Tiga Dara Pendekar 5

Eps 5 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen

Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen

Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.

Kata Tang Ki-joan dengan tertawa.

Keruan saja Kam Hong-ti menjadi makin gemas, dalam hati ia mencaci maki atas kelicikan orang.

Namun persoalan menyangkut keselamatan istrinya, bagaimanapun terpaksa ia harus menurut dan saling tukar tawanan.

"Baik, kau lepaskan dia dan segera aku kembalikan majikanmu ini!"

Katanya kemudian dengan mengertak gigi.

"Tetapi jangan kau gunakan akal jahat secara diam-diam!"

Sahut Tang Ki-joan. Sudah tentu Kam Hong-ti menjadi gusar.

"Kanglam-tayhiap kalau mengatakan satu tidak nanti berubah menjadi dua!"

Seru Kam Hong-ti dengan gusar".

Setelah itu Tang Ki-joan mendorong Tan Bi-nio ke depan, sedang Kam Hong-ti pun lantas melepaskan Li Wi sebagai imbalannya.

Maka berlarilah Tan Bi-nio di atas pendopo, sedang Li Wi lantas berlari turun ke bawah undak-undakan.

Sementara itu di ruangan sebelah dalam tiba-tiba terdengar suara yang riuh ramai, pasukan istimewa yang Cin Tiong-wat bawa, mendadak menerobos keluar dari dalam.

Kembali bercerita mengenai Li Bing-cu, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan Tan Ki-joan menangkap pergi Tan Bi-nio, ia terkejut tetapi kekhi juga, sama sekali tidak disangkanya bahwa wanita pemain akrobat itu begitu hebat asal-usulnya, waktu ia kembali ke kamarnya, segera ia gabrukan pintu kamarnya terus menjatuhkan diri ke pembaringan dan menangis tersedu-sedu, ia gusar sekali karena ketidak-sopanan pengawal terhadap dirinya.

Tengah ia mencucurkan air mata, tiba-tiba pintu almari pakaiannya terpentang dan dari dalam sekonyong-konyong muncul keluar seorang, ternyata adalah seorang gadis yang cantik laksana bidadari.

Bukan main terkejutnya Li Bing-cu, bahwa dalam almari pakaiannya mendadak bisa keluar seorang, segera ia berhenti menangis.

"Siocia, siapakah yang menyebabkan kau gusar, coba ceritakan, aku nanti balaskan sakit hatimu!"

Demikian gadis cantik itu bertanya dengan tersenyum. Begitu halus dan empuk suaranya, hingga Li Bing-cu tertarik.

"Siapakah kau?"

Ia balas bertanya.

"Aku adalah kawan pemain akrobat wanita itu,"

Jawab si gadis cantik.

"Mengapa aku tidak melihat kau masuk ke sini?"

Tanya pula Li Bing-cu.

"Karena aku dengar paras Siocia secantik dewi kahyangan, maka ingin sekali aku ikut Tan-cici datang menjenguk kau ke sini, tak tahunya Siocia hanya mengundang dia saja seorang, maka terpaksa aku mengintilnya secara diam-diam,"

Gadis itu menerangkan. Li Bing-cu masih bertabiat anak-anak, ketika mendengar dirinya dipuji secantik dewi kahyangan, sudah tentu ia sangat senang.

"Kaulah yang betul-betul cantik!"

Dengan tertawa ia berkata.

"Apa kau orang yang baru bergabung dengan rombongannya?"

"Ya, betul,"

Sahut si gadis.

"Sebelum aku menjumpai Siocia, aku sendiri mengira diriku cantik sekali, tetapi sesudah melihat Siocia sekarang, baru aku mengerti terlalu jauh selisihnya!"

Keruan saja Li Bing-cu sangat gembira atas pujian dan um-pakan orang.

"Kau bilang sanggup membalaskan sakit hatiku, apa kau ada akal? Cicimu itu sudah ditawan oleh mereka tadi,"

Tanyanya sesudah berpikir sejenak.

"Apakah pasukan dari kotaraja itu yang menangkapnya?"

Tanya si gadis.

Li Bing-cu jadi teringat pada waktu ikut ayahnya ke kamar tahanan, dilihatnya di sana ada beberapa orang penjaga tawanan, dan orang yang datang hendak menangkap wanita pemain akrobat itu-pun termasuk di antara penjaga-jaga itu.

"Mungkin betul!"

Akhirnya ia menjawab.

"Kalau begitu gampang saja, mari kita ke sana dan diam-diam melepaskan tawanan itu ...."

"Tak mungkin, ayah tentu akan gusar padaku!"

Kata Bing-cu.

"Coba dengarkan, kita hanya melepaskannya lalu menyembunyikan dia ke tempat lain, sesudah itu terus diserahkan kepada ayahmu lagi untuk diawasi,"

Gadis tadi coba membujuk lagi.

"Dengan begitu, tawanan itu masih tetap berada di gubernuran, tetapi pasukan pengawalnya menjadi kalang-kabut mencarinya. Habis, mereka tidak menghormati ayahmu, bahkan berani menghina kau!"

"Tetapi ada orang menjaga di sana!"

Ujar Li Bing-cu.

"Cukup kalau kau bawa aku ke kamar tahanan sana, aku sendiri nanti bisa mencari akal,"

Sahut si gadis dengan tertawa.

Li Bing-cu masih terlalu muda, ia belum tahu seluk-beluk kehidupan manusia, ia hanya merasa tindakan ini sangat menarik dan menyenangkan, apalagi terhadap tawanan itu ia memang menaruh simpati, ia pikir, biar aku sembunyikan dia untuk diajak mengobrol, tentu sangat menyenangkan, lebih-lebih tawanan itu sangat tampan, malahan mahir pula bersyair.

"Baiklah, mari kita ke sana!"

Segera ia menyatakan persetujuannya. Sesudah itu, ia keluarkan dua setel pakaian laki-laki.

"Biar kita menyamar sebagai lelaki saja!"

Katanya pula.

"Ya, pintar sekali kau!"

Puji si gadis tadi. Tak lama sesudah mereka tukar pakaian, segera Li Bing-cu membawa kawannya itu menuju ke kamar tahanan.

"Siapa kau!"

Terdengar penjaga di sana membentak waktu mereka mendekat. Karena gugup hingga Li Bing-cu tak mampu menjawab teguran itu.

"Karena Sunbu-taydiin mendengar tawanan jatuh sakit, kami diperintahkan ke sini untuk memeriksanya apakah perlu memanggil tabib?"

Segera si gadis tadi mewakilkan menjawab.

"Eh, darimana Sunbu-tayjin mendapat tahu?"

Tanya si penjaga dengan heran. Sementara itu si gadis dengan sikunya telah menyentuh Li Bing-cu sambil pura-pura berkata.

"Lekas kau kembali dulu melaporkan kepada Congkoan, mintalah agar dia segera memanggil tabib, biar aku yang melihatnya ke dalam sana."

Kalau semula karena tertarik akan lelucon itu, tapi kini demi nampak penjaganya begitu bengis dan memandang padanya dengan mata melotot, tak tertahan Li Bing-cu menjadi jeri.

Tiba-tiba ia sadar bahwa dirinya kini menyamar dan bukan putri gubernur lagi, bila sampai dihina oleh penjaga itu, apakah bukan dirinya sendiri yang cari penyakit?

Karenanya, segera ia membalik tubuh terus pergi sambil melambaikan tangan.

"Baiklah, sesudah kau periksa tawanan itu, lekas kau cari aku lagi!"

Serunya.

"Siapa yang datang? Tidak boleh masuk!"

Terdengar pemimpin pasukan, Cin Tiong-wat, berseru di sebelah dalam.

Dalam pada itu Li Bing-cu sudah pergi, penjaga pintu mengulur tangannya menghalangi masuknya si gadis yang menyamar sebagai lelaki itu.

"Sunbu-tayjin yang suruh memeriksanya, apa tidak diperbolehkan juga?"

Bantahnya.

"Unjukkan dulu Lingci (panah tanda tugas) dari gubernuran!"

Perintah penjaga itu.

Akan tetapi gadis itu hanya tersenyum, sekali ia mengulur tangannya, tanpa ampun lagi penjaga itu kena ditutuk roboh.

Cin Tiong-wat yang berada di dalam mendengar adanya suara gedebukan, ia jadi kaget dan lekas melompat bangun, namun pada saat itu terlihat seorang pemuda dengan cepat menerobos masuk, dengan jarinya yang serupa belati segera hendak mencolok kedua matanya.

"Ada pembunuh!"

Teriak Cin Tiong-wat, berbareng sepasang 'Boan-koan-pit' miliknya segera bekerja, dengan melintang satu sama lain, senjata itu terus menusuk ke depan.

Tetapi gerak tubuh 'pemuda' itu ternyata cepat luar biasa, dengan sedikit mendak, sebelum senjata lawan dirapatkan kembali, ia telah mendahului menubruk maju, tipu serangannya masih belum berubah, jarinya tetap menutuk, hanya kini agak sedikit turun ke bawah, mengarah ke 'Tang-bun-hiat' di dada lawan.

Tang-bun-hiat adalah satu di antara sembilan titik Hiat-to yang mematikan di tubuh orang.

Keruan terkejut sekali Cin Tiong-wat, sebab tak sempat menghindarkan diri, segera ia menjatuhkan diri menggelundung pergi, berbareng senjata potlot di tangan kiri ia timpukkan untuk menahan serangan musuh lebih jauh.

Tidak terduga, dengan sekali meraup saja, pemuda itu sudah berhasil menangkap senjata Cin Tiong-wat itu, bahkan terus ia timpukkan ke belakang tanpa menoleh, seperti tumbuh mata di punggungnya, sekaligus ia hantam roboh seorang pengawal lainnya.

Habis itu, dengan cepat dan gesit ia menerjang maju ke depan.

Sebagai kapten pasukan pengawal, dengan sendirinya ilmu silat Cin Tiong-wat tidak lemah, sekali meloncat ia sudah berdiri kembali, ia gunakan potlot yang masih tinggal satu itu sebagai pedang, diputarnya dengan cepat untuk menahan ke depan serta menutup ke belakang.

Sementara itu beberapa pengawal lainnya yang menjaga di sebelah luar, demi mendengar ada suara ribut, berbondong lantas membanjir datang.

Namun pemuda ini ternyata cukup lihai, dengan sekali lompatan membalik, ia dapat memegang dua penjaga yang lagi menerobos masuk, terus ia lemparkan keluar.

Dengan selingan itu, Cin Tiong-wat jadi agak ringan dari rang-sekan musuH, tiba-tiba pikirannya bergerak cepat, ia berlari menuju ke kamar tahanan.

Tak terduga, baru beberapa langkah ia berlari, tiba-tiba ia merasa angin menderu di atas kepalanya, pandangan matanya menjadi gelap, ternyata si pemuda tadi laksana burung saja sudah melayang lewat di atasnya terus menghadang di depan dengan serangan yang berbahaya.

Lekas Cin Tiong-wat berusaha menangkis dengan pitnya yang tinggal satu itu, tak tersangka mendadak tangan pemuda itu ganti menyerang dengan jarinya, ia menutuk 'Ki-bun-hiat', sedang tangan yang lain menyerang ke 'Ciang-tay-hiat'.

Kedua tempat ini adalah Hiat-to yang membikin pingsan, Cin Tiong-wat sendiri adalah jago menutuk, demi melihat cara menutuk pemuda ini sebegitu hebat lagi cepat, ia menjadi terperanjat hingga berkeringat dingin.

Waktu ia hendak mundur, namun sudah terlambat, baru saja ia memutar tubuh segera punggungnya dirasakan sakit tidak kepalang, 'Cin-ciok-hiat' di rusuk kirinya kena tertutuk.

'Cin-ciok-hiat' berada di antara sela miang rusuk kedua dan ketiga dihitung dari bawah ke atas, satu di antara sembilan 'Ah-hiat' (jalan darah yang membikin bisu), bila kena tertutuk, maka seluruh tubuh seketika menjadi lumpuh.

Begitulah, setelah berhasil dengan serangannya, segera pemuda itu memondong tawanan di belakangnya itu.

"Kakak Sim!"

Ia memanggil dengan suara perlahan. Namun Sim Cay-khoan ternyata lemah sekali, kerongkongannya kaku.

"Tidak usah tolong aku lagi,"

Akhirnya keluar juga suara lirih dari mulutnya.

Gadis yang menyamar sebagai pemuda ini adalah Lu Si-nio, ketika mendengar Sim Cay-khoan bisa bersuara, maka legalah hatinya, dengan sebelah tangan merangkul pinggang orang, segera ia gendong pemuda kekasihnya itu, sedang tangan kanan segera melolos pedangnya yang bersinar mengkilap terus menerjang keluar.

Di luar prajurit-prajurit penjaga berteriak membentak, akan tetapi mana bisa menahan Lu Si-nio?

Dengan beberapa kali lompatan naik turun, Lu Si-nio sudah menerjang keluar sampai di ruangan besar di luar.

Melihat siapa yang datang.

Kam Hong-ti bersorak gembira, sebaliknya Tang Ki-joan menjadi terguncang hatinya.

"Lekas cegat dia!"

Seru Li Wi kepada bawahannya. Segera Tang Ki-joan dan Kam Thian-liong berdua mem-buru maju. Akan tetapi Kam Hong-ti tak tinggal diam.

Sekali menggertak, dengan Kim-na-jiu vang lihai, secepat kilat seorang prajurit pengawal kena dipegangnya terus dilempar ke arah kedua orang ini.

Tan Bi-nio yang merasa terhina tadi, hatinya sudah tak tahan lagi, ia cabut belatinya dan mendahului suaminya menusuk Tang Ki-joan dengan cepat.

Dengan kedua tangan melindungi muka.

Tang Ki-joan mendadak mengangkat sebelah kakinya dan menendang, ia bermaksud mementalkan senjata lawan.

Tapi Tan Bi-nio sempat mengegos ke samping.

Tiba-tiba dari jurusan lain, Kam Thian-liong menyerang juga dengan pedangnya, ketika Tan Bi-nio mengangkat senjatanya menangkis, cepat sekali Tang Ki-joan menerjang maju, ia bermaksud menangkap Tan Bi-nio lagi.

Tak terduga, secepat terbang Kam Hong-ti pun tiba.

kedua tangan pendekar ini menangkis, empat tangan saling beradu.

Di sinilah dapal diukur keunggulan masing-masing.

Tang Ki-joan ternyata tak tahan oleh benturan itu, ia tak bisa menguasai tubuhnya hingga sempoyongan hampir jatuh.

Namun ia tidak menjadi jeri, dari kantong bajunya ia rogoh keluar tiga buah 'Tau-kut-tok-ting' (paku berbisa penembus tulang), ia timpukkan berbareng dengan kecepatan luar biasa.

Sebaliknya Kam Hong-ti pun cukup sebat, sambil menggertak, sebelah tangannya berhasil menjambret seorang prajurit terus ia angkat ke depan, keruan saja ketiga paku berbisa yang ditimpukkan Tang Ki-joan tadi semuanya menancap di tubuh prajurit itu.

Kam Hong-ti menjadi murka, ia menubruk maju dan menghantam lagi.

Melihat lawannya begitu tangkas dan lihai, lekas Tang Ki-joan menggeser pergi.

Sementara itu Lu Si-nio telah berhasil membinasakan belasan pengawal, ia berhasil menerjang sampai di pintu bundar.

"Chit-ko, Chit-so (kakak ketujuh), lekas kita pergi!"

Ia berpaling meneriaki kawan-kawannya itu.

Di sebelah sana Kam Thian-liong yang kepandaiannya setan-ding dengan Tan Bi-nio sedang saling hantam dengan sengit, sedang pengawal lainnya membantu dari samping, Tan Bi-nio sudah terkepung di tengah.

Melihat istrinya berada dalam bahaya, Kam Hong-ti unjuk keperkasaannya, di antara hantaman dan tutukannya, dalam sekejap sebagian besar pengawal kena dilukainya.

Nampak kejadian itu, mau tak mau Kam Thian-liong merasa jeri juga, ia hendak mundur, namun Tan Bi-nio menusuk dengan belatinya dengan cepat, tanpa ampun lagi bahunya kena tertusuk.

Sesudah berhasil melukai lawannya dan merasa puas, Tan Bi-nio bersama Kam Hong-ti, dengan berjajar menerjang keluar.

Belum pernah pasukan pengawal itu menyaksikan pertarungan yang begitu hebat, laksana terdampar arus gelombang yang hebat, mereka mundur memisah ke samping hingga kedua suami istri itu dengan gampang saja dapat kabur.

Di antara suara tertawa mereka yang terbahak-bahak, suami istri Kam Hong-ti lantas menyusul Lu Si-nio yang sementara itu sudah kabur lebih dulu.

"Harap Chit-ko pinjamkan sebuah kamar padaku,"

Pinta Lu Si-nio setiba di rumah Kam Hong-ti.

Tan Bi-nio membawanya masuk ke kamar tidurnya, sesudah itu dengan tersenyum ia keluar, sekalian ia tutupkan pintu kamar.

Lu Si-nio menjadi jengah melihat kelakuan orang.

"Enso yang nakal!"

Omelnya dengan tertawa. Kemudian ia dudukkan Sim Cay-khoan di tempat tidur.

"Sim-koko (kakak Sim), aku berada di sampingmu!"

Katanya dengan suara perlahan. Wajah Sim Cay-khoan sangat pucat, kedua matanya hanya setengah terbuka.

"Buat apa kau menolong diriku?"

Katanya dengan menghela napas.

Hati Lu Si-nio berdebar, lekas ia membuka baju pemuda itu untuk diperiksa, namun tiada sesuatu luka yang didapatkan pada badan Sim Cay-khoan, ketika ia kendorkan tangannya, mendadak Sim Cay-khoan roboh.

Lu Si-nio adalah ahli, segera ia tempelkan telinganya ke dada orang untuk mendengarkan, tangannya meremas juga ke lututnya, tiba-tiba Sim Cay-khoan menjerit kesakitan, tapi masih tetap tidak bisa bergerak.

Bukan main kejut Lu Si-nio melihat keadaan kekasihnya.

"Aku sudah cacat dan tak berguna lagi, percuma saja kau menolong aku,"

Dengan perasaan hampa Sim Cay-khoan berkata.

Kiranya Tang Ki-joan yang licin itu memang cukup keji, ia khawatir kalau Sim Cay-khoan kena dirampas orang lagi, maka ia turun tangan secara kejam dan membikin cacat pemuda itu dengan getaran tenaga pukulannya hingga tulang lututnya dibikin remuk, dengan demikian pemuda ini lumpuh dan tak bisa berkutik lagi, seumpama Hoa To (tabib kenamaan di zaman Sam Kok) menjelma kembalipun susah menyembuhkannya.

Keruan saja Lu Si-nio merasa seperti disambar geledek, sukmanya seakan terbang meninggalkan raganya.

Tapi demi menatap sinar mata Sim Cay-khoan yang memperlihatkan rasa pedih dan putus asa, lekas dara pendekar ini mengumpulkan semangat dan meneguhkan hati.

"Apa? Tak berguna?"

Si-nio berlagak sewajarnya saja.

"Cay-khoan, percuma saja kau anggap dirimu sebagai sastrawan ternama, apa kau tidak tahu bahwa Co Kiu buta matanya toh masih mempelajari sastra, Sun Pin buntung kakinya masih mempelajari siasat meliter, Thay-su-kong meski tubuhnya teraniaya secara hebat juga masih sanggup mengarang kitab 'Su-ki' yang terkenal. Ketiganya kan cacat juga, tapi nama mereka tetap harum sepanjang masa! Cay-khoan, soal mati adalah terlalu gampang, tapi seorang laki-laki harus berani hidup meski dalam keadaan betapa sulitpun!"

Begitulah dengan menerocos Lu Si-nio coba memberi kekuatan kepada kekasihnya, sampai akhir perkataannya, air matanya pun ikut bercucuran.

Co Kiu, Sun Pin dan Thay-su-kong yang dikemukakan sebagai contoh oleh Lu Si-nio tadi, semuanya adalah orang-orang besar di zaman dahulu.

Co Kiu dan Sun Pin.

meski akhirnya menjadi cacat, yakni buta dan buntung kakinya, namun mereka tidak patah hati, mereka masih terus memperdalam pengetahuan dalam kitab sastra dan ilmu siasat militer.

Sedang Thay-su-kong yang sebenarnya bernama Suma Sian adalah orang pada zaman Kaisar Han-bu-te, karena beberapa kata-katanya yang dituduh menyinggung Han-bu-te, oleh kaisar ini ia dihukum kebiri, namun ia pun tidak menjadi putus asa oleh karena dirinya cacat, bahkan ia mencontoh kedua orang yang tersebut duluan tadi, dengan semangatnya yang tak kunjung padam, akhirnya ia berhasil menulis juga sebuah kitab yang sangat terkenal, yakni yang hingga kini terkenal dengan nama 'Su-ki' (Catatan sejarah).

Kini Lu Si-nio mengemukakan ketiga orang itu sebagai contoh untuk meneguhkan hati Sim Cay-khoan dan sebagai pendorong agar pemuda ini jangan putus asa karena merasa dirinya sudah tak berguna lagi.

Keruan saja Sim Cay-khoan berlinang air mata seakan tiba-tiba mendapatkan tenaga dan jiwa baru untuk hidup kembali, dengan kencang ia genggam tangan Lu Si-nio.

Saking terharunya.

Lu Si-nio pun mencucurkan air mata, akan tetapi kini bukan air mata putus asa lagi.

air matanya telah berhasil mengusir pergi awan mendung yang menutupi pandangan Sim Cay-khoan, pemuda itu kini sudah mau tahu apa artinya kehidupan.

"Eng-moay, banyak terima kasih padamu!"

Dengan suara tersendat akhirnya Sim Cay-khoan berkata pada Lu Si-nio dengan kedua tangannya masih menggenggam kencang. Maka tersenyumlah Lu Si-nio, air matanya menetes ke muka Sim Cay-khoan.

"Cay-khoan,"

Sahut Lu Si-nio dengan pandangan mata penuh perasaan.

"meski badanmu cacat, tetapi jiwamu toh tidak cacat!"

Saking terharunya, hingga tak sanggup Sim Cay-khoan mengeluarkan kata-kata lagi.

"Lagi pula kau tak akan cacat buat selamanya,"

Kata Lu Si-nio pula setelah lewat sejenak.

"Bila kau sanggup bersabar dan telaten, tapi bersungguh-sungguh, maka aku dapat ajarkan kau cara penyembuhan diri."

"Sekarang kau seperti tabib yang mahir sekali,"

Ujar Sim Cay-khoan.

"Ya, bahkan aku akan menjadi seorang tabib yang makin hebat,"

Sahut Si-nio.

"Akan kuajarkan cara mengatur pernapasan hingga kau sanggup mengatasi jalan pernapasanmu dan kau tentu akan sembuh, bahkan akan jauh lebih sehat dan kuat daripada orang biasa."

"Apakah ini yang disebut Lwekang yang biasanya kalian latih itu?"

Tanya Cay-khoan.

"Ya betul, kau telah dibikin cacat orang dengan pukulan Lwekang hingga luka parah di dalam, satu-satunya jalan buat melawan dan menyembuhkannya juga harus dengan berlatih Lwekang."

"Harus makan waktu berapa lama?"

"Mungkin diperlukan sepuluh tahun!"

"Baiklah, justru itu merupakan penggemblengan bagiku!"

Begitu jawab Sim Cay-khoan akhirnya dengan hati mantap.

Sementara itu Tan Bi-nio yang mendengar ada suara tangisan, perlahan-lahan ia mengetuk pintu.

Si-nio membukakan pintu dan keluar, kemudian ia terangkan semuanya kepada suami istri Kam Hong-ti.

Diam-diam Tan Bi-nio ikut cemas dan berduka, pikirnya.

"Untuk mengajar seorang cacat berlatih Lwekang, apalagi orang yang sama sekali belum punya dasar, hanya seorang sastrawan yang lemah, sepuluh tahun saja belum tentu mampu, dengan begitu apa tidak akan menyia-nyiakan masa remaja Sumoay?"

"Sepuluh tahun atau lebih lama lagi, bagi kaum kita tiada kenal kata-kata putus asa segala, yang aku pikirkan mungkin Sumoay tiada tempat tirakat yang sepi,"

Ujar Kam Hong-ti.

"lt-liam Taysu punya Sute, It-biau Hwesio, dalam waktu singkat ini akan pindah ke Sian-he-nia,"

Kata Lu Si-nio.

"di sana aku dapat mendirikan gubuk dan tinggal untuk merawat Cay-khoan."

"Begitupun baik, biarlah kami suami istri mengantar kalian ke pegunungan itu,"

Sahut Kam Hong-ti dengan senang.

Begitulah, Lu Si-nio lantas menyewa sebuah kereta keledai, dibantu Kam Hong-ti yang pintar merias dan mengubah muka, ia kembali ke rumah dulu untuk mengebumikan jenazah ayahnya, sesudah itu bersama It-biau Hwesio lantas mengasingkan diri ke Sian-he-nia.

"Kelak kalau kita harus menempur si bangsat gundul Liau-in, mungkin diperlukan bantuan Sumoay,"

Kata Kam Hong-ti kepada Lu Si-nio ketika mohon diri setelah mengantar Sumoaynya ini ke tempat kediamannya yang baru.

"Sudah tentu,"

Sahut Si-nio.

"di pegunungan sunyi ini, justru aku dapat menggunakan kesempatan ini buat melatih diri dan mematangkan ilmu pedang."

Semenjak itulah, di bawah asuhan dan rawatan Lu Si-nio, lambat laun penyakit Sim Cay-khoan tampak ada kemajuan dan bertambah sembuh.

Sang tempo lewat dengan cepat, tanpa terasa lima tahun sudah berlalu.

Pada suatu pagi, seperti biasa Lu Si-nio datang ke kamar Sim Cay-khoan, sebelum masuk kamar, dari jendela ia pandang ke dalam, tiba-tiba dilihatnya ada seorang berjalan dengan merembet dinding tembok.

Bukan main rasa girang Lu Si-nio, tidak ayal lagi segera ia dorong pintu dan masuk ke dalam.

"Semalam, sehabis aku melakukan latihan pernapasan seperti biasa, tiba-tiba aku merasakan hawa hangat menerjang dari bawah ke atas, kemudian mengambang naik turun, selain itu di dalam tubuh, di antara dada dan perut, seperti ada segulungan benda yang bisa naik turun dan berputar,"

Tutur Sim Cay-khoan.

"Aku coba menggunakan sedikit tenaga, mendadak aku sanggup berduduk, pagi ini dengan merembet dinding, aku sudah bisa jalan dari depan pembaringan sampai rak buku sana, pulang pergi tiga kali."

"Sungguh cepat sekali kemajuanmu,"

Sahut Si-nio dengan girang sekali.

"Kalau begini, menurut pandanganku tidak sampai sepuluh tahun kau sudah bisa sembuh seluruhnya. Tetapi kau baru mulai belajar jalan, jangan sampai badanmu terlalu capek, lebih baik kembali lagi ke dipanmu buat mengaso."

Habis berkata, tiba-tiba ia lihat di atas meja tulis ada secarik kertas tertulis beberapa baris huruf besar.

"Ehm, baru sembuh sedikit saja kau sudah melelahkan diri membuat bersyair, aku nanti denda kau!"

Kata Si-nio pula dengan pura-pura mengomel sambil menjemput kertas itu. Melihat itu Sim Cay-khoan menjadi gugup.

"Moaymoay, kembalikan padaku!"

Serunya.

Sesudah itu dengan sempoyongan ia terus melepaskan pegangannya pada dinding tembok dengan niat hendak merebut kertas surat tadi, tapi karena kurang kuat berdiri, ia terjatuh ke dalam pangkuan Lu Si-nio.

Lekas Si-nio memayangnya ke pembaringan.

Muka Sim Cay-khoan menjadi merah jengah melihat Lu Si-nio sudah berhasil membaca beberapa baris yang tertulis di atas kertas tadi.

Kiranya pemuda itu bukan lagi bersyair, tapi beberapa baris tulisan itu adalah kumpulan petilan syair kuno.

Rupanya ia telah mengumpulkan petilan syair dari penyair terkenal pada zaman dahulu hingga tercipta sebuah lagu, antara lain menggambarkan betapa rasa cintanya kepada Lu Si-nio, tapi ia malu pada diri sendiri yang sudah cacat dan tak berguna lagi, ia khawatir kalau perjodohan ini hanya seperti impian belaka, meski kini dapat duduk berhadapan, namun sesungguhnya terpisah jauh seperti langit dan bumi.

Begitulah dengan terkesima dan cemas Sim Cay-khoan memandang Lu Si-nio.

"O, engko yang bodoh,"

Kata Si-nio akhirnya dengan menghela napas.

"Dalam lima tahun ini apakah kau masih belum kenal hatiku? Tidak peduli bagaimana dengan keadaanmu, aku akan selamanya mendampingi kau!"

Saking terharunya atas ucapan itu, tidak tahan lagi Sim Cay-khoan meneteskan air mata.

Dengan tangan bergandeng tangan dan mata menatap mata, kedua muda-mudi itu sama-sama merasakan meresapnya cinta murni.

Tengah mereka tenggelam di lautan madu asmara, tiba-tiba terdengar di luar ada suara panggilan It-biau Hwesio.

"Baik-baiklah kau mengaso, jangan berpikir yang tidak-tidak, selekasnya aku akan kembali,"

Pesan Si-nio kepada kekasihnya dengan suara perlahan. Setelah keluar, ia lihat It-biau Hwesio lagi menggapai padanya dengan berdiri di atas puncak bukit sana. Si-nio berlari menghampiri.

"Ada apakah Taysu memanggil?"

Tanyanya.

"Lihat itu!"

Kata It-biau Hwesio sambil menunjuk ke bawah gunung.

Maka tertampaklah ada seorang dari bawah sedang mendaki ke atas dengan cepat sekali, hanya sebentar saja orang itu sudah sampai di puncak dimana mereka berada.

"Siapakah orang yang mengetahui tempat pengasingan kita?"

Ujar It-biau Hwesio.

"Jangan-jangan cakar alap-alap kerajaan Jing!"

"Jika betul anjing atau alap-alap Jing-ting (kerajaan Jing), maka terang kedatangannya hanya mengantarkan kematian saja!"

Je-ngek Si-nio. Selang tidak lama, orang itu sudah semakin jelas, lapat-lapal orangnya sudah dapat dikenali.

"Eh, kenapa dia?"

Kata Si-nio pula terheran-heran. Baru habis perkataannya orang itu sudah meloncat naik ke atas puncak.

"Lu-cici, ternyata betul kau berada di sini!"

Terdengar orang itu berseru.

"Hai, Teng Hiau-lan, beberapa tahun tak bertemu, ternyata kau kini sudah menjadi besar,"

Sahut Lu Si-nio dengan girang.

Kiranya yang datang ini memang betul adalah Teng Hiau-lan yang sudah berpisah selama lima tahun dengan Lu Si-nio, selama itu ia dibawa ke Thian-san oleh Ie Lan-cu untuk diajari ilmu pedang.

Maka diperkenalkanlah pemuda ini kepada It-biau Hwesio oleh Lu Si-nio.

"Lu-cici, dengan susah payah aku mencari engkau, akhirnya kutemukan juga!"

Kata lagi Teng Hiau-lan.

"Begitukah? Siapa yang memberitahu kepadamu bahwa aku tinggal di sini?"

Tanya Si-nio.

"Kam-tayhiap,"

Jawab Hiau-lan cepat.

"Tetapi beliau juga tidak percaya kepadaku."

Karena percakapan yang tiada ujung pangkalnya itu, It-biau menjadi bingung, tetapi demi melihat sikap Hiau-lan yang begitu akrab dengan Lu Si-nio, hatinya tergerak.

"Biarlah aku pulang dulu untuk memasak air,"

Ujarnya kemudian dan pergilah dia. Sesudah It-biau berlalu barulah Teng Hiau-lan meneruskan pula perkataannya.

"Lu-cici, kau harus menolong aku!"

"Apa? Mengapa aku harus menolong kau?"

Tanya Si-nio heran "Lu-cici, orang telah salah menuduh padaku, hanya engkau saja yang bisa menolong, dapatkah engkau percaya pada diriku?"

"Adik cilik, aku mengira kau sudah besar, tidak tahunya ternyata kau masih tetap seperti anak-anak saja seperti dulu,"

Sahut Si-nio dengan suara tertawa merdu.

"Coba katakan, siapa yang sem-barangan menuduh dan mendakwa kau?"

"Tokoh dari kalangan Kangouw,"

Hiau-lan menjelaskan dengan suara rada gemetar.

"Masakah bisa jadi begitu? Siapakah yang menjagoi mereka?"

Tanya Si-nio dengan heran.

"Guruku yang dahulu, Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng."

"Lalu, siapa lagi?"

"Ada pula Kwantang-si-hiap dan lain-lain!"

"Aneh, bukankah Kwantang-si-hiap adalah sahabat ayah angkatmu, Ciu Jing, lagi pula sepaham denganmu?"

Tanya Si-nio.

"Ya, memang mereka baik sekali padaku seperti terhadap anak sendiri,"

Sahut Hiau-lan.

"Kalau begitu kau jangan khawatir, coba ceritakan padaku yang terang!"

Maka berceritalah Hiau-lan kisahnya sejak ia ikut le Lan -cu ke Thian-san lima tahun yang lalu.

"Lu-cici,"

Lebih dulu Teng Hiau-lan bertanya.

"bukankah kau masih ingat dulu pernah aku ceritakan padamu bahwa aku mempunyai dua keponakan perempuan kembar yang mungil sekali."

"Bagaimana aku bisa lupa?"

Jawab Lu Si-nio dengan tertawa.

"Pada waktu pertemuan kita yang pertama di Bin-san, dara cilik yang berada di gendongan Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji itu bukankah seorang di antara kedua dara kembar itu?"

"Betul, dia itu kakaknya, namanya Pang Ing,"

Jawab Hiau-lan.

"Jika begitu, seorang lagi yang kemudian direbut oleh Siang-mo dari tangan Ciong Ban-tong, tentu dia itu adiknya bukan?"

Ujar Si-nio.

"Ya, namanya Pang Lin,"

Hiau-lan membenarkan.

"Dan dengan begitu, kakak beradik kembar itu berada di tangan Sin-mo-siang-lo semuanya?"

Tanya Si-nio pula.

"Tidak, coba dengarkan, kisahnya memang aneh sekali,"

Sahut Hiau-lan.

"Setelah aku ikut nenek guru ke Thian-san, Ih-cosupo berkata padaku bahwa beliau pernah mengatakan akan mengembalikan seorang keponakan perempuanku "

Ya betul, aku pun ingat pernah kau katakan begitu,"

Sela Si-nio.

"Di rumah keluarga Lian, ia juga berkata begitu, jangan-jangan dia menerima dan memelihara seorang anak dara?"

"Bukan menerima, tetapi bolehnya merebut!"

"Merebut?"

Lu Si-nio terheran-heran.

"Boleh merebut dari siapa?"

"Merebut dari Siang-mo!"

Hiau-lan menjelaskan.

"Sebelum Ih-cosupo bertemu denganku, karena ingin mencari murid berbakat, beliau mencari ke berbagai tempat, pernah sampai di Pakkhia.

Pada suatu hari, di depan istana Si-hongcu, ia melihat Pang Ing sedang bermain dengan Siang-mo.

Begitu melihat, Ih-cosupo lantas tertarik pada dara cilik itu.

"Meski usianya sudah lanjut, tapi beliau justru sedang mencari seorang murid yang pintar dan cerdas. Waktu itu ia merasa heran, anak dara yang begitu mungil menyenangkan, mengapa bisa berada bersama dengan Siang-mo? Apalagi tampaknya mereka bukan anak dan ayah. Karena tertarik, maka dia lantas menggerayangi istana pangeran itu, ia telah dapat menyelidiki bahwa dara cilik itupun bolehnya Siang-mo merebut, maka tanpa sungkan lagi di tengah malam buta, ia pun membawa kabur Pang Ing."

Mendengar cerita itu Lu Si-nio jadi tertawa geli.

"Di dalam istana itu banyak berkumpul tokoh persilatan, perbuatan le-locianpwe itu apa tidak membikin mereka kalang-kabut!"

Ujarnya.

"Sesudah aku tiba di Thian-san,"

Sambung pula Hiau-lan.

"Ih-cosupo telah memanggil keluar Pang Ing menemui aku."

"Nanti dulu,"

Lu Si-nio menyeletuk.

"waktu le-locianpwe merantau meninggalkan Thian-san, siapa yang merawat dara cilik itu?"

"Bu-locianpwe!"

Sahut Hiau-lan.

"Ha, kiranya Bu Ging-yao dari Thian-san-chit-kiam hingga kini masih hidup!"

"Ya, Bu-locianpwe sendiri pun sangat menyukai Pang Ing, bahkan hampir berebutan murid dengan Ih-cosupo,"

Kata Hiau-lan dengan tertawa. Ia berhenti sejenak, sesudah itu ia lanjutkan pula.

"Setelah melihat Pang Ing, dara cilik ini tertawa lebar dan seketika juga di pipi kirinya tampak dekik yang manis, maka segera aku ingat dia adalah Pang Ing yang pernah digondol Siang-mo dahulu.

Selagi aku hendak memanggil namanya, Ih-cosupo sudah keburu mencegah aku.

Belakangan orang tua itu mengatakan padaku bahwa Pang Ing sedang belajar memupuk dasar, hati dan pikirannya harus bersatu, lebih-lebih karena dia masih bocah cilik yang berusia tujuh tahun, sekali-kali jangan sampai ia mengetahui asal-usul dirinya.

Karenanya terpaksa aku urung memanggilnya.

"Pada waktu Ih-cosupo dapat merebut Pang Ing, ia pun tidak tahu kalau bocah itu she Pang, maka ia telah memberi sebuah nama padanya sebagai Nyo Le-cu. Belakangan dari Bu-locianpwe, aku mendapat tahu bahwa Ih-cosupo sendiri asalnya she Nyo."

"Ya, dan mengenai dara cilik itu ada hubungan apa dengan urusanmu sekarang ini?"

Tanya Si-nio kemudian dengan tersenyum. Selagi Teng Hiau-lan hendak meneruskan penuturannya, mendadak Lu Si-nio mencegahnya.

"Nanti dulu!"

Sesudah itu ia memanjat ke atas sebuah batu cadas yang besar, dari sini Si-nio melambaikan tangannya ke rumah di bagian bawah.

"It-biau Taysu,"

Serunya.

"sebentar baru aku kembali, tak usah menunggu aku."

Ketika membalik, ia petik beberapa buah-buahan pegunungan dan diberikan pada Hiau-lan.

"Coba kau makan ini,"

Katanya pada pemuda itu. Buah-buahan itu ternyata rasanya manis segar, airnya sedikit rada mengandung bau alkohol, tak tertahan Teng Hiau-lan menjadi rada mabuk.

"Marilah kita duduk di sana, nanti kau cerita lagi,"

Kata Si-nio sambil menunjuk ke depan.

Maka ikutlah Hiau-lan di belakang Lu Si-nio.

Tidak antara lama, tiba-tiba tertampak di depan sana ada pancuran air terjun yang gemerujuk hingga air yang berhamburan ke bawah itu berwujud sebuah kolam.

Kemudian Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan mencari tempat berduduk.

"Aku menyukai kesunyian, lebih-lebih senang mendengarkan suara air terjun di sini!"

Kata Lu Si-nio.

Tiba-tiba terguncang hati Teng Hiau-lan, tapi demi melihat Lu Si-nio berkata dengan sungguh-sungguh, di antara kehalusannya mengunjuk keagungan pula hingga membikin orang tak berani memandangnya, maka lekas Hiau-lan menenangkan pikirannya.

Kemudian ia pun duduk di samping Lu Si-nio.

"Aku pernah menerima budi yang tak terhingga dari Pang-insu (guru berbudi) di Luciu, malapetaka yang menimpa rumah tangganya dua belas tahun yang lalu, tentu kau juga tahu,"

Tuturnya lagi.

"Kala itu aku pernah berjanji akan menemukan kembali kedua Titli (keponakan perempuan) yang digondol lari Siang-mo itu, kini sang kakak sudah ketemu, tapi si adik masih berada di dalam cengkeraman Siang-mo. Oleh sebab itu aku belajar ilmu pedang selama tiga tahun, sesudah turun gunung sekarang aku bermaksud pergi mencari kabar Pang Lin."

"Dia ada di dalam istana Pangeran Keempat, biar lebih tinggi lagi kepandaianmu rasanya sukar terkabul harapanmu!"

Ujar Si-nio.

"Memang betul, sebab itulah kemudian telah berekor dengan macam-macam kejadian, sungguh aku pun tidak pernah menduga sebelumnya,"

Sahut Hiau-lan.

"Dan kau sudah menderita kekalahan dari Siang-mo dan kawan-kawan bukan?"

Tanya Si-nio pula dengan tertawa. Dalam hati ia membatin.

"Dalam istana pangeran itu penuh dengan tokoh silat, kalau kau tidak menderita kekalahan barulah hal aneh, mengapa bilang tidak terduga sebelumnya? "

Bukan soal menderita kekalahan yang cuma urusan kecil, tapi hal ini benar-benar seperti impian saja."

Teng Hiau-lan bercerita lagi.

"Cici, harap kau maafkan aku, aku selalu anggap engkau sebagai orang sendiri, harap engkau dengarkan penuturanku ini."

Begitulah di tepi air terjun itu Teng Hiau-lan lantas menceritakan kisah yang menarik dan penuh dengan keanehan.

Kiranya Teng Hiau-lan yang bernyali besar itu cukup berhati-hati, sesudah ia meninggalkan Thian-san, ia tidak seketika pergi mencari Siang-mo secara ceroboh, tapi lebih dulu ia pesiar dan berkelana di Kangouw, habis itu baru menuju Liau-tang-poan-to (semenanjung Liautang) untuk mencari Kwantang-si-hiap.

Tatkala mana ia sudah merupakan seorang pemuda yang berusia 27-28 tahun.

Melihat pemuda ini sudah dewasa dan gagah, tentu saja Kwantang-si-hiap merasa girang sekali.

Ketika Hian-hong Totiang mendengar bahwa Hiau-lan berniat menuju ke Pakkhia untuk mencari Pang Lin, imam ini mengatakan padanya.

"Di Pakkhia aku ada seorang kenalan, namanya Kheng Ngo, dia bekerja di dalam istana Si-hongcu, setibanya kau di sana boleh kau mencarinya."

Demikianlah maka Teng Hiau-lan telah diberi pula oleh Hian-hong semacam obat rias ciptaannya sendiri untuk memoles paras mukanya, kemudian pemuda itu berangkat ke Pakkhia.

Cuma sayang sekali, setiba Teng Hiau-lan di kotaraja, kebetulan karena sesuatu tugas, Kheng Ngo keluar kota, karena tiada kenalan atau sanak keluarga lain, terpaksa Teng Hiau-lan mondok di rumah biara di Se-san.

Di kotaraja ini sepanjang hari Teng Hiau-lan hanya pesiar ke tempat termashur karena tiada sesuatu kerjaan lain.

Pada suatu hari, tiba-tiba timbul pikirannya mengagumi karya seni tinggalan zaman kuno, ia pikir Ki-yong-koan hanya berjarak antara seratus li saja dari kotaraja, sedang Ban-li-tiang-sia, itu tembok raksasa yang terkenal melingkar-lingkar lewat di sim.

Menghadapi bangunan raksasa yang paling termashur dalam sejarah ini jangan sekali-kali dilewatkan begitu saja.

Suatu hari, pagi-pagi betul ia sudah bangun, dengan menumpang kereta kuda ia menuju Lam-khau, dari sini ia berjalan kaki mendaki bukit yang berada di depannya.

Ban-li-tiang-sia yang tersohor itu dimulai dari Ka-kok-koan (nama benteng) hingga San-hay-koan, panjang tembok besar yang melingkar-lingkar di antara bukit dan gunung seluruhnya lebih dari dua belas ribu li.

Pada bagian Ki-yong-koan ini menembus melintasi bukit Pat-tat-nia.

Sampai di atas bukit yang curam itu, Teng Hiau-lan sudah dapat lihat Ban-li-tiang-sia laksana ular raksasa yang panjang menyusur naik turun di antara gunung gemunung itu.

Benteng Ki-yong-koan berdiri tegak di utara Lam-khau, di kedua sampingnya dua gunung tinggi mengapit sebuah sungai kecil lagi sempit, tapi di atas gunung itu pepohonan tumbuh menghijau lebat seperti lukisan indah, inilah satu di antara delapan tempat pemandangan yang terindah di Yan-khia (Pakkhia atau Peking).

Sesudah Teng Hiau-lan menikmati sejenak tempat ini, ia melewati pula beberapa tempat ternama dan akhirnya tibalah dia sampai di puncak paling atas bukit Pat-tat-nia itu.

Di sini ia lihat Ban-li-tiang-sia melintas di antara lamping gunung yang sangat curam.

Saking tertariknya oleh pemandangan permai itu, ia lantas naik ke atas tembok benteng, di sini segera ia merasakan luasnya langit dan bumi dan kecilnya diri sendiri.

Ban-li-tiang-sia didirikan dengan megah tiada bandingannya, lebar tembok benteng cukup untuk lima ekor kuda berlari sejajar.

Kebetulan hari ini cuaca cerah terang benderang, dengan memandang jauh dari atas tembok benteng, remang-remang tertampak Pagoda putih di Pak-hay di dalam kota Pakkhia.

Melihat sekitarnya tiada seorang manusia pun, tiba-tiba timbul hasrat Teng Hiau-lan, ia lolos pedang pusakanya, Yu-liong-pokiam, dan memainkan pedang itu.

Tengah ia mengayun dan menarikan pedang dengan senangnya, mendadak terdengar suara orang memuji.

"Kiam-hoat bagus!"

Hiau-lan terkejut, segera ia hentikan pedangnya dan menoleh, tertampak olehnya di atas tembok benteng itu entah sejak kapan sudah bertambah dengan seorang kakek.

"Banyak mengagetkan Lotiang (bapak), harap dimaafkan!"

Sapa Hiau-lan. Akan tetapi orang tua itu ternyata tidak menjawab, dengan tersenyum ia lantas mendekati.

"Ciu Jing pernah apa denganmu?"

Tiba-tiba orang tua itu bertanya. Kembali Teng Hiau-lan kaget, ia tidak menduga orang akan menyebut nama ayah angkatnya itu, sudah tentu ia tidak berani berkata terus terang.

"Wanpwe kurang pengalaman, sudilah kiranya Lotiang menerangkan siapakah Ciu Jing yang dimaksud?"

Jawabnya kemudian.

"Ha, apa kau mencurigai aku?"

Kata kakek itu.

"Ketika aku berkenalan dengan Ciu Jing, mungkin waktu itu kau sendiri belum dilahirkan. Coba perlihatkan pedangmu itu padaku!"

Sebagaimana diketahui, pada masa hidupnya Ciu Jing adalah buronan yang paling disirik oleh kalangan istana.

Karena tidak mengenal siapa orang tua ini, maka Teng Hiau-lan rada sangsi, lebih-lebih melihat kakek ini mendesak hendak melihat pedangnya, ia pun merasa mendongkol.

"Untuk apa harus diperlihatkan padamu?"

Sahutnya kemudian dengan ketus.

"Kabarnya Ciu Jing sudah meninggal, apakah betul?"

Tiba-tiba kakek itu bertanya lagi.

"Kau sendiri mengaku adalah sahabatnya, mengapa kau tidak mengetahuinya?"

Balas Hiau-lan. Karena itu, air muka orang tua ini mendadak berubah.

"Lekas katakan, siapa yang membunuh dia?"

Bentaknya tiba-tiba.

"Apa kau bekerja di istana?"

Berbalik Hiau-lan bertanya lagi. Air muka si kakek berubah rada sabar dan tiba-tiba ia tertawa.

"Kalau kau sudah tahu bahwa aku adalah bayangkara di dalam istana, tentu juga Ciu Jing sudah bercerita padamu,"

Katanya kemudian.

"Nah, coba unjukkan pedangmu itu, coba kulihat apa betul Yu-liong-pokiam itu dia punya atau bukan?"

Pertanyaan Teng Hiau-lan paling akhir tadi sebenarnya hanya bersifat memancing saja, tapi demi mendengar orang mengaku te-rus-terang, ia berbalik jadi kaget.

"Kiranya kau adalah anjing dan alap-alap dari kerajaan, jika menginginkan pedang ini. kalau punya kepandaian boleh kau coba mengambilnya sendiri!"

Setelah itu, dengan cepat ia perlihatkan ujung senjatanya yang bersinar mengkilap. Kakek itu tercengang, tapi karena dicaci maki, agaknya orang tua ini menjadi gusar juga.

"Sungguh orang muda tak berguna!"

Ia balas mendamprat. Sementara itu khawatir orang tua ini masih ada begundalnya, dengan cepat Teng Hiau-lan lantas menusuk dengan pedangnya.

"Betul-betul anak muda yang tidak kenal baik dan busuk!"

Kakek itu kembali membentak sambil berkelit ke samping.

Namun gerak serangan Teng Hiau-lan cepat luar biasa, begitu mulai, maka sukar dihentikan, dalam sekejap secara bertubi-tubi ia sudah mengirim lima kali serangan.

Si kakek sama sekali tidak pernah menduga bahwa Kiam-hoat anak muda ini bisa begitu hebat dan aneh lagi cepat, ia tidak sempat bertempur sambil bicara terpaksa ia harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk melayani tipu serangan Hiau-lan dengan kedua telapak tangannya.

Selang tak lama, serangan Teng Hiau-lan ternyata makin gencar hingga mau tak mau orang tua itu dibikin kerepotan juga, diam-diam kakek ini terkejut.

la membatin.

"Mengapa ilmu pedang pemuda ini bisa lebih hebat daripada Ciu Jing, apakah aku tak salah lihat, ia bukan orang yang hendak kucari?"

Dalam pada itu, karena rangsekan Teng Hiau-lan yang makin menghebat, terpaksa ia berulang kali mundur ke belakang.

Sebaliknya Hiau-lan semakin bersemangat, ia malah terus mendesak maju selangkah demi selangkah.

Karena kewalahan, agaknya si kakek menjadi hilang sabarnya, sekonyong-konyong ia menggertak sekali, berbareng itu ia lolos juga sebatang pedang yang tergantung di pinggangnya terus menangkis ke atas.

Terdengarlah suara nyaring saling benturnya senjata, dengan gerakan 'Sing-liong-in-hong' (menunggang naga memancing burung Hong), senjata orang tua itu ternyata berhasil menempel pedang pusaka Teng Hiau-lan.

Hiau-lan terkejut, lekas ia tekan senjatanya ke bawah, sesudah itu dengan cepat kembali ia ayun pedangnya dua kali dengan maksud memotong pedang lawan.

Tapi kakek itu ternyata tidak gampang diingusi, ia bergeser ke sana dan melangkah ke sini, tipu serangan dibalas serangan, pedangnya berusaha tidak sampai bentrok dengan pedang Hiau-lan yang terkenal kelihaiannya, jika keadaan terpaksa karena tak dapat menghindarkan saling beradunya senjata, maka segera ia gunakan daya menempel untuk menghindarkan mata pedang lawan yang tajam, dengan demikian ia gagalkan setiap serangan Teng Hiau-lan.

Sesudah Hiau-lan belajar tiga tahun di bawah bimbingan le Lan-cu, Kiam-hoatnya kini sudah berbeda jauh daripada yang dia peroleh dari ajaran gurunya terdahulu, ilmu pedangnya kini sudah mendapat ajaran asli dari Thian-san, pedangnya berputar seperti kilat menyambar dan angin menderu.

Kakek tadi cukup tinggi kepandaiannya dan ulet, meski Kiam-hoatnya tidak dapat memadai Hiau-lan, namun masih belum sampai mengalami kekalahan.

Sebaliknya walaupun ilmu pedang Hiau-lan cukup lihai, tapi karena kalah ulet dan tenaga dalamnya masih jauh di bawah si kakek, sesudah pertempuran berjalan ratusan jurus, lambat-laun ia sendiri merasa payah hingga mandi keringat.

Sebab itulah Hiau-lan merasa penasaran, masakah sesudah belajar Thian-san-kiam-hoat, sekali muncul sudah harus menghadapi musuh tangguh, sampai seorang kakek saja tak mampu dikalahkannya.

Ia tak menyadari bila dia tidak belajar Kiam-hoat selama tiga tahun pada Ie Lan-cu, maka sudah sejak tadi ia menjadi pecundang.

Begitulah, setelah pertarungan dilanjutkan lagi, sekalipun gaya serangan Teng Hiau-lan sedikitpun tidak nampak kalut, namun perlahan-lahan ia sudah merasakan napasnya sesak dan tenaga habis.

Ketika pertempuran berjalan dengan sengit, tiba-tiba terdengar seruan orang di bawah tembok benteng itu.

"Khau-loyacu, dengan siapa kau bertempur di atas sana?"

Teng Hiau-lan dapat menduga, pasti suara ini datang dari teman orang tua, maka ia ambil keputusan, jalan yang paling selamat adalah angkat langkah seribu.

Begitulah segera ia percepat rangsek-annya dan beberapa kali ia menusuk seperti banteng ketaton, tampaknya menyerang dengan hebat, tapi sebenarnya bermaksud kabur.

Karena rangsekan itu, terpaksa si kakek harus menangkis dan berkelit, pada saat itu dengan sekali serangan pura-pura, segera Teng Hiau-lan membalik tubuh terus kabur secepat terbang.

Dalam pada itu, dari bawah benteng terlihat naik beberapa orang yang bersuara tadi.

Di antara seribu kerepotannya untuk kabur, Teng Hiau-lan masih sempat menoleh ke belakang, maka tertampak olehnya orang-orang itu semuanya berdandan seragam bayangkara istana.

Keruan Teng Hiau-lan makin mempercepat larinya, akan tetapi aneh sekali, kakek tadi ternyata tidak mengejar, bahkan seakan membiarkan dia lolos.

Sesudah berlari kira-kira belasan li menyusur tembok Ban-li-tiang-sia, baru kemudian Teng Hiau-lan memperlambat langkahnya, saat itu sudah dekat Ki-yong-koan, di atas benteng ini lapat-lapat seperti terdapat penjaga, maka untuk menghindarkan diri jangan sampai kepergok lagi, ia lantas melompat turun dari tembok itu untuk menyembunyikan diri di bukit yang sunyi dan sampai hari menjelang magrib baru ia pulang.

Karena peristiwa itu, selama beberapa hari hati Teng Hiau-lan merasa tak tenteram, akan tetapi beruntung tidak terjadi sesuatu di luar dugaan, kemudian ia pergi mencari Kheng Ngo.

Kiranya Kheng Ngo sudah pulang di rumah, maka Hiau-lan lantas menyerahkan surat Hian-hong Totiang untuk seterusnya berembuk dengan kenalan barunya ini.

"Di dalam istana banyak memerlukan tenaga, kau boleh menyelundup ke sana dan bekerja sebagai pesuruh,"

Demikian nasihat Kheng Ngo.

"Lamaranmu tak perlu disampaikan kepada Congkoan (kepala pengurus rumah tangga), cukup beritahukan pada mandor pengurus saja."

Mengingat sesudah menyelundup masuk ke dalam istana dan bila ada kesempatan dapat membawa kabur Pang Lin, maka segera Teng Hiau-lan menerima nasihatnya, ia lalu mohon bantuan Kheng Ngo untuk mencarikan pekerjaan sebagai tukang kebun saja.

Istana Si-hongcu In Ceng tidak terletak dalam 'Ci-kim-sia', yaitu benteng atau kota terlarang, akan tetapi berada di utara benteng terlarang itu, di belakang sebuah jalan yang bernama Ong-tay-jin Oh-tong.

Sebenarnya tempat ini adalah tempat kediaman para Lamma yang dibiayai kerajaan, tetapi kini yang separoh sudah diubah menjadi kediaman Si-hongcu, bahkan kemudian sesudah Si-hongcu naik takhta, ia ganti tempat itu sebagai pusat dari Wi-kau atau Agama Kuning, yakni suatu sekte agama Lamma, istana itu diberi nama 'Yong-ho-kiong' yang sangat terkenal di kota Pakkhia atau Peking.

Istana ini berada di atas suatu tanah yang sangat luas, istananya sendiri pun sangat besar dan megah, di dalamnya terdapat taman bunga yang luas dengan pepohonan yang tumbuh lebat.

Setelah Teng Hiau-lan berhasil menyelundup masuk ke dalam istana itu, dilihatnya dimana-mana terdapat patung Buddha beraneka warna dan aneh, hal ini merupakan pengalaman baru baginya.

Sudah hampir setengah bulan ia bekerja di dalam istana, namun usahanya ternyata belum membawa hasil, bukan saja Pang Lin, si dara cilik ini belum pernah ia jumpai, bahkan Liau-in, Haptoh, Siang-mo dan lain-lain juga tidak pernah terlihat.

Pada suatu hari, waktu sudah dekat magrib, setelah Hiau-lan menyelesaikan pekerjaannya, ketika ia akan pulang bersama Kheng Ngo, mendadak ia dengar ada suara tertawa ria anak-anak yang sedang bermain di taman belakang, diam-diam ia masuk ke sana buat melihatnya, maka tertampak olehnya ada beberapa bocah yang sedang kejar-kejaran, di antaranya ada seorang anak perempuan yang berusia dua tiga belas tahun, gerak-geriknya sangat gesit, anak-anak lainnya ternyata tidak dapat mengejarnya.

Rupanya dara cilik itu sangat gembira akan permainan mereka hingga ia tertawa ngakak terus-menerus, karena itu, maka tertampak dengan jelas sujen di pipi sebelah kanan yang sangat manis dan menarik bagi yang melihatnya.

Teng Hiau-lan coba menunggu terus permainan anak-anak itu.

"Tak bisa kutangkap kau, sudahlah, bubar saja!"

Kata anak-anak lainnya sesudah kewalahan menguber dara cilik itu.

Sementara itu cuaca sudah mulai gelap, maka pulanglah anak-anak itu.

Dengan perlahan Teng Hiau-lan mendekati dara cilik yang menarik perhatian itu, tiba-tiba ia memanggilnya.

"Pang Lin, masih ingatkah kau pada Ciong-pepek?"

Terlihat mata anak dara itu mengerling.

"Apa kau bilang?"

Tanyanya dengan heran.

"Siapa itu Pang Lin dan siapa Ciong-pepek? Aku punya banyak paman, tetapi tiada yang she Ciong, apa Ciong-pepek adalah orang yang baru datang?"

Mendengar jawaban itu, rasa hati Teng Hiau-lan pedih sekali.

Pikirnya, pada waktu Ciong Ban-tong meninggal, anak inipun sudah berusia tujuh tahun, mengapa kini berubah jadi begini hingga semuanya sudah terlupa.

"Jangan kau takut,"

Katanya kemudian.

"Aku adalah sahabat ayah-bundamu!"

"Banyak sekali ayah-angkatku, yang mana sahabatmu?"

Tanya pula dara cilik itu yang memang tidak salah lagi ialah Pang Lin.

"Bukan ayah angkatmu, tetapi ayah-ibu kandungmu!"

Sahut Hiau-lan.

"Darimana aku mempunyai ayah-ibu kandung? Bohong kau!"

Ternyata Pang Lin tidak gampang percaya.

"Ayahmu tewas di tangan orang jahat, sedang ibumu masih belum meninggal,"

Hiau-lan tidak hilang harapan, ia terus berusaha menerangkan.

"Pada waktu kau masih kecil, sering aku menggendong kau, marilah kau ikut aku keluar dari sini buat belajar kepandaian dan kemudian pergi mencari ibumu."

Ajakan Hiau-lan ternyata disambut Pang Lin dengan tertawa mengikik.

"Ikut kau keluar dari sini? Belajar kepandaian?"

Ia menegas dengan mengejek.

"Hm, kau inilah yang jahat!"

Habis berkata, mendadak ia ayunkan tangannya yang kecil, menyusul beberapa Hui-to atau pisau terbang lantas disambitkan.

Lekas Teng Hiau-lan memutar tubuh, maka sebuah pisau menerobos lewat di bawah bahunya, secara cepat pemuda ini memutar lagi terus dengan dua jari ia menjepit pisau terbang yang kedua, berbareng ditangkiskan ke samping hingga pisau yang ketiga pun kena dipukul jatuh.

"Bagus,"

Seru Pang Lin dengan tertawa dan bertepuk tangan.

"Kau boleh coba lagi ini, kalau kau masih sanggup menghindar, aku nanti panggil kau sebagai paman dan belajar kepandaian padamu!"

Habis itu, tangannya yang kecil bergerak lagi, kini sekaligus ia timpukkan enam buah Hui-to yang terbagi menjadi tiga kelompok, tiap kelompok dua pisau dan berbareng menyambar ke depan, setiba di tengah jalan, sekonyong-konyong pisau itu laksana hidup saja lantas memisah ke kiri dan kanan.

Inilah kepandaian khas menyam-bitkan pisau terbang ajaran Ciong Ban-tong.

Sebenarnya Teng Hiau-lan bermaksud menyambut pisau terbang itu dengan tangan kosong, tetapi ia tidak sanggup menjaga serangan dari empat penjuru sekaligus, baru sempat dia berkelit dua kali, secepat kilat dua Hui-to yang lain melayang lewat di pinggir telinganya.

Dalam pada itu terlihat Pang Lin masih terus mengayun tangannya dan Hui-to masih terus menyambar susul-menyusul, bahkan makin cepat.

Karena terpaksa, pada waktu berkelit, dengan cepat Hiau-lan melolos Yu-liong-pokiam, ia menyapu dengan senjatanya, maka terdengarlah suara gemerincing yang riuh dari logam yang terkutung, seketika hujan pisau yang dihamburkan oleh Pang Lin tadi semuanya kena dikutungi oleh Yu-liong-pokiam.

Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara suitan aneh, berbareng ada orang membentak.

"Siapa berani mengacau di sini?"

"Sat-pepek, orang ini menyuruh aku ikut dia pergi!"

Pang Lin berseru demi mendengar suara orang itu.

Mengerti gelagat jelek, dengan cepat Teng Hiau-lan meloncat pergi, baru saja ia hendak melompat ke atas pagar tembok taman, sekonyong-konyong dari atas tembok itu melayang turun sesosok bayangan hitam besar laksana burung raksasa, bayangan ini terus menubruknya dari atas, sedang sepuluh cakarnya yang tajam seperti kaitan berbareng menghantam juga ke bawah.

Secepat kilat Hiau-lan ayun pedangnya, dengan pura-pura menyerang, tapi segera pula ia balik tubuh terus menerjang ke tempat dimana Pang Lin berada tadi.

Namun menyusul ia dengar suara bentakan lagi, dengan kedua lengan yang besar kasar, Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh sudah menghadang di depannya, sedang Pang Lin pun sudah menyembunyikan diri ke belakang Sat Thian-toh, dengan tangan masih menggenggam pisau dia menyaksikan pertunjukan menarik ini dengan tertawa.

Kalau yang menghadang di depan Teng Hiau-lan adalah Sat Thian-toh, maka yang menubruk dari atas pagar tembok tadi dengan sepuluh cakarnya bukan lain ialah Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji, mereka berdua saudara lantas mengepung Teng Hiau-lan dari muka-belakang.

"Haha, Teng Hiau-lan, kiranya kau!"

Dengan tertawa terbahak-bahak Sat Thian-ji menegur.

"Apa kini kau datang hendak mengangkat guru padaku?"

"Bukan, ia suruh aku ikut dia pergi, malah katanya ia hendak mengajarkan kepandaian padaku!"

Terdengar Pang Lin menyela.

"Bagus, boleh coba kepandaian apa yang kau miliki?"

Bentak Sat Thian-toh yang sudah tak sabar.

Berbareng itu kedua tangannya bergerak, segera ia menerjang maju, dengan tangan kiri ia memukul ke dada orang, sedang tangan kanan lantas hendak mencengkeram pergelangan tangan Teng Hiau-lan.

Namun Teng Hiau-lan tidak menyerah mentah-mentah, ia unjuk Kiam-hoatnya yang dipelajari akhir-akhir ini, begitu sinar pedangnya berkelebat, kontan ia menyerang secepat angin.

Sungguh di luar dugaan Sat Thian-toh bahwa ilmu pedang pemuda ini bisa begitu cepat, begitu pukulannya mengenai tempat kosong, dengan cepat pula ia mengegos ke samping, namun betapa cepatnya ia menghindar tidak urung ujung senjata lawan sudah berhasil menggores pundaknya.

Nampak adiknya terluka, lekas Sat Thian-ji menubruk maju, dengan cara menyambar seperti elang kucing, Pat-pi-sin-mo kembali menubruk dari atas dengan sepuluh cakarnya yang lancip lagi tajam.

Akan tetapi kini Teng Hiau-lan sudah cukup waspada, ia lindungi kepalanya dengan memutar pedang sedemikian rupa hingga berwujud lingkaran sinar perak.

Dari atas sudah tiga kali Sat Thian-ji berusaha menjambret orang, namun sia-sia saja serangannya itu hingga akhirnya ia harus menancapkan kaki ke bawah.

Di sebelah sana Sat Thian-toh pun menjadi kalap, dengan suara menggereng gemuruh, ia ayun kepalan dan menerjang maju lagi.

Tetapi Teng Hiau-lan tidak menjadi gentar, dengan cepat ia menusuk dua kali ke arah Siang-mo.

"Kiam-hoat bagus!"

Seru Sat Thian-ji atas serangan itu.

Berbareng ia baliki tangannya dan meraup, sepuluh kuku jarinya yang panjang dan tajam kembali mencakar pergelangan tangan Teng Hiau-lan.

Lekas Hiau-lan angkat pedangnya buat memotong, karena sambutan ini terpaksa Sat Thian-ji harus menarik kembali tangannya, ia terus menggeser dengan cepat, lalu mencakar pula ke lengan kiri lawan.

Sedang kedua telapak tangan Sat Thian-toh yang membawa angin pukulan keras berbareng juga dihantamkan dari depan.

Menghadapi gencetan kedua musuh, segera Teng Hiau-lan keluarkan 'Han-to-kiam-hoat' (ilmu pedang suhu dingin) dari Thian-san-kiam-hoat yang hebat, segera tertampak sinar putih gemerdep berhamburan.

Namun di antara sinar pedang itu, Sat Thian-ji masih terus menerobos kian kemari saling uber dengan Teng Hiau-lan.

Pemuda ini tak mampu lolos dari rangsekannya, sebaliknya Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji pun tidak bisa menubruk dekat padanya.

Sedang Sat Thian-toh masih terus melancarkan pukulan dari luar garis, tiap pukulannya sangat kuat hingga membawa sambaran angin menderu, di antara guncangan angin pukulan, beberapa kali pedang Teng Hiau-lan kena tergetar menceng hingga memberi lubang kepada Sat Thian-ji untuk menggempur padanya.

Sekalipun Kiam-hoat Hiau-lan memang hebat, namun sayang tenaga latihannya kurang, dia kalah ulet, maka tidak selang berapa lama ia sudah mulai merasa payah dan tak tahan lagi, sebaliknya Sat Thian-ji makin ganas dengan cakarnya yang lihai.

"Ha, orang tak tahu malu! Kepandaianmu selisih tidak banyak dari aku, sebaliknya kau ingin menjadi guruku!"

Dengan bertepuk tangan Pang Lin tertawa mengejek di samping. Rada mendongkol juga Teng Hiau-lan.

"Pang Lin, dua orang ini adalah musuh besarmu, sekalipun kepandaiannya lebih tinggi lagi, tak boleh kau mengaku musuh sebagai bapak!"

Bentaknya keras.

Dalam keadaan tergencet, Hiau-lan mengira pasti sulit meloloskan diri, oleh sebab itu, tidak peduli Pang Lin paham atau tidak, ia berusaha menyadarkan dara cilik itu.

Sebaliknya air muka Sat Thian-ji lantas berubah.

"Yan-ji, jangan kau percaya omongannya!"

Serunya.

Kemudian itu sepuluh cakarnya bekerja semakin cepat, mengait, mencakar, merobek dan menjambret sekenanya.

Telah beberapa kali Hiau-lan berusaha menerjang keluar dari kepungan, namun selalu dipaksa mundur kembali hingga berulang kali ia harus menghadapi bahaya dan tampaknya pada akhirnya tidak urung ia akan terkena juga.

"Masih tidak lekas menyerah!"

Sat Thian-ji menggertak tatkala nampak lawannya sudah mulai tak berdaya.

Namun Hiau-lan tidak mau menyerah mentah-mentah, dengan mengertak gigi ia ayun pedangnya melayani musuh lagi.

Waktu itu, orang-orang dalam istana pangeran itu sudah pada terkejut oleh pertarungan sengit itu, mereka berduyun-duyun ke taman.

Kheng Ngo yang juga berada di antara orang-orang itu diam-diam mengeluh karena kawannya bakal tertangkap.

Selagi Kheng Ngo berniat mengeluyur kabur, tiba-tiba terdengar di luar ada suara bentakan meminta jalan, menyusul terlihat penonton pertempuran itu tersiak minggir, kemudian tertampak serombongan orang berjalan masuk.

"Dimana Hap-congkoan kalian? Lekas panggil In Ceng buat menemui aku!"

Terdengar pemimpin rombongan itu membentak bertanya.

Mendengar suara bentakan itu, sekonyong-konyong Sat Thian-ji melompat keluar kalangan pertempuran.

Melihat tindakan lawan itu, Teng Hiau-lan menjadi bingung, ia bermaksud kabur, tetapi seluruh penjuru kini sudah merupakan pagar manusia, cara bagaimana ia bisa lolos?

Pemimpin dari rombongan orang yang baru datang tadi ternyata adalah putra sulung Kaisar Khong-hi, yakni pangeran In Si bergelar Tit-kun-ong.

Meski Kaisar Khong-hi masih belum mengangkat salah seorang di antara putra-putranya itu sebagai putra mahkota yang akan menggantikan takhtanya, namun bagaimanapun juga wibawa putra pangeran tertua tetap lebih besar dan lebih disegani.

Tatkala itu para putra pangeran sedang ramai saling berusaha merebut kedudukan mahkota, di antara mereka lebih-lebih Si-hongcu (pangeran keempat) In Ceng, Pat-hongcu (pangeran kedelapan) In Gi, Cap-hongcu (pangeran kesepuluh) In Go dan Capsi-hongcu (pangeran keempat belas) In Te yang paling giat mengerahkan kekuatan masing-masing.

In Si sebagai putra pangeran paling tua, dengan sendirinya tidak rela melepaskan hak mahkota itu, oleh karena itu ia pun banyak bersekongkol dengan pembesar kerajaan yang berkuasa, dan banyak mengumpulkan bayangkara yang berani mati baginya.

Di antara putra pangeran itu, Si-hongcu In Ceng yang paling kerap menyamar sebagai rakyat biasa dan mengeluyur keluar kota-raja.

Pada waktu Teng Hiau-lan masuk ibukota, justru pada hari itu Si-hongcu lagi menyamar dan keluar, Haptoh, Liau-in, Thian-yap Sanjin dan tokoh silat lain diajak pergi seluruhnya.

Si-hongcu meninggalkan kotaraja, hal ini sebenarnya adalah urusan maha rahasia, tetapi entah cara bagaimana hal ini akhirnya tercium oleh In Si, putra pangeran tertua ini.

Pada zaman feodal, Hongcu atau putra pangeran keluar kotaraja tanpa idin adalah suatu hal yang melanggar peraturan.

Tetapi tiap kali Si-hongcu In Ceng keluar, selalu ia melaporkan pada Ayah.

Bagindanya bahwa dia sedang sakit.

Untungnya Kaisar Khong-hi terlalu banyak putra-putrinya, pula ia paling benci kepada Si-hongcu dan jarang sekali memanggilnya, jika kebetulan ia memanggil dan mendengar bahwa putra keempat ini sakit, maka ia pun tidak memperhatikannya lebih jauh.

Oleh sebab itulah, makin lama Si-hongcu pun makin berani, sampai akhirnya waktu yang ia pergunakan di luar kotaraja jauh lebih banyak daripada berdiam di istana.

Sekali ini In Si dapat mencium bahwa In Ceng sedang keluar kota, maka timbul akalnya, ia lantas mengunjungi istana saudaranya.

Tapi begitu ia masuk istana segera terdengar ada suara orang sedang bertempur, saking herannya ia lantas menuju ke taman belakang.

Begitulah, ketika Sat Thian-ji mengetahui sedang berhadapan dengan siapa, iblis ini menjadi gugup.

"Si-tianhe. (tianhe, sebutan pada putra pangeran) sedang sakit, tidak dapat menerima Tianhe!"

Lekas ia melapor.

"Baik, coba aku sambangi dia,"

Sahut In Si tanpa pikir, sesudah itu ia membentak lagi supaya Sat Thian-ji menunjukkan jalan.

"Biar hamba tangkap pembunuh ini dulu,"

Kata Sat Thian-ji dengan menunjuk Teng Hiau-lan, ia berusaha mengulur waktu dan membelokkan perhatian orang. Namun In Si ternyata tidak menggubris padanya.

"Khau Sam-pian, boleh kau tangkap pembunuh itu!"

Tiba-tiba ia menoleh dan memerintahkan pada pengawal yang berdiri di sampingnya, sesudah itu ia berkata pula kepada Sat-Thian-ji.

"Kau tidak perlu buang tenaga lagi, kini boleh kau bawa aku pergi menemui In Ceng."

Dalam pada itu, atas perintah tadi pengawal yang berdiri di samping In Si telah menyahut satu kali, berbareng lantas melompat maju.

Sesudah berhadapan dan dapat melihat jelas siapa adanya pengawal ini, Teng Hiau-lan menjadi terperanjat.

Kiranya pengawal ini bukan lain ialah itu kakek yang pernah bergebrak dengan dia di atas benteng Ban-li-tiang-sia beberapa hari yang lalu.

Dalam keadaan demikian, Teng Hiau-lan sudah tiada napsu buat bertempur lagi.

Ia pikir, akhirnya toh tak akan bisa lolos, daripada terjatuh di dalam cengkeraman Siang-mo, lebih baik jatuh di tangan orang ini saja.

Begitulah, maka sesudah bergebrak beberapa kali, ia sengaja memberi kesempatan kepada Khau Sam-pian mengeluarkan 'Tay-kim-na-jiu' (ilmu memegang dan menangkap), segera Hiau-lan kena dibekuk.

"Baiklah, kini kau boleh giring pulang tawanan ini lebih dulu,"

Perintah In Si pula.

Kiranya In Si menyangsikan tawanan ini ada hubungannya dengan perebutan mahkota di antara mereka, maka ia sengaja tidak menyerahkan tawanan pada orang In Ceng, sebaliknya ia perintahkan Khau Sam-pian menggiring pulang dulu tawanannya dan berniat memeriksanya sendiri nanti.

Ketika kemudian In Si membentak lagi agar Sat Thian-ji menunjukkan jalan, ternyata Sat Thian-ji tetap membangkang.

"Aku hanya seorang pengawal, tak berani masuk begitu saja ke bagian dalam istana!"

Sahut Sat Thian-ji beralasan.

Mendadak air muka In Si berubah, ia menjadi murka.

Tetapi sebelum putra pangeran itu mengumbar amarahnya, pada saat itu juga tiba-tiba seorang dara cilik menyelak ke tengah dari belakang Sat Thian-toh.

"Tianhe, aku saja yang membawa engkau ke sana!"

Kata si dara cilik alias Pang Lin kepada putra pangeran itu.

"Kau siapa?"

Tanya In Si.

"Aku ialah dayang yang melayani Si-tianhe,"

Sahut Pang ^in.

"Baiklah, kau dara cilik ini baik sekali, coba tunjukkan jalan ke sana,"

Ujar In Si.

Maka berangkatlah Pang Lin ke dalam istana dengan membawa In Si berikut pengawalnya, tetapi sebelum ia melangkah pergi, lebih dulu ia main mata memberi tanda kepada Sat Thian-ji....

Bercerita mengenai Khau Sam-pian, sesudah dia berhasil menawan Teng Hiau-lan, dengan cepat ia lantas berangkat pulang, dengan dua orang Thaykam (dayang kebiri), mereka naik kereta kuda terus menuju ke Ci-kim-sia, kota terlarang dimana In Si tinggal.

Sebagai putra pangeran sulung, maka In Si dapat tinggal di dalam benteng terlarang yang menjadi tempat semayam ayah bagindanya itu.

Hanya sebentar saja kereta kuda mereka sudah tiba di benteng itu, mereka memasukinya melalui Sin-bu-mui, pintu gerbang bagian belakang.

Seturunnya dari kereta, dua Thaykam mendahului berjalan di depan, sedang Khau Sam-pian dengan mengempit Teng Hiau-lan berjalan di belakang.

Sementara itu hari sudah gelap, pintu istana sudah tutup, di taman bunga yang luas dimana mereka berlalu hanya terdapat Thaykam yang sedang meronda kian kemari.

Istana tempat tinggal In Si adalah Seng-kian-kiong di sebelah timur, sedang tiga puluh enam istana yang berada di sebelah barat adalah tempat kediaman Hongte beserta permaisuri dan para selirnya.

Para putra pangeran dan anggota keluarga serta para pengawal kalau tidak mendapat panggilan tidak bisa masuk ke sana.

Tidak lama kemudian ketika melalui simpang jalan perbatasan di antara istana timur dan barat itu, sekonyong-konyong Khau Sam-pian membisiki telinga Teng Hiau-lan.

"Lekas kau lari masuk ke istana sebelah barat sana! Sesudah melompat lewat pagar tembok itu, di dalam taman bunga sana itu kau berjalan kira-kira dua ratus langkah ke sebelah utara, di situ terdapat sebuah gunung-gunungan, bila kau kitari gunung-gunungan palsu ini kemudian kau akan mendapatkan sebuah kolam, pada sebelah kiri kolam ini sekira lima puluh tindak terdapat sebuah rumah yang terbuat dari batu hitam, masuklah ke dalam rumah itu, bila ketemukan orang di dalam, janganlah kau takut, dengan demikian tanggung kau akan lolos dari bahaya!"

Habis berkata, bayangkara itu mendadak mengendorkan cekatannya sembari berteriak.

"Aduh! Sungguh pembunuh yang lihai!"

Berbareng itu ia cabut pedangnya terus menusuk ke paha sendiri secepat kilat, ketika kedua Thaykam yang berjalan di depan menoleh karena teriakan orang, sementara itu Teng Hiau-lan sudah melayang lewat pagar tembok yang ditunjuk tadi, terus kabur masuk ke dalam istana sebelah barat itu.

Sambil berlari, dalam benak Teng Hiau-lan penuh diliputi dengan teka-teki, sungguh ia tidak mengerti mengapa Khau Sam-pian melepaskan dirinya.

Akan tetapi dirinya kini sudah berada di tengah istana kaisar, mau tak mau ia harus menuruti petunjuk yang diberikan Khau Sam-pian tadi.

Istana itu ternyata luas dan besar sekali, sesudah melewati pagar tembok, secara sembunyi-sembunyi Teng Hiau-lan menyelusup masuk ke dalam taman bunga, dari sini ia berjalan ke jurusan utara dua ratusan tindak, betul juga ia lihat sebuah gunung-gunungan palsu, sesudah mengitari gunung-gunungan ini, tidak salah lagi di situ terdapat sebuah kolam teratai, kemudian ia berjalan lima puluhan langkah menuju ke sebelah kiri, di sim diketemukan rumah batu hitam yang dikatakan Khau Sam-pian tadi.

Di sekitar situ, semua istana tampak mentereng dan bercahaya, hanya rumah batu hitam ini saja yang dibangun dengan jelek, sederhana lagi gelap.

Waktu Hiau-lan sampai di depan pintu rumah hitam ini, segera ia merasakan hawa dingin yang seram, di pintu rumah itu penuh sa-wang, jelas tempat ini jarang didatangi orang.

Sesudah Hiau-lan masuk ke dalam, ia mendaki undak-undakan batu di dalamnya, tiba-tiba ia mendengar ada orang bertanya dengan suara perlahan dan lemah dari kamar samping sana.

"Siapa itu?"

Tanpa ragu-ragu Teng Hiau-lan lantas mendorong pintu kamar itu, tertampak olehnya di dalam sim terdapat seorang wanita yang sudah berambut ubanan, mukanya kurus kering dan sedang memainkan sebuah khim (kecapi).

Ketika tiba-tiba melihat masuknya Hiau-lan, wanita itu mementang mata lebar-lebar.

"Khau Sam-pian yang menyuruh aku datang ke sini!"

Kata Hiau-lan sebelum orang bertanya lagi.

"O!"

Wanita itu bersuara sekali, sesudah itu mendadak sorot matanya menjadi terang, ia mengamat-amati Hiau-lan tanpa berkedip, sedang kulit mukanya tampak berkerut-kerut, dua tetes air matanya tiba-tiba menetes jatuh.

Teng Hiau-lan sendiri tiba-tiba merasa wanita ini seperti sudah pernah dikenalnya entah dimana, dalam hatinya tiba-tiba timbul semacam firasat aneh.

"Duduklah kau!"

Kata wanita itu kemudian dengan perlahan sesudah cukup lama ia memandang Hiau-lan.

Meski suaranya lemah, tapi seperti ada sesuatu kekuatan yang tak bisa dibantah, Teng Hiau-lan hanya menurut saja dan lantas berduduk.

"Coba lepaskan bajumu!"

Wanita itu berkata. Sudah tentu Hiau-lan terkejut dan sangsi.

"Aku minta kau lepaskan baju,"

Kata wanita itu pula.

"Kau boleh memeriksanya sendiri, tepat di dadamu terdapat sebuah tahi lalat hitam besar dan di dua samping tetekmu terdapat pula dua tahi lalat hitam yang lebih kecil hingga berupa segi tiga, coba kau merabanya sendiri, betul atau tidak?"

Mendengar ucapan ini, makin terkejutlah Hiau-lan. Sungguh ia tidak paham mengapa wanita ini bisa begitu jelas akan keadaan badannya.

"Tidak perlu buka baju lagi, memang betul di atas badanku terdapat tiga tahi lalat yang kau sebut tadi!"

Sahutnya kemudian dengan suara terputus-putus.

"Bukankah ayah angkatmu bernama Ciu Jing?"

Wanita tua itu bertanya lagi. Kembali Hiau-lan terkejut.

"Ya,"

Akhirnya ia menjawab juga. Mendengar jawaban yang pasti ini, tiba-tiba wanita itu menangis sedih.

"O, anakku! Kau sudah begini besar!"

Serunya. Karena kata-kata orang ini, Hiau-lan melonjak kaget.

"Apa?"

Ia menegas.

"Ayah dan ibuku sudah lama meninggal! Apa kau ... kau Sebenarnya ia hendak mengatakan.

"Apa kau sudah gila!"

Akan tetapi ia terpengaruh oleh sinar mata wanita itu, entah mengapa, bagaimanapun kata-kata itu tidak dapat diucapkannya.

Rupanya wanita itu terkesima juga karena bantahan Hiau-lan tadi, tiba-tiba ia mengusap air matanya.

"Memang tidak dapat me-nyalahkanmu bila kau tidak tahu,"

Katanya lagi dengan tersenyum pedih.

"Coba kau duduk dulu."

Kembali Teng Hiau-lan menurut dan berduduk kembali.

"Apa kau kira ayah kandungmu ialah Teng Ban-ing?"

Tanya wanita itu sesudah Hiau-lan berduduk dengan baik.

"Siapa lagi kalau bukan dia?"

Sahut Hiau-lan dengan tidak mengerti.

"Bukan dia, tetapi adalah Hongsiang (Sri Baginda) yang sekarang ini!"

Kata wanita itu dengan tegas. Mendengar itu, seketika kepala Hiau-lan merasa seperti kena dikemplang orang, ia tak tahan lagi.

"Bohong kau!"

Teriaknya sambil melonjak bangun pula.

"Duduklah kau, duduk, dengarkanlah kata-kataku,"

Bujuk wanita.

"Walaupun tidak enak mempunyai seorang ayah yang menjadi Hongte (kaisar), tapi bagaimanapun memang dia adalah ayahmu. Aku kini sudah loyo, sudah tidak lama lagi hidup di dunia fana ini. Syukurlah Thian yang maha murah telah mempertemukan kita, maka takkan kubiarkan kau selamanya tertutup oleh tabir rahasia ini. Jangan kau memandang aku saja, tapi duduklah yang baik, duduklah! Dengarkan penuturanku ini!"

Dalam keadaan demikian, terguncang juga hati Hiau-lan, kembali ia berduduk lagi.

"Baik, katakanlah!"

Sahutnya kemudian.

"Lebih tiga puluh tahun yang lalu, tatkala itu aku baru berusia tujuh belas tahun, bersama kakek luarmu kami tinggal di luar pintu gerbang sebelah barat kota,"

Begitulah wanita itu mulai dengan ceritanya.

"Tatkala itu aku sudah bertunangan, bakal suamiku bernama Ciok Keh-siu, ia bekerja sebagai pegawai rendah pada bagian urusan rumah tangga di dalam istana.

Waktu itu Ciu Jing belum memberontak dan masih menjabat sebagai Wi-su (pengawal, bayangkara) di dalam istana.

Mereka, yaitu tunanganku, Ciu Jing dan Khau Sam-pian bertiga bersahabat baik sekali."

Pada suatu tahun, waktu kaisar mengadakan pemilihan gadis cantik, ternyata aku terpilih.

Karena orang-tuaku bukan keluarga mampu dan tidak punya uang buat menyogok pembesar yang bersangkutan, maka akhirnya terpaksa aku memasuki istana ini.

Kala itu sebenarnya aku sudah nekat ingin bunuh diri saja, tapi Keh-siu mengatakan bahwa tiap sepuluh tahun sekali para Kiong-go (pelayan atau dayang di istana) tentu akan mengalami penyisihan, yakni dibebaskan lagi.

Asal bisa mempertahankan kebersihan tubuh, sesudah sepuluh tahun, berhubung usia sudah menanjak, maka Hong-hou (permaisuri) akan memberi pengampunan dan melepaskannya kembali ke rumah masing-masing untuk menikah.

Sebab kalau tidak demikian, pemilihan gadis terus berlangsung, sedang jika yang sudah tua tidak dikeluarkan kembali, tentu sukar menampung orang sebanyak itu di dalam istana?

Menurut jalan pikiranku waktu itu begitu banyak gadis yang masuk istana, asal saja aku tidak menonjolkan diri, tentu pula Hongte takkan memperhatikan diriku.

Jika Keh-siu bersedia menanti aku sampai sepuluh tahun lagi, kalau sekarang aku bunuh diri, bukankah akan sia-sia cintanya yang murni.

Dan begitulah lalu aku masuk ke istana."

Setelah lima tahun kulewatkan di dalam istana, selama itu belum pernah aku berjumpa dengan Hongte.

Karena tempo yang dilewatkan itu terlalu iseng, aku belajar menabuh khim hingga pandai betul.

Pada suatu hari, aku sedang menabuh alat musik ini dengan lagu daerah Kanglam, Kanglam adalah tanah asal kami.

Dan sungguh sangat kebetulan sekali pada waktu aku sedang menabuh kecapi, tiba-tiba Hongte kebetulan lewat, beliau mendengar suara khim yang aku tabuh, rupanya ia senang sekali, maka malam itu juga aku telah diberkahi panggilan.

Tatkala itu biarpun aku ingin bunuh diri juga tidak mungkin lagi, karena siapa saja yang berani bunuh diri di dalam istana, hukuman akan dijatuhkan juga kepada semua sanak keluarganya.

Sebab itulah terpaksa aku menahan noda itu buat hidup terus."

Sementara itu Ciu Jing sudah memberontak, kadang-kadang Khau Sam-pian suka masuk ke dalam istana untuk bertugas, diam-diam aku berpesan padanya agar memberitahukan Keh-siu agar dia mencari gadis lain saja dan tidak perlu menanti aku lagi.

Siapa tahu, setelah menerima kabar itu Keh-siu menjadi sedih sekali, pada hari kedua ia lantas meninggalkan pekerjaannya.

Kemudian aku baru tahu bahwa kepergiannya itu adalah untuk mencari Ciu Jing, tapi seterusnya tak pernah lagi aku mengetahui dimana ia berada, Ciu Jing sendiri pun tidak pernah bertemu dia lagi.

"Sesudah lewat setahun, lahirlah kau. Waktu itu Hongsiang sudah mempunyai empat belas putra pangeran, urusan pengangkatan putra mahkota sudah mulai hangat diperebutkan. Menurut peraturan dalam istana, sebenarnya perempuan bangsa Han tidak diperbolehkan menjadi Hui (selir), sejak pengalaman kaisar yang dahulu dengan selirnya Tang-ok-hui yang menimbulkan peristiwa hangat, peraturan ini makin diperkeras. Karena itu, para Kui-hui (selir kesayangan) yang melahirkan putra menjadi sirik dan iri padaku karena gadis bangsa Han bisa memperoleh berkah dari Hongte, maka mereka lantas memfitnah diriku di hadapan Honghou dan akhirnya aku digusur ke dalam istana pengasingan, bahkan ada usaha ingin membunuh kau!"

Mendengar kata-kata terakhir ini, hati Teng Hiau-lan terguncang dan terperanjat.

"Dan hal itu apakah tak diketahui oleh Hongte?"

Tanyanya. Wanita tua itu tersenyum pilu.

"Di dalam istana entah berapa banyak pelayan cantik dan yang mendapat berkah panggilan Hongsiang pun tidak diketahui ada berapa banyak, mana beliau menaruh perhatian lagi pada diriku,"

Tuturnya lebih lanjut.

"Sesudah Honghou mengurung aku dalam istana pengasingan ini, entah kemudian Hongte mendapat tahu atau tidak, aku pun tidak mengetahuinya."

Cerita ini membikin hati Teng Hiau-lan menjadi makin dingin dan terasa ngeri.

"Dan dengan begitu lalu tanpa sebab-musabab kau dikurung dalam istana ini hingga lebih dua puluh tahun?"

Tanyanya.

"Ya, dan kinipun sudah merasa terbiasa,"

Wanita itu mengangguk.

"Semula di sini terdapat penjaga, aku dilarang keluar dari rumah batu ini, belakangan, sesudah lama, Honghou telah meninggal, aku pun sudah tua, maka tiada orang lagi yang memperhatikan diriku, mereka membiarkan aku hidup dan mati sendiri, hanya tiap hari ada orang mengantar nasi dua kali, selain itu tiada lagi yang mem-pedulikan diriku. Aku sudah boleh bebas bergerak di dalam taman, tetapi karena sudah biasa tinggal dalam istana pengasingan ini, sinar matahari saja aku sudah sungkan melihatnya. Begitulah maka setiap hari aku hanya berdiam di sini menantikan kematianku!"

Sampai di sini, Hiau-lan tidak dapat menahan diri lagi, ia melompat maju terus merangkul wanita tua itu.

"O, ibu yang harus dikasihani!"

Ia meratap dengan suara sesenggukan. Wanita itu menghela napas, dengan perlahan-lahan ia membelai rambut putranya.

"Sudah terlalu biasa, maka air mataku pun sudah kering,"

Katanya dengan perlahan.

"Kalau bukan karena aku terkenang padamu, mungkin sudah lama aku mati."

Pilu rasa hati Hiau-lan hingga ia pun menangis tersedu-sedu.

"Jangan kau menangis,"

Kata wanita itu.

"Kita berterima kasih kepada Thian, akhirnya kau datang juga. Aku masih ingat, pada waktu aku menyerahkan kau kepada Khau Sam-pian dan dibawanya keluar istana secara diam-diam, tatkala itu kau masih belum genap berumur sebulan. Ah, untuk menghitung saja rasanya aku pun tidak sanggup lagi, berapa usiamu kini?"

"Dua puluh delapan!"

Jawab Hiau-lan. _ "Kalau begitu aku pun sudah ada dua puluh delapan tahun tinggal di dalam istana pengasingan ini,"

Ujar wanita itu.

