Kisah Bangsa Petualang 2

Eps 2 Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen.

"Liehay"! Tiat Mo Lek jerseru melihat datangnya serangan. Ia berkelit, goloknya-pun diu rik pulang. Tetapi ia menarik pu-lan2 bukan buat mengundurkan diri, hanya justeru dengan sangat cepat ia membalas menyerang ! Leng ho Tat kaget dan heran. Serangan itu di luar dugaannya. Serangan itu serangan pedang tetapi lawan bersenjatakan golok Pula ilmu silat yang digunai ialah satu jurus dari Pat Sian Kiam, ilmu pedang Delapan dewa. Percuma dia berkelit, lengannya sudah kena tergores lecet tiga dim panjangnya ! Selama beberapa hari Tiat Mo Lek berada bersama Toan Kui Ciang, ia telah di ajarkan ilmu pedang. Ia pun di janjikan akan dicarikan pedang yang bagus, guna menggantikan goloknya. Sekarang menghadapi lawan yang tangguh, dengan golok ia bersilat dengan ilmu pedang maka itu menjadi diluar dugaan si Touw-ut. Leng-ho Tat mendongkol bukan main. Syukur dia tidak terluka parah. Sebenarnya dia hendak menghajar mampus bocah ini, atau dia mendapat kenyataan Sie Siong terancam bahaya. Kawan itu sudah terdesak Kui Ciang, kalau dia tidak membantui, untuk menolongi bisa-bisa kawan itu menemui ajalnya. Maka terpaksa dia meninggalkan si bocah, untuk menghampirkan si orang she Sie. Toan Kui Ciang tidak takut walaupun ia dikepung dua opsir, bahkan sebaliknya, ia mendesak mereka itu, hingga sinar pedangnya seperti menutupi kedua musuhnya. Sementara itu Gui Sin Su girang sekali sebab ia telah berhasil menyengkeram pundaknya Cee In. Ia caenggunai tipu silat Houw Jiauw Kimra ciu, tangkapan Kuku Harimau, ingin ia membikin remuk tulang pipe orang untuk itu ia terus mengerahkan tenaganya. Mendadak ia menjadi kaget sekali. Beda dari semula, ia merasa seperti menyengkeram besi tak dapat ja meremasnya, Tengah ia kaget itu, Cee In berseru mengguntur, tubuhnya Cee In diajukan sambil menyingkur, maka maka di lain saat, ia terangkat dan terpelanting jatuh, begitu keras hingga papan lantai gempur, hingga ia terjatuh terus ke bawah lauwteng. Di saat itu tibalah dua opsir yang mau mengeroyok itu. Cee In berseru menyambut mereka itu, yang bergenjatakaii masing ma-sing golok panjang. Setelah menangkis bacokan, ia membalas. Dengan satu bacokan ia menabas kutung sebelah lengan satu opsir, dan opsir yang lainnya dihajar kelenger dengan belakang golok yang diteruskan dipakai menggempur ! Beberapa opsir lainnya kaget, hingga mereka berseru .

"Pembunuhan ! Pembunuhan !"

Mereka itu tidak berani maju guna membantu rekan mereka. Ketika itu Toan Kui Ciang berseru.

"Mo Lek, jangan membunuh orang ! Lekas angkat kaki!"

Sambil berkata begitu, orang sbe Toan ini meluncurkan pedangnya ke tangannya Leng ho Tat.

tepat ia menusuk, hingga orang kesakitan dan gaetan terlepas dari cekatannya.

Di lain pihak, Lam Cee Ia telah berhasil memukul terlepas pedangnya Sie Siong.

Maka berdua mereka landas menggeser tubuh ke dekat jendela.

Justeru itu terdengar Tiat Mo Lek berseru nyaring.

Inilah sebab ia mendapat lihat di mulut tangga muncul seorang opsir yang tadi-tadinya ia belum pernah melihatuya, opsir itu hitam mata dan kulit mukanya, tubuhnya tinggi dan besar, hingga dia mirip malaikat.

Ia tidak tahu orang liehay atau tidak, ia lantas membacok.

Ia hendak meryingkir; tak suka ia ada orang yang menghalang-halangi.

Opsir itu melihat serangan sambil tertawa.

"Bocah cilik, ilmu golokmu baik !"

Dia memuji.

Sembari berkata itu.

dia bergerak bagaikan kilat.

Dia berkelit, dua tangannya bekerja .

Tangan kiri menyambar golok, untuk dirampas, tangan kanan mencekuk tubuh orang, hingga Mo Lek lantas terangkat tinggi !

Itulah yang membikin si bocah berteriak.

Toan Kui Ciang kaget Ia melihat si opsir memutar tubuh Mo Lek dan sambil tertawa dia berkata .

Bocah ini besar nyali-nya !

Baiklah, aku beri ampun padamu !"

Meski demikian ia melemparkannya ke luar jendela !

Kui Ciang sudah lompat menikam, la hendak mencegah dilemparnya bocah itu pedangnya meluncur ke muka orang.

Opsir itu berani dan sebat, ia bukannya mundur hanya maju, tangannya bergerak dalam jurus "

Merogo saku mengeluarkan barang.

"Dengan lima jeriji yang kuat, ia hendak menyengkeram jalan darah Kiok-tie dari si orang Toan. Melihat hebatnaya tangan itu, siapa terkena bersamber mestinya dia habis daya. To an Kui Ciang melihat serangan itu. ia me nginsafi bahayanya. Tapi ia telah jadi mata merah. Bukankuh Mo Lek sudah dibuang ke luar jendela? Ia menjadi nekad. Maka ia berkelahi terus, ia menyerang hebat ke dengkul opsir itu .ambil ia berteriak.

"Bayar pulang jiwa sahabat cilikku!"

Oisir muka hitam itu tak menyangka orang berlaku mati matian itu.

Itulah hebat!

umpama kata ia berhasil menjambak Kui Ciang, dengkulnya sendiri bisa menjadi kurban dengkul itu akan bercacad.

maka tak mau ia mengadu jiwa.

Terpaksa ia membatalkan serangannya seraya ia berlompat ke samping sedang dari muluinya terdengar tertawa serta kata-kata ini!

"Siapa membinasakan bocah cilik itu?

kau lihat dulu biar jelas!"

Justeru itu dari bawa lauwteng terdengar suaranya Tiat Mo Lek.

"Kouwthio, apakah kamu masih bertempur terus? Baiklah kau ajar adat kepada si muka hitam itu!"

Opsir rnuka hitam itu tertawa pula.

"Hebat bocah cilik itu! "

Katanya.

"Sudah dia tidak mau menerima kebaikan budiku dia juga mencaci aku!"

Toan Kui Ciang kata.

"Baiklah, aku terima kebaikanmu ini! kita jangan saling ganggu! "

Karena ini. ia batal melakukan penyerangan pula. Tapi Leng-ho Tat berseru.

"Dua orang ini penghianat! ut tie Touw ut, aku lepas mereka""

Opsir muka hitam itu Ut tie Pak namanya.

Dialah buyut dari Ut tie Kiong.

Panglima perang berjasa yang turut membangan Kerajaan Tong.

Dia berdua saudara.

Saudaranya itu bernama Lam dan berpangkat tong nia, Komandan dari Kim-Kun, pasukan pengiring Raja.

Dia sendiri menjadi Tay-too Sie-wie, pengiring yang bersenjatakan golok diri Kaisar dan pangkat Liong Hong Kie-touw ut, maka juga ia berkedudukan terlebih tinggi dari pada Long-ho Tat.

Di dalam Istana, dialah satu di antara Sam Toa Kho-ciu, si Tiga Terliehay.

Ilmu silatnya yang istimewa ialah "Khong Ciu Jip Pek Jin.

"atau "

Tangan kosong merampas senjata.

"Tempo dulu hari Cin-ong Lie Sie Bin (Kaisar Tong Thay Cong sebelum naisc tachta) menyerang negara bagian Gui (Lie Bit), di lembah Ngo Kok dia bertemu dengan Sian H ong Sin yang gagah dari pasuka Wa Kong Kun, di situ Lie Sie Bin dikerja Sian Hiong Sin sampai diso-lokan Tauw Hun Kan, hampir dia kena ditangkap syukur Ut tie Kiong datang menolongi, dengan tangan kosong orang sheUt-tie ini merampas tombak Sian Hiong Sin yang beratnya tiga puluh tiga kati. Karena itu nama Uttie Kiong, atau Ut-tte Keng Tek, menjadi tersohor, Ut-tie Pak tidak merampas pedangnya Toan Kui Ciang ia menjadi kagum sekali berbareng dengan itu semangatnya menjadi teibangun ia tertawa bergelak dan kata.

"A-ku tidak perduli kau siapa! Ilmu Silat pedang kau liehay, mesti kau belajar kenal lagi beberapa jurus! "

Lantas ia menyerang dengan dua tangannya, dengan tipu silat Menggantung cambuk tunggal.

Dengan tangan kiri ia mencopa menangkap lengan, untuk menggencet nadi, dengan tangan kanan ia mau merampas pedang, Hati Kui Ciang lega.

Ia mendapat kenyataan Tiat Mo Lek tidak kurang suatu apa, maka tak ingin ia mengadu jiwa dengan o-rang yang berperi kemanusiaan ini.

Ia tidak menghiraukan orang liehay, ketika ia disam-ber itu, ia menggeser ia tubuhnya ke samping.

Ia bergerak sargat cepat hingga ia menjadi berada di belakang orang.

"Awas Pedang! "ia berseru seraya pedang nya dipakai meiotok jalan darah hong-hu di punggung touw-ut itu. Sengaja ia mengasi dengar suaranya .ebab ia mengagumi lawan ini sebagai laki laki sejati Tiat Mo Lek tidak dibinasakan, ia ingin membalas budi.

"Kau tak usah berlaku belas kasihan ! Kata Ut tie Pak tertawa. Dia memutar tubuh sambil tangannya menyamber ke belakang. Itulah dua gerakan berbareng . Berkelit dan menyerang. Ujung pedang Kui Ciang tidak sampai pada sasarannya, sebanknya ujung bajunya kena tersamber hingga robek, bahkan kalau ia kurang sebat, pedanguya pun akan kena dirampas.

"Tangan yang liehay !"

Kui Ctang berseru memuji, sambil ia menyerang dengan sebat sekali. Ia merabuh, hingga sinar pedangnya berkilauan di sekitar lawan itu, memain di antara berkelebatannya bayangan orang.

"Bret !"

Demikian terdengar satu suara.

"Pedang yang liehay!"

Ut tie Pak berseru. Dia ingin sangat merampas pedang orang, dia berlaku alpa, maka ujung bajunya terserempet putus. Maka dia pun memuji o.ang yang ladi memuji liehaynya tangannya.

"Kita seri"

Berkata Kui Ciang.

"Aku masih mempunyai urusin penting, maafkan aku, tak dapat aku menemani lebih lama ", Habis berkata itu, itu ia lompat ke jendela yang ia hajar dengan kepalannya untuk ia termpat lebih jauh ke luar, terjun ke bawah!"

Ut-tie Pak tidak memburu atau menghalang-halangi, ia hanya memutar tubuh guna menghadang di depan Lam Cee In.

"Kau pun pertunjuki kepandaianmu !"

Ia, lalu menantang terus ia menyerang.

Cee In tidak punya kegembiraan orang ini, ia tunggu sampai tangan si touw-ut hampir tiba, mendadak ia berkelit, belakang goloknya dipakai mengetok tangan orang itu.

Ut-tie Pak iiehay sekali.

Benar tangannya itu beradu dengan belakang golok, akan tetapi berbareng dengan itu, tangannya itu meluncur terus, menepuk lengan Cee In, hingga lengan itu bergetar, goloknya mental!

Ia berseru .

.,Bagus !

kita pun seri l"

Mengenai ketikannya yang baik, Lam Cee In berlompat ke luar jendela yang tadi didobrak Toan Kui Ciang.

la lompat berjumpalitan melewati jendela itu Ut tie Pak pun berlompat untuk menyambar, akan tetapi ia cuma kena menyamber kayu jendela, hingga patah sebuah jerujinya tak dapat ia menangkap kaki lawannya itu.

Bukan tak sengaja orang she Uttie ini menyamber gagal, ia bersandiwara dan baik sekali peranannya itu.

Memang ia ingin mengasi lolos si lawan untuk mana ia mempunyai alasannya sendiri.

Kalau ia bersungguh-sungguh, mungkin ia berhasil.

Dengan Lam-Cee In, kepandaiannya berimbang, masingmasing memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri.

Tadi ia mencekal tangan Lam Cee In, Cee In menghajar ia dengan belakang lolok.

Kalau ia digacek benar-benar dengan tajamnya golok itu, pasti sudah tangannya lerkutung, atau sedikitnya teiluka parah.

Cee In berbuat baik, ia balas itu dengan kebaikan juga.

Sudah lumrah, orang gagah menyayangi orang gagah-Demikian ia menyamber "gajal,"

Supaya sang lawan lolos.

"Sayang! Sayang!"

Leng-ho Tat berseru berulang ulang. Ia tidak ketahui permainan komedi itu. Lantas ia mau pergi menyusul.

"Jangan! "

Berkata Ut-tie Pak, yang mencegah dengan suaranya yang dalam.

"Untuk dapat menangkap dua orang itu, U bun Tong-nia dan Cin Touw-ut mesti diminta bantuannya, sebab percuma kita menyusul mereka, kita bukan lawan mereka itu! Mari duduk, untuk kita bicara. Bukankah kau mengatakan dua orang itu pemberontak? Apakah ada buktinya untuk tuduhan kau itu? kau jelaskan padaku, nanti aku melaporkan kepada Seri Baginda Raja. kemudian akan ku minta Junjungan kita memerintahkan U-bun Tongnio dan Cin Touw ut turun tangan membantu aku."

Yang disebut U-bunTongnia itu, sikomandan, adalah U bun Thong dari pasukan Gie Lim Kun, dan Cin Touw-ut ialah Cin Siang, buyutnya Cin Kiong, salah satu panglima dan menteri gagah dan berjasa yang turut membangun Kerajaan Tong.

Mereka itu berdua bersama sama Ut-tie Pai ialah disebut Tay Lwe Sara Toa-klo-ciu, tiga pahlawan tergagah dalam istana.

Leng ho Tat telah menyaksikan kegagahannya Lam Cee In dan Toan Kiu Ciang, ia percaya benar katanya Ut tie Pak.

Jadi iapun beranggapan, bantuannya U bun Thoang dan Cin Siang harus didapatkan.

Karena ini ia suka menurut.

Setelah berdiam sebentar ia menuturkan apa sebabnya maka terjadi pertempuran iiu hingga Lam Cee In hendak dibekuk, demikianpun Toan Kui Ciang yang membantui Cee In.

Ut tie Pak tertawa bergelak.

"JiKalau menurut keterangan kau ini. kau tidak mempunyai bukti untuk tuduhanmu terhadap mereka bahwa mereka pemberontak! "

Kata dia.

"kau harus ketahui Kwee-cu Gie itu perwira yang berjasa dan sangat diandalkan melindungi wilayah perbatasan dan Lie Haksu menjadi orang kesayangan Seri Baginda, tak dapat kita menen tang mereka cuma disebabkan kita hendak membikin Yo Kok Tiong bukankah tak ada untungnya bahkan ada ruginya jikalau kita tak berhasil merobohkan perwira dan rak u itu, Benar orang she Tam itu telah menyatakan tak puasnya terhadap pemerintah Agung tetapi itu bukan kata kata yang berat. Tak diingat dialah seorang gagah perantauan yang ternama, yang luas pergaulannya, jikalau kita berbuat salah terhadapnya, kita bisa dapat susah. Umpama kata satu waktu kita dimestikan bertugas keluar daerah. Tidakkah kita bisa diganggu dia? menurut pikiranku, permusuhan itu baiklah disingkirkan tetapi jangan diperhebat. Saudara Leng-ho, baik urusan ini dibikin sudah saja! "

Ut-tiePak kenal baik sifatnya Leng-ho Tat, maka itu ia mengeluarkan kata katanya, untuk membikin ciut hati orang.

Iapun, selain pangkatnya lebih tinggi, baru saja ia memberikan bantuannya, hingga orang menjadi selamat.

Maka itu, Leng-ho Tat suka mendengar nasihatnya itu.

Disamping itu, buat minta bantuannya U-bun Thoang dan Cin Siang, Ut-tie Pak dibutuhkan sangat.

Dia sebenarnya tidak puas tetapi dia menurut.

Cee In sendiri tiba dijalan besar dengan tidak kurang suatu apa.

Ia lantas menjeput golok mustikanya, tidak ayal lagi.

"bersama sama Toan Kui Oang dan Tiat Mo Lek ia menyingkirkan diri. Ia n engenakan seragam, ti. dak sda orang yang mengejarnya. Dite ngah ja -lan ada beberapa serdadu peronda, tetapi mereka tidak ketahui peristiwa dirumah makan itu, tidak ada yang menghalang-halangi. Maka tak terlalu lama tibalah sudah mereka bertiga ditempat yang sunyi. Disini mereka tidak berlari-lari lebih jauh, malah mereka pertahankan tindakan mereka.

"Saudara Lam,"

Berkata Kui Ciang tertawa.

"setelah sepuluh tahun kita berpisah, hampir aku tidak mengenali kau! Jikalau bukannya Lie Haksu menyebut namamu, mungkin aku tidak berani mengakui kau"

"Sebaliknya, Toan Toako, kau sendiri tak berubah banyak,"

Sahut Cee In.

"Apakah enso tidak datang bersama? dan ini saudara kecil, putera siapakah dia?"

Tiat Mo Lek tertawa. Dia mendahului Kui Ciang menjawab.

"Kau tidak mengenali aku, aku sebaliknya mengenali kau!"

Demikian katanya "Bukankah kau orang gagsh yang dijuluki Mo kiam Kek?

kenapa barusan kau memakai golok dan bukannya pedang?

ya, barusan kau bersilat bagus sekali mulanya golok, lalu kaki!

Aku sendiri berat sekali, sekian lama aku berlatih aku tidak berhasil."

Kui Ciang tertawa.

"Bocah ini tidak boleh melihat kepandaian lain orang!"

Karanya.

"Asal dia dapat melihat, dia lantas mau mempelajarinya! Saudara Lam, apakah kau lupa dia? Dialah puteranya Cee-cu Tiat Kun Lun. Dialah siainak nakal bernama Mo Lek!"

"Ha, pantas dia lihay setali! Cee In memuji.

"Dulu ketika aku mengikuti guruku mengunjungi Touw Ceecu, dia masih ingusan, tapi sekarang dia sudah jadi begini besar!"

"Selama sepuluh tahun banyaklah terjadi perubahan."

Kata Kui Ciang bersenyum."

Bukankah kaupun dulu sebesar dia teJapi sekarang kau terpuji umum sebagai hiap kek, orang gagah yang berhati mulia! Apakah gurumu baik?"

"Suhu masih tetap seperti dulu!"

Cee In menawab.

"Dia masih terumbang-ambing ke-timur dan barat dengan pekerjaannya meno-longi orang menggosok kaca. Hanya sekarang ini adik seperguruanku Lui Ban Cun yang mengikuti dia, maka juga pedangkuaku serahkan pada-iya. Golokku ini aku dapat hadiah dari Thaysiu Thio Sun dari kota Hoay yang."

"Selama beberapa tahun ini akupun lagi mencari loo-jin-kee gurumu itu,"

Kata Tiat Mo Lek.

"Sayang sampai sekarang aku masih belum berjodoh menemuinya..."

"Buat apakah kau mencari orang tua itu?"

Tanya Kui Cang, tertawa.

"Apakah kau hendak menuntut pelajaran menggosok kaca?"

Matanya Mo Lek terlihat merah. Mendiang ayahku menyuruh aku mencarinya,"

Sahutnya perlahan Dijaman dahulu itu orang mamakai kaca-rasa dari kuningan atau tembaga, setelah dipakai sekian lama, alat berkaca itu mesti digosok untuk dibikin bersih dan berkilau, maka juga itu waktu ada Suatu cabang pekerjaan, ialah "menggosok kaca"

Namanya.

Gurunya Cee In menjadi seorang gagah pengembara yang menyembunyikan diri, dari itu sengaja ia hidup bekerja sebagai tukang gosok kaca.

Den an begitu ia bisa hidup merdeka serta dapat ketika merantau, untuk berkenalan dengan orang orang gagah lainnya.

Oleh karena itulah maka ia dikenal sebagai MoKeng Loo-jin, siorang tua tukang gosok kaca.

Lam Cee In biasa mengikuti gurunya, dia suka menggosok pedang, maka orang Kangouw menggelarkan dia Mo Kiam Kek, situkang gosok pedang.

---ooo0dw0ooo

Jilid 4 Pada dua belas tahun yang lampau Mo Keng Loojin dan Mo Kiam Kek pernah menerima undangannya Touw-kee Houw.

lima saudara Harimau Keluarga Touw, mereka menjadi tetamu terhormat di benteng Touw Kee Cee.

Di sana Cee In bertemu dengan Toan Kui Ciang dan istri serta Tat Mo Lek.

Itulah perkenalan mereka.

Tiat Kun Lun mempunyai dua sahabat paling akrab.

yaitu Touw Leng Ciok dari Touw Kee Ngo Houw, dan yang lainnya Mo Keng Loojin.

Kepada orang tua itu pernah ia menitipkan anaknya Lantaran Mo Keng Loojin tak tentu tempat kediamannya, hingga ianya jadi sukar dicari, Tiat Kun Lun menitipkan anaknya kepada Touw Leng Ciok, buat diangkat menjadi anak.

Karena itu, Mo Lek mencari Mo Keng Loojin.

"Kami pun pernah dengar kabar meninggalnya Tiat Cee cu,"

Kata Lam Cee In.

"lalu kemudian kami mendengar juga hal gunungnya diserbu pasukan tentara negeri, begitu-pun tentang sering terganggunya Touw Kee Cee hingga orang mesti sering berpindahan. Suhu pun sangat memikirkan kau, adik Tiat. Syukur sekarang kita dapat bertemu di sini. Kau hendak mencari guruku, itu tak sukar. Besok aku mau pergi ke Hoayyang, mari kuturut aku. Suhu menjanjikan aku bertemu di kota itu."

"Ini ... ini .., kata Mo Lek, yang ragu ragu, sedang sebenarnya ia mau mengatakan "Inilah baik"

Ia lantas merubahnya .

"Inilah baik, cuma besok belum dapat aku turut kau ..."

Lam Cee In mengawasi ialah orang Kang Oaw berpengalaman, maka ia berpikir "Turut pendengaran, Tiat Kun Lui terbinasa ditangan musuh, sedang barusan waktu nama ayahnya disebut sebut, mata anak ini menjadi merah, air matanya mengembeng, kalau begitu, benarlah pendengaranku itu.

Ia dipesan ayahnya mencari guruku, pasti itu bukan urusan menitipkan anak, pastilah itu urusan permintaan tolong membalaskan sakit hati.

Hanya kenapa ia menampik ajakanku pergi menemui guruku?

Apakah ia mempunyai urusan yang lebih penting dari pada sakit hati ayahnya itu ?"

Habis berpikir begitu, orang she Lam in berkata pada Toan Kui Ciang .

