Kisah Bangsa Petualang 10

Eps 10 Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen

Baca online Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen

Cersil Kisah Bangsa Petualang - Liang Ie Shen.

"Tiat Ceng menghina junjungannya ! Hadiahkan kamatian kepadanya! Berbareng dengan seruan raja, Oe bun Thong berlompat kepada Mo Lek untuk menyerang dengan jeriji jeriji tangannya yang kuat bagaikan ujung tombak, buat menotok jalandarah kematian anak muda itu! Mo Lek mendapat lihat gerakan sepnya itu, sedang telinganya mendengar perintahnya raja. Walaupun Keadaan sangat sekuiut ia suah bersedia. Atas datangnya serangan itu, ia memutar tangannya, untuk menyampok dengan hebat. Itulah serangan untuk celaka bersama! Oe-bun Thong sudah pernah berkenalan dengan cara penangkisan berbareng penyerangan itu, ia tidak berani mengadu tangan. Keras lawan keras berarti kerugian buat pihaknya. Maka ia menarik pulang tangannya sampai ia menggeser tubuhnya, buat memindahkan tubuh kebelakang orang, untuk dari situ meneruskan monotok pula ke-punggung, ke jalan darah hong-hu. Mo Lek tidak bergerak tanggung-tanggung. Ia menyampok pula. Setelah itu, ia balas menyerang. Oleh karena ia terus bersikap keras, ia membuat lawan terpaksa mun dur tiga tindak. Ketika itu ia berseru nyaring. ,,Raja tua! Jikalau kau dapat mengemukakan alasan yang tepat jikalau kau menghukum mati padaku dengan cara terus terang akan aku menerima hukumanku, tidak nanti aku menolak! Sekarang, tak selayaknya kau mengeluarkan kata-kata tetapi taspa bukti kepercayaannya Kenapa kau hendak membikin celaka menteri yang setia? Maafkan, aku tidak dapat menjadi budakmu lagi!"

Kata-kata ini ditutup dengan gerakan menghunus pedangnya, dengan membawa pedang, anak muda ini bertindak cepat kearah pintu, guna menerobos keluar.

Hian Cong kaget bukan main takutnya bukan buatan, akan tetapi, melihat orang tidak menghampirkan padanya, hatinya menjadi lega.

Justeru itu timbullah niatnya membalaskan sakit hatinya Yo Kui Hui siselir tercinta.

Maka ia berseru pula.

"Raja menghendaki menterinya mati, tak dapat tidak, si menteri mesti mati! Ayah meng hendaki anaknya mati, tak dapat tidak, sianak mesti mati! Kau tidak memandang jun junganmu, kau mesti mati! Buat apakah kau meranyakan lagi dosamu? Para siewie tangkap dia, cincang padanya! Oe-bun Thong tidak menanti perintahnya raja ia sudah mencabut poankoanpit, ialah senjantanya yang mirip alat tulis, gegaman peranti menotok jalan darah, sambil membawa itu, ia lari keluar untuk memburu. Sementara itu diiur pintu telah terdengar bentakan-bentakan para siewie yang bersikap hendak memegat. Mo Lek membentak juga "Siapa menentang aku, dia mampus! Siapa menyingkir, dia salamat!"

Dan ia putar pedangnya hingga menderu deru Ia menerobos terus keluar "istana."

Para siewie yang bertugas menjaga di-situ menjadi orang orang sebawanannya Oet-tie Pak.

mereka beraksi untuk memecat tetapi mereka tidak merintangi, begitu mereka maju sambil berteriak-teriak, lantas meresa mundjr pula.

Mereka semua kenal Mo Lek.

Pertama-tama mereka mereka.

Kedua mereka juga kenal baik sekali liehaynya sianak muda.

Dan ketiga inilah orang yang gagah yang mula pertama bertindak membelai kepuasan mereka.

Demikian mereka membawa aksinya, mereka maju dan mundur tapi selekasnya si anak muda lewat, mereka maju pula berikut teriakan-teriakan mereka.

Dengan begitu tanpa disengaja mereka justeru seperti menghalang-halangi Oe bun Thong.

Dengan merdeka Mo Lek dapat keluar dari heng-so.

Disitu ia merampas seekor kuda istana, dengan duduk diatas punggung binatang itu, sambil menggunakan cambuknya, ia kabur lebih jauh, terus keluar kota.

Penjaga pintu kota ialah tentara dibawah perintahnya Cin Siang mereka itu kenal anak muda ini, mereka memegat untuk menanyakan orang mau pergi keluar kota buat urusan apa.

Mo Lek menjawab ia lagi menjalankan firman raja, untuk pergi keluar kota.

Atas itu dengan lantas pintu kota dipentang.

Tepat itu waktu terdengar teriakannya Oe bun Thong yang lagi mendatang.

.Jangan buka pintu kota!

Dialah pemberontak!"

Oe-bun Thong juga menunggang seekof kuda karenanya dia hampir dapat menyan-dak Mo Lek terlambat sebab ia mesti menghentikan kudanya untuk melayani tentara-tentara penjaga pintu kota itu.

Jarak di-antara mereka jadi tinggal hampir seratus tinaak.

Tentara-tentara penjaga kota menjadi kaget, mereka pada berseru.

"Oh!"

Semuanya tercengang saking heran. Justeru itu, Mo Le4 menggeprak kudanya, buat dikaburkan melewati pintu kota. Justeru Setelah itu tentara-tentara itu repot hendak menutup pintu.

"Setan alas berteriak Oe-bun Thong dengan gusar sekali.

"Apakah kamu sudah lewat, buat apa kamu menutup pintu?"

Talam gusarnya, saking sengitnya, Oe-bun Thong menyerbu, bual mengejar terus.

Ia mendupak roboh serdadu yang berada palirg dekat padanya!

Dua ekor kuda lantas berlari-lari keras keduanya saling susul.

Dua-duanya memang kuda istana pilihan.

Mereka berada diluar kota.

Oe-bun Thong penasaran, dengan poankoanpit, ia menusuk punggung kudanya.

Binatang itu kesakitan dia lari luar biasa cepat bagaikan kalap.

Didalam tempo yang pendek, Mo Lek tersusul semakin dekat.

Jarak mereka sekarang tinggal beberapa puluh tindak saja.

Sekonyong konyong terdengar ngaumnya anak panah!

Itulah Oe-bun Thong yang melepaskan anak panahi Bahkan dia menggunai panah beruntun Sasarannya ialah kudanya Mo Lek Sianak muda mendengar suara anak panah, ia putar pedangnya, untuk menangkis.

-Lengan lekas ia menjadi repot sebab disamping mesti membela diri, ia harus melindungi kudanya sedanrkan anak anak panah datang saling susul dengan cepat sekali.

Diperlakukan begitu adik seperguruan dari Lam Cee In menjadi gusar sekali.

Di-dalam panas bati, ia berkata nyaring.

"Jikalau ada kunjungan tidak dibalas, itulah bukan aturan?"

Sembari berkata begitu, ia menggunakan kesempatan merogo sakunya, untuk mengeluarkan thiecie-lian, ialah sen jata rahasianya yang berupa seperti biji teratai.

Hanya sajang senjatanya ini ringan tak dapat ditimpuki terlalu jauh seperti melesatnya anak panah.

Beberapa biji mengenai kudanya Oebun Thong, kenanya cuma seperti menempel, kuda itu tidak terlukakan.

"Selama itu maka Oe-bun Thong dapat mengejar lebih cepat mereka datang semakin dekat satu pada lain. Kesempatan ini digunai untuk memanah perut kuda sianak muda. Serangan itu tidak dapat ditangkis atau dielakaii celaka kuda apes itu, dia terpanah jitu dan roboh terguling! Mo Lek tidak dapat bercokol terus diatas kuaanya, ia mencelat ketanah dengan berjumpalitan! Oe bun Thong tertawa terbahak-bahak.

"Tiat Mo Lek kau hendak lari kemana? "

Tegurnya, hatinya puas sekali.

Bangsat cilik, bagaimana kau berani menyelundup kedalam istana?

Sungguh nyalimu besar!

Ha-haha!

Pada sepuluh tahun dulu kau dapat lolos, kali ini tidak!

Aku tidak sangka sekali bahwa kali ini kita bertemu pula!"

Puas Oe-bun Thong bisa membongkar rahasianya Mo Lek rahasia asal-usulnya sedang sekian lama dia bersangsi dia cuma dapar menyangka sija.

Dia seperti sudah merasa bahwa dia bakal dapat membekuk orang buronan ini.

Diwakili biasa Mo Lek jeri terhadap orang she Oe bun ini.

Orang menjadi panglima perang dan sepnya juga, Tetapi sekarang, ia telah dipandang sebagai "pemberontak"

Dan iapun lagi "buron"

Ia tidak ada lagi yang harus dilihat mata. Maka dengan gusar. ia menjawab. ,Tidak salah ! Aku memang Tiat Mo Lek! Kau mau apa? Apakah kau sangka aku takut padamu? Hm! "

"Bagus!""

Teriak Oe-bun Thong.

"Pemberontak, masih berani kau membangkang untuk dibekuk? Kau harus ketahui, hari ini tidak ada lagi segala Toan Tayhiap atau Lam Tayhiap yang bakal melindungimu!"

Mendongkol Mo Lek orang mengungkat-ungkat urusan lama tetapi ia berlaku tenang. Ia tertawa dingin. -oo0dw0oo-

Jilid 26

"Jikalau aku pemberontak, apakah kau si menteri setia ?"

Tanyanya mengejek;

"Hm ! Apakah kau kira aku tidak tahu tentang dirimu ? Lupakah kau bahwa dahulu-hari kau bertindak seperti membantui Kaisar Tiu membuat kejahatan ? Kaulah seorang Liong Kie siewie akan tetapi kau menjadi kuku garudanya An Lok San ! Sudah kau mencelakai Kiesu Su It Jie sekeluarga, kau juga hendak mencelakai Toan Tayhiap i Sungguh tak tahu malu kau berani mengata kan aku pemberontak ! "

Parasnya Oe-bun Thong merah padam. Ia malu sekali. Tapi cuma sebentar, dia tertawa terbahak-bahak.

"Nama pemberontak untukmu diberikan oleh Sri Baginda Raja ! Apakah kau masih hendak mencuci bersih itu ? Bagaimana kati berani menyembur orang dengan darah ? Sayangnya yaitu Sri Baginda Raja tak sudi mempercayai kau !"

Oe-bun Thong memfitnah, atau mencelakai Mo Lek, justeru disebabkan dia kuatir Mo Lek nanti membeber rahasianya itu di-depan raja, maka itu sekarang mendengar pembebeberan si anak muda, ia kat di dalam hatinya .

,,Syukur baru sekarang dia membernya!

Coba dia membukanya di-depan raja, bukankah aku cclaka ?

Taruh-kata raja tidak percaya, dihatinya tentu m e nyelip keragu-raguan.

Sekarang dia telah jadi pemberontak, tentulah Oet-tie Pak dan Cin Siang juga tidak bakal berani melindungi d a terleb h jauh !

Sekarang aku mesti lekas-lekas membinasakan dia untuk menutup.

mulutnya !"

Oebun Thong bangsa jumawa, meski dia tahu Mo Lek lihay dia percaya, dengan menggunai senjata, dia bakal berhasil mengalahkannya.

Dia juga menduga, .tentunya raja bakal mengirim orang untuk menyusul dan membantunya.

"Bangsat ini mesti mampus ditanganku!"

Pikirnya pula.

"Paling baik aku binasakan dia sebelumnya datang balabantuan untukku ! Aku mesti mencegah dia nanti ngoceh tidak keruan didepan banyak orang !"

Sampai disitu dengan sama-sama gusarnya dua orang itu sudah lantas mengadu senjata.

Mereka telah bicara cukup banyak.

Oe-bun Thong bersama-sama Ciu Siang dan Oet-tie Pak yang tersohor sebagai ,.Tayswee Sam Toa Kho-ciu"

Artinya tiga jago dari dalam istana.

Memangnya ilmu silat meieka luar biasa.

Dan Oe-bun Thong tersohor buat sepasang poankoanpimya, yang umpama kata jadi seperti lidah-lidah ular berbisa yang menyambar nyambar ke-pelbagai jalan darahnya Mo Lek.

Puteranya mendiang Tiat Kun Lun sebaliknya bersilat dengan Lak-cap-sie Ciu Liong Heng Kiam-hoat yaitu ilmu silat pedang "Wujud Naga"

Yang terdiri dari enam puluh empat jurus.

Ia membuat pedangnya berputaran dan cahayanya berkilau-kilau.

Ia membela diri sambil saban-saban balas menyerang, sebab tak sudi ia dijadikan sasaran poankoanpit.

Diantara dua orang ini, Oe-bun Thong memang lebih unggul dalam pengalaman berkelahi, Mo Lek sebaliknya lebih tangguh tenaga dalamnya, sebab sekarang ia bukan lagi Mo Lek di jaman bocah, semasa ia belum memperoleh pelajaran dari Mo Keng Lojin.

Karena itu, mereka jadi bertarung seru sekali.

Setelah banyak jurus, Oe-bun Thong menjadi heran.

Bocah yang sepuluh tahun dulu hampir mampus ditangannya, sekarang menjadi seorang muda yang sanggup melayani dia dengan baik sekali..

Dari heran kemudian hatinya menjadi kurang tenteram.

Inilah sebab sudah puluhan jurus dia tetap belum bisa menang, diatas angin.

Itu berarti bahwa ia pun memperlambat waktu, sedangkan ia ingin mempercepat berakhirnya pertempuran atau lebih tegas .

matinya musuh muda ini !

Memang benar, pertempuran mereka itu berlarut-larut.

Mo Lek bertahan terus.

Orang boleh menjadi salah seorang jago istana tetapi ia tidak takut, ia berhati mantap sekali, Ia pun membenci jago itu yang sudah keterlaluan, berbau pengkhiatat pula.

Selagi keduanya bertarung terus maka dari kejauhan terdengar derap kuda yang dicampur dengan bunyi kelenengan nyaring.

Suara itu datangnya dari arah kota dan datangnya pula dengan cepat sekali hirgga lekas juga tiba sudah dia ditempat pertempuran.

Tiba-tiba terdengarlah teriakan Mo Lek bagaikan dia terkejut .

"Cin Toako, Apakah kau heidak mengambil kepalaku?"

Memang itulah Cin Siang.

Selolosnya Mo Lek yang disusul Oe-bun Thong, raja sudah lantas memberikan perintahnya untuk mengejar.

Yang menda pat tugas ialah Cin Siang bersama Oet-tie Pak.

Mereka diharuskan membantui Oe-bun Thong.

Mereka itu heran menerima perintah itu, meiekapun kaget.

Ketika itu mereka belum tahu bahwa Mo Lek sudah diputuskan hukuman mati.

Titah raja tidak dapat ditentang.

Didalam keadaan seperti itu, mereka juga tidak dapat meminta keterangan lagi.

Dengan terpaksa mereka berangkat dengan cepat.

Kudanya Cin Siang dapat lebih lekas dari itu ia yang sampai lerlebih dahulu.

Oe-bun Thong cerdik sekali.

Tahu yang datang ialah Cm Siang, ia berseru membentak musuhnya.

"Kaulah pemberotak! Bagai mana kau masih berani mengaku saudara dengan Cin Cianj-kun? Cin Ciangkun kenal kau tetapi kimgannya tidak! Itulah kata-kata yang liehay. Dengan itu seperti juga Cin Siang diberitahukan siapa Mo Lek, ialah seorang buronan yang telah ditentukan dengan hukuman mati. Dengan itu seperti dianjurkan untuk Cin Siang segera turun tangan. Cin Siang menjadi kaget dan bingung. Ia menjadi serba salah. Kalau mereka berada berdua saja, dapat ia bicara secara pri-padi. Itu pula maksudnya srlagi ia Kabur menyusul. Sekarang ia melihat Oe-bun Thong ada bersama, tidak dapat ia berbuat demmlan. Ia juga tidak dapat bersangsi lama lirtia. Dimata Oe-bun Thong, kesangsian mencurigai dan jelek dipandangannya. itu pula berbahaya untuk kedudukan. Terpaksa ia mesti lekas mengambil keputusan.

"Tiat Ceng aku masih belum ketahui tentang dosamu,"

Kata ia.

,,karena telah keluar perintah Seri Baginda untuk menawan kau menentang perintah itu supaya janganlah kesalahanmu menjadi bemisun!

Jikalau kau merasa penasaran, nanti setelah mengha dap kepada Seri Baginda kau mengajukannya."

Cin Siang berkata demikia karena ia lantas dapat pikiran untuk nanti bersama sama Oet-tie Pak melindungi sahabat ini dihada-pan raja, atau kalau perlu ia hendak minta bantuannya Tiang Lok Kongcu.

Mo Lek sangat gusar dan penasaran.

,Apakah lagi yang dapat di bantah .terhadap raja?"

Teriaknya.

,Raja hendak membunuh aku sebab raja mau membalaskan sakit hatinya Yo Kok Tiong dan Yo Kui-Hui!, Cin Toalko, aku tahu kau datang atas perintah raja untuk menangkapku, tak mau aku membikin kau sulit baik akan aku turut kau kembali!

Biarlah aku peserah siraja dogol menghukum aku l"

Selagi mereka bicara itu.

sempat Mo Lek menyatakan suka mengalah, untuk turut pulang Oe bun Thong masih belum mau menghentikan penyerangannya bahkan dia tetap memperhebat permainan sepasang po-ankoanpitnya.

Jangan kata berhenti menyerang, memperlambat saja dia tak sudi.

Se bab dia masih ingin dapat merampas jiwanya si anak muda.

Mo Lek tahu maksud orang, ia menjadi sangat murka "Dapat aku membagi muka kepada Cin Toako, tidak dapat aku diperhina kau, jahanam!"akhirnya ia mendamprat.

Maka ia balas menyerang dengan tidak kurang hebatnya Cin Siang bingung juga.

Ia berteriak .

,Oe-bun Ciang-kun tahun!

Tiai Ceng sudah bersedia untuk menerima baik firman!"

Oe-ban Thong menjawab.,,Di mulut dia membilang begitu, pedangnya toh belum diletaki! Itulah bagaikan harimau yang belum dicopoti giginya"

Maka kau tahu bahwa dia tidak bakal menggigit?

Kata katanya Oe bun Thong ini beralasan hanya dia salah menggunaxamya terhadap Mo Lek, seorang laki-laki sejati.

Seorang manusia hina mungkin menggunai akal muslihat, yaitu selagi orang berhenti menyerang dan membokong.

Kembali Cin Siang menghadapi kasulitan.

Oe bun Thong tidak mempercayai Mo-Lek sedang Mo Lek lagi panas hati dan te lah diserang terus menerus dan da"am cara sangat toaembahayakran jugu.

Tapi ia mesti bekerja, pertempuran itu mesti dihentikan Diakhirnya ia mengambil keputusan buat menyelak disama tengah, untuk menghajar terlepas pedangnya Mo Lek.

Begitu ia berpikir bejitu Cin Siang bekerja.

Ia tidak dapat main lambat-lambatan.

Dengan demikian Mo Lek jadi kena dikepung berdua.

Melayani Oe bun Tbong seorang ia sudah sama, unggul, dari itu, mana dapat ia bertahan dari kepungan itu.

Begitulah dengan lekas ia kena terdesak halmana membikin ia bingung hmgga beberapa kali ia membuat lowongan tanpa keinginannya.

Inilah saat yang ditunggu tunggu Oe bun Thong.

Tiba-tiba berteriak keras.

"Kena! dan ujung senjatanya yang larcip menyambar dada Mo Lek dimana ada jalan darah soan-kie! Bukan cuma Mo Lek yang kaget tetapi juga Cin Siang Dia ini menyerang bukan buat mencelakai, hanya guna melepaskan senjata orang. Dia kaget sebab dia tidak keburu mencegah serangan rekannya itu. Tepat sekali orang she Cin ini kaget sekali, telinganya mendengar suara berkon-trang nyaring, lantas poarnkoanpitnya Oe-bun Thong tertolak kesamping tidak lagi kearah sasarannya. Berbareng dengan suara beradunya logam itu, orang pun mendengar jatuhnya suara yang seperti kebocah bocahan. ,,Hai Cin Ciangkun! Mereka itu lagi bertempur secara sangat menarik hati untuk ditonton, mengapa kau mengadu-biru menyelak disama tengah menghalang-halangi mereka ? kau tahu, kau telah membuat pertunjukan menjadi hilang sifat menarik hatinya!"

Kata kata itu keluar dari seorang yang sudah lantas lompat keluar dari dalam rimba.

Melihat orang itu.

Cin Siang terpe ranjat.

Orang bertubuh tinggi tak lebih daripada lima kaki, romannya juga luar biasa.

Dia memiliki kepala yang besar dan muka kekanat-kanakan.

Apa yang mengejutkan dia jastru Biauw Ciu Sin Touw Khong Khong-Jie yang namanya kesohor sekali !

Sambil menahan ruyungnya.

Cin Siang menegur.

"Khong Khong Jie, k"u datang kemari, mau apakah kau ? Khong Khong Jie tertawa.

"Cin Ciangkun, tak usah kau menjadi kuatir! "

Sahutnya.

"Walaupun sepasang senjatamu ini terbuat dari emas dan juga harganya mahal, mataku masih belum kehlipan melihatnya. Sekalipun telah bangkit nafsu mencuriku sibangsat. Tidak nanti aku curi itu. Aku datang kemari dengan maksud sengaja untuk menonton orang berkelahi ! Ya, kau telah menanya aku, sekarang aku juga hendak menanya kau ! kau datang kemari mau apakah kau " ,,Aku....aku dating kemari karena aku menerima firman untuk menangkap ..."sahut Cin Siang sambil ia mengawasi Mo Lek. Hendak ia menyebut ..pemberontak,1"

Tetapi tak sampai hati ia. Karenanya, ia menjadi tidak dapat meneruskan katakatanya itu. ,,Kau hendsk menangkap siapa?"

Khong khong Jie sebaliknya mendesak.

"kau hendak menangkap orang tua ? hendak menangkap anak muda ?.

"Inlah urusan kami buat apa kau. men campurinya ?"

Bentak Cin Siang, yang ter-deiak.

"Bukan begitu!"

Kata Khong Khong Jie "Aku paling gemar menonton orang berkelahi !

Makin orang kegilaan berkelahi makin angot juga kegemaran menontonku!

Mereka itu berkelahi, biarkanlah mereka berkelahi terus !

Jikalau kau tidak mencampuri urusan mereka, aku juga tidak mau campur tangan !

Sebaliknya, apabila kau mem bantu pihak yang lain !

Satu melawan satu dua melawan dua melawan"

Sepasang l Begitu barulah adil! "

Bukan main sulitnya Cin Siang.

Tertawa dan gusar, tak bisa ia Ia kenal baik Khong^khong Jie, yang ilmu silatnya hhay, yang tabiatnya aneh sekali.

Dilam pihak, sebenarnya tak berniat ia menangkap Mo Lek.

Maka ia aknirnya pikir.

"Baiklan! Inilah suatu a"asan untukku menonton saja supaya adik Tiat mendapat ketikanya untuk lolos. .."Maka ia menjawab.

"Khong Khong Jie ! Dahulu hari kau pernah membantuku, sambil kau membawa pulang adik seperguruanmu, maka itu, melihat budimu itu, suka aku bersahabat dengan kau. Nah, terserahlah kepada kau!"

Khoag Khong Jie tertawa. ,,Orang bilang Cin Ciangkun dapat dijadikan sahabat sekarang aku melihat buktinya!"

Katanya.

"Nah, mari, mari turunkan senjatamu, mari kita menonton orang berkelahi!"

Munculnya Khong Khong Jie membikin mukanya Oe bun Thong menjadi pucat, hatinya tidak tentram sampai sesudah orang bicara habis, baru ia merasa sedikit lega.

Ia boleh tak usah berkuatir-yang orang aneh itu nanti merintangi padanya Justru ia ku-rang tenang hati, justru Mo Les.

menyerang padan ya, hingga ia kena terdesak.

Sesudah menonton sekian lama, Khong-Khong Jie mengoceh seorang diri.

"Mo Lek menjadi pelindungnya siraja tua, ini saja sudah menjadi satu hal aneh ! Sekarang sebagai pelindung raja, dia justru bertempur dengan touw ut yang melindungi raja. bah kan si touw-ut yang menjadi "orang atasannya ! Inilah keanehan ditindih keanehan!.... Tiat Mo Lek ! he, Tiat Mo Lek ! kenapakah kau berkelahi dengan pembesar seatasanmu "endiri ?"

Mo Lek tengah bertempur hebat tidak sempat ia menjawab pertanyaan itu.

"He Mo Lek yang kecil! memanggil pula siorang aneh.

"Cin Ciangkua suka ber sahabat denganku, apakah kau tak sudi? Oe ngar, Mo Lek, aku menanya kau! "

Mo Lek mengumpul tenaganya, dengan pedangnya ia tangkis satu serangan dari Oe bun Thong sampai orang mundur dua tindak. setelah itu dengan rada sungkan ia menjawab.

"Siraja linglung mengatakan aku pemberontak! Dan binatang ini mau pinjam kepalaku untuk dia naik pangkat!"

Mendenaer itu, Cin Siang malu sendiri nya, ia jengah sekali, kata ia didalam hati.

"Tian Hiantee, apakah kau juga keliru menafsirkan sepakterjangku ini""

Khong Khong Jie berkata pula dengan keras.

"Mo Lek, sebenarnya aku datang kemari buat mencari kau ! Nah, coba kau ter-ka.Aku mencari kau untuk apakah?"

Mendengar itu, Mo Lek berkata didalam hatinya.

"Khong Khong Jie, sungguh kau tidak tahu salatan ! Disaat penting seperti ini, mana aku mempunyai luang tempo untuk bergurau denganmu? "

Karena orang berdiam, Khong Khong Jie tertawa pula.

"Apakah kau tidak dapat menerka?"

Tanyanya.

"Ya, akupun telah menduga tidak nanti kau sanggup membade"

Baik, mari aku beritahu kepadamu!

Soalnya yaJah aku ingin bersahabat denganmu!

Aku juga hendak me ngantar kepadamu suatu barang yang sukar didapatnya !

Mah, coba kau bade bingkisan itu bingkisan apakah?"

Mo Lek menyahut cepat dan deagan suara keras.

"Aku tidak tahu! Aku juga tidak mau terima bingkisanmu! " -Khong Khong Jie tertawa"bergelak.

"Tentang kau mau terima atau tidak bingkisanku, jangan kau sebut sebut dahulu!"

Selanya.,, Kau sabarlah menyatakannya! kau tahu bingkisan itu merupakan satu barang yang besar sekali gunanya untukmu ! kau tahu tas dapat tidak, aku mesti menghendaki itu!"

Cin Siang mendengar pembicaraan o-rang, yang tidak ada pentingnya akan tetapi mendengar perkataan Khong Khong Jie yang paling belakang ini.dia menjadi heran, hingga dia menerka-nerka dalam hatinya.

"Entah bingkisan apa itu. ..Hayo, bilanglah, supaya Mo Lek tidak usah menduga-duga tidak keruan juntrungaanya! Aku sendiri mendengari katakatamu ini, aku menjadi bingung dibuatnya!"

Kembali Khong Khong Jie berkata."Jikalau aku menyebutkan itu, itu pun suatu hal yang aneh !

Mo lek bukankah pembesar seatasanmu sini mengatakan kau pemberontak ?

Nah, ini dia anehnya !

Justru sekarang ini ditanganku ada sesampul surat !

Dan surat ini kau tahu, justau surat yang ditulis sendiri oleh ini Oe-bun Ciangkun !

Surat ditulis dan dikirim untuk An Lok San!

Didalam surat terang jelas ditulis bahwa Oe bun Ciangkun ini hendak menjadi tukang sambut dari dalam !

Nah, kau bilanglah, so al itu aneh tidak?

Sekarang surat ini hendak aku haturkan kepada kau suka terima atau tidak?"

Mendengar perkataan Khong Khong Jie, parasnya Oe bun Thong menjadi pucat sekali, sampai ia seperti kehilangan darahnya.

Mendadak ia berkelit, niatnya untuk mengangkat kaki.

Tiat Mo Lek melihat orang berkelit, ia tidak mau mengasi hati, ia berlompat menyusul begitu tubuh lawan mencelat pergi, bahkan ia tirus menusuk kepungan lawan itu.

Oe-bun Thong tidak mau mati konyol, dia memutar tubuhnya untuk menangkis.

Dengan begitu, kembali mereka berdua jadi bergebrak.

Cis Siang dari heran menjadi girang sekali.

Ia mau percaya perkataan Khong-Khong Jie bukak kelakar belaka Kalau tidak, tidak nanti Oe-bun Thong mau lantas kabur.

Maka ia kata didalam hatinya.

"Jikalau benar ada surat itu, pastilah Tian Hiantee mempunyai bukti yang kuat, jikalau dia kembali dan berbalik mendabwa, bukan saja dia jadi tidak bersalah dan bebas bahkan dia jadi berjasa besar!"

Tanpa merasa hati panglima ini menjadi lega, semangatnya terbangun, hingga ia mau menggeraki ruyungnya guns me nyerbu kedalam gelanggang pertempuran itu Temu saja, kali ini ia hendak membantui Mo Lek guna membekuk perwira yang tengah berselimut itu hingga tidak sembarang orang ketahui bahwa dialah penghianat yang berkongkol dengan pemberontak An lok San.

Akan tetapi Khong Khong Jie, yang melihat aksi itu, meluncur tangannya untuk mencegah.

"Cin Ciangkun. apakah kau sudah lupa dengan janji kita barusan?"

Tanya siorang aneh "Kau berlaku tenang tenang saja!

Mari kita menonton terus perkelahian mereka.

Cin Siang berdiam.

Ia mau menduga Khong Khong Jie menyangka ia hendak membantu Oe bun Thong.

Ketika itu.

Mo Lek tidak membutuhkan bantuan lagi.

Oe-bun Thong sudah kehilangan semangat, tidak dapat dia berkela hi terlebih jauh.

Perkataannya Khong Khong Jie membuatnya sangat jeri Celaka kalau benar-benar siorang aneh membeber rahasia nya itu.

Iapun dapat menginsafi, dari surra nya itu, terang Khong Khong Jie berpihak kepada Tiat Mo Lek.

Dapatkah ia berdiam lebih lama pula disitu ?

Selagi menyerang itu Mo Lek berseru keras, membentak lawannya.

Ia juga sudah lantas mengerahkan tenaganya luar biasa sungguh-sungguh, maka pedangnya menyam barnyambar dengan pesat dan"cahayanya berkilauan seperti halilintar.

Sinar pedangnya itu seperti juga mengurung musuhnya, Oe-bun Thong bingung, dia melawan se bisa-bisanya.

Dia terus berada di dalam ketakutan, ke inginan satu-satunya ialah mengangkat kaki.

Karena dia bingung, kacau ilmu silatnya.

Matanya pun seperti dikabur kan sinar pedang lawannya itu.

Tiba-tiba ujung pedangnya Mo Lek meluncur kepundak lawan.

Ia berhasil, hingga ia membuat sebuah lubang pada sasarannya itu.

Oe-bun Thong kaget dan kesakitan, ke takutannya menjadijadi.

Di dalam keadaan seperti itu, bukannya dia kalap dan berkelahi mati-matian, mendadak dia menikam lehernya sendiri dengan poankoanpitnya.

Mo Lek melihat itu, dia menyapok tikaman itu sambil ia berseru keras, bukannya meneruskan menusuk lawan hingga mati, ia justru membikin cenjata lawan ter pental terlepas dari cekalan, dia berseru pula .

"Pengkhianat, kau hendak membunuh diri ! Tak sedemikian mudah !"

Kata-kata itu disusul de.igan serangan terlebih jauh.

Cuma itu bukannya tikaman maut hanya totokan kepada jalan darah orang, untuk menutupnya Tapi ia sengit bukan main, dengan tangan kosong dia me nampar dua kali kepada muka musuh hingga terdengar suara menggelepok keras dan nyaring !

"Bagus !

Bagus!"

Khong Khong Jie bersorak-sorak. Dia tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia mengeluarkan surat yang dia sebutkan tadi sambil mengangsurkan itu pa da si anak muda, dia kara .

"Nah, inilah surat itu ! Inilah bingkisan untuk kau, sebagai mana aku katakan barusan ! Bukankah ini besar sekali faedahnya untukmu ?"

Di luar dugaan Orang, Tiat Mo Lek menggeleng kepala. Ia pun tidak menyam-buti surat yang diberikan itu f Cin Siang heran hingga ia lantas campur bicara.

"Hiante !"

Katanya. ,.Ini toh surat wasiat pelindung dirimu ? Kenapa kau tidak menghendaki itu ?"

Tiat Mo Lek menjawab .

"Aku tidak mau kembali lagi ! Surat ini tolong kau saja yang menghaturkan kepada raja! Aku tidak mengharap pangkat, apa yang aku ke hendaki ialah supaya namaku dicoret dari tuduhan sebagai pengkhianat atau pemberontak ! Itu saja sudah cukup bagiku! "

Cin Siang bersenyum meringis. ,,Tiat Hiante, baiklah kau mengarti,"

Katanya ;

"Siapa pun yang bekerja untuk Seri Baginda, tidak ada yang tidak pernah dibikin merasa menyesal ! Maka itu, aku minta janganlah kau mengambul."

Tapi Mo Lek berkata sungguh-sungguh.

,.Cin Toako, apa yang aku bilang bukanlahsebab aku mengambil !

Aku telah memberi janjiku kepada Kwee Leng-kong dan Lam Suheng bahwa aku hendak bekerja setia me lindungi raja pergi ke Tian Siok, maka syukur kehadapan Thian, yang telah memberi berkahnya, di dalam perjalanan ini, walaupun ada gelombang, Seri Baginda dapat tiba ditempat tujuan dengan selamat.

Sekarang ancaman bahaya sudah lewat kita sudah sampai di Tanah Siok, sebab jalan kedepan ada jalan aman, habis sudah tugas ku hendak aku melepaskannya.

Aku percaya Cin Toako, kau tidak bakal sesalkan aku sebagai sahabat yang tidak memandang sahabatnya !

Aku toh telah menjalankan tugasku, bukan ?"

Cin Siang tunduk. Aku mengarti,"

Katanya.

"Bukan kau yang tidak berbuat seharusnya, adalah Seri Baginda yang berlaku tidak semestinya terhadapmu ..." ,Di dalam peristiwa diperhentian Ma Gui Ek, Seri Baginda telah kehilangan selirnya kata Mo Lek.

"maka itu, walaupun tidak ada hasutan dari Oe-bun Thong, dia tentu menyimpan kebencia"n terhadap aku dari itu, kalau aku pulang, taruh kata aku bebas, tetapi lain kali, apabila aku dianggap bersalah pula, tidak nanti aku bakal da pat ampun. Cin Toako. apakah kau mau ketahui ada yang telah terjadi, di dalam pe-sanggerahan tadi ?"

Sekarang Mo Lek membeber rahasia raja, bagaimana ia telah ditipu, dipanggil menghadap katanya untuk diberi kenaikan"

Pangkat dan gelar kehormatan, ia juga di beri selamat dengan secawan arak, tetapi bebenarnya itulah arak beracun, karena mana, terpaksa ia kabur. Di akhirnya, ia kata ,.

"Nah, Cin Toako kau tolong pikir, apakah aku terlebih baik kembali ?"

Cin Siang bungkam, parasnya guram, sedangkan air matanya mengembeng. Ia sa-iigat berduka. Sampai sekian lama, ia masih belum dapat membuka mulutnya Khong Khong Jie tertawa.

"Apakah yang harus dibuat susah hati? kata ia Mo Lek, raja tua bangka itu tidak mau memberi ganjaran kepada kau, akulah vang nanti memberikannya! Akulh yang mengenal dan mengaku k*u! Memang sebenarnya tidak layaknya kau men adi siewie! Menjadi siewie didalam istana taja sama saja dengan binatang liar yang dikurung didalam kerangkeng! Itulah penghidupan yang membikin pikiran pepat! Ia tertawa pula, terus ia menambahkan. ,,Aku membawa bingkisan untukmu itulah sebab aku memikir hendak berbuat suatu kebaikan untukmu, Kalau begini sekarang barang itu sudah tidak ada gunanya ...

"Masih ada!"

K&ta Mo Lek cepat-"Paling sedikitnya itu bakal membikin siraja linglung mengarti siapa yang menjadi penghianat dan pemberontak yang benar-benarnya.

Berkata begitu, Mo Lek sudah menyambuti surar dari Khong Khong Jie itu, yang ia terus serahkan pada Cin Siang, setelah itu ia berkata pula, menanya siorang aneh.

.Bagaimana caranya kau mendapatkan surat ini ?

Dan, bagaimana kebetulan, kau justeru mengantarkannya disaat tepat begini!"

Khong Khong Jie suka memberi keterangan.

Dia suka memberi keterangan.

, Surat ini aku dapatkan dari tubuhnya adik seperguruanku.

Surat suratnya Oe-bun Thong dan An Loic San satu pada lain, semua adik seperguruanku itu yang menolong menyampaikannya.

Kali ini dasar Oe-bun Thong sialdangkalan!

Sebelum suratnya ini sampai kepada /i Lok San aku te"ah membawa adikku pulang kegunung dan mendapatkan nya.

Kau tahu, begitu aku mendapatkan surat ini, lantas aku berangkat menyusul kau Tempo aku sannai di heng-so di Konggoan diluar dugaanku, kau sudah kabur dan aku mendengar siraja tua telah memerintahkan orang menyusel buat menangkap kau.

Tidak ayal lagi, aku menyusul, aku mengikuti jejak kudanya Oe-bun Thong.

terus sampai disiniP Mendengar itu Mo Lek dan juga Cin Siang, menjadi heran dan kagum.

Inilah se bab ilmu Jari keras, atau ringan tubuh dari khong R h oh g Jie, luar biasa mahir sedang kan sepakterjangnya itu luar biasa, diluar dugaan sekali.

hong Khong Jie terkenal sebagai mala ikat pencuri nonor satu, dia bertabiat keras dan jemawa, dia biasa membawa karep-mane Baik kaum golongan Hitam dan Putih tak ia pedulikan, tak suka ia memberi hati.

Dia lakukan dia apa yang dia pikir atau suka Itulah sebabnya kaum fcu Lim.

didalam se.

puluh, sembilan yang mencacinya Juga Mo Lek dan Cin Siang tadinya mengatakan dia "Jeesar.

Maka tidaklah disaogkasangka sekarang disesat dapat berbuat begini merga gumkan, sudah membanfu dia memberikan jasa juga.

Maka keduanya jadi memandang hormat, Mo Lek kati didalam hatinya.

"Khong Khong Jie aneh tabiat dan lagaknya siapa tahu sekarang terbukti dia juga memiliki semangatnya seorang gagah sejati, pantaslah Toan Tayhiap bersikap lain terhadapnya. Toan Tayhiap telah di culik anaknya ia toh masih tidak mau turut lain orang mencaci padanya. Justeru itu Khong Khong Jie memiring kan kepalanya memasang telinganya.

"Tentara pengejar telah datang! ia lan tas kata. Lek jikalau kau tidak niat kembali, sekarang sudah waktunya buat kau berlalu!"

Mo Lek mengangguk, lantas ia kata pada Cin Siang.

"Toako selama beberapa bulan ini, kau selalu melindungi aku untuk itu, aku bersyukur, aku berterima kasih. Tapi hari ini, ijinkanlah aku berpamitan. Aku minta kau tolong sampaikan hormatku kepada Oet-tie Toako! Cin Siang menghela nanas. Kata ia. , Ki ta bertiga mengenal satu sama lain kitalah kawan-kawan didalam istana maka ak tidak sangka sama sekali, hari ini kita bagai kan burung burung walet yang rne"ti terbang berpisahan! Karena kejadian ada begini ruoa. hiantee, aku tidak berani mete-sa menahan kau, cuma aku harap kau tidak usah terlalu memikirkan pengalaman yang tidak manis ini. Aku juga mengarap meski kau hidup didalam dunia Kang Ouw biarlah kau ingat terus kepada negara bangsa Han supava kau dapat bersama-sama menumpas musuh dan pemberontak. Biarlah nanti, setelah negara aman, kita dapat bertemu pula! Terima kasih toako tetapi usahalah toako memesanku,"

Kata Mo Lek.

"Meskipun siraja linglung hendak membinasakan aku, aku tidak akan melupai negara kita. Sekarang ini aku mau pergi ke Tong-kwan, untuk melihat garis belakang musuh Supaya dapat aku membantu Lam Suheng membasminya! " ..Sungguh hiantee tak kecewa kau menjadi satu laki-laki sejati!"

Ciin Siang memuj "Baiklah, di Tanah Siok akan aku menanti San kabar kemenanganmu! Maafkan aku tidak dapat mengantar kau lebih jauh"

Lantas Cin Siang meringkus Oe-bun Thong yang ia kasi naik diatas punggung kudanya.

Ketika ia mau berangkat ia meno len lagi katanya; .Hiantee kau baik-baiklah sampai berjumpa lagi!

Ketika kuda oeypiauma mau beraagkat pergi dia menegasi dengar ringk knya yang keras dan berulang-ulang, pertanda bahwa dia merasa berat berpisahan dengan Tiat Mo Lek.

Karena itu lagi lagi Cin Siang menoleh dan mengawasi sekian lama.

Ia mengucurkan air mata begitu juga sianak muda....

Khong Khong Jie menunggu sampai Cin Siang sudah pergi jauh, ia mengawasi Mo Lek dan berkata kepadanya.

"Cin Siang sudah pergi untuk berkumpul dengan kawan kawannya, itu berarti banwa pasukan pengejar tidak bakal datang kemari. Sekarang mari kita beristirahat dulu Mo Lek kau dapat melupakan permusuhanmu dengan si raja tua-bangka, tetapi bagaimana dengan kita? Apakah kau masih ingat bahwa diantara kita masih ada permusuhan lama7"

Mo Lek berlaku bersungguh sungguh ketika ia memberikan jawabannya.

Ia kata.

Ini kali kau telah membantu aku buat itu aku-harus menghaturkan terima kasihku-Akan tetapi kau telah merampas puteranya Toan Tayniap mengenai itu, biar bagaimana juga tidak dapat aku mengampuni kau!"

Khong Khong Jie tertawa.

"Barusan Cin Siang ala disini, kata-kataku aku baru ucapkan separuh. kata dia "Sekarang aku mari lanjuti kata-kataku itu Aku tidak mau menyembunyikan apa-apa. Aku datang kemari, kau tahu, kecuali untuk menyerahkan bingkisan tadi kepadamu, masih ada maksudku yang lainnya. Itulah justeru buat urusannya bocah yang kau sebutkan itu/"

"Apakah kau bersedia membayar pulang anak itu kepada Toan Tayhiap ?"

Mo Lek tanya.

"Anak itu tidak berada diianganku, tentang dia aku tidak dapat mengambil keputusan sendiri,"

Sahut Khong Khong Jie. Mo Lek menjadi lesu. Ia bagaikan putus asa.

"Habis apa lagi yang hendak dibicarakan ?""

Tanyanya berduka.

"Tentu masih ada, anak ! kata Khong. Khong Jie.

"Apakah kau masih -ingat apa kataku dahulu hari kepada Toan Tayhiap "

Mo Lek mengangguk.

"Ya. Kau bilang, paling lambat sepuluh tanun, urusan akan berada ditanganmu dan anak itu akan kau kembalikan. Ya, sekarang sudah sampaia waktunya sepuluh tahun ! Mengapa kau berkata begini "

Khong Khong Jie memotong kata-kata orang "Tidak nanti aku menghilangkan ke percayaanku kepada Toan Tayhiap. Tentu saja, kapan ada ketikanya, aku akan mengurusnya. Kau dengar dahulu ! "

Mo Lek hendak menyela, tetapi orang didepannya itu memegat. Khong Khong Jie melanjuti .

"Orang yang memelihara anak itu tidak bermaksud jahat, dia menyayangi anak itu secara luar biasa, melebihi anak sendiri. Dia pun telah mengajari anak itu suatu ilmu silat yang istimewa Maka sekarang, meski usia anak itu baru sepuluh tahun, dasar ilmu silatnya sudah sempurna. Orang itu juga suka mengembalikan anak itu kepada orangtuanya. sianak, cuma, buat itu ia menghendaki si "orang tua yang pergi sendiri menyambutnya "Siapa orang itu"

Mo Lek tanya.

"Dialah st orang tertua kaum Rimba Persilatan,"

Sahut Khong Khong Jie. ..Mengenai namanya, aku tidak berani mengebutnya."

Mo Lek heran.

Pikirnya .

,,Khong Khong Jie tidak takut langit dan bumi, kenapa ter hadap orang itu ia begini menghormat, sam pai dia tidak berani menyebut namanya ?

Siapakah dia.

yang dapat membikin Khong Khong Jie tunduk sampai begini ?"

Dia manusia aneh ! Dia menghendaki anak orang, selama sepuluh tahun, dia tidak memberi kabar apa juga pada orang tuanya si anak ! Perbuatannya itu tidak layak !"

Pemuda ita jujur dan polos, tak senang ia dengan perbuatan orang Bu Lim tertua itu, akan tetapi ia mesti mengaku bahwa kabarnya Khong Khong Jie ini kabar yang menggirangkan, maka dapat ia berlaku sabar.

"Kalau begitu,""

Katanya.

"tentu datang mu sekarang ini untuk mencaritahu tentang Toan Tayhiap, bukan ?"

"Benar, sahut Khong Khong Jie terus-terang.

"Dijaman kacau seperti ini, sanga sukar mencari orang yang tempat kediamannya tidak ada ketentuannya. Kau tinggal bersama si raja tua-bangka, mudah untuk mencarimu "Tentang dimana adanya Toan Tayhiap sekarang ini, aku juga tidak tahu."

Berkata Mo Lek.

"Lara Suheng bersama Honghu Cianpwe dan lainnya berada didekat kota Tong-kwan dimana mereka lagi mengumpul tentara sukarela, maka baiklah aku pergi mencari mereka dahulu, kepada meroka aku akan minta keterangan perihal Toan Tayhiap.""

Khong Kong Jie bardiam untuk berpikir. Itulah jalan tidak langsung, itu berarti menyia-nyiakan waktu,"

Katanya selang sesaat/..Aku masih mempunyai lain urusan penting, karena mana aku mesti pergi ke-lain tempat ...

Sekarang begini saja.

Jikalau kau nanti bertemu Toan Tayhiap, kau lantas minta ia suka pergi ke kelenteng Giok Hong Koan digunung Giok Sie San, disana aku menantikan mereka itu, sesudah kita berkumpul baru kita sama-sama pergi menemui tertua Bu Lim itu."

Mo Lek setuju.

"Baik ! "

Sahutnya.

"Pasti aku akan sampaikan pekanmu ini. Sesudah urusan putera Toan Tayhiap itu beres, barulah urusan kita beres juga ! "

Khong Khong Jie tertawa bergelak.

"Oh anak yang baik !"

Pujinya.

"Kau dapat membedakan urusan, kau mengenal budi dan permusuhan tidak kecewa kau menjadi puteranya Tiat Kun Lun ! Begitu dia habis berkata, begitu Khong Khong Jie berlompat pergi, untuk menghilang di dalam rimba ! MoJLek menjublek sekian lama. Ia heran dan kagum. ,,Sungguh seorang manusia yang aneh tabiatnya, yang sukar buat diterka ! pikirnya.

"Aku membenci dia, dialah musuhku, siapa tahu sekarang kita jadi bersahabat !"

Hanya sejenak, habis memikir Khong Khong Jie.

pemuda ini lantas mengingat Ong Yan Ie, si no ia musuh besarnya, yang tergila-gila kepadanya.

Mengingat si rona ia jadi sangat mangui.

Kuda Mo Lek telah dibinasakan Oe-bun Thong, disitu ada kudanya orang she Oe-bun itu, yang terluka sedikit, terpaksa ia pakai kuda orang itu sesudah ia obati lukanya.

Dengan binatang itu, ia melakukan perjalan an nya.

Ia berjalan dengan tenang dan aman.

Hanya selewatnya wilayah Tanah Siok, ia mesti menderita.

Wilayah Kwan-tiong menjadi ko-ban perang, tanah kosong dari pen duduk, didalam sepuluh rumah, sembilan ti dak ada penghuninya.

Maka itu, untuk me-nangsel perut, ia mesti memburu burung atau mencari dedaunan hutan.

Ketika itu dipermulaan musim dingin, burung dan hewan sangat sedikit sedang pepohonan mulai layu kering dan kuning.

Selagi hawa udara sangat dingin perjalanan itu sulit dan lambat.

Sesudah satu bulan baru ia tiba di Hu-hong.

Untuk sampai ke Tiang-an, masih tda perjalanan tiga ratus lie.

Pada suatu hari.

Mo Lek terus melakukan perjalanannya, la sangat lambat.

Kudanya kuda jempolan tetapi binatang itupu-n kelaparan dan mesti melakukan perjalanan seribu lie dia jadi kurus dan letih.

Ini sebabnya Mo Lek terpaksa berjalan perlahan.

Ia menyayangi binatang itu.

Justeru itu, iiba-tiba ia melihat disebelah depannya abu mengepul naik, disana tampak mendatanginya satu pasukan tentara.

Dari jauh-auh ia sudah melihat benderanya yang berlukisan naga emas serta bersulamkan dua huruf ,,Tay Yan."

Mo lek mengawasi. Mulanya ia menyangka kepada pasukan negeri baru selang sesaat ia ketahui, itulah pisukannya An Lok San Pemberontak ini memakai nama negara ..Tay Yan,"

Artinya , negara yang terbesar,""

Habis menyerang dan merampas kota Lok yang, dia telah nengangkat dirinya menjadi raja. Kaget Mo Lek. Pikirnya. .Tentara pem berontak sudah berada disini, mungkin kota Tiangan celah jatuh.""

Seteiah itu i a meniadi terlebih ka-et pula.

Selagi tentara itu mendatangi terlebih dekat ia mengenali yang menjadi pemimpin ialah Sie Siong bersama Tian Sin Su.

Pada sepuluh tahun yang lalu, dia penempur kedua panglima itu didalam kota Tiang-an.

Terpaksa buat menghindari bahaya ia lantas membiluki kudanya kesamping, untuk menyingkir diantara sawah te-galan .

Sesudah lewat sepuluh tahun.

Sie Siong dan Tian Sin Su tidak mengenali lagi Mo Lek, akan tetapi ditempat sunyi itu, sel gi keamanan sangat terganggu, ada searang yang menunggang kuda aan kabur, mau atau tidat, Mo Lek menerbitkan kecurigaan orang.

Demikian dengan Siu Siong.

"Siapakah kau?"

Ia menegur.

"Lekas kembali! Lekas!"

Mo Lek tidak menghiraukan perintah atau panggilan itu, bahkan ia melarikfla kudanya lebih keras.

"Dia tentulah mata-mata pihak Tong!"* berkata Tian Sin Su. .,Tak usah banyak bicara lagi! Kejar padanya! Lantas beberapa puluh tentara mengaburkan kudanya untuk mengejar sedang snak panah lantas dilepaskan. Didalam keadaan biasa. Mo Lek tidak jeri terhadap beberapa pu.uh tentara itu tetapi lekarang lain. Ia lapar dan tenaganya berkurang banyak, belasan anak panah bisa ia tangkis jatuh, atau sebuah yang lain nya mengenakan padanya, membuat kaburnya makin perlahan.

"Lihat panahku! berseru seorang i psir Dia menaiik napasnya yang berat. Ketika dia melepaskannya, kuda Mo ek irenjedi korban tidak ampun lapi, Mo Lek terjurg-fcal dari kudanya itu. Opsir itu ternyata girang, dia mengeprak kudanya untuk meng-Lampirkan dia melemparkan tambangnya guna meraugkap dan meringkus orang yang dikejarnya itu. Berbareng bersamanya, ada dua orang yang maju juga, hingga si-anak muda menjadi kena terkurung. Mo Lek mengumpul tenaganya, ia berlompat dari punggung kudanya sambil ia berseru. ,,Kau juga lihat panahku "

Ketika itu ada dua batang panah lagi menyambar, Mo Lek menganggapi kedua-duanya.

segera setelah itu, ia menyimpuk.

Ta berhasil membikin buta matanya dua ekor kuda musuh, hingga kedua musuh itu kena dilempar jatuh.

Berbareng dengan itu.

iapun menyamout ujung tambang laso musuh.

Untuk ini mesti lompat pula dengan gerakan "Burung elang lompat jumpalitan."

Walaupun kepalanya pusing dan matanya agak kabur, dasar ia liebay, selekasnya ia berhasil menjambret tambang itu, Mo lek lantas menggunakan tipu silatnya "Me iiiinjam tenaga berbalik menyerang."

Untuk menarik dengan keras Ia berhasil.

Hanya tubuhnyapun Vena tertarik sendirinya, hingga mereka berdua bagaikan menukar tempat Celaka siopiir yang membandring itu, tubuhnya terlempar melayang dan dia roboh terbanting hingga semaput.

Berhubung dengan kejadian itu, lapat-lapat terdengar pujian.

"Ah orang itu lie-hay sekali"

Mo Lek sudah lantas menoleh, akan mencari orang yang memujinya itu, yang suaranya ia kenali, akan tetapi, apa lacur untuknya, karena ia menggunai setakar tenaganya habislah kekuatannya, sebelum ia bisa mengawaki terlebih lama tiba tiba ia roboh, sebab matanya kabur dan kepalanya pusing.

Hingga dilain, detik, ia tak sadar akan dirinya lagi.

Lewat sekian lama yang ia tak tahu tepat, Mo Lek mendusin dengan layap-layap.

Dengan matanya, masih belum melihat tegas, ia mendapatkan seorang dengan pedang dipinggang tengah membungkuk ke-arahnya untuk melihat ia dari dekat.

Ia lantrs saja menggeraki tubuhnya berniat berlompat bangun, akan tetapi, apa mau dikata, tenaganya belum pulih, begitu ia roboh pula.

Karena itu, ia cuma bisa ber teriak.

,,Sie Siong pengkhianat kau bunuh lah aku!

Orang tua Sudah lantas mengulur tangannya, membekap mulut orang sembari dia kata hampir berbisik.

, Jangan bicara tidak keruan!

Aku bukannya Sie Ciangkun!"

Mo Lek sadar ia membuka matanya.

Sekarang ia bisa melihat tegas.

Itulah Liap Hong.

Inilah orang yang tadi memujinya.

Liap Hong berhati baik; dia menyayangi sianak muda, maka itu, dia lantas minta kepada Sie Siong untuk tidak mem binasakannya.

Dia pernah adik misan, sekarang dia menjadi pembantu yang penting dia juga terlebih gagah, maka itu, Sie Mong meluluskan permintaan itu.

Memang, jasanya Sie Siong separuh dari jasanya adik misan Mengingat jasa orang saja Sie -Siong sudah harus memberi muka padanya.

Liap Hong membawa Mo Lek kekemahnya.

Ia mengobati ukanya dan mengasi juga minuman godokan somthung Karena itu Mo Lek sadar "ebih dari pada mestinya.

Selama digedungnya An Lok San di-Tiang-an, Liap Hong pernah bertempur dengan Mo Lek, sekarang se".ang sepuL.h tahun dan Mo Lek menjadi besar, dia ti ak lantas mengenalinya, baru belakangan perlahan-1a han ia ingat anak muda ini, barulah ia mendapat kepastian disaat Mo Lek mendusin dan mendamprat Sie Siong.

Dengan sehelai selimut, Liap Hong menutupi tubuh orang.

,,au toh Tiat Mo Lek Tkatanya tertawa.

"Sungguh besar nyalinmu ! Kabarnya kau telah menjadi gie-cian sie wie dari raja Tong, kenapa sekarang sebatargkara menunggang kuda disini ?"

Mo Lek kenal orang she Liap ini dan ingat kebaikannya, selama Toan Kui Ciang enyerbu gedungnya An Lok San buat me* nolongi ^u It Cie Liap Ho g pernah memberikan bantuannya seCara diam-diam.

Liap Hong pula pernah mengasi pikiran baik untuk Louwsie istrinya SU It Cie Karena ini-ia menjadi menaruh kepercayaan besar, ma ka suka ia memberi keterangan yang benar; Katanya.

Tidak salah akulah Tiat Mo Lek.

Aku tidak biasa terkekang tak mau aku te rus-terusan menjadi pengiringnya rrj?, kare aanya aku minggat.

Aku tidak sangka disi"-ni aku berttmu dengan kamu.

Sekarang tef serah kepada kamu untuk membunuhku !"* Liap Hong tertawa.

"Kau tetap keras kepala seperti dulu duluf"katanya.

"Jikalau aku hendak membu liuh kau, buat apa aku menolongmu memba wa kemari dan mengobatimu ? Aku hanya ingin kau sembarang mencaci Orang jikalau suaramu sampai didengar Sie Ciangkun, tidak adadayiku untuk melindungi kau. Karena kau tidak suka membantu raja, baik kau tinggal tetap sama aku disini. Tapi Mo Lek panashati. kata ia dingin ,.Kau menolongi aku, aku terima kasih kepadamu"

Tetapi, jikalau begini nasehatmu, hendak aku mendamprat kau !"

"Aku bermaksud baik. apakah karena itu aku lantas didamprat ? tanya Liap Hong.

"Kau menyuruh aku berdiam disini! Kau pandang aku omng macam apakah? tanya Mo Lek.

"Akulah laki-laki sejati! Mana dapat aku berdiam disaranj pemberontak? Sekarang begini saja, kau bunun aku atau kau lepaskan aku i Jalan yang ketiga tidak ada "

Mukanya Liap Hong pucat, dia jengah sekali. Selang sejenak, ia kata.

"Raja Tong lari meninggalkan istananya dia kabur kesuatu tempat kecil ditanah Siok Barat, tidak nanti dia dapat bertahan lama disana ! Kau tidak memangku pangkat, buat apa kau menjadi menteri setia dari kerajaan Tong?"

Mo Lek tertawa dingin.

,,Apakah cuma orang yang memangku pangkat baru dapat membela negara ?

kata nya.

,.Liap ciangkun, penglihatanmu keliru!

Memang si raja tua telah melarikan diri, sampai dia meninggalkan rakyatnya, tetapi si rakyat sendiri dia harus melindungi rumah dan tanah miliknya Sekarang ini di selatan dan utara sungai besar, tentara rakyat sudah bangkit diempat penjuru !

Apakah kau tidak tahu itu ?

Apa pula sekarang ini Kwee Leng-kong sudah bergerak diThay goan dan putramahkota juga memimpin tentara di Leng-ho !

sekarang ini kamu masih dapat berbuat sesukamu, tetapi itulan buat sementara waktu saja !"* Liap Hong lekas-lekas menggoyangi tangannya.

"Mo Lek disini jangan kau bicara urusan negara", cegahnya.

"Mari kita bicara secara sahabat ! Jikalau kau suka pandang aku sebagai sahabatmu kau tinggallah disi ni, berdiamlah dengan tenang nanti sesudah lukamu sembuh akan aku berdaya lebih jauh untuk kebaikanmu". Mo Lek membalik diri.

"Lukaku tidak berat, katanya, sungguh sungguh.

"Aku hanya menyayangi kau! Liap Hong membuka matanya lebih lebar Dia heran"

Hendak dia membuka suara atau dia cegah dirinya. Dia jadi berpikir. Aknirnya dia tanya juga.

"Kenapa kau me nyayangi aku ?"

"Toan Tayhiap pernah bicara denganku tentang kau", sahut Mo Lek; Dia memuji kau hidup bercampur gaul. Diluar dugaan ku, sekarang kau hidup bercampur gaul di tempat kotor, kau pula rela membantu hari mau mengganas !"

Mukanya Liap Hong menjadi nerah. Ia berdiam sekian lama lalu ia menghela napas.

"Benarkah Toan Tayhiap pernah memuji aku ? katanya. t,Pujiannya itu membuat aku malu sekali Mo Lek, jangan kau bicara pula, hanya nanti dibelakang hari, kau akan mengarti sendiri."

Mo Lek memang hendak menguji hati orang, mendapat jawaban itu, ia kata. ,,Kalau kau kata begini Ciangkun, baiklah, senang aku suka berdiam disini merawat lukaku."

Boleh dibilang baru saja mereka habis bicara, lantas mereka mendengar tindakan kaki orang, lalu sebelum orang itu menying kap tenda, sudah terdengar pertanyaannya yang nyaring .

"Apakah bocah itu masih hidup "

Itulah suaranya Sie Siong.

Liap Hong kaget sekali, syukur ia lantas mendapat akal.

Ia mendekati Mo Lek untuk berdiri di sisinya, tangannya diulur kepada luka orang, uituk dirabah.

Tentu saja ia merabah dengan perlahan.

Sembari berbuat begitu, ia membungkuk, untuk meng usap muka orang, untuk kata dengan perlahan .

"Ingat, jangan sembarang bicara !"

Mulanya Mo Let heran, tetapi segera ia mengarti. Kata ia didalam hati .

"Dia mengotori mukaku dengan darah, inilah untuk mencegah Sie Siong mengenali mukaku ..."

Maka ia berdiam saja, Liap Hong sebaliknya sudah lanias men jawab pertanyaan Orang, menyusul mana, orangnya , . .. ialah Sie Siong ..... lantas muncul. Dia mengawasi Mo Lek, setelah mana, dia kata .

"Lukanya bocah ini bukannya enteng, dia mirip manusia berdarah !"

"Syukur dia hanya dapat luka diluar."

Kata Liap Hong.

"Dia_ bertubuh kuat, sesudah merawat diri sepuluh hari atau setengah bulan, tentu dia bakal sembuh."

Sie Siong mengerutkan alis.

"Bocah ini mempunyai ilmu silat yang tidak dapat dicelah,"

Katanya.

"Kalau nanti dia sudah sembuh dia mungkin besar faedahnya untuk kita. Cuma kita sedang ber gerak, sulit untuk merawatnya, obat-obatari juga kurang .., ."

Lantas ia menggeraki sebelah tangannya seperti orang lagi membacok. Itulah berarti .

"Lebih baik bunuh saja padanya !"

Liap Hong bersandiwara.

"Siapakah kau kira bocah ini ?"

Tanyanya.

"Kau tahu, dialah orang sekampung halaman dengan kita ! "

"Oh, begitu ?"

Kata Sie Siong heran. ,,Coba terangkan padaku, nanti aku ingat-ingat dia siapakah "Dialah cucunya nenek luar dari keponakannya bibiku."

Kata Liap Hong.

"Dia cucunya si orang tua she Ong tukang ber-kuli mengangon kerbau. Dia ini Ong Siauw Hek, si cilik hitam she Ong. Lihat, apakah tidak kebetulan yang kita menemukan dia disini T"

Sie Siong meninggalkan kampungnya sejak masih kecil, tidak nanti dia ingat orang yang disebutkan Liap Hong, yang sengaja menyebut sanaknya dengan cara berbelit-belit itu, dia memang mempunyai satu sifat baik, yaitu dia menyenangi orang sesama kampung halaman dan kelemahan ini digit* nai Liap Hong, maka juga ia percaya apa yang dibilang itu.

"Oh, kebetulan !"

Kata dia.

"Knlau begitu, biarlah dia berdiam di dalam tentara Cuma, untuk menyuruh orang merawatnya, itulah berabeh. Aku pikir biarlah dia merawat dirinya sendiri" ,,Aku mempunyai jalan buat menolong dia,"

Kata Liap Hong.

"Dari sini ke Tiang-an cuma seperjalanan dua hari, aku pikir buat mengirim orang mengantarkan dia per gi kesana, supaya dia berobat di Tiang-an saja. Nanti sesudah dia sembuh dia mesti lekas datang kepada kita, untuk masuk dalam tentara. Itu waktu, aku minta sukalah kau membantu dia."

"Ya* daya itu baik"

Sie Siong menyetujui.

"Kau lakukanlah itu. Aku memang kekurangan pembantu yang gagah, setelah dia sembuh nanti, dia dapat menjadi pengiring pribadi dari aku,"

Mendengar itu, Liap Hong kata pada Me Lek .

"Eh, Ong Siauw Hek, kenapa kau masih tidak mau menghaturkan terima kasih kepada Sie Ciangkun"

Mo Lek menurut, dengan suara sengaja dibikin serak, ia kata .

"Terima kasih ! Harap maafkan aku yang rendah tidak dapat memberi hormat ..."

Sie Siong tertawa.

"Kau lagi terluka, tidak usah kau pakai banyak adat peradatan !"

Katanya.

"Haha ! Hampir aku membunuhmu sebab aku menyangka kaulah mata -mata pemerintah Tong l "

Masih panglima ini berkata-kata lainnya baru dia berlalu. Liap Hong mengeluarkan peluh dingin.

"Syukur aku tidak ngaco belo !"

Katanya pada Mo Lek.

"Sekarang kau boleh dahar bubur ! Kau sudah lama sekali kelaparan buat sementara ini, kau mesti dahar barang yang lembek."

Mo Lek menurut, Ia dahar bubur dengan daging yang empuk.

Ia tidak sungkan-sungkan lagi hingga ia sikat habis semua bubur dan dagingnya.

Kecuali luka dikulit, habis menangsel perut, kesegarannya pulih dengan cepat.

Liap Hovg terus duduk menemani, senang ia melihat paras orang mulai bersemu dadu.

"Mo Lek,"

Katanya, girang.

"kelihatan nya besok kau sudah dapat berangkat. Tidak banyak tempo untuk kita berkumpul, sekarang hendak aku tanya kau satu hal. Kabarnya ketika si raja tua mau buron, semalam sebelumnya ada o;ang jahat yang datang menyatroni untuk membinasakannya ketika itu kau hadir atau tidak di istana?"

"Memang, percobaan itu memang telah terjadi,""sahut Mo Lek.

"Sicalon pembunuh ialah Ceng Ceng Jie. Dialah orang yang di perintah oleh pihak kamu. Mustahil kau tidak tahu ?"

"Dia telah dicekuk kakak seperguran-nya dan digusur pulang ke gunungnya!"

Katanya.

"Sedikitnya didalam tempo tiga tahun dia tidak bakal muncul lagi dalam dunia Karig Ouw !"

Lalu pemuda ini menjelaskan percobaan Ceng Ceng Jie itu kena digagalkan.

Tapi ia menyembunyikan halnya Ong Yan Ie, berkhianat kepada Ceng Ceng Jie.

Liao Hong mengangguk.

Baru sekarang ia ketahui duduknya hal ,Apakah paling belakang ini kau perilah bertemu dengan Lie hiap Bwee Leng Song"

Ia bertanya pula.

"Apakah dia baik".

"Dia baik sekali. Dia sudah menikah dengan Lam Suhengku. Kenapa kau menanyakan tentang dia ?"

Dahulu hari pernah aku menemukan dia dirumahnya Sie Ciangkun. Aku bersyukur buat kebaikkannya, yang tidak menganggap aku sebagai manusia jahat."

"Kau benar, tentang kau dia pernah omong dengankau. Dia ketahui halnya kau melindungi secara diam diam pada Louw Sie Toan Tayhiap juga sangat bersyukur terhadapmu I"

Liap Hong girang.

Inilah bukan di sebabkan melulu Leng Song tidak suatu apa.

Hanya hatinya lega mengenai suratnya Lo-uw-si"e untuk keluarga Hee, surat maiia di pedayakan dan diambil Ceng Ceng Jie.

Buat beberapa tahun, hatinya tidak tenteram Ini pula sebabnya maka ia tanyakan Nona-Hee itu, Ia hanya tidak tahu bahwa Leng-Song dan ibunya telah mendeita banyak dan ibunya si nona sudah menutup mata.

Syukur Mo Lek juga tidak menceritakannya dengan begitu ia jadi tidak usah berduka, Lalu ia berkata.

"Mo Lek. jikalau nanti kau bertemu Toan Tayhiap dan Hee Lie-hiap tolong kau sampaikan hormatku kepada me reka itu. Kau bilangi juga bahwa karena aku dipandang sebagai sahabat oleh mereka dibelakang hari pasti akan aku balas ke baikan itu!"

Setelah itu mereka bicara dari hal-hal lainnya Sekarang Mo Lek mendapat kenyata an orang she Liap ini turut Sie Siong bukan karena kehendaknya sendiri, Mika ia lantas berkata "Ada satu nal baat mana aku mengharapkan bantuanmu, entah kau sudi mem bantuku atau tidak, ...

"Asal yang aku sanggup, tidak nanti aku tampiK !* "Aku ingin bertemu dengan Louw sie sebentar saja. Dapatkah ?*"

Mo Lek bertanya Liap Hong berpikir keras, baru kemudian ia berkata sungguhsungguh.

,,Mo Lek dapat aku mendayakannya, Cuma aku pun mau meminta supaya kau jangan melakukan sesuatu yang dapat mempersulit aku." ,.Kau jangan kuatir.

Untukku cukup a-sal aku dapat bertemu maka satu kali dengannya.

Tidak nanti aku menerbitkan onar Apakah kau kuatir aku nanti serbu keluarga Sie ?"

"Kaulah orang bangsa hiap-gie aku tahu tidak nanti kau sembarang membunuh orang. Aku hanya tidak menghendaki kau membawa lari pada Louw-sie, Disebelah itu diantara keluarga Sie kau tidak dapat perli hatkan diri asalmu."

"Baik, aku beijaji pad&mii, Tapi, jika itu ada lain orang yang menolongnya, akli tidak dapat mengambil peduli.

"Louwsie sendiri yang ingin tinggal dirumah keluarga Sie itu. kata Liap bong Asal orang tidak menciliknya. tidak nanti dia mau mengangkat kani. Duluhari juga hendak aku menolongi dia secara diam supaya dia bisa menyingkir, dia menampik/ dia menampik."

Liap Hong mengeluarkan sebuah yauw pay pertanda ya ig digantung di pinggang, kata ia pula;

"Inilah tanda bukti buat orang berlalu lintas dldalam pasuka.i kami dengan kau membawa ini orang tidak bakal ganggu kau ditengah jalan. Sesampainya kau di Tiang an kau juga dapat menggunakan ini sebagai bukti bahwa kau bekerja dalam tentara. Besok akan aku mendayakan sebuah kereta buat membawa kau ke Tiang an disana kau boleh tinggal dirumahku Aku tinggal bertetangga dengan Sie Ciang-kun, diantara dua rumah ada pintu yang menghubungi satu dengan yang lain. Dengan kau tinggal dirumahku, pasti bakal ada ketika-nya, yang baik buat kau menemui Low-sie Mo Lek girang sekali ia membilang te rima kasih sambil memberi hormat.

"Lukaku sudah tidak membahayakan lagi, asal ada seekor kuda untuk menjadi pengganti kakiku dapat aku pergi tanpa naik kereta,"

Katanya. Liap Hong mengangguk akan aku menu lis surat buat keluargaku,"

Kata ia pula.

,.Kau serahkan itu kepada pengurus rumah tanggaku nanti dia mengurus segala apa ke perluanmu.

Keluargaku berjumlah sedikit, kecuali istri dan anak perempuanku, cuma ada beberapa bujang yang semuanya menja di orang-orang kepercayaanku.

Cuma kau harus ingat kota Tiang-an masih tetap kacau, jikalau tidak ada urusan sangat penting lebih baik kau jangan pergi keluar kemana mana.

"Aku mengerti/"

Kata Mo Lek yang kembali memberi hormat pula.

"Kau jangan kuatir. Kau sangat baik terhadapku, aku sangat bersyukur. Selama ini sang fajar sudah tiba. maka selekasnya Liap Hong selesai menulis surat nya Mo Lek simpan itu baik-baik. la pun memoawa yauwpay yang diberikan, terus ia berpamitan. Liap Hong menyerahkan seekor kuda pilihan, Ia sendiri yang mengantarkan si anak muda keluar dari tangsi. -oo0dw0oo

Jilid 27 Memang dengan membawa yauwpay itu, Mo Lek tidak mendapat rintangan dise-panjang jalan, bahkan ia mendapat hak sebagai seorang pesuruh hingga ia bisa berhenti dan singgah disetiap perhentian dapat makan dan penginapan hingga tak usah ia menderita kelaparan atau kedinginan lagi.

Selang tiga hari, sampailah pemuda ini dikota Tiang-an.

Di jalan besar, setiap beberapa puluh tindak, ada tentara-tentara jaga.

Dikiri kanan toko-toko pada tutup.

Di jalan besar sedikit sekali orang mundar-mandir.

Sedangkan ditepi jalan, di dalam solokan kadang kadang terlihat tulang be-gedung bertetangga satu dengan lain.

Yang satu Sie-hu, pintu gedung keluarga Sie yang lain Liap-hu, gedung keluarga Liap.

"Inilah tempat bagus untuk aku menyembunyikan diri,"

Pikir Mo Lek girang.

"Dengan begini selain aku akan mendapat kesempatan menemui Louw-sie, akupun bisa menanti datangnya Toan Tay-hiap ..."

Ketika Toan Kui Ciang berpisah dari Mo Lek pernah dia menyatakan dengan sumpah bahwa biar bagaimana, hendak dia menolongi Louw-sie, isterinya Su It Jie.

Maka juga Mo Lek percaya paman itu pasti bakal datang ke koia Tiang-an ini.

Segera pemuda ini tiba di muka gedung dan terus ia mengetuk pintu, ketika seorang pengawal muncul, ia memberitahukan maksud kedatangannya sambil menyerahkan suratnya Liap Hong.

Ia tidak usah menanti lama munculnya koan-kee kuasa rumah keluarga Liap itu, yang memimpinnya masuk ke dalam.

Di dalam suratnya, Liap Hong memberitahukan bahwa Mo Lek yang memakai nama samaran Ong Yauw Hek menjadi sanak asal sekampung, dari itu ia tidak disambut secara sembarangan.

Selagi berjalan masuk itu, waktu mereka mau bertindak naik disebuah tangga batu, mendadak Mo Lek mendengar seruan nyaring, yang rupanya keluar dari mulutnya seorang anak kecil !

"Awas piauw !"

Ia terkejut, segera ia menoleh.

Tepat pada waktu itu, dua biji uang tangchie yang dijadikan piauw, senjata rahasia, menyambar ke arahnya, datangnya bersusun, atas dan bawah, menuju ke arah dua jalan darah lenghu dan tiaw-hoan.

Ia heran yang di-rumah keluarga Liap ia mendapat penyambutan caia begini, Tapi ia mesti membebas kan diri.

Ia lantas menggunakan tangannya menyambuti piauw yang diatas itu dan dengan berjingkrak, ia menendang jatuh piauw yang dibawah.

Justeru itu datang pula piauw yang ke tiga.

hingga sulit buat menangkap puia atau berkelit, terpaksa Mo Lek hajar itu dengan piauw yang ia cekal.

Maka piauw yang ke tiga itu jatuh bersama piauw yang pertama.

Menyusuli Penyerangan gelap itu dari dalam terdengar teguran seorang wanita .

"In Nio, jangan tidak tahu aturan ! Inilah tetamu ayahmu !"* Mo Lek mengawasi, hatinya mendongkol. Ia mendapat kenyataan pembokongnya ialah seorang bocah wanita yang berdiri diatas tangga. Dia memelihara dua buah kuncir, ramanya jenaka. Umurnya ia duga, be lum tiga belas tahun. Di belakang nona itu ada seorang nyonya usia pertengahan, yang tentu menjadi ibunya. Si koan-kee kuasa rumah, sudah lantas memperkenalkan .

"Inilah nyonya majikan kami dan ini nona kecil kami. Saudara Onghar-p I j b a-h""ri Noiakami ini..."

Tidak m-i^jt; s. koankee bicara habis, nona kecil itu sudah menyala sambil bertepuk tepuk tangan dan berkata den;an gembira.

"Paman, kau liehay sekali! Sungguh sempurna caranya kau menanggapi piauw! Semua mereka, mereka tidak dapat melawan kau!"

Liap Hujin menegur puterinya.

"Makin lama kau jadi makin binal! Kau sampai tidak mau lihat, siapa orangnya yang datang kau main sembarang menyerang! Syukur pamanmu ini tidak kena diserang, jikalau tidak kau dapat membikin aku mati mendongkol!. Ia menoleh kepada Mo Lek untuk meneruskan.

"Inilah In Nio anak kami. Dari masih kecil dia sudah gemar ilma silat dan telah mempelajarinya, selama beberapa hari ini dia baru belajar mengguaai piauw lantas dia menjadi keranjingan, dia selalu mengganggu orang-orang kemi untuk menyambuti piauwnya .."

"Tarub Kata orang kena terhajar tidak menjadi soal!! sinona cilik menyela ibunya itu. ,,Aku"mengerti ilmu totok, untuk menyadarkancya! Oh, paman, kau toh tidak menggusari aku,-bukan?""

Ia teruskan pada Mo Lel, lagaknya lucu sekali.

"Masih banyak!""

Membentak siibu. ,.Kalau nanti ayahmu pulang, akan aku. tuturkan lagakmu ini supaya kau dihajar hingga kulitmu pada pecah!"

Sekarang Mo Lek mengerti bahwa ia di pandang sebagai pegawai keluarga Liap itu.

Ia tidak menjadi gusar.

Ia ingat semasa kecil ia juga suka memain seperti bocah ini.

Sebaliknya, ia girang Liap Hong mempunyai anak yang berbakat bagus sekali.

Pikirnya;

"Semasa aku kecil kebiasaanku meng-gunai senjata rahasia tidak sepandai dia ini. Maka ia lantas berkata dengan puj an-nya.

"Sungguh inilah anak harimau dari keluarga panglima perang! Inilah pendekar wanita! hujin harap hujin tidak menyesalkan dia. Memang, senjita rahasia harus banyak dilatih "

In No girang setali sambil tertawa ia kata pada ibunya "Nah, ibu, ibu dengarlah! Apa katanya paman ini! Ilmu senjata rahasia memang tidak dapat tidak dilatih terus!"

Nyonya itu tertawa. Katenya.

"Kau puji lagi dia, dia akan semakin menjadi-jadi! .. Ayahmu memang biasa sangat memanjakannya!"

Tapi, anak, kau ingat buat belajar senjata rahasia, tidak dapat kau pakai orang sebagai sasaranmu! , Tetapi, ibu. mengenai ilmu piauw, ibulah seorang asing!"

Berkata sianak.

"Untuk dengan piaaw menyerang jalan darah kalau orang tidak pakai sasaran tubuh manusia, mana itu dapat?"

"Aku ada satu jalannya!"

Mo Lek campur bicara.

"Kau dapat menganggp kayu yang nanti diberi cat, untuk membeii tandatanda letak dan garis garisnya jalan darah Boneka itu dapat diperintah orang menggendolnya baat dibawa berlari lari, lalu kau menyusul dan menyerangnya. Tidak kah itu sama saja? "

In Nio bertepuk tepak tangan Bagus, bagus!"

Serunya memuji.

,,Mengapa aku tidak dapat pikir cara ini?

Paman, kau tentulah seorang ahli, hayo paman kau temani aku berlatih , Tidak malu-malu nona cilik ini.

Ia bicara seperu dengan orang yang ia telah kenal lama.

Mo Lek tertawa dan-menjawab.

,,Aku-lah orang desa, aku cuma mengerti pencak kampungan.

Jikalau aku menemani kau, tentu percuma saja aku selalu bakal kena dihajar kau1"

Tapi sinona membuat main bibirnya. ,.Aku tidak perciya! "

Katanya. Barusan kau telah menyambuti tiga-tiganya piauwku! Mana mungkin kau membilang tidak pandai menggunai piauw? Jangan mendustai aku paman!"

Ai, In Nio jangan kau main gila!"

Kata Sang ibu "Paman Ong baru saja sampai, minum teh pun belum, bagaimana kau lan-as menggerembenginya?

Bagaimana kau lantas minta ditemani berlatih piauw?

Sungguh kau tidak tahu aturan!

Hsyo kau mundurlah!"

Lantas nyonya ini menambahkan kepada tetamunya.

"Semua ini dasar ayahnya yang biasa memanjakannya! Syukurlah paman bukan orang luar, jikalau sebaliknya, pasti orang akan mentertawai kami sudah tidak mampu mengajar anak!"

Mo Lek kata. ,,sifat sinona juneru sifat keluarga panglima perang. Sinona masih muda sekali, ia sudah liehay begini, buat memujinya orang tak sempat, apa pula buat mencelanya!"

In Nio tidak menentang lagi ibunya, hanya ia tidak mau mengundurkan diri.

Inilah bukti disamping ayahnya, ibunya sendiri juga biasa memanjakannya Sikap-nya ini terang sikap yang menyatakan ia masih hendak menanti Mo Lek menemani ia berlatih piauw...

Dalam suratnya Liap Hong kepada isteri nya, Mo Lek diperkenalkan sebagai Ong Siauw Hek sanak jauh asal sekampung halaman, karena itu diwaktu berbicara lebih jauh.

Nyonya Liap menanyakan beberapa hal mengenai tempat asalnya.

Ia sendiri juga sudah lama meninggalkan kampung ha lamannya, ia sudah tidak ingat semua.

Mo Lek sebaliknya telah memperoleh beberapa keterangan dari Liap Hong, dapat ia memberikan jawabannya.

Nyonya Liap juga tidak menanyakan banyak, kalau ia menanya itu hanya sekedar saja, maka kemudian ia kata "Disaat kacau seperti ini aku girang ada anak jauh yang datang berkunjung.

Kau tinggallah disini.

jangan sungkan kau anggap rumah mi seperti rumah sendiri.

Telah aku menyuruh orang menyediakan kamarmu."

Mo Lek mengucap terima kasih.

Selagi sikoankee hendak mengajak tetamunya mengundurkan diri, buat pergi ber istirahat dikamarnya, mendadak ada satu nona cilik lainnya yang datang kesitu, yang terus menegur In Nio .

"Encie In, apa hari ini kita berlatih pedang pula ?"

"Hong Sian kebetulan kau datang!"

Kata In Nio.

"Inilah Paman Ong, tetamu kami yang baru sampai yang ilmu silatnya mahir sekali. Sampai sebegitu jauh, kita belajar silat secara seperti menutup diri, tidak ada orang luar yang melihatnya, entah ilmu silat kita itu ada harganya atau tidak maka sekarang baiklah kita minta pamaii ini yang menjadi wasitnya untuk memberi keputusan !"

"Ah, anak In, kembali kau mau mengganggu Paman Ong!"

Kata sang ibu.

"Pergi lah kamu berlatih sendiri!"

"Tidak apa, ibu, tidak apa!"

Kata In Nio.

"Bukankah hari ini Paman Ong tidak bekerja apa-apa ? Bukankah ia sudah mi-num teh ? Ibu sendiri yang membilang paman bukan orang lain, selagi ayah tidak ada dirumah. bukankah dapat jikalau aku minta paman yang memberi petunjuk padaku ?""

Nyonya Liap kewalahan melayani anak nya itu.

Nona kecil yang dipanggil Hong Sian itu manis sekali, usianya lebih muda dari pada In Nio, usianya mungkin baru sepuluh tahun.

Ketika Mo Lek mengawasi, ia heran Ia seperti pernah kenal potongan muka nona itu, yang mirip dengan mukanya seseorang lain.

"Buat memberi petunjuk, itulah aku tidak berani."^ kata ia pada In Nio.

"Ijinkan lah aku menyaksikan, buat membuka mataku.

"Nona kecil ini ..."

"Ialah adik Sie,"

In Nio memberitahukan.

"Adik Hong Sian, hayo kau menemui paman Of.g !"

Liap Hujin pun berkata .

"Ialah mustikanya Sie Ciangkun yang menjadi tetangga kami. Mereka ini berdua bersahabat seperti encie dan adik. mereka bermain-main bersama setiap hari. Kau tentu telah bertemu dengan Sie Ciangkvn bukan ?"

Mo Lek mengangguk buat menjalankan peranannya.

"Sie Ciangkun baik sekali."

Sahutnya.

"Untuk kedatanganku ke Tiang-an ini, aku pun telah menerima banyak bantuannya."

Hong Sian bertindak menghampirkan. untuk memberi hormat pada Ong Siauw Hek ia berkata .

"Ilmu pedangku baru saja di pelajari maka itu, aku harap kau tidak nan ti mentertawakannya."

Sikap nona ini tidak manja seperti In Nio, roman dan gerakgeriknya sangat menarik hati, maka Mo Lek .menjadi heran, hingga ia berpikir .

"Mungkinkah aku keli ru menyangka ? Benaikah dia ini anaknya Sie Siong ? Heran sekali ! Kenapa Sie Si ong dapat mempunyai anak manis seperti ini ?"

Sementara itu, karena Mo Lek telan menerima baik buat "menonton"

Latihan 1 ilmu silat anaknya, Liap Hujin tidak me nentang lagi, maka In Nio bersama Hong Sian lantas mengajak sipaman pergi kebelakang gedung dimana ada taman bunga ser ta pekarangan terbuka peranti belajar silat.

Disitu ada sepasang para-para senjata lengkap dengan delapan belas macam gegaman-nya.

In Nio dan Hong Sian tidak mengambil golok atau pedang tulen, hanya mereka me milih sepasang pedang kayu, yang memang diperantikan untuk berlatih.

Disisi lapangan ada sebuah tong terisi abu hitam.

In Nio menancap pedangnya kedalam abu hitam itu, lalu sambil menarik pulang ia berseru.

"Mari kita mulai !"

Hong Sian menurut contoh, dia menye-lup pedangnya kedalam abu hitam setelah itu dia maju ketengah kalangan. Sambil me ngibasi tangannya dan memasang kuda-kuda dia kata .

"Hari ini tak usahlah aku mengalah lebih dulu selama liga jurus padamu !"

Mo Lek heran melihat gerak gerik nona cilik itu, ia mulanya menyangka orang akan seperti main-main saja, tidak tahunya sikap permulaan itu sebenarnyalah ilmu pe dang asli dan dari tingkat atas.

Itulah jurus "Pek-hong-koan-jit,"

Atau "Bianglala putih menembusi matahari."

Benar si nona belum mahir tetapi ia sudah dapat bergerak baik sekali, cepat dan lincah.

Gerak permulaan Liap In Nio lebih aneh lagi.

Dia berdiri dengan pedang dili.T tangi didada, kaki dan tubuhnya tidak berkutik, baru setelah Hong Sian menyerang, ia menggeser kakinya hingga terkepang, un tuk dapat mendak, hingga pedang Nona Sie hampir mengikis kulit kepalanya, dengan begitu juga, ujung pedang nona itu memain diatasan kepala orang, itulah jurus "Sinar layung merah menutupi bumi."

"Jika orang bertempur dengan sungguh-sungguh, serangan ini sukar buat dikelit."

Kata Mo Lek didalam hati.

Sementara itu kedua nona sudah saling serang.

De igan ditempel dan dipiitar, satu kali pedang Hong Sian kena terpental, tapi habis itu.

dengan cepat mereka sudah berkum pul pula.

Diam-diam Mo Lek memperhatikan kaki In Nio.

Itulah gerakan yang dinamakan ..menginjak garis tengah dan segi delapan"

Ia heran dan kagum tak peduli ialah ahli pedang.

Nona itu dapat bergerak seumpama kupu-kupu beterbangan berseliweran di antara bunga bunga.

Herannya pemuda ini ialah kapan ia memikir, siapa gurunya kedua nona ini.

Kata ia didalam hati .

"Dua-dua Sie Siong dan Liap Hong pernah aku tempur. Ilmu silat Sie Siong biasa saja. Ilmu silat Liap Hong | lebih sempurna dari pada ilmu silat Sie Siong. akan tetapi mereka tak dapat disamakan dengan anakanak mereka ini, pula ilmunya dari lain cabang atau partai. Pasti mereka ini mempunyai ilmu pedang bukan ajaran atau warisan ayah mereka ..."

Seiuh latihan kedua nona itu.

Mere a bergebrak terusterusar.

Nampak mereka seimbang Tenaga mereka pun ulet.

Tanpa merasa, mereka sudah melewati beberapa puluh jurus.

Hong Sian lebih banyak menyerang.

In Nio senantiasa bertahan.

Melihat ketetapan tubuhnya In Nio terang lebih mahir diripada nona she Sie itu.

"Jangan-jangan nona kecil itu bakal lekas kalah,"

Pikir Mo Lek.

Hong sian juga rupanya merasa ia bakal Kalah, mendadak ia menggunai siasat ialah kedua kakinya menjejak tanah, tubuhnya terus mercelat tinggi dari atas ia baru tu run sambil menikam.

Mo lek kenal baik tipusilat itu yaitu "Kera putih mencelat dicabang,"

Salah satu tipu dari ilmusilat pedang Wan Kong Kiam-hoat Tipu itu periah ia saksikan di gunakan Khong Khong Jie baru-baru ini, Toan kui Ciang kalah karena jurus itu.

Hanya Hong Sian mengunainya beda daripada caranya Khong Khong Jie.

Ia dari atas sedangkan Khong Khong Jie dari samping.

Tanpa merasa pemuda ini berseru dengan pujiannya.

Liap In Nio menekuk kedua kakinya, tubuhnya melengak kebelakang sedangkan dengan pedangnya, ia menutup diri.

Itulah tipusilat ,,Tiat poan kio atau ,,Tembatan besi."

Deagan kedua kaki tertancap dengan kuda-kudanya, tubuhnya seperti rebah rata membikin pedang lawan lewat diatasan tubuh, pembabat muka tanpa hasilnyp.

Tapi ia tidak hanya manda diserang, ia juga menyampok hingga kedua buah pedang bentrok keras dan nyaring sama2 lepas dari, tangan, mental jauh.

Dan habis itu kedua ber diri sambil saling jabat tangan dan tertawa.

,,Encie aku kalah!"

Hong Sian berkata, Sekarang barulah Mo Lek melihat bahwa tubuh Hong Sian .,ada titik abu hitamnya tujuh biji dan tubuh Liap In Nio tiga titik.

Itu berarti bahwa barusan, selagi berlatih itu, mereka sudah dapat saling melukai." , Tidak"

Kata Liap In Nio ,.Kau justru telah maju pesat.

Barubaru ini aku menga lah dalam tiga jurus kesudahannya sama seperti ini Kau lebih muda dua tahun dari pada aku selewatnya dua tahun lagi, kau pasti bakal melebihkan aku." , Sudah jangan kita saling menarik ke-putusan sendiri."

Kata Nona Sie. ,;Paling benar kita minta pertimbangannya Paman Ong mungkin paman dapat menunjuki kekurangan kita."

Mo Lek tertata. ,,Ilmu pedang kamu liehay sekali! "

Katanya.

"Kamu lebih menang daripada aku, maka juga kamu seperti menanya kepada sibuta !"

Dalam hal ini meski ia merendah Mo Lek bicara benar.

Memang dalam halnya pedang, belum tentu ia mendapat mengalah kan nona-nona itu.

Kedua bocah itu tidak mau me igerti, usteru mereka lagi mendesak tiwa tiba ada terdengar suara ini.

..Nona Sian sudah wak tunya nona pulang !

Lalu tertampak seorang wanita, dengan dandanan sebagai babu susu, datang menghampirkan.

Roman wanita ini luar biasa.

Itulah sebab mukanya tersilangkan cucad bekas dua bscokan selain itu ada tandatanda bekas luka didahmya.

Kulit matanya juga ter tekuk dan pecah dan kulitnya pucat seperti tidak ada darahnya.

Walaupun demikian dia tidak menakuti, Menurut wajahnya semasa mudanya dia tentulah cantik.

Dia mempunyai pinggang yang langsing.

Rambutnya sudah separuh ubanan.

Mengawasi wanita itu hati Mo Lek tiba-tiba tergerak.

,, Tidak salah lagi, dia teutulah Louw-sie !

pikirnya.

Ia melihat gerak gerik o-rang yang agak agung.

"Teranglah guna melindungi kesucian dirinya dia sudah me rusa mukanya. Kasihan dia, yang selama sepuluh tahun, mesti hidup menderita ..." ,-,Low-Ma !"

Hong Sian memanggil.

"Aku lagi mema"n dengan gembira, aku belum mau pulang ! Sebutan "Lauw Ma"

Itu atau ,,babu Ma"

Menguatkan dugaan Mo Lek bahwa nyonya itu benar Louw-sie atau nyonya janda Su It Jie.

"Kau sudah bermain-rnain setengah harian, anak,"

Berkata Lauw-sie, suaranya sabar, sedang gerak geriknya halus.

"Lihat bajumu sudah gemak ! Bukankah kau habis berlatih pedang ? Kau gemar belajar, aku girang, tetapi setelah mengeluarkan banyak peluh, perlu kau salin dahulu. Bagaimana kalau kau jatuh sakit ?"

Itulah kata-kata dari kasih sayang yang mendalam. Mendengar itu, Mo Lek kata di dalam hati .

"Tidak salah, Hong Sian tentulah anaknya. Mungkin Sie Siong suami dan istri melihat nona ini manis, mereka mengakuinya sebagai anak mereka sebaliknya si ibu disuruh menjadi babu susu, tukang momong saja, bukan ibunya!"

"Lauw-ma, pergilah pulang lebih dahulu!"

Katanya.

"Aku tidak dapat jatuh sakit! Atau taruh kata aku sakit, tidak nanti aku sesalkan kau ! Kau tidak tahu, hari ini ada datang Paman Ong, yang liehay ilmu silatnya, maka kami mau minta petunjuk mengenai ilmu pedang ... Paman Ong, Paman Ong ! Kau membekal pedang, kau tentu pan dai ilmu silat pedang, bukankah kau sudi mempertunjuki beberapa jurus untuk kami saksikan ?"

Kata-kata yang belakangan ini ditujukan kepada "Mo Lek, yang diawasi.

Louw-sie memandang si anak muda, yang ia tidak kenal, maka tak mau ia sembarang bicara.

Tapi ia sudah pikir sebentar ia hendak minta bantuan orang guna mem-bujuki si nona.

Mo Lek sudah lantas menghunus pedang nya.

Ia tahu ia bakal digerembengi apabila ia menolak.

Tapi ia kata .

"Baik, akan aku memberi pertunjukan. Buat memberi petunjuk, aku tidak berani, maka itu, kita snlina berlatih saja." ,,Bagus""

Berseru Kedua nona itu sambil menepuk tangan.

"Buat menyaksikan saja, kami sudah girang sekali!" ,,Ah, tetamu ini tidak tahu urusan....."

Pikir Louw-sie, atau ia lantas mendengar, Mo Lek menyentil pedangnya sambil bersenandting.

Itulah syair yang digemari Toan Eng Ciang, yang Toan Kui Ciang nyanyikan sambil mementil pedang satu malam sebelum dia mau membunuh An Lok San.

Louw-sie terperanjat, hingga ia mengawasi pemuda itu.

dan tak dapat ia menahan mengetes turun airmatanya.

Syukur Hong Sian tidak melihat padanya.

"Kedua nona heran.

"Paman, adakah itu kata-kata rahasia ilaiu pedang?"

Tanya mereka. Mo Lek mengangguk dengan sembarangan saja.

"Apakah kau akan mengeluarkan enam jurus dengan sekaligus?"

Hong Sian tanya Biasanya ia, sewaktu bermula belajar silat pedang, saban hendak mulai, membaca istilah ilmu pedang.

Kata-katanya Mo Lek tidak terdengar terang olehnya, hanya ia ingat, pernah ia mendengar Louw sie nengajari serupa syair...."Memang, ilmu pedangku ini tidak dapat dipiiah-pisah, kata Mo Lek."

Semuanya terdiri enam kali enam menjadi tiga-puluh enam jurus, bagian belakangnya empat tujuh menjadi duapuluh delapan yang enam dan enam kali."

"Teranglah ilmu pedangmu terlebih bagus daripada ilmu pedang kami!"

Katanya, girang.

"Lekas mulai!"

Saking polos, si nona ini main percaya saja. Kata Mo Lek.

"Akan aku memberi pertunjukan untukmu. Tapi anak kecil mesti dengar kata kata orangtua maka ia, pergi kau salin pakaian dulu, supaya Lauw Mama tidak berkuatir untukmu."

Ona itu memonyongkan mulutnya. ,,Menyalin pakaian tak menjadi soal."

Katanya, hanya kalau aku pulang ibu tentu tidak akan mengizinkan aku kembali, pasti ibu akan mengatakan bahwa hari ini aku sudah berlatih cukup, bahwa aku balik kem bali besok saja ..." ,,Kalau begitu besok saja kau datang pula.

Akupun belum tentu akan pulang besok,"

Katanya. ,.Tidak bisa!"

Mendesak sinona.

"kalau sekarang kau tidak memberi pertunjukan, sebentar malam aku bakal tidak dapat"

Tidur pulas!" ,.Aku mempunyai pemecahannya,"

Kata Liap Ia Nio.

"Tubuhku lebih tinggi sedikit daripada tubuh kau, depat kau pakai bajuku buatan tahun yang lalu. Mari kita massuk kedalam untukmu tukaran!"

Bagus!"

Kata Hong Sian.

"Dasar encie lebih pintar. Nah, Lauw Ma. kau tunggulah disini, habis menyaksikan pertunjukan pedang Paman Ong, kita pulang bersama."

Kau tolong aku mendustainya. Taman ini besar, kalau bukan kita lagi berlatih silat, tak mudah kau segera dapat mencari aku Kalau pengakuan kita bertiga sama, mustahil ibu mengurusmu?"

"Ali, kau pandai bicara!"

Kata sibabu.

"Baiklah, lekas kau pergi sekarang!"

Hong Sin mengangguk bersama In Nio, dia berlalu, Segera Louw sie meagawasi Mo Lek, matanya mendadakan ia ragu-ragu.

"Maafkan aku siorang tua, siauwya,"

Katanya.

"barusan senandung siauwya, syair apakah itu?"

"Aku juga tidak tahu,"

Sianak muda menjawab.

"Aku mendengar seorang sering menyanyikannya -juga."

"Siapakah orang itu ? Louw-sie tanya. ,,Apakah dia maiih hidup?"

"Ya"

Sahut Mo Lek.

"Dialah seorang yang sangat banyak pengalamaanya, yang sering menderita, yang biasa terancam bahaya, tetapi sebelum dia berhasil menuntut balas, Thian berkasihan terhadapnya, saban saban ia lolos dari bencana. Mungkin tidak lama lagi dia akan tiba dikota Tiang-an ini.... Mendengar demikian Louw sie tidak menyangsikan lagi pemuda ini. ,Sebenarnya kau siapakah?"

Ia tanya pula.

"Apakah kau kenal baik orang itu ? Kenapa dia bakal datang kemari"

Mo Lek tidak mau bersandiwara terlebih jauh. Jawabnya dengan terus-tereng"

Tidak mau.

aku membohong.

Sebenarnya suami Nyonya Louw dari keluarga Toan yalah ayah angkatku, dan baru-baru ini pernah aku turut Toan Tayhiap ayah angkatku itu secara diam-diam memasaki kota Tiang-an, sampai digedungnya penghianat terjadi satu pertarungan dahsyat, hanya sayang, lantaran jumlah yang sedikit tidak dapat melawan yang banyak dia tidak dapat meno-longi kau nyonya."

Louw sie terkejut.

"Ah, kau jadinya Mo Lek?"

Ia tanya." .,Ya"

Sahut sianak muda "Nyoaya bagaimana kau ketahui namaku?" , Ketika terjadi peristiwa itu, Liap-Hong telah memberi keterangan kepudaku"

Sahut Louw-sie.

.Namamu diketahui belakangan sesudah dia mencari keterangan Liap hong turut penghianat atau pemberontak tetapi dia dapat membelakan kelurusan dari kesesatan, sedangkan aku.

sering aku memberi nasehat padanya, maka juga, lambat laun, dia pasti akan meninggalkan tempat yang gelap ini untuk pergi ketempat yang terang.

Apakah kau ketahui hati dia maka kau berani datang kerumahnya"

Ini? "Tapi inilah kejadian yang kebetulan, bukan karena sudah dijanji terlebih dahulu,"

Slhut Mo Lek yang terus memberikan penjelasannya.

"Meski Hong suka melindungi kau, kata Louw sie kemudian.

"mengingat tempat ini berbahaya, baiklah kau lekas-lekas menyingkir ds.ri sini. Kau tahu kota ini sudah mejadi kotanya sipemberontak inilah justeru bahaya.

"Aku datang baru satu hari, nyonya sahut Mo lek.

"Kau sendiri, kau berada diguha harimau dan gedung naga ini sudah sepuluh tahun lebih, kenapa kau tidak memikir untuk berlalu dari ini?"

Alis sinyonya rapat satu pada lain. ..Mo Lek, apakah kau memikir untuk menolongi aku?"

Tanyanya perlahan. ,,Begitulah niatku,"

Sahut Mo Lek terus terang.

..Akan tetapi aku telah berjanji dengan Liap Hong, tak mau aku merembetrembet dia.

Maka aku memikir menantikan datangnya Toan Tayhiap, supaya tayhiap sendiri yang menolong nyonya."

Nyonya itu terkejut. ,.Jikalau begitu, lekas iau kasih kabar pada Toan Kui Ciang!"

Katanya.

"Kau bilangi dia supaya dia jangan lancang turun tangan ! Sekarang ini masih belum waktunya aku meninggalkan rumah keluarga Sie, kalau dia datang, dia akan mencelakai aku, bukannya dia menolongi ! Aku juga pasti tidak bakal turut dia kabur! "

Mo Lek sangat tidak mengerti.

"Kenapa begitu nyonya ? Ia tanya.

"Coba kau bilang,"

Sinyonva balik bertanya.

"kalau pemerintah hendak menumpas pemberontak she An itu, mudahkah atau suka?"

Mo Lek melengak.

Bukannya ia dijawab, ia justru ditanya Ia menjadi terlebih heran lagi.

Tapi ia menjawab.

,Negara telah kena dirobohkan, kedudukannya pemberontak she An sudah tetap, untuk menum pas dia, tak mudah !

Hanya syukur rakyat semua sangat membenci dia !

Siapa kehilangan rakyat dia bakal musna.

Kedudukan pemberontak she An itu tidak kokoh kuat, lambat laun dia toh bakal roboh!"

"Dan aku berdiam disarang pemberontak ini maksudku guna membikin lebih cepat robohnya pemberontak she An itu! berkata siryonya.

"Mulanya aku cuma memikir buat membalas sakit hatiku pribadi, sekarang itu terangkap dengan niat membalas sakit hati kepada musuh ! Coba kau pikir, mana dapat berlalu dari sini?"

Nyoaya itu tua dan lemah, tetapi bicaranya bersemangat, dadanyapun berombak, bukti dari tegang hatinya Mo Lek heran dan kagum, tetapi ia belum mengarti seluruhnya.

Ketika ia hendak menanya nyonya gagah itu, sinyonya sudah mendahului berkata pula.

"Tidak lama lagi. dikota Tiang-an ini pasti bakal terjadi suatu peristiwa besar! Maka itu, kau dengar kata-kataku, lekas-lekas kau berlalu dari kota ini, suruh Toan Kui Ciang jangan datang kesini!"

Mo Lek melengak pula.

"Tetapi akn tidak berjanji dengan Toan Tayhian untuk bersama sama datang kemari,"

Katanya.

"Aku cuma tahu dia bakal datang, maka aku menantikan pa-das ya.

"Jikalau begitu, itulah berbahaya"

Ka ia sinyonya kaget.

"Semoga dia sangat lam bat makin baik . Mengenal kau, jikalau kau mau tetap tinggal dismi, boleh, tatapi ingat, jangan kau lance ig anerseari aku ! A-pabila telah tiba saataya, apabila atau mempunyai urusan yang membutuhkan bantuanmu, naati aku suruh Hong Sian yang me-nyampaikan kabar padamu!"

Mo Lek mengangguk.

Sebenarnya ia mau menanya bakal terjadi peristiwa apa dan bagaiman caranya sinyonya membikin pembalasannya, atau Kong Sian berdua In Nio swdah keburu muncul.

Mereka itu mendatangi sambil berlari-lari, dari jauhjauh sudah terdengar suaranya;

"Paman, kami mau menyaksikan ilmu pedangmu! Terpaksa Mo Lek meluluskan. Ia menghunus pedangnya. ..karena kamu memaksa, terp.ksa aku memberi pertunjukanku yang buruk,"

Kata-nya.

"tetapi apabila ilmu silatku keliru tolong kamu beri petunjuk."

Walaupun kedua nona itu menjadi anak anak tanggung.

Mo Lek memandang mereka sebagai ahli-ahli silat, karena itu, ia bersilat dengan hati-hati.

Ia memperlihatkan Liong Heng Kiam hoat, ilmu pedang Ujud Naga yang terdiri dari delapan kali delapan menjadi enampuluh-enam jurus, gerakannya keras dan cepat, hingga disam-ping sambaran anginnya, sinarnyapun berkilauan.

Ilmu pedang kedua nona bersifat lunak, ilmu silat "Paman"

Ini bersifat keras, akan tetapi kedua-duanya sama keindahannya.

Apa yang beda yalah yang satu nampak halus, yang lain garang.

Toh dua-duanya sama menarikhati ditontonnya.

Hanya kedua nona itu, yang belum pernah melihat ilmu pedang demikian keras, menjadi kagum, hingga mereka menyaksikannya dengan mendelong.

Mo Lek tengah bersilat terus ketika dengan tiba-tiba ia mendengar pujian nyaring tapi merdu .

,,Bagus"

Ia terperanjat Ia rasa ia mengenali baik suara itu.

Ketika ia melirik, ia melihat seorang nona lain lagi berdiri menonton dipinggiran.

Dan ia mengenali Ong Yan Ie !

Tentu saja, ke empat mata bentrok, sinarnya hingga dua pihak lantas mendapatkan masing-masing pikirannya.

Hingga dengan sendirinya, masing-masing merasa sama likatnya.

"Paman bagus sekali ilmu pedangmu !"

Memuji kedua nona.

"Kau dengar, bukan cuma kita juga encie Ong memuji padamu!"

Kedua nona rupanya mengenal baik Yan Ie, maka mereka mencekal dan menarik tangannya nona itu, yang mereka panggil encie atau kakak. Sembari menarik nona yang satu kata .

"Inilah paman Ong, tamu kami yang baru saja tiba. Ong Yan Ie menenangkan diri, ia tertawa.

"Orang tua mana dapat disamakan dengan anak-anak"

Katanya.

"Kamu baru mengerti kulitnya saja, lantas kamu menyombongkan di sana-sini. Orang tua tidak dapat berbuat demikian! Itu bukanlah berpura-pura, itulah merendah !"

Nona Ong membawa sikap tidak kenal Mo Lek dengan cara hormat seperti orang baru bertemu, Ia merangkap kedua tangannya sambil berkata .

"Kiranya tuanlah tamu yang baru tiba ! Dapatkah aku mengetahui she dan nama besar tuan ?"

"Aku yang rendah she Ong bernama Siauw Hek,""

Sahutnya seraya membalas hormat.

"Encie Ong kami ini juga lihay ilmu silatnya,"

Kata In Nio.

"Sering encie datang kemari memberi petunjuk kepada kami. Ya, maukah kamu berdua main-main sebentaran ? "

Louw Sie yang semenjak tadi berdiam saja, sekarang membuka mulutnya. Kata ia .

"Inilah Ong Siocia mustikanya Lou Kok-kong, Ong Pek Thong. Ong Kongya ber-sama-sama Sie Tayjin me.ijadi menter menteri di dalam istana Raja, hubungan ke luarga mereka satu dengan yang lain pun erat sekali. Ong Siocia menjadi seorang nona bangsawan akan tetapi ia lemahlem but dan manis budi terhadap semua oran tak perduli orang atas atau orang bawah Ada maksudnya Louw-sie berkata begitu. Ia menjelaskan tentang Yan Ie supaya Mo Lek mengetahui dan berhati-hati. Mo Lek sendiri sementara itu berpikir .

"Kiranya Ong Pek Thong masih berada di kota Tiaig,an bahkan sekarang dengan anugerah An Lok San, dia menjadi seorang kok-kong. Dengan begini terang sudah Yan Ie belum berhasil membujuki ayahnya untuk mengundurkan diri . , ."

Kok-kong.

"Malah gelaran kebangsawan an raja muda atau hertog. Yan Ie pun tertawa dan berkata . Lauw, Mama cuma memuji saja ! Tapi, kata-katanya barusan ada benarnya juga. Terhadap segala orang, aku bersikap sama, tidak memandang dirinya rendah asal orang berbuat baik terhadapku, aku juga tentu berbuat baik terhadapnya.."

Toh selagi berkata begitu, diamdiam nona ini me lirik tajam kepada si anak muda.

Mo Lek melihat lirikan itu, yang ia ke tahui apa artinya.

Liap In Nio keluar manjanya.

Ia lalu mendesak, meminta Mo Lek dan Yan Ie berlatih bersama-sama.

Mo Lek sementara itu berpura-pura terperanjat.

,,Oh.

kiranya puteri seorang bangsawan!"

Katanya. .,Aku seorang desa, mana berani aku bersilat dengan nona ?"* Yan Ie berpuia tertawa. Ia kata .

"Kau jangan dengari ocehannya kedua bocah ini ! Dengan kepandaianku yang tidak berarti, dapat aku main-main dengan mereka berdua tetapi tidak untuk melawan kau, tuan!""

In Nio putus asa. Tak berani ia membujuk terlebih jauh. Tidak demikian dengan Hong Sian, yang usianya lebih muda. Tapi ini ji.ga sesudah kewalahan, berkata pada Yan Ie .

"Encie tidak mau bertanding dengan paman Ong, baiklah ! Tapi baru baru ini encie telah menjanjikan aku, akan mengajari aku ilmu totok, hayo sekarang kau ajari V"

"Hari ini aku datang untuk melihat kamu berlatih,"

Kata Yan Ie.

"Baru-baru ini juga aku cuma membilangi kau, untuk kau belajar ilmu totok, pertama-tama jeriji tanganmu harus kuat; dan kedua kau mesti mengerti ilmu mengerahkan tenagadalam. Sebenarnya kamu mesti memahirkan dulu ilmu. pedangmu, baru kamu dapat mempelajari ilmu totok. Bagus sekarang ada pamanmu ini, kau boleh minta dia ajari cara-cara untuk mencekal pedang dengan kokoh ..."

"Sudah Hong Sian,"

Louw-sie turut bicara pula.

"jangan kau gembrengi lebih jauh pada encie Yan mu ini ! Lihat, cuaca sudah mulai guram, kalau sekarang kau tidak lekas pulang, tak tahu aku bagai nana haius bicara dengan ibumu !"

"Benar ! "

Berkata Yan Ie.

"Kau harus dengar kata-katanya Lauw Mama dan pulang dahulu. Akupun hari ini mempunyai urusan tidak dapat aku berdiam lama-lama dengan kamu disini.

"Encie Ong, kapan kau akan kembali ?"* In Nio tanya.

"Jikalau aku mau datang, dapat aku datang sendiri sembarang waktu,"

Sahut Nona Ong.

"Asal orang yang aku sukai pasti aku akan datang menemuinya! Mungkin besok aku datang pula ...

"* Berkata begitu sengaja atau tidak kem-kali ia melirik Mo Lek, terus ia bertindak. Si anak muda berdiri diam. Ia tahu kata-kata nona itu lebih banyak ditujukan kepadanya. Karena ini, ia sampai lupa mengantar pergi pada nona itu. Yan Ie sudah jalan dua tindak, ketika ia menoleh. lapun tertawa. Kata "a .

"Di-dalam tahun ini, yang tampak cuma orang-orang lari pergi dari Tiang-an sebaliknya jarang orang yang datang, maka itu Ong1 Siang-kong. kau justeru orang yang datangi itu, Karena sekarang keadaan kacau kau harus berhati-hati. Sayang aku mau lantas pergi kalau, tidak, ingin aku mendengari keterangan mengenai segala sesuatu yang terjadi dilain tempat."

Mendengar itu, Louw-sie terperanjat. ..Ah. apakah dia telah ketahui rahasia Mo Lek ?"

Pikirnya. In Nio sebaliknya lantas berkata . ,,Paman Ong telah memberitahukan aku bahwa ia tidak bakal lekas meninggalkan kota Tiarg-an, karena itu encie Ong, besok kau| datanglah pula "

Mo Lek bersandiwara, mska ia juga turut meminta nona Ong itu datang pula besok.

"Jikalau aku mau datang, tentu aku akan datang !"

Katanya.

Lantas ia bertindak pulang ia sendiri yang membuka pintu taman, untuk meninggalkannya Rupanya ialah tetamu kedua keluarga Liap dan Sie, yang biasa datang, maka juga ia nampak tidak asing.

Seberlalunya Nona Ong, Louw-sie mengajak Hong Sian pulang.

Karena rumah kedua keluarga bertetangga, mudah buat Nona mundar mandir dipintu taman.

Louw-sie tidak bicara lagi dengan Mo Lek, toh hatinya kurang tenang, maka juga selagi bertindak diambang pintu ia kata keras .

,Hayo jalan sedikit cepat, nona !"

Maksud nya mendesak Hong Sian, tetapi Mo Lek tahu itu ditujukan kepadanya, supaya ia lekas menyingkir dari kota Tiang-an itu.

Hati pemuda ini menjadi kacau.

Tidak ia sangka bahwa ia segera dapat bertemu dengan Yan Ie.

Ia juga jadi mesti memikirkan perkataannya nona itu.

"Dia kata tidak mau menemui aku pula, kenapa barusan ia bilang ia mau datang lagi ? Pula, ia memesan buat aku berlaku berhati-hati. Apakah maksudnya itu ? Mestinya itu bukan pesan biasa saja.."

Koankee yang dari keluarga Liap baik sekali.

Ia melayani Mo Lek dengan telaten.

Malam .itu ia menyuguhkan barang hidangan serta araknya.

Ia membawa diri sebagai juga ialah bujangnya si tetamu.

Si anak muda menjadi malu hati.

la.

tarik tangan orang tua itu, buat diajak duduk dan minum bergama.

Ia memanggil loopee.

Karena sikapnya wajar, koankee itu suka menurut, dari likat, dia jadi biasa.

Karena pengaruh air kata-kata, sendirinya Mo Lek suka bicara.

Begitulah ia kata.

,,Nona kamu, loo-pee benar-benar turunan keluarga orang peperangan, dialah seorang wanita jantan !

Dia masih kecil sekali, ilmu pedangnya sudah lihay !

Siapakah yang mengajarinya !

Liap Ciangkun biasa pergi berperang, bukankah ia jadi jarang berdiam di rumah ?"

"Mengenai itu ada suatu peristiwa aneh,"

Menjawab sikuasa rumah.

,,Memang ilmu pedang nonaku bukan ajaran ayahnya Itulah peristiwa diwaktu sinona baru berusia tiga tahun.

Pada suatu hari nona tengah bermain-main dipintu depan.

Tiba-tiba seorang pendeta wanita lewat didepan gedung lantas dia bermohon menghadap nyonya kami.

Nyonya menyangka dia mau minta derma siapa tahu.

dia berka.

"Nona ini berbakat baik sekali ingin aku mengambil ia sebagai muridku. Tentu sekali nyonya menolak permintaan itu. Atas itu, sipendeta Kata. Jikalau nyonya tidak mengijinkan hendak aku membawanya pergi! "

Benarlah malam itu, nona lenyap tidak keruan paran sedangkan semua pintu dikunci dan nona pun tidur bersama nyonya diatas sebuah pembaringan.

Karena itu nyonya menangis sedih berhari-hari.

Lewat beberapa hari, barulah looya pulang Looya diberitahukan tentang hilangnya looya Lantas loya minta keterangan je"as.

Setelah mengetahui lukisan sipendeta wanita, looya menghibur dengan berkata.

"Pendeta itu orang berilmu luar biasa, kita boleh bersyukur yang ia suka dengan anak kita sebagai muridnya. Pil dalam halnya dia. kita mencari atau memintanya menjadi guru. anak kita juga sulit sekali. Itulah untung bagus dari In Nio. dan jangan bersusahhati. Mendengar itu Mo Lek lantas tanya .

"Apakah loopee tahu namanya pendeta wanita itu. ,.Aku tidak tahu sebab majikan kami tidak pernah menyebutnya. Aku cuma menerka dialah bukan sembarang pendeta. Aku tidak "berani menanyakannya Sejak itu lima tahun sudah lewat. Tergan begitu usia nona sudah masuk delapan tahun. Pada suatu hari, nona diantar pulang. Sipendeta kata bahwa nona sudah diberikan dasar yan sempurna hingga buat selanjutnya dapat ia berlatih sendirinya. Mulai waktu itu, sipendeta datang hanya satu tahun satu kali Sekarang ini sikap terhadapnya betobah lain sekali sekarang asal dia datang. dia di sambut masuk kedalam dan dilayani dengan hormat dilayani nona sendiri. Aku menjadi kuasa rumah disini akan tetapi jarang aku melihat pendeta wanita itu ,,Jadi ilmu pedang sinona ialah ajaran nya sipendeta wanita itu ? Mo Lek tanya "Mungkin aku juga mendengar nona Sie memanggil suhu padanya. Tapi aku tahu sejak kecil sampai besar. Nona Sie belum pernah lenyap seperti nona kami Barang kali Nona Sie memanggil meng.kuti nona kami saja. Kita kedua keluarga, kita menia di tetangga baru selama beberapa tahun yang terakhir ini.

"Aku lihat, kedua nona itu seperti juga saudara kandung satu dengan lain."

Kata lagi Mo Lek.

"Memang Nona Sie sangat cerdas, loova dan nyonya kami menyayanginya seperti anak sendiri."

Kata sikoan kee. Mo Lek tertawa.

"Toh wajar bukan orang tua menyayangi anaknya ? katanya.

"Kenapa kau berkata begini ?"

Pengurus rumah itu mengawasi. .Siangkong, kau bukannya orang luar, bolehlah aku bicara padamu. kata dia.

"Nona Sie sebetulnya bukan anak kandung dari looya dan nyonya kami. Turut kabar ayah nona Sie ialah seorang pembesar dari kerajaan Tong, yang telah dianisya raja yang sekarang. Tatkala itu. raja masih menjadi Samtin "Ciattouwsu. dan sie Ciangkun bekerja dibawah perintahnya Ah, inilah kata kata yang seharusnya aku tidak omongkan kepada"

Orang luar. Siangkong sudah menda pat tahu, aku hirap siangkong jangan o-mongkan lagi kepada oraag lain ...

"Jangan kuatir loopee sahut Mo Lek cepat suaranya tetap. ,Aku akan menjaga mulutku rapat kuat seperti mulut botol tefsumbat tidak nanti aku membocorkan rahasia !"

Tentu sekali kuasa rumah ini tidak tahu sianak muda sudah ketahui duduknya hal.

hebab teranglah Sie Hong Sian, atau Nona Sie itu, sebenarnya ialah Su Jiok Bwee, anaknya Su lt Jie atau Louw-sie, Dengan melihat gerak-gerik Louw-sie terhaadap Hong Sian Mo Lek sudah lantas dapat menerka.

Sekarang ia memperoleh kepastian.

Didalam tempo yang pendek itu Mo Lek sudah ketahui cukup banyak Tentang kedua keluarga Sie dan Liap ini.

supaya tidak mendatangkan kecurigaan ia tidak menanya lebih banyak pula.

Ia pula, tidak menanyakan urusan Louw-sie pribadi.

Habis bersantap malam, kira jam dua, sikoankee mengajak tetamunya masuk keka marnya untuk beristirahat.

Mo Lek mendapat kamar didekat tamim di atas louwteng sedang sikoankee tidur diba-vvah Dia ini selalu mesti siap sedia supaya dia bisa senantiasa melayaai tetamu itu.

&a tr.ar itu terpisah cukup jauh dsri rumah Keluarga Sie.

Tidak tenang hati Mo Lek maka ia tidak bisa lantas pulas.

,Inilah sulit demikian pikirnya.

"Louw sie tidak mau berlalu dari sini dan ia juga melarang aku pergi kepadanya. Kalau begitu aku berdiam terus disini ? Aku tidak -angka bahwa Ong Yan Ie juga suka datang kepada kedua keluarga ini. Dia telah ketahui aku berada disini, aku kuatir dia pun nanti menyulitkan aku ... Mo Lek tahu pasti, tidak nanti Yan Ie membikin ia celaka jadi ia bukan takut si aona membuka rahasianya ia hanya kuatir nona nu nanti melihat pula padanya hingga ia bakal jadi pusing kepala. ,Tapi mana dapat aku segera berlalu dari sini ?"

Pikirnya pula.

.,Khong Khong Jie minta aku menyampaikan pesan nya kepada ko-thio dan ko-thio bakal lekas datang kemari jikalau aku pergi, mana bi-sa aku menemuinya ?

Louw-sie pula menyebut bahwa didalam hari-hari yarg mendatang ini bakal terjadi sesuatu yang besar Peristiwa spakah itu?

Baiklah akan aku tetap berdiam disini sampai beberapa hari lagi.

Jikalau nyonya itu membutuhkan bantuan dapat aku membantunya!

Selagi ia berpikir keras ini Mo Lek mendengar ketukan pada jendela kamarnya, lalu sebelum ia tahu mesti berbuat apa.

ke dua daun jendela sudah terpentang dari luar tampak lompat masuknya seorang wanita yang memakai topeng.

Ia lantas mengenali Yan Ie.

Hanya ia tidak sangka orang datang cepat luar biasa !

Setelah mengawasi sekian lama sianak muda mendahului membuka suara.

"Kau ..kau ..katanya.

"Kenapa kau datang tengah malam buta-rata ini? Yan Ie ter awa.

"Kau legakan hati, jangan kuatir!"

Kata nya.

"Tidak akan ada orang yang melihat kita ! Sikoankee juga sudah tidur nyenyak bagaikan bangkai hidup sebab aku telah totok padanya, sebelum matahari naik tinggi, tak nanti dia sadar ! "Kau mempunyai urusan apa?"

Mo Lek tanya.

"Tak dapatkah kau menanti sampai besok ? Ah, kau tidak mengarti maksudku ... ! "

Yan Ie melengak, wajahnya merah.

"Apakah kau memberati adat istiadat yang melarang pria dan wanita sembarang bertemu muka ?"

Tanyanya.

"Hm ! Memang nya kau patudang aku orang macam apa ? Meski aku berasal Rimba Hijau aku bukannya si perempuan hina dina !"

Sekarang Mo Lek yang merah mukanya Tak dapat ia menampik lagi siona itu. la membiarkan nona itu mengambil tempat duduk. Si nona mendongkol, sekian lama ia berdiam terus.

"Maaf nona, kata Mo Lek.

"Aku polos tak pandai aku bicara. Aku hanya kuatir, kalau pergaulan kita terlalu erat apabila Tian Toako mendapat tahu. nanti terbit salah paham. Kau tahu tidak, Tian Toako pergi mencari kau kemana-mana ?"

Alisnya Yan Ie terbangun.

"Urusanku itu. tak usah kau ambil tahu !"

Katanya.

"Kau mesti perhatikan urusanmu sendiri ! Kau harus berhati-hati, kau tahu ! Hm ! Jikalau bukannya aku tidak tega melihat kau nanti menghadapi bencana tak sudi aku datang kemari ! Apakah kau sangka aku datang untuk menemuimu saja? Tidak Kau jangan kuatir, selewatnya malam ini, tidak nanti aku datang mencari pula padamu !"

Mo Lek menatap.

"Aku menghadapi antara bencana apakah ?"

Ia tanya.

"Mustahilkah ada orang yang tahu bahwa aku telah datang ke kota Tiang-an ini dan orang itu sudah lantas memberi laporan rahasia kepada sipembe-rontak she An ?"

Sekarang ini An Lok San lagi kegilaan menjadi raja dia lagi membuat pesta didaJ lam istananya, urusan apa juga dia tidak pedulikan ! "

Kata si nona. ,,Yang kuatirkan ialah lain orang, yang ingin mencelakai kau ! Sekarang lebih dahulu hendak aku tanya kau, mau apa kau datang ke Tiang-an ini ?"

"Untuk melihat keadaan disaat kacau dari kota ini !"

Sahut Mo Lek.

..Untuk menyaksikan kawanan iblis menari-nari kalang kabutan!

"Hm !

Aku tahu.

tidak nanti kau omong terus terang padaku !

Tapi, dapat aku menerka satu atau dua bagian !

Bukankah raja Tong mengutus kau kemari buat membunuh.secara diamdiam pada An Lok San?"

Nona ini percaya dia cerdas sekali tetapi dia menerka keliru. ,.Oh ! kata Mo Lek.

"jadinya kau kua tir tenagaku tidak cukup hingga aku men-J jadi seperti siselatu yang menyerbu api ?j Kau kuatirkan aku melempar diri kedalam jaring perangkap ?"

Yan Ie tidak menjawab, hanya ia kata..Ada satu orang !

Entah kau kenal dia atau tidak !

Dialah orang yang pada tiga puluh tahun dahulu ternama terkenal seperti kakek guruku.

Tian Hui Liong sihantu besar!

Dialah Cil Pouw Twie-hun-cu Yang Bok Lauw !"

Mendengar nama itu, Mo Lek kaget hingga mukanya menjadi merah padam, sedang matanya segera menjadi bersinar berapi. Kata dia gusar sekali .

"Yang Bok Lauw ! Jadi hantu besar itu masih hidup dida lam dunia ini ?"

"Adakah dia itu musuhmu ?"

Ia tanya "Pantas dia sabansaban menanyakan aku tentang kau ..."

Mo Lek menyabarkan diri, menetapkan hati.

"Sekarang dimana adanya hantu besar itu ?"

Tanya ia.

"Dia berada didampingnya An Lok San"

Sahut Yan Ie.

"An Lok San telah mengundang dan mengangkat dia menjadi Tayswee Congkoan ! Kemarin dulu dia masih membicarakan kau dengan ayahku."

"Apakah kata dia ? Apakah dia menghendaki jiwaku "

"Mendengar suaranya, dia benar menghendaki itu. Dia kata ... dia kata ... Ah lebih baik aku tidak menyebutkannya. Baik lah kau berhati-hati ! Dia sudah tahu kau telah meninggalkan rajamu, dan dia telah menerka bahwa kau bakal datang ke kota Tiang-an ini ... Memang kemarin ini, selagi Yang Bok Lauw dan Ong Pek Thong berbicara dan me nyebut Mo Lek, Yan Ie kebetulan ada bersama dan mendengar pembicaraan itu. Ketika Qng Pek Thong bicara dari hal ambruk nya gunung Hui Houw San, Yang Bok Lauw menggeprak meja dan berkata nyaring .

"Sayang ! Sayang ! Kau telah membinasakan kelima Harimau dari Keluarga Touw, kenapa kau tidak membabat rumput sambil meng gali juga akar-akarnya ? Kenapa kau bikin lolos si bocah haram jadah "anaknya liat K-a n Lun ? "Hari itu aku meraniang mukanya khong Khoag Jie,"

Kata Ong Pek Thong "Sekarang ini mau menyesalpun sudab ka sip ! Bocah itu telah turut Mo Kerg Lojin hingga dia memperoleh kepandaian yang berarti. Didalam segala hal dia memusuhkanku !"

"Sudab, saudara Ong, jangan kau berduka,"

Kata Yang Bok Lauw.

,,Aku juga tidak dapat membiarkan bocah itu hidup iebih jama pula !

Aku dengal kabar dia telah diusir raja Tong, tetapi aku bersangsi.

aku mau menduga itulah mungkin akal be-ilaka.

Mungkin itulah Kouw Jiok kee, tipu muslihat mempersakiti diri sendiri.

..."

"Kouw Jiok-kee ?"

Tanya Ong Pek-Thong.

"Mungkinkah dia datang untuk ber pura menghamba kepada junjungan kita?"

"Mungkin dia tidak berani memakai akal berpura menakluk itu,"

Kata Yang Bok Lauw.

"Aku lebih percaya dia masuk nelu-"up, untuk secara menggelap mencoba me-lakukan pembunuhan....."

Kata Ong Pek Thong kemudian.

"Banyak orangku yang kenal Tiat Mo Lek, nan ti aku beri perintah supaya meTeka memasang mata Cuma kalau nanti sudah keta* huan dia benar datang dan berada dima-na, saudara, aku mau minta bantuan kau, supaya kau yang membereskan dengan tanganmu sendiri!"

Demikian, pembicaraan yang Yan Ie dengar, tetapi sebab ia tidak mau membi-langkan peristawa lama digunung Hui Ho-uw San itu, supaya Mo Lek jangan ingat pula tentang sakithatinya, ia jadi sudah bicara ringkas saja.

Memang ia takut Mo Lek coba membunuh An Lok San Kalau itu sam pai terjadi, pasti Mo Lek bakal bertemu Yang Bok Lauw.

Itulah berbahaya Karena itu juga, tanpa menghiraukan urusan pribadi mereka, sekarang ....malam-malam.....ia mencari Mo Lek untuk menyampaikan kisikannya ini sekalian ia menasehati su-paya sianak muda meninggalkan kota Tiang an.

Tapi Mo Lek justru menjadi gusar.

Ia sampai menepuk meja.

..Baiklah!"

Serunya.

"Dia menghendaki jiwaku ! Aku juga sustru mengingini jiwanya.1"

Mo Lek menjadi sangat gusar sebab Yang Bok Lauw itu musuh besarnya...orang yang telah membunuh ayahnya!

Pada duapuluh lima tahun yang lampau, Tiat Kun Lun masih menjadi pemimpin dari gunung Yan San.

Pada suatu hari, dibentengnya, ia kedatangan seorang tetamu yalah Yang Bok Lauw.

Kedua pihak tidak kenal baik satu pada lain, tetapi mereka saling mengenal nama masing masing.

Tetamu itu disambut dengan baik, malamnya di adakan perjamuan untuknya Tengah minum arak, kedua belah pihak bicara juga tentang ilmu silat.

"Saudara Tiat"

Kata Yang Bok Lauw. kepandaian silat luar dari kau sangat mahir, apakah Vau pernah menemui orang yang dapat menaudingirau? "

Kata Tiat JCun Lun. saudara terkenal sebagai Cit Puo Cwie Hun Ciu, maka terhadap kau, aku pasti kalah!"

Yang Bok Lauw tertawa nya-riag. Senang ia mendengar julukannya disebut sebut. Julukannya itu berarti ,,Tujuh tiacak mengejar arwah."

"Saudara Tiat memuji terlalu tinggi! kata dia.

"kata berdua.....Yang satu ahli Luar. yang lain ahli Dalam...Aku kuatir sukar dicari keputusan siapa yang terlebih mahir kepandaiannyaamenggunai tangannya Tiat tun Lun merendah tetamunya ber jumiwa, karsna pengaruh arak, Tiat tun Lun menjadi tidak sabaran.

""Jikalau begitu, mari kita mencoba-coba,tantangnya. Inilah kabetulan untuk Yang Bok Lau. Dia memang datang dengan niat mengadu kepandaian, guna menguji raja gunung Yan San itu. Bagus tantangan keluar dari mulut lapi ia berpura merendah, kata dia.

"Pelajaran kita berlainan pokoknya kita cuma harus saling berlatih saja untuk mem peioleb kemajuan. Cuma ada satu hal, yang aku buat kuatir. Kepandaian kau, saudara, pokok keras, sedang pelajaranku, bersifat lunak. Pula pelajaranku telah dilatih sela ma beberapa puluh tahun! Bukannya aku jumawa, sampai sekarang ini, belum pernah aku bertemu lawan. Jikalau kita berlatih, lalu terjadi kesalahan ada yang luka.....syukur kalau aku yang t-rluka, tapi bagaimana seandainya saudara?"

Dibawah pengaruh air kata kata, Tiat Kun Lun tidak berpikir banyak. Ia tertawa terbahak bahak.

"Jangan kau kuatir saudara Yang!"

Katanya.

"Memang sudah lama aku mendengar kepandaian saudara ingin aku mercobanya, jangan kata baru terluka, biarnya arwahku dikejar, dibetot, aku tidak akan sesalkan kau! "

Yang Bok Lauw girang sekali Lantas keduanya mengadu kepandaian diruang pesta itu.

Semua tauwbak besar dan kecil, semua rakyat gunung berdiri diseki-tar gelanggang untuk menyaksikan.

Semua berdiam.

Tiat Kun Lun telah menggunai tenaganya, semua pukulannya hebat sekali, anginnya keras, tembok sampai bergoncang.

Siapa terkena angin pukulan, dia seperti tertolak, dia mesti mundur dengan terpaksa.

Yang Bok Lauw sebaliknya.

Dia selalu bersikap sabar.

Selalu dia berkelit mundur, atau nyamping.

-oo0dw0oo-

Jilid 28 Terlihat nyata kedua pihak sama lihay-nya.

Karena lincahnya Yang Bok Lauw seperti menang unggul sedikit.Sampai di jurus ke tujuh, barulah Yang Bok Lauw balas menyerang.

Tangan kedua pihak ..lantas menempel satu dengan yang lain, untuk selanjutnya mereka saling bertahan.

Dengan lekas kedua pihak bermandikan keringat.

Kata Tiat Kun Lun sambil tertawa .

"Syukur arwahku tidak kena di tarik ! Apakah sekarang kita dapat sudahi saja ?"

Jawab Yang Bok Lauw .

"Saudara dapat bertahan tujuh jurusku, itulah bagus! Karena kita sama-sama tidak terluka, baik mari kita sudahi percobaan kita ini. tak usah kita menanti ada yang menang atau kalah ..."

Semua penonton berlega hati.

Pertandingan.

itu tidak membawa celaka.

Kedua belah pihak juga sama-sama merdapat muka.

Hanya disaat mereka ita berdua menarik) pulang tangannya masing-masing, sekonyong-konyong Tiat Kun Lun berteriak keras, terus tubuhnya roboh terpental satu tombak lebih !

Yang Bok Lauw nampak kaget.

,,Saudara Tiat, kau kenapa?"

Tanyanya nyaring. ,,Apakah kau terluka? Dimana lukanya ? Mari aku obati, aku mempunyai obat luka !"

Tiat Kun Lun berlompat bangun, lantas dia mengawasi dengan bengis, dia berkata nyaring .

,,Yang Bok Lauw, jangan kau berpura-pura baik hati !

Kau tunggu sampai lukaku sudah sembuh-nanti, aku ingin coba pula ilmumu !

Meski dia bisa bangun tetapi dari suara bicaranya, nyata sekali tuan rumah ini telah terluka di dalam.

Semua tauwbakl lantas menjadi curiga beberapa diantaranya, yang setia kepada pemimpinnya, sudah lantas menghunus senjatanya dan maju, untuk mendamprat.

Yang Bok Lajw tertawa dingin, sambil berkata pada .Tiat Kun Lun .

"Saudara Tiat, apakah katamu ? Apakah kau tidak menganggap sah janji kita ? "

Tiat Kun Lun mengibarkan tangan kepada orang-orangnya.

"Biarkan dia pergi !"

Perintahnya.

"Tak usah kamu melakukan pembalasan !"

Tapi Yauw Bok Lauw bersandiwara. Dia menghela napas.

"Saudara Tiat,"

Katanya.

"aku kesalahan tangan, aku menyesalpun sudah kasip .."Aku tidak menyangka bahwa kau memandang aku sebagai musuh .... Aku tidak berdaya, baiklah, aku mau pergi. Aku harap kau mendapat obat -yang mujarab, supaya lain kali dapat aku meminta pengajaran pula dari kau ... Tiat Kun Lun mengerti ilmu kebal, rombongan tauwbak percaya bahwa dia cuma luka ringan dan keadaannya tidak berbahaya siapa tahu, pada malam harinya pemimpin itu mendapat demam panas-dingin, terus ia menutup mata hingga ia tak dapat ia membuat pembalasan sendiri se-bagaimana yang diharapkannya. Yang Bok Lauw telah berlaku curang. Selama bertanding kekuatan mereka berimbang, tetapi setelah pertandingan disudahi, selagi Tiat Kun Lun berhenti mengerahkan tenaga dalamnya diam-diam dia menyerang terus, sebab itulah raja gunung dari Yan San itu menjerit dan roboh, karena ilmu kebalnya kena di gempur rusak. Di dalam hal ini, Tiat Kun Lun cuma dapat menyesalkan kejujuran dan ke alpaan-nya, tidak menyangka bahwa orang akan berlaku licik dan kejam. Sesudah Tiat Kun Lun meninggal dunia orang-orangnya bersakit hati, mereka mau membuat pembalasan, akan tetapi wak tu mereka pergi mencari ke empat penjuru, Yang-Bok Lauw tak dapat ditetemukan. Justeru sejumlah tauwbak tidak ada di gunungnya, tentara negeri menyerbu, membikin tumpas semua rombongan gunang Yan San itu. Karena peristiwa itu, maka Tiat Mo Lek menjadi sebatang kara, sampai kemudian ia ditolong o"eh Keluarga Touw, yang merawatnya hingga ia menjadi dewasa, yang merganggapnya sebagai anak-angkat-nya. Pasukan tentara negeri yang menyerbu dan menimpas gunung Yan San itu dikepalai o eh Congpeng Souw Peng dari kota Yu-cie. Setelah pecahnya Yan San kemudian baru pihak Yan San ketahui, datangnya Yang Bok Lauw itu adalan, atas anjuran dan perintahnya Souw Peng itu, yang mau menindas Yan San dengan akal liciknya itu. Karena hasilnya itu, kemudian Souw Peng naik pangkat sampai tiga tingkat sebab ia dianggap berjasa besar. Tapi Souw Peng juga tidak hidup panjang umur. Lewat beberapa tahun, Touw Leng Cok memimpin tentaranya menyerbu ke kota vu-ciu dan si congpeng mati-terbunuh. Dengan begitu, baru separuh sakit hatinya Mo Lek dapat terbalaskan. Ini pula sebabnya kenapa Mo Lek sampai memandang Leng Ciok sebagai ayahnya sendiri. Semenjak itu, tentang Yang Bok Lauw tetap tidak tcidengar kabar-ceritanya. Dia rupanya menyembunyikan diri sebabdia tahu Tiat Kun Lun luas pergaulannya dan mung kin ada orangorangnya, atau sahabat-saha-oatnya yang mencari padanya. Pihak Touw tidak berkesempatan mencari terus padanya sebab pihak ini sendiri direpotkan urusannya merebut kekuasaan dengan pihak Ong Pek Thong. Tiat Kun Lun bersahabat erat dengan Mo Keng Lojin. maka juga disaat ia hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, ia berpesan kepada orang-orangnya uniulc nanti mengantarkan Mo Lek, anaknya itu, ke rumah sahabatnya, guna si anak belajar silat, buat bersiap-siap agar nanti menuntut balas untuknya. Dan pesannya itu terwujudkan juga, hanya selang belasan tahun Sebabnya ialah Mo Keng Lojin senantiasa mengembara hingga ia tidak berada di rumahnya, sukar mencari padanya. Mo Keng Lojin juga bukan dapat dicari kawanan tauwbak, hanya Mo Lek bertemu dengannya secara kebetulan saja yaitu waktu ia bersama Toan Kui Ciang berada di Tiang-an, ia bertemu dengan Lain Ce In yang men bukai jalan ia menjadi muridnya si Orang tua yang lihay itu. Hanya ketika itu Hui Houw Cee pun ditumpas Ong Pek Thong. Delapan tabun lamanya Mo Iek belajar kepada gurunya itu. Ditahun kelima, ia telah mendengar halnya Yang Bok Lauw Mo Keng Loojin mempunyai seorang sahabat. yang baru pulang dari wilayah Turki (Sinkiang dan Cenghay dan sekitarnya), dan sahabat itu membawa cerita bahwa Yang-Bolc Lauw sudah mati diwilayah asing itu. bahkan dia melihat sendiri upacara pembakaran mayat Yang Bok Lauw itu. Sahabat itu ialah tiap KhongCu satu diantara Bu Lim Cit Khie, Tujuh. Orang aneh Rimba persilatan maka itu, perkataannya itu dipercaya Mo Lek menjadi sangat menyesal dan berduka Tak pernah ia melupakan mu |suh ayahnya siapa tahu misuh itu sudah mati. Tapi sekarang dari mulutnya Ong Yan Ie, ia mendengar dari Yang Bok Lauw belum mati malah ia menjadi congkoan di dalam keraton (taylwee) dari An Lok San ! Maka itu terbangun pulalah semangatnya, untuk menuntut balas. Lengan matanya yang mengembeng air. Mo Lek seperti membayangi ayahnya bermandikan darah bagaimana ayah itu tengah memberi pesan yang penghabisan.

"Yang Bok Lauw berada dismi !"

Katanya sengit, Bagus ! Dia berada disini, tak mau aku meninggalkan kota Tiang-an ini""

Yan le heran ia terperanjat.

"Mo Lek,"

Katanya aku tidah taha ada permusuhan apa diai tara kau dan dia teta pi aku melihatnya sendiri ilmu Bian-ciangnya, yang lihay sekali; Itu hari dia berada didalam timan, dihadapannya An Lok San dan orang-orangnya.

Belasan potong batu disusun.

Dia berkata dia hendak pecankan batu yang berada ditengah-tengah.

Dia bukan menghajar, dia hanya menepuk dengan perlahan susunan batu itu tidak bergeming.

Habis itu dia mengangkat semua batu itu sa tu demi satu semua-batu utuh seperti biasa kecuali sebuah yang ditengah itu, yang wak tu diangkat terus meluruk hancur.

Menurut rku kepandaiannya itu tak dibawah kepandaian guruku Mo Lek aku bukannya memandang ringan kepandaianmu aku hanya, aku hanya kuatir ....!"

Mo Lek tahu apa artinya ilmu silat ,.Bian Ciang"

Atau Tangan Sutera. Itulah sema cam ilmu tenaga daiam yaag ihay sekali. Maka ia berpikir.

"Kalau begitu tenaga dalam jahanam itu sudah mahir luar biasa. dia tidak dapat dipandang ringan, kalau dengan sekali hajar, dia dapat musnahkan susunan batu itu. itnlah tidak aneh tetapi dia bisa menghancurkan setiap batu menurut sukanya, itulah hebat "

Tapi ia tidak takut"

Maka ia berkata dengan suaranya yang dalam. , Biarnya dia batu dan aku telur, hendak aku bentur dia !"

"Mo Lek kata Yan le lemah lembut, . rupanya kau dengan dia bermusuhan sa ngat besar, maka itu tidak seharusnya aku mencegah kau akan tetapi ingin aku stipa ya kau ingat peribahasa yang membilang, asal gunung hijau masih ada jangan kuatir kau kehabisan kayu bakar. Untuk kau me lakukan pembalasan baiklah kau cari waktunya, yang tepat. Aku tidak berani bilang bahwa kau tidak dapat dibandingkan de ngan dia tetapi dikota Tiang-an ini kau mirip si tangan sebelah yang tidak dijat dipakai bertepuk nyaring, sebaliknya dia didaiam kota Tiang-an ini dia banyak sekali kawannya. Mo Lek menatap si nona ia melihat orang bergelisah berduka dan berkuatir. Ia heran sekali. Begitu siiapzya puteri dari musuh besarnya? Sebaliknya orang mirip encie atau adiknya, yang sangat memperhatikan keselamatannya. Maka didetik itu, ia menjadi bingung. Gerak-gerik nona iiu, sangat mengeraki hati sanubarinya, sekian lama ia berdiam saja. ,.Mo Lek kata lagi sinona, suaranya lem but seperti biasa. ,,biarnya kau sangat membenci aku, aku tetap tidak tega menyaksikan kau nanti mendapat celaka. Kalau toh tetap kau hendak berdiam didalam kota Tiang-an ini baiklah cuma satu hal hendak aku minta, yaitu aku mohon janganlah kau seorang diri coba menyerbu kedalam istana, untuk membinasaka An Lok San. jangan kau sembrono menempuh ancaman bahaya . Mo Lek mengerti maksud orang sinona tidak berani mencegah, tetapi nona itu tidak ingin ia nairti bertemu dengan Yang-Bok Uuw.

"Baik, aku berjanji kepada"kau !"

Kata ia kemudian. ,,Aku tidak bakal pergi keistana seorang diri untuk mencoba melakukan pembunuhan, Sekarang langit sudih terang, kau pergilah !"

Dengan sinar mata menyesal dan penasaran Yan le mengawasi pemuda didepannya. Ia tertawa terpaksa. ,,Mo Lek tak usah kau usir aku "

Katanya.

,,Aku memang mau pegi !

Selanjutnya aku pun tidak nanti dengan seorang diri menemui kau pula ....Begitu berkata si nona lompat keluar jendela tanpa menoleh lagi, ia berlalu.

Mau atau tidak Mo Lek menyenderkan tubuh dijendela mengawasi tubuh nona lenyap ditempat gelap.

Keras niatnya Mo Lek mercari balas akan tetapi ia bukannya si orang sembrono seberlalunya Yan Ie ia menjadi sabar pula dengan tenang dapat ia menggunakan otak nya ia meresa kata kata Yan Ie beralasan Didalam iota Tiang-sn ini ia leorang diri.

Jangan kata nyelundup ke istana muncul sembarangan ditempat terbukapun berbahaya untuknya, Untuk membuat pembalasan, tak dapat aku kesusu."

Pikirnya kemudian. ,,baiklah, aku menanti tibanya konthio dahulu."

Anak muda ini juga pikir mungkin ia dapat melawan Yang bok Lauw hanya untuk memperoleh kemenangan.

Ia bersangsi.

la harap.

Kalau ia dapat bantuannya Toan-Kui Ciang dan istrinya mungkin ia mempunyai harapan.....

Itulan Louw sie atau nyonya janda Suit Jie, Nyonya itu tidak mau meninggalkan rumah.

Rupanya peristiwa itu tidak bakal mencelakai sinyonya.

Ia bingung ingin ia menemui sinyonya tetapi nyonya itu melarang padanya.

Akhirnya.

Tidak bisa lain perlu aku bertemu pula dengan Hong Sian ."

Pikirnya.

Beberapa hari sudah lewat.

Mo Lek men jadi masgul.

Jangan kata Louw sie dan Hong sekalipun In Nio tidak pernah datang pula padanya.

Ia heran sekali-Sulitnya tidak dapat ia lancang mencari nona Liap itu.

Terpaksa, untuk menghibur diri, ia melayani sikuasa rumah memasang omong Sie Siong dan Liap Hoig menjadi panglima-panglima kepercayaannya An Lok S n.

.uasa ini ia4inya, ketahui tak sedikit tentang raja pemberontak itu.

Menurut ia, putera nomor dua dari An !

ok San, yaitu An Keng Sie, yang diangkat jadi putera mahkota, sangat to ol An Lok San t.ahu itu tetapi terpaksa ia mengangkat putera itu jadi putera mahkota.

Sebabnya ialah, putera sulungnya, A.i Keng Cong telah di bunuh J&aisar Hian ong.

Ketika ia berontak.

Keng Cong berada dikota Tiang-an sebagai kua-ma menantu keluarga raja.

sebab ia berontak, putera itu dibinasakan.

Sudah begitu diantara ayah dan anaK itu, tidak; ada keakuran.

remua hal itu, Mo Lek mendapat taVu, tetapi ia tidak memperhatikannya.

Lima atau enam hari sudah lewat.

Di-hari ketujuh mendadak In Nio muncul dikamarnva Mo Lek.

Dia mengajak si anak muda pergi ketaman, untuk berlatih pedang.

Dengan girang Mo Lek mengiringi ke-heLdak sinona.

Bersama-sama mereka pergi ketaman.

Disana sudah ada Hong Sian.

Dengan lantas Nona Sie kata.

Paman Ong.

sudah dari siang siang aku ingin datang ke sini akan tetapi Lauw Mama sakit, tidak dapat aku tinggalkan dia selama beberapa hari ini pelajaranku sudah terlantar ..

"Paman Ong tentu paman tidak tahu!, In Nio, tertawa, Mama itu disayangi adik Hong Sian melcoihkan ia mengasihi ibunya sendiri ia berbakti terhadap ibu kandungnya sendiri Louw Mama cuma seorang babu tetapi dia mengerti surat dan syair, selama beberapa hari aku turut adik Hong Sian menemui dia, telah membacakan aku separuh dari kitab syair Ie Keng."

Mulanya mendentar Louw sie sakit.

hati Mo Lek tidak enak, tetapi mendengar orang sakit tapi dapat mengajari Sie Keng, ia lega dan sekarang karena kedua nona nona dapat datang tentu sakitnya Louw sie sudah sembuh.

Kedua nona itu meminta pula diajari ilmu pedang.

Mo Lek ingin tahu asal usul ilmu pedang orang ia suka meluluskan, tetapi ia kata, ,,Buat mengajari, aku tidak sanggup aku tidak berani Ilmu pedang kita berlainan cabangnya.

Paling benar coba kamu keluarkan semua kepandaian silat pedang kamu, untuk aku lihat, setelah itu kita ber latih sama-sama, untuk saling memperoleh kefaedahan."

"begitu juga baik, kata Hong Sian ,,Tapi ilmu pedangku adalah ajarannya en-cie In Nio, *ku belum mewariskannya semua, karena ite, baik encie In saja yang bersilat, sekian aku menonton, untuk mempelajarinya."

Nona Liap tertawa.

"Hong Man, mengapa kau membohong?"

Tegurnya.

"Awas. aka nanti mengasi tahu kedustaan kau ini kepada Louw Mama supaya dia menegurmu! ,;Eh, kapannya aku membohong?"

Hong Sian tanya. ,,Bukannya bohong apa? Ilmu pedangmu juga toh suhu bahkan pernah rnemuji bahwa kau cerdas sekali! "Kalau suhu datang, paling lama suhu berdiam delapan atau sepuiuh hari kata nona Sie.

"maka itu, aku belajar pada suhu, sama sekali belum ada tiga bulan lamanya, sedangkan pada permulaannya, kaulah yang mengajarinya. Sampai sekarang ini, aku masih belum belajar sempurna, Bagaimana kau bisa katakan aku membohong?"

Mo Lek berpura heran. ,Oh kiranya kamu mempunyai guru yang lainnya!"

Katanya.

"Mulanya aku menyangka kepandaian pedang kamu kepandaian warisan keluarga! Siapakah itu guru kamu? "Paman, kau bukanlah orang lain, dapat kami bicara terus terang padamu,"

Katanya "Suhu telah memesan kami untuk tidak sembarang menyebut nama."

"Kalau begitu tak apalah tak usah kau sebut kata Mo Lek. ..Cukup ajal kau pertunjuki semua ilmu silai pedangmu. In Nio mengambil sebatang pedang pendek dari para-para gegaman, lantas ia ber-diri te-gak, matanya mengawasi pedangnya itu. setelah itu. ia memutar tubuhnya, hingga pedang mengeluarkan sinar berkilauan, menyusul mana terus ia berkilat dengan berlompatan keempat penjuru, la bersilat dengan sangat larcar dan sebat dan lincah sekali menarik hati untuk ditonton Mo lek heran menyaksikan pertunjukan silat itu Ia merasa iimu pedang nona ini sama pokoknya dengan ilmu pedang Yan Ie. Yang beda ialah gerakan Yan Ie lebih keras gerakan In Nio lebih lunak. Agaknya nona ini menang sedikit dari pada Nona Org itu. Ilmu pedang ini tak ada dibawahan Wan Kong Kiamhoat. Selagi sianak muda ragu-ragu, tiba-tiba muncul sikuasa rumah dengan suaranya berulang-ulang. ,Nona!...Nona! .."

In Nio bernenti bersilat dengan larras.

.Ada apa?

tanyanya sambil inengavva si.

,Bulankah kau lihat sendiri aku lagi berlatih?

Aku hendak minta Paman Ong memberi petunjuk kepada kami..." ,.Bukan begitu, nona,"

Kata sikuasa rumah, bingung Diluar ada datang seorang nenek-nenek yang garang sekali.

Dia kata dia mau ketemu dengan orang yang dia sebut namanya Piauw Hui Suthay Aku bilangi dia, di ini tidak ada suthay itu.

dia tidak mau mengarti, lalu dia memaksa minta bertemu dengan nona.

Dia memaksa masuk setiap tindakannya ditangga batu meninggalkan tapak kakinya !

Para bu jangan ud.ik dapat menghalang halangi dia.

...

ekarang bagaimai nona mau menemui dia atau tidak?..."

Berkata begitu, sikoankee juga mengawasi Mo Lek rupanya ia ingin minta pemuda iiu membantu memberi pikiran kepada nonan ya.

Dua dua In Nio dan Hong Sian heran.

,Apakah nenek itu menyebut dirinya siapa?"

Tanyanya selang sesaat.

"Tidak ia tidak menyebut apa-apa. In Nio berpikir terus ia kata pada Mo Lek. ,,Ia garang sekali perlu aku menemui dia. Paman Org kau turut kami, tetapi kau dibelakang saja. Kalau kupanggil aku minta Paman suka membantu kami!"

Sianak muda tertawa.

"siapa, benar lihay kepandaiannya tidak nanti dia menghina anak kecil ! katanya "Maka itu, pergilah kamu berdua. Aku orang luar, tidak diapat aku sembarang per-lihatan diri. Nan begini saja, nanti temui dia, aku mengintai dari pintu angin, untuk mendengar dulu apa katanya."

"Bagus!"

Hong Siang setuju sampai dia menepuk tangan. ,Encie In, mari kita sama-sama menemuinya ! Aku tidak takut dia galak! Kita sudah belajar ilmu pedang, sekarang waktunya buat kita mencoba! "

Sambil berkata, ia memilih sebatang pedang pendek. Kepada Mo Lek ia kata. ,,Paman Ong jangan kesusu muncul ya ! Lihat kami dulu ! kalau kami ketetar, baru Paman maju!"

Mo Lek menggeleng kepala melihat si-nona sangat napsu bertempur itu tetapi tertata dan kata.

"Hong Man, seorang wanita tidak dapat gemar berkelahi maka i-.u, sebentar diwaktu bertemu nenek itu, kamu harus lebin dahulu bersikap hormat dan ramah ! Aku percaya, meiki dia galak, nenek itu tidak akan menyerang lebih dahulu kepada anak kecil . .."

Nona Sie membuat main bibirnya .Kalau dia baik, aku baik! "

Katanya.

".Buat apa aku mengampak umpak dia f"

Meski begitu, nona ini dengar kata, maka ia berjanji buat tidak turun tangan terlebih dahulu.....

Maka dengan bergandengan tangan, keluarlah kedua nona itu dari taman pergi kedepan Mo Lek mengikuti belakangan.

Didalam ruang tetamu sinenek sudah menantikan, dia duduk bercokol dengan sikapnya agung agungan.

Dia-berambut kusut dan kedua matanya yang belo.

nfcmpak bengis.

Dia seperti lagi menggertak seorang bocah.

Melihat roman dia ini kedua nona giris juga...

, Kau siapa?""

Hong Sian tanya.

"Mau apa kau mencari Biauw Hui Su-thay"

Nenek itu mengawasi dengan macain lebih bengis pula, sebab kedua biji matanya terbulak balik Lia mengawasi Hong Sian dari atas sampai kebawah dan keatas pula Mendadak dia tertawa nyaring.

"Melihat sinarmatamu. bocah, ilmu silatnya sudah ada dasarnya! katanya "Apakah kau juga muridnya Biauw Hui ? Sungguh Biauw Hui beruntung, dengan mudah saja dia mendapatkan dua orarg murid yang berbakat! Tak sedap didengar itu tawanya nenek ini. Mo Lek dibelakang pinta angin terkejut, ia kenal sinenek ialah gurunya Yan Ie Dialah Tian Toa Nio yang lihay. In Nio lebih sabar daripada Hong Sian. ..Nyonya tua, kau keliru mencari orang."

Katanya. keluarga kami keluarga Liap dan ayahku lagi membawa pasukan tentara pergi berperang. Dirumah kami tidak ada Biauw Hui Su thay yang kau sebutkan itu .,Aku tahu engkau puterinya Liap-Hong!"

Kataaya.

,.Kalau ayahmu bertemu dengan aku, dia menyebut dirinya boanpwe, orang yang tingkatnya lebih muda.

Kau begini muda kau dapat mendustai !

Kau bilang Biauw Hui tidak ada, kenapa adikmu ini menanya mau apa aku mencari dia ?, lekas bilang, Biauw Hui itu gurumu atau bukan?" ,,Tidak dapat aku memberitahu kepada mu,"

Kata Hong Sian. ,,Suhu juga melarang aku membicarakannya epada iai; orang."

Tiat Toa Nio tertawa lebar "Oh. kiranya Biauw Hu ada pesannya begini rupa ? Haha ... ! Nona kecil, kau tidak mau bicara, apa kau kira aku tidak dapat mencoba ?"

Belum berhenti tertawa si nyonya Hong Sian sudah merasakan angin menghembus kesisiaya atau segera pedangnya sudah kena dirampas nyonya tua itu !

Mendadak nyonya itu memutar tubuhnya Tanpa menghunus pedang ia menyam-pok dengan pedang didalam sarung.

Dia menyampok sambil meneruskan menikam sam bil berseru juga kearah In Nio .

..Budak kecil, kau berhati-hatilah menyambut aku punya pukulan Ya Cee Tian Hay ini !"

Pukulan itu berarti ,,Siluman menjajaki lautan."

In Nio dapat menangkis. Ia cerdik, ke tika pedangnya Hong Sian kena dirampas, ia sudah lantas bersiap siaga, la menggunai jurus "Bidadari menusuk torak."

Itulah jurus istimewa "untuk melumpuhkan ..Ya Cee Tam Hay."

Sebagaimana ia diajari gurunya Ilmu itu ia sudah paham benar, meski demikian, kalau bukan si nenek menyebutkan-nya lebih dahulu, beljm tentu ia dapat be-gerak demikian lincah.

Dalam urusan bertempur, ia tidak mempunyai pengalaman^ Toh akhirnya ia terkejut.

Pedangnva kena dipapas kutung Tian Toanio !

Atas itu si nyonya tua tertawa nyaring dan kata .

,,Nonanona cilik, apakah kau masih belum tahu aku siapa ?"

Sampai disitu, tahulah Mo Lek bahwai Tian Toa-nio tengah menguji saja.

Terang bahwa si nyonya mempunyai hubungan erat dengan gurunya kedua nona-nona itu.

Tapi Hong Sian tidak mengarti apa-apa ia tidak sabaran.

lantas ia berseru.

,.Paman Ong.

Lekas keluar !

Kami tidak dapat melawan orang ini !"

Parasnya Tian Toa-nio guram mendadak, ,Ah, kiranya kamu masih mempunyai se orang paman Ong ?"

Katanya. ..Siapakah dia ? Ingin aku menemuinya!"

Mo Lek kaget. Tian Toa-nio tidak melihat orang keluar ia mau bertindak masuk ke dalam, atau ia merandak karena ini suara keras . ..Eh, suhu ! Kenapa suhu datang kemari ?"

Itulah suaranya Yan Ie, yang muncul dengan cepat. Nenek itu mementang lebar matanya.

"Yan Ie apakah kai masih kenal gurumu ?"

Tegurnya.

"Suhu. harap suhu jangan gusar dulu."

Berkata si murid.

"Ketika itu hari aku pergi, aku menuruti pikirannya engko Goan Siu." ,,Bagus, ya!"

Si nyonya .tertawa tawar.

"Jadinya kamu sudah berkongkol ! Kamu jadi telah berserikat menentang aku ! Mana anak Tianku itu ? Kau suruh dia ke luar ! Hendak aku tanya, dia masih kenali aku se bagai ibunya atau tidak ?"

Meski orang berlaku bengis Yan Ie ketahui baik hati gurunya itu.

"Jangan kuatir, suhu, engko Goan Siu tidak kurang suatu apa."

Kata ia. ,,Engko tetap berbakti kepada suhu ! Cuma sekarang ini engko Goan Siu tidak ada d"sini. Jikalau suhu ingin bertemu dengannya, suhu masih harus menunggu sekian lama lagi ..." ,,Hm !"

Bersuara si nyonya. ,,Tak ingin , aku menemui dia! "

Tapi, ia toh menanya . ,Dia ada dimana sekarang Pong Sian bingung, hanya sekarang tidak kaget lagi sepe-ti tadi. ,Eh, encie Ong, apakah benar nenek galak ini gurumu ?"

Tanyanya polos.

"Heran, encie Ong sudah muncul, kenapa paman Ong tidak ?"

Tian Toa-nio tidak menggubris nona she Sie icu. dia hanya menanya muridny .

"Rupanya kau bersahabat dengan keluarga disini ! apakah kau pernah bertemu dengan paman gurumu ? Disini katanya ada paman Ong, siapakah dia?"

Yan Ie tertawa.

"Suhu, pertanyaan kau berentet-rentei!"

Katanya.

"Yang majia satu aku mesti jawab terlebih dahulu ? Ah, baiklah, nanti aku bi csra dulu dati hal engko Goan Siu ! Hanya suhu panjang bicaraku ini. Disini pun bukan tempatnya buat memasang omoig. Mari, su hu, m^.ri suhu da"tang kerumahku ! Suhu tahu, ayah berdahaga ingin bertemu dengan suhu. ia kangen sekali!"

Nenek itu nampak ragu-ragu. Yan Ie tertawa. Ia tanya .

"Suhu apakah suhu masih menggusari aku? "Hm!"

Jawab guiu itu.

"Tak ada luang tempoku untuk menggusari kau ! ",,Kalau begitu, suhu, mari kita pergi !*"

Kata si murid. yang pandai membujuk.

"Tunggu dulu.! kata sinenek, yang mengibasi tangannya.

"Kenapa kau begini mendesak aku ."

Aka suduii datang kemari aku belum mendapat dengar tentang paman gurumu, mana dapat aku lantas pergi saja?"

Dengan ,,paman guumu"

Itu, Tian Toa-nio maksudkan ,,supee"

Paman guru yang terlebih tua bukannya ,,Su-siok"

Paman guru yang terlebih muda.

"Tentang itu, suhu tanya aku saja, beres! kata Yan Ie, yang tertawa pula.

"Mari kita bicara sambil berjalan! Suhu tidak tahu, banyak yang aku hendak memberitahukan suhu ! Karena itu, setelah aku bertemu denga n suhu, bagaimana aku tidak jadi tidak sabaran ? Memang benar Biauw Hui Su pee tidak ada disini, kalau ia datang, biasanya sesudah musim dingin setiap tahun, lalu selewatnya Ciap-gouw-meh, baru ia pergi pula. Sekarang mau mulai musim dingin suhu datang terlalu pagi ..."

Tian Toa-nio berpikir.

Ia mau percaya keterangan muridnya ini.

Kata ia di dalam hati .

,-,Anak ini benar.

Meski su-cie tidak akur de.iganku, setelah aku ada disini, tak mustahil dia tidak keluar untuk menemu aku,"

La juga, sebenarnya, ingin sekali men dengar tentang puteranya, maka ingin ia lekas-lekas sampai dirumah simurid untuk menanyakannya.

Karena ini, selanjutnya ia tidak ragu-ragu lagi.

Sesudah orang keluar dipintu, barulah Mo Lek bernapas lega.

Tapi mendadak Tian Toa-nio menunda tindakannya, lantas ia tanya muridnya .

"Kedua setan cilik itu telah dapat mewariskan ilmu silat paman gurumu, tetapi barusan me reka menyebutnyebut paman Ong-nya yang mereka panggil keluar untuk si paman Ong itu menghadapi aku. Siapakah si paman Ong itu "

Yan Ie tertawa geli.

"Yang dipanggil paman Ong itu ialah se orang pegawai tua disini T"

Sahutnya.

"Dia tukang penenggak susu macan, sud^h begitu lantas dia pandai sekali omong besar dan memaki orang hingga kawanan"

Anak-anak tidak berani mengganggu dia !

Setan-setan cilik ini memanggil dia, rupanya untuk mem bikin dia dapat malu !

Si paman Ong itu, biarnya dia tukang ngebrahol kalau dia me lihat suhu begini galak, mana berani dia muncul ?

Mungkin sekarang dia lagi mering kuk bersembunyi dikolong pembaringannya!

Mana dia dapat keluar ?"

"Oh, begitu !"

Katanya. Lalu Tian Toa-nio pun tertawa, terus dia membuka tindak an lebar. In Nio dan Hong Sian saling mengawasi dengan mendelong. Mereka heran bukan main.

"Heran encie Ong !"

Kata Nona Hiap.

"Biasanya encie Ong baik sekali terhadap kita, kenapa sekarang dia berpihak begini rupa kepada gurunya ? Kenapa dia menyebut kita sebagai setan-setan cilik ? Kenapa dia juga mendusta, mengoceh tidak keruan? Paman Ong bukannya pegawai tua bukan setan arak, kenapa d a mengatakannya demikian "

Hong Sian tidak menjaw.ab kawannya itu hanya ia berkata keras "Paman Ong, kau dengar atau tidak ? Apakah benar paman takut hingga paman bersembunyi meringkuk dikolong pembaringan ?"

Mendengar itu, Mo Lek segera muncul, dan sambil tertawa geli. Ia pun kata .

"Encie Ong kamu bermaksud baik terhadap kamu, kamu tidak tahu ! Nenek galak itu ialah su-siok kamu ! Kenapa kamu berani berlaku kurang ajar terhadapnya ? Encie Ong kuatir dia nanti menegur kamu. maka dia mengajaknya lekas-lekas pergi ! Sengaja encie Ong kamu mengatakan kamu setan-setan kccil, itulah guna membikin reda hati gurunya "Sungguh aku tidak sangka aku mempunyai paman guru semacam dia !"

Kata In Nio.

"Dengan begitu, bukankah encie Ong kami itu sebenarnya su-cie kami ? Herannya belum pernah dia membilangi kami tentang gurunya itu ..."

"Suhu sangat menyayangi kami, sebaliknya ini paman guru. sangat galak ! "

Kata Hong Sian sengit.

"Sudah roman dia tidak mengasih, dia juga menghina kami! Tak aku memikir buat mempunyai paman-guru sermacam dia ! Paman Ong kenapa barusan kau t"idak keluar ? Kau bikin kami malu sekali ..."

Mo Lek tertawa pula.

"Biar bagaimana dialah paman guru kami mana dapat aku menempur dia ?"

Sahutnya. In Nio lebih tua daripada Hong Sian, dia dapat berpikir. ,,Benar !"

Katanya "Kalau Paman Ong mencmpur dia, menang jelek, kalah rugi ! Kalau paman menang, juga tak bagus untuk encie Ong ! "

Karena kejadian ini, bertiga mereka tak bicara banyak lagi bahkan mereka bubaran dengai hati tidak gembira.

Hati Mo Lek terasakan berat.

Ia kuatir Tian Toan Nio muncul lagi.

Tidak dapat ia menemui nyonya itu, atau rahasianya bakal terbuka.

Untuk menyingkirpun sukar.

Meski kota Tiang-an besar, kemana ia mesti pergi.?

Meninggalkan kota ini ia pun tidak sudi !

Sakit hati ayahnya masih belum terbalaskan !

Tanpa merasa, lewat beberapa hari.

Selama itu Tian Toan Nio, atau Yan Ie, dua-duanya tidak pernah datang lagi.

Hati si anak muda lega juga.

Ia percaya si nona berhasil melibat gurunya itu.

Karena ini, diam-diam ia bersyukur kepada nona itu, hingga dengan sendirinya ia suka juga memikirkannya.

Katanya di dalam hati .

"Menurut suaranya, ia tentu telah ketahui ten-targ Tian Goan Siu. Dia Cuma mendustai gurunya atau itulah hal yang benar ? Se-moga dia dan kakak seperguruannya itu. dapat menikah dan hidup berbahagia karenanya ! * Selama beberapa hari itu, In Nio dan Hong Sian terus jalan mengajak si anak muda borlatih pedang, maka Mo Lek jadi memberi petunjuk-petunjuk bagaimana orang harus mengerahkan tenaganya. Dengan begitu ia sendiripun memperoleh kefaedahan ialah ia menjadi mendapat tahu tentang ilmu pedang mereka itu. Hanya selama itu juga, Lonwsie tak pernah nampak pula. Pada suatu hari Mo Lek tengah duduk berdiam di dalam kamarnya menanti datangnya In Nio waktu tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara berisik di luar gedung. Itulah suaranyapasukan tentara. Yang paling dahulu ia curigai ialah .

"Mungkinkah orang telah mengetahui aku berada di sini dan si petncerontak sne An telah mengirim tentaranya untuk menawan aku"

Ia masih ragu-ragu ketika ia mendengar suaranya In Nio . ,.Pamau Ong, lekas keluar ! Ayah sudah pulang !"

Mendengar itu, pemuda ini terperanjat berbareng girang.

Tidak ayal lagi ia turun dari loteng, untuk bersama-sama si nona pergi ke luar untuk menyambut.

Ia baru sampai dipintu ke dua lantas ia melihat Liap Hong bersama si koankee.

Liap Hong baru sampai, tidak sempat ia menanya apa-apa kepada kuajsa rumahnya.

Ia cuma menduga tentulah Mo Lek su dah sembuh dari luka-lukanya dan anak mu da itu sudah berangkat pergi.

Maka heranlah ia menyaksikad pemuda itu muncul sambil berpegangan tangan bersama puteri-nya.

,,Tiat ...."

Katanya mendadak, atau lantas ia sadar, maka lekas-lekas ia meneruskan .

,, .

Tiat-kie-kun tarut aku berperang, diluar dugaan, pasukan itu gagal, maka itu aku pulang dengan lekas.

Saudara Ong bagaimana, apakah kau merasa kerasan berdiam di sini T Tiat-kie-kun atau "pasukan besi "

Ialah pasukan berkuda istimewa.

"Tiat""

Berarti besi dan she Tiat dari Mo Lek ialah "Tiat ... besi itu. Hati Mo Lek tergerak. Ia melihat muka Liap Hong kotor dengan debu, disitu tampak juga tanda keletihan. Tapi ia lekas menjawab .

"Terima kasih kepada koan-kee ini yang melayani aku baik sekali, hingga aku merasa senang tinggal di sini "

Nampak Liap Hong sedikit ragu-ragu tetapi ia kata pada puterinya . ,,Pergi kasih tahu ibumu, aku hendak bicara dulu sebentar dengan paman Ong ini"

Sedangkan kepada si kuasa rumah, ia kata "Kau serahkan -kepada nyonya beberapa bungkusan dari barang-barang hasil bumi yang aku bawa itu.

Andaikata ada datang tetamu yang ingin bertemu denganku, bilang baru besok aku dapat menemukannya, karena hari ini aku baru pulang dan ingin beristirahat."

Dua-dua anak dan koan-kee itu mengundurkan diri, hanya si koankee sedikit heran. Toh ia girang juga pikirnya .

"Syukurlah aku dapat melayani baik sekali kepada Ong Siangkong. Loya baru pulang, bukan ia masuk dulu ke dalam menemui nyonya besar, ia justeru mau bicara dulu dengan pemuda Teranglah sudah bagaimana ia sangat menghargakan Ong S ang-kong ! Liap Hong juga menyuruh pengiringnya mengundurkan diri, lantas ia pergi bersama Mo Lek ke ruang tamu-dari si anak muda. Ia lantas menganci pintu habis mana ia me ngeluarkan napas lega.

"Kenapa kau berduka, ciangkun ?"tanya Mo Lek, .. benarkah kiu kalah perang ?"

Liap Hong tertawa menyeringai.

"Syukurlah tidak semua angkatan perang termasna,"

Karanya.

"Didalam sepuluh yang tinggal cuma tiga bagian ..."

Mo Lek heran.

"Siapakah kepala perang pasukan perang Tong yang demikian lihay itu ?"* ia tanya pula.

"Apakah Cin Siang dan Oettie Pak turut muncul dimedan perang T"

Pemuda ini kangen kepada dua orang itu maka paling dulu ia menanyakan tentang mereka.

Kembali panglima perang itu menyeringai, ia bersenyum sedih.

,.Jikalau aku kalah ditangan mereka itu, itulah kekalahan yang ada harganya, sahutnya.

"Sungguh menyedihkan untuk menyebutnya, musuh yang al u hadapi itu justeru bukan musuh yang merupakan pasukan tentara yang resmi atau teratur, hanya segerombolan tentara rakyat yang muncul dan selamanya tidak ketentuan. Setiap malam asal jagat sudah gelap lantas mereka datang menyerang dari delapan penjuru dan sele-kasnya sang fajar tiba, lantas mereka menghilang tidak keruan paran. Jadi sebenarnya kita belum pernah berperang benar-benar tetapi tentara kita berkurang terus dengan sendirinya ..." ,.Ciangkun."

Kata Mo Lek, ,.kalau begitu kau seharusnya merasa girang ! Liap Hong heran.

"Apakah katamu ?"

"Dengan kekalahan ini Ciangkun, kau harusnya mengerti bahwa tentara yang kuat saja belum dapat diandalkan, yang paling penting ialah kita mendapatkan hatinya rak yat jelata ! Pepatah tua pun membilangi . Saga menurut rakyat, dia makmur, siapa me nentang rakyat dia tupas. Jikalau Ciangkun menginsyafi "itu maka bencana akan berubah men adi kebahagiaan, dan itu terjadinya cuma dalam sekejap ! Semangat rakyat terbangun berarti pengaruh bahwa Ouw runtuh! Ciangkun, jikalau Ciangkun dapat mengambil keputusan tegas maka dilain tahun, di-saat negara kita bangkit lagi. dapat Ciangkun memegang kekal kedudukan Ciangkun l Nah Ciangkun bukankah ini hal yang menggirangkan, yang harus mendapat pemberian selamat ?"

Hup Hong tunduk. Ia berpikir. Perlahan-lahan baru ia mengangkat kepalanya.

"Mo Lek sekarang ini belum tiba wak tunya."

Kata ia "Buat sementara baik kita jangan bicarakan soal ini Sekarang hendak aku menanyakan dahulu urusanmu sendiri.

Apakah kau sudah bertemu degan Louw-sie?

Sianak muda mengangguk" , Pada pertama kali aku datang aku ber temu dengannya satu kali, sahutnya.

"Apakah kata dia."

"Seperti apa yang kau katakan. la tidak mau berlalu dari sini."

Sebenarnya Mo Lek mau menuturkan semua keterangannya Lonw-sie, tetap, setelah berpikir sejenak ia merobah niatnya itu. Liap Hong menatap wajah sianak muda.

"Saudara Tiat, kaulah seoraag gagah,"

Katanya.

.,Aku bersykur yang kau serta Toan tayhiap memandangku sebagai sahabat kamu Kau tahu biar bagaimana; juga tidak dapat aku membuat kau mendapat susah, Sebenarnya selama aku tidak ada diru-mah, keadaan masih terlebih baik, tetapi sepulangnya aku, suasana lantai jadi ber-obah !

Inilah soal yang membuatku berkua tir.

Mo Lek dapat menduga tetapi ia berlagak pilo i, .-Aku tidak mengerti.

Ciangkun "

Kata nya. .Kalau Ciangkun percaya aku, aku minta kau sudi memberikan penjelasan." ,,Selama aku tidak ada dirumah. orang luar tidak nanti datang kemari"

Kata sipanglima perang atau tuan rumah "akan tetapi selakasnya aku pulang, pastilah rekan rekan ku bakal datang berkunjung kemari, untuk menjenguk aku buat menanyakan urusan urusan digaris depan.

Inilah bahayanya siapa dapat pastikan kalau lama lama rahasia mu tidak akan terbuka ?

Inilah yang mem buat aku berkuatir, Saudara Tiat"

Kau sudah bertemu dengan orang yang kau hendak ke temukan tapi sekarang kau masih berdiam didalam kota Tiang-an ini kau masih mempunyai urusan apakah ?

Kata Mo Lek didalam hatinya ,Kalau begitu dia kuatir aku nanti merembet rembet padanya ...

Ia menjadi sedikit kurang senang.

Akan tetapi lekas pula ia mengerti Liap Hoig berkata demikian terutama untuk kebaikkannya sendiri.

Maka ia berkata "Kalau demikian kesulitan mu, Cangkoan baiklah besok aku akan berpamitan dari kau."

Mereka baru bicara sampai disitu, atau dari bawah lauwteng sudah terdengar suara nyr si kua.-a rumah-,.Sie Ciingkun mengun a-ing Ciangkun dan Ong Siangkong berdua"

Liap Hong terkejut.

,,Sie Sion mau bertemu dengan kau tidak dapat kau tidak menemukannya, katanya perlahan.

..Kalau kau menampik, kecurigaannya bisa timbul, karenanya.

Maka, baiklan kau menenangkan dirimu, mari aku temani kau pergi kepadanya!

Mau atau tidak Mo Lek menurut.

Rumah kedua keluarga menempel satu dengan lain.

maka itu Liap Hong mengajak si anak muda melintasi pintu samping hingga dilain saat mereka sudah berada diruang tengah dari gedungnya Sie Siong dan pang-lima she Su itu terlihat lagi duduk me-nantik m,dengan dia didhm"pingi Hong Sian.

Begitu sianak muda, Sie Ciangkun lantas berbangkit bangun sembari tertawa lebar, ia berita nyaring.

,Ong Siauw He, aku mempunyai mata tetapi aku tidak me-ngenali seorang gagah sungguh aku malu !

Lantas ia menepuk nepuk pundaknya Liap Hong sambil menambahkan;

"Matamulah yang lebih tajam, maka juga kau dapat melibat seorang luar biasa hingga kau berhasil melindungi jiwanya !"

Dua-dua Mo Lek dan Liap Hong heran hingga timbul curiga mereka.

Heran sebab Sie Siong girang luar biasa Adakah sesuatu yang dikandung didalam hatinya panglima perang ini !

Habis menyambut itu.

Sie Siong mern-persilahkan kedua tetamunya berduduk sedangkan budak perempuan lantas diperintah menyuguhkan air teh.

"Ong Siauw Hek, kemudian tuan rumah bertanya dari siapa kau pelajari ilmu pedangmu !"

"Dari seorang guru silat didesaku !"

Sahut"

Mo Lek. ,.Dia berkata aku berbakat, maka dia mengajari sungguh sungguh. .,Jikalau begitu, garu itu pastilah seorang lihay yang lagi menyembunyikan diri kata Sie Siong pula.

"Aneh""

Kata Liap Hong. ,.kau baru saja pulang bagaimana kau ketahui ilmu pedang Ong Siauw Hek liehay ?"

Sie Siong tertawa. Apakah puterimu belum menceriterakan nya kepadamu ?*"

Dia balik bertanva.

,Selama hari hari yang palmg belakang ini, setiap hari Ong Siauw Hek memberi petuniuk ilmu pedang kepada anak-anak kita itu, nona In Nio dan Hong Sian memuji dia.

tanpa menyaksikan sendiri lagi, aku percaya dia benar lihay !"

Mo Lek berpikir.

,.Kalau begitu inilah biasanya Hong Sian entah dia bakal mendatangkan kesulitan apa kepadaku ....

Hong Sian tidak tahu apa yang paman Ong pikir, dia tertawa dengan gembira, dia berkata.

"Paman Hong kau baik jangan pergi kekampung halamanmu ! Akan aku minta ayahku memberi kau satu pangkat supaya kau bisa tinggal tetap disini untuk mej jadi kawan kami !" ,,Piauwtee"

Kata sie Siong pada Liap-Hong.

siadik misan aku mengundang kau, justeru buat urusan ini, Ong Siauw Hek men jadi seorang sesama kampung kita ia juga pandai silat aku ingin mengangkat padanya dengan menjadikan pemimpin barisan pengiringku.

Apa kau rela melepaskan ia untukku?".

"Ong Siauw Hek mendapat pertolongan kau itulah keberuntungannya,"

Sahut Liap-Hong yang terus berpaling kepada si anak muda untuk menanya.

"Ong Siauw Hek bagaimana pikirannya?"

Panglima she Liap ini menduga Mo-Lek bakal menampik, tidak tahunya jawaban sianak muda mengherankan padanya.

Mo Lek menjawab dengan cepat.

..Sungguh aku bergirang dan bersyukur yang aku ditolong Ciangkoan untuk itu, minta pun aku tidak dapat !"

Mo Lek tidak beiniat lantas meninggal kan kotaTiang-an walaupun ia tahu keselamatannya tidak terjamin justeru karena itu, ia ingin mencari satu tempat yang aman, dimana ia dapat memernahkan diri.

Rumah nya Liap Hong bukanlah tempat yaug aman itu.

Maka kebetulan sekali tawarannya Sie-Siong ini.

la sudah lantas berpikir.

"Dengan menjadi orangnya Sie Siong aku dapat lebih banyak kesempatan untuk bertemu dengan Souw sie, Jikalau toh rahasiaku terbuka, masih ada tempo buat aku menymg kir. Mana dapat Sie Siong merintangi aku?"

Maka dengan lantas ia menerima tawaran itu. Dirumah Sie Siong ini, kalau perlu, dapat ia mengamuk. Tidak demikian dirumahnya Liap Hong. Meski ia menerima oaik tawaran itu"

Mo Lek tidak menghaturkan terima kasih sambil ia menekuk lutut, melihat kelakuan orang itu Sie Siong tidak menjadi kurang senang, hanya ia kata didalam hatinya.

,.Da sar anak desa dia tiduk tahu aturan sopan santun.

Tapi ini menunjuki kepolosan"

Biar lah perlahan-lahan *aja akan altu ajari dia adat kehormatan ..."

Maka ia kata.

"Telah aku suruh koankee menyiapkan kamar untukmu. Benar kedua rumah kami menempel satu dengan lain, tetapi karena kau menyadi kepala barisan peniringku lebih le luasa buat kau tinggal digedungku ini. Ten tang barang barangmu nanti aku suruh o-rang mengambil dan membawa kemari kau jadi tidak usah pulang lagi. Eh, apakah kau belum pernah bertemu dengan hujin.?"

Mo Lek melengak. Tak tahu ia maksud orang. Tapi ia tahu dengan, ,,hujin"

Di maksudkan Nyonya Sie Lekas lekas ia menjawab.

Aku tinggal digedungnya Liap Ciang kun tanpi urusan tidak berani aku datang kemari.

Aku belum pernah menghadap hujin.

Berkata Sie Siong.

..Selanjutnya kau menjadi pengiring pribadi dari aku merang kap cmteng kau jadi seperti orang sendiri maka itu kau harus menemui hujin.

Lantas panglima ini menyuruh seorang budak perempuan menunggang isterinya.

Tidak lama datanglah seorang nyonya yang dandanannya mentereng yang usianya sepadan dengan usia Sie Siong sedangkan romannya a^ung.

Teranglan dia dari keluar ga terhormat.

Kata Mo Lek didalain hati.

,Sie Siong jahat tetapi dia mempunyai isteri begini agung sungguh dia beruntung Lantas ia menghampirkan nyonya besar itu untuk memberi hormat.

Nyonya Sie sudah mendipat tahu inilah pemuda yang menjadi pengiring pribadi suaminya merangkap cinteng, melihat roman orang, jam-jam ia memuji.

Ia kata di dalam hatinya.

"Kali ini dia tidak keliru memilih orang"

Kemudian sembari tertawa ia kata pada suaminya.

"Kalau bukan kau mengatakan dari tiang siang aku mau menyangka dialah puteranya seorang panglima perang ! "

Sie Siong percaya Liap Hong. ia tetap menganggap Mo Lek anak desa Ia girang mendengar pujian "terinya. Kata ia sambil tertawa pada isterinya itu.

"Seorang panglima atau perdana menteri, dia bukan mesti nya berketurunan saja, Seorang lakilaki se jati dia mesti maju sendiri ! Leluhurku juga tidak pernah memangku pangkat, toh aku telah menjadi seorang panglima perang besar bukan ? Ong Sauw Hek kau bekerjalah baik-baik aku jamin kau nanti memperoleh hari depan dari baju sulam kebesaran !"

Mo Lek mengucap terima kasih lagi ka li ini sambil menjura, Sie Siong tertawa pula kata ia pada is terinya.

,Hujin kau telah memuji romannya Ong Siauw Hek ini hal itu sebenarnya aneh Kau tahu ketika pertama kali aku melihat dia aku merasa bahwa dahulunya pernah aku melihat orang yang mirip dengannya.

Ketika itu aku sudah lantas merasa sedikit suka padanya.

Itulah sebabnya waktu Liap-Hong meminta kebebasan dirinya.

aku-lantas memberikan persetujuanku l"

Mendengar kata rekannya itu hati Liap Hong berdebar, maka ia lekas berkata.

,,Dia lah orang sesama kampung kita mungkin se kali diwaktu dia masih sangat kecil pernah kau lihat dia, hanya kau telah melupakannya."

Sie Siong tertawa.

"Mungkin benar begitu!"

Katanya.

"Ini rupanya yang disebut jodoh!"

Mendengar pembicaraan dengan orang itu hati Mo Lek lega.

Pada sepuluh tahun yang lampau dia pernah menempur Sie Siong di kota Tiangan ini benar ketika itu keadaan sedang kacaur tetapi pertempuran dua-tiga jurui dapat membuat orang mengenali "atu pada lain.

Maka syukur sekarang kekuatiran nya itu lenyap.

Ketika itu seorang budak perempuan mengabarkan kedatangannya tetamu,, yaitu Nyonya Giam.

Atas itu.

Sie Siong kata pada isterinya.

"Tetamumu datang! Suaminya itu sedang sangat disayangi Seri Baginda bagus sekali kau bersahabat dengannya !"

Melihat nyonya itu kedatangan tatamu Mo Lek lantas memohon diri.

"Paman Ong, mari kita pergi kekamar mu!"

Kata Hong Sian. Mo Lek menurut, maka ia mengundurkan diri. Kuasa rumah turut bersama untuk dia yang mengantarkan. Dilorong seorang budak perempuan datang menghampirkan aan kata pada Hong Sian.

"Nona Louw Mama memanggil kau. katanya sekarang ini saatnya kau bersekolah !"* "Nona itu mengulur lidahnya.

"Oh sungguh keras aturanya!"

Katanya Tapi ia terus kata pada Mo Lek-,Paman Ong. besok saja aku menemui kau lagi!"

Mo Lek mengangguk.

Ia melihat nona itu menghilang dipintu model rembulan di sebelah kiri.

Diam diam ia perhatikan keletakan pintu dan tempat itu.

Sikuasa rumah tahu tetamunya dihargai majikannya ia berlaku manis dan telaten maka suka ia bicara banyak.

Diantaranya ia memberitahukan bahwa nyonya tetamu tadi yaitu Giam Hu jin, atau Nyonya Giam menjadi isterinya Giam Cong, yang menjadi menteri besarnya An Lok San.

Pangkatnya yaitu "Thaycu Siauwsu"

Atau guru putera mahkota.

Mo Lek mengangguk-angguk, ia -tidak, terlalu memperhatikannya.

Ia telah menduga, karena ia baru bekerja dan Sie Siong-pun baru pulang, ia bakal dijamu, akan tetapi dugaannya itu meleset.

Sie Siong cuma memesan koankee untuk melayani ia baik-baik seraya ia diajak mengitari seluruh gedung, supaya ia tahu keletakannya gedung itu, terutama semua pintunya.

Sebagai centeng, ia mesti mengenal jalan, supaya setiap waktu, apa pula diwaktu malam, ia afal betul Ia hanya heran, selama berputaran itu.

tak pernah ia melihat Louw-sie.

Ia pun tak menemui lagi Sie Siong, -i-majikan panglima perang itu.

_ Malam itu koankee menyediakan barang makanan buat Mo Lek sendiri sembari ia memberitahukan bahwa sebenarnya Sie Siong mau menjamunya tetapi batal karena sejak datangnya Giam Hujin majikan itu suami isteri terus menemani tetamu agungnya itu, bahwa beberapa tetamu yang datang berkunjung, semua ditampik Sie Siong.

Menurut kuasa ini, agaknya Sie Siong tidak puas-Diwaktu bersantap malam, Giam Hujin ditemani cuma Sie Siong dan isteri sampaipun Hong Sian dilarang masuk entah apa sebabnya.

Mo Lek heran, tak dapat ia menerka.

Meskipun mereka bersahabat erittak mestinya Sie Siong, seorang pria.

turut istermya terus menerus menemani tetamu manitanya itu.

Habis bersantap malam, Mo Lek beristirahat.

Kira jam tua, ia menyalin pakaian malam.....ya-heng-ie...

hitam, secara diamdiam ia keluar dari kamarnya.

Ia sudah kenal rumah itu baik sekali ia dapat pergi kemana ia suka.

Sebagai cinteng itulah tugasnya untuk merondai segala bagian dari gedung."

Hanya tidak lama, ia sudah berhasil mencari kamarnya Louw sie.

Aneh, diwaktu malam seperti itu, kamar Louw-sie masih terang sekali, bahkan terlihat bayangan dua orang wanita serta terdengar suaranya sangat perlahan.

Kamar Louw-sie mempunyai jendela yang madap kesebuah pekarangan dimtna ada tumbuh sebaah pohon bwee yang sudaa tua.

Inilah kebetulan untuk Mo-Lek.

Dengan satu kali saja menjejak tanah, ia sudah dapat naik keatas pohon itu, untuk memernahkan diri bagian cabang dari mana ia bisa mengintai kedalam kamar.

Maka ia bisa melihat, dua bayangan itu ialah bayangannya Louw sie bersama Sie hujin.

Ia jadi semakin heran.

Setera terdengar Nyonya Sie.

,Dulu-dulu setiap kali aku memberi nasehat padanya dia selamanya meno"ak denran mengatakan.

Baca Juga: Hikmah Pedang Hijau 11

Baca Juga: Dendam Sejagad Legenda Kematian 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger