Eps 3 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
"tetapi selain aku punya Suhu serta saudara seperguruanku, tidak peduli orang gagah darimana, tidak mungkin mengemukakan peraturan perguruan untuk memaksa diri-ku! Aku Pek Thay-koan adalah seorang jantan sejati, sejak tampil di Kangouw beruntung masih belum ada yang mencurigai aku berbuat jahat atau berkelakuan busuk!"
Sementara itu Teng Hiau-lan tak bisa menguasai diri lagi, se-gera menyeletuk.
"Perbuatan cabul di sini apa bukan perbuatanmu?"
"Apa? Perbuatan cabul?"
Thay-koan terbahak-bahak.
"Kau boleh tanya padanya! Ia adalah bakal istriku!"
Katanya lagi sambil menuding si gadis nelayan. Saat itu si gadis nelayan sudah berhenti menangis.
"Urusan ru-mah tangga kami sampai membikin repot para saudara, sungguh ka-mi merasa tak enak sekali!"
Katanya dengan suara perlahan. Akan tetapi kembali si nelayan mendorongnya sambil mem-bentak.
"Kembali sana ke dalam kamar!"
"Eh, kiranya betul ia adalah tunanganmu,"
Pemuda baju putih yang datang belakangan tadi berkata dengan tersenyum.
"Kalau be-gitu, mengapa bapak mertua dan anak menantu saling menggeraki senjata?"
Atas pertanyaan itu, air muka si nelayan tua tampak masam, sedang Pek Thay-koan hanya bungkam saja.
Karena tiada jawaban, pemuda tadi bertanya pula pada Pek Thay-koan dengan muka lebih keren dan sungguh-sungguh.
"Aku dengar tiap murid Tok-pi-sin-ni yang sudah tamat belajar dan hen-dak berangkat, tentu menerima penegasan peraturan yang telah di-tetapkan perguruan, kini aku hendak tanya Pek-heng, bagaimana bu-nyi pasal 8 dari peraturan itu!"
Mendengar teguran dan pertanyaan itu, Pek Thay-koan ter-cengang.
Bunyi dari pasal 8 adalah.
Setelah ternama, dilarang som-bong!
Sekali-kali tak boleh mengunggulkan diri.
Oleh sebab itu, dalam hati Pek Thay-koan berpikir.
"Bagaima na pemuda ini bisa tahu peraturan perguruanku. Jangan-jangan dia adalah saudara seperguruanku. Sesudah aku meninggalkan perguru-an, kabarnya Suhu hanya menerima seorang murid perempuan, ialah cucu perempuan pujangga besar Ciatkang timur Lu Liu-liang, na-manya Lu Eng, nama kecilnya Si-nio, beberapa tahun paling akhir ini namanya mulai terkenal di kalangan-Kangouw. Hanya dia seo-rang yang belum pernah kujumpai, sedang enam saudara sepergu-ruan lelaki yang lain, semuanya aku sudah kenal betul, namun tiada seorang pun yang mirip dia! Apakah mungkin dia anak murid ca-bang perguruan kami yang lain, tetapi selamanya aku belum pernah tahu guru mempunyai saudara seperguruan!?"
Begitulah berbagai tanda tanya timbul dalam benaknya. Tetapi segera ia punya pendapat lain.
"Jangan-jangan ia adalah anak murid Cianpwe yang mempunyai hubungan baik dengan guruku?"
Sebelum Lu Si-nio, memang Tok-pi-sin-ni mempunyai tujuh orang murid lelaki.
Yang pertama adalah Liau-in Hwesio, selanjut-nya berurutan ialah, Ciu Sun, Loh Bin-ciam.
Co Jin-hu.
Pek Thay-koan, Li Gwan dan Kam Hong-ti.
Pada waktu Lu Si-nio memasuki perguruan, kala itu hanya tinggal Kam Hong-ti sendiri yang belum tamat belajar, sedang sele-bihnya sudah tamat dan pergi mengembangkan nama sendiri.
Oleh sebab itu, yang kenal Lu Si-nio hanya Kam Hong-ti seorang.
Tiga tahun sesudah Lu Si-nio masuk perguruan, Kam Hong-ti pun tamat belajar dan berpisah dengan gurunya.
Bersama Liau-in dan kawan-kawan, mereka disebut Kanglam-chit-hiap atau tujuh pendekar dari daerah Kanglam.
Di antara Jit-hiap ini, ilmu silat Liau-in yang paling tinggi, te-tapi nama Kam Hong-ti yang paling cemerlang dan tersohor, Pek Thay-koan punya kepandaian silat hanya di bawah Liau-in dan Kam Hong-ti, oleh karena itu namanya pun cukup terkenal dan disegani, selama malang-melintang di daerah Kanglam (selatan sungai Tiang-kang atau Yangtse), selama itu juga belum pernah ketemukan tan-dingan, lagi pula tabiatnya romantis dan suka bergerak, dia lebih menyerupai seorang Kongcu tampan, karena itu juga tumbuh ta-biatnya yang angkuh.
Kini kena ditegur si pemuda tadi dengan keren, dengan mata kepala sendiri ia pun menyaksikan kepandaian orang memang di atas dirinya, mau tak mau ia menjadi kuncup juga.
"Dengan hormat aku terima teguran saudara, tolong tanya si-apa she dan nama saudara yang mulia?"
Akhirnya ia jawab dengan sungguh-sungguh. Pemuda tadi tertawa.
"Tetapi aku bukan orang yang berdarah jantan sejati, aku she Li bernama Siang-siang!"
Sahutnya kemudian, sebagai jawaban atas perkataan Pek Thay-koan yang me’ngaku diri-nya jantan sejati tadi.
Sementara itu Teng Hiau-lan yang mendengar tanya-jawab ke-dua orang itu di samping, merasa lagu suara pemuda baju putih yang datang belakangan ini seperti sudah dikenalnya, hanya lupa entah dimana.
Ketika pemuda itu memperkenalkan diri, namanya mirip wa-nita.
tiba-tiba hatinya tergerak, pikirnya.
"Jangan-jangan dia inilah Lu Si-nio yang menyamar?"
Tetapi bila ia lihat sikap dan perawakan orang yang gagah dan tampan, ia menertawai diri sendiri yang terlalu tolol, suka berpikir yang tidak-tidak.
Dalam pada itu Pek Thay-koan dan nelayan tadi pun terce-ngang, nama Li Siang-siang sungguh belum pernah mereka dengar.
"Sebenarnya urusan rumah tangga antara Pek-heng dan Lo-tiang ini, orang luar kurang patut ikut campur,"
Li Siang-siang ber-kata pula.
"tapi melihat cara saling gebrak tadi dengan mati-matian, sedikit lengah saja tentu kedua ksatria akan terluka semua. Apalagi kalian adalah bapak mertua dan anak menantu sendiri!"
"Siauko (engkoh cilik) inilah yang mendadak ikut campur, aku sendiri tidak menggeraki tangan,"
Dengan menunjuk Hiau-lan, Pek Thay-koan menyahut dengan tertawa tanpa menyebut diri nelayan itu, tetapi orang tua itu sudah merasakan perkataannya berduri, ia berdehem, lalu ia pun buka suara.
"Kami ayah dan anak ada sedikit perselisihan paham dengan Pek-tayenghiong,"
Katanya.
"Kini Li-heng telah sudi tampil ke muka buat jadi pemisah, baiklah, aku un-dang kalian ke rumahku besok untuk jamuan sekedarnya!"
"Sudilah kiranya Locianpwe memberitahu tinggal dimana?"
Tanya Li Siang-siang.
"Di pulau Thian-hing!"
Sahut nelayan itu dengan bangga. Mendengar itu, mendadak Li Siang-siang terperanjat.
"Sudi-kah Loenghiong memberitahu nama yang mulia sekalian?"
Tanyanya pula.
"Aku hidup dengan menangkap Hi (ikan), sudah lama namaku terlupa!"
Sahut si orang tua.
"Bapak mertuaku bukan lain Hi Kak Tay-ong yang namanya menggemparkan Kangouw!"
Thay-koan mewakilkan menerangkan.
"O, sudah lama kudengar nama bapak yang mulia!"
Berulang-ulang Li Siang-siang menyatakan rasa kagumnya.
"Karena bapak Hi telah sudi mengundang; mana berani aku tidak datang!"
Adalah tidak demikian dengan Teng Hiau-lan, ia tidak menge-tahui manusia macam apakah Hi Kak Tay-ong itu.
"Siauko ini sekalian aku undang,"
Terdengar si orang tua ber-kata pula dengan tersenyum kepada Hiau-lan.
"Ai, aku betul-betul sudah tua dan pikun, sampai siapa gurumu yang mulia masih belum aku tanya, begitu juga nama saudara?"
Segera Teng Hiau-lan memperkenalkan diri dan menjawab.
"Guruku ialah Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng."
Terdengar Li Siang-siang bersuara "oh", sebaliknya Hi Kak bersikap dingin saja, rupanya ia tak percaya.
"Nyo Tiong-eng tak mempunyai Kiam-hoat yang begitu bagus!"
Ujarnya. Seketika Hiau-lan menjadi bingung, ia tak tahu cara bagaima-na harus menerangkan. Syukur Li Siang-siang lantas bersuara.
"Tui-hong-kiam-hoat bisa turun sampai di Tionggoan sehingga tidak sampai terputus lenyap, sungguh suatu hal yang beruntung sekali!"
"O, kiranya Kiam-hoat dari Thian-san-pay,"
Timbrung Thay-koan.
"pantas begitu lihai. Apabila saudara Teng berlatih lebih ba-nyak dua tahun, malam ini tubuhku mungkin sudah bertambah be-berapa lubang!"
Perkataan itu membikin muka Hiau-lan terasa agak panas, te-tapi sebaliknya Pek Thay-koan seperti tak ambil pusing, ia tertawa terbahak-bahak serta menarik tangan Hiau-lan.
"Sudah jauh malam, aku hendak berangkat dulu!"
Tiba-tiba Li Siang-siang mohon diri.
"Aku berangkat bersamamu!"
Ujar Pek Thay-koan. Teng Hiau-lan pun ikut berpamitan. Hi Kak kiongciu (merangkap kepalan di depan dada) sebagai tanda hormat pada Li Siang-siang sembari mengatakan pada Pek Thay-koan.
"Pertemuan besok malam, Thay-koan, hendaklah kau pikir masak-masak untuk ambil ketetapan!"
Setelah mereka bertiga mendarat, mendadak terdengar Thay-koan berkata.
"Li-hingte (saudara) dan Teng-hingte, pertemuan be-sok malam, kukira lebih baik kalian jangan ikut hadir!"
"Apakah Pek-heng tak ingin kami terseret ikut campur dalam urusan pribadimu?"
Tanya Li Siang-siang.
"Bukan itu maksudku,"
Sahut Pek Thay-koan.
"Dalam perte-muan dengan mertuaku, mungkin ia bertujuan tidak baik. Karena Li-heng berhati mulia dan Teng-heng pun seperti sahabat lama wa-laupun baru kenal, urusanku tiada jeleknya kuceritakan terus-terang. Marilah, kita cari suatu tempat yang baik untuk berbicara."
Lalu mereka berduduk di suatu tempat di pantai itu.
"Urusan percintaan memang ruwet, tak bisa aku lepaskan diri, kalau dibicarakan sungguh memalukan,"
Pek Thay-koan mulai me-nutur dengan menghela napas.
"Kalian kira orang macam apakah bapak mertuaku itu?"
"Bajak yang malang-melintang di lautan, di lima danau dan empat lautan, banyak terdapat begundalnya, bukankah begitu?"
Sa-hut Li Siang-siang.
Pek Thay-koan mengangguk, suatu tanda tidak salah ucapan orang.
Sesudah itu, ia mulai menceritakan kisah pengalamannya.
Kiranya pada tiga tahun berselang, dengan kepandaian Pek Thay-koan, pernah seorang diri mengalahkan Hong-ho-ngo-pa (lima benggolan Hong-ho), oleh karena itu namanya disegani sekali.
Pada suatu hari, ia pesiar sampai di Thay-ouw, suatu danau terkenal di daerah selatan, di sini ia bertemu dengan putri Hi Kak, begitu berjumpa, hati lantas terpikat.
Sebenaraya dengan ilmu silat Pek Thay-koan yang tinggi, di-tambah orangnya cakap, beberapa tahun ini entah sudah berapa ba-nyak orang ingin jadi perantara jodoh baginya, tetapi selama itu ti-ada seorang pun yang ia penujui, sebaliknya sejak ia bertemu de-ngan putri Hi Kak, ia lantas tergila-gila.
Sampai di sini, saking herannya tiba-tiba Hiau-lan bertanya.
"Jika begitu, pada waktu Pek-heng bertemu dengannya, tentu mem-punyai pengalaman yang menarik, sebab kalau cuma paras cantik saja tak mungkin Pek-heng tergila-gila!"
"Usia Teng-hengte walau masih muda, tapi dalam soal cinta rupanya banyak pengalaman,"
Dengan tertawa cekakakan Pek Thay-koan menyahut.
"Soal pengalamanku itu tidak begitu menarik. Sesu-dah aku mengalahkan Hong-ho-ngo-pa, aku masih tidak tahu mere-ka itu begundal Hi Kak, maka sedikitpun aku tak ambil perhatian. Ketika aku sampai di Thay-ouw, justru tempat ini adalah sarang ke-dua Hi Kak, ia mengirim orangnya buat menangkap aku, dalam per-tempuran sengit, aku berhasil melukai separoh dari delapan orang yang ia kirim, namun aku sendiri pun terluka parah, selagi aku ber-usaha melarikan diri dari ancaman bahaya itu, tiba-tiba putri Hi Kak muncul, ia membentak menghentikan pengejaran mereka dan mele-paskan diriku. Belakangan menurut cerita dari sahabat yang dekat dengan Hi Kak, katanya dia mengagumi ilmu silatku dan tak me-nyetujui tindak-tanduk ayahnya, maka dia sengaja menyelamatkan diriku."
Di tengah gelombang ombak laut yang menderu, Teng Hiau-lan terkesima oleh cerita tadi, tak tertahan ia bersuara terharu.
"Teng-heng, rupanya ada juga sesuatu yang sedang kau pikir-kan,"
Goda Li Siang-siang dengan tertawa.
Suaranya begitu lembut dan merdu, hati Hiau-lan terguncang, suara itu terlalu mirip dengan suara Lu Si-nio, jangan-jangan ia adalah saudara Lu Si-nio, demi-kian ia melamun.
Tetapi waktu ia tahu kedua orang lagi menga-wasinya, ia menjadi tersipu-sipu..
"Li-heng jangan menyimpangkan cerita orang, harap Pek-heng berceritera terus!"
Katanya dengan tersenyum ewa.
"Setelah peristiwa itu, aku mendapat tahu juga bahwa ia bukan lain adalah putri Hi Kak, namanya Hi Yang,"
Demikian Pek Thay-koan meneruskan kisahnya.
"Aku pikir Hi Kak adalah bajak laut, banyak merampok dan membunuh kaum saudagar, kalau ia mau kembali dari jalan sesat, terhadap usaha perjuangan memulihkan ne-gara akan banyak faedahnya.
Lagi pula, bajak laut mana yang tak pernah membunuh orang?
Ia masih belum tergolong manusia yang kejahatannya kelewat takaran dan tak bisa diampuni, malah di ka-langan Kangouw ia terkenal sebagai bajak berbudi.
"Oleh sebab itulah seorang diri aku segera berangkat, menca-rinya ke Thay-ouw! Setelah aku beritahu maksud tujuanku bahwa aku ingin melamar putrinya, hal ini sangat di luar dugaannya. Me-lihat aku bernyali begitu besar, segera aku diajak bertanding menja-jal ilmu silat, setelah bergebrak setengah hari, akhimya seri. Waktu ia masuk ke belakang dan bertanya putrinya, ternyata putrinya pun setuju, maka hari itu juga pertunangan kami lantas ditetapkan!"
"Ehm. benar juga anak dara itu!"
Ujar Li Siang-siang.
"Emangnya siapa yang bilang dia salah? Yang salah ialah mertuaku."
Pek Thay-koan melanjutkan lagi.
"Memang ia pemba-jak, tak tahunya ia kena dipancing Si-hongcu, apabila ia membantu Si-hongcu naik takhta.
setelah berhasil, daerah Soatang akan diberi-kan padanya.
dengan begitu ia akan menjadi raja lautan merangkap Soatang Thotok (gebernur).
ia hanya wajib menghadap kaisar saja dan tak usah mengirim upeti atau bayar pajak.
"Mertuaku itu tenggelam oleh pangkat dan kemewahan, ia se-tuju dan menyanggupi. Berulang-ulang aku menasihati dia, tapi tak membawa hasil, akhirnya aku putuskan hubungan dan membatalkan pertalian mertua dan menantu! Hi Yang ternyata sangat setia cinta-nya, ia mengirim kabar padaku bila ayahnya tak mengizinkan, maka selama hidup ia pun tak mau menikah. Oleh sebab itu juga jauh-jauh aku datang lagi, sedianya hendak ke Thian-hing-to mencari mertua-ku buat menginsafkan dia lagi, tak terduga sudah kepergok di sini."
Kiranya Pek Thay-koan tak mengetahui bahwa Hi Kak sudah mendapat kabar akan kedatangannya, semula Hi Kak pikir biar pe-muda itu menginjak Thian-hing-to, kemudian akan dipaksa menu-ruti kemauannya.
Tak tahunya Hi Yang cukup kenal watak Pek Thay-koan, ia khawatir urusan jadi runyam, pula anak buah Hi Kak banyak yang menginginkan kedudukan mewah, tentu juga tak mau tinggal diam, seumpama nanti ia sendiri tampil ke muka untuk menolong, mung-kin akan terlambat, karena itulah, maka ia berkeras mengajak ayah-nya memapak kedatangan Pek Thay-koan di tepi pantai ini.
Setelah mendengar cerita Pek Thay-koan, Li Siang-siang lan-tas berkata.
"Teratai putih tumbuh dari dalam lumpur, Lan-hoa tum-buh di lembah sunyi. Pek-heng punya tunangan amat bijaksana dan mengagumkan, aku paling suka ikut campur urusan orang lain, tentu aku akan membantumu sebisanya. Pertemuan besok malam, betapa-pun aku akan ikut pergi!"
Pek Thay-koan bungkam saja, ia ragu-ragu.
"Apalagi dengan nama Kanglam-pat-hiap yang tersohor, tidak mungkin mundur teratur!"
Terdengar Li Siang-siang berkata pula. Karena kata-kata ini, Pek Thay-koan seperti teringat sesuatu.
"Ilmu silat mertuaku tidak lemah, begitu bertemu, Li-heng de-ngan sekali gebrak saja sudah dapat merebut goloknya, sungguh ke-pandaian ajaib yang hebat. Entah Li-heng menggunakan kepandaian dari cabang mana, apakah boleh tahu untuk menambah pengalaman kami?"
"Pek-heng sendiri juga pernah mempelajarinya, buat apa ber-tanya lagi padaku?"
Jawab Li Siang-siang. Jawaban itu makin menambah tercengang Pek Thay-koan. Namun sebelum ia buka suara, Li Siang-siang sudah menyam-bung lagi.
"Kepandaian ‘Kang-jiu-jip-peh-yim’ bukankah sudah kau latih dengan baik? Tipu serangan ke-36 yang kau pelajari itu apa?"
"Sing-hay-hu-ceh!"
Sahut Pek Thay-koan tanpa pikir.
"Nah, itulah!"
Ujar Li Siang-siang.
"Cuma aku memainkannya dengan sedikit cepat, pula secara mendadak dan di luar dugaan mu-suh, maka dengan sekali gempur lantas berhasil!"
"Li-heng, bagaimana kau pun mahir ilmu silat dari cabang kami?"
Seru Pek Thay-koan dengan terheran-heran. Li Siang-siang tersenyum.
"Aku pernah menyaksikan kawan-mu memainkannya,"
Sahutnya kemudian. Tetapi Pek Thay-koan masih merasa tak mengerti, pikirnya.
"Di antara para saudara perguruan, yang memiliki kepandaian luar biasa seperti itu hanya Liau-in Suheng, tetapi gerak tangan Liau-in Suheng belum tentu bisa sedemikian cepat. Bila dia dapat dari men-curi belajar, tidak mungkin mencapai tingkatan setinggi ini."
Demi-kian ia bertanya pada diri sendiri dengan penuh keheranan.
Sedang Teng Hiau-lan ikut bingung juga, ia tidak tahu untuk apa mendadak Pek Thay-koan bertanya gerak silat tadi.
Rembulan sementara itu sudah bergesar pula ke tengah cakra-wala.
"Besok petang kita jumpa lagi di sini!"
Kata Li Siang-siang. Habis itu ketiga orang lantas berpisah. Tetapi belum beberapa langkah Teng Hiau-lan berjalan, tiba-tiba terdengar seruan Li Siang-siang.
"Teng-heng punya Kiam-hoat sudah banyak bertambah maju, perjalanan ke Thian-hing-to nanti boleh tak usah khawatir!"
Waktu Hiau-lan membaliki tubuh, ternyata Li Siang-siang su-dah pergi jauh, hanya suara tertawanya saja yang sayup-sayup masih berkumandang.
Sekembalinya Hiau-lan di rumah pondokan, ia menjadi kaget, karena cahaya lampu dalam rumah penginapan itu terang bende-rang, Siauji dan pengurus hotel masih menantikan kembalinya.
Pe-ngurus itu berdiri dengan hormat menyambutnya.
"Kami tak tahu tuan adalah sahabat Hi Kak Tay-ong, maka kalau ada keteledoran, harap dimaafkan!"
Pintanya. Sesudah itu ia lantas menyerahkan se-buah kartu merah. Waktu Hiau-lan membaca, ternyata Hi Kak yang telah me-nyuruh orang mengirim padanya.
"Hebat sekali,"
Demikian ia mem-batin.
"Hi Kak Tay-ong betul-betul mempunyai begundal yang ba-nyak dan lihai, hanya dalam sekejap saja sudah dapat menyelidiki dimana aku tinggal."
Maka ia pun tidak banyak bicara lagi, setelah beromong be-berapa kata ia lantas masuk kamar buat mengaso.
Karena kejadian aneh selama dua hari ini, Hiau-lan bergulang-guling di atas pembaringan, sampai lama baru ia tertidur.
Besoknya waktu magrib, Hiau-lan menuju ke pantai menurut waktu yang telah ditetapkan.
Pek Thay-koan dan Li Siang-siang berdua ternyata sudah menanti di situ.
"Kedua saudara sungguh pagi sekali!"
Ujar Hiau-lan.
"Sudah lama Hi Kak Tay-ong menanti kedatangan kita!"
Sahut Li Siang-siang dengan tertawa.
Lalu ia dekap bibir terus bersuit.
Dalam sekejap saja, dari lautan sana tertampak berlayar men-datangi sebuah kapal besar, di atas kapal itu terdapat beberapa lelaki tegap, dengan membungkuk dan menghormat mereka menyilakan para tamunya naik.
Teng Hiau-lan tahu ini adalah kapal bajak Hi Kak Tay-ong, maka ia pun tidak takut lagi, bersama orang she Pek dan Li, mereka naik kapal itu terus berlayar menuju Thian-hing-to.
Di lautan Kuning, memang terdapat banyak sekali pulau, ke-cuali Thian-hing-to, masih ada pula Ling-san-to, Yang-hay-to, Wei-san-to dan pulau-pulau besar kecil tak terhitung banyaknya.
Kota Jing-to di belakangnya berdiri Lau-san, pegunungan itu membentang jauh hingga ke tepi pantai, sebelah sini laut dan sebe-lah sana gunung, hingga Jing-to merupakan kota yang berpeman-dangan alam indah sekali.
Di lepas pantai tertampak pulau-pulau yang mengambang di permukaan air, remang-remang kelihatan pun-cak bukit yang menonjol laksana gunung dewa di atas lautan, ditam-bah pula suasana malam, cahaya lampu menyorot ke air laut me-mantulkan sinar kelap-kelip sehingga menambah keindahan dan me-nakjubkan.
Setelah kapal mereka berlayar melewati beberapa pulau kecil, lebih satu jam kemudian, terdengar pengemudi kapal menuding ke sebuah pulau dan berkata.
"Itulah Thian-hing-to!"
Setelah kapal merapat segera mereka bertiga mendarat.
Di atas pulau itu ternyata batu-batu karang berdiri tegak lak-sana binatang raksasa menjulang di angkasa, di atas tebing batu sekira belasan tombak tingginya terdapat benteng batu yang ber-tumpuk-tumpuk mengunci selat gunung, pintu benteng tertutup ra-pat, di kedua samping tersusun pagar perlindungan setinggi lebih setombak mengitari gunung laksana naga yang panjang sekali.
Se-dang di belakang benteng, puncak-puncak bukit menonjol dengan megahnya dihiasi pohon-pohon tua menghijau, remang-remang me-ngandung suasana seram.
"Ayah mertuamu mengambil kedudukan di sini, beliau tentu sudah banyak mencurahkan tenaga dan pikiran!"
Dengan tertawa Li Siang-siang memuji kemegahan pulau itu.
"Pulau demikian hebat-nya, sungguh di luar dugaanku!"
Pek Thay-koan tertawa getir, ia tidak menyahut, tetapi segera mereka ikut utusan Hi Kak masuk ke dalam benteng.
Di dalam benteng ternyata merupakan dunia lain, di atas pulau itu tumbuh bunga dan rumput yang aneh, paling menarik perhatian adalah bunga yang disebut ‘Soa-teh-hoa’ (kamelia) yang berwarna merah tua, di malam hari ternyata sangat indah.
Sesudah mereka bertiga memasuki pintu benteng, segera terli-hat seorang lelaki tegap mengayun bendera sambil berseru.
"Tay-ong menyilakan ketiga tamu agung berjumpa di Chian-tiang-giam!"
"Baik, silakan tunjukkan jalan!"
Sahut Pek Thay-koan.
Dengan tangan masih memegang bendera, orang itu dengan cepat mendahului di depan, diikuti dengan kencang oleh Li Siang-siang bertiga.
Keempat orang memiliki ilmu silat tinggi, maka dengan cepat mereka memutar ke kanan dan belok ke kiri, tidak antara lama, me-reka sudah memasuki sebuah lembah hutan sunyi, dari jauh tertam-pak rumput alang-alang yang tingginya melebihi dengkul.
"Kau jalan mepet aku!"
Tiba-tiba Li Siang-siang merandek dan membisiki Teng Hiau-lan. Selagi Hiau-lan merasa bingung karena tidak tahu maksud orang, sekonyong-konyong terdengar si penunjuk jalan itu berkata.
"Kini mulai menanjak ke atas gunung, jalanan pegunungan rada li-cin, harap tuan berhati-hati!"
Habis berkata, segera ia mendahului mendaki gunung itu.
Waktu Teng Hiau-lan memandang ke atas, ternyata seluruh le-reng gunung penuh belukar bercampur tumbuhan sebangsa kaktus berduri, berbeda jauh sekali dengan pemandangan indah di bawah gunung tadi.
la menaksir bila menggunakan Yu-Iiong-kiam untuk membuka jalan, mungkin masih bisa naik ke atas, tapi kalau hanya mengan-dalkan ilmu entengi tubuh untuk melayang lewat belukar selebat itu, rasanya tidak mungkin berhasil.
Waktu ia memandang lagi, si penunjuk jalan tadi sudah maju ke depan dengan cepat seperti tiada sesuatu yang luar biasa.
Tengah bersangsi, tiba-tiba Li Siang-siang memegang lengan-nya terus ditarik cepat, mendadak Hiau-lan merasa tubuhnya tera-pung, sedang kain baju Li Siang-siang melambai tertiup angin, se-kaligus ia melayang melewati belukar yang lebat berserak tadi, Hiau-lan merasa seperti terapung di awang-awang, dimana lengan-nya menempel adalah tempat yang lunak dan berbau wangi, dengan sendirinya ia mengerutkan tubuhnya sedikit, ternyata ia dibawa Li Siang-siang ke atas gunung.
Di antara hutan belukar itu sebenaraya ada sebuah jalan kecil menjurus ke atas gunung melalui arah lain.
Penunjuk jalan tadi tidak membawa mereka melalui jalan kecil itu, terang ia sengaja hendak menjajal kepandaian mereka, kalau tak dibantu oleh Li Siang-siang, tentu bisa dapat malu, demikian pikir Hiau-lan.
Setelah penunjuk jalan itu tancapkan kaki di tempat datar, lalu ia menoleh, tahu-tahu tiga orang sudah berdiri di sampingnya.
"Kepandaian tuan-tuan sungguh hebat sekali!"
Mau tak mau ia memuji juga.
Habis itu ia menyingsing baju terus mendaki ke atas pula melalui jalan kecil.
Ketiga orang menguntit terus dengan kencang, jalan kecil itu melingkar-lingkar dan berbelok-belok, sesudah melewati berbagai rintangan, akhirnya menaiki sebuah puncak gunung yang curam.
Di atas puncak itu penuh tumbuh pohon-pohon tua yang rin-dang sekali, burung-burung berkicau ramai, laksana memasuki du-nia lain.
• Sesudah melanjutkan tak lama lagi, tiba-tiba terlihat dinding tebing menghadang di depan mereka, tembok gunung itu menjulang tinggi sedikitnya ada dua atau tiga puluh tombak dan halus licin, sedikitpun tiada tempat yang dapat dibuat mendaki ke atas.
"Celaka!"
Li Siang-siang mengeluh demi melihat tebing yang curam itu.
"Tebing yang berbahaya begini, aku dan Pek Thay-koan masih sanggup mendaki, tetapi bagaimana aku dapat mencangking seorang lagi."
Penunjuk jalan itu membawa mereka mengitari tebing curam, tiba-tiba terlihat di depan dinding gunung ada sebuah pohon beri-ngin tua tumbuh mencuat keluar, di atas pohon penuh bergelayut akar yang melambai-lambai tertiup angin, bahkan ada beberapa akar panjang membuai kian kemari.
"Nah, baiklah kita naik dari sini!"
Kata penunjuk jalan itu.
Lalu ia keluarkan seutas tambang, di pucuk tambang terpasang gantolan besi, waktu ia lemparkan, gantolan itu segera menyangkol pada pohon beringin tua itu.
Ia pegang tambangnya, tubuhnya ber-ayun beberapa kali, sesudah itu mendadak ia membuai sekerasnya terus melayang ke atas pohon beringin.
Kiranya ilmu entengi tubuh orang itu walaupun bagus, namun masih belum mencapai puncak kesempurnaan, oleh karena itu sebe-lumnya ia menyediakan tambang, dengan meminjam ayunan tam-bang, ia mendaki tebing curam itu.
Melihat gerak orang, Li Siang-siang tersenyum.
"Ada tangga ini, tak usah banyak buang tenaga!"
Katanya sambil menunjuk akar panjang pohon beringin.
Sementara itu Pek Thay-koan telah membikin singsat pakaian-nya, lalu ia enjot tubuh, kedua tangan meraup ke atas, segera ia da-pat memegang akar pohon yang cukup kuat, berbareng mengayun cepat menuju ke atas pohon.
"Teng-hingte, apa kau sudah siap!"
Tanya Li Siang-siang.
Habis itu, ia segera menutul kaki, dengan gerakan mengapung .
ia sambar akar yang dilepaskan Pek Thay-koan yang sedang mem-buai ke arahnya, menyusul mendadak ia membaliki tubuh, dengan kepala di bawah dan kaki di atas seperti hendak terjungkal jatuh.
Hiau-lan sampai berseru kaget, tapi dengan tersenyum simpul Li Siang-siang melingkarkan kaki pada akar pohon, kedua tangan melambai ke bawah.
"Naiklah, lekas!"
Serunya.
Di antara perasaan kagum oleh kepandaian Li Siang-siang yang luar biasa itu, tiba-tiba hati Teng Hiau-lan tergerak.
Gaya ilmu entengi tubuh Li Siang-siang yang indah dan tinggi tiada taranya ini, tiba-tiba mengingatkan dia pada waktu pertemuan-nya dengan Lu Si-nio di Bin-san dahulu, pemah gadis itu balapan ilmu entengi tubuh dengan ‘Ban-li-tui-hong’ Liu Sian-gai dari Kwantang-si-hiap, waktu itu Lu Si-nio juga memondong dirinya meloncat ke atas puncak yang curam.
Kepandaian yang luar biasa itu temyata serupa benar dengan Li Siang-siang.
Walaupun ternganga, tapi ia tidak ayal, dengan cepat ia pun meloncat ke atas dan menggandul pada kedua tangan Li Siang-siang yang halus, kemudian ia pun melayang naik ke atas tebing.
Si penunjuk jalan melihat mereka bertiga tanpa bantuan tali sudah bisa naik ke atas, mau tak mau ia kagum tak terhingga, maka tidak berani mempersulit orang lebih jauh, ia bawa ketiga orang me-nyusur jalanan kecil’tadi terus naik ke atas puncak gunung.
Di atas gunung, pemandangan temyata lain dengan keadaan di atas pulau tadi.
Setelah ketiga orang naik sampai puncak Chian-tiang-giam (tebing seribu kaki), segera mereka rasakan hawa sejuk dan hati lapang, di atas gunung itu pepohonan lebat sekali, jika me-mandang jauh ke laut Kuning, maka yang tertampak adalah angkasa luas tanpa tepi, layar perahu nelayan kelihatan remang-remang se-perti bulu putih yang terapung di lautan.
"Tid.ak nyana, gunung ini bisa lebih megah daripada gunung Gan-thang dan Thian-tay!"
Ujar Li Siang-siang. Gan-thang-san dan Thian-tay-san adalah dua gunung ternama di Tiongkok.
"Tinggi Gan-thang dan Thian-tay mencakar langit, kemegahan dan keindahannya serba lengkap,"
Sahut Pek Thay-koan dengan ter-tawa.
"Puncak ini walau bagus, tapi bagaimanapun hanya sebuah puncak saja."
Li Siang-siang mengerti perkataannya itu sengaja mengejek Hi Kak, maka ia hanya tersenyum dan tidak berkata lagi.
Sebaliknya si penunjuk jalan itu tampak berubah parasnya, merasa kurang senang.
Sesudah mereka berjalan kira-kira setengah li di atas gunung, tiba-tiba di depan mereka muncul sebuah gedung yang megah, tem-bok terkapur putih bersih, tapi penuh tumbuh cit-le berduri, di tengah terdapat pintu gerbang yang terpajang dengan mewah sekali, dua sayap daun pintu besi terbuka lebar, di kanan kiri berbaris bebe-rapa prajurit bersenjata menjaga jalan yang menuju ke dalam.
Dengan tak gentar mereka bertiga terus berjalan masuk di an-tara prajurit bersenjata itu, mereka melalui jalanan panjang, mema-suki sebuah taman bunga, taman yang indah sekali, banyak gunung-gunungan palsu dan terJapat pancuran air pula di tengah sebuah em-pang, di tengah empang terbangun sebuah gardu yang luas dengan jendela terbuat dari kaca, di sekitar gardu tertanam bunga-bunga, bi-la naik ke atas gunung-gunungan palsu dapat memandang jauh ke laut Kuning.
Dalam hati Hiau-lan membatin, Hi Kak Tay-ong sungguh pin-tar menikmati keindahan, dengan membikin taman megah ini, entah berapa banyak harta dan tenaga yang telah dikorbankan.
"Tamu agung tiba!"
Penunjuk jalan tadi berseru, terus me-nyingkap kerai lemas sebuah pintu gardu.
"Silakan tamu masuk!"
Terdengar suara Hi Kak Tay-ong ber-seru dari dalam.
Waktu itu rembulan muda sudah menyingsing, tiba-tiba dari dalam muncul sebarisan pelayan perempuan muda, dengan tangan membawa lentera mereka menyambut kedatangan para tamu agung!
Kemudian mereka bertiga memasuki gardu yang beruangan luas, seketika mata menjadi silau.
Dalam ruangan itu temyata penuh alat-alat mewah dan barang mestika yang menyolok, permadani dan kain jendela ditaburi muti-ara dan batu manikam.
Sedang di depan gardu sana terdapat pula sebuah balkon, di sana sudah siap beberapa meja perjamuan.
Begitu nampak mereka bertiga masuk, segera terdengar Hi Kak Tay-ong tertawa terbahak-bahak.
"Ketiga ksatria sejati temyata tidak ingkar janji dan benar-benar datang,"
Serunya sambil berdiri.
"Di sini masih terdapat beberapa kawan dari kalangan Kangouw, marilah saling berkenalan!"
Waktu Teng Hiau-lan memandang Hi Kak Tay-ong, rajabajak laut ini ternyata sudah berlainan sekali dengan tadi malam.
Kalau tadi malam ia berdandan sebagai kaum nelayan miskin, maka kini ia mengenakan jubah sulaman yang ditaburi mutiara dan batu permata, kepalanya memakai topi kebesaran yang indah dengan penuh batu permata pula, ia berdandan sebagai maharaja.
Di ruangan gardu berduduk belasan orang, saat melihat keda-tangan Pek Thay-koan, mereka berdiri sambil mengucapkan.
"Sela-mat datang atas kunjungan anggota Kanglam-pat-hiap dari jauh!"
Teng Hiau-lan coba melihat siapa saja mereka, maka bukan main terkejutnya.
Di antara tamu-tamu duluan itu terdapat dua orang kakek bermuka kuning hangus, memakai baju kain kasar, paras me-reka kaku tanpa mengunjuk sesuatu perasaan.
Mereka bukan lain ia-lah Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji dan Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh!
Melihat Teng Hiau-lan memasuki ruangan tengah, tiba-tiba Sat Thian-ji pelototkan matanya yang aneh, segera ia mengulur ta-ngan hendak menjambret dari jauh.
"Kau murid khianat ini, masih berani bertemu denganku!"
Ia berteriak dengan gusar. Namun Pek Thay-koan lantas angkat tangannya mewakilkan menangkis.
"Awas! Kuku beracun!"
Terdengar Li Siang-siang berseru.
Atas peringatan rekannya itu, cepat Pek Thay-koan mengubah gerak tangannya, ia tekuk dua jarinya terus menggantol pergelangan tangan Sat Thian-ji.
Tentu saja Pat-pi-sin-mo tidak membiarkan tangannya dicekal orang, ia dorong ke depan dan kedua orang tergetar mundur bebe-rapa tindak.
Sat Thian-ji merasakan pergelangan tangan kaku kese-mutan, sedang Pek Thay-koan pun merasakan dadanya sesak, se-perti kena dipalu.
Walaupun kedua orang hanya saling tukar sekali gebrakan, namun sudah dapat mengukur kepandaian lawan.
"Apa katamu? Bocah ini adalah muridmu?"
Dengan mata men-delik Hi Kak Tay-ong menegas.
"Bukan, aku bukan murid iblis ini,"
Teng Hiau-lan memban-tah.
"Guruku adalah Tui-hong-kiam Ciu Jing dan Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng!"
"O,"
Hi Kak Tay-ong bersuara.
"Kalau ada persoalan apa-apa boleh diurus nanti saja."
Di pihak lain, Sin-mo-siang-lo melihat ada orang dari Kang-lam-pat-hiap yang membela Teng Hiau-lan, apalagi Hi Kak Tay-ong sudah buka suara pula, maka mereka tak berani membikin rusuh lagi perjamuan itu, dengan menahan gusar tak berani bersuara pula.
Setelah semua orang naik ke atas balkon terbuka itu, Hi Kak Tay-ong menyilakan ketiga tamunya menduduki tempat yang ter-hormat, di tempat yang disediakan untuk tamu terhormat itu ternyata masih kosong dua tempat lagi.
Hi Kak sendiri menduduki tempat tuan rumah dan Sin-mo-siang-lo pun duduk di tempatnya sendiri.
Di samping itu masih ada empat orang pula yang menemani.
Hi Kak Tay-ong memperkenalkan keempat orang itu satu per satu.
"Yang di sebelah kanan ialah Ling-hun Tocu Wei Yang-wi dan yang sana adalah Hay-hun Hwesio dari Ngo-ci-san, sedang yang di sebelah kiri ialah Thay-ouw Cecu Bing Bu-kong dan yang lain adalah ahli obat dari Sing-siok-hay, Thian-yap Sanjin!"
Menyusul Sin-mo-siang-lo pun diperkenalkan kepada Pek Thay-koan bertiga.
Mendengar nama orang-orang itu, Pek Thay-koan dan Teng Hiau-lan terkejut sekali.
Hay-hun Hwesio adalah ahli pedang yang disegani di Lamkiang atau daerah selatan, sudah lebih dua puluh ta-hun mengasingkan diri di atas gunung Ngo-ci-san, di pulau Haylam (Hainan), jauh-jauh ia tinggal di pulau yang terpisah dari daratan, sudah lama tidak pernah menginjakkan kaki ke pedalaman.
Hwe-hun Tongcu Liong Bok-kong yang membunuh Ciu Jing bukan lain ialah muridnya.
Sedang Thay-ouw Cecu Bing Bu-kong adalah orang kedua atau tangan kanan Hi Kak sendiri, ia mahir ilmu Thi-soa-cio (tela-pak tangan pasir besi), senjatanya ‘Go-bi-ji’ (sejenis cundrik), me-rupakan senjata yang dapat dipakai di darat dan air, ilmu silatnya ti-dak di bawah Hi Kak.
Ahli obat dari Sing-siok-hay, Thian-yap Sanjin, satu-satunya orang yang tak dikenal asal-usulnya, tetapi kalau melihat mukanya yang merah kuat seperti anak muda dan rambutnya subur, tingkah-lakunya bergaya sebagai imam berilmu, begitu melihat segera akan tahu dia pasti seorang tokoh yang tinggi ilmu Lwekangnya.
Mengenai kelihaian Sin-mo-siang-lo sudah tak perlu dicerita-kan lagi, Teng Hiau-lan sudah cukup merasakannya.
Oleh karena itu ia membatin.
"Dengan Bu-lim-ko-jiu (ahli silat kelas tinggi dunia persilatan) yang begini banyak, seumpama Li Siang-siang dan Pek Thay-koan punya kepandaian lebih tinggi lagi, rasanya susah juga melawan mereka."
Ketika ia pandang dua rekannya itu, ia lihat Pek Thay-koan memang rada berubah air mukanya, sedangkan Li Siang-siang ma-sih bersikap biasa saja seperti tiada sesuatu yang ia khawatirkan, malahan ia berbicara dan tertawa seperti biasa.
Sementara itu setelah para tamu berduduk, Thian-yap Sanjin ternyata mengincar tempat duduk pertama yang masih kosong.
"Ke-napa tamu agung pertama masih belum datang?"
Ia sengaja bertanya dengan nada dingin.
Ilmu silat Thian-yap Sanjin sudah terlatih sedemikian hebat-nya, untuk pertama kali datang di Tionggoan, ia pikir dirinya pasti akan dihormati sebagai tamu utama, tak terduga tuan rumah ternyata tidak meminta dirinya menduduki kursi pertama, maka dalam hati merasa dongkol.
Hi Kak Tay-ong tidak lantas menjawab, ia minta semua orang duduk tenang, sesudah itu ia berdiri dan angkat bicara.
"Silakan Hap-congkoan hadir!"
Pek Thay-koan sendiri waktu melihat kursi pertama masih ko-song, juga merasa kurang senang, pikirnya.
"Eh, kiranya Gak-thio (bapak mertua) bukan menjamu aku saja, tapi ada tamu agung lain-nya. Baiklah, aku justru ingin tahu macam apakah orangnya?"
Begitulah setelah Hi Kak Tay-ong bersuara tadi, di luar segera musik berbunyi, tidak antara lama, sebarisan pelayan cantik dengan menenteng lentera menyongsong masuk seorang lelaki gagah tegap berusia empat puluhan lebih.
Orang ini berdandan sebagai bangsa Hwe, sinar matanya tajam, di pinggangnya tergantung dua benda bundar serupa bola, dengan langkah lebar ia masuk terus menduduki kursi pertama yang telah disediakan, sikapnya angkuh.
Atas kedatangan orang ini, yang pertama berdiri adalah Sin-mo-siang-lo, menyusul Bing Bu-kong, Wei Yang-wi dan lainnya ikut berdiri, hanya Thian-yap Sanjin dan Hay-hun Hwesio berdua saja yang memberi hormat dengan sedikit membungkuk tubuh.
Melihat orang ini, yang paling terkejut ialah Teng Hiau-lan.
"Aku kenal orang ini!"
Bisiknyapada Li Siang-siang.
Dalam pada itu Li Siang-siang dan Pek Thay-koan memang lagi merasa heran, melihat orang itu berjalan dengan langkah kuat dan mata bersinar, jelas Lwekangnya sangat tinggi, tapi kalau diurut menurut tingkatan umur, tentu masih di bawah Sin-mo-siang-lo, en-tah berdasar apa ia berani menduduki kursi pertama itu.
Karena herannya, kini mendengar Teng Hiau-lan kenal asal-usul orang, keruan mereka menjadi ingin tahu.
"Ia adalah hamba seorang sahabatku yang baru!"
Demikian Hiau-lan coba menerangkan.
Sudah tentu, keterangan itu tidak memuaskan kedua kawan-nya.
Pek Thay-koan yang pertama berkerut kening, ia mendongkol karena dalam keadaan demikian Teng Hiau-lan masih bergurau.
Na-mun dongkolnya itu segera lenyap ketika apa yang terjadi berikut-nya membikin ia terlebih heran.
Sesudah tamu agung tadi duduk di tempatnya, matanya me-ngerling, ke seluruh sudut, tiba-tiba ia berdiri kembali dan mengu-lurkan tangan pada Teng Hiau-lan.
"Eh, kiranya Teng-heng pun da-tang ke perjamuan ini, selamat bertemu kembali!"
Serunya kepada pemuda itu. Hiau-lan mengulur tangan menjabat tangan orang dan balas menyapa dengan tertawa.
"Baik-baikkah Ong-kongcu?"
Tanyanya.
"Baik, baik sekali! Terima kasih atas perhatianmu!"
Sahut orang itu dengan sangat hormat.
Kejadian ini bukan saja di luar dugaan Pek Thay-koan dan Li Siang-siang, bahkan semua orang, termasuk Hi Kale Tay-ong, tiada seorang pun yang tidak merasa heran.
Lebih-lebih Sin-mo-siang-lo, sikap mereka seketika berubah hebat.
Sesudah itu, perjamuan lantas dimulai, Hi Kak Tay-ong menu-angkan secawan arak ke hadapan tamu agungnya.
Hal 234 -235 hitam dan bersinar mengkilap, hal ini sungguh susah dimengerti.
Apalagi di atas Thian-hing-to terjaga keras dan rapat, puncak tung-gal di atas pulau yang curam berbahaya pun sukar didaki, namun pengemis tua ini seperti turan dari langit saja, tahu-tahu muncul dan menerobos sampai di tempat perjamuan baru diketahui para pen-jaga, kalau dia tidak memiliki kepandaian yang menakjubkan, mana bisa terjadi hal demikian.
Karena pikiran itu, cepat Hi Kak Tay-ong menyambut dengan hormat.
"Haha! Hi Kak Tay-ong temyata betul budiman, tidak meng-hukum aku yang terobosan ke sini malah menyilakan aku minum arak,"
Terdengar pengemis perempuan tua itu bergelak tertawa atas sambutan tuan rumah.
"Hari ini aku naik ke puncak sini, boleh dika-ta tidak sia-sia tenagaku."
Sesudah itu ia ketok-ketok tongkatnya ke lantai sambil berja-lan menuju ke tempat duduk utama yang masih kosong.
Keruan saja Hi Kak menjadi kaget, di meja perjamuan hanya tinggal sebuah tempat utama yang masih menunggu kedatangan ta-mu agung lainnya, mana boleh diduduki pengemis perempuan tua ini?
Ia jadi serba susah.
Segera ia maju mencegah.
"Lothaythay (ibu tua), silakan duduk di sebelah sana saja!"
Dengan tersenyum ia me-nunjuk ke satu tempat duduk lainnya. Ia menunjuk tempat itu, tetapi si perempuan tua ternyata tidak bergeser dan mendadak berhenti.
"Aku suruh kau datang besok malam, mengapa malam ini kau sudah datang ke sini?"
Sekonyong-konyong ia bertanya sembari me-nuding Teng Hiau-lan demi melihat pemuda itupun hadir di antara para tetamu. Ditegur secara begitu, Hiau-lan terperanjat.
"Kiranya orang kosen yang mencuri dan mengembalikan pedangku itu memang be-tul adalah wanita tua ini!"
Demikian pikirnya. Maka lekas ia berdiri tegak dan memberi hormat.
"Harap Lo-cianpwe memaafkan, Tecu diundang ke perjamuan ini oleh Hi Kak Tay-ong, maka tak berani bolos!"
Tuturnya. Tetapi demi mendengar jawaban itu, tiba-tiba pengemis pe-rempuan tua itu marah-marah.
"Persetan dengan segala Tecu apa! Kau bocah goblok ini apakah soal sebutan saja tidak bisa membe-dakan?"
Tiba-tiba ia mendamprat.
"Apa gurumu tidak pernah mene-rangkan padamu tentang tingkatanmu di perguruan kita?"
Dibentak dan didamprat secara begitu, Hiau-lan jadi kelabak-an, bingung, tak mengerti cara bagaimana harus berbuat. Sementara itu terdengar Hi Kak bersuara pula.
"Apakah sau-dara cilik ini adalah kau punya Wanpwe?"
Dengan tertawa ia ber-tanya.
"kalau begitu, entah sebutan apa antara Lothaythay dengan ‘Thi-cio-sin-tan’ Nyo Tiong-eng?"
"Hahaha! Apa Thi-cio-sin-tan segala, aku hanya tahu anak du-ngu ini paling banyak hanya terhitung aku punya cucu-murid!"
De-ngan gelak tertawa nenek itu menjawab. Ling-hun Tocu Wei Yang-wi jadi heran.
"Mengapabilang ‘pa-ling banyak’, apakah kau sendiri pun tidak jelas akan tingkatanmu?"
Tanyanya.
"Bagaimana aku bisa jelas, sedang ia baru kukenal kemarin dulu,"
Sahut pengemis tua itu dengan lagak angkuh.
"Pada waktu aku bertemu dia, belum tentu aku mau mengakui dia sebagai cucu-murid! Mungkin sekali ia malah setingkat lebih rendah dari cucu-muridku!"
Karena penjelasan itu, semua orang yang berada di situ berke-rut kening.
Mereka semua termasuk Bu-lim-cianpwe (angkatan tua dunia persilatan), mereka mengerti usia Nyo Tiong-eng sudah lebih setengah abad, orang-orang tua setingkat gurunya sudah meninggal semua, darimana bisa mendadak muncul seorang nenek pengemis pembual ini, terang perkataannya hanya bohong belaka.
Hanya Hi Kak seorang yang berpendapat lain, ia teringat bah-wa Teng Hiau-lan masih mempunyai seorang guru lagi, yaitu ‘Tui-hong-kiam’ Ciu Jing.
Karena itu, tiba-tiba ia jadi teringat lagi pada seorang, tanpa terasa ia sangat terperanjat.
Orang itu hidup pada ma-sa permulaan Kaisar Khong-hi, hingga kini sudah beberapa puluh tahun tiada kabar ceritanya, bahkan Hi Kak sendiri hanya mende-ngar namanya dari golongan yang lebih tua, apa mungkin orang itu masih hidup dan mendadak muncul di sini?
Tengah ia bingung dan ragu-ragu, terdengar nenek pengemis tadi sudah buka suara lagi.
"Bagaimana, sampai aku punya cucu-murid saja kau undang menduduki tempat yang terhormat, sebalik-nya mengharuskan aku duduk di tempat bawahnya?"
Sementara itu dengan gugup tapi cepat Hiau-lan meninggalkan kursinya, ia memberi penghormatan besar kepada nenek pengemis itu dengan berlutut.
Keruan saja perbuatan itu membikin gempar para tetamu yang hadir.
Di antara tetamu itu adalah tamu agung Haptoh yang merasa paling terkejut hingga wajah berubah.
Ia tadi mengaku sebagai sahabat Teng Hiau-lan, kini tahu-tahu muncul seorang nenek pengemis yang menganggap pemuda itu se-bagai cucu-murid, kalau menurut kebiasaan di kalangan Kangouw, bukankah Haptoh harus merosot tiga tingkatan secara mendadak!?
Dalam pada itu, Hay-hun Hwesio temyata sudah gatal tangan, ia putar kursinya dan maju ke depan sambil mengulur tangan.
Saat itu si nenek pengemis sedang mengangkat bangun Teng Hiau-lan, mendadak Hay-hun Hwesio ulurkan tangan menghalang ke tengah.
"Kalau mau menjalankan adat penghormatan secara perguru-an, tak usah dilakukan di sini!"
Kata Hay-hun.
Perbuatan Hay-hun Hwesio ini memang bukan tiada sebabnya.
la datang jauh-jauh dari lautan selatan, tapi tak bisa menduduki tem-pat utama, memangnya ia lagi mendongkol dan ingin cari perkara, kini ditambah lagak nenek pengemis yang angkuh dan tak pandang sebelah mata pada orang lain, tentu saja dalam hati Hay-hun tambah gemas, maka sengaja hendak unjuk kepandaian, diam-diam ia kum-pulkan tenaga dalam hendak mencoba nenek itu dan ingin membu-atnya malu di depan orang banyak.
Dengan latihan berpuluh tahun, sudah tentu tidak boleh dipan-dang enteng kepandaian Hay-hun Hwesio, dengan mengulur tangan menghalang tadi, tenaganya tidak terbatas ribuan kati saja.
-Tak terduga, tempat dimana tangannya menyenggol ternyata lunak seperti mengenai tempat kosong, menyusul tiba-tiba ia terke-jut karena dengkulnya dirasakan linu pegal terus bertekuk lutut.
"Haya, jangan, jangan! Mengapa kau pun menjalankan peng-hormatan sedemikian besar!"
Terdengar seruan nenek pengemis itu.
Tanpa kuasa Hay-hun Hwesio bertekuk lutut di hadapan si ne-nek itu seakan menjalankan penghormatan, untung dengan cepat ia dapat mengumpulkan tenaga dan mengatur pemapasan sehingga ja-lan darahnya lancar kembali dan dapat berdiri tegak lagi.
Keruan sa-ja mukanya jadi merah padam saking malu.
Kiran>a entah dengan cara bagaimana, dalam sekejap mata ta-di si nenek pengemis sudah menutuk Hiat-to di dengkul Hay-hun Hwesio sehingga berlutut tanpa kuasa.
Tentu saja bukan main gusar Hay-hun Hwesio, dia termasuk pemimpin cabang persilatan sendiri, mendapat malu demikian ter-paksa ditelan mentah-mentah, diam-diam ia pun berdaya upaya me-nuntut balas, sementara ia tidak berani mengunjuk kemurkaan.
Karena itu, seluruh ruangan jadi gempar lagi, sampai Haptoh mau tak mau terbelalak matanya.
Yang paling serba susah adalah tuan rumah.
Hi Kak Tay-ong.
"Bing-lote, maafkan, silakan kau saja yang pindah ke meja se-belah sana, wakilkan aku melayani tetamu!"
Lekas ia meminta Thay-ouw Cecu Bing Bu-kong.
Tidak baik dia minta tetamunya pindah tempat, terpaksa Hi Kak menyuruh wakilnya yang mengalah.
Si nenek pengemis itu ternyata tidak sungkan, dengan lagak yang dibikin-bikin seperti tuan besar, ia pun segera menduduki tem-pat yang dikosongkan itu, tempatnya justru berada di sebelah Hay-hun Hwesio.
Segera Hi Kak menyuguh minuman pada tetamunya.
Lewat sejenak, nenek itu ternyata masih duduk di tempatnya, tiada sesuatu tanda yang mencurigakan, barulah Hi Kak merasa agak lega.
Maka untuk meneruskan apa yang masih belum selesai diucapkan tadi, ia lantas berdiri dan buka suara lagi.
"Pek-tayenghiong, tadi kau bilang hendak memberi sesuatu petunjuk, nah, kini silakan bicara!"
Dengan muka gusar segera Pek Thay-koan berdiri.
"Mohon ta-nya Lotiang,"
Tanyanya dengan suara keras.
"aku Pek Thay-koan pernah berbuat kesalahan apa hingga Lotiang tidak mengizinkan aku berjumpa dengan bakal istriku?"
Atas pertanyaan itu, terlihat wajah Hi Kak bersungut.
"Kalau kau mengaku aku sebagai orang yang lebih tua darimu, di kala aku hendak membikin perayaan dan mendapat gelar raja, mengapa kau taruh dirimu di luar urusan ini?"
Sahutnya. Melihat bakal bapak mertua dan anak menantu itu bercekeok, Haptoh coba menjadi pemisah.
"Sudahlah, di antara mertua dan me-nantu, ada urusan apa boleh dirunding baik-baik, tak usah marah-marah. Menurut aku, bila Pek-enghiong bersama Kanglam-pat-hiap bersedia membantu sang mertua, maka Hi Kak Tay-ong tentu akan menarik kembali keputusannya dan kedua keluarga pahlawan tentu bisa terjalin menjadi besanan, bukankah begitu?"
Hi Kak mengangguk atas ujar orang.
"Itu tergantung dia!"
Sa-hutnya. Akan tetapi Pek Thay-koan tiba-tiba tertawa menyindir.
"Lotiang angkat diri sebagai raja, jika tujuannya untuk gerak-an melawan penjajah dan mengusir penindas, maka Thay-koan pasti tidak akan menolak,"
Katanya dengan gagah berani.
"Tetapi bila un-tuk menerima perintah dari apa yang disebut Si-ongya dan berniat membagi tanah air kita hingga pecah belah, terima menjadi begun-dal dan mengekor pada bangsa lain hanya untuk bisa menjagoi la-utan, maka mati pun Thay-koan tidak mungkin ikut!"
Karena perkataan itu, seketika Hi Kak Tay-ong menjadi gusar.
"Thay-koan, kau sungguh kurangajar sekali!"
Dampratnya murka.
"Aku merajai lautan sini, tidak usah menghadap sang kaisar dan tak perlu mengirim upeti, dimana tempatnya yang kau anggap menodai cita-cita luhur kita?"
Atas jawaban orang yang tetap tidak mau insaf itu, Pek Thay-koan sangat menyesal hingga sesenggukan hampir menangis.
"Lo-tiang, kau sungguh terlalu gegabah sekali, ternyata engkau mau per-caya pada segala ocehan budak Boan,"
Demikian ia coba menyadar-kan bakal mertuanya itu.
"Kalau kau bantu menaikkan takhta apa yang disebut Si-hongcu, paling banyak engkau hanya merupakan se-orang Go Sam-kui (nama seorang pengkhianat) saja, meskipun men-dapatkan bagian daerah untuk menjadi raja, namun tidak akan ter-hindar dari bahaya kemusnahan! Marilah! kalau kita hendak berge-rak, maka berjuanglah secara gagah berani, apa gunanya membantu musuh, ikut merebut kekuasaan dan menaikkan takhta buat orang lain?"
Namun rangkaian kata-kata itu ternyata tetap sia-sia saja, tiba-tiba Hi Kak Tay-ong membanting cawan araknya.
"Kau betul-betul tidak menurut?"
Bentaknya.
"Kanglam-pat-hiap, kepala boleh dipotong tetapi cita-cita tak mungkin dihina!"
Sahut Pek Thay-koan dengan ketus. Mendengar jawaban itu, mendadak Hi Kak Tay-ong tertawa dingin.
"Silakan Po-kok Siansu hadir, akan kulihat apakah betul Kanglam-pat-hiap semua bersikap kukuh tetapi tolol seperti kau!"
Ia memberi perintah pada bawahannya.
Menyusul di luar gardu terdengar musik berbunyi pula, dua baris pengawal di luar serentak berseru menyambut tamu agung.
Ternyata penghormatan penyambutan sekarang tidak di bawah menyambut Haptoh tadi.
Menyediakan dua tempat duduk untuk dua tamu agung, hal ini jarang terjadi, ditambah kedua tamu agung ini sama sekali tak pernah terkenal di dunia persilatan, hal mana mem-bikin orang heran.
Kini bukan saja Pek Thay-koan dan Li Siang-siang berdua yang menaruh perhatian, bahkan semua orang mengangkat kepala memandang keluar, mereka ingin tahu manusia macam apakah yang disebut Po-kok Siansu itu.
Sesudah genderang berbunyi tiga kali, dua belas pengawal berbaris menjadi dua pasukan menyongsong masuk seorang Hwesio gendut.
Tangan Hwesio itu memegang Siantheng, semacam tongkat kaum padri yang terbuat dari baja, sebesar bulatan gelas, dengan muka cengar-cengir dan sepasang matanya seperti mata maling terus mengincar pelayan cantik yang meladeni di kedua samping, sedikit-pun tiada sikap terpuji sebagai tamu agung yang harus dihormati.
Agaknya Hi Kak sendiri merasa sikap serupa itu tidak pada tempatnya, maka lekas ia memapak ke depan.
Hwesio gendut itu berjalan lagi beberapa tindak, tapi tiba-tiba ia berhenti.
Dalam pada itu terdengar suara Pek Thay-koan yang diucap-kan gemetar.
"Liau-in Suheng, kiranya kau pun berada di sini!"
Nada perkataannya seperti raengandung rasa penyesalan yang tak terhingga.
Li Siang-siang dengan cepat berdiri, hanya si nenek pengemis tadi yang masih duduk seenaknya saja di kursinya, bahkan tertawa ding in.
Liau-in Hwesio adalah kepala dari Kanglam-pat-hiap, kiranya tiada seorang ksatria pun yang tak mengetahui di kolong langit ini.
Yang tidak diketahui mungkin adalah Liau-in pun sudah menerima undangan Si-hongcu In Ceng dan telah diangkat serta diberi gelar Po-kok Siansu.
Karena disapa Pek Thay-koan tadi, mendadak Liau-in tertegun juga.
Tetapi segera ia paksakan diri menjawab.
"Kau boleh datang kemari, mengapa aku tidak?"
"Kedatanganku ini pertama adalah hendak bertemu dengan ba-kal istriku, kedua untuk mencegah Gak-thio yang akan takluk pada Jing-ting (kerajaan Boan Jing),"
Jawab Pek Thay-koan dengan bera-ni.
"Dan maaf, aku bertanya, kedatangan Suheng ke sini ada ke-perluan apa?"
Karena pertanyaan terakhir itu, muka Liau-in Hwesio yang gemuk berminyak berubah hebat, ia gelagapan sambil memegang tongkatnya tanpa bisa menjawab.
Kiranya pada enam tujuh tahun yang lalu, Liau-in Hwesio te-lah berkenalan dengan Ling-hun Tocu Wei Yang-wi.
Karena ber-gaul dengan sahabat yang tidak baik, maka lambat-laun ia pun ikut terjerumus.
Dasarnya dia memang berasal dari kaum begal, dahulu sesudah ia ditundukkan dan diterima sebagai murid oleh Tok-pi-sin-ni, karena larangan perguruan yang keras, ia tak berani sembarang berbuat sewenang-wenang, penghidupan belasan tahun yang kosong sunyi ia lewatkan di dalam kuil dengan perasaan tak betah.
Sesudah tamat belajar dan berpisah dengan gurunya, karena takut akan keli-haian Tok-pi-sin-ni, ia pun belum berani berlaku sewenang-wenang dan berbuat kejahatan.
Hanya secara umpet-umpetan saja ia datang ke pulau Ling-hun untuk berfoya-foya dengan Wei Yang-wi.
Sekalipun begitu, Tok-pi-sin-ni pun telah mendengar selen-tingan itu.
Lima tahun yang lalu, pada waktu Teng Hiau-lan untuk pertama kalinya berada di Bin-san, ia dengar Tok-pi-sin-ni memberi pesan pada Lu Si-nio agar murid perempuannya itu mewakilkan dia membikin pembersihan pintu perguruan, apabila Liau-in tetap mem-bandel dan bertambah jahat, maka Si-nio boleh memenggal kepala-nya, bereskan jiwanya.
Dua tahun lalu, Tok-pi-sin-ni wafat di Bin-san.
Pek Thay-koan mengajak saudara sepergumannya, Co Jin-hu, Loh Bin-ciam, Kam Hong-ti, Ciu Sun dan kawan-kawan melayat ke gunung, tetapi Liau-in Hwesio ternyata tidak mau ikut berangkat.
Waktu itu Pek Thay-koan sudah merasa curiga,-namun ia ma-sih tak menduga bahwa sesudah gurunya mangkat, tabiat jahat sang Suheng timbul kembali, bahkan melebihi yang dulu.
Si-hongcu In Ceng mengetahui ciri Liau-in, maka telah me-nyamar sebagai rakyat biasa dan berkelana di Kangouw, lalu meng-angkat saudara atau ‘kiatpay’ dengan Liau-in, malah In Ceng mem-bawa beberapa Kiongli (dayang) yang cantik dari istana dan disu-guhkan padanya.
Liau-in Hwesio sudah makin gelap pikiran, ia tak bisa mem-bedakan kebajikan dan kejahatan lagi, larangan keras gurunya sudah dibuang keluar kepala, ia terima gelar yang diberi Si-hongcu dan de-ngan setia hendak membalas budi pengangkatan itu, bahkan mem-bantu pangeran itu merangkul orang gagah kalangan Kangouw.
Walaupun Tok-pi-sin-ni sudah mangkat, tapi perbawanya ma-sih tetap hidup.
Oleh karena itu, saat ditegur Pek Thay-koan tadi, muka Liau-in yang gemuk seketika berubah, ia tak mampu menjawab pertanya-an Sutenya itu.
Melihat Liau-in berada dalam keadaan sulit, Hi Kak Tay-ong menjadi khawatir.
"Po-kok Siansu berilmu silat tiada bandingan, maka Si-hongcu menganggapnya sebagai tangan kanan. Pek Thay-koan, berani kau membantah perkataan Suhengmu?"
Katanya untuk membakar hati Liau-in. Tak tahunya demi mendengar keterangan itu, Pek Thay-koan bertambah gusar.
"Suheng, apa betul katanya tadi?"
Tanyanya dengan suara keras. Karena sudah kepepet, tiada jalan lagi, daFi malu Liau-in ber-ubah menjadi murka.
"Pek Thay-koan, kau berbicara dengan siapa?"
Gertaknya.
"Bicara terhadap Suheng!"
Dengan tangan lurus Pek Thay-k’oan menjawab.
"Maafkan, aku hendak tanya Suheng, kesepuluh la-rangan dari Suhu, apa yang disebut pada larangan yang pertama?"
Hendaklah diketahui bahwa Tok-pi-sin-ni asalnya ialah putri kerajaan Bing, oleh karena itu pasal pertama dari kesepuluh larang-annya adalah ‘Hoan-jing-hok-bing’ (melawan Boan Jing dan mem-bangun kerajaan Bing), siapa saja yang berkhianat dan takluk pada musuh, para saudara seperguruan boleh membunuhnya bersama-sa-ma tanpa ampun.
Keruan saja teguran tentang pantangan itu raembikin air muka Liau-in seketika berubah lagi.
Sementara itu Pek Thay-koan mendesak pula.
"Toasuheng adalah kepala perguruan kita, sesudah Suhu wafat, seharusnya Toa-suheng mewakilkan beliau melaksanakan cita-citanya untuk mem-beri teladan pada saudara seperguruan!"
Akan tetapi tiba-tiba Liau-in Hwesio tertawa dingin.
"Thay-koan, soal ini boleh ditunda dulu,"
Mendadak ia berkata.
"Kau dan aku telah berpisah selama beberapa tahun, bagaimana dengan kema-juan kepandaianmu, hari ini juga aku ingin menguji dirimu!"
Karena kata-kata itu, Pek Thay-koan jadi terperanjat.
"Ingatkah kau apa yang telah Suhu pesankan?"
Liau-in Hwe-sio bertanya pula.
Memang di antara anak murid Tok-pi-sin-ni, soal tua-miida di-bedakan dengan keras sekali.
Setelah Kanglam-chit-hiap (sebelum Lu Si-nio unjuk diri) me-rantau di Kangouw, waktu itu tanda-tanda kejahatan Liau-in masih belum tampak.
Biasanya Tok-pi-sin-ni suka memerintah dia mengu-ji kemajuan kepandaian enam orang adik seperguruannya.
Liau-in memang paling tinggi ilmu silatnya, tempo-tempo menggantikan gurunya memberi pelajaran pada para Sutenya.
Belakangan setelah Liau-in berhubungan rapat dengan orang-orang jahat dan tenggelam oleh pengaruh minuman keras dan paras cantik, ia pun malas meng-uji kepandaian para Sutenya.
Melihat Liau-in tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya malah mengemukakan pesan gurunya untuk menangkis.
Meski men-dongkol, terpaksa Pek Thay-koan tak bisa berbuat apa-apa.
"Kepan-daian Siaute sebagian besar memang Suheng yang mengajarkan, silakan menguji!"
Terpaksa ia menjawab.
"Bagus kalau kau sudah mengerti hal itu!"
Kata Liau-in pula dengan senyum ejek.
"Nah. kini coba kau unjukkan kepandaianmu yang paling mahir kau latih beberapa tahun ini!"
Pek Thay-koan menjawab baik, sesudah itu ia berjalan keluar.
"Di luar gardu sana bunga Sante (kamelia) sedang mekar, aku ingin memetiknya beberapa tangkai!"
Katanya pada Hi Kak Tay-ong.
"Silakan, kau boleh memetiknya,"
Ujar tuan rumah itu.
"Marilah, harap para hadirin ikut aku keluar buat memilih bu-nga, coba tangkai mana yang paling baik, kemudian baru aku me-metiknya,"
Kata Pek Thay-koan lagi.
Para tamu sudah lama kagum akan nama sohor Kanglam-pat-hiap, sudah tentu mereka ingin sekali menyaksikan betapa tinggi ke-pandaian Pek Thay-koan.
Maka tanpa diundang untuk kedua kali-nya.
dengan beramai membanjir keluar.
Di sekitar rumah gardu itu ternyata penuh tumbub bunga Sante yang lagi mekar memerah, sembari melihat sepanjang jalan, Pek Thay-koan memilih, setelah memilih tujuh belas tangkai, tiap bunga oleh Pek Thay-koan telah diberi tanda, tapi tidak lantas ia petik, se-baliknya ia kembali lagi ke dalam gardu.
"Bagaimana? Tidak jadi?"
Tanya Wei Yang-wi heran.
"Harap semua api pelita disirapkan dahulu untuk sementara!"
Tiba-tiba Pek Thay-koan meminta pada Hi Kak Tay-ong. Permintaan itu membikin Hi Kak agak sangsi.
"Aku berada di sini, tak nanti ia berani berbuat sembarangan!"
Dengan gelak tertawa Liau-in membikin mantap hati tuan rumah.
Maka Hi Kak lantas mengayun tangan, sekejap saja semua api lilin dipadamkan.
Sinar rembulan muda remang-remang, kini kebetulan tertutup pula oleh awan, maka dalam gardu seketika menjadi gelap gulita.
Sementara itu tiba-tiba terdengar beberapa kali suara keresek-an, semua orang menyembunyi kepala dan mengerut leher, takut ter-kena senjata rahasia nyasar.
"Harap nyalakan lampu kembali!"
Dalam kegelapan terdengar Pek Thay-koan berseru pula. Pada saat lain, kembali ruangan gardu terang benderang Iak-sana siang hari.
"Marilah para hadirin, harap ikut aku pergi memetik bunga,"
Ajak Pek Thay-koan tiba-tiba.
Sesudah itu ia mendahului keluar dan diikuti beramai oleh semua orang.
Ketika mereka sampai di taman bunga sekitar gardu itu, maka di atas tanah terlihat sudah berserakan belasan tangkai bunga Sante, ketika dipungut dan diperiksa, ternyata bukan lain daripada bunga-bunga yang tadi telah diberi tanda, waktu dihitung, jumlahnya pun tidak lebih tidak kurang, persis tujuh belas tangkai.
Yang hadir dalam perjamuan itu kesemuanya adalah orang-orang gagah Kangouw dan sudah tentu mahir tentang senjata raha-sia, tetapi demi nampak kepandaian Pek Thay-koan tadi, tidak terta-han mereka ternganga saking kagumnya.
Soalnya memang luar biasa, dalam kegelapan seperti tadi, un-tuk mengarah dengan tepat saja susah, apalagi bunga-bunga yang di-beri tanda itu tidak menggerombol pada suatu tempat, melainkan terpisah di beberapa tempat di sekitar gardu, namun dengan gam-pang Pek Thay-koan sanggup menyambitnya jatuh satu per satu de-ngan teraling jendela.
Kemahirannya dalam hal senjata rahasia ini betul-betul sudah sampai tingkatan yang paling ajaib.
Dalam beberapa tahun paling akhir ini memang Pek Thay-koan telah melatih diri dalam hal senjata rahasia Bwe-hoa-ciam, se-dianya memang untuk berjaga-jaga apabila Suhengnya berkhianat, maka dapat menggunakan senjata rahasianya ini untuk menambah kekurangan ilmu silat sendiri yang masih jauh di bawah sang Su-heng itu.
"Cara menggunakan senjata rahasia tadi, entah termasuk hi-tungan atau tidak, harap Suheng suka menerangkan!"
Menghormat dengan tangan melurus ke bawah ia berkata kepada Liau-in.
Sungguhpun dalam mulut ia merendah, tetapi sebenarnya da-lam hati ia merasa puas dan bangga.
Di luar dugaan, Liau-in memandang saja tidak padanya, bah-kan dengan ketus ia menjawab.
"Tidak!"
Karena ucapan itu, keruan saja seketika seluruh hadirin men-jadi gempar dan ramai, mereka menganggap perkataan Liau-in itu keterlaluan dan bermulut besar.
Ling-hun Tocu Wei Yang-wi menganggap dirinya kenalan la-ma Liau-in, maka ia buka suara.
"Liau-in Taysu, senjata rahasia Su-temu boleh dikata ajaib sekali,"
Ujarnya dengan tertawa.
"Kami bu-kan saja belum pernah melihat, bahkan mendengar saja belum, na-mun Taysu malah menganggap belum masuk hitungan, keputusan-mu itu sungguh terlalu tidak adil!"
Ternyata Liau-in hanya menjengek.
"Kau betul-betul seperti katak dalam sumur, sedikit melihat, banyak mengheran,"
Sahutnya, sesudah itu ia berpaling dan berkata kepada Pek Thay-koan.
"Bunga adalah benda mati, tetapi manusia adalah hidup, kau punya Bwe-hoa-ciam hanya boleh buat menyambit orang biasa, tapi bagi orang yang berkepandaian sedikit tinggi saja, tak mungkin bisa mengenai-nya!"
"Memang betul perkataan Suheng!"
Sahut Pek Thay-koan.
Walaupun berkata begitu, tapi dalam hati ia merasa penasaran dan tidak terima.
Bagaimana ia tidak penasaran?
Orang lain kalau menyambit Bwe-hoa-ciam paling jauh tidak lebih dari tiga tombak, sedang dia bisa mencapai hingga lebih lima tombak, bahkan dapat menimpuk jalan darah dan mengarah mata yang sukar dielakkan musuh, tapi kini Toasuhengnya bilang senjata rahasianya itu tak bisa digunakan dengan baik, sudah tentu ia penasaran dan tidak bisa terima.
Sementara itu Liau-in Hwesio memandang Pek Thay-koan, ru-panya ia memahami apa yang terpikir dalam hati orang.
"Kau tidak percaya bukan?"
Katanya dengan dingin.
"Nah, baik, aku nanti ber-diri di sana dan kau boleh menimpuk sesukamu!"
Perkataan itu seakan memandang enteng padanya, kembali ra-sa amarah Pek Thay-koan memuncak.
"Tampaknya Toasuheng su-dah rela takluk kepada musuh,"
Demikian pikimya.
"Jika itu sudah kemauannya, maka dia merupakan musuhku juga, untuk apa akii bi-cara tentang persaudaraan dengan dia?"
Karena pikiran itu, tidak ayal lagi segera ia berjalan keluar da-ri balkon sambi] berseru.
"Jika begitu, harap Suheng hati-hati!"
Ia terima tantangan orang. Liau-in pun ikut keluar ke tengah pelataran, sedang para teta-mu sama mundur mepet ke dinding.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Liau-in berseru sambil mengetok tong-katnya. Kemudian ia bertanya kepada Hi Kak.
"Apa kau sedia sen-jata rahasia?"
"Tentu sedia,"
Sahut Hi Kak dengan tertawa.
"Hong-bwe-piau, Thi-cit-Ie, Po-teh-ci, Hui-hong-ciok, Liu-yap-to, semua ada, mana yang kau inginkan?"
"Semuanya mau, boleh kau perintahkan menggotong keluar dua keranjang!"
Kata Liau-in tanpa pikir.
Betul juga, Hi Kak lantas perintahkan anak buahnya menggo-tong keluar dua keranjang senjata rahasia yang diminta.
Liau-in menyuruh taruh satu keranjang ke depan Pek Thay-koan, sedang sekeranjang lainnya ia bagikan kepada jago-jago pe-ngawal Hi Kak.
"Thay-koan,"
Katanya kemudian.
"bila nanti kau punya Bwe-hoa-ciam habis dihamburkan, boleh kau gunakan senja-ta rahasia di dalam keranjang itu!"
Mendengar penjelasan itu, baru semua orang mengerti untuk keperluan apa kedua keranjang senjata rahasia itu disediakan, kira-nya justru untuk cadangan buat Pek Thay-koan, keruan saja rasa gu-sar Pek Thay-koan tak terkatakan.
Setelah semuanya diatur beres, segera terlihat Liau-in ayun tongkatnya dan diputar di atas kepala hingga merupakan satu bun-daran, saking santarnya hingga menerbitkan suara angin menderu, menyusul semua api lilin tersirap, sedang api lentera yang terkurung dalam corong kain pun tak urung ikut bergoyang tak tetap.
"Nah, kini boleh mulai!"
Seru Liau-in kepada Pek Thay-koan.
Kini Pek Thay-koan tidak sungkan lagi, sekali ayun tangan, maka terdengarlah suara gemerincing yang riuh ramai, ia hambur-kan segenggam jarumnya.
Akan tetapi aneh sekali, percuma saja senjata rahasianya itu, seperti batu yang tenggelam di lautan belaka.
Ternyata Liau-in memutar tongkatnya sedemikian rupa hingga merupakan satu lingkaran dan cepat hingga tak mungkin ditembus oleh air maupun angin.
Diam-diam Pek Thay-koan berpikir, kepandaian sang Suheng memang betul lihai, Bwe-hoa-ciam tak mungkin bisa mengenainya.
Tengah ia berdaya-upaya cara bagaimana mengakali Suhengnya itu, tiba-tiba ia lihat Liau-in mengubah gerakan tongkatnya.
Liau-in ti-dak memutar tongkatnya secepat tadi, sebaliknya menjadi lambat, ia menutul ke timur dan menyabet ke barat dengan perlahan, karena itu kelihatan banyak lubang terbuka.
Nampak ada kesempatan, Pek Thay-koan tidak ayal, segera ia ayun kedua tangan berbareng, susul menyusul ia hamburkan Bwe-hoa-ciam dengan cepat, tanpa bersinar tanpa bersuara, bila orang la-in, tidak mustahil akan tertancap oleh jarum itu hingga akan berwu-jud seperti landak.
Akan tetapi Liau-in tidak gampang kecundang, ia masih tetap berdiri di tempat tanpa menggeser sedikitpun, sedang tongkatnya ti-dak bertambah cepat, namun jarum yang dihamburkan sedikitpun ti-dak terdengar adanya suara berbenturan, begitu mendekat tongkat-nya, seperti tenggelam di lautan tanpa bekas.
Bukan main terperanjatnya Pek Thay-koan melihat Bwe-hoa-ciam tak berhasil, ia mengira tentu bobot Bwe-hoa-ciam terlalu en-teng, maka tak bisa mendekati Suhengnya.
Saking gemasnya, tanpa pikir panjang lagi segera ia tukar sen-jata rahasia, ia sambar sekenanya senjata rahasia yang berada dalam tenggok yang tersedia tadi, terus ia sambitkan sekuatnya dengan sa-ling susul.
Tak terduga, bukan saja Liau-in tidak menjadi keder, sebalik-nya ia malah merasa kurang puas, ia tertawa bergelak dan berseru.
"Masih terlalu kurang banyak! Hi Kak Tay-ong, perintahkan bawah anmu ikut menghamburkan senjata rahasia lainnya di dalam tenggok itu!"
Hi Kak penuhi permintaannya, ia memberi tanda, menyusul itu senjata rahasia yang beraneka ragamnya laksana hujan dihamburkan ke arah Liau-in.
Namun yang tertampak hanya lelatu api yang bercipratan di-barengi suara nyaring beradunya benda keras, Pek Thay-koan punya Bwe-boan-ciam pun ditimpukkan lagi bercampur di antara Am-gi atau senjata rahasia lainnya.
Lewat tak lama, Am-gi atau senjata rahasia yang berhamburan itu makin lama makin sedikit.
sampai akhirnya bukan saja Bwe-hoa-ciam Pek Thay-koan sudah habis bersih, bahkan dua tenggok yang berisikan senjata rahasia tadipun sudah kosong, habis.
Saat itulah lilin besar dinyalakan kembali, maka keadaan men-jadi terang benderang.
Segera terdengar suara terkejut bercampur kagum yang tak terhingga dari para tetamu setelah mereka menge-tahui apa yang telah terjadi.
"Liau-in Taysu sungguh tiada banding-annya, kami kagum sepenuh hati!"
Seru mereka berbareng.
Dengan muka berseri Liau-in berdiri tegak dengan tongkat ter-pegang melintang, ia merasa bangga sekali atas pujian orang.
Sedang di lantai terlihat segundukan besi yang bukan lain ada-lah senjata rahasia sebanyak dua tenggok tadi, kini merupakan besi rongsok yang tak terhitung banyaknya, ujung tongkat Liau-in ter-tampak hitam gombyok laksana bola berbulu.
Menyaksikan itu, mau tak mau Pek Thay-koan jadi bungkam, tak bisa bersuara.
Bagaimana ia berani buka mulut?
Kalau senjata rahasia tadi telah berubah menjadi besi rongsok tak menjadi soal baginya, tetapi Bwe-hoa-ciam yang ia yakinkan sedemikian rupa, bobotnya enteng pula, boleh dikata tanpa suara dan tanpa rupa, dimana ada lubang di situ tentu kena.
Tetapi kini, satu saja tidak ketinggalan, semuanya kena tersedot ujung tongkat Liau-in, tongkat besi sembrani yang da-pat menyedot jarum.
Kemudian sedikit Liau-in menghembus napas, seketika terbit-lah suara gemerisik aneh, bola di ujung tongkat itu berubah menjadi bubuk terus rontok jatuh ke lantai bertumpuk-tumpuk.
Betapa tinggi kemahiran Liau-in Hwesio membikin semua orang menjadi kesima dengan mulut ternganga saking kagum.
Dalam pada itu, dengan tongkat melintang tercekal di tangan, Liau-in tertawa terbahak.
"Thay-koan, kini kau menyerah tidak!"
"Kemahiran Suheng tiada taranya, mana berani Siaute tidak menyerah,"
Sahut Pek Thay-koan.
"Cuma …."
"Cuma apa?"
Potong Liau-in.
"Apa barangkali selain ilmu si-lat, masih ada soal lain lagi yang kau tak rela menyerah?"
"Kalau Suheng melanggar larangan Suhu, maka Siaute tidak mungkin menyerah!"
Sahut Thay-koan membusungkan dada. Karena jawaban ketus itu, Liau-in jadi gusar, ia menjengek.
"Aku harap kau tahu gelagat sedikit, ikutlah Hi Kak Tay-ong dan membantu Si-hongcu naik takhta,"
Katanya.
"Bukan saja kau, bah-kan semua anggota Kanglam-pat-hiap hams menurut perkataanku!"
"Dan larangan pertama dari Suhu apa Suheng tak pikirkan la-gi?"
Tanya Pek Thay-koan dengan bandel. Liau-in tertawa dingin, ia mengejek.
"Hm, larangan apa sega-la? Suhu sudah meninggal, maka akulah yang paling berkuasa se-karang! Kalau kau tak mufakat, boleh kau kumpulkan semua sau-dara seperguruan dan bicarakan peraturannya padaku. Kini aturan-nya adalah tongkatku ini!"
Sampai di sini ia acungkan tongkatnya.
"Pek Thay-koan, nyalimu besar sekali, berani kau membangkang ajaran Suhengmu, lekas kau berlutut buat terima hukuman!"
Serentetan perkataan itu membuat Pek Thay-koan makin men-dongkol, tapi juga khawatir.
Berpisah selama beberapa tahun, ia li-hat kepandaian Liau-in sudah banyak lebih tinggi, menyaksikan cara tongkatnya menyedot senjata rahasia saja, suatu tanda Lwekangnya sudah sampai pada puncak kesempurnaan, jangankan ia sendiri bu-kan tandingannya, bahkan seumpama semua saudara seperguruan-nya bergabung mengeroyok juga belum tentu bisa merobohkannya, terang hinaan di depan mata sekarang sukar dihindarkan, demikian ia berpikir.
Tetapi sebelum keadaan memuncak, tiba-tiba terdengar seorang tertawa mengejek.
"Tak punya malu! Jenazah Suhu belum lagi dingin sudah hendak main kuasa dan menghina Sute!"
Liau-in menjadi murka, matanya melotot.
"Siapa yang berani kurangajar padaku?"
Gertaknya sambil memandang sekelilingnya. Belum lenyap perkataannya, sekonyong-konyong di antara te-tamu itu ada seorang melompat maju.
"Tok-pi-sin-ni mengirim aku ke sini buat memberi ajaran kepada muridnya yang durhaka dan tak kenal mati atau hidup!"
Seru orang itu dengan nyaring.
Para tamu lainnya menjadi kaget, pandangan mereka seketika ditumplekkan kepada orang ini.
Ternyata orang ini berparas cakap, rupanya seperti anak pelajar lemah gemulai yang baru menginjak dewasa.
Orang ini bukan lain daripada orang yang datang bersama Pek Thay-koan, Li Siang-siang adanya!
Demi mengetahui yang tampil hanya seorang pemuda tak di-kenal, sungguhpun murka sekali, namun Liau-in masih tak berani segera unjuk kemurkaannya.
Karena dirinya kepala Kanglam-pat-hiap, mana boleh bertanding dengan seorang anak muda yang ting-katannya jauh di bawahnya?
Dengan menahan perasaan, ia pun balas tertawa mengejek.
"Tok-pi-sin-ni menyuruh kau bocah ini mengajar padaku? Haha, sungguh lucu! Sebaliknya aku hendak tanya kau, murid siapakah kau ini? Kapan keluar dari perguruan? Masih ingusan sudah berani sembarang mengoceh, aku akan tangkap gurumu ke sini dan hukum dia yang tak becus mengajar murid!"
Atas perkataan Liau-in itu, semua orang tertawa riuh, mereka geli karena pemuda lemah ini berani sembarangan omong besar, de-ngan membonceng nama Tok-pi-sin-ni katanya hendak mengajar Liau-in Hwesio segala.
Dengan ilmu silat Liau-in yang tiada tandingannya, kalau be-tul Tok-pi-sin-ni ada pesan terakhir, maka’ orang yang diserahi tugas itu seharusnya juga kaum Cianpwe atau ketua sesuatu cabang per-silatan, mana mungkin menyerahkan tugas itu kepada seorang anak pelajar yang lemah begitu?
Akan tetapi Li Siang-siang sedikitpun tidak terpengaruh oleh suara tertawaan yang mengolok padanya itu, sebaliknya ia bersikap biasa saja.
Ia tunggu suara tertawa berhenti, lalu berkata dengan di-ngin.
"Liau-in, kau menyatakan berani menangkap guruku? Hm, se-umpama kau memiliki kepandaian setinggi langit, kalau bertemu guruku tentu kau akan berlutut dan minta ampun juga!"
Sudah tentu, ucapan itu membuat Liau-in menjadi makin mur-ka.
"Dimana gurumu?"
Teriaknya dengan gusar.
"Aku beri tempo ti-ga bulan padamu untuk memanggil dia menemui aku, kalau tak kau laksanakan, biar kau lari sampai di pucuk langit pun tak mungkin lolos! Tiga bulan lagi kau panggil gurumu ke Thian-hing-to sini, de-ngar tidak?"
"Perlu apa sampai tiga bulan lamanya, saat ini juga guruku su-dah berada di sini!"
Sahut Li Siang-siang dengan tertawa. Liau-in mengerling ke seluruh ruangan.
"Mana dia? Keluar si-ni!"
Teriaknya kalap. Namun terlihat Li Siang-siang telah mengangkat tinggi kedua tangannya.
"Berlutut!"
Ia menggertak.
Ternyata tangannya meme-gang sebilah pelat emas yang diangkat tinggi.
Nampak pelat emas itu, tiba-tiba muka Liau-in berubah hebat.
Pelat emas itu bukan lain adalah barang tinggalan Tok-pi-sin-ni, di atasnya terukir sepuluh pasal larangan besar perguruannya, waktu Kanglam-pat-hiap masuk perguruan, semua pernah mende-ngar sepuluh larangan itu yang dibacakan oleh Suhu mereka dengan mengangkat tinggi-tinggi pelat emas itu, mereka pun pernah berlutut kepada pelat emas itu sebagai sumpah setia.
Walaupun Tok-pi-sin-ni sudah wafat, tapi perbawanya ternya-ta masih tinggal, nampak pelat emas itu, bukan main kejut Liau-in.
Menyaksikan itu, semua orang heran.
Tampaknya orang ini benar-benar utusan Tok-pi-sin-ni, demikian pikir mereka.
Melihat gelagat tak menguntungkan, lekas Hi Kak bertindak.
"Jika Taysu tunduk pada bocah ini, apakah takkan ditertawai kaum Enghiong (ksatria) seluruh jagat!"
Demikian ia membisiki Liau-in. Karena hasutan itu, rasa keder Liau-in segera lenyap dan pikiran jahatnya timbu kembali.
"Walaupun Kimpay (pelat emas) ini memang betul barang tinggalan Suhu, tetapi Suhu sudah mati. di jagat ini siapa yang mampu mengatasi aku, buat apa takut padanya!"
Demikian batinnya. Dalam pada itu, terdengar Li Siang-siang membentak lagi.
"Liau-in, apakah kau berani membangkang guru dan berkhianat pada leluhur? Tidak lekas berlutut kau!"
Tetapi jawaban Lau-in adalah mendadak membentak, berba-rcng telapak tangannya terus memukul ke depan, berniat menghancurkan pelat emas itu.
Namun Li Siang-siang pun cukup sebat, tangan kiri mengayun dan tangan lainnya segera menyimpan kembali pelat emas itu ke bajunya, di antara guncangan keras angin pukulan itu, ikat kepala Li Siang-siang yang hijau tersingkap dan kabur jatuh, maka rambutnya yang panjang lebat segera tertampak jelas.
"He, kiranya kau adalah Pat-moay (adik kedelapan)!"
Sem Pek Thay-koan melonjak ketika melihat rambut itu.
Memang tidak salah, pemuda yang lemah gemulai dan mengaku bernama Li Siang-siang ini memang bukan lain ialah Lu Si-nio.
Teng Hiau-lan girang bercampur kejut, hatinya berdebar.
batinnya.
"Siang-siang (dua-dua) sama dengan Si (empat), terang na ma Siang-siang ini nama pedengan Lu Si-nio, aku sungguh tolol sekali, begini saja tak mampu memikirkan!"
Ketika ia memandang lagi pada Lu Si-nio, tertampak nona itu masih tenang-tenang saja menghadapi Liau-in dengan tak gentar.
Di pihak lain, dengan pukulannya tadi Liau-in tak dapat merobohkan Lu Si-nio, ia pun rada heran.
Segera ia maju ke tengah dengan menjinjing tongkatnya yang bulatan tengahnya sebesar cawan.
"Apakah kau murid penutup (terkecil) Suhu yang bernama Lu Si-nio?"
Tanyanya.
"Perguruan kita biasanya sangat mengutamakan tua dan muda, kini untuk pertama kali kau bertemu Suheng, menga-pa kau tidak berlutut memberi hormat?"
Atas teguran itu Lu Si-nio malah balas mendamprat.
"Cis, kau tak menurut pada larangan Suhu, kau sudah menjadi murid durhaka perguruan, kini setelah melihat Kimpay kau tak berlutut, malah berani bicara tentang peraturan perguruan denganku? Dan bagaimana kau masih punya muka buat mengaku sebagai Suheng padaku?"
Roman Liau-in dari hijau berubah jadi putih dan dari putih balik jadi merah. Saking malu ia menjadi murka.
"Lu Si-nio! Kau berani berbuat apa?"
Gertaknya gusar.
"Aku hendak melaksanakan pesan Suhu, menghimpun saudara seperguruan dan minta pertanggungan jawabmu!"
Sahut Lu Si-nio.
"Jika kau masih tidak mau mengubah kelakuanmu, maka segera kami penggal kepalamu untuk dibuat sembahyang kepada arwah Suhu di alam baka!"
Mendengar itu saking murkanya Liau-in bergelak tertawa ma-lah.
"Siausumoay, berapa tahun kau belajar silat, lantas berani kurangajar di depan Suhengmu?"
Serunya dengan masih tetap tertawa. Namun dengan sekali lompatan membalik, Lu Si-nio meloncat keluar kalangan.
"Liau-in, aku pun hendak melihat sebenarnya bera-pa banyak kepandaian yang telah kau warisi dari Suhu!"
Teriaknya menantang. Tawa Liau-in malah menjadi-jadi bagai orang gila.
"Aku su-dah malang-melintang setengah umurku, belum pernah ada orang berani menantang di hadapanku!"
Katanya.
"Tidak nyana kini Su-moay malah menantang sang Suheng!"
Sementara itu Lu Si-nio sudah melolos pedang dan dituding-kan ke depan.
"Siapa sudi menjadi Sumoaymu?"
Dampratnya. Mendapat dampratan berulang-ulang, mendadak suara tertawa Liau-in berhenti. [a ketok tongkatnya ke lantai.
"Kau belum cakap untuk menantang aku!"
Bentaknya tiba-tiba.
"Para tamu terhormat yang berada di sini, siapa kiranya yang sudi mewakilkan aku me-nangkap budak hina ini?"
Para tamu yang hadir semuanya kalau bukan tokoh dunia persilatan yang tersohor, tentu adalah benggolan dari kalangan Kang-ouw, melihat Lu Si-nio hanya seorang gadis muda jelita, mereka menduga pasti tak seberapa tinggi ilmu silatnya, maka dengan sen-dirinya suka memberi jasa baik kepada Liau-in, seakan takut ketinggalan, mereka melolos senjata terus melompat maju ke tengah.
Melihat keadaan demikian ini, Lu Si-nio memutar pedangnya, segera menerbitkan sinar dingin yang gemerdep.
"Tak punya malu, apa kalian hendak main keroyok?"
Serunya menyindir.
Karena itu, semua orang yang maju jadi mengkeret dan tertegun seketika.
Mereka termasuk tokoh Kangouw yang telah punya nama, sudah tentu mereka tak ingin mendapat nama jelek.
Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar Haptoh yang menduduki tempat utama tadi membuka suara.
"Hendak bertanding boleh keluar sana! Satu lawan satu, harus menurut peraturan Kangouw, jangan mengacaukan ketentuan itu!"
Dengan beberapa perkataan itu, meski suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup membikin pekak telinga orang hingga mendenging seperti orang dibentak di tepi kuping saja, bahkan orang-orang yang berdiri sedikit jauh di luar gardu sana pun seperti mendengar halilintar menggelegar.
Seketika itu juga, baik dalam ruangan maupun di pelataran luar, semua menjadi kuncup dan sunyi.
Baru kini orang-orang gagah yang hadir itu mengenal Haptoh yang menduduki tempat tamu agung itu memang bukan tiada sebabnya, nyata memang betul-betul mempunyai keahlian yang tinggi.
Lu Si-nio melihat Haptoh telah pamerkan Lwekangnya dengan kepandaian ‘Say-cu-hau’ (singa mengaum), wibawanya membikin keder para orang gagah, segera ia tarik napas dalam-dalam dan hen-dak membalas pameran orang itu.
Namun belum sampai ia bertindak, tiba-tiba terlihat Thian-yap Sanjin melompat maju.
"Memang betul apa yang Hap-congkoan katakan!"
Serunya.
"Hari ini yang hadir semuanya tokoh ternama Bu-lim, setiap orang boleh unjuk kepandaian di luar sana dan bertanding di atas puncak, biar aku orang pegunungan ini bisa bertambah pengalaman. Sekarang aku yang sudah tua bangkotan boleh membuka jalan bagi para Enghiong!"
Habis berkata, ia berdiri di tengah kalangan sambil membungkuk memberi hormat.
Akan tetapi dengan sikapnya itu sekaligus ia telah unjuk kemahiran.
Seketika itu juga angin santar meniup, me-nyusul daun jendela berkaca berbunyi kelotakan, kemudian terde-ngar pula Thian-yap Sanjin bersuit panjang, ketika ia berdiri tegak kembali, angin pun berhenti, daun jendela semuanya ternyata sudah terbuka, di luar bunga rontok bertebaran, tangkai daun mendoyong miring ke sana sini, laksana habis disiak oleh tangan manusia saja.
Nyata kelcuatan telapak tangan Thian-yap Sanjin sudah sedemikian tinggi sehingga dari jauh sanggup mengguncang pohon dan merontokkan bunga dalam jarak antara dua tiga puluh tindak, sedang kaca jendela sebaliknya tidak menjadi hancur dan pecah.
Menyaksikan kepandaiannya itu, bukan saja yang lain, tidak terkecuali Liau-in, Haptoh, Lu Si-nio dan Hay-hun Hwesio yang ter-hitung tokoh kelas wahid juga merasa di luar dugaan, seketika itu juga suara tepuk tangan segera terdengar bergemuruh sebagai tanda memuji.
Dengan muka berseri-seri puas, Thian-yap Sanjin bersama Hi Kak berjalan keluar gardu besar itu.
Melihat para tamu yang hadir itu tidak kurang dengan orang-orang kosen, bahkan tiap orang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, tak terasa Pek Thay-koan menjadi agak jeri.
"Pat-moay, harap kau sedikit hati-hati!"
Diam-diam ia memberi pesan pada Lu Si-nio.
Dalam pada itu Lu Si-nio memang lagi berpikir cara bagaimana harus bertindak untuk menghindarkan bahaya dari keroyokan benggolan itu.
Tiba-tiba ia lihat si nenek pengemis tadi memperlihatkan senyum ejek, tapi nenek itupun keluar bersama orang banyak.
Tergerak hati Lu Si-nio, tengah ia berniat menyapa, nenek pengemis itu sudah keburu menyelusup di antara orang banyak dan berjalan keluar berdampingan dengan Thian-yap Sanjin.
Setelah keluar dari gardu dan melewati gunung-gunungan pal-su, di sebelah sana terdapat lapangan luas, di tengah lapangan ter-sedia komplit macam-macam senjata, Semua orang lantas berdiri berjajar hingga berwujud satu Iingkaran.
Lu Si-nio, Pek Thay-koan dan Teng Hiau-lan berduduk di su-atu tempat, sedang di pihak lain Haptoh, Liau-in dan Hi Kak bertiga pun duduk di suatu tempat yang berhadapan dengan mereka.
Lebih dulu Hi Kak berdiri dan angkat bicara.
"Pek Thay-koan dan Lu Si-nio bersalah, mereka tak mau mengalah pada Suhengnya, Po-kok Siansu tidak ingin bergebrak dengan Siaupwe (tingkatan ke-cil), kini kita selesaikan menurut peraturan Bu-Iim dengan satu lawan satu, Enghiong mana yang sudi mewakilkan Po-kok Siansu memberi ajaran pada kaum Siaupwe ini?"
Baru habis berkata, tiba-tiba Li^u-in mencegah.
"Nanti dulu!"
"Po-kok Siansu masih ada petunjuk apa?"
Tanya Hi Kak Tay-ong.
"Menurut pesan dari Suhu, aku diwajibkan menguji kepandai-an para saudara seperguruan,"
Sahut Liau-in.
"Nah, Lu Si-nio, kalau kau memang murid penutup Suhu, malah kau tadi sudah menonjol-kan pula pasal-pasal larangan Suhu buat melawanku, kini kita untuk pertama kalinya bertemu, kau tidak menyembah pada Suheng, hal ini boleh dianggap sudah, tapi kau perlu mengunjuk kepandaian yang telah kau pelajari dan dipertontonkan di sini, biar aku menim-bang apakah kau memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam salah satu Kanglam-pat-hiap atau tidak?"
Menurut peraturan dunia persilatan umumnya, bila sang guru sudah meninggal dan di antara anak muridnya terdapat persoalan, maka Ciangbunjin atau pejabat ketua wajib membikin pembersihan dalam perguruan dan orang yang menjabat Ciangbunjin kebanyakan ialah murid pertama.
Tetapi kalau Ciangbunjin sendiri yang meng-khianati perguruannya, maka akan diputuskan bersama oleh para saudara seperguruan dengan bersembahyang di depan pemujaan sang guru, lebih dulu dipecat dari perguruan lalu beramai menghu-kumnya.
Kini Lu Si-nio mendapat pesan tinggalan gurunya, walaupun ia boleh bertindak sebagaimana mestinya, namun harus pula melalui cara yang lazim tadi, lebih dulu ia mempermaklumkan hal itu kepa-da khalayak ramai, baru setelah itu memecat Liau-in.
Kalau peratur-an itu tak dijalankan tentu kalangan persilatan masih tetap mengaku Liau-in sebagai kepala Kanglam-pat-hiap atau delapan pendekar da-ri Kanglam.
Kini Liau-in selaku Toasuheng hendak menguji kepandaian silat Lu Si-nio, tujuan Liau-in sebenarnya adalah karena ia sangsi, jangan-jangan gurunya pilih kasih, menurunkan kepandaian rahasia apa kepada Lu Si-nio, maka lebih dulu ia hendak menjajalnya.
Sebaliknya dalam pendengaran Thay-koan, ia anggap Liau-in sengaja hendak menghina Sumoay sendiri.
Sedang dalam pandangan orang lain, meski mereka mengang-gap sikap Liau-in itu agak keterlaluan, namun masih belum mero-sotkan derajatnya sebagai seorang Suheng.
Keruan saja seketika itu pandangan semua orang menatap Lu Si-nio, mereka ingin tahu apa dia terima dihina mentah-mentah oleh Suhengnya.
Lebih-lebih mereka ingin mengetahui kepandaian apa yang dimiliki si nona.
Tak tahunya Lu Si-nio hanya tertawa dingin saja.
"Apa yang kau tertawakan? Kau mau taat pada peraturan per-guruan atau tidak?"
Liau-in mendamprat lagi.
Namun Lu Si-nio tidak gubris padanya, ia tetap tertawa, terta-wa terus dan tertawa tiada hentinya.
Karena orang hanya tertawa dan tidak gubris padanya, mula-mula Liau-in bertambah murka, tapi kemudian mendadak air muka-nya berubah hebat.
Ternyata suara tertawa Lu Si-nio ada begitu ulem, begitu ha-lus, bibirnya terlihat bergerak perlahan dan semua orang yang ber-ada di situ lantas mendengar semacam suara tertawa yang nyaring lembut dan naik turun alunan suaranya, berirama dan seperti terpu-tus-pums pula, tapi lantas tersambung kembali.
Sekejap kemudian, suara tertawanya mulai berlainan, kini nadanya makin tinggi, makin keras suaranya dan makin jauh berkumandang, suara tertawa itu se-perti datang dari angkasa saja.
Lewat sejenak kemudian, tiba-tiba Si-nio tertawa tambah ke-ras, suaranya berkumandang hingga saling sahut di antara lembah gunung, kemudian makin keras hingga menimbulkan suara gemuruh seperti pertempuran sengit di medan perang.
Akhirnya suara tertawanya berhenti, tetapi suara yang berku-mandang masih saling sahut di antara lembah sunyi, laksana puncak gunung tunggal pulau ini bersembunyi banyak sekali dewi kahyang-an yang lagi menertawai Liau-in dengan tiada hentinya.
Dengan tertawa dinginnya itu, justru Lu Si-nio telah unjuk Lwekangnya yang hebat sekali.
Orang yang sudah tinggi Lwekangnya, dapat tarik suara dan atur napasnya sedemikian panjang dan jauh, suaranya berkuman-dang dan bergelombang.
Dengan suara tertawanya tadi justru Lu Si-nio telah membuktikan betapa kuat tenaga dalamnya.
Caranya itu tak sama dengan Haptoh yang mengaum hebat.
Tetapi buat golong-an ahli, dengan suara tertawa yang ulem halus itu, jauh lebih hebat daripada ilmu auman singa yang Haptoh pamerkan tadi.
Memang Lu Si-nio cerdik sekali, dengan berlagak tertawa ia mengunjuk ilmu silatnyu yang tinggi, caranya tidak melanggar per-aturan perguruannya, memenuhi pula permintaan Liau-in yang hen-dak menguji padanya.
Sudah tentu, perbuatannya diam-diam sangat dikagumi oleh para jagoan yang hadir, semua takjub oleh keberanian dan kecer-dikan Si-nio.
Walaupun berubah air mukanya, namun Liau-in tak mampu berbuat apa-apa, malah diam-diam ia merasa terkejut dan heran, ba-gaimana Sumoay ciliknya ini bisa memiliki kepandaian setinggi itu, tampaknya tidak di bawah dirinya..
Begitulah, maka setelah selesai tertawa.
segera Lu Si-nio men-desak maju lagi.
"Hubungan seperguruan sudah putus, kini aku me-wakilkan Suhu buat bikin pembersihan perguruan!"
Katanya sambil mengangkat pedang.
Baru habis berkata tiba-tiba terdengar suara siiitan keras, me-nyusul di tengah lapangan telah muncul seorang.
Orang ini mengenakan kopiah berujung lancip seperti tanduk kambing, tubuhnya memakai jubah hitam pertapaan, tangannya pun mencekal sebatang pedang yang bersinar mengkilap.
• "Aku wakilkan Liau-in Taysu mengajar Siaupwe,"
Demikian seru orang itu.
Dia bukan lain daripada Hay-hun Hwesio, ahli pedang dari Ngo-ci-san di pulau Hay-lam (Hainan) yang namanya menggetarkan daerah selatan.
Tadi ia kena dipedayai oleh si nenek pengemis, memangnya ia lagi mendongkol sekali, sebenarnya ia tidak sudi bergebrak mela-wan Lu Si-nio, tapi kemudian setelah menyaksikan Lwekangnya yang tinggi, ia merasa bergebrak melawan Si-nio masih tidak merosotkan derajatnya, ia pikir dengan Kiamhoatnya akan dapat me-ngalahkan si nona sehingga dapat menutupi malunya tadi.
Sementara itu, dengan roman keren Lu Si-nio melompat mun-dur sejauh tujuh delapan tindak.
sesudah itu pedang di tangannya memutar terus menuding ke depan.
tangan lain lurus ke bawah dan mata memandang ujung pedang, kaki pasang kuda-kuda dengan ku-at sekali laksana gunung yang tak goyah.
sikapnya tenang seperti air telaga yang jernih.
"Hay-hun Taysu dengan Kiam-hoatnya yang tersohor di selu-rah benua dan menjagoi daerah selatan,"
Lu Si-nio berkata dengan dingin.
"kalau sudi memberi petunjuk, aku yang menjadi kaum mu-da merasa beruntung sekali!"
Dengan perkataan itu, kelihatannya merendah hati, tetapi sebe-narnya tajam menantang.
Oleh karena itu segera air muka Hay-hun Hwesio kemerah-merahan, ia lihat Si-nio unjuk senjata dan berdiri tegak, terang ke-pandaiannya tidak boleh dipandang enteng, maka diam-diam ia pun rada jeri dan menyesal, ia khawatir dengan namanya yang sudah tersohor itu, kalau menang masih mendingan, sebaliknya kalau ka-lah, hal ini sungguh celaka baginya.
Karena ragu-ragu, maka walau pedangnya sudah mulai berge-rak, namun tak berani sembarang menyerang dahulu.
Di pihak lain, Lu Si-nio cukup mengetahui kelihaian lawan, oleh sebab itu ia sengaja tenangkan diri dan menanti.
ia jaga rapat dirinya.
"Katanya Taysu hendak mengajar kaum Siaupwe, tetapi mengapa tidak lekas turun tangan!"
Ejeknya.
Dalam pada itu, ratusan mata semuanya menatap ke tengah ka-langan pertarungan, bahkan terdengar ada orang tertawa menyindir.
Merasa dirinya menjadi sasaran ejekan orang, Hay-hun Hwe-sio menjadi murka.
"Lihat senjata!"
Gertaknya tiba-tiba, lalu tangannya bergerak, senjata dengan membawa sambaran angin santar segera membabat.
Lu Si-nio cukup waspada, pedangnya bergerak, ia angkat ke atas terus diputar balik, dengan gerakan ‘Biau-jiu-ti-sing’ atau ta-ngan halus memetik bintang, senjatanya dapat menahan pedang Hay-hun, berbareng ia dorong ke depan, ujung pedang terus menga-rah pundak lawan.
Dengan bergerak lebih dulu tadi, tak tahunya Hay-hun Hwesio berbalik malah menjadi terserang, maka lekas ia memutar pedang, dalam sekejap ia dapat mematahkan serangan Si-nio, kemudian de-ngan cepat memutar tubuh seperti kitiran, segera sinar pedang me-menuhi seluruh kalangan seakan ular naga yang lagi menari, ia ku-rung Lu Si-nio di da’am sinar pedangnya.
Begitu bergebrak, kedua orang saling mengetahui telah kete-mukan tandingan berat, kini kedua belah pihak berebut menyerang, cepat lawan cepat, dalam sekejap sudah bergebrak hampir lima pu-luh jurus dan masih belum tampak keunggulan masing-masing.
Lu Si-nio merasa gaya serangan lawan sangat aneh, tampak-nya seperti di depan, tapi tahu-tahu telah berada di belakang, keli-hatannya menyerang kanan, mendadak menjurus ke kiri.
"Pantas namanya menggetarkan daerah selatan, ternyata me-mang betul Kiam-hoatnya berlainan dengan Tionggoan (daerah te-ngah),"
Begitu pikirnya.
Llntung Si-nio memiliki ilmu entengi tubuh yang bagus, gerak tubuhnya enteng dan gesit, walau belum mendapatkan akal untuk memecahkan tipu serangan musuh, namun tidak sampai kecundang.
Lewat tidak lama, Hay-hun Hwesio yang merangsek terus-menerus masih juga belum berhasil, ia tambah ganas lagi, tiap tipu serangan berubah tiada tentu dan sukar diraba.
Tetapi Lu Si-nio pun tidak kurang tangkasnya, ia berlari me-ngitari lapangan pertempuran, gayanya laksana kupu-kupu yang me-nari dan menyelusup di antara tangkai bunga, baju putihnya melam-bai tertiup angin, di waktu berputar cepat, hanya tertampak segu-lungan bayangan putih yang kabur terbawa angin.
Sampai akhirnya di dalam lingkaran sinar pedang itu, tak bisa dibedakan lagi mana bayangan senjata dan mana bayangan orang.
Buat golongan ahli yang hadir, melihat Lu Si-nio terus berlari mengitar dan main berkelit, lebih banyak terserang daripada menye-rang, mereka mengira tentu tenaganya kurang, maka hendak meng-gunakan kegesitan untuk mengulur waktu, menanti kesempatan untuk merangsek kembali.
Cuma Kiam-hoat Hay-hun Hwesio begitu cepat dan hebat laksana sambaran kilat, hanya main berkelit dan menghindar saja, mereka menyangsikan apakah Lu Si-nio sanggup melayani terus.
Teng Hiau-lan sendiri ikut berdebar, ia khawatir keselamatan Si-nio, telapak tangan berkeringat saking khawatirnya, karena di-genggam kencang sambil menahan napas apabila Si-nio berada da-lam keadaan bahaya.
"Bagaimana baiknya? Tampaknya Lu-cici tak mampu menan-dingi keledai gundul itu!"
Katanya kepada Pek Thay-koan sambil memegang tangan orang. Melihat perubahan roman Teng Hiau-lan yang khawatir itu, Pek Thay-koan menghiburnya.
"Jangan takut, ia cukup mampu me-lawannya!"
Sahutnya.
Biarpun berkata begitu, tapi sebenarnya dalam hati Pek Thay-koan pun merasa khawatir.
Di antara orang-orang itu, hubungan Thian-yap Sanjin paling karib dengan Hay-hun Hwesio.
Melihat Hay-hun Hwesio berada di atas angin dan terus merangsek lawannya, ia senang sekali.
"Hay-hun Taysu memang luar biasa,"
Ujarnya tertawa girang.
"Kiam-hoat-nya begitu ajaib, bocah perempuan ini sanggup menahannya sede-mikian lama sudah boleh dikata hebat, memang tidak malu sebagai salah seorang dari Kanglam-pat-hiap!"
Dengan perkataannya ini, di satu pihak sengaja memuji Hay-hun, sedang di lain pihak ia menjunjung kehormatan Liau-in.
Akan tetapi Liau-in ternyata bersikap dingin saja, ia tersenyum tawar dan mengerut kening, tapi tidak berkata apa-apa.
"Thian-yap Sanjin, kau punya Lwekang memang tinggi sekali, tapi dalam hal Kiam-hoat rupanya kau belum cukup dalam menye-laminya!"
Tiba-tiba Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji menyeletuk. Dikatakan dirinya belum cukup dalam mempelajari Kiam-hoat atau ilmu pedang, keruan Thian-yap Sanjin menjadi murka.
"Apa? Kau maksudkan penglihatanku salah?"
Teriaknya gusar.
"Tidak, tidak! Mana aku berani berkata, begitu!"
Sahut Sat Thian-ji.
"Cuma menurut pandanganku yang bodoh ini, Kiam-hoat anak dara ini jauh lebih pandai daripada Hay-hun Taysu!"
Sebenarnya Sat Thian-ji juga bukan ahli Kiam-hoat, hanya sa-ja dia pernah bertempur dengan Lu Si-nio di Bin-san dahulu dan te-lah merasakan pahit getirnya, bahkan dengan kekuatan mereka ber-dua saudara juga belum dapat mengalahkan si nona.
Hal itu sudah terjadi lima tahun yang lalu, kini melihat gerak tubuh Lu Si-nio, tampaknya sudah banyak lebih maju daripada da-hulu.
Karena itulah, begitu melihat Hay-hun Hwesio merangsek dan menyerang lawannya dengan kalap, hal itu justru meniru caranya dulu melawan Si-nio, maka ia berani memastikan pendapatnya tadi, dengan demikian ia bermaksud hendak unjuk kejituan penglihatan-nya, berbareng untuk menjatuhkan nama baik Thian-yap Sanjin.
Perbuatannya ini sebenarnya bukan tiada sebab.
Seperti dike-tahui, Sin-mo-siang-lo diundang oleh Si-hongcu dengan kehormatan selaku ‘Kok-su’ atau imam negara, ia mengira sudah boleh anggap diri paling kuasa, tak terduga, orang pandai yang diundang makin lama makin banyak, sampai kepala Kanglam-pat-hiap Liau-in Hwe-sio pun ikut diundang.
Kini bertambah pula Hay-hun Hwesio dan Thian-yap Sanjin, sedangkan tingkatan Thian-yap Sanjin tampaknya masih di atas dirinya.
Oleh sebab itu mereka bersaudara khawatir kalau kedudukan mereka kian lama kian terdesak dan makin rendah.
maka ia sengaja ambil kesempatan baik ini, pada waktu orang lagi bertempur, sengaja ia berbicara tentang ilmu pedang orang untuk merusak nama dan menurunkan harga Thian-yap Sanjin.
Sudah tentu pikiran sempit Sat Thian-ji itu tidak disadari oleh Thian-yap Sanjin, maka atas jawaban orang tadi ia menjadi tambah penasaran.
"Kalian bersaudara agaknya juga bukan ahli Kiam-hoat!"
Demikian debatnya lagi.
Dengan perkataannya itu, ia setengah hendak menyindir ilmu silat Siang-mo tidak lebih hanya ajaran golongan liar yang tak ter-kenal.
Sudah tentu Sat Thian-ji mengerti maksud perkataan orang, maka ia sengaja mengungkit lagi.
"Bukannya aku sengaja membe-sarkan kemahiran musuh dan merendahkan kepandaian kawan sen-diri,"
Sahutnya.
"tapi menurut pandanganku, tidak sampai setengah jam, Hay-hun Hwesio pasti akan mengalami kekalahan! Kalau San-jin tak percaya, beranikah kau bertaruh?"
"Bertaruh?"
Tanya Thian-yap Sanjin.
"Bertaruh apa?"
"Kalau meleset penglihatanku, kami berdua segera pulang ke Niau-eng-to!"
Sahut Sat Thian-ji.
"Jadi!"
Thian-yap Sanjin terima baik tantangan itu.
"Kalau aku yang salah lihat, maka aku pun segera pulang kandang!"
Begitulah selagi mereka hendak berjabat tangan sebagai per-nyataan akur, tiba-tiba Haptoh dan Liau-in keburu menarik pergi mereka berdua.
"Buat apa harus begitu!"
Kata mereka berbareng.
"Kita masih harus membantu Si-hongcu naik takhta sepenuh tenaga, mana boleh k’ta bertengkar dan melemahkan kekuatan sendiri! Menurut kami, lebih baik kalian mengubah cara taruhan itu. Begini saja, jika Hay-hun Hwesio yang menang, maka hal ini boleh dianggap berakhir, tetapi kalau kalah, maka kalian berdua boleh pergi menempur anak dara itu, coba siapa yang berhasil menangkapnya!"
Sat Thian-ji bungkam, ia tidak buka suara, tidak demikian dengan Thian-yap Sanjin, ia masih merasa penasaran.
"Aku tidak sudi bergebrak dengan kaum Siaupwe (anak kecil),"
Ujarnya.
"Lagipula anak dara ini jelas bukan tandingan Hay-hun, buat apa aku maju sendiri!"
Sembari berkata, rasa gusarnya pun tertampak di parasnya.
Te-tapi Liau-in dan Haptoh sudah menarik pergi mereka berdua dan memisahkan di suatu tempat, mereka berpikir setelah urusan beres, biar siapa yang menang bertaruh, keduanya akan diakurkan kembali.
Begitulah insiden itu baru berakhir, waktu mereka melihat ke tengah kalangan lagi, pertarungan ternyata makin hebat, Lu Si-nio masih tetap berlari mengitari lapangan, sedang Hay-hun Hwesio ju-ga tetap merangsek dan menyerang dengan kalap, dari Iuar tampak-nya keadaan belum berubah, tapi bagi kaum ahli sudah terlihat jelas walaupun Lu Si-nio berada dalam kurungan sinar pedang, namun ia mulai mertyambut serangan orang, malah balas menggempur, kini ia sudah mulai balas merangsek sambil membela diri.
Melihat perubahan itu, Liau-in masih anggap sepi, tetapi lain dengan Haptoh, ia merasa heran dan terkejut sekali.
"Apa betul penglihatan Sat Thian-ji bahwa Kiam-hoat anak dara yang ajaib ini masih berada di atas Hay-hun Hwesio?"
Demi-kian ia bertanya-tanya dalam hati.
Sementara itu Pek Thay-koan pun sudah dapat mengetahui adanya perubahan kedudukan itu, hanya Teng Hiau-lan saja seorang yang masih merasa berdebar dan khawatir.
Kiranya setelah hay-hun Hwesio bertukar sekali serangan de-ngan Lu Si-nio, segera ia mengetahui bahwa Si-nio adalah tanding-an tangguh yang jarang dijumpai selama hidupnya.
Oleh sebab itu juga, ia keluarkan seluruh kemahirannya, ia pikir dengan rangsekan yang luar biasa akan dapat memperoleh kemenangan dan sekaligus unjuk ketangkasannya di hadapan orang banyak.
Semula ia mengira meski Kiam-hoat Lu Si-nio tinggi, tapi ba-gaimanapun juga ia adalah seorang wanita, tenaga maupun penga-laman tentu masih jauh di bawah dirinya.
Ia tidak tahu bahwa yang dipelajari Lu Si-nio justru kepandaian yang paling dibanggakan oleh Tok-pi-sin-ni.
Nikoh tua bertangan tunggal itu telah beberapa tahun meyakinkan Hian-li-kiam-hoat, tetapi baru pada tahun kedua setelah Lu Si-nio berguru padanya, ilmu pedang itu berhasil ia selami de-ngan baik, bukan saja sudah sampai tingkatan yang tiada taranya, bahkan boleh dikata telah bersatu-padu dengan jiwa raganya, ia ba-nyak menambahkan perubahan pada Hian-li-kiam-hoat aslinya.
Pada waktu Tok-pi-sin-ni belum sempurna meyakinkan ilmu pedangnya itu, ia belum berani menurunkan kepandaian yang belum masak itu pada anak muridnya, oleh karena itu, Kanglam-chit-hiap tiada seorang pun yang terkenal menggunakan pedang.
Memang Lu Si-nio terhitung ada jodoh, ia berguru pada Nikoh tua itu pada masa usianya yang sudah lanjut, oleh sebab itu juga ialah satu-satunya yang memperoleh intisari kepandaiannya.
Kini melawan musuh kuat, ia keluarkan semua kepandaian yang dipelajarinya, ia berlari mengitar seluruh kalangan, kelihatan-nya seperti berkelit menghindar, tetapi sebenarnya banyak mengan-dung gerak perubahan yang tak dapat diraba.
Tiap gerakan mungkin pancingan dan mungkin pula sungguhan, di antara perubahan gerakannya itu dapat berubah lagi.
Akhirnya sampailah pada suatu saat yang menentukan.
Si-nio mengetahui kegarangan musuh sudah banyak berkurang, maka men-dadak gerak pedangnya berubah, tiba-tiba sinar tajam berkelebat, ia mulai balas menyerang dengan gencar sambil masih tetap menjaga rapat dirinya.
Dengan siasatnya itu, betul-betul Lu Si-nio menjadi hebat se-kali, di waktu tenang ia prihatin sekali seperti kucing mengincar ti-kus, tapi di kala harus bergerak, ia lincah laksana kelinci terlepas.
Di pihak lain Hay-hun Hwesio juga terhitung seorang ahli Kiam-hoat kawakan, maka segera ia insaf bahwa ilmu pedang lawan memang jauh lebih hebat dan menakjubkan daripada dirinya, ia jadi terkejut bercampur gugup, ia merangsek dan menerjang dengan he-bat serta mengeluarkan seluruh tenaganya, tetapi lawan temyata tenang-tenang saja, tampaknya tidak banyak bergerak namun sedi-kitpun ia tak bisa melukainya.
Mau tak mau Hay-hun Hwesio menjadi jeri, ia tahu gelagat je-lek, maka berulang-ulang ia incar orang dengan serangan berbahaya, pedangnya berputar, jubah penapaannya ikut mengebas, habis itu ujung pedangnya mendadak menyambar naik ke atas.
Atas serangan itu, tiba-tiba Lu Sio-nio menarik senjatanya dan berdiri tegak, tetapi kedua matanya bersinar tajam, pedang Hay-hun Hwesio menyambar tiba dan ia masih diam saja seperti tak merasa.
Ketika itu, seluruh lapangan sunyi senyap, semua orang berde-bar menyaksikan pertarangan mati-matian itu, Teng Hiau-lan sam-pai memejamkan kedua mata, ia tak tega menyaksikan saat yang lu-ar biasa itu.
Tak terduga, dalam sekejap itu seperti letikan lelatu api, men-dadak terdengar Lu Si-nio bersuit nyaring, sekonyong-konyong ia mencelat ke atas, sepatunya bahkan menginjak ke arah ujung senjata lawan dan dengan meminjam tenaga injakan itu, tubuhnya berjum-palitan, cepat sekali laksana burung terbang ia melayang lewat di atas kepala Hay-hun Hwesio.
Berbareng itu, belum sampai ia menancapkan kaki kembali, pedangnya diayun selagi ia masih terapung di udara, dengan tipu serangan mematikan ‘Peh-khing-koan-jit’ (pelangi putih menembus sinar matahari), pedangnya menikam dari atas ke bawah, mengarah kepala Hay-hun Hwesio yang gundul itu.
"Celaka!"
Terdengar seruan Hay-hun Hwesio.
Untuk melepaskan diri dari ancaman bencana, lekas ia angkat pedangnya menyampuk ke atas, untuk melindungi kepalanya sem-bari mengurangi daya serangan lawan.
Tidak terduga, begitu kedua pedang saling bentur, Lu Si-nio yang berada di sebelah atas membarengi memuntir pedang terus di-angkat, maka segera terdengar suara "kraak" , pedang Hay-hun Hwe-sio terkutung menjadi dua dan kena disengkelit pergi hingga jauh, sebaliknya Lu Si-nio sendiri dengan senyum manis menancapkan kaki kembali ke tanah dengan tenang, ia pegang senjatanya di depan dada sembari membungkuk memberi hormat.
"Hay-hun Taysu, Siaupwe bersyukur engkau sudi mengalah!*’ ujarnya.
Keruan saja seketika itu muka Hay-hun Hwesio merah padam saking malunya, jika saja bumi berlubang, ingin ia menyelusup ma-suk ke dalam.
Pertarungan sengit mengadu pedang tadi begitu hebatnya se-hingga membikin para jagoan yang menyaksikan merasa kagum.
Di antaranya Sat Thian-ji yang merasa senang sekali ramalannya ter-bukti benar, tapi di samping itu ia pun merasa jeri.
Ia senang ramal-annya betul, dengan begitu menanglah taruhannya dengan Thian-yap Sanjin tadi, tapi jeri melihat kepandaian Lu Si-nio ternyata su-dah sampai puncak kesempurnaan, dulu ia pernah merasakan sendiri lihainya orang, tampaknya tak mungkin ia mampu membalas den-dam itu.
Dalam pada itu, Thian-yap Sanjin yang merasa dirinya terhina karena penglihatannya keliru, mukanya dari merah berubah menjadi hijau, ia mengertak gigi, tiba-tiba ia berbangkit dan hendak turun kalangan menempur Lu Si-nio.
Namun baru saja ia berdiri, sekonyong-konyong pundaknya ditahan orang.
"Thian-yap Toheng, biar aku saja yang bereskan bu-dak hina ini!"
Terdengar Liau-in membisiki.
Walaupun Liau-in sudah tersesat, namun ia pun seorang laki-laki kalangan Kangouw, dengan tindakannya, ia bermaksud mem-pertahankan kedudukannya sebagai pemimpin Kanglam-pat-hiap.
Semula ia tak bersedia bergebrak dengan Lu Si-nio, karena ia tak mau disebut sebagai orang tua menganiaya orang muda, ia me-ngira salah seorang jagoan yang ada di situ sudah dapat menangkap hidup-hidup Lu Si-nio.
Tak terduga justru kejadian adalah sebalik-nya, Hay-hun Hwesio sebagai tokoh silat yang memiliki ilmu pedang begitu tinggi dan hebat, ternyata harus menerima kekalahan dengan senjata terkutung dan karena itu pula namanya pun merosot.
Walaupun Liau-in tahu kepandaian Thian-yap Sanjin masih di atas Hay-hun Hwesio, namun ia rada khawatir juga jangan-jangan akan terjadi hal-hal di luar dugaan, hingga bukan saja nama baik Thian-yap Sanjin yang harum selama ini akan tersapu bersih, bah-kan ia sendiri pun akan dicaci maki oleh sesama golongannya, bah-wa ia membiarkan Sumoaynya menghinakan golongan Cianpwe dan mematahkan nama baik tokoh yang sudah tersohor untuk memamer-kan kepandaian perguruan sendiri.
Karena itulah, Liau-in mencegah Thian-yap Sanjin dan ia sendiri tampil ke muka.
Dengan majunya Liau-in Hwesio, semua orang mengerti bakal menyaksikan pertunjukan bagus, maka mereka bersorak.
Mereka ta-hu ilmu silat Liau-in sejak malang melintang di kalangan Kangouw belum pernah menemukan tandingan, maka ingin menyaksikan cara bagaimana ia akan menangkap hidup-hidup Sumoaynya dan mem-pertontonkan kepandaian silatnya.
Di pihak lain, diam-diam Pek Thay-koan menjadi ketar-ketir khawatir, akan tetapi keadaan sudah terpaksa, tak mungkin ia bisa memisah.
Sementara itu dengan tangan menjinjing tongkat pertapaannya yang bulatan tengahnya sebesar gelas dan terbuat dari baja murni, dengan langkah lebar Liau-in maju ke kalangan.
Di sebelah sana, dengan pedang terhunus melintang di depan dada dan penuh kewaspadaan, Lu Si-nio menanti musuh.
"Lu Si-nio, kau tak pandang sebelah mata pada orang tua, jangan kau salahkan tongkatku yang tidak kenal kasihan ini,"
Terdengar Liau-in membentak dan tongkatnya menuding.
"Apabila kau tahu gelagat, baiknya kau lekas buang senjatamu dan minta ampun untuk menerima hukuman!"
Tapi bukannya Lu Si-nio menjadi kuncup, sebaliknya ia men-jadi makin murka.
"Liau-in,"
Dampratnya kembali dengan alis menegak.
"percu-ma kau dididik Suhu, kau tak patuh pada peraturan suci dan me-langgar pantangan perguruan. Menurut pesan terakhir Suhu, aku di-tugaskan menghimpun saudara seperguruan untuk memenggal kepa-lamu, mengingat sesama saudara seperguruan, biar aku berikan satu jalan hidup bagimu jika kau mau insaf dan mengubah kelakuanmu, lekas kau ikut aku kembali ke Bin-san dan bersembahyang meminta ampun di hadapan abu pemujaan Suhu sambil bersumpah hendak mencuci bersih keburukanmu, kala itu semua saudara seperguruan mungkin dapat mengampuni jiwamu. Apabila tidak, maka hari ini sulit bagimu terhindar dari keadilan. Perkataanku hanya sekian saja, mau menurut atau tidak, boleh kau pilih!"
Sudah tentu Liau-in Hwesio tak gampang disadarkan, ia men-jadi gusar atas uraian orang yang panjang lebar itu.
"Lu Si-nio, be-rapa tahun kau belajar silat dan berapa tinggi kepandaianmu? Hing-ga kau berani ngaco-belo di hadapan Suhengmu?"
Dengan senyum ejek Liau-in menjawab.
"Kau masih punya beberapa Suheng lagi, mengapa tidak kau tanya mereka, siapakah yang memupuk nama baik mereka sebagai Kanglam-chit-hiap!"
Hendaklah diketahui bahwa Liau-in kini berumur lebih setengah abad, sebelum Lu Si-nio lahir, ia sudah diterima murid oleh Tok-pi-sin-ni, semua Sutenya, mulai Ciu Sun hingga Kam Hong-ti, sewaktu mereka belajar silat, pernah Liau-in mewakilkan gurunya mengajar pada mereka.
Oleh sebab itu, dengan enam Sute lainnya, meski namanya saudara seperguruan, hakikatnya adalah ’setengah guru’, maka semua Sute segan padanya, sekalipun Kam Hong-ti yang memiliki bakat tertinggi dan nama terharum, menghadapi Su-hengnya ini mau tak mau rada mengalah juga.
Karena itu pula, maka Liau-in penuh percaya bahwa semua Sutenya tentu akan menurut dan mengekor padanya, tak ia duga, hari ini di depan umum Pek Thay-koan membangkang padanya le-bih dulu, disusul oleh Lu Si-nio yang tak pandang hormat padanya, keruan saja tidak kepalang murka Liau-in.
Dalam pada itu terdengar Lu Si-nio tertawa dingin pula.
"Hm, punya Suheng semacam kau ini hanya memalukan nama Kanglam-pat-hiap saja, masih berani anggap kau yang memupuk nama baik Sute lainnya. Mulai hari ini, yang ada hanya Kanglam-chit-hiap, dilarang kau menggunakan nama Suhu sebagai tameng!"
Belum pemah Liau-in Hwesio dihina dan dicaci orang begitu rupa, keruan ia tak bisa kendalikan diri lagi, belum lenyap suara Lu Si-nio, cepat sekali ia menyerampang dengan tongkatnya.
Begitu hebat serampangan tongkat itu hingga angin keras menyambar dan batu pasir beterbangan.
Dengan sekali enjot ke atas, Lu Si-nio hindarkan senjata la-wan, dengan membawa sambaran angin menderu, tongkat yang be-rat itu menyapu lewat di bawah kakinya.
Sekali menyerampang tidak kena, serangan Liau-in yang ke-dua telah tiba pula, tongkatnya disodokkan ke depan terus ditarik, dimana ujung tongkat yang lain menaik, dengan tipu ‘Tok-coa-sun-hiat’ (ular berbisa mencari lubang), ia mengarah ‘Hiat-hay-hiat’ Lu Si-nio.
Namun Lu Si-nio cukup tangkas, sekali membalik ia sudah menancapkan kaki kembali ke bawah hingga tongkat musuh me-nyambar lewat mukanya.
Tapi sebelum ia sempat berdiri tegak, tiba-tiba serangan ketiga Liau-in menyusul pula, dengan gaya ‘Hing-sau-cian-kun’ (menyapu bersih ribuan prajurit), kembali tongkatnya me-nyabet sebatas pinggang.
Namun dengan gerakan ‘Boan-liong-jiau-poh’ (naga melilit melingkar langkah), Lu Si-nio untuk kttiga Jta-linya dapat menghindarkan diri.
Pek Thay-koan dan Teng Hiau-lan yang menyaksikan Lu Si-nio berulang kali harus main mundur dan menghindarkan pukulan, keadaannya tampak gawat, mereka jcfdi terperanjat dan khawatir.
Sementara itu setelah menghindarkan serangan ketiga kalinya, Lu Si-nio mundur beberapa tindak, ia lantas berteriak keras.
"Para ksatria yang hadir harap menjadi saksi, Tecu menurut adat kesopanan telah mengalah tiga kali serangan, hubungan perguruan kini su-dah putus, hari ini aku mewakilkan guru membersihkan pintu per-guruan kami, harap para hadirin jangan menyalahkan aku!"
Kini Pek Thay-koan baru paham bahwa Lu Si-nio ingin men-jalankan peraturan yang dipesan guru mereka, di samping patuh pa-da peraturan dunia persilatan dengan jalan memberi tiga kali serang-an pada orang yang lebih tua.
Diam-diam ia memuji Sumoaynya yang masih muda belia ini, tapi cara bekerjanya sudah begitu cermal dan matang.
Dengan tindakan itu, Lu Si-nio telah unjukkan sikap yang te-gas dan budi yang luhur, halus, tetapi juga keras, peraturan ia pe-gang teguh, sopan santun pun cukup, tidak peduli bagaimana hasil pertarungan nanti, yang pasti di kalangan Kangouw, kini Lu Si-nio telah menonjolkan diri tinggi-tinggi dan namanya sudah berada di atas angin.
Sementara itu sesudah tiga kali serangannya tidak membawa hasil, Liau-in menjadi makin gemas.
"Budak hina-dina, siapa ingin kau mengalah!"
Bentaknya dengan mengertak gigi.
Dalam pada itu, Lu Si-nio pun sudah naik darah, alisnya me-negak dan mulutnya yang kecil terkatup rapat, tangan kiri bergerak, menyusul secepat kilat tangan yang lain dengan tipu ‘Sian-jin-ki-loh’ (sang dewa menunjuk jalan), pedangnya menusuk ke samping dada Liau-in.
Dengan menegakkan tongkat, Liau-in menggeser tubuh, lalu dengan tipu ‘Oh-liong-boan-jiu’ (naga hitam melilit pohon), tong-katnya menyerampang ke jurusan tengah.
Lu Si-nio terpaksa melompat menghindarkan serangan, berba-reng pedangnya dengan tipu ‘Giok-li-tau-so’ (gadis ayu melempar tali), senjatanya segera mengarah lagi ke pundak kanan musuh, ge-rak serangannya cepat dan ujung pedangnya bersinar gemerdep, ia menusuk ‘Hou-cing-hiat’ di tubuh lawan.
Mendadak Liau-in Hwesio menyendal tongkatnya, sekali putar balik, dengan pucuk tongkat membentur pergi pedang Lu Si-nio.
Karena saling beradunya senjata, Lu Si-nio merasa lengannya sedikit kesemutan, namun ia lantas ikuti gaya senjata lawan dan ditarik ke samping, dengan demikian Liau-in pun sekonyong-konyong merasa tongkatnya terlekat dan ikut tertarik maju oleh pedang la-wan, hingga posisi berbahaya tadi sementara mereda.
Setelah kedua orang saling tukar serangan, masing-masing menjadi bertambah hati-hati, mereka mengitari kalangan untuk men-cari lubang kelemahan masing-masing, siapa pun tak berani sem-barang merangsek maju.
Keadaan demikian membikin seluruh ka-langan menjadi gempar, semua orang merasa aneh dan terkejut, se-kalipun Pek Thay-koan yang pernah menyaksikan kepandaian Lu Si-nio, juga tidak pernah menyangka bahwa sang Sumoay ternyata sanggup melawan Liau-in dengan sama kuat.
Tidak terkecuali pula Thian-yap Sanjin, Sin-mo-siang-lo.
Hi Kak Tay-ong, Haptoh dan kawan-kawan, tiada yang tak menaruh perhatian akan perkembangan lebih jauh di tengah kalangan.
Mere-ka terhitung jago kelas satu dunia persilatan, tetapi menyaksikan ca-ra sepasang saudara seperguruan yang saling labrak dengan ilmu si-lat yang tiada taranya, tak tertahan semua merasa kagum.
Begitulah, kedua orang berdiam dan mengumpul seluruh per-hatian terhadap pihak lawan.
Sesudah mengitari kalangan sekali, tiba-tiba senjata Lu Si-nio menuding ke depan, bergerak pura-pura dua kali, namun Liau-in ternyata cukup berpengalaman, ia tidak menggubris pancingan orang.
Melihat lawan tak gampang masuk perangkap, Lu Si-nio kem-bali menggunakan akal, dengan beberapa gerak tipu Hian-li-kiam-hoat yang hebat, seperti menyerang sungguhan, tetapi sebenarnya pura-pura saja, dengan demikian belasan kali gerak pedangnya yang diputar itu hanya untuk mengaburkan pandangan Liau-in, lalu ia incar baik-baik, sinar pedang berkelebat, mendadak dari pura-pura ia betul-betul menyerang, dengan tipu ‘Pek-ho-hi-uh’ (bangau putih menyisik bulu), secepat kilat ia menusuk ke dada Liau-in.
Akan tetapi Liau-in adalah jago kawakan, begitu melihat gerak tangan Lu Si-nio, ia sudah mengetahui tujuan orang, maka justru ia gunakan akal pula untuk menandingi akal, saat ujung pedang musuh hampir menempel dadanya, mendadak tubuhnya mendoyong dan mengerut ke belakang, karena itu Lu Si-nio jadi menubruk tempat kosong dan sebab itu pula imbangan badannya menjadi hilang.
Dalam pada itu Liau-in menggereng keras, menyusul tongkat-nya yang besar kasar itu diputar dengan kuat, sekaligus ia memo-tong jalan mundur Lu Si-nio, dengan kecepatan luar biasa tongkat-nya menghantam kepala musuh.
Serangan ini begitu hebat dan ganas, apabila kena, dapat di-pastikan Lu Si-nio akan hancur oleh kemplangan itu.
Menghadapi elmaut, tampaknya Susah bagi Lu Si-nio untuk lolos dari bencana.
Saking khawatirnya hingga Teng Hiau-lan terpekik kaget.
Tetapi pada saat itu juga, di antara sambaran angin tongkat dan berkelebatnya bayangan orang, entah dengan gerak tubuh bagai-mana, Lu Si-nio ternyata sudah mencelat miring ke atas setinggi le-bih tiga tombak.
Sebenarnya ia sudah buntu oleh cegatan tongkat Liau-in, tidak peduli ia berkelit ke samping atau melompat pergi, susah untuk lo-los dari bencana kemplangan tongkat itu.
Tak terduga, pada saat yang menentukan mati-hjdupnya itu, tiba-tiba ia unjuk ilmu entengi tubuhnya yang luar biasa dan ilmu pedangnya yang hebat, ia ulur pedangnya, ujung senjata itu sedikit menutul ke pucuk tongkat lawan terus ditekan, dengan meminjam tenaga Liau-in yang kuat sekali, seluruh badannya lantas membal ke atas, dengan loncatan enteng ia berjumpalitan pergi hingga beberapa tombak jauhnya.
Karena kesebatan dan kepandaiannya itu, mau tak mau semua jagoan yang menyaksikan bersorak memuji.
Di tengah suara sorakan itu, Liau-in tidak tinggal diam, ia ayun tongkatnya terus merangsek maju lagi.
Lu Si-nio sementara itu belum tenangkan diri, tapi kembali ia harus menghadapi serangan berbahaya pula, lekas ia putar pedang-nya buat menangkis, namun telah didahului Liau-in yang memper-oleh kedudukan lebih kuat.
Lwekang Liau-in memang sangat tinggi, ditambah tenaga aslinya memang melebihi orang biasa, maka begitu ia ayun tongkat, seketika angin menderu menyambar, seluruh pen-juru hanya tertampak bayangan tongkat saja, sungguh luar biasa ga-ya serangan itu, orang biasa jangankan hendak menangkis pukulan tongkatnya, kena guncangan anginnya saja bisa hancur isi perutnya.
Walaupun punya Ginkang yang hebat dan Kiam-hoat yang tinggi, namun di antara guncangan angin tongkat musuh itu, tidak urang Lu Si-nio merasa payah, ia tak mampu balas menyerang, tu-buhnya seperti sebuah perahu yang terombang-ambing di antara ombak samudera yang mendampar.
Lu Si-nio insaf kekuatan Liau-in sebagai kepala dari saudara seperguruannya memang susah untuk ditandingi, apabila terus ber-tempur seperti sekarang ini, dirinya hanya sanggup menangkis, te-tapi tak berdaya membalas, lama kelamaan pasti dirinya tak akan terluput dari malapetaka.
Karena itu, dengan mengertak gigi segera ia mainkan ‘Hian-li-kiam-hoat’ yang paling hebat, secara mati-matian ia berusaha balas menyerang, begitu cepat ia mainkan pedangnya hingga seketika itu memancar sinar putih mengkilap yang memaksa pandangan Liau-in menjadi kacau dan matanya berkunang-kunang.
Terpaksa Liau-in mundur beberapa tindak.
Lu Si-nio tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, pedangnya bekerja makin gencar, beruntun ia lancarkan beberapa tusukan dan tabasan, dengan begitu ia melepaskan diri dari kepungan tongkat musuh dan kembali merebut kedudukan yang lebih menguntungkan untuk bertempur mati-matian lagi.
Melihat Lu Si-nio ternyata sanggup melepaskan diri dari ku-rungan tongkatnya yang dikerjakan begitu rapat dan dapat mengu-bah keadaan menjadi sama kuat, diam-diam Liau-in memuji Su-moaynya, di samping itu ia pun terperanjat, diam-diam ia mengutuk gurunya yang pilih kasih, muridnya yang belakangan ternyata lebih lihai dari yang duluan.
Memang tak dapat salahkan dia kalau dia benci gurunya, be-tapa tidak, Kam Hong-ti, Chit-sutenya itu, belum sepuluh tahun keluar dari pintu perguruan, tapi namanya yang tersohor sudah mele-bihi dirinya.
Kini Lu Si-nio baru saja unjuk muka di dunia Kangouw, ter-nyata ilmu silatnya begitu bagus di luar dugaan, dengan latihannya selama berpuluh tahun ternyata tak sanggup menundukkannya, sudah tentu Liau-in merasa panas hati.
Perlu diketahui bahwa sesudah gurunya wafat, sebabnya Liau-in berani malang-melintang dan berbuat sewenang-wenang adalah karena dia mengandalkan ilmu silatnya yang dia kira sudah tiada orang lagi di kolong langit ini mampu mengatasinya, tapi kini me-lihat Sute dan Sumoaynya satu per satu berani membangkang pa-danya, bahkan berbalik mengancam keselamatannya, tak tertahan lagi ia menjadi murka dan pikiran jahataya segera timbul.
Begitu tongkatnya bekerja, segera ia gunakan ‘tiang-hoat’ (ilmu tongkat) yang ganas dan kejam untuk melayani Sumoaynya yang baru saja unjuk muka di dunia Kangouw itu.
Liau-in sudah banyak berpengalaman dan biasa menghadapi pertempuran, cukup luas pandangan dan banyak pengetahuannya.
Maka sesudah bergebrak melawan Lu Si-nio, ia lantas tahu bahwa kiam-hoat Lu Si-nio meski tinggi dan Ginkangnya bagus, tapi soal tenaga dalam masih belum bisa dibandingkan dirinya.
Oleh sebab itu, ia tidak sayang membuang tenaga untuk me-mainkan Tiang-hoatnya yang paling ganas, yaitu ‘Hok-mo-tiang-hoat’, begitu hebat tongkatnya bekerja dan begitu cepat berputar laksana seekor naga yang menyambar kian kemari.
Kembali ia me-ngurung Lu Si-nio di tengah bayangan tongkatnya.
Tetapi di pihak lain, Lu Si-nio pun memutar pedang begitu he-bat, ia membela diri sembari menyerang pula, walaupun rada di ba-wah angin, namun Liau-in pun tak bisa lantas mengalahkannya.
Beg’itulah kedua orang itu saling tahan dan rangsek, kembali berjalan pula ratusan jurus, namun Liau-in tetap gagah perkasa, sedang Lu Si-nio pun masih tangkas dan gesit.
Sementara itu rembulan muda sudah bergeser sampai di te-ngah langit, namun di lapangan berlatih di atas gunung itu api obor masih terang-benderang, tiada seorang pun merasa mengantuk atau letih karena hebatnya pertunjukan yang mereka tonton.
Sampai pada suatu ketika, terlihat Lu Si-nio berlari mengitari kalangan, kiranya ia hendak menggunakan caranya melawan Hay-nun Hwesio tadi untuk melayani Suhengnya ini.
Tak terduga, Liau-in ternyata bukan Hay-hun, tongkatnya besar dan panjang pula, kepandaiannya pun tak dapat dibandingkan Hay-hun Hwesio, dengan cara Lu Si-nio berlari mengitari kalangan pertempuran, malah berbalik memberi kesempatan padanya untuk mengejar kencang dari belakang.
Tongkatnya yang memang pan-jang dengan tepat dapat mengatasi serangan pedang, ujung tongkat-nya dapat digunakan menutuk belakang punggung, dengan cara udak-udakan mengitari kalangan begitu, temyata Lu Si-nio harus berkali-kali menghadapi bahaya.
Tiba-tiba ia sadar bahwa siasat pertempuran yang dipakai ha-rus bergantung kepada siapa lawannya, untuk melayani Liau-in, bukan cara yang baik kalau selalu bertahan dan unjuk kelemahan.
Oleh karena pikiran itu, sekonyong-konyong Si-nio membalik kunbali dengan tipu serangan yang cepat berebut mendahului, be-runtun dengan gerak serangan ‘Kin-hong-sau-hio’ (angin kencang menyapu daun), ‘Ko-co-cam-coa’ (Han Ko-co memotong ular), me-nyusul ‘Bing-khe-cio-bi’ (ayam jago berebut beras) dan akhirnya ‘Liong-ting-ti-cu’ (memetik mutiara di atas kepala naga), ia merang-sek terus dengan gencar.
Namun Liau-in cukup sebat, dengan mengayun tongkat, tiap tusukan lawan selalu dapat ia elakkan.
Sementara itu Lu Si-nio pun menggunakan kesempatan itu un-tuk pasang kuda-kuda dengan lebih kuat dan berganti napas, dengan begitu keadaan kembali menjadi sembabat lagi.
Pertarungan mereka sudah berjalan lebih sejam, tetapi kedua-nya masih tetap saling gempur tanpa henti, masing-masing pihak pun tidak nampak mendapat kemajuan.
Liau-in unggul dalam soal tenaga yang besar dan Lwekang yang tinggi, sebaliknya Lu Si-nio menang dalam hal kegesitai dan entengkan tubuh serta Kiam-hoat yang bagus luar biasa.
Begitulah dengan keadaan yang tak terpisahkan itu, makin la-ma makin mendebarkan dan berbahaya pula, kadang-kadang hanya soal sekejap saja, siapa yang sedikit didahului lawan, dengan segera bisa menghamburkan darah.
Sudah tentu keadaan demikian membi-kin para jagoan yang menyaksikan ikut berdebar dan merasa kha-watirjuga.
"Melabrak secara mati-matian seperti ini, sampai kapan baru -bisa selesai,"
Terdengar Hi Kak Tay-ong berkata perlahan di sam-ping.
"Hap-congkoan, Thian-yap Sanjin, bagaimana pandangan ka-lian agar bisa mengakhirinya?"
Dalam hati Hi Kak berpikir mungkin hanya Thian-yap Sanjin dan Haptoh berdua saja yang sanggup memisahkan Liau-in dan Lu Si-nio yang sedang saling labrak itu, oleh karena itu sengaja ia uta-rakan maksudnya.
Tak tahunya Thian-yap Sanjin hanya tersenyum saja, sedang Haptoh juga cuma menggeleng kepala.
Ilmu silat dan tingkat kedua orang ini tidak banyak beda de-ngan Liau-in, kalau belum tiba saat terakhir, mana mereka mau tu-run kalangan begitu saja untuk memperoleh nama jelek karena akan dituduh tua melawan muda dan main keroyok.
Begitulah pertarungan mereka kembali berjalan kira-kira setengah jam, makin lama Liau-in makin perkasa, tapi Lu Si-nio pun makin lama makin gesit.
Liau-in merasa Kiam-hoat Lu Si-nio begitu lemas bagai 1am-baian tali, tapi kalau cepat seperti burung terbang dan sukar meng-atasinya.
Sebaliknya Lu Si-nio pun merasa tenaga Liau-in begitu kuat seperti harimau buas dan berat tongkatnya laksana tindihan gunung, sulit baginya untuk menjadi pihak yang unggul.
Begitulah ketangkasan kedua orang ternyata seimbang, tetapi juga tak bisa berhenti begitu saja, maka terpaksa masing-masing ha-rus berusaha mengeluarkan segenap kepandaian yang mereka miliki untuk meneruskan pertarungan sengit itu.
Suatu ketika terlihat Lu Si-nio berikut senjatanya seakan terga-bung jadi satu lingkaran sinar putih, sedang Liau-in berikut tongkat-nya membuat pertahanan serupa pagar besi yang tak tertembus.
Begitulah laksana harimau ketemu naga, pedang dan tongkat naik turun beterbangan, namun masih tetap sama kuat dan sukar di-ramalkan siapa yang bakal menang.
Pada saat demikian, bukan saja Hi Kak menjadi gelisah, bah-kan Lu Si-nio dan Liau-in Hwesio juga mengeluh dalam hati.
Di pihak Lu Si-nio, ia berani datang seorang diri menghadapi bahaya, kalau ia tidak menang, cara bagaimana ia harus meninggal-kan pulau itu.
Sedang Liau-in terhitung Suheng lawan, bila di depan umum ia tidak bisa menangkan pertempuran itu, maka bagaimana ia akan mempertahankan kehormatannya di hadapan ksatria seluruh kolong langit.
Oleh sebab itu, walaupun keduanya tahu masing-masing sukar memperoleh kemenangan, namun keadaan sudah telanjur, terpaksa harus kertak gigi dan bertarung terus mati-matian.
Setelah bergebrak lebih dua jam, lambat-laun Lu Si-nio ber-mandi keringat, sedang Liau-in meski Lwekangnya lebih kuat, per-lahan-lahan ia pun merasa payah dan mulai tersengal napasnya.
"Celaka!"
Hi Kak berseru khawatir.
Rupanya ia mengerti ka-lau pertempuran itu diteruskan, maka kedua orang pasti akan sama-sama celaka.
Kalau Lu Si-nio yang hancur masih tidak menjadi soal, khawatirnya bila Liau-in yang mengalami nasib sial, apa dirinya ti-dak akan mendapat celaan dari Si-hongcu?
Lagi pula di hadapan begitu banyak jago silat, kalau Liau-in sampai celaka, sebenarnya susah dipercaya dan tidak masuk akal.
Oleh karena itu ia tidak menghiraukan soal peraturan Kang-ouw lagi, ia pikir harus minta Haptoh dan Thian-yap Sanjin turun kalangan dan secara sembunyi membantu Liau-in memisahkan per-tarungan sengit itu.
Akan tetapi belum sampai ia buka suara, kedua orang yang dimaksud berbareng sudah melompat maju ke depan tanpa berjanji lebih dulu.
Agaknya majunya kedua orang itu mempunyai pikiran sendiri-sendiri.
Haptoh dan Liau-in adalah satu komplotan, pada saat genting ini tak mungkin Haptoh berpeluk tangan.
Sedang Thian-yap Sanjin sebenarnya benci dan iri terhadap kedudukan Liau-in yang masih di atasnya, maka ia sengaja hendak membikin malu padanya.
Kini tampak Liau-in melawan Sumoaynya saja sudah kewalahan, kejadian itu sudah jelas, maka dia menggu-nakan kesempatan itu dengan mempertontonkan kemahirannya memisah pertempuran itu, sekaligus ia bermaksud menangkap Lu Si-riio yang kini sudah kempas-kempis dan lemah letih, ia hendak me-rebut kembali kehilangan mukanya tadi karena cekeok dengan Sin-mo-siang-lo.
Dalam pada itu, Liau-in dan Lu Si-nio yang masih saling gem-pur secara mati-matian di tengah kalangan, karena perhatian mereka seluruhnya dicurahkan, hakikatnya mereka tidak tahu ada orang lain melompat masuk kalangan.
Sebelum dekat, Thian-yap Sanjin sudah kerjakan pukulan tela-pak tangannya lebih dulu, dengan membawa suara mendesir, susul-menyusul kedua tangannya dipukulkan dari jauh.
Liau-in dan Lu Si-nio hanya sedikit terguncang oleh angin pukulan itu, mereka tetap tak bisa dipisahkan.
Saat itu juga, tertampak Haptoh pun sudah maju, mendadak dua bola bundar mendengung memecah angkasa.
Pada saat yang sama, tiba-tiba sesosok bayangan hitam sece-pat burung terbang juga tiba di tengah kalangan, kedua bola Haptoh terpukul jatuh oleh bayangan hitam itu dan terjadilah hujan pisau.
Kiranya kedua bola itu bukan lain adalah Hiat-ti-cu yang dapat memenggal kepala manusia secepat kilat dalam jarak ratusan kaki.
Sementara itu, Thian-yap Sanjin pun telah memukul untuk ke-tiga dan keempat kalinya dengan saling susul, tapi baru saja pukul-annya dilepaskan, sekonyong-konyong ia merasa angin pukulannya yang dahsyat itu terbentur kembali.
Begitu cepat kedatangan bayangan orang tadi, sebelum Haptoh dan Thian-yap Sanjin sempat melihat jelas, tahu-tahu pergelangan tangan mereka sudah dicekal dan dengan kuat ditarik pergi.
Lekas kedua orang itu menarik tangan dan mendakkan pundak untuk me-nahan tubuh mereka, waktu mereka dapat melihat jelas, orang itu ternyata bukan lain si nenek pengemis yang datang seorang diri dan mengacau perjamuan tadi.
Keruan saja seluruh lapangan menjadi ramai dan gempar, jauh lebih mengejutkan dan mengherankan daripada pertarungan antara Lu Si-nio dan Liau-in.
Betapa tidak mengejutkan, bila dibandingkan, kepandaian silat Haptoh dan Thian-yap Sanjin tidak di bawah Liau-in.
Haptoh punya Hiat-ti-cu luar biasa lihainya, sedang Thian-yap Sanjin punya kekii-atan pukulan sudah di puncak kesempurnaan.
tapi begitu kedua orang ini turun tangan, kesemuanya segera dipatahkan hanya dalam sekali gebrak saja oleh si nenek pengemis itu, bahkan keduanya ke-na ditarik pergi, maka dapat dibayangkan betapa tingggi kepandaian nenek pengemis itu.
Sementara itu, si nenek pengemis dengan memegang tongkat-nya sedang tertawa menyindir.
"Hm, tak tahu malu, mana ada orang memisah perkelahian secara begitu?"
Dampratnya kepada kedua orang tadi.
"Coba lihat aku ini!"
Habis berkata, tubuhnya melesat, segera ia menyelinap ke tengah antara Liau-in dan Lu Si-nio.
Sementara itu pukulan tongkat Liau-in sedang dimainkan sampai pada gerakan ‘ Hoan-kang-kau-hay’ (mengacau sungai dan mengaduk lautan), ia keluarkan seluruh tenaganya untuk mengayun tongkat, tetapi begitu ditempel ‘Kiau-hoa-pang’ (pentung pengemis) si nenek, segera terlihat lelatu api menciprat, tongkat Liau-in mendekuk, sebaliknya pentung pengemis itu sedikitpun tidak goyah.
Di lain pihak, pedang Lu Si-nio pun dimainkan sampai pada tipu serangan yang hebat, ‘Eng-kik-tiang-khong’ (elang menyerang di angkasa raya), senjatanya ditusukkan sekuat tenaga, tahu-tahu menusuk pentung si nenek hingga menerbitkan lelatu api dan pedangnya tergumpil.
Sehabis memisah, nenek pengemis itu lantas menarik kembali pentungnya.
"Inilah baru boleh disebut memisah secara adil, siapa di antara kalian yang berani main curang, nah, boleh coba terjang padaku saja!"
Katanya dengan tertawa.
Sementara itu Liau-in dan Lu Si-nio dengan cepat sudah ter-pisah minggir, dengan mata terbuka lebar Liau-in memandang si ne-nek pengemis yang berambut hitam mengkilap itu, ia melongo hing-ga tak sanggup bersuara sepatah kata pun.
Hanya dengan sekali bentur saja Liau-in sudah merasakan tingginya kepandaian si nenek pengemis yang belum pernah ia lihat, bahkan belum pernah ia dengar sejak keluar dari perguruan, umpa-ma gurunya Tok-pi-sin-ni hidup kembali, paling banyak juga tidak akan lebih tinggi daripada orang tua ini.
Begitulah seketika lagak congkak Liau-in tadi menjadi kun-cup.
"Tolong tanya siapa nama Locianpwe yang mulia?"
Dengan memberi hormat ia bertanya. Nenek pengemis itu tertawa.
"Apa gurumu tidak pernah cerita tentang diriku padamu?"
Sahutnya.
"Tiga puluh tahun yang lalu, waktu gurumu baru mulai belajar Hian-li-kiam-hoat, pernah ia me-nemui aku di Thian-san!"
Mendengar jawaban itu Liau-in jadi terkejut, tiba-tiba ia ter-ingat pada seseorang.
"Apakah Cianpwe le-lihiap dari Thian-san-chit-kiam?"
Tanyanya dengan suara terputus-putus. Pertanyaan Liau-in itu membikin seluruh kalangan terperanjat.
"Hm, kiranya kau pun kenal namaku?"
Dengan senyum dingin nenek pengemis itu menyahut.
Mendengar siapa adanya orang ma ini.
muka Hi Kak Tay-ong menjadi pucat seketika.
Ia coba kuatkan hatinya dan memberi isyarat dengan tangan-nya, serentak semua jago silat di lapangan itu membanjir maju se-kaligus, sedang Liau-in dengan menyeret tongkatnya malah mundur beberapa tindak dan berdiri berjajar dengan Hi Kak Tay-ong.
Yang berdiri sejajar Hi Kak, di sebelah kiri ada Thian-yap Sanjin, Hay-hun Hwesio dan Sin-mo-siang-lo, sedang di sebelah kanan terdapat Ling-hun Tocu Wei Yang-wi, Thay-ouw Cecu Bing Bu-kong dan tamu agung utama, Haptoh, semua berjumlah sembilan tokoh kelas wahid dunia persilatan, dengan mata berapi dan tanpa berkedip mereka mengawasi nenek pengemis itu, kedua belah pihak sama tegangnya, sedikit kebentur saja segera bisa saling labrak.
Kiranya nenek pengemis ini memang bukan lain ialah le Lan-cu, seorang di antara ‘Thian-san-chit-kiam’ (Tujuh Pendekar Thian-san) yang termashur itu!
Yang termasuk sebutan Thian-san-chit-kiam sebenarnya ialah Nyo Hun-cong, Coh Ciau-lam, Hui-ang-kin, Leng Bwe-hong, Sin Liong-cu, le Lan-cu dan Bu Ging-yao bertujuh.
Nyo Hun-cong tewas selagi muda, sedang Coh Ciau-lam yang murtad dan khianat terbunuh oleh Ie Lan-cu.
Sin Liong-cu bertarung sengit melawan Ce Cin-kun di sungai es, akhirnya keduanya tewas bersama.
Di antara ‘chit-kiam’ itu hanya tinggal ’si-kiam’ saja, tapi belakangan bertambah lagi dengan Kui Tiong-bing, Lauw Yu-hong dan Thio Hua-ciau bertiga, maka mereka masih tetap disebut orang ‘Thian-san-chit-kiam’ (baca Chau Guan Eng Hiong dan Thian San Chit Kiam, sudah terbif).
Kisah itu terjadi pada permulaan Kaisar Khong-hi beilakhta, sudah lewat empat lima puluhan tahun, Hui-ang-kin, Leng Bwe-hong, Lauw Yu-hong, Thio Hua-ciau dan Kui Tiong-bing berturut-turut meninggal dunia, di antara Thian-san-chit-kiam hanya tinggal Ie Lan-cu dan Bu Ging-yao berdua.
Ditambah lagi Thian-san-chit-kiam berdiam jauh di daerah barat, orang luar mengira mereka su-dah meninggal seluruhnya, tak terduga seorang di antara ‘chit-kiam’ itu sekonyong-konyong bisa muncul di suatu pulau terpencil di la-utan luas ini.
Kiam-hoat Ie Lan-cu terhitung paling jempol di antara Thian-san-chit-kiam (sebenarnya Leng Bwe-hong yang paling kuat, tapi karena Leng Bwe-hong terkutung jari jempol kanannya dan tak le-luasa menggunakan pedang, maka ia telah mengajarkan seluruh ke-mahirannya kepada Ie Lan-cu).
Tiga puluh tahun yang lalu, sewaktu Tok-pi-sin-ni baru saja meyakinkan Hian-li-kiam-hoat, meskipun il-mu silatnya kala itu sudah tinggi, namun da lam hal Kiam-hoat, ia masih hijau dan kurang memperoleh petunjuk dari orang pandai, maka Nikoh tua itu sengaja naik ke Thian-san dan minta nasihat ke-pada Ie Lan-cu.
Ketika itu Tok-pi-sin-ni lebih tua dari Ie Lan-cu, tapi yang tersebut belakangan ini bersahabat dengannya secara sama tingkat, kedua orang lantas saling tukar pikiran tentang Kiam-hoat di atas Thian-san, mereka baru berpisah setelah berkumpul setengah tahun.
Karena ada hubungan serupa itu, maka Ie Lan-cu boleh dikata ter-masuk orang tua atau Cianpwe dari Kanglam-pat-hiap.
Kini, usia le Lan-cu sudah ada enam puluhan, tapi karena dia pernah memakan ‘bunga sakti’ yang tumbuh di atas puncak Onta di utara Thian-san yang mujizat sehingga rambutnya tak pernah ubanan, ditambah Lwekangnya sangat tinggi pula, maka tampaknya usia-nya hanya empat puluhan saja.
Mengenai tongkat pengemis yang digunakannya, kalau diceri-takan juga ada kisahnya tersendiri, tongkat itu adalah tinggalan su-aminya, Thio Hua-ciau, asalnya adalah barang temuan Leng Bwe-hong yang menebang ‘Hang-liong-bok’ (kayu penakluk naga) yang tumbuh di atas Thian-san, kemudian diberikan pada Thio Hua-ciau, maka nama penning itupun disebut ‘Hang-liong-po-tiang’ atau tong-kat mestika penakluk naga.
Kayu istimewa yang tumbuh di atas Thian-san itu mempunyai mutu sekeras baja yang tak mempan senjata biasa, oleh karena itu pedang Lu Si-nio dan tongkat Liau-in tadi kena dibentur hingga me-muncratkan lelatu api.
Sudah lama Teng Hiau-lan mendengar dari Ciu Jing tentang siapa Ie Lan-cu itu, keruan saja kini bukan main rasa girangnya, ce-pat ia berlari maju, dan karena bingung tak tahu cara bagaimana ha-ms memanggil, maka berulang-ulang ia hanya berseru *Co-po’ atau nenek buyut.
Namun dengan penuh perhatian, menghadapi sembilan lawan-nya yang sudah mengerubung di depan, Ie Lan-cu tidak menyahut panggilan Hiau-lan, sedang kesembilan jago pihak lawan pun tidak berani sembarang bertindak.
Dalam pada itu Lu Si-nio telah mengulur tangan menarik Teng Hiau-lan.
"Jangan sembarang bergerak!"
Pesannya dengan berbisik. Mendadak pada saat itu juga Ie Lan-cu mengulur tangan dan menarik keluar pedang Teng Hiau-lan, Yu-liong-pokiam.
"Apakah kalian hendak memusuhi aku orang tua ini?"
Serunya dengan sebe-lah tangan mencekal pedang dan tangan lain memegang tongkat.
"Mana Siaupwe berani dengan le-lihiap!"
Sahut Liau-in sambil membungkuk. Dengan tongkatnya ia tuding Pek Thay-koan dan Lu Si-nio berdua, lalu dengan suara lantang menyambung pula.
"Tetapi kedua orang ini adalah Sute dan Sumoayku, urusan kami sendiri tak berani bikin capai Locianpwe unruk ikut mengurusnya!"
Ie Lan-cu jadi gusar.
"Kalau begitu, terang kau hendak minta mereka berdua ditinggalkan di sini? Demikian bukan?"
Tanyanya.
"Betul!"
Jawab Liau-in Hwesio.
Liau-in berani bandel karena ia berpikir walau dirinya bukan tandingan le Lan-cu, tetapi dengan kekuatan gabungan sembilan orang, terang kemenangan berada di pihak mereka.
Namun le Lan-cu juga lantas naik-darah.
"Seumpama gurumu masih hidup, aku pun boleh mengurus!"
Dampratnya dengan mende-lik.
Menyusul itu, Yu-liong-kiamnya bergerak, dengan membawa sambaran angin, secepat kilat ia tusuk ke bawah dada Liau-in.
Lekas Liau-in palangkan tongkatnya dan ditangkiskan hingga menerbitkan suara nyaring.
Sementara itu Hi Kak dan jagoan lain pun tidak tinggal diam, mereka serentak maju berbareng.
Wei Yang-wi dengan senjata ‘Go-bi-ji’, semacam lembing, Bing Bu-kong dengan senjata ‘Hou-thau-kau’, semacam kait, merangsek maju bersama.
Namun sekali le Lan-cu putar pedangnya, kontan senjata mu-suh sekaligus dibikin kutung dan terbang ke angkasa.
Di pihak lain, Liau-in mengambil kesempatan itu dengan tipu ‘Jong-liong-kui-bwe’ (naga tua putar ekor), mengangkat tongkat dan menangkis pedang lawan, sedang sembilan jagoan lain sekaligus menerjang berbareng.
"Pantas dia berani sewenang-wenang, ternyata betul dia me-mang sudah memperoleh ajaran Tok-pi-sin-ni, kepandaiannya kini sudah tidak banyak selisih dengan mendiang gurunya!"
Begitulah diam-diam le Lan-cu membatin atas diri Liau-in.
Berbareng pedang-nya tidak pernah kendor, dengan bentakan nyaring ia mainkan kiam-hoatnya yang hebat, ‘Si-mi-kiam-hoat’, tubuh dan pedangnya sea-kan bergabung menjadi satu, orang berikut senjatanya segera me-rupakan sinar putih yang menyambar ke kiri dan menggulung ke kanan.
Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar jeritan Teng Hiau-lan, ki-ranya pundaknya kena gaplokan Bing Bu-kong.
Ie Lan-cu menjadi murka, berulang-ulang ia kerjakan pedang-nya dengan tipu serangan mematikan, sinar pedangnya gemerdep, tidak pernah meninggalkan tempat berbahaya di tubuh Liau-in.
Tengah pertarungan berlangsung dengan sengitnya, tiba-tiba terdengar suara ramai riuh.
"Berhenti dulu!"
Terdengar seruan Hi Kak Tay-ong.
Seketika kesembilan jagoan itu mundur berbareng, sedang le Lan-cu dengan pedang melintang di dada juga lantas berhenti dan tidak mengejar.
Waktu mereka mendengarkan dengan teliti dan penuh perha-tian, sayup-sayup terdengar suara tangisan orang yang berkuman-dang dari tempat anggi di kejauhan.
Ketika mereka memandang jauh ke sana, pada istana yang Hi Kak Tay-ong bangun di atas gunung, di sampingnya terdapat sebuah pagoda putih bersusun tiga belas, di puncak teratas pagoda, lapat-lapat tertampak seorang perempuan muda dengan pakaian merah se-dang berdiri di.tepi emper.
Mata Lu Si-nio-yang sangat celi, segera dapat mengenali gadis itu bukan lain adalah Hi Yang, putri tunggal kesayangan Hi Kak Tay-ong.
Waktu diperhatikan lagi, semua orang terkejut.
Kiranya gadis itu mengikat diri di pinggir emper pagoda paling atas, setengah tu-buhnya sudah menggelantung, ia mengulur sebelah tangannya yang mencekal sebilah belati tajam mengkilap dan ditempelkan pada tali pengikat, cukup bila belati bergerak, segera tali pengikat akan putus dan orangnya pasti terjerumus jatuh ke bawah, betapapun tinggi ke-pandaian orang, tak mungkin menolongnya lagi.
Nampak keadaan yang sangat mengkhawatirkan itu, Hi Kak dan Pek Thay-koan berteriak kaget berbareng, mereka tertegun tan-pa daya.
Dalam pada itu, dari pagoda putih berlari keluar seorang anak buah, ia menghadap Hi Kak Tay-ong, memberi hormat dan dengan napas memburu melapor.
"Tay-ong, celaka! Karena sedikit lengah dan tanpa diketahui, Siocia (tuan putri) mengikat diri di atas, Siocia minta agar Tay-ong melepas Pek Thay-koan dan kawan-kawannya pergi, kalau tidak, segera ia akan iris tali pengikatnya dan mening-galkan Tay-ong untuk selamanya!"
Hi Yang adalah putri satu-satunya Hi Kak yang disayang.
Ber-hubung Pek Thay-koan tidak mau mengikuti kemauannya, maka Hi Kak melarang Hi Yang bertemu dengan Pek Thay-koan dan mengu-rung putrinya di atas pagoda putih tadi.
Hi Yang tidak mengetahui bahwa ada Lihiap dari kaum Cian-pwe yang telah muncul di pertemuan itu dan turun tangan mem-bantu tunangannya, ia mengira Pek Thay-koan terjeblos dalam ke-pungan jago-jago temama begundal ayahnya, maka ia menjadi nekat dan bertaruh dengan jiwa sendiri.
Nampak kejadian itu, Pek Thay-koan terkejut bercampur gi-rang, ia tidak menyangka cinta Hi Yang kepadanya ternyata begitu mendalam, karena terharu hingga tak terasa ia meneteskan air mata.
Sementara itu setelah Hi Kak termenung sejenak, ia lantas mengayun tangan dan berkata.
"Baiklah, kalian boleh pergi saja!"
Ie Lan-cu yang berada dalam kepungan sembilan jago silat ke-las wahid, untuk membela diri sendiri sebenarnya tidak susah bagi-nya, tetapi ia khawatir keselamatan Teng Hiau-lan dan Pek Thay-koan, maka demi melihat orang menyilakan mereka berangkat, se-gera ia pun mundur teratur.
"Liau-in,"
Katanya dengan senyum dingin.
"Sute dan Sumoay-mu aku yang bawa pergi, soal pengkhianatan terhadap perguruan, tentu ada saudara seperguruanmu yang akan membersihkannya, aku tidak perlu ikut campur! Cuma apabila kau berbuat kejahatan lain yang merugikan kaum kecil, kalau tertumbuk padaku lagi, tatkala itu jangan kau sesalkan aku tak mau mengampuni jiwamu!"
Habis berkata, ia memberi kiongciu pada Hi Kak sambil ber-kata pula.
"Syukur kau suka mengalah!"
Sesudah itu ia kembalikan pedang Teng Hiau-lan, kemudian menarik pemuda itu, bersama Lu Si-nio dan Pek Thay-koan, mereka keluarkan Ginkang, secepat terbang kabur turun ke bawah gunung.
Sementara itu mendadak Hi Kak teringat sesuatu.
"Lekas! Lekas!"
Teriaknya dengan membanting kaki.
"Lekas perintahkan, suruh anak-anak memberi jalan kepada mereka!"
Seketika itu juga, bendera merah melambai-lambai dan para Liaulo atau prajurit berteriak.
"Berikan jalan kepada tetamu, tidak boleh menahan dan merintangi!"
Begitulah berturut-turut perintah itu diteruskan.
Akan tetapi sudah terlambat, kala itu Ie Lan-cu dan kawan-* kawan baru sampai di tengah gunung, mendadak mereka disambut serentetan anak panah.
Melihat serangan itu, Lu Si-nio bergelak ter-tawa, pedang ‘Siang-hoa-kiam’ diputar secepat angin, seketika di kanan kiri dan muka belakangnya bergulung sinar putih yang rapat, rentetan anak panah disampuk jatuh semuanya.
Menyusul itu, dari kedua samping jalan mendadak menyelo-nong keluar pula uua baris kaitan tajam, rupanya memang sengaja dipasang di situ menantikan mereka, kaitan itu menggantol kaki me-reka.
Namun Ie Lan-cu unjuk ketangkasan, tongkatnya bekerja ce-pat, ia menyapu ke kanan dan menyabet ke kiri, segera terdengar suara kletak-kletok yang keras, dalam sekejap tujuh atau delapan ka-, itan tajam itu disapu semuanya.
Di sebelah sana Lu Si-nio lebih hebat lagi, dengan sekali ben-tak, orang berikut senjata berubah menjadi satu sinar perak terus menyambar menuju semak dimana tersembunyi tukang kait tadi, kontan empat orang kena sambaran sinar pedang, kepala mereka se-gera berpisab dengan tubuh, darah segar pun muncrat.
"Jangan membunuh Liaulo yang tak berdosa ini!"
Ie Lan-cu mencegah pembunuhan lebih banyak.
Sementara itu barulah terdengar seruan perintah Hi Kak Tay-ong berturut-turut berkumandang datang dari atas, Liaulo lainnya yang bersembunyi di kaki gunung lekas meneruskan perintah itu ke bagian bawah, sedang mereka pun menyingkir pergi.
"Nah, begini baru macamnya orang mengantar tamu!"
Dengan tertawa Ie Lan-cu berkata.
Di sebelah atas, Hi Kak menyaksikan sendiri cara bagaimana mereka unjuk ketangkasan yang luar biasa itu, tak tertahan berubah juga air mukanya.
Begitulah, setelah keempat orang itu keluar dari Thian-hing-to, mereka menumpang kapal Hi Kak yang khusus disediakan untuk mengantar dan menyambut tamu tadi dan kembalilah mereka ke pantai Jing-to.
Sesudah ribut-ribut semalaman, kini rembulan sudah terbenam ke barat dan fajar sudah hampir menyingsing.
Tak lama kemudian, gumpalan awan putih sambung-menyambung, dari balik awan me-nyorot tembus keluar sinar membara, cuaca di ufuk timur remang-remang perlahan berubah menjadi merah, dalam sekejap sang surya mulai terbit di sebelah timur nan jauh, seketika itu pula langit men-jadi terang dan indah pemandangan alam yang beraneka warna.
Nampak pemandangan indah itu, tanpa terasa Teng Hiau-lan menggumamkan sajak gubahan sastrawan Kau Hong-ek di zaman permulaan kerajaan Jing yang memuji matahari terbit di laut timur.
Mendengar orang bersajak, Lu Si-nio menjadi rada heran.
"Teng-hingte, dalam beberapa tahun belakangan ini rupanya kau te-lah banyak membaca!"
Katanya dengan tersenyum. Muka Hiau-lan menjadi merah, tapi dalam hati ia senang ber-campur malu.
"Hanya sedikit, baca asal baca saja sekadar menam-bah pengetahuan!"
Sahutnya dengan suara rendah.
"Cici berasal dari keluarga terpelajar, umpama aku angkat kau menjadi guru, belum tentu kau sudi menerima aku sebagai murid!"
Mendengar mereka mendadak membicarakan urusan sekolah, Ie Lan-cu dan Pek Thay-koan merasa aneh sekali.
Sudah tentu Ie Lan-cu tidak tahu pada lima tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya Teng Hiau-lan bertemu Lu Si-nio, se-cara diam-diam ia merasa kagum terhadap si nona, waktu itu ia mendengar Lu Si-nio memuji seorang murid ayahnya dan pernah pula mendengar nona itu mengatakan bahwa "kegagahan kaum pen-dekar harus ditambah dengan kepintaran kaum cendekiawan" , wak-tu itu ia merasa malu diri, maka ketika ia berguru pada Nyo Tiong-eng, lantas minta waktu malam diperbolehkan bersekolah.
Kini me-reka bertemu kembali di pulau terpencil ini, tanpa terasa ja unjuk sedikit hasil sekolahnya, ia ingin mendapat pujian Lu Si-nio.
Karena perkataan Hiau-lan tadi, Lu Si-nio bergelak tertawa hingga seluruh tubuhnya terguncang.
"Siauhingte (saudara cilik), apa kau kira aku bisa menjadi guru sekolah?"
Ujarnya. Sesudah itu tiba-tiba ia menyambung pula de-ngan sungguh-sungguh.
"Bicara soal bersekolah, maka sedikitnya kita harus giat belajar beberapa puluh tahun seperti orang kuno, ada ‘ yang belajar hingga rambut ubanan, apa kau kira begitu gampang dipelajari? Soal pelajaran kitab, aku sendiri pun belum masuk hi-tungan, ayahku mempunyai seorang murid, meski usianya tidak se-berapa lebih tua dari kita, namun dalam hal kitab kuno dan karangan syair, ia sudah punya dasar yang kuat, kalau kau mempunyai cita-cita buat belajar, kelak aku perkenalkan dia untuk jadi gurumu!"
Lu Si-nio yang berperasaan bersih dan berpandangan luas, ia anggap Hiau-lan tidak lebih sebagai saudara muda saja, dalam hati sedikitpun tiada perasaan lain.
Akan tetapi buat Teng Hiau-lan, sete-lah mendengar uraiannya itu, ia menjadi sedih dan kecewa.
Ia me-nundukkan kepala dan kemudian bilang terima kasih.
Sikap Hiau-lan itu dapat dilihat jelas Pek Thay-koan, sebenar-nya ia hendak geguyon dengan beberapa perkataan yang menggoda, tapi mendadak ia urungkan.
Sementara itu Ie Lan-cu pun tak sabar mendengarkan orang berbicara syair segala.
"Sudahlah, jangan persoalkan kitab segala,"
Katanya memutus percakapan orang.
"Hiau-lan, tahukah kau, untuk apa aku mencari-mu dan kenapa setelah mengambil pedangmu kukembalikan lagi?"
"Tidak tahu!"
Jawab Hiau-lan dengan sikap hormat.
"Adalah karena pedangmu ini!"
Kata le Lan-cu dengan wajah keren. Mendengar orang menyebut pedangnya, Hiau-lan jadi gugup.
"Aku mengerti bahwa pedang ini ialah Thaysuco (guru mo-yang) yang mewariskan pada Ciu-suco, aku sendiri sebenarnya tidak setimpal memakainya!"
Sahutnya kemudian.
"Bukan begitu maksudku,"
Ujar le Lan-cu dengan menggeleng kepala.
"Dalam beberapa hari ini, menurut penyelidikan, kelakuan-mu cukup baik dan sesuai sebagai orang golongan kita, hanya saja kepandaianmu terlalu cetek,.aku khawatir kau tak sanggup memper-tahankan pedang itu untuk selamanya!"
Setelah merandek sejenak, kemudian ia lanjutkan pula.
"Pe-dang ini adalah satu dari dua pedang pusaka cabang kita, sekali-kali tidak boleh terjatuh ke tangan orang lain. Kini anak murid Hui-bing Siansu hanya tinggal aku sendiri, sedang aku pun sudah berusia lanjut, agar bisa merapertanggung jawabkan pada Cosu yang telah mangkat, aku harus mencari kemana perginya Pokiam ini, setelah mencari beberapa tahun, akhimya kutemukan juga. Kau adalah anak angkat Ciu Jing, hal inipun sudah lama aku tahu. Pedang ini kini kuputuskan buatmu, tetapi ilmu pedangmu masih belum sempurna, hal ini tentu akan merosotkan nama baik Thian-san-pay, maka kau haras ikut belajar padaku selama tiga tahun!"
Bukan main girang Teng Hiau-lan. cepat ia berlutut dan men-jura sebagai tanda mengangkat guru. le Lan-cu kemudian menariknya bangun.
"Aku hanya dapat mengajarkan padamu ilmu pedang perguraan kita, ilmu silat lainnya tak sempat diajarkan lagi,"
Dengan sungguh-sungguh orang tua itu berkata pula.
"Aku dan kau pun boleh mencontoh Leng-tayhiap dan Ciu Jing, dapat dianggap sebagai guru-murid akuan saja. Kelak apa-bila kau sudah menginjak usia enam puluh tahun atau pada waktu kau mengundurkan diri dari khalayak ramai, pedang ini kau serah-kan kembali ke Thian-san kepada anak murid yang menjadi Ciang-bun (ketua) kala itu. Kemudian Ciangbunjin akan memeriksa jasa selama hidupmu, ketika itu bara dapat ditetapkan boleh atau tidak kau secara resmi diterima sebagai murid pintu perguraan kita."
Murid akuan dalam kalangan persilatan sama seperti murid percobaan pada sekolahan, yakni karena tingkat kepandaiannya ma-sih rendah, maka haras melalui seleksi dulu baru kemudian boleh naik kelas dan diterima sebagai murid resmi.
Sehabis menyelesaikan urusan Hiau-lan, tiba-tiba air muka le Lan-cu berubah dingin dan keren, dengan suara bengis ia bentak Pek Thay-koan.
"Pek Thay-koan, di hadapanku tak boleh kau ber-dusta. Perbuatan Jay-hoa di sini, kau yang melakukan atau bukan?"
Pertanyaan mendadak itu seketika membikin muka Pek Thay-koan berubah.
"Locianpwe, apa … apa«artinya ini?"
Dengan suara gemetar lekas ia bertanya.
"Aku, masakah aku sampai berbuat hal busuk itu?"
"Betul-betul bukan perbuatanmu?"
Ie Lan-cu menegas pula.
"Coba kau tunggu sebentar."
Habis itu, tiba-tiba ia bersuit panjang, menyusul dari semak-semak di tepi pantai muncul seorang gadis cilik berbaju merah, usianya kira-kira bara lima belasan tahun.
Hiau-lan mengenali gadis ini ialah yang menyanyi di atas lo-teng kedai arak tempo hari itu.
"Kim-ji, malam itu bukankah dia yang menguntit dirimu?"
Ie Lan-cu tanya gadis cilik itu. Si gadis memandang sekejap pada Pek Thay-koan.
"Betul, dia ini!"
Sahutnya kemudian. Tiba-tiba Ie Lan-cu tertawa.
"Pek Thay-koan, tahukah kau dia ini adalah keponakan perempuanmu? Mengapa kau menguntit kepo-nakanmu sendiri?"
Tanyanya lagi. Keterangan itu bukan saja membingungkan Pek Thay-koan, bahkan gadis itupun mengunjuk rasa heran.
"Ha, kiranya kau ialah Pek-ngosiok (paman kelima)!"
Kata nona cilik itu.
"Ah, kiranya kau ialah Kim-ji, kepandaianmu ternyata sudah banyak maju!"
Thay-koan menyapa.
"le-locianpwe, kau orang tua jangan berkelakar, sungguh-sungguh ini hanya salah paham saja!"
Karena itu, lagu suara Ie Lan-cu berubah rada ramah.
"Salah paham bagaimana?"
Tanyanya dengan setengah membentak.
"Dalam beberapa hari ini, karena mencari tunanganku, Hi Yang, hingga aku seakan gila,"
Pek Thay-koan menerangkan.
"Ma-lam itu tiba-tiba aku melihat Kim-ji melayang lewat di antara rumah penduduk, segera aku menguntit dia, setelah dekat bara aku menge-tahui dia bukan Hi Yang, mestinya aku hendak putar kembali, tapi terdorong rasa ingin tahu dari kalangan manakah dia, maka aku terus menguntit pula."
Melihat suara pertanyaan le Lan-cu yang semula sangat keren dan bengis, Teng Hiau-lan menjadi sangsi dan heran, tapi kini demi mendengar keterangan Pek Thay-koan yang masuk akal juga, ia me-narik kesimpulan, kiranya nona cilik ini adalah keponakannya, tak mungkin ia melakukan hal tidak senonoh terhadap keponakan pe-rempuan sendiri.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar le Lan-cu bertanya lagi dengan suara keras.
"Betulkah perkataanmu? Aku ingin tanya, kenapa ber-turut-turat beberapa malam kau selalu muncul di sekitar kediaman utusan kerajaan? Jay-hoa itu apa bukan bercokol di sekitar kediam-an Khim-che (utusan raja)? Dan mereka apa bukan begundalmu?"
Pek Thay-koan tenangkan diri lebih dulu, sesudah itu ia ter-tawa terbahak-bahak.
"Pantas Locianpwe curiga, sebab waktu aku sampai di Jing-to sini. justru aku pun kebentur oleh perbuatan Jay-hoa yang aneh ini, ada beberapa Pothau tua juga mencurigai diriku,"
Tuturnya kemu-dian.
"Di antaranya seorang Pothau bemama Thio Bin. ilmu silatnya lumayan juga dan orangnya pun cukup jujur, ia telah selidik sana dan cari sini, akhirnya mencariku. Aku mengatakan bahwa perbu-atan itu bukan perbuatanku. Ia yakin juga pasti bukan perbuatanku, tetapi karena sudah dicurigai, maka tak dapat tidak aku diminta tu-run tangan ikut campur menjernihkan sangkaan itu."
"Karena memang betul juga perkataannya. walaupun aku ter-buru-buru ingin mencari tunanganku, pada malam hari aku pun me-luangkan tempo buat membantu penyelidikan. Hasilnya aku jadi ter-heran-heran oleh kejadian aneh itu. rupanya yang melakukan Jay-hoa tidak hanya seorang saja. bahkan orang itu memiliki ilmu silat sangat tinggi, beberapa kali aku temukan jejak mereka, aku terus mengejar, namun selalu ketinggalan. Yang lebih mengherankan ada-lah manusia aneh itu begitu sampai di sekitar kediaman Khim-che lantas menghilang tak berbekas!"
"Memang betul,"
Kata Ie Lan-cu sambil menjentik jarinya se-telah berpikir sejenak.
"Terus terang saja. semula aku pun tak men-curigaimu, tapi kemudian kudengar Pothau itu bertukar pikiran dan menyangka sebagai perbuatanmu, setelah itu diam-diam aku pun menguntitmu, namun lucu sekali, ternyata sama sekali tak kau ke-tahui!"
Muka Pek Thay-koan menjadi merah, ia malu karena sebagai salah seorang Kanglam-pat-hiap yang disegani, sedikitpun tidak me-rasa dirinya dikuntit orang, bukan itu saja, bahkan tanpa sebab mu-sabab dirinya telah menimbulkan syak-wasangka orang.
Sebenarnya tidak perlu heran kalau orang menaruh prasangka jelek padanya, sebab Pek Thay-koan memang seorang Kongcu mu-da dan cakap, terkenal paling romantis di antara Kanglam-pat-hiap.
Sebelum berkenalan dengan Hi Yang, dia sudah kenal berbagai wa-nita cantik dari kalangan plesiran, tetapi hanya namanya saja terke-nal romantis.
hakikatnya ia tidak pernah bermalam dengan wanita sebangsa itu, boleh dikatakan seorang laki-laki yang suka akan paras elok, tetapi tidak cabul.
Namun buat orang-orang luar, siapa yang dapat menyelami jiwanya itu?
"Dengan sejujurnya, memang sejak mula aku sudah hernial memecahkan peristiwa ini,"
Terdengar Ie Lan-cu buka suara.
"lantar-an menguntit dirimu, malah orang yang menjadi titik pokok penca-rian kita jadi terlolos. Belakangan baru aku yakin pasti buk,an per-buatanmu. tapi aku masih tak mengerti juga mengapa beberapa ma-lam berturut-turut kau ikuti jejak mereka, selama itu juga mereka tidak pernah turun tangan bergebrak denganmu, padahal kepandaian mereka masing-masing jauh lebih tinggi darimu!"
Karena perkataan terakhir itu, kembali muka Pek Thay-koan merasa panas.
"Pantas, ia mencurigai diriku berkomplot dengan Jay-hoa-cat itu!"
Begitu ia pikir.
"Aku hanya mengira mereka takut pada nama dan perbawaku, maka selalu menghindari diriku, sungguh ti-dak terduga bahwa sebenarnya kepandaian mereka jauh lebih tinggi dariku, kalau begitu mengapa mereka tidak lantas melabrak diriku?"
Ia berpikir terus, tapi tetap tak habis mengerti.
"Selama hidup sudah banyak peristiwa yang kualami, tapi se-lama itu belum pernah kutemukan peristiwa aneh seperti ini,"
Ter-dengar le Lan-cu berkata pula.
"Menurut aturan, tokoh kelas wahid dari Kangouw, jarang sudi menjadi Jay-hoa-cat yang begitu rendah martabatnya, seumpama Suhengmu si Liau-in yang terkenal suka paras elok, juga tak berani terang-terangan memetik bunga. Sedang perbuatan cabul yang aneh kali ini, seperti dilakukan tokoh dunia persilatan yang jempolan dengan perbuatan yang kotor dan rendah!"
Dalam pada itu Pek Thay-koan sendiri sedang merenung.
"Manusia macam apakah Khim-che ini?"
Tiba-tiba ia bertanya.
"Urusan ini sudah kuselidiki,"
Sahut Ie Lan-cu.
"orang ini ber-nama Thio Ting-giok, berpangkat Bun-yan-kok Tay-hak-su (Bun-yan-kok adalah dewan kesusastraan negara yang tinggi, Tay-hak-su adalah gelar sarjana sastra bagi mereka keluaran setingkat perguruan tinggi) merangkap menjadi ‘Menteri Pendidikan’, kesukaannya ada-lah mempersoalkan ajaran sastra dari dinasti Song dan Bing, meski terhitung seorang budak juga, tetapi pada umumnya masih tidak begitu busuk, apa mungkin ia menjadi pelindung bagi maling cabul yang jahat itu?"
"Kalau begitu Thio Ting-giok termasuk pembesar penting, mengapa bisa mendadak datang di kota pantai terpencil ini?"
Lu Si-nio ikut mengeluarkan pendapatnya.
"Itulah aku pun tidak mengerti!"
Ujar le Lan-cu. Sesudah itu ia berpikir sejenak, lalu berkata.
"Urusan ini ma-kin lama makin aneh. Tiada tiga hari Thio Ting-giok datang ke sini, lantas berjangkit peristiwa merusak bunga itu, apakah mungkin ada sangkut-paut dengan dia? Tapi tak mungkin, sekali lagi tak mung-kin! Thio Ting-giok adalah seorang pembesar tinggi, seumpama martabatnya memang bejat, tidak perlu sampai melakukan Jay-hoa, apalagi para tokoh Bu-lim jempoian itu, mengapa sudi diperalat?"
"Ie-Iocianpwe,"
Kata Pek Thay-koan.
"kalau memang maling Jay-hoa yang luar biasa itu berkecamuk dan menghilang di sekitar kediaman Khim-che, tidakkah lebih baik kalau kita selidiki? Aku ikut tersangka, urusan ini kalau tidak dibikin terang, sungguh hatiku tidak tenteram."
"Terpaksa memang hanya dapat bertindak begitu!"
Sahut le Lan-cu menyetujui.
Begitulah, maka mereka berlima pergi mengaso ke Hian-biau-koan, sebuah rumah berhala di sebelah barat kota.
Ketua pengurus Hian-biau-koan adalah bibi Co Jin-hu, di sini-lah sejak beberapa hari yang lalu le Lan-cu dan Co Kim-ji (putri Co Jin-hu) tinggal.
Di antara delapan murid Tok-pi Sin-ni yang terkenal dengan Kanglam-pat-hiap itu, Co Jin-hu terhitung urutan nomor empat, te-tapi usianya justru paling tua.
Dua puluh tahun yang lalu, dengan Jisuhengnya pernah ia berkelana jauh ke Sinkiang dan berjumpa le Lan-cu sekali, ketika itu le Lan-cu mencari Pokiam ke daerah tengah, pernah juga ia mencari dan menemuinya.
Sebenarnya Co Jin-hu ingin agar le Lan-cu suka menerima putrinya sebagai murid, tetapi le Lan-cu tidak sanggup, ia hanya ber-janji akan mengajarkan padanya sejurus ilmu pedang dan memba-wanya mengembara ke Kangouw untuk menambah pengalaman.
Ie Lan-cu sengaja menyuruh Co Kim-ji keliling seluruh kota, tujuannya bukan lain adalah untuk memancing penjahat pemetik bu-nga itu.
Siapa duga, Jay-hoa-cat tidak kena terpancing, sebaliknya yang terpancing datang ialah Pek Thay-koan.
Begitulah, maka sesudah mengaso sehari penuh, malamnya mereka lantas bergerak serentak.
Teng Hiau-lan ikut le Lan-cu ke satu jurusan, sedang jurusan lainnya menjadi tugas Pek Thay-koan dan Lu Si-nio, mereka me-ngeluruk dan bersembunyi di sekitar kediaman Khim-che atau utus-an raja itu.
Akan tetapi dari sebelum tengah malam hingga hampir fajar, seorang ‘Ya-hing-jin’ saja tak ditemukan, terpaksa dengan rasa mas-gul kembali ke tempat tinggal mereka.
Tak terduga setiba mereka di Hian-biau-koan, terjadi suatu pe-ristiwa terlebih aneh.
Ternyata buntalan bekal Ie Lan-cu dan Pek Thay-koan telah digeledah orang.
Kejadian itu tidak diketahui sedi-kitpun oleh Co Kim-ji yang bertugas menjaga Hian-biau-koan.
Masih tidak menjadi soal buntalan Ie Lan-cu diobrak-abrik orang, bahkan di atas meja masih ditinggalkan sepucuk surat per-mintaan maaf.
Isi surat itu berbunyi.
Lihiap datang ke selatan, Pinceng (padri mlskin) juga turun ke barat sini, kebetulan sama-sama ketemukan peristiwa aneh dan berniat menyelidikinya, tapi salah lihat dan keliru duga, patut dihukum karena kesalahan ini, Lihiap yang bi-jaksana tentu dapat memaafkan, harapjangan gusar.
Ie Lan-cu mengerut kening sehabis membaca surat itu.
"Kalau begitu, aku sendiri pun sudah dikuntit orang dan tidak merasa juga,"
Ujarnya.
"Ini namanya ‘belalang menangkap tonggeret, tidak tahu ada burung gereja menguntit di belakang’!"
Cara permintaan maaf dengan surat tadi, biasanya hanya di-lakukan orang dunia persilatan yang setingkat atau sederajat karena telah berbuat sesuatu kekeliruan, permohonan maaf serupa itu memperlihatkan kerendahan hati yang sangat.
Tingkatan Ie Lan-cu dalam Bu-lim sudah sangat tinggi, namun ternyata ia tidak ingat siapakah gerangan orang yang terhitung se-tingkat dengan dirinya pada masa ini?
Di antara mereka, hanya Teng Hiau-lan yang masih hijau plonco.
maka ia tidak mengerti kebiasaan dalam Bu-lim itu.
"Orang yang meninggalkan surat ini mungkin adalah si kele-dai gundul Liau-in?"
Tanpa pikir ia bertanya.
"Kita pergi mengintip mereka, sebaliknya mereka juga menggeledah ke sini, sungguh ber-nyali besar sekali dial"
"Mana bisa, sekalipun Liau-in bernyali besar juga tak memi-liki kepandaian tinggi hingga mampu menguntit di luar tahuku?"
Ujar Lan-cu mendongkol. Pek Thay-koan dan Lu Si-nio cukup tahu diri, mereka tak be-rani sembarang buka suara.
"Terang sekali isi surat permintaan maaf ini, tampaknya orang ini adalah seorang padri suci yang berilmu dan mempunyai tujuan yang sama dengan kita, yakni ingin memecahkan peristiwa Jay-hoa,"
Ie Lan-cu berkata pula.
"Cuma saja urusan kadang-kadang su-kar diduga lebih dulu, kini ada orang pandai unjuk diri, maka kita hams lebih waspada!"
Begitulah, maka Ie Lan-cu menjadi rada masgul. Untuk mem-bikin buyar kemasgulan dan membikin senang hati orang tua itu, Lu Si-nio meminta diberi petunjuk soal Kiam-hoat.
"Rahasia ilmu pedang Hian-li yang diyakinkan gurumu adalah warisan asli zaman dulu dan tidak di bawah Thian-san-kiam-hoat,"
Ujar orang tua itu.
"Pada masa ini hanya tinggal tiga cabang Kiam-hoat yang boleh dikata sebaya dan sama kuat, yakni selain ilmu pe-dang kita berdua, masih ada pula Tat-mo-kiam-hoat yang diturun-kan oleh Kui Tiong-bing. Ketiga cabang Kiam-hoat kita sama ba-gusnya, kau sudah memperoleh warisan gurumu, buat apa minta pe-tunjuk aku lagi?"
"Tetapi guruku sendiri pernah mendapat petunjuk dari engkau orang tua!"
Sahut Si-nio rada gugup.
"Itu lain soal,"
Ujar Lan-cu tertawa.
"waktu itu gurumu baru mendapatkan teorinya, cara memainkannya masih belum sempurna, oleh karena itu hams ada orang yang menunjukkan jalannya, tetapi kau adalah lain, kepandaianmu sudah lanjut dan sudah hampir rhen-capai puncak yang paling sempurna, soal Kiam-hoat tidak perlu di-beri petunjuk lagi. biar kelak aku ajarkan kau sedikit rahasia cara merawat diri saja!"
Keruan saja girang sekali hati Lu Si-nio, lekas ia haturkan te-rima kasih.
"Gurumu mempunyai Lwekang yang sangat tinggi, kalau ia yang menguntit aku, mungkin aku takkan berasa, tetapi kecuali dia, siapa lagi yang punya kepandaian begitu tinggi?"
Tiba-tiba Ie Lan-cu kembali pada persoalan tadi.
"Dalam beberapa puluh tahun ini, aku selalu tirakat di tempat jauh yang terpencil, entah para ketua cabang dan golongan di Tionggoan sini masih ada sisa berapa orang?"
Pek Thay-koan coba menyebut nama beberapa orang. Akan te-tapi Ie Lan-cu hanya menggeleng kepala.
"Semua masih di bawah tingkatanku!"
Ujarnya. Tetapi ia lantas bertanya lagi.
"Bagaimana dengan Kim-kong Taysu dari Go-bi-pay dan Pun-khong Taysu dari Siau-lim-pay, apakah mereka masih hidup?"
"Kedua orang ini sudah meninggal dunia semua!"
Sahut Pek Thay-koan yang cukup berpengalaman.
"O!"
Ie Lan-cu bersuara, dalam hati semakin heran.
Malam berikutnya, mereka berempat tetap membagi diri da-lam dua kelompok dan bersembunyi di sekitar tempat tinggal Khim-che.
Nyata malam ini mereka tidak sia-sia, bam lewat tengah ma-lam, tiba-tiba nampak sesosok bayangan orang secepat terbang me-lompat masuk ke dalam pendopo gedung pemerintab itu.
Orang itu berdandan hitam mulus, mukanya tak dapat dilihat jelas, hanya ter-tampak sebelah tangannya mengempit seorang wanita muda, mung-kin Hiat-to kena ditutuk hingga sedikitpun tidak bersuara..Selang tak lama, kembali ada bayangan hitam melompat ma-suk pula ke tempat yang sama, juga terlihat mengempit seorang wa-nita muda.
Sekilas Teng Hiau-lan dapat mengenali orang yang belakangan ini bukan lain adalah Haptoh.
"He, kiranya dialah penjahat pe-metik bunga itu!"
Begitulah diam-diam ia membatin. Dan selagi ia berniat membentak, Ie Lan-cu sudah keburu menariknya.
"Kau ikuti aku!"
Bisik orang tua itu padanya.
"Genggam sen-jata rahasia Hui-bong, kalau perlu, Am-gi (senjata rahasia) dilepas-kan dahulu!"
Sesudah itu, Ie Lan-cu memberi tanda, bersama Lu Si-nio berempat berbareng melompat masuk ke gedung pembesar itu.
Meski Ginkang Teng Hiau-lan masih selisih jauh kalau diban-ding Ie Lan-cu dan Lu Si-nio berdua, tapi sudah boleh dikata luar biasajuga.
Begitulah, secara enteng sekali mereka melayang masuk ke dalam pekarangan gedung itu tanpa menerbitkan suara, dari kejauh-an masih nampak bayangan Haptoh yang menghilang di antara ru-mah bersusun sebelah sana.
Tempat dimana mereka berada ternyata sebuah taman indah yang terdapat empang, gunung-gunungan palsu, penuh bunga dan pohon berdaun rindang, di angkasa rembulan muda seakan mena-ungi gedung yang menjulang megah itu.
Melihat sekelilingnya tiada seorang pun, Ie Lan-cu meloncat ke atas satu gunung-gunungan palsu, dari situ ia dapat melihat jelas ada sebuah gedung besar serupa istana dan menjulang tinggi.
Ia menutul kaki dan melayang ke atap rumah samping, dari sa-na terus melompat ke atas gedung besar itu dengan gerakan ‘Yan-cu-cwan-hun’ (burung layang-layang menembus awan).
Sesudah menancapkan kaki di situ, lewat tak lama, Lu Si-nio, Pek Thay-koan dan Teng Hiau-lan bertiga menyusul meloncat naik ke situ.
Ketika mereka memandang, ternyata besar sekali bangunan gedung itu, tidak terhitung banyaknya ruangan dan rumah di seki-tarnya.
Karena tempatnya begitu luas, Ie Lan-cu menjadi ragu-ragu, tidak tahu kemana harus mulai mencari penjahat itu.
Di antara apitan rumah yang begitu banyak, pada suatu tempat yang berliku-liku dengan jalanan samping, terlihat menggantung be-berapa puluh tenglong beraneka warna dan berbentuk delapan segi.
Selagi mereka bingung, tiba-tiba terdengar bunyi bel mende-ring, lalu pintu ruang tengah mendadak terpentang, menyusul terli-hat belasan laki-laki kekar tegap menyongsong keluar seorang pem-besar bermantel sutera merah dan bersikap gagah, mereka berjalan berjinjit seperti takut mengejutkan orang, lucu sekali kelakuan me-reka.
Belum rombongan orang keluar dari jalan serambi itu, dari po-jok sebelah sana datang pula serombongan orang lain, dandanan rombongan inipun seragam dengan yang duluan.
Sesudah dekat, rombongan yang datang dari luar tak berani berisik sedikitpun, sementara itu dari rombongan ini, seorang pem-besar yang mengenakan topi kebesaran bermata dua buah batu jamrud lantas membungkuk memberi hormat dan berkata.
"Thio-tayjin, terimalah hormat hamba!"
"Jan-tayjin, sudahlah, tak usah kau ikut masuk ke sana!"
Pem-besar bermantel merah tadi menjawab.
Sesudah itu ia mendekat, ke-mudian dengan bisik-bisik ia ucapkan beberapa perkataan, lalu pem-besar yang dipanggil ‘Jan-tayjin’ tadi tampak mengunjuk muka he-ran dan tersenyum, tapi ia lantas membungkuk tubuh lagi dan meng-undurkan diri.
Pek Thay-koan sudah pernah melawat ke daerah Soatang sini, maka ia banyak mengetahui seluk-beluk kalangan pembesar negeri, demi mendengar sebutan kedua pembesar tadi, ia lantas menduga bahwa pembesar yang bermantel merah itu tentu adalah ‘Khim-che’ atau utusan kaisar yang bernama Thio Ting-giok, sedang pembesar lain yang bertopi bermata batu jamrud dan berdandan rajin itu tentu adalah Soatang Sunbu (Gubernur) Jan Bun-kia.
Jan Bun-kia terhitung pembesar kenamaan pada dinasti Jing, di antara Sunbu atau gubernur berbagai propinsi waktu itu, ia ter-masuk yang paling berwibawa dan mendapat nama baik.
Dalam hati Pek Thay-koan membatin.
"Meski Thio Ting-giok adalah utusan kaisar, tetapi tingkat jabatan mereka selisih tidak ada setingkat, menurut tata cara kalangan pembesar negeri, bila Thio Ting-giok dalam tugasnya sebagai utusan kaisar dan meninjau ke daerah Celam yang menjadi tempat kedudukan gubernur, maka pa tut kalau Jan Bun-kia menyambutnya dengan segala kehormatan. Tetapi kini Thio Ting-giok hanya meninjau ke Jing-to, selayaknya Jan Bun-kia tidak perlu jauh-jauh datang sendiri menjumpainya? Mengapa Jan Bun-kia begitu takut pada Khim-che, jauh berbeda se-kali dengan wibawanya sebagai pembesar ternama sehari-hari?"
Pek Thay-koan merabatin sendiri, sementara itu kedua rom-bongan orang tadi sudah pergi jauh.
"Marilah kita mengintip ruangan besar di tengah itu!"
Ajak le Lan-cu dengan suara rendah pada kawan-kawannya.
"Hiau-lan, kau ikut aku. Si-nio, kau haras tunggu aku bergerak lebih dulu baru bo-leh turun tangan."
Sehabis berpesan seperlunya, segera menutul kaki pula, ia ba-wa Teng Hiau-lan melayang turun ke belakang gedung besar itu me-lalui emperan lebar setinggi tujuh delapan tombak.
Ketika ia mendongak, terlihat olehnya di atas lapisan alingan masih ada sebaris jendela berakiran bagus.
Segera ia mendapat akal, dengan suatu gerakan enteng segera ia mencelat naik ke atas, de-ngan sebelah tangan memegang kencang pinggir emperan dan dua jari lain menjepit ke langit-langit rumah, dengan begitu ia meng-gantung diri terapung di udara, sesudah itu dengan Lwekangnya yang tinggi ia getar pecahkan dengan perlahan alingan tadi hingga sedikitpun tidak menerbitkan suara.
Dalam pada itu Lu Si-nio, Pek Thay-koan dan Teng Hiau-lan bertiga menira caranya dan naik ke atas buat mengintip ke dalam ru-mah.
Di ruangan dalam tergantung sebuah lampu minyak kaca ber-taburkan batu permata dan bersepuh emas sedang memancarkan ca-haya yang kekuning-kuningan hingga empat tiang besar yang b^r-ukir naga dan burung hong terlihat jelas.
Di tengah rumah itu tam-pak berduduk seorang Kongcu berasia masih muda.
Melihat Kongcu muda ini, Teng Hiau-lan menjadi terperanjat sekali.
Kongcu muda belia ini ternyata adalah Ong-kongcu yang be-berapa hari berselang ia jumpai di atas ‘Pin-hay-lau’, loteng kedai arak di tepi laut itu.
Selain itu, terlihat pula Thian-yap Sanjin, Hay-hun Hwesio dan Sin-mo-siang-lo berdiri di kedua sampingnya, sikap mereka ter-nyata menghormat sekali terhadap Ong-kongcu.
Melihat keadaan itu, Lu Si-nio dan Pek Thay-koan saling pan-dang, mereka menjadi bingung apakah artinya ini?
Sementara itu, terlihat Ong-kongcu menguap.
"Urasan penting sudah beres, kini kita boleh cari sedikit kese-nangan,"
Ia berkata dengan bertepuk tangan.
"Thio Ting-giok sung-guh tidak tahu gelagat, sudah lewat tengah malam baru pergi!"
Habis itu terdengar ia berkata pula terhadap seorang penga-walnya yang berbaju hitam.
"Panggilkan Hap-congkoan ke sini!"
"Ca!"
Sahut pengawal itu (Ca dalam bahasa Boanciu, Manehu, adalah sahutan golongan rendah terhadap junjungan).
Tak antara lama, dengan didahului bau harum semerbak, pintu samping terbuka, maka keluarlah Haptoh dengan seorang pengawal berbaju hitam lain sembari menuntun dua wanita muda.
Kedua wanita ini adalah barang culikan mereka malam ini, te-tapi kini mereka sudah bertukar dandanan, pakaian mereka serupa Kiongli (dayang-dayang) dalam istana, rajin bersih, paras mereka pun tidak kurang cantiknya, hanya rada pucat sedikit serta kedua matanya tak bersemangat.
Nampak kedua wanita ini, Ong-kongcu mengamat-amatinya dengan cengar-cengir, lalu ia berpaling dan berkata kepada penga-walnya.
"Kedua wanita ini terlalu berbau kampungan, serupa bo-neka saja yang tak bisa bergerak, bawa pergi dan dilatih dahulu, se-bulan kemudian baru bawa kemari menghadap aku lagi!"
Kembali pengawal yang berbaju hitam berseru.
"Ca!"
Selagi ia akan membawa pergi kedua wanita itu seperti yang diperintahkan, tiba-tiba terdengar Ong-kongcu berkata pula.
"Sela-ma kita berada di Soa-tang sini, sudah berapa banyak wanita cantik yang kita peroleh?"
"Seluruhnya berjumlah dua belas orang!"
Sahut si pengawal.
"Apa sudah diperiksa semua?"
"Kecuali dua orang ini^ang lain sudah diperiksa, ada delapan yang memenuhi syarat!"
"Yang tidak memenuhi syarat, kirim saja mereka pulang, ja ngan bikin susah mereka!"
"Yang diapkir apa tidak lebih baik dihadiahkan kepada Po-kok Siansu saja?"
Tiba-tiba Haptoh menimbrung dengan tertawa.
"Wanita cantik yang tak mungkin masuk istana, mungkin tak-kan memuaskan pandangan Po-kok Siansu,"
Sahut Ong-kongcu.
"Biarlah nanti akan kupilihkan wanita molek lainnya buat dia!"
Mendengar percakapan itu, tergerak pikiran Ie Lan-cu.
Mana bisa Jay-hoa-cat mempunyai tingkah-laku begini hebat?
Apa mung-kin mereka adalah orang yang dikirim kerajaan dan diam-diam me-milih wanita cantik di daerah sini?
Dan manusia macam apakah Ong-kongcu ini?
Begitulah serentetan pertanyaan timbul dalam be-naknya.
Tengah ia berpikir, tiba-tiba terdengar suara bentakan Thian-yap Sanjin di dalam.
"Mata-mata yang bernyali besar, hayo lekas turun ke sini!"
Berbareng kedua telapak tangannya bekerja dengan cepat, ia pukulkan dengan angin pukulan yang keras menuju ke tempat per-sembunyian Ie Lan-cu dan kawan-kawan, seketika genting-genting pecah beterbangan dan emperan pun ambrol.
Di antara pecahan genting yang beterbangan dan pasir debu bertebaran, Ie Lan-cu berempat segera melayang turun ke bawah.
Kiranya saking gusar menyaksikan yang terjadi, Pek Thay-koan tak bisa menguasai diri lagi, tak tertahan ia mengertak gigi, ka-rena itu tekanan tubuhnya menjadi lebih berat hingga sedikit mener-bitkan suara.
Suara yang perlahan sekali itu ternyata ketahuan oleh Thian-yap Sanjin yang berkepandaian tinggi, maka konanganlah tempat persembunyian mereka.
Dalam pada itu, sebelum kaki menempel tanah, Pek Thay-koan sudah mendahului mengirim dua buah belati terbang mengarah Ong Cun-it yang ia anggap sebagai biang keladi komplotan itu.
"Kiranya kaulah yang menjadi Jay-hoa-cat!"
Ia sertai pula de-ngan membentak.
Namun gerak tubuh Ong Cun-itf ternyata cukup gesit, ia ber-bangkit dengan cepat, sebilah pisau belati yang mengarah padanya segera menancap pada sandaran kursi sedalam lima senti, menyusul Ong Cun-it mengulur dua jarinya, tahu-tahu belati yang lain berhen-ti di antara jepitan jarinya itu.
Sementara itu dengan cepat Lu Si-nio pun sudah melompat ,ti-ba di dekat Ong Cun-it, berbareng Siang-hoa-kiam segera berkele-bat, dengan tipu serangan ‘Liong-ting-ti-cu’ (mengambil mutiara di atas kepala naga), ujung senjatanya secepat kilat menusuk ke teng-gorokan Ong Cun-it.
Pemuda itu ternyaia tidak lemah, ia menggeser tubuh dan me-lompat pergi, hanya sekali berkelit, ia berputar ke samping sebuah ‘ Boan -tong-hong’.
Yang disebut ‘Boan-tong-hong’ tidak lain adalah tatakan lilin terbuat dari besi, di bawahnya berkaki dan di atasnya tajam lancip berbentuk bunga teratai, di atas bunga teratai bikinan itu tersulut empat buah lilin besar yang terang benderang.
Dalam sekejap itu, karena tak mendapatkan senjata, Ong Cun-it menyambar ‘Boan-tong-hong’ terus digunakan sebagai senjata.
Dalam pada itu, serangan Lu Si-nio untuk kedua kalinya telah tiba pula, dengan tipu ‘Hui-pau-liu-cwan’ (air terjun menggerujuk bertebaran), sinar pedangnya gemerlapan laksana belasan pedang ta-jam menusuk berbareng.
Namun Ong Cun-it ternyata cukup tangkas, sekali ayun, ia gu-nakan ‘Boan-tong-hong’ sebagai toya, menyodok berbareng menya-pu, dengan gerakan ‘Hing-sau-chian-kun’ (menyerampang bersih ri-buan prajurit), pedang Lu Si-nio, kena ditangkis pergi.
Melihat gerak tipu lawannya itu, Lu Si-nio tertegun, sungguh di luar dugaan bahwa yang dimainkan Ong Cun-it adalah ‘Hok-hou-kun-hoat’ (ilmu toya penakluk harimau) yang hebat dari Siau-lim-pay asli.
Lihai betul Ong Cun-it, begitu pedang lawan tertangkis pergi, menyusul gerak tipu ‘Kiap-san-ciau-hay’ (mengempit gunung me-lintas lautan), dengan sekali lompat ia sampai di sebelah kiri Lu Si-nio, lalu Boan-tong-hong di tangannya disurung ke depan, ujungnya yang tajam secepat kilat menusuk, ternyata ia gunakan tipu serangan ‘Oh-liong-cut-tong’ (naga hitam keluar goa), jurus silat Siau-lim-pay yang hebat, tempat yang diarah adalah bawah perut Lu Si-nio.
Melihat cara permainan lawan bersifat kotor, Lu Si-nio men-jadi gusar, tangannya membalik, sinar pedang seperti rantai perak memutar dari kiri ke kanan disertai tenaga dalam yang kuat, dengan begitu Boan-tong-hong musuh dapat ia sampuk ke samping.
Menyu-sul dengan cepat pedangnya menusuk ke sebelah bawah Ong Cun-it dengan tipu serangan ‘Hui-eng-bok-tho’ (elang terbang menyambar kelinci).
Karena serangan yang cepat lagi hebat itu, Ong Cun-it terpe-ranjat sekali, Kiam-hoat wanita muda ini sungguh belum pernah ia jumpai.
Untuk menghalau tipu serangan Lu Si-nio itu terpaksa Ong Cun-it harus menurunkan Boan-tong-hongnya ke bawah dengan ge-rakan ‘Ciangkun-lo-be’ (panglima perang turun dari kuda), maka terdengarlah suara nyaring beradunya logam, dengan tepat ia dapat menahan tusukan pedang lawan.
Begitulah secepat kilat dan silih berganti mereka bertarung sengit dalam niangan itu.
Di sini pertarungan Lu Si-nio sudah cukup ramai dan gempar, tetapi di sebelah sana pertempuran le Lan-cu ternyata jauh lebih te-gang dan memuncak.
Ketika melihat le Lan-cu melayang turun tadi.
dengan cepat luar biasa segera Thian-yap Sanjin menyambutnya dengan tipu se-rangan ‘Kim-liong-tam-jiau’ (naga etnas mengulur cakar), kedua te-lapak tangannya susul-menyusul dipukulkan.
Akan tetapi masih kalah cepat dengan le Lan-cu, di tengah sambaran angin pukulan dan berkelebatnya bayangan orang, ‘Hang-liong-po-tiang’ le Lan-cu tiba-tiba menutuk kedua matanya.
Meng-hadapi serangan luar biasa ini bila orang lain pasti sukar mengelak-kannya, tapi Thian-yap Sanjin tak boleh diukur seperti orang biasa.
Thian-yap Sanjin adalah jago nomor satu di tanah barat, ting-katannya dalam dunia persilatan setengah tingkat lebih tinggi dari Liau-in, ilmu silatnya juga mempunyai keistimewaan sendiri, oleh karena itu, tidak gampang ia terpedaya.
Dengan sekali kebas lengan bajunya, berbareng tangannya pun membelah lagi, menyerang untuk membela diri, terhindarlah ia dari serangan lawan yang berbahaya tadi.
"Sayang, sayang! Kepandaian begini ternyata sudi menjadi budak!"
Ie Lan-cu mengolok.
Menyusul tangannya membalik, tong-katnya menyerang pula, kali ini ia menyerampang kaki orang.
Dengan gampang Thian-yap Sanjin melompal ke atas, terus te-lapak tangannya berubah menjadi gerakan menangkap, dengan tipu serangan yang paling lihai dari ‘Hun-kin-coh-kut’, yakni semacam kepandaian membikin putus otot dan keseleo tulang, ia hendak men-cengkeram pundak le Lan-cu.
Tak terduga, mendadak Ie Lan-cu gunakan tongkatnya seperti orang memakai pedang, dengan tangan kanan memegang tongkat, ia berputar cepat, berkelit sembari menyerang, mendadak tongkatnya menyodok ke pinggang musuh.
Di sebelah sana Pat-pi Sin-mo Sat Thian-ji juga telah menan-dingi Pek Thay-koan.
sedang Tay-lik Sin-mo Sat Thian-toh waktu melihat cara bertempur Ie Lan-cu yang maha lihai, ia pun getol ber-kelahi, dengan sekali menggerung ia gulung lengan bajunya dan un-juk kedua tangannya yang kasar dan besar.
Saat itu Thian-yap San-jin sedang dicecar oleh Lan-cu hingga tak mampu menangkis, de-ngan mengandalkan tenaganya yang besar.
Sat Thian-toh menerjang dan menyeruduk asal kena, ia gerakkan kaki dan tangannya berba-reng, kaki kiri menendang dan tangan kanan pun menghantam, ke-betulan ia dapat mewakilkan Thian-yap Sanjin menahan serangan musuh.
Akan tetapi sodokan tongkat Ie Lan-cu tadi teramat cepat dan lihai, keruan saja segera pinggang Sat Thian-toh kena sodok.
Semula ia mengira dengan kulitnya yang tebal dan tulangnya yang kuat laksana kulit tembaga dan tulang besi yang tak mempan senjata biasa, dengan membusungkan dada ia maju ke depan sambil menggertak dengan keras.
"Pengemis tua, bisa berbuat apa kau ter-hadapku? … Aauuuh! Ilmu siluman apa yang kau gunakan?"
Lucu sekali kedengarannya.
Semula dengan berlagak menan-tang, tapi sekejap kemudian ia menjerit karena pinggangnya dirasa sakit bercampur geli.
Kontan ia terguling menggeletak.
Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak dengan memegangi perutnya saking tak ta-han, sedang seluruh tubuh lemas tak bertenaga.
Kiranya sodokan tongkat Ie Lan-cu tadi dengan tepat kena ‘Siau-yo-hiat’, yakni Hiat-to yang membikin geli dan tertawa terus.
Sebenarnya Sat Thian-toh yang kebal itu tidak takut terhadap Tiam-hiat atau ilmu menutuk, namun Ie Lan-cu di luar pembatasan itu, apalagi tenaga menutuk yang digunakannya adalah tenaga da-lam yang kuat, betapa kebalnya Sat Thian-toh, tubuhnya toh tetap tubuh manusia biasa, mana sanggup ia menerima sodokan Ie Lan-cu yang keras itu?
Di lain pihak, Haptoh sebenarnya berniat membantu Ong Cun-it mengeroyok Lu Si-nio, tapi demi melihat Thian-yap Sanjin berada dalam bahaya, ia lantas berseru memanggil.
"Po-kok Siansu, lekas datang!"
Berbareng itu bersama Hay-hun Hwesio, mereka lalu merang-sek dari kedua sayap.
Senjata yang Haptoh gunakan adalah ‘Liu-sing-tui’, sepasang bandul bertali.
Sedang Hay-hun Hwesio yang pedangnya sudah terkutung kemarin malam oleh Lu Si-nio, sudah ia tukar dengan sebatang pedang baru.
Yang sampai lebih dulu adalah Haptoh, dengan sekali mencu-kit, sepasang bandulannya kena disingkirkan ke samping oleh pe-dang Ie Lan-cu.
Menyusul secepat angin Hay-hun Hwesio mener-jang tiba, dengan tipu ‘Tiang-khing-king-thian’ (pelangi panjang melengkung di langit), segera ia menusuk ke hulu hati orang dengan pedangnya.
Di luar perhitungannya, tiba-tiba bayangan orang sudah berke-lebat di depan matanya.
"Kebetulan sekali kedatanganmu!"
Terde-ngar suara Ie Lan-cu diiringi tertawa.
Seketika Hay-hun Hwesio merasa pergelangan tangannya ka-ku kesemutan, pedang di tangannya ternyata telah dirampas orang.
Sebenarnya Ie Lan-cu mempunyai sebatang pedang pendek ju-ga, yakni Toan-giok-kiam’, termasuk satu di antara dua pedang pu-saka tinggalan mendiang Hui-bing Siansu, bersama Yu-liong-kiam, keduanya bisa merajang besi seperti memotong sayur.
Tetapi karena tingkat dirinya sudah terlalu tinggi, maka kali ini dalam perjalan-annya ke selatan ia tidak membawa serta pedang itu.
Tak terduga kini ia harus menghadapi gempuran beberapa tokoh silat kelas wahid, walaupun ia tak gentar, namun dengan senjata Hang-liong-po-tiang, bagaimanapun masih kurang leluasa.
Justru pada waktu itu terlihat Hay-hun Hwesio menusuk de-ngan pedangnya, hal itu kebetulan baginya, segera ia merebut pe-dang lawan.
"Karena kalian sudah main keroyok, maka jangan kalian se-salkan aku harus cuci pedang ini dengan darahmu!"
Seru Ie Lan-cu bergelak tertawa.
Menyusul sinar putih gemerlapan, berulang-ulang ia menyerang dengan tipu mematikan, tidak seberapa lama, Hay-hun Hwesio yang paling dulu merasakan sekali tusukannya, Hwesio ini melompat keluar kalangan dan mengambil senjata baru buat bertempur lagi.
Sedang Thian-yap Sanjin dan Haptoh berdiri sejajar melawan mati-matian, namun keadaan mereka masih tetap berada di bawah angin.
Sementara itu, di luar pintu gedung terdengar suara orang yang riuh ramai, pintu gerbang didobrak terpentang, terlihat Liau-in Hwe-sio mengepalai serombongan pasukan dengan menjinjing tongkat-nya yang kasar besar masuk dengan langkah lebar.
Tetapi setelah tahu keadaan di situ, ia menjadi kaget sekali.
"Eh, kiranya adalah kau!"
Serunya terkejut.
Berbareng tong-katnya lantas diputar, sekali melayang maju.
segera tongkatnya me-ngemplang ke belakang kepala Ie Lan-cu dengan gerak tipu ‘Siok-lui-kik-ting’ (petir menyambar ke atas kepala).
Tiba-tiba Ie Lan-cu membalik tubuh, tongkat di tangan kiri se-gera ditangkiskan ke atas, sedang tangan kanan yang mencekal pedang menikam ke samping, dengan tipu ‘Pek-ho-tok-hu’ (bangau putih menotol ikan), ia menikam dada Liau-in.
Untuk menghindarkan tikaman itu, Liau-in menarik tegak tongkatnya, lalu memutar dengan cepat, dengan gerakan ‘Oh-liong-boan-jiu’ (naga hitam melilit pohon), ia balas menyerampang ke ba-gian tengah tubuh le Lan-cu.
Serangan itu ditangkis Ie Lan-cu dengan sampukan pedang sambil memutar ke samping lain.
Sementara itu Haptoh dan Thian-yap Sanjin berdua juga telah merangsek maju dari dua jurusan.
Kepandaian tiga orang ini luar biasa, terutama tenaga Liau-in yang kuat sekali, tongkatnya menyambar ke sana sini dan diputar dengan kencang, dengan sendirian melawan mereka bertiga, Ie Lan-cu masih belum sanggup raelukai mereka.
Di pihak lain, Lu Si-nio dan Ong Cun-it pun sedang bertarung ramai, saat Lu Si-nio melihat banyak pengawal berbaju hitam mem-banjir masuk, ia kencangkan pedang dan menyambar secepat kilat.
Dalam sekejap pedangnya diputar dengan cepat hingga membawa gulungan sinar putih, sekalipun ilmu silat Ong Cun-it cukup tinggi, namun belum pernah ia saksikan Kiam-hoat yang begitu hebat.
Selagi Kongcu itu terdesak mtindur dengan gugup, mendadak Lu Si-nio membabat dari sebelah samping, akhirnya pedangnya me-nempel pada batang Boan-tong-hong yang dipakai sebagai senjata oleh Ong Cun-it, menyusul ia dorong dengan gerakan ‘Sun-cui-tui-ciu’ (menyurung perahu menuruti arus air), ia bermaksud mengiris jari tangan pemuda itu.
Untuk menolong dirinya, tiba-tiba terdengar Ong Cun-it mera-ung sekali, Boan-tong-hong di tangannya yang mempunyai berat be-berapa puluh kati itu sekonyong-konyong ia timpukkan.
Lekas Lu Si-nio berkelit, batang Boan-tong-hong itu menyelo-nong terbang ke depan, ujung batang alat itu terbuat dari besi dan lancip, dengan tepat mengenai tenggorokan seorang pengawal ber-baju hitam, dengan suara jeritan ngeri kontan ia terguling roboh, ujung tatakan lilin itu menembus tenggorokannya.
Di sebelah sana, berkat Yu-liong-pokiam, Teng Hiau-lan beru-lang kali berhasil membabat kutung senjata para pengawal.
Sementara itu Sat Thian-toh yang tadi tertutuk oleh Ie Lan-cu dan menggelongsor roboh, kini perlahan-lahan rasa sakit dan linu-nya sudah mulai hilang, hanya saja tenaga masih belum pulih selu-ruhnya.
Demi melihat Yu-liong-kiam yang bersinar menyilaukan, ia tidak mau tinggal diam, mendadak ia melompat bangun terus rae-ngirim pukulan ke depan.
Namun Teng Hiau-lan sudah bukan Teng Hiau-lan yang dulu lagi, segera ia pun putar pedangnya dan menusuk dari samping de-ngan cepat.
Karena takut kepada Pokiam yang tajam luar biasa itu, Sat Thian-toh tak berani sembarang menangkis.
"Hai, bocah, serahkan saja pedangmu!"
Gertaknya.
Mendadak ia menerobos dari samping, tangan kiri bermaksud merebut pedang Hiau-lan dengan Kim-na-jiu-hoat, yakni ilmu menangkap dan me-megang yang lihai.
Ia mengira kepandaian Teng Hiau-lan masih rendah, tentu ti-dak tahan sekali serang saja, ia tidak tahu bahwa sesudah Hiau-lan belajar selama lima tahun kepada Nyo Tiong-eng, ilmu silatnya su-dah banyak maju.
Meski Nyo Tiong-eng belum terhitung tokoh silat kelas wahid, tetapi dibanding dengan Siang-mo pun selisih tak banyak, apalagi yang Nyo Tiong-eng latih adalah Thi-cio-sin-tan, sebaliknya Lwe-kangnya pun ajaran asli Ko-yang-pay yang terkenal.
Setelah belajar lima tahun, dasar Teng Hiau-lan sudah bertambah kuat, Kiam-hoat-nya juga sudah jauh lebih hebat daripada dulu, lebih-lebih ‘Tui-hong-kiam-hoat "
Yang dimilikinya mempunyai kecepatan luar biasa.
Karena memandang enteng musuh, tanpa pikir Sat Thian-toh menubruk maju dengan Kim-na-jiu tadi, ia tidak menyangka Teng Hiau-lan bisa membaliki tangan, Pokiamnya berbalik dari bawah menuju ke atas terus menusuk dengan cepat.
"Kena!"
Terdengar Hiau-lan membentak.
Sat Thian-toh sudah merasakan sodokan tongkat Ie Lan-cu ta-di, maka gerak tubuhnya rada lamban, keruan saja lengannya yang kasar besar itu terluka.
Yu-liong-pokiam yang tajamnya lain dari yang lain itu menancap masuk ke dalam daging sedalam hampir lima senti.
Saking sakitnya Sat Thian-toh menggerung keras.
"Bocah ku-rang ajar, bagus kau!"
Bentaknya.
Sesudah itu, ia tidak menukar se-rangannya, bahkan ia meneruskan dua tangannya yang memang su-dah terulur tadi untuk menangkap ke bawah.
Sat Thian-toh berjuluk Tay-lik-sin-mo atau iblis sakti bertena-ga raksasa, oleh karena itu, tenaga kedua tangannya ini sungguh ti-dak kecil.
Pokiam Teng Hiau-lan beruntung bisa mengenai musuh, kini ia belum sempat menarik kembali, mendadak kedua tangan musuh secepat kilat telah menyambar tiba sampai di atas kepalanya, tiada jalan lain, terpaksa ia hanya pejamkan mata menantikan ajal.
Dalam sekejap ia merasa kulit kepala seperti kena teriris pisau, pedas dan sakit.
Sekonyong-konyong terdengar Sat Tbian-toh ber-siul aneh, seketika itu juga Teng Hiau-lan merasakan atas kepalanya menjadi enteng.
Waktu ia membuka mata, dilihatnya Si-nio sedang memutar pedang secepat angin memaksa Sat Thian-toh mundur ke belakang.
Ia coba meraba atas kepalanya, terasa sedikit mengeluarkan darah dan rambutnya pun sudah terftubut sebagian.
Sungguh hebat sekali tenaga pukulan Sat Thian-toh tadi, ha-nya kena sambaran angin pukulannya saja sudah begitu lihai, apa-lagi kalau terkena betul-betul, pasti akan terhantam hancur lebur!
Diam-diam Hiau-lan bersyukur dirinya terhindar dari bahaya dan berbareng pula merasa sangat berterima kasih kepada Lu Si-nio.
Sementara itu, pasukan pengawal tadi telah mengepung maju.
Melihat musuh tangguh sudah mundur, semangat’Teng Hiau-lan terbangkit kembali, segera ia ayun tangan, segenggam senjata rahasia Hui-bong dihamburkan dan memenuhi ruangan itu dengan membawa suara mendesir.
Para pengawal belum pernah kenal senjata rahasia Hui-bong, oleh sebab itu yang berkepandaian agak rendah, segera terluka bebe-rapa orang.
Dalam pada itu, Ong Cun-it yang ditinggalkan Lu Si-nio tadi, setelah dapat merebut sebatang golok dari salah seorang penga-walnya dengan sekali melayang ia memapaki Teng Hiau-lan.
"Teng-hengte, serahkan saja pedangmu itu padaku!"
Katanya dengan tertawa.
"Kita sekali bertemu lantas cocok, sudah pasti aku takkan menyuruh mereka melukaimu!"
Hiau-lan menjadi murka.
"Sia-sia saja kau berlaku sopan, tak tahunya kau adalah Jay-hoa-cat, perbuatanmu rendah dan kotor, si-apa sudi mengikat persaudaraan dengan manusia rendah macam kau ini!"
Dampratnya tanpa ragu-ragu.
Menyusul pedangnya bekerja dengan kencang, secara bertubi-tubi ia menyerang dengan tipu ‘Kau-goan-hian-ko’ (monyet menyu-guh buah), terus ‘Sian-jin-ki-lo’ (dewa menunjukkan jalan) dan me-nyusul pula ‘Hiong-khe-jio-bi’ (ayam jago berebut beras), beruntun ia cecar Ong Cun-it.
Melihat kekalapan orang, sambil menangkis serangan itu, Ong Cun-it tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Apakah Jay-hoa-cat itu?"
Katanya.
"Teng-hingte, kau bilang aku Jay-hoa? Apa kau tidak kha-watir ditertawai tokoh Bulim yang berada di sini?"
"Apa? Tokoh Bu-lim?"
Jawab Teng Hiau-lan dengan gemas.
"Kalian gerombolan binatang ini tidak lebih berharga daripada ka-wanan anjing!"
Sembari mendamprat, senjata di tangannya tak per-nah kendor, berulang-ulang ia menusuk.
Menghadapi serangan itu, Ong Cun-it ternyata inasih bergelak tertawa.
Ketika goloknya bergerak, hanya sekali ayun dan memben-tur, pedang Teng Hiau-lan terguncang pergi, menyusul ia memba-cok pula pergelangan tangan pemuda itu.
Namun Hiau-lan tak gampang menyerah mentah-mentah, de-ngan cepat ia melompat ke samping, kemudian merangsek maju.
Meski ilmu silat Ong Cun-it lebih tinggi dari Teng Hiau-lan, tapi kalau hendak merebut pedangnya, dalam sekejap saja tak mung-kin terkabul keinginannya itu.
Sementara itu, pasukan pengawal sudah datang makin banyak.
Dengan memainkan Hian-li-kiam-hoat, Lu Si-nio kembali ber-hasil melukai Sat Thian-toh, sesudah itu lekas ia mundur ke bela-kang dan sejajar dengan Teng Hiau-lan untuk menghadapi musuh yang jauh lebih banyak.
Berkat Kiam-hoat Lu Si-nio yang sangat lihai, ditambah pe-dang Teng Hiau-lan yang teramat tajam, para pengawal itu tak bera-ni sembarang mendekat, namun dalam jumlah banyak melawan se-dikit, lagi pula permainan golok Ong Cun-it termasuk kepandaian hebat ajaran Siau-lim-pay, maka Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan ber-ulang-ulang juga hams menghadapi serangan berbahaya.
Dalam pada itu, le Lan-cu yang seorang diri menempur Liau-in Hwesio, Thian-yap Sanjin dan Haptoh bertiga yang tergolong ja-go silat kelas wahid, walau tidak dapat menang dalam waktu sing kat, namun keadaannya jelas berada di atas angin.
Liau-in bertiga hanya bisa saling bahu-membahu mempertahankan diri.
Tetapi ketika nampak barisan pengawal berbondong-bondong membanjir datang dan seluruh ruangan penuh sesak, Ie Lan-cu me-ngerut kening.
Diam-diam ia minta ampun kepada arwah leluhur ka-rena terpaksa ia hams melanggar pantangan membunuh.
Mendadak Kiam-hoatnya berubah, hanya tertampak sinar pe-rak bertebaran dan angin menyambar-nyambar, begitu cepat pedang berputar serupa ratusan bahkan ribuan ular perak yang menari kian-kemari di angkasa, karena serangan itu, Liau-in dan kawan-kawan terpaksa harus main mundur.
Gerak tubuh Ie Lan-cu secepat angin, ia melayang mengitari seluruh ruangan, di sini ia tusuk sekali, di sana ia menikam lagi, ca-ra menyerangnya begitu sebat tanpa terelakkan, para pengawal itu baru melihat bayangan orang berkelebat di depan mata, tahu-tahu tubuh mereka sudah kena tertusuk pedang.
Dalam sekejap saja bebe-rapa puluh anggota barisan pengawal yang membanjir ke dalam ru-angan gedung itu sudah roboh hampir separoh.
di tubuh tiap orang terkena satu dua luka tusukan.
Kiam-hoat yang le Lan-cu mainkan ini bukan lain Tui-hong-kiam-hoat.
Cuma meski sama-sama ‘Tui-hong-kiam-hoat’, permain-an le Lan-cu entah berapa puluh kali lebih lihai dari Teng Hiau-lan.
Permainan ilmu pedangnya itu, sebenarnya masih mendingan karena Ie Lan-cu menaruh belas kasihan pada sasarannya, pedang-nya hanya menusuk tempat sambungan tulang dan tempat jalan da-rah yang tidak membahayakan nyawa, ia hanya menghancurkan ke-kuatan bertempur pihak musuh, tapi tidak mencelakai jiwa mereka.
Begitulah, baru sekali Ie Lan-cu mengitari kalangan, barisan pengawal itu sudah dirobohkan separoh, bagi yang rada tinggi ke-pandaiannya terpaksa pun harus melompat mundur ke belakang.
Nampak keadaan itu, Liau-in dan kawan-kawan terkejut, lekas mereka mengerubut maju lagi.
Karena pertarungan yang masih berlarut-larut itu, Ie Lan-cu berpikir.
"Kalau hendak menangkap penjahat harus tangkap pemim-pinnya dulu, Ong’Cun-it adalah kepala mereka, biar aku tangkap dia lebih dulu, paling perlu bikin terang peristiwa pemetik bunga itu!"
Setelah ambil keputusan itu, pedangnya segera bergerak lagi, dengan tipu ‘Liau-giok-hing-poh’ (mengangkat lutut melangkah ka-ki), dengan cepat ia menggeser sampai di sebelah kanan Ong Cun-it, menyusul dengan ‘Giok-li-tau-so’ (gadis ayu melempar tali), sen-jatanya segera menusuk.
Untuk menghindarkan serangan itu, Ong Cun-it coba menang-kis, tapi begitu goloknya bertemu dengan pedang, seketika golok terkutung menjadi dua.
Nampak tuannya dalam ancaman bahaya, bukan main terpe-ranjat dan khawatimya Liau-in, lekas tongkatnya menyerampang untuk menolong.
Berbareng kedua bandulan Haptoh saling susul menyambar datang pula.
Sekali menggempur tidak kena sasarannya, segera Ie Lan-cu dicegat lagi oleh kedua lawannya ini.
Menyaksikan cara Ie Lan-cu menyerang, tiba-tiba Lu Si-nio sadar akan tujuan orang dan menirunya.
Ia percepat pedangnya, de-ngan beberapa kali serangan kilat ia dapat menembus bendungan beberapa pengawal, sesudah itu kakinya menutul, ia melayang ke atas, lalu dengan tipu serangan ‘Thian-san-sia-ping’ (gugur gunung salju di Thian-san), mendadak ia menyerang dari atas, pedangnya mengarah ke leher Ong Cun-it.
Kini giliran Sat Thian-ji yang melihat bahaya, ia harus me-lindungi majikannya, lekas ia keluarkan kepandaiannya yang isti-mewa, yakni meniru cara elang-kucing menubruk musuh, mendadak ia pun mumbul ke atas, tanpa memikirkan bahaya bagi diri sendiri, ia sambut serangan Lu Si-nio di tengah udara dengan kesepuluh kuku jarinya yang panjang.
Kepandaian dua orang ini tinggi sekali, dalam keadaan sama-sama terapung di udara, susah untuk berkelit, karena itu pundak Lu Si-nio segera kena dicakar sekali, sedang dada Sat Tlian-ji pun tidak urung kena tertusuk pedang.
Sama kena dan terluka, di sinilah terlihat Lu Si-nio terlebih ulet dan kuat, setelah kena dicakar, ia masih sempat memutar tubuh berikut senjatanya hingga beberapa pengawal yang menerjang maju kena dilukai lagi, menyusul pedangnya bergerak, kembali ia arah belakang punggang Ong Cun-it.
Sebaliknya Sat Thian-ji yang merasakan tusukan pedang, ia ja tuh ke bawah tanpa bisa berkutik lagi.
Dalam pada itu, Ong Cun-it yang sedang berlari cepat me-ngitari kalangan, mendadak merasakan serangan Lu Si-nio, Ickas ia mendakkan tubuh, sambaran angin tajam dari belakang, sekonyong-konyong dengan gerakan "Hoan-sin-sia-hou’ (membalik tubuh me-manah macan).
tangannya membalik terns meraih, berbareng dua ja-n tangan kiri dengan cepat menutuk Yau-im-hiat’ Lu Si-nio, se-dang tangan yang lain menjotos ke hulu hatinya.
Itu adalah tipu serangan penolong bahaya ‘Hok-hou-kun’, il-mu pukulan penakluk harimau Siau-lim-pay yang terkenal, dalam keadaan tercecar, sering bisa mengubah keadaan jadi kemenangan.
Karena pukulan yang lihai itu.
terpaksa dari menyerang Lu Si-nio berbalik harus berjaga, ia kerutkan perut dan tank dadanya le-kas mengegos menghindari, berbarcng pedangnya yang sudah ia tu-sukkan tadi ditarik kembali, menyusul tusukan untuk kedua kalinya ia kinmkan pula.
Ong Cun-it yang dapat menghindarkan bahaya maut kini su-dah tenang kembali, kedua tangannya pada saat yang sama lantas dipukulkan untuk menyerang bagian bawah Lu Si-nio.
Dari samping, ada seorang pengawal berbaju hitam, kedua ta-ngannya mencekal dua buah gembolan besi, waktu itu juga sedang maju dan menghantam dari atas ke bawah dengan senjatanya itu.
Pengawal ini bernama Pin Hun-eng, salah seorang pembantu utama Haptoh, kepandaiannya pun luar biasa.
Saat serangan Lu Si-nio sudah hampir mengenai sasarannya, mendadak dirintangi, ia menjadi gusar sekali, tiba-tiba ia miringkan pedangnya dengan tipu serangan lihai *Chiu-cui-hing-ciu’ (perahu laju di sungai Chiu), pedangnya menyelip lewat di antara dua gem-bolan musuh yang sedang menghantam itu, dengan begitu pedang-nya tetap menusuk ke hulu hati Ong Cun-it.
Pin Hun-eng memang hebat juga, cepat ia melangkah melin-tang dua tindak, sesudah itu kedua gembolannya lantas menggencet.
Sebenamya Lu Si-nio menaksir pedangnya pasti bisa menyelip lewat di bawah gembolan musuh, tak terduga Pin Hun-eng yang Su-dan mundur bisa maju kembali, dengan menurunkan gembolan yang menggencet itu, seumpama Ong Cun-it kena tertusuk oleh pedang-nya, ia sendiri pun tidak terluput dari bahaya kepala pecah dan darah mengalir.
Menghadapi bahaya yang tidak terelakkan itu, Si-nio tak sem-pat menarik diri lagi, tanpa menghiraukan akibat yang dihadapinya, pedangnya tetap ia tusukkan terus.
Justru pada saat yang menentukan bagi mati-hidup mereka itu, tiba-tiba Lu Si-nio dan Pin Hun-eng berdua sama-sama ditarik pergi ke samping oleh orang.
Dengan serangan Lu Si-nio dan Pin Hun-eng berdua yang lak-sana anak panah terlepas dari busur, serangan hebat yang tak dapat dihindarkan, namun dengan gampang saja ada orang mampu mena-rik pergi mereka, keruan mereka jadi terheran-heran.
Ketika Lu Si-nio bisa tenangkan diri dan menarik kembali sen-jatanya, ia lihat seorang Hwesio tua kurus, memakai jubah warna putih, kakinya memakai sepatu buatan serat rami, pada pergelangan tangannya tergantung serenceng ‘Hud-cu’ (biji tasbih), kedua ma-tanya b’erwibawa dan mukanya keren agung.
Hwesio itu sedang me-ngadang di tengah antara dirinya dengan Ong Cun-it.
Di sebelah sana, Ie Lan-cu memainkan ilmu pedangnya yang tiada tara itu, tengah menghujani Liau-in, Haptoh dan Thian-yap Sanjin bertiga dengan serangan luar biasa hingga ketiga lawannya itu merasa kerepotan, tapi mendadak melihat seorang Hwesio me-lompat turun dari atas, sekaligus menarik Lu Si-nio ke samping, tak tertahan ia menjadi terkejut.
Cepat ia mendesak mundur Liau-in ber-tiga, kemudian selagi hendak memburu maju buat menolong kawan-nya, tiba-tiba ia sudah mendengar suara bentakan Hwesio tua itu.
"Ong Cun-it, tidak lekas kau menyerah dan ikut aku kembali ke gu-nung?"
Mendengar itu, Ie Lan-cu tertegun. Sementara itu terdengar Ong Cun-it telah buka suara.
"Susiok datang dari jauh, maafkan Siautit tidak bikin penyambutan, harap Susiok suka tinggal beberapa hari di sini, Siautit masih ada sedikit urusan, untuk kembali ke gunung, sementara belum bisa kupenuhi!"
Jawabnya seakan membantah.
"Di hadapanku kau berani berlagak?"
Kembali Hwesio tadi menggertak, kali ini jauh lebih bengis.
"Dosamu sudah bertumpuk, kau tidak segera ikut aku pulang ke gunung, apa kau minta aku tu-run tangan sendiri di sini?"
Ie Lan-cu makin terheran-heran mendengar tanya jawab itu, segera ia melangkah maju beberapa tindak. Melihat Ie Lan-cu, tiba-tiba Hwesio tua itu merangkap kedua tangan memberi hormat.
"Harap Ie-lihiap maafkan aku yang kurang sopan,"
Ujarnya dengan menyesal sekali.
"Siauceng adalah Kam-si (pengawas biara) dari Ko-san Siau-lim-si, Siau-lim-si tidak berun-tung telah mengeluarkan anak murid rendah seperti dia ini, bukan saja mencemarkan nama baik keluarga besar Siau-lim dan mengo-tori dunia persilatan, bahkan Ie-lihiap juga ikut buang tenaga, sung-guh Siau-lim-si merasa menyesal sekali. Sekarang juga aku akan meringkusnya kembali ke gunung dan memberi hukuman menurut tata-tertib perguruan kami, Ie-lihiap dan beberapa sahabat ini kalau sudi mampir, silakan tinggal beberapa hari di biara kami di Ko-san, kami Ko-san Siau-lim-si sekali-kali takkan melindungi murid yang tak senonoh, dalam perkara ini Ie-lihiap pun boleh menjadi saksi sekalian."
Sebenarnya Ie Lan-cu mencurigai Ong Cun-it adalah anggota keluarga kerajaan, paling tidak, tentu juga orang pemerintahan, ma-kanya berani mengambil tempat kediaman utusan kaisar sebagai sa-rang operasi kejahatan mereka.
Kini mendengar keterangan Hwesio tua itu, ia menjadi tambah tak mengerti.
Ko-san Siau-lim-si adalah pusat ilmu silat seluruh negeri, anak muridnya tersebar dimana-mana, pengaruh besar dan namanya yang tersohor tidak dapat ditandingi oleh cabang persilatan lain.
Lebih-lebih ketua Siau-lim-si yang dikenalnya adalah seorang padri beril-mu, dikagumi orang-orang gagah segenap penjuru, bila Ong Cun-it orang kerajaan, tak mungkin ia diterima menjadi anak murid Siau-lim-si.
Oleh karena pikiran itu, segera ia bertanya.
"Maafkan bila aku bertanya, sebutan apa di antara Taysu dengan Pun-khong Taysu?"
"Pun-khong Taysu adalah Suhengku, sayang beliau sudah wa-fat tahun lalu,"
Jawab Hwesio tua itu.
"Murid murtad ini justru mu-rid beliau dari kalangan orang biasa. Kini yang jadi ketua pengurus biara kami adalah Samsute, Bu-cu Siansu!"
"O, kalau begitu engkau tentulah Pun-bu Taysu bukan?"
Tanya le Lan-cu.
"Memang tidak salah,"
Sahut Hwesio itu dengan mengangguk kepala.
"Dengan Leng-tayhiap (Leng Bwe-hong) pernah kami ber-jumpa satu kali, sudah lama aku bermaksud naik ke Thian-san buat menyambangi Lihiap, tapi karena perjalanan sangat jauh, ditambah banyak pekerjaan biara yang mengganggu, maka hingga kini mak-sud itu belum terkabul. Kali ini tanpa sengaja aku telah membikin kaget Lihiap, sungguh memalukan dan hams disesalkan!"
Atas keterangan itu, diam-diam le Lan-cu pun raerasa malu di-ri.
Mengapa tidak ingat masih ada seorang Pun-bu Siansu.
Pun-bu Siansu ini adalah ahli ‘Siau-lim-sin-kun’, yakni ilmu pukulan sakti ajaran Siau-lim-si, kepandaiannya tidak di bawah Su-hengnya, yaitu Pun-khong Hwesio.
Kalau diurut, tingkatannya me-mang sederajat dengan le Lan-cu.
Kali ini rupanya sama-sama ingin menyelidiki peristiwa aneh itu dan masing-masing tidak mengetahui.
Andaikan le Lan-cu me-ngetahui ada tokoh berkepandaian tinggi seperti Hwesio itu, tentu juga akan menaruh curiga ada hubungannya dengan kejadian aneh itu dan menggeledah barang-barangnya.
Maka sekarang ia pun tidak heran kalau kamar hotelnya digerayangi Pun-bu.
Karena itu, ia pun tidak menyalahkan Pun-bu Siansu, hanya dalam hati ia masih heran melihat usia Pun-bu Siansu yang sudah lanjut, mengapa Ginkangnya masih begitu hebat?
Padahal kepandaian Pun-bu Siansu dan le Lan-cu hanya setanding saja, cuma le Lan-cu lebih dulu telah mencurahkan perhatian pada Pek Thay-koan, oleh karena itu ia menjadi lengah dan tidak memperhatikan bahwa dirinya pun sedang dikuntit Pun-bu Siansu.
Demikianlah, sementara itu Liau-in Hwesio, Thian-yap Sanjin dan Haptoh bertiga sudah mundur ke belakang, mereka mengambil tempat kedudukan yang bisa saling bahu-membahu melindungi Ong Cun-it.
Nampak Thian-yap Sanjin, Pun-bu Taysu lantas merangkap ta-ngan menjalankan penghormatan lagi.
"Sudah lama Pinceng mengagumi nama Thian-yap Toheng yang maha besar, tapi entah mengapa Toheng sekarang sudi me-lindungi murid durhaka ini dan membantu kejahatan?"
Baca Juga: Kedele Maut 9
Baca Juga: Lembah Nirmala 4