Eps 13 Tusuk Kondai Pusaka - SD Liong
Baca online Tusuk Kondai Pusaka - SD Liong
Cersil Tusuk Kondai Pusaka - SD Liong.
Shin Ci-koh menghela napas. Sesaat Yak-bwe heran, pikirnya.
"Wanita ini biasanya ganas dan sombong, mengapa sekarang mendadak sontak berubah perangainya?"
Baru In-nio hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar derap kaki orang datang.
Ternyata yang datangitu dua orang thau-to (imam).
Yang seorang tua dan yang satu muda.
Wajah mereka mengunjukkan sebagai orang suku Oh.
Thau-to yang muda itu tinggi kurus perawakannya, mengenakan jubah warna hijau, matanya berkilat-kilat tajam sekali.
In-nio segera mengenali thauto itu sebagai Ceng-bing-cu murid ahli waris dari partai Leng-ciu-pay yang telah memimpin anak buahnya mengepung Shin Ci-koh.
Thau-to tua itu tak dikenalnya.
Tetapi dari wajahnya yang merah kemilau dan sepasang matanya yang berapi-api serta perawakannya yang luar biasa tingginya, tentulah juga seorang kosen yang tinggi lwekangnya.
kemunginan lebih sakti dari Cengbing-cu.
Wajah Shin Ci-koh berubah seketika.
Tetapi pada lain saat ia tertawa gelak-gelak.
"Oh, kiranya Leng Ciu siangjin datang, maaf, aku lalai menyambut. Aku merasa beruntung karena hari ini dapat bertemu dengan dua angkatan dari partaimu!"
Munculnya Ceng-bing-cu saja cukup membuat In-nio terkejut apalagi mendengar bahwa thau-to tua itu ternyata Leng Ciu siangjin, suhu dari Ceng-bing-cu.
Diam-diam ia mengeluh dalam hati.
Baru pihaknya tambah dua tenaga (Khik-sia dan Yak-bwe), kini pihak lawan datang juga dua tokoh kuat.
Sebaliknya kini giliran Ceng-ceng-ji yang girang setengah mati, serunya tergopoh-gopoh.
"Cengbing toheng, sebenarnya aku sudah akan menangkap wanita siluman itu untuk kuserahkan padamu, tetapi sute-ku yang kurang ajar ini selalu merintangi aku. Ah, aku merasa malu!"
Ceng-ceng-ji belum kenal leng Ciu siangjin.
Tetapi dengan Ceng-bing-cu ia sudah bersahabat karib ialah ketika sama-sama membantu Su Tiau-gi tempo hari.
Iapun mengetahui juga tentang permusuhan antara Ceng-bing-cu dengan Shin Ci-koh.
Sebaliknya, Ceng-bing-cu tidak tahu kalau Ceng-ceng-ji pun mendendam pada Shin Ci-koh.
Ia kira Ceng-ceng-ji itu benar-benar hendak membantunya menangkap Shin Ci-koh.
Sudah tentu ia berterima kasih.
Khik-sia tak menghiraukan sama sekali akan kedatangan kedua tokoh Leng-ciu-pay itu.
Memang Khik-sia itu bagaikan anak kambing yang tak takut pada harimau.
Melihat kesempatan dimana Ceng-ceng-ji terpencar pikirannya karena bicara tadi, Khik-sia perhebat serangannya.
Bunuh dulu Ceng-ceng-ji baru nanti menggempur benggolan Leng-ciu-pau, demikian pikirnya.
Cret, Ceng-ceng-ji termakan sebuah tusukan.
Tetapi tusukan Khik-sia itu bukan dimaksud untuk mengambil jiwa, melainkan untuk menusuk jalan darah saja.
Ceng-ceng-ji sudah banyak pengalaman.
Waktu merasa hawa pedang menyusup ke dalam urat, buru-buru ia empos semangat dan kempiskan dadanya.
Tusukan Khik-sia tidak tepat mengenai jalan drahnya melainkan di sebelah jalan darah Yang-koh-hiat lambung kiri.
Hanya sedikit kulitnya yang terluka.
Berbareng saat itu Ceng-bing-cu berkata.
"Memberi buah tho akan dibalas dengan buah li. Terima kasih atas bantuanmu. Akupun akan membantumu membersihkan pengacamu!"
Khik-sia baru berganti gerak hendak menusuk jalan darah Ceng-ceng-ji, tahu-tahu Ceng-bing-cu sudah berada di belakang dan menampar punggungnya dengan Toa-chiu-in, sebuah pukulan beracun.
Apabila kena urat punggung Khik-sia pasti terluka kena racun.
Tampaknya Khik-sia seperti tak berjaga-jaga, tetapi sebenarnya ia selalu memperhatikan keadaan di sekeliling situ.
Waktu tangan Ceng-bing-cu sudah akan 'in' (mencap) punggungnya, tanpa menoleh Khik-sia sabatkan pedangnya ke belakang.
Ceng-bing-cu terkejut bukan kepalang.
Ia mengira tadi tentu berhasil mencuri kesempatan karena terang Khik-sia sedang gerakkan pedangnya menusuk Ceng-ceng-ji.
Siapa tahu ternyata permainan Khik-sia mencapai tingkat sedemikian rupa, hingga dapat merubah gerakan tangannya pada setiap waktu dan keadaan yang bagaimanapun jua.
"Tahan!"
Pada saat dimana tangan Ceng-bingcu pasti kutung, tiba-tiba Leng Ciu siangjin berteriak sembari kebutkan lengan bajunya.
Sedemikian hebat kebutan ketua Leng-ciu-pay, sehingga pedang Khik-sia yang tajamnya luar biasa tak mampu menusuk lengan baju thau-to tua itu, bahkan orangnya (Khik-sia) sendiri tersurut tiga langkah.
Setelah berputar-putar tubuh, baru ia dapat berdiri tegak.
Bukan main kejut Khik-sia.
Ilmu lwekang bagian 'sia' (hapus atau memindah), Khik-sia dapat juga menggunakan.
Tetapi apa yang dipertunjukkan Leng Ciu siangjin tadi hebatnya bukan tertara.
Khik-sia belum pernah mendengar dan menyaksikan.
Jika tidak mengalami sendiri, tentu ia tak percaya hal itu.
Di lain pihak, Leng Ciu siangjin sendiri juga tak kurang kagetnya.
Kebutannya hanya dapat mengundurkan si anak muda sampai tiga langkah, sungguh di luar dugaan.
Pikirnya.
"Bocah ini paling banyak baru 20-an tahun umurnya, mengapa begitu lihay? Jika tadi ia menusuk tiga kali berturut-turut, aku tentu tak mampu gunakan lwekang 'sia', terpaksa aku harus melawannya."
"Urusanku dengan partaimu, tiada sangkut pautnya dengan lain orang,"
Kedengaran Shin Ci-koh mendengus dingin.
"muridmu kesatu Ceng-bing-cu telah tak mengindahkan aku kemudian kuberinya hajaran. Setelah itu dua kali anak muridmua menyerang aku. Ada dua puluh tiga orang yang meninggal. Mereka semua akulah yang membunuhnya. Jika kau hendak menuntut balas, harap pada aku saja!"
Leng Ciu siangjin mendengus, ia tertawa dingin.
"Shin Ci-koh, kau juga tak memandang mata padaku. Kau anggap aku ini orang bagaimana?"
"Benar, siangjin memang golongan cianpwe persilatan, mana mau mencelakai orang yang sedang terluka?"
Buru-buru In-nio mengumpaknya.
Menyaksikan kepandaian Leng Ciu siangjin tadi, In-nio insyaf bahwa sekalipun ia bertiga dengan Khik-sia dan Yak-bwe maju berbareng, pun takkan menang.
Maka cepat ia gunakan ucapan Leng Ciu siangjin untuk memukulnya.
Shin Ci-koh tetap masih duduk bersila.
Sedikitpun tiada perubahan pada seri mukanya.
Ia menyeletuk.
"Leng Ciu siangjin, kunasehatikan jika hendak membikin permbalasan, lebih baik sekarang juga. Inilah saat yang paling tepat untuk melakukan permbalasan. Kalau selewatnya hari ini, dikuatirkan tak mudah kau hendak mengalahkan aku!"
Seru Ceng-bing-cu.
"Wanita siluman itu sudah terluka. Suhu, jika kau enggan turun tangan, biarlah aku saja yang menindaknya!"
"Ngaco, mundur!"
Bentak Leng Ciu siangjin. Sekonyong-konyong ia tertawa gelak-gelak. Terpaksa Ceng-bing-cu mundur sambil meringis.
"Shin Ci-koh, apakah kau kira aku tak tahu isi hatimu? Kau paling takut kalah di tanganku dan ditertawai orang. Maka kau sengaja mendesak aku supaya bertindak sekarang. Sekarang kau sedang luka parah, jika kubunuhmu tentu orang tak menyohorkan kepandaianku!"
Habis berkata ia merogoh keluar dua buah pil, ditaruhkan di telapak tangan lalu dihembusnya dengan mulut. Dua butir pil itu 'terbang' ke pangkuan Shin Ci-koh.
"Dua butir pil itu, satu untuk memunahkan racun, satunya untuk mengobati luka. Setelah kau sembuh betul, baru aku bertanding padamu agar kau mati tidak penasaran!"
Seru Leng Ciu siangjin dingin.
"Kau kira aku tak sanggup mengobati lukaku sendiri? Aku tak sudi menerima budimu!"
Sahut Shin Ci-koh. Kembali Leng Ciu tertawa keras.
"Gelranmu Bu-ceng-kiam, akupun tak mau melepas budi padamu! Karena lukamu masih belum sembuh, aku enggan membunuhmu maka kuberimu obat. Itu sekali-kali bukan suatu kebaikan melainkan supaya lekas-lekas dapat kuambil jiwamu. Memang kutahu kau dapat mengobati sendiri, tapi palging tidak harus makan waktu sampai 7-8 hari. Mana aku mempunyai tempo menunggumu? Setelah makan pilku itu, paling lambat besok pagi siang, kau tentu sudah sembuh. Besok malam pada waktu begini, kita bertemu lagi di sini. Kita keluarkan kepandaian masing-masing untuk menentukan kejantanan. Hm, hm, pada waktu itu, sekali bertanding jangan harap aku suka mengampunimu! Bagaimana, apa kau tetap tak mau minum pil itu? Atau apakah kau sudah tahu dan merasa kepandaianmu tak menang dari aku? Begitu lukamu sembuh, kau tentu mati di tanganku. Kalah tetap kalah, mati tetap mati. Tak perlu cari alasan apaapalagi!"
Saking marahnya Shin Ci-koh terus sekali telan kedua pil itu. Serunya.
"Besok malam aku tentu menunggumu di sini. Surat undangan dari Raja Akhirat, entah akan diberikan kepada siapa nanti?"
Leng Ciu siangjin tertawa keras.
"Waktumu hanya sehari saja, harap kau bereskan semua pesanmu, maaf aku tak dapat mengawani lebih lama." --Ketua Leng-ciu-pay itu lantas memimpin Cengbing-cu pergi. Ceng-ceng-ji pun gunakan kesempatan itu untuk ngintil mereka. Perubahan yang datangnya secara mendadak itu, sungguh di luar dugaan. Pikir Khik-sia.
"Leng Ciu siangjin sungguh seorang benggolan yang sakti, meskipun jahat, dia tak mau mencelakai orang yang terluka. Sungguh tak mengecewakan gengsinya sebagai ketua sebuah partai persilatan."
Tiba-tiba wajah Shin Ci-koh berubah gelap dan mendekap perut merintih-rintih. Yak-bwe terkejut sekali, serunya.
"Jangan-jangan siluman tua itu menipumu dengan obat racun? Ai, Shin locianpwe, kau kelewat percaya padanya!"
Tiba-tiba Shin Ci-koh muntahkan segumpal darah kental. Katanya dengan wajah bersungguh.
"Leng Ciu lo-koay tidak bohong, obat pilnya itu manjur sekali. Darah kental yang kusemburkan ini, adalah racun yang berada di tubuhku. Rupanya tak usah sampai besok pagi, aku sudah sembuh sama sekali!"
"Shin lo-cianpwe, apakah kau yakin dapat menangkan dia?"
In-nio merasa cemas. Dengan angkuh Shin Ci-koh menyahut.
"Siluman tua itu juga belum tentu dapat menangkan aku!"
Namun sekali mulutnya mengatakan begitu, tapi terang kata-katanya itu bernada kurang yakin untuk menangkan pertempuran besok malam. Memandang kepada Khik-sia, berkatalah ia.
"Besok kalau aku bertempur melawan Leng Ciu lokoay, dia membunuh aku atau aku membunuhnya, bukanlah suatu hal yang mustahil. Jika aku yang tak beruntung, harap kau sampaikan pada toasuhengmu."
"Aku telah membunuh dua puluh tiga murid Leng-ciu-pay. Sekalipun aku nanti mati di tangan Leng Ciu siangjin, tetap aku masih untung. Gong-gong-ji tentu membalaskan sakit hatiku. Khiksia, tolong kau wakili aku menasihati dia, jangan sampai dia menuntut balas! Dia harus menurut nasihatku. Nasihat yang merupakan permintaanku kepadanya yangterakhir,"
Kata Shin Ci-koh pula.
Heran In-nio mendengarnya.
Pertama ia berjumpa denganShin Ci-koh, iamasih merupakan seorang wanita yang ganas tak kenal kasihan, bermulut tajam dan minta padanya (In-nio) menyampaikan surat kepada gong-gong-ji supaya Gong-gong-ji membunuh habis semua orang Leng-ciu-pay.
Apa yang didengarnya kini, jauh sekali bedanya.
Shin Ci-koh minta Khik-sia supaya menasihati Gonggong-ji jangan menuntut balas.
Hanya terpaut satu jam saja, ternyata wanita itu telah mengalami perubahan batin yang luar biasa besarnya.
Shin Ci-koh kini alihkan pandangannya kepada In-nio dan berkata dengan lembut.
"Nona Sip, aku terkena pengaruhmu. Aku pernah mencelakai kau, kebalikannya kau berkorban untuk menolong aku. Sungguh aku mersa malu sendiri. Dahulu aku selalu membalas setiap sakit hati, menumpas setiap penghinaan. Tetapi balas membalas itu, ternyata tiada baik akibatnya. Sesakti-saktinya kepandaian seseorang, toh pada suatu hari ia akan jatuh juga. Diriku ini menjadi sebuah contoh. Aku tak ingin Gong-gong-ji terjerumus dalam perjalanan hidupku yang lampau. Memang aku pernah menginginkan supaya Gong-gong-ji membalaskan sakit hatiku, tetapi itu keluar dari pikiranku yang terlalu mementingkan diriku sendiri."
Diam-diam hati In-nio girang, pikirnya.
"Terhadap siapa harus membalas, terhadapa siapa harus tak menuntut balas. Sebenarnya tak boleh dicampur-adukkan. Tak nyana Shin Ci-koh dapat mengeluarkan kta-kata yang begitu berharga. Rupanya ia sudah memperoleh kesadaran batin."
Lalu Ci-koh berplaing dan berkata kepada Khik-sia.
"Suhengmu itu berwatak berandalan, tidak suka dikekang. Jauh lebih jelek dari aku. Aku sungguh tak tega. Kasih tahu padanya, dalam hatiku hanya da dia seorang .... tetapi akupun tak menghendaki karena diriku dia lantas tak kawin seumur hidup. Dia terlalu tak pedulikan dirinya sendiri. Harus ada seorang isteri bijaksana yang membantunya."
Mendengar uraian kata-kata Shin Ci-koh yang penuh mengandung petuah itu, ketiga anak muda itu sama menghela napas terharu.
Mereka tak kira bahwa seorang wanita yang terkenal ganas, ternyata penuh dengan budi kehalusan seorang wanita.
"Harap cianpwe jangan kuatir. Belum tentu kau kalah dengan Leng Ciu lokoay. Dan kitapun tak mau tinggal diam melihati saja,"
Kata Khik-sia. Shin Ci-koh tertawa rawan. Baru ia mau bicara, Yak-bwe sudah mendahului.
"Shin lo-cianpwe, bukankah sekarang kau sudah sembuh, mengapa tak tinggalkan tempat ini saja? Kupersembahkan kudaku untukmu. Kuda yang sehari dapat menempuh seribu li. Tak nanti Leng Ciu lokoay mampu mengejarmu. Setelah mendapatkan Gong-gong-ji, siapa yang berani mengganggumu?"
Alis Shin Ci-koh menjengkit, ujarnya.
"Walaupun aku tak ingin mengikat permusuhan dengan Leng Ciu lokoay, namun akuun tak mau unjuk kelemahan. Aku sudah berjanji padanya, mana dapat mengingkari? Dia memberi obat padaku, berarti dia mempercayai aku. Jika aku tak pegang kepercayaan, mana aku masih punya muka hidup di dunia persilatan lagi? Melarikan diri, tak usah dikemukakan lagi! Bukan saja begitu, pun besok malam dalam pertempuran itu, kalian sekali-kali tak boleh memberi bantuan!"
Yak-bwe menjadi malu sendiri. Namun diam-diam ia mengagumi Shin Ci-koh, pikirnya.
"Sungguh tak kecewa ia menjadi tokoh ternama. Dalam keadaan yang berbahaya sekalipun, ia tetap tak berubah pendiriannya."
"Terima kasih atas perhatianmu semua. Tetapi kuharap tak usah meresahkan diriku. Maaf, sekarang aku masih perlu bersemedhi sebentar. Silahkan kalian bercakap-cakap dengan kawan lama."
Khik-sia tundukkan kepala merenung.
Yak-bwe menarik In-nio ke samping dan menanyakan tentang diri Bik-hu.
Selama sibuk merawati Shin Ci-koh, In-nio memang tak sempat lagi memikirkan diri sutenya itu.
Mendengar pertanyaan Yak-bwe, ia mendongak ke langit.
Dilihatnya rembulan sudah tinggi.
Sudah tengah malam.
"Akupun justeru sedang menunggu!"
Kata In-nio.
"Dia berada di mana? Mengapa kau seorang diri ke Yu-ciu? Dan bagaimana kau bisa berjumpa dengan Shin lo-cianpwe? Apakah kau berjanji dengan Pui suheng untuk bertemu di sini?"
Demikian Yak-bwe berturut-turut mengajukan pertanyaan. Ia mengira Bik-hu masih dalam ketentaraan. In-nio menghela napas.
"Ceritanya amat panjang. Tapi lebih dulu aku hendak bertanya, bagaimana kalian berdua bisa datang kemari?"
"Pertama, hendak mencarimu. Kedua, karena Khik-sia disuruh Thiat-mo-lek mengantarkan surat kepada Se-kiat."
"Apakah di tengah jalan tadi kamu berjumpa tentara-tentara yang kalah?"
Tanya In-nio.
"Karena ada dua pihak, yang bermusuhan saling bertempur. Kami tak mau terlibat dalam urusan mereka, maka menghindari dan memilih jalan kecil saja. Mengapa mereka itu?"
Yak-bwe balas bertanya.
"Su Tiau-gi dan adiknya bertempur sendiri. Raja Ki mengusir Se-kiat dari Tho-ko-poh, maka terjadi perang tanding yang gempar. Bik-hu dan aku tercerai berai,"
In-nio menerangkan singkat.
"Oh, kiranya kau datang bersama Pui suheng? Aku tak tahu bilakah Beng Kong sudah menyambut Liang Hong?"
Yak-bwe berseru girang. Beng Kong dan Liang Hong adalah sepasang suami isteri yang terkenal dalam sejarah. Mereka sependirian dan seperjuangan. Merahlah muka In-nio, dampratnya.
"Aku berkata tentang urusan serius, sebaliknya kau menggoda semaunya."
Yak-bwe membisiki ke dekat telinga In-nio.
"Jejaka kawin perawan menikah, adalah urusan serius nomor satu di dunia. Emas seribu kati mudah didapat, tetapi kawan yang sehati sukar ditemukan. Dengan sudah mendapatkan kawan sehati, apakah kau tak layak bergirang? Bagus, bagus, ah, supaya kau tidak menjadi marah, silahkan kau katakan urusanmu yang serius itu. Aku tak mau menanyakan urusanmu pribadi."
"Berbicara tentang urusan serius itu, artinya sia-sia saja Khik-sia memberikan surat Thiat-mo-lek itu kepada Se-kiat,"
Kata In-nio.
"Lho, mengapa? Apakah aku boleh turut mendengarkan?"
Khik-sia menghampiri.
"Justeru memang hendak kudengarkan padamu,"
Sahut In-nio yang lalu memulai keterangannya.
"Akulah yang lebih dulu datang ke Yu-ciu, kemudian Bik-hu baru menyusul. Benar memang aku sudah berjumpa dengan Se-kiat tetapi dalam statusku sebagai tawanan Tiau-ing."
"Hai, kau menjadi tawanan Su Tiau-ing?"
Khik-sia berseru kaget. Yak-bwe meliriknya dan mendengus.
"Huh, herankah? Apa yang tak dilakukan wanita siluman itu?"
In-nio menuturkan semua yang dialaminya.
Waktu mendengar sampai pada hal Se-kiat hendak membujuk In-nio tapi kemudian ditolak tegas-tegas sehingga sampai bertempur, Khik-sia tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Tak nyana Se-kiat berubah menjadi manusia begitu!"
"Eh, kau jadi menemuinya, tidak?"
Tegur Yak-bwe.
"Mengingat persahabatan yang dulu, Thiat piauko hendak menasihatinya lagi untuk yang penghabisan kali. Karena piauko sudah mempercayakan surat itu kepadaku, berhasil atau tidak aku harus tetap menyampaikan surat ini kepadanya,"
Sahut Khik-sia. In-nio mengangguk.
"Benar, tiada jeleknya mencoba sekali lagi. Ah, diharap setelah tentaranya mengalami kekalahan, ia mau mendengar nasihat Thiat cecu."
Yak-bwe paling mengetahui pribadi In-nio.
Waktu In-nio menceritakan bagaimana Bik-hu menempuh bahaya menolong dirinya tadi, samar-samar Yak-bwe sudah dapat melihat adanya setitik kasih dalam hati In-nio kepada pemuda itu.
Maka iapun tak begitu curiga akan kata-kata In-nio yang terakhir mengenai diri Se-kiat.
Tapi ia berkata kepada diri sendiri, andaikata dirinya yang diperlakukan begitu oleh Se-kiat, tentu ia tak sudi lagi mengenalnya.
"Khik-sia, pergi pun baik. Menyerahkan surat itu nomor dua, yang penting kau harus menyirapi di mana Bik-hu itu dan ajaklah kemari! Karena tak melihat cici In, dia tentu gelisah juga,"
Katanya.
Sengaja ia kemukakan diri Bik-hu pada saat In-nio membicarakan Se-kiat.
Untuk mencegah supaya In-nio jangan melantur lebih jauh.
Siapa tahu In-nio pun justeru mempunyai maksud begitu.
Namun ia masih meragu, ujarnya.
"Walaupun memang baik juga Khik-sia pergi itu, tetapi bagaimana Shin lo-cianpwe ...."
Tiba-tiba Shin Ci-koh kedengaran tertawa.
"Nona Sip, kau berpisah dengan sutemu dalam pertempuran itu, akupun turut memikiri juga. Kalian tak perlu meresahkan diriku. Leng Ciu lokoay mengatakan besok malam baru datang tentu besok malam. Tak nanti dia mencelakai aku sebelum lukaku sembuh. Tentang Ceng-ceng-ji, tanpa beserta Leng Ciu lokoay, tak nanti ia berani datang kemari! Kini tenagaku sudah pulih lima puluh persen, taruh kata ia (Ceng-ceng-ji) datang, akupun dapat mengatasinya. Pasukan Se-kiat kemarin malam baru menerobos keluar dari kepungan. Sute nona Sip itu mungkin berada di muka pasukan. Karena tak melihat nona Sip, ia tentu masih mencarinya, tentu belum pergi jauh. Urusan tak boleh ayal-ayalan. Toan siauhiap, jika hendak mencari mereka, sekarang juga kau harus berangkat."
"Baik, berhasil menemukan mereka atau tidak, besok malam aku tentu balik kemari. Malam hari tak leluasa naik kuda, kutinggalkan untuk Shin lo-cianpwe, siapa tahu lo-cianpwe memerlukannya,"
Kata Khik-sia. Karena tahu gin-kang Khik-sia itu tak kalah cepat dengan lari kuda, Shin Ci-kohpun membiarkan saja. Katanya.
"Terima kasih atas kebaikanmu. Kau tak keburu balik kemari pun tak mengapa. Toh aku tetap akan bertempur seorang diri dengan lokoay itu."
Waktu In-nio dan Yak-bwe mengantar Khik-sia sampai keluar pintu, Yak-bwe tiba-tiba tertawa.
"Dalam memberikan surat kepada Se-kiat nanti, siapa tahu kau akan berkesempatan menjumpai nona Su-mu itu. Sayang sekarang ia sudah menjadi pengantin Se-kiat."
"Bah, siapa yang masih mengenangkan nona siluman itu?"
Khik-sia mendengus.
Sekalipun mulut mengatakan begitu tapi tak urung dalam perjalanan, Khik-sia juga teringat akan Tiau-ing.
Teringat selama berjalan ribuan li bersama nona itu.
Ini bukan karena ia masih ada 'apaapa' dengan nona itu, melainkan karena Tiau-ing dengan gaya yang lincah merangsang itu, meninggalkan banyak kesan padanya.
"Keris dan kerangka, adalah dwitunggal yang tak dapat dipisahkan. Tiau-ing dan Se-kiat itu benarbenar sejoli yang paling tepat!"
Pikirnya. Terkenang akan kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan Tiau-ing tempo hari, diam-diam Khik-sia mendongkol tapi pun geli.
"Sekarang kalau bertemu aku tak kuatir dirayu lagi. Tapi ah, lebih baik jangan berjumpa saja."
Tiba di kaki gunung dan masuk ke dalam sebuah lembah, hari pun sudah menejelang terang tanah.
Melalui tepi sebuah hutan, tiba-tiba ia mendengar suara orang yang berisik.
Khik-sia menghampiri dan tampak tiga lelaki beralis tebal serta berpakaian opsir kerajaan Wi-yan (Su Tiau-gi) tengah bertengkar.
Karena kepingin tahu, Khik-sia diam-diam mencuri dengar.
Dengan gin-kangnya yang lihay, gerakannya tak mengeluarkan suara sama sekali hingga ketiga opsir itu tak mengetahui.
Salah seorang berkata.
"Ia musuh dari cukong (junjungan) kita. Jika kita serahkan kepada cukong, tentu kita mendapat hadiah besar."
Kata yang seorang.
"Keadaan cukong dalam bahaya, mana kau masih mengharap hadiah dari dia? Turut pendapatku, lebih baik kita serahkan pada Bo Se-kiat saja. Bo Se-kiat baik terhadap orang."
Orang yang kesatu berkata pula.
"Hm, Bo Se-kiat gentleman palsu. Mana memperlakukan orang dengan baik? Apakah bukan pura-pura saja? Kau jangan percaya pada mulut siluma kecil itu. Karena jatuh ke tangan kita, sudah tentu ia menurut apa saja. Begitu kita antarkan ia pulang, ia tentu berbalik muka kepadamu. Saat itu jangan lagi harta atau pangkat, sekalipun mangkuk nasi saja mungkin kau sekar mendapat."
Khik-sia terkejut. Dari pembicaraan, terang mereka itu telah menawan orang. Mereka sedang berunding, hendak menyerahkan pada Su Tiau-gi atau pada Bo Se-kiat.
"Mereka menyebut-nyebut 'siluman kecil', apakah bukan seorang wanita? Ha, apakah bukan ...."
Baru Khik-sia berpikir begitu, tiba-tiba kedengaran orang yang ketiga tertawa gelak-gelak. Yang dua bertanya.
"Toako, apa yang kau tertawakan?"
Opsir ketiga itu menyahut.
"Aku menertawakan kalian yang begitu tolol. Bakpao sudah berada di mulut masakan diberikan orang lagi. Benar-benar kalian bernyali tikus!"
"Kalau menurut pendapatmu, bagaimana?"
Tanya kedua orang tadi.
"Su Tiau-gi, Bo Se-kiat, kedua-duaya tak boleh dipercaya. Memang Su Tiau-gi kini seperti 'patung Po-sat menyeberangi sungai' (berbahaya), Bo Se-kiat yang dienyahkan raja Ki, pun menjadi seperti 'anjing orang yang kematian keluarganya' (ngenas). Perlu apa kita berhamba pada mereka? Turut pendapatku, lebih baik kita pergi jauh dan mendirikan 'usaha' sendiri. Wanita kecil itu, kita jadikan isteri cecu (pemimping begal)."
"Bagus, tetapi jadi isteri siapa? Kita bertiga sudah seperti saudara, jangan sampai hubungan kita retak hanya karena siluman kecil itu,"
Kata kedua orang kawannya. Kata opsir tadi.
"Aku ada sebuah cara. Kita adakan undian, siapa yang baik peruntungannya. Samte, coba kau patahkan ranting kayu ini menjadi tiga. Yang satu panjang, yang dua pendek. Yang mendapat kutungan panjang, akan memperisterikannya. Baik, jite, kau ambil dululah."
Begitulah opsir yang dua orang itu segera mengambil masing-masing sebatang kutungan ranting.
Sekonyong-konyong opsir yang dipanggil toako tadi turun tangan.
Secepat kilat dia membacok kedua kawannya tadi.
"Ha, ha, akulah yang menjadi toako. Kalian berani berebut isteri dengan aku, terpaksa aku bertindak!"
Selagi opsir itu tertawa kegirangan karena sudah memberesi kedua saingannya, tiba-tiba sesosok tubuh melesat ke hadapannya dan membentaknya.
"Siapa yang hendak kau ambil isteri itu? Wanita itukah?"
Ternyata bayangan itu bukan lain Khik-sia adanya. Dan saat itu juga seorang wanita kedengaran berteriak.
"Khik-sia, tolonglah aku!"
Itulah Su Tiau-ing!
Khik-sia berpaling dan dapatkan Tiau-ing tegak bersandar pada sebatang pohon siong.
Mata mereka saling beradu.
Tadi Khik-sia sudah membayangkan tentang perjumpaannya dengan Tiau-ing.
Bahwa ternyata ia bakal berjumpa dalam keadaan seperti itu, membuat Khik-sia terlongong-longong.
Si opsir menggunakan kesempatan itu untuk membacok Khik-sia.
Khik-sia gelagapan ketika tubuhnya tersentuh dengan logam dingin.
Bagi seorang ahli silat, dalam saat-saat yang berbahaya, tentu akan mengadakan reaksi cepat untuk menghindar.
Begitupun dalam saat yang fatal itu.
Khik-sia turunkan bahunya dan condong ke sebelah kiri.
Brat, bajunya terpapas rompal, jaraknya hanya terpisah seujung rambut dari lengannya.
Ternyata tenaga hantaman golok si opsir itu telah dihapus oleh kekuatan lwekang Khik-sia.
Memang cepat sekali gerakan golok itu, tapi setelah mengenai baju, daya tenaganyapun sudah habis.
Opsit itu adalah salah seorang dari empat jagoan yang mengawal Su Tiau-gi.
Ilmu kepandaiannya tinggi juga.
Bacokannya luput, ia maju dua langkah untuk mengjaga keseimbangan badannya yang condong ke muka.
Dan menyusul ia lantas membacok Khik-sia lagi.
Bahkan sekaligus ia lancarkan tiga buah serangan.
Semuanya mengarah jalan darah maut dari tubuh Khik-sia.
Itulah yang disebut jurus Liong-bun-song-long dari ilmu permainan golok Toan-bun-to.
Indahnya bukan buatan.
Tetapi saat itu Khik-sia sudah berjaga-jaga.
Dan marahlah demi melihat keganasan orang itu.
Bentaknya.
"Pemberianmu kukembalikan, rasakanlah sendiri golokmu ini!"
Menghindari ujung golok, ia mendekap gigir golok dengan kedua jari dan sekali dorong, ia pinjam tenaga untuk memukul.
Golok itu secepat kilat terputar dan berbalik menghantam kepala si opsir.
Cret, bluk .....
kepala opsir itu terbelah menjadi dua dan tubuhnyapun seperti batang pisang rubuh ke tanah.
Berbareng dengan itu kedengaran lengking jeritan wanita.
Ternyata Tiau-ing yang menjerit dan terus rubuh ke tanah.
Khik-sia agak bersangsi, tapi akhirnya mau juga ia mengangkat nona itu.
"Aku hampir mati terkejut. Khik-sia, apakah kau tak terluka?"
Tegur Tiau-ing.
"Aku tak kena apa-apa. Hai, lukamu, lukamu ...."
Khik-sia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Tiau-ing sudah menelungkupi dadanya.
Ternyata Tiau-ing berlumuran darah hingga pakaian Khik-siapun kelumuran juga.
Bermula Tiau-ing pimpin pasukan wanita mengejar engkohnya.
Tomulun pun memimpin pasukan suku Ki untuk mengejarnya (Tiau-ing).
Tiau-gi balas menyerang dan terjadilah pertempuran di malam hari yang dahsyat.
Tiau-ing terkena dua batang leng-cian (panah pendek) dan kuda tunggangannyapun terkena sebatang pisau.
Kuda itu binal dan lari sekuatnya.
Dalam pertempuran malam gelap yang kacau balau itu, setiap orang tak mengenal mana lawan mana kawan lagi.
Tiau-ing terluka, pun anak buahnya tak tahu.
Begitu ia dilarikan kudanya, juga tiada anak buahnya yang mengawalnya.
Kuda Tiau-ing mencongklang ke sebuah lembah buntu dan tak terduga-duga berjumpa dengan ketiga opsir bawahan Su Tiau-gi tadi.
Ketiga opsir itu juga loloskan diri dari pertempuran yang kacau itu.
Mereka hendak bersembunyi di lembah situ, setelah pertempuran selesai, mereka akan melihat gelagat dulu untuk menentukan pilihannya.
Mereka bertiga adalah orang kepercayaan Su Tiau-gi, sudah tentu kenal sekali dengan Tiau-ing.
Sesaat mereka tak dapat mengambil putusan.
Lebih dulu meringkus si nona, baru nanti berunding lagi.
Demikian keputusan mereka.
Opsir yang menyerang Khik-sia itu, memang tinggi ilmu silatnya.
Tapi ia jahat dan licin.
Ingin ia memonopoli Tiau-ign sendiri, maka dibunuhnya kedua kawannya secara licik.
Tapi ternyata ia pun mati sendiri di tangan Khik-sia.
Sebenarnya Khik-sia jemu dengan Tiau-ing.
Tapi mengingat nona itu terluka berlumuran darah, tak sampai hati Khik-sia untuk mendorongnya.
"Khik-sia, tolong laukan sebuah kebaikan untukku. Tusuklah aku supaya segera mati! Dari sorot matamu, kutahu kau benci padaku. Perlu apa aku merintih minta kasihanmu? Kalau sudah membunuh aku, tentu kemarahanmu reda dan akupun tak banyak menderita kesakitan lagi!"
"Jika hatiku seperti kau, tentu tadi-tadi aku sudah tak mempedulikanmu lagi!"
Khik-sia mendengus dingin. Wajah Tiau-ing mengerut tawa dan berubahlah nada cakapnya.
"Khik-sia, aku merasa salah kepadamu. Tetapi akupun pernah berbuat baik juga. Khik-sia, janganlah hanya mengingat kejahatanku saja, pun seharusnya kau memikir mengapa aku berbuat tak baik kepadamu itu. Sebenarnya aku selalu hendak bersama kau, bersama kau ...."
"Tutup mulut! Jika kau masih mengatakan hal-hal yang berguna itu, aku terpaksa melemparkan kau di sini!"
Bentak Khik-sia. Tiau-ing menyeringai.
"Baik, aku takkan mengomong lagi. Hanya mendengar bicaramu, menurut putusanmu!"
"Kau pernah menolong jiwaku. Akupun pernah menolong jiwamu juga. Jika kali ini aku menolongmu lagi, kaulah yang lebih untung. Ganjalan hati dan budi pada wakut yang lampu, baik jangan diungkat lagi. Kini kau menjadi isteri Se-kiat, mari kuantarkan pulang kepada suamimu,"
Kata Khik-sia.
Rasa girang dan mendongkol tercampur dalam hati Tiau-ing.
Girang karena mendapat pertolongan, mendongkol karena Khik-sia begitu getas tak berkecintaan.
Meskipun menolong, tapi ia merasa dihina juga.
Khik-sia tak memperdulikan anggapan Tiau-ing.
Yang penting ia hendak menolong.
Maka segera ditutuknya jalan darah Tiau-ing supaya berhenti mengalirkan darah, lalu dilumuri obat.
Tiau-ing mendapat itga buah luka.
Lengan, perut dan punggungnya.
Untuk melumurkan obat, Khik-sia harus membuka pakaian nona itu.
Sudah tentu ia bersangsi.
Tapi pada lain saat tampillah kesatriannya.
"Seorang ksatria selalu bertindak dengan terang dan jujur. Karena aku sudah meluluskan menolongnya, mengapa ragu-ragu?"
Sekalipun begitu tak mau ia membuka pakaian, melainkan merobeknya di bagian yang terluka dan melumurinya obat.
Karena pakaiannya ada empat lima bagian yang robek, malu juga Tiau-ing.
Obat Khik-sia manjur sekali.
Begitu dilumurkan, darahpun berhenti.
Khik-sia segera membuka jalan darahnya.
Ujarnya.
"Kau tidurlah dulu, biar kucari kereta."
Kata Tiau-ing.
"Penduduk desa di sekeliling tempat ini sudah pindah semua. Untuk mendapatkan kereta, kecuali merampas ke dalam kubu tentara, sekalipun kepandaianmu tinggi jangan harap bisa mendapatkan di lain tempat. Jika kau tinggalkan aku di sini, bagaimana nanti apabila ada musuh datang?"
Khik-sia anggap pernyataan Tiau-ing itu betul juga. Apa boleh buat, terpaksa ia membawa juga nona itu. Pikirnya.
"Aku hendak menyampaikan surat kepada Bo Se-kiat. Jika sekalian mengantar isterinya, berarti sekali tepuk dua lalat. Dengan mengolong isterinya itu, mau tak mau ia tentu berterima kasih kepadaku. Siapa tahu ia suka mendengar nasihatku."
Segera ia memanggul nona itu dan dengan gunakan gi-kang ia lari sepanjang jalan besar.
Tak berapa lama, ia berpapasan dengan sebuah pasukan berkuda, yakni gabungan anak buah Tomulun dan pasukan wanita dari Kay Thian-sian.
Sebagai kongcu (puteri) dari raja Wi Yan, sudah tentu setiap orang kenal pada Tiau-ing.
Melihat sang puteri dipanggul seorang lelaki, gemparlah sekalian anak tentara.
Pertempuran di daerah Thoko-poh kali ini, boleh dikatakan Tiau-ing lah yang menjadi biang keladinya.
Karena bentrok dengan engkohnya, mereka telah menjadikan daerah kediaman suku Ki itu sebuah medan peperangan.
Tentara suku Ki tak senang pada Tiau-ing.
Saat itu mereka menertawakan dan mendampratnya.
"Ho, apakah itu bukan memperlainya Bo Se-kiat? Baru kemarin ia menikah, sekarang sudah lari ikut lain lelaki."
"Eh, rupanya tidak begitu. Jangan-jangan bocah laki itu yang menyerobotnya,"
Kata seorang lain. Ada sementara tentara Ki yang kenal pada Khik-sia, berseru.
"Ai, apa bocah lai itu bukannya yang tempo hari sudah melarikannya? Rupanya mereka berdua sudah sekongkolan, mana dituduh menyerobot? Lihatlah, siluman perempuan itu memeluknya kencang-kencang. Ai, mesra sekali!"
Ada pula yang menyelutuk.
"Tak peduli perempuan itu diserobot atau suka rela melarikan diri dengan lain lekaki, tapi yang nyata Se-kiat telah menerima pembalasan yang setimpal. Se-kiat bermaksud hendak merampas daerah kita, kini isterinya diserobot orang lebih dulu. Ha ha, ini namanya 'siapa menanam tentu memetik hasilnya'."
Anak buah pasukan wanita Kay Thian-sian, hampir semua benci pada Tiau-ing.
Mereka sama mendekap mulut tertawa mengejek.
Walaupun tak leluasa mendamprat tapi cemooh tertawa mereka itu lebih menyakitkan telinga.
Khik-sia berdada lapang.
Ia hanya memikirkan menolong orang, lain tidak.
Ia tak menyangka kalau perbuatannya itu dicemoohkan orang.
Bermula panas juga ia mendengar cemooh ejekan mereka itu.
Tapi pada lain saat, rasa ksatrianya lebih tampil.
Ia tak mau meladeni mulut mereka yang iseng itu dan terus cepatkan larinya.
Iapun siapkan pedang, menjaga kemungkinan apabila anak tentara hendak mengganggunya.
Benar juga nona 'manis' Thian-sian keprak kudanya ke muka dan tertawa gelak-gelak.
"Hai, bocah laki, apa kau dirayu lupa daratan oleh perempuan siluman itu? Tidakkah kau melihat bentuk pakaiannya? Dia kan masih memakai pakaian pengantin! Hm, ternyata di dunia masih terdapat seorang perempuan yang begitu tak tahu malu dan seorang lelaki tolol yang begitu tak kenal selatan!"
Tiau-ing membisiki telinga Khik-sia.
"Khik-sia, bunuh perempuan jelek itu dan rampas kudanya!"
Thian-sian tak kenal Khik-sia.
Sebaliknya Khik-sia pernah mendengar In-nio bercerita tentang diri Thian-sian.
Begitu melihat wajahnya yang jelek, ia segera mengenalinya sebagai panglima wanita berwajah jelek tapi berhati baik.
Tak mau ia menempurnya.
Begitu Thian-sian menerjang, Khik-sia segera melesat dari samping kuda si nona.
Karena serangannya luput, Thian-sian tak keburu menarik pulang tangannya.
Orang dan kudanya menerjang ke muka.
"Tinggalkan perempuan siluma itu dankau nanti bebas! Jika tidak, kita tentu bertempur lagi!"
Bentak Tomulun seraya putar tombaknya.
Tempo hari Tomulun pernah kalah dengan Khik-sia.
Anak raja itu mengagumi kepandaian Khiksia, itulah maka ia suka melepaskannya.
Tapi demi dilihatnya Khik-sia masih bersikap seperti yang sudah-sudah, yakni mati-matian melindungi Tiau-ing, timbullah kecurigaan Tomulun bahwa Khiksia tentu mempunyai hubungan tak layak dengan Tiau-ing.
Thian-sian putar kudanya dan berseru.
"Ging-kang bocah itu hebat sekali, hati-hati, jangan lepaskan dia!"
Tomulun ajukan kudanya dan dengan mainkan tombak ia membentak.
"Jika tak menyerahkan orang, jangan menyesal kalau tombakku tak bermata. Aku bukan bermaksud hendak mencelakai kau, tetapi perempuan siluman itu harus kutangkap!"
Khik-sia tetap tak mau berhenti, bahkan ia putar pedangnya dengan seru.
Tring, tring, tring, tanah penuh dengan kutungan golok, tombak dan pedang tetapi tiada satupun dari anak buah Tomulun yang terluka.
Khik-sia hanya memapas senjata tak mau melukai orang.
Tomulun mengejar, teriaknya.
"Apakah kau betul-betul sayang pada perempuan siluman itu?"
"Budak itu sudah lupa daratan. Rela mati asal mendapat paras cantik. Yang penting, tangkap saja perempuan siluman itu. Tak usah banyak bicara dengan budak itu,"
Seru Thian-sian.
Rupanya Thian-sian tahu kalau Tomulun itu segan bertempur dengan Khiks-ia.
Maka iapun lantas mendesaknya.
Ia paling benci Tiau-ing.
Sudah tentu tak mau lepaskan kesempatan yang baik itu.
Tomulun kertek gigi dan membentak.
"Lihat tombak!" -Ia kaburkan kudanya dan menombak Khiksia. Tombak yang panjangnya setombak lebih itu, menimbulkan angin keras. Khik-sia putar diri untuk menghadapi Tomulun supaya Tiau-ing lebih aman. Begitu ujung tombak hampir tiba di dadanya, ia lantas tempelkan pedangnya pelahan-lahan. Tombak Tomulun menurun ke bawah. Tomulun kerahkan tenaganya untuk mengangkat tekanan pedang Khik-sia. Inilah yang ditunggu Khik-sia. Ia biarkan pedangnya dijungkirkan ke atas, lalu dengan meminjam tenaga congkelan itu, ia enjot tubuhnya melambung ke udara dan melayang sampai beberapa tombak jauhnya. Sambil dengan sebelah tangan menddekap tubuh Tiau-ing supaya jangan sampai jatuh, Khik-sia berjumpalitan dengan jurus Kek-cu-hoan-sim (burung merpati membalik tubuh). Dalam posisi kaki di atas kepala di bawah, ia menukik turun seperti burung garuda meyambar. Jatuhnya tept ke arah seorang tentara berkuda. Ia congkel tentara itu sampai terguling ke tanah, kemudian ia hinggap di atas punggung kuda dan mengepraknya lari. Baik anak buah Tomulun maupun pasukan wanita Kay Thian-sian sama melongo. Belum pernah mereka menyaksikan kepandaian yang begitu luar biasa. Setelah Khik-sia mencapai setengah li, barulah kawanan tentara itu gelagapan. Mereka berteriak-teriak sembari lepaskan anak panah. Tetapi mana dapat mengenai? Memang ada beberapa batang panah yang hendak menyusup ke punggung Khik-sia tapi semua kena ditangkis jatuh oleh si anak muda. Tomulun menghela napas.
"Ah, perempuan siluman itu benar-benar lihay. Meskipun sudah menjadi isteri Bo Se-kiat, ia masih dapat membuat seorang anak muda gagah menjual jiwa untuknya. Terang tadi anak muda itu tak mau melukai anak buah kita. Baiklah, biarkan dia pergi tak usah dikejar."
Memang karena ditusuk pantatnya, kuda Khik-sia lari pesat. Tapi setelah lari beberapa saat, kuda itupun letih, mulutnya berbuih. Maklum bukan kuda sakti semacam kuda pemberian Cin Siang.
"Tiau-ing, apa kau sudah agak baik? Akan kurampaskan seekor kuda untukmu,"
Kata Khik-sia.
Tiau-ing paksakan membuka mata dan dengan terengah-engah ia minta Khik-sia memeluknya kencang-kencang karena ia tak kuat duduk.
Sebenarnya Khik-sia mengharap, setelah darahnya berhenti keluar, semangat Tiau-ing lebih kuat dan dapat naik kuda sendiri.
Tetapi karena nona itu bertingkah sedemikian rupa, Khik-sia pun mengira lukanya tentu makin berat.
Terpaksa ia dudukkan nona itu di muka.
Dengan sebelah tangan memegang kendali dan sebelah tangan memeluk pinggang Tiau-ing, Khik-sia larikan kudanya.
Meskipun hati Khik-sia bersih tak mempunyai pikiran apa-apa namun karena duduk merapat di belakang seorang wanita cantik yang harum baunya, mau takmau berdebar juga hatinya, mukanya merah padam.
Tapi ada lain macam bau yang membuat Khik-sia muak.
Ialah walaupun darah pada luka Tiau-ing itu sudah tak keluar lagi, tapi dari luka-luka itu masih tetap mengalir air darah.
Bau wangi tercampur bau amis, menjadi semacam bebauan aneh yang amat menusuk hidung.
Khik-sia muak tapi kasihan juga.
"Ah, hari ini ia cukup menderita. Menolong orang harus sampai selesai. Aku sudah berjanji menolongnya. Sebelum bertemu Se-kiat aku harus menjaganya hati-hati."
Diam-diam Khik-sia mendamprat dirinya sendiri yang mempunyai rasa muak.
Meskipun dengan naik kuda secara boncengan itu tak sedap dipandang umum, namun daripada menyuruh nona itu naik kuda sendiri dengan resiko mungkin akan jatuh, lebih baik ia memakai cara boncengan saja.
"Jalanlah di sebelah kiri jalanan ini, ai, mengapa kuda ini seperti tak bisa lari?"
Kata Tiau-ing dengan suara masih tersengal-sengal.
Jalan di bagian tengah akan menjurus ke kota Lu-liong, yakni lini (garis) yang akan ditempuh Sip Hong dalam penyerangannya nanti.
Jalanan bagian kiri, menuju ke kota Leng-bu.
Merupakan lini yang akan dibuat jalan oleh Li Kong-pik dengan tentaranya nanti.
Itulah maka Tiau-ing dapat menentukan bahwa Se-kiat tentu mengambil jalan yang membelok ke kiri itu.
Khik-sia buru-buru hendak mengejar jalan, tapi kudanya sudah letih apalagi dinaiki dua orang.
Makin lama makin lambat jalannya.
Selama dalam perjalanan itu, Khik-sia berpapasan dengan bermacam anak pasukan.
Mereka adalah tentara-tentara yang kalah perang.
Ada yang termasuk anak buah Su Tiau-gi.
Ada juga anak buah Se-kiat yang kececer di belakang dengan rombongannya.
Di samping itu terdapat juga laskar rakyat suku Ki yang berbondong-bondong menuju ke kota Tho-ko-poh karena didengarnya terjadi pertempuran.
Khik-sia tak menghiraukan orang-orang itu.
Ia merampas kuda tentara pelarian itu untuk berganti tunggangan.
Selama itu ia harus beberapa kali berganti kuda.
Tak kurang dari belasan ekor kuda yang ia rampas.
Ketika mencapai 70-an li lebih, haripun sudah lohor (lewat tengah hari).
Khik-sia gelisah.
Ia teringat akan pertempuran Shin Ci-koh dengan Leng Ciu siangjin malam nanti.
Ia sudah berjanji pada Shin Ci-koh, akan balik.
"Kalau sampai tak berhasil mengejar Se-kiat, bagaimana ini? Aku tak dapat menelantarkan Tiauing begini saja, tetapi aku tentu ingkar janji terhadap Shin lo-cianpwe. Yak-bwe dan cici In tentu gelisah memikirkan diriku,"
Pikirnya.
Teringat pada Yak-bwe, bercekatlah hati Khik-sia.
Kalau Yak-bwe tahu perbuatannya saat itu, tentu akan marah-marah.
Paling tidak sepuluh hari atau setengah bulan tentu tak mau biara padanya (Khik-sia).
Tapi ia tak berani membohongi tunangannya itu.
Nantipun ia akan menceritakan terus terang.
Tengah pikiran Khik-sia gelisah, tiba-tiba di sebelah muka tampak segulung debu mengepul.
Jauh di padang rumput sana tampak suatu pasukan besar sedang bergerak.
Khik-sia girang dan cepat keprak kudanya.
"Apakah di sebelah muka terdapat Bo Se-kiat?"
Teriaknya.
Ia gunakan lwekang suara Coan-im-jipbi.
Di tempat lapangan, suaranya dapat disampaikan 5-6 li jauhnya.
Ia tak mau memanggil 'Bo toako' lagi.
Pun tak suka menyebut 'Bo bengcu'.
Langsung saja ia memanggil nama Bo Se-kiat.
Ia harap Se-kiat akan lekas-lekas keluar.
Setelah menyerahkan surat dan meminta balasan, terus ia kembali ke biara rusak.
Kalau ia dapat berjumpa dengan Se-kiat sendiri, itu lebih cepat selesainya.
Tak usah melalui liku-liku peraturan ketentaraan di mana orang harus mendaftarkan diri dulu bila hendak bertemu pada seorang pembesar.
Ia larikan kudanya terus.
Kira-kira satu li jauhnya dari pasukan besar itu, barulah ia melihat Bo Sekiat diiring beberapa pengawal, berkuda menyongsong datang.
Buru-buru Khik-sia turunkan Tiauing.
Berbareng itu Se-kiatpun sudah tiba dan loncat turun dari kudanya.
Demi melihat pakaian Tiau-ing compang-camping dan tubuh berlumuran darah, wajah Se-kiat mengerut gelap.
Khik-sia tercengang.
Pikirnya.
"Se-kiat tampak kurang senang, ai, apakah, apakah .... kurang ajar, apakah dia curiga padaku?"
Belum lagi ia sempat membuka mulut memberi keterangan, Tiau-ing sudah melengking dan lari kepada Se-kiat.
"Ing-moay, ini, ini, bagaimana?"
Tanya Se-kiat dengan getar. Tiau-ing menelengkupi dada Se-kiat dan menangis tersedu-sedu.
"Dia, dia, dia menghina aku!"
Karena berkata dengan isak tangis, suara Tiau-ing pun takjelas.
Namun Khik-sia dapat mendengarnya dengan terang, seterang melihat burung merpati putih terbang di siang hari.
Kejutnya bukan kepalang sehingga ternganga mulutnya.
"Nona Su, aku, kau kata apa?"
Tergopoh-gopoh ia menegur.
Mata Tiau-ing membalik seperti orang hendak menumpahkan kemarahan, dan sesaat pingsanlah ia dalam pelukan Se-kiat.
Ternyata nona itu marah sekali atas sikap yang begitu dingin dari Khik-sia.
Ia tak dapat melihat seorang pemuda yang pernah 'diincar' bersikap begitu dingin kepadanya.
Ia anggap itu suatu penghinaan.
Tadi sewaktu di hutan ditolong Khik-sia, timbullah seketika bekasbekas cinta lama yang mengeram dalam hatinya kepada anak muda itu.
Ia hendak 'menghangatkan' api asmara itu, tetapi disemprot Khik-sia.
Khik-sia menganggap ia harus berlaku tegas dan jujur terhadap seorang wanita yang sudah bersuami.
Siapa tahu hal itu telah menyinggung perasaan Tiau-ing.
Akibatnya, budi dibalas dengan badi.
Budi pertolongan Khik-sia, bukan saja tak diterimakasihi bahkan dibalasnya dengn kebencian yang menyala-nyala.
Ia memutar balik urusan dan mengadu pada suaminya.
Pingsannya Tiau-ing itu memang bukan pura-pura.
Selama dalam perjalanan naik kuda dengan mengandung luka-luka itu, memang napasnya sudah terhimpit.
Ditambah pula dengan kemarahan dan kebenciannya terhadap sikap Khik-sia.
Dan sakit hati itu dirasakan lebih hebat dari sakit luka di tubuhnya.
Maka setelah mengucapkan beberapa patah kata kepada Se-kiat, iapun tak kuat lagi.
Wajah Se-kiat makin gelap.
Tiau-ing diserahkan pada salah seorang tentara wanita dan ia lantas mencabut pedang.
Bentaknya.
"Khik-sia, kau bangsat kecil yang kelewat menghina aku!" -Sang kaki mengisar maju, pedang cepat menusuk Khik-sia. Cengang Khik-sia masih belum tenang. Begitu pedang melayang tiba, baru ai gelagapan dan menghindar. Bret, leher bajunya tertusuk bolong namun ia dapat menghindar juga. Khik-sia tak nyana sama sekali bahwa pertolongannya bakal mendapat balasan yang sedemikian keji. Sesaat tak tahulah ia bagaimana harus bertindak. Sebaliknya Se-kiat, sekali turun tangan terus menyerang berturut-turut. Setiap serangannya selalu menggunakan jurus berbahaya. Bahwa orang yang belajar silat, pokoh utama ialah untuk membela diri. Maka karena didesak begitu rupa, mau tak mau Khik-sia curahkan perhatian untuk menghindar. Konsentrasi pikirannyapun mulai pulih. Tahu ia apa yang dihadapinya itu. Setelah menghindar, berserulah ia.
"Bo Se-kiat, dengarlah. Isterimu itu terluka. Aku bertemu di tengah jalan. Dengan baik-baik kuantarkan kemari!"
Se-kiat kertek gigi dan mendampratnya.
"Untung ia belum mati dan masih dapat bicara membuka kebohonganmu!"
Cret, kembali ia sambarkan pedangnya dengan ganas.
Sekali tabas hendak mengambil jiwa orang.
Poan-liong-yau-poh atau naga melingkar melilit kaki, demikian Khik-sia bergerak seraya mencabut pedang.
Saat itu pedang Se-kiat sudah hampir mencium punggungnya.
Dengan sebat Khik-sia menyabat ke belakang dan tepat sekali dapat menangkisnya.
Terlambat sedikit saja, walaupun ginkangnya lihay, tapi tentu akan kena juga.
Marahlah Khik-sia.
"Kau hanya mendengar omongan isterimu saja tapi tak mempedulikan keteranganku!"
Se-kiat tertawa mengejek.
"Siapa percaya obrolanmu? Apakah isteriku sudi merayumu?"
Dalam tukar bicara itu, Khik-sia sudah menghindari tiga buah serangan. Serunya.
"Bo Se-kiat, kau betul-betul gelap pikiran. Jika aku menggoda isterimu, masakan aku berani mencari kau kemari? Karena ia terluka, siapa yang menolong kalau bukan aku?"
Se-kiat terkesiap namun pedangnya tetap menyerang, bentaknya.
"Bangsat, jangan ngoceh tak keruan. Jika tak kubasmi nyawamu tentu tak dapat mencuci bersih hinaanmu!"
Se-kiat seorang yang cerdas.
Mana ia tak dapat menimbang penjelasan Khik-sia tadi?
Tapi justeru makin menimbang, makin besar rasa terhina dan cemburunya!
Ia anggap keterangan Khik-sia yang mengatakan bahwa Tiau-ing lah yang merayu, menandakan bahwa isterinya itu masih belum dapat melupakan Khik-sia.
Dan karena maksudnya tak tercapai maka Tiau-ing telah berbalik mendakwa Khik-sia.
Se-kiat tahu juga hal itu.
Namun karena ia tak dapat meninggalkan Tiau-ing, untuk menjaga kehormatanya, ia harus melenyapkan Khik-sia.
Karena Se-kiat tetap menutup telinga dan menyerang ganas, akhirnya marah juga Khik-sia.
Serunya.
"Thiat toako akan menyerahkan surat padamu. Lihat dulu surat itu, baru kita bicara lagi! Jika kau tak mau insyaf dan tetap akan bersama dengan perempuan siluman itu, terserah padamu kalau mau berkelahi. Akupun sedia melayani!"
Khik-sia gunakan gerak kek-cu-hoan-sim atau burung merpati membalik tubuh, untuk buang tubuhnya sampai tiga tombak ke belakang.
Ia keluarkan surat dan dorongkan tangan kiri dalam pukulan biat-gong-ciang, surat itu melayang kepada Se-kiat.
Tetapi tanpa melihatnya, Se-kiat bolang-balingkan pedangnya dalam jurus Pat-hong-hong-ih (hujan angin dari delapan penjuru) dan surat itupun hancur berkeping-keping bertebaran dibawa angin.
"Heh, apa kata Thiat-mo-lek kalau bukan mengulangi lagu lama yang menjemukan itu. Aku tak memerlukannya. Toan Khik-sia, mengingat sekelumit persahabatan kita yang lalu, silahkan kau bunuh diri sendiri. Agar aku tak perlu mencincang tubuhmu!"
Se-kiat tertawa dingin. Saking marahnya mulut Khik-sia sampai berbuih, bentaknya.
"Se-kiat, kau tahu malu atau tidak? Yang harus bunuh diri adalah kau sendiri!"
"Apa kau masih akan bertanding lawan aku? Baik, terimalah kematianmu!"
Khik-sia tak dapat mengendalikan diri lagi dan menusuk.
Tetapi sekali tangkis, Se-kiat dapat membuat Khik-sia terhuyung-huyung.
Hampir saja ia termakan tusukan Se-kiat.
Khik-sia terkejut.
Cepat ia tenangkan diri.
Tapi secepat itu, Se-kiatpun sudah menusuk dada Khiksia.
Tring, Khik-sia gunakan jurus Heng-hun-toan-hong untuk menangkis dan pedang Se-kiat pun gempil sedikit.
Keduanya sama-sama tergetar tubuhnya.
Se-kiat terkejut, pikirnya.
"Kepandaiannya maju pesat sekali." -Dahulu ketika diadakan pertandingan memilih lok-lim-beng-cu di gunung Kim-ke-nia, kedua anak muda itu pernah bertempur. Memang kala itu Khik-sia lebih kalah setingkat. Tetapi dia sedang dalam masa pertumbuhan, maka tenaganyapun lebih cepat bertambah kuat dari Se-kiat. Dalam pertempuran kali ini, tenaga mereka pun sudah berimbang. Bahkan Khik-sia menang set karena memakai pedang pusaka. Tengah pertempuran berlangsung seru, kawanan thau-bak bawahan Se-kiat yang berjumlah belasana orang dan kawanan baju kuning pun tiba. Para thau-bak itu sudah kenal pada Khik-sia. Mereka kaget dan heran melihat Se-kiat bertempur lawan Khik-sia. Seorang thau-bak yang sudah agak tua, maju memberi nasihat.
"Harap bengcu jangan umbar kemarahan. Kita harus bertindak menurut pertimbangan. Walaupun kita berbeda tujuan dengan Thiat cecu dari Kim-ke-nia, tetapi kita sama-sama satu sumber."
Dan ada juga yang menasihati Khik-sia.
"Toan hengte, harap kau minta maaf pada bengcu. Entah kesalahan apa yang kau lakukan terhadap bengcu. Tetapi saling bunuh itu kurang baik. Setelah kau minta maaf, kamipun dapat membantu menyelesaikan urusan."
Rupanya mereka tadi telah melihat Tiau-ing dipayang dua orang tentara wanita.
Sedikit banyak mereka dapat menerka apa yang terjadi.
Di dunia persilatan, mempermainkan isteri orang merupakan pantangan yang paling besar.
Apalagi isteri dari Lok-lim-beng-cu.
Tetapi orang-orang itu cukup mengenal Khik-sia sebagai pemuda yang lurus.
Walaupun menilik keadaan Tiau-ing tadi, Khik-sia patut dicurigai, tetapi mereka tetap masih sangsi.
Sebagian yang tahu akan mentalitet Tiau-ing, tak menyangsikan lagi kejujuran Khik-sia.
Dengan pertimbangan bahwa Khik-sia itu seorang pemuda gagah yang lurus hati dan menjadi sute dari seorang tokoh loklim (Thiat-mo-lek) yang sangat diindahi, mereka segera berusaha untuk melerai.
Tetapi mana Khik-sia mau disuruh minta maaf?
Ujarnya.
"Se-kiat yang salah! Perempuan siluman itu menyembur fitnah, dan dia tak mau menerima keteranganku terus mau membunuh aku saja. Jika disuruh minta maaf, seharusnya Se-kiat yang melakukan lebih dulu."
Khik-sia masih muda umurnya.
Sekali marah, ia tak ingat tempat lagi.
Tiau-ing dicacinya sebagai 'perempuan siluman'.
Suatu hinaan yang hanya sesuai untuk seorang wanita yang cabul.
Sudah tentu Se-kiat marah sekali.
"Ini adalah urusanku dengan bangsat itu. Tak usah kamu turut campur. Barisan pengawal dari Husong-to tetap tinggal di sini, yang lain boleh pulang. Beritahukan pada sekalian saudara, tak boleh keluar kemah tanpa ijin,"
Se-kiat mengenyahkan kawanan thau-bak itu.
Diam-diam ia sudah merencanakan, pada suatu kesempatan ia tentu harus melenyapkan beberapa thau-bak yang pro Khik-sia itu.
Kawanan thau-bak itu saling berpandangan satu sama lain.
Mereka tak sadar kalau menyalahi perasaan Se-kiat dan menimbulkan kebencian bengcu itu.
Dan karena melihat Khik-sia tetap membangkang, mereka anggap percuma saja melerai.
Maka merekapun segera tinggalkan tempat itu.
Kini yang tinggal hanya delapan orang baju kuning (pengawal Se-kiat dari Hu-song-to).
Mereka memencar diri di delapan penjuru tetapi tak mau menyerang Khik-sia.
Sekonyong-konyong permainan pedang Se-kiat berubah.
Ia berganti dengan ilmu pedang Loan-bihong-kiam-hwat (ilmu pedang angin lesus).
Ujung pedang selalu mengarah jalan darah berbahaya dari tiga bagian tubuh Khik-sia.
Kiranya Se-kiat mencemaskan gin-kang Khik-sia yang tinggi, maka yang terutama ia hendak melukai kaki anak muda itu supaya jangan sampai bisa melarikan diri.
Khik-sia unggul dalam senjatanya.
Se-kiat lebih menang sedikit dalam tenaga kepandaian.
Jika kochiu bertempur, baik tidaknya senjata yang mereka gunakan itu memegang peranan besar.
Yang bersenjata pedang pusaka, sudah tentu lebih enak.
Tetapi sekali-sekali bukan yang menentukan kemenangan.
Ilmu pedang yang dimainkan Se-kiat itu, adalah ilmu pusaka dari Hu-song-to yang tak pernah diajarkan pada orang luar.
Sekali dikeluarkan, Se-kiat segera menang angin.
Khik-sia mengandalkan ilmu gin-kangnya untuk berlincahan mengikuti srangan lawan.
Dalam beberapa kejap, ia sudah menghindari tiga puluh enam jurus serangan Se-kait.
Seklaipun Se-kiat tak mampu menusuknya, namun Khik-sia pun tak mampu keluar dari lingkaran pedang lawan.
Melihat Se-kiat tumpahkan permainannya agar Khik-sia jangan sampai lolos, diam-diam marahlah Khik-sia.
Ia mengambil putusan untuk mengadu jiwa.
Namun keduanya sama-sama mempunyai keistimewaan sendiri.
Tanpa terasa, mereka telah bertempur sampai 100-an jurus dengan tetap belum ada yang kalah atau menang.
Khik-sia mendongak dan dapatkan matahari sudah condong ke barat.
Ia terkejut, pikirnya.
"Menilik naga-naganya, pertempuran ini tentu akan berlangsung sampai seribu jurus. Dengan begitu bukankah akan menelantarkan janji pada Shin lo-cianpwe?"
Pikirnya lebih lanjut.
"Se-kiat rupanya hendak mengurung aku, tapi aku justeru hendak pergi dari sini dulu baru nanti kupertimbangkan lagi. Apalagi di sini daerah kekuasaannya. Sekalipun mungkin ia sungkan suruh anak buahnya membantu, tetapi kalau pertempuran berjalan kelewat lama, akulah yang menderita kerugian. Kalau hari ini aku sukar mendapat kemenangn, perlu apa aku melibatkan diri dalam pertempuran."
Tetapi Khik-sia sudah terkurung dalam lingkaran pedang.
Mau lolospun tak mudah.
Khik-sia tenangkan dirinya.
Terhadap ilmu pedang Se-kiat, sedikit banyak ia sudah dapat mengetahui.
Sekonyong-konyong ia rubah permainannya.
Pedang diputar melingkar seperti orang main golok.
Dengan jurus Lui-tian-kiau-hong ia bacok kepala Se-kiat kemudian membabat dua kali.
Sekali gerak dua serangan.
Dahsyatnya bukan kepalang.
Se-kiat terkejut dan terdesak mundur sampai dua langkah.
Ternyata permainan yang digunakan Khik-sia itu, bukan asli ilmu pelajaran dari perguruannya, melainkan ilmu pedang ciptaan Thiat-mo-lek yang dinamakan Hok-mo-kiam (ilmu pedang iblis mengeram).
Pada waktu Thiat-mo-lek bertempur dengan Se-kiat dalam perebutan lok-lim-beng-cu tempo hari, Thiat-mo-lek sengaja mengalah.
Padahal ilmu pedang ciptaannya itu adalah justeru penunduk dari ilmu pedang Se-kiat.
Sebenarnya ilmu pedang ciptaan Thiat-mo-lek itu bukan lebih lihay dari ilmu pedang perguruan Khik-sia.
Melainkan karena ilmu pedang Thiat-mo-lek itu mengambil kelihayan (keistimewaan) dari permainan golok dan pedang.
Tetapi pun ada syaratnya ialah harus dimainkan oleh orang yang memiliki lwekang tinggi.
Jika lwekangnya kalah dengan lawan, tentu sukar untuk mengalahkan lawan.
Dalam pertempuran yang berlangsung lama itu, tiba-tiba Khik-sia teringat akan ilmu pedang yang dimainkan Thiat-mo-lek tempo dulu.
Sekalipun ia tahu kalau tenaganya masih kalah dengan Sekiat, namun ia dapat menutup kekurangan itu dengan pedang pusakanya.
Akhirnya ia ambil putusan untuk mencobanya juga.
Pedang pusakan memang bukan faktor yang menentukan kemenangan.
Tetapipun membahayakan juga.
Se-kiat segera mengenali permainan Khik-sia itu adalah ilmu pedang yang pernah dimainkan Thiat-mo-lek dahulu.
Kuatir pedangnya akan terpapas kutung oleh pokiam Khik-sia pula karena teringat bahwa tempo dulu pernah dikalahkan Thiat-mo-lek dengan ilmu permainan itu, tergetarlah hati Se-kiat.
Dan karena hatinya jeri, iapun kena didesak mundur sampai dua langkah.
Sebenarnya Khik-sia bisa ilmu itu hanya karena melihat saja, Thiat-mo-lek tidak mengajarkan padanya.
Karena itu permainannyapun kurang sempurna.
Jika saja Se-kiat tidak kuncup nyalinya, belum tentu Khik-sia dapat menang.
Setelah berhasil mengundurkan Se-kiat, Khik-sia segera enjot tubuhnya lolos dari lingkaran pedang Se-kait.
Tetapi sebelum kakinya menginjak bumi, dua orang baju kuning sudah menghadangnya.
"Bangsat kecil, hendak lari kemana kau?" -Secepat kilat pedang merekapun sudah lantas menusuk. Tetapi Khik-sia tangkas sekali. Mendengar sambaran pedang, tumitnya menginjak tanah dan dengan jurus heng-hun-toan-ma atau awan melintang memotong puncak, ia balikkan tangan menghantam. Tapi ia tak bermaksud melukai orang maka yang dipapas hanya pedang mereka saja. Setelah dapat memapas kutung, Khik-sia terus hendak menerobos keluar. Kedua orang baju kuning itupun tidak lemah. Berbareng pada saat itu, ujung pedang dari salah seorang membentur pedang Khik-sia, sementara baju kuning satunya menyerang maju dalam jurus Hi-si-hun-kim. Ujung pedang menusuk lutut Khik-sia. Jurus ini adalah serangan untuk menolong diri dari bahaya. Khik-sia menyambut mereka dengan tak kurang istimewanya. Untuk pedang yang coba menekan pedangnya, ia babat kutung lagi. Sedang untuk si penyerang yang menusuk lututnya, ia tendang lututnya. Kedua orang baju kuning itu terpaksa mundur dua langkah. Tapi pada saat itu Se-kiatpun sudah selesai tiba.
"Se-kiat, hari ini aku benar-benar menyaksikan kegaranganmu sebagai lok-lim-beng-cu. Masih ada berapa lagi orangmu? Mengapa tak suruh mereka maju semua?"
Khik-sia tertawa mengejek. Se-kiat balas mengejek tertawa.
"Bukankah kau mengatakan hendak bertempur mati-matian padaku? Mengapa belum ketahuan kalah menangnya, kau sudah mau lari terbirit-birit? Mereka hanya kutugaskan menahan tetamu saja, sekali-kali takkan mengeroyokmu. Mari, mari, kita bertempur sampai tiga ratus jurus lagi. Asal kau tak lari, mereka pun takkan turun tangan."
Kedua baju kunging itupun tak bergerak lagi. Mereka berdiri bahu membahu dengan saling silangkan pedangnya. Memberi hormat kepada Khik-sia, berkatalah mereka.
"Harap Toan siauhiap suka tinggal!"
Marah Khik-sia tak terkira. Ia ingin menggasak Se-kiat. Tetapi demi teringat akan janjinya kepada Shin Ci-koh dan Yak-bwe, In-nio yang menunggu kedatangannya, amarahnyapun reda.
"Ya, ya. Thiat toako berulang kali memperingatkan aku, tidak boleh marah kalau berhadapan dengan musuh. Huh, jangan samapi aku termakan tipu Se-kiat!"
Pikirnya. Selagi Se-kiat belum dekat, secepat kilat Khik-sia berputar tubuh dan lari ke jurusan lain, serunya.
"Jika mau bertanding sampai ada yang kalah, mari ikut aku ke gunung sana!"
"Apakah di sini tidak sama saja, perlu apa ke lain tempat?"
Se-kiat menertawakan. Dan berbareng itu kedengaran dua orang baju kuning sudah menyerang Khik-sia.
"Harap tinggal di sini saja!"
Kedelapan Ui-ih-jin (baju kuning) itu menduduki delapan jurusan.
Setiap akali Khik-sia hendak menerobos di sela-sela mereka, dengan spontan mereka tentu akan menutup.
Khik-sia tak berdaya menerobos keluar walaupun gin-kangnya tinggi.
"Hm, kukuatir kalian tak mampu menahan aku!"
Khik-sia mengejek serta menabas.
Kedua orang baju kuning acungkan pedangnya.
Begitu pedang saling melekat, Khik-sia menggembor keras dan maju dua langkah.
Namun kedua orang itu meskipun mundur, pedangnya tetap bertahan matimatian.
Kiranya Khik-sia telah adu lwekang dengan kedua Ui-ih-jin itu.
Jika lwekang Khik-sia tak mampu menindih lawan, sekalipun mempunyai pokiam juga tak berguna karena tak dapat mengutungkan pedang orang.
Kedelapan orang baju kuning itu adalah pengawal dari pemimpin pulau Hu-song-to.
Mereka sudah mendapat gemblengan ilmu lwekang dari Bo Jong-long.
Meskipun tidak selihay lwekang Bo Sekiat dan Khik-sia, namun karena dua orang maju berbareng, maka untuk beberapa saat Khik-siapun sukar mengalahkan.
Khik-sia kerahkan lwekang Hian-kang untuk mematahkan pedang kedua lawannya.
Tiba-tiba kedua orang itu tertawa mengejek.
'Toan siauhiap lihay sekali!
Tetapi dengan menggunakan ilmu lwekang Hu-song-to untuk membunuh kami, entah bagaimana bila kelak siauhiap bertemu muka dengan To-cu kami?"
Memang Khik-sia pernah mendapat bimbingan dari ketua Hu-song-to (Bo Jong-long) tentang ilmu lwekang mereka.
Ia tahu juga tentang inti rahasia ilmu itu.
Karena terburu-buru hendak meloloskan diri, Khik-siapun lantas gunakan Siau-bu-siang-sin-kang, sebuah tenaga lwekang yang paling mudah untuk memecahkan lwekang lawan.
Dan Sian-bu-siang-sin-kang itu justeru merupakan lwekang yang paling istimewa dari kaum Hu-song-to.
Khik-sia terkejut sendiri dan kemerah-merahan mukanya.
Lwekang Siau-bu-siang-sin-kang itu ternyata merajai sekali.
Kalau menggunakan tenaga penuh, bukan melainkan pedang lawan saja yang akan putus, pun orangnya juga akan menderita luka dalam yang parah.
Khik-sia hanya membenci Se-kiat seorang.
Sekalipun begitu ia masih tak sampai hati untuk membunuhnya.
Adalah karena Se-kiat mendesaknya begitu rupa, terpaksa Khik-sia mengadu jiwa juga.
Kawanan baju kuning itu hanya urusan dari Hu-song-to, mereka hanya mendengar perintah Se-kiat saja.
Sudah tentu Khik-sia lebih-lebih takmau melukai mereka.
Buru-buru Khik-sia menarik kembali pedangnya.
Karena lwekang sudah mencapai tingkat sedemikian rupa, dapat disalurkan-ditarik menurut sekehendak hati.
Tidak demikian dengan kedua baju kuning itu.
Mereka tak mampu menguasai gerak lwekangnya seperti Khik-sia.
Karena lwekang mereka masih tetap menyalur, Khik-sia menderita kerugian.
Ia terhuyung-huyung beberapa tindak dan hampirhampir rubuh.
Sret, Se-kiat datangn dengan menusuk.
'Oho, tak nanti kau mampu lolos.
Lebih baik bertempur lagi.
Apa yang kau bisa, keluarkanlah semua.
Sekalipun kau gunakan ilmu dari pamanku (Bo Jong-long), akupun takkan mengejekmu."
"Ilmu dari perguruanku tak nanti lebih rendah dari kaummu!"
Khik-sia berseru marah.
Sekali putar pedang, ia menyerang sembilan jalan darah di tubuh Se-kiat.
Se-kiat lintangkan pedang untuk melindungi diri.
Ia bersikap bertahan tak mau menyerang.
Pedang keduanya dalam beberapa kejap saja sudah saling berbentur sembilan kali.
Tapi karena cepatnya gerakan mereka, benturan itupun hanya ringan saja dan karenanya pedang Se-kiatpun tak sampai putus.
"Ilmu menusuk jalan darah dari Wan-kong-kiam-hwat benar-benar lihay! Sayang kau berhadapan dengan aku, tak mudah mencapai maksudmu!"
Kembali Se-kiat tertawa mengejek.
Khik-sia terubur-buru dan marah.
Pula tadi ia sudah menderita sedikit ketika adu lwekang dengan kedua baju kuning.
Sebenarnya memang lwekang Khik-sia lebih rendah sedikit dari Se-kiat.
Ia menyerang dengan kalap dan ini lebih menghamburkan tenaga lwekangnya.
Tiba-tiba Se-kiat membentak.
"Kau tak dapat melukai aku, maaf, aku yang akan melukai kau!"
Cret, pedang Se-kiat menyambar dengan dahsyat.
Khik-sia yang sudah kehabisan tenaga, tak kuat menangkis.
Ia cepat menghindar tapi tak urung ujung bajunya tertusuk berlubang, lengannya tergurat luka sepanjang tiga dim.
Se-kiat hendak melanjutkan keganasannya tapi sekonyong-konyong terdengar suara orang memaki dengan melengking.
"Kurang ajar! Bo Se-kiat, kau berani mengganggu sute-ku!"
Se-kiat terperanjat.
Tampak segulung asap putih meluncur cepat sekali.
Walaupun belum melihat jelas orangnya, tapi manusia yang dapat berlari secepat angin pada jaman itu, siapa lagi kalau bukan Gong-gong-ji.
Karena bar pertama kali itu datang di Tiong-goan, kedelapan pengawal baju kuning dari pulau Husong-to, tak kenal akan kelihayan Gong-gong-ji.
Gong-gong-ji menerobos dari jurusan barat-laut, ialah justeru jurusan yang hendak diterobos Khik-sia tadi.
Penjaganya juga kedua baju kuning yang adu lwekang dengan Khik-sia itu.
Begitu ada angin menyambar, merekapun cepat menutup jalan.
Jurus yang digunakanpun serupa seperti yang mereka lakukan terhadap Khik-sia.
Gong-gong-ji bersuit dan tring, tring, pedang kedua baju kuning itupun kutung menjadi dua.
Itu bukan karena lwekang Gong-gong-ji jauh lebih tinggi dari Khik-sia.
Tapi soalnya, Gong-gong-ji bergerak lebih cepat.
Sebelum pedang kedua baju kuning itu merapat dan lwekangnyapun belum menyalur, sudah didahului oleh Gong-gong-ji.
"Jelas tidak? Ini sekali-kali bukan ilmu kepandaian dari Hu-song-to!"
Gong-gong-ji menertawakan.
Tetapi kedua jagoan Hu-song-to itu sudah lari terbirit-birit.
Tiba-tiba mereka rasakan kepalanya silir sekali.
Dikiranya kalau Gong-gong-ji mengejar.
Mereka berpaling dan legalah hati mereka karena Gong-gong-ji ternyata tidak mengejar.
Saat itu baru mereka berani meraba kepala ....
astaga, kepala mereka sudah gundul kelimis!
Mereka terkejut dan Gong-gong-ji tertawa terbahak-bahak.
Puas tertawa, Gong-gong-ji melesat ke muka Se-kait dan membentaknya.
"Kau berani mengejek ilmu pedang kaumku?" -Wut-wut, wut, pedang berhamburan mengarah ke sembilan jalan darah Sekiat. Jurusnya serupa dengan yang dimainkan Khik-sia, tetapi perbawanya jauh lebih hebat, seperti petir menyambar-nyambar. Se-kiat menutup tubuhnya dengan lingkaran pedang. Memang ilmu pedang Hu-song-to mempunyai keistimewaan tersendiri. Pedangnya seolah-olah merupakan segulung sabuk kumala. Sedemikian rapatnya hingga air hujan pun tak dapat menembus. Tring, tring, tring, suara benda tajam berdering-dering dan dalam sekejap itu kedua pedang mereka sudah berbentur sampai sembilan kali. Se-kiat tangannya kesemutan, tapi Gong-gong-ji pun tak mampu menusuk jalan darah lawannya. Kalau Se-kiat sudah menahan napas sedemikian rupa, ternyata serangan Gong-gong-ji itu hanya merupakan serangan kosong yang demonstratif. Dan gerak permainannyapun masih berlangsung. Membarengi kaki Se-kiat agak miring karena serangan bertubi-tubi tadi, Gong-gong-ji tiba-tiba menampar dengan sebelah tangannya.
"Bo Se-kiat, kau berani menghina sute-ku, terimalah sebuah tamparanku!"
Khik-sia geli dalam hati.
"Shin Ci-koh paling suka menampar orang. Sekarang toa-suheng juga ketularan." -Karena Gong-gong-ji sudah turun tangan, iapun lantas menyimpan pedang dan minggir ke samping. Sebenarnya Se-kiat tak pernah tinggalkan kewaspadaan. Tapi dikarenakan gerakan Gong-gong-ji terlampau cepatnya, iapun tak sempat lagi menghindar. Untung kebetulan saat itu Khik-sia menyisih ke samping. Sekali meleset ia lantas loncat melampaui tempat yang dipakai Khik-sia tadi. Berbareng itu, kedua orang baju kuning tadipun sudah menusuk punggung Gong-gong-ji. Bret, sekalipun Se-kiat dapat menghindar cepat, namun tak urung bajunya kena terjamah tangan Gong-gong-ji sehingga robek dowak-dowak. Bahkan kulitnyapun kena tercakar, sakitnya bukan kepalang. Untungnya Se-kiat tak usah menerima malu dipersen tamparan. Hoa-poh-hwe-sim atau menggelincir balikkan tubuh, adalah gerakan Gong-gong-ji ketika ujung pedang kedua orang baju kuning hnaya kurang setengah dim dari punggungnya. Secepat kilat Gong-gong-ji kiblatkan pedangnya ke belakang, kedua pedang jagoan Hu-song-to itu terpental. Dengan gusar Se-kiat bersuit keras. Kedelapan jagoan Hu-song-to itupun mundur ke tempatnya masing-masing tapi lebih mempersempit lingkarannya. Mereka hendak mengepung Gong-gong-ji rapat-rapat. Gong-gong-ji melirik dan dapatkan baju Khik-sia terlumur sedikit darah. Menandakan kalau Khiksia terluka. Gong-gong-ji sudah banyak pengalaman bertempur. Meskipun dalam kemarahan, pikirannya masih terang. Pikirnya.
"Toan sute terluka. Di sini tempat kekuasaan Se-kiat, tak leluasa untuk bertempur. Kedelapan jago baju kuning itupun bukan lemah. Jika mereka sampai sempat menyusun barisan, tentu sukar untuk lolos."
Memang kedelapan orang berbaju kuning dari Hu-song-to itu sedang bergerak dalam barisan Pattin-tho.
Sebuah barisan dalam formasi delapan pintu yang diciptakan oleh Khong Beng, ahli strategi militer yang termasyhur pada jaman Sam Kok.
Jika barisan itu sudah selesai disusun, betapa lihay Gong-gong-ji sekalipun, tak urung tentu kedua pihak akan terluka.
Gong-gong-ji memang tak tahu ilmu barisan.
Tapi ia kaya pengalaman dan cerdas sekali.
Segera ia meneriaki Khik-sia.
"Sute, ikutlah aku!" -Ia melesat memburu Se-kiat. Karena masih belum hilang kejutnya, Se-kiat tak berani menangkis. Buru-buru ia menyusup ke dalam Seng-bun (pintu hidup). Tapi baru ia hendak menggerakkan barisan, Gong-gong-ji sudah menyerbu. Se-kiat berputar masuk ke Gui-bun dan Siang-bun, Si-bun (pintu buka, pintu luka dan pintu mati). Kedua orang baju kuning tadi menyerang dari dua samping, maksudnya supaya Gonggong-ji masuk ke dalam barisan. Tetapi Gong-gong-ji tak mau diakali. Sekali gerakkan pedang ia tabas kutung senjata penjaga Seng-bun, terus menerjang keluar. Khik-sia pun segera mengikuti suhengnya. Suheng dan sute itu gunakan gin-kang istimewa. Hanya dalam waktu senyulut dupa saja, mereka sudah jauh tinggalkan pasukan Se-kiat. Setelah berlari kurang lebih sejam, mataharipun sudah terbenam di ufuk barat. Saat itu barulah Gong-gong-ji hentikan larinya. Ia menanyakan luka Khiksia. Luka di lengan Khik-sia itu hanya luka luar. Sekalipun banyak mengeluarkan darah tapi tak membahayakan. Setelah melumuri obat, Khik-sia menerangkan kalau lukanya tak berarti.
"Baik, nanti setelah malam gelap, kita menyelundup ke dalam kemah dan mengambil batang kepala Bo Se-kiat,"
Kata Gong-gong-ji.
"Hutan Se-kiat itu besok kita perhitungkan lagi. Sekarang masih ada urusan teramat penting yang memerlukan tenaga suheng,"
Sahut Khik-sia. Gong-gong-ji kerutkan alis.
"Urusan apakah yang lebih penting dari mengambil kepala Bo Sekiat?"
"Shin lo-cianpwe tengah menunggu kedatanganmu."
"Oh, Shin Ci-koh?"
Tiba-tiba Gong-gong-ji berseru tawa.
"Ya, aku telah bertunangan dengan Cikoh. Kau boleh memanggilnya susoh. Terus terang saja, adalah karena aku berjanji akan bertemu dengan ia di Tho-ko-poh maka saat ini aku berada di sini. Kau tentu sudah berjumpa padanya kalau tidak masa tahu ia menunggu aku? Ya, kutahu ia menunggu kedatanganku, tapi toh aku sudah berada di sini, lambat atau cepat tentu akan menemuinya juga. Sekarang biarkan ia menunggu sedikit lama, biar kuambilkan dulu batang kepala Bo Se-kiat supaya hatimu lega."
Dalam umur 40-an tahun lebih, Gong-gong-ji baru bertunangan.
Khik-sia adalah orang pertama yang mendengar berita girang itu.
Pada waktu memberitahukan hal itu, Gong-gong-ji girang tapipun malu dalam hati.
Ia tak mau dianggap lebih mementingkan isteri dari sute.
Maka ia berkeras hendak membunuh Se-kiat dulu baru nanti menemui tunangannya.
Tergopoh-gopoh Khik-sia berkata.
"Suheng, kau belum menjelaskan semua. Shin .... susoh saat ini sedang berada dalam kesulitan. Ia menunggu kedatanganmu bukan untuk bertemu biasa, tetapi untuk menolongnya!"
Gong-gong-ji belalakkan matanya dan berseru.
"Ia mendapatkan kesulitan apa? Siapa yang berani mengganggunya? Apakah ia tak dapat mengatasi sendiri?"
"Leng Ciu siangjin! Mereka sudah berjanji akan bertempur malam ini di halaman biara rusak yang terletak di gunung itu,"
Sahut Khik-sia.
"Oho, kiranya siluman tua itu! Sudah 20-an tahun lokoay itu tak pernah turun dari gunungnya. Mengapa Ci-koh bisa bentrok dengan dia?"
OooooOOOOOooooo Selama berkecimpung di dunia persilatan, Shin Ci-koh sudah banyak membunuh orang.
Tentang terlibatnya permusuhan dengan anak murid Leng-ciu-pay, ia tak pernah menceritakan kepada Gonggong-ji.
Ini disebabkan karena ia berhati tinggi berwatak sombong.
Ia akan menghadapi sendiri musuh-musuhnya itu.
Tak mau ia mengandalkan pengaruh Gong-gong-ji.
Ini dapat ditertawakan orang.
"Aku sendiri juga tak jelas. Mungkin karena gara-gara Ceng-bing-cu. In-nio melihat Ceng-bing-cu memimpin anak buahnya (sute-sutenya) muncul di Tho-ko-poh dan mengepung Shin lo ... susoh,"
Kata Khik-sia. Gong-gong-ji yang cukup kenal akan pribadi Ceng-bing-cu, marah seketika.
"Ya, kutahu. Cengbing-cu itu mempunyai biji mata tapi tak dapat melihat gunung Thay-san. Ia berani kurang ajar terhadap susohmu!"
Mendongak ke langit, Khik-sia dapatkan rembulan sudah mulai muncul.
"Celaka, kukuatir saat ini mereka sudah mulai bertempur!"
Serunya kaget.
Gong-gong-ji segera ajak sutenya segera berangkat.
Sembari berjalan, Gong-gong-ji menanyakan kejadian di Tho-ko-poh, tentang Se-kiat yang tinggalkan Tho-ko-poh dan berkelahi dengan Khik-sia.
"Sute, jangan gelisah. Benar Shin Ci-koh tak dapat menangkan Leng Ciu lokoay, tapi paling tidak ia tentu dapat melayani sampai 300-an jurus!"
Walaupun berlari sambil beromong-omong, tapi karena gin-kang kedua saudara seperguruan itu sudah tinggi, sedikitpun tak mengurangkan kecepatan lari mereka.
Waktu mendengar penuturan Khik-sia bahwa Ceng-ceng-ji pernah membantu Ceng-bing-cu, marahlah Gong-gong-ji.
"Kali ini aku tak mau memberi ampun lagi, tentu kubeset urat nadinya dan kukuliti kulitnya!"
Dan waktu Khik-sia menceritakan tentang Leng Ciu siangjin memberi pil kepada Shin Ci-koh, Gong-gong-ji menghela napas dan mengeluh.
"Celaka! Celaka!"
Khik-sia terkesiap dan menanyakan apa sebabnya. Sahut Gong-gong-ji.
"Bagaimana keras kepala Ci-koh itu, aku sudah cukup paham. Sekalipun tak menerima pil dari Leng Ciu lokoay, ia pun tentu tak mau menerima bantuanku. Lebih-lebih setelah menerima obat itu. Menurut peraturan kaum persilatan, aku tak berhak untuk membantu lagi."
"Peduli apa dengan peraturan persilatan begitu!"
Bantah Khik-sia. Gong-gong-ji berdiam diri. Beberapa saat kemudian baru ia mengatakan.
"Ya, kita bicarakan lagi kalau sudah tiba di sana."
Memang menilik kedudukan Gong-gong-ji dalam dunia persilatan, dia tentu tak mau dicemoohkan orang.
Khik-sia boleh melanggar peraturan persilatan, tetapi tidak Gong-gong-ji.
Tiba di kaki gunung, rembulan sudah banyak hampir di tengah.
"Apakah pertempuran mereka sudah dimulai?"
Tanya Gong-gong-ji. Khik-sia mengatakan bahwa menurut apa yang dikatakan Leng Ciu siangjin, dia akan datang pada jam 10 malam. Gong-gong-ji menghela napas longgar.
"Ah, kalau begitu, pertempuran baru berjalan satu jam. Ci-koh tentu belum sampai kalah."
Gong-gong-ji sudah mengambil keputusan.
Apabila tiba saatnya, ia tentu berusaha menolong.
Ya, meskipun ia tak mau turut mengeroyok, tapi ia percaya tentu dapat menyelamatkan tunangannya.
Baru mereka bercakap begitu, tiba-tiba di puncak gunung terdengar orang tertawa keras dan berseru.
"Bagus, orang yang mengantar jiwa sudah datang!"
Seketika terdengar suara gemuruh dari batu-batu gunung yang bergelundungan ke bawah.
Tampak berpuluh-puluh orang berseliweran sibuk menggelundungkan batu dan menimpukkan batu-batu kecil.
Mereka ternyata barisan pendam yang akan memegat Gong-gong-ji.
"Bagus, apakah dengan cara licik itu mereka mampu menghalangi aku?"
Gong-gong-ji marah sekali.
Dengan gunakan gin-kang yang istimewa, ia lari mendaki.
Memang tiada sebuah batupun yang dapat mengenai tubuhnya tapi karena harus berlincahan menghindar kian kemari, temponya pun jadi panjang.
Khik-sia karena mendapat luka tusukan, gerakannya loncat agak terpengaruh.
Beberapa kali hampir saja terkena batu, untung lwekangnya masih penuh.
Batu yang tak mungkin dielakkan, dihantamnya saja dengan tinju.
Mendaki sampai setengah gunung, Gong-gong-ji menjemput beberapa batu dan berteriak.
"Datang tidak diberi sambutan, itu kurang sopan. Kalian juga harus menerima sambutanku ini!"
Di tangannya, batu-batu itu berubah menjadi suatu senjata rahasia yang hebat.
Dari atas puncak segera terdengar suara jeritan mengaduh dari beberapa orang yang kena timpukan.
Dan yang tak kena, pun segera lari menyingkir.
Bayang-bayang orang yang berkumpul di puncak tadi, pun bubar, Karena tiada rintangan lagi, Gong-gong-ji dan Khik-sia dapat lebih cepat larinya.
Dalam beberapa kejap, ketawa Gong-gong-ji sudah terdengar di atas puncak.
Diantara kawanan penyerang yang serabutan melarikan diri itu, tiba-tiba Khik-sia menunjuk pada seorang yang agak bongkok punggungnya.
"Bangsat itu adalah Ceng-bing-cu!"
Kiranya kawanan orang yang menggelundung batu-batu itu adalah anak murid Leng-ciu-pay yang dipimpin Ceng-bing-cu.
Waktu Leng Ciu siangjin bertempur dengan Shin Ci-koh, anak murid Leng-ciu-pay tahu kalau tak boleh membantu.
Ceng-bing-cu cerdik tapi licik orangnya.
Meskipun tak berani masuk ke dalam biara, tetap ia mengatur penjagaan kuat di sekitar tempat situ.
Dari seorang anak buahnya, Ceng-bing-cu mendapat keterangan tentang kepergian Khik-sia pada pagi itu.
Ia segera mengadakan analisa.
Hanya ada dua kemungkinan.
Pertama, Khik-sia jeri terhadap Leng Ciu siangjin maka tak mau turut campur dalam urusan itu.
Tetapi dari keterangan Ceng-ceng-ji, Ceng-bing-cu tahu bahwa Khik-sia itu tunangan Yak-bwe.
Kalau si nona tetap tinggal di biara, Khik-sia tentu bukan melarikan diri.
Dan dari mulut Ceng-ceng-ji didapat keterangan bahwa Khik-sia itu tak jeri terhadap suhu mereka (Leng Ciu siangjin).
Jika begitu, tinggal kemungkinan yang kedua.
Ialah, Khik-sia turun gunung karena hendak mencari bala bantuan.
Dengan kesimpulan itu, Ceng-bing-cu segera siapkan sute-sutenya untuk menunggu.
Begitu Khik-sia masuk ke mulut lembah, apakah ia membawa tenaga bantuan atau tidak, tetap harus dibunuh mati.
Rencana itu sebenarnya berasal dari Ceng-ceng-ji.
Dan bermula Ceng-ceng-jiupun hendak membantu usaha Ceng-bing-cu menghancurkan Khik-sia.
Tapi entah bagaimana, tiba-tiba ia merubah niatannya dan tak ikut serta.
Dan karena sudah banyak jumlahnya, Ceng-bing-cupun tak mempedulikan Ceng-ceng-ji jadi turut atau tidak.
Dia tetap langsungkan rencana itu.
Rencana jahat itu sama sekali tak diketahui suhunya, Leng Ciu siangjin.
Dengan barisan penggempur yang disiapkan itu Ceng-bing-cu mengira tentu dapat membinasakan Khik-sia.
Siapa tahu, ia justeru kesampokan dengan seorang tokoh yang lihay gin-kangnya seperti Gong-gong-ji.
Selembar bulu tubuh Gong-gong-ji tak rontok, sebaliknya barisan pendam dari Leng-ciu-pay itu banyak yang benjol kepala dan bubar melarikan diri sendiri.
Setelah ditunjuki diri Ceng-bing-cu, Gong-gong-ji segera melesat.
Dengan beberapa loncatan saja ia sudah dapat mengejar Ceng-bing-cu.
Tetapi Ceng-bing-cu itu murid kepala dari Leng Ciu siangjin.
Kepandaiannya juga tinggi.
Dalam keadaan terdesak, ia menjadi kalap.
Sret, ia menabas ke belakang.
Namun biar bagaimanpun juga, kepandaian Ceng-bing-cu itu masih kalah jauh dengan Gong-gongji.
Gong-gong-ji tak perlu memakai pedang.
Cukup dengan tangan kosong yang menggunakan gerak Gong-chiu-jip-peh-jim (tangan kosong merampas senjata musuh), ia sudah dapat merebut pedang Ceng-bing-cu dan mencengkeram tulang pundaknya.
"Dengan memandang muka suhuku, ampunilah aku,"
Semangat Ceng-bing-cu serasa terbang dan dengan tersipu-sipu ia berseru. Minta ampun tapi dengan mengancam. Gong-gong-ji tertawa gelak-gelak, serunya.
"Leng Ciu siangjin juga seorang pendiri sebuah partai persilatan. Mengapa mempunyai murid yang tak tahu malu seperti kau? Aku paling benci kepada manusia yang temaha hidup takut mati. Justeru karena kau merintih minta hidup, aku bahkan akan membunuhmu!" -Sekali kelima jarinya dikeraskan, Ceng-bing-cu pun segera berkuik-kuik seperti babi hendak disembelih. Tiba-tiba Gong-gong-ji mendapat akal. Ia kendorkan cengkeramannya dan tertawa.
"Melihat kau begitu kasihan sekali, terpaksa kuampuni jiwamu anjing. Tetapi kau harus menurut kata-kataku. Ceng-bing-cu mana berani membantah lagi. Dengan tersipu-sipu ia mengiakan.
"Baik, kalau begitu ayo ikut aku,"
Kata Gong-gong-ji yang segera menjinjing Ceng-bing-cu seperti orang menjinjing ayam saja.
Sebelum mencapai biara rusak itu, lebih dulu harus melintasi sebuah bukit.
Karena ada rintangan barisan pelempar batu tadi, Gong-gong-ji dan Khik-sia terlambat sampai lewat tengah malam.
Walaupun sudah mempunyai rencana, namun Gong-gong-ji mencemaskan juga keadaan Shin Cikoh yang sudah bertempur selama dua jam.
Iapun segera tambah gas lari sepesat angin.
Turunnya Khik-sia dari gunung kali ini, hendak mengurus dua buah hal.
Tetapi semuanya gagal.
Bik-hu tak berhasil ditemukan, pun surat dari Thiat-mo-lek kepada Se-kiat itu tiada buahnya sama sekali malah menambah permusuhan dengan Se-kiat.
Meskipun ada juga lain hasil ialah bertemu dengan Gong-gong-ji, tetapi ia merasa telah menderita kerugian besar.
Kerugian itu berupa hinaan moral yang difitnahkan oleh Tiau-ing.
Benar ia tetap tak bersalah, tapi ia merasa telah melanggar pesan Yak-bwe.
"Karena aku kembali begini telat, Yak-bwe tentu gelisah sekali. Ah, entah ia dapat menerima penjelasanku atau tidak?"
Ia mengeluh dalam hati.
Khik-sia hanya memikir sampai di situ, tetapi keadaan di biara ternyata jauh lebih hebat dari apa yang dikiranya.
Bukan saja Shin Ci-koh, pun Yak-bwe juga terancam jiwanya dan tengah mengharap-harap kedatangan Khik-sia.
Kiranya setelah minum pil dari Leng Ciu siangjin, berselang sehari semalam, luka dalam Shin Cikoh sudah pulih seperti sediakala.
In-nio dan Yak-bwe lega hatinya.
Tetapi ketika malam tiba dan Khik-sia belum kelihatan muncul, Yak-bwe dan In-nio gelisah sekali.
Bahkan kecemasan In-nio lebih besar dari Yak-bwe karena memikirkan keadaan Bik-hu juga.
Rembulan muncul dan pelahan-lahan mulai naik tinggi.
Meskipun dirinya juga seorang iblis wanita yang telah banyak mengganas jiwa orang, tapi diam-diam Shin Ci-koh tergetar juga hatinya saat itu.
Yang akan dihadapinya nanti, seorang tokoh persilatan kelas satu.
Ini bukan main-main.
Selagi mereka terbenam dalam keresahan masing-masing, tiba-tiba terdengar ketawa seorang tua.
"Shin Ci-koh, kau sungguh-sungguh pegang janji. Tidak mau pergi dan tetap berada di sini."
"Justeru aku kuatir kalau kau tidak datang, sehingga aku tak sempat membalas pemberian obat tadi,"
Shin Ci-koh berseru angkuh. Ternyata Leng Ciu siangjin datang seorang diri. Memandang kepada Shin Ci-koh, gembong Lengciu-pay itu tertawa.
"Karena saat ini kau sudah sembuh, kalau nanti kalah di tanganku, tentu kau tak dapat cari alasan lagi. Dengan tujuan itulah maka kuberimu obat penawar luka, agar kau mati tiada penasaran. Dan untuk itu tak usah kau membilang terima kasih lagi."
"Tahukah kau bagaimana caraku hendak membalas kebaikanmu itu?"
Tanya Shin Ci-koh. Leng Ciu siangjin kesima, serunya.
"Cara apa yang hendak kau lakukan itu? Silahkan bilang!"
Jilid 18 Tamat Tetapi Se-kiat sendiri juga gentar.
Memang Thiat-mo-lek selalu mundur, tetapi tetap memiliki kekuatan untuk balas menyerang.
Serangan gencar dari Se-kiat seperti membentur tembok yang tak kelihatan dan tak mungkin diterobos.
Rencana Se-kiat sebenarnya hanya akan bertahan saja.
Ini untuk mengulur waktu hingga pamannya datang.
Tetapi ia rubah rencananya itu setelah melihat Thiat-mo-lek memberi pengobatan lwekang pada Tian Goan-siu tadi.
Ia berganti dengan siasat menyerang secara kilat.
Memang setelah bertempur tiga jurus, Se-kiat dapatkan tenaga lawan berkurang sekali.
Tetapi masih memiliki tenaga pertahanan yang kuat.
Dengan begitu siasatnya menyerang kilat, sukar terlaksana.
Tapi Se-kiat sudah terlanjur bergerak menyerang, dia sendiri tak tahu bagaimana nanti jadinya.
Kalau pertempuran berjalan lama, dikuatirkan tenaga Thiat-mo-lek akan pulih.
Ini berarti kekalahan baginya (Se-kiat).
Maka ia tak mempunyai pilihan lagi kecuali melanjutkan siasatnya menyerang secara kilat.
Se-kiat mainkan pedangnya dengan gencar.
Thiat-mo-lek selalu main mundur saja.
Setiap kali mundur, ia dapat mengurangi kekuatan menyerang dari lawan.
Tapi karena Se-kiat masih muda, tenaganyapun tak lekas habis.
Oleh karena itu semua hadirin, kecuali ayah mertua Thiat-mo-lek, sama merasa cemas.
Mereka tak tahu bahwa sebenarnya pemunduran Thiat-mo-lek mempunyai arti.
Makin lama Se-kiat makin ganas.
Jurus-jurus serangannya makin menghebat.
Dan Thiat-molek hanya mainkan goloknya dalam ilmu golok warisan keluarganya.
Se-kiat tampak sebagai pihak penyerang tetapi anehnya serangannya yang bagaimana aneh tetap kena ditangkis golok Thiat-molek.
Hadirin yang berada di lapangan situ, kecuali Han Soan (ayah mertua Thiat-mo-lek), yang berilmu tinggi hanya Tian Goan-siu.
Setelah tersadar, ia tak mau pulang mengobati lukanya tetapi tetap berada di situ untuk menyaksikan pertandingan.
Ia menghela nafas.
"Aku telah belajar tujuh belas macam ilmu pedang, tapi baru sekarang kuketahui kalau kesemuanya itu hanya ilmu picisan. Luar biasa sekali ilmu pedang Se-kiat itu, namun tak mampu menandingi ketenangan Thiat-mo-lek. Untuk mencapai keistimewaan, asal orang mempunyai otak cerdas tentu dapat. Tapi untuk mencapai ketenangan, orang harus berlatih dengan tekun. Ketenangan dan kemahiran jauh lebih unggul dari kedahsyatan."
Pada saat Tian Goan-siu membuat penilaian begitu, Thiat-mo-lek sudah mundur lagi sampai 7-8 langkah.
Tampaknya ia terkurung sinar pedang Se-kiat.
Keadaannya makin buruk.
Malah Ong Yan-ik sudah menyatakan kekuatirannya kepada suaminya.
"Goan-siu, dikuatirkan Thiat toako akan kehabisan tenaga dan tak mampu mempertahankan kemenangannya."
Memang Goan-siu mengetahui bahwa ketenangan Thiat-mo-lek itu pasti dapat mengatasi lawan.
Tapi ia tak mengerti tentang keindahan-keindahan yang tersembunyi dalam permainan Thiat-mo-lek itu.
Apa yang dikatakan isterinya, sesuai dengan perasaannya.
"Celaka, kalau Thiat-mo-lek sampai kalah, akulah yang menjadi gara-garanya,"
Ia mengeluh dalam hati namun tak diutarakan pada isterinya.
Ia tetap memperhatikan jalannya pertempuran dengan penuh perhatian.
Han Ci-hun, isteri Thiat-mo-lek, pun berada di situ.
Mendengar pembicaraan Tian Goan-siu suami isteri itu, iapun merasa cemas.
Waktu ia hendak menanyakan pendapat ayahnya, tampak saat itu Han Soan menyungging senyuman.
"Eh, Mo-lek mundur terus-terusan, mengapa ayah malah gembira?"
Ia heran.
Baru saja ia berpikir begitu, di sana Se-kiat kiblatkan pedangnya dengan istimewa.
Menyabat ke kiri dengan jurus Ban-li-hui-soang, memapas ke kanan dengan jurus Cian-sam-lok-yap.
Bret, lengan baju Thiat-mo-lek kena terpapas rompal.
"Ayah...."
Belum Han Ci-hun melanjutkan kata-katanya, ayahnya (Han Soan) sudah menukas tertawa.
"Serangan Se-kiat sudah tamat. Lihatlah, sekarang Thiat-mo-lek berganti giliran yang menyerang!"
Han Ci-hun menengok kemuka.
Ah, kiranya benar.
Thiat-mo-lek kini merubah pertempuran dari bertahan menjadi penyerang.
Meskipun belum dapat memaksa lawan mundur, tapi kini posisinya sudah kokoh.
Kiranya setelah bertempur puluhan jurus itu, tenaga Thiat-mo-lek sudah hampir pulih dan melebihi tenaga lawan.
"Se-kiat, mengaku kalah sajalah,"
Seru Thiat-mo-lek dengan nada berat.
Sebenarnya sukar bagi seorang ko-chiu untuk mengalah.
Seperti tempo dalam pertandingan rapat pemilihan bengcu yang pertama dulu, karena mengalah itu Thiat-mo-lek hampir saja terluka sendiri.
Itu saja ilmu pedang Se-kiat tak begitu ganas seperti sekarang.
Tidak demikian dengan keadaan sekarang.
Kalau Thiat-mo-lek mengalah, Se-kiat tentu tak mau memberi ampun.
Oleh karena itu Thiat-mo-lek mencari jalan, mengalahkan Se-kiat tanpa melukainya.
Itulah sebabnya ia menyerukan orang supaya menyerah saja.
Dalam keadaan ditentang massa dan dibaliki muka oleh kawan, Se-kiat sudah kehilangan kesadaran pikirannya.
Persetan dengan anjuran Thiat-mo-lek.
Ia mendengus, menggunai kesempatan selagi Thiat-mo-lek bicara, ia lancarkan tiga buah serangan berturut-turut.
"Hari sudah begini tinggi, mengapa paman belum kelihatan? Sekalipun dalam babak kedua ini aku kalah, tapi nanti dalam babak terakhir paman tentu menang. Dengan begitu kedudukan bengcu tetap dapat kupertahankan,"
Pikirnya.
Adalah karena masih mengandung cita-cita itu maka serangan yang dilancarkan Se-kiat itu selalu ganas.
Serangan berantai tiga kali itu, luar biasa hebatnya.
Yang diarah selalu jalan darah-jalan darah maut.
Thiat-mo-lek menghela napas, ujarnya.
"Untung celaka, diri sendiri yang membuat. Baik, karena kau berkeras hendak menentang kehendak para saudara-saudara loklim dan tetap mau mengangkangi kedudukan bengcu, terpaksa aku bertindak."
Dalam sehelaan napas, Se-kiat sudah melancarkan 49 jurus.
Namun Thiat-mo-lek tegak kokoh laksana gunung.
Ia tetap tenang untuk menangkis setiap serangan.
Waktu mengakhiri jurusnya, ketika Se-kiat mau berganti jurus lagi, tiba-tiba Thiat-mo-lek bersuit nyaring.
Pedang diputar sebagai main golok.
Dia keluarkan ilmu pedang ciptaannya sendiri.
Dahulu di lapangan kotaraja, ia gunakan ilmu pedang itu untuk membunuh Yo Bok-lo.
"Jika bukan kau akulah yang mati!"
Bentak Se-kiat dengan nada dalam.
Tapi diam-diam, ia mengeluh mengapa pamannya tak muncul juga.
Iapun lantas keluarkan ilmu bertempur secara gerilya, yakni ilmu permainan yang sudah disiapkan untuk menghadapi Thiat-mo-lek.
Dengan permainan itu ia mengharap dapat mengulur waktu.
Tapipun ia mempunyai harapan juga supaya menang.
Tetapi ternyata ilmu pedang ciptaan Thiat-mo-lek itu, luar biasa kerasnya.
Betapa aneh jurusjurus permainan Se-kiat, namun sia-sia saja.
Tidak setitik lubang yang bagaimana kecilnyapun terdapat dalam permainan Thiat-mo-lek.
Selagi pertempuran berlangsung seru, sekonyong-konyong anak buah Se-kiat berteriak gempar.
"Tocu datang!"
Thiat-mo-lek yang selalu pasang mata dan telinga, pun mengetahui juga kedatangan Bo Jonglong bersama-sama Gong-gong-ji, Shin Ci-koh dan Mo Kia Lojin.
Dia terkesiap kaget-kaget girang.
Memang yang paling menjadikan perhatiannya ialah tentang Bo Jong-long yang khilaf pikiran itu.
Jika tokoh itu berkeras kepala, tentu akan terjadi pertempuran darah besar-besaran.
Dan Gong-gong-ji serta Shin Ci-koh yang berangasan itupun menjadi pemikirannya juga.
Bahwa sekarang Bo Jong-long datang bersama-sama Gong-gong-ji dan kawan-kawan, sungguh tak terduga-duga oleh Thiat-mo-lek.
"Menilik gelagatnya, mereka sudah menghapus permusuhan,"
Pikirnya.
Dugaan Thiat-mo-lek itu sebagian memang tepat.
Benar mereka kini sudah bersahabat setelah mengalami pertempuran mati-matian.
Ko-chiu kalau sedang bertempur, tak boleh bercabang pikiran.
Girang dengan kedatangan Bo Jong-long beramai-ramai yang tentu dapat mendamaikan urusan itu, penjagaan Thiat-mo-lek terhadap serangan Se-kiatpun agak kendor.
Sebaliknya Se-kiat menggunakan kesempatan itu untuk menyerang dengan tiba-tiba.
Pedangnya menusuk dada.
Serangan itu merupakan serangan nekad dimana kedua pihak tentu sama-sama terluka.
Thiatmo-lek miringkan tubuh menghindar tapi tak urung pundaknya termakan pedang.
Masih gerakan Se-kiat itu belum selesai.
Ujung pedang diputar mengarah tenggorokan orang.
Dalam saat-saat jiwanya terancam itu, Thiat-mo-lek terpaksa mengeluarkan jurus istimewa untuk menyelamatkan jiwanya.
Sekali ayunkan pedangnya, ia menabas pedang Se-kiat.
"Thiat tayhiap, harap memberi kemurahan!"
Terdengar Bo Jong-long berteriak tertahan.
Trang, pedang Se-kiat kutung menjadi dua terbabat pedang Thiat-mo-lek.
Masih gerakan Thiatmo-lek itu meluncur terus.
Seketika Se-kiat rasakan kulit kepalanya dingin dan diam-diam menjeritlah ia.
"Habis jiwaku sekarang!"
Tapi begitu angin dingin menyambar mukanya, ia tak merasa apa lagi.
Ketika memandang kemuka ternyata Thiat-mo-lek sudah berada beberapa langkah di sebelah sana, sedang menyarungkan pedangnya.
Thiat-mo-lek sekali-kali bukan karena mendengar seruan Bo Jong-long tadi, tetapi memang ia tak bermaksud untuk mengambil jiwa Se-kiat.
Maka dengan tepat sekali ia mengakhiri serangannya tanpa menyentuh selembar rambut orang.
Karena kalau mendengar seruan Bo Jonglong itu baru menarik pedang, tentu sudah kasip.
Baik Se-kiat maupun Thiat-mo-lek sama-sama memakai pedang biasa.
Tetapi setelah terluka Thiat-mo-lek masih dapat mengutungkan pedang Se-kiat, menunjukkan betapa lihay tenaganya.
Entah berapa kali lebih unggul dari lawan.
Pertandingan itu terang dimenangkan Thiat-mo-lek.
Kekalahan yand diderita Se-kiat betul-betul meludaskan mukanya.
Tapi diam-diam ia masih bergirang karena pamannya datang.
Saat itu tampak Bo Jong-long menghampiri.
Se-kiat hendak bicara tapi didahului pamannya.
"Anak jahanam, sampai saat ini apa kau masih tak mau mengaku kalah?"
Karena lukanya belum sembuh sama sekali, nada suara Bo Jong-long tak begitu nyaring.
Tapi dalam pendengaran Se-kiat, hal itu seperti halilintar menyambar.
Satu-satunya tiang yang diandalkan ternyata suruh dia mengaku kalah!
"Paman, apa katamu?"
Masih ia tak percaya akan pendengarannya. Wajah Bo Jong-long membeku, mulutnya mendengus.
"Kusuruh kau minta maaf kepada sekalian orang gagah di sini dan terus ikut aku pulang. Sejak saat ini, kau tak boleh datang ke Tiong-goan lagi!"
Kejut Se-kiat bukan alang-kepalang, serunya.
"Paman, kepandaianmu tiada yang melawan, mengapa gampang-gampang menyerah kalah?"
"Semua gerak-gerikmu telah kuketahui semua. Jangan harap dapat mengelabuhi aku lagi, jangan pula coba memprovokasi aku. Di dunia ini yang mempunyai moral baiklah yang dipuja. Sekali-kali jangan banggakan kepandaian tinggi hendak menundukkan orang. Tentang ilmu kepandaian, sucou kita Cek-si-keh entah berapa puluh kali lebih tinggi dari kita, tetapi toh ia tak menentang Li Si-bin yang sudah diterima rakyat. Itulah baru perbuatan yang mulia dan perwira. Memang aku bersalah mengutus kau ke Tiong-goan. Ini karena aku kelewat memandang rendah pada golongan kaum gagah di negeri ini. Li Tong memang berhak menjadi raja, tapi tidak orang seperti kau. Berbicara tentang ilmu kepandaian, kemuliaan hati, coba kau tanya pada dirimu sendiri apakah kau mampu menandingi Thiat tayhiap? Turutlah perintahku, lekas minta maaf pada sekalian orang gagah di sini!"
Sewaktu mengucapkan kata-katanya itu, beberapa kali Bo Jong-long harus berbatuk.
Tahulah Se-kiat kalau pamannya itu terluka dalam yang parah.
Sekarang ludaslah semua harapan Se-kiat.
Batinnya mengeluh.
"Sedang paman sendiri juga memaksa aku harus minta maaf, ah, Tuhan yang maha murah. Kiranya hanya Tiau-ing seorang yang tahu tentang isi hatiku."
Tiba-tiba terdengar lari kuda mendatangi. Yang datang ialah dayang pelayan Tiau-ing. Buruburu Se-kiat menanyakan keterangan tentang Tiau-ing. Dengan terbata-bata budak itu menjawab.
"Nyonya telah merampas kudaku. Kukira ia sudah datang kemari, yang kunaiki ini kuda orang lain ...."
"Lekas cari, lekas cari sana ...."
Baru Se-kiat gugup menyuruh bujang itu, kembali seorang dayang Tiau-ing muncul. Dayang itu terus berseru.
"Tak usah mencari, aku sudah tahu dimana nyonya."
Se-kiat buru-buru mendesak bujang itu supaya menerangkan tapi bujang itu mengatakan tak leluasa mengatakan di situ. Ia minta Se-kiat masuk ke dalam kemah.
"Bilang sekarang, dengar tidak?!"
Bentak Se-kiat dengan murka. Saat itu pikiran Se-kiat sudah kalut. Dia seperti orang kalap.
"Keadaanku toh sudah begini, aku tak peduli segala berita buruk,"
Pikirnya. Karena ketakutan, bujang itu terpaksa bilang.
"Aku tadi bertemu dengan nyonya. Ia, ia naik kuda bersama Toan Khik-sia, melarikan diri!"
"Apa? Ia melarikan diri dengan Khik-sia?"
Se-kiat menjerit.
Ia yang sudah siap menerima kabar buruk toh terkejut sekali mendengar keterangan itu.
Lebih kaget kalau andaikata menerima kabar Tiau-ing meninggal.
Silih berganti ia mendapat kegoncangan hati.
Dan rupanya berita tentang larinya Tiau-ing itu merupakan pukulan yang maha berat.
Seketika ia seperti kehilangan semangat.
Juga sekalian orang terkejut dengar berita itu.
Lebih-lebih Yak-bwe.
Hanya kalau Se-kiat menerimanya dengan rasa putus asa, Yak-bwe dengan perasaan cemas.
Ia menjerit dan tubuhnya terhuyung-huyung.
Untung In-nio dan Bik-hu cepat memapahnya.
"Khik-sia, mengapa dia, dia ...."
"Jangan mencurigai Khik-sia, tentulah ia, tentu ...."
Kata In-nio.
"Kutahu, tentu perbuatan siluman perempuan itu. Ah, entah dia diberi obat penyesat pikiran apa?"
Kata Yak-bwe.
Ia tidak percaya bahwa Khik-sia dapat dikalahkan Tiau-ing, kecuali dengan diberi minum obat pemunah tenaga.
Karena hadirin gempar dengan berita itu sampai-sampai diri Se-kiat tak mendapat perhatian.
"Se-kiat, bagus sekali isteri yang kau ambil itu! Hm, seorang isteri demikian tak usah kau pedulikan lagi! Selesaikanlah urusanmu di sini, baru kita nanti membuat pembersihan,"
Kata Bo Jong-long berkata dengan hati pedih. Benak Se-kiat kosong melompong. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Kegemparan hadirin dan kata-kata pamannya tadi, tak didengarnya lagi.
"Bo Se-kiat, urusan busuk perempuanmu itu, uruslah sendiri. Itu tak ada sangkut pautnya dengan kami. Sekarang semua saudara menanti sepatah perkataanmu. Apakah kau masih punya muka menjadi bengcu lagi? Kau mau menghaturkan maaf atau tidak?"
Tiba-tiba Shin Thian-hiong berseru. Perlahan-lahan Se-kiat berjalan ke tengah lapangan. Dalam hatinya ia tertawa pahit.
"Seutas benang mengikat dua ekor semut. Melihat akhirnya aku bangkrut, ia lantas minggat dengan lain lelaki."
Langkah Se-kiat itu diikuti mata segenap hadirin.
Mereka kira Se-kiat tentu akan mengakui kesalahan.
Tiba-tiba Se-kiat berhenti.
Di sebelah tempat ia berhenti tampak In-nio berdiri di samping Bik-hu.
Kedua anak muda itu tengah berbisik-bisik dengan mesranya.
Hati Se-kiat seperti diiris sembilu.
"Jika tempo hari aku tak salah langkah, bukantah aku dengan In-nio merupakan pasangan yang ideal dalam dunia persilatan? Hm, aku yang memperalat Tiau-ing atau Tiau-ing yang memperalat diriku? Saat ini mungkin sudah tak ada tempat bagiku di dalam hati In-nio. Hatinya sudah terisi Bik-hu,"
Keluhnya dalam batin. Ia coba memandang lekat tapi In-nio dan Bik-hu makin merapatkan diri. Sekonyong-konyong berserulah ia dengan keras.
"Set yang kujalankan ternyata salah. Satu set salah, semua-semuanya hancur. Apalagi yang kuharap!" -Ia cabut pedang dan ditusukkan sekuatkuatnya ke dadanya sendiri .... Kejadian itu sungguh tak tersangka-sangka. Bo Jong-long terbeliak kaget, tapi tak keburu mencegah. Paling-paling ia hanya menghampiri, menutuk darah Se-kiat supaya berhenti. Tapi untuk menyelamatkan jiwa keponakannya itu terang tak mungkin. Pedang telah masuk separuh ke dalam dadanya. Memang kalau menimbang kesalahannya, Se-kiat pantas menerima hukuman itu. Tapi biar bagaimana, ikatan batin antara paman dengan keponakan itu masih ada. Bo Jong-long sedih sekali.
"Sejak kecil anak ini sudah ditinggal ayah bundanya, untung ia berotak cerdas dan berbakat bagus. Ah, tak nyana ia harus mengakhiri hidupnya secara begini rupa. Kesemuanya itu karena aku tak mampu mendidiknya dengan sempurna,"
Batinnya berkata sendiri. Dengan menelan air matanya, Bo Jong-long membisiki ke dekat telinga Se-kiat.
"Apa pesanmu?"
Adalah karena ditutuk oleh pamannya itu, Se-kiat masih dapat bertahan hidup untuk beberapa saat. Ia gunakan saat-saat terakhir itu untuk meninggalkan pesan.
"Begitu anak itu lahir, ambillah anaknya, buang ibunya ... paman, kau ... aduh, aku merasa sakit sekali, tolonglah paman mem ...."
"Baik, nak. Aku tahu maksudmu. Berangkatlah dengan tenang,"
Sekali menutuk jalan darah kematiannya, Bo Jong-long mencabut pedang di dadanya dan seketika itu melayanglah arwah Sekiat.....
Bo Jong-long menyeka air matanya, kemudian perintahkan anak buahnya supaya jenasah Sekiat diperabukan.
Abunya supaya dibawa pulang ke Hu-song-to.
Pun mengingat persahabatannya di masa lampau, Thiat-mo-lek turut berduka dengan kejadian itu.
Tapi tak tahu ia bagaimana hendak menghibur kedukaan Bo Jong-long.
Saat itu muncul dua pengawal baju kuning ke tengah lapangan.
Mereka ialah pengawal yang ditugaskan Bo Jong-long untuk membawa Khik-sia dan Ping-gwan.
Mereka terkesiap kaget demi melihat kawan-kawannya tengah menggotong jenasah Se-kiat.
"Mengapa kalian tak mengindahkan perintahku? Mana Khik-sia?"
Tegur Bo Jong-long dengan nada berat.
"Nyonya muda mengatakan kalau ia disuruh tocu membawa kedua tawanan itu. Kami tak tahu kalau nyonya membohong,"
Kata kedua pengawal itu.
"Kuberi waktu kalian dalam tiga tahun harus menemukan nyonya muda. Jika ia sudah melahirkan anak, bawalah anak itu saja, tak usah pedulikan nyonya muda lagi. Biar suhunya yang memberi hukuman padanya."
Kedua pengawal itu heran. Tapi mereka tak berani membantah. Bo Jong-long bersuit rawan. Kepada ke-42 kepala pulau ia berseru tandas.
"Kamu sekalian harus ikut aku pulang dan sejak ini tak boleh datang ke Tiong-goan lagi."
Thiat-mo-lek dan Gong-gong-ji menghampiri untuk mengantar keberangkatan pemimpin Husong-to itu. Kata Thiat-mo-lek.
"Bo-locianpwe, aku sungguh menyesal sekali ...."
"Thiat-tayhiap, kau sudah melakukan segala apa yang kau dapat lakukan terhadap Se-kiat. Aku merasa beruntung mempunyai seorang sahabat seperti kau. Tapi sejak saat ini mungkin aku takkan menginjak tanah Tiong-goan lagi. Gong-gong-ji maafkan. Arak kegirangan kalian berdua, terpaksa aku tak dapat turut minum."
Bo Jong-long berlalu, ke-42 kepala pulau itupun mengikuti.
Hasil dari rapat besar kaum loklim hari itu sungguh tak dinyana-nyana.
Sudah dapat dipastikan bahwa Thiat-mo-lek bakal diangkat menjadi bengcu yang baru.
Anehnya sampai saat itu Khik-sia belum kelihatan muncul.
Sudah tentu sekalian orang merasa gelisah.
"Hai, bukantah itu Ping-gwan? Dia sudah datang!"
Tiba-tiba Goan-siu berseru.
Ping-gwan memang berjalan ke lapangan.
Pakaiannya compang-camping, badannya luka-luka dan jalannya sempoyongan.
Thiat-mo-lek tergopoh-gopoh membawanya ke dalam kemah dan mengobati lukanya.
"Lukaku ini tak mengapa. Yang penting kejarlah lekas siluman perempuan itu. Ia melarikan Khik-sia!"
Kata Ping-gwan.
Walaupun ia dan Khik-sia sama-sama ditutuk jalan darahnya oleh Bo Jong-long, tapi caranya mengerjakanpun berbeda.
Untuk Khik-sia yang lwekangnya lebih tinggi, Bo Jong-long gunakan cara menutuk Ciong-chiu-hwat (tutukan berat).
Kalau digunakan terhadap orang yang lwekangnya lemah, Ciong-chiu-hwat itu akan mengakibatkan luka berat.
Sebenarnya lwekang Ping-gwan berimbang dengan Khik-sia.
Tetapi Bo Jong-long belum pernah mengetahui kepandaiannya.
Dan memang Bo Jong-long pun tak bermaksud mencelakai kedua anak muda itu.
Kuatir Ping-gwan tak kuat menahan, Bo Jong-long hanya gunakan ilmu tutukan biasa.
Waktu diseret sampai ke kaki puncak Thiat-li-hong oleh kedua pengawal baju kuning, sebenarnya Ping-gwan sudah dapat membuka jalan darahnya yang tertutuk itu.
Rupanya si pengawal yang memanggulnya, tinggi kepandaiannya.
Mendengar jalannya napas Ping-gwan berbeda, pengawal itu lantas meletakkan tubuh Ping-gwan untuk diperiksannya.
Tapi sekonyong-konyong Ping-gwan menggembor keras.
Tali yang mengikat kaki tangannya putus.
Ia gunakan ilmu Gong-chiu-jip-peh-jim untuk melawan si pengawal.
Sepuluh jurus kemudian, Ping-gwan rasakan peredaran darahnya tambah enak, tenaganya sudah pulih 5-6 bagian.
Ia desak lawannya mundur lalu hendak menyerang pengawal yang membawa Khik-sia.
Pengawal yang menawan Khik-sia itu kelabakan.
Tahu kawannya tak mampu melawan Pinggwan, iapun hendak letakkan angkutannya (Khik-sia) untuk membantu sang kawan.
Tapi pikirannya maju mundur.
Kalau meletakkan tawanannya kuatir dirampas orang.
Namun tidak meletakkan, ia tentu tak leluasa bertempur dengan lawan.
Selagi Ping-gwan mendesak kedua pengawal dan sudah akan berhasil membebaskan Khik-sia, tiba-tiba terdengar derap kuda mendatangi.
Yang datang ialah Tiau-ing.
Melihat Khik-sia tak dapat berkutik, tahulah Tiau-ing bahwa anak muda itu tentu ditutuk dengan Ciong-chiu-hwat oleh Bo Jong-long.
Ia girang sekali dan buru-buru minta supaya Khik-sia diserahkan padanya.
Tetapi seperti yang dikatakan di atas, pengawal baju kuning dari Hu-song-to hanya menurut perintah dari Bo Jong-long saja.
Sekalipun Tiau-ing yang meminta, tetap mereka tak lekas-lekas menyerahkan.
Tanyanya.
"Apakah nyonya muda sudah mendapat ijin dari Bo tocu?"
Ping-gwan mempercepat serangannya.
Bret, lengan baju pengawal itu kenal dibabatnya.
Untung karena kuatir melukai Khik-sia, Ping-gwan tak mau turunkan serangan keras.
Coba tidak, dada pengawal itu tentu sudah terbelah.
Tapi adalah karena harus bertempur dengan hati-hati itu, Ping-gwan tak berhasil merampas Khik-sia.
"Sudah tentu paman yang menyuruh aku membawa orang itu. Kau berani banyak tanya lagi? Apakah aku tak menganggap aku sebagai nyonya tuanmu?"
Tiau-ing pura-pura marah besar. Pertama, karena tak berani menyangka kalau Tiau-ing berbohong. Kedua, karena rangsangan Ping-gwan, terpaksa ia serahkan Khik-sia pada Tiau-ing.
"Baik, sambutlah!"
Teriaknya seraya lemparkan tubuh Khik-sia.
"Siluman perempuan, kau masih belum puas mencelakainya?"
Damprat Ping-gwan dengan murka.
Ia loncat menerjang tapi disambut dengan tabasan golok oleh Tiau-ing.
Kedua pengawal itupun lantas menyerang Ping-gwan.
Hampir saja Ping-gwan termakan golok Tiau-ing.
Pada waktu ia menghindar, Tiau-ing tertawa gelak-gelak seraya menyambuti tubuh Khik-sia.
Seperti mendapat pusaka berharga, Tiau-ing segera keprak kudanya dan membawa kabur Khik-sia.
Karena Khik-sia sudah tak berada di situ, Ping-gwan pun tak bernafsu lagi.
Setelah mendesak mundur kedua pengawal baju kuning, iapun lantas tinggalkan tempat itu.
Cerita Ping-gwan itu menggelisahkan hati sekalian orang.
"Keparat! Akulah yang bersalah karena terlalu memanjakan budak perempuan itu,"
Kata Shin Ci-koh.
"Karena tak dapat berkutik, Khik-sia tentu tak dapat berbuat apa-apa dibawa menurut kemauan siluman wanita itu,"
Yak-bwe cemas.
"Ai, jangan kuatir, justeru karena Khik-sia tertutuk jalan darahnya, ia tentu tak kena apa-apa,"
In-nio tertawa.
Sebenarnya yang dikuatirkan Yak-bwe ialah kalau tunangannya kena terpikat rayuan Tiau-ing.
Karena isi hatinya ditebak In-nio, tersipu-sipulah wajah Yak-bwe.
Wi Gwat menyatakan bahwa harus lekas-lekas dilakukan pengejaran terhadap Tiau-ing.
Setelah lukanya diobati, Ping-gwan menyatakan ikut dalam pengejaran itu.
Akhirnya mereka berlima membagi diri dalam tiga jurusan.
Wi Gwat dan Ping-gwan, karena kepandaiannya tinggi, masingmasing berjalan seorang diri.
Sedang Yak-bwe, In-nio dan Bik-hu satu jurusan.
Begitulah mereka berangkat ke arah timur, selatan dan barat.
Diceritakan setelah menawan Khik-sia, Tiau-ing larikan kudanya secepat mungkin.
Kudanya kuda pilihan hasil rampasan Se-kiat.
Kekuatannya tak kalah dengan kuda pemberian Cin Siang kepada Thiat-mo-lek itu.
Mendaki gunung melintasi sungai seperti di tanah datar saja.
Luas area gunung Hok-gu-san itu di antara 500-an li.
Karena sehari penuh terus lari nonstop, maka menjelang mahgrib Tiau-ing sudah mencapai 300 li.
Dari situ memandang ke bawah, tampaklah padang datar di kaki gunung.
"Punya sayap sekalipun tak mungkin piauko-mu Thiat-mo-lek mengejar kemari. Baiklah malam ini kita bermalam di dalam hutan siong sini, besok pagi baru turun gunung."
Tiau-ing tertawa seraya menjinjing Khik-sia ke dalam hutan pohon siong.
Walaupun tak dapat berkutik, tapi pikiran Khik-sia masih sadar.
Diam-diam ia mengeluh membayangkan apa tindakan yang akan dilakukan Tiau-ing nanti.
Di dalam hutan masih terdapat gundukan salju yang belum lumer.
Ditingkah cahaya rembulan, tampaklah seperti permadani putih bertebar di bumi.
Tampak Tiau-ing kerutkan alis.
Wajahnya yang tengah merenungkan sesuatu, memancarkan mimik seperti minta dikasihani.
Khik-sia meramkan matanya.
Tak mau ia memandang wanita itu.
Pikirnya.
"Apa yang hendak dibicarakannya? Sayang seorang wanita yang secantik itu, mempunyai hati yang culas."
Kedengaran Tiau-ing menghela napas dan berkata seorang diri.
"Se-kiat, bukannya aku bermaksud mengkhianatimu, tetapi kau harus mengerti dan memaafkan kegelisahan hatiku."
Heran Khik-sia dibuatnya.
Nyata-nyata Tiau-ing masih merindukan suaminya.
Tapi Se-kiat toh sedang menghadapi saat-saat yang menentukan nasibnya.
Mengapa bukannya mendampingi sang suami sebaliknya wanita itu menculiknya (Khik-sia) ke tempat jauh?
Terdengar derap kaki makin menjauh.
Karena herannya Khik-sia membuka mata.
Ai, ternyata Tiau-ing pergi.
"Apa artinya ini? Apakah ia hendak berolol-olok padaku?"
Ia makin heran.
Khik-sia diam-diam salurkan lwekang untuk membuka jalan darahnya.
Tetapi tutukan Bo Jonglong memang istimewa benar.
Walaupun lwekang sudah dapat menyalur tetapi jalan darahnya yang tertutuk masih tetap belum dapat terbuka.
Sampai sekian lama Khik-sia berusaha sekuat-kuatnya.
Pada saat ia sudah hampir berhasil, tiba-tiba terdengar derap kaki menghampiri.
Tiau-ing muncul dengan menjinjing sebuah kantong kulit.
Ujung goloknya berhias dua ekor ayam hutan.
Kiranya tadi ia pergi berburu.
"Sayang! Kalau jalan darahku belum terbuka ia tentu tak mau melepaskan,"
Diam-diam Khiksia menyumpahi.
"Sehari penuh kau tak minum tak makan, tentu lapar. Minumlah dulu air ini, nanti kupanggangkan ayam hutan untuk makanmu,"
Kata Tiau-ing dengan nada lembut.
Dalam hati Khik-sia menolak tapi karena jalan darahnya masih tertutuk, terpaksa ia biarkan saja.
Tiau-ing membuka kantong kulit yang ternyata berisi air jernih.
Sekali memijat pipi Khik-sia sehingga mulutnya ternganga, Tiau-ing lantas mencurahkan air itu ke dalam mulut si anak muda.
Khik-sia gelagapan.
Darahnya merangsang keras dan ....
terbukalah jalan darahnya yang tertutuk itu.
Cepat ia gunakan ginkang, lari menghampiri kuda.
Tapi baru beberapa langkah, tibatiba kepalanya terasa puyeng, kakinya lentuk dan napasnya terengah-engah.
Tiau-ing cepat melesat datang.
Sekali mendorong pelahan-lahan saja, rubuhlah Khik-sia ke tanah.
"Beristirahatlah, kau sudah tak dapat bertenaga lagi,"
Tiau-ing tertawa. Khik-sia kaget bercampur marah. Ia berusaha bangkit dan memaki.
"Kau, kau siluman wanita hendak mengapakan diriku?"
Tiau-ing menekan pundak Khik-sia dan terkulailah anak muda itu.
"Tidak apa-apa, aku hanya menaruh Soh-kut-san (obat pelunak tulang) dalam air tadi. Masih ingat tempo hari kau pernah kutawan berkat bantuan Soh-kut-san? Tetapi kali ini aku berjanji tak gampang-gampang memberi obat penawarnya."
"Su Tiau-ing, mengapa kau selalu hendak mencelakai diriku?"
Teriak Khik-sia dengan murka.
"Suamiku mati di tanganmu. Apakah tak layak kau menerima sedikit siksaan dariku?"
"Bagaimana kau tahu suamimu sudah mati? Toh sejak pagi-pagi kau sudah melarikan aku. Terang kau tak hadir dalam rapat itu!"
"Terus terang kuberitahukan padamu bahwa pamannya Se-kiat itu sudah tak mau membantunya lagi,"
Jawab Tiau-ing.
"Tapi toh belum pasti kalau suamimu tentu meninggal. Aku tahu bagaimana rencana piauko-ku Thiat-mo-lek. Dia hanya bermaksud supaya suamimu sadar akan kesalahannya. Sekali-kali tidak menghendaki jiwanya. Andaikata suamimu berkeras kepala, toh paling-paling hanya dicopot dari kedudukannya sebagai bengcu saja. Siapa bilang Thiat piauko mau membunuh suamimu?"
Tiau-ing menghela napas.
"Kau hanya tahu tentang rencana piauko-mu tetapi tak tahu bagaimana watak suamiku. Sebagai seorang yang berhati tinggi mana dia mau menerima hinaan semacam itu? Kurasa saat ini dia tentu sudah bunuh diri! He, he, tahukah kau sekarang apa sebabnya kutawan kau kemari?"
Khik-sia seram dengan nada tertawa Tiau-ing.
"Mau apa kau? Apa mau membunuh aku sebagai balas dendam kematian suamimu?"
Tanyanya. Sahut Tiau-ing dingin.
"Sekalipun Se-kiat tidak langsung mati di tanganmu, tapi sebagian besar kaulah yang menjadi gara-gara. Tetapi aku tak mau membunuhmu. Aku menginginkan supaya kau menemani aku!"
"Bunuhlah aku saja!"
Teriak Khik-sia seperti orang kalap. Tiau-ing memberi sebuah kicupan mata yang mengasih. Tertawalah ia.
"Khik-sia, apa kau kira karena teringat akan hubungan kita yang lampau, aku lantas tak sampai hati membunuhmu? Tidak! Aku menikah dengan Se-kiat dan akupun berusaha untuk menjadi isterinya yang baik. Tindakanku sekarang ini, kesemuanya demi untuk kepentingan Se-kiat."
Tak mengerti Khik-sia kemana jatuhnya perkataan nona itu.
Tapi diam-diam ia berjanji dalam hati, kalau Tiau-ing benar-benar berbuat untuk kepentingan suaminya, ia bersedia memaafkan wanita itu.
Tapi ai sangsi itikad baik Tiau-ing.
"Apa maksudmu, aku masih belum mengerti?"
Tanyanya. Wajah Tiau-ing memerah, ujarnya.
"Ya, aku terpaksa tak malu-malu lagi kepadamu. Di dalam perutku sekarang ini terisi anak Se-kiat yang baru berumur tiga bulan. Kutahu kamu semua membenci diriku. Suhuku, suhengmu, Thiat-mo-lek, Hong-git Wi Gwat dan kawan-kawanmu semua ingin membunuh aku ...."
"Tidak, jika mereka tahu kau sedang mengandung tentu takkan membunuhmu,"
Buru-buru Khik-sia menyatakan! Tiau-ing tertawa tawar.
"Aku tak percaya pada siapa saja. Kau kira sepatah katamu tadi dapat menjamin jiwaku. Dan dengan begitu karena percaya pada ucapanmu aku lantas melepaskanmu? Tidak, bagiku satu-satunya jaminan untuk melindungi jiwaku ialah dengan menawan dirimu!"
Khik-sia mengeluh dalam hati.
"Karena wataknya ganas, ia tentu banyak curiga. Ia mengukur orang lain menurut ukuran hatinya sendiri. Untuk menyakinkan wanita ini, tentu akan makan waktu lama."
"Khik-sia,"
Tiba-tiba Tiau-ing berkata pula.
"aku terpaksa meminta pengorbananmu. Kau harus menemani aku. Kau tentu sudah bagaimana kelihayan obat Soh-kut-san itu. Jika tak mendapat obat penawarnya, dalam waktu sebulan kau akan mati secara pelahan. Tetapi dengan ikut padaku, setiap setengah bulan, akan kuberimu separuh pil penawar agar jiwamu lebih panjang. Kau tak bisa gunakan ilmu silatmu lagi tapi kau masih tetap mempunyai tenaga untuk menemani barang kemana aku pergi. Kelak apabila anakku sudah berumur tiga tahun baru akan kuberimu kebebasan penuh untuk pulang menemui tunanganmu nona Su. Kawan-kawanmu tentu tak berani membunuh aku. He, he, jika mereka sampai berbuat yang tidak-tidak, kaulah yang akan kubunuh dulu. Kuberjanji setelah anakku berumur tiga tahu, kau tentu akan kusembuhkan. Pada waktu itu jika kau hendak membunuh aku karena mendendam atas perbuatanku itu, akupun tak keberatan."
"Ah, tak usah kau berbuat begitu. Jika Se-kiat benar sudah mati, asalkan bertobat dan kembali ke jalan yang benar, mengasuh anakmu dengan baik-baik sebagai seorang ibu yang bijaksana, mereka tentu takkan mendendam padamu,"
Kata Khik-sia.
"Bagus, jika kau masih simpati dan kasihan padaku. Kuminta kau lakukan sebuah hal bagiku."
"Apa?"
"Selama dalam perjalanan kau harus menggunakan sebutan suami-isteri padaku,"
Kata Tiau-ing.
"Kau gila!"
Teriak Khik-sia.
"Ai, kau memang buta perasaan. Coba pikirlah. Seorang pria dan seorang wanita bersamasama dalam perjalanan. Terus terang saja aku tak dapat membiarkan kau berjalan terpisah jauh-jauh dariku. Di waktu bermalam di hotel, kita harus tinggal sekamar. Jika tidak memakai sebutan suami isteri, apakah tidak akan menimbulkan kecurigaan orang?"
Nyata hati Tiau-ing gundah sekali.
Memang benar rencana menawan Khik-sia itu untuk menajmin keselamatan dirinya dan calon bayinya.
Tetapi pun rasa cintanya terhadap Khik-sia nyata belum padam.
Bahwa mulutnya selalu menekankan kalau perbuatannya diperuntukkan kepentingan Se-kiat, itu hanya untuk menghilangkan kecurigaan Khik-sia saja.
"Jangan, jangan! Bagaimanapun juga, aku tak mau berbahasa suami-isteri dengan kau!"
Khiksia merah mukanya. Sekonyong-konyong terdengar orang tertawa geli dan berseru.
"Nona Su, kalau budak itu tak mau menjadi suamimu, biarlah aku yang mewakili!"
Sebuah bayangan loncat dari atas pohon. Kepalanya lancip, pipi tirus seperti monyet. Ai, kiranya Ceng-ceng-ji.
"Kunyuk tua, kau berani kurang ajar terhadap aku?"
Tiau-ing marah.
"Toh kau mencuri suami? Pura-pura atau suami sesungguhnya, aku bersedia melamar,"
Sahut Ceng-ceng-ji.
"Begitulah manusia yang mengaku bersahabat baik dengan Se-kiat? Cis, tak tahu malu!"
Damprat Tiau-ing.
"Ceng-ceng-ji, muka suhu telah kau lumuri kotoran. Mengapa kau berani menghina seorang wanita yang tengah hamil? Jika toa-suheng tahu, pasti dia akan mencabut tulangmu, dan membeset kulitmu!"
Khik-sia turut memaki.
"Huh, jiwamu sekarang berada di tanganku, masih berani membacot!"
Sahut Ceng-ceng-ji. Khik-sia tak berdaya. Sekali Ceng-ceng-ji menutuk jalan darah pembisunya, iapun tak dapat bersuara lagi. Sehabis itu Ceng-ceng-ji berpaling dan tertawa meringis.
"Nyonya Bo, sia-sia saja kau paksa budak itu menjadi suamimu. Hm, hm, mengapa begitu jerih payah? Kau bukan wanita terhormat, akupun bukan lelaki baik. Setali tiga uang , cocok!"
Mengkal dan murkan sekali Tiau-ing. Biarpun ia banyak akal, tapi pada saat itu ia belum dapat menemukan akal untuk menghadapi Ceng-ceng-ji. Ceng-ceng-ji terbahak-bahak.
"Apakah karena budak itu berparas cakap dan aku jelek, kau lantas menampik aku?"
"Jangan ngaco belo! Kutawan dia karena untuk barang tanggungan. Ah, paman Ceng-ceng, peribahasa mengatakan. asal masih ada sinar matahari, kemudian hari tentu dapat bertemu lagi. Harap kau lepaskan tangan, siapa tahu kelak kemudian hari kita masih dapat bekerja sama,"
Kata Tiau-ing.
"Itulah baru pantas. Baiklah, sekarang kita bicara sungguh-sungguh. Aku tak menjadi suamimu, tak apa. Tetapi budak itu harus diserahkan padaku."
Tiau-ing terperanjat.
"Apa? Kau mau membawanya? Kiranya kau juga menaruh minat padanya!"
"Benar, memang ucapan budak itu benar. Aku memang takut ancaman Gong-gong-ji dan Shin Ci-koh, maka aku hendak mengambilnya sebagai barang tanggungan."
"Nanti dulu, paman Ceng-ceng. Mari kita berunding lagi,"
Buru-buru Tiau-ing menyusuli kata kata.
"Berunding apa? Apa kau suka pura-pura menajdi suami-isteri dengan aku?"
Tiau-ing tak dapat berbuat apa-apa.
Akhirnya ia menawarkan untuk bersama-sama membawa Khik-sia.
Ia insyaf kepandaiannya kalah dengan Ceng-ceng-ji.
Walaupun tak senang tetapi ia terpaksa gunakan siasat begitu.
Atas pertanyaan Ceng-ceng-ji kemana rencana Tiau-ing hendak membawa Khik-sia nanti, Tiauing mengatakan.
"Aku hendak mencari suhuku yang satunya Hoan Gong hwatsu."
Hoang Gong hwatsu adalah kepala biara Ogemi di Cenghay.
Dahulu waktu tentara Su Su-bing berpangkalan di Cenghay, dia bersekutu dengan paderi itu.
Hoan Gong hwatsu suka akan kecerdikan Tiau-ing dan mengambilnya sebagai murid luar biasa.
Yaitu tidak seperti hubungan guru dan murid pada umumnya.
Walaupun ilmu silat Hoan Gong hwatsu tinggi, tapi karena Tiauing masih kecil maka tidak diajari ilmu silat.
Seluruh kepandaiannya didapat dari Shin Ci-koh.
Sekalipun demikian Hoan Gong tetap sayang pada Tiau-ing.
Beberapa tahun yang lalu,ketika Su Tiau-gi (kakak Tiau-ing) hendak menggerakkan pemberontakan lagi, Hoan Gong pernah datang menjenguk Tiau-ing.
Kala itu ketika Tiau-ing menawan Khik-sia hidup-hidup, pun dibantu oleh paderi itu.
Ceng-ceng-ji pun kenal lama dengan Hoan Gon, tetapi hubungan mereka tak rapat.
Ia girang dengan keterangan Tiau-ing itu.
Pikirnya.
"Kini aku sedang keputusan jalan. Sebenarnya tujuanku hendak menggabung pada Leng Ciu siangjin. Tetapi karena tempo hari ia dikalahkan Shin Ci-koh, ia tentu tak mau menerima aku. Hoan Gong hwatsu lebih sakti, apalagi dia masih mempunyai beberapa suheng dan sute yang tak kalah lihaynya. Jika aku dapat meneduh dalam lindungannya, itulah yang paling tepat. Asal aku dapat menggenggam Khik-sia, biar Tiau-ing banyak muslihat, tapi tak usah kuatir dapat mencelakai diriku."
Dari air mukanya, Tiau-ing tahu kalau Ceng-ceng-ji setuju. Diam-diam ia muak dengan tampang eng-ceng-ji, namunia tahankan hati. Ujarnya.
"Paman Ceng-ceng, kita bersama-sama mengamat-amati anak muda ini. Tetapi selama dalam perjalanan kau harus menurut sebuah perjanjianku."
Waktu Ceng-ceng-ji menanyakan, Tiau-ing menjawab.
"Dalam perjalanan kita bertiga harus pura-pura satu keluarga. Terpaksa agak mencemoohkan paman Ceng-ceng sedikit. Kuminta kau menjadi seperti bujang kami."
Ceng-ceng-ji memoncat kaget.
"Apa? Aku disuruh jadi bujang? Mengapa tak jadi suami atau sekurang-kurangnya jadi ayah saja?"
"Telah kukatakan aku tak mau bersandiwara menjadi suami isteri denganmu. Kalau jadi ayah, ah, wajahmu terpaut jauh sekali. Cobalah berkaca, bagaimana bentuk wajahmu itu? Maka yang paling tepat, jadi bujang saja,"
Kata Tiau-ing. Ceng-ceng-ji menggumam, belum membuka mulut Tiau-ing sudah berkata lagi.
"Budak itu sudah termakan obat Soh-kut-san, hanya aku yang mmepunyai obat penawarnya. Jika kau cobacoba menculiknya, tak sampai sebulan dia tentu mati tanpa sakit. Paman Ceng-ceng, aku takut hukuman suhuku dan kau takut suhengmu membunuhmu. Jadi kita senasib. Asal kita dapat memiliki anak muda itu sebagai barang tanggungan, ya sekalipun kau harus menerima sedikit cemoohan, tapi kita tentu akan selamat."
Ceng-ceng-ji tergelak-gelak.
"Baiklah, nyonya Bo. Kau memang cerdik, aku menurut saja. Tetapi akan kau ujikan apa bocah itu? Apakah hendak kau jadikan suami tetiron?"
"Menjadi adikku yang bisu. Setiap kali sebelum menginap di hotel, tutuklah jalan darah pembisunya. Sebagai bujang kau boleh tidur bersamanya. Bukankah baik pengaturan itu?"
Sahut Tiau-ing.
Mati hidupnya Khik-sia itu tak berarti apa-apa bagi Ceng-ceng-ji.
Yang penting ia sekarang mendapat jalan bonceng Tiau-ing untuk mencari perlindungan pada Hoan Gong hwatsu.
Maka dapat menyetujui rencana Tiau-ing itu.
Begitulah setelah terdapat persepakatan, Ceng-ceng-ji lantas memanggul Khik-sia.
Ia tertawa mengejek.
"Bocah bagus, bukankah ji-suhengmu memperlakukan kau baik-baik? Beberapa kali kau menghina dan memaki aku, tetapi aku teap suka merawatmu."
Khik-sia tak dapat berbuat apa-apa.
Tapi diam-diam ia terhibur juga.
Dengan ikut sertanya Ceng-ceng-ji jauh lebih baik daripada kalau menempuh perjalanan seorang diri dengan Tiau-ing.
Paling tidak ia dapat terhindar dari rayuan wanita itu.
Pikiran Khik-sia jadi tenang, ia pasrah pada nasib.
Dengan gunakan gin-kang, Ceng-ceng-ji dapat mengimbangi lari kuda Tiau-ing.
Mereka menempuh perjalanan siang malam.
Setelah keluar dari daerah Hok-gu-san, mereka menuju ke Ceng-hay.
Sekarang mari kita ikuti rombongan yang mencari jejak Khik-sia.
Lebih dulu kita tinjau Coh Ping-gwan.
Kudanya juga kuda istimewa, walaupun masih kalah dengan kuda Tiau-ing.
Hanya jurusan yang diambilnya, memang tepat.
Sayang jarak mereka makin lama makin terpisah jauh.
Hari ketiga Ping-gwan baru keluar dari daerah Hok-gu-san.
Di kaki gunung ia berpapasan dengan seorang penebang pohon.
Ia mencari keterangan orang itu.
Kebetulan pagi harinya ketika Tiau-ing turun gunung, penebang itu melihatnya.
Ia heran melihat seorang kunyuk besar memanggul seorang pemuda, berlari mengejar seorang wanita muda yang naik kuda.
Ping-gwan menduga, kunyuk yang dimaksudkan si penebang pohon itu, tentulah Ceng-ceng-ji.
Ia makin gelisah dibuatnya.
Hari itu ketika Ping-gwan tiba di tempat pos pemberhtian di kaki gunung, tiba-tiba ada dua penunggang kuda mencongklang datang dengan pesat sekali.
Kedua penunggang itu berpakaian seperti orang asing.
Ping-gwan buru-buru mengejar.
Kini makin jelas.
Ia terkejut girang.
Kedua orang asing itu bukan lain anak buah U-bun Hong-ni yang dahulu pernah mencuri kudanya (Pinggwan dan Khik-sia).
Ping-gwan teringat, Tiau-ing pernah coba merapati Hong-ni.
Ia kuatir jangan-jangan wanita itu akan menggabung pada Hong-ni.
Waktu ia hendak keprak kudanya mengejar, dari belakang kembali datang dua penunggang suku asing lagi.
Yang satu seorang berumur 20-an tahun, berpakaian mentereng seperti bangsawan.
Yang satu seorang pertengahan umur.
Rupanya pengawal pemuda tadi.
Kedua anak buah Hong-ni congklangkan kudanya makin keras.
Pemuda mentereng berseru keras.
"Hai, berhentilah!"
Tetapi kedua anak buah Hong-ni itu malah semakin mencongklang pesat.
"Kurang ajar, berani membangkang perintahku!"
Ia keprak kudanya mengejar.
Kini Ping-gwan baru tahu kalau mereka itu bukan sekawanan.
Ia duga pemuda itu tentu bangsawan Hwe-ki yang berpengaruh.
Ia pun keprak kudanya membuntuti.
Tiba di pinggir hutan, didengarnya di dalam hutan seperti ada orang bertengkar.
"Hai, budak yang tak tahu mati. Di mana nona majikanmu sekarang? Bilang lekas, kalau tidak tentu kucabut jiwamu!"
Pemuda itu marah-marah.
"Lebih baik kami dipenggal kepala tetapi di mana tempat beradanya nona, tak dapat kukatakan padamu,"
Sahut kedua bujang itu.
"Budak kurang ajar, kamu hendak berontak!"
Teriak pemuda itu.
"Ya, memang kami budak tetapi hanya budak dari nona kami, bukan budak bangsamu Hwe-ki!"
Tiba-tiba kedua bujang itu berseru keras.
"Pemberontak, tangkap kedua budak hina ini!"
Seru si pemuda. Kedua bujang tadi hendak menerjang, tapi cukup dengan sebuah ingsaran tubuh, mereka menubruk angin.
"Kalian tak berharga bertempur dengan aku,"
Pemuda itu tertawa menghina. Diam-diam Ping-gwan terkejut melihat gerakan si pemuda.
"Rubuh!"
Sebelum kedua bujang yang terhuyung-huyung itu sempat berdiri tegak, kaki kiri si pemuda mengait dan tangan kanannya menghantam.
Yang kena terkait, terjerembab jatuh.
Yang kena kepukul, mendekap pinggangnya sambil berjongkok.
"Tahu rasa, sekarang? Jika kalian kepingin mati, nanti tentu kukirim. Ruyung kiau-pian ini dapat memecahkan dagingmu sampai busuk, coba saja kalau kalian tetap tak mau memberitahu,"
Pemuda asing itu tertawa sinis. Bermula Ping-gwan tak mau campur tangan. Tapi demi mendengar percakapan mereka, ia tak kuat menahan kemarahannya lagi. Segera ia lari menghampiri dan berseru.
"Hak apa kau hendak menghina orang?"
Pemuda bangsawan itu terkesiap melihat ada orang muncul dari dalam hutan.
"Siapa? Kau berani turut campur urusanku!"
Bentaknya seraya ayunkan ruyung.
"Enyah!"
Ping-gwan menyambut dengan tangan kiri hendak merampas ruyung.
Tetapi di luar dugaan, permainan ruyung pemuda bangsawan itu aneh sekali.
Ruyung melingkar seperti naga melilit dan dari arah yang tak diduga Ping-gwan, ruyung itu menghantamnya.
Terpaksa Ping-gwan gunakan gerak Poan-hong-yan-poh (naga melingkar langkah) dalam detik-detik yang berbahaya, ia rubah pukulannya menjadi gaya menutuk.
Pluk, ruyung kena dipentalkan.
Tapi sekalipun begitu, tak urung ujung bajunya tersabat pecah.
Si pengawal maju.
"Siau-ong-ya, mengapa perlu meladeni bedebah itu. Biarlah hamba yang memberesinya!"
Siau-ong-ya artinya anak raja.
Jadi pemuda itu memang benar seorang pangeran atau anak raja dari Hwe-ki.
Ia mengikan dan pesan Ih-sin, pengawalnya itu supaya berhati-hati.
Rupanya pangeran itu tahu Ping-gwan seorang 'berisi'.
Ih-sin memang panglima kenamaan dari suku Hwe-ki.
Tapi sebenarnya ia tak begitu tinggi ilmu silatnya.
Melihat Ping-gwan dalam sekali gebrak saja kena disabat hancur lengan bajunya oleh junjungannya (pangeran), Ih-sin tak memandang mata padanya.
Ping-gwan pura-pura mengunjukkan sebuah lubang kelemahan.
Begitu Ih-sin maju, ia biarkan saja.
Ih-sin seorang jago gumul (semacam judo).
Begitu tangan kirinya disusupkan ke bawah siku Ping-gwan, sekali sentak tubuh Ping-gwan terangkat ke atas.
"Ha, ha, bedebah ini hanya.... aduh!"
Ih-sin mengganti ketawanya dengan jeritan mengaduh.
Ternyata dengan gerak kilat, Ping-gwan mencengkeram pergelangan tangan lawan, sebelum si pangeran sempat menolong, dengan kecepatan luar biasa Ping-gwan memelintir lengan orang terus di balik tubuhnya dan dilemparkan sampai beberapa tombak jauhnya.
"Aduh ...!"
Kembali Ih-sin menjerit karena tempat jatuhnya kebetulan dalam sebuah semak-semak berduri. Kaki dan tangannya dimakan duri, ia tak dapat berkutik lagi.
"Hai, kau orang Han, sungguh besar sekali nyalimu! Tahukah kau siapa aku? Sekalipun rajamu kalau bertemu aku tentu akan memberi hormat dengan khidmat. Tetapi kau berani melawan aku? Heh, heh, jika kau ingin merampas uang, aku suka memberimu beberapa tail perak. Dan kalau kau suka ikut padaku, itu yang paling baik lagi,"
Kata si pangeran.
Ia tak kenal siapa Ping-gwan.
Dikiranya pemuda itu bangsa penyamun.
Tapi diam-diam ia jeri juga akan kepandaian Ping-gwan.
Ia pamerkan dirinya agar orang takut.
Kemudian coba membujuknya.
"Aku tak peduli siapa kau ini. Mungkin lain orang takut padamu, tetapi aku tidak. Kalau kau andalkan pengaruhmu untuk menghina orang, aku tak dapat tinggal diam,"
Sahut Ping-gwan. Pangeran itu menggumam. Dengan mimik memandang rendah ia berkata pula.
"Negeri Su-tho adalah negeri jajahan kami. Kedua bujang itu, orang sebawahan dari rakyat taklukanku. Hidup matinya terletak di tanganku. Mengapa kau salahkan aku menghina mereka? He, he, lucu benar."
"Tutup mulutmu! Aku tak kenal kalian ini tuan atau budak. Yang kuketahui, mereka berdua itu adalah sahabatku. Jika kau berani menghinanya, aku terpaksa membuatmu tak bisa tertawa nanti. Pergilah, dengar tidak?"
Masih pangeran itu tertawa menghina.
"Kau bersahabat dengan mereka? He, he, itu namanya membikin merosot hargamu sendiri. Hm, tahulah aku, mungkin nona U-bun itulah yang sebenarnya menjadi sahabatmu."
"Kalau benar, mau apa? Sudah jangan banyak omong, pergilah!"
Rupanya pangeran itu merasa cemburu, ia tertawa sinis.
"Oh, makanya ia selalu menyingkir dari aku. Hm, budak, aku ingin jiwamu!"
Dirangsang oleh rasa cemburu, rasa jeri terhadap Ping-gwan hilang seketika.
Ia tak menghiraukan segala apa dan menyerang Ping-gwan dengan ruyungnya.
Kali ini Ping-gwan sudah siap.
Memutar tumit kakinya, ia berputar.
Tapi sang pengeran mengirim lagi tiga buah hantaman ruyung.
Melihat lawan pandai ilmu silat, Ping-gwan tak berani meremehkan.
Iapun segera mencabut golok pusakanya.
"Kau iniraja atau budak, tetapi tanah orang Han sini tak mengijinkan kau berbuat sewenangwenang. Unjuk kegaranganmu di negerimu sendiri sana. Lihat golok!"
Serunya.
Ping-gwan keluarkan permainan golok yang terdiri dari 36 jurus.
Ruyung dan golok bermain dengan cepat.
Di sela-sela sambaran angin, terdengar beberapa kali suara menggeletar.
Punggung Ping-gwan termakan dua buah cambukan tapi ruyung si pangeranpun kena terpapas kutung tiga kali.
Tiap bagian dari permainan golok Ping-gwan terdiri dari 36 jurus.
Setelah selesai, lalu bagian yang kedua yang juga terdiri dari 36 jurus.
Kini ruyung pangeran Hwe-ki tak mampu mengenai lawan, sebaliknya Ping-gwan berhasil memapas lagi empat kali.
Dengan begitu ujung ruyug itu hilang satu meteran.
Ping-gwan lanjutkan dengan bagian yang ketiga yang juga berisi 36 jurus.
Dalam babak ini, dia menang angin.
Si pangeran terkurung dalam sinar golok.
Ruyung makin pendek makin mudah terbentur golok.
Boleh dikata setiap dua jurus, Ping-gwan tentu dapat memapas beberapa inci.
Waktu bagian ketiga selesai, ruyung si pangeran tinggal seperempat meter.
"Apa kau tetap tak mau melepaskan ruyungmu?"
Bentak Ping-gwan seraya gunakan gigir golok menyodik siku si pangeran.
Sodokan itu membuat si pangeran terpaksa lepaskan ruyungnya.
Untung Ping-gwan tak mau membikin onar.
Coba ia pakai mata golok, lengan si pangeran tentu sudah terpisah dari tubuhnya.
Ping-gwan sarungkan goloknya dan berseru.
"Apa masih mau berkelahi terus?"
Wajah si pangeran berubah membesi. Matanya melotot memandang Ping-gwan. Tanpa menyahut ia putar tubuh dan berlalu. Saat itu Ih-sin bru berhasil keluar dari semak berduri. Ia menyongsong tuannya.
"Siau-ong-ya, mengapa tak memberi hukuman pada kedua bujang itu?"
Plak, si pangeran memberi sebuah tamparan ke pipi Ih-sin dan membentaknya.
"Lekas naik kuda!"
Kuda kedua orang Hwe-ki itu, kuda perang yang terlatih mahir. Begitu tuannya naik di punggungnya, binatang itu segera lari sepesat angin.
"Pangeran itu patah sebuah tulang tangannya, paling tidak dalam satu bulan ia baru dapat menggunakan ruyung lagi. Biarlah dia pergi dan kalian perlu kuberi obat,"
Kata Ping-gwan.
Tubuh kedua bujang itu berlumuran luka, untung hanya luka luar.
Tampaknya mengerikan tapi sebenarnya tak berbahaya.
Setelah dilumuri obat oleh Ping-gwan, luka itupun berhenti mengucurkan darah.
"Coh tayhiap, nona kami hendak membunuhmu. Pun kami mendapat perintah nona untuk mengepungmu. Mengapa kau balas kejahatan dengan kebaikan?"
Kedua bujang itu terheran-heran. Ping-gwan tertawa.
"Sebenarnya aku tak mempunyai dendam apa-apa dengan nonamu. Peristiwa dahulu, kalian tentu mengetahui juga. Jika mencari biang keladinya, yang membunuh ayah nonamu itu adalah bangsa Hwe-ki."
Kedua bujang itu entah berapa kenyangnya menerima hinaan orang Hwe-ki. Mereka mengiakan.
"Benar, karena tak mengerti duduk perkaranya, nona melimpahkan kesalahan padanya."
"Rupanya siau-ong-ya itu hendak paksa menikah dengan nonamu. Bagaimana duduk perkaranya?"
Tanya Ping-gwan. Kedua bujang itu menghela napas.
"Adalah nona sendiri yang nasibnya sial, Ayah dari anjing pangeran tadi adalah paman dari raja Hwe-ki. Namanya Topace, menjabat sebagai tay-goanswe (jenderal besar) angkatan perang Hwe-ki. Dia merupakan orang yang paling berkuasa di negeri Hwe-ki. Anjing pangeran itu bernama Topayan. Dua tahun berselang ketika berburu nona telah berpapasan dengan dia. Setelah itu dia terus-terusan merayu, hendak mengambil nona jadi isterinya. Dengan alasan bahwa menurut adat istiadat Su-tho sebelum membalas dendam ayah tak dapat menikah, nona main mengulur waktu. Tahun ini ketika kerajaan Tay Tong minta bantuan pemerintah Hwe-ki untuk menindas pemberontakan, Topayan mengusahakan pamannya nona itu dapat kesempatan untuk membalaskan sakit hati ayah nona. Kemudian ia mendesak nona tinggal dalam rumahnya. Setelah sakit hati terbalas, segera lepaskan pakaian berkabung dan melangsungkan perkawinan. Nona tak sudi menerima anjuran itu. Ia menyatakan hendak melakukan permbalasan sendiri. Ia ajak kami lari ke Tay Tong."
"Oh, kiranya ia mencari balas padaku itu karena ada sebabnya,"
Kata Ping-gwan. Kedua bujang itu melanjutkan keterangannya.
"Tak tersangka-sangka anjing pangeran itu juga menyusul langkah kami. Ia bertekad hendak membawa pulang nona. Mendengar berita itu, nona tak berani pulang dan tak berani menemui pamannya di Tiang-an. Ia membagi rombongan pengikutnya menjadi beberapa kelompok agar anjing itu bingung mencarinya. Kami berdua sejalan tapi lacur bertemu dengan anak pangeran itu. Coh tayhiap, kali ini banyak membikin repot padamu."
"Kemana nonamu lari, aku perlu menemuinya,"
Kata Ping-gwan. Kedua budak itu saling berpandangan. Beberapa jenak kemudian, baru mereka berkata.
"Coh tayhiap, kami berhutang jiwa padamu. Kami percaya kau tentu tak bermaksud jelek terhadap nona. Baik-, kami akan memberitahukan. Nona pergi ke tempat kepala daerah In-ge-sau-meng yang bernama Popa ong-kong (raja suku). Dia menjadi saudara angkat dari raja kita dahulu. Dia mempunyai seorang anak perempuan yang sebaya dengan nona. Keduanya amat baik sekali seperti saudara. Ketika tanah kami diduduki bangsa Hwe-ki, Popa dan puterinya pernah sekali datang membawanya pulang. Tetapi kala itu si anak pangeran belum memaksa nona untuk menikah. Dan pemerintah Hwe-ki sedang memerlukan tenaga paman nona. Karena itu nona berat meninggalkan rumah dan terpaksa menolak. Ah, jika tahu sekrang bakal begini, itu waktu lebih baik turut Popa ong-kong saja."
"Tapi apakah ong-kong itu tak takut kepada pangeran Hwe-ki?"
Tanya Ping-gwan. Waktu kecil Ping-gwan pernah ikut ayahnya ke Su-tho. Dalam perjalanan melalui daerah In-gesau-beng juga. Samar-samar ia masih ingat tempat itu.
"Sekalipun belum mendapat berita Khik-sia, tak apalah kalau menjenguk Siau-ni dulu. Ia sungguh kasihan sekali nasibnya, mungkin aku dapat membantu memberi penjelasan dendam sakit hati yang tak keruan ini,"
Pikirnya.
Ia ambil selamat berpisah dengan kedua bujang Hong-ni dan seorang diri menuju ke barat.
In-ge-sau-meng itu terletak di sebelah barat gunung Ki-lian-san, merupakan seubah padang rumput seluas seribu li.
Setelah sebulan menempuh perjalanan akhirnya tibalah Ping-gwan di daerah itu.
In-ge-sau-meng ternyata merupakan desa penggembala yang primitif.
Rakyat penggembala itu tiada mempunyai tempat tertentu, pun rajanya (ong-kong) juga tak punya istana tertentu, melainkan perkemahan yang selalu berpindah-pindah.
Setiap perintah dibawa oleh seorang petugas berkuda.
Di daerah padang rumput itu untuk beberapa hari jarang berjumpa dengan orang.
Dan kalau berjumpa, orang itupun tak tahu di mana perkemahan kepala mereka.
Ping-gwan tak hiraukan rintangan-rintangan itu.
Dia menjelajahi padang rumput mencari Popa ong-kong.
Hari itu ketika sedang berkuda, tiba-tiba ia berpapasan dengan segerombolang penunggang kuda.
Ping-gwan hendak mencari keterangan tetapi beberapa penunggang kuda yang berada di bagian depan saling kejar-kejaran.
Dua orang penunggang kuda lari menghampiri Pinggwan.
Tiba-tiba penunggang kuda yang belakang mencambuk yang di muka.
Tetapi orang yang dicambuk itu ternyata pandai sekali berkuda.
Ia keprak kudanya lewat di sisi Ping-gwan.
Tar, cambuk mengenai Ping-gwan.
Kawan-kawannya yang berada di belakang terdiri dari pemuda dan pemudi.
Mereka tertawa riuh.
Seorang pemuda menyanyi.
"Kuda si anak laki cepat larinya, cambuk si nona keras pukulannya. Jatuh di badan sang kekasih, sakitkah hatimu? Aduh, cambukannya tak keras, tetapi kukuatir dia akan lari secepat angin."
Kini baru Ping-gwan mengetahui bahwa yang mencambuknya tadi seorang gadis cantik. Gadis itu merah mukanya.
"Ai engkoh, aku tak sengaja mencambukmu." -Kemudian berpaling mendamprat kawan-kawannya yang beryanyi tadi.
"Cis, menjemukan. Sekarang toh belum saatnya bermain Kambing-liar? Simpanlah nyanyianmu nanti malam untuk Keke."
Kawannya yang menyanyi itu tertawa.
"Kau tak suka mendengar nyanyianku, masakan aku berani menyanyikan di hadapan Pekeke?"
Thiau-yo atau Kambing liar, adalah permainan rakyat padang rumput.
Semacam permainan menunjukkan kepandaian naik kuda dan meminang gadis.
Setiap tahun baru atau malam Purnamasidhi (tanggal 15 bulan delapan) tentu diadakan permainan itu.
Pemuda dan pemudi sama naik kuda.
Yang laki di depan, yang perempuan di belakang.
Jika si pemuda kena dikejar, si gadis boleh mencambuk sesukanya.
Memang tak adil, tapi anak muda-muda itu memang lebih senang kalau dicambuki anak gadis.
Karena gadis itu tak sembarang mencambuk.
Hanya pemuda pujaan hatinya yang dicambuk.
"Oh, apakah malam itu malam perayaan Purnama-siddhi?"
Kata Ping-gwan. Sudah sebulan ia menempuh perjalanan sampai-sampai lupa sudah ia akan tanggal. Tapi ia ingat permainan Kambing-liar itu hanya dilakukan pada tahun baru dan pertengahan bulan delapan.
"Eh, engkoh ini, menilik dandananmu kau tentu bukan suku kami? Dari mana kau?"
Tanya pemuda yang menyanyi tadi.
"Aku orang Han dari selatan,"
Sahut Ping-gwan. Ia tahu bahwa rakyat In-ge-sau-meng itu ramah tamah terhadap tetamu asing.
"Oh, makanya kau tak tahu. Malam ini Papo ong-kong menyelenggarakan perayaan Kambingliar. Dia suruh anak-anak muda datang. Kabarnya ia hendak mencari menantu untuk puterinya Pekeke."
Kuatir Ping-gwan tak mengerti, salah seorang anak muda menjelaskan lagi.
"Kami menyebut puteri ong-kong dengan panggilan Keke. Namanya Yangpe, puteri tunggal dari ong-kong."
Rupanya anak perempuan yang mencambuk Ping-gwan tadi masih tak enak hati, ujarnya.
"Engkoh orang Han, sukalah menjadi tetamu kita. Dapatkah kau menyanyi lagu-lagu kami? Biarlah kuajari kau menyanyi."
Gadis-gadis padang rumput memang lebih supel dan ramah. Dia tahu kalau kawan-kawannya menertawakan, tapi tak dipedulikan. Ping-gwan tertawa.
"Malam nanti aku hanya melihat-lihat keramaian Kambing-liar saja, tak turut main. Tetapi nyanyian kalian merdu benar, jika kau suka mengajari, sungguh menggembirakan sekali."
Di dalam kawanan anak muda itu sebenarnya ada seorang yang diam-diam menaruh hati pada gadis itu.
Mendengar Ping-gwan tak mau ikut main, legalah hatinya.
Maka iapun ikut juga mengajar Ping-gwan bernyanyi.
Demikianlah perjalanan mereka amat menggembirakan sekali.
Di sepanjang jalan menyanyi riang gembira.
Menjelang petang, bulanpun mulai memancarkan cahyanya.
Ping-gwan mengikuti rombongan anak-anak muda itu masuk ke dalam sebuah lembah.
Lembah itu penuh direntangi rumput halus dan ditaburi dengan bunga-bunga terompet warna putih.
Selayang pandang, bagaikan permadani yang bertaburan mutiara.
Dekat gunung sana, terdapat rumput penuh dengan pemuda pemudi yang berkuda.
Malah ada sementara yang memetik alat tetabuhan, menyanyi dan menari-nari.
"Kita datang tepat waktunya. Terlambat sedikit saja tentu tak keburu nonton pertunjukan gumul,"
Kata gadis yang mencambuk Ping-gwan tadi.
Tari -nyanyian-nyanyian, gumul dan thian-yo, adalah acara pokok dalam keramaian Purnamasiddhi itu.
Setelah mengikat kudanya, Ping-gwan ikut kawanan anak muda itu memasuki lingkungan keramaian.
Nona tadi membisiki.
"Tuh, lihatlah, cantik tidak Yangpe keke kami? Tuh, di sana. Ya, benar, memang itu. Orang tua itu adalah ong-kong suku kami."
Di depan kemah yang di tengah-tengah, duduk Papo ong-kong dan puterinya.
Waktu Ping-gwan memandang dengan seksama, dilihatnya puteri itu mengenakan selendang tipis dan berpakaian warna putih.
Kecantikannya sungguh sukar dicari tandingannya.
"Engkoh orang Han, kau terpesona dengan keke kami? Tapi sayang, keke kami tak dapat menikah dengan orang Han,"
Kata nona tadi demi melihat Ping-gwan terpikat.
Padahal Ping-gwan hanya mencari-cari U-bun Hong-ni.
Di antara beberapa dayang yang mengelilingi Yangpe, pun tak terdapat U-bun Hong-ni.
oooooOOOOOooooo Ping-gwan putus asa, pikirnya.
"Jika Siau-ni berada di sini, tentu bersama puteri itu. Mengapa ia tak kelihatan, apakah sudah pergi ke lain tempat?"
"Jangan melamun, mari kita cari makanan,"
Nona itu tertawa.
Kiranya dalam keramaian itu selain ketiga acara pokok tadi, pun merupakan pesta ria.
Di pohon-pohon digantungkan kambing-kambing kecil yang sudah dibakar dan kantong-kantong kulit berisi arak.
Siapa saja boleh makan dan minum.
Ping-gwan mencabut golok dan menirukan si nona mengiris daging kambing.
Si nona mengambil kantong kulit, meminum seteguk lalu diberikan kepada Ping-gwan.
"Arak ini agak masam, apakah kau suka minum?"
Ping-gwan meneguk beberapa kali dan memuji enak.
Tiba-tiba ia mendengar orang mendengus lirih.
Ping-gwan tersirap, ia tak asing dengan nada suara itu.
Buru-buru ia mendongak dan memandang ke empat penjuru.
Karena kantong kulit tak disongsongkan ke atas, maka tumpahlah araknya.
Buru-buru nona tadi mencekal kantong kulit, tegurnya.
"Kau bagaimana, kehilangan semangat?"
"Aku, aku hendak melihat-lihat kesana,"
Sahut Ping-gwan. Kiranya yang didengarnya tadi ialah nada suara U-bun Hong-ni. Tetapi anehnya ia tak melihat orangnya.
"Mau lihat apa? Jangan kemana-mana, pertandingan gumul akan segera dimulai!"
Kata nona itu.
Memang suara mudik di lapangan berhenti.
Sekawanan anak muda maju ke tengah lapangan.
Pertandingan gumul dimulai, semua hadirin sama menaruh perhatian.
Terpaksa Ping-gwan sungkan untuk pergi.
"Pertandingan gumul nanti direncanakan dalam delapan pasangan. Semua jago-jago pilihan dari suku kami. Orang menduga mungkin ong-kong akan memilih sang juara untuk menjadi menantunya,"
Kata si nona.
Pertandingan dimulai.
Cengkam mencangkam, banting membanting, sodok menyodik berlangsung ramai.
Cara bergumul berjalan dalam gaya bebas.
Namun Ping-gwan tak ada minat menontonnya.
Di tempat tambatan kuda, datang sekawan kuda terdiri dari empat orang.
Orang-orang tak mempedulikan siapa-siapa yang datang itu karena perhatian mereka tengah dicurahkan pada jalannya pertandingan.
Pertandingan berlangsung cepat.
Pada saat keempat penunggang kuda itu datang, hanya tinggal dua pasang yang bertanding.
Sebaliknya Ping-gwan terperanjat sekali melihat pendatang baru-baru itu.
Kiranya keempat pendatang itu adalah si pangeran Topayan, pengawalnya Ih-sin, seorang pemuda yang lebih muda dari Topayan dan seorang lelaki yang sebaya dan serupa dandanannya dengan Ih-sin.
Pemuda itu sikapnya angkuh.
Dia berjalan di sebelah muka bersama Topayan, sedang Ih-sin dan orang itu menggiring di belakangnya.
"Apakah dia juga mendengar berita dan hendak menawan Hong-ni? Biarlah, lihat saja bagaimana tindakannya nanti,"
Ping-gwan menimang dalam hati.
Kedatangan Topayan berempat itu tak mengejutkan para hadirin.
Setelah menambatkan kuda merekapun menggabung dalam kalangan penonton.
Saat itu pertandingan sudah mencapai final.
Dua jago pemenang sedang bergulat seru.
Mereka saling mencengkau dan menjegal.
Yang seorang bernama Pasan yang satu Luse.
Waktu Pasan berhasil memelintir lengan lawan, Lusepun dapat mengait kaki Pasan hingga tubuhnya menjorok ke muka.
Dengan begitu merek terpencar lagi.
Beberapa jurus, pertandingan tetap seri.
Penonton memberi tepuk sorak pujian.
Entah bagaimana tahu-tahu Luse dapat menyengkelit tubuh Pasan terus dibanting ke tanah.
Gerakannya mengagumkan, bantingannya menyakinkan.
Sorak-sorai penonton memecah angkasa.
Selagi penonton menyangka kemenangan tentu di pihak Luse, tiba-tiba terjadi adegan yang luar biasa.
Ketika kepala Pasan hampir mengenai tanah, secepat kilat kepalanya menyusup ke selakang dan mencekal kaki lawan.
Dengan sebuah gemboran keras, Pasan meronta sekuat-kuatnya dan tahu-tahu Luse dijumpalitkan ke atas.
Luse tak mampu berkutik lagi dan terpaksa mengaku kalah.
"Kejadian itu membuat penonton melongo. Lain kejab terdengar sorak gegap gempita.
"Bagus, bagus, akupun juga ingin turut ramai-ramai ini,"
Sekonyong-konyong sebuah seruan melengking nyaring.
Semua mata tertuju pada orang itu.
Kiranya yang bersuara itu ialah pemuda kawan Topayan tadi.
Ketiga kawannya mengikuti di belakangnya.
Melihat pendatang itu, seketika berubahlah wajah Papo.
Tersipu-sipu ia berdiri menyambut.
Tengah para penonton tercengang-cengang, Papo berseru.
"Pangeran Topahiong berkenan datang. Maaf, hamba terlambat menyambut."
Kiranya pemuda itu adik dari putera mahkota hwe-ki.
Namanya Topahiong.
Ayah Topayan adalah pernah pamannya.
Topahiong lebih muda dua tahun dari Topayan tapi kedudukannya lebih tinggi.
Maka dialah yang mempelopori maju menemui Papo ong-kong.
Walaupun daerah In-ge-sau-meng itu tak diduduki pasukan kuda Hwe-ki, tapi pernah diobrakabrik.
Maka walaupun para rakyat In-ge-sau-meng menghormat kedatangan anak raja itu, tetapi dalam hati mereka tak senang.
Diam-diam Papo ong-kong cemas.
"Malam ini malam keramaian Purnama-siddi. Kudengar kau mengadakan keramaian Kambingliar, maka aku sengaja datang kemari. Jago-jagomu tadi hebat benar sampai aku tertarik untuk bermain-main dengannya,"
Kata Topahiong. Jawab Popa ong-kong.
"Ini, mungkin kurang baik. Keselamatan ongcu amat berharga, kalau sampai ...."
Topahiong terbahak-bahak.
"Jangan kuatir, ong-kong. Malah aku yang kuatir dia tak mampu membanting aku. Jika dia dapat membanting aku satu kali saja, akan kuhadiahinya seratus tail emas!"
Habis berkata ia menghampiri ke muka Yangpe keke, memberi hormat.
"Telah lama kudengar kecantikan keke laksana bidadari. Setelah menyaksikan sendiri, benar-benar memang melebihi bidadari. Apabila aku beruntung menang, harap kau sudi memberi hadiah padaku."
Para penonton marah melihat tingkah laku pangeran yang kurang ajar itu.
"Nanti kalau ongcu menang, kita bicara lagi,"
Sahut Yangpe.
"Bagus, bagus, bagus! Kalau begitu segera dimulai saja, ayo kemarilah!"
Pangeran Hwe-ki itu melagak tertawa.
"Biar dimarahi ong-kong, tapi aku takkan membiarkan bedebah Hwe-ki ini menghina pepe kami,"
Diam-diam Pasan membulatkan tekad. Lalu berkata.
"Ongcu adalah tetamu yang terhormat, silahkan!"
Pasan mengira pangeran itu tentu mudah dibanting.
Tapi di luar dugaan ternyata lihay sekali.
Pangeran itu maju menyambar siku tangan orang.
Jika kena, lengan Pasan tentu akan patah tulangnya.
Pasan pentang kedua tangannya untuk mengacip lengan pangeran itu licin seperti diminyaki.
Gebrak pertama tiada yang berhasil.
Tapi diam-diam Pasan terperanjat.
Begitulah keduanya segera mulai bergumul lagi.
Ada kalanya merapat, ada kalanya terpencar.
Belasan jurus, pun keduanya masih sama kuatnya.
Beberapa kali tampaknya Pasan menang angin, tapi dalam detik-detik yang berbahaya Topahiong selalu dapat memecahkan ancaman lawan.
Para penonton terheran-heran dan gelisah.
Pasan sendiripun bingung memikirkan.
Hanya Ping-gwan yang tahu rahasianya.
Kiranya pangeran Hwe-ki itu memiliki ilmu silat tinggi.
Pada saat menangkis serangan Pasan, Topahiong selalu gunakan lwekang melekat untuk menghapus tenaga orang dan diselingi juga dengan ilmu Kin-na-chiu (menangkap).
Tapi pangeran itu juga mahir dalam ilmu gumul.
Orang yang tak mengeri ilmu silat, tentu takkan mengetahui rahasia kelihayan Topahiong.
Diam-diam Ping-gwan menilai.
Dalam ilmu gumul terang pangeran itu tak menang dengan Pasan.
Tapi ilmu silatnya lebih tinggi.
Jika bertanding terus, Pasanlah yang akan kalah.
Tapi pangeran itu menjadi tetamu agung dari Popa ong-kong, kalau ia (Ping-gwan) sampai menyalahinya, Popa ong-kong tentu mendapat kesukaran.
Tiba-tiba Pasan mengeluarkan ilmu simpanannya.
Ia turunkan tubuhnya menunggu si pangeran menyerang terus hendak disambar tumit kakinya.
Tetapi ternyata kaki Topahiong itu seperti tumbuh akarnya.
Pasan menindih sekuat-kuatnya tetap tak dapat menggoyangkan tubuh si pangeran.
Tibatiba Topahiong balikkan tangan menyambar lengan lawan.
Dengan gunakan ilmu Hun-kin-jo-kut (memelintir tulang), ia berhasil mematahkan sebuah tulang tangan Pasan.
Pasan menjerit ngeri.
Tahu-tahu tubuhnya diangkat Topahiong terus dibanting.....
Suku In-ge-sau-meng sama terbeliak dan buru-buru lari menolong Pasan.
Mata jago itu merah, mulutnya mengeluh.
"Dia, dia tidak...." -Sebenarnya ia hendak mengatakan kalau Topahiong tidak menurut peraturan gumul. Tapi karena tak kuat, ia sudah pingsan. Orang-orang segera menggotongkan ke dalam kemah. Beberapa jago gumul merasa curiga tapi karena Topahiong tadi membanting dengan gaya gumul apalagi dia seorang pangeran Hwe-ki, maka merekapun tak berani membuka suara. Dengan kebanggaan, Topahiong menghadap ke muka Yangpe, ujarnya.
"Keke, aku berhasil menang. Sekarang hendak minta hadiah darimu."
Pangeran itu ulurkan tangan terus hendak menarik Yangpe.
"Ongcu, berlakulah sopan sedikit!"
Wajah Yangpe mengerut keren. Topahiong cekikikan.
"Keke, aku hanya akan minta kepadamu untuk menari dengan aku. Menurut peraturan kami, sehabis menang bergumul, siapa yang diminta menari dengannya, tidak boleh menolak. Bukankah adat rakyatmu juga begitu?"
Sekonyong-konyong Ping-gwan berbangkit, berjalan ke muka. Si nona yang pernah mencambuknya tersentak kaget.
"Hai, mau apa kau?"
Tetapi sudah kasip.
Ping-gwan sudah tiba di hadapan Yangpe keke dan memberi hormat menurut adat rakyat In-ge-sau-meng.
Puteri itu dongakkan kepala.
Ping-gwan mengira tentu akan terkejut.
Siapa tahu Yangpe tenang sekali wajahnya malah mengulum senyum dan berkata.
"Kau seorang Han? Apa keperluanmu?"
"Aku akan mohon tanya kepadamu, keke. Apakah aku juga diperbolehkan ikut dalam pertandigan gumul?"
"Siapa kau? Apakah seorang katak busuk seperti kau juga ingin makan daging angsa?"
Bentak Topahiong serta terus menjotos punggung Ping-gwan.
Ping-gwan melangkah maju selangkah hingga tinju Topahiong menemui angin.
Hampir saja pangeran itu terjorok ke muka.
Ping-gwan gunakan gerak langkah Su-giong-poh-hwat (langkah empat gajah) untuk menghindari.
Topahiong belum menyadari kalau pemuda itu berilmu tinggi, ia kira hanya secara kebetulan saja.
Setelah berdiri jejak, pangeran itu berputar tubuh hendak mnyerang lagi tapi Yangpe berkata dengan serius.
"Yang datang padaku, baik kaya atau hina, semua adalah tetamuku. Aku menghendaki para tetamuku sama-sama memegang peraturan, sama-sama menikmati kegembiraan pesta malam ini."
Merah wajah Topahiong. Terpaksa ia telan kemarahannya. Yangpe berpaling dan berkata dengan nada riang kepada Ping-gwan.
"Apakah kau juga mengerti bergumul? Kau ingin bertanding dengan ongcu?"
Ping-gwan mengiakan.
"Benar, jika keke mengijinkan, aku ingin menyumbangkan tenagaku, harap keke jangan menertawakan. Aku tak meminta hadiah apa, apa, juga takkan meminta keke supaya menari dengan aku. Jika beruntung menang, aku hanya ingin bicara beberapa patah perkataan dengan keke."
"Kalian adalah tetamuku yang terhormat. Ongcu boleh ikut ambil bagian dalam pertandingan gumul, kaupun boleh juga. Siapa yang menang nanti, aku bersedia meluluskan permintaannya. Tapi entah apakah ongcu sudi bertanding dengan kau atau tidak? Jika ongcu tak mau, hal ini kuanggap tidak ada semua."
Topahiong tersengsem dengan kecantikan Yangpe.
Sudah tentu dia tak mau melepaskan kesempatan untuk menari bersama si cantik itu.
Dia benci benar kepada Ping-gwan.
Ingin sekali ia menghajarnya.
Maka ia segera menerima.
"Baik, kau budak yang tak tahu diri, mari!"
Tetapi Topayan yang kenal pada Ping-gwan, buru-buru meneriaki.
"Bagus, kau juga menyelundup kemari budak! Aku justeru hendak membikin perhitungan padamu."
"Bagus, kalau begitu kalian berdua boleh maju bareng!"
Sahut Ping-gwan.
"Kau berani menghina aku? A-yan, menyingkirlah. Carilah pacarmu sana, jangan mengganggu aku,"
Topahiong berseru murka.
Begitu Topayan menyingkir, Topahiong segera mengerjakan Ping-gwan dengan sebuah kaitan tangan dan sodokan siku.
Ping-gwan gunakan lwekang menghapus.
Sebuah dorongan tangan untuk membuyarkan kaitan lawan dan lututnya diangkat untuk menumbuk perut orang.
Baca Juga: Rahasia Kampung Setan 4
Baca Juga: Tiga Dara Pendekar 7