"Sungguh suatu masa yang cukup panjang, entah cara bagaimana aku melewatkannya selama ini!

Sesudah kau lahir, aku telah minta Thaykam dari King-su-pang (bagian urusan kelahiran) agar dilaporkan pada Hongte, tapi tidak tersangka malah terjadi sebaliknya, Thaykam itu justru melaporkannya pada Honghou."

Sesudah beberapa hari aku menunggu dan tak nampak Hongte datang, juga pembesar dari Cong-jiu-hu (pembesar yang khusus mengurus keluarga kerajaan) tidak muncul, aku lantas tahu gelagat jelek, karena soal saling bunuh di antara sedarah sedaging di dalam istana sedikit banyak aku pun sudah mengetahui, maka aku merasa sangat khawatir atas keselamatan dirimu.

"Aku telah berdaya upaya, semua harta benda simpananku kuberikan kepada seorang Thaykam cilik dengan permintaan agar kau diselundupkan keluar istana dan diserahkan kepada Khau Sam-pian, sedang di dalam istana aku pura-pura mengatakan kau sudah meninggal dalam umur belum genap sebulan, apalagi Hongte memang belum mengetahui kelahiranmu, maka tiada orang yang menyelidiki kejadian itu.

"Begitulah tiga hari sesudah kau diselundupkan keluar istana, aku pun lantas dimasukkan ke dalam istana pengasingan ini oleh Honghou, dengan alasan aku telah memelet Sri Baginda dan mengacaukan tata tertib keluarga, dengan demikian maka tanpa pengadilan aku tertutup di istana ini hingga dua puluh delapan tahun!"

"Dan bagaimana kemudian? Cara bagaimana aku berada pada keluarga Teng?"

Tanya Hiau-lan dengan tersengak-senguk. Wanita itu berhenti sejenak, sesudah itu baru ia teruskan pula.

"Aku lupa menerangkan kepadamu tadi, aku masih punya seorang adik perempuan, atas perantaraan Ciu Jing, adikku itu telah menikah dengan seorang Piau-su she Teng. sesudah Khau Sam-pian membawa kau ke rumah keluarga Teng itu, karena adikku tidak mempunyai anak, lalu kau dipeliharanya sebagai anak kandung sendiri."

Kini baru Hiau-lan mengerti jelas duduknya perkara, ia seperti baru tersadar dari impian buruk.

"Kalau begitu kedua orang-tuaku yang tewas dengan mengerikan itu kiranya adalah paman dan bibiku!"

Katanya.

"Ya,"

Wanita itu membenarkan.

"selama dua puluh tahun aku dikeram dalam istana ini, pernah beberapa kali Khau Sam-pian secara sembunyi-sembunyi menyambangi aku, dari dia aku mengetahui bahwa entah pangeran yang mana telah dapat mencium bahwa kau berada di rumah keluarga Teng, maka orang telah dikirim buat menangkap kau dan akhirnya ayah angkatmu dan adikku terbunuh semua. Pada waktu tugas dinas keluar, pernah Khau Sam-pian berjumpa dengan Ciu Jing. Ciu Jing telah memberitahu padanya bahwa dia sudah menerima kau sebagai anak angkatnya dan hendak menurunkan Yu-liong-pokiam padamu, Khau Sam-pian dipesan agar kelak bila berjumpa dengan pemuda yang memakai Yu-liong-kiam, maka itulah kau adanya."

Mendengar penuturan terakhir ini, maka semuanya menjadi lebih jelas bagi Teng Hiau-lan.

Kiranya pada waktu ia berada di atas tembok besar Ban-li-tiang-sia dan sedang memainkan Yu-liong-pokiam, di sana ia kepergok dan lantas dikenali oleh Khau Sam-pian.

"Dimana Ciu Jing berada kini? Apa dia masih hidup?"

Wanita tua bertanya.

"Ia sudah meninggal dua belas tahun yang lalu!"

Sahut Hiau-lan.

Habis itu ia pun lalu menceritakan kisahnya yang dahulu, mulai dia dan bibinya diuber-uber bayangkara istana hingga sampai di daerah terpencil di barat dan akhirnya bibinya tewas dengan menyedihkan, lalu ia ditolong oleh Ciu Jing dan diserahkan pada keluarga Pang, belakangan diuber-uber pula oleh Hiat-ti-cu hingga ayah beranak she Pang tewas semuanya, bahkan ibu dan putri mereka pun terpisah, begitu pula mengenai tewasnya Ciu Jing, ia pun menceritakan semua.

Wanita tua itu terharu sekali hingga air matanya kembali bercucuran.

"Sudah lama sekali air mataku terasa kering, tapi hari ini aku akan menangis sepuasnya,"

Katanya dengan tersendat.

Menghadapi ibunya, pikiran Hiau-lan pun menjadi kusut dan timbul tenggelam tak keruan.

Selama di bawah gemblengan Ciu Jing, Hiau-lan telah dibimbing hingga pemuda ini menjadi sangat benci terhadap kerajaan Boan-jing.

Selamanya Ciu Jing juga tidak pernah menerangkan asal-usul Hiau-lan, karena itu Hiau-lan selalu mengira dirinya adalah bangsa Han, sudah lama terkandung cita-citanya menumbangkan kerajaan Boan-jing untuk membangun Bing kembali.

Tetapi kini, sama sekali tidak pernah diduga, bahwa dirinya justru adalah seorang putra pangeran bangsa Boan, kenyataan yang tak kenal kasihan ini seperti sebuah palu raksasa menghantam hancur lebur hatinya, remuk rendam perasaannya, ia mengharap ini hanya khayal belaka, namun sayang, ini bukan khayalan atau impian buruk, melainkan suatu kenyataan.

Demikianlah, perasaan dendam dan benci akan riwayat diri sendiri, seperti benang kusut mengikat dalam hati pemuda ini.

"Ibu coba katakanlah bagaimana aku harus berbuat?"

Tanyanya kemudian dengan bingung dan hilang akal. Kembali sang ibu mengelus-elus kepala putranya ini, lama dan lama sekali baru terdengar orang tua ini membuka suara pula.

"Beberapa tahun permulaan ketika aku ditutup dalam istana pengasingan ini, aku sangat pedih, luka hatiku, aku benci kepada Hongsiang.

Akan tetapi belakangan, setelah siang dan malam aku cuma menanti ajalku di sini, rasa hatiku sudah kaku, segalanya sudah tidak aku pikirkan lagi, hatiku sudah dingin!

Semua suka dan duka, rasanya sudah beku seluruhnya.

"Dan sekarang kau minta nasihat padaku, tapi apa yang harus aku katakan? Aku tidak tahu, biarlah aku pikirkan dulu perlahan-lahan. Ya, kau seharusnya seorang Hongcu (Pangeran), tapi sebaliknya aku tidak ingin kau menjadi Hongcu."

"Bukan soal ini, ibu, tidak nanti aku mau menjadi Hongcu segala. Aku tidak sudi, bukan soal ini!"

Seru Hiau-lan dengan perasaan pedih.

"Kalau begitu, lalu apa yang kau pikirkan?"

Tanya wanita itu.

Ketika ia mengangkat kepalanya, tiba-tiba ia kebentrok dengan sinar mata putranya yang penuh rasa derita dan tersiksa itu, hatinya pilu dan tubuhnya gemetar, ia mengerti apa yang sedang dirasakan putranya itu.

Ia khawatir putranya akan menghabiskan hidupnya di antara damparan angin badai kehidupan yang tiada henti-hentinya.

"Sudahlah, sudah cukup kita mengalirkan air mata, biarlah kini kita ibu dan anak berkumpul sejenak dengan baik,"

Akhirnya sang ibu berkata pula. Ia rangkul anaknya, merangkul dengan hangat penuh kasih seorang ibu. Lama dan lama sekali, akhirnya ia membuka suara pula dengan air mata membasahi mukanya.

"Dengarkanlah, aku akan menabuh khim, selamanya belum pernah kau dengar lagu dari kampung halaman kita!"

Habis itu jarinya mulai bergerak, khim yang dipegangnya tadi mulai dipetiknya.

Sebenarnya yang dibawakan itu adalah sebuah lagu yang bernada gembira, tapi kini ternyata berbalik menjadi berirama sedih sekali.

Tengah putranya itu mendengarkan dengan penuh perhatian dan tenggelam dalam alunan suara kecapi, di luar dugaan mereka seorang kakek dengan alis dan jenggot putih seluruhnya secara diam-diam telah masuk ke situ.

Orang tua ini bukan lain ialah Kaisar Khong-hi.

Maharaja ini sudah hampir enam puluh tahun di atas singgasana takhtanya, usianya kinipun hampir tujuh puluh.

Akhir-akhir ini ia sudah tidak banyak mengurusi urusan negara, kebanyakan waktunya dilewatkan di istana Yang-sim-tian untuk istirahat dan menghibur hari tuanya.

Malam ini sinar bulan purnama, pemandangan indah permai, tiba-tiba timbul hasratnya, dengan membawa dua orang Thaykam ia mengelilingi taman raya dengan perlahan-lahan.

Teringat olehnya hasil karya selama hidupnya baik urusan sipil maupun militer, rasanya sudah sampai pada puncak kejayaan, lamanya ia berada di atas takhta pun jarang ada bandingannya dari dulu hingga kini.

Tetapi dengan cepat masa hidupnya ini sudah akan berlalu, karya-karyanya yang dia banggakan itupun segera akan lenyap, buyar bagai asap dan awan berpencar.

Tiba-tiba ia merasakan kesunyian, ia ingin mencari teman-teman tua untuk diajak bercakap, tapi teman-teman tua sudah tinggal tidak seberapa orang lagi.

Honghou (permaisuri) dan selir-selir yang dia cintai di waktu mudanya kinipun hampir meninggal semuanya.

Begitulah, dalam lamunannya ia berjalan perlahan di bawah sinar sang dewi malam dan akhirnya lewat di rumah batu hitam yang berada di tepi kolam teratai itu.

Dalam istana hitam itu sayup-sayup terdengar berkumandang suara khim yang merdu, ia tertegun karena sudah pernah mendengarnya, cuma entah kapan?

"He, itu kan kejadian dulu, ya, kejadian yang sudah lama sekali,"

Begitulah tiba-tiba Kaisar Khong-hi terkenang pada masa lalu di antara suara khim yang merdu itu.

"Siapa yang tinggal di dalam situ?"

Ia bertanya pada Thaykam pengiringnya.

"Kabarnya seorang Kiong-go yang usianya sudah sangat tua,"

Lapor seorang dayangnya itu.

"Mengapa tidak dilepaskan? Sudah berapa lama ditutup di sini?"

Tanya Khong-hi pula dengan heran.

"Lapor Hongsiang, hamba sendiri tidak terang,"

Sahut Thaykam itu.

"Pada waktu hamba masuk istana, Kiong-go ini sudah berada di dalam sini, kadang-kadang ia pun menabuh khim, tapi siapa pun tiada yang urus padanya."

Kaisar Khong-hi mendengarkan sejenak dengan cermat, tibatiba teringat olehnya memang betul pernah ada seorang Kiong-go, pada kira-kira tiga puluh tahun yang lalu pernah ia panggil dan memberi berkah (ditiduri), malam itu yang sedang ditabuh kalau tidak salah juga lagu seperti ini, habis itu karena dirinya terlalu banyak pekerjaan hingga akhirnya terlupa.

"Bukankah Kiong-go ini seorang wanita Han?"

Tanyanya kepada Thaykam itu sesudah mengingat-ingat lagi.

"Kabarnya begitu!"

Sahut Thaykam.

"Bukankah orangnya berparas potongan daun sirih dan alisnya lentik?"

Tanya pula Khong-hi.

"Lapor Hongsiang, hamba belum pernah melihatnya,"

Jawab si dayang.

"Ia pun selamanya tidak mau keluar dari situ!"

"Memang begitulah,"

Timbrung Thaykam yang lain.

"Sesudah Honghou mangkat dan penjaga ditiadakan, dia tetap tidak mau keluar dari situ."

"Mana bisa orang dikurung begitu lama,"

Ujar Khong-hi sambil mengerut kening.

"Coba kalian tunggu di sini, biar aku masuk ke sana melihatnya."

Di dalam istana sunyi sementara itu kedua ibu beranak sedang tenggelam dalam alunan suara khim, ketika mendadak mereka mendengar ada suara tindakan orang, dengan cepat Teng Hiau-lan menyingkir dan bersembunyi di belakang tempat tidur.

Dalam pada itu Kaisar Khong-hi sudah melangkah masuk kamar dengan mendorong pintu.

"Siapa kau?"

Tanya wanita tua itu sambil mengangkat kepala.

Akan tetapi ketika empat mata saling menatap, maka kedua orang serentak menjadi tertegun.

Sesudah mengamat-amati sejenak, lapat-lapat Kaisar Khong-hi masih ingat diri si wanita tua.

"Apa kau Hay Hong adanya?"

Tanyanya. ' Wanita itu ternyata tidak bergerak sedikitpun.

"Bansweya (paduka yang maha mulia), Hay Hong sudah meninggal dua puluh delapan tahun yang lalu!"

Jawabnya kemudian dengan kaku.

"Kau sendiri bukan Hay Hong?"

Ulang Khong-hi.

"Kau lihat sendiri, apa bedanya aku di sini dengan orang yang sudah mati?"

Tanya wanita itu dengan masih tetap dingin.

Nampak orang sudah ubanan, Khong-hi teringat juga bahwa dirinya kinipun sudah tua, selama dua puluh delapan tahun ini, dirinya masih tetap menjadi kaisar yang aman sentosa, tetapi si dia, wanita ini, tersekap di dalam istana sunyi ini untuk menanti kema-tian.

Teringat ini semua, tiba-tiba ia merasa sangat tidak enak hati.

"Honghou juga terlalu, kau telah dikurungnya hingga sekian tahun lamanya, tetapi sedikitpun aku tidak tahu,"

Ujarnya kemudian sambil berduduk.

"Dosa apa yang telah kau perbuat?"

"Honghou menuduh aku diam-diam memelet Sri Baginda dan mengacaukan tata tertib rumah tangga,"

Kata wanita itu.

"Kalau begitu kau sungguh penasaran, tapi Honghou sendiri pun sudah belasan tahun meninggal, perhitungan ini boleh dihapus saja,"

Sahut Khong-hi menghela napas.

"Besok aku bebaskan kau dari sini dan mengangkat kau menjadi Siok-hui (selir bijaksana)."

Dengan memberkahi sebutan agung bagi bekas selirnya itu, Khong-hi mengira orang pasti akan berlutut menghaturkan terima kasih, tak terduga, wanita itu masih tetap terpaku tanpa bergerak.

"Terima kasih Hongsiang, harap Hongsiang jangan mempermainkan diriku lagi, sanak keluargaku sudah mati semua, kini aku pun tidak gentar mati lagi,"

Sahutnya kemudian dengan dingin pula.

"Ha, apa katamu? Apa kau benci padaku?"

Tanya Khong-hi.

"Kita sudah sama-sama tua, paling banyak masih berapa lama lagi kita akan hidup? Kau boleh keluar dan mengawani aku melewatkan tempo senggang, dengan begitu rasa penasaranmu perlahan-lahan akan menjadi hilang."

Bujukan ini ternyata tidak membikin tergerak hati wanita itu, ia masih tetap kaku tak bergerak dan tangannya masih memegang alat musiknya. Melihat sikap orang, Khong-hi menghela napas.

"Kalau begitu, apa yang kau kehendaki?"

Tanyanya lagi. Tiba-tiba sinar mata wanita itu menjadi terang.

"Aku ingin kau lepaskan putraku keluar dari istana dengan aman!"

Sahutnya. Keterangan yang tiba-tiba ini mengguncang hati Khong-hi.

"Apa katamu, kau punya putra?"

Tanyanya cepat.

"Apa sesudah malam itu kau lantas berbadan dua? Mengapa Thaykam dari King-su-pang tidak lapor padaku? Betul-betul kau melahirkan seorang putra? Kalau begitu selama ini dia berada dimana?"

"Selama beberapa tahun ini dia senantiasa bergelandangan di Kangouw dan terombang-ambing tiada ketentuan tempat kediamannya,"

Sahut si wanita.

"Tetapi kini dia justru berada di sini, di dalam kamar ini!"

Terkejut sekali Khong-hi atas keterangan ini. Dalam pada itu, dengan cepat sekali mendadak Teng Hiau-lan melompat keluar dari tempat persembunyiannya.

"Apa kau belum cukup membikin susah ibuku? Biarkanlah kami keluar istana!"

Serunya dengan bernapsu.

Ketika tiba-tiba nampak seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar berdiri di hadapannya dengan sinar mata yang tajam dingin, parasnya juga rada mirip dirinya, tanpa terasa Khong-hi mengkirik.

Seketika terbayanglah kejadian pada waktu dia sendiri menganiaya Ayah Bagindanya di atas Ngo-tay-san dahulu (baca Chau Guan Eng Hiong dan Thian San Chit Kiam).

"Kau, kau, apa kau hendak membalas sakit hati ibumu?"

Ia bertanya. Namun Teng Hiau-lan tidak menjawab, dengan lesu dan lemas ia berduduk.

"Kalau kau tidak mau melepaskan kami, maka boleh pergilah kau,"

Katanya kemudian dengan melambaikan tangan.

Sesudah Khong-hi menenangkan diri, ia lihat pemuda ini meski sudah kenyang menderita pahit getirnya orang hidup, namun sikapnya masih tetap gagah dan bersemangat, tak tertahan timbul rasa sayangnya.

"Kau boleh tinggal di sini saja,"

Katanya.

"Aku lebih suka mati daripada tinggal di sini!"

Sahut Hiau-lan tegas. Khong-hi menghela napas.

"Pergi dari sini juga baik,"

Ujarnya kemudian.

Kaisar yang sudah lanjut usia ini mengerti juga bahwa belasan putranya sedang ramai berusaha berebut kedudukan mahkota, bila kini bertambah lagi seorang, maka pasti akan makin menjadi hebat, apalagi ia (Hiau-lan) terlahir dari wanita Han, sudah lama pula berada di luar istana, dalam buku 'catatan sipil' Cong-jin-hu pun tidak mungkin terdapat namanya, seumpama harus balik she dan nama dan mengembalikan dia ke keluarga asalnya, urusan ini juga akan banyak menimbulkan huru-hara.

Tapi dengan mata kepala sendiri ia melihat ibu dan anak ini, dalam hati ia tidak tega, pula ia tidak ingin darah-dagingnya sendiri terombang-ambing di kalangan Kangouw.

Begitulah ia berpikir terus pergi-datang.

"Kalau begitu, aku berikan sesuatu jabatan padamu!"

Katanya akhirnya.

"Lebih-lebih aku tidak sudi!"

Jawab Hiau-lan dengan ketus.

"Habis, apakah ayahmu sendiri pun tidak kau akui lagi?"

Desak Khong-hi. Karena kata-kata ini, tiba-tiba Teng Hiau-lan menangis meng-gerung-gerung, tapi bagaimanapun juga panggilan "Ayah Baginda"

Sukar keluar dari mulutnya.

"Sekeluarnya dari sini, kemudian apa yang hendak kau lakukan?"

Tanya Khong-hi.

"Jangan kau mendesak aku!"

Seru Hiau-lan.

"Apa aku mendesak kau?"

Tanya Khong-hi heran. Tetapi tiba-tiba ia ingat sesuatu dan menyambung lagi.

"Apa kau pun ingin berebut takhta dan saling bunuh di antara saudara sedarah-sedaging sendiri?"

"Yang ingin merebut takhtamu adalah bangsa Han, aku tidak inginkan apapun juga!"

Sahut Hiau-lan.

"Baiklah, jika kau berkeras hendak pergi, akan kubiarkan kau pergi,"

Kata Khong-hi pula.

"Dan selanjutnya apa kau masih ingin bertemu denganku?"

"Aku hanya mengharap dapat merawat ibu sampai hari tuanya dan pergi sejauh-jauhnya dari sini, selamanya tidak akan kuganggu kau lagi,"

Sahut Hiau-lan.

"Aku bersedia memenuhi sesuatu permintaanmu, adakah yang kau inginkan?"

Tanya Khong-hi. Rasanya takkan tenteram kalau dia tidak memberi sesuatu kepada ibu dan anak itu.

"Baik,"

Sahut Hiau-lan setelah berpikir sejenak.

"kalau begitu aku mohon bertemu dengan Si-tianhe, aku ingin mohon dia memenuhi sesuatu permintaanku, tentu dia dapat kerjakan itu."

"Kau malah ingin mohon sesuatu padanya, memangnya aku tidak sanggup mengerjakannya?"

Kata Khong-hi sambil mengerut dahi.

"Ya, kau punya Si-ko (kakak keempat) akhir-akhir ini banyak menanjak ke atas, mungkin dia betul-betul punya kepandaian."

Terhadap Si-hongcu In Ceng, Khong-hi rada benci, maka ia pikir anak muda ini menganggap bahwa kelak dia punya Si-ko akan menggantikan takhtanya, maka sekarang ia hendak merapatinya.

"Baik, aku menuruti pemintaanmu,"

Kata Khong-hi kemudian. 'Tetapi aku berharap kau bisa lebih mendekati kau punya Capsi-ko (kakak keempat belas), jika kau mau, aku dapat mengangkat kau menjadi pembantunya."

Khong-hi memang paling sayang kepada putranya yang keempat belas itu, oleh sebab itu ia mengusulkan maksud baiknya pada Hiau-lan.

Kala itu, Capsi-hongcu, si putra pangeran keempat belas itu sedang memimpin pasukan tentara yang mengadakan operasi ke daerah barat.

"Tidak, aku hanya ingin ketemu Si-tianhe!"

Sahut Hiau-lan dengan pasti.

"Baik, kau ikut aku keluar dulu, besok segera aku lepaskan ibumu keluar istana,"

Kata Khong-hi.

Lalu ia gandeng tangan Teng Hiau-lan dan diajak keluar dari istana sunyi itu.

Ketika mendadak nampak junjungan mereka keluar dengan seorang pemuda tak dikenal, kedua Thaykam yang menunggu di luar jadi terperanjat.

"Dia adalah Wi-su baru, aku yang suruh dia masuk ke sini,"

Kata Khong-hi untuk menghilangkan sangsi kedua dayangnya itu. Sudah tentu Thaykam itu tidak berani usil lagi. Sementara itu sang dewi malam sudah berada di tengah cakrawala.

"Hari sudah jauh malam, harap Hongsiang mengaso dulu, apa sidang pagi besok akan dibebaskan lagi?"

Tanya salah seorang Thaykam.

"Ya, bebas!"

Kata Khong-hi.

Kemudian tanpa bicara lagi mereka lantas menyusur tanaman bunga dan tumbuhan lain serta keluar dari taman itu, sesudah melewati Eng-siu-kiong, lalu mereka menuju ke Yang-sim-kiong.

Sebelum sampai di istana tujuan mereka, tiba-tiba Teng Hiau-lan bersuara heran, berbareng ia tarik Khong-hi untuk mendekam di antara semak yang lebat.

"Ada Ya-hing-jin (orang jalan malam) yang melayang naik ke atas istana besar di luar sana!"

Katanya kepada maharaja itu.

"Mengapa aku tidak melihat?"

Ujar Khong-hi.

"Karena gerak tubuh orang itu cepat sekali!"

Sahut Hiau-lan.

Dalam hati Khong-hi berpikir, bila orang itu adalah Wi-su dalam istana, pasti tak berani melayang naik ke atas istana besar di luar situ, tapi kalau orang luar, hal ini lebih-lebih tidak mungkin.

Karena itu, hatinya jadi tergerak.

Segera ia berkata pada Hiau-lan.

"Kau boleh jalan dari sini ke kiri, dari situ nanti kau ikuti tiang rumah dari batu putih dan menghitungnya sampai batu ketiga belas, kau boleh angkat batu itu, dari situ terdapat jalan di bawah tanah yang menembus ke belakang tiang besar di dalam istana induk di sebelah luar sana, kau boleh keluar secara diam-diam, coba kau intip apa terdapat orang di situ atau tidak, kalau ada orang, ingatlah baik-baik rupanya."

Lalu ia keluarkan sebuah batu kemala yang selalu dibawanya dan diserahkan pada pemuda ini.

"Bila kau kepergok orang, boleh kau unjukkan batu ini sebagai tanda, katakan saja kau Wi-su yang baru datang,"

Pesannya lagi.

Hiau-lan sambut batu kemala yang diberikan itu, sesudah itu ia menuruti pesan Khong-hi tadi, ia memasuki lorong bawah tanah dan tiba sampai di dalam istana induk, di sini ia bersembunyi di belakang tiang raksasa yang terdapat di situ.

Ketika ia celingukan, tiba-tiba dilihatnya dari luar masuk dua orang sambil mendongak ke atas dan saling bisik-bisik di telinga masing-masing.

Ketika Hiau-lan ikut mendongak memandang ke atas, terlihat olehnya di atas sana tergantung sebuah papan besar yang terukir dengan empat huruf 'Cing-tay-kong-bing' (agung dan jaya).

Ada apakah kedua orang itu terus mengincar ke papan besar itu?

demikian diam-diam Teng Hiau-lan heran.

Ia menunggu pula sebentar, sementara itu kedua orang tadi tampak sedang berunding, di belakang papan tadi menongol satu kepala manusia.

Demi melihatnya, hampir saja Teng Hiau-lan berteriak.

Kiranya yang bersembunyi di atas belandar istana itu ternyata adalah seorang bocah perempuan, malah bukan lain daripada Pang Lin adanya.

Seperti diceritakan di atas, dengan diantar Pang Lin, In Si masuk ke dalam istana In Ceng untuk menyambangi adiknya yang sakit itu.

Sesudah berjalan sebentar secara berliku-liku, akhirnya In Si dibawa naik ke atas loteng.

Setiba di situ, Pang Lin mendorong pintu kamar sambil mengatakan.

"Si-tianhe berada di dalam untuk merawat sakitnya."

Karena petunjuk itu, In Si coba melongok ke dalam, akan tetapi sekonyong-konyong di dalam ramai dengan suara keresekan, ternyata di dalam kamar penuh berisi ular besar dan kecil hingga bertumpuk tindih dan bergulung-gulung.

"Aiih! aku salah tempat!"

Tiba-tiba Pang Lin menjerit.

Habis itu dengan sengaja ia menubruk maju, sikunya menyon-dok pinggang In Si, karena tidak menyangka, keruan saja In Si seperti kena terpukul hingga ia menjerit kesakitan terus roboh.

Kesempatan itu dipergunakan Pang Lin untuk melompat ke bawah loteng dengan sekali jumpalitan.

Dalam pada itu ular-ular di dalam rumah sudah mulai merayap keluar, pengawal yang In Si bawa tidak berani sembarangan masuk ke dalam kamar, sedang In Si jatuh pingsan, terpaksa jalan satu-satunya mereka harus mengendong pangeran itu dan dilarikan.

Sesudah In Si pergi, Han Tiong-san dan Siang-mo yang bertugas menjaga Si-ong-hu (istana pangeran keempat) itu lantas mengomeli Pang Lin.

"Kau bocah ini mengapa berani membikin onar!"

"Meski dia gusar juga tidak berguna, aku hanya anak kecil saja, bila karena itu ia mendamprat Si-tianhe, kalian boleh katakan dengan alasan di dalam istana tidak sedikit terdapat anak-anak pelayan, darimana bisa diketahui siapa anak kecil yang dimaksud,"

Ujar Pang Lin dengan licik.

"Lagi pula umpama mereka kakak beradik berdebat di hadapan Hongsiang, tentu Hongsiang tak akan percaya bahwa seorang anak perempuan cilik bisa menghantam roboh dia hingga semaput."

"Hm, tidak nyana dara cilik ini begini lihai!"

Ujar Han Tiong-san.

Tetapi dalam hati ia merasa bersyukur bahwa Siang-mo telah memberi obat aneh hingga semua kejadian sebelum bocah ini masuk istana sudah terlupakan, kalau tidak, sungguh tidak gampang untuk menundukkan dan tak mungkin mendustai untuk selamanya.

Begitulah sesudah Han Tiong-san berunding dengan Siang-mo, mereka mengambil keputusan mengirim orang buat memanggil pulang Si-hongcu.

Akan tetapi sebelum orang dikirim, lebih dulu Si-hongcu ternyata sudah pulang.

Keruan saja rasa khawatir mereka seketika menjadi lenyap.

"Jika kelak Tit-kun-ong (gelar In Si) berani bilang Si-tianhe keluar kota tanpa izin, maka Si-tianhe dapat mengadukan dia sebagai pemfitnah,"

Usul Han Tiong-san dengan tertawa begitu bertemu dengan majikannya.

Si-hongcu In Ceng lantas bertanya tentang kejadiannya, maka tahulah dia bahwa In Si, kakaknya yang paling tua itu bernapsu sekali untuk merebut takhta, karenanya tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Kiranya menurut perataran kerajaan Boan-jing, untuk menggantikan takhta ayah mereka, tidak diharuskan menurut urutan tua-muda, melainkan ditetapkan oleh Sri Baginda sendiri dengan meninggalkan surat wasiat yang disimpan pada suatu tempat tertentu, yakni di belakang papan besar yang berukir empat buruf 'Cing-tay-kong-bing' pada belandar utama di istana Kian-jing-kiong.

Kali ini dengan buru-buru Si-hongcu pulang kembali ke kota-raja, karena mendapat berita dari Kok-kiu (paman, adik duri ibu) Longetoh, berita itu mengatakan bahwa Hongsiang sudah meninggalkan surat wasiat, sedang mengenai siapa yang ditunjuk sebagai penggantinya tiada seorang pun yang mengetahui.

Begitulah maka Si-hongcu lantas menuturkan kabar maha penting yang ia baru terima itu kepada orang-orang kepercayaannya.

"Kalau begitu, tidak boleh tidak kita harus berusaha mencuri agar surat wasiat itu berada di tangan kita,"

Usul Thian-yap Sanjin.

"Mencuri bukan suatu cara yang baik, kalau Hongsiang mengetahui surat wasiat hilang dicolong orang, beliau kan dapat menulis lagi, tentu pula beliau akan mencurigai diriku,"

Ujar Si-hongcu.

"Paling baik adalah secara diam-diam kita membuka dan memeriksa surat wasiat itu, dengan begitu dapat mengetahui siapa yang ditunjuk sebagai pengganti dalam surat wasiat itu."

Karena itu, Thian-yap Sanjin, Liau-in, Haptoh dan lainnya serentak menyatakan oersedia melaksanakan tugas itu.

"Untuk mencuri lihat surat wasiat di dalam Kian-jing-kiong, tugas ini bukan tugas biasa,"

Kata Si-hongcu lagi.

"Orang yang pergi ke sana jangan terlalu banyak,.cukup pilih satu atau dua orang yang punya Ginkang tinggi saja."

Kalau soal Ginkang atau ilmu entengi tubuh, Thian-yap Sanjin terhitung yang paling tinggi.

"Aku saja ikut pergi bersama Thian-yap-pepek!"

Kata Pang Lin tiba-tiba sesudah mengikuti perundingan orang banyak itu.

"Untuk apa kau ikut?"

Omel Pat-pi-sin-mo.

Tapi Thian-yap Sanjin pikir tubuh Pang Lin kecil mungil, kebetulan sekali bisa berdiri di bawah belandar induk dan sembunyi di belakang papan besar itu, pula soal Ginkang ia pun di atas Tay-lik-sin-mo, kalau anak dara itu ikut pergi justru merupakan pembantu yang tepat.

Maka ia lantas berkata.

"Baiklah, aku bawa serta kau, tapi kau tidak boleh nakal!"

Kembali bercerita mengenai In Si, putra sulung Kaisar Khong-hi.

Sesudah ia jatuh pingsan karena kaget ditambah sodokan sikut Pang Lin yang mengenai jalan darahnya, sekembali di kediamannya dan siuman, ia menjadi gemas sekali atas kejadian itu, ia merasa dirinya telah diingusi seorang bocah cilik.

Dalam pada itu, datang laporan bahwa Tay-hak-su (sebutan pangkat) menteri Ong Ik-jing minta bertemu.

Ong Ik-jing sekomplotan In Si, bersama Kok-kiu Longetoh, mereka merupakan pembesar kepercayaan Khong-hi.

Pada hari ini ia mengetahui bahwa kaisar sudah mening-galkan surat wasiat, maka lekas ia menyampaikan berita itu kepada In Si.

Mendapat kabar itu, segera In Si berembuk juga dengan orang-orang kepercayaannya, pendapat mereka ternyata sama dengan In Ceng, maka ln Si juga mengirim tiga pengawalnya yang mahir Gin-kang untuk pergi mencuri lihat surat wasiat, dua di antara tiga jago pengawal yang dikirim itu bukan lain ialah orang-orang yang dilihat Teng Hiau-lan di dalam istana tersebut tadi.

Ketiga jagoan yang dikirim ln Si itu setelah berunding, mereka ambil keputusan, dua orang meronda dan seorang naik ke atas be-landar induk istana tempat papan dimana tertaruh surat wasiat itu.

Ketika orang itu merayap naik dari tiang besar di tengah istana, sekonyong-konyong dari belakang belandar induk yang melintang itu menyambar keluar beberapa titik sinar mengkilap.

Begitu cepat titik-titik sinar itu menyambar hingga tak mungkin jagoan pengawal itu sempat berkelit, segera dua pisau terbang menancap pada badannya dan seketika itu pula terguling ke bawah.

Dalam pada itu, dengan cepat tampak Pang Lin melayang keluar dari emperan rumah, lalu melompat naik pula ke atas genting kaca istana itu, menyusul lantas terdengar orang berteriak.

"Tangkap penjahat!"

Yang berteriak itu bukan lain ialah Thian-yap Sanjin, dengan akal maling teriak maling, ia sengaja alihkan perhatian orang dan tumplekan kesalahan pada pihak lain.

Ketika jago pengawal istana memburu datang, Thian-yap bersama Pang Lin sudah kabur dari samping istana Eng-hoa-tian terus bersembunyi di tempat gelap.

Kembali bercerita mengenai Teng Hiau-lan tadi, ketika ia berlari keluar dari jalan di bawah tanah itu, dilihatnya di luar Kian-jing-kiong sudah ada bayangan pedang dan sinar golok yang sedang bergebrak.

Ketika Hiau-lan sampai di luar Yang-sim-tian, Khong-hi me-nongolkan kepalanya dari semak tempat persembunyian, selagi kaisar ini hendak memanggilnya, sekonyong-konyong terlihat sesosok bayangan orang secepat terbang mendatangi, begitu cepat hingga hampir berbarengan dengan Teng Hiau-lan.

"Siapa berani bikin kaget Yang Mulia?"

Bentak Thaykam penjaga ketika melihat ada orang secara sembrono berani menerjang. Akan tetapi segera terdengar orang itu tertawa panjang.

"Ha, kiranya kau inilah kaisarnya!"

Serunya dengan beringas.

Sekali bergerak, segera ia kirim telapak tangannya membelah ke arah Khong-hi.

Dengan cepat kedua Thaykam tadi berusaha maju menolong, namun hanya sekali gebrak saja mereka sudah dipukul roboh hingga semaput.

Menyusul pukulan orang itu mengancam pula, sedang kakinya berbareng pun menendang.

Hubungan daran-daging antara ayah dan anak tidak memungkinkan Hiau-lan berpeluk tangan, melihat Khong-hi terancam bahaya, segera Teng Hiau-lan melolos pedangnya, dengan cepat ia ayun senjatanya membabat ke pinggang orang, dengan demikian ia paksa orang menarik kembali serangannya pada Khong-hi.

Orang itu ternyata cukup tangkas pula, mendadak ia meloncat naik, namun Teng Hiau-lan punya Tui-hong-kiam-hoat cepat luar biasa, secara bertubi-tubi ia mencecar orang.

Ketika orang itu melayani serangan Hiau-lan, sementara itu Khong-hi sudah bersembunyi masuk ke dalam istana Yang-sim-tian.

Karena maksudnya gagal, orang itu rupanya menjadi murka, Ciang-hoat atau ilmu pukulan dengan telapak tangan lantas berubah, ia menerjang maju di bawah kurungan sinar pedang Hiau-lan, rupanya ia sudah nekat dan siap mengadu jiwa.

Nampak Khong-hi sudah menyingkir pergi, Teng Hiau-lan tidak ingin melayani orang lebih lama, mendadak ia tarik senjatanya dan melompat keluar kalangan.

Tidak terduga gerak tubuh orang itu ternyata cepat luar biasa, begitu Hiau-lan melompat mundur, segera ia pun mendesak maju, dengan sekali jambret ia dapat memegang pundak pemuda itu.

"Ling-kiong (istana pengasingan) terletak dimana?"

Bentaknya dengan suara tertahan.

Tergerak juga hati Hiau-lan atas pertanyaan orang, untuk menolong diri sendiri, cepat ia keluarkan tipu penyelamat ajaran Ie Lan-cu, tiba-tiba ia mendoyong ke depan, berbareng pedangnya menerobos melalui bawah bahu terus menusuk ke belakang.

Bila orang itu tak melepaskan cekalannya, pasti tusukan Hiaulan akan menembus perutnya.

Sama sekali orang itu tidak menduga bahwa Kiam-hoat Teng Hiau-lan bisa begitu lihai, terpaksa ia lepaskan cekalannya dengan cepat terus melompat pergi hingga jauh, sedang Hiau-lan sendiri pun tidak urung kena dilempar hingga tergopoh-gopoh dan pundak pun terasa panas pedas.

Nyata Teng Hiau-lan tidak tahu bahwa orang ini bukan lain ialah bekas tunangan ibunya dulu yang pernah diceritakan itu, yaitu Ciok Keh-siu.

Setelah menghilang selama tiga puluhan tahun, kiranya ia pergi merantau untuk mencari guru silat, akhirnya ia berhasil masuk perguruan Cong-lam-pay, menjadi murid tokoh ternama aliran tersebut, yaitu Bu Sing-hua (adik Bu Ging-yao).

Setelah melatih diri dengan giat selama belasan tahun, dalam hal Kun (pukulan tangan/kepalan) dan Kiam (pedang) ia sudah cukup dalam mempelajarinya.

Habis tamat belajar, pernah juga dua kali Ciok Keh-siu kembali ke kotaraja, ketika bertemu Khau Sam-pian, ia mendapat tahu bahwa Hay Hong (ibu Hiau-lan) telah digusur ke istana pengasingan, kejadian ini tentu saja menambah rasa dukanya.

Sebenarnya ia mau menyusup masuk ke istana, tetapi Khau Sam-pian mencegahnya.

Kata Khau Sam-pian.

"Meski kepandaian-mu bagus, tapi jago silat dalam istana terlalu banyak, kalau gagal, bukan saja sia-sia kau mengantar nyawa, bahkan lebih membikin susah Hay Hong."

Begitulah Khau Sam-pian memberi nasihat agar Ciok Keh-siu membatalkan saja niatnya itu.

Karenanya Ciok Keh-siu kemudian berangkat ke tempat jauh dengan perasaan hampa.

Kejadian itu sudah selang tiga puluhan tahun, tapi tekad Ciok Keh-siu ingin mencari Hay Hong itu ternyata tidak pernah padam.

Pikirnya, usiaku dan Hay Hong kini sudah sama-sama lanjut, kalau sekarang tidak bertemu, mungkin harus menunggu sampai jelmaan hidup yang akan datang.

Oleh sebab itulah maka dengan menghadapi bahaya ia memasuki istana.

Tidak terduga pada malam ini juga, dua putra pangeran telah sama-sama mengirim jago pengawal mereka ke istana, sedang Teng Hiau-lan berada pula di dalam sana.

Begitulah, setelah Ciok Keh-siu terpaksa mundur karena tipu serangan Hiau-lan tadi, dalam pada itu dilihatnya di depan Kian-jing-kiong sudah berwujud lautan senjata, para jago pengawal istana sudah berduyun-duyun membanjir datang dan siap tempur.

Lekas ia memilih jalan sepi, ia kitari gunung-gunungan palsu, berkat rintangan dalam taman itu ia tidak sampai kepergok orang.

Pada suatu ketika, ia incar seorang Wi-su yang terpencil sendiri, secara tiba-tiba ia menyergapnya dari belakang, dengan sekali hantam ia bikin pengawal itu semaput, ia menyeretnya masuk ke dalam gua gunung-gunungan, ia lucuti pakaian seragam pengawal itu terus dipakainya sendiri, kemudian dengan lagak kereng ia berjalan keluar.

Dengan begitu tanpa terasa akhirnya ia telah sampai di kolam depan istana pengasingan tadi, tiba-tiba dilihatnya ada serombongan Kiong-li sedang menggotong sebuah balai-balai atau balai-balai bambu, di atas balai-balai itu rebah seorang wanita yang tubuhnya tertutup de-ngan kain putih.

Tidak tersangka olehnya bahwa wanita ini justru kekasihnya yang dirindukannya siang dan malam selama tiga puluh tahun ini.

Kiranya sesudah Teng Hiau-lan diajak pergi Khong-hi, wanita itu menangis sedih pula.

sesudah menangis lalu ia tertawa, menangis dan tertawa lagi, tiba-tiba ia merasa segenap harapannya sudah kosong, tubuhnya seperti tinggal raga belaka, kekuatan jiwanya sama sekali lenyap, dan akhirnya ia jatuh roboh.

Mengenai masuknya kaisar ke dalam istana pengasingan itu, dengan segera hal itu diketahui oleh para Thaykam, dayang-dayang kebiri itu biasanya paling pintar mengeduk keuntungan pada kesempatan baik, mereka menunggu Khong-hi sudah pergi, dengan segera mereka lantas melapor kepada pembesar wanita yang mengurus istana pengasingan itu.

Ketika mereka memeriksa ke dalam, mereka dapatkan Hay Hong sudah menggeletak di lantai, maka sesudah berunding, diputuskan memindahkan Hay Hong dari tempat itu, kemudian baru dilaporkan kepada Hongsiang.

Oleh karena itulah, pada waktu Ciok Keh-siu lewat tepi kolam tadi, segera ia kepergok rombongan Kiong-li itu.

"Siapa berani terobosan ke sini?"

Bentak Kiong-li kepala ketika melihat ada seorang Thaykam datang dari depan.

Waktu Ciok Keh-siu mengangkat kepalanya, dilihatnya wanita yang digotong itu tertutup kain putih, rambutnya sudah jarang-jarang dan ubanan, paras mukanya keriput dan sangat seram, jari kedua tangan yang tertampak dari luar kurus kering seperti cakar ayam saja, ia mengkirik sendiri, dalam hati menggerutu dan merasa sebal.

Tiga puluh tahun tidak bertemu, sudah tentu Hay Hong bukan lagi wanita cantik lagi, ternyata kekasih yang dicarinya itu sudah bertemu tapi dia malah pangling, mimpi pun tidak pernah ia duga bahwa wanita tua yang rupanya menakutkan itu justru adalah kekasih yang ia cari dengan tidak menghiraukan bahaya bagi dirinya.

Dalam keadaan sadar tak sadar Hay Hong mendengar suara bentakan, perlahan-lahan ia pentang kelopak matanya, namun sementara itu Ciok Keh-siu sudah lewat.

Waktu itu, dua jago pengawal yang dikirim Tit-kun-ong In Si sudah tertangkap, seorang di antara pengawal itu karena lebih dulu kena pisau terbang Pang Lin yang berbisa, ditambah lagi waktu bertempur terlalu banyak mengeluarkan tenaga, maka ketika ia dibekuk sudah keburu mati terserang racun.

Khong-hi sendiri memeriksa Wi-su yang tertangkap itu, ketika mengetahui bahwa Wi-su itu dikirim oleh putranya sendiri yang sulung, ia menjadi gusar, segera ia titahkan memecat In Si dari kedudukannya sebagai Tit-kun-ong dan diserahkan Cong-jin-hu (dewan pengawas) untuk mengawasinya.

Dengan demikian maka kembali In Ceng berhasil melenyapkan seorang musuh besarnya.

Malam itu sesudah terjadi huru-hara, setelah keadaan tenteram kembali, hari pun hampir pagi.

Khong-hi menahan Teng Hiau-lan tinggal semalam di Yang-sim-tian.

Besok paginya, Thaykam pengurus istana melaporkan bahwa Kiong-go yang ditahan dalam istana pengasingan itu semalam sudah meninggal.

Bukan main rasa terharunya Khong-hi ketika mendapat laporan itu, berulang-ulang ia menghela napas, tapi segera ia titahkan menguburnya dengan penuh kehormatan sebagai selir kesayangan.

Sesudah itu ia lantas memanggil Hiau-lan ke kamar tulisnya.

' "Tidak perlu kau tunggu ibumu lagi, semalam ia sudah meninggal!"

Dengan muram Khong-hi memberitahukan berita sedih itu.

Memangnya Teng Hiau-lan sudah berduka, kini mendapat berita buruk itu, seluruh tubuhnya seketika menjadi kaku, ia hendak menangis, namun tiada air mata.

Lama sekali baru ia tenang kembali.

"Baiklah, aku berangkat!"

Katanya kemudian dengan suara parau.

"Kau tunggu sebentar!"

Kata Khong-hi.

Habis itu ia perintahkan Hong-bun-koan (pembesar pengantar) menghadap, ia menulis sepucuk surat perintah, kemudian ia suruh Hong-bun-koan membawa Hiau-lan pergi menjumpai In Ceng.

Begitulah dengan perasaan duka dan bimbang Teng Hiau-lan keluar dari istana.

Sesampai di depan istana In Ceng ternyata ia masih linglung.

"Sudah sampai!"

Kata Hong-bun-koan sambil mendorongnya. Karena itu baru ia tersadar dari impiannya, kemudian ia melangkah turun dari kereta kuda mereka.

"Hongsiang betul-betul sudah pikun dan gegabah, masakah orang tolol begini dipilih menjadi pengawal,"

Diam-diam Hong-bun-koan itu merasa geli.

Dalam pada itu Hiau-lan sudah mencuci bersih obat polesan mukanya di dalam istana, maka parasnya kini sudah kembali asal.

Tatkala melihat siapa yang berhadapan dengan dia, Siang-mo menjadi kaget.

Akan tetapi karena Hiau-lan diantar oleh Hong-bun-koan, bahkan menurut cerita pembesar itu, pemuda ini terhitung pengawal kesayangan Sri Baginda, maka mau tak mau mereka harus membiarkannya menemui In Ceng.

Ketika nampak Hiau-lan, In Ceng sendiri pun merasa heran dan terkejut, Liau-in dan Haptoh yang berada di sampingnya juga pentang mata lebar-lebar saking heran.

"Hiau-lan, permainan sandiwara apakah sebenarnya yang sedang kau lakukan?"

Tegur Liau-in tak sabar, begitu Hong-bun-koan itu berlalu. Akan tetapi In Ceng lantas mencegahnya, ia goyang-goyang tangannya.

"Dengan bakat Teng-heng yang tinggi, memang sudah sepantasnya mencari jalan keluar yang baik,"

Katanya kemudian.

"Sejak kapankah Teng-heng masuk ke istana? Apa kesehatan Hongsiang baik-baik saja?"

"Baik,"

Sahut Hiau-lan, ia tertegun sejenak, sesudah itu tiba-tiba ia berkata lagi.

"Harap Pwelek (panggilan pangeran Boan) singkirkan orang-orang lainnya."

Atas permintaan ini, In Ceng merasa kurang senang.

"Kedua orang ini semuanya orang kepercayaanku, apa yang Teng-heng hendak katakan, boleh katakan saja terus terang,"

Ujarnya.

"Lebih baik kita berdua saja yang berbicara berhadapan!"

Pinta Teng Hiau-lan pula.

"Berani kau kurangajar!"

Bentak Liau-in gusar.

Namun In Ceng tiba-tiba mendapat pikiran lain, selagi ia hendak memerintahkan Liau-in dan Haptoh menyingkir, mendadak di bawah loteng terdengar suara gaduh bercampur suara teriakan orang menangkap pembunuh.

Tanpa diperintah Liau-in angkat tongkatnya terus berdiri, akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara gedubrakan yang keras, pintu kamar dimana mereka berada sudah didobrak orang, menyusul terlihat seorang dengan pedang terhunus menubruk masuk ke dalam secepat terbang!

Waktu Teng Hiau-lan mengawasi, ternyata orang ini adalah orang yang semalam bergebrak dengan dirinya itu.

Orang yang menerjang masuk ternyata Ciok Keh-siu adanya.

Begitu melompat masuk, pedangnya bergerak, dengan tipu 'Pek-khing-koan-jit' (pelangi putih menembus sinar matahari), dengan cepat ia menusuk In Ceng.

Sudah tentu Liau-in tidak tinggal diam, tongkatnya bekerja dengan cepat, maka terdengarlah suara nyaring beradunya benda keras, pedang orang itu terguncang pergi hingga ujung senjatanya mengarah ke jurusan samping terus menyambar ke iga Teng Hiau-lan.

Lekas Hiau-lan berkelit, tapi ia tidak balas menyerang..

Sementara itu Haptoh pun sudah bergerak, telapak tangan kirinya menghantam dari samping, sedang kepalan kanan berbareng juga memukul ke tempat luang musuh.

Begitu menyambut serangan lawan, segera Ciok Keh-siu insyaf bahwa kepandaian Liau-in dan Haptoh masih jauh di atas dirinya, segera ia pura-pura menyerang dua kali, kemudian dengan cepat ia menerobos keluar melalui jendela.

Sudah tentu orang itu tidak dibiarkan kabur begitu saja, Haptoh yang pertama menguber keluar.

"Kalau kau adalah Wi-su dalam istana, mengapa tidak kau balas serangan tadi?"

Bentak Liau-in kepada Teng Hiau-lan.

Berbareng itu tangan kirinya menarik, tanpa kuasa Hiau-lan ikut terseret keluar dari kamar loteng itu, karena tidak keburu menahan dirinya, sekalian Hiau-lan lantas melayang turun ke bawah.

Terdengar suara beradunya senjata ramai sekali dibarengi suara orang berseru terkejut.

Waktu Teng Hiau-lan berpaling ke sana, seketika ia mengeluh.

Kiranya di antara sinar pedang yang sambar-menyambar dan bayangan orang berkelebat kian kemari itu tertampak olehnya Kwantang-si-hiap juga sudah datang semua.

Lebih celaka lagi ialah gurunya, Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng dengan putrinya, juga sedang bertarung sengit di pelataran itu.

Ketika mendadak nampak Hiau-lan, terdengar Nyo Tiong-eng berseru kaget, cepat ia lolos lewat di bawah senjata Han Tiong-san, yaitu pacul 'Pi-hun-tuh', yang saat itu sedang memaculnya.

"Aku ada di sini, Suhu!"

Seru Hiau-lan memanggil. Akan tetapi Ciok Keh-siu sudah keburu menyela.

"Awas, dia adalah mata-mata musuh!"

Karena kata-kata ini, air muka Nyo Tiong-eng seketika berubah, tanpa bicara segera ia menghantam dengan telapak tangannya.

Kiranya sejak Kwantang-si-hiap menempur Siang-mo di atas Thay-hing-san dahulu dan menderita kekalahan besar, selama dua belas tahun ini mereka melatih diri secara giat, mereka senantiasa berpikir akan menuntut balas pada Siang-mo, akan tetapi Siang-mo berada di dalam istana Si-hongcu, Kwantang-si-hiap tak berani me-ngeluruk secara sembrono.

Kini mereka mendapat kabar bahwa Si-hongcu sedang keluar kota dengan membawa tokoh silatnya, hanya tertinggal Siang-mo dan seorang she Han saja buat menjaga rumah.

Sementara ini kepandaian Kwantang-si-hiap masing-masing sudah banyak bertambah tinggi daripada dahulu, oleh karena itu mereka lalu mengeluruk ke kotaraja dengan maksud mengobrak-abrik istana pangeran sambil membalas dendam.

Kebetulan juga waktu itu Nyo Tiong-eng dan putrinya, Nyo Liu-jing, sedang mencari Teng Hiau-lan, mereka merantau Kang-ouw dengan menjual silat dan sementara itupun sampai di kotaraja.

Pada suatu hari, di Thian-kio (lapangan terkenal di Peking, tempat yang biasanya menjadi pusat berkumpul orang-orang perantauan) Nyo Tiong-eng bertemu Ciok Keh-siu.

Mereka berdua memang sudah kenal, maka segera bergabung dan tinggal bersama.

Beberapa hari kemudian, mereka berpapasan dengan Kwantang-si-hiap pula, empat pendekar dari Kwantang ini mengajak Ciok Keh-siu ikut menempur Siang-mo, akan tetapi waktu itu yang dipikirkan Ciok Keh-siu senantiasa hanya mencari kekasihnya, maka dengan suatu alasan ia menolak ajakan itu.

Sudah tentu tampikan orang membikin Kwantang-si-hiap rada kurang senang.

Waktu usahanya mencari kekasih gagal dan Ciok Keh-siu kembali lagi, ia lihat Kwantang-si-siap masih sirik padanya, maka dalam dukanya ia membeberkan isi hatinya, di sini baru Kwan-tang-si-hiap mengetahui bahwa orang ternyata mempunyai kisah hidup yang mengharukan.

Begitulah kemudian Ciok Keh-siu mengulangi lagi soal lama, bersama Kwantang-si-hiap dan Nyo Tiong-eng ayah dan anak, hari itu juga ia ikut masuk ke istana Si-hongcu bual menggempur Siang-mo.

Kembali tadi, ketika Teng Hiau-lan nampak Suhunya tak mau tahu akan kata-katanya dan pukulan masih terus diarahkan padanya, lekas pemuda ini berkelit.

Namun Ciang-hoat atau ilmu pukulan Nyo Tiong-eng memang aneh dan hebat, segera ia melangkah maju lagi, dengan gerak tipu 'Co-yu-gay-kiong' (membidik ke kanan dan ke kiri) berbareng ia pukulkan kedua tangannya.

Karena kepepet, terpaksa Teng Hiau-lan harus menangkis, ia sambut serangan itu dengan tipu 'Kay-ka-toat-bau' (melepas baju dan mencopot jubah), ia patahkan pukulan Nyo Tiong-eng itu, kemudian ia melompat pergi sejauh lebih setombak.

Melihat ilmu silat pemuda ini sudah jauh maju, Nyo Tiong-eng masih terus merangsek dan menggempur lagi.

Nampak ayahnya sudah mulai hilang kesabaran, Nyo Liu-jing menjadi gugup, ia khawatir ayahnya betul-betul akan melukai Teng Hiau-lan, cepat ia berteriak.

"Tia-tia (ayah)!"

Nyo Tiong-eng urungkan serangannya dan berdiri di tempatnya demi mendengar seruan gadisnya itu, akan tetapi segera ia di-papaki oleh Haptoh, sekali angkat tangan, Haptoh mendesak Nyo Tiong-eng hingga tergetar mundur.

Lekas Nyo Liu-jing keluarkan kepandaiannya membidikkan peluru, ia berusaha melindungi ayahnya.

Peristiwa luar biasa yang terjadi mendadak itu, menjadikan Teng Hiau-lan bingung, seketika ia kehilangan akal.

Dalam pada itu Hian-hong Tojin yang bertabiat keras, karena seruan Ciok Keh-siu mengenai Hiau-lan tadi, ia pun terkejut.

"Betulkah katamu?"

Tanyanya kepada Ciok Keh-siu.

"Semalam bahkan dia berada bersama dengan si tua Hongte, kalau aku tidak kabur dengan cepat, mungkin aku sudah tewas di bawah pedangnya!"

Sahut Ciok Keh-siu menguatkan keterangannya.

Karena penjelasan ini, Hian-hong menjadi gusar, tapi segera ia pun merasa heran bahwa Ciok Keh-siu yang ilmu silatnya tidak di bawah dirinya, mengapa bisa dikalahkan Teng Hiau-lan?

Maka segera ia menubruk maju, dengan pedang di tangan kanan, sedang tangan kiri mencekal tongkat, kedua senjata berbareng ia hantamkan.

Hiau-lan cukup mengetahui kelihaian Hian-hong yang tidak kenal ampun kepada lawannya, serangannya susah untuk dielakkan, oleh karena itu ia tak berani gegabah, lekas ia cabut pedangnya untuk menangkis.

Serangan Hian-hong sebenarnya hanya pancingan saja tetapi juga bisa kena betul-betul, namun ia hanya ingin mencoba kepandaian Teng Hiau-lan saja, sudah tentu hal ini tidak diketahui oleh pemuda ini.

Maka untuk melayani serangan Hian-hong yang terkenal lihai itu, Hiau-lan keluarkan Thian-san-kiam-hoat yang hebat untuk melindungi diri, dari kiri ia gunakan tipu 'Ping-ho-kay-tong' (sungai es melumer) dan dari sebelah kanan ia gunakan gerakan 'Liong-yau-jim-yan' (ular naga masuk liang), ia menyerang sembari membela diri, dengan demikian ia paksa Hian-hong menarik kembali senjatanya.

Baru kini Hian-hong percaya apa yang dikatakan Ciok Keh-siu memang tidak dusta, maka secepat kilat ia ubah tipu serangannya, ia tidak mau pura-pura memancing lagi, tapi terus merangsek, tiap tipu serangannya selalu mengarah ke tempat yang berbahaya.

Hiau-lan menangkis sebisanya beberapa kali, sesudah itu ia lantas berteriak.

"Suhu! Supek, dengarkan penuturanku!"

"Tutup bacotmu, siapa yang mau percaya lagi pada orang yang lupa budi dan berkhianat semacam kau ini!"

Bentak Hian-hong gusar.

Sesudah itu serangannya jadi makin gencar dan sengit.

Karena sedikit terlambat Hiau-lan berkelit, segera lengan bajunya kena tertusuk robek oleh pedang Hian-hong hingga terpaksa pemuda ini memutar lebih kencang pedangnya, ia unjuk gerak tipu yang paling hebat dari Thian-san-kiam-hoat.

Sebenarnya Teng Hiau-lan hanya bermaksud membela diri saja, tak terduga gerak tipunya tadi ternyata membawa pengaruh yang cukup hebat, begitu ia bergerak, keadaan menjadi sukar ditahan pula, segera terdengar suara nyaring beradunya senjata, tongkat di tangan kiri Hian-hong kena dikutungi sebagian oleh Yu-liong-pokiam.

Kejadian tak tersangka itu seketika membikin Hian-hong tercengang dan merandek.

Kesempatan itu segera digunakan oleh Teng Hiau-lan buat melompat pergi.

Tak terduga segera ia disambut pula lawan yang lain, pandangan matanya mendadak menjadi silau dan bau arak pun menusuk hidung.

Kiranya Long-goat Siansu telah menyemburkan araknya mengarah kedua mata Teng Hiau-lan.

Dengan cepat pemuda ini berkelit, namun Long-goat tak mau melepaskan lawannya begitu saja, sekuat tenaga ia semprotkan araknya lagi, kini arus araknya berubah kecil-kecil hingga baju Hiau-lan kena disemprot tembus dan berlubang laksana sarang tawon.

Sementara itu Ban-li-tui-hong Liu Sian-gai juga tidak tinggal diam, secepat anak panah ia pun melayang tiba, sekali mengulur tangan segera ia bermaksud menjambret, namun meleset hingga yang kena hanya baju Hiau-lan.

Karena itu baju pemuda ini terobek sebagian sampai surat yang ditulis oleh Kaisar yang berada dalam bajunya ikut kena terebut.

Atas kejadian mendadak ini, Hiau-lan menjadi terkesima dan terpaku.

"Aku ... aku berulang-ulang ia hendak bicara, akan tetapi suaranya macet dan hanya sampai kerongkongannya saja dan tak mampu keluar lebih lanjut.

"Aku apa?"

Bentak Nyo Liu-jing demi nampak sikap pemuda ini.

Rasa suka dan duka bercampur-aduk dalam hati gadis ini, akan tetapi ia pun tidak ayal, dengan sekali pentang gendewanya, segera ia bidikkan pelurunya.

Teng Hiau-lan yang sudah kacau pikiran dan linglung, serangan itu ternyata tidak dihindarkan olehnya.

Namun Liau-in tidak tinggal diam, dengan sekali menggereng ia putar tongkatnya yang besar itu, kontan peluru yang dibidikkan Liu-jing kena disampuk terpental balik.

Waktu,melihat Nyo Liu-jing berparas cantik manis, Hwesio ini mendadak timbul maksud jahatnya, dengan tongkat menutul tanah, tubuhnya membal ke atas, ia pentang sebelah tangannya, laksana elang hendak menyambar kelinci, segera ia hendak jambret Nyo Liu-jing.

Hian-hong terkejut atas serangan itu, senjatanya segera ditariknya ke samping, di antara berkelebatnya sinar pedang segera menusuk 'Thian-liau-hiat' di tulang punggung Liau-in.

Liau-in cukup gesit, dengan menggunakan tongkatnya sebagai galah, ia putar tubuh dan tetap tidak mau melepaskan Nyo Liu-jing, jambretannya masih diteruskan kepada gadis itu.

Namun Kiam-hoat Hian-hong pun sangat cepat, ia pun tidak mengubah tipu serangannya, sedikit bergerak, dengan gaya 'Yang-liu-ti-lo' (tangkai pohon meneteskan embun), dengan rada miring ia menutuk pula 'Cing-ciok-hiat' di punggung Liau-in.

Nampak imam tua ini cukup cekatan, Liau-in tak berani memandang enteng lagi kepada lawannya, ia putar tubuh terus melompat ke sana.

Kepandaian Liau-in tentu lain daripada yang lain, sambaran angin tongkatnya sangat hebat dan tajam laksana pisau, beruntun Hian-hong menangkis belasan jurus, namun ia segera insyaf bahwa dirinya bukan tandingan Hwesio ini.

Dalam pada itu, keadaan pertarungan sengit sudah menjadi kacau, pihak Kwantang-si-hiap sudah terdesak di bawah angin, lebih-lebih keadaan Nyo Liu-jing sangat menguatirkan.

"Pergi!"

Seru Hian-hong kepada kawan-kawannya.

Berbareng itu senjatanya bekerja lebih kencang, ia menusuk dua kali ke arah Sat Thian-ji dan Sat Thian-toh, lebih dulu ia lepaskan tiga saudara angkatnya, Liu Sian-gai, Tan Goan-pa dan Long-goat Siansu dari ancaman dua iblis itu, sedang Nyo Tiong-eng sambil melindungi putrinya, dibantu Ciok Keh-siu di sebelah belakang, bergantian mereka pun akhirnya melompat keluar dari pagar tembok taman itu.

Dengan menjinjing tongkatnya, Liau-in sebenarnya masih berniat mengudak, akan tetapi ia keburu ditahan In Ceng.

"Biarkan saja mereka pergi!"

Teriak putra pangeran itu dari atas loteng.

Kiranya In Ceng sedang merundingkan soal surat wasiat kaisar dengan Thian-yap Sanjin, karena urusan ini lebih penting, ia khawatir keonaran tadi jadi meluas dan memberi kesempatan kepada pangeran lain untuk menggempur padanya, sebab itulah ia mencegah dan memanggil kembali Liau-in dan kawan-kawan Sementara itu yang paling bingung dan ruwet pikirannya ialah Teng Hiau-lan.

Memangnya ia sudah berduka dan putus asa karena peristiwa semalam, yang membongkar rahasia asal-usul dirinya selama ini, sama sekali tidak terduga kini terjadi pula salah paham dengan gurunya.

Dalam keadaan demikian, ia hendak habiskan nyawa sendiri pun tidak mungkin, jangan kata Nyo Tiong-eng dan Kwantang-si-hiap begitu berbudi dan setia kawan kepadanya, bahkan kalau ia mati begitu saja, maka nama jeleknya menjadi lebih susah untuk dicuci bersih.

Begitulah, dalam keadaan hati hancur, sebelah tangannya yang menghunus pedang tadi perlahan-lahan melurus lemas ke bawah.

"Penjahat sudah kabur, ada apalagi kau terus mematung di sini?"

Dengan tertawa menyindir Liau-in menegur pemuda itu. Ejekan itu membikin hati Hiau-lan jadi makin terluka dan gemas.

"Mati pun tidak nanti aku minta belas kasihan pada kalian!"

Teriaknya mendadak terus mengenjot tubuhnya melompat ke atas pagar tembok dan pergi.

Dengan perasaan tidak keruan, pemuda ini berlari keluar dari pintu gerbang utara tanpa tujuan.

Tiba-tiba ia terkaget karena seruan orang yang memapak padanya dari depan.

"Anak kurangajar, masih berani juga kau mengejar!"

Ternyata Nyo Tiong-eng yang berdiri di atas tembok benteng.

Sesudah rombongan Hian-hong ini kabur dari istana pangeran, mereka pun melalui jalan ini, baru saja mereka melangkah sampai di atas tembok benteng dan hendak melintas keluar, Nyo Tiong-eng yang berada paling belakang tiba-tiba melihat Teng Hiau-lan seorang diri menyusul datang dengan berlari, orang tua ini mengira Teng Hiau-lan sedang menguber mereka.

"Suhu, harap kau memberi kesempatan padaku untuk memberi penjelasan!"

Seru Hiau-lan dengan suara terputus-putus.

Nyo Liu-jing yang berjalan di depan diapit Hian-hong dan Long-goat Siansu, ketika mendengar suara orang, gadis ini segera berhenti.

Tergetar juga hatinya demi mendengar seruan Teng Hiau-lan yang memilukan itu.

"Coba biarkan dia bicara, mungkin ada sebab lain!"

Ujarnya tak tega.

"Jangan bergurau dengan jiwa sendiri!"

Kata Hian-hong ragu-ragu. Sesudah itu ia lantas meneriaki Nyo Tiong-eng.

"Nyo-heng, awas kalau di belakang ada pengejar lain!"

Maka tanpa bicara lagi segera Nyo Tiong-eng pentang gendewanya, di antara mendesirnya angin, ia bidikkan dua pelurunya.

Sementara itu Teng Hiau-lan yang setengah linglung dan kabur semangatnya, tidak dapat berkelit, keruan saja batok kepala dan sikunya terkena bidikan peluru, terus saja ia jatuh tersungkur.

"Kau telah melanggar pantangan keras pintu perguruan, tidak nanti aku mengampuni kau!"

Nyo Tiong-eng membentak pula.

Kemudian ketika Teng Hiau-lan merangkak berdiri, rombongan Nyo Tiong-eng sudah pergi jauh.

Seorang diri Teng Hiau-lan melanjutkan langkahnya dengan lambat sekali, teringat pada larangan Ko-yang-pay yang sangat keras waktu dia masuk perguruan, ia telah bersumpah setia pada kedua belas larangan besar, pasal empat di antara larangan itu menyatakan tak boleh berdekatan dengan pembesar dan bergaul dengan pejabat negeri, sedang pasal 12, melarang menipu guru dan menodai leluhur, dua pasal ini semuanya kini telah dilanggarnya.

"Tentu Suhu khawatir Liau-in dan kawan-kawan menyusul dari belakang, kalau tidak, tadi aku sudah ditangkap olehnya,"

Begitu ia berpikir.

Karena pikiran ini, ia pun bergidik ngeri, ia bukan takut mati, tapi ia khawatir kalau peristiwa fitnah ini selamanya sukar dibikin terang dan namanya takkan dapat dicuci bersih lagi.

Sesudah ia kembali ke pondoknya di Se-san, ia tenggelam dalam lamunannya, di antara manusia yang berjubel di dunia ini ternyata tidak terdapat seorang pun sanak familinya, bahkan seorang sahabat karib buat saling mencurahkan isi hatinya saja tidak ada, ia menjadi makin pilu dan tak bisa menguasai perasaannya.

Setelah berpikir pergi datang, akhirnya ia ingat kepada Lu Si-nio.

Meski dirinya belum lama dan belum karib bersahabat dengan Lu Si-nio, tapi gadis ini adalah putri keluarga terpelajar, pengetahuan dan pandangannya tentu tidak bisa disamakan dengan orang biasa, malah terhadap dirinya pun nona itu menunjukkan sikap sangat simpatik.

Pikir punya pikir, ia tetap tidak mendapatkan jalan pikiran lain, seperti jagat yang demikian luas melulu Lu Si-nio saja yang dapat dipercaya penuh.

Oleh sebab itulah, segera ia tinggalkan ibukota dan menuju ke Ciatkang.

Sepanjang jalan tidak jarang ia harus menghadapi tokoh Bu-lim yang mencegat dan menggempur padanya.

Pemuda ini rada kurang mengerti mengapa dirinya selalu diincar, namun ia pun berlaku cukup waspada.

Ia tidak tahu bahwa Nyo Tiong-eng telah menyiarkan peristiwa dirinya yang dikatakan sudah mengkhianati perguruan.

Masih untung baginya, yang mencegat sepanjang jalan semuanya bukan jago silat yang berarti, maka dengan selamat ia sampai di Ciatkang.

Akan tetapi setiba di Ciatkang, baru ia tahu bahwa sejak lima tahun yang lalu Sim Cay-khoan sudah ditangkap dan Lu Po-tiong juga sudah meninggal, Lu Si-nio pun sudah pindah tempat tinggal.

Meski sudah diselidiki dan mencari tahu, namun tetap tidak diperoleh kabar sedikitpun.

Syukur waktu itu kebetulan Kam Hong-ti berada di Ciatkang, maka dengan memberanikan diri Teng Hiau-lan lantas pergi menemui Kanglam-tayhiap (pendekar besar Kanglam) itu.

Walau Kam Hong-ti tidak menaruh kepercayaan penuh pada penuturan Hiau-lan, tetapi pendekar ini masih cukup bijaksana juga, ia memberitahukan tempat tinggal Sumoaynya, yaitu Lu Si-nio.

Di samping itu, untuk menjaga kemungkinan Teng Hiau-lan mengajak komplotannya bermaksud jahat, maka secara diam-diam ia pun menguntit di belakang pemuda ini untuk mengawasi gerak-geriknya, penguntitan itu terus ia lakukan sampai dekat Sian-he-nia, waktu dilihatnya Teng Hiau-lan benar seorang diri mendaki gunung, barulah ia sudahi.

Begitulah, kini Hiau-lan sedang duduk berdampingan dengan Lu Si-nio di tepi gerujukan air sambil bercakap dengan asyik sekali.

Perasaan masgul Teng Hiau-lan yang bertumpuk selama beberapa bulan ini, dengan adanya percakapan yang tak lama ini telah terlontar keluar semua, maka pikirannya yang butek segera terasa segar dan terang.

Sehabis ia bercerita, tanpa terasa mereka sudah melewatkan waktu hampir setengah hari dan sang surya pun sedang memancarkan sinarnya di tengah angkasa, air terjun yang menumpahkan airnya itu tertimpa sinar matahari hingga menerbitkan corak yang beraneka warna.

Selesai mendengarkan penuturan orang, Lu Si-nio lantas ber-bangkit sambil tersenyum, kemudian ia menarik Hiau-lan naik ke atas sebuah batu padas besar.

"Coba kau memandang dari tempat tinggi ini,"

Katanya kepada pemuda itu.

Teng Hiau-lan tidak mengerti maksudnya, tapi ia ikut naik dan memandang jauh ke sana, maka terasa olehnya keindahan alam yang permai berada di bawah tangkapan matanya, tak terasa pikirannya menjadi makin terang dan perasaan masgulnya pun lenyap.

"Pemandangan pegunungan yang indah permai dapat mencuci bersih suasana buruk, kemegahan alam semesta yang tidak pernah lenyap tentu makin menambah semangat kepahlawanan. Hidup manusia senantiasa menjumpai hal-hal yang mengecewakan, tapi buat apa dipikirkan,"

Demikian Lu Si-nio berkata pula seperti bersajak sambil tertawa.

Dalam sekejap itu Teng Hiau-lan merasa seperti awan mendung yang tadinya menutup gelap, kini telah tersapu bersih oleh beberapa perkataan Lu Si-nio.

"Kabarnya ketika kau belajar pada Nyo Tiong-eng, di waktu siang kau belajar silat dan kalau malam membaca, malahan katanya pernah juga kau membuat sebuah sajak bukan?"

Dengan tertawa Lu Si-nio bertanya. Teng Hiau-lan menjadi jengah, mukanya berubah merah.

"Sajak itu tidak lebih hanya buah tangan ketika masih muda dan ditulis sekenanya, hakikatnya tidak berupa sajak!"

Sahut Hiau-lan dengan menggumam.

Seperti diketahui, sajak yang ia tulis itu justru ia gubah untuk mengenang Lu Si-nio, hal ini entah cara bagaimana telah diketahui oleh gadis ini, keruan saja ia menjadi tak tenteram pikirannya ketika orang menyebutnya.

"Sajakmu itu aku sudah membacanya,"

Kata Lu Si-nio lagi.

"Rasanya cukup berisi, cuma agak terlalu mengandung rasa duka, orang muda tidak seharusnya berbuat demikian. Beberapa baris permulaan sajakmu itu penuh mengandung perasaan berduka karena sebatangkara. Padahal dalam pergaulan kita ini, tidak kurang sahabat yang dapat menyelami isi hati kita, apalagi jika kau berlaku sesuai dengan jalan yang betul dan berbuat untuk kepentingan orang banyak, tidak perlu lagi kau khawatir tidak akan punya kawan baik."

Hiau-lan menunduk tanpa bersuara, tetapi perasaannya timbul tenggelam serupa gelombang ombak.

Lu Si-nio banyak pula memberi petuah dengan mencontoh pada patriot-patriot di zaman dahulu, kecuali itu ia membawakan pula beberapa sajak gubahannya sendiri yang penuh mengandung perasaan dan membangkitkan semangat bagi Teng Hiau-lan, kalau bukan Lu Si-nio mengaku sajak itu adalah gubahannya, sekali-kali pasti Hiau-lan tidak percaya sajak itu gubahan seorang gadis jelita seperti dia.

Begitulah mereka bercakap dengan asyik dan cocok sekali, walaupun rasa kesal Hiau-lan kini sudah lenyap, tapi ia masih ingin bertanya pendapat si nona cara menghadapi kehidupannya kelak.

Tengah ia merenung, terdengar It-biau Hwesio sedang meneriaki mereka di bawah.

"Si-nio, Sim-sianseng sudah bangun tidur siang, ia sedang mencari kau!"

Ketika Lu Si-nio menengadah, baru ia sadar bahwa hari sudah lewat lohor.

"Betul-betul percakapan asyik hingga lupa waktu, sang surya ternyata sudah doyong ke barat,"

Ujarnya dengan tertawa.

"Perutmu tentu sudah lapar, marilah kita pulang makan."

"Sim-sianseng yang manakah?"

Tanya Hiau-lan ketika mereka menurun ke bawah.

"Yaitu orang yang dahulu sering aku sebut padamu, murid kesayangan ayahku, namanya Sim Cay-khoan!"

Sahut Si-nio. Hiau-lan jadi kaget dan bersuara heran.

"Bukankah lima tahun yang lampau ia tertawan?"

Tanyanya kemudian.

"Kiranya Kam-suheng masih belum bercerita padamu bahwa belakangan kami telah berhasil menolongnya lolos,"

Lu Si-nio menerangkan pula. Keterangan ini membikin Teng Hiau-lan agak terguncang juga hatinya, tapi kemudian ia berpikir.

"Lu Si-nio begitu baik terhadap diriku seperti saudara sendiri, hal ini sudah cukup menjadi kenangan bagiku untuk selamanya, mana bisa aku menaruh harapan lain yang terlalu muluk?"

Karena pikiran ini ia jadi rada tenang dan lega, dengan tanpa berkata ia mengikuti Lu Si-nio kembali ke dalam kuil.

Sementara itu Sim Cay-khoan sudah bangun tidur siang, waktu ia mengulangi mengenangkan apa yang Lu Si-nio katakan padanya pagi tadi, ia merasa bahagia sekali.

Teringat pada sajak yang pernah ia tulis itu, ia menjadi tertawa sendirian.

Pikirnya, Si-nio sudah begitu mendalam menyintaiku, namun diriku masih suka cari pusing sendiri, sungguh tak beralasan sama sekali.

Pikirnya pula, Lu Si-nio yang usianya masih muda dan parasnya cantik, tapi selama lima tahun ini sudi menahan kesunyian di pegunungan, hanya untuk mengiringi dirinya yang cacat dan tidak berguna, bahkan berjanji mengikat dirinya, betul-betul timbul dari rasa kasih yang asli dan ketulusan yang murni, mungkin orang-orang di zaman dahulu pun jarang terdapat seperti Lu Si-nio.

Di lain pihak, sesudah Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan masuk pelataran kuil, mereka berjalan berendeng, kini Hiau-lan ternyata sudah tumbuh tinggi hingga melebihi Lu Si-nio.

Dalam pelataran kuil itu terdapat sebuah kolam, air kolam dari sumber air pegunungan sangat bening hingga dapat dibuat cermin, maka terbayanglah seorang pemuda gagah ganteng dengan seorang gadis cantik menggiurkan.

Tadi waktu Lu Si-nio mendengar penuturan Hiau-lan di tepi air terjun, yang dia pikirkan hanya berusaha melenyapkan pikiran sedih pemuda itu, pikiran lain tidak ada, terhadap bayangan di dalam air kini sedikitpun ia tidak berpikir sesuatu.

Tetapi setelah melewati kolam dan memasuki ruangan dalam, mendadak ia teringat pada sajak yang digubah Sim Cay-khoan, ia menjadi khawatir kalau kekasihnya itu masih belum menaruh kepercayaan penuh padanya, kalau nampak Hiau-lan, jangan-jangan akan timbul salah paham hingga ada kemungkinan akan menambah berat penyakitnya.

Karena itu, tanpa terasa langkahnya mendadak ia lambatkan.

"Cici, apa yang sedang kau pikirkan?"

Tanya Hiau-lan seperti merasakan sesuatu.

"Ah, tiada apa-apa!"

Sahut Si-nio merandek dan mendongak, ia lihat sinar sang surya yang terang benderang dengan bunga hutan yang sedang mekar mewangi laksana sedang menertawainya.

Kemudian ia melanjutkan pula langkahnya, ia bawa Hiau-lan masuk ke dalam dan mengetuk pintu sebuah kamar yang sunyi keadaannya.

"Cay-khoan, ada tamu!"

Seru Si-nio.

Tempat tidur Sim Cay-khoan sebenarnya dekat dengan pintu kamar, asalkan mengulur tangan saja sudah sampai untuk membuka selot pintu, akan tetapi pemuda itu ternyata tidak berbuat demikian, ia turun dari pembaringannya, dengan sebelah tangan memegang dinding, tangan yang lain membuka pintu.

Nampak perbuatan orang, lekas Lu Si-nio maju memayang-nya.

"Baru saja kau sanggup bergerak sedikit, jangan kau bikin dirimu terlalu letih!"

Ujarnya. Agaknya Sim Cay-khoan tercengang juga ketika mendadak melihat Teng Hiau-lan berada di samping Lu Si-nio, namun dengan cepat ia berkata.

"Hendaklah lebih dulu kau meladeni tamu!"

"Tamu ini adalah sobat sendiri,"

Sahut Si-nio sambil melirik kekasihnya, tapi dilihatnya wajah Sim Cay-khoan tidak menunjukkan tanda lain sedikitpun, maka lekas ia memayangnya kembali ke pembaringan dan kemudian ia perkenalkan mereka berdua.

"Teng-heng silakan duduk, aku tidak leluasa bergerak, harap suka memaafkan!"

Kata Sim Cay-khoan setelah mengenal siapa tetamunya.

Menyaksikan keadaan ini, baru kini Teng Hiau-lan tahu bahwa orang yang Lu Si-nio jaga selama lima tahun ini ternyata adalah seorang cacat, saking terharunya, ia merasa Lu Si-nio betul-betul seorang nona yang lain daripada yang lain.

Sementara Lu Si-nio mengambilkan santapan bagi mereka, Teng Hiau-lan asyik bercakap dengan Sim Cay-khoan.

"Ada sesuatu soal ingin kumohon petunjuk pada Sim-heng,"

Kata Hiau-lan setelah selesai dahar.

"Silakan katakan!"

Sahut Sim Cay-khoan. Maka kembali Teng Hiau-lan menuturkan semua kejadian atas dirinya. Habis mendengar cerita itu, mendadak Sim Cay-khoan berduduk tegak.

"Kalau Teng-heng tidak menampik, dengan senang aku ingin mengajukan suatu pendapat,"

Katanya kemudian.

"Eng-moay, silakan kau mengiringi Teng-heng berangkat!"

Lu Si-nio jadi terkejut karena kata-kata yang sekonyong-konyong itu.

"Dan bagaimana denganmu?"

Sahutnya khawatir.

"Kini badanku sudah makin sehat, Lwekang yang aku latih pun sudah mulai menanjak, lagi pula ada It-biau Taysu yang merawatku, kukira lebih dari cukup,"

Kata Sim Cay-khoan lagi.

"Sedang urusan Teng-heng sebaliknya sukar diselesaikan kalau kau tidak membantunya. Setiap urusan ada perbedaan enteng dan berat, kalau urusan penting dan enteng disalah-hitungkan, maka persoalan bisa jadi runyam. Kita orang bersekolah, justru harus bisa membedakan urusan penting dan tidak, apalagi soal setia kawan sejak dahulu memang tidak terbatas pada kaum lelaki saja, kalau Teng-heng adalah kawan seperjuangan kita, kesulitannya tidak boleh kita biarkan begitu saja!"

Lu Si-nio tidak menyangka kekasihnya ini bisa berpikiran begitu bijaksana dan berhati mulia, ia terharu hingga meneteskan air mata.

"Peristiwa luar biasa yang Teng-heng hadapi ini, menurut pandanganku, kesulitan yang datang dari luar gampang dibereskan, tetapi ganjalan hati inilah yang susah dihilangkan,"

Terdengar Sim Cay-khoan berkata.

"Sudilah kiranya Sim-heng memberi petunjuk!"

Kata Hiau-lan. Kini dia menganggap Sim Cay-khoan seperti saudara tuanya saja.

"Soal kesalah-pahaman guru Teng-heng itu, kalau ada Si-nio yang tampil ke depan buat menyelesaikannya, kiranya urusan akan menjadi beres,"

Tutur Sim Cay-khoan.

"Hanya mengenai asal-usul diri sendiri yang sudah Teng-heng ketahui itu, terhadap hari depanmu, mungkin inilah yang agak ruwet!"

Perkataan ini ternyata cocok dan jitu sekali mengetuk lubuk hati Teng Hiau-lan, ia sedang kesal karena merasa dirinya masih berdarah kerajaan.

"Siapa yang didukung rakyat, maka kita pun ikut mendukungnya, dan siapa yang dibuang oleh rakyat, kita pun meninggalkan dia pula, jalan keluar bagi kehidupanmu selanjutnya terletak pada pokok persoalan tadi!"

Demikian Sim Cay-khoan meneruskan pula. Teng Hiau-lan menunduk untuk merenungkan petuah orang, lama sekali baru ia mengangkat kepalanya lagi.

"Banyak terima kasih atas petunjuk Sim-heng!"

Katanya kemudian.

"Eng-moay, besok juga boleh kau iringi Teng-heng turun gunung!"

Kata Sim Cay-khoan kepada Lu Si-nio. Lu Si-nio terguncang perasaannya mendengar kata-kata yang spontan itu.

"Beberapa hari lagi adalah hari Chit-sik!"

Tiba-tiba nona itu berkata.

Sim Cay-khoan mengerti arti kata-kata Chit-sik (tanggal 7 bulan 7), hari pertemuan Gu-long (pemuda penggembala) dengan Cit-li (gadis penenun), nyata Lu Si-nio tidak tega berpisah dengan dirinya.

"Sudah lima tahun kita berdampingan siang dan malam, kejadian ini saja entah sudah berapa ribu kali lipat lebih bahagia daripada Gu-long bertemu Cit-li, buat apa kita bersedih hanya karena perpisahan yang tidak lama ini,"

Dengan tertawa Sim Cay-khoan menghibur Lu Si-nio.

Mendengar ucapan ini, tahulah Lu Si-nio bahwa kekasihnya ini mencintainya dengan setulus hati dan tidak menaruh prasangka sedikitpun, walaupun rada berat juga karena harus berpisah, namun diam-diam Si-nio merasa gembira dan lega.

Tengah mereka berbicara, tiba-tiba terdengar It-biau Hwesio mengetuk pintu memanggil.

"Si-nio, hari ini entah bertiup angin apa, kembali ada tamu!"

"Tamu siapa?"

Tanya Si-nio.

"Suhengmu Kanglam-tayhiap Kam Hong-ti!"

Sahut It-biau. Mendengar itu, Hiau-lan merasa heran.

"Kam-tayhiap menunjukkan jalan padaku untuk datang ke Sian-he-nia sini, aku kira ia tidak kemari, mengapa kini ia menyusul juga!"

Ujarnya.

"Kedatangan Kam-suheng tentu ada urusan penting,"

Kata Si-nio.

Bersama Teng Hiau-lan, mereka lantas menyambut keluar.

Ketika nampak Teng Hiau-lan keluar bersama Lu Si-nio, maka Kam Hong-ti menjadi yakin bahwa apa yang pemuda ini ceritakan dahulu memang tidak dusta, karena itu sikapnya terhadap pemuda ini menjadi jauh lebih simpatik.

"Diam-diam aku telah melindungi kau naik gunung, tahukah kau?"

Kata Kam Hong-ti pada Hiau-lan dengan memegang tangannya.

"Sedikitpun aku tidak merasa!"

Sahut Hiau-lan dengan rada malu diri karena tidak sadar orang telah membuntutinya.

Kam Hong-ti memang cerdik, sesudah ia memberitahu tempat tinggal Lu Si-nio pada Teng Hiau-lan, di samping ia khawatir kalau pemuda ini berbohong dan diam-diam mengajak cakar alap-alap dan anjing pemburu pemerintah mengeluruk ke atas gunung.

Kecuali ini ia khawatir juga bila apa yang pemuda ini katakan memang sungguh-sungguh dan bukan mustahil dikuntit orang jahat pula.

Sebab itulah diam-diam ia membuntuti Teng Hiau-lan, ia tunggu sesudah Hiau-lan naik ke atas gunung baru kembali ke arah semula.

Tidak terduga baru saja ia putar balik, tidak jauh di bawah kaki Sian-he-nia ia mengalami suatu kejadian aneh.

"Sejak berpisah hingga kini sudah ada lima tahun, apakah para Suheng semuanya baik-baik saja?"

Demikian tanya Lu Si-nio sesudah memberi hormat pada Suhengnya itu.

"Satu dua tahun belakangan ini jarang sekali aku berjumpa dengan saudara seperguruan kita,"

Sahut Kam Hong-ti.

"Tidak tersangka, tanpa sengaja tadi aku malah memperoleh benda tanda pengenal dari saudara seperguruan kita."

"Apakah barangkali salah seorang Suheng telah mengutus orang mencari aku?"

Tanya Lu Si-nio heran. Kam Hong-ti tidak menjawab, tapi dari bajunya segera dikeluarkannya sebuah lukisan, terus diangsurkan kepada Lu Si-nio.

"Coba kau lihat, lukisan siapakah ini?"

Tanyanya pada sang Sumoay.

Dalam lukisan itu ternyata tergambar seekor garuda yang bersikap gagah sekali, akan tetapi terkurung dalam sangkar, hanya patuknya yang menjulur keluar sangkar dan kedua sayapnya terpentang seperti hendak berteriak.

Di samping sangkar terlukis pula seorang gadis, parasnya mirip sekali dengan putri Ciatkang Sunbu, Li Bing-cu.

"Apakah suatu tanda Loh-suheng kena tertawan oleh Ciatkang Sunbu?"

Seru Lu Si-nio sesudah melihat lukisan itu.

Loh Bin-ciam adalah putra keluarga cendekiawan, meski ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tapi seni lukisnya sangat terkenal, lebih-lebih terkenal pandai menggambar garuda.

Dengan lukisannya yang menggambarkan garuda terkurung dalam sangkar, agaknya dipakai sebagai perumpamaan orang, bahwa dirinya berada dalam tawanan.

"Kam-suheng, darimanakah kau memperoleh lukisan ini?"

Tanya Si-nio dengan khawatir.

"Sesudah aku mengikuti Teng-heng naik gunung sini, aku sendiri lantas kembali,"

Kam Hong-ti mulai menutur.

"baru saja aku tempuh tiga empat li, tiba-tiba kudengar ada suara mendengkingnya kuda di balik gunung yang berkumandang tertiup angin, malah sayup-sayup terdengar pula suara jeritan ngeri."

Mendadak air muka Lu Si-nio berubah.

"Jangan-jangan anjing dan alap-alap kerajaan sudah ada yang mencium kediamanku ini?"

Tanyanya cepat.

"Semula aku pun khawatir seperti kau,"

Sahut Kam Hong-ti.

"Maka dengan cepat aku lantas memburu balik ke gunung buat memeriksanya, namun yang aku dapatkan hanya debu yang mengepul tinggi, beberapa penunggang kuda sudah pergi jauh. Aku yakin tidak mungkin menyusul mereka, maka terpaksa aku hanya memeriksa secara teliti di sekitar tempat itu, tiba-tiba aku lihat pada batu padas di kaki gunung itu terdapat noda darah, rupanya ada orang yang telah bertarung sengit dari jalan raya hingga sampai di kaki gunung dan akhirnya baru tertawan musuh."

"Menurut pandangan Kam-tayhiap, apakah mereka tadinya bertujuan akan naik ke gunung sini?"

Teng Hiau-lan menimbrung.

"Tampaknya bukan,"

Sahut Kam Hong-ti.

"Kalau melihat be-. kas telapak kaki dan noda darah, rupanya mereka mulai bertempur dari jalan raya terus berpindah ke lamping gunung, tapi kemudian makin lama makin menjauh. Melihat keadaannya, seperti beberapa orang mengeroyok satu orang, akhirnya orang ini kena diringkus. Apabila beberapa orang itu bertujuan hendak naik ke gunung sini, mestinya mereka tak perlu kabur setelah memperoleh kemenangan."

"Orang yang tertangkap itu apakah mungkin Loh-suheng?"

Tanya Si-nio.

"Tampaknya bukan,"

Sahut Kam Hong-ti pasti.

"Loh-suheng tidak mempunyai ilmu silat begitu bagus."

Atas jawaban ini, Teng Hiau-lan merasa heran juga.

"Kam-tayhiap tidak menyaksikan sendiri, bagaimana bisa membedakan bagus tidaknya kepandaian orang?"

Tanyanya.

"Tanah di kaki gunung itu basah lagi licin, maka bekas telapak kakinya cukup jelas, dari cara melangkah dan menggeser menurut bekas telapak kaki itu, terang ada beberapa orang yang mengembut seorang, tapi orang yang dikeroyok itu ternyata tidak menjadi kalut langkah kakinya, maju mundurnya teratur,"

Demikian Kam Hong-ti menerangkan.

"Meski Loh-suheng memiliki kepandaian setaraf itu, tapi ia jarang menghadapi pertempuran, kalau turun kalangan belum tentu ia dapat berlaku begitu tenang."

Cara Kam Hong-ti menganalisa sedemikian teliti sampai hal kecil, bukan saja Teng Hiau-lan merasa kagum sekali, bahkan Lu Si-nio sendiri hams mengakui Suhengnya itu betul-betul seorang tokoh kawakan Kangouw, begitu luas pengalamannya, betapapun dirinya masih jauh ketinggalan.

"Belakangan ini aku bermaksud membikin perjalanan jauh untuk menyambangi beberapa Suheng kita,"

Terdengar Kam Hong-ti berkata pula.

"Ada satu hal lagi, tahun lalu aku mendengar dari Ji-suheng (Ciu Sun), katanya Kwantang-si-hiap ingin sekali bertemu denganku, ada kemungkinan aku akan menuju utara, ke kotaraja terus melawat ke Liautang."

"Kebetulan sekali,"

Ujar Si-nio tertawa gembira ketika mendengar maksud Suhengnya ini.

"aku dan Hiau-lan besok juga akan membikin perjalanan jauh, marilah kita berangkat bersama. Ada Suheng yang mengiringi kami, tentu kami akan banyak lebih aman."

"Tapi bagaimana dengan Sim-sianseng?"

Tanya Kam Hong-ti.

"Paling akhir ini ia sudah banyak maju, tadi ia sudah bisa jalan dengan bersandar dinding,"

Tutur Lu Si-nio.

"Begitu ia mengetahui urusan Hiau-lan, segera ia minta aku membantunya untuk meredakan ketegangan dan memberi penjelasan kepada sesama kawan kalangan Kangouw."

"Sim-sianseng bisa berlaku begitu bijaksana, walaupun ia seorang pelajar lemah, tapi jiwanya yang agung malah jauh di atas golongan kita!"

Puji Kam Hong-ti setelah mendengar penuturan itu.

Ia lantas minta Lu Si-nio memperkenalkannya kepada Sim Cay-khoan.

Ketika mendengar Kam Hong-ti akan mengiringi perjalanan mereka berdua, maka Sim Cay-khoan menjadi lebih lega.

Besoknya pagi-pagi benar mereka bertiga lantas turun gunung dan menuju ke utara.

Agar leluasa di perjalanan, Lu Si-nio menyamar sebagai lelaki, Kam Hong-ti yang pandai merias muka, dengan obat cair ia merias Teng Hiau-lan hingga wajah aslinya berubah, dengan demikian sepanjang jalan tiada seorang pun yang dapat mengenali mereka.

Letak Ciatkang di sebelah utara Sian-he-nia, mereka bertiga mengambil jalan Liongya, Kinhoa terus menjurus ke timur masuk ke Gihou, Siauhin dan kemudian sampai di Siausan, mereka hendak menyambangi dulu kampung halaman Loh Bin-ciam.

Dari Siausan, kalau maju lagi akan sampai di teluk Hangciu, jalan besar terletak di tepi laut, sedang di belakang jalan terletak gunung, Lu Si-nio yang sudah lama mengeram diri di pegunungan, kini dapat melihat lautan pula, rasanya menjadi banyak segar dan pikiran pun lapang.

Hari ini mereka menuju ke perkampungan kediaman Loh Bin-ciam, karena hati gembira, bersama Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan, Lu Si-nio mendaki ke atas bukit buat memandang jauh ke lautan luas, maka tertampak olehnya banyak sekali pulau yang besar maupun kecil penuh mengelilingi pantai, perahu nelayan pun banyak terdapat hingga berwujud bintik-bintik putih berkelap-kelip dipandang dari jauh.

Selagi Lu Si-nio merasa senang dan tertarik oleh pemandangan alam indah itu, tiba-tiba ia mendengar Kam Hong-ti bersuara memanggil.

"Ada apakah Chit-ko?"

Tanyanya sambil menoleh.

"Coba kau lihat ini!"

Sahut Kam Hong-ti.

Segera ia bawa Lu Si-nio menuju ke bawah suatu batu padas yang menonjol keluar di sana, ia kebut debu di atas batu itu, maka tertampaklah di atas batu itu terukir banyak sekali tanda rahasia yang aneh, satu pun Lu Si-nio tidak kenal tanda aneh itu.

"Tanda rahasia apakah ini?"

Tanya Si-nio heran.

"Aku pun tidak tahu, kira-kira tanda rahasia dari komplotan kalangan Kangouw,"

Ujar Kam Hong-ti.

"Ah, sudahlah, buat apa kita mengurus tetek-bengek ini,"

Kata Si-nio pula.

"Bukan itu maksudku,"

Sahut Kam Hong-ti.

"Coba kau lihat lagi ini."

Lalu ia ajak Lu Si-nio melihat lebih lanjut, nyata batu pegunungan yang berukir tanda aneh itu ada lima atau enam tempat.

"Ada dua tanda rahasia yang aku rada paham, maksudnya kira-kira berjanji pada suatu hari untuk berkumpul di sini,"

Kata Kam Hong-ti lagi.

"Apakah mungkin terdapat tokoh persilatan yang bersembunyi atau mengasingkan diri di sini? Tetapi inipun tiada sangkut-pautnya dengan kita,"

Ujar Lu Si-nio.

j "Pat-moay, kau dan Loh-suheng masing-masing tinggal di timur dan barat Ciatkang, aku pun sering kian kemari di beberapa propinsi daerah selatan, tokoh ternama di Ciatkang atau pemimpin perkumpulan apapun sudah kita ketahui semua, tetapi selamanya belum pernah mendengar bahwa di kampung Loh-suheng ini terdapat pula tokoh Kangouw yang mengasingkan diri,"

Tutur Kam Hong-ti.

"Apakah Chit-ko menyangsikan soal ini ada hubungannya dengan Loh-suheng?"

Tanya Si-nio.

"Tidak berani kupastikan, tetapi dari sini ke rumah Loh-suheng tidak lebih hanya delapan puluhan li saja, selamanya aku belum pernah mendengar Loh-suheng mengatakan bahwa di kampungnya terdapat orang berkepandaian tinggi, oleh karena itu aku rada heran,"

Ujar pendekar ini.

"Marilah, sekalian kita selidiki lebih lanjut."

Setelah mereka bertiga melintasi lamping gunung dan mengi-tar beberapa deretan batu padas yang menonjol, tiba-tiba tertampak di tengah bukit sebelah depan ada asap yang mengepul bergulung-gulung.

"Di tengah bukit sana tampaknya ada penduduk,"

Kata Lu Si-nio.

"Coba kita periksa ke bukit sebelah sana,"

Ajak Kam Hong-ti. Lalu mereka melintas ke balik gunung dan menurun ke bawah, di bawah bukit itu ternyata banyak terdapat sawah pegunungan yang bersusun.

"Tidak hanya ada penduduknya, bahkan terdapat perkampungan di sini!"

Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.

Setelah melalui lembah yang diapit oleh dua gunung, akhirnya sampailah mereka di kaki bukit tadi, di sini Kam Hong-ti memperlambat langkahnya sambil mendaki untuk memeriksa, sesampai di tengah gunung, kembali mereka ketemukan pula dua tiga tempat yang ada tanda rahasia orang Kangouw.

Tidak lama, ketika hampir sampai di atas gunung, tertampaklah di sebelah gunung sana asap dapur mengepul.

"Sudah setengah hari kita tempuh perjalanan dan jauh memasuki tanah pegunungan ini, penduduk di bawah gunung sudah pulang mengaso dan mulai menanak nasi, kalau kita tidak lekas keluar dari tempat sunyi ini, malam ini mungkin kita harus menginap di sini,"

Ujar Lu Si-nio dengan tertawa.

"Biar kita periksa lagi,"

Sahut Kam Hong-ti yang belum puas.

Habis berkata, mendadak ia menghentikan tindakannya, wajahnya tiba-tiba terunjuk rasa kejut dan heran.

Biasanya Kam Hong-ti terkenal pendiam dan tidak gampang mengunjuk perasaan hatinya, walaupun menghadapi urusan betapa besarnya selalu berlaku tenang, dalam hal ini dia terhitung nomor satu di antara sesama saudara seperguruannya.

"Chit-ko, apa yang telah kau lihat?"

Tanya Si-nio heran. Namun Kam Hong-ti tidak lantas menjawab, ia berpikir sejenak, sesudah itu baru ia membuka suara.

"Sungguh aku tidak mengerti, apakah mungkin salah seorang Suheng kita terkurung di tempat ini!"

Habis itu ia bawa Lu Si-nio ke bawah suatu batu padas, di samping batu itu terdapat pula satu potong batu yang menonjol lancip hingga serupa pedang dan licin seperti kaca, di atas batu itu terdapat ukiran tanda rahasia, ternyata tanda rahasia ini adalah tanda yang biasa mereka pergunakan di antara sesama saudara seperguruan sendiri, hanya tanda yang tertampak kini rada sederhana dan se-rabutan, tanda yang diukir itu mengandung arti, 'kena terkurung, harap memberi bantuan'.

"Coba lihat, apakah ini tanda tinggalan dari saudara seperguruan kita?"

Tanya Kam Hong-ti pada Sumoaynya.

"Mengapa bukan?"

Jawab Si-nio yang dapat mengenali juga tanda rahasia seperguruan itu.

"Bila betul tanda pengenal dari saudara seperguruan kita, mengapa tiada tanda angkanya?"

Ujar Kam Hong-ti.

Kiranya di antara murid Tok-pi-sin-ni, apabila saling memberi kabar, tanda yang mereka pakai selalu dengan angka urutan, misalnya Kam Hong-ti harus memberi tanda 'chit' atau tujuh dan Lu Si-nio pakai tanda 'pat' atau delapan sesuai dengan urutan mereka..

Hal ini bukannya Lu Si-nio tidak mengerti, soalnya ia lihat tanda rahasia di atas batu tadi memang betul tanda dari sesama perguruan, maka ia tidak memeriksa lebih teliti.

"Kecuali itu, masih ada hal yang lebih aneh, dapatkah kau melihatnya?"

Kata Kam Hong-ti lagi.

"Chit-ko, hanya berdasarkan beberapa tanda yang terlalu sederhana ini, darimana kau bisa mengetahui begitu banyak?"

Sahut Lu Si-nio dengan heran terhadap ketajaman pikiran Suhengnya ini.

"Ada apalagi yang lebih mengherankan? Sedikitpun aku tidak melihatnya, silakan menerangkan untuk menambah pengetahuanku!"

"Lihat ini, tanda ini digores dengan jari tangan sebagai ganti alat tulis, dengan kekuatan jari tanda ini terukir di atas batu,"

Demikian Kam Hong-ti menjelaskan.

"Tampaknya kepandaian orang ini masih di atasnya Loh-suheng, tapi berada di bawah Peh-suheng, sebaliknya kira-kira setingkat dengan Ciu Sun dan Co Jin-hu kedua Suheng, tapi kalau ditulis oleh kedua Suheng kita ini, gaya tulisannya tentu bergaya tua, sedang gaya tulisan ini, di antara goresan maupun tutulannya kelihatan rada bersifat hijau, maka aku berani memastikan, yang meninggalkan tanda rahasia ini pasti bukan saudara seperguruan kita."

Dengan penjelasan Suhengnya ini, diam-diam Lu Si-nio merasa kagum sekali akan ketelitian dan cara mengupasnya.

"Siapa orang yang meninggalkan tanda rahasia ini, kini sedikit banyak aku pun sudah dapat menangkapnya,"

Terdengar Kam Hong-ti berkata lagi setelah memeriksa sebentar pula.

"Chit-ko, jangan kau katakan dahulu, biar aku coba ikut menerka,"

Tiba-tiba Lu Si-nio berkata dengan tertawa.

Sementara itu dengan penuh perhatian Teng Hiau-lan pun sedang memeriksa tanda-tanda tadi, namun sedikitpun ia tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dimengerti.

Tengah ia merasa bingung, tiba-tiba terdengar Lu Si-nio melanjutkan pula.

"Yang meninggalkan tanda ini adalah seorang gadis, usianya jauh lebih muda lagi dari aku,"

Kata nona itu.

"Tepat sekali,"

Kam Hong-ti bertepuk tangan sambil tertawa.

"Cara bagaimana kalian dapat mengetahui?"

Tanya Hiau-lan.

"Pernahkah kau mempelajari seni menulis?"

Tanya Si-nio.

"Sejak kecil aku tidak bersekolah, belakangan sesudah berada di pintu perguruan keluarga Nyo, baru aku ada kesempatan buat bersekolah,"

Sahut Teng Hiau-lan.

"Tetapi selama itu aku hanya suka membaca kitab saja, soal latihan menulis jarang kulakukan."

"Gaya tulisan wanita tentu lebih lembut dan halus daripada lelaki, hal ini tentu kau ketahui,"

Lu Si-nio menjelaskan.

"Meski tanda ini tidak tertulis dengan pit melainkan digores dengan jari tangan, namun tidak terlepas juga dari gaya tulisan tertentu menurut kebiasaan, masakah kau tidak dapat membedakannya."

"Sebaliknya aku bukan berdasarkan gaya tulisan itu, melainkan karena aku melihat garis tanda itu begitu kecil dan lembut, maka dapat diterka tentunya berasal dari goresan jari kaum wanita,"

Demikian Kam Hong-ti menerangkan pandangannya.

"Pat-moay, walau kau masih kurang pengalaman dalam Kangouw, tapi kau memang sangat pintar sekali!"

"Pintar apa? Padahal tanda ini ditulis oleh saudara seperguruan kita atau bukan saja aku tidak bisa mengenalnya,"

Sahut Si-nio dengan muka rada merah.

"Itu tak dapat salahkan kau,"

Ujar Kam Hong-ti.

"kau belum pernah bertemu dengan beberapa Suheng, terhadap kepandaian mereka sampai di tingkatan mana, dengan sendirinya kau pun tidak begitu paham seperti aku."

Setelah berpikir, kemudian ia lanjutkan lagi.

"Di antara saudara seperguruan, kecuali kau sendiri, selebihnya tiada lagi wanitanya, cara bagaimana orang ini bisa kenal tanda rahasia kita, ini justru sangat aneh. Kalau kita sudah sampai di sini, maka biarlah sekalian kita selidiki saja kampung di bawah sana untuk melihat lebih jauh."

Sesampai di pucuk gunung, ketika mereka memandang ke bawah, pemandangan di balik gunung ini berlainan, di sini terdapat puncak kecil yang bersusun dan melingkar-lingkar seperti pintu yang berderet, di tengah gunung sebaliknya terdapat sebuah jalanan yang digali oleh tenaga manusia dan dibikin secara memutar.

"Keadaan tempat ini masih boleh juga,"

Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.

Kemudian mereka turun ke bawah melalui jalanan pegunungan itu, sampai di tengah gunung, nampak belasan rumah penduduk.

Waktu itu matahari sudah terbenam ke barat, senja mulai sunyi, hanya kawanan burung yang kembali ke sarangnya mengeluarkan suara kicauan yang ramai.

Setelah mereka turun dari gunung itu, mereka bertiga masuk ke dalam sebuah pedusunan, penduduk kampung itu kebanyakan sedang bersantap malam di rumahnya, hanya beberapa orang saja yang masih iseng jalan-jalan di luaran, waktu nampak datangnya tiga orang asing, mereka menjadi heran.

Dalam kampung itu terdapat sebuah gedung besar dengan pintu gerbang warna kemerah-merahan yang menyolok sekali di antara rumah penduduk lainnya.

Maka menujulah Kam Hong-ti beserta kawan-kawan ke sana.

"Apakah tuan sekalian datang hendak mencari Sian-cengcu?"

Ada penduduk kampung yang memapaki mereka dan menegur.

"Ya, betul!"

Sahut Kam Hong-ti.

"Silakan menunggu sebentar,"

Ujar penduduk itu. Lalu ia berlari mendahului menuju ke gedung tadi. Sebelum tiba di gedung itu, lebih dulu Kam Hong-ti berkata kepada Lu Si-nio dengan suara perlahan.

"Nanti kalau kita sudah masuk ke sana, biarlah aku yang mengatur tanya-jawab, kalau terjadi sesuatu, harap perhatikan isyaratku baru kemudian bertindak,"

Begitu ia berpesan.

"Sudah tentu kami akan menurut petunjuk Suheng,"

Sahut Si-nio.

Tengah bercakap, mereka sudah sampai di depan gedung itu, kedua pintu gerbang kemerahan yang tadinya tertutup kini mendadak terbuka lebar.

Tak lama kemudian terlihatlah dari dalam keluar dua orang lelaki tegap, mereka mengacungkan jari tengah sambil menuding ke tanah, sesudah itu mereka bersoja.

"Apakah Sam-wi (tuan bertiga) satu sumber dan satu jalan atau hendak memindahkan emas masuk ke tanah?"

Tanya mereka kemudian.

Dengan kata-kata rahasia (sandi) yang biasa dipergunakan sindikat atau perkumpulan Kangouw, mereka maksudkan apakah kalian sesama kaum dari golongan atau perkumpulan lain, atau termasuk saudara golongan sendiri yang hendak menghadap pemimpin?

Sebagai jawaban atas pertanyaan itu, Kam Hongti mengacungkan jempol menunjuk langit, sesudah itu baru ia buka suara dengan lagak angkuh.

"Matahari, rembulan dan bintang di langit, tidak ada hubungannya dengan tanah."

Mendengar sahutan ini, air muka kedua lelaki itu jadi berubah, dengan sikap sangat hormat, lekas mereka berkata.

"Sam-wi silakan masuk, biar kami lapor Cengcu dahulu."

Kiranya dua kalimat yang diucapkan Kam Hong-ti tadi secara tegas ia terangkan kedudukannya, ia bilang dirinya bukan orang dari perkumpulan mereka, maka siapa pun tiada yang berhak mengurus.

Orang yang berani berkata demikian kalau bukan benggolan sesuatu perkumpulan, tentu adalah seorang tokoh yang sudah ternama.

Kedua lelaki itu lantas mengantar ketiga tamunya ke ruangan tetamu.

Setelah duduk, tak lama kemudian terlihat dari ruangan belakang muncul seorang kakek yang sudah berusia sekitar enam puluhan tapi masih sehat kuat.

Mereka pikir tentu inilah yang disebut Sian-cengcu tadi.

Selagi Hiau-lan mau berdiri, Kam Hong-ti keburu menyikutnya dengan siku dan mendahului berdiri, lebih dulu Kam Hong-ti berjalan ke tengah tiga langkah, lalu melangkah setindak ke kiri, setindak pula ke kanan, akhirnya ia mundur lagi ke belakang tiga tindak, habis itu baru memberi isyarat agar Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan berdiri dan memberi hormat kepada tuan rumah.

Melihat perbuatan Kam Hong-ti tadi, tertampak orang tua itu rada tercengang, tetapi juga rada mendongkol.

Kiranya yang disebut Sian-cengcu (cengcu = kepala kampung) ini memang bukan orang sembarangan, ketika ia mendapat laporan ada tiga tetamu hendak berjumpa dengannya, segera ia bergegas keluar menemui orang, akan tetapi begitu berhadapan ia menjadi sangat kecewa, sebab semula ia mengira yang datang ini pasti tokoh yang sudah ternama, tak terduga ternyata semua tidak dikenalnya.

Apalagi Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan kelihatan masih terlalu muda, lebih-lebih Lu Si-nio, karena gadis ini memperoleh ajaran rahasia awet muda dari Ie Lan-cu, maka tampak dia hanya seorang pemuda sastrawan lemah yang tidak lebih baru berumur dua puluhan tahun.

Di antara ketiga orang, Kam Hong-ti berusia paling tua, sikapnya pun lebih wajar tanpa kikuk, tetapi umurnya juga baru sekitar tiga puluh lebih saja, bahkan mukanya pucat kuning dan tubuhnya kurus, lebih mirip seorang penyakitan.

Sebab itu Sian-cengcu rada sangsi, ia menyangka orang-orang ini mungkin adalah penipu dari kalangan Kangouw.

Tetapi kalau melihat cara Kam Hong-ti menjalankan tata cara yang maju lalu mundur lagi, cara ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang sama derajat, sebenarnya ia rada mendongkol, namun kemudian ia berpikir pula, kalau orang sudah berani mencarinya ke sini, sudah tentu mereka kenal nama kebesarannya, dan sesudah bertemu hanya dengan penghormatan sama derajat atau tingkatan, pasti mereka ini bukan orang sembarangan.

Lebih-lebih kalau diingat bahwa orang-orang kosen di Kangouw tidak kurang banyaknya, maka ia pun tidak berani berlaku ayal lagi.

Begitulah kemudian ia lantas membalas hormat dengan soja (kepalan diangkat di depan dada) sambil tertawa, tetapi diam-diam ia kumpulkan tenaga dalamnya pada kepalan hingga angin kepalan terus menyambar ke arah Kam Hong-ti..Namun hal itu ternyata tidak membikin goyah Kam Hong-ti sedikitpun, ia pun balas menghormat dengan sedikit membungkuk, dengan perbuatannya ini sebaliknya Sian-cengcu sendiri yang rada sempoyongan, lekas ia menahan tubuhnya.

"Lauheng (saudara) sungguh hebat,"

Mau tak mau ia memuji dengan tertawa.

"Dan kedua saudara yang lain ini tentu anak murid Lauheng bukan?"

"Burung belibis terbang sejajar, semua tergolong sama tingkatan,"

Sahut Kam Hong-ti. Keterangan ini kembali membikin Sian-cengcu tercengang.

"Maafkan perkataanku tadi yang kurang pengertian,"

Katanya kepada Lu Si-nio sambil mengulurkan tangan.

Lu Si-nio pun tidak menolak, ia pun mengulur tangannya menjabat tangan orang.

Mendadak Sian-cengcu merasakan tangannya kaku linu, kini dia baru tahu kepandaian Lu Si-nio sebenarnya masih di atas Kam Hong-ti.

Di antara tiga serangkai ini, perawakan Teng Hiau-lan paling gagah dan kuat, sudah tentu Sian-cengcu tak berani menjajal orang lagi, lekas ia menyilakan tetamunya duduk dengan laku hormat.

"Kabarnya Cengcu hendak mengadakan pesta ulang tahun, maka kami bertiga sengaja datang membikin repot,"

Demikian Kam Hong-ti buka suara sesudah mereka mengambil tempat duduknya. Mendengar kata-kata kawannya ini, Teng Hiau-lan menjadi bingung dan heran. Ia pikir.

"Darimana Kam-tayhiap mengetahui orang tua ini hendak membikin pesta ulang tahun?"

Nyata ia tidak tahu bahwa ucapan Kam Hong-ti ini kembali adalah kata-kata rahasia di kalangan Kangouw.

Sepanjang jalan tadi Kam Hong-ti melihat belasan tempat yang terdapat tanda rahasia dari suatu organisasi atau perkumpulan gelap, waktu ia mempelajari tanda itu, ia menduga tuan rumah di sini tentu adalah seorang benggolan perkumpulan besar.

Besar kemungkinan tempatnya berdekatan dan hendak mengundang orang-orang dari golongan lain untuk mengadakan pertemuan di sini.

Pertemuan semacam itu di kalangan Kangouw biasanya disebut 'ulang tahun', oleh sebab itulah sengaja Kam Hong-ti mencoba dengan perkataannya tadi, dan betul saja dia dapat menebak dengan tepat.

Begitulah maka demi mendengar ucapan Kam Hong-ti, lagi-lagi Sian-cengcu bergelak tawa.

"Beruntung sekali atas kesudian kalian bertiga datang hingga banyak menambah semarak pesta, cuma waktunya harus tunggu beberapa hari lagi baru akan tiba hari ulang tahun, hal ini terpaksa membikin susah kalian bertiga agar sementara tinggal dahulu di sini!"

Sahutnya kemudian.

"Kalau begitu, tentunya akan lebih banyak membikin repot pada Cengcu,"

Ujar Kam Hong-ti.

Lalu kedua pihak saling bertanya namanya masing-masing, Kam Hong-ti memperkenalkan namanya menjadi Teng Liong, Lu Si-nio menjadi Li Siang-siang dan Teng Hiau-lan berganti menjadi Pang Hiau.

"Dimana kalian membuka gunung dan mendirikan toko?"

Tanya Sian-cengcu dalam istilah sandi.

"Air mengalir dan awan meluncur, tiada sesuatu tempat tertentu,"

Jawab Kam Hong-ti.

"Kalau begitu kalian bertiga tentu naik garis dan gantung papan merek bukan?"

Tanya pula tuan rumah.

"Tidak bermerek dan tidak mendirikan toko, ada bunga nikmati bunga, ada arak minum arak, lima danau empat lautan semua merupakan kawan,"

Kata Kam Hong-ti.

Begitulah mereka berdua bertanya-jawab lagi dengan menggunakan bahasa rahasia Kangouw, Teng Hiau-lan yang masih hijau menjadi makin bingung.

• Kiranya Sian-cengcu itu masih ragu dan curiga, berulang kali ia masih terus mencoba bertanya asal-usul orang.

Pertama ia tanya orang apakah pemimpin sesuatu perkumpulan atau Cecu yang bercokol pada sesuatu gunung.

Kam Hong-ti menjawabnya bukan, kemudian Sian-cengcu bertanya lagi apakah mereka ini begal tunggal yang berkeliaran ke seluruh penjuru, oleh Kam Hong-ti dijawab bukan pula, bahkan ditambahkan bahwa mereka tiada sesuatu hubungan dengan kaum Hek-to dan Pek-to (golongan hitam dan golongan putih), tetapi di kalangan Kangouw terdapat banyak kawan-kawan mereka.

Dengan menerangkan kedudukan sendiri sedemikian jelas, kalau bukan Cianpwe-kojin (orang kosen dari angkatan tua), tentu adalah Seng-beng-hiap-khek (pendekar yang sudah kenamaan).

Karena itu, sungguhpun Sian-cengcu sudah banyak makan asam garam Kangouw, mau tak mau ia pun rada bingung dan hanya meraba-raba saja tanpa tahu pasti.

Dalam hati diam-diam ia coba mengingat tokoh ternama di kalangan Kangouw, namun meski sudah berpikir pergi datang, nyata tiada seorang pun yang ia ketahui berusia begitu muda seperti mereka ini.

Karena sudah hilang akal, terpaksa Sian-cengcu harus meladeni orang secara hormat, ia perintahkan centing menyediakan kamar untuk tempat mereka mengaso.

Meski demikian, dalam hati Sian-cengcu masih tetap penasaran, ia membatin.

"Han-lokoay kalau tidak malam ini tentu besok datang, ia pasti mengetahui asal-usul ketiga orang ini."

Sementara itu sesudah berada dalam kamar tamu yang disediakan, diam-diam Lu Si-nio bertanya kepada Kam Hong-ti.

"Chit-ko biasanya suka berlaku hati-hati, mengapa kali ini sengaja unjuk kududukan diri sendiri?"

"Sian-cengcu ini jelas adalah pentolan sesuatu Panghwe (perkumpulan rahasia), kita datang mendadak, kalau tidak sedikit pamerkan diri, mana dia sudi meladeni kita,"

Sahut Kam Hong-ti.

"Karena kita bukan anggota sesuatu Panghwe, maka terpaksa harus pura-pura mengaku diri sebagai pendekar Kangouw yang tiada sesuatu tempat kediaman tertentu."

Meski berkata begitu, Kam Hong-ti sendiri justru benar adalah seorang pendekar yang termashur di Kangouw pada masa itu, hakikatnya dia tak perlu bilang 'pura-pura'.

Karena itulah Sian-cengcu tidak menyangka bahwa dia ini Kam Hong-ti adanya.

Selang tak lama, Sian-cengcu menyuruh orang mengantar santapan malam, makanan yang disuguhkan ternyata terpilih.

Melihat ini Lu Si-nio berbalik menjadi curiga.

"Dia belum tahu seluk-beluk kita, tidak nanti dia berani mengerjai kita?"

Ujar Kam Hong-ti tertawa, sesudah itu ia lantas mendahului makan-minum sepuasnya. Kemudian ketika centing datang lagi membersihkan daharan mereka, centing ini memberitahu.

"Cengcu kami mengirim salam kepada tuan-tuan dan minta dimaafkan beliau tidak mengiringi ke sini."

"Jika Cengcu ada keperluan lain, jangan sungkan,"

Ujar Kam Hong-ti. Begitulah mereka bertiga lantas tidur sekamar. Sampai tengah malam, tiba-tiba Kam Hong-ti berkata pada Lu Si-nio.

"Pat-moay, coba kau keluar buat menyelidiki perkampungan mereka ini apa ada sesuatu yang aneh?"

Di antara anak murid Tok-pi-sin-ni boleh dikata Lu Si-nio punya Ginkang yang paling tinggi, Kam Hong-ti cukup tahu dirinya masih di bawah Sumoaynya ini, oleh karena itu ia minta adik perguruannya yang pergi menyelidiki keadaan.

Lu Si-nio tidak membantah, ia mendekati jendela, dilihatnya di luar sana banyak terdapat bayangan orang.

"Chit-ko, kita diawasi orang,"

Tuturnya dengan suara perlahan kepada sang Suheng.

"Nanti kupancing mereka menyingkir,"

Ujar Kam Hong-ti.

Habis itu ia gunakan jari tengah terus menjojoh ke tembok di sebelah depan jendela hingga tembok itu sedikit terlubang, kemudian ia dapatkan sepotong belahan bambu yang runcing pada pojok kamar, ia tancapkan belahan bambu itu ke dalam lubang kecil tadi terus dikorek.

"Sudah cukup,"

Katanya kemudian setelah dia mengorek sebentar.

Lalu ia keluarkan sebutir pelor besi dari dalam kantong senjatanya, ia jepit pelor itu dengan kedua jari dan dimasukkan ke dalam lubang tembok yang dikoreknya tadi terus disentil keluar.

Dengan menerbitkan sedikit suara, pelor itu terbang keluar kamar.

Menyusul segera terdengar ada suara orang yang berlari menuju ke jurusan dimana pelor itu jatuh.

Lu Si-nio cukup cerdik, ia tahu itu adalah akal Kam Hong-ti yang sengaja memancing orang untuk memburu ke tempat terbitnya suara, maka tanpa ayal lagi, dengan meringkaskan pakaiannya segera Lu Si-nio menerobos keluar jendela.

Kiranya penjaga di luar tadi waktu mendengar suara berbu-nyinya pelor, segera mengira ada 'ya-heng-jin' yang 'Tau-ciok-mui-loh' (lempar batu mencari jalan), maka beramai mereka lantas memburu ke sana.

Apabila kemudian mereka kecele dan kembali, sementara itu Lu Si-nio sudah melayang lewat dua rumah terus bersembunyi di belakang sebuah bukit-bukitan.

Taman di gedung Sian-cengcu ini ternyata sangat luas, keadaan pajangan dalam taman bunga inipun luar biasa, terlihat di seluruh penjuru banyak terdapat bukit-bukitan palsu yang indah, jalanan menyusur pepohonan dibikin berliku-liku, di tengah taman masih dibangun pula sebuah rumah bersusun terbuat dari batu.

Nampak pemandangan ini, diam-diam Lu Si-nio merasa heran, karena tempat semacam ini seperti pernah ia kunjungi.

Setelah ia berpikir lagi, akhirnya ia jadi mengerti.

Kiranya pemandangan dalam taman ini ternyata sengaja meniru corak taman istirahat yang dibangun Hi Kak Tay-ong di atas Chian-tiang-giam di pulau Cian-hing-to, walaupun tidak semegah dan sebagus taman Hi Kak itu, namun sudah termasuk bagus juga.

Begitulah Lu Si-nio bersembunyi di belakang bukit-bukitan tadi, ia lihat sekitarnya tiada orang, selagi ia hendak melompat keluar, tiba-tiba ia mendengar ada suara tindakan orang.

Ia urung melompat keluar, ia coba mengintai siapa gerangan yang datang.

Terlihat olehnya ada empat gadis dengan membawa lentera berjalan lewat, sementara itu terdengar pula mereka sedang bercakap-cakap.

"Tabiat Kun-cu (putri raja) ini sungguh luar biasa, kalau melihat wajahnya yang cantik molek, siapa pun takkan menduga ilmu silatnya sangat tinggi,"

Terdengar salah seorang gadis itu berkata.

"Betul,"

Sahut gadis yang lain.

"Kemarin dia tak mau makan, Bing-cecu telah membujuknya, tapi entah apa yang dikatakan, mendadak Kun-cu menamparnya, untung Bing-cecu sempat mengegos, namun begitu meja kayu wangi yang terdapat di situ kena dipukulnya hingga rusak."

"Ya, Cengcu sendiri yang pergi membujuknya, akhirnya baru dia mau makan,"

Gadis yang lain ikut menimbrung.

"Kabarnya ilmu silat Bing-cecu tidak di bawah Cengcu kita, pula terhitung tokoh ternama di Kangouw, dia ternyata cukup sabar,"

Kata gadis keempat tidak mau ketinggalan.

"Dia kan seorang Kun-cu, bagaimanapun dia harus sabar!"

Sahut gadis yang pertama tadi. Lu Si-nio mendengarkan suara itu dengan menempelkan telinga ke tanah, ia tahu keempat gadis itu sudah pergi jauh, suara mereka pun makin lama makin lemah.

"Aneh, darimana datangnya seorang Kun-cu?"

Demikian Lu Si-nio merasa tidak mengerti.

Ia sangsi apa mungkin seorang beng-golan suatu perkumpulan rahasia berani menawan seorang putri keluarga kerajaan?

Karena merasa tertarik, segera ia melayang keluar dari tempat persembunyiannya, dengan enteng sekali dan secara berendap ia menguntit di belakang keempat gadis tadi.

Ginkang Lu Si-nio sudah pada tingkat kesempurnaan, kepandaian ini boleh dikata sudah sanggup menyeberangi sungai dengan menggunakan kapu-kapu saja dan sedikitpun takkan mengeluarkan suara, dengan mengintil di belakang, gadis-gadis itu ternyata tidak merasa sama sekali.

Setelah menguntit sejenak, terdengar pula seorang di antara gadis tadi membuka suara lagi.

"Besok lusa adalah hari perayaan pembukaan "Pang"

Kita, entah Tay-ong datang atau tidak?"

"Putrinya berada di sini, aku kira dia pasti datang!"

Sahut gadis lainnya.

"Aku dengar dari Siaucengcu (tuan muda), katanya Tay-ong terlalu repot, tidak sempat kemari,"

Gadis lainnya ikut bicara.

"Eh, Siaucengcu rupanya sangat baik padamu, seringkah bicara denganmu hal-hal yang menyenangkan,"

Gadis pertama menggoda kawannya. Lalu terdengar si gadis yang digoda membalas dengan omelannya, kemudian mereka lantas saling guyon lagi.

"Kau bilang tabiat Kun-cu terlalu jelek, sebaliknya aku malah mengatakan baik,"

Gadis yang pertama berkata lagi setelah lewat sejenak.

"Kemarin aku melayani dia menyisir rambut dan merias diri, dia lantas memegang tanganku sambil bertanya ini dan itu, serupa saja seperti kakakku."

"Kabarnya Tay-ong tak mengizinkan dia kawin dengan orang pilihannya, karena itu ia lantas melarikan diri,"

Gadis lain menyahut.

"Apa betul? Darimana kau mendapat tahu?"

"He, apa dia tidak malu? Mengapa ribut minta kawin?"

"Pantas, karena tak boleh kawin dengan orang yang dipenujui, lantas tabiatnya berubah begitu buruk!"

Begitulah ketiga gadis lainnya juga ramai menerocos, diam-diam Lu Si-nio menjadi geli.

Kemudian setelah keempat gadis itu mengitari bukit-bukitan dan gardu taman sana, secara berliku-liku akhirnya mereka sampai di pojok barat taman itu, maka tertampaklah sebuah gedung bersusun tiga yang megah sekali, pada pojok emper tergantung belasan lampu angin berbentuk delapan segi, sedang daun jendela di atas loteng ketiga terlihat terpentang, di antara cahaya pelita yang menyorot di tembok, remang-remang kelihatan punggung seorang gadis jelita yang seperti sudah dikenal Lu Si-nio, tetapi dia tidak ingat siapa adanya.

Sementara itu selagi Lu Si-nio berniat melalui jalan kecil lainnya untuk mendahului ke depan empat gadis tadi dan akan terus melayang naik ke atas loteng itu, mendadak dilihatnya sinar lampu di atas loteng dipadamkan, sedang dari tikungan taman sekonyong-konyong muncul dua orang.

Melihat datangnya kedua orang itu, keempat gadis tadi semua meluruskan tangan dan berdiri diam, lekas Lu Si-nio sembunyi ke dalam semak pepohonan lebat di dekatnya.

Kemudian ia coba mengintip siapa gerangan kedua orang ini, maka ia menjadi kaget, ternyata kedua orang ini yang seorang ialah Sian-cengcu dan yang lain adalah Suhengnya Thian-yap sanjin, Han Tiong-san.

"Apa malam ini juga kau lantas hendak berangkat? Mengapa tak besok pagi saja?"

Terdengar Sian-cengcu bicara pada Han Tiong-san.

"Hari ini kita kedatangan tiga bocah, lagu suara mereka sangat sombong, aku justru ingin minta bantuanmu untuk meraba asal-usul mereka yang sebenarnya!"

Mendengar percakapan ini Lu Si-nio menjadi makin terkejut. Pikirnya.

"Ilmu silat Han Tiong-san hebat sekali, lebih-lebih kepandaian senjata rahasianya. Jika hanya dia seorang saja yang datang masih tidak mengapa, khawatirnya kalau Liau-in dan kawan-kawan pun datang bersama dia."

Tengah ia berpikir, kembali terdengar kedua orang itu bicara lagi.

"Teman tuaku sedang menanti, besok lusa aku pasti datang memberi selamat pada ulang tahunmu,"

Kata Han Tiong-san.

"Sedang mengenai ketiga bocah yang kau maksudkan, biarlah sebentar aku pergi melihatnya, kalau memang betul tokoh ternama, tidak mungkin aku tidak mengenalnya."

"Baiklah, mari kita menyambangi Kun-cu lebih dulu, dalam dua hari ini tabiatnya sungguh luar biasa!"

Sabut Sian-cengcu.

"Hm, kiranya budak hina-dina ini!"

Terdengar Han Tiong-san menjengek ketika mendengar orang menyebut Kun-cu.

Mereka berdua lantas naik ke atas loteng tadi.

Kesempatan itu segera digunakan Lu Si-nio untuk lekas kembali ke kamarnya, dengan Ginkangnya yang luar biasa ia bisa meng-ingusi penjaga tadi.

Sementara itu Kam Hong-ti dan Teng Hiau-lan sudah tidak sabar menanti kembalinya.

Waktu daun jendela bergerak, masuklah Lu Si-nio dengan melayang enteng seperti burung.

"Aku telah meniru kau tadi, sebelum tiba di kamar ini, aku pancing mereka menyingkir dengan segelintir batu kerikil,"

Katanya perlahan pada Kam Hong-ti dengan tersenyum.

"Adakah sesuatu yang kau dapatkan?"

Tanya Suhengnya itu.

"Hal ini biarlah kita bicarakan besok saja, sebentar lagi Han Tiong-san, si iblis tua itu hendak memeriksa ke sini, sementara kita harus pura-pura tidur,"

Sahut Lu Si-nio.

Maka segera mereka mengatur seperlunya untuk pura-pura tidur.

Kamar tamu ini sangat luas, tiga tempat tidur mereka berderet, Kam Hong-ti tidur di tengah.

Lewat tak lama, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, Kam Hong-ti sengaja menunggu sejenak, sesudah itu baru pura-pura kaget terbangun dan membukakan pintu kamar.

Maka tertampak Han Tiong-san dan Sian-cengcu berdiri di ambang pintu kamar mereka.

"Tadi ada ya-heng-jin (orang jalan malam) mengintai perkampungan kita, tentu Sam-wi ikut terkejut?"

Kata Sian-cengcu.

"Sungguh memalukan, tidur kami terlalu nyenyak, sedikitpun tidak tahu,"

Kam Hong-ti pura-pura berbohong.

"Itulah, aku khawatir membikin kaget tuan-tuan!"

Ujar Sian-cengcu.

Lalu ia perkenalkan Han Tiong-san kepada mereka.

Dengan sinar mata tajam Han Tiong-san mengamati Kam Hong-ti bertiga.

Meski Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan sudah pernah bertemu muka dengan Han Tiong-san, tapi karena sekarang mereka sudah merias muka, lagi pula Lu Si-nio menyamar sebagai lelaki, ditambah di bawah sinar pelita yang guram lagi dan Han Tiongsan sendiri sedang bercabang pikiran, nyata ia telah kena dikelabui.

Setelah mereka saling merendah diri beberapa patah kata, kemudian Han Tiong-san mohon diri buat pergi dan disusul oleh Sian-cengcu.

"Ketiga bocah ini bukan tokoh ternama apa segala, hanya tampaknya ilmu silat mereka memang tidak rendah, mungkin anak murid orang ternama yang sengaja omong besar, bisa juga bertujuan untuk mengenalkan nama dan menonjolkan diri,"

Ujar Han Tiong-san setelah berlalu.

"Mungkinkah anak murid dari Thian-san-kiam-khek?"

Mendadak Sian-cengcu bertanya.

"Sudah lama ahli waris Thian-san-kiam terputus turunan, mengapa kau masih dendam?"

Sahut Han Tiong-san, sesudah itu ia menyambung lagi.

"Cengcu, maafkan aku harus berangkat, sebenarnya dengan kepandaianmu ditambah lagi ada Wei-tocu dan Bing-cecu di sini, apakah kalian masih takut pada ketiga bocah ini?"

Melihat kawannya ini begitu terburu-buru, Sian-cengcu tak berani menahan lebih jauh.

Han Tiong-san segera berangkat, di antara gerak tubuhnya yang cepat, dalam sekejap saja ia sudah menghilang keluar pedusunan untuk menyelesaikan urusannya sendiri.

Besok paginya disusul pula hari ketiga, berturut-turut para tamu yang terdiri dari benggolan perkumpulan rahasia lainnya sudah datang berkunjung, keruan saja Sian-cengcu merupakan orang yang paling repot menyambut tetamunya, tapi di antara seribu kerepotannya toh siang dan malam ia mengadakan tempo khusus untuk menyambangi Kam Hong-ti bertiga.

Kam Hong-ti sendiri sudah kawakan di kalangan Kangouw, di antara percakapan mereka selalu ia bikin bingung Sian-cengcu hingga benggolan ini tidak dapat meraba asal-usulnya.

Sampailah pada lohor hari keempat, tiba-tiba Sian-cengcu sendiri datang mengundang mereka.

Mereka bertiga mengikuti tuan rumah menuju ke taman, ternyata di tengah taman itu sudah siap beberapa meja perjamuan.

Melihat keadaan ini tiba-tiba Lu Si-nio teringat pada waktu Hi Kak Tay-ong mengundangnya ke perjamuannya dahulu, keadaan itu ternyata rada mirip dengan keadaan dalam taman ini Ketika Sian-cengcu menyilakan mereka menempati tempat duduk yang sudah disediakan, Lu Si-nio-dan Teng Hiau-lan mencoba memeriksa di antara tamu yang hadir itu, ternyata di antara tujuh tamu yang duduk di meja terhormat sana ada dua orang yang mereka kenal, yang satu adalah Leng-hun-tocu Wei Yang-wi dan yang lain adalah Thay-ouw-cecu Bing Bu-kong.

Nampak hadirnya dua orang ini, diam-diam mereka merasa heran.

Setelah Kam Hong-ti bertiga mengambil tempat duduk, menyusul tiada putusnya para tamu lainnya banyak yang datang lagi buat memberi selamat pada Sian-cengcu.

Ketika Kam Hong-ti mendengar kata-kata selamat yang mereka ucapkan, ternyata tamu-tamu itu menghaturkan selamat pada hari pendirian 'Pang' (perkumpulan atau sindikat).

"Mana bisa satu perkumpulan rahasia yang baru berdiri sudah begini mentereng?"

Begitu diam-diam Kam Hong-ti bertanya dalam hati.

Tengah ia heran, tiba-tiba tampak Sian-cengcu mengangkat cawan araknya, sedang tangan kiri mengeluarkan sebuah kipas dari sakunya dan dikibaskan dengan cepat hingga terpentang, nyata di sebelah luar kipasnya itu hitam licin mengkilap, bahkan tulang kipasnya bersinar gemerdep.

Melihat kipasnya ini, baru mendadak Kam Hong-ti tahu apa artinya.

"Eh, kiranya adalah Tiat-sian-pang di Kanglam sini telah bangkit kembali!"

Demikian pikirnya dalam hati.

Dapat dijelaskan bahwa sekitar lima puluhan tahun yang lampau, Tiat-sian-pang (gerombolan kipas baja) di daerah Kanglam merupakan satu perkumpulan rahasia yang terbesar, Pangcu atau pemimpin gerombolan itu bernama Sian Hun-ting dan memiliki ilmu silat yang tinggi, tidak peduli dari golongan putih atau hitam, semuanya tidak dia beri ampun, sungguhpun demikian, dia terhitung juga salah seorang tokoh kenamaan dan disegani.

Tapi kemudian Sian Hun-ting kena dikelabui oleh iblis Hek Hui-hang hingga akhirnya bermusuhan dengan Thian-san-chit-kiam, akibatnya dia tertawan oleh Leng Bwe-hong dan Pho Jing-cu, lalu terbinasa dengan mengenaskan (bacalah Thian San Chit Kiarri).

Sesudah Sian Hun-ting tewas, karena ular tanpa kepala lagi, dengan sendirinya Tiat-sian-pang dinyatakan bubar.

Sementara itu Sian Hun-ting masih punya seorang cucu, tatkala Sian Hun-ting tewas, cucunya ini waktu itu belum genap sepuluh tahun, sesudah bocah ini dewasa, cita-citanya condong untuk membangun kembali bekas pekerjaan kakeknya itu, ia merantau mencari guru pandai untuk belajar silat, ia memberi nama pada dirinya sendiri sebagai Sian Hok-cho (Hok-cho berarti kembali pada semula).

Setelah dia merantau kian kemari, dengan bantuan Hi Kak, akhirnya berhasil juga ia menyusun kembali Tiat-sian-pang dan hari ini adalah hari perayaan pembukaan kembali mewarisi pekerjaan leluhurnya itu.

Namanya pembukaan, tapi lebih tepat dikatakan membangun kembali.

Meski usia Kam Hong-ti belum terhitung tua, tapi soal kejadian di kalangan Kangouw dia cukup paham.

Oleh sebab itu juga ia ikut angkat cawan menghaturkan selamat.

"Hari ini perkumpulan kami dibangun kembali, atas kesudian para kawan berkunjung kemari, lebih-lebih atas bantuan Hi Kak Tay-ong yang telah membantu sepenuh tenaga, kami seluruh anggota perkumpulan menghaturkan banyak terima kasih,"

Terdengar Sian Hok-cho mulai pidato dengan kebas-kebas kipas bajanya.

Mendengar pidato pembukaan ini, mengertilah Lu Si-nio bahwa orang ternyata bangun kembali atas dukungan Hi Kak Tay-ong, pantas Bing Bu-kong dan Wei Yang-wi jauh-jauh ikut hadir, tentu kedua orang ini datang ke sini sebagai utusan Hi Kak.

Begitulah, setelah berhenti sejenak untuk menceguk araknya, kemudian Sian Hok-cho melanjutkan lagi.

"Mengingat berbagai perkumpulan dan para pemimpin kita di daerah Kanglam sini biasanya tersebar seperti pasir, kemegahan kaum kita pada lima puluh tahun yang lalu seperti telah buyar laksana asap, hal ini sungguh membikin malu kita terhadap leluhur. Tetapi kini Hi Kak Tay-ong sudah merajai lautan, hal ini sungguh harus dibuat bangga oleh kaum kita, tidakkah lebih baik kalau sekarang perkumpulan kita di Kanglam sama mengangkat sumpah dan berserikat saja untuk ikut membantu Hi Kak Tay-ong."

Dengan mengeluarkan maksud hatinya ini, seketika berbagai benggolan dan pemimpin perkumpulan yang hadir menjadi ramai saling berembuk.

Meski sebelum mereka hadir di perjamuan ini sudah mengetahui maksud tujuan Sian Hok-cho, namun urusan ini terlalu besar dan penting, secara mendadak hal ini dikemukakan, sesaat ternyata tiada seorang pun yang berani angkat bicara menanggapi.

Kam Hong-ti dan Lu Si-nio yang menyaksikan di samping dapat meraba bahwa pendapat berbagai benggolan itu sudah saling berlainan, hal ini merupakan kesempatan baik buat mereka untuk mengambil tindakan.

Tetapi selagi mereka hendak melakukan sesuatu, kembali terdengar Sian Hok-cho membuka suara pula.

"Urusan ini besar hubungannya dengan hidup atau hancurnya kaum kita, menurut pandanganku, bila saudara-saudar setuju, yang pasti hanya akan membawa keuntungan dan tiada ruginya."

"Apa yang Sian-cengcu katakan ini memang betul!"

Terdengar Pangcu Hay-yang-pang, To Keng-ciau, menyambut pidato orang dengan berdiri.

"Memang urusan ini terlalu besar sangkut-pautnya, maka biarlah kita pikirkan lebih masak lagi!"

Dengan perkataan ini, tampaknya ia menunjang usul tuan rumah, tetapi sebenarnya bertujuan mengulur waktu.

Sudah tentu Sian Hok-cho mengerti, ia tahu bahwa wibawa dirinya masih belum cukup untuk menundukkan orang, kedatangan para Pangcu hari ini, setengahnya karena memandang muka Hi Kak dan setengah lainnya lebih tepat dikatakan berkat jasa leluhurnya.

Oleh sebab itu, dalam keadaan demikian ia pun tidak berani terlalu memaksa.

"To-pangcu dapat berpikir panjang dan sudah banyak pengalaman, mana Siaute berani tidak menghargainya, bolehlah urusan ini kita bicarakan lagi besok,"

Katanya kemudian.

Nampak urusan ini tertunda, rupanya Bing Bu-kong agak kecewa, ketika ia bermaksud berdiri buat angkat bicara, tiba-tiba ada dua anggota perkumpulan datang menghaturkan sebuah kotak berlapis emas, waktu Sian Hok-cho membuka dan diperiksa, terlihat di dalam kotak itu terdapat serenceng emas dan selembar kartu nama merah besar.

Sian Hok-cho mengambil kartu nama itu untuk dibaca, mendadak air mukanya berubah.

"Silakan mereka masuk!"

Serunya kemudian.

Selang tak lama, terlihatlah dari luar masuk tiga orang, yang dua sudah lanjut usianya dan yang seorang masih muda.

Ketika mengenali siapa orang yang masuk ini, hampir saja Teng Hiau-lan berseru kaget.

Ternyata seorang di antara orang tua ini bukan lain ialah Ce Bin-kau yang terkenal dengan julukan 'Ca-ih-sin-say' atau si singa sakti bersayap.

Sedang si pemuda tadi adalah putranya, Ce Sek-kiu.

Sebagaimana diketahui, beberapa tahun yang lalu ayah dan anak ini pernah mengunjungi Nyo Tiong-eng dengan maksud melamar anak gadisnya, tetapi Nyo Liu-jing sengaja mengajak bertanding pada Ce Sek-kiu hingga tangan pemuda ini hampir saja dipatahkan.

Malahan keberangkatan Teng Hiau-lan dari keluarga Nyo itu sedikit banyak ada hubungannya dengan peristiwa itu.

Sungguh tidak dinyana, setelah berpisah beberapa tahun, kini sekonyong-konyong mereka muncul di sini.

"Ada apakah, kenalkah kau pada mereka?"

Tanya Lu Si-nio perlahan ketika melihat Hiau-lan menatap ayah dan anak itu dengan kesima. Hiau-lan manggut-manggut. Sesaat dalam benaknya terbayang semua kejadian yang telah silam. Pikirnya.

"Ce Sek-kiu ini entah masih benci padaku atau tidak?"

Sementara itu Ce Bin-kau dengan langkah lebar mendekat, ia kiongchiu (angkat kedua tangan di depan dada) sebagai hormat pada Sian Hok-cho, matanya menatap tajam ke sekeliling kalangan, menyusul baru ia mulai berkata.

"Eh, kiranya hari ini Sian-cengcu telah banyak mengundang tokoh besar dari Bu-lim, haha, kedatangan diriku yang sudah tua bangka ini sungguh kebetulan juga!"

Terlihat Sian Hok-cho pun kiongchiu balas menghormat.

"Ca-ih-sin-say, sudah lama kagum sekali!"

Jawabnya kemudian.

"Hari ini sudi datang bersama Leng-piauthau, entah ada petunjuk apa?"

Sebelum menjawab, lebih dulu Ce Bin-kau merangkap tangan memberi hormat berputar kepada para benggolan yang hadir di sim, habis itu baru dia berkata.

"Cayhe bernama Ce Bin-kau, ini adalah sahabatku Leng Gak, Congpiauthau Thong-goan-piau-hang di Lam-khia, dan yang ini adalah putraku Ce Sek-kiu. Dua bulan yang lalu, anakku membantu Leng-piauthau mengawal dalam perjalanan ke Kwitang, di tengah jalan barang kawalannya ternyata kena dirampas oleh kawan-kawan dari Tiat-sian-pang, meski harta kawalannya tidak besar, hanya lima puluh ribu tahil, dalam pandangan Sian-cengcu tentu bukan soal harta sebesar ini, sebaliknya buat Leng-piauthau dan aku tua bangka yang rudin, untuk mengganti kerugian terang tidak mampu, tiada jalan lain, terpaksa kami tebalkan kulit muka kemari buat memohon kepada Cengcu agar suka memberikan muka dan suka mengembalikan harta kawalan itu. Dan inilah aku Ce Bin-kau memberi hormat di sini!"

Kiranya sejak Ce Bin-kau dan anaknya meninggalkan kediaman keluarga Nyo, mereka kembali ke Kwangwa buat melatih diri secara giat, karena itu Ngo-heng-kun yang dilatih Ce Sek-kiu sudah banyak memperoleh kemajuan.

Kedatangan mereka ayah dan anak kembali ke pedalaman sebenarnya bertujuan mencari Nyo Tiong-eng beserta putrinya untuk menuntut balas hinaan dahulu itu.

Waktu mereka sampai di Lam-khia (Nanking), kebetulan mereka berjumpa dengan sahabat lama Leng Gak yang sedang menerima barang kawalan seharga lima puluh ribu tahi!

perak ke Kwitang, waktu itu Tiat-sian-pang diketahui sedang mempersiapkan diri untuk membangun kembali pangkalan lama mereka dan sudah banyak merampas harta benda saudagar di berbagai tempat di daerah Kanglam.

Berhubung dengan itu, Leng Gak menjadi khawatir dan serba susah.

Hendaklah diketahui bahwa Piau-hang atau perusahaan pengawalan yang kerjanya mengangkut dan mengawal, soal kepandaian adalah urusan kedua, yang utama dan penting justru adalah hubungan baik dengan kawan-kawan dari lapisan hitam yang disebut Hek-to di berbagai tempat, karena itu yang paling dikhawatirkan ialah kawanan perampok dan begal liar yang baru muncul, sebab hendak mengikat persahabatan waktunya tentu tidak keburu lagi.

Begitulah, dalam keadaan serba susah itu, tentu saja Leng Gak girang sekali atas kedatangan Ce Bin-kau dan putranya, ia terus terang menceritakan kesulitannya dan mohon bantuan mereka ayah dan anak.

Mengingat hubungan persahabatan mereka, pula mengingat putranya, Ce Sek-kiu, masih perlu pengalaman dan penggemblengan, maka Ce Bin-kau lantas menyuruh Ce Sek-kiu membantu wakil Congpiauthau mengawal harta tadi.

Tak terduga, tetap juga barang kawalan itu kena dirampas kawanan Tiat-sian-pang.

Urusan merampas piau (harta yang dikawal) dan meminta kembali piau yang dirampas dalam kalangan Kangouw merupakan urusan biasa.

Apalagi Ce Bin-kau dan Nyo Tiong-eng pada lebih tiga puluh tahun yang lampau disebut sebagai Pak-kok-siang-hiong atau dua pahlawan di negeri utara, kaum Lok-lim di daerah selatan pun mendengar nama mereka yang tenar dan disegani, tentunya tidak dapat disamakan dengan orang yang tidak terkenal.

Sebab itulah maka para pemimpin perkumpulan lain membatin.

"Muka yang diminta ini pasti akan diberikan oleh Sian Hok-cho, sebab harta lima puluh ribu tahil perak bukan jumlah yang terlalu besar, rasanya Sian Hok-cho tidak pelit dan suka mengikat permusuhan dengan tokoh ternama."

Tidak tersangka, dugaan mereka ternyata meleset, mendadak terdengar Sian Hok-cho bergelak tertawa.

"Menurut aturan, Ce-loenghiong yang sudi datang buat minta kembali harta kawalan itu, sungguh ini merupakan suatu kehormatan besar buat Siaute, bagaimanapun juga tentu harta itu akan diserahkan kembali. Cuma saja, soalnya hari ini adalah hari pembukaan dan sembahyang pada leluhur perkumpulan kami, kalau uang perak yang putih bersih itu diangkut keluar pintu oleh orang, setidaknya terasa rada menyinggung pantangan."

"Lebih baik begini saja,"

Ia menyambung lagi.

"kelima puluh ribu tahil perak itu kita anggap sebagai hadiah, kami dan Ce-loenghiong ayah dan anak beserta Leng-piauthau akan saling bertanding tiga babak untuk menambah semarak perjamuan ini, kalau Ce-loenghiong berada di pihak yang menang, maka biarpun kami kalah juga akan merasa gembira!"

Usulnya ini sama sekali di luar dugaan benggolan yang hadir dalam perjamuan ini, Kam Hong-ti sendiri pun menganggap tuan rumah merosotkan harga diri sebagai Pangcu.

Nyata mereka tidak tahu bahwa dalam hal ini Sian Hok-cho mempunyai perhitungan sendiri.

Sudah belasan tahun Sian Hok-cho berusaha membangun kembali Tiat-sian-pang, meski sedikit banyak sudah dikenal namanya, tetapi wibawa pribadinya bagaimanapun masih belum cukup, lebih-lebih karena usulnya membantu Hi Kak tadi tidak didukung oleh benggolan yang hadir, hal ini sudah membikin dia merasa serba sulit.

Dalam keadaan demikian kebetulan Ce Bin-kau muncul hendak menagih harta kawalannya, karena rasa mendongkolnya yang belum terlampiaskan, maka Sian Hok-cho sengaja mengambil kesempatan itu dengan tujuan hendak membikin runtuh nama tokoh terkenal itu, berbareng untuk menanjakkan martabat sendiri.

Begitulah demi mendengar usul orang yang terang-terangan menantang itu, Ce Bin-kau dengan menahan rasa gusarnya lantas tertawa mendorgak.

"Tulangku yang sudah tua lapuk ini, mana aku berani minta bertanding segala. Tetapi Pangcu rupanya tidak rela mengembalikan begitu saja barang kawalan itu, sesungguhnya kami pun tak berani memaksa. Tapi syukurlah Pangcu sudah tunjukkan jalannya, jika kami tidak terima, terang harta kawalan itu tidak mampu kami ganti. Dalam keadaan terpaksa, mau tak mau kami harus menuruti keinginan Pangcu!"

Dengan jawabannya ini, jelas Ce Bin-kau menerima baik tantangan orang buat bertanding.

"Bagus, kalau begitu kita atur begini saja, dalam pertandingan tiga babak, siapa yang menangkan dua babak, lima puluh ribu tahil perak itu menjadi haknya,"

Kata Sian Hok-cho.

"Kalian adalah tamu, maka silakan siapa di antara kalian yang akan maju lebih dulu?"

Selagi Ce Bin-kau hendak maju sendiri, tiba-tiba ia didahului oleh Leng-piauthau, Leng Gak.

"Soal harta kawalan ini memangnya adalah kewajiban Siaute, maka aku boleh belajar kenal beberapa gebrak saja dengan Pangcu,"

Tantangnya.

Sian Hok-cho menjengek seakan tidak sudi melawan orang yang dipandang bukan tandingannya.

Ia melambaikan tangannya, lalu seorang lelaki bermuka hitam melompat maju.

Orang ini adalah seorang di antara tiga wakil Pangcu, namanya Co Goan-lang.

"Tidak usah Pangcu bergebrak biar aku saja yang menerima beberapa gebrak dari Leng-piauthau!"

Seru orang she Co itu dengan tertawa. Setelah Leng Gak tanya jelas nama orang, kemudian ia kiong-chiu sambil berkata lagi.

"Kedatangan kami ini tujuannya hanya ingin menagih piau, sekali-kali tak berani pandang perkumpulan kalian sebagai musuh, maka pertandingan kita boleh berakhir bila ada yang kena senggol saja, hendaklah Hupangcu suka mengalah sedikit!"

Soal bertanding dan menagih piau adalah kejadian biasa di kalangan Bu-lim, apa yang Leng Gak katakan justru sesuai dengan peraturan Kangouw, ia memang sengaja merendah diri.

Sebaliknya ternyata tidak demikian dalam pikiran Co Goan-lang, dia adalah seorang kasar, meski cukup tangkas tapi hal sopan-santun kalangan Kangouw umumnya tidak banyak dipahaminya,'maka dalam hati ia menertawai Leng Gak yang belum-belum sudah jeri.

Segera ia melangkah maju terus pasang kuda-kuda sambil berseru.

"Tak usah merendah, nah, mulailah!"

Habis itu segera ia membuka serangan lebih dulu, begitu lengannya diulur, terdengar suara keretekan tulang, menunjukkan betapa kuat lengannya itu, mendadak ia menubruk maju, bogemnya yang besar terus menjotos ke muka lawan.

Leng Gak tergolong jago dari Thay-kek-pay, cepat ia mengegos, dengan gerak 'Sia-kua-tan-pian' (menggantung ruyung rada miring), segera ia potong pergelangan tangan musuh.

Namun gerak tubuh Co Goan-lang juga cukup gesit, dengan sekali membalik, cepat ia menghantam lagi ke bawah iga lawan.

Leng Gak pasang kuda-kudanya dengan kuat dan menangkis, tangan kiri diangkat dan tangan lainnya menekan ke bawah, tampaknya tidak banyak ia mengeluarkan tenaga, tetapi Co Goan-lang ternyata dipaksa mundur beberapa tindak.

Baca Juga: Duri Bunga Ju 4

Baca Juga: Kisah Pedang Bersatu Padu 13

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger