Tiga Dara Pendekar 7

Eps 7 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen

Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen

Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.

Bentuk 'Hwe-goan-kau' seperti mistar hitung yang melengkung, kedua pisau yang Kam Hong-ti timpukkan dengan tepat memang mengenai senjata rahasia lawan ini, tetapi aneh sekali, dengan menerbitkan suara mengaung keras karena terbentur oleh pisau terbang, mendadak senjata itu memutar balik dan menyerang dari samping.

Keruan kejadian luar biasa ini membikin Kam Hong-ti terkejut, ia lihat senjata itu menuju arah timur, dengan sendirinya ia menyingkir ke sebelah barat, tak terduga 'Hwe-goan-kau' Han Tiong-san memang aneh sekali, sekonyong-konyong benda ini bisa berputar di udara, habis itu secepat kilat menyambar ke kepala Kam Hong-ti, kaitan yang tajam mengkilap segera hendak menggantol leher Kam Hong-ti, karena tidak keburu lagi, Kam Hong-ti mengulur tangan menyambut senjata rahasia itu hingga kaitan tajam ini menggantol di tengah telapak tangannya, dengan menggunakan Lwekang-nya yang sudah sempurna, Kam Hong-ti membikin telapak tangannya mendekuk dan dagingnya tertarik kencang, karena itu kaitan tajam ini meski menggantol telapak tangan, namun seperti menancap di atas tumpukan kapas yang empuk saja dan tidak melukainya.

Habis itu Kam Hong-ti mengepal tangan, ia genggam kaitan 'Hwe-goan-kau' dengan kuat hingga kaitan ini patah menjadi dua keping.

Senjata rahasia kaitan itu adalah senjata rahasia yang khas dari Han Tiong-san yang sudah terkenal, tetapi kini ternyata kena dirampas oleh Kam Hong-ti, sudah tentu Han Tiong-san makin menjadi murka dan terperanjat juga.

Menyusul segera ia melompat keluar kamar, kedua tangan berbareng dipukulkan pula, tetapi dengan berkelit dan membalik, kembali Kam Hong-ti gunakan satu tipu, dengan kedua jarinya ia menggunting ke tengah antara jari jempol dan telunjuk lawan, namun Han Tiong-san keburu menarik tangan terus menyikut.

Serang menyerang itu silih berganti, akhirnya mereka melompat turun ke pelataran rumah pondokan itu untuk mengukur tenaga lebih jauh.

Sesampainya di pelataran, Han Tiong-san sempat mengeluarkan gamannya yang istimewa 'Pi-hun-tuh', pecut penyingkap awan, pacul kecil ini biasanya digunakan Han Tiong-san untuk menggali tumbuhan obat, meski panjangnya hanya dua kaki, namun terbuat dari emas murni, oleh karena itu sewaktu paculnya dihantamkan, di antara angin keras membawa pula sinar mengkilap, apalagi di malam gelap, daya serangannya menjadi lebih hebat.

Sudah tentu Kam Hong-ti tidak gentar, ia mainkan ilmu pukulan yang hebat, tiap pukulannya membawa sambaran angin yang menderu.

Tengah mereka bertempur dengan sengit, tiba-tiba terdengar Han Tiong-san bersuit aneh, menyusul dari kamar sebelah barat kembali melompat keluar seorang, saat itu Kam Hong-ti sedang menyerang dengan tipu 'Gua-poh-cin-cio' (melangkah maju memberi pukulan), dengan tangan kiri ia menyanggah pacul lawan, sedang telapak tangan kanan menyodok hulu hati musuh, ketika mendadak ikut menerjang maju, segera orang itupun menghantam untuk mematahkan tenaga serangan Kam Hong-ti, sedang Han Tiong-san yang paculnya sudah kena dihantam ke bawah, dengan cepat ditarik kembali.

Waktu Kam Hong-ti perhatikan, orang yang menerjang datang ini ternyata adalah tokoh kenamaan Hing-ih-pay, tua tetapi licik, ialah Tang Ki-joan.

Karena itu, mau tak mau Kam Hong-ti mengeluh juga, dengan Han Tiong-san seorang saja sukar dilayani, apalagi ditambah pula seorang lawan tangguh.

"Tang-heng, hendaklah kau cegat jalan larinya, jangan sampai dia berhasil lolos,"

Seru Han Tiong-san kepada kawannya itu.

Han Tiong-san tergolong angkatan tinggi, dengan perkataannya itu ia maksudkan tidak ingin main keroyok, sudah tentu Tang Ki-joan paham akan maksudnya, dengan tersenyum ia mundur kembali, tetapi tangannya sudah menggenggam tiga buah 'Tau-kut-ting', paku penembus tulang, dengan mata tak berkesip ia mengawasi kalangan pertarungan.

Karena pertarungan sengit antara Kam Hong-ti kontra Han Tiong-san ini, semua tetamu yang menginap di rumah pondok sama mendusin terkejut, mereka melongok keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Sementara itu Pek Thay-koan pun sudah siapkan diri.

"Kau jaga baik-baik Ki-lopek, jangan sembarang bergerak dan meninggalkan dia,"

Pesannya pada Hi Yang yang tinggal di kamar sebelah. Habis itu ia pun berlari keluar dengan maksud membantu Kam Hong-ti.

"Ha, Pek Thay-koan! Kiranya kau ada di sini juga! Bapak mertuamu sedang marah padamu!"

Kata Tang Ki-joan dengan gelak tertawa begitu nampak munculnya Pek Thay-koan.

"Ngaco-belo!"

Sahut Pek Thay-koan dengan gusar.

Namun Tang Ki-joan sudah mendahului, dengan sekali ayun tangan, tiga buah paku penembus tulang yang sudah disiapkan tadi disebarkan, tiap paku itu mengarah Hiat-to di tubuh Pek Thay-koan.

Tetapi semua ini hanya permainan enteng bagi Pek Thay-koan, goloknya menyampuk jatuh 'Tau-kut-ting' pertama yang sampai di atas kepalanya, menyusul ia angkat tangan kirinya, ia jepit paku kedua dengan jari terus disentil ke atas, karena itu paku ketiga kena dibentur hingga terjatuh.

Ilmu silat Pek Thay-koan di antara sesama saudara seperguruannya sebenarnya hanya terhitung nomor empat, tapi kepandaian dalam hal Am-gi atau senjata rahasia sebaliknya terhitung nomor satu atau dua, oleh sebab itu, dengan sendirinya kepandaiannya menyambut senjata rahasia musuh juga lihai.

Sudah tentu hal ini tidak diketahui Tang Ki-joan, dalam hati ia membatin.

"Mengapa Pek Thay-koan begini lihai?"

Maka ia tak berani berlaku ayal, kedua telapak tangannya bergerak berbareng, satu mendorong dan yang lain menarik, ia keluarkan tipu serangan hebat dari Hing-ih-pay.

Ketika Pek Thay-koan palangkan goloknya dan membabat, dengan cepat Tang Ki-joan baliki tangannya, begitu cepat dengan membawa angin keras, kembali ia memotong ke bawah lambung kanan Pek Thay-koan.

Meski Pek Thay-koan coba membalas dengan dua kali serangan senjata, namun tiap kali hanya mengenai tempat kosong, bahkan berbalik ia sendiri harus mengegos ke sini dan berkelit ke sana untuk menghindarkan rangsekan lawan.

Nampak Suhengnya terdesak, Kam Hong-ti rada kuatir, karena sedikit meleng, hampir saja ia kena dilukai oleh pacul Han Tiong-san.

Sementara Tang Ki-joan masih menggerakkan tangannya secepat angin, di samping menyerang ia bermaksud merebut senjata Pek Thay-koan.

Namun Pek Thay-koan tidak unjuk kelemahan, dengan gerakan 'Boan-liong-jiau-poh' (ular naga melingkar memutar langkah), ia berputar berikut goloknya, lalu mendadak dengan tipu 'Gan-lok-ping-soa' (burung belibis hinggap di pesisir), ia balas menyerang, dari kececar ia hendak perbaiki kedudukannya.

Tak terduga Ciang-hoat (ilmu pukulan) Tang Ki-joan benar-benar hebat dan pantas menjadi tokoh Hing-ih-kun, sekonyong-konyong ia menggerakkan kedua tangannya, telapak tangan kiri me-nyampuk senjata orang, sedang telapak tangan kanan terus menekan ke bawah sembari menggertak.

"Kena!"

Seketika tertampak Pek Thay-koan roboh, girang sekali Tang Ki-joan, segera ia hendak memburu maju, tapi baru saja melangkah, tiba-tiba Pek Thay-koan ayun tangannya dan membentak.

"Kalau menerima tanpa memberi itu kurang hormat! Awas jarum!"

Menyusul terpancar sinar perak gemilapan menyilaukan dan menerbitkan suara bercicit yang ramai.

Keruan Tang Ki-joan terkejut, lekas ia meloncat tinggi lebih setombak, ia kibaskan lengan bajunya dengan cepat, meski berhasil menyapu bersih Bwe-hoa-ciam yang dihamburkan Pek Thay-koan, namun tidak urung ia kerepotan juga hingga kalang-kabut.

Bwe-hoa-ciam atau jarum berekor bentuk bunga sakura yang dilatih Pek Thay-koan sebenarnya spesial disediakan untuk melayani Liau-in, jarum ini luar biasa lihainya.

Tatkala pemuda ini ada di Thian-hing-to tahun lalu, pernah ia unjuk kemahirannya ini.

Kepandaian Tang Ki-joan masih belum memadai Liau-in, maka terhadap senjata rahasia yang lembut ini, mau tak mau ia merasa jeri.

Karena itu ia harus berlaku lebih sigap, begitu ia tancapkan kaki ke bawah, segera ia merangsek pula, pukulannya saling susul, gerak tubuhnya pun banyak berubah, hanya tertampak tubuhnya melayang kian kemari seperti berputar mengitari Pek Thay-koan dengan cepat, ia sengaja membikin repot Pek Thay-koan, menghadapi serangannya ini tak sempat ia mengambil senjata rahasia lagi.

Cara pertempuran berputar ini sebenarnya hanya digunakan orang yang berkepandaian tinggi melawan musuh yang lebih lemah dan sudah jelas berada di pihak menang.

Beruntung dalam hal ini meski Pek Thay-koan rada lemah dari lawannya, namun selisihnya tidak terlalu banyak, maka waktu ia diserang dengan cepat, berbalik ia memakai siasat meladeni secara tenang dan lambat, dengan demikian ia masih sanggup paksakan diri menahannya.

Setelah berjalan tak lama, pukulan Tang Ki-joan makin lama makin kencang dan menyambar secepat angin, sekalipun Pek Thay-koan melayaninya dengan tidak kalah tangkasnya dengan golok yang bersinar gemerdep, namun tetap tak mampu menyenggol tubuh musuh, terpaksa ia hanya bisa menjaga rapat dirinya, sungguhpun demikian, masih tetap ia rasakan pukulan orang sambar-menyambar di mukanya.

Di pihak lain, kekuatan Kam Hong-ti dan Han Tiong-san ternyata seimbang dan setanding, sebenarnya Kam Hong-ti tak mungkin dikalahkan, tapi di samping ia harus menguatirkan keselamatan Pek Thay-koan, betapapun hal ini mempengaruhi juga, maka Han Tiong-san segera unjuk permainan paculnya yang meliputi 108 jurus dengan perubahan yang susah diraba sebelumnya, ketika nampak Kam Hong-ti rada lemas segera ia perkencang serangannya dengan tipu yang mematikan.

Dalam keadaan terdesak dan genting, sekonyong-konyong terdengar Kam Hong-ti bersiul panjang, mendadak ia balas menyerang dengan sebelah telapak tangannya, ia bikin pacul lawan tergoncang pergi, habis itu ia terus melayang pergi sejauh lebih setombak.

"Awas piau!"

Tiba-tiba ia membentak.

Dengan sendirinya Han Tiong-san siapkan paculnya untuk menanti serangan lawan.

Sementara itu Kam Hong-ti sudah melepaskan tiga buah anak panah yang bersuara, yang satu bersuara panjang dan yang dua pendek, begitu keras suara aungan anak panah yang menjulang ke angkasa ini hingga memekak telinga.

Han Tiong-san menjadi heran, ia sudah siap menghadapi serangan senjata rahasia orang, ternyata anak panah yang dilepas Kam Hong-ti tidak diarahkan padanya melainkan ke udara.

"Permainan apakah itu?"

Bentaknya, mengira senjata rahasia orang mungkin punya keajaiban juga, maka ia siapkan pacul untuk menghadapi segala kemungkinan, sedikitpun tidak berani gega-bah.

Justru keadaan demikian ini yang diharapkan Kam Hong-ti, tidak disia-siakan lagi kesempatan ini, segera ia menubruk ke arah Tang Ki-joan secara mendadak, dengan tipu pukulan 'Kim-liong-tam-jiau' (naga emas mengulur cakar) ia menggebuk dengan keras punggung Tang Ki-joan.

Mengerti dirinya diserang dari belakang, Tang Ki-joan membalik tangan buat menangkis, tetapi mana ia sanggup menandingi tenaga raksasa Kam Hong-ti yang hebat, ia kena didorong pergi sejauh lebih setombak dan hampir saja jatuh terjerembab.

Han Tiong-san menjadi gusar nampak kawannya kecundang, ia melompat maju, begitu mengayun pacul, segera ia mengadang di depan Kam Hong-ti.

Dalam pada itu Tang Ki-joan yang telah merasakan gabrukan tangan Kam Hong-ti, semula masih belum merasakan apa-apa, tapi kemudian lantas merasa miang tubuhnya rada sakit.

Di antara saudara seperguruan, Kam Hong-ti punya Lwekang hanya di bawah Liau-in, yang digunakan tadi adalah tenaga tersembunyi, sekalipun jagoan seperti Tang Ki-joan, setelah merasakan pukulannya, tidak urung banyak berkurang juga ketangkasannya, waktu bertempur melawan Pek Thay-koan, gerak tubuhnya menjadi tidak segesit tadi.

Dengan demikian, meski Pek Thay-koan masih tetap berada di bawah angin, namun sudah tidak terlalu payah lagi seperti tadi.

Pertarungan sengit ini berlangsung hingga satu jam, karena itu semua tetamu dalam rumah penginapan bangun terkejut semua, ada yang sedikit bernyali besar, mereka coba melongok keluar melalui jendela.

Begitu pula Thauke rumah penginapan itu menjadi kuatir dan kelabakan, tapi tak berani memisahkan perkelahian itu.

"Lekas lapor polisi saja!"

Terdengar entah tetamu mana yang berteriak.

Mendengar seruan itu, diam-diam Kam Hong-ti mengeluh, segera ia kirim beberapa kali serangan, menyerang untuk mundur.

Rupanya Han Tiong-san dapat menerka maksudnya.

"Huh, masih ingin '.ari?"

Ia mengejek.

Menyusul Pi-hun-tuh berputar dan menyambar dengan cepat, ia tidak memberi kesempatan pada lawan buat kabur.

Di sebelah sana walaupun Pek Thay-koan masih dapat menahan lawannya, tapi ia pun tak bisa lolos dari tekanan pukulan Tang Ki-joan.

Kembali pada Lu Si-nio, tatkala nona ini mendengar suara mengaungnya panah pertandaan dari saudara perguruannya di bukit Kat-nia, segera ia kembali dengan cepat.

Rumah penginapan yang mereka tinggali terletak di kaki gunung, membelakangi bukit dan menghadap telaga, ketika Lu Si-nio sampai di tepi telaga, tiba-tiba dilihatnya dari depan datang seorang penunggang kuda secepat terbang, melihat jurusannya rupanya hendak menuju ke kota.

Lu Si-nio tergerak pikirannya nampak orang begitu cepat melarikan kudanya, mendadak ia meloncat ke atas pada waktu berpapasan dengan penunggang kuda itu, sekali jambret ia seret orang itu, saking kagetnya kuda itu meringkik terus lari ke pinggir jalan.

"Siapa kau?"

Tanya Lu Si-nio membentak.

"Eh, bukankah tuan ini Li-siangkong yang.tinggal di kamar depan rumah penginapan kami?"

Tiba-tiba orang itu berseru. Baru sekarang Lu Si-nio mengenali bahwa orang ini adalah tukang kuda penginapan dimana mereka menginap itu.

"Di penginapan kedatangan perampok dan sedang bertempur dengan kawan tuan di sana, lekas tuan tamu lepaskan aku!"

Pinta tukang kuda itu sambil menutur, rupanya ia cukup tabah juga.

"Baiklah, kau pergi melapor yang berwajib, aku segera pulang bantu menangkap perampok,"

Ujar Lu Si-nio sambil melepas orang.

Dalam pada itu diam-diam Lu Si-nio menjemput sebiji batu krikil dan menimpuk kaki kuda tunggangan orang sehingga pincang, kuda itu meringkik kesakitan, lalu berlari tidak jauh ke depan, di sana ia berhenti menanti tuannya.

Sudah tentu tukang kuda tidak jelas akan Lu Si-nio, apa orang baik atau orang jahat, tapi melihat orang mau melepaskan dirinya, tanpa pamit lagi segera ia kabur pergi dengan mencemplak kudanya.

Sementara Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan sedang terdesak dengan hebat dan kepayahan, lebih-lebih kedudukan Pek Thay-koan yang sangat membahayakan karena Tang Ki-joan telah merangsek terus-menerus.

"Pat-moay!"

Tiba-tiba Pek Thay-koan berseru kegirangan.

"Meski kau panggil ibu juga percuma!"

Ejek Tang Ki-joan.

Namun belum habis perkataannya, tiba-tiba tertampak berke-lebatnya sinar putih, kiranya Lu Si-nio secepat angin telah menubruk tiba.

Keruan Tang Ki-joan sangat terkejut, ia mengegos dan sebelah tangannya terus memukul ke pundak lawan, namun Lu Si-nio cukup sigap, dengan gerak tipu 'Sin-liong-tiau-siu' (naga sakti putar kepala), sekonyong-konyong pedangnya berputar balik, sekalipun Tang Ki-joan cukup sebat berkelit, namun tidak urung lengan bajunya terkupas sebagian.

"Angin kencang, tarik lekas!"

Tang Ki-joan berteriak dalam bahasa Kangouw, maksudnya berseru pada kawannya agar lekas lari karena berbahaya.

Di pihak sana, mendadak Han Tiong-san membungkuk tubuh, dari punggungnya mendadak menyambar keluar sebuah anak panah berapi, salah satu senjata rahasia penolong di waktu ia terancam bahaya, serangan ini oleh Lu Si-nio telah ditangkis dengan pedang, akan tetapi mendadak anak panah ini meledak dengan menerbitkan suara keras, Lu Si-nio kaget dan lekas melompat ke samping, syukur ia tidak terbakar.

Ketika nampak yang datang ialah Lu Si-nio, mana Han Tiong-san berani bertempur lebih lama lagi, lekas ia melayang ke atap rumah terus kabur bersama Tang Ki-joan.

"Kita tak dapat tinggal lagi di sini,"

Ujar Kam Hong-ti setelah keadaan reda. Dengan cepat segera ia pergi mencari si Thauke penginapan, katanya pada pemilik rumah penginapan.

"Terus terang kami adalah orang Pang-hwe (perkumpulan) yang bertemu musuh di sini, kami tidak ingin merembet dirimu, maka lekas kau bikin perhitungan biaya penginapan kami, sekarang juga kami akan segera berangkat."

Perkelahian orang Pang-hwe pada zaman itu adalah soal biasa, tetapi pemilik penginapan itu menjadi ketakutan hingga mukanya pucat, mana berani ia terima pembayaran lagi, namun Kam Hong-ti juga tidak ingin makan dan menginap gratis, ia tinggalkan sepuluh tahil perak baru berangkat.

Sementara itu Hi Yang sedang menanti di dalam kamar dengan tak sabar, ia mendengar suara pertarungan seru di luar yang ramai, tapi tak berani secara gegabah membuka jendela dan melongok keluar, kemudian ketika suara ribut lenyap dan sunyi, tidak lama pula Pek Thay-koan bertiga pun sudah kembali "Ada apakah?

Siapa yang dipergoki Kam-tayhiap?"

Tanya Hi Yang.

"Sudahlah tak usah tanya lagi, lekas bebenah, sekarang juga kita harus berangkat!"

Sahut Pek Thay-koan.

"Ki-lopek!"

Terdengar Kam Hong-ti memanggil. Tertampak Ki Teng-hong membalik di tempat tidur dan mendadak bangkit duduk.

"Ki-lopek, baik-baikkah kau?"

Dengan girang Lu Si-nio berseru juga.

"Sungguh ganas sekali pukulan anak perempuan itu, syukur aku mendapat pertolongan kalian berdua,"

Sahut Ki Teng-hong.

"Go-ko, harap kau yang menggendong Ki-lopek, biar aku dan Pat-moay mengawal di belakang,"

Kata Kam Hong-ti mulai mengatur dengan cepat.

?> "Para murid 'Siu-jiang-su-ih' adalah pemuda yang berjiwa patriot dan cinta tanah air, kalau Kam-tayhiap belum ada tempat yang cocok, tiada halangannya menyingkir ke sana buat sementara,"

Kata si orang tua she Ki.

"Itulah baik sekali!"

Sahut Kam Hong-ti. Namun Lu Si-nio merencanakan pekerjaan lain.

"Chit-ko,"

Katanya.

"aku akan mengunjungi gubernuran sekali lagi."

"Buat apa kau ke sana?"

Tanya Pek Thay-koan.

"Orang penginapan telah melaporkan peristiwa tadi, bila Liau-in mengetahui kita berada di sini, dengan sendirinya ia akan datang ke sini juga,"

Lu Si-nio menerangkan.

"Tahulah aku akan tujuan Pat-moay,"

Ujar Kam Hong-ti tertawa.

"itu namanya tipu 'memancing harimau meninggalkan gunung'. Bila Liau-in kemari hendak menangkap kita, maka kita sebaliknya pergi menolong Loh-suheng."

"Lu-cici, akal ini memang bagus, tetapi kau sudah terlalu letih semalaman, kau harus mengaso dahulu,"

Ujar Hi Yang.

"Tak perlu,"

Sahut Lu Si-nio tertawa.

Setelah mengisi perut dengan sedikit makanan kering dan minum secangkir air, maka berangkatlah Lu Si-nio, ia keluarkan ilmu entengi tubuhnya yang luar biasa, ia melompat ke atas rumah terus menuju ke tempat sasaran.

Kembali mengenai Li Ti dan Pang Lin, setelah mereka berdua turun dari Kat-nia, meski sudah dibujuk oleh Li Ti, Pang Lin tetap marasa tak aman.

"Eng-moay, Kam-tayhiap mengerti dirimu adalah anak kecil, tak nanti ia gusar padamu,"

Kata Li Ti menghibur.

Begitulah selang tak lama, mereka berdua sudah sampai di sekitar penginpan tempat tinggal Kam Hong-ti dan kawan-kawan, selagi mereka hendak maju, mendadak terlihat ada satu pasukan opas pemerintah yang sedang meronda di luar penginapan.

"Celaka, lekas kita lari!"

Kata Pang Lin pada kawannya. Pada saat itu juga, dari dalam penginapan tahu-tahu berlari keluar seorang Hwesio yang bukan lain ialah Liau-in. Begitu nampak Pang Lin, Liau-in menjadi murka.

"Hm, kau pengacau cilik ini hendak lari kemana?"

Bentaknya sambil kebutkan lengan jubahnya yang lebar, ia jinjing tongkatnya yang bulat kasar terus mengudak dengan cepat.

"Li-koko, harap kau tahan dia sebentar, aku bantu kau dengan senjata rahasia,"

Pinta Pang Lin pada Li Ti.

Dalam pada itu Liau-in masih menguber terus, meski Ginkang Hwesio ini belum memadai Lu Si-nio, namun dibanding Pang Lin tentu ia tak kalah.

Oleh karena itu, tak antara lama ia sudah mengudak sampai di belakangnya, ia ulur tangannya yang besar terus menjambret ke atas kepala anak dara itu.

Namun belum sampai gadis cilik itu kena dipegang, tiba-tiba sinar putih mengkilap menyambar dari samping, rupanya Li Ti menusuk dari samping dengan pedangnya, tipu serangannya aneh dan cepat pula, terpaksa Liau-in harus menarik kembali tangannya yang sudah diulur tadi terus memotong ke samping.

Di lain pihak, Pang Lin yang bebas dari ancaman bahaya juga tidak tinggal diam, sekali tangannya mengayun balik, segera ia persen orang dengan dua batang belati terbang, tapi dengan gampang saja Liau-in telah gagalkan serangan ini, tongkatnya menyabet ke atas, dan kedua pisau itu kena dibentur hingga terpental ke angkasa terus jatuh ke tengah telaga.

Sementara itu Pang Lin masih terus berlari, ia dikejar belasan opas dengan menunggang kuda, sedang Liau-in yang hendak mengejar juga telah dipapaki pula oleh Li Ti dengan dua kali tusukan.

"Cari mampus kau!"

Bentak Liau-in dengan mendongkol.

Berbareng dengan tipu 'Siok-lui-kik-teng' (petir menyambar kepala), tongkatnya segera mengemplang ke kepala Li Ti.

Pemuda inipun cukup tangkas, ia berkelit terus menikam ke dada Liau-in, tipu serangan ini salah satu tipu yang mematikan dari ilmu pedang ajaran Pek-hoat Mo-li, waktu itu Liau-in sedang menghantamkan tongkatnya, dengan sendirinya tubuhnya tak terjaga, Li Ti menyangka serangannya ini pasti akan mengenai sasarannya, tak terduga Liau-in sama sekali tidak berusaha menghindarkan serangan ini, ia hanya putar tongkatnya hingga berwujud satu bundaran, dengan demikian Li Ti segera merasakan satu kekuatan yang maha besar mendorong padanya, karena itu ia tak bisa menguasai diri lagi, ia terdesak mundur dua tindak, senjatanya pun melenceng ke samping tersampuk angin tongkat musuh.

Menyusul terdengar suara bentakan Liau-in, tongkatnya bergerak lagi dan menyerampang pula.

Li Ti terperanjat, tak berani paksakan diri buat menangkis, ia hanya memutar tubuh dengan enteng gesit, sekonyong-konyong ia berusaha mendahului menyerang ke sebelah kiri musuh.

Tetapi dengan tongkat menegak Liau-in dapat menggagalkan serangannya.

Begitulah dengan cepat mereka berdua saling gebrak hingga dua tiga puluh jurus, Li Ti mainkan pedangnya secepat kilat, senantiasa berusaha agar senjatanya tidak sampai beradu dengan tongkat lawan.

Sampai puncak pertarungan ini, sinar pedang gemerdep, Li Ti kembali mengarah 'Hong-hu-hiat' di pundak Liau-in.

Tetapi Liau-in menyambut serangan ini, ia angkat tongkatnya terus disurung sekalian, tak terduga ilmu pedang Li Ti ternyata berlawanan dengan Kiam-hoat umumnya, kelihatan ia mengarah ke kiri, tetapi mendadak bisa berubah arah dan menusuk ke jurusan lain, ketika Liau-in geraki tongkatnya, tahu-tahu merasa sambaran angin tajam yang hebat, ujung senjata orang sudah sampai di pundaknya, lekas Liau-in kerutkan pundak ke bawah, sedang telapak tangan kiri menjambret ke depan.

Sebenarnya ujung pedang Li Ti sudah menempel di pundak Liau-in, tetapi tiba-tiba meleset hingga ia kehilangan keseimbangan badan, berbalik ia sendiri kena dicengkeram pergelangan tangannya hingga tak mampu berkutik, pedangnya pun ikut lepas dari cekalan dan jatuh ke lantai.

Setelah berhasil menawan Li Ti, segera tubuh pemuda ini diangkat Liau-in terus hendak dibanting ke bawah, syukur mendadak Liau-in urungkan maksudnya.

"Kau ini anak murid siapa?"

Tiba-tiba Liau-in bertanya.

"Kalau hendak bunuh, boleh bunuh saja, untuk apa banyak ba-cot!"

Sahut Li Ti dengan ketus.

Namun Liau-in ternyata berpikiran lain, bahwa pemuda ini punya Kiam-hoat sangat aneh lagi lihai, agaknya tidak di bawah Lu Si-nio, lebih baik jangan sembarangan menghabisi jiwanya.

Karena pikiran ini, ia berkata pula.

"Kau sanggup sambut aku hingga lebih tiga puluh jurus, kau terhitung juga seorang gagah, biar sementara aku ampuni jiwamu!"

Sembari berkata ia pun perkencang cengkeraman tangannya, ia pencet hingga pemuda ini merasa seluruh tubuhnya kaku linu, seakan miang retak berantakan, nyata Liau-in telah pergunakan ilmu 'Hun-kin-cho-kut' atau ilmu memisahkan otot dan membikin keseleo tulang.

Dengan siksaan ini, tertampak jidat Li Ti meneteskan keringat sebesar kedelai, suatu tanda siksaan badan yang luar biasa, tapi Li Ti terhitung jantan juga, merintih sedikitpun tidak.

Melihat kejantanan pemuda ini, mau tak mau diam-diam Liau-in memuji, kemudian ia perintahkan bawahannya buat meringkus pemuda itu, ia sendiri mencemplak kudanya terus mengejar ke depan pula.

Sementara itu Pang Lin sedang berlari dengan cepat laksana kesetanan, ia dikejar oleh belasan opas penunggang kuda, tapi anak dara ini banyak akal, ketika orang sudah dekat dan hampir menyan-dak dirinya, sekonyong-konyong ia mengayun tangannya, maka menyambarlah dua batang belati, ia incar dua penunggang kuda yang paling depan.

Kepandaian Pang Lin menimpuk pisau terbang diperoleh dari Ciong Ban-tong, pendekar ahli waris cabang Pho-Jing-cu, tiap pisau mengandung racun, dengan kejituan timpukannya itu, pisau terbangnya menancap mata kuda hingga racun seketika bekerja dengan cepat, karenanya kedua kuda yang terkena segera menjadi buta, saking kesakitan hingga kuda-kuda itu mendengking keras dan berjingkrak lari serabutan tak keruan tujuan, penunggangnya pun terbanting roboh, masih untung mereka tidak terbanting mampus.

Karena serangan tiba-tiba itu, opas yang berada di belakang seketika merandek dan tertegun, kesempatan ini digunakan Pang Lin untuk berganti napas, sesudah itu secepat terbang ia berlari ke depan.

Sebaliknya para opas jadi tercengang dan saling pandang.

"Masakah seorang anak kecil saja tak bisa kita tangkap, buat apa kita jadi opas!"

Ujar pemimpin pasukan opas itu dengan mendongkol.

Habis itu, ia pimpin bawahannya mengudak lagi.

Ketika kejar-mengejar sudah dekat pula, kembali Pang Lin menimpuk roboh dua opas dengan pisau terbangnya seperti tadi.

Kejadian seperti ini terulang pula beberapa kali hingga akhirnya kantong senjata Pang Lin hanya tersisa dua buah Hui-to saja, maka tak berani sembarang ia habiskan senjata rahasia ini.

Kawanan opas itu terus menguber semakin kencang, sampai pada suatu tikungan jalan, tiba-tiba dari depan tertampak debu mengepul tinggi, sepasukan tentara berpapasan mendatangi, dari panji pengenal pasukan ini dapat terlihat dengan jelas tertulis satu huruf 'Lian' sebesar gantang, bendera ini tertiup angin hingga bersuara.

Ketika bintara pasukan yang jalan di depan mendadak nampak seorang anak perempuan berlari datang dengan cepat, sedang di belakangnya menyusul tujuh delapan opas sedang mengudak, bintara ini rada heran juga.

Dalam pada itu seorang perwira rendah lain dengan tombak siap tampil ke depan, ia tuding Pang Lin dengan ujung tombaknya dan membentak.

"Berhenti!"

Tetapi gertakan ini mana bisa membikin kuncup Pang Lin, dara cilik ini dibesarkan di istana Si-hongcu, putra pangeran keempat, pembesar negeri macam apa yang tidak pernah dilihatnya?

Apalagi hanya seorang perwira rendah seperti ini.

Maka ia tidak menjadi gugup ketika nampak ujung tombak orang diarahkan padanya, balikan ia mengulur tangannya yang kecil terus meraih senjata orang, menyusul dengan sekali tarik ia seret perwira itu jatah tersungkur ke bawah kuda.

"Berdiri!"

Pang Lin balas menggertak dengan menirukan lagak lagu orang tadi. Perwira itu menjadi gusar, apalagi ia jatah di tangan seorang anak kecil.

"Berani betul kau anak kecil ini, siapa namamu?"

Ia membentak dengan murka.

"Siapa namamu?"

Kembali Pang Lin menirukan suara orang.

Dalam pada itu beberapa opas pengejar beruntun sudah sampai juga, ketika nampak pasukan tentara besar di hadapan mereka, dengan sendirinya mereka tak berani sembarangan bertindak.

Maka lebih dulu kepala opas maju memberi hormat dan lapor pada perwira pemegang bendera kebesaran.

"Bocah ini heridak kami tangkap atas perintah Po-kok Siansu,"

Demikian ia menutur.."Siapa itu Po-Kok Siansu?"

Tanya perwira itu. Nyata ia tak kenal siapa Liau-in.

"Kabarnya anak kecil ini adalah orang istana Si-hongcu yang melarikan diri, Si-hongcu telah mengirim orang buat mencari dan menangkapnya, Po-kok Siansu adalah orang yang Si-hongcu kirim itu,"

Tutur kepala opas.

"O, kiranya begitu,"

Sahut perwira itu, kini sikapnya berubah.

"Baiklah, kau tunggu dulu."

Segera ia lapor ke atasannya.

Selagi bintara tadi marah karena sikap Pang Lin, para prajurit sudah merubung maju, menyaksikan lagak Pang Lin seperti orang dewasa, mereka menjadi geli dan tertarik pada anak dara itu, maka mereka berkerumun lebih rapat lagi buat menonton apa yang bakal terjadi.

Sebaliknya bintara yang tombaknya kena dicekal Pang Lin menjadi serba salah, sekonyong-konyong ia menyurung tombaknya ke depan dengan keras sambil membentak.

"Mau lepaskan tidak?"

"Mau lepaskan tidak?"

Lagi-lagi Pang Lin menirukan gertakan orang sembari tersenyum.

Berbareng diam-diam ia gunakan tenaga dalamnya dan menarik tombak yang masih dipegangnya, saking kerasnya bintara itu terseret jatuh tersungkur.

Melihat atasan mereka jatuh terjungkal di bawah tangan seorang anak perempuan, diam-diam para prajurit itu menjadi geli.

Sebaliknya bintara itu dari malu menjadi gusar, ia melompat bangun terus menghantam serabutan.

Saat itu juga, sekonyong-konyong prajurit yang berkerumun tadi bubar terpencar, tertampak seorang panglima muda dengan menunggang seekor kuda yang tinggi besar sedang mendatangi dengan perlahan.

"Siapakah yang berani bikin onar di sini?"

Terdengar panglima muda itu membentak. Perwira tadi seketika menjadi kuncup, lekas ia berhenti berkelahi terus berdiri ke samping.

"Anak perempuan ini yang bikin kacau di sini!"

Ia melapor. Akan tetapi Pang Lin pun tidak mau kalah, ia pun segera buka suara.

"Apa kau panglima pasukan tentara ini?"

Ia bertanya.

"Mengapa kau tidak punya disiplin dan membiarkan bawahanmu menghina anak kecil!"

Waktu panglima itu mengamati, ia lihat anak dara itu tersenyum simpul dan sangat menarik, sebaliknya perwira tadi babak be-lur, mukanya bengkak dan pakaian kotor, keadaannya mengenaskan, terang perwira ini telah kecundang dan kena dipermainkan, ia jadi geli dan terheran-heran pula.

"Kau bocah ini datang darimana? Mengapa berkelahi dengan perwiraku?"

Ia menegur lagi.

"Aku menempuh jalanku sendiri, tetapi ia sengaja hendak merintangi aku!"

Sahut Pang Lin dengan berani. Sementara itu perwira yang lain telah maju melapor lagi.

"Lapor wakil panglima, menurut keterangan opas dari Hangciu, katanya gadis cilik ini orang dari istana Si-hongcu."

Mendengar laporan ini, tertampak panglima muda itu berubah air mukanya.

"Kau pergi mempersilakan Tay-swe (panglima besar) datang kemari,"

Ia memberi perintah.

"Tidak perlu kau urus aku darimana, aku tidak mencuri, tidak merampok dan tak melanggar undang-undang, sekalipun si tua Kaisar sendiri pun tidak bisa merintangi aku,"

Demikian Pang Lin mendebat lagi.

"Mulutmu sungguh tajam sekali,"

Ujar panglima muda itu dengan tertawa. Ia berhenti sejenak, habis itu ia bertanya pula.

"Ilmu silatmu kau belajar dari siapa?"

"Kau boleh tanya, tapi aku tak sudi memberitahu padamu!"

Sahut Pang Lin.

"Coba kau unjuk sejurus ilmu pukulanmu!"

Dengan tertawa panglima muda itu berkata.

"Aku bukan tukang mengamen orang Kangouw, buat apa bikin pertunjukan untuk kau? Jika mau, boleh coba kita adu kepandaian saja,"

Jawab Pang Lin.

"Baik, biar aku bertanding dengan kau,"

Panglima muda itu terima tantangannya dengan tertawa, segera ia pun turun dari kuda.

"Jika aku yang menang, kau harus lepaskan aku pergi,"

Pang Lin mengajukan syaratnya.

"Sudah tentu, kini kau boleh mulai menyerang,"

Sahut panglima itu.

Kiranya pasukan tentara ini di bawah pimpinan Lian Keng-hiau, sedang panglima muda ini adalah wakilnya yang bernama Gak Ciong-ki.

Sejak Lian Keng-hiau menggabungkan diri di bawah Si-hongcu In Ceng, kemudian ia banyak mempelajari kitab siasat militer selama empat tahun.

Setelah genap berumur delapan belas, Si-hongcu mencalonkan dia buat memimpin pasukan tentara mengikuti pasukan ekspedisi jenderal Hu Nai menaklukkan suku bangsa Junggar (Dzungria) di daerah barat-laut sehingga berjasa besar, sekembalinya lalu diangkat menjadi Congping (panglima setingkat kolonel), kemudian naik pangkat pula menjadi Te-tok (setingkat jenderal), seluruhnya makan tempo tidak sampai tiga tahun, dari satu perwira bawahan naik pangkat hingga komandan suatu pasukan besar, kecepatan naik pangkatnya dalam sejarah kerajaan Manchu boleh dikata tiada bandingannya.

Padahal usia Lian Keng-hiau kini tidak lebih baru 21 tahun.

Mengenai diri Gak Ciong-ki, katanya adalah keturunan dari Gak Hui, panglima tersohor pada dinasti Song, usianya kinipun tidak lebih baru dua puluh dua tahun, ia pun orang angkatan dari Si-hongcu.

Sama seperti Lian Keng-hiau, ia pandai ilmu silat dan mahir siasat militer, karena usia mereka sebaya, kesukaan dan cita-cita pun sama, dengan kerja sama memimpin suatu pasukan, hubungan mereka menjadi sangat baik.

Bedanya, jika Gak Ciong-ki orangnya sabar dan banyak memberi kelonggaran pada bawahannya, adalah sebaliknya Lian Keng-hiau berlaku tegas, disiplin militernya keras sekali.

Oleh karena itu, prajurit dan perwira bawahannya terhadap Lian Keng-hiau takut sekali, sebaliknya malah lebih akrab dengan Gak Ciong-ki.

Begitulah sewaktu Gak Ciong-ki melihat gadis cilik berumur tiga atau empat belas tahun seperti Pang Lin bisa menjatuhkan perwiranya, ditambah lagi memang Pang Lin menarik dan menyenangkan, ia menjadi ingin menggoda anak dara ini, maka ia sengaja terima tantangan anak dara ini buat bertanding.

Pang Lin memang bocah nakal, begitu Gak Ciong-ki bersuara baik, segera ia pun mendahului mengulur kaki menendang lutut Gak Ciong-ki.

Lekas Gak Ciong-ki sedikit membungkuk dengan maksud menangkap kaki kecil anak dara ini, namun secepat angin Pang Lin ganti serangan, ia menampar dengan kedua telapak tangannya.

"Bagus!"

Seru Gak Ciong-ki, dengan kedua tangannya ia menangkis ke bawah terus diangkat ke atas buat balas menghantam.

Tenaga Gak Ciong-ki cukup kuat dan keras, tetapi karena ku-atir melukai Pang Lin, maka ia tak berani keluarkan seluruh tenaganya.

Tak terduga justru karena keragu-raguannya ini berbalik ia sendiri hampir kena dihantam.

Sementara Pang Lin ganti telapak tangannya menjadi kepalan, dengan tipu 'Liu-sing-koa-gwe' (bintang meluncur memburu rembulan), kepalan yang kecil segera mengarah ke tempat berbahaya di perut lawan.

Terkejut sekali Gak Ciong-ki atas serangan ini, lekas ia putar tubuh, ia ayun tangannya buat menggagalkan hantaman lawan cilik ini.

Dalam hati ia membatin juga.

"Mengapa gerak serangan dara cilik ini sedemikian kejam?"

Karena itu, rasa sukanya pada Pang Lin tanpa terasa lenyap sebagian.

Dalam pada itu Pang Lin kembali merangsek, ia gunakan kaki dan tangan berbareng, ia maju selangkah, kepalan kanan ditarik buat melindungi diri, sedang tangan kiri berubah menjadi telapak terus menghantam ke depan sebelah kiri bawah, tipu serangan ini adalah satu di antara ilmu pukulan Siau-lim-kun yang lihai.

Ketika Gak Ciong-ki memapaki pukulan orang di tengah jalan, beruntun Pang Lin gunakan kakinya lagi, susul-menyusul ia menendang, kakinya menendang 'Pek-hai-hiat' di lutut atas dan kaki kanan menendang 'Cok-pin-hiat' di bawah lutut Gak Ciong-ki.

Ini adalah ilmu tendangan berantai dari Thay-co-kun' cabang utara.

Dalam keadaan terdesak terpaksa Gak Ciong-ki harus gunakan tipu gerakan ajaran leluhurnya, dengan 'Co-yu-gay-kiong' (mementang busur dari kanan kiri), lalu 'Thok-thian-hoan-jit' (menyanggah langit menukar matahari), dengan beberapa gerakan ini baru ia bisa mengelak serangan tadi.

Meski kecil orangnya, tapi kepandaiannya tidak bisa dibilang rendah, makin lama Pang Lin makin mengganas, serangannya cepat, gerakannya lincah, perubahan pukulannya beragam dari berbagai cabang silat, tiba-tiba kepalan, tahu-tahu berubah menjadi telapak tangan.

Diam-diam Gak Ciong-ki terheran-heran, sama sekali tidak diduganya bahwa anak semuda Pang Lin bisa mempelajari ilmu silat begitu banyak macam dan tipu serangan yang aneh dan lihai.

Karena perawakan Pang Lin kecil, di waktu menggunakan tipu serangan yang beraneka itu, ia selalu memilih tempat sebelah bawah dan terus menggempur, dengan demikian Gak Ciong-ki dipaksa melayani lawannya yang cilik ini dengan membungkuk, keruan lama-lama panglima ini merasakan rada payah.

Selang tak lama, tiba-tiba prajurit yang berkerumun menonton tadi jadi sunyi-senyap tanpa suara, maka tahulah Gak Ciong-ki, pasti Lian Keng-hiau sudah datang.

Dalam hati ia lantas berpikir.

"Jika aku tak bisa menangkap anak kecil, bukankah nanti dibuat buah tertawaan olehnya."

Sebab pikiran ini, mukanya menjadi merah jengah, segera ia kencangkan pukulannya dan tidak mengalah lagi.

Gak Ciong-ki adalah keturunan panglima ternama, ilmu pukulan 'Gak-keh-kun' pun tidak kalah bagusnya, meski Pang Lin bisa bermacam ilmu silat cabang lain, namun bagaimanapun ia masih terlalu mjhda, tenaga lemah, latihannya belum masak.

Setelah Gak Ciong-ki melayani dia dengan sungguh-sungguh, segera berbalik di pihak terdesak.

Begitu hebat Gak Ciong-ki mencecarnya dengan pukulan keras, setelah belasan jurus, sama sekali Pang Lin sudah tak sanggup mendekati lawannya lagi.

"Kini kau mau mengaku kalah tidak, nona cilik?"

Dengan tertawa Gak Ciong-ki bertanya.

Namun Pang Lin tidak menjawab, bungkam segala bahasa, ia mundur dua tindak lalu sekonyong-konyong mengayun tangan, menyusul dua sinar mengkilap hitam keemasan menyambar ke depan secepat kilat.

Gak Ciong-ki kaget oleh serangan senjata rahasia ini, ia insyaf senjata gelap ini pasti berbisa, lekas ia sedikit mengegos sambil angkat jari tangannya menyelentik dengan cepat, dengan tepat ia sentil batang pisau terbang yang pertama dan jatuh ke lantai.

Sementara belati yang kedua menyambar datang lagi dengan cepat, Gak Ciong-ki tak keburu menjentiknya, ia pun tak berani menyambut dengan tangannya, maka terpaksa ia kerutkan tubuh buat berkelit, dengan demikian belati itu menyambar lewat di atas kepalanya.

"Kena!"

Mendadak terdengar Lian Keng-hiau membentak.

Dengan cepat Gak Ciong-ki melompat ke samping.

Suara bentakan itu begitu keras dan berpengaruh, berwibawa yang tak bisa dibantah, sekalipun Pang Lin yang biasanya sangat nakal, tidak urung terkaget juga, lekas ia hentikan serangannya.

Ternyata belati melayang lewat di atas kepala Gak Ciong-ki tadi justru telah mengarah ke jurusan Lian Keng-hiau dan dengan tepat kena ditangkapnya.

Dengan memegang belati itu Lian Keng-hiau memeriksanya bolak-balik dengan teliti, ia sedang berpikir tanpa berkata.

"Pisau terbang ini beracun, buat apa Tay-swe memegangnya dengan resiko,"

Tutur Gak Ciong-ki pada atasannya itu. Dengan singkat Lian Keng-hiau hanya menjawab.

"Ah, tak apa."

"Anak gadis ini sangat aneh, mungkin betul orang dari istana pangeran keempat,"

Kata Gak Ciong-ki pula.

Secara samar-samar Lian Keng-hiau menyahut sekali, air mukanya berubah, namun tetap tidak menjawab.

Sikap ini membikin Gak Ciong-ki heran.

Sudah tiga tahun ia mendampingi Lian Keng-hiau, tetapi belum pernah ia saksikan atasannya ini bersikap begitu tegang.

Biasanya, meski berada di medan perang betapa dahsyatnya, selamanya Lian Keng-hiau tetap memimpin pasukannya dengan tenang.

"Seumpama anak perempuan ini betul-betul orang istana pangeran, tidak perlu juga Tay-swe keder padanya, buat apa harus peras pikiran dan termenung gugup,"

Begitulah pikir Gak Ciong-ki.

Tentu saja Gak Ciong-ki tidak tahu bahwa Lian Keng-hiau dibesarkan bersama Pang Lin, Lian Keng-hiau lebih tua tujuh tahun daripada dara cilik ini, di masa kecil sering ia menggendongnya, hubungan mereka laksana kakak-beradik saja.

Tetapi sejak guru mereka, Ciong Ban-tong, tewas kena cakar berbisa Sat Thian-ji, Pang Lin digondol pergi oleh Siang-mo dan disembunyikan dalam istana pangeran, semenjak itu mereka berdua tak pernah berjumpa lagi.

Pernah juga Lian Keng-hiau mendengar dari Liau-in, katanya Si-hongcu sangat menyukai Pang Lin, setelah Siang-mo membawanya masuk istana, Si-hongcu lantas mencekoki anak dara itu dengan semacam obat bubuk istimewa, setelah minum obat itu, semua kejadian dan pengalaman yang lalu lantas lupa seluruhnya.

Cerita itu tadinya oleh Lian Keng-hiau diangggap sepele saja, malah ia berpikir.

"Setan cilik yang sangat cerdik itu, ada baiknya juga kalau dibikin lupa semua kejadian yang dulu."

Begitulah dalam sekejap saja sudah tujuh tahun mereka berpisah, kini Lian Keng-hiau sudah dewasa, dalam setahun dua tahun terakhir ini ada juga kaum bangsawan di kotaraja yang menawarkan jasa baik untuk mencarikan jodoh baginya.

Pada saat demikian, entah mengapa terkadang Lian Keng-hiau lantas teringat pada Pang Lin, ia ingin tahu gadis ini bagaimanakah rupanya setelah meningkat dewasa.

Kadang Lian Keng-hiau teringat juga bahwa anak dara ini sudah kehilangan ingatan masa silam, bila bertemu berhadapan mungkin sudah tak kenal padanya.

Jika teringat hal ini, tiap kali lantas terasa hampa.

Tadi Lian Keng-hiau telah mendapat laporan bahwa ada seorang anak, dara sedang membikin onar di depan pasukan, tiba-tiba pikirannyajadi tergerak.

Maka dia menuju ke sana buat melihat sendiri.

Ketika melihat Pang Lin sedang bertempur, ia terkejut dan berpikir kemungkinan besar anak dara ini pasti 'dia' adanya.

Dugaan ini makin menjadi kuat ketika ia menyambuti pisau terbang yang di-sambitkan Pang Lin.

Lian Keng-hiau adalah satu-satunya murid ahliwaris Ciong Ban-tong, kepandaiannya menggunakan pisau terbang sudah tentu jauh lebih mahir dari Pang Lin, bahkan begitu nampak sambaran pisau, segera pula ia mengetahui sampai dimana tingkat kepandaian orang.

Sementara itu, demi nampak Lian Keng-hiau, mendadak hati Pang Lin terguncang juga, ia pikir, mengapa orang ini seperti sudah pernah kukenal, cuma entah dimana?

"Nona cilik, sini ikut aku, ingin kutanya padamu,"

Terdengar Lian Keng-hiau menyapa dahulu.

"Baik, kau boleh tanya,"

Sahut Pang Lin, biji matanya yang jernih mengerling. Segera Lian Keng-hiau perintahkan ajudannya membawa si nona ke atas keretanya, habis itu ia berpesan pada Gak Ciong-ki.

"Semua opas Hangciu itu ditahan, perintahkan pasukan agar tidak boleh membocorkan peristiwa ini."

Gak Ciong-ki heran sekali atas perintah ini, tapi biasanya Lian Keng-hiau sangat memegang teguh disiplin, terpaksa ia harus menurut dan tak berani bertanya.

Sesudah Lian Keng-hiau berada di atas kereta, ia suruh Pang Lin duduk di sebelahnya, ia coba mengamati paras si nona yang memerah apel, dekik di pipinya lapat-lapat kelihatan, wajah di waktu anak-anak masih dapat dikenalinya.

"Katakanlah terus-terang, betulkah kau orang dari istana pangeran?"

Tanya Keng-hiau kemudian.

"Kalau betul mau apa?"

Sahut Pang Lin.

"Tinggal dalam istana pangeran bukankah enak sekali, mengapa kau lari dari sana?"

Tanya Keng-hiau pula. Pertanyaan ini membikin Pang Lin menjadi kikuk, mukanya berubah merah.

"Tidak perlu kau tahu!"

Jawabnya kemudian.

"Si-pwelek telah memerintahkan Po-kok Siansu buat menguber kau supaya kembali ke istana, apa kau tahu?"

"Aku tak sudi kembali ke sana!"

"Mengapa?"

"Bilang tidak ya tidak, perlu apa kau tanya terus!"

Sahut Pang Lin rada aseran.

"Bukankah Si-pwelek sangat baik padamu?"

Desak Keng-hiau pula.

"Ehm, baik ...."si nona tak meneruskan, sebaliknya matanya menjadi merah, kemudian ia berkata lagi.

"Kau panglima apa, mengapa kau tanya aku sedemikian banyak?"

Teguran ini membikin Lian Keng-hiau rada tercengang, ia jadi kuatir juga, ia pikir jika kelak nona ini kembali ke istana dan melapor pada pangeran bahwa aku pernah bertanya demikian padanya, mungkin In Ceng ikan timbul curiga.

"Aku nasehatkan lebih baik kau pulang saja,"

Katanya kemudian.

"Hm, kiranya kau ini sangat busuk!"

Sahut Pang Lin tiba-tiba. Omelan ini membikin Lian Keng-hiau menjadi bingung.

"Busuk? Mengapa aku sangat busuk?"

Ia bertanya.

"Kau sendiri senang dan bebas memimpin pasukan di luar, sebaliknya kau nasehatkan aku kembali ke istana untuk terima siksaan,"

Kata Pang Lin.

"O, kiranya kau masih suka bermain di luar,"

Ujar Lian Keng-hiau dengan tertawa..Ucapan ini membikin Pang Lin terheran.

"Darimana kau tahu aku suka bermain?"

Ia bertanya dengan mata terbuka lebar. Kembali Lian Keng-hiau tercengang sejenak. Tetapi segera ia tenangkan diri.

"Melihat wajahmu, aku lantas tahu kau suka bermain!"

Sahutnya kemudian dengan tertawa ewa.

"Kau suka bermain tidak jadi soal asalkan tidak melarikan diri, jika hanya mengeluyur keluar istana pesiar sebentar, aku kira Si-pwelek tidak akan melarang kau, tetapi kotaraja yang begitu luas apa kurang tempat pesiar buat kau?"

Mata Pang Lin tampak memerah seakan ingin menangis.

"Kau ini betul-betul sangat busuk!"

Dampratnya lagi dengan gusar. Keruan Lian Keng-hiau makin heran dan bingung.

"Kenapa bilang aku busuk lagi?"

Tanyanya dengan mengerut kening.

"Mengapa kau terus mendesak agar aku kembali ke istana pangeran?"

Jawab Pang Lin.

"Aku nasihatkan kau kembali ke istana buat menikmati kebahagiaan, apakah itu busuk?"

Tanya Keng-hiau.

"Mengapa tidak busuk? Mati pun aku tak sudi pulang ke sana!"

Sahut Pang Lin tegas. Terguncang hati Lian Keng-hiau oleh jawaban itu, begitu pasti dan tegas Pang Lin mengucapkannya, tampaknya dalam hal ini tentu ada sebab-musababnya..Maka berkatalah dia kemudian.

"Baiklah, kalau begitu aku tak akan berkata begitu lagi. Kau boleh sembunyi dalam kereta ini, tetapi jangan sembarang bergerak."

"Baik, bila Po-kok Siansu datang, sekali-kali jangan kau beri-tahukan padanya,"

Sahut Pang Lin dengan girang. Lian Keng-hiau tidak menjawab lebih lanjut, ia singkap tirai kereta dan memanggil perwira bawahannya.

"Semua opas dari Hangciu tadi boleh penggal kepalanya!"

Ia memberi perintah. Keruan perwira itu terkejut, akan tetapi Lian Keng-hiau sudah mendesak lagi.

"Lekas pergi, perintahkan pasukan, tidak boleh bocorkan rahasia ini!"

Tindak-tanduk Lian Keng-hiau memang keras dan kejam, sedikit tak menyukai hatinya setiap waktu ia bisa membunuh orang, hal ini sudah biasa bagi bawahannya.

Tidak nyana opas-opas Hangciu yang tak berdosa itupun dibunuh olehnya.

Maka dalam sekejap kepala beberapa opas itu sudah berpisah dengan tubuhnya.

Waktu Gak Ciong-ki mendapat berita kejadian itu, hendak dicegah juga sudah terlambat.

Lian Keng-hiau lantas memerintahkan agar membakar mayat opas-opas itu dan dipendam.

Setelah orang dibunuh dan mayat dibakar, Lian Keng-hiau memberi perintah pasukannya berangkat menuju ke Hangciu.

Tidak jauh perwira pembuka jalan datang melapor, katanya.

"Ada hwesio dengan membawa tongkat besar, mukanya bengis, menyebut dirinya sebagai Po-kok Siansu, katanya adalah sobat baik Tay-swe dan ingin bertemu."

"Baik, aku sendiri segera sambut dia!"

Sahut Lian Keng-hiau, ia tahu Liau-in sudah datang.

Mengenai Liau-in, sesudah ia berhasil menawan Li Ti, dengan 'Hun-kin-cho-kut-hoat' ia pencet bagian tertentu pada tubuh pemuda itu, maka dalam dua belas jam ia taksir Li Ti tidak bisa pulih kembali kekuatannya.

Kemudian ia menyerahkan Li Ti kepada jago pengawal dari gubernuran yang bukan lain ialah Ong Hun dan Han Cin-seng, yaitu dua pengawal pilihan pada waktu dulu Tang Ki-joan mewakilkan Li Wi menjadi pengujinya.

Kepandaian Ong Hun dalam 'Thi-soa-cio' (telapak tangan pasir besi), cukup dalam latihannya, sedang Han Cin-seng punya kekuatan bagian kaki yang cukup tangkas, meski ilmu silat Li Ti cukup tinggi, tapi dalam dua belas jam keadaannya mirip orang cacat saja, ditambah dua pengawal menjaga di sampingnya, tak mungkin ia mampu kabur.

Begitulah Liau-in suruh Ong Hun dan Han Cin-seng berdua menggiring kembali Li Ti ke kota, sedang ia sendiri mencemplak kudanya terus mengejar ke depan.

Setelah belasan li jauhnya tiba-tiba dari gili-gili sawah di pinggir jalan menerobos keluar dua opas sembari berteriak memanggil Po-kok Siansu!

Nampak mereka babak-belur dan muka bengkak, Liau-in tegur mereka dan bertanya apa yang telah terjadi.

Maka berceritalah kedua opas itu cara bagaimana Pang Lin menjungkalkan mereka dengan pisau terbangnya.

"Budak liar itu betul-betul kurangajar!"

Damprat Liau-in dengan gusar.

Tetapi bila ia pikir lagi, anak dara itu hanya mengincar kuda dan tidak menyambit orangnya, tampaknya masih tidak terlalu ugal-ugalan.

Lalu Liau-in memberi tanda agar kedua opas kembali dulu.

ia sendiri melanjutkan pengejarannya.

Tidak berapa jauh, kembali ia dihadang dua opas dan menuturkan nasib mereka, keruan Liau-in makin kalap.

Begitu seterusnya tiap beberapa li ditemukan dua anggota opas yang jatuh terbanting, seluruhnya telah ia jumpai delapan orang, ketika Liau-in menghitung opas yang mengudak Pang Lin, ternyata sudah ada separoh yang kena dilukai oleh gadis cilik itu.

Pikirnya.

"Pisau berbisanya seluruhnya ada dua belas buah, kini telah terpakai delapan buah untuk melukai delapan opas, sebelum itu sudah kupu-kul jatuh dua batang, kalau demikian kini hanya tinggal dua pisau saja, paling banyak ia hanya sanggup melukai dua orang lagi, aku ingin tahu bagaimana dengan opas yang masih ada itu."

Segera Liau-in melarikan kudanya lebih kencang, setelah lima enam li, ternyata tiada lagi opas yang terluka, diam-diam ia heran.

Sekonyong-konyong ia merasakan sambaran angin halus, kuda tunggangannya tiba-tiba melengking panjang terus kabur cepat ke depan, Liau-in menjadi gusar, dengan kuat ia kempit kencang dengan kakinya, mendadak kudanya meringkik, menyusul binatang ini lantas roboh menggeletak.

Bukan main terperanjat Liau-in, lekas ia melompat turun dari kuda sambil membentak.

"Siapa berani membokong aku!"

Tiada jawaban atas bentakannya ini.

Tetapi tiba-tiba terdengar suara keleningan yang dikocak dengan ramai, menyusul tertampak seorang 'Kangouw-long-tiong' (tabib pengembara) dengan memikul peti obat di sebelah pikulannya dan tangan menggoncangkan keleningan sedang turun dari lereng bukit di tepi jalan sana.

"Tabib ajaib melebihi Hoa Toh, mahir mengobati segala penyakit, tidak peduli manusia atau kuda, bila perlu boleh tanya!"

Demikian tabib pengembara itu berteriak sembari mengguncang kele-ningannya.

Suara keleningan berbunyi riuh tiada hentinya.

Pikiran Liau-in tergerak demi nampak munculnya tabib yang mendadak ini, waktu ia lihat kudanya lagi, binatang itu ternyata sudah tidak bernyawa.

Tidak kepalang rasa kejut Liau-in oleh kejadian ini, biasanya ia bangga sekali atas ilmu silat sendiri yang tiada tandingan di kolong langit, tetapi binatang tunggangannya disergap orang, malah sama sekali ia tidak tahu cara bagaimana orang turun tangan.

Pikirnya.

"Apa mungkin matinya kuda ini karena kejadian di luar dugaan dan bukan terkena senjata gelap seseorang?"

Sementara itu terdengar si tabib kelana tadi telah berseru lagi.

"Incar kuda tidak incar orang, sengaja memberi sedikit kelonggaran, ingin berobat hendaklah lekas, jangan sampai lewat lohor!"

Air muka Liau-in berubah, tahulah kini bahwa orang berteriak sengaja ditujukan padanya. Segera ia bersiap dengan mengumpulkan seluruh tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

"Baiklah, kau boleh mengobati aku!"

Segera ia panggil tabib itu.

Tabib itu mendekat sambil pegang peti obat dan menjinjing galah pikulannya.

Begitu sudah dekat, sekonyong-konyong Liau-in menggertak keras, ia ayun tongkatnya terus mengemplang ke atas kepala si tabib dengan cepat luar biasa.

"Sebagai seorang padri, berlaku begini kasar, mana bisa dikatakan orang suci lagi?"

Si tabib tertawa mengejek.

Sementara tongkat Liau-in telah berada di atas kepalanya, melihat si tabib sama sekali tidak hendak melawan, maka Liau-in bermaksud mengampuni jiwanya, ia sedikit menggeser tongkatnya dan menghantam ke pundak.

Masih juga tabib kelana itu tidak bergerak sedikitpun, namun tidak gentar juga, ketika tongkat orang sudah dekat di atas pundaknya, saat itulah baru mendadak ia mengegos ke samping, sedang galah pikulan yang ia pegang terus ditangkiskan ke atas.

Keruan beradunya dua senjata tak bisa dihindarkan lagi, segera terdengar suara nyaring yang keras di samping meletiknya lelatu api, maka terasalah oleh Liau-in genggaman tangannya kaku kesemutan dan tongkatnya hampir terlepas dari tangannya.

Sebaliknya si tabib terhuyung-huyung mundur dua tindak ke belakang, berulang-ulang ia berkata.

"Sayang, sayang!"

Sekali saling gebrak, Liau-in menjadi terkejut, ia pun menjadi gusar, ia tahu Lwekang orang ternyata tidak di bawah dirinya.

Maka tanpa ayal ia putar tongkatnya, dengan gerakan menyerampang ia menyabet ke pinggang orang.

Tetapi dengan memalangkan galah pikulannya yang istimewa, kembali tabib itu menangkis pergi tongkat lawan.

Tetapi Liau-in bisa berlaku cepat, ia menyerobot maju, tongkatnya menyodok dengan cepat, tipu serangan ini disebut 'Jing-liong-chut-hay' (naga hijau keluar dari lautan), tipu ini termasuk salah satu tipu serangan yang mematikan.

Waktu itu galah si tabib sudah terayun keluar, untuk menarik kembali buat menjaga diri sudah tak keburu lagi, sedang Liau-in telah keluarkan seluruh tenaganya, ia menduga sekali ini lawan pasti tak berdaya.

Tetapi dugaannya ternyata meleset, tahu-tahu tabib itu hanya sedikit berkelit, ia gunakan gagang galahnya yang terbuat dari perunggu untuk menyampuk perlahan, dengan demikian tongkat Liau-in terpental pergi.

Lekas Liau-in mengulur sedikit tongkatnya buat memunahkan tenaga orang yang lihai, lalu ia melompat mundur sejauh lebih setombak.

"Siapa kau, lekas beritahu namamu, tongkat tuanmu tidak memukul manusia yang tak terkenal!"

Liau-in lantas menyentak lagi. Namun bentakannya ini disambut ganda tertawa oleh si tabib.

"Hwesio gede, aku bukan bangsawan, juga bukan hartawan, bila kau ingin minta sedekah padaku, kau pasti bakal kecewa,"

Tabib itu malah sengaja menggoda dengan tertawa mengejek.

"Siapa yang minta sedekah padamu!"

Bentak Liau-in murka.

Segera ia putar tongkatnya hingga membawa sambaran angin yang keras, ia menempur si tabib lagi dengan sengit.

Karena Liau-in sudah murka, ia keluarkan seluruh tenaga pada tongkatnya, maka sekali ini tak bisa dipandang enteng lagi, bayangan tongkatnya sambar-menyambar dan angin menderu laksana seekor naga yang menari di angkasa.

Di luar dugaan, galah pikulan tabib itupun tidak kalah hebatnya, ia pun memutar galahnya sedemikian rupa hingga suara angin bergemuruh dan sinar mengkilap berkelebatan, nyata tabib itupun tidak mau mengalah selangkah pun.

Begitulah mereka saling labrak tanpa ada yang mau mengalah, meski lima puluh jurus sudah berlalu, namun keadaan masih tetap sama kuat, tiap kali tongkat dan galah pikulan saling bentur, maka meletiklah lelatu api dan dan tangan kedua orang itu merasa sakit pedas, mereka harus menggenggam kencang senjata masing-masing bila tidak ingin kebentur hingga terpental.

Nampak lawan setangguh ini, diam-diam Liau-in sangat terperanjat, dalam hati ia coba menghitung semua tokoh silat pada zaman ini yang masih ada.

di antara mereka yang bisa bergebrak sama kuat dengan dirinya boleh dikata jarang sekali dan terbatas, siapa kira mendadak muncul seorang tabib gelandangan yang ilmu silatnya begini tinggi, bahkan tampaknya masih berada di atasnya.

Tak lama kemudian, tiba-tiba si tabib mengubah gerak silatnya, dengan cepat tangan kirinya mengambil genta kecil yang terbuat dari perunggu, ketika Liau-in menyabet dengan tongkatnya secara hebat, mendadak si tabib meloncat ke atas, berbareng genta dibunyikan dengan riuh di tepi telinga Liau-in.

"Kurangajar, berani kau permainkan tuan Buddhamu?"

Bentak Liau-in gusar dan mendongkol.

Ia angkat tongkatnya menyampuk galah pikulan lawan, kemudian tongkatnya diputar, dalam sekejap saja sekelilingnya yang tampak bayangan Liau-in melulu, tongkatnya seperti berubah menjadi ratusan bahkan ribuan, ia kepung si tabib begitu rapat laksana tak tertembus angin.

Ini adalah 'Thian-mo-theng-hoat' (ilmu tongkat iblis sakti) ciptaan Liau-in sendiri, kepandaian ini jarang ia keluarkan terkecuali bila ketemukan musuh yang kuat.

"Bagus, kepandaian apa lagi yang kau miliki, keluarkan saja sekalian!"

Sahut tabib itu tak gentar, bahkan ia tertawa menggoda.

Meski ia melayani Liau-in dengan tertawa, namun gerak tangannya tidak pernah terlambat, galah pikulannya tetap ia mainkan dengan cepat lagi rapat, ia menutup ke depan dan menangkis ke belakang, ia menyampuk ke samping atau menghindar ke pinggir, semua tempat terjaga tanpa lubang.

Malahan di bawah sambaran angin tongkat lawan, gentanya terus berbunyi tiada hentinya.

Walau Liau-in sudah mainkan ilmu tongkat 'Thian-mo-theng-hoat' yang paling lihai, namun tetap tak lebih unggul daripada lawannya, sebaliknya bunyi keleningan musuh bahkan bertambah ramai, si tabib malahan menambah pula dengan lagak dan polahnya yang lucu, mulutnya pura-pura berkemak-kamik membaca mantera segala.

Keruan pikiran Liau-in jadi kacau, karena godaan suara keleningan yang riuh ramai itu, permainan tongkatnya lama-lama mulai kendor, sudah tentu kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si tabib, ia mulai melakukan serangan balasan, dari pihak diserang berubah menjadi pihak yang menyerang.

Karena itu Liau-in berbalik menjadi kewalahan, dan hanya jadi kecundang bila tidak mendadak si tabib menghentikan serangan.

"Ada pasukan tentara datang, maafkan aku tak bisa menemani kau terus, biar kelak bila sudah dekat hari ajalmu aku datang lagi buat mengantar nyawamu ke surga,"

Tiba-tiba tabib itu berkata dengan tertawa. Habis ini ia menarik galah pikulannya terus hendak pergi. Saking dongkolnya Liau-in tak mau melepaskan orang begitu saja.

"Lari kemana!"

Ia membentak, berbareng tongkatnya menye-rampang.

Serangan ini ternyata tak ditangkis si tabib, ia hanya menggoyang tangan kirinya, tiba-tiba lengan bajunya yang lebar mengibas balik, seketika itu pandangan mata Liau-in menjadi kabur, lekas ia tarik kembali tongkatnya buat melindungi diri, ketika ia pentang lebar matanya, ia lihat si tabib sudah pergi jauh ke atas bukit terus kabur dengan cepat!

Sesudah Liau-in tenangkan pikiran, ia membatin orang yang bisa menggunakan lengan baju sebagai senjata hanyalah ilmu serangan 'Liu-hun-hui-siu' (lengan baju terbang seperti awan meluncur) yang diwariskan Pho Jing-cu dari Bu-kek-pay, apakah mungkin tipu serangan yang dipakai si tabib tadi ilmu rahasia yang jarang dijumpai itu?

Dan kalau begitu seharusnya ia adalah keturunan dari aliran Pho Jing-cu?

Akan tetapi ahli waris Bu-kek-pay hanya satu orang saja, yakni Ciong Ban-tong, lagi pula gerak tubuh si tabib bukan orang dari Bu-kek-pay, mengapa ia bisa menggunakan tipu serangan 'Liu-hun-hui-siu' yang hebat itu?

Dengan penuh tanda tanya dalam hati, ia ketuk tongkatnya ke tanah penuh penyesalan, sebab inilah peristiwa yang menyedihkan baginya, sejak tampil di Kangouw, kecuali terhadap Ie Lan-cu, boleh dikata kekalahan pertamanya yang memalukan.

Kekalahannya terhadap Ie Lan-cu tidak dibuat gegetun olehnya, karena tingkat Ie Lan-cu adalah sejajar dengan gurunya, bila ia kalah dapatlah dimengerti, tetapi kini, terhadap seorang tabib gelandangan yang tak dikenal arah juntrungannya ia pun harus kecundang, sungguh merupakan suatu pukulan hebat baginya.

Begitulah tengah Liau-in termenung, tiba-tiba debu mengepul tebal, di depan sana, satu pasukan tentara telah datang.

"Sungguh tajam telinga si tabib itu, di waktu pertarungan sengit ia masih sanggup membagi perhatiannya untuk mendengar suara yang datang dari lereng bukit sebelah sana!"

Demikian pikir Liau-in lagi, ia jadi makin masgul melihat betapa lihainya orang dalam segala hal.

Saat ia memandang, terlihat bendera pertandaan pasukan melambai tertiup angin tertulis satu huruf 'Lian' yang besar, ia menjadi girang sekali, ia segera tahu siapa adanya komandan pasukan tentara ini.

Pikirnya.

"Lian Keng-hiau si bocah ini sungguh cepat sekali kembalinya, tentu budak cilik tadi telah dia cegat di tengah jalan!"

Kembali pada diri Lian Keng-hiau, setelah dia menyembunyikan Pang Lin, ia sendiri lantas keprak kudanya memapak ke depan pasukan, ia turun dari kuda sambil memberi hormat, para prajurit sama berdiri tegak di samping pemimpin mereka.

"Hahaha! Laute sungguh hebat, seperti panglima besar di atas panggung sandiwara saja,"

Kata Liau-in sambil tertawa lebar demi nampak Lian Keng-hiau.

Kata-kata yang cukup menusuk perasaan ini membikin Lian Keng-hiau rada kurang senang, mukanya berubah, tetapi dengan cepat ia bisa kendalikan diri.

"Po-kok Siansu, maafkan Siau-ciang (panglima kecil) masih berjubah perang maka tak dapat menjalankan penghormatan,"

Sahut Lian Keng-hiau kemudian dengan tersenyum.

"Silakan Siansu menukar kuda, marilah kita jalan berendeng buat bercakap-cakap."

Perwira bawahannya segera menyediakan seekor kuda dan segera dicemplak oleh Liau-in.

"Laute, begitu kau menjadi jenderal, kau lantas banyak pakai tata cara segala, buat aku yang kasar ini, tentu tidak paham dan tak sungkan lagi,"

Ujar Liau-in dengan tertawa.

"Eh, apa kau lihat si budak cilik itu?"

Terhadap Lian Keng-hiau, senantiasa Liau-in memandang dia sebagai seorang bocah dan anggap diri sendiri sebagai angkatan tua, oleh karena itu ia tidak sungkan untuk berkata apapun, sudah tentu hal ini membikin Lian Keng-hiau kurang senang.

Akan tapi pemuda ini memang pintar membawa diri, ia mengerti Liau-in adalah orang yang diagulkan Si-hongcu, oleh sebab itu ia sangat menghormat padanya.

Karena itulah, ia sengaja pura-pura tidak tahu, sebaliknya ia bertanya.

"Budak cilik? Siapakah dia?"

"Aneh, apakah kau tak melihatnya tadi?"

Kata Liau-in lagi dengan heran.

"Budak cilik yang mana lagi? Sudah tentu aku maksud budak liar yang dibesarkan bersama kau itu!"

"Bukankah dia baik-baik tinggal di dalam istana pangeran?"

Sahut Lian Keng-hiau.

"O, kiranya kau memang tak melihatnya,"

Kata Liau-in.

"Kalau begitu dimana opas dari Hangciu?"

"Opas dari Hangciu apalagi?"

Sahut Lian Keng-hiau pura-pura tak mengerti.

"Po-kok Siansu, harap kau jangan memakai teka-teki, aku baru saja pulang dari menggempur pemberontak di Hokkian, urusan di sini sedikitpun aku tidak tahu-menahu."

"Kau betul-betul orang pintar yang banyak tugas, belum lama kau pulang dari Jinghay, kau telah diutus ke Hokkian lagi, dan kini tentu kau mendapat perintah rahasia dari Si-hongcu yang meminta kau lekas kembali ke kotaraja bukan?"

Tanya Liau-in.

"Betul,"

Jawab Keng-hiau.

"Dengan melalui Hangciu, sekalian aku akan menggiring serombongan tawanan kerajaan ke ibukota."

"Usiamu masih muda belia, tetapi dalam hal taktik perang ternyata kau sangat mahir, pantas Si-pwelek begitu memandang berat padamu,"

Liau-in mengumpak.

"Mana bisa aku mengimbangi ilmu silat Po-kok Siansu yang tiada tandingannya di jagat ini,"

Sahut Keng-hiau dengan tertawa. Biasanya Liau-in memang senang kalau ada orang memuji ilmu silatnya, tetapi kini karena ia habis mengalami kekalahan, dalam pendengarannya malah seperti suatu sindiran.

"Jika memang Si-hongcu ada perintah rahasia padamu, apa dia tidak membicarakan urusan si budak liar itu padamu?"

Tanya Liau-in mengada-ada.

"Tidak!"

Sahut Keng-hiau.

"Tampaknya Si-pwelek sangat menyukai budak cilik itu!"

Kata Liau-in lagi. Kata-kata ini membikin Lian Keng-hiau menjadi panas hingga hatinya berdebar, namun ia coba bersikap sabar dan tahan diri.

"Apa ya? Budak itu memang cerdik lagi molek parasnya, siapa saja yang melihatnya pasti suka,"

Sahutnya kemudian dengan tersenyum.

"Bukan begitu maksudku,"

Ujar Liau-in dengan tertawa.

"Menurut penglihatanku, rupanya Si-hongcu ada maksud menahannya agar kelak dimasukkan ke belakang istana (dijadikan selir)."

Kembali Keng-hiau terguncang hatinya.

"Apakah bukan Tay-su yang terlalu banyak curiga?"

Sahutnya dengan tertawa ewa. Mendengar jawaban ini, Liau-in tertawa. Lewat sejenak, ia buka suara.

"Terhadap Si-pwelek aku lebih mengenalnya daripada kau. Dia pun sama seperti aku, bangsa setan lapar terhadap paras elok. Meski budak liar itu masih kecil usianya, tetapi punya paras cantik bawaan, jika bukan Si-pwelek sudah menaruh hati padanya, tentu aku akan taksir dia! Lagi pula, walaupun usianya masih muda, namun sudah ada empat belas tahun, lagi dua tahun, tentu akan merupakan nona tercantik!"

Penuturan ini membikin pikiran Lian Keng-hiau menjadi kacau, ia gemas, mengkal, tetapi kuatir juga. Batinnya.

"Kiranya demikian soalnya, pantas Pang Lin tak mau kembali ke istana. Tetapi kalau Si-hongcu sudah jatuh hati padanya, cara bagaimana aku bisa menyembunyikannya?"

Begitulah sambil berpikir mereka melanjutkan perjalanan dengan berendeng, selang tak lama, sampailah di jalan raya di tepi telaga, tiba-tiba Liau-in melihat Han Cin-seng dan Ong Hun berdua sedang keluar dari penginapan yang pernah ditinggali Kam Hong-ti dan kawan-kawan dengan jalan terpincang-pincang.

"Kenapakah kalian? Dimanakah tawanan itu?"

Tegur Liau-in cepat sembari menahan kudanya.

"Sudah dirampas orang jahat!"

Ong Hun melapor.

"Tolol, goblok, dua orang menjaga seorang masih tidak mampu!"

Damprat Liau-in.

"Orang jahat macam apa, siang hari bolong berani merampas tawanan kita?"

"Itulah perbuatan seorang tabib gelandangan, ia menerobos datang dengan paksa, begitu melihat dia, si pemuda tawanan kita itu lantas memanggil dia sebagai engku (paman, adik ibu),"

Ganti Han Cin-seng yang melapor.

"Selagi kami membentak, siapa duga gerak tubuhnya cepat luar biasa, belum kami lihat jelas, tahu-tahu sudah kena kebutan lengan bajunya hingga kami terbanting roboh. Tatkala kami membuka mata lagi, tawanan sudah lenyap tanpa bekas."

Mendengar penuturan ini, Liau-in kaget, ia mengerti siapakah gerangan perampas tawanan itu, maka ia tak berani mendamprat orang lagi.

"Apa, dikebut dengan lengan baju kalian lantas roboh terbanting?"

Lian Keng-hiau tiba-tiba bertanya.

"Coba sini perlihatkan padaku!"

Perintah ini diturut kedua orang itu, mereka mendekat dengan kaki pincang.

Keng-hiau suruh mereka menggulung lengan celana, maka tertampak paha mereka ada tanda merah dan bengkak.

Mendadak Lian Keng-hiau mencubit keras paha mereka, karena di luar dugaan, kedua orang itu menjerit.

Saking sakitnya mereka melompat ke atas, tetapi aneh bin ajaib, sesudah itu rasa sakit jadi hilang seluruhnya, bahkan sudah bisa berjalan seperti biasa, tidak pincang lagi.

"Po-kok Siansu, tak bisa salahkan mereka, sesungguhnya mereka ketemu lawan hebat dari kalangan Bu-lim!"

Ujar Keng-hiau dengan tertawa sesudah ia sembuhkan orang.

"Darimana kau tahu?"

Tanya Liau-in heran.

"Apa kau lupa bahwa guruku adalah ahli waris Bu-kek-pay?"

Sahut Lian Keng-hiau.

"Justru kepandaian mengebut jalan darah dengan lengan baju yang disebut 'Liu-hun-hui-siu' ini adalah ajaran Bu-kek-pay kami. Cuma kekuatan latihan orang ini jauh lebih tinggi daripada guruku, jangan kata hanya dua kepala opas, seumpama orang lain yang ilmu silatnya lebih tinggi pun tak tahan kena dikebut lengan bajunya."

Keterangan ini membuat Liau-in lebih heran.

"Kalau begitu kau punya Cosu, Pho Jing-cu, masih punya ahli waris siapa lagi?"

Ia bertanya.

"Apakah angkatan tua Bu-kek-pay selain gurumu masih ada lagi yang pernah mendapatkan ajaran Pho Jing-cu?"

"Tidak, guruku satu-satunya ahli waris Bu-kek-pay!"

Jawab Lian Keng-hiau.

"Jika begitu, darimana bisa mendadak muncul seorang tabib kelana ini?"

Tanya Liau-in.

"Dia tak bisa dihitung sebagai orang Bu-kek-pay, tetapi dia dan Thaycosu (maksudnya Pho Jing-cu) kami memang mempunyai hubungan yang erat,"

Kata Keng-hiau.

"Siapakah dia?"

Tanya Liau-in.

"Kau kenal seorang di antara Thian-san-chit-kiam yang bernama Bu Ging-yao bukan?"

"Tentu saja!"

Sahut Liau-in.

"Dan tabib ini ialah adik Bu Ging-yao,"

Keng-hiau menerangkan.

"Bu Ging-yao punya seorang adik?"

Liau-in menegas.

"Ya, adiknya bernama Bu Sing-hua,"

Jawab Keng-hiau.

"Semenjak kecil ia sudah ikut ayah dan kakaknya jauh menetap ke daerah terpencil di barat, tatkala 'Chit-kiam' mengasingkan diri, waktu itu ia masih berupa bocah yang berusia belasan, beberapa puluh tahun ini ia hanya tinggal di tempat terpencil sana, di kalangan Bu-lim dia pun tidak pernah meninggalkan sesuatu lelakon, pantas Taysu tidak kenal dia."

"Kalau begitu, dia dan Bu-pek-pay kalian ada hubungan apa lagi?"

Tanya Liau-in pula.

"Cerita inipun aku dengar dari Suhu, katanya Thaysuco dan ayah Bu Sing-hua, yaitu Bu Goan-ing, tokoh kenamaan dari Conglam-pay itu, mempunyai ikatan persahabatan yang kekal sekali, oleh sebab itu Thaysuco pernah mengajarkan kepandaian hebat 'Liu-hun-hui-siu' itu pada Bu Sing-hua,"

Lian Keng-hiau menjelaskan lebih jauh.

(Mengenai Pho Jing-cu mengajarkan kepandaian hebat itu pada Bu Sing-hua dapat dibaca dalam Chau Guan Eng Hiong).

Karena keterangan ini, rasa hati Liau-in jadi banyak lega dan puas.

Pikirnya.

"Kiranya tabib gelandangan ini bukan orang sembarang orang, walaupun aku kalah dari dia masih berharga juga."

Demikianlah, mereka lantas melanjutkan perjalanan dengan kuda berjajar.

"Di antara tawanan kerajaan di Hangciu, ada seorang yang besar hubungannya dengan kau!"

Tiba-tiba Liau-in buka suara lagi.

"Siapakah dia, harap Taysu jangan berkelakar!"

Sahut Keng-hiau.

"Ini bukan kelakar,"

Sahut Liau-in sungguh-sungguh.

"Coba katakan, bukankah hubunganmu dengan Siau-lim-pay tidak kalah eratnya dengan hubungan antara Bu Sing-hua dengan Bu-kek-pay kalian bukan?"

"Sudah tentu,"

Kata Keng-hiau.

"malah sebagian ilmu silatku adalah ajaran Siau-lim-sam-lo (tiga tetua Siau-lim-si)."

"Nah, justru seorang sobat baik Suteku yang tak becus, Loh Bin-ciam, yang bernama In-hong Hwesio, dia ini adalah murid Siau-lim Kam-si (pengawas gereja Siau-lim) Pun-bu Siansu,"

Tutur Liau-in.

"Tertangkapnya Loh Bin-ciam kali ini, kabarnya In-hong juga tersangkut karena dicurigai mengirim berita untuknya, ia telah dikejar jagoan dari gubernuran hingga sampai di kaki bukit Sian-he-nia baru tertangkap. Kali ini kau diperintahkan membawa tawanan masuk kotaraja, tentu In-hong Hwesio akan diserahkan juga padamu."

"Kini aku adalah panglima kerajaan, aku hanya memegang teguh hukum, tidak nanti aku membela urusan pribadi,"

Sahut Keng-hiau dengan tertawa.

"Walau aku kenal In-hong Hwesio, pasti juga akan kugiring dia ke kotaraja."

Liau-in tertawa terbahak-bahak.

"Halia! Hukum apa segala! Lian cilik, jangan kau bikin mulas perutku,"

Katanya dengan masih tertawa.

"Apa artinya hukum kerajaan, aku tahu, kau pun tahu, di hadapanku buat apa kau bicara begitu enak didengar. Padahal apakah In-hong Hwesio betul-betul mengirimkan berita untuk Loh Bin-ciam, sampai kinipun masih belum ada bukti nyata."

Begitulah Liau-in menganggap dirinya lebih tua, maka ia berani jual lagak, apa yang dikatakan memang sesungguhnya, karena itu, Lian Keng-hiau jadi rikuh dan serba salah, diam-diam ia menaruh dendam pada Liau-in.

Setelah lewat beberapa lama lagi, akhirnya masuk kota Hangciu, mereka jadi heran ketika nampak di dalam kota terjaga keras, tiap sepuluh meter tentu terdapat penjagaan prajurit.

"Ada apa sampai begini tegang?"

Ujar Liau-in heran.

Habis itu segera ia keprak kudanya mendahului ke gubernuran untuk memberi kabar tentang datangnya Lian Keng-hiau.

Secara tergesa-gesa gubernur Ciatkang, Li Wi, segera menyambut kedatangan panglima muda ini.

Kembali bercerita mengenai Lu Si-nio dan kawan-kawan, setelah nona ini membantu Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan menggempur mundur Han Tiong-san dan Tang Ki-joan, ia menaksir Liau-in tentu akan mengejarnya, sebaliknya di gubernuran pasti kosong dan tiada jagoan yang menjaga, kesempatan ini bagus sekali buat menolong Suhengnya yang tertawan, maka segera ia keluarkan ilmu entengi tubuhnya yang luar biasa, untuk kedua kalinya malam itu ia mengunjungi gubernuran.

Tatkala ia sampai di tempat tujuan, waktu sudah hampir pagi, ayam jago mulai berkokok, ia lihat prajurit yang dinas jaga sedang melakukan pergantian.

Tetapi dengan enteng sekali tanpa mengeluarkan suara sedikitpun Lu Si-nio melompat lewat pagar tembok, ia masuk melalui taman bunga di belakang, di antara suasana pagi yang remang-remang ternyata tiada satu manusia pun yang memergoki dia.

Jalanan di dalam gubernuran itu memang sudah hapal, apalagi semalam ia sudah datang ke sini, ia tahu dimana Loh Bin-ciam dikurung, maka tanpa berbelit-belit lagi segera ia menuju ke gedung bcrbata hijau di bagian luar itu.

Dari atas gedung perlahan Lu Si-nio menyingkap sedikit lubang genting, dan coba mengintip ke bawah, pada saat itu ia dengar di bawah ada suara seorang anak gadis sedang berkata.

"Lu Si-nio Ia jadi terkejut disangka dirinya sudah ketahuan orang. Syukur ketika ia mendengarkan terus, nyata bukan begitu halnya.

"Lu Si-nio tak malu sebagai ksatria kaum wanita, sayang aku tidak bisa belajar seperti dia!"

Demikian lengkapnya perkataan tadi.

Dalam pada itu, pintu rahasia di pojok dinding dalam rumah tiba-tiba terbuka, terlihat putri Ciatkang Sunbu Li Wi, yaitu Li Bing-cu, sedang berjalan keluar dengan menggandeng Loh Bin-ciam.

Rupanya karena telah lama disekap di ruangan gelap, terlihat Loh Bin-ciam berulang kali mengedipkan matanya yang belum biasa dengan sinar terang, setelah sedikit lama baru ia bisa membuka mata seperti biasanya.

"Aneh, Siocia ini mengapa mempercakapkan diriku? Mengapa ia berani mengeluarkan tawanan dari kamar tahanan?"

Pikir Lu Si-nio dengan heran. Sementara itu terdengar Li Bing-cu telah berkata pula.

"Lu Si-nio betul-betul ksatria kaum wanita, tetapi sastrawan kekasihnya itu lebih-lebih adalah jantan dari kaum lelaki!"

Mendengar omongan ini, Lu Si-nio rada panas mukanya, tetapi dalam hati ia senang sekali karena kekasihnya dipuji.

"Darimana kau tahu?"

Tanya Loh Bin-ciam dengan tertawa.

"Dahulu dia pun pernah dikurung di sini,"

Sahut Li Bing-cu.

"ayahku telah mencoba memancing dan menggertak padanya, tetapi sedikitpun dia tidak gentar dan tunduk. Bila dia adalah kaum pendekar seperti kalian tidak perlu dibuat heran, tetapi justru dia adalah seorang sastrawan yang lemah!"

Senang sekali rasa hati Lu Si-nio yang mendengarkan dari atas rumah, seketika ia menyukai Li Bing-cu.

Sebenarnya Li Bing-cu adalah putri pembesar tinggi yang tak kenal urusan, tetapi sejak ikut ayahnya ke kamar tahanan menyambangi Sim Cay-khoan, ia telah mendengar ucapan Sim Cay-khoan yang dilontarkan dengan bersemangat dan berani, ketika ia dengar pemuda sastrawan ini menyindir ayahnya dengan mempergunakan syair Go Bwe-joan, tiba-tiba ia sadar, seperti melihat sinar matahari dalam kegelapan, terbangkit jiwanya, tergoncang hatinya, tadinya ia hanya anak gadis yang tertarik akan hal-hal yang baru, tetapi semenjak itu ia lantas suka secara sembunyi mencuri baca kitab larangan kerajaan, sampai kitab *Yang-ih-lok' karangan Lu Wan-joan diam-diam ia pun membacanya.

Sebab itulah, kali ini dia mau membela keselamatan Loh Bin-ciam, kecuali dia suka pada kecakapan dan kegagahan pemuda ini, perubahan pada jiwanya yang disebut tadi merupakan salah satu pokok yang terpenting.

Mendengar gadis ini begitu kagum atas diri Lu Si-nio dan Sim Cay-khoan, Loh Bin-ciam tersenyum.

"Sebenarnya kalau kau hendak meniru mereka juga tidak sulit, mari kita kabur bersama, pergi mencari mereka,"

Katanya kemudian. Akan tetapi ajakan ini membikin muka Li Bing-cu berubah hebat.

"Tidak, tak mungkin!"

Ia menggeleng kepala.

"aku tak mung-. kin meninggalkan ayah-bundaku!"

Meski jiwa Li Bing-cu sudah mengalami banyak kemajuan, tetapi masih belum sampai taraf meninggalkan keluarga dan membuang kedudukan dirinya sebagai putri pembesar yang dipuja.

Atas jawaban tadi, agaknya Loh Bin-ciam sangat kecewa, ia terdiam tanpa berkata lagi.

Li Bing-cu tersenyum melihat sikap kekasihnya itu.

"Tetapi pada kesempatan baik ini kau malah bisa melarikan diri,"

Katanya.

"Si gundul keparat Liau-in sebelum pagi tiba secara tergesa-gesa telah berangkat dengan memimpin serombongan opas, guruku pun masih tidur, di sini tiada jagoan lagi yang mampu merintangi kau, boleh kau melarikan diri tanpa kuatir!" , Hal ini sungguh di luar dugaan Loh Bin-ciam, dalam sebulan ini, ia hidup dalam tahanan, ia sudah dapat menyelami perasaan Li Bing-cu terhadap dirinya, sebenarnya tadinya ia kuatir nona ini akan menggoda dirinya terus, tak terduga ia malah melepaskan dia buat kabur, saking terharunya, seketika ia berbalik jadi ragu-ragu.

"Lekas, lekas berangkat!"

Li Bing-cu mendesak lagi sambil mendorong.

"Sebentar bila sudah terang tanah, untuk melarikan diri tentu tidak gampang lagi!"

Habis berkata, matanya tampak kemerah-merahan, dalam keadaan demikian tergoncanglah hati Loh Bin-ciam. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin.

"Bagus, anak perempuan selalu membela orang luar, apa kau hendak lepaskan dia kabur?"

Terdengar suara itu berkata, menyusul si wanita berbaju hijau dengan muka gusar masuk ke dalam.

"Suhu!"

Seru Li Bing-cu terkejut ketika nampak siapa yang datang. Namun si wanita baju hijau tak pedulikan dia, dan terus menghampiri Loh Bin-ciam, segera tangannya menjambret sambil membentak.

"Kembali ke dalam!"

Tapi sebelum jambretannya berhasil, sekonyong-konyong Lu Si-nio bersuit panjang, berbareng ia meloncat turun!

Wanita baju hijau ini memang istri Han Tiong-san yang bernama Yap Hing-poh, sebenarnya mereka suami-istri jauh tinggal di Kun-lun-san, belakangan Han Tiong-san berangkat ke daerah barat untuk mencari obat-obatan sambil menyambangi Sutenya, Thian-yap sanjin, tapi sampai beberapa tahun masih belum juga kembali ke gunung, ketika Yap Hing-poh turun gunung untuk menyelidiki, akhirnya ketahuan bahwa suaminya main gila dengan seorang begal wanita di daerah barat-laut yang bernama Ang Kim-nio.

Sudah tentu Yap Hing-poh gusar sekali, hingga mereka suami-istri cekcok hebat.

Belakangan Han Tiong-san bernaung di bawah Si-hongcu, sedang Yap Hing-poh pun datang di gubernuran Ciatkang dan menjadi guru Li Bing-cu.

Ilmu silat Yap Hing-poh tinggi dan Lwekangnya sangat dalam, meski usianya sudah lebih setengah abad, namun tampak masih seperti di bawah empat puluhan saja.

Hubungan antara Han Tiong-san dengan begal wanita itu memang hanya gendakan biasa saja, hakikatnya tidak terdapat arti kata cinta sedikitpun, karena itu, lama-lama Han Tiong-san menjadi bosan juga, tanpa terasa ia teringat lagi kepada istrinya.

Maka ia minta perantaraan Liau-in buat mengakurkan kembali.

Semula Yap Hing-poh tidak sudi dan menolak dengan ketus, tapi mengingat hubungan suami-istri yang dulu, akhirnya ia terima juga 'tawaran akur' itu, namun ia meminta suatu syarat yang cukup keji, yakni Han Tiong-san diharuskan membawa sebelah daun kuping dan sepuluh jari tangan Ang Kim-nio sebagai barang penebus dosa.

Wanita teraniaya di pengianapan semalam bukan lain ialah begal wanita itu.

Beruntung baginya Kam Hong-ti keburu datang tepat pada waktunya, dengan demikian Ang Kim-nio bisa lolos dari cengkeraman maut Han Tiong-san.

Begitulah, setelah Lu Si-nio melompat turun, segera pula pedang terhunus di tangannya.

Dalam kagetnya Yap Hing-poh segera melompat pergi beberapa tindak, berbareng ia lolos pedang pula.

"Loh-suheng, lekas ikut aku pergi!"

Seru Lu Si-nio.

"Lu Si-nio, orang lain mungkin takut padamu, tapi jangan kau kira aku takut padamu,"

Bentak Yap Hing-poh murka.

Berbareng pedangnya lantas menusuk.

Lu Si-nio tidak gentar oleh serangan orang, dengan tipu 'Pek-ho-ki-sit' (belekok putih menyelusup ke bawah sayap), berbalik ia babat tangan lawan dengan pedangnya.

Yap Hing-poh pun cukup sebat, dengan gerakan 'Hong-hong-tiam-thau' (burung cendrawasih memanggut kepala), pedangnya menabas miring ke samping, menyusul dengan tipu 'Go-eng-king-uh' (elang lapar pentang sayap), secepat kilat ia balas membacok lengan kiri Lu Si-nio.

"Ehm, tak jelek ilmu pedangmu!"

Sahut Lu Si-nio dengan tertawa.

Berbareng ia tarik pedangnya terus memutar, tiba-tiba ia tempel senjata lawan terus dipuntir, karena tidak menduga akan tipu gerakan ini, hampir saja pedang Yap Hing-poh terbang kena dipuntir..Bukan main terkejutnya, lekas wanita baju hijau ini pergunakan gerakan 'Sian-bin-can-seng' (bunyi tonggeret hampir berakhir), diam-diam ia memakai tenaga dalam untuk menarik, dengan demikian baru ia bisa melepas senjatanya.

Akan tetapi ilmu pedang Lu Si-nio memang lihai dan cepat sekali, dalam sekejap ia sudah menyerang tiga kali, Yap Hing-poh ke-cecar hingga tak berdaya, hanya bisa menangkis tak mampu membalas.

Namun wanita ini tidak gampang menyerah, ia terus melawan sekuatnya, sedikitpun tak mau mengalah, bahkan sembari menahan ia pun berteriak memanggil begundalnya.

"Hayo, mana orangnya, lekas keluar!"

Ilmu silat Yap Hing-poh sebenarnya tidak di bawah suaminya, oleh karena itu Lu Si-nio tidak ingin bertempur lebih lama, segera ia percepat serangannya.

"Loh-suheng, lekas naik ke atas rumah!"

Ia berseru.

Baru kini Loh Bin-ciam menurut, lebih dulu ia memberi salam hormat pada Li Bing-cu, habis itu baru ia mendorong daun jendela terus melompat keluar.

Begitu cepat Lu Si-nio mainkan pedangnya, sesudah belasan jurus pandangan Yap Hing-poh jadi kabur dan berkunang-kunang karena sinar pedang lawan yang gemerlapan, terpaksa ia mundur beberapa tindak.

Menyusul tubuhnya bergerak, ia pun menerobos keluar melalui jendela menyusul Suhengnya.

Bukan buatan amarah Yap Hing-poh, dengan pedang terhunus ia masih coba mengudak, akan tetapi dalam sekejap Lu Si-nio sudah melayang lewat tiga deretan rumah.

-Saat itu mendadak terdengar suara seruan Loh Bin-ciam di sebelah depan.

Tanpa ayal segera Lu Si-nio mempercepat gerak tubuhnya, secepat anak panah ia melayang ke depan, setelah melewati sederetan rumah lagi, tertampak Loh Bin-ciam sedang kececar oleh pukulan seorang, karena terdesak, Loh Bin-ciam agak kelabak-an, di samping itu ia dicegat pula oleh seorang yang berdiri di sebelah lain dengan tangan memegang sebuah pacul.

Kedua orang ini bukan lain adalah Tang Ki-joan dan Han Tiong-san.

Kiranya Tang Ki-joan yang tua ini cukup licin juga, sesudah dia dan Han Tiong-san digempur mundur oleh Kam Hong-ti dan Lu Si-nio di penginapan, ia tahu bahwa ada penjaga penginapan telah melapor pada yang berwajib di kota, ia lantas menduga tentu Lu Si-nio akan menggunakan kekosongan itu untuk menolong Suhengnya yang tertawan, maka bersama Han Tiong-san segera mereka putar jalan kembali ke kota, walaupun belakangan dari Lu Si-nio, namun mereka masih bisa tiba tepat pada waktunya sebelum Lu Si-nio kabur lagi.

Begitulah, ketika nampak Loh Bin-ciam berada dalam kedudukan yang berbahaya, belum tiba orangnya, lebih dulu Lu Si-nio menimpukkan senjata rahasianya dahulu, beruntun dua suara me-ngaung, dua pisau terbang telah menyambar musuh.

Han Tiong-san adalah ahli Am-gi, oleh karena itu dalam hal permainan ini tidak nanti ia kecundang, begitu ayun tangan, seketika tiga sinar mengkilap melayang dari tangannya.

Senjata rahasia yang dia latih ini disebut 'Han-kong-hui-pwe', kecer yang bersinar mengkilap, seluruh pinggiran kecer ini sangat tajam.

Tiga kecer lawan dua pisau terbang, nyata senjata Lu Si-nio tidak lebih unggul, kedua pisaunya kena dibentur jatuh, bahkan sebuah kecer yang tengah masih terus menyelonong mengarah dada nona ini.

Namun Lu Si-nio keburu mengayun pedang dan menyampuk kecer itu ke atas hingga senjata rahasia itu melayang ke belakang, berbareng si gadis kembali menghamburkan dua pisau lagi, yang satu mengarah Han Tiong-san dan yang lain mengincar Tang Ki-joan.

Dengan gampang Han Tiong-san mengelakkan serangan itu, ia melompat ke atas dan paculnya memukul jatuh pisau itu, menyusul ia terjun menubruk ke arah Lu Si-nio.

Di sebelah sana Tang Ki-joan pun dapat menghindarkan timpukan pisau terbang itu, kesempatan itu digunakan Loh Bin-ciam untuk berganti napas dan lolos dari tekanan telapak tangannya.

"Hendak lari kemana!"

Bentak Tang Ki-joan demi nampak pemuda itu hendak kabur.

Ia melompat ke seberang bukit-bukitan palsu buat menghadang.

Di pihak sini setelah Lu Si-nio menangkis bacokan pacul Han Tiong-san, kontan ia balas dengan tusukan pedangnya, tetapi karena tak ingin terlibat dalam pertempuran lebih lama dengan Han Tiong-san, maka dengan ilmu entengi tubuhnya yang tinggi dan gesit, ketika Han Tiong-san menyerang lagi dari samping, mendadak ujung pedang Lu Si-nio ditutulkan ke gagang pacul orang, ia pinjam tenaga yang Han Tiong-san kerahkan, tubuhnya lantas membal membalik ke atas, seperti burung saja, dari udara segera ia menubruk Tang Ki-joan.

Lekas Tang Ki-joan mengegos, ia hindarkan tusukan Lu Si-nio yang mengarah 'Hong-hu-hiat' di belakang punggungnya.

Tang Ki-joan adalah tokoh kawakan dari Heng-ih-pay, dengan sendirinya ilmu silatnya tidak lemah, dalam segala kerepotannya ia masih bisa memutar tabuh terus ganti tangan, kedua telapak tangannya yang satu mendorong ke depan dan yang lain menarik, pada waktu Lu Si-nio belum bisa menancapkan kaki ke bawah, secepat kilat ia menyerang tempat lemah gadis ini di bagian perut.

Serangan ini adalah tipu yang lihai dan mematikan, tak terduga Kiam-hoat Lu Si-nio terlebih hebat dan beraneka ragam perubahannya, waktu masih terapung di udara agaknya ia sudah menduga akan tipu serangan lawan, maka ketika pedang ditusukkan tadi, dengan cepat ia putar kembali, ia incar dengan cepat lagi tepat, begitu kedua telapak tangan Tang Ki-joan menghantam, segera pedangnya menyabet.

Beruntung Tang Ki-joan cukup tangkas lagi banyak pengalaman, lekas ia menjatahkan diri terus menggelinding ke samping, dengan cara begini baru ia bisa menghindarkan bahaya putusnya kesepuluh jari, sekalipun demikian, tidak urung ia kena didepak Lu Si-nio hingga terpental.

"Loh-suheng, lekas pergi, biar aku melindungi kau dari belakang!"

Kembali Lu Si-nio berseru.

Menyusul ia berkata pula dua istilah rahasia dari perguruannya untuk memberitahu dimana adanya Kam Hong-ti dan kawan-kawan Dalam pada itu Han Tiong-san sudah melompat maju lagi, paculnya mengemplang dari atas, tetapi bukannya Lu Si-nio mundur melainkan maju memapaki musuh, dengan cepat pedangnya menusuk dua kali yang mengarah 'Ciang-bun-hiat' kedua belah iga lawan, serangan ini memaksa Han Tiong-san mundur kembali beberapa tindak sambil melintangkan paculnya buat menjaga diri.

Sementara itu Loh Bin-ciam sudah berhasil melewati pagar tembok terus kabur dengan selamat.

Dalam pada itu Yap Hing-poh pun sudah memburu datang, ketika ia melihat Han Tiong-san sedang menempur Lu Si-nio dengan sengit, ia jadi tertegun, rasa suka-dukanya bercampur aduk.

"Setan tua, buat apa kau kemari?"

Teriaknya pada sang suami.

"Perempuan baik, urusan kita boleh diselesaikan nanti, sekarang lekas bantu membekuk budak hina ini!"

Seru Han Tiong-san.

Di sebelah sana, setelah Tang Ki-joan bisa berdiri kembali dari jatuhnya, ia menjadi murka, ia ikut mengeroyok dari samping dengan serangan hebat, dari pihak penyerang kini Lu Si-nio dipaksa menjadi pihak terserang.

Dalam keadaan demikian, mau tak mau Lu Si-nio rada kerepotan juga, pikirnya.

"Sekalipun kepandaianku lebih tinggi, tapi kalau harus menandingi tiga jagoan kelas satu yang mengeroyok berbareng akan kewalahan juga."

Begitulah ia berusaha melepaskan diri.

Tiba-tiba ia pura-pura menusuk, berbareng tangan kirinya mencakar muka Tang Ki-joan.

Bagaimanapun Tang Ki-joan sudah pernah merasakan kelihaiannya orang, maka ia selalu berlaku hati-hati, melihat dirinya diserang, lekas ia menunduk buat menghindarkan cakaran orang.

Kesempatan ini segera digunakan Lu Si-nio dengan baik, pedangnya membalik terus menusuk Han Tiong-san, sedang tubuhnya segera menerobos lewat di bawah telapak tangan Tang Ki-joan.

Meskipun demikian, belum juga Lu Si-nio bisa meloloskan diri karena Yap Hing-poh sudah menghadang di depannya.

Namun Lu Si-nio sigap sekali, begitu kakinya menutul tanah, kembali ia meloncat, di udara ia putar pedangnya terus melayang lewat melalui kepala Yap Hing-poh.

Sudah tentu wanita ini tidak rela melepas musuh mentah-mentah, ia angkat pedangnya terus membabat ke atas, tetapi dengan tepat kena dibentur oleh senjata Lu Si-nio yang waktu itu sedang ditikamkan ke bawah, sesaat kemudian Lu Si-nio sudah melayang naik ke atas bukit-bukitan di depan sana, dengan sekali melompat lagi ia pasti sampai pagar tembok dan bisa kabur.

Tetapi pada saat itu, dengan sekali suitan aneh, mendadak Han Tiong-san sekaligus menghamburkan lima buah kecer terbangnya.

Demi mendengar suara riuh yang menggema di angkasa, Lu Si-nio mengerti datangnya senjata rahasia musuh sangat cepat lagi kuat, maka tak berani berlaku ayal, ia putar pedang ke atas, tetapi ternyata tiada satu kecer pun yang kena terbentur oleh senjatanya, kelima kecer melayang lewat setinggi tiga kaki di atas kepalanya.

Lu Si-nio jadi heran, mengapa kejituan menimpuk senjata rahasia musuh bisa meleset begitu jauh dari sasaran!?

Meskipun hatinya sangsi, tetapi keadaan sudah genting, sedikit ayal saja kesempatan untuk kabur bisa lenyap, maka tanpa pikir panjang, baru saja kecer menyambar lewat di atas kepala, segera ia tutulkan kaki pada batu cadas bukit-bukitan itu, ia keluarkan ilmu entengi tubuh yang luar biasa, dengan gerakan Tt-ho-jiong-thian' (burung bangau menjulang ke langit), ia melayang menuju ke pagar tembok.

Sama sekali tidak terduga, baru saja ia melompat naik, mendadak kelima kecer tadi tiba-tiba membelok balik berbareng, yang satu dari sebelah atas mengarah kepala, satu lagi dari jurusan bawah hendak menabas kedua kaki, lalu dari sebelah kiri dan sebelah kanan masing-masing sebuah mengarah kedua lengannya dan yang paling akhir menyambar dari tengah mengarah hulu hatinya, semuanya cepat dan keras datangnya.

Tidak usah kena kelima kecer sekaligus, cukup terkena satu saja, umpama tidak terbinasa, sedikitnya akan cacat anggota badannya.

Han-kong-hui-pwe dan Hwe-goan-kau yang digunakan Han Tiong-san merupakan senjata rahasia kenamaan dan disegani, jika Hwe-goan-kau bisa berputar dan menikung sendiri, merupakan senjata rahasia yang jarang ada di kalangan Kangouw, maka lebih-lebih dengan Han-kong-hui-pwe yang bisa dilepaskan dengan gerakan tangan untuk membikin terpencar lalu balik menyerang musuh, benar-benar senjata rahasia yang susah dihadapi.

Kini secara berbareng Han Tiong-san menghamburkan Hui-pwe atau kecer terbangnya sebanyak lima buah, ia menaksir Lu Si-nio pasti tidak terluput dari bencana serangan ini, tanpa terasa Han Tiong-san bergelak tertawa, namun ketika teringat olehnya paras Lu Si-nio secantik bidadari dalam sekejap akan terbinasa begitu saja, diam-diam ia merasa sayang dan gegetun juga.

Di pihak lain, tubuh Lu Si-nio sedang terapung di udara, kedudukannya sangat tidak menguntungkan, ia jadi serba susah.

Akan tetapi justru dalam keadaan demikian inilah ia bisa unjuk kepandaiannya yang tinggi dan luar biasa, selagi masih terapung di udara, ia ayun pedangnya menangkis ke kanan dan ke kiri, ia bikin kedua kecer yang mengarah kedua lengannya terbang terpental, menyusul dengan cepat ia membaliki senjatanya, dengan gagang pedang ia menjodok ke depan, dengan demikian kecer yang datang dari arah tengah kena dibentur pergi.

Pada saat itu, di bagian atas dan bawah masih ada dua kecer yang mengarah kepala dan kakinya, tampaknya susah untuk menghindarkan diri.

Akan tetapi Lu Si-nio bukan Lu Si-nio jika dia sampai kecundang, mendadak ia mengerut badannya, kedua kakinya ia tekuk ke atas, dengan demikian tiba-tiba badannya diperpendek satu kaki, maka melayang lewatlah dua kecer itu, satu di atas kepalanya dan yang lain di bawah kakinya!

Serangan total itu ternyata dapat dielakkan Lu Si-nio tanpa luka seujung rambut, maka dengan selamat kemudian ia bisa melayang naik ke atas pagar tembok.

Tetapi baru Lu Si-nio menarik napas lega dan berniat melompat turun dari pagar tembok itu, tiba-tiba ia dengar suara mengaung datang lagi dari belakang, ia mengira kecer itu lagi, maka tak berani melompat pergi, lekas ia menyabet ke belakang dengan tipu 'Hwe-hong-sau-liu' (angin membalik menyapu dahan pohon Liu), ia pa-paki senjata rahasia yang datang ini, maka tertampaklah sebuah benda melengkung kena dipukul jatuh ke tanah.

"Sungguhpun senjata rahasianya cukup lihai, tetapi bisa berbuat apa padaku!"

Seru Lu Si-nio tertawa.

Namun belum lenyap suaranya, mendadak ia rasakan sambaran angin yang keras menubruk datang dari muka, ternyata Thian-yap Sanjin muncul mendadak dari tempat gelap, begitu berhadapan ia membelah dengan telapak tangannya.

"Budak hina, jangan kau lupa masih ada aku yang menunggu kau di sini!"

Serunya lantang dengan tertawa.

Nampak munculnya orang secara tiba-tiba, sekalipun kepandaian Lu Si-nio sangat tinggi dan nyalinya besar, Kiam-hoatnya tiada bandingannya, tidak urung ia rada keder juga.

Ia tahu ilmu silat Thian-yap Sanjin masih di atas Han Tiong-san, apalagi ia tidak tahu, kecuali Thian-yap Sanjin, entah masih ada jagoan siapa lagi yang sedang menantikan dia.

Sebenarnya Thian-yap Sanjin bukan sengaja menantikan kedatangan Lu Si-nio, dia datang kemari sebenarnya hendak mencari Suhengnya, yaitu Han Tiong-san.

Belum sampai di tempatnya telah terdengar suara mengaungnya senjata rahasia sang Suheng yang khas, maka ia lantas memburu datang mengikuti suara itu dan justru berpapasan dengan Lu Si-nio yang sedang menerjang keluar dari kepungan, ia cukup kenal ilmu entengi tubuh Lu Si-nio yang tinggi, oleh sebab itu begitu berhadapan segera ia menyerang dengan hantaman berat untuk memaksa gadis ini mundur kembali, dengan demikian sambil menunggu datangnya sang Suheng buat mengeroyok Lu Si-nio.

Begitulah, tatkala mendadak diserang, Lu Si-nio tidak berani paksakan diri menyambut tenaga pukulan orang, betul juga ia terdesak mundur beberapa tindak, tetapi mendadak benda melengkung yang tadi dia pukul jatuh tiba-tiba menggelinding terus berputar dengan cepat, sekonyong-konyong senjata rahasia -ini melayang naik terus menyambar kedua kaki Lu Si-nio.

Bukan main kejut Lu Si-nio oleh serangan senjata rahasia yang pergi-balik ini, dia benar-benar belum pernah melihat senjata rahasia Hwe-goan-kau Han Tiong-san yang luar biasa ini.

hampir saja ia terkait kakinya.

Syukur dengan cepat ia sempat tutulkan ujung pedangnya ke tanah, menyusul lantas meloncat naik ke atas, maka melayang lewatlah Hwe-goan-kau itu dari bawah kakinya dengan membawa suara mengaung.

Sementara itu dengan cepat Thian-yap Sanjin telah merangsek lagi, beruntun kedua telapak tangannya memukul, serangan ini dapat dihindari Lu Si-nio dengan melompat ke atas atau mendak ke bawah, berkelit ke kanan dan mengegos ke kiri secara gesit, tetapi baru saja ia bisa menghindarkan serangan yang satu, tiba-tiba serangan yang lain datang lagi, kaitan yang melayang lewat di bawah kakinya tadi sesudah membentur tembok tiba-tiba terpental balik pula.

Pada waktu itu Han Tiong-san sudah melompat keluar pagar tembok.

"Sute, gunakan tenaga pukulanmu buat mementalkan pedangnya!"

Serunya pada Thian-yap Sanjin.

Berbareng tangannya diayun, ia lepaskan lagi dua kecernya yang terakhir, bahkan ia menggunakan gerak tangan yang sangat keji, kecer yang satu ia timpuk-kan dengan gerakan yang biasa dan mengarah ke punggung, tetapi kecer kedua sengaja ia gunakan gerak memotong, yakni memakai gerakan efek, setelah melayang pergi bisa berputar balik, malahan di antara dua kecernya ini ia tambahi satu senjata rahasia lain berupa jarum.

Setelah Lu Si-nio bisa menghindarkan tenaga pukulan Thian-yap Sanjin, benda melengkung yang menyambar balik tadi telah sampai lebih dulu, tetapi dari suara sambaran anginnya, Lu Si-nio tahu benda yang sudah tiga kali putar balik ini kekuatannya sudah lemah, maka ketika ia membelah ke samping dengan pedangnya, kaitan itu ditabas kutung menjadi dua keping, meskipun benda ini masih berputar di tanah, namun sudah tak mampu melayang naik lagi ke atas.

Habis itu Lu Si-nio berdiri tak bergerak, dengan pedang terhunus ia siap menantikan kecer orang yang bakal berputar kembali, lalu ia hendak menahasnya lagi.

Tak tersangka kecer yang mengarah ke punggungnya adalah senjata rahasia yang ditimpuk bukan dengan cara biasa, cepat lagi jitu, ketika mendadak Lu Si-nio mendengar dari belakangnya angin tajam menyambar, tahu-tahu kecer itu sudah sampai di punggungnya, dalam keadaan genting itu ia masih bisa membalikkan pedang untuk menyampuk.

Baru saja ia berhasil memukul jatah kecer yang datang dari belakang itu, tiba-tiba kecer yang datang dari depan menyambar secepat kilat, lekas Lu Si-nio tarik pedangnya mencukil ke depan.

Pada saat Lu Si-nio sedang kerepotan menghadapi serangan kecer itu, mendadak Thian-yap Sanjin membentak, ia melompat maju setombak dari Lu Si-nio, dari sini ia kumpulkan tenaga, dari jauh ia pukulkan tangannya, karena itu ujung senjata Lu Si-nio terguncang melenceng, sedang kecer yang hendak dia cukil itu menyerempet batang pedangnya terus menurun miring, dengan cepat Lu Si-nio berusaha melompat, akan tetapi mendadak ia rasakan betisnya kesakitan, ternyata j aram yang Han Tiong-san selipkan di antara dua kecer berhasil menancap masuk betisnya!

Secara berbareng Han Tiong-san telah keluarkan tiga macam senjata rahasianya yang aneh dan luar biasa, ditambah lagi tenaga pukulan Thian-yap Sanjin yang membantu dari samping, akhirnya Lu Si-nio kecundang juga.

Dalam pada itu, Tang Ki-joan bersama Yap Hing-poh susul-menyusul pun sudah sampai di belakang Han Tiong-san, mereka melompat turun keluar pagar tembok juga.

Nampak musuh ini.

mau tak mau Lu Si-nio mengeluh.

"Celaka, tidak nyana hari ini jiwaku melayang di sini!"

Pikirnya.

Tetapi bila teringat sakit hati keluarga dan dendam negara belum terbalas, kekasihnya pun sedang rebah sakit, kawan-kawannya sedang mengharap di tempat jauh, sekonyong-konyong semangatnya terbangkit dan menyala kembali.

"Tidak, aku tidak bisa mati begini saja!"

Pikirnya lagi.

Dengan menahan rasa sakit tiba-tiba pedangnya berkelebat, laksana burung menyusur rimba cepatnya, mendadak ia menerobos keluar dari samping kiri Thian-yap Sanjin.

Melihat lawan yang sudah terluka tapi masih berani menerjang terus, Thian-yap Sanjin tertawa dingin, ia gerakkan tangannya lagi, satu atas dan yang lain bawah, yang kiri menahan dan yang kanan menghantam.

Tak terduga Lu Si-nio malah memapaki serangannya, pedang berkelebat secepat kilat, ujung senjata sekonyong-konyong menusuk ke depan melalui lowongan kedua telapak tangannya yang berwujud setengah lingkaran itu terus mengarah dadanya di bagian 'Soan-ki-hiat', dalam keadaan begini bila Thian-yap mau mengatupkan kedua telapak tangannya, maka dapat dipastikan jiwa Lu Su-nio akan melayang, sebaliknya Thian-yap sendiri pun tidak bakal hidup lagi.

Dalam sekejap itu, secara otomatis Thian-yap Sanjin dekukkan dada dan sedot perutnya, dengan tangan kiri menyanggah gagang senjata orang, sementara tangan Lu Si-nio yang halus itu menyerang sambil menjaga diri, lebih dulu ia hindarkan serangan lawan tadi.

Tetapi Lu Si-nio tidak memberi kesempatan padanya, berbareng ia menggeser tubuh ke samping, pedangnya miring terus menusuk lagi ke iga Thian-yap Sanjin, dengan demikian Thian-yap dipaksa menggeser ke samping juga, kesempatan itu dipergunakan Lu Si-nio dengan baik, mendadak ia putar pedangnya dengan cepat, menyusul ia meloncat lewat di atas kepala Thian-yap Sanjin terus melarikan diri secepatnya.

Gusar sekali Thian-yap Sanjin karena dirinya dilangkahi wanita, segera ia mengudak, di belakangnya mengejar juga Han Tiong-san dan istrinya bersama Tang Ki-joan.

Sebenarnya dalam hal Ginkang, Lu Si-nio masih setingkat lebih tinggi daripada Thian-yap Sanjin, kalau dibanding Han Tiong-san suami istri dan Tang Ki-joan, maka nona ini jauh lebih tinggi lagi.

Tetapi kini betisnya terkena jarum Han Tiong-san, Ginkangnya jadi banyak berkurang dan tak leluasa, terpengaruh banyak sekali kepandaiannya berlari cepat di tanah datar.

Tak lama kemudian, Lu Si-nio di depan dengan dikejar Thian-yap Sanjin berempat di belakang, sudah keluar benteng kota Hangciu.

Prajurit yang menjaga di atas benteng hanya nampak beberapa bayangan melayang lewat dengan membawa sambaran angin, untuk menegasi siapa orangnya, lelaki atau perempuan saja tak jelas, jangan kata untuk mencegat.

Semula Lu Si-nio masih bisa paksakan diri menahan sakit, selama kira-kira setengah jam ia masih bisa mempertahankan jarak lima tombak lebih dengan Thian-yap Sanjin, sedang Han Tiong-san dan kawan-kawan ketinggalan lebih jauh lagi, mungkin lebih dari belasan tombak.

Tetapi sesudah lewat setengah jam, lama-kelamaan Lu Si-nio merasakan betisnya makin sakit, langkahnya menjadi lambat, sebaliknya Thian-yap Sanjin mengejar terlebih kencang, kini jarak antara mereka tidak ada tiga tombak lagi.

Merasa musuh yang mengejar itu makin dekat, usahanya buat kabur agaknya akan gagal, tiba-tiba Lu Si-nio menjadi nekat, daripada mati konyol lebih baik bertempur mati-matian.

Karena itu mendadak ia memperlambat langkah terus menusuk ke belakang.

Tentu saja Thian-yap Sanjin tidak menduga akan tindakan Lu Si-nio, padahal ia sedang mengejar dengan kencang, hampir saja ia tertusuk tembus oleh pedang lawan, untung dia keburu menjatuhkan diri ke samping sehingga terhindar dari bahaya kematian.

Serangan mendadak yang membikin musuh kalang-kabut itu sangat menggirangkan Lu Si-nio, segera ia berlari pula dengan menahan sakit.

"Budak kurangajar,.berani kau mempermainkan aku!"

Bentak Thian-yap dengan murka sambil mengudak pula, Selang tak lama, rasa sakit betis Lu Si-nio bertambah, sedangkan jarak Thian-yap Sanjin yang mengejar makin mendekat, tinggal satu dua tombak lagi jauhnya.

Segera Lu Si-nio gunakan cara tadi, sekonyong-konyong ia membalik dan menusuk dengan pedangnya.

Namun sekali ini Thian-yap Sanjin sudah berjaga lebih dulu, segera ia kerahkan tenaga pukulan, sambil membentak kedua tangannya menghantam dengan dahsyat.

Seketika Lu Si-nio merasa angin keras menyambar tiba, dada terasa sesak, memangnya dia sudah lelah, kini tergetar oleh angin pukulan keras, tanpa ampun lagi ia sempoyongan ke tepi jalan dan jatuh terduduk.

Lu Si-nio merasa jiwanya sekali ini pasti melayang.

Dalam keadaan tak berdaya ia hanya pejamkan mata dan pasrah nasib, pada saat gawat itulah tiba-tiba ia merasa tubuhnya seperti ditarik seseorang terus dilemparkan, berbareng terdengar suara orang mengucap "Buddha".

Waktu ia membuka mata kembali, ternyata dirinya sudah berdiri di atas tanah tanpa kurang suatu apapun.

Nyata cara lemparan orang itu sedemikian bagus dan tepat sehingga tubuhnya seperti diangkat orang untuk kemudian dilepaskan kembali ke tanah dengan perlahan-lahan.

Di lain pihak tatkala Thian-yap Sanjin nampak Lu Si-nio kena dihantam roboh oleh tenaga pukulannya, bukan main girangnya, segera ia menubruk maju.

Akan tetapi sebelum ia bisa berbuat lebih jauh, tiba-tiba ia dengar suara orang menyebut.

"O-mi-to-hud!"

Menyusul seperti ada orang membisiki telinganya.

"Kalau dapat lepas tangan hendaklah lepaskan tangan, bila bisa ampuni orang hendaklah ampuni orang!"

Suara bisikan itu sekata demi sekata terdengar jelas dan tandas sekali.

Waktu Thian-yap Sanjin menegasi sambil pasang kuda-kuda siap menyerang dan menjaga diri, terlihat berdiri di depannya seorang Hwesio tinggi kurus dengan jubah putih biru, kaki memakai sepatu terbuat dari serat rami, tangan membawa kebut, di pergelangan tangan yang lain tergantung segandeng biji tasbih.

Hwesio ini bukan lain ialah Pun-bu Taysu, Kam-si atau pengawas Siau-lim-si adanya!

Demi mengenali siapa yang dihadapinya, Thian-yap Sanjin jadi mengkeret, sudah pernah ia saksikan kepandaian Pun-bu Siansu yang lihai ketika ia mengiringi Si-hongcu ke Siau-lim-si dahulu, oleh karenanya ia tak berani unjuk kecongkakan.

"Sanjin tentu baik-baik selama ini!"

Terdengar Pun-bu Taysu bertanya dengan merangkap kedua tangan. Lekas Thian-yap Sanjin balas menghormat dan menjawab.

"Tentu Siansu sendiri pun sehat-sehat juga!"

"Baik juga berkat doamu,"

Sahut Pun-bu.

"Sebagai ketua suatu cabang silat kenamaan, kiranya Sanjin ada tempo juga berpesiar ke Hangciu sini?"

Sudah tahu, tapi Pun-bu sengaja bertanya, keruan Thian-yap Sanjin gelagapan dan mukanya merah, seketika tak sanggup menjawab.

Sementara itu Han Tiong-san suami-istri beserta Tang Ki-joan pun sudah menyusul tiba.

Di antara mereka bertiga hanya Tang Ki-joan yang kenal Pun-bu Siansu, ia pun jeri menghadapi Hwesio tua ini.

Tapi tidak demikian dengan Han Tiong-san suami-istri, mereka belum pernah melihat Pun-bu, ketika mereka nampak Thian-yap Sanjin sedang saling memberi hormat dengan seorang Hwesio, sedang Lu Si-nio berdiri di samping, mereka jadi terheran-heran.

"Mengapa Sute berhenti di sini?"

Han Tiong-san menegur. Habis itu ia angkat paculnya terus mengemplang Lu Si-nio. Namun Pun-bu Taysu keburu maju mencegahnya.

"Buat apa Si-cu (tuan budiman) harus cekcok dengan seorang anak perempuan, lihatlah muka Pinceng dan ampuni dia!"

Dengan merangkap tangan Pun-bu berkata sambil tersenyum. Tetapi Han Tiong-san jadi gusar.

"Peduli apa dengan kau?"

Ia membentak, berbareng paculnya diayun terus membacok lagi.

"Jangan!"

Thian-yap Sanjin coba mencegah Suhengnya.

Akan tetapi sudah terlambat, Pun-bu sudah gerakkan kebutnya ke atas, sekali tangkis, seketika Han Tiong-san merasakan satu kekuatan yang hebat sekali laksana ribuan kati menindih turun, paculnya kena ditahan dan terlilit kebut orang.

"Suheng, ini adalah paderi berilmu, Pun-bu Taysu, Kam-si dari Siau-lim-si!"

Lekas Thian-yap Sanjin menerangkan sebelum keadaan menjadi lebih runyam.

Mau tidak mau Han Tiong-san terkejut juga mendengar nama orang yang tersohor itu, sementara Pun-bu telah kendurkan kebutnya hingga Han Tiong-san bisa menarik kembali paculnya.

"Penjahat wanita ini adalah cucu pengkhianat Lu Liu-liang, Taysu adalah paderi berilmu tinggi, mengapa melindungi dia?"

Secara bandel Han Tiong-san masih berani menegur. Sebagai jawaban Pun-bu Taysu tertawa mengejek.

"Soal Wan-joan Siansing berkhianat atau tidak, tak perlu diurus,"

Sahutnya kemudian.

"Tetapi kalian berdua adalah tokoh kenamaan dari Bu-lim dan pemimpin sesuatu cabang persilatan, entah sejak kapan kalian bekerja pada kerajaan, apa kalian membawa surat perintah penangkapan dari pembesar negeri?"

Kembali sudah tahu Pun-bu sengaja bertanya, ia sudah tahu bahwa mereka telah menjual diri pada Si-hongcu, namun sengaja ia bertanya dengan kata-kata sindiran, sudah tentu dengan kedudukan Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin, tidak nanti mereka bekerja untuk pembesar negeri setempat.

Sebenarnya Han Tiong-san gusar sekali atas sindiran orang, tetapi ia tak berani bertindak secara gegabah.

Sementara itu setelah mengaso sebentar, tenaga Lu Si-nio rada pulih, segera ia ayun tangan melepas tiga anak panah bersuara, satu bersuara panjang dan yang dua pendek, terus menggema ke angkasa, lalu dengan pedang melintang di dada ia lantas tantang orang dengan tertawa dingin.

"Thian-yap Sanjin, kau mempunyai Suheng, aku pun punya Suheng. Jika kau hendak main keroyok, kami pun ada orangnya yang akan menyambut kalian. Kalau kau hendak satu lawan satu, maka coba tetapkan harinya dan katakan peratarannya, pasti aku layani kau."

Dampratan ini membikin Thian-yap Sanjin menjadi malu, serba salah juga.

Sebab mereka berdua saudara seperguruan sudah lama terkenal, dengan kedudukannya, satu lawan satu menempur Lu Si-nio saja sudah bisa dikatai orang tua lawan muda, apalagi sekarang mereka menang secara keroyokan, dengan empat jagoan kelas satu mengembut' seorang wanita, sekalipun mereka bisa menewaskan jiwa Lu Si-nio, namun bila tersiar di Kangouw tidak mungkin mereka dibenarkan.

Begitulah demi nampak Lu Si-nio melepaskan anak panah bersuara, Han Tiong-san mengerti ia sedang memanggil saudara seperguruannya.

Ia berpikir.

"Si gundul tua Pun-bu ini sungguh luar biasa, dengan sekali gerak tadi sudah bisa diketahui dia tidak boleh dibuat main-main. Sedang si budak hina, Lu Si-nio ini meski terluka, namun sedikitnya masih sanggup bertempur lagi. Dengan kami berempat melawan mereka berdua saja belum tentu bisa menang, apalagi kalau nanti Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan menyusul datang, dapat dipastikan pihak sendiri akan kalah."

"Si-nio, di hadapan orang tua jangan bersikap unggulkan diri!"

Sementara terdengar Pun-bu Taysu membuka suara dengan tersenyum.

"Percekcokan lebih baik diselesaikan daripada dilangsungkan, di antara kalian toh tiada sakit hati atau dendam, perlu apa harus berjanji buat bertanding segala? Menumt pendapatku, umsan hari ini paling baik dibikin habis saja sampai di sini."

Dengan kata-kata ini kelihatannya dia omeli Lu Si-nio, tetapi sebenarnya ia mendamprat Thian-yap Sanjin dan Han Tiong-san.

Sebab di kalangan Bu-lim, kedudukan Pun-bu Siansu sejajar dengan Ie Lan-cu, tingkatannya sangat tinggi dan dihormati, Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin berdua masih rendah setengah tingkatan daripadanya.

Karena itulah Thian-yap Sanjin lantas mundur teratur.

Segera ia mendahului memberi hormat.

"Apa yang Taysu katakan tentu kami turut dengan hormat,"

Ujarnya. Sebaliknya Han Tiong-san masih penasaran, ia masih kurang terima.

"Urusan hari ini boleh selesai di sini tetapi urusan kelak tidak bisa dibiarkan,"

Katanya.

"Itulah aku tak peduli,"

Sahut Pun-bu Taysu tertawa. Begitulah setelah Han Tiong-san berempat pergi, Pun-bu Siansu lantas bertanya pada Lu Si-nio.

"Nyalimu sungguh besar, mengapa kau berani melawan empat gembong iblis ini seorang diri!"

"Itu karena terpaksa,"

Sahut Lu Si-nio. Lalu ia menceritakan kisah pengalamannya.

"Siau-lim-si tidak beruntung telah mengeluarkan seorang murid murtad seperti Ong Cun-it hingga kalian kaum pendekar Kangouw ikut terkena bencana,"

Ujar Pun-bu dengan menghela napas penyesalan.

Sebagaimana diketahui, Ong Cun-it adalah nama samaran Si-hongcu, si Pangeran keempat In Ceng, karena sudah biasa memanggil Ong Cun-it, maka walaupun sudah tahu bahwa Sutitnya ini In Ceng adanya, namun bila menyebutnya masih tetap memakai nama seperti biasa.

"Seumpama In Ceng tidak masuk ke pintu perguruan cabang Taysu, tentu juga ia akan bermusuhan dengan kita,"

Sahut Lu Si-nio dengan tertawa.

"Soal ini tiada sangkut-pautnya dengan Siau-lim-si, harap Taysu jangan sesalkan diri."

Tengah mereka bicara, menddak mereka mendengar menga-ungnya anak panah yang menggema di angkasa, dua suara panjang dan satunya pendek.

"Kam-chitko sudah datang!"

Kata Lu Si-nio dengan girang.

Selang tak lama, betul saja tertampak Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan sudah mendatangi dengan c.epat.

Demi nampak muka Lu Si-nio rada pucat, mereka jadi kaget, tetapi kemudian setelah nampak Pun-bu Taysu juga berada di samping, mereka menjadi girang pula.

Lalu Lu Si-nio menceritakan pengalamannya dan pertolongan Pun-bu Taysu tadi, lekas Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan menghaturkan terima kasih.

"Bagaimana dengan lukamu, Pat-moay?"

Tanya Kam Hong-ti kemudian.

"Beruntung senjata rahasia musuh tidak berbisa!"

Sahut Si-nio sambil memijat betisnya yang terluka.

"Senjata rahasia apakah?"

Tanya Pek Thay-koan.

"Hanya sebuah jarum kecil,"

Si-nio menerangkan. Pek Thay-koan ahli menggunakan senjata rahasia jarum Bwe-hoa-ciam, maka ia pandai pula menyembuhkan luka semacam ini.

"Jika tak berbisa, itulah gampang,"

Katanya kemudian.

"kalau tempat luka dibelih sedikit, lalu disedot keluar saja dengan besi pengisap (besi sembrani)."

Di lain pihak, Kam Hong-ti pun sedang bercakap dengan Pun-bu Taysu.

"Ada keperluan apakah Taysu turun gunung?"

Ia bertanya.

"Aku mempunyai seorang murid yang mengetuai kelenteng Cu-in-si di Siau-san-koan,"

Sahut Pun-bu.

"Ha, tentu In-hong Suheng bukan?"

Tanya Kam Hong-ti.

"Dia dan Loh-suheng bersahabat rapat sekali. Tempo hari kami pernah datang ke Siausan, sebenarnya kami berniat mencari dia, sayang kami kebentur hal lain, maka belum sempat bertemu."

"Syukur Kam-tayhiap belum pergi mentari dia, jika ke sana, tentu percuma,"

Ujar Pun-bu Siansu.

"Kenapa? Apa dia sudah tidak di Siausan?"

Tanya Kam Hong-ti heran.

"Dia sudah ditangkap oleh jagoan pemerintah Hangciu, kabarnya didakwa mengirim berita untuk Loh-hiapsu,"

Kata Pun-bu.

Kam Hong-ti berseru kaget atas keterangan ini.

Tiba-tiba ia teringat pada suara pertarungan sengit yang didengarnya di kaki bukit Sian-he-nia serta lukisan yang dia temukan di sana, kini ia dapat menduga orang yang tertangkap waktu itu adalah In-hong Hwesio.

Maka cepat ia katakan lagi.

"In-hong Suheng tertimpa bencana disebabkan urusan Loh-suheng kami, dalam hal ini jika Taysu perlu tenaga kami, harap silakan bicara saja."

"Kini belum perlu,"

Sahut Pun-bu tertawa.

"Aku berniat minta orangnya pada Lian Keng-hiau saja!"

"Minta pada Lian Keng-hiau?"

Tanya Kam Hong-ti tidak mengerti.

"Ada hubungan apa dengan dia?"

"Mungkin kau belum tahu bahwa Lian Keng-hiau, bocah itu kini sudah gagah, pangkatnya sudah tinggi, aku mendengar kabar bahwa ia telah pulang dari Hokkian dengan memimpin pasukannya menuju Pakkhia dan hari ini akan sampai di Hangciu,"

Sahut Pun-bu.

"Kabarnya gubernur Ciatkang hendak menyerahkan padanya serombongan tawanan kerajaan dan orang yang dicurigai. Maka besok juga aku akan mengunjunginya."

Kam Hong-ti jadi kuatir mendengar niat orang.

"Taysu, hal ini hendaklah dipikirkan lagi!"

Katanya lekas.

"Ada pendapat apakah, Kam-tayhiap?"

Tanya Pun-bu.

"Lian Keng-hiau kini sudah menjadi panglima kerajaan Jing, mungkin keadaan tidak menguntungkan Taysu,"

Ujar Kam Hong-ti.

"Keng-hiau si bocah ini sejak kecil kubina hingga besar, dia punya Lo-han-kun-hoat juga aku sendiri yang mengajarkan, kiranya tidak nanti ia berani kurangajar padaku,"

Ujar Pun-bu.

"Tetapi ada baiknya kalau berlaku hati-hati,"

Kata Kam Hong-ti lagi. Namun Pun-bu tetap pada pendiriannya. Katanya lagi.

"Pembawaan Keng-hiau memang luar biasa, seorang yang berbakat dan jarang diketemukan selama beratus tahun ini, seandainya dia tersesat, aku harus melihatnya juga dengan mata kepalaku sendiri, coba dia tersesat sampai berapa jahatnya!"

Hendaklah diketahui bahwa usia Pun-bu Taysu sudah lebih 60 tahun, walaupun ia pandang segala hal di dunia fana ini khayal belaka sesuai agama yang dipeluknya, namun manusia tetap manusia, watak asli orang tua yang suka pada anak-anak masih cukup tebal, apalagi waktu kecil Lian Keng-hiau, dalam setahun boleh dikata ada setengah tahun tinggal di Siau-lim-si sedangkan Siau-lim-sam-lo (tiga tema dari Siau-lim-si) yakni Pun-khong, Pun-bu dan Bu-cu bertiga, sangat sayang sekali padanya, hal ini sebagian besar karena kecerdasan dan kepintarannya yang luar biasa, sebagian pula disebabkan karena kaum Hwesio yang hidup sebatangkara, tak punya bini dan tiada anak pula, maka setelah menginjak usia tua, dengan sendirinya sangat menyukai anak-anak.

Di antara Siau-lim-sam-lo, Pun-bu yang paling sayang pada Lian Keng-hiau, sebab itulah, belakangan setelah terjadi peristiwa dimana Keng-hiau dengan berani ikut menjadi saksi dan membenarkan surat wasiat tinggalan Pun-khong untuk In Ceng, hingga ia terlepas dari tuduhan yang dilimpahkan padanya, kala itu Pun-bu sendiri pun merasa sedih sekali.

Dan justru karena perasaan yang bercampur aduk antara suka dan benci itulah, maka Pun-bu masih belum dapat melupakan bocah kesayangannya dahulu, lalu ingin bertemu sekali lagi dengan Lian Keng-hiau.

Begitulah maka sewaktu Kam Hong-ti hendak inenasehati lebih jauh, Pun-bu sudah lantas kibaskan kebutnya, katanya.

"Apalagi, meski Pinceng sudah tua dan tenaga lemah, kalau hanya sedikit prajurit Lian Keng-hiau, belum tentu aku bisa terkurung!"

Di antara tiga tetua dari Siau-lim-si, Pun-bu Siansu yang paling keras kepala dan gampang naik darah, terbukti dengan perkataannya tadi.

Terpaksa Kam Hong-ti tak berani buka mulut lebih banyak, ia hanya mengatakan.

"Kalau begitu, baiklah kami menantikan berita yang menyenangkan di Siu-jiang-su-ih!"

Habis itu Pun-bu Taysu memberi salam perpisahan dan melanjutkan perjalanannya sendiri.

Dengan memandangi bayangan Hwesio tua itu, tidak tertahan Kam Hong-ti menghela napas penyesalan.

Kembali bercerita mengenai Lian Keng-hiau, setelah ia bersama Liau-in sampai di Hangciu, mereka lantas mendengar Loh Bin-ciam telah kena dirampas Lu Si-nio.

Keruan Liau-in berjingkrak murka, ia mencaci-maki kalang-kabut, tak demikian dengan Lian Keng-hiau, ia hanya tersenyum.

"Hanya seorang Loh Bin-ciam saja berapakah nilainya?"

Ujar Keng-hiau-"Seluruh jagat kini berada di genggaman kita, sekalipun dia bisa lolos, gerakan apa yang bisa ia perbuat?"

Karena itu amarah Liau-in menjadi rada reda.

Tidak lama kemudian rombongan Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin pun kembali, mereka minta bertemu dan melapor tentang munculnya Pun-bu Taysu yang menolong Lu Si-nio terlepas dari cengkeraman mereka.

Mendengar Pun-bu Taysu muncul, mau tidak mau Lian Keng-hiau mengerut kening.

"Tua bangka ini justru paling suka ikut campur urusan orang lain,"

Katanya.

"Jika ia kebentur di tanganku, pasti aku suruh rasakan sekali kemplangan tongkatku!"

Kata Liau-in dengan gusar.

Ia gemas karena pernah merasakan lihainya orang, tatkala ia harus membela Si-hongcu di Soatang dahulu, kejadian itu hingga kini masih belum bisa dilupakannya.

Tetapi dengan kata-katanya tadi, diam-diam Han Tiong-san jadi geli dan menertawai dia.

Batinnya.

"Tongkatmu belum tentu lebih kuat dari paculku, buat apa kau omong besar!"

Lian Keng-hiau dengan Liau-in, Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin adalah kenalan lama, maka ia ajak mereka tinggal di markas tentaranya untuk mengobrol lebih banyak.

Pada hari itu juga, Ciatkang Sunbu Li Wi menyerahkan delapan belas orang tahanan padanya, ketika Lian Keng-hiau periksa, ia lihat di dalamnya terdapat In-hong Hwesio, seketika ia terdiam, lalu ia perintahkan wakilnya, Gak Ciong-ki, menggiring tawanan itu ke pasukannya.

Sedang dia sendiri bicara dengan Li Wi, habis itu bersama Liau-in dan kawan-kawan mohon diri.

Malam itu di markas tentara Lian Keng-hiau terang benderang dengan lilin besar yang menyala, ia menjamu besar-besaran Liau-in dan lain-lain.

Liau-in dan kawan-kawan anggap diri mereka adalah angkatan lebih tua dari Lian Keng-hiau, oleh karena itu, demi nampak Keng-hiau telah menjadi panglima suatu pasukan besar, mereka pun merasa kagum dan iri hati.

"Bagaimanapun memang Lian cilik lebih berguna, kita yang kurang belajar Peng-si (kitab militer), pergi-datang akhirnya tetap begini saja!"

Ujar Liau-in.

"Mana, mana! Taysu sendiri adalah Kok-su (imam negara), itu kan lebih agung!"

Lekas Lian Keng-hiau ganti mengumpak orang.

Kemudian berulang ia menuang arak pada para tamunya, semuanya dia loloh sampai mabuk dan tak ingat diri.

Setelah perjamuan bubar, Keng-hiau kembali ke perkemahan sendiri, ia dengar suara kentongan berbunyi tiga kali, suatu tanda sudah tengah malam.

Ia tersenyum, lalu menyingkap tirai yang membatasi tengah kemahnya, mendadak Pang Lin melompat keluar dengan cepat.

"Eh, kiranya kau ini pemabukan, kau minum hingga mabuk, lekas menyingkir sedikit jauh dari sini!"

Demikian dara itu berkata.

"Kau anak kecil ini tahu apa? Kalau aku tidak minum arak, kau tentu akan digiring kembali ke istana,"

Ujar Lian Keng-hiau. Mendengar kata-kata ini, Pang Lin tertawa mengikik.

"Usiamu berselisih tidak banyak dari aku, kaulah yang lagi mengoceh seperti anak kecil, coba katakan, kau minum arak ada sangkut-paut apa dengan diriku?"

Tanyanya.

"Ssssst, jangan keras-keras, Po-kok Siansu ada di sini, aku minum bersama mereka dan loloh mereka sampai mabuk semua,"

Sahut Keng-hiau dengan suara tertahan. Keterangan ini membikin Pang Lin girang, biji matanya yang bundar hitam berputar, tiba-tiba ia tertawa sambil bertepuk tangan.

"Ha, memang kau sangat pintar, setelah kau bikin mereka mabuk, kau lantas lepaskan aku lari, kalau begitu di kota Hangciu ini tiada orang lagi yang bisa menangkap aku,"

Katanya cepat, sudah itu ia hendak melangkah pergi.

"Nanti dulu!"

Lekas Keng-hiau menahannya.

"Kenapa kau tidak jadi melepaskan aku?"

Tegur Pang Lin sembari membalik tubuhnya.

"Coba beritahu padaku, siapa namamu? Dimana ayah-bunda-mu?"

Tanya Keng-hiau tiba-tiba.

Lian Keng-hiau mengajukan pertanyaan ini hanya bermaksud memancing sampai berapa banyak Pang Lin ingat asal-usulnya sendiri.

Padahal asal-usul Pang Lin, Keng-hiau sendiri pun tidak tahu, ia hanya mengetahui anak dara itu dibawa datang oleh gurunya, yaitu mendiang Ciong Ban-tong.

Karena itulah, atas pertanyaan tadi Pang Lin menjadi tercengang dan tak mampu menjawab, alisnya terkerut rapat.

"Selamanya belum pernah ada orang bertanya padaku tentang hal ini!"

Sahutnya kemudian. ? "Karena itu maka sekarang aku yang tanya!"

Sahut Keng-hiau.

"Kau tanya, aku sendiri pun tidak tahu,"

Kata Pang Lin.

"Sat-pepek hanya bilang aku sejak kecil sudah tak punya orang tua, katanya dia yang merawat dan membesarkan aku. Mereka memang-gil aku Yan-ji (anak Yan)."

"Katanya kau tidak mau kembali lagi ke istana, lalu hendak kemana kau?"

Tanya Keng-hiau. Pang Lin tertawa, dari tertawanya ini Keng-hiau dapat melihat dengan jelas dekik pada pipinya hingga menambah cantik dan manisnya anak dara ini.

"He, kau betul-betul nakal, orang bertanya dengan sungguh-sungguh, kau hanya tertawa saja,"

Kata Keng-hiau lagi.

"Pertanyaanmu tadi lucu sekali, apa kau kuatir aku akan berte-bal muka tinggal di rumahmu untuk selamanya?"

Tergerak hati Keng-hiau oleh jawaban ini.

"Aku tanya kau hendak kemana, mengapa bilang lucu!"

Ia balas tanya.

"Dalam satu-dua tahun lagi, dara cilik seperti kau akan berubah menjadi seorang nona besar, apakah kau masih akan bebas keluyuran ke timur dan ke barat, melewatkan hari-hari di antara hutan dan bermalam di kelenteng bobrok?"

"Apa jeleknya semua itu?"

Sahut Pang Lin tidak sependapat.

"Jika aku perlu sesuatu, aku bisa mencuri, mencuri adalah hal yang gampang sekali, lagi sangat menyenangkan, tahukah kau?"

Katanya lagi. Keng-hiau mendongkol dan geli juga mendengar jawaban ini.

"Orang-orang istana pangeran banyak yang berkeliaran di Kangouw, apa kau tidak takut kepergok mereka?"

Ia bertanya lagi.

"Mataku cukup jeli, begitu aku nampak mereka, segera aku lari,"

Sahut Pang Lin tanpa pikir.

"Lagi pula hanya Po-kok Siansu yang tahu aku mengeluyur keluar istana, lainnya tidak, umpama nenek yang cerewet itu, begitu kenal, dia lantas tanya ini dan itu, tanya aku diperintah untuk melakukan tugas apa oleh Si-hongcu."

Lian Keng-hiau tahu bahwa nenek cerewet yang dimaksud itu ialah istri Han Tiong-san, Yap Hing-poh, ia jadi tertawa geli.

Tetapi merasa girang juga karena anak dara ini mau berkata terus terang apa yang dialaminya.

Maka ia idntas berkata lagi.

"Memang hanya Po-kok Siansu saja yang tahu, tetapi kelak bukan mustahil bakal diketahui orang banyak. Jika Si-hongcu lihat kau belum pulang, tentu akan mengirim orang menangkap kau."

"Hm, jangan kau coba menggertak aku, aku tidak takut!"

Sahut Pang Lin. Di mulut dia bilang tidak takut, tetapi Lian Keng-hiau dapat melihat mukanya berubah pucat, ia tahu, dalam hati si anak dara sebenarnya ketakutan.

"Lebih baik kau tinggal saja di rumahku, aku tidak kuatir kau bertebal muka untuk tinggal selamanya di sana,"

Katanya kemudian.

"Apa, tinggal di rumahmu? Ada siapakah di rumahmu?"

Tanya Pang Lin rada heran karena tawaran yang di luar dugaan itu.

"Hanya ada ayah dan ibuku, selain itu hanya kaum hamba,"

Sahut Keng-hiau.

"Di rumahku ada taman yang luas, di dalamnya ada bunga dan burung, menarik sekali, kau boleh tinggal di sana."

Pang Lin tersenyum, ia tidak lantas menjawab mau atau tidak! Sementara itu Lian Keng-hiau lantas mengeluarkan sepotong batu giok yang berukir bagus dan disodorkan pada Pang Lin.

"Ayahku bernama Lian Toan-ling, tinggal di luar kota Tan-liu, propinsi Holam,"

Ia menerangkan lagi.

"begitu sampai di Tan-liu, pada siapa saja kau tanya, tentu kenal beliau, bila kau sudah ketemu ayahku, serahkan batu giok ini, bilang aku yang suruh kau ke sana. Tetapi jangan sembarang orang kau beritahu, mengertikah kau?"

Pang Lin terima giok jade yang diberikan itu.

"Ehm, menarik sekali benda ini,"

Ujarnya.

"Kau sungguh ceriwis, belum tentu aku akan pergi ke rumahmu."

Sebenarnya Lian Keng-hiau masih mengandalkan bantuan In Ceng untuk naik ke atas, mestinya ia jangan ambil resiko diam-diam melepaskan orang yang disukai In Ceng.

Tetapi entah mengapa, senyuman yang menarik dari Pang Lin membikin dia lupa daratan akan segala bahaya, bahkan sesudah ia ambil keputusan, segera ia pun menyiapkan daya-upaya untuk menghadapi segala kemungkinan, sekalipun kemudian ketahuan, ia tidak kuatir juga.

Sementara itu, setelah menerima batu giok itu, segera Pang Lin hendak bertindak pergi.

"He, bocah tolol, apa dengan begitu saja kau lantas hendak berangkat?"

Ujar Lian Keng-hiau. Habis itu ia lantas keluarkan sepasang pakaian kacung kuda dan disodorkan padanya.

"Pakailah ini, salin pakaian ke dalam sana!"

Begitulah, tatkala Pang Lin selesai tukar pakaian, Lian Keng-hiau sudah memanggil menghadap perwira yang dinas malam dan diperintah membawa Pang Lin keluar markas tentara secara diam-diam, dengan memandangi bayangan tubuh Pang Lin yang kecil terbenam di malam gelap, tak tahan Lian Keng-hiau menghela napas.

Besok paginya, Lian Keng-hiau memeriksa ke bagian belakang kemahnya, ia lihat Liau-in dan kawan-kawan masih mengge-ros belum bangun, rupanya karena pengaruh arak semalam.

"Betul-betul lelaki kuat tetapi otak udang!"

Ia membatin dengan tertawa.

Lalu ia suruh menyadarkan mereka, ia sendiri lantas kembali lebih dulu ke tengah kemahnya untuk membuka sidang, ia hendak memeriksa tawanan yang dicurigai.

Tetapi sebelum pemeriksaan berlangsung, tiba-tiba datang laporan bahwa ada satu Hwesio tua minta bertemu.

Lian Keng-hiau jadi ragu-ragu, ia mengerut kening, lalu menggoyang tangan tanda menolak, tetapi tiba-tiba ia berubah pikiran.

"Baiklah, suruh dia masuk!"

Katanya kemudian.

"Tawanan itu sementara jangan dibawa kemari dulu!" ?Sejenak kemudian, tertampaklah Pun-bu Siansu dengan memegang kebut masuk dengan langkah lebar. Lekas Lian Keng-hiau menyambut dengan sangat hormat, sudah beberapa tahun mereka tak berjumpa, ia lihat Pun-bu Siansu masih kuat seperti dulu, bahkan kedua matanya bersinar tajam, tanpa gusar sudah besar perbawanya. Keadaan ini membikin Lian Keng-hiau berdebar kurang tenteram.

"Taysu datang dari jauh, maafkan sebelumnya tidak mengadakan penyambutan,"

Keng-hiau memberi hormat sambil menyapa. Sebagai sahutan, Pun-bu Taysu menjengek dengan suara hidung sambil sedikit angkat tangan kiri.

"Ehm, mana aku berani, kau kini panglima besar, mana berani aku minta kau bikin penyambutan!"

Sindirnya.

Waktu itu Lian Keng-hiau sedang membungkuk tubuh buat menjalankan penghormatan, tetapi mendadak ia merasakan satu kekuatan yang sangat besar telah mengangkat naik dirinya, bukan main rasa kejutnya, ia pun menjadi serba sulit karena Pun-bu Taysu ternyata tidak sudi menerima penghormatannya.

Kemudian Lian Keng-hiau menyilakan tetamunya duduk, ia sendiri menggeser kursi kebesarannya yang berlapis kulit macan, ia menemani duduk tamunya di sebelah samping.

"Wanpwe bisa memperoleh kedudukan ini, semuanya berkat petunjuk dan ajaran Taysu dahulu!"

Keng-hiau membuka suara lagi.

"Hm!"

Kembali Pun-bu menjengek.

"Apakah yang pernah aku ajarkan padamu?" < Melihat orang bersikap angkuh, Keng-hiau kenal Hwesio tua ini wataknya sangat berangasan, makin tua makin keras, maka ia tak berani cari gara-gara. Setelah saling diam sejenak, kemudian baru Keng-hiau berkata lagi dengan muka tertawa.

"Lo-han-kun yang Taysu ajarkan dulu, hingga kini masih Wanpwe latih tiap hari."

"Apa gunanya Lo-han-kun? Tidak mungkin Lo-han-kun bisa menjadikan kau mendapat kedudukan begini tinggi!"

Sahut Pun-bu secara dingin. Melihat sikap orang yang makin kaku, Lian Keng-hiau tak berani bersuara lagi. Merasa Keng-hiau berlaku sangat hormat padanya, rasa gusar Pun-bu rada mereda, katanya lagi.

"Bagus sekali sahabat yang kau peroleh! Kedudukanmu semua berkat bantuan Ong Cun-it bukan?"

"Si-hongcu adalah Sutit engkau orang tua!"

Sahut Lian Keng-hiau dengan tertawa. Mendengar jawaban ini, Pun-bu menjadi gusar.

"Aku tidak punya Sutit begitu agung seperti dia!"

Katanya dengan ketus.

"Mendiang ketua Pun-khong Taysu telah meninggalkan surat wasiat dan dengan jelas tercantum di dalamnya bahwa Si-hongcu masih tetap terhitung anak murid Siau-lim, meski dia berasal keluarga agung dan tinggi kedudukannya, namun terhadap budi pendidikan Siau-lim tidak pernah ia lupakan,"

Ujar Keng-hiau.

"Pada waktu aku meninggalkan kotaraja, dia malah berkata padaku bahwa bila kelak dia naik takhta, dia akan bersujud lagi ke Siau-lim-si."

Apa yang dikatakan ini sebenarnya bohong belaka, yang betul In Ceng mengatakan padanya bahwa bila kelak dia naik takhta, dia akan babat habis seluruh Siau-lim-si.

Mendengar ocehan Keng-hiau tadi, sudah tentu Pun-bu tidak gampang percaya, saking gusarnya ia hanya tertawa dingin saja.

"Dulu dengan mati-matian kau ikut membuktikan bahwa surat wasiat itu adalah tulisan tangan Suhengku, jasamu ini betul-betul besar sekali!"

Tiba-tiba ia berkata lagi.

Tergoncang hati Lian Keng-hiau oleh ucapan ini.

Hatinya merasa tidak tenteram, diam-diam ia memperhitungkan daya upaya apa yang baik untuk menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi.

Dalam pada itu Pun-bu telah melirik beberapa kali pada Keng-hiau, dalam hati ia membatin.

"Anak ini betul-betul sudah berubah, yang dipikir hanya kedudukan dan keagungan, ia sudah lupa bahwa dirinya adalah bangsa Han."

Sungguhpun hatinya berpikir demikian, tetapi menurut peraturan rumah-tangga, Siau-lim-si biasanya tidak ikut campur urusan pemerintahan, namun juga tidak melarang anak murid Siau-lim-pay menjadi pembesar negeri, apalagi Lian Keng-hiau resminya bukan murid Siau-lim-si, lebih-lebih Pun-bu tidak berhak mengurusnya.

Melihat Pun-bu tidak berkata lagi, air mukanya pun kembali normal, barulah kemudian Lian Keng-hiau berani buka suara pula.

"Apakah kesehatan Bu-cu Siansu baik-baik saja?"

Dengan tertawa ia bertanya.

"Baik!"

Sahut Pun-bu tetap dingin.

"Sejak dulu kata orang, guru seperti orang tua sendiri. Meski aku tidak punya rejeki untuk masuk ke pintu perguruan Siau-lim, berkat petunjuk yang pernah Taysu berikan, selamanya aku sudah anggap Taysu sebagai guru,"

Kata Lian Keng-hiau lagi.

"Kini Taysu datang dari jauh, sudilah kiranya Tecu sediakan sekedar santapan."

Habis itu ia lantas perintahkan menyediakan perjamuan.

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Pun-bu memotong.

"Ada pesan apakah, Taysu?"

Tanya Keng-hiau.

"Kedatanganku ke sini bukan untuk mengemis makan,"

Sahut Pun-bu ketus.

"Aku hendak tanya kau, tawanan dicurigai yang hendak kau giring ke kotaraja itu, apa muridku In-hong termasuk di dalamnya?"

Keng-hiau menjadi serba salah untuk menjawab, ia ragu-ragu.

"Ya, ada termasuk di dalamnya,"

Akhirnya ia menyahut juga.

"Tuduhan apa yang dilontarkan padanya?"

Desak Pun-bu.

"Ia dicurigai mengirim berita untuk pemberontak Loh Bin-ciam,"

Kata Keng-hiau.

"Apa ada bukti?"

Tanya pula Pun-bu.

"Belum didapatkan,"

Jawab Keng-hiau.

"Kalau begitu harap Lian-tayciangkun mengizinkan aku menjamin supaya dia dibebaskan."

"Berlebihan kata-kata Taysu ini,"

Sahut Keng-hiau cepat.

"Tidak perlu kau merendah diri segala, katakan saja terus terang, boleh atau tidak?"

Pun-bu mendesak pula.

"Soal ini, ini... ."jawab Keng-hiau tak tegas.

"Ini apa?"

Sela Pun-bu.

"Kalau tiada bukti, sekalipun menurut peraturan pemerintahmu juga boleh ditanggung tahan luar, apakah Kam-si dari Siau-lim-si yang menjadi penjaminnya, kau Lian-tayciangkun merasa tidak percaya?"

Karena kepepet, Lian Keng-hiau jadi gelagapan.

"Dia adalah orang yang dimaui Si-hongcu,"

Akhirnya terpaksa ia berterus terang. Pun-bu jadi naik darah.

"Bagus, kalau begitu kau boleh katakan pada Ong Cun-it bahwa orangnya dibawa pergi olehku, jika dia mau, boleh suruh dia datang minta orangnya ke Siau-lim-si!"

Katanya dengan berteriak.

Dengan unjuk kemurkaan, diam-diam Pun-bu sudah siap bila perlu akan menggunakan tangan besi.

Tak terduga, Lian Keng-hiau berbalik malah tertawa sambil membungkuk rendah memberi hormat.

"Harap Taysu jangan marah!"

Katanya membujuk.

"Wanpwe akan segera mendatangkan In-hong Suheng ke sini buat minta maaf padanya. Jika terjadi apa-apa biar aku yang menanggungnya. Harap Taysu menunggu sebentar."

Lalu ia panggil perwira bawahannya dan diperintah seperlunya, tidak lama kemudian, betul juga prajurit pengawal sudah membawa datang In-hong Hwesio.

Sepuluh tahun yang lalu In-hong pernah pulang ke Siau-lim-si, tatkala itu Lian Keng-hiau masih bocah berumur sebelas tahun, mereka berdua pernah bertemu.

Lian Keng-hiau sendiri lantas membuka belenggu In-hong.

"Suhu!"

Panggil In-hong ketika nampak Pun-bu berada dalam perkemahan ini.

"Kau harus menghaturkan terima kasih pada Lian-tayciangkun atas budinya yang sudi membebaskan kau,"

Ujar Pun-bu.

Karena terpaksa oleh perintah sang guru, In-hong merangkap tangan memberi hormat, meski dalam hati ia curiga dan sangsi.

Nampak orang mau membebaskan In-hong, hawa amarah Pun-bu mulai padam, ia pikir apapun juga Lian Keng-hiau adalah seorang yang punya perasaan, masih belum jelek seluruhnya.

Sementara itu prajurit menyuguhkan makanan dan minuman, Lian Keng-hiau sendiri menuang tiga cangkir teh panas yang berbau harum.

"Taysu datang dari tempat jauh, sudilah kiianya bersantap sedikit,"

Ia angkat cangkir mengajak minum tamunya. Tanpa ragu-ragu Pun-bu angkat cangkir teh, tetapi sebelum ia minum, tiba-tiba terdengar In-hong membuka suara.

"Suhu, sebaiknya kita jangan bikin repot Lian-ciangkun, marilah kita berangkat!"

Ia mengajak gurunya.

"In-hong Suheng, mengapa kau berlaku seperti orang luar saja,"

Ujar Keng-hiau sambil tenggak habis tehnya.

"Baru kemarin aku kembali di Hangciu hingga Suheng terlalu lama mengalami siksaan, hatiku sungguh tidak enak sekali. Jika kini Suheng tidak sudi memberi muka, apa bukan berarti hendak menyalahkan Siaute!"

Ketika Pun-bu dengar In-hong mengajak berangkat, hatinya tergerak, tetapi dilihatnya Keng-hiau menenggak habis teh dalam cangkirnya, ia jadi menertawai In-hong terlalu banyak curiga.

"Selamanya aku tidak pernah terima budi dari kaum pembesar, biar hari ini aku pecahkan itu,"

Kata Pun-bu kemudian dengan tertawa sambil angkat cangkirnya dan diminum habis.

Terpaksa In-hong mengikuti gurunya, ia angkat cangkir teh, tapi tidak segera meminumnya, ia hanya tempelkan cangkir ke bibir sembari masih sangsi.

Tengah ragu-ragu, tiba-tiba Pun-bu Taysu meloncat naik berbareng memukul cangkir teh yang dipegang In-hong hingga cangkir itu pecah berantakan.

"Lian Keng-hiau, berani kau pedayai aku!"

Berbareng ia membentak pula.

Akan tetapi rupanya Lian Keng-hiau sudah siap dengan apa yang bakal terjadi, dalam gelak tertawanya ia sudah mengkeret masuk ke belakang perkemahan.

Tanpa ayal Pun-bu menguber, kebutnya disabetkan hingga tirai kemah tergulung, tetapi dari balik tirai tiba-tiba datang sambaran angin, ternyata Liau-in Hwesio hantamkan tongkatnya dari dalam.

"In-hong, terjang keluar ikut aku!"

Seru Pun-bu.

Menyusul kebutnya menyabet pula, ia libat tongkat Liau-in dengan kencang, lalu sebelah tangan memotong ke pundak orang.

Dari dalam kembali melompat keluar seorang dengan cepat, orang ini ialah Thian-yap Sanjin, ia dorong kedua telapak tangannya ke depan, sepenuh tenaga ia sambut pukulan Pun-bu tadi.

Kesempatan ini dipergunakan Liau-in untuk melepas tongkatnya dari gubetan kebut lawan.

Dalam pada itu dari sebelah sana kembali menerjang keluar Han Tiong-san dan Tang Ki-joan.

Secara beramai empat jagoan kelas satu mengepung Pur.-bu berdua di tengah kalangan.

Di samping lain, Lian Keng-hiau pun sudah menampakkan diri lagi, ia duduk di kursinya yang berlapis kulit macan, dari jauh ia mengikuti pertarungan sengit itu.

Tidak kepalang gusar Pun-bu Taysu, ia gemas sekali atas tipu muslihat orang, ia angkat kebutnya, secepat kilat ia sabet Tang Ki-joan.

Dengan gerakan 'Boan-liong-jiau-poh' (ular naga melingkar langkah), lekas Tan Ki-joan mengegos ke samping, dari sana ia memukul pula.

Sekali tidak berhasil, mendadak Pun-bu melompat ke jurusan lain, kini yang diincar adalah Thian-yap Sanjin, tiba-tiba ia menyerang dengan tipu pukulan yang mematikan.

Tangan kiri menjaga di depan dada dan tangan kanan menangkis, Thian-yap Sanjin berusaha mengelak serangan orang.

"Kena!"

Mendadak Pun-bu menggertak.

Keras lagi cepat sekali pukulannya itu, Thian-yap Sanjin tak sanggup menangkis hingga tergetar mundur dua tiga meter jauhnya.

Menyusul kebut Pun-bu Taysu terus bekerja, kali ini ia sabet muka Liau-in.

Di antara empat lawannya ini, yang paling dibenci adalah Liau-in, oleh karena itu, tipu pukulan yang dilancarkan adalah tipu pukulan mematikan yang disebut 'Ngo-liong-jiau-bin' atau lima ekor naga mencakar muka.

Sebenarnya tak gampang bagi Liau-in menghindarkan serangan yang berbahaya ini bila Han Tiong-san tidak keburu membantunya dari samping dengan menghujani segenggam 'Hui-hong-ciam' (jarum belalang beracun) ke muka Pun-bu Taysu.

Sebab itulah terpaksa Pun-bu harus tarik kebutnya buat menyapu senjata rahasia itu, beberapa puluh jarum belalang itu disapu jatuh semua jadi bubuk.

Dan karena itu juga Liau-in lantas terlepas dari ancaman kebut Pun-bu yang hampir merusak mukanya tadi, lekas ia meloncat mundur hingga jauh.

"Kurung dia! Dia sudah kena racun, tak nanti bisa lolos!"

Serunya pada begundalnya.

Habis itu ia pimpin pengepungan itu dengan memutar tongkatnya sedemikian rupa hingga membawa sambaran angin yang menderu, ia tidak memberi waktu pada Pun-bu untuk mendekat.

Begitu pula Thian-yap Sanjin, Han Tiong-san dan Tang Ki-joan pun menerjang berbareng.

Walaupun senjata Pun-bu yang berupa kebut dapat digunakan untuk melibat senjata lawan, tetapi di bawah keroyokan empat jagoan kelas satu yang menerjang berbareng, jika ia harus melibat senjata seorang lawan, pasti juga akan memberi lubang kepada musuh lain untuk menggempur, hal ini dengan sendirinya tak menguntungkan baginya.

Terpaksa ia harus bertahan menghadapi musuh yang berjumlah lebih banyak ini.

Sebenarnya bicara soal kekuatan silat, sebagai Kam-si Siau-lim-si yang tersohor, kepandaian Pun-bu terhitung nomor satu atau dua di kalangan Bu-lim, seorang diri melawan empat, sekalipun belum pasti memperoleh kemenangan, namun tidak nanti ia menyerah begitu saja, sedikitnya ia masih sanggup bertahan.

Tetapi sayang, ia telah dipedayai Lian Keng-hiau, yakni sudah minum teh yang dicampur dengan bubuk obat 'Khong-jiok-ta', yaitu semacam obat racun yang paling keras, karena itu, sesudah bertempur sebentar, perlahan pandangan matanya mulai gelap, badannya pun dirasakan seperti ditusuk-tusuk oleh jarum.

Dalam keadaan demikian Pun-bu Taysu masih tetap berusaha melepaskan diri dari bahaya, ia tidak menyerah mentah-mentah dipedayai orang, berkat Lwekangnya yang tinggi dan terlatih sekian puluh tahun, ia coba atur pernapasan, dengan demikian secara paksa ia tahan supaya kerja racun dalam tubuhnya tertekan, berbareng ia membentak keras, kebutnya menyabet Han Tiong-san dan melibat senjatanya.

Namun Liau-in cukup cepat, tongkatnya menyerampang dari bawah, terpaksa Pun-bu harus meloncat ke atas buat berkelit, tetapi gerak badannya tidak percuma, berbareng ia hantamkan juga sebelah tangannya hingga membikin Tang Ki-joan tergetar mencelat keluar perkemahan.

Nampak kawannya kecundang; lekas Thian-yap Sanjin menerjang maju dengan pukulannya, Pun-bu sudah keburu menerobos keluar dari kepungan melalui lubang yang ditinggalkan Tang Ki-joan, keruan garis kepungan Liau-in dan kawan-kawan jadi bobol dan kacau, bila kemudian bisa mengembut lagi, Pun-bu pun sudah menerjang sampai di pinggir perkemahan.

In-hong Hwesio adalah murid pertama Pun-bu Siansu, meski ilmu silatnya tidak lemah, tapi bila dibanding Liau-in dan kawan-kawan terang ia masih kalah setingkat.

Sebab itulah, tadi masih berdampingan rapat dengan gurunya untuk menghalau musuh, tapi karena terlambat selangkah, ia kena disikut Thian-yap Sanjin dan digempur pula secara hebat oleh pukulan menggeledek, maka akhirnya terpisahlah In-hong dari gurunya.

Ketika mendengar di belakang ada suara pukulan, tanpa ayal Pun-bu membaliki tangan terus menghantam.

Karena serangan ini Thian-yap Sanjin terpaksa harus lepaskan In-hong dan meloncat ke samping, bila kemudian Pun-bu beserta muridnya bisa bergabung lagi, kembali mereka terkepung di tengah oleh empat musuh kuat.

Begitulah, Liau-in berempat kembali mengembut dengan hebat, makin lama makin kuat.

Dengan tongkatnya yang menari laksana seekor ular naga, Liau-in sendiri menghalang di jurusan tengah; Han Tiong-san dengan Pi-hun-tuhnya membacok dan menggaruk, serangannya ditumplekkan pada In-hong; sedang Thian-yap Sanjin dan Tang Ki-joan berdua membantu dari kedua sayap, dengan demikian Pun-bu tak sempat mengincar seorang lawan saja dan tak sempat mengeluarkan tipu serangannya yang mematikan.

Setelah berlangsung tidak lama, di jidat Pun-bu sudah mulai berkeringat, suatu tanda Hwesio tua itu sudah mulai kewalahan, ia pun insyaf keadaan sudah gawat dan tak menguntungkan lagi.

"In-hong!"

Mendadak ia berseru pada sang murid.

"hari ini aku mati di sini, kau. lekas kembali ke Ko-san untuk memberitahu pada Susiok, tak usah kau pikirkan diriku lagi!"

Habis itu, sekonyong-konyong ia incar Tang Ki-joan, tems pukulkan kedua tangannya berbareng secara cepat.

Tadi Tang Ki-joan sudah merasakan sekali tenaga pukulan Hwesio tua ini, ia sudah kenal kelihaian orang, maka tak berani paksakan diri buat menangkis, lekas ia mengegos buat berkelit.

Di pihak lain, Liau-in pun pergunakan kesempatan itu untuk hantamkan tongkatnya dengan mengemplang ke atas kepala Pun-bu Taysu.

Waktu itu tangan kanan Pun-bu dengan kebutnya sedang menangkis serangan dari Thian-yap Sanjin, sedang telapak tangan kiri ia gunakan buat menggempur mundur Tang Ki-joan, karena itu ia tidak keburu menarik kembali serangannya, tampaknya sukar menghindarkan kemplangan tongkat Liau-in.

Tapi justru dalam saat yang menentukan inilah Pun-bu perlihatkan ilmu silatnya yang tiada tara, tertampak ia angkat pundak.

"plok"

Terdengar suara keras, tongkat Liau-in seperti kena mengemplang papan besi yang keras sampai tongkatnya membal kembali.

Pada saat itu juga, dengan sekali bentakan menggeledek, tiba-tiba Pun-bu melayang lewat melalui atas kepala Thian-yap Sanjin terus memburu Lian Keng-hiau yang sedang duduk seenaknya menyaksikan pertarungan sengit itu.

Keruan saja tindakan Pun-bu ini membikin Liau-in dan lain-lain sangat terkejut, mereka berbareng segera berusaha mencegat.

"In-hong, lekas pergi!"

Terdengar Pun-bu berteriak. Tetapi kembali In-hong Hwesio ragu-ragu, ia tidak tega meninggalkan gurunya.

"Murid tak berguna, apa kau ingin kematianku tidak diketahui orang?"

Pun-bu membentak pula.

Sementara itu Lian Keng-hiau sudah berhasil menyingkir ke belakang kemah, sambil membentak, Pun-bu tidak menghentikan tindakannya, ia masih terus menerjang ke belakang kemah.

Ketika In-hong masih ragu-ragu dan tertegun, keadaan sudah tak mengizinkan pula, dari luar ia dikerubut para prajurit dan perwira secara beramai.

Mau tak mau kini In-hong harus bertindak tegas, ia mengertak gigi dan menggertak, sekali ulur tangan ia berhasil merebut sebatang tombak panjang.

"Suhu, aku berangkat!"

Serunya.

Berbareng ia kerjakan tombak rampasannya dengan cepat, ia menerjang keluar perkemahan.

Para perwira itu tidak tinggi ilmu silatnya, sudah tentu tidak mungkin mereka mampu menahan terjangan In-hong, dalam sekejap In-hong sudah berhasil lolos keluar kepungan.

Sementara itu Liau-in berempat jagoan masih terus menyusul kencang di belakang Pun-bu yang sedang memburu Lian Keng-hiau, untuk menghalangi kejaran orang, dari dalam Lian Keng-hiau telah sambitkan dua buah kursi.

Akan tetapi dua buah kursi itu tidak mungkin bisa merintangi Pun-bu, ia angkat telapak tangannya terus menggabruk, dua kursi itu kena dipukul hingga remuk berantakan.

Namun dengan sedikit me-randek ini, dari belakang, tongkat Liau-in hampir kena menyodok punggungnya.

Tiba-tiba Pun-bu membentak, kebutnya mendadak melibat balik hingga tongkat Liau-in terlilit, sekalipun Liau-in terkenal dengan tenaga raksasanya, namun sedikitpun tak sanggup membikin goyah si Hwesio tua itu.

Dari jurusan lain lekas Thian-yap Sanjin kirim kedua telapak tangannya berbareng, ia menahan tenaga pukulan tangan kiri Pun-bu Taysu yang waktu itu telah dipukulkan juga, bersamaan pula.

Tang Ki-joan dan Han Tiong-san pun menyerang dari kiri kanan.

Karena kerubutan ini, terpaksa Pun-bu tarik tangan kirinya, tetapi karena ini, Thian-yap Sanjin berbalik jadi sempoyongan dan hampir jatuh tersungkur.

Kesempatan ini digunakan Liau-in untuk menarik tongkatnya.

Pun-bu memang sudah kendurkan kebutannya yang menggubet senjata orang, tetapi segera ia alihkan sasarannya pada Han Tiong-san, terus mengirim tipu pukulan yang mematikan!

Thian-yap Sanjin biasanya sangat mengunggulkan tenaga pukulan telapak tangannya, sama sekali tidak dia duga bahwa dengan sekali gebrak tadi, Pun-bu Taysu yang tangan kanan dengan kebutnya sedang melayani tongkat Liau-in.

dan hanya memakai telapak tangan kiri sudah bisa kalahkan dia, diam-diam Thian-yap menjadi jeri, maka gerak-geriknya pun tidak seganas tadi lagi.

"Jangan takut, dia sudah minum teh beracun Khong-jiok-ta, tidak nanti bisa hidup!"

Terdengar Lian Keng-hiau berseru dari dalam kemah untuk mengobarkan semangat tempur begundalnya.

Karena itu, timbul pula keberanian Thian-yap Sanjin, ketika ia lihat Han Tiong-san berada di bawah ancaman kebut lawan, cepat ia gerakkan tangannya buat menolong sang Suheng.

Tetapi tidak lebih dari tiga gebrakan, kembali ia kena tergetar lagi sejauh tiga tombak lebih.

"Haha! Lian Keng-hiau! Bagus sekali perbuatanmu!"

Saking murka dan pedih hatinya, Pun-bu Taysu berbalik bergelak tertawa.

Mendengar suara tertawa yang mengerikan ini, sekalipun Lian Keng-hiau seorang tokoh besar, tidak urung mengkirik juga dan nyalinya pecah.

Dalam hati ia membatin.

"Walau aku pernah terima budimu tapi Si-pwelek berniat menyapu rata Siau-lim-si, terpaksa aku harus lenyapkan kau dahulu."

Sungguhpun demikian, ia sudah tidak berani mengikuti pertarungan itu lagi, ia bersembunyi ke belakang perkemahan di bawah penjagaan para prajuritnya.

Begitulah, dalam keadaan murka segera Pun-bu susul-menyusul memberi pukulan yang mematikan di bawah iringan tawa seram.

Tatkala itu Han Tiong-san tengah bergerak dengan tipu 'Khay-san-pi-ciok' (membuka gunung menyingkirkan batu), ia ayun paculnya dan dibacokkan.

Mendadak terdengar Pun-bu membentak lagi, ia angkat pundaknya, kembali terima sekali hantaman tongkat Liau-in, berbareng ia ayun telapak tangan kiri, ia sampuk dengan keras hingga pacul Han Tiong-san yang sedang dihantamkan terbang dari tangannya.

Waktu itu Tang Ki-joan pun sedang menyerang dari belakang, tetapi Pun-bu telah gabrukan telapak tangan kirinya ke depan sambil membentak "Kena!"

Ternyata Han Tiong-san yang menjadi sasarannya lagi, ia kena dipukul terjungkal oleh Pun-bu, berbareng Pun-bu putar tangannya yang lain, kebutnya disabetkan ke belakang, serangan mendadak ini tidak keburu dihindarkan oleh Tang Kj-joan, tangannya kena dilihat oleh kebut orang.

Nampak kawannya bakal celaka, secepat kilat Liau-in ayun tongkatnya untuk menolong, namun dengan cepat Pun-bu membalik tubuh, ia tarik kebutnya hingga Tang Ki-joan terseret maju, berbareng terus disurung ke depan untuk memapak tongkat Liau-in.

Dalam gugupnya karena kuatir tongkatnya bakal mengenai kawan sendiri, lekas Liau-in tarik kembali senjatanya.

"Pergi!"

Terdengar Pun-bu menggertak pula, ia ayun tangannya sepenuh tenaga, Tang Ki-joan yang tangannya masih tergubet kebut dilempar keluar perkemahan.

Beberapa jurus ini terjadi secepat kilat, dengan mati-matian Pun-bu telah korbankan tubuhnya untuk menerima dua kali gebukan tongkat Liau-in, hasilnya dia hantam Han Tiong-san dan Tang KJh joan berdua hingga terluka parah dan menggeletak semaput di tanah tak bisa berkutik lagi.

Nampak apa yang terjadi, Liau-in dan Thian-yap Sanjin makin menjadi jeri.

Sebaliknya Pun-bu masih bergelak tertawa, mendadak ia sabetkan kebutnya ke arah kepala Thian-yap Sanjin lagi.

Lekas Thian-yap berjumpalitan ke belakang untuk menghindarkan serangan ini, di pihak lain, Liau-in mengayun tongkatnya mengemplang lagi.

Namun Pun-bu tidak lepaskan musuhnya begitu saja, mendadak kebutnya membalik, laksana anak panah ia timpukkan, serangan ini sama sekali di luar dugaan Thian-yap Sanjin, keruan saja iganya kena tertimpuk dengan jitu, ia menjerit terus terguling.

Waktu itu tongkat Liau-in sudah dekat kepala Pun-bu, tetapi ia masih keburu angkat tangan kirinya buat menangkis, ia membentak pula.

"Kena!"

Menyusul tangan kanannya diangkat terus memegang kencang tongkat lawan, Liau-in ternyata tak mampu kuasai diri lagi, ia terseret maju, lekas ia kendorkan cekalan dengan niat melarikan diri.

Namun Pun-bu tak memberi kesempatan padanya, Hwesio tua ini angkat sebelah kakinya, dengan tepat Liau-in kena ditendang dadanya hingga memuntahkan darah segar dari mulutnya, Liau-in roboh semaput tanpa bisa berkutik lagi.

Setelah bereskan keempat lawannya, Pun-bu masih tertawa keras, mendadak ia terduduk ke lantai.

Keng-hiau yang sudah pecah nyalinya menyaksikan ketangkasan Hwesio tua itu, mendengar suara tawanya yang seram, tak berani keluar melongok, para perwira dan bintara pun bersembunyi.

Lama kelamaan suara tawa Pun-bu mulai perlahan dan mulai lemah, tiba-tiba ia menunduk hingga kepalanya menempel dada, ia komak-kamik sendiri.

"Bagus kau, Lian Keng-hiau!

Bagus kau!

Bagus, bagus Makin lama makin perlahan suaranya dan akhirnya sunyi.

Selang agak lama, ada seorang pengawal yang tabah, secara berindap-indap coba mendekati, ia coba dorong orang, tetapi sedikitpun Pun-bu tidak bergerak.

Maka pengawal itu jadi lebih berani, ia coba meraba dadanya, sudah itu mendadak ia berseru.

"Hwesio jahat ini sudah mati!"

Mendengar itu. Lian Keng-hiau baru berani keluar, sekalipun demikian ia masih jeri juga, belum berani mendekati Pun-bu.

"Tayswe, Hwesio jahat ini sudah mati!"

Kembali pengawal itu melapor. Sesudah yakin Pun-bu tidak bernyawa lagi, mendadak Lian Keng-hiau menjerit menangis. Katanya kepada Gak Ciong-ki sambil menangis.

"Untuk kepentingan negara, Keng-hiau telah melupakan kepentingan pribadi. Meski Hwesto ini bukan guruku, tetapi aku pernah mendapat ajaran silatnya, hari ini dia berusaha merampas tawanan, tidak bisa tidak terpaksa aku harus membunuhnya, cuma dalam hati aku merasa tak tega juga."

Habis itu, ia seka air matanya dan memberi perintah pada bawahannya.

"Bikinkan sebuah peti jenazah yang bagus dan kuburkan dia dengan baik."

Menyaksikan peristiwa ini, diam-diam Gak Ciong-ki merasa ngeri juga. Pikirnya.

"Hm, cara kau berlagak kucing menangisi tikus ini, hendak kau pertontonkan untuk siapa?"

Sejak itulah Gak Ciong-ki jadi lebih kenal siapa Lian Keng-hiau, dalam takutnya diam-diam ia berlaku hati-hati juga padanya.

Dalam pada itu, Liau-in berempat ternyata terluka parah semua, lebih-lebih Thian-yap Sanjin yang tulang iganya patah kena sodokan gagang kebut, lukanya paling berat.

Lalu Lian Keng-hiau perintahkan bawahannya menyadarkan, namun mereka masih belum bisa bergerak, mereka hanya merintih kesakitan.

Tongkat Liau-in ternyata bengkok kena ditekuk oleh Pun-bu, nampak senjatanya ini, Liau-in yang sudah sadar, saking gusar kembali jatuh pingsan lagi.

Meski luka mereka parah, tapi beruntung memiliki tenaga dalam yang terlatih, oleh karenanya jiwa mereka tidak berbahaya, Lian Keng-hiau sendiri adalah murid Ciong Ban-tong, ia rada paham ilmu ketabiban, maka lekas ia sediakan kamar tersendiri untuk mereka dan dirawat, di samping itu Lian Keng-hiau tidak lupa memikirkan tipu daya untuk menghadapi Siau-lim-si kelak.

Kembali berbicara tentang Kam Hong-ti dan Lu Si-nio yang sembunyikan diri di kediaman Ki Teng-hong.

Sementara itu luka orang tua ini sudah sembuh, sedang luka Lu Si-nio sendiri, karena jarum yang menancap di betisnya itu tidak berbisa, maka setelah disedot keluar oleh batu penyedot dan dirawat dua hari, nona ini sudah pulih kembali dan bisa bergerak lagi seperti biasa.

Pada hari itu mereka sedang berkerumun di tengah ruangan dan sedang mengobrol.

Kata Lu Si-nio.

"Beruntung hari itu Pun-bu Taysu datang, jika tidak, mungkin Siaumoay tidak bisa bersua lagi dengan kalian."

"Jiwa pahlawan Pun-bu Taysu betul-betul sangat mengagumkan orang,"

Ujar Kam Hong-ti.

"Tetapi ia suka turuti pikiran sendiri, terhadap jahanam Lian Keng-hiau, sekalipun di mulut ia mendamprat, tapi dalam hati sangat sayang padanya. Mau tak mau aku kuatir keselamatannya!"

Tengah mereka pasang omong, tiba-tiba ada laporan.

"Di luar ada seorang Hwesio, dengan jubah compang-camping, muka penuh noda darah, minta bertemu dengan Kam-tayhiap."

Mendengar laporan ini, Kam Hong-ti berseru kaget, cepat ia berlari keluar, kemudian masuklah seorang Hwesio dengan langkah sempoyongan terus jatuh tersungkur di lantai.

Waktu Kam Hong-ti periksa, Hwesio ini ternyata bukan Pun-bu Taysu, sudah tentu ia merasa sangsi dan heran sekali.

Sementara itu karena mendengar suara ribut, Loh Bin-ciam pun sudah menyusul keluar, ketika ia mengenali siapa Hwesio ini, segera ia berseru.

"In-hong Suheng, kenapakah kau?"

Dengan cepat ia ambil air dingin dan disemprotkan ke mukanya agar lekas sadar, sesudah ingat akan dirinya, seketika In-hong menangis keras.

"Guruku mungkin sudah mengalami nasib malang!"

Teriaknya dengan menggerung.

Pedih sekali hati Lu Si-nio melihat keadaan orang, dengan cepat ia minta penjelasan apa yang telah terjadi.

Maka berceritalah In-hong apa yang dialami mereka guru dan murid.

Keruan tidak kepalang rasa"

Gusar Lu Si-nio dan Kam Hong-ti karena kelicikan dan kerendahan pihak musuh.

"Baik, bila terjadi sesuatu atas keselamatan Pun-bu Taysu, kami pasti akan balaskan'sakit hatinya,"

Ikrar mereka bersama.

"Lian Keng-hiau memegang kekuasaan besar, di markasnya juga penuh dengan jagoan, sakit hati ini tidak gampang dibalas!"

Kata In-hong Hwesio.

"Setelah mengaso di sini, segera aku akan kembali ke Ko-san buat melapor pada Cu-ji Hongtiang (ketua)."

"Baik, biar kami antar kau ke Ko-san,"

Ujar Kam Hong-ti.

Malamnya, orang yang dikirim Ki Teng-hong buat mencari berita telah kembali dan membenarkan berita kemalangan Pun-bu, sudah tentu berita sedih ini membikin para pendekar sangat berduka, mereka mencucurkan air mata, segera mengadakan sembahyangan untuk arwah Pun-bu yang sudah wafat itu.

Tengah mereka berduka, tiba-tiba terdengar suara "ting-ting-ting" , suara kelenengan yang berkumandang dari jauh, seketika juga Kam Hong-ti melompat pergi, ia membuka pintu buat memeriksa.

Perkampungan Siu-jiang-su-ih dibangun di atas lereng bukit, oleh karena itu, suara yang berkumandang terbawa angin dapat didengar dengan jelas sekali.

Waktu Kam Hong-ti naik ke tempat tinggi buat memandang, tiada bayangan orang yang tertampak, ia jadi heran.

Tiba-tiba suara kelenengan tadi terdengar pula, mendadak sesosok bayangan muncul dari balik lereng bukit sana, dalam sekejap saja sudah sampai di tengah gunung.

Kesehatan orang membikin Kam Hong-ti terkejut.

"Pat-moay, mari sini!"

Ia memanggil Lu Si-nio.

Belum lenyap suara panggilannya, tahu-tahu orang tadi sudah sampai di depannya.

Waktu ia lihat jelas, ternyata orang yang ada di hadapannya ini adalah seorang tabib Kangouw yang berjenggot cabang tiga, tangan memegang sebuah galah pikulan.

Begitu dekat, tabib ini lantas memanggut pada Kam Hong-ti.

"Apakah Ki Teng-hong Losiansing ada di sini?"

Ia bertanya.

Dalam pada itu Lu Si-nio dan Ki Teng-hong pun sudah keluar dari dalam, waktu mereka mengamati tabib ini, tiada di antara mereka yang kenal.

Kam Hong-ti jadi curiga, tetapi sebelum ia memancing perkataan orang lebih jauh, Ki Teng-hong yang semula tak berani perkenalkan diri, sesudah mengamati sejenak dan melihat galah pikulan yang dipegang orang, tiba-tiba ia menyapa.

"Apa yang datang Bu-locianpwe adanya?"

"Betul aku yang rendah she Bu, darimana Losiansing mendapat tahu?"

Sahut tabib Kangouw itu sembari merangkap tangan sebagai tanda hormat.

"Pernah Li-kongcu menyebut tentang dirimu,"

Kata Ki Teng-hong.

"Kiranya tuan sendiri adalah Ki-losiansing!"

"Betul, apakah locianpwe telah melihat Li-kongcu?"

Tanya Ki Teng-hong.

Mendengar pertanyaan itu, si tabib berbalik jadi heran sekali, ia memandang sekejap pada Kam Hong-ti dan Lu Si-nio.

Nampak keragu-raguan orang, lekas Ki Teng-hong memperkenalkan mereka.

Mendengar bahwa si tabib adalah adik lelaki Bu Ging-yao yang bernama Bu Sing-hua, lekas Kam Hong-ti memberi hormat dan pandang orang sebagai kaum Cianpwe.

"Sudah lama aku kagumi nama Kanglam-tayhiap yang tersohor, walau aku pernah sekali bertemu dengan guru kalian, tetapi pintu perguruan kita tidak sama, kita boleh bersahabat secara biasa, bolehlah pandang sama tingkat saja,"

Ujar Bu Sing-hua.

Namun Kam Hong-ti berkeras tidak mau, ia tetap memandang orang sebagai kaum Cianpwe atau angkatan yang lebih tua, karena itu terpaksa Bu Sing-hua menerima setengah hormat orang, sudah itu ia disongsong masuk ke dalam rumah.

"Apakah Li Ti tidak ada di sini?"

Tanya Bu Sing-hua sesudah ambil tempat duduknya.

"Justru kami malah ingin mencari dia,"

Sahut Ki Teng-hong.

"Bocah ini sungguh tidak tahu urusan,"

Ujar Bu Sing-hua.

"dengan susah payah aku tolong dia lolos dan suruh jangan sembarang bergerak lagi, siapa tahu baru sekejap mata sudah menghilang pula."

Mendengar penuturan ini, Ki Teng-hong jadi bingung.

"Ada apa?"

tanyanya.

"Oleh ibunya, Li Ti disuruh turun gunung cari pengalaman, tapi Taciku itu masih merasa kuatir, maka aku dipesan untuk mengawasinya secara diam-diam, Bu Sing-hua menerangkan.

"Hari itu ia ditawan Liau-in di tepi telaga dan terluka otot tulangnya. Tetapi aku telah menolongnya dengan merampas dari tangan pengawal Ciatkang Sunbu. aku bikin keder pula Hwesio jahat itu dengan ilmu pukulan 'Liu-hun-hwi-siu' yang lihai."

"Ah, kalau begitu Li-kongcu betul-betul seorang yang suka pegang janji, betul juga pagi hari itu ia telah mengunjungi kami,"

Sela Lu Si-nio.

"Dan ada pula seorang nona cilik, entah siapa?"

"Aku tidak melihat nona cilik apa segala,"

Sahut Bu Sing-hua. Ia hirup teh panas yang disuguhkan, lantas ia sambung lagi.

"Sesudah aku berhasil menolongnya, aku lantas bawa dia kembali ke Wi-liong-koan di Po-ciok-san, biara dimana aku tinggal. Aku pesan agar dia merawat lukanya di rumah biara itu, bila pasukan Lian Keng-hiau sudah pergi jauh baru boleh unjuk diri lagi. Kemarin aku pergi ke kota untuk beli obat, pulangnya aku mendengar laporan dari imam penjaga katanya Li Ti telah keluar. Aku menunggu sampai tengah malam, namun tetap tidak tampak dia kembali, ia pun tidak meninggalkan sesuatu surat atau catatan, maka aku menyangka dia tentu datang ke sini buat mencari kau!"

Mendengar cerita ini, Ki Teng-hong dan Kam Hong-ti jadi saling pandang, mereka bingung dan kuatir akan keselamatan Li Ti.

"Li-kongcu orangnya cerdik dan pintar, ilmu pedangnya pun tinggi, kiranya takkan terjadi sesuatu atas dirinya,"

Ujar Lu Si-nio.

"Tetapi para jagoan kelas tinggi banyak berkumpul di Hangciu, hanya seorang Liau-in Hwesio saja dia tak sanggup melawan, bagaimana aku dapat merasa tenteram?"

Sahut Bu Sing-hua.

"Menurut taksiranku. Liau-in dan kawan-kawan pasti terluka parah,"

Kata Kam Hong-ti.

"Dengan kepandaian Li-kongcu, selain Liau-in dan beberapa kawannya, selebihnya tidak nanti mampu melukainya."

"Darimana Kam-tayhiap bisa menduga bahwa Hwesio kejam itu terluka parah?"

Tanya Bu Sing-hua heran.

Memang tidak salah kalau Bu Sing-hua merasa heran, sebab ia pikir dengan kepandaian dirinya paling banyak baru bisa mengalahkan Liau-in tetapi tak bisa melukainya, maka siapa lagi yang memiliki ilmu silat begitu tinggi dan bisa melukai Liau-in?

Kam Hong-ti lantas ceritakan cara bagaimana Pun-bu Taysu mengalami nasib malang.

Katanya lagi.

"Menurut cerita Bu-locian-pwe tadi, sesudah Liau-in kena digertak kabur, kebetulan ia berpapasan dengan pasukan Lian Keng-hiau, tentu Lian Keng-hiau akan mengundang Liau-in ke perkemahannya. Dan karena itu, Pun-bu Taysu, tokoh nomor satu atau dua pada zaman ini, dengan sendirinya tidak mau menyerah untuk diringkus begitu saja."

Sementara itu luka In-hong Hwesio pun sudah baik, ia pun ke-, luar menemui Bu Sing-hua dan menceritakan kisah yang dialaminya hari itu, ia pun yakin Liau-in berempat pasti terluka parah, mendengar cerita ini, Bu Sing-hua baru mau percaya dan lega hatinya.

Terhadap nama Pun-bu Taysu, sejak lama Bu Sing-hua sudah sangat mengagumi, kini mendengar berita nasib malang padri ini, ia pun ikut berduka cita, ia lantas sembahyang di hadapan meja abu yang diadakan Kam Hong-ti dan kawan-kawan itu.

"Biar aku pergi mencari lagi,"

Katanya kemudian, ia maksudkan mencari keponakannya, Li Ti.

"Sudah jauh malam, mengasolah dulu semalam di sini, besok kita berpencar ikut mencarinya,"

Ujar Ki Teng-hong.

Meski namanya memberi pelajaran sekolah, Ki Teng-hong sebenarnya mendirikan Siu-jiang-su-ih lebih banyak bertujuan menyebar paham patriotik Lu Liu-liang, anak muridnya pun tergolong kaum muda yang berdarah panas, oleh karena itu sekolahnya ini seakan merupakan cabang perkumpulan rahasia di Ciatkang.

Begitulah, selama tiga hari berturut-turut Ki Teng-hong mengirim orang mencari kabar Li Ti, tetapi sedikitpun tidak berhasil.

Lewat beberapa hari, pasukan besar yang dipimpin Lian Keng-hiau pun berangkat, tetapi kabar berita tentang Li Ti masih tetap belum diperoleh.

"Tampaknya harus minta bantuan kawan kalangan Kangouw untuk ikut mencarinya,"

Ujar Bu Sing-hua akhirnya dengan menghela napas.

"Di daerah sekitar Kanglam, tentu aku akan bantu sebisanya."

Kata Kam Hong-ti. Oleh Lu Si-nio lantas ditanya kemana selanjutnya perjalanan Bu Sing-hua "Aku ingin mengunjungi kampung halaman Lian Keng-hiau,"

Kata Bu Sing-hua.

"Aku ingin pindahkan kerangka miang Ciong Ban-tong."

Semua orang tahu bahwa dia pernah memperoleh petunjuk ilmu silat Pho Jing-cu, tokoh tua Bu-kek-pay, kalau diurut, tingkatannya malah setingkat lebih tinggi dari Ciong Ban-tong.

Setelah Ciong Ban-tong meninggal, Bu-kek-pay tiada ahli waris lain lagi, urusan selanjutnya dengan sendirinya jatuh ke tangan Bu Sing-hua untuk menyelesaikannya.

"Baiklah, kami akan antar In-hong Suheng kembali ke Ko-san, kebetulan kita satu jurusan dengan Locianpwe,"

Ujar Kam Hong-ti.

Besok paginya, Kam Hong-ti, Lu Si-nio, Loh Bin-ciam, Pek Thay-koan dan Hi Yang serombongan lantas berpisah dengan Ki Teng-hong, mereka mengawal ln-hong Hwesio pulang ke Ko-san, Bu Sing-hua pun berangkat bersama mereka, hanya setelah sampai di kota Tinghong, mereka lantas berpisah ke arah masing-masing.

Setelah berpisah beberapa tahun, pegunungan Ko-san yang mereka tuju ternyata masih sama seperti dahulu, sembari mendaki gunung, Lu Si-nio menghela napas kecil, ia kuatir tempat suci yang sudah berumur ribuan tahun ini bakal termusnah menjadi abu.

Di samping itu, In-hong Hwesio merasa sedih, terutama kalau teringat nasib gurunya yang mengenaskan itu.

Setelah sampai di atas gunung, mereka lantas dipapak dan disambut oleh padri penerima tamu.

Sampai di ruangan tamu, mereka disambut sendiri oleh Hong-hoat Taysu.

Hong-hoat adalah padri agung utama ruangan Ciang-king-tong, kedudukannya hanya di bawah Siau-lim-sam-lo atau tiga tema Siau-lim-si.

Maka lekas In-hong memberi hormat.

"Berita malang dari Kam-si sudah diketahui oleh Cu-ji,"

Kata Hong-hoat Taysu dengan suara rendah dan muka muram, sebelum In-hong melapor.

"Mohon Susiok suka sampaikan pada Cu-ji bahwa anak murid tingkat ke-48, In-hong, mohon menghadap,"

Kata In-hong Hwesio.

"Cu-ji sedang memberi khotbah di ruangan Tat-mo-ih, aku sudah sediakan tempat duduk untukmu, pergilah kau ke sana,"

Kata Hong-hoat pula.

"Kali ini mungkin adalah untuk penghabisan kalinya beliau memberi khotbah di biara kita di Ko-san ini."

Begitulah, Hong-hoat Taysu kemudian menemani para tamunya di ruangan depan ini, maka masuklah In-hong Hwesio menuju ke ruangan Tat-mo-ih dengan perasaan berat, ia ambil tempat duduk yang sudah disediakan untuknya, ia lihat kedua belas anak murid pertama Siau-lim-si duduk terpekur dengan kepala menunduk sedang mendengarkan khotbah.

Khotbah itu amat menggetar jiwa pendengarnya hingga akhirnya kedua belas murid pertama dan In-hong mengalirkan air mata terharu.

"Silakan Kam-tayhiap kemari,"

Terdengar Bu-cu Siansu membuka suara. In-hong Hwesio maju menghadap, akan tetapi Bu-cu Siansu, ketua Siau-lim-si sudah mendahuluinya berkata.

"Tak usahlah kau menceritakan lagi!"

Tidak lama kemudian Kam Hong-ti telah diantar datang.

"Kam-tayhiap yang setia kawan dan jauh-jauh datang memberi kabar, kami segenap padri Siau-lim-si tiada yang tidak berterima kasih,"

Bu-cu Siansu menyapa sambil memberi hormat. Lekas Kam Hong-ti balas menghormat. Sahutnya.

"Pun-bu Taysu yang gagah perkasa ternyata mengalami nasib malang di tangan musuh, Hong-ti sendiri waktu itu ada di Hangciu, tetapi tidak bisa ikut membagi derita itu, sungguh sangat memalukan."

"Kawanan orang berkuasa sedang malang melintang, hanya tenaga manusia saja sukar menghindarkan bencana, meski Pun-bu Suheng sudah meninggal, namun urusannya mungkin masih belum selesai sampai di sini!"

Ujar Bu-cu. Kam Hong-ti terdiam dan tidak menanggapi.

"In Ceng dan Lian Keng-hiau semuanya keluaran Siau-lim-si, jika In Ceng naik takhta, dibantu Lian Keng-hiau yang sewenang-wenang, itu berarti bencana bagi Siau-lim-si sudah tiba,"

Kata Bu-cu pula.

"Dengan kesaktian Siansu, apakah tidak dapat dihindarkan?"

Tanya Kam Hong-ti.

"Kecuali kalau suasana berganti, jika tidak, bencana ini pasti sukar dihindarkan,"

Kata Bu-cu. Kam Hong-ti terdiam, dalam hati ia membatin.

"Kenapa tidak berontak saja!"

Tetapi demi nampak kedua mata Bu-cu Siansu bersinar tajam dan memandang jauh ke sana, ia mengerti padri berilmu ini sedang memeras otak, maka tak berani ia usil.

Lewat sejenak, akhirnya terdengar Bu-cu Siansu menghela napas panjang.

"Mulai besok para padri Siau-lim-si sudah akan berpencar,"

Katanya kemudian.

"aku berniat mendirikan kembali biara kita Poh-thian, Hokkian, dan Lamhay di Kwitang, kelak mungkin perlu bantuan Kam-tayhiap."

"Kapan saja Siansu memerlukan tenagaku, senantiasa aku siap,"

Sahut Kam Hong-ti. Setelah beberapa hari Kam Hong-ti dan kawan-kawan tinggal di Siau-lim-si, karena melihat para padri Siau-lim-si sedang repot urusan pemindahan biara, maka mereka lantas mohon diri.

"Aku mendengar dari Hong-hoat Taysu, katanya Can Ceng sudah tiba di Pakkhia,"

Kata Lu Si-nio sesudah mereka turun gunung.

"Kini kita berada di propinsi Ho-lam, mari sekalian kita menuju Pakkhia!"

Ajak Pek Thay-koan.

Perlu diterangkan, Can Ceng juga merupakan salah seorang murid kesayangan Lu Liu-liang, selama beberapa puluh tahun ia kian kemari bergerak untuk kepentingan kebangkitan kembali negara leluhur, dengan Giam Hong-kui dan Sim Cay-khoan mereka bersahabat akrab sekali.

Begitulah maka Kam Hong-ti berkata.

"Aku dan Kwantang-si-hiap juga ada janji pertemuan di Pakkhia pada tahun yang akan datang, baiklah kalau kita mau ke sana, cuma kita harus waspada."

Kam Hong-ti mahir merias muka, maka ia lantas menjadi juru rias bagi kawannya, setelah mereka berubah wajah, maka berangkatlah mereka menuju ke kotaraja.

Sang tempo lewat dengan cepat, musim rontok telah berlalu dan disusul dengan datangnya musim dingin.

Ketika rombongan Kam Hong-ti sampai di kotaraja, sementara itu sudah pertengahan musim dingin, bunga salju laksana bulu angsa memutih beterbangan dengan lebatnya.

Ketika mereka masuk ke dalam kota, tiba-tiba mereka nampak sepasukan Lamma dengan berbaris secara khidmat sedang menuju ke jurusan istana.

Kam Hong-ti dan kawan-kawan berteduh di bawah emper sebuah warung, mereka dengar orang di dalam warung sedang mempercakapkan barisan Lamma tadi.

"Kabarnya kaisar tua sedang sakit, maka sengaja mendatangkan Lamma besar dari Tibet untuk membacakan kitab suci dan sembahyang, coba lihat hebat sekali lagak mereka,"

Demikian percakapan itu. Tergerak hati Lu Si-nio mendengar cerita itu, tetapi ia tidak lantas buka suara, ia tunggu setelah pasukan Lamma itu berlalu baru ia bisiki Kam Hong-ti.

"Kebetulan sekali kedatangan kita, mungkin kita dapat menyaksikan si keparat In Ceng naik ke singgasana takhtanya!"

Katanya.

"Aku dengar cerita dari kawan di Kangouw, katanya belasan putra Kaisar Khong-hi diam-diam sedang saling gempur dan bersaing untuk merebut takhta, agaknya yang akan naik takhta belum tentu In Ceng,"

Ujar Kam Hong-ti.

"Tetapi yang paling giat dan bernapsu memperoleh takhta adalah In Ceng, orang kosen yang dia kumpulkan pun paling banyak, tampaknya putra-putra pangeran lainnya bukan tandingannya,"

Sahut Lu Si-nio.

"Peduli siapa di antara mereka yang bakal naik takhta,"

Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.

"sama saja, tidak nanti bermanfaat bagi kita bangsa Han, buat apa kita ikut urus!"

Meski Kam Hong-ti belum pernah datang di Pakkhia, tapi hubungannya luas dan kenalannya banyak, tidak sedikit sahabatnya yang tinggal di Pakkhia, ketika mendengar kabar kedatangan Kam Hong-ti, tidak sedikit yang menawarkan agar tinggal di rumahnya, namun satu demi satu tawaran itu ditolak Kam Hong-ti dengan halus, mereka tetap tinggal di rumah pondokan hingga dua hari.

"Meski kita sudah ganti rupa tetapi rumah pondokan tetap bukan tempat yang baik buat tinggal,"

Ujar Lu Si-nio.

"Aku sudah menaksir, tentu ada satu orang yang bakal datang mengundang kita,"

Kata Kam Hong-ti dengan tersenyum. Lu Si-nio jadi heran, ia tanya gerangan siapa yang ditunggu? "Aku katakan juga kau tak kenal, tetapi guru orang ini kau malah sudah pernah bertemu,"

Sahut Kam Hong-ti.

Lu Si-nio mengerti Suhengnya ini sengaja mau main teka-teki, maka dengan tertawa ia pun tidak bertanya lebih jauh.

Betul juga, pada hari ketiga, jongos penginapan datang mem-beritahu mereka.

Katanya.

"Teng-ya (tuan Teng, Kam Hong-ti menyamar dengan nama Teng Liong), di luar ada seorang Hwesio dengan membawa buku derma hendak meminta sedekah padamu!"

"Baik, silakan dia masuk,"

Sahut Hong-ti tanpa ragu-ragu. Jongos penginapan jadi heran melihat orang begitu murah hati.

"Semula aku mengira Hwesio itu datang secara ngawur, tak tahunya dia memang betul sudah kenal dengan tuan,"

Katanya. Tidak lama jongos itu membawa masuk seorang Hwesio, muka padri ini kurus bersih, tampaknya usianya sekitar setengah abad.

"Aku kira siapa, tak tahu kau adanya,"

Kata Kam Hong-ti dengan gelak tertawa sambil menutup pintu kamar.

"Dan mengapa kau menjadi Hwesio."

"Ya, maka aku sengaja datang minta sedekah padamu!"

Sahut padri itu.

"Ha, kupingmu sungguh tajam, rupanya kau mendengar aku mendapatkan harta karun dari Tiat-sian-pang,"

Kata Kam Hong-ti dengan terbahak-bahak. Tetapi tiba-tiba ia lihat Hwesio itu tertawa getir, katanya.

"Setelah mengenakan jubah, urusan jadi tambah banyak, lewat tahun aku pun akan meninggalkan Pakkhia,"

Kata si Hwesio.

"Apa?"

Tanya Kam Hong-ti heran.

"Kau betul-betul telah purus asa dan pandang segalanya kosong belaka?"

Kembali Hwesio itu tertawa, tertawa yang terlebih getir.

"Mari minum di biaraku yang bobrok itu!"

Akhirnya ia mengajak.

Kam Hong-ti terima tawaran itu, ia bereskan rekening penginapan dan ikut Hwesio itu menuju luar kota, sesudah sampai di luar kota, baru Kam Hong-ti kenalkan Hwesio ini pada rekan-rekannya.

Kiranya Hwesio ini aslinya bernama Ciok Keh-jiu, seperti diketahui adalah bekas kekasih ibu Teng Hiau-lan, ia pun merupakan ahli waris satu-satunya Bu Sing-hua.

Lu Si-nio sendiri pernah dengar dari Bu Sing-hua ketika bercerita di tengah jalan, katanya dia masih punya seorang murid, sama sekali tak terduga adalah Hwesio ini, ia jadi heran mengapa selama ini Kam Hong-ti tidak pernah menceriterakan hal ini padanya.

Tidak lama kemudian mereka sampai di Se-san, bukit sebelah barat kota, si Hwesio berjalan di depan sebagai penunjuk jalan, ia membawa tamunya ini ke sebuah kelenteng bobrok di kaki bukit.

"Inilah tempat tinggalku."

Katanya dengan tertawa pada tetamunya.

Kelenteng kuno ini sudah tak terpakai, walaupun keadaannya bobrok tak terurus, tapi tempatnya cukup luas.

Si Hwesio membersihkan debu yang memenuhi ruangan kelenteng itu, lalu dari dinding ia turunkan dua buah Ho-lo (buli-buli) yang penuh berisi arak, ia ajak tetamunya minum bersama.

"Masih belum kami ketahui sehutanmu dalam Buddha?"

Tanya Kam Hong-ti.

"Aku memberi nama pada diriku sendiri sebagai Ling-sian,"

Sahut si Hwesio. Kam Hong-ti tertawa mendengar nama agama orang.

"Namamu Ling-sian, tapi hatimu mungkin masih belum sungguh-sungguh dingin,"

Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa (Ling-sian berarti dingin dan suci).

Atas kelakar ini, kembali Ling-sian mengunjuk senyum getir, ia meneguk araknya dengan bernapsu, dalam sekejap Ho-lo yang penuh isinya telah diminum hingga kering.

Lantaran kekasihnya terkurung di istana, selama tiga puluh tahun belum pernah dilupakan oleh Ciok Keh-jiu, sesudah gagal masuk ke istana tahun yang lalu, ia jadi putus asa dan patah semangatnya, karena itu ia lantas cukur rambut menyadi Hwesio.

Namun ia tidak tahu bahwa kekasihnya itu sudah meninggal, oleh karena itu, sekalipun ia sudah jadi Hwesio, ia masih belum rela meninggalkan Pakkhia.

Melihat kelakuan orang, Kam Hong-ti jadi tertawa, ia pun meneguk araknya.

"Buat apa kau siksa dirimu sendiri, apa gunanya kau mengenakan jubah suci?"

Katanya kemudian dengan geleng kepala.

"Mungkin bila tahun lalu aku sempat berjumpa dengan kalian, bisa jadi harapanku sudah terkabul,"

Ujar Ling-sian Hwesio. Habis itu ia lantas ceritakan pengalamannya tahun lalu ketika ia gagal menyelidik ke dalam istana.

"Biarlah kelak kami iringi kau ke sana lagi,"

Kata Kam Hong-ti untuk menghiburnya.

"Kini aku sudah menjadi Hwesio, urusan ini tak usah dipersoalkan lagi,"

Sahut Ling-sian.

Ling-sian tahu bahwa Lu Si-nio adalah Sumoay Kam Hong-ti, juga cucu perempuan pujangga Lu Wan-joan, ia jadi sangat tertarik, ia lantas tanya berbagai soal tentang sastra dan ajaran Buddha yang dijawab dengan baik dan tepat sekali oleh Lu Si-nio.

"Banyak terima kasih atas keteranganmu yang telah menyadarkan diriku dari jalan keliru,"

Kata Ling-sian akhirnya sambil berdiri memberi hormat.

"Hendaklah Cianpwe jangan merendah hati,"

Lekas Lu Si-nio balas hormat orang. Mendengar panggilan orang padanya, Ling-sian bergelak tertawa.

"Aku saling menyebut saudara dengan Suhengmu, mana boleh kau panggil aku Cianpwe?"

Katanya. Berkata sampai di sini, dari sinar matanya tertampak semangat gembira sekali.

"Meski Ciok-toako pakai nama gelaran Ling-sian, tapi perasaannya yang agung masih tetap tersembunyi di dalam hatinya,"

Ujar Kam Hong-ti. Kembali Ling-sian unjuk senyum kecut.

"Menengok kepada kejadian tiga puluh tahun lalu, seperti dalam mimpi dan laksana asap yang buyar. Ah, sudahlah, tak usah dibicarakan lagi, marilah kita minum!"

Katanya. Tak lama, Ling-sian sendiri jatuh mabuk lebih dulu.

"Hwesio ini sungguh menarik sekali,"

Ujar Pek Thay-koan dengan tertawa.

Kemudian Kam Hong-ti dukung Ling-sian masuk ke kamarnya buat mengaso.

Kam Hong-ti menanti sesudah Ling-sian tidur, lalu ia meronda ke sekeliling kelenteng, ia lihat beberapa kamar lainnya sudah disediakan tempat-tidur.

"Meski Hwesio ini tampaknya ceroboh, tetapi sebenarnya ia berlaku hati-hati sekali, sungguh seorang yang simpatik,"

Kata Lu Si-nio.

"Kalau tidak, mana bisa dia menunggu selama tiga puluh tahun untuk seorang wanita,"

Ujar Kam Hong-ti.

Lalu Kam Hong-ti menceritakan asal-usul Ling-sian, tak tertahan semua orang jadi terharu atas nasib orang, lebih-lebih Loh Bin-ciam yang merasa paling tersinggung, ia terus meneguk araknya.

"Loh-suheng tidak perlu berduka, meski Li Bing-cu adalah putri keluarga bangsawan, tetapi tutur bahasa dan kelakuannya, dia tidak dapat disamakan dengan seorang dayang istana yang lemah,"

Lu Si-nio coba menghibur.

Kemudian Kam Hong-ti bercerita pula kisah perkenalannya dengan Ciok Keh-jiu.

Kejadian ini adalah tiga tahun yang lalu ketika Ciok Keh-jiu baru datang di Kanglam, ia masih asing daerah ini, dan kekurangan ongkos juga, maka ia lantas mengamen sebagai penjual obat untuk sekedar cari uang, tapi karena ia tak paham aturan Kangouw, sebelumnya ia tidak menghadap pada 'Toako', yakni jagoan penguasa setempat, oleh begundal 'Toako' setempat ia dimintai komisi pendapatan secara paksa, sudah tentu Ciok Keh-jiu tidak menyerah mentah-mentah, dengan sedikit gerak tangannya ia bikin kawanan penyatron itu lari terbirit-birit.

"Soalnya sebenarnya biasa saja, tak terduga 'Toako' setempat itu ternyata adalah anak murid benggolan penyamun, nampak seorang asing mengunjuk ilmu silat begitu tinggi, mau tak mau ia jadi curiga, ia mengira orang adalah Poh-thau atau opas yang dikirim dari kotaraja, maka secara diam-diam kejadian itu dilaporkan kepada benggolan penyamun itu.

Mendengar bahwa ada orang semacam itu datang ke tempatnya, benggolan itu segera membawa begundalnya menegur Ciok Keh-jiu dan karena percekcokan mulut, akhirnya mereka saling gebrak, seorang diri Ciok Keh-jiu tak unggulan melawan orang banyak, akhirnya ia tertawan.

Kebetulan tatkala itu Kam Hong-ti justru sampai di tempat itu, begitu mendengar peristiwa itu, segera ia pergi menemui benggolan penyamun itu, ia minta bertemu dengan tamu asing yang ditawannya itu.

Begitu melihat, Kam Hong-ti yakin orang ini bukan opas yang dikirim pemerintah, segera ia minta kelonggaran untuk Ciok Keh-jiu dan supaya dibebaskan.

Meski orang belum kenal padanya tapi sudah berusaha membela dirinya, keruan Ciok Keh-jiu sangat berterima kasih dan kagum atas budi luhur Kam Hong-ti.

Kemudian setelah saling perkenalkan diri, ketika mengetahui penolongnya ini adalah Kanglam-tayhiap, Ciok Keh-jiu jadi lebih hormat dan kagum padanya.

Karena merasa sangat cocok, mereka lalu mengikat sahabat.

Tatkala itu Ciok Keh-jiu telah ceritakan asal-usulnya pada Kam Hong-ti, ia pun berjanji agar kelak bertemu pula di kotaraja.

Oleh karena urusan orang bersangkutan dengan rahasia istana, lagi pula adalah urusan pribadi Ciok Keh-jiu, maka selama itu belum pernah Kam Hong-ti ceritakan pengalamannya ini kepada saudara seperguruannya.

Esok paginya, begitu bangun tidur, kembali Ling-sian mengajak Kam Hong-ti minum arak lagi.

"Cara minum begini, tidak usah tiga hari, harta-benda kelenteng bobrokmu ini pasti akan ludes,"

Ujar Kam Hong-ti tertawa atas tawaran orang. Habis itu lantas ia merogoh kantong dan keluarkan segenggam uang perak dan menyambung pula.

"Biarlah hari ini aku yang menjadi tuan rumah."

Ling-sian melotot ketika melihat uang perak orang.

"Hm, sungguh pelit, bisa buat apa uang perak sekian ini?"

Katanya. Kam Hong-ti tercengang oleh kata-kata itu, ia bingung, pikirnya.

"Kau Hwesio ini bisa makan berapa banyak, masakah uang perak sepuluh tahil masih belum cukup?"

Maka ia lantas bertanya.

"Kalau begitu, perlu berapa banyak baru cukup?"

"Coba kau kasih sepuluh ribu tahil,"

Kata Ling-sian. Kembali Kam Hong-ti tercengang oleh permintaan orang, tetapi segera ia dengar Ling-sian bergelak tertawa.

"Haha, kan sudah kukatakan hendak minta derma padamu, apa kau kira aku berpura-pura?"

Kata Hwesio itu kemudian. Melihat orang bersungguh-sungguh, akhirnya Hong-ti ikut tertawa geli.

"Memang aku mengira kau hanya berkelakar saja!"

Katanya.

"Tetapi jika kau mau, jangan kata sepuluh ribu, dua puluh ribu tahil pun ada."

Berbareng itu ia lantas keluarkan serenceng mutiara mestika dari bajunya dan berkata lagi.

"Ini harta karun yang kurampas dari kawanan Tiat-sian-pang, silakan Toako ambil dan pakai saja."

Ling-sian pun tidak menolak, ia terima pemberian itu.

"Aku minta uang dari kau, perlunya untuk menolong para janda dan piatu,"

Katanya kemudian dengan tertawa.

"Memangnya kau sudah jadi murid Buddha, dengan sendirinya kau harus banyak berbuat kebajikan,"

Ujar Kam Hong-ti. Atas ucapan ini terlihat Ling-sian melotot lagi. Tetapi tiba-tiba ia tertawa pula.

"Apa yang hendak aku tolong bukan janda dan anak piatu dari keluarga orang biasa,"

Katanya.

"Bukan keluarga orang biasa?"

Tanya Kam Hong-ti.

"kalau begitu apa keluarga hartawan atau bangsawan?"

"Justru yang selalu aku tolong adalah janda dan anak piatu dari musuh besar kalian,"

Kata Ling-sian.

"Toako, kembali kau berkelakar lagi,"

Ujar Kam Hong-ti tidak mengerti.

"Sedikitpun tidak berkelakar,"

Tiba-tiba Ling-sian bicara dengan wajah sungguh-sungguh.

"Coba jawab, kalian kaum pendekar Kangouw ini bukankah musuh besar bayangkara istana?"

"Mereka mati-matian bekerja untuk si tua kaisar dan menguber kami, dengan sendirinya adalah musuh kami,"

Sahut Hong-ti.

"Justru yang hendak aku tolong adalah para janda dan piatu dari bayangkara itu,"

Kata Ling-sian lagi.

"Kau tentu tahu bahwa tiga puluhan tahun yang lampau pernah aku bekerja di bagian luar istana, kala itu Ciu Jing masih menjadi pengawal dalam istana dan belum memberontak, aku bersama Ciu Jing serta seorang pengawal lainnya yang bernama Kau Sam-pian adalah sahabat karib sekali."

"Hal itu pernah kudengar dari kau,"

Sela Kam Hong-ti.

"Ciu-tayhiap adalah orang yang sangat aku kagumi selama hidup, walau Kau-ya (tuan Kau) masih berada di istana, tapi terhadap para kawan di Kangouw, seringkah ia ikut melindungi, bayangkara semacam dia bukan saja tidak menjadi lawan, bahkan boleh dibilang adalah kawan kita."

"Nasib orang yang menjadi pengawal dalam istana, sebenarnya juga sangat menyedihkan,"

Ujar Ling-sian pula.

"Karena aku bergaul rapat dengan Ciu Jing dan Kau Sam-pian, maka berkenalan juga dengan sedikit pengawal lainnya. Tahun yang lalu ketika aku kembali lagi ke sini, aku dapati sembilan di antara sepuluh mereka sudah meninggal, banyak di antara mereka yang meninggalkan istri dan anak, oleh kaisar tidak diberi pensiun, mereka tidak digubris juga oleh penduduk tetangga karena di masa hidup para bayangkara itu banyak berlagak dan menindas rakyat."

"Betul-betul dosa mereka merembet kepada anak-cucu,"

Kata Kam Hong-ti terharu. Begitulah setelah mereka pasang omong, Ling-sian lantas berangkat ke kota untuk membeli arak.

"Apa ada kabar tentang Kwantang-si-hiap?"

Tanya Kam Hong-ti ketika Lian-sian pulang pada malamnya.

"Mereka masih belum datang,"

Sahut Liang-sian.

"Tapi sebaliknya aku bertemu kawan kalangan Bu-lim, mereka dengar kau telah datang, maka mereka telah mencari kemana-mana. Aku tahu kau tak suka unjuk diri, maka seluruhnya telah kujawab tidak tahu."

"Bagus sekali jawabanmu itu,"

Ujar Kam Hong-ti.

"Sebenarnya kawan itu kebanyakan juga kawan yang sudah kenamaan, kini aku sudah mengubah mukaku, andaikan bertemu mungkin juga mereka tak kenal."

Sementara itu Pek Thay-koan pun ikut bertanya apa ada kabar baru di kotaraja? "Tiada, kecuali sakit kaisar tua bertambah berat, hanya ada kabar mengenai putra pangeran ke-14 telah kembali ke ibukota,"

Tutur Ling-sian.

Capsi-hongcu atau putra pangeran ke-14 bernama ln Te, dia adalah putra pangeran satu-satunya yang paling disayang oleh Kaisar Khong-hi, beberapa kali ia pimpin pasukan ekspedisi ke barat, kini ia masih tetap dalam jabatan militernya, pangkatnya setingkat jenderal dengan sebutan 'Bu-wan-ciangkun'.

Mendengar Ling-sian menyebut Capsi-hongcu ln Te, tiba-tiba Lu Si-nio teringat pada pengalaman Teng Hiau-lan yang pernah diceritakan itu.

"Kembalinya Capsi-hongcu apa bukan karena untuk perebutan takhta?"

Ia lantas bertanya.

"Itulah aku tidak tahu,"

Sahut Ling-sian.

"Pengetahuanku tentang urusan dalam istana dahulu cukup banyak, tetapi kini aku ber-balik tidak sudi mencari tahu lagi."

"Dengan kembalinya seorang pangeran sebenarnya bukan sesuatu kabar baru yang mengherankan,"

Ujar Pek Thay-koan yang berlainan pendapat.

"Bukan begitu soalnya,"

Kata Ling-sian pula.

"Yang menarik tentunya kembalinya Capsi-hongcu jauh-jauh dari Jinghay dengan membawa pasukan besar, kini pasukannya ditempatkan di luar benteng kota, ini soal pertama. Kedua adalah sekembalinya, ia lantas mendirikan sebuah lapangan pertandingan di depan kelenteng Hou-kok-si, di lapangan itu didirikan dua panggung pertandingan, yang satu untuk bertanding gulat dan yang lain untuk pertandingan silat. Yang menjadi miang punggung pertandingan adalah pahlawan dari pasukannya, bahkan diadakan hadiah besar, siapa saja yang mampu membanting roboh, penantang pertandingan mendapat hadiah seratus tahil emas murni, atau kalau dapat menghantam sekali pada jago panggung pertandingan, hadiahnya sepuluh tahil emas. Lapangan pertandingan ini sudah berlangsung tiga hari hingga sekarang."

Mendengar cerita ini, Hi Yang jadi tertarik.

Di antara mereka hanya nona ini yang dibesarkan di perkampungan yang jauh dari keramaian, sudah lama ia terpesona oleh kemewahan kehidupan di kota, tak ia duga sesudah sampai di kotaraja sebaliknya ia harus mengeram di dalam sebuah kelenteng bobrok terpencil, oleh sebab itu sebenarnya ia sedang masgul.

"Mengapa kita tidak masuk kota menonton keramaian,"

Tak tertahan ia lantas buka suara. Di antara mereka, Pek Thay-koan pun tergolong orang yang suka bergerak, maka segera ia menyokong ajakan kekasihnya itu.

"Kita toh sudah merias muka sedemikian rupa, pesiar sejenak ke dalam kota agaknya tiada halangannya,"

Ujarnya. Sebenarnya Kam Hong-ti tidak ingin pergi, tetapi Pek Thay-koan pernah Suhengnya, tidak enak buat membangkang keinginannya. Maka ia berkata.

"Jika nona Hi dan Pek-suheng ingin pergi, maka baiklah kita pergi bersama."

Kelenteng Hou-kok-si adalah satu di antara kelenteng terbesar di Pakkhia, tiap tahun pada hari raya Capgomeh, Pekcun dan Tiong-chiu pasti membikin perayaan selama lima hari, suasana selalu ramai sekali.

Kini meski bukan hari raya tersebut, tetapi karena Capsi-hongcu telah mengadakan panggung pertandingan di depan kelenteng itu, penonton yang membanjir ternyata jauh lebih ramai daripada hari raya.

Sesampainya di tempat tujuan, Kam Hong-ti berlima yang memiliki kepandaian tinggi, dengan gampang dapat menerobos ke depan di antara penonton yang berjubel.

Hari ini mereka kebetulan menyaksikan panggung dimana diadakan pertandingan gulat yang sedang berlangsung, sebagai jago penantang adalah seorang jago gulat bangsa Mongol, perawakan gagah dan kuat.

Setelah hampir setengah hari Kam Hong-ti dan kawan-kawan menonton, mereka lihat sudah ada lima orang berturut-turut dikalahkan oleh jago Mongol itu, karena kemenangan itu rupanya jago Mongol itupun senang sekali.

"Sudah lama kudengar di ibukota sini banyak orang pandai, entah berapa banyak jago yang tersembunyi tak menampakkan diri, mengapa kini tidak sudi memberi sedikit pelajaran, apakah jago ibukota memang hanya sebegini saja?"

Demikian ia sesumbar dengan congkak.

"Chit-te, kalau kau gunakan kepandaianmu 'Ciam-ih-sip-pat-tiat', tanggung dia akan mendapat malu,"

Ujar Pek Thay-koan berbisik.

"Go-ko, hendaklah jangan cari gara-gara,"

Kata Kam Hong-ti.

"Aku hanya bergurau saja, siapa yang ingin ikut bertanding,"

Sahut Pek Thay-koan. Begitulah selang agak lama, ternyata tiada orang lagi yang berani terima tantangan jago gulat Mongol itu.

"Jika tiada lawan lagi, aku akan pulang mengaso, sampai ketemu nanti sore,"

Kata si Mongol kemudian. Akan tetapi pada saat itu juga, mendadak di antara penonton yang penuh sesak itu menerobos keluar seorang pemuda terus melompat ke atas 'lui-tai' atau panggung pertandingan.

"Marilah aku yang minta sedikit pelajaran padamu!"

Serunya pada jago gulat Mongol.

Nampak pemuda ini, Lu Si-nio menjadi kaget.

Meski wajah pemuda ini telah dirias lain, namun lagu suaranya belum berubah, terang sekali pemuda ini ialah Teng Hiau-lan adanya.

Pikirnya, mengapa Hiau-lan pun datang kemari?

Ia mempunyai asal-usul yang sangat dirahasiakan, juga bukan orang yang suka cari gara-gara, mengapa ia unjuk muka di panggung pertandingan?

Entah Nyo Tiong-eng beserta putrinya ikut datang tidak?

Demikian Si-nio bertanya dalam hati.

Tetapi ketika ia longak-longok ke kanan dan ke kiri, ia tidak melihat seorang kenalan pun, sementara itu di atas panggung kedua orang sudah mulai bergebrak.

Jago Mongol itu adalah jago gulat kenamaan, hakikatnya ia tidak pandang sebelah mata pada Teng Hiau-lan yang dianggapnya bocah ingusan, segera ia pakai dua tangannya membetot kedua lengan Teng Hiau-lan, kakinya sedikit melengkung, dengkulnya maju ke depan.

Ia menduga lawannya pasti akan terlempar pergi, tak tersangka dugaannya meleset, sedikitpun Teng Hiau-lan tidak bergerak, sebaliknya jago Mongol sendiri malah merasakan ketiaknya geli, linu dan kaku, habis itu ia sendiri yang terpelanting roboh.

"Caramu ini bukan cara gulat!"

Seru jago Mongol itu sambil melompat bangun.

"Mengapa bukan?"

Sahut Hiau-lan.

"Sudah terang kau kuban-ting roboh!"

Sementara itu penonton telah bersorak-sorai di bawah panggung.

Walaupun jago Mongol itu tahu bahwa lawannya tidak memakai cara lazim dalam pergulatan, tapi ia sendiri pun tidak mengerti mengapa bisa mendadak terasa linu dan lemas tak bertenaga terus roboh terbanting?

Karena itu bukan main dongkolnya dan penuh penasaran.

"Baik, mari kita coba sekali lagi secara terang-terangan, jika kau bisa robohkan aku, segera aku menyerah,"

Teriaknya.

Sebenarnya Teng Hiau-lan memang tidak paham cara bergulat, tadi ia gunakan 'Hut-hiat', yakni menutuk secara mengebut, ia kebut 'Moa-yang-hiat' (tempat yang menimbulkan geli dan kaku) jago Mongol ini dan paksa lawannya roboh.

Kini melihat orang masih penasaran, dalam hati ia membatin.

"Baik, biar aku hajar sekali lagi kau!"

Maka ia lantas pasang kuda-kuda menurut jago Mongol tadi, kedua kakinya rada ditekuk dan kedua lengannya diulur ke depan sambil berkata.

"Hayo, boleh maju!"

Tanpa ayal jago Mongol itu segera menubruk maju, ia pegang pergelangan tangan Hiau-lan terus dibetot dan dibanting.

Namun serangannya ternyata tidak membawa hasil.

Sejak tadi Hiau-lan menonton pertandingan di bawah panggung, sudah ia pikirkan cara gulat ini yang rada mirip dengan Kim-na-jiu, yakni kepandaian cara mencekal dan menawan, ia pfkir, mengapa aku tidak pakai Kim-na-jiu dan diubah sedikit?

Setelah ambil ketetapan, segera ia keluarkan tenaga untuk melawan betotan jago Mongol tadi.

Tenaga jago Mongol itu memang jauh lebih besar dari Teng Hiau-lan, tangannya menarik dan menjegal dengan kakinya, dengan segera tampak Teng Hiau-lan akan terbanting roboh.

Di luar dugaan, tiba-tiba tangan Hiau-lan selicin ikan dan mendadak bisa lolos dari cekalannya, tubuhnya mendadak sedikit menggeser, sedang tangan kiri mendorong dan tangan kanan menarik, ia pinjam tenaga orang untuk membanting, seketika tubuh jago Mongol yang sebesar kerbau itu kena dilempar ke bawah panggung.

Gerak bantingan Hiau-lan justru adalah tipu paling lihai dari tipu gulat.

Teng Hiau-lan belajar tipu ini dari lawannya ditambah memakai tenaga dalamnya, dicampur pula dengan gerak Kim-na-jiu, akhirnya lawan kena dibanting roboh dan dilempar ke bawah.

Jago Mongol itu semula menduga dirinya akan terbanting hingga kepala pecah dan darah mengalir, tak tersangka lemparan Hiau-lan ternyata tepat sekali, ternyata jago Mongol itu bisa tancapkan kaki dengan enak sekali di atas tanah seperti diletakkan orang saja.

"Bagus, seratus tahil emas ini memang harus menjadi bagianmu!"

Ia acungkan jempolnya sebagai tanda penghargaan, nyata ia sudah menyerah betul-betul.

Atas pujian orang, Teng Hiau-lan tersenyum, tetapi sebelum ia buka suara, tiba-tiba dari bawah panggung melompat naik pula seorang.

"Bagus sekali, bergulat memakai Kim-na-jiu, sungguh jarang diketemukan. Biarlah aku punya 'lui-tai' sekalian kau pukul saja!"

Terdengar orang itu mengejek.

Terkejut sekali Teng Hiau-lan mendengar orang kenal gerak tipunya tadi, ia mengerti lawan pasti bukan sembarang orang.

Ia lantas balas bertanya.

Kemudian baru diketahuinya bahwa orang ini adalah jago penantang di panggung pertandingan silat di sebelah sana, seorang pelatih kenamaan dari pasukan Capsi-hongcu, namanya Hun Tay-peng.

Atas tantangan tadi, Teng Hiau-lan pun tidak menolak, dengan memberi hormat ia berkata.

"Baiklah, silakan Hun-kauthau memberi pelajaran."

Menyaksikan pertandingan ini, Lu Si-nio yang menonton di bawah menjadi heran, ia tidak mengerti apa tujuan Teng Hiau-lan ikut bertanding.

Sementara itu Hun Tay-peng yang melihat lawannya berlaku tenang, ia mengerti orang pasti ahli Lwekang, ia ingin mencoba kepandaian orang dulu.

"Maaf!"

Serunya, segera tangannya menyodok ke dada orang, dalam pukulannya ini tersembunyi kekuatan yang besar.

Teng Hiau-lan pun tidak ayal, ia baliki tangannya terus mendorong ke depan, namun segera ia rasakan tipu serangan orang sudah berubah memotong dari samping, maka dengan cepat ia tang-kiskan tangan ke atas, ia patahkan tenaga serangan orang, berbareng sebelah tangannya yang lain berputar dan balas memukul ke depan.

"Bagus!"

Seru Hun Tay-peng. la berkelit terus menubruk maju menyerang ke tempat kosong sebelah kiri.

"Tampaknya Hiau-lan sudah banyak maju,"

Lu Si-nio bisiki Suhengnya setelah menyaksikan pertandingan ini.

Kam Hong-ti mengiakan, tetapi dalam hati ia merasa kurang senang terhadap tindakan Teng Hiau-lan, seperti juga Lu Si-nio, ia pun tidak mengerti apa maksud tujuan pemuda ini.

Diam-diam ia omeli pemuda itu.

"Hendak mencoba sampai dimana kemajuanmu juga tidak perlu dipamerkan di tempat ini."

Begitulah setelah Hun Tay-peng menjajal kekuatan Hiau-lan, ia pun tak berani ayal, sekonyong-konyong ia rangkap jarinya terus menutuk ke* lambung Hiau-lan, cara tutukan ini disebut 'Tiau-jiu', adalah cara mematahkan tenaga dalam, tenaga yang terkumpul pada jarinya tidak kepalang kuatnya.

Lekas Teng Hiau-lan sedikit putar tubuh, telapak tangannya sedikit mendorong, sedang kepalan kanan dari tengah terus menghantam ke muka, serangan ini memaksa Hun Tay-peng doyongkan dirinya ke belakang sambil menarik kembali tutukannya tadi, namun Teng Hiau-lan tidak berhenti sampai di situ, mendadak ia merangsek maju, telapak tangan yang lain terus memotong ke depan lagi.

"Bagus!"

Seru Hun Tay-peng pula.

Ia angkat kedua tangan ke atas terus ditangkiskan ke samping, dengan demikian ia patahkan tipu serangan Hiau-lan.

Begitu bergebrak, segera mereka terlepas lagi dan masing-masing waspada.

"Hayo lagi!"

Tantang Hun Tay-peng pula.

Habis itu kembali ia menubruk maju.

Setelah saling jajal tenaga masing-masing, serangan mereka sudah berubah semua, Hun Tay-peng menggeraki tangannya naik turun secepat roda angin, ia mencecar Teng Hiau-lan.

Ilmu pukulannya disebut 'Hong-jia-jiu' (pukulan roda angin) adalah ciptaan jago utara Ho Giok-tong, paling bermanfaat untuk menyerang dari dekat, setelah Teng Hiau-lan mundur dua langkah dan angkat tangannya menangkis, ia paksakan diri menyambut dua puluhan jurus pukulan orang, namun akhirnya ia rasakan tekanan lawan yang cukup berat.

Nampak pemuda ini terdesak, Lu Si-nio mengerut kening, ia pikir, dengan kepandaian Teng Hiau-lan terang tidak di bawah kepandaian musuhnya, tetapi mengapa tidak mampu melayani tipu pukulan lawannya ini.

Selang tak lama, tampak Teng Hiau-lan sudah terdesak sampai tepi panggung, penonton yang dekat di bawah panggung menyingkir kuatir ketubruk bila orang terjungkal jatuh.

Tak tersangka mendadak Teng Hiau-lan meloncat ke atas, dengan cepat ia melayang lewat melalui atas kepala Hun Tay-peng, ketika ia putar balik tubuhnya, ilmu pukulannya segera berubah.

Melihat dalam keadaan terdesak Teng Hiau-lan masih mampu menyingkir menyelamatkan diri, para penonton bersorak-sorai memuji, sebaliknya Hun Tay-peng terkejut, ia lihat pemuda ini bergerak secara gesit, perubahan tipu pukulannya pun aneh tanpa bisa diraba!

Kemana ia menyerang dengan pukulan 'Hong-jia-jiu', ke sana pula Teng Hiau-lan menyingkir, ia desak ke timur, lawan menghindar ke barat, tetapi ketika ia uber ke barat, tahu-tahu musuh sudah berada di sebelah lain.

Tampaknya Teng Hiau-lan seperti sudah tahu tipu serangan musuh bakal menuju kemana, tiap gerak tipu lawan seperti sudah terduga olehnya lebih dulu.

Mengapa Teng Hiau-lan bisa mendadak berubah di atas angin?

Kiranya selama tiga tahun pemuda ini berada di bawah bimbingan Ie Lan-cu, yang menjadi pokok pelajarannya adalah Kiam-hoat atau ilmu pedang, sedang ciang-hoat atau ilmu pukulan tangan kosong ia pun paham tetapi tidak terlatih dengan baik.

Meski demikian, Thiansan-ciang-hoat memang tercipta dari intisari berbagai cabang silat, bila bisa menggunakannya secara tepat, untuk melayani cabang silat mana saja boleh dipastikan sanggup bertahan dan tidak nanti kalah.

Memang Teng Hiau-lan masih kurang pengalaman dalam pertarungan, belum pernah juga ia melihat ilmu pukulan 'Hong-jia-jiu' lawan, maka semula ia rada kepayahan melayani ilmu pukulan lawan yang aneh ini.

Tapi setelah lewat dua tiga puluh jurus, lambat-laun ia dapat memahami gerak tipu orang, ia lantas mainkan 'Si-mi-ciang-hoat' dari Thian-san-ciang-hoat untuk mematahkan pukulan lawan dari jarak dekat.

Meski Thian-san-ciang-hoat yang Teng Hiau-lan pelajari baru setengah matang, tetapi untuk melayani Hun Tay-peng sudah boleh dikata berlebihan.

Oleh sebab itu dalam pandangan golongan ahli sebangsa Kam Hong-ti dan Lu Si-nio, tampaknya Ciang-hoat Teng Hiau-lan masih banyak kelemahan, namun dalam pandangan Hun Tay-peng sudah luar biasa hebatnya.

Sementara itu makin lama semakin cepat Teng Hiau-lan cecar lawannya, karena sudah kewalahan, selagi Hun Tay-peng hendak berseru berhenti, namun sudah terlambat, pundaknya kena digebuk sekali oleh telapak tangan Teng Hiau-lan, untung Hun Tay-peng cukup kuat badannya dan sudah terlatih, ia hanya sedikit sempoyongan dan tidak sampai jatuh tersungkur..

"Maafkan!"

Kata Teng Hiau-lan sembari menghentikan pukulannya lebih jauh, dengan tangan lurus ia lantas berdiri di tempat.

Di belakang panggung Lui-tai itu terdapat sebuah tenda, di bawah sorak-sorai yang ramai, dari tenda itu keluar seorang perwira dan berkata pada Teng Hiau-lan.

"Silakan Enghiong (ksatria) masuk ke dalam untuk terima hadiah!"

Dalam pada itu Hun Tay-peng telah umumkan di hadapan para penonton bahwa pertunjukan hari ini sudah berakhir.

Sekalipun demikian, penonton yang terpesona oleh pertandingan tadi masih terus berjubel belum mau bubar.

Setelah Teng Hiau-lan ikut perwira tadi masuk ke dalam tenda, sebagai salam perkenalan perwira itu mengulur tangannya yang lantas dijabat oleh Teng Hiau-lan, tetapi pemuda ini menjadi kaget ketika tiba-tiba ia merasa tenaga pihak lawan besar sekali hingga kelima jarinya yang tergenggam itu terasa kesakitan.

"Memang betul-betul orang berkepandaian!"

Terdengar perwira itu berkata dengan gelak tertawa sambil melepas tangannya.

Habis itu ia lantas tanya nama orang, sudah tentu tidak nanti Teng Hiau-lan katakan nama yang sebenarnya, ia perkenalkan nama palsunya yang ia reka sendiri.

"Siaute menjadi Thongling (setingkat kapten) dari pengawal pribadi Capsi-hongcu, selama ini ikut pasukan ekspedisi ke barat, maka tiada tempo buat berkenalan dengan para pahlawan, sungguh memalukan sekali,"

Perwira itu membuka suara pula. Mendengar kata-kata itu, maka mengertilah Teng Hiau-lan siapa yang berhadapan dengan dirinya ini.

"Kiranya Pui-thongling, maaf aku kurang hormat!"

Kata Teng Hiau-lan.

Di dalam pasukan Capsi-hongcu ada dua orang yang ilmu silatnya sangat tinggi, seorang di antaranya ialah perwira ini, kapten pengawal pribadi yang bernama Pui Kin-beng.

Sebelum Teng Hiau-lan pukul Lui-tai, ia sudah dengar nama orang, sebab itu segera ia tahu siapa orang di hadapannya ini.

"Hendaklah Congsu (orang gagah) tunggu sebentar, biar aku suruh mereka ambil hadiahnya,"

Pui Kin-beng berkata lagi.

"Siaute sudah lama mengagumi pahlawan dalam pasukan Cap-si-pwelek, kedatanganku ini bertujuan meminta pelajaran dan bukan mengharapkan emas,"

Ujar Teng Hiau-lan.

"Pui-thongling sendiri berilmu silat tiada bandingan, mengapa tidak jadi jago penantang?"

Pui Kin-beng bergelak-tawa.

"Mari masuk ke belakang untuk pasang omong sebentar!"

Ajaknya kemudian.

Sebenarnya Teng Hiau-lan sudah tahu maksud tujuan Capsi-hongcu mengadakan panggung pertandingan itu, ia pun tahu maksud tujuan Pui Kin-beng yang diam-diam memilih orang pandai di belakang layar, tetapi ia sengaja bertanya untuk menutupi maksud tujuan sendiri.

Kembali mengenai Lu Si-nio dan kawan-kawan yang penuh tanda tanya karena kelakuan Teng Hiau-lan, sesudah mereka menunggu di depan panggung, akhirnya nampak Teng Hiau-lan keluar dari tenda bersama serombongan perwira, terus mencemplak kuda ikut pergi dengan mereka, sementara itu perlahan-lahan penonton mulai bubar dan keadaan menjadi sepi.

"Marilah kita kembali saja,"

Ajak Kam Hong-ti dengan perasaan gusar.

Sepanjang jalan Lu Si-nio terus bungkam, mereka kembali ke kelenteng bobrok kediaman Ling-sian Hwesio, di sini Kam Hong-ti tidak tahan lagi, dengan kepalan ia gebrak meja.

Lu Si-nio paling rapat hubungannya dengan Kam Hong-ti, oleh karena itu ia cukup kenal watak Suhengnya ini, ketika ia lihat Kam Hong-ti marah, ia tahu Suhengnya mencurigai Teng Hiau-lan, maka ia lantas mendahului berkata.

"Aku kira Teng Hiau-lan bukan manusia yang suka menjual kawan untuk kebahagiaan sendiri!"

"Pat-moay, terhadap Teng Hiau-lan sudah tentu kau lebih kenal daripada aku,"

Sahut Kam Hong-ti.

"Tetapi apapun juga jadinya ia memang anak Hong dan cucu naga (maksudnya keturunan atau berdarah kerajaan), kau pun tidak boleh terlalu percaya padanya."

"Tetapi sejak dilahirkan, belum ada sebulan ia sudah meninggalkan istana, selamanya ia di bawah asuhan kaum pendekar kita, mana bisa kita pandang dia seperti pangeran bangsa Boanciu?"

Ujar Lu Si-nio yang tidak sependapat dengan Suhengnya.

"Lagi pula, jika dia pikirkan kebahagiaan, ketika di dalam istana ia bertemu dengan kaisar, saat itu ia lantas mengaku ayah dan kembali ke pangkuan keluarganya dan minta diberi pangkat dan harta kekayaan."

"Meski demikian, kita harus berjaga-jaga,"

Kata Kam Hong-ti pula.

"Hati manusia gampang berubah, lihat saja Ang Seng-tiu pada akhir ahala Bing yang menganggap dirinya sebagai pahlawan besar, belakangan bukankah menyerah juga pada pihak Boanciu dan menjadi manusia terkutuk dalam sejarah? Kini siapa yang tahu kalau Teng Hiau-lan berubah hatinya, ia lihat In Te paling besar harapannya naik takhta, ia lantas bermaksud ikut padanya?"

"Memang tidak salah kalau Chit-ko berpikir panjang, tetapi kita harus memandang lebih jauh baru bisa menentukannya,"

Ujar Lu Si-nio pula.

"Baik, dalam tiga hari pasti aku bisa mendapatkan kabar beritanya,"

Kata Kam Hong-ti akhirnya. Tiga hari kemudian, betul juga Kam Hong-ti telah mendapatkan keterangan mengenai Teng Hiau-lan.

"Dugaanku ternyata tidak meleset, memang betul Teng Hiau-lan telah menyerah pada In Te, ia telah menjadi pengawal pribadi ln Te dan berpangkat Tothong (setingkat letnan),"

Secara gemas Kam Hong-ti memberitahukan pada Lu Si-nio. Mendengar penuturan ini. Lu Si-nio mengerut kening, ia terdiam dan merenung sejenak.

"Ya, umpama betul begitu, mungkin di dalamnya ada alasan lain,"

Katanya kemudian. Namun Kam Hong-ti masih tetap pada pandangannya. Katanya.

Baca Juga: Naga Merah 11

Baca Juga: Pukulan Naga Sakti 5

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger