kawan-kawan itu hanya mengharapkan menggemblok pelesiran kepadaku, Diantara yang satu ialah An Lok San, Ketika itu dia belum memakai she An"
Masih It Jie berdiam. ia mendengarkan sambil mengawasi sahabatnya.
"Lok San berasal orang bangsa Ouw diwilayah Barat", Kui Ciang melanjutkan "Dia she Khong ibunya orang Turki, yang menikah dengan An Yan Yan sehingga dia memakai she ayah tirinya."
"Sudah tak perduli asal usulnya!"
Kata It Jie. tertawa.
"Dia An Lok San, dia tetap An Lok San!, kemudian bagaimana?."
"An Lok San rnengerti enam bahasa asing, maka itu dia menjadi Hoe Sie Long, Di Yu Ciu itu tinggal bercampuran pelbagai bangsa, tugas Hoa Sie Long ialah mengurus segala urusan dagang dan lainnya diantara bangsa itu juga menjadi juru bahasa. penterjemah andaikata mereka tak mengerti jelas pembicaraan satu dengan yang lain. Dengan demikian dia mendapat ketika mengakali kaum saudagar. Di muka umum dia tampak mulia dan murah hati, suka menolong sesamanya dia juga mengerti silat. Mulanya aku tidak tahu sifat aslinya itu aku jadi suka bersahabat dengannya. Baru belakangan aku mengetahuinya. Pernah aku memberi nasihat padaaya. Di depanku dia mendengar, dibelakangku tindakkannya makin jadi. Demikian satu kali, dengan surat palsu dia memeras seorang saudagar, dia minta gadisnya saudagar itu, baru urusan akan dibikin habis. Hal itu ketahuan olehku aku hajar dia. Sesudah iiu aku putuskan persahabatanku An Lok San lalu besoknya dia menghilang. Selang beberapa tahun, tahu-tahu dia telah menjabat Peng Ma Su dalam pasukan tentara kota Peng Louw. Dia ditolong ayah tirinya yang memperkerjakannya di bawahan Ciat Touw Su Thio Yu Kui dari kota-Yu Ciu. Dia pandai bekerja, dia cepat meningkat. Belum dua tahun, dia sudah diangkat jadi Ciat Touw Su muda kota Peng Louwdengan kedudukannya di kota Yu Cie. Ketika itu, aku telah menghambur-hamburkan warisan kakekku, aku telah ditinggal pergi kawan-kawanku. Aku tahu An Lok Sin bangsa Soauwjin, manusia rendah hina-dina. Aku kuatir dia membalas dendam padaku, maka aku langsung meninggalkan tempat kediamanku itu. Buat beberapa tahun aku merantau, sampai aku tiba menetap di sini. Siapa sangka, hari ini aku bertemu dengannya. di sini. Saudara Su, aku kuatir hari ini pun hari perpisahan kita ..."
Mendengar keterangan itu, Su It Jie tidak menjadi kaget.
"Aku kira perkara besar bagaimana,"
Katanya.
"Itu hanya perkara di masa muda, setelah lewat beberapa tahun mungkin An Lok San sudah tidak ingat lagi !"
"Sebaliknya, saudara Su. An Lok San menganggap itu sebagai malu besar, sampai dia matipun mungkin dia tak akan melupa-kannya. Jika aku tidak menyingkir, bencana mungkin menjadi hebat. Aku tidak takut mati tapi aku tak suka perkaraku merembet kepada anak isteriku dan sababat atausanakku juga! An Lok San sedang berpengaruh. Tidakkah saudara lihat bagaimana sikapnya barusan?"
It Jie mengerti tetapi ia masih tidak memandang sehebat pandangan sahabatnya.
Iapun berat berpisah dengan sahabat, yang telah menjadi besarnya ini.
Tadi ada banyak orang tak mungkin dia melihat kau, saudara,"
Katanya menghibur.
"Tetapi pepatah mengatakan berjaga-jaga paling baik. Kita harus memandang dan sudut yang buruk kalau kita menanti sampai bencana datang pasti sukar kita menghindarnya. An Lok San menjadi anak angkat Yo Koei, dia tentu sering mundar mandir dan lewat disini, lama-lama mesti dia melihat aku.
"Kita bersahabat, kitapun telah berbesan."
Kata It Jie. Maka kalau saudara mau pergi mari kita pergi bersama."
Kui Ciang heran, iapun bersusah hati.
"Kau baik sekali, saudaraku."
Katanya, masgul.
"Mana dapat kau rnengikuti aku? itu berarti penderitaan, lagi pula sekarang isterimu baru melahirkan...."
It Jie tertawa.
"Apakan isteri saudara juga baru bersalin bukan?"
Dia balik menanya.
"Isteriku mengerti silat, tubuhnya kuat?"
Kata Kui Ciang.
""kapan perlu. dia dapat berangkat sembarang waktu. Tidak demikian dengan istrimu! mana dia sanggup menderita dalam perantauan?".
"Meski begitu, buat berangkat tak mungkin saudara berangkat sekarang juga,"
Kata It Jie yang masih tetap memandang urusan secara enteng.
"Sekarang An Lok San pergi ke Tiang an sedikitnya sehabis Goan siauw baru dia pulang ke Yu ciu. Benar istrimu kuat , ia tidak seharusnya menempuh perjaianan sekarang. Aku pikir baiknya saudara menanti lagi sepuluh hari atau setengah bulan, baru kita berangkat bersama sama."
Kata kata itu beralasan, Kui Ciang dapat mempertimbangkannya.
Memang.
tak mungkin An Lok San lekas pulang ke Yuciu.
Kalau An Lok San mau mencari dia, tentu itu dilakukan nanti dalam pcrjalanannya pulang ke Yu ciu.
"Baiklah,"
Katanya kemudian.
"Baik kita berangkat satu hari di muka Goan siauw."
Goan siauw adalah cap go me, perayaan tahun baru hari kelima belas.
Sampai disitu It Jie bertanya kepada sahabatnya kalau ia kenal pemuda tadi, yang gagah dan hatinya mulia.
Kui Ciang menggeleng kepala.
"Aku tidak kenal, melihatpun tidak."
Katanya heran.
"Aku menyingkir selekasnya aku melihat An Lok San. Kalau begitu, itulah peristiwa tadi......."
Kui Ciang masih duduk berbicara sekian lamanya, sesudah rombongan An Lok San pergi sepuluh li.
ia meminta diri seraya mengundang It Jie besok datang kerumahnya.
Sesudah mengantar sahabatnya sampai diluar.
It Jie masuk kedalam, melihat isterinya.
Isterinya lemah, sebaliknya bayinya sehat dan mungil, hingga ia menjadi girang sekali.
Ia tuturkan kepada isterinya mengenai perjodohan bayinya Kui Ciang dengan bayinya sendiri dan menunjukkan tusuk kundai kemala yang bertaburan mutiara mustika itu.
Tapi tentang niatnya menyingkir dari ancaman An Lok San, ia beium memberi tahukan isterinya ia kuatir isterinya yang masih lemah, menjadi terkejut.
Nyonya Su, Louw Sie.
Dari keluarga hartawan di Hoo tong.
Tetapi melihat tusuK kundai kemala itu.
Dia kagum.
"Aneh saudara Toan mernpunyai kemala ini! katanya. inilah sebab ia tahu Kui Ciang miskin."
Louw sie tidak memandang hina kemiskinan keluarga Toan, ia tidak menentang keputusan suaminya berbesan dengan keluarga itu.
Ia memang lebih setuju puterinya dinikahkan dengan orang yang mengerti silat.
"Hanya, aku agak kuatir ..."
Katanya.
"Apa itu,isteriku ?"
"Dia meski tapi dia mempunyai kemala ini ..."
"Apakah kau mengira kemala ini didapat dari jalan tak halal?"
"Bukan. Aku percaya dia bukan sembarang orang. Kalau dia bukan turunan orang berpangkat tinggi, dia mesti dari golongan orang gagah. sebangsa "Keng Ko atau Liap Ceng". Mengapa dia puas hidup melarat disini? tak mungkinkah dia pernah menerbitkan, onar besar ?"
Diam-diam It Jie mengagumi pandangan. isterinya itu.
"Aku pun mulanya mencurigai saudara Toan harya aku tak menerka sebagai isteriku,"
Katanya di dalam hati. Masih ia menyembunyikan urusan Kui Ciang dengan An Lok San, melainkan ia katakan.
"Kau benar saudara Toan dari keluarga panglima perang. Mungkin saudara Toan ada musuh-nya tetapi aku rasa tak usalah kita menguatirkannya. Habis memesan isterinya menyimpan tanda mata itu. It Jie keluar pula untuk mengunjungi saudaranya yang usianya lebih lanjut maka sekalian ia mendengar sesama penduduk kampungnya masih ramai membicaran kegalakan An Lon San, yang mereka kutuk, sebaliknya mereka puji si anak muda tidak dikenal. Ia pun lega hatinya. Ia tidak mendengar bicara didusunnya ada orang asing. Maka pikirannya.
"kalau An Lok San mengenali Kui Ciang seharusnya dia mengirim orang untuk menyelidikinya."
Sampai malam baru It Jie pulang sehabis bersantap setelah jauh malam ia masuk ke kamar tulisnya.
Isterinya baru melahirkan, ada bidan yang menemaninya.
Ia tidur pisah, Ketika itu sudah jam dua kira-kira.
Begitu ia masuk kamar tulis ia tercengang ..
Di situ ada seorang yang tidak dikenal mukanya orang itu berewokan dan karena, pakaiannya seragam militer.
Belum ia sempat menyapa orang itu sudah bangkit dan memberi hormat padanya sambil tertawa dan berkata.
"maafkan aku yang menjadi tamu tanpa diundang. Mengingat saudara To An pun orang Kang ouw, kau tentu tidak merasa aneh bukan?"
Meski ia pelajar lemah, It Jie tidak kaget Begitu ia dipanggil ""saudara Toan"
Ia langsung menduga kepada duduknya perkara. Pikirnya .
"tadi Kui ciangg menyingkir ke rumahku ini, pantas orang salah menerka."
"Kau siapa tuan?"
Ia bertanya.
"Ada urusan apa tuan datang kemari? tolong kau terangkan". Ia berlaga pilon. Baru sekarang ia mulai kuatir. Opsir itu mengawasi. ia berpikir .
"An Tayswee bilang dia pandai silat dan lihay, kenapa dia sekarang mirip pelajar yang lemah-lemah? apakah dia terkejut dan takut atau dia berpurapura?"
Ia langsuig duduk dan berkata;
"Aku Tian Sin Su berpangkat Piau kie Jiang kosen dibawahan An Tayswee, Jiat touw su dari Peng louw."
Ia mengulangi she dan namanya itu dan menulisnya juga dimeja dengan air teh, tetapi tangannya kuat di meja itu terlihat tapak jarinya.
Ia bicara dengan lagu suaranya orang Shoatang.
Sengaja opsir ini berlaku melit demikian.
Dia orang kang ouw atau Sungai telaga, kalangan Hek Too.
Jalan Hitam, yang kesohor, dia ingin orang mengenalnya dan menjadi ciut hatinya.
Dia menghendaki "Toan Kui Ciang "
Jeri kan tak berani melakukan perlawanan. Tapi Su It Jie tidak mengerti silat dan tidak kenal dia. It Jie pun sudah lantas berpikir.
"Kiranya Tian Jiang kosen!"
Katanya, tawar tak nampak dia jeri.
"Memang sudah lama aku mendengarnya. Silakan Jiangkosen memberi tahukan maksud kedatangan jiangkosen".
"Benar dia pandai berpura-pura,"
Pikir Sin Su, yang melihat orang tak takut. Maka ia makin percaya orang benar Toan Kui Ciang Ia merabah kemeja, membikin lenyap tulisnya yang sedikit melesak itu, Ia tertawa dan kata .
"Aku tidak sangka tuan telah mengenal namaku, Kita sekarang berkedudukan lain tetapi kita asal dunia Kang Ouw, dari itu aku minta sukalah kau memberi muka padaku supaya aku tak merasa sulit.Tuan, mari kita berangkat bersama!"
It Jie tetap berpura pilon.
"Kau aneh, Tian Jian Kun. Kita tidak kenal satu dengan lain. kau hendak mengajak aku pergi kemana ? Aku belum pernah mengalami ada orang mengundang tetamu tengah malam buta-rat begini"
Mendadak Tian Sin Su berjingkrak bangun, wajahnya tegang.
"Tuan Toan", katanya, keras "kau orang kenamaan dan aku datang memakai cara hormat kaum Kang Ouw, mustahil kau menghendaki tak meminum arak kehormatan hanya arak dendaan? Kau mau turut atau tidak, kau bilanglah! Jangan kau berpura-pura saja! Apakah begini caranya seorang enghiong?"
It Jie tertawa.
"Aku bukan enghiong. aku memang tak ketahui maksud Tiah Jiangkosen ! mengundang orangpun harus dengan penjelasan maksudnya undangan?"
"Oh, kau rnenghendaki maksudnya?"
Sin Su mengulangi.
"Baiklah. kau boleh tanyakan kepada An Tayswee kami nanti !"
"Oh, undangan jadi datang dari An Lok San ?"
Tanya It Jie, menegasi.
"Ya, An Tayswee pun memesan, biar bagaimana, kau mesti dapat diundang datang. tak dapat kau tak pergi !"
Ia berhenti sedetik, la!u merobah suaranya menjadi lunak .
"Tuan Toan, kau cerdas, tak usah aku menjelaskannya Aku ini diperintah, aku bekerja turut perintah. maka itu aku minta janganlah kau persulit aku."
It Jie lagi mengulur waktu.
Ia sangsi, pergi atau tidak ?
Kalau ia pergi, tak tahu ia apa jadinya nanti.
Ia benci bangsa dorna, dengan begitu dengan sendirinya ia membenci An Lok San si hina-dina Kalau ia tdak pergi, ia kuatir untuk Kui Ciang, sahabat dan besannya itu.
Dengan tidak pergi, ia mesti menjelaskan hal itu bukankah hal itu berbahaya untuk Kui Ciang sendiri.
"Ah, baiklah aku pergi,"
Pikirnya.
"Kalau An Lok San tahu orangnya salah menangkap. dia tidak akan bunuh aku. Kalau Toan Toako yang pergi, ia pasti akan dihina ! mana mungkin ia mau mengerti ?"
Maka ia tertawa dan berkata .
"An Tayswee kenal aku dan dia mengutus satu jenderal mengundang aku, inilah satu keborinatan besar ! inilah harapan baik untukku ! siapa tahu kalau aku akan memperoleh pangkat? hahahaha ! aku telah diundang tak dapat tidak aku pergi !"
Hati Sin Su sudah tegang. ia meraba bahwa ia akan menggunakan kekerasan, maka legalah hatinya mendengar perkataan orang itu. Ia tertawa dan berkata .
"Benar-benar tuan cerdas katanya kau dan An Tayswee sahabat-sahabat lama, maka asal kau suka bicara baik. pasti tentulah kau memperoleh pangkat. Tuan Toan, aku telah menyiapkan kuda, mari kita berangkat !"""
"Eh, begitu kesusu!"
Kata tuan rumah "Mana mungkin bilang berangkat langsung berangkat!"
Sin Su terperanjat, wajahnya suram, Tapi lekas dia tertawa.
"Tuan mempunyai urusan apa?"
Dia bertanya "An Tayswe pesan supaya. tuan datang sebelum terang tanah! aku dapat menanti tetapi Tayswee sendiri tak dapat menganggur menunggui kau!"
"Aku toh harus pamitan dengan keluargaku. bukan?"
Tanya It Jie. Sin So tertawa.
"Jika bukannya aku sudah mengetahui kau pasti aku menyangka kaulah satu Siu cai si-kutu buku buat apa main pamit-pamitan lagi? lagi pula mana ada tempo untuk kau bicara banyak? bagaimana kalau isterimu menangis? sampai siangpun tentu kita belum tentu berangkat! lagi pula sekarang tengah malam, mana dapat kau membuat terkejut keluargamu?"
Ia berkata begitu, didalam hati ia pikir;
"Toan Kui Ciang ternama besar mengapa dia tidak tahu aturan Kang Ouw? kenapa tak miripnya ia dengan orang sungai telaga?"
It Jie dapat membaca hati opsir ini.
ia memang bukan mau pamitan dari isterinya itu.
Tak mau ia membuat takut dan kuatir.
Ia memikir lain.
Ia telah menduga Sin Su pasti akan menolak, Ia merasa lega mengetahui Sin Soe tidak menyebutnyebut keluarganya "Kau benar, Ciangkun,"
Ia berkata "Tapi aku sedikitnya harus meninggalkan surat bahkan aku tak tahu kapan aku akan pulang? surat perlu untuk membuat isteriku tidak terkejut, bingung dan kuatir."
Sin Soe terlihat terdesak.
"Baiklah kata nya, kau boleh menulis sarat tapi jangan kau sebut sebut An Tayswee cukup kau beritahukan kepergianmu itu kalau nanti kau pulang akan memperoleh kehormatan."
"Aku mengerti!"
It Jie tertawa.
"Aku tidak akan sebut An Tayswee!"
Dan ia langsung menulis suratnya bunyinya memberitahu kan ia pergi untuk satu urusan, dan berpesan kalau ada kesulitan, isterinya boleh minta bantuan saudara dan sahabatnya.
Sin Soe melihat orang menulis dia berdiam saja.
It Jie melipat suratnya, ia letakkan di tengah meja sambil melakukan itu ia berkata dalam hatinya .
"isteriku cerdik kalau besok kau membaca suratku ini, tentu kau dapat menerka aku dalam bahaya, dengan demikian dia pasti akan memberitahukannya Toan Toako. Isteriku tentu berduka tapi itu lebih baik dari pada ia berduka sekarang. Toan Toako pasti dapat mengantar keberangkatan mereka bersama-sama. , ."
Sin Su orangnya pandai tapi dia kurang pengalaman. Tian Sin Su pandai bekerja, terutama An Tayswee nya .....
"perlahan sedikit,"
Katanya ketika mereka hendak berjalan keluar, Setibanya diluar, ia langsung lompat naik ke atas genteng. Ketika ia menoleh ia tidak melihat ada orang, kemudian apapun turun.
"Apakah kau tidak jadi pergi?"
"aku berada di rumahku untuk pergi keluar rumah tak pantas aku berlaku seperti !"
Sahut It Jie .
"Kita dapat mengambil jalan pintu depan". Kata-kata itu tepat. Demikian seharusnya tindakan orang kang ouw kenamaan. walaupun dia diancam dan dipaksa, tapi dia harus jalan melalui pintu depan. Itu nama-nya kehormatan. Kembali Sin Soe kalah meskipun di dalam hatinya ia merasa tidak senang tetapi ia menurut dan mengambil jalan dari pintu depan. Tiba di luar It Jie melihat tiga ekor kuda sudah siap dengan pelananya, gopsir dengan pakaian hitam maju sambil memberi hormat ia berkata.
"Inikah tuan Toan ? Aku Sie Siong. Dahulu aku pernah tinggal di Yu Cie, dan aku pernah mengagumi nama tuan maka hari ini aku senang bertemu denganmu !"
An Lok San mempunyai beberapa bawahannya yaitu Ko Sen, dan Sie Siong ini adalah salah satu diantaranya.
It Jie membalas hormat seraya berkata ia pernah dengar nama besar orang she Sie itu.
Kata kata ini membuat orang senang dan tertawa terbahak bahak.
"Kabarnya", kata Sin Soe "untuk urusan keluarga Lie di Ceng Hoo Kauw kamu hampir bentrok, benarkah itu ?".
"Benar"
Sahut Sie Siong, gembira.
"Waktunya juga sudah ditetapkan tapi kemudian muncul muridnya Hong Jam Kek, pertempuran di batalkan secara damai, sehabis itu kita berpisah. Hahaha ! inilah peristiwa empat belas tahun yang lalu. Sin Su tertawa."
Selanjutnya kita akan jadi kawan sejati, maka kami bergaulah erat-erat.
It Jie tidak tahu peristiwa Ceng Hoo Kauw itu, ia hanya bicara sekedarnya.
Ia mau selekasnya berangkat jadi tak ada waktu untuk mengobrol.
Sin Su berjalan di depan, Sie Siong di belakang.
It Jie diapit di tengah Sie Siong asalnya seorang penjahat besar, mahir dalam ilmu pedangnya San Kog Kiam Hoat.
Ia di-tugaskan mengikuti Tian Sin Su supaya ia dapat membantu apabila Sin Su menghadapi perlawanan.
It Jie duduk di punggung kuda dengan pikiran yang kacau.
Ia berpaling ke arah rumahnya.
Ia sangsi memikirkan isterinya.
ia tak tahu ia dapat bertemu dengan isterinya lagi atau tidak.
Begitu pula dengan anak perempuannya.
Bagaimana sedihnya si anak apabila sampai besar dia tak pernan melihat, ataupun mengenali ayahnya ?
ia juga heran kenapa, selama Sin Su berada di rumahnya tetap sunyi ?
bukankah ia berdua telah berbicara beberapa kali agak keras suara mereka?
Mungkin isterinya tidur nyenyak, tapi bagaimana dengan pembantunya serta bidan ?
Cin Su ini tidak bisa menunggang kuda tapi ia tidak memperoleh kesulitan, Kudanya itu kuda biasa dipakai di medan perang, tanpa kendalian, dia dapat lari.
Kota Tiang-an terpisah hanya enampuluh lie, maka dalam tempo dua jam, mereka bertiga sudah tiba.
Mereka berhenti di kaki bukit di mana ada sebuah rumah besar, yaitu gedungnya An Lok San.
Ketika itu sudah jam lima, Sin Su dan Sie Siong tamunya masuk dari pintu pojok dimana tamu tersebut diminta menunggu di Pek Houw Tong, diruang harimau putih, tempat berkumpulnya para wie su pengiring atau pahlawan pribadi.
Dengan gembira Sie Siong memperkenalkan.
"Tuan ini ialah tuan Toan Kui Ciang abli pedang kenamaan Yu ciu, dan di belakang hari kamu dapat memohon pelbagai petunjuk darinya."
Di dalam ruangan itu ada beberapa wie-su. Mereka semua heran dan ada yang beseru "Oh !"
Mereka bangkit untuk memberi hormat.
Diantaranya ada yang heran kenapa Toan Kui Ciang itu mirip Siucay seorang pelajar.
Su It Jie membawa sikap luar biasa.
Ia duduk dengan tenang, siapa memberi hormat padanya, dibalas dengan mengangguk secara tawar.
Seorang wie-su berkata .
"Toan Tayhiap luas pengetahuannya, aku ingin menanyakan sesuatu, dapatkah ?"
"Jangan menggunakan banyak adat peradatan. Bicaralah !"
Kata It Jie seraya mengangkat tangan, mencegah.
"Selama belakangan ini ada Khong Khong Jie yang terkenal lihay apakah tayhiap ketahui hal-ikhwal dia ? kami berniat mengundang orang kenamaan itu, apakah tayhiap dapat menunjukkan jalannya?"
"Apa itu Khong Khong Jie ? Aku belum pernah mendengarnya,"
Sahut It Jie. Para wiesu terkejut. Mereka bungkam, mereka beranggapan Toan Kui Ciang ini tak memandang pada Khong Khong Jie. Mungkin benar Kui Ciang pandai luar biasa. Sin Su tersenyum.
"Bagaimana ?"
Tanya seorang wie-su.
"Sulit"
Sahut wie-su itu."
Yang tua pandai, entah ilmu silat dari kalangan mana Ada lagi yang muda, entah muridnya atau bukan, dia mirip anak dusun tetapi dia hebat sekali. sampai Thio Tong-nia kena dilukai."
"Apakah parah lukanya ?"
Sin Su bertanya.
"Syukur dia tak cacad. tapi sedikitnya dia meski istirahat tiga bulan Tian Ciang Kun tampaknya kau harus turun tangan sendiri ..."
Mendengar disebutnya si pemuda dusun, It Jie ingat peristiwa didepan rumahuya. Piauw-kie Ciangkoan tertawa.
"Toan Toako sudah datang, biarlah jasa ini diserahkan padanya!, Toan Toako, bukan kah kau dapat menolong luka tusukan jarum rabasia Bwee-hoa ciam ? Belum sempat It Jie menyahut, di ambang pintu terdengar suara nyaring .
"Tayswee menitahkan Tian Ciangkun berdua Sie Ciang Kun mengajak Toin Kui Ciang menghadap ! Itulah tanda terang tanah dan An Lok San sudah datang di kantornya. Sin Su dan Sie Siong langsung membawa It Jie, baru mereka menaiki tangga sudah terdengar suara An Lok San tertawa dan berkata dengan nyaring .
"Sahabat Toan, dahulu kau mengatakan aku pengangguran dan bajingan tak ada gunanya, hari ini kita lihat bagaimana ? kau yang maju atau aku ?"
It Jie sengaja tunduk dan menutup mulut Sin Su jauh lebih tinggi darinya, maka An Lok San tidak dapat melibat jelas padanya.
"Toan Kui Ciang, kau takut toh ?"
Katanya pula.
"Mengingat persahabatan kita, kau mengangguklah padaku dan mengaku salah, suka memberi jabatan pada kau ! Aku kekurangan seorang tukang rawat kuda, suka aku menghadiahkan jabatan itu padamu !"
La berkata demikian tetapi di dalam batinnya ia berpikir .
"Setelah kau mengangguk dan mengaku salah aku akan perintah orang memotong lututmu dan memusnahkan ilmu silatmu, agar seumur hidupmu terhina ! Itu lebih baik daripada aku membabat kutung tubuhmu menjadi dua potong!"
Ketika An Lok San kesenangan tiba-tiba Su It Jie mengangkat kepalanya dan berkata nyaring .
"Aku yang rendah pernah lulus sebagai Cinsu dan pernah memangku pangkat longkoan. Sekarang Tayswee menghendaki aku merawat kuda, itu tak cocok dengan undang-undang pemerintah agung ! untuk itu mungkin harus diajukan dahulu surat permohonan kepada Sri Baginda Raja untuk meminta perkenan dan supaya kedudukanku dihapus dulu !"
Memang ada aturannya Kaisar Tong Cong Lie Sie Bin, yang menghargai kaum pelajar, untuk memberi kebebasan kepada setiap pelajar yang pernah turut dalam ujian negeri, lagi pula pelajar pelajar yang telah mencapai tingkat tiga, seperti Cinsu itu.
An Lok San terkejut, dia langsung mengawasi dengan mata membelalak.
"He, siapa kau ?"
Tanyanya keras.
"Mengapa kau datang kemari ?"
"Akulah Cinsu dari kerajaan Tong yang agung, namaku Su It Jie !"
Sahut Cinsu itu.
"Tentang sebabnya meugapa aku dalang ke-mari, kau tanya saja ini kedua Ciangkun!"
An Lok San langsung memukul-mukul meja.
"Gila-gila ! Aku perintah kamu membekuk Toan Kui Ciang, kenapa kau tangkap orang ini ?"
Tian Sin Su kaget bukan main, dia rnengeluh ditempat yang salah, ia berkata cepat.
"Benar-benar kami sudah pergi kerumah siorang sbe Toan Benar-benar aku telah mengatakan Tayswee mengundang Toan Kui Ciang langsung orang ini mengikuti kami"
"Kapan aku katakan bahwa aku Toan Kui Ciang?"
Tanya It Jie.
"Kamu sendiri memaksa aku mengaku jadi Toan Kui Ciang. kamu paksa tingkahmu galak seperti malaikat jahat ? mana dapat aku membantah ? mana berani aku melawan paksaanmu ? kau sendiri yang mengatakan kau sudah mendatangi dan memuasiki rumah keluarga Toan !, Ciat-touw su boleh kau mengirim lagi orang-orang untuk melakukan pemeriksaan! Di kampungku tak ada orang yang tak mengenal aku! Agar kau mendapat kepastian rumahku keluarga Su atau rumah keluarga Toan!"
Sie Siong terpaksa maju kemuka.
"Mungkin kami membuat kekeliruan,"
Katanya "akan tetapi Tayswee sendiri melihatnya di siang hari orang yang berkerundung kepala itu lari masuk kerumah dia !
Tayswee mengenalnya sebagai Toan Kui Ciang dan dia masuk ke dalam rumah ini untuk bersembunyi, maka bagaimanapun dia harus dicurigai!
mereka ada hubungannya satu dengan yang lain !
untuk menangkap Toan Kui Ciang, Tayswee harus bertindak dari orang ini!"
Dia orang itu menjadi Kee-ciang yang dipercaya, An Lok San suka memberi muka kepada maka itu, habis menegur ia memandang Su It Jie.
"Kau juga bukan mahluk baik-baik !"
Bentaknya.
"jangan kau andalkan gelar Cinsumu itu! dimataku gelarmu tak berharga sedikitpun! untuk membunuh kau sudah seperti menginjak semut! Lekas katakan, dimana Toan Kui Ciang itu"
Tepat pada waktu itu, seorang hamba masuk.
"Ada apa?"
Tanya An Lok San membentak. wiesu itu menekuk sebelah kakinya.
"harap Tayswee ketahui keluarga Toan Kui Ciang sudah diundang datang."
Tian Sin Su berdusta waktu dia mengatakan It Su bahwa keluarga Cinsu itu tidak diganggu.
An Lok San ingin membekuk Toan Kui Ciang dan tidak akan keluarga Toan dberi lolos.
Sin Su berdua ragu-ragu melayani Kui Ciang, maka itu mereka menggunakan akal bulusnya.
Mereka berdua menangkap "Kui Ciang"
Dengan akal kawan mereka, yang bersembunyi diatas genting!
Nyonya Su semua ditahan dengan mudah, sebab sedang Sin Su melayani It Su bicara, Sie Siong Su dan menyulut hio yang asapnya membuat istrinya tidur tak sadarkan diri.
An Lok San tertawa.
"Bagus! "katanya"
Sekarang aku mau lihat, kau menghendaki isteri dan anakmu atau tidak? kau menyerah atau tidak? Hahaha?"
Belum berhenti tertawanya Ciat-touw-su, It Jie sudah membentak.
"Bajingan jahat jangan kau keterlaluan! apakah salahnya Toan Toako terhadapmu! sungguh menyedihkan Pemerintah Agung telah memakai kau sebagai jenderal! jika aku mati sebagai setanpun aku tidak memberi ampun padamu."
Mendengar anak-isterinya ditangkap Cin-su menjadi naik darah hingga ia lupa segalanya.
An Lok San terkejut.
tentu sekaii ia menjadi gusar.
Akan tetapi sebelum ia membentak akan memberikan perintahnya, sudah ada pahlawan pribadinya yang turun ingin Dadanya It Jie ditinju sehingga dia roboh dengan muntah darah, tubuhnya rebah dan pingsan.
Ciat-touw-su itu menghela napas.
"Seorang pelajar begini keras hati. sungguh jarang ada katanya. Kau menghendaki kemauan baik aku akan membuat kau hidup terus! aku akan siksa kau hingga kau menderita! aku akan lihat, kau tunduk atau tidak!". Cinsu ini terlalu menuruti suara hatinya,"
Kata Su Su Beng yang berada di sampingnya An Lok San.
"Kalau sebentar dia sadar, dia pasti ingat isteri dan anaknya, kalau Goanswee memberi budi padanya, mustahil dia tak akan menyerah ". Su Su Beng ialah Hu ciat-touw-su dari Peng Jouw, kedudukannya hanya dibawahan An Lok San. diapun menjadi saudara angkat orang she An ini, meskipun demikian. dalam hal kecerdasan, dia mengatasi sepnya itu.
"Kau benar,"
Kata An Lok San, yang! langsung menitahkan membawa pergi cinsu untuk ditahan. Sie-su yang menawan Nyonya Su It Jie menanyakan, apa yang harus diperbuat terhadap tawanannya ini.
"Masukan dia da lam ternpat tahanan wanita!"
An Lok San memerintah, singkat.
"Baik,"
Sahut wie su itu tapi ketika dia mengundurkan diri, sepnya bertanya "Tahan dulu! bagaimana rombongan wanita itu bawa dia kemari!"
"Tayswee, dia berwajah biasa saja!"
Sie Siong berkata "Dia baru saja habis melahirkan anaknya . .."
"Sial, Sial"
Kata An Lok San tanpa menanti orang bicara habis.
"Hai, kau telur busuk! kenapa wanita habis bersalin dibawah kemari? "
Di jaman itu orang banyak pantangannya wanita bersalin dianggap sial, maka itu Ciat-touw-su menjadi gusar. Wi-su yang malang itu mendongkol, katanya dalam hati.
"Kau yang menyuruh aku menangkap, bagaimana aku tidak menangkapnya ? ....Ketika itu It Jie sudah siuman, dia berkata gusar.
"Kau memandang enteng jiwa manusia aku ini sudah tahu ! Tapi aku tidak takut. tidak nanti aku datang kemari"
Semua orang heran atas keberanian Cin su itu. An Lok San gusar sehingga dia memukul meja."Seret dia pergi teriaknya "Hajar dia sampai mati! "Sabar, Goanswee.
""kata seseoreng yang berada di sisi Ciattouw su.
"Harap Goanswee mau mendengar perkataanku.
"Dialah Su Su Beng, sang adik angkat.
"Apa katamu, saudara Su"
An Lok San bertanya.
"Su It Jie ini sastrawan te kenal dia terkenal juga karena keberaniannya."
Kata Su Su Beng.
"Kabarnya belum lama ia lulus sebagai Cin su dia pernah mengajukan bagaimana keamanan negara yang terdiri dari sepuluh fasal di antaranya dia menyerang Sin jiang Lie Lim Hoa, hingga kesudahannya dia meletakan jabatannya. Maka kalau sastrawan seperti dia dibinasakan, akibatnya buruk. Bukankah pernah terjadi Lie Thay Pek mengacau Istana.yaitu sewaktu Su dia dipengaruhkan akhirnya dia menyuruh Kho Lek Soe membuka sepatunya dan Yu Kui-Hui menggisik bak ? Terhadap sastrawan gila itu Sri Baginda pun dapat mengalah, dari itu mengapa Goanswee tidak mau mengalah terhadap Cin su ini ? Membinasakan dia tidak adi artinya, sebaliknyai dunia akan mengetahui bahwa Goanswee menghargai orang orang pandai surat. Bagaimana Goanswee pikir ?"
An Lok San kasar tetapi dia dapat ber-pikir. kata-katanya Su Su Beng masuk dalam otaknya. Memang dia diam-diam ada maksud besar untuk merampas takhta kerajaan Tong.
"Hahaha"
Dia tertawa.
"Raja dapat mengampuni Lie Thay pek kenapa aku tidak dapat mengampuni kau ? Baiklah, aku saka dengan keberanianmu yang besar ! Agaknya kau pandai, suka aku mengangkat kau menjadi Kie-sit ! Mengenai Toan Kui Ciang, kau jangan kuatir, kau bantu aku mencarinya, dia pun aku akan berikan suatu pangkat dalam pasukan tentaraku ! kau setuju, bukan ?"
Tapi Su It Jie tetap gusar untuknya, pangkat Kie-sit itu semacam sekertaris pribadi tak ada harganya.
"Aku si orang she Su bodoh tetapi pernah aku membaca kitabnya nabi dan rasul-asul !"
Dia membentak.
"Maka itu aku dapat, membedakan si pengkhianat dari menteri setia ! Pangkat anugerah pemerintah Agung aku tampik, mana aku sudi merendahkan diri sendiri menghamba pada satu pengkhianat."
Itu hinaan hebat dan tak dapat An Lok San menerimanya. Su Su Beng pun menjadi pucat.
"Kau . , . kau .... tak tahu diri ?"
Katanya, suaranya gemetar.
"Baiklah!"
An Lok San berseru.
"Kamu bangsa pelajar tak memandang padaku, aku juga tidak membutuhkan kamu ! tanpa kau, aku masih dapat sesuka hatiku !"
Tengah ketegangan itu.
Su Su Beng habis daya, ada seorang Wiesu yang datang menghadap.
Dia heran juga mengapa Sie Siong mengatakan isteri It Jie tak cantik, tetapi sedang ia yang membantu Louw-sie naik ke kereta.
dan melihat sendiri kecantikan nyonya itu.
Itu waktu Sie Siong berkata .
"Isterinya It Jie habis bersalin, untuk menempatkan dia dalam kamar tahanan istana ini pun tidak tepat. Maka baiknya dia dibawa ke rumah Pie cit saja."
"Buat apakah itu ?"
Tanya An Lok San.
"Anak Pie cit yang paling kecil belum berhenti menyusu,"
Kata hamba itu.
"Kebetulan istri It Jie baru melahirkan, jadi ia dapat menyusui anak Pie cit itu."
"Sie Ciangkun, hari ini kau menjadi murahhbati sekali,"
Kata sep itu.
"Baiklah, jika kau tidak memandang sial, kau bawalah dia!"
Sie Siong mengucap terima kasih.
Dia senang bukan main.
Dia memang setan paras elok yang selalu kelaparan.
Dia tertarik ter-hadap Louw sie sehingga dia berani mengatakan nyonya itu wajahnya tak cantik Dia telah memikir setelah Louwsie pulih kesehatannya, dia hendak merebutnya ....
"Toan Kui Ciang belum tertangkap,"
Kata An Lok San kemudian,"
Maka itu, Tian Ciangkun, Sie Ciangkun pergi kamu sekali lagi mencarinya. Dia mungkin belum pergi jauh."
Sehabis berkata, Ciat-toew-su menyerahkan Leng-cian, lencana titahnya.
Ia pun menugaskan empat Wiesu lain, untuk membantu kedua pengawalnya itu.
Kedua pengawalnya itu menerima tugas, mereka langsung mengundurkan diri.
Sehabis berpisah dari Su It Jie, Toan Kui Ciang langsung pulang untuk menemui isterinya.
Nyonya Kui Ciang, Touw Sie, ada buyut-nya Touw Kian Tek di jaman Cap Pee Loo Hoan Ong jaman pemberontak dari delapan belas Raja-raja muda.
Ketika Touw KianTek berhasil ditumpas Lie Sie Bio, turuTiannya tetap bidup dalatn Lot Lim, dunia Rimba.
Hijau.
terus melakukan pekerjaan "tanpa modal."
Touw sie, yang bernama Sian Nio, bida dari saudara saudaranya.
Da pandai silat, dia tak setuju menjadi begal atau berandal.
Pada suatu hari dia bertemu Kui Ciang.
ke duanya bertempur, tidak ada yang kalah din menang.
hingga mereka jadi tertarik satu dengan yang lain, dan langsung mereka menikah, sebagai isteri Sian Nio pandai membawa diri, hingga semua tetangganya mengira dialah wanita pedusunan yang biasa saja.
Begitu bertemu isterinya Kui Ciang menuturkan masalahnya babwa ia sudah mengikat jodoh bayi mereka dengan keluarga Su, Touw-sie senang menerima kabar itu.
Ia setuju keputusan suaminya, setelah itu Kui Ciang menuturkan masalabnya ia melihat An Lok San, karena ia sudah memperoleh keputusan dengan It Jie untuk pindah dari Su Kee Cun ini untuk menyingkir dari bajingan yang bintangnya sedang cemerlang.
"Menghindar adalah tindakan yang baik"
Kata Touw-sie .
"Sekarang kita harus waspada, Kita mesti jaga kalau-kalau sebelum Goan siauw, An Lok San nanti mengirim orangnya untuk menangkap kau."
"Kau benar,"
Kata Kui Ciang.
"Kau pikir bagaimana?"
"Dihari-bari biasa, biasanya An Lok San mempunyai banyak orang Tak usah kita kuatir,"
Kata Sian Nio.
"Sekarsng ini lain habis bersalin, tenagaku kurang banyak se-kali. Lagi pula ada bahaya, aku berdua anak kita dapat mengganggu kebebasanmu ...."
"Apa katamu?"
Tanya Kui Ciang "Sebagai suami isteri, bukankah kita harus hidup dan mati bersama? mana bisa aku menyesalkan kau? "
"Bukan begitu!"
Isterinya tertawa.
"Kita mati bersema, itu bagus! Tapi, apa kau tak pikirkan keturunanmu? Maka itu, aku , .."
"Kau bicaralah!"
Suaminya mendesak.
"Kau sangsikan apa?"
"Aku bicara tetapi kau jangan gusar"
Kata sang isteri "Aku pikir baiknya kau ijinkan aku berangkat terlebih dulu, maksudku, aku berangkat lebih dulu kau belakangan.
Artinya kau menanti sampai nyonya Su sudah sehat baru kau berangkat bersamanya.
Untuk sekalian melindunginya.
Kau menyusul kerumahku ......."
"Apa?"
Mata Kui Ciang membelalak.
"Kau mau pulang kerumahmu?"
"jangan kau kuatir!"
Sian Nio tersenyum.
"Sekarang ini mungkin aku tidak dapat bertahan terhadap prajurit-prajuritnya An Lok San, tetapi kalau baru segala kurcica di tengah jalan aku tidak takut maka itu kau ijinkan aku membawa anak kita aku mau berlindung dulu di rumah kakakku yang sulung untuk. sementara waktu saja, Bersama keluarga Sa itu kau menyusul aku kesana."
Kui Ciang masih tidak puas.
"Isteriku kau ingat apa katamu ketika dulu kau mengikuti aku keluar pintu?"
Tanyanya.
"Pasti aku ingat!"
Sahut isterinya.
"Dahulu paman dan kakakku mengajak kau bekerja sama kau menolak keras. Sampai kita bentrok, Ketika itu aku telah katakan kecuali mereka mencuci tangan tidak nanti aku pulang lagi, tak sudi aku menjadi orang jahat!"
"Nah ! apakah sekarang mereka sudah cuci tangan ?"
"Sekarang kita lagi menghadapi ancaman bencana ... ."
"Tidak ! kehormatan kita tidak dapat dirintangi kesukaran! lagi pula sekarang, selagi kita terancam bahaya kita pergi ke sana, seperti mereka tidak mentertawai, aku sendiri tidak punya muka !"
Sian Nio tahu benar tabiatnya suaminya. la menghela napas.
"Jika kau tidak setuju, sudah ah ... ."
Katanya, masgul. Kui Ciang kuatir isterinya berduka, lalu ia menghiburnya "An Lok San sedang menempel Yo Kui-hui."
Katanya,"
Dia sekarang lagi bersenang-senang di kota Raja, belum tentu dia begitu perlu mencari kita.
Atau kalau toh dia berani mencarinya, tak mungkin dalam beberapa hari ini, maka itu biarlah aku memikirkannya Tubuhmu kuat, tapi kau baru melahirkan, kau jangan banyak pikir.
Pergilah kau beristirahat !"
Kui Ciang hidup melarat, tak kuat ia memelihara pembantu atau bidan untuk merawat isterinya, maka ia sendiri mesti mem-bantu isterinya itu.
Kemudian ia pergi memeriksa senjatanya, pedang dan senjata rahasia.
Ia membersihkan pedangnya itu.
"Pedang, Oh pedangku,"
Ia berkata perlahan.
"Sudah belasan tahun aku menyimpan kau, mulai hari ini aku akan menggunakan kau pula "
Tengah ia termenung itu Kui Ciang mendengar suara perlahan-lahan di luar rumahnya. Seorang yang ahli, tahulah ia apa artinyai suara itu. Maka ia berkata dalam hatinya .
"Baik kau datang ! rupanya malam ini aku mesti membuka pantangan membunuh !"
Malam ini malam tanggal satu rembulan!
belum ada hanya bintang-bintang bertaburan maka itu, pekarangan rumahnya menjadi gelap.
Ia langsung bersembunyi di pojok tembok, tangannya mencekal pedang dan senjata rahasiannya itu.
Mulanya ia mengambil dua Samleng Touw-kut-piauw, piauw yang beracun, kemudian ia tukar itu dengan dua potong thie lian cie, biji teratai besi yang tak ada racunnya.
Pada saat itu dua sosok bayangan berkelebat lewat di atas tembok.
"Kau rebah"
Membentak Kui Ciang seraya bergerak dari tempat persembunyiannya, dan tangannya terayun.
Ia membentak karena tak mau ia main bokong.
Habis menyerang, Kui Ciang tercengang.
Kedua thie-lian-cie seperti kecemplung di laut, tak mengenai sasaran, tak terdengar suara jatuhnya di tanah Itulah bukti liehay-nya pihak lawan.
Segera terdengar suara tertawa yang nyaring dan kata katanya "Moay-hu senjata rahasiamu makin liehay !"
Kui Ciang kenal suara itu, dia heran "Oh, shaku !"
Dia menyambut. Suara tadi suara dari seorang berusia lanjut, terdengar pula.
"kiranya kau masih ingat sanakmu ! sudah sepuluh tahun lebih kita berpisah, mengapa kau tidak pernah memberitakan sesuatu ?"
Touw Sian Nio mempunyai lima kakak laki-laki , dan orang tua itu ialah kakaknya yang ketiga, namanya Leng Hu.
Kui Ciang tak suka bekerja sama dengati ipar iparnya itu tetapi ia mengakui sanaknya.
Maka ia langsung menyambut iparnya yang ketiga itu, ia mengundang masuk.
Cepat cepat ia menyalakan lilin Heran Kui Ciang melibat iparnya itu yang bajunya berlumuran darah.
Sang ipar pun datang bersama seorang muda berumurl kira-kira delapan belas tahun, yang mirip anak petani sikapnya pendiam, dia berdiri disisi Leng Hu dengan mengawasi tuan rumah secara tawar.
"Tengah malam mereka datang kemari, mau apakah mereka?"
Kui Ciang menduga-duga. Rupanya dia menderita luka ...
"Anak tolol, kau tidak mengenal aTuran "
Leng Hu menegur kawannya.
"Kau bertemu saudara yang lebih tua mengapa kau tidak memberi hormat ?"
Bocah itu langsung memberi hormat dengan bertekuk lutut dan menganguk tiga kali dan memanggil .
"Kouwthio!"
Kui Ciang membungkuk untuk membangunkan, di dalam hati kecilnya ia berkata .
"Ketika kita berpisah. shako hanya mempunyai seorang anak perempuan, kalau ini puteranya tak nanti dia sebesar ini ..."
Anak tanggung itu menolak tangan orang seperti yang tak suka dibangunkan.
Ia bangkit sendiri.
Bersamaan dengan itu, sepotong thie-lian-cie jatuh dari tangannya, dia pun berkata dingin .
..Kouwthio, ini aku kembalikan thie lian cie Kouwthio !"
Kui Ciang melengak.
Ia mengira kepada kaki tangannya An Lok San, maka ia mengambil sikap turun tangan lebih dulu.
Meski demikian ia tak mau menggunakan senjata rahasia yang beracun, dan di waktu melempar, ia memakai tenaga tujuh bagian.
Ia tidak menduga yang datang saudara sendiri.
Lagi pula tak heran kalau Leng Hu dapat menyambutnya senjata itu, tidak demikian dengan bocah ini.
"Hm !"
Terdengar suaranya Leng Hu, yang menegur bocah itu .
"Sungguh dungu! Kau sudah memasuki dunia Kangouw selama dua tahun, mengapa lagakmu seperti si hijau ?"
Anak muda itu berdiri diam, matanya mengawasi Kui Ciang. Leng Hu berkata pula .
"Lain kali diwaktu malam gelap jangan lancang menyambut senjata rahasia ! syukur teratai besi kouwthiomu tidak ada racunnya kalau tidak, dengan tenaga dalammu mana dapat kau menutup jalan darahmu ? kalau terkena racun, walaupun kau tidak mati pasti tanganmu akan cacad seumur hidupmu !" ---oo0dw0ooo---
Jilid 2 Ia mengeluarkan sebuah thie-lian cie dari tangan bajunya. mengembalikan kepada Kui Ciang, kepada si bocah ia terus berkata .
"Bukankah kau telah mempelajari mendengar suara senjata rahasia ? Dari suaranya saja kau sudah mesti tahu senjata itu dilempar-kan dengan tenaga berapa besar, maka itu kau harus mengimbangi suara itu. Kalau kau sanggup kau sambutlah dengan ujung baju, kalau tidak, kau mesti berkelit !"
"Terima kasih, sha-cek!"
Kata si anak muda, yang memanggil sha-cek, paman yang nomor tiga.
"Nasihat ini hanya benar separuhnya,"
Pikir Kui Ciang.
"Kalau orang bertemu ahli yang pandai, suara anginnya tak dapat diandalkan lagi ..."
Ia melirik si anak rruda yang jari tangannya hitam. Cepat-cepat ia mengeluarkan obatnya dan kata nya .
"Tanpa pengalaman tanpa pengetahuan! untuk anak muda, tambah pengalaman tambah bagus! tapi aku sendiri, semasa aku berusia sebaya dengannya, aku tak sepandai dia! Apakah tanganmu sakit? sambil dipakaikan obat ini kau akan cepat sembuh!"
Kata kata yang terakhir ini ditujukan kepada si anak muda. Tapi dia menolak tangan yang berikutnya untuk diberi obat, sambil berkata dingin .
"Tak usah! luka ini tak menghancurkan tulang, nyeri sedikit tak apa! kalau mesti memakai obat dapatkah orang disebut enghiong."
Touw Leng Hu menyaksikan itu, dia tertawa dan berkata .
"Sudah, moayhu, jangan layani dia! Dia mau jadi enghiong, maka tak apa dia tersiksa terasa nyeri sedikit !"
"Ha, anak yang bertabiat keras!"
Pikir Kui Ciang.
"Mungkinkah dia tak senang terhadapku?"
Ia menyenangi anak ini walaupun sikapnya sargat dingin, tiba-tiba ia ingat sesuatu, maka ia berkata pula dalam hatinya;
"Mungkinkah dia ini bocah yang tadi menolong anak-anak dari injakan daki kuda?"
Ia hendak menanyakan Leng Hu, atau iparnya itu sudah mendahului bertanya;
"Eh, mana adikku? .., , . Belum suara itu berhenti, belum sempat Kui Giang menjawab dari atas genting sudah terdengar tertawa geli dan halus, disusul dengan lompat turunnya sesosok tubuh, yang langsung berkata;
"Shako, angin apa yang meniup kau datang kesini?"
Dan Touw Sian Nio muncul diantara mereka, Nyonya Kui Ciang juga mendengar suara datangnya tetamu malam karena ia tahu, pasti suaminya sudah berjaga-jaga, ia keluar dari belakang, untuk merondai rumahnya, setelah melihat dan merasa yakin tidak ada mu suh, baru ia kembali, kebenaran ia mendengar suara kakaknya yang ia kenal itu, ia langsung menyahut dan memberi hormat.
"0h, Liok-moay, kau tak melupakan kebiasaanmu kaum rimba hijau. kata sang kakak tertawa juga. Eh. mengapa mukamu pucat? Apakah kau sakit?"
Sian Nio tertawa tanpa menjawab. Kui Ciang tertawa dan menjawab;
"Dia bukannya sakit hanya tadi malam dia melahirkan seorang bayi laki-laki!"
"Kionghie! Kionghie!"
Kata Leng Hu girang.
"Oh, sayang aku si shaku, aku tidak membawa apa-apa untuk hadiah!"
Si anak muda langsung memberi hormat kepada nyonya, Sian Nio heran, orang memanggil kouwthio kepada suaminya.
"Keponakan yang mana ini?"
Tanyanya.
"aku tidak mengenalnya?"
""Apakah adikku masih ingat Tiat Cee-cu dari Yan san?"
Leng hu balik menanya.
"Oh,"
Kata Sian Nio.
"Jadi dialah keponakan yang nama kecilnya di panggil Mo lek? aku ingat sekarang diharian aku menikah dencan Kui Ciang Tia, ceecu datang kepesta dengan membawa putranya ini!"
"Memang dialah bocah ini!"
Kata leng hu.
"Ah sungguh cepat sekali hari berlalu"
Kata Sian Nio "tanpa terasa belasan tahun sudah berlalu. Dia telah menjadi seorang enghiong!"
"Apakah Tiat Ceecu baik?"
Ditanya begitu, mata si anak muda menjadi merah.
"Tiat Ceecu menutup mata dua tahun sepeninggalnya kamu"
Kata Leng Hu memberitahu "Anak ini langsung dipungut anak oleh Toako.
Dia berotak cerdas sekali, dalam belajar silat dia mengungguli anak-anak yang lain Itulah sebabnya aku membawa dia.
Mo lek, apakah kau ingin belajar ilmu jarum rahasia Bwee hoa ciam?
nah lain kali kau belajar pada bibimu!"
Mo lek ini puterannya Tiat Ceecu, yang bernama Kun Lun.
orang suku Ouw.
Dijaman Tong itu, diwilayah utara orang Han tinggal bersama dengan orang Ouw, isterinya Tiat Kun Lun ialah gadisnya Hong Kui Siang, seorang jago dari kota Hoan yang.
Keluarga Hong ada hubungannya dengan keluarga Touw.
Tiat Kun Kun pandai, dia bergaul erat dengan Touw maka setelah meninggal, Mo lek diserahkan pada kakaknya Leng Hu.
Kemudian Sian Nio bertanya kepada kakaknya ;
"shako, kenapa bajumu ada darahnya? apakah dijalan kau telah melukai atau membunuh orang ?""
"Aku pernah membunuh banyak orang kali ini hampir aku dibunuh orang"
Sahutnya. Nyonya Toan heran.
"shako bertemu dengan musuh yang tangguh? Apa yang terjadi dirumah kita?"
"Baru hari ini aku sampai disini,"
Kata Leng Hu, sebenarnya aku ingin minta bantuan bantuan kamu dalam urusan dua urusan ini !"
"Silakan tuturkan,"
Kata Kui Ciang, singkat. la mendahului isterinya.
"Pertama-tama aku mau minta moayhu memberi obat padaku,"
Kata ipar yang nomor tiga itu? "Sebenarnya aku sangat malu, Inilah yang pertama kali aku mengalami kekalahan dan terluka juga!", Kui Ciang heran.
"Dia agaknya terluka sedikit. kerapa dia sampai minta obat padaku ?"
Pikirnya.
Tengah ia berpikir itu tiba-tiba ia mendengar suara cita sobek.
Itulah Touw Leng Hu, yang tanpa menanti membuka bajunya, sudah sobek itu, untuk memberi lihat dadanya dimana ada sebuah titik merah sebesar tusukan jarum.
Dia pun langsung berkata "Kau lah ahli, kau tentu kenal ini!"
Kui Ciang kaget, mukanya pucat.
"Inilah jarum Pee bie ciam !"
Serunya.
"Apakah shaku dengan keluarga Tong dari Kiam-lam bermusuhan ?"
Jarum Pee-bie ciam itu jarum alis putih lihay sekali.
Siapa terlukakan itu dan racunnya masuk ke jantung.
akan tewaslah jiwa-nya Leng Hu terluka di dada dekat dengan jantungnya, maka itu dia terancam bahaya maut.
"Orang yang rnelukai ini belum aku tahu hal ikhwalnya,"
Kata jago she Touw itu,"
Meski demikian aku merasa pasti dia bukanlah orang keluarga Tong."
"Apakah shako kena dibokong tanya Sian Nio"
"Bukan !"
Sahut kakak itu.
"Kami berdiri depan berdepan, kami bertempur secara laki-laki, rneski benar dia telah menggunai senjara rahasia yang beracun ini, tak dapat aku membilang apa-apa."
Jikalau Tong itu kesohor sebagai ahli senjata rahasia tetapi dalam ilmu silat mereka bukanlah lawan keluarga Touw kalau mereka hendak mengalahkan Leng hu, mereka mesti main curang.
Sekarang kejadiannya tidak demikian.
"Orang itu dapat melukai dengan senjata rahasia, kenapa dia masih melukai juga sedikit dengan pedang?"
Ia heran tapi ia tidak mau menanya. sebab Leng Ho sendiri membungkam. Maka ia kata .
"Obatku. Leng ce Kie Tok Wan bukan obat tepat untuk luka senjara rahasia tetapi dengan dibantu tenaga dalam shaku, aku rasa cukup dengan sebutir luku shaku akan sembuh."
Ketika dulu hari kakeknya Kui Ciang berperang ke Barat disana dia mendapatkan pohon obat Leng cie dan ribuan tahun, maka pohon obat itu diambil dan dijadikan bahan obat menyembuh racun, biasanya cocok untuk pelbagai macam keracunan, maka juga Leng Hu memintarnya.
Sian Nio lantas pergi ke dalam, akan mengambi obatnya, sembari kaluar pula ia tertawa dan kata.
"Anak kita tidur nyenyak sekali, aku dapat tempo urtuk menemani kamu bicara shako apa itu hal yang kedua?"
Leng Hu mengawasi tajam, romannya sungguh sungguh.
"Adikku, aku tak tahu kau masih ingat persaudaraan kita atau tidak ?"
Tanyanya sebelum dia menjawab.
"Hebat pertanyaan kau ini shako! "kata si nyonya.
"Kita bersaudara kandung mengapa aku tidak ingat".
"Jikalau kau masih ingat kita bersaudara"
Kata Leng Hu, masih berharap aku minta kau bersarna moyhu pulang ke rumah kita, untuk kamu menolongi jiwa kami!".
Leng Hu kenal balk sifat Kui Ciang sebagai turunan Jenderal, Ia tidak mau bergaul dengan keluarga orang jahat, karena ini dia tidak mau bicara langsung hanya secara tidak langsung kepada adiknya.
Kakak itu mengawasi adik perempuannya, dan Sian Nio mengawasi suaminya.
Adik ini bersangsi sekali.
"Shako, baiklah kau bicara dulu biar jelas.
"kata kemudian.
"Apakah yang telah terjadi ?"
Tauw Leng Hu tetap memandang adik-nya.
"Orang keluarga Ong di Peng Yang belum lama ini sudah bentrok dengan keluarga kita, dia berkata.
"Kita bertempur hebat tetapi, sungguh malu.
beberapa kakakmu yang tidak punya guna telah kena dikalahkan mereka ".
Keluarga Ong itu sama dengan Keluarga Touw.
Mereka turunan Ong Sie Tong.
Setelah Ong Sie Tong ditumpas Lie Sie Bin anak cucunya seperti anak cucunya Touw Kian Tek semua hidup sebagai orang orang jahat.
Kedua keluarga pun bermusuh, tidak heran kalau mereka bermusuh turun temurun sering mereka bentrok."
Berterang"
Atau bergelap.
Hanya kali ini, heran Sian Nio mendengar perkataan kakaknya ini.
Sampai kepada turunan mereka ini.
Keluarga Ong itu kalah dari pada keluarga Touw Lima saudara laki-laki keluarga Touw gagah semuanya, murid mereka pun berjumlah puluhan, semua tersohor dalam Rimba Hijau, keluarga Ong terdiri cuma dari satu orang, Yaitu Ong Pek Thong.
Dia ini gagah tapi dia kalah dibanding dengan lima saudara Touw, jangan kata dikepung berlima satu awan satu juga dia masih tak nempil, Ong Pek Thong mempunyai dua anak, satu pria dan satu wanita dan murid muridnya juga lebih sedikit maka itu setiap mereka bentrok pihaknya yang tentu kalah.
Maka akhirnya, pihak Ong selalu mengalah kalau bersamprokan, mereka menyingkir lebih dulu.
Inilah sebab yang mengherankan Sian Nio.
"Kau tidak tahu Liok moay."
Kata Leng Hu yang bisa membadi keragu-raguan adiknya itu "Sekarang ini dunia Jalan Hitam beda dari pada dulu, sekarang jamannya anak muda dan kita kaum tua, kita kena tertindih mereka."
Sejak ia turut suaminya Sian Nio sudah mengundurkan diri, maka itu ia asing dengan perubahan jaman. Tapi mengenai keluarganya, ia ingat baik sekali, ia tetapi memperhatikannya.
"Apakah Ong Pek Thoang telah mengundang bantuan orang liehay ? Siapakah pembantunya itu? Apakah kakak yang lainnya pun pada terluka ?"
"Benar Ong Pek Thong mengundang orang liehay, ialah Ceng Ceng Jie."
"Ceng Ceng Jie ?"
Mengulangi si nyonya.
"Aku belum pernah mendengarnya ... ."
"Kita tinggal bersembunyi di dusun ini sudah belasan tahun, pantas kita menjadi si tuli !"
Kata Kui Ciang, bersenyum.
"Selama uang belakangan ini dalam dunia Kang Ouw telah muncul dua orang yang liehay sekali,"
Touw Leng Hu menerangkan pula.
"Mereka masih sangat muda, barangkali usianya belum dua puluh tahun. Ceng Ceng Jie satu diantaranya Yang lainnya ialah Khong Khong Jie. Kami belum pernah melihat Khong Khong Jie tapi dia kabarnya lebih liehay daripeda Ceng Ceng Jie, katanya liehay luar biasa... .!"
Alisnya Sian Nio berbangkit.
"Liehay luar biasa bagaimana ?"
Tanya dia.
"Bicara dari hal Ceng Ceng Jie saja, benarkah dia dapat mengalahkan kakak berlima ?"
Sian Nio nampak halus tapi sebenarnya tabiatnya keras. Leng Hu kenal tabiat adiknya ini, ingin dia membangkitkan kemarahannya. Maka dia menghela napas dan kata dengan lesu .
"Sudahlah, buat apa disebut-sebut pula. Kali ini keluarga kita roboh benar-benar. Toako terlukakan, dan Sie-tee juga terkena sebatang jarum Pee bie ciam...."
Toako itu, sang kakak sulung, Leng Ciok namanya, menjadi pemimpin Rimba Hijau di wilayah Utara, ilmu silatnya liehay sekali, sampai Kui Ciang pun mengaguminya.
Sekarang ia mendengar Toako itu, ipar pertama, mendapat luka juga, ia terkejut.
Dari tak ada perhatiannya, ia menjadi ketarik hati.
"Pada suatu hari Ong Pek Thong dagang dengan membawa Ceng Ceng Jie,"
Kata Leng Hu, meneruskan keterangannya.
"Ceng Ceng Jie itu kurus kering mirip seekor kunyuk, kami tak memandang mata padanya. Tapi dia justeru menantang kami berlima melayani dia seorang diri. Tentu sekali kami tidak mau meruntuhkan nama kami. maka itu. kami mengajukan dulu Jieko. Baru beberapa jurus, sudah terkurung sinar pedangnya. Soetee dan Ngo tee melihat gelagat buruk terpaksa mereka maju membantui. Nyatanya mereka bertiga kena terdesak mundur. Oleh karena terpaksa, aku maju bersama Toako. Toako menggunakan tamengnya, Thian Su Sin-pay, ia tidak takut senjata tajam, ia maju di depan, kami berempat dikiri dan kanan. Hebat kami bertempur. Dalam setengah jam dapat kami mengurung dia. Tepat dia terkurung, dia mengeluarkan jarum rahasianya itu Pee bie ciam ... ! Kui Ciang berpikir .
"Kamu mengeroyok orang, pantas orang menggunakan senjata rahasianya."
"Jikalau dia ialah orang lain, jarumnya itu pasti tidak dapat berbuat apa apa atas diri kami "
Leng Hu melanjutkan.
"Dia benar benar liehay. Di samping pedangnya yang liehay itu, dia menggunai senjata rahasianya itu kami dijadapi kesulitan Kalau kami menyingkir dari pedang sukar kami menghindari jarum rahasia. Begitu juga sebaliknya. Akhirnya terpaksa kami bersedia terkena jarum daripada tertikam atau terbabat pedansr Syukur toako liehay dengan tamengnya, Jieko dan ngo tee dapat membela dirinya. Aku ber sama sietee ayal sedikit, lantas kita terkena jarum aku di dada, sie tee di kaki. Toako berkelahi terus, celaka ia terpapas kutung dua jeriji tangan kirinya. Di saat kalap, kamipun dapat mengguratkan pedang kami dua kali padanya. Sampai di situ berhentilah pertempuran itu."
Sian Nio menghela napas lega.
"Masih beruntung, itulah bukan roboh runtuh!"
Katanya.
"Ceng Ceng Jie terluka. cuma di kulit."
Kata Leng Hu.
"Kami terluka parah. Bukankah itu berarti keruntuhan?"
"Bagaimana dengan lukanya sieko?"
Adik perempuannya memberati kakaknya yang ke empat. Kalau kakak tuanya, terkutung dua jerijinya, tidak seberapa.
"Syukur sie-tee terluka bukan ditempat yang berbahaya,"
Kata Leng Hu.
"Racun jarum tak nanti menyerang cepat, ke jantung, Sedikitnya sietee dapat bertahan satu bulan."
Meski begitu sampai itu waktu dua puluh hari sudah lewat. Kui Ciang pikir, kalau begitu Ceng Ceng Jie benar lihay sekali. Touw Leng Hu berkata pula;
"Liok moay kau anggauta keluarga Touw, kau ketahui baik sifat kami. Belum pernah minta bantuan pihak luar. Tapi kau termasuk Keluarga Touw, maka itu tak terhina kalau aku minta bantuan kamu!"
Sian Nio tetap bersangsi, ia mengawasi suaminya, tak berani ia lancang membuka mulutnya. Leng Hu melihat keadaan itu. ia berkata pula.
"Turut penglihatanku, di jaman ini cuma ilmu pedang moayhu yang dapat melayani Ceng Ceng Jie. Mengenai kau Liok moay, toako semua mengharapi jarum rahasiamu. Kau telah mewariskan sempurna kepandaian ayah, ilmu pedang dan senjata rahasia. Toako minta aku menyambut kau suoaya selagi moayhu melayani musuh kau hajar dia dengan Bwee hoa ciam. Dengan begitu barulah kita mempunyai harapan dapat kemenangan dan nana baik Keluarga Touw dapat dilindungi. Maka juga kami sangat mengandal kepada kamu berdua suami isteri! "
Sian Nio tetap diam, ia tidak berani mengambil putusan. Ia terus mengawasi suaminya Kui Ciang nampak kurang puas.
"Shako."
Ia berkata,adikmu baru saja habis bersalin..., Juga Ceng Ceng Jie dia maui merawat lukanya dulu,"
Kata Leng Hu.
"Sebelum sembuh tidak nanti dia berani datang menantang. Lagi pula adikku tidak ber tempur langsung, dia menanti dipinggiran untuk melepaskan jarum rahasianya, Aku rasa habis sebulan baru kita dapat bertempur pula."
"Toan Long. kau pikir bagaimana akhirnya Sian Nio tanya suaminya. Inilah menandakan lagi ia sudah tidak ada soal lagi tinggal putusan sisuami.
"Rumah tangga kau mempunyai urusan, kau hendak pulang, aku tidak dapat menghalang-halangi"
Sahut Kui Ciang.
"Ilmu silatku sudah banyak tahun tak dilatih pula, maka itu aku merasa tak dapat aku melawan Ceng Ceng Jie yang demikian lihay."
Mukanya Leng Hu menjadi pucat. Tak puas dia.
"Jikalau kau tidak suka pergi, bilanglah terus terang!"
Katanya keras "Kaulah bangsa enghiong, bangsa hiap kek, kau tidak sudi mengaku, kami sebagai sanak, meka juga keluarga Touw tak demikian tebal mukanya berani minta banuanmu!"
"Shako, tak tepat kau bicara begini."
Kata Kui Ciang.
"Aku ingin bicara kau sudi mendengar atau tidak terserah padamu."
"Bicaralah !"
"Ingin aku memberi nasihat supaya kamu menggunai ini ketika yang baik untuk mencuci tangan, buat mengundurkan diri,"
Kata Kui Ciang, terus terang.
"Bukankah Ong Pek Thong itu cuma memperebuti nama kosong sebagai jago Rimba Hijau? jikalau ke tempat yang sepi, apakah dia dan Ceng Ceng Jie masih akan mencarinya buat membikin habis Keluarga Tauw?"
"Nasihat yang berharga"!"
Kata Leng Hu. mengejek.
"Kau bukan anggauta Keluarga Touw. Tetapi kau menikah putrinya, keluarga itu kau tentunya ketahui ajaran Keluarga kami! Kami lebih suka binasa daripada terhina! Sudah seratus tahun lebih, tak pernah ada orang yang menghina kami! Tak dapat kami! mengelepoti kepala kami! Taruh kata kami hendak mencuci tangan? itu mesti terjadi sehabis kami membalas dulu sakit hati in!"
"Bicara dari hal pembalasan rasanya kamu lebih banyak, rasanya kamu lebih banyak berhutang jiwa orang,"
Kata Kui Ciang, sungguh-sungguh.
"Orang Rimba Hijau hidup diatas golok, maka itu bagi mereka terkalahkan atau terbinasakan adalah soal tak dapat dihindarkan. Jikalau kamu terus main balas-membaias tak lapisnya, seteleh Ceng Ceng Jie terbunuh, siapa berani jamin tak nanti muncul Ceng Ceng Jie yang kedua ?"
Kui Ciang tidak pandai bicara, hebat kata katanya ini, sedang itu waktu, Leng Hu lagi panas hatinya Sian Niopun serba salah.
Ia kenal sifat suaminya itu hingga tak berani ia membantui adiknya meskipun ia telah memikirkannya.
Touw Leng Hu mengibas tangannya, ia kata dengan kemendongkolan yang ditahan .
"Anggap saja aku datang ke pintu yang salah ! Aku membikin kehilangan muka sendiri ! Nah, aku meminta diri!"
"Shako!"
Sian Nio berkata.
"Shako. Kau duduk dulu! mari kita bicara baik-baik!"
Tapi Kui Ciang berkata .
"Shako telah berkeputusan untuk menuntut balas ! sesuatu orang ada cita-citanya sendiri, tidak berani aku mencegah atau mengasi pikiran lagi. Ini dua butir obat Leng cie Kie Tok Wan harap kau bawa pulang untuk sieku."
Leng Hu sudah berbangkit.
"Tak usah!"
Dia kata "Taruh kata dia dapat disembuhkan, dia toh bakal terluka pula di tangannya Ceng Ceng Jie!"
"Sekarang sudah malam, shako,"
Kata Sian Nio, berduka.
"Kalau kau mau berangkat, berangkatlah besok pagi ..."
Leng Hu berdiam, dingin sikapnya, Si anak muda, yang sejak tadi berdiam saja, yang cuma tertawa dingin, mendadak membuka mulutnya. Katanya .
"Berdiam di sini satu malam tidak apa, hanya kalau sebentar datang sahabatnya kouwthio, sahabat yang memangku pangkat kalau dia melihat disini ada penjabat besar, itulah tidak bagus, pasti berabe dan sulit!, paling benar mari kita berangkai sekarang juga! "
Kui Ciang melengak ia berjingkrak.
"Mo Lek, apa katamu?"
Tanyanya La heran bukan main ia berpikir.
"Seumurku, aku tidak mempunyai sahabat pembesar negeri.
"Mungkinlah mereka maksudkan Su It Jie? Tapi Su Toako sudah lama meletakan jabatannya. Laginya, mereka ini berdua baru saja sampai disini mana mereka ketahui Su Toako itu sahabatku?"
Mo Lek minggir ke samping.
"Sahabatmu itu sahabat jempol !"
Dia kata pula, keras.
"Apakah kau takut aku menyebutnya ? kau tidak mau membiarkan kami pergi, apakah kau hendak membekuk kami untuk diserahkan pada sahabatmu si pembesar negeri itu supaya kau memperoleh jasa ? Benar tadi yang menolongi anak-anak dari kaki kuda ialah aku ! Aku pula yang menyerbu An Lok San ! kau mau apa ?"
Touw Leng Hu membentak .
"Bukankah ayah angkatmu telah memberi pengajaran kepadamu ? Tujuan tak sama, tak dapat orang bekerja sama, maka itu, buat apa kau banyak omong lagi, tidak apa kau menerbitkan onar tetapi dengan begitu kau bawa-bawa tulang tuaku ini ! Bisa-bisa kau nanti mengantarkan jiwaku di sini !"
Kata-kata itu ditujukan kepada Tiat Mo Lek, akan tetapi di lain pihak, dimaksudkan juga terhadap Toan Kui Ciang. Touw Sian Nio terperanjat.
"Shako, shako katanya Apakah artinya perkataanmu ini ?"
Sekalipun Kui Ciang tidak dapat turut kau pergi menghadapi Ceng Ceng Jie.
dia tidak nanti memusuhkan kau apapula untuk menangkap kamu buat diserahkan kapada pembesar negeri !
kau ..kamu pandang dia orang macam apa ?"
Kui Ciang lompat ke pintu, untuk menghalangi.
"Shako"
Katanya. Dingin.
"kau omong dulu biar jelas, baru kau pergi!"
"Enak kau bicara !"
Kata Leng Hu, dingin.
"Sesuatu orang ada pikirannya sendiri tak dapat orang dipaksa ! kau hendak pergi ke tempatnya An Lok San untuk memperoleh jasa dan pangkat, tak heran kau tak sudi mengenal sanak lagi ! Tapi aku mau minta sukalah kau ingat persabatan kaum Kang-Ouw. kau tunggu sesudah aku pergi, baru kau pergi memberi kisikan kepada pembesar negeri ! Tak dapatkah iru ? Andaikata kau benar-benar hendak kami, meski Tou Leng Hu bukan lawan kau, dia tak nanti manda diam saja diringkus kau !"
"Shako !"
Sian Nio berkata keras.
"Apakah shako bilang kau tidak tahu, An Lok San justeru musuhnya Toan Long kami justeru baru saja mendamaikan soal mengangkat kaki dari sini, buat menyingkir dari ancaman bencana ! "
Ketika itu, Kui Ciang sudah lantas menjadi tenang "Shako, di sini mesti terjadi salah mengerti,"
Katanya sabar.
"Coba kau jelaskan, mengapa kau menyangka aku mau pergi kepada An Lok San untuk mengharap pangkat"
Leng Hu menjadi heran timbullah keraguannya ia melihat orang tidak lagi main sandiwara ia menjadi mau percaya.
"Di bawahnya An Lok San ada dua punggawanya yang sangat diandalkan,"
Ia kata pun menjadi sabar.
"Merekalah Tian Sin Su dan Sie Siong Bagaimana pergaulan kau dengan mereka itu ?""
"Pernah aku mendengar nama mereka itu,"
Kui Ciang jawab.
"Dulu hari karena urusan keluarga Lie di Ceng Hoo Kauvv, Sie Siong telah menantang aku mengadu pedang-Ketika itu muncul adiknya Kong Jiam Kek, maka urusan dapat didamaikan hingga batal kita bertempur. Semenjak itu, terus sampai di saat ini, aku belum pernah bertemu pula dengan mereka itu."
Touw Leng Hu heran bukan main.
"Benarkah perkataan kau ini ?"
Ia menegasi. ,Ah, benar benar aneh?"
Ia mehentak.
"Taruh kata kau tidak percaya aku, kau mesti percaya adikmu !"
Sahut Kui Ciang.
"Kau tanyalah dia. apakah aku pernah mendusta !"
"Memang mereka itu berdua tidak ada hubungannya dengan kami,"
Kata Sian Nio.
"Shako mengapa kau menuduh mereka ada sangkutannya dengan Kui Ciang ?"
Touw Leng Hu mengawasi adiknya. .,Di muka desa ini ada sebuah rumah,"
Ia kata, di depan rumah itu ada tiga buah pohon cemara, tuan rumahnya seorang berumur lebih kurang empatpuluh tahun, dialah seorang pelajar berkulit putih dan tak berkumis.
Benarkah orang itu tidak ada sangkutannya dengan kamu ?"
"Dia itu benar sahabat karibku,"
Sahut Kui Ciang.
"Dia sie Su dan namanya It Jie Benar dia pernah menjadi pembesar negeri akan tetapi dia sudah meletaki jabatan sejak belasan tahun yang lalu. Dia dipecat karena dia berani menyerang menyerang menteri dorna Lie Lim Hu ! Ha ! kau menyebutnyebut aku bergaul dengan pembesar negeri, jadi kau maksudkan dia ! Dialah sastrawan satria, meski dia pernah memangku pangkat dialah orang berhati mulia !"
"Dia menjadi pembesar, apakah kau tahu dia mempunyai perhubungan apa dengan An Lok San ?"
Leng Hu tanya pula.
"Su Toako bersahabat denganku selama sepuluh tahun, aku tahu dia justeru sangat membenci An Lok San, hingga tak ada soalnya bahwa dia bersahabat dengan pembesar buruk itu !"
"Masih ada satu hal yang shako belum ketahui,"
Sian Nio menyela.
"Tadi malam isterinya Su Toako itu telah melahirkan seorang anak perempuan, lantas kita kedua Keluarga mengikat ini perjodohan anak anak kita. Dengan sendirinya Su Toako itu juga cin kee kau."
Lcng Ha mengurut-urut kumisnya.
"Benar-benar aku tidak mengarti!"
Ujarnya.
"Baik aku menjelaskan dari mula mula."
Kui Ciang dan isierinya mendengari.
"Pada beberapa tahun yang telah lewat ada seorang sahabat yang memberitahukan aku bahwa ia pernah melihat kau di kota Tian-an, ketika kau tengah berjalan dengan tergesa gesa,"
Leng Hu menutur.
"Aku lantas menduga kau tinggal di dekat kota Tiang-an. Maka bersama Mo Lek aku menyusul kemari Pada tiga hari yang lalu kami bertemu dengan delapan pahlawannya An Lok San di jalan Hong siang. Kita bentrok."
"Apakah kau bermusuhan dengan An Lok San?"
Sian Nio bertanya.
"kau meninggalkan Rimba Hijau belum sepuluh tahun, mengapa kau masih tak mengerti duduknya hal ?"
Kakak itu balik bertanya "Rumah kita keluarga Touw berada di dalam wilayah pengaruhnya An Lok San Itu berarti kita harus menerima baik undangannya untuk bekerja di bawah perintahnya.
Bukankah ini sederhana dan singkat?"
"Aku tahu itu!"
Kata si adik tertawa.
"Hanya ketika aku meninggalkan rumah kita An Lok San belum menjadi cat-touwsu, hingga aku tidak tahu bahwa rumah kita ber ada dalam daerah kekuasaannya."
"Kita bukan saja tidak menerima baik undangannya untuk menghamba terhadapnya,"
Leng Hu menyambung.
"Bahkan diharian dia menggabung menjabat pangkat ciat-touw su dari Hoan-yang-sie tee sudah berguru dengan dia, ialah sie tee sudah curi sepotong baju bulu rase yang mahal miliknya Yo Kui Hui yang dihadiahkan kepadanya. Maka itu sudah sejak lama dia hendak membekuk kita. Ong Pek Thong itu sahabatnya Tian Sin Sie yang bawahannya An LoK San sahabat-sahabat Jalan Hitam. Setelah Tian Sin Sie menghamba pada An Lok, San Pek Tbong lantas menghubunginya. Maka itu aku menduga, bentrok-anku dengan orang-orangnya An Lok San di jalan Hong-siang itu disebabkan bisikannya Ong Pek Thong. Kita dipegat hendak ditawan."
Kui Ciang berpikir.
"Di dalam Rimba Hijau ada tingkat yang tinggi dan yang rendah. Ipar-iparku itu tidak sudi bekerja sama pembesar negeri, kalau dibanding dengan Ong Pek Tbong mereka menang banyak ..."
Touw Leng Hu menyambangi "Kami di kepung delapan pahlawan pribadi An Lok San itu.
Mereka bukan dari kelas satu tetapi ilmu silat biaca.
apapun satu diantaranya,Thio Tiong Cie.
dia bekas orang Jalan Hitam yang berkenamaan.
Senjata ialah sepasang Houw tauw kauw gaetan berkepala macan-macanan luka dilenganku ini ialah bekas gaetannya itu yang lihay itu , .
, .."
"Sha cek. kau biasa mengangkat musuh!"
Kata sikacung menyela sambil tertawa."Sebenarnya kalau bukannya sengaja sha Cck menggunai tipu mana dapat dia mendekati sha cek?"
"Mo lek!""
Kata paman itu sungguh-sungguh "orang muda semacam kaulah yang paling mudah dihinggapi penyakit memandang enteng kepada musuh!
Jikalau kau tidak meng ubah cacatmu ini dibelakang hari kau bisa menderita karenanya!
Kau ketahui pengajaran musuh, merebut kemenangan ialah yang paling utama!
Lebih cepat kita menang lebih baik pula, supaya tak usah terjadi hal-hal di luar dugaan.
Sekalipun sang singa untuk menerkam kelinci dia mesti menggunakan seluruh tenaganya, sedang kita bukannya singa dan pihak sana bukannya kelinci, ingat lah kejadian hari itu Aku telah terluka jarum Pee-bie ciam dan mereka mengeroyok.
Sudah terang mereka ingin sekali dapat membekuk kita.
Coba aku tidak menggurat siasat, untuk memancing Tio Tiong Cie, pasti, sukar kita meloloskan diri.
Caramu berkilat itu waktu main keras saja.
Itulah berbahaya"
Habis menegur keponakan itu, Leng Hu menoleh kepada Kui Ciang untuk menerus kan keterangannya.
"Aku benci pada Thio Tiong Cie sebab-perbuatannya yang busuk itu mau mencelakai orang golongan sendiri,-"
Katanya "aku, memancing, hingga dia datang dekat padaku. Aku hajar dia dengan Pek Lek Ciang, hingga patah tulang iganya. Justeru itu, dia pun menggaet aku."
"Apakah di antara mereka ada Tian-Sin Su dan Sie Siong?"
Sian Nio tanya "Mereka itu termasuk punggawa, perang, mereka tidak bercampuran dengan kawanan pahlawan pribadi An Lok San itu"
Sahut Leng Hu "Atau mungkin mereka anggap delapan orang itu sudah cukup untuk melayani aku si tua bangka!"
Ia tertawa, ia melanjuti .
"Syukur delapan orang itu tidak memandang mata padaku. Umpama kata Tian Sin Su dan pie Siong turut serta, selagi aku terluka itu pastilah aku bukan lawan mereka, tentu sekali sekarang aku tidak dapat bertemu dengan kau, adikku."
Sian Nio heran.
"Shako,"
Katanya.
"habis kata-katamu barusan ..."
Leng Hu dapat menerka.
"Kau tentu tidak mengerti kenapa tadi aku menyebut-nyebut nama mereka itu berdua, bukankah hari itu aku tidak berjodoh bertemu dengan kedua punggawa itu, tetapi malam ini ..."
Kui Ciang pun heran.
"Malam ini ?"
Dia tanya.
"Di mana kamu bertemunya ? "Justeru di dalam desa ini ! Belum satu jam !"
"Sebenarnya, bagaimana hal itu ?"
Sian Nio tanya.
"Kau jangan kesusu. Nanti aku jelaskan menurut tuntunannya."
Dan Leng Hu .melanjuti .
"Kita lewat di jalan Hong siang itu tepat di harian tahun baru. Ketika kita sampai di muka desa ini, kita bertemu dengan pasukan tentaranya Aa Lok San, yang katanya lagi menuju ke kota Tiang-an, guna An Lok San memberi selamat tahun baru kepada Yo kui hui. Kami takut menimbulkan onar, kami sembunyi di lembah. Lain dengan ini bocah, dia seperti anak kerbau yang tak takut harimau, dia justrru pergi ke mulut lembah, untuk menonton"
"Syukur aku pergi melihat!"
Mo Lek memotong.
"Aku jadi dapat melihat kouwthio. Kouwthio menutupi kepala dengan baju kulit jalannya pesat seperti lari. hingga aku menduga ialah ssorang ahli silat yang mahir ilmunya enteng tubuh."
"Liehay matanya bocah ini,"
Kui Ciang pikir.
"Ketika itu, tanpa sengaja aku berjalan cepat, dua tindak menjadi satu. Karena dia dapat melihat lariku itu. tentu begitu juga dengan orang-orangnya An Lok San yang banyak yang, mesti ada yang memergoki aku ...
", Di situlah terjadi anak anak diganggu kudanya para pahlawan pribadi an Lok San itu ! Mo Lek memotong.
"Sejumlah anak kecil mau ditabrak dan diinjak kuda aku lantas menolongi mereka ..."
Touw Leng Hu tertawa."
Syukur mereka repot melanjuti perjalanan, tak ada temponya untuk mencekuk kau!"
Kata paman ini.
"Lebih syukur ialah kau melihat kouwthio-mu Tidak demikian pasti aku tidak lantas mendapat tahu kamu tinggal di sini!
kau tahu.
begitu Mo Lek menyebut kau, aku lantas menduga Mo Lek melihat ke rumah mana kau masuk, aku merasa itulah rumahmu."
"Jadi kamu sudah pergi ke rumah keluarga Su"
Kui Ciang tanya.
"Benar. Justeru di depan rumah dia itu aku melihat Tian Sin Su berdua Sie Siong !"
Kui Ciang terkejut hingga ia berseru.
"Apakah kamu tidak masuk ke dalam rumah Keluarga Su itu?"
Ia tanya.
"Entah bagaimana dengan Su Toako ..."
"Aku melihat seorang sasterawan usia lebih kurang empat puluh tahun yang mukanya putih dan tanpa kumis, ia ada bersama mereka itu kedua pihak bicara sambil terawa-tawa. Tentu sekali tidak berani aku masuk ke dalam rumah itu."
Kui Ciarg heran.
"Apakah kau dengar pembicaraan mereka ? Apakah katanya mereka itu ?"
"Bersama Mo Lek aku sembunyikan diri di atas pohon kami melihat mereka menunggang kuda. Aku mendengar suaranya sie siong, yang mengatakan . Taysu tentu akan memberikan pangkac tinggi padamu. Dua kali aku mendengar disebutnya tuan Toan. Karena kuda mereka dilarikan kesas, aku tak dengar apa-apa lagi Agaknya mereka sangat menghargai si yuan Toan itu ..."
"Pantas kamu menduga mereka itu berdua sahabat sahabatku! kemudian bagaimana?"
"karena aku mendapat kenyataan rumah itu bukan rumah kau, aku meninggalkannya. Aku pergi menanyakan setiap rumah. Dengan banyak susuh barulah aku dapat mencari ke sini. Coba bukan karena kau beri anak denganku pasti aku tidak berani menemui kau! Baiklah telah aku menjelaskan semua moku sekarang terserah kepada kau. kau hendak membiarkan kami pergi atau tidak. Umpama kata benar kau hendak menangkap kami, untuk diserahkan pada An Lok san silahkan turun tangan!"
Kata kata yang belakangan ini dikeluarkan secara dingin.
Bertepatan dengan dikeluarkannya kata-kata penutup itu turun tangan, Kui Ciang berteriak seraya berlompat untuk berlari keluar.
Leng Hu terkejut hingga dia pun berseru.
"Kau ! ... kau ! ... Benarkah kau ..."
Dia menduga kepada ipar itu mau lari kepada An Lok San. Dia kaget dia mau lari menyusul. Sian Nio lompat menyamber baju kakak nya itu.
"Shako kau sembrono sekali! "sang adik berkata keras. ,Apa? "kakak itu tanya heran.
"Jikalau dia mau mencelakai kau, tak dapatkah dia lantas keturunan ditangan sendiri? "adik itu kata.
"Mustahil dia diketulungannya mencari kawan pembantu ? Apakah kau tidak menyargka bahwa diapun dapat menduga kau bisa melarikan diri ?"
Leng Hu berpengalaman, pasti ia mengerti adiknya ini hanya barusan saking kaget tak sempat ia berpikir lagi.
Maka ia tidak memaksa lari, ia manghentikan tindakannya seraya berpalirg.
Justeru itu ia melihat Mo Lek dengan pisau belati di tangannya lagi meneancam punggung Sian Nio Bocah itu menyangka bibi ini melupakan kakaknya dan hendak mencelakainya.
"Mo Lek, jangan"
Leng Hu membentak. Terus ia memandang adiknya dan berkata .
"Liok Moay kau bicara, kau bcaralah ! Aku serahkan jiwaku kepada kau !"
Touw SianNio sebaliknya tertawa.
"Shako jangan kau gelisah tidak karuan !"
Katanya.
"Kau dengar aku."
Nyonya Kui C.ang menyingkirkan sumbu lilin, membikin lilin itu tambah terang, habis itu ia tuturkan permusuhan suaminya dengan Lok San, begitupun hal persahabatan Kui Ciang dengan Su It Jie, hingga kedua keluarga mau menyingkir bersama.
Leng Hu menjadi tenang.
Baru sekarang ia begitupun Mo Lek tahu duduknya penrsoalan.
Ketika itu terdengar suara kokok ayam, tanda sudah jam lima, sedang bayinya Kui Ciing mendusin dan menangis.
"Sekarang aku mau memberi susu kepada anak itu,"
Kata Sian Nio, sembari tersenyum.
"Anak itu tahu diri. dia tidur sampai fajar, baru dia mendusin Dia harus bertemu dengan shakonya !"
Nyonya ini masuk ke dalam, kemudian ia keluar pula sambil mengempo anaknya.
"Anak ini berbakat."
Kata Leng Hu.
"Dia dapat belajar silat nanti ..."
Baru orang she Touw itu berkata, demikian, tiba tiba mereka mendengar siu!an nyaring dari Kui Cang yang terus berkata seorang diri .
"Pedang mau keluar dari sarungnya, untuk mengutungi kepalanya si orang jahat ! Inilah pembalasan bukan untuk perkara kecil !"
Menyusul itu terdengar juga , suara pedang disentil.
Ketika suami itu bertindak masuk, Sian Nio heran.
Belum pernah ia menyaksikan suaminya gusar demikian.
Alis dan kumisnya bangun berdiri, matanya berapi, tindakannya tetap tubuhnya tegak, la sampai melengak.
Tiba-tiba Mo Lek menghampirikan.
"Aku bersalah, kouwthio !"
Katanya, seraya terus berlutut untuk mengangguk-angguk tiga kali sampai kepalanya membentur lantai !"
Kui Ciang membungkuk, akan memimpin bangun bocah itu. Dia tertawa.
"Bagus !"
Katanya.
"Kau dapat membedakan salah dan benar, kaulah seorang laki laki sejati !"
Leng Hu juga telah jelas segala apa, maka ia menghampiri ipar itu, guna mengakui kekeliruannya. Shako itu mau memberi hormat, Kui Ciang menyingkir "Di waktu begini, buat apa pakai adat-peradatan,"
Katanya.
"Shako, ada satu urusan untuk mana aku hendak minta bantuan kau . ."
Sekarang Leng Hu yang tertawa.
"Di-antara sanak sendiri, mana ada permintaan brntuan ?"
Kata dia. Sengaja Leng Hu tertawa sebab ia melihat Kui Ciang bersungguh-sungguh Tertawa itu dapat mambantu melegakkan hati mereka. Kui Ciang menunjuk anaknya, ia kata"
"Shako, aku minta kau suka merawat anak serta ibunya, sebentar lagi, setelah cuaca terang, kau ajaklah mereka pergi!"
Ia tidak menanti jawaban, ia mengeluarkan se
Jilid buku, yang mana ia serahkan pada isierinya;
"Sian Nio, baik-baik kau rawat anak kita ! setelah dia dewasa, kitab ilmu pedangku ini kau serahkan padanya!"
Sian Nio mengawasi sang suami, tidak lantas ia menyambuti buku itu.
Ia memang mau membawa anaknya pulang kerumah ibunya siapa sangka sekarang getas sekali suaminya itu berkata demikian.
Berbareng dengan itu, ia merasakan firasat jelek.
"Kau ambillah!"
Kata Kui Ciang, menghela napas. Ia mengerti kesulitannya isteri itu.
"Ada kemungkinan kita juga tak bakal bertemu pula satu dengan lain " ."
"Toan long, kau hendak pergi kemana ?"
Sang isteri menanya. Ia menanya meski ia sudah bisa menduga tujuh sampai delapan bagian.
"Aku mau pergi mencari Sa Toako!"
Sahut suaminya itu.
"Apakah kau telah pergi ke rumahnya? sebenarnnya apa sudah terjadi ? Bagaimana dengan isteri dan anaknya Su Toako?"
"Mereka telah dibawa pergi kaki tangannya An Lok San"
Sian Nio terkejut hingga dia menjerit.
"Benarkah?""
Tanya dia "Sungguh tak kusangka...."
"Sebenarnya itu sudah dapat diduga"
Kata sang suami.
"Kemarin aku keliru, aku lari menyingkir ke rumahnya. Begitulah An Lok San penyangka Su Toako sebagai aku!"
Sian Nio heran "Su Toako seorang cinsu mengapa dia tidak membantah?"
Leng Hu menyahuti adiknya itu. Ia kata;
"Aku mendengar Tian Sin Su membilang hendak memberi pangkat padanya! Maka itu, moayhu, aku lihat manusia sukar diduga! Kau..."
"Tidak!"
Kui Ciang memotong Sian Nio.
jangan kau tidak ketahui sifatnya Su Toako!
untuk keselamatanku maka dia berdiam saja dirinya disangka aku.
Ketika aku barusan tiba dirumahnya itu sudah kosong Aku masuk ke kamar mereka, aku dapat membaui sisa asap pulas.
Dikamar tulis aku menemui suratnya Su Toako.
Ini, kau baca sendiri!"
Sian Nio menyambut surat itu dan membaca.
"Kau lihat, bagaimana Su Toako telah memikir jauh!"
Kata pula Kui Ciang.
"Inilah suratnya untuk kita. Suratnya itu menganjuri isrerinya mencari sahabat itu, yang tak ditulis she dan namanya? siapa kalau bukannya kita? kau cerdas, Sian kau mesti dapat menerka! "
Pasti sekali Touw Sian Nio mengerti. Maka ia menjadi mendongkol sekali ""Tian Sin Su dan Sie Siong asal orang Kang Ouw, kenapa sekarang mereka jadi begini rendah?"
Katanya sengit.
"Sampaipun wanita dan anak kecil mereka tak mau melepaskannya! "
"Begitulah, keluarga Su mendapat susah karena aku, apakah aku dapat berdiam saja?"
Tanya Kui Ciang.
Sian Nio merasa hatinya sakit, ia sangat berkuatir.
An Lok San mempunyai banyak orang kosen.
Kepergian Kui Ciang ke sana pasti berarti menghampirkan ancaman bahaya besar.
Celakanya, ia insaf, umpamakan ia menjadi suaminya itu, pasti ia akan berbuat demikian juga.
Suami isteri itu sama-sama berdiam, mata mereka saling mengawasi.
Baru kemudian, dengan tangan bergemetar, Sian Nio menyambuti kitab suaminya "Toan Long, kau pergilah!"
Katanya-"Semoga orang baik dilindungi Thian, supaya kau bersama-sama Su Toako dan Su Toa So dapat kembali dengan selamat Aku menyesal, karena habis bersalin, tak dapat aku mengikut kau . , ."
Kui Ciang bersenyum.
"Kau harus merawat dan mendidik anak kita sampai dia besar!"
Katanya.
"Perbuatan kau itu lebih berharga daripada kau turut aku mengadu jiwa!. Itulah tugas yang jauh terlebih sulit!"
Aku tidak dapat memisah diri mengiring kau, maka itu aku cuma dapat minta bantuannya shako."
Ia menguatkan hati, untuk berlalu tetap tenang, toh muaranya berat, senyumnya tak dapat menyelimuti kedukaan hatinya. Leng Hu menyaksikan itu, dia tertawa.
"Kui Ciang!"
Katanya.
"mengandal kepada ilmu silatmu, belum tentu kau tidak dapat kembali dengan tak kurang suatu apa! Kau harus ingat bahwa kami lagi menantikan kau untuk menghadapi Ceng Ceng Jie"
Kata-kata ini juga melainkan alibi.
Kui Ciang boleh gagah luar biasa tetapi sekarang dia mesti memasuki kedung naga dan guna harimau.
Dapatkah sepasang tangan melawan empat?
Buat menolong diri sendiri masih sukar, apalagi buat sekalian menolongi lain orang?
Kembali terdengar ayam berkeruyuk.
"Sudah sampai waktunya!"
Kata Kui Ciang "Nah, mari kita berangkat bersama, sebentar dimulut desa baru kita berpisah."
Malam itu orang tidur nyenyak, di tengah jalan belum nampak lain penduduk Rumah Kui Ciang di mulut desa dari itu, ia mesti melewati rumahnya Su It Jie, Disitu mendadak Kui Ciang berhenti.
"Mari kasih aku lihat muka anak kita!"
Katanya. Sian Nio mengangsurkan anaknya Kui Ciang mencium anak itu, terus ia kata, berat ;
"Umpama kata aku tidak dapat pulang dan Su Toako tak pulang juga, setelah anak kita ini besar kau harus cari tahu tentang acaknya Su Toako itu! Harap iaja ia dapat tetap berada didalam dunia..."seandainya lama kau tidak dapat keterangan, kau tunggulah sampai tiga puluh tahun usia mereka baru kau nikahkan anak kita kepada lain nona. Tusuk Kundai itu kausimpan baik-baik, sebagai tanda mata."
"Kau jangan kawatir segala apa aku nanti beritahukan dia,"
Sahut Sian Nio, air matanya melele.
"Sepuluh tahun kiia menjadi suami isteri, selama itu aku cuma membikin kau bercapai lelah,"
Kata Kui Ciang.
"maka itu kau terimalah hormatku!"
"Aku telah mendapat suami gagah sebagai kau, tak perduli bagaimana jadinya nanti, aku puas,"
Berkata Sian Nio.
"Maka kau pun terima hormatku !"
Lantas suami isteri itu saling memberi hormat. Kui Ciang sudah lantas berlompat, untuk berangkat tanpa menoleh lagi. Ia kuatir istrinya melipat air matanya.
"Kouwthio. tunggu !"
Mendadak ia dengar suaranya Tiat Mo Lek.
"Mau apa kau?"
Ia tanya. , Aku mau turut kouwthio pergi ke Tiang-an !"
Kata bocah itu "Mau apa kau turut aku?"
"Untuk meluaskan pandangan mata di kota ini !"
Kui Ciang tertawa.
"Tahukah kau buat apa aku pergi ke Tiang-an ?"
Ia tanya.
"Ini bukan kepergian uniuk main-main ..."
"Aku tahu kouwthio mau pergi ke rumahnya An Lok San untuk menolongi orang mulia she Su itu !"
Sahut si anak muda.
"Bibi baru melahirkan, dia masih lemah. dan sha-cek pun terluka sekarang ia mesti lekas pulang jadi mereka semua tak dapat turut kouw thio dari itu selagi aku menganggur, baiklah aku yang ikut untuk menjadi kawan kouwthio ..."
"Inilah perjalanan adu jiwa !"
Kata paman itu sungguhsungguh.
"Kau tahu tidak ? Tak dapat aku mengajak kau !"
"Kouwthio. kau terlalu memandang enteng kepadaku!"
Katanya, sungguh-sungguh.
"Apakah cuma kouwthio seorang yang diijinkan menjadi seorang enghiong atau hoohan? Tak perduli kouwthio suka atau tidak, aku mau ikut !"
Hati Kui Ciang tergerak.
"Baik!"
Katanya.
"Kau bersemangat, suka aku mengajak kau. Hanya ingat, setibanya,di Tiang-an kau mesti dengar kataku !"
"Pasti !"
Sahut si anak muda. Leng Hu kurang setuju anak itu turut pergi, tetapi ia sendiri tidak dapat membantu, ia terpaksa membiarkan. Ia juga tahu tabiat dari si bocah yang sukar dibujuki. Maka ia berkata .
"Kepandaian anak ini sudah lumayan. Sedikitnya ia pun dapat menjadi juru kabar. Kau ajaklah dia, memperoleh pengalaman !"
"Baik, shako,"
Kata Kui Ciang.
"Jangan kuatir. aku akan jaga baik baik padanya sampai di Tiang-an, aku pun dapat mengaturnya. Andainya aku dapat melindungi jiwaku dan dapat mengajak Su Toako pulang, pasti aku nanti pergi ke Yi ciu menemui kamu untuk sekalian mencoba main-main dengan Ceng Ceng Jie ! "
Di dalam hatinya, Kui Ciang sudah mengambil keputusan untuk mewariskan kepandaiannya kepada Tiat Mo Lek, untuk mencegah bocah ini turut ia memasuki gedungya An Lok San.
Mo Lek sangat cerdas, ia dapat menangkap maksudnya pembicaraan dua orang itu, maka ia pun kata dalam hatinya.
"Setibanya di Tiang an aku pun ada dayaku ! kau-hendak memisahkan aku, tak dapat!"
Ia berpikir, terus ia berdiam saja.
Leng Hu puas, hingga ia merasa girang.
Perjalanan Kui Ciang berbahaya tetapi segala apa belum tentu.
Ia mengharapi kembalinya ipar ini, untuk dia menghadapi Ceng Ceng Jie, su(aya urusan dua keluarga Touw dan Oag daAat dibereskan.
Sian Nio juga lega hatirya mengetahui Mo Lek bakal turut suaminya maka ia kata.
"Toan Long, baiklah di Tiarg an kau bekerja dengan melihat gelagat, jikalau sulit untuk turun tangan jangan dipekakan, umpamama kata kau membutuhkan bantuan, suruhlah Mo Lek lekas pularg !"
"Aku mengerti,"
Sahut Kui Ciang-"istriku, kau rawat saja dirimu baik-baik ! Ingat pesanku, rawat anak kita !"
Habis berkata ia lantas berangkat, diikuti Mo Lek.
Ia menuju langsung ke Tiang an, yang terpisahnya cuma enam puluh lie, tak lebih.
Tiga hari kemudian maka di dalam sebuah rumah makan di samping pintu Beng-hong-mui, dari kota Tiang-an, terlihat munculnya dua tetamu asing untuk rumah makan tersebut Pintu kota Bong hong-mui adalah pintu kota terbesar untuk wilayah istana Kerajan Tong.
Rumah makan itu justem terletak d sampingnya Maka itu tetamu tetamunya tidak sembarang orang banyak pembesar, sipil dan militer, yang rumahnya jauh, yang tak keburu pulang untuk bersantap.
Yang lainnya ialah pegawai pegawai istana yang lagi lepas berdinas serta sahabatsahabatnya.
Maka itu, kalau lain rumah makan ramainya malam, rumah makan ini di siang hari, Dengan begitu, para tetamu umumnya kenal satu dengan lain.
Demikian kedua tetamu baru itu, yang tak ada yang kenal.
Yang satu berumur empat puluh lebih romannya gagah tubuhnya dilapis baju kulit, di pinggangnya ada pedangnya.
Kawannya ialah seorang muda umur tujuh atau delapan belas tahun, potongan, stau romannya, mirip anak hartawan atau berpangkat.
Dia pun mempunyai mata yang tajam.
Walaupun dua orang ini asing, lain lain tetamu tidak memperhatikannya.
Mereka itu menyangka orang tentu datang ke kola Raja untuk pesiar atau hendak mencari pangkat, hal mana adalah umum.
Dua orang itu ialah Toan Kui Ciang dan Tiat Mo Lek.
Setibanya Kui Ciang dikota Raja lantas ia menumpang pada Hoy Jin, seorang pendeta kenalannya.
Dulunya, kakek-nya sering menderma kepI da kuil itu.
Ia menumbang tinggal separuh bersembunyi, selama mencari tempat kediaman An Lok San.
Ia datang ke rumah makan ini dengan maksud tujuannya itu.
Ia percaya ia akan memperoleh keterangan di tempat di mana ada banyak hamba negeri.
Untuk itu, mereka mesti membeli pakaian yang lebih baik.
Ketika itu tengah hari, waktunya-restoran ramai.
Pada meja dekat jendela ada beberapa tetamu, satu diantaranya seorang relajar usia pertengahan, yang dandanannya sederhana.
akan tetapi ia dihormati yang lain-lainnya.
"Roman orang ini beda dari pada yang kebanyakan, entah siapa dia ..."
Pikir Kui Ciang.
"Beberapa kawannya pun bukan sembarang orang ..."
Tengah ia mengawasi orang itu, orang pun menoleh kepadanya. .Pedang yang bagus ! pedang yang bagus"
Dia lau memuji tiba-tiba tangannya menumbuk meja.
"Heran pelajar ini,"
Pikir Kui Ciang, terkejut. .Pedangku belum dihunus, dan sudah mengenali ..."
Orang itu terus menggapai dan kata .
"Mari, mari!"
Ada arak wangi, mari kita minum bersama, sampai mabuk l Untuk bersahabat tak usailah main tanya she dan nama dulu ! Mari, mari minum di sini, aku sekalian ingin pinjam lihat pedangmu!"
Biarnya ia orang Kang Ouw kawakan, Kui Ciang toh heran.
Pengalaman seperti ini baru yang pertama kali.
Biasanya suatu pantangan orang yang tidak dikenal yang meminjam lihat pedang orang lain.
Orang ini, Kui Ciang merasa, seperti mempunyai pengaruh yang tak dapat ditolak.
Tanpa pikir pajang lag, ia menghampiri.
"Kau baik sekali, tuan, terima kasih !"
Ia kata.
"Aku kuatir pedangku ini tak berharga disebut pedang yang bagus, dan cuma-cuma bakal mengotorkan mata tuan ...."
Pedang ini pusaka keluarga Toan, mulanya didapat kakeknya sebagai hadiah dari Jenderal Lie Ceng ketika kakeknya itu turut berperang ke Barat, begitu di hunus, sinar pedang itu bergemerlapan.
"Meski bukan Kui Ciang atau Bok Shia "toh pedang ini luar biasa !"
Kata pelajar itu tertawa "Kau datang dari mana ?"
"Dari Ya Ciu,"
Sahut Kui Ciang.
"Oh, jauh !"
Kata lagi orang itu.
"Jalananpun berbahaya ! Tanpa pedangmu ini, sukar untuk kau tiba di Tiang an ! Ah, mengikat pedang ini, aku jadi ingat tentang petualanganku semasa muda !"
"Sampai sekarang ini, kegemaran Haksu masih belum lenyap!"
Kata satu tetamu, tertawa lebar. Pelajar itu, yang dipanggil "Hak Su."
Suatu sebutan mulia, tertawa.
"Begitulah orang yang mengandali arak dari Seri Baginda Raja !"
Katanya. Mendadak ia berbangkit, tangannya menyentil pedang, terus ia bersenandung memuji pedang itu .
"Botol emas arak sepuluh ribu, penampan kemala isi masakan selaksa tahil. Menghentikan cangkir melempar sumpit, tak dapat dahar, menghunus pedang memandang ke empat penjuru kosong belaka ..."
Belum ia berhenti bersenandung itu, maka seorang berpangkat, yang jubahnya tersulam ular naga, menghampirkan seraya berkata.
"Tuan, tuan, mungkinkah kau...?"
Seorang tua, yang duduk bersama si pelajar, berkata terperanjat .
"Oh bukankah kau Gouw Su Ma ? Lie Hak Su. inilah Su Ma Gouw Kun dari ouw ciu, orang segolongan dengan kita !"
Kui Ciang heran, ia berdiam saja.
Ia masih belum tahu, siapa Hak Su ini.
Pelajar itu tertawa pula, kembali ia bersenandung, menyebut-nyebut Ceng Lian Kie Su, mendengar mana mana si Suma tertawa dan kata;
"Benarlah tuan Ceng Lian Kie Su, sudah lama aku mendengar nama tuan, bagaimana beruntung ini hari aku dapat menemukannya!"
Kui Ciang heran dan girang.
Kiranya pelajar ini ialah orang yang ia dan Su It Jie paling mengaguminya, penyair besar Lie Pek yang kesohor!
Memang penyair besar itu, kecuali ilmu surat dan syair, mengerti juga ilmu pedang.
Kegemarannya ialah minum arak., bersyair dan bergaul mengamal.
Ia memilih sendiri julukanya itu Ceng Lian Kie Su Cerg Lian ialah Teratai Hijau, dan Kie Su berani!
pelajar aiau pembesar yang lak bertugas lag., yang hidup bebas dan damai.
Sebaliknya orang menyebutnya Lie Tek Sian, kaiena gerak-geriknya halus mirip dewa.
Di masa mudanya ia gemar pesiar membawa-bawa pedang mendaki gunung Ngo Bie San Tay Heng San dan lainnya melajari sungai-sungai besar meneicipi.
juga arak wangi pelbagai kota.
Setibanya ia di kota Tiang an ini, karena diajar kenal dan dipujikan Pit Sie Siauw Kam Ho Tie Ciang, namanya lantas jadi tersohor, hingga ia dihormati segala pihak.
Sampaipun Raja Baginda Tong Hian Cong, mendengarnya dan, dengan cara luar biasa, mengangkat ia menjadi Han Lim Hak Su serta ia sering diundang ke istana untuk bergama sama memandangi bunga bung", mendengarkan tetabuan minum arak dan bersyair.
Maka taklah heran ia dihormati orang banyak.
Dan tak heran pula, ia mengagumi pedangnya Kui Ciang hingga ia mengundang orang tak dikenal itu minum bersama.
Kui Ciang girang berbareng berduka.
"Kalau Su Toako berada di sini berapa girang nya dia! "pikirnya. Lie Pek tertawa, sembari mengembalikan pedang orang ia kata;
"Hari ini aku girang sekali! sudah aku mendapat lihat pedang bagus aku juga memperoleh kenalan baru ! Meski aku minum sampai pusing! "Dengan tangan kanan menarik Kui Ciang dan tangan kiri memegang Gouw Kun, ia mengajak me reka itu duduk bergama di mejanya.
"Mari minum! mari minum! "katanya berulang-ulang, dan ia menenggak araknya berulang kali juga. Kemudian ia meloloskan sepatunya dan melemparkan kopiahnya sera ya berkata kata pula.
"Oh, oh. aku sudah mabuk! benar-benar mabuk! "akhirnya ia mendekam di meja nampasnya menggeros.
"Ah, hebat! "kata satu pembesar dalam satu meja itu.
"Benar benar Hak Su mabuk bagaimana kalau seri Baginda memanggil ia untuk membuat syair?"
"Jangan kau kuatir!"
Kata yang lain.
"Kau tahu, dalam mabuknya dia dapat menulis syair terlebih bagus lagi!"
Selama itu Kui Ciang telah belajar kenal dengan orang-orang sesama meja itu Selain Su Ma Gouw Kun itu.
orang tua ialah Pit Sie Siauw Kam Ho Tie Cing, penyair juga, dan si anak muda yang tampan bernama Cui Cong Cie, Seorang she Thio bernama Hiok diaiah penulis pandai huruf model Co Jie.
Yang lain-lainnya juga cukup ternama.
Untuknya sendiri Kui Ciang menyambutnya nama palsu.
Selagi Lie Pek itu tidur, Ho Tie Ciang mengajaki sahabatsahabatnya turun memasang omong bicara diri hal syair dan menulisnya.
"Sayang kau tidak siang-siang datang ke Tiang-An,"
Kemudian kata Tie Ciang kepada Gouw Kan.
"Bukankah di Ouw Ciu itu terkenal araknya yang dinamakan arak Ow-teng-ciu? Apakah kau bekerja disana untuk arak itu? Eh. ya, buat apakah kau sekarang datang ke sini?" ,Aku datang kemari karena panggilan untuk menjabat pangkat disini."
Gouw Kun menjawab "Sudah lima hari aku tiba tetapi aku masih belum peroleh panggilan untuk menghadapi Seri Baginda"
Ho Tie Ciang heran. .,Seri Baginda jarang memperhatikan urusan pemerintahan, mengapa kau boleh di panggil menghadap? "
Ia tanya, hening sejenak lalu menanya;
"Kau pernah bertemu dengan Yo Kok Tiong atau tidak?"
"Tidak."
""Kalau begita lekas kau sedia kan bingkisan untuknya!"
Kata Tie Ciang tertawa. ia menambahkan;
"Kalau barang tak segera di siapkan, uang emas pun boleh, bahkan lebih baik. Kalau perdana menteri kita itu melihat emas berkilauan mudah untuk bicara dengannya."
Gouw Kun tertawa.
"Beberapa tahun aku memangku pangkat, sekuku kosong!"
Katanya.
"Darimana aku memperoleh emas taruh Kata aku mempunyai uang, apakah aku tak dapat pakai itu untuk membeli arak? Kenapa aku mesti menghadiahkan Yo kok Tiong?"
"Suma tidak tahu,"
Tie Ciang menjelaskan "Semenjak Yo kok Tiong berkuasa, dia biasa menjual pangnar.
Pembesarpembesar kota, asal bukan orangnya, tentu lantas ditukar.
Kau dipanggil datang, inilan maksudnya, dan dia sekarang pasti lagi menanti bingkisanmu.
Siapa tahu kau kurang pengalaman..."
Ia tertawa dan kata pula.
"Bagaimana kalau kita membantu kepada kau? Mungkin sebab kau ternama baik, dia ajal ajalan menukar kau dengan lain orang. Sekarang dia tentu mengharapi madapmu. Asal kau memberi muka padanya, tentu urusanmu beres!-"
Gouw Kun gusar.
"Lebih suka aku hilang kopiah kebesaranku, tak suka aku membaiki menteri besar itu!"
Katanya."Baiklah kita jangan omongi pula urusan bingkisan!"
"Kau putih bersih, saudara Gouw, itu bagus,"
Kata Tie Ciang.
Cuma kau tidak memikir jauh.
Bagaimana kalau kau digantikan orang yang tamak?
Tidakah penduduk Ouw ciu bakal mengeluh?
Kami bukan menganjuri Yo kok Tiong, kami memikirkan kebaikan rakyatmu!
Sekarang ini pembesar yang baik terlalu sedikit, maka itu.
yang masih dapat, baiklah dipertahankan....."
Kalau saudara Gouw tidak mau merogo saku, baiklah kata Cong Cie.
"Ada satu jalan lain yaitu coba bicara dengan Lie Pik Sia. Dialah salah satu sahabat tukang minum arak. Dialah yang Touw Hu puji dalam syairnya. Dia temberang dan royal tapi dia juga jujur."
Gouw Kun menghela napas.
"Ho Tay jin menasihati aku menyayanyi penduduk OuW Ciu, itu benar,"
Katanya,"
Tetapi keadaan begini buruk, hatiku menjadi tawar, Taru-h kata sekarang aku mengirim bingkisan, berapa lama aku dapat menjabat terus?
Aku bukan tukang memeras rakyat, dari mana aku dapat uang lagi nanti?
Maka biarlah peserah kepada Thian...""
Tie Ciang masih mau bicara pula ketika ia batal sebab ia mendengar suara pelayan. Suaranya hormat.
"Oh Leng ho Tayjin, Hari ini Tayjin datang lambat..."
Melihat orang diperlakukan hormat demikian, Gouw Kun tanya.
"Dia berpangkat apa nampaknya dia agung sekali?"
Tie Ciang tertawa dan menjawab.
"Mungkinkah dia memangku pangkat dalam pasukan Ie Lim kun, sebagai pahlawan pengiring Seri Baginda Raja Kau jangan pandang ringan pangkatnya itu, dia sebenarnya lebih mewah daripada kita. Tuan tuan besar pengiring Seri Baginda itu kebanyakan langganannya rumah makan ini maka juga pelayan pelayan sangat suka membaiki mereka...""
"Mungkin Lie Haksu hendak diundang ke istana,"
Kata seorang pembesar lain.Lantas terhibat tiga orang naik ditangga, yang satu dandan sebagai opsir Ie Lim Kun, yang dua seperti opsir biasa, pinggangnya dilihat dengan ikat pinggang emas serta sepatunya sepatu peranti menunggang kuda.
Rupanya merekalah opsir tentara di tapal batas.
Si opsir Ie Lim Kun lantas berkata pada pelayan "Aku membawakan tamu dua orang tamu agung.
Inilah Gui Ciang Kun dan ini Sie Ciang Kun.
Lekas siapkan kami meja pilinan?"
Pelayan itu memberi hormat, lantas dengan cepat ia memimpm mereka ke sebuah meja dekat jendela.
Bersama opsir Ie Lim Kun itu, yang dipanggil Leng ho Tayjin, yang berpangkat touw itu, ada seorang opsir yang gemuk.
Dia melihat Lie Pek mendekam dimeja dan menggeros keras, kopiah dan sepatunya terletak sembarangan di pinggiran, bauk araknya keras sekali.
Diapun melihat seorang lain, yang kumisnya berlepotan air bak, lagi menggerak-geraki tangan dan kakinya, menantang orang minum arak.
Dia mengerutkan alis dan berkasa.
"Orang bilang inilah rumah makan paling tersohor untuk kota Tiang an, kenapa di sini orang membiarkan si mahasiswa rudin itu menggoler di sini?...."
"Stt!""
Berisik Leng ho Tayjin sambil menarik tangan orang.
"Yang lagi tidur itu ialah Hak su Lie Ceng Lian yang paling disayang Seri Baginda Raja."
Opsir itu terperanjat, ia lantas membungkam dan nampaknya jengah, diatn diam ia menarik Lie Hak su serta orang yang satunya itu Thio Hiok.
Yang belakangan ini masih minum sambil memasang omong dengan asyik lega juga hatinya mendapat tahu orang tidak mendengar suaranya barusan.
Ketika itu Toan Kui Ciang sudah kembali ke mejanya.
Tiat Mo Lek lantas berkata perlahan padanya."
Dua orang itu ialah orang orangnya An Lok San yaitu Gui San, Sue Sie Siong." ---ooo0dw0ooo---
Jilid 3
"Kau sabar, jangan terbitkan onar,"
Kui Ciang memberi ingat.
Ada tiga buah meja lain di ruang itu, yang ditempati anggautaanggauta Ie Lim Kun, melihat pada Leng Ho Tayjin, mereka pada menyapa.
Leng Ho Tayjin sambil tertawa berkata pada mereka itu .
"Mari aku perkenalkan kamu kepada sahabatsahabat baru ! Inilah Gui Ciang Kun serta Sie Ciang Kun, semua berada dibawah perintahnya An Ciat touw su."
Semua orang Ie Lim Kun itu memberi hormat pada Gui Sin Su dan Sie Siong.
Mereka itu tahu benar, An Lok San ialah Ciattouw-su yaag paling besar kekuasaannya atas tentara serta diapun anak pungut Yo Kui Hui.
Selama mendengari maka Toan Kui Ciang ketahui touw ut she leng ho itu bernama, Tahu bahwa kedudukannya diantara semua hadirin itu ialah yang paling tinggi, maka juga semua orang sangat menghormatinya.
Gui Sin Su dan Sie Siong, yang mengantar An Lok San, karena An Lok San ditahan Yo Kui Hui di istana, dapat tempo luang sampai sebentar sore untuk mereka memapak cukong atau tuannya itu.
Toang Kui Ciang sementara itu berpikir .
"Rumah makan ini dekat dengan pintu Beng hong mui. Baiklah sebentar malam aku datang pula kemari untuk menantikan, kalau naati mereka ini pergi menyambut An Lok San, aku kuntit mereka , .."
Tiat Mo Lek tak kuatir dia dikenali Sin Sa dan Sie Siong karena perbuatannya me-colongi anak anak,sebab sekarang ia dandan sebagai anak keluarga hartawan atau berpangkat, tak lagi sebagai anak dusun.
Dua orang itupun tak memperhatikan lain lain orang karena mereka repot dengan arak mereka serta beromong omong terus.
Mereka lebih asyik mengawasi si Lie Pek.
Toan Kui Ciang tidak berkuatir akan tetapi ia mau berlaku berhati-hati.
Maka itu ia anggap lebih baik ia lekas meninggalkan rumah makan itu.
Tengah ia mau memanggil pelayan untuk membayar uang arak, justeru ada datang seorang tetamu baru, yang lantas saja menanya dengan suara keras .
"Apakah Lie Hak Su lagi minum arak disini ?"
Dialah seorang opsir, yang lain seragamnya daripada seragamnya Sin Sudan Sie Siong.
Bahan kainnya bahan kasar.
Meski hawa dingin, dia memakai sepasu rumput.
Dia membekal golok panjang, yang sarungnya terbuat dari cula badak yang mahal, model kuno Sarung itupun diikatkan runce benang emas.
Tanpa sarung mahal itu, dia mirip dengan seorang serdadu rudin.
Ketika Kui Ciang memandang orang itu ia terperanjat Opsir itu berumur lebih kurang tiga puluh tahun, matanya tajam sekali, kumis dan berewoknya kaku.
Dia bermuka penuh debu toh sifat gagahnya tak lenyap.
Ia ingat satu orang hanya ia masih ragu ragu ...
Leng Ho Tat lak senang dengan lagaknya opsir itu.
"He, kau orang macam apa?"
Dia menegur.
"Dapatkah kau menyebut Lie Hak Su seperti caramu barusan"
Opsir itu tertawa. Dia kata .
"Aku mencari Lie Hak Su, ada apa sangkutannya dengan kau ? Kenapa kau usilan?" ,Kau bicara keras-keras, itu artinya kau tidak kenal aturan Sie Sione menegur.
"Lie Hak Su lagi tidur nyenyak. kenapa kau bikin banyak berisik? Melihat romanmu begini kasar tak mungkin Lie Hak su mempunyai sahabat semacammu !" . Tadi Sie Siong kenal Lie Pek, dia omong sembarangan, dia menyesal maka sekarang dia bawa aksinya itu, sekalian membantui Leng Ho Tat, dia ingin mendapat muka dari pembesar kawan kasannyaHak Su itu. Dia pikir . .Kali ini tidak nanti aku keliru melihat orang pula ! Jahanam ini tentulah tak lebih tak kurang seorang opsir rendah di perbatasan. Mustahil benar dia kenal Lie Pek !"
Tidak tiu saja, orangnya An Lok San ini mencoba menghadang opsir itu, hingga dia menjadi gusar. Lantas dia kata ketus .
"Kau melihat orang dengan mata anjingmu !"
Tangannya pun lantas menolak. .Apakah kau mau bertempur ?"
Tanya Sie Siong, tertawa dingin.
Dia mengulur tangannya guna mencekal tangan orang itu, niatnya memutar tangannya, supaya orang jadi buah tertawaan para hadirin.
Di luar dugaannya dia gagal, bahkan dialah yang terdorong hingga terhuyung hampir menubruk tanah!
Leng Ho Tat terkejut, ia tahu Sie Siong ialah Kiam-kek, ahli pedang, dari Ceng Ciu dan disebelah pedang, orang liehay senjata rahasianya serta pandai menangkap tangan orang.
Siapa sangka, sekarang jago Ceng Ciu itu ketemu batunya.
Hcrarnya ia tak melihat gerakannya opsir perbatasan yang rudin itu Sie Siong menjadi gusar sekali.
Dia mau menghunus pedangnya.
Ho Tie Ciang lantas datang sama tengah.
"Lie Haksu itu luas pergaulannya. Sie Ciang Kun menyayanginya, itulah bagus. Tuan ini"
"Aku she Lam !"
Kata si opsir perbatasan.
"Yakni Lam Selatan dari empat penjuru timur barat, utara dan selatan!"
"Saudara Lam,"
Kata Tie Ciang pula.
"kaulah kenalan Lie Hak su, harap kau tidak kecil hati atas cegahannya Sie Ciang Kun ini. Benar-benar Lie Hak-su telah minum banyak arak sekarang dia lagi tidur ... ."
Sie Siong berdiam. Bagus Tie Ciang datang menyelak. Sekarang dia mau menduga orang berpangkat tidak rendah. Opsir she Lam itu memandang ke sekitarnya.
"Itulah Lie Hak-su yang tidur di meja "
Ia tanya.
"Tidak salah,"
Sahut Tie Ciang.
"Ialah Lie Haksu."
"Kau bikin banyak berisik, kiranya kau tidak kenal Lie Hak-su !"
Kata Sie Siong, yang kumat mendongkolnya. Dia tidak menyangka opsir ini tidak mengenali Lie Pek.
"Kapannya aku bilang aku kenal dia"
Kata opsir she Lam itu.
"Sebenarnya ada urusan apa tuan mercari Lie Hak-su ?"
Tanya Tie Ciang, heran.
"Aku kenal seorang sahabatnya Lie Haksu, dialah yang menitipkan surat untuk aku menyampaikannya,"
Sahut opsir itu.
"Siapakah sahabat tuan itu?"
Tie Ciang tanya pula, Ia percaya, asal sahabatnya Lie Pek, tentu ia kenal atau pernah mendengarnya.
"Ialah sahabat she Kwee. Surat ini aku mesti serahkan sendiri, tidak dapat aku pakai perantara lain orang."
"Belum pernah aku dengar Lie Hak-su menyebut sahabatnya orang she Kwee...""
Pikir Tie Ciang. Tapi ia pandai membawa diri, sebab orang tak sudi menyebutnya, ia tidak mau menanyakan lebih jauh. Tapi ia kata, manis.
"Lie Hak-su tidur entah sampai kapan, apakah kau ingin aku membangunkannya ? "
"Tak usah ! Tak usah !"
Kata opsir she Lam itu.
"Biar aku minum disini sekalian menantikan sampai dia mendisin."
Ia lantas teriaki pelayan nyaring .
"Bawakan aku arak putih lima kati serta tiga kari daging kerbau ! "
Sie Siong melirik, romannya puas. Dia kata.
"Bagus! nyata mataku dapat melihat tepat! Dengan ini dia mau mengatakan.
"Kau lihat, apa aku bilang ! Lie Hak-su mana punya sahabat semacammu ? aku salah terka !"
Opsir she Lam itu lantas minum dengan bernapsu dan dahar dagingnya dengan lahapnya ia tak memperdulikan sikapnya orang. Sie Siong jadi berani, dia tertawa dan berkata pula.
"Rumah makan ini rumah makan paling terkenal untuk kota Tiang an hahaha ! siapa sangka sekarang ada yang menganggapnya seperti warung nasi di tepi jalan ... !"
Orangnya An Lok San ini mentertawai orang hanya memesan arak putih dan daging kerbau sedang di rumah makan itu ada tersedia arak yang harum dan banyak macam makanan yang lezat lezat.
Kali ini opsir she Lam itu menggedruk-kan poci araknya dan kata dengan keras .
"Aku makan apa aku suka ! Dapatkah kau usilan"
Poci arak itu terbuat dari perunggu, karena digedrukkan keras, melesaklah dia ke dalam meja ! Melihat demikian, semua orang heran. Sie Siong pun kaget. Tapi dia mau memegang nama-nama, maka dia kata .
"Kau jangan berlagak ! Di sini bukan tempat bertempur, jikalau kau benar kosen, beranikah kau berjanji untuk kita memilih suatu tempat buat berunding ?"
Biar bagaimana, suaranya orang she Sie ini tak sekeras semula. Opsir she Lam iiu tertawa dingin.
"Terserah kepada kau !"
Sahutnya, gagah "Pasti aku akan melayanimu, Hanya aku mesti tunggu sampai aku telah bicara dengan Lie Hak Su, baru aku akan menemui kau!"
Melihat kepandaian orang, Kui Ciang merasa pasti, katanya dalam hati .
"Tak salah lagi inilah benar dia ! Aku tidak sangka aku bertemu dengannya disini."
Meski demikian karena di situ ada banyak orang, ia mau menanti ketiga untuk menyapa dan berbicara dengannya.
Gui Sin bu ada bersama Sie Song akan tetapi selama aksinya rekan iiu, dia berdiam saja, dia campak jeri.
Kui Ciang melihat lagaknya itu, mukanya pun pucat benar dia merabah gagang goloknya, tak pernah dia menarik itu.
Ia tidak nengerti, la lantas menduga .
"Tentu orang she Gui ini kenal orang she Lam itu, mungkin mereka Bermusuhan, kaiau begini mungkin bakal ada pertunjukkan yang menarik hati" ."
Sie Siong kata dalam hati kecilnya .
"Kau boleh lihay ilmu silatmu bertangan kosong tetapi dengan pedang belum tentu aku dikalahkan kau !"
Tengah dia hendak menetapkan janji dan Ho Tie Ciang serta yang lainnya ingin datang sama tengah, tiba tiba mereka mendengar suara genjoreng tiga kali, disusul dengan ini kata-kata keras .
"Firman Seri Baginda Raja !"
Dalam sekejap, seluruh lauwteng menjadi sunyi. Para orang berpangkat lantas ber-bangkit untuk berdiri diam di pinggiran. Cuma pemilik rumah makan yang maju, untuk menyambut, seraya dia menanya hormat.
"Selamat datang, tiongsu tayjin ! Belum tahu Seri Baginda Raja memanggil siapa ?"
Kejadian ini, bukan baru satu kali ini, pemilik rumah makan itu dapat menduga yang dipanggil mestinya Lie Pek, akan tetapi ia menanya untuk memperoleh kepastian.
"Ti-ong Su"
Itu ialah sebutan untuk thaykam, atau orang kebiri, yang ditugaskan membawa firman, akan tetapi kali ini petugas pembaca firman itu bukan thaykam hanya seorang pemain musik, Lie Ku Lian namanya.
Inilah sebab dia disayangi Raja dan diberi pangkat pemimpin.
Ho Tie Ciang dan yang lainnya kenal dia.
Lie Ku Lian maja ke depan ia tidak menjawab tuan rumah hanya berkata nyaring.
"Firman rremanggil lantas kepada Lie Hak Su untuk menghadap Seri Baginda Raja di paseban Sim Hiang Teng !"
Di belakang pembawa firman ini berada seorang taykam yang membawa kopiah, jubah ikat pinggang dan Chio hut untuk Lie Thay Pek. Melihat Lie Hak Su lagi tidur, Lie Ku Lian tertawa dan kata .
"Kembali Lie Hak Su sinting ! Setiap Baginda Raja menghendaki ia lantas menghadap, bagaimana sekarang ? kebetulan Ho Tayjin berada di sini. Tolonglah tayjin membantu menyadarkannya !"
Tie Ciang suka sekali membantu, maka bersama pemain musik itu"ia menghampakan Lie Pek untuk dikasi bangun.
Tiba-tiba Lie Pek menolak dengan kedua tangannya , dengan mulut mengeluarkan bau arak ia mengoceh;
"Aku mabuk dan ingin tidur, tuan pergilah!"
Dan tanpa mengangkat kepalanya ia tidur pula. Karena tolakan itu, Ku Lian dan Tie Ci ang, terhuyung hampir jatuh. Ku Lian menyeringai dan kata. ,Ah. kali ini mabuknya lebih hebat lagi! "Bagaimana?"
"Kita gototg saja!"
Kata Taykam.
"Biar bagaimana dia meski salin pakaian dulu! Eh pemilik hotel , lekas ambil air!"
"Untuk apa Seri Baginda memanggil Lie Hok Sun?"
Tanya Tie Ciang pada Ku lian yang ia kenal baik.
Sebagai Pit Sie Siauw Can, ia pun menjadi pembesar yang selalu berdekatan dengan Raja.
Tahun ini kota Yang Ciu mengirim bingkisan pohon bunga bouwtan banyak macam Lie Ku Lian menjawab.
"Semua itu di tanam di luar paseban Sim Hiang Tang, ditimurnya"
Pengempang Hia Keng Tie.
Hari ini bunga itu pada mekar, maka Seri Baginda menitahkan menyiapkan santapan di paseban itu, untuk berjamu bersama Yo Kui Hui.
MesiK pun memperdengarkan lagu-lagu tetapi Seri Baginda masih kurang puas maka aku lantas di perintahkan membawa kuda Baginda kuda Giok Hoan Cong untuk menyambut Lie Hak Su.
Lihat disana itu kuda Baginda sudah siap sedia!"
Ketika itu tuan rumah kembali dengan sebaskom air.
Ku Lian minta sabuk yang ia celup di dalam.air, setelah memeras sedikit ia letaki itu di jidat Lie Hak Su.
Ia pun perintah pelayan mengambil empat lembar seko-sol, guna dipakai mengurung Hak Su itu, Sam bil tertawa ia kata.
"Syukur aku ketahui tabiat Lie Hak Su, aku pergi lebih dulu ke Han Lim le mengambil kopiah dan pakaian nya lengkap. Benar saja dia datang kemari"
Dengan pakaian biasa.
Lie Pek dikurung dengan sekosol.
Kui Ciang dan yang lainnya tak dapat melihat apa yang dilakukan terhadapnya oleh Kui Lian beramai, hanya tak lama ia mendengar suaranya Hak Su itu!
"Suasana begini indah.
Aku belum puas minum!
Syair apakah yang Lharus dibuai?"
Lie Kun Lian terdengar berkata-kata tapi tak jelas, hanya Lie Pek tertawa dan berkata pula.
"Ha bunga-bunga bouwtan dari Yang Ciu sudah pada mekar! Warnanya merah, ungu, kuning muda, putih dan lainnya! Seri Bagindapun menyediakan arak dari Li-tang Cit! Baiklah nanti aku pergi, untuk mencicipi! Dengan memandang kepada bunga-bunga dari Yang Ciu itu suka aku pergi ke sana! "
Lalu terdengar lantai papan lauwteng berbunyi, rupanya disebabkan terlalu gembira, penyair jago minum arak itu sudah me-nari-nari ...
Sebentar kemudian, Lie Pek sudah nampak muncul diluar sekosol dengan pakaian rapi, akan tetapi ia tetap berbau arak.
matanya keriyap, jalannya limbung.
Hingga ia mesti dipepayang beberapa thay-kam.
Justeru itu si opsir she Lim bertindak kedepan orang.
Lie Pek menghentikan tindak kannya ia mengawasi, lalu berkata .
"Oal seorang yang gagah! Eh, kau "
Kau... kau"
Orang she Lam itu lantas berkata. , Aku datang .membawa suratnya Kwee Leng Kong. aku justeru mau bertemu denganmu..."
Belum habis kata-kata itu, beberapa thaykam menolak tubuh orang seraya mengusir .
"Macam apa kau? Lekas pergi!"
"Kurang ajar!"
Lie pek membentak.
"Kamu berani mengusir sahabat karibku?"
Ia lantas mementang kedua tangannya, hingga dua orang kebiri roboh terjengkang Semua orang heran, seorang berpangkat berbisik pada rekan disisinya.
Aneh!
tadi dia tidak mengenali Lie Hak Su, sekarang dia jadi sahabatnya .
Habis menyingkirkan orang-orang kebiri itu, dengan tubuh terhuyung, Lie Pek mendekati si opsir she Lam.
sambil menunjuk ia tertawa terbahak dan berkata.
, Kau tidak kenali aku?
Aku justeru kenal kau!
kau!....kau ....kau....
kau tentulah saudara Lam Pat!
Ha-baha!
setelah bertemu Lam Pat.
siapa kesu-dian memperduliksn pula segala Kui Hui ?
Mari.
mari!
Mari kita minum pula!"
Lie Ku Liai menghampirkan opsir yang dipanggil Lam Pat itu, ia menjura terhadapnya dan berkata dengan perlahan.
"Seri Baginda lagi menantikan Lie Hak Su, kau bantulah aku.... Lie Pek maju pula, tubuhnya terhuyung hingga ia mesti pegangi meja.
"Lam Pat! Lam Pat! mengapa kau tidak minum arak""
Katanya "Eh, ya apa katamu barusan? kau menyebutnyebut entah apa loo kong kong.
"kau kata kau membawa entah barang apa untuk ....Hihaha! kau Lam Pat, mengapa kau menjadi .... pesuruh? Lucu! lucu! lekas bicara biar terang!"
Hak Su ini belum sadar benar, telinganya salah mendengar, orang menyebut Kwee Leng Kong ia mengatakan.
"Loo Kong Kong. Lam Pat itu tertawa.
"Nyatalah Hak Su orang sekaum dengan kami! "katanya "Sekarang ini ada kuda Raja menantikan di depan rumah makan, untuk membawa kau ke istana, taruhkata kau menemani aku minum aku akan minum tak puas, maka itu baiklah tunggu sebentar malam setelah tempomu luang, baru aku temani kau minum semalam suntuk! "Bagus.
"kata Hak su itu.
""Kau benar! baiklah sebentar habis aku bertemu dengan Raja baru aku menemui kau itu waktu memang kita dapat minum dengan terlebih memuaskan !"
Ho Tie Ciang lantas nimbrung.
"Lie Hak Su tinggal di rumahku, asal"kau tanya-tanya rumah ke"uarga Ho dikota Barat, pasti kau akan menemuinya !"
Orang she Lam itu menyahuti.
"Tuan toh Ho Siauw Kam ? aku tahu! "ia ketahui maksudnya Tie Ciang yang meminta ia membiarkan Lie Pek lekas pergi. Ia pun tahu riak Su itu la?i mabuk tak dapat ia bicara banyak atau menyerahkan suratnya. Lie Kun Lian bersama Tie Ciang semua memayang Lie Pek turun dari lauwteng rumah makan untuk menuju ke istana. Dengan begitu, kawan-kawan mereka lantas bubaran. Orang she Lam itu menggeleng kepa a ia kata senang diri.
"Bencana tengah mengancam tapi di Istana orang kelelap dalam pelesiran ... Tiba tiba ia menepuk meja dan kaca nyaring.
"Sayang Lie Hak Su!...
"Lan tas ia meneguk meneguk habis araknya setelah itu, dengan melemparkan sepotong uang perak, ia mau berlalu dari rumah makan itu. Justeru itu Leng Ho Tat Dan Sie Si-ong menghampiri. Saudara Lam tunggu dulu! "
Kata si orang she Leng Ho, tertawa. Alis Lam Pat terbangun.
"Ke mana?"
Tanyanya. Apakah sekarang juga kita pergi ke cuali ini si orang she Sic apakah kau pun ingin turut ambil bagian ? "
Ia menyangka orang rnau menjanjikan pie bu bertanding mengadu kepandaian. Leng Ho Tat tertawa.
"Saudara Lam Pat, aku bukan mau menjanjikan tempat dan waktu adu pedang! "
Katanya. Lam Pat mementang matanya.
"Bukan buat adu pedang"
Katanya.
"Habis mau apa kau menahan aku ? "
Sie Siong maju setindak, dia memberi hormat.
"Aku tidak kenal kau, saudara,"
Katanya.
"tadi aku berlaku kurang hormat padamu aku minta kau tidak buat kecil hati."
Lam Pat tertawa dalam hatinya , pikirnya .
"Mereka tentu melihat bagaimana Lie Pek melayani aku maka sekarang mereka merubah sikapnya ini , ..."
Tapi ialah orang dengan dada lapang, meski ia tak menghargai Sie Siong ini, sebab orang telah minta maaf, ia tidak mau berpikiran cupat. Maka ia tertawa dan kata .
"Itulah urusan kecil, tak apa ! Oleh karena Sie Ciang Kun tak ingin kita mengadu pedang, nah harap kau mengijinkan aku pergi terlebih dulu !"
"Tanpa berkelahi orang tak berkenalan !"
Kata Leng Ho Tat.
"Saudara Lam Pat, tak ada halangannya bukan untuk kita duduk-duduk dulu sebentaran ?"
"Tak berani aku menerima kehormatan itu !"
Sahut si opsir she Lam "Dengan kata-katamu ini, saudara Lam, kau jadinya masih kurang puas hati."
Kata Leng Ho Tat Tertawa.
"Saudara Lam Pat, kita sesama orang Rimba Persilatan,"
Sie Siong menyela "Leng Ho Touw-ut paling gemar bergaul, maka itu aku harap sandar? janganlah segan memberi pengajaran kepadanya."
Lam Pat berkata dalam hatinya .
"Dua orang ini mempunyai ilmu silat yang baik, mengapa sikapnya menjemukan"
Tapi ia duduk pula. Ia tanya, tawar .
"Tuan-tuan, ada apakah pengajaranmu"
"Memang ada yang kami ingin tanyakan kau, saudara Lam.""
Sahut Leng Ho Tat tertawa.
"Barusan saudara menyebut nyebu Kwee Leng Kong. Adakah ia Kwee Cu Gie dari kota Kiu Goan ?"
Kwee Cu Gie itu kemudian berjasa besar hingga dianugerahkan menjadi Pangeran Hun Yang Ong.
Hanya ketika itu ia masih menjabat Thoysiu atau residen dari sebuah kota, hingga belum banyak yang mengenal namanya.
Toan Kui Ciang pun heran karenanya hingga ia berpikir .
, Leng Ho Tat menjadi touw-ut dari Ie Lim Kun dan Sie Siong punggawanya An Lok San kalau mereka menghormati Lie Hat-su, itulah pantas, Lie Hak su dihargai Raja.
Kenapa dia sekarang agak menghormati seorang thoysiu ?
Eatah orang macam apa Kwee Cu Gie itu.
Lam Pat agak bersangsi, tapi toh ia menjawab.
"Benar, orang yang menitipkan surat kepadanu untuk Lie Hak su benar Kwee Kun Siu. Apakan tuan-tuan kenal dia?"
"Ya,"
Sahut Leng Ho Tat Perkenalan Lie Pek dengan Kwee Cu Gie bukan sembarang perkenalan.
Mulanya itu peristiwa kebetulan.
Pada suatu hari Lie Pek pesiar di batas kota Pian Ciu.
Di sana ia bersomplokan dengan serombongan serdadu bersenjataki n toya lagi mengiring sebuah kerangkeng per-sakitan.
Orang yang dikurung itu, di matanya si penyair, beroman luar biasa, la menjadi ketarik hati dan menanyakannya.
Nyata orang itu bernama Kwee Cu Gie, bekas pian ciang, atau punggawanya Ciat-touw-su Ko Sie Han di Liong See.
Dia ditugaskan menilik sisa rangsum tentara, apa lacur serdadu se-bawahannya sembrono, serdadu itu membikin rangsum itu terbakar habis, karena dia yang bertanggung jawab, dia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Sekarang dia bawa untuk menjalankan hukumannya itu.
KweCuGie memberi keterangan dengan suaranya yang ryaring umpama berkata seperti bunyi genta.
Lie Pek mendengarkau sambil mengasih jalan kudanya, mengikuti, kemudian ia menanya tentang ilmu militer, ilmu silat dan kitab perang.
Kwee Cu Gie menjawab dengan cepat dan rapi.
Dia pun bicara dengan wajar, hingga tak mirip seperti orang yang mau pergi ke tempat kematian-nya.
Lie Pek kagum dan heran, ia berpikir .
"Tak sedikit orang gagah yang kukenal, tetapi orang yang tepat menjadi sastrawan utama dialah ini!"
Maka dari itu ia tetus mengikuti sampai ditempatnya Ko Sie Han, ia menghadap perwira tinggi itu untuk meminta kan keampunan bagi Kwee Cu Gie.
Ciauw-touw su itu luas pardangannya.
dia memang mengagumi penyair itu, maka dia suka berbuat baik.
Permintaan si penyair diluluskan.
Hukuman mati Kwee Cu Gie dibatalkan, ia dibebaskan, lalu ditempatkan tetap dalam pasukan tentara, untuk nanti ia membuat jasa guna menebus dosarya iiu.
Lewat beberapa tahun Kwee Cu Gie benar berhasil mendirikan jasa, dari itu ia diberi pangkat thaysiu dari kota Kia Goan itu.
Lie Pek tahu sahabatnya iru mendapat kedudukan baik.
ia senang sekali, tetapi hal pertolongannya itu tak pernah ia ceritakan kepada siapa juga, maka juga Ha Tie Ciang tidak mendapat tahu.
Kwee Cu Gie juga mendapat kabar halnya Lie Pek berada di kota raja di mana dia disayang raja, hanya dalam kedudukan mirip tetamu, jadi dia tidak dipakai untuk mengurus pemerintahan sedang kawanan dorna lagi menguasai negara.
Ia peicaya, orang sebagai Lie Pek itu, tak nanti dapat hidup selayaknya didalam suasana keruh itu, dari itu ia mau mengajarnya untuk tinggal bersama.
Demikian ia menulis surat dan minta seorang sahabatnya menyampaikan suratnya itu.
Sahabat itu ialah yang Lie Pek menyambutnya "saudara Lam Pat."
Dialah opsir yang Kwee Cu Gie menjadikan pembantunya.
Dia anak yang ke delapan, nama benarnya yaitu Lam Cee In.
Untuk kedua wilayah Yan dan Tio (Hoopak dan shoasay), dia terkenal sebagai Yu hiap, orang pengembara.
Selama dua puluh tahun, dunia kang ouw atau Sungai Telapak mengenal dua jago, ialah sepuluh tahun yang pertama Toan kui Ciang, dan sepuluh tahun kemudian, sesudah Kut Ciang mengundurkan diri.
ialah dianya.
Selama di Kiu Goan pernah dia seorang diri memukul mundur tiga ratus penjahat perbatasan bangsa Kiang, hingga di-sana dia menjadi buah bibir rakyat.
"Lam Pat barulah laki-laki sejati!"
Atas pertanyaan Leng Ho Tat, karena orang she Leng ho ini dipercaya benar kenal Kwee Cu Gie, Lam Pat memberitahukan juga surat itu memang dari Kwee Cu Gie thaysiu dari kota kiu goan itu.
Diluar dugaan, mendengar jawaban Lam Pat, sambil tersenyum Leng ho Tat kata.
"Surat itu belum diterima olen Lie Haksu, bagaimana kalau dikasi pinjam lihat sebentar padaku?"
Lam Pat melengak. Ia menjadi tidak senang. Walaupun surat bukan surat rahasia, tak pantas orang pinjam linat suratnya lain orang.
"Tayjin bergurau!"
Katanya.
"Mana dapat surat lain orang diberi pinjam lihat?"
Leng ho Tat tertawa dingin. Ia tanya pula.
"Saudara Lam Pat, barusan kau kata kau menyayangi Lie Haksu apakah artinya itu?"
Dari tidak senang, Lam Cee In menjadi gusar.
"Jadinya kau memeriksa aku?"
Ia tanya.
"Hak apakah kau mempunyai?"
Leng ho Tat bersikap tenang.
"Lie Haksu itu memperoleh kebaikan budi Seri Baginda Raja,"
Dia kata.
"telah dikirim tiongsu berikut kuda Seri Bagindi sendiri untuk menyambut!"
Dia ada demikian disayang, mengapa kau bilang dia harus disayangi? Maaf aku yang bodoh, benar benar aku tidak mengerti! Aku miita sangat supaya kau menjelaskannya."
Dijawab demikian, tidak dapat Cee ln membilang apa apa. Ia menyabarkan diri.
"Aku tidak mempunyai tempo untuk bicara denganmu !"
Akhirnya ia kata. Sie Siong tertawa mengejek.
"Ada tempo untuk adu pedang, tidak ada tempo berbicara. Benarkah ?"
Katanya. Leng-ho Tat berpura menyelak di tengah.
"Kau serahkan surat itu padaku,"
Katanya.
"Mari kita mencari lain tempat untuk memasang omong. Akan aku tetap memperlakukan kau sebagai sahabat."
"Hm!"
Cee In mengasi dengan suara dingin.
"Apakah kau kira aku Lam Pat kena digertak orang ? Jikalau aku tidak serahkan suratku ini, bagaimana ?"
Tiba-tiba air mukanya Leng-ho Tat berubah.
"Kau bekerja untuk pembesar di perbatasan !"
Dia membentak.
"Kau mencoba membaiki seorang menteri istana ! kau juga mengandung maksud hati tidak puas, kau menghina Seri Baginda Raja ! Dosamu merangkap dua, apakah kau masih memikir untuk merat ?"
Sejak tadi Toan Kui Ciang menonton saja, sekarang ia menjadi heran bukan main.
Tadi ia melihat Leng-ho Tat menghormati Lam Cee In dan matur maaf, ia menyangka touwut itu bangsa bina tukang mengumpak-umpak, karena Lie Hak Su, dia mau menempel Cee In.
Siapa sangka dalam tempo sependek ini, dia mengubah sikap menjadi demikian getas dan keras.
Ia berpengalaman, ia toh heran.
Leng-ho Tat sudah lantas mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang gaetan Hok-ciu-kauw, lalu dengan tipu silat "Menggulung layar"
Dengan gaetan kiri dia menyambar dari samping dengan gaetan kanan dia menggores ke dada !
Lam Cee In tidak menghunus goloknya, cuma dadanya disedot, sebelah tangannya di ulur.
Dengan begitu robeklah baju didadanya hingga terdengar suara memberebetnya.
Berbareng dengan itu juga terdengar suara nyaring di telinga, karena tangannya itu mampir keras pada sasarannya yaitu telinganya si touw-ut !
Leng-ho Tat menjadi seperti kalap, Ia gusar tak kepalang.
Maka ia lantas mengulangi serangannya dengan beringas.
Masih Cee In tidak mengeluarkan senjatanya.
Ia melayani lawan dengan kegesitan dan kelincahan, ia main lompat berkelit ke samping atau mundur.
Kalau toh ia maju, tangannya meluncur.
Begitulah sampai tiba saatnya, selagi mengancam dengan tangan kiri, ia cabut goloknya, untuk menyerang dengan gegamannya itu.
Di saat itu Sie Siong maju, untuk menyerang, hingga pedang dan golok bentrok keras suaranya berisik, lelatu apinya meletik.
Untuk kagetnya si orang she Sie, goloknya gugus !
Bukan main kagetnya Sie Siong, yang terjulukkan Ceng-ciu Kiam Kek, ahli pedang dari kota Ceng ciu.
Tahulah ia bahwa lawan menggunai golok mustika, yang tajam luar biasa.
Ia tidak takut, bahkan ia panas hati.
Maka ia maju pula dengan mengubah caranya bersilat beruntun tiga kali ia menyerang.
keatas, ketengah dan kebawah!
Juga Leng ho Tat mengumbar hawa amarahnya, Dia terlebih gagah dari pada Sie Siong, sedang seumurnya inilah yang pertama kali dia kena dicaplok orang.
Maka dia menyerang hebat sekali.
Dia menggunai jurus "
Gie thian wa tee"
Atau menutuk langit menggiris bumi,""
Kebetulan dia berada dibelakang lawan, laetannya menerkam punggung dan menyengkeram dengKul dengan berbareng.
Justeru itu, Sie Sio.jg mendesak dari depan.
Didalam keadaan terancam itu, Lam Pat sudah mengasi lihat kecerdasan dan kesehatannya.
Ia seperti melihat lawannya mendadak ia mene.idang dengan sebelah kakinya kebelakang seraya tubulnya dejerunukan kedepan, untuk melindungi punggungnya itu.
Tepat sekali tendangan kakinya, yang naik dari bawan ke atas mengenai tangan lawan yang mencekal gaetan itu!
Leng ho Tat kesakitan dan kaget, gaet-annya itu terlepas.
Dengan menjerunuk keie-pan, Lam Pat mengancam Sie Siong, hingga punggawa itu mesti mundur, setelah maia, ia mengangkat tubuhnya berdiri, untuk berlompat kesampingnya Teng-ho Tat.
Sembari lompat itu.
ia tertawa.
Tiat Mo Lek menonton dengan perhatian.
"Bagus,"
Ia berseru dengat pujiannya Ia kagum untuk tipu silatnya jago dari Yan Tio itu.
Ia baiu saja diajari Touw Leng Giok ilmu melawan musuh didepan dan dibelakang, bagaimana harus menyelamatkan diri, ia belum melatih sempurna, atau sekarang ia melihat contoh yang bagus ini.
Lam Cee In mendengar suara pujian itu, ia sudah lantas melirik.
"Eh, itu toh Toan Toako?"
Katanya dalam hati.
Tepat ia berpikir itu, Cee In dibikin kaget oleh gerakannya Gui Stin Su kawannya Sie Siong ini, yang semenjak tadi berdiam saja, mendadak sudah mengangkat meja, sambil berseru dia menimpuk, guna menghalang-halangi jalan.
Mata Cee In mendelik, dia berseru.
"Bagus, ya! kiranya kau si penjahat besar menjadi opsir tentera!"
"Ngaco belo!"
Sin Su membentak.
"Akulah Ciang Kun dari Penglouw! Bagaimana kau berani mencemarkan namaku?"
Cee In melengak , dia bersiul, lalu dengan mendongkol dia kata nyaring.
"Tak ada bedanya pembesar negeri atau bangsat! Pantas di-jaman begini negara kacau!"
Sembari berkata itu, dia lompat menyerang orang she Gui itu.
Sin Su terperanjat, mundur dua tindak.
Berbareng dengan itu, Sie Siong menyerang dengan pedangnya1 maka dengan memutar goloknya, Cee In menangkis, membikin senjata mereka beradu, hingga pedang terpental!"
"Berontak! Berontak!"
Leng Ho Tat berseru berulang-ulang "bangsat ini sudah menghina Pemerintah, dia mencemarkan Panglima Perang!
Dialah si pemberontak pengacau negara, setiap orang dapat membunuhnya, mencincang tubuhnya!
Seruan itu berpengaruh, karena beberapa opsir yang mengenalnya, lantas turun tangan membantui mengurung Lam Cee In.
Sebelum menghamba kepada An Lok San, Gui Sin Su menjadi begal tunggal Satu kali di jalan besar Peng Ciu, selagi membegal serombongan saudagar, dia bersamplokan dengan Lam Pat.
dia diserang, hingga gagal usahanya itu dan kena terbacok satu kali.
Karena itu.
dia jadi mendendam sakit hati.
Ini pula sebabnya kenapa sedari tadi dia berdiam saja.
Ialah dia takut nanti dikenali Lam Pat dan nanti mendapat malu.
Sie Siong heran kawan itu tidak membantui dia ketika dia pertama kali bentrok dengan Lam Cee Ia, ketika dia kembali kemejanya, dia tanya sang kawan.
Tidak berani Sin Su mendusta pada kawan sendiri, maka pada kawan ini dan Leng ho Tat ia tuturkan permusuhannya dengan Lam Cee In.
Inilah yang membikin mencari gara-gara, hingga akhirnya terjadilah pertempuran itu.
Pada itu.
Leng-ho Tat masih mempunyai satu maksud lain Kwee Cu Gie cuma menjadi thaysiu.
tetapi ia pandai mengatur tentara, karena ia tidak mau menghamba kepada An Lok San ia dibenci orang she An itu.
Berbareng dengan itu.
Lie Pek dibenci Yo Kok Tiong, cuma Kok Tiong tidak bisa berbuat apa apa disebabkan nama besar Thay Pek, yang pun lagi disayang raja.
Yo Kok Tiong sendiri tidak mendapat kecocokan dengan An Lok San, keduanya saling berlomba mengambil hati.
Di mulut mereka baik, di hati mereka saling mencari jalan untuk disayang raja.
Leng ho Tat ketahui pertentangan diam-diam diantara Yo Kok Tiong dan An Lok San itu ia memikir mencari jalan untuk memperoleh keuntungan karenanya.
Sekarang datang Lam Cee In yang membawa suratnya Kwee Cu Gie untuk Lie Thay Pekja mengasah otaknya Ia pikir.
"Aku harus dapatkan suaranya Kwee Cu Gie ini, tak perduli apa bunyinya, sesudah aku berhasil akan aku haturkan itu kepada Yo Kok Tiong. untuk Yo Kok Tiong mencari tukang munulis huruf yang pandai, guna meniru tulisannya orang she Kwee itu, guna menuduh dia niat berhianat dan berontak. Mungkin Seri Baginda Raja tak mempeicayainyai sedikitnya dia dapat dituduh sudah beisekongkol denganpi-hak luar, bahwa dia berkomplot sendiri Soal demikian darat membangkitkan kebencian Raja. Maka itu, taruh kata Lie Pek tidak diusir, kepercayaan atas dirinya pasti berkurang. Kwee Cu Gie juga tentu bakal kerembet-rembet. Dengan perbuatanku ini, aku bisa menempel Yo Kok Tiong dan An Lok San berbareng. Bukankah dengan sekali pukul aku memperoleh dua hasil?"
Sebenarnya Leng ho Tat ingin tarik Lam Cee In kepihaknya, tetapi orang tidak sudi bersahabat dengannya, maka ia ambil sikapnya yang keras itu sambil menuduh yang tidak-tidak.
Diatas lauwteng itu ada belasan serdadu le Lim Kun serta pengawal istana, yang menjadi sahabatnya siorang she Lengbo, mereka itulah yang maju demi mereka mendengar Leng ho Tat berseru-seru itu.
Selagi orang dikepung, Leng-ho Tat berpikir pula .
"Jahanam ini menyatakan puasnya terhadap Pemerintah, dia juga membawa suratnya Kwee Cu Gie bahkan dalam hal membawa surat itu, dia sudah mengaku sendiri, maka kalau semua orang disini menjadi saksi dipihakku. sekalipun dia dibunuh mampus, tidak nanti, aku dianggap bersalah aku dapat melanjutkan rencanaku."
Begitulah dia mengajuri ora ig menyerang untuk membinasakan Cee In, hinnga Cee In menjadi terkepung hebat, hingga ramailah suara senjata senjata mereka, ditambah dengan terbalik baliknya kursi dan meja, terutama dengan jatuh hancurnya piring mangkuk dan cawan arak.
Sedang lain lain tetamu, yang ketakutan semua lari serabutan menyingkir jauh.
Pihak pemilik rumah makan men jerit-jerit minta pertempuran dihentikan, sia-sia saja jeritan mereka itu, hingga saking takut, inerekapun pada menyembunyikan diri.
Lam Cee In menjadi sangat gusar, maka ia menyerang hebat dengan goloknya.
Setiap meja atau kursi, yang mengadang dihadapan-nya, ia dupak mental, hingga ada tiga opsir yang dibentur dan ketindihan meja hingga mereka terluka, sampai sekian Lama mereka"
Tak dapat merayap bangun.
Leng-bo Tat juga maju lagi.
Hebat dia mainkan sepasang gaetannya.
Sedang GuiSm Su, dengan tangan kosong, bersilat dengan Kim Kong Ciang, tangan Kim Kongnya yang liehay.
Biar bagaimana, Lam Cee In kena terkurung, babkan kurungan itu makin lama menjadi makin ringkas, hingga sukar ia meloloskan diri.
Diantara pengawal istana, Lwee-sie wie.
ada seorang yang menggunakan senjata rahasia yaitu tiga batang paku Touw-kut teng.
Atas itu, Lam Cee In berkelit, atau lantas ia merasai pundaknya teresngkeram keras seperti terjepit dengan jepitan besi ...
Itulah serangannya Gui Sin Su.
Cee In berkelit justeru kesamping si orang she Gui.
Dia segera mengulur tangannya.
Sie Siong melihat demikian ia girang se kali.
Segera ia bertindak maju, pedangnya diluncurkan ke kaki orang, mengarah jalan darah Hoan tiauw di dengkul.
Juga Leng-ho Tat melihatnya, juga dia maju, dengan menggerakan ke dua gaetan nva, hendak dia menggaet kedua kaki musuhnya.
Masih ada dua opsir lain yang lari memburu dengan golok di tangan, berniat membabat kutung tangan orang.
Di saat Lam Cee In terancam bahaya itu mendadak Sie Siong membatalkan tikaman-nya.
Ia lantas menangkis ke belakang.
Itulah sebab memdadak ia mendengar angin menyambar di belakangnya.
Ia tahu pasti ada orang yang menyerangnya.
Dengan keras terdengar suara "Traang !"
Itulah beradunya orang she Sie ini dengan pedang penyerangnya.
Lantas disusul dengan suara nyaring lainnya.
Hanya itu suara golok yang terbabat kutung oleh pedang si penyerang itu, dan golok itu goloknya seorang opsir lain.
Habis menangkis itu Sie Siong lantas me lihat siapa si penyerang Ia telah memutar tubuh dengan sebat.
Ia mengenali orang adalah orang yang tadi minum arak bersama Lie Pek ialah Toan Kui Ciang, orang yang namanya sudah lama ia dengar akan tetapi dengannya ia belum pernah bertemu.
Toan Kui Ciang melihat Lam Cee In terancam bahaya, ia lompat maju untuk menolong.
Oleh kerena ia tidak dapat membantu menangkis, ia menyerang orang she Sie itu, hingga Sie Siong batal menikam terus pada si orang she Lam.
Ia tahu opsir itu liehay ia mergarah jalan darah cie tong di punggung, ia menduga tentulah Sie Siong tahu dirinya dibokong, maka ia sudah siap sedia.
Begitu senjaia mereka bentrok, begitu datang si opsir yang menggenggam golok itu, yang terus membacok kepadanya, maka ia meneruskan menangkis sambil membabat golok orang.
"Sie Siorg !"
Kata Kui Ciang tertawa, kau harus belajar lagi sepuluh tahun untuk ilmu pedangmu ini !"
Bukan main panas ratinya orang sbe Sie itu. Ia lantas menikam ke perut orang yang dianggapnya takabur itu. Itulah tipu silat "Bintang mengejar rembulan."
Kui Ciang berlaku sangat sebat.
Ia menangkis.
Begitu menangkis, begitu ia menyerang, bahkan dua kali ia mendesak.
Sie Siong terkejut.
Ia terdesak.
Terpaksa ia menjatuhkan diri ke lantai, untuk menyelamatkan dirinya, sedang pedangnya diang-Ikat, guna menangkis Maka pedang mereka beradu nyaring.
Dua opsir lainnya maju menyerang Kui Ciang.
Itu berarti pertolongan untuk Sie Siong, Apa lacur, senjata mereka itu kena dibabat kutung, hingga mereka tercengang, Sie Siong berlompat bangun, dia pun bingung, keringat dingin membasahi punggungnya.
Tidak ia sangka musuh ini demikian li hay.
"Kui Ciang menaugkis serangannya seorang sie wie, setelah itu ia lompat kepada siorang she sie, guna mengulangi serangannya. Ia mendesak sampai lawannya itu repot.
"Kau .... kau siapa?"
Tanya Sie Siong yang menanya di luar kehendaknya, Leng-ho tat juga gagal dalam percobaan nya menggaet kakinya Lam Cee In.
Mendadak ada sebuah mangkuk yang terbang kea-rahnya, Tepat mangkuk itu jatuh di lantai te pai kakinya sampai, maka ia kena menginjak nya.Mangkuk itu pecah hancur dengan suara berisiknya ia pun terpeleset hingga hampir ia menubruk lantai Ketika ia sudah mengangkat kepala ia mendapatkan penyerang dengan mangkuk itu ialah seorang bocah umur enam atau tujuh belas tahun, la heran berbareng gusar.
"Eh, binatang kau cari mampus?"
Ia mc negur dengan bentaknya.
Ia belum menutup rapat mulutnya, atau bocah itu ialah Tiat-Mo Lek sudah heilompat sampai di depannya!
Tentu sekali ia tidak memandang mata Ia menurunkan gaetan kirinya, ia mengangkat yang kanan untuk digeraki terlebih jauh.
"Kena!"
Ia berseru nyaring.
Tiat MoLek membacok dengan goloknya, golok itu kena disambut gaetan kiri, Inilah kehendak Leng-ho Tat, untuk ia dapat merampas genggaman lawan.
Si anak muda terkejut, akan tetapi ia ti dak menjadi gugup.
Tentu sekali ia ingin me loloskan goloknya itu.
Mendadak kakinya menoker mangkok ditanah hingga mangkuk itu terangkat dan menyamber ke muka orang Walaupun itu bukan senjata rahasia Leng ho Tat, toh kuatir nanti kena di serang maka ia berkelit, hingga mangkuk lewat disisi nya.
Celaka seorang sie-wie yang ocrada di belakang, dia terkena mangkuk tanpa ampun lagi hingga kepalanya pecan.
Dua wie-su lain nyapun terluka pecahan mangkuk itu.
Gaetan kiri dari Leng-ho Tat, masih me nyangkel go"pknya Mo Lek.
Ia hendak membetot guna merampas golok lawan atau sedikitnya membuat terlepas.
Maksud ini tidak ke sampaian.
Telapak tangannya masih nyeri bekas ketendaug Lam Cee Tn tadi.
Mo Lek me-iiggunai ketikanya mi, dia menarik goloknya sambil di putar, dia berhasil meloloskan nya setelah memapas kuntug dua buah giginya gaetan lawan itu.
Touw-ut itu menjadi mendongkol sekali.
Lawannya toh bocah yang ia tak lihat mata-Maka ia maju pula dengan serangannya yang bengis.
Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang Gu Long Tjan Id
Baca Juga: Tokoh Besar 2