Kisah Bangsa Petualang 9

Eps 9 Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen.

Oleh karena Oet-tie Pak menimbulkan soal lama itu, Mo Lek lantas menuturkan sebab musababnya yaitu urusa Su It Jie difitnah dan dibikin celaka, hingga Toan Kui Ciang bersama Lam Cee In mesti turun tangan untuk menolongnya.

Mendengar demi kian Cin Siang dan Oet-tie Pak Kagum, mereka memuji kegagahan dan sifat laki-laki dari Kui Ciang dan Cee In itu, Habis menutur hal ichwalnya urusan Mo Lek menambahkan.

,,Di pihak orang kamu rupanya tidak sedikit, yang bersahabat dengan An Lok San.

Ada seorang yang bernama Oe-bun Thong.

yang lihay ketika itu pun membantui orang she An itu, Dia mengepalai orang orangnya mengejar kami untuk ditangkap, dia seperti juga hendak membikin mati pada pamanku itu.

Mendengur penuturan yang paling belakang ini.

Cin Siang terperanjat, hingga airmukanya menjadi berubah."

"Saudara Tiat, aku sebenarnya mau menyampaikan kepada kau sebuah berita yang menggirangkan."

Katanya, akan tetapi sekarang berita bagus itu berubah menjadi berita buruk! Seri Baginda telah memberi sebuah pangkat kepada kau tetapi kau harus bekerja dibawah perintahnya Oe bun Thong!"

Mo Lek heran ia melengak. .,Aku dengar dari Kwee Leng-kong bahwa pasukan Gie cian Siewie dibawah pimpinanmu."

Katanya.

"kenapa sekarang Oe-bun Thong yang menjadi seatasanku? .,Kan sebelum tahu saudara Tiat "

Cin Siang mengasi keterangan Oe cian iewie.

terbagi dalam dua rombongan.

Rombongan yang pertama yang diberi nama Lioijg Kie-Siewie, ialah yang senantiasa mendampingi Seri Bfginda sendiri.

Rombongan yang lainnya yaitu San Kie Siewie.

tugasnya melindungi semua anggauta keluarga raja, Dise-belah rombongan itu masih ada rombongan lain yaitu yang diberi nama Tiong fciong-Sek-wie yang kewajibannya bergantian merondai bagian dalam istana diwaktu malam, -audara Oet tie Oe-bun Thong dan aku, semua menjadi Liong Kie Siewie akan tetapi, tugas kami masing-masing.

Begitulah aku memimpin rombongan Liong Kie Siewie sa udara Oet-tie Cong Kiong Sekwie aan Oe-bun Thong San Kie Sie wie."

Habis menjelaskan perbedaan rombong an-rombongan siewie itu, Cin Siang menam bahkan.

"Setelah Seri Baginda menerima usul Cwee Leng-kong yang memujikan kau berniat mengangkat kau menjadi Liong Kie-Sievvie. Ketika itu Oe-bun Thong dan saudara Oet-tie hadir bersama. Saudara Oet-tie tidak membilang apa apa adalah Oe-bun-Thong yang mengutarakan pikirannya katanya kau belum ketahuan asalusulnya bujt berlaku nati-hati kau tidak dapat segera di tempati berdampingan selalu dengan Seri Baginda, dari itu dia mengusulkan au diangkat menjadi San Kie Siewie, Seri Baginda menerima baik usul itu. Dalam hal itu, aku tidak berdaya untuk merobahnya. Walaupun kau dimasukkan dalam rombongan San Kie Siewie akan tetapi kau diangkat menjadi San Cie Cian Gu. Itulah kedudukkan tertinggi didalam San Uie Siewie itu."

Meski demikian Liong tie sie-wie she Cin ini toh Hdak bergembira.

Dibanding dengan Liong Kie Siewie, San Kie siewie, berderajat lebih rendah satu tingkat dan seorang San Kie siewie tidak dapat mendampingi raja.

Mo Lek mengerutkan alis.

,,Aku tidak gila pangkat""

Katanya. Raja tidak percaya aku, aku juga tak mempe-dulikannya, Tapi untuk tunduk dibawahperintahnya Oe bun Thong itulah aku tak su di!" ,.Kau baiklah bersabar dulu,"* Cin Siang membujuk.

"Setelah nanti kau peroleh jasa akan aku dayakan untuk menarik kau keda lam romborganku. Hanya sekarang kau harus pergi kepada Oe bun Thong untuk mela porkan diri hal itu membuat aku rada kuatir......"

"Peristiwa telah lewat banyak tahun."

Kata Oet-tie Pak "aku sendiri tidak mengenali saudara Tiat maka itu belum tentu Oe bun Thong juga mengenalinya "

"Peduli apa dia mengenali aku?"

Kata Mo Lek.

"Dia dengan An Lok San saling menyebut saudara aku justeru hendak membongkar rahasianya!"

Cin biang terkejut.

"Saudara Tiat, jangan kau sembrono cegahnya, ,,Kau harus ketahui dimasa An Lok San belum berontak, dia paling dipercaya, seri Baginda, maka juga ketika itu orang-orang yang menyebutnya saudara.Sampai pun "yang mengaku sebagai anak pungutnya, bukan sedikit jumlahnya mereka itu, asal mereka tidak menghamba pada pemberontak she An itu, jangan kita sentuh sentuh, supaya urusan tidak menjadi merembet terlalu luas. Disaai kacau dan genting seperti ini, tak dapat kita memaksa lebih banyak orang turut memberontak, kita harus ingat juga, Yo Kui Hui menjadi orang yang nomor satu yang melindungi An Lok San, jikalau kita sembarang bicara atau bertindak, itulah suatu pantangan besar ! Mo Lek menggeleng-geleng kepala.

"Bagaimana, ini tak boleh, itu tak dapat!"

Katanya, masgul.

"Baiklah aku serah kan kepada nasib saja ! Akan aku lihat, ba gaimana nanti Oe bun Thong perlakukan aku!"

"Jangan kau kuatir, saudara Tiat !"

Ber kata Oet-tie Pak.

"Akan aku temani kau pergi kepada orang she Oe-bun itu. Jikalau dia kenali kau, tidak ada halangannya, kau boleh mengaku saja. Andaikata dia hendak membikin susah padamu, kau lihat, aku Lao Hek, akan aku hajar dia dengan ruyungku!"

Adalah kebiasaan dari Oet-tie Pak, yang mukanya hitam legam itu, menyebut dirinya ,,Lao Hek,"

Artinya ,,si hitam."

Dialah turunan dari Oet tie Kiong alias Keng Tek salah seorang menteri atau panglima berjasa yang telah membantu membangun Kerajaan Tong.

Semasa Kaisar Thay Cong Lie Sie Bin dari Ahala Tong belum naik diatas takhta kerajaan, pernah satu kali dia ditolongi Oet-tie Kiong, ketika itu Lie Sie Bin mengepalai pasukan menyerang pihak Gui (Lie Bit), dilembah Ngo Houw Kok dia bertemu dengan Sian Hiong Sin yang kosen dia telah dikejar sampai disolokan Toan Hun Kian dilembah itu hampir dia kena di tawan, syukur tatkala itu muncullah.

Oet-tie Kiong, yang menoionginya, karena jasa nya itu, Oet-tie Kiong dihadiahkan sebatang Kim Pian, yaitu ruyung emas, yang selanjutnya menjadi warisan, karena memiliki Kim pian turunan itu Oet-tie Pak menjadi berani.

Cin Sian memang hendak bicara dengan kawannya itu, mendengar perkataan sikawan dengan girang ia kata .

,,Saudara Oet-tie, dengan kau pergi bersama, tidak nanti Oebun Thong berani membikin susah pada saudara Tiat !"

Oe-bun Thong itu sebenarnya tak seha rusnya berdiam di dalam istana untuk me lakukan tugasnya akan tetapi sekarang ber hubung dengan keberangkatannya raja be-sak pagi, ia perin hadir, untuk berkumpul tak perduli Liong Kie Siewie, San Kie Sie wie atau Kiong Tiong Sek wie semua haru-siap sedia menerima sesuatu tugas.

Oe-bun Thong serta rombongannya, semua San Kie Siewie, bertempat dikeraton Yan ".eng Kiong yang terpisah hanya dengan sebuah tembok dengan Iwee Wan, yaitu keraton.

Begitulah Oet-tie Pak mengajak Mo Lek pergi ketempatnya Oe bun Thong sedangkan Cin Siang, bersama sejumlah siewie, lantas pergi merondai sekitar istana.

Tatkala itu sudah dekat jam dua, rem bulan bercahaya sangat terang, Oet-tie Pak mengajak Mo Lek masuk dari pintu Sin Bu Mukai melintas itaman diluar keraton.

Dibawah sinar si Puteri Malam, tampaic segala bunga dan baiu yang indah dan luar biasa di dalam taman begitu pun segala ranggon dan pesebnn berikut loneng-lonengnya yang terukir Buat Mo Lek, memandangan di situ mirip sebuah tempat dewa, maklum ialah seorang Kauw Ouw biasa.

Tapi ia tengah berhati tegang, tidak ada kegembiraannya untuk menikmati keindahan taman itu, pula suasana seumumnya dari saat-saat bakal ke berangkatan raja ada bagaikan mega mendung yang bergulung gulung atau melayang layang ditengah udara.

Inilah sebab, selekas kaki Mo Lek menginjak taman, dikaki gununggunungan, diantara pepohonan dan pohon bunga ia mesti mendengar tangisan sedu sedan dari para dayang yang tidak bakal turut raja pergi menyingkir hingga me reka jadi sangat berduka dan berkuatir.

Terharu hati Mo Lek mendengar ratap tangis mereka itu.

Oet-tie Pak menggeleng kepala, kata ia.

"Tak dapat kita menghiraukan mereka itu ! Saudara Tiat, mari !"

Sebentar kemudian, mereka sudah ke luar dari taman itu. Justeru itu dikaki gunung-gunungan tampak seorang dayang, yang kelihatan hanya sebelah mukanya. -oo0dw0oo-

Jilid 23 Oet-tie Pak berjalan terus, ia tidak memperdulikannya.

Tidak demikian dengan Mo Lek.

Mereka berdua justeru saling memandang hingga sinar mata mereka bentrok.

Mo Lek heran.

Ia seperti mengenali dayang itu.

Maka ia menatap.

"Oh!"

Berseru anak muda ini. Ia mengenali Ong Yan Ie"

Hanya berbareng dengan suaranya itu, si dayang sudah lantas berlompat pergi, gerakannya sangat pesat.

Mo Lek tak sudi menjadi pahlawan raja tetap dialah orang yang paling memegang kata-katanya.

Dia sudah memberikan janjinya pada Lam Cee In dan Cin Siang untuk bekerja dengan setia, tentu sekali, tak dapat dia merebahnya dan.

Hanya ia mau ber laku waspada.

Terkejut mengenali Yan Ie itu, dia lantas berpikir Ia menjadi anaknya Ong Pek Thong, tidak dapat aku mempercayainya sepenuhnya.

Mau apa ia tengah malam bjta rata ini menyelundup kedalam keraton?

Taruh kata ia tidak berniat melakukan serangan gelap terhadap raja, aku toh mesti melihatnya,"

Maka dia lompat untuk lari mengejar. Oet-tie Pak pun telah melihat ada orang lari, ia lantas berseru-.

"Ada pembunuh ! Ada pembunuh"

Ia terus turut mengejar."

Ilmu silat orang she Oet-tie ini lebih unggul daripada ilmu silatnya Mo Lek akan tetapi dalam ilmu ringan tubuh, ia ketinggalan maka itu, justeru Mo Lek sudah berlompat lebih dahulu, tak dapat ia menyandak.

Mo Lek lari keras sekali.

Didalam tempo pendek, ia sudah mendekati Yan Ie.

"Nona Ong mau apa kau datang kemari?"

Ia tanya.

Yan Ia tidak menjawab, dia hauya mengulapkan tangannya kebelakang lalu dia lari semakin cepat.

Ulapan tangan sinona menjadi tanda memanggil, tanda supaya pemuda itu mengikuti.

Itulah tak perlu.

Didalam keadaan seperti itu, walaupun tidak dipanggil, hendak Mo Lek menyusul dan menyandaknya.

Ilmu ringan tubuh dari Nona Ong menang setingkat daripada Mo Lek, karena itu mereka terus berlari lari saling susul.

Mereka telah lompat melintasi tembok taman dan menembusi lorong panjang didepan keraton Ban Siu Kiong.

Didepan situ ada sebuah lauwteng yang mengeluarkan cahaya emas yang berkilauan itu hanya suara beradunya senjata dari arah lauwteng itu!

Mo Lek kaget sekali.

Menyusul itu maka terdengar seruan keras dan panjang dari Yan Ie yang juga telah meaghentikan larinya.

Segera juga dari arah lauwteng terdengar suara sambutan.

"Nona Ong, lekas! Siraja tua ada di-sini!"

Mo Lek mendengar itu dia gusar bukan main, lantai dia menghunus pedangnya dan menikam sinona.

"Anak tolol!"

Yan Ie berseru perlahan sambil berkelit.

"Siorang jahat justeru berada diatas lauwteng ! Kenapa kau tidak lekas pergi melindungi raja?"

Mo Lek melengak.

Hanya sejenak lantas ia mengeluarkan seruan tertahan lantas ia meninggalkan sinona untuk lari kelauwteng Maka dilain saat ia telah lantas melihat satu pertempuran yang hebat.

Seorang pendeta bersama Seorang imam, juga seorang tua bermuka merah tengah bertarung dangan rombongan siewie.

Mereka lagi mencoba menyerang naik keatas.

Kawanan siewie berjumlah lebih besar akan tetapi mereka bukanlah penghadang-penghadang yang tepat, bahkan diantara mereka riuh terdengar jeritan-jeritan dari kesakitan bukti bahwa diantaranya telah banyak yang terluka.

Beberapa siewie tampak jatuh bergulingan ditangga lauwteng.

Suara berisik itu memekakkan telinga.

Tiat Mo Lek sudah lantas mengenali si orang tua muka merah, ialah Tie Swie yang menjadi tangan kanannya Ong Pek Thong.

Sipendeta dan siimam, atau toosu tidak ia kenal.

Tentu sekali, ia menduga mereka itulah orang -orangnya Ong Pek Thong Disaat itu, ia kuatir sekali sudah ada penjahat lainnya diatas lauwteng.

Tidak bersangsi pula, ia berlompatan "lt Ho Ciang Thian,"

Atau ,Seekor burung jenjang menyerbu langit."

Selain menjejak jubin, ia juga menekan loneng, maka bagaikan jem-paring tubunnya melesat naik keatas lauwteng.

Dimuka pintu tangga lauwteng itu ada sejumlah siewie, mereka menyangka kepada musuh, mereka menyambar kekaki sianak muda.

Mo Lek tidak pedulikan mereka, dengan pedangnya ia menangkis, membabat setap senjata mereka itu Ia naik terus.

Ia pun main menendang membikin beberapa siewie terbang senjatanya dan terpental tubuhnya.

Tiba diatas lauwteng, yang terhias indah, Mo Lek melihat tiga orang lagi berkumpul menjadi satu.

Orang yang Satu, seorang tua, mengenakan jubah tersulam naga-nagaan, tangan kirinya memegang sebuah kemala bundar yang Cahayanya terang menyilaukan mata, dan tangan kanannya memegang lengannya seorang wanita muda dari cantik.

Orang yang ketiga seorang nona.

Terang mereka bertiga ketakutan sebab tubuh mereka bagaikan menggigil, Cuma si nona nampak sedikit lebih tenang.

Ia menduga raja bersama Yo Kui Hui, hanya entah siapa nona itu.

Di atas lauwteng juga ada sejumlah siwie, mereka sudah mengurung raja bertiga.

Mereka itu terkejut melihat munculnya Tiat Mo Lek lantas mereka berseru-seru.

Beberapa diantaranya maju untuk menyerang.

"Tahan!"

Berseru Mo Lek.

"Aku bukannya orang jahat! Aku datang buat melindungi Seri Baginda!"

Justeru tengah kekacauan berlangsung diantara mereka terdengar suara tertawa yang tajam, yang sangat menusuk telinga. Itulah tertawanya Ceng Ceng Jie yang terus berkata nyaring.

"Raja tua bangka kau sudah mencicipi kesenangan beberapa puluh tahun kau harus merasa cukup! Maka itu pada takhtamu mesti ditukar satu orang untuk menundukinya!""

Berbareng dengan suara itu"

Bekelebat juga bayangan Orangnya, menyambar kearah raja.

Terus terdengar dua kali suara senjata beradu, terus dua orang siewie terguling roboh berbareng dengan jeritannya.

Bayangan itu menyambar terus pedang pendeknya berkilau kebiru-biruan, meluncur kedada raja.

Mo Lek kaget bukan main Ia terhalang beberapa siwie, tidak dapat ia menghadang penyerang itu, ialah Ceng Ceng Jie.

Saking kaget dan menyesal, ia memperdengarkan keluhannya.

Akan tetapi Kaisar Hian Cong belum saatnya mesti wafat secara hebat dan kecewa selagi jiwanya terancam itu, disitu terdengar bentakan halus tetapi tajam menyusul mana sebatang pedang bergerak, memukul baliK pedangnya Ceng Ceng Jie!

Itulah gerakan sinona yans berada didamping raja.

Dialah Tiang Los Kongcu, puteri bungsu dari kaisar.

Selama tahun Thian-po Hian Ceng pernah mengundang ahli pedang wanita yang bernama Kong-sun Tay Nio datang keistana untuk mengajari ilmu pedang kepada para dayang.

Permainan pedang ahli itu kesohor dan telah telah menggemparkan kotaraja.

Raja mengundangnya untuk ia dapat menyaksikan permainan pedang itu sebagai macam tarian belaka tidak tahunya, ia memperoleh hasil yang diluar dugaan, yaitu putrinya itu berjodoh dengan siguru silat, Tiang Lok bukan melainkan dapat tariannya saja tetapi juga sarinya ilmu pedang.

Kaisar ketahui itu, ia menjadi sangat menyayangi puterinya, karena mana biasa ia meminta si puteri senantiasa memandanginya.

Pedangnya Tiang Lok pedang Tam Louw Kiam cari istana, sebuah pedang mustika, maka, maka padang itu lebih menang daripada pedang mustikanya Ceng Ceng Jie dengan benterokannya kedua pedang, pedang sipenyerang kena bikin rusak sedikit ujungnya Ceng Ceng Jie menjadi kaget.

Tapi dialah ahli pedang, dia bisa melihat ilmu pedang sinona belum mahir, tenaga-nyapun kurang, dari itu, hanya melengak sedetik, kembali dia menyerang, sembari nyerang itu, dia tertawa dan kata.

"Anak manis, kau serahkan pedangmu padaku! Nanti aku angkat kau menjadi muridku!"

Ujung pedang Ceng Ceng Jie menikam lengan siputri.

Atas itu, Tiang Lok menggeser tangannya untuk menangkis.

Ceng Ceng Jie tapinya sudah menduga.

Dia mengikuti tangkisan, membuat nona bangsawan itu sedikit condong, lalu ketika ini dipakai buat dia mengulur tangan kirinya, guna menangkap pedang, untuk dirampas!

Berbareng dengan serangan Ceng Ceng Jie kepada putri Tiang Lok, dibelakangnya kaisar ada seorang siewie yang berseru sangat nyaring.

"Raja linglung, apakah kau masih mengharap hidup lebih lama pula?"

Seruan itu dibarengi dengan geraknya sebatang gaetan berkepala macan, yang diarahkan kepunggung raja dibetulan jantungnya!

Siewie itu bukan lain daripada Lengho Tat yang berkedudukan sebagai Liong tie Cian Gu, yang sudah berbongkol dengan An Lok San Selama Cian Ceng Jie belum datang, dia tidak berani bergerak, untuk turun tangan Barulah sekarang dia nimbrung sebab dia percaya betul Ceng Ceng Jie tidak bakal ada lawannya.

Dia menyerang dengan gaetan Houw Tauw Kauw.

Dia percaya bahwa dia bakal berhasil.

Tidak tahunya, sebelum gaetannya mengenai sasarannya, ada satu tenaga yang kuat yang membenturnya, berbareng dengan mana telinganya mendengar bentakan laksana guntur.

"Jahanam, apakah kau kenali aku?"

Itulah Mo Lek, yang berhasil melewati para siewie, hingga ia datang pada saatnya yang tepat menyelamatkan raja.

Pula hebat sekali tangkisannya, ia membuat Lengho terpental mundur dan jatuh terjungkal mirip bola daging, membentur roboh beberapa siewie.

Habis itu, tanpa menghiraukan si jahanam, Mo Lak berlompat terus, untuk sembari membentak menyerang Ceng Ceng Jie.

Tangannyu Ceng Ceng Jie hampir menyentuh lengannya Tiang Lok ketika ia merasai angin menyamber serta mendengar bentakan nyaring itu ia terkejut, ia lantas saja menerka Didampingnya raja tua ini ada orang begini gagah !

Adakah dia Cin Siang?

Ia menerka tanpa menoleh dahulu.

Ketika tadi ia mulai menyerbu, ia tak menghhiraukan para siewie, yang sudah bertempur dengan orang orang pihaknya Ia telah memikir, asal raja dapat tercekuk, pertempuran akan berhenti sendirinya.

Ia tidak menyangka sama sekali sesudah ia dirintangi puteri Tiang Lok sekarang ada lain lagi penghadangnya, bahkan penghadang ini Tiat Mo Lek, musuh lamanya Tiang Lok KongCu mau melindungi ayahnya, tetapi ia tidak berhasil, bahkan ujung bajunya kena terobek pedang musuh, sampai tubuhnya tertolak berputar, dan limbung, hampir ia roboh kedalam rangkulannya Mo Lek yang tengah berlompat maju itu.

Mo Lek dapat menahan diri, untuk membatalkan serangannya lebih jauh, sedang dengan tangan kirinya, ia mencegah robohnya situan putri.

Hanya sekarang Ceng Ceng Jie mendapat kesempatan buat menyerang pula.

Dia tidak takut malah se baliknya, dia tertawa.

Dia rupanya merasa pasti bakal berhasil dengan usahanya.

Dia tidak memandang mata kepada si anak muda.

Tiang Lok Kongcu memperbaiki diri ia menyerang pula Mo Lek turut menyerang berbareng.

Ceng Ceng Jie berkelit menyelamatkan diri.

Dia sekarang melihat tegas kepada si-anak muda, dari heran, dia menjadi sangat gusar hingga dia berteriak.

"Kiranya kau, bocah! Kembali kau merusak usaha tuan besarmu! Bangsat cilik, kau mempunyai jasa apa ktu diberikan upah macam apa maka kau mau jual jiwa untuk raja tua bangka?"

Ketika itu Tiang Lok Kongcu juga mendapat kesempatan akan menoleh kepada Mo Lek, hingga ia mendapatkan seorang muda yang beroman tampan dan gagah.

Ia menjadi jengah sendirinya hingga mukanya bersemu merah dadu.

Tapi tak sempat ia membuka mulut, buat menanya.

Ceng Ceng Jie sudah menyerang lagi, maka bersama Mo-Lek, ia bertahan guna melindungi ayahnya.

Barulah itu waktu.

Tie Swie bersama sipendeta dan imam berhasil naik ke loteng.

Lengho Tat juga merayap bangun tak peduli sebuah tulang iganya telah patah akibat robohnya itu, ia lantas berseru nyaring.

"Takdir-kerajaan Tong sudah tiba. Sebagai gantinya, telah tiba pula seorang raja yang baru yang arif bijaknana! Hayo kamu semua, kamu yang sadar akan waktu, kamu datang kepada pihak kami! Buat apa berlaku tolol melindungi terus pada raja yang bangpak?"

Diantara para siewie itu ada mereka yang nyalinya kecil.

Mereka menjadi jeri melihat orang jahat mendapat tambahan konco, hingga mereka mau menyangka mungkin telah datang terlebih banyak musuh Karena ini, diam diam mereka pada mengangkat kaki Ceng Ceng Jie dan Lengho Tat senang melihat kesudahannya itu, sebaliknya Mo-Lek menjadi berkuatir, maka ia lantas berseru keras.

"Para siewie, jangan takut! Oet tie Ciangkun bakal segera tiba disini ! Jangan kuatir, yang datang cuma ini beberapa bangsat kecil!"

Ceng Ceng Jie bernyali besar.

Dia tertawa lebar "Nanti aku kasi lihat lebih dahulu pada kau, bangsat kecil, tentang kelihayanku, dia membentak.

Lantas dia menyerang, bahkan berulang ulang.

Dia menikam dengan mencari tubuh dijalandarah!

Mau atau tidak, Mo Lek terdesak mundur ia mesti selalu membela diri.

Ceng Ceng Jie lihay dan licin, habis mendesak itu, mendadak dia lompat mundur akan tertawa terbahak dan berkata.

"Bangsat cilik, tidak ada tempo untuk bergurau dengan kau! Poo Ciang Siancu, aku serahkan bangsat cilik ini padamu!"

Mo Lek kaget sekali.

Ia tahu orang hendak mundur untuk membunuh raja Tentu saja, ia lompat maju, guna mengejar, buat merintangi Justru ia maju justru dipegat oleh si pendeta yang bernama Poo Ciang itu Dialah seerang pendeta bangsa asing, bangsa Ouw Ia lantas menyerang.

Sipendeta menangkis dengan golok Kaytoo hingga kedua senjata beradu keras.

Sipendeta terhuyung, sedangkan Mo Lek merasa tangannya sesemutan.

Teranglah, pendeta itu kurang lihay ilmu ringan tubuhnya tetapi kuat tenaga dalamnya, bahkan lebih tangguh daripada Ceng Ceng Jie.

Dengan Mo Lek, ia seimbang.

Tentu sekali, pemuda ini menjadi bingung.

Ia dirintangi sipendeta Disana terdengar suara tertawanya Ceng Ceng Jie.

Dia sudah maju pula.

Dia membikin mundur atau terpelanting setiap siewie yang dihadapannya, pedangnya dia dikibaskan berulangulang.

Didalam tempo yang pendek, dia sudah merobohkan tujuh siewie hingga dia datang dekat pula kepada raja yang dia terus serang.

Tiang Lok Kongcu berkelahi mati matian membelai ayahnya Syukur dia dibantu beberapa siewie yang setia, dengan begitu, buat sementara dapat menghalang halangi musuh yang lihay ini Biarnya begitu, bahaya maut terus mengancam raja.

Selagi suasana sangat genting itu, diantara mereka terdengar tertawa yang nyaring dan empuk, yang disusul dengan ini pertanyaan yang berada manis.

"Paman, apakah kau sudah berhasil Yang mana siraja tua? Itulah suaranya Ong Yang Ie, Ceng Ceng Jie sudah lantas menjawab "Nona Ong, mari kau bereskan budak wanita ini! Yang lain lainnya nanti aku sendiri yang membereskannya!"

"Baik, baik!"

Sahut Yan Ie tertawa."

Hanya, paman, kau dahar sendiri yang lezat. itulah tak adil!"

Dengan kata-katanya ini, Yan Ie menyatakan bahwa ia juga ingin membunuh raja tidak cuma si puteri. Mo Lek kaget dan gusar.

"Yan Ie, apakah kau sudah sakit gila?"

Dia menegur. Nona Ong tidak mengambil mumat, dia maju kepada raja. Ceng Ceng Jie tertawa-tawa pula.

"Baiklah!"

Katanya.

"Baik, aku serahkan jasa ini padamu!"

Berkata begitu, sutenya Khong Khong Jie menghampirkan Tiang Lok Kongcu.

Dengan begitu dia jadi berada dekat dengan Ong Yan Ie.

Mimpipun Ceng Ceng Jie tidak menyangka sang keponakan akan menikamnya, maka itu, ia kaget bukan main, herannya tak terkira.

Walaupun dia lihay ilmu ringan tubuhnya, sukar untuk menolong diri.

Maka ia lantas terhuyung dan darah muncrat dari punggungnya itu.

Dasar dia lihay, dia cepat mendapatkan ketabahan, dengan membalik sebelah tangannya, dia menotok diri, guna menutup jalan darah-nya, hingga darah tidak mengalir terlebih jauh.

Seorang siewie maju kepadanya, untuk terus menikam, tetapi dia menyambutnya dengan tendangan sampai orang terdupak mental balik !

Bukan main gusarnya adiknya Khong Kbong Jie ini.

"Bagus, bagus perbuatanmu!"

Bentaknya pada Yan le.

"Bagaimana berani kau turun tangan jahat atas diriku? Oh penghianat!"

Yan Ie tidak gusar sebaliknya tertawa.

"Paman, siapa suruh kau menghina suhengku?"

Katanya "Aku membalaskan sakit Hatinya suhengku itu!"

Memang juga.

belum lama Ceng Ceng-Jie habis bertemu dengan Goan Siu, ia lantas bertemu dengan Yan Ie.

Ia mendongkol terhadap Goan Siu, maka ia beritahukan sinona sepak terjang anaknya Tian Toa Nio itu yang katanya sudah membantui Tiat Mo Lek menyetrukannya.

Setelah itu, ia menuturkan rencananya guna menyerbu kekota raja, buat membunuh raja.

Yan Ie tertawa mendengar keterangan paman ini.

"Suheng tidak mau membunuh kau paman baiklah, aku yang nanti bantu padamu!"

Kata ia.

"Memang suhengku itu tidak tahu urusan kita, tak usah dipedulikan, nanti saja didepan guruku, akan aku adukan dia!"

Ong Yan Ie menjadi puterinya Ong Pek Thong.

Sedangkan rencananya Ceng Ceng Jie untuk membunuh raja adalah rencana yang telah dibicarakan matang dengan An Lok San beserta ayahnya sinona.

Karenanya Ceng Ceng Jie percaya nona ini.

Bahkan ia tertawa dan kata;

"Kau bukannya membantu aku, kau hanya membantu ayahmu sendiri!"

Demikian, Ceng Ceng Jie mengajak selain kawan-kawannya juga Yan Ie menyelundup masuk kedalam istana raja, untuk malam ini mulai dengan penyerbuannya, tetapi sekarang ternyata.

Nona Ong bukan menjadi pembantunya yang penting dia justeru menjadi penghadang dan lawan Ia heran mendengar perkataan sinona sampai ia mengawasi dengan menjublak.

"Kiranya begitu!"

Katanya.

"Hm! Hna! Budak bau. buat guna suhengmu, kau sampai tidak menghendaki lagi ayahmu!"

"Tentang itu,tak usan kau campurtahu!"

Bentak Yan Ie.

"Kau mau pergi atau, lihat pedangku!"

Berkata begitu, ia lantas menyerang! Tie Sw!e melihat kawan bentrok kawan, dia menjadi bingung.

"Nona! Nona! Jangan!""

Teriaknya "Jikalau kau ada bicara, nanti saja kita runcingkan! Sekarang ini urusan penting harus didahulukan!"

Dia lantas saja menghampirkan sinona. Dia menjadi sahabat Ong Pek Thong, biasanya dia menyayangi Yan ie. Diapun paham "Kim Na Ciu."

Ilmu menangkap tangan, maka itu dia berani mengandalkan derajatnya sebagai paman, dia mencoba merampas pedangnya sinona.

Yan Ie sebaliknya menggunai alasan belaka.

Ia tidak berani melawan paman ini, maka ia menyerang Ceng Ceng Jie.

Tapi Ceng Ceng Jie menjadi gusar sekali.

Dia lantas menyerang, sampai dia mengenai pundak sinona, hingga pundak itu terluka tiga dim panjangnya.

Syukur buat Yan Ie, Ceng Ceng Jie lagi menutup darahnya, dia tidak dapat menggunai tenaga sekuatnya kalau tidak tulang pipanya bisa tertikam.

Tie Swie menjadi serba salah melihar sinona terluka itu, darahnya mengucur keluar.

Ia batal menangkap lengannya nona itu.

Dalam bingungnya, ia membanting-banting kaki dan berkata nyaring Aku minta kalian suka memandang padaku jangan kamu saling bunuh Sesama kawan sendiri.

Ketika itu Yan Ie berkelit dari satu tusukan pedang Susulan dari Ceng Ceng Jie la lantas berkata keras pada orang she Tie itu.

"Kapan kamu lagi bicara tentang usaha besar ! Usaha besar apakah itu ? Kamu justeru lagi menerbitkan bencana besar untuk keluargaku Berbareng kamu jagalah hendak membikin musna dari kamu sendiri ! Apakah kamu tidak pernah pikir bahwa, An Lok San sibabi asing terokmok mana dapat dia menjadi raja ?"

Mendengar itu Ceng Ceng Jie gusar bukan kepalang.

"Dengarlah"

Teriaknya.

"lnilah baru kata katanya yang sebenar-benarnya Maka itu meski aku bakal disesalkan atau ditegur Yian Toa Nio mesti aka bunuh budak perempuan celaka, ini Usaha benar kita paling berharga, dari itu jangan kau mencegah aku lagi."

Tie Swie menjadi habis daya, Dia menghela napas.

"Nona Yan kau mencari sesusahmu sendiri"

Katanya masgul "Aku tidak berdaya untuk melindungi lagi padamu !"

Karena ia tidak sanggup menyaksikan kedua kawan itu saling bunuh, ia lantas memutar tubuh, buat pergi menyerang raja.

Orang she Tie ini menyangka bahwa Yan ke bukan lawannya Ceng Ceng Jie ia tidak ingat bahwa lukanya adik seperguruannya Khong Shong Jie itu jauh terlebih parah daripada lukanya si nona karena mana didalam keadaannya masing-masing itu mereka menjadi berimbang.

Dengan tenaganya pihak penyerbu menjadi terbagi itu terutama mereka dirugikan terlukanya Ceng Ceng Jie yang termasuk sebagai pemimpin, suasana pertempuran lantas berubah menjadi sedikit beda.

Cuma Kaisar Hian Cong masih terus terancam bahaya.

Inilah sebab majunya Tie Swie Dengan menggunai Kim Na Ciu pemberontak ini maju terus mendekati.

Dengan beruntun dan mudahnya dia dapat membikin roboh beberapa siewie yang menghadangnya.

Disana pertempuran diantara si pendeta asing dengan Mo Lek berjalan dahsyat sekali, karena itu, mereka berdua samasama tidak dapat memisahkan diri.

Sia-sia Mo Lek mencoba merobohkan, atau meninggalkan lawan itu, supaya ia bisa melindungi raja.

Sementara itu si imam, yang menjadi Orang undangannya Ceng Ceng Jie, liehay sekali.

Dia bersenjata pedang, dengan ilmu silat "Loan Pie Hong"

Atau "Angin Mengacau,"

Dia perlihatkan keliehayannya.

Sejumlah siewie telah terbinasa atau terluka, hiigga sisanya menjadi terdesak, nampak tak dapat mereka bertahan terlebih lama pula.

Di saat suasana sangat mengancam itu maka dengan tibatiba saja terdengar satu seruan bagaikan guntur .

"Kawanan tikus bagaimana kamu berani datang kemari untuk melakukan pembunuhan ?"

Itulah Oet-tie Pak, yang baru saja karena tadi tak dapat dia menyusul Mo Lek.

Dia naik ke atas lauwteng sambil berlompatan diundakan tangga.

Begitu tiba di atas, dia melihat justru Tie Swie lagi menghampirkan junjungannya.

Tidak ayal lagi, dia lompat memburu, setelah datang dekat dia menyerang dengan dua-dua tangannya dibarengi dengan satu tendangan !

Dia juga berseru pula .

"Bangsat tua, kau lihatlah Kim Na Ciu ku!"

Kim Na Ciu dari Oet-tie Pak menjadi pelajaran turunan dari Oet-tie Kiong, yang dengan tangan kosong pernah merampas tombaknya Sian Kiong San dari benteng Wa Kong Ce.

Dia pandai, juga dia bertenaga besar sekali, maka itu, walaupun Tie Swie pandai Kim Na Ciu yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus, akan tetapi dipadu dengan panglima ini, ia kalah unggul.

Demikian ia tidak berdaya ketika ia diserang secara mendadak itu.

Toh sebagai jago, ia berbahan sebisa-bisa.

Keduanya lantas saling jambak.

Oet-tie Pak dapat memegang kedua tangannya lawan, itu artinya lawan telah kena dibikin mati jalan, maka itu mereka kakinya bekerja, untuk menyerang.

Dengan menendang ia mendahului lawan.

Tie Swie menjadi bingung, Dia bertahan dengan memasang kuda-kuda, tak tahunya, lawan tak menghiraukannya.

Begitulah dia kena terdupak, hingga dia roboh !

"Haha-haha!"

Tertawa Oet-tie Pak, yang-lompat menyusul, guna mencekuk lawannya untuk menghabiskan jiwa orang. Atau, mendadak tertengar suara nyaring.

"Oet-tie Ciangkuii, tolong ampuni dia!"

Demikian satu jeritan nyaring dari seorang wanita, ialah Nona Ong Yan Ie, yang telah menyaksikan jiwa pamannya terancam bahaya maut itu.

Oet-tie Pak sudah lantas menoleh ke arah orang yang menteriakinya itu.

Yan le lagi menempur Ceng Ceng Jie.

Ia lantas mengenali orang, yang mempunyai roman sebagai orang hutan itu.

Memang tentang Ceng Ceng Jie, ia pernah mendengar orang membicarakannya.

Ia hanya heran atas teriakan si nona, yang ia tidak kenal.

"Eh, siapakah nona ini ?"

Ia tanya diri nya sendiri. Sebenarnya ia sudah memutar tubuhnya Tie Swie, untuk dilemparkan, tetapi sekarang ia menunda, Mo Lek dengar suaranya kawan itu.

"Dialah sahabatku i"

Ia menjawab.

Didalam keadaan seperti itu, anak muda ini terpaksa mengakui Yan Ie sebagai kawannya.

Telah terbukti Yan le berada dipihak nya.

sebab si nona berani menentang bahaya melawan Ceng Ceng Jie.

"Pergilah kau !"

Seru Cet-tie Pak, yang terus melemparkan Tie Swie kebawah lauwteng, karena mana Yan Ie segera mendapat dengar teriakan "Aduh"

Dari pamannya itu.

Ia lega sedikit.

Mungkin luka si paman berat tetapi itu belum berarti jiwanya terbang melayang.

Ia tahu, dengan begitu Oet-tie Pak telah meluluskan permintaan ampunnya untuk pamannya itu, Segera setelah melemparkan tubuh lawan, Oet-tie Pak lari kearah Ceng Ceng Jie.

Adiknya Khong Khong Jie memutar pedang pendeknya.

Dia meninggalkan Ong Yan Ie, untuk menyambut ini jenderal.

Dia lantas menyerang berulang-ulang, mencari jalan darah yang merupakan otot nadi.

Dengan berani Oet-tie Pak melayani musuh liehay ini dengan tangan kosongnya Karena lukanja, tenaganya Ceng Ceng Jie menjadi berkurang banyak, kepandaiannya menjadi seperti tidak berarti.

Tak pernah dia berhasil dengan pelbagai tikamannya.

Bahkan satu kali, dia mesti merasakan tonjokannya lawan.

Syukur untuknya, dia masih dapat berkelit, hingga terkenanya tidak jitu hingga dia tidak sampai lotoh.

"Bagus!"

Oet-tie Pak memuji musuhnya.

Ia hendak membekuk lawannya hidup-hidup ia tidak menyangka bahwa usahanya gagal.

Karenanya ia menjadi kagum.

Ia kata dalam hati "Benar nama Ceng Ceng Jie bukan nama kosong belaka..."

Oet-tie Pak tidak tahu bahwa tenaga orang telah berkurang. Kalau Ceng Ceng Jie belum terluka, walaupun ia sulit untuk merebut kemenangan, tidak mudah untuk dia itu kena terhajar.

"Bagus, Ceng Ceng Jie"

Ia berseru.

"Kau sambut lagi satu tanganku"

Ceng Ceng Jie kaget, dengan lekas ia berbelit dengan tindakan "Poan Liong Jiauw Pon."

Ia mesti berkelit beruntun tiga kali.

Hal ini membuatnya mendapat tempo, Karena segera datanglah si imam, yang sudah lantas membantu ia menempur musuhnya yang tangguh ini.

Imam itu menggunai ilmu pedangnya.

Serangan Oet-tie Pak menjadi terhalang.

Pertempuran seumumnya berjalan kacau tetapi suasana sekarang sudah berubah, Pihak siewie menjadi mendapat keuntungan Justru begitu kembali terdengar tindakan nyaring ditangga lauwteng disusul dengan seruan sejumlah siewie "Cin Ciangkun datang!-"

Itulah berarti munculnya Cin Siang, siapa sudah lantas menyapu dengan sinar matanya ke empat penjuru, la terutama melihat sipendeta asing tengah berkelahi dengan seruh.

"Saudara Tiat!"

Berkata panglima ini tertawa.

"baik kau serahkan sikeledai gundul padaku! Dan ia berkata sambil bekerja decgan senjatanya, ia mengemplang ke arah kepala si pendeta. Dengan mengandalkan tenaga dalamnya pendeta itu menjadi berani. Ia menangkis dengan keras dengan tipu silat "Heng Hee Kim Liang"

Atau.

"Melintang penglari emas"

Tak tahu ia yang Cin Siang menjadi orang kosen nomor satu didalam istana yang tenaganya lebih kuat tiga lipat daripada Cet tie Pak sedangkan senjatanya ruyung Kim gan, beratnya enam puluh empat kati, hingga turunnya bagaikan gunung Tay San menimpa-menindih.

Bentrokan Kim-gan dengan golok Kay-to terdengar nyaring, sampai ujung golok sedikit melengkung.

Sedangkan begitu, Kim gan kiri dari Cin Siang menyamber menyusuli yang kanan.

Tidak ada tempo untuk si pendeta berkelit, terpaksa ia menangkis pula.

Ia menangkis dengan belakang golok sebab tak keburu untuknya memutar tangannya .

Kembali satu bentrokan.

Kali ini, di samping nyaringnya suara kimgar dan kay-to, terdengar juga jeritan si pendeta, yang merasa sakit sekali pada telapakan tangannya, yang telah patah !

Cin Siang tertawa.

"Nah, kau sambut lagi senjataku"

Serunya.

"Jikalau kau sanggup, akan ku beri ampun padamu supaja kau tidak mampus! Benar-benar, hajaran yang tiga kali sudah meluncur, akan tetapi, sebelum kim-gan mengenai sasarannya, si pendeta sudah terhuyung dua kali, terus dia roboh terguling, darah hidup menyembur dari mulutnya Itulah sebab ia tidak sanggup bertahan dari dua hajaran yang menggempur anggautaanggauta dalam tubuhnya hingga rusaklah anggauta-anggauta dalam itu dan tenaganya habis. Memang jarang orang dapat bertahan sampai tiga kemplangan panglima she Cin itu. Berbareng dengan itu, dilain rombongan, Oet-tie Pak telah berhasil merampas pedangnya si imam, yang ia terus lawan de ngan tangan kosong, hingga ia membikin imam itu kaget sekali dan ketakutan, maka dia lompat menabrak ke jendela, hingga daun jendela terbuka, dan tubuhnya dapat lompat turun. Menyaksikan demikian, Oet-tie Pak berseru .

"Hai, imam, kau masih memikir buat kabur ? Lihatlah !"

Menyusul itu, ia menimpuk dengan pedang rampasannya "Aduh !"

Berteriak si imam, yang tubuhnya terus roboh terkulai.

Tepat sekali pedang nancap dipunggungnya sebelum dia sempat menginjak lantai untuk kabur.

Maka dengan rubuhnya rebah dilantai, pergilah arwahnya kelain dunia ...

"Hahaha !"

Oet-tie Pak tertawa terbahak.

"Ceng Ceng Jie, sekarang tiba giliranmu ! "

Ceng Ceng Jie kaget, tetapi dia gusar. Dan dia menumpahkan kemarahannya itu terhadap Ong Yan Ie, dia berseru .

"Siluman perempuan ! Aku akan mati menjadi setan, tidak akan aku ampuni kau"

Dia lantas menyerang hebat si nona sampai Yan Ie terdesak mundur, Mo Lek melihat si nona terancam bahaya, hendak ia membantui, akan tetapi, sebelum ia sempat maju mendadak ia mendapathan Ceng Ceng Jie memutar pedang mustikanya itu, bukan dipakai menyerang kepada Yan le, hanya ditikamkan pada dadanya sendiri !

Inilah sebab, sebagai seorang laki-laki yang tabiatnya keras, Ceng Jie tak mau tertawan atau terbinasa ditangan musuh lebih suka ia mengorbankan diri, dari pada terhina.

Hanya ketika ia menikam diri, ia masih ragu-ragu, hingga pedangnya tak meluncur cepat.

Juseteru itu dari kejauhan terdengar satu seruan yang nyaring.

Ceng Ceng Jie dengar itu, mendadak ia mendapat harapan, lantas dia berseru menyambut seruah itu .

"Suheng lekas ! Tolongi aku l Mo Lek terkejut, ia berseru .

"ltulah Khong Khong Jie !"

Khong Khong Jie datang cepat, sedangkan seruannya terdengar pula.

kali ini sampai mendengung-dengung di telinga orang.

Cin Siang dan Oet-tie Pak mengarti ancaman bahaya, tak sempat mereka menghadapi terus pada Ceng Ccig Jie, dengan lantas mereka lari kepada raja untuk melindunginya.

Akan tetapi yang belakangan ini kena dirintangi musuh.

Sambil berseru nyaring Oetie Pak menyerang musuh dengan satu jambretan Ia menggunai tipu silat "Hun Kii Ciu"

Atau "Membagi otot, memecah tulang."

Khong Khong Jie tertawa.

"Oet-tie Ciangkun. selamat bertemu ?"

Katanya, sedang tubuhnya berkelebat.

Oet-tie Pak menjambak sasaran kosong Tubuh lawan lenyap bagaikan bayangan !

Tentu sekali, ia menjadi terkejut.

Tetapi itu masih belum semua.

Segera tertampak bayangan Khong Khong Jie berkelebatan disekitar raja dan Yo Kui Rui, Dia seperti juga tercipta menjadi banyak Khong Khong Jie, hingga mata orang menjadi kabur.

Cin Siang siap dengan senjatanya, ia tidak berani sembarang menyerang, ia melainkan memasang mata.

Para siewie pun heran, hingga mereka semua mengawasi saja dengan mendelong.

Khong Khong Jie berkelebatan terus.

Segera terdengar tertawanya yang keras dan kata-katanya ini .

"Cin Ciangkun ! Oet-tie Ciangkun ! sekalian tuan-tuan ! Maafkan aku yang telah membuat kamu terkejut ! Aku menyesal sekali ! Tapi aku telah datang ke istana, tidak dapat aku pulang dengan tangan kosong, dari itu ingin aku mendapat suatu hadiah . ! Menyusuli kata-kata itu yang belum lagi sirap, sudah lantas terdengar jeritannya Yo Kui Hui, lalu tampak tubuh Khong Khong Jie melesat mundur, hingga di lain "saat, dia melihat berdiri disisinya Ceng Ceng Jie. sedang ditangannya berkilauan sebuah mutiara yang besar serta jeriji manisnya menjepit sebatang tusuk kundai ! "Aku tidak tamak !"

Kata jago itu sambil tertawa. ,Kamu semua lihatlah biar tegas ! Aku cuma mengambil ini dua macam barang !"

Khong Khong Jie menyamber tusuk kundai dirambutnya Kui Hui serta mutiara dari kopiahnya Kaisar Tong Tian Cong.

Semua orang menjadi heran dan kagum berbareng dengan itu, hati mereka, pun lega.

Ternyata junjungan mereka tidak kurang suatu apa.

Mereka semua berdiam sambil mengawasi.

Tak mau mereka sembarang membuka mulut.

"Suheng !"

Berkata Ceng Ceng Jie yang baru membuka mulut pula.

"Kenapa suheng tidak ambil jiwanya si kaisar lalim"

Matanya Khong Khong Jie mendadak bengis. Lalu.

"Plak!"

Terdengarlah satu suara karena ia mengayun sebelah tangannya dengan apa ia menggaplok sute itu. Terus ia mendamprat .

"Anak celaka ! Kita toh penjahat budiman, yang tahu aturan ! Mana dapat kita dijadikan anjingnya lain orang dan diperintah-perintah untuk menggigit orang.? Lebih-lebih An Lok San si babi asing terokmok itu, aku paling tak melihat matanya padanya ! Apakah kau tidak merasa dirimu terhina ? Aku malu untukmu ! Jikalau kau bukan sudah terluka, tentu aku hajar kau terlebih keras ! Hayo pulang ke gunung, aku hukum kau duduk menumprah tiga tahun menghadapi tembok ! "

Berkata, suheng ini menjambret tubuh suteenya, buat diangkat untuk terus dibawa pergi sebagai juga adik seperguruan itu seekor ayam.

Ceng Ceng Jie bungkam tak berani ia bersuara atau berkutik.

Khong Khong Jie tidak lantas pergi dia menoleh kepada Tiat Mo Lek dan tertawa manis, katanya "Saudara Tiat, Jikalau kau bertemu dengan Toan Tayhiap, tolong kau sampaikan padanya bahwa puteranya tidak kurang suatu apa, agar dia melegakan hatinya!"

Mo Lek heran.

Hendak ia minta keterangan.

Akan tetapi ia tidak memperoleh kesempatan.

Dengan membawa adik seperguruannya itu thong Khong Jie sudah lantas lompat melewati jendela hingga didalam sekejap dia sudah lenyap, cuma terdengar tertawanya yang nyaring dan kata-katanya ini "Para ciangkun, maaf tak dapat aku menemani kamu lama lama!""

Dibawah lauwteng ada berkumpul banyak siewie, mereka bersiap-siap untuk memanah melihat mana, Cin Siang berseru.

"Jangan bergerak! seri Baginda tidak kurang suatu apa, semua penjahat sudah terbinasakan! "

Tapi panglima ini mendapat sambutan nyaring.

"Di sini masih ada satu penghianat yang lolos! Hm, Lengho Tat! Kaulah manusia dengan hati binatang! Bagaimana berani kau menghina junjunganmu! Kau tak dapat ampun!"

Memang melihai gelagat buruk Lengho Tat menyingkirkan diri apa belaka, sampai di pintu lauwteng dia bersomplokan dengan Oebun Thong, yang sambil berseru itu menekuk padanya.

Bukan main kagetnya pengkhianat ini, Oebun Thong toh konconya.

"Oe-bun Ciangkun!"

Serunya mukanya pucat.

"Kau ... kau.."

Oe-bu Thong tidak memberikan ketika orang lebih banyak, ia membabat dengan goloknya, merampas jiwa sekongkolnya itu. Oet tie Pak terkejut hingga ia berseru;

"Hai, kau lebih sembrono dari pada! Aku Kenapa kau tidak mau meninggalkan satu mulut yang hidup?" ,Dia!ah orang sebawahku!"

Sahut Oebun Thong.

"Kenapa dia berani berkhianat? Tak dapat aku menahan hawa amarahku, hingga aku lupa membiarkan dia hidup, supaya pengakuannya bisa di korek dari mulutnya."

Berkata begitu.

Oe-bun Thong menyusut bersih goloknya yang berlepotan darah, terus ia naik kelauwteng, untuk segera berlutut didepan raja buat memberi hormat sam bil mengaku salah dan memohon ampun.

Kata ia.

"Oe-bun Thong terlambat melindungi Seri Eaginda dan juga penilikanku kurang keras, sampai ada sebawahanku yang berkhianat, hingga Seri Baginda mendapat kaget. Biarlah hamba dihukum turun pangkat! "

Kaisar Hian Cong berkata, ,"Kamulah menteri-menteri yang setia!

Entah berapa banyak sudah menteriku yang tadinya setia yang menakluk kepada pemberontak dari itu Lengho Tat tidak berarti seberapa.

Oe-bun CiangKun jangan kau berkecil hati."

Raja ini gemar arak dan kemaruk paras elok tetapi ia belum menjadi demikian dogol, hingga disaat seperti ini ...

saat perlunya tenaga-tenaga setia ...

tahulah ia bahwa tidak dapat ia bicara sembarangan saja Oe-bun Thong mengucap terima kasih, lantas ia bangun berdiri, untuk menempat kan diri disisi junjungannya itu.

Raja telah menetapkan hatinya, ia dapat membawa sikap agung seperti biasa.

Tidak demikian dengan Yo Kai Hui, yang tubuhnya masih bergemeteran.

Sampai sekian lama, baru dapat ia mengatakan.

"Aku bisa mati kaget! Aku bisa mati kaget""

Raja memanggil seorang dayang untuk menemani selirnya itu. Kekasihku, persilahkan kau beristirahat, katanya dengan sangat menyinta.

"Kita sudah selamat, kau boleh tidur. Besok pagi kita berangkat. Menurut keinginatnya, raja hendak mengantarkan sendiri selirnya itu. tetapi ia ingat tugasnya sebagai raja. setelah kekecauan itu perlu ia memuji orang-orangnya yang setia dan berjasa, untuk merrberi anugerah atau hadiah kepada mereka itu. Menurut pertimbangan, Ong Yan Ie yang dianggap paling berjasa. Raja dan semua sie wie melihat sendiri nona itu melukai Ceng Ceng Jie. hingga suasana menjadi berudah dari berbahaya menjadi reda Yang nomor dua ialah Tiat Mo Lek, yang paling dulu melindungi junjungan itu, dia telah menentang Ceng Ceng Jie dan menolongi tuan puteri. Yang lainnya ialah Oet tie Pak dan Cin Siang. Yan le bersama Mo Lek menghadap raja, untuk memberi hormat. Cin Siang lantas mengajar kenal, katanya.

"Pemuda gagah ini ialah orang yang dipujikan Kwee Lu Gie."

Raja mengangguk, la kata.

,kau setia dan gagah, kau harus dipuji.

Kami sudah mengangkat Kau menjadi San Lie Cian Gu sekarang kau membangun jasa besar, akan kami tambah pangkatmu.

Kau tunggulah di samping, nanti kami berdamai dahulu dengan Cin Ciangkun dan Oe-bun Ciargkun"

Lantas raja menanya Yan Ie. Nyonya itu berlutut sambil menyerukan tiga kali.

"Banswee!" .

"Hiduplah Raja! "Tak usah pakai adat peradatan!"

Kata raja.

"Kau bangunlah""

Habis itu Yan Ie diperintah mengangkat mukanya Melihat roman orang raja kagum. .Sungguh cantik!"

Katanya didalam hati. , Dia mirip Cay Pin disaat Cay Pin baru memasuki istana! "

Cay Pin itu salah seorang selirnya Hi-an Cong, yang cantik dan manis sekali, karena dia menyukai bunga Bwee, dia diberi nama Bwee Hui.

Sebelum datangnya Yo Kui Hui dialah yang paling dikasihi raja; maka dengan sendirinya dia dipandang Yo Kui-Hui bagaikan paku didepan matanya.

Setelah dicintainya, Yo Kui-Hui melarang raja mendekati pula Selirnya itu, bahkan untuk menyingkir ke See Siok ini dia dilarang di ajak bersama tentu sekali, raja masih selalu ingat selirnya itu maka itu girang ia melihat Yan Ie mirip dengan Cay Pin "Encie, bagus ilmu pedangmu,"

Kata Tiang Lok Kongcu pada Yan Ie. , Syukur ada kau"

"Terima kasih untuk pujian tongcu"

Kata Nona Ong.

"Kau sudah bertunangan atau belum?"

Tiang Lok tanya.

Mukanya Yan Ie menjadi merah secara tiba-tiba.

Itulah pertanyaan yang ia tidak Sangka, Tapi ia mesti menyahut, maka ia menjawab bahwa ia masih merdeka.

Tiang Lok kongcu tertawa la kata pula "Kalau begitu, baiklah kau menemani aku, Kau setuju bukan?

...

Bu Hong, tolong berikan dia suatu gelaran, supaya dia dapat menjadi pembesar dayangku"

Adalah aturan dalam istana kerajaan Tong, selama seorang puteri belum menikah untuk menjedi dayangnya, sidayang harus seorang gadis yang masih merdeka.

Mengenai Yan Ie puteri ini juga ada maksud yang lainnya.

"Syukur kau menyukai dial"

Berkata raja, tertawa "Baiklah, kami angkat dia menjadi Cu-pouw. Eh, apakah suka menemani kongcu?"

"Terima kasih!"

Sahut Yan le Kata kata yang belakangan itu ditujukan pada si nona.

"Hanyalah hamba berasal seorang hutan, tak berani hamba menemani tuan puteri."

Mendengar kata-kata "Orang hutan"

Itu atau , cauw bong, -raja terkejut Kata-kata itu berarti mirip seperti, Lok Lim atau Rimba Hijau. Sebaliknya Tiang Lok kongcu belum tahu artinya itu. Raja berpikir cepat, terus ia kata.

"Sekarang ini Pemerintah Agung mengadakan aturan luar biasa Siapa pun yang berjasa, dia tak akan ditanyakan asal usulnya. Jikalau tidak suka bekerja di dalam istana, dapat kami berikan hadiah lain kepadamu."

"Habis berkata, ia berpikir.

"Sayang sekali, dia begini cantik, kenapa dia berasal dari keluarga penjahat?"

Karena ini mesti ia menyukai si nona, tak berani ia mencoba menahannya. Yan Ie berkata.

"Hamba tidak berani meminta terlalu banyak, namba cuma memikir seri Baginda sudi menghadiahkan serupa barang ..."

"Kau bilanglah"

Kata raja cepat "Kau minta batu permata apa? Di dalam istana kami, semua ada tersedia !"

Yan le melirik dulu kepada Mo Lek. baru ia menjawab "Hamba tidak menginginkan baran permata, hamba cuma memikir ...memikir mau meminta ."

Hati Mo Lek berdebar. Lirikan sinona berarti banyak. Ia kuatir dirinya yang diminta .."

"Lekas bilang !"

Hian Cong mendesak "Asal yang kami dapat sediakan, pasti kami akan berikan l"

"Kamba cuma ingin meminta Seri Baginda memberikan sebuah Bian Su Kim Pay"

Kata Yan Ie akhirnya. Raja terkejut saking heran.

"Bian Su-Kim Pay berarti"lencana kebebasan dari hukuman mati. maka ia lantas tanya.

"Kau mempunyai dosa besar apa saja maka kau menghendaki bian su kim pay ?"

"Hamba meminta itu buat guna ayah hamba."sahut Yan le.

"Siapa itu ayahmu?"

"Ayah hamba ialah Ong Pek Thong kepala ikatan kaum Rimba Hijau di dalam lima propinsi Utara,"

Yan Ie menyelaskan. Raja kaget sekali.

"Kau anaknya Ong Pek Thong ?"

Tanya nya.

"Bukankah ayahmu membantu An Lok San berontak melawan pemerintah".

"Justru karena itu hamba mohon biansu kim pay."

Sahut pula Yan Ie. Raja berdiam. Ia serba salah. Tapi ia tidak berpikir lama. la Tanya.

"Dapatkah kau membujuki ayahmu kembali buat meng hamba kepada kami ? Dengan begitu, dia bukan saja bebas dan hukuman mati, dia juga bakal kami angkat menjadi satu ciat-iu ow -su."

"Ayah hamba bertabiat keras mungkin Sukar untuk memberi nasehat padanya,"

Kata Yan Ie.

"tetapi orang orang sebawahannya sudah dilabrak berantakan oleh Lam Tayhiap, maka sekarang dia terpaksa berlindung kepada orang lain, sekarang dia sudah tak dapat menjadi ancaman bahaya lagi."

"Siapa itu Lam Tayhiap ?"

"Dialah Lam Cee In yang menjadi Jiauw tie Ciang kun dibawah perintahnya Kwee Cu Gie,"

Yan Ie menerangkan "Sekarang ini ayah hamba tidak lagi terlalu dihargakan An Lok San cuma sulit untuk membujuki dia datang menakluk, sebab biar bagaimana, dialah ketua ikatan Rimba Hijau, satu kali dia menyerah kepada pemerintah, lantas dia melanggar aturan atau pantangan besar kaumnya itu.

Hamba berjanji akan sebaiknya-baiknya nanti menasehati atau membujuki supaya ayahku suka mencuci tangan uniuk dia menutup pintu membungkus goloknya, agarnya dia tidak lagi hidup didalam dunia Rimba Hijau."

"Apakah itu artinya mencaci tangan di paso emas dan menutup pinta membungkus golok?"

Raja tanya.

"Itulah kata kata rahasia didalam kalangan Rimba Hijau."Mo Lek mendahului si nona menjawab ."Arti singkatnya yaitu selanjutnya dia tidak lagi bekerja sebagai orang jahat, dia akan pergi kerempat sunyi gunung atau rimba, buat menyembunyikan diri, buat tidak campur tahu lagi urusan apa juga di luaran."

Hian Cong menoleh pada sianak muda ia mengangguk.

"Mengingat bahwa kau berjasah telah menolong kami dapat kami juga bertindak diluar kebiasaann.

"katanya "Jikalau kau berhasil membujuk ayahmu mencaci tangan dipaso emas dan menutup dari membungkus goloknya, akan kami hadiahkan kau bian su kim pay yang kau minta itu, kalau dibelakang kali ada pembesar kami, sipil atau militer yang menangkap ayahmu, supaya mereka jangan lancang menghukum mati padanya. Sebaiknya jikalau dia kedapatan didalam tangsi pemberontak atau di-medan perang, dia harus dihukum mati tanpa ampun lagi"

Lantas raja menyuruh seoraug kebiri mengambil sebuah bian su kim pay ia menulis sendiri diatas lencana itu, yang terus ia serahkan pada si nona.

Melihat Yan Ie berhasil!

meminta kim pay itu.

Mio Lek girang berbareng berduka Girang sebab ia mendapat bukti yang sinona sudah merobah dirinya dari sesat menjadi sadar.

Berduka lantaran Ong Pek Thong mempunyai kimpay sedangkan ia sendiri telah menjadi hamba negara.

Bagaimana nanti ia dapat membalas sakithati ayahangkatnya itu !"

Ya Ie menerima kimpay sambil menghaturkan terima kasih tegas tampak sinar matanya sinarmata kegirangan.

Hanya ke tika ia melirik pada Mo Lek sinar girang itu mendadak lenyap terganti oleh sinar kedukaan.

Ia menatap anak muda itu, terus ia kata perlahan pada raja sekarang "Terrma kasih untuk budi kebaikan Seri Baginda!

Terima kasih buat kebaikan hati Kongcu!

Terima kasih kepada ciangcun semua!

Sekarang hamba hendak mengundurkan diri, mungkin lain kali kita bakal padat berjumpa muka pula"

Begitu habis berkata, nona ini lari ke jendela untuk lompat turun !

Mendengar itu, semua orang heran, cuma Mo Lek yang mengerti.

Kata-kata sinona terang ditunju.kan kepadanya.

Selanjutnya si nona tak suka menemui ia lagi.

Itu berarti perpisahan yang menyedihkan.

Tanpa merasa, ia menjadi masgul, maka ia bengong mengawasi ke jendela.

Justru orang berdiam, Oe bun Thong mendadak menanya.

"Tiat Ceng apakah kau kenal anak perempuan itu ?". Nama Mo Lek sangat terkenal, maka ia menukar nama menjadi Ceng, yang berarti suara nyaring dari besi beradu, atau kemampuan melebihkan yang lainnya. Kwee Cu Gie memakai nama itu dalam surat pujiannya. Mendengar pertanyaan Oe bun Thong itu, raja menjadi ingat suatu apa.

"Ya,"

Katanya.

"kami ingat kau pernah mengatakan nona itu sahabatmu. Nah bagaimana caranya kamu berkenalan satu dengan lain?"

Mo Lek merakasan kesulitan. Di satu pihak isi tak suka bicara dari hal yang benar, dilain pihak, tak biasanya ia mendus-ta Tapi ia harus menjawab, terpaksa ia kata.

"Hamba mengenalnya di waktu hamba mengembara . ...

"Oh."

Seru raja "Kami menyangka kau asal serdadu Kwee Cu Gie, kiranya kau juga seorang gagah kaum Kang Ouw!"

Cin Sian dan Oet-tie Pak mengeluarkan peluh dingin. Mereka sangat kuatir raja menanya melit tentang penghidupan anak muda ini. Syukurlah itu waktu Tiang Lok turut campur bicara.

"Hu hong tentu masih ingat Ceng Lian Haksu bukan?"

Tanyanya memotong pembicaraan ayahbunda raja Itu "Penyair yang berkenamaan itu juga pada masa mudanya menjadi seorang gagah yang gemar mengembara dan syair-syairnya demikian menonjol itu rupanya disebabkan hasil pengembaraan nya itu.

Tiat Congsu apakah kau dapat membuat syair ?"

Mo Lek tertawa.

"Aku cuma dapat menggunai golok atau tombak, aku tidak mengerti syair!"sahutnya.

"Jikalau begitu, tentulah banyak yang kau telah lihat dan dengar dalam dunia Kang Ouw"

Kata pula si tuan putri.

"Apa bila nanti ada waktu yang luang, aku ingin kau menuturkan semua itu kepada kami, untuk menyegarkan pikiran yang pepat."

Maksudnya Tiong Lok menyelak itu ia lah ia kuatir ayahnya mencurigai Mo Lek.

Ia sengaja menyebut-nyebut Lie Pak buat menjuluki bahwa orang Kang Ouw tak harusnya diceritakan.

Benar-benar Hian Ceng tertawa.

"Sekarang, bukan saatnya berbicara tentang "syair,"

Ujarnya.

"Aku lebih suka mendapat lebih banyak orang sebagai orang gagah ini, itu menang berlipat ganda dari pada Ceng Lian Haksu yang menemani padaku"

"Benar begitu !"

Oe bun Thong turut bicara "Orang gagah kebanyakkan asal pengembaraan Tiat Congsu.

tentulah luas pergaulanmu dalam dunia Kang Ouw.

Orang tadi itu suhengnva si orang beroman seperti kunyuk aku tahu dialah Sin Touw Khong Khong Jie si Malaikat pencuri.

Mendengar pembicaraan Kamu tadi rupanya kau kenal baik sekali sedangkan diwaktu dia mau berlalu dia telah memesan padamu untuk mengatakan sesuatu, kepada Toan Tayhiap"

"Pada beberapa tahun yang lampau pernah aku bertempur dengan Khong Khong Jie."

Sahut Mo Lek.

"Kita kenal satu pada lain karena pertempuran itu, karena itu kita bukankah sahabatsahabat kenal."

"Aku tahu Thoan Thayhiap yang disebutkan Khong -Khong Jie itu "

Cin Siang menimbrung "Dia bernama Toan Kui Ciang. Dia memang benar seorang gagah mulia, orang sebangsa Ceng Lian haksu. kabarnya dia bekerja untuk Kwee Cu Gie "

Sementara itu"

Baginda Fian Ctng heran hingga timbul sedikit kesangsian atau kecurigaannya.

Namanya thong Khong Jie terlalu besar hingga ia pernah mendengar, orang menyebutnya.

Barusan saja ia menyaksikan kepandaian Khong Khorg Jie itu sebagaimana mutiara pada mahkotanya telah kena diambil secara mudah sekali, mengingat itu hati raja kurang tenteram.

Ia berkata didalam hatinya.

"Pergaulannya bocah she Tiat ini terlalu campur aduk ! "

Karena ini, mendengar suaranya, Oebun Thong ia jadi ragu-ragu mengangkat Mo Lek menjadi Liong Kie touw-oet hal mana ia telah pikirkan sejak tadi.

Dengan menjadi touw-oet itu, setiap saat Mo Lek akan mendampinginya.

la berdiam sekian lama, lalu ia tanya Cin Siang dan Oe-bun Thong.

,Kamu lihat pangkat apakah yang kamu cocok untuk pemuda gagah ini "

Cin Siang tidak mau lantas menyatakan pikirannya, Mo Lek menjadi sebawahannya Oe-bun itu yang bicara lebih dahulu. Oe-bun Thong licik ia menjawab.

"Tiat Ceng berilmu silat tinggi dia juga kenal batk sekali orang-orang Kang Ouw maka di saat kalut seperti ini dia cocok sekali untuk diberi tugas. Hanya mengenai pangkat untuk nya hamba tidak berani lancang mengusulkan, silahkan Seri Baginda, sendiri yang menganugerahkannya !"

Sekilas lalu kata-kata Oe-bun Thong terdengar menghargai Mo Lek. akan tetapi, maksudnya yang sebenarnya telah membangkitkan kesangsiannya raja. Dia berhasil Raja diam untuk berpikir.

"Huhong."

Berkata Tiang Lok tongcu sesudah orang berdiam sesaat.

"Aku lihat dia setia dan jujur, dia juga dipujikan Kwee Cu Gie aku rasa dia tak salah lagi. Baiklah hu-heng menegaskan dia menjadi pelindung dan kereta keluarga kerajaan !"

Hian Cong berpikir.

Dalam perjalanan.

kebarat ini, ia tidak dapat, mengajak banyak selirnya, tetapi selain siputeri ada juga isteri atau selirnya sekalian puteranya berikut sejumlah dayang pribadi dan pelayan.

Ia sendiri telah mengambil ketetapan, akan duduk sebuah kereta bersama Yo tut Hui dengan dilindungi Cin Siang serta barisan Liong Kie Touw-utnya.

sedangkan keretanya para putera diserahkan kepada Oe-tie Pak bersama barisan istana.

Oe-bun Thong serta pasukannya, pasukan San Kie Siewie, telah ditegaskan mengiring lain-lain kereta, jumlah San Kie Siewie tidak banyak jadi keretanya Tiang Lok Kuncu belum ada pelindungnya.

Hal ini membikin ia melirik Mo Lek hingga akhirnya, setelah hening sejenak ia berkata.

"Baiklah Tiat Ceng kau keangkatanku !"

Mo Lek memandang raja, ia berdiam tetapi Cin Siang menolak tubuhnya maka ia lantas mengerti, dengan cepat ia berlutut. Segera juga ia mendengar suaranya junjungannya itu.

"Tiat Ceng sudah berjasa menolongi raja, dia diangkat menjadi Houw Gie Touw-ut ! Selama dalam perjalanan ketanah Siok ini, dia diharuskan melindungi keretanya tuan puteri. Dia mesti mendengar segala perintahnya Tiang Lok kongcu. Berbareng dengan ini, dia masuk menjadi anggauta pasukan San Kie dari Oe Bun Thong maka dia dapat pangkat merangkap sebagai San Kie Hu Tiong-long-ciang. Untuk jasanya itu juga dia dihadiahkan uang emas seratus tahil dan cita sepuluh kayu."

Pangkat Houw Gee Touw-ut lebih rendah setingkat dari pada San Kie Touw-ut, akan tetapi Mo Lek mendapat tambahan pangkat merangkap itu, San Kie Hu Tiong-long ciang, dengan begitu, sendirinya, ia jadi berkedudukan sama seperti pembantu dari Oe-bun thong hanya selama dalam perjalanan ini, ia ditaruh dibawah perintah, langsung Tiang Lok Kongcu.

Itu berarti seperti ada dua orang pembesar San Kie.

Di-hari-hari biasa dijaman aman, didalam istana tidak ada aturan serupa ini.

Hian Cong mengambil keputusannya ini ke satu buat guna keamanan disepanjang jalan, ke dua, untuk-mengiring kehendak puterinya, dan ketiga, sebagai tanda bahwa ia menghargai Kwe Cu Gie yang telah mengusulkan pemuda gagah itu.

Pemerintah atau Kerajaan Tong, justeru memerlukan tunjangannya orang she Kwee itu, maka itu walaupun orang pujiannya diragu-ragukan, orang itu toh diterima dan diberi kepercayaan sepenuhnya.

Mo Lek sendiri tetap tidak merasa puas.

Dengan beruntun ia telah memperoleh kenaikan pangkat tiga tingkat tetapi toh tetap berada di bawahnya Oe-bun thong, tapi keputusan telah dikeluarkan, tidak dapat ia menentang maka ia mengangguk sambil meng haturkan terima kasih .

Oe-bun Thong juga tidak puas Panglima ini sakit hati, Tapi dihadapan raja air mukanya tidak mengentarakan sesuatu sikap nya seperti biasa saja.

Bahkan begitu lekas Mo Lek sudah menghaturkan terima kasih, kepada raja.

dialah yang paling dulu memberi selamat pada sebawahannya itu.

Habis itu, kaisar Hian Cong menitahkan para siewie bubar untuk mereka mengurus tugasnya masing-masing untuk siap sedia buat besok pagi mulai berangkat melakukan perjalanan, Seturunnya dari lauwteng Beng Hong lauw Mo Lek memikirkan buat pulang dengan-mengikut Cin siang tetapi lantas berkata padanya , Sekarang ini sudah jam tiga, aku pikir semua orang ingin beristirahat maka itu, Tiat Touw-ut, selagi semua San Kie Siwie berkumpul diistana Yang Keng Kion mari kita pergi mari kita pergi menemui para rekan itu, supaya keduabelah pihak dapat saling berkenalan !"

Kata-kata itu beralasan terpaksa Mo Lek mengambil selamat berpisah dari Ci Siang dan Oet-tie Pak.

Tapi panglima she Oet-tie itu berkata "Oe bun Ciang kun saudara Tiat ini menjadi sahabat-karibku aku minta kau sukalah memperlakukannya baik-baik." -oo0dw0oo-

Jilid 24 Oe-bun Thong tertawa.

"Sekarang ini Tiat Touw-ut bekerja ber samaku, kita harus menjadi seperti tangan dengan kaki, karenanya tak usah aku dipesan lagi!"

Katanya.Kedua pihak lantas berpisahan.

Mo Lek berjalan bersama sepnya itu.

Segera juga, sembari jalan itu, Oe-bun Thong menanyakan ini dan itu.

Dia ingin ketahui asalusul orang.

Mo Lek berlaku waspada, ia menjawab dengan ocehannya.

Tapi karena ia tidak bisa mendusta, ada alasannya yang tidak masuk diakal.Selagi berjalan terus tibalah mereka di jalan dimana ada peneiangan lentera.

Men dadak Oe-bun Thcmg berkata .

,,Tiat Toawut, kalau aku memandang kau, aku merasa seperti aku pernah mengenalmu.

Dimanakah kita pernah bertemu ?"

Mo Lek paksakan diri tertawa.

"Akulah orang Kangovw tidak ternama yang biasa luntanglantung, mana dapat aku bertemu dengan tayjin ?"

Sahutnya. Oe-bun Thong juga tertawa.

"Kalau begitu, rupanya aku berjodoh dengan kau, maka begitu melihat kau, aku merasa kau sebagai sahabatku!"

Katanya.

Ia mengulur tangannya, untuk berjabatan dengan pemuda itu.

Mo Lek sebal terhadap orang ini, ia menggunai tenaga sepuluh bagian.

Oe-bun Thong pandai ilmu menggunai poan-kwan-pit, senjata yang berupa seperti alat tulis, untuk menotok jalan darah, akan tetapi dia kalah tenaga, maka itu setelah dia memencet, dialah yang merasa telapakan tangannya sakit.

Dia terkejut didalamhati "Sungguh besar tenagamu, Tiat Touw-ut !"

Katanya memaksakan tertawa.

"Dengan adanya bantuan kau, perjalanan kita ke Barat ini pastilah selamat-semoga ! Dengan begitu maka berkuranglah kekuatiranku."

"Setelah itu, sampailah mereka diistana Yan Keng Kiong. Disana telah berkumpul kira-kira tigapuluh San Kie-siewie. Dengan perantaraan Oe-bun Thong, Mo Lek diperkenalkan dengan mereka itu. Tiba-tiba seorang siewie berkata nyaring .

"Tiat Tayjin selamat, selamat ! Apakah tayjin masih ingat aku si orang kecil ? "

Mo Lek memandang orang itu, antas ia mengenali.

Dialah Ho Kun seorang kauw-wie kecil dibawahan", Kwee Cu Gie.

Ia bertemu dengan orang orang ini pada delapan tahun yang lalu, selagi ia melamar sebagai pengikutnya Sin Thian Hiong menghadiri rapat di Liong Bin Kok.

Ho Kun inilah yang melayani ia bersantap di istal kuda.

Selama di Kiu-goan, ia memang sudah mencurigai orang ini, maka pernah ia minta Lam Cee In menyampaikan kepada Kwee Cv Gie tentang kecurigaannya itu dan minta Kwe Cu Gie berhati-hati terhadapnya.

.,Eh, Ho Kun, kau juga menjadi san-kie ?"

Ia tanya. Biar bagaimana ia heran juga.

"Aku datang kemari atas perintah Kwee Lerig-kong untuk menyampaikan berita."

Sahut orang she Ho itu.

"Dalam pertempuran di Hoo-pak dua kali kami telah memperoleh kemenangan. Oe-bun Ciangkun men jadi sahabat lama dari aku, dari itu sengaja datang kemari menemuinya. Besok aku akan pulang kembali."

"Oh, begitu. Kalau nanti .kau pulang, tolong sampaikan hormatku kepada Kwee Leng-kong !"

"Tentu ! Tentu!"

Sahut Ho Kun, sungguh-sungguh.

"Tayjin telah berhasil mendapatkan kepercayaannya Sri Brginda, apabila Leng-kong mendapat tahu ia tentu girarg sekali. Bagaimana dengan Lam Ciangkun ? Dimanakah adanya dia sekarang ? "

"Memang Kwee Leng-kong yang menitahkan aku datang kemari untuk bekerja pada Sri Baginda,"

Kata Mo Lek.

"Aku ber pisah dari Lam Ciangkun semenjak di Kiu-goan, karena itu aku tidak tahu ia berada dimana sekarang."

"Tiat Touw-ut,"

Oe-bun Thong menyela bertanya.

"adakah persahabatan kau dengan Lam Ciangkun erat sekali ?"

Oleh karena disitu ada Ho Kun bersama Mo Lek bicara terus terang.

"Dia lah kakak seperguruanku,"

Jawabnya. Oe-bun Thong tertawa berkakak.

"Kiranya kaulah sute dari Lam Ciangkun !"

Katanya.

"Pantas kau gagah sekali!"

Mo Lek memakai nama Tiat Ceng sejak didalam Tangsi Kwee Cu Gie, ia belum tahu HoKun tahu namanya yang benar atau tidak.

Syukur pembicaraan mereka berhenti sampai disitu.

Inilah karena mereka mendengar genta besar di istananya Keng Yang Kiong berbunyi tiga kali.

Segera juga terdengar suara berisik dari banyak orang.

Itu lah disebabkan munculnya seorang kebiri dari keraton.

Kata dia nyaring.

"Lekas siap kan kereta ! Lekas buka pintu istana !"

Oe-bun Thong lantas memberikan titah titahnya kepada perbagai San Kie siewie, ter utama untuk mereka itu berkumpul dan ber siap diluar pintu keraton Yan Keng Kiong guna menantikan keluarnya raja.

Selagi orang repot itu, Ho Kun tidak ketahuan sudah pergi kemana.

Sendirinya timbul kecurigannya Mo Lek.

"Ho Kun menjadi seorang Kauw-wie kecil.

"Cara bagaimana dia dapat masuk ke istana"

Pikirnya.

"Apa perlunya dia bertemu dengan Oe-bun Thong ? Laginya di-tempat Kwee Leng-kong aaa banyak orang pandai dan dapai dipercaya, dari tentang Ho Kun telah diketahui cukup baik oleh Leng-kong sendiri, kenapa dia yang justeru diutus untuk menyampaikan kabar kemenangan perang ? Ah, mesti ada terjadi sesuatu disini! Bagaimana aku harus bekerja supaya Kwee Leng-kong ketahui sepak-terjang Ho Kun kui ? "

Didalam keraton, suara orang sangat berisik.

Orang ramai berseliweran.

Diantara-nya terdengar riuh tangisnya para selir yang tidak diajak menyingkir.

Semua suara itu bercampur menjadi satu.

Didalam keadaan seperti itu, tak sempat Mo Lek memperhatikan Ho Kun lagi.

Ia juga mesti mulai dengan tugasnya.

Banyak dayang yang menangis dan berebutan untuk naik kekereta, mereka memaksa, akan tetapi disisi kereta ada bertugas para sie-wie, mencegah mereka naik-Pula, dalam keadaan seperti itu, orang tidak harus meras-a kasihan atau sayang lagi.

Nona-nona itu diusir dengan pakia, dengan kekerasan iuga.

Ada diantara sie-vvie yang berteriak dengan ancamannya.

,,Siapa lancang naik kekereta, akan aku tabas tangannya!"

Dan benar-benar beberapa dayang yang bandel, telah dibacok kutung lengannya, hingga mereka berkaok-kaok dan berlumuran darah!

Sejumlah orang kebiri turut berebutan juga tetapi karena ancaman yang dibuktikan itu, mereka mundur sendirinya.

Hati Mo Lek lemah menyaksikan pemandangan yang memilukan itu.

Ia sampai berdiri menjublak.

la baru sadar ketika ia mendengar suara nyaring dari Oe-bun Thong.

,,Kenapa kau bengong saja disini ?

kenapa kau tidak lekas pergi melayani tuan puteri?"

Pintu istana sudah lantas terpentang.

Beberapa puluh kereta terlihat berlerot keluar.

Mo Lek mengawasi, la tahu, kereta dengan payung kuning ialah kerajaan.

Hanya kereta Puteri Tiang Lok, ia tidak tahu yang mana...

Dengan m larikan kudanya, Mo Lek me lewati beberapa buah kereta Disaat ia hendak menanyakan orang kebiri tentang kereta tuan puteri, tiba-tiba disisinya lewat sebu ah kereta dari mana ia mendengar suara yang merdu ini.

,,Encie, kau lihat!

Bocih itu tampan sekali"

Aku belum pernah melihat dia! Ah, apakah dia siewie yang baru."

Lantas sianak muda menoleh.

Lantas juga ia melihat dua orang perempuan yang romannya cantik tetapi centil, la heran.

Kata ia dialam hati.

,,Aneh!

Kenapa mereka begini merdeka?

Mereka tidak tahu malu!

Ketika itu Oe-bun Thong mengajukan kudanya.

Ia membungkuk diatas kuda, terus ia kata kepada dua orang wanita itu.

Inilah Houw Gee Touw-oet Tiat Ceng yang baru menerima pangkatnya, ia baru bertugas jadi ia belum tahu segala aturan di dalam istana, harap hujin berdua suka memaafkannya."

Temudian ia herpaling pada Molek untuk berkaca.

,,Tiat Ceng lekas kau menjalankan kehormatan!

Ini Han Kok Hujin dan ini Kok hujin.

Baru sekarang Mo lek tahu bahwa kedua nyonya itu ialah kakak-kakaknya Yo Kui Hui.-Ia merasa menyesal berbareng jemu.

Katinya didalam hati.

,,Banyak menteri tidak dapat turut menyingkir, tetapi apakah jasanya segala saudara laki-laki dan perempuan dari Keluarga Yo ini maka mereka dapat ikut dilindungi olehku?"

Memikir demikian, ia mengasi dengar suara "Hm! "

Lalu terus berkata.

"Maaf, hujin berdua ! , Aku menerima perintah untuk melindungi tuan puteri karenanya tak dapat aku melayani kamu!"

Dan ia menyabat kudanya buat di kasih lari kedepan. Ia tidak menoleh !agi. Kedua nyonya besar itu menjadi malu dan mendongkol hingga paras mereka berubah. Oe-bun Thong menyusul Mo Lek berkata.

"Kedua nyonya mempunyai kekuasaan jauh terlebih besar dari pada tuan puteri, kau tahu atau tidak?"

"Aku tidak tahu"

Sahut Mo Lek, mendongkol.

"Jikalau kau tahu pergilah kau yang layani mereka itu! Oe-big Thong melengak lalu ia teria-tawa.,kawan cilik tabiatmu keras katanya. Tapi kau juga mempunyai kebenaranrnu. Tuan puteri baik sekali terhadapmu, nah pergilah kau membaikinya! Tapi Mo Lek menjadi gusar sekali kata dia keras , Aku siorang she Tiat, aku belum pernah mengarti tentang menjilatjilat1 Oe-bun Ciangkun. jangan kau ngaco-belo! "

Oe-bun thong menjadi jengah sekali parasnya menjadi biru dan merah, Toh ia memaksakan diri untuk tertawa ,Tiat tauwut aku bicara untuk kebaikanmu!

katanya kemudian.

, Kau tidak suka menerima kebaikan, baiklah terserah kepadamu aku si orang she Oe-bun, tak dapat aku mengurus kau!"

Ia lantas berlalu lapat-lapat terdengar dia tertawa dua kali. Mo Lek maju terus. Ia menemukan seorang kebiri ia minta keterangan tentang keretanya tuan puteri.

"Itulah yang tendanya bundar kereta menerangkan. Ia lantas menyusul kereta itu, setelah menanjak dengan terpaksa ia berkata.

"Kong cu. Tiat Ceng bersadia akan menerima segala perintah"

Tiang Lok Kongcu menyingkap sedikit tendanya, ia memperlihatkan wajahnya yang bersenyum.

"Tiat Ceng, apakah kau bersilih dengan Oe-bun Touwut?"

Tanyanya. Merah mukanya anak muda ini, ia jengah.

"Tidak apa-apa,"

Sahutnya. Lantaran suara orang berisik sekali, kami bicara dengan sedikit keras..."

Tiong Lok tertawa. Ia tidak mengatakan aoa-apa lagi kecuali memesan supaya pahlawan ini terus mendampingi keretanya jangan dia memisahkan diri jauh-jauh Lewat belum lama, Tiang Lok melongok pula.

"Apakah kau kenal Ong Pek Thong?"

Tanyanya. Parasnya Mo Lek berubah, hingga sekian Lama ia ragu-ragu untuk menjawab. Puteri itu mengawasi, kembali ia ter tawa.

"Dia pemberontak, kau menteri palawan yang berjasa,"

Katanya.

"taruh kata kamu kenal satu pada lain, itulah tidak ada sangkut pautnya, maka itu, kau bicaralah dengan terus terang."

Mendengar demikian, terpaksa Mo Lek menjawab.

"Tidak berani aku mendustai kongcu"

Sahutnya "Ong Pek Thong itu musuhku!"

Tioag Lok kongcu melongoh.

"Ong Pek Thong iiu berandal besar tukang merampok sambil menyerbu,"

Kata Mo Lok..keluargaku justeru telah dibinasakan dia!

Tentang anak perempuannya, aku kenal dia dan diwaktu aku masih mengembara.

ketika itu aku masih belum tahu dialah a-naknya musuhku itu, baru kemudian aku me ngetahuinya.

Aku melihat sepak terjangnya anak itu beda dari pada ayah dan kakaknya karenanya itu, aku tidak memusuhkan dianya.

Walaupun demikian diantara kita tidak ada bicara dari hal persahabatan.

"Oh begitu. Nyatalah kau seorang yang dapat melihat tegas, yane bisa membedakan budi dan sakit hati. Memang, seorang yang berbuat, seorang yang bertanggung jawab Ong Pek Thong yang bermusuh denganmu, Jidak selayaknya anak perempuannya yang memikul tanggungan."

Dengan mereka berbicara, sampai Tiong Lok Kongcu menanyakan tentang ilmu pedang Ia memberitahukan halnya ia belajar silat pada Kong Sun Tay Nio.

Setelah itu ia minta pengiringnya ini suka memberikan ia pelbagai petunjuk.

Kongsun Tay Nio menjadi ahli pedang nomor satu, kepadaiannya mengatasi kepandaiannya Toan Kui Ciang, tetapi puteri ini .., simurid ...

kurang latihan karena nya dia belum bisa bersilat, atau menggunai ilmunya itu, dengan sempurna.

Itulah sebabnya dia tak sanggup melawan Ceng Ceng Jie yang liehay.

Mulanya Mo Lek bicara dengan berhati hati ia menjawab seperlunya saja, akan tetapi, kapan puteri itu bicara dari hal ilmu pedang perhatiannya jadi sangat keiarik.

Ilmu pedang ialah ilmu yang ia paling gemarkan.

Maka selanjutnya suka ia melayani puteri itu dapat ia bicara dergan asyik.

Tiang Lok Kongcu mengulur tangannya menyodorkan satu buah per.

"Tiat Touw ut, makanlah buah ini. katanya.

"Untuk menghilangkan dahaga. Terima kasih kongcu,*"sahut sianak muda-Puteri itu menghela napas. Satu buah per tidak ada artinya kata nya.

"Tapi aku kuatir sekali, seberlalunya dari kota Tiang-an ini. selewatnya sedikit waktu untuk memakannya tak mudah lagi...."

Mo Lek mengerti, maka ia menjadi masgul, hingga air mukanya menjadi suram, Tapi ia menghibur nona bangsawan itu.

"Legakan hatimu, kongcu,"

Katanya ."kita cuma buat sementara waktu saja menyingkir dari keadaan yang mengancam Mesti datang harinya yang kita akan kembali pulang ...

Disaat itu pemuda ini telah tak dapat merubah cara bicaranya, ia melupai pesan Cin Siang, Ia bukan menyebut tentang "kunjungan ke Barat"

Hanya "menyingkir dari bahaya.."

Syukur Tiang Lok kongcu tidak memperhatikan nya.

Tengah mereka asyik bicara.

itu,seko-nyong-konyong terdengar suara berisiknya rombongan serdadu Mo Lek segera menoleh kebelakang.

Maka ia lantas irelihat berkobarnya api.

Itulah perbuatarnya tentara itu yang telah membakar sebuah jembatan.

Cahaya api membikin Baginda Hian Cong terkejut, la menghentikan keretanya dan menanya apa sudah terjadi "Itulah hasil pemikiran hamba "

Sahut Yo Kot Tiong "Hamba menitahkan membakar jembatan supaya kita dapat mencegah andaikata ada yang datang mengejar .

-Hian Cong menghela napas.

, Rakyat pun ingin menyingkir dari orang jahat untuk kehidupannya itu dibikin putus ..."

Lantas raja memerintahkan Kho Lek Su mengepalai sepasukan tentaranya untuk memadamkan api. Yo Kok Tiong kena batunya ia membungkam. Berjalan sekian lama, rraka orang lewatlah di "

Co-Cong."

Itulah tempat yang menjadi gudang ramgsum kerajaan.

Disana raja melihat sejumlah serdadu dan opsir yang tangannya mencekal ikatan-ikatan rum put, la perintah menghentikan keretanya ia tanya apa maunya tentara itu.

Yo Kok Tiong yang menjawab pula.

Katanya.

"Di Co Cong terkumpul banyak sekali barang makanan dan uang, semua itu tidak dapat dibawa pergi supaya semua itu tidak sampai nanti dirampas orang jahat hamba hendak membakarnya."

"Kalau memberontak tidak mendapat-kan apa-apa, tentulah mereka bakal lebih menyiksa rakyat,"

Katanya.

,,Baiklah semua itu di biarkan supaya mereda yang mendapatkan, agar rakyat tidak di tambah kesengsaraan dan penderitaannya.

Maka Kha Lek Su kembali diperintah membubarkan opsir dan tentara itu.

Kemudian kereta dijalankan terus.

Tiar Mo Lek menyaksikan dua peristiwa itu, hatinya jadi bekerja.

"Teranglah Seri Baginda masih menyayangi rakyat,"

Pikirnya.

"Adalah Yo Kok Tiong yang tidak menghiraukannya. Kalau ternyata negara bercelaka ditangannya kawannya Yo Kok Tiong ini. Mo Lek tidak ketahui siasatnya kaisar Di saat berbahaya itu hati rakyat harus di ambil. Walaupun demikian siasat atau bukan kenyataannya toh itu jauh terlebih baik dari pada rencananya Yo Kok Tiong yang busuk itu. Perjalanan dilanjuti terus Perjalanan ja uh tidak heran kalau bekalan barang makanan tidak mencukupi. Memang mulanya sejala apa tersedia lengkap segala kebutuhan masih bisa didapatkan disetiap cempat yang dilewati. Tetapi lama-lama, muncullah kesu litaanva. Lambat laun semua pembesar setempat dan rakyat ketahui raja bukan tengah membuat kunjungan hanva lagi menyingkirkan diri hati mereka itu menjadi tidak tenang. kotaraja sudah ditinggal pergi, mere ka menjadi berkuatir dan takut. Celaka kalau satu hari musuh tiba. karena itu lantas mendahului pada mengungsi, kesudahannya ini yalah, dikena dimana raja tiba, didalam sepuluh rumah sembilan sudah kosong melongpong ! Lewar beberapa hari, tibalah rombong an raja diistana peristirahatan di Ham yang. Itulah istana Bong Hian Kiong "Bong Hian "

Berarti (menghadapi sicerdik pandai) !

Apa mau, disini juga para pembesar dan serdadunya telah pada menyingkirkan diri.

Karenanya hari itu, sampai tengahari.

para pengiring raja belum makan sama sekali.

Syukur setali tidak semua rakyat pergi mengungsi.

Ho Ke Tayciangkun Tan Goan Lee sudah lantas menitahkan tentaranya memasuki kampung, untuk mencari barang makanan.

Rakyat suka memberikan nasi kasar di-campurdengan gandum dan kacang Bukan cuma para opsir dan serdadu yang kemaruk itu, malah rombongan cucu pangeran jnga memperebutkannya, memakannya dengan mencabak.

Maka sebentar saja habis sudah barang hidangan dari rakyat itu.

Raja memerintahkan memberikan uang kepada rakyat itu, untuk membalas budi, atas mana, rakyat itu menjadi terharu, banyak yang menangis tersedu-sedu.

Melihat itu, raja sendiri menepa airmatanya.

Seorang tua diantara rakyat, yang rambutnya sudah ubanan, bertindak maju dengan targannya menenteng sebuan rantang sejumlah serdadu lantas merangsak, untuk mengambil isinya rantang itu tetapi dia menolaknya dia kata.

Aku hendak menghaturkan ini kepada Seri Baginda Raja!

lsinya rantang itu ialah nasi kasar Raja mana dapat makan barang makananmu ini?

kata seorang sendadu "Lebih baik kau kasihan kepada kami!"

Atas itu sirakyat tua itu berkata keras. Dengan ini heedak aku membikin ja mcnpi-.safi penderitaan ! Aku pula ada bicara untuk Seri Baginda! "

Heran o ang tua ubanan itu, tenaginya besar luar bia;a.

Dia dapat mengundurkan sekian serdadu itu, dia bertindak dengan gagah.

Para serdadu itu pada terpelanting.

Cis Siang mendengar suara berbisik itu, ia menoleh untuk melibat, lantas ia bertindak menghampirkan.

Segera juga ia menjadi kaget.

,,Oh, Kwe Locianpwee, kiranya kau!"

Orang tua itu yalah Kwee Ciong kin, dimasa mudanya ia menjadi seorang gagah pengembaraan, setelah berusia setengah tua, ia mengundurkan diri, kepandaiannya diwariskan pada seorang muridnya yang telah mendapat nama melebihkan namanya sendi ri.

Murid itu yalah Touw Pek Eng, yang namanya hampir sama terkenalnya seperti Toan Kui Ciang dan Lam Cee In.

Cin Siang kenal orang tua itu, maka ia terus menanyakan maksud orang Akhirnya ia kata.

Harap loocianpwee menanti sebentar, akan aku laporkan dahulu para Sri Baginda."

Hati Hian Cong tergerak mendengar ada orang rakvat jelata hendak mempersembahkan barang makanan kepadanya seraya katanya orang itu disuruh menghadap. Kata ia.

"Kami malu sekeli ! kami tidak bijaksana, kami membuat rakyat bersengsrra, disaat kami terlunta lunta ini, ada rakyat yang hendak mengantari barang makanan kepada kami.."

"Siapa yang dapat hati rakyat, dialah yang makmur! "

Berkata Cin Siang.

"Adalah untung besar dari Kerajaan Tong bahwa hati rakyat masih belum lenyap!"

Mendengar itu, Hian Cong menyuruh panglimanya itu memimpin Ciong Kin datang menghadap.

Kata siorang tua.

Itulah makanan nasi kasar capur gandum dan kacang yang menjadi barang makanan sehari-hari dari jelata, hamba mohon Sri Baginda svka mencobainya Semoga k?lau kelak di-belakang hari Sri Baginda makmur dan berbahagia pula, jangan Sri Baginda melupakan kesengsaraannya arak negeri !

Tak dapat raja menelan nasi kasar itu.

akan tetapi untuk dapat mengambil hati rakvat ia paksa memakannya, bahkan sengaja ia memuji.

Katarya.

Air tawarpun melebihkan arak yang baik, maka itu nasi ini, tanda kecintaan dari rakyat, melebihkan bararg hidangan paling lezat dari istana!

Mendengar itu Kwee Ciong Kin menangis.

Ia berkata.

Bukan semenjak satu hari yang An Lok San menyimpan cita-cita mem berontaknya yang jahat itu, hanya tadi-tadinya, kalau ada orang ypng datang untuk bicara dari hal niat berontaknya itu.

Seri Baginda lantas membuangnya, itu seperti menganjurkan pemberontakannya.

Itulah sebabnya kenapa dijaman dahulukala, raja yang bijaksana mencari mentri yang setia dan pandai.

Dijaman Song Keng menjadi perdana menteri, katakata jujur diterima baik, maka negara aman dan sentosa.

Tapi sekaraag ini, menteri bicara jujur menjadi pantangan orang cuma pandai bermuka-muka Seri Baginda tidak mengetahui itu semua.

Rakyat sudah mengetahui siaig siang apa yang bakal terjali tetapi tidak ada jalan untuk melaporkan keatas Maka itu terjadilah peristiwa hari ini -bagaimana sukar untuk menghadap raja!"

Kata-kata itu membikin pucat dan merah mukanya Yo Kok Tiong dan lainnya yang mendampingi raja. Raja sendiri juga sangat menyesal hingga ia membanting-banting kaki.

"Ya semua ini disebabkan kami tidak mengerti jelas, sekarang mau menyesalpun sudah kasip,"

Katanya.

"Terima kasih untuk kata-kata jujur dari lootiang. Raja meloloskan ikat piiggang kemalanya, untuk dihadiahkan pada siorangcua. Mo Lek sudah lantas minta keterangan pada Cin Siang tentang orang tua yang gagah dan jujur ini, maka itu setelah Kwee Ciong Kin mengundurkan dari, ia menghampirkannya dan kata.

"Kwe Loocianwee ijinkan aku mengantar kau barang satu rintisan"

Ciong Kin tidak kenal opsir muda ini, ia heran.

Cin Siang segera mengajar kenal katanya .

, Ini Tiat Touw-ut baru saja tiba dari Kiu-goan.

Baru satu bulan berselang dia berkumpul bersama saudara Pet Eng yang menjadi loocianpwee."

"Oh, begitu!"

Kata siorang tua.

"Aku pun memikir untuk pergi kepada Kwee Leng-kong."

Mereka jalan bersama Mo Lek mengantar bersama Cin Siang, sampai sejauh lima lie.

lapun memberitahukan hal iya Touw Pek Eng ada ditempatnya Sin Thian Hiong di Kiam kee Nia.

Selagi mau berpisahan, ia ingai sesuatu, maka lantas ia berkata.

"Loo cianpwee, kalau nanti loocianpwee bertemu dengan Kwee Leng-kong, tolong sampaikan halnya aku telah bertemu dengan Ho Kun di Tiang-an. Harap locianpvee ingat nama Ho kun itu yaitu Ho dari kiong-ho pemberian selamat dan Kun dari Kun Lun San. Ho K.un itu mempunyai perhubungan erat sekali dengan Oe kun Thong dari itu aku minta suka,ah Leng-kong waspada terhadapi ya."

Kwe Ciong Kin memberikan janjinya, lantai mereka berpisahan.

Didalam perjalanan Kembali.

Cin Siang minta penjelasan hal sepak terjangnya Ho Kun itu Mo Lek menjelaskan segala apa.

Mendengar demikian, Cin Siang jadi mencurigai Oe-bun Thong.

"Kalau begitu, baik kau jangan bicara kau awasi saja padanya"

Kemudian ia pesan sianak muda.

Selewatnya kota Ham-yang, rakyat nampak semakin menderita.

Tenterapun mengalami perubahan ialah setiap hari ada saja prajurit yang minggat, maka dalam beberapa h iri, didalam sepuluh bagian, sudah ada tiga bagian yang kabur!

Pada suatu hari tibalah orang diperhen-likan Me Gui Ek.

Tiba tiba mereka disambut hujan besar dan badai hingga bendera pada terlepas dari cekalan, kuda dan orangada yang terguling, sampai tenda-tenda kereta bocor dan rusak.

Hingga pakaian orang menjidi tidak keruan macam.

Orangpun tidak berdaya untuk melanjuti perjalanan.

Terpaksa mereka melindungi diri didalam rimba.

Kebetulan disitu ada sebuah kuil rusak, kaisar dan keluarganya berlindung di situ.

tentera dan lainnya mesti berdiam di bawah pepohonan.

Celakanya hujan turun berlarut-larut sampai beberapa hari, hingga air jadi me-ngembeng, jalanan rusak, jembatan pada runtuh.

Dengan begitu, orang maju tak dapat mundur tj^dak.

Perjalanan menjadi tertunda di Ma Gui EK.

itu.

Justeru itu waktu ada dipermulaan musim rontok hawa udara dingin sekali.

Tentera semua menjadi tersiksa hawa dingin dan perut keroncongan.

Bekalan barang ma"canan dari kotaraja sudah habis, barang makanan yang didapat dari rakyat disepanjang sangat berbatas, sudah begitu, orasigpun harus menyediaka i nya untuk dapur kerajaan dan rombongannya Yo Kok Tiong, yang mesti didahulukan.

Tidak ada lain jalan tertera menyembelih kuda atau mencari lalap liar Tapi itu cuma bertahan buat beberapa hari.

Kuda habis, lalap pun ludas.

tentara menjadi menggerutu, hingga dari mana-mana terdengarlah suara penasaran dari mereka itu.

Mo Lek mesti menderita bersama.

Mendengar gerutuan tentara, ia berduka sekali.

Tentu sekali, tak dapat ia membilang suatu apa.

Pada suatu hari hujan berhenti.

Tidak menanti sampai cuaca terang, Mo Lek pergi mendaki gunung, untuk berburu.

Ia berhasil mendapatkan dua ekor mencak.

Ia membawa nya pulang untuk dijadikan sup, yang ia dahar bersama barisannya, tentu sekali masakan satu kwali besar itu masih jauh dari pada mencukupi!

Orang berkumpul didepan api dapur.

suara tentara itu berisik.

Sembilan dalam sepuluh menyesali dan menggerutui Yo Kok Tiong bahkan ada yang mengumpat maki Yo Kui Hui Ada pahlawan-pahlawannya Yo Kok Tiong, yang mendengar suara itu akan tetapi didalam keadaan seperti itu mereka tidak berani mencampur tahu, maka diam-diam mereka menjauhkan diri berpura tidak tahu ..

.,Agaknya sudah ditakdirkan kita bakal terbinasa diluar Kampung halaman kita."

Demikitn terdengar keluhan tentara tentara itu," , maka itu tulang betulan? kita entah bakal dipendam ditegalan liar atau gunung belukar yang mana .."

Dalam mendongkol tentara itu kangen kepada kampung halamannya masing-masing entah siapa yang mendahului, semua lantas menangis sedih sekali.

Mo Lek gagah dan hatinya teguh, tidak urung ia menjadi sangat terlaru, hingga ia jadi berduka sekali.

"Tentara runtuh semangatnya begini macam bagaimana andaikata mereka menghadapi musuh "

Pikirnya. Tentu mereka, bakal musna tanpa kerana ... i"

Seorang tentara tukang tetabuhan, yang biasa meniup seruling, sudah lantas meniup alat musiknya itu.

Ia mendengarkan lagu kampung-halamannnya.

Lantas seorang pembesar, yang menjadi jurutulis yang muda menimpali dengan menjanjikan sebuah syair dari Tu Fu yang bermaksud sedih, tentang sasterawan Siu Sin dari ahala Selatan Utara yang mengungsi ke See Gui dan Pak Cin akibat musnanya ahala Liang dari Selatan hingga kesudahannya ia mati sengsara di kampung orang.

Tentara semua tidak tahu lelakonnya Siu Sin, tetapi lagu sedih itu menggoncangkan hati mereka maka itu, ke sedihan mereka jadi bertambah-tambah.

Mo Lek juga tak sanggup mendengar lebih lama tangisan tentara itu, diam-diam ia menjauhkan diri, atau segera ia diham-pirkan seorang dayang, yang keluar dari dalam rimba.

Dayang itu lantas menyapa ,,Tiat Touw-ut aku tengah mencarimu.

Tuan puteri mengundang touw-ut.."

Tiat Mo Lek heran. ,,Hari sudah jauh malam, diwaktu begini aku menghadap tuan puteri, itulah tak leluasa,"

Katanya ragu-ragu.

"Kongcu tidak ada didalam heng-kiong"

Kata dayang itu. ,,Ia menantikan didalam rimba dibelakang itu. Kong-cu kata ada urusan penting yang ia hendak bicarakan dengan touw-ut. Mari lekas touw-ut menemuinya !"

Keluarga raja mempunyai aturannya sendiri sekalipun disaac menyingkirkan diri sebagai ini dan tempat mondoknya raja me rupakan^ sebuah kuil bobiok, toh tempat mondoknya itu masih tetap disebut "heng kiong"

Atau balai istirahat.

Dan disekitar beberapa puluh tombak dari heng-kiong ini, tak sembarang orang dapat dikasih datang dekat, cuma pada Liong Kie siewie serta beberapa perwira lainnya yang boleh me-lttasukiriya.

Sekalipun rimba cibelakang kuil bobrok termasuk daerah terlarang.

Mo Lek bukannya Liong Kie siewie tetapi dialah Houw Gee TOuw-ut, iapun menjadi hutongnya, yaitu wakil kepala dari San Kie siewie, bahkan ia ditunjuk raja sendiri sebagai opsir istimewa pelindung tuan puteri, maka ia dapat diajak memasuki daerah terlarang itu dengan dipimpin dayang-Mendengar halnya Puteri Tiang Lok mempunyai urusan penting, hati Mo Lek berdebar.

Ia ingat ialah pelindung puteri dan puteri berhak memberi perintah kepadanya, karena itu, ia tak perlu menghiraukan lagi keragu-raguannya.

Begitulah ia turut dayang itu.

Tengah hari itu hujan berhenti, sekarang diwaktu malam, langit cerah.

Sesudah mega buyar, rembulan pun jernih.

Sejak hampir sepuluh hari, baru malam ini orang menyaksikan si Puteri Malam.

Ketika Mo Lek sampai didalam rimba diantara sinarnya rembulan, ia melihat Tiang Lok Kongcu dengan pakaiannya yang sederhana berdiri seorang diri dibawah sebuah pohon cemara tua.

Ketika puteri itu menggapai, dayangnya lantas mengundurkan secara diam-diam.

Dengan menekuk dengkulnya, Mo Lek memberi hormat.

"Tiat Ceng menghadap Kongcu,"

Katanya "Entah ada urusan apa Kongcu memanggilku ?"

Puteri Tiang Lok mengulur sebelah lengannya yang putih.

"Kaulah tuan penolongku, tak usah kau menggunai banyak adat peradatan."

Katanya halus. Ia hendak memimpin bangun pahlawannya itu, hingga Mo Lek menjadi bingungjekas-lekas dia bangun berdiri, untuk menyingkir. Kata dia .

"Terima kasih untuk kebaikan Kongcu, akan tetapi adat-istiadat diantara menteri dan junjungannya tidak dapat dihilangkan."

Alis lentik puteri itu berkerut.

"Disaat seperti ini, bagaimana kau masih menyebut adat istiadat diantara raja dan menteri ?"

Katanya, perlahan dan berduka.

"Afakah tak dapat kau memandang aku sebagai sahabatmu ? Aku paling tidak menyukai yang dihadapanku, kau menggunai segala aturan yang mengekang dirimu. Dengan terpaksa Mo Lek duduk berendeng dengan puteri raja itu.

"Selama beberapa hari ini, kamu sangat menderita,"

Berkata Tiang Lok Kongcu.

"Asal Sri Baginda dan Kongcu sehat-walafiat, tak berarti apaapa yang kami -derita,"

Kata pahlawan yang gagah itu. Tiang Lok menghela napas, kami yang menyusahkan kamu, katanya.

"Ah, disaat kacau seperti ini, hidup didalam keluarga raja sungguh hal jang sangat tidak beruntung. Tiat Ceng, aku jadi mengagumi cara hidupmu didalam dania Kangouw ! Umpama kata aku bukannya seorang puteri raja, aku juga ingin merantau keempat penjuru negara, untuk mengikuti kau mengembara. benar-benarnya."

Mo Tek mengangguk, ia menjawab .

"Tentara tersiksa hujan dan angin makannya tidak cukup pakaiannya tidak lengkap jikalau mereka menggerutu sedikit, itulah hal yang tidak dapat dihindarkan. Mereka juga mengerti, semua ini disebabkan didalam istana muncul segala dorna."

Pemuda ini berlaku berhati-hati, ia tidak menyebut Yo Kok Tiong. Tiang Lok menghela napas pula.

"Tidak dapat kau mendustai aku,"

Kata nya.

"Mereka itu bukan melainkan menggerutu, mereka sebenarnya sangat penasaran, hingga umpamakata hawa penasarannya itu sudah naik sampai dilangit. Mereka membenci Yo Kok Tiong hingga mereka menyesal tidak dapat makan dagingnya dan tidur diatas kulitnya !""

Mo Kek heran dan kagum.

"Kongcu, kau telah ketahui itu?"

Katanya.

"Siang tadi telah datang Ong Su Lee, Utusan tentara dari Hoo-goan,"

Katanya, .,Dia telah menghaap kepada Ayah sudah lantas menanyakan urusan peperangan digaris depan.

Sebelum menjawab, dia menangis terlebih dahilu.

Kata dia, semenjan Sri Baginda berangkat, sema gat tentara menjadi berkurang.

Ayah tanya .

"Apakah mereka menyesali kami sudah meninggalkannya ?""

Ong Su Lee jawab .

"Bukan. Mereka kata sudah selayaknya Sri Baginda berangkat ke Barat karena untuk keselamatan diri buat menjaga kesejahteraan negara, supaya keraja an tidak putus turunan. Mereka hanya menyesalkan dan penasaran terhadap menteri besar yang pernah menerima budi berlimpah limpah dari Sri Baginda disaat genting dari negara ini, tidak berani mengajukan diri guna melawan musuh, sebaliknya melainkan membelai kepentingan diri sendiri, bahkan dengan menggunai pengaruh Sri Baginda, sudah main gertak sana gertak sini. Oleh karena itu asal Sri Baginda berlaku adil dalam mengganjar dan menghukum, supaya yang, berjasa dianugerahi dan yang berdosa dihukum, pastilah semangat tentara itu akan | terbangun pula sendirinya. Mendengar itu, ayah berdiam. Ayah dapat menerka siapa yang dimaksudkan urusan itu. Lewat sesaat baru ayah berkata.

"Aku tahu sudah, kau setia dan jujur, kaulah tiang Negara. Maka Ong Su Lee lantas diangkat menjadi Liong-yu Ciattouwsu dari Hoo See. Tapi mengenai mengganjari yang berjasa dan menghukum yang berdosa ayah tidak menyebut-nyebut sepatah kata juga ...

"Tentang pemerintah mengajarkan atau menghukum aku tidak berani sembarang mengutarakan sesuatu."kata Mo Lek."Akan tetapi apa yang aku tahu ialah di dalam ka langau Gie Lim tun orang oersatu hati dan bersatu pikiran dengan pandangannya ialah semuanya mengharapkan utusan dari Hoogoan itu ialah semuanya mengharapkan Seri Baginda menegakkan aturan pemerintahan buat menyingkirkan segala dorna dan sebaliknya mempercayai menteri-menteri arif bijaksana.

"Ong Su Lee tidak berani bicara terus-terang didepan ayah, berkata pula Tiang Lok Kongcu."Hanya kemudian selagi hendak berpamitan buat berangkat pulang, secara diam diam dia sudah bicara dengan Hu-Kee Tay Ciangcun Tan Goan Lee.,,kata dia."

Yo Kok Tiong telah membangkitkan kekacauan kejahatannya sudah melampui batas, semua orang sangat membenci dan bersakithati terhadapnya, maka itu kecuali dorna itu disingkirkan pastilah rakyat bakal memisahkan diri.

Atas itu Tan Goan-Lee berkata;

"Urusan ini sangat besar biarlah aku mendayakannya dengan perlahan Jahan. Tan Goan Lee masih malang kepada Yo kun Hu, dari itu tidak berani dia turun tangan. Dia tahu aku sangat disayangi ayah, mungkin dia juga mengetahui samar-samar bahwa aku tidak puas terhadap keluarga Yo, maka dengan cara diam diam dia telah menemui aku dan telah menyampaikan kata-katanya Ong Su Lee padaku setelah mana dia minta aku berdaya untuk bekerja guna negara buat menyingkirkan dorna itu. Habis apakah dayaku ? Memang ayah menyanyangt aku tetapi ia lebih mencintai Yo Kui Hui. Ketika aku menyebut nama Yo Kok Tiong didepan ayah, ayah menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang lantas ia melarang aku bicara lebih jauh. Ayah demikian ragu-ragu maka itu aku kuatir sekali ! Cerajaan Long yang besar ini nanti lenyap ditangannya keluarga Yo itu ....Tiba-tiba saja darahnya Mo Lek bergolak. Ia kata "Conjcu apabila kongcu memerlukan tenaga hamba sekalipun mesti mati berlaksa kali, hamba tidak nanti menampik. Baru Mo Lek berkata begitu, mereka lantas mendengar batuk-batuknya sipelayan wanita dan sisi rimba. Tiang Lok terkejut segera ia kata perlahan .

"Ada Orang datang ! Pergi, pergilah kau memikir dan mendayakannya, tetapi ingat, jangan sembrono!"

Pelayan itu sudah datang menghampir-kan, maka dengan dipepayang dia, Tiang Lok lantas berlalu kedalam rimba.

Hampir berbareng dengan itu, disitu ter dengar suara tertawa berkakak dan orang yang tertawa besar itu lantas muncul, Mo Lek melihat Oe-bun Thong.

"Sungguh kau gembira sekali, Tiat Touw-ut !"

Kata dia, tertawa pula. Adakah kau seorang diri menggadangi si Puteri Malam disini ?" .

"Aku lagi meronda ?"

Sahut Mo Lek cepat dan ringkas.

"Oh,, kau lagi meronda ?"

Sep itu me-negaskan.

"Apakah kau melihat orang yang mencurigai di dalam rimba ini ? Barusan aku pun mendengar suara orang " ..mari kita memeriksa bersama !"

Mo Lek merasa tidak enak sendirinya, meski ia tahu tidak melakukan sesuatu yang tidak pantas. Apa yang ia kuatirkan ialah Tiang Lok Kongcu nanti ada yang ceritakan secara yang tidak-tidak.

"Terima kasih, Ce-bun Ciangkun, tak usah mau mencapaikan diri."

Katanya.

"Aku sudah memeriksa, aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Oe-bun Thong tertawa pula, suaranya nyaring. Habis tertawa itu, mendadak ia ka ta perlahan .

"Tiat Toaw-ut, apakah kau tengah menantikan orang ? Benarkah kau tidak melihat sesuatu ? Barusan aku melihat satu bayangan orang, dia mirip pelayan nya Tiang Lok Kongcu."

Mo Lek percaya orang tidak memergoki si tuan puteri sendiri, hatinya menjadi mantap* "Jangan berkelakar, Oe-bun Ciangkun!"

Katanya.

"Mungkin mata kau kabur ! Kenapa aku tidak melihatnya ?"

Mo Lek kuatir sekali Oe-bun Thong memaksa hendak mencari, siapa tahu mendadak panglima itu tertawa berkakak, habis mana dia kata .

"Tiat Touw-ut, karena kau bukan lagi menunggui orang, mari kau turut aku ! Disana justeru ada orang yang lagi menantikanmu !"

Mo Lek menyangka orang maksudkan Tiang Lok Kongcu, maka ia kata . ,,Oe-bun Ciangkun, sudah jangan kau main-main aku ... aku ..."

Ia mau menerangkan bahwa ia tengah melakukan tugas melindungi Puteri Tiang Lok, kalau tuan puteri mau memanggil ianya, tuan puteri dapat menitahkan orang kebiri, atau Oe-bun Thong sudah menyela, katanya sungguhsungguh .

"Siapa main-main denganmu ? Siang-kok yang menitahkan aku mengundang kau "

Heran Mo Lek. Yang dimaksudkan "Siang-kok"

Itu ... perdana menteri ... ialah Yo-Kok Tiong.

"Apa ?"

Tanyanya menegasi.

"Apa ? Yo Siangya menantikan untuk menemui aku?"

Lagi-lagi panglima itu tertawa lebar.

"Kau kaget rupanya!"

Katanya.

"Haha Ah, anak, kau sungguh beruntung ! Mari lekas turut aku ["

Dengan sikap sangat akrab, sep ini memegang tangan orang, untuk ditarik. Mo Lek masih ragu-ragu, tetapi segeia ia dapat menetapkan hati.

"Paliag juga aku mati satu kali ! pikirnya.

"Buat apa aku takuti Yo Kok Tiong ? Dia mau menemui aku, ini justeru ketikanya yang baik ! Biarlah aku menanti ketikaku untuk membinasakan dia !"

Maka ia turut sep itu.

Yo Kok Tiong mendapat tempat dibe-lakangnya kuil, disitu ada pintu lainnya bu at orang masuk dan keluar, terpisah dari tempat raja atau puteri.

Mo Lek diajak me masuki sebuah pintu samping, disitu dikiri dan kanan lorong, penuh penjaga barisan pribadi Y o Kok Tiong.

Perdana menteri itu duduk seorang diri di dalam sebuah ruang.

,,Tiat Touw-ut sudang datang!"

Oe-bun Thong memberi lapoian setelah dia menghadap orang besar itu. Yo Kok Tiong tertawa menyeringai, memperlihatkan roman dornanya yang licik.

"Bagus, bagus !"

Katanya, nyaring.

"Tiat Touw-ut, kaulah seorang menteri yang berjasa telah melindungi Seri Baginda ! Se benarnya aku ingin siang-siang menemui kau, sayang aku mempunyai banyak urusan jangan, jangan kau menggunai adat-peradatan ! Mari. mari duduk disini !"

Bukan main ramahnya perdana menteri ini, akan tetapi, melihat dia, bukan kepalang gusarnya Mo Lek, hatinya panas tak terkirakan, hingga ingin ia segera turun tangan membinasakannya, atau tiba-tiba ia ingat pesan Tiang Lok Kongcu untuknya sabar dan berhati-hati.

Ia pikir .

"Memang rakyat sangat membenci Yo Kok Tiong ini tetapi untuk membikin kebencian itu sirna paling baik biarlah Seri Baginda sendiri yang menggunai uadang-uudang negara yang sah ! Atau lain jalannya yaitu semua tentara mendakwa dia membuktikan kesalahannya, supaya dia dihukum mati secara sah agar hati orang menjadi puas dan reda. Laginya dengan adanya Oe-bun Thong disisi-nya, belum tentu aku akan berhasil membunuhnya. Taruh kata aku dapat membunuh dia, penasaran tentara masih belum disampaikan ke atas. Biarlah aku bersabar dulu."

Meski ia muda dan hatinya keras, pemuda ini tidak sembrono, maka itu, habis berpikir demikian, dapat ia menenangkan diri. Ia menghadap perdana menteri itu. sembari memberi hormat, ia tanya .

"Entah ada perintah apa maka Siangya memanggil aku ?"

Yo Kok Tiong bersikap ramah.

"Aku paling senang dengan anak-anak muda yang pandai ! Katanya manis.

"Tiat Touw-ut, ilmu silat kau liehay, kau juga telah bferjasa melindungi Seri Baginda, maka asal kau dapat membawa diri baik-baik pasti sekali hari depanmu tiada batasnya ! Sekarang ini, pangkatmu cuma membuat kau kecewa Kok Tiong bicara sambil melirik pemuda itu, ia bersenyum sebagai juga orang tidak bersenyum. Ia sedikit jengah karena atas kata-katanya itu, Mo Lek tidak mem-berikan sesuatu pengutaraan. Oe-bun Thong duduk dekat dengan si anak muda, dengan sikutnya ia menyentuh sembari ia berkata .

"Tiat Touw-ut. Siang-ya berniat mengangkat kau, kenapa kau tidak mengucapkan terima kasihmu ?"

Mo Lek berkata, dengan tawar .

"Terima kasih untuk kebaikan Siangya. Tiat Ceng bekerja kepada Seri Baginda dan telah melindunginya itu semua sudah menjadi tugas kewajibannya ! Bahwa Seri Baginda sudah begitu murah hati melepaskan budinya dengan memberikan suatu pangkat, rasanya itulah tidak selayaknya, itu bukannya hakku untuk menerima oleh karena itu, mana aku berani menyebut kecewa ?"

Yo Kok Tiong melengak sejenak, lalu ia tertawa lebar.

"Tiat Touw-ut, kau tidak temaha akan jasa, kau juga tidak jumawa, sungguh kau mirip dengan jenderal-jenderal besar di jaman purbakala !"

Dia memuji.

Sikapmu ini membikin lohu makin menghargai kau !

Akan tetapi kau haruslah mengenal peribahasa yang mengatakan bahwa manusia itu mengharapi tempat tinggi untuk memanjat dan air itu mengharap tanah rendah untuk mengalir, karena itu, apakah kau benar-benar tidak memikir untuk naik ke atas "

Kok Tiong mau menunjuki sikap akrab nya, maka sebagai ganti kata "aku."

Ia me nyebut "lo-hu" ... si Orang tua. Mo Lek lantas menjawab, sederhana .

"Siapa tidak berjasa, dia tidak menerima ganjaran, oleh karena itu, walaupun Siangya memikir buat mengangkat ku siorang she Tiat, menyesal sekali, tak berani ku menerimanya."

Yo Kok Tiong mentafsirkan keliru kata-kata orang, ia tertawa.

"Tiat Touw-ut,"

Katanya pula.

"asal kau mengarti kebaikan lo-hu, maka kita te lah menjadi orang dari satu rumah. Kau tahu sang hari panjang sekali, dari itu tak akan menemukan harinya untuk kau balas kebaikanku ini !"

Berkata sampai di situ, perdana menteri ini m"eneruskan, dengan suara perlahan sekali .

"Katanya di antara tentara ada sir&ra yang menyesalkan atau penasaran terhadap lohu, apakah kau mendapat dengar itu ?"

Mo Lek segera juga mendusin. Baru sekarang ia mengarti perdana menteri ini "mengundang"

Ia karena orang hendak mem baikinya, supaya ia menjadi konconya.

Ia menduga tentulah orang sudah ketahui ten-tang perasaan tidak puas diantara tentara yang lagi menderita itu, rupanya salah seorang sievvienya telah memberikan laporannya, Ia berpura-pura tidak tahu.

Ia juuteru balik menanya .

"Benarkah ada hal demikian ?"

Pemuda ini balik bertanya.

"Piet-cit belum pernah mendengar itu. Entah mereka itu penasaran bagaimana ?"

Mukanya Yo Kok Tiong menjadi merah Perwira muda ini menyangkal, karena itu, mana dapat ia menjawab dengan menyebutkan apa yang tentara bilang ?

Bukankah itu dampratan untuk dirinya ?

Dasar ia licin, dengan lekas ia mendapat pikiran.

Maka ia kata .

"Sekarang ini kita menderita, ini lah untuk sementara waktu saja. Bahwa ada tentara yang tidak puas dan jadi mengoceh karenanya, itu pun jamak, hal itu tidak da pat dihindarkan. Loliu telah menerima ke baikan dari Seri Baginda, yang menyayangi ku, tidak nanti Idhu dapat meluputkan diri dari sirik hati dai kedengkian. Apa yang lohu kuatirkan ialah ovang busuk nanti me ngadu biru dan bekerja secara diam-diam dari dalam, Untuk membangkitkan kegusarannya tentara terhadapku, supaya mereka menentangku. Tiat Touw-ut, kau seorang pintar, jikalau kau dapat bekerja untuk lohu lupakan kebaikanmu itu "

Md Lek terus berlagak pilo"n.

"Siangya, Tiat Ceng bodoh sekali, masih ku belum mengarti maksud Siangya,"

Sahutnya. Kok Tiong melirik anak muda itu, terus sinar matanya pindah kepada Oe-bun Thong. Dia ini mengarti, dia tertawa, lantas dia kata pada Mo Lek ;

"Tiat To"uw-ut apakah benar-benar kau masih belum mengarti ? Siangya menghendaki kau menjadi mata-matanya Siangya ! Yaitu, siapa saja yang menentang Siangya, apabila kau mendapat tahu, kau mesti lekas melaporkan l"

Bikan main panasnya hati Mo Lek. Pikirnya .

"Kiranya Yo Kok Tioag berani mengajak aku menjadi gundalnya ! Hm ! Hm ! Dia belum tahu aku siapa !"

Ia baru mau mengumbar hawa amarahnya atau ia terpaksa menundanya.

Ketika itu seorang kauw-wie bertindak masuk.

Melihat opsir muda itu.

Yo Kok Tiong menjadi gusar.

Ia membentak .

,,Aku lagi bicara dengan Tiat touw-ut, aku tidak mau menemui tetamu lainnya !

Bukankah aku telah memberi pesan kepada kamu ?"

Kauw-wie itu lantas menekuk lutut.

"Inilah Lie Kong-kong bersama utusan dari Ouigour yang mohon menghadap,"

Ia memberitahukan.

Yang dipanggil Lie Kong-kong itu ialah thaykam yaitu oaag Kebiri dari Tang Ki-ong keraton Timur.

Dia bernama Hu Kok.

Diantara rombongan orang kebiri, dialah yang pengaruh dan kedudukannya cuma berada di bawah KhoLekSu, Dia mendapati kesayangannya kaisar maka juga diangkat Tang Kiong lwee sie yaitu thaykam dnera-ton Timur itu.

Yo Kok Tiong melengak mendengar keterangan itu.

Ia tidak pernah menyangka bahwa yang datang itu Lie Hu Kok bahwa bersama urusan dari sebuah bangsa asing Dengan setejap saja lenyap sudah kemarah , annya.

Sambil mengulaskan tangannya, ia berkata.

"Itau minta Lie *ong~kong bersama utusan itu beristirahat dulu sebentar, di dalam kamar tulisku, Bilang bahwa aku segera akan datang. Mo Lek sementara itu bercariga. Pikirnya.

"Dari mana datangnya, utusan dari Ouigour dari segala ! Kenapa tengah malam butarata ini mereka masih datang untuk mohon menghadap ? tni puia kuma sebuah kuil, rosokan, pitak Yo ini telah menempati separuhnya buat tinggal saja maxih be urn cukup, bagaimana dia masih mempunyai kamar tuli-? Kasihan itu segala perwira yang mesti berdiam didalam tenda ! Lebih kasihan lagi, semua tentara yang mesti tinggal di tempat terbuka menderita gangguan hujan dan angin ! ..... Mendadak Kok Tiong berbatuk. ..Tiat Touw-ut ! "

Katanya. Ya!"

Salut Mo Lek cepat sambil ia menahan amarahnya.

Kok Tiong tertawa, habis itu ia berkata "Tadi kita bicara sampai dimana ya .

Ya, aku ingat sekarang !

Kau menyebut bahwa tanpa jasa kau tidak dapat menerima anugerah !

sekarang begini saja.

Asal kau bekerja suneguh-sungguh buat gunaku itu berarti kau berasa kepadaku, pasti aku akan mem beri pangkat Kepadamu !

Baiklah !

Didepan taatamu sekarang ini ada suatu kemuliaan b"sar luar biasa lagi menantikanmu.

aku tanggung kau tidak menyangka-nyangkanya Mo Lek gusar berbareng heran ia jadi ingin mengetahui maka ia menahan sabar sebisa-o^a.

Kata ia.

"Lebih dahulu aku menghaturkan terima kasih buat kebaikan Siangnya yang sudak mengangkat padaku, hanya aku masih belum tahu, kemuliaan be sar, apakah itu yang lagi menantikan aku? "

Yo K o c. Ton-melirik. Dia tertawa.

"Tiang Lok Kongcu menyukai kau, kau tahu atau tidak ?"

Katanya.

Haha !

Loo-hu telah mengetahui itu !

Hanyalah orang dengan martabat sebagai kau.

tidak pantasnya untukmu menjadi hu-ma menantu raja !

A-kan tetapi dengan adanya loohu yang nanti membantumu, asal aku minta Yo Kui-Hui, bicara dengan Seri baginda pasti SeriBagin da bakal mengambil tindakkan istimewa un tuk menyampaikan cita-cita kamu !

Nanti, tanpa menanya lagi tentang asal usul keluargamu, tuan puteri tentulah bakal dijodohkan padamu !

haha !

Nah, inilah itu kemuliaan yang luar biasa yang kau tidak sangka-sangka ."

Inilah siasat Yo Kok Tiong yang dengan sebutir batu hendak meudapatkan dua ekor burung yang satu ialah untuk membikin tunduk kepada ini anak muda yang jujur gagah dan berhati Keras yang lain guna ia dapat membaiki Tiang Lok Kongcu supa ya tuan puteri tidak menentang sepak terjang keluarga Yo Kok Tiong telah menduga kalau Mo Lek sudah mendengar keterang annya Mo Lek tentu bakal menjadi sangat girang, dia pasti akan berlutut dan mengangguk-angguk.

buat menghaturkan terima kasihnya.

Akan tetapi ia menerka keliru.

Mendadak muka si anak muda menjadi merah sebaliknya dari pada bergirang dan hatur terima kasih secara hangat ia justeru menjadi gusar.

"Siangnya, kau telah keliru melihat orang !"

Kata ia keras.

Habis sudah kesabar annya, hingga tak dapat ia menahannya terlebih jauh, Memang Tiat reng mengharap kan kemuliaan akan tetapi dia bukanlah o-rang bina dina dan tak tak tahu malu sebagaimana yang kau terka, yang mengharap mencari^kedudukan dengan jalan mengandalkan kun dan ikat pinggang!"

"Kun atau kain rok wanita serta ikat pinggang berarti orang perempuan. Dengan kata-kata itu, terang sudah diartikan bahwa Yo Kok Tiong menjadi perdana menteri se bab dia mengandalkan Yo Kui Hui, Tentu saja mendengar demikian, perdana menteri ini menjadi gusar sekali.

"Tiat Keng ! serunya.

"Kau ... kau .... tidak tahu diri !"

Suasana lantas saja menjadi panas sekali Umpama busur dan jemparing talinya sudah ditarik dan tinggal dilepaskan saja.

Justeru itu, waktu tiba-tiba terdengar jeritan aduh-aduh dari dua orang serdadu, pengiringnya Yo Kok Tiorg disusul dengan suara robohnya mei eka disusul pula dengan ini bentakan hebat, ,,Minggir !

Minggir !

Akulah Lao Hek yang datang kau tak usah melaporkan lagi !

segera terlihat orang yang menyebut di rinya.

"Lao Hek"

Itu, si Hitam yang tua, mandul diambang pintu.

masuk kedalam ruang itu, Dialah Oet-tie Pak yarg tangannya mencelat, rujung emasnya, Kim pian-ang jalan dengan tindakan cepat, dan lebar, sedang dibelakansnya tertampak Cin-Siang rekannya.

Yo Kot Tiong terperanjat, akan melihat dua orang panglima itu.

Dia menjadi perdana menteri itu artinya disebelah atas, dia cuma ada satu orang, ialah raja dan di bawahnya ialah laksaan, ialah semua menteri dan pembesar negeri, meski begitu terha dap Oet-tie Pak, dan Cin Siang, dia jeri bukan main.

Inilah sebab, walau pun pangkatnya melainkan Cung-kun jenderal, dua orang itu menjadi turun lagi dua orang, menteri besar yang telah turut membangun kerajaan yang jasanya luar biasa besar.

Lebih lebih Oet tie Pek yang menjandaikan ruyung emasnya itu.

yang menjadi hadiah dari mendiang Kaisar Thay Cong yang tabiatnya keras sekali.

Dia tidak takuti siapa juga.

Sekarang turunan Oet tie Kiong itu datang dengan romannya bermuram durja bagaimana hatinya tidak manjadi kecil.

Begitu berada didalam, Oei tie Pek menyapu dengan sinarmatanya keseluruh ruang itu.

,,Ha, adik Tiat, kau benar-benar ada disini, dia berkata nyaring.

Toh hatinya lega sebab dia dielihat saudara ini tidak kurang suatu apa, hingga amarahnya lantat menjadi sedikit reda Segera dia menghadapi Yo Kok Tiong untuk memberi hormat sambil dia berkata.

Maaf untuk kesernbronoanku dan aku mewartakan lagi !"

Yo Kok Tiong cerdik luar biasa, dia sangat licin.

Dengan lantas dia tertawa terbahak.

Dengan begitu dia mencoba menyembunyikan kemarahannya Berteutangan dengan hatinya, dia berkata Jie wie Ciang kun, kedatanganmu ini ada suatu kehormar tan besar untukku !

Biiat mengundang saja sebenarnya aku tidak berani.

Aku justeru hendak memohon maaf buat orang sebawa-hanku yang hingga sikapnya mendatangkan kemurkaan Ciang kun, Loohu minta sukalah jiewie memandang mukaku dan memberi ampun pada mereka itu.

Silahkan duduk.

Mana orang, lekas menyajikan teh !

"Bagus, bagus !"

Oei tie Pak tertawa lebar.

Terima kasih.

Terima kasih !

Perutku si Lak Hek sedang kosong jikalau aku minum tehmu yang harum tak sanggup aku ber tahannya, oleh karena itu lebih baiklan un tuk aku tidak meminumnya !"

Yo Kok Tiong likat sekali tetapi dia masih berkata.

Seri Baginda membuat perjalanan pesiar ini ia membikin Jiewie Ciangkun menderita banyak, syukur hujan sudah berhenti maka tidak beberapa hari lagi pasti kita akan bebas dari kesengsaraan ini.

Kata Oei tie Pak.

"Kami menderita sedikit itulah tidak berariti Yang syukur ialah kalau kau tidak turut menderita. Siangya."

Mukanya Kok Clang merah Dia malu.

Tapi dia tidak Kekurangan alasan untuk membuka mulutnya.

Kata dia sengit.

Dasar pemberontak yang jahat dia sudah menerbitkan huruhara !

Sudah jalanan begini sukar, kita juga keputusan barang makanan, dengan begitu loohu bersama Baginda mesti merasakan kepahitan !

Jiewie Ciangkun entah ada pengajaran apakah dari jiewie untukku loohu" -oo00dw0oo-

Jilid 25 Didalam hatinya Oe-tie Pak mencaci ,Dasar muka tebal ! Mengapa kau tidak mau menyebut bahwa kau menderita bersama tentara?."

Sebenarnya ia hendak mengatakan lainnya yang lebih tajam akan tetapi Cin Siang mengedipi mata.

"Aku justeru hendak menanyakan Siang-ya,"

Kata orang she Cin ini, yang sabar dan pandangannya jauh.

"Siangya mengundang Tiat Touw-ut, ada urusan penting apakah yang hendak dibicarakan ?"

"Tidak, tidak apa-apa!"

Sahut Kok Tiong cepat.

,.Dia berjasa sudah melindungi Sri Baginda lohu belum pernah bertemu dengannya, dari itu lohu mengundang dia untuk duduk dan beromong-omong.

Berkata begitu perdana menteri ini melirik Tiat Mo Lek.

la kuatir orang nanti menceritakan segala apa hingga ia bakal menjadi hilang muka.

Syukur untuknya si anak muda bungkam.

Berkata Cin Siang pula .

"Kalau tidak ada urusan yang penting, kami justeru hendak bicara dengan Tiat Touw-ut.

"Nah ijinkan kami mengundurkan diri !"

Hatinya Kok Tiong berdebaran, dia justeru menyesal tak dapat menyuruh orang pergi, maka perkataannya Cin Siang sangat menggirangkan padanya, akan tetapi walaupun demikian, dia masih berpura menahan, buat bicara lagi beberapa patah kata, habis mana dia mengantarkan mereka itu bertiga keluar.

Tiat Mo Lek membuka tindakan lebar, memperdengarkan tertawa dingin.

Diwaktu berlalu, ia tidak membuka suaia apaapa dan juga tidak memberi hormat lagi kepada perdana menteri itu, hingga ia membuatnya Kok Tiong mendongkol bukan buatan, Baru sesudah berada didalam rimba ia membuka mulutnya, buat bernapas guna melegakan dadanya yang pepat.

Bagaimana kamu ketahui aku berada ditempatnya Yo Kok Tiong ?"

Demikian pertanyannya yang pertama. Oe-tie Pak tertawa. ,,Tiang Lok Kongcu kuatir kau nanti dapat susah ia menyuruh kami pergi untuk melindungimu !"

Sahutnya, la tertawa ada artinya.

Memang Tiang Lok Kongcu tidak segera kembali ke kamarnya, la bersembunyi di dalam rimba Hugga ia mendapat dengar pembicaiaannya Oe-ban Thong dengan Tiat Ceng.

Ia menjadi kaget dan bingung mendapat tahu si anak muda ..diundang Yo kok Tiong Mulanya ia tidak tahu mesti berbuat apa, syukur ia lantas mendapat pikiran, maka lantas ia menyuruh seorang ke biri memanggil Oet-tie Pak dan Cin Siang buat menitahkan mereka berdua pergi melihat.

Ia mengajari akal bagaimana mereka itu harus menemui si perdana menteri.

Oe-tie Pak tertawa pula.

Kongcu kuatir kau nanti dicelakai Yo Kok Tiong, ia kuatir bukan main hingga ia duduk salah berdiri salah !"

Kata ia lagi. Kelihatannya ia mengandung sesuatu maksud terhadap dirimu !"

Mukanya Mo Lek merah hingga telinganya panas.

"Oh Oe-tie Toako, tak dapat kau berkelakar secara begini!"

Katanya, mencegah. Simuka hitam tertawa pula.

"Kenapa tak dapat"

Katanya.

"Aku pun tidak berkelakar ! Kongcu menjadi seorang puteri yang harus menikah, kalau ia menikah denganmu, apakah halangannya ? Eh. adik Tiat, jikalau ia menjadi tuan pueri yang lainnya tidak berani aku menganjurkan kau menikah dengannya. Tiang Lok Kongcu adalah lain. Dia puteri yang cerdas yang mengerti segala apa, sedang juga dia mengerti silat dan surat. Untuk kaum wanita, dia lah seorang gagah ! Beruntunglah kau jikalau kau menikah dengannya". Terhadap Yo Kok Tiong. dapat Mo Lek mengumbar hawa amarahnya. Terhadap Oet-tie Pak, tidak, Oet-de Pak juga bermaksud sungguh-sungguh. Maka terhadap sahabat ini mau ia bicara tenia terang. .,Toako tidak tahu, aku telah mempunyai tunangan,"

Katanya. Oet-tie Pak melongo, terus ia tertawa.

"Dasar kau sembrono ! "

Katanya.

"Siapa tidak tahu, dia tidak bersalah ! Saudara Tiat. harap kau maafkan aku si Lao Hek yang telah salah omong ! "

Cin Siang sebaliknya menanya.

"Saudara Tiat, siapakah tunanganmu itu ?. Ialah anaknya Locianpwe Han Tam,"

Mo Lek memberitahukan. Dua-dua Cin Siang dan Oet-tie Pak ter tawa terbahak. ..Kiranya orang yang dikenal baik !"

Seru mereka berbareng.

"Memang nona itu menang banyak apabila dia dibandingkan dengan Tiang Lok Kongcu !"

Kemudian Oe-tie Pak meneruskan .

,Aku tidak percaya Yo Kok Tiong demikian baik hati.

Tak perlunya tanpa maksud dia mengundang kau datang duduk memasang omong disini !

Sebenarnya dia mempunyai arusan apakaft?"

Mo Lek mendongkol sekali, tapi ia beri keterangan.

"Dia menghendaki aku menjadi gundalnya"

Katanya sengit.

Lalu ia menjelaskan maksudnya dorna itu, yang telah membujuk dan mengancam padanya.

Ia hanya tidak se but halnya Kok Tiong mau jadi comblang, untuk jodohnya.

,,Yo Kok Tiong menjadi dorna Thian dan raky.it gusar palanya."kata Jm Siang, ,,kalau dia tidak insaf dan berobah kelakuannya, entah bagaimana n nti jadinya.

Jangan jangan negara pun bakal lenyap di-tangannya ...

,,Tadi ada dua orang utusan dari Oui-gour datang mohon bertemu dengan Yo-Kok Tiong toako atau tidak ?"

Kemudian Mo Lek tanya Cin Siang. ,,Aku telah mendengarnya."

Sahut orang yang ditanya. ,. Sebenarnya mereka bukan diminta untuk datang oleh Yo Kok-Tiong"

Kaisar Hian Cong terdesak oleh pem-berontakkan, ia tidak berdaya, ia hendak minta bangsa asing untuk menindas pemberontakkan itu.

Dalam hal ini, dia tidak memikir panjang.

Begitulah ia minta bantu an bangsa Ouigour,maka bangsa itu mengirim perutusannya yang terdiri dari dua orang anggauta itu.

Syarat yang diajukan bangsa Ouigour itu berat, kota atau daeiah yang dia dapat dudukan wanita dan barang berharga semua harui menjadi miliknya.

Kaisar lantas bermupakatan dengan Tan Goan Lee Wie dian So Gui Hong Cin dan lainnya, semua menteri dan panglima itu menolak.

Melainkan Yo Kok Tiong seorang menyatakan setuju.

Alasannya ialah.

Janganlah karena urusan kecil, kita menggagalkan urusan besar.

Artinya, biarkan bangsa asing itu merampas orang-orang perempuan dan barang berharga kita, asal negara ketolongan.

Beberapa orang lantas mengikuti angin berobah haluan, menyetujui pikiran Yo Kok Tiong itu, karenanya, kedua pihak menjadi memperebut alasan, hingga urusan menjadi gantung "Kalau begitu rupanya perutusan Oui-gour itu telah melihat jalannya maka mereka mengambil jalan menghubungi Yo Kok-Tiong,"

Cin Siang mengutarakan dugaannya.

Tentulah mereka mau minta bantuannya Yo Kok Tiong dan Yo Kui-Hui guna membujuki Seri Bag"nda.

Hin, dengan demikian, pastilah sudah Yo Kok Tiang bakal menerima banyak uang dan permara.

Mo Lek gusar sekali.

Kata dia teras.

"Jikalau Yo Kok Tiong tidak menghiraukan rakyat, rakyat juga tidak menghendakinya lagi ! "Perlahan, saudara Tiat,"

Kata Cin-Siang.

"Segala apa biarkan Seri Baginda yang memutuskan, kita sendiri tak dapat kita bicara sembarangan. Jikalau ada orang dengar suaramu ini, kau dapat di tuduh sebagai penghianat .., Oet-tie Pak pun gusar.

"Cin Toako, apakah kau pun takut?"

Tanyanya. .Apakah dapat kita membiarkan Yo Kok Tiong berbuat sesuka-sukanya saja? Cin biang menyeringai sedih.

"Habis, apakah dapat kau membinasakan Yo Kok Tiong ? "ia balik tanya.

"Dengan impianmu, kau cuma dapat menggertak dia, apabila sampai terjadi benar benar sampai terjadi kau menghajar dia, aku kuatir Seri Baginda bisa melupai jasa besar leluhurmu ! Pangkat kita cuma Liong Kie Touw oet, tugas kita cuma melindungi keselamatan Seri-Baginda, karenanya urusan negara yang besar bukanlah urusan yang d pat kita campur mengurusnya "

Oct tie Pak mendongkol sekali. Kata ia "kalau sampai terjadi Yo Kok tiong menyentuh aku, biar aku mesti kehilangan jiwaku, pasti, akan aku hajar dia!"

"Sudah, sudah! Cin Siang kata pula-"Jangan kita. mengumbar saja nafsu-amarah kita ! Marilah kita tidur! Habis mengumbar kemendongkolan itu, Oet-tia Pak pun dapat menyabarkan diri Sebaliknya dengan Mo Lek. Malam itu, pikirannya sangat kusut, sampai ia tidak, dapat tidur pulas, la berkata didalam hati.

"Raja dengan Yo Kok Tiong menjadi sanak satu dengan lain, maka raja tidak nanti menegur atau menghukum iparnya itu, sedangkam para menteri jeri terhadap pengaruhnya sidorna. Bahkan Cin Toako sungkan membangkitkan kemarahan dorna itu. Ah, apakah benar sudah tidak ada daya lagi untuk menyingkirkannya. Masih ada satu hal lain yang membuat anak muda ini pusing"

Itulah Tiang Lok Kongcu, yang pergaulannya dengan ia makin akrab.

Tuan putri itu yang selalu men cari jalan merapatmya.

Ia sendiri tak sedikit juga ia menaruh hati pada Putri itu.

Sampai malam tadi Tiang Lok bicara dengannya dan Yo Kok Tiong menimbulkan soal jodoh mereka...

juga katakatanya Oet-tie Pak.

mau atau tidak, ia jadi memikirkannya.

,,Sampaipun Oei-tie Toako telah mendapat lihat,"

Pikirnya.

"Mungkinkah benar Putri Tiang Lok jatuh hati kepadaku ? Satu Ong Yan Ie sudah membikin aku sangat pusing, bagaimana lagi kalau muncul Tiang Lok Kongcu ini ? Mana aku membebaskan diriku ? Benar-benar malam itu Mo Lek tidak dapat tidur nyenyak, maka mendekati pagi, p kitannya masih kacau, ia bagaikan linglung. Mendekati tengahari, selagi ia menantikan pelayannya membawakan barang makanan, tiba-tiba ia mendengar suara berisik diluar kemah Ia lantas pergi keluar untuk melongok. Segera ia mendapat kenyataan be berapa orang lagi dikurung sejumlah serdadu, bahkan lantas dikenali, beberapa orang itu yalah tukang masaknya Yo Kok Tiong. Beberapa koki itu tengah memotong seekor babi panggang bersama beberapa rupa barang makanan lainnya, yang menyiarkan bau harum sedap. Babi panggang itu yang hendak dirampas. Beberapa orang koki itu melihat munculnya Mo Lek. Mereka juga melihat sianak muda mengenakan pakaian orang berpangkat, mereka menganggap bahwa mereka menemui bintang penolong, lantas mereka berteriak teriak.

"Tayjin tolong ! Tayjin, tolong tolong !"

Mo Lek sudah lantas menghampirkan.

"Kamu letaki babi panggang itu, selesai sudah urusanmu."

Kata ia.

"Aku jamin bahwa mereka tidak bakal membunuh kamu!"

Kawanan serdadu iiu lantas berseru seru.

"Akur ! Kami cuma menghendaki babi panggang itu ! kami tidak memikir untuk makan daging kamu ! Tidak menjadi apa jikalau Yo Kok Tiong makan sedikit kurang ! kami orang sudah makan babakan pohon dan rumput!"

Selagi berisik itu, disana datang sepasukan serdadu pengiring Mereka mendekati, sambil memegang cambuk, dengan itu lantas dengan ?embarangan mereka mencambuk pergi pulang pada rombongan serdadu itu.

Mereka jug mencaci.

"Kamu kelaparan sampai menjadi kalap pikiran, ya ! Bagai mana kamu berani hemdak merampas barang hidangan Siangya yang diperuntukan para tamunya?"

Masih mereka mencambuk kalang kabutan, bahkan Mo Lek, yang berada dekat, kena cambukan satu kali !

Bukan main gusarnya sianak muda.

Ia lantas merampas cambuk pengiring "Kau cuma tahu Yok Kok Tiong, kau tidak tahu mati hidupnya tentara!"

Tegur nya.

Segera dengan cambuk ditangannya itu ia menghajar kalang kabutan pada beberapa serdadu pengiring yang berada paling dekat dengannya, hingga mereka itu kaget dan kesakitan, antaranya ada yang terus ber gulingan sambil berkaokan atau merintih.

Suara berisik menjadi hebat sekali.

Urusanpun lantas menjadi berubah sifatnya Serombongan serdadu pengiring itu melawan dengan siasia, mereka lantas mendapat bantuan kawan kawan mereka yang baru.

Tapi rombongan tentara yang mau merampas babi panggang juga lantas turun tangan, dan merekapun dibantu oleh lain lain kawannya, yang datang dari pelbagri kemah.

Mereka sem.a beuempur, mereka mercaci tak bencinya.

Dalam kekacauan tu, tentara jie Tim kue, pasukan pengirmg raja sampai turut mengambil bagian.

Beberapa perwira sebawahan datang tetapi mereka itu tidak sanggup mengendalikan kekacauan.

Selagi saat kacau itu, ada orang yang berteriak.

"Mari kita cari Yo Kok Tiong untuk membuat perhitungan dengannya! Ada pula yang lainnya, menteriakan. Ya, mari kita tanya dia, apakati dia benar hendak membikin kita mati kelaparan ! la seke luarga hidup senang, makan dan pakai cukup ! Dialah yang membikin negara celaka begini rupa! Lalu ada tertekan lain. Yo-Kok Tiong, apakah kau masih ada muka untuk menjadi perdana menteri?"

Teriakan-teriakan itu mendapat sambut an dan empat penjuru, suara berisik menjadi bertambah-tambah.

Cacian juga tak berhenti karenanya.

Bagaikan gelombang, orang pergi ke tempat kediamannya Yo Kok Tong, Mo Lek telah terdorong maju dimuka.

Barisan pengiringnya Yo Kok Tiong lantas lari sipatkuping.

Mereka itu tidak berani menentang atau mencegah saja.

Malam tadi Yo Kok Tiong bicara banyak dengan dua orang utusan Ouigour.

sam pai jauh malam, baru ia masuk tidur, maka itu diwaktu begitu, baru dia mendusin.

Dia hendak menjamu pula sekalian tetamunya.

Suara sangat berisik itu membuatnya kagel dan heran.

Tanpa merasa, pikirannya menjadi goncang.

"Celaka, Siangya !"

Tiba-tiba datang se orang tentara kepercayaannya.

"Tentara su dah nrenerbitkan kekacauan ! Mereka itu dipimpin Tiat Touw-ut yang baru itu ! Me reka datang kemari, untuk menyerbu ! Harap Siangya lekas menghentikan mereka "

Yo Kok Tiong mencoba menenangkan diri"

"Apakah dia itu bocah she Tiat ?"

Ia. menegaskan.

"Apakah ada lainnya perwira? Mana Tan Ciangkun ?"

"Ya, Siangya, cuma dia seorang. Lainnya perwira tidak ada. Tan Ciaigkun tidak nampak !"

Tan Ciangkun yang ditanyakan Yo Kok Tiong itu ialah Tan Ciangkun Tan Goan Lee yang berpangkat Liong Honw Tay Ciangkun, jenderal "Naga dan Harimau,"

Yang memegang tampuk pimpinan atas angkatan perang.

Dia baik dengan Yo Kok Tiong cu ma di mulut, dihati tidak.

Yo Kok Tiong menanyakan dia sebab dorna ini menyangka dialah yang menganjurkan perlawanan tentara itu Setelah mendengar jawaban itu, bahwa Tan Ciangkun tidak turut mengambil bagian, bahwa Tiat Ceng cuma bersendirian saja, hatinya menjadi tabah pula.

Ia pikir, harus ia sendiri yang keluar untuk menghentikan kekacauan itu.

maka ia lantas muncul dengan diiring sejumlah tentara pengiringnya yang ia percaya.

Dilain pihak ia menyuruh kedua utusan dari Ouigour menyingkir secara diam-diam dari pintu belakang.

Dorna ini menggunai pengaruhnya sebagai perdana menteri.

Ia mencoba menghentikan suara berisik dengan menuduh tentara itu menjadi pengkhianat atau pemberontak.

Ia menunjuki sikapnya yung keren.

Sejumlah kecil tentara lantas berdiam, bagaikan berhentinya hujan dan badai malam itu.

Akan tetapi jumlah yang terlebih besar, masih tetap dengan suara berisik mereka bahkan jadi semakin gusar.

Dengan demikian kekacauan tidak dapat cegera di redakan.

Justeru disaat dorna ini tetap mau menunjuki pengaruhnya dengan hendak menitahkan orang membekuk Tiat Mo Lek, sekonyong-konyong semua orang., mendengar satu suara yang mendengung sangat keras, bagaikan suara genta besar.

"Yo Kok Tiong ! Kaulah yang berkomplot dengan utusan bangsa asing ! Kaulah yang mau berontak ! Bagaimana kau berbalik menuduh lain orang ?"

Itulah Oet-tie Pak yang datang secara tiba-tiba. Mo Lek telah lantas berpikir . ,,Kau menuduh aku berontak, baiklah akan aku berontak, terhadapmu ! Hari ini tidak dapat aku memberi ampun padamu ! "

Karena ini, lantas ia kasih dengar suaranya yang nyaring terhadap semua tentara .

"Kamu lihat ! Itulah dua oang utusan dari Ouigoar itu ! Mereka mau molos dari dalam !"

Kebetulan saja Mo Lek melihat kedua utusan itu, yang kaget dan takut tidak terkirakan.

Mereka kabur ke istana dimana ada beberapa ekor kuda raja, mereka dua orang busu, dengan mudah mereka meroboh kan beberapa orang penjaga istal itu; untuk merampas kuda yang hendak dipakai menyingkirkan diri, dibelakang hengkiong itu tempat terlarang, terdapat rimba yang men jadi tempat sempurna untuk melarikan diri.

Semua tentara lagi menghadapi Yo Kok Tiong seorang,, sebelum suaranya Oet-tie Pak itu, tidak ada yang perhatikan kedua utusan Ouigour itu, mereka itu berdua juga bergerak dengan sangat cepat tak sempat orang mengejarnya.

Walaupun demikian, su aranya Mo Lek membuat mereka menoleh dan melihat perutusan itu.

Lantas ada yang berteriakteriak .

Yo Kok Tiong berkong-kol dengan perutusan bangsa asing !

Kenapa kita tidak mau bunuh pada si dorna pem berontak pengkhianat ?"

Kok Tiong takut hingga semangatnya seperti terbang meninggalkan tubuh raganya, ia lantas mementang mulutnya lebar-lebar menteriakan .

"Perutusan itu perutusan yang diundang Seri Baginda sendiri ! Mereka tidak sangkut pautnya dengan aku! Oet-tie Ciangkun ! Tiat Touw-ut ! Jangan kamu sembarang menuduh ! "

Suara berisik luar biasa, sia-sia belaka teriakannya Yo Kok Tiong itu, tidak ada yang menghiraukan, hingga ketika ia meng ulangi, cuma terlihat mulutnya berkelemak, kelemik.

Beberapa tentara mendapat dengar akan tetapi tidak ada gunanya.

Inilah sebab kebencian umum terhadapnya sudah mendalam, Sekongkol dengan pihak asing melainkan satu alasan saja.

Ada dua orang pahlawannya Yo Kok Tiong, yang setia kepada dorna itu, mereka mau melindungi majikannya itu menyingkir dari tempat yang berbahaya itu, tapi mere ka segera kena dihajar roboh oleh Tiat Mo Lek, yang membacok mereka dengan pedangnya.

Sebagal kesudahan cari itu, meluruklah semua tentara, menyerang kepada Yo Kok Tiong.

Di dalam tempo sedetik, habis sudah tubuh si dorna yang berdarah daging itu, yang tercingcang pelbagai senjata tajam.

Oet-tie Pak gagah berani, akan tetapi, menyaksikan peristiwa itu, ia terkejut hingga ia tercengang.

Sebenarnya ia masih hendak mengancam Yo Kok Tiong supaya Mo Lek dibebaskan dari tuduhan.

Itulah diluar dugaannya.

Mo Lek sendiri tidak menyangka bakal terjadi demikian.

Kawanan tentara itu belum puas dengan membinasakan Yo Kok Tiong seorang, merekapun membunuh Yo Soan, anaknya si-dorna yang berpangkat Hu Pou Sie-lorg, menteri urusan penghasilan negara dan rakyat.

Lalu, dalam kalapnya, mereka juga hendak mencari Yo Kui Hui, guna menumpas keluarga Yo!

Kedua saudaranya Yo Kui Hui, yaitu Han Kok Hujin dan Kok Kok Hujin.

ketika mereka mendengar keributan itu, menjadi sangat ketakutan, dengan tersipu-sinu "mereka menyingkirkan diri dengan naik kereta.

Akan tetapi tentara tersebar dimana mana, mereka terlihat mereka lantas dikejar.

Paling dulu Han Kok Hujin mati dicincang Kok Kok Hujin kabur terus sampai keretanya terpegal.

Disaat mengancam seperti itu, ia lupa akan derajatnya send ri.

la menyingkap tenda kereta, ia menghadapi semua tentara untuk memohon ampun.

Ia berkata.

,Bukankah kamu telah bunuh kakakku Akulah seorang perempuan, tidak campur dan tidak tahu menahu urusan kakakku itu"

Tolong kamu mengasihani aku ibu dan anak, kamu ampunilah aku!

Sembari meratap-ratap itu, nyonya itu menyebar emasnya, ia memang tiga lipat lebih cantik daripada Yo Kui Hui, maka juga penyair kesohor di-jaman itu, Chang Ku, pernah menulis syair memujinya.

Kok Kok Hujin menerima budi raja.

Diwaktu fajar dapat menunggang kuda memasuki pintu istana.

Ia menampik yancie dan pupur, yang dikuatir merusak parasnya.

Ia cuma menyipat ringan hasilnya, toh ia bukan main agungnya."

Demikian, saking dicintai raja, sekalipun diwaktu fajar, dia dapat keluar masuk dipintu istana dengan menunggang kuda.

Ia menolak untuk makeup, ia berias tanpa pupur dan yancle.

Ia kuaatir yan cle dan pupur justeru mengotorkan parasnya.

Kalau ia toh menyipat alis, ia menyipatnya tipis sekali.

Dengan berias secara sederhana itu; ia tetap dapat "merobohkan negara,"

Yaitu membuat raja tergila-gila.

Rombongan tentara itu tidak menghirau kan harta yang dihamburkan, mereka sebaliknya tercengang menandang wajah siselir yang cantik itu, sedang ketika itu, dengan ratapannya.

siselir terlihat lemah dan mengharukan, mendatangkan rasa ka"ihaii siapa juga.

Tidak ada orang yang mau turun tangan, walaupun tangan merskan siap sedia dengan senjatanya masing-masing.

Maka kusirnya si nyonya menggunakan ketika itu mengaburkan kudanya, menyingkir dari kurungan.

Tapi selir ini bebas buat sementara waktu saja.

Sekeluarganya dari batas perhentian Ma Gui Ek, ia tidak dapat barang makanan, ia kelaparan selama beberapa hari hingga tubuhnya jadi kurus kering, dan tempo akhirnya ia lari sampai d Tin-chong disana ia Kena ditangkap Camat Sie Keng Sian yang mengejarnya bersama-iama rakyat negeri, terus ii dibunuh mati, hingga tamatlah riwayatnya.

Tentara yang disebelan belakang mencari kawan-kawannya yang didepan yang membiarkan

Diantara mereka ini ada yang berteiiak-teriak.

"Membabat rumput harus berikut akarnya! Rase sudah lolos biarlah! Sekarang kita mesti cari rase lainnya! Yu Kui Bui! Dia itu tidak dapat lolos lagi!"

Teriakan itu lantas mendapat sambutan riuh.

Sekarang ini tak usah tentara itu mendapat pimpinan lagi.

Mereka sudah anta mengurung Heng Kiong, .kuil tua dan bobrok itu.

Mereka berkaok kaok meminta supaya Seri Baginda Hian Cong lantas menghukum mati pada Yo Kui Hui!

Raja ketahui pemberontakan tentaranya itu, tak berani ia muncul, ia cuma menitahkan Liong Houw Tay Ciangkun Tan Goan Lee yarg pergi menemui untuk membujuki mereka supava tentara itu kembali ketangsinya masing-masing Fan Goan Lee menurut, ia menghadapi tentaranya.

Ia berkata.

"Kamu sudah membinasakan Yo Kok Tiong, kenapa kamu masih belum mau mengundurkan diri7 Bukankah dengan begini kamu jadi membikin kaget pada Seri Baginda? "

Entah siapa yang membuat syair, atas teguran panglima perang itu, tentara menyambut dengan nyanyiannya ini.

"Walaupun dorna sudah dibunuh. Akarnya masih tetap tumbuh! Jikalau akar tak disingkirkan. Mana hati dapat ditenangkan?"

Dengan terpaksa Tan Ciangkun kembali kedalam, untuk memberi laporan. Kata ia, menambahkan.

"Maksudnya tentara itu, meski juga Yo Kok Cong sudah disingkirkan. tetapi mereka tak menghendaki Yo Kui Hui terus berkuasa"

Maka itu hamba mohon keputusun Seri Baginda."

Paras raja menjadi pucat. Ia menangis waktu ia berkata . Kui Hui berdiam didalam keraton, Kok Tiong telah di binasakan apa sangkut pautnya dia dengan Kui-Hui"

Sekarang ini kami sudah terlunta-lunta, di sampingku tinggal Kui-Hui satu orang-tinggal dia yang dapat meng libur hatiku karena itu, mana tega kami menyingkirkan dia ?"

Tan Goan Lee berdiam, tetapi matanya di pentang lebar.

la melirik kepada Kho Lek Su yang berdiri disisi raia Dialah orang ke biri yang paling di sayang hingga pengaruhnya menjadi besar, sedang&an terhadap Yo Kui-Hui, dialah yang paling pandai mengambil hati.

Sekarang dia lagi ketakutan sangat, takut sekali dia nanti dituduh sebagai konco Yo Kui Hui, telinganya terus mendengar hiruk-pikuknya tentara diluar kuil.

Mereka itu masih tetap berteriak an.

Ketika dia melihat lirikannya Tan Goan Lee, hatinya mencelos.

Dia takut bukan main.

Tapi toh dia mendapat pikiran.

Maka lantas dia berlutut didepan junjungan nya, akan berkata.

"Benar Kui-Hui tidak bersalah dan tentara sudah membunuh Kok Tiong, akan tetapi Kui-Hui tetap berada di sisi Seri Baginda, mana dapat hati tentara itu ditenteramkan? Maka itu hamba mohon Seri Baginda sudi memikirkannya. Jikalau hati tentara tenang maka Seri Baginda pun akan selamat. Wio Giok, yang berpangkat Keng tiauw Su-lok. berlutut dan berkata.

"Kemarahan umum sulit untuk di tentang, maka itu keselamatan dan kecelakaan kita tinggal bergantung pada saat sedetik ini . -. Jikalau Seri Baginda tidak tega melepaskan Kui-Hui maka dikuatir mungkin tentara pun tega terhadap Seri Baginda sendiri oleh karena itu hamba mohon Seri Baginda -suka menguatkan hati. menahan sabar dan membuang rasa cinta. Ini semua untuk membikin negara aman-sentosa."

Kaisar berdiam akhirnya ia mengangguk belum lagi ia membuka mulutnya maka di belakang tirai telah terdengar ratap tangisnya Yo Kui-Hui.

.,Aku telah dengar semua pembicaraan kamu!

berkata selir itu.

,,Seri Baginda, haraplah Seri Baginda merawat diri baik-baik jangan Seri Haglnda pikirkan pula padaku...

Paras raja pucat sekali.

Ia mengulapkan tangannya tanpa besuara.

Tan Goan Lee dan yang lainnya mengarti mengundurkan diri.

Segera juga raja berhadapan dengan selirnya.

Ia masih tak dapat mengucapkan se iuatu.

Yo Kui Hui masih mempunyai harapan kata ia sambil menangis.

"Sam-long, masih ingatkah kau kejadian pada tanggal tujuh bulan tujuh tahun dahulu itu, disaat mala-man tidak ada lain orag? Bukankah ketika jtu telah berbicara dipendopo Tiang Seng Tian? Apakan kata kata kita waktu itu?"

Kaisar menjadi putera yang ketiga maka itu ia dipanggil samlong.

Sahut raja ,.Kata kata malam itu ialah dilangit kita akan jadi burung pie ek, didunia menjadi pohon lian-lie-kie Selirku Kami ingin semuanya kita menjadi suami isteri tetapi ..,,Pie-ek ialah burung yang mempunyai cuma satu (sebelah) sayap, maka untuk terbang, dua ekor mesti terbang berendeng bersama.

"Lian-lie-kie ialah pohon yang cabangnya nempel satu dengan lain. Itulah perumpamaan untuk suami dan isteri. Baru raja berkata sampai disitu ia telah mendengar gemuruh lebih hebat dari tentara diluar kuil, ia kaget hingga parasnya menjadi jangat pucat, air matanya lantas mengalir deras, la tidak sanggup meneruskan kata-katanya itu. Yo Kui Hui tahu bahwa ia sudah habis pengharapannya, maka sembari menangis se dih, ia kata. ,,Buat guna keselamatan negara dan Seri Baginda hamba rela untuk dihukum mati, cuma hamba mohon supaya hamba nanti mati utuh ....Kaisar pun menangis. Kata ia. .Semoga dengan pengaruh Sang Budaha kelak kau akan dapat menitis pula dengan baik."

Terus ia menoleh kepada Kho Lek Su, untuk memanggil. ,,Kho Lek Su mari!"

Sambil me manggil ia mengambil sekayu sutera putih, yang mana dilemparkan kepada orang kebiri itu sambil ia menambahkan.

"Kau bawa Kui Hui kabelakang Sang Buddha, kau mewakilkan kami mengantarkan Kui-Hui naik ke wilayah dewa dewa."

Dibelakang Ruang Buddha itu ada sebuah pohon, kesana Yo Kui-Hui dibawa.

Pada pohon itu dia menggantung diri hingga mati, dalam usia tiga puluh delapan tahun, Kematian Yo Kui-Hui ini kemudian di buatkan syair oieh Po Chu I.

syair mana memakai kalimat , Chang Hen Ko yaitu nyanyian penjelasan yang panjang.

Syair itu mengambil dasar peristiwa diperhatikan Ma Gui Ek ini, Kaisar sendiri jalan mordar mandir di-samping ruang Buddha itu, Tidak ada orang disisinya karena orang pada menjauhkan diri.

Ia tidak berani melihat Yo kui Hui saat kematiannya selir itu, tapi ia tak tega hati untuk meninggalkannya jauh jauh.

Ti dak lama maka ia mendengar suara rontoknya daun-daun, Ia menduga daun rontok itu disebabkan tubuo Yo Kui Hui meronta-ronta atau berkelajatan.

Suara itu disusul dengan suara nyaring dari jatuhnya serupa barang mungkin itulah tusuk kondainya se lir itu.

Ia lantas menutupi mukanya ia menarik"napas panjang, Didalam kesedihannya yang sangat itu tiba-tiba ia pun merasa hatinya lega.

Rupanya tentara diluar kuil sudah mendapat tahu apa yang terjadi didalam kuil suara berisik mereka sirap dengan perlanan-lahan.

Memang selir raja yang paling disayang sudah mati, tapi sekarang raja pun bebas dari ancaman bahaya Ia menjadi tidak tahu ia harus berduka atau mesti bergirang.

Dalam keadaannya raja.

seperti itu, tiba tiba ada bayangan yang menghampirkan nya.

Bayangan itu muncul dari pojokan.

Be gitu sampai didepan raja dia monj ituhkan diri untuk berlutut Dia pun berkata dengan perlahan sekali "Harap Seri Baginda jangan berduka hamba hendak melaporkan sesuatu."

"Minggir,"berseru raja mengusir. Ia gu sar sekala.

"Aku tidak pedulikan lagi urusan apa juga!"

Ia menyangka kepada seorang kebiri.

Akan tetapi setelan ia menoleh, ia melihat seorang perwira yang menggantung kan pedang dininggangnya..

Ia menjadi kaget sekali.

Segera ia menegur.

, Kau ..kau datang kemari buat apa"

Habis menegur, baru saja mengenali Oe bun Thong ia tadinya menyancka panglima nya itu turut dalam kawanan tentara yang berontak"

Itu. Lantas ia bertanya.

"Kami sudah menghukum mati pada Kui Hui mustahilkah tentara masih tidak suka memberi ampun kepada kami? "

Tapi jawabnya Oe-bun T h on f adalah.

"Apakah Seri Bagainda memikir untuk mem balaskan sakit hatinya Kui Hui?"

Kian Cong menggoyangkan tangannya berulang-ulanj?.

atau mendadak ia mendapat pikiran.

, Jikalau Oe-bun Thong berontak, tidak nanti dia masih menjalankan kehormatan sebagai menteri kepada rajanya.

Ma ka ia lantas merobah sikapnya.

, Kata ia kau bangunlah!

Kau hendak bicara apa ?

Bicara dengan perlahan !"

Ia sendiri bicara perlahan sekali. ,,Pemberontakan tentara ini dsebabkan ada yang anjurkan"

Kata Oe-bun Thong.

"Siangnya dan Lu i Hui tidak harusnya mati semua-mua sebab orang itu "

"Siapakah dia ?"

Raja menyela.

Oe-bun Thong mau menyebut nama orang, atau ia membatalkannya dengan tiba tiba.

Selagi ia mau membuka mulutnya, Ia mendengar suara tindakan kaki.

Bersama sama raja, ia lantas berpaling, Yang datang itu ialah Tan ciangkun Tan Goan Lee bersama Tiang lok kongcu, Si puteri dengan niat menghibur ayahnya dan si kepala perang guna memberi laporan seraya bermohon raja menghiburi tentara.

Melihat tuan puteri hati Oe bun Thong berdebar, batal bicara dengan raja, ia terus berkata dengan panglima perang besar itu.

,,Aku kuatir tentara yang mengamuk itu nanti menerobos masuk kemari, dari itu aku datang untuk melindungi Seri Baginda"

Tan Goan Lee tidak menanya perwira ini pertanyaannya itu menjadi berlebihan, karenanya Tiang Lok Kongcu menjadi heran dan bercuriga. Tan Goan Lee lantas berkata.

"Semua perwira dan tentara setia kepada Seri Bagin da, karena itu Seri Baginda jangan berkua-tir, dan berduka. Sekarang silahkan Seri Baginda mengeluarkan firman untuk menghibur mereka itu. supaya hati mereka menjadi tenteram. Kaisar menerima baik usul itu, bahkan ia lantas mengeluarkan firmannya ia menitahkan panglima perang ini yang menyampaikan firman itu didalam mana antaranya diterangkan. Yo Kok Tioig berdosa. dia pantas menerima hukumannya itu, Raja ma lah memberikan pujian kepada tentara bah wa sama sekali tidak ada niatnya untuk menarik panjang peristiwa itu. Ditambahkan. bahwa Yo Kui Hui juga telah bmfsa karena ia dijatuhkan hukuman Ketentaraan Dia akhirnva diharapkan semua perwira dan tens tara bertenang hati. Walaupun ada pemberitahuan itu, tentara maaih belum percaya kematian Yo Kui Hui maka itu raja menitahkan Kho lek Su membawa mayat selirnya untuk dipertonton kan. Mayat itu diletakkan diatas gotongan, pembaringan dengan ditutupi sutera, Baru setelah menyaksikan itu, tentara memperdengarkan teriakan mereka. ,,Hidup Raja!"

Dan bubarlah.

Roja kemudian menitahkan Kho Lek Su merawat mayatnva Yo Kui Hui, buat dikubur dengan baik.

Selagi begitu dari kejauhan, terlihat dua orang penunggang kuda lagi mendatangi dengan cepat.

Mereka itu lantas dipegat dengan tentara, untuk dinyatakan dahulu keterangannya.

Ternyata merekalah pesuruh dari Tuysiu di Kong-goan yang membawakan buah lee-cie.

Yo Kui Hui sangat menyukai buah itu Ia asal orang tanah Siok dan ditanah Siok itu tumbuh pohon buah tersebut.

Sebenarnya buah lee-cie dari tanah Siok kalah lezad dengan keluaran dari Leng lam.

Semenjak menjadi selir dari raja, tak peraah Yo Kui Hui makan pula lee-cie dari kampung halamannya, sebaliknya ia menghendaki cie su pembesar dari Leng lam.

mengatur pesuruh istimewa, untuk saban-saban mengirimkan buah lee-cie Leng-lam itu.

mengenai ini Tu Mu sampai membat syairnya.

"Seorang penunggang kuda dengan debu merahnya maka tertawalah Kui Hui ! Tak ada yang ketahui bahwa sebenar-n ya buah lee-cie sudah datang!"

Taysiu dari Kong goan itu telah mendapat pemberitahuan halnya raja dan selirnya, bakal datang ketanah Siok, ia pikir.

"Disaat Kui Hui lagi mengungsi ini dia tentu tidak bakal makan lagi buah lee eie asal kampung halamannya supaya dia senang. Dia tahu atau dia tidak menyangka selagi buah tiba jenazah siselir tengah dimasuki kedalam tanah. Tentara tertawa melihat buah lee-cie itu, yang dimuatkan dengan dua keranjang besar. Hanya sebentar habis sudah dipesta-porakan mereka sebuah juga tidak ketinggalan. Sementara itu raja telah memerintahkan Tan Goan Lee menertibkan pasukan perangnya untuk mereka meianjut an perjalanan, Ketiga itu selain keadaan sudah reda betul, gangguan hujan dan banjir juga telah hilang, lalu lintas sudah pulih. Orang juga lega hatinya. Hanya ketika penertiban dilakukan, masih ada satu soal sebuah gelombang kecil ... Yo kok Tiong berasal dari tanah Siok sebawahannya, juga banyak orang berasal dari wilayah itu; Diantara mereka itu ada bagian yang tidak sudi berjalan terus kebarat, sebaliknya mereka minta diijinkan pergi ke Hoo-liong, atau ke Taygoan atau pun dipulangkan ke kotaraja, Oleh karena lalu lintas sudah pulih, raja pun disamout oleh Lu Hu pembesar da ri Ho hong yang datang bersema sejumlah penduduk kotanya yang ingin menghadap junjungannya. Dialah pembesar yang berani kepada raja dia mengusulkan untuk raja kembali saja ke Tiang-an. Katanya mereka ber ramai bersedia melindungi sang junjungan Hati raja belum tenteram tak dapat ia menerima usul ini, Tak berani ia kembali ke Tiang-tn. Pasukan dari An Lok San justeru lagi menuju kekotaraja. ia lebih suka, tinggal di tanah Siok. Tanah yang indah yang jauh terlebih baik daripada wilayah lainnya. Ia merasa ditanah Siok ia bakal hidup senang buat banyak tahun lagi. Tapi sulit buat ia lantas mengambil keputusan. Sudah ada soal sisa tentara Yo Kok liong, timbul pula usul ini. Putera mahkota yang bernama Lie Keng besar hatinya, Dia justeru telah memikirkan untuk memperoleh kekuasaan besar Dia hendak perkuat kedudukannya untuk nanti dia naik atas tahta kerajaan. Melihat keragu-raguan raja dia berkata.

"Pemberontak lagi melakukan penyerangan negara kacau, kalau kita tidak mendapatkan hati rakyat, mana kita bisa bangun kembali ? sekarang ayah mau pergi ke tanah Siok, jikalau pemberontak memutuskan jalan Cian too pastilah wilayah Tiong-goan akan terjatuh kedalim tangannya. Sementara itu sebagai orang agung, ayah tidak dapat menempuh bahaya. Oien karena itu, baiklah sekarang Sin-jie yang pergi mengumpulkan tentara dibarat daya, untuk memanggil Kwe Cu Gie dan Lee Kong Pek diutara, supaya mereka bekerja sama, membasmi pemberontak guna merampas pulang kedua kotaraja. Setelah aman diluaran, barulah kita menyapu suasana buruk didalam istana untuk menyambut ayah pulang. Raja cocok sekali dengan kata-kata puteranya itu. la senang melihat sang putera mengajukan dirinya. Maka lenyaplah kesangsiannya. Lantas ia mengangkat Tayciu Lie Heng menjadi Thian Hee Peng Ma Tay goaniwee, panglima besar dengan Kwee Cu-Gie sebagai pembantunya Ku Goanswee dan Kwee Cu Gie diperintah bersatu hati menumpas pemberontak. Hanya kemudian putera mahkota ini tanpa menanti ayihnya. wafat telah mengangkat diri meniadi raja di Leng bu dengan menyebut difinya, Kiasar Siok Cong. Habis badai tentara itu Mo Lek mengambil keputusan buat meninggalkan pang katnya akan tetapi melihat pengumuman Kaisar yang tidak menarik panjang peristiwa itu, ia berpikir lain. Katanya didalam hati. ,,Siraja tua tidak dapat hilang kepercayaannya dari rakyat ! Didalarn pengumu mannya terang sekali ditulis bahwa perkara tidak akan ditarik panjang, sedangkan Yo kui Hui sudah dihadiahkan kematiannya. Apakah yang ku kuatirkan, pula ? Seorang laki-laki dia mesti bekerja sebagai jantan juga, dia mesti bertanggung jawab dari mulanya sampai diakirnya ! Aku telah memberikan janjiku kepada suheng untuk melindungi si raja tua kalau aku buron ditengah jalan, apa kata perbuatanku itu. Tidak bisa lain, kalau orang mengantarkan sang Buddha dia mesti mengantarkan terus sampai dilangit Barat ? Batal mengangkat kaki Mo Lek tetap turut didalam rombongan kerajaan ini Dite ngah jalan itu, tiba-tiba Oe-bun Thong datang padanya, untuk berkata. ,,Tiat Touw-ut, Seri Baginda menitahkan kau membawa beberapa puluh tentara San tie untuk ber jalan dibelakang, guna melindungi barang barang berat, tak usahlah kau mengiringi lagi keretanya tuan puteri!"

Mo let percaya kata-kata itu.

ia menerima baik.

ia memang hendak menjauhkan diri dari Tiang Lok Kong Cu.

Lantas ia peigi kebelakang.

Perjalanan dilanjuti terus menuju ke Barat.

Jalanan ditanah Siok sudah kesohor sukarnya, maka itu setiap Jiari ada saja ter dengai"

Keluhan tentara Syukur selanjutnya, rangsum cukup Karena Yo Kok Tiong yang benci sudah mati, tentara itu bersemangat berani mereka melawan kesukaran itu.

Girang mengeluh buat jalanan yang sukar tetapi tidak ada yang penasaran atau menggerutu.

Pada suatu hari tibalah orang di Kong goan.

Daerah itu sudah termasuk dalam daerah Siok.

Raja mengingat penderitaan tentaranya ia memberi cuti tiga hari Malam itu Mo Lek bersama Cin Siang dan Oe tie Pak berkumpul minum arak sam bil memasang omong Tengah asyiknya mereka mendadak ada seorang thaykam yang becara tergesa-gesa datang kepada mereka.

,,Kong kong ada apakah ?"tanya Oe-tie heran.

,,Seri Baginia menitahkan memanggil Tiat Touw-ut menghadap sekarang juga sahut orang kebiri itu.

"Oh, kiranya ada panggilan ""

Kata Oet-tie Pak "Saudara Tiat, aku justru lagi luang tempo, mari aku temani kau !"

Oet-tie Pak bertugas melindungi keluarga raja ia dapat masuk ke istana tanpa menanti panggilan, benar sekarang mereka berada ditengah jalanan tetapi aturan berjalan terus.

Itulah sebabnya mengapa ia mengatakan demikian.

Tapi orang kebiri itu segera berkata.

"Seri Baginda cuma memanggil Tiat Touw-ut. Sekarang ini para penjaga di Hengso telah berganti orang, karena itu. Oet-tie Ciang kun silakanlah minum terus saja!"

Heng-so itu ialah tempat kediaman raja Oet tie Pak dapat keluar masuk didalam istana, akan tetapi, buat menghadap raja, ia perlu melaporkan dahulu atau menerima panggilan sekarang ia mendengar suaranya siorang kebiri, yang terang tidak menghendaki ia turut bersama, ia tidak memaksa.

Ia tertawa.

dan kata.

.,K.arena di Heng-so tidak ada kerjaan, suka aku melewatvan tempo menganggurku disaini "

Saudara Tiat.

akan kami tunggu pulangmu, untuk kita m"inum pula !

Adalah biasa yang raja memanggil ham banya, maka itu Oct tie Pak tidak curiga apa apa.

Mo Lek sebaliknya.

Ia heran, hmg ga timbul kesangsiannya Pikirnya.

Didalam peristiwa di Ma Gui Ek itu akulah biangkeladinya walau pun Seri Baginda sudah mengumum kau siapa juga tak akan di tarik panjang, toh aneh sikapnya raja.

Kenapa ia tak menghendaki aku mengiringi tuan puteri?

Bukankah itu bukti bahwa dia mencurigai aku, bahwa aku tak dipercaya penuh seperti tadi tadinya?

Laginya, mau apa sekarang aku di panggil datang sendirian saja ?

Ah mustahilkah ini ada kehendaknya tuan puteri ?"

Dasar dia jujur, walau pun dia bercuriga. Mo Lek akhirnya dapat melegakan hatinya. Ia ingat poribasaha yang membilangi. ,,Raja tak pernah bicara main main.

"Ia tidak menduga bahwa raja hendak menceia kai dia, ia hanya menyangka kepada Tiang Lok Kongcu, bahwa itu di sebabkan tuan puteri tidak dapat melupan ia, hingga puteri itu bermanja dan meminta pertolongan ayahnya memanggil dia. Dengan pikiran itu, meski ia merasa se dikit kurang enak hati, Mo Lek ikut orang kebiri itu. Kota Kong goan berada digaris belakang yang berpisah jauh dari medan perang sedangkan thay Jin kota konggoan telan menyediakan junjungannya sebuah heng so a tau pesanggerahan-yang oesar dan indah hingga mirip istana Tentu sekali heng so ini sanggat jauh bedanya dengan kuil obrok di Mi Guj Ek. Disini pula segala persediaan, atau perjalanan lengkap dan sempurna. Mo Lek mengikuti siorang kebiri melintasi sebuah lorong yang panjang. Morang kebiri memakai aturan seperti biasa, dia berjalan dimuka. selewatnya lorong, dia berseru. ,,Tiat Touw-ut yang menerima perin-tak panggilan dari Seri Baginda sudah sampai ! "

Justru itu waktu seorang dayang yang romannya sangat bingung, -sambil menyender didinding, melempar sebuah benda ke arah Mo Lek, kebetulan sekali, Mo Lek tengah menghadapi nona pelayan itu, maka ia lantas mengenali dialah dayangnya Tiang Lok Kongci.

Dengan sebat ia menyambut benda itu ialah segumpal kertas.

Tentu saja ia menjadi heran, hingga ia terperanjat.

Lekas lekas tetapi diam diam, ia buka kertas yang tergumpal itu Sementara itu, ia berjalan terus.

Baru saja ia melihat tulisannya, dua huruf yang besar, ia justeru mendengar suaranya orang kebiri pengawal pintu.

, Panggillah Tiat Touw-ut menghadap Seri Baginda!

Atas itu siorang kebiri pengantarnya menoleh sambil berkata.

"Tiat Touw-ut sekarang dapat kau masuk ke dalam ! "

Tatkala itu sidayang sudah menghilang di pintu pojok.

Mo Lek menenangkan hatinya, la menggertak gigi untuk bersikap wajar, seperti ju ga ia tak baru mengalami sesuatu yang mengherankannya.

Ia bertindak mengikuti orang kebiri pengawal pintu itu.

yang disebut hong-bun-kho.

Ia melintasi lorong, untuk memasuki sebuah ruang didalam sun.

kecuali raja ada juga Oe bun Thong seorang, sebagaimana layaknya seorang menteri Mo Le menjalankan kehormatan sambil menyerukan tiga kali "Ban-swee!"

"Berbangkitlah, ay-keng!"

Kata raja sabar.

"Duduklah!"

Kata kata "

Ay keng"

Itu berarti "menteri yang dikasihi."

Itulah sebutan raja untuk menterinya. Hati Mo Lek tetap tidak tenteram. Ia mengucap terima kasih baru ia duduk. Segera juga raja tertanya.

"Kabarnya dalam peristiwa di Ma Oui Ek itu, kaulah yang memimpinnya. Benarkah itu?"

"Nah, inilah dia!""

Kata Mo Lek didalam hati. Didalam hal itu, ia sudah berpikir karenanya, ? tidak takut. Ia menjawab dengan cepat.

"Harap Seri Baginda maklum. Ketika itu kemarahan tentara sedang meluap . a,, h air b a teh h ditunjerg mereka itu, hamba tidak bisa berDuat lainnya ""

Kata raja pula.

"kalau begitu, nyalimu sungguh tidak keci ! "

Mo Lek berlaku tenang, ia menjawab pula.

"Hamba cuma memikirkan dorna untuk kebaikan Sen Baginda, karena itu baik keselamatan maupun bencana, hamba tidak pernah hiraukan! Jikalau seri Baginda menganggap perbuatan hamba itu tidak selayaknya, hamba bersedia akan menerima hukuman walaupun mesti tidak nanti hamba menampik!"

Tenang hamba ini tetapi suaranya tetap dan gagah. Baginda "Hian Cong menggeleng kepala.

"Ay-keng menafsirkan keliru maksuk kami,."

Katanya.

"Orang bernyali besar dan setia sebagai ay keng, untuk mencarinyapun kami tak bisa mendapatkannya aarena itu mana kami ingin menghukummu ? Oidalam maklumat juga kami sudah tegaskan bahwa perkara itu kami tidak tarik panjang bahwa orang yang menyingkirkan dorna justru kami puji tinggi akan dihadiahkan. Sekarang kami memanggil kau datangpun karena ka-mi hendak memberi anugerah kepadamu. Tiat Ceng, dengar!"

Didalam hatinya Mo Lek kaca.

"Sebe narnya raja tua ini lagi main sandirawa apa?"

Tetapi ia lantas beriutut, untuk mendengar anugerahnya. Raja terdengar berkata.

"Kami angkat kau menjadi Liong Kie Touw-ut untuk turun temurun serta mendapat hadiah setangkai bunga kiong boa dan arak istana tiga cawan!""

Menurut-aturan dijaman Ahala Tong itu, cuma seorang yang lulus sebagai Cong-goan....lulusan nomor satu dalam ujian dida lam istana., .yang mendapat hadiah kiong-hoa....Bunga istana, maka itu, kehormatan ini menjadi satu kehormatan yang luar biasa besarnya.

Inipun berada diluar sangkaan Mo Lek.

Ia lantas menyambuti kionghoa, untuk ditancap diujung bajunya, kemudian ia menyambuti arak dari tangaa raja sendiri.

Cepat didetik itu, Mo Lek ingat bunyi nya surat yang kertasnya dilemparkat kepadanya oleh dayangan Tiang Lok Kongcu.

Itulah cuma dua huruf, yang huruf hurufnya sangat besar Dan bunyinya dua huruf itu yalah "Lekas Pergi."

Tentu saja, mengingat surat itu ia jadi berpikir.

Itulah pem berian dari Tiang Lok fcongcu !

Pemberian itu mestinya bukan tidak ada alasannya !

Tuan Pdteri menyuruh aku lekas pergi dia tentu ketahui raja hendak membikin celaka padaku, sebaliknya sekarang raja menganugerahkan aku pangkat serta menghadiahkan bunga istana dan arak!

Ah, mungkinkah arak ini ada keanehannya"""

Mengingat begini, Mo Lek berlaku waspada.

ta tidak lantas mencegluk arak itu, ia bukan bawa uu kemulutnya untuk ditempel pada bibirnya, hanya kedepan hidung nya untuk ia membaunya, seteiah itu mendadak ia me"emparkan cawan berikut isi araknya itu kelantai!

Segeralah terdengar suara mengpomprang keras, cawan itu hancur berarakan, dan araknya melulahan !

Yang aneh yalah arak itu yang terus muncrat dalam rupa lelatu api !

Maka terangkah akak itu beracun!

Disaat itu, bukan buaian gusarnya Mo Lek.

Diapun kaget ekali.

Mimpipun tidak ia bahwa raja dapat menggunai itu macam akal hina dina untuk meracuni orang yang melindungi keselamatannya !

Justeru itu, rajapun berseru.

Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 6

Baca Juga: Pendekar Gelandangan 1

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger