Eps 4 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
Dengan suara lantang ia bertanya. Belum sampai Thian-yap Sanjin menjawab, tiba-tiba Liau-in sudah menyela dengan bentakannya.
"Pun-bu Taysu, kau enak-enak tinggal di atas Ko-san, mengapa mendadak datang ke sini dan ikut campur urusan tetek-bengek?"
Atas teguran itu, Pun-bu Taysu mengibaskan kebutnya.
"Ru-panya kau adalah kepala dari Kanglam-pat-hiap, Liau-in Taysu bu-kan?"
Sahutnya kemudian.
"Kabarnya Taysu paling belakang ini ba-nyak hidup senang dan menerima undangan Hongcu segala serta te-lah diangkat menjadi Po-kok Siansu. Pinceng tidak lebih hanya rak-yat kecil dari pegunungan, mana berani dengan sebangsa Kok-su yang agung. Walaupun Pinceng ada juga sedikit hubungan persaha-batan dengan Tok-pi-sin-ni, tapi karena tidak satu pintu perguruan, karena itulah Pinceng tidak suka ikut campur urusan orang lain, terhadap muridnya yang durhaka, aku enggan ikut campur mengu-rusnya. Aku kira peraturan yang ditetapkan oleh Tok-pi-sin-ni pasti masih ada, dengan sendirinya ada orang dari perguruannya sendiri yang bakal tampil ke muka. Tay-kok-su menuduh aku ikut campur urusan tetek-bengek, entah dasarnya diambil dari mana?"
Pun-bu Taysu sebenarnya hanya tahu kalau Liau-in sudah me-nerima undangan Si-hongcu, tapi ia tak tahu bahwa Thian-yap San-jin pun sudah diundang juga.
Karena itu, perkataannya yang panjang lebar tadi secara halus mengandung sindiran, ia tahu jelas, Liau-in adalah murid pertama Tok-pi-sin-ni, tetapi sengaja tak mau menga-jtakannya, dengan begitu jauh lebih tajam daripada terang-terangan mendamprat Liau-in.
Sebab itulah, bukan saja Liau-in yang saking malunya berubah menjadi murka, bahkan Thian-yap Sanjin juga tidak terkecuali, selu-ruh mukanya menjadi merah padam.
"Si gundul tua Pun-bu, aku menghormati kau sebagai orang tua, maka aku menasihati kau secara baik-baik, apa kau kira aku ta-kut padamu?"
Bentak Liau-in sembari menggeraki tongkatnya. Melihat sikap orang yang congkak itu, Pun-bu Siansu tertawa dingin.
"Usiaku sudah tua dan kepandaianku rendah, mana aku berani berlaku sombong dan menjagoi Kangouw seperti kaum Ho-sing-siau-pwe (kaum muda dan tingkatan rendah)?"
Sahutnya kemudian dengan mengejek.
"Aku menghargai Tay-kok-su punya nasihat dan tidak ikut campur urusan orang lain di kalangan Kangouw, tapi soal Sutit dari perguruan kami sendiri, tentunya aku boleh mengurusnya! Aku pun hendak menasihatkan Tay-kok-su agar jangan ikut campur urusan Siau-lim-si kami. Apabila Tay-kok-su tetap ingin ikut cam-pur, maka silakan saja Tay-kok-su mengundang orang-orang gagah dari seluruh jagat dan berkunjung ke Ko-san!"
Liau-in naik darah, tongkatnya yang besar mendadak me-ngemplang.
Namun dengan sekali mengayun kebut, Pun-bu Taysu melilit tongkat orang dengan ujung kebut yang panjang lemas.
Te-naga Liau-in yang besar dan kuat itu ternyata sama sekali tak bisa berkutik.
Selagi Liau-in hendak mengubah serangannya, tiba-tiba ia de-ngar Ong Cun-it membuka suara.
"Begitu datang Susiok marah-marah dengan mengemukakan peraturan rumah-tangga perguruan kita, coba katakan apa yang disebut pasal 13 dalam Siau-lim-keh-hoat (anggaran rumah tangga Siau-lim-si)?"
Seketika Pun-bu Taysu tertegun.
Kiranya bunyi pasal 13 itu adalah ‘Apabila anak murid Siau-lim ada yang didakwa melanggar larangan suci, maka tertuduh di-perbolehkan membela diri dengan dalil yang kuat.
Terhadap kepu-tusan yang dijatuhkan oleh Kam-si, kalau tidak bisa diterima dengan baik, tertuduh boleh mengajukan saksi dan datang ke Ko-san untuk mengemukakan alasannya.
Dalam hal demikian paling lama diberi waktu satu bulan’.
Pasal dalam anggaran rumah tangga Siau-lim-si tujuannya ia-lah untuk menghindarkan anak muridnya ada yang didakwa tanpa dasar dan Kam-si salah menjatuhkan hukuman sehingga fitnahan akhirnya sukar dibikin terang.
Perlu diketahui bahwa anak murid Siau-lim-si terlalu banyak dan tersebar di Kangouw, kadang tidak terhindar dari fitnah orang.
Kam-si memegang teguh tata-tertib, tempo-tempo pun sukar untuk menyelidiki’ kebenarannya, oleh karena itu dalam peraturan diberi ketentuan yang memberi hak dan kelonggaran kepada tertuduh un-tuk membela diri, tidak seperti cabang persilatan golongan lain, Ciangbunjin mempunyai kekuasaan mutlak dan boleh memutuskan apa saja yang dianggapnya betul.
Dengan menonjolkan pasal anggaran rumah tangga Siau-lim oleh Ong Cun-it, Pun-bu Siansu terpaksa mengendorkan tangan dan menarik kembali kebutnya.
"Dengan mata kepala sendiri aku melihat begundalmu mencu-lik wanita muda dan dipersembahkan padamu, kau adalah terdakwa utama dalam perkara Jay-hoa ini, apa aku memfitnahmu?"
Dengan mata mendelik Pun-bu berkata.
Namun Ong Cun-it ternyata tidak mengunjuk rasa khawatir atau takut, sebaliknya ia malah tersenyum.
Melihat Sutitnya bersikap acuh tak acuh dan tidak memberi jawaban, Pun-bu Taysu menjadi gusar.
"Jika kau ingin membela diri, baiklah aku beri tempo sebulan padamu,"
Katanya kemudian.
"Dalam tempo itu, sesukamu mencari saksi dan boleh naik ke Ko-san buat membandingkan siapa yang be-tul. Tetapi kalau kau mengira sekarang sudah punya sandaran orang kuat dan bermimpi buat lari dari perbuatan jahatmu, hal itu jangan kau harap!"
Ong Cun-it ternyata tak gentar, sebaliknya tetap bersikap ban-del.
"Untuk apa aku haras lari? Sebulan kemudian aku pasti akan menghadap ke Ko-san!"
Sahutnya dengan tertawa. Melihat sikapnya yang begitu wajar dan sedikitpun tak meng-unjuk rasa takut, mau tak mau Pun-bu Taysu menjadi ragu-ragu dan sangsi. Dalam hati ia berpikir.
"Kalau bukan aku sendiri yang me nyaksikan perbuatannya, surigguh tidak menyangka dia menjadi bi-ang keladi perbuatan jahat Jay-hoa itu, apalagi kalau melihat keha-lusan perilakunya yang berwibawa, paras mukanya sedikitpun tidak ada tanda-tanda menjurus sesat, siapa menduga dia melakukan per-buatan yang paling dikutuk kaum Kangouw."
Begitulah, Pun-bu Taysu lalu berkata terhadap Ie Lan-cu.
"Se-tiba waktunya nanti, harap Lihiap berkunjung juga ke Ko-san buat jadi saksi, begitu pula beberapa kawan inipun dipersilakan hadir!"
"Yang dua ini adalah Sute dan Sumoay Liau-in, Pek Thay-koan dan Lu Si-nio!"
Dengan tertawa Ie Lan-cu memperkenalkan.
"Baik sekali kalau begitu, sekarang marilah kita berlalu!"
Ajak Pun-bu Taysu.
Dan selagi mereka hendak angkat kaki, di luar pintu ternyata terang benderang oleh api obor, Soatang Sunbu Jan Bun-kia telah memimpin pasukan mengepung rapat sekeliling gedung itu.
Dalam pada itu terlihat Ong Cun-it memberi tanda dengan me-lambaikan tangan, lalu Haptoh berjalan keluar sejenak.
"Susiok, maafkan Siautit tidak mengantar!"
Terdengar Ong Cun-it berkata. Ketika Pun-bu berpaling keluar gedung, terlihat olehnya praju-rit yang tadi mengepung rapat di luar dalam sekejap sudah mundur dan pergi semua.
"Hm, tidak nyana kau bersekongkol juga dengan budak Boan dan menjadi tamu agung Khim-che Tayjin!"
Dengan nada dingin Pun-bu mengejek.
"Hal itu boleh Susiok catat sekalian atas perhitungan Siautit, cara bagaimana haras dihukum, biarlah kalau sudah tiba waktunya silakan Cu-ji (Ketua pengurus) dan para Bu-lim Cianpw e untuk me-mutuskannya!"
Dengan suara lantang Ong Cun-it menjawab, nyata ia tetap tak keder.
Karena kebandelan Sutitnya itu, tidak kepalang gusar Pun-bu Siansu, saking murkanya hingga tak sanggup berkata pula, ia hanya mengayun kebutnya terus berjalan keluar.
Bagi pihak le Lan-cu, karena kini Ong-Cun-it diketahui adalah anak murid Siau-lim-pay dan sudah ada Pun-bu Siansu yang tampil ke muka, terpaksa ia pun haras lepas tangan.
Begitulah sesudah mereka berlima kembali di Hian-biau-koan, berulang kali Pun-bu Taysu memohon maaf kepada Ie Lan-cu.
Selama dua hari mereka berkumpul, telah saling tukar pikiran tentang ilmu silat masing-masing dan tentu saja saling mengagumi.
Sesudah dua hari, Pun-bu lantas pulang ke Ko-san, sedang Pek Thay-koan mengajak Lu Si-nio pergi mencar-i Kam Hong-ti, lalu mereka bermaksud menuju ke Ko-san buat menjadi saksi dalam per-kara Ong Cun-it.
Menurut perhitungan Ie Lan-cu, propinsi Soatang dan Holam hanya berbatasan saja, dari Jing-to (di Holam) menuju ke Ko-san (di propinsi Soatang) dengan kecepatan berjalan bersama Teng Hiau--Ian, paling lama setengah bulan sudah bisa sampai.
Oleh karena itu, ia lantas menyuruh Teng Hiau-lan tinggal saja di Hian-biau-koan, ia hendak mengajarkan kepadanya ilmu Lwekang dan dasar-dasar cara mengatur jalan pernapasan.
Teng Hiau-lan sudah berguru selama lima tahun kepada Nyo Tiong-eng, yang dipelajari memang adalah kepandaian dari cabang atas, maka sedikit banyak ia sudah mempunyai dasar yang kuat, kini ditambah petunjuk dari Ie Lan-cu, sudah tentu dengan gampang saja ia dapat memahaminya dengan cepat.
Setengah bulan kemudian, Ie Lan-cu dan Teng Hiau-lan be-rangkat dari Jing-to menuju ke selatan, dari Lim-kin menjurus ke barat, kemudian dari Kiok-hu terus menuju Celing dan akhirnya memasuki Siang-kiu di daerah propinsi Holam, sesudah itu, tidak seberapa hari mereka sudah sampai di Ko-san.
Terlihat kompleks bangunan Siau-lim-si yang berderet-deret tinggi dengan megah, memang pantas orang menyebutnya sebagai tempat suci pusat pengajaran Buddha.
Ketika mereka memasuki pintu rumah biara itu, segera padri penjaga menyambutnya ke kamar tamu, lalu mereka diantar melalui pendopo besar Tay-hiong-po-tian terus masuk ke ruangan Lo-han-tong, di situ Pun-bu Taysu menyambut sendiri.
Waktu ditanya kapan jatuh temponya, ternyata dengan tepat jatuh besok.
Kemudian Pun-bu memperkenalkan Ie Lan-cu kepada Cu-ji (Ketua pengurus) baru dari Siau-lim-si, yaitu Bu-cu Siansu.
Bu-cu Siansu beroman welas-asih, begitu bertemu, orang pasti akan menarik kesimpulan bahwa dia seorang padri berilmu.
Meski Bu-cu Siansu masih terhitung Sute Pun-bu, tapi terha-dap kitab ajaran Buddha ia lebih banyak memperdalam dan lebih tinggi ilmunya, walaupun soal ilmu silat sedikit kalah dengan Su-hengnya, tapi dalam hal kebajikan dan bertapa, ia terhitung nomor satu di seluruh rumah biara itu, oleh sebab itulah dia yang meng-gantikan jabatan Cu-ji.
Tetapi justru kebaikan Bu-cu Siansu itu merupakan kelemah-annya, ia mencurahkan seluruh perhatiannya dalam agama dan tidak banyak mengurusi soal-soal umum, meski dia melarang anak murid-nya bergaul dengan kaum pembesar negeri, namun juga tidak meng-anjurkan supaya mereka melawan kaum pembesar itu.
Yang dia ha-rap hanya hidup aman tenteram dalam pergaulan khalayak ramai dan menyebarkan ajaran Buddha, hal mana sudah dianggap cukup untuk menuju ke dunia kebahagiaan.
Begitulah, setelah Teng Hiau-lan berada di rumah biara itu, dengan sendirinya ada Hwesio yang melayaninya mengaso ke ka-mar suci.
Kamar dimana Hiau-lan tinggal justru berada di samping ru-angan Lo-han-tong, yakni ruangan yang penuh dengan patung Lo-han.
Di tengah ruangan besar itu tergantung sebuah lampu minyak yang terbuat dari gelas berukuran raksasa, sumbunya saja sebesar jari hingga cahayanya sangat terang, di atas meja pemujaan terdapat pula lilin raksasa sebesar lengan anak-anak, api sumbunya pun menganga hingga setinggi setengah kaki.
Dengan duduk bersila di atas kasuran peranti bersemadi, entah sudah berapa lama telah Hiau-lan lewatkan, ia merasa segalanya ser-ba sunyi, hanya api lilin yang berada dalam ruangan itu kadang me-ngeluarkan suara letikan karena terbakar.
Siau-lim-si, nama biara ini memang betul-betul mengagumkan dan bukan omong kosong seperti dibuat cerita orang.
Menurut cerita Pek Thay-koan, biara ini terbangun dengan tiga puluh enam istana, penghuninya lebih dari lima rams Hwesio, tetapi begitu menjelang malam hari, keadaan lantas sepi, sungguh tata-tertib dalam biara ini harus dipuji.
Demikian pikir Hiau-lan.
Tengah Hiau-lan melamun sendirian, tiba-tiba terdengar di luar kamar ada suara perlahan sekali, diam-diam Hiau-lan turun dari balai-balai dan mengintip keluar melalui sela-sela pintu.
Terlihat olehnya di pendopo besar di luar itu ada seorang anak laki-laki berusia antara tiga empat belas tahun, kedua kakinya telan-jang, rambut terikal dengan gelang emas, kedua lengannya yang kecil tetapi putih bersih itupun mengenakan dua gelang emas, bocah ini mirip Ang-hay-ji dalam dongeng ‘Se Yu’.
Sementara itu tertampak si bocah sedang menggeraki tangan dan kakinya di ruangan luar itu, kadang-kadang terlihat ia menjotos sebuah patung Lo-han dan saat lain menendang ke Lo-han lainnya, tiba-tiba mulutnya berkemak-kemik, sekonyong-konyong ia mendo-ngak tertawa lebar, kelakuannya sangat aneh dan penuh rahasia.
Heran sekali Teng Hiau-lan menyaksikan itu, ia tidak mengerti mengapa di dalam Siau-lim-si yang begitu megah dan agung bisa mendadak muncul seorang anak kecil.
Apalagi Lo-han-tong adalah ruangan penting yang hanya di bawah pendopo besar Tay-hiong-po-tian, mengapa padri Siau-lim-si bisa membiarkan seorang anak kecil sembarangan berkeliaran di da-lamnya?
Teng Hiau-lan sangat heran dan timbul berbagai pertanyaan dalam benaknya.
Lewat agak lama kemudian, masih tetap tidak tampak ada se-orang padri pun yang keluar untuk mengurus bocah itu.
Tertarik oleh rasa herannya itu, Teng Hiau-lan segera bermaksud membuka pintu kamarnya.
Selagi ia hendak keluar, tiba-tiba pandangannya menjadi ka-cau, karena dari atas emperan Lo-han-tong itu mendadak melompat turun pula seseorang.
Bocah tadi ternyata tidak terkaget oleh melayang turunnya orang yang mendadak itu, bahkan terlihat ia tersenyum padanya.
Kemudian tertampak orang itu memberi tanda dengan tangan, lalu si bocah mengeluarkan sebungkus barang dari sakunya terus di-lemparkan kepadanya, waktu orang itu mengulur tangan menyambut dan berpaling, maka terlihatlah dengan jelas oleh Teng Hiau-lan bahwa orang ini ternyata Thian-yap Sanjin adanya!
Saking terkejutnya, lekas Teng Hiau-lan menutup pintu dan dipalang kembali.
Rupanya tindakan Teng Hiau-lan kepergok oleh Thian-yap Sanjin, maka segera terdengar orang ini bersuit aneh.
Menyusul ter-dengar juga si bocah tadi berteriak.
"Ada orang datang!"
Dalam pada itu, dari jauh Thian-yap Sanjin telah menghantam dengan tangannya, seketika itu juga pintu kamar dimana Teng Hiau-lan berada seperti kena dipalu dan mendadak terpentang, sedang Teng Hiau-lan yang tak pernah menduga akan kejadian itu kontan tergetarjatuh.
Tetapi dengan cepat Teng Hiau-lan dapat melompat bangun kembali, dan pada saat itu juga, dilihatnya di empat penjuru ruangan Lo-han-tong itu sudah berdiri empat orang Hwesio.
Di antara empat Hwesio itu, Teng Hiau-lan hanya kenal se-orang di antaranya, ialah Hwesio yang melayani waktu ia datang, Ngo-hi Siansu.
"He, orang darimanakah kau ini? Lo-han-tong Siau-lim-si ma-na boleh dibuat terobosan sesukamu?"
Terdengar Ngo-hi Siansu membentak. Thian-yap Sanjin tidak lantas menjawab, sebaliknya ia berge-lak tertawa.
"Baiknya silakan ketua kalian Bu-cu Taysu saja yang tampil bicara!"
Sahutnya kemudian. Melihat kecongkakan orang, keempat Hwesio itu menjadi gu-sar.
"Cu-ji kami tidak sembarang menemui kaum keroco sebangsa kau ini,"
Berbareng mereka mendamprat. Namun kembali Thian-yap Sanjin tertawa besar.
"Ha, aku saja kalian tidak kenal, sungguh memalukan sekali bual nama baik Siau-lim-si!"
Balasnya dengan suara lantang. Habis itu ia enjot tubuh sambil menyambung dengan sombongnya.
"Kalian tidak mau meng-. undang Cu-ji kalian, apa aku tidak dapat pergi mencarinya sendiri?"
Keempat padri itu tidak nampak banyak bergerak, tapi tahu-tahu mereka sudah merubung maju dan mengepung Thian-yap San-jin di tengah.
Tapi kembali Thian-yap Sanjin memperlihatkan tawa dinginnya, berbareng kedua tangannya bekerja secepat kilat, dengan mementang kedua tangan, dua dari empat Hwesio itu tahu-tahu telah dilempar pergi, sedang dua lainnya pun sempoyongan mundur bebe-rapa tindak.
Tenaga pukulan Thian-yap Sanjin memang luar biasa lihainya, untung keempat Hwesio itu terhitung jago kelas wahid di antara anak murid Siau-lim-si angkatan dua, kalau tidak, lebih-lebih tidak mampu menahannya.
Karena keunggulannya itu, selagi Thian-yap Sanjin merasa se-nang dan hendak menerjang maju lagi, tak terduga dari sebelah ti-mur ruangan besar itu mendadak sesosok bayangan orang berkele-bat, baru Thian-yap Sanjin berniat membalik tubuh, namun sudah didahului orang, tahu-tahu pundaknya dengan perlahan kena ditepuk orang itu.
"O-mi-tp-hud!"
Terdengar suara antap berat mendenging di te-pi telinganya.
Thian-yap Sanjin menjadi kaget oleh kesebatan orang itu, un-tuk menjaga segala kemungkinan, lekas ia melompat ke samping, sesudah itu dengan sebelah tangan melindungi dada barulah ia ber-paling.
Maka tertampak olehnya seorang Hwesio beroman welas-asih dengan merangkap tangan di dada sedang mengucapkan.
"O-mi-to-hud! Thian-yap Sanjin jauh-jauh datang ke daerah tengah, entah hendak memberi petunjuk apa?"
"Tolong tanya gelar suci Taysu?"
Tanya Thian-yap Sanjin.
"Lolap (sebutan pada diri sendiri bagi Hwesio) bukan lain ia-lah orang yang Sanjin hendak cari!"
Jawab padri tua itu.
"O, kiranya Bu-cu Siansu sendiri, sungguh mengagumkan, ter-nyata betul-betul padri agung berilmu,"
Sahut Thian-yap Sanjin.
"Cuma keempat anak muridmu inilah yang agak kurang sopan!"
Bu-cu Siansu tertawa, katanya.
"Mereka berempat mana tahu yang datang adalah Sanjin, tentu mereka mengira yang datang ada lah sebangsa orang sombong dari Kangouw saja! Sedang Lolap saja kalau tidak menyaksikan Ling-san-cio-hoat tadi, tentu juga tidak ta-hu bahwa Sanjin yang datang malam-malam begini! Biarlah Pin-ceng (padri miskin, sebutan diri sendiri) meminta maaf, harap San-jin jangan gusar!"
Dengan ucapannya itu, Bu-cu Siansu telah unjuk kepintaran-nya berbicara, ada lemasnya juga ada kerasnya, kelihatannya ia me-minta maaf, tetapi sebenarnya ia menuduh Thian-yap Sanjin tidak seharusnya melanggar peraturan Bu-lim dan sembarangan terobosan di tempat orang.
Kalau diurut, Ling-san-pay dan Siau-lim-pay walaupun berja-rak puluhan ribu li dan tiada sesuatu hubungan, tetapi pada lima pu-luhan tahun yang lalu, guru Thian-yap Sanjin, yaitu Ling-san Sian-jin pernah datang ke Siau-lim-si untuk mendengar guru Bu-cu Sian-su berkhotbah dan menghormatinya bagai ’setengah guru’, oleh ka-rena itu, bila harus diurut secara sungguh-sungguh, Thian-yap San-jin masih setengah tingkatan di bawah Bu-cu Siansu.
Dengan sembarangan terobosan di tempat orang yang berting-katan lebih tua, jelas dirinya yang bersalah lebih dahulu, lebih-lebih karena Bu-cu Siansu sedemikian rendah diri, mau tak mau Thian-yap harus mengubah lagaknya yang jumawa tadi.
Katanya kemudi-an.
"Lingsutit (murid keponakanmu) Ong Cun-it memiliki ilmu silat dan nana baik yang dijunjung tinggi di kalangan Kangouw. tetapi Pun-bu Taysu sebagai pengawas biara kurang tahu jelas perkaranya sudah lantas menjatuhkan dakwaan, meski aku selamanya suka ke-bebasan dan tak biasa ikut campur urusan orang lain, kali ini rasa-nya aku tak bisa membiarkan hal itu berlangsung terus. Lingsutit dalam beberapa hari ini akan minta keadilan ke Ko-san sini, aku dan beberapa Bu-lim Cianpwe lainnya bersedia pula mendengarkan pe-meriksaan perkara itu sebagai saksi dan ikut menentukan siapa yang betul dan siapa yang salah!"
Menurut peraturan Bu-lim, jika suatu golongan persilatan se-dang bikin pembersihan di dalam perguruan, golongan lain tidak bo-leh ikut campur tangan.
Tetapi bila persoalannya lain daripada yang lain dan anak murid yang bakal menerima pembersihan itu secara terang-terangan tidak mau tunduk atas dakwaan yang dituduhkan kepadanya, maka ia boleh juga mengundang ketua atau pendiri ca-bang silat lain untuk ikut memberi penilaian dan keadilan.
Hanya saja peristiwa semacam itu jarang sekali terjadi, seum-pama terjadi juga murid yang bersangkutan akhirnya yang benar, namun hubungan baik dengan golongan lebih tua dari perguruan sendiri juga akan retak dan akhirnya akan berpisah dengan perguru-an sendiri atau lantas ,iiendirikan cabang silat tersendiri.
Begitulah, maka Bu-cu Siansu kemudian berkata.
"Siau-lim-si kami, sedari dulu hingga kini harus bangga dengan disiplin yang se-lalu kami pegang, selama ini kami tak melindungi anak murid yang bersalah, sebaliknya juga tidak sembarang menghukum murid yang tidak bersalah. Kata peribahasa kuno, adalah bijaksana kalau suka mendengarkan pendapat orang lain, tetapi salah sekali kalau hanya kukuh pada pendapat sendiri. Thian-yap Sanjin bersama tokoh ca-bang silat lain kini sudi hadir buat ikut menimbang siapa yang ber-salah dan siapa benar, hal ini sungguh di luar harapan Pinceng!"
Setelah mendengar uraian Bu-cu Siansu itu, segera Thian-yap Sanjin membalik tubuh hendak berlalu.
Namun sebelum bertindak, tiba-tiba pintu samping terbuka, sekonyong-konyong dari pintu itu menerobos keluar seorang terus merangkap kedua tangan di dada sembari memberi hormat dengan membungkuk.
"Dari jauh Thian-yap Sanjin sudi datang, maafkan kami ber-saudara tidak mengantar lebih jauh!"
Terdengar seruan orang itu.’ Berbareng mendadak Thian-yap Sanjin merasa angin kuat me-nyambar tiba, lekas ia pun merangkap tangan balas menghormat, namun tetap tak mampu menguasai diri, ia terdorong mundur keluar pintu ruangan itu.
Biasanya Thian-yap Sanjin bangga sekali atas tenaga telapak tangan sendiri, tak terduga sekali ini tak sanggup melawan orang ini.
Ketika ia pandang siapa gerangan orangnya, maka tahulah bahwa orang itu bukan lain ialah Pun-bu Taysu.
"Terima kasih atas pengajaran tadi!"
Katanya kemudian.
Sesu-dah itu ia tak berani banyak cingcong lagi, dengan cepat mengeluyur pergi.
Dalam pada itu, bocah yang rambutnya terikal gelang emas tadi, selama Bu-cu Siansu bertanya-jawab dengan Thian-yap Sanjin, ia pun ikut mendengarkan di pinggir.
Sesudah Bu-cu Siansu mengantar kepergian Thian-yap Sanjin, kemudian ia mengelus kepala anak itu.
"Kau tidak dilukai olehnya bukan?"
Tanyanya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak!"
Bocah itu menjawab.
"Tak mungkin ia berani,"
Ujar Pun-bu Taysu. Habis itu kata-nya pula terhadap bocah itu.
"Baiklah, kini kau boleh pergi me-ngaso, malam ini tak usah berlatih lagi, gurumu sedang menantikan kau di sana!"
Bocah itu mengiakan dan berlalulah dia ke ruangan belakang.
Melihat pintu kamar tergetar rusak, lekas Bu-cu Siansu perin-tahkan orang membikin betul dan menghibur Teng Hiau-lan.
Sebenamya Hiau-lan ingin bertanya mengenai asal-usul si bo-cah yang dilihatnya tadi, tetapi mengingat dirinya baru untuk perta-ma kalinya mengunjungi Siau-Iim-si, sedang tingkatan dirinya jauh lebih rendah, maka ia tak berani sembarang bertanya, terpaksa de-ngan penuh tanda tanya pergi tidur.
Dalam pada itu, sayup-sayup ia mendengar di luar sana ada suara Pun-bu Siansu yang keras dan bersemangat, rupanya sedang berdebat dengan Bu-cu Siansu.
Memang begitulah, sesudah Thian-yap Sanjin pergi, Bu-cu Siansu dan Pun-bu Siansu dengan bergandengan tangan lalu masuk ke ruangan pemujaan mereka yang disebut ‘Cho-co-am’.
Cho-co-am atau kelenteng bapak pendiri (cikal-bakal) untuk memperingati Tat-mo Siansu sebagai pendiri ‘Sian-cong’ (salah saru cabang sekte agama Buddha) yang bersemadi selama sep’iluh tahun di Siau-lim-si di atas Ko-san, propinsi Holam.
Oleh karena itu, bila Siau-lim-si mempunyai sesuaru urusan yang maha besar, semua to-koh terkemuka dan pemimpinnya akan masuk ke dalam Cho-co-am itu untuk berunding.
Begitulah sesudah dua saudara seperguruan itu masuk ke da-lam kelenteng dan masing-masing mengambil tempat duduk, berka-talah Bu-cu Siansu dengan tertawa.
"Suheng ternyata masih belum hilang berangasannya, buat apa mesti mempersulit orang tadi!"
Pun-bu Taysu ikut tertawa.
"Aku sudah tak berpikir menjadi Buddha, mana bisa mempunyai kesabaran seperti kau, Sute,"
Sahut-nya kemudian.
"Secara terang-terangan, Thian-yap Sanjin tahu bah-wa Siau-lim-si kita adalah pusat dunia ilmu silat, tapi dia berani sembarangan terobosan di tempat kita ini, kalau tidak diberi sedikit rasa padanya, mungkin ia akan mengira Hwesio Siau-lim-si boleh sembarangan diuina!"
"Dia sudah menurut cara Bu-lim dan menyatakan mendukung Ong Cun-it, besok sudah waktunya, maka ia memberitahu satu ma-lam di muka, meski caranya kurang sopan, namun tak usah terlalu menyalahkan dia!’"
Ujar Bu-cu Siansu.
"Pada waktu aku hendak menangkap Ong Cun-it di Jing-to,"
Demikian Pun-bu Taysu menutur.
"aku sudah mengetahui banyak di antara tokoh Bu-lim yang membantu kejahatannya, cuma tidak per-nah kuduga bahwa Thian-yap Sanjin pun termasuk seorang di anta-ranya. Kalau Ong Cun-it nyata-nyata sudah tak mau tunduk dengan peraturan, ditambah perbuatannya yang cabul dan rendah itu, bila bertemu besok, cacatkan saja dia!"
Karena ucapan Suhengnya yang terakhir itu, Bu-cu Siansu me-mejamkan mata, ia sedang berpikir.
"Suheng, urusan ini terlalu luar biasa!"
Selang agak lama baru terdengar ia membuka suara dengan perlahan.
"Sungguh tidak terduga bahwa murid kesayangan Toasuheng kita, kini bisa berubah semacam ini!"
Dengan menghela napas Pun-bu Siansu berkata dengan penuh rasa menyesal.
Toasuheng yang disebut Pun-bu itu bernama Pun-khong, ialah Cu-ji yang terdahulu sebelum Bu-cu Siansu.
Nama baik dan wibawa Pun-khong di dunia persilatan umum-nya jauh di atas kedua Sutenya itu.
Oleh sebab itulah orang-orang kalangan Kangouw kalau membicarakan Siau-lim-si, sembilan di’ antara sepuluh hanya kenal diri Pun-khong, sebaliknya tak tahu akan diri Bu-cu.
Waktu Ong Cun-it berguru di Siau-lim-si, perantaranya bukan lain adalah Liau-in Hwesio.
Ketika itu sebenarnya Pun-bu Siansu sudah menyangsikan asal-usul Ong Cun-it yang tak beres, maka ia memberi nasihat kepada Suhengnya agar jangan menerimanya.
Namun Pun-khong ternyata berpendapat lain, ia lihat paras Ong Cun-it yang berlainan dengan orang biasa, ditambah otaknya yang tajam dan pintar, bukan saja nasihat Sutenya tak diperhatikan, malah ia turunkan seluruh kepandaiannya kepada Ong Cun-it.
"Aku katakan luar biasa urusan ini, bukan melulu disebabkan Ong Cun-it adalah murid kesayangan Suheng kita, yang aku mak-sudkan adalah mengapa ada sekian banyak tokoh ternama Bu-lim yang berdiri di belakangnya?"
Ujar Bu-cu kemudian. Pun-bu Siansu terdiam, rupanya ia tertarik juga oleh pertanya-an Sutenya itu.
"Coba pikirkan,"
Bu-cu Siansu meneruskan pula.
"seumpama Ong Cun-it adalah tokoh muda pilihan yang baru muncul di Kang-ouw, baru berapa tahun ia keluar dari perguuuan? Kemampuan dan kebajikan apa yang ia miliki hingga seorang bapak pendiri cabang persilatan seperti Thian-yap Sanjin pun mau menurut pada perintah-nya? Ada lagi, Liau-in, si Hwesio jahat itu, biasanya ia sangat cong-kak dan anggap dirinya sebagai kepala dari Kanglam-pat-hiap, siapa saja tidak ia pandang sebelah mata, tapi mengapa dia juga sudi men-jadi pelindung Ong Cun-it?"
Dengan serentetan ucapan Bu-cu Siansu itu, Pun-bu Siansu seperti ingat kepada sesuatu, mendadak ia menggebrak meja, de-ngan menarik suara panjang ia berkata.
"Jangan-jangan dia …."
Belum selesai kata-kata Suhengnya itu, tiba-tiba air muka Bu-cu Siansu berubah pucat dan lantas memotong.
"Janganlah kita me-nerka sekenanya, lebih baik kita lihat saja selanjutnya! Hanya saja aku ingin menasihati Suheng, watakmu agak keras, boleh jadi urus-an besok akan banyak sangkut-pautnya dengan nasib hari depan Siau-lim-si kita, harap Suheng suka sedikit bersabar!"
"Sute, kau adalah Cu-ji kita, apa yang kau katakan tentu aku menurut saja!"
Sahut Pun-bu dengan rada kurang senang.
"Kita adalah saudara seperguruan, buat apa berkata begitu, Su-heng, harap kau tidak salah mengerti!"
Kata Bu-cu dengan tertawa sambil berbangkit.
Mereka berdua kemudian bergandeng tangan keluar dari ke-lenteng itu, sampai di luar, ketika memandang ketiga puluh enam is-tana biara mereka yang terbenam di bawah sinar sang dewi malam, tak tertahan Bu-cu Siansu menghela napas.
"Harap Hudeo (Buddha) yang welas-asih memberi berkah agar tempat sebagus ini jangan ter-musnah di tanganku!"
Ia berdoa.
Dalam hati Pun-bu Siansu diam-diam menertawai Sutenya yang terlalu perasa, menghukum seorang murid murtad adalah urus-an yang lumrah, seumpama dia didukung tokoh cabang lain, paling banyak ia mendirikan cabang persilatan sendiri.
Begitulah, maka pada besok paginya, pendopo besar ‘Tay-hiong-po-tian’ Siau-lim-si penuh dengan asap dupa dan api lilin yang bergulung-gulung, patung pemujaan Tat-mo Siansu terpajang di tengah sedang menanti upacara yang luar biasa.
Sebagai salah seorang saksi, Teng Hiau-lan dengan sendirinya juga diundang hadir, cuma ia tergolong Wanpwe (angkatan muda), maka berbeda dengan Ie Lan-cu, Pek Thay-koan dan kawan-kawan yang disambut padri tingkatan tinggi dari biara kenamaan itu, tem-pat duduk yang disediakan untuknya juga berlainan.
Hwesio yang melayani dia tetap Ngo-hi Hwesio yang kemarin menyambut keda-tangannya.
Pagi-pagi sekali Ngo-hi sudah mempersilakan dia mandi dan keramas untuk menunggu.
Menjelang lohor, Ngo-hi baru membawanya keluar dari kamar menuju Tay-hiong-po-tian, sepanjang jalan Hwesio yang bertugas menjaga keamanan sudah berbaris di kedua samping dengan rapi.
Setelah masuk ke dalam pendopo besar itu, lima ratus padri sudah berdiri di tempatnya masing-masing, tetapi dalam ruangan itu tetap sunyi senyap penuh disiplin, sampai-sampai suara orang ber-napas seakan terdengar jelas.
Di atas panggung di ruangan pendopo itu berbaris padri-padri penghormat, tangan mereka menabuh kecer, suaranya ulem sayup-sayup berkumandang jauh.
Teng Hiau-lan sendiri duduk di tempat tamu ketiga belas di sebelah barat.
Lewat tak lama, tiba-tiba terdengar genderang berbunyi dan genta ditabuh, sesudah itu terlihat pintu tengah yang berbentuk bulat terpentang lebar, didahului asap dupa wangi yang terbakar ber-gulung-gulung, masuklah dengan berjajar tiga orang yang bukan la-in daripada Cu-ji Siau-lim-si, Bu-cu Siansu, Pengawas biara Pun-bu Siansu dan tamu agung Siau-lim-si le Lan-cu, menyusul terlihat Pek Thay-koan dan Lu Si-nio berjalan di belakang mereka.
Setelah sampai di hadapan patung Buddha Tat-mo Siansu, Bu-cu duduk pada sebuah bantal bersarung kuning di depan meja pemu-jaan, Pun-bu Taysu pun duduk pada kasuran lain di sebelah kanan, sedang le Lan-cu, Pek Thay-koan dan Lu Si-nio bertiga duduk di tempat tetamu sebelah kanan yang telah disediakan.
Sementara itu, para padri dari Tat-mo-tong, Lo-han-tong dan Ciang-king-tong, semuanya dengan rajin mengenakan jubah sera-gam, secara hormat sekali mereka merangkap kedua tangan membe-ri hormat kepada ‘Ciang-kau Hongtiang’ (pejabat ketua agama) me-reka, yaitu Cu-ji Siau-lim-si, Bu-cu Siansu.
Dengan roman keren dan agung, Bu-cu Siansu menjalankan upacara sembahyang kepada Tat-mo Cosu, kemudian barulah ia mu-lai angkat bicara.
"Ko-san Siau-lim-si kita hingga kini sudah berdiri lebih seribu tiga ratus tahun, peraturan kita baik dan disiplin juga keras, hal ini sudah terkenal di seluruh jagat. Lolap kurang bijaksa–na, baru saja memegang jabatan ketua, tahu-tahu ada murid biara ki-ta, Ong Cun-it, tanpa menghiraukan larangan suci telah melanggar pantangan besar kita dan kepergok oleh Kam-si (pengawas biara) Pun-bu Taysu, Ong Cun-it ternyata melakukan kejahatan Jay-hoa di Jing-to. Mestinya yang bersangkutan harus segera dibekuk dan diba-wa kembali ke gunung, tapi Ong Cun-it menyatakan tidak menerima tuduhan itu dan ingin minta keadilan dari Kam-si, bahkan dia telah mengundang tokoh golongan lain untuk memberi pertiribangan ke-adilan. Hal ini bersangkutan dengan nama baik Siau-lim-si kita, se-bentar lagi tentu urusan akan menjadi terang, semua padri yang ha-dir hendaklah mengambil kejadian ini sebagai pelajaran."
Banyak di antara Hwesio-hwesio itu belum mengetahui akan perkara Ong Cun-it, seketika ramailah suara bisik-bisik di antara mereka, sebab hal itu sungguh merupakan kejadian yang luar biasa bagi mereka, karena di antara anak murid Siau-lim-si ternyata ada yang menjadi Jay-hoa-cat.
"Ciang-kau Hongtiang,"
Terdengar Pun-bu Taysu membuka suara dengan mengangguk.
"bila nanti diputuskan Ong Cun-it ter-nyata berdosa, tapi ada tokoh dari golongan lain yang membela dia, bagaimana kita harus bertindak?"
"Bila terjadi begitu, seluruh keluarga biara harus minta tamu luar itu agar mau sadar, kemudian murid murtad itu harus dihu-kum!"
Sahut Bu-cu Siansu tegas.
"Tetapi kalau tamu luar itu’ tetap tak mau tunduk, lalu bagai-mana?"
Tanya pula Pun-bu.
"Tak mungkin terjadi begitu!"
Sahut Bu-cu Siansu dengan rada mendongkol.
"Perbuatan Jay-hoa yang cabul itu, dosanya tak bisa diampuni, kalau betul-betul ada pihak luar berani membelanya, maka semua padri biara kita punya kewajiban mempertahankan hukum biara!"
Tiba-tiba Hong-hoat Taysu sebagai ketua pengurus ruang Ciang-king-tong ikut mengutarakan pendapatnya.
"Seumpama murid dur-haka itu hendak masuk ke perguruan lain, hal itu juga tidak diper-bolehkan!"
Ketua pengurus ruangan Ciang-king-tong adalah pejabat yang memegang teguh semua ajaran agama dan menentukan larangan bi-ara mereka yang sudah turun-temurun, oleh sebab itu Pun-bu Taysu mendesak Hong-hoat Taysu untuk mengutarakan perkataannya tadi.
Mendengar itu, terpaksa Bu-cu Siansu bungkam dengan alis terkerut dan wajah mengunjuk rasa khawatir.
Saat itu tepat tengah hari, namun orang yang dinantikan masih belum datang.
"Mengapa Ong Cun-it masih belum nampak, jangan-jangan dia takut akan dosanya sendiri hingga tak berani datang?"
Demikian pikir Teng Hiau-lan.
Akan tetapi baru saja timbul dugaannya itu, tiba-tiba terdengar suara musik berbunyi nyaring di luar pintu biara, ketika pintu terbu-ka, dengan muka berseri-seri muncullah Ong Cun-it di bawah iring-an serombongan orang ke dalam pendopo Tay-hiong-po-tian.
Rombongan pengiring itu bukan lain ialah Liau-in Hwesio, Thian-yap Sanjin, Haptoh dan Sin-rao-siang-lo, kecuali itu masih ada dua orang yang tak dikenal Teng Hiau-lan.
Ketika secara diam-diam ia bertanya pada Ngo-hi, baru ia tahu bahwa kedua orang ini yang seorang adalah begal ternama di daerah barat-laut, Kara Thian-liong, sedang yang lain ialah angkatan tua dari Ih-hing-pay, Tang Ki-joan namanya.
Keduanya terkenal seba-gai tokoh yang disegani di kalangan Kangouw.
Waktu Ong Cun-it masuk ke dalam ruangan besar itu, segera ia memberi hormat kepada Bu-cu Siansu.
"Kau ingin duduk pada tempat ‘Day-coi-sik’ (tempat duduk menantikan hukuman) atau ‘Sun-pian-sik’ (tempat duduk yang me-nyatakan hendak mendebat), kau boleh lekas pilih!"
Kata Bu-cu Siansu kemudian.
Menurut peraturan dunia persilatan umumnya, bila terjadi hal yang luar biasa seperti itu, anak murid yang terkena, kalau berduduk pada tempat Day-coi-sik, maka itu berarti ia tetap setia pada cabang perguruan sendiri untuk menanti hukuman yang bakal dijatuhkan padanya dan berbareng memohon kemurahan hati perguruannya.
Tetapi jika memilih tempat Sun-pian-sik, maka anak murid itu tak mau menerima tuduhan yang dilontarkan padanya, sebaliknya ia berdiri di pihak berlawanan dengan perguruan sendiri.
Dengan de-mikian, tidak peduli bagaimana akhir keputusannya nanti, dia akan memisahkan diri dari perguruan.
Ketika Ong Cun-it memandang, ia lihat tempat Sun-pian-sik berjajar rapat dengan tempat duduk bagi tamu luar, maka tanpa pikir lagi segera ia menuju ke tempat itu dan mendudukinya.
Sesudah itu, Liau-in, Thian-yap dan lainnya pun berturut-turut menduduki tempat yang telah disediakan di sebelah kiri.
Setelah semua mengambil tempat duduk masing-masing, baru-lah Bu-cu Siansu mulai menguraikan semua larangan Siau-lim-si.
"Kam-si Suheng! Kau adalah penuduh, maka silakan kau te-rangkan cara bagaimana Ong Cun-it melanggar larangan, agar para padri di dalam biara ini tahu duduknya perkara!"
Katanya kemudian dengan suara lantang. Maka berdirilah Pun-bu Taysu sebagai penuduh untuk mengu-capkan tuntutannya.
"Bulan yang lalu aku ditugaskan oleh Hongtiang ke Soatang untuk menyelidiki tingkah-laku anak murid Siau-lim di tempat itu,"
Demikian ia mulai dengan tuduhannya.
"Tatkala sampai di Jing-to, kebetulan di sana sedang terjadi kejahatan urusan Jay-hoa, berturut-turut sudah dua belas gadis muda yang diculik oleh Jay-hoa-cat itu tanpa meninggalkan bekas, sesudah aku melakukan penyelidikan dan pengintaian secara leliti, cukup bukti menunjukkan bahwa yang melakukan perbuatan itu ialah Ong Cun-it!"
Atas tuduhan orang itu, sedikitpun Ong Cun-it tak gentar, se-baliknya ia tertawa dingin.
"Kalau betul aku berbuat Jay-hoa, me-ngapa tidak lantas menangkap diriku?" ‘ debatnya kemudian. Pun-bu Taysu pelototkan mata dan menjawab.
"Meski kau ti-dak melakukan Jay-hoa sendiri, tapi kaulah biang keladinya!"
Habis itu, setelah merandek sejenak, lalu ia katakan pula terhadap padri-padri sebiaranya.
"Bukan saja Ong Cun-it telah berdosa karena per-buatan Jay-hoa, bahkan ia menjilat kaum pembesar Boan. Ia tinggal di kediaman Khim-che, beberapa malam berturut-turut ia perintah-kan orang menculik gadis, justru ia gunakan kediaman utusan raja itu sebagai sarang!"
"Apa tinggal dalam rumah utusan raja terhitung dosa juga?"
Bantah Ong Cun-it pula dengan senyum mengejek. Mendengar itu, Hong-hoat Taysu dari Ciang-king-tong lantas berdiri menyela.
"Menurut ajaran Siau-lim kita yang sudah turun temurun selama berabad-abad, yang hams ditaati ialah larangan suci agama, dilarang ikut campur soal pemerintahan. Tinggal dalam ru-mah utusan raja tidak termasuk sebagai dosa, tapi menculik gadis dan melakukan Jay-hoa adalah dosa besar, hendaklah jangan di-campur-adukkan, yang penting ialah, apakah Ong Cun-it betul tidak memerintahkan begundalnya menculik gadis-gadis untuk dia!"
Dengan perkataan Hong-hoat Taysu itu, Pun-bu menjadi serba salah.
Sebab menurut ajaran Siau-lim-si yang sudah berabad-abad, walaupun tak boleh ikut campur urusan pemerintah (politik), tetapi sesudah dinasti Bing jatuh dan bangsa Boan menjajah, semua padri biara itu selalu berpedoman pada ajaran yang tidak termaktub dalam anggaran dasar mereka untuk tidak mengekor pada bangsa Boan, sebaliknya wajib membantu kaum pejuang dari dinasti yang terda-hulu.
Bahkan Pun-bu Taysu pernah mengusulkan memasukkan ke-tentuan Hoan-jing-hok-bing (melawan Boan dan membangun Bing kembali) ke dalam anggaran dasar, namun Bu-cu Siansu mengang-gap akibatnya terlalu luas dan berkeras tak mau terima.
Dalam anggapan Pun-bu Taysu, bekerja sama dengan Boan ja-uh lebih berdosa dan tak dapat diampuni daripada Jay-hoa, oleh sebab itu, ia telah keluarkan isi hatinya mendamprat anak murid me-reka yang berkhianat, ia lupa bahwa dalam tata-tertib rumah tangga yang ditinggalkan Cosu mereka tidak termaktub pasal demikian itu.
Ketika itu Ong Cun-it masih mendebat terus.
"Kau bilang aku perintahkan orang melakukan Jay-hoa, mana buktinya?"
Katanya. Mendadak Ie Lan-cu berdiri.
"Aku yang menjadi saksi!"
Seru-nya. Sesudah itu ia menuding Haptoh dan Kam Thian-liong, lalu menyambung lagi.
"dengan jelas aku melihat kedua orang ini men-culik gadis dan dipersembahkan kepada Ong Cun-it!"
Kemudian ia paparkan pengalamannya pada malam itu. Ka-renanya, seluruh padri biara menjadi terkejut dan gempar.
"le-lihiap adalah ahli-waris Thian-san-kiam satu-satunya yang kini masih hidup, tingkatannya di kalangan Bu-lim terhitung paling atas dan dihormati, tidak mungkin beliau mendakwa semena-mena pada kaum Siaupwe. Nah, Ong Cun-it, apa yang bisa kau katakan lagi?"
Kata Bu-cu dengan sungguh-sungguh dan keren. Ong Cun-it lantas berdiri.
"Tadi Hong-hoat Taysu dari Ciang-king-tong bilang bahwa biara kita selamanya tidak berurasan de-ngan pemerintahan, bukankah begitu?"
Tanyanya.
"Urusan Jay-hoa ada sangkut-paut apa dengan pemerintahan?"
Ujar Bu-cu.
"Aku hanya ingin tanya, apa yang le-lihiap katakan tadi, betul atau tidak?"
"Memang betul!"
Jawab Ong Cun-it dengan berani.
"Menurut larangan yang ditentukan Cosu, siapa yang melaku-kan dosa Jay-hoa harus dihukum dengan bakar badan!"
Seru Hong-hoat menerangkan akibat hukumnya. Segera Bu-cu Siansu menjura tiga kali pada patung Tat-mo, la-lu berbangkit kembali dan membentak dengan suara tertahan.
"Mu-rid murtad Siau-lim, Ong Cun-it, sebagai biang keladi yang me-lakukan Jay-hoa dan menculik anak gadis, bukti dosanya sudah nya-ta. Sesudah Hongtiang dari Ciang-king-tong mempelajari larangan itu, hukumnya adalah hukuman mati, maka hari ini juga hukuman tersebut dilaksanakan. Hendaklah setiap anak murid Siau-lim kita selanjutnya patuh pada larangan besar itu!"
Habis itu ia melambaikan tangan, segera empat padri yang bertugas menjalankan hukuman dari Tat-mo-tong, semuanya dengan jubah merah, tampil ke muka dari tempat duduk mereka.
Ie Lan-cu dan Pun-bu Taysu dengan penuh perhatian menga-wasi Liau-in Hwesio dan Thian-yap Sanjin untuk berjaga-jaga bila mereka membantu Ong Cun-it melakukan perlawanan.
Tak terduga, tujuh jagoan yang Ong Cun-it bawa, tiada seorang pvn yang bergerak, mereka tetap duduk di tempat masing-masing dengan tenang.
Sementara itu perlahan-lahan keempat padri yang bertugas menjalankan hukuman tadi mendekati Ong Cun-it, suasana dalam Tay-hiong-po-tian seketika menjadi sangat tegang, lima ratus padri dengan menahan napas menantikan apa yang bakal terjadi.
Sebelum keadaan memuncak, mendadak Ong Cun-it berdiri kembali dengan cepat.
"Siapa berani menangkap aku?"
Bentaknya mengejek.
Habis itu ia tanggalkan baju luarnya, maka tertampak ba-ju sebelah dalamnya yang sepan ringkas, di atasnya tersulam gam-bar naga emas berkuku lima, sekelilingnya bertabur mutiara mestika sebesar mata kucing yang memancarkan sinar beraneka warna hing-ga menyilaukan mata.
Tanpa kehendaknya, keempat padri tadi seketika merandek berhenti di tempat.
"Inilah Si-hongcu (pangeran keempat), mengapa kalian tidak lekas berlutut menyambut?"
Tiba-tiba terdengar Haptoh berteriak.
Ternyata Ong Cun-it ialah nama samaran Si-hongcu In Ceng.
Putra pangeran yang berkeras hati hendak merebut takhta itu sudah tidak sayang buat menyamar sebagai rakyat biasa dan keluar dari istana untuk mengikat persahabatan dengan orang-orang gagah dunia Kangouw.
Bahkan ia sendiri berguru ke Siau-lim-si selama ti-ga tahun hingga mendapat ajaran ilmu silat yang tinggi.
Tahun lalu ketika In Ceng pulang ke Pakkhia, atas titah ayah bagindanya, ia hams menikah dengan putri bangsawan keluarga Ni-kolas.
Istrinya ternyata tidak memperoleh cinta In Ceng, oleh sebab itu kembali In Ceng raenyamar sebagai rakyat biasa dan mening-galkan ibukota, kemudian timbul pikirannya yang aneh, ia pikir wa-laupun kerajaan tiap tiga atau lima tahun sekali melakukan pemi-lihan gadis-gadis ayu untuk dijadikan dayang istana, tapi bagi kelu-arga yang mampu, untuk kebenmtungan selama hidup anak gadis-nya, seringkali tidak sayang menggunakan harta benda menyuap pe-tugas yang bersangkutan, agar anak gadis mereka diluputkan dari pemilihan itu, sekalipun anak gadis dari keluarga miskin, bila men-dengar bakal ada pemilihan gadis ayu untuk istana, segera juga me-reka berusaha mengawinkan gadisnya atau menyingkirkan anak ga-dis mereka ke tempat jauh untuk sementara.
Oleh sebab itulah, maka pada zaman feodal, apabila tiba masa pemilihan gadis-gadis ayu un-tuk istana, masyarakat tatkala itu sama seperti tertimpa bencana.
Oleh karenanya, tiap kali ada pemilihan gadis, meski jumlah-nya lebih seribu orang, namun di antara gadis sebanyak itu yang boleh dikatakan ayu hakikatnya sedikit sekali, ditambah putra Kai-sar Khong-hi banyak pula, maka pembagian gadis-gadis itu setiba di istana pangeran menjadi jauh daripada cukup dan memuaskan.
Begitulah maka In Ceng berpikir, orang pandai di bawahku banyak sekali, mengapa aku tidak menyuruh mereka mencari gadis yang cantik molek daripada susah-susah mengadakan pemilihan se-gala.
Karena itulah, maka berjangkitlah peristiwa Jay-hoa yang aneh di kota Jing-to.
Maka atas ucapan Haptoh tadi, semua menjadi terkejut, sung-guh di luar dugaan bahwa Ong Cun-it adalah putra pangeran dari kaisar yang bertakhta sekarang ini, ditambah lagi Hongcu atau pa-ngeran sengaja melakukan perbuatan Jay-hoa, hal ini lebih-lebih tidak mereka duga.
Keruan saja seketika itu dalam Tay-hiong-po-tian kembali ter-dengar suara bisik-bisik yang ramai, nyata para padri itu saling me-nyatakan keheranan mereka satu sama lain.
Pun-bu Taysu tak sabar lagi, mukanya merah padam hingga otot-ototnya tertampak jelas, sinar matanya menyorot tajam.
"Biar-pun Hongcu, kalau bersalah juga haras dihukum sama seperti rakyat biasa!"
Bentaknya tiba-tiba. Namun In Ceng tidak gampang menyerah.
"Negeri yang begini luas tidak lebih adalah tanah kerajaan, putra-putri dan harta benda di atas bumi ini semua adalah kepunya-anku, kalau aku mengambil beberapa gadis dari kalangan rakyat, malah akan mengurangi banyak kerepotan di waktu pemilihan, hal ini justru perbuatan mulia, mengapa kalian bilang aku bersalah?"
Sahutnya dengan lantang.
"Lagi pula, seandainya aku bersalah, tentu pihak kerajaan yang akan mengurusnya, Siau-lim-si tidak berhak ikut campur!"
Pun-bu Taysu ternyata kalah debat terhadap perkataan In Ceng yang lancar dan beralasan itu. Seluruh padri Siau-lim-si menjadi gusar dan mendongkol se-kali atas jawaban In Ceng tadi.
"Aku cuma kenal kau sebagai anak murid Siau-lim-si yang bernama Ong Cun-it dan tidak kenal kau sebagai Si-hongcu segala,"
Tiba-tiba Hong-hoat Taysu dari Ciang-king-tong menyela dengan su-ara lantang.
"Kita di sini bukan keluarga kerajaan, kita hanya kenal pada hukum Siau-lim-si!"
Karena perkataan Hong-hoat Taysu itu, Pun-bu Taysu telah disadarkan, segera dengan mengayun kebut ia menuding dan mem-buka suara pula.
"Pemerintah punya hukum negara dan dunia persilatan pun ada peraturan sendiri, kau adalah orang Siau-lim-si, sekalipun kau adalah kaisar yang bertakhta sekarang juga haras menurat peraturan Kangouw dan terima hukuman yang dijatuhkan oleh Ciangbunjin!"
"Berontak, sudah berontak!"
Teriak Liau-in atas ucapan Pun-bu tadi yang nyata berani melawan kerajaan. Sementara itu Thian-yap Sanjin telah berdiri buat mengutara-kan pendapatnya.
"Betul, raasing-masing golongan dalam Bu-lira ada peraturan sendiri, namun urusan sekarang ini adalah luar biasa, hendaklah di-putuskan secara bijaksana juga,"
Ujarnya.
"Si-hongcu memilih sen-diri gadis cantik dari kalangan rakyat, bagaimana bisa dianggap se-bagai Jay-hoa? Sekalipun Siau-lim-si punya peraturan yang keras, haras juga taat pada hukura negara!"
Atas pembelaan itu, Bu-cu Siansu terdiara, tetapi tidak demiki-an dengan Pun-bu Taysu, ia menjadi makin murka hingga kedua raatanya melotot.
"Jika Siau-lim-si takut kepada kekuasaan dan menuruti ke-mauan yang melanggar hukum, kelak cara bagaimana menjagoi Bu-lim?"
Tiba-tiba ia membentak.
"Pendek kata, urusan hari ini justru adalah suatu ujian bagi Siau-lim-si kita! Siau-lim-si punya anak mu-rid yang berbuat kotor seperti itu adalah suatu noda besar buat biara kita, padri pelaksana hukuman, silakan tetap menurut perintah Cu-ji tadi, tangkap saja murid murtad Ong Cun-it itu dan hukum menurut peraturan!"
Sebelum terjadi lebih jauh, Thian-yap Sanjin telah melompat maju dari tempatnya.
"Siau-lim-si dapat mencapai kedudukan seperti hari ini, cara memperolehnya sungguh tak mudah,"
Katanya dengan dingin.
"Pun-bu Taysu tidak suka mendengar nasihat, yang diharap hanya kepu-asan diri sendiri, apa sudah tidak menghiraukan darah kerihgat Cosu Siau-lim-si yang telah turun-temurun dan rela membiarkan dasar yang sudah bersejarah ribuan tahun ini hancur dalam sekejap saja?"
Kata-kata yang bersifat ancaman agar jangan bermusuhan de-ngan pihak pemerintah itu membikin Bu-cu Siansu dan para tetua dari Tat-mo-tong menjadi ragu-ragu, sebaliknya padri-padri yang berdarah muda, bertambah gusar dan penasaran, lima ratus padri itu berbisik-bisik saling merundingkan ha] itu, nyata mereka terbagi da-lam dua golongan.
Yang pertama, walaupun merasa gusar, tetapi gu-na menjaga keutuhan Siau-lim-si, mereka berpendapat boleh mem-bikin ringan urusan Ong Cun-it itu dan tidak usah menjatuhkan hu-kuman.
Sebaliknya golongan yang lain tetap merasa penasaran, mere-ka lebih suka biara hancur lebur dan mengorbankan diri, tapi nama baik Siau-lim-si haras dipertahankan.
Dalam pada itu, setelah berpikir, terdengar Bu-cu Siansu me-ngucap Buddha, matanya bersinar tajam dan kemudian membuka suara dengan sabar.
"Para Bu-lim Cianpwe dan para padri seluruh biara hendaklah tenang sebentar,"
Katanya.
"Persoalan yang diha-dapi hari ini memang luar biasa, maka Lolap pun tak berani memu-tuskan sendiri dengan regitu saja. Para tetua dari tiga "
Long’ dan te-tua dari Tat-mo-ih dipersilakan ikut Lolap kembali ke Cho-co-am untuk melapor kepada Cosu, setelah berunding lagi baru nanti di-umumkan hasil keputusannya.
Para tetamu yang terhormat harap suka menanti sebentar!"
Sesudah itu, dengan mengebas jubah sucinya, segera ia pimpin kedua belas padri agung dari Siau-lim-si itu masuk ke ruangan be-lakang buat berunding secara tertutup.
Sementara itu lima ratus padri tetap berjaga-jaga dengan rapat sekali memenuhi pendopo besar itu, sekalipun In Ceng bernyali be-sar, tak urung merasa kebat-kebit juga.
Sehabis Bu-cu Siansu masuk ke belakang, lama dan lama se-kali masih belum juga tertampak ia keluar kembali.
Ketika secara kebetulan Teng Hiau-lan memandang keluar ru-angan besar itu, tiba-tiba ia lihat sesosok bayangan orang yang tam-paknya ragu-ragu, seperti akan masuk tetapi urung.
Sementara itu terlihat Sin-mo-siang-lo yang duduk di bagian tetamu tiba-tiba ber-diri dan melongok keluar, cepat juga bayangan orang tadi lantas menghilang, rupanya seperti orang yang sudah dikenal Hiau-lan.
Karena nampak Sin-mo-siang-lo tiba-tiba berdiri, para padri secara beramai lantas merubung padanya, karena itu, dengan lesu Sin-mo-siang-lo lantas duduk kembali.
Dalam keadaan ramai itu, sekonyong-konyong dari dalam ber-jalan keluar seorang bocah cilik dengan.rambut terikal gelang emas, terus mencampurkan diri di antara para padri, bocah ini bukan lain adalah bocah aneh yang dilihat Teng Hiau-lan semalam.
Tanpa te-rasa Teng Hiau-lan menggeser diri lebih dekat pada bocah itu.
"Khing-hiau, apa kau juga ingin menonton keramaian ini? Mengapa gurumu tidak datang?"
Terdengar seorang Hwesio mena-nyai anak itu dengan tertawa. Mendengar itu, tiba-tiba Hiau-lan tergerak hatinya.
"Khing-hiau? He, nama ini seperti sudah pernah kudengar entah dimana?"
Begitu ia merabatin.
"Bagaimana aku bisa tahu?"
Terdengar bocah tadi menjawab dengan tersenyum.
Selagi Teng Hiau-lan berniat menggeser lebih dekat lagi, tiba-tiba Bu-cu Siansu bersama kedua belas padri agung Siau-lim-si tadi sudah keluar kembali.
Bu-cu Siansu yang sudah tua dan dapat ber-pikir panjang sebenarnya tidak ingin terkena akibat peristiwa itu, maka dalam penmdingan yang agak lama di dalam Cho-co-am, Bu-cu Siansu berkata.
"Perkataan Thian-yap Sanjin tadi walaupun lebih mirip ancaman, tetapi kalau sampai Siau-lim yang bersejarah ini termusnah di tangan kita, cara bagaimana kita harus bertanggung jawab terhadap Cosu kita yang sudah turun-temurun itu?"
"Cu-ji, tolong tanya, sejak berdirinya Siau-lim-si hingga kini sudah berapa lama?"
Tiba-tiba Hong-hoat Taysu buka suara.
"Mengapa kau malah bertanya padaku?"
Sahut Bu-cu Siansu dengan heran.
"Kita punya Ko-san Siau-lim-si ini sejak berdiri hingga kini sudah berumur lebih seribu tiga ratus tahun, semua padri dalam biara kita, siapa yang tidak mengetahui?"
"Itulah, maka aku ingin tanya pula, selama lebih seribu tiga ratus tahun itu sudah berapa dinasti silih berganti!"