"Toan Toako ada urusan apa toako berdua datang ke kota Tiang an ini ?"

Kui Ciang menoleh kepada Mo Lek.

"Tidak ada urusan yang penting,"

Sahutnya.

"Kami cuma ingin menjenguk sahabat ..."

"Siapakah sahabat itu?"

"Dia bukan sahabat Rimba Persilatan, kalau aku menyebut nya belum tentu saudara kenal. Sekarang ini saudara berdiam dimana ? Apa boleh saudara berdiam kira-kira dua hari lagi ? Besok Mo Lek boleh pergi menjenguk kau."

Lam Cee In heran hingga ia jadi tambah curiga, Ia pikir."Persahabatanku dengan Toan Toaku bukan persahabatan karib tetapi begitu jauh aku tahu dialah orang jujur dan baik.

sebagaimana tadi dibuktikan dia lantas membantu aku.

Kenapa sekarang dia agak ragu-ragu?

Mungkinkah dia menganggap aku sebagai orang luar?

yang lebih aneh lagi dia kata Mo Lek dapat menjenguk aku!

Kenapa dia tak mau menyebutkan tempat kediamannya kepadaku?

Apakah sebabnya ini?

Dia lah orang gagah kenamaan, tak selayaknyalah sikipnya ini"

Orang she Lam ini berpikir demikian umpama dia mengetahui pikirannya Toan Kui Ciang.

Sebelum begitu otak orang she Toan ini bekerja keras sekali, dia terombang ambing dalam keragu raguan, Sebenarnya dia ingin bicara dengan jujur akan tetapi akhirnya dia mengambil putusan akan pertaruhkan jiwanya sendiri saja.

Malam sebentar dia mau pergi ketempatnya An Lok San guna menolongi Su It Jie, Dia tahu besar sekali faedahnya kalau Lam Cee In membantunya.

Bukankah dia bakal memasuki Kedung naga dan sarang harimau?

Tapi diapun tahu baik sekali bahwa An Lok San mempunyai orang-orang yang liehay!

itulah berbahaya untuk minta bantuannya Cee In, Apa jadinya apa bila apa lacur Cee In menemani dia membuang jiwa di sana?

Tak tega dia!

Di sebelah itu Cee In sekarang lagi membantu Kwee Cu Cie diperbatasan, disana tenaganya dibutuhkan jikalau ia terbinasa di sini, Kwe Cu Cie kehilangan sebelah lengannya.

Dan masih ada beberapa yang ketiga, yang membuatnya malu hati.

Dalam pertempuran dirumah makan, tadi, membantui Cee In, maka kalau sebentar malam dia minta Cee In membantuinya itulah sama saja dengan ianya meminta pembalasan budi.

Inilah tak nanti dia lakukan, meski mungkin orang menganggapnya layak.

Untuknya, menagih budi.

Merusak martabat seorang ksatria.

Maka dia mengeraskan hati tak mau dia memberi keterangan, Tia Mo Lek cerdik, ia mengerti sikapnya Kui Ciang meski ia ingin bicara, ia toh me nutup rapat rapat mulutnya.

Lam Cee In tidak berani menanyakan.

Ia pun terhitung orang yang tingkatnya lebih muda.

Oleh karena mesti berdiam ia menjadi likat sendirinya.

Kui Ciang lantas menyimpangi pembicaraan mereka.

"Apakah Tio Sun yang sekarang menjadi Taysiu di kota Hoay-yang?"

Dia tanya.

"Kabarnya dulu dia pernah mengepalai pasukan perang menggempur bangsa Kiang dan beberapa kali memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Dia panglima yang pintar dan gagah!"

Cee In mengangguk.

"Sekarang ini aku berniat pergi dulu ke Hoay-yang,"

Ia kata.

"Darisana baru aku kembali ke Kiu goan sana aku hendak menemui thay-siu itu. Suasara di perbatasan sekaang guncang. An Lok San memegang Kekuasaan besar atas tentara. Yang dia pakai sebagian besar orang-orang sulu bangsa 0uw Siang dan malah dia merencanakan menelan wilayah pelbagai ciat touw-su, guna memperbesar pengaruhnya. Kelihatannya dia bakal menjadi mara bencana besar. Kwee Leng Kong ketahui aku sahabatnya Thio Thiy-siu, maka aku diutus untuk kita membuat perhubungan, supaya kalau sampai terbit malapetaka, dapar kita bekerja sama, untuk saling membantu, kebetulan guruku bakal sampai di Hoay-yang lain bulan, maka kita berjanji membuat pertemuan di tempatnya Thio Thaysiu itu."

Demikian mereka berbicara sambil berjalan, sampai mereka telah mengitar melewati Cie Kiai Shia, Kota terlarang, terus sampai di kaki gunung Le San.

Di atas gunung itu ada sebuah istana peristirahatan.

Mulai dari tanjakan Geng Loan Po, wilayah itu dijadikan wilayan terlarang yang dijaga barisan wie su.

Dibawaban tanjakan Geng Loan Po itu ada sebuah bangunan, yang mentereng indah mirip istana Lam Cee In menunjuk kepada bangunan itu.

romannya mendongkol.

"Jahanam An Lok San pandai sekali membahagiakan dirinya!"

Katanya, sengit.

"Setiap tahun dia berdiam di kota Tiang an paling lama dua bulan, toh dia telah membangun gedung itu yang seperti istana mewahya. Dia hidup besar dan cukup, tapi kasihan orang orang peperangan yang membelai tapal batas, mereka kurang pakaian dan kurang makan, mereka mesti bernaung dibawah tenda saja untuk melindungi diri dari matahari angin dan hujan."

"Oh, kiranya itu gedungnya An Lok San!"

Kata Kui Ciang, heran terkejut. Maka berpikiran dia.

"Tadi kita bertarung di rumah makan, aku justeru bersangsi sekali untuk sebentar malam pergi pula kesana menanti kan An Lok San. Mudah orang mengenali. Sekarang aku mendapat tahu sarangnya ini. tak usahlah aku pergi lagi ke rumah makan itu, sebentar saja ia di sarangnya. Hanya gedung ini dekat istana, tempat yang Terlarang inilah berbahaya Sulit untuk masuk kesana menolongi orang""

Kui Ciang berpikir sambil tunduk alisnya mengkerut.

Cee In melihatnya, ia menduga kawan ini mendongkol karena kemewahannya gedung An Lok San itu.

Mimpi pun tidak dia bahwa sebentar malam kawannya mau menyatroni gedung itu!

Ketika itu matahari sudah doyong ke barat.

"Hari ini aku bertemu dengan kau saudara senang hatiku,"

Cee In kata.

"Hanya sayang kita belum dapat berbicara dengan lama dan asyik Sebentar aku mesti pergi ke-gedungnya Ho Siauw kam untuk mengunjungi Ceng Lian Haksu. Maka itu, saudaraku andaikata besok kau mempunyai tempo luang, aku mima sukalah kau dan Mo Lek datang kepondokan ku untuk kita berbicara lebih jauh". Kui Ciang mengangguk Leng-ho Tat berniat mencelakai kau, saudara Lam,"

Ia kata.

"kalau sebentar malam kau pergi kerurnahnya orang she Ho itu, baiklah kau berhati-hati."

Cec In tertawa.

"Dirumahnya Ho Siauw kam di mana pun ada Ceng Kian Haksu,"

Katanya "aku rasa dia tidak nanti main gila! Meski begitu, tentu aku akan berlaku waspada."

"Besok ada janjiku dengan seorang sahabat."

Kata Kui Ciang.

"Aku kuatir kita tidak bakal bertamu pula. saudara Kam Pula mungkin besok ada suatu urusanku yang bakal memusingkan saudara, apalagi benar terjadi demikian, nanti aku suruh Mo Lek yang menyampaikannya."

Cee In heran, ia menjadi masgul.

Tetap orang tidak mau omong terus terang padanya.

Ia cuma bisa mengangguk.

Sampai diisitu, mereka berpisahan.

Kui Ciang mengajak Mo Lek pulang ke pondokannya, lantas dia mengunci pintu kamarnya .

"Mo Lek,"

Katanya "tempo berkumpul kita tinggal dua jam lagi, Bagaimana dengan ilmu pedang yang aku ajari kau? kalau ada bagian bagian yang kurang jelas, sekarang kau tanyakan aku."

Orang she Toan ini menghadapi saat ber-pisahan hidup atau mati tapi toh ia masih tak melupakan pelajaran silat Keponakannya itu.

Mendengar itu.

si anak muda menjadi sangat terharu, mendadak ia menangis terus ia menjatuhkan diri berlutut didepan sang kouwthio.

Seumurnya, kecuali ketika ayahnya menutup mata, belum pernah Mo Lek menangis, maka kali ini luar biasakah ia mengucurkan air mata dan nangis terisak Ia mengangguk tiga kali hingga kepalanya membentur lantai.

"Kouwthio,"

Katanya "aku minta sukalah kau ijinkan aku memanggil suhu padamu! Suhu! ..Suhu ! . ."

Kui Ciang memimpin bangun.

"Dengan mendapatkan murid sebagai kau, tidak nanti aku menyesal "

Katanya, bersenyum.

"Hanya sayang tidak dapat aku mewariskan semua kepandaianku kepada ku. ialah tak dapat memberinya sekaligus dalam waktu yang singkat. Lain dan itu, hari kemudian kau penuh dengan pengharapan besar, kau bakat melebihkan aku. maka itu jangankah kita menjadi guru dan murid"

Dengan kata-kata ini K.ui Ciang maksudkan supaya Mo Lek mencari lain guru saja.

"Suhu. tidak dapat kau menolak!"

Kata Mo Lek, memaksa.

"Aku mesti minta kau menerimanya! suhu kau akuilah aku sebagai muridmu!"

Kui Ciang tertawa, senang la untuk kesungguhan hati si bocah.

"Kau bikin aku kewalahan, anak!"

Katanya "Baiklah, untuk sementara aku sebagai muridku.

Tapi lain hari kalau jodoh kita sudah habis, kau perlu mencari lain guru.

Maukah kau berjanji ?

Kalau tidak tak suka mengambil kau sebagai muridku!"

Mendengar itu, Mo Lek jadi bertambah berduka, air matanya turun deras sekali Kui Ciang menarik tangan orang, ia menepas air matanya.

"Anak tolol, buat apa nangis?"

Katanya, tertawa "Sekarang bukan waktunya main menangis bilang bagian apa yang kau kurang terang lekas kau tanyakan!"

Mo Lek cerdas tetapi masih rada sulit ia menerima pelajaran silat dari pamannya ini.

Itulah sebab sukarnya ilmu silat yang diwariskan itu.

Pula ditempat begini, di saat hati sangat pepat mana dapat dia belajar benar?

"Baiklah, sebagai guru hendak aku menguji kau!"

Kata Kui Ciang melihat orang diam saja.

"Coba kau baca teorinya diluar kepala!"

Mo Lek paksa menahan air matanya, ia lantas mengapalkan ajaran guru ini.

Ia sebenarnya sudah faham hanya kedukaan membikin otaknya rada gelap, ia membuat beberapa kesalahan.

Kui Ciang memberikan keerangan, untuk membenarkan itu.

"Kau dapat mengapal ini, baik sekali"

Katanya kemudian.

"Lain waktu, apabila kau dapat guru yang pandai, dari gurumu itu kau dapat minta pengajaran terlebih jauh."

Demikian paman dan keponakarr, sang guru dengan muridnya.

Padi kira-kira jam dua.

Kui Ciang lantas menyalin pakaian dengan ya neng ie, yaitu dandanan untuk ke luar malam yang singkat.

Ia pesan muridnya.

"Kalau besok terang tanah aku tidak kembali kau mesti lekas mengangkat kaki dari sini, kau pergi kepala Lam Tayhiap kamu pergi lebih dulu ke Hoay yang setelah kau bertemu dengan Mo Keng Loojin. tolong kau sampaikan permintaanku kepadanya agar dia suka membantu ayah angkatmu Inilah janjiku kepada pamanmu yang ketiga. Aku sendiri. aku kuatir tak dapat aku membantu lebih jauh padamu, maka juga aku minta bantuannya Mo Keng Loojin bersahabat baik dengan ayah angkatmu, aku percaya dia akan suka membantu "

Mo Lek ingin turut guru itu. tetapi karena ia duga pasti Kui Ciang bakal menolak, ia tidak bilang suatu apa, ia mengangguk dengan menyahut "Ya"

Berulang u!ang.

Di dalam hati ia telah buat rencana lain Berpisah dari muridnya, Kui Ciang langsung menuju ke gunung kira kira jam tiga.

Malam itu rembulan tidak muncul, ada juga bintang bintang yang sinarnya guram.

Dengan bantuannya bintans-bintang itu, ia memandang ke bangunan yang mewah itu.

Ia cuma melihat sebuah jalan miring yang kecil dan sempit untuk tiba di istananya An Lok San itu.

Di mulut jalanan itu ada penjagaan oleh dua ora ig wie su.

Di belakang gedung ialah batas istana Kaisar yang terlarang itu.

Tak usah disebut lagi bahwa penjagaan di sana pasti lebih kuat pula.

"Jikalau aku paksa menerobos, andaikata dua wie su ini menemui kematiannya, yang disebelah atas tentu mengetahuinya "

Kui Ciang pikir-"Bagaimana sekarang ?"

Ketika itu seekor burung besar terbang bergelapakan dari alas sebuah pohon.

Melihat burung itu, Kui Ciang mendapat akal Ia menjumput sepotong batu, ia menyentil itu kesebelah belakang kedua wie-su.

Kaget mereka itu berdua, keduanya berpaling dengan gesit Kui Ciang sudah siap sedia ia menggunakan saatnya yang baik itu.

Dengan satu lompatan enteng dan pesat, ialah dengan "Teng-peng touw-sui"

Atau "Menyebrang dengan menginjak kapu kapu."

Ia melerat melebati kedua cinteng itu.

la dapat lewat tanpa suara apa-apa, tanpa terlihat.

Ketika ia menoleh ke bslakanj, ia sudah menjauhkan diri tujuh atau delapan tombak.

Dengan cepat ia menyembunyikan diri didalam rumpun rumput.

"Aku merasa aneh,"

Kata wie-su yang satu pada kawannya.

"Aku seperti mendengar suara timpukan batu yang biasa digunakan oleh orang yang suka keluar malam. Aku kan menjaga di depan sini, pergi kau meronda ke belakang kita mesti jaga supaya tak ada orang yang nyelundup naik ke mari."

Kedua wie-su biasa saja kepandaian silatnya tetapi mereka rupanya berpengalaman. Maka ketika mendengar kata-kata mereka itu, Kui Ciang mengeluh dalam hatinya .

"Ini sulit . ..."

Ia tidak berani sembarang keluar dari tempatnya bersembunyi Syukur sekali, mereka itu tidak mencari ke arah rumput tebal.

Lega juga hati Kui Ciang.

Meka ia berpikir, selagi orang membalik tubuh, ingin ia maju lebih jauh.

Tengah ia mau melompat, mendadak ia mendengar suara batu jatuh di sisinya, menyusul mana ia melihat sesosok tubuh berlompat sampti di depannya.

Orang itu bergerak sangat cepat bagai bayangan.

Kui Ciang lompat, tangannya diluncurkan, untuk menyerang.

Orang itu berkelit, dia berkata perlahan sekali .

"Apakah Toan Tayhiap ? lekas kembali, atau akan ada bahaya jiwa !"

Tak suka Kui Ciang menurut nasihat itu. Meski demikian, ia toh lompat juga ke belakang sebuah pohon besar, karena si wie-su telah kembali.

"Siapa ?"

Tanya wie.su itu bengis. Akan tetapi .

"Oh, kiranya Liap Ciangkun ! Aku kira ada si tukang jalan malam yang menimpukan batunya"

Orang yang dipanggil Liap Ciangkun tertawa.

"Malam ini ada datang utusan Seri Baginda, aku perlu melakukan perondaan istimewa."

Ia menjawab.

"Aku mau coba. kamu waspada atau tidak. Nah, lihat di sana, itulah si tukang keluar malam yang kamu curigai!"

Sambil berkata, Ciang kun, atau jenderal, ini mengayun sebelah tangannya, meluncurkan sebatang panah tangan, atas mana seekor burung besar, yang biru terbang keluar dari antara pepohonan, lantas menjerit dan jatuh ke tanah.

"Itulah Kokobeluk!"

Kota Liap Ciangkun, tertawa.

"Rupanya dia mengambil sarang burung lainnya lalu dia bikin jatuh hingga kamu mendengar seperti suara batu Tapi benar, suara yang belakangan ialah suara batu tulen yang dilemparkan olehku, guna mencoba kamu bertelinga jeli dan getap atau tidaK, kamu setia terhadap tugas kamu atau tidak. Bagus kamu bagus !"

Kedua wiesu itu tertawa senang mereda dengan pujian itu. Maka mereka pun kata .

"Kami harap sudi apakah kiranya Liap Ciangkun nanti bicara baik tentang kami di depannya Sie Cie hui !""

Teranglah kedua wiesu ini orang sebawahannya Sie Siong, sedang ini Liap Ciangkun berada di atasan mereka tapi masih di bawahan Ciangkun she Sie itu, pasti dia orang kepercayaan Sie Siong Kui Ciang heran Ia tidak kenal Liap Ciangkun itu.

Siapakah dia ?

Kenapa dia mau membantuinya ?

bukankah orang bermaksud baik menasihati ia untuk lekas mengundurkan diri ?

Toh orang itu orangnya An Lok San !

Pusing ia memikirkannya.

Ketika itu kedua wiesu bergama Ciangkun itu sudah meronda ke mulut jalanan.

"Biarnya ini istananya Giam Lo Ong, malam ini aku toh mesti memasukinya ! "

Kata Kui Ciang dalam hati.

Keras niatnya menolong Si It Jie, hingga ia menjadi nekad.

Dan tanpa menghiraukan nasihat Liap Ciangkun tadi, ia maju kearah gedung itu sekalian.

Di depan gedung ada penjagaan tapi Kui Ciang tidak raemperdulikannya.

Dengan berhati hati juga dengan kegesirannya, ia melewatinya.

Ia selalu main sembunyi.

Ia sampai di pintu belakang.

Di sini ada dua wiesu yang menjaga.

Penjagaan di sini tak serapat di sebeiah depan.

Inilah rupanya orang pikir tak usah berkuatir ada orang datang dan turun dari atas gunung Bersembunyi di belakang sebuah batu besar, Kui Ciaus memasang kuping.

Kedua wiesu itu lagi pasang omong hal An Lok San menghadap Yo Kui hui di dalam keraton.

Yang satunya bicara sambil tertawa.

"Aku tidak percaya,"

Kata yang lain tertawa juga.

"Benarkah terjadi demikian ? menurut kau maka Raja tentulah menjadi si kura kura !"

"Kau tidak percaya ?"

Kata yang pertama yang termokmok.

"Tahukah kau bahwa utusan Sri Baginda masih ada di dalam sini tengah berbicara ? Dia datang mewakili "Raja dan Kui hui mengantarkan apa yang dinamakan uang cuci arak. Ciat touw su kita hari ini bukan cuma nyalinya besar tapi diapun beruntung dapat banyak uang karun. Kawannya itu gembira. Dia tertawa ,Lo Gui !"

Kata dia.

"Benar-benarkah Ciat-touwsu kita dimandikan oleh Kui hui coba kau jelaskan ! Maukah kau ?"

"Ketika Ciattouwsu kita masuk dalam keraton,"

Menutur si gemuk, Kui-hui Nio-nio lagi mandi air rendam kunga di ruang belakang, begitu dikabarkan tibanya Ciattouwsu kita, dia lantas keluar menyambut, tanpa nyisir atau dandan lagi.

dia cuma mengerebongi diri dengan sutera tipis ..."

"Dengan begitu, apakah dia tidak jadi kedinginan?"

"Dasar orang desa tolol!"

Kata si gemuk tertawa , Di dalam keraton di empat penjuru tembok ada perapiannya, di dalam pedupaan pun ada dipasang hio wangi, maka itu tak perduli di luar salju turun hebat, di dalam keraton bahwa terus hangat seperti dimusim semi !"

"Ah!"

Mengeluh si kurus menarik napas.

"entah sampai kapan aku mendapat giliran mengikut Tayswee masuk ke Keraton. Supaya aku mempunyai ketika membuka mataku lebar lebar. Jikalau bisa begitu tak kecewa hidupku ini ....Loo Gui, Nio nio ke luar dengan berkerobong tipis, apakah Seri Baginda tidak menegur dia kurang hormat?"

Wiesu she Gui itu tertawa.

"Seri Baginda sangat menyintai Kui hui, mana dia mau menegur laginya di dalam istana, ciat touwsu kitalah yang paling dipercayakan. Dia hanya tidak menyangka orang yang dia paling percaya itu justeru telah main gila dengan-orang yang dia paling cinta !"

Si kurus heran.

"Aku tidak tahu tayswee memiliki kepandaian apa maka ia dapat menempel kui-hui berbareng dipercayakan Seri Baginda ..."

Katanya. Si orang she Gui tertawa pula.

"Kaulah orang baru, mana kau tahu ! dilahir tay-swee tampak kasar, sebenarnya dia cerdik sekali. Pernah suatu hari Seri Baginda panggil tayswee madap di istana Ciauw Keng Kiong untuk pasang omong. Baginda lihat tayswee gemuk sekali, sambil menunjuk perutnya yang besar, sembari memain ia tanya .

"Perut anak ini besar seperti guci entah barang apa disimpan di dalam situ ? Atas perkataan itu. tayswee memberi hormat dan menyahuti .

"Tidak apa-apa hanya hati yang merah ! Hamba ingin dengan hati merah ini mengerjakan segala apa untuk Seri Baginda ! "Seri Baginda girang, ia puji menteri itu setia. Demikian dia jadi dipercaya."

Si kurus tertawa. , Ah, kita jadi melantur!"

Katanya.

"Sekarang kau ceritalah tentang Kui-hui Nio-nio."

Si Gui tertawa, lantas dia membawa aksinya si tukang cerita.

"Habis mandi Nio nio mengenakan baju sutera tipis, dadanya terpetah, tangan bajunya tergulung. Melihat itu Seri Baginda memuji dan bersenandung syair pujian .

"Lembut bagaikan daging kepala ayam ! Atas itu tayswee menimpali .

"Berlemak seperti susu."

Si wiesu kurus tertawa terpingkal-pingkal air matanya keluar, tangannya memegangi perutnya.

"Jenaka tayswee kita!"

Katanya "Seri Ba ginda pun tertawa geli sebagai kau."

Keduanya ketawa pula, Ketika Kui-hui Nio-nio muncul, tayswe memberi hormat sambil memujikan panjang umur kata Seri Baginda.

Lok San kau keliru!

buat menghormati orang mesti memberi hormat pada ayah dulu!

Seri Baginda berkata sambil tertawa.

Lantas tayswee menyahuti.

Hamba orang Ouw.

Kebiasaan orang Ouw ialah menghormati ibu dulu, baru ayah.

Raja senang sekali dan mengatakan tayswee jujur Kemudian tayswee bilang bahwa tiga hari yang lalu ialah ulang tahunnya, Mendengar itu Nio-nio berkata Memelihara anak, dihari ketiga anak itu harus dimandikan, kau mengakui aku ibu, kau belum menjalankankan aturan, baiklah hari ini kau dimandikan, benar benar pakaian tayswee dilolosi, ia dikerobongi mirip bayi, lalu dinaiki keatas joli dan diarak disekitar istana.

