Eps 6 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
Melihat cara serangan kawannya itu, Sian Hok-cho mengerut kening.
"Melawan Thay-kek-kun jangan main hantam melulu,"
Katanya terhadap Wei Yang-wi.
Ucapan ini sebenarnya sengaja diperdengarkan kepada Co Goan-lang, tak terduga lantaran Co Goan-lang sudah kalah sekali gebrak, ia menjadi beringas, tidak memperhatikan lagi kata-kata Pangcunya itu.
Apa yang Co Goan-lang latih adalah 'Hek-hou-kun' (ilmu pukulan macan kumbang).
Dengan tenaganya yang kuat dan tubuh kekar, ia pikir tiada halangan menerima dua kali gebukan lawan.
Begitulah maka dengan pura-pura menyerang sekali, kembali ia menerjang maju lagi dengan tipu 'Ok-hou-kiok-sim' (harimau buas mengorek hati), bogem kanan secepat kilat dipukulkan ke dada Leng Gak.
Tetapi serangan ini dihindarkan oleh Leng Gak dengan sedikit berkelit ke samping, sesudah itu mendadak ia putar tubuh dan mem-baliki tangan untuk menggantol tangan orang.
Thay-kek-kun (ilmu pukulan Thay-kek-pay) mengutamakan pinjam tenaga lawan buat memukul kembali lawan, sebab Co Goan-lang tadi telah mengeluarkan sepenuh tenaganya, kena ditarik Leng Gak pula, ia menjadi sempoyongan menyelonong ke depan, waktu Leng Gak menambahi pula dengan sekali dorong, tanpa ampun lagi Co Goan-lang terbanting tengkurap, saking keras jatuhnya ini hingga dia meronta sekian lama baru dapat bangun kembali.
Inipun Leng Gak sengaja memberi keringanan, hanya menggunakan tiga bagian tenaganya, kalau tidak, sedikitnya tulang lengan bisa dipatahkan dan terbanting mampus.
Nampak pihaknya memperoleh kemenangan dulu, dengan muka berseri Ce Bin-kau memberi kiongchiu sembari berkata.
"Syukurlah pihakmu suka mengalah untuk babak pertama!"
Rupanya Sian Hok-cho menjadi naik darah, ia gebrakkan cawan araknya sambil berteriak "Baik, dan kini aku sambut kau dalam babak kedua!"
Karena tantangan ini, segera Ce Bin-kau turun ke kalangan.
"Bagus sekali kalau Pangcu suka memberi petunjuk beberapa gebrak!"
Sahutnya dengan suara lantang. Sementara itu Sian Hok-cho pun sudah siap, ia tanggalkan jubah luarnya, selagi ia hendak melompat maju, tiba-tiba dari belakangnya melayang keluar seorang pemuda.
"Tia-tia (ayah), biarlah anak wakilkan engkau untuk babak ini!"
Kata pemuda itu, putra Sian Hok-cho, namanya Sian Siau-ting.
Ilmu silat Sian Hok-cho terdiri dari berbagai cabang, maka putranya juga sudah terlatih sejak kecil, dasarnya terpupuk kuat.
Nampak putranya ingin mencoba-coba, Sian Hok-cho berpikir sejenak, ia membatin, walaupun anaknya masih kurang cukup ulet, tetapi ilmu silatnya sudah mahir dan masak, pula orangnya muda dan tenaganya kuat, dalam hal ini saja lebih dulu sudah menarik keuntungan, biarkan dia maju melawan Ce Bin-kau, kalau kalah tidak menjadi hina, sebaliknya kalau menang segera bisa menggetarkan kalangan Kangouw.
Karena pikiran ini, segera ia menyatakan persetujuannya.
"Baiklah, cuma kau harus hati-hati!"
Pesannya.
Segera Sian Siau-ting mencopot baju luarnya dan turun kalangan, sebaliknya terlihat Ce Bin-kau dengan tersenyum malah mundur ke samping.
Melihat kelakuan orang ini, Sian Siau-ting menjadi bingung, ia pandang orang dengan tidak mengerti.
Tapi pada saat itu juga Ce Sek-kiu sudah maju ke tengah.
"Aku yang akan menyambut Siau-pangcu di babak ini,"
Serunya dengan suara nya-ring.
Karena majunya Ce Sek-kiu, baru kini Sian Siau-ting mengerti bahwa Ce Bin-kau anggap tidak pantas bertanding dengan dirinya.
Mengenai Ce Sek-kiu, sejak kena dihajar oleh Nyo Liu-jing dahulu, lagak sombong yang dimilikinya sudah banyak berkurang.
Setelah berhadapan dengan lawan, dengan merangkap kepalan ia pasang kuda-kuda, dengan penuh perhatian ia menantikan musuh.
"Ce-enghiong silakan buka serangan!"
Ujar Sian Siau-ting.
"Mana aku berani, aku yang rendah dan masih muda harus menyilakan Siaupangcu memberi petunjuk dulu,"
Sahut Ce Sek-kiu.
"Tidak, kalian adalah tamu, sudah seharusnya kau yang buka serangan lebih dulu!"
Ujar Sian Siau-ting pula.
Melihat orang berkukuh pendirian, Ce Sek-kiu pun tidak menampik lagi, segera ia buka serangan, dengan tangan kiri bergerak dulu, menyusul kepalan kanan lantas memukul.
Sian Siau-ting merangkap tangannya, dengan gerak tangkisan 'Hun-jiu', secara gampang saja ia patahkan serangan orang.
"Eh, kiranya dia pun dari Thay-kek-pay,"
Diam-diam Ce Sek-kiu membatin.
Habis itu ia perkuat kuda-kudanya dan menyusul saling bergantian kedua kepalannya memukul lagi.
Latihan kaki Ce Sek-kiu sudah kuat sekali, kalau Sian Siau-ting hendak merobohkannya dengan meminjam tenaga pukulan tidak gampang berhasil.
Begitulah maka sesudah bergebrak lebih dua puluh jurus, kedua pihak ternyata masih tetap tiada yang memperoleh keuntungan.
Melihat pukulan Ce Sek-kiu yang kuat dan angin pukulannya menyambar kencang, Teng Hiau-lan yang sejak tadi memperhatikan pemuda ini, diam-diam ia memuji.
"Dia punya Ngo-heng-kun nyata sudah banyak mendapat kemajuan!"
"Apa kalian berdua memang sudah kenal?"
Tanya Lu Si-nio di sampingnya ketika mendengar Hiau-lan menggumam sendiri.
Hiau-lan manggut-manggut, tetapi pandangan matanya tetap ditujukan pada Ce Sek-kiu tanpa berkedip, dalam hati ia berharap pemuda ini yang menang.
Setelah pertempuran berjalan tak lama pula, perlahan Ce Sek-kiu tampak mulai berada di atas angin, tetapi lantaran ini dia lalu tidak secermat seperti tadi.
Sebenarnya Ngo-heng-kun yang dia pe-lajari berguna untuk menyerang, harus merangsek susul-menyusul, serangan pertama keluar harus disusul dengan serangan kedua, dengan demikian baru bisa mengunjuk kekuatan ilmu pukulan itu.
Tetapi setelah berada di atas angin, Ce Sek-kiu ternyata berlaku ayal, ia anggap kepandaian orang tidak lebih hanya sekian saja, maka sesudah gerak serangan 'Ting-san-gwa-hou' (mendaki gunung menunggang macan), dia melangkah maju miring dan menyerang ke depan dengan mengganti tipunya menjadi 'Tiu-nio-hwan-cu' (angkat belandar ganti cagak), dengan telapak tangan kiri melindungi dada sendiri, kepalan kanan terus menghantam dada musuh.
Namun dengan sedikit mengegos Sian Siau-ting sudah dapat menghindarkan serangan itu, berbareng mendadak ia ubah silatnya menjadi 'Kau-kun' atau silat pukulan monyet, ia menubruk maju, begitu jari tangannya bergerak, segera ia mengarah kedua mata Ce Sek-kiu.
Perubahan silat lawan itu ternyata di luar dugaan Ce Sek-kiu, lekas pemuda ini menarik tubuh dan berganti serangan, dengan tangan melindungi dada ia menangkis ke atas.
Tak terduga Sian Siau-ting kembali ganti serangan lagi, dari cakar jari ia ubah menjadi telapak tangan terus hendak mencekal urat nadi tangan Ce Sek-kiu, gerak tipu ini adalah Kim-na-jiu-hoat, ilmu mencengkeram dan menangkap.
Untuk menghindarkan diri terpaksa Ce Sek-kiu melangkah mundur, tetapi pada saat itu juga secepat kilat tiba-tiba Sian Siau-ting pukulkan kepalan kanan, serangan ini begitu cepat hingga tidak mungkin lagi Ce Sek-kiu sempat berkelit, dalam keadaan terpaksa ia harus terima mentah-mentah pukulan itu dengan pundaknya.
Maka tanpa ampun lagi segera terdengar suara "plak"
Yang keras, Ce Sek-kiu merasakan sekali gebukan hingga terhuyung-huyung mundur beberapa langkah beruntung tidak sampai terjatuh.
Karena kejadian ini, terdengar orang-orang di pihak Tiat-sian-pang sama bersorak tertawa!
Meski Ce Sek-kiu sudah digembleng lagi beberapa tahun oleh ayahnya, kesabarannya sudah banyak berbeda dengan dulu, tapi kini secara terang-terangan kena dihantam orang, ia tak bisa menguasai diri lagi, sekonyong-konyong ia membalik tubuh dengan cepat, menyusul pukulannya segera dikeluarkan, ia hujani lawan dengan pukulan, membelah, menyodok, menghantam, menyabet dan memotong, kelima gaya serangan yang menjadi kebanggaan Ngo-heng-kunnya, begitulah secara kalap ia mencecar Sian Siau-ting.
Namun Sian Siau-ting kini sudah berhasil memahami cara serangannya, sejak kecil ia sudah ikut ayahnya berkelana di Kang-Ouw, sudah biasa bertanding dalam berbagai ilmu silat pukulan atau senjata dengan berbagai golongan pula, oleh karena itu dalam hal menghadapi pertarungan di tengah kalangan, ia jauh lebih pengalaman daripada Ce Sek-kiu, ditambah apa yang dia pelajari pun banyak aneka ragamnya, tidak terbatas suatu macam ilmu silat saja.
Karenanya, dengan cara menyerang Ce Sek-kiu yang terlalu bernap-su ini justru cocok dengan keinginannya.
Rangsekan lawan yang bertubi-tubi itu tidak membuatnya gugup atau takut, sebaliknya ia berkelit kian kemari mengikuti irama serangan Ce Sek-kiu.
Keadaan demikian ini dalam pandangan orang yang kurang paham mungkin mengira dia kena didesak oleh Ce Sek-kiu, sebaliknya dalam pandangan orang yang paham, justru Sian Siau-ting yang berada di atas angin, ia selalu berada di pihak penggerak, ia melayani lawannya secara bebas, ia hanya menantikan kesempatan baik, bila Ce Sek-kiu sedikit ayal, segera ia turun tangan dengan serangan mematikan.
Di samping itu Ce Bin-kau yang menyaksikan pertarungan putranya ini, diam-diam menghela napas kecewa, dalam hati mencaci maki anak yang sudah begitu lama belajar, ternyata masih tetap belum paham dasar ilmu pukulan, entah sudah berapa kali ia katakan padanya.
"Kalau menang jangan congkak dan kalau kalah jangan bingung."
Namun kini anaknya ini ternyata masih tetap punya penyakit itu, mula-mula memandang enteng lawan dan kemudian menjadi aseran dan main rangsek secara ngawur, kalau begini terus tentu saja ia harus menelan kekalahan.
Begitulah sembari memaki dalam hati ia merasa khawatir juga, Ce Bin-kau dapat melihat Ciang-hoat atau ilmu pukulan Sian Siau-ting cukup ganas dan kejam, pemuda ini tentu akan ambil kesempatan buat mencelakai lawan, dengan demikian ia dapat mengangkat namanya di kalangan Kangouw.
Tetapi apa daya, Ce Bin-kau hanya khawatir sendiri dan tak mampu berbuat apa-apa, dengan nama baik pribadinya, tidak nanti dia mau turun kalangan membantu, bahkan untuk menyerukan pertandingan itu diakhiri dan mengaku kalah saja juga tak mungkin.
Tengah ia khawatir, tiba-tiba dilihatnya Ce Sek-kiu memaksakan diri melancarkan satu tipu Ngo-heng-kun yang disebut 'Chiong-hun-pi-bu' (menembus awan menyingkirkan kabut), kedua telapak tangannya berbareng dihantamkan ke bagian atas tubuh lawan.
Sebaliknya terlihat Sian Siau-ting hanya tertawa mengejek, mendadak ia mengulur tangan kanan dengan cepat terus meraup tangan Sek-kiu, sedang tangan kiri menyusul hendak memotong pelipis musuh.
Dalam kedudukan begini, bila Ce Sek-kiu kena dihantam pelipisnya, maka besar kemungkinan jiwanya akan melayang.
Melihat putranya menghadapi bahaya, Ce Bin-kau berseru kaget, saat demikian ini ia tak mempedulikan kedudukan dirinya lagi, segera ia melompat maju.
Akan tetapi belum sampai ia bertindak, sekonyong-konyong pundaknya kena ditekan orang, sedang di tepi telinganya ada suara orang yang membentak.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Yang menekan dia ternyata bukan lain ialah Leng-hun-tocu Wci Yang-wi.
Ce Bin-kau tidak sabar lagi, ia paksa mengangkat pundaknya dan hendak melompat naik sekuatnya.
Sekejap itu mendadak terdengar Sian Hok-cho juga berseru membentak, berbareng terlihat sebuah bayangan hitam secepat terbang melayang ke tengah kalangan, menyusul Sian Siau-ting dan Ce Sek-kiu keduanya dengan cepat terpisah minggir ke samping.
Perubahan yang luar biasa dan dalam sekejap saja ini telah membikin Wei Yang-wi mengendorkan tangannya yang menahan pundak orang, sedang Ce Bin-kau dan Sian Hok-cho berdua pun lantas melompat maju berbareng.
Sementara itu tertampaklah di tengah kalangan sudah berdiri seorang pemuda gagah cakap dengan senyum simpul, sambil merangkap kedua kepalan tangannya di depan dada sedang berkata, ' "Dua harimau bertarung, akhirnya pasti ada satu yang luka, Wan-pwe berlaku sembrono sengaja menjadi pemisah, harap kedua Lo-cianpwe suka memaafkan."
Pemuda yang mendadak ikut campur tangan ini ternyata Teng Hiau-lan adanya.
Ce Bin-kau dan anaknya sudah berpisah beberapa tahun dengan Teng Hiau-lan, ditambah lagi pemuda ini telah merias muka hingga berupa lain, dengan sendirinya Ce Bin-kau jadi pangling.
Dalam pada itu kalau Ce Sek-kiu merasa sangat berterima kasih pada juru pisahnya ini, adalah sebaliknya Sian Siau-ting bukan main gusarnya, tetapi tadi ia kena ditarik oleh Teng Hiau-lan hingga pukulannya gagal, ia tahu ilmu silat orang masih jauh di atas dirinya, maka ia tak berani sembarang menantang, namun ia pun segera membuka suara menegur.
"He. kau paham peraturan Kangouw atau tidak? Sudah terang kau melihat aku akan menang, kau sengaja ikut campur tangan. Jelas kau sengaja membantu dia. mana bisa dianggap memisah?"
Di pihak lain, waktu mendadak tampak Teng Hiau-lan ikut campur. Kam Hong-ti rada terkejut, dalam hati ia menduga urusan bakal runyam. Betul juga, segera kawanan Tiat-sian-pang beramai mencaci-maki.
"Hubungan Ce-loenghiong nyata luas sekali hingga dimana-mana dapat mengundang orang buat membantu,"
Terdengar Sian Hok-cho menyindir.
"Hanya kalau dengan cara begini, diam-diam membokong dengan sekali pukulan atau sekali gablokan, kiranya hal ini bukan kelakuan seorang Enghiong (ksatria). Baiklah, kalau Siauko (engkoh cilik) ini sudah turun tangan membantu Ce-loenghiong, maka bolehlah sekalian wakilkan Ce-loenghiong menerima bahak yang terakhir ini!"
Dengan uraian Sian Hok-cho yang cukup menusuk dan mendesak ini, ia telah mengolok-olok Ce Bin-kau dengan tajam, kemudian secara langsung pula ia menantang Teng Hiau-lan.
Seketika semua pandangan mata ditujukan kepada Teng Hiau-lan seorang, sedang Lu Si-nio dan Kam Hong-ti mau tak mau menjadi khawatir juga.
Di pihak lain Ce Bin-kau yang diolok-olok mukanya menjadi merah padam saking menahan gusarnya, dia tergolong Enghiong atau orang gagah kenamaan, mana ia tahan dicemooh Sian Hok-cho begitu rupa, apalagi melihat sikap Sian Hok-cho begitu galak dan mendesak terus, tampaknya segera akan bergebrak dengan Hiau-lan, maka cepat ia menghadang ke depan sambil membentak.
"Nanti dulu, dengarkan kata-kataku!"
Sian Hok-cho anggap dirinya sudah berada di atas angin, baik pertandingan tadi maupun hal 'cengli' (peraturan), maka ia tertawa mengejek atas bentakan Ce Bin-kau tadi.
"Ada petunjuk apalagi dari Ce-loenghiong?"
Tanyanya.
"Tadi kita sudah sepakat bertanding tiga babak,"
Dengan suara lantang Ce Bin-kau berkata.
"Babak pertama pihak Sian-pangcu telah sudi mengalah, sedang babak kedua walaupun kalah-menang belum terputus, tapi sebenarnya saja Siau-pangcu tadi memang sudah berada di atas angin, biarlah kami mengaku kalah.
Mengenai ksatria muda yang gagah perkasa ini, dia dan aku selamanya belum saling kenal, turun tangannya buat memisah hanya terdorong oleh maksud baiknya saja, di sini aku menghaturkan terima kasihku.
Tapi aku tak berani mengundang dia buat mewakilkan aku menyanggah wajan panas, biar kita tetap teruskan perjanjian semula saja dan babak ketiga ini aku yang menerima beberapa gebrak dari Pangcu.
"Pangcu adalah tokoh cemerlang di daerah Kanglam, seumpama aku harus menderita kekalahan dari Pangcu, rasanya juga bangga bagiku. Sebaliknya bila beruntung miangku yang sudah lapuk ini masih tahan pukul atau berkat Pangcu yang sudi mengalah sekali dua pukulan, maka budi itupun akan aku terima dengan baik dan sobatku yang kehilangan barang itupun boleh bebas dari bahaya keluarga hancur dan harta benda rudin."
Dengan perkataannya ini Ce Bin-kau telah unjuk kepandaian adu lidah, pertama ia mengakui babak tadi Ce Sek-kiu telah kalah, sesudah itu ia minta menyambung perjanjian semula dan tetap hendak bertanding dan menagih piau, di antara kata-katanya bahkan menggambarkan kesempitan hati Sian Hok-cho.
Begitulah maka demi mendengar perdebatan kedua orang tadi, para benggolan dari berbagai perkumpulan yang hadir lantas berbisik saling berunding, mereka anggap Sian Hok-cho hendak membalas dendam pada seorang angkatan muda, pertama kedudukan dirinya sudah merosot; karena soal lima puluh ribu tahil perak harus mengakibatkan keluarga orang lain hancur dan harta benda rudin, hal ini lebih-lebih tak patut.
Oleh sebab itulah, sehabis Ce Bin-kau mengucapkan perkataannya tadi, ternyata tiada seorang pun yang menyokong suara Sian Hok-cho, sebaliknya malah banyak orang yang memuji.
"Bagaimanapun jahe tetap pedas yang tua. Coba lihat, dengan perkataannya ini Ca-ih-sin-say telah memutar balikkan kedudukannya yang tadi sudah terdesak."
Terpaksa Sian Hok-cho tak berani bertingkah lagi, mukanya menjadi berubah.
"Siau-ting, kau mundur,"
Katanya kemudian.
"Ce-loenghiong, kita tentukan keunggulan masing-masing dalam hal kepalan dan kaki, atau memutuskan kalah menang di atas senjata tajam?"
Sebelum menjawab tantangan orang itu, Ce Bin-kau mengayun tangan memberi tanda, lalu Teng Hiau-lan dan Ce Sek-kiu mundur berbareng, habis itu Ce Bin-kau mengambil tempat lalu buka suara.
"Baik kepalan atau kaki maupun senjata tajam, semuanya aku siap menerima,"
Sahutnya.
Sian Hok-cho menjadi murka, segera ia copot dan lemparkan jubahnya dan maju hendak turun tangan.
Akan tetapi sebelum ia bertindak lebih jauh, tiba-tiba dari luar ada orang berlari masuk dengan cepat.
Yang berlari masuk ini adalah dua begundal Sian Hok-cho yang bertugas menyambut tetamu, begitu sampai di hadapan Pangcu mereka, segera mereka persembahkan sebuah kotak merah dengan diangkat tinggi-tinggi.
"Pangcu, Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng bersama Kwantang-si-hiap hendak menjumpai engkau orang tua!"
Seru mereka melapor.
Mendengar pemberitahuan ini, bukan saja Sian Hok-cho terkejut, balikan Ce Bin-kau pun ikut terperanjat.
Dengan cepat Sian Hok-cho melompat ke tempatnya tadi untuk mengenakan kembali baju luarnya.
"Babak pertandingan kita ini boleh ditunda sementara!"
Katanya pada Ce Bin-kau sambil kiongchiu.
Habis ini ia sendiri lantas memimpin beberapa begundalnya keluar menyambut tamu.
Di sebelah sana Ce Bin-kau pun tak tenteram hatinya, sudah beberapa tahun ia tidak berjumpa dengan kawannya ini, bahkan ia sedang hendak mencari padanya, tidak tersangka mendadak bersua di sini.
Yang membingungkan pikirannya adalah apa yang harus dikatakan nanti kalau sudah berhadapan?
Di samping itu, orang yang juga merasa tak tenteram mungkin ialah Teng Hiau-lan, hatinya berdebar demi mendengar Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng datang kemari.
Akan tetapi rupanya Kam Hong-ti sudah dapat menebak apa yang dikandung dalam hati Teng Hiau-lan, dengan tersenyum pendekar ini menghiburnya.
"Teng-heng tak usah khawatir, nanti kau tidak perlu bersuara, biar aku yang mewakilkan kau membereskan urusanmu yang ruwet ini,"
Katanya.
Sementara itu terlihat Nyo Tiong-eng dan Kwantang-si-hiap berturut-turut telah masuk.
Begitu masuk, pandangan Nyo Tiongeng lantas menatap ke seluruh kalangan, demi melihat Ce Bin-kau dan anaknya, segera ia mendekatinya.
"Ce-toako, baik-baikkah selama berpisah?"
Ia menyapa dengan merangkap kedua tangan.
"Baik!" .sahut Ce Bin-kau dengan sikap dingin. Mendadak Nyo Tiong-eng berpaling kepada Sian Hok-cho dan berkata pada Pangcu Tiat-sian-pang itu.
"Sian-pangcu, hari ini perkumpulanmu membikin pembukaan, aku orang she Nyo hendak menghaturkan selamat. Kedua, ada sesuatu yang ingin kumohon padamu."
"Ada keperluan apa yang hendak Nyo-loenghiong rundingkan, silakan katakan saja!"
Sahut Sian Hok-cho.
"Aku ingin pinjam lima puluh ribu tahil perak pada Pangcu!"
Sahut Nyo Tiong-eng dengan suara keras. Mendengar ini, seketika air muka Sian Hok-cho berubah.
"Jika Nyo-loenghiong kekurangan uang, ambil saja secukupnya, cuma entah kenapa harus berjumlah lima puluh ribu?"
Katanya sambil kiongchiu.
"Soalnya karena aku mempunyai seorang sobat karib yang punya ikatan sehidup semati denganku, putranya dengan sendirinya adalah keponakanku,"
Demikian Nyo Tiong-eng menerangkan.
"Keponakanku itu telah mewakilkan orang mengawal piau dan telah kehilangan lima puluh ribu tahil perak, mereka yang biasa mengembara di Kangouw sudah tentu tidak seperti Cengcu yang memiliki harta benda bertumpuk, terang dia tidak mampu mengganti sejumlah tadi, dan aku yang menjadi pamannya mana bisa berpeluk tangan saja tanpa berdaya baginya?"
Maka tahulah Sian Hok-cho akan maksud kedatangan orang, kini ia mengerti bahwa Nyo Tiong-eng ternyata sekomplotan dengan Ce Bin-kau.
"Ha, kalau begitu kau datang menagih piau untuk Ca-ih-sin-say?"
Tanyanya segera.
"Memang betul, aku bersama Kwantang-si-hiap minta kau suka memberi muka pada kami atas permintaanku ini!"
Sahut Nyo Tiong-eng.
Dalam keadaan demikian ini, mau tak mau Sian Hok-cho harus memperhitungkan untung ruginya bila sampai bergebrak.
Nama Nyo Tiong-eng sudah terkenal dan budi pekertinya dijunjung tinggi dalam Bu-lim, lebih-lebih Kwantang-si-hiap sudah terkenal pula sebagai Enghiong yang disegani kalangan Kangouw, bila Sian Hok-cho menilik pihaknya, Han Tiong-san yang ilmu silatnya paling kuat masih belum datang, ia sendiri bersama Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi mungkin bukan tandingan mereka.
Oleh karena itu, meski dalam hati ia gusar dan mendongkol, terpaksa ia unjuk senyum.
"Soal kecil ini sampai membikin kalian berlima jauh-jauh datang ke sini, Cayhe betul-betul merasa tak enak sekali, di hadapan Nyo-loenghiong dan Kwantang-si-hiap, jangankan hanya lima puluh ribu tahil perak, lebih banyak lagi Siaute juga akan menghaturkannya,"
Sahutnya sembari merangkap kepalan lagi.
Habis berkata, ia perintahkan orangnya menyediakan surat uang (serupa cek zaman kini) dan menambah meja lagi, lalu mempersilakan Nyo Tiong-eng dan Kwantang-si-hiap duduk, sesudah itu ia pun minta maaf kepada Ce Bin-kau dan Leng Gak serta meminta mereka duduk semeja dengan Nyo Tiong-eng dan kawan-kawan Ce Bin-kau sudah menyaksikan kepandaian Sian Siau-ting tadi, ia mengerti kepandaian Sian Hok-cho pasti jauh lebih tinggi, kalau pertandingan dilangsungkan, ia sendiri sesungguhnya tidak banyak harapan buat menang.
Kini berkat kedatangan Nyo Tiong-eng bisa menghindarkan kesulitannya itu, sudah tentu dalam hati ia merasa berterima kasih, tetapi karena peristiwa dahulu itu, seketika ia tidak sanggup mengatakan sesuatu.
Hian-hong Totiang dan Ce Bin-kau juga kenalan lama, maka Hian-hong membuka suara lebih dulu.
"Waktu Nyo-toako mendapat tahu urusanmu ini, ia menjadi khawatir dan tak sabar lagi, kami didesak dan segera berangkat ke sini sepanjang malam, untung datang tepat pada waktunya."
Baru kini Ce Bin-kau tahu bahwa kedatangan Nyo Tiong-eng ini ternyata melulu untuk membela kepentingannya.
Sementara itu .Nyo Tiong-eng pun tidak tinggal diam, ia menuang penuh cawan araknya, lalu berkata pada Ce Bin-kau.
"Peristiwa dahulu itu, Siaute merasa menyesal sekali!"
Melihat orang bersungguh-sungguh, Ce Bin-kau terima cawan arak yang diangsurkan itu terus ia minum hingga kering.
"Dalam keadaan menderita baru kelihatan jelas akan persahabatan sejati, urusan anak-anak itu selanjutnya hendaklah jangan disebut lagi!"
Sahutnya sambil bergelak tertawa.
Kalau di meja Nyo Tiong-eng ini mereka sedang asyik sekali bicara, adalah Sian Hok-cho yang paling kehilangan muka, karenanya seluruh amarahnya dia alihkan kepada Teng Hiau-Lan.
"Hari ini perkumpulan kami membikin upacara pembukaan, atas kesudian kunjungan para Enghiong dan kawan, dengan sendirinya banyak menambah semarak perayaan ini,"
Katanya kemudian dengan suara keras.
"Tadi Pang-heng ini (seperti diketahui Hiau-lan menyamar dengan nama Pang Hiau) telah unjuk kepandaian yang bagus, sungguh kami kagum sekali. Hanya sayang, cuma satu dua gebrak saja dan belum mengunjuk seluruh kepandaiannya, maka kami masih ingin Pang-heng suka unjuk sedikit kepandaian lagi, agar kita semua bisa menambah pengalaman."
Karena dirinya dijadikan sasaran, Teng Hiau-lan menjadi bingung, ia tidak mengerti cara bagaimana harus menjawab.
Wei Yang-wi terhitung orang yang cerdik, ketika nampak perawakan Teng Hiau-lan dan mendengar suaranya, ia merasa seperti sudah pernah berjumpa entah dimana.
Karena ingin menyelami lebih lanjut, segera ia bangkit berdiri.
"Biarlah aku saja yang bergebrak beberapa jurus dengan Pang-heng ini untuk menambah kegembiraan Pang-cu,"
Ujarnya.
Teng Hiau-lan jadi makin bingung dan tak tenteram semua pandangan orang kini sama menatap padanya.
Di sebelah sana, Hian-hong Tojin yang sudah kawakan di dunia Kangouw, daya ingatnya lebih-lebih luar biasa, siapa saja yang pernah dijumpainya, meski bertemu lagi sesudah sepuluh tahun ia masih sanggup menyebut nama orang.
Kini setelah ia amat-amati orang sejenak, tiba-tiba ia bertanya kepada Nyo Tiong-eng.
"Kau lihat orang ini mirip Teng Hiau-lan tidak?"
Mendengar nama pemuda ini, seketika Nyo Tiong-eng merasa curiga.
"Ya, memang rada mirip,"
Sahutnya kemudian.
"Cuma paras mukanya lain!"
Ujar Tan Goan-pa menimbrung.
Mendengar orang mempercakapkan pemuda itu, Ce Bin-kau lantas menceritakan cara bagaimana Teng Hiau-lan telah membantu pihaknya tadi.
Tujuannya menceritakan sebenarnya adalah hendak memperkenalkan pemuda gagah itu kepada Hian-hong, siapa tahu demi mendengar ceritanya itu, mendadak imam tua ini mengetok tongkamya ke lantai, tubuhnya terus mencelat maju ke tengah.
Di pihak sana Wei Yang-wi yang sedang menantang bertempur, ketika melihat Hian-hong melayang tiba, karena tak tahu maksud tujuan orang, seketika ia menjadi tercengang.
"Aku si imam tua ini paling suka ikut meramaikan suasana,"
Terdengar Hian-hong berteriak.
"melihat pemuda gagah ini dengan pinggang tergantung pedang, pasti dia adalah anak murid dari ahli ilmu pedang ternama, maka aku imam tua bangkotan ini ingin bertanding Kiam-hoat dengan dia."
Mendengar ucapan Hian-hong ini, Sian Hok-cho terperanjat tetapi girang juga, ia tahu 'Loan-pi-hong-kiam-hoat' Hian-hong ter-mashur di dunia persilatan, cuma sama sekali tidak diduganya imam ini mau tampil ke depan buat membantu pihaknya, bahkan sudi bertanding pedang dengan seorang pemuda.
Di pihak lain Kam Hong-ti juga lantas mendorong Teng Hiau-lan.
"Perintah orang tua jangan ditolak, boleh kau layani Toya itu barang sejurus!"
Ujarnya.
Mendengar Kam Hong-ti berkata demikian, Hiau-lan menjadi tidak ragu-ragu lagi, segera ia melompat ke tengah.
Sementara itu Hian-hong sudah tak sabar lagi, begitu orang maju, segera tongkat di tangan kiri lantas menyabet, sedang pedang di tangan yang lain pun berbareng menusuk dari bawah tongkatnya.
Ilmu pedang Hian-hong terkenal cepat lagi ganas laksana hujan lebat dan angin badai, begitu hebat ia menyerang secara bertubi-tubi, baru Hiau-lan sempat berkelit dua kali, hampir saja ia kena tertusuk.
Karena sudah kepepet, tiada jalan lain, ia harus melolos Yu-liong-pokiam, seketika sinar pedang gemerlapan.
"Murid murtad, tidak lekas letakkan senjata dan menyerah!"
Bentak Hian-hong demi mengenal siapa adanya.
Segera pula ia menusuk dua kali ke tempat berbahaya di tubuh Hiau-lan, sedang tongkat di tangan kiri pun menyambar dan mengemplang.
Menghadapi rangsekan hebat itu, terpaksa Hiau-lan mencurahkan seluruh semangatnya untuk melayani orang hingga tidak sempat buka suara buat menerangkan.
Karena pertarungan kedua orang yang makin sengit ini, Ce Bin-kau beserta putranya menjadi sangat terkejut, ia tidak mengerti mengapa Hian-hong begitu bernapsu menempur seorang pemuda, Ce Bin-kau jadi khawatir.
"Toako, pemuda perkasa ini pernah menolong jiwa anakku, tampaknya dia bukan orang jahat, ada urusan apa hendaklah dibicarakan secara baik-baik, lekas kau turun tangan menghentikan Hian-hong Totiang,"
Katanya cepat sambil menarik lengan Nyo Tiong-eng. Nyo Tiong-eng i ternyata tidak sependapat dengan dia, air mukanya dingin saja, bahkan ia kebaskan lengan baju yang dipegang orang.
"Dia telah mengkhianati perguruan dan menyerah pada Boan, dosanya harus dihukum mati!"
Sahutnya kemudian. Habis itu malah dia berdiri dan meneriaki Hian-hong.
"Hian-hong Toheng, harap kau wakilkan aku menangkap murid murtad itu hidup-hidup, jangan sampai tak bernyawa!"
Sebenarnya Nyo Tiong-eng hendak turun tangan sendiri, tapi karena Hian-hong sudah bergebrak, dengan sendirinya dia tidak leluasa buat maju lagi.
Dalam pada itu demi Ce Bin-kau mendengar Nyo Tiong-eng mendamprat Teng Hiau-lan sebagai "murid murtad,"
Ia jadi terperanjat.
"Siapakah orang ini?"
Tanyanya tak mengerti.
"Dia ialah Teng Hiau-lan, yang dahulu pernah berkelahi dengan Sek-kiu itu,"
Jawab Nyo Tiong-eng.
Mendapat keterangan ini, Ce Sek-kiu pentang mata lebar ter-heran-heran, sedang Ce Bin-kau pun merasa bingung.
Ce Sek-kiu meski berpikiran sempit, tapi ia pun bisa membedakan antara budi dan dendam.
Tadi Teng Hiau-lan telah menolong dirinya, bagaimanapun hal itu adalah budi buat dia, sebenarnya ia hendak mengatakan perasaan hatinya kepada pamannya itu, tapi melihat wajah Nyo Tiong-eng yang sungguh-sungguh dan kereng, ia jadi urung, tak berani membuka suara.
"Ai, tidak nyana ia bisa berubah begini!"
Demikian ia menghela napas.
Sementara itu di tengah kalangan, Hian-hong masih terus me-rangsek lawannya, tongkat dan pedangnya bekerja berbareng dan tiap serangannya lihai luar biasa.
Terpaksa Teng Hiau-lan mainkan Thian-san-kiam-hoat yang hebat hingga memancarkan sinar pedang gemerlapan, begitu cepat seperti gelombang ombak yang bergulung-gulung, ia hanya membela diri saja dan tidak balas menyerang, meski daya tekanan pedang dan tongkat Hian-hong mengejutkan orang, namun ternyata tiada satu lubang pun yang dapat dimasukinya.
Karena tak berdaya, saking gusarnya ia mendamprat.
"Thian-san-pay selamanya mengeluarkan anak-murid pahlawan, tetapi setelah kau dapat menipu Thian-san-kiam-hoat, sebaliknya terima menjadi anjing dan alap-alap bangsa Boan, sungguh membikin noda nama baik leluhur Thian-san-pay saja!"
Belum lenyap suara caciannya ini mendadak di pihak Tiat-sian-pang terjadi ribut-ribut, sekonyong-konyong Sian Hok-cho melompat ke tengah kalangan dan kipasnya menghadang di antara dua orang yang sedang bertempur itu, lelatu api lantas muncrat, pada kesempatan itulah Teng Hiau-lan lantas melompat mundur ke belakang dua tindak.
"Hian-hong Toheng, orang ini adalah musuh besar perkumpulan kami, harap serahkan padaku saja!"
Demikian Sian Hok-cho berseru.
"Apa, menyerahkan padamu?"
Tanya Hian-hong tak mengerti.
"Ya,"
Sahut Sian Hok-cho.
"kau adalah tamu, seumpama kau ada dendam dan bermusuhan dengan dia juga harus menyerahkan persoalan ini pada kami yang menjadi tuan rumah."
Waktu itu Bing Bu-kong, Wei Yang-wi dan begundal Tiat-sian-pang beruntun ikut melompat maju terus mengepung.
Namun Hian-hong ternyata tidak gentar, dengan mata mendelik dan pedang terhunus ia masih tetap di tempatnya.
"Biar aku yang tangkap orang ini, sesudah itu baru kuserahkan padamu, bagaimana?"
Kata Sian Hok-cho lagi. Melihat gelagat sudah telanjur demikian, Hian-hong terima baik tawaran itu, ia kembalikan pedang ke sarungnya.
"Baik,"
Sahutnya kemudian.
"tetapi ilmu pedangnya sudah memperoleh ajaran asli dari Thian-san, kau harus hati-hati!"
Jika Sian Hok-cho buka suara berulang-ulang, adalah Teng Hiau-lan sebaliknya merasa bingung.
"Aku dan Pangcu selamanya belum kenal, dengan perkumpulanmu juga tiada sesuatu hubungan, darimanakah bisa timbul permusuhan?"
Tanyanya.
"Aneh, kau adalah anak murid Thian-san, masakah terhadap kejadian dahulu sedikitpun kau tidak tahu?"
Balas Sian Hok-cho bertanya.
"Pada lima puluh tahun yang lalu, kakek kami telah menjadi korban di tangan Thian-san-chit-kiam, sungguh tidak nyana hari ini selagi kami membikin pembukaan dan sembahyang pada leluhur, arwah Cosuya (kakek moyang) ternyata telah mengantar kau ke sini. He, leluhur yang menanam, yang memetik buah keturunannya, leluhur utang darah, yang bayar keturunannya. Masakah kau ingin selamatkan jiwamu sekarang?"
Habis sang Pangcu berpidato, begundalnya segera berteriak gemuruh membantu mengobarkan semangat.
Begitulah kedua belah pihak akan bergebrak, tiba-tiba Kam Hong-ti melompat maju terus membentak dengan suaranya yang keras menggelegar.
"Huh, orang balas dendam pun caranya tidak begitu, apa kalian hendak main keroyokan?"
Muka Kam Hong-ti tertampak kuning pucat dan tubuhnya kurus, rupanya sedikitpun tidak menarik, tapi suara bentakannya ternyata begitu keras hingga seluruh ruangan tergetar.
Keruan kawanan Tiat-sian-pang menjadi jeri, tanpa terasa mereka sama melangkah mundur ke belakang.
Namun Sian Hok-cho ternyata tidak gampang"
Digertak, dengan mengangkat kipas ia menjengek.
"Nyata aku terlupa bahwa masih ada dua orang pandai di sini, jika kalian berdua setingkatan dengan dia, tentunya juga ingin ikut membagi beban pertanggungan jawab ini bukan?"
"Aku bukan anak murid dari Thian-san, siapa sudi ikut peduli urusanmu,"
Sahut Kam Hong-ti ketus.
"tetapi menurut kebiasaan Kangouw, hendak balas dendam juga ada aturannya, aku hanya tidak biasa melihat orang main keroyokan."
Karena olok-olok ini, muka Sian Hok-cho menjadi merah padam, dalam kedudukannya sebagai Pangcu menantang seorang muda dari angkatan rendah memang sudah merosotkan pamornya, apalagi sekarang dituduh Kam Hong-ti pihaknya hendak main keroyok.
"Mengapa kau tidak pentang matamu lebih lebar, siapa yang hendak main keroyok?"
Ia mencoba bela diri.
"Orang kami hanya gemas karena dendam, hati mereka terbakar, dan maju hendak melihat lebih jelas muka musuh, hal itukah yang menyalahi aturan? Kini boleh satu lawan satu, dia adalah anak murid keturunan Thian-san-chit-kiam, dan aku adalah cucu dari bapak pendiri Tiat-sian-pang, hari ini biar aku yang menyelesaikan soal ini dengan dia, sekali-kali Tiat-sian-pang kami tidak akan unggulkan diri karena berjumlah lebih banyak, tetapi kalau kalian hendak membantu, pihak kami juga ada orang yang akan menyambut kau."
Pantasnya Sian Hok-cho mengajukan putranya untuk bertanding dengan Teng Hiau-lan hingga sesuai dengan kedudukannya, tetapi tadi dia sudah menyaksikan ilmu pedang Teng Hiau-lan, ia tahu putranya pasti bukan tandingan orang, oleh sebab itu dengan menebalkan kulit mukanya, terpaksa ia maju sendiri.
Begitulah, maka atas jawaban orang tadi Kam Hong-ti tertawa terbahak-bahak.
"Sebenarnya balas dendam terhadap keturunan musuh merupakan ciri dalam perkumpulan kalangan Kangouw, kebiasaan dan ciri buruk ini hingga kini lambat-laun pun sudah hapus,"
Katanya kemudian.
"Dengan kedudukanmu sebagai seorang Pangcu dan bertindak menurut kebiasaan busuk itu, caramu sebenarnya tidak membikin orang kagum, namun bila kau tetap hendak melaksanakan ciri lama itu, hal itupun adalah kebebasanmu. Cuma saja kita harus berjanji dulu yang jelas, kalau kau kalah, lantas bagaimana?"
"Kalau aku kalah, Tiat-sian-pang selanjutnya tidak akan mempersulit lagi padanya, sebaliknya bagaimana jika aku menang?"
Jawab Sian Hok-cho.
"Kalau kau menang, maka terserah padamu untuk berbuat sesukamu terhadap dia!"
Sahut Kam Hong-ti. Tetapi Hian-hong ternyata tidak menerima janji kedua belah pihak itu, segera berseru.
"Orang ini adalah murid murtad Thi-cio-sin-tan, kami tak pedulikan soal kalah-menangnya Tiat-sian-pang!"
Kam Hong-ti tersenyum.
"Hal ini sudah tentu!"
Sahutnya sambil kiongchiu kepada Hian-hong dari jauh.
Sementara itu terlihat Sian Hok-cho telah mengebas kipasnya, beramai para begundalnya segera mundur ke belakang, sebaliknya Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi sengaja menggeser tempat duduk lebih mendekat Kam Hong-ti ditambah konco-konco mereka juga siap berjaga-jaga di empat penjuru.
Akan tetapi Kam Hong-ti tak gentar, ia berlaku seperti biasa saja, ia minum arak sepuasnya seperti tiada terjadi sesuatu yang hebat.
Di meja sebelah sana, Hian-hong, Nyo Tiong-eng dan kawan-kawan juga sedang terheran-heran dan bertanya dalam hati, mereka melihat rupa Kam Hong-ti tidak menunjukkan sesuatu keistimewaan, akan tetapi caranya bicara ternyata begitu lihai, bahkan lagu suaranya menunjuk kedudukannya bukan tergolong orang biasa.
Kwantang-si-hiap dan Nyo Tiong-eng memang belum pernah kenal Kam Hong-ti, maka tiada seorang pun di antara mereka yang menduga akan diri pendekar ini, hanya dalam hati mereka masih terus meraba dan menduga siapa gerangan lelaki kurus ini.
"Pantas Hiau-lan berani berkhianat, kiranya di belakangnya berdiri orang lain lagi,"
Ujar Nyo Tiong-eng. Tapi Hian-hong agaknya berpendapat lain, ia berkerut kening.
"Tampaknya orang ini cukup bijaksana dan paham peraturan Kangouw, dia lebih mirip dari golongan kita,"
Katanya.
"Orang pandai seperti dia ini mengapa mau membantu murid murtad ini!"
Sahut Nyo Tiong-eng berkerut kening juga.
Tengah mereka bercakap, di tengah kalangan Teng Hiau-lan dan Sian Hok-cho sudah mulai bergebrak.
Sian Hok-cho cukup kenal lihainya Thian-san-kiam-hoat, tapi melihat usia Teng Hiau-lan yang begitu muda, ia menduga orang masih belum cukup melatih diri, tentu belum masak kepandaiannya, maka begitu turun tangan segera ia berlaku cerdik, ia melangkah minggir, sedang kipasnya terus mengebas ke muka orang, sesudah itu tiba-tiba secepat kilat jari tangan yang lain menutuk 'Koh-cing-hiat' di dada Hiau-lan.
Namun Teng Hiau-lan segera menggeraki pedangnya dan memancarkan sinar menyilaukan, mendadak setengah berputar ia menjaga rapat bagian atas dan tengah, sesudah itu ujung senjatanya terus balik menabas musuh.
Gerak tipu ini adalah gerak permulaan Thian-san-kiam-hoat yang disebut 'Hun-so-thian-san' atau awan mengurung Thian-san, habis itu disusul dengan tipu kedua 'Pi-hun-bong-goat' (menyingkap awan memandang rembulan), sekonyong-konyong Yu-liong-kiam menyabet dari samping, ujung pedangnya terus mencukit dari bawah ke atas mengarah muka orang.
Nampak Kiam-hoat lawan sangat lihai, lekas Sian Hok-cho mendakkan tubuhnya ke bawah, dengan cepat ia berputar, kipasnya mendadak dipentang lagi dan dipakai sebagai pedang, dengan tipu 'Peng-soa-lok-gan' (burung belibis hinggap di pesisir), ia mengiris pergelangan tangan orang.
Tipu serangan ini digunakan secara tepat dan bagus sekali, untuk menghindarkan bahaya, lekas Teng Hiau-lan putar ujung senjatanya terus menyampuk ke samping.
Sebenarnya kalau Sian Hok-cho menggunakan tipu serangan ini dengan sungguh-sungguh, dapat diduga Hiau-lan pasti akan ter-luka, akan tetapi karena dia takut pada pedang pusaka lawan yang hebat, ia tak berani adu senjata, karena itu ketika Hiau-lan sampuk-kan pedangnya, ia pun cepat menarik kipasnya, maka kedua orang sama-sama tidak terluka.
Ketika Hiau-lan ayun pedangnya maju lagi, kembali ia lancarkan serangan berbahaya dari 'Tui-hong-kiam-hoat' yang disebut 'Li-kong-sia-ciok' (Li Kong memanah batu), ujung pedangnya tahu-tahu nyelonong menusuk urat nadi di tangan lawan.
Lekas Sian Hok-cho rangkap kipasnya, ujung kipas digunakan membentur perlahan ke batang pedang lawan, karena itu serangan Tang Hiau-lan menjadi sedikit melenceng, sedang Sian Hok-cho dengan cepat meloncat pergi, waktu Teng Hiau-lan menubruk maju lagi, lawannya sempat turun kembali ke bawah dan pasang kuda-kuda dengan kuat, kipasnya dipentang, kembali ia saling gempur dengan Teng Hiau-lan.
Makin lama pertarungan makin sengit hingga berulang-ulang harus saling menghadapi bahaya.
Teng Hiau-lan menang dalam hal Kiam-hoat yang bagus, ditambah lagi pedangnya adalah pedang pusaka; sedang Sian Hok-cho menang dalam hal keuletan, pengalaman lebih banyak dan latihannya lebih masak.
Setelah pertempuran berjalan lebih seratus jurus, kipas Sian Hok-cho tempo-tempo digunakan seperti pedang, kadang-kadang ia pakai sebagai senjata peranti menutuk, perubahannya beraneka macam, serangannya pun banyak ragamnya.
Tetapi Teng Hiau-lan tidak kena diselomoti, ia tidak menghiraukan pancingan orang, ia hanya memainkan 'Si-mi-kiam-hoat' dari Thian-san-kiam-hoat sedemikian hebatnya untuk menjaga diri, kadang ia ganti dengan Tui-hong-kiam-hoat untuk balas menyerang.
Dalam keadaan demikian, meski Sian Hok-cho jauh lebih ka-wakan, tapi Hiau-lan mainkan pedangnya begitu cepat dan rapat tanpa lubang sedikitpun, mau tak mau pemimpin Tiat-sian-pang ini terpaksa harus melayani lawan lebih giat.
Pertarungan sengit ini membikin kawanan Tiat-sian-pang jadi terkejut dan mata terbelalak, sama sekali tidak mereka duga bahwa seorang anak muda sanggup melawan Pangcu mereka yang biasa mereka pandang dan junjung laksana malaikat dewata.
Di sebelah sana Lu Si-nio pun sedang menyaksikan pertarungan itu dengan seksama, ia bandingkan Teng Hiau-lan punya Thian-san-kiam-hoat dengan Hian-li-kiam-hoat sendiri, ia merasa Hian-li-kiam-hoat sendiri walaupun lebih aneh dan susah diraba, tapi kalau bicara soal kecepatan dan ketangkasan ditambah mengandung inti sari dari berbagai cabang silat lainnya, maka Hian-li-kiam-hoat terang tak bisa menandingi Thian-san-kiam-hoat.
Dengan menyaksikan permainan Kiam-hoat ini, si gadis menjadi lebih mendalam memahami dasar ilmu pedang pada umumnya.
Karena itu tiba-tiba timbul semacam pikiran aneh dalam hatinya, ia ingin bisa lebur Thian-san-kiam-hoat dan Hian-li-kiam-hoat menjadi satu.
Tetapi bila ia teringat lagi bahwa sekali-kali Ie Lan-cu tidak nanti menerima dirinya sebagai murid, sedang Teng Hiau-lan sendiri masih belum cukup masak Kiam-hoatnya, hendak bertukar pikiran dengan pemuda itupun tidak akan banyak memahami intisari Thian-san-kiam-hoat.
Apalagi kewajiban dendam keluarga dan sakit hati negara senantiasa menjadi pikirannya, dari mana ada tempo bertahun-tahun untuk berlatih dengan sungguh-sungguh.
Berpikir sampai di sini, tak tertahan ia tertawa sendiri.
Sementara itu Kam Hong-ti rupanya pun tertarik oleh Kiam-hoat sebagus itu.
Katanya pada sang Sumoay.
"Pat-moay, ilmu silat memang terlalu dalam laksana lautan besar saja. Dulu ketika pertama kali aku bertemu Hiau-lan, karena latihannya yang masih kurang, aku menganggap dia sebagai pemuda biasa saja, tidak nyana ia bisa menggunakan Kiam-hoat yang bagus untuk menutup kelemahan latihannya, maka ketahuilah bahwa jalan buat belajar silat, tidak peduli dimulai dari bagian mana, asal saja mempunyai satu kekhususan, akhirnya pasti akan jadi juga!"
"Soal bun dan bu teorinya memang sama, keuletan latihan adalah sama seperti keuletan belajar, orang yang sudah banyak belajar (sastra) terang lebih berguna daripada yang asal bicara tentang sastra saja,"
Sahut Lu Si-nio.
Kam Hong-ti tersenyum.
Ia mengerti perkataan Sumoaynya ini, secara diam-diam sengaja menjunjung dia.
Kiranya di antara saudara seperguruan Kam Hong-ti, selain Liau-in Hwesio, dasar latihannya berhitung yang paling kuat, tetapi dalam hal Kiam-hoat dan Ginkang Lu Si-nio terhitung yang paling mahir.
Maka dia menjawab dengan tertawa.
"Kalau hanya kenyang membaca segala macam kitab tanpa disalurkan melalui pena yang bagus, maka apa yang dipelajarinya itupun tiada faedahnya."
"Perkataan Suheng memang betul,"
Ujar Lu Si-nio dengan tertawa juga.
"Suheng telah memperoleh Kun-hoat (ilmu pukulan tangan kosong) dari Suhu dan aku memperoleh Suhu punya Kiam-hoat, kita justru harus saling tukar pikiran dan saling belajar."
Saat itu pertempuran sengit Teng Hiau-lan melawan Sian Hok-cho ternyata masih tetap ramai, belum tampak siapa yang bakal menang dan kecundang, tiap kali ujung pedang Teng Hiau-lan selalu kena dikebas melenceng oleh kipas Sian Hok-cho, sebaliknya ia pun hanya sanggup menghindarkan bahaya serangan berkat keuletannya, untuk balas menyerang sudah tidak bisa lagi.
"Kepandaian Sian Hok-cho tidak di bawah Suheng!"
Ujar Lu Si-nio.
"Jika kebentur di tangan kita, mungkin ia hanya sanggup menerima lima sampai tujuh puluh jurus saja!"
Sahut Kam Hong-ti tertawa.
Percakapan mereka dilakukan di tengah orang-orang yang sedang bertanding, seperti di samping mereka sudah tiada manusia lain lagi, keruan saja Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi yang ikut mendengar menjadi terperanjat.
Wei Yang-wi pernah bertemu dengan Lu Si-nio di Thian-hing-to, oleh karena itu ia coba mengamat-amati orang, ia merasa perawakan dan muka orang dengan senyumannya seperti sudah pernah ia kenal, cuma lupa dan tidak teringat kepada Lu Si-nio, ia menjadi terkejut, tapi setelah ia berpikir lagi, seumpama Lu Si-nio menyamar sebagai lelaki, pasti juga usianya tidak semuda ini, sedang pemuda ini tidak lebih hanya seorang bocah yang usianya lebih kurang baru dua puluhan, sedang lagu suaranya begitu sombong, meski Wei Yang-wi adalah kawakan Kangouw, mau tak mau ia pun curiga dan ragu-ragu.
Sementara itu pertempuran menjadi makin sengit, Hian-hong yang berada di meja sebelah sana mendadak berdiri, pandangan matanya diarahkan keluar, air mukanya pun tertampak rada aneh.
Nampak sikap orang, Kam Hong-ti mengikuti arah pandangan I lian-hong, demi matanya menatap ke arah sana, ia menjadi terkejut.
Ternyata apa yang ia lihat adalah Han Tiong-san dan Tang Ki-joan sedang mendatangi dengan mendesak minggir kawanan Tiatsian-pang yang berkerumun.
Yang paling hebat adalah di antara Han Tiong-san dan Tang Ki-joan terdapat pula seorang yang tangan kirinya diseret oleh Han Tiong-san dan tangan kanan ditarik Tang Ki-joan, orang ini berjalan dengan cara dipaksa.
Orang ini ternyata bukan lain daripada murid kelima Tok-pi-sin-ni, Pek Thay-koan adanya.
Mengenai Han Tiong-san dan Tang Ki-joan berdua, mereka memang dititahkan Si-hongcu untuk menghadiri perayaan pembukaan Tiat-sian-pang.
Karena ada keperluan pribadi lain, malam itu Han Tiong-san pergi dari rumah orang she Sian itu dan baru kembali sekarang.
Sedang Tang Ki-joan lebih dulu bertamu ke kediaman Ciatkang Sunbu, Li Wi, setelah bergabung dengan Han Tiong-san baru kemudian mereka berangkat bersama.
Pada waktu mereka sampai di bukit sebelah rumah orang she Sian ini, mereka memergoki Pek Thay-koan yang sedang berjalan seorang diri, ilmu silat mereka berdua memang di atas Pek Thay-koan, apalagi dikeroyok, keruan dalam sekejap saja Pek Thay-koan sudah kena mereka bekuk.
Cuma mereka pun tahu bahwa Pek Thay-koan adalah menantu Hi Kak Tay-ong, walaupun ada berita pembatalan perjodohan itu, namun mereka belum tahu jelas sebab-musababnya, ditambah lagi Pek Thay-koan adalah Sute Liau-in, meski sesama saudara seperguruan mereka tidak akur satu sama lain, tapi karena ada hubungan itu, mau tak mau mereka tak berani membikin susah Pek Thay-koan, hanya dengan Kim-na-jiu-hoat yang hebat mereka cengkeram kencang urat nadi tangan Pek Thay-koan terus diseret ke sini.
Waktu mereka memasuki perkampungan, segera tertampak banyak orang berkerumun, kemudian baru diketahui bahwa sang Pangcu sedang bertanding silat dengan orang, mereka menjadi heran, segera mereka mendesak minggir orang-orang yang berkerumun itu buat masuk ke dalam.
Dalam pada itu, kedatangan Han Tiong-san dan Tang Ki-joan pun sudah dilihat Kwantang-si-hiap.
Belum lama berselang mereka pernah bertarung secara sengit dengan Han Tiong-san di istana Si-hongcu, karena itu, demi nampak kedatangan lawannya itu, segera mereka jadi beringas dan gusar.
"Kawanan Tiat-sian-pang ini tentu ada hubungan dengan In Ceng, hari ini kita buka pantangan membunuh,"
Ajak Hian-hong.
"Baik, kalian berempat menghadapi kedua iblis itu, biar aku yang bereskan murid murtad,"
Ujar Nyo Tiong-eng. Dalam pada itu Han Tiong-san yang sudah mendekat lantas berseru.
"Sian-pangcu, mengapa kau bertanding dengan seorang bocah?"
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Kwantang-si-hiap melayang maju melalui atas kepala orang-orang.
Han Tiong-san sangat terkejut, pada saat yang sama juga dari meja yang lain kembali sesosok bayangan orang melayang naik ke atas, kiranya ialah Lu Si-nio.
Rupanya begitu Kam Hong-ti melihat siapa yang mendatangi, segera ia menjawil Sumoaynya itu.
Ketika Lu Si-nio menoleh, dia pun terkejut.
"Lekas kau tolong Go-ko (kakak kelima),"
Kata Kam Hong-ti. Mendengar itu, Wei Yang-wi yang memang sudah berjaga-jaga di dekat mereka segara membentak.
"Hendak apa kalian?"
Tetapi pada saat itu juga, secepat kilat Kam Hong-ti sudah mengirim pukulan telapak tangannya, Wei Yang-wi menangkis dengan kedua lengannya, namun tidak urung ia kena tergetar mundur beberapa tindak.
Dalam pada itu Lu Si-nio yang miliki Ginkang sempurna, telah melayang ke sana laksana burung di antara sambaran angin pukulan dan bayangan orang.
Jika tadi Kwantang-si-hiap bergerak lebih dulu, tapi Lu Si-nio ternyata tiba lebih depan, pada waktu dia masih terapung di udara, dengan cepat ia lolos 'Siang-hoa-kiam' terus diputar, dengan tipu 'Pek-gwan-kik-ki' (kera putih mematahkan tangkai pohon), segera ia menikam kepala Han Tiong-san.
* Han Tiong-san adalah Suheng Thian-yap Sanjin, terang ilmu silatnya tinggi sekali.
Ketika mendadak diserang, lekas ia kendorkan tangan yang mencekal Pek Thay-koan, sedang dirinya lantas mencelat ke atas, ia papaki Lu Si-nio dan hendak merebut senjatanya.
Sama sekali tidak terduga bahwa Ginkang Lu Si-nio sudah di puncak kesempurnaan, ketika Han Tiong-san meloncat naik dengan kedua jari hendak menutul batang pedangnya, sedang tangan kiri hendak menarik pergelangan tangannya untuk sama-sama turun ke bawah, namun Lu Si-nio keburu menekuk pedangnya ke bawah, baru saja Han Tiong-san sempat mengayun tangan kiri, mendadak Lu Si-nio sudah berjumpalitan ke atas, sesudah itu masih tetap menyerang dengan tipu 'Pek-guan-kik-ki' tadi, sinar pedangnya berkelebat, kembali ia menikam kepala orang, tapi kali ini yang diincar ialah Tang Ki-joan.
Ilmu silat Tang Ki-joan lebih rendah dari kawannya, maka ia tak berani berusaha merebut pedang seperti Han Tiong-san, dalam keadaan terpaksa ia harus melepaskan cekalannya pada Pek Thay-koan terus berkelit ke samping, sesudah itu kedua tangannya susul menyusul balas menghantam.
Setelah Pek Thay-koan terlepas dari tawanan orang, ia putar-putar pergelangan tangannya buat melemaskan otot yang sudah sekian lama digenggam orang.
Di sebelah sana setelah Han Tiong-san menancapkan kakinya kembali ke bawah, segera ia keluarkan Pi-hun-tuh, paculnya yang istimewa, tanpa ayal ia hantam Pek Thay-koan.
Tetapi saat itu juga Kwantang-si-hiap keburu datang, Hian-hong Tojin segera mengayun tongkatnya hingga menerbitkan suara nyaring keras karena beradu dengan pacul orang, lelatu api pun bercipratan, berbareng pedang di tangan lain juga lantas menusuk.
Lekas Han Tiong-san putar paculnya dengan cepat hingga berwujud satu lingkaran, ia bentur pergi tongkat dan.
pedang Hian-hong, saking kuatnya benturan itu hingga Hian-hong Tojin merasa tangannya pegal, hampir saja tak sanggup menahan senjatanya.
Dalam pada itu Long-goat Siansu pun tidak tinggal diam, ia membuka mulut terus menyemprot, arak yang ia semburkan ini laksana rantai perak terbang di udara, tapi karena kesamplok oleh angin pacul Han Tiong-san yang diputar cepat tadi, arus arak ini menjadi buyar tersebar laksana hujan lebat.
Merasakan kekuatan semprotan arak yang hebat itu, diam-diam Han Tiong-san terkejut dan mengakui Lwekang orang yang hebat.
Sementara itu Hian-hong kembali memutar pedangnya pula, dengan cepat ia menusuk lagi.
Dengan paculnya, Han Tiong-san menyampuk lagi hingga pedang Hian-hong mendadak menjurus ke lain arah, tetapi imam ini bisa mempergunakan gerakan itu dengan baik, ia barengi memotong ke bawah untuk membabat kedua kaki lawan.
Nampak serangan lihai ini, Han Tiong-san menggerung keras, tangan kiri pun lantas dipukulkan sambil sedikit mundur, dengan demikian kembali pedang Hian-hong kena tergetar pergi oleh angin pukulannya.
Ketika kemudian Hian-hong mengemplang pula dengan tongkatnya, kena ditangkis lagi oleh pacul lawan.
Nampak kawannya tidak berhasil, cepat Long-goat memburu maju, kembali ia semburkan araknya, karena dikeroyok dua jago kelas wahid, Han Tiong-san tak berani sembarangan menyerang, terpaksa ia memutar paculnya sedemikian cepatnya sambil menantikan saat baik untuk balas menggempur.
Di pihak sana, pertarungan juga tidak kurang ramainya, beruntun beberapa kali gerak pedang Lu Si-nio mendesak Tang Ki-joan mundur ke belakang.
"Pat-moay!"
Terdengar Pek Thay-koan berseru.
"bantu aku, tolong dulu Hi Yang!"
Lu Si-nio menjadi kaget.
"Apa katamu?"
Tanyanya tidak mengerti.
'Karena itu gerak pedangnya jadi agak kendur, kesempatan ini segera digunakan oleh Tang Ki-joan buat mundur teratur.
Akan tetapi Liu Sian-gai yang sudah getol sejak tadi dengan cepat enjot tubuhnya, kesepuluh jarinya yang dia tekuk segera mengetuk ke atas kepala orang.
Dalam hal Ginkang, terkecuali Ie Lan-cu dan beberapa tokoh angkatan tua lainnya, Liu Sian-gai hanya di bawah Lu Si-nio saja.
Jari tangannya yang memakai cincin baja itu, di luar dugaan Tang Ki-joan dengan menerbitkan suara "plok"
Yang keras, berhasil mengetuk kepala lawan.
Karena ketukan yang keras itu, Tang Ki-joan merasa kepalanya kesakitan seakan pecah, lekas ia geraki tangannya dengan gaya 'Hun-jiu' terus mendorong ke samping.
Dalam hal mengadu kepandaian, Liu Sian-gai memang kalah kuat, oleh karena terkena dorongan itu, hampir saja ia jatuh telentang.
Tetapi Tan Goan-pa pun segera maju membantu, dengan mengeluarkan suara gerungan, ia pergunakan kepandaian 'Toa-sui-pi-jiu', kepandaian cara memotong dan menggablok, ia mengulur telapak tangan dan membelah, begitu keras tenaganya hingga pukulannya membawa sambaran angin yang menderu.
Terkejut atas tenaga orang yang besar, Tang Ki-joan tak berani menyambut pukulan itu, ia putar tubuh dengan cepat, tetapi Tan Goan-pa lantas mengulur tangan pula hendak mencengkeram dan menawannya, yang dia gunakan adalah kepandaian yang hebat dari 'Hun-kin-cho-kut-jiu', kepandaian yang bisa memutus otot dan membikin miang keseleo.
Meskipun tampaknya serangan Tan Goan-pa luar biasa, kepandaian Gwakang (kekuatan tenaga luar) sudah sampai di puncaknya kesempurnaan, tapi dalam hal Lwekang, Tan Goan-pa masih belum masak, masih jauh di bawah Tang Ki-joan.
Sudah tentu Tang Ki-joan tidak mengetahui tinggi rendah kepandaian lawan, ketika nampak serangan mengancam dengan hebat, tanpa terasa timbul rasa jerinya, cepat ia keluarkan kepandaian tunggal Heng-ih-kun, tubuhnya seperti terbang mengitari Goan-pa.
Saat Liu Sian-gai menubruk maju menghantam Tan Goan-pa, kena disampuk kedua tangan orang, hampir saja berbalik akan jatuh menggelongsor, untung Liu Sian-gai untuk ketiga kalinya menubruk lagi dengan cincin bajanya, Tang Ki-joan terpaksa harus berkelit meluputkan diri, karena itu Tan Goan-pa sempat memperkokoh tubuhnya dan maju menggempur pula.
Dalam pada itu, Lu Si-nio dan Pek Thay-koan juga menyaksikan Si-hiap menggempur musuh dengan hebat, seketika sukar diputuskan mana yang bakal menang atau kalah, saat itu seluruh kalangan menjadi gaduh tidak keruan, Kam Hong-ti menempur Wei Yang-wi dan Bing Bu-kong dengan sengit, meja perjamuan telah mereka bikin jungkir balik hingga hancur.
Dengan memutar pedang Lu Si-nio membuka jalan maju ke tengah, Pek Thay-koan yang sudah berhasil merebut sebatang golok juga menyusul menerjang masuk.
"Hi Yang kenapa?"
Tanya Lu Si-nio mengulangi seruan Pek Thay-koan tadi, walaupun keadaan ribut sekali.
"Hi Yang melarikan diri dari rumahnya dan hendak mencari diriku,"
Pek Thay-koan menjelaskan.
"lebih dulu ia telah mengirim kabar, sepanjang jalan ia tinggalkan tanda rahasia, aku telah menguntit dan menyusul ke sini, tampaknya dia terkurung oleh kawanan Tiat-sian-pang!"
"Baik, kau boleh bantu Kam-suheng, biar aku nanti mencari Hi Yang!"
Kata lu Si-nio. Pek Thay-koan menjadi girang.
"Kau mengetahui jejaknya?"
Ia tanya.
Akan tetapi Lu Si-nio tak sempat menjawab lagi, laksana terbang ia menerjang menuju ke jurusan barat.
Di lain pihak, Kam Hong-ti seorang diri melayani dua jagoan kelas wahid, kekuatan mereka ternyata setanding, tetapi demi dilihatnya Nyo Tiong-eng memasuki tengah kalangan terus menggempur Teng Hiau-lan, pendekar ini menjadi khawatir.
"Kau wakilkan aku menahan mereka sejenak!"
Serunya ketika melihat Pek Thay-koan mendatangi.
Habis ini dengan pura-pura menyerang sekali, kemudian ia pun menerjang ke tengah ruangan.
Saat itu di ruangan itu sudah merupakan medan pertempuran yang gaduh tak teratur, para benggolan berbagai perkumpulan yang hadir termasuk orang-orang Tiat-sian-pang sendiri, ketika melihat di antara tetamu yang saling gempur ada pula tetamu yang membantu Pangcu mereka, dalam hal ini Nyo Tiong-eng, maka mereka menjadi bingung dan tak berani sembarangan ikut turun tangan.
Sementara itu.
Sian Hok-cho yang secara sengit lagi melawan Teng Hiau-lan, merasa serba sulit karena tak unggulan melawan orang, ketika tiba-tiba melihat Nyo Tiong-eng datang membantu, ia jadi girang, kipasnya segera bekerja lebih cepat, ia menusuk, memukul dan memotong semakin bersemangat.
"Kau mundur!"
Bentak Nyo Tiong-eng padanya sambil mengulur tangan terus hendak menjambret Teng Hiau-lan.
Dalam keadaan bingung, Sian Hok-cho cepat menarik serangan.
Sebaliknya Teng Hiau-lan segan berlawanan dengan bekas gurunya itu, ia berkelit dua kali dan menjadi gugup.
"Murid murtad, masih berani kau melawan?"
Nyo Tiong-eng membentak lagi.
Berbareng sebelah tangannya terus menggablok ke atas kepala pemuda itu.
Untuk menangkis sudah tidak mungkin lagi, dengan mengem-beng air mata Teng Hiau-lan hanya pejamkan mata menunggu ke-matian.
Di luar dugaan, tepai sekali Kam Hong-ti keburu tiba, pendekar ini segera angkat tangannya menangkis, keruan saja pukulan Nyo Tiong-eng tadi seperti mengenai besi baja hingga orang tua ini terguncang mundur beberapa tindak.
Sebagaimana diketahui Nyo Tiong-eng berjuluk 'Thi-cio-sin-tan' atau tangan besi peluru sakti, suatu tanda ketangkasan pukulan dan bidikan peluru bajanya yang jitu, sudah tentu kekuatan pukulannya tadi tidak bisa dipandang enteng.
Tak terduga mendadak ketemu tandingan keras, tenaga telapak tangannya tadi ternyata berada di bawah orang, keruan saja tidak kepalang kagetnya.
"Mengapa saudara membantu manusia tak berbudi ini?"
Lekas ia menegur Kam Hong-ti.
Akan tetapi mendadak Kam Hong-ti melompat maju, ia angkat tangannya terus mengesut mukanya, karena itu polesan obat yang melekat di mukanya segera terusap hilang hingga sinar matanya kini tertampak tajam!
Seketika ia berubah seorang yang lain.
Keruan Nyo Tiong-eng makin kaget hingga terkesima dan mata terbelalak.
"Nyo-locianpwe, kita sudah lama saling kenal nama masing-masing, tidak nyana hari ini baru bisa berjumpa!"
Seru Kam Hong-ti dengan tertawa.
"Siapakah kau?"
Tanya Nyo Tiong-eng pula.
"Kanglam Kam Hong-ti!"
Jawab Kam Hong-ti.
Mendengar nama orang, kembali Nyo Tiong-eng berseru kaget, lekas ia memberi hormat yang dibalas juga oleh Kam Hong-ti.
Memang semenjak Kam Hong-ti unjuk diri di dunia Kangouw, ia selalu melakukan tindakan mulia dengan menolong kaum lemah dan membantu golongan miskin, oleh karena itu namanya betul-betul mengguncangkan kalangan Kangouw, baik Hek-to atau Pek-to semuanya kagum padanya.
Sebaliknya N^o Tiong-eng pun sangat terkenal dan disegani di dunia persilatan, hanya karena Nyo Tiong-eng lebih banyak tinggal di rumah, sedang Kam Hong-ti selalu berkelana, maka namanya lebih terkenal dan cemerlang.
Begitulah maka demi saling bertemu, sudah tentu mereka saling memberi hormat.
"Dapatkah kiranya Kam-tayhiap menerangkan mengapa melindungi muridku yang murtad ini?"
Terdengar Nyo Tiong-eng bertanya pula.
Dalam pada itu Sian Hok-cho dan Teng Hiu-tan kembali mulai bertempur lagi, ketika Sian Hok-cho mendengar yang datang adalah Kanglam-tayhiap, mau tak mau ia merasa gugup dan jeri.
"Ling-toh (murid tuan) sedang menderita kepedihan hati yang maha besar, ada urusan pribadi yang maha rahasia, ia sekali-kali bukanlah manusia yang suka mengkhianati guru dan tidak setia!" -begitulah jawab Kam Hong-ti. Berturut-turut Kam Hong-ti menggunakan kata-kata "maha"
Untuk meyakinkan Nyo Tiong-eng, mau tak mau orang tua ini rada tergerak juga hatinya.
"Hendaklah suka pandang mukaku, janganlah mendesak lagi pada Ling-toh, persoalannya biarlah nanti aku terangkan!"
Demikian Kam Hong-ti menambahkan.
"Perkataan Kam-tayhiap sudah tentu aku percaya penuh, jika memang demikian halnya, mungkin akulah yang telah salah mendakwa muridku itu!"
Sahut Nyo Tiong-eng akhirnya.
Sementara itu di pihak sana, Pek Thay-koan yang melawan Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi sudah bergebrak dua tiga puluh jurus, karena memang ilmu silatnya masih di bawah Kam Hong-ti, kini satu harus melawan dua, sudah tentu ia kewalahan, terpaksa ia mundur ke tengah kalangan.
"Harap Nyo-locianpwe suka memberi bantuan pada Suheng-ku,"
Pinta Kam Hong-ti demi nampak Pek Thay-koan terancam bahaya.
"Sudah tentu!"
Sahut Nyo Tiong-eng tanpa ragu-ragu lagi.
Habis itu, secepat terbang segera ia papaki Bing Bu-kong terus memberi sekali pukulan dengan telapak tangannya.
Dalam pada itu Kam Hong-ti sendiri pun melompat maju juga.
"Teng.hiante, biar aku yang bereskan dia!"
Serunya pada Hiau-lan yang sedang menempur Sian Hok-cho. Keruan Sian Hok-cho menjadi gugup, lekas ia melompat ke belakang terus berteriak pada begundalnya.
"Mengapa kalian tidak lekas turun tangan, tangkap orang-orang ini, lekas!"
Begitulah maka kawanan Tiat-sian-pang lantas merubung maju.
Namun Kam Hong-ti cukup cerdik dan bisa menggunakan pikiran, mendadak ia melompat ke atas sekuatnya, ia naik ke atas sebuah bukit-bukitan, berbareng segera ia berteriak sambil mengacungkan tangan.
"Dengarkan kataku! Sian Hok-cho telah mengekor pada Hi Kak dan terima menjadi budak bangsa Boan dan ikut memperebutkan takhta untuk In Ceng, ia pun berniat menjebloskan Tiat-• sian-pang yang terkutuk! Tetapi hari ini ketumbuk di tangan kami Kanglam-chit-hiap, tidak mungkin kami membiarkan muslihatnya terkabul, hendaklah kalian mendengarkan, sekali-kali jangan ikut tersesat!"
Di antara tetamu itu banyak pemimpin berbagai perkumpulan rahasia yang kenal Kam Hong-ti, maka banyak di antara mereka saling memberi tahu pada kawan-kawannya tentang siapa yang sedang mereka hadapi itu.
"Dialah Kanglam-tayhiap!"
Begitu mereka saling mendesis.
"Entah Chit-hiap (tujuh pendekar) datang semua atau tidak?"
Ada lagi yang bertanya.
"Coba lihat, Pek Thay-koan juga berada di sim!"
Sahut yang lain.
Memang kali ini para benggolan yang hadir dalam perjamuan ini setengahnya karena memandang muka leluhur Sian Hok-cho dan setengah lagi terpengaruh perbawa Hi Kak yang berdiri di belakang Sian Hok-cho, tetapi kini demi mendengar ancaman Kam Hong-ti tadi, sudah tentu mereka lebih suka membelakangi Hi Kak daripada harus berlawanan dengan Kanglam-chit-hiap.
Bahkan mereka yang bernyali kecil malah diam-diam sudah ada yang menggeloyor pulang dengan membawa begundalnya.
Dalam pada itu sebagian besar kawanan Tiat-sian-pang sendiri pun tak berani segera turun tangan, ada sebagian kecil yang coba mengembut maju, tapi begitu Teng Hiau-lan memutar pedangnya, mereka segera dibikin kocar-kacir, banyak yang tangan atau kakinya terkurung atau sedikitnya kepala pecah dan darah muncrat, senjata mereka pun beruntun kena dipenggal kutung.
Di lain pihak, Ce Bin-kau ayah dan anak pun tidak berpeluk tangan, mereka melolos senjata dan segera menerjang ke dalam kalangan pertempuran membantu Teng Hiau-lan menghalau musuh.
Kembali bercerita tentang Lu Si-nio, sesudah ia menuju ke belakang, dengan Ginkang yang luar biasa, beberapa kali loncatan naik-turun, tidak berselang lama ia sudah sampai di pojok barat taman itu, gedung bersusun tiga yang berdiri megah sudah berada di hadapannya, ia lihat dari dalam gedung itu berjalan keluar dua gadis yang ternyata adalah dua di antara empat wanita yang ia jumpai pada malam itu.
"He, siapa yang menyuruh kau kemari?"
Tanya mereka terhe-ran-heran begitu menampak Lu Si-nio.
"Katanya badan Kun-cu kurang sehat, maka Pangcu menyuruhku mengantar obat ke sini!"
Sahut Lu Si-nio membohong. Kedua wanita itu makin heran, air muka mereka tampak mengunjuk rasa sangsi.
"Siapa yang bilang Kun-cu sakit?"
Tanya mereka lagi berbareng.
"Dia dalam keadaan baik-baik saja, bahkan tadi masih bercerita dan tertawa!"
Apa yang Lu Si-nio katakan tidak lebih hanya pancingan belaka, kini setelah mengetahui dengan pasti bahwa Hi Yang memang berada di gedung ini, ia menjadi girang sekali.
Tanpa bicara lagi segera ia cabut pedangnya terus meloncat ke atas emperan loteng kedua, di sini ia tutulkan pedangnya hingga badannya membal ke atas lagi, dengan demikian ia sudah bisa sampai di loteng ketiga.
Tetapi baru saja ia hendak melompat turun ke lantai, sekonyong-konyong dari samping ia diserang orang, lekas Lu Si-nio menyampuk ke bawah dengan pedangnya, tetapi dengan menekan ujung pedangnya ke depan, orang itu bisa menghindarkan lekatan senjata Lu Si-nio.
Sesudah Lu Si-nio dapat mengambil tempatnya dengan baik, terlihat jelas bahwa orang yang berdiri di depannya ini ternyata adalah seorang nenek yang seluruh rambut kepalanya sudah putih ubanan.
"Lekas menyingkir, aku tak akan melukai kau!"
Kata Lu Si-nio. Akan tetapi nenek itu berbalik tertawa mengejek.
"Hm, bocah kemarin saja berani kau mengintai Kun-cu di sini!"
Sahutnya, sesudah itu senjatanya bergerak lagi, sekali ini ia membelah dari atas menuju kepala orang.
Namun dengan sedikit berkelit Lu Si-nio dapat menghindar-.
kan serangan itu, berbareng laksana anak panah meluncur cepatnya ia menerobos lewat di bawah pedang orang terus menyelonong masuk ke dalam kamar.
Begitu berada di dalam kamar, ia lihat seorang gadis jelita sedang rebah di atas ranjang, siapa lagi dia kalau bukan Hi Yang?
"Lekas, Pek Thay-koan sedang menunggu kau di luar!"
Seru Si-nio begitu berada di depan si nona. Mendengar suara orang, seketika Hi Yang melompat bangun, tetapi ia masih merasa sangsi.
"Siapa kau?"
Tanyanya. Selagi Si-nio hendak menjawab, ternyata nenek tadi sudah menyusul masuk terus menubruk maju dengan pedangnya.
"Kau biarkan aku keluar!"
Hi Yang berteriak. Namun si nenek ternyata tidak terima perintahnya itu.
"Tanpa izin ayahmu, siapa pun tak boleh melepaskan kau!"
Sahutnya.
"Mengingat usiamu sudah lanjut, maka dengan maksud baik aku nasihati kau agar menyingkir saja, mengapa kau berani merintangi aku?"
Kata Lu Si-nio dengan tertawa dingin.
Mendengar hinaan itu, si nenek menjadi gusar, tanpa menjawab lagi segera ia menusuk.
Cepat Lu Si-nio berkelit kian kemari di antara sambaran angin senjata lawan, meski sudah belasan kali tusukan dilancarkan, namun sedikitpun si nenek tak bisa mengenai orang, bahkan ujung baju Lu Si-nio saja tak tersenggol.
"Mau menyingkir atau tidak?"
Kembali Lu Si-nio membentak lagi, ia sudah hilang kesabaran. Ketika kemudian pedangnya menusuk terus dipuntir, di antara suara "traang"
Beradunya senjata, hampir saja pedang si nenek terbang dari tangannya, maka insyaflah dia bahwa dirinya bukan tandingan orang.
"Baik, awas kau!"
Katanya kemudian dengan gemas dan melotot.
"Boleh saja kau ingat diriku dalam hati!"
Lu Si-nio tertawa.
Segera tubuhnya bergerak lagi, di antara sinar senjata gemerdep, dengan cepat ia menusuk pundak kiri si nenek.
Orang tua itu tak berani banyak bicara lagi, setelah menangkis serangan ini, lekas ia melarikan diri menerobos keluar melalui jendela.
Dengan mata kepala sendiri menyaksikan Kiam-hoat Lu Si-nio yang begitu hebat, saking kagumnya hingga Hi Yang terbelalak kesima.
"Nona yang baik, ada orang sedang menantikan kau, mengapa belum mau keluar ke sana?"
Ujar Si-nio menggoda.
Melihat Lu Si-nio berkelakar padanya, cara bicaranya pun tidak sebagaimana mestinya antara kaum lelaki dan wanita yang belum kenal, berbalik Hi Yang menjadi ragu-ragu lagi.
Karena si nona masih belum mau keluar, Lu Si-nio lantas mengulur tangan menarik, tapi segera disengkelitkan oleh Hi Yang.
"Pek Thay-koan tidak nanti punya kawan macam kau ini,"
Serunya.
"Mengapa tidak?"
Sahut Lu Si-nio dengan tertawa.
"Jika kau adalah sahabatnya, kau tentu tahu pernah apa diriku dengan dia, mengapa baru pertama kali bertemu kau sudah berani menggoda seperti tadi?"
Kata Hi Yang lagi.
Pada zaman feodal, hubungan antara kaum pria dan wanita dibatasi dengan berbagai larangan, sekalipun kaum muda di kalangan Kangouw umumnya memang lebih bebas, tetapi kalau bukan orang yang sudah kenal betul, tidak mungkin mengulur tangan hendak menarik segala.
Karena itulah Lu Si-nio baru ingat babwa dirinya kini sedang menyamar sebagai pria, maka tersenyumlah dia, segera ia tarik ikat kepalanya hingga tertampaklah rambutnya yang hitam gombyok.
Melihat itu Hi Yang rada terkejut, tapi ia lantas ingat juga dan kegirangan, segera ia menubruk maju terus merangkul kencang Lu Si-nio.
"Oh, Cici yang baik, kau tentu Sumoay Thay-koan bukan?"
Serunya.
"Kini kau tidak mengomeli aku lagi bukan?"
Sahut Lu Si-nio dengan tertawa.
"Sungguh tidak pernah aku duga bahwa usiamu masih begini muda!"
Ujar Hi Yang.
Lalu dengan menggandeng tangan Lu Si-nio lantas turun dari loteng gedung itu.
Tatkala itu di kalangan pertempuran sedang berlangsung sengit sekali, Nyo Tiong-eng berjajar dengan Pek Thay-koan melawan Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi berdua, mereka merupakan dua pasang lawan yang kuat.
Di pihak lain Ce Bin-kau ayah dan anak bersama Teng Hiau-lan telah membikin kalang-kabut kawanan Tiat-sian-pang yang mengembut, sedang Kam Hong-ti pun bergebrak melawan Sian Hok-cho.
Dengan kipas bajanya Sian Hok-cho bertempur mati-matian, namun ia tidak bisa unggul, sebaliknya kena didesak sampai belakang bukit-bukitan taman itu, meski ada dua Hu-pangcu (wakil ketua perkumpulan) ikut membum maju membantu ketua mereka, tapi tidak umng masih saja berada di bawah angin dan kececar.
Waktu Lu Si-nio bersama Hi Yang sudah berada dekat kalangan pertempuran, ia memandang selumh penjum, ia lihat Kwantang-si-hiap agak kewalahan menghadapi lawan mereka.
"Lekas kau pergi membantu Pek-suheng, biar aku yang bantu Kwantang-si-hiap,"
Segera Lu Si-nio berkata pada Hi Yang.
Sudah tentu Hi Yang senang sekali bisa membantu tunangannya itu, tanpa disumh kedua kalinya segera ia mencabut goloknya tems menerjang maju.
Ketika nampak kedatangan Hi Yang, keruan semangat Pek Thay-koan banyak bertambah dan makin giat melayani musuh.
"Hi-moaymoay!"
Demikian sambil bertempur berulang-ulang ia pun memanggil. Hi Yang menjadi rada jengah, dengan muka bersemu merah ia lantas masuk dalam garis pertarungan.
"Begini banyak orang, kenapa kau gembar-gembor?"
Sahutnya dengan suara rendah sesudah berendeng dengan tunangannya ini.
Pek Thay-koan tersenyum bahagia, segera ia ayun senjatanya bertempur lebih semangat, semua serangannya merupakan ancaman bahaya bagi musuh.
Sebagaimana diketahui, Bing Bu-kong adalah tangan kanan Hi Kak Tay-ong, ketika mendadak nampak Hi Yang membantu pihak Pek Thay-koan dan berlawanan dengannya, ia menjadi gugup.
"He, bagaimana ini? Apa betul-betul kau hendak membelakangi ayahmu?"
Serunya pada Hi Yang.
"Bing-sioksiok (paman Bing), jika kau tidak lekas menyingkir, jangan kau sesalkan aku nanti,"
Sahut Hi Yang.
"Pulanglah kau dan katakan pada ayah, suruh dia jangan urus diriku lagi, anggap saja tidak punya anak seperti aku ini!"
Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi berdua yang melawan Nyo Tiong-eng dan Pek Thay-koan memang sudah merasa berat, apalagi kini ditambah dengan masuknya Hi Yang, sudah tentu lebih-lebih tak tahan buat mereka.
Hi Yang adalah putri kesayangan junjungan mereka, jika nanti karena salah gerak tangan hingga melukai anak dara ini, tentu celaka bagi mereka.
Karena itu, setelah mereka berdua saling memberi isyarat, segera angkat kaki alias kabur.
Dengan kaburnya Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi berdua, Sian Hok-cho menjadi makin gugup dan jeri, ia berniat kabur juga, namun Kam Hong-ti ternyata tidak memberi kesempatan padanya, begitu ganas serangannya, cara bagaimana ia sanggup meloloskan diri?
Begitulah maka setelah berlangsung tak lama lagi, kedua wakil Pangcu yang membantunya beruntun roboh kena pukulan.
"Baiklah, kalau bukan kau yang mampus, biarlah aku yang mati!"
Teriak Sian Hok-cho dengan mengertak gigi.
Habis itu mendadak ia tekuk kipasnya sekuat tenaga, hingga kipas baja itu tertekuk patah, berbareng belasan anak panah kecil tiba-tiba menyambar ke depan laksana hujan.
Ini adalah tipu serangan terakhir Sian Hok-cho, kipas bajanya terpasang alat rahasia di dalamnya, bila ditekuk patah, ruji kipas segera berubah menjadi anak panah terus menyambar keluar.
Akan tetapi Kam Hong-ti tidak gampang dibokong, di antara suitannya yang panjang, ia kebas lengan bajunya hingga menerbitkan angin keras, belasan anak panah yang menyambar tiba semuanya tergetar jatuh.
Pada saat itu juga Sian Hok-cho hendak angkat langkah seribu, namun tidak keburu lagi, tiba-tiba terdengar suara gertakan Kam Hong-ti yang menggeledek, di bawah pukulan telapak tangannya yang keras, Sian Hok-cho seketika terguling roboh dengan muka berdarah, menyusul Kam Hong-ti angkat sebelah kakinya terus menginjak tulang pinggang orang sambil menggertak.
"Kawan-kawan Tiat-sian-pang, silakan dengarkan perkataanku!"
Dalam pada itu, Han Tiong-san dan Tang Ki-joan berdua pun sedang melawan Kwantang-si-hiap dengan sengit.
Hian-hong Tojin bersama Long-goat Siansu mengeroyok Han Tiong-san nampak di atas angin, sebaliknya Tan Goan-pa bersama Liu Sian-gai yang melayani Tang Ki-joan ternyata kececar tanpa bisa balas menyerang.
Tengah pertarungan berlangsung dengan sengit, mendadak mereka mendengar suara gertakan Kam Hong-ti yang menggeledek, bahkan Han Tiong-san dan Tang Ki-joan nampak Sian Hok-cho, ke-ma Tiat-sian-pang sudah tertawan orang, mereka insyaf keadaan tidak menguntungkan bagi mereka, bila pertempuran dilangsungkan terus, pasti mereka sendiri tidak terluput dari malapetaka.
Karena itulah pada suatu kesempatan, Han Tiong-san me-nyampuk pedang dan tongkat Hian-hong dengan paculnya, berbareng ia melompat ke atas untuk menghindarkan semburan arak yang datang dari depan, segera pula ia teriaki kawannya.
"Angin kencang, lekas lari!"
Mendengar seruan rekannya itu, lekas Tang Ki-joan pura-pura mengayun tangan menghantam, tapi segera ia menyusul Han Tiong-san kabur.
Kwantang-si-hiap juga sudah letih dan napas tersengal, mereka pun tidak mengudak lebih jauh.
Begitulah maka pertempuran sengit yang tadi berlangsung dengan hebat seketika terhenti oleh suara gertakan Kam Hong-ti, kawanan Tiat-sian-pang menjadi kuncup semua, dengan tangan lurus ke bawah mereka menantikan apa yang hendak dikatakan pendekar besar itu.
"Saudara-saudara adalah sesama bangsa kita, kalian melaksanakan pekerjaan Hek-to dan merampas harta yang tidak halal, aku Kam Hong-ti pasti tidak merintangi,"
Demikian Kam Hong-ti mulai buka suara.
"Tetapi jika kalian terima diperalat bangsa Boan dan ikut terima diperbudak Hi Kak, maka aku orang she Kam tidak nanti mengizinkan. Di antara kalian tentu ada yang bisa berpikir secara bijaksana, maka silakan renungkan kata-kataku ini."
Di antara kawanan Tiat-sian-pang itu yang separoh sudah terpengaruh dan jeri oleh nama besar Kanglam-tayhiap dan yang separoh lagi melihat kedudukan mereka sudah tidak menguntungkan, maka secara beramai mereka lantas berkata.
"Kami bersedia mendengarkan pesan Kam-tayhiap!"
Kemudian Kam Hong-ti angkat kakinya, seketika juga Sian Hok-cho memuntahkan darah segar, ia merangkak bangun dan berduduk.
"Sian Hok-cho, meski kau bercita-cita busuk, tetapi masih tidak terlalu jahat, jika selanjutnya kau mau mengubah kelakuanmu dan kembali ke jalan benar, aku pun boleh mengampuni jiwamu,"
Kata Kam Hong-ti kepada tawanannya itu. Dalam keadaan demikian, yang diharapkan Sian Hok-cho hanyalah jiwanya bisa selamat, sudah tentu ia tidak berani membantah.
"Jika kau masih sayang jiwamu, pertama, seterusnya kau tak boleh berkecimpung lagi di kalangan Kangouw,"
Demikian Kam Hong-ti kemukakan syarat-syaratnya.
"Menurut, pasti menurut!"
Sahut Sian Hok-cho cepat terhadap syarat pertama itu.
"Mulai hari ini juga segera aku bubarkan perkumpulan ini dan membawa putraku pulang kampung, seterusnya aku tutup pintu dan simpan senjata, aku cuci tangan tidak berbuat sesuatu lagi."
"Baik, dan kedua, harta benda yang kau kumpulkan selama ini harus kau serahkan padaku untuk diatur seperlunya, kecuali apa yang berada di atas tubuhmu, satu mata uang pun tidak boleh kau bawa lagi,"
Begitulah syarat kedua dari Kam Hong-ti.
Harta benda yang Sian Hok-cho timbun selama sepuluh tahun, hasil dari rampasan-dan rampokannya ini tidak kurang dari jutaan tahil, kini Kam Hong-ti melarang dia membawa pergi walaupun hanya sepeser, mau tak mau ia merasa pedih juga dan sayang, akan tetapi apa yang ia bisa perbuat?
"Soal harta benda yang ada itu, silakan saja Kam-tayhiap mengambilnya!"
Akhirnya terpaksa ia menyahut.
"Aku pun tak menginginkan hartamu itu,"
Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.
Habis itu ia lantas suruh Sian Hok-cho dan orang-orangnya yang bertugas mengurus kekayaannya untuk mengeluarkan semua harta benda termasuk barang-barang berharga lainnya, lalu Kam Hong-ti bagi-bagikan semua harta yang ada itu pada kawanan Tiat-sian-pang, sedang barang mestika lainnya yang masih ketinggalan ia tahan sementara, sesudah sibuk setengah harian akhirnya baru urusan ini bisa dibereskan.
"Baiklah, kini kau boleh pergi,"
Bentak Kam Hong-ti kemudian pada Sian Hok-cho.
"Selanjutnya bila aku temukan lagi kau masih keluyuran di Kangouw, tatkala itu aku tetap kenal dirimu, tetapi kepalanku tidak nanti kenal kau!"
Dengan rasa lega karena orang suka mengampuni jiwanya, lekas Sian Hok-cho bersama putranya lari terbirit-birit meninggalkan dusun pegunungan itu.
"Kita sudah membikin kacau dan mengobrak-abrik tempat ini, mereka pun dilepas pergi, apa tak takut mereka mengumpulkan begundal lain atau bersekongkol dengan tentara kerajaan dan kembali mengepung kita di sini?"
Tanya Lu Si-nio sesudah pentolan Tiat-sian-pang itu pergi.
"Tak usah khawatir,"
Ujar Kam Hong-ti.
"Dari kota kalau mengirim pasukan sedikitnya makan waktu dua hari baru bisa sampai di sini, andaikan Hi Kak hendak mengirim bantuan, hal ini lebih-lebih tak mungkin. Apalagi pedusunan ini berada di antara bukit-bukit yang susah ditempuh!"
Mendengar keterangan ini, Lu Si-nio pikir memang tidak salah juga.
"Chit-ko pandai berpikir, betul-betul Siaumoay mengakui tidak bisa memadai engkau,"
Sahutnya kemudian.
"Ya, berlaku hati-hati kan tiada jeleknya,"
Kata Kam Hong-ti dengan tertawa.
Sementara itu cuaca sudah gelap, di atas dahan pohon yang penuh tergantung lampu lampion yang beraneka warna, yang tadinya disediakan untuk sembahyangan pada leluhur karena pembukaan Pang, maka kini justru dipakai sekalian buat penerangan.
"Haha, perjamuan malam dengan lampion yang beraneka warna, nikmat juga!"
Dengan bergelak tertawa Kam Hong-ti berkata.
Kemudian ia perintahkan pelayan dan koki keluarga Sian yang masih belum pergi itu menyediakan dua meja perjamuan.
Waktu ia periksa kawan-kawannya, ternyata Pek Thay-koan sudah menghilang.
"Dimanakah Go-ko?"
Tanyanya.
"Tadi aku lihat dia sedang kasak-ktfsuk dengan Hi Yang di belakang bukit-bukitan, mungkin karena sudah lama berpisah, kini bertemu kembali, sampai makan pun terlupa,"
Sahut Si-nio dengan tertawa.
"Coba kau pergi cari dia,"
Kata Kam Hong-ti dengan tersenyum. Dan selagi Lu Si-nio hendak berangkat mencari Pek Thay-koan, tiba-tiba terdengar Kam Hong-ti tertawa dan berkata pula.
"Tentu tanda rahasia perguruan kita yang ditinggalkan di atas batu padas pegunungan itu adalah perbuatan si Hi Yang inilah,"
Ujarnya.
"Go-ko sesungguhnya terlalu juga, mengapa ia sembarangan mem-beritahu tanda rahasia kita kepada orang lain."
"Ya, tetapi Hi Yang sudah bukan orang lain lagi,"
Sahut Si-nio.
"Sekalipun mereka sudah pasti menjadi suami istri tetapi Hi Yang bukan orang perguruan kita, apa yang Go-ko lakukan bagaimanapun kurang baik,"
Kata Hong-ti lagi, ia tidak sependapat dengan Sumoaynya.
"Baiklah, kelak kalau ada kesempatan, biar aku nasihatkan padanya,"
Sahut Si-nio akhirnya.
Atas jawaban ini baru terlihat Kam Hong-ti merasa puas, ia mengangguk-angguk.
Kiranya Pek Thay-koan memang terlalu gegabah, sering kali soal-soal kecil tidak diperhatikan.
Meski Tok-pi-sin-ni menciptakan ilmu pedang tersendiri, namun ia tidak pernah membuka sesuatu cabang atau golongan tersendiri, maka tidak terdapat Ciang-bun atau pejabat ketua perguruan yang bisa mengawasi semua anak murid.
Kam Hong-ti adalah Sute atau adik seperguruan, dengan sendirinya ia tak dapat menegur Pek Thay-koan, terpaksa ia memberi tanda pada Lu Si-nio agar Sumoaynya ini yang menyampaikan maksudnya itu.
Lu Si-nio adalah putri pujangga ternama, ilmu silatnya sangat tinggi pula, sedang perangainya pun halus lembut disukai orang, oleh sebab itu Pek Thay-koan jauh lebih akrab dengan dia.
Begitulah sesudah sibuk saru hari, kini Kam Hong-ti baru merasa senggang, lalu ia menemui Kwantang-si-hiap, Ca-ih-sin-say dan Nyo Tiong-eng serta kawan-kawan, saling mengutarakan rasa kagum masing-masing.
"Nyo-loenghiong kini lenyaplah semua kesalahan-pahaman terhadap Ling-toh (murid tuan) bukan?"
Kata Kam Hong-ti ketika nampak Teng Hiau-lan berada di samping Nyo Tiong-eng Tersenyumlah Nyo Tiong-eng, ia pun kiongciu sebagai tanda hormat dan terima kasih.
Kiranya pada kesempatan tadi Teng Hiau-lan sudah menceritakan kisah kehidupannya pada Nyo Tiong-eng, sudah tentu orang tua ini tidak pernah menduga bahwa asal-usul muridnya ini ternyata begitu ruwet, memangnya Nyo Tiong-eng suka pada Hiau-lan, hanya karena salah paham mengira pemuda ini hendak mengkhianati perguruan, sebab itulah ia benci dan hendak menghukum mati padanya.
Tapi demi mendengar penjelasannya, semua kesalah-pahaman buyar seluruhnya, tak tertahan lagi ia merangkul pemuda ini.
"Oh, anakku, aku telah salah menuduh kau!"
Katanya dengan pilu.
"Ini tidak bisa menyalahkan Suhu!"
Sahut Hiau-lan. Lalu ia pun menerangkan pula Sim Cay-khoan pernah memberi petunjuk padanya.
"Apa yang Sim-sianseng katakan itu cocok dengan pendapat-ku, memang bagaimanapun ia adalah orang terpelajar, maka apa yang dikatakannya betul-betul berpandangan jauh,"
Ujar Nyo Tiong-eng kemudian.
Di sebelah sana Ce Sek-kiu yang sudah digembleng lagi selama beberapa tahun, pengalaman dan pengetahuannya tentang kehidupan manusia juga sudah jauh lebih masak, kini melihat Nyo Tiong-eng dan Teng Hiau-lan begitu rapat laksana ayah dan anak, perasaannya terhadap Nyo Liu-jing yang memangnya sudah menipis, kini menjadi lenyap seluruhnya.
Maka majulah dia ke depan Teng Hiau-lan menghaturkan terima kasih atas pertolongannya tadi, begitulah belakangan mereka pun menjadi sahabat yang karib sekali.
Rupanya di antara orang-orang ini, yang merasa paling gembira adalah Nyo Tiong-eng, berulang kali ia ajak mengeringkan cawan arak pada Kam Hong-ti.
"Katanya Hiau-lan hendak ikut kalian ke kotaraja?"
Tanyanya kemudian.
"Ya, ada apakah?"
Sahut Kam Hong-ti.
"Sebenarnya aku ingin dia pulang dahulu,"
Kata Nyo Tiong-eng.
"Memangnya kami hendak mencari Loenghiong untuk menjelaskan persoalannya,"
Sahut Kam Hong-ti dengan tertawa.
"Kini kalian sudah saling bertemu, semua salah paham sudah hilang, dengan sendirinya urusan kami sudah beres, memang seharusnya dia ikut engkau pulang."
Tengah berbicara, terlihat Lu Si-nio, Pek Thay-koan dan Hi Yang bertiga datang dari balik bukit-bukitan sana dengan langkah cepat.
"Chit-ko, berita tentang Loh-suheng kini sudah didapatkan!"
Seru Lu Si-nio dari jauh.
"Betulkah? Coba lekas ceritakan!"
Sahut Kam Hong-ti dengan girang.
"Lebih baik Hi-moay saja yang cerita, pada hari ditangkapnya Loh-suheng, kebetulan Hi-moay pun berada di tempatnya,"
Sahut Si-nio. Mendengar dirinya ditunjuk bercerita, dengan muka merah ke-malu-maluan Hi Yang mulai menceritakan apa yang dia alami.
"Sejak Lu-cici dan Thay-koan membikin ribut pulau Thian-hing, akibatnya ayah menjaga rapat diriku, aku pura-pura menuruti semua kemauannya, aku tidak bikin ribut pun tidak bikin kacau, lambat-laun setelah beberapa tahun berlalu, pengawasan ayah terhadap diriku mulai kendur, namun masih tetap tiada kesempatan buat melarikan diri. Sampai bulan yang lalu, karena ayah harus memenuhi janjinya dengan Hok-liong Cuncia, beliau telah menyeberang laut menuju suatu pulau kecil di dekat Lisun untuk bertemu dengannya."
Cerita sampai di sini, sekonyong-konyong Kam Hong-ti bersuara heran.
"He, Hok-liong Cuncia selamanya kan tinggal di Coa-to (pulau ular) dan tidak pernah meninggalkan tempat itu, cara bagaimana dia bisa berjanji bertemu dengan ayahmu?"
Ujarnya tidak mengerti.
"Itulah aku sendiri pun tidak tahu!"
Kata Hi Yang.
"Nama Hok-liong Cuncia cukup besar, cuma tak diketahui sampai dimana ilmu silatnya?"
Timbrung Lu Si-no.
"Aku hanya tahu dia bergaul rapat dengan Sat Thian-ji dan Sat Thian-toh kedua iblis itu, sedang sampai dimana ilmu silatnya tiada orang yang mengetahuinya,"
Kata Kam Hong-ti.
"Kemudian setelah ayah berangkat, pada satu kesempatan ketika para penjaga lengah, segera aku kabur dengan mencuri sebuah perahu,"
Demikian sambungnya. Sementara itu terdengar Hi Yang sudah melanjutkan ceritanya lagi.
"Di atas kapal itu banyak tersedia rangsum, ditambah lagi aku rada mahir tentang perairan, malam itu ombak besar pula, aku menduga sekalipun kabar dirinya diketahui, aku tentu sudah beberapa puluh li jauhnya dari sana, hendak mengejar pun tak keburu lagi."
Kam Hong-ti berpikir.
"Gadis ini berani menghadapi bahaya dan melarikan diri dari lautan besar, suatu tanda betapa dalam rasa cintanya terhadap Pek-suheng."
"Keberanian nona sungguh harus dikagumi,"
Ia lantas memuji. Hi Yang tertawa.
"Tiada yang luar biasa, hanya karena setiap hari makan ikan, rasanya sudah bosan,"
Sahutnya. Lu Si-nio ikut tertawa oleh jawaban ini, segera ia tuang secawan arak sambil menyumpit sepotong ayam panggang dan diangsurkan pada si gadis.
"Nah, ini sebagai hadiah hiburan bagimu,"
Katanya. Hi Yang pun tidak menolak, dengan tersenyum ia makan apa yang diberikan itu.
"Dulu pernah aku mendengar Thay-koan bercerita tentang saudara seperguruannya, aku tahu bahwa Loh-samko (kakak ketiga) tinggal di Siau-san di pantai sekitar Ciatkang, maka aku lantas mengarahkan kapalku menuju ke tempatnya itu,"
Demikian ia melanjutkan lagi ceritanya.
"Lima enam tahun yang lalu, aku dan Loh-suheng serta Lu-sumoay karena harus menolongi Sim-sianseng, pernah kami bertempur dengan pasukan kerajaan di sana, habis kejadian itu, aku mengantar Lu-sumoay ke Sian-he-nia, sedang Loh-suheng pun melarikan diri ke Kwantang. Mungkin kau tidak mengetahui kejadian ini,"
Sela Kam Hong-ti.
"Terang dia tidak mengetahui peristiwa itu, cuma memang kebetulan sekali, pada hari dia sampai di Siau-san, secara diam-diam Loh-suheng pun pulang ke rumahnya,"
Dengan tertawa Lu Si-nio menambahkan.
"Kalau aku tahu peristiwa itu, sudah tentu aku tidak begitu tolol datang ke sana,"
Hi Yang memulai lagi setelah meneguk araknya.
"Setelah aku sampai di Siau-san, waktu bertanya dimana letak rumah keluarga Loh, ternyata tiada yang berani memberitahu.
"Tengah aku bertanya, tiba-tiba ada sepasukan tentara lewat menyongsong seorang gadis, ketika mendengar aku bertanya orang she Loh, gadis itu mendekati aku terus menegur, 'Kau mencari Loh Bin-ciam untuk urusan apa? Pernah apa kau dengan dia?' Aku tertegun oleh pertanyaan itu, aku tahu kedatangannya tidak bermaksud baik, maka aku lantas hendak kabur. Tak tahunya ilmu silat gadis itu ternyata sangat tinggi, dengan sekali lompat dari kudanya ia sudah menghadang di hadapanku. Setelah aku bergebrak beberapa puluh jurus dengan dia, baru aku memperoleh kemenangan."
"Bukankah gadis itu bermuka daun sirih, alisnya lentik dan masih kekanak-kanakan?"
Tiba-tiba Lu Si-nio menyela.
"Betul,"
Sahut Hi Yang.
"Dia adalah putri Ciatkang Sunbu Li Wi yang bernama Li Bing-cu, sebenarnya ia tidak paham sedikitpun tentang ilmu silat, mengapa hanya dalam lima enam tahun ini dia sudah bisa meyakinkan kepandaian yang begitu bagus, bahkan bisa melawan kau hingga beberapa puluh jurus?"
Kata Si-nio penuh keheranan.
"Tetapi baru saja aku berada di atas angin, mendadak dari dalam pasukan tentara tampil seorang wanita berbaju hijau bertangan kosong tanpa senjata, hanya dalam tiga jurus saja senjataku sudah kena direbut olehnya,"
Hi Yang menyambung lagi.
"Apa wanita berbaju hijau itu adalah si nenek berambut putih yang akhir-akhir ini menjaga kau itu?"
Tanya Lu Si-nio.
"Bukan, tapi mereka satu komplotan,"
Hi Yang menerangkan.
Mendengar cerita ini Kam Hong-ti merasa heran juga, ia sedang berpikir, maka ia tidak ikut bicara.
Dalam hati ia membatin, dengan ilmu silat Hi Yang, dirinya saja belum tentu bisa merebut senjatanya dalam tiga gebrakan, lalu siapakah gerangan si wanita baju hijau itu?
"Darimana kau mengetahui mereka adalah sekomplotan?"
Terdengar Lu Si-nio bertanya.
"Sesudah aku ditangkap oleh wanita baju hijau itu,"
Hi Yang bercerita pula.
"aku lantas diikat terus dikerek pada dahan pohon liu di depan rumah keluarga Loh, wanita itu mengayun cambuknya hendak menyabet aku, tetapi baru satu kali, dari atas loteng rumah keluarga Loh sekonyong-konyong melayang turun satu orang. 'Loh Bin-ciam berada di sini, kalau mau tangkap boleh tangkap aku, tapi jangan merembet pada orang lain yang tak berdosa,' demikian orang itu berteriak menantang. Karena itu si wanita baju hijau tadi tertawa cekikikan. Katanya, 'Haha, Loh Bin-ciam, ini namanya kau masuk jaring sendiri.' Habis itu segera ia melompat maju, tidak lebih dari sepuluh jurus orang she Loh pun sudah tertangkap."
Sampai di sini, diam-diam Kam Hong-ti berkata dalam hati.
"Meski Loh-suheng adalah kaum Kongcu (putra keluarga terpandang) yang lemah, tetapi punya sikap jantan juga."
Sementara itu terdengar Hi Yang meneruskan lagi.
"Wanita baju hijau tadi mengayun cambuknya sambil membentak, 'Dia pernah apa denganmu?' Loh-ya menjawab selamanya belum pernah kenal. 'Kalau begitu buat apa dia mencari kau?' tanya lagi si wanita baju hijau. Karena itu Loh-ya berpaling mengamat-amati diriku, karena pandangannya itu aku menjadi jengah hingga mukaku berubah merah! Dalam keadaan begitu, sudah tentu tidak enak bagiku untuk menceritakan hubungan diriku dengan Thay-koan."
Karena kata-kata terakhir ini, Lu Si-nio tertawa mengikik.
"Orang merasa jengah, kau malah tertawa,"
Omel Hi Yang, lalu ia sambung pula.
"Kemudian Li Bing-cu membawa diriku dan Loh-ya ke gubernuran. Kata si wanita baju hijau setelah sampai di tempat mereka, 'Coba panggil orang Tiat-sian-pang ke sini untuk mengenalinya, mereka biasa kian kemari di kalangan Kangouw, mungkin mereka tahu asal-usul budak ini.' Begitulah maka besok paginya si nenek lantas datang padaku, aku tidak kenal dia, sebaliknya dia kenal aku, begitu bertemu dia lantas memanggil namaku, karena itu si wanita baju hijau segera berubah sikap terhadapku, ia lepaskan aku dan menyerahkan diriku pada si nenek untuk dibawa ke Tiat-sian-pang sini."
"Ternyata dugaan Pat-moay tidak salah, Sam-ko betul-betul telah dikurung di dalam gubernuran Ciat-kang,"
Ujar Kam Hong-ti sesudah cerita orang habis.
"Kalau begitu tidak perlu lagi kita menuju ke kampung Sam-ko."
Hari kedua, para pahlawan itu lantas berpisah.
Nyo Tiong-eng membawa Teng Hiau-lan kem-bali ke rumahnya di Soatang, Kwantang-si-hiap dan Ca-ih-sin-say Ce Bin-kau beserta putranya, Ce Sek-kiu, atas undangan Nyo Tiong-eng, mereka pun ikut menuju ke rumah jago tua itu.
"Nyo-loenghiong dan Kwantang-si-hiap, kalian harus membantu sedikit kerepotanku,"
Tiba-tiba Kam Hong-ti berkata sebelum mereka berpisah.
"Silakan Kam-tayhiap katakan,"
Sahut Nyo Tiong-eng.
"Adalah soal barang mestika Tiat-sian-pang ini,"
Tutur Kam Hong-ti dengan tertawa.
"Karena kami tidak leluasa membawanya, maka harap kalian suka mewakilkan menyimpan serta menggunakannya, di waktu melakukan pekerjaan, kita kadang memerlukan sedikit uang juga."
Atas permintaan ini, tanpa ragu Nyo Tiong-eng menerimanya dengan baik.
Sewaktu Teng Hiau-lan mohon diri pada Lu Si-nio, pemuda ini merasa sangat sedih, ia merasa seperti kehilangan sesuatu, meski terhadap Lu Si-nio pemuda ini sudah tiada pikiran apa-apa lagi, namun budi si nona yang ia terima dan setia kawan yang begitu tebal,' bagaimanapun ia merasa berat buat berpisah.
Sudah tentu Nyo Tiong-eng menyaksikan sendiri rasa berat berpisah ini, maka ia mendesak Teng Hiau-lan lekas berangkat.
Sesudah Nyo Tiong-eng berlalu, Kam Hong-ti, Lu Si-nio, Pek Thay-koan dan Hi Yang berempat juga lantas bebenah menuju ke Hangciu (Hangchou).
Pagi hari ketiga, mereka sudah tiba di kota permai yang tersohor dengan julukan 'surga dunia' itu, mereka mencari satu rumah penginapan yang berada di tepi telaga Se-ouw untuk merundingkan cara bagaimana menyelidiki gubernuran nanti malam.
Karena waktunya masih pagi, mereka menyewa sebuah perahu buat pesiar mengelilingi telaga yang termashur itu.
Air telaga begitu jernih dan tenang bagai cermin, sampai ikan yang sedang berenang juga tertampak dengan jelas, sesudah mendayung tak berapa lama, tiba-tiba mereka melihat ada tiga pagoda yang ujung atasnya menonjol terapung di permukaan air dengan gaya yang indah dan bayangan pagoda yang aneh terbalik di dalam air.
Di samping pagoda itu terdapat sebuah pulau kecil yang penuh tumbuh bunga dan pepohonan lebat, remang-remang tertampak pula bangunan tinggi menjulang.
"Sungguh indah sekali!"
Puji Hi Yang dengan gembira.
"Ini adalah tempat yang paling indah di Se-ouw, namanya 'Sam-tam-in-gwat', di tengah telaga terdapat telaga pula dan di tengah pulau terdapat pulau, cara mengatur hutan dan taman di dalamnya tiada tandingan di daerah Tonglam (tenggara), konon pendirinya bukan lain ialah Soh Tong-po. Jika Hi-moay merasa suka dengan keindahan ini, mari kita naik ke sana,"
Ajak Lu Si-nio dengan tertawa. Begitulah mereka lantas meninggalkan perahu terus mendarat, melalui jembatan 'tikung sembilan', senang sekali hati Hi Yang oleh keindahan pemandangan di sekitarnya.
"Di tempat yang indah permai memang tidak pernah kekurangan orang yang bisa menikmatinya, coba lihat pemuda itu!"
Tiba-tiba Lu Si-nio berkata sambil menuding ke depan.
Waktu Hi Yang memandang, dilihatnya di permukaan telaga terdapat* sebuah perahu kecil yang sedang didayung dengan perlahan-lahan, di dalam perahu ada seorang pemuda yang usianya sekitar tiga puluh tahun, mukanya putih dan cakap.
Di dalam perahu terdapat sebuah meja yang dilengkapi dengan seperangkat alat teh, ada sebuah teko dan terdapat pula sebuah khim (kecapi), sementara pemuda tampan itu sedang tarik suara bersenandung.
Suara nyanyiannya ternyata ulem dan merdu sayup-sayup berkumandang ke seluruh telaga dan menarik sekali bagi pendengaran orang.
"Orang ini bukan orang biasa,"
Pek Thay-koan memuji begitu mendengar suara nyanyian itu.
Apa yang dinamakan Sam-tan-in-gwat adalah sebuah pulau kecil di tengah Se-ouw, 'pulau' ini lebih tepat dikatakan sebuah bendungan yang mengitar bulat hingga berwujud satu telaga kecil di dalam telaga, sedang di tengahnya terdapat pula sebuah pulau yang lebih kecil, sebab itulah disebut 'di tengah telaga terdapat telaga dan di tengah pulau ada pulau'.
Dan di antara telaga dan telaga, pulau dan pulau itu dihiasi dengan gardu dan rumah pemandangan yang indah, tinggi rendah, menonjol dengan menarik sekali, semuanya menunjukkan betapa pandai si penciptanya.
"Mari kita masuk ke dalam,"
Ajak Lu Si-nio.
Setelah mereka melalui jembatan 'tikung sembilan' dan menembus gardu dan gapura yang berliku-liku, akhirnya mereka sampai di tempat pohon Liu yang rindang, di sini ada gardu yang teratur dengan necis dan bersih, pada papan pintu gardu tertulis tiga huruf 'Ging-chui-han', sedang di kedua samping terdapat pula sepasang 'Lian' yang indah.
"Sepasang Lian ini meski terdiri dari empat belas huruf, tetapi sudah cukup mencerminkan seluruh keindahan Se-ouw, Lian yang ada di 'Peng-ouw-chiu-gwat' boleh dikata dua ciptaan yang bagus,"
Demikian Lu Si-nio memuji.
"Pat-moay selalu mengingat-ingat syair dan Lian dari tempat-tempat ternama, kalau diriku pasti tidak akan telaten begitu,"
Ujar Kam Hong-ti tertawa. Hi Yang terkurung bertahun-tahun di pulau terpencil, di waktu senggang ia pun suka membaca, karenanya ia tertarik juga oleh apa yang Lu Si-nio katakan tadi.
"Lu-cici, coba kau uraikan Lian yang terdapat di 'Peng-ouw-chiu-gwat' itu,"
Pintanya kemudian.
"Buat apa terburu-buru,"
Sahut Si-nio tertawa.
"sebentar lagi bila kau suka, boleh kita menuju ke 'Peng-ouw-chiu-gwat' dan kau boleh contek semua tulisan Lian yang bagus itu."
"Apa tuan ingin secangkir jenang teratai dan dua teko Liong-cing-teh pula?"
Demikian tukang penjual minuman menawarkan pada mereka.
Jenang teratai (terbikin dari tepung bunga teratai yang diseduh dengan air mendidih) dan Liong-cing-teh (nama sejenis teh wangi) dari Se-ouw memang terkenal, oleh sebab itu tanpa ragu-ragu lagi segera Lu Si-nio menerima baik tawaran itu.
Di dalam warung teh 'Ging-chui-han' itu, peminum teh ternyata hanya beberapa orang saja, pada meja di pojok timur seorang kakek duduk sendirian, ketika nampak Kam Hong-ti, Lu Si-nio dan kawan-kawan masuk, agaknya ia rada menaruh perhatian, ia mengamati mereka berulang-ulang.
Lu Si-nio sendiri merasa rupa orang tua ini seperti sudah pernah dikenalnya, akan tetapi dimana seketika ia tak ingat.
Tidak lama mereka duduk, di antara kerai bambu yang tersingkap, tertampak si pemuda tampan yang sendirian dengan perahunya tadi masuk juga ke tempat minum teh ini.
Melihat pemuda gagah dan penuh tenaga dalam yang tersembunyi itu, diam-diam Kam Hong-ti menaruh perhatian.
Sementara itu si pemuda juga telah minta dibuatkan secangkir jenang teratai dan satu teko Liong-cing-teh, ia mengambil tempat di tepi telaga, matanya yang bersinar pun mengerling Kam Hong-ti dan kawan-kawan Meski Lu Si-nio dan Hi Yang sudah menyamar sebagai lelaki, tapi demi tertatap pandangan pemuda itu, tanpa terasa Hi Yang menundukkan kepala sebagaimana lazimnya anak perempuan yang malu-malu.
Melihat kelakuan kawannya ini, lekas Lu Si-nio menjawilnya dengan kaki dari bawah meja, sambil berkata.
"Go-ko, coba lihat pemandangan di tengah telaga yang begitu indah permai."
Di sini mengertilah Hi Yang bahwa Lu Si-nio sengaja memperingatkan padanya dan sengaja memanggil "Go-ko"
Padanya agar teringat dirinya sedang menyamar sebagai lelaki.
Ia merasa geli juga, kalau dipikir lagi, tak tertahan ia pun terperanjat, tanpa sengaja tadi ia sudah mengunjuk sikap malu-malu kaum wanita, jika sampai diketahui oleh pemuda itu, tentu akan sangat tidak menguntungkan.
Akan tetapi pemuda cakap itu agaknya tidak memperhatikan, sesudah menatap sejenak dengan pandangannya, lalu ia alihkan sinar matanya pada si kakek yang duduk sendirian tadi.
Si kakek itu rupanya sudah rada sinting karena arak yang berulang masuk tenggorokannya, dengan duduk bersandar, terdengar ia bernyanyi kecil dengan sajaknya.
Apa yang dinyanyikan itu adalah syair kuno yang sangat terkenal hingga si pemuda tadi ikut menepuk meja mengiringi irama nyanyiannya.
Sehabis orang selesai bernyanyi, mendadak pemuda tampan itu berdiri terus menuju ke depan meja si kakek.
"Bapak tentunya Ki-lopek adanya!"
Katanya sambil memberi hormat. Atas hormat orang itu, si kakek segera membalas.
"Li-kongcu,"
Ia menyahut.
"lebih tiga puluh tahun yang lalu aku berpisah dengan ayahmu, tidak disangka hari ini bisa bertemu kau di sini."
Mendengar percakapan mereka, tiba-tiba Lu Sio-nio jadi ingat sesuatu, tidak sangsi lagi orang tua ini tentu adalah Ki Teng-hong.
Dahulu sewaktu Engkong Lu Si-nio, Lu Liu-liang membuka sekolah dan memberi 'kuliah', banyak di antara kaum terpelajar dari daerah Ciatkang timur dan barat yang datang ikut mendengarkan kuliahnya itu, di antaranya Ki Teng-hong juga pernah mendengarkan kuliahnya.
Waktu itu usia Lu Si-nio belum ada sepuluh tahun.
Lalu ia belajar silat pada Tok-pi-sin-ni di Bin-san dan tidak pernah berjumpa pula dengan dia.
Belakangan ia mendengar cerita dari ayahnya bahwa Ki Teng-hong meski dilahirnya di kabupaten Siu-jiang, tapi dibesarkan di Sucwan, kabarnya waktu mudanya pernah melakukan pekerjaan besar, sedang mengenai 'pekerjaan besar' apa ayahnya tidak menjelaskan, kala itu Lu Si-nio masih terlalu muda, maka ia pun tidak bertanya lebih jauh.
Demikianlah, dalam pada itu Li-kongcu tadi terlihat sedang bercakap asyik sekali dengan Ki Teng-hong, suara percakapan mereka terlalu perlahan, seperti takut didengar orang lain.
Melihat kelakuan mereka, diam-diam Si-nio membatin.
"Kedua orang ini tampaknya seperti sahabat lama, tapi kalau menurut perkataan Ki Teng-hong tadi bahwa sudah lebih tiga puluh tahun ia berpisah dengan ayah pemuda ini, kalau begitu, ketika mereka berpisah, pasti pemuda ini belum dilahirkan, mengapa begitu bertemu Ki Teng-hong lantas memanggil "
Li-kongcu"
Padanya, seperti sudah lama mengetahui asal-usul pemuda ini."
Tak lama kemudian, tertampak pemuda itu berdiri memanggil pengurus warung buat membereskan pembayaran, si kakek pun ikut berdiri dan segera akan berangkat.
Tetapi sebelum mereka bertindak, mendadak si pemuda kembali duduk sambil menatap keluar, paras mukanya terunjuk rasa kejut dan heran.
Waktu Lu Si-nio menoleh, dilihatnya di antara kerai yang disingkap, berjalan masuk tiga orang wanita.
Segera Lu Si-nio kenal seorang di antaranya bukan lain ialah Li Bing-cu, yang satu lagi adalah wanita berbaju hijau, sedang yang lain ialah anak dara berusia sekitar empat atau limabelas tahun, paras dara ini sangat menarik sekali, sewaktu masuk ia sedikit tersenyum hingga pada pipi kanannya terlihat jelas sebuah dekik yang manis.
Nampak kedatangan mereka, Lu Si-nio rada terkejut, ia lihat tangan Hi Yang pun rada gemetar.
Lu Si-nio mengerti wanita berbaju hijau ini pasti orang yang pernah tangkap Hi Yang tempo hari, maka lekas ia menjawil kawannya ini dengan maksud tenang saja.
Hi Yang pikir dirinya kini sudah menyamar sebagai lelaki, belum tentu wanita baju hijau bisa mengenalinya.
Apalagi kini ada Kanglam-tayhiap dan Lu Si-nio, seandainya harus saling gebrak, pihaknya belum tentu kalah, buat apa harus merasa takut.
Karena pikiran itu, hatinya rada lega, ia pura-pura seperti tidak pernah terjadi sesuatu dan sedang menikmati pemandangan indah.
Sesudah masuk Li Bing-cu segera memilih tempat di pinggir.
"Siaumoaymoay (adik cilik), coba lihat tempat ini bagaimana kalau dibandingkan Pak-hay di kota Pakkhia?"
Terdengar Li Bing-cu bertanya pada dara cilik tadi dengan menarik tangannya.
Anak dara itu tidak menjawab, kembali ia tersenyum, sedang kedua matanya yang bundar lebar sedang memandang sekelilingnya.
Pada saat itu juga, sekonyong-konyong pemuda tampan tadi berdiri sambil berseru memanggil.
"Adik Ing, mengapa kau pun datang ke sini?"
Mendengar teguran itu, Li Bing-cu bertiga hanya melototi pemuda itu, tiada seorang pun di antara mereka yang menjawab.
Pemuda cakap itu ternyata tidak mau sudah, dengan langkah cepat ia malah mendekati orang.
"Ing-moay, bagaimana kau ini? Hanya tiga tahun tidak' bertemu, apa kau sudah lupa pada diriku?"
Ia menyapa lagi sembari mengulur tangan hendak menarik anak dara tadi.
Tetapi dengan sedikit berkelit anak dara itu sudah menghindarkan diri, berbareng itu tangannya membalik terus menampar ke muka orang.
Hampir saja pemuda tampan itu kena ditampar karena tidak menduga sebelumnya, lekas ia melompat pergi.
"Ing-moay, apa kau sudah gila?"
Teriak pemuda itu. Akan tetapi anak dara itu segera mendamprat.
"Siapa adalah kau punya Ing-moay?"
Menyusul ia lantas melompat maju, kedua tangannya bergerak menghantam lagi.
Namun dengan sedikit memutar, kembali pemuda itu berkelit.
Ternyata gerak tubuh anak dara itu cepat sekali, hanya sekejap saja ia sudah mengirim beberapa kali serangan, bahkan tiap tipu serangannya berbeda-beda dan sangat ganas.
Melihat gerak serangan orang, Kam Hong-ti terperanjat sekali.
Anak dara ini terang mendapat ajaran orang kosen, bahkan yang dipelajari tidak terbatas pada satu aliran saja.
Jika gerak serangan anak dara itu sangat aneh dan hebat, adalah gerak tubuh si pemuda itu terlebih aneh dan hebat lagi, tertampak dia berputar beberapa kali dengan cepat, pada waktu serangan anak dara itu hampir mengenai sasarannya, tahu-tahu meleset, mengenai tempat kosong.
"He, kau tidak kenal aku lagi, apa kepandaian ini juga sudah kau lupakan? Bukankah pernah aku ajarkan padamu?"
Si pemuda berteriak lagi.
"Ngaco-belo, hanya dengan kepandaianmu ini saja kau mengaku jadi guruku?"
Damprat anak dara itu.
"Jika kau mau jadi guruku, kau harus unjuk sedikit kepandaian dahulu!"
Menyusul ilmu pukulannya makin kencang, tempo-tempo telapak tangan dan kadang-kadang berubah menjadi kepalan, mendadak ia merangkap jarinya menutuk seperti belati menuju Hiat-to si pemuda, sebaliknya pemuda itu hanya berkelit saja, jika keadaan terpaksa, ia angkat tangan kanannya buat menangkis, sedang tangan kiri segera hendak menarik orang.
Tak terduga, dengan cepat sekali anak dara itu meloncat naik ke atas, dengan mementang sepuluh jari tangannya segera ia mencakar batok kepala pemuda itu.
Si pemuda terkejut sekali, dengan cepat ia mundur ke belakang sambil berteriak lagi.
"Hai, betul-betul sudah gilakah kau? Da-rimana kau belajar kepandaian liar yang tak keruan ini?"
Dalam pada itu Lu Si-nio terkejut juga demi menyaksikan tipu serangan anak dara tadi, kepandaian bocah yang beraneka macam ini betul-betul jarang dijumpainya selama hidup, di antaranya kelihatan gaya silat Siau-lim-pay, Bu-kek-pay dan Swat-san-pay, bahkan tipu mencakar tadi adalah kepandaian tunggal Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji.
Ketika kemudian anak dara itu mengayun kepalannya merang-sek maju lagi, tiba-tiba wanita baju hijau tadi melompat melewati beberapa meja terus mengulur tangan menjambret si pemuda.
"Siaumoaymoay (adik cilik), kau mundur dulu, biar aku yang menangkap si gila ini!"
Terdengar wanita itu berseru.
Tapi pemuda itu telah mengegos, hampir saja pundaknya kena dicengkeram, dalam gugupnya ia melompat lewat satu meja, sementara itu si wanita baju hijau ternyata tidak mau melepas dia mentah-mentah, segera ia menguber terus menghantam lagi.
"Siapakah kau?"
Si pemuda membentak sembari angkat kedua tangannya buat menahan hantaman orang, akan tetapi segera ia rasakan tenaga pukulan orang yang luar biasa besarnya hingga ia sempoyongan, lekas ia melompat lewat pula sebuah meja yang lain.
"Ada harganya kau tanya aku?"
Sahut wanita baju hijau itu menjengek.
Berbareng itu ia angkat telapak tangannya terus memukul lagi dari jauh, sambaran angin pukulannya sungguh luar biasa.
Tetapi mendadak pemuda itu angkat meja buat menahan angin pukulan itu, segera terdengar suara gedubrakan yang keras, meja itu tergetar hancur oleh tenaga pukulan yang dahsyat.
"Hai, tuan tamu, ada urusan apa bisa dibicarakan baik-baik, jangan berkelahi di sini!"
Terdengar pengurus warung berseru khawatir dan kaget.
Namun wanita baju hijau itu tidak menggubris padanya, ia masih terus menguber si pemuda dan menerobos kian kemari di antara meja-meja itu.
Saking ketakutan, pengurus itu menyembunyikan diri ke bagian dalam, beberapa tamu sudah sejak tadi lari keluar.
Sedang si kakek she Ki juga menyingkir ke pojok sana, berulang-ulang ia pun meneriaki orang agar berhenti berkelahi.
Lu Si-nio dan kawan-kawan pun sudah menyingkir ke pinggir, mereka lihat si wanita baju hijau makin lama makin bernapsu, sambaran angin pukulannya menderu-deru hingga belasan meja 'Ging-chui-han' sudah ada beberapa buah yang dipukul jungkir-balik, semua cangkir dan alat-alat lain di atas meja pun hancur remuk terkena sambaran angin pukulan hingga menerbitkan suara nyaring be-rantakan.
Begitu seru tenaga pukulan wanita itu, suatu tanda betapa tinggi ilmu silatnya.
Tetapi si pemuda ternyata tidak lemah juga, gerak tubuhnya gesit sekali, ia melayang ke sini dan menyusur ke sana dengan enteng.
Sebenarnya ruangan itu meski tidak terbilang sempit, tapi bagaimanapun tidak seleluasa di lapangan terbuka yang bisa bergerak bebas sesukanya, apalagi ditambah dengan meja kursi yang terpukul jungkir-balik dan malang melintang di lantai, untuk maju menyerang maupun mundur menjaga diri dengan sendirinya terbatas, tapi pemuda itu ternyata bisa menggunakan gerak tubuhnya yang enteng dan gesit, ia menggeser ke kiri dan memutar ke kanan, ia mampu menerobos kian kemari di antara meja kursi yang berantakan itu laksana kupu-kupu yang menari di antara b "unga.
Beruntun si wanita baju hijau menghantam tujuh delapan meja hingga terjungkir, tetapi masih tetap belum bisa mengenai sasarannya.
"He, perempuan tua bangka, mengapa kau begini tak tahu aturan?"
Bentak si pemuda dengan gemas.
"Siapa sudi bicara aturan dengan orang gila macam kau ini?"
Sahut si wanita dengan garang.
Menyusul angin pukulannya makin menjadi keras, maka tidak lama kemudian semua meja kursi dalam kedai minum itu sudah terjungkir seluruhnya, saking sengitnya wanita baju hijau itu bahkan sekalian naik ke atas meja kursi yang terbalik itu terus mengudak buat menghantam si pemuda.
"Jangan kau bikin hancur tempat orang, kalau hendak berkelahi marilah kita pilih satu tempat lain!"
Seru si pemuda.
"Baik, kalau begitu keluarlah sana!"
Sahut wanita itu.
"Di sini adalah tempat pesiar yang indah permai dan bukan lapangan bertanding, kalau kau ingin berkelahi, besok saja kita boleh tentukan siapa yang lebih unggul di Kiu-ge-ca-peh-keng!"
Si pemuda menantang.
Mendengar kata-kata itu, Lu Si-nio manggut-manggut, ia pikir pemuda ini tahu menyayangi tempat yang indah, sungguh harus dipuji.
Tak tahunya wanita itu sebaliknya tertawa dingin atas tantangan orang tadi.
"Siapa sudi ditipu oleh akalmu yang hendak mengulur waktu ini!"
Bentaknya.
Berbareng itu pukulannya pun tidak pernah kendor, meski semua meja kursi sudah berantakan terbalik, tapi dengan gerak langkah Bwe-hoa-ceng, yakni semacam kepandaian berjalan di atas tiang, wanita itu terus merangsek si pemuda.
Karena sudah terdesak dan tidak bisa menghindarkan diri lagi, mau tak mau si.pemuda harus melawan wanita itu dengan menginjak di atas meja kursi yang terjungkir balik itu, tetapi tidak terlalu lama, perlahan-lahan ia mulai berada di bawah angin dan tercecar.
Melihat cara merangsek wanita itu sudah keterlaluan, sebenarnya Kam Hong-ti tidak tahan lagi, tapi selagi ia hendak turun tangan buat memisah, lebih dulu Lu Si-nio telah menarik padanya.
"Mari kita pergi!"
Ajak sang Sumoay tiba-tiba.
"Mengapa harus pergi?"
Tanya Kam Hong-ti tak mengerti.
Namun Lu Si-nio segera menuding keluar, maka tertampak di permukaan telaga itu kembali muncul sebuah perahu kecil yang melaju dengan cepat, di ujung perahu berdiri seorang Hwesio gendut dengan tangan membawa sebatang Siantheng (tongkat kaum padri).
Nyata Hwesio ini bukan lain daripada Toasuheng (kakak perguruan tertua) mereka, Liau-in Hwesio!
Kam Hong-ti jadi terkejut dan ragu-ragu.
Perlu diketahui bahwa ilmu silat Kam Hong-ti sebagian besar adalah ajaran Liau-in yang mewakilkan guru mereka, meski sudah lama pendekar ini mengetahui Liau-in mengkhianati perguruan, sudah dulu ia pun memutuskan hubungan persaudaraan dengan dia.
Tapi kali ini adalah pertemuannya yang pertama kali sesudah Liau-in berkhianat, dalam sekejap, sebelum sempat berpikir lebih jauh, dengan sendirinya ia masih memandang Liau-in sebagai Suheng, ia teringat pernah memperoleh ajaran silat dari Suhengnya ini hingga seketika menjadi ragu-ragu dan tak bisa mengambil keputusan apakah harus maju melawan atau tidak Sebaliknya lain sekali dengan Lu Si-nio, ilmu silat gadis ini seluruhnya diperoleh dari Tok-pi-sin-ni sendiri, maka hatinya sama sekali tidak merasa takut terhadap Liau-in.
"Biar kita berdua melawan dia, kemenangan pasti akan berada pada kita,"
Ia berkata pada Kam Hong-ti ketika melihat muka Suhengnya terbeliak karena kedatangan Liau-in.
"Cuma tidak diketahui di belakangnya akan menyusul lagi pengganas lain atau tidak, kedua, tentu nanti akan membikin rusak tempat pesiar yang indah ini, maka lebih baik kita pergi!"
Dalam pada itu, karena pertempuran si wanita dengan pemuda tadi makin sengit, si kakek she Ki sampai ternganga dan mengkeret mepet ke dinding, rupanya takut terkena pukulan nyasar.
"Berhenti, berhenti! Bicaralah secara baik-baik, mengapa harus berkelahi?"
Begitulah berulang-ulang ia berseru. Mendengar teriakan itu, si wanita baju hijau tiba-tiba menjadi ingat padanya.
"Ha, hampir saja aku lupa bahwa si gila ini masih punya seorang kawan, Yan-ji, coba kau bekuk kakek busuk itu!"
Serunya tiba-tiba dengan tertawa.
Segera anak dara tadi mengiakan, begitu melayang maju, sebelah tangannya yang kecil mencakar ke atas kepala Ki Teng-hong.
Orang tua ini mengira orang yang menyerangnya ini tidak lebih hanya anak perempuan yang berumur belasan saja, maka tidak pandang sebelah mata, dengan mengangkat tangan ia hendak menangkis.
Tak terduga dara cilik ini meski usianya muda, namun gerak serangannya cukup ganas, begitu serangan pertama gagal, dengan cepat serangan kedua lantas menyusul, dengan tangan kiri ia sanggah orang, tangannya yang lain secara melingkar dan mencekal tangan lawan terus ditekuk dan ditarik, keruan saja kakek she Ki seketika menjerit ngeri, sebelah tangannya keseleo.
Bahkan anak dara itu menambahi serangan lain lagi, ia memukul dan dengan tepat mengenai dada si kakek.
Dalam pada itu perahu kecil yang membawa Liau-in sudah makin mendekat.
Sebenarnya Lu Si-nio dan Kam Hong-ti sedang berpikir buat angkat kaki, tapi demi mendengar suara jeritan si kakek she Ki yang mengerikan tadi, mereka menjadi gusar.
"Coba kau yang menolong kakek itu, biar aku bantu sejenak pemuda itu!"
Kata Kam Hong-ti pada Sumoaynya.
Tanpa diperintah kedua kalinya, cepat luar biasa segera Lu Si-nio melompat ke atas dan dari atas segera menubruk ke bawah, sekali jambret ia mencengkeram kuduk si kakek Ki Teng-hong terus diangkat.
Dara cilik itu ternyata sama sekali tidak jeri meski dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan Ginkang orang yang tinggi, seperti anak banteng yang baru lahir tanpa mengenal apa artinya takut, ia ambil kesempatan pada waktu Lu Si-nio masih belum sempat pasang kuda-kuda dengan kuat karena baru saja menancapkan kaki ke bawah, dengan kedua jarinya secepat kilat ia menjojoh 'Khiok-ti-hiat' Lu Si-nio.
Serangan ini ternyata sangat lihai dan ganas.
Akan tetapi siapakah Lu Si-nio?
Hanya tipu serangan anak dara ini mana bisa merobohkannya.
Tertampak Lu Si-nio sedikit berkelit, berbareng telapak tangan kiri pun didorong maju, dengan demikian ia patahkan serangan anak dara tadi.
Anak dara itu sedikit terhuyung-huyung, mendadak ia ayun sebelah kakinya terus menyapu, sedang tangan kanan membelah dan tangan kiri sebaliknya hendak mencengkeram, ia gunakan Kim-na-jiu yang lihai.
Lekas Lu Si-nio miringkan tubuh, ia tarik Ki Teng-hong ke belakang, sedang sebelah tangannya segera menangkis..Tak terduga, si anak dara masih kurang terima, dengan cepat sekali kedua telapak tangannya memukul pula ke depan.
Nampak kelakuan bocah ini, Lu Si-nio rada mendongkol tetapi geli juga, hanya dengan sebelah tangan ia menekan ke bawah terus didorong pula, ia gunakan tipu 'Sun-cui-tui-ciu' (mendorong perahu menurut arah air), gerak ini mengandung tenaga dalam, bukan saja ia bikin serangan si bocah tadi tidak berdaya, bahkan ia mengunci kencang tangan si anak dara, dengan demikian bocah ini menjadi kelabakan, untuk menyerang lagi tak bisa dan hendak menarik kembali tangannya pun tak mungkin.
Dalam keadaan demikian bila Lu.
Si-nio sedikit gunakan tenaga, si bocah pasti akan mengalami remuk bagian dalamnya.
Akan tetapi ketika nampak paras si dara yang bersemu merah dan menyenangkan itu, mana Lu Si-nio tega melukainya?
Maka dengan cepat ia tarik kembali tangannya terus menarik Ki Teng-hong sambil menerjang keluar.
Sedang si dara saking terkejutnya karena ancaman bahaya tadi hingga terpaku di tempatnya dengan napas tersengal-sengal.
Kembali mengenai si wanita baju hijau tadi, ketika ia sudah hampir bisa menundukkan si pemuda, mendadak dari samping melompat maju Kam Hong-ti sambil memukulkan sebelah telapak tangannya hingga mengeluarkan suara angin.
Mendengar sambaran angin pukulan itu saja si wanita sudah mengerti telah menemukan tandingan berat, lekas ia rangkap kedua telapak tangannya terus ditolak ke depan, dengan demikian secara keras ia hendak lawan dengan keras, tetapi segera ia rasakan kedua tangannya pegal linu, begitu pula dengan Kam Hong-ti.
Terkejut sekali wanita itu, cepat ia ganti serangan, ia.melangkah ke samping terus memukulkan sebelah tangannya, tipu serangan ini disebut 'Hou-pa-tui-san' atau kawanan harimau merajai gunung, di bawah tipu serangan ini ternyata tersembunyi tenaga dalam yang kuat sekali.
Mendadak Kam Hong-ti sempoyongan seperti orang mabuk, ia doyongkan badannya ke belakang dan berbareng mendak ke bawah, sedang tangan kanan menerobos di tengah tangan lawan.
Tempat yang terkena serangan tangan si wanita itu terasa lunak sekali.
"Roboh!"
Mendadak Kam Hong-ti membentak.
Tangan kanan yang ia selusupkan ke atas tadi ternyata sudah menempel di bawah lengan kiri si wanita baju hijau, sedang tangan kirinya pun berbareng menghantam 'Thay-yang-hiat' di pelipis lawan.
Tipu serangan ini adalah ajaran Tok-pi-sin-ni yang disebut 'Ciam-ih-sip-pat-tiat' (menyenggol baju delapan belas kali terjatuh), menggambarkan begitu menyenggol tubuh lawan, delapan belas kali kena, delapan belas kali akan terjatuh juga.
Kepandaian ini bagi anak murid Tok-pi-sin-ni hanya Liau-in dan Kam Hong-ti berdua saja yang bisa, sekalipun Lu Si-nio sendiri belum pernah diajarkan kepandaian ini, karena waktu itu usianya masih terlalu muda dan keuletan latihannya masih kurang.
Kepandaian 'Ciam-ih-sip-pat-tiat' ini jika digunakan melawan orang yang ilmu silatnya biasa saja, tidak perlu bergerak, asal bisa meminjam tenaga lawan buat balik menghantam, dapat dipastikan lawan akan terbanting roboh.
Kam Hong-ti mengerti si wanita baju hijau ini adalah lawan berat, di samping menggunakan kepandaian hebat 'Ciam-ih-sip-pat-tiat' yang lihai untuk melenyapkan tenaga serangan si wanita, berbareng pula ia pakai kepandaian 'Hun-kin-co-kut' (ilmu memisahkan otot dan membikin keseleo) serta kepandaian 'Toa-sui-pi-jiu' (ilmu membanting dengan keras) untuk balas menggempur musuh.
Dalam keadaan tak tersangka, sebenarnya lengan kiri wanita baju hijau itu sudah kena dicekal oleh Kam Hong-ti hingga tubuhnya mendoyong ke depan.
Akan tetapi dengan Lwekang yang tinggi, di waktu ia terhuyung-huyung hendak jatuh, mendadak ia sikut orang dan dengan meminjam kekuatan tarikan Kam Hong-ti yang sedang menggunakan 'Hun-kin-co-kut', ia malah menubruk maju.
Karena gerakan itu, Kam Hong-ti cepat gunakan kepandaian 'Ciam-ih-sip-pat-tiat' pula buat mematahkan tenaga tubrukan itu, tak terduga, gerak menumbuk si wanita ini ternyata hanya gerak pura-pura saja, begitu ia menubruk ke depan, tiba-tiba ia angkat pundak dan menarik tangannya, dengan demikian ia telah hindarkan serangan Kam Hong-ti tadi.
Ketika Kam Hong-ti mengayun telapak tangan kanan menghantam lagi, angin pukulannya menyerempet lewat di samping telinga si wanita tanpa mengenainya.
Meski demikian, sesudah tangan kirinya dicekal Kam Hong-ti tadi terlepas, tidak urung wanita itu sempoyongan ke samping beberapa tindak.
Beberapa kali gebrakan yang berlangsung dengan cepat tapi berbahaya dan lihai, hingga si pemuda yang menyaksikan pertarungan ini ikut terkesima.
Keruan saja Kam Hong-ti diam-diam merasa heran atas kepandaian 'Ciam-ih-sip-pat-tiat' yang berulang kali dikeluarkan, namun ternyata tidak bisa membanting roboh si wanita baju hijau.
Sementara itu di sebelah sana, Lu Si-nio sudah keluar dari tempat minum itu, begitu pula Pek Thay-koan dan Hi Yang sudah menyusul keluar.
"Lekas lari, kalau terlambat tak keburu lagi!"
Seru Kam Hong-ti pada pemuda tampan itu.
Habis itu segera ia menyambar dua buah kursi terus ditimpukkan pada si wanita baju hijau dengan keras.
Cepat wanita itu mengayun kedua telapak tangannya menolak ke depan hingga kedua kursi itu dibikin hancur berantakan.
Pada kesempatan itu si pemuda tadi juga lantas kabur keluar.
Kam Hong-ti sendiri dengan cepat sudah menyusul Lu Si-nio terus melompat ke dalam perahu dan segera diluncurkan.
Sebaliknya perahu si pemuda tadi tertambat pada suatu tempat lain, baru saja ia melompat ke perahunya, tiba-tiba si wanita baju hijau pun sudah mengejar tiba, ketika melihat Liau-in berdiri di ujung perahu dan sudah dekat, segera wanita itu meneriakinya.
"Pokok Siansu, lekas kejar penjahat cilik itu!"
"Penjahat cilik yang mana?"
Tanya Liau-in.
"Itu, orang-orang dalam kedua perahu itu termasuk musuh semua, boleh kau tangkap penjahat cilik yang ada pada perahu sebelah, kiri itu saja!"
Sahut si wanita baju hijau.
Dalam pada itu perahu si pemuda sudah diluncurkan dengan cepat hingga belasan tombak, maka segera Liau-in duduk kembali di perahunya terus mendayung dengan tongkatnya yang besar, perahunya segera melaju cepat ke depan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya.
Waktu itu sebenarnya perahu Lu Si-nio sudah beberapa puluh tombak jauhnya dengan perahu Liau-in, tetapi demi nampak Liau-in hampir menyandak perahu si pemuda, tiba-tiba ia putar haluan.
"Chit-ko, tampaknya pemuda itu adalah orang kaum kita, mari kita balik ke sana buat menolong jiwanya,"
Ajaknya pada Kam Hong-ti.
"Baik, cuma harus hati-hati sedikit!"
Sahut Kam Hong-ti.
Berbareng perahu mereka pun segera diputar dan didayung menuju ke tengah antara kedua perahu itu.
Dalam pada itu perahu Liau-in telah meluncur dengan cepat sekali, hanya sebentar saja sudah dapat menyusul perahu kecil buronannya.
Saat si pemuda melihat seorang Hwesio gendut sedang memburu dirinya dengan sikap angker dan garang, ia pun menjadi gusar karena merasa orang terlalu mendesak padanya.
• "Sebenarnya ada sakit hati atau dendam apakah aku dengan kalian?
Apa kalian tidak keterlaluan menghina orang?"
Begitulah ia berseru murka.
Akan tetapi mana Liau-in mau menggubris padanya, begitu sudah dekat, tanpa bertanya lagi segera ia ayun tongkatnya terus mengemplang.
Melihat gaya serangannya begitu hebat, lekas pemuda itu mencabut pedangnya buat menangkis, maka terdengarlah suara nyaring beradunya kedua senjata hingga api memuncrat, hampir saja pedang si pemuda terlepas dari genggamannya.
Sebenarnya ilmu pedang pemuda ini cukup tinggi, jika mereka bergebrak di daratan, sekalipun tak bisa menandingi Liau-in, sedikitnya ia masih mampu bertahan untuk lima atau tujuh puluh jurus.
Namun keadaan kini agak lain, mereka sama-sama berdiri di haluan perahu masing-masing, ia tak bisa mengeluarkan Kiam-hoat yang bagus, maka dalam beradunya senjata, siapa yang tenaganya lebih kuat akan menang dan yang tenaga lemah akan kecundang.
Begitulah maka berulang-ulang Liau-in memutar tongkatnya dengan membawa sambaran angin yang keras.
Karena tak sanggup menahan serangan orang, pemuda itu cepat meloncat ke atas atap kapal yang terbuat dari kain layar.
Karena kemplangannya tak mengenai sasarannya, Liau-in semakin murka, dengan mata mendelik ia menghentak, tongkatnya menghantam lagi, maka retaklah badan perahu hingga pecahan kayu beterbangan.
Si pemuda yang berdiri di atap perahu menjadi sempoyongan terguncang hantaman itu.
Menyusul terdengar Liau-in menggertak pula, tongkatnya menyambar lagi, karena hantaman kedua kalinya ini badan perahu menjadi miring dan ketika ditambahi pula dengan hantaman tongkat yang ketiga kalinya, maka pecahlah papan perahu itu.
Si pemuda yang berdiri di atas perahu, tak sanggup menguasai diri lagi, ia terjungkal masuk ke dalam telaga, sedang perahu kecil itupun terbalik mengambang di air.' ' Karena hasil serangannya itu, dengan berdiri di ujung perahunya Liau-in tertawa terbahak-bahak, tetapi sekonyong-konyong ia putar balik pula tongkatnya dan dimasukkan ke dalam air dan digoyang untuk mengaduk.
Pada saat itu juga, perahu Lu Si-nio seperti anak panah sudah tiba.
' "Pemuda itu sudah terpukul masuk ke dalam danau, bagaimana baiknya sekarang?"
Ujar Pek Thay-koan.
"Jangan khawatir, asal ia tidak mati kena hantaman tadi, aku sanggup menolongnya!"
Kata Hi Yang.
Habis itu mendadak ia pun terjun ke dalam telaga.
Sementara itu Liau-in yang sedang mengaduk dengan tongkatnya ke dalam air ternyata tidak berhasil menyentuh tubuh si pemuda, sebaliknya tiba-tiba ia nampak sebuah perahu kecil telah mendatangi secepat terbang dan di ujung perahu duduk tiga orang.
Meski Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan berdua sudah mengoles muka mereka dengan obat rias dan sudah berubah rupa lain, akan tetapi potongan atau perawakan tubuh mereka tidak bisa mengelabui mata Liau-in.
Hendaklah diketahui bahwa ilmu merias muka di zaman dulu masih jauh dibanding dengan kesempurnaan ilmu merias zaman sekarang, untuk mengelabui orang yang tidak begitu kenal mungkin masih boleh, tapi buat sanak saudara yang sudah kenal tentu sulit.
Sedang Liau-in sendiri menyaksikan dewasanya Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan, sudah tentu ia tidak mungkin diingusi.
Ketika ia melihat yang datang ada tiga orang, kecuali Lu Si-nio yang seketika belum bisa dikenali, kedua lainnya terang adalah Sutenya.
Karena itu rasa gusarnya tidak kepalang, mendadak ia angkat tongkatnya terus memapaki perahu yang datang itu.
"Kam Hong-ti, apa kau juga datang buat memusuhi aku?"
Bentaknya dengan gusar. Nampak orang sudah mengenali dirinya, segera Kam Hong-ti siap tempur.
"Bukannya Siaute berani melawan Suheng,"
Ia menjawab dengan golok terhunus.
"tetapi kalau Suheng sendiri mau kembali pada ajaran Suhu, dengan sendirinya kami bersedia tunduk pada Suheng sebagai orang yang lebih tua "
Dan kalau tidak bagaimana?"
Liau-in membentak lagi memotong perkataan orang.
"Jika Suheng sudah berkukuh pada pendirian sendiri karena lupa daratan oleh napsu ingin kedudukan, berkhianat dan tidak peduli lagi pada setia kawan kaum kita, maka kau bukan lagi orang dari perguruan kita, Siaute pun tidak berani menganggap kau sebagai saudara tua,"
Sahut Kam Hong-ti dengan sikap dingin.
Dengan ucapan ini, terang ia menyatakan tidak mau mengaku Suheng lagi pada Liau-in dan sudah memutuskan perhubungan.
Keruan Liau-in menjadi gusar sekali sampai alisnya yang tebal terkerut rapat.
"Kam Hong-ti,"
Saking murkanya ia membentak lagi.
"orang lain boleh memusuhi aku, tapi kau juga berani melawan aku? Mengapa tidak kau pikirkan dahulu siapa yang mengajarkan ilmu silat padamu? Siapa lagi yang menjadikan nama Kanglam-tayhiap buatmu? Ya, kini kau sudah besar dan cita-citamu pun besar, sudah tumbuh sayap lantas hendak terbang bukan? Kau hutang budi tapi tidak tahu membalas, terhitung Kanglam-tayhiap apa?"
Kam Hong-ti mempunyai bakat dan martabat tinggi, sebelum Liau-in berkhianat, dia sangat sayang pada Sutenya ini, ia memberi pelajaran ilmu silat dengan sungguh-sungguh dan banyak menaruh perhatian padanya, oleh sebab itu Liau-in, selalu menganggap dirinya menanam budi besar pada Sutenya ini.
Sesungguhnya Kam Hong-ti memang betul memperoleh ajaran ilmu silatnya, tapi bicara tentang Kanglam-tayhiap, lebih betul kalau dikatakan atas usaha Kam Hong-ti sendiri dan tiada sangkut-pautnya dengan Liau-in.
Hanya saja sesudah Sutenya tersohor namanya, sedikit banyak dalam hati Liau-in timbul rasa iri juga, lebih-lebih setelah nama Sutenya jauh lebih besar daripadanya, ia makin merasa kurang senang.
Oleh karena itu kepada siapa saja yang ia jumpai selalu ia katakan nama Kanglam-tayhiap Sutenya itu adalah dia yang menjadikannya.
Bahkan di hadapan Kam Hong-ti sendiri ia pun berani mengutarakan demikian.
Sudah tentu Kam Hong-ti tidak suka rewel pada persoalan itu, maka waktu Liau-in mendamprat padanya tadi, ia berbalik malah merasa sedih, ia sesalkan Suhengnya, mengapa bisa berubah demikian.
Sebaliknya Liau-in ternyata berpendapat lain, ketika ia lihat mata Kam Hong-ti merah basah, ia mengira Sutenya ini merasa menyesal dan tunduk padanya.
"Jika kau bisa insyaf akan kesalahan sendiri itulah paling baik, maka sekarang juga ikutlah padaku,"
Begitu katanya kemudian sembari mengetok tongkatnya ke geladak perahu.
"Dan bagaimana denganmu, Pek Thay-koan? Apa kau masih ingin bermusuhan denganku sampai saat terakhir?"
Mendengar kata-kata ini, meski tadinya Kam Hong-ti merasa tak tega, kini ia pun menjadi gusar dan mata mendelik.
"Suheng, kalau insyaf akan kesalahan sendiri dan mau berubah jadi baik, itu memang paling bagus!"
Sahutnya dengan tegas.
"Tetapi hendaklah Suheng suka bertanya pada diri sendiri, siapakah sebenarnya yang bersalah? Pasal pertama di antara enam belas pasal larangan Suhu bagaimanakah bunyinya? Sungguhpun budi yang aku terima dari Suheng cukup besar, namun rasa setia pada perguruan kita terlebih berat lagi, aku boleh mengingkari Suheng, tidak nanti aku mengkhianati larangan Suhu kita!"
"Masih sebut Suheng apa segala lagi, sudah lama ia bukan Suheng kita,"
Tiba-tiba Lu Si-nio menyela.
"Chit-ko, untuk apa kau membicarakan soal kebaikan persaudaraan dengan dia?"
Karena timbrungan itu, Liau-in menjadi gusar dan matanya terbelalak lebar, ia gabrukkan tongkatnya.
"Ha, kiranya kau si budak hina-dina ini yang menghasut!"
Katanya kemudian dengan tertawa dingin, dengan seluruh tenaga ia serampangkan tongkatnya.
Menghadapi serangan ini, Kam Hong-ti yang berdiri paling depan mengangkat goloknya buat menangkis, namun segera ia rasakan genggaman tangannya lecet dan sakit, sebaliknya Liau-in sendiri pun terguncang.
"Pantas dia mempunyai nama begitu tersohor, kepandaiannya ternyata sudah jauh lebih tinggi daripada dulu!"
Diam-diam Liau-in membatin.
Dengan beradunya senjata tadi, Kam Hong-ti lantas tahu bahwa dirinya masih bukan tandingan Suhengnya.
Maka sewaktu hantaman tongkat Liau-in yang kedua kalinya tiba, cepat Kam Hong-ti kumpulkan tenaga pada kakinya dan menggenjot ujung perahunya hingga perahu itu menggeser ke samping untuk menghindarkan sambaran tongkat.
Ketika Liau-in mengayun tongkatnya hendak menyusulkan serangan yang ketiga kalinya, sekonyong-konyong Lu Si-nio tertawa panjang, mendadak ia meloncat dari atas perahunya, sekali putar pedangnya di udara ia lantas* menggempur dari atas.
Namun I iau-in segera memapaki lawannya ini dengan mengayun tongkat, ketika pedang Lu Si-nio menempel pada batang tongkatnya, segera tubuh nona itu terpental naik ke udara lagi.
Nampak keadaan ini, Kam Hong-ti terkejut.
Sementara itu dengan sekali jumpalitan di udara, Lu Si-nio kembali menubruk turun pula.
"Apa kau cari mampus!"
Terdengar Liau-in membentak lagi.
Berbareng itu tongkatnya diayun ke atas, di antara sambaran angin yang keras, baju Lu Si-nio terguncang melambai-lambai tertiup angin hingga gayanya bagus sekali laksana dewi kahyangan yang melayang turun dari angkasa.
Kali ini Liau-in mengayun tongkatnya dengan penuh tenaga dalam, oleh karena itu, ketika ujung pedang Lu Si-nio menutul di pucuk tongkat, kembali ia terpental naik lagi.
Pada kesempatan itu Kam Hong-ti segera mengayun tangan, ia timpukkan dua belati pada Liau-in, sedang Lu Si-nio setelah berputar sekali di angkasa, orang berikut senjatanya kembali turun pula dengan sinar pedang mengkilap, gaya serangannya cukup mengejutkan orang.
Tetapi Liau-in tetap Liau-in, sekali tangan kirinya mengulur, sekaligus ia meraup kedua belati Kam Hong-ti tadi, berbareng tongkatnya bekerja cepat, ia menyapu sinar mengkilap yang-menyambar dari atas.
Karena itu, sekali ini kaki Lu Si-nio menginjak ujung tongkatnya yang menyambar hingga terpental membal lebih tinggi lagi.
Saking menariknya pertarungan seru ini hingga semua nelayan yang berada di telaga pada berdiri di ujung perahu mereka dan asyik menonton.
Dalam pada itu Liau-in pun menimpukkan kembali kedua pisau belati Kam Hong-ti tadi.
Merasa bahwa tenaganya masih belum bisa memadai Suhengnya ini, Kam Hong-ti tak berani sembarangan menyambut timpukan ini, lekas ia berkelit ke samping hingga kedua belati ini menancap pada dinding perahu.
Sementara itu kembali Lu Si-nio melayang turun dari atas, di antara berkelebatnya sinar pedang, untuk keempat kalinya ia menusuk lagi dari atas.
Cara pertempuran ini sungguh jarang dijumpai, balikan Kam Hong-ti pun terpesona oleh cara serangan Sumoaynya ini.
Di pihak lawan, diam-diam Liau-in juga dingin hati, sama sekali tidak pernah ia pikirkan bahwa Ginkang Sumoay kecil ini kini ternyata sudah jauh lebih tinggi daripada waktu mereka bertempur di Thian-hing-to, nyata Ginkang sang Sumoay sudah sampai tingkat yang tiada taranya lagi.
Soal Ginkang, Lu Si-nio memang lebih tinggi daripada Liau-in, ditambah belakangan ini ia melatih diri dengan giat di Sian-he-nia, dengan kepandaian ini ia mengira sekaligus akan berhasil menjatuhkan Suhengnya, tak tersangka dugaannya meleset, meski sudah empat kali ia menyerang dengan hebat, masih tetap tiada sesuatu lubang yang dapat ia masuki, dalam keadaan demikian, mau tak mau ia pun rada gugup.
Dengan cara bertempurnya yang terapung di udara, sudah tentu membawa resiko besar dan juga banyak membuang tenaga, bila sedikit lengah, pasti ia akan terpukul hancur dan terkubur di dasar Se-ouw.
Waktu itu dengan penuh perhatian Liau-in sedang mengangkat tongkatnya untuk mematahkan serangan keempat kalinya dari Lu Si-nio yang menubruk dari atas, sekonyong-konyong ia rasakan perahunya terguncang, mendadak papan perahunya pecah dan air telaga bergulung-gulung merembes masuk ke dalam, badan perahu perlahan-lahan mulai tenggelam.
Kiranya adalah perbuatan Hi Yang dengan langkahnya yang terakhir.
Hi Yang yang dibesarkan di lautan, dalam hal kepandaian berkecimpung di dalam air sudah bukan soal baginya, jangankan hanya air telaga yang tenang ini, sedang ombak laut yang mendampar pun ia tidak jeri.
Ketika terjun ke dalam telaga tadi, sebenarnya ia bermaksud menolong si pemuda, tetapi meski ia sudah mencari ke segala pelosok di bawah air, tetap tidak menemukan orang, sebaliknya di atas perahu, Lu Si-nio sudah mulai bergebrak dengan Liau-in.
Tatkala ia menongol ke permukaan air, ia lihat Lu Si-nio berada dalam kedudukan yang berbahaya, maka tiba-tiba timbul tipu akalnya yang paling berbahaya bagi lawan, ia menyelam ke bawah perahu Liau-in, ia cabut goloknya, dalam sekejap ia sudah membobol perahu Liau-in hingga berupa satu lubang besari Sekalipun ilmu silat Liau-in setinggi langit, namun dalam hal berenang dalam air ia sama sekali tak paham, keruan ia gugup dan kelabakan karena perahunya akan tenggelam.
Dalam pada itu, untuk kelima kalinya Lu Si-nio kembali menubruk dan menggempur lagi dari udara.
"Baiklah, kalau bukan kau yang mampus biar aku yang binasa!"
Liau-in berteriak murka.
Berbareng itu kakinya menutul, sekali enjot ia pun meloncat naik setinggi dua tiga tombak, sedang tongkatnya pun diayun menuju Lu Si-nio dan tangan kirinya diulur dengan cepat dengan maksud menangkap hidup Lu Si-nio di udara.
Nampak ini, Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan berteriak terkejut, berbareng mereka hamburkan senjata rahasia, Kam Hong-ti menimpukkan belatinya dan Pek Thay-koan dengan jarum Bwe-hoa-ciam.
Tetapi di antara sambaran tongkat Liau-in yang diputar hingga membawa suara angin yang menderu, mendadak Lu Si-nio seperti peluru saja meluncur kembali ke atas perahu sendiri.
Terkejut sekali Kam Hong-ti oleh kejadian ini, lekas ia melompat mundur masuk ke ruangan perahu, sementara itu dengan gerakan 'Le-hi-tak-ting' (ikan lele melejit) Lu Si-nio sudah menancapkan kakinya dan berdiri kembali di perahunya.
"Berbahaya sekali!"
Ujarnya dengan tertawa. Mengetahui Sumoaynya dalam keadaan selamat, Kam Hong-ti menjadi lega, tetapi tiba-tiba perahunya terguncang keras, menyusul terdengar Pek Thay-koan berteriak di luar.
"Chit-te, lekas keluar!"
Dengan cepat Kam Hong-ti melompat keluar pula ke ujung perahunya, terlihat perahu Liau-in sudah hampir tenggelam ke bawah air, Liau-in sendiri sudah melompat ke atas atap perahu, dari tempat tinggi ia sedang memutar tongkatnya menghantam kalang kabut ke perahu lawan, akan tetapi karena jarak antara kedua perahu lebih tiga tombak jauhnya, tongkatnya tidak berdaya mencapai sasaran, hanya sambaran angin tongkatnya cukup hebat mengancam, bahkan Liau-in sedang berusaha keras buat mendekatkan kedua perahu, sedang Pek Thay-koan dengan golok terhunus berdiri di haluan, mukanya tertampak putih lesi saking takutnya.
"Go-ko, kau mundur, biar Siaute sambut tongkatnya!"
Seru Kam Hong-ti, sesudah itu ia lantas menghadang di depan Pek Thay-koan.
Dalam pada itu mendadak Liau-in memutar tungkak kakinya, saking keras tenaga yang ia pergunakan hingga perahunya yang sudah setengah tenggelam itu ikut berputar, karena jarak antara kedua perahu mereka kini sudah tiada setombak lagi, Liau-in tidak me-nyia-nyiakan kesempatan itu, ia membentak keras, berbareng ia menubruk dari udara, tongkat dikemplangkan ke arah Kam Hong-ti.
Sama sekali tidak Kam Hong-ti menduga Liau-in bisa menyerang mendadak sedemikian rupa, cepat ia kumpulkan seluruh tenaganya, ia angkat goloknya buat menangkis, maka saling benturnya kedua senjata tak terhindarkan lagi, segera Kam Hong-ti merasa dorongan kekuatan yang keras sekali hingga genggaman tangannya lecet, golok 'Ang-mo', yakni sejenis golok terbuat dari baja, terbang dari tangannya, ia tak dapat menguasai tubuhnya lagi hingga tergetar masuk ke dalam ruangan perahu.
Jika Kam Hong-ti jatuh terjengkang, sebaliknya Liau-in sendiri pun hampir kecemplung masuk telaga.
Kiranya walaupun tenaga Kam Hong-ti tidak sekuat Liau-in, tetapi selisihnya pun tidak terlalu banyak.
Sewaktu Liau-in kena ditangkis dengan seluruh tenaga yang Kam Hong-ti keluarkan, tubuhnya yang terapung di udara dan tidak bisa bergerak bebas itu seketika tergetar juga oleh tenaga dalam Kam Hong-ti, dengan sekali jumpalitan di udara, lekas ia melompat balik ke atas perahunya yang sudah hampir tenggelam itu.
Sementara itu Hi Yang masih berada di dalam air, sekuat tenaga menarik dan memutar perahu musuh, karena dari atas ditekan oleh anjlokan Liau-in serta di bawah ditarik dan diputar oleh Hi Yang, perahu kecil itu seketika terbalik dan tenggelam.
Liau-in yan^ tidak mahir kepandaian dalam air, saat itu betisnya sudah terendam air, waktu Hi Yang membacok dengan senjatanya, Liau-in masih sempat mengayun tongkat mengaduk ke dalam air, karena senggolan ujung tongkat, seketika juga senjata Lli Yang terlepas dari tangannya dan karam ke dasar telaga, lekas Hi Yang menyelam ke bawah untuk menjemput kembali senjatanya dan tak berani coba melawannya lagi.
Dalam keadaan genting menghadapi tenggelamnya perahu, tiba-tiba Liau-in memperoleh akal, sekali tarik, secara paksa ia betot papan dinding perahunya, papan ini ia lemparkan ke permukaan air, sedang menyusul tubuhnya melayang ke sana, ujung kakinya menunai pada papan yang terapung di air itu, sesudah itu ia melompat lagi ke atas, waktu berada di udara, dengan tongkatnya ia tolak papan itu ke depan supaya meluncur maju, ketika turun dan menutulkan kaki ke atas papan, ia pakai cara tadi buat meluncurkan kembali papannya dan begitulah seterusnya, dengan meminjam papan kecil itu sebagai batu loncatan, akhirnya ia bisa mencapai tanggul batu telaga!
Akhirnya perahu Liau-in terbalik dan tenggelam, Hi Yang pun muncul kembali ke permukaan air, ia berenang kembali ke perahu dan lekas didayung menuju ke jurusan lain.
Begitu cepat perahu mereka meluncur, ketika Liau-in mendarat dengan selamat, rombongan Lu Si-nio pun sudah tiba di tepi telaga jurusan yang lain.
Sesudah di daratan, segera Kam Hong-ti menggendong Ki Teng-hong, mereka sengaja berputar, habis itu baru kembali ke pondokan, untung mereka tak menemukan musuh lagi, mungkin Liau-in sendiri pun sudah lemas, maka tak berani mengudak lebih jauh.
"Manusia durjana itu sungguh lihai!"
Ujar Lu Si-nio sembari menarik napas lega setelah mereka tiba kembali di rumah pondokan. Habis itu ia berpaling dan berkata kepada Pek Thay-koan.
"Go-ko, silakan memberi obat luka pada Lotiang (bapak tua) ini, sebentar lagi aku dan Chit-ko akan membetulkan tulangnya yang terkilir."
Habis berpesan seperlunya, Lu Si-nio lantas duduk bersila dan mengatur pemapasan untuk bersemedi.
Kam Hong-ti pun ikut berbuat demikian.
Karena itu Hi Yang menjadi bingung, ia tidak mengerti orang sedang berbuat apa.
"Beruntung Chit-ko tadi mewakilkan aku menangkis kemplangan tongkatnya!"
Ujar Pek Thay-koan sambil melelet lidahnya.
Kiranya Kam Hong-ti dan Lu Si-nio berdua terkena goncang-an tenaga tongkat Liau-in, kuatir terluka bagian dalam, maka mereka duduk bersila dengan tenang buat mengumpulkan tenaga dan mengadakan penyembuhan diri sendiri.
Lewat tak lama kemudian baru terlihat kedua-orang yang bersemedi berbangkit kembali.
"Beruntung tiada halangan!"
Kata mereka dengan tertawa. Dengan muka berseri Hi Yang lantas mendekati Lu Si-nio dan memegang tangannya.
"Cici, sungguh tidak nyana nona yang berparas secantik bidadari seperti engkau bisa memiliki kepandaian begitu tinggi!"
Ujarnya tertawa.
"Setan, sejak kapankah kau belajar mengumpak orang,"
Sahut Si-nio dengan tertawa juga.
"Cuma seharusnya kami berterima kasih padamu, kalau bukan kau yang membalikkan perahu keparat itu, pertarungan sengit itu entah akan bagaimana akhirnya."
Waktu itu Pek Thay-koan sudah selesai membubuhi obat pada Ki Teng-hong, kedua mata orang tua ini setengah meram, sedang mukanya kuning pucat.
"Gerak tangan bocah perempuan itu betul-betul sangat ganas!"
Ujar Kam Hong-ti dengan gusar.
"Masih untung tenaga anak dara itu tidak begitu besar, hanya satu tulang rusuk saja yang patah,"
Kata Lu Si-nio sesudah memeriksa luka orang.
Pengobatan luka itu kini menjadi bagian Kam Hong-ti yang pandai menyambung otot dan menggandeng tulang, lebih dulu ia betulkan tulang pergelangan tangan kanan Ki Teng-hong yang keseleo, kemudian ia sambung dan jahit rapat luka pada tulang .iga dan dibalut dengan baik.
Selang tak lama, perlahan-lahan tenaganya sudah pulih kembali, maka Ki Teng-hong pentang matanya sambil sedikit mengangguk sebagai tanda terima kasih.
"Kau boleh mengaso dahulu,"
Dengan tertawa Lu Si-nio berkata pada orang tua ini.
"Aku sangat terima kasih atas pertolongan kalian, numpang tanya nama tuan penolong yang berbudi,"
Dengan napas agak tersengal Ki Teng-hong bertanya.
"Engkongku she Lu bernama Wan-jun (nama lain dari Lu Liu-liang), Lotiang tentu kenal bukan?"
Sahut Lu Si-nio.
"Haya, kiranya tuan penolong adalah Kongcu (putra) dari Po-tiong Sianseng!"
Seru Ki Teng-hong tiba-tiba.
"Dulu sewaktu engkong tuan mendirikan balai perguruan dan memberi kuliah, aku belum menjadi muridnya, namun pernah juga mendapat petunjuk dari beliau."
Habis berkata ia meronta hendak bangun buat menghaturkan terima kasih. Namun dengan perlahan Lu Si-nio merebahkan dia.
"Lotiang adalah angkatan lebih tua dariku, sering juga orang tuaku membicarakan dirimu, jika merasa sungkan lagi, tentu Siau-pwe akan merasa tak enak sekali,"
Ujar Lu Si-nio. Sebenarnya Ki Teng-hong merasakan tulang iganya sakit tidak kepalang, kini Lu Si-nio melayani dia dengan kehormatan sebagai angkatan tua, maka ia pun menerima dengan baik.
"Siapakah pemuda yang bersama dengan Lotiang itu?"
Kemudian Kam Hong-ti bertanya. Ki Teng-hong memandang Kam Hong-ti sekejap, baru kemudian ia membuka suara.
"Dia ... dia Mendengar jawabannya yang ragu-ragu, Lu Si-nio mengerti tentu orang tua ini mempunyai perasaan kuatir.."
Dia adalah Suhengku,"
Ia menjelaskan untuk menghilangkan kesangsiannya.
Akan tetapi tiba-tiba Ki Teng-hong tergerak pula pikirannya, ia ingat bahwa Lu Po-tiong tidak punya putra, mengapa sekarang ada orang mengaku anaknya, sebab itu ia lantas mengamat-amati Lu Si-nio sejenak.
"Maafkan aku yang sembrono,"
Katanya kemudian.
"seingatku Po-tiong Sianseng hanya punya seorang putri yang bernama Eng, apa dia ada bersama dengan saudara?"
Dengan tertawa segera Lu Si-nio mencopot ikat kepalanya.
"Di hadapan orang tua aku tak berani berdusta, Lu Eng bukan lain ialah diriku,"
Sahutnya kemudian. Ki Teng-hong menjadi girang sekali.
"Sudah lama aku mendengar ilmu silat Lihiap tiada tandingannya, hari ini aku telah menyaksikan sendiri dan ternyata bukan omong kosong, ayahmu meski hanya punya seorang putri seperti kau ini, ia boleh menutup mata dengan tenang di alam baka!"
Katanya. Mendengar orang menyebut ayahnya, Lu Si-nio menjadi sedih, tak tertahan ia meneteskan air mata.
"Kalau begitu tuan ini tentunya adalah seorang dari Kanglam-chit-hiap bukan?"
Terdengar Ki Teng-hong berkata lagi.
"Ia adalah Chit-suheng Kam Hong-ti!"
Sahut Lu Si-nio. Bukan main rasa girang Ki Teng-hong mendengar nama pendekar besar ini, ia menyanggah tubuhnya dengan siku dan bersandar bantal, lalu berkata lagi.
"Sungguh tidak pernah tersangka bisa bertemu dengan Kanglam-tayhiap di sini!"
Saking girangnya ia paksakan diri hendak berbangkit, akan tetapi segera ia menjerit kesakitan terus roboh pingsan.
"Losianseng ini betul-betul seorang yang simpatik,"
Dengan tertawa Kam Hong-ti berkata.
"Nama Suheng yang tersohor, siapa yang tidak merasa kagum dan hormat,"
Ujar Lu Si-nio.
"Ia pingsan karena kesakitan lantaran tulangnya tergoyang, kukira tidak berbahaya. Hanya mengenai 'Li-kongcu' itu, terpaksa harus menunggu dia sembuh baru kita tanyakan lagi."
"Menurut pandanganku, orang tua inipun orang dari kalangan Kangouw!"
Kata Kam Hong-ti.
"Semula aku hanya menganggap dia adalah kaum pelajar dari angkatan tua kita, tampaknya terhadap asal-usul kaum kita, dia juga banyak tahu, maka sekalipun ia bukan orang dari kalangan Kangouw, sedikitnya ia banyak berhubungan dengan orang Kangouw,"
Ujar Lu Si-nio.
Begitulah setelah mereka bercakap-cakap agak lama, Ki Teng-hong ternyata masih belum mendusin, sementara itu cuaca sudah gelap, maka Kam Hong-ti mintakan sebuah kamar lagi untuk Lu Si-nio dan Hi Yang.
Habis bersantap malam, Lu Si-nio, Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan lantas saling berunding pula.
"Urusan tidak boleh ditunda, biar malam ini juga aku pergi mengintai ke sana,"
Demikian Lu Si-nio mengutarakan pendapatnya.
"Kalau begitu biar Hi Yang yang ditinggal menjaga rumah, kita boleh pergi bersama,"
Kata Pek Thay-koan. Tetapi Kam Hong-ti agaknya berpendapat lain.
"Terlalu banyak orang mungkin malah akan mengejutkan musuh,"
Ujarnya setelah berpikir sejenak.
"Lebih baik biarkan Pat-moay sendiri yang berangkat, sesudah diperoleh keterangan yang pasti, kemudian baru kita atur langkah selanjutnya yang perlu diambil."
Kiranya Kam Hong-ti berpikir, Liau-in Hwesio tentu berada dalam gubernuran, sedang si wanita baju hijau itu adalah jago silat kelas wahid, dengan mereka berdua, seumpama diriku dan Pek Thay-koan ikut pergi juga belum tentu bisa berhasil, apalagi belum diketahui ada jagoan lain atau tidak di antara Liau-in dan kawan-kawan.
Jika harus bergebrak dan mengadu tenaga, tampaknya pasti akan gagal.
Sebaliknya kalau Lu Si-nio sendiri yang berangkat, Ginkang gadis ini luar biasa bagusnya dan tidak di bawah Suhunya di masa muda, dengan keberangkatannya sebagai pengintai, seumpama terkepung, ia pun sanggup meloloskan diri.
Begitulah, maka Pek Thay-koan paham akan maksud Suheng-nya, maka ia tidak pertahankan pendiriannya tadi.
Habis makan malam, Lu Si-nio tidur sejenak, setelah kentong-an tengah malam ditabuh baru bangun, ia tukar pakaian peranti jalan malam yang hitam mulus, dengan membawa 'Pek-po-te', yakni kantong yang berisi bermacam alat keperluan, lalu ia berpisah dengan Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan, sekali melayang, laksana burung saja ia terbang menerobos keluar jendela.
"Ginkang dan kepandaian meloncat Pat-moay sungguh tidak mungkin dicapai oleh kita orang, percuma saja kita sebagai Suheng, betul-betul memalukan!"
Ujar Pek Thay-koan menghela napas sesudah Lu Si-nio berangkat.
"Arus air di Tiangkang selalu dari belakang mendorong ke depan, itu adalah hukum alam, sudah semestinya, jika tidak, mana bisa ilmu silat berkembang terus lebih luas?"
Sahut Kam Hong-ti tertawa. Pek Thay-koan mengangguk tanda setuju, habis itu tiba-tiba ia berkata pula.
"Bocah perempuan yang kita jumpai hari ini kelak pasti akan di atas kaum kita juga, cuma gerak tangannya rada kejam sedikit!"
"Memang, jika bukan parasnya yang cantik menarik, sungguh aku ingin menjewer kupingnya,"
Sahut Kam Hong-ti tertawa.
Bercerita mengenai Lu Si-nio, setelah ia tinggalkan rumah pondokan, dengan cepat ia menuju ke tengah kota.
Jalan ke gubernuran memangnya sudah dikenalnya, oleh karena itu dengan enteng tanpa mengeluarkan suara ia melompat naik ke pagar tembok terus turun ke taman di belakang gedung pembesar itu, meski di dalam taman terdapat prajurit penjaga, namun Ginkang Lu Si-nio sudah sampai tingkat yang tiada bandingannya, ia bisa melayang terbang tanpa menerbitkan suara, seumpama ia melayang lewat di samping prajurit itu, mungkin mereka pun tak merasa.
Taman belakang itu bergandengan dengan tempat tinggal keluarga pembesar negeri itu, maka Lu Si-nio lantas melompat naik ke atas wuwungan gedung.
Ia pikir, biar aku mencari dan bertanya pada Li Bing-cu.
Dalam pada itu, tiba-tiba ia lihat di atas rumah seberang ada sesosok bayangan secepat terbang melayang lewat.
Diam-diam Lu Si-nio tertawa.
"Eh, kiranya ada orang lain yang bertujuan sama dengan diriku."
Maka timbul juga keinginannya buat menyelidiki siapa gerangan orang itu.
Segera ia enjot tubuhnya lagi, ia kuntit di belakang orang itu dengan kencang, sesudah dekat, sengaja ia menjentik jarinya hingga menerbitkan suara, berbareng secara gesit dan cepat ia lantas melompat ke samping.
Ia lihat orang itu menoleh ke belakang karena suara jentikan jari, di bawah sinar rembulan muda yang remang-remang, Lu Si-nio bisa melihat dengan jelas bahwa orang ini ternyata bukan lain daripada 'Li-kongcu' yang ia jumpai siang hari tadi.
Ketika Li-kongcu itu menoleh dan tidak mendapatkan sesuatu bayangan orang, rupanya ia sangat terkejut dan heran, tapi segera ia membalik tubuhnya terus melayang masuk ke halaman gedung itu.
Lu Si-nio tetap mengintil di belakangnya dan dengan enteng sekali melompat turun ke bawah.
Tiba-tiba dari kamar dalam berjalan keluar dua budak perempuan, dengan cepat Li-kongcu itu bersembunyi di belakang sebatang pohon, sedang Lu Si-nio lantas melompat ke atas belandar rumah di sebelah samping.
"Siocia dan gurunya telah pergi ke depan, katanya hendak menemui apa yang disebut Po-kok Siansu. Buat apa sarang burung masak gula batu yang kau bikin itu terburu-buru dibawa keluar,"
Terdengar seorang di antara kedua pelayan itu berkata.
"Ini disuguhkan buat bocah perempuan itu,"
Sahut budak yang lain.
"Hm, entah dia ini putri keluarga agung dan kaya-raya mana, sarang burung yang biasa dimakan Siocia kita ini dia anggap kurang enak, katanya jauh kalah dibanding dengan bikinan di rumahnya!"
Begitulah dengan mencerocos tiada hentinya kedua budak itu berjalan menuju ke kamar depan.
Mendengar percakapan mereka, Lu Si-nio tidak pedulikan 'Li-kongcu' itu lagi, sekali melayang ia mendahului kedua budak itu dan menuju ke bagian depan gedung, namun segera ia menjadi terkejut sesudah berada di sana, sebab tiba-tiba dilihatnya si wanita baju hijau sedang mendatangi bersama Liau-in Hwesio, lekas ia mendekam di atas wuwungan rumah tanpa berani bergerak.
Liau-in dan wanita itu ternyata masuk ke dalam rumah yang justru berada di bawahnya, sudah tentu Lu Si-nio tidak membuang kesempatan itu, dengan perlahan sekali ia menggeser sedikit genting hingga berlobang, dari sini ia mengintip ke bawah.
Ia lihat Liau-in baru saja melangkah masuk dan segera terdengar si wanita baju hijau menjengek di belakangnya dengan gemas.
"Hm, Lu Si-nio lagi!"
Tiba-tiba Liau-in melotot.
"Mengapa dengan Lu Si-nio?"
Ia bertanya.
"Po-kok Siansu, bukannya aku mencela kau, coba katakan mengapa kau memberi hati pada Sumoaymu itu?"
Sahut si wanita baju hijau. Pertanyaan ini ternyata tidak dijawab oleh Liau-in, ia hanya menjengek, sudah tentu tidak mungkin ia mengutarakan kegetiran yang pernah ia rasakan dari Sumoaynya itu.
"Apakah adik-adik seperguruanmu itu tiada seorang pun yang mau tunduk pada kata-katamu?"
Terdengar si wanita bertanya lagi. Liau-iri menjadi gusar atas desakan orang.
"Tanpa mereka pun boleh,"
Sahutnya gemas. Setelah berhenti sejenak, lalu ia sambung lagi.
"Maksud kedatanganku ini tentu kau sudah paham bukan?"
"Bukankah kau membawakan surat rahasia Si-pwelek untuk Li-tayjin?"
Sahut si wanita.
"Kecuali itu, masih ada tiga urusan pula,"
Kata Liau-in.
"Coba silakan menjelaskan,"
Ujar wanita baju hijau.
"Pertama, meski Loh Bin-ciam bersalah terhadap Li-tayjin, tetapi dia adalah Suteku, harus diserahkan padaku untuk diputuskan,"
Liau-in mulai menjelaskan. Wanita itu tertawa.
"Sudah seharusnya begitu,"
Sahutnya.
"Tetapi dalam hal ini masih ada soal lain yang kurang leluasa, ia justru disekap di dalam rumah ini, sebentar lagi boleh kau sambangi dia di kamar tahanan dan kau tentu akan jelas. Bahkan di dalam sana tidak cuma dia saja!"
Penuturan ini membikin Liau-in menjadi heran, ia mengerut kening.
"Siapakah yang menjaga dia?"
Tanyanya.
"Kami punya Li-siocia!"
Sahut si wanita.
Mendengar percakapan terakhir ini, Lu Si-nio menjadi terang juga duduknya perkara, nyata Li Bing-cu memang telah penujui Suhengnya itu.
Ia pun lantas tahu mengapa si wanita baju hijau ini membawa Liau-in ke rumah kosong ini, kiranya Loh Bin-ciam justru dikurung di dalam sini.
Waktu Lu Si-nio mendengarkan terus dengan penuh perhatian, ia lihat Liau-in kembali menjengek.
"Hm, muridmu betul-betul tidak tahu malu!"
Katanya mengejek.
"Po-kok Siansu, jangan kau memaki sembarangan!"
Sahut wanita itu dengan muka berubah.
"Apa muridku tiada nilainya untuk dijodohkan deryjan Sutemu?"
"Itupun harus aku yang memutuskan,"
Sahut Liau-in. Mendengar jawaban ini tiba-tiba wanita itu tertawa.
"Soal ini rasanya tak usah kau hiraukan, menurut penglihatanku, mereka diam-diam sudah saling mengikat diri,"
Katanya kemudian.
"Kau punya Sute itu, semula tampaknya keras kepala, sedikitpun ia tidak menggubris Siocia kami. Tetapi kini, haha! mereka sudah pasang omong dan tertawa begitu gembira seperti sepasang suami istri saja."
"Baik, seandainya mereka menikah, Bin-ciam harus ikut aku ke kotaraja,"
Kata Liau-in pula.
"Boleh saja asal kau bisa menundukkan dia,"
Ujar si wanita baju hijau dengan tertawa pula.
"Cuma saja menurut pendengaranku sehari-hari, rupanya dia tidak begitu hormat kepadamu!"
Kata-kata ini membikin Liau-in menjadi murka, dengan sekali gebrak ia bikin ujung meja sempal.
"Dia berani!"
Teriaknya kalap. Tetapi segera si wanita membikin dingin hawa amarahnya. 'To-kok Siansu tak perlu gusar, bukankah Sutemu sudah tak mungkin kabur lagi, kau boleh hajar adat padanya kapan saja sesukamu."
Katanya.
"Dan kini harap katakan urusanmu yang kedua?"
Air muka Liau-in tampak pulih kembali, mendengar pertanyaan orang yang terakhir itu, tiba-tiba ia malah tertawa.
"So-cu (kakak, istri saudara), apa Han-toako sudah bertemu dengan kau?"
Ia bertanya.
"Sudah!"
Sahut si wanita.
"Kalian berdua purikan dan berpisah selama sepuluh tahun, kini sudah sama tua, sudah waktunya untuk akur kembali,"
Ujar Liau-in sambil cengar-cengir.
"Hm, kau hendak menjadi juru-damainya bukan?"
Kata si wanita. Kembali Liau-in menyengir, dengan mata meram melek ia menyambung lagi.
"Umumnya lelaki memang sedikit nakal dan suka main gila, yang sudah ya sudah, So-cu bukankah begitu?"
"Cis, tak genah,"
Sahut si wanita.
"Dan apa urusan yang ketiga?"
Mendengar percakapan ini, kini tahulah Lu Si-nio bahwa wanita baju hijau ini kiranya ialah istri Han Tiong-san.
Dalam hati Lu Si-nio merasa kagum karena orang pandai merawat diri, meski usia si wanita sebenarnya sudah lanjut, tetapi tampak seperti orang setengah umur.
Pernah Lu Si-nio dengar cerita gurunya bahwa Han Tiong-san adalah Suheng Thian-yap Sanjin, mereka memiliki kepandaian khas, ilmu pukulan Thian-yap Sanjin dalam Bu-lim waktu itu terhitung satu di antara lima yang terpandai.
Sebaliknya kepandaian menggunakan Am-gi dari Han Tiong-san terhitung satu di antara tiga orang yang terkemuka.
Istri Han Tiong-san, Yap Heng-po, ilmu silatnya juga tinggi, tak terduga adalah wanita ini adanya.
Pantas Kam Hong-ti hanya mampu menandingi dia sama kuat saja.
Begitulah Lu Si-nio membatin.
Sesudah berhenti sejenak, Liau-in menjawab pertanyaan mengenai urusan yang ketiga tadi.
"Si anak dara itu, dimana dia sekarang? Suruh dia ikut aku pulang ke kotaraja!"
"Aku hendak ambil dia sebagai putri angkatku!"
Sahut si wanita.
"Jangan kau berkelakar lagi, betapapun aku harus membawanya kembali!"
Ujar Liau-in kukuh.
"Ada apakah? Apa dia meninggalkan kotaraja atas kemauannya sendiri?"
Tanya si wanita.
"Hal ini kau tak perlu urus, pokoknya kau serahkan dia saja,"
Sahut Liau-in tak sabar. Karena desakan ini, rupanya wanita itu rada kurang senang.
"Kapan kau kembali ke kotaraja?"
Tanyanya kemudian.
"Besok lusa!"
"Kalau begitu kau tidak mau urus Lu Si-nio lagi? Harus diketahui bahwa dia juga termasuk buronan yang hendak ditangkap kerajaan!"
Mendengar orang menyebut Lu Si-nio, mau tak mau Liau-in harus berpikir dan memperhitungkan. Batinnya.
"Lu Si-nio, Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan adalah tiga di antara saudara seperguruan yang paling kuat selain aku sendiri, jika dirinya bersama Yap Heng-po menempur mereka bertiga bukan tidak mungkin akan dikalahkan."
Oleh karena itu, ia terdiam sejenak.
"Han-toako akan datang ke sini bukan?"
Tiba-tiba ia tanya.
"Siapa urus dia?"
Sahut Yap Heng-po.
"Jika kalian suami-istri bersedia akur kembali, aku boleh lantas menangkap Kam Hong-ti buat melampiaskan kejengkelanmu,"
Ujar Liau-in.
"Baiklah, kau boleh tinggal lebih lama dua hari, tunggu setelah setan tua itu datang baru kita rundingkan lagi, sesungguhnya aku pun tak tega berpisah dengan Yan-ji!"
Sahut si wanita alias Yap Heng-po.
"Sekarang juga hendaklah kau panggil anak dara itu, biar aku tanya dia,"
Tiba-tiba Liau-in berkata pula dengan sungguh-sungguh.
Dengan lagak seperti terpaksa, wanita itu bertindak keluar, ia tepuk tangan tiga kali dan bersuit panjang satu kali, tak lama kemudian tertampak bocah perempuan yang dilihat siang hari tadi mendadak muncul entah darimana.
"Ada tamu agung hendak menemui kau,"
Kata si wanita baju hijau sambil memegang bocah itu sesudah datang mendekat.
"Aku tidak mau menemui Po-kok Siansu,"
Sahut anak dara itu dengan memoncongkan mulut. Akan tetapi wanita itu lantas mendorong dia masuk ke dalam.
"Tak boleh kau kurangajar!"
Omelnya. Berhadapan dengan Liau-in, anak dara itu seperti rada takut.
"Ke sini kau!"
Panggil Liau-in sambil menggapai.
"Tidak, aku tak mau!"
Bantah dara itu menggeleng kepala. Agaknya Liau-in menjadi marah.
"Setan cilik, mereka betul-betul terlalu memanjakan kau!"
Kata Liau-in dengan gemas.
"Si-pwelek pesan padaku agar jangan mendengarkan omonganmu, jangan berdekatan padamu juga,"
Tiba-tiba anak dara itu berkata terus-terang. Keruan saja Liau-in berjingkrak.
"Apa katamu? Kau bohong!"
Teriaknya.
"Ia bilang kau adalah padri cabul. He, Toasuhu (guru besar), apa artinya cabul itu?"
Anak dara itu menyambung lagi.
Tak tahan lagi seluruh muka Liau-in menjadi merah padam saking geramnya dan serba sulit pula, ia tak yakin apa betul Si-hongcu berkata begitu kepada si bocah ini atau tidak.
Di lain pihak Lu Si-nio yang mendengarkan di atas atap rumah juga merasa gusar bercampur geli.
Ia gusar karena gurunya di kalangan Bu-lim dihormati orang sebagai Nikoh yang agung tetapi kini mempunyai anak murid yang mencemarkan nama baiknya dengan disebut sebagai padri cabul, bila gurunya di alam baka tahu, mungkin beliau pun tak rela.
la pun merasa geli juga karena Liau-in yang berlagak ker'eng di hadapan anak dara ini, demi dikatai sebagai padri cabul, saking malunya ia menjadi serba salah.
Tengah Lu Si-nio merasa geli, sekonyong-konyong dari bawah pohon yang rindang di luar rumah sana berkelebat sesosok bayangan dengan cepat, sesudah menerobos keluar terus bersembunyi lagi di tempat gelap di pojok rumah, orang itu menempelkan telinga ke dinding, terang ia hendak mendengarkan apa yang orang bicarakan.
"Ha, dia telah datang juga, sungguh nyalinya tidak kecil!"
Diam-diam Lu Si-riio membatin. Orang itu ternyata bukan lain daripada Li-kongcu.
"Aku sudah terlalu kesal hidup di dalam istana, karena itu aku pesiar keluar, kenapa kalian ribut, besok aku akan pulang sendiri,"
Terdengar anak dara tadi berkata di dalam rumah.
"Si-pwelek suruh kau pulang bersamaku,"
Terdengar Liau-in menyahut.
"Betul-betul beliau berkata begitu?"
Tanya anak dara itu. Liau-in menjadi marah.
"Kalau kau berani sembarang mengoceh lagi, nanti aku tampar kau,"
Ia mendamprat, berbareng ia lantas berdiri dan mengulur telapak tangannya yang lebar laksana daun pisang terus berlagak hendak menjambret.
Akan tetapi si wanita baju hijau tidak tinggal diam, cepat ia merintangi.
"Po-kok Siansu, apa kau tak malu menakuti anak kecil?"
Ejeknya. Dalam pada itu, secepat angin anak dara tadi sudah mengelu-yur keluar rumah. Nampak bayangan anak dara ini, Li-kongcu yang bersembunyi di pojok rumah segera melayang pergi dan mengejar.
"Ada penjahat!"
Sekonyong-konyong terdengar Liau-in berseru di dalarr rumah.
Berbareng badannya bergerak, segera pula ia meloncat keluar.
Rupanya suara gerakan si pemuda tadi telah didengar oleh Liau-in.
Karena kejadian mendadak ini, Lu Si-nio dapat menduga pemuda itu pasti bukan tandingan Liau-in, hanya sekejap saja ia lihat Liau-in sudah melayang lewat dua rumah, sedang si wanita baju hijau pun sudah menguber keluar.
Tiba-tiba Lu Si-nio mendapat akal, ia melayang ke atas atap sebuah rumah lain, dari sini dengan suara lantang ia berseru.
"Liau-in, beranikah kau menempur aku buat menentukan siapa yang mati atau hidup?"
Karena suara teriakan yang datangnya dari belakang itu, sekonyong-konyong Liau-in menghentikan langkah, ia memutar balik, segera disambut oleh Lu Si-nio dengan enam buah pisau kecil yang dihamburkan secepat kilat, semuanya menuju ke tubuh Liau-in.
Perlu diketahui bahwa di antara anak murid Tok-pi-sin-ni, kecuali Liau-in sendiri, yang lain berlatih senjata rahasia jenis tersendiri seperti Pek Thay-koan, yang dia yakinkan adalah Bwe-hoa-ciam atau jarum yang pangkalnya berbentuk bunga sakura, sedang yang dilatih Kam Hong-ti dan Lu Si-nio adalah Hui-to atau pisau terbang.
Adapun Lu Si-nio punya Hui-to berlainan pula dengan Kam Hong-ti, kecuali pisaunya agak lebih pendek, gagang pisaunya di waktu ditimpukkan, di udara bisa mengeluarkan suara mengaung hingga bisa membikin musuh menjadi bingung!
Akan tetapi Liau-in adalah Liau-in, kepandaiannya lain daripada yang lain, begitu ia memutar tongkatnya, seketika enam pisau terbang itu kena disampuk jatuh, namun tidak urung suara menga-ungnya pisau itu membikin perasaannya menjadi kacau juga.
Justru di kala semangat Liau-in lagi kacau, dengan ilmu en-tengi tubuhnya yang tinggi, Lu Si-nio melayang lewat di samping tubuhnya, ketika ia menoleh, kembali enam buah Hui-to dihamburkan lagi.
Waktu Liau-in dapat memukul jatuh semua pisau terbang itu, sementara itu Lu Si-nio sudah keburu kabur.
Liau-in cukup tahu diri, ia mengerti tidak mungkin bisa menyusul Sumoaynya itu, maka dengan menyeret tongkat ia melompat turun dari atas rumah.
"Po-kok Siansu, dimana Yan-ji?"
Tanya si wanita baju hijau memapakinya.
"Sudah kabur juga!"
Sahut Liau-in.
"Mengapa tidak kau kejar dia?"
Kata si wanita pula.
"Kau sendiri saja yang mengejar!"
Sahut Liau-in dengan mendongkol.
"Aku kira budak cilik itu tidak berani bertingkah, tak tahunya Lu Si-nio membela dia secara diam-diam."
Wanita baju hijau terdiam.
Ia sendiri pernah menyaksikan kepandaian Lu Si-nio yang tinggi, kalau sendirian, mana berani dia mengejar.
Kembali mengenai Lu Si-nio, sesudah melompat keluar dari gedung gubernur dan melompat naik pula ke atap rumah penduduk, ia memandang sekelilingnya, ia lihat di jurusan sebelah barat-daya ada sesosok bayangan sedang berlari ke depan secepat terbang, di depan bayangan orang itu remang-remang nampak satu titik hitam yang meluncur cepat laksana meteor.
Lu Si-nio tahu titik hitam itu tentu si anak dara dan bayangan hitam di belakangnya pasti si pemuda adanya.
"Tingkah laku kedua orang itu sangat aneh, coba aku susul mereka!"
Begitu Lu Si-nio berpikir.
Sementara itu bayangan hitam tadi sudah keluar benteng kota dan Lu Si-nio baru mulai mengudak.
Tak lama kemudian, lambat-laun bayangan itu tertampak berada di depan sana, kini baru Lu Si-nio memperlambat langkahnya.
Sebenarnya Ginkang pemuda itu sudah terhitung kelas satu, akan tetapi Lu Si-nio selalu mengikuti di belakangnya, sedikitpun pemuda itu tak merasa.
Saat itu si pemuda sudah berlari sampai di tepi telaga sebelah barat, mendadak ia berlari naik ke atas gunung yang terletak di tepi telaga itu.
Gunung ini bernama Kat-nia atau bukit Kat, letaknya di tengah antara Po-ciok-san dan Sian-he-nia, menurut dongeng kuno katanya pernah ada dewa Kat Hong-cing bertapa di atas gunung, oleh karenanya orang lantas menyebut gunung ini sebagai Kat-nia.
Tatkala itu si anak dara yang berlari di bagian depan sudah berada di ata?
gunung lebih dulu, ketika si pemuda menyusul sampai di puncak, terlihat batu padas yang aneh berdiri berserakan, sedang bayangan si dara sudah tak tertampak pula.
"Ing-moay, Ing-moay!"
Terdengar pemuda itu berseru memanggil.
Akan tetapi di antara desiran angin pegunungan, yang ada hanya suara kumandang balik dari lembah gunung itu, sedang suara jawaban orang sama sekali tidak terdengar.
Pemuda itu berseru memanggil beberapa kali lagi, tetapi mendadak terdengar ada orang tertawa di belakangnya.
"Ia tidak kenal padamu, buat apa kau memanggil dia?"
Terdengar suara orang berkata. Bukan main kejut pemuda itu, ia tak berani berpaling, tapi lebih dulu ia melompat ke samping, ia lolos pedangnya dan berbareng memutar balik mengamati orang.
"Kionghi pada saudara yang tertimpa bahaya tetapi tidak tewas, di belakang hari tentu banyak rezeki!"
Dengan tertawa Lu Si-nio menggoda. Waktu si pemuda mengenali Lu Si-nio, ia menjadi sangat curiga.
"Malam-malam buta dengan tujuan apa kau menguntit aku?"
Bentaknya.
Kiranya di waktu siang harinya, ketika mereka sama-sama minum teh di kedai, dengan mata kepala sendiri pemuda itu melihat Ki Teng-hong kena digondol pergi Lu Si-nio, cuma ia tidak mengetahui bahwa orang justru hendak menolongnya, sebaliknya ia sangsi Lu Si-nio adalah sekomplotan dengan nenek gila itu.
Kemudian ketika Lu Si-nio dan Kam Hong-ti menempur Liau-in dengan sengit di atas perahu, karena lebih dulu ia sudah terjungkal masuk ke dalam telaga, ia tidak mengetahui peristiwa itu.
Oleh karena itulah ia masih belum tahu pasti sebenarnya Lu Si-nio kawan atau lawan.
Sebenarnya kalau Lu Si-nio mau bicara terus terang namanya, ,segala urusan dengan segera menjadi beres.
Namun dia adalah nona yang menanggung kewajiban membalas sakit hati negara dan dendam keluarga, tidak boleh tidak ia harus berlaku waspada dan hati-hati, meski tampaknya pemuda ini bukan orang jahat, tapi bagaimanapun adalah seorang asing yang belum dikenalnya, dengan sendirinya tidak mau Lu Si-nio mengatakan begitu saja asal-usul dirinya.
Begitulah karena sudah lama orang masih belum menjawab tegurannya, pemuda itu menjadi gusar.
"He, kau sebenarnya sobat dari garis manakah? Kita selamanya belum pernah kenal, mengapa kau ikut campur urusan orang lain?"
Ia mendamprat.
Tiba-tiba Lu Si-nio ingat pada gerak silat pemuda ini yang aneh dan hebat, dalam hati timbul keinginannya untuk menjajal kepandaian orang.
Maka dengan tertawa dingin sengaja ia menjawab.
"Bagus sekali perbuatanmu dengan si orang tua she Ki itu!"
Seketika air muka si pemuda berubah, ia menjengek.
"Hm, sayang dengan kepandaianmu ini ternyata terima menjadi cakar alap-alap musuh,"
Dengan gusar ia mendamprat lagi. Menyusul dengan sedikit bergerak, cepat ia kirim satu tusukan. Lu Si-nio pun tidak kalah cepat, dengan sedikit mengegos ia berkelit sembari melolos pedangnya juga.
"Kau anak murid siapa?"
Dengan tertawa ia bertanya lagi. Sebagai jawaban, kembali pemuda itu mengirim dua kali tusukan dengan cepat dan lihai sekali.
"Kukatakan juga tak nanti kau mengenalnya!"
Sahutnya kemudian dengan suara lantang. Agaknya ia sangat bangga sekali dengan Kiam-hoatnya ini. Diam-diam Lu Si-nio menjadi geli atas kelakuan orang. Ia pikir.
"Kiam-hoat dari cabang mana yang aku tidak kenal? Cukup bila kau mainkan sepuluh jurus dan aku tak bisa. menebak dengan jitu, itulah baru aneh!"
Dalam pada itu si pemuda telah memutar pedangnya sambil melangkah ke samping, dari situ ia menusuk ke pinggang orang.
Kini Lu Si-nio tidak ingin berkelit lagi, ia tahu gerak tipu orang adalah 'Khong-jiok-di-ih' (burung merak menyisil bulu sayap) dari Bu-tong-pay, yang diutamakan pada tenaga tikaman ujung pedangnya, maka ia lantas menindih ke bawah dengan senjata, yang Lu Si-nio mainkan 'adalah 'To-coan-im-yang' (memutar balikkan im-yang) dari Hian-li-kiam-hoat, dengan sekali menindih ke bawah untuk kemudian d;cukil ke atas, dengan demikian ia menduga pemuda itu pasti akan dipaksa menarik kembali senjatanya.
Sama sekali ia tidak tahu bahwa tipu serangan si pemuda ternyata sangat aneh, waktu melihat Lu Si-nio menekan ke bawah dengan pedangnya, ia lantas getarkan pedangnya dan di antara gon-cangan senjatanya ini ia berbalik memotong ke depan.
Perubahan yang tak tersangka ini, hampir saja Lu Si-nio termakan, beruntung Hian-li-kiam-hoatnya sudah mencapai tingkat tiada tara, lekas ia tarik pedangnya sedikit terus diputar balik, dengan demikian seketika ia dapat mematahkan serangan lawan.
Namun si pemuda lantas memburu maju dua langkah, lalu ia menusuk lagi, kali ini dengan jelas adalah tipu 'Ilong-hong-tian-sif (burung cendrawasih pentang sayap) dari Ko-yang-pay, gaya serangan ini seharusnya dari kiri menuju ke kanan, Lu Si-nio yang telah kenal hampir semua cabang Kiam-hoat, dengan sedikit bergerak, lebih dulu ia mencegat ke sebelah kiri atas serangan lawan ini.
Tak tahunya dugaannya kembali meleset, begitu sampai di tengah jalan, mendadak pemuda itu ubah arah senjatanya terus menusuk ke pundak kanan.
Dalam keadaan demikian Lu Si-nio tidak keburu lagi buat menarik senjatanya untuk menangkis, terpaksa ia mengandalkan Gin-kangnya yang bagus, dengan sekali enjot tubuh, secepat kilat ia hindarkan tusukan lawan.
Bukan main heran Lu Si-nio atas tipu serangan si pemuda yang sangat aneh itu, betul-betul belum pernah ia menyaksikan selama hidupnya, maka ia tak berani pandang enteng lawannya lagi, lekas ia mainkan Hian-li-kiam-hoat yang meliputi 36 jurus buat menjaga diri, ia putar pedangnya hingga merupakan satu lingkaran rapat laksana pagar baja, setetes air pun tak dapat tembus.
Namun dalam penjagaannya ia selingi pula tipu serangan lain.
Di pihak lain si pemuda dengan ganas terus menggempur seperti angin badai tiada hentinya, sampai dua tiga puluh jurus sudah lewat ternyata Lu Si-nio masih belum mampu mengenali cabang ilmu silat lawan.
Meski Kiam-hoat pemuda itu sangat aneh, namun ilmu pedang yang Lu Si-nio mainkan adalah cabang silat terkenal, maka kelihaiannya pun luar biasa, walaupun seketika ia masih belum bisa memahami tipu serangan lawan dan belum berani secara gegabah melancarkan serangan balasannya, namun untuk melayani saja masih jauh berlebihan.
Lu Si-nio tidak mengetahui bahwa pemuda itu terlebih kesal dari dia.
Jik Lu Si-nio tak bisa meraba gaya serangannya, ia pun tak mampu mengenali ilmu silat Lu Si-nio, ia hanya merasa Kiam-hoat Lu Si-nio begitu hebat dan ajaib, tampaknya cuma Thian-san-kiam-hoat saja yang bisa menandinginya.
Apalagi tenaga dalam Lu Si-nio lebih tinggi daripada dia, setelah pertarungan dilanjutkan tiga sampai lima puluh jurus lagi, mukanya sudah mulai merah dan napasnya tersengal, sebaliknya tidak demikian dengan Lu Si-nio, nona ini masih tetap tenang dan penuh semangat.
Saking gugup dan gelisahnya, pemuda itu makin gencar memainkan tipu serangan pedangnya.
Namun sembari membela diri Lu Si-nio masih balas menyerang juga, dengan penuh perhatian ia coba' meneliti ilmu pedang lawan.
Akhirnya ia dapat mengetahui bahwa Kiam-hoat si pemuda seperti kumpulan sari ilmu pedang berbagai cabang, tetapi tiap tipu serangan selalu berlawanan dengan tipu serangan biasa.
Misalnya tipu serangan dari Bu-tong-pay yang disebut 'Bu-siang-to-beng' (setan Bu-siang mencabut nyawa), gaya pedang mestinya dari atas ke bawah untuk menusuk bagian bawah musuh, tapi sewaktu dipakai si pemuda, bukannya ia menurut cara tadi, sebaliknya ia mengarah dari bawah ke atas buat menusuk bagian tengah lawan.
Begitulah, sesudah Lu Si-nio bergebrak dengan dia hampir ratusan jurus, akhirnya ia sadar dan mengerti, segera ia lintangkan senjatanya dan memaksa pemuda itu melompat mundur jauh, menyusul dengan tertawa ia berkata.
"Kau adalah ahli waris Pek-hoat Mo-li! Gurumu jika bukan Hui-ang-kin tentu adalah Bu Ging-yao!"
Demikian ia buka rahasia si pemuda.
Mendengar orang sekaligus dapat menyingkap asal-usul dirinya, pemuda itu terkejut, dengan pedang masih melintang di depan dada ia berdiri diam tak berani sembarang maju lagi.
"Sudahlah, tidak perlu bertempur lagi, setelah ratusan jurus aku baru tahu asal dirimu, untuk ini saja aku sudah terima menyerah!"
Lu Si-nio berkata lagi dengan tertawa sembari masukkan pedang ke sarungnya.
Pemuda itu terbelalak matanya, ia ragu-ragu dan heran, tetapi malu diri juga.
Ia sangsi karena sudah terang ilmu pedang lawan jauh di atas dirinya, mengapa berbalik mengaku kalah sendiri?
Yang membikin dia merasa malu adalah Lu Si-nio dapat menebak asal-usul dirinya, tetapi ia sendiri tidak bisa mengenali ilmu pedang Lu Si-nio.
Karena itu maka ia lantas menjawab dengan memberi hormat.
"Akulah yang harus mengaku kalah, jika kau hendak menangkap aku, silakan saja sesukamu!"
Mendengar jawaban ini, kembali Lu Si-nio bergelak tertawa.
"Siapa hendak menangkap kau? Pernahkah kau mendengar nama Tok-pi-sin-ni?"
"Ai, kalau begitu saudara adalah anak murid Tok-pi-sin-ni dan seorang di antara Kanglam-chit-hiap?"
Seru si pemuda kaget demi mendengar keterangan Lu Si-nio, segera ia pun membungkuk memberi hormat.
"Betul!"
Sahut Lu Si-nio.
Akan tetapi ketika kemudian pemuda itu mengamat-amati Lu Si-nio lagi, tiba-tiba air mukanya terunjuk rasa curiga.
Kiranya si pemuda pernah mengiringi ibunya yaitu Bu Ging-yao, saling membicarakan Kiam-hoat masing-masing dengan Ie Lan-cu di puncak utara Thian-san, kala itu Ie Lan-cu berkata.
"Masa kini di seluruh jagat hanya ada empat cabang ilmu pedang yang mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri dan susah untuk dibedakan mana yang lebih unggul. Keempat Kiam-hoat ini masing-masing adalah Thian-san-kiam-hoat yang diwariskan dari Hui-bing Siansu, kedua adalah Tat-mo-kiam-hoat, asal ajaran Tat-mo Cosu yang kemudian disempurnakan dan ditambah oleh Kui Tiong-bing dari Bu-tong-pay cabang utara, ketiga adalah Hian-li-kiam-hoat dari Tok-pi-sin-ni dan akhirnya adalah Kiam-hoat tunggal warisan Pek-hoat Mo-li."
Waktu itu Bu Ging-yao telah menjawab.
"Keluasan Thian-san-kiam-hoat, keanehan Tat-mo-kiam-hoat dan keajaiban Hian-li-kiam-hoat, ketiganya terkemuka dan betul-betul susah untuk dibedakan mana yang lebih baik dan lebih unggul, tetapi Kiam-hoat dari cabang kami yang masih banyak kekurangannya oleh Cici pun dipersamakan dengan ketiga Kiam-hoat yang lain, apa ini tidak membikin malu aku saja."
"Cici terlalu merendah hati,"
Kata Ie Lan-cu lagi.
"Kalau soal keanehan tipu dan keganasan serangan, Kiam-hoat dari cabang Cici sebenarnya masih berada di atas ketiga cabang Kiam-hoat tadi." .
"Di antara tiga cabang Kiam-hoat yang hebat itu, sayang Hian-li-kiam-hoat belum pernah aku saksikan!"
Ujar Bu Ging-yao menghela napas. Ia tetap bilang tiga cabang Kiam-hoat saja dan tidak mengikutkan Kiam-hoat dari cabang sendiri, sudah tentu ini adalah karena ia suka merendah.
"Karena kata-kata Cici tadi, tiba-tiba aku punya pikiran aneh,-umpama kita bisa mengundang keempat cabang pendekar pedang ini mengadakan pertemuan di Thian-san, sungguh akan merupakan suatu peristiwa hebat juga,"
Dengan tertawa le Lan-cu berkata.
"Cuma sayang umur manusia terbatas, pikiran aneh itu hanya akan merupakan khayalan belaka, karena Tok-pi-sin-ni sudah wafat, namun Hian-li-kiam-hoatnya malah pernah kusaksikan, tiga puluh tahun yang lalu ketika Tok-pi-sin-ni naik ke Thian-san, sayang Cici kebetulan tidak di sini. Dia punya Kiam-hoat itu hanya diturunkan pada murid perempuannya yang terakhir bernama Lu Si-nio, tetapi ia punya tugas kewajiban sakit hati negara dan dendam keluarga, setiap hari ia harus kian kemari mengembara di kalangan Kangouw, mungkin ia tidak bisa datang ke Thian-san."
Begitulah, karena teringat pada percakapan ibunya dengan Ie Lan-cu tersebut, maka si pemuda diam-diam heran dan ragu-ragu, mengapa orang yang berada di hadapannya ini adalah seorang lelaki, padahal Lu Si-nio kan perempuan.
Akan tetapi sebelum ia bersangsi lebih lama, Lu Si-nio sudah menarik ikat kepalanya dan tertawa.
"Akulah Lu Si-nio, maafkan bila aku mohon tanya nama saudara yang terhormat?"
"Aku bernama Li Ti, Bu Ging-yao yang Cici sebut tadi adalah ibuku!"
Sahut si pemuda.
"Kiranya saudara adalah keturunan Jwan-ong, maafkan, maafkan, kalau aku kurang hormat!"
Kata Lu Si-nio pula.
Dahulu sesudah Thian-san-chit-kiam atau tujuh pendekar pedang dari Thian-san mengasingkan diri, Bu Ging-yao dengan Li Jiak-sim lalu tinggal di puncak selatan Thian-san yang tadinya menjadi tempat tirakat Pek-hoat Mo-li.
Dari pernikahan mereka ini terlahir satu putra, adalah Li Ti ini.
Pada waktu Li Ti berumur sepuluh, ayahnya meninggal, maka ia berada di bawah asuhan ibunya dan memperoleh ajaran Kiam-hoat tunggal dari Pek-hoat Mo-li itu.
Dua tahun sesudah itu, le Lan-cu membawa kembali Pang Ing ke puncak utara Thian-san yang menjadi tempat semayamnya itu, tatkala itu Pang Ing baru berusia tujuh tahun.
Jarak antara puncak utara dan selatan Thian-san ada ribuan li, oleh karena itu hanya tiap tahun sekali Bu Ging-yao mengunjungi Ie Lan-cu.
Dari situ Li Ti dan Pang Ing boleh dikata adalah konco bermain sejak masih anak-anak, Li Ti lebih tua enam tahun dari Pang Ing, oleh sebab itu ia selalu menganggap Pang Ing sebagai adik perempuannya.
Kira-kira enam tujuh tahun yang lalu, ketika Ie Lan-cu merantau lagi ke daerah tengah, ia menyerahkan Pang Ing di bawah asuhan Bu Ging-yao, baru ia terima kembali dara cilik ini sesudah Ie Lan-cu pulang dari perjalanannya.
Dengan adanya hubungan itu, dengan sendirinya Li Ti dan Pang Ing bersahabat baik sekali.
Kembali tadi, setelah Lu Si-nio saling mengenalkan diri dengan Li Ti, mereka masing-masing saling kagum.
"Sudah berapa lama Li-heng meninggalkan Thian-san dan siapakah si kakek she Ki itu?"
Lu Si-nio bertanya.
"Belum genap dua tahun aku meninggalkan Thian-san,"
Li Ti menerangkan.
"Paman she Ki itu dahulu pernah ikut pergerakan ayahku di Sucwan. Kali ini aku turun gunung, ibuku telah memberi daftar nama padaku agar aku menyambangi bekas bawahan ayahku untuk melihat masih tinggal berapa orang di antara mereka yang masih hidup? Beberapa hari yang lalu telah kukirim kabar pada Ki-lopek akan kedatanganku ke Hangciu sini, ia berjanji padaku berjumpa di 'Sam-tan-in-gwat' di Se-ouw, tak terduga di sana telah terjadi bencana itu, beruntung semasa kecil aku pernah belajar renang di 'Thian-ti' (telaga di atas puncak Thian-san), maka sedikit paham dalam air, kalau tidak, pasti aku sudah kelelap ke dasar telaga. Entah siapakah Hwesio bengis itu? Sungguh hebat sekali ilmu silatnya!"
Dengan menyatakan rasa malunya, kemudian Lu Si-nio menerangkan siapakah diri Liau-in sembari menghela napas gegetun atas perbuatan Suhengnya itu.
"Anak perempuan yang dijumpai siang hari tadi adalah murid kesayangan le-locianpwe, juga merupakan satu-satunya ahli warisnya, harap Cici suka membantu aku mencari kembali dia,"
Demikian Li Ti berkata lagi. Penuturan ini membikin Lu Si-nio tercengang, ia sangsikan keterangan orang, pikirnya.
"Ilmu silat anak dara tadi begitu ruwet dan aneka macamnya, mana bisa ia adalah anak murid Ie Lan-cu?"
"Apa Li-heng tidak salah mengenali orang?"
Ia coba bertanya.
"Sejak kecil kami bermain bersama, mana bisa aku salah mengenali?"
Sahut Li Ti tertawa geli.
"Cuma aku rada tidak mengerti, kenapa ia seperti sudah kehilangan sifatnya yang asli, hal ini membikin aku rada kuatir!"
"Jika betul dia adalah ahli waris Ih-locianpwe, sudah tentu aku akan membantu sepenuh tenaga untuk mencarinya kembali,"
Ujar Lu Si-nio akhirnya.
Saat mereka bicara, tiba-tiba mereka dengar ada suara menga-ungnya tiga anak panah, satu bersuara panjang dan dua kali pendek yang berbunyi arah tenggara.
Terkejut sekali Lu Si-nio melihat panah bersuara itu.
"Harap Li-heng memaafkan, ada urusan penting aku harus segera kembali ke pondok,"
Katanya kepada Li Ti.
"Ada apakah, mengapa malam-malam orang melepaskan panah bersuara itu?"
Tanya Li Ti terheran-heran.
"Itu adalah tanda rahasia untuk saling berhubungan di antara sesama saudara seperguruan kami!"
Lu Si-nio menerangkan. Mendengar penjelasan ini Li Ti ikut terperanjat dan kuatir.
"Jika begitu, silakan saja!"
Katanya. Lu Si-nio memberi salam perpisahan, tetapi sebelum ia turun dari bukit itu, tiba-tiba ia berkata pula.
"Li-heng, kau punya paman Ki itu berada bersama kami. Besok kau boleh ke sana!"
Habis itu ia terangkan juga tempat tinggalnya, yakni suatu hotel terkenal di kaki bukit Kat-nia sebelah tenggara yang menghadap ke Se-ouw.
"Baik, besok pagi-pagi aku akan ke sana!"
Sahut Li Ti dengan girang.
Kemudian dengan sekali enjot tabuh, secepat bintang meluncur, dalam sekejap saja Lu Si-nio sudah menghilang.
Keruan kepandaian Lu Si-nio yang luar biasa itu membikin Li Ti merasa kagum sekali.
Setelah ribut setengah malaman, rembulan muda kini sudah serong ke barat, tampaknya sudah jam tiga atau empat pagi.
Li Ti melompat ke atas sebuah bata karang yang menonjol tinggi, dari sita ia memandang jauh ke sekelilingnya, namun keadaan sunyi senyap, hanya suara desiran angin yang sayup-sayup dan suara arus air mendebur di kejauhan.
Li Ti jadi kecewa dan masgul, ia ingin pulang saja, akan tetapi tiba-tiba didengarnya ada suara tertawa orang di sampingnya.
Dengan cepat Li Ti meloncat turun sambil berseru memanggil lagi.
"Ing-moay, Ing-moay!"
Mendadak muncullah bocah perempuan yang dijumpainya siang hari tadi dari belakang sebuah batu pegunungan yang besar.
"Aku ada di sini!"
Terdengar anak dara itu berkata sembari tertawa cekikikan. Nampak si anak dara, Li Ti girang sekali.
"Mari sini,"
Anak dara itu mengundang pula. Panggilan ini sebaliknya membikin Li Ti ragu-ragu.
"Sinilah, aku tidak akan memukul kau lagi, siang tadi aku hanya main-main saja dengan kau, apa kau masih marah padaku?"
Begitulah dengan tertawa anak dara itu menerocos lagi.
Li Ti mendekatinya, ia coba menarik tangannya, akan tetapi dengan tertawa bocah itu meronta melepaskan pegangan orang.
Kelakuan ini membuat Li Ti tertegun sejenak, tetapi segera ia ingat bahwa orang kini sudah berupa seorang nona cilik yang berumur empat belas, tentunya sudah merasa malu.
Karena pikiran ini ia jadi geli sendiri.
"Siapakah wanita baju hijau itu, bagaimana kau kenal dia?"
Tanyanya kemudian.
"Kau peduli apa? Memangnya semua orang yang aku kenal harus kukatakan padamu?"
Sahut anak dara itu dengan ketus. Kembali Li Ti tertegun oleh jawaban orang. Pikirnya dalam hati.
"He, mengapa tabiatnya sudah berubah seluruhnya? Dahulu dia tidak pernah bersikap begini?"
Perlu diketahui bahwa di waktu Li Ti dan Pang Ing masih tinggal bersama di Thian-san, kasih sayang mereka seperti saudara sekandung saja.
Pang Ing selamanya menurut sekali padanya.
Sama sekali tidak terduga bahwa dalam waktu tiada dua tahun, bocah ini berani menggunakan suara ketus seperti tadi untuk menjawabnya.
"Duduklah kau, mengapa kau melihat aku terus dengan terkesima!"
Kata dara itu dengan mengikik. Li Ti menurut, ia duduk di sampingnya.
"Baik-baikkah Te-pekbo (bibi)?"
Tanyanya kemudian.
"Baik sekali, ia pun selalu mengenangkan kau!"
Jawab anak dara itu.
"Bagaimanakah dengan rambutnya?"
"Sama saja seperti dulu, bukankah masih tetap putih saja. Ada apakah kau tanya rambutnya?"
Bukan main terkejut Li Ti hingga ia meloncat bangun.
"Apa katamu? Rambut Ih-pekbo sudah putih?"
Ia menegas.
* Hendaklah diketahui bahwa beberapa puluh tahun yang lalu Ie Lan-cu makan bunga dewa yang dapat mempertahankan rambutnya selama hidup tidak bisa putih.
Jika sampai berubah putih, maka tandanya ajalnya sudah tiba.
Tidak heran kalau Li Ti bertanya rambutnya yang sebenarnya berarti bertanya kesehatan orang tua itu.
Kini mendengar si anak dara bilang rambutnya sudah putih, keruan saja ia kaget dan kuatir pula.
Namun sebelum ia bertanya lebih jauh, tiba-tiba bocah itu sudah tertawa lagi.
"Aku hanya mendustai kau saja, biasanya kau sangat pintar, mengapa kini jadi begini bodoh?"
Katanya.
"Bukanlah tadi aku bilang rambutnya masih tetap sama seperti dahulu? Bagaimana warna rambutnya apa kau sendiri tidak tahu? Kau turun gunung juga belum ada dua tahun."
Li Ti memang mendengar orang berkata begitu tadi. Maka ia menjadi geli bercampur mengkal.
"Mengapa kau jadi begini nakal, hanya menakuti aku saja,"
Katanya kemudian.
"Rambut Ie-pekbo selamanya tidak pernah putih, kau bilang rambutnya putih, sama saja kau pujikan dia lekas mati? Dia sangat sayang padamu, hendak berkelakar pun tidak boleh kau singgung beliau."
Anak dara itu melelet lidah.
"Baiklah, selanjutnya aku tak berani lagi,"
Ujarnya.
Dapat diduga bahwa anak dara ini bukan Pang Ing sebagaimana disangka Li Ti, melainkan Pang Lin adanya, si adik dari dara kembar itu.
Tadi sewaktu ia bersembunyi di belakang batu pegunungan, ia dapat mendengar semua percakapan antara Lu Si-nio dan Li Ti, dalam hati ia girang sekali tetapi terkejut juga.
Sebab, meski usianya masih kecil, namun ia pun pernah mendengar orang bercerita tentang nama Ie Lan-cu dan Bu Ging-yao, ia mengerti kedua wanita tua itu adalah pendekar pedang yang paling lihai dan disegani di zaman ini, lebih-lebih Ie Lan-cu adalah tokoh cabang silat dengan ilmu pedang ajaran dari tokoh terkemuka, sering ia mendengar Liau-in dan Thian-yap Sanjin mencaci maki Ie Lan-cu, katanya mereka bermaksud mengumpulkan sepuluh tokoh silat kelas satu untuk menempur orang tua itu.
Sekalipun orangnya kecil, tapi Pang Lin cukup cerdik dan pintar, ia lihat para paman dan mamak itu begitu benci Ie Lan-cu, ia lantas tahu bahwa kepandaian le Lan-cu tentu tinggi sekali dan tiada tandingannya.
Karenanya dalam hati ia sangat mengaguminya.
Ketika ia bersembunyi di belakang batu tadi, ia dengar bahwa Li Ti adalah putra Bu Ging-yao, didengar pula Li Ti mengatakan dia (Pang Lin yang dikiranya Pang Ing) adalah ahli waris satu-satunya dari Ie Lan-cu, bahkan katanya dibesarkan dan bermain bersama.
Karena itu diam-diam timbul suatu pikiran aneh dalam hatinya.
"Biar aku pura-pura mengaku sebagai anak perempuan yang tak dikenal namanya itu untuk menggoda Li Ti!"
Sudah tentu mimpi pun Li Ti tidak pernah menyangka bahwa anak dara yang berada di depannya ini bukan Pang Ing. Oleh sebab itu ia lantas bertanya lagi.
"Dalam dua tahun ini pernahkah kau bertemu dengan ibuku?"
Pertanyaan ini membikin Pang Lin jadi gelagapan.
"Pernah, sekali!"
Jawabnya kemudian secara samar-samar.
"Bagaimana keadaan beliau?"
Tanya Li Ti pula.
"Beliau sedang berlatih pedang,"
Jawab Pang Lin secara ngawur.
"Berlatih pedang? Mengapa malah berlatih pedang? Apa beliau sudah tidak 'Ce-koan' lagi!"
Tanya pula Li Ti dengan penuh keheranan.
Kiranya waktu Li Ti turun gunung, ibunya sudah mulai melakukan 'Ce-koan', yakni meditasi atau semedi, tiap kali bersemedi lamanya tujuh hari berturut-turut, waktu melakukan tirakat ini yang dimakan hanya buah dan bunga saja, setelah lewat tujuh hari baru mengenyam makanan biasa lagi.
Lalu mengaso selama tiga hari untuk kemudian bersemedi pula.
Bersemedi dengan tempo panjang semacam ini adalah suatu tingkatan yang harus dilalui oleh orang yang berlatih Lwekang tingkat tinggi, pada masa melakukan 'Ce-koan' atau semedi, orang tidak mengurus hal-hal biasa dan juga tidak perlu berlatih pedang.
Sebab itulah ketika Li Ti mendengar Pang Lin bilang ibunya berlatih ilmu pedang lagi, ia menjadi heran sekali.
Pang Lin sangat cerdik, melihat lagu suara dan air muka orang yang berubah lain, dengan segera ia menyadari telah salah omong, oleh karena itu lekas ia berusaha menutupi kepincangan ucapannya.
"Aku bertemu beliau sewaktu aku menyertai Suhu berkunjung ke kediamannya," -katanya lagi dengan tertawa kecil.
"Suhu berkata bahwa ibumu telah 'Cao-hwe-jip-mo'!"
Kata-kata yang terakhir membikin Li Ti terlebih kaget lagi.
"Apa, Cao-hwe-jip-mo?"
Teriaknya dengan suara gemetar saking kuatir.
"Ai, lalu bagaimana dengan keadaan badannya?"
Pang Lin yang dibesarkan dalam istana Si-hongcu atau pangeran keempat, sudah hampir merata ia belajar ilmu silat dari berbagai cabang.
Tetapi di antara orang kosen sebegitu banyak di bawah Si-hongcu, selain Liau-in, tiada lagi yang paham akan Lwekang dari cabang silat murni, jika cabang-cabang silat lainnya berani coba berlatih ilmu Lwekang, maka seringkah mereka akan mengalami 'Cao-hwe-jip-mo', artinya korseluiting atau mogok setengah jalan, tegasnya tidak berhasil tetapi berbalik mencelakai diri sendiri, akibatnya badan lumpuh, begitulah maka terhadap istilah khusus tadi lantas ia menjawab.
"Syukur Guruku keburu datang tepat pada waktunya, ketika itu kelihatan Li-pekbo mulai kejang dan kaku. begitu melihat, segera guruku tahu beliau mengalami 'Cao-hwe-jip-mo', maka lekas Suhu kumpulkan hawa murni untuk membantu pernapasannya, dengan demikian ibumu baru pulih kembali seperti biasa. Menurut cerita Suhu, kalau tidak kebetulan ia datang tepat pada waktunya, Pek-bo pasti akan kena penyakit Poansui atau mati separoh badan. Sebab itulah belakangan Pek-bo tidak 'Ce-koan' lagi, ia bilang hendak berlatih pedang dulu sampai tingkat yang tiada taranya, habis itu baru akan mengulangi semedi lagi."
Apa yang diuraikan Pang Lin ini sangat menarik dan masuk di akal, lagi berdasar, mau tak mau Li Ti menjadi percaya. Pikirnya.
"Ilmu silat warisan Pek-hoat Mo-li memang bukan dari cabang silat murni, tapi dengan kepandaian ibuku yang sudah begitu kosen, aku kira ia tidak akan berhalangan untuk berlatih Lwekang yang paling tinggi, siapa duga beliau tetap gagal balikan sampai 'Cao-hwe-jip-mo'."
Kemudian ia pikir pula.
"Dengan watak ibu yang suka unggul, kini ternyata mengalami kegagalan, entah betapa rasa dukanya?"
Teringat akan hal terakhir ini, diam-diam Li Ti merasa masgul dan ikut menyesal juga.
"Guruku bilang tiada halangan apa-apa atas kejadian itu, buat apa kau merasa kesal?"
Pang Lin berkata pula dengan tertawa dan menghibur orang.
"Beliau bilang setelah ibumu mengalami kejadian ini, selanjutnya bila 'Ce-koan' lagi tentu jadi lebih leluasa, beliau memberi petunjuk juga kepada ibumu akan rahasia-rahasia berlatih Lwekang yang paling hebat, sayang aku sendiri tidak paham akan kata-kata rahasia ajaran Suhu itu."
"O, kalau begitu ibuku berbalik jadi beruntung!"
Kata Li Ti dengan girang.
Ternyata obrolan Pang Lin secara kebetulan telah kena.
Sebab jika menurut tingkatan, memang Bu Ging-yao masih setengah angkatan lebih tinggi daripada Ie Lan-cu (Bu Ging-yao adalah murid bungsu Pek-hoat Mo-li, meski Ie Lan-cu dibesarkan oleh Hui-bing Siansu, tapi sebagian besar ilmu silatnya diperoleh dari ajaran Leng Bwe-hong.
Sedang Hui-bing Siansu dengan Pek-hoat Mo-li adalah seangkatan), oleh karena itu hubungan pribadi antara Ie Lan-cu dan Bu Ging-yao walaupun sangat rapat sekali, namun bila membicarakan soal ilmu silat selalu Ie Lan-cu merendah, jangankan hendak memberi petunjuk pada Bu Ging-yao sebagai orang yang pernah setengah angkatan lebih tinggi dari dia.
Begitulah, maka Li Ti membatin.
"Tentunya Ie Lan-cu melihat ibu mengalami kegagalan, maka ia tidak kukuh lagi tentang tingkatan segala lalu suka memberi 'petunjuk' pada ibu."
"Dan bagaimana dengan Kiam-hoatmu itu, dapatkah kau ajarkan padaku?"
Terdengar Pang Lin berkata pula dengan senyuman manis. Li Ti jadi binggung.
"Thian-san-kiam-hoat yang kau pelajari itu sudah terlalu hebat, mengapa masih hendak belajar aku punya?"
Sahutnya heran.
"Kata guruku, Kiam-hoat dari kedua keluarga kita yang satu adalah positip dan yang lain adalah kebalikannya, asalnya juga dari satu sumber, oleh karena itu aku pikir jika bisa dipelajari berbareng, bukanlah akan menjadi lebih baik?"
Kata Pang Lin.
"Sebenarnya aku ingin minta ajaran dari Pekbo, tetapi sayang aku tergesa-gesa turun gunung, maka tidak sempat lagi."
"Sebenarnya Kiam-hoat kami ini gurumu pun bisa,"
Tiba-tiba Li Ti menyahut dengan tertawa.
"Dulu Suci (kakak seperguruan perempuan) ibuku, Hui-ang-kin, pernah mengajarkan padanya."
Penjelasan ini membikin Pang Lin jadi terperanjat, tidak tersangka bahwa obrolannya tadi ternyata ada lubangnya. Namun syukur Li Ti tidak teliti, setelah tertawa pemuda itu berkata lagi.
"Sebabnya gurumu tidak mengajarkan padamu, mungkin ia pikir usiamu masih terlalu muda, kuatir kau terlalu banyak belajar yang lain-lain, maka kau diharuskan berlatih Thian-san-kiam-hoat lebih masak dahulu,"
Berkata sampai di sini, tiba-tiba pikiran Li Ti tergerak, ia lantas bertanya.
"Sudah berapa lama kau turun gunung?"
"Eeh, sudah lebih setengah tahun,"
Sahut Pang Lin setelah berpikir sejenak.
"Hanya dalam setengah tahun, mengapa kau dapat belajar begitu banyak ilmu silat dari cabang lain?"
Tanya Li Ti pula.
"Ya, aku suka, mengapa kau selalu ingin mengurus diriku? Usiaku sudah makin bertambah, belajar sedikit lebih banyak kan tiada halangannya?"
Sahut Pang Lin aleman.
"Ya, aku tahu, tentu kau tak sudi mengajari aku, maka sengaja kau mengomeli aku."
Biasanya Li Ti sangat sayang pada 'adik cilik' ini, karenanya ia mengerut kening ketika anak dara itu rada kurang senang.
"Mengapa kau berkata begitu? Seperti orang luar saja kau dan aku ini. Jika betul kau ingin belajar, sudah tentu aku akan ajarkan kau,"
Katanya kemudian. Keruan saja Pang Lin sangat girang, segera ia mulai bertanya.
"Apakah yang disebut hawa sesudah lahir dan apa yang disebut hawa pembawaan? Cara bagaimana lagi melatih Lwe-tan?"
Pertanyaan ini membuat Li Ti merasa heran pula, pikirnya, mengapa dasar latihan Lwekang yang pokok ini tidak le-pekbo ajarkan padanya?
Apa yang disebut 'hawa sesudah lahir' dan 'hawa pembawaan' itu adalah istilah dalam meditasi kaum Taoisme, yang kemudian dianggap sebagai dasar bagi orang yang berlatih Lwekang.
Hawa sesudah lahir itu dimaksudkan sebagai hawa yang terdapat dalam paru-paru manusia, yakni yang disedot dari luar, alam, maka disebut hawa sesudah lahir.
Sedangkan hawa hangat dalam perut disebut pula hawa pembawaan, yakni hawa yang sudah terdapat sejak dilahirkan.
Bagi orang biasa di waktu bernapas, hawa dari paru-paru dan hawa dalam perut tidak bisa saling tembus dan campur, tetapi bagi orang yang sudah terlatih pernapasan, yakni orang yang sudah mahir dalam hal meditasi, kedua hawa itu dapat dipersatukan, inilah yang disebut 'gi-thong' atau 'hawa tembus'.
Bila sudah sampai pada tingkatan 'gi-thong', maka 'hawa sesudah lahir dan pembawaan' itu lantas bisa naik turun berhubungan dengan sendirinya lalu menggerombol menjadi sebuah benda di dalam perut dan bisa bergerak naik-turun, ini pula yang disebut 'Lwe-tan' oleh kaum Taois yang sebenarnya hanya tenaga hawa yang terkumpul dalam tubuh dan tidak mengandung tafsiran takhayul.
Sudah tentu rahasia berlatih Lwekang ini Pang Lin sedikitpun tidak paham, oleh karena itulah ia sengaja bertanya tadi.
Dan ketika melihat Li Ti terheran-heran, ia insyaf tentu dirinya dicurigai lagi.
Lekas ia menambahkan dengan tertawa.
"Tentunya kau heran mengapa Suhu tidak mengajarkan padaku bukan? Itulah karena katanya aku masih terlalu muda dan belum sabar buat duduk tepekur, oleh sebab itu aku hanya diajarkan ilmu pedang dan belum diberi pelajaran Lwekang."
Dahulu waktu Pang Ing berusia tujuh atau delapan tahun pernah dititipkan di bawah asuhan Bu Ging-yao, setahun kemudian baru ia dikembalikan lagi pada Ie Lan-cu di puncak utara Thian-san hingga dara cilik ini berusia duabelas tahun, selama empat tahun itu, tiap tahun Li Ti hanya berjumpa dengan anak dara ini sekali saja dan tiap kali kira-kira hanya setengah bulan saja mereka berkumpul, selama itu Li Ti memandang dara cilik ini tidak lebih hanya seorang adik saja, oleh karena itu ia tidak pernah bertanya apa sudah pernah berlatih ilmu Lwekang.
Sebab itulah, kini ia lantas berpikir.
"Ie-pekbo hanya mengajarkan ilmu silat tanpa mengajarkan Lwekang padanya, cara mengajar begini apa tidak banyak kepincangan!"
Maka berkatalah dia.
"Boleh saja aku menjelaskan padamu, cuma kepandaianku sendiri terbatas, tentu akan ditertawai olehnya."
"Soal itu kau tak perlu kuatir, tidak nanti aku beritahukan padanya,"
Ujar Pang Lin.
"Memangnya beliau suruh aku mencari pengalaman di kalangan Kangouw selama tiga tahun, sesudah itu jika pulang ke gunung baru beliau akan mengajarkan dasar Lwekang itu padaku. Cuma aku kuatir usianya sudah terlalu lanjut, jika terjadi sesuatu di luar dugaan, bukanlah selama hidupku tak bisa belajar lagi!"
Mendengar uraian ini, kembali Li Ti mengerut kening, berulang-ulang ia berkata.
"Mana bisa terjadi begitu."
Dalam hati ia membatin, anak dara ini biasanya halus budi pekertinya, mengapa baru setengah tahun turun gunung jiwanya sudah berubah sedemikian jelek?
Yang dipikir hanya diri sendiri saja.
Melihat Li Ti bersungut lagi, Pang Lin sadari salah omong pula, maka lekas ia mencoba membetulkan.
"Ah, aku tahu tentu salah omong lagi. Kakak yang baik, janganlah kau marah padaku, selanjutnya aku tidak akan bicara sembarangan lagi."
"Anak dara ini entah telah bergaul dengan teman macam apa sejak turun gunung hingga tersesat perilakunya, selanjutnya aku harus banyak lebih keras mengawasinya, tidak boleh lagi dia bergaul dengan perempuan gila seperti wanita baju hijau yang tak kenal aturan itu,"
Demikianlah Li Ti membatin pula.
"Baiklah, aku tak akan marah,"
Ujarnya kemudian.
"Kau ingin belajar Lwekang, aku nanti ajarkan kunci dasarnya padamu."
Lalu selama setengah jam Li Ti lantas menguraikan inti ajaran Lwekang itu dan diterima dengan paham oleh Pang Lin, keruan gadis cilik ini kegirangan dan menghaturkan terima kasih.
"Ada apa dengan dirimu ini?"
Li Ti berkata sembari menarik jidat.
"Seperti dua orang saja dengan kau yang dulu!"
"Bagaimana dengan aku dahulu? Coba kau ceritakan padaku,"
Sahut Pang Lin sambil tersenyum. Mengkal bercampur geli rasa Li Ti atas jawaban itu.
"Kini kau sudah berusia belasan tahun, apa kau sendiri sudah lupa dengan keadaan dirimu dahulu?"
Katanya. Pang Lin tertawa, berbareng ia meloncat bangun, ia seperti kegirangan karena petunjuk ajaran Li Ti tadi. Sebaliknya Li Ti menjadi ngeri sehabis berkata tadi. Ia pikir.
"Apa mungkin ada orang yang melupakan sifat asli sendiri secepat itu?"
Tanpa terasa ia terkesima dan memandang anak dara itu, ia tak sanggup mengucap sepatah kata pun.
Sementara itu di sebelah timur sudah mulai terang, fajar sudah menyingsing.
Li Ti menyedot dalam-dalam hawa pagi yang segar itu, kemudian teringat pada apa yang dikatakan Lu Si-nio.
"Mari kita pergi menyambangi Lu Si-nio,"
Katanya kepada Pang Lin.
"Siapa itu Lu Si-nio?"
Tanya si dara cilik pura-pura tak kenal.
"Ialah wanita yang bertanding dengan aku di sini semalam."
"Aku takut pada kawannya, itu lelaki yang bermuka kuning."
"Orang itu adalah Kanglam-tayhiap Kam Hong-ti, pendekar yang suka membela keadilan, apanya yang perlu ditakuti? Justru kau harus berkawan dengan orang baik seperti mereka ini,"
Li Ti menjelaskan.
Karena tiada alasan lain, terpaksa Pang Lin menurut, ia ikut Li Ti berangkat.
Kembali berbicara mengenai Kam Hong-ti, Pek Thay-koan dan kawan-kawan, sejak Lu Si-nio pergi semalam, sampai lama sekali tidak nampak nona itu kembali, sudah tentu dalam hati mereka kuatir juga, maka mereka tak tenteram buat pergi tidur.
Setelah jauh lewat tengah malam, masih belum juga sang Sumoay pulang, Kam Hong-ti seorang diri lantas keluar dari kamar dan mondar-mandir di pelataran rumah pondokan mereka, ia memandangi sang dewi malam muda yang sudah serong ke sebelah barat dan hampir menghilang.
Dalam keadaan jauh malam yang serba sunyi itu, sekonyong-konyong ia dikejutkan oleh teriakan tajam seorang perempuan, suara itu begitu keras lagi dekat seperti di dalam rumah pondokan ini saja.
Kam Hong-ti dilahirkan dengan hati mulia dan jiwa pahlawan, meski dalam hati sendiri sedang risau, namun tak tertahan juga ia coba mencari tahu menurut arah datangnya suara tadi.
Rumah pondokan ini cukup luas bangunannya, jumlah seluruhnya kira-kira ada dua tiga puluh kamar.
Begitu Kam Hong-ti melompat ke atap rumah, segera ia dengar suara teriakan tadi keluar dari satu kamar rumah pondokan itu di sebelah timur, cepat ia melayang ke atas wuwungan rumah, ia mendapatkan kamar itu, dengan gerakan 'Cin-cu-to-hian-lim' (kerai mutiara bergantung terbalik), dengan kedua ujung kakinya ia menggantol pada emperan rumah, ia coba melongok ke dalam kamar itu.
Namun ia menjadi terkejut sekali!
Apa yang dilihatnya dalam kamar ternyata adalah seorang tua yang membelakangi jendela dimana ia mengintip, sedang berhadapan seorang wanita setengah umur yang menghadap keluar.
"Hayo teriak lagi! Bila kau teriak lagi segera aku bikin kau hidup tidak dan mati pun tidak!"
Terdengar kakek itu mengancam dengan sikap bengis. Muka wanita itu pucat lesi, agaknya sangat ketakutan. Meski demikian ia masih berani menyahut dengan rasa benci.
"Kau betul-betul manusia berhati binatang, tidak berbudi lagi kejam, kau menipu aku sampai Han-ciu sini, kiranya cuma bermaksud jahat padaku,"
Dampratnya dengan murka.
"Ya, perempuanku di rumah itulah yang tak mau mengampuni kau, terpaksa aku harus meminjam sebelah daun kupingmu dan sepuluh jarimu sebagai barang penebus dosaku,"
Terdengar si kakek menyahut dengan tertawa seram.
"Tetapi mengingat hubungan kita yang lalu, baiklah kau sendiri saja yang turun tangan, nanti aku beri obat buat menghilangkan rasa sakitmu!"
Wanita itu jadi gemetar ketakutan, sementara itu dengan cepat si kakek sudah mencabut keluar sebuah golok.
Kam Hong-ti merasa suara si kakek ini seperti sudah dikenalnya, ditambah lagi ketika orang mencabut golok, maka tahulah pendekar ini siapa adanya si kakek.
"Han Tiong-san, apa yang hendak kau perbuat?"
Mendadak Kam Hong-ti menggertak dari luar, berbareng sebuah pisau lantas menyambar melalui jendela.
Sebenarnya ilmu silat Han Tiong-san sudah tinggi, tapi karena ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk meladeni si wanita, maka suara kedatangan Kam Hong-ti tidak diketahuinya.
Kini mendadak diserang, dengan cepat tangannya meraup ke belakang segera pisau terbang itu kena ditangkapnya.
Namun begitu, dengan sekali menggeram Kam Hong-ti sudah menerjang masuk ke dalam kamar.
Tanpa ayal lagi segera Han Tiong-san mengayun goloknya terus membacok, tapi serangan ini dapat dielakkan oleh Kam Hong-ti, dengan gerakan 'Hoan-hun-hok-uh' (memutar awan membalik hujan), dengan gerak Kim-na-jiu, tangannya terus memotong ke per-gelangan tangan Han Tiong-san yang memegang golok.
Kepandaian Kim-na-jiu (ilmu cara mencekal dan menawan) Kam Hong-ti, di antara sesama saudara seperguruannya terhitung paling lihai, keruan tangan Han Tiong-san kena disampuk hingga goloknya terjatuh ke lantai.
Kesempatan ini digunakan oleh wanita tadi dengan baik, seketika ia kabur dengan menerobos keluar jendela.
Gusar sekali Han Tiong-san, berbareng ia hantam dengan kedua tangannya, Kam Hong-ti pun tidak menyerah mentah-mentah, ia terima tantangan ini dengan kedua telapak tangannya juga, maka terasa olehnya suatu tenaga yang besar luar biasa hingga Kam Hong-ti sendiri tak bisa menguasai diri, ia terpental pergi hingga menumbuk daun pintu dan menerbitkan suara gedubrakan, daun pintu kayu itu remuk terpentang karena benturan itu, sebaliknya Han Tiong-san pun tidak urung terdorong roboh juga oleh tenaga raksasa Kam Hong-ti, ia terjatuh di atas tempat tidur.
Kedua orang ternyata mempunyai tenaga seimbang dan sama besarnya.
Han Tiong-san jadi lebih kalap, segera pula ia ayun tangannya, ia lepaskan senjata rahasianya yang khas 'Hwe-goan-kau' dengan membawa suara mengaung yang ramai.
"Barang apaan ini?"
Sahut Kam Hong-ti, berbareng dua Hui-to disambitkan juga ke udara.
Baca Juga: Rahasia Peti Wasiat 5
Baca Juga: Dendam Iblis Seribu Wajah 10