Kata pula Hong-hoat Taysu dengan keren.
"Keagungan kaisar dan raja boleh terpuja pada satu waktu, tapi tak mungkin bertahan selama ratusan turunan. Zaman boleh berganti, tetapi tata-tertib biara Siau-lim kita tidak bo-leh berubah, apakah dengan nama agung Siau-lim-si kita yang ber-sejarah ribuan tahun ini ternyata tidak bisa membandingi seorang pangeran?"
"Betul apa yang Hong-hoat katakan,"
Kata Pun-bu Taysu te-gas.
"Hari ini kalau kita tidak melaksanakan larangan yang diwa-riskan Cosu, maka selanjutnya walaupun Siau-lim-si masih berdiri, namun nama baiknya pasti akan rantuh, karena sudah tidak sesuai lagi dengan Siau-lim-si yang sebenarnya. Jikalau kita membikin pembersihan secara apa mestinya untuk mempertahankan kehormat-an Siau-lim-si, walaupun biara harus musnah, tapi nama baik tetap tinggal dan terjunjung tinggi selamanya oleh dunia persilatan, hen-daklah pandangan kita diarahkan ke masa depan. Sute, kau adalah Cu-ji biara kita, kau memiliki kekuatan yang tak terpatahkan. Hcn-daklah diketahui, memang betul, susah mendirikan dasar yang sudah kuat ini, tapi biara hancur dapat dibangun kembali, orang mati ke-pandaian dapat diturunkan. Sebaliknya, kalau nama baik dan kewi-bawaan yang sudah kita pupuk selama ribuan tahun ini dengan se-mangat yang tak kunjung padam terusak karenanya, maka hal ini sulitlah untuk memperolehnya kembali."
Mendengar uraian Suhengnya yang panjang lebar itu, Bu-cu Siansu memejamkan mata dan berpikir, setelah lewat agak lama, ia menghela napas dan bangkit berdiri, ia pimpin orang-orangnya ke-luar dari Cho-co-am dan masuk kembali ke Tay-hiong-po-tian.
Melihat air muka Bu-cu Siansu yang sukar diraba apa yang ba-kal diputuskan, tiada seorang pun yang berani bertanya.
Setelah Bu-cu Siansu tiba kembali di tempatnya, para padri kembali membunyikan genta dan kecer, sedang seluruh ruangan menjadi sunyi sepi.
Hong-hoat Taysu dari Ciang-king-tong lantas tampil ke muka.
"Ong Cun-it berdosa atau tidak?"
Tanyanya dengan membung-kuk dan merangkap tangannya memberi hormat.
"Berdosa!"
Jawab Bu-cu Siansu dengan suara berat. Karena keputusannya itu, keruan orang-orang yang mengiringi kedatangan In Ceng berubah air muka mereka.
"Harap Cu-ji suka mengemukakan alasannya!"
Kata Thian-yap Sanjin dengan bandel.
"Meski Ong Cun-it adalah putra pangeran, tetapi sewaktu ia memasuki pintu biara Siau-lim, ia anggap dirinya sebagai orang pre-man biasa, Pun-khong Taysu adalah gurunya dalam Bu-lim dan bu-kan pelatih dalam istana,"
Sahut Bu-cu Siansu.
"Siau-lim-si adalah suatu aliran suci di kalangan Bu-lim, anak muridnya melakukan pantangan Jay-hoa, ia harus dihukum menurut peraturan yang telah ditetapkan!"
Karena perkataan Bu-cu Siansu yang terakhir itu, empat padri yang bertugas menjalankan hukuman tadi berseru.
"Terima perin-tah!"
Sesudah itu dengan perlahan-lahan mereka maju mendekati In Ceng.
Liau-in dan Haptoh berdua raengapit di kanan-kiri In Ceng, namun empat padri itu tak pedulikan mereka, paras mereka tetap ke-ren dan tak berubah, mereka tetap maju terus.
Tiba-tiba terlihat In Ceng menggoyang tangan memberi tanda pada Liau-in, sesudah itu mendadak ia membentak.
"Nanti dulu!"
"Apalagi yang hendak kau katakan?"
Tanya Bu-cu Siansu. In Ceng tidak lantas menjawab, sebaliknya ia keluarkan satu bungkusan kertas dari sakunya.
"Ketika masuk perguruan, aku sudah menjelaskan asal-usul diriku kepada Pun-khong Suhu,"
Teriaknya.
"Sewaktu aku keluar da-ri sini, ia sendiri pun memberi surat keterangan padaku, Ciangbun Hongtiang, surat keterangan itu berada di sini, boleh kau memba-canya, nanti akan menjadi jelas duduknya perkara."
Haptoh lantas menyambut bungkusan kertas itu terus diang-surkan kepada Bu-cu Siansu.
Setelah membaca apa yang tertulis dalam surat, itu, tiba-tiba wajah Bu-cu Siansu mengunjuk rasa heran dan menunduk dengan lesu tanpa berkata.
Lekas Pun-bu dan Hong-hoat Taysu pun mendekatinya untuk membaca.
"Pun-khong Suheng pasti bukan manusia semacam ini,"
Ujar Pun-bu dengan gusar sehabis membaca surat keterangan itu.
"Surat-mu ini palsu belaka!"
Kiranya dalam surat keterangan itu tertulis.
Yang bertanda tangan di bawah ini, Pun-khong, ketua Siau-lim-si yang keempat puluh tujuh, dengan ini mempermak-lumkan kepada Ketua yang akan datang bahwa anak murid biara kita keturunan keempat puluh delapan, Ong Cun-it, asalnya adalah Si-hongcu In Ceng, ia mengagumi nama be-sar Siau-lim, maka tanpa menghiraukan kesulitan, dengan sungguh-sungguh ia masuk sebagai anggota keluarga biara kita dengan niat mengembangkan ilmu silat Siau-lim, bahkan bersedia pula melindunginya dengan hukum untuk memper-tahankan keagungannya.
Siau-lim beruntung sekali dengan masuknya Hongcu sebagai anggota keluarga, sesuai dengan hubungan antara hamba dengan tuannya serta peraturan-peraturan dalam Bu-lim, In Ceng tetap terhitung anak murid Siau-lim, tetapi sebutan gu-ru dan murid dihapuskan, kalau In Ceng datang ke biara dibebaskan dari tata tertib Siau-lim-si.
Surat ini diberikan kepada In Ceng untuk disimpan dan guna disampaikan kepada Ketua pengganti sesudah aku wafat.
Pun-khong.
Melihat isi surat wasiat itu, Pun-bu pikir Pun-khong Suheng adalah seorang berwatak jujur, walaupun bertirakat dalam biara su-ci, namun cita-citanya tetap condong pada bangsa Han, kalau ia me-ngetahui bahwa muridnya adalah putra pangeran, ia pasti tak mau menerima.
Seumpama mau menerimanya sebagai murid, ketika hen-dak wafat, pasti juga beliau akan memberitahukan kepa’da kami.
Maka surat wasiat ini pasti palsu adanya.
Sebaliknya Bu-cu Siansu berpikir lain, ia berpendapat, guna mempertahankan Siau-lim-si, mungkin Suheng terpaksa menerima sang pangeran sebagai murid.
Soal ini adalah rahasia yang maha penting, oleh karena itu semasa hidupnya ia tak berani memberi-tahukan kepada kami.
Begitulah dua orang dua pendapat, oleh sebab itu, kalau Pun-bu jadi makin murka, adalah Bu-cu Siansu sebaliknya diam saja.
"Kam-si tadi bilang surat wasiat ini adalah palsu, numpang tanya Cu-ji, tulisan tangan Pun-khong Taysu apa betul seperti ini atau tidak?"
Dengan tersenyum dingin In Ceng mendesak.
"Bukti tulisan masih tidak cukup, apa kau ada pula saksi atau bukti barang lain?"
Pun-bu mendahului menyahut, ia masih tetap ti-dak percaya. Belum lenyap suara perkataannya, tiba-tiba terdengar seruan seorang anak kecil yang nyaring.
"Aku yang menjadi saksi!"
Menyusul liba-tiba bocah yang rambutnya terikal dengan ge-lang cmas tadi melompat naik ke atas meja sembahyang di sebelah kanan sana.
"Lian Khing-hiau, kau bocah ini tahu apa? Ilayo, tak bolch mengacau di sini!"
Bentak Hong-hoal Taysu.
Mendengar nama itu, tiba-tiba Teng Hiau-lan teringat kepada sahabat Ciu Jing, yaitu Ciong Ban-tong, yang pemah mengatakan bahwa dia mencrima sprang anak yang paling nakal di jagat ini sebagai murid, namanya Lian Khing-hiau, bukankah bocah ini yang dimaksudkan?
Tetapi mengapa bocah ini bisa muncul di Siau-lim-si sini?
Dan mengapa Ciong Ban-tong tidak tertampak datang juga?
Teng Hiau-lan tidak tahu bahwa saat itu sebenamya Ciong Ban-tong juga berada dalam biara maha sohor ini.
Ciong Ban-tong adalah cucu murid Pho Jing-cu, sedang Pho Jing-cu dengan guru Pun-khong.
yakni ketua Siau-lim-si kecmpat puluh cnam.
Thong-sian Siangjin.
ada hubungan persahabatan yang kekal, olch sebab itulah di antara anak murid mercka pun tetap ada hubungan baik.
Satu atau dua tahun sekali tentu Ciong Ban-tong menyam-bangi Siau-lim-si dan tinggal untuk beberapa bulan lamanya.
Rumah tinggal Lian Khing-hiau berada di Tan-liu, propinsi Holam, letaknya tidak jauh dari Ko-san, karcna sayang kepada mu ridnya itu, maka seringkali Ciong Ban-tong mengajaknya ke Siau-lim-si.
‘Siau-lim-sam-lo’ (tiga tetua Siau-lim-si), yakni Pun-khong, Pun-bu dan Bu-cu, sangat suka pada Lian Khing-hiau karcna pintar-nya luar biasa, diajar satu mengerti sepuluh Olch karcna itu, ketiga padri tua itu sangat sayang padanya, Icbih-lcbih Ketua Siau-lim-si itu, Pun-khong Taysu, begitu sayangnya hingga sering menyuruh bocah itu agar tinggal sekamar dan mengajarkan padanya macam-macam ilmu silat.
Apa yang dilihat Teng Hiau-lan semalam ketika bocah itu ber-gerak gerak di ruangan Lo-han-tong itu bukan lain adalah sedang belajar ilmu pukulan sakti dari Siau-lim-si, yaitu Lo-han hok-hou kun " (ilmu pukulan penakluk harimau).
Sesudah Pun-khong wafat, Lian Khing-hiau masih sering naik ke Ko-san, sekali ini ia datang lagi bersama Suhunya, Ciong Ban-tong dan lebih setengah bulan mereka tinggal di sini.
Dalam pada itu, pemah ia pulang ke rumah sekali Ialu terjadilah peristiwa ini.
Ciong Ban-tong bukan saksi dan tidak berkepentingan, oleh sebab itu Bu-cu Siansu tidak mengundang dia hadir.
Ketika dalam ruangan besar Tay-hiong-po-tian terjadi kera-maian, Lian Khing-hiau tak tahan, ia minta Ciong Ban-tong mem-bawanya keluar melihat keramaian itu.
Tidak terduga, mendadak Ciong Ban-tong mengetahui bahwa dua musuh besarnya, yaitu Sin-mo-siang-Io juga hadir dalam ruangan itu.
Sebab itulah Sat Thian-ji lantas berdiri dan melongok keluar sebagaimana dilihat Teng Hiau-lan tadi.
Hendaklah diketahui bahwa sebabnya Ciong Ban-tong menga-singkan diri dan berganti nama serta buron selama belasan tahun, yang dia takuti tidak lain ialah Sin-mo-siang-Io ini.
Maka begitu kepergok, sebelum berhadapan ia lantas me-nyingkir dan kabur, sedang Lian Khing-hiau lantas mencampurkan diri di antara padri yang banyak jumlahnya itu.
Kembali tadi, setelah dibentak Hong-hoat Taysu, Lian Khing-hiau tak menjadi takut, sebaliknya ia malah tertawa cekikikan.
"Ma-sakah aku tidak tahu apa-apa, aku justru tahu dengan jelas bahwa Ong Cun-it ini adalah Si-hongcu. Pun-khong Taysu sendiri yang mengatakan padaku, waktu beliau menulis surat wasiat itu malah aku juga ada di sampingnya. Berulang kali beliau berpesan padaku agar jangan menyiarkan hal ini, maka aku simpan rahasia ini selama beberapa tahun. Waktu itu karena tertarik, aku menyaksikan di sam-ping dan ingat dengan baik isi surat wasiat itu!"
Apa yang ia pernah lihat satu kali, maka tak mungkin terlu-pakan, Pun-bu dan Bu-cu sendiri mengetahui bahwa Lian Khing-hiau memang punya kepandaian itu.
"Bocah cilik tak boleh sembarang omong, coba kau apalkan isi surat wasiat yang kau katakan pernah melihatnya!"
Kata Bu-cu Sian-su kemudian.
Tanpa ayal lagi Lian Khing-hiau lantas membacakan isi surat wasiat itu dengan suara nyaring di atas meja, dan betul juga, sehuruf saja ternyata tidak keliru.
Sehabis mendengar itu, mau tak mau Pun-bu Taysu mati kutu.
"Dua hari sebelum Pun-khong Taysu meninggal,"
Terdengar Lian Khing-hiau berkata pula.
"beliau bahkan meninggalkan surat padaku, katanya bila kelak aku ada urusan besar, boleh pergi men-cari Hongcu Suheng ini. Cu-ji, silakan baca surat ini!"
Lalu ia pun mengeluarkan surat yang dimaksudkan dan diserahkan kepada Bu-cu Siansu.
Tanpa diminta Pun-bu ikut mendekat dan membaca, nyata ga-ya tulisan surat ini betul juga tulisan tangan Pun-khong sendiri.
"Sudahlah, sudahlah!"
Ujar Pun-bu dengan menghela napas.
Dengan lemas ia duduk kembali, sedang padri lain kembali menjadi riuh ramai.
Dengan angkuh Ong Cun-it lantas berbangkit, ia mengangguk terhadap Bu-cu Siansu, sesudah itu hendak berlalu.
"Apa begitu gampang kau akan pergi begitu saja?"
Pun-bu Taysu membentak.
"Ada apa lagi?"
Tanya In Ceng dengan congkak.
"Setelah kau mengajak orang-orang dari golongan lain buat ikut campur, selanjutnya bagaimana, apa kau masih terhitung anak murid Siau-lim atau tidak?"
Tanya Pun-bu dengan bengis.
Menurut peraturan Bu-lim, dengan terjadinya peristiwa itu, orang yang bersangkutan kebanyakan pasti memisahkan diri dari perguruan dan masuk ke aliran lain.
Oleh karenanya Pun-bu sengaja bertanya padanya.
"Kalau masih, bagaimana? Dan kalau tidak, lalu mengapa?"
Sahut In Ceng tetap angkuh.
"Kalau kau sudah bukan Siau-lim-tecu (anak murid Siau-lim), maka silakan sedikit kepandaianmu yang diperoleh dari Siau-lim itu dibayar kembali!"
Dengan tertawa dingin Pun-bu menerangkan.
Habis itu jarinya laksana belati segera menusuk ke pundak In Ceng dengan cepat sekali.
Gerakannya itu disebut ‘Tiat-ci-sian’ (tenaga jari baja), sema-cam kepandaian hebat dari Siau-lim-pay, bila kena ditutuk, maka tak usah disangsikan lagi, badan akan cacat selamanya dan seluruh ilmu silat yang sudah dimilikinya akan punah.
Atas serangan itu, sudah tentu Kam Thian-Iiong dan Tang Ki-joan yang berdiri di samping kanan-kiri In Ceng tidak tinggal diam, berbareng mereka turun tangan.
Maka segera tertampak di antara sambaran angin pukulan dan melayangnya bayangan orang, Kam Thian-liong dan Tang Ki-joan tergetar mundur beberapa langkah ke belakang.
In Ceng tahu bahwa Pun-bu Taysu, Susioknya, berwatak ke-ras, kalau ia sudah murka, maka bisa berbuat apa saja menurut ke-hendaknya.
"Sudah tentu aku masih terhitung Siau-lim-tecu,"
Lekas In Ceng berseru.
"surat wasiat Suhu bukankah tertulis cukup jelas bah-wa aku hanya dihapuskan sebutan guru dan murid, tetapi aku masih tetap dianggap sebagai anak murid Siau-lim?"
Dalam pada itu terlihat Bu-cu Siansu pun sudah menyusul keluar.
"Suheng, biarkan saja ia pergi,"
Katanya pada Pun-bu Taysu. Namun Pun-bu tetap tidak rela melepas anak murid murtad itu begitu saja.
"Kalau memang Siau-lim-tecu, mengapa tak tahu aturan dan tak sopan terhadap kaum Cianpwe (tingkatan tua)?"
Bentaknya lagi.
Karena itu, lekas In Ceng membungkuk memberi hormat, akan tetapi demi melihat kedua mata Pun-bu Taysu yang mendelik itu, tanpa kuasa kedua kaki In Ceng menjadi lemas terus berlutut, bah-kan hendak menjura.
Nampak itu, Liau-in dan Haptoh menjadi kerepotan, lekas ma-ju ke depan memayang majikan mereka.
Maklumlah, setelah In Ceng memperkenalkan siapa dia sebenarnya, sudah tentu seorang pangeran tidak pantas pay-kui (menyembah) terhadap rakyat biasa.
Dalam pada itu kebut Bu-cu Siansu telah mengebas ke pundak In Ceng, diam-diam ia gunakan tenaga Lwekang untuk menariknya bangun.
"Kalau memang Cianpwe-hongtiang sudah membebaskan kau dari penghormatan secara pay-kui, maka bolehlah memakai cara sesukamu, tak usah menjura lagi,"
Ujar Bu-cu dengan tersenyum. Di bawah iringan Liau-in dan kawan-kawan, lekas In Ceng mundur teratur dari biara itu, terus kabur. Sehabis terjadi ramai-ramai itu, tiba-tiba Lu Si-nio teringat se-suatu.
"He, dimana Teng Hiau-lan?"
Serunya. Ketika Ie Lan-cu memandang sekelilingnya, betul juga pemu-da itu sudah tak tertampak bayangannya.
"Bocah itu mengeluyur kemana?"
Ia pun merasa heran.
"Dan kemana Ciong-suheng?"
Tiba-tiba Bu-cu Siansu pun ber-tanya. Karena pertanyaan sang ketua, para padri lantas pergi mencari, namun hasilnya nihil.
"Ciong-suheng siapakah itu?"
Tanya Lu Si-nio dengan heran.
"Siapa lagi, ialah ahli waris Bu-kek-kiam yang bernama Ciong Ban-tong itu!"
Sahut Pun-bu Taysu.
"O, kalau begitu dia adalah Sutitku,"
Ujar Ie Lan-cu.
"Aku dan gurunya, Pho Jing-cu, dulu pernah bersama-sama pergi ke Sinkiang, apa kini dia berada di sini juga?"
"Ia jadi guru di Tan-liu,"
Bu-cu menerangkan.
"Bocah yang berbicara tadi ialah muridnya!"
"Hebat sekali anak itu, siapa namanya?"
Tanya Ie Lan-cu, ia tertarik juga oleh kehebatan anak itu.
"Namanya Lian Khing-hiau,"
Sahut Pun-bu. Tiba-tiba ia me-ngerut kening dan bertanya juga.
"Dan kemana Lian Khing-hiau si bocah itu?"
"Khing-hiau pun sudah mengeluyur pergi!"
Jawab seorang pa-dri.
"Aneh, mengapa mereka guru dan murid berlalu semua tanpa’ pamit?"
Ujar Pun-bu dengan heran.
Mendengar itu, pikiran Lan-cu tergerak, namun ia tak mengu-tarakan pikirannya.
Bercerita tentang diri Ciong Ban-tong, setelah mendadak ia memergoki Sin-mo-siang-lo hadir di Siau-lim-si, karena bersangkut-an dengan keselamatannya, lekas ia melarikan diri, malam-malam ia • mengeluyur pulang ke Tan-liu.
Ayah Lian Khing-hiau, Lian Toan-ling adalah seorang harta-wan kaya-raya di kota itu, taman bunganya besar dan luas sekali; dikitari pagar tembok yang tinggi.
Ketika Ciong Ban-tong melompat masuk ke dalam taman, ia lihat sekelilingnya tiada seorang manusia pun, dengan berjinjit ia kembali ke kamar.
Ting Hok, pelayannya yang sudah tua, masih tertidur nyenyak dan tidak tahu tuannya sudah pulang.
Di dalam kamar itu terdapat pula seorang dara cilik berusia se-kira tujuh delapan tahun, bocah ini cukup cerdik dan awas sekali, begitu mendengar sedikit suara keresekan, segera ia terjaga, sepa-sang matanya yang kecil bundar jeli laksana batu permata di malam gelap memancarkan sinar kegembiraan, ia melompat bangun terus merangkul Ciong Ban-tong sambil berseru.
"Ciong-pepek, kau su-dah pulang? Mana kakak Khing-hiau, aku sudah kangen sekali pada kalian!"
"Sssst! Lin-ji, jangan keras-keras! Lekas sembunyi di kamar sebelah sana!"
Dengan suara mendesis Ciong Ban-tong mencegah-dara cilik itu berbicara lebih jauh.
Anak perempuan ini bukan lain ialah Pang Lin, seorang di an-tara kedua anak kembar keluarga Pang yang pada malam ulang ta-hunnya telah diselamatkan dan dibawa pergi oleh Ciong Ban-tong {lihatpermulaan cerita ini).
Setelah Pang Lin dibawa ke tempat keluarga Lian sini, tanpa terasa sudah lebih enam tahun, kini ia sudah berupa dara cilik lincah yang berusia harripir delapan tahun.
Ciong Ban-tong mahir ilmu pertabiban, tiap hari ia memandi-kan anak itu dengan air obat dan mengajarkan ilmu silat padanya, oleh sebab itu Pang Lin memiliki tulang yang kuat, telinganya tajam dan matanya awas, gerakannya gesit dan lincah, bocah ini telah memperoleh latihan Tong-cu-kang’ asli, ilmu silat yang dilatihnya sejak kecil.
Kini demi dilihatnya Ciong Ban-tong dalam keadaan sangat khawatir, dalam hati kecilnya ia pun merasa takut.
"Ciong-pepek, ada urusan apakah?"
Tanyanya dengan mata terbuka lebar.
"Ada orang jahat akan datang,"
Sahut Ciong Ban-tong.
"Nanti kalau aku berkelahi dengan orang jahat itu, tak peduli menang atau kalah, sebelum orang jahat itu pergi, jangan sekali-kali kau keluar!"
Namun dara cilik ternyata tidak jeri, malah mengambil keluar dua belatinya yang kecil sepanjang tiga dim dari bawah bantal, de-ngan melembungkan pipi ia berkata.
"Kalau orang jahat itu berani datang, aku hantam dia dengan ini!"
Melihat Si’ bocah yang bernyali besar itu, air muka Ciong Ban-tong berubah.
"Kau tidak menurut kata-kata Pepek, selanjutnya Pe-pek tak sayang lagi padamu,"
Katanya kemudian dengan suara berat. Belum pernah Pang Lin melihat sang paman begitu sungguh-sungguh, karena itu ia ketakutan dan hampir menangis.
"Anak baik, menurutlah, jangan bersuara lagi!"
Ciong Ban-tong berbisik di pinggir telinga Pang Lin, lalu ia dorong bocah ini masuk ke sebelah dalam.
Dengan sinar mata mengunjuk rasa takut tetapi penuh kehe-ranan, mata Pang Lin yang hitam bundar memandangi Ciong Ban-tong terus.
Waktu Ciong Ban-tong mendengarkan dengan cermat, tiba-tiba ia menghela napas dan kemudian menarik Pang Lin keluar.
"Nak, sebenarnya aku tidak ingin memberitahu asal-usulmu pada saat ini, tapi keadaan kini sudah mendesak, tak mungkin ku-tunda lagi,"
Katanya dengan suara rendah.
"Nak, kau bukan she Lian, tetapi she Pang. Ayahmu sudah lama meninggal, ia tewas se-cara menyedihkan, keselamatan ibumu hingga kinipun belum dike-tahui dengan pasti, kau masih mempunyai seorang …."
Belum habis uraiannya, dalam malam gelap gulita itu tiba-tiba berkumandang suara suitan aneh.
Begitu ketakutan hingga Ciong Ban-tong menelan kembali kata-kata yang belum selesai ia ucapkan tadi, segera juga ia surung Pang Lin masuk ke dalam kamar.
Sementara itu suara aneh tadi menggema di angkasa dari jauh perlahan-lahan mulai mendekat.
Selagi Ciong Ban-tong bebenah meringkasi pakaiannya, sudah terdengar suara teguran di luar bernada seram.
"Ciong Ban-tong, niengapa tidak lekas keluar? Apa perlu kami yang masuk dengan mendobrak pintu?"
Kata suara itu.
Ciong Ban-tong tak menjawab, tapi sebagai balasan ia tertawa dingin, menyusul mendadak ia menarik pintu, dua pisau terbang se-gera ditimpukkan, sedang orangnya menyelinap ke belakang pintu.
Atas serangan itu, terdengar suara tertawa aneh di luar, habis itu, sekonyong-kony’ong Hui-to atau pisau terbang yang ditimpuk-kan tadi terbang kembali dan menancap di atas dinding.
Berbareng Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji dan Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh me-nyerbu masuk.
"Haha! Sudan hampir dua puluh tahun tidak berjumpa, tidak nyana hari ini bertemu lagi di sini!"
Terdengar Sat Thian-ji bergelak tertawa.
"Aku orang she Ciong sudah lama menanti, di sini tempatnya kurang luas, silakan keluar di taman sana saja!"
Sahut Ciong Ban-tong dengan tenang. Akan tetapi kembali Sat Thian-ji tertawa aneh.
"Apa kau ingin memilih tempat kuburanmu?"
Jengeknya mendadak.
Berbareng itu kedua tangannya terpentang, sepuluh kuku jarinya yang panjang mendadak menjulur keluar laksana sepuluh belati yang lancip tajam terus menikam ke dada Ciong Ban-tong.
Namun Ciong Ban-tong cukup waspada, dengan cepat meng-geser tubuh, pedangnya menangkis ke atas, menyusul terus memba-bat ke pinggang musuh.
Dengan sekali meloncat, Sat Thian-ji melayang keluar dan berdiri tegak menanti di tengah pelataran taman itu.
"Tidak jelekju-ga serangan tadi! Baik, mari kita coba lagi!"
Serunya.
Ia pikir malam ini pasti sukar terhindar dari bahaya, maka pikirannya sudah ikhlas andaikan harus mati, namun ia pantang menyerah sebelum ajal, de-ngan mengayun pedang, ia pun melayang keluar melalui jendela.
Belum sampai lawan menginjak tanah, mendadak Sat Thian-toh merangsek maju, dengan suara gerungan keras ia memukulkan kedua tangannya ke muka musuh, begitu keras pukulannya hingga membawa angin yang kuat sekali.
Ciong Ban-tong pun cukup tangkas, dengan pedangnya ia me-nangkis, tangan kiri bergerak, dengan dua jari segera ia menutuk ‘Koan-goan-hiat’ Sat Thian-toh.
Namun Sat Thian-toh ternyata tak gentar atas tutukan itu, se-baliknya ia tertawa lebar.
"Haha! Apa kau kira aku takut tutukan-mu?"
Ejeknya.
Telapak tangannya yang ia pukulkan tadi tiba-tiba ia ubah menjadi kepalan dan tetap dihantamkan.
Di luar dugaan, Ciong Ban-tong yang sudah melatih diri sela-ma dua puluhan tahun dengan giat tanpa kenal lelah, kepandaiannya kini sudah banyak maju, ditambah ‘Koan-goan-hiat’ memang adalah satu di antaia tiga puluh enam jalan darah besar manusia, kena ditu-tuk, keruan saja Sat Thian-toh merasa sakit dan linu, belum sampai kepalannya kena sasaran, tiba-tiba ia merasa tak bertenaga lagi.
Begitu cepat gerak serangan Ciong Ban-tong, begitu tutukan-nya berhasil, pedangnya berkelebat, tiba-tiba ujung senjata menuju ke muka Sat Thian-toh.
Tapi Sat Thian-ji cukup cepat, begitu nampak adiknya teran-cam bahaya maut, segera ia melompat maju, secepat anak panah te-rus menyambar, dengan sebelah tangan ia menarik pergi Sat Thian-toh, sedang tangan lain dengan jarinya coba menggores urat nadi tangan Ciong Ban-tong yang mencekal pedang.
Gerak kedua orang sama cepat, maka tak sempat lagi Ciong Ban-tong melukai lawan, terpaksa ia harus menarik kembali pe-dangnya untuk melindungi diri sendiri, menyusul ia pun melompat ke samping beberapa tindak.
Kesempatan itu segera digunakan Sat Thian-ji untuk menepuk Hiat-to di pundak Sat Thian-toh.
"Adik Ji, kau mengaso saja sebentar, nanti kau boleh bertem-pur lagi, tapi jangan sembrono seperti ini!"
Pesannya pada saudara mudanya itu.
Sat Thian-toh telah kena ditutuk secara berat oleh Ciong Ban-tong, untung ia sudah melatih diri sedemikian rupa laksana ‘Tang-bwe-thi-kut’ (kulit tembaga dan tulang besi), kalau tidak, seketika ia pasti mampus.
Maka ia tak berani sembrono lagi, dengan menyandar pada tembok pagar, ia atur pernapasannya menjalankan aliran darah buat memunahkan bahaya tutukan tadi.
Setelah berhasil menghantam seorang musuh, rasa jeri Ciong Ban-tong sudah agak berkurang, kini pedangnya jadi makin gencar diputar, beruntun ia lancarkan serangan beberapa kali pada musuh.
Mendadak Sat Thian-ji melompat ke atas begitu tinggi hingga tubuhnya menyenggol pucuk pohon, lalu dengan sedikit mengenjot tubuh lagi, ia melayang pergi sejauh beberapa meter jauhnya.
"Lari kemana!"
Bentak Ciong Ban-tong.
Sekali melompat, se-gesit kera ia pun menubruk maju dan pedangnya segera menusuk.
Tapi Sat Thian-ji yang sudah berlatih dengan gaya menubruk seperti elang kucing, tubuhnya bisa mulur mengerut di udara, tiba-tiba dengan sekali membalik, tahu-tahu ia malah menubruk dari atas ke bawah, sepuluh kukunya yang panjang tajam lantas menikam.
Segera juga terdengar suara "bret" , lengan baju Sat Thian-ji terobek oleh pedang Ciong Ban-tong, sedang pundak Ciong Ban-tong pun kena dicakar sekali oleh kuku tajam Sat Thian-ji, masih beruntung baginya karena sempat berkelit dengan cepat hingga otot tulangnya tidak sampai tercakar putus.
"Haha! Satu tusukan tukar sekali cakaran, kita sama kuat!"
Se-ru Sat Thian-ji dengan bergelak tertawa.
"Tapi aku untung secabik lengan baju!"
Sahut Ciong Ban-tong.
"Baik, kalau begitu biar aku minta rentenya!"
Kata Sat Thian-ji pula dengan tertawa aneh.
Habis itu, tubuhnya mencelat ke atas lagi, ia keluarkan kepandaian cara menubruk ala elang kucing untuk me-rangsek Ciong Ban-tong.
Perlu diterangkan, bahwa kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ketika Ciong Ban-tong kembali dari perantauan di Tibet, di Jing-hay ia berjumpa dengan Sat Thian-ji.
Tatkala itu Ciong Ban-tong sedang kuatnya dan tak mengenal takut, waktu tahu Sat Thian-ji adalah iblis yang paling dibenci kalangan Kangouw karena perbuatan jahat, ma-ka segera juga ia melolos senjata bertempur dengannya.
Setelah se-tengah hari mereka bergebrak, Sat Thian-ji merasakan sekali tusuk-an pedangnya dan lari kabur terbirit-birit, karena itulah tadi ia ber-kata tentang "sekali tusukan tukar sekali cakaran".
Kini setelah berjumpa kembali dan saling bergebrak lagi, ke-adaan ternyata sudah lain, Sat Thian-ji telah berhasil menciptakan Niau-eng-jiau yang khas, hantaman dan tubrukannya lihai dan cepat sekali, setelah hampir lima puluh jurus Ciong Ban-tong melawan, dengan cepat melawan cepat, lambat-laun ia merasa agak payah dan mulai tak tahan lagi.
Sebaliknya Sat Thian-ji jadi semakin kuat, ia senang melihat lawannya sudah kewalahan, serangannya semakin gencar dan ganas, ia mencakar, menghantam, membelah, merobek dan macam-macam gaya serangan dengan hebat.
Namun Ciong Ban-tong dengan tenang melayaninya, menda-dak ia rubah permainan pedangnya, senjatanya menuding ke timur dan kemudian menggores ke barat, tangannya seakan memegang benda seberat ribuan kati, kelihatan payah sekali, tipu serangannya pun lebih lambat daripada tadi, tapi sinar pedangnya ternyata ber-gulung-gulung laksana memagari tubuhnya dengan tembok baja yang tak tertembuskan.
Harus diketahui bahwa Ciong Ban-tong adalah ahli waris Bu-kek-kiam, ilmu pedangnya ini adalah Kiam-hoat kebanggaan Pho Jing-cu yang pernah malang-melintang di kalangan Kangouw, dise-but ‘Kun-goan-bu-kek-kiam’.
Kiam-hoat ini baik sekali untuk menjaga diri maupun menye-rang.
Kalau buat membela diri, maka seluruh tubuh seperti terlin-dung oleh lapisan tembok baja, kalau menyerang, tampaknya seperti setiap tempat musuh dapat dicapai.
Meski Sat Thian-ji punya Niau-eng-jiau terkenal lihai luar biasa, namun tetap tak mampu menem-bus penjagaan yang rapat itu.
Begitulah kedua orang makin bertempur makin sengit, kira-kira lewat lagi setengah jam, keadaan masih tetap sama kuat.
Selagi pertempuran semakin seru, mendadak Ciong Ban-tong merasa pundaknya rada gatal-gatal pegal.
Ia terkejut sekali, insaf itu pasti akibat bekerjanya racun cakaran Sat Thian-ji tadi.
Namun ia tak menjadi gugup, secara tenang ia kerahkan Lwe-kangnya yang kuat sekali, ia kumpulkan tenaga dalamnya untuk me-nahan meluasnya serangan racun, berbareng tipu serangannya dari menjaga diri diubah menjadi balas merangsek, ia ingin lekas meng-gempur mundur Pat-pi-sin-mo, lalu dengan ilmu tabibnya yang ma-hir sekali ia yakin dapat menolong diri sendiri.
Tak tersangka, meski Sat Thian-ji kena didesak mundur se-mentara, namun segera ia balas menerjang maju lagi.
"Ciong Ban-tong, kau sudah terkena racun cakaranku, apa kau mengira bisa hi-dup lebih lama lagi?"
Bentaknya tiba-tiba dengan garang.
Ciong Ban-tong menjadi murka, sedapat mungkin ia tahan meluapnya kegusaran, pedangnya cepat bergerak, ia keluarkan Kiam-hoat yang luar biasa, seketika sinar perak memenuhi angkasa seperti sambaran kilat, seluruh penjuru hanya tertampak sinar pedang dan bayangan orang.
Sat Thian-ji tahu lawannya telah kalap dan hendak mengadu jiwa, maka lekas ia mundur beberapa tindak.
Namun Ciong Ban-tong merangsek maju terus, serangannya seperti menyambar dari kiri, tahu-tahu datangnya dari sebelah ka-nan, ujung senjata berputar dengan cepat, karena sedikit terlambal, kembali pergelangan tangan Sat Thian-ji kena digorcs luka lagi.
Dengan hasil itu, Ciong Ban-tong mendesak terus, Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh yang bersandar di tembok pagar untuk mengum-pulkan tenaga tadi.
mendadak melompat bangun dengan gcrtakan menggeledek hingga pasir kerikil tergetar beterbangan.
Kiranya setelah ia mengaso setengah jam, tenaga sudah pulih, dengan sekali lompat dan gertak tadi, gayanya sungguh menakutkan orang, Ciong Ban-tong sendiri sampai merandek karena kaget.
Dilihatnya Sat Thian-toh telah melepas baju luamya hingga tertampak jelas simbar dadanya yang hitam lebat.
ia melompat ke lengah pelataran, dengan kedua tangannya terus merangkul sebatang pohon besar yang ada di situ sambil membentak.
"Naik!"
Pohon yang cukup besar itu kena dibetot keluar berikut akar nya, menyusul segera ia menyerampang kaki Ciong Ban-tong de-ngan batang pohon itu.
Lekas Ciong Ban-tong melompat ke atas.
kakinya menutul ke batang pohon yang menyambar tiba, pedangnya dengan cepat me-nusuk Tay-lik-sin-mo, namun belum lagi senjatanya mengenai sa-saran, tahu-tahu di belakangnya angin berkesiur lagi.
Sat Thian-ji mengambil kesempatan itu untuk membokong padanya.
Pohon yang dibetot Sat Thian-toh tadi panjang seluruhnya ada tiga meter lebih, kalau ia sabetkan dari tengah pelataran bisa men-capai pojok di sebelah sana.
Walau gerak tubuh Ciong Ban-tong cepat dan gesit, dapat me-lompat tinggi atau berkelit dengan baik, namun tak urung ia men-dapat tekanan yang berat juga, untung batang pohon itu cukup besar hingga tidak begitu bebas untuk digerakkan, kalau tidak, tentu sukar sekali baginya untuk menghadapi.
Dengan demikian maka keadaan berubah lagi, Ciong Ban-tong kini berada di pihak terserang, sedang Sat Thian-ji yang menubruk kian kemari dengan ganas sekali terus mengikuti jejak Ciong Ban-tong dengan kencang, sedetik pun ia tidak mau melepaskan lawan.
Selang tak lama, kembali Ciong Ban-tong harus merasakan se-kali cakaran lawan di lengan, darah yang berwarna hitam mengalir keluar, berbareng pula ia merasa pundaknya makin gatal pegal.
"Ciong Ban-tong, tidak lekas kau letakkan senjata dan menye-rah!"
Seru Sat Thian-ji.
Ciong Ban-tong mengertak gigi, mendadak ia masukkan pedang ke sarungnya.
Waktu Sat Thian-toh menyabetkan batang po-hon, kedua kakinya menginjak pucuk pohon, sedang tubuhnya men-celat ke belakang dan turun kembali di atas undak-undakan rumah.
"Lari kemana!"
Bentak Sat Thian-ji. Secepat kilat ia menubruk maju lagi.
"Kena!"
Tiba-tiba Ciong Ban-tong berpaling ke belakang sam-bil membentak.
Berbareng kedua tangannya mengayun berulang-ulang, enam buah Hui-to di tangan kanannya ditimpukkan, sedang enam pisau terbang lain di tangan kiri diarahkan ke Sat Thian-toh.
Pisau terbangnya itu mengandung racun dan termasuk salah satu kepandaian tunggal Ciong Ban-tong yang dibanggakan selama hidup, kalau tidak, sampai pada saat yang paling berbahaya tidak sembarang ia gunakan.
Karena itu, Sat Thian-ji melompat ke atas dan berkelit di uda-ra, kedua pisau menyambar lewat di bawah kakinya, yang dua me-nerobos melalui bawah bahu kanan-kirinya, sedang yang dua lagi menuju ke mukanya, tetapi sekali kibas dengan lengan bajunya, ia sampuk jatuh kedua Hui-to itu.
Dengan segenap kemahirannya barulah Sat Thian-ji dapat lo-los dari lubang jarum, bukan main terkejutnya hingga ia mandi ke-ringat dingin.
Setelah menekuk tubuh di atas dan menegak lagi, ia melompat balik ke belakang.
Di sebelah lain Sat Thian-toh masih terus memutar pohonnya, empat buah Hui-to menancap semua di batang pohon itu, tapi yang dua seperti bisa menikung saja, setelah menembus kulit batang pohon, tiba-tiba menyambar keluar dari kedua samping.
Sat Thian-toh memegang batang pohon besar itu, gerak-gerik tak leluasa, keruan kedua bahunya kena tertancap pisau terbang itu.
Sekalipun ia bergelar kulit tembaga dan tulang besi, tidak urung me-rasa kesakitan hingga menjerit, ia lempar batang pohon besar yang dipegang tadi ke arah Ciong Ban-tong.
Lekas Ciong Ban-tong mengelak, terdengarlah suara gemuruh yang keras, bumi seakan terguncang, batang pohon itu menyelonong masuk ke dalam rumah, mungkin menumbuk meja dan perabot lain-nya hingga menerbitkan suara gemuruh berantakan.
Di antara suara gemuruh itu, tiba-tiba berkumandang suara je-ritan seorang anak perempuan yang terkaget.
Tidak kepalang kejut Ciong Ban-tong, ia berniat memburu ke dalam rumah, tapi lengan kanan yang kena dicakar, karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga, ditambah terkejut mendadak hingga tenaga aslinya menjadi buyar, kini lengan itu tak kuat diangkat lagi.
Sementara itu Sat Thian-toh yang terkena dua Hui-to menjadi makin kalap, secara paksa ia cabut kedua pisau yang menancap di bahunya itu, lalu dengan sekali melompat maju, ia rangkul Ciong Ban-tong hingga keduanya saling bergumul dan menggelundung ja-tuh ke bawah undak-undakan rumah.
Sebaliknya Sat Thian-ji hanya tertawa terkekeh-kekeh terus melompat masuk ke dalam rumah.
Sesudah berada di dalam, tiba-tiba pandangannya terbeliak, ia lihat seorang dara cilik sedang duduk di lantai, mukanya putih lak-sana batu kemala dan menyenangkan sekali.
"He, Yan-ji, kiranya kau berada di sini,"
Tiba-tiba Sat Thian-ji berseru.
"Para ayah angkat sudah kangen padamu, kau diculik orang jahat, kau tidak ketakutan bukan?"
Akan tetapi Pang Lin hanya membelalak kedua matanya, ia merasa kesal dan tidak paham apa yang dimaksud orang.
Dalam pada itu Ciong Ban-tong juga mendengar kata-kata itu di sebelah luar, ia pun merasa sangat heran.
"Sungguh kasihan! Kau tersiksa sedemikian rupa, belum ada setahun, kau sudah lupa semuanya, sampai aku pun sudah tidak kau kenal lagi!"
Terdengar Sat Thian-ji berkata.
Habis itu, segera ia hen-dak membopong Pang Lin.
Tak terduga, mendadak Pang Lin ayun kedua tangannya yang kecil, kontan dua pisau kecil ditimpukkan.
Sudah tentu Sat Thian-ji tidak pernah menduga bakal terjadi hal seperti itu, sedang jaraknya terlalu dekat untuk bisa berkelit, ma-ka tanpa ampun lagi kedua pisau kecil itu dengan tepat menancap di dadanya, beruntung tenaga Pang Lin tidak seberapa besar, kalau ti-dak, pisau itu pasti akan menancap masuk ke hulu hatinya.
Lekas Sat Thian-ji kumpulkan tenaga dalamnya hingga kedua pisau itu tersendal keluar, sedang lengannya yang panjang terus me-nyambar, ia pegang tubuh Pang Lin terus dinaikkan ke atas pung-gung dan digendong.
Pang Lin berteriak-teriak, ia meronta sekuat tenaga, namun tak dapat berkutik lagi.
Di pihak lain, Ciong Ban-tong sedang bergumul dengan Sat Thian-toh dan saling jotos, Sat Thian-toh bertenaga sebesar kerbau, tetapi soal Lwekang ia kalah dari Ciong Ban-tong.
Semula Sat Thian-toh berada di atas angin, ia lebih unggul, de-ngan menindih di atas tubuh Ciong Ban-tong, ia ayun bogemnya menggebuk, tetapi baru berhasil menghantam dua kali, kekuatan ra-cun Hui-to yang mengenai dirinya tadi sudah menyebar di dalam tu-buh, ia merasakan mulutnya kering dan haus, kepala puyeng, baru saja sempat berseru minta tolong saudaranya, mendadak ia sudah tak tahan lagi, segera juga jatuh pingsan.
Sebenarnya racun yang meresap ke dalam tubuh Ciong Ban-tong pun tidak enteng, cuma berkat Lwekangnya yang tinggi, ia dapat paksakan diri bertahan sampai sekian lama.
Akan tetapi kini ia seperti pelita kehabisan minyak, badan le-mas tak bertenaga.
Dalam pada itu dengan menggendong Pang Lin, Sat Thian-ji melangkah lebar berjalan keluar.
"Celaka aku!"
Demikian Ciong Ban-tong mengeluh dalam hati.
Lekas ia gelundungkan diri sejauh lebih dua tombak.
Ketika Sat Thian-ji melihat muka saudaranya hitam legam, ia tahu tentu kena racun jahat, sedang dalam tubuh sendiri, ia pun me-rasa rada sakit pegal juga, ia menjadi kalap, dengan mata mendelik, selangkah demi selangkah mendekati Ciong Ban-tong.
"Jika kau maju lagi tiga langkah, segera aku pakai pisau bera-cun buat ambil nyawamu!"
Bentak Ciong Ban-tong dengan meng-genggam kencang kedua kepalannya. Dalam keadaan sadar tak sadar Sat Thian-toh mendengar suara tindakan kakaknya, maka ia lantas meronta sebisa mungkin.
"Aku ingin minum, air, air…."
Teriaknya dengan suara serak.
Sat Thian-ji sendiri dadanya sudah terluka, lebih-lebih ia takut pada Hui-to Ciong Ban4ong, oleh sebab itu dengan mengertak gigi, ia kumpulkan tenaga dalamnya buat menahan serangan hawa berbi-sa agar tidak meluas, sesudah itu dengan sekali kempit, Sat Thian-toh dibawa melompat ke atas pagar tembok dan keluar dari taman bunga itu.
Melihat musuh sudah pergi, Ciong Ban-tong menghela napas lega.
Apa yang ia gunakan tadi tidak lebih hanya tipu ‘Khang-sia-khe’ atau gertak sambal, padahal darimana lagi ia mempunyai sim-panan Hui-to?
Umpama ia masih punya senjata rahasia, tenaga pun sudah habis, mana sanggup menyambit lagi?
Kini setelah Siang-mo pergi, ia merasa makin tak tahan, dengan siku menyangga tanah, se-langkah demi selangkah ia merangkak masuk ke rumah, ia tarik se-buah selimut terus digelar di lantai buat memisahkan hawa lembab tanah, kemudian rebah di atasnya.
"Ting Hok!"
Demikian ia memanggil pelayannya dengan suara lemah.
Namun keadaan taman sunyi senyap tiada jawaban, yang ada hanya suara serangga sejenis jangkrik yang ramai saling bersahutan.
Dalam keadaan demikian, ahli pedang dari daerah Kanglam, ahli waris lurus Bu-kek-pay, tak tertahan meneteskan air mata.
"Lin-ji! Lin-ji!"
Serunya dengan suara perlahan, lewat sebentar ia memanggil lagi.
"Khing-hiau, Khing-hiau! Apa kau pun tak dapat pulang pada saat ajalku?"
Ia meronta berusaha hendak membuang sedikit darah sendiri yang berbisa, akan tetapi keinginan ada, tenaga ternyata kurang, se-mentara itu hawa racun telah menerjang naik hingga ia merasa ma-kin puyeng dan hampir jatuh pingsan.
Tiba-tiba sekilas teringat olehnya.
"Aku punya Kung-keng (ki-tab pelajaran pukulan), Kiam-koat (rahasia ilmu pedang), Ping-su (kitab ilmu siasat militer) dan Ih-su (kitab pelajaran ilmu tabib) ma-sih belum kuturunkan kepada Khing-hiau. Tidak, bagaimanapun aku harus bertahan sebisanya sampai ia pulang."
Demikianlah, maka ia lantas mengumpulkan seluruh tenaga yang masih ada, ia gigit pundak sendiri, beberapa kali ia sedot darah berbisa dalam tubuh, karena itu pikirannya menjadi agak jernih.
"O, Khing-hiau! Pulanglah kau! Mengapa kau masih belum pulang!"
Tiba-tiba ia berseru sedih.
Namun taman seluas itu tetap sunyi senyap, yang ada hanya suara mendesirnya hawa udara.
Kembali Ciong Ban-tong menghela napas, ia putus asa.
Tiba-tiba bayangan Lian Khing-hiau terpampang di antara air matanya yang berkaca.
"Ai, betapa nakal tetapi menariknya bocah ini!"
Teringat olehnya cara bagaimana dirinya berusaha dengan su-sah payah tanpa menghiraukan nasihat para sahabat untuk menjerat ‘kuda liar’ dengan tali kendalinya, tujuannya bukan lain ialah hen-dak memupuk seorang besar dan mendidiknya hingga memiliki ke-pandaian ‘Bun-bu-coan-cay’ (serba pandai baik sipil maupun mi-liter), taman yang luas ini juga dibangun atas karyanya, tetapi kini ia sendiri terkena racun jahat, sebaliknya tiada seorang manusia pun yang datang menolong, hal ini sungguh tidak pernah terpikir oleh-nya sejak mula.
Dalam keadaan berduka dan kekosongan jiwa itu, tanpa terasa ia teringat kepada kejadian-kejadian yang telah lalu ….
Ketika itu ia menyamar sebagai tabib perantauan, sampai di rumah keluarga Lian, dilihatnya Lian Khing-hiau memiliki tabiat mengherankan dan*kecerdasan yang lebih daripada orang biasa, ma-ka ia lantas ambil keputusan hendak menerimanya sebagai murid.
Keputusan ini bukan saja karena ia ingin Bu-kek-kiam mendapat ke-turunan atau ahli waris, bahkan ia ingin memupuk seorang pahlawan besar bagi bangsa Han yang kelak dapat memimpin pergerakan un-tuk merobohkan penjajah Boan.
Ayah Lian Khing-hiau, Lian Toan-Iing memang sedang sedih karena putranya yang nakal itu, sudah banyak Kau-su atau guru silat yang ia undang, tapi semuanya dihantam lari oleh putranya itu.
Ciong Ban-tong sendiri telah unjuk sedikit kemahiran dan ber-bicara dengan Lian Toan-ling sepanjang malam.
Lian Toan-ling ter-hitung seorang bijaksana, segera ia terima tawaran orang dan me-nyerahkan putranya kepada Ban-tong, bahkan ia sanggup menuruti segala syarat dan menyediakan ongkos secukupnya.
Malam itu juga Ban-tong lantas membikin dua perjanjian de-ngan Lian Toan-ling.
Pertama, ia ingin Lian Toan-ling mengeluar-kan uang perak sebanyak lima puluh ribu tahil, sedang syarat lain adalah harus menunggu sampai Lian Khing-hiau tamat belajar baru mereka ayah dan anak boleh berjumpa kembali.
Terhadap syarat pertama itu, seketika Lian Toan-ling meneri-ma dengan baik, bahkan segera ia menulis lengkap satu buku bon pengambilan uang sebanyak lima puluh ribu tahil untuk diperguna-kan seperlunya.
Akan tetapi terhadap syarat kedua ia menjadi ragu-ragu "Kalau begitu, kira-kira perlu berapa tahun lamanya?"
Demiki-an ia bertanya.
Ban-tong pikir ini adalah satu titik terpenting, tidak peduli ba-gaimana orang tua Khing-hiau sayang kepada putranya.
yang pen-ting aku harus tetap mempertahankan pendirianku.
Begitulah, maka aku lantas menjawab.
"Mungkin sepuluh tahun atau mungkin hanya delapan tahun, kalau kau tidak tega berpisah, maka terpaksa aku tak sanggup mendidiknya hingga jadi seorang yang berguna!" ■ Karena ketegasanku itu, setelah Lian Toan-ling berpikir seje-nak, akhimya ia menerima juga. Berpikir sampai di sini, wajah Ciong Ban-tong mengunjuk ra-sa puas, demi bocah ini, entah sudah berapa banyak dirinya mem-buang tenaga dan pikiran. Setelah menerima uang yang disediakan, segera ia membeli sebidang tanah kosong di belakang kediaman keluarga Lian, ia gu-nakan banyak tukang batu dan mendirikan taman yang luas ini, di dalamnya penuh dengan tumbuhan, di tengah taman dibangun pula sebuah paviliun yang indah, taman itu seluruhnya memakan waktu hampir setahun baru jadi, sekeliling taman dipagari tembok yang tinggi tebal, hanya sebelah barat-daya saja dibuat sebuah lubang. Taman seluas itu, melulu dirinya bersama pelayan rua dari ke-luarga Lian, Ting Hok dan Lian Khin-hiau bertiga yang tinggal di situ. Masih teringat olehnya dengan jelas, hari itu adalah Ciagwe caplak (tanggal 16 bulan 1), yaitu hari Lian Khing-hiau masuk seko-lah secara resmi. Lian Toan-ling mengadakan perjamuan dan meng-undang banyak sanak famili yang datang menemani aku makan mi-num. Sehabis perjamuan, Lian Toan-ling sendiri mengantar putra-nya masuk sekolah, ia memberi hormat tiga kali padaku dan mem-beri pesan agar aku mendidik baik-baik putranya itu. Sesudah aku mengantar dia keluar dari lubang pagar tembok, segera aku perintahkan tukang batu menambal rapat lubang tembok itu, akhirnya hanya tinggal satu lubang kecil saja peranti mengirim bahan makanan. Sejak itulah, kami bertiga berpisah dengan ‘dunia luar " . Sepanjang hari aku hanya membaca dalam kamar dan berlatih Lwekang serta Kiam-hoat. Terhadap Lian Khing-hiau, aku tidak pe-duli, juga tidak pernah menegur padanya. Bocah ini ternyata senang juga, secara bebas ia bermain se-maunya di dalam taman bunga, selama itu juga tak pernah ia meng-injak ke kamar baca, juga tidak pernah bercakap sepatah kata pun denganku. Di waktu suka, ia mencopot pakaiannya terus terjun ke dalam empang buat berenang. Lain waktu ia memanjat pohon buat me-nangkap burung. Di musim semi ia suka main layangan, kalau mu-sim panas mengail ikan, musim gugur menangkap jangkrik dan bila musim dingin ia bermain bola salju. Kadang-kadang kalau ia sudah bosan semuanya, ia lantas me-ngerak tanah dan mencabuti tumbuhan. Genap setahun ia bermain sesukanya, taman yang indah itu telah ia obrak-abrik hingga tak ke-ruan, tembok pagar rusak, bunga dan tetumbuhan kering, bahkan ba-tu pada pojok pagar tembok pun ia gali dan dibikin remuk, hanya kamar baca saja, selangkah pun tetap belum pernah ia menginjak-nya.
"Kapankah baru ia pulang?"
Demikian Ciong Ban-tong teng-gelam dalam lamunannya.
Sekonyong-konyong ia seperti melihat Lian Khing-hiau mengangkat sebatang pentung terus mengemplang-nya dengan ganas, hati sanubarinya terguncang mendadak.
"Ini hanya khayal? Tapi juga bukan khayal!"
Peristiwa itu ter-jadi setahun setelah mereka tinggal di dalam taman bunga itu.
Mungkin waktu itu Lian Khing-hiau sudah terlalu bosan dan pelayan tua Ting Hok pun tidak bersemangat bermain dengan dia lagi, tampaknya meskipun ia telah mengobrak-abrik semuanya, sela-ma itupun tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun, namun akhir-nya ia datang juga mencariku.
Ia datang ke kamar baca terus berkata padaku.
"Dari sekian banyak Siansing (guru) yang pernah di sini, kaulah yang paling baik, selamanya tak pernah kau mengurus diriku. Tetapi kini aku sudah bosan, maka hendak keluar taman ini, lekas kau bukakan sebuah pintu."
"Taman ini memang tiada pintu,"
Sahutku tak acuh.
"Jika kau ingin keluar, boleh kau melompat keluar dari atas pagar tembok!"
Aku sengaja tonjolkan pagar tembok, karena dinding pagar itu tingginya ada tiga tombak, kalau bukan orang yang memiliki Gin-kang yang baik tak mungkin sanggup melompat keluar.
Karena aku tidak mau membukakan pintu, ia tertawa dingin, mendadak dengan sebatang pentung ia kemplangkan ke mukaku, ta pi sekali tanganku menangkis, segera juga pentungnya patah menja-di dua, berbareng aku lantas memegang tangannya, tak tertahan lagi ia lantas menjerit kesakitan, aku bentak dia agar lekas berlutut, sa-king sakitnya terpaksa ia menurut, tetapi begitu aku lepas tangan, seketika ia berlari keluar kamar.
Sejak itu selama dua tiga bulan, selangkah pun ia tak berani menginjak lagi ke kamar baca.
Keadaan itu lewat dengan cepat, dari musim panas telah tiba pula musim rontok, keadaan musim yang sunyi sepi membikin bo-cah itu merasa tiada sesuatu yang baru lagi baginya di dalam taman, akhirnya secara diam-diam ia merayap masuk lagi ke kamarku.
Waktu itu aku sedang asyik membaca kitab ‘Sun-cu-peng-hoat’ (ilmu siasat militer karangan Sun-cu di zaman Liat-kok), se-cara diam-diam ia berdiri di samping dan melihat aku membaca hingga lama sekali.
"Taman bunga yang sekian besarnya, akhirnya aku pun mera-sa bosan, tapi bukumu sekecil ini, dari pagi kau membacanya sam-pai malam dan dari malam hingga pagi, apanya yang menarik bagi-mu?"
Demikian tiba-tiba ia bersuara.
"Hahaha! Anak kecil tahu apa?"
Dengan gelak tertawa aku menggoda padanya.
"Di dalam buku ini terdapat dunia yang beribu kali lebih luas daripada taman bunga ini, selama hidupmu pun tak dapat selesai menjelajahnya."
Mendengar perkataanku itu, rupanya rada tertarik, ia miring-kan kepalanya dan berkata.
"Aku tidak percaya. Coba kau jelaskan, apanya yang begitu menarik?"
Aku menggeleng kepala, habis itu baru aku berkata lagi.
"Kau menyembah dan mengangkat guru padaku saja belum, lantas kau menyuruh aku menjelaskan sesuatu padamu, hm, tiada aturan sema-cam ini!"
Tak tahunya mendadak kedua alisnya menegak, berbareng pu-la ia menggebrak meja.
"Angkat guru apa segala? Aku tak sudi, juga tak kepingin!"
Jawabnya bandel.
Ketika aku melototkan mata, takut aku hajar lagi, seketika ju-ga ia kabur pergi.
Begitulah kembali lewat belasan hari, mungkin ia sudah tak ta-han, lalu datang pula padaku di kamar baca.
"Sekali tangkis dengan tanganmu, segera pentung kayu kau bi-kin patah, apakah kepandaian itu juga dipelajari dari dalam buku?"
Tanyanya heran. Aku menjawab.
"Buku pun banyak macamnya, mematahkan pentung kayu hanya soal remeh, yang paling berguna adalah buku yang bisa mengajarkan padamu kepandaian memerintah suatu nege-ri dan mengamankan negara!"
Mendengar penuturanku itu, ia meleletkan lidah, tetapi segera menggeleng kepala lagi.
"Aku tak percaya, setelah belajar baca pun tak akan mampu keluar dari taman ini,"
Ujarnya. Aku tertawa atas perkataannya itu.
"Mengapa tidak bisa,"
Sa-hutku.
"setelah kepandaian diperoleh, kapan saja kau ingin keluar, setiap saat juga kau bisa keluar."
Habis itu aku lantas menarik tangannya dan mengajaknya ke tengah taman, dari situ dengan perlahan aku melompat naik ke atas dinding pagar, kemudian aku melompat turun pula tanpa susah.
"Coba lihat,"
Kataku kemudian.
"bukankah setiap saat aku da-pat masuk keluar seperti tadi? Setelah sekolah dan belajar baik-baik kepandaian, jangankan hanya pagar tembok ini, sekalipun ratusan ri-bu bala tentara juga tak akan sanggup melawanmu."
Rupanya usahaku berhasil, sebab segera juga ia lantas berlutut menjura padaku.
"Siangsing, baiklah aku menyerah, harap Siansing mengajar-kan semua kepandaian itu padaku!"
Katanya.
Girang sekali rasa hatiku karena usahaku tidak sia-sia, untuk pertama kalinya aku tuturkan padanya cerita roman ‘Cui Hou’, ter-tarik sekali dia hingga merasa sangat gembira, menyusul itu aku bercerita pula ‘Sam Kok’, ‘Gak-thoan’ dan banyak cerita pahlawan dan sejarah kaum patriot zaman dahulu, sesudah itu aku bacakan pu-la ‘Peng-si’ (kitab ilmu siasat militer), ‘Su-ki’ (kitab himpunan se-jarah), di waktu senggang lantas aku mengajarkan padanya ilmu si-lat dan cara menggunakan Am-gi (senjata rahasia).
Bocah ini me-mang pintar sekali, bila membaca, sekali melihat saja ia sudah sang gup mengapalkan, kalau berlatih silat, satu kali pun sudah paham.
Begitulah, tatkala musim rontok tahun ketiga, waktu aku harus berangkat memenuhi janji pertemuan dengan Ciu Jing, aku menyu-rah dia belajar sendiri dan diam-diam aku berangkat melintasi pagar tembok taman itu ke Luciu.
Tak terduga di sana bentrok dengan ka-um Hiat-ti-cu, akibatnya Ciu-tayhiap tewas, dengan membawa Pang Lin aku lantas kembali ke Tan-liu sini.
Tatkala itu Pang Lin bam berusia setahun, perlahan-lahan ia mulai bisa mengoceh dan belajar berjalan, kalau senggang Lian Khing-hiau suka mengajak bermain padanya, mereka begifu rukun hingga melebihi kakak dan adik sekandung.
Aku mendustai Khing-hian bahwa Pang Lin adalah adik sepupunya yang agak jauh, ia per-caya penuh.
Nyata ia tidak tahu bahwa pada benakku sedang timbul semacam pikiran yang aneh ….
Melamun sampai di sini, wajah Ciong Ban-tong mengunjuk senyuman, ia merasa girang dan bersemangat hingga rasa sakit lu-kanya perlahan-lahan terlupa.
Lalu ia berpikir lagi.
"Pang Lin pun termasuk anak yang pintar luar biasa, soal berlatih silat, ia malah sudah terpupuk kuat dasarnya semenjak berumur setahun, jauh lebih kuat daripada Lian Khing-hiau. Kedua bocah ini sungguh merupakan satu jodoh yang sudah ditakdirkan, kelak bila sudah sama-sama dewasa dan terikat menjadi suami istri, di hari tuaku rasanya pun boleh merasa lega dan gem-bira. Tapi kini harus mengalami malapetaka lagi, Lin-ji telah direbut oleh iblis itu. Sedang aku, percuma saja mahir ilmu pertabiban. De-ngan membangun taman bunga seperti ini, orang dari keluarga Lian tiada yang sanggup masuk kemari, siapa lagi yang bisa mengobati dan menyembuhkan lukaku ini. Ai Khing-hiau! Dimanakah kau, mengapa masih belum pulang?"
Melalui pintu kamar yang sudah jebol dirusak Tay-lik-sin-mo tadi, Ciong Ban-tong coba memandang keluar, ia lihat pagar tembok begitu tinggi, pohon Gui yang ia tanam delapan tahun yang lalu bah-kan belum setinggi pagar tembok itu, maka pikirnya pula.
"Seum-pama Khing-hiau pulang, ia pun belum sanggup melompat pagar tembok ini."
"Ai! Urusan Siau-lim-si entah bagaimana jadinya? Khing-hiau biasanya sangat cerdik, bila tidak nampak aku, seharusnya ia dapat minta Hwesio Siau-lim-si mengantarnya pulang."
Teringat pada Siau-lim-si, hatinya merasa agak lega lagi. Terkenang dalam hatinya.
"Khing-hiau si bocah ini sungguh beruntung juga, Siau-lim-sam-lo (tiga tetua Siau-lim-si, Pun-khong, Pun-bu dan Bu-cu) semuanya begitu sayang padanya laksana biji mestika mereka. Waktu itu adalah tiga tahun setelah ia mulai belajar silat, aku membawanya ke Siau-lim-si. Waktu berangkat, Pang Lin kuserahkan kepada Ting Hok. Oya, Ting Hok pun menghilang, ke-manakah perginya dia? Pertarungan yang mengguncangkan bumi tadi apa tidak membikin dia mendusin? Sampai pada tahun yang la-lu, kadang kala aku masih suka mengantar Khing-hiau keluar taman dan membiarkan dia pergi bermain sendiri. Bulan tiga tahun ini, pa-da suatu hari setelah ia pergi sendiri dan setengah bulan kemudian ia pulang padaku, aneh sekali apa yang dia ucapkan itu? … Eh, me-ngapa aku berpikir sampai ke sana?"
Ciong Ban-tong coba tenangkan diri, tapi tiba-tiba ia jadi rada gemetar, teringat olehnya apa yang dikatakan sekembalinya Khing-hiau waktu itu.
"Suhu,"
Begitulah kata bocah itu.
"Kam Loh (nama anak pin-tar pada zaman Liat-kok) dalam usia dua belas sudah menjadi per-dana menteri, kini aku sudah berumur empatbelas, dua tahun lebih tua dari Kam Loh, aku sih tidak ingin menjadi Caysiang (perdana menteri) segala, paling baik jika bisa menjabat Tayciangkun (pang-lima besar), dengan memimpin seluruh angkatan perang, Caysiang juga akan keder terhadap Tayciangkun. Suhu, menurut pendapatmu, apakah aku dapat menjadi Tayciangkun?"
Aku menjawab.
"Sudah tentu dapat, tetapi itu memerlukan waktu yang lama dan panjang sekali, Sebenarnya aku ingin mengatakan padanya bahwa asal mau mempelajari baik-baik ilmu siasat militer dan berlatih ilmu silat, kelak dapat menghimpun para pahlawan dan patriot untuk sama-sa-ma bergerak mengusir penjajah tanah air dan membangun kembali negeri kita yang jaya, dengan begitu, tidak hanya Tayciangkun saja, bahkan menjadi kepala negara pun mungkin bisa.
Akan tetapi meng-ingat usianya masih terlalu muda, aku khawatir ia nanti sembarang-an buka mulul di luaran, maka aku urung berkata demikian padanya.
Tidak terduga, ia menjadi salah mengerti akan maksudku itu.
Katanya.
"Suhu berkata akan makan waktu yang lama sekali, apa Suhu maksudkan aku harus ikut ujian ‘Bu-ki’, (semacam ujian un-tuk pangkat perwira di zaman feodal) agar bisa menjadi pemimpin pasukan, sesudah itubaru bisa menjadi Tayciangkun?"
Aku bilang bukan begitu maksudku, namun ia lantas berkata pula.
"Kam Loh berusia dua belas sudah menjadi Caysiang, sebab-nya karena Hongte (kaisar) mengetahui kepintarannya yang luar biasa dan sanggup menjabat tugasnya itu, maka ia lantas diangkat menjadi pembesar tinggi. Kini seumpama ada seorang Hongte atau boleh juga Hongcu (putra mahkota), dia mengetahui kepandaianku, mungkin tidak perlu melalui seleksi dan ujian, aku akan diangkat menjadi Tayciangkun!"
Mendengar penuturan yang luar biasa itu, aku terkejut ber-campur gusar.
Selama delapan tahun ini, kalau tidak berlatih di da-lam taman, tentu ia berada di Siau-lim-si, mengapa bisa memper-oleh pengetahuan semacam itu?
Dan mengapa pula timbul jalan pi-kiran seperti yang dikatakan tadi?
Karena itu aku memberi hajaran dengan bengis, sampai akhirnya ia berlutut dan minta ampun.
Ai, aku pun agak terlalu keras kepadanya, ia masih anak-anak, apa yang dia ketahui?
Melamun sampai di sini, racun pada luka Ciong Ban-tong su-dah bekerja mendekati janrung.
Ia berusaha menguatkan diri, me-ngumpulkan tenaga dalam dan memaksa bertahan sebisanya, sedang mulutnya terasa begitu haus, dalam keadaan setengph sadar, tiba-tiba ia mendengar di luar ada suara jeritan orang, menyusul terde-ngar ada suara seruan orang memanggil.
"Suhu, aku terluka, mengapa kau tancapkan pisau beracun di sini!"
Demikian seruan itu yang bukan lain ialah suara Lian Khing-hiau.
Pada detik pengabisan, tiba-tiba Ciong Ban-tong mendengar suara Lian Khing-hiau, sungguh seperti orang yang mendapat embun di tengah gurun pasir yang luas, semangat terbangkit seketika.
"Khing-hiau, lekas kau kemari!"
Serunya memanggil dengan air mata bercucuran, di antara sinar air matanya yang berkaca, betul juga ia lihat dengan sempoyongan Lian Khing-hiau sedang berjalan masuk.
Saking terharunya, tak tertahan Ciong Ban-tong komak-kamik berkata pada diri sendiri.
"Oh Tuhan, syukurlah bocah ini betul-betul telah kembali!"
Sebenarnya Ciong Ban-tong sangat pintar dan cerdik, tapi da-lam keadaan sadar tak sadar karena lukanya dan saking gembiranya, sampai ia lupa mengapa Lian Khing-hiau bisa melompat lewat pa-gar tembok yang tingginya lebih dari tiga tombak itu?
Begitulah, setelah Lian Khing-hiau berlari masuk, segera juga ia merangkul gurunya.
"O, Suhu, kakiku terasa sakit lagi pegal, aku tersandung pisau beracunmu!"
Tuturnya dengan menangis. Sekuat tenaga Ciong Ban-tong bertahan sebisanya, dengan ta-ngannya ia mengelus rambut bocah itu.
"Jangan khawatir, pergilah kau ke dalam kamar dan ambil kantong obatku ke sini!"
Dengan pe-nuh kasih sayang Ciong Ban-tong menghiburnya. Lian Khing-hiau menyahut sekali, lalu mengamati Suhunya.
"Eh, Suhu! Mengapakah kau?"
Tanyanya kemudian.
"Kamar ini te-lah dirusak orang hingga kalang-kabut begini, kau sendiri pun tere-bah di lantai, apakah yang telah terjadi, tidak berbahayakah keada-anmu?"
Ciong Ban-tong tidak cukup mempunyai tenaga untuk bicara padanya secara terang, hanya menuding ke kamar, dengan sinar ma-tanya ia mendesak agar bocah itu lekas ke sana.
Akhirnya pergi juga Khing-hiau ke kamar, tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar Lian Khing-hiau berseru kaget di dalam.
"He, dimanakah Lin-moay (adik Lin)!"
Kembali Ciong Ban-tong merasa lukanya bertambah parah, sementara itu terlihat Lian Khing-hiau berjalan keluar dengan mem-bawa kantongan obat.
Ciong Ban-tong memberi tanda dengan ang-gukan kepala, maka mendekamlah Lian Khing-hiau di sampingnya.
"Di dalam kantong obat ada botol putih kecil, di dalam botol terdapat dua macam obat pil, yang semacam berwarna merah jam-bon dan yang lain hijau muda, yang jambon diminum dengan air dan yang hijau dikunyah untuk kemudian dioles di tempat luka, ini adalah obat untuk memunahkan racun pisau berbisa itu,"
Dengan suara lemah Ciong Ban-tong mengajarkan cara memakai obat, habis berkata, napasnya tersengal-sengal.
Kemudian ia saksikan Lian Khing-hiau meminum dan meng-oles obat menurut apa yang ia ajarkan tadi, kemudian baru ia ber-kata pula dengan suara serak.
"Lekas dengan pisau kecil kau bedah satu luka sekira setengah dim di pundak kiriku dan cepat pijat keluar darah berbisa di dalamnya, lalu keluarkan lagi kotak berwarna emas dalam kantong obat."
Kembali Lian Khing-hiau mengiakan, tapi ternyata tidak se-gera ia lakukan perintah gurunya itu, sebaliknya matanya melirik ke timur dan ke barat.
Dalam pada itu, mendadak di luar terlihat berkelebatnya ba-yangan orang, menyusul seorang Kongcu muda beserta seorang le-laki setengah umur tegap kuat yang berdandan bangsa Hwe tampak masuk ke dalam.
Terkejut sekali Ciong Ban-tong karena Kongcu muda ini di-kenalnya sebagai murid murtad Siau-linvsi, Ong Cun-it adanya.
Da-rimana ia mendapat tahu tempat tinggalftu dan sekonyong-konyong datang kemari?
Demikian Ciong Ban-tong bertanya dalam hati.
"Ciong-tayhiap, selamat bertemu, setamat bertemu!"
Terdengar Ong Cun-it menyapa dengan tertawa.
"Untuk apa kau kemari?"
Bentak Cioiig Ban-tong dengan sua-ra berat.
"Aku ada janji pertemuan kecil dengan Lingtoh (muiid tuan),"
Sahut Ong Cun-it.
Kemudian Lian Khing-hiau dengan tertawa girang melompat maju ke sana dan menyerahkan botol obat putift tadi kepada orang Hwe itu.
Menampak perbuatan itu, luar biasa terperanjatnya Ciong Ban-tong.
"Apa yang kau lakukan?"
Ia membentak. Akan tetapi gertakannya itu ternyata diganda tertawa saja oleh orang Hwe itu.
"Ciong-tayhiap,"
Katanya dengan tertawa.
"lukamu sangat berat, sekali-kali hendaklah kau jangan gusar. Aku adalah Congkoan (pemimpin besar) Hiat-ti-cu di Pakkhia (Peking), kini se-ngaja datang ke sini buat menyambangimu!"
Saking gusarnya Ciong Ban-tong hanya dapat menjengek saja, habis itu ia jatuh pingsan. Dengan leluasa Haptoh menyimpan baik-baik botol obat itu.
"Sin-mo-siang-lo mungkin sudah tak sabar menunggu, biarlah aku lekas pergi menolong mereka dengan obat ini,"
Ujarnya dengan ter-tawa. Sesudah itu ia acungkan jari jempolnya pada Lian Khing-hiau sambil memuji.
"Engkoh cilik, kau sungguh pintar sekali! Aku yang sudah kawakan mengaku kalah!"
Selang tak lama, perlahan Ciong Ban-tong siuman, dilihatnya Lian Khing-hiau sedang menyembur mukanya dengan air dingin.
Ciong Ban-tong merasa dirinya seperti berada dalam mimpi buruk, ia coba menggigit lidah, namun segera terasa sakit yang me-resap, barulah ia percaya dirinya bukan sedang mimpi.
Melihat gurunya sudah sadar, dengan setengah berlutut Lian Khing-hiau mulai menutur.
"Suhu, Kongcu ini adalah Si-hongcu da-ri kerajaan, aku dan dia sudah saling angkat saudara!"
Sungguh tidak kepalang gusar Ciong Ban-tong mendengar ke-terangan itu.
"Suhu,"
Dengan tertawa Lian Khing-hiau menyambung.
"Si-hongcu minta engkau juga datang ke Pakkhia sana. Hidup di Pak-khia senang sekali, makan, plesir, semuanya ada!"
Saking gusarnya, Ciong Ban-tong tak mampu berkata-kata la-gi, hanya dalam hati ia mencaci maki.
Kiranya yang memalsukan surat wasiat tinggalan mendiang Pun-khong di Siau-lim-si untuk menolong Si-hongcu In Ceng, se-muanya adalah perbuatan Lian Khing-hiau seorang.
Kira-kira tiga tahun yang lalu, ketika In Ceng masih berada di Siau-lim-si, ia berkenalan dengan Lian Khing-hiau.
Terhadap bocah ini, ia berkesan dalam sekali dan yakin bocah ini pasti bukan orang biasa, maka secara diam-diam ia bersahabat dengannya dan meng-anggapnya seperti orang dewasa.
Permulaan tahun ini ketika Lian Khing-hiau pergi ke Ko-san sendirian, di tengah jalan ia bersua pula dengan In Ceng.
Putra pa-ngeran ini memperkenalkan dia kepada Thian-yap Sanjin, Liau-in Hwesio dan Iain-lain Bu-lim-cianpwe (kaum angkatan tua dari dunia persilatan).
Terhadap kecerdasan bocah ini, para tokoh itu sangat tertarik dan terheran-heran.
Sebaliknya Lian Khing-hiau melihat Liau-in dan kawan-kawan punya ilmu silat jauh di atas gurunya, tentu saja ia pun merasa kagum sekali, lebih-lebih terhadap In Ceng yang memi-liki wibawa sebagai pemimpin negara, dengan cita-cita tinggi dan ambisinya yang besar, semuanya cocok dengan jiwanya.
Sampai akhirnya, agar bisa lebih menarik bagi bocah ini, In Ceng bahkan membeberkan asal-usul dirinya dan mengangkat sau-dara dengan Lian Khing-hiau.
Oleh sebab itu, sesudah Lian Khing-hiau pulang, ia coba memancing perkataan Ciong Ban-tong seperti yang telah diuraikan di depan tadi.
Sebulan yang lalu, waktu In Ceng harus menghadap ke Siau-lim-si buat disidang melawan Pun-bu Taysu yang memergoki dia melakukan kejahatan Jay-hoa, selagi ia memikirkan satu tipu yang paling sempurna untuk memenangkan perkara itu, mendadak ia ter-ingat pada Lian Kheng-hiau yang meski baru berusia tidak lebih em-pat belas tahun, namun sudah sangat cerdas dan banyak tipu akal-nya,.apalagi bocah itu biasanya sangat disayang oleh Siau-lim-sam-lo, maka segera Thian-yap Sanjin dikirim mencari Lian Khing-hiau.
Di dalam suatu kamar rahasia, bocah yang kecerdasannya seperti setan itu berhasil meniru gaya rulisan Pun-khong, lalu memalsukan surat wasiat, sampai Bu-cu Siansu yang saleh dan banyak pengalam-an juga kena diingusi.
Kembali tadi, ketika In Ceng melihat Ciong Ban-tong sudah mendelik dan otot-otot merah menonjol di jidatnya, segera dengan kepandaian mengurut dan memijat ajaran Siau-lim-si, ia pijat bebe-rapa kali bagian rubuh Ciong Ban-tong, lalu dengan tersenyum ia berkata padanya.
"Ciong-siansing, buat apa kau marah? Lingtoh me-miliki bakat luar biasa yang sukar dicari bandingan, Siansing sendiri pun tergolong orang kosen yang jarang dijumpai pada zaman ini, bakat baik dan kepandaian tinggi, tentu sangat diperlukan daripada terpendam di tempat tidak semestinya, tidakkah lebih baik ikut me-nyumbang tenaga untuk kerajaan!"
Ciong Ban-tong mengatur napas, ia coba tenangkan diri dan tak menjawab, sebaliknya ia melambaikan tangan pada Lian Khing-hiau.
"Khing-hiau, mari, ke sini kau!"
Ia memanggil. Karena biasanya sangat disayang oleh gurunya, maka dengan sikap aleman dan cengar-cengir Khing-hiau berkata pula.
"Suhu, te-rimalah ajakan Hongcu-koko (kakak pangeran) tadi. Lukamu sudah terlalu berat, kalau engkau mau terima, nanti aku akan mengobati lukamu itu!"
Karena ucapan ini, makin memuncak amarah Ciong Ban-tong, sungguh sama sekali tidak diduganya bahwa jiwa Lian Khing-hiau ternyata begitu rendah, begitu kurang ajar hingga berani mendesak dengan mengancam jiwanya.
Dengan latihan yang sudah berpuluh tahun, sudah tentu tidak sembarangan kepandaian Ciong Ban-tong, walau kini berada dalam keadaan yang berbahaya bagi jiwanya, namun ia masih memiliki pukulan mematikan, dengan napas yang pengabisan ia kumpulkan semangat, ia menunggu Lian Khing-hiau sudah dekat, secepat kilat ia mengulur tangan dan memegang urat nadi tangan Lian Khing-hiau sambil membentak.
"Binatang, jadi kau hendak menjual guru-mu? Biar kubunuh kau lebih dulu!"
Gerak tipunya ini adalah serangan mematikan dari Kim-na-jiu golongan Thay-kek-pay, sekali kena dipegang sedemikian rupa, ma-ka Lian Khing-hiau seketika merasa seluruh badan linu lemas dan tak bisa berkutik lagi.
Kejadian itu terlalu cepat dan di luar dugaan In Ceng serta Haptoh, mereka ingin menolong tapi sudah terlambat.
Mendadak Ciong Ban-tong teringat oleh apa yang pernah Ciu Jing katakan padanya.
"Murid yang kau peroleh itu kelak bila me-ngetahui jiwanya tidak bersih, maka cacatkan saja, sekali-kali ja-ngan merasa sayang!"
Karena pikiran itu, Ciong Ban-tong menghela napas, nyata da-lam hal ini Ciu Jing lebih mengerti daripada dirinya, maka jarinya segera ia pencet lebih kencang, makin lama makin kuat!
Keruan saja muka Lian Khing-hiau menjadi pucat.
"O, Suhu! sudilah kau mengingat hubungan guru dan murid selama tujuh tahun ini, ampunilah jiwaku!"
Ia memohon dengan meratap.
Terguncang juga hati Ciong Ban-tong, sekilas adegan kejadian selama tujuh tahun ini terbayang, orang yang ia didik dengan susah payah selama ini, murid yang ia cintai melebihi anak kandung sen-diri, apakah sekarang harus termusnah di tangannya sendiri pula?
"O, Suhu!"
Terdengar Lian Khing-hiau meratap lagi.
"Bu-kek-pay turun-temurun sudah bersejarah sekian lamanya, kini harus ter-putus sampai diriku saja. O, Suhu! apakah kau tega?"
Kembali Ciong Ban-tong terguncang hatinya, semua ilmu silat dari Bu-kek-pay memang sudah ia turunkan seluruhnya kepada Lian Khing-hiau, kini kalau bocah ini dibikin cacat, maka tiada orang lagi yang menjadi ahli-waris cabang persilatannya.
"O, Suhu! selanjutnya pasti aku akan menurut padamu, kalau malam tidur menurut waktunya dan kalau pagi bangun dengan sedi-ninya,"
Terdengar Lian Khing-hiau berseru pula.
Kiranya Lian Khing-hiau yang bandel dan nakal semenjak ke-cil itu, sesudah ditaklukkan oleh Ciong Ban-tong, sifat lainnya su-dah berubah, hanya tabiatnya yang bandel masih belum lenyap sama sekali, seringkali sampai jauh malam ia tidak mau pergi tidur dan kalau pagi malas bangun.
Terhadap muridnya ini Ciong Ban-tong bersikap seperti ayah yang mengajar anak, saban kali ia menasihat-kan padanya agar tidur dan bangun pada waktu tertentu.
Kini, demi mendengar ratapan Khing-hiau tadi, tak tertahan air matanya bercucuran, nyata perkataan Lian Khing-hiau sangat meng-guncang rasa kasih sayangnya yang dahulu, tak dihiraukan lagi pe-san Ciu Jing, jari tangannya yang mencengkeram menjadi kendur.
"Khing-hiau, baik-baikkah kau!"
Serunya mendadak, menyu-sul kemudian darah segar tersembur keluar dari mulutnya, kaki dan tanggannya pun berkelojotan, sesudah itu lantas diam dan tak berge-rak lagi.
Haptoh maju dan memegang nadinya, namun denyut jantung Ciong Ban-tong sudah berhenti.
"Tua bangka ini sudah mati!"
Kata-nya sambil tertawa dan mengangkat pundak. Dalam keadaan demikian, betapapun kejam Lian Khing-hiau, tak tertahan juga ia meneteskan air mata.
"Urusan sudah beres, marilah kita berangkat!"
Ujar In Ceng kemudian.
Khing-hiau menyeka air matanya, tapi segera ia teringat pada kitab-kitab pelajaran tinggalan gurunya, baik mengenai ilmu silat, il-mu tabib ma-tpun ilmu siasat militer masih belum ia ambil, segera ia berkata kepada In Ceng.
"Hongcu-koko, harap tunggu sebentar!"
Dan ketika ia hendak mulai mencari dan menggeledah untuk mendapatkan kitab-kitab itu, tiba-tiba terdengar ada suara aneh yang menggema di luar disusul dengan sinar kuning yang menyorot te-rang menjulang ke angkasa.
"Celaka, keadaan genting, lekas berangkat!"
Begitu seru Hap-toh dalam bahasa rahasia mereka.
Habis itu, dengan menarik Lian Khing-hiau segera mereka berlari keluar ….
Kembali pada diri le Lan-cu, sesudah peristiwa Siau-lim-si itu dan diketahuinya mendadak Teng Hiau-lan telah menghilang, begitu pula Ciong Ban-tong dan Lian Khing-hiau, maka lekas ia pamit pa-da Bu-cu Siansu dan secara tergesa-gesa bersama Lu Si-nio dan Pek Thay-koan berangkat menuju ke Tan-liu.
Dengan kecepatan berjalan mereka bertiga, maka berangkatlah pada pagi harinya, kecuali berhenti mengaso sebentar dan menang-sal perut, maka sepanjang jalan mereka berjalan dengan cepat lak-sana terbang, pada tengah malam hari itu juga mereka sudah masuk di daerah kabupaten Tan-liu.
"Rumah tinggal Lian Khing-hiau entah terletak di sebelah ma-na,"
Kata le Lan-cu dengan ragu-ragu.
"kalau bisa ketemukan kedi-aman keluarga Lian, dengan sendirinya dapat pula bertemu dengan aku punya Sutit (Ciong Ban-tong), aku kira Hiau-lan pergi mencari-nya."
"Keluarga Lian adalah hartawan terkaya di Holam sini, tanya setiap orang pasti tahu,"
Sahut Lu Si-nio.
Akan tetapi waktu itu sudah tengah malam, orang jalan sudah sedikit sekali, maka sukar mencari keterangan.
Tengah mereka kehabisan akal, tiba-tiba terlihat pada hutan di kejauhan lapat-lapat ada berkelipnya sinar api.
"Aneh, waktu begini ada orang berkumpul di dalam hutan, sedang kerja apa?"
Kata le Lan-cu.
Ketika ia memburu maju, tiba-tiba angin meniup santar dari dalam hutan itu, le Lan-cu menyedot napas memapak angin, ter-nyata di antara tiupan angin itu mengandung bau obat-obatan.
Ie Lan-cu berilmu silat tinggi, maka nyalinya pun besar, ia menggapai Lu Si-nio dan Pek Thay-koan berdua, sesudah itu tanpa menghiraukan peraturan Kangouw yang menyatakan ‘Hong-lim-bok-jip’ atau ketemu hutan jangan sembarang masuk, dengan sekali melompat, ia melayang masuk ke dalam semak-semak hutan itu.
Hutan itu ternyata rindang sekali dan keadaan di dalamnya ge-lap gulita, ketika Ie Lan-cu hendak memanjat ke atas pohon untuk menyelidiki darimana datangnya sinar api tadi, sekonyong-konyong terdengar di sampingnya ada orang tertawa dingin.
"Lokikpoh, berani juga kau mengejar dari Siau-lim-si sampai ke sini,"
Begitu kata suara itu.
"Nah, kini biar kami pilihkan tempat yang punya ‘Hong-sui’ bagus untuk tempat kuburmu, agar kau tidak perlu kembali ke Thian-san yang begitu jauh!"
Keruan saja Ie Lan-cu menjadi murka melihat kekurangajaran orang berani menantang padanya.
"Baik, biar aku nenek tua ini ber-kenalan dengan kaum Siaupwe seperti kalian ini, coba betapa tinggi kepandaianmu?"
Jawabnya dengan gusar.
Habis itu, dengan sekali bergerak laksana anak panah terbang ia menerobos masuk lebih jauh ke dalam hutan itu.
Orang itu agaknya hendak mengucapkan pula perkataan yang bersifat menyindir, mendadak sudah merasakan angin pukulan yang menyambar, maka segera ia tahu akan kelihaian lawan.
Dalam keadaan demikian ini, tidak peduli orang itu membalik buat melawan atau berkelit ke depan, pasti tak akan lolos di bawah telapak tangan Ie Lan-cu.
Namun orang itu ternyata tidak lemah juga, dengan kegesitannya ia terus berputar-putar di antara beberapa pohon cemara tua, dengan begitu ia mematahkan kekuatan pukulan Ie Lan-cu, kemudian disusul lagi beberapa kali memutar, ia sembu-nyi lagi ke tempat yang lebih gelap.
Melihat gerak tubuh lawannya itu, Ie Lan-cu merasa terce-ngang juga, aneh sekali gerak tubuh orang ini.
Selagi hendak meng-hantam lagi mengikuti arah suara orang, tiba-tiba ia mendengar ada suara mengaung, semacam benda hitam mulus tahu-tahu menyam-bar datang dari belakang kepalanya.
Dengan cara ‘Ting-sing-pian-gi’ (mendengarkan suara mem-bedakan senjata), Lan-cu mengegos ke samping dan lewatlah Am-gi (senjata rahasia) itu di atas kepalanya, akan tetapi mendadak senjata itu bisa membalik kembali.
Terkejut sekali Ie Lan-cu atas kejadian itu, sama sekali tidak diduganya senjata rahasia itu bisa menyambar pergi dan putar kem-bali lagi.
Akan tetapi berkat Ginkangnya yang tinggi luar biasa, sekali enjot tubuh ia melayang naik ke atas pohon, senjata yang bengkok melengkung seperti mistar hitung itu ternyata mengitari pohon dan terbang naik ke atas lagi seperti benda berjiwa saja.
Namun dengan cepat sekali Ie Lan-cu melolos Pokiamnya, ia papaki senjata rahasia itu dan dicungkil pergi, dengan mengeluarkan suara mengaung laksana batu meteor jatuh, Am-gi itu jatuh mem-bentur tanah, menyusul Ie Lan-cu pun melompat turun.
Tak terduga, Am-gi itu betul-betul seperti hidup, sekali meng-gelinding di tanah, kembali menyambar naik lagi, bahkan terus me-motong ke bagian bawah badannya.
Terkejut juga Ie Lan-cu oleh senjata yang luar biasa itu, na-mun mendadak ia mengulur dua jarinya, dengan tenaga dalamnya segera menjepit Am-gi itu, gerakannya begitu cepat, hanya sekali saja ia telah berhasil menjepit kencang Am-gi itu di tengah jari ta-ngannya.
"Han Tiong-san, setan kau, berani kau permainkan aku!"
Ben-taknya tiba-tiba.
Habis itu Yu-liong-pokiam secepat kilat ia tusuk-kan pada orang itu secara bertubi-tubi.
Kiranya orang ini bernama Han Tiong-san, saudara seperguru-an Thian-yap Sanjin, tempat tinggalnya di atas Kun-lun-san, yang dia yakinkan adalah semacam Am-gi atau senjata rahasia yang keji sekali, disebut ‘Hwe-goan-kau’, rupanya seperti mistar hitung me-lengkung, kedua ujungnya lancip tajam, yang paling lihai adalah senjata ini dapat dikendalikan dengan kekuatan ketika dilepaskan, bisa pergi terus berputar balik serta terbang naik turun.
Senjata ini diciptakan Han Tiong-san ketika ia melihat cara penduduk di pegunungan Kun-lun-san menggunakannya buat ber-buru burung, pikirannya jadi tertarik dan terciptalah senjata rahasia istimewa itu, setelah ia latih dan perbaiki selama lebih tiga puluhan tahun, kepandaiannya menggunakan senjata ini sudah sampai pun-cak kesempurnaan, tak terduga kini ia kebentur le Lan-cu yang ting-katannya dalam dunia persilatan sudah tinggi sekali, dengan tenaga dalam yang luar biasa, senjata rahasianya kena dijepit oleh jarinya.
Kepandaian Han Tiong-san masih lebih tinggi daripada Thian-yap Sanjin, ketika Thian-yap Sanjin kena kecundang di pulau Thian-hing-to, segera juga ia mengundang datang Suhengnya, dengan dua saudara seperguruan, mereka ingin menandingi Thian-san-lihiap ini.
Dalam pada itu, pedang le Lan-cu sudah bekerja makin ken-cang, sedang Han Tiong-san pun sudah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yakni sebatang pacul kecil, berulang-ulang ia me-nangkis tiga kali, namun segera ia merasa rada payah.
Kalau le Lan-cu terus mendesak musuhnya, mendadak terde-ngar Lu Si-nio berseru.
"Teng Hiau-lan ada di sini!"
Kiranya pada waktu le Lan-cu haras menghadapi Han Tiong-san, Lu Si-nio segera menuju ke tempat datangnya sinar api tadi, mendadak ia diserang orang juga dari tempat gelap, bayangan orang itu begitu cepat dan terus memukul, begitu keras pukulan itu hingga pedang Lu Si-nio kena tergetar menceng ke samping.
Waktu Lu Si-nio menarik pedangnya dan tenangkan diri, ia li-hat orang ini tidak lain ialah Thian-yap Sanjin.
Tidak jauh dari me-reka terdapat gundukan api yang sedang menyala, dengan tongkat melintang, Liau-in Hwesio sedang berjaga di samping gundukan api itu, sedang Sin-mo-siang-lo dengan mata meram duduk bersila, se-dikitpun tidak bergerak, sebaliknya Teng Hiau-lan terikat pada seba-tang pohon di situ.
Tanpa ayal, segera Lu Si-nio keluarkan tipu serangan Hian-li-kiam-hoat yang paling lihai untuk mencecar Thian-yap Sanjin, mes-ki Thian-yap Sanjin punya tenaga pukulan yang cukup hebat, tapi pukulannya selalu mengenai tempat kosong.
Kepandaian Thian-yap Sanjin sebenarnya sebaya dengan Liau-in, oleh karena itu ia berpikir, ilmu pedang anak dara ini sungguh lihai, sampai Suhengnya saja tak mampu menaklukkan dia, meski aku tak nanti dikalahkan, tapi untuk mendapatkan kemenangan pun bukan soal gampang.
Karena pikiran itu, selagi ia hendak menyapa Liau-in buat ikut mengeroyok, mendadak dilihatnya le Lan-cu telah mendesak Han Tiong-san hingga yang tersebut belakangan ini terpaksa harus mun-dur terus.
Keruan ia menjadi kaget.
"Liau-in Taysu, paling penting tolong dulu orang sendiri!"
Serunya.
Melihat le Lan-cu dan Lu Si-nio telah menerjang datang, Liau-in sendiri pun menjadi gugup, lekas ia kerjakan menurut anjuran Thian-yap Sanjin, dengan cepat ia menarik Sin-mo-siang-lo, satu ta-ngan satu orang, ia kempit mereka dan kabur keluar dari hutan itu secepat terbang.
Lu Si-nio yang dirintangi Thian-yap Sanjin terpaksa tak mam-pu mengejar.
Melihat Liau-in sudah kabur dan lenyap di antara hutan belu-kar, le Lan-cu juga menduga sukar mengejarnya lagi, maka ia ber-seru pada kawannya.
"Si-nio, lekas kau tolong Teng Hiau-lan da-hulu, biar aku sendiri yang membereskan kedua iblis ini!"
Lalu Yu-liong-pokiamnya bekerja cepat, segera ia kurung Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin di bawah sinar pedangnya.
Rupanya Pek Thay-koan pun tidak mau tinggal diam, ia men-coba maju membantu, tapi demi tersampuk pacul Han Tiong-san, le-ngannya tergetar hingga pegal.
Ketika itu Thian-yap Sanjin sedang kerepotan karena rangsek-an le Lan-cu yang tak kenal ampun, waktu melihat Pek Thay-koan ikut maju, tiba-tiba ia mendapat akal, beruntun ia memukul, mende-sak Pek Thay-koan yang terpaksa harus menyingkir ke tempat ko-song di sebelah kiri, dengan begitu menghalangi serangan pedang le Lan-cu yang masih terus menyambar.
Pertandingan kaum ahli kadang-kadang hanya tergantung se-kejap dua detik saja, kini Ie Lan-cu mendadak terhalang serangan-nya, seketika itu memberi kesempatan kepada Han Tiong-san dan Thian-yap Sanjin buat meloloskan diri.
Saking tak sabamya, Ie Lan-cu terus menarik Pek Thay-koan sambil berkata padanya.
"Lebih baik kau bantu Sumoaymu meno-long teman saja!"
Karena itu Pek Thay-koan menjadi jengah, mukanya merah dan terpaksa mengundurkan diri.
Sementara itu Lu Si-nio sudah melepaskan Teng Hiau-lan dari ringkusannya, melihat pemuda itu tak ingat diri, ia mengerti tentu telah kena tertutuk, maka lekas ia menolong menyadarkannya.
Ketika mendadak Hiau-lan melihat Lu Si-nio berdiri di depan-nya dengan muka bercahaya terang, ia menjadi girang bercampur kaget.
"Engci Lu Eng, banyak terima kasih atas pertolonganmu yang telah menyelamatkan jiwaku!"
Katanya dengan terharu.
"Bukan aku, tetapi kaum angkatan tua dari perguruanmu yang menolong kau!"
Kata Lu Si-nio dengan tertawa. Waktu Teng Hiau-lan sudah bisa menenangkan diri, ia teringat kepada apa yang telah terjadi.
"Lu-cici, lekas kau pergi menolong Ciong-tayhiap!"
Serunya cepat.
Kiranya waktu Teng Hiau-lan mengejar dari Siau-lim-si, keti-ka menerobos masuk ke hutan ini, segera ia kena ditawan Liau-in.
Tatkala itu adalah waktu Sin-mo-siang-lo terkena pisau ter-bang Ciong Ban-tong dan menyembunyikan diri dalam hutan ini bu-at merawat lukanya itu.
Tak lama kemudian Lian Khing-hiau berha-sil menipu obat pemunah dari gurunya, maka tertolonglah lukanya yang parah.
In Ceng telah banyak memuji kepintaran Khing-hiau, lalu bersama Haptoh mengajak bocah itu berangkat lebih dulu.
Sudah tentu percakapan mereka terdengar oleh Teng Hiau-lan, ia terkejul ketika mengetahui apa yang telah terjadi, saking gusarnya ia berteriak, tapi segera ditutuk oleh Liau-in dengan tutukan berat, dalam keadaan setengah sadar dilihatnya ada seorang wanita tua te-lah berangkat juga dengan menggendong seorang anak perempuan, habis itu, ia lantas jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Kini setelah sadar, segera ia mengingat-ingat dan menghitung-hirung, ia yakin anak perempuan yang berumur antara tujuh delapan tahun tadi tentu bukan lain daripada Pang Lin.
Teng Hiau-lan pernah mendapat budi yang tak terhitung dari Pang Kong-tiau, oleh karena itu tak pernah lupa berusaha menemu-kan kembali kedua dara kembar ini, maka berulang-ulang ia men-desak agar Lu Si nio lekas mengejar, ia tidak tahu bahwa saat itu Pang Lin sudah dibawa pergi sejauh tiga puluh li lebih oleh istri Han Tiong-san, yaitu perempuan tua yang dilihatnya.
Ie Lan-cu yang matanya awas dan telinganya tajam, meski sedang bertempur, apa yang Teng Hiau-lan katakan tadi sudah dide-ngarnya dengan jelas, segera ia kencangkan pedangnya, ia mende-sak Thian-yap Sanjin berdua mundur beberapa tindak, lantas ia ber-seru.
"Kediaman keluarga Lian tentu berada di dekat sini, Lu Si-nio, kau dan Suhengmu lekas bawa Teng Hiau-lan ke sana, aku segera menyusul!"
Lu Si-nio yakin Ie Lan-cu pasti mampu membikin keok kedua lawannya, maka dengan menyahut sekali, bersama Pek Thay-koan dan Teng Hiau-lan mereka lantas keluar dari hutan itu.
Sementara itu Ie Lan-cu lantas unjuk ketangkasannya yang lu-ar biasa, dengan ilmu pedang yang hebat, seorang diri ia menempur Han Tiong-san punya ‘Pi-hun-tuh’, yakni senjata pacul, serta Thian-yap Sanjin punya ‘Toa-sui-pi-jiu’, ilmu cara membanting dan meng-hantam dengan hebat.
Begitu seru pertarungan mereka hingga bu-rung yang hinggap bermalam di rimba itu terbang terkaget dan daun pohon rontok.
Han Tiong-san punya ‘Pi-hun-tuh-hoat’, kepandaian permain-an pacul yang mempunyai seratus delapan jurus, ilmu silatnya ini adalah ciptaan khas, walau tidak sehebat Thian-san-kiam-hoat, tapi ditambah dengan tenaga pukulan lihai Thian-yap Sanjin, dalam se-kejap itu Ie Lan-cu pun tak mampu memperoleh kemenangan.
Setelah pertempuran berlangsung beberapa lama, mendadak sebelah tangan Ie Lan-cu bergerak terus disusul dengan pedangnya berkelebat, dengan tipu ‘Tam-jiu-ju-cu’ (mengulur tangan mengam bil mutiara), ujung senjatanya mengarah ke tenggorokan Thian-yap Sanjin.
Dalam pada itu Han Tiong-san yang luput menyerang dengan pacul, cepat menarik senjatanya, ia menggeser dari depan ke sam-ping, paculnya segera membacok ke bawah dengan tujuan memben-tur pedang lawan sambil memacul pinggang orang dan sekaligus menolong Sutenya.
Namun Ie Lan-cu ternyata tidak mengubah gaya serangannya tadi, hanya tubuhnya bergerak sedikit, tipu serangan dari ‘Tam-jiu-ju-cu’ berganti menjadi ‘Giau-Ii-joan-ciam’ (si gadis jelita menyu-sup jarum), berbalik ia hendak memotong pergelangan tangan lawan sambil menikam ke bawah bahu, begitu cepat gerakannya dan saling susul, yang satu lebih cepat dari yang lain.
Dalam keadaan begitu, terdengarlah suara memberebet, lengan baju Thian-yap Sanjin kena dibabat robek.
Melihat gelagat jelek, lekas Han Tiong-san mencari akal Iain, dari sakunya segera ia keluarkan sebuah ‘Liu-hong-tan’ (peluru be-lerang), semacam mercon yang sering dibuat mainan anak-anak, se-gera ia lemparkan benda itu ke angkasa dengan mengeluarkan sinar kuning terang.
"Hai, konco tua, kenapa kau tak lekas datang!"
Serunya keras.
Sesudah itu paculnya menangkis sekali terus ia tarik untuk meng-hindarkan benturan Yu-liong-pokiam, kemudian bersama Thian-yap Sanjin lantas mundur teratur dengan cepat.
Nampak perbuatan Han Tiong-san tadi, tiba-tiba Ie Lan-cu ter-ingat bahwa Han Tiong-san ini berlatih ilmu silat bersama dengan istrinya yang bernama Yap Hing-po, juga sangat lihai ilmu silatnya.
Karenanya ia berpikir.
"Jika ditambah lagi seorang jagoan lain, de-ngan satu lawan tiga, maka buat memperoleh kemenangan akan le-bih sukar lagi!"
Ia pikir Thian-yap Sanjin dan Liau-in serta kawan-kawan berada di sini juga, malahan Bu-lim-ko-jiu (kaum ahli dari dunia persilatan) yang In Ceng undang mungkin juga datang bersa-ma ke sini pula.
Karena khawatir Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan mengalami hal-hal di luar dugaan, maka ia pun tidak jadi mengejar dan membiarkan Thian-yap Sanjin serta Han Tiong-san kabur dengan leluasa.
Bercerita tentang Lu Si-nio, sesudah mereka keluar dari hutan itu, mereka menempuh dua tiga li, betul juga dilihatnya rumah ge-dung berderet-deret dan pagar tembok mengitar tinggi.
Lu Si-nio yang bermata tajam, dari kejauhan dapat melihat ada beberapa bayangan hitam melompat keluar dari pagar tembok itu.
"Ciong-tayhiap tentu tinggal dalam taman itu!"
Katanya, lalu bersama Pek Thay-koan segera melompat masuk ke dalam sana.
Teng Hiau-lan pun tidak mau ketinggalan, dengan kepandaian ‘Hoan-ciang-ih-poh’ (tukar tangan dan geser langkah), segera ia pun melompat naik ke atas pagar tembok setinggi tiga tombak itu.
Setelah mereka bertiga berada di dalam taman, dilihatnya batu berserakan dan daun kering bertaburan, terang di tempat ini tadi te-lah terjadi pertarungari sengit.
Mereka mengikuti bekas dan tanda-tanda pertarungan itu terus mencari kamar Ciong Ban-tong, pintu kamar sudah didobrak pecah oleh Tay-lik-sin-mo.
Waktu Teng Hiau-lan memandang ke dalam, segera dilihatnya Ciong Ban-tong menggeletak di lantai, keruan saja ia terkejut, lekas mendekatinya.
"Ciong-tayhiap!"
Serunya memanggil dengan berjongkok ke dekat pendekar yang malang itu.
Namun ternyata tiada sahutan, ketika dipegang, ternyata tubuh Ciong Ban-tong sudah kaku dingin, tidak tahan lagi perasaan Teng Hiau-lan hingga ia menangis tersedu-sedu.
Selang tak lama Ie Lan-cu pun sudah menyusul datang, sudah tentu ia pun terkejut atas kejadian yang menyedihkan itu.
"Semua karena perbuatan Lian Khing-hiau, si penjahat cilik ini!"
Saking gemasnya Teng Hiau-lan mencaci maki.
"Kenapa?"
Tanya Ie Lan-cu.
"Apa bocah itu berani membunuh gurunya sendiri?"
"Serupa saja dengan membunuh guru!"
Sahut Hiau-lan. Sesu-dah itu ia pun menceritakan apa yang didengar dan dilihatnya dalam hutan tadi. Maka Ie Lan-cu menghela napas.
"Mencari murid sungguh ti-dak mudah,"
Begitu ia berpikir.
"Hui-bing Siansu, telah salah men didik Coh Ciau-lam dan Tok-pi-sin-ni salah menerima murid Liau-in Hwesio, semuanya telah menimbulkan banyak kesukaran dan ke-onaran, kini Lian Khing-hiau yang masih berusia begitu muda, na-raun sudah begitu lihai, apa yang bakal ia lakukan kelak, mungkin akan jauh lebih celaka daripada Coh Ciau-lam dan Liau-in!"
Dalam pada itu Teng Hiau-lan telah mencari kian kemari di lu-ar dan di dalam rumah, namun Pang Lin tak tertampak.
"Aku punya Titli juga telah digondol lari penjahat!"
Katanya dengan sedih.
"Kau punya Titli?"
Tanya Ie Lan-cu dengan heran.
Maka berceritalah Teng Hiau-lan kisahnya yang telah lalu.
Tiba-tiba mata Ie Lan-cu bersinar terang dan berulang-ulang menyatakan aneh setelah mendengar penuturan Hiau-lan.
"Kau bo-leh ikut aku ke Thian-san, di sana akan aku kembalikan seorang Tit-li padamu!"
Teng Hiau-lan menjadi bingung atas kata-kata itu.
Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar di luar pagar tembok itu ri-uh ramai dengan suara orang, bahkan ada pula suara orang menggali tembok dengan alat tajam.
Karena waktu sudah mendesak, le Lan-cu lantas memasukkan kitab ilmu silat dan ilmu pertabiban tinggal-an Ciong Ban-tong ke dalam bajunya.
"Barang-barang ini entah kapan baru dapat kuserahkan kepada ahli waris Bu-kek-kiam!"
Ujarnya dengan menghela napas.
Sementara itu di luar pagar sana suara orang sudah makin riuh, kiranya pelayan tua Lian Khing-hiau, Ting Hok, orangnya rada licin juga, waktu Ciong Ban-tong sedang menempur Sin-mo-siang-lo de-ngan sengit, diam-diam ia merangkak ke pinggir tembok pagar itu, dari lubang kecil yang memang disediakan itu, ia member tanda bahaya keluar, ketika para ‘keh-ting’ atau para pekerja dari keluarga Lian mengerubung datang, tiada seorang pun yang sanggup melom-pat lewat pagar tembok yang tinggi itu, terpaksa menggunakan alat sebangsa linggis dan Iain-lain buat membobolnya.
"Jenazah Ciong Ban-tong tentu akan diurus orang dari keluar-ga Lian, kita tidak usah mengurusnya!"
Ujar Ie Lan-cu dengan sedih setelah segala sesuatunya ia bereskan. Begirulah, maka bersama Lu Si-nio, Pek Thay-koan dan Teng Hiau-lan lantas melompat lewat ke atas tembok pagar sambil berseru.
"Dengarkan Lian Toan-ling! Ciong-suhu dengan susah payah te-lah berusaha mendidik putramu, tapi akhirnya nyawanya lenyap di tangan anakmu, hendaklah kau kuburkan dia secara baik-baik!"
Karena seruan itu, orang-orang dari keluarga Lian menjadi pa-nik hingga mereka berteriak ramai, namun Ie Lan-cu berempat su-dah melayang turnn dari jurusan lain, tanpa menoleh lagi mening-galkan tempat itu.
Pada waktu subuh hampir tiba, mereka berempat sudah meninggalkan tapal batas Tan-liu.
"Kali ini aku menginjak Tionggoan kembali, sungguh tidak terduga banyak kawan-kawan lama sudah mendahului mangkat,"
Kata Ie Lan-cu dengan terharu.
"Si-nio, aku harus naik ke Bin-san untuk berziarah ke makam gurumu, barulah hatiku bisa tenteram!"
Dengan terharu Lu-Si-nio menghaturkan terima kasih atas niat orang tua itu.
Jarak antara Bin-san dan Tan-liu hanya delapan ratus li lebih, dengan kecepatan berjalan mereka berempat, selang tiga hari kemu-dian sudah tiba di atas gunung itu.
Nampak pegunungan yang masih menghijau dan pemandang-an alamnya yang tetap sama, tapi keadaan manusianya sudah ba-nyak yang berubah, mau tak mau Hiau-lan merasa sedih sekali, ter-lebih kalau teringat pada budi pertolongan jiwa yang pernah diberi-kan oleh Tok-pi-sin-ni dahulu.
Besok paginya pada hari kedua setelah tiba di Bin-san, mereka berempat lantas berziarah ke makam Tok-pi-sin-ni, di atas batu ni-san makam nikoh tua bertangan satu itu mereka lihat terukir bebe-rapa huruf cukup besar yang berbunyi.
"Kuburan putri dinasti Bing, pendekar padri dunia persilatan".
"Ehm, kata-kata di atas batu nisan ini sungguh bagus sekali!"
Ujar Ie Lan-cu sambil mengangguk-angguk Teringat olehnya kisah Tok-pi-sin-ni yang tidak banyak berbe-da dengan nasib dirinya, dan teringat pula selanjutnya di dunia per-silatan sudah tiada orang yang memiliki ilmu pedang yang sembabat dirinya, maka Ie Lan-cu lebih merasakan adanya kekosongan.
Sedang ia termangu-mangu, tiba-tiba terlihat ada dua ekor bu-rung rajawali, yang seekor hitam dan yang lain putih, dengan rae-mentang sayapnya yang besar lebar sedang terbang berputar di atas makam itu.
Waktu Lu Si-nio melambaikan tangannya, kedua burung itu segera melayang turun dan mengeluarkan suara memilukan.
"Burung saja begitu, apalagi manusia!"
Kata Ie Lan-cu meng-hela napas setelah melihat sikap kedua burung raksasa itu. Kemudian dengan masih diliputi perasaan terharu, kembalilah mereka ke dalam kuil.
"Si-nio,"
Kata Ie Lan-cu mendadak setelah rada lama ia meng-amati gadis ini.
"aku pernah janji padamu buat mengajarkan kau se-dikit rahasia melatih Lwekang, kini bolehlah kau ikut aku ke kamar dalam sana!"
Kiranya setelah le Lan-cu melihat paras Lu Si-nio yang cantik, ia ingin gadis ini dapat mempertahankan parasnya itu untuk bebe-rapa tahun lebih lama, maka lantas ia membawa gadis ini ke dalam kamar, lalu mengajarkan rahasia perawatan muka dan badan, kepan-daian ini adalah Lwekang yang hanya dapat diyakinkan oleh kaum wanita saja.
Kepandaian ini bukan le Lan-cu dapatkan dari Hui-bing Sian-su almarhum, melainkan diperoleh dari mendiang Pek-hoat Mo-li.
Dahulu, karena patah hati dalam persoalan cinta, pada usianya yang masih muda, seluruh rambut Pek-hoat Mo-li menjadi ubanan.
Dia paling sayang pada paras muka sendiri, oleh karena itu dengan segala usaha ia mencoba mencari jalan untuk bertahan awet muda, hal ini sampai pada waktu ia sudah menginjak usia lanjut baru dapat menciptakan semacam resep dengan cara melatih Lwekang, cara pe-rawatan ini walaupun tidak bisa mempertahankan muda selamanya dan tidak pernah tua, tapi berfaedah untuk pemeliharaan paras mu-ka, kalau dilatih dengan baik, dalam usia empat lima puluhan tahun tampak masih serupa gadis umur dua puluhan.
Waktu kepandaian ini tercipta, Pek-hoat Mo-li kala itu sudah berusia dekat seabad, sudah tentu ia tidak dapat memakai diri sen-diri untuk percobaan, oleh sebab itu ia lantas menurunkan rahasia kepandaian itu kepada Ie Lan-cu.
Semula Ie Lan-cu pun melatihnya dengan baik, tapi belakang-an, setelah suaminya (Thio Hua-ciau) meninggal, seorang diri ting-gal di pegunungan sunyi, hasratnya buat merawat dan bertahan awet muda sudah hilang, maka ia tidak melatihnya lebih jauh.
Kini setelah ia melihat kecantikan paras Lu Si-nio jarang ada bandingannya, tanpa ragu-ragu lagi lantas menurunkan rahasia me-rawat diii dan membikin awet muda itu kepadanya.
eberapa hari kemudian, teori yang diajarkan Ie Lan-cu su-dah Lu Si-nio pelajari dengan baik dan matang, maka be-rangkatlah Ie Lan-cu membawa Teng Hiau-lan ke Thian-san buat meyakinkan ilmu pedang, dengan rasa berat Lu Si-nio mengantar mereka turun gunung.
"Lewat sepuluh tahun lagi, kau punya kiam-hoat sudah tiada tandingan di kolong langit ini,"
Ujar Ie Lan-cu kepada Lu Si-nio se-belum mereka berpisah.
"Aku punya seorang murid, kala itu mung-kin ia akan merantau di Kangouw, maka harap kau suka mengawasi dia dan membelanya."
"Ie-cianpwe punya kiam-hoat sudah tiada taranya, Lingtoh (murid tuan) tentu pula seorang ahli, mengapa harus sepuluh tahun lagi baru tampil di dunia Kangouw?"
Tanya Lu Si-nio agak heran. Ie Lan-cu tertawa.
"Sebab dia sekarang baru merupakan anak dara yang berumur tujuh!"
Katanya kemudian. Di sebelah sana, hati Teng Hiau-lan tergerak oleh keterangan le Lan-cu tadi, ia jadi teringat apa yang orang tua ini katakan tempo hari.
"Anak dara itu sudah aku kenal bukan?"
Tak tertahan ia ikut bertanya. Ie Lan-cu tertawa pula.
"Nanti saja kau boleh mengenalnya di Thian-san!"
Sahutnya.
Begitulah, sesudah Ie Lan-cu berangkat bersama Teng Hiau-lan, Lu Si-nio dan Pek Thay-koan masih tinggal dua hari lagi di Bin-san, mereka merawat baik-baik makam gurunya baru kemudian berpisah juga.
Mereka membagi tugas untuk mengumpulkan para saudara seperguruan buat menghukum Liau-in.
Pada saat sebelum berpisah, agaknya Pek Thay-koan seperti sedang berpikirkan sesuatu.
"Pat-moay (adik kedelapan), bagaima-na pandanganmu terhadap Teng Hiau-lan?"
Begitulah mendadak ia bertanya pada Sumoaynya.
"Ehm, cukup baik!"
Sahut Si-nio tanpa ragu-ragu.
"Ya, lewat beberapa tahun lagi setelah ia mendapat ajaran asli Thian-san-kiam-hoat, tentu akan bertambah baik,"
Kata Pek Thay-koan pula.
"Ya, betul, untuk apakah Suheng mengatakan soal ini?"
Tanya Si-nio dengan heran. Thay-koan tertawa.
"Pat-moay,"
Jawabnya kemudian.
"harap maafkan aku, telah lama aku berkecimpung dalam soal percintaan, dalam hal ini aku telah cukup banyak pengalaman, menurut pengli-hatanku, Teng Hiau-lan terhadap kau rada-rada "
Apa?"
Tanya Si-nio terheran-heran dan tak sabar.
"Terhadap kau rada menaruh maksud tertentu!"
Sambung Pek Thay-koan. Mendengar perkataan terakhir ini, tiba-tiba Lu Si-nio bergelak tertawa hingga seluruh tubuhnya terguncang.
"Go-ko (kakak kelima),"
Sahutnya kemudian.
"nyata kau terla-lu banyak berpikirkan. hal yang tidak-tidak, terhadap Hiau-lan aku anggap sebagai. adik sendiri, mana bisa menghubungkan dengan so-al tadi."
Sudah tentu Pek Thay-koan tidak sependapat dengan Lu Si-nio, katanya dalam hati.
"Tetapi belum tentu orang suka anggap kau sebagai Cicinya (kakak perempuan)."
Lu Si-nio bergelak tertawa saking geli. Pek Thay-koan memandangnya, sesudah itu ia berkata pula.
"Kalau begitu, apakah Pat-moay sudah mempunyai kekasih pilihan sendiri? Entah orang gagah perkasa dari dunia persilatan mana?"
Si-nio masih tetap tertawa, ia mengangkat kepala dan tertawa-nya makin nyaring.
"Apa mesti orang dari kalangan Bu-lim?"
Sahutnya kemudian.
"Go-ko, sudahlah tak usah persoalkan ini lagi. Mari kita ajak sau-dara-saudara seperguruan kita untuk berkumpul ke Bin-san sini."
Habis itu ia mengangkat tangan tanda perpisahan, terus menu-ju ke jurusan sendiri.
Ketika ia tiba kembali di rumahnya, waktu itu musim dingin sudah berganti dengan musim semi, bunga Tho sedang mulai mekar.
Dengan perasaan yang riang gembira Lu Si-nio tiba di depan rumahnya, akan tetapi segera ia terkejut oleh keadaan yang luar bi-asa, pintu gerbang rumahnya ternyata sudah disegel oleh pemerin-tah, di sekitar rumahnya pun sunyi senyap tiada seorang pun.
Selagi ia hendak melolos pedang untuk menerjang masuk ke rumah melihat apa yang telah terjadi, tiba-tiba didengarnya ada sua-ra mendengung tiga kali, tiga anak panah bersuara, yang satu ber-suara panjang dan yang dua pendek, menggema dari atas gunung di belakang rumahnya.
Itu adalah tanda rahasia untuk saling berhubungan di antara Kang-lam-chit-hiap.
Maka tanpa ayal lagi Lu Si-nio Iantas mengeluarkan Ginkang-nya, ‘Liok-te-hui-hing’ (berjalan laksana terbang di daratan), cepat ia menuju ke atas gunung, sesampainya di sana, betul saja ia lihat Jisuko (kakak perguruan kedua) Ciu Sun sudah berdiri di tempat tinggi dengan wajah penuh rasa khawatir dan terkejut.
"Jiko kapan kau datang kemari? Bagaimana dengan ayahku?"
Tanya Si-nio tak sabar begitu berhadapan dengan Suhengnya ini.
"Hianmoay (adik yang bijaksana) lekas ikut aku,"
Sahut Ciu Sun.
Sesudah itu ia membawa Lu Si-nio menuju ke tengah gunung dan masuk ke dalam sebuah bio atau biara, bio ini bernama ‘Tiau-goan-si’, Cu-ji atau ketua pengurus bio ini,.it-liam Hwesio, asalnya adalah sahabat karib mendiang Lu Liu-liang, engkong Lu Si-nio.
Begitu masuk ke dalam kamar suci biara itu, lagi-lagi Lu Si-nio menjadi terkejut.
Ia lihat ayahnya sedang rebah di atas sebuah dipan dengan muka pucat dan napas tersengal-sengal, Sute It-liam Hwesio, It-biau Siansu sedang menjaga di sampingnya dengan air mata berlinang.
Lu Po-tiong, ayah Lu Si-nio, begitu mendengar ada suara tin-dakan orang, segera membuka mata.
"Oh, Eng-ji telah pulangkah?"
Tanyanya dengan suara lemah. Lekas Si-nio berlutut di tepi dipan ayahnya dan merangkulnya.
"Kau punya kakak Goan sudah tertangkap, karena bermaksud menolongku, lt-liam Taysu pun ikut menjadi korban, maka kau ha-ras membalaskan sakit had ini!"
Terdengar ayahnya berkata dengan suara terputus-putus.
Begitu lemah suaranya hingga makin lama makin perlahan, begitu selesai ia mengucapkan perkataannya, kedua kakinya berke-lojotan sekali dan mangkatlah dia.
Melihat ayahnya meninggal secara begitu mengenaskan, tak tertahan lagi Lu Si-nio menjerit dan menangis.
"Pat-moay, harap kau jangan terlalu berduka, hendaklah berla-ku bijaksana untuk menghadapi keadaan yang cukup genting ini!"
Ciu Sun coba menghibur Sumoaynya ini. Betul juga Lu Si-nio bisa berpikiran jernih, ia berhenti mena-ngis walaupun dengan menahan air mata.
"Belum ada dua hari Sim-siansing (tuan Sim) ditangkap, kere-ta tawanannya mungkin beberapa hari lagi baru bisa sampai di kota propinsi,"
Terdengar Ciu Sun memberitahu lagi.
"Liok-te (adik ke-enam) sedang menanti di depan Sana, Pat-moay, lekas kau memburu ke sana, mungkin masih bisa menyusulnya. Membalas sakit hati dan menolong yang masih hidup lebih berguna daripada berkabung di sini, urusan jenazah paman ada aku dan padri-padri dalam biara ini yang menyelesaikannya, lekaslah kau mengejar buat menolong Sim-siansing saja!"
Kakek Lu Si -nio, Lu Liu-liang, adalah seorang pujangga besar pada akhir ahala Bing, setelah kerajaan Bing dicaplok bangsa Boan-jing (Manehu), jiwanya yang cinta tanah air membuat dia menulis kitab-kitab yang banyak mengkritik penjajah itu tanpa kenal takut.
Putranya, Lu Po-tiong (ayah Lu Si-nio) dan Lu Ih-tiong serta muridnya Giam Hong-kui serta kawan-kawan sesudah pujangga itu wafat, mereka masih tetap menjunjung tinggi teori ajarannya dan te-rns mengembangkan cita-citanya yang cinta tanah air dan bangsa.
Sedang Sim Cay-khoan adalah murid Lu Po-tiong, dengan Lu Si-nio, dua sejoli ini berhubungan rapat sekali.
Peristiwa yang terjadi kali ini disebabkan buku catatan harian Giam Hong-kui.
Apa yang dicatat dalam buku harian Giam Hong-kui itu penuh berisi kritikan dan cacian kepada pemerintah Boan, segala apa yang terjadi asalkan meragikan rakyat pada waktu itu, semuanya ditulis secara jelas di buku hariannya tanpa tedeng aling-aling.
Buku harian ini akhirnya kena dicuri oleh salah seorang mu-ridnya dan diadukan, ketika pembesar negeri datang menggrebek justru Giam Hong-kui dan Lu [h-tiong sedang pergi, hingga Lu Po-tiong dan Sim Cay-khoan saja yang tertangkap.
Tatkala itu justru Ciu Sun datang ke rumah keluarga Lu itu un-tuk menyambangi Sumoaynya, Lu Si-nio, ia tinggal di situ karena Lu Si-nio belum kembali, ketika terjadi peristiwa itu, ia berhasil lo-los, segera bersama lt-liam Siansu, ketua Tiau-goan-si terus menge-jar dan mencegat di tengah jalan, sesudah terjadi pertarungan sengit, lt-liam Siansu terluka parah hingga tujuh tempat, Ciu Sun sendiri kena sekali bacokan, namun dengan mati-matian ia masih sempat merebut kembali Lu Po-tiong dan dibawa ke biara ini.
Sementara itu, karena lukanya yang berat, lt-liam Siansu tewas.
Begitulah, demi mendengar penuturan itu, saking gemasnya hingga Lu Si-nio mengertak gigi, tetapi tidak lupa ia menjura me-nyatakan terima kasih kepada Ciu Sun.
"Kalau sakit hati ini tidak terbalas, aku bersumpah takkan menjadi manusia,"
Begitu serunya dengan gemas dan pasti.
"Suheng, hendaklah kau rawat baik-baik lukamu, aku harus memenggal kepala kaum 'tat-cu' (tartar, sebutan kepada bangsa asing penjajah) untuk dibawa kembali buat sembah-yang di muka jenazah ayah."
Ia bertanya jelas dimana tempat yang Ciu Sun janjikan dengan Loh Bin-ciam, kemudian lantas berangkat.
Kali ini, pasukan istimewa yang dikirim buat menangkap ta-wanan kerajaan dipimpin oleh Thong-ling atau kapten Cin Tiong-wat.
Orang ini menggunakan sepasang Boan-koan-pit, senjata ber-bentuk potlot, ia terhitung seorang ahli Tiam-hiat atau menutuk.
Ke-cuali itu, oleh Si-hongcu In Ceng juga diperbantukan dua jagoan-nya, yang seorang bekas begal terkenal di barat-laut, bernama Kam Thian-liong, dan yang lain ialah Tang Ki-joan, seorang angkatan tua golongan Hing-i-pay, keduanya tergolong tokoh kenamaan di ka-langan Kangouw, setelah mereka mengabdi pada In Ceng, bulan yang lalu bahkan ikut putra pangeran itu mengunjungi Siau-lim-si, yaitu ketika In Ceng dihadapkan dalam perkara Jay-hoa itu.
Dengan tiga jagoan kelas satu kalangan Kangouw ini, tak ter-duga di tengah jalan Lu Po-tiong yang menjadi tawanan utama me-reka masih bisa dirampas orang juga, sebab itu sepanjang jalan hati mereka menjadi tak tenteram, mereka mengharap bisa lekas sampai di kota propinsi, lalu meminta Ciatkang Sunbu (gubernur Ciatkang), Li Wi, menambah jago pengawal untuk mengiring tawanan itu ke kotaraja.
Pada hari itu, pasukan yang menggiring Sim Cay-khoan sudah melewati Hau-kam dan memasuki daerah pegunungan Thian-bok-san, tiba-tiba mereka mendengar di belakang ada suara keleningan kuda berbunyi, menyusul terlihat seorang gadis dengan menunggang kuda putih secepat terbang sedang mendatangi.
Seketika itu juga Kam Thian-liong dan Tang Ki-joan berubah mukanya demi nampak siapa adanya gadis ini, mereka mendesak agar pasukannya berjalan terlebih cepat.
"Hanya seorang wanita sendirian, mengapa kalian takut pada-nya?"
Ujar Cin Tiong-wat yang belum kenal kelihaian Lu Si-nio.
"Baiklah, kalau begitu silakan Cin-thongling menjaga di bela-kang dan biarlah kami yang membuka jalan di depan!"
Sahut Kam Thian-liong dengan tersenyum.
"Yang datang ini adalah cucu perempuan Lu Liu-liang yang bernama Lu Si-nio, ilmu pedangnya sangat lihai, hendaklah Cin-thongling berhati-hati!"
Tang Ki-joan coba menerangkan.
"Bagus, kita telah kelolosan tawanan, jika bisa menangkap pu-tri penjahat she Lu itupun terhitung berjasa juga!"
Kata Cin Tiong-wat yang tidak mau mendengar nasihat orang.
Sebaliknya Kam Thian-liong dan Tang Ki-joan yang sudah mengetahui bagaimana lihainya Lu Si-nio, mereka menaksir bila satu lawan satu, sekali-kali mereka bukan tandingan anak dara itu, sedang kalau dua lawan satu, nama baik mereka di kalangan Kang-ouw tentu akan jatuh, pula di hadapan Cin Tiong-wat hal inipun me-malukan.
Oleh sebab itulah mereka sengaja membiarkan Cin Tiong-wat berjaga di belakang, agar pemimpin pasukan ini merasakan keli-haian Lu Si-nio, habis itu baru mereka akan maju menolongnya.
Dengan akal bulus yang licin ini, sudah tentu Cin Tiong-wat tidak mengetahui tujuan mereka, sebaliknya dalam hati kapten ini malah menertawakan mereka berdua yang bernyali sekecil tikus.
"Masakah menghadapi seorang gadis saja mereka ketakutan, sungguh percuma nama besar mereka yang terkenal di Kangouw,"
Begitu diam-diam ia menertawakan kedua kawannya.
Maka segera ia memutar balik kudanya terus memapak ke belakang.
Sementara itu Lu Si-nio yang melarikan kuda tunggangannya secepat terbang, dalam sekejap saja sudah datang mendekat.
"Penjahat wanita yang bernyali besar!"
Bentak Cin Tiong-wat mendadak sambil mengayun sepasang potlotnya, ia kempit kencang kudanya terus menerjang maju, dengan tipu serangan 'Hong-lui-kiam-kik' (angin badai dan halilintar saling gempur), senjata potlot-nya segera menutuk Tn-tong-hiat' Lu Si-nio di bagian muka.
Tak terduga, sekonyong-konyong pandangan matanya menjadi kabur, ternyata Lu Si-nio telah melayang naik dari atas kuda, ber-bareng pedangnya yang cukup panjang diputar hingga bersinar satu bundaran terus dengan cepat memotong ke bawah.
Dengan gerakan 'Ting-li-cong-sin' (sembunyikan diri ke ba-wah pelana), lekas Cin Tiong-wat menjatuhkan diri ke tanah untuk menghindarkan serangan yang berbahaya tadi, begitu ia merosot ja-tuh ke bawah, saat itu juga ia dengar kuda tunggangannya mering-kik ngeri dan roboh terguling, ternyata kudanya sudah terpotong menjadi dua oleh pedang Lu Si-nio.
Ketika kaki Lu Si-nio menutul tanah, sinar pedangnya berkele-bat lagi, kembali beberapa prajurit kena dilukai pula.
Cin Tiong-wat menjadi murka, ia gerakkan tubuh dengan gay a 'Le-hi-pak-ting' (ikan lele meletik), ia membalik dan meloncat maju lagi dengan cepat, Boan-koan-pit segera ia tangkiskan ke atas.
Maka terdengarlah suara beradunya benda keras, pedang dan potlot saling bentur hingga mengeluarkan suara gemerincing yang nyaring pan jang dan mencipratkan lelatu api.
Cin Tiong-wat merasakan kedua tangannya panas pegal kare-na beradunya kedua senjata, sedang Lu Si-nio sendiri pun terkejut "Cakar alap-alap ini tidak lemah juga!"
Diam-diam ia berkata dalam hati.
Dalam pada itu pedangnya tidak menjadi kendor, ia masih te-rus merangsek maju, sekali serang tiga macam gerakan, ia memba-bat ke pinggang terus memotong ke iga dan akhirnya menusuk ke dada lawan dengan kecepatan kilat.
Dengan tergopoh-gopoh Cin Tiong-wat terpaksa mundur ke belakang, senjata potlot di tangan kirinya melintang untuk menang-kis datangnya pedang lawan, berbareng itu senjata di tangan lain de-ngan tipu 'Kim-liong-tam-jiau' (naga emas mengulur cakar) mengarah ke tulang iga Lu Si-nio untuk menutuk bagian 'Thay-it-hiat'.
Lu Si-nio tertawa menjengek, dengan gaya 'Chiu-cui-hing-ciu' (perahu melintang di sungai Chiu), sekali putar terus disurung, kembali sepasang senjata lawan tergetar pergi, menyusul itu secara bertubi-tubi ia menusuk ke tempat berbahaya hingga terpaksa Cin Tiong-wat main mundur dan akhirnya menjadi kalang-kabut karena serangan Lu Si-nio yang saling susul itu.
Melihat Cin Tiong-wat terdesak kerepotan, Tang Ki-joan dan Kam Thian-liong saling pandang dan tertawa.
"Laute (saudara), kini sudah waktunya membantu dia!"
Ujar Tang Ki-joan.
Dengan sekali menyahut, segera Kam Thian-liong me-lompat turun dari kudanya, begitu pedangnya bergerak, segera ia menusuk ke hulu hati Lu Si-nio.
Mengenali Kam Thian-liong adalah seorang yang mengiringi In Ceng mengeluruk ke Siau-lim-si bulan lalu, Lu Si-nio menjadi naik darah.
"Lauchat (bangsat tua bangka), Siau-lim-si mengampuni jiwa-mu, kini kau berani melakukan kejahatan di sini!"
Dampratnya.
Habis itu pedangnya dengan gerakan 'Pek-ho-liang-sit' (bangau putih pentang sayap), lebih dulu ia tangkis pergi senjata Kam Thian-liong, sesudah itu pedangnya membalik, dengan tipu 'Sin-liong-tiau-bwe' (ular naga membanting ekor), kembali ia paksa Cin Tiong-wat mundur ke belakang.
"Kau gunakan ilmu Tiam-hiat, biar aku yang serang dia!"
Seru Kam Thian-liong memberi tanda kepada Cin Tiong-wat.
Habis itu, pedangnya bergerak, kembali ia menubruk maju lagi.
Beruntun Lu Si-nio menyerang tiga kali, tapi semuanya kena ditangkis olehnya..Ilmu silat Kam Thian-liong ternyata jauh di atas Cin Tiong-wat, tipu serangannya pun sangat licin.
Lu Si-nio menjadi gusar, ia percepat pedangnya hingga sinar senjata bergulung-gulung laksana hujan, ia serang Kam Thian-liong sedemikian rupa hingga ia hanya mampu menangkis tanpa sanggup balas menyerang, untung dibantu Cin Tiong-wat yang menantikan saat yang tepat buat membokong dari samping, kedua senjata pitnya selalu mencari lubang di antara menarinya sinar pedang buat menutuk, karena itu Lu Si-nio tidak bi-sa merangsek dengan seluruh kekuatannya, kalau tidak, sudah sejak tadi Kam Thian-liong dikalahkan.
"Dengan dua lawan satu, Kam Thian-liong serta Cin Tiong-wat ternyata masih tetap berada di bawah angin, masih di pihak terse-rang.
Begitu hebat permainan pedang Lu Si-nio, begitu cepat gerak-annya laksana sambaran kilat bila menyerang dan begitu kuat lak-sana pagar baja bila bertahan, seka-lipun di situ ada prajurit pasukan istimewa yang beratus banyaknya, juga tiada yang berani coba-coba ikut maju.
Rupanya Tang Ki-joan yang menyaksikan pertarungan sengit di pinggir melihat gelagat yang tak menguntungkan pihaknya, begi-tu mengayun tangan, dua buah 'Tau-kut-ting' (paku penembus tu-lang) segera meluncur dari tangannya.
Sambitan pakunya itu ternyata jitu sekali, dalam keadaan tiga orang sedang saling gebrak dengan hebatnya, dua buah paku berbisa itu yang satu mengincar batok kepala Lu Si-nio di tempat 'Hun-bun-hiat' dan yang lain mengarah ujung alis tempat 'Cing-pek-hiat'.
Sudah tentu Lu Si-nio tidak gampang kecundang, dengan pe-dangnya ia menyampuk jatuh sebuah paku berbisa itu terus kepala-nya memanggut menghindarkan paku yang kedua.
Berkat Ginkangnya yang mahir sekali Lu Si-nio dapat berkelit dengan gesit, tetapi dibarengi keroyokan Kam Thian-liong dan Cin Tiong-wat berdua, lama kelamaan Lu Si-nio merasakan rada berat juga, karena itu, lambat laun dari pihak menyerang berbalik ia berada di pihak tercecar.
Girang sekali Kam Thian-liong melihat lawannya kewalahan, pedangnya dari menjaga segera mulai menyerang, tiap tipu serangannya cukup hebat dan ganas.
Sedang sepasang 'Boan-koan pit Cin Tiong-wat, kalau yang satu ditarik, yang lain lantas menjulur untuk menutuk lagi, ia pun menyerang dengan lihai dan selalu mengincar ke 36 Hiat-to di tubuh orang.
---ooo0dw0ooo---Bersambung ke
Jilid II Seri Thiansan Jiang Hu San Nu Xia/Kang Ouw Sam Lie Hiap Karya . Liang Ie Shen Saduran . Gan KL DJVU . TAH dimhader Ebook oleh . Dewi KZ
http.//kangzusi.com atau
http.//dewi.0fees.net
Jilid 2 Karena harus menghindarkan timpukan paku Tang Ki-joan ta-di, mau tak mau Lu Si-nio harus membagi perhatian, karena itu berulang-ulang harus menghadapi rangsekan bahaya musuh, ia men-jadi gemas, dengan mengertak gigi, mendadak pedangnya berkele-bat, senjata Kam Thian-liong dan Cin Tiong-wat tertangkis pergi semua, sesudah itu ia terus mencelat pergi, melayang lewat atas ke-pala Kam Thian-liong.
"Biar aku bunuh dulu kau tua bangka yang tak tahu malu ini!"
Gertaknya tiba-tiba dengan bengis. Nyata dengan melayang lewat di atas kepala Kam Thian-liong itu. Lu Si-nio bertujuan menghampiri Tang Ki-joan.
"Bagus dengan kedatanganmu!"
Sahut Tang Ki-joan.
Menyusul tangan diayun lagi.
ia timpukkan pula tiga buah Tau-kut-ting', paku penembus tulang yang beracun, dengan sambitan istimewa ia serang dari tiga jurusan, yakni atas.
tengah dan bawah.
Dengan cara timpukannya yang luar biasa dan lihai ini, seumpama kepandaian musuh lebih tinggi lagi juga susah untuk berkelit dalam sekejap itu.
Tetapi Lu Si-nio di luar ukuran itu.
ia tidak menjadi gugup karena serangan berbahaya, dengan gaya gerakan 'Pek-ho-ciong-thian' (bangau putih menjulang ke langit), mendadak ia mencelat setinggi lebih dua tombak, maka lewatlah ketiga buah paku beracun itu di bawah kakinya, terus meluncur pergi sejauh lima enam tombak.
Gerak Lu Si-nio tidak cuma begitu saja, di tengah udara ia barengi dengan membentak, mendadak orang berikut senjatanya menyambar turun.
Namun segera ia dipapak oleh para prajurit terus dikerubut, Si-nio tak gentar, pedangnya menyabet ke kanan dan membabat ke kiri, kembali ia lukai pula belasan orang.
Ia berniat menghampiri kereta tawanan yang dijaga Tang Ki-joan tadi, tapi berhubungan tawanan kerajaan, maka secara mati-matian para prajurit itu berusaha menjaga sebisanya, karena jumlahnya lebih banyak, seketika Lu Si-nio tak mampu menerjang lewat ke sana.
Sementara itu Kam Thian-liong dan Cin Tiong-wat dari belakang sudah memburu maju lagi.
Lekas Lu Si-nio ayun tangan kirinya berulang-ulang, ia lepaskan tiga anak panah bersuara, dengan suara yang mengaung tiga kali, yang satu bersuara panjang dan yang dua lainnya pendek, maka selang tak lama kemudian, dari rimba di tepi jalan itu sekonyong-konyong ada suara suitan yang ramai terus menerjang keluar beberapa puluh lelaki tegap, panah mereka seperti hujan segera diarahkan ke pasukan pemerintah ini.
Lekas para prajurit itu mendekam ke tanah menghindarkan serangan sambil balas memanah juga.
Di antara gerombolan orang yang muncul mendadak dari dalam rimba tadi terdapat seorang pemuda berbaju putih, mendadak ia menerjang ke depan, di antara hujan panah itu ia putar goloknya terus maju untuk memimpin pasukannya.
Pemuda berbaju putih ini adalah murid keenam dari Tok-pi-sin-ni yang bernama Loh Bin-ciam.
Sebenarnya Loh Bin-ciam tergolong putra kaum hartawan di kota Ih-ciam di propinsi Ciatkang, kali ini ia mempertaruhkan harta benda dan keluarganya, dengan memimpin para pekerja rumahnya ia datang membantu Lu Si-nio merampas kereta tawanan.
Melihat yang mendadak menyerbu datang itu adalah Loh Bin-ciam, Tang Ki-joan menjadi gusar.
"Loh-kongcu, kau pun berani memberontak?"
Bentaknya.
Loh Bin-ciam menjadi gemas karena hinaan itu, goloknya diayun dengan cepat, ia membabat dan membacok dua kali.
Tapi dengan gerakan 'Pa-ong-hian-ka' (Coh Pa-ong menanggalkan jubah), Tang Ki-joan menggerakkan kedua tangannya, yang satu menarik dan yang lain menyurung, gerakannya sangat perlahan, tapi tenaganya ternyata sangat besar, bukan saja serangan Loh Bin-ciam mengenai tempat kosong, bahkan ia harus mundur karena terdesak oleh tenaga pukulan lawan.
Berhasil dengan pukulannya itu, Tang Ki-joan lantas merang-sek, mendadak ia angkat sebelah kakinya menendang, Loh Bin-ciam yang tidak pernah menduga akan serangan itu, golok di tangannya kenatertendang terbang ke angkasa.
Tang Ki-joan adalah jago angkatan tua golongan Hing-i-pay, terkenal dengan ilmu pukulan telapak tangannya yang mengutamakan 'lemas melawan keras', kepandaian ini sudah dilatihnya hingga puncak kesempurnaan, ketika tendangannya berhasil membikin terpental senjata lawan, berbareng ia melangkah maju, ia angkat tangan kirinya, seperti hendak menutuk tapi seperti juga hendak men-jojoh, tak tahunya gerakan ini hanya gerakan pura-pura saja, sebaliknya tangan kanan tiba-tiba menerobos dari bawah tangan kirinya, terus menyodok.
"Roboh!"
Begitu ia membentak.
Serangan ini begitu kuat dan keras, lagi pula cepat sekali.
Namun Loh Bin-ciam cukup tangkas juga, lekas ia tahan napas dan mendekukkan perut, ia keluarkan ilmu pukulan bela diri yang Tok-pi-sin-ni ajarkan padanya, tangannya menarik tangan lawan, tetapi tidak urung tubuhnya kena tersodok hingga mendoyong ke belakang, ia sempoyongan, namun tidak sampai jatuh tersungkur.
Di antara Kanglam-chit-kiam atau tujuh pendekar dari Kang-lam, (mestinya Kanglam-pat-hiap, tapi Liau-in sudah tidak diakui lagi, maka tinggal chit-hiap), ilmu silat Loh Bin-ciam terhitung biasa saja dan tidak menonjol, maka Tang Ki-joan agak memandang enteng padanya.
Tak terduga, 'sekurusnya sang gajah, sedikitnya mempunyai berat badan ribuan kati', begitu pula halnya dengan Loh Bin-ciam, sekalipun ilmu silatnya biasa saja, namun dia adalah anak murid guru kosen, sudah tentu tidak boleh dipandang enteng.
Pada waktu Tang Ki-joan mengulangi lagi pukulannya yang sudah dikenalnya, mendadak Loh Bin-ciam balas memukul dengan kedua telapak tangannya saling susul, dengan cepat sekali ia hantam bagian bawah Tang Ki-joan.
Jago tua dari Hing-i-pay itu terkejut, lekas ia rangkap kedua tangannya terus menangkis ke bawah sambil menyampuk ke samping, dengan demikian baru bisa ia patahkan pukulan Loh Bin-ciam.
Dalam pertarungan sengit itu Lu Si-nio telah mainkan pedangnya begitu cepat, ia berhasil menerjang keluar dari kepungan prajurit terus menuju ke kereta tawanan.
Cin Tiong-wat dan Kam Thian-liong berdua setelah kehilangan bantuan Tang Ki-joan, sudah tak mampu menahan Lu Si-nio lagi.
Nampak gelagat jelek, Tang Ki-joan tak ada napsu bertempur lebih lama lagi, segera ia hendak mundur ke belakang, tapi begitu ia menggeser tubuh, Loh Bin-ciam segera mendesak dan menghantam lagi.
Tang Ki-joan menjadi gemas, ia menggertak berbareng itu kedua tangannya lantas menyerang, dengan kedua jari dari masing-masing tangan, ia menutuk bahu Loh Bin-ciam.
Bagaimanapun memang ilmu silat Loh Bin-ciam masih belum cukup sempurna, ia tak pernah menduga bahwa lawannya yang sudah mundur bisa berbalik menyerang, sedang perubahan pukulannya begitu cepat, keruan segera ia kena ditutuk roboh.
Centing-centing yang ia bawa segera maju memayang, namun tidak urung mukanya pucat dan bibir putih, air keringat menetes sebesar kedelai.
Dalam pada itu Lu Si-nio sudah menerjang sampai kereta tawanan, Tang Ki-joan pun sudah menyusul sampai di keretanya.
"Sim-koko!"
Seru Lu Si-nio berulang-ulang begitu sampai di kereta itu, ia merobek tenda kereta dengan pedangnya yang tajam.
"Eng-moay, jangan kau menghadapi bahaya!"
Terdengar sahutan orang di dalam kereta itu, suaranya begitu rendah dan lemah.
Sekalipun begitu, tiap perkataan dapat didengar Lu Si-nio dengan jelas, ia kenal suara itu bukan lain adalah orang yang sedang ia cari, seketika semangatnya menyala, ia terus melompat naik ke atas kereta.
Pada saat itu juga, mendadak tenda kereta tersingkap, tanpa ayal lagi dengan senjata melintang di dada Lu Si-nio melompat masuk ke dalam kereta, namun segera ia menjadi kememek.
"Lu Si-nio, kalau kau tidak lantas pergi, segera kubunuh dahulu tawanan ini!"
Tiba-tiba terdengar Tang Ki-joan mengancam.
Di bagian depan kereta itu, ternyata Tang Ki-joan sedang duduk bersila, sedang kepala Sim Cay-khoan membantai pada dengkulnya, sebelah tangan Tang Ki-joan mencekik leher pemuda sastrawan itu, cukup bila Tang Ki-joan menggunakan sedikit tenaga, dengan segera nyawa pemuda itu bisa dihabiskan.
Nampak keadaan demikian, mau tak mau Lu Si-nio berkeringat dingin saking khawatirnya, hatinya bingung dan tak mampu berpikir lagi.
Dalam pada itu terlihat Sim Cay-khoan membuka lebar kedua matanya.
"Apabila Suhu sudah selamat, maka diriku tidak perlu dibuat sayang,"
Lalu katanya dengan suara perlahan.
"Eng-moay, sebaiknya kau pulang saja!"
Jarak di antara mereka hanya beberapa kaki, tapi hanya boleh dipandang dan tak dapat didekati, pilu rasa hati Lu Si-nio, sebisa mungkin ia menahan air mata, sementara itu sekonyong-konyong terdengar pula suara riuh ramai dari pertempuran sengit di bawah sana.
Kiranya setelah Loh Bin-ciam terluka parah, centing yang ia bawa sudah tentu tak mampu menahan pasukan kerajaan yang ganas laksana srigala itu, mereka dihajar habis-habisan hingga kalang-kabut dan mayat bergelimpangan, belasan centing rada kuat yang melindungi Loh Bin-ciam pun sudah terkepung di tengah.
"Sim-koko, baiklah, hendaklah kau jaga diri baik-baik, aku bersumpah pasti akan menolong kau!"
Seru Lu Si-nio dengan pilu.
Habis itu mendadak ia gunakan gaya 'Hui-eng-bok-tho' (elang terbang menyambar kelinci), ia melompat turun dari kereta tawanan, berbareng pedangnya berputar, karena gayanya yang luar biasa, para prajurit sama berlari simpang-siur menyingkir.
Begitu cepat gerak serangannya, dalam sekejap ia telah melukai pula belasan orang hingga jerit ngeri memekak telinga.
Lu Si-nio masih terus menerjang ke tengah sana untuk menolong Loh Bin-ciam, mengetahui pemuda ini tertutuk oleh musuh, lekas Si-nio membuka jalan darah yang tertutuk itu, tetapi karena sudah lewat agak lama, Loh Bin-ciam seketika masih kaku dan belum mampu berjalan.
Dengan senjatanya Lu Si-nio maju paling depan, ia pimpin para centing keluarga Loh terus menerjang keluar.
Cin Tiong-wat masih hendak mengejar, namun ia telah diteriaki Tang Ki-joan.
"Biarkan saja mereka pergi!"
Sekalipun begitu Cin Tiong-wat sudah melangkah maju beberapa langkah, segera ia disambut dengan sebatang 'hui-to' atau pisau terbang oleh Lu Si-nio yang menyerempet lewat pundaknya, saking kaget dan jerinya, lekas Cin Tiong-wat mundur kembali.
Sementara itu Lu Si-nio sudah memimpin orang-orangnya masuk ke lereng Thian-bok-san.
Dalam pertempuran sengit ini, para prajurit pemerintah telah dirugikan beberapa puluh yang mati dan terluka, sebaliknya centing keluarga Loh pun ada separoh yang tewas atau luka, bahkan Loh Bin-ciam sendiri pun terluka.
Tang Ki-joan segera perintahkan meninggalkan yang mati, sedang yang luka dinaikkan ke atas kuda, sesudah itu pasukan diatur lagi dan dengan tergesa-gesa mereka melanjutkan pula perjalanan.
"Perempuan ini sungguh lihai!"
Ujar Cin Tiong-wat berulang-ulang setelah tenang dari kagetnya. Kini baru ia kenal kelihaian Lu Si-nio.
"Selamat Cin-heng,"
Sahut Tang Ki-joan dengan tertawa.
"Sesudah lewat Ih-ciam, di depan sana jalan raya yang aman, urusan selanjutnya adalah Ciatkang Sunbu yang akan membagi pertanggungjawaban kita."
Begitulah setelah dua hari rombongan mereka berjalan, betul juga dengan selamat mereka tiba di Hangciu.
Ciatkang Sunbu Li Wi, adalah pembesar kepercayaan Kaisar Khong-hi, dengan Soatang Sunbu Jan Bun-kia mereka sama-sama terkenal sebagai pembesar kesayangan kaisar pada masa itu.
Waktu mendapat berita bahwa tawanan kerajaan telah datang, Li Wi keluar menyambut, tapi demi melihat pasukan pengiring tawanan itu kalang-kabut kurang teratur dan muka kotor lesu, prajurit yang luka banyak pula, ia jadi melongo setelah mendapat laporan.
Dalam gubernuran Li Wi telah dibikin kamar rahasia untuk tawanan penting itu, bahkan ia tambahkan pula penjaga terpilih, Kam Thian-liong, Cin Tiong-wat dan Tang Ki-joan bertiga pun dinas menjaga Sim Cay-khoan secara bergilir.
Pada usia lanjut, Kaisar Khong-hi telah meninggalkan urusan 'bu' atau militer dan lebih banyak mengutamakan 'bun' atau sastra, ia ingin mengumpulkan orang-orang pandai seluruh negeri, oleh sebab itu pernah kaisar ini memberi perintah rahasia pada Li Wi agar membikin pemeriksaan pendahuluan di tempatnya, pertama-tama berusaha agar para tawanan itu mengaku dan memberitahu dimana konco-konco mereka, dengan begitu akan gampang menangkapnya.
Kedua, Li Wi diperintahkan agar Lu Po-tiong dan Giam Hong-kui dinasihati agar takluk dan mengabdi kepada kerajaan, bila tidak mau menurut baru kemudian digiring ke kotaraja.
< Tapi kini Lu Po-tiong dan Giam Hong-kui keduanya tidak tertangkap, yang berhasil ditawan hanya murid Lu Po-tiong, Sim Cay-khoan, maka Li Wi rada kecewa.
Kemudian setelah ia berpikir lagi, ia ingat bahwa Sim Cay-khoan inipun terkenal dengan karya sastranya, maka tiada halangan diperiksa juga.
Li Wi mempunyai anak gadis bernama Li Bing-cu, karena gadis ini adalah anak satu-satunya, maka sudah biasa dimanja dan sangat binal, ketika gadis ini mendapat kabar bahwa di gubernuran telah ditahan seorang pemuda sastrawan pemberontak, rasa ingin tahunya lantas timbul, ia minta kepada ayahnya agar diperbolehkan melihatnya.
"Urusan pemerintahan, anak perempuan mengerti apa? Buat apa kau ikut mengurusinya?"
Ujar Li Wi dengan gusar atas niat putrinya yang tak masuk akal itu. Akan tetapi Li Bing-cu ternyata sangat manja.
"Aku belum pernah melihat kaum pemberontak, hanya ingin melihatnya saja, apakah halangannya?"
Katanya dengan aleman. Karena kewalahan, akhirnya Li Wi mengatakan.
"Penjaga di sana semuanya lelaki, kau seorang anak gadis, mana boleh melihatnya, apa kau tidak khawatir ditertawai bawahanku bahwa putri gubernur tidak mengerti adat kesopanan?"
Namun Li Bing-cu tetap bandel, ia pun tidak kurang akal.
"Soal ini gampang!"
Begitu sahutnya.
Habis itu ia lantas masuk ke kamar, selang tak lama ia keluar lagi, namun kini ia sudah bertukar pakaian dengan pakaian laki-laki, dengan tegang-leher sambil melambaikan lengan bajunya, ia berjalan beberapa tindak meniru gaya jalan kaum pria.
"Anak nanti menyamar sebagai kacung ayah, saat ayah mengadakan pemeriksaan, anak tidak akan bersuara, dengan begini siapa yang mengetahui aku adalah samaran!"
Demikian katanya.
Geli bercampur mengkal rasa Li Wi melihat kelakuan putrinya itu, namun ia kewalahan juga, terpaksa ia turuti kemauannya.
Malamnya, Li Wi membawa putrinya itu menuju ke kamar tahanan.
Setelah mengaso sehari, semangat Sim Cay-khoan sudah pulih kembali.
Ketika Li Wi melihat pemuda lemah ini masih begitu bersemangat meski berada di dalam penjara, rupanya pun lain daripada orang biasa, diam-diam pembesar ini memuji.
Pikirnya.
"Orang berbakat baik seperti ini, kalau mau menyerah, kelak pasti akan menduduki kursi pembesar atau diangkat jadi menteri pun bukan soal mustahil."
Kemudian ia lihat putrinya juga sedang memandang pemuda sastrawan itu dengan penuh perhatian, tak tertahan hatinya tergerak.
"Saudara banyak belajar sastra, justru kini Baginda Raja sangat menyukai kaum cendekiawan, kalau kau menurut dan menghentikan propaganda kalian serta kembali kepada kerajaan yang agung, apa susahnya bagimu untuk mendapatkan suatu kedudukan yang tinggi? Buat apa percaya kepada pendapat kolot dan menuju jalan sesat hingga mengakibatkan keluarga hancur dan sanak famili lebur?"
Begitu pembesar tinggi ini mulai membujuk.
"Gubernur tentu banyak mengetahui sastra, numpang tanya Tayjin (paduka tuan), bagaimana pandangan Tayjin atas cendekiawan Go Bwe-joan?"
Mendadak Sim Cay-khoan bertanya.
Go Bwe-joan adalah cendekiawan pada akhir ahala Bing, tapi ia menyerah kepada kerajaan Jing dan menjabat pangkat yang cukup tinggi.
Mendengar orang menyebut Go Bwe-joan, diam-diam Li Wi bergirang.
Maka katanya.
"Go Bwe-joan adalah cendekiawan yang kenamaan lagi bijaksana dan kenal keadaan, seharusnya kita mencontoh padanya."
"Betulkah begitu?"
Tanya Sim Cay-khoan dengan tertawa. Lalu ia menembang beberapa bait sajak. Mendengar petilan sajak ini tiba-tiba wajah Li Wi berubah.
"Aku ingin mohon petunjuk Tayjin, kata-kata sajak Go Bwe-joan tadi bermaksud apakah?"
Sim Cay-khoan bertanya lagi.
Kiranya sajak itu adalah sajak kematian Go Bwe-joan.
Pada waktu Go Bwe-joan sakit berat, ia menyesali dirinya yang telah menyerah kepada musuh, oleh sebab itulah pada sebelum ajalnya ia menulis sebuah sajak yang berisi penuh penyesalan.
Tadi Li Wi bilang supaya mencontoh Go Bwe-joan, maka sengaja Sim Cay-khoan tonjolkan sajaknya yang penuh penyesalan menjadi pengkhianat bangsa itu.
Keruan saja Li Wi menjadi serba salah dan malu.
"Siansing adalah ahli sastra, apa belakangan ini ada ciptaan baru?"
Ia bertanya untuk menutupi kejengahannya.
"Ada, tentu ada,"
Sahut Sim Cay-khoan.
"Kali ini aku menduga pasti mati, maka kemarin di tengah jalan aku ucapkan beberapa sajak yang masih belum disambung lanjutannya, Tayjin berkepandaian tinggi, sudilah kiranya menyambung lanjutannya itu?"
Segera ia membawakan dua bait sajak yang masih belum habis disambung.
Ternyata sajak ini sengaja Sim Cay-khoan karang untuk menyindir Li Wi.
Keruan saja Li Wi makin malu, tak berani ia bertanya lebih jauh lagi, segera ia tinggal pergi.
"Tia-tia (ayah), bakat orang ini bagus sekali, bicaranya pun lihai sangat!"
Diam-diam Li Bin-cu berkata pada ayahnya sesudah mereka keluar dari kamar tahanan.
Li Wi sudah mendongkol, kata-kata putrinya itu membuatnya lebih mengkal, dengan muka bersungut ia tidak menggubris gadisnya itu, terus kembali ke kamar tulisnya sendiri untuk membikin laporan dinas.
Lewat tiga hari kemudian, Cin Tiong-wat selaku komandan pasukan yang menggiring tawanan itu datang menghadap, ia mengatakan hendak menggiring tawanannya menuju ke kotaraja, sekaligus ia mohon Li Wi menambah jagoan lain untuk memperkuat pengawalan.
"Kebetulan sekali kedatanganmu,"
Begitu Li Wi berkata.
"Aku memang sedang memilih jago pengawal baru, kalian bertiga mahir ilmu silat, maka harap kalian suka menjadi wasit pemilihan ini."
Permintaan itu dengan sendirinya diterima oleh Cin Tiong-wat dengan baik.
Cara pemilihan jago pengawal di gubernuran itu ternyata cukup keras.
Syaratnya, lebih dulu harus ada tanggungan orang yang dapat dipercaya, sesudah itu baru bertanding ilmu silat.
Pada hari pemilihan, di lapangan berlatih silat gubernuran, Li Wi telah siap menyaksikan pemilihan sambil minum arak.
Cin Tiong-wat harus berdinas menjaga Sim Cay-khoan, maka ia tak bisa ikut hadir, hanya Kam Thian-liong dan Tang Ki-joan saja bersama dua Congkoan atau pemimpin pasukan pengawal gubernuran saja yang menjadi wasit.
Dalam pemilihan permulaan, di antara tujuh belas calon telah terpilih tiga orang, waktu Li Wi menyuruh mereka maju ke depan, maka terlihat olehnya dua di antaranya adalah laki-laki yang tegap kekar, sebaliknya yang satu mukanya kuning pucat dan tubuhnya kurus, perawakannya pun sedang, lebih mirip seorang penyakitan.
Melihat mereka, Li Wi berkerut kening.
"Ketiga orang ini siapa yang menanggung mereka?"
Tanyanya kemudian.
"Yang satu adalah tanggungan Ong Hun, perwira tua yang telah lama ikut pada Co-hoan Su-po (pangkat setingkat menteri),"
Jawab ajudannya yang bertugas mengurus pemilihan itu.
"yang lain adalah keluarga Han yang turun-temurun berpangkat Padula (perwira), namanya Han Cin-seng, ia ingin mencari pangkat sendiri."
"O, dan yang itu? Siapa yang bermuka pucat dan kurus itu? Siapa yang menanggungnya? Apa sudah memenuhi syarat dalam pemilihan ulang?"
Tanya Li Wi pula.
"Tayjin yang agung mungkin banyak kerjaan, maka suka lupa,"
Dengan muka tertawa ajudannya melapor lagi.
"Orang ini justru adalah tanggungan dan atas perintah Tayjin sendiri. Pilihan Tayjin memang betul-betul jitu, ilmu silatnya memang boleh juga! Di antara tujuh belas calon tadi, mungkin kepandaiannya terhitung yang paling bagus, betul-betul pilih orang tidak boleh berdasarkan paras muka!"
Mendengar itu, Li Wi tertegun, ia berpikir, akhirnya baru ia ingat memang betul pernah terjadi hal begitu.
Kira-kira sebulan yang lalu, waktu ia merayakan hari ulang tahun ibunya, ia telah menanggap sandiwara, dan mengundang pula penjual (pengamen) silat atau yang kini terkenal dengan pemain akrobat.
Bahkan pemain akrobat itu ada beberapa rombongan.
Di antaranya ada satu rombongan pemain akrobat yang bagus sekali permainannya, lebih-lebih salah seorang pemain wanitanya yang mampu berjalan di atas tali, main mangkok berisi air dan berjumpalitan di atas kuda, kesemuanya mengagumkan.
Begitu tertarik hingga setelah menyaksikan permainannya, putrinya, Li Bing-cu, mengundang pemain wanita itu ke dalam gubernuran untuk diajak omong, dan begitulah seterusnya, tiap dua atau tiga hari tentu gadis itu mengundang pemain akrobat wanita itu menemani dia serta menyuruh main akrobat untuk menghibur rasa kesalnya.
Meski tidak suka putrinya berhubungan dengan kaum perantauan, tetapi setelah dipikir toh tiada melanggar kesopanan, lagi pula datangnya wanita itu selalu seorang diri, Li Wi menaksir tidak akan terjadi keonaran, maka tidak diurus lebih jauh.
Kira-kira belasan hari yang lalu, soal pemilihan 'wisu' atau jago pengawal telah diketahui oleh wanita akrobat itu, ia bilang dia ingin mengajukan seorang calon.
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia memandang sekejap kepada lelaki muka pucat dan kurus tadi.
Sesudah memandang, lapat-Iapat Li Wi masih ingat juga bahwa orang ini memang mirip seperti salah seorang anggota pemain akrobat rombongan wanita itu.
Hari itu juga, putrinya berkata kepadanya bahwa gadis akrobat itu hendak menanggung juga seorang calon, dirinya telah tanya siapa yang ditanggung, putrinya menerangkan ialah saudara misan wanita pemain akrobat itu.
Maka tentu inilah orangnya yang dimaksud.
Kiranya Li Bing-cu yang masih bertabiat anak-anak itu menjadi sangat cocok dengan wanita pemain akrobat itu, maka wanita itu bercerita padanya bahwa dia punya Piau-ko atau kakak misan memiliki ilmu silat yang bagus sekali, karena mendengar kabar bahwa di gubernuran akan diadakan pemilihan jago pengawal, maka saudara misannya itupun ingin mencari jalan buat memperoleh sesuatu kedudukan, maka mohon Siocia suka menanggungnya.
Merasa tertarik juga, akhirnya Li Bing-cu menyampaikan hal itu pada ayahnya.
Semula Li Wi merasa geli, ia membatin, seorang pemain akrobat bisa memiliki kepandaian apa?
Tetapi karena kewalahan oleh permintaan putrinya, maka ia membiarkan calon ini ikut serta, sebab ia membatin, pemilihan jago pengawal nanti toh harus melalui tiga kali saringan, dengan sedikit kepandaian pemain akrobat itu mungkin pada pertandingan pertama saja ia sudah akan masuk kotak, orang-orang macam mereka mungkin berharap akan kebetulan bisa terpilih, maka biarlah dia mencoba, agar dia tahu bahwa pengawal di gubernuran bukan sembarang-an bisa dijabat oleh seorang pemain akrobat seperti dia itu.
Begitu pikirnya waktu itu, sama sekali tak tersangka justru lelaki ini malah terpilih sekarang.
Li Wi ingat bahwa nama yang ditulis dahulu melalui putrinya disebut 'Teng Liong', maka ia lantas panggil lelaki pucat kurus itu maju ke depan dan berkata.
"Teng Liong, bukankah kau hanya seorang pemain akrobat? Darimana kau mendapat ajaran ilmu silat?"
"Ilmu silat hamba berasal dari keturunan, karena terpaksa baru aku menjadi pemain akrobat!"
Sahut Teng Liong.
"Baiklah, kalau begitu coba turun ke sana buat bertanding!"
Demikian Li Wi memerintahkan. Begitulah, setelah tambur berbunyi tiga kali, segera pula Li Wi minta Tang Ki-joan menjadi penguji. Lebih dulu Tang Ki-joan memanggil Ong Hun menghadap.
"Ilmu silat apa yang kau latih?"
Tanyanya kepada calon ini.
"Yang kulatih adalah Thi-soa-ciang!"
Sahut Ong Hun.
"Baik, coba kau tunjukkan padaku,"
Perintah Tang Ki-joan.
Ong Hun menurut, ia minta disediakan tiga tumpuk batu bata, bata itu ditata di atas bangku batu di pelataran situ, setelah pulang pergi ia main dua jurus ilmu pukulannya, kemudian ia mendekati bangku batu tadi, mendadak sebelah tangannya dipukulkan, seketika itu tumpukan batu bata pertama kena dihantam hingga hancur lebur.
"Gwakang orang ini sudah mempunyai dasar yang lumayan,"
Begitu komentar Kho Seng, salah seorang Congkoan pasukan pengawal gubernuran. Sementara itu Ong Hun telah berjalan balik.
"Tiap tumpuk bata ada sepuluh lonjor, kini aku hendak memukul remuk satu di antaranya dengan tenaga pukulanku, Cu-go (tuan penguji) ingin aku menghantam remuk lonjoran yang mana?"
Tanyanya kepada Tang Ki-joan.
"Boleh bata yang nomor tujuh!"
Tang Ki-joan menjawab se-kenanya.
"Menurut!"
Sahut Ong Hun. Habis itu ia mendekati bangku batu lagi, ia angkat tangannya terus menabok ke bawah.
"Silakan diperiksa!"
Katanya kemudian sambil meluruskan tangannya.
Ketika perwira ajudan tadi maju menyingkirkan batu bata itu satu per satu, sampai pada lonjoran ketujuh, betul juga bata ini sudah remuk, ia sapu bersih remukan bata ketujuh ini, kemudian ia periksa lagi bata yang kedelapan, kesembilan dan kesepuluh, semuanya ternyata masih utuh.
"Bagus!"
Kho Seng memuji dengan angkat jempolnya.
"Lwekang orang inipun rada mempunyai dasar!"
Dengan tersenyum Kam Thian-liong mengeluarkan pendapatnya juga. Dalam pada itu, kembali Ong Hun telah datang lagi.
"Tumpukan bata yang ketiga akan kau lakukan dengan cara bagaimana?"
Tanya Tang Ki-joan dengan tertawa.
"Aku hantam hancur seluruhnya!"
Jawab Ong Hun.
"Lho, bukankah itu sudah kau lakukan? Coba unjuk sedikit yang baru dan aneh saja!"
Ujar Kho Seng.
"Cara memukul sekarang dengan yang pertama kali tadi berlainan,"
Tutur Ong Hun.
"Congkoan Tayjin, silakan lihat saja!"
Lalu ia mendekati bangku batu pula, ia pentang kedua tangannya, diulur dan ditarik lagi, habis itu ia sedot napas panjang terus sebelah tangannya dengan enteng menepuk ke bawah, lalu ia melompat pergi, sedang tumpukan bata itu sedikitpun tidak goyang, masih tetap tertumpuk di tempatnya secara baik-baik.
Kho Seng tidak mengerti akan keadaan itu, ia merasa heran.
Sebaliknya tidak demikian dengan Tang Ki-joan, jago silat angkatan tua ini mengangguk-angguk dan memuji.
"Bagus!"
Waktu Kho Seng disuruh meraba tumpukan bata itu, begitu tangannya menyentuh, mendadak tumpukan bata itu longsor dan tepung bata bertaburan memenuhi lantai.
Ternyata tumpukan bata ini sudah ditepuk remuk laksana tahu empuknya oleh tenaga dalam Ong Hun tadi.
Bukan main terperanjatnya Kho Seng, ia merasa kemahiran Ong Hun malahan berada di atas dirinya.
"Thi-soa-ciang orang ini sudah ada delapan bagian masak, boleh dipilih!"
Begitulah kesimpulan Tang Ki-joan yang dikatakan kepada Li Wi. Kemudian giliran Han Cin-seng yang dipanggil menghadap.
"Dan ilmu silat apa yang kau latih?"
Tanya Tang Ki-joan.
"Yang aku latih adalah kepandaian memanah dan berkuda, maka yang diutamakan adalah tenaga kaki, tenaga bagian bawah,"
Jawab Han Cin-seng.
"Baik, sekarang coba lihat kekuatan kakimu,"
Ujar Tang Ki-joan.
Han Cin-seng minta disediakan dua puluh karung pasir, tiap karung berisi pasir seberat dua ratus kati, juga tiap sepuluh karung ditumpuk menjadi satu tumpukan, kedua tumpukan pasir itu dijajar di tengah lapangan.
"Dengan sekali tendang, aku sanggup menendang terpental salah satu karung di antara tumpukan itu,"
Tutur Han Cin-seng.
"Baiklah kalau begitu, kau boleh tendang karung keempat pada tumpukan pertama dan karung keenam pada tumpukan kedua,"
Perintah Tang Ki-joan.
Han Cin-seng mengiakan, lebih dulu ia menyuruh orang memberi tanda pada karung yang akan ditendang, sesudah itu ia berlari dengan cepat mengitari lapangan, waktu sampai di dekat tumpukan karung itu, secepat kilat ia menendang dengan kedua kakinya susul menyusul.
Maka segera terdengar suara bergedebukan yang keras, dua karung pasir sudah terbang pergi sejauh lima enam tombak, waktu diperiksa, betul juga karung yang sudah diberi tanda tadi.
Kemudian Tang Ki-joan memanggil Han Cin-seng.
"Masih ada kepandaian apalagi kau?"
Tanyanya.
"Yang masih hanya kepandaian memanah dan berkuda!"
Sahut Han Cin-seng.
Lalu Li Wi perintahkan diuji lagi, berulang kali Han Cin-seng menarik patah beberapa busur yang berkuatan berat, sesudah itu beruntun ia berhasil memanah tiga kali pada tanda merah di tempat jauh.
"Ehm, orang ini berbakat panglima untuk menerjang musuh di medan perang!"
Ujar Li Wi setelah menyaksikan kemahiran memanah itu.
"Dia adalah keturunan Padulu, dengan sendirinya kepandaian semacam ini harus dipahami,"
Kata Tang Ki-joan dengan tertawa.
"Tetapi kalau soal kepandaian asli, ia masih kalah dibanding si Ong Hun tadi. Tayjin boleh juga memberikan tugas dinas luar padanya."
Akhirnya datang giliran Teng Liong, ia dipanggil menghadap.
"Kau meyakinkan ilmu silat aliran apa?"
Tanya Tang Ki-joan.
"Tiada sesuatu aliran silat yang aku yakinkan!"
Sahut Teng Liong.
"Kalau begitu, apa yang menjadi kepandaianmu?"
Tanya Li Wi menimbrung.
"Kepandaianku yang istimewa adalah tahan pukul!"
Jawab Teng Liong lagi. Jawaban orang ini membikin Li Wi tertegun, selagi ia hendak mendamprat karena jawaban tak genah itu, tiba-tiba Tang Ki-joan membuka suara.
"Kalau begitu, boleh coba unjuk kepandaianmu, coba cara bagaimana kau tahan pukul?"
Ujar Tang Ki-joan dengan tersenyum.
"Suruh mereka berdua ini, yang satu memukul aku dengan tangan dan yang lain boleh tendang aku dengan kaki, sekali saja aku pasti tidak akan membalas,"
Sahut Teng Liong sambil tunjuk kedua % rekannya.
Keruan Li Wi dan Kam Thian-liong menjadi kaget, tapi juga tidak percaya.
Ong Hun dan Han Cin-seng, yang satu tangannya sanggup menghantam hancur tumpukan bata dan yang lain bisa menendang terpental karung pasir, namun Teng Liong menyatakan sanggup menerima pukulan dan tendangan mereka, apakah ini bukan omong kosong belaka.
"Baiklah, boleh dicoba juga!"
Tang Ki-joan setuju usulnya.
Segera Teng Liong melompat ke tengah kalangan, ia pasang kuda-kuda dengan kedua tangan menahan lutut, dengan setengah berjongkok ia menantikan pukulan dan tendangan orang.
Dalam pada itu Ong Hun dan Han Cin-seng pun sudah maju ke tengah, segera Ong Hun hantamkan kedua telapak tangan-nya ke dada Teng Liong, sedang Han Cin-seng pun ayun kakinya saling susul, ia menyabet ke bagian bawah.
Begitu cepat kejadian itu hingga segera terdengar suara jeritan orang kesakitan, ternyata Ong Hun tergetar terpental pergi sejauh lebih setombak baru bisa berdiri, sedang Han Cin-seng jauh lebih menyedihkan lagi, ia jatuh tersungkur tak mampu berkutik.
Lekas Tang Ki-joan maju ke tengah menarik bangun Han Cin-seng, ia lihat orang she Han ini kedua kakinya bengkak merah.
Dalam pada itu Teng Liong juga sudah mendekat sambil menyatakan maaf, lalu ia mengulur tangan meraba beberapa kali ke kaki Han Cin-seng.
"Pulanglah kau mengaso barang dua-tiga hari, maka akan sembuh dengan sendirinya!"
Begitu ia berpesan pada orang she Han itu, kemudian ia berkata pula terhadap Tang Ki-joan.
"Paduka Tuan penguji, apakah aku punya kepandaian 'tahan pukul' tadi cukup memenuhi syarat?"
"Tunggu dulu sebentar, biar aku tanyakan dulu kepada Sunbutayjin!"
Jawab Tang Ki-joan.
Habis itu, ia menunduk berpikir sambil kembali ke tempatnya.
Sementara itu Li Wi sedang terkesima hingga ternganga oleh kejadian yang dipertontonkan tadi, ketika Tang Ki-joan sudah kembali ke tempatnya, lekas Li Wi bertanya.
"Apakah si Teng Liong itu bisa menggunakan ilmu sihir?"
Pertanyaan ini membuat hati Tang Ki-joan tergerak.
"Orang ini adalah atas tanggungan Tayjin sendiri, dapatkah Tayjin membe-ritahu asal-usulnya?"
Berbalik Tang Ki-joan bertanya.
"Yang dia latih adalah Lwekang yang paling hebat yang disebut 'Ciam-ih-sip-pat-tiat'!"
Demikian Kam Thian-liong menyela.
"Selama hidupku hanya pernah melihat tiga orang yang mahir kepandaian ini. Seorang ialah Liau-in Hwesio, kedua Thian-yap Sanjin dan yang lain ialah Congkoan dari Hiat-ti-cu, Haptoh, ditambah dengan dia tadi kini menjadi empat orang."
Mendengar keterangan itu, sudah tentu bukan main terkejutnya Li Wi.
"Asal-usul orang ini aku sendiri pun tidak jelas,"
Begitu akhirnya ia menjawab.
"Kalau begitu, mengapa Tayjin mau menanggung dia?"
Desak pula Tang Ki-joan.
Untuk menerangkan bagaimana asalnya hingga ia menjadi penjamin sudah tentu Li Wi merasa malu, mukanya menjadi merah.
Akan tetapi mau tak mau ia harus menceritakan juga kejadian itu, maka ia lantas menerangkan juga bagaimana putrinya memohon padanya untuk menjadi penjamin.
Tang Ki-joan menunduk, ia bungkam tetapi otaknya bekerja.
"Apa ada sesuatu yang kurang benar?"
Tanya Li Wi.
"Orang ini adalah seorang kosen yang jarang ditemui, mana mungkin sudi melamar, bahkan minta bantuan dari berbagai pihak hanya untuk mengejar suatu jabatan pengawal gubernuran!"
Ujar Tang Ki-joan.
Sudah tentu ucapan ini tidak menyenangkan hati Li Wi.
Pikirnya, aku adalah pembesar kesayangan maharaja dan dijunjung tinggi sebagai pejabat tinggi setempat, menjadi pengawalku, apanya yang kurang berharga?
Maka berkatalah dia kemudian.
"Dengan kebijaksanaan Hong-siang (Sri Baginda) sekarang, seluruh negeri aman tenteram, banyak pula orang berbakat yang ingin mendapatkan jalan keluar untuk mencapai sesuatu pangkat. Karena dia adalah seorang kosen yang jarang ditemui, maka lebih-lebih harus dihargai dan dihormati!"
Lalu ia panggil Teng Liong maju mendekat, ia sendiri menuang tiga cawan arak untuk disuguh pada calon bayangkara ini.
Tanpa sungkan Teng Liong mengulur tangannya menyambut cawan arak itu dari tangan Li Wi.
Akan tetapi, mendadak tangannya membalik, ia pegang urat nadi tangan Li Wi terus diangkat ke atas.
Karena kejadian itu, segera Kam Thian-liong melolos pedang terus mengirim dua tusukan ke punggung orang, beberapa gerakan ini begitu cepat laksana kilat, akan tetapi Teng Liong ternyata cukup gesit, di belakang tubuhnya seperti bermata saja, ia membalikkan telapak tangannya terus menghantam jatuh pedang Kam Thian-liong sambil tubuh Li Wi diputar satu lingkaran.
"Kanglam-tayhiap Kam Hong-ti ada di sini, siapa berani maju kemari!"
Bentaknya tiba-tiba.
Saat itu Tang Ki-joan tercengang, nama Kam Hong-ti yang termashur dan menggetarkan utara dan selatan sungai Tiangkang, namanya jauh lebih terkenal daripada Suhengnya, yaitu Liau-in Hwesio, Tang Ki-joan sendiri pernah mendengar cerita orang akan wajah Kam Hong-ti, mengapa bisa berwujud seorang penyakitan seperti dia ini?
Dalam pada itu, para pengawal gubernuran sudah mengerubung datang di seluruh penjuru, akan tetapi mereka merasa jeri oleh nama Kam Hong-ti, maka mereka tak berani sembarangan maju.
"Dengan maksud apa kau berani memalsukan nama Kam-tay-hiap?"
Demikian Congkoan pasukan bayangkara membentak.
Mendadak Teng Liong angkat lengan bajunya terus menggesut mukanya, maka tertampaklah wajahnya yang asli dengan sinar mata yang tajam.
Pada kira-kira tujuh atau delapan tahun yang lalu, Kho Seng pernah melihat Kam Hong-ti dalam suatu pesta yang diadakan oleh seorang Bu-lim-cianpwe atau angkatan tua dunia persilatan, kini nampak wajah Kam Hong-ti masih tetap berwibawa seperti sedia kala, seketika ia menjadi gugup.
"Kam-tayhiap,"
Katanya sembari memberi hormat dengan membungkuk.
"aku yang rendah tidak tahu kalau engkau datang ke sini hingga tidak membikin penyambutan, tidak heran bila engkau menjadi gusar. Harap suka memaafkan dan melepaskan majikanku."
Namun bujukan dengan penghormatan begitu tinggi ternyata tidak menggoyahkan hati Kam Hong-ti, ia malah tertawa dingin.
"Siapa yang sudi memaafkan cakar alap-alap seperti kau ini,"
Dengan bengis ia membentak.
"Lekas kau lepaskan Sim Cay-khoan, kita boleh satu tukar satu, kalau tidak, segera aku puntir putus leher Sunbu-tayjin kalian ini."
"Mohon kepada Kam-tayhiap,"
Begitu Kho Seng coba menjilat lagi.
"Sim Cay-khoan adalah tawanan atas perintah kerajaan, tiada hubungannya dengan Sunbu-tayjin kami."
Akan tetapi Kam Hong-ti masih tetap pada pendiriannya, ia putar sekali lagi tubuh Li Wi yang masih dia angkat tinggi-tinggi.
"Eh, kiranya seorang jago ternama dari Hing-i-pay juga terima menjadi bayangkara istana, maafkan aku kurang menghormat,"
Tiba-tiba ia berpaling kepada Tang Ki-joan dengan kata-katanya yang cukup menusuk.
"Ya, meski kalian mendapat perintah untuk menangkap buronan kerajaan, tetapi kalian harus tahu, Li Wi ini adalah pembesar kesayangan si tua bangka Hongte, dalam penilaian Hong-te, harga Li Wi tentu jauh lebih tinggi daripada seorang Sim Cay-khoan, dengan seorang gubernur untuk menukar seorang pelajar, pasti kalian tidak akan menderita rugi. Sebaliknya kalau kalian tidak mau, maka segera akan kubunuh mampus pembesar ini. Nah, boleh kalian pikir-pikir dahulu."
"Baik, Kam Hong-ti, 'jual-beli' ini kita putuskan seperti usulmu ini,"
Tiba-tiba Tang Ki-joan menyatakan persetujuannya setelah berpikir sejenak.
"Segera aku serahkan Sim Cay-khoan padamu, tapi seujung rambut pun kau tak boleh melukai Sunbu-tayjin."
"Sudah tentu,"
Jawab Kam Hong-ti.
Maka Tang Ki-joan lantas menarik Kho Seng dan diajak lari pergi.
Sebaliknya yang menjadi ribut adalah Kam Thian-liong, ia jadi bingung, diam-diam ia membatin, mengapa kawannya begitu gegabah mau menerima tawaran musuh, lalu cara bagaimana kelak harus mempertanggung-jawabkan kejadian ini?
Ketika Kho Seng ditarik lari oleh Tang Ki-joan, ia pun merasa bingung dan tidak paham akan maksud orang.
"Kho-congkoan, lekas kau bawa aku ke belakang buat menemui Li-siocia,"
Begitulah dengan suara perlahan Tang Ki-joan mengatakan pada Kho Seng.
"Katakan bahwa Tayjin yang memerintahkan kau ke sini mengundang dia, sekali-kali jangan bilang Tayjin ditangkap oleh Kam Hong-ti."
Sebenarnya Kho Seng masih ragu-ragu dan tidak mengerti maksud kawannya, namun terpaksa ia harus menurut.
Setiba di ruangan belakang, setelah dilaporkan, tidak lama kemudian, betul juga L i Bing-cu lantas keluar, bahkan di belakang tirai tertampak berkelebatnya bayangan seorang wanita lain.
Kho Seng adalah orang kepercayaan Li Wi, oleh karena itu sudah biasa ia masuk keluar di rumah ini, maka Li Bing-cu tidak menaruh sesuatu curiga dan lantas keluar menemuinya.
"Ada urusan apa ayah memanggil aku?"
Tanya anak dara ini sambil menyingkap tirai.
Dalam sekejap, secepat kilat Tang Ki-joan melompat masuk ke ruangan dalam.
Sementara itu di belakang tirai masih bersembunyi wanita tadi, hendak menghilang pun sudah terlambat, namun wanita ini ternyata tidak lemah, ia angkat kakinya terus menendang memapaki datangnya musuh.
Walaupun datangnya tendangan itu cepat sekali, namun Tang Ki-joan cukup waspada, mendadak ia menggeser ke samping, kemudian dengan sedikit memutar, berbareng pula kedua tangannya dipukulkan saling susul.
Waktu tendangan mengenai tempat kosong dan menyusul merasakan sambaran angin pukulan yang keras, dengan cepat wanita itu mendoyongkan tubuh, pada saat yang gawat itu ia masih sempat menghindarkan bahaya.
Sementara itu Tang Ki-joan tidak menarik kembali serangannya, dengan tangan kirinya ia hendak memegang pergelangan tangan lawan, sedang tangan kanan menghantam muka orang, begitu cara serangannya yang bertubi-tubi.
Tetapi wanita itupun cukup tangkas, dengan sekali gerakan, tangannya menangkis ke atas, ia patahkan hantaman Teng Ki-joan yang mengarah mukanya, sedang tangan yang lain menjotos ke depan, dengan demikian ia hindarkan pula cekalan lawan.
"Tan Bi-nio, suamimu sudah tertangkap, masih berani kau melawan aku?"
Mendadak Tang Ki-joan menggertak.
Wanita itu terguncang hatinya.
Sementara itu dengan tangan kiri menurun ke bawah, tangan kanan Tang Ki-joan mendadak memukul ke 'Hian-ki-hiat', Hiat-to di tengah dada lawan.
Wanita itu menjadi gusar karena perbuatan orang yang rendah ini, dengan memutar ke samping, kedua kepalan susul-menyusul balas menghantam dengan gaya serangan 'Pa-sip-hou-ji' (macan tutul menelan anak harimau), begitu hebat ia menyerang lawan saking gemasnya.
Tapi Tang Ki-joan adalah jago kawakan dan banyak pengalaman, sebagai angkatan tua golongan Hing-i-pay, ia cukup mengetahui kalau kepandaiannya berlebihan untuk memperolehkan kemenangan, namun sedikitnya harus melalui suatu pertarungan sengit dahulu, ia khawatir banyak buang waktu, maka sebagai langkah pertama segera ia menggertak dengan mengatakan suami si wanita, yaitu Kam Hong-ti, sudah tertangkar), dengan demikian ia ingin membikin kacau pemusatan pikiran orang, menyusul ia gunakan pukulan yang bersifat rendah itu untuk memancing kemarahan lawan, karena marah, cara berkelahi orang tentu menjadi ngawur.
Berhasil juga pancingannya ini, begitu tangan wanita tadi dipukulkan, dengan sebelah tangan menyanggah ke atas, tangan lain secepatnya mencekal lengan orang di tempat 'Kiok-ti-hiat', dengan Kim-na-jiu-hoat ia berhasil menawan wanita itu.
"Kho-congkoan, siapakah dia? Mengapa berani datang ke kamarku untuk menangkap orang?"
Tanya Li Bing-cu terkejut. Mendengar itu, Tang Ki-joan bergelak tertawa.
"Kalau tidak kutangkap dia, nyawa bapakmu mungkin bisa amblas!"
Sahutnya, sesudah itu dengan langkah lebar, bersama Kho Seng mereka menuju ke ruangan depan pula.
Wanita tadi bernama Tan Bi-nio, tidak lain ialah istri Kang-lam-tayhiap Kam Hong-ti.
Meski ilmu silat Tan Bi-nio berselisih jauh dibanding Kam Hong-ti, tapi terhitung lihai juga di kalangan Kangouw.
Mereka suami-istri memang suka pesiar dan merantau, cuma mereka lebih sering melakukan tugas mulia di sekitar Kanglam.
Sebulan yang lalu, mereka membentuk suatu rombongan pemain akrobat dan menjelajah ke Hangciu.
Kam Hong-ti sendiri mengerti bahwa namanya sudah dikenal, oleh sebab itu ia merias dan mengoles mukanya dengan obat hingga berubah lain, setelah sampai di Hangciu, kebetulan Li Wi sedang merayakan hari ulang tahun ibunya, maka rombongan pemain Kam Hong-ti diundang untuk mengisi pertunjukan di dalam gubernuran, kebetulan pula putri gubernur itu sangat menyukai permainan Tan Bi-nio dan sering mengundang lagi ke rumahnya.
Kam Hong-ti sendiri karena tiada urusan lain, ia pun lantas tinggal sementara di kota ini.
Kemudian karena ingin mengetahui apakah di dalam gubernuran terdapat orang kosen atau tidak, maka ia sengaja mencalonkan diri dalam pemilihan jago pengawal.
Tatkala Kam Hong-ti tiba di Hangciu, sudah saling mengirim berita dengan Loh Bin-ciam, oleh karenanya begitu Lu Si-nio dan Loh Bin-ciam sampai di Hangdiu, segera mereka mencari Kam Hong-ti buat berdaya lebih jauh menolong Sim Cay-khoan.
Ketika menghadapi ujian di hadapan pembesar tinggi itu, di situ Kam Hong-ti mempertontonkan kepandaiannya yang luar biasa dan secara cepat ia dapat menawan Li Wi.
Tak terduga, Tang Ki-joan ternyata tidak kehabisan akal, ketika mendengar cerita Li Wi tentang asal-usul Kam Hong-ti yang menyamar sebagai Teng Liong, begitu terjadi peristiwa di luar dugaan itu, segera ia berpendapat tentu wanita pemain akrobat yang dikatakan itu pasti bukan lain daripada istri Kam Hong-ti, Tan Bi-nio.
Maka timbullah kelicikannya, cepat ia berlari ke ruangan belakang, dan betul juga Tan Bi-nio kepergok dengan tepat.
Begitulah, setelah Kam Hong-ti berhasil menawan Li Wi sebagai jaminan, ia lantas minum arak sepuas-puasnya di ruang kerja pembesar negeri itu dengan gembira.
Para pengawal gubernuran dalam keadaan demikian hanya bisa kian kemari di sekitarnya, tetapi tiada seorang pun yang berani mencoba bertindak, mereka semua jeri dan mati kutu.
"Mengapa tua bangka she Tang tadi masih belum juga kembali?"
Kam Hong-ti membentak, ia sudah tak sabar menanti lebih lama lagi. Belum lenyap suara bentakannya, tiba-tiba di sebelah sana datang suara jawaban.
"Kam-tayhiap harap bersabar, segera aku datang!"
Begitu kata suara itu.
Menyusul tertampaklah Tang Ki-joan dengan ketiga jarinya memencet urat nadi Tan Bi-nio, dengan tertawa ngakak telah menyeret datang istrinya itu.
Nampak apa yang terjadi, Kam Hong-ti terperanjat dan gusar.
"Dengan Engso untuk menukar Sunbu-tayjin, kukira kedua belah pihak tiada yang dirugikan, bukan?"
Baca Juga: Pedang Tanpa Perasaan 7
Baca Juga: Tengkorak Maut 1