Nio-nio dan Seri Baginda turut mengarak.

Orang semua tertawa gembira "

Toan Kui Ctang menggeleng kepala.

"Benar-benar raja gila!"

Kata dalam hati.

"Kau tahu Lao, Tio masih ada yang lebih gila!"

Kata si Cui pula.

Habis itu Seri Baginda mengangkat tayswee merangkap jabatan ciat touwsu wilayah Ho-tong dan tanpa menanti sampai besok malam ini telah dikirim utusan membawa hadiah barang permata, katanya wisit upacara permandian itu.

Sampai sekarang tayswee masih menemani Utusan Seri-Baginda minum arak "

"Pantas malam ini penjagaan ditambah!"

Kata wiesu she Thio itu, si kurus.

"Tinggal kita mesti berdiam di sini minum angin barat daya, sampai sebentar jam lima baru ganti giliran!"

"Kau jangan mendumal!"

Kata si Gin si gemuk.

"Ini justeru tugas bagus. Tayswee tambah pangkat dan mendapat hadiah, mungkin besok dia akan memberi presen. Sekarang kita menjaga disini besok kita akan dapt bagian Kita!"

Kui Ciang sebaliknya berpikir.

"Inilah kebetulan! Baik aku bekuk mereka lalu aku pakai mereka memaksa An Lok San merdeka-kan Su It Jie..."

Lantas dia bekerja.

Kedua wiesu masih bicara tempo mendadak dada mereka terhajar keras, tanpa bersuara, mereka roboh.

Itulah sebab thie liancie, biji teratai besi Kui Ciang mengenai telak jalan darahnya, soan-kie hiat.

Tetus Kui Ciang lompat kesisi mereka itu dengan tangannya ia menggempur hancur sebuah batu keras, sembari berbuat begitu, dia kata bengis "Jikalau kau menyayangi jiwa kamu dengar perkataanku"

Kedua wiesu ketakutan.

"Baik, baik,...."

Kata mereka.

"Buka bajumu, mari aku pinjam!"

Kata Kui Ciang.

Wiesu, yang rubuhnya rada berimbang, menyerahkan pakaiannya.

Habis itu Kui Ciang menotok pingsan oraag itu, yang tubuhnya ia lemparkan ke rumput tebai.

Sigemuk ketakutan, dia menjublak.

"An Lok San bersama utusan raja ada dimana?"

Tanya Kui Ciang.

"Mari antar aku.!"

Wiesu itu bergemetaran, tak dapat ia bicara.

""Apakah kau, cuma takut pada An Lok San tidak pada aku? lihat batu itu, contohnya! Apakah kau lebih kuat dari pada batu itu?"

Si gemuk ketakutan, terpaksa ia mengikuti, Kui Ciang tempel jalan darah jie-khie di-pinggang orang, ia jalan berbareng sambil memesan.

"kalau ada yang tanya, bilang saja kau lagi tukar giliran"

"Kalau rahasia kita ketahuan?"

"Nanti aku yang melayani, kau jangan takut."

Wiesu itu mati akal.

Dari pintu belakang mereka memasuki taman.

Kui Ciang bikin kopiahnya melesak, hingga hampir separoh mukanya tertutup, Mereka pun sebisanya jalan ditempai sepi.

kalau toh ada beberada wiesu lainnya yang melihat, mereka itu tidak curiga.

Habis melewati gunung gunungan, didepan terlihat sebuah gedung yang apinya terang.

"Itu dia tempatnya tayswee dan utusan Seri Baginda,"

Kata siGui "Aku toh tak perlu menemani lebih jauh?..."

Baru Kui CiangTmau menjawab, didepan mereka berkelebat satu bayangan, yang lantas menegur.

"Gui Loo Sam? "Ya, aku hendak menukar giliran!"

Si gemuk menjawab. Kui Ciang menyiapkan dua biji teratai besi Ia merasa mengenali suara orang itu, yang berkata dingin.

"An Lok San lagi menemani utusan dari Seri Baginda minum arak, siapapun dilarang datang dekat! kalau kau giliran tukar, kau mesti pergi, kenapa kau keluyuran disini? kalau kau ganggu tayjn, awas batok kepalamu"

Sigemuk menyahuti "Ya"

Beberapa kali"

Atas mana orang itu pergi kejalan lainnya.

Kui Ciang mengenali orang ialah si Liap Ciang-kun.

Ia merasa suara barusan ditujukan kepadanya, supaya ia jangan sembrono hanya pergi mengundurkan diri.

Ia heran.

"Siapa orang itu?"

Ia tanya si Gui.

"Dialah Liap Hong Ciang Kun, huciang pasukan pengawal pribadi tayswee."

Kui Ciang lantas ingat ahli pedang tua Liap Peng ditok cu. Hoan-yang, nama anak-nya dia itu rasanya Liap Hong. Pikirnya.

"Kiranya dia, tapi aku belum mengenalnya, kenapa dia selalu menolongi aku? Aneh! Dia benar bukan hiap-kek dan namanya tak ber-cacad, kenapa dia jadi punggawa kepercayaannya An Lok San?"

Si gemuk kata ketakutan, dahinya keringatan.

"Syukur kita ketemu Liap Ciangkun. Dia memang baik hati. kalau umpama kata kita bertemu Gui Ciangkun, pasti kita celaka... Tapi. tolong lepaskan aku, aku ingin beristirahat."

"Baik, kau bo"eh beristirahat!"

Kata Kui Ciang, yang mendadak menotok urat gagu o-rang. supaya orang tak dapat berkutik. Ie menyeretnya kedalam guha seraya kata.

"Gui Loo Sam, maaf! kau tahan sabar dua jam, nanti kau bebas sendiri."

Kui Ciang tinggalkan wiesu itu, ia lompat naik keatas pohon, untuk mengitari kedalam gedung.

An Lok San duduk beradu diatas pemba-lirgan bersama seorang opsir yang bertubuh kekar.

Empat opsir menanti di kedua pinggiran, di utaranya ada Sie Siong.

Kata ia dalam hatinya.

"Dia ini mestinya utusan raja. Kenapa dia bukannya orang kebiri? "

Adalah aturan di istana, utusan istana terdiri dari orang kebiri atau thaykam. Ia heran tapi tak bercuriga keras.

"An Tayjin, kebetulan kau datang hari ini."

Terdengar utusan raja itu.

"Sebenarnya hari ini Kui-hui Nio nio lagi bergusar. Syukur kau dapat menghiburnya."

"Kenapa Nio-nio gusar? "

"Tak lain tak bukan disebabkan syairnya Lie Haksu.

"Bagaimama itu?"

Mendengar disebutnya Lie Hek, Kui Ciang memasang telinga.

"Sebelum tayjin datang, Seri Baginda dan Nio nio minum arak di paseban Tim Hiang Teng menikmati keindahan bunga buwtan.

"menerangkan si utusan raja. Sri Baginda gembira sekali dia perintah memanggil Lie Haksu. Haksu itu lagi sinting di rumah makan, dengan susah payah Lie Ku Liang datang memanggil " ."

"Apakah Nio-nio menganggap dia kurang ajar? "Bukan. Sudah biasa Lie Pek berlaku berkepala besar. Baginda pernah menyusuti dengan jubah sendiri ilarnya haksu itu serta menyuruh Nio nio mencekoki godokan untuk menghilangkan mabuk araknya."

An Lok San menggelengkan kepala.

"Dia terlalu dikasi hati! "

Katanya.

"Setelah Lie Hak su sadar dia disuruh menulis syair. Dia menulis tiga ruas. Menarik syairnya itu. Maukah tayjin aku bacakan?"

"Aku orang kasar, tak mengerti aku".

"Syair itu pujian untuk Nio nio, sederhana bunyinya, tapi Nionio gusar."

"Heran. Nio nio dipuji tapi dia gusar. Kanapa? Aku jadi ingin mendengarnya."

Utusan itu membacakan syair itu.

"Raja senang mendengarnya, ia suruh Lie Ku Lian membikin lagunya serta sekalian mainkan itu, untuk dinyanyikan beramairamai. Memang itu sedap didengar."

"Memang bagus bunyinya syair itu,"

Kata Lok San tertawa.

"Kalau begitu tayjin seorang ahli !"

Girang Lok San dipuji Ia lantas tanya syair yang kedua dan ketiga.

"Habis syair yang pertama itu yang Baginda puji. Baginda minta dua lagi Lie Haksu minta presen arak dulu. Baginda berkata dia toh baru sinting. Dia tidak mau mengerti, katanya makin sinting makin dia dapat bersyair. Baginda tertawa. Pantas kau dinamakan Dewa Arak! katanya. Lantas Baginda menyuruh ambil anggur dari See-liang berikut cawan emasnya. Bak-hie juga dipakai bak-hie yang biasa di pakai Sri Baginda dan Nio-nio disuruh memeganginya ..."

"Hm, dia dipuja seperti Thian !"

Kata Lok San.

"Habis menenggak kering araknya, Lie Haksu lantas menulis pula. Juga kedua syair ini disukai baginda, yang kembali menitahkan dibikinkan lagunya, untuk dibunyikan dan dinyanyikan seperti yang pertama. Saking gembira Baginda sendiri turut meniup seruling dan Nio nio disuruh menabuh piepee. Setelah puas. Lie Ku Lian diperintah mengantarkan Lie Haksu pulang ke gedung Han Lim Ie,"

Lok San heran.

"Baginda senang, kenapa Nio nio gusar ?"

Dia tanya.

"Sebenarnya Nio-mo juga girang, ketika ia kembali kekamarnya ia masih menyanyikan syair itu. Lantas Kho Lek Su mengatakan dia heran Nio-nio bergembira, sedang sebenarnya sebaliknya mestinya. Nio nio tidak mengerti dan tanya apa sebabnya. Kho Lek Su berkata, dengan syair itu Nio nio disamakan dengan Tio Hui Yan. Mendengar itu Nio-nio menjadi gusar, ia menjadi benci Lie Haksu."

"Siapa itu Tio Hui Yan ?"

Tanya Lok San.

"Tio Hui Yan ialah permaisuri yang cantik dari Kaisar Seng Tee dari Ahala Han."

"Toh Nio nio tidak direndahkan dibandingkan dengan Tio Hui Yan ?"

"Tayjin tidak tahu. Tio Hui Yan bertubuh langsing ia disayangi umpama kata ia ditiup angin. Pernah Baginda berkata main-main pada Nio nio "Kalau kau, biarlah kau ditiup terlebih sering.... ketika Nio-nio bersaing dengan Bwee Hui. Bwee Hui pun mengatakan dia budak gemuk. Maka itu Nio-nio menjadi gusar."

Lok San tertawa.

"Oh, begitu katanya "Menurut aku, wanita gemuk terlebih bagus!"

Utusan Raja bersenyum ada artinya senyumnya itu.

"Bagaimana ?"

Tanya Lok San. tak mengerti.

"Apakah aku tidak benar ?"

Utusan itu berkata perlahan. Lantas tuan rumah menggeprak meja. mukanya merah padam.

"Sungguh Lie Pek jahat!"

Katanya.

"Pantas Nio-nio gusar!"

Tio Hui Yan telah main gila dengan hamba keraton nama Yan Cek Hong, dia di kenal sebagai ratu cabul dalam jaman Ahala Han.

Kho Lek Su menghasut bahwa Lie Pek membandingkan Yo Kui hui dengan ratu cabul itu.

Tentu sekali kui-hui menjadi gusar dan sangat membenci haksu itu, karenanya pantas Lok San bergusar juga.

Si utusan tertawa.

"Jangan gusar. An Tayjin,"

Katanya.

"Lie Pek membuat Nio nio gusar mana dia dapat bertahan lama di dalam istana ? Dia boleh disayang Seri Baginda tetapi tak nanti dia dapat melawan Nio-nio! Kho Lek Su pun liehay ! Maka sakit hati apa juga bakal terlampiaskan!"

"Apakah Kho Lek Su bermusuh dengan Lie Pek?"

"Apakah tayjin masih belum tahu ? Tahun dulu negara Put Hay mengirim utusan membawa suratnya dalam bahasa asing Di dalam istana tidak ada menteri yang mengerti bahasa itu, kemudian Hoo Tie Ciang memujikan Lie Pek. Dia ini mengerti bahasa itu. dia membacanya dan menulis juga surat balasannya dalam bahasa asing itu. Khan negara itu ditegur untuk sikapnya yang tidak hormat. Dengan begitu Kerajaan Tong terlinding, ketika itu Lie Pek lagi mabuk, selagi mau menulis suratnya itu, ia menghendaki Yo Kok Tiong menggosok oak dan Kho Lek Su membukai kaos kakinya. Demikian Kho Lek Su telah lama mencari kesalahannya.

"Baiklah kalau begitu,"

Kata An Lok San.

"Besok akan aku kirim bingkisan untuk Kho Kong kong."

Tiba-tiba ia menoleh kepa da Sie Siong, menanya ""Kabarnya kamu membuat huru hara di rumah makan. Bagaimana romannya orang she Lam itu?"

Sie Siong memberikan keterangan sambil mematahkan Lok San mendengari, ia ber pikir, ia berdiam saja.

Siutusan seoaliknya, menanya jelas tentang ilmu silat orang.

Kui Ciang memasang telinga, ia heran utusan ini seorang ahli silat, Lok San mendengari sekian lama mendadak ia menepuk tangan.

"Aku tak percaya dia demikian bernyali besar!"

Dia berseru.

Belum berhenti seruan nya itu, atau dua biji, senjata rahasia menyamber kedalam.

disusul dengan lompat masuknya sesosok tubuh manusia.

Semua orang terperanjat.

Kui Ciang tidak dapat menahan sabar lagi.

ia menyerang dengan teratai besinya.

Ia menyerang saling menyusul kepada An Lok San dan si utusan.

Ia mengarah jalan darah mereka, supaya mere ka roboh tak berdaya, la sudah pikir habis merobohkan mereka iiu.

ia mau tolongi Suit Jie dengan jalan menggunai mereka atau salah satunya menjadi manusia tanggungan Ia lihay dalam hal menggunai senjata rahasia ia percaya umpama An Lok San lolos, si utusan pasti tidak.

Tapi dugaannya meleset, Utusan itu lihay sekali.

Teratai besi kecil seperti biji kacang, di timpuki Kui Ciang melesatnya pesat bukan kepalang tetapi si utusan berseru.

"Baik!"

Sambil tangannya mengangkat sumpinya, menjepit teratai besi yang pertama dan ketika yang kedua tiba, ia menyampok dengan sumpitnya itu hingga kedua biji teratai ber adu keris, dua batang sumpitnya itu patah, ditengahnya, menjadi empat-potong.

"Oh"

Berseru si utusan heran. lantas dia tertawa bergelak seraya berkata "Benar-benar ahli pedang, dari Yu-ciu kesohor bukan namanya saja! malam ini dapat aku mementang lebar mataku!"

Teranglah dengan kata-katanya itu, ia sudah lantas mengenali penyerangnya, Dia memang bulan lain orang dari pada satu di antara Tay-lwee Sam Toa Kho-ciu, tiga orang tergagah di dalam istana, ialah U-bun Thong.

Bersama-sama Cin Siang dan Ut tie Pak, dia menjabat Liong Kie Touw ut, akan tetapi dia merasa kurang disayangi Raja.

Dia cuma merasa sendirinya, bukan dia d bedakan.

Sebabnya yaitu Cin Siang dan Ut-tie Pak turunan menteri panglima pendiri Kerajaan Tong, dia serd.ri dari keluarga biasa.

Dia berang gapan Raja lebih akrab dengan dengan kedua rekannya itu.

Sebenarnya Raja tidak membedakan mereka.

Apa yang beda yaitu, Cin Siang dan Ut-Ue Pak tidak membaiki segala dorna, U-bun Thong sendiri di dalam menempel Yo Kui-hui, di luar merapati An Lok San.

Ia berbuat begitu dengan niat memperkokoh kedudukannya.

Demikian kali ini, mengantar wisit mandi itu, U-bun Thong ditolong oleh Yo Kui-hui, yang memohon Raja mengutusnya.

Ia seorang liehar, ia tidak kenal Tean Kui Ciang tetapi ia tahu Kui Ciang bermusuh atau lebih benar dimusuhkan An Lok San.

Dengan me-nyambuti teratai bes;, dan itu dicampur dengan kcierangan tentang ilmu pedang orang, ia lantas menyangka Kui Ciang Tepat terkaannya itu Ketika itu Sie Siong bersama dua wie su lainnya sudah memegat Kui Ciang Mereka bertempur di ruang dalam.

Karena kedudukannya sebagai kim-cee, utusan Raja, U bun Thong tidak mau lantas turun tangan.

An Lok San kaget karena serangan gelap itu, lebih-lebih mengetahui penyerangnya itu ialah Kui Ciang, musuh yang ia lagi cari.

Ia kagum karena U-bun Thong dapat menghalau kedua biji teratai besi.

Dengan lantas hatinya menjadi tetap, hingga ia dapat berpikir.

"Biarpun kau gagah. Kui Ciang, kau datang seorang diri kemari, tidak nanti kau sanggup melayani orang-crang sebawahanku ! Di sini pun ada U-bim Touw-ut! Maka ia berbangkit dari kursinya, sembari tertawa ia kata .

"Aku kira siapa tak tahunya kau, sahabat baik ! bicaralah secara baik ! Buat apa kau menggunai senjata! Benarkah kau tidak ingat lagi persahabatan kita dan ingin sekali ambil jiwaku?"

Kui Ciang mendesak mengurdurkan Sie Siong.

ia pun menangkis dua musuh lainnya, habis itu ia menjasi dengar suaraoya yang nyaring .

,An Lok San, kaukah si hina yang memperoleh angin baik !

kau hendak mencari balas, buat apa ku menggunai caramu yang rendah ?

kau dipat mencari aku, kenapa kau membikin celaka sahabatku ?"

An Lok San tertawa.

"Itulah salah mengerti !"

Sahutnya.

"Tapi walaupun kesalahan, kesalahan ada kebaikannya ! Jikalau aku tidak keliru menangkap sahabatmu itu, mana dapat aku mengundang kau tuan yang terhormat, datang kemari?, Baiklah kau ketahui, tiada maksudku membikin susah sahabat.nu itu. Kebetulan sekali sekarang kau telah datang, ingin aku meminta kau suka bekerja pada aku disini."

Kui Ciang bersenyum ewah.

"Hm! Bekerja untukmu ! katanya, dingin. An Lok San tertawa lebar.

"Aku merangkap jabatan Ciattouwsu untuk Peng louw, Hoauyang dan Hoo tong !"

Katanya nyaring "Jikalau kau bekerja untukku, apakah itu menghina martabatku ?"

Berulangkali Kui Ciang mengasi dengar "Hm"

Yang nyaring. Lantas dia berkata tak kalah nyaringnya .

"Di mataku kaulah dahulu buaya darat sekarang buaya darat juga! Bedanya ialah sekarang kau berbuat kejahatan lebih banyak dan lebih besar ! Dulu kau cuma mencelakai rakyat jelata, rakyat baik-baik, sekarang kau mencelakai rakyat berbareng tentara juga ! Hahaha ! Apakah kau sangka setelah kau menjadi ciat-touwsu lantas aku memandang tinggi kepadamu? Hm !"

An Lok San sudah memikir memainkan sandiwara kucing menangkap tikus.

Ia percaya tak nanti Toan Kui Ciang dapat lolos lagi Maka ingin ia lebih dulu mengejek dan menghinanya, guna melampiaskan kemendong-kolannya, maka sungguh di luar dugaan sekarang ia justeru didamprat habis habisan oleh musuhnya ini !

Bahkan ia dihina di muka umum, di beber rahasianya dibadapan tetamu dan orang orang sebawahannya !

Bukan main gusarnya ia.

Tak dapat ia tertawa pula.

Ia lantas mengasi lihat romannya yang bengis.

"Manusia tak tahu diri !"

Ia membentak.

"Hayo, kamu semua hajar dia sampai mampus"

Toan Kui Ciang tidak takut. Dia tertawa berkakak.

"Aku telah berani datang ke tempatmu ini, itu tandanya aku sudah tidak memikir untuk berlalu pula dengan masih hidup!"

Dia kata, keras.

"Hanya untuk kau membinasakan aku, rasanya itu taklah terlalu mudah! Haha!"

Sambil berkata begitu, Kui Ciang tidak berdiam saja. Orang sudah maju untuk menyerang padanya. Ia memasang mata tajam, kakinya bergerak, tangannya bergerak juga.

"Aduh !"

Demikian satu jeritan. Maka seorang busu telah tertancap dadanya dengan pedang hingga darahnya mengucur keluar, hingga terpaksa dia mesti mengundurkan diri.

"Kantong nasi ! kantong nasi !"

An Lok San mencaci berulang ulang.

"Lekas panggil beberapa orang yang berarti !"

Sie Siong maju meskipun ia jeri. Ia kenal baik liehaynya si orang she Toan. Ia malu mendengar dampratan pembesarnya itu.

"Bagus !"

Berseru Kui Ciang menyambut pecundangnya itu.

Ia lantas bersilat dengan sebat.

Sie Siong kaget hingga ia terpaksa mundur.

Toh ia masih terlambat.

Tahu-tahu pundaknya terasa dingin dan sakit, pundak itu mengeluarkan darah.

Ujung pedang musuh membuat goresan pada pundaknya itu !

Syukur untuknya, selagi dia diserang itu, Kui Ciang pun diserang oleh seorang wiesu yang bersenjatakan sepasang gaetan.

Wiesu itu bukan sembarang wiesu.

Untuk menolong diri Kui Ciang menarik pulang pedangnya sambil ia berkelit, kalau tidak pastilah dia bakal patas tulang pipeenya.

Dengan tak perduli bakal di damprat, dia terus berkelit, uutuk mundur.

Toan Kui Ciang benci sekali sama pecundangnya ini.

Dialah yang secara bengis sudah menangkap Su It Jie.

Maka ia tidak sudi melepaskannya Habis membebaskan diri dari *aetan sambil berseru, ia berlompat maju, guna menyusul orang she Sie ini.

Di depannya menghalang seoranj wiem ia men dupak dengan kaki kanannya.

Wiesu yang bergegaman gaetan pun menghadang pula tapi dia dipaksa mundur setelah gae;annya dibik.n terpental.

Setelah itu meluncurlan pedang yang tajam ke punggungnya si pecundang!

Tepat di waKtu yang berbahaya untuk Sie Siong itu Kui Ciang dibikin terkejut oleh suara angin di sebelah belakangnya.

Ia menduga kepada serangan membokong.

Batal ia menikam Sie Siong, terpaksa ia memutar tubuh sambil menyampok kebelakang.

"Aku tidak menyangka An Lak San mempunyai orang seliehay ini.

"pikirnya. Sebagai juga punggungnya ada matanya, pedang menyambar kelengan orang, sedang tubuhnya mendadak untuk berkelit. Kedua senjata mereka lantas beradu keras. Si penyerang mundur tiga tindak, orang yang diserang berguncang tubuhnya. Senjata mereka itu memperlihakan api meletik.

"Ilmu golok yang bagus! Ilmu pedang yang liehay! Ya, dua duanya liehay "Itulah pujiannya U bun Thong Kui Ciang sudah lantas melihat penyerangnya, ia menjadi tercengang saking heran Orang itu ialah Liap Hong, yang berulang kali sudah menolongi ia secara diam diam yang mengisiki secara samar untuk ia menyingkirkan diri. Wiesu yang bersenjata gaetan bernama Thio Tiong Cie dia kosen seimbang denpan Sie Siong. Dialah salah seorang yangdiandalkan An Lok San. Melihat musuh menju-blak, dia lantas maju menyerang pula. Hebat dia menggunai sepasang gaetannya, yang me nyamber ke bawah Kui Ciang kaget. Itulah serangan di luar sangkaan. Ia lantas berkelit, tetapi tidak untung, ujung celananya kena tersamber juga hingga robek! Liap Hong pun maju pula sambil berseru nyaring.

"Sorga ada jalannya kau tidak pergi kau memasuki neraka yang tiada pintunya! saat kematiaumu sudah tiba, masih kau berani, mengganas!""

Hebat kata-kata itu tetapi Kui Ciang menerimanya sebagai nasihat untuk ia mengangkat kaki, maka ia heran dan kata dalam hatinya.

"Dia Hu Ciang pribadi dari An Lok San pantas kalau dia bekerja sungguh-sungguh untuk majikannya, tetapi heran dia seperti menyayangi aku. Kenapakah?"

Liap Hong maju.

Ia berkelahi sungguh-sungguh sekarang ia mendapat kenyataan Kui Ciang jauh terlebih liehay dari padanya, ia menyerang tanpa ragu-ragu.

Kui Ciang tidak ingin mencelakai orang yang baik hati itu, ia melayani dengan keias.

tetapi tanpa menfgunai tipu silatnya yang"

Dapat merobohkan orang. Karena ini. dikepung berdua, ia menjadi kalah angin. Ia terdesak. U Bun Thong menyaksikan pertempuran itu Ia kata didalam hatinya.

"Toan Kui Ciang memiliki ilmu pedang yang sempurna ia dapat tergolong orang kelas satu, akan tetapi ia belumlah pantas dan sesuai seperti yang dunia Rimba Persilatan memujinya!"

Ketika itu Tan Sin Su datang bersama beberapa kawannya.

Mereka melibat Kui Ciang terdesak, lantas mereka maju.

Sia Su dengan bernapsu.

Ia ingin membalas sakit hati untuk peristiwa dirumah makan, karena ia ta hu pedang Kui Ciang pedang mustika, sengaja ia membawa golok yang berat tiga puluh tiga kati, yang tebal sekali ia percaya pedang musuh tak bakal dapat memapas kutung gokol-nya itu, Ini pula yang membikin ia berani merangsak.

Repot Kui Ciang dikepung oleh enam wiesu pilihan.

Ia menangkis kekiri dan kanan ia menyerang selekasnya ada kesempatan.

Satu kali pedangnya bentrok ji ga dengan golok Sin Su.

Ia dapat menyampingkan pedangnya itu yang kena dibikin mental.

Justeru itu.

ga-etannya Thio Tiong Cie masuk, kali ini tangan bajunya yang kena dirobek.

Syukur ia dapat meneruskan mengelir, tangannya.

Meski begitu lengannya tergores jaga, kulitnya mengeluarkan darah.

Liap Hong miju selagi orang terlukakan itu.

Dia menyerang dengan tikaman "Ular putih menyemburkan bisa."

Goloknya meluncur ke tenggorokkan lawan.

Kui Ctng melihat bahaya mengancam, ia memutar tubuhnya.

Itulah tipu silat "Membungkuk menanam yangliu".

Sambil berputar ia membalas menyerang.

Mendadak terdengar jeritan "Aduh!"

Itu-lah jeritannya Liap Hong, yang kena perutnya terlukakan Dia masih mencoba berlompat mundur, habis itu dia toh roboh.

Hingga dengan begitu pengurungan menjadi mengasi lihat satu lowongan.

Bukannya tak disengaja Lip Hong terluka dan roboh.

Sampai disaat itu ia masih hendak menolongi Kui Ciang, guna membukai jalan lolos, lain orang tidak ketahui pertolongannya itu tetapi Kui Ciang menginsafinya.

Maka Kui Ciang melengak sedetik dan berkata di dalam hrtinya .

"Jikalau aku tidak terbinasa, di belakang hari mesti aku balas budinya orang ini. Hanya sekarang, mana dapat aku menerima budi kebaikanmu! Tanpa dapat menolongi Su Toako, mana ada muka aku menyingkir seorang diri ?"

Kui Ciang menggunai ketikannya itu.

la keluar dari kurungan Tetapi ia tidak lari menyingkir, ia justeru memburu kearah An Lok San !

Tian Sin Su dan yang lainnya menjgdi kaget, lekas-lekas mereka menyusul guna merintangi.

Selagi mereka repot dan bi gung tiba-tiba terdengar suara nyaring dari U-bun Thong-Jago istana itu tertawa terbahak, dia kata.."Setelah menyaksikan ilmu pedang Tuan Toan yang demikian indah, aku menjadi rada gatal!

tuan-tuan, tolong kamu menunda seoentar, biarlah aku mempertontonkan kejelekanku !

Ya, kejelekanku !"

Suaranya itu segera dibaiengi dengan lompat majunya, kedua tangannya terlihat kosong, jubahnya berkibar kibar, maka sekejab saja ia sudah tiba di hadapan Toan Kui Ciang.

Menampak majunya jago istana itu, Tian Sin Su semua bernapas lega.

Mereka tahu kejumawaannya jago itu, tanpa periniah lagi, mereka peda mengundurkan diri.

Hingga disitu terbuka suatu gelanggang.

Toan Kui Ciang mengawasi orang bicara demikian macam, sedang sikap dedak orang pun garang.

Katanya di dalam hati .

"Kiranya ini utusan Raja seorang gagah ! ... ."

Berdiri di depan Kui Ciang. U bun Thong memperlihatkan siap terkebur.

"Tuan Toan ahli pedang yang terbesar, bukankah tadi kau bermaksud menangkap aku ?"

Dia tanya "Sekarang aku sudah herdiri di depanmu, mengapa kau masih tidak mau turun tangan ?"

Kui Ciang berlaku tenang.

"Kau hendak mengadu kepandaian secara orang Bu-Iim, tidak mau aku menang sendiri, ia menyahut sabar. ,Kau keluarkanlah senjatamu!"

U-bun Thcng tertawa lebar.

"Benar-benar kau ahli pedang kenamaan. Tuan Toan"

Ia berkata.

"Tak kecewa kau! Tapi tak usahlah kau berkuatir untuk diriku walaupun kau memiliki pedang mustika, tidak nanti kau mudah saja melukai aku U-bun Thong!"

Mendengar orang memperkenalkan diri itu barulah Toan Kui Ciang mendapat tahu utusan raja ini sebenarnya salah satu Jago istana yang namanya tersohor berendeng dengan Ut-tie Pak.

Ia tidak takut, bahkan ia mendongkol.

Belum pernah ia menghadapi orang yang berani memandang tak matanya secara begini.

Ia kata dalam hatinya .

"Apakah kau sangka nama besarmu sebagai jago istana dapat menindih padaku ? Aku sangsi kepandaianmu berkelahi dengan tangan kosong dapat melebihkan keliehayannya Ut-tie Pak !"

Dalam iimu silat tangan kolong melawan senjata, Ut-tie Pak memang kesohor sebagi jago nomor satu.

selama pertempuran di rumah makan, Kui Ciang sudah menguji jago itu.

ia menang unggul, maka itu ia menganggap U-bun Thong terlalu jumawa.

"Benarkah ?"

Ia berkata menjawab jago istana yang jumawa itu.

"Kalau begitu, silahkan kau mulai memberikan pengajaranmu!"

Meski kegusarannya meluap-luap, Ku Ciang masih dapat menguasai diri uutuk tidak menyerang terlebih dulu. Lawan bertangan kosong, ia hendak mengalah untuk memberi kesempatan kepada lawan itu.

"Baik"

Jawab U-bun Thong dengan berseru.

"Untuk berlaku hormat tak ada jalan yang terlebih baik dari pada menerima perintah ! Nah. kau berlaku hati-hatilah menyambutnya". Jago istana itu segera mulai dengan penyerangannya. Toan Kui Ciang memasang mata. Ia melihat orang tidak menggunai ilmu silat Kim-na-ciu atau Menangkap, juga bukannya ilmu silat Lo Han Kun yang liehay hanya ilmu silat Utara Tiang Kun yang umum. In menjadi heran. Mungkinkah dengan ilmu silat umum ini dia dapat melayani pedangku?"

Ia tanya di dalam hati. ,Ia disohorkan sebagai jago istana aku tidak percaya dia benar benar demikian liehaynya ...."

Tengah Kui Diang berpikir itu kepalan yang besar dari lawan sudah jaenyambar, ia menangkis tanpa bersangsa sedikit juga.

"Trang!"

Itulah satu suara bentrokan yang nyaring, yang diiring dengan terpencarnya lelatu api akibat bentrokan itu, Nyatalah U-bun Thong bukan besar omong tetapi juga ia licik sekali.Didalam genggamannya dia telah menyiapkan senjatanya, ialah sepasang poankoan pit yang sangat pendek, Sengaja dia tidak mau memberitahukan itu.

Sengaja ia mau membikin Kui Ciang menyangka dia bertangan kosong, supaya Kui Kui Ciang menjadi mendongkol dan memandang kepadanya.

Dia sudah pikir, kalau orang gu sar dan menyerang dengan sengit baru dia menyambut dengan senjatanya yang istimewa itu.

Demikian sudah terjadi Tentu sekali dia membuat lawannya heran, Justeru itu.

dia melakukan penyerangan lebih jauh.

Dengan Cara sangat cepat.

Dengan tangan kiri diangkat.

dia menyerang dengan tangan kanannya, Dua-dua dengan senjatanya itu, Dia menyerang selagi orang belum sempat menarik pulang pedangnya, Dia sudah siap-sedia, dia da pat melakukannya.

Sasarannya ialah jalan jalan darah jia-khie dibawahan tiga lawannya itu.

Sungguh cara berkelai yang licin sekali, Syukurlah Toan Kui Ciang bernyali besar dan teliti sekali.

Ia tidak tahu U-bun Thong menyembunyikan senjata rahasia dalam tangannya akan tetapi melihat dia menggunai Pak-pay Tiang Kun.

ilmu silat "Tangan panjang"

Dari pihak utara semacam ilmu silat yang umum sekali, timbul kecurigaan maka itu ia tidak kena dicurigai lawannya itu.

Ia tidak saja tidak memandang tak mata lawannya ini sebaliknya ia waspada luar biasa, hingga ia ketahui dengan jurus yang pertama itu lawan itu belum mengeluarkan kepandaiannya.

Demikian disaat seperti kilat berkelebat itu kedua pihak sudah bergerak sangat sebat dan lincah.

Poankoan Pit U bun Tnong me-nyambar ke jalan darah Jie khie dan Toan Kui Ciang, Tepat ketika ujung pit hampir mengenai baju lawan, sekonyong konyong pedang Kui Ciang berkeredep.

ujungnya menusuk ke kaki penyerangnya itu.

Kui Ciang berbuat demikian sambil ia mendak.

Itulah siasat memenolong diri dengan mengancam kelemahan musuh.

U-bun Thong terkejut.

Dengan seoat ia berkelit.

Dengan begitu bebaslah dirinya.

Dengan begitu selamat juga Toan Kui Ciang.

Dengan jago istana itu berkelit terpisahlah mereka berdua.

Hanya sejenak kedua pihak sudah memperlihatkan kepandaian mereka itu.

Hampir kedua-duanya roboh sebagai kurban senjata masing masing.

Baru sekarang U bun Thong menginsafi liehaynya Kui Ciang.

Rupanya tadi orang belum menggunai seluruh kepandaiannya, Diam diam ia merasa jeri sendirinya.

Habis merenggang itu, kedua pihak lantas merapat pula.

Kui Ciang ii.gin melakukan pembalasan, ia memutar pedangnya, untuk menaikan terus terusan sampai tiga kali, hingga pedangnya itu bersinar tak hentinya, datangnya bagaikan dari delapan penjuru angin.

Dengan begitu, tubuh U bun Thong nampak seperti dikurung sinar pedang.

Menyaksikan itu, semua busu melongo, hati mereka gentar.

Sungguh henat si orang she Toan, sungguh bercahaya keselamatannya U-bun Thong ....

Sebagai jago istana, U-bun Thong meng-gunai poan-koanpit, alat mirip perabot tulis, yang luar biasa.

Umumnya poankoanpit berukuran dua kaki delapan dim, akan tetapi sepasang miliknya ini cuma tujuh dim seluruhnya.

Ukurannya senjata ini sesuai dengan pepatah dalam ilmu silat yang berbunyi .

"Satu dim pendek, satu dim bahaya"

Berbahaya untuk musuh, tetapi pun berbahaya untuk diri sendiri apabila ada ketemui lawan yang jauh terlebih liehay.

U bun Thong ketahui itu, maka ia telah membuat persiagaan.

Selagi Toan Kui Ciang mendesak itu dengan timbul harapannya akan memperoleh kemenangan sekonyongkonyong ia mendengar suara menjentrek pada senjata lawannya.

Untuk herannya ia mendapat kenyataan poankoanpit musuh mendadak tambah panjang dengan tujuh dim.

Itulah persiagaannya U-bun Thong, yang gamannya genggaman rahasia.

Sebab koanpoanpit itu dilengkapi dengan pesawat rahasia, hingga kapan dikehendaki, panjangnya dapat diiambah dengan empat kali tujuh dim setiap kali memencetnya tujuh dim.

Itulah hebat.

Tak perduli Toan Kui Ciang sangat liehay, ia toh menjadi kurban senjata rahasia itu.

Dengan terdengarnya suara rnem-berebet, pecahlah ujung bajunya tersentuh ujung senjata lawannya itu.

Hebatnya ujung baju itulah ujung di depan perut.

Semua busu yang menonton, lantas bersorak.

Hanya, belum lagi berhenti sorak mereka itu tiba-tiba mereka dikejutkan teriakan "Aduh!"

Tertahan dari mulutnya U bun Thong tubuh siapa sudah lantas mencelat mundur Apabila orang melihatnya, pundak jago istana itu mengucurkan darah yang memerahkan bajunya.

Toan Kui Ciang tidak melainkan liehay ilmu pedanenya tetapi ia juga mahir tenaga dalamnya, ketika barusan ujung poankoanpit mengarah perutnya, ia menyedot napas membuat perutnya kempes ciut, hingga bajunya yang kena tersentuh senjata lawan itu.

Berbareng dengan itu, ia bukan hanya mengelit diri, ia jjga bekerja Dengan sebat sekali pelangnya diluncarkan ke arah pundak lawan justeru tangan lawan lagi diulur.

Pula ia dengan terhisap, tubuhnya turut maju ke depan.

Maka walaupun U bun Thoag lekas mengundurkan diri tak luput pundaknya itu di mampirkan ujang pedang, hingga kulit dagingnya tergores luka mensucirkan darah.

Masih syukur, saking sebatnya dia mundur, dia dapai melindungi tulang pipeenya.

Begitulab, saking kaget berhentilah soraknya semua busu, semua berbalik menjadi tercengang !

Baru saja U bun Thong sesumbar bahwa pedang Toang Kui Ciang tidak bakal melukai dia, atau sekarang pedang lawan itu membikin darahnya mengalir, tentu saja da menjadi sangat kaget dan malu berbareng.

Dia bukan menjadi putus asa dan menyerah dia justeru menjadi sangat murka.

Maka dia berseru .

Orang she Toan, jikalau malam ini aku dapat membiar kau lolos, aku sumpah U-bun Thong bukanlah seorang manusia!"

Dan dengan sepasang senjatanya itu ia lantas menyerang dengan hebat sekali.

Sebagai keistimewaan poankoanpit, senjata itu dipakai menosok jalan darah.

Toan Kui Ciang mengerti lawannya kalap, ia tidak mau memandang enteng.

An Lok San pun berseru .

"Benar ! paling benar dia ditawan hidup-hidup ! Hayo, kenapa kamu semua menjublak saja ? Kenapa kamu tidak segera membantui U bun Touw-ut meringkus bangsat ini Kata-kata Jerderai itu merupakan anjuran? berbareng titah. Tian Sin Su bersama Thia Tiong Cis bukannya tidak mempunyai pikiran untuk turun tangan guna memberikan bantuan mereka. Mereka tidak mewujudkan pikiran itu lantaran mereka ragu ragu Mereka kenal U bun Thong sebagai seorang jumawa dan besar kepala, mereka tidak berani sembarang maju. Mereka juga ingin menyaksikan kepandaiannya jago itu, maka ita, mereka terus menonton, Mereka mau menduga, meskipun Kui Ciarng gagah, tak nanti orang, sbe Toan itu dapat bertahan terus menens. Siapa nyana kesudahannya ada di luar sangkaan mereka,-Maka itu sekarang, dengan adanya suara An Lok San, mereka tak bersangsi. pula. Dengan lantas mereka maju menyerarg. U bun Thong tidak melarang orang membantui ia. Sekarang ia tahu bahwa ialah bukan lawan Kui Ciang. Justeru karena majunya dua kawan ini segera suasana berubah lain. Ialah ia telah mendapat angin. Pertempuran terlangsung dengan, sinar pedang Toan Kui Ciang nampak makin lama, makin ciut kalangannya, An Lok San melihat, itu, legalah hatinya Sekonyong-konyong saja, selagi Toan Kui Ciang mulai dirangsak itu, terdengar seruannya yang nyaring dan tubuhnya berlompat bagaikan naga lincah sedang pedangnya berkelebat bagaikan kilat Kesudahannya itu Tian Sin Su terhuyung-huyung beberapa tindak, karena dengkulnya telah ditikam pedang lawan, sedang Thio Tiong Cie menjerit lantaran sebuah jeriji tangannya kena terpapas kutung ! Semua itu terjadi selagi si orang she Toan mencoba membarengi menoblos kurungan U bua Thong berseru sereya berlompat menyerang musuh. Ia kaget melihat kedua kawannya itu menjadi kurban. Maka ia menjadi gusar dan sengit. Ia menyerang selagi musuh baru saja menabas jari tangannya Tiong Cie, sebelum pedangnya ditarik pulang. Berbareng dengan itu, Kui Ciang pun berseru, pedangnya diayun ke belakang. Lantas, jatuhlah poankoanpit orang she Ubun itu! Kui Ciang terpaksa berlaku berani demikian melawan poankoanpit dengan tangan kirinya itu. Tangannya itu terluka parah hingga selanjutnya tak dapat diangkat pala untuk digunakan lagi. U-bun Thong terkejut mendapatkan Toao Kui Ciang berlaku nekad demikian, Tapi kesudahannya itu membikin ia puas juga. Biar bagaimana, ialah pihak menang. Seorang siesu menjemput toankoanpit untuk dilemparkan kepada jago istana itu. U-bun Thong menyambuti, terus ia berkata nyaring .

"Bangsat ini tinggal sebelah tangannya, biarnya dia galak, dia tidak dapat mengganas lagi. Lekas ringkus padanya, Jaga, jangan kasi dia lari." ---ooo0dw0ooo---

Jilid 5 Kui Ciang bersiul lama dan kata keras.

"Sungguh satu jago istana! Sungguh liehay luar biasa! Sungguh garang! Bukan saja kau menjadi orang berharga di depan Sri Baginda, pula kau berbareng menjadi anjing penjaga pintu dari An Lok San! Hm! Kau takut aku lari? Jangan kau kuatir! Sejak aku masuk ke istana ini, aku sudah tidak memikir untuk keluar pula dengan masih hidup!"

Seluruh mukanya U-bun Thong menjadi. merah. Ia sangat terhinakan.

"Aku tidak mau adu lidah denganmu!"

Ia membentak "Lihat poan-koan-pit!"

Benar-benar ia lompat maju, untuk menyerang.

Kui Ciang pun maju, dari itu, keduanya lantas bertarung pula.

Semua U-bun Thong, Toan Kui Ciang, Thio Tiong Cie dan Tian Sin Su telah terluka, yang terparah ialah lukanya Kui Ciang.

Yang kedua yaitu Tian Sin Su, yang terbacok dengkulnya, meski dia tak leluasa lagi berlompatan, dia masih bisa membantu mengurung musuh.

Walaupun tinggal sebelah tangannya, Kui Ciang berkelahi dengan nekad, ia tetap gagah.

Di antara orang-orangnya An Lok San, yang tergagah ialah Tian Sin Su, Sie Siong, Liap Hong dan Thio Hong Cie berempat.

Liap Hong dan Sie Siong bergantian terluka parah, sekarang tinggal Sin Su bersama Tiong Cie.

Ini sebabnya mereka masih dapat membantu U-bun Thong.

Yang lainnya semua tak punya guna, ketika mereka mencoba maju mendekati Kui Ciang, dengan lantas mereka kena dilukakan dan mesti mundur karenanya.

Maka itu, yang lainlainnya tidak dapat membantu lagi.

Bahkan mereka membikin gelanggang terhalang oleh kehadiran mereka.

U-bun Thong melihat orang seperti "menyesakkan dunia,"

Dia menjadi mendelu, maka dia berteriak keras.

"Pergi kamu melindungi Tayswe! Jangan kamu berkumpul di sini mendatangkan malu!"

Sekalian Wiesu itu mendengar kata, semua lantas mengundurkan diri, hingga tinggallah Sin Su berdua Tiong Cie, yang membantu terus.

Tidak lama, Sin Su berkelit dengan sia-sia, ketika dia lompat, dia kena ditikam.

Untung bagus baginya, lukanya enteng.

Meski begitu, ia merasa sangat nyeri.

Menggunai ketika Kui Ciang menyerang Sin Su itu, U-bun Thong juga menggunai ketikanya, bahkan dia memencet poankoan-pitnya, untuk diulur terlebih panjang.

Dengan begitu, dia dapat menyerang sedikit lebih jauh.

Kui Ciang dapat melihat serangan pit, ia berkelit.

Hanya celaka ?

miliknya, tengah ia berlompat, gaetan Tiong Cie menyamber pahanya, hingga paha itu tergores luka.

Syukur ia tidak sampai roboh.

An Lok San kaget dan kagum.

Ia menjadi berkuatir U-bun Thong juga bukan lawannya musuh yang tangguh itu.

Kalau orang she U-bun itu kalah, ia pasti akan menghadapi ancaman bahaya.

Sebaliknya, ia tidak dapat berlalu dari situ.

U-bun Thong menjadi utusan kaisar dan utusan itu sekarang lagi berkelahi mati membelai dia.

Selagi An Lok San bingung, ia melihat munculnya Sie Siong bersama beberapa Wiesu lainnya, yang mendorong datang seorang tawanan.

Sie Siong muncul sambil mengasih dengar seruannya berulang kali.

"Su Toako!"

Kui Ciang memanggil keras ketika ia sudah melihat siapa itu yang dibawa datang.

Orang itu ialah Su It Jie.

Dia kurus kering, romannya seperti orang sakit.

Teranglah dia sangat tersiksa.

Sie Siong memasang pedangnya di punggung orang tawanan itu, dia berkata nyaring.

"Toan Kui Ciang, berhenti beraksi! Asal kau maju lagi satu tindak, akan aku tikam Su Toako-mu ini!"

Gusarnya Kui Ciang bukan alang kepalang, akan tetapi buat keselamatannya Su It Jie, ia berhenti bersilat.

Ia hanya menyiapkan pedangnya kalau-kalau U-bun Thong menyerangnya.

Ia memandang An Lok San, untuk berkata dengan gagah.

"Musuhmu ialah aku, ada hubungannya apakah kau dengan orang she Su ini? Kau boleh bunuh atau cingcang aku, aku bersedia, tetapi kau mesti merdekakan dia!"

Baru sekarang An Lok San dapat bernapas lega. Ia tertawa lebar.

"Bagus!"

Serunya.

"Sekarang letakilah pedangmu, nanti aku Beri ampun pada orang she Su ini, supaya dia tidak memperoleh kematiannyaf!"

Kui Ciang tertawa dingin.

"Apakah kau sangka aku bocah umur tiga tahun yang dapat kau permainkan?"

Ia kata nyaring.

"Tak sukar untuk kau menghendaki aku meletaki pedangku! Sekarang kau biarkan aku mengantar Su Toako, sampai lewat sepuluh lie, dari sana aku nanti balik lagi bersama-sama orang-orangmu, itu waktu aku nanti serahkan pedangku ini!"

An Lok San tertawa.

"Kau tidak percaya aku, maria dapat aku percaya kau!"

Katanya.

"Lekas kau letaki pedangmu! Tidak ada tawar menawar lagi!"

Kui Ciang sangat gusar dan mendongkol, otaknya bekerja keras sekali.

Ketika itu U-bun Thong bersama Tian Sin Su dan Thio Tiong Cie berdiri mengitari Kui Ciang dengan senjata mereka diancamkan ke arah tubuh yang berbahaya.

Sulit untuk menyingkir dari ancaman itu.

Tiba-tiba Su It Jie berkata.

"Kasihlah aku bicara sebentar dengan Toan Toako!"

"Baik!"

Menjawab Lok San.

"Kau boleh menasihati dia supaya dia suka menakluk! Aku-hargai kau sebagai sastrawan, pasti aku tidak nanti membikin susah padamu! Jikalau kau sudi memangku pangkat, aku nanti berikan pangkat, jikalau sebaliknya, kau segera akan dimerdekakan, supaya kau hidup berkumpul dengan keluargamu! Toan Kui Ciang ini sahabat kekalku, walaupun dia berlaku tidak menghormati aku, dapat aku memberi ampun padanya! Maka itu tak usahlah kau menguatirkan keselamatan sahabatmu ini."

Mendengar disebut-sebutnya keluarganya, muka It Jie menjadi merah dan pucat bergantian.

Ia gusar bukan main.

Beberapa kali bibirnya bergerak tanpa menerbitkan suara, alisnya juga berkerut dan bergantian, akhirnya alis itu bangun berdiri dan ia kata nyaring.

"Toan Toako, daripada aku yang hidup untuk mencari balas, lebih baik kau! Untuk kau tidak dipaksa mereka, aku akan berangkat terlebih dulu! Kau sayangilah dirimu, pergi kau menerobos keluar!"

Belum berhenti suaranya orang she Su ini, ia sudah membuang dirinya dengan keras kebelakangnya, maka punggungnya lantas nancap di ujung pedangnya Sie Siong yang dipakai mengancamnya itu!

Mimpi pun tidak Sie Siong bakal terjadi hal demikian.

Ia kaget sekali, tak keburu ia menarik pedangnya.

Malah hebatnya, selain darah lantas menyemprot keluar, ujung pedang juga menembusi ulu hati si orang tawanan!

Su It Jie mendengar perkataan An Lok San, ia tidak mempunyai harapan lagi, maka ia pikir, daripada ia yang ketolongan, lebih baik Kui Ciang yang kabur.

Kalau ia berkurban, tak akan dua-duanya roboh.

Berbareng dengan berkurbannya It Jie itu, Kui Ciang berseru keras dan pedangnya bekerja.

Matanya pun merah menyala.

Sebatang gaetannya liong Jie sapat sebagai kesudahan dari serangan dahsyat itu.

Dia tidak sempat menarik pulang senjatanya itu.

U-bun Thong sebaliknya mengulur pula poankoan-pitnya.

Kui Ijiang tidak menyerang orang she U-bun itu, ia hanya lompat ke depan, guna menghampirkan An Lok San.

Ia terlalu bersakit hati hingga ia melupai segala apa.

Keinginannya yang keras ialah membalas untuk sahabatnya itu.

Karena itu, ujung poan-koan-pit mengenai punggungnya.

Tapi ia liehay, ia menutup dirinya dan membikin tubuhnya licin dengan ilmu silat "( iam le Sip-pat Tiat".

Maka itu, meski poankoan-pit mengenai tepat tetapi lak telak.

Dasar U-bun Thong liehay, ujung senjatanya dapat menggores Berbareng dengan itu, Tiong Jie maju pula dengan terus menolak, maka selagi berlompat, Kui Ciang tak dapat mempertahankan diri lagi, terus ia jatuh roboh.

U-bun Thong girang sekali.

Ia maju sambil menyerang dengan poan-koan-pit kiri.

Kui Ciang sendiri lagi jatuh itu ingat suatu apa, di dalam hatinya ia kata.

"Tidak! Aku tidak dapat mati!"

Ia ingin membalas untuk Su It Jie. Maka entah dari mana datangnya tenaganya, sambil berteriak ia mencelat bangun dengan lompatan "Le Hie Ta Teng"

Atau "Ikan gabus meletik".

U-bun Thong merasa telinganya pekak, sampai ia tercengang.

Pedangnya Kui Ciang, yang menyerang, bentrok dengan poan-koan-pit hingga ujung pit itu putus.

U-bun Thong menjerit, telapakan tangannya terasa nyeri.

An Lok San kaget, mukanya menjadi pucat, dengan gugup dan suara terputus-putus, ia memberikan perintahnya.

"Datangkan...! I >atangkan barisan panah dan gaetan!" \ "An Tayjin, jangan takut!"

U-bun Thong berseru. Dia kaget tetapi dia lekas sadar. Dialah orang dengan banyak pengalaman bertempur.

"Penjahat ini tidak dapat mengganas terlebih jauh! Jangan dekati dia! Kilarkan saja!"

Siasat itu lantas digunai, Kui Ciang benar-benar dikurung.

Sia-sia dia berlompatan, tenaganya sudah berkurang.

Dia terluka di tangan, kaki, pundak dan punggung, dia juga telah mandi darah.

Dia tampak seperti orang kalap.

Sin Su dan Tiong Cie turu-t mengurung saking terpaksa.

Tiong Cie menggunai cuma sebatang gaetan.

Sin Su tak merdeka bergerak sebab luka di dengkulnya itu.

Mereka berdua bertempur dengan hati gentar.

Sie Siong tak terluka parah, terpaksa ia turut mengurung.

Bersama ia ada dua orang Wiesu lainnya yang menjadi pembantunya.

Dalam ilmu silat, mereka ini terhitung kelas lima atau enam.

Dengan cepat tibalah dua belas serdadu yang bersenjatakan gaetan peranti menggaet tubuh dan kaki musuh.

Gaetan itu panjang setombak lebih.

Mereka lantas mengurung di empat penjuru, terus mereka bekerja.

Kui Ciang berseru, ia membabat kutung dua buah gaetan yang menyamber kakinya.

Tapi serangan datang berbareng dari empat penjuru, betisnya kena tergaet juga, maka robohlah rubuhnya.

Ia lantas bangun untuk berduduk di lantai.

Sin Su girang, ia maju membacok.

Kui Ciang berseru pula, berbareng dengan itu pedangnya dapat membabat kutung lagi dua gaetan.

Gaetan yang mengenai betisnya nancap terus, hingga kakinya mengucurkan darah.

Ia cabut itu, untuk dipakai menimpuk Sin Su.

Orang she Tian itu kaget, hingga ia mendelong.

Syukur untuknya, Sie Siong menolak tubuhnya.

Meskipun demikian, gaetan melukai kulit kepalanya.

Gaetan itu meluncur terus, maka celaka si serdadu yang bersenjatakan itu, dia terhajar dadanya, dia roboh terjengkang.

Kui Ciang masih duduk di lantai, ia putar pedangnya guna membela dirinya.

Dalam keadaan seperti itu, ia melupakan rasa nyerinya.

Lagi tiga gaetan kena ia babat putus!

An Lok San jeri.

Kata ia di dalam hati.

"Aku sudah berpengalaman berperang tetapi belum pernah aku melihat orang sekosen dia!"

Sie Siong mundur, dia berdiri di samping jenderalnya itu. Dia kata.

"Dia sudah tak dapat bangun berdiri untuk menyingkir, baiklah Tayswe datangkan barisan panah, untuk segera mengambil jiwanya!"

Lok San setuju, ia mengangguk.

"Memang inilah cara satu-satunya,"

Katanya.

"Ya, kenapa masih belum juga tiba?"

Ia memberikan pula titahnya, untuk mendesak lekas datangnya barisan itu. Kepada U-bun Thong ia menyerukan.

"U-bun Touw-ut! Jangan adu jiwa lagi dengannya! Barisan panah akan segera tiba!"

Muka U-bun Thong merah.

Ia malu dan mendongkol.

Musuh sudah mendeprok tapi dia masih juga belum dapat diringkus.

Dari enam orang, tinggal ia sendiri yang belum mundur.

Dalam penasaran, ia menggertak gigi, terus ia merangsak.

Ia tidak berkeinginan mengasih hidup pada musuh yang gagah ini.

Selagi ia maju, mendadak ia mendengar suara berisik datangnya dari luar.

Di sana orang berteriak-teriak dan lari mendatangi.

An Lok San menduga pada barisan panahnya.

Atau ia menjadi heran.

Suara berisik itu suara orang kaget dan ketakutan.

Selagi ia heran, di muka pintu terlihat seorang pengawal berteriak-teriak.

"Kebakaran! Kebakaran! Celaka! Kebakaran!"

Lok San menjadi bingung.

"Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh!"

Demikian datang lain suara berisik.

Pengawal pintu terdiri dari beberapa orang, suara teriakannya mereka itu belum berhenti, atau bagaikan terdampar gelombang, mereka kena digempur roboh dari tempat jagaannya masing-masing!

Menyusul itu tertampak munculnya dua orang, yang satu mengenakan seragam, yang lainnya seorang bocah umur enam atau tujuh belas tahun.

"Ada apa?"

Bentak Lok San.

"Kenapa kamu lancang masuk kemari?"

Pertanyaan itu belum berhenti, atau dia sudah dibentak.

"An Lok San! Kau mencelakai Toan Toako, maka ingin aku mengambil jiwamu!"

Berbareng dengan itu, orang itu lompat untuk menerjang.

Untuk^ ini ia tidak menanti sampai dapat mengusir mundur semua Wiesu, hanya1 ia lompat lewat di atasan kepala mereka!

Beberapa tukang gaet lagi menggaet, gaetan mereka kena ditabas kutung, maka itu berisiklah bentrokan golok dengan pelbagai gaetan besi itu.

Juga si anak muda turut maju.

Dia muda tetapi dia hebat.

Dia menggunai goloknya, tangan kosong dan tendangan!

Beberapa Wiesu kena dibikin terjungkal, juga beberapa tukang menggaet.

Lalu terdengar seruan Tian Sin Su.

"Lam Ce In, kau bernyali besar sekali!"

Dua orang itu memanglah Ce In bersama Mo Lek!

Toan Kui Ciang tidak mau merembet-rembet sahabat, ia mendusta terhadap Ce In, tetapi Mo Lek bocah cerdik, dia dapat menduga hati orang, diam-diam dia telah mengingat baik tempat kediaman orang.

Kepada Kui Ciang ia berjanji tidak akan meninggalkan kuil, tetapi seberlalunya sanak itu, lantas dia pergi mencari Ce In.

Lam Ce In telah berjanji dengan Lie Pek malam itu, untuk habis magrib berkumpul di rumah Hoo Tie Ciang.

Ketika Mo Lek sampai di tempat menginapnya Ce In waktu sudah jam tiga, Ce In belum pulang.

Dia meninggalkan surat, lantas dia pergi ke rumah Tie Ciang.

Ce In minum gembira sekali hingga ia lupa pulang.

Mo Lek muncul dengan tiba-tiba.

Lie Pek tidak takut atas datangnya bocah itu, bahkan dia lantas mengajak minum bersama!

Mo Lek tidak mempunyai kegembiraan untuk bersuka-ria, ia lantas bicara pada Ce In, menutur dugaannya mengenai maksudnya Kui Ciang.

Ce In kaget, lantas ia pamitan dari Lie Pek, terus ia lari bersama si anak muda.

Meski demikian, ia datang terlambat, Su It Jie sudah hilang jiwanya dan Kui Ciang lagi terancam bahaya maut.

Tian Sin Su mengenali orang, dia berteriak, tetapi dia tidak berani melayani, bahkan dia mundur.

An Lok San melihat suasana buruk.

Sekarang ia juga lupa kepada utusan raja.

Ia melupai kedudukannya sebagai "Tayswe".

Maka dengan mencekal tangan Sin Su, untuk orang melindunginya, ia mundur ke houwtong, ruang belakang!

Hati Sie Siong telah dibikin ciut oleh Lam Ce In.

Sudah begitu, dia tak secerdik Tian Sin Su.

Pula karena lukanya lebih hebat, ketika itu dia masih belum sempat mengundurkan diri.

"Orang she Sie!"

Ce In membentak.

"Rupanya kau belum puas dengan pertempuran kita di rumah makan! Mari kau maju, mari!"

Ce In berkata demikian, toh ia sendiri yang lompat untuk menghampirkan lawan itu, begitu sampai, begitu ia menyerang dengan golok mustikanya.

Sie Siong tidak berani melawan, apapula itu waktu dia sudah terluka.

Maka dia mendahului berlompat, untuk berlari.

Adalah Thio Tiong Cie yang maju, untuk membantu padanya.

Orang she Thio ini menyerang dengan lantas.

Lam Ce In berkelit ke samping, sambil berkelit, ia menangkis serangan gaetan dari lawan itu.

Ia menggunai jurus "Burung belibis berbaris di tengah udara".

Gaetan Tiong Cie sudah dirusak yang sebelah oleh Toan Kui Ciang, sekarang tinggal yang sebelah lagi, ketika senjata itu beradu dengan golok Ce In, dia kaget sekali.

Senjatanya itu terkuningkan menjadi dua potong, hingga dia menjadi bertangan kosong.

Menampak demikian, sedang dua orang itu sudah berlepotan darah, Ce In berseru.

"Golok mustika tak membunuh orang yang sudah terlukai"

Benar-benar ia menarik pulang goloknya itu, yang sudah diayun, sebaliknya, dengan kesehatan luar biasa, ia berlompat dengan dupakan dua-dua kakinya. Itulah tendangan "Wan-yoh Siang Hui Kiak"

Atau "Kaki kerlingnya burung Wan-yoh".

Sie Siong kena didupak punggungnya, tubuhnya lantas terjerunuk.

I'hio Tiong Cie kena tertendang pinggangnya.

Kalau Sie Siong terjungkal jauh setombak lebih, orang she Thio ini terguling menggelinding seperti luili buh Ketika itu U-bun Thong menyerang Toan Kui Ciang yang sudah terluka dan duduk.

Ia telah pikir untuk paling dulu membinasakan lawannya ini.

Begitulah, dengan poan-koan-pit kiri menangkis pedang lawan, dengan yang kanan ia menotok hebat sekali.

Justeru itu Lam Ce In sudah berlompat, untuk membacok punggung orang she U-bun itu, guna ia menolongi Kui Ciang.

U-bun Thong liehay.

Ia mendapat tahu adanya bokongan.

Batal menikam Kui Ciang, ia berkelit ke samping, seraya memutar tubuh, ia menangkis.

Ia membuat dua gerakan berbareng.

Untuk berkelit, ia menggunai tipu "Naga mendekam bertindak"

Dan buat menangkis, ia pakai tipu "Menabuh lonceng emas".

Ketika senjata mereka beradu, terdengarlah suara yang nyaring.

Akibatnya itu poan-koan-pit kena dibikin gompal sedikit dan tangan komandan itu sakit dan kesemutan, sedang tubuhnya terhuyung tiga tindak.

Toan Kui Ciang sudah tidak dapat bergerak.

Ia melihat musuh terhuyung ke arahnya, ia mencoba menabas, tetapi ia gagal, ujung pedangnya tak sampai kepada dengkul lawan'itu.

Lam Ce In tak sempat mengejar U-bun Thong.

"Toako!"

Ia memanggil seraya ia lompat kepada kawannya, yang tubuhnya segera diangkat.

"Oh, saudara Lam, kau datang...!"

Kata Kui Ciang, yang terus muntah darah dan tak sadarkan diri.

Itulah sebab ia telah berkelahi terlalu lama dan terluka, hingga tenaganya habis.

U-bun Thong girang melihat Lam Ce In menolongi Toan Kui Ciang.

Coba ia disusul, mungkin ia terancam bahaya.

Ia kata di dalam hatinya.

"Kau menggendong Toan Kui Ciang, aku tidak takut padamu!"

Maka ia maju pula dengan berani.

Dengan dua-dua poan-koan-pit, jago istana ini melakukan serangannya.

Dengan pit kiri ia mencari tiga jalan darah tionghu, kiok-tie dan siauw-hu, dan dengan pit kanan mengancam jalan darah te-hu di kakinya Kui Ciang.

Lam Ce In tidak menangkis, hanya dengan berlompat ia mengelit diri berbareng menyingkirkan Kui Ciang dari ancaman bahaya.

U-bun Thong tidak puas, dia merangsak, untuk mengulangi serangannya.

"Kau telengas sekali!"

Ce In berteriak.

Ia berlompat untuk serangan ke kakinya, selagi turun itu, ia membalas menyerang dengan bacokan goloknya.

Inilah tidak disangka.

Luar biasa Ce In, yang dapat berlompat sambil menggendong orang.

U-bun Thong berkelit, kedua tanganya ditarik pulang.

Hampir kedua senjatanya kena tertabas golok mustika.

Ia menjadi jengah karena kelitnya itu.

Ia bukannya mundur hanya menjatuhkan diri, hanya ia tidak kelabakan seperti Sie Siong tadi.

Toh pakaiannya kotor.

Ce In terus membuka jalan, untuk menyingkir dari tempat berbahaya itu.

Dua orang Wiesu kena ditendang hingga terjungkal.

Dengan suara bengis ia berseru.

"Hidup siapa membuka jalan! Mati siapa merintangi aku!"

Dan goloknya diputar hebat, sinarnya bergemirlapan.

Kawanan Wiesu jeri, tak ada lagi yang merintangi.

Tatkala itu api sudah berkobar-kobar.

Tiat Mo Lek sudah bekerja.

Bocah ini hidup dalam kalangan penjahat, dia banyak pengetahuannya dan pula cerdik, dia senantiasa membekal bahan api.

Maka dia menyelusup ke dalam gedung An Lok San dan membakar di beberapa tempat, guna menerbitkan kebakaran.

Itu juga suatu siasat mengalutkan, untuk memudahkan pihaknya mengangkat kaki.

Rombongan Busu repot berlari-lari guna memadamkan api, maka kacaulah keadaan di istana peristirahatan An Lok San itu.

Pasukan panah t"lah disiapkan tapi pasukan ini tidak berani lancang menggunai panah mereka, takut nanti memanah kawan.

Tiat Mo Lek menyaksikan itu, dengan berani ia tertawa dan kata nyaring.

"Malam ini aku tidak berhasil membunuh An Lok San, tetapi hatiku puas!"

U-bun Thong gusar dan penasaran, ia lompat kepada si bocah, untuk menotok.

Mo Lek berani, ia bukannya lari menyingkir hanya menangkis.

Ia menggunai satu tipu silat ajarannya Toan Kui Ciang.

Nampak ia gagah sekali.

Jago istana itu heran hingga dia tidak berani berlaku sembrono.

Dengan berhati-hati dia mendesak.

Mo Lek berlaku gesit, kecuali menangkis, ia lebih banyak berkelit.

.Satu kali ia terdesak, ia samber tubuh seorang Wiesu, yang ia terus lemparkan pada jago istana itu.

U-bun Thong tidak berani melukai orangnya An Lok San, terpaksa ia memapaki tubuh si Wiesu, guna dipegang dan dikasih turun dengan perlahan.

Hanya dengan begitu, ia membikin si bocah sempat menyingkir jauh, hingga ia hilang di antara orang banyak, guna menyusul I ie ln.

Bukan main mendongkolnya U-bun Thong, dia lari mengejar keras sekali.

Mo Lek main api, akibatnya ada baiknya ada buruknya.

Baiknya ialah orang repot memerangi api.

Buruknya ialah rombongan Wiesu lainnya berlari-lari mendatangi, untuk datang membantu.

Dengan begitu, mereka jati i memapaki dua orang yang lagi berlari-lari untuk menyingkir itu.

Syukur Lam Ce In cerdik.

"Bagus kamu datang!"

Ia teriaki kawanan Wiesu itu.

"Lekas kamu membantu memadamkan"

Api! Di dalam juga ada beberapa penjahat yang belum kena dibekuk!"

Karena teriakannya ini, ia tidak dipegat kawanan Wiesu itu.

Inilah sebab ia mengenakan seragam Wiesu dan orang tak sempat melihat tegas atau berpikir lagi.

Dengan cepat sekali ia lari ke lain arah, di bagian dimana jumlah Wiesu sedikit sekali, untuk nyeplos di antara mereka itu...

Tengah kawanan Wiesu itu bingung, mereka mendengar teriakannya U-bun Thong dan Leng-ho Tat.

"Pegat dua orang itu! Merekalah orang-orang jahat yang menyamar!"

U-bun Thong mengejar dari belakang dan Leng-ho Tat memegat dari depan, untuk merintangi.

Ketika itu mereka ini berdualah yang bergilir menjaga dan semua Wiesu itu menjadi orang-orang sebawahan mereka.

Lam Ce In bekerja terus.

Dua Wiesu roboh di ujung goloknya.

Ia lari ke tanjakan, ia masuk ke dalam rimba.

Tiat Mo Lek tercandak seorang Wiesu, lantas ia kena dibikin repot.

Wiesu itu pandai ilmu Te-tong-too, berkelahi dengan golok sambil bergulingan di tanah, dengan menyerang sambil bergelindingan itu, dia membuat si anak muda bingung.

Dua batang goloknya menyamber-nyamber.

Si anak muda gagah tetapi ia kurang pengalaman berkelahi, tak biasa ia melayani Te-tong-too.

Sudah begitu, dua Wiesu lain keburu menyandak, hingga ia jadi dikepung bertiga.

Dua Wiesu yang belakangan ini bersenjatakan gembolan dan sepasang ruyung, keduanya senjata-senjata yang berat.

Lam Ce In di dalam rimba menoleh ke belakang.

Ia lihat kawannya terhalang, ia menjadi berkuatir.

"Mo Lek, sambut pedang!"

Ia berseru.

Ia menghunus pedangnya Toan Kui Ciang, yang ia terus lemparkan.

Celaka Wiesu yang bergegaman ruyung itu, pedang nancap di punggungnya tanpa dia berdaya, hingga lantas dia roboh.

Tiat Mo Lek mendengar dan melihat, ia lompat kepada Wiesu itu, di saat tubuh orang roboh, ia menyamber gagang pedang, untuk dicabut.

Ia berlompat dengan kepala turun dan kaki naik, tepat samberannya, sebat tarikannya.

Maka lantas pedang berada di tangannya.

Gerakannya ini membikin tercengang kedua Wiesu lawannya itu.

Tiat Mo Lek tidak mau mensia-siakan ketika.

Ia lompat kepada Wiesu yang berkelahi dengan ilmu Te-tong-too itu, ketika ia menyerang, ia membabat kutung sepasang golok orang.

Ketika ia membalik tubuh, ia kena tikam lengannya Wiesu yang memegang gembolan, hingga gembolan yang berat itu terlepas dan jatuh bergelindingan ke bawah bukit.

"Leng-ho Tat!"

Ce In membentak.

"Jikalah kau tidak sayang jiwamu, mari masuk ke dalam rimba ini!"

Bukan main kerasnya bentakan itu, burung-burung pada kaget dan terbang kabur. Kaget dan ciut hatinya, Leng-ho Tat tidak berani mengejar ke dalam pepohonan lebat itu.

"Kamu maju!"

Terdengar perintahnya U-bun Thong, yang sudah menyusul.

Leng-ho Tat mengambil busur dari tangannya seorang serdadu tukang panah, ia menarik itu, untuk dilepaskan ke arah Lam Ce In.

Sayang untuknya, tangannya bergemetaran, maka anak panahnya meluncur ke samping sasarannya.

U-bun Thong menyaksikan itu, dia mendongkol.

"Mari!"

Serunya seraya merampas busur dari tangan kawannya.

Ia memang lebih menang dalam ilmu silat dan tenaga daripada kawan ini.

Ketika ia memanah, anak panahnya meluncur sambil memperdengarkan suara nyaring.

Tiat Mo Lek sudah menyusul Lam Ce In ketika ia melihat aksinya si orang she U-bun.

Tentu sekali ia kuatir Ce In kena terpanah sebab kawan itu lari membawa tubuh Kui Ciang.

Ia lantas lompat seraya menyampok anak panah itu.

U-bun Thong mendongkol panahnya dirintangi.

Mo Lek pun bukannya tidak mendapat hajaran.

Anak panah^itu melesat sangat keras, meski ia menyampok, telapak tangannya tergetar dan terasa nyeri, hingga ia terperanjat.

"Bagus, bocah cilik!"

U-bun Thong berseru saking mendongkol.

"Kau berani menghalang-halangi aku, kau mesti dibunuh lebih dulu!"

Segera meluncur anak panah yang kedua, sekarang arahnya ke arah si bocah.

Tiat Mo Lek sudah sampai di tepi jurang.

Tidak ada jalan mundur untuknya.

Buat tangkis panah juga sukar.

Mendadak ia menjadi nekad, bukannya ia lompat nyamping atau menyampok, ia justeru berseru melemparkan dirinya ke bawah.

Lam Ce In melihat itu, ia kaget stekali.

Tapi kagetnya tak cuma sampai di situ.

Anak panahnya U-bun Thong sudah meluncur pula, sekarang ke arahnya.

Dalam kagetnya, ia menangkis meruntuhkan anak panah itu.

Ketika itu, U-bun Thong sudah lari mendekati.

"Orang she Lam, kau masih memikir untuk kabur?"

Tanyanya, mengejek.

"Taruh kata kau sendiri dapat kabur, tidaklah si orang she Toan! Untuk kebaikan kau, kau letaki orang she Toan itu, melihat kau seorang laki-laki, suka aku membiarkan kau lolos!"

Lam Ce In murka.

"U-bun Thong, kau majulah!"

Ia menantang.

"Mari kita melakukan pertempuran yang memutuskan!"

U-bun Thong tertawa.

"Buat apa aku melayani kau si orang yang bakal segeramenemui ajalnya?"

Katanya mengejek.

"Tapi suka aku memberi nasehat kepadamu! Mari menyerah! Jikalau kau tidak suka dengar nasehat baik, biarlah, kau boleh temani si orang she Toan membuang jiwa! Lihat ini panahku!"

U-bun Thong liehay dan telengas, dengan saling susul ia melepaskan anak panah yang kempat dan kelima.

Lam Ce In menjadi repot.

Ia mesti melindungi Kui Ciang yang ia terus gendong.

Tak leluasa ia menangkis, tak merdeka ia berlompatan dengan gesit seperti biasanya.

U-bun Thong tidak mau berhenti dengan panahnya.

Ia melepaskan terus menerus hingga tiba saatnya anak panah yang kesembilan, yang memilih kakinya Kui Ciang sebagai sasarannya.

Sekarang ini orang she Lam itu menghadapi bencana.

Ia sampai di tepi jurang hingga tak ada jalan lainnya lagi.

Ia mesti nekad melawan atau roboh terpaksa.

Tapi ia ingin hidup, ia ingin sahabatnya bebas.

Mendadak ia mengertak gigi, ia kata dalam hatinya.

"Toan Toako, kita sama-sama terbebas atau sama-sama terbinasa! Mari kita serahkan jiwa kita kepada Thian!"

U-bun Thong tidak mau memberi kesempatan orang berpikir, kembali ia menyerang dengan anak panah, sampai beruntun tiga kali!

Dalam keadaan sangat terancam itu, mendadak Lam Ce In berseru keras, sambil tangan kirinya memondong erat-erat tubuhnya Toan Kui Ciang, ia lompat turun, tangan kanannya mencekal keras goloknya!

Ia menelad perbuatannya Tiat Mo Lek!

U-bun Thong terkejut bahna heran.

Inilah ia tidak pernah sangka.

Ketika ia melongok ke bawah, ia melihat jurang curam dan gelap, ia berdiri menjublak.

"Dia terjun berdua, dia mestinya mati..."

Demikian pikirnya, la tidak berani terjun untuk menyusul.

Sebenarnya ia pun memperoleh tiga luka pedang hanya semuanya itu ringan.

Lam Ce In nekad tetapi ia membekal golok mustikanya.

Golok itu dipakai sebagai andalan terakhir.

Ketika ia lompat turun, dengan goloknya ia tancapkan ke tembok jurang.

Tiga kali ia berbuat demikian, hingga saban-saban tubuhnya tertahan tergantung.

Baru setelah itu ia tiba di dasar jurang, kakinya menginjak tanah yang keras.

Walaupun jiwanya ketolongan, jago she Lam ini tidak luput dari belasan luka-luka baret, hanya karena ia kuat, ia dapat bertahan.

Kalau lain orang, pastilah dia sudah rebah dengan napas empas-empis...

"Mo Lek! Mo Lek!"

Ce In memanggil beberapa kali, setelah ia dapat berdiri dengan tegar.

Belum berhenti panggilan itu, dari rumpun di samping terlihat sesosok bayangan hitam merayap keluar, dari mulutnya bayangan itu terdengar jawaban yang perlahan yang disusul rintihan.

Ce In tahu bocah itu kuat dan berkepala besar, maka itu, ia terkejut mendengar rintihannya.

"Mo Lek, bagaimana?"

Tanyanya cepat.

"Apakah lukamu parah?"

Si anak muda menggigit keras giginya atas dan bawah.

"Tidak seberapa,"

Sahutnya.

"Cuma kakiku keseleo... Bagaimana dengan paman Toan?"

Tak dapat bocah ini melupakan pamannya.

"Apakah kau membawa bahan api?"

Lam Ce In balik menanya.

"Ada,"

Jawab Tiat Mo Lek, yang terus merogo ke sakunya, untuk segera menyalahkannya.

"Ini!"

Katanya pula, tangannya diulur.

Di terangnya api tampak muka Kui Ciang sangat pucat, tubuhnya berlumuran darah, masih ada darah hidup yang meleleh keluar.

Bukan main berkuatirnya Ce In.

Ia lantas pondong sahabat itu, dibawa ke solokan, untuk mencuci luka-lukanya, buat segera diobati.

Untuk membersihkan darahnya, ia menyobek ujung baju.

Tiat Mo Lek merayap menghampirkan.

"Bagaimana, ada harapan?"

Tanyanya, berkuatir.

"Untuk sementara, darahnya sudah berhenti mengalir..."

Sahut Ce In, suaranya dalam.

"Bagaimana?"

Tanya pula Mo Lek. Ce In tidak lantas menjawab. Selang sedikit lama, baru terdengar suaranya.

"Toako bertubuh kokoh dan kuat tenaga dalamnya,"

Katanya.

"Nadinya pun belum berhenti. Yang perlu sekarang ialah pertolongan tabib..."

Mendengar itu, Mo Lek bergerak cepat untuk berduduk. Ia mementang matanya lebar-lebar.

"Bagaimana?"

Katanya, bingung.

"Di sini di mana kita dapat mencari tabib?"

"Jangan bergelisah!"

Kata Ce In.

"Mesti ada jalannya! Apakah baju dalammu bersih? Mari, kasih aku buat membalut lukanya..."

Ce In dan Mo Lek mandi darah, cuma pakaian dalamnya yang masih bersih.

Demikian mereka berdua bekerja.

Baru mereka selesai, dari atas jurang tertampak sinar api.

Ce In lantas mendekam.

Dari atas itu lantas terdengar suara orang.

"Aku tidak percaya tiga manusia itu masih hidup! Besok saja kita datang ke mari untuk mengangkat mayat mereka!"

"Setan bernyali kecil!"

Terdengar bentakan yang lain.

"Apakah kau takut jatuh dan nanti mampus karenanya? Kau peganglah pinggangku! Mari kita satu demi satu turun!"

"Benar!"

Kata orang yang ketiga.

"Kita makan gaji, kita mesti bekerja setia! Kita perlu lekas-lekas mendapatkan mayat mereka, supaya tayswe menjadi tenang hatinya!"

Itulah beberapa Wiesu, yang lagi menacari, yang mau turun ke jurang dengan menggunai bantuannya dadung.

"Mo Lek,"

Tanya Ce In gelisah, suaranya perlahan.

"Apakah dua-dua kakimu terluka?"

"Bukan, cuma sebelah yang keseleo,"

Sahut si bocah.

"Mari kasih aku lihat,"

Kata Ce In, sesudah mana ia menyambung tulang yang keseleo itu, untuk terus diuruti, setelah mana ia menabas cabang pohon, untuk batangnya dijadikan tongkat. Kemudian ia kata.

"Mo I ek! Inilah saat mati dan hidup! Lekas kita menyingkir!"

Suara itu dalam dan berpengaruh.

Ce In pun segera memanggul tubuhnya Kui Ciang.

Mo Lek menggigit giginya, ia bangun berdiri, lalu dengan menggunai tongkatnya itu, ia paksa ikut si orang she Lam menyingkir dari jurang itu.

Hampir tanpa berhenti, mereka lari sepuluh lie lebih, hingga jauh di sebelah depan mereka, mereka menampak samarsamar sebuah rumah sucinya malaikat tanah.

Mereka berlari-lari terus.

Mo Lek menguatkan hati, napasnya memburu.

Ia sudah lari jauh kira-kira dua puluh lie.

Lam Ce In mendengar napas orang makin memburu, ia menoleh.

Ia melihat Mo Lek mandi peluh, jalannya setindak demi setindak.

Ia merasa sangat terharu, kemudian ia berhenti untuk pasang telinga.

"Untuk mereka itu dapat menyusul, sedikitnya mereka memerlukan tempo satu jam,"

Pikirnya. Maka ia melanjuti pada si bocah.

"Saudara kecil, kau menderita... Mari kita singgah di dalam kuil malaikat tanah itu!"

Rumah berhala itu sudah rusak tidak keruan, sarang labahlabahnya pun banyak, akan tetapi aneh, di dalamnya mereka dapatkan satu orang yang lagi tidur menggeros di depan meja abu.

Dialah seorang tua dengan pakaian rombeng, kedua kakinya melintang, tongkatnya menjadi bantalnya.

Dia tidur nyenyak sekali, sebagaimana nyaring bunyi hidungnya mendengkur.

Di sisinya ada buli-buli arak, yang baunya menyerang hidung.

Setumpuk tabunan, apinya sudah mulai padam.

"Rupanya dia seorang pengemis pengembara,"

Kata Mo Lek.

Ce In mengawasi, lalu ia menyerukan suara perlahan bahna herannya.

Ia mendapat kenyataan, walaupun orang hanya tukang minta-minta dan pakaiannya banyak tambalannya, pakaian itu bersih, sedang tongkatnya yang hitam bukannya tongkat kayu hanya mestinya dari besi.

Mo Lek sangat letih, ia tak perduli apa juga.

Ia lantas menjatuhkan diri untuk berduduk.

Kedua kakinya terasa sangat sakit, begitu ia bercokol, begitu ia tak berkutik pula!

Lam Ce In masih bersangsi, akan tetapi ketika ia merasai tubuh Kui Ciang mulai dingin, terpaksa ia pun berduduk.

"Sayang tabunan itu sudah padam..."

Kata Mo Lek.

"Nanti aku tambahkan kayunya,"

Mengucap Ce In, yang terus menghampirkan si pengemis untuk mengambil beberapa potong kayu yang berserakan di sisi dia.

Orang she Lam ini heran atas tongkat orang, tanpa sanggup melawan bujukan hatinya, ia mengulur tangannya untuk menyentilnya perlahan.

Ia lantas mendengar suara yang luar biasa, bukan suara kayu, bukan juga suara besi.

Maka, entah tongkat itu terbuat dari bahan apa...

(Tambahan dari cetakan baru) Sekonyong-konyong pengemis itu membalik tubuhnya, terus ia bergerak untuk bangun berduduk.

Dengan lantas ia menunjuki gusarnya, dia kata.

"He, bocah, aku si tuan besar pengemis lagi enak-enak tidur, kenapa kau bikin banyak berisik hingga aku menjadi mendusin? Eh, eh, kamu, kamu orang apa?"

Dia terus menanya, sedang matanya kesap-kesip. Dia kaget untuk mendapatkan orang yang berdiri di depannya, orang yang mandi darah. Lam Ce In memberi hormat.

"Maaf, lo-toaya!"

Katanya. Ia memanggil "lo-toaya"

Atau tuan besar.

"Bukannya sengaja kami membuat berisik membikin kau mendusin! Sahabatku itu terluka, kami meminjam rumah suci ini untuk singgah dan beristirahat..."

"Kenapa kau terluka?"

Si pengemis tanya. Nampak dia masih heran.

"Kami ketemu berandal!"

Sahut Mo Lek.

"Ah!"

Mengeluh si pengemis.

"Jaman sekarang ini makin lama jadi makin tidak keruan macam! Kita terpisah dari kota raja Tiang-an Cuma tiga puluh lie, toh di sini masih ada orang jahat..."

Tiat Mo Lek tahu keterangannya itu mungkin disangsikan orang, akan tetapi ia mempunyai alasan apa lainnya?

Terpaksa ia mendUsta demikian.

Syukur si pengemis, habis mendumal, dia tak menanyakan lebih jauh.

Ketika itu Lam Ce In sudah letih bukan main.

Ia merasakan tulang-tulangnya seperti telah pada copot.

Akan tetapi, dibanding dengan Tiat Mo Lek, ia masih lebih mendingan.

Diam-diam ia memasang mata.

Ia mendapatkan mata si pengemis tajam luar biasa.

Itulah bukan mata dari kebanyakan tukang minta-minta.

Maka itu, ia kaget di dalam hati.

"Entahlah dia orang macam apa?"

Pikirnya.

"Celaka kalau dia seorang jahat. Rasanya tak sanggup aku menempur dia..."

Pengemis tua itu mengawasi Toan Kui Ciang.

"Lukanya sahabatmu ini tak ringan,"

Katanya.

"Memang,"

Sahut Ce In.

"Hebat kawanan penjahat tidak mempunyai perikemanusiaan itu, mereka telah membacoknya belasan kali..."

"Hawa udara sekarang sangat dingin, sahabatmu luka parah, ada kemungkinan dia bertambah berat keadaannya,"

Kata pula si pengemis.

"Nanti aku tolongi kamu menyalakan api, untuk kamu dapat menghangatkan diri."

Melihat orang baik hati, hati Ce In menjadi sedikit lega.

"Terima kasih, sahabat,"

Bilangnya.

"Memang aku hendak meminta beberapa potong kayu untuk dinyalakan."

"Kita sama-sama orang bersengsara, jangan sungkansungkan,"

Kata pengemis itu. Ia berhenti sebentar, ia tertawa, terus ia menambahkan.

"Beberapa potong kayu bakar ini masih kurang. Touw Te Kongkong biasa melindungi orang baik, maka itu baik kita pinjam meja abunya, pasti dia tidak bakal menyalahkan kita..."

Kata-kata itu disusul perbuatan si pengemis. Ia mengangkat tongkat hitamnya dan menghajar meja hingga roboh ringsak.

"Sungguh tenagamu besar, lo-jinke!"

Tia Mo Lek memuji.

"Aku sudah tua, aku sudah tak punya guna!"

Kata si pengemis tertawa.

"Rupanya meja ini sudah terlalu lanjut usianya, maka diketok perlahan saja, dia lantas habis nyawanya..."

Tabunan ditambah kayu, lantas nyalanya bertambah besar, suaranya juga meretek.

"Aku masih mempunyai setengah buli-buli arak, mari kita minum bersama,"

Kata lagi si pengemis, yang ramah.

"Kita minum seorang sedikit, guna menambah kesegaran!"

"Mana dapat kami mengganggu kau, lo-jinke?"

Kata Lam Ce In. Si pengemis tua tertawa.

"Seumurku aku biasa makan dan minum makanan dan arak orang secara Cuma-Cuma!"

Kata dia.

"Jikalau aku mesti menelad kamu, segala apa mesti dengan berterang, maka tak usahlah aku menjadi si tukang minta-minta lagi! Mari, mari! Habis minum dapat aku si tua mengemis pula!"

Dan ia mengulurkan buli-bulinya.

Lam Ce In mengangkat tangan guna menyambuti, ia membuka tutupnya buli-buli itu.

Lebih dulu ia membaui.

Ialah seorang Kang Ouw ulung, ia pandai membedakan bau arak yang dicampuri racun atau tidak.

Apabila ia tidak merasakan sesuatu, dengan hati lega ia mencegluknya satu kali.

"Baguskah arak ini?"

Si orang tua tanya, tertawa.

"Bagus, bagus!"

Ce In menjawab dengan pujian.

"Baunya pun harum, harum sekali!"

Akan tetapi air kata-kata itu bukan melainkan harum.

Setelah turun ke dalam perut, Ce In merasakan sesuatu yang mengagum ia.

Arak itu mendatangkan hawa hangat di dalam tubuhnya.

Ia tidak merasakan sari obat atau lainnya.

Ia menjadi heran juga.

Kecuali rasa hangat, lekas sekali, ia merasa segar, kesehatannya hampir pulih dalam sesaat itu.

"Ah, aku menduga keliru terhadapnya,"

Ia pikir. Ia menyesal yang ia sudah menaruh curiga sedang orang bermaksud baik. Habis Ce In, datang gilirannya Mo Lek minum arak itu. Ia mencegluk dua kali.

"Harum, harum!"

Ia memuji. Pengemis itu tertawa.

"Kamulah orang-orang yang mengerti barang baik!"

Dia memuji.

"Sebenarnya inilah arak simpanan seratus tahun yang sukar aku si orang tua mendapatkannya."

Ce In sudah mengetahui khasiatnya obat itu, ia tidak bersangsi sedikit juga.

"Terima kasih lo-jinke,"

Ia kata.

"Hanya sahabatku ini luka parah dan ia masih pingsan..."

"Tak apa, itulah mudah!"

Kata si pengemis.

Ia lantas pegang mulutnya Toan Kui Ciang, untuk dibuka, setelah mana, ia menuang araknya, kemudian terus ia meraba enteng ke punggung orang yang terluka tak sadar itu.

Tiba-tiba Kui Ciang bergerak, tubuhnya berbalik, kontan dia tumpah darah, yang menyembur.

Darah Itu hitam dan bau.

Tiat Mo Lek kaget, lupa pada kakinya yang sakit, ia berjingkrak bangun.

"Kau... kau... kau bikin apa?"

Tanyanya. Ia tahu pengemis itu orang luar biasa, tetapi melihat kelakuan orang, ia jadi curiga, maka ia jadi gusar sekali. Ia hendak mendamprat atau baru ia kata.

"Kau..."

Maka Lam Ce In sudah mengedipi mata padanya, dari itu lekas-lekas ia mengubah haluan, dampratannya berubah menjadi pertanyaannya itu.

"Terima kasih lo-jinke!"

Lam Ce In kata.

"Dengan darahnya keluar, maka tak usahlah kami menguatirkan pula jiwanya sahabatku ini!"

Mendengar itu barulah Mo Lek mendusin si pengemis justeru lagi menolongi. Ia menjadi malu sendirinya. Ce In lantas peluk tubuh Kui Ciang, untuk terus memanggilmanggil di telinga orang.

"Toako! Toako, sadarlah! Di sini siauwte! Apakah toako dengar siauwte?"

Kui Ciang tidak menjawab, hanya ia muntah darah pula. Baru habis itu, mendadak ia berseru.

"Su Toako! Su Toako, jangan pergi dulu, tunggu aku! An Lok San! An Lok San! Kau... kau... sangat kejam! Kalau nanti aku Kui Ciang mati, akan aku bekuk padamu!"

Ce In kaget. Kawannya itu telah membuka rahasia.

"Toan Toako! Toan Toako!"

Ia kata di telinga sahabat itu.

"Inilah aku! Inilah aku! Apakah kau sudah tidak mengenali aku?"

Kelihatannya Kui Ciang menjadi tenang, tetapi ia masih menyebut-nyebut.

"Su Toako"

Dan mencaci An Lok San, hanya sekarang ia seperti caranya orang sakit ngelindur.

Matanya si pengemis bersinar tajam kapan dia mendengar disebutnya nama An Lok San dan nama orang yang luka itu sendiri, paras mukanya juga menyatakan dia heran.

Hanya sekilas lalu, romannya kembali seperti biasa.

Dia menunjuk pada darah di mulut sakit itu dan kata pada Ce In.

"Darah yang telah berubah menjadi merah itu tak dapat kena ditelan pula. Sekarang biarlah dia dapat tidur barang sekejap."

Sembari berkata begitu, dengan kesehatan luar biasa, ia menotok tubuh Kui Ciang pada dua jalan darah.

Ia berlaku sebat, tetapi totokannya enteng.

Dengan lantas Kui Ciang berhenti ngelindur.

Maka lekas juga dia tidur pulas di dalam pelukan Ce In, yang sejak tadi masih memelukinya.

Lantas pengemis itu menghela napas lega.

"Syukur masih ada arakku hingga dapat darah dia dibikin lumer ilnn keluar, kalau tidak, habislah dayaku si pengemis!"

Katanya.

Ia tertawa sekarang.

Sebagai ahli silat, Ce In ketahui si pengemis ialah seorang liehay.

Totokan dia itu luar biasa dan besar faedahnya.

Ia ketahui, dengan darah kotornya keluar, Kui Ciang menjadi mendapat darah bersih.

Ia tahu baik, ia sendiri tak dapat menotok cara demikian.

Oleh karena lenyap semua kecurigaannya, lantas Ce In berkata, menanya.

"Lo-cianpwe, terima kasih untuk pertolonganmu ini! Apakah lo-cianpwe sudi memberitahukan she dan nama besar lo-cianpwe kepadaku?"

Si pengemis tertawa.

"Tak usahlah kau repot menanyakan tentang siapa diriku,"

Sahutnya.

"Sebaliknya ingin aku menanya lebih dulu kepada kamu. Rupanya musuh kamu bukannya penjahat, hanya An Lok San!"

"Tidak salah!"

Tiat Mo Lek menalangi Ce In menjawab.

"Benarlah itu babi terokmok yang harus dicincang mampus berlaksa kali! Dia telah menganiaya Paman Toan sampai paman menjadi begini rupa! Tadi aku tidak tahu kau siapa, lo-cianpwe, terpaksa aku mendusta, sekarang aku minta lo-cianpwe suka memberi maaf padaku."

"Kau tidak salah!"

Berkata si pengemis tertawa.

"Walaupun An Lok San menjadi Ciat-touw-su dari tiga kota, dia tak bedanya dengan penjahat!"

Mo Lek masih hendak bicara, ketika dia batal secara mendadak.

Dia berlc-ga hati melihat si pengemis tidak menggusarinya.

Tapi barusan dia berjingkrak, itulah berbahaya untuk kakinya yang terluka, di waktu baru lompat, dia tidak merasa apa-apa, tapi sekarang dia merasa nyerai sekali, hingga hampir dia menjerit karenanya.

"Engko kecil jangan bergerak!"

Berkata si pengemis tua.

"Aku si pengemis, kecuali minta-minta, masih ada kebisaan pada tanganku, maka jikalau kau percaya aku, mari aku obati juga lukamu!"

Mo Lek juga lenyap semua kecurigaannya.

"Terima kasih, lo-cianpwe, terima kasih!"

Katanya.

"Suka sekali aku menerima pertolongan lo-cianpwe."

Pengemis itu sudah lantas "memberikan pertolongannya.

Ia meraba ke kaki orang yang terluka dan mengurutnya perlahanMahan, ia menekan jalan darahnya.

Mo Lek merasa heran.

Seketika itu rasa nyerinya seperti lenyap, hingga ia dapat meluncurkan kakinya dan menendang!

Saking girang, ia tertawa lebar.

"Lo-jinke, sungguh lo-jinke liehay!"

Dia memuji.

"Sekarang ini aku sudah tidak merasa sakit, dapat aku berkelahi satu kali lagi!"

Sebaliknya si orang tua mengasih lihat roman sungguhsungguh.

"Tidak dapat!"

Katanya keras.

"Jangan kata berkelahi, bergerak pun kau tak dapat sembarang bergerak! Luka kamu berdua bukannya ringan! Kau tahu, melihat gerak nadi kamu, kamu rupanya habis berlompat dari tempat yang tinggi sekali hingga anggauta-anggauta dalam tubuhmu pada bergerak. Sekarang ini baru luka luarmu yang tersembuhkan, baru darahmu dapat disalurkan pula. Untuk menyembuhkan luka di dalam itu, kamulah yang mesti berikhtiar sendiri. Eh engko kecil, apa kau mengerti ilmu semedhi, untuk menyalurkan napasmu?"

Kembali Ce In dibuat kagum oleh pengemis tua ini.

Orang seperti menyaksikan sendiri peristiwa tadi.

Dia jadinya pandai mengobati dan pandai ilmu silat juga, matanya sangat tajam.

Dengan dia menanya Mo Lek saja berarti dia sudah menduga bahwa ia mengerti ilmu semedhi itu.

"Aku mengerti sedikit, lo-jinke,"

Mo Lek jawab.

"Bagus!"

Berseru pengemis itu.

"Sekarang telah pulih kesegaran kamu, kamu boleh duduk bersemedhi, guna menyalurkan pernapasan kamu, untuk mengembalikan seluruh tenaga kamu. Kamu boleh bersemedhi dengan hati tenang, apa juga terjadi di sekitar kamu, jangan hiraukan! Kamu mesti dapat menenangkan diri hingga kamu melihat seperti tak melihat, mendengar seperti tak mendengar. Baiklah, sang tempo pun sudah tidak ada lagi, lekas kamu mulai bersemedhi!"

Ce In mengerti maksudnya pengemis itu.

Dengan tidak menanyakan sampai jelas urusan mereka, si pengemis ingin kesegaran mereka pulih dan tenaga mereka kembali di dalam tempo yang paling cepat.

Rupanya pengemis itu juga sudah berjaga-jaga kalau-kalau orang atau orang-orangnya An Lok San datang menyusul.

Sebagai orang yang telah berdasar baik, Ce In bersemedhi tak lama, lantas nyamanlah ia merasa seluruh tubuhnya.

Justeru itu, ia lantas mendengar ringkikan kuda dan suara bicara orang yang telah lantas tiba di depan kuil Ia mendengar satu suara.

"Di dalam kuil itu ada sinar api, mari kita lihat!"

Walaupun ia merasa pasti si pengemis seorang luar biasa, Ce In toh berkuatir.

"Tidak kusangka, musuh datang begini lekas,"

Pikirnya.

"Sekarang aku lagi bersemedhi di saat paling penting, tidak dapat aku membantu dia... Dapatkah dia bertahan seorang diri?"

Tengah Ce In berpikir begitu, serombongan orang sudah bertindak masuk di ambang pintu kuil.

Benar saja mereka orang-orangnya An Lok San, bahkan yang memimpinnya ialah U-bun Thong serta Leng-ho Tat.

U-bun Thong itu cerdik, tidak menanti orang-orangnya memeriksa lembah atau selat, ia sudah lantas dapat menerka, ia segera menyusul dengan menunggang kuda.

Di sebelah Leng-ho Tat, ia telah minta bantuannya dua jago lainnya dari istana, ialah Gu Cian Kin dan Liong Ban Kun.

Mereka ini ialah dua di antara empat Siewie yang mendapat Su Toa Kimkong atau Empat Kimkong Besar.

Mereka ini tak seliehay U-bun Thong sendiri, atau Ut-tie Pak atau Cin Sian, tetapi mereka masih lebih menang daripada Leng-ho Tat.

Demikian mereka sampai di rumah suci malaikat tanah itu.

U-bun Thong bertindak di depan.

Begitu ia tiba di ambang pintu, ia lantas mendengar dampratan, yang ia duga mesti keluar dari mulutnya seorang tua.

"He, dari mana datangnya sekawanan anak kambing haram hingga mereka mengganggu ketenteramannya aku si pengemis di dalam rumah suci ini?"

Demikian dampratan itu. U-bun Thong menjadi gusar, hingga hendak ia mengunibar kegusarannya itu, atau mendadak Leng-ho Tat, dengan muka pucat dan tubuh menggigil, dengar suara gemetaran, berkata.

"Maaf, maaf! Aku yang muda tak ketahui lo-cianpwe berdiam di sini! Harap lo-cianpwe terima hormatnya aku yang muda!"

Si pengemis mengangkat kepalanya, sepasang matanya mencilak.

"He, Leng-ho Tat, bocah, kau masih mengenali aku, ya?"

Katanya dingin. Lalu ia menuding dengan tongkatnya untuk membentak.

"Bocah, kalau kau masih mengenali aku, kau mestinya masih ingat juga tabiatku! Apakah kau masih tidak mau lekas-lekas menggelinding pergi?"

Leng-ho Tat ketakutan, mukanya menjadi sangat pucat.

"Ya, ya,"

Sahutnya, terus ia membalik tubuh, untuk berlari.

U-bun Thong gusar sekali, ia mengulur tangannya, menjambak rekan itu.

Leng-ho Tat kaget.

Baru sekarang ia ingat ia ada bersama kawan itu.

Ia menjadi malu dan takut, mukanya menjadi merah, dengan terpaksa, lekas-lekas ia kata.

"U-bun Tayjin, locianpwe itu ialah Se-gak Sin Liong Hong-hu Sianseng!"

Mendengar itu, U-bun Thong juga terperanjat.

Ia memang ketahui orang bernama Hong-hu Siong itu, yang gemar merantau, yang hidupnya sebagai pengemis.

Dialah satu di antara Kang Ouw Cit Koay, Tujuh Siluman Kang Ouw.

Karena dia jago Hoa San Pan dan gerak-geriknya mirip "Naga sakti yang terlihat kepalanya tak ekornya,"

Dia memperoleh julukannya itu Se-gak Sin Liong, Naga Sakti dari Se-gak Hoa San, gunung Hoa San di barat.

Leng-ho Tat asal orang Hek Too, Jalan Hitam, kira sepuluh tahun yang lalu dia turut gurunya membegal serombongan saudagar, gurunya itu kejam, sudah membegal juga membunuh.

Mereka bertemu Hong-hu Siong, mereka kena dibekuk.

Sang guru lantas dihukum rangket tiga puluh rotan.

Dia, yang itu waktu belum terkenal dan baru masuk golongan kelas dua, diberi keringanan, yaitu Cuma dirangket lima rotan, meski begitu karena luka-lukanya dia mesti merawat diri setengah tahun.

Dia tidak sangka, di sini dia bertemu pula jago dari gunung Hoa San itu.

Ketika U-bun Thong baru menginjak ambang pintu, ia lantas mendapat lihat keadaan di dalam ruang berhala malaikat itu.

Lam Ce In dan Tiat Mo Lek lagi duduk bercokol dan Tan Kui Ciang rebah di dekat mereka.

Di depan mereka itu berada si pengemis.

Meski ia jeri terhadap pengemis itu, ia toh tidak dapat melepaskan orang-orang yang lagi dicarinya.

Ia berpikir.

"Toan Kui Ciang sudah mirip mayat, Lam Ce In telah terluka, taruh kata pengemis bangkotan ini liehay, mustahil tidak dapat aku melawannya? Aku toh ada bersama saudara-saudara Gu dan Liong! Dia kesohor, itu baru pendengaran saja! Mustahil dia benar-benar liehay luar biasa?"

U-bun Thong jago kelas satu, dia tidak dapat disamakan dengan Leng-ho Tat dan lainnya, walaupun dia dikejutkan oleh nama Se-gak Sin Liong, si Naga Sakti dari gunung Hoa San, dia toh tidak takut.

Maka dia maju pula satu tindak, dengan merangkap kedua tangannya, dia memberi hormat.

"Hong-hu Sianseng,"

Katanya.

"Kita ada seumpama air sumur yang tidak saling bentrok, oleh karenanya tidak ada niatku untuk mengganggu kau, hanya oleh karena aku mendapat firman Sri Baginda Raja, untuk menangkap orang jahat yang menentang raja, tak dapat aku tak datang ke mari. Aku minta, sianseng, sudi apakah kau membiarkan aku dapat melakukan tugasku ini."

Biasanya U-bun Thong berkepala besar, maka itu inilah yang pertama kali dia bicara dengan cara sungkan dan hormat terhadap lain orang.

Hong-hu Siong tidak menyambut sikap menghormat itu sebagaimana layaknya.

Sebaliknya, kedua matanya mencilak.

Dan ia tertawa dingin pula.

"Ha, aneh!"

Katanya.

"Memang aku si pengemis tua kadangkadang suka juga meminta belas kasihan secara memaksa akan tetapi sejak dahulu belum pernah ada sepak terjangku yang ingin menggulingkan pembaringan naga atau umpama kata perbuatan mengemplang mati kepada putera mahkota! Maka kenapakah sekarang mendadak aku dituduh menjadi orang jahat yang melawan Raja?"

U-bun Thong menahan kemendongkolannya, dia menahan sabar sebisa-bisa.

"Aku bukan menyebut kau, sianseng, aku hanya menunjuk kepada ketiga sahabat itu!"

Kata dia seraya menuding Toan Kui Ciang bertiga.

"Mereka ini membakar istananya An Ciat-touw-su serta sudah juga melukakan beberapa Siewie istana! Aku menjadi Liong Kie Touw-ut, aku mengepalai sekalian Siewie itu, tak dapat tidak, aku mesti mengundang kedua sahabat ini pergi ke kantor pembesar negeri untuk menanya jelas kepada mereka!"

Hong-hu Siong menggaruk-garuk kepalanya.

"Ah, urusan ini sungguh membikin aku si pengemis tua menjadi bingung!"

Katanya. Mau atau tidak, U-bun Thong menunjuki juga rasa kemendongkolannya.

"Aku telah bicara begini jelas, ada apa lagi yang masih membingungkan kau?"

Tanya dia.

"Nah, kau lihat saja keadaan mereka itu!"

Kata Hong-hu Siong.

"Sahabat she Toan itu, jiwa dia pun tak dapat terjamin akan dapat tertolong atau tidak! Menurut keterangan mereka, mereka sudah bertemu kawanan penjahat yang mau merampas harta benda dengan melakukan pembunuhan jiwa orang, mereka melawan, mereka tak berdaya, maka terjadilah lukaluka begini macam! Sebaliknya kau membilang merekalah orang-orang jahat yang menentang Raja! Mereka Cuma dua orang dewasa serta seorang bocah cilik, mungkinkah benar mereka menyateroni rumahnya An Lok San untuk melakukan pembakaran serta mencoba melakukan pembunuhan? Hm! Hm! Tidak, aku tidak percaya sama sekali! Kecuali kau keluarkan firman raja untuk diperlihatkan padaku!"

U-bun Thong tak dapat menahan sabar lagi. Dia gusar.

"Aku memandang hormat kepada kau sebagai seorang cianpwe Rimba Persilatan, aku berlaku luar biasa sungkan terhadapmu!"

Dia kata keras.

"Kenapa kau sebaliknya mempersulit aku? Kejahatan itu baru dilakukan mereka, didalam keadaan sangat kesusu, mana sempat aku meminta firman Sri Baginda Raja? Kau lihatlah seragamku ini! Akulah Liong Kie Touw-ut! Mungkinkah palsu?"

Hong-hu Siong tertawa dingin.

"Sukar untuk dibilang! Sukar!"

Katanya.

"Di jaman seperti sekarang ini ada banyak penjahat yang memalsukan diri menyamar menjadi pembesar negeri! Laginya, bukankah kau barusan omong dari hal firman raja? Dan sekarang kau tidak dapat membuktikannya! Maka terang sekali kau sudah omong dusta! Satu kali kau sudah mendusta, aku si pengemis tua tidak dapat percaya lagi pada kau!"

U-bun Thong gusar hingga dia kelabakan.

Tapi dia masih menginsafi kedudukan pengemis itu.

Maka dia mencoba menguasai dirinya, masih dia ingin bicara dengan caranya kaum Kang Ouw.

Dia dapat berlaku sabar, tidak demikian dengan kedua kawannya yang menjadi jago-jago istana itu.

Sudah belasan tahun Hong-hu Siong tak muncul di muka umum, kedua orang itu tidak kenal dia.

Maka juga belum berhenti suara Hong-hu Siong mendengung, mereka berdua sudah menghunus senjatanya masing-masing.

Gu Cian Kin bergegaman sebuah kapak soan-hoa-hu yang besar dan berat, dan Liong Ban Kun bersenjatakan kim-pwe-too yang tebal.

Sembari maju mereka berseru.

"Segala pengemis sebagai kau berhak untuk membutuhkan firman Sri Baginda Raja? Hm! Hm! Kau menghendaki firman? Nah, inilah dia firmannya!"

Dengan berbareng, mereka itu menyerang.

Hong-hu Siong mengangkat tongkatnya untuk dilintangi, guna menangkis, hingga di situ terdengarlah bentrokan yang sangat keras yang memekakkan telinga.

Ia pun berseru.

"Inilah firman yang tak tepat!"

Bentrokan itu mendatangkan lelatu api.

Tapi yang hebat ialah akibat lainnya.

Tubuh Gu Cian Kin dan Liong Ban Kun besar seumpama badan kerbau, akan tetapi tubuh mereka itu mental hingga ke luar pintu kuil!

Kagetnya U-bun Thong tidak terkira.

Kedua kawan itu ahliahli silat Gwa-kang yang liehay, yang tenaganya besar luar biasa.

Kapaknya Cian Kin saja berat lima puluh enam kati, dan goloknya Ban Kun berat empat puluh tiga kati.

Di lain pihak, tongkat Hong-hu Siong tetap sebatang tongkat, walaupun itu terbuat dari besi.

Maka dihajar kapak dan golok berat, mestinya tongkat itu kutung buntung!

Kejadiannya taklah demikian.

Tongkat itu utuh, tak kurang suatu apa, sebaliknya, kapak dan golok gompal!

Dan anehnya, kecuali senjata mereka rusak bercacad, tubuh mereka mental terbang!

Baru sekarang U-bun Thong menginsafi liehaynya si Naga Sakti dari gunung Hoa San, jadi nama orang terkenal bukan terkenal melulu.

Hebat kepandaian si pengemis dalam hal ilmu meminjam tenaga untuk menghajar lawan.

Itulah kepandaian di puncaknya kemahiran.

Dengan kulit mukanya merah padam, U-bun Thong menghampirkan si pengemis.

Ia mengulur sebelah tangannya seraya berkata dengan pujiannya.

"Sungguh aku kagum! Sungguh aku kagum! Lo-cianpwe, dengan memandang kepada muka terang lo-cianpwe, suka aku U-bun Thong menyudahi saja urusan ini sampai disini!"

Hong-hu Siong melemparkan tongkatnya, ia tertawa lebar.

"Terima kasih untuk kebaikan hati Touw-ut!"

Sahutnya.

Ia pun mengulur tangannya, guna menyambuti tangan si pahlawan istana, guna berjabatan.

U-bun Thong menjadi ahli menotok jalan darah, dia kesohor sekali.

Di waktu tangan mereka bersampokan, dengan lantas dia mengerjakan jeriji-jeriji tangannya, tengah, telunjuk dan manis, untuk menotok si pengemis.

Sebab dengan sikapnya yang manis itu dia lagi menggunai akal muslihat keji, supaya diluar tahu orang, diluar dugaan, dapat dia menotok!

"Tak usah sungkan!"

Kata Hong-hu Siong.

"Silahkan Touw-ut berangkat pergi!"

Mendadak U-bun Thong kaget.

Mendadak jari-jari tangannya membentur telapakan tangan yang panas seperti bara marong!

Tak tahan dia untuk tidak menjerit keras.

Rasa nyerinya segera menyerang ulu hatinya.

Lekas-lekas dia melepaskan jabatan tangannya, untuk lompat mundur ke pintu, untuk terus mengangkat langkah panjang!

Tiat Mo Lek menyaksikan peristiwa di depan matanya itu, ia girang bukan kepalang.

"Bagus! Bagus!"

Serunya.

"Aduh...!"

Dan ia meringis-ringis.

Bocah ini masih rendah pokok dasar tenaga dalamnya, di saat bersemedhi itu, dia tak dapat berseru semacam itu, maka juga habis berseru kegirangan, ia menjerit kesakitan.

Hong-hu Siong mengerutkan alisnya.

"He, bocah, mengapa kau tak dengar nasihatku si orang tua?"

Dia menegur.

"Sudah kukatakan, apa juga yang terjadi, tak dapat kau usil, sekarang kau menentangnya!"

Meski dia menegur, pengemis itu toh lekas-lekas menolongi bocah itu dengan jalan mengurutnya, guna membantu mengumpul pula tenaga dalamnya itu.

Sementara itu, semua musuh sudah kabur, maka kuil kembali kepada ketenangannya.

Hong-hu Siong menggunai ujung tongkatnya mengorek api, untuk dibikin menyala pula.

Ia berdiam, seperti ia lagi memikirkan sesuatu.

Tak jarang ia melongok ke arah pintu, ke luar pintu.

"Ha, langit bakal lekas menjadi terang!"

Tiba-tiba ia berkata seorang diri.

Ketika itu Lam Ce In sudah selesai dengan semedhinya, maka tenaganya bakal segera pulih seluruhnya.

Dia menyaksikan kejadian barusan, dia dapat mengendalikan diri, tetapi sekarang, melihat kelakukannya si pegemis, dia heran, hingga ingin dia bicara.

Tapi justeru itu Hong-hu Siong tiba-tiba bangun berdiri, untuk memesan dengan sungguh-sungguh.

"Sebentar, apa juga yang terjadi, aku minta kamu kedua tuan-tuan jangan campur tahu!"

Itulah pesan yang tadi, yang sekarang diulang, hanya sekarang i lengan terlebih sungguh-sungguh. Ce In berdiam, ia heran. Katanya di dalam hati.

"Kenapa dia mengulagi pesannya ini begini wanti-wanti? Mungkinkah bakal terjadi pula peristiwa yang luar biasa, yang diluar sangkaan?"

Tengah Lam Ce In berpikir itu, telinganya mendengar suara kelenengan kuda yang datangnya jauh dari luar kuil. Ia menjadi heran, maka ia menduga-duga. Ia ingat kepada An Lok San.

"Sekalipun U-bun Thong sudah kalah, dia masih mempunyai pahlawan siapa lagi yang gagah?"

Demikian terkanya.

"Taruh kata ada datang lagi beberapa orang, mereka pasti bukannya lawan dari Hong-hu Siong. Ah, dasar orang yang usianya sudah lanjut, cara bicaranya pun menjadi rada melit... Aku telah mengenal ilmu silatmu, buat apa kau memesan lagi berulangulang?"

Suara kelenengan terdengar makin dekat.

Hong-hu Siong terus duduk bersila.

Wajahnya nampak luar biasa.

Ia seperti bergelisah dan berduka.

Ce In sekarang telah mendapat kepastian, orang yang datang itu Cuma seorang penunggang kuda.

Tentu saja, ia menjadi semakin heran.

Ia kata dalam hatinya.

"Dengan satu dua gebrakan, Hong-hu Siong dapat mengusir pergi pada Ubun Thong. Habis, ada siapa lagi yang dapat membuatnya jeri?"

Selagi ia berpikir itu, Lam Pat melihat masuknya seorang ke dalam kuil.

Untuk herannya, ia melihat seorang nona dengan pakaian serba putih, la tadinya menyangka seorang pria yang romannya gagah dan bengis, tak tahunya seorang gadis remaja yang cantik manis, yang tubuhnya ramping!

Begitu ia bertindak di ambang pintu, mata si nona diarahkan ke seluruh ruang.

Ia melihat seorang rebah karena terluka parah dan dua orang lagi berduduk bersemedhi dengan tubuhnya berlepotan.

Darah.

Ia nampaknya heran.

Tapi terang sasarannya bukan Toan Kui Ciang.

Segera ia menyapu ke arah Hong-hu Siong, terus ia mengawasi tajam.

"Bangsat tua she Hong-hu.""

Sekonyong-konyong ia mendamprat.

"Hari ini telah tiba hari kematianmu! Masih kau tidak mau lekas berbangkit buat menerima kebinasaanmu?"

Hong-hu Siong mengangkat kepalanya. Dia memandang si nona itu. Dia tak menjadi gusar atau kurang senang.

"Apakah kau Nona He?"

Dia tanya perlahan, tenang.

"Aku telah menduga bahwa kau bakal mencari aku. Kita berdua tidak berselisih tidak bermusuh, sekarang ini pertemuan kita ialah pertemuan yang pertama kali, mengapa kau hendak membunuh aku?"

Nona itu memegang gagang pedangnya.

"Bangsa ceriwis dan cabul yang jahat, siapa pun berhak membunuhnya!"

Ia kata bengis.

"Apakah untuk itu di antara kita mesti ada permusuhan dulu?"

Ce In lagi bersemedhi akan tetapi mendengar kata-kata si nona, dia terkejut.

Tentu sekali, herannya menjadi bertambah.

Aneh sikapnya dua orang itu.

Hong-hu Siong memang aneh tingkah lakunya, di dalam kalangan Kang Ouw ada yang membusukinya, tetapi di mata ia, dialah seorang gagah perkasa yang berhati mulia, yang sering berbuat baik.

Sekarang si nona mengatakan Hong-hu Siong cabul dan jahat, untuk itu Hong-hu Siong katanya harus dibunuh.

Ia heran, ia tidak percaya!

Ia menyangsikan pendengarannya itu.

Seorang gagah perkasa dikatakan cabul dan jahat, dia mesti gusar sekali.

Tidak demikian dengan Hong-hu Siong si jago.

Dia tetap sabar.

"Siapakah orangnya yang bicara demikian terhadapmu?"

Dia tanya, perlahan. Biar bagaimana, suaranya tawar.

"Tak dapat kau perdulikan itu!"

Si nona menjawab dengan bentakannya.

"Nama busukmu sudah tersiar sangat luas! Apakah kau tidak punya telinga untuk mendengarnya?"

"Tidak apa kau tidak sudi menyebutkannya,"

Kata Hong-hu Siong, tenang luar biasa.

"Tanpa kau membilangnya, aku telah dapat menerka beberapa bagian. Sekarang aku hendak tanya kau, bukankah kau mendengarnya dari seorang yang kau paling percaya?"

Nona itu menjadi gusar.

"Aku bukan datang ke mari untuk mendengar pelbagai pertanyaanmu!"

Katanya keras.

"Hm! Apakah kau hendak memancing keteranganku supaya kau dapat pergi dengan diam-diam untuk membunuh orang itu? Jangan kau bermimpi! Sekarang aku menghendaki kau terbinasa di ujung pedangku ini!"

Hong-hu Siong menanya pula.

"Kau hendak membunuh aku. Adakah itu pikiran kau sendiri atau kau diperintahkan lain orang?"

Nona itu agaknya tidak sabaran. Dia menegur.

"Apakah kau masih hendak memutar lidahmu untuk memperlambat waktu?"

"Bukan! Aku hanya tak sudi menjadi setan penasaran yang mati tidak keruan!"

Sahut Hong-hu Siong.

"Jikalau kau hendak membunuh aku, kau mesti mengasih keterangan supaya aku mati puas!"

Si nona menahan sabar.

"Bagaimana kalau pikiranku sendiri? Bagaimana kalau perintahnya lain orang?"

Dia tanya.

"Jikalau itu kehendakmu sendiri, kau harus mempunyai bukti yang cukup kuat untuk membeber kejahatanku, supaya aku menjadi rela menyerah."

Kata-kata Hong-hu Siong ini juga jadi pemikirannya Lam Ce In. Nona itu melengak sejenak. Dia seperti tidak mempunyai bukti untuk menunjuki kejahatan orang.

"Jikalau lain orang yang hendak membinasakan aku!"

Kata pula Hong-hu Siong, tanpa menanti orang sempat berpikir.

"Maka pergilah kau pulang untuk memberitahukan dia itu bahwa di dalam dunia ini ada terlalu banyak urusan yang sangat sukar dibedakan kebenaran dan kepalsuahnya, karena itu kau suruhlah dia bersabar lagi sekian waktu, sampai nanti ketahuan duduknya hal yang sebenarnya. Selama hidupnya, aku Hong-hu Siong, mungkin aku juga pernah melakukan sesuatu perbuatan yang buruk, akan tetapi kopiah kecabulan dan kejinahan pastilah tak dapat dipakaikan di atas kepalaku!"

"Aku tak percaya obrolan setanmu!"

Bentak si nona, gusar.

"Aku Cuma tahu kaulah si hantu jahat yang tak ada kejahatan apa juga yang kau tak lakukan! Hm! Hm! Apakah kau takut mati, hantu? Percuma-Cuma kau mainkan lidahmu untuk menyangkal, maka kau bangkitlah menyambut "

Pedang!"

Hong-hu Siong tertawa.

"Jikalau aku takut mati, tidak nanti aku menjanjikan kau datang ke mari!"

Katanya.

"Bagus!"

Kata si nona.

"Kalau begitu, kenapa kau masih tidak mau menggeraki tanganmu? Apakah bukan kau masih hendak menantikan beberapa kawanmu lagi?"

"Seumurku aku tidak mempunyai kawan!"

"Baiklah! Kau mempunyai kawan, baik! Kau tidak mempunyai kawan, baik juga! Sekarang aku hendak mengandalkan pedangku ini untuk mengadu jiwa denganmu!"

"Jikalau kau benar hendak membunuh aku, kau bunuhlah! Pasti aku tidak mau menggeraki tangan terhadapmu!"

Nona itu berdiri menjublak.

"Aku tidak akan membunuh orang di tangan siapa tak ada sepotong besi juga! Lekas kau ambil tongkatmu!"

"Aku sudah bilang tidak mau menggeraki tanganku, pasti aku tidak akan menggerakinya! Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah! Jikalau tidak, hendak aku pergi!"

Nona itu tetap hendak menggunai cara kaum Kang Ouw untuk membunuh orang di depannya itu, sekarang Hong-hu Siong membantah, dia menjadi hilang pegangannya.

Maka itu ia terus berdiam saja "Sekarang aku telah ketahui tentang dirimu,"

Berkata Honghu Siong, sabar.

"Dan aku ketahui juga siapa itu yang menghendaki jiwaku! Jikalau aku kehilangan jiwaku tetapi dengan begitu dapat aku membikin lenyap penasaran sesuatu orang, itu juga suatu perbuatan baik! Baiklah, telah aku bicara, apabila tetap kau tidak hendak membunuh aku, aku si pengemis tua mau pergi!"

Nona itu menggigit giginya, dia menjumput tongkat di tanah.

"Bangun!"

Serunya.

"Sambutlah!"

Hong-hu Siong menyambuti tongkatnya, untuk dilemparkan ke sisinya. Sembari tertawa, dia kata.

"Apa yang diri sendiri tak menyukai, janganlah itu dilakukan atas diri lain orang! Aku pikir, pepatah ini cocok denganmu, ialah kau juga pasti tidak menyukai lain orang memaksakan kau melakukan sesuatu yang kau tak sukai!"

Nona itu menggigit gigi pula. Ia mengangkat pedangnya dan membentak.

"Baik! Kau hendak menggunai akal muslihatmu ini untuk meloloskan jiwamu! Tak dapat aku diperdayakan! Kau mesti dibunuh!"

Kali ini dia benar-benar telah mengambil keputusannya.

Segera pedangnya meluncur ke dadanya Hong-hu Siong!

Di saat ujung pedang maut itu hendak merampas jiwa si pengemis, mendadak ada sinar putih bagaikan rantai perak berkelebat, lalu terdengarlah suara senjata bentrok.

Pedang si nona kena tertangkis mental!

Hong-hu Siong menghela napas.

"Lam Tayhiap, buat apa kau usilan?"

Katanya perlahan. Tapi Lam Ce In, yang telah bergerak secara tiba-tiba, tidak membenarkan jawabannya, hanya dia memandang si nona, untuk berkata dengan keras.

"Nona, jikalau kau hendak membunuh orang, kau harus memakai aturan! Kau menuduh Hong-hu Cianpwe sebagai manusia cabul dan jahat tetapi kau tak dapat menunjuki buktinya! Tak puas aku si orang she Lam dengan caramu itu!"

Si nona menarik pulang pedangnya, untuk diperiksa, maka ia melihat ujung senjata itu telah gompal sedikit. Ia menjadi sangat gusar.

"Kau membantu setan ini, kau juga pasti bukan orang baikbaik!"

Dia membentak.

"Baik! Kau tidak puas, akan aku bunuh kau dulu, baru kita bicara lagi!"

Si nona menyangka Ce In konco Hong-hu Siong, ia lantas menyerang dengan sengit sekali, hingga pedangnya itu bersinar berkelebatan.

Tiga kali beruntun ia menikam bagian-bagian anggauta yang berbahaya karena selama itu Ce In terus main mundur atau berkelit.

Menampak demikian, Ce In pun jadi panas hati, maka ingin ia menabas kutung pedang orang.

Begitulah ia membacok dengan hebat!

Si nona tahu lawan menggunai golok mustika, ia mau menyingkir dari bentrokan Di saat Ce In hendak berseru.

"Kena!", mendadak ia tarik pulang pedangnya secara lincah sekali, untuk setelah itu, segera menikam pula! Ce In terperanjat. Syukur ia tidak menabas dengan sepenuh tenaganya. Dengan tindakan "Poan Liong Jiauw Pou,"

Ia menyingkirkan dirinya, goloknya ditarik untuk melindungi tubuhnya.

Meski demikian, ia masih terlambat, ujung bajunya masih kena tertikam!

Si nona tak berhenti sampai disitu, terus dia mendesak, terus dia menikam berulang-ulang.

Ce In telah mendapat .pulang tenaganya,, akan tetapi karena rangsakan si nona, ia repot juga, ia sampai Cuma bisa membela diri.

Pembelaan dirinya itu kokoh sekali, ia pun membuat si nona tak mampu menoblosnya.

Ketika itu juga Mo Lek telah pulih kesehatannya sampai tujuh atau delapan bagian.

Dia tetap berdiam di tempatnya, sambil beristirahat, ia menjagai Toan Kui Ciang.

Di lain pihak, dengan perasaan tertarik, ia menonton pertempuran itu.

Ia kagum untuk kepandaian menggunai pedang dari nona itu.

Ia masih muda tetapi ia mengerti baik halnya ilmu pedang.

Maka ia kata dalam hatinya.

"Kelihatannya ilmu pedang nona itu tak dibawahnya ilmu pedang Paman Toan dan Ceng Ceng Jie..."

Lam Ce In melayani dengan ilmu golok Yu Sin Pat-kwa Toohoat, maka dia bergerak dan menjaga diri dalam kedudukan "Delapan pintu"

Dan "Lima tindak".

Sedikit juga dia tak kacau meskipun dia didesak hebat.

Selama bertempur itu, dengan perhatiannya, dia mulai menginsafi ilmu pedang nona itu.

Begitulah satu kali mendadak dia berseru sambil membacok hebat, akan kemudian merangsak terus sama hebatnya.

Si nona, dari merangsak menjadi kena terdesak, hingga ia terpaksa main mundur.

Begitu ketarik hati Mo Lek hingga ia berseru memuji.

"Bagus! Bagus!"

Mo Lek telah bersemedhi cukup, tak takut ia terganggu karena seruannya itu.

Akan tetapi, melihat lagaknya itu, Honghu Siong mendelik kepadanya.

Menyusul seruan Mo Lek, si nona bergerak pula secara luar biasa.

Dia dapat membebaskan diri dari desakan, kembali dia balik merangsak.

Di antara sinar golok, dia bergerak bagaikan kupu-kupu berkelebatan di antara bunga-bunga.

Maka itu, mereka berdua menjadi sama hebatnya.

Nona itu heran mendapatkan Lam Ce In demikian gagah.

Tiba-tiba ia menunda penyerangannya, untuk menanya keras.

"Kau siapa? Kau begini gagah, kenapa kau kesudian menjadi gundalnya si bangsat tua?"

Ce In berseru keras dan lama, ia melintangi goloknya di depan dadanya. Lantas ia menjawab nyaring.

"Satu laki-laki, berjalan dia tidak menukar namanya, berduduk dia tidak menukar shenya! Aku ialah Lam Ce In dari Gui-ciu! Nona, aku numpang tanya she dan namamu yang mulia? Kenapakah nona hendak membunuh Hong-hu Sianseng?"

Nona itu terkejut.

"Apakah kau Gui-ciu Lam Pat?"

Dia tanya cepat.

"Benar, itulah aku yang rendah,"

Sahut Ce In.

"Ada pengajaran apakah, nona?"

Nona itu tampak bingung.

Semenjak Toan Kui Ciang mengundurkan diri, selama sepuluh tahun ini, Yu-hiap atau jago pengembara di jaman itu yang hidup berpetualangan, ialah Lam Ce In yang paling ternama.

Dia telah mendengar nama orang, baru sekarang dia menemui orangnya.

Dia heran mendapatkan orang baru berumur lebih kurang tiga puluh tahun.

Setelah berpikir sebentar, nona itu berkata sabar tapi tetap.

"Lam Tayhiap, baiklah kau jangan campur urusan umum ini!"

Ce In berkata.

"Membunuh orang ialah urusan sangat besar, mana dapat itu dikatakan urusan umum? Kau hendak mambunuh orang, kau mesti dapat menjelaskan alasannya, jikalau tidak, aku si orang she Lam, tak dapat aku tidak mencampur tahu!"

Mukanya si nona menjadi merah.

"Lam Ce In, kecewa kau disebut tayhiap!"

Katanya nyaring. Nyata dia tak sabaran.

"Mengapa kau tak dapat membedakan hitam dari putih? Kau kira bangsat tua ini orang macam apa?"

"Hong-hu Sianseng ialah orang gagah perkasa yang berhati mulia!"

Sahut Ce In.

"Siapakah yang tak tahu itu? Kau mencaci dan menghina Hong-hu Cianpwe, kau tak dapat menyebutkan alasannya, itulah tak selayaknya!"

Nona itu tertawa mengejek.

"Bangsat tua she Hong-hu ini ialah bangsat tukang tipu dunia!"

Kata dia nyaring.

"Namanya saja kesohor tetapi sebenarnya dialah si hantu yang biasa berbuat jahat secara sembunyi-sembunyi! Kecewa kau menjadi tayhiap, kau kasih dirimu diabui!"

"Kau menuduh dia jahat, mana buktinya?"

Ce In tanya. Nona itu terbangun sepasang alisnya. Dia seperti juga tak sudi bicara. Tapi akhirnya dia mengambil juga keputusannya. Kata dia keras.

"Ibuku ialah saksinya! Apa yang dikatakan ibuku tak dapat aku tidak percaya! Ibuku pernah melihat dengan matanya sendiri bangsat tua ini membunuh suami orang dan merampas isteri korbannya itu! Aku mencaci dia sebagai si penjahat cabul, apakah aku salah? Aku mendapat tugas dari ibuku untuk menyingkirkan dia! Lam Ce In, kau terkenal gagah mulia, malam ini aku tidak membutuhkan bantuanmu, tetapi kau sendiri, sedikitnya kau harus berpeluk tangan saja, kau menonton, jangan kau menghalangi aku!"

Ce In kaget, hingga mau atau tidak, ia menoleh kepada Hong-hu Siong. Ia melihat si pengemis gagah menghela napas perlahan. Tentu sekali, ia menjadi heran, hingga ia beragu-ragu dalam hatinya.

"Mungkinkah benar tuduhannya nona ini?"

Ia melirik pula, tetapi ia tidak melihat orang likat atau jengah, orang menghela napas rupanya karena merasa kasihan atau sayang.

Itulah melainkan rasa terharu.

Maka sebagai seorang yang bermata tajam dan luas pengalamannya, ia berpikir pula.

"Melihat sikapnya Hong-hu Siong ini, dia pastilah terfitnah. Mengapa dia tidak menyangkal? Kenapa, dia rela membiarkan nona ini hendak membunuhnya? Pastilah urusan yang ruwet bagian dalamnya, urusan yang dia tidak mengingini orang luar mengetahuinya..."

Si nona melihat Ce In masih tetap menghadang, ia gusar hingga sepasang alisnya bangun berdiri. Dia kata gusar.

"Aku telah omong jelas! Apakah kau masih hendak menghalangi aku?"

"Aku telah mendengar tetapi masih ada bagian-bagian yang kurang jelas bagiku,"

Sahut Ce In tenang.

"Kau menyebut Hong-hu Sianseng telah membunuh suami orang dan merampas isterinya. Siapakah sepasang suami isteri itu? Apakah she dan namanya? Selainnya ini, apakah masih ada saksi lainnya atau bukti sesuatu barang? Dan, bagaimana sebenarnya duduknya peristiwa dulu hari itu..."

Nona itu gusar sekali.

"Semua itu ibuku yang membilangi aku!"

Ia kata sengit.

"Ibuku tidak nanti mendusta! Maka itu, buat apa saksi atau bukti barang lagi?"

Lam Ce In sebaliknya berpikir.

"Kelihatannya ibunya juga menyembunyikan sesuatu, atau dia belum menjelaskan semua..."

Dalam sengitnya si nona sudah menyerang. Ce In tangkis serangan itu, ia menahannya, lantas ia kata "nyaring.

"Kau percaya ibumu, aku percaya Hong-hu Cianpwe, inilah soal sulit! Sekarang aku berada di sini,-maka malam ini tak dapat kau membunuh orang! Menurut pikiranku, baiklah kau menunda, kau berhenti dulu sampai disini. Kau berikan she dan namamu serta alamatmu juga, lalu kau menunggu sampai aku sudah membuat penyelidikan. Selambatnya dalam tempo tiga bulan, pasti akan aku mengunjungi kau, untuk aku menjenguk ibumu, guna kita bicara dengan terang dan jelas."

Nona itu kembali gusar.

"Kau tidak mau percaya ibuku, buat apa kau menemuinya?"

Dia tanya.

"Hm! Jangan kau menyangka kau telah ternama besar! Belum pasti ibuku suka menemui kau! Hayo, kau minggir atau tidak? Jikalau tidak, jangan kau katakan aku tak sungkansungkan!"

Di mulut si nona mengatakan demikian, kakinya telah bertindak maju, dengan pedangnya ia sudah menyerang pula.

Ce In telah tidak mau mundur.

Ia sudah mulai mengenal ilmu silat nona itu, maka ia percaya, walaupun ia sulit mengalahkannya, sedikitnya ia bakal menang di atas angin.

Hanya di dalam hatinya, ia kata.

"Sungguh malu aku mesti melayani dia... Tanpa golok mustika, ada kemungkinan aku bukan lawannya!"

Di dalam halnya tenaga dalam atau latihan, Ce In jauh terlebih unggul, maka itu habis menyerang hebat terus menerus tanpa hasil, dahi si nona sudah mandi peluh.

Dia melihat lawannya tetap tenang dan segar.

Lantas dia merasa bahwa dia akan tak ungkulan.

Akhirnya dia kata dengan sangat mendongkol.

"Kenapa kau mengadu jiwamu melindungi bangsat tua ini?"

Lam Ce In menyahut sabar.

"Sebabnya ialah pertama aku percaya I long-hu Cianpwe bukan orang busuk dan kedua dia telah melepas budi menolongi jiwaku. Kau hendak membinasakan dia, mana aku dapat membiarkannya?"

Nona itu heran.

"Apakah itu pertolongan jiwamu?"

Ia tanya. Justeru itu Toan Kui Ciang ngelindur pula.

"Su Toako! Su Toako! Aku di sini! Aku di sini! Apakah toako masih mengenali aku Toan Kui Ciang?"

Nona itu kaget, dia berseru, segera dia lompat ke arah Kui Ciang.

Tiat Mo Lek lagi menjagai Kui Ciang, melihat kelakuan si nona, dia kaget, dengan lantas dia menyambar dengan pedangnya dan membabat seraya membentak.

"Bangsat wanita kejam! Paman Toan telah terluka parah begini rupa tetapi kau masih hendak mencelakainya?"

Berbareng dengan itu, Ce In juga berlompat sambil menyerang. Nona itu melihat pedangnya Mo Lek, dia menangkis dengan ilmu huruf "Menempel,"

Lalu meneruskan memutar tangan, dia menyampok ke belakang kepada goloknya jago dari Kui-ciu. Terus dia berseru dan menanya.

"Tahan dulu! Siapakah dia?"

Dia menunjuk kepada Toan Kui Ciang. Ce In menjawab tenang.

"Dialah Yu-ciu Tayhiap Toan Kui Ciang! Apakah kau pernah mendengar namanya Toan Tayhiap?"

Nona ini melengak, dia terkejut.

"Benarkah dia Toan Kui Ciang?"

Dia menegasi.

"Habis mana orang yang bernama Su It Jie?"

Ce In juga heran.

"Nona, kau kenal Su It Jie?"

Ia menanya cepat.

"Jangan tanya aku!"

Kata nona itu.

"Kau bilang saja sekarang, bagaimana dengan Su It Jie?"

"Su It Jie?"

Ce In balik menanya.

"Dia telah dipaksa An Lok San hingga dia telah membunuh diri!"

Wajah si nona menjadi padam.

"Kalau begitu Toan Tayhiap ini telah dilukakan An Lok San?"

Dia tanya. Ce In heran, bukannya ia menjawab, ia justeru menanya.

"Nona! Kau rupanya ketahui duduknya kejadian! Tidak salah, untuk menolongi Su It Jie, Toan Tayhiap sudah menyateroni An Lok San di istananya, di sana dia sendirian saja, dia tidak sanggup melawan banyak kaki tangannya An Lok San, maka dia terlukakan parah! Syukur kami bertemu dengan Hong-hu Cianpwe ini, dia memberikan pertolongannya, jikalau tidak, pastilah sudah sedari siang-siang Toan Tayhiap kehilangan jiwanya..."

Lam Pat berhenti sejenak, lantas dia menambahkan.

"Kami juga tadi malam telah bertarung di dalam istananya bangsat she An itu, sayang kami terlambat, kami tak berhasil menolongi Su It Jie..."

"Ah, aku tahu sudah!"

Kata nona itu, sekarang sikapnya berubah.

"Syukur ada kamu, maka Toan Tayhiap tidak terjatuh ke dalam tangan bangsat she An itu, bukankah?"

"Betul, tepat terkaanmu!"

Mo Lek campur bicara.

"Mari aku jelaskan pula! Lukanya Lam Tayhiap dan lukaku ini juga Honghu Lo-cianpwe yang menyembuhkannya! Bahkan Hong-hu Locianpwe telah memukul mundur barisan pengejar dari bangsat she An itu! Kenapa kau mengatakan lo-cianpwe busuk?"

Nona itu tampak bingung. Ia berpikir.

"Dan bagaimana dengan isterinya Su It Jie?"

Tanya ia kemudian. Ce In melengak.

"Aku tak tahu..."

Sahutnya.

"Gila!"

Si nona membentak.

"Bagaimana kau tak tahu?"

Memang Ce ln tidak tahu apa-apa sebab Kui Ciang belum pernah menuturkannya.

Ketika Mo Lek menariknya, mengajak ia membantui Kui Ciang, Mo Lek juga tidak menyebut-nyebut hal isteri It Jie itu.

Melihat nona itu memperhatikan urusan dua keluarga Toan dan Su, walaupun ia tak menyukai sikap si nona, Mo Lek sudi juga bicara.

Ia kata.

Baca Juga: Pedang Pusaka Dewi Khayangan 10

Baca Juga: Tiga Mutiara Mustika 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger