Eps 8 Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen
Baca online Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen
Cersil Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen.
Sebelum ia menyelesaikan tugasnya berat rasanya ia kalau nanti berhadapan dengan Lam Cie In yang kakak seperguruan.
Satu hal lain dengan sendirinya menyulitkan padanya.
Itulah Ong Yan Ie yang tergila-gila terhadapnya.
Luar biasa sikap nona Ong, maka juga walaupun ia tidak mau pikiran aona iiu saban saban ia mengingatnya.
Semua ini terjadi gara gara sinona.
Ruwet pikirannya setiap kali ia ingat Yan Ie, Ia menjadi masgul sekali.
Didalam tempat yang gelap gulita itu tak tahu Mo Lek akan jalannya sang waktu.
Ia pun melainkan ketahui setiap hari tiga kali rantang kecil dikasi turun membawakan barang makanan untuknya Dari datangnya barang makanan itu ia menghitung hari.
Maka ia ketahui yang ia sudah tersekap selama tiga hari, Dihari ketiga itu tengah hari selagi ia berdiam dengan masgul tiba tiba pintu batu terbuka separuh daa separuh dan seorang terlihat bertindak masuk.
Mendadak saja timbul marahnya pema-da isi.
Ia lantas lompat bangun seraya terus mengirim satu sampokan sambil oaulit-nya memperdengarkan suara bengis.
"Bangsat perempuan kau masih punya ketelengasan macam apa lagi? Baiklah aku......aku. Atau mendadak ia bungkam sendirinya mulutnya tinggal celangap. Sampokaonya itu ternyata mengenakan sasarannya sebagai akibat dari itu ia menjadi kaget dan melengak saking heran. Ia mengenakan sasaran yang empuk bagaikan kapuk. Syukur ia sudah dapat mengusai tangannya begitu ia merasa membatalkan serangannya itu. Orang yang di serang itu terlihat terbayang, lalu terdengar suaranya perlahan sekali.
"Mo Lek beginikah kau masih membenci aku?"
Itulah Ong Yan le, dengan suaranya yang halus, yang nadanya menyesalkan.
Sesudah terkurang beberapa hari tak dapat Mo Lek malihat tegas ia juga sedang terpengaruhkan hawa anearahnya, tidak he ran.
begitu ia melihat orang dataag dan orang itu terlihat samar-samar sebagai wanita ia lantas menduga kepada Nyonya Tian yang tua maka menuruti suara hatinya ia menyambut dengan dampratan dan serangan nya itu Tak pernah ia berpikir kepada si-nona, Tentu secari ia menjadi terperanjat menyesal dan bingung, hingga ia berdiam saja.
"Oh, kau?"
Katanya kemudian.
"Aku menyangka kepada gurumu yang kejam itu!"
"Pantas"ah kau membenci aku, Yan te menjawab.
"Sebenarnya daripada kau membenci. Keluarga Tian lebih nepat kau membenci aku. Penderitaanmu ini dan bahaya yaag masih terus mengancam jiwamu...; Mendengar kata kata Yan Ie yang terakhir itu mendadak hawa amarah sianak muda. la lantas ingat kebinasaan ayah angkatnya Segera telinganya seperti mendengar kumandang. Mo Lek, inilah saatnya buat kau membalaskan sakit hatiku!"
Memang, kalau sekarang ia membalaskan sakit hati itu, mudah saja ia melakukannya.
Jangan kata sinona belum sembuh seluruhnya dari sakitnya, taruh kata dia sudah sehat seperti sediakala, dengan sikapnya sekarang ini, dia pasti tak dapat membuat perlawanan.
Tapi mana dapat Mo Lek silaki-laki sejati membunuh seorang wanita yang tidak mau melawannya?
Nona itu juga lagi terganggu kesehatannya.
Kedua pihak berdiam sekian lama.
Selama itu mata Mo Lekpun menjadi biasa lagi Didalam gelap itu, dapat ia melihat wajah sinona, walaupun dengan samar-samar.
Ia bisa melihat paras orang lesu dan mestinya sinona kerduka bukan main.
Karena mereka berdiri dekat dan berhadapan, ia pula mendengar suara napas membaru dari nona itu.
Bahkan kemudian ia melihat juga menetes jatuhnya butir-butir air mata!
Hati bagaikan batu dari sianak muda lumer diantara air mata itu, bahkan bayangan ayah angkatnya turut menjadi buyar.
Didepannya sekarang terlihat sebuah tubuh manusia yang berdarah dan sinona cantik.
Tiba-tiba ia melengoskan mukanya untuk lantas bertata dengan kata-kata patah demi patah.
,,Sejak hari ini, permusuhanku denganmu habis sudah!
Aku hidup atau aku mati, tak akan aku membenci pula kau!
Suara itu dalam dan tergetar.
Itulah bukti dari tegangnya perasaan hatinya.
,,Oh.
Mo Lek, Mo Lek!"
Seru sinona ter tahan.
Cuma dua kali ia menyebut lehernya lantas bagaikan terkancing, tak dapat ia bersuara lebih jauh.
Tanpa merasa, menyamber tangan sianak muda, untuk menyekalnya dengan keras.
Dengan perlahan Mo Lek memutar kepalanya, akan tetapi ia tetap tidak berani menatap sinona, supaya sinar mata mereka tidak bentrok satu dengan lain.
Ia memikir buat meronta, buat melepaskan tangannya, ia melainkan bisa berpikir, tak sanggup ia melakukannya.
Hingga akhirnya ia membiarkan lengannya itu terus dipegangi sinona..Bukan main sulitnya anak muda ini.
Ia malu sendirinya, ia bersusah hati.
Disatu pihak, hatinya menjadi lega, dilain pihak, ia tetap merasa berat.-Ia dengan kapan ia ingat pesan Cie Hun.
Memang sejak lama ia telah tenggelam dalam keraguraguan.
"Membalas sakit hati ternadap Yan Ie atau jangan?"-Niatnya membalas keras, kesangsi-annya tak kurang hebatnya. Baru sekarang ia bisa membuka mulut menyatakan kepada sinona bahwa ia melepaskan dendamnya. Inilah yang membutnya lega. Yang membikin ia masih merasa berat ialah ia jadi ak dapat membalaskan sakit hati ayah angkatnya kepada sinona sendiri walaupun besar musuh besarnya musuh yang langsung, ialah Ong Fek Thong. Sekian lama mereka berdua berdiam saja selama itu hati keduanya goncang keras. Masih lewat sekian lama, baru terdengar Yan le mengeluarkun napas lega. , Mo Lek, kau baik sekali! "
Katanya kemudian. ,,Tak peduli kau sangat tidak menyukai aku, aku tetap akan mengingat baik baik kebaikan hatimu ini!"
Tak enak hati sianak muda. Dengan perlahan, ia singkirkan tangannya.
"Nona Ong, sudahlah, apa yang telah lewat, jangan disebut sebut pula,"
Kata ia, perlahan. Iapun menyebut nona. Mulai hari ini, kau lupakanlah aku. Aku lihat di samping gurumu yang telengas sekali, suheng-mu sebaliknya bukan orang yang terhitung buruk." ,Kau benar"
Sahut Yan Ie. ,,Juga, terhadap aku, suheng berlaku baik sekali. Aku telah berjanji kepada guruku bahwa aku ber sedia untuk menjadi nona mantunya, maka itu kau, kau tenangkanlah batinmu."
Mo Lek girang berbareng daka.
Ia girang karena dengan begitu, tentang si nona telah ada kepastiannya.
Yang membuatnya berduka yalah, dari lagu suara orang, nona ini, mau menikah dengan Goan Siu karena terpaksa, bukan karena cinta.
Didalam tempat segelap itu.
tak dapat Yaa Ia melihat parasnya Mo Lek, akan tetapi Mo Lek sendiri merasa pipinya panas.
, Baik"
Katanya sambil tunduk. , Aku beri selamat padamu!"
"Sebaliknya aku belum mengasi selamat padamu berhubung dengan perjodohanmu diagan Nona Han !"
Kata Yan Ie yang tertawa bukan seperti tertawa karena hatinya sakit. Ia juga menangis bukannya menangis.... Mo Lek mengarti itu. ia menyesal dan masgul. ,Nona Ong"
Katanya pula, menyimpangi urusan, ,aka mengucap terima kasih yang kau telah datang menjenguk aku.
Sekarang kita sudah bicara jelas, karenanya silahkan kau pulang supaya suhengmu tidak buat pikiran atas dirimu."
"Memang, aku memang harus pulang."
Sahut si nona. ,.Aku belum memberitahukan suheng bahwa aku bersedia menikah dengan nya."
Berkata begitu. Nona Ong memutar tabuh buat berjalan pergi atau baru dua tindak ia sudah merandak.
"Mo Lek ... Mo Lek .."
Katanya, perlahan. Hati si anak muda goncang.
"Nona Oog, silahkan pergi ! "
Kata anak muda ini.
"Aku pulang?"
Tanyanya.
"Aku pulang kemaaa ?"
"Kau pulang kepada Nona Han mu boleh kepada Lam Suheng mu boleh juga."
Sahut si nona. ,.Itu toh urusanmu ! Mengapa kau "
Tanya aku ? Mo Lek heran, ia sampai terperanjat, la , dapat menerka.
"Apakah kau headak memerdekan aku?"
Tanyanya. ,,Kau toh tak dapat berdiam seumur hi dupmu di dalam kurungan ini"
Si nona membaliki. Mo lek tetap heran.
"Apakah kau tak takut dipersilahkan gurumu"
Mo Lek tegaskan. .,Biar bagaimana, ia toh harus memberi muka kepada bakal menantunya ..."
Kembali Mo Lek terbenam dalam kesulitan.
Apa baik ia terima budi nona ini atau jangan, kalau ia terima baik, ia bebas, kalau ia menampik, ia tetap terkurung dan entah bagaimana nasibnya, kalau ia menerima baik, itu artinya budi ....
Selagi pemuda ini bersangsi, jauh di luar terdengar suaranya Tian Toa-nio .
,,A-nak Yan !
Anak Yan !"
Nona itu tidak menjawab gurunya, hanya ia kata pada si anak muda .
"Lekas kau pergi ! lambat sedikit, kau bisa celaka! Nanti sudah kasip !"
Ia pun lantas bertindak kepintu, untuk membukanya.
Deagan sama cepatnya ia tarik tangan si anak muda.
Tiba-tiba terdengar satu suara perlahan didekat mereka Suara itu sedikit menggetar-Mo Lek terperanjat, apa pala tempo ia lantas melihat Tiai Go n Siu berdiri disamping pintu.
ketika itu.
ia masih dipegangi Yan le.
Ia menjadi jengah sekali, mukanya menjadi merah sendirinya.
Goan Siu mengasi dengar suara heran.
Ia telah melihat semua.
Mukanya lantas berkerut.
,Baik kamu semua pergilah,"
Katanya sesaat, kemudian sedang dengan tangannya ia memberi tanda kebebasan. ,,Aku yang pergi sendiri! "
Kata Mo Lek cepat, untuk membantah "Kau ..-jangan kau salah mengarti !
Goan Siu memandang pemuda didepan-nya itu ia tidak menghiraukan kata-kata orang terus ia berpaling kepada Yan le, un tuk berkata dengan perlahan ..Adik Yan, kau juga lekas pergi !
Sipengemis tua telah datang kemari !
Dia .
dia mencari kau!"
Hati Mo Lek tergerak mendengar kata-kata "pengemis tua"
Itu. ,,Pengemis tua yang tinggal di gunung Hoa San tidak ada lain orang lain, dia ten tulah See Gak Sin Liong hong hu Siong ! "
Pikirnya.
"Telah aku menduga dari siang-siang bahwa dia pasti bakal datang sendiri mencari aku ! "
Katanya tawar. ,,Apa yang aku lakukan akan aku pikul sendiri tanggung jawabnya ! Apa yang harus dibuat takut?"
"Aku pun percaya ibu tidak bakal mem biarkan kau diperhina orang,"
Kata Goan Siu, ,.akan tetapi kau tabu sendiri, tabiat j ibu sangat luar biasa, dia dapat bergirang dan bergusar tanpa ketentuan maka itu aku pikir lebih baik kau menyingkir dari pengemis tua itu !
Laginya, pengemis tua itu tentunya kenal saudara Tiat apabila dia me lihat saudara Tiat berada disini, aku kuatir nanti terbit lain gara-gara !" ,Begini saja,"
Kata si nona singkat .
"Lebih dulu aku antar dia turun gunung, habis itu, akan aku kembali !"
Goan Siu nampak heran sekali, hingga ia menatap si nona. Hanya sekarang ini parasnya terlihat sedikit tenang. Begitu pun baik,"
Sahutnya.
"Sebentar didepan itu, akan aku kilungi kamu. Pergi kamu ambil jalan dari depan sana, asal kamu berhati-hati sekali !"
Ketika itu, kembali terdengar suara tajam dari Tian Toa Nio .
"Anak Goan ! Anak Goan !"
Mendengar itu, Goan Siu lekas menya huti. Dia mengasi dengar suara yang tinggi "Ya ibu ! Ya ! Aku akan lantas datang !"
Dia lantas berlari-lari pergi.
Yan Ie memegang pula tangannya Mo Lek, yang ia tarik, buat diajak meninggalkan penjara batu itu.
Dengan lekas mereka melintast pekarangan depan.
Tepat di itu waktu, terdengar suaranya Tian Toa Nio .
"Sakitnya anak Yan sudah baik kan atau belum ? kenapa dia tidak ke luar sendiri ? "
Nyonya tua itu bicara didalam rumah, diluar situ.
Yan Ie dan Mo Lek harus lewat Itulah sebabnya kenapa Goan Siu memesan mereka itu berhati hati.
Yan Ie menarik tangan Mo Lek, buat diajak bersembunyi dibelakang batu gunung gunungan.
Dari situ mereka mendengar suaranya Goan Siu .
.,Tadi malam adik Yan banyak baik, hanya hari ini keadaannya jadi berubah memburuk pula.
sampai dia tak dapat bangun dari pembaringannya.
Sementara itu, dari tempatnya bersembunyi, Mo Lek dapat memandang ke dalam ruang atau kamar dimana Tian Toa Nio berada, disana nyonya tua itu berada bersama seorang lain yang menjadi tetamunya.
Benar dialah See Gak Sin Liong Honghu Siong, si Naga Sakti dari Gunung Barat (Hoa San) atau si pengemis tua seperti disebut Gun Siu hanya sekarang ini dia bukan mengenakan pakaian butut atau rubat-rabit hanya pakaian baru dan mentereng, hingga dia tak nampak setua seperti biasanya dalam pakaian rombeng tidak keruan.
Segera terdengar suaranya si nyonya tua.
Liong Hong-hu dengan sebenarnya muridku lagi sakit dan mesti rebah saja di atas pembaringanya hingga tidak dapat dia keluar dari kamarnya "
Hong hu Siong duduk menghadap ke luar, ke dua matanya yaag berjelilatan bersinar tajam. ,.Tian Toa nio aku minta kau suka maafkan aku yang aku berlaku sedikit kurang ajar"
Kata dia ..Dalam hal ini aku perlu memeriksa dengan teliti, karena muridmu sakit seperti katamu, perlu aku pergi kepadanya untuk melihat sendiri ! * Bagaimana berani aku menyusahkan kau, tuan "
Kata Tian Toa Nio.
"Tetapi! kata si pengemis liehay. ,,Bentengnya keluarga Ong dilembah Liong Bin Kok sudah diubrak abrik rombongannya Toan Kui Ciang dan Lam Cee In jikalau mereka itu mendapat tahu aku berada disini Sudah pasti sekali mereka bakal datang menyusul guna mencari gara-gara ! Hm ! Sampai itu waktu aku percaya keadaan pasti akan jadi buruk buatmu ! Oleh karena itu aku lihat lebih baik kau lekas menanya jelas kepada muirdmu itu !"
Tian Toa Nio menjadi tidak puas ,,Muridku itu."
Katanya "meski dia masih berusia sangat muda, hinggga dia tidak dapat membedakan berat dari enteng, kendati dia bisa berbuat sesukanya aku percaya tidak nanti dia sampai berpihak kepada orang luar hingga dia rela membantu orang memusuhkan ayahnya sendiri !
Tapi karena Tuan Honghu tidak percaya dia hingga kau ingin mendengar sendiri keterangannya baiklah mari aku temani kau menemuinya.
Disana kau nanti dapat.
menanya jelas hingga batinmu menjadi lega !" -oo0dw0oo-
Jilid 20 Mo Lek mendengar semua pembicaraan itu, ia heran, hatinya tegang.
"Menurut suaranya ini. Hong hu-siong ini sama demgan Ong Pek Thong si bangsat tua "
Demikian pikirnya. ,Mungkin mereka telah bekerja sama. Bukan itu saja. Rupanya dia takut Lam Suheng nanti mencari padanya. Mungkinkah ibunya Nona Hee juga dipenjarakan disini ?"
Honghu Siong pernah menolong ia den ayah angkatnya, Toan Kui Ciang, dari mara bahaya, karena itu ia tidak meoiperdulikan pembilangan orang luar terhadap pengenris itu; ia berkesan baik, hanya sekarang mendengar perkataan si pengemis kesan baiknya itu lantas berubah menjadi kesan buruk.
Kata ia di dalam hatinya .
,,Dahuluhari aku tidak percaya dialah seorang busuk, siapa tahu sekarang aku telak mendapatkan buktinya bahwa dialah si manusia baik yang palsu !"
Tengah sianak muda berpikir itu, Tian Toa Nio sudah bertindak keluar dari daiam rumah.
Hal itu membuat Goan Siu ber-kuatir sekali, hingga parasnya menjadi berubah.
Toan Toanio liehay sekali, matanya sangat tajam.
Ia mendapat lihat perubahan roman anaknya itu.
"Eh anak Goan, kau kenapakah ? "
Tegurnya.
"Aku merasa tubuhku sedikit kurang sehat"
Sahut anak itu.
"Hm !"bersuara si ibu, yang lantas menghentikan tindakannya. Dia mementang matanya lebar-lebar, untuk memandang kesekelilingnya. Hanya sejenak mendadak dia berseru dengan pertanyaannya yang bengis .
"Hayo ! Siapakah bersembunyi di situ ? Lekas keluar !"
Yan Ie tahu ia tidak dapat menyingkir lagi, ia lantas muncul. ,,Aku tahu,"
Sahutnya. Mo Lek juga turut keluar, bahkan keduanya, muda-mudi itu berjalan dengan berendeng. Menampak demikian, airmukanya si nyonya tua berubah menjadi bengis.
"Kau hendak meninggalkan aku bersama sibocah "
Tegurnya dingin. Belum lagi sinona menjawab, Goan Siu sudah mendahului. , Ibu, bukankah ibu handak membebaskan saudara Tiat "
Tanyanya.
"Tadi aku telah mengambil selamat berpisah darinya. Akulah yang menyuruh adiknya Yan mengantarkan dia turun gunung."
Selagi berkata begitu, anak ini menge-dipi mata pada ibunya itu, buat minta siibu menutup mulut sebab mereka berada di hadapan orang luar.
Mo Lek heran.
Tak tahu ia kenapa Goan Siu mengarang kedustaan itu.
Tian Toa Nio sebaliknya mengerti maksud anaknya.
Katanya didalam hatinya.
"Oh, kiranya anak Goan sudah ketahui anak Yan telah bersedia untuk menjadi is terinya dan ia telah berikan bocah itu makan obat Pay Hiat San."
Oleh karena ini, sikapnya lantas menjadi lunak. Katanya .
"Anak Yan, inilah Tuan Hong-hu yang hendak menanyakan sesuatu kepadamu jadi tak usahlah kau mengantarkan lagi dia turun gunung."
Yan le senang dengan kesudahan itu"
Ia menjadi girang sekali.
"Mo Lek,"
Katanya, , kau pergilah seorang diri ! Kudamu berada didalam kandang, kau boleh minta kepada orang ke marin ini telah mengantarkan kau menyeberang. Dia berada didalam kebun."
Hong hu Siong sementara itu tertawa terbahak.
"Oh, kiranya Nona Ong sudah sembuh! "
Katanya. Sungguh aku girang sekali ! Sungguh kau harus diberi selamat !"
Baru pengemis ini berkata demikian, atau sinar matanya berhenti kepada Mo Lek. .Siapakah tuan ini?"
Tanyanya.
Mendengar itu, Mo Lek menjadi heran.
Ia mendongkol kepada jago itu, ia membenci, maka juga barusan diwaktu baru bertemu, tak sudi ia menanya, bahkan menyapa pun ia segan.
Siapa sangka sekarang orang menanya ia siapa.
Ketika itu segera terdengar suaranya Tian Toa Nio.
"Apakah tuan tidak kenal dia ?"
Katanya.
"Dialah Tiat Mo Lek anaknya Yan San Ong Tiat Kun Lun !"
Honghu Siong memperlihatkan roman heran. Lantas ia menanya si nyonya . ,,Oh, kiranya kau sudah akur dengan Mo Keng Lojin si tua-bangka? Sungguh tak kuduga!"
Matanya Nyonya Tian mendelik.
"Tuan Hong-hu, apakah artinya kata-katamu ini "
Tegurnya. Hoag hu Siong menjawab tenang . ,Jikalau kau belum akur dengan Mo Keng Lojin kenapa muridnya dia itu tidak dapat berada didalam rumahmu ini "
Parasnya Tian Toa Nio menjadi berubah. ,.Apa "
Tanyanya keras. ,,Jadi bocah she Tiat ini muridnya Mo Keng si tua-bangka itu ? Hong hu Siong tertawa.
"Aku justeru menjadi heran kenapa kau melupakan musuh yang telah membunuh suamimu !"
Katanya , kiranya kau belum tshu asal-usulnya ini bocah she Tiat !
Aku benar tidak kenal dianya akan tetapi didalam kalangan Kangouw, siapakah yang tidak mengetahui bahwa Tiat Kui Lun ya-lah muridnya Mo Keng Lojin bahkan dialah murid terakhir "
Nyonya Tian sudah lantas berpaling, mengawasi Mo Lek dengan roman yang keren. Dia lantas berkata .
"Kiranya kaulah murid yang pandai dari Mo Keng Lojin. Maaf yang aku tidak mendapat tahu, hingga aku tidak mendapat tahu. Hingga aku perlakukan kurang hormat kepadamu. Nah kau tunggulah lagi sedikit waktu. sebentar hendak aku memberi selamat jalan padamu. Anak Gun, kau temani dia! Yan Ie menjadi kaget, hingga mukanya menjadi pucat Goan Siu tidak karang terkejutnya, sampai ia bergemetar seadirinya. Muda-mudi ini ketahui apa artinya kata kata "memberi selamat jalan"
Dari ibu dan guru mereka itu. Matanya Tian Toa Nio menyapu pada itu anak dan muridnya, terus ia kata dengan keras .
"Didepan aku, kamu tak usah memikir apa apa lagi!"
Eh, bocah she Tiat jikalau kau tidak masuk kedalam rumahku akan aku sendiri yang mengundangmu .
Tiat Mo Lek berani.
Ia tahu.
didepan nya Tian Toa Nio dan Hong hu Siong, tidak dapat ia meloloskan diri.
Maka dengan siiap agung dan tindakan lebar, ia masuk kedalam rumah bahkan segera ia menjatuhkan diri, berduduk diatas kursi.
Ia mau tahu tindakan apa yang si nyonya bakal ambil.
Ia bersedia akan berlaku nekad, untuk mati bersama nyonya itu Nyonya tua itu tidak mengambil mumat atas sikap orang yang agung agungan itu ia hanya menoleh kepada muridnya.
,,Anak Yan, mari"
Katanya "Mari, Tuan Hong hu hendak menanya kau."
Houg-hu Siong memandang si nona dengan sinarmata dingin.
"Telah aku bertemu dengan kakakmu."
Katanya.
"Katanya ketika hari itu di Liong Bin Kok terjadi peristiwa yang besar itu, dia telaif membikin lenyap tanpa sayap pada sebungkus obat pemunah Toat Hun Hio sea dangkan Nona Hee yang terkena racun sudah sembuh secara mendadak dia sembuh seperti sedia kala pula. Itulah aneh ! Obat pemunah itu berada didalam kamarnya kakakmu tidak nanti ada lain orang yang mengetahuinya ! Nona Ong kaulah adiknya tahu kah kau siapa yang melakukan itu ?"
Sepasang alisnya Yan Ie bangun berdiri. ia tertawa dingin. ,Hong-hu sianseng jikalau kau bicara, tak usahlah kau berbelit belit !"
Sahutnya.
.Jikalau kau telah mencurigai aku.
mengapa kau tidak mau bicara terusterang saja"?
Tidak salah !
Perbuahan itu aku yang lakukan !
Orang yang mencuri obat pemunah itu dan memberikannya kepada Nona Hee jalah aku juga !"
Jikalau begitu "
Hong hu Siong tanya pula, .kau ada memberitahukan atau tidak kepada Nona she Hee itu bahwa akulah yang menculik ibunya ? "Tidak "
"Benarkah ?" ,.Aku bertanggungjawab atas segala per buatanku sendiri !"
Sahut Yan le pula. .,Ada sepatah kata. aku menjawab sepatah kata ! Apatah kau sangka aku takut nanti ditelan olehmu"
Hong-hu Siong tertawa bergelak.
"Tak kecewa kau menjadi muridnya Tian Toa Nio !"
Pujinya.
"Sikap kepalabatu mu ini membuat aku si orang tua kagum sekali ! Mana aku berani mempersulit padamu.? Aku melainkan hendak menanya biar jelas! Sekarang hendak aku tanya pula . Pernahkah kau mengeluarkan kata kata yang berupa kisikan, umpama kau mengatakan sesuatu tentang dimana adanya ibu dari nona she Hee itu "
Baru berhenti pertanyaan itu diucapkan atau Yan Ie telah lantas menjawab . ,,Ya, ada !"
Demikian si nona. Parasnya Hong hu Siong menjadi pucat lalu menjadi merah.
"Apakah katamu kepada nona she Hee itu l"
Dia tanya pula. ,Aku bukan bicara kepada Nona Hee sendiri."
Sabut Yan Ie terus-terang.
"Aku bicara kepada tunangan nona itu. Aku hilangi dia, jikalau dia mau mencari orang maka dia harus pergi kejurang Toan IHun Giam dikaki puncak Lian Hoa Hong. Siapakah tunangannya nona itu?"
Sangat mendesak suaranya jago tua ini dia seperti sangat berharga akan jawabannyaYan Ie heran hingga ia sedikit tercengang.
Ia tidak menyangka orang menyimpangi urusan yang dianggapnya penting te tapi berbalik menanyakan hal ikwalnya tunangan dari Leng Song.
Tunangan dari Nona Hee yaitu Lam Tav-hiap yang ternama besar dalam dunia Kang Ouw,"
Ia menjawab. Dialah Lam Lee In! Kau telah bertemu dengan kakakku, kenapa kau tahu hal itu ?"
Hong-hu Siong berdiri menjublak.
"Ah, kenapakah dia Lam Cee In ?"* katanya seperti kepada dirinya sendiri.
"Ah bukankah Lam Cee In juga muridnya Mo Keng Loojin?"
"Kenapa kau heran?"
Yan Ie menegur. ,-.Memangnya perangkapan jodoh diantara Nona Hee dan Lam Tay-hiap itu tidak sembabat?"
Walaupun dia heran, Hong-hu Siong lekas dapat memenangkan diri.
"Nona Ong hendak aku bic.ra dari hal kau!"
Katanya kemudian "Kenapa kau jus-teru membalik diri berpihak kesada orang luar, hiagga kau jadi seperti membantu musuh ayah dan kakakmu sendiri? Sikapmu ini kau tahu kurang tepat!"
Yan Ie berani. Ia menjadi tidak senang "Guruku ada disini, tak usah sampai kaulah yang mendidik aku!"
Katanya ketus.
Nona ini ketahui baik sifat guratiya.
Taruh kata siguru bakal menegur atau meng hajar dia tak nanti itu dilakukan dihadapan orang luar, Benar,benar Tian Toa Nio mendelik kepa da Hong-hu Siong.
Kata dia dingin kepada tetamunya itu "Tuan Hong-hu bnkankah kau cuma-kuatir musuhriiu nanti datang me ngaduk sarangmu?
Kita berdua sudah membikin perjanjian saling bantu, jikalau ada bahaya mengancam kau, pasti dapat aku duduk diam saja mengawasi padamu!
Apakah yang kau takuti?
Nah.
kau pulanglah!
Urusan didalam raumah tanggaku ini aku dapat mengurusnya sendiri!
Itulah kata-kata justeru diharap-harap Hong-hu Siong.
Lantas ia memberi hormat dan berkata.
"Terima kasih yang kau *udi membantu aku. Dimana kabar angin sudah tersiar, aku kuatir lagi beberapa hari bakal ada orang yang datang membuat kunjungan guna mencari onar, oleh karena itu aku harap kau pun berlaku waspada" ,,Aku sudah tahu!"
Sahut Tian Toa-Nio ,Apakah kau sangka aku melewati dengan sia-sia belaka tempoku selama dua puleh ta hun?
Aku justeru ingin menemui segala mu suh dahuju hari itu untuk mencoba kepan daianku!
Aku justeru kuatir mereka itu takut datang padaku!
Buat apa kau kuatir tidak karuan?"
Habis berkata begitu, Tian Tio-Nio tidak smbil mumat pula pada si pengemis ia hanya lantas berpaling, untuk memandang muridnya. Ia menatap tajam.
"Anak Yan, perbuatanmu bagus sekail! katanya. ,,Mari ke mari!"
Yan Ie mendaoatkan sikap guruuya sangat dingin dan bengis.
Ia tahu guruny galak te tapi belum pernah guru itu bers.kap begini rupa terhadapnya Mau atau tidak, ia menjadi jeri juga.
Sebenarnya ia telah pikir habis menolongi Mo Lek tak sudi ia campur pula segala urusan lainnya?.
Sekarang ia menjadi apa boleh buat.
Ia mesti membesar kan hati.
"Suhu katanya.
"apa yang muridmu .tidak harusnya lakukan, telah diperbuat juga maka itu terserah kepada suhu, suhu hendak membunuh aku atau mencincangnya-"
Matanya Tian Toa-Nio bersinar lalu di pejamkan.
Ia melirik pada anaknyar ia mendapaikan tubuh sinona menggigil.
Lan tas ia menghela napas dan kata masgul.
, Oh kamu dua orang bocah!
...
Ia terus memandang muridnya, untuk berkata pula, dengan sabar.
"Kau berdiri di pinggiran, hendak aku mengambil keputusan dahulu terhadap bocah ini!""
Ia lantas memutar tubuh, untuk berdiri menhadapi Mo Lek.
Hong-hu Siong kata ia mau pergi akan tetapi buktinya ia tidak segera mengangkat kaki ia justeru berdiri diam saja, mengawa si sinyonya tua.
Untuk melihat apa yang nyonya itu hendak lakukan.
Thian Toa-Nio menatap sianak muda romannya keren, Sinar matanya bengis Ia membungkam.
Entah apa ia pikir dalam hatinya Yan Ie berdiam hingga napasnya seperti berhenti berjalan Ia terus mengawasi guru nya itu.
buat melihat apa yang si guru akan perbuat.
Diam-diam Hong-hu Siong memperhati kau gerak-gerik Yan Ie terhadap Mo Lek Ia bermata tajam, segera ia sadar.
Katanya didalam hati.
.Aku tadinya heran kenapa puterinya Ong Pek Thong membantu musuh kiranya itu disebabkan bocah ini!
Tian Toa-Nio masih juga belum menurunkan tangan, ia masih tetap menatap.
Hong-hu Siong heran melihatnya.
Ia jadi berkuatir karena muridnya itu sinyonya nanti melepaskan bocah itu.
Ia jadi memikir buat mengatakan sesuatu, buat membikin panas hati sinyonya, atau mendadak Tian Toa Nio, dengan romannya yang keren dan suaranya yang keras, menegur puteranya "Hm, anak Goan, sungguh nyalimu besar!
Bagaimana kau berani mendustai ibumu!
Setelah menegur itu, ia melihat wajah Mo Lek tanpa perubahan apa-apa.
Jadi bocah itu telah tidak dikasih makan racun.
Dengan suara menggetar, Goan Siu ber kata.
"Ibu, bukankah ibu telah mengatakan bahwa buat guna aku, ibu tidak mau membinasakan dia?"
"Tak punya guna! ibu itu membentak. Ia mendongkol kepada sianak, yang hati-nya kurang telenges. Ia juga tak puas. karena ingin mendapati hatinya Yan Ie putera itu telah melindungi kekasihnya Mo Lek .. Sekonyong-konyong tangannya Tian Toa Nio menepuk batok kepalanya Tiat Mo Lek hingga terdengar suara yang cukup nyaring. Berbareng dengan bergeraknya tangan si-nyonya, Ong Yan Ie menjerit keras menyayatkan hati, tubuhnya berlompat maju untuk menahan tangan gurunya. Berbareng dengan itu Goan Siu, yang tadinya ragu-ragu sudah turut menyampok lengan ibunya, untuk ditahan turunnya. Mo Lek sendiri sudah siap untuk membela diri maka ketika tangan sinyonya turun ia menangkis sebisa-bisanya, toh ia tidak dapat bertahan seluruhnya ia terpental mundur kira setombak. Syukur untuknya ia mendapat bantuan rintangannya Yan le dan Goan Siu, maka ia cuma roboh terguling tetapi tidak terluka.
"Lekas lari!"
Teriak Yan Ie. Hong-hu Siang tapinya tertawa. Kata dia tawar.
"Nona Ong, jangan kau sibuk tidak keraan"
Disini masih ada aku! Mana dapat bocah ini lari kabur?"
Benar-benar Cee Gak Sin Liong si Naga Sakti dari Gunung Barat, sudah mencelat kemuka pintu dimana ia melintangi tongkatnya, ketika Mo Lek lari kearahnya ia menyambut dengan satu kemplangan!
Tiat Mo Lek sudah menghunus pedangnya, yang Goan Siu serahkan padanya, dengan itu ia menangkis.
Ia menggunai tipu silat , Sin Liong louw Bwee"
Atau ,,Naga sakit menggeraki ekor."
Tenaga dalam dari Hong-hu Siong kalah sedikit dari pada tenaganya Tian Toa Nio, akan tetapi hajarannya itu sudah cukup keras buat.membikin Mo Lek mundur tiga tindak.
Dua buah senjata juga bentrok keras.
Hanya yang rugi ialah tongkat kayu cendana dari sipengemis, ujungnya itu telah kena terpapas sedikit pedangnya sianak muda, sedang kerasnya tangkisan pedang juga membikin telapakan tangannya Hong-hu Siong menjadi kesemutan!
Bukan main gusarnya sipengemis.
Ia segera menyerang pula, malah kemplangan yang kedua segera disusul dengan yang ketiga kemplangan itu semua tidak memberi hasil.
Itulah hebat untuk Mo Lek.
Ia bukan lawannya jago tua itu.
Habis itu, tak dapat ia menangkis pula maka ia lantas berjumpalitan mundur dengan lompatan "Jungkir balik didalam awan."
Hong-hu Siang menjadi penasaran, sengitnya tak terkirakan.
Panas hatinya, hendak ia menyusul, atau tiba-tiba telinganya mendengar satu suara yang tajam yang seperti berkumandang ditengah udara.
Ia menjadi terkejut.
Dengan lantas ia mengangkat kepalanya, mendongak melihat keatas, hingga batal menyusul sianak muda.
Ditimur setalatan nampak asap hitam mengumpal naik.
Dari arah sana pula datang nya suara itu.
Itulah tanda rahasia dari kawan.
Ketika Hong hu Siong mau pergi kepada Tian Toa Nio, walaupun kunjungannya ini bakal tidak mengambil tempo lama, ia sudah bersiap sedia.
Inilah disebabkan ia knatir nanti ada penyerbuan kepada sarangnya.
Maka ia telah memesan, jikalau ada musuh datang, begitu musuh itu terlihat, kawannya mesti meniup terompet huk hia sapibil berbaren?
menyalakan api, untuk melayang-layangkan asap hitam itu-Kawannya kaum Kangouw sesat seperti ia nya.
Ketika ia menculik Leng Song ibu dan anak, jago itu turut bersama, bersama sama Ceng Ceng Jie, dia menjadi pembantu, dan tempo Ceng Ceng Jie pulang ke Hoan yang, diminta tinggal bersama untuk mengawasinya.
Mo Lek cerdik sekali.
Disaat Hong-ha Siong berhenti menyerang, ia meneruskan kaburnya.
Ia kabur kebelakang teman.
Tian Toa Nio meninggalkan anaknya, ia pun berlari keras.
"Celaka!"
Hong-hu Siong berseru.
"benar-benar ada musuh datang""
"Kau takuti apa?"
Kata Toa Nio, menyeringai.
"Toh ada aku disini! Mana bocah itu?"
"Hong-hu Siong menenangkan diri.
"Dia telah kabur."
Sahutnya, sabar. Nyonya tua itu mengerutkan sepasang alisnya. Katanya didalam hati.
"Heran! Kenapa seorang bocah saja kau tak mampu mencegahnya?..."
Asan tetapi sempat memikirkan itu, tak dapat pula ia menghiraukan orang she Hong-hu ini.
Segera ia memasang telinganya dan membuka matanya lebar-lebar.
Ia mendengar suara tindakan kaki dari Tiat Mo Lek.
"Bagus!"
Serunya, tertawa dingin ,Bocah itu belum keluar dari pekarangan rumahku!
Nanti aku binasakan dahulu padanya, baru aku bantu kau menentang musuhmu!
Ketika itu Mo Lek sudah sampai di taman belakang, la menemui situkang perahu yang menjadi pegawainya Keluarga Tian itu, hanya ketika itu dia sedang menyiram pohon.
"Mana kutahu?"
Ia tanya cepat.
Pengawal itu telah menerima pesan Goan Siu untuk menyerahkan kuda kepada pemiliknya, akan tetapi rnelinat sianak muda datang dengan tersipu-sipu, ia menjadi heran, ia menjadi bersang;i.
Justeru itu.
Tian Toa Nio memandangi dengan cepat sekali, Hanya sejenak ia segera menunjuk kepada sebuah bangunan kate.
Mo Lek dapat menerka petunjuk orang, segera ia mengangkat sebuah batu besar dengan apa ia menghajar pintu stal kuda hingga pintu itu roboh menggabruk menyusul mana "dari dalamnya terdengar ringkik seekor kuda, kuda mana sudah lantas lari keluar.
"Binatang kau hendak kabar?*"
Membentak Tian Toa Nio gusar bukan kepalang Dia berlari keras untuk menghampirkan.
Mo Lek tidak menggubris suara orang, ia hanya memungut sebiah batu lain, batu yang besar juga untrk dengan itu menimpuk si nyonya tua.
la bertenaga besar, batu itu menyamber keras.
Toa Nio jeri juga terpaksa dia berkelit.
Tepat itu waktu, kuda uy piauwma sudah sampai didepan majikannya Mo Lek girang tak kepalang.
Dengan satu kali menjejak tanah, ia sudah berlompat naik ke punggung kudanya itu.
"Kudaku, lekas lari "
Katanya, menganjurkan.
Kuda itu mengarti, dia lantas kabur, keluar taman Tian Toa Nio meigejar pula.
Dia dapat berlompat pesat.
Pintu ditutup, itu berarti tidat ada jalan, kecuali pintu itu mesti dibuka dulu.
Itulah berabeh Mo Lek berada diatas kuda kalau ia turun dahulu, ia membuang-buang tempo, kudanya pun tak dapat menembrak pintu itu.
Akan tetapi, mendadak binatang itu berlompat tinggi, Mo Lek terkejut, ia memegang tali les sambil memiliki leher kudanya itu.
Hebat sang kuda.
Tahu-tahu dia telah berlompat melintasi tembok pekarangan, hingga ia membuat majikannya bagaikan terbang melayang.
Saking kagetnya itu, si anak muda sampai mengeluarkan peluh hingga hatinya terkesiap mencelos, hanya lantas ia merasa lega, terus ia mengaburkan kudanya yang jempolan itu.
Tian Toa Nio mengejar bersama-sama Hong Hu Siong tubuh mereka ringan sekali lari mereka sangat pesat, akan tetapi tak sanggup mereka menyusul kuda uy-piauwma itu, hanya sebentar, mereka sudah ketinggalan jauh dibelakang sampai Mo lek tak tampak lagi sekali pun bayangannya.
Akan tetapi Mo Lek kabur bukannya turun gunung, sebaliknya, ia mendaki.
Ia menuju ketempat dimana asap hitam mengepul naik itu.
Ia muda tetapi ialah seorang Kang Ouw berpengalaman.
Mendengar suara hukhia dan melihat asap itu, ia lantas menghubunginya dengan roman kaget Hong-hu Siong tadi, segera juga ia dapat menerka bahwa jago tua itu telah kedatangan musuh maka sudah diberikan isyarat asap serta terompet itu.
Syukur kuda itu kuda jempolan, dia da pat berlari-lari dijalan yang menanjak dan sukar itu.
Tidak lama.
tibaUh Mo Lek di kaki jurang Toan Hun Giam dibawah puncak Lian Hoa Hong.
Ia lantas mendengar suara nyaring dan berisik berulang ulang, seperti suara pintu digempur barang berat.
Ia mengawasi kearah suara berisik itu.
Selagi mendekati, ia melihat lima orang, bah kan satu diantaranya terus lari kearahnya sambil menegur dengan seruannya .
,,Eh, kau toh Mo lek ?"
Bukan kepalang girangnya si anak muda.
Itulah Toan Kui Ciang, bagaikan terbang.
ia lompat turun dari kudanya, buat menghampirkan, guna memberi hormat.
Ia mendapat kenyataan, disamping Kui Ciang suami isteri disana pun ada kakak seperguruannya lam Cee In bersama-sama Hee Leng Song.
Orang yang kelima yalah Hong Kay Wee Wat, si Pengemis Edan !
Merek a itu berlima juga girang dan he ran dapat bertemu dengan Mo Lek.
Inilah diluar dugaan mereka.
,,Eh, sute, bagaimana ini "
Cee In menegur.
"Bukannya kau pergi ke Tiang-an, kau justeru datang kesini"
Mo lek mengeluarkan napas lega, terus dia tertawa.
"Suheng, hampir tak dapat aku melindungi jiwaku, hampir aku tak dapat bertemu pula denganmu ..."
Katanya. Ia ber duka tetapi toh ia girang "Panjang untuk ku menutur, maka marilah aku tanya kau dahulu ! Apakah suheng beramai datang ke mari guna mengubrak-abrik sarangnya Hong hu Siong ? " ,,Benar!"
Jawab Cee In.
"Kami telah hasil mencari pintu guhanya akan tetapi belum berhasil menggempurnya untuk masuk kedalam.
"Kau lihat disana !"
Orang she Lam itu menunjuk, maka Mo Lek menoleh kearah itu. Itulah sebuah pin tu batu, yang sudah lecet"
Disana sini be kas goresan pedang mustikanya Toan Kui Ciang. Pintu batu tebal luar biasa, tak mudah digempurnya. ,,Hong-hu Siong tidak ada di dalam sarangnya "
Kata si anak muda kemudian.
"Tentang-Hee Pebo, ia benar dikurung di dalam sarang ini "Kenapa kau ketahui itu ? "
Tanya Leng Song heran. Toh ia puas juga mendapat tahu ibunya berada ditempat itu "Baru saja tadi aku menempur tua bangka she Hong-hu itu."
Sahut Mo Lek.
"Sungguh kau bernyali besar !"
Tegur Toan Kui Ciang. ..Bagaimana bersendirian saja kau berani menyatroninya ?"
"Bukannya aku yang menyateroni dia hanya aku yang kesasar masuk dalam perang-kapnya. Mo Lek menerangkan . Coh hio Ubokab kaa tenting seorang wanita jahat yang disebut Tian Toa Nio?"
Wee Wat berjingkrak ..Apa? TianToa Nio? dia menegaskan Bakankah dia puteranya si hantu tua Tian Liong Hui? Cara bagaimana kau dapat bersama dengannya?"
Kui Ciang mengangguk ia kata pada Mo Lek.
"Pada duapuluh tahun dahulu tempo rombongan orang-orang dari kaum lurus mengepung suami istri Tian Liong Hui itu usiaku masih muda sekali. aku jadi tidak dapat mengambil bagian tetapi Wee Loo cianpwee serta gurumu turat bersama-Wee Wat menjadi ketarik hati.
"Lekas kau bercerita!"
Desaknya pada sianak muda.
"Bagaimana pengalamanmu itu?"
Mo Lek menurut ia memberikan keterangannya, akan tetapi terang Ia hanya menyembunyikan urusan asmaranya dengan Ong Yan Ie.
"Heran kata Wee Wat.
"Hantu wanita itu sangat jnmawa mengapa dia hendak membekuk seorang muda? Oh, aku mengarti sekarang! Itulah tentu disebabkan dia ketahui kaulah muridnya Mo teng Loojin!"
Baru daiam hal itu Wee Wat dapat pemecahannya. Sekarang tinggal urusannya Hong hu Siong. Ia berpikir keras lain ia kata pula.
"Melihat begini terang sudah Sae jak Sin Liong yang menjadi biang kejahatan ini! Oh. sungggah aku tidak sangka segala keburukan ini dialah yang mengerjakannya! Kai Ciang tak mengerti akan sikap si-peegemis edaa ini.
"Wee Wat Loocianpwse, tanyanya apakah sampai disaat ini kau masih tidak percaya Hong bu Siong itu seorang busuk?"
Wee Wat merogo kesakunya dari mana ia menarik keluar sehelai papan kecil. ,,Aku masih tetap bersangsi, sahutnya.
"Hanya sekarang setelah mendengar keterangannya Mo Lek yang telah melihatnya sendiri dan mendengar kata katanya dengan kepala hantu wanita halnya ia mengakui ialah yang mengurung Leng Liehiap sulit buat aka tak percaya lagi .....* Selembar papan kecil itu sebenarnya ya"ah ujung tongkatnya yalah ujung tongkatnya Hong hu Siong yang baru-baru ini ketika dia menempur Kui Ciang diatas gunung Giok Sie San telan kena tarpapas pedangnya orang she Toan itu. Sengaja Kui Ciang menyimpan itu untuk dijadikan buk ti untuk Wee Wat, yang ia hendak minta bantuannya. Ia kuatir Wee Wat tidak percaya, ia perlu bakti itu. supaya dengan begitu Wee Wat suka membalaskan sakit hatinya Ciu Kay Kie Tie si Pengemis Pemabukan, Begitu ia bertemu sipengemis. begitu ia menyerahkannya, maka selanjutnya si-pengemislah yang menyimpannya. Memang Wee Wat bersangsi sampai sekarang ia mendengar ketarangan Mo Lek ini, dari itu ia keluarkan papasan tongkat itu maka nampak pada airmukanya yang suram. Toan Kui Ciang haran. , Loociaaowie kata ia, inilah sepotong kayu yang aku papas sendiri dari ujung tongkatnjta Hong-hu Siong. Mungkinkah disini ada sesuatu vaug tak cocok?"
Masih Wee Wat berpikir baru kemudian ia kata.
, Sukar untuk menjelaskannya!
sekarang aku menjadi bingung dibuatnya...
Akan tetapi Hong hu Sioag berada disini, akhirnya urusan toh bakal dapat dibikin terang.
Bera saja berhenti suaranya sipengemis edan ini atau diantara mereka muncul dua orang lain bahkan yang satunya terus mengasi dengar suaranya yaag tidak sedap-Merekalah Tian Toa Nio dan Hong hu Siong yang baru saja tiba Kata sinyonya tua bengis.
"Siapakah yang berani datang kegunungku ini gunung Hoa San buat banyak lagak?"
Wee Wat memandang tajam Sinar matanya menatap Hongbu Siong.
Ia gusar sekali Maka ia menegur keras.
Hong bu Siong bagus kau masih mempunyai muka menemuiku!
Jikalau hari ini aku tidak bunuh kau, aku malu terhadap Kie Loo jie!
Dengan Kie Loojie sipengemis edan maksudkan Kie Tie, sipengemis pemabukan, lapun berlaku sangat cepat Tubuhaya telah berlompat menyambar Hoag hu Siong yang ia serang batok kepalanya.
Honghu Siong terkejut mukanya menjadi pucat.
Akaa tetapi ia tidak berdiam aaja.
Atas tibanya serangan ia mengangkat tongkatnya dengan itu ia menyambut serangan seraya menghajar lengan si penyerang!"
Wee Wat liehay Ia batal menyerang sebaliknya is menanggapi tongkat orang ketika ia telah menyekal ia mendapstkait ujang tongkat bekas terpapas.
Tidak ayal lagi ia menarik dengan keras.
Hong hu Siong bertahan, ia memegang keras tongkatnya itu akan tetapi kuda kuda nya tergempar ia tertarik.
terhuyung sampai tujuh atau delapan tindak, hingga tubuhnya nampak bagaikan lilin diantara tiupan keras angin yang borgoyang goyang mau roboh -"
Dibuat seperti itu seandainya Wee wat meneruskan menyerang.
Hong hu Sion tentulah terbinasa Mau sedikitnya terluka parah akan tetapi kejadiannya tidak demikian.
Sebaliknya daripada menyerang pula Hong Kay lustcru berdiri diam ia tercengang!"
Apakah sudah terjadi?
Bentrok dengan Hong hu Siong ini Wee Wat merasa aneh.
Yang pertama-tama ya-lah.
Ia bersama Hong hu Siong dan Kie Tie yalaH yang kaum Kang Ouw kenal sebagai.
Kang Ouw Sam GIe Kay, atau tiga pengemis aneh dunia Sungai Telaga.
Kepandaian mereka berimbang satu pada lain, Kali ini Wee wat menyerang dengan segera menggunai pukulan tipu silat Ngo Kim Ciang Cengkeraman Lima Unggas, Inilah sebabnya mengetahui Hong-hu Siong liehay dan ia ingin mendahului turun tangan untuk sedikitnya menang diatas aagin.
Maka ia merasa beras sekali dalam jurus pertama ini ia lantas mendapatkan Hong-hu Siong seperti kalah Benarkah See Gak Sia Liong dapat dipukul terhuyung secara demikian mudah?"
Kesangsian Wee Wat yang kadua yang tongkatnya Hong hu Siong ini Tongkat kayu cendana merah dari Hoag hu Siong terbuat dari Lam Hay tongkat itu menyiarkan bau harum akan tetapi ujung tongkat yang dipapas Toan Kui Ciang itu meski benar kayu cendana juga itu bukanlah cendana keluaran Lib Hay dan bau harumnya beda sedikit.
Maka maulah Wee Wat menyangka oraag yang Kui Ciang ketemukan di Giok Sie San itu bukan Hong hu Siong hanya lain orang..Sekarang apakah yang ia lihat?
Orang itu benar-benar Hong-hu Siong Ia telah menempurnya sendiri.
Ia pula telah membuktikan tongkat Hong-hu Siong ini telah lenyap ujungnya.
Jadi benarlah mi orang ditempur loan.
Kui Ciang orang yang telah membinasakan Ciu Kay Kie Tio.
Cuma yang beda sekarang yaitu tongkat cendana itu.
Tongkat itu bukan tongkat yang biasa dipakai Hong-hu Siong dahulu hari....
Heran dan tercengang, pada otaknya Wee Wat timbul pelbagai pertanyaan yang mem "bingungkannya Hong-hu Siong telah menukar tongkatnya itu atau Hong-bu Siong ini Hong-hu Siong yang palu.
Sudah umumnya jago Bu Lim atau Rimba persilatan, tidak pernah menukar jegamannya.
apa pula tong kat luar biasa.
Tapi, kalau bicara dari hal Hong-hu Siong yang pa"su, benarkah di ko long langit ini ada erang yang demikian mirip satu dengan lain?
Di saat Wee Wat mengambil keputusan buat meneliti romannya orang yang berdiri di hadapannya itu, mendadak ia mendengar tertawa lebar dari Tian Toa-Nio yang telah sampai didekatnya lalu dengan suara tajam dan tak sedap nyonya tua itu segera berkata.
,,He, pengemis bangkotan kiranya kau juga masih belum mampus!
Apakah Kau masih Kenali aku siwanita tua?"
Wee Wat tidak menggubris orang bergu rau, ia kata sungguh-sungguh.
"Urusan hari ini tidaK ada sangKut pautnya dengan kau! Karena kau berhasil melindungi jiwamu, baiklah kau jangan membesarkan kepala henda mencampur-campur tahu."
Tian Toa-Nio tertawa dingin.
"Dahuluhari, aku juga pernah memberi nasihat padamu buat kau jangan memaksa mengajukan diri mencampuri urusan orang lain!"
Katanya tajam.
"Kau tapmya tidak menaengar nasihat, kau berkepala batu kau mengandal kepada banyaknya jamlih kawanmu kau telah membikin suamiku binasa Karena itu jangan"ah kau sesalkan aku!"
Kata Kata nyonya tua ini ditutup dengan serangan kedua tangannya.
Wee Wat Kenal baik sinyonya ia menang kis.
Atau segera menjadi kaget.
Ia merasakan tangan orang luar biasa sekali.
Sebelah tangan Tian ToaNio dingin bagaikun es, dan sebelah yang lain panas seperti api!
Inilah sangat diluar dugaannya.
Ia tadinya cuma mau menduga tentulah sinyonya telah memperoleh kemajuan maka dia menjadi bernyali demikian besar, tak tahunya o-rang sudah meyakinkan ilmu yang sangat luar kiasa itu.
Ia lantas lompat mundur.
Tian Toa-Nio tertawa terkakak.
,.Pengemis tua.
apakah kau masih memikir untuk kabur?"
Tanyanya mengejek. Ia lantas menyerang pula. Wee Wat menjadi gusar.
"Siluman perempuan tu apakah kau kira aku takut padamu?"
Katanya sengit.
Ia pun lantas menyambut.
Dengan jeiiji tengah tangan kiri, ia menyentil, sedang dengan tangan kanannya, ia menangkis.
Dengan berbareng, ia menggunai dua macam ilmu silat yang langka yalah ,,It Cie Sian atau Jeriji suci dan ,.Kim Kong Cianj"
A-tau tangan Arhat, yang sifatnya dua-dua haluslunak berbareng keras-kuat, yang mengandal kepada tenaga dalam yang terlatih sempurna. Nyonya Tian pun terkejut. Katanya di dalam hati.
"Kepandaiannya pengemisnya tua ini tak dapat disamakan dengan dahulu hari!"
Karenanya ia jadi tidak berani memandang ringan seperti semula.
Maka keduanya lantas bertempur keras sama keras, lunak sama lunak.
Sementara itu Hong-hu Siong, yang telah dimundurkan Wee Wat hingga beberapa tindak, sudah lantas diserang Hue Siong , Ia terkejut, mukanya menjadi pucat.
Lekas lekas ia lompat mundur beberapa tindak.
Lam Cee In kuatir isterinya itu gagal ia juga lompat maju, guna membantui.
Ia lantas membacok si Naga Sakti.
Hoag-hu Siong menangkis golok Cee in kembali ia lompat mundur.
Toan Kui Ciang mengasi dengar seruan yang nyaring dan panjang, sambil berseru itu tubuhnya mencelat pesat sekali mengha dang kepada Naga Sakti dari gunung Hoa San itu.
Ia memutar pedannya yang berkilau seperti bianglala.
Sembari menghadang lawan itu ia kata pada Cee In.
"Lam Hian-tee, pergi kau bersama Nona Hee masuk ke dalam guha untuk menolongi orang! Serahkan bangsat tua ini padaku-, Hong-hu Siong gusar, Ia balas menyerang pada orang she Toan itu. Kui Ciang menangkis, menahan turunnya tongkat.
"Hong-hu Siong hari ini kau ada bicara apa? "
Ia tanya.
See Gak Sin Liong tidak menjawab dia hanya menyerang terus.
Dia menggunai tipu-silat Sin Kauw Doet Tiong atau Ular naga sie ti keluar dari guha.
Dengan begitu ujung toagkatnya mencari jalan darah jie kbie hiat diperut lawannya antuk ditotok.
Pasti sekali tak mudah buat Kui Ciang kena tertotok itu.
Dengan satu gerakan pedang ia, meautup diri meaghadang njung tongkat lawan.
Kerena tabasannya tepat kali ini juga dapat ia memapas kutung sedikit dari ujung tongkat silawan Akan tetapi bicara dari hal tenaga dalam Hong hu Siong menang setingkat maka mau ata"u tidak.
Kui Ciang mesti tertolak mundur satu tindak.
Sampai di situ Touw Sian Nio juga tidak berdiam menonton saja.
Tanpa bersangsi pula ia menggunai pelurunya.
Dengan beruntun ia melepaskan tiga buah peluruh kim wah.
Repot juga Hong hue Siong.
Dua peluruh ia hindari lewat dengan berkelit akan tetapi kim wan yang ke tiga mencari sasaran pada muka nya, Ia putar sebelah tangannya, untuk menyampok itu Ketika kedua senjata beradu di-situ terdengarlah satu suara nyaring yang mengalun suara beradanya logam dengan logam sampai kim wan itu mental balik !"
Kui Ciaag heran hingga ia memasang mata atas maaa ia mendapat lihat pada tangan kiri See Gak Sia Liong pada jeriji manisnya ada terpakai sebuah cincin yaag sama dengan sebuah cincin yang dahulu hari Hong hu Sioag telah kasikan padanya.
Dahulu hari itu Kui Ciang hendak menolongi Su It Jie sahabatnya untuk itu seorang diri ia telah pergi ke Tiangan menyerbu kedalam istananya An Lok San akan tetapi ia telah terluka parah sukur ia dapat di toloagi Lam Cee In.
Ketika itu ia dikejar terus orang orangnya An Lok San sampai ia mesti singgah disebuah kuil tua di mana ia kebetulan sekali bertemu dengan Hong hu S.ong yang telah mengusir musuh habis mana selain ia diberikan obat ia diberi pula tanda mata cincin itu dengan pesan, Kalau nanti dii bertemu dengan seorang yang memakai cincin serupa ini mohon dia memandang mukaku sukalah dia berlaku marah terhadapnya.
Tatkala itu Kui Ciang masih belum sadar benar ia mendengar pesan itu lapat baru kemudaian ia mendengarnya jelas dari Cee In Sekarang ia melihat cincin itu ia menjadi terkejut, Karena gusar ia membentak.
Oh bangsat tua yang pandai berpikir jauh kiranya dulu itu diwaktu kau menolong-aku dan memberikan cincin padaku kau telah menghitung akan peristiwa sekarang ini"
Jadi kau ingin aku memberi ampun padamu bukan ?"
Kui Ciang insaf akan budi dan sakit hati Itulah budi yang Hong hu Siong telah menolongi itu.
Tapi sekarang telah terbukti inilah Hong hu Siong pembanuh dari Hee Seng To dan Kio Tie.
Sementara itu sekarang jandanya Seng To itu yaitu Leng Soat Bwee ibunya nona Leng Song sedang tekurung didalam sarang orang.
Karena itu, dapatkah ia memberi ampun kepada si Naga Sakti.
Dengan satu serangan kosong Kui Ciang menggertak jago Hoa San itu habis itu ia lompat mundur Tapi ia bukan mundur buat pergi menyingkir hanya dengan suara nyaring ia kata Hong hoe Sioag "Mengingat bahwa kaulah salah seorang tertua Rimba Persilatan dan kau telah cceiepas budi kepadaku, kau bunulah dirimu sendiri Jikalau kau ada pesan kau sampaikan itu padaku nauti aku lakukan untuk mewujudkannya!"
Akan tetapi Hong hu Siong menjadi gusar.
"Angin busuk"
Katanya lalu dengan tongkatnya dia menyerang keras bahkan berulang ulang, tak dia menghiraukan bahwa orang repot menangkis dan mesti main mundur, supaya tidak usah melayani dia sama keras nya.
,,Hong-hu Siong !"
Kata pula Kui Ciang "Bukankah kau bukan seorang tanpa nama? Apakah sampai waktu ini, kau masih takut mati, kau masih temaha hidup ? kau tahu, dengan membiarkan kau membunuh diri"
Aku bermaksud baik terhadapmu, supaya kau mati wajar ! Dengan begini aku pun jadi memandang muka terangmu !"
Hong-hu Siong tidak menghiraukan nasihat itu, dia terus menyerang berulang-ulang dengan bertambah-tambah seruh.
Kui Ciang sebaliknya, ia main menangkis sambil mundur.
Ia masih ingat budi orang, lantaran repot, hampir-hampir ia kena terhajar tongkat.
Touw Sian Nio menyaksikan itu, ia menjadi sangat mendongkol.
"Bangsat tua ini tidak punya malu sama sekali!"
Katanya nyaring. ,,Buat apa kau masih berlaku sungkan terhadapnya?"
Berkata begitu, Nyonya Kui Ciang menghunus goloknya ....
golok Bian-to, untuk maju membantu suaminya mengepung lawan itu.
Hong-hu Siong tertawa dingin, kata dia ,,Sekali pun anakmu sendiri, kamu masih tidak mampu lindungi, apakah kamu masih mempunyai muka untuk banyak lagak disini ?"
Ia lantas menangkis mental pedangnya Kui Ciang, untuk meneruskan menotok jalan darah hiat-hay diperutnya Sian Nio. Itulah totokan ,,Tok-coa-sim-hiat,"
Atan ,.Ular berbisa mencari liang."
Sian Nio berkelit. Totokan itu membuatnya malu dan mendongkol. Dalam murka besar, ia balas menyerang.
"Traang !"
Demikian bentrokan pedang dengan tongkat, sebab Hong hu Siong sempat menangkis Menyusul itu, kedua senjata bergerak pula.
Tongkat menyamber kebawah.
Tubuh Sian Nio asencflat, mengasi lewat serangan itu sedangk.an goloknya membabat.
Atas itu Hong-hu Siong mendak, akan tetapi kesudahannya, dia kaget, dia mendapat kenyataan, nyonya itu liehay sekali.
Juga ketika itu pedang Kui Ciang menyamber pula.
Hong-hu Siong terkejut.
Sekarang dia dapat kenyataan, Sian Nio kalah pandai dari suaminya tetapi ia terlebih telengas.
Tebasan golok si nyonya membuat kepalanya terasa dingin, karena segumpal rambutnya kena terbabat kutung !
hal ini membuatnya gusar, dia lantas menyerang hebat sekali, umpama kata, tongkatnya bergerak keempat penjuru atau kedelapan arah.
Ia merabu, dia menyodok, dia menghantam dari atas, dan beberapa kali, dia pun menotok dengan telunjuknya.
Tongkat merupakan senjata yang, berat dan ujungnya potol, tetapi setelah kena terpapas, ujung itu menjadi lancip dan tajam, tepat untuk dipakai menyodok atau menikam.
Dia dikepung berdua masih dapat dia balat menyerang "Hong-hu Siong dijuluki See Gak ain Liong benar-benar dia liehay bukan nama melulu,"
Pikir Kui Ciang kemudian.
"Cuma biar bagaimana, dia tak segagah seperti apa yang orang banyak buat sebutan ..."
Berbareng dengan itu Kui Ciang juga heran.
Ia menyuruh orang membunuh diri, orang bukan melakukannya, orang justeru gusar, orang mendamprat ia dan isterinya, sama sekali orang tidak mengungkat-ungkat atau menyebut budinya yang dilepas dahulu hari itu terhadapnya, seharusnya ia dicaci ,,bong-in-pee-gie"
Yaitu "melupakan budi, merusak kehormatan."
"Aneh !"
Pikirnya Yu ciu Tay-hiap.
Tapi sekarang mereka lagi berkelahi untuk hidup atau mati tak sempat Kui Ciang memikirkan terus kesangsiannya atau keheranannya itu, terpaksa ia meaggunai pedangnya secara sungguh sungguh melayani orang yang bagaikan kalap itu.
Ia mendampingi isterinya supaya si isteri tidak sampai salah bergerak.
Sejak dikalahkan Khong Khong Jie, Kui Ciang dan Sian Nio sudah berlatih pula bersama dengan keras sekali, mereka telah memperoleh kemajuan, maka juga dengan bertempur bersama, pedang dan tolok mereka dapat bekerja sama juga dengan rapih.
Itu sebabnya, dalam pertempuran yang kedua kali, kekuatan mereka sudah hampir berimbang dengan "
Ketangguhan Kb ong Khong Jie, selama itu beberapa tahun sudah lewat, bisalah dimengerti apabila seka rang suami-isteri ini dapat bekerja sama lebih erat-pula.
Begitulah, tak peduli Hong-hu Siong liehay, dia bagaikan terkurung sinar sinar pedang dan golok, beratnya untuk dia.
Dia tidak memiliki kepandaian ringan tubuh seperti Khong Khong Jie, sangat sulit kalau dia memikir hendak meloloskan diri.
Lewat lagi beberapa jurus maka pasang an suami-isteri jago itu "udah menang di atas angin dari itu tinggal tunggu saatnya saja untuk mereka merebut kemenangan.
Dipihak lain, pertempuran diantara Kong Kay Wee Wat dengan Tian Toa Nio berjalan dengan sangat hebat.
Lambat laun nampak bahwa pihaknya si Pengemis Edan tidak menguntungkan.
Nyonya Tian dengan kepandaiannya Im Yang Siang Tok Ciang, Sepasang Tangan Beracun Im -yang, liehay luar biasa, kedua tangannya yang dingin dan panas dapat bekerja sama, kalau kedua tangan itu membentur tubuh, penderitaanlah akibatnya.
Dingin membikin tubuh bagaikan beku, panas membuat orang seperti terbakar?
syukurnya untuk Wee Wat, ia telah memiliki tenaga dalam yang luar biasa hingga tubuhnya menjadi seperti kedot, setiap kali ia kena tersentuh, ia menolak hawa dingin ata-u panas hingga kedua hawa itu tidak meresap menyantroni urat nadinya.
Hanya, katena berkelahi secara demikiah ia memerlukan tenaga jauh terlebih besar.
Inilah yang tidak menguntungi ia sebab te saga dalam mereka berdua berimbang satu dengan lain.
Juga untuk Nyonya Tian, buat segera dia berhasil merampas kemenangan, janganlah dia harap.
Lam Cee In tidak lantas turun tangan.
Ia melihat kedua rombongan seperti ia lagi menonton.
Ia mendapat kenyataan Kui Ciang dan Sian "Nio sudah menang unggul dan Wee Wat melawan Toa Nio sama tang guhnya.
Ia percaya mereka itu tak membutuhkan "bantuannya, karena ini ia lantas memikir buat menerjang masuk ke dalam guha.
Ibunya Leng Song harus ditolongi.
Juga di dalam situ kuatir nanti ada cawannya musuh.
Jikalau mereka itu menggunai ibunya Long Song untuk memeras mereka, itulah buruk.
Memikir begitu, ia lantas menghadapi kesulitan.
Pintu guha kuat sekali, sedang ia hanya bersama isterinya da-Mo Lek.
Tadi pun mereka belum memperoleh hasil.
Mo Lek juga memikirkan pintu guha itu.
Ia ketarik menyaksikan pertempuran dahsyat itu tetapi lebih penting menolongi orang didalam guha.
Ia dari keluarga kaum Liok Lim, yaitu Rimba Hijau, kaum itu me mang banyak yang biasa tiaggal diatas gunung atau di dalam guha maka itu, ia banyak pengetahuannya.
Ia memperhatikan cara pembuatannya guha iai, kemudian ia kata pada Cee In .
"Mestinya guha ini mem punyai jalan keluar lainnya. Tak mungkin dia berpintu satu. Bagaimana andaikata pin tu ini ditutup ? Bukankah orang di dalam akan mati kelaparan dan tak bernapas ? Pu la tadi koacohnya sibangsat tua dapat menyalakan api, untuk memberi isyarat, itu pun bukti yang kuat mesti adanya jalan lain. Aku rasa, jalan itu mesti ada di atas gunung ..."
"Kau benar, Tiat Sute,"
Berkata Cee In.
"Adik Song, mari kita naik ke atas untuk mencari. Kau, sute baik kau menanti dipintu guha ini, guna menjaga kalau-kalau musuh menyerbu keluar."
Leng Song mengangguk, begitu pun Mo Lek.
Maka itu Cee In lantas mengajak isteri nya lari mendaki.
Mereka menggunai ilmu ringan tubuh.
Tiba diatas, mereka lantas saja berduka, sekian lama mereka mencari, mereka tidak mendapatkan lubang apa juga benarkah tidafr ada jalan lainnya ?
Sesudah berdiam sekian lama, suami is teri ini mulai menjadi gelisah.
Atau mendadak, mereka mendapat dengar suara orang suara itu datangnya dari bawah.
Mestinya itu dari dalam guha, bahkan yang membangunkan semangatnya Leng Song yalah ia mengenali suara itu sebagai suara ibunya.
"Anak Song ! Anak Song !"
Demikian Suara iiu terulang.
"Anak Song, kau sudah datang ... ? Oh, jahanam ! Lagi satu tin dak kau maju, akan aku mengadu jiwa denganmu !"
Teranglah, Leng Soat Bwee lagi terancam orang jahat. Rupanya ia diancam untuk jangan bersuara. ,,Ibu ! "
Berseru Leng Song, yang girang bukan kepalang.
"Ya, ibu, aku datang !"
Anak ini lantas lari kearah dari mana suara ibunya itu datang. Itulah sebuah batu besar, yang berdiri mencil sendirian. Dikiri dan kanan batu itu tidak ada rumput sepo-hon juga.
"Inilah tentu jalan ke luar itu !"
Kata Nona Bwee. Ia lantas berdongko, untuk me rabah batu itu, buat menolaknya dengan menggunai tenaganya. Ia berhasil. Batu itu memperlihatkan sebuah lubang. ,.Tunggu dulu !*"
Berkata Cee In. yang melihat isterinya tak dapat bekerja seorang diri. Ia lantas meloloskan bajunya yang panjang, lantas ia maju, berdiri berendeng bersama isterinya. Mari!"
Katanya, seraya ia mengerahkan tenaganya.
Dengan bekerja sama.
batu itu dapat digeser jauh hingga tampak nyata lubang tadi yang tertutup atau ketutupan.
Hanya gelap didalam lubang itu.
Leng Song mau lantas lompat masuk, turun kedalamnya.
"Sabar!"
Cee In mencegah.
"Kenapa?"
Tanya isteri, heran.
"Awas untuk senjata rahasia!"
Kata suami itu, yang lantas menjemput baju panjangnya.
"kau ikuti aku! Ia lantas maju dimuka, ia lohipat turun sambil memutar bajunya itu. Leng Song menurut, ia mengikuti. Seturunnya mereka ditempat yang gelap itu nampak beberapa benda berkeredepan Syukur Cee In menggunai bajunya itu, yang ia putar bagaikan titiran, hingga mereka bebes dari serangan gelap itu, sarang-an dari senjata rahasia Bwe Hoa Ciam jarum serupa bunga bwee.
"Sungguh berbahaya!"
Kata Leng Song didalam hati. Iapun lantas bersilat bergitu lekas ia sudah menaruh kaki. Ia menggunai jurus "Ya Cian Pat Hong"
Atau "Perang malam didelapan penjuru,"
Guna menjaga dirinya.
Segera juga terlihat satu bayangan hitam berlompatan maju bagaikan burung menyamber, didahului dengan berkeredepnya dua buah sinar bundar yang berwarna kuning.
Leng Song menangkis serangan itu, tepat kenanya, hingaa terdengar satu suara yang nyarang bagaikan suara genta yang menulikan telinga.
Kiranya penyerang itu yalah seorang toosu, imam dari goloigan Too-kauw......agama Too atau penganutnya sang Nabi Loo Cu.....dan senjatanya itu sepasang tongkat atau cecer tembaga.
Habis menyerang itu, dia mencoba menjepit pedangnya Leng Song tetapi dia tidak berhasil, bahkan ti-jung bajunya kena dirobek ujung pedang.
Hanya, walaupun demikian tangan sinona menggetar, yang mana menjadi satu bukti bahwa imam itu lihay, kepandaiannya tak dibawah sinona.
Lam Cee In tidak berdiam saja.
Sambil bersuru keras, ia menggeraki tangannya yang masih memegangi bajunya, untuk me-nungkrup kepala si toosu, menyusul mana, dengan goloknya ia juga membacok.
Siimam bermata celi dan gesit, dia ber kelit, setelah mana, dia balas menyerang, hingga tongposrt beradu dengan golok.
Lagi-lagi cecer itu memperdengarkan suaranya yang sangat berisik, yang memkakkan kuping.
Leng Song tidak membantu suaminya.
Ia tahu, walaupun tidak menang, tidak nanti Cee In kalah.
Ia perlu menolong ibunya Maka ia menyalaka api, dengan membawa penerangan, ia maju lebih jauh, ke-sebelah dalam guna itu.
Soat Bwee tahu anaknya sudah datang, ia tidak berdiam saja.
Kembali ia memanggil.
Seng Song larikearah suara ibunya itu, hingga ia mendapatkan sebuah kamar digu-ha belakang.
Disitu terdapat cahaya guram dari sebuah pelita, mesti demikian, sinona bisa melihat ibunya yang kucai luar biasa mirip dengan orang yang lagi sakit berat Ia menjadi sangat terharu, dengat airmata berlinang, ia lompat menubruk.
"Ibu!"
Ia berseru. Lalu ia mencoba mengangkat tubuh ibunya tetapi tidak berhasil. Itulah sebab Soat Bwee telah terkena asap hio "Cian Jit Cui"
Atau "Mabuk seribu hari"
Dari Hong-hu Siong karena mana tenaganya menjadi habis. Mulanya Leng Song kaget, tetapi segera ia mengarti.
"Jangan kuarir, ibu! "
Kata anak ini.
"Rebah dahulu. Aku membawa Obat untuk ibu!"
"Apakah sibangsat tua yang memberikan obatnya?"
Siibu tanya.
"Bukan, hanya anak perempuannya Ong Pek Thong,"
Sahut Leng Song.
"Nona itu dapat dari mencuri dan dia memberikan itu kepadaku. Hal itu menarik hati nanti saja, sesudah ibu sembuh, akan aku menuturkan nya."
Leng Song heran juga.
Sudah lama mereka berpisah, mestinya mereka bicara banyak, siapa tahu, ibunya justru menanya dulu tentang obat pemunah itu dan menyangka obat diberikan oleh Hong-hu Siong.
Maka ia kata didalam hatinya.
"Apa mungkin, sudah lama terpenjarakan, pikiran ibu menjadi kacau ? Mustahil sibangsat tua Hong-hu sudi memberikan obatnya padaku? Buat apakah ibu sampai menanyakannya?"
Obat itu mustajab sekali. Begitu lekas* Soat B we minum itu, begitu lekas tenaganya mulai pulih. Dengan memegangi tangan anaknya, dapat ia berangkat, buat berduduk.
"Anak Song, kau tidak kurang suatu apa, hatiku lega sekali,"
Katanya.
"Siapa itu yang datang bersamamu?"
"Itulah menantu ibu.."
Sahut sianak.
"Ibu maafkanlah anakmu, tanpa menanti perkenan kau, aku sudah menikah dengan Cee In......"
"Orang sebagai Cee In itu, sekalipun dengan tengloleng dan obat, sukar untuk mencarinya,"
Kata sang ibu.
"Aku mendapatkan ia sebagai menantu apalagi yang aku minta ? Kau telah mempunyai orang yang dapat dibuat andalan, anak Song, hatiku lega sekali......"
Diantara sinar guram itu, Leng Song melihat ibunya bersenyum sedih. Tapi suara puas itu pun sedih nadanya. Hal itu membuat sianak muda heran, hingga ia tercengang. Pikirnya.
"Sedari kecil aku tidak mempunyai ayah, selalu aku hidup berdua dengan ibu, tak heran kalau sekarang mendengar pernikahanku, ibu menjadi girang berbareng berduka......"
"Masih ada siapa lagi diluar?"
Kemudian Soat Bwee tanya pula.
"Toan Peehu bersama istrinya serta Wee Locianpwee,"
Sahut sang anak.
"Toan Peehu berdua tengah menempur sibangsat tua, mungkin sekarang mereka sudah berha sil membinasakan manusia jahat itu."
Ibu dan anak ini berbicara dengag mereka berpegangan tangan. Tiba-tiba sianak merasai tangan ibunya bergemetar. Ia men jadi heran.
"Ibu, kau kennpa?"
Ia tanya. Soat Bwee menghela napas."
"Kui Ciang juga datang......."katanya.
"Oh, bagaimana aku.....,aku.......dapat menemui dia?"
"Kenapa, ibu?"
Tanya Leng Song, tambah herannya. Toan Peehu menjadi sahabat ayah, kenapa ibu tidak dapat menemukan dia?"
"Oh, Sungguh jemu!"
Tiba-tiba Nyonya Hee berseru. Leng Song terkejut "Ibu, kau benci siapa?"
Tanya ia.
"Aku benci Hong-hu Siong!"
Sahut si-ibu.
"Dia...."dia telah mencelakai aku!"
Bukan main herannya Leng Song.
Ibu itu pindah bicara dari Kui Ciang kepada Hong-hu Siong.
Ia jadi menjublak.
Lantas menerka sesuatu, karena mana, tubuhnya menggigil sendirinya.
Bagaimana hebat, pikirnya.......
Sekonyong-konyong Soat Bwee berlompat bangun.
"Hendak aku membunuh sendiri bangsat tua itu!"
Serunya, giginya bercatruk-kan. Leng Song pengangi ibu itu.
"ibu, nanti aku yang mewakilkan kau menyambutnya!"
Kata sianak.
"Ibu baik beristirahat lagi sekian lama."
Bibir Soat Bwee bergerak, ia seperti hendak mengucapkan sesuatu akan tetapi batal.
Sebaliknya ia melepaskan tangan anaknya, terus ia bertindak keluar dari kamar tahanannya itu.
Tenaganya telah pulih lima bagian, karenanya dapat ia bergerak dengan leluasa.
Ketika itu Lam Cee In dan sitoosu sudah bertempur sekian lama kepandaian mereka berimbang, akan tetapi lama-lama, hati siorang suci menjadi gentar.
-oo0dw0oo-
Jilid 21 Ia telah ingat sesuatu hingga hatinya menjadi kecil sendirinya.
Hingga ia lantas ingin mengangkat kaki Justeru itu ia men dengar tindakan kaki berat lagi mendatangi ia menjadi takut.
Tidak ayal lagi ia menangkis satu serangan, terus ia lompat mun dur, untuk lari keluar.
Suaranya Tian Toa Nio dapat didengar tosu ini, maka ingin ia mendapat pertolongan nyonya itu.
Ia telah merasa, tak nanti ia dapat bertahan melayani terus pada Cee In yang mempunyai kawan.
Cee In sebaliknya tidak mau mengasi hati.
"Tosu siluman, kau hendak lari kemana ? "
Bentak Lam Tayhiap seiaya lompat mengejar untuk menyerang.
Imam itu terkejut.
Didepan memang ada pintu batu yang berdaun dua, yang dapat dibuka, hanya untuk mementang itu.
ia memerlukan waktu.
Maka ia kata didalam hatinya .
Kenapa aku tolol sekali !
Mana bisa aku lari dari depan"
Ia sadar sesudah terlambat.
Ketika itu Cee In sudah me nyandaknya, hingga ia mendengar anginnya bacokan.
Dalam kaget dan bingung, ia menangkis kebelakang.
Ia bergerak dalam ge rakan "Hpng-hong Tian Cie"
Atau ..Burung hong-hong mementang sayap, la terlambat.
Berhasil ia menangkis hanya fidak tepat.
Goloknya Cee In kena dijepit sesudah ujungnya meluncur tanpa ampun lagi, pundaknya kena terbacok hingga melowek.
ia menjadi gusar berbareng takut, ia terus melawan dengan matimatian, sembari berkelahi, ia berteriakan.
Oleh karena orang bagaikan kalap, Cee In terpaksa mundur.
Dengan begitu, ia seperti membuka jalan.
Si imam nerobos, dia lari terus.
Disitu ada beberapa tikungan.
Lekas juga dia lenyap ditempat gelap.
"Adik Song, awas ! Cee In berseru memperingati kepada Leng Song.
"Siluman lolos, dia lari kebelakang !"
Ketika itu Soat Bwee dan anaknya sudah keluar kamar.
Leng Song mendengar suara suaminya, hanya belum habis suara itu, serangan gelap sudah datang.
Sejumlah jarum rahasia berkeredepxin.
Si imam, yang mau membuka jalan ditempat gelap itu su dah menimpuk dengan jarum-jarum Bwee Hoa Ciam.
Nona Hee berkelit, menyusul itu, ia meraba pedangnya.
Tiba-tiba ia terperanjat.
Sarung pedangnya kosong!
Justru itu terdengar bentakannya Soat Bwee.
"Hee, imam siluman Ku Goan ! Kaulah kawannya si bangsat tua, kau tidak dapat ampun ! Menyusul itu, suatu sinar putih melesat bagaikan bianglala. Menyusul itu pula, di sana terdengar suara jeritan yang menggiris kan hati ! liulah sebab si imam telah kena tertembus pedang yang dipakai menimpuk oleh si nyonya, ujungnya pedang tembus dan nancap ditembok. Hingga dengan begitu imam itu kena tersate! Nyonya Hee tadi telah mencabut pedang anaknya dan terus menimpuk, sedangkan dengan tangan kirinya, ia mengebut, menyampok runtuh jarum yang diarahkan kepadanya. Cee In mengejar terus ia tiba disaat Ku Goan sudah menerima nasibnya. Ia terkejut dan girang dengan berbareng. Leng Song juga girang sekali melihat hasil Itu, tahulah ia tenaga ibunya sudah pulih tujuh bagian. Lantas ia memanggil suaminya .
"Cee In mari! Mari menemui ibuku ! Kita perlu cepat keluar dari sini, untuk membunuh si bangsat she Hong-hu, supaya kita bisa lekas membantu Wee Lo-cianpwe melayani si nenek yang lihay itu! Cee In menghampiri mertuanya, ia memberi hormat sambil berlutut. Soat Bwee memimpin bangun pada menantunya itu.
"Cee In mulai hari ini, aku serahkan anakku kepada kau, katanya.
"Kau baik-baiklah memperlakukannya ! Cee In tak dapat berkata apa-apa ia cuma menyahut .
"Ya ... Leng Soat berkata pula . ..Anakku biasa manja kau harus sabar terhadapnya. Tapi ah, tak usah aku bicara banyak. Aku tahu orang seperti kau tentu takkan menyia-nyiakannya"
"Benar, ibu ! "
Kata Leng Song tertawa.
"Kita sekarang sudah dapat berkumpul, di lain waktu masih banyak saatnya untuk kita bicara banyak ! Sekarang mari lekas kita ke luar untuk membantu Toan Peehu dan Wee Locianpwe, si bangsat, tua tidak berarti se berapa, adalah si nenek yang lihay sekali! Habis berkata, Leng Song mencabut pedangnya yang ia serahkan pula pada ibunya. ,,Ibu tidak mempunyai senjata, baik ibu pakai terus pedangku ini."
Katanya. Ibu itu bersangsi sebentar. ,,Baik,"
Sahutnya, seraya ia menyambut pedang itu, teras ia bertindak ke pintu untuk membukanya. Ia lantas mengeluarkan napas lega.
"Tidak kusangka, aku Leng Soat Bwee dapat pula melihat langit dan matahari !"
Katanya, lega hatinya, toh ia berduka.
Mendadak -ia memutar tubuhnya, meluncurkan sebelah tangannya, atas mana, Cee In dan Leng Song roboh saling susul.
Karena di luar dugaan, mertua atau ibu itu telah menotok mereka, hingga mereka tidak dapat membebaskan diri.
Dengan tubuh tidak bergeming mereka cima merasa smgat heran, dan mata mereka mengawasi dengan mendelong.
Setelah tertotok tidak dapat mereka membuka mulut mereka.
Sambil mengawasi anak mantunya.
Soat Bwee berkata.
"Aku hendak membunuh musuh dengan tanganku sendiri, aku tidak membutuhkan bantuan kamu! Didalam tempo satu jam kamu akan peroleh kemerdekaan kamu. Anak Song Ibumu pergi!"
Nyonya Hee bertindak pergi akan tetapi tiga kali ia masih menoleh kebelakang, untuk melihat anak mantunya itu.
Dengan tindakan perlahan ia keluar dari pintu guha Leng Song mengawasi, Ia melihat ibunya itu mengalirkan airmata.
Setelah berada berdua saja.
Leng Song dan Ce In saling mengawasi.
Keduanya heran bukan main.
Sikap ibu atau mertua mereka aneh sekali.
Karena itu, mereka menjadi berkuatir.
Taruh kata orang tua itu, tidak membutuhkan bantuan, tak usah ia menotok.
Tian Toa Nio sangat lihay, bukan kah terlebih baik adanya dua orang pembantu ?
Dari berkuatir, akhirnya Leng Song menjadi takut sendirinya.
Diluar Tian Toa Nio dan Wee Wat ma sih bertarung dengan sama hebatnya.
Dilain pihak rombongannya Toan kui Ciang dan isterinya dengan Hong-hu Siong nampak perbedaannya.
Honghu Siong sudah terdesak hingga dia menangkis tetapi tidak sang gup balas menyerang.
Untungnya bagi Hong-hu Siong.
Kui Ciang"
Tidak tega turunkan tangan kejam a-tas dirinya Jago ini mash ingat budi orang yang telah memberikan obat kepadanya. Bahkan setelah beberapa gebrakan lagi, Kui Ciang berseru.
"Hong bu Siong sampai disaat ini, apakah kau masih temaha akan hidup? Jikalau kau mempunyai tulang tulang mu, kau pergilah sendiri".
"Itulah undangan untuk Hong-hu Siong membunuh diri, supaya dia tak mati terbunuh suatu hal yang akan menodai kehormatannya. Luar biasa adalah kesudahannya sikapnya Toan Kui Ciang ini. Justeru Hong hu Siong mendapat tempo senggang, justeru dia melakukan penyerangannya yang sangat ber bahaya begitu dia menangkis goloknya Sian Nio begitu dia menudingkan tongkatnya, berbareng dengan mana sejumlah jarum ra hasia melesat keluar dari ujung tongkat itu Karena dida"am tongkat, yang kosong, dia menyembunyikan senjata rahasianya itu, yang dikerjakannya dengan pesawat yang dapat di tekan. Memang sejak tadi dia sudah memikir menggunakan senjata rahasianya itu akan tetapi dia belum memperoleh ketikanya yang baik, baru sekarang, saat yang dinanti-nantikan itu tiba. Tak disangka ia telah diberikan ketikanya itu oleh musuh. Syukur ialah Touw Sian Nio menjadi seorang ahli senjata rahasia. Didalam hal kepandaian itu ia melebihkan suaminya. Be gituJah ketika jarum-jarum menyamber. da-lam kaget dan sibuknya, ia lantas menimpuk dengan goloknya, terus dengan kedua tangan bajunya, ia menyambuti semua jarum rahasia itu, hinjga tidak ada sebatang juga yanj lolos, yanf melukai badannya, Hong-hu Siong terperanjat. Inilah ia ti dak sangka, la juga kaget karena golok sinyonya terbang kearahnya hampir berbareng dengan -hujan jarumnya itu. Ia lantas berkelit. tidak urung pundaknya kena juja tergores. Ia menjerit, terus ia putar tubuhnya uirtuk lari ! Kui Ciang gusar sekali. ..Bangsat tua kau bukannya manusia"
Dampratnya.
Ia menjejak dengan kedua kaki nya, untuk menghajar, untuk menikam pung gung orang.
Masih Hong-hu Siong dapat menangkis kebelakang hanya sekarang dia kalah tenaga.
Itulah sebab luka dipundaknya itu, sebab salah satu tulang pipanya telah terputus.
Ketika dia menangkis tongkatnya juga terbabat kutung menjadi dua potoag!
Dalam murkanya Kui Ciang menyusuli dengan lain serangan, guna menghabiskan jiwa orang atau mendadak ia mendengar sa tu teriakan memohonkan keampunan.
.,Toan Tay Hiap berlakulah murah hati!"
Kui Ciang tercengang.
Ketika ia menoleh ia menoleh, ia melihat satu orang berlompat berlari-lari kearahnya bagaikan satu bayangan, Meski demikian ia sadar, dengan lantas ia menotok kepada Hong-hu Siong.
pada jalan darah tiong-kie dipunggung.
Segera ia berpaling pula akan melihat siapa itu yang menyerukannya dan lagi mendatangi Ia heran hingga ia berdiri menolong Didepan ia muncul satu Hong-hu Siong lain nya yang sejalanya mirip den an Hong-hu-Siong yang ia telah totok hingga tidak berdaya itu!"
"Kau siapa?"
Akhirnya ia menanya, setelah oranf itu tiba didepannya.
Ia mengawasi dengan tajam.
Berbareng dengan teguran Kui Ciang ini disana terdengar sorak-sorainya Wee Wat si pengemis Edan, ia pun yang berjingkrakan.
Kata dia.
"Hong-hu Toako benar benar kau yang datang! Memang telah kuduga dia inilah simanihsia palsu yang telah menyamar menjadi kau !"
Adalah kebiasaannya Wee Wat.
kalau saia dia kegirangan secara mendadak ia da pat melupakan segala apa, sekalipun ia lagi bertempur Demikian kali ini melihat Hong hu Siong ia berteriak dan berjingkrakan itu.
Atau mendesak ia kaget dan berseru ce laka!
"Itulah sebab Tian Toa Nio, yang li-hay, tidak menghiraukan keadaan itu, si-nyonya sudah menyerang berbareng dengan kedua tangannya.
Maka terhajarlah si Pengemis Edan, karena mana, selain suara nyaring dari hajaran itu, tubunnya pun terpental !
Menyusul itu, Tian Toa Nio bergerak terus, bagaikan terbang dia lompat kepada Toan Kui Ciang, untuk menyerang jago she Toan itu.
Toaw Sian Nio melihat majunya orang ia menyerang dengan tiga buah pelurunya.
Tian Toa Nio tidak memperdulikan serangan itu bahkania tidak mau menangkis la maju terus pada Kui Ciang.
Maka terkenalah ia tiga buah peluru itu, hanya aneh, ia tidak kurang suatu apa, tubuhnya me-ngagi dengan suara nyaring seperti logam, suara itu sedap masuk kedalam telinga.
Sedangkan ketiga peluru mental balik pada orang yang melepaskannya.
Sian Nio heran.
Tak tahu ia, orang me makai semacam tameng istimewa atau karena tubuhnya kebal, tak mempan senjata.
Meski demikian ia toh maju untuk menghajar punggung si nenek dengan gendewa-nya ?
Kui Ciang juga heran tetapi ia tidak menjadi bingung.
Ketika si nyonya tua sampai, ia berkelit kesamping, dari situ ia mengirim tikamannya kejalan darah cie-khi di iga si nyonya Itulah serangan vang sangat berbahaya.
Masih Tian Toa Nio tidak mengirau-kan serangan, ia meluncurkan tangannya guna menangkap gagang pedang lui Ciang.
Jeriji tangannya ditekuk seperti gaetan.
Kui Ciang seorang ulung didalam medan pertempuran, ia tidak menjadi kaget atau bingung.
Ia cuma tetap heran sebab nyo nya ini tangguh luar biasa.
Ia lantas mema sang kudakuda, guna memperkokoh berdiri-aya.
Pedangnya pun ditekankan kebawab-Sambil berbuat begitu, ia berseru.
,,Kena!"
Itulah karena ia menyerang terus.
,,Bagus !"berseJu Tian Toa Nio, yang meiti melepaskan cekalannya.
Kali ini tenaga dalamnya tak cukup kuat buat merampas pedang lawannya.
,,Kau hendak membunuh aku ?
Tak dapat !"
Serangan Kui Ciang tidak berhasil mengenakan sasarannya cuma lewat di sisi iga si nyonya, siapa, sebaliknya terus me nyember tangan orang untuk dicekal nadinya !"
Kui Ciang hendak membebaskan diri caranya yalah sembari mencoba menarik pulang tangannya itu, tangan kanan dengan tangan kirinya hendak ia menyerang jago wanita itu.
Tiba-tiba saja Tian Toa-Nio membatalkan serangannya, sebab dia mesti memutar tubuh untuk menangkis ke-belakang.
Itulah disebabkan Tauw oian Nio dengan busurnya sudah menyerang punggung orang, hanya serangan itu gagal, karena uiung busur kena disentil oleh si nyor nya tua yang lihay itu.
ia kalah tenag?
dalam-Hebat sentilan itu, tangannya sesemut an busurnya terlepas dan mental !
Pabis itu candanya Tian Liong Fui melayani pula Toan Kui Ciang, atau Hong hu Siong meneruskannya "Tian Nio.
u-rusan disini menjadi tanggung jawabku, tak usan kau campur tahu mengurusnya !"
Sambil berkafa begitu, ia menggunai tongkatnya, untuk menyerang guna membebaskan Kui Ciang dari serangan tangkapan Kim na ciu si nyonya. Nyonya tua itu mendelik mengawasi si pengemis.
"Eh, Honghu Siong, bagaimana ini ?"
Tegurnya ,,Apakah kau sudah jadi linglung ? Orang-orang hendak membinaskan adikmu, kau tahu tidak ? Kenapa kau bu-kan membantu darah daging sendiri, kau justru berpihak kepada orang luar?"
Tapi Hong-hu Siong menjawab sengit.
Jikalau adikku tidak tersesak hingga dia, bergaul dengan orang-orang busuk, tidak nanti dia menjadi begini gelo !
Justru kau lah yang mencelakai dia!
Nah kau rasakan tongkatku !"
Tian Toa Nio pun menjadi gusar. , Orang yang tak dapat membedakan merah dan putih Oh"
Tua bangka mau mampus "teriaknya.
"Kau nyatanya cuma Inandai menutup pintu rumahmu dan meng hina adikmu sendiri ! Kau tahu, aku sinyo-nya tua tidak takut padamu !, Berkata begitu nyonya itu berlompat menyambut serangan Hong-hu Siong, maka juga tangann}a itu tongkatnya terhajar mental ! Kui Ciang sementara itu tidak mau berhenti tak perduli sinyonya sangat lihay. ia maiu terus dengan serangannya. Maka bayangannya mereka itu jadi berkelebatan dengan sangat cepat. Tian Toa Nio gusar sekali, dia berseru sekuat kuatnya. Satu kali tubuhnya terpisah, lantis ia maju pula dengan lompat mencelat. Tangan bajunya yang panjang menyamber Kui Ciang, untuk dilibat. Kui Ciang berkelit sambil ia membabat dengan tipusilat Heng In Toan Hong atau ,,Mega melintang memotong puncak gunung atas mana Tia-Toa Nio menangkis dengan "liat Siu Sin Kang, atau sampokan Tangan baju -Besi hingga pedang kena tersampok deras keras juga suaranya. Kui-Ciang terkejut. Tangannya gemetaran dan pedangnya hampir lepas!"
Touw Sian Nio sudah menyerang pula dengan peluru kim wannya.
Tian Toa Nio liehay luar biasa, masih dapat ia menyampok peluru itu.
Tatkaia itu, I-ong-hu Siong menyerang dengan tongkatnya.
Tadi ia tersampok sampai mundur seiindak saking hebatnya tangkisan sinyonya.
Karena ia mundur Kui Ciang menggantikannya maju.
Ia bertahan hingga ujung bajunya robek terkena ujung tongkatnya.
Kesudahannya itu ia kalah unggul.
Hong-hu Siong membuat nama selama beberapa puluh tahun belum pernah ia di kaiahkan siapa juga kecuali ketika ia me-nempur khong Hhoag Jie.
Itulah kegagalan nya yang kedua kali.
Siapa tahu, hari ini ia menampak kegagalan yang kedua kali dan ditangannya ini lantu wanita.
Tapi ia tidak takut ia babkan menjadi sangat mendongkol hingga ia menyerang pula dengan hati yang panas membara sampai tongkatnya menerbitkan angin keras.
Kali ini Tian Toa Nio tiaak berani menyambut keras dengan keras ia membebaskan-diri dengan gerakan lunak tLiu lu Hui Siu Tangan baju terbang diantar-mega melayang.
Ia membebasknn diri dengan sampokan kedua tangan bajunya menggagalkan serangan ilmu tongkat Hang Mo Thung atau.
Menakluki hantu dari lawannya itu.
Kong-hu Sioag gusar dan mendongkol toh ia mengagumi lawan yang kosen ini.
Sementara itu Wee Wat si Pengemis Edan telah berjumpalitan hingga tiga kali baru ia menginjak tanah.
Bukannya ia gusar atau mendamprat musuh ia justeru berkata jenaka.
"Sungguh kau liehay! Syukur aku tidak kena dilukai kau! Ia tidak lantas maju pula guna menyerang musuh ia hanya jalan murdar mandir beberapa kali dari muluknya keuar kata kata ini.
"Jikalau kami kedua pengemis . mengepung kau satu orang apabila kau kalah, kau tentu tidak puas! Sebaliknya aku jikalau aku tidak dapat mengulahkan kau tak dapat aku melampiaskan hatiku! bagaimana se karang? Baik biarlah, biarlah, akan aku menonton saja!"
Dan terus ia meniatuhkan diri untuk duduk numprah ditanah, guna, mengawasi pertemouran.
Kalau ia bertepuk tangan, bersorak-rorai, memuji dengan ke girangan meluap luap.
Si Pengemis Edan cerdik sekali.
Ia duduk melumprah bukan melulu untuk ber gurau saja.
Ia sebenarnya lagi menggunai temponya, untuk memelihara diri.
Biar bagaimana barusan ia tergempur hebat hingga ia merasai semua auggauta tubuhnya lain seperti biasanya.
Perlu ia mengumpul tenaga untuk memperkokoh tubuhnya.
Sementara itu Tian Toa Nio tak peduli dia kosen luar biasa dia repot juga dike pung Hong hu Siong dan Toan Kui Ciang berdua sebab diantara mereka.
Touw Sian Nio juga kadang kadang membantu dengan "erangan pelbagai kim wan peluru emasnya....."
Selagi bertempur seru itu satu kali Hong-hu Siong dap^t menohok lawannya dengan -totokan.
,,Naga masuk kegedung yang dalam.
,Yang menjadi sasarannya ya lah jalandarah kauw im.
Bukan main mendongkolnya Toa Nio dengan sebat dia merangsak dengan kaki kirinya seraya kaki kanannya melayang naik, menendang tongkat orang.
Wee Wat yang duduk menvimprah menonton terus.
"Tusuk jalan darahnya hiathay mendadak ia berseru. Toan Kui Ciang turut anjuran itu. dengan pedangnya, ia menikam jalandarah yang disebutkan itu, Kebetulan Tian Toa"
Nio lagi memutar tubuh jalandarah akan tetapi pedang lawan pedang mustika, daging atau tulangnya kena juga tertusuk hingga segera darah-ya keluar membasahkan baju dan celananya!"
Oiantara dua Iawnnnya Toa Nio Honshu Siong yaag terlebih Hehay karena im ia lebih perhatikan sipengemis dan kurang perdata terhakap Kui Ciang siapa tahu Kui Ciangpun tidak danat dipandang enteng "edang barusan dia mendapat petunjuk dari Wee Wat.
Ia menjadi gusar bukan main, sampai ia menjerit keras terus ia menjambret kepada orang yang menusuknya itu!
Kui Ciang melindungi diri dengan mc-lmtangi pedangnya kena disentil, sedang dengan lain tangannya sinyonya jago menjambret leher bajunya!
Touw Sian Nio kaget sekali.
Untuk menolongi suaminya ia menyerang pula dengan tiga buah pelurunya beruntun runtun sedangkan dilain pihak tongkatnya Hong-hu Siong segera menghajar pula.
Kui Ciang berlaku sebat ia menarik dirinya, tetapi ia tak bebas seluruhnya bajunya kena dijambret robek !
Tian Toa Nio penasaran seka"i.
Ingin ia membinasakan Kui Ciang, tetapi ia cuma dapat merusak pakaian orang.
Justeru itu, ia juga terhajar tongkatnya Hong-hu Siong benar ia kebal dan kedor, ia toh merasakan sakit yang hebat, sampai matanya kabur, pandaagmnya terasa hitam gelap, karena ini, ia menjadi seperti orang kalap, ia menyerang dengan terlebih hebat sedang dari mulutnya terdengar seruan atau dampratan berulang-ulang, kedua tanganya bekerja bagaikan titiran, meninju, menyampok dan menjambret.
Kui Ciang berdua Hong-hu long berlaku tenang tetapi awas dan gesit, didesak begitu rupa, merska lebih memerlukan membela diri.
Tidak demikian dengan Tian Toa Nio-Nyonya ini bagaikan kekurangan tenaga, sampaipun serangan pelurunya telah menjadi kurang hebat lagi.
Ia berhati gentar dan tangannya lemas ...
Belum lama kalapnya Tian Toa Nio, mendadak suaranya yang keras sirap sendirinya.
Inilah karena dari jauh-iauh ia men dengar kata kata ini .
, Harap nyonya majikan ketahui, tuan muda sudah pergi, tetapi dia meninggalkan kata-kata yang dia haruskan badakmu menyampaikan kepada nyonya !"
Suara itu dikeluarkan bujang tuanya Toa Nio Bujang itu melihat pertempuian hebat itu.
tak berani dia datang dekat, ma ka dia mengasi dengar laporannya dengan dia berdiri jauh jauh.
dipuncak gunun di depan itu.
"Apakah pesannya binatang kecil itu?"
Tarnya Tian Toa Nio sambil ia berkelahi terus.
Tak sudi ia berhenti atau menunda saja pertarungan itu, karena itu, selagi mereka bicara itu.
tiga kali sudah Hong-hu Siong dan Kui Ciang menyerangnya silih ganti.
Bujang tua itu kata .
,,Tuan muda bilang, jikalau nyonya majikan membinasa kan pemuda she Tiat itu, untuk seumur hi dupnya, tak mau ia menemukan pula pada nyonya !"
"Hm !"
Si ibu rnengasi dengar ejekan-nya. Cuma sebegitu ia mengasi dengar sua ranya, lantas ia menanya .
"Bagaimana dengan Nona Ong" ,,Nona Ong juga pergi! Mereka meninggalkan surat untuk nyonya majikan ! Semua hadirin diiitu memperhatikan pembicrraan""
Diantara bujang dan nyonya majikan itu, ketiga orang yang bertempur itu pun bertempur terus Justru itu, mereka semua mendengar satu jeritan yang teras dan menyayatkan hati, hingga semuanya menjadi terkejut, haii mereka memukul, lebih-lebih Hong-hu siong, sampai dia lompat berjingkrak.
Kui Ciang turut berlompat juga Lantas sambil berkelahi terus, mereka menoleh kearah dari mana jeritan datang.
Disana terlihat adiknya Hong hu Siong .yang menyamar sebagai Hong hu Siong rebah dengan mandi darah, didadanya nancap sebatang pedang yang gagangnya masih bergoyanggoyang.
Dialah yang menjerit itu, didepan dia berdiri seorang wanita yang matanya mendelik dan wajahnya merah padam saking gusarnya !
Dan dialah Leng Soat Bwee atau ibunya Nona Hee Leng Song.
Orang repot berkelahi, setelah si nyonya menerbangkan pedangnya dan Hong-hu iiong palsu menjerit, baru orang ketahui peristiwa berdarah itu !
Toan Kui Ciang kaget hingga ia berseru "Soat Bwee!"
Sedangkan Hong-hu Siong ber diri menjubiak, hingga Wee Wat menyerukannya . ,.Awas ! Belum berhenti pemberian ingat itu atau "Duk""
Maka tangannva Tian Toa Nio sudah menghajar pundak si pengemis teriangkan dengan satu jambretannya dia membuatnya Kui Ciang mencelat mundur.
Syukur buat Kui Ciang, Sian Nio menyerang pula dengan pelurunya kalau tidak ia pun bisa celaka Habis itu, nyonya kosen itu berseru bagaikan mengeluh .
Hong-hu Hoa, aku telah melakukan segala apa dengan semua tenagaku !
Inilah kakakmu yang telah berlaku tega membantui oraug luar, karena itu Jangan kau sesalkan aku !"
Lalu tanpa menanti apa juga, selagi musuh pada mundur dia lompat jauh, buat terus lari turun gunung !
Walaupun dia gagah luar biasa, Tian Toa Nio masih ingat akan dirinya sendiri maka tahulah dia, dikepung oleh Hong-hu Sioag dan Toan Kui Ciang, yang dibantu Touw Sian Nio tak dapat ia bertahan terus menerus sedang disana masih ada Wee Wat yang tingkahnya aneh itu.
Justru Hong-hu Hoa telah menerima ajalnya, itulah ketika nya yang paling baik buat meninggalkan musuh musuhnya.
Cuma, buat guna nama baiknya, sengaja dia mengucapkan kata-kata itu.
Tak cukup nyonya tua ini menerima hanya luka-luka pedang dan tongkat, masih dia menerima satu luka lainnya.
Itulah di saat ia berlompat berlari itu.
mendadak We Wat menjemput sebutir batu dan menimpuk padanya dengan timpukan ,.Hui Hoa Tek Yap"
Atau "Menerbangkan bunga, memetik daun"
Batu itu diarahkan kepada angauta rahasianya.
Tenaga dalam si pengemis sudah sempurna sekali dia pula menimpuk de ngan batu, benda yang berat hebatnya ber tambah sendirinya.
Jitu timpukan itu.
Tak dapat si nyonya berkelit.
Boleh dibilang ,ia sia belaka kekebalannya.
Begitu ia ter timpuk begitu ia berkaok, lantas tubuhnya yang lagi melompat tinggi itu, jungkir ba lik beberapa kali, terus jatuh ke arah jurang !
Di atas gunung didepan itu, sibujang tua, yang melihat majikannya roboh sudah lantas lari turun, niatnya untuk menolongi...
Hong-hu Siong dan Toan-kui, Ciang melihat robohnya sinyonya, akan tetapi tak sempat mereka memperhatikannya.
Lebih lebih Toan Kui yang sudah dua puluh tahun lebih tidak melihat Leng Soat Bwee-hingga hatinya menjadi tenang sekali, keduanya lantas lari untuk menghampirkan.
Soat Bwee bermuka sangat pucat muka nya itu tidak ada darahnya akan tetapi disaat itu, dia nampak muram.
Melihat itu Kui Ciang tetperanjat.
,,Soat Bwee, aku beri selamat padamu!"
Kata Yu-Ciu Tay Hiap.
"Kau telah berhasil membunuh sendiri pada musuh besarmu! De ngan pembalasmu ini, kau pasti dapat mem bikin lega arwah lee Toakok"
Kemudian ia berpaling kepada isterinya untuk menam-bahkan.
"Adik Sian mari kau menemui Leng Liehiap!"
Nyonya Hee menyingkir dari tatapan she Toan itu. Terima kasih atas bantuanmu,"
Katanya perlahan.
"Aku tidak ada muka untuk melihat kau pula , ..."
Kui Ciang terkejut, mendadak ia diliputi rasa takut. Inilah sebab ia ingat suatu apa. ,Adik Soat "
Ia berkata.
"hari itu kau telah berhasil membuat pembalasan, sudah seharusnya kau bergirang, oleh karena itu janganlah kau menyebut-nyebut urusan yang mendukakan ...."Memang,,"
Sahut Soat Bwee.
"memang hari ini aku girang luar biasa, lebih-lebih karena aku telah melihat kau dan isterimu kamu berdua Oh, Seng To kau ..-ya, ki ta bertiga kita bagaikan saudara2 kandung saja. Seng To kasihan kau. kau mati secara menyedihkan .... Dasar peruntungan ku yang buruk. Terangkanlah cuma kau yang paling berharga ....!"
Kui Ciang terbuka. Tak suka ia mendengar orang bicara pula dari hal yang menyedihkan itu, Maka hendak ia menghibur at.u sinyonya sudah mendahului ia. kata Soat Bwee perlahan.
"Toan Toako, aku minta su kalah kau dengan melihat persahabatan kita, meluluskan satu permintaanku."
"Kau bicarakan, adik Soat!"
Sahut Kui Ciang cepat. Aku tidak bakal menampik wa laupun aku mesti menyerbu api berkobarkobar!"
"Duduknya hal toako, tak lama kau bakal ketahui."
Kata sinyonya.
Kaulah sahabat karib Seng To buat urusan itu.
Aku menghendaki anakku menyambung turunan Keluarga riee, aku minta kau dapat mtnge-labuhi dia.Aku tahukaulah orang yang tidak biasa mendusta tetapi buat guna Seng To dan aku kali ini aku minta kaulah memecahkan kebiasaanmu itu!
Kau dapat, bukan?"
Tubuh Kui Ciang menggigil. Itulah per mintaan yang berat.
"Ya, aku suka; aku suka....?"
Katanya terpaksa, karena tak tahu ia harus membilang apa.
Soat Bwee tidak lantas berkata kepada Kui Ciang, hanya ia menyambut pedang dan tubuhnya Hong-hu Hoa, si Hong-hu Siong tetiron.
untuk terus berdongak dan berkata "Suamiku aku tidak suka turut kau pergi kelain dunia, itulah karena aku hendak me nanti tibanya hari ini, dan hari ini, dapat lah aku menemukan kau!"
Kui Ciang kaget sekali ia lompat guna menubruk nyonya itu, akan tetapi Soat Bwee bergerak dengan cepat luar biasa pedang di tangannya sudah lantas nancap didadanya.
diuluhhatinya.
Ia menjadi sangat menyesal Ia sudah merasakan firasat buruk hanya ia tidak menyangka Nyonya Hee dapat bertindak demikian.
"Adik Swat, semua inilah di sebabkan orang memfitnahmu,"
Katanya menangis air matanya bercucuran. ,.Pastilah Seng To tidak akan sesalkan kau. Semoga kamu suami istri dapat berkumpul dengan berbahagia diduana baka....."
Ketika itu Hong hu Siong menghampir-kan mayat adiknya sambil menuding, ia ka ta.
,"Semua-mua dasar kau yang telah mencelakai lain orang hingga kesudahannya kau celakai juga dirimu sendiri.
Siasia belaka aku bercapai hati hendak mencegah peristiwa ini ..."
Lantas jago tua ini menangis menggerung-gerung, Hong-kay Wee Wat menggeleng-geleng kepala.
"Leng Lie-hiap mati dengan penasaran tak demikian dengan adikmu, yang seharus-nya mampus!"
Kata dia.
"Buat apakah kau tangiskan dia? Aku lihat kesadaranmu su-, dah pudar, kau menjadi linglung! Putri dan menantunya Leng Lie-hiap masih berada di dalam guha, kalau sebentar menanyakan keterangan kepadamu, apakah kau mau bilang? lekas kau tuturkan cuduknya hal yang jelas padaku! Kamu tidak bisa men-dusta, tetapi aku lain, dapat aku mewakilkan kamu mengarang sebuah ceritera!"
Hong hu Siong menurut, ia berhenti me nangis, ia menahan keluarnya ai-imatanya.
Lantas tanpa bersangsi pula, ia memberikan penuturannya.
Memang juga orang yang dibinasakan Leng Soat Bwee itu Hong-hu Hoa, adiknya Hong-hu Siong.
Mereka berdua saudara potongan tubuh dan roman mereka sangat mi rip satu dengan lain akan tetapi dilain pi hak, tabiat mereka sangat berlainan.
Ayah mereka menutup mata siang-siang.
Tabiat Hong-hu Hoa buruk sekali, sebaliknya dia, sangat disayangi ibunya.
Di saat ibu itu mau meninggal dunia, dengan wanti-wanti ia pesan Hong-hu Siong untuk merawat dan menjaga baik baik adiknya itu.
Hong-hu Siong menerima pesan.
Iapun tahu keburukan adiknya maka la menjaga dengan keras sekali.
Sampai usia delapan belas tahun, tak pernah siadik di-ijinkan keluar pintu umpama Kata setengah tindak, Tapi dalam usia delapan belas tahun itu Hong-hu Hoa telah memperoleh kemajuan dalam ilmu silat, lantas dalam hati nya timbul keinginan buat pergi merantau, untuk menjadi seorang kangouw yang bebas merdeka.
Memangnya sudah sekian lama ia ingin kehidupan orang Sungai-Telaga.
Karena ini, ia telah nienyimpan niat buat minggat.
Hong-hu Siong menjadi orang penting dalam Kay Pang partai pengemis ia puia suka keluar untuk melakukan perbuatan perbuatan baik dan mulia, tidak dapat ia terus-terusan berdiam didalam rumah menjagai adiknya.
Biasanya, kalau ia pergi, ia pesan seorang bujangnya yang sudah tua menggantikan ia menilik adiknya itu.
pula setiap ia pergi keluar, ia selalu memesan dengan sangat kepada adiknya, yang ia larang pergi kemana-mana Hong-hu Hoa takut kepada kakaknya, tidak berani dia melanggar larangan itu.
Kalau kakaknya tidak ada dirumah, dia sampai tidak Derani menentang bujang kakaknya itu yang mewakilkan si kakak.
Hanya setelah berusia dewasa dan kepandaiannya maju timbul perasaan tak senangnya iagin dia meronta.
Demikian pada waktu kataknya pergi merantau, ia mewujudkan niatnya minggat, bahkan ia sudah lantas melakukan satu perbuatan busuk yang membuat kakak nya menjadi sangat berduka.
Hari itu seperginya kakaknya, Hcng-hu Hoa minta bujang tuanya memberi.
Tentu Sekali sibujang mentaati pesan Hong hu Siong dan melarangnya.
Ia menjadi tidak senang, dalam gusarnya, ia bunuh hamba yang setia itu.
Sefelah itu lantas hidup dalam perantauan.
Kemudian ia telah bertemu dengan si hantu besar Tian Liong Hui dan Tian Toa Nio suami isteri yang liehay itu.
Liong Hui melihat pemuda ini berkepan daian tanpa celaan dan belum mempunyai pengalaman senang ia menerimanya untuk dijadikan pembantunya.
Ia lantas mengajak sipemuda melakukan perbuatan perbuatan buruk Inilah cocok dengan tabiat asalnya.
Maka makin lama dia jadi makin buruk.
Hong-hu Siong mencari adiknya itu.
Sampai selawatnya tiga tahun, baru ia dapat menemukannya.
Ia lantas membawanya pulang.
Sesudah menegur adik itu, ia mengurungnya dalam sebuah rumah batu.
Tidak lama dari itu datanglah saatnya sejumlah orang gagah mengepung Tian Liong Hui.
Jago yang busuk itu dapat dibinasakan tetapi isterinya lolos.
Syukur Hong-hu Hoa sudah kena ditangkap kakaknya dan lebih dahulu telah dibawa pulang.
Adalah mudah buat orang baik menjadi orang jahat, sebaiknya sulit buat orang jahat menjadi orang baik.
Demikian sudah terjadi dengan nong-hu Hoa.
Dia bukan ber terima kasih kepada kakaknya, dia justeru penasaran dan membencinya.
Tak puas dia hilang kemerdekaannya.
Pada satu waktu kembali dia dapat lolos.
Sekarang ini Hong-hu Hoa telah menjadi orang dewasa, romannya yang mirip Hong-hu Siong membuat banyak orang yang menyangka dialah kakaknya itu.
Itulah kebetulan untuknya Lantas dia mengaku diri sebagai kakaknya itu.
Untuk itu, dia membuat senjata yang berupa tongkat kayu cendana, yang buatannya sangat mirip tong kat kakaknya.
Dengan menggunai tongkat itu dia.
melanjuti berbuat berbagai kejahatan hinggga orang menyangka Hong-hu Siong yang melakukan itu sampai Honshu Siong mendapat nama buruk sekali.
Lama-lama Hong hu Siong mendengar juga berita tentang sepak terjang adiknya itu.
ia menjadi sangat menyesal dan berduka Kalau ia membantah atau menyangkal ia mesti memberi keterangan.
Im berarti ee laka untuk saudaranya, sebab ia jadi membuka rahasia saudara itu.
Biar bagaimana,, ia ingat pesan ibunda, ia menyayangi saudaranya.
Akhirnya ia terpaksa membungkam cuma diam-diam saja ia berdaya untuk membekuk dan membawa pulang saudara itu.
Paling akhir perbuatan terkutuk Hongj hu Hoa ialah membunuh secara pelap pada Hee Seng To dan menculik.
Len?
Soat Bwee Dalam pekerjaan itu dia menggunai hio obat pulas buatannya Tian Liong Hui Foat Buee disembunyikan didalam guha gunung.
Selagi ia tak sadarkan diri, kehormatannya telah dinodai.
Tempo kemudian Soat Bwee sadar bara ia tahu bahwa orang telah main gila terhadapnya Ia gusar sekali, ia serang Hong-hu Hoa.
Dia lawan-kesudahannya, dua-dua mendapat luka dan Kong-hu Hoa kabur Dengkulnya Soat Bwee terkena jarum Bwee-hoa-ciam tidak dapat ia mengejar, maka ia cuma mengingat-ingat baik-baik roman sijahat itu.
Belum lama dari peristiwa busuk itu, Hong-hu Siong berhasil menemui saudaranya yang lukanya masih belum sembuh.
Ia membawanya pulang.
Bahkan ia terus membawanya kekuburan ibunya.
Inilah sebab kejahatan siadik telah melewati batas, Lan taran kejadian itu buat beberapa tahun ia sampai tidak berani keluar pintu.
Didepan kuburan mereka ia berkata pada adiknya.
"Melihat perbuatanmu ini seharus nya aku bunuh mati padamu, akan tetapi dengan memandang kepada ibu, suka aku mengasi am pun. rianya untuk kali ini saja! Apabila tetap kau tidak sadar dan tidak mau meru bah kelakuanmu, akan kau buron pula dan kembali berbuat jahat, lebih dahulu aku membunuh diri! Lebih baik aku -yang membunuh kau daripada kau terbunuh orang lain! Habis berkata begitu, Hong-hu Mong menyuruh adiknya mengangkat sumpah untuk bertobat. Sejak diberi nasihat itu, Hong-hu Hoa berlaku baik. Dia berdiam tenang didalam rumah terus dia memahamkan ilmu silatnya. Belum pernah d-.a buron pula. Beberapa kali Hong-hu Siong mengujinya dengan dia berpura-pura melakukan perjalanan jauh tapi sebenarnya ia berdiam didekat dekat rumah nya untuk mengintai Adik itu tetap berdiam dirumah, dan belajar silat dengan rajin tak berani dia turun gunung Hal itu membuat ia girang, hingga ia percaya adik nya beuar-benar sudah insaf dan merubah kelakuan, tak mau berbuat jahat pula. Sebab ini, penjagaannya menjadi kendor sendirinya Terkaan Hong-hu Siong melesat. Hong-hu Hoa tak pernah berubah sifatnya. Dia tak mau buron dulu disebabkan dia jeri kepada kakaknya dan jeri juga terhadap Leng Soat Bwee serta pelbagai orang gagah kaum lurus. Dia tahu baik sekali bahwa sang kakak gusar beuar-benar, bahwa kalau dia menyeleweng lagi, ia bakal dibunuh. Maka dia tak mau kamu -sebelum ilmusilat -nya melamai ilmu silat kakaknya itu. Dia takut pada Soat bwee dan sahabat-sahabatnva Hee Seng To. Dia telah mendengar kabar bahwa beberapa sahabatnya eng To mencan dia, guna membalaskan sakit hati korbannya itu* Tak sudi dia ditawan dan dibinasakan orang-orang gagah iru. Dia teru3 bersemou-nyi. Dia boleh bersyukur bahwa dia tak dapat dicari. Tapi dia telah berpikir, untuk dia dapat keluar pula nanti, perlu dia menyaru jadi kakaknya. Begitu dia menyekap diri belajar sungguh-sungguh, untuk mendapatkan kepandaian kakaknya itu. Hong-hu Siong tinggal dipuncak gunung Hoa San sangat jarang ia bergaul saling berkunjung dengan segala kenalannya. Orang yang pernah datang kerumahnya cuma Ciu tCay-kTe-tie si Pengemis Pemabukan, sahabatnya itu. Karena itu cuma K le tie seorang yang ketahui ia mempunyai seorang adik yang romannya bagaikan saudara kembar. Bukankah Kie Tie juga ketahai rahasia Hong-hu-hoa. Hanya ia me ngetahuinya sesudah orang bertobat. Ia menutup mulut karena juga Hong-hu Siong telah memohon dengan sangat kepadanya untuk ia jangan membuka rahasia adik itu. Ia suka meluluhkan karena ialah seorang yang berhati baik seperti Hong-bn Siong sendiri, dan ia pun mengharap Hong-hu hoa berubah baik untuk selamalamanya. Sementara itu sudah lewat sepuluh tahun lebih ilmu silatnya Hong hu-hoa juga telah maju jauh. sampai hampir dia menyusul kakaknya. Sekarang hati Hong-hu Siong pun lega. Ia percaya adiknya sudah berubah benar-benar, sampai dia da; pat merantau sampai bulanan tanpa adik itu dikurung. Barulah kemudian, tempo ia pulang dafi perantauan, ia mendapat rahu adiknya tidak ada dirumah. Sebenarnya Hong-hu hoa bukan buronan jauh dari Hoa San, Ibanya secara kebetulan saja dia bertemu dengan Tian Tio Nio, jandanya Tian Liong Hui. Tian Toa Nio mencari tempat sembunyi, ia pergi ke gunung Hoa San. Disini ia memilih guna dilembah itu, yang bernc.ma Toan Hun Kok, artinya lembah Putus Sukma. Lantai Hong-hu-hoa minta perlindungannya sinyonya kosen. Baru belum lama setelah itu Hong-hu Siong mendapat tahu adiknya tinggal di tampatnya Tian Toa Nio, Ia tahu tak dapat ia melawan jago betina itu, terpaksa ia menutup mulut. Ia pun mau memohon bantuan dari sahabat -sahabatnya. terpaksa ia membiarkan adik itu berdiri sendiri Senang Hong -hu -hoa bebas dari kekangan kakaknya. Dari Tian Toa Nio ia pun mendapat pelajaran menggunakan senjata rahasia yang dipakaikan berupa racun, diantara-nya ia menyimpan jarum Bwe-hoat-ciam di ujung tongkatnya, tongkat kayu cendana tiruan tongkat kakaknya. Selama itu, hampir dua puluh tahun sudah lewat sejak kebinasaannya Hee Seng To, orang umumnya telah melupai peristiwa keji itu, kecuali beberapa sahabat terdekat dari Seng To, terutama Leng Soat Bwee sendiri. Tak lama sejak dia muncul pula dalam dunia kangouw, honghu-hoa mendengar kabar halnya Leng Soat Bwee mempunyai seorang anak perempuan. Sementara itu, ia sendiri tak dapat melupakan nyonya janda Hee itu yang ia cintai. Leng Soat Bwee tidak mau muncul pula dalam dunia kangouw, ia malu sendirinya. Untuk menuntut balas, ia meletaki pengharapannya atas diri puterinya, yaitu Hee Leng Song. Maka semua kepandaiannya, ia wariskan pada putrinya itu, ke pada si putri ia bilang bahwa Hong-hu Siong seorang manusia sangat jahat yang melakukan segala sesuatu yang busuk dan keji, maka ia pesan, setelah nanti pelajaran si anak perempuan, anak itu harus membunuh Hong hu Siong, katanya guna menymgkirkan manusia jahat itu dari dunin kang-ouw. Leng Song tidak tahu duduknya hal yang sebenarnya, maka juga dalam pertemu annya dengan Hong hu Siong didalam berhara tua, ia cuma tahu pengemis itu harus dibinasakan. Sedangkan Hong hu Siong, dia tidak mau membantah, dia cuma minta si nona memberi keterangan kejahatannya. Belum lama Hong hu Hoa turun gunung, dia bertemu dengan Ceng Ceng Jie. Nyata mereka cocok satu dengan lain, lan tas mereka ^mengikat tali persahabatan. Setelah itu, kemudian datang saatnya dia membunuh Hie Tie. Dia memang tahu pengemis itu mengetahui rahasianya. Ketika Ceng Ceng Jie bersama Ong Pek Thong memancing Toan Kui Ciang "uami istri bersama Kie Tie pergi ke Giok Sie San ia menyusul. Ia telah menggunai jarumnya yang beracun, Sebenarnya ia mau membinasakan Kui Ciang tetapi Kui Tie mengetahui maksudnya dan ia maju menghadang didepannya. Penyamarannya Longhu Koa sebagai kakaknya hampir dapat mengabui semua carang oerkenamaan Rimba Persilatan. Begitulah muridnya Wee Wat telan keliru menyerahkan suratnya Wee Wat untuk Kong-hu Siong. Sekalipun Khong Khong Jie telah kena terpedayakan, sanpai ia ini percaya dialah Kong hu Siong, hingga ia menem pur Wee Wat. Adalah yang paling belakangan ini, setelah menculik Leng Loat Bwee, sebagai orang jahat, dia menerima juga bagiannya dia terbinasa justau ditangan nya sinyonya janda. Demikian penuturan Kong hu Siong, yang membuat Toan Kui Ciang semua heran dan terkejut, mendongkol dan berduka. Lakon itu panjang dan hebat. Kui Ciang sampai menepas airmata, mendukakan nasibnya Soat Bwee. Tetapi ialah laki-la
"Biarlah yang sudah lewat itu,"
Kata Hong-hu Siong.
"Mari kita pergi kedalam guha untuk mencari mereka itu. Eh, penge mis tua, sudah selesai atau belum kau mengarang kedustaanmu? Mengapa mereka itu masih belum juga muncul?"
Wee Wat berpikir. Dia berpengalaman dan cerdas, dia dapat menerka; kata ia.
"A-ku percaya mereka telah ditotok Leng Liehiap disebabkan lie-hiap tidak ingin mereka jmenyiksikan peristiwa ini hingga mereka-ketahui duduknya perkara. Ceriteraku telah aku karang, mari kita pergi melihat mereka!"
Pada waktu itu mendekati satu jam, Lam Cee In sudah bebas terlebih dahulu.
Ia menggunai tenaga-dalam untuk memulihkail kemerdekaannya.
Setelah itu, ia membantui isterinya.
Cee In kaget sekali waktu ia mendengar suara tindakan banyak orang, sampai ia berlompat bangun sambil menghunus pedangnya.
Terutama ia kaget waktu ia melihat Hong hu Siong.
, Lam Hiantee, kau lihat dulu biar tegas,"
Berkata Toan Kui Ciang.
""Hong-hu Siong ini bukannya Hong hu Siong yang satunya itu ! Telur busuk yang besar itu yalah adiknya Hong hu Locianpwe ini!"
Cee In berdiri menjublak matanya mengawasi mendelong.
ia melihat pakaiannya Hong hu Siong penuh dengan tambalan, sedang tongtaknya tidak ada ca-cadnya.
Hong hu Siong musuhnya sebaliknya tidak mengenakan pakaian rubat-ba-bit dan tongkatnya, selain rusak ujungnya, juga telah dikutungkan separuh oleh Toan Kui Ciang.
,,Sungguh beruntung bahwa di Hoa San ini kita telah bertemu Hong hu Siong Loocianp wee, yang telah memberikan bantuannya, Kui Ciang kata pula.
"Kong hu Hoa Locianpwe sampai melakukan perbuatan tay-gie biat-cin, karena mana hiantee sakiti mertuamu telah dapat dibalaskan." ,Tay gie biat cin"
Yalah perbuatan membunuh saudara sendiri buat gunanya keadilan.
Ceo In percaya keterangannya, kawan itu, ia lantas memberi hormat pada Kong-hu Siong sambil ia menghaturkan tetima kasih.
Ketika itu Hee Leng Song pun sudah bebas, ia telah berlompat bangun.
"Mana ibuku?"
Tanyanya.
"Kenapa ibu masih belum kembali?"
Meski ia menanya demikian, nona ini sudah lantas mendapat firasat buruk. Ia melihat wajahnya Kui Ciang semua, ia bertanya didalam hatinya.
"Mereka menang perang, kenapa mereka tidak memasuki roman girang?"
"Keponakan yang baik ibumu sangat menyayangi kau,"
Berkata Kui Ciang, menjawab smona.
"Itulah sebabnya kenapa ibu mu tidak mau mengajak kamu keluar bersama. Sekarang ini ibumu tidak dapat menemukan pula padamu. Eh, Wee Locianpwee, baiklah locianpwee saja yang memberi penjelasan kepada keponakanku iui."
Leng Song heran setali, begitupun Cee In, maka berdua mereka berpaling kepada Wee Wat, menatap pengemis itu.
Wde Wat mengawasi suami isteri itu, sikapnya sangat tenang.
Mungkin kamu berdua masih belum tahu,"
Katanya sabar.
"walaupun ilmu silat nya Hong-hu hoa tidak terlalu lihay, ia menyimpan /jarum di ujung tongkatnya, senjata mana dia dapat gunakan dengan sempurna sekali. Sekarang kamu lihat itu tangan bajunya Bibi Toan kamu!"
Kedua ujung baju Touw Sian Nio telah terhajar banyak jarum rahasia beracun, benar jarumnya sudah lepas semua, tetapi lubang-lubang bekasnya tampak tanyaia, mpak mirip sarang tahun, ngeri untuk melihatnya.
Cee In dan Leng Song memandang kearah Sian Nio, yang mengangkat kedua belah tangannya "Kenapa ibuku tidak dapat menemui kami lagi?"
Nona Hee tanyaia heran hingga tak sudi ia mengawasi lama-lama pada bekas-bekas tusukan jarum itu.
"Tentang lihaynya jarum beracun Hong hu Hoa telah aku ketahui ! Yang aku ingin kau membilangi aku yalah dimana ibuku sekarang?"
Wee Wat tidak mengambil mumat bahwa orang sangat bernafsu, ia tetap membawa sikapnya yang sabar. , Benar!"
Katanya pula.
"Aku ingat, Kui Ciang pernah memberitahukan aku bah v/a ketika Hong hu Hoa membinasakan Kie Tie dengan jarum beracunnya digununc Giok Sie San, kaupun hadir disana. Pantas kau ketahui lihaynya jarum dia itu!"
Leng Song tidak puas dengan kata kata pengemis ini.
akaa tetapi karena dia orang tua tingkatnya terlebih tinggi daripada tingkat ibunya, ia tidak berani menanya pula dengan mendesak.
Hanya didalam hati ia berkata.
,.Dasar orang tua bicaranyapun ayal-ayalan dan ngelantur ....
Wee Wat bicara pula sekarang sikapnya sungguh sungguh.
Katanya .
Justeru karena ibumu ketahui lihaynya jarum Honghu oa ia tidak mau kamu turut padanya.
Kamu tahu ibumu telah berhasil dengan tangan nya sendiri membinasakan musuhnya itu.
cuma sayang sekali ia pun terkena jarum, beracun musuh, lantaran mana ia pun telah menemui akhir hidupnya ..."
Leng Song kaget sampai ia berdiri men jublak.
Begitu ia sadar lantas ia lari ke mulut guha Baru ia lari beberapa tindak men dadak ia menjerit keras lantas ia muntah darah menyusul mana ia jatuh terkulai dan pingsan.
Cee In kaget ia lompat menrbruk dan lantas menguruti untuk menyadarkannya.
Mo Lek yang sampai sebegitu jauh ber diam saja, merobek ujung bajunya buat dibasahkan dengan air, buat dipakai menutupi dahi orang.
Dengan begitu tidak selang lama Leng song ingat akan dirinya.
Hanya sekarang ia lantas menangis, menggerung-gerung "Nona kau tenangkan cliri,"
Berkata Wee Wat.
"Kau harus menguras jenazah ibumu. Ada pesan dari ibumu yang kami harus sampaikan kepada kau, Jangan kau terlalu ber duka nanti kesehatanmu terganggu. Leng Song berhenti menangis menggerung, sekarang ia sesegukan.
"Apakah pesan ibuku itu?"
Tanyanya.
"Ibumu menghendaki kau membakar jenazahnya, supaya abunya dikubur bersama abu ayahmu kata Wee Wat, . Duluhari ayah mu teraniaya dikota Tek-ciu disana aku me nguburnya diatas gunung Cu Coak San di-Juar kota"
Tentang kebinasaan ayah?
ya.
Leng Song belum pernah mendengar dari ibunya hataya ketika ia telah belajar silat sempurna, ibunya cuma membilangi bahwa Hong-hu Siong seorang sangat jahat, jadi Hong-hu Siong harus disingkirkan untuk kebaikannyan du nia Kang-Ouw, sama sekali tidak ada disebut tentang sakit hati ayahnya itu.
Lam-Cee In yarg memperoleh keterangan dari Toan fCui Ciang juga tidaK tahu jelas karenanya belum pernah ia bicarakan itu dengan isterinya.
Maka itu heranlah isterinya itu .Jadi ayahku telah terbinasa ditangan orang?"
Tanya Leng Song. Bagaimana duduk nya itu?" ,.Sipembunuh ialah ini Hong-hu Hoa,"
Sahut Wee Wat "Ayahmu terbunuh diwaktu malam, yaitu malaman ia menikah buat kedua kalinya .,,,,"
Mendengar itu tidak cuma Leng Song, juga Cee In heran, hingga keduanya tercengang. ,,Jangan heran kata Wee Wat.
"Ayahmu itu, Nona Hee, meski dia dua kali mera yakan pernikahannya akan tetapi kemanten ialah ibumu juga. Duduknya begini, . Perta ma kali Hee Tayhiap, menikah itu dilakukan disebuah kota kecil diselatan gunung Thian an. Tatkala itu mereka berdua tengah merantau didaerah perbatasan itu. Mereka mesti melakukan perjalanan bersama laksaan lie, jadi tak leluasa buat meteka tinggal hidup bersama, karena itu, mereka menikah secara sangat sederhana d tempat itu, Kebetulan sekali, ketika itu aku berada disana maka aku seorang diri yang menyaksikan pernikahannya itu, Kemudian mereka pulang -ke Tionggoan. Beberapa sahabat ketahui ayah dan ibumu sadah menikah mereka hendak menberi selamat maka itu ayah dan ibumu lantas membuat pesta, dengan be gitu pernikahan seperti dilakukan buat kedua kali, Kau tahu ayahmu sangat luas per gaulannya. Ketika itu, nona kau sudah ter-lahir usiamu baru dua tahun. Kau dilahirkan ditempat kakek luarmu, disana juga kau dititipkan, sebab berabe untuk ayah dan ibumu membawa bawa kau merantau. Kau tidak hadir tempo pesta itu dibikin, banyak tetamu hadir malam itu, hingga tak sempat ayahmu berceritera banyak, Ayahmu terbinasakan secara menggelap, Kui Ciang kau pun hadir malam itu, pasti kau belum tahu yang orang tuanya Nona Hee telah mempunyai anak bukan?" . Oh, begitu kata Kui Ciang.
"Memans aku belum tahu, Pantaslah Ciu-Kay Kie-Tie pun heran akan halnya Nona Hee menjadi anaknya sahabatku itu."
Menyandung ceriteranya Wee Wat men jelaskan hal mana Hong hu Hoa berkongkol dengan Tian Liong Hui bagaimana dia berulang kali turun gunung dengan memakai nama kakaknya bagaimana dia seperti mengacau dunia.
Kang Ouw sampai dia mem bunuh Pee Seng To.
Semua ceriteranya itu benar kecuali hal dirinya Leng Song sendiri Sudah sejak beberapa tahun yang belakangan ini Leng Song menyangkalnya ten-rlr w"*"
D,rinya baru ^ seper telah k/h imega d3n kabUt buya .
Benar i telah kehilangan ayah dan iounya.
toh ia tak merasakan gelao lagi, sebagai dahulu W nya menjadi sedikit Tega Juga Lam Cee In percaya dongenganya Wee Wat karena jalanannya masuk diakal Sementara itu Hong-hu Siong berduka bukan main"
Air matanya terus meleleh turun.
Cee In dan Leng Song terharu mereka menyatakan kemenyesalan mereka terhadap jago tua.
itu.
Mereka pun mengucap terima kasih buat bantuan yang diberikan.
Selagi begitu tiba-tiba Wee Wat berkata nyaring.
"Ah. lagilagi aku sipengemis, tua hendak mengoceh! Lam Tayhiap, aku hendak mengajukan suatu permintaan untuk sahabat tuaku!" ,Jangan berkata begitu locianpwe! "
Kata Cee In lekas.
"Telah banyak aku si orang she Lam menerima budimu, jikalau ada sesuatu perintah, aku selalu bersedia melakukannya. Aku mohon janganlah locianpwe bicara tentang minta."
Wee Wat tersenyum. ,,Hal itu, aku ketahui, bukan melainkan kau sendiri saja yang dapat lakukan,"
Kata nya.
Cee In hendak meminta keterangan, tapi si pengemis sudah mendahului ia me lanjutkan perkataannya.
Katanya .
,,Sang tempo tidak siang lagi, kamu harus pergi dulu mengurus jenazah ibu dan mertua kamu.
Eiigo Toan, tolong kau pimpin Nona Hee, hendak aku bicara dengan keponakan Cee In."
Leng Song terus menangis hingga ia jadi letih sekali, ia membiarkan diajak Sian Nio, sedang Wee Wat dengan tindakan cepat, mengajak Cee In berjalan didepan, un tuk mendahului mereka "Lam Hiantit, kau mengharap beberapa anak ?"
Tanyanya sembari jalan. Cee In heran hingga ia tercengang.
"Benar aneh sifatnya jago tua ini ..pikirnya. Tentu sekali, tak dapat ia menjawab. Wee Waat tetap bersipat aneh.
"Terdengarnya kata-kataku ini ngaco belo tetapi sebenarnya ialah benar-benar!"
Kata ia pula.
"Aku mengharap kau memper oleh tiga orang anak laki-laki!"
"Locianpwe, aku. masih belum jelas akan maksudmu."
Kata Cee In, mengawasi. Ia tidak dapat menerka hati orang. -oo0dw0oo-
Jilid 22 Jikalau kau nanti memperoleh tiga anak."
Kata Wee Wat.
"anakmu yang sulung akan menjadi penyambung kamu kaum keluarga Lam. Mertuamu tidak mempunyai anak laki-laki, dari itu sudah selayaknya apabila anakmu yang ke dua dikasihkan padanya, buat menyambung turunan. Keluarga Hee. Benar tidak ? Cee In sedang berduka; tak seharusnya ia turut berkelakar, akan tetapi keanehan si orang tua membuatnya melayani juga.
"Bagaimana dengan putera yang ke tiga itu ?""
Ia tanya. Wee Wat menatap dia menjawab .
"Hong hu Siong telah bertindak sehingga seperti ia sendiri yang membunuh adiknya, ia te lah berbuat banyak untuk pihak kamu ..."
"Ya itu benar ! Tadinya kami keliru menyangka dia sebagai manusia busuk, sekarang aku menyesal, tak enak hatiku terhadapnya. Tapi, locianpwe ada apakah hubungannya dia dengan kata kata locianpwe ini ?" ,,Pasti ada ! Apakah kau benar-benar tidak ketahui ? Dialah pemimpin Kay Pang Partai Pengemis, seumur hidupnya dia tidak dapat menikah untuk memperoleh anak, maka itu, anakmu yang ke tiga itu, andaikata kau mendapatnya, dapatkah kau memberikan padanya ? Guna membikin lega hatinya disaat-saat usia lanjutnya ? Kami kaum pengemis, kami tidak menghiraukan tentang tingkat derajat, anakmu itu dapat dijadikan anak atau cucunya ! "
Cee In tertawa. ,,Tentang memperoleh anak, itu adalah karunia Tuhan !"
Kata ia.
"Baiklah ! Dan andaikata aku memperoleh anak yang keempat nanti aku hadiahkan dia kepada locianpwe! "
Wee Wat pun tertawa.
,,Dengan begini berarti kau telah menerima baik !
Hong-hu Siong tidak punya anak atau keponakan, setelah dia mati nanti dia menghendaki ada orang yang merawat kuburannya !
Aku sebaliknya tidak menghiraukan itu!
Meski demikian, apabila benar kau mempunyai anak yang keempat nanti dan kau suka menyerahkan padaku, pasti aku akan menerimanya dengan senang !"
Kelak kemudian selama empat tahun, Cee In benar-benar mendapat tiga orang putera.
Sekeluarnya dari guha, Leng Song lantas melihat mayat ibunya.
Kembali ia menangis sangat sedih hingga ia menjadi pingsan lagi, Dengan sebat Wee Wat membantu bekerja, untuk membakar jenazah Leng Soat Bwee, setelah mana, tulang-tulang atau abu nya lantas dibungkus rapih.
Leng Song tidak curiga apa-apa, ia tidak memeriksa luka ibunya, dengan begitu tak tahu ia bahwa ibunya sudah membunuh diri, Setelah itu Wee Wat kata pada Cee In .
"Bukankah Lam Hiantit hendak kembali ke daerah Tongkwan gana mengumpulkan sisa-sisa tentara ? Karena kota Tekciu terpisah dari sini seperjalanan beberapa hari, baik lah aku si pengemis tua menemani Nona Hee ke Tekciu, guna mengubur jadi satu ayah dan ibumu habis itu akan aku kawani kau kembali kepada suamimu untuk membantunya."
Leng Song menepas airmata. Ia berhenti menangis.
"Locianpwe, budimu sangat besar, entah aku dapat membalasnya atau tidak,"
Katanya bersyukur. ,,Guna membalasnya mudah saja nona."
Kata si pengemis, ,,aku telah bicara dengan suamimu, asal kau dapat melahirkan beberapa anak lebih, itu berarti kau sudah membalas budi kami !"
Mendengar itu, walaupun ia tengah sangat berduka, mukanya Leng Song toh menjadi merah saking malunya.
"Nona He jangan kau layani dia"
Kata Hong-hu Siong.
"Wee Toako kami ini memang paling doyan ngoceh tidak keiuan se bagai orang edan ! Ia terus menoleh pada Cee In untuk menambahkan .
"Aku hendak mengubur ini anak celaka, setelah itu, aku masih mesti melakukan sesuatu tetapi habis it,u mungkin nanti datang pada waktu nya dan aku akan pergi ke Tongkoan untuk mencari kau ..."
Sungguh aku sangat beruntung jikalau aku memperoleh bantuan dari locianpwe berdua,"
Kata Cee In.
Toan Kui Ciang sangat berduka, ia menghela rapas dan berkata.
,,Dengan ayah dan ibu Nona Hce dahulu hari aku bersahabat erat sekali, hari ini saKit hati saudara Seng"To telah dapat dibalaskan, hatiku lega sebagian.
Sekarang tinggal sakit hatinya saudara Su enah sampai kapan itu baru dapat dilampiaskan ....
Pula istrinya sahabatku itu berada disarang jahanam, sampai sekarang sudah berselang tujuh a-tau delapan tahun, kabar ceritanya pun tidak ada sama sekali, dia sungguh harus di buat pikiran Ah, ketika Soat Bwee mau pergi ia masih mengatakan, didalam kami bertiga "akulah yang paling beruntung, tetapi sebenarnya,"
Manakah keberuntunganku? Dua sahabat karibku, dua-duanya mati celaka sedang anakku telah diculik Khong-Khong Jie, sampai sekarang ini dia belum ketahuan berapa dimana -..."
Jangan berduka Toan tayhiap, Hong-hu Siong mengghibur.
"Wee toako ber sama aku mempunyai hubungan dengan Khong-Khong Jie. Kabarnya Khong-khong-jie pernah didustakan adik seperguruannya yang durhaka itu, sampai dengan Wee Toa-ko dia mempunyai suatu urusan maka itu pasti kami akan mencari dia, buat membikin reda urusannya dengan Wee Toako, untuk sekalian meminta pulang anak tay-hiap itu."
"Hm !"
Wee Wat mengasih dengar suara tawarnya.
"Khonghong Jie paling mengeloni adik seperguruannya aku kuatir dia nanti seperti orang yang mendekati bak lalu dia turut menjadi hitam !"
"Aku tahu Khong-Khong Jie semenjak dia kecil.,"
Kata Honghu Siong pula, -Dia rada jumawa akan tetapi sifatnya baik, dari itu aku percaya tidak nanti dia kecipratan menjadi hitam.
Jikalau benar dia berubah hingga menjadi demikian buruk, pasti aki tiask akan memperhatikan pula pei-sa-habatannya denganku, bila tiba saatnya kita berdua kita akan menunduki dia untuk memaksanya membayar pulang anaknya Toan Tayhiap !"
Kui Ciang lantas menghaturkan terima kasih kepada ketua pengemis itu.
"Urusan anakku ialah urasan yang kedua. katanya. Yang paling terutama ialah urusannya mendiang saudara Su It jie. Saudara itu mati karena aku dan istrinya pun terkurung didalam sarang penjahat, tak tenang hatiku. Justeru sekarang dorna An Lok San itu telah berontak, Keselamatan nya Nyonya Su makin terancam. Maka itu hendak aku paling dulu untuk menearitahu tentang dia. Kabar penghianatan she An itu lagi bersiar? menyerbu kota Tiang-an dari itu kami berdua suami-istri mau menyamar jadi rakyat yang mengungsi guna mencari ketika akan memasuki tangsi pemberontak itu buat menolong Nyonya Su ... Sementara itu Cee in berkata Mo Lek.
"Sudah beberapa hari kau mensia-siakan waktumu disini, mungkin raja sudan meninggalkan kotaraja, untuk menyingkir kebarat oleh karena itu, pergilah kau lekas berangkat ke Tiang-an !"
"Aku justru mengharap-harap raja sudah meninggalkan Tiang-an.
"kata si anak muda she Tiat bagaikan mendumal. -"Dengan begitu tak usahlah aku menjadi sipelindung yang sial dangkalan ...."
"Jangan kau mengatakan begitu !"
Kata Cee-In sungguhsungguh. Tapi Mo Lek tertawa memotong kata-kata kakak seperguruan itu.
"Aku mengerti maksud kau ! Baiklah, aku suka mendengar perkataanmu ! Sekarang juga akan aku berangkat !"
Sampai disitu, berangkatlah mereka turun dari gunung Hoa San.
Mo Lek, sambil menuntun kuda Oey piauw, berjalan bersama dengan begitu dapat ia menutur pengalamannya selama beberapa hari yang piling belakang ini, ia hanya menyembunyikan halnya Ong Yan yang diam-diam mencintanya.
Tidak lama mereka sudah mendekati lembah tempat kediamannya Tian Toa-Nio, segera mereka melihat api berkobar-kobar.
Teranglah sudah, itulah rumahnya si nyonya tua yang telah menjadi lautan api !
-oo0dw0oo-,,Eh, heran !"
Kata Wee Wat. ,,Siapa yang bernyali demikian besar berani membakar sarang hantu wanita itu ?"
"Barangkali anaknya,"
Mo Lek menyatakan dugaannya. ,,Anaknya itu bukan orang golongan Hiap gie akan tetapi dia tidak dapat dicela. Mungkin dia telah mengambil keputusan untuk memisahkan diri dari ibunya."
"Jikalau benar puteranya yang membakar,"kata Hong-hu Siong.
"Tentukah dia mengandung maksud. Dia mau bikin ibunya tidak dapat tidak, mesti meninggalkan sarangnya itu."
Wee Wat mengangguk.
"Itu benar,"
Bilangnya.
"Sarangnya Tian Toa Nio telah kita ketemukan tentulah pula membikin susah ibunya atau mungkin sekali dia kuatir ibunya nanti berkepala batu ibu itu tak sudi meninggal kan sarangnya itu, ibu itu tak mau menunjuki bahwa dia jeri. Demikian maka dia membakar rumahnya."
"Akulah seorang yang bersikap selalu memandang orang dari pihak baiknya"
Kui Ciang turut bicara.
"Aku lebih setuju dengan cara pemikirannya Mo Lek, Pendek kata tak peduli dia memikir dari sudat mana dia terang jauh terlebih baik daripada ayah dan ibunya."
Demikian mereka berjalan sambil berbicara.
Satu kali Mo Lek menoleh kearah api yang masih bersinar terang lantas pikirannya kembali kepada pengalamannya selama beberapa hari yang paling belakang ini ia lantas merasa hatinya tertekan Didepan matanya segera berbayang roman bengis dari Tian Toa Nio yang telengas serta wajah yang menyedihkan dari Ong Yan Ie yang berduka dan menyesal.
Semua itu berbayang diantara asap yang mengepul-ngepul itu.....Lalu pada telinganya berkumandang suaranya Yan Ie suara yang manggoncang-kan hati....suara yang dikeluarkan disaat.
Tian Toa Nio hendak menghajar mati padanya.
Sekarang sarang hantu itu habis di api akan tetapi bayangan Yan le tak dapat lenyap bersama.
Mengingat Yan Ie yang seperti melekat pada otaknya, Mo Lek menjadi masgul.
Ia mencoba menghiburi diri dengan berkata.
,.Suhengnya menyintai sungguh sungguh padanya, pastilah suheng itu akan melindungi dia selama seumur hidupnya....Sekarang mereka berdua sudah lolos dari tangan nya sihantu wanita karena itu baiklah aku jangan menguatirkan pula padanya.
Tidak lama keluarlah sudah mereka dari lembah.
Sekarang tibalah saatnya untuk berpisahan.
Kui Ciang dan Cee In memesan pua pada Mo Lek supaya setibanya di kota Tiang an anak muda itu berlaku waspada sekali, terutama jangan dia mengumbar napsu hatinya.
Dia juga dipesan apabila dia tidak mengarti sesuatu dia mesti minta pikirannya Cia Siang serta Uy tie Pak.
Mo Lek menerima pesan itu ia memberi hormat pada Kui Ciang semua lalu dengan menunggang uy piauwma ia berangkat melakukan perjalannya itu.
Kudanya itu dapat lari keras di hari ke dua tengah hari.
sampai sudah ia dik aki gunung Lee San dalam wi"oyah Litn tong.
Dari situ buat sampai di Tiang-an perjalanan tinggal lagi seratus lie iebih.
Gunung Lee San luas beberapa puluh lie disitu Mo Lek melarikan kudanya didepannya.
Sekonyong konyong kuda uypiauw ma meringkik keras dan panjang.
Dia seperti mendapat firasat bahwa didepannya ada sesuatu yang menakuti atau hebat.
Dia pun segera menghentikan tindakannya tak mau dia maju terlebih jauh.
Mo Lek heran sekali sambil memandang kedepan dan sekitarnya ia berpikir ,,Kuda ini tidak jeri menghadapi medan perang yang merupakan hutan golok pedang dan tombak sekarang kenapa dia takut tidak keruan?
tanyanya didalam hati Lantas ia menepuk-nepuk punggungnya kuda itu untuk berkata.
"Kuda kudaku yang baik!"
Sudah banyak kali kau melindungi aku maka itu apabila kau menghadapi ancaman bahaya aku juga dapat membelai kau! Kau jangan takut hayo maju, maju! "
Kuda itu benar-benar mengarti maksud orang atau anjuran majikannya ia bertindak pula hanya sekarang dia tidak larat seperti tadi terang nampak dia masih rada jeri atau gusar...."
Hanya sebentar sampailah Mo Lek di satu tempat didekat lembah dimana ditepi jalan, ada sejumlah orang sedang berkumpul.
Dilihat dari jauh dari gerak-gerik mereka itu rupanya mereka tengah mempertengkarkan sesuatu.
Puteranya Tiat Kun Lun ini hidup di atas gunung ia juga biasa melatih diri dengan senjata rahasia ia mempunyai mata yang jeli sekali.
Lantas ia mengawasi tajam.
Tempo ia melihat satu orang yang berdiri madap kearahnya ia terperanjat.
"Dia toh Tian Goan Siu?"
Katanya di dalam hati.
"Eh, mengapa aku tidak melihat Yan Ie?"
Berbareng dengan itu pemuda ini lantas mengarrti bahwa kudanya jeri terhadap orang she Tian itu.
Maka ia tertawa ia terus menepuk-nepuk!
"Orang itu telah menjadi sahabat kita!
Dia tidak bakal mencelakai pula padama!
kau besarkan hati hayo maju!"
Sembari maju Mo Lek menekan dalam kopiahnya hingga separuh mukanya jadi ketutupan.
Ia menjepit perut kudanya untuk menyuruh binatang itu lari keras.
Hanya sebentar terdengar sudah suara orang.....orang-orang yang lagi bersisih satu dengan yang lain itu.
Walaupun masih rada samar Mo Lek mendengar satu suara yang ia kenal baik.
Kata orang itu sambil tertawa mengejek.
"Tuan yang muda kau menghendaki anak orang se-baliknya kau tidak memperdulikan ayahnya! Dikolong langit ini dimana ada hal yang sedemikian rupa? Kau mau enak sendiri saja!"
Atas itu terdengar suaranya Tian Goan Siu.
..Jangan kau ngoceh tidak keruan!
A-ku toh tidak mempunyai sangkutpaut apa juga dengan kamu?
Bukankah kita bagaikan air kali dan air sumur yang tidak saling menyerbu?.
Aku Tian Goan Siu, aku bukannya orang bangsa enghiong atau hiap su akan tetapi aku bukanlah siharimau tukang mengganas!"
Orang itu tertawa pula secara dingin. Dialah Ceng -ceng Jie. kata dia nyaring .
"Siapakah yang tidak tahu bahwa kau mengarah anak daranya Ong Pek Thong ? Di lembah Liong Bin Kok telah kau tolongi dia kenapa kau tidak mau menolong terus-terusan hanya setengah hati ? Hahahah ! menjadi harimau tukang mengganas ? Tak apa kau mencaci, aku tetapi, bukankah dengan begitu kau juga sekalian mencaci mertuamu ?"
Tepat disaat itu, Mo Lek telah tiba di antara orang-orang yang lagi mengurung Tian Goan Siu itu.
Sengaja ia berseru seraya menggeprak kudanya, untuk membikin uypiauwma berlompat maju untuk menerjang orang banyak itu.
Tentu sekali mereka itu menjadi kaget dan lantas berlompat mundur guna mengelakkan diri dari tabrakan.
Ceng Ceng Jie bermata sangat liehay.
,,Oh, bocah kiranya kau !"
Dia membentak. Ketika itu Mo Lek sudah lompat turun dari kudanya "ambil ia menghunus pedangnya.
"Ceng Ceng Jie!"
Ia membentak. ,,Ceng Ceng Jie, kaulah sipengkhianat negara ! Ba gaimana besar nyalimu hingga kau sudah datang ke dalam wilayah kota raja ! Bahkan disini kau hendak membikin orang celaka "
Ceng Ceng Jie tidak takut bahkan dia tertawa.
"Tiat Mo Lek !"
Katanya nyaring mengejek.
,,Aku tahu !
kau memang datang ke mari untuk menjadi "Gie-cian Sie wie !
Tetapi, tahukah kau bahwa sebelumnya kau memangku pangkatmu itu, kau bakal menjual jiwamu untuk junjunganmu"
Mo lek terkejut di dalam hatinya Kwe Cu Gie memujikan ia menjadi Gie cian Sie wie, pahlawan pengiring raja, itulah hal yang dirahasiakan, kenapa Ceng Ceng Jie ketahui itu ? Tidakkah itu aneh "
Ceng Ceng Jie berhenti tertawa mengejek, sebagai gantinya dia berkata dingin .
,,Dengan kepandaian semacam yang kau punyai, kau hendak menjual jiwamu kepada raja, aku kuatir, kau tak dapat melakukannya ..."
Menyusui kata katanya itu, segera ia maju, untuk menyerang.
Dengan memutar tangannya pada tangan itu lantas tampak sebilah pisau belati yang tajam bergemerlapan !
Tiat Mo Lek ketahui orang memiliki pisau belati yang sangai tajam, ia lantas berkelit, akan tetapi sembari melindungi diri itu, dari samping ia balas menikam pinggang orang.
Ceng Ceng Jie berkelit sembari berbuat begitu, kembali dia mengejek, katanya .
,,Hm, bagus benar !
Anaknya Tiat Kun Lun turunan keluarga Rimba Hijau mau menjadi Gie-cian Sie-wie !
Sungguh aneh !"
Lalu dia menyerang pula, berulang-ulang, dengan kerai sekali.
Dia mau mendesak Dengan begitu, beruntun dia telah menyerang hingga tujuh kali.Didesak secara demikian, dan juga di ejek tak hentinya Mo Lek menjadi gusar sekali, maka ia lantas putar pedangnya dengan gerakannya "Guntur dan kilat saling samber dan mendengung,"
Sembari menyerang, ia berseru .
"Kenapa jikalau aku si orang she Tiat bekerja untuk raja ? Bukan kah aku jauh terlebih menang dari pada kau yang menjual jiwamu kepada bangsa asing ?"
Itulah salah sebuah serangan ajarannya Mo Keng Lojin.
Dengan begitu, pedang di pakai sebagai golok.
Itulah kekerasan yang menggenggam kelunakan, dari itu dapat di mengerti liehaynya.
Walaupun dia kosen, Ceng Ceng Jie ti dak berani menyambuti serangan itu.
Penyambutan berarti keras lawan keras.
Ia menang ilmu ringan tubuh, ia berkelit dengan sebat sekali, ketika lawan menyerang tempat kosong, ia sudah mencelat kebelakang lawan itu, sembari berlompat, ia tertawa dingin dan kata .
,,Keliru cacian kau ini l"
Membarengi itu, ia menyerang.Ceng Ceng Jie tiiak ialah omong.
Ia memang bukan orang Han, bahkan ialah seorang anak haram dari suku Kangkhu di See Kek, wilayah Barat, dan begitu ia dilahirkan, ia lantas dibuang kegunung dimana ia dipungut oleh penduduk liar dan dipelihara hingga besar.
Mo Lek sebat.
Begitu serangannya gagal, ia lantas memutar tubuh sambil membabat kebelakang.
Ia melihat tubuh lawan berkelebat kesisinya, ia menduga orang tentu mengambil tempat dibelakangnya buat segera menyerang ianya, dari itu dengan wajar ia membela diri sambil menangkis atau menyerang itu.
Tepat gerakannya ini, pedangnya membentur pisau belati lawan, hingga terdengar suara beradu yang nyaring.
Dalam adu senjata itu, Mo Lek kalah pedangnya kena terpapas.
Itulah sebab pisau belati Ceng Ceng Jie itu ialah yang dinamakan ,,Kim Ceng Toan Kiam,"
Yaitu pedang rahasia pendek.
Hanya, meski demikian, ia toh bebas dari ancam bahaya maut.
Setelah itu, Mo Lek berkelahi dengan Liong Heng Kiam-hoat.
yaitu ilmu pedang Wujud Naga, yang berdiri dari enam puluh empat jurus.
Ia jadi menyerang terus-menerus tak mau berhenti.
Buat beberapa jurus, Ceng Ceng Jie menjadi repot.
Tak dapat dia memecahkan ilmu pedang si anak muda.
Mo Lek pun bertenaga lebih besar.
Dia hanya menang ringan tubuh atau kegesitan dan pengalaman.
Keunggulan lain dari Mo Lek ialah ia masih muda dan sangat bersemangat, ia tidak kenal takut, maka juga ia lebih banyak menyerang.
Ceng ceng Jie yang cerdik jadi lebih banyak membela diri.
Adik seperguruan dari Khong Khong Jie itu mempunyai dua kawan, mereka ini melihat pertempuran tak seimbang itu, lantai mereka berlompat maju.
untuk memberikan bantuannya, mereka menyerang dari kiri dan kanan.
Menampak demikian.
Ceng Ceng Jie mengerutkan alis.
Baru ia mau berpura-pura menyuruh mereka itu mundur atau satu diantaranya mendahului ia berkata .
"Kami tahu kau tidak membutuhkan bantuan kami tetapi dialah musuhnya ketua kami! Dalam pertempuran di Liong Bin Kok hampir ketua kami itu terlukakan bocah ini, maka sekarang kami hendak membalaskan sakit hatinya kenin kami itu ! Atas itu, ia membatalkan maksudnya, ia lantas berkelahi terus, la memang ingin lekas merobohkan lawan supaya ia dapat bicara dengan Goan Siu. Dua kawannya Ceng Ceng Jie itu menjadi orang-orang kepercayaannya Ong Pek Thong, namanya ialah Han Kheng dan Teng Seng, senjatanya masing-masing berantai tiga Samciat-kun dan golok besar, semua nya senjata berat, maka itu majunya mereka berarti suatu bantuan yang cukup berharga sekali. Mo Lek lantas menjadi repot. Buat merobohkan Ceng Ceng Jie, ia tidak mampu, dari itu, mana dapat ia terkepung ber-tiga. Demikian ia terdesak. Satu kali la menangkis golok, dan Ceng Ceng Jie membarengi menusuknya. Selagi menangkis itu, pembelaan dirinya kosong. Tak keburu ia menangkis, maka dadanya kena tertikam Nyaring suaranya tusukan itu, keras berkerontrang ; Itulah sebab ia memakai joan-ka, pelindung tubuh, tetapi tameng itu toh rusak hingga darahnya mengucur keluar, mem basahi bajunya. Ceng Ceng Jie tertawa lebar, kembali dia menyerang. Dia sekarang mengarah leher musuh, inilah penyerangan yang ter lebih hebat, hanya baru dia menyerang atau dia mendengar samberan anginnya golok dibelakangnya. Dia sangat terkejut tetapi tidak menjadi gugup. Dia tahu itulah serangan terhadapnya. Sempat ia berkelit dengan menggeser tindakannya, hingga tubuh nya berkisar juga . Sebaliknya serangannya kepada Ma Lek tidak dibatalkan, hanya diteruskan cuma sekarang tenaga menjadi berkurang dan incarannya meleset. Mo Lek masih sempat menangkis, karena ia tidak menghiraukan lukanya. Ia menggunakan tipusilat.
"Mengangkat obor menyuluhi langit."
La berhasil, bahkan bukan saja pisau belati kena tertangkis ujung pedangnya juga menyamber tangan baju pe nyerangnya itu hingga tembus.
Ceng Ceng Jie terkejut juga.
Ketika ia melirik, ia melihat ia sedang dibokong Tian Goan Su, Ia menjadi sangat mendongkol hingga ia membentak "orang she Tian kenapa kau berkhianat ?
"Sederhana sebabnya !
sahut Goan Siu dingin.
"Pertamatama dialah sahabatku dan kedua akulah orang bangsa Han -Lalu tanpa menanti Ceng Ceng Jie membuka mulut, ia maju pula untuk menalangi tikamannya..Ceng Ceng Jie berkaok-kaok saking mendongkolnya. Toh ia repot. Goan Siu tidak dapat dipandang enteng. Dibanding dengan Mo Lek. dia kalah ilmu pedang tetapi menang tenaga dalam. Terpaksa dia menyabarkan diri, untuk dapat melayaninya. Hoa kheng dan Teng Seng maju pula. Mereka disambut Goan Siu. Ja ini menang kis, lalu menyerang selain dengan pedang juga dengan tangan kirinya."
Hanya baru satu gebrak, sam-ciat-kun.
kena tertabas kutung, sedang Teng Seng segera menjerit ke sakitan.
Waktu Goan Siu tiba -tiba meneruskan menyerang, ia berhasil menusuk tangan orang hingga orang she Teng itu mesti melepaskan goloknya yang berat itu.
,,Dengan memandang kepada sumoayku tak mau aku membunuh kamu!" .kata Goan Siu bengis.
"Lekas pergi"
Han Keng dan Teng Seng tahu diri, mereka lantas mandur.
Mereka kenal baik Goan Siu, jadi tak dapat mereka menyerang nya.
Waktu barisan mereka merangsak.
mereka mau mengepung Mo Lek tidak tahunya.
Goan Siu yang menangkisinya selagi mundur mereka teriaki Ceng Ceng Jie .
"Maafkan kami ! Kita ada bagaikan air bah yang menyerbu kuilnya si raja naga ! Kita jadi kawan menyerang kawan, hingga kami menjadi serba salah. Kami hendak pulang untuk memberi kabar kepada ketua kami"
Ceng Ceng Jie tidak menjawab, ia hanya memperdengarkan suara dihidung.
Sambil menuding Goan Siu, ia kata bengis "Kecewa kau menyebut-nyebut sumoay mu itu, Heran aku bagaimana kau mempunyai, muka untuk nanti bertemu dengan ayahnya!""
"ltulan urusanku, tak usah kau usil !"
Bentak Goan Siu.
Ceig Ceng Jie sangat licik justeru orang melayani ia bicara mendadak ia menikam ke arah dada.
Ilmu silatnya ialah "Burung hong menghadap matahari.
Mo Lek kurang pengalaman dibanding dengan Ceng Ceng Jie, tetapi ia menang dari pada Goan Siu, ia tahu Ceng Ceng Jie sangat licik, ia telah memasang mata, maka itu ketika ia melihat orang menggerakkan sebelah kakinya, ia sudah menduga, begitu orang menyerang ia menyerang juga malah ia menikam kepunggung.
Ceng Ceng Jie bergerak sangat gesit, meski begitu, ia cuma berhasil merobek ujung baju Goan Siu, sebab ia mesti lekaslekas memutar tubuh, buat menangkis Mo Lek.
Ia berhasil bahkan ia kembali mem buat pedang penyerangnya bercacad pula.
Habis itu mereka bertarung terus Ceng Ceng Jie kena dikepung.
Kembal"i dia men jadi repot, hingga umpama kata tak dapat dia bernapas.
Kali ini, mereka tak usah berkutat-lama untuk tiba pada akhirnya pertandingan.
Dua-duanya, Mo Lek dan Goan Siu gusar sakali, keduanya menyerang dengan hebat.
Datanglah saatnya ketika ta ngan kosong si orang she Tian mengenakan tubuh lawannya.
Menyusui itu, pedang aya Mo Lek mampir di pundak lawan itu, hampir-hampir tulang pipinya kena tersontek.
Bukan main kagetnya Ceng Ceng Jie, ia pun lantas ingat, tidak dapat ia melayani terus pada Goan Siu.
Tak sudi ia ber musuhan dengan Tian Toa Nio Jikalau ia membunuh lawan ini.
ibu dia tentu tidak mau sudah.
Itu berarti ia mendapat musuh besar yang sangat tangguh.
Tengah ia ber pikir, serangan lawan datang dengan ber bareng.
Ia melompat mundur, Sambil lompat ia menangkis pedang Mo Lek.
Dengan begitu, pedangnya Goan Siu tidak dapat mengenai sasarannya.
Terus ia melompat lebih jauh, untuk mengangkat kaki.
Sembari berlalu, ia berkata .
"Bocah she Tian, kali ini aku beri ampun padamu! Hendak aku menemui dahulu ibumu baru nanti kita berurusan lagi!"
Goan Siu tidak melayani orang bicara, ia tidak mau mengejar, sebagaimana juga Mo Lek pun berdiam saja. Ia lebih perlu menolongi membalut lukanya sianak muda Ia pun menghaturkan maaf.
"Sudah, jangan sebut-sebut segala urusan yang sudah lewat!"
Kata Mo Lek, tertawa. Ia juga menghaturkan terima kasih. Kemudian ia menggapai pada uypiauwma, yang ia ajak bicara, katanya.
"Kudamu Kau juga jangan membetici pula, jikalau bukannya saudara Tian ini, kita berdua bakal celaka di tangannya orang hutan itu!"
Kuda itu mengarti, dia menghamparkan kepala dan ekornya digoyang goyang tandanya bahwa dia suka melupai permusuhan.
Goan Sioa tertawa.
Tapi habis itu dengan roman sungguhsungguh, ia kata.
,,Bagaimana dengan ibuku?"
"Ia tidak sanggup melawan kedua ioo-cianpwee Hong-hu Siong dan Wee Wat ia pergi mengangkat kaki."
Goan Siu berdiam,terus ia menatap orang didepannya., saudara Tiat,"
Tanyanya selang sesaat. ,selagi kail turun gunung, ditengah jalan itu kau bertemu dengan Su moaku atau tidak?"
"Aku jusieru mau tanya kau tentang Nona Ong,"
Sahut Mo Lek.
"Aku menyangka ia ada bersamamu. Parasnya Goan Siu menjadi merah. ,.Buat guna kau maka dia telah mendaki jurang Toan Hun Giam,"
Katanya. Dan aku untuk aku dapat membikin dia mencapai maksud hatinya"
Aku telah membakar rumah kami. hanya aku telah perintah seorang bujang pergi memjeri kabar pada ibu ku."
Baru sekarang Mo Lek mengarti.
Selagi Tian Toa Nio menyusul ia Yan Ie menyusul juga, sedang Goan Siu ini.
sebab dia kuatir Yan Ie tidak dapat mencegah ibunya dia mengiring bujangnya itu dia sendiri berangkat terus, dia membakar rumahnya untuk menyingkir dari Yan le dan ibunya Tentu sekali tak mau ia nanti dicurigai Goan Siu.
Diantara mereka tak mestinya ada salah mengarti.
Diatas jurang Toan Hun Giam aku tidak melihat Nona Nona, katanya.
,,Kalau begini, saudara !
Goan kau harus lekas pergi cari sumoaymu itu.
Goan Siu menghela napas.
"Saudara Tiat, apakah kau belum mengearti maksudku?"
Tanyanya.
"Mulai hari ini hingga seterusnya tidak dapat aku berkumpul dengan sumoayku itu -... Mo Lek heran hingga ia tercengang.
"Saudara Tian. sebenarnya kau sembabat sekali berpasangan dengan Nona Ong,"
Katanya. ,,Kau menyukai dia, dia juga menyukai kau. Kenapa kau mengucap begini?"
"Bagaimana kau tahu dia menyukai aku?"
Goan Siu tanya. Aku mendengar dia mengucapkannya sendiri Dia telah berjanji pada ibumu, dia mengatakan sudi menikah dengan kau. Apakah ibumu belum mengali tahu padamu?"
Mo Lek jujur, ia bicara seperti apa yang ia pikir.
Ia tidak mau memahamkan suara atau sikapnya Yan Ie.
Ia juga tidak menghiraukan bagaimana nanti sikapnya Goan Siu.
Benar saja mukanya orang she Tian ini menjadi merah.
Dia likat sekali.
Tapi dia berkata keras.
, Saudara Tiat, orang yang Sumoayku cintai ialah kau!
kau meng hendaki dia atau tidak, itulah urusanmu tetapi aku kenal baiK sifatnya Sumoayku itu, maka itu tak peduli aku mencintai dia aku juga mau menjaga supaya jangan membenci aku.
Lebih tegas lagi aku tidak mau menyelak diantara urusan asmara kamu ber dua, aku cama mau minta supaya kau baik-baiklah memperlakukannya!"
Mo Lek tidak pandai bicara, dia bergelisah hingga otot-otot nampak.
"Saudara Tian apa, apa kau bilang?"
Katanya , Aku ..-, aku ..."
Ia mau memberi tahukan bahwa ia telah mempunyai tunangan, atau ia bersangsi ia kuatir Goan Siu nanti menyangka, kalau ia belum terikat mungkin ia bakal menerima tangannya Yan Ie."
Selagi orang berdiam Goan Siu sudah lompat naik atas kudanya. ..Maafkan aku!"
Katanya yang terus mengasi kudanya pergi.
Dia mengambil lain arah.
Mo Lek bingung hendak ia mengejar atau Goan Siu menoleh dan berkata nyaring "Saudara Tiat.
aku luga memberitahukan kau satu hal!
Bukankah kau seorang Gie-cian siewie yang baru diangkat?
Ceng Ceng Jie mau menggunai saat kacaunya kota Ti-ana-an, selagi raja mau menyingkirkan diri untuk membunuh padanya maka itu, kau harus waspada!"
Memang ditengah jalan ini, Goan Siu bertemu-oranganya Ceng Ceng Jie selagi Ceng Ceng Jie kemoali dari Tiang-an, kota raja, dimana ia melakukan penyelidikan tentang keadaan atau gerak-geriknya raja.
Ia kuatir tenaganya kurang dari itu ia mengajak Goan Siu bekerja sama, akan tetapi Goan Siu me nampiK.
Mo Lek tercengang Sebenarnya tak sudi ia menjadi pahlawan raja akan ietapi ia sudah memberikan janjinya kepada suhengnya, kakak seperguruan maka itu mendengar berita ini, ia menjadi bingung Karena ia merasa percuma ia menyusul Goan Siu sedangkan ia pun tak tahu harus mergucap apa ia terpaksa mengatakan "saudara Tian!
Harap baik baik di perjalanan!"
Lantas ia mengaburkan kudanya kearah Tiang an.
Hari mencekati magrib ketika anak muda ini tiba dikota tujuannya.
Ia lantas menyaksikan kacaunya kota.
Orang repot menyingkirkan diri.
orang mempepayang situa dan menuntun sibocah cilik sedangkan orang orang jahat lagi berpestapora, merampok sambil membakar rumah atau menyerbu toko toko.
Sejumlah pemuda bang sawan terlihat menangis ditepi jalan sebab mereka itu lemah dan tak biasa dengankejadian hebat itu mudah saja mereka jadi korbannya orang orang jahat yang merampas pakaiannya yang mdab indah.
Dalam kacauan itu budak budak mereka mendahului kabur.
Inilah kekacauan yang penyair besar Tu Fu pernah lukiskan dalam syairnya.
Mo Lek pun bingung"
Menyaksikan kekalutan itu "Benarkah raia sudah mengangkat kaki?"
Tanya ia dalam hati Karena ia perlu mendapat tahu lantas ia kaburkan kudanya di antara orans banyak itu.
Ia tidak mempe-dulikan lagi aturan ketertiban atau kesejateraan umum, ia langsung menuju ke Cie lim Shia, Kota Terlarang.
Ketika ia sampai didepannya pintu kota, pintu kotanya terkunci rapat dan tempo ia berkaok kaok memanggil ia di sambut dengan hujan anak panah.
Ia menuturkan maksud kedatangannya.
Masih orang tidak menghiraukannya.
pencet terlebih jauh.
Dengan ditunjuki jalan Mo lek mengitari kota Cie Kim Shia, untuk pergi ke belakangnya dimana ada pintu sin bu mui pintu kota mana dilindungi-Cin Siang.
Sejumlah serdadu, yang berjaga-jaga sudah mendahului menegur kapan mereka mengenai kuda uypiauwma milik pemimpinnya Suaranya mereka berisik hingga didengar Cin Siang sendiri.
Ia ini lantas keluar untuk melihat.
Tentu saja ia lantas mengenali Tiat Mo Lek.
"Lekas buka pintu!"
Perintahnya. Dengan begitu, Mo Lak dapat segera masuk dalam kota. Lantas dia melemparkan serdadu, yang dia cekuk "Dia kenapakah? tanya, Cin Siang.
"Bersama sejumlah kawannya dia mengganggu anak gadis orang"
Sahut Mo Lek.
"Tapi syukur karena aku bertemu dia aku jadi dapat mencari kau. Aku membawa suratnya Kwee Leng kong..." ,,Mari kita bicara didalam"
Cin Siang memotong, la mengajak tetamunya masuk setelah memberi perintah akan serdadu tadi ditangkao, untuk dikurung dan nanti diperiksa perkaranya.
Uypiauwma girang sekali bertemu majikannya.
dia meringkik dia menggoyang kepala dan ekornya dengan mulutnya dia menjilati majikannya itu.
.,Aku berterima kasih pada kuda ini"
Kata Mo Lek.
"Beberapa kali dia berhasil menolongi aku dari ancaman bahaya."
"Itulah bagus!"
Kata Cin Siang, tertawa.
"Dulu kau telah menolongi aku dan aku masih belum menghaturkan terima kasihku kepadamu!"
Lantas siewie ini pimpin tetamu masuk kamar pribadinya.
"Dulu kau tolongi aku tak dapat aku ketikanya buat mengucap terima kasih padamu,"
Kata ia.
"Aku tidak sangka bahwa hari ini kita dapat bertemu disini. Tiat Congsu bukankah kau berbahagia bersama Kwee Lengkong disana?"
"Aku tidak menjabat pangkat."
Mo Lek memberitahukan.
"Adalah suhengku Lam Cee In yang membantu Kwee Lengkong membelai kota Kiu-goan."
"Oh. kiranya suhengmu itu Lam Tay-hiap !"kata Cin Siang.
"Memang, telah lama aku dengar nama besarnya. Apakah kau juga kenal Tayhiap Toan lui Ciang ?""
"Dialah sanakku dan padanya pernah aku belajar ilmu pedang,"Mo Lek menjawab "Mereka memesan aku untuk menanyakan keselamatanmu !"
Cin Siang girang.
"Sebenarnya aku cuma pernah mendengar saja namanya Toan Tayhiap,"
Ia akui.
"Adalah beberapa sahabatku yang mengenal dia. Sayang beberapa kali telah lewat kesempatan yang baik buat aku berkenalan dengannya. Tapi tak apalah, sekarang kita bukan orang luar lagi i"
Cin Siang menutup pintu, setelah itu itu ia tanya.
"Kau bilang kau membawa suratnya Kwee leng-kong. Sebenarnya ada urusan apakah ? "
"Kwee Leng-kong memujikan aku untuk menjadi pelindung raja situa bangka "
Sahut Mo Lek terus terang. Cin Siang heran, hingga ia melengak. Hanya sebentar ia tertawa lebar.
"Oh, kau dipujikan buat menjadi Gie-cian sie-wie !"
Katanya.
"Menyebut raja seperti caramu ini cuma dapat dilakukan diantara kita secara diam-diam, jikalau dtmu ka para siewie lainnya, kita harus menyebut Seri Baginda Raja dan kau juga harus berdiri dengan tegak tetapi hormat serta me nyerukan Ban-swee ban-banswee !,, ,,Oh, kiranya ada begitu banyak aturan busuk i"
Kata Mo Lek "Jikalau bukannya Kwee Leng-kong dan Lam Suheng mendesak aku datang kemari sungguh, tak aku melakukan pekerjaan ini !"
"Baik aku akan ingat pesanmu ini !", Cin Siang tertawa.
"Kau datang diwaktu yang kebetulan sekali,"katanya "Besok Seri Baginda hendak berangkat ke See Siok dan kita justru lagi berduka karena slewie pelindungnya tidak cukup. Kami justru membutuhkan orang yang jujur, setia dan gagah sebagai kau !"
"Oh, raja tua bangka itu besok mau per gi menyingkirkan diri."kata Mo Lek "Ya,"
Cin Siang mengangguk.
"Tetapi hal itu masih dirahasiakan, orang luar tak diberitahu kan. Seri Baginda telah menugas kan Tan Goan Lee menjadi Po leeCiang-kun, Siauw-In Cui Kong Goan menjadi Liu-Siu Ciangkun. dan keng-tiauw In Gui-Hong Cin menjadi Tit-tun-su. Kapan sang pagi besok tiba rombongan Seri Baginda Raja akan segara berangkat, yang turut padanya melainkan Yo Kui Hui dan Yo-Kok Tiong serta beberapa menteri besar dan putera raja. Segala selir lainnya mungkin tak akan diajak....."Ia hening sejenak, ia tertawa, terus ia menambahkan.
"Seri Baginda pantarg menyebut mengungsi, maka itu kau harus mengatakan perjalanan kunjungan, jikalau tidak, dia bisa menjadi gusar."
Mo Lek mengerutkan alis, ."Jikalau begitu."katanya.
"kalau nanti aku bicara dengan raja, mungkin aku saban-saban berdamai dahulu denganmu. Kau menyebut-nyebut Seri Baginda mengungsi eh, membuat kunjungan ! dengan cara rahasia, tetapi kau tahu, hal itu sudah diketahui orang luar !"
"Aku ketahui cukup baik tentang keadaan diluaran.
"kata Cin Siang.
"Mungkin sekali orang telah mengetahui, inilah tentu disebabkan dari siang-siang orang telah menguwarkan ceriteraceritera burung."
"Bukan cuma penduduk Tiang-an yang telah mendapat tahu,"Mo Lek kata pula.
"Hanya juga orang-orangnya An Lok San dikota Tong-kwan yang jauh itu. Kau harus waspada, An Lok San sudah mengundang Ceng-Ceng Jie yang telah diberikan tugas selagi keadaan kacau mesti melakukan penyerangan terhadap Seri Baginda !"
Cin Siang kaget.
"kau ketahui ini ? tanyanya-Mo Lek menuturkan halnya Ceng-Ceng Jie minta Tian Goan Siu membantunya tetapi Goan Siu menampik. Cin Siang kembali terkejut Ia tahu siapa Tian To Nio, ia heran untuk mengetahui Goan Siu ialah puteranya hantu wanita itu.
"Kiranya wanita iblis itu masih hidup! katanya Ceng-Ceng Jie berserikat dangan dia itulah berarti satu ancaman bahaya besar. Syukur puteranya siilbis dapat membedakan kesetiaan dari kedurhakaan dan tak sudi dia berkelomplot dengan mereka itu. Tapi. tentang ini jangan kau bicarakan pada siap juga. Didalam istana, suasana sudah buruk sekali dari tak dapat seri Baginda dibikin kaget dengan berita ini. Cukuplah kalau kita bersiap saja secara diam-diam saja."
Mo Lek mengangguk.
"Apakah sekarang dapat aku menghadap Seri Baginda ?"tanyanya. Nanti aku melaporkannya dahulu,"kata Cin biang. kau baik menanti keluarnya firman"
Mo Lek berdiam, ia bersedia menanti.
Ia hanya heran.
Ia tidak tahu sangat sulit buat menjadi Gie-cian siewia, yaitu pengiring pribadi raja.
biasanya itu dilakukan oleh puteraputera Jenderal atau pembesar dari Gie Lim KuN, yaitu pasukan pengiring raja.
Jadi orang yang dipercaya raja baru dapat mendampingi jungjungan itu.
Tapi Mo Lek Orang tidak dikenal dan dia pula dipujikan oleh pembesar yang beru tugas diluar kotaraja, untuknya ialah hal istimewa Menurut sikap raja umumnya, Mo Lek tidak dikenal, buat masuk kedalam istana saja dia tak memperoleh izin, apapula untuk datang menghadap.Habis itu Cin Siang menanyakan tentang pelbagai tindakan pembelaan Kwee Cu Gie, maka ia girang mengetahui K.wee Leng kong sudah memimpin pasukan perang di Hoo pak serta Lam Cee In ditugasknn membangun barisan sukarela di Tong-kwan Ia tertawa dan kata.
"Selama beberapa hari ini kami selalu menerima berita berita buruk, dari itu inilah warta yang menggirang kan yang sukar didapatnya, kabar ini pasti akan dapat menghibur Seri Baginda Raja Saudara Tiat, kau tentu belum bersantap tengah hari. bukan? Nanti aku menitahkan orang menjadikan barang hidangan untukmu. Maafkan aku, tidak dapat aku menemani kau!"
Mo Lek mengangguk, tetapi seberlalunya Cin Siang ia merasa kesepian.
Segera juga penghidupannya akan berubah, bahkan berubah secara besar besara i.
Bukankah ia orang rimba Hijau dan dibesarkan dalam dunia Kangouw?
Bukankah ia jadi telah berjasa dengan penghidupan bebas merdeka?.
Sekarang ia bakal masuk kedalam istana raja, itulah seumpama burung yang terbang masuk kedalam sangkar, hingga didalam sekejap lenyaplah kemerdekaannya.
Ia masgul kapan ia ingat selanjutnya ia mesti mem-batalkan segala tindak-tanduknya, dari bergeraknya sampai bicaranya...
Seorang diri anak muda ini bersantap.
Sebenarnya ia tidak gemar arak tapi sekarang, saking kesepian dan iseng, ia meneguk juga satu cawan demi satu cawan, sampai habis satu poci, hingga pengaruhnya air kata-kata mulai naik keotaknya...
Berselang satu jam, Cin Siang pulang.
Dia bertindak masuk kedalam kamar sambil tertawa lebar.
Dia bukan send irian saja dia muncul bersama seorang lain yang mukanya hitam lapan lantas kata.
"Inilah Oet-tie Ciang-kun! Dia telah mendengar tentang tibanya seorang muda gagah perkasa, dia datang untuk menemuinya menemui kau, saudara Tiat! Saudara Oettie paling gemar bergaul, dialah sahabat akrabku, maka aku harap untuk selunjutnya dapatlah kamu bergaul dengan erat!"
Mo Let memandang orang muka hitam itu, segera ia mengenalinya. Itulah orang dengan siapa ia pernah bertempur. Lantas ia tertawa terbahak. ,,Oet-tie Ciangkun""
Katanya nyaring, ,,aku tidak sangka bnhwa disini kita dapat bertemu pula! Apakah kau masih ingat aku?"
Oet-tie Pak melongoh, ia menatap. Lantas ia menggarukgaruk kepala? "Ah, saudara Tiat, dimanakah dahulu kita parnah bertemu?"
Ia balik bertanya.
"Kenapa aku lupa?"
Mo Lek tertawa pula.
"Pada delapan tahun yang lalu, kita pernah bertemu diatas lauwteng rumah makan diluar pintu Beng-hong-mui,"
Sahutnya.
"Disana kita telah bertempur seruh sekali! Aku berterima kasih kepada kau yang itu waktu kau telah menaruh bekas kasihan kepadaku."
Oet-tie Pak mengawasi pula lalu ia bertepuk tangan dan tertawa lebar.
"Hai, kau kiranya bocah yang bernyali sangat besar."
Katanya. Kau sekarang sudah jadi begini jangkung! Sungguh, aku tidak mengenalimu!"
Cin Siang tertawa.
"Ini dia yang dibilang, tanpa berkelahi orang tidak kenal satu pada lain!"
Katanya.
"Hanya, kenapa kamu menjadi bertempur ketika itu?"
"Apakah kau masih ingat halnya dahuluhari itu Ceng Lian Kak-su telah minum arak sampai mabuk diatas rumah makan Beng Hong Lauw diwaktu mana dia telah dipanggil masuk keistana untuk dia membuat syair?"
Tanya Oet tie Pak.
"Hal itu akupun pergi minum dirumah makan tersebut. Selagi mabuk itu Ceng Lian Kak-su dipimpin oleh seorang kebiri, untuk diajak turun dari lauwteng. Dia agaknya tak begitu menyukai, dia jalan setindak demi setindak, dia terus memasang omong dengan seorang sahabatnya. Sahabatnya itu seorang yang luarjbiasa agaknya. Dia mengenakan baju gerdmbongan yang terbuat dari kain kasar, sepatunya yaitu sepatu militer yang sudah tua, akan tetapi romannnya gagah, Sekali saja orang melihat dia, orang mendapat kesan dialah bukan sembarang orang Hari itu pula Leng-fco Tat dan kawan-kawannya bersantap juga didalam rumah makan itu. Tak lama seperginya Ceng Lian Koksu, JLeng-ho Tat lantas menuduh sahabatnya Koksu itu sebagai seorang pemberontak, hingga kesudahannya mereka menjadi berkelahi. Beberapa pahlawannya An Lok San yaitu Tian Sin Su dan Sie Siong dan lainnya berada juga disitu, mereka lantas turun tangan membantui Leng-ho Tat, Tiba-tiba saja saudara Tiat bersama seorang usia pertengahan telah datang membantui seorang militer tidak dikenal. Saudara Tiat, Ketika itu kau tentunya baru berusia lima belas tahun, bukan? Sekalipun kau berdiri, kau belum ada sebatas pundak ku, akan tetapi, kau berkelahi hebat sekali, dengan satu bacokan, kau telah melukai Leng-ho Tat, Tatkala itu aku masih belum mengerti duduknya hal itu lantas menangkap saudara Tiat ini dan melemparkannya kebawah lauwteng. Dengan begitu barulah pertempuran itu berhenti. Orang usia pertengahan itu liehay sekali ilmu pedangnya dia berhasil melukai beberapa orang pemimpin Gie Lim Kun serta Sie-wie, ketika aku datang sama tengah hampir akupun ber celaka. Siapakah dia itu?"
Mo Lek tertawa .
"Dialah sanakku dari pihak tertua!"
Sa hutnya.
"Mungkin kau pernah dengar nama teya. Dialah Tayhiap Toan Kui Ciang. Sedangkan si orang militer ialah Tayhiap Lam Cee In yang kemudian menjadi suhengku. Dengan keberangkatanku kekota-raja ini, mereka telah memesan aku menyampaikan hormatnya kepada kamu gerta menyatakan menyesalnya untuk pertempuran, dahulu hari itu."
Oet-tie Pak tertawa lebar.
"Syukurlah itu waktu aku dapat berpikir."
Katanya.
"Aku telah memikir sahabat sahabatnya Ceng Liaa Hak-sa tak mestinya orang-orang busuk maka juga aku tidak percaya Lengho Tat yang menuduh mereka, sebagai pemberontak -pemberontak. Itulah sebabnya walaupun aku turun tangan aku masih menyayanginya, tak mau aku menganggap-mereka sebagai pemberontak. Sebenarnya taruh kata aku mengeluarkan semua kepandaianku pasti sudah bahwa mereka te tap bakal dapat meloloskan diri."
"Lengho Tat serta kedua orang she Tian dan she Sie itu telah sahabat-sahabat kekal satu dengan lain,"
Kata Mo Lek.
"Peristiwa itu hari disebabkan Lengho Tat menuduh Kam Suheng sebagai pemberontak."
Baca Juga: Telapak Setan 1
Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 1