Eps 2 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
Terdengar Sat Thian-ji bersuit aneh dan serangannya tiba-tiba menjadi kendur, sedang Hian Hong agak ter-huyung-huyung, maka Sat Thian-ji dengan cepat melayang pergi.
Orang yang mendadak menerjang datang itu bukan lain ialah Ban-li-tui-hong Liu Sian-gai.
Tadi waktu melihat toakonya terku-rung serangan lawan, mau tidak mau ia menjadi keder, karena hal itu selamanya belum pernah terjadi.
Dengan Ginkangnya yang su-dah sempurna, segera ia menerjang maju untuk menolong.
Sat Thian-ji telah kalah sejurus dalam hal Ginkang, hal ini di-anggap sebagai penghinaan yang belum pernah ia alami, oleh sebab itu terhadap Liu Sian-gai ia rada dendam.
Kini nampak musuhnya ini berani menghadang, segera ia lepaskan Hian Hong dan berbalik mencecar Ban-li-tui-hong Liu Sian-gai.
Liu Sian-gai yang sekonyong-konyong menubruk maju tadi, dengan sepuluh cincin baja di tangannya segera mengepruk kepala musuh.
Tak terduga, mendadak Sat Thian-ji mengulur kedua tangan, dari sepuluh jarinya tiba-tiba terjulur keluar kuku sepanjang bebe-rapa senti.
Waktu kuku beradu dengan cincin baja, segera terbit su-ara gemerincing.
Belum lenyap kejut Liu Sian-gai oleh.gerakan musuh yang lu-ar biasa itu, tiba-tiba jari musuh mencolok ke matanya laksana pisau belati, lekas Liu Sian-gai melompat menghindarkan serangan.
Dalam pada itu Hian Hong pun tidak tinggal diam.
Dengan ta-ngan kanan pedang dan tangan kiri tongkat, ia memberondong se-rangan dari sebelah belakang, namun ketangkasan Sat Thian-ji harus dipuji, ia berlompatan laksana terbang, sedang sepuluh jarinya men-cakar, menggaruk, menutuk dan menggaet serupa cakar elang saja.
Siang-mo atau kedua iblis itu sudah lebih tiga puluh tahun ber-diam di Niau-eng-to, kerap kali menyaksikan pertarungan seru an tara elang dan ular berbisa, dari pertarungan itulah tidak sedikit ge-rak tipu silat istimewa yang telah mereka ciptakan.
Lebih-lebih Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji yang terkenal kemahirannya dalam ilmu en-tengi tubuh dan tenaga luar, bahkan ia anggap Niau-eng sebagai gurunya, banyak cara-cara menubruk, menyerang dari atas seperti burung itu yang telah ia yakinkan.
Walau dalam hal Ginkang dia se-dikit kalah dari Ban-li-tui-hong, tetapi soal kepintaran silat lainnya sebaliknya ia jauh berada di atasnya, misalnya dalam hal cara menu-bruk dari atas saja Liu Sian-gai sudah tak mungkin menyamainya.
Lebih dari itu, Sat Thian-ji meyakinkan pula semacam ilmu silat tunggal, disebut ‘Niau-eng-jiau’ atau cakar elang kucing, sesuai dengan sumber dimana ia mendapatkan ilham ilmu silat itu.
Senjata Niau-eng-jiau adalah kesepuluh kuku jarinya yang sudah berpuluh tahun tak pernah dirajinkan atau digunting, tiap ku-ku jarinya sepanjang beberapa senti dan kerasnya melebihi batu, da-lam keadaan biasa kuku itu melingkar pada pucuk jari, tetapi se-waktu hendak dipergunakan, mendadak menjulur dan merupakan cakar yang tajam, bahkan kesepuluh kuku jari itu beracun pula, se-muanya sudah terendam dalam air bisa yang paling jahat dari ular-ular berbisa, apabila tercakar luka oleh kukunya dan tiada obat pe-munah racun ular, maka dalam dua belas jam korbannya akan ter-binasa.
Entah telah berapa banyak orang-orang gagah Kangouw yang terbinasa di bawah kesepuluh kukunya yang lihai itu.
Sementara itu, dengan tongkat dan pedang memutar berbareng, kembali Hian Hong Totiang bergebrak seru dengan Pat-pi-sin-mo.
Loan-pi-hong-kiam-hoat dimainkan sedemikian rupa sehingga menerbitkan angin menderu dan membawa sinar gemerdep, ditam-bah tongkat di tangan kirinya mengemplang serta menyerampang dengan hebat sekali.
Di bawah rangsekan pedang dan tongkat sekaligus itu, Pat-pi-sin-mo mengulur kesepuluh cakarnya, ia keluarkan gerak menubruk seperti elang kucing, tiba-tiba menyambar dari atas seperti rajawali terbang, saat lain mengitar cepat laksana ular, ia menubruk maju te-rus mencakar, membeset dan macam-macam serangan pula, dengan cara begitu semua penjuru tertampak seakan hanya bayangan tubuh Sat Thian-ji yang terus berputar, satu orang seperti tumbuh delapan tangan sesuai julukan yang orang berikan padanya.
Menghadapi lawan setangguh itu, mau tak mau Hian Hong Totiang harus mengakui Pat-pi-sin-mo ini benar-benar lawan yang belum pernah ia jumpai selama hidup!
Di pihak lain, Pat-pi-sin-mo diam-diam pun terkejut oleh ke-cekatan Hian Hong, sama sekali ia tidak menduga Loan-pi-hong-kiam-hoat bi»a begitu lihai.
Dengan cara serangan melawan serangan dan keras melawan keras, pertarungan seru mereka merupakan perebutan siapa yang mendahului dalam sekejap itu saja.
Hian Hong umpamanya, ia me-rasa cakaran musuh senantiasa mendesak sampai di mukanya dan susah sekali untuk menghindarkannya.
Sebaliknya bagi Pat-pi-sin-mo, ia pun berulang-ulang harus menghadapi sinar pedang yang me-nyilaukan dan tak pernah jauh dari tempat berbahaya di tubuhnya.
Pertarungan luar biasa dan mati-matian ini begitu hebat hingga akhirnya yang tertampak hanya tongkat dan pedang yang sambar-menyambar bercampur sepuluh kuku cakar yang beterbangan, siapa di antara mereka sedikit meleng pasti tak akan luput dari kematian.
Nampak Suhengnya dalam keadaan genting, dengan Ginkang-nya yang tinggi, Liu Sian-gai bantu mengeroyok, apabila Sat Thian-toh membalik hendak menjambret padanya, segera ia melayang per-gi menghindar.
Dengan bantuan Sutenya ini, barulah Hian Hong To-jin bisa mendapat sedikit keunggulan.
Ketika pertarungan sengit berlangsung, mendadak terdengar Tay-lik-sin-mo dan Tan Goan-pa memekik keras.
Rupanya di sebelah sana Siau-mi-lik Long-goat Siansu dan Tan-ciang-gay-pi Tan Goan-pa yang bergabung melawan Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh, mereka pun sudah sampai pada saat yang me-nentukan mati-hidup masing-masing pihak.
Long-goat Siansu beberapa kali menyemburkan arak, baju Sat Thian-toh sudah berlubang-lubang kecil tak terhitung banyaknya.
Sat Thian-toh menjadi murka, sekali menggerung, sekuat tenaga ia menyobek baju sendiri menjadi helai-helai kecil, kini separoh tu-buhnya telanjang, kulitnya yang kuning kecoklatan tertampak jelas.
"He, Hwesio gemuk, berapa banyak senjata rahasiamu juga aku tak takut padamu! Untuk apa bolak-balik kau semburkan arak-mu?"
Teriaknya sambil mementang kedua tangannya, ia perlihatkan ototnya yang hijau menonjol kuat.
Sesudah itu, ia mengepal dan ke-dua tangannya meninju berbareng ke arah pelipis Long-goat Siansu.
Long-goat menyambut serangan lawan dengan bergelak terta-wa, ia berputar menurut gaya serangan musuh, pada saat itu ia mele-paskan cambuk kulit yang terikat di pinggangnya, terus menyabet.
Seperti belalang menangkap tonggeret, tetapi dikuntit burung gereja di belakang.
Saat Sat Thian-toh menyerang Long-goat Sian-su, Tan Goan-pa pun menyusul di belakangnya, seperti cara Sat Thian-toh menyerang musuhnya, dengan tipu ‘Siang-liong-jut-hay’ (dua naga keluar lautan), Tan Goan-pa menggablok kedua pelipis musuh dengan kedua belah tangannya.
Namun Sat Thian-toh tidak gampang kecundang, tiba-tiba ia mendak dan menyikut ke belakang, menyusul mendadak ia memba-lik, disambung satu pukulan keras, kepalan tangan kanannya menda-dak memukul dari bawah siku yang menyikut tadi.
Melihat ada kesempatan baik, Tan Goan-pa sedikit mundur, segera ia papaki dengan tangan kiri menyanggah ke atas, berbareng tangan kanan memegang tangan musuh terus ditekuk ke bawah, ge-rakan ini adalah kepandaian yang menjadi kebanggaan Tan Goan-pa, satu tipu serangan yang mematikan ‘Hun-kin-cho-kut-jiu’, gerak tipu cara memisahkan otot dan membikin keseleo tulang musuh, se-kali tekuk dan tangan lain menyanggah tangan lawan ke atas akan bisa membikin otot putus dan tulang patah, betapapun tinggi ilmu silatnya, bila terkena tak mungkin dapat melawan.
Tak terduga, kali ini Tan Goan-pa ternyata tidak berhasih Sat Thian-toh yang tangannya ditarik dan ditekuk, seperti tak berasa sa-ja, malah tangannya ditekan ke bawah, sesudah itu mendadak ta-ngan kirinya menghantam ke atas.
Lekas Goan-pa kendurkan cekalannya tadi, ia sendiri tak ingin kena dijotos, tetapi karena sedikit lambat, terpaksa ia angkat pundak dan terima dipukul mentah-mentah oleh hantaman Tay-lik-sin-mo, keruan ia terpental terhuyung-huyung.
Dalam pada itu, cambuk Long-goat Siansu beruntun dua kali berhasil menyabet punggung Sat Thian-toh.
Dengan menggerung gusar.
Sat Thian-toh membalik tangannya meraup ke belakang dan cambuk lawan kena diraup terus ditarik, Long-goat Siansu tak sang-gup menahan dan ikut tertarik maju, untuk menghindarkan malape-taka, lekas Long-goat melepaskan tangan, karena itu pula Sat Thian-toh yang terlalu bernapsu menarik sekuat tenaga tak keburu mena-han diri sehingga jatuh ti_rjengkang.
Tan Goan-pa tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menubruk ke atas tubuh orang, dengan berguling-guling Sat Thian-toh menda-dak merangkul kencang tubuh Goan-pa, meskipun gigirnya dua kali kena dihantam, namun Tan Goan-pa akhirnya kena ditindihnya di sebelah bawah.
Sesudah dapat merebut kembali cambuknya, Long-goat Siansu menjadi terkejut waktu melihat mereka berdua bergulang-guling sa-ling betot di tanah, dengan cambuknya Long-goat menunggu ke-sempatan, tapi ia tak berani sembarang turun tangan, takut mengenai kawan sendiri.
Tak lama kemudian, Tan Goan-pa kewalahan, kedua tangan-nya kena ditekan lawan, dengan sikunya Sat Thian-toh menahan da-da Goan-pa dan menekan sekuatnya.
Kesempatan itu segera diguna-kan dengan baik oleh Long-goat Siansu, cambuknya segera menya-bet ke belakang kepala Sat Thian-toh.
Saking sakitnya kena pecutan itu, terpaksa Sat Thian-toh melompat bangun sambil mengangkat badan Tan Goan-pa, terus dilemparkan, sesudah itu ia menghadapi Long-goat Siansu dengan sengit.
Di sebelah sana Liu Sian-gai jadi kaget, lekas ia tinggalkan Pat-pi-sin-mo dan melompat ke sana, ia sambut Tan Goan-pa yang dilemparkan itu, lalu dilepas kembali.
Waktu ia mengamati, kepala dan muka Tan Goan-pa babak-belur.
"Bagaimana?"
Tanyanya.
"Tak apa, hanya luka luar saja!"
Sahut Goan-pa dengan me-ngertak gigi.
Setelah itu, dengan menggerakkan kedua tangan, sege-ra ia menerjang maju lagi.
Sementara itu Hian Hong Totiang dan Long-goat Siansu ber-ulang-ulang mundur karena tercecar oleh kedua manusia iblis itu!
Selamanya Goan-pa belum pernah dipedaya orang begitu rupa, keruan api amarahnya memuncak, ketika ia maju bergebrak lagi, ia menjadi makin beringas dan tangkas.
Selang tidak lama, kembali Goan-pa menggunakan ‘Hun-kin-cho-kut’, mendesak maju dengan menghadapi bahaya, ia berhasil memegang pundak Tay-lik-sin-mo dan terns dipuntir.
Tak terduga kembali Sat Thian-toh seperti tak berasa saja, ia angkat tangannya dan Tan Goan-pa terpaksa harus mencium tanah.
"He, kau si cebol ini berulang-ulang menggelitik aku, mau apa kau?"
Teriak Tay-lik-sin-mo mengejek.
Sesudah Goan-pa berbangkit kembali, ia terbungkam tak bisa berkutik.
la telah menggunakan ilmu kebanggaannya, tetapi orang haiiya menganggapnya menggelitik saja, keruan ia mati kutu.
Kiranya Sat Thian-toh berkulit dan bertulang keras laksana kulit tembaga dan tulang baja, bukan saja kebal terhadap senjata tajam, bahkan ilmu ‘Hun-kin-cho-kut’ yang paling lihai juga tak mempan melukainya.
Tadi berulang-ulang ia kena dicambuk dan terjotos, kecuali pecutan Long-goat Siansu paling akhir yang me-ngenai belakang kepalanya itu yang iarasakan rada kesakitan, selain itu, hakikatnya ia tidak anggap sesuatu yang luar biasa.
Sungguhpun Long-goat mempunyai Lwekang yang tinggi, tapi ia pun tak berdaya menghadapi lawan yang tangguh itu.
la berjuluk ‘Siau-mi-lik’, si Budha tertawa, namun sekarang ia tak bisa tertawa, terpaksa hanya melayani musuh dengan sekuat tenaga, sembari ber-tempur sambil mundur!
Sementara itu, setelah Goan-pa bertarung sengit dan kena di-pukul sekali, ia merasakan seluruh rangka tulangnya kesakitan.
"Jite, Site, geser ke sini, kita hadapi mereka dengan berjpjar!"
Terdengar Hian Hong berseru.
Pada kesempatan lain Long-goat Siansu telah menghirup pula seteguk araknya, sesudah itu ia semburkan untuk menyerang kedua mata musuh.
Terpaksa Sat Thian-toh harus menutupi kedua mata-nya, karena itu rangsekannya menjadi kendur, kesempatan baik itu dipergunakan Long-goat dan Goan-pa untuk mundur dengan cepat dan menggabungkan diri dengan Hian Hong Tojin.
Dengan berendeng mereka menghadapi musuh, sudah tentu kekuatan bertahan mereka banyak tertambah.
Sementara itu Pat-pi-sin-mo mundur dengan cepat, Tan Goan-pa coba memburu maju dengan’sebelah tangannya membelah, namun segera ia rasakan angin mendesir tiba, kuku-kuku Sat Thian-ji yang panjang sudah menan-cap di pundaknya.
Dengan cepat pedang Hian Hong Tojin memba-bat untuk menolong kawannya agar tidak terserang lebih jauh, na-mun Sat Thian-ji cukup gesit, ia melompat menghindarkan babatan orang.
Sementara itu Hian Hong telah merogoh sepotong kue kering dari sakunya dan dengan cepat dilemparkan pada Goan-pa sambil berteriak.
"Kuku musuh beracun, lekas telan kue kering itu!"
Goan-pa terkaget, ia menurut, kue kering itu ia kunyah dan ditelan, pundaknya terasa sakit dan panas.
Pada saat itu juga Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh merangsek maju, tetapi Liu Sian-gai mendahului menubruk, dengan Ginkang yang luar biasa, ia tekuk kesepuluh jarinya yang bercincin baja, te-rns dikeprukkan ke kepala Sat Thian-toh dan mengenainya dengan tepat.
Keruan Sat Thian-toh merasa seakan kepala hendak pecah.
Sa-king gusarnya, ia angkat kedua tangan terus menyengkelit sekuatnya hingga Liu Sian-gai terpental sejauh beberapa tombak.
Di pihak la-in, ilmu pedang ‘Loan-pi-hong’ Hian Hong Tojin yang cepat dan li-hai telah menusuk pula sampai di lengan Sat Thian-toh, tetapi de-ngan sedikit mengerutkan daging, pedang itu meleset lewat.
Tiba-tiba Hian Hong tergerak hatinya, ia tahu lawan memiliki Gwakang yang sudah sangat sempurna, maka diam-diam ia kumpulkan tenaga dalam, berbareng pedangnya ia putar balik, keruan Sat Thian-toh memekik kesakitan, ternyata lengannya lecet dan mengucurkan da-rah, ia pun melompat pergi!
Dalam pada itu, Sat Thian-ji mencakar kepala Hian Hong.
Le-kas Hian Hong mengegos, tidak urung pundaknya kena dicengke-ram, cepat ia melompat pergi dan menggeragoti kue kering pemu-nah racun yang ia bawa.
Di sebelah sana Sat Thian-toh yang kena dilukai, walaupun se belah lengannya tidak leluasa bergerak, namun ia masih tetap me-nubruk dan menggempur secara hebat dan lihai sekali!
Sesudah Si-hiap dan Siang-mo saling gebrak secara sengit, lama-kelamaan Hian Hong Tojin dan Tan Goan-pa mulai merasa mual, rasanya hendak muntah.
Kiranya kuku Sat Thian-ji yang bera-cun itu mengandung racun yang paling jahat dari bisa ular yang di-sebut ‘Kim-soa-coa’ atau ular benang emas, sekalipun kue kering yang Hian Hong bekal itu adalah obat terbagus pemunah racun, na-mun hanya bisa menahan menjalarnya racun, racun yang bekerja he-bat dalam perut dengan sendirinya sukar ditahan.
Siang-mo yang lihai itu, yang seorang pandai dalam Ginkang, hantaman dan tubrukannya dari atas sangat membahayakan.
Sedang yang lain memiliki kulit tembaga dan tulang baja yang kebal dan bertenaga luar biasa, sungguhpun Si-hiap juga mempunyai kepan-daian tunggal, akhirnya mereka kewalahan juga.
Sekuat tenaga Hian Hong bertahan sebentar, akhirnya ia mun-tahkan air kuning, cepat Sat Thian-ji berkelit.
Tiba-tiba Hian Hong sadar.
"Jite, Samte, lekas keluar dari kalangan!"
Serunya.
"Jite se-rang mata mereka dengan arak dan Samte mengepruk kepala mere-ka dengan cincin bajamu!"
Begitulah ketika Sat Thian-ji mengangkat kuku hendak men-cakar, Liu Sian-gai dan Long-goat Siansu berdua keburu melompat pergi dahulu.
Habis itu tanpa ayal Long-goat segera membuka mulut dan menyemprot, dua arus arak segera mengincar kedua mata Pat-pi-sin-mo.
Dengan sekali memutar badan, cepat sekali Sat Thian-ji melu-putkan diri dari serangan arak tadi.
Dalam pada itu, mulut Long-goat Siansu telah mangap lagi, kini kedua arus perak itu menuju ke muka Sat Thian-toh, mengincar kedua matanya.
Tay-lik-sin-mo yang Ginkangnya tidak setinggi saudara tua-nya itu, terpaksa harus melindungi kedua mata dengan sebelah ta-ngannya dan dengan tangan lain ia melayani musuh, arus arak kena pada tangannya yang lebar besar dan muncrat beterbangan, meski-pun mengenai badannya, karena kebal, dengan sendirinya ia tak ta-kut.
Namun justru pada saat itu juga, pedang Hian Hong Tojin ber ulang tiga kali menusuk pula.
Sat Thian-toh terpaksa harus melom-pat sini dan menghindar ke sana dengan kalang kabut.
"Plok,"
Ter-dengar suara keras, kepalanya kena dikepruk sekali oleh cincin baja Liu Sian-gai.
Pada umumnya orang yang berlatih Gwakang atau kekuatan luar, selalu ada titik lemah dan menjadi ciri yang dapat mengaki-batkan luka atau binasa baginya, kecuali itu, seperti di atas kepala, tempat ubun-ubun, pelipis, selangkangan dan beberapa tempat Iain-pun merupakan tempat kelemahan, walaupun tidak sampai memba-hayakan jiwanya apabila terpukul, tetapi kalau pemukulnya memi-liki tenaga besar, sudah tentu sakitnya tak tertahan juga.
Keruan Sat Thian-toh yang kena dikepruk kesakitan, sampai matanya berkunang dan berteriak.
Di lain pihak, serangan Hian Hong tidak menjadi kendur, sinar pedang berkelebat, ia menusuk ke tempat berbahaya musuh.
Secepat kilat Sat Thian-ji menubruk dari atas, sepuluh kuku jarinya laksana kait segera mencengkeram untuk menolong saudaranya.
Tetapi Hian Hong Tojin tak gampang dipecundangi, ia berpu-tar cepat terus mundur ke belakang, ketika Sat Thian-toh merangsek bersama Sat Thian-ji, Long-goat Siansu segera menyemprotkan arak secara beruntun mengarah mata musuh.
Di antara Si-hiap atau empat pendekar, Lwekang Long-goat hanya sedikit di bawah Hian Hong, kepandaiannya menyembur arak untuk melukai orang sudah dilatih sedemikian rupa hingga tak dapat diduga orang.
Ia bisa menyemprotkan arak laksana rantai perak dan sekaligus dalam beberapa kali, ia mahir pula membuat arak menjadi peluru laksana hujan es untuk mengarah kedua mata musuh dan su-kar dihindari.
Sungguhpun Siang-mo terhitung tokoh silat kaliber besar, tetapi harus melayani senjata rahasia seaneh itu, di samping masih harus menghadapi tiga pendekar lain yang mengeroyok ber-bareng, mau tak mau mereka merasa kerepotan juga.
Dengan cara begitu, kedudukan masing-masing pihak segera berubah, kalau tadi pihak Siang-mo berada di atas angin, sebaliknya kini Si-hiap berada di pihak penyerang, mereka mengeluarkan ke-pandaian yang hebat untuk mendesak Siang-mo, hingga mereka ter paksa melompat ke sini dan menghindar ke sana.
Dalam pertarungan sengit itu, beruntun Sat Thian-ji berhasil menghindarkan peluru arak dan mengegoskan cincin baja, lalu ia mengulur kuku hendak mencengkeram Tan Goan-pa.
Tetapi Hian Hong pun memperlihatkan ketangkasannya, pedang dimainkan se-demikian hebat, tiap serangan selalu merupakan ancaman berbahaya bagi Pat-pi-sin-mo.
Terpaksa Sat Thian-ji harus mengeluar-kan ilmu silat Niau-eng-jiau yang tinggi, mendadak ia meloncat ke atas, dengan gerakan hendak mencakar ia membikin jeri Liu Sian-gai se-hingga terpaksa mundur, sesudah itu dengan berjumpalitan ia turun kembali ke bawah.
Selagi ia hendak menyapa Sat Thian-toh agar cepat mundur, sekonyong-konyong Pang Ing yang berada dalam gendongannya, rupanya terlalu keras ikut dipontang-pantingkan, kembali menjerit menangis lagi.
Suara pekik tangis yang mendadak itu membikin Sat Thian-ji jadi tertegun, sementara itu Long-goat Siansu telah menyemburkan araknya lagi dan dengan cepat menyambar ke mukanya.
Lekas Sat Thian-ji menghindar, tetapi segera ia dipapaki ujung pedang Hian Hong, sinar perak gemerdep menusuk ke tenggorokannya dari sam-ping.
Untung Sat Thian-ji masih sempat menundukkan kepala dan sedikit mendak, terasa angin tajam menyambar tiba, ia menduga tu-sukan pedang sekali ini tentu sukar dihindarkan, oleh karena itu ia kumpulkan tenaga dan kerutkan otot daging dengan harapan mengu-rangi lukanya.
Tak terduga, justru pada detik itu, jerit tangis Pang Ing makin menjadi-jadi.
Hal ini justru telah menyelamatkan Sat Thian-ji.
Kiranya pada waktu tusukan pedang Hian Hong sampai, ke-betulan Sat Thian-ji menunduk dan membungkuk hingga paras mu-ka Pang Ing yang merah jambu dan mungil menongol keluar.
Se-benarnya tusukan Hian Hong ini hendak mengarah tempat yang ber-bahaya pada leher Sat Thian-ji, tapi karena muka Pang Ing men-dongak mendadak hingga merintangi serangannya.
Ketika si kecil tiba-tiba menampak sinar pedang yang gemerdep, kembali ia men-jerit ketakutan Dengan susah payah Hian Hong akhirnya mendapat kesem-patan bagus itu, tapi ternyata terganggu oleh Pang Ing, seumpama Si-hiap dan Siang-mo mempunyai dendam betapa besarpun, serang-an Hian Hong juga tak tega diteruskan.
Kaum ahli bertanding hanya tergantung dalam sekejap saja, Hian Hong merandek oleh keraguannya tadi dan tak jadi menusuk, maka ia berbalik kena dicakar oleh Sat Thian-ji yang telah memba-liki tangannya, lima guratan pada pergelangan tangan Hian Hong se-gera tertampak dan pedang pun terjatuh.
Nampak saudara tuanya berhasil, Sat Thian-toh pun tak mau ketinggalan, dengan suitan aneh, ia menubruk maju juga.
Ia me-mukul secepat kilat ke arah kepala lawan.
Tadi ia kena dilukai sekali oleh Hian Hong, maka kemurkaannya sudah memuncak, pukul-annya ini mempergunakan seluruh tenaganya, ia berniat menghan-cur-luluhkan Hian Hong Tojin!
Mengetahui bahaya yang mengancam rekannya, Tan Goan-pa tak menghiraukan resiko yang ia hadapi, dengan mengadu jiwa ia memukul dengan kedua tangannya dari samping.
Keruan tiga tangan segera bertemu, di antara suara "plak-plok"
Yang keras, tangan kiri Tan Goan-pa yang beradu paling berat segera menggantung ke ba-wah, saking serunya benturan tadi, tulang pergelangan tangannya tergetar patah.
Sebaliknya tenaga pukulan Sat Thian-toh yang amat keras ma-sih terus menggebrak, kontan Hian Hong Tojin terpental setombak lebihjauhnya.
Sat Thian-toh masih belum puas, ia tinggalkan Tan Goan-pa, segera ia memburu dan menubruk secara kalap, ia hendak mengha-bisi jiwa Hian Hong.
Untung Lwekang Hian Hong Tojin sudah sangat dalam, di-tambah Tan Goan-pa yang telah menangkiskan dahulu, maka tenaga serangan Sat Thian-toh sudah banyak berkurang, maka pukulan yang mengenainya tadi tidak sampai melukai, namun begitu ia su-dah tak bisa berdiri tetap hingga terpental.
Melihat gelagat jelek, Liu Sian-gai dan Long-goat Siansu lekas memburu maju, mereka me-ngerubut Pat-pi-sin-mo, karena tahu kepandaian Sat Thian-ji di atas Sat Thian-toh, sesudah Hian Hong terpukul, untuk melawan Sat Thian-toh mungkin masih sanggup, tapi untuk menahan Sat Thian-ji terang tak kuat, oleh karena itu mereka membiarkan Sat Thian-toh memburu Hian Hong, sedang mereka menghalangi Sat Thian-ji.
Setelah Hian Hong terkena racun cakaran, urat nadi tangan ka-nannya terasa panas sakit bercampur kaku gatal, ia menduga luka-nya tentu tidak enteng.
Sementara itu Sat Thian-toh secara kalap da-ri belakang menubruk pula, keruan api amarahnya pun memuncak.
"Baiklah aku adu jiwa padamu!"
Teriaknya dengan murka.
Ia kumpulkan tenaga dan tongkatnya diayun, sekali membalik segera ia menghantam.
Karena terlalu mengandalkan tubuhnya yang kebal, Sat Thian-toh merangsek maju tanpa berkelit atau menghin-dari serangan lawan, beruntun ia pun memukul, tetapi segera terde-ngar suara gebrukan yang keras, iganya kena disodok sekali oleh tongkat lawan.
Sebenarnya tempat iga itu bukan titik lemah latihan kekebalannya, lagi pula bukan tempat bahaya, senjata biasa saja tak bisa melukainya, tapi kini kena disodok, mau tak mau ia merasa sa-kit yang meresap tulang, betapa tinggi Gwakang Tay-lik-sin-mo ju-ga tak sanggup menahan, ia memuntahkan darah segar, dua tulang iganya ternyata patah!
Dalam pada itu, Hian Hong masih mengamuk dengan hebat, tongkatnya menyapu dan mengemplang laksana angin badai dan hu-jan keras tiada hentinya.
Kini Sat Thian-toh sudah tak berani sem-barang menerima pukulan lawan dengan tubuhnya, berulang ia me-lompat berkelit, berbareng dengan kekuatan ‘Tay-kim-kong-jiu’, ia berusaha mengguncang pergi tongkat lawan.
Dalam pertarungan sengit itu, tenaga serangan tongkat dirasa-kan Sat Thian-toh luar biasa, sebaliknya Hian Hong pun merasa ke-kuatan pukulan musuh seperti getaran halilintar, masing-masing pi-hak tiada yang berani memandang enteng lawan lagi.
Waktu pertarungan sengit memuncak, tongkat Hian Hong me-nyerampang sekuatnya beberapa kali, dengan melompat Sat Thian-toh dapat menghindar, tetapi tongkat Hian Hong mengenai sepotong batu gunung di pinggir, di antara remukan batu yang beterbangan, tiba-tiba menggelundung keluar seorang dari balik batu itu.
"Hian Hong Totiang, lekas tolong aku!"
Terdengar orang itu berseru.
Orang itu bukan lain ialah Teng Hiau-lan.
Ia kena ditutuk Sat Thian-ji yang membuat tubuhnya kaku tak bisa bergerak dan ditaruh di tengah apitan dua batu besar, dengan mata kepala sendiri ia me-nyaksikan pertempuran yang maha dahsyat itu hingga mulut ternga-nga, suara bentakan saling kejar akhirnya mendekat dan mendadak batu terpukul nancur, tubuhnya tergetar keras, tiba-tiba jalan darah-nya jadi lancar, kiranya Hiat-to yang ditutuk tadi kebetulan tergetar lepas.
"Kau siapa?"
Tanya Hian Hong.
"Aku adalah si bocah yang dulu dipungut Ciu Jing!"
Seru Hiau-lan sambil melompat keluar dari timbunan remukan batu.
Hian Hong terkejut, tapi beberapa hantaman tongkatnya segera membikin Sat Thian-toh haras mundur, sesudah itu ia memburu ke dekat Teng Hiau-lan.
"O, kiranya kau berada di sini!"
Serunya lagi.
"Totiang, pakailah pedangku ini!"
Teriak Teng Hiau-lan sambil mengangsurkan Yu-liong-kiam padanya.
Pada waktu sebelum memenuhi janji pertemuan sepuluh tahun yang lalu dengan Pang Kong-tiau, Ciu Jing pernah menemui Hian Hong di Kwantang.
Rupanya selama tiga puluhan tahun Ciu Jing menjadi buronan dan kerap kali haras menghadapi bahaya, ia kha-watir suatu ketika dirinya mungkin tiada harapan lagi, maka lebih dulu ia minta bantuan Hian Hong agar kelak suka mengawasi murid kesayangan satu-satunya itu di Kangouw.
Waktu itu Hian Hong pernah bertanya.
"Rupa orang muda gampang berubah, bagaimana aku bisa mengenalnya hanya menurat apa yang kau sebutkan?"
Atas pertanyaan itu Ciu Jing berpikir sejenak, lalu ia menja-wab.
"Soal ini gampang, kelak bila kau temukan pemuda menggu-nakan Yu-liong-kiam, maka itulah dia!"
Hian Hong Tojin adalah sahabat sehidup-semati Ciu Jing, oleh karena itu, tanpa ragu ia lantas berjanji.
Belakangan, pada waktu Ciu Jing bertarung sengit melawan kaum Hiat-ti-cu di kotaraja, karena sukar melawan musuh yang ba nyak, ia diuber dari ibukota sampai Holam.
Ketika Ciu Jing dikejar, Kwantang-si-hiap pun sudah menerima kabar itu, pertama karena hendak menolong sahabat lama, kedua waktu itupun mereka hendak hadir dalam pertemuan orang-orang gagah lima propinsi utara, maka Hian Hong mengumpulkan saudara-saudaranya ikut menyusul ke selatan.
Tak tahunya baru sampai di Bingcin mereka sudah bertemu dengan orang-orang gagah yang lolos dari Thay-hing-san, karena keganasan Siang-mo, tidak sedikit kawan-kawan baik mereka yang terbunuh secara mengerikan.
Karena keadaan genting, maka mereka naik gunung berbareng untuk menempur Siang-mo.
Dan sama sekali tidak mereka duga bahwa dalam pertarungan sengit ini mendadak Teng Hiau-lan bisa muncul!
Setelah Hian Hong Tojin menerima pedang yang diangsurkan itu, ia menyentilnya beberapa kali, lalu bersuit panjang hingga suara menggema.
"Baiklah, kau ikut aku menerjang pergi!"
Sahutnya de-ngan senang.
Sebaliknya Pat-pi-sin-mo menjadi ribut melihat Teng Hiau-lan hendak diajak pergi Hian Hong, ia menghantam serabutan untuk memaksa mundur Long-goat Siansu dan Liu Sian-gai, habis itu de-ngan suara tajam ia berseru.
"Hian Hong keparat, berani kau rebut muridku!"
Menyusul, dengan sekali enjot tubuh, ia unjuk kepandaian is-timewa Niau-eng menubruk dari atas, tiga kali turun-naik, menda-dak ia meloncat lebih tiga tombak tingginya, ia ulur kesepuluh kuku tangannya yang panjang tajam lagi’beracun terus mencengkeram da-ri atas.
Lekas Hian Hong angkat Yu-liong-kiam ke atas.
Sat Thian-ji yang tubuhnya terapung di udara, terus berputar dan tetap menceng-keram ke bawah.
Serangan elang kucing biasanya tidak pernah me-leset, ia mengira dapat menghindarkan pedang musuh, tak tahunya Yu-liong-kiam adalah pedang pusaka, ujung pedang bersinar meng-kilap mengikuti ayunan Hian Hong, tiba-tiba seperti bisa mulur le-bih panjang, kontan lima kuku jari Sat Thian-ji sebelah kanan yang panjang itu terpapas hampir separoh.
Tidak kepalang gusar Sat Thian-ji, dengan menggerung ia ba lik ke bawah, sekali mencengkeram, tangan kanannya hendak men-cakar lengan Hian Hong, berbareng tangan kiri menjulur menceng-keram pundak Teng Hiau-lan.
Cepat Hian Hong membalikkan pedang, memotong dari ba-wah ke atas, lekas Sat Thian-ji menarik tangannya, tetapi kuku ta-ngan kiri tetap menuju pundak Teng Hiau-lan.
Untuk menolongnya, Hian Hong gunakan tipu ‘Kim-tiau-tian-sit’ (garuda pentang sayap), secepat kilat mencegat tangan Pat-pi-sin-mo, ia memotong ke tengah.
Rupanya Sat Thian-ji jeri juga menghadapi Pokiam, tubuhnya berputar dengan cepat, pedang Hian Hong menyelusup lewat di ba-wah ketiaknya, sedang cakaran tangan kiri Sat Thian-ji dengan sen-dirinya diurungkan.
Wajah Teng Hiau-lan menjadi pucat dan menjerit kaget.
Sementara itu Hian Hong tidak pernah mengendurkan pedang-nya, dengan gerakan ‘Giok-li-tau-so’ (si putri melempar tali) terus ‘Kim-khe-jio-bi " (ayam emas berebut beras),-beruntun beberapa se-rangan ia memotong ke pinggang dan membabat pundak musuh.
Sudah tentu Sat Thian-ji tidak gampang dipedayai, kepandai-annya meniru cara elang kucing berkelit dan menubruk tidak dapat dipandang enteng.
Keuletan Sat Thian-ji masih di atas Hian Hong, ditambah dia sudah terluka pula, sebenarnya Hian Hong tidak sang-gup menandingi, tapi karena ia memakai Pokiam, tentu lebih meng-untungkannya.
Sebaliknya pada waktu Sat Thian-ji hendak menyerang, ia ha-rus memperhitungkan tekanan pedang lawan dan tak berani semba-rang mendekat.
Pada saat itu juga, ‘Ban-li-tui-hong’ Liu Sian-gai rnaju menge-rubut, sepuluh cincin bajanya menggempur dengan hebat.
Bersama Hian Hong, mereka mengeroyok dari muka-belakang, dengan cara begitu serangan Sat Thian-ji yang sangat lihai dapat dibendung.
Pada kesempatan lain, Hian Hong merogoh keluar dua potong kue kering pemunah racun, yang sepotong ia lemparkan pada Teng Hiau-lan dan yang lain segera digeragoti dengan bernapsu.
Pada saat itu juga, Liu Sian-gai yang harus menghadapi serangan Pat-pi-sin-mo sudah terdesak hingga terpaksa berulang-ulang mundur!
Di samping sana, Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh juga sedang memaksa Long-goat Siansu dan Tan Goan-pa berulang kali lari ke kanan dan melompat ke kiri untuk menghindari serangannya.
Kare-na melihat gelagat tidak menguntungkan, Hian Hong merasakan lu-ka di tangan kanan makin sakit pegal, akhirnya ia menjadi nekat.
Teng Hiau-lan paling rendah kepandaiannya, sesudah kena ca-karan tadi, meskipun menelan kue pemunah racun, namun masih merasa tak tahan, kepala dirasakan pening dan pandangan mata menjadi gelap, ia sempoyongan hendak roboh.
Dalam pada itu Long-goat pun kena dicakar sekali.
Hian Hong Tojin njembatin, empat serangkai di antaranya tiga sudah terluka, kalau pertempuran diteruskan tak usah disangsikan lagi pasti akan kalah.
Ketika berpikir, kembali Sat Thian-ji menubruk dan menghan-tam dari atas dengan gaya serangan elang kucing, sekali cengkeram ia berniat menjambret Teng Hiau-lan.
Namun Hian Hong keburu membentak keras, Yu-liong-kiam membabat ke atas, pada waktu Sat Thian-ji haras berputar balik untuk berkelit, tongkat di tangan kiri Hian Hong mendadak ditimpukkan, gerak serangan ini adalah tipu serangan terakhir pada waktu terancam bahaya yang disebut ‘Pek-hong-koan-jit’ (pelangi menembus sinar matahari).
Pada saat tubuh Sat Thian-ji masih terapung, terpaksa ia haras terima sambitan tong-kat itu dengan telapak tangannya, segera terdengar suara "plak", te-pat tengah telapak tangannya terjojoh hingga rasa sakitnya meresap tulang.
Lekas Pat-pi-sin-mo berjumpalitan dan kemudian menancap-kan kaki kembali ke tanah, tetapi Pang Ing yang berada di gendong-annya kembali menangis, suara tangisannya malah sudah serak.
Sementara itu Hian Hong lekas membangunkan Teng Hiau-lan dan diserahkan kepada Liu Sian-gai sambil berpesan.
"Samte, kau bawa dia lari, menuju ke barat daya dan naik ke Bin-san!"
Liu Sian-gai merasa heran atas pesan Suhengnya itu, mengapa harus naik ke Bin-san?
Pada saat yang menentukan mati-hidup me-reka itu, tak mungkin ada kesempatan bertanya lagi.
Segera ia ang-kat Hiau-lan ke atas punggung.
"Pisahkan diri secara berkelompok, tak usah tunggu aku!"
Ter-dengar Hian Hong berseru pula.
Liu Sian-gai biasanya sangat menghormati Suhengnya, maka tanpa buka suara lagi segera ia keluarkan kepandaian aslinya Ban-li-tui-hong (pemburu angin berpuluh ribu li) yang menggambarkan ke-cepatannya berlari jarak jauh, segera ia kabur turun gunung dengan membawa Teng Hiau-lan.
Sementara itu dengan pedang terhunus Hian Hong mengha-dang musuh di sebelah belakang untuk melindungi Long-goat Sian-su dan Tan Goan-pa, mereka kabur juga melalui jurusan lain.
Ketika Sat Thian-ji selesai membubuhi obat dan membungkus lukanya, sementara itu Si-hiap sudah kabur melalui dua jalan.
"Kau pergi kejar si hidung kerbau itu (hidung kerbau mengo-lok Hian Hong) dan aku yang memburu si pemuda!"
Kata Pat-pi-sin-mo pada saudaranya sesudah berpikir sejenak.
Sungguhpun Sat Thian-ji gemas terhadap Hian Hong, tapi ia berpendapat kelompok Hian Hong bertiga ini sudah terluka semua, cepat atau lambat akhirnya akan lumpuh juga oleh serangan racun kukunya, walaupun kepandaian Sat Thian-toh lebih rendah, namun hanya sedikit terluka luar saja, dengan satu lawan tiga masih sang-gup.
Sebaliknya Liu Sian-gai memiliki Ginkang yang sempurna, ka-lau Sat Thian-toh yang mengejar pasti takkan bisa kecandak.
Apa-lagi Teng Hiau-lan yang dibawa kabur Liu Sian-gai adalah pemuda berbakat yang jarang ditemukan dalam dunia persilatan, keinginan mendapatkan murid yang baik dari Sat Thian-ji rupanya mendorong dia untuk mengejar lebih jauh.
Dengan langkah lebar secepat terbang, tak ayal lagi Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji segera mengejar Liu Sian-gai.
Ginkang kedua orang tidak terlalu jauh berselisih, tetapi Liu Sian-gai menggendong seorang dewasa, sedang Sat Thian-ji hanya menggendong anak bayi, dengan bandingan itu, terang Liu Sian-gai menderita rugi.
Walau-pun begitu, Liu Sian-gai memperoleh kesempatan lari dahulu, oleh karena itu meski Sat Thian-ji mengejar setengah harian toh masih tetap tidak nampak bayangan Liu Sian-gai.
Bin-san ada di sebelah barat propinsi Holam, termasuk anak cabang gunung Cin-nia-san, jaraknya dari Thay-hing-san kira-kira empat lima ratus li.
Pada waktu lohor hari kedua, Liu Sian-gai sudah sampai di kota Sin-an, apabila maju lagi adalah Ham-kok-khay dan Bin-san sudah dalam pandangan mata.
Dalam pada itu, Teng Hiau-lan yang terluka, racunnya bekerja hebat, sampai di Sin-an ia sudah tak mampu bicara lagi.
Liu Sian-gai membawanya mengaso pada sebuah rumah pon-dok untuk menyedot darah dan memunahkan racunnya, setelah itu perlahan-lahan baru Teng Hiau-lan sadar kembali.
Sebenarnya Liu Sian-gai berniat menyembunyikan diri dahulu di rumah pondokan ini, sesudah Sat Thian-ji mengejar lewat baru ia akan melanjutkan perjalanannya.
Tidak terduga pada sore harinya, tiba-tiba ia dengar di luar kamar ada suara tangisan anak kecil, wak-tu ia singkap kerai dan melongok keluar, ia menjadi terkejut, kira-nya yang di luar ialah Pat-pi-sin-mo yang sedang menyuapi Pang Ing makan bubur, ternyata iblis itupun menginap di rumah pondok-an yang sama.
Begitu Liu Sian-gai menongol, segera ia kepergok Sat Thian-ji.
Dengan cepat Thian-ji menggendong kembali Pang Ing, dengan langkah lebar ia menghampiri Liu Sian-gai.
Sementara itu di dalam kamar, Liu Sian-gai cepat mengangkat Teng Hiau-lan pula, sekali pukul ia bikin remuk ruji jendela, segera ia menerobos keluar dan melarikan diri lagi.
Ketika Sat Thian-ji berhasil mendobrak pintu, ia pun menyu-sul melompat keluar jendela terus memburu.
Sedang pengurus hotel berteriak-teriak "maling"
Di belakang mereka, sementara itu mereka sudah jauh sampai di jalan besar.
Sin-an hanya kota kecil, tapi karena hari belum gelap, dengan sendirinya masih ramai dengan orang yang berlalu-lalang.
Dengan saling kejarnya mereka berdua sepanjang jalan raya, keruan keadaan seketika menjadi kalang-kabut.
Justru karena itu makin menjadikan tak sabarnya Sat Thian-ji, ia tumbuk dan tabrak orang-orang di jalan yang ia pandang merintanginya, sebab itu pula ia agak terhalang, sedang Liu Sian-gai sementara itu sudah sampai di luar kota.
Bukan main gemasnya Sat Thian-ji, ia keluarkan seluruh ke-mahiran Ginkangnya untuk memburu bayangan Liu Sian-gai yang lapat-lapat masih tampak.
"Hayo, sekalipun kau lari ke pucuk langit juga Locu (bapak) akan menjolokmu turun!"
Cacinya dari belakang saking gemasnya.
Namun Liu Sian-gai tak menghiraukan pengejarnya, ia bung-kam seribu bahasa, terus berlari sekencang-kencangnya.
Tak lama kemudian, kembali ia meninggalkan Pat-pi-sin-mo hingga jauh.
Sesudah matahari terbenam dan bulan mulai muncul dari balik pegunungan, dari jauh Liu Sian-gai sudah mendengar suara ombak bergemuruh mendampar, ia mengerti sudah sampai di tepi Hongho (Huangho).
Pegunungan Yao-san dan Bin-san membentang luas berdekat-an dengan Hongho, sejak dulu kala diakui sebagai tempat berbaha-ya.
Waktu Liu Sian-gai mendongak memandang ke atas, ternyata Bin-san sudah tegak berdiri di depannya, dua puncak gunung Bin-san dan Yao-san berjajar dengan tebing yang curam, di sebelah se-latan gunung adalah Hongho.
Diam-diam Liu Sian-gai merasa senang, pegunungan itu begi-tu curam dan berbahaya, Ginkang Sat Thian-ji belum bisa memadai dia, bila lawan dapat memanjat sampai di atas gunung, dirinya tentu sudah melintas ke sebelah gunung sana.
Segera Liu Sian-gai mendaki gunung itu, ia naik ke induk pun-cak sebelah timur, makin jauh makin hebat, hutan belukar tumbuh dengan lebatnya dan duri tumbuhan berserakan memenuhi jalanan, bercampur pepohonan beraneka warna yang tak teratur berbaris di kedua pinggir jalan.
Dengan hati-hati Liu Sian-gai maju terus ke atas, tak lama ke-mudian di depan terlihat lereng gunung yang curam gelap, tebing menonjol di sana-sini.
Dengan menggendong seorang dewasa, seca-ra susah payah di bawah cahaya bulan, Liu Sian-gai memilih tempat yang dapat dibuat menancapkan kaki, ia naik dan panjat dengan ber-bagai akal, ketika mencapai ketinggian tujuh delapan tombak, ia li-hat batu-batu cadas aneh dan bermacam-macam, dipandang di ma-lam hari terasa seram.
Liu Sian-gai mengumpulkan semangat, ia bedakan dahulu arah yang hendak dituju, lalu menerobos maju melalui lekukan yang ba-nyak berserak batu itu.
Tak lama, tiba-tiba pandangan matanya terbeliak, temyata di depan terbuka luas, berupa sebuah lembah kecil yang mengitari pun-cak gunung, di samping puncak itu menggelantung sebuah air terjun yang airnya berhamburan laksana taburan mutiara, pemandangan di situ indah menarik.
Namun Liu Sian-gai tidak menghiraukan, tak sempat menikmatinya.
Selagi ia hendak menyusuri lembah itu untuk memanjat ke lereng sebelah sana, mendadak dari pinggir gerujukan air itu muncul seseorang.
Liu Sian-gai tercengang melihatnya.
Orang itu ternyata seorang gadis, raut muka berpotongan daun sirih, mata besar, alis panjang lentik, tertampak jelas sekali kecan-tikannya.
Sungguh di luar dugaan Liu Sian-gai bahwa di pegunung-an sunyi itu bisa tersembunyi seorang gadis secantik itu.
"Tuan tamu ada urusan apakah malam-malam begini naik ke gunung sini?"
Terdengar gadis itu menegur. Lebih dulu Liu Sian-gai menenangkan pikiran, sesudah itu ba-ru menjawab.
"Nona, harap kau jangan urus aku!"
Mendapat jawaban yang kurang memuaskan, si gadis tertawa geli.
"Justru aku suka mengurus orang lain!"
Katanya bandel.
Belum habis perkataannya, mendadak ia enjot tubuhnya dan melompat ke atas, di antara kesiur angin pegunungan malam yang sepoi-sepoi dan lambaian ujung bajunya, laksana dewi kahyangan yang turun tiba-tiba, tahu-tahu ia sudah mendahului menghadang di depan Liu Sian-gai.
Melihat gerakan Ginkangnya yang luar biasa itu, Liu Sian-gai terjuluk ‘Ban-li-tui-hong’, tak urung diam-diam merasa kagum.
"Aku mengerti kepandaian nona yang tidak biasa, tetapi harap jangan mempersulit aku yang sedang buron ini!"
Kata Sian-gai sam-bil merangkap tangan memberi hormat, setelah ia melihat kepan-daian orang yang tinggi itu.
"Eh, orang buron? Mengapa kau buron, coba ceritakan yang jelas!"
Sahut gadis itu dengan heran, matanya mengerling tajam. Keruan Liu Sian-gai jadi kelabakan karena dirintangi.
"Sudah lah nona, musuh yang mengejar sudah hampir tiba, berlakulah mu-rah hati, biarlah aku lewat!"
Katanya pula dengan tak sabar.
"Tidak boleh!"
Sahut si gadis tanpa menghiraukan orang lain sedang khawatir atau tidak.
Dalam pada itu, dari jauh sudah berkumandang suara suitan aneh.
Tak tertahan pula dongkol Liu Sian-gai atas recokan si gadis, kedua kakinya menutul, ia segera melayang miring maju.
Tak terdu-ga, baru saja ia dapat menancapkan kaki kembali, tahu-tahu si gadis dengan tersenyum simpul sudah menghadang di depannya.
Liu Sian-gai dijuluki Ban-li-tui-hong yang menggambarkan kesebatan dan kecepatannya dalam ilmu entengi tubuh, ilmunya itu memang sudah tiada lawan di dalam Bu-lim, tak terduga akan ter-jungkal dengan seorang gadis muda belia.
Ia merasa penasaran, tu-buhnya melayang naik pula, ia melayang ke sebelah timur.
Tak ta-hunya baru sebelah kakinya menempel tanah, si gadis kembali su-dah berdiri di depannya lagi.
"Kau menggendong orang, tentu tak leluasa berlompatan, ba-iknya kau taruh dulu anak besar itu!"
Ujar si nona dengan tersenyum manis, entah mengejek atau bersungguh-sungguh.
Bukan main mengkal Liu Sian-gai, selama hidup ilmu yang paling ia banggakan adalah Ginkang, oleh karena itu ia tak mau me-nyerah mentah-mentah, keinginannya untuk menang segera timbul, betul juga, ia lantas menaruh Teng Hiau-lan yang digendong itu, la-lu ia pentang kedua tangan, terus mengenjot tubuh laksana burung menjulang ke langit, ia bermaksud melayang ke atas puncak yang terjal.
Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar angin mendesir di sam-ping telinganya, segumpal bayangan putih telah melayang lewat.
Se-tiba di atas puncak, ternyata masih tetap didahului si gadis tadi yang masih menghadang di depannya.
Bahkan gadis itu melepaskan pula tangannya, sesosok tubuh telah ia letakkan ke bawah.
"Bagaimana?"
Tanyanya kemudian dengan tertawa.
Rupanya ia mewakilkan Liu Sian-gai menggendong Hiau-lan, setelah itu baru ia keluarkan Ginkangnya menyusul ke atas, dengan cara begini ternyata Liu Sian-gai tetap kalah cepat.
Tanpa terasa Liu Sian-gai menjadi kesal dan putus asa.
"Su-dahlah, sudahlah! Selamanya aku anggap Ginkangku sudah tiada tandingan, tak terduga di bumi ini masih ada orang pandai seperti kau!"
Katanya dengan menghcla napas panjang.
"Tetapi kau pun sangat hcbat!"
Sahut gadis itu dengan tertawa.
Sementara itu Teng Hiau-lan yang terluka berat.
seluruh tubuh tak bertenaga, hanya masih mempunyai perasaan.
Waktu ia dikem-pit olch si gadis dan kemudian melayang naik ke atas puncak mirip terbang, ia jadi terkesima dan memandang si gadis dengan mata ler-buka Icbar.
"Kau sebenamya manusia atau arvvah halus di pegunungan si-ni?"
Tanya Hiau-lan tak tahan melihat wajah si gadis yang cantik itu. Gadis itu tertawa gcli, segera ia mengerut kening demi nam-pak luka orang.
"He, bagaimana kau bisa terluka parah?"
Tanyanya. Sementara itu suara suitan aneh tadi sudah makin dekat.
"Si iblis sudah datang, lekas biarkan aku lari!"
Kata Sian-gai dengan gclisah. Pada saat itu juga. bayangan hitam di lembah gunung sana ma-kin lama makin membesar. dalam sekejap saja Pat-pi-sin-mo sudah menampakkan diri.
"Haha, Liu Sian-gai, kau bolch lari sampai ke ujung langit, aku pun akan mengejarmu sampai ujung langit!"
Seru iblis itu.
"Nona, lekas minggir. biar aku lari!"
Pinta Sian-gai pula.
"Apakah orang itu yang melukaimu?"
Tanya si gadis sambil menarik Teng Hiau-lan ke sampingnya. Ia tidak hiraukan permin-taan Liu Sian-gai.
"Betul dia!"
Sahut Hiau-lan sembari menumuk Pat-pi-sin-mo. Si gadis menjadi gusar.
"Baik, aku balaskan menusuknya se-kali dengan pedangku!"
Katanya. Habis itu, ia serahkan Teng Hiau-lan kepada Liu Sian-gai sambil berpesan.
"Jaga dia baik-baik, tak usah kau takut dan lari!"
Habis berkata, dengan gerakan cnteng ia melayang turun dari atas puncak. Waktu mata Sat Thian-ji terbeliak, seorang gadis sudah berdiri di depannya.
"Kau bocah perempuan ini lekas menyingkir, aku tak kan melukaimu!"
Bentak Pat-pi-sin-mo.
Biasanya Sat Thian-ji membunuh orang tanpa kenal ampun, mana dia mau membiarkan orang menghalanginya.
Tapi karena me-lihat gadis di depannya ini cantik molek, maka agak timbul rasa sa-yangnya, kalau tidak, siang-siang ia sudah turan tangan melukainya.
"Bagaimana, kau yakin bisa melukai aku?"
Tanya si gadis atas bentakan orang tadi.
Akan tetapi Sat Thian-ji tidak peduli jawaban itu, ia enjot tu-buh dan melayang ke atas, selagi hendak mengapung lebih tinggi lagi, mendadak suara nyaring si gadis membentak di pinggir telinga-nya.
"Tak boleh kau naik!"
Keruan saja Sat Thian-ji menjadi gusar.
"Baiklah, kau sendiri yang mengantar jiwa, jangan kau salahkan aku!"
Bentaknya.
Habis itu, sepuluh jari kukunya menjulur, segera ia cengkeram ke bawah, tetapi di antara suara tertawa cekikikan, gadis itu berge-rak, angin lembut mendesir, tahu-tahu ia sudah menghilang!
Dengan sebelah tangan Sat Thian-ji melindungi diri, tangan kanan mencengkeram menurut arah suara angin.
"Serangan keji sekali!"
Bentak si gadis tiba-tiba.
Sesudah itu sinar hijau tiba-tiba berkelebat, ia keluarkan pedangnya, dengan ce-pat sekali dua tusukannya menyerang tempat berbahaya Sat Thian-ji, gaya serangannya begitu tepat dan cepat, tampaknya berada di atas Hian Hong Tojin.
Bukan main terkejutnya Sat Thian-ji.
ia mengerti telah mene-mukan tandingan tangguh.
"Bagus!"
Bentaknya sambil mengegos, kemudian ia membalik dengan cepat, dengan gerakan ‘Hong-tian-lo-hoa’ (angin meniup bunga rontok), beruntun ia hindarkan dua kali tusukan itu.
Ia tidak berani ayal, pada kesempatan gadis itu menarik pe-dangnya dan belum mengubah lain serangan, cepat ia menubruk ma-ju, dengan tangan kanan menyanggah ke atas, tangan kiri menceng-keram ke bawah dada si gadis.
Pertarungan yang hebat itu membikin Liu Sian-gai berdebar, sepuluh kuku Sat Thian-ji yang mirip kaitan tampak sudah sampai di bawah ketiak si gadis, tapi mendadak, entah kenapa, Sat Thian-ji menggerung keras, sesudah itu kedua tangannya terpentang meng-enjot naik hingga setinggi lebih setombak dengan gerakan ‘Wi-ho-jiong-siau " (burung bangau menjulang ke langit), kemudian ia tan-capkan kembali kakinya ke sudut sebelah barat, gerakannya sebat cepat, tampaknya bukan seperti kena luka, hanya tak dapat dime-ngerti, mengapa pada saat serangannya hampir berhasil, sekonyong-konyong ia menarik diri dan meloncat pergi?
Ketika pandangan Sian-gai beralih pada si gadis, tertampak tangan kiri si nona bergerak menurut gaya pedang, sedang pedang yang tergenggam di tangan kanan menuding ke depan, dengan sikap sungguh-sungguh dan mata tanpa berkedip sedang memandang Sat Thian-ji, suatu tanda keadaan sangat tegang.
Sebaliknya Sat Thian-ji mementang dua tangan, biji matanya yang melotot besar juga sedang memandang si gadis dengan penuh perhatian.
Jarak kedua orang hanya beberapa kaki jauhnya, muka berhadapan dengan muka, keduanya tak berani sembarang bergerak.
Keadaan itu membikin Liu Sian-gai tidak mengerti dan penuh tanda tanya.
Liu Sian-gai tidak tahu bahwa dalam sekejap tadi, kedua orang saling tukar beberapa kali serangan.
Waktu Pat-pi-sin-mo mengulur kukunya mencengkeram, hanya tinggal beberapa senti ia dapat men-cakar dada halus si gadis, tetapi di luar dugaannya, justru beberapa senti itulah ia tidak bisa mengenai sasarannya.
Kedua orang menggunakan kepandaian masing-masing yang tinggi, setiap gerakan diri sendiri dan pihak musuh serta kecepatan berkelit semuanya sudah diperhitungkan, Sat Thian-ji menaksir ca-karannya sekali ini pasti kena.
Tak terduga, baru saja kukunya ham-pir menempel tubuh orang, gadis itu tidak bergerak, namun daging tubuhnya bisa sedikit dekuk secara mendadak, bila kuku Sat Thian-ji bisa diulur beberapa senti lebih panjang mungkin akan bisa me-robek dada gadis itu, namun tangan Sat Thian-ji yang panjang sudah keburu diulur sepenuhnya dan tak mungkin lebih panjang lagi, jus-tru dalam sesaat itu juga, di atas kepalanya sekonyong-konyong te-rasa dingin, untung kepandaian Sat Thian-ji juga sudah sampai pun-cak kesempurnaan, secara paksa ia mendak dan kepala sedikit mi ring, sambil berkelit ia tetap menyerang, dengan begitu si gadis tak sempat mengubah serangan pula.
Sesudah itu baru Sat Thian-ji me-lompat mundur.
Namun, sekalipun begitu, tidak urung rambutnya yang panjang lebat sudah terkupas sebagian oleh pedang si gadis.
Diam-diam gadis itupun terkejut.
"Hian-li-kiam-hoaf sudah diyakinkan hingga seakan tiada lubang, tak terduga masih bisa juga Sat Thian-ji lolos di bawah pedangnya.
Dalam hati ia pun mengakui Pat-pi-sin-mo memang betul li-hai, pantas Suhunya wanti-wanti berpesan agar berhati-hati meng-hadapinya!
Begitulah dengan saling pandang, kedua orang menanti saat baik untuk membuka serangan baru, masing-masing pihak tak bera-ni sembarang bergerak.
Lewat tidak lama, mendadak si gadis tertawa sambil berseru.
"Ayo, majulah!"
Pada saat itu juga, tiba-tiba Sat Thian-ji meloncat ke atas, se-puluh jarinya kembali mencakar, ia mengira pada waktu si gadis ter-tawa, perhatiannya akan berkurang, hingga sekaligus dapat mero-bohkannya.
Tak terduga, tertawanya itu hanya pancingan si gadis, sebe-lumnya ia sudah siap sedia, begitu Pat-pi-sin-mo menubruk, segera pedangnya diangkat ke atas dan diayun hingga merupakan satu ling-karan.
Sat Thian-ji mengubah tipu serangannya, tangan kiri dari ca-kar berubah menjadi memotong.
Begitulah kedua pihak bergantian saling serang.
Kini Sat Thian-ji sudah menancapkan kaki kembali, ia buka serangan baru lagi, sambil menubruk dari atas dan menggempur dari bawah, di antaranya terselip pula serangan dengan cara membeset, menutuk dan menghantam, sepuluh kukunya mirip pisau yang taj-am, keganasannya sungguh luar biasa, dimana tangan kakinya ber-gerak selalu membawa angin pukulan yang kuat!
Pertarungan sengit ini jauh lebih hebat dibanding waktu Siang-mo melawan Kwantang-si-hiap, tentu saja diam-diam Liu Sian-gai terkejut dan berdebar.
Sebaliknya si gadis melayani lawannya dengan tenang.
Sinar pedangnya berkelebat dan kain bajunya pun melambai-lambai ter-bawa angin, ia bergerak secara gesit dan enteng sekali, di kala per-kelahian sampai pada puncaknya, tertampak ia tetap tersenyum ma-nis.
Tiba-tiba gerak pedangnya berubah, sinar perak memancar, lalu buyar dan mendadak rapat kembali, tampaknya tidak begitu lihai, tapi ternyata sukar dielakkan.
Kiranya si gadis memang sengaja memancing agar Sat Thian-ji menyerang dahulu, ia ingin membikin lumpuh kekuatan lawan untuk kemudian menggempurnya, bila lawan sudah tidak berdaya.
Dan betul juga, setelah beberapa kali tak berhasil mencengkeram lawan, akhirnya Sat Thian-ji terkurung sendiri oleh sinar pedang, terpaksa ia harus menerjang dengan mati-matian!
Melihat perubahan itu, baru Liu Sian-gai merasa lega.
Pikir-nya.
"Kiam-hoat Toako sudah merupakan kepandaian yang jarang diketemukan, tapi kepandaian gadis ini tampaknya masih di atasnya. Sungguh sukar mengerti, dengan usianya yang masih muda-belia ini bagaimana bisa memperoleh kepandaian sedemikian tinggi! Jangan-jangan Toako menyuruh aku menyingkir ke Bin-san sini mungkin ada hubungannya dengan gadis ini?"
Ketika ia berpikir dan bertanya-tanya pada diri sendiri, tiba-tiba dari kejauhan kembali terdengar suitan aneh.
Liu Sian-gai dapat mendengar dengan jelas, terang itu adalah suitan Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh, diam-diam ia khawatir sekali.
"Kena!"
Tiba-tiba terdengar si gadis membentak.
Pada waktu Sian-gai rnengawasi, tertampak pertarungan yang menggetarkan hati itu sudah kelihatan siapa yang menang atau siapa yang kalah.
Pundak Sat Thian-ji terlihat merah berdarah dan me-lompat keluar kalangan pertempuran.
"Surah dia meletakkan anak yang digendong itu!"
Teng Hiau-lan berseru di samping dengan suara serak.
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba Sat Thian-toh sudah muncul di antara lereng gunung, ketika Liu Sian-gai melongok lebih jauh la-gi, tidak nampak bayangan ketiga saudaranya.
Melihat adiknya telah menyusul datang, Sat Thian-ji girang, sepuluh kuku jarinya bergerak, kembali ia menubruk maju lagi.
Sementara itu Sat Thian-toh yang mukanya babak-belur, dengan sekali menggerung juga lantas ikut menerjang.
Si gadis memapaki Sat Thian-toh, pedangnya secepat kilat menabas.
Melihat bahaya, Sat Thian-ji lekas menolong, cakamya menjambret ‘Hiat-hay-hiat’ di punggung lawan, namun Kiam-hoat si nona cepat luar biasa, ujung pedangnya berhasil menggores pun-dak Sat Thian-toh hingga darah mengucur.
Sementara itu kuku Sat Thian-ji baru menempel bajunya, mendadak si gadis menggeliat, pedangnya berbalik memotong de-ngan tipu ‘Ok-liong-kui-bwe’ (ular naga membalik ekor), ia mem-babat kedua kaki lawan, terpaksa Sat Thian-ji harus menarik tangan dan meloncat ke atas.
"Hantam dia dengan pukulan berat!"
Serunya pada sang adik.
Dalam dua hari ini, berulang-ulang Sat Thian-toh terluka oleh pedang, memangnya ia sedang mendongkol, keruan saja sekarang ia menjadi makin murka, kedua tangannya naik turun dan menggem-pur dengan hebat, terpaksa si gadis tak berani terlalu mendesak, ia hanya menunggu kesempatan baik untuk memberi serangan mema-tikan pada lawan.
Di samping itu Sat Thian-ji dengan kesepuluh kukunya yang tajam dan gerak tubuh yang enteng telah merangsek pula, dengan main keroyokan, Siang-mo akhirnya berbalik dari pihak diserang ja-di pihak penyerang, mereka mengerubut si gadis di tengah.
Sebenarnya kepandaian Sat Thian-toh tidak lemah, tadi karena belum mengetahui gaya serangan lawan dan maju secara gegabah, maka ia telah merasakan satu tusukan, kini setelah merangsek kem-bali dan di bawah perlindungan saudara tuanya, menggunakan ke-pandaian ‘Kim-kong-tay-lik-jiu-hoat’, secara paksa ia hendak mere-but senjata si gadis.
Cara bersilat Sat Thian-toh yang baru ini memang hebat, angin pukulan menderu saling bentur dengan sambaran angin pedang, mau tak mau gerak pedang si gadis sedikit terpengaruh, gaya serangan-nya tidak secepat tadi, sering kali pada waktu pedang hampir me-ngenai tubuh lawan yang berbahaya, karena tersampuk angin pukul-an, segera melenceng dan luput, sebaliknya cakar Sat Thian-ji yang tajam tiada hentinya berusaha mencengkeram ke arahnya.
Kiam-hoat si gadis menang karena kegesitan dan kecepatan-nya, tipu serangannya juga beraneka ragam dan sangat lihai, tapi so-al tenaga dan keuletan, ia masih di bawah Sat Thian-ji.
Apalagi kedua lawan memiliki kepandaian tunggal sendiri dan dapat saling bahu-membahu, daya tekanan mereka dengan sendiri-nya bertambah satu kali lipat.
Si gadis kini t^rdesak sehingga harus menjaga diri.
Segera ia ubah Kiam-hoat lagi, seluruh tubuhnya seketika tampak diselubungi sinar perak mengkilap, ketiga orang saling desak di antara batu pe-gunungan itu dan berputar kian kemari, meskipun Siang-mo berada di atas angin, namun si gadis pun tidak.unjuk kelemahan, hingga un-tuk sementara pertempuran sukar dipisahkan.
Dengan penuh perhatian Liu Sian-gai mengikuti perkelahian sengit itu, selagi keadaan menjadi tegang, mendadak ia dengar Teng Hiau-lan yang ada di sampingnya merintih, matanya meram-melek, mukanya mulai kehitam-hitaman, rupanya racun di dalam tubuhnya mulai menjalar.
Bukan main kejut Liu Sian-gai melihat keadaan itu, ia menjadi gugup, tak sempat pula ia ikuti pertarungan seru itu, lekas ia robek baju di dada Teng Hiau-lan, sesudah itu, dengan batu kerikil tajam ia gores hingga luka dan membiarkan darah mengucur keluar untuk menghambat serangan racun.
"Liu-tayhiap, lebih baik kau selamatkan diri saja, jangan pedu-likan aku lagi!"
Dengan napas kempas-kempis Teng Hiau-lan berka-ta dengan suara-lemah.
"Jangan kau pikir yang tidak-tidak, tak mungkin kau mati, ma-ri kita pergi!"
Sahut Sian-gai.
Lalu ia pondong Hiau-lan terus hen-dak kabur melalui jalan pegunungan lain.
Akan tetapi sebelum ia bertindak, mendadak ia dengar suara teriakan dan gertakan Siang-mo, sedang Kiam-hoat si gadis tampak mulai kalut.
Sian-gai menja-di ragu-ragu.
Pikirnya, dengan maksud baik si gadis angkat senjata memberi bantuan dan menandingi Siang-mo seorang diri, sekarang mana bo-leh aku tinggalkan dia dan pergi begitu saja.
la hendak letakkan Hiau-lan kembali, tapi terlihat kedua mata Hiau-lan terpejam, napasnya pun makin lama makin lemah, ia kha-watir bila dirinya pergi membantu gadis itu, sebelum bisa menang, Teng Hiau-lan mungkin tak tertolong lagi.
Ia menjadi ragu-ragu dan tak tahu apa yang haras diperbuatnya.
Sementara itu serangan Siang-mo makin hebat, gerungan dan bentakan mereka seakan menggetar bumi.
Akhimya Liu Sian-gai haras ambil suatu keputusan, ia me-ngertak gigi dan membatin.
"Orang Kangouw paling mengutamakan soal setia kawan, lebih baik mati daripada nama temoda. Semoga saudara cilik ini bernasib baik dan selamat!"
Sesudah itu, ia letakkan kembali Teng Hiau-lan, kemudian dengan langkah lebar secepat terbang ia turun kalangan.
Tapi baru saja ia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba di ang-kasa pegunungan itu berkumandang suara burung raksasa, seketika bumng-burung dalam hutan yang lebat sama bercuitan dan kemu-dian terbang keluar ketakutan.
Liu Sian-gai terkejut, ia tidak mengerti burung aneh apakah yang mempunyai pengaruh begitu besar?
Dalam sekejap, tiba-tiba di atas kepalanya angin menderu, dua ekor burung rajawali besar, seekor hitam dan seekor putih, dengan mementang sayapnya yang lebar, cepat melayang lewat.
Mendadak Siang-mo bersiul aneh, sesudah itu mereka lantas melompat keluar kalangan, pada saat yang sama juga, di samping air terjun tadi sekonyong-konyong muncul pula seorang, ternyata seorang Nikoh (Biksuni) tua bertangan satu.
Liu Sian-gai menaruh selurah perhatian terhadap burung rak-sasa di atas, hingga tak tahu sejak kapan si Nikoh tua itu muncul.
Tok-pi-lo-ni (Nikoh tua bertangan tunggal) itu berjalan maju beberapa langkah, kemudian ia bersuara.
"Muridku, apakah masih belum beres?"
Mendengar suaranya itu, tiba-tiba Siang-mo memutar tubuh teras lari terbirit-birit, tapi mereka masih berani meninggalkan ucap-an.
"Tok-pi-lo-ni, jika berani coba cari kami di Niau-eng-to!"
"Hm, tunggu saja, kalian boleh lihat nanti, pasti ada orang yang akan mengobrak-abrik sarangmu!"
Sera si Nikoh tua sambil menjengek.
"dan kini kalian haras tinggalkan sedikit barang tanda mata dahulu!"
Sesudah itu ia mendekap bibir dan bersuit, kedua burung rak-sasa tadi secepat kilat menyambar ke sana, dalam sekejap terbang kembali dan hinggap di pundak si Nikoh tua, di antara paruh mereka yang panjang sudah bertambah masing-masing dengan ikat kepala Siang-mo.
Dengan tertawa si gadis berlari mendekat dan mengelus kedua binatang itu.
"Mengapa Suhu tidak menyurah si hitam dan si putih memaruk mereka sekali?"
Ia berkata dengan memoncongkan mulut-nya yang mungil. Si Nikoh tua tertawa.
"Kau sendiri sudah menjajal mereka ber-dua tadi,"
Katanya kemudian.
"apakah kau masih belum tahu sampai dimana kekuatan mereka? Si putih dan si hitam bagaimana sanggup melukai mereka? Mereka hanya takul pada perbawaku saja, maka tak berani melawan si hitam dan si putih hingga mendadak mereka kena diselomoti!"
"Dan bagaimana dengan Kiam-hoatku, Suhu? Apa sudah bo-leh unjuk diri di muka umum?"
Dengan tertawa aleman si gadis ber-tanya pula.
"Kau punya Kiam-hoat sudah jauh lebih kuat dari semua Su-hengmu,"
Ujar si Nikoh tua.
"Hanya saja, musuhmu entah berapa kali lipat lebih lihai daripada Siang-mo? Kepandaianku sudah kutu-rankan semuanya padamu, kini kau sudah mencapai tujuh delapan bagian, bila berlatih lagi beberapa tahun, Siang-mo bukan lagi tan-dinganmu! Mengenai dapat tidaknya kau membalas sakit hatimu, tergantung keberuntunganmu kelak!"
Sehabis berkata, ia berpaling dan perlahan-lahan mendekati Liu Sian-gai.
"Kami guru dan murid hanya mengurusi tetek-bengek dan bicara kepentingan sendiri, sampai tamu agung ditelantarkan se-jak tadi!"
Katanya sambil tertawa.
Liu Sian-gai merasa girang bercampur kaget, tidak nyana bisa bertemu dengan Nikoh sakti angkatan tua di atas Bin-san sini.
Tok-pi-sin-ni mempunyai Kiam-hoat luar biasa hebatnya, ja rang sekali ia bergebrak dan bermusuhan dengan orang, maka sela-ma tiga puluhan tahun ini tiada orang yang mengetahui jejaknya.
Konon menurut cerita golongan tua dunia persilatan, ia sebenarnya adalah putri Kaisar Cong-ceng, kaisar terakhir ahala Bing, namanya Tiang-peng Kiongcu.
Ketika Jwan-ong Li Cu-sing menyerbu kotaraja, Cong-ceng menggantung diri di Bwe-san, sebelum mati, ia khawatir Tiang-peng Kiongcu mendapat hinaan dari kaum pemberontak, maka ia membacok sekenanya dengan pedang hingga sebelah tangan Tiang-peng terkutung.
Keruan Tiang-peng Kiongcu menggelongsor ber-mandi darah dan berkelojotan.
Rupanya Kaisar Cong-ceng tak tega turun tangan lebih lanjut, karena itulah Tiang-peng Kiongcu terhin-.
dar dari kematian.
Belakangan Li Cu-sing masuk ke istana.
ia cukup menghor-mati setiap keluarga kerajaan, waktu nampak keadaan Tiang-peng Kiongcu yang malang itu.
ia menghela napas atas ketegaan Cong-ceng, ia perintahkan Kiong-li (pelayan istana) memayangnya ke da-lam istana dan dirawat baik-baik.
Peristiwa itu tidak saja menjadi cerita dalam dunia persilatan, bahkan dalam tulisan sejarah pun disebut dengan jelas dan bukan dongeng belaka.
Sedang mengenai bagaimana akhirnya Tiang-peng Kiongcu bisa keluar dari istana dan belajar ilmu silat, memang ba-nyak menjadi bahan cerita dan dongeng yang berbeda-beda.
Liu Sian-gai memperkirakan, waktu itu orang Boan (Manehu) menduduki pedal aman lebih enam puluh tahun, tidak tersangka putri kaisar Bing terakhir masih hidup dengan sehat.
Maka lekas ia mem-ber!
hormat.
"Kwantang-si-hiap gagah dan berbudi, memang haras dipuji,"
Ujar Tok-pi-sin-ni, lalu ia berkata pula sambil menunjuk Teng Hiau-lan.
"Dan dia tentu luka tercakar oleh Pat-pi-sin-mo?"
"Ya, harap Sin-ni suka menolongnya!"
Sian-gai mernohon.
"Soal lain aku tak berani omong besar,"
Sahut Tok-pi-sin-ni.
"tapi soal menyembuhkan bisa ular, rasanya aku masih boleh juga!"
Lalu Sian-gai memayang Teng Hiau-lan dan membisiki teli-nganya.
"Sudah selamat sekarang. Siang-mo sudah dipukul lari!"
Perlahan-lahan Hiau-lan membuka matanya.
"Dan bagaimana dengan aku punya Titli (keponakan perempuan)? Sudahkah kau me-rebutnya kembali?"
Tanyanya dengan suara lemah.
"Tidak, dia telah digondol lari!"
Jawab Sian-gai. Keterangan itu membuat mata Teng Hiau-lan mendelik, ia ja-tuh pingsan lagi.
"Akulah yang lengah, hanya memikirkan menonton anak Eng mencoba ilmu pedangnya, tidak tersangka dara cilik itu hasil ram-pasan si iblis dari orang lain,"
Ujar Tok-pi-sin-ni.
"Budi pertolongan jiwa, tak nanti Wanpwe melupakan!"
Liu Sian-gai mengucapkan terima kasih.
"Sementara kau ikut aku kembali ke pegununganku, sebentar lagi beberapa sahabatmu yang lain juga akan datang,"
Tok-pi-lo-ni berkata pula.
Liu Sian-gai jadi berpikir lagi dan merasa heran, sahabatnya di Holam, kecuali Nyo Tiong-eng, seingatnya sudah tiada lagi.
Kembali tentang Teng Hiau-lan, sesudah pingsan, ia sendiri tak mengetahui sudah lewat berapa lama, sampai pada satu saat ia mendusin, segera tercium bau wangi semerbak, waktu ia membuka mata, ternyata Liu Sian-gai sudah tidak di sampingnya lagi, dirinya rebah di dalam sebuah kamar bersih yang terpajang dengan rajin dan indah, ia coba mengingat kembali, teringat waktu itu si gadis sedang bertarung sengit dengan Siang-mo, lalu Liu Sian-gai meletakkan di-rinya ke tanah, sesudah itu ia lantas tak ingat lagi.
Ia menduga si gadis dapat mengalahkan Siang-mo atau dua iblis itu yang menolong dirinya, dan apakah ini kamarnya?
Ia coba bergerak hendak bangun, tetapi segera dirasakan selu-ruh tubuhnya sakit dan tulangnya seakan retak, tenaga tak ada.
Waktu ia lihat lagi, tertampak olehnya di atas dinding tergan-tung sepasang ‘Lian’ yang mengapit seperangkap kain sutra yang tertulis dengan sajak panjang lebar, pada akhir sajak itu tertera se-baris tulisan yang maksudnya, ‘Dihaturkan kepada Liu-liang Sian-sing pada ulang tahunnya, ditulis oleh Tan Ho-cu.’ Teng Hiau-lan sering mendengar Ciu Jing bercerita tentang kepahlawanan kaum patriot dari ahala yang lalu, ia mengerti Tan Ho-cu atau Tan Cu-liong adalah pahlawan pada akhir ahala Bing, bahkan terkenal karena sajaknya.
Sesudah bangsa Boan masuk pe-dalaman, ia memberontak di Thayouw, tapi karena gerakannya keta-huan hingga ia tertawan, pada waktu digiring, di tengah jalan ia bu-nuh diri dengan terjun ke sungai.
Hiau-lan sedikit paham tentang ilmu sastra, ia pun mengetahui sajak yang ditulis itu adalah sajak yang menyesalkan tanah air yang termusnahkan dan membangun semangat para patriot untuk mene-gakkan negara kembali.
Melihat beberapa perkataan dalam sajak dimana Tan Cu-liong menulis, dihaturkan kepada ‘Liu-liang’, maka yang dipanggil ‘Liu-liang Siansing’ ini pasti adalah pujangga pada zaman itu.
Tiba-tiba ia teringat, Liu-liang Siansing ini apakah bukan Lu Liu-liang, sastrawan tersohor di Ciatkang timur?
Begitu ia menduga.
Lu Liu-liang pada waktu kerajaan Bing hancur, ia menolak undangan pemerintah Boan, ia lebih suka cukur rambut menjadi Hwesio, di samping itu, ia mengarang buku yang isinya mengo-barkan semangat melawan penjajahan hingga besar sekali membawa pengaruh pada kaum patriot.
Teng Hiau-lan semenjak kecil berkelana di Kangouw, maka tidak pernah belajar ilmu sastra baik, buku karangan Lu Liu-liang belum pernah ia baca, tapi sudah lama ia dengar nama besarnya, da-lam hati sudah lama kagum dan memujanya.
Ia tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamar terbu-ka, gadis yang ia temukan tadi malam berjalan masuk.
"Eh, kau sudah mendusin!"
Kata si nona tersenyum manis.
"Terima kasih atas budi pertolongan Lihiap, maafkan aku tak dapat memberi hormat!"
Kata Hiau-lan.
"Guruku yang telah menolongmu, tiada sangkut-pautnya denganku,"
Ujar si gadis.
"He, jangan kau sebut Lihiap lagi padaku, ta-mat belajar saja aku belum! Kau boleh panggil aku Lu Si-nio saja!"
"Lu Si-nio?"
Hati Hiau-lan tergerak, ia menyebut nama itu de-ngan suara perlahan, lalu menegas.
"Ai, kalau begitu kau adalah Lu Liu-liang Siansing punya…."
"Cucu perempuan!"
Dengan tertawa Lu Si-nio menyambung perkataannya.
Seketika Hiau-lan memandangnya dengan kesima, sama sekali tidak menduga bahwa cucu perempuan pujangga besar itu bisa me-miliki ilmu silat begitu tinggi.
"Adik cilik, tahun ini kau berumur berapa?"
Dengan tersenyum tiba-tiba Lu Si-nio bertanya.
"Enam belas!"
Sahut Hiau-lan. ‘"Baru berumur enam belas sudah punya kepandaian begini, boleh dikata sudah lumayan,"
Ujar Si-nio.
"Dengan umur semuda kau, ternyata sudah berani bertempur melawan Siang-mo, pantas gu-ruku bilang kau memiliki bakat bagus dan dengan cermat mengo-batimu. Aku lebih tua tiga tahun darimu, kau boleh panggil enci Lu Eng saja padaku!"
Baru kini Hiau-lan tahu bahwa gadis ini asli bernama Lu Eng.
‘Si-nio’ mungkin adalah panggilan menurut urutan pada keluarga-nya.
Si berarti empat dan Nio maksudnya perempuan.
Mungkin ia adalah anak perempuan yang keempat.
Bila Teng Hiau-lan teringat pada kepandaiannya yang begitu tinggi, ia jadi berpikir.
"Dia hanya lebih tua dariku tiga tahun, tetapi ilmu silatnya sudah di atas Kwantang-si-hiap dan Sin-mo-siang-lo, seumpama aku berlatih lagi sepuluh tahun juga belum tentu bisa me-madainya."
Teringat demikian, tanpa terasa ia jadi malu sendiri.
"Pernahkah kau baca buku karangan engkongku?"
Si-nio ber-tanya.
"Belum,"
Sahut Hiau-lan.
"tapi namanya yang maha sohor itu sudah lama kudengar dan kagum!"
"Orang yang belajar silat juga harus belajar sedikit sastra,"
Kata pula Lu Si-nio.
"Kini kau dalam usia yang harus mencari pe-ngetahuan, aku hadiahkan sebuah kitab karangan beliau padamu."
Mendengar perkataan orang, Hiau-lan jadi makin malu hati, segera ia menghaturkan terima kasih.
Dalam hati kecil, rasa kagum-nya terhadap Lu Si-nio sudah luar biasa, ia anggap bagai dewi kah-yangan dan tak berani memandangnya.
Setelah terdiam agak lama, tiba-tiba terdengar suara wanita agak berumur sedang bertanya di kamar sebelah.
"Apa anak itu su dah baik?"
"Sudah baik!"
Terdengar Si-nio menyahut. Lalu ia menoleh dan berkata pada Teng Hiau-lan.
"Guruku memanggilmu ke sana. Coba kau turun pembaringan, apakah sudah sanggup jalan sendiri?"
Hiau-lan menurut, ia turun ke bawah dan coba berjalan beberapa tindak, segera ia merasa sehat kuat, sedikitpun tak merasa susah.
"Cici, harap kau bawa aku menemui beliau,"
Dengan girang Hiau-lan meminta.
Di kamar sebelah terpajang mirip ruang sembahyang, di tengah ada patung pemujaan yang tertutup sehelai kain kuning hingga tak tertampak jelas.
Begitu Hiau-lan masuk ke dalam, segera ia disambut dengan suara yang sudah dikenalnya.
"Hiau-lan, nyawamu akhirnya terebut kembali, lekas kau memberi hormat pada Sin-ni!"
Yang memanggilnya bukan lain ‘Ban-li-tui-hong’ Liu Sian-gai.
Di sampingnya duduk bersila si Nikoh tua bertangan tunggal dan masih ada pula seorang kakek yang tak ia kenal.
Lekas Hiau-lan maju memberi hormat, tapi karena ia tak me-ngetahui sebutan Nikoh tua itu, maka ia menjadi bingung harus me-manggil dengan nama apa.
"Aku tak mempunyai gelar, sedang namaku, sudah lama aku pun tak memakainya lagi,"
Terdengar Nikoh tua itu berkata, agaknya ia tahu keragu-raguan Hiau-lan.
"Di kalangan Kangouw orang me-nyebutku Tok-pi-lo-ni, maka boleh juga kau sebut aku dengan nama itu. Eh, tak usah kau banyak berterima kasih padaku, yang harus kau haturkan terima kasih adalah Liu-tayhiap, ia telah menggendongmu jauh-jauh dari Thay-hing-san ke sini!"
Hiau-lan menurut, secara hormat sekali ia menjura pada Liu Sian-gai.
Dengan tertawa Sian-gai lantas menariknya berdiri.
Sehabis Si-nio memberi hormat pada gurunya, kemudian ber-kata pada orang tua di samping itu.
"Giam-sioksiok jauh-jauh ke-mari, jangan-jangan ayahku ada kesulitan?"
"Kau disuruh pulang oleh Giam-sioksiok,"
Tok-pi-lo-ni men-dahului menerangkan. Sekonyong-konyong Si-nio terguncang perasaannya. Sementa ra itu si kakek she Giam sudah mulai berkata.
"Ayahmu sudah tua, akhir-akhir ini sakit-sakitan lagi, ia sangat kangen pada dirimu!"
"Eng-ji,"
Tok-pi-lo-ni berkata pula.
"sudah sembilan tahun kau berguru padaku, kepandaian sudah lebih banyak kau pelajari da-ripada semua Suhengmu, dan tiada yang bisa diajarkan lagi padamu, baiknya besok kau berangkat saja."
Atas petuah gurunya itu, Lu Si-nio sangat terharu.
"Tiada perjainuan yang tidak bubar di jagat ini,"
Kata Tok-pi-lo-ni pula.
"kau adalah muridku tersayang, kau harus ingat baik-baik ajaranku. Sesudah kau pulang menyambangi keluargamu, kau boleh pergi sekalian mencari kabar Toasuheng (kakak seperguruan tertua) dan melihat tingkah-lakunya, bila betul ia mengkhianati perguruan kita, maka boleh lantas kau penggal kepalanya dan bawa kemari di-perlihatkan padaku!"
Bukan main kejut Liu Sian-gai oleh perkataan tadi, tapi pada saat itu juga, di luar tiba-tiba terdengar beberapa kali suitan panjang.
"Ehm, mereka pun sudah datang!"
Ujar Tok-pi-lo-ni sambil berbangkit. Ketika pintu terbuka perlahan-lahan, Tok-pi-lo-ni segera ber-kata pula dengan gembira.
"Hian Hong Totiang, baik-baikkah sela-ma ini?"
Menyusul dari luar beberapa bayangan berkelebat, tiba-tiba tiga orang sudah berdiri di depan mereka, ternyata bukan lain adalah Hian Hong Tojin, Long-goat Hwesio dan Tan Goan-pa, tiga orang dari Kwantang si-hiap.
"Berkat pengaruh Sin-ni yang telah membikin keder kedua iblis itu, terimalah hormat Pinto,"
Kata Hian Hong sambil mem-bungkuk memberi hormat.
Baru kini Liu Sian-gai mengetahui bahwa saudaranya itupun buron ke Bin-san, tujuannya tidak lain adalah memancing kedua iblis itu untuk berjumpa dengan Tok-pi-lo-ni.
Lalu Tok-pi-lo-ni menyilakan Kwantang-si-hiap masuk ke ku-ilnya, kemudian diperkenalkan pada kakek she Giam itu.
Orang tua itu ternyata bukan dari kalangan persilatan, tapi mu-rid Lu Liu-liang, termasuk seorang sastrawan dari Ciatkang timur.
Dalam beberapa puluh tahun ini, di daerah sepanjang pantai teng-gara telah tersebar paham ajaran Lu Liu-Iiang, kakek itu dengan ayah Lu Si-nio, Lu Po-tiong, adalah patriot yang bekerja di bawah tanah untuk melawan pemerintah Boan.
Hian Hong Tojin pun sudah lama mendengar namanya, karena itu ia lantas kiongciu dan berkata dengan tertawa.
"Selama kita orang-orang Bun dan Bu mempunyai cita-cita yang sama dan bersatu-padu di seluruh negeri, tak usah ku-atir negara kita tak akan ditegakkan kembali."
Mendengar ucapan itu, agaknya Tok-pi-lo-ni terharu perasa-annya, matanya menjadi merah berkaca, ia pandang meja pemujaan dengan terkesima.
Kwantang-si-hiap mengetahui dia adalah putri kerajaan ahala yang lalu, hatinya berduka karena negeri yang mus-nah dan terbayang pada kemungkinan yang akan datang, maka me-reka pun tak bisa berkata-kata.
Setelah lewat sedikit lama, barulah Tok-pi-lo-ni tersadar.
"Pin-ni belum bersih dari pikiran fana, harap Toheng jangan menerta-wai,"
Katanya kepada Hian Hong. Hian Hong tidak menjawab perkataan orang, sebaliknya ia membelokkan pokok pembicaraan.
"Beberapa tahun yang lalu aku mendengar Siang-mo terpincang sebelah kaki, aku lantas menduga tentu Sin-ni yang telah menghajar mereka,"
Katanya kemudian.
"Tiga tahun yang lalu aku mengembara sampai di Pat-tat-nia, di sanalah aku bertemu dengan kedua iblis itu,"
Dengan tertawa Tok-pi-lo-ni bercerita.
"ternyata mereka tak tahu diri dan berkeras ingin bertanding denganku. Waktu itu perbuatan jahat mereka be-lum keterlaluan, oleh karena itu aku hanya memberikan sedikit hu-kuman saja pada mereka."
"Untung mereka telah dilukai Sin-ni, kalau tidak, pertarungan di Thay-hing-san kali ini jangan harap kami bisa selamat!"
Ujar Hian Hong Tojin.
Lalu ia ceritakan bagaimana kedua iblis itu telah dibeli oleh In Ceng, dan bagaimana melakukan pembunuhan kejam ter-hadap para pahlawan dari lima propinsi utara.
Sudah tentu cerita itu membikin Tok-pi-lo-ni menjadi gusar sekali.
"Sayang. kalau mengetahui hal ini sebelumnya, hari ini tidak mungkin aku lepaskan mereka pergi,"
Kata Tok-pi-lo-ni dengan ge mas. Sesudah mengobrol ke timur dan ke barat, akhirnya Tok-pi-lo-ni berkata.
"Belakangan ini Si-hiap apa pernah datang ke Kang-lam?"
Tanyanya.
"Sudah lebih sepuluh tahun kami bersaudara belum menginjak lewat Tiangkang (sungai Yangtse),"
Sahut Hian Hong.
"Kabarnya muridku terbesar bersekongkol dengan kawanan penjahat kangouw dan banyak mengganggu keselamatan umum, apakah Si-hiap pernah mendengar kabar ini?"
Tanya si Nikoh tua. Tetapi jawaban Hian Hong adalah menggeleng kepala.
"Selama aku masih hidup, ia masih merasa jeri, oleh sebab itu walaupun ia tak setia pada kesucian agama, namuri belum berani terang-terangan berbuat kejahatan, khawatirnya kalau aku mangkat nanti, mungkin tiada orang lagi yang sanggup mengatasinya,"
Kata Tok-pi-sin-ni.
Hian Hong terkejut oleh keterangan itu, sungguh ia tidak men-duga bahwa murid pertama Nikoh tua itu bisa begitu lihai.
Kiranya Tok-pi-lo-ni mempunyai delapan murid, kecuali Lu Si-nio, tujuh orang lainnya sudah tamat belajar dan tersebar di dae-rah Kanglam (selatan sungai Yangtse) dan berjuluk ‘Kanglam-chit-hiap’ (Tujuh pendekar Kanglam).
Yang pertama bernama Liau-in, seorang Hwesio, ilmu silatnya paling tinggi, pernah dengan senjata ‘Sian-tiang’, tongkat kaum padri, sekaligus mengalahkan dua belas jagoan kelas berat, hingga namanya tersohor dan menjagoi daerah Kanglam.
Sungguhpun ‘Jit-hiap’ keluar dari pintu perguruan yang sama, tetapi kepandaian silat mereka berselisih sangat jauh dan tak sama, Kam Hong-ti yang terhitung nomor tujuh menurut urutan mereka, namapya paling terkenal, Namun soal Lwekang dan Gwakang kalau dibandingkan Liau-in masih selisih banyak.
Sesudah itu baru terhitung kepandaian Pek Thay-koan, urutan nomor lima.
Sedang Loh Bin-ciam, Li Gwan, dan Ciu Sun dan Iain-lain, mereka lebih rendah lagi dan tiada kepandaian yang istimewa.
Loh Bin-ciam dan Ciu Sun pernah datang ke Kwantang dan untuk menghormati kaum Cianpwe, mereka pernah menemui Hian Hong, la pun coba bergcbrak dengan mereka, tapi tiada tiga puluh jurus mercka berdua sudah kewalahan.
Kala itu Hian Hong pernah berpikir.
"Mengapa murid Tok-pi-lo-ni berkepandaian begini rcndah. Kam Hong-ti dan Liau-in Hwe-sio. walaupun namanya menggctarkan daerah Kanglam, kepandai-annya tentu terbatas juga kalau melihat Sute mereka ini."
Tetapi kini mendengar Tok-pi-lo-ni berkata bahwa bakal tiada yang sanggup mengatasi Liau-in, ia jadi sangsi dan kurang percaya.
"Hari ini untuk pertama kalinya mencoba pedang, ia sudah bisa mengalahkan Pat-pi-sin-mo, hal ini sudah boleh dikata hebat juga,"
Kata Tok-pi-lo-ni pula dengan menuding Lu Si-nio.
"tetapi ia masih harus berlatih beberapa tahun lagi bam bisa mengatasi Toa-suhengnya."
Mendengar perkataan terakhir itu, Hian Hong lebih terperan-jat, ketika ia memandang Lu Si-nio, nona itu hanya menunduk sam-bil tertawa kecil saja, jelas tertampak satu dara cilik yang masih ingusan, sungguh sukar dibayangkan bahwa Kiam-hoatnya bisa begitu lihai.
"Toako, jiwaku justru nona cilik inilah yang menolong!"
Kata Liu Sian-gai. Diperkuat keterangan Liu Sian-gai itu. mau tidak mau Hian Hong percaya.
"O, kiranya belum sampai Sin-ni sendiri yang turun tangan dan kedua iblis itu sudah dihantam lari."
Katanya kemudian. Tok-pi-lo-ni tertawa, katanya.
"Bukan begitu soalnya. Dia be-lum memiliki kemampuan itu, ketika aku unjuk diri barulah membikin kedua iblis itu lari terbirit-birit."
"Dua tahun belakangan ini,"
Katanya pula setelah berhenti se-jenak.
"terhadap Liau-in yang berkelakuan kotor dan mencemarkan nama baik perguruan, sedikit banyak aku pun sudah mendengar. Oleh karena itu sengaja aku turunkan ‘Hian-li-kiam-hoat’ pada Eng-ji, agar kelak bila Liau-in masih tetap berbuat kejahatan, aku suruh Eng-ji mewakilkanku membuat pembersihan perguruan. Tapi mung-kin latihannya masih kurang sempurna dan pengalaman cetek, maka masih diharapkan bantuan dari Si-hiap."
Atas pesan itu, Hian Hong tak dapat berkata, sementara itu si Nikoh tua bertangan satu melanjutkan pula.
"Eng-ji besok akan tu-run gunung dan seterusnya berkelana di Kangouw, selanjutnya ha-rap Si-hiap suka mengawasi."
Kwantang-si-hiap berulang mengiakan dengan rendah hati atas permintaan orang.
"Begitu Lihiap unjuk diri, maka genaplah menjadi Kanglam-pat-hiap, persis satu kali lipat lebih banyak dari kami, kalau dari utara dan selatan bisa saling bantu, pasti akan makin bertambah he-bat kekuatan kita,"
Dengan tertawa Tan Goan-pa mengutarakan pi-kirannya.
"Mudah-mudahan begitu!"
Sahut Tok-pi-lo-ni dengan muram.
Tiba-tiba Goan-pa ingat sesuatu dan menyadari telah kelepas-an omong, karena Liau-in Hwesio sudah tersesat ke jalan yang sa-lah, bagaimana bisa terhitung sebagai pendekar?
"Sayang Li-hiap hendak nienuju ke Kanglam,"
Katanya pula dengan tertawa mengada-ada.
"kalau tidak, kita bersama ke kota ra-ja, sedikitnya akan membikin morat-marit kota terlarang itu."
"Pasti akan terjadi pada suatu hari!"
Sahut Lu Si-nio dengan spontan. Keruan saja jawaban mendadak itu membikin Kwantang-si-hiap saling pandang dan terheran-heran. Sebaliknya Tok-pi-lo-ni dengan dingin berkata.
"Cita-citamu yang bagus harus dipuji, cuma masih diperlukan .nyali yang besar dan kecermatan."
"Titli, engkongmu mengemukakan teori tentang melawan pen-jajah asing, yang dia naikkan adalah bendera pihak yang benar dan adil,"
Si sastrawan Giam Hong-kui dengan perlahan ikut menim-brung.
"bila kita hendak mengusir musuh dari negeri kita, tidak akan berhasil kiranya kalau meniru jalan yang ditempuh sebangsa Hing Ko dan Yao Li."
Hing Ko dan Yao Li adalah pahlawan yang hidup pada zaman Cian-kok, Hing Ko terkenal melakukan pembunuhan terhadap Cin Ong dan Yao Li melakukan tusukan pada Khing Ih, semuanya ada-lah cerita kepahlawanan yang tersohor dari zaman ke zaman.
De ngan contoh itu, maksud Giam Hong-kui adalah tidak setuju pada cara pembunuhan gelap untuk menentukan nasib negara.
Malahan mengandung nada memandang rendah terhadap perbuatan kekeras-an semacam itu.
Keruan Hian Hong merasa tersinggung, ia kurang senang.
"Tetapi daripada kaum sekolahan yang hanya omong kosong saja juga tak akan ada manfaatnya!"
Sahutnya dengan dingin. Wajah Lu Si-nio berubah kemerahan, segera ia pun berkata dengan suara rendah.
"Terima kasih atas ajaran paman. Tetapi nmenurut aku, apa yang dikatakan Thay-su-kong adalah lebih benar, dengan pengetahuan kaum sekolahan kalau bergabung dengan ke-gagahan kaum ksatria barulah kemudian bisa melaksanakan pekerjaan besar."
Apa yang Lu Si-nio katakan berasal dari ‘Su-ki’, kitab karang-an Suma Sian atau terkenal juga dengan nama Thay-su-kong.
"Eh, kiranya dalam beberapa tahun ini kau masih belum mene-lantarkan pelajaran kitab,"
Dengan mengelus jenggot Giam Hong-kui berkata dengan tertawa.
Lu Si-nio menghirup air tehnya, perlahan-lahan ia benahi ram-butnya yang melambai kusut, sesudah itu mendadak ia bertanya de-ngan rasa sunyi.
"Cay-khoan sekarang tentu sudah dewasa? Apakah masih belajar ikut ayahku?"
"Ia sudah tumbuh tinggi besar, hampir setengah kepala lebih tinggi dari ayahmu!"
Sahut Giam Hong-kui.
"Ia sangat giat sekali belajar, tiada kitab yang belum dibacanya, kelak yang bisa me-wariskan teori ajaran engkongmu mungkin hanya dia seorang saja."
Di satu pihak orang sedang asyik bercakap-cakap, Teng Hiau-lan yang mendengarkan di samping menjadi terkesima.
Meski ia tidak kenal siapakah ‘Cay-khoan’ yang disebut itu, tetapi mende-ngar Lu Si-nio menyebutnya dengan penuh perhatian, tiba-tiba hatinya tergetar dan timbul semacam perasaan yang sukar dijelaskan.
Dalam pada itu Hian Hong telah menepuk pundaknya sambil berkata dengan menghela napas.
"Ciu-tayhiap adalah sahabatku se-lama berpuluh tahun, ia memasrahkan kau padaku dengan sungguh-sungguh, mau tak mau aku harus mengurus. Soalnya kami berempat selamanya bergelandangan di Kangouw, kini malah tambah bermu-suhan dengan Si-hongcu, tentu makin tak akan tenteram tinggal di suatu tempat untuk mengajarkan kepandaian silat padamu."
Berkata sampai di sini, ia merandek, lalu ia berpaling dan ber-kata pada Tok-pi-lo-ni.
"Harap Sin-ni mengingat bahwa dia adalah ajaran langsung dari cabang Ciu-tayhiap, maka sudilah menerima-nya sebagai murid."
Bukan kepalang girang Teng Hiau-lan, dengan cepat ia sudah akan memberi hormat pada Nikoh sakti itu. Namun sebelum ia me-lakukan, Tok-pi-lo-ni sudah menahannya.
"Usiaku sudah lanjut, sesudah menerima Eng-ji sebagai murid, aku bersumpah tidak menambah murid lagi,"
Dengan tersenyum Ni-koh tua itu menerangkan.
"Di lima propinsi utara masih ada seorang tokoh yang namanya tidak asing lagi bagi kita, mengapa Hian Hong Toheng tidak mengirim dia ke sana saja?"
"Apakah yang Sin-ni maksudkan ‘Thi-cio-sin-tan’ Nyo Tiong-eng?"
Hian Hong bertanya.
"Memang betul!"
Sahut si Nikoh tua.
Hian Hong membatin, kepandaian Nyo Tiong-eng tidak di ba-wah dirinya, peristiwa di Thay-hing-san kali ini Nyo Tiong-eng ter-nyata sanggup lolos dari bawah tangan Siang-mo yang kejam itu, suatu tanda tua-tua keladi dan kepandaiannya makin maju.
Lagi pula ia juga sahabat karibnya selama berpuluh tahun ini, menyerahkan Hiau-lan padanya memang sangat cocok sekali.
Setelah mengambil keputusan itu, lalu ia berkata.
"Kalau Sin-ni memang tidak terima murid lagi, baiklah, terpaksa hams bikin repot Nyo-loenghiong saja!"
Malam telah lalu, besok paginya Kwantang-si-hiap, Lu Si-nio dan kawan-kawan turun dari Bin-san, terbagi menjadi dua jurusan, Si-hiap membawa Teng Hiau-lan pergi mencari Nyo Tiong-eng, sedang Lu Si-nio dan Giam Hong-kui kembali ke rumah asal meieka di selatan.
, Pada waktu memberi salam perpisahan, dengan kesima Hiau-lan memandang Lu Si-nio yang mencemplak kudanya dengan cepat.
"Adik cilik, beberapa tahun lagi aku akan menyambangimu diTang-ping!"
Seru Lu Si-nio di atas kudanya pada saat terakhir.
Nyo Tiong-eng tinggal di Tang-ping-koan (kabupaten Tang-ping) propinsi Soatang.
Di daerah Tang-ping-koan ada sebuah tela-ga besar bernama Tang-ping-ou, kediaman keluarga Nyo mengha-dap telaga dan membelakangi bukit, pemandangannya sangat indah.
Hari itu Teng Hiau-lan mengikuti Kwantang-si-hiap sampai di luar perkampungan keluarga Nyo, ia lihat di sekitarnya lereng bukit membentang jauh, air telaga bening bersih, dikitari pohon Liu yang menghijau permai.
Belum Teng Hiau-lan masuk ke rumah orang she Nyo, ia sudah tertarik oleh tempat yang indah itu.
Sesudah mereka sampai di tengah bukit, tiba-tiba tertampak beberapa buah rumah biasa yang dibangun bersandarkan gunung, di bawah pohon yang rindang ada sebuah lapangan rata, di tengah la-pangan itu ada seorang anak gadis sedang berlatih silat, tangannya memegang sebuah gendewa yang sedang dipentang dan membidik-kan peluru ke angkasa, lalu ia lepaskan lagi peluru lain, menyusul lantas berbenturan dengan peluru yang dibidikkan duluan, makin la-ma peluru yang dibidikkan makin banyak dan makin ramai pula bentrokan di udara hingga laksana.
bintang meluncur, tampaknya bagus sekali.
"Sin-tan (peluru sakti) yang hebat!"
Seru Hian Hong memuji. Gadis itu menoleh demi mendengar seruan orang, tapi waktu melihat Hiau-lan, ia jadi tertawa geli.
"He, malam itu apa kau tidak mampus ketakutan!"
Katanya ke-mudian. Maksudnya kejadian di hotel tempo hari itu.
"Liu-jing, lekas kau beritahukan ayahmu bahwa Kwantang-si-hiap minta bertemu!"
Kata Hian-Hong Tojin padanya.. Tanpa disuruh kedua kalinya, gadis itu lari pulang ke rumah.
"Nyo Tiong-eng tidak mempunyai putra, ia hanya punya putri tunggal ini sehingga memanjakannya laksana mestika!"
Tutur Hian Hong pada teman-temannya.
"Aku dengar dari kalangan persilatan di Soatang, katanya ada Li-sin-tong (anak perempuan ajaib) bernama Nyo Liu-jing, mungkin adalah dia ini!"
Kata Liu Sian-gai.
"Memang tidak salah,"
Sahut Hian Hong.
"Karena ayahnya menyukai pohon Yang-liu, oleh karena itu memberikan nama yang aneh itu padanya (Nyo Liu-jing atau Yang Liu-jing = pohon Yang-liu menghijau)."
Selagi mereka bicara, Nyo Tiong-eng sudah memapak keluar.
"Angin apakah yang telah meniup kalian ke sini!"
Sera orang she Nyo itu dari jauh. Kemudian ia menghaturkan terima kasih lebih dulu pada Liu Sian-gai dan Tan Goan-pa yang telah menolongnya pada malam itu.
"Masih ada pula engkoh cilik ini, malam itu ia telah hambur-kan segenggam Hui-bong, ayah seharusnya berterima kasih juga pa-danya,"
Nyo Liu-jing menimbrung dengan tertawa. Demi mendengar perkataan ini, Nyo Tiong-eng terbahak-bahak.
"Memang betul, aku sudah tua dan suka lupa, Siau-ko (eng-koh cilik) ini punya senjata rahasia sungguh tidak lemah!"
Katanya.
Dalam pada itu Hian Hong telah mengedipi Teng Hiau-lan, tanpa menunggu perintah lagi .segera Hiau-lan bertekuk lutut dan menjura tiga kali ke hadapan Nyo Tiong-eng.
Dengan bingung Nyo Tiong-eng menariknya bangun.
"Apa-kah artinya ini?"
Tanyanya dengan tidak mengerti.
"Anak ini sudah piatu dan tiada sandaran, harap Lauko (sau-dara tua) suka menerimanya sebagai murid,"
Kata Hian Hong ber-terus terang. Akan tetapi Nyo Tiong-eng tidak lantas menjawab, ia berkerut kening.
"Pulang saja dulu, bicaralah nanti!"
Sahutnya kemudian. Sesudah membawa tamunya ke rumah, lalu Nyo Tiong-eng menarik Hian Hong ke samping, sesudah bicara agak lama, barulah ia berpaling dan berkata pada Teng Hiau-lan.
"Coba kau tunjukkan semua kepandaian yang pernah kau pelajari!"
Hiau-lan juga tidak ayal, ia lolos pedang pusaka Yu-liong-pokiam, lebih dulu ia membungkuk memberi hormat, kemudian me-mainkan ‘Tui-hong-kiam-hoat’, segera tertampak sinar mengkilat menyambar memenuhi seluruh ruangan.
"Baiklah, sudah cukup!"
Sera Nyo Tiong-eng. Sedang Nyo Liu-jing masih membuka lebar kedua matanya mengincar Yu-liong-pokiam.
"Berdasarkan pada segenggam Hui-bong pada malam itu dan Tui-hong-kiam-hoat barusan ini, baiklah aku terima kau sebagai murid!"
Kata Nyo Tiong-eng kemudian.
Bukan main girang Teng Hiau-lan, dengan disaksikan Kwan-tang-si-hiap segera ia menjalankan penghormatan mengangkat guru.
Hian Hong mengangkat tangan memberi selamat pada Nyo Tiong-eng, katanya.
"Murid memilih guru dan guru memilih murid. Toako, aku tanggung kau merasa puas terhadap muridmu ini."
Nyo Tiong-eng tertawa, habis itu dengan sungguh-sungguh ia berkata pada Teng Hiau-lan.
"Anak murid dari golongan Ko-yang-pay kita biasanya keras sekali terikat oleh peraturan, kini aku ba-cakan padamu dua belas larangan dari perguruan kita, kau haras mempertimbangkan dengan baik, bila sekiranya kau keberatan, bo-leh kau katakan teras terang dan aku tak akan memaksamu!"
Teng Hiau-lan tak menjawab, dengan tangan luras ke bawah ia mendengarkan apa yang bakal diutarakan gurunya itu.
"Larangan pertama, tidak boleh mencuri, merampok dan ber-buat cabul!"
Demikian Nyo Tiong-eng mulai membacakan. Teng Hiau-lan mengangguk tanda setuju, lalu Nyo Tiong-eng melanjutkan pula.
"Kedua, tak boleh menjual kawan untuk keun-tungan sendiri. Ketiga, dilarang menghina dan menganiaya yang le-mah. Keempat, tak boleh dekat pembesar dan bergaul dengan peja-bat negeri. Anak murid Ko-yang-pang dilarang berhubungan dengan pembesar negeri, dapatkah kau menurat?"
Tanya Nyo Tiong-eng me-negas.
"Ayah angkatku Ciu-tayhiap terbinasa oleh jagoan kerajaan Boan, kebencianku terhadap pembesar negeri laksana duri menusuk tulang!"
Sahut Teng Hiau-lan dengan tegas.
"Dan yang kelima tak boleh berserikatan untuk berkelahi,"
Nyo Tiong-eng meneraskan pula.
"Keenam, dilarang minum arak danbikin onar …."
Ia membaca teras sampai pada yang kedua belps, ia berkata.
"Larangan terakhir ini paling penting, adalah tak boleh mendustai guru dan menodai leluhur! Segala urasan tak boleh berbohong pada guru, semuanya haras dikatakan yang sebenarnya, lebih-lebih dilarang bersekongkol dengan penjahat untuk menghina orang tua. Me-langgar larangan ini, hukuman enteng sedikitnya dimusnahkan ke-pandaiannya, hukuman berat, tubuh bisa dibeset menjadi beberapa keping, dapatkah kau menurut?"
Larangan terakhir ini mau tak mau membikin Teng Hiau-lan rada ragu-ragu. Tetapi rupanya Nyo Tiong-eng dapat menerka apa yang dikan-dung dalam pikiran pemuda itu, katanya.
"Aku mengerti asal-usul-mu memang sedikit aneh, maka tentang asal-usulmu yang dahulu aku tak peduli, tetapi selanjutnya semua urusan dilarang mendustai aku sedikitpun!"
"Apa yang telah lalu, aku sendiri pun tak jelas, tetapi selanjut-nya dengan sendirinya murid akan taat pada apa yang In-su (guru berbudi) pesan!"
Sahut Hiau-lan dengan menjura pula.
"Sudahlah, bangunlah kau!"
Dengan menghela napas akhirnya Nyo Tiong-eng berkata pula.
"Dalam beberapa puluh tahun ini be-lum pernah aku menerima murid, sekarang kau adalah Suheng! Liu-jing, sini, memberi hormatlah pada Suhengmu!"
Akan tetapi Nyo Liu-jing ternyata cukup bandel, ia tidak lan-tas menurut.
"Aku hendak menjajal kepandaiannya, kalau ia bisa menangkan aku baru kupanggil dia Suheng!"
Sahutnya manja. Keruan Hiau-lan jadi serba salah, lekas ia berkata.
"Kepandai-anku tak seberapa, bagaimana bisa menandingi Sumoay, tidak, Suci, apalagi aku lebih belakang masuk perguruan, mana aku berani?"
"Liu-jing, jangan sembarang omong, apa tak takut ditertawai para Supek yang ada di sini?"
Nyo Tiong-eng mengomeli gadisnya.
"Hiau-lan, berapa umurmu tahun ini?"
"Enam belas,"
Jawab Hiau-lan.
"Kau lebih tua dua tahun dari Liu-jing,"
Kata Nyo Tiong-eng pula.
"Urutan dalam perguruanku tidak mempersoalkan siapa yang lebih dulu belajar, tetapi diurut menurut tua-mudanya umur. Liu-jing, lekas memberi hormat dengan menjura dan seterusnya harus menurut perkataan Suheng!"
"Masih harus menjura segala?"
Kata si nona bengal sambil me-lelet lidah. Namun ayahnya keburu membentak lagi.
"Lekas lakukan!"
Terpaksa Nyo Liu-jing menurut, tapi dengan cepat Hiau-lan menariknya bangun.
Tak tahunya mendadak Nyo Liu-jing kipatkan tangannya, karena tak menduga akan kejadian yang tiba-tiba itu, hampir saja Hiau-lan terbanting jatuh.
"Jangan Totiang menertawai,"
Kata Nyo Tiong-eng pada Hian Hong atas kenakalan putrinya itu.
"Maklum, sejak kecil putriku ini sudah tak mempunyai ibu, aku terlalu memanjakannya, sudah ber-umur empat belas, masih bersifat anak-anak!"
Habis itu, ia berpaling dan berkata pada Teng Hiau-lan.
"Ilmu silat golongan kita paling mengutamakan pemupukan tenaga dasar, kulihat Kiam-hoatmu meski sudah baik, namun kekuatan dasarnya masih kurang, mulai besok kau boleh ikut aku belajar kepandaian dasar, kemudian maju setindak demi setindak, jangan serakah ingin belajar terlalu banyak. Kau sudah pernah belajar pada guru ternama, terhadap pelajaranku, apakah kau ada pendapat lain?"
"Aku menginginkan siang belajar silat dan malam belajar sas-tra, sedikit banyak murid ingin mempelajari kitab!"
Sahut Hiau-lan mendadak.
Mendengar permohonan yang tiba-tiba itu, Kwantang-si-hiap saling pandang dengan tercengang.
Umumnya dalam dunia persilatan kalau menerima murid, se-lamanya yang diutamakan adalah kepandaian menggunakan senjata dan tipu pukulan, terhadap kaum sekolahan yang lemah gemulai sa-ma sekali tak dipandang sebelah mata, juga selamanya tiada murid yang mengajukan permohonan serupa itu.
Nyo Tiong-eng sendiri pun tercengang oleh permintaan Hiau-lan yang tak tersangka-sangka itu, segera ia tertawa terbahak-bahak!
"Baik, apa yang kau katakan cocok dengan pendapatku!"
De-ngan mengelus jenggot Tiong-eng berkata sambil tertawa.
"Hian Hong Toheng, kita orang yang belajar silat sering kali mempunyai ciri berangasan, waktu aku masih muda, entah berapa banyak keo-naran yang telah kulakukan. Aku punya putri kesayangan ini, baru bisa sedikit kepandaian sudah seperti anak liar, hanya pintar main senjata, tapi soal sopan-santun sedikitpun tidak paham. Menurut pandanganku, kelak tentu susah mencarikan jodoh untuknya, maka sudah lama aku pun punya pikiran hendak mencari guru buat meng-ajar dia membaca, untuk mengubah tabiatnya yang liar biarpun ha-nya sedikit. Hiau-lan bermaksud belajar Bun dan Bu, hal ini sung-guh baik sekali. Aku mempunyai seorang saudara sepupu, walaupun Siucay yang tak lulus, tetapi cukup mengerti dasar sastra, besok aku undang dia memberi pelajaran sastra pada mereka berdua."
Mendengar uraian itu, diam-diam Hian Hong menertawai, ba-tinnya.
"Putrimu ini terang kau sendiri yang terlalu memanjakan se-hingga begini bengal, ada sangkut-paut apa dengan soal sekolah se-gala?"
Begitulah Nyo Tiong-eng telah menerima Teng Hiau-lan seba-gai murid, ia gembira sekali dan segera memerintahkan putrinya itu mengantar muridnya ke belakang untuk sembahyang di depan abu Subo (ibu guru), sedang ia sendiri mengawani Kwantang-si-hiap mengobrol, sampai akhirnya Kwantang-si-hiap mohon diri, barulah ia masuk ke belakang untuk mencari Teng Hiau-lan.
Tak terduga sudah dicari kian kemari masih belum ketemu, waktu sampai di pelataran dalam baru mendadak ia mendengar ada suara gedebukan beradunya kepalan, waktu ia menegasi, terlihat pu-tri saru-sarunya itu sedang mengayun tangan dengan kencang, se-dang mencecar Teng Hiau-lan hingga yang tersebut belakangan ini terpaksa harus main mundur terus.
Kiranya Nyo Liu-jing masih bersifat kekanak-kanakan, sesu-dah menyembah Suheng tadi, dalam hati ia kurang rela.
Sehabis ia membawa Teng Hiau-lan menyembahyangi Subo, segera ia tarik tangan pemuda itu dan diajak ke pelataran belakang.
Sudah tentu Teng Hiau-lan tak berani menolak, ia mengikut ke belakang.
Tapi setiba di pelataran itu Nyo Liu-jing mendadak ber-kata.
"He, coba lihat pedangmu itu!"
Keruan Hiau-lan ragu-ragu atas permintaan itu, belum sampai ia menjawab, Nyo Liu-jing sudah mendahului pula.
"Eh, kau ini mengapa begitu pelit, toh aku bukan menghendaki milikmu!"
Karena tiada jalan lagi, terpaksa Hiau-lan lepaskan pedang dan diangsurkan.
"Sumoay harap hati-hati, pedang ini sangat tajam, jangan sampai tanganmu terluka!"
Pesannya.
Nyo Liu-jing menyahut dengan mendenguskan suara dari hi-dung, sesudah itu ia lolos pedang terus dimainkan sejenak, gerak-annya walaupun tidak secepat Tui-hong-kiam-hoat, tapi sudah terhi-tung hebat dan mengagumkan.
"Sumoay memang hebat, delapan belas rupa senjata mahir se-luruhnya,"
Hiau-lan memuji. Tapi kembali N>o Liu-jing menjengek.
"Siapa sudi dipuji!"
Sahutnya dengan menarik muka.
"Hai, ayahku bilang kau punya Kiam-hoat sangat bagus, sekarang aku justru ingin coba ilmu pe-dangmu dengan kedua tanganku yang kosong."
"Sumoay punya kepandaian silat tinggi dan kuat, aku terima mengaku kalah, tak usah dicoba lagi,"
Kata Hiau-lan dengan rendah hati. Akan tetapi mana Nyo Liu-jing mau menurut.
"Nanti dulu,"
Katanya.
"perkataan tadi masih belum habis! Apabila aku kalah, se-gera aku menjura padamu tiga kali, tetapi kalau kau yang kalah, pe-dang ini harus kau berikan padaku. Nah, kini pedang ini kau ambil kembali dulu. Nih, terimalah!"
Berbareng itu, segera ia lemparkan pedangnya pada Hiau-lan sambil meneriakinya lagi.
"Terimalah dengan betul! Hayo, mengapa tidak lekas kau lancarkan seranganmu!"
Teng Hiau-lan menjadi gugup hingga mandi keringat.
"Mana boleh jadi!"
Katanya berulang-ulang sembari menggoyang tangan. Namun Nyo Liu-jing segera menjengek lagi.
"Hah, nampak-nya kau takut kalah dan kehilangan pokiam ini, apa kau kira aku tak bisa menerka hatimu!"
Katanya menyindir.
Sebenarnya Teng Hiau-lan tergolong anak cerdik juga, tetapi saat ini ternyata ia dipermainkan oleh Sumoay baru itu tanpa ber-daya dan serba salah.
Pedang pusaka itu adalah pemberian Ciu Jing, sudah tentu tak mungkin diberikan pada Nyo Liu-jing.
Karena itu dengan mandi keringat saking gugupnya, Hiau-lan hanya berdiri te-gak saja tak sanggup berkata-kata.
"Bagaimana?"
Desak si gadis bengal itu sambil maju dua tin-dak dan mengangkat tangannya.
Karena tiada jalan lagi, mau tak inau Hiau-lan harus ambil ke-putusan, ia masukkan pedang kembali ke sarungnya, sesudah itu ia angsurkan kepada Nyo Liu-jing.
"Sumoay, pedang ini kuberikan padamu saja!"
Melihat kelakuan orang, Nyo Liu-jing menegak kening.
"Huh, siapa ingin pemberianmu!"
Katanya kemudian sambil mendesak la-gi.
"Ayo, lekas angkat senjatamu, bila aku tak mampu dengan ta-ngan kosong merebut senjatamu, segera aku menjura padamu!"
"Ini … ini aku sekali-kali tak berani!"
Sahut Hiau-lan sambil mundur terus.
Akan tetapi si bengal ternyata tidak pedulikan orang, di antara suara tertawa dinginnya, mendadak satu serangan telah dikirim ke muka Hiau-lan.
Cepat Hiau-lan berkelit, namun terlambat, pipinya kena ditam-par hingga terasa panas pedas.
Kapan Hiau-lan pernah menerima hinaan semacam itu?
Ia tak bisa menguasai diri lagi dan naik darah.
Sementara itu Nyo Liu-jing beruntun menyusuli beberapa pukulan lagi, tiap pukulan cukup ganas.
Hiau-lan berusaha menghindarkan semua serangan itu, tetapi pundaknya kena digablok sekali lagi.
Untung usia Nyo Liu-jing ma-sih muda dan tenaganya kecil, kalau tidak, pasti Hiau-lan tak tahan oleh pukulan itu.
Akhirnya tak tahan lagi, Teng Hiau-lan lemparkan pedangnya ke tanah, sesudah itu dengan berdehem sekali ia berkata.
"Sumoay, aku terlalu dipaksa, baiklah aku layani Sumoay bermain, tapi jangan kau bersungguh-sungguh!"
"Bagus, akhirnya kau unjuk juga kepandaianmu!"
Sahut Liu-jing dengan tertawa genit.
Sebenarnya perbuatannya itu semata-mata hanya sifat kanak-kanak belaka.
Oleh karena ia lihat Suheng baru ini gugup, maka ia ingin mempermainkannya, padahal ia tidak bermaksud mengincar pedangnya dengan sungguh-sungguh.
Sifat Teng Hiau-lan halus di luar dan keras di dalam.
Sesudah merasakan dua kali gablokan dan tamparan tadi, ia naik darah dan gusar, ia kibaskan lengan bajunya terus pentang kedua tangan, berbareng susul-menyusul ia memukul.
"Pukulan hebat!"
Dengan tertawa Liu-jing berseru.
Berbareng tubuhnya sedikit menggeser, segera ia balik memotong lengan ka-nan Hiau-lan, ketika Hiau-lan menangkis ke atas dengan tangan kiri, Nyo Liu-jing cepat sekali mengubah tipu serangannya, dengan ge-rakan ‘Kim-liong-tam-jiau’ (naga emas mengulur cakar), cepat se-kali ia mengarah muka Hiau-lan, hendak mencakar!
Sebenarnya Hiau-lan hanya bermaksud memberi sedikit rasa pada lawannya agar si bengal menjadi kuncup dan mundur teratur.
Tak terduga, Nyo Tiong-eng yang disebut orang ‘Thi-cio-sin-tan’, dengan sendirinya dalam hal cio-hoat atau ilmu pukulan juga lain daripada yang lain.
Sejak kecil Nyo Liu-jing sudah belajar silat ikut ayahnya, walaupun usianya masih muda, tetapi dalam hal cio-hoat ia sudah hebat.
Ketika diketahui Teng Hiau-lan naik darah, balasan serang-annya cukup membahayakan, Nyo Liu-jing tertawa dingin beberapa kali, segera ia pun mengubah tipu serangannya, kedua tangannya naik turun dan memukul susul-menyusul, pukulannya begitu hebat lagi berani, tiba-tiba menyerang dan lain saat menjaga diri, menda-dak merangsek maju dan sekonyong-konyong mundur cepat.
Peru-bahannya beraneka ragam dan tiada hentinya memberondong lawan dengan pukulan dahsyat.
Baru kini Hiau-lan merasakan beratnya lawan, ia tidak men-duga cio-hoat si nona bisa begitu hebat.
Sesudah bertarung beberapa puluh jurus, perlahan-lahan tam-pak Hiau-lan tak unggulan dan tak tahan lagi.
"Bagaimana Suheng? Apa sudah letih?"
Sengaja Nyo Liu-jing terus menggoda.
"Serahkanlah pedangmu padaku! Tetapi itu adalah piala yang aku dapat dari kemenangan, aku tidak terima pemberian-mu secara cuma-cuma."
Saking gemas karena jahilnya si nona, dalam hati Teng Hiau-lan tak rela memberikan pokiam yang didapatnya dari Ciu Jing, de-ngan mengertak gigi ia coba bertahan terus.
Pikirnya, kau hanya seorang dara cilik saja, coba berapa besar tenagamu, kalau sudah lama, masakah kau sanggup bertahan.
Begitulah ia lantas ubah siasat, ia melulu menjaga rapat dirinya, ia pi-kir hendak membikin letih lawannya.
Tak terduga lewat beberapa puluh juras lagi, bukan saja dalam hal tenaga Nyo Liu-jing tidak menjadi berkurang, bahkan pukul-annya makin gencar dan lihai.
"Plak-plak!"
Terdengar dua suara lagi, ternyata Hiau-lan kena dijotos lagi dua kali di dada dan pundaknya.
Sungguhpun Nyo Liu-jing masih muda dan tenaga kecil, na-mun terasa sakit juga pukulannya itu.
Terpaksa dengan mendongkol bercampur gugup Teng Hiau-lan main mundur pula.
Saat itu ‘Thi-cio-sin-tan’ Nyo Tiong-eng keburu datang.
Se-akan terlepas dari tindihan berat, tanpa ayal lagi segera Hiau-lan melompat keluar kalangan sembari berseru.
"Suhu, Suhu!"
"Jing-ji, mengapa kau bergebrak dengan Suheng,"
Nyo Tiong-eng mengomeli putrinya dengan muka bersungut. Namun Nyo Liu-jing memang terlalu manja, ia banya ganda tertawa saja.
"Suheng mengajakku menjajal cio-hoat padanya,"
Sa-hutnya.
"Ayah pernah bilang aku harus menurut perkataan Suheng, maka terpaksa aku menurut juga."
Melihat cara Hiau-lan melayani Sumoaynya itu memang ber-sungguh-sungguh, maka Nyo Tiong-eng agak ragu, ia setengah per-caya.
"Kau punya Sumoay masih terlalu muda, sama sekali ia tidak mengerti aturan, jangan kau jajal padanya!"
Katanya pada Hiau-lan.
"Tidak, Sumoay yang memaksa bergebrak, aku didesak hing-ga tak ada jalan lain!"
Sahut Hiau-lan cepat, ia coba membela diri.
"Dan apa artinya ini?"
Tanya Nyo Tiong-eng sambil menunjuk Pokiam yang tergeletak di lantai..
"Sumoay menyukai pedang ini, aku berniat memberikan pa-danya …."
Belum selesai Hiau-lan menjawab. Tiba-tibaNyo Tiong-eng menjadi gusar.
"Jing-ji, makin lama kau makin berani, ya!"
Dampratnya.
"Sembarangan saja kau menghendaki pedang orang, tahukah kau asal-usul pedang ini?"
Dibentak ayahnya, akhirnya Nyo Liu-jing menangis.
"Siapa menghendaki pedangnya?"
Sahutnya sesenggukan. Keruan Teng Hiau-lan merasa tidak enak, ia serba salah dan tak tenteram.
"Sumoay tidak bilang menghendaki pedangku, ia hanya bilang suka pada pedang ini dan ingin bergebrak tangan kosong denganku,"
Akhirnya Hiau-lan mengelakkan kesalahan Liu-jing. Akan tetapi waktu Nyo Tiong-eng melihat muka Hiau-lan yang matang biru, ia lantas tanya.
"Dengan begitu, lalu kalian men-coba cio-hoat?"
Tiada jawaban, kedua muda-mudi itu menundukkan kepala. Sudah dapat diterka Nyo Tiong-eng bahwa pasti putrinya yang bersalah, tapi karena ia terlalu sayang padanya, maka tidak mengU; sut lebihjauh.
"Budak liar, perguruan kita paling mengutamakan tata-tertib, walaupun ia baru masuk perguruan hari ini, tapi toh tingkatan lebih tua, yang muda terhadap yang tua harus menghormat,"
Tak urung ia mengomeli putri kesayangannya itu juga.
"selanjutnya tak boleh kau-pamer kepandaian dan menghina yang lebih tua, seandainya hendak berlatih dan mencoba gebrakan juga tak perlu sungguh-sungguh seakan bertempur mati-matian dengan musuh!"
Kedua anak muda kembali menunduk dan tak berani menja-wab.
Walaupun begitu, dalam hati Teng Hiau-lan merasa penasaran, ia tidak salah, tapi ikut diomeli, mukanya berubah putih menghijau saking dongkolnya.
Rupanya Nyo Tiong-eng dapat menerka perasaan orang, ia memegang tangannya dan dengan lemah lembut berkata padanya.
"Hiau-lan, Sumoaymu masih anak-anak, jangan kau sesalkan dia. Kwantang-si-hiap akan berangkat, pergilah kau keluar memberi sa-lam perpisahan pada mereka!"
Lalu ia membawa Hiau-lan ke ruang depan.
Melihat mukanya yang matang biru, Kwantang-si-hiap saling pandang dan tersenyum, agaknya mereka mengerti apa yang telah terjadi.
Lalu Hiau-lan menghaturkan terima kasih atas budi pertolong-an Kwantang-si-hiap terhadap jiwanya.
"Sejak kecil aku telah piatu, untung mendapat didikan dari Ciu-tayhiap dan ajaran silat dari Pang-suhu,"
Katanya dengan suara sesenggukan.
"tapi kini kedua Suhu sudah tewas dengan mengenaskan, Suso dan Titli ditawan musuh pula, untuk ini masih meng-harap Si-hiap suka bantu menyelidiki jejak dan memberi pertolong-an pada mereka."
"Kau betul-betul berperasaan dan berbudi luhur, cuma khawa-timya keinginan ada, tapi tenaga tidak cukup. Syukur murid kesa-yangan Tok-pi-lo-ni, Lu Si-nio, kinipun sudah turun gunung,"
Ujar Hian Hong Tbjin tertawa.
"Begini saja, kami nanti akan mencari dia (Si-nio) dan minta agar dia pun memberi banruan padamu."
Mendengar Hian Hong menyebut Si-nio, hati Hiau-lan tergun-cang. Tetapi segera ia haturkan terima kasih pula.
"Lewat beberapa tahun lagi, sesudah pelajaranmu tamat, kami akan datang ke sini menyambangimu,"
Kata Hian Hong akhirnya.
Habis itu mereka lantas berangkat.
Semenjak itulah Teng Hiau-lan tinggal di rumah keluarga Nyo, siang hari belajar silat dan malam harinya belajar ilmu sastra.
Semula ia masih menguatirkan Nyo Liu-jing menggoda padanya, ia tidak mengerti cara bagaimana harus melayani Sumoay cilik yang nakal itu.
Tak terduga, sesudah Teng Hiau-lan menutupi kebengalan Nyo Liu-jing tempo hari di depan ayahnya, dara cilik itu berbalik menaruh kemauan baik terhadapnya.
Sungguhpun tabiatnya bengal dan liar, tetapi sejak itu ia tidak mencari onar lagi padanya, dengan begitu kedua anak muda ini dapat hidup rukun aman tenteram.
Sang tempo lewat dengan cepat, sekejap saja lima tahun sudah berlalu.
Ko-yang-pay tergolong cabang silat Lwekeh asli, oleh karena itu, setelah Teng Hiau-lan belajar selama lima tahun, alas dasarnya terpupuk dengan kuat, ‘Tui-hong-kiam-hoat’ juga dilatihnya makin sempurna.
Pada waktu senggang, ia pun sering berlatih dengan Nyo Liu-jing, dalam hal ‘cio-hoat’ (ilmu pukulan telapak tangan) dan kepan-daian membidik peluru dengan gendewa walaupun masih belum bi-sa memadai Sumoaynya, namun sudah banyak berlainan daripada pertama kali mereka bergebrak, pada waktu itu ia selalu di pihak ter-serang.
Sedang mengenai membaca, Nyo Liu-jing yang tabiatnya ban-del dan malas, ia kalah jauh dibanding Teng Hiau-lan, banyak soal dan pekerjaan kerap kali harus menjiplak dari Suhengnya ini.
Oleh sebab itu juga, kadang-kadang Nyo Liu-jing malah harus mendekati Hiau-lan.
Terhadap tabiat Sumoay cilik yang sebentar senang dan lain saat uring-uringan itu, Hiau-lan sering kewalahan dan serba susah.
Semenuira itu, Hiau-lan kini sudah menginjak umur dua puluh satu, dan Nyo Liu-jing pun sudah sembilan belas tahun.
Nyo Tiong-eng yang usianya sudah mulai lanjut, menyaksikan sepasang putra-putri cakap di hadapannya ini, dalam hati timbul se-macam perasaan aneh.
Pada suatu hari, diam-diam ia bertanya pada putrinya.
"Bagai-mana pendapatmu tentang Suhengmu ini, nak?"
Semula Nyo Liu-jing agak bingung.
"Tidak ada apa-apa, untuk apakah ayah tanyakan ini?"
Sahutnya. Nyo Tiong-eng tertawa oleh kepolosan anak daranya.
"Anak bodoh,"
Katanya.
"umurmu sudah tidak kecil lagi, ah, sudah sepan-tasnya kau memikirkan hari depanmu. Nah, bagaimana pandangan-mu atas tingkah-laku Suhengmu, kulihat dia termasuk pemuda yang baik, bukan?"
Baru kini Nyo Liu-jing bisa menangkap kemana maksud per-kataan ayahnya, mukanya menjadi merah.
"Aku tidak tahu tingkah-laku segala, kemarin ia berlatih denganku dan masih belum bisa menandingi aku!"
Katanya dengan aleman.
Nyo Tiong-eng tersenyum, ia tak bertanya lagi, ia pikir mung-kin putrinya tak penujui karena kepandaian Hiau-lan kurang tinggi.
Sebenarnya Nyo Tiong-eng sangat menyukai Teng Hiau-lan, ia pikir kalau putrinya tidak penujui, maka hal itu boleh dianggap berakhir.
Di samping itu, ia juga memikirkan asal-usul Teng Hiau-lan yang tidak terang, bila putri kesayangannya harus dijodohkan padanya, sedikitnya masih harus dipertimbangkan lagi.
Namun ia tidak tahu, sesungguhnya putri kesayangannya itu sudah menanam bibit percintaan yang dalam sekali.
Dalam pergaulan rapat selama lima tahun itu, meskipun Nyo Liu-jing sudah biasa dimanja dan terlalu menuruti tabiatnya yang keras, namun Teng Hiau-lan bisa mengimbanginya, ia cukup sabar dan merendah terhadap Sumoaynya itu, lambat-laun akhirnya Liu-jing merasa hampa bila tanpa Hiau-lan di sampingnya.
Tetapi nona itu sendiri masih belum mengetahui bahwa itulah yang dinamakan cinta.
Akhimya sesudah ayahnya membicarakan soal perjodohan, baru ia sadar.
Terhadap urusan besar kehidupannya kelak, mau tak mau ia harus menaruh perhatian.
Belum pernah ia memikirkan soal menikah, oleh karena itu ju-ga, atas pertanyaan ayahnya ia pura-pura tak tahu maksudnya dan malu-malu kucing, ia pun menyimpangkan pokok pembicaraan.
Pada sore harinya, dengan perasaan menanggung asmara, Nyo Liu-jing kembali ke kamar baca, ia lihat Hiau-lan sudah berada di situ dan sedang giat belajar, tanpa terasa ia menjadi kikuk, ia ingin giat belajar serupa Hiau-lan, namun bagaimanapun tak bisa tenang.
Pada kesempatan lain ia coba melirik Hiau-lan, anak muda itu masih terus memandang kitabnya dengan penuh perhatian laksana tidak tahu kedatangannya.
"Suheng, mari kita pergi mendaki gunung!"
Mendadak ia me-ngajak dengan tertawa riang sambil melempar bukunya.
"Lho, mengapa hari ini mendaki gunung lagi?"
Sahut Hiau-lan dengan tak mengerti.
"Aku sedang senang, kau mau pergi atau tidak?"
Kata Liu-jing. Hiau-lan tak berani menolak, ia tertawa getir sambil melempit bukunya.
"Baiklah, kalau kau suka pergi, aku tentu mengiringimu!"
Katanya kemudian.
"Melihat wajahmu yang bersungut, biarlah kita pergi menem-bak burung saja, bukankah akan lebih senang daripada membaca kitab di sini!"
Dengan tertawa Liu-jing berkata setelah mengambil gendewanya.
Rumah keluarga Nyo membelakangi bukit dan menghadap te-laga, setelah mendaki gunung di belakang rumah, pemandangan te-laga dari jauh tertampak dengan jelas, sekelilingnya rindang dengan pepohonan yang menghijau, sedang bunga-bunga hutan mekar me-menuhi lereng bukit menambah keindahan alam semesta.
Hiau-lan memandang jauh dari tempat tinggi, .hatinya yang lagi kesal jadi la-pang, perasaannya yang ogah-ogahan tadi seketika lenyap separoh.
Di antara bunga hutan dan pohon yang rindang itu, burung-burung berkicau dengan ramainya.
Mendadak Nyo Liu-jing pentang gendewanya terus membidik, di antara dua suara teplokan yang ter-dengar, menyusul dua ekor burung kenari jatuh tertembak.
"Burung sedang berkicau begitu merdu, kenapa kau membi-diknya?"
Cela Hiau-lan.
"Sungguh sayang, pemandangan bagus te-lah kau musnahkan!"
Kalau menuruti adatnya, dicela begitu pasti Liu-jing akan ma-rah. Tetapi kini ternyata lain, dengan tertawa genit ia malah mengo-meli Hiau-lan.
"Ah, calon Siucay tengik hendak unjuk kepintaran lagi, aku justru senang membidiknya,"
Katanya terus menarik busur hendak membidik pula.
Selagi Hiau-lan hendak menasihati lagi, tiba-tiba ia urungkan, matanya menatap ke sana tertarik oleh sesuatu.
Nyo Liu-jing memandang menurut arah yang dituju Hiau-lan, terlihat olehnya dari hutan lebat sana mendadak muncul dua orang, seorang tua dan yang lain muda, dengan tertawa mereka menyaksi-kan dia membidik burung.
Diam-diam Nyo Liu-jing aseran, tapi karena orang-orang itu tak dikenalnya, maka tiada alasan buat dia unjuk wataknya yang bu-ruk, ia paksakan diri menahan perasaannya.
Ia tertawa dingin dan berkata pada Teng Hiau-lan.
"Apa kau tahu cara aku membidik, belum kau lihat jelas sudah berani mengo-meli orang. Cara membidik tadi disebut ‘pukul hidup-hidup tidak sampai mati, patahkan sayap tidak lecetkan kulit’. Tahukah kau?"
Habis berkata ia pentang gendewanya lagi dan kembali seekor burung kenari kena ditembak jatuh.
Hiau-lan coba mengambil burung itu, burung kenari itu me-lonjak dua kali di tangannya, lalu pentang sayap berniat terbang, na-mun tak sanggup.
Kiranya bidikan Nyo Liu-jing tadi hanya mengenai tulang le-mas atau tulang muda pada sayap burung kenari itu, tetapi sedikit-pun tidak melukai daging maupun kulitnya, bahkan lecet sedikitpun tidak, cukup apabila kenari itu mengaso sebentar segera akan kuat terbang lagi.
Sungguhpun Teng Hiau-lan sudah sekian lama berkumpul dengan Nyo Liu-jing, namun ia masih belum tahu bahwa kepandaian membidik peluru sang Sumoay sudah begitu mahir dan sudah di puncak kesempumaan.
Bukan saja ‘Pek-hoat-pek-tiong* (seratus ka-li bidik seratus kali kena), malahan soal kekuatan yang dipakai juga begitu tepat, tidak lebih tidak kurang, persis menurut kebutuhan.
Kepandaian seperti tadi, membidik burung yang lagi terbang di angkasa dan menangkapnya hidup-hidup, Hiau-lan sendiri belum sanggup.
Melihat wajah Hiau-lan, Nyo Liu-jing dapat menduga anak muda itu sedang mengagumi dirinya, maka ia bertambah senang, se-gera ia tarik busur hendak menembak lagi.
Sementara itu tamu tadi mendadak melangkah maju setindak.
Saat itu Nyo Liu-jing telah melepaskan pelurunya lagi, laksana bintang meluncur cepatnya, saling susul dua pelurunya menyambar menuju dua burung kenari.
Tak terduga, pelurunya tahu-tahu menyambar lewat dan kedua ekor burung kenari yang ia arah ternyata hanya bercuit kaget terus pentang sayap dan terbang kabur.
Kejadian di luar dugaan yang belum pernah dialaminya, mem-bikin Nyo Liu-jing bermuka merah, ia merasa tidak mengerti kenapa bidikannya bisa meleset.
Ketika Nyo Liu-jing tengah merasa bingung, terdengar Teng Hiau-lan berkata dengan lantang.
"Gerak tangan tamu ini sungguh bagus sekali!"
Katanya memuji.
Kiranya pada waktu Nyo Liu-jing membidik burung tadi, pe-muda asing tadi telah menggerakkan tangan dan menyentil jarinya, dua jarinya yang menjepit dua buah ‘Po-teh-ci’, semacam senjata rahasia kecil berupa butiran tasbih, telah ia selentikkan hingga mem-bentur peluru Nyo Liu-jing dan membelokkan arahnya.
Nyo Liu-jing yang sedang mencurahkan seluruh perhatian pa-da bidikannya, tak tahu orang berbuat jahil, sebaliknya Teng Hiau-lan sudah biasa memakai senjata rahasia lembut kecil serupa Hui-bong, malah Hui-bong jauh lebih kecil dari ‘Po-teh-ci’, oleh karena itu, begitu nampak jari tangan si pemuda bergerak, segera Hiau-lan tahu apa yang terjadi.
Setelah tersingkap rahasianya oleh Hiau-lan, selagi pemuda asing itu hendak buka suara, baru bibirnya bergerak, mendadak pe-luru Nyo Liu-jing laksana hujan sudah dibidikkan padanya saling susul dan beterbangan, dalam sekejap ada tujuh delapan peluru yang mengarah padanya.
Mau tak mau pemuda itu kerepotan juga, ia kibaskan lengan bajunya dengan cepat dan tubuhnya berkelit dengan sebat, dengan begitu ia berhasil mengebut jatuh peluru yang dibidikkan Nyo Liu-jing, di samping ia hindarkan dengan berkelit.
"Kau nona cilik ini sungguh tak tahu aturan!"
Akhirnya pe-muda itu buka mulut juga.
Mendingan bila ia tidak buka mulut, begitu ia bersuara, tiba-tiba sebuah peluru menyambar ke mukanya, ia hendak mengegos menghindarkan diri, namun terlambat, dengan tepat peluru itu kena bibirnya hingga gigi depan goyah, tidak urung ia merasa sakit yang tidak kepalang dan mulut berdarah.
Tamu asing yang tua sebenarnya masih menonton di samping dengan tertawa, kini melihat kawannya kena bidik,.
lekas ia maju dan memapah pemuda itu.
"Bagaimana keadaanmu?"
Tanyanya de-ngan khawatir.
"Tak apa-apa!"
Sahut pemuda itu dengan menahan sakit.
Lalu ia semprotkan air darah yang memenuhi mulutnya, untung giginya tidak sampai patah dan copot!
Dalam pada itu Nyo Liu-jing sudah menyimpan kembali gen-dewanya, ia tertawa mengejek.
"Nonamu membidik burung sendiri, ada sangkut-paut apa de-ngan kalian, untuk apa kau unjuk kepintaran dan berbuat jahil?"
Ka-tanya dengan penasaran.
"Hm, aku kira kepandaianmu tinggi, tak tahunya sebutir peluru kecil itu saja tidak tahan. Ini namanya jual lagak di hadapan guru!"
Diejek begitu, wajah pemuda itu berubah, dalam hati ia gemas sekali, batinnya.
"Kau budak liar ini, kalau tidak diberi sedikit rasa, tentu tidak tahu kelihaian tuan mudamu!"
Walaupun dalam hati mendongkol dan mencaci, tapi di mulut ia tak berani mengatakannya.
Si tamu asing yang tua rupanya adalah ayah si pemuda, ia menghela napas melihat keadaan pemuda itu, ia seperti khawatir ka-lau pemuda itu menjadi murka, maka mengulur tangan menghadang sambil melompat maju.
"Nona cilik ini apakah putri kesayangan Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng?"
Tanyanya dengan ramah.
Akan tetapi Nyo Liu-jing telah ngambek, ia palingkan kepala ke jurusan lain dan tidak menjawab pertanyaan orang, rasa gusarnya masih belum padam, ia masih ingin melabrak si pemuda.
Dalam hati ia berpikir, tua bangka ini kenal nama ayahku, boleh jadi ia adalah sahabat ayah, apabila aku menjawab pertanyaannya, maka perkela-hian tentu akan gagal, biar aku tidak menggubris padanya agar ke-gusaran mereka timbul, dengan begitu aku dan Teng-suheng bisa menghantam mereka hingga kocar-kacir.
Sebaliknya tidak demikian dengan jalan pikiran Teng Hiau-lan, ia berusia lebih tua, pengalamannya pun lebih banyak, waktu ia lihat Nyo Liu-jing membuang muka tidak menggubris, sedang orang tua itu tampak bersikap serba salah dan canggung, ia khawatir kea-daan makin memburuk, tak terasa sebelah tangannya memegang pundak Sumoaynya sembari berkata dengan suara perlahan.
"Sudah-lah, jangan kau gusar, apa kau lupa pada apa yang Suhu ajarkan pa-damu? Terhadap tamu hams hormat. tak boleh seperti ini."
Habis itu ia berpaling dan berkata pula kepada orang ma tadi.
"Kedua man tamu jangan gusar, memang betul kami adalah …."
Belum selesai kata-kata "anak murid Thi-cio-sin-tan"
Diucap-kan, tiba-tiba pemuda tadi sudah memotong perkataannya.
"Peduli apa denganmu, anak haram?"
Dengan gusar ia membentak.
"Sek-kiu, jangan kau sembarang buka mulut memaki orang!"
Lekas orang ma itu mencegah.
Seketika Teng Hiau-lan tertegun karena bingung, ia hentikan kata-katanya yang masih belum selesai itu, sedang pemuda tadi de-ngan mata berapi bagaikan srigala Iapar sedang melotot padanya, ia heran dan tidak tahu sebab-musabab yang membikin pemuda itu begitu murka?
Patutnya, yang melukai pemuda itu adalah Sumoaynya dan ia sendiri justru menasihati dengan maksud baik, bukannya orang mur-ka terhadap Sumoaynya, sebaliknya malah mencaci-maki padanya, sungguh keterlaluan.
Demikian pikir Hiau-lan.
Sementara itu si pemuda sesudah ditegur ayahnya, amarahnya masih belum lenyap, ia melompat maju lagi.
"He, kau ini tentu mu-rid pujian Nyo-lokunsu!"serunya dengan suara lantang.
"Aku yang tak berguna ini ingin mencoba ilmu silat anak murid jago ternama."
Melihat orang malah menantangnya, betapa sabar Teng Hiau-lan kinipun timbul kegusarannya, namun sedapat mungkin ia coba bertahan.
"Kita selamanya tak pernah kenal, untuk apa harus bertanding dan menjajal silat!"
Sahut Hiau-lan walaupun dengan mendongkol.
Jika Hiau-lan coba mengelakkan pertarungan yang tiada man-faatnya itu, tidak demikian Nyo Liu-jing, gadis ini menjadi gusar dan matanya mendelik, ia memutar tubuh dan mendorong Hiau-lan.
"Suko, bagaimana kau ini?"
Dengan gusar ia tegur Suhengnya.
"Orang mencaci-maki hingga kakek-moyangmu ikut tersangkut, kau ternyata terima begitu saja, apakah kau tidak takut ditertawai orang sebagai sampah yang tak berguna? Kau tak malu, aku yang merasa terhina, lekas kau maju terima tantangannya, kalau tidak, aku takkan mengaku kau sebagai Suheng lagi!"
Dalam pada itu, tamu yang ma cepat mencegah, katanya.
"Aku dan Nyo-loenghiong adalah sahabat lama, Siauji (anakku) tabiatnya berangasan dan tak pandai bicara hingga membikin kesal Siauko (engkoh cilik) ini, di sini aku wakilkan dia mohon dimaafkan!"
"Kami berikan maaf,"
Timbrung Nyo Liu-jing dari samping.
"tetapi karena kami sudah ditantang dengan tunjuk hidung, setidak-nya kami harus minta pengajaran beberapa gebrakan dalam hal ilmu pukulan!"
Perkataan menerocos itu, mau tak mau membikin orang ma itu berkerut kening.
"Putri Nyo Tiong-eng mengapa begini kasar dan li-ar?"
Begitu pikirnya dalam hati. Sementara itu, belum disuruh si pemuda sudah melepaskan ba-ju luarnya terus dilemparkan ke tanah.
"Baiklah aku minta penga-jaran beberapa gebrak dahulu dari Siauko ini, apabila bemntung aku yang menang, nanti boleh kusambut ilmu silat nona!"
Dengan dong-kol ia terima ucapan Nyo Liu-jing.
Ditantang dan didorong dari kedua belah pihak, ditambah da-lam hati memang gusar terhadap pemuda yang dianggapnya tak so-pan itu, Teng Hiau-lan kipatkan tangan Liu-jing yang masih me-megangnya, lalu ia melompat maju ke tengah kalangan.
"Kalau saudara berkeras hendak menjajal padaku, Siaute ter-paksa terima dengan baik!"
Dengan merangkap kedua kepalan ia pun berseru.
"Bagus, bagus!"
Sambut si pemuda.
Sesudah itu dengan cepat ia mendahului memukul dan menjo-tos kepala orang.
Hiau-lan berdiri tegak, ia tidak bergerak sedikitpun, ia tunggu tangan lawan mendekat baru mendadak mengegos ke samping, ber-bareng sebelah tangannya memotong miring ke atas, keruan kedua tangan bentrok dan menerbitkan suara, pemuda itu tergetar mundur dua tindak.
Dalam beberapa tahun ini Lwekang Teng Hiau-lan telah maju pesat, kepandaiannya dalam hal ‘thi-cio’, telapak tangan besi, sudah terlatih dengan sempurna, bila orang lain, kena dipotong tangannya pasti patah!
Namun pemuda itu ternyata lihai juga, begitu mundur lantas maju kembali, dengan langkah cepat ia menubruk ke depan terus ke-dua kakinya menendang saling susul.
Cepat tangan kiri Hiau-lan memotong dengan gerak ‘Hok-te-cam-hou’ (mendekam lantai memenggal harimau), namun pemuda itu menarik sebelah kakinya, menyusul sebelah kaki yang lain me-nendang pula dan begitu seterusnya, kakinya naik turun dengan ce-pat sekali.
Mau tak mau Teng Hiau-lan terdesak mundur menghin-darkan tendangan yang makin gencar itu.
"Kepandaian tangan tak bisa menandingi hingga kaki ikut ma-ju!"
Terdengar Nyo Liu-jing mengejek di samping.
Sekonyong-konyong tertampak pemuda tadi menubruk ke de-pan, kedua kakinya berdiri kuat, dengan tangan kiri melindungi diri, tangan kanan segera memukul ke dada Hiau-lan sambil membentak.
"Baik, sekarang coba lagi ‘thi-cio’ keluarga Nyo kalian yang terso-hor!"
Atas pukulan lawan yang cepat itu, Teng Hiau-lan masih sem-pat memutar tubuh dan berganti langkah, lalu kedua tangannya balas memukul berbareng Tak terduga, gerak pemuda lawan ternyata sebat luar biasa, kedudukan tubuhnya tidak berubah, tapi ia menggeser kaki terus menangkiskan tangannya ke atas, menangkis sambil menyerang, de-ngan cepat ia memukul kuat hingga membawa sambaran angin.
Kiranya yang diyakinkan pemuda itu adalah ‘Ngo-hing-kun’, gerakan ‘Ngo-hing-kun’ terdiri dari tipu serangan yang merangsek terus-menerus.
Serangan pertama tadi diterima Teng Hiau-lan dengan keras lawan keras, yakni beradunya kedua tangan dengan kuat.
Rupanya tenaga pemuda tadi kalah kuat, atas benturan itu ia tergetar mundur hingga tipu serangan lain tak sempat dikeluarkan, terpaksa ia keluarkan ‘Wan-yang-lian-hoan-tui’, tendangan susul-menyusul tadi, untuk menahan musuh dan balas menyerang.
Tetapi tendangan saling susul dengan cepat itu tak bisa ber-tahan lama karena harus banyak mengeluarkan tenaga, oleh karena itu, pada kesempatan Nyo Liu-jing menyindir tadi, Teng Hiau-lan yang lagi terdesak oleh tendangannya segera ia ubah dan kembali pada silat pukulan asli ajaran perguruannya.
Dalam pada itu si pemuda sudah dapat mengukur kekuatan masing-masing pihak, ia tahu tenaga dalam sendiri masih belum me-madai Hiau-lan, maka ia selalu menghindari berhadapan dari muka, senantiasa menyerang dari samping dibarengi dengan pukulan yang cepat, begitu mendahului, segera merangsek beruntun secara mem-badai, dengan begitu Teng Hiau-lan tak diberi kesempatan menge-luarkan kepandaian ‘thi-cio’nya yang memang lihai itu.
Pertarungan mereka berdua makin lama makin hebat dan se-ngit, tiap serangan Ngo-hing-kun pemuda itu dengan cepat selalu disusul pukulan yang kedua, ketiga dan seterusnya!
Teng Hiau-lan tidak menjadi gentar, kuda-kudanya terlatih begitu kuat, ia menancapkan kaki begitu rupa tanpa goyah sedikitpun, sedang tiap gerak pukulannya pun mengandung tenaga luar biasa, ditambah kepandaian menangkap dan mencekal dari Kim-na-jiu-hoat.
Sesudah pertarangan berjalan hampir enam tujuh puluh jurus, tiba-tiba pemuda itu memukul dengan gaya membelah, ia memo-tong dari atas ke bawah.
Tenaga pukulan ini sangat kuat, Teng Hiau-lan angkat tangan-nya menangkis, kepalan dan telapak tangan beradu, tetapi segera Hiau-lan merasa telapak tangan kesakitan, ia barengi menyampuk ke samping hingga kepalan tangan lawan dilempar pergi, menyusul Hiau-lan surungkan telapak tangan ke depan.
Namun lawan cukup licin juga, dengan gerakan ‘Say-cu-yo-thau " (singa menggeleng kepala), mendadak ia mengubah tipu pu-kulan dengan gaya ‘menyelusup’, kepalan menerobos dari bawah te-rus menghantam ke rahang Teng Hiau-lan.
Tipu serangan ini terkenal dengan nama ‘Ciong-thian-bau’ (meriam menggelagar di angkasa), kepalan menjotos ke atas.
Tetapi Teng Hiau-lan tidak gampang dipedayai, ia ayun kem-bali tangannya, dari menyurung ia ubah menjadi menggaet, dengan begitu kepalan si pemuda yang menyelusup hendak menjotos kena disampuk pergi lagi.
Menyusul dengan cepat luar biasa mendadak Teng Hiau-lan putar badan terus menarik sambil membentak.
"Kena!"
Kedua tangannya dengan cepat dapat menahan lengan si pe-muda dengan Kim-na-jiu-hoat (ilmu mencengkeram) yang lihai, te-rus ia barengi puntiran.
Tak tersangka, sekonyong-konyong pemuda itu menjatuhkan diri ke bawah, kakinya secepat kilat menendang ke bawah iga Teng Hiau-lan!
Serangan di luar dugaan itu cepat sekali, dengan tepat Hiau-lan terkena, ia menjerit, tangannya yang membetot tadi ia surung la-gi, cekalannya menjadi kendor, maka ia roboh terguling.
Namun tidak terkecuali si pemuda itu, dengan sekali jeritan ia pun menggelongsor telentang.
Terkejut sekali Nyo Liu-jing waktu nampak Suhengnya roboh, gendewanya bekerja dengan cepat, di antara suara jepretan tali gen-dewanya itu, beberapa peluru ia bidikkan untuk menahan musuh dan menolong kawan.
Si orang tua yang menonton sejak tadi tertawa bergelak, ia ki-baskan kedua lengan bajunya, maka tertampak lengan bajunya rae-nari beterbangan, sedang peluru tidak tampak ada yang terjatuh, agaknya semua digulung lengan bajunya itu.
Mendadak orang tua itu bersoja menghadap ke atas sambil berseru.
"Nyo-toako, selamat bertemu!"
Waktu Nyo Liu-jing membuka mata lebar-lebar, terlihat oleh-nya seorang secepat terbang dari sebelah bukit sana sedang men-datangi, siapalagi kalau bukan ayahnya!
Sementara itu Teng Hiau-lan dan pemuda tadi sudah merang-kak bangun.
Si pemuda meringis, kedua tangannya lurus ke bawah karena kesakitan.
Teng Hiau-lan sendiri juga memegang pinggang dan kaki lemas, tulang iganya pun kesakitan.
Kedua orang kesakitan terkena serangan lawan.
Sementara itu dengan tangan masih menarik tali gendewa, Nyo Liu-jing masih terkesima di samping.
"Jing-ji, tentu kau telah bikin onar lagi bukan?"
Omel Nyo Tiong-eng pada putrinya sesudah berhadapan. Liu-jing tak berani menjawab, Hiau-lan yang mewakilkan dia menjawab dengan muka kemerahan.
"Tiada sangkut pautnya dengan Sumoay, saudara inilah yang memaksa hendak menjajal diri murid!"
Tuturnya.
Nampak Hiau-lan selalu berusaha membela Nyo Liu-jing, si pemuda tadi kembali memperlihatkan wajah yang gusar dan benci, ia pelototi Teng Hiau-lan.
Si orang tua rupanya dapat melihat itu, ia merasa dongkol ber-campur geli.
"Putramu kiranya sudah begini besar, bukankah dia ini yang bernama Sek-kiu?"
Kata Nyo Tiong-eng dengan gembira setelah me-mandang sejenak pada pemuda tadi.
"Nyo-toako, kubawa keponakanmu datang menyambangimu, tentu tidak kau sangka bukan?"
Sahut si orang tua.
"Haha! Kepandaian Sek-kiu temyata sudah banyak maju, ten-dangan kilat tadi harus dipuji kebagusannya!"
Dengan gelak tertawa Nyo Tiong-eng berkata pula.
"Hiau-lan, sini berkenalan dengan Su-heng ini! Eh, mengapa baru saja bertemu kalian lantas saling jajal!"
Paras si pemuda berubah merah oleh perkataan terakhir itu.
"Jing-moay punya kepandaian hebat sekali dan pelurunya pun sa-ngat jitu!"
Katanya kemudian. Penuturan itu membikin Nyo Tiong-eng menjengek, ia pan-dang putrinya dengan sinar mata keren sambil mengelus jenggot.
"Kembali kau pamerkan gendewa serta pelurumu!"
Omelnya pada sang putri. Nyo Liu-jing menunduk, mukanya sedikit diangkat dan biji matanya sedikit melirik.
"Oh, tidak, tidak!"
Lekas si pemuda coba membantah buat Nyo Liu-jing.
Si orang tua tadi sebenarnya bermaksud membiarkan Nyo Tiong-eng memberi ajaran pada putrinya, tetapi waktu ia pikir pu-tranya pun bersalah, kini melihat Nyo Tiong-eng mendesak dan pu-tranya menjawab tak keruan serta gugup, ia tersenyum dan menim-brung.
"O, tidak! Jing-ji hanya mempertunjukan kepandaian ‘mema-tahkan sayap tidak melecetkan kulit’ yang hebat, beberapa ekor bu-rung kenari dibidiknya jatuh!"
Mendengar ucapannya itu, baru Nyo Tiong-eng berubah te-nang kembali dan tersenyum.
Lalu Tiong-eng mengomeli putrinya yang suka membidik bu-rung tak berdaya dan suka cari gara-gara.
Habis itu ia gandeng ta-ngan si pemuda tadi dan tangan lain menarik Hiau-lan, mereka ber-dua dihadapkan.
"Tidak berkelahi tidak berkenalan, kalian berdua seterusnya agar suka berkawan!"
Ujarnya tersenyum.
"Ce-toako, ini adalah mu-ridku yang baru, namanya Teng Hiau-lan. Hiau-lan, Loenghiong ini ialah ‘Ca-ih-sin-say’ Ce Bin-kau Locianpwe yang sering kusebut!"
Hiau-lan memberi hormat dan menyatakan kekagumannya.
Sebaliknya si pemuda tadi hanya menjawab dengan dingin sa-ja.
Sesudah itu ia memandang ke jurusan lain, sedikitpun tak mem-perhatikan Hiau-lan.
Diam-diam Hiau-lan merasa heran, ia bingung dimana pernah membikin tamunya itu kurang senang?
Ia tidak tahu, tujuan kedua orang tua dan , ‘Ca-ih-sin-say’ Ce Bin-kau adalah sahabat lama Nyo Tiong-eng, dua puluh tahun lalu mereka disebut ‘Pak-kok-siang-hiong’ atau dua pahlawan dari negeri utara. Ce Sek-kiu,. putra Ce Bin-kau, hanya empat tahun lebih tua dari Nyo Liu-jing, mereka dibesarkan di tempat yang sama dan se-jak kecil suka bermain bersama. Tetapi pada waktu Nyo Liu-jing berusia tujuh tahun, Ce Bin-kau ada keperluan dan harus melakukan perjalanan jauh, ia harus pergi ke Liautang. Katanya pada Nyo Tiong-eng dengan tertawa sebelum mereka berpisah. "Toako, coba lihat, dua bocah ini juga merasa berat untuk berpisah!" "Kapan kau baru bisa pulang, bagaimana kalau aku besarkan Jing-ji untuk istri Sek-kiu?" Ujar Nyo Tiong-eng. Tetapi Ce Bin-kau tidak lantas menjawab, ia berpikir, sesudah itu baru berkata. "Urusan ini memang baik, tetapi Siaute kali ini harus keluar Kwan (tembok besar) untuk melawan musuh tangguh perguruan kami, soal selamat atau malapetaka sukar diduga. Bila beruntung bisa menang, entah berapa lama baru bisa bersua pula dengan Toako? Jika sekarang kita menjodohkan kedua bocah ini, jangan-jangan kelak terjadi sesuatu yang tak terduga, hal mana tentu akan membikin susah masa remaja Titli (keponakan). Lebih baik kita tangguhkan dahulu urusan ini, bila kemudian kami bisa kembali dengan selamat dan Titli pun masih belum berjodoh, kala itu bisa kita bicarakan lagi!" Nyo Tiong-eng pikir betul juga pendapat sahabatnya itu, oleh sebab itu soal perjodohan lalu tertunda. Siapa tahu begitu berpisah sudah dua belas tahun lamanya, bagaimana rupa Ce Sek-kiu, Nyo Liu-jing sudah lupa seluruhnya, Nyo Tiong-eng pun mengira sahabatnya itu tentu telah mengalami nasib malang, lama kelamaan ia pun sudah lupa. Tak terduga Ce Bin-kau masih ingat baik-baik urusan itu, wa-laupun sudah lama, ia ajak putranya pulang ke selatan dan menyam-bangi keluarga Nyo lagi. Tak terduga waktu bertemu di bukit bela-kang rumah, melihat Teng Hiau-lan begitu akrab bersama Nyo Liu-jing, mau tak mau ayah dan anak menjadi sangsi. Ce Sek-kiu seperti Liu-jing, ia pun putra tunggal, oleh karena itu tabiatnya yang terlalu dimanja sejak kecil pun tak ter-kendali, sebab itu pula, ia tumplekkan kegusarannya kepada Teng Hiau-lan. Sementara itu Nyo Liu-jing yang dapat membidik mulut Sek-kiu, dalam hati ia pun tak tenteram, khawatir didamprat ayahnya. Tak tahunya besok pagi waktu ia memberi selamat pagi pa-danya, ternyata wajah ayahnya malah berseri-seri. "Jing-ji, teman kecilmu sudah datang, mengapa tidak kau sapa dan ajak bermain?" Dengan tertawa Nyo Tiong-eng berkata pada putrinya sembari mengelus jenggot. Tapi Nyo Liu-jing lantas buang muka dan merasa jengah. "Ki-ni kan bukan masa anak-anak lagi!" Sahutnya dengan tertawa ewa. Mendengar itu, Nyo Tiong-eng berdehem, ia tertawa. "Ya, memang betul, bukankah sudah nona besar yang berusia sembilan belas!" Ujarnya. "Sek-kiu selama beberapa tahun belakangan ini ikut ayahnya berada di Kwangwa, sedikitnya ia pun sudah punya nama, melihat kepandaian silatnya, juga tergolong pilihan, entah bagaima-na pikiranmu?" "Ayah, apa yang kau maksudkan?" Tanya Liu-jing dengan ber-kerut kening. "Ce-pepek minta kau menjadi menantunya!" Sahut Tiong-eng dengan tertawa. Sekonyong-konyong air muka Nyo Liu-jing berubah. "Aku ti-dak mau menikah!" Jawabnya ketus. "Jing-ji, kau sudah bukan anak-anak lagi, tapi masih begini sembrono, apakah ayah bisa mendampingimu selama hidup?" De-ngan sungguh-sungguh Tiong-eng berkata. "Kau juga harus belajar sedikit tentang kehidupan, keluarga Ce adalah sahabat lama kita, Sek-kiu orangnya boleh juga, apalagi yang tak mencocoki hatimu?" Sebenarnya Nyo Liu-jing hendak unjuk tabiatnya yang manja, tapi melihat ayahnya berkata dengan sungguh-sungguh, seketika ia tak berani bersuara. "Tak mungkin kau menolak lagi, sewaktu kau berusia tujuh tahun, siang-siang aku sudah sanggupkan dirimu kepada orang!" Nyo Tiong-eng melanjutkan pula. Mata Nyo Liu-jing berputar, tiba-tiba ia mempunyai sesuatu akal, segera ia berkata. "Ayah ingin putrimu menikah, boleh juga, cuma harus memenuhi satu syarat lebih dulu!" "Syarat apa itu? Lekas katakan!" Tanya Tiong-eng. "Nama ayah maha sohor di Ho-siok (utara sekitar Hongho), sedikitnya harus mempunyai menantu pahlawan yang lain daripada yang lain!" Liu-jing menerangkan. "Ehm, betul juga perkataanmu!" Dengan senang Tiong-eng membenarkan. "Sebab itulah, lebih dulu aku ingin bertanding dengannya, se-sudah itu baru bicara soal jodoh!" "Kau masih hendak bertanding dengan orang?" Tanya Tiong-eng tak mengerti. "Ya," Sahut Liu-jing. "kalau ia dapat menangkan putrimu, de-ngan sendirinya aku bersedia dan suka menjadi istrinya, sebaliknya kalau ia tak bisa menandingi aku, mempunyai menantu yang tak be-cus begitu, ayah sendiri pun akan kehilangan muka!" "Anak perempuan sdka unggulkan diri …." Belum habis per-kataan Tiong-eng, tiba-tiba kerai tersingkap dan Ce Bin-kau ayah beranak masuk. Setelah memberi salam selamat, Nyo Liu-jing segera mengelu-yur pergi. Sejak Ce Sek-kiu kena dibidik Nyo Liu-jing, selama dua hari ini ia merasa masgul dan mendongkol. Sekarang ia ikut ayahnya da-tang memberi selamat pagi pada Nyo Tiong-eng, tapi baru sampai depan pintu, mereka sudah mendengar suara Nyo Liu-jing yang keras, tanpa terasa mereka menghentikan langkah untuk mendengarkan, masih mending bila mereka tidak mendengar, begitu men-dengar yang dikatakan Nyo Liu-jing, air muka Sek-kiu seketika ber-ubah. Tetapi Ce Bin-kau keburu memegang tangan putranya sambil berbisik padanya. "Jangan menuruti tabiatmu, diam saja dan ikut aku!" Dalam hati ia pun membatin. "Gadis Nyo Tiong-eng ternyata begini liar, sedikitnya Sek-ji haras unjuk kepandaian supaya di ke-mudian hari gampang mengajarnya! Liu-jing hanya seorang wanita, seumpama kepandaiannya lebih tinggi lagi toh tak akan bisa mele-bihi Sek-ji. Suhengnya saja bukan tandingan Sek-ji, pasti Sek-ji tak akan kalah padanya." Begitulah, maka sesudah berhadapan dengan Nyo Tiong-eng, Ce Bin-kau lantas buka suara. "Toako, kemarin telah kita bicarakan soal berbesanan, syukur Toako tak pandang rendah pada putraku, Toako telah menerimanya dengan ikhlas. Namun begitu, putra-putri kita sudah cukup dewasa, sebagai orang tua kurang baik kalau kita terlalu main paksa, entah bagaimana dengan pikiran Titli sendiri?" "Soal ini … ini …." Nyo Tiong-eng menyahut dengan ragu-ragu dan tak lancar. Akan tetapi sebelum ia bicara lebih jauh, tiba-tiba Ce Sek-kiu memotong dan mendahuluinya. "Pepek tersohor di daerah Ho-siok sini, sudah tentu harimau tidak melahirkan anak kambing, sudah tentu Jing-moay adalah pahlawan perkasa dari kaum wanita. Titji tidak tahu diri ingin minta belajar beberapa jurus pada Jing-moay, apabila memang terpaut terlalu banyak; maka Titji sendiri tiada muka buat mempersuntingnya sebagai istri dan boleh silakan Jing-moay dijodohkan pada orang yang lebih cocok." Mendengar penuturan itu, Nyo Tiong-eng mengerti apa yang dikatakan putrinya tadi tentu didengar seluruhnya oleh Ce Sek-kiu. Maka lekas ia coba mendinginkan suasana, katanya. "Kau pu-nya adik Jing masih bertabiat anak-anak dan tak mengerti aturan, hendaknya kau suka mengalah padanya." Sementara itu terdengar Ce Bin-kau tertawa terbahak. "Kita adalah sahabat lama, untuk apa bicara begitu?" Ujarnya. "Kata peribahasa, perjodohan harus seimbang dan setimpal bara merupakan jodoh yang cocok. Kita sering mendengar bahwa go-longan orang terpelajar kalau memilih menantu, suka mempersulit dengan menguji calon menantu dahulu, bara kemudian diperboleh-kan menjalankan upacara dan masuk kamar pengantin. Kita orang dari golongan persilatan, kalau putra-putri kita saling menguji ke-palan dan kaki, kemudian bara mempertunangkan mereka, cara ini-pun merupakan cerita bagus buat dunia persilatan kita, toh tidak pakai senjata tajam, tidak perlu adu jiwa, asal menyenggol pihak lawan sudah cukup. Aku kira hal ini tiada halangannya!" Nyo Tiong-eng merenung sejenak, ia lihat Ce Sek-kiu sudah bergerak hendak maju, batinnya. "Anak ini punya kemauan besar, kalau tidak dibiarkan mereka saling uji, soal jodoh mungkin sukar dirangkapkan." Karena pikiran itu, maka dengan ikhlas lantas ia menyetujui. Mengenai diri Teng Hiau-lan, waktu mendengar keluarga Ce meminang Sumoaynya, ia jadi girang sekali, walaupun ia sendiri tidak puas dengan lagak Ce Sek-kiu yang congkak dan takabur, namun melihat kedua belah pihak memang setimpal dan cocok, apalagi tabiat Sumoaynya pun serupa. Kedua orang yang berwatak sama mungkin bisa hidup rukun dengan baik. Oleh karena itu de-ngan girang ia pergi memberi selamat pada Sumoaynya. Tak tahunya, Nyo Liu-jing malah melotot padanya, kemudian ia tertawa cekikikan. "Suheng yang dungu, boleh kau lihat saja nan-ti!" Katanya. Malam itu, di lapangan latihan keluarga Nyo terang-benderang dengan api obor. Dengan senyum-simpul Nyo Liu-jing berdiri di tengah lapangan, mengenakan pakaian ringkas bira laut, pakai ikat pinggang merah. Melihat si nona makin dipandang makin menarik, Ce Sek-kiu seakan setengah mabuk, pikirnya. "Melihat gelagatnya, ia tidak le-bih hanya hendak menguji kepandaianku saja, tapi hatinya sudah se-ratus persen menurut dan setuju, aku hanya akan melayani secukup-nya saja dan tak usah bertarung sungguh-sungguh dengannya." Tetapi di luar dugaan, begitu kedua orang berhadapan dan saling memberi normal baru saja Ce Sek-kiu mengucapkan. "Jing-moay. silakan dahulu!" Sekonyong-konyong Nyo Liu-jing dengan ccpat menggunakan tipu "Wan-kiong-sia-goat" (tarik gendewa memanah rembulan), jari tangannya segera menutuk ke dada orang. Tipu serangan ini adalah pukulan mematikan dari Ling-hun-cio keluarga Nyo, gerakannya seperti pancingan tetapi juga seperti sungguh-sungguh. Ce Sek-kiu berseru terkejut olch tipu serangan itu, Iekas ia mengegos dengan cepat. sedang kedua kaki menggeser sebat. de-ngan gerakan *Hong-ciam-loh-hoa’ (angin badai merontokkan bu-nga). beruntun ia elakkan tiga kali serangan lawan. "Ilaya. jangan sungkan Toako!" Seru Liu-jing dengan tertawa, ia sengaja memancing amarah orang. Dalam pada itu tangannya tidak menjadi kendur. ia merangsek maju pula. dengan satu tangan menyanggah ke alas, tangan lain menerobos dari bawah terus menghantam bahu kanan law an dengan tipu Yap-te-thau-tho " (mencuri buah tho dari bauah daun). tipu pukulannya cepat sekali. mirip orang bergebrak mati-matian. Nampak tipu serangan berbahaya itu. Teng Hiau-lan yang menonton di samping sampai bertenak kaget. Akan tetapi dengan sedikit miringkan badan, tangan Sek-kiu menyurung ke depan dengan tenaga penuh. Bila Nyo Liu-jing kena ditolak, maka dapat dipastikan ia akan jatuh telentang. tetapi rupanya Ce Sek-kiu masih tidak sungguh-sungguh, gerakannya hanya setengah-setengah saja. begitu dorong segera ia tarik kembali. Sebaliknya Nyo Liu-jing ternyata cukup licin juga. agaknya ia dapat menduga tipu serangan lawan. ia putar tubuh, membiarkan punggungnya jadi sasaran. tapi sebelum kekuatan tangan Ce Sek-kiu sampai. sekali enjot. dengan enteng sekali ia melayang naik setinggi Iebih setombak. kemudian dengan cepat ia tancapkan kaki kembali di belakang Sek-kiu. Ketika Ce Sek-kiu ikut memutar tubuh. dengan cepat mengulur tangan hendak menjambret tahu-tahu terdengar suara "plak", pundaknya kena ditabok oleh Nyo Liu-jing. "Titji, tak usah sungkan, layani saja dengan sungguh-sungguh, tak perlu mengalah!" Nyo Tiong-eng berseru kepada Sek-kiu. Dalam pada itu, segera terlihat Ce Sek-kiu memutar langkah dengan gerak ‘Kuay-bong-hoan-sin’ (ular sawah membalik tubuh), ia setengah memutar badan, sedang pukulan Ngo-hing-kun dengan cepat lantas merangsek, menghantam dan lain saat mencengkeram, secepat kilat lengan kanan Nyo Liu-jing sudah kena dicekal oleh-nya, terus ditarik ke samping supaya tangan si nona yang lain tak berdaya buat menolong. Dengan begitu bila kakinya menjegal, terus si nona ditarik, dengan segera Nyo Liu-jing bisa dibanting roboh! Melihat gelagat bagus itu, terlihat wajah Ce Bin-kau dan Teng Hiau-lan mengunjuk rasa senang, mereka menaksir dengan tipu gerakan ini pasti Ce Sek-kiu akan mendapat kemenangan, dengan begitu urusan perjodohan bisa lantas terangkap. Tak tersangka Nyo Liu-jing tidak menyerah mentah-mentah, dengan sekali menggerakkan tangannya yang dicekal, ia menarik terus diputar balik, dalam sekejap tangannya sudah terlepas. Belum sempat Teng Hiau-lan memperhatikan cara bagaimana Nyo Liu-jing melepaskan diri dari bahaya, tiba-tiba terdengar seruan Sek-kiu yang kesakitan, pundaknya kena digablok sekali lagi oleh Liu-jing. "Kedua gerak tipu Titli sungguh bagus sekali dan tepat!" Ce Bin-kau memuji. "Sebenarnya kepandaiannya masih di bawah putramu," Sahut Nyo Tiong-eng mengerut kening. "Hanya wataknya memang suka menang, maka ia tidak mau mengalah. Sebenarnya cukup apabila Sek-kiu dengan tenang melayani dia, tak perlu terburu-buru menyerang, ia pasti akan menang!" Perkataan itu diucapkan dengan keras, terang bermaksud agar didengar Ce Sek-kiu yang sedang bertempur di kalangan. Betul juga, mendengar petunjuk itu segera Ce Sek-kiu insaf, ia ubah Ngo-hing-kun, segera ia kirim kedua kepalan terus menghan-tam dengan cepat ke sebelah bawah lawan. Tenaga Nyo Liu-jing memang tak bisa memadai lawan, maka ia ambil beberapa kesempatan selagi pihak lawan lalai, beruntun ia balas menyerang beberapa kali, tetapi karena tak berhasil, segera ia melayang lewat di samping Ce Sek-kiu sambil membisikinya de-ngan suara sangat menghina. "Tak nanti aku takut walaupun kau diberi petunjuk orang, paling kau hanya kebagian gebukan!" Perkataannya dibisikkan begitu perlahan, orang di samping tak mendengar, tetapi bagi Ce Sek-kiu kata-kata itu laksana senjata tajam menusuk perasaannya. Keruan ia berjingkrak gusar, tetapi sepatah kata pun ia tak bersuara, sebaliknya makin gencar mengirim jotosan kepadu lawan. Berbareng ia membatin juga. "Hm, budak kurang-ajar, aku Ce Sek-kiu sudah malang melintang di Kwangwa, siapa yang tidak me-muji diriku masih muda dan perkasa, mana boleh kau budak cilik ini memandang hina padaku." Begitulah, dengan tangan kiri siap di dada, kepalan kanan de-ngan tipu ‘Ok-hou-to-sim’ (harimau buas mencari hati), kemudian ‘Ya-be-thiau-kan’ (kuda liar melompati sungai), menyusul ‘Tay-bong-tun-eng’ (ular sawah raksasa menelan garuda), beruntun ia menyerang dengan beberapa tipu pukulan berbahaya. Pukulan yang gencar itu makin menambah sengit pertarungan mereka, tiap serangannya membawa angin keras dan membikin ang-kin Nyo Liu-jing yang terlibat di pinggang melambai-lambai tertiup. Sebaliknya Nyo Liu-jing bagaikan kupu-kupu menerobos di antara tangkai bunga, ia melayang ke sini dan meloncat ke sana de-ngan tidak kalah cepatnya. Teng Hiau-lan sempat mengikuti pertarungan itu, insaflah dia walaupun tampaknya Nyo Liu-jing kewalahan dan tercecar, namun berulang-ulang si nona dapat balas menghantam lawan dengan pu-kulan mematikan! "Celaka!" Diam-diam ia khawatir. la pandang Suhunya, terlihat Nyo Tiong-eng pun berkerut ke-ning dengan rapat dan sikapnya tegang. Setelah berjalan lima puluh jurus kemudian, pertarungan bu-kan menjadi reda, sebaliknya malah bertambah tegang. Ce Sek-kiu merangsek dengan tipu serangan bertubi-tubi laksana angin badai dan hujan lebat, tetapi Nyo Liu-jing dengan enteng melayang kian-kemari. Semula Ce Bin-kau masih tenang-tenang saja, tapi kini tidak urung ia pun berubah wajah, tanpa terasa setindak demi setindak ia pun menggeser maju seperti halnya Nyo Tiong-eng. Ilmu pukulan Nyo Liu-jing memang ajaran asli keturunan, ja-uh lebih lihai daripada Teng Hiau-lan. Meski Ce Sek-kiu berke-pandaian lebih tinggi, tenaganya pun lebih besar, tetapi dalam hal ciang-hoat atau ilmu pukulan, ia berbalik kalah setingkat. Ditambah waktu mulai ia sudah menaruh pantangan, hendak mengalah, tidak heran ia harus menelan beberapa kali gablokan cuma-cuma, sampai akhirnya disusul pancingan kata-kata Nyo Liu-jing hingga timbul kegusarannya. Ahli silat jika bertanding, paling pantang naik pitam dan me-nuruti napsu hati, dengan perasaan yang tak tenang itu, gampang di-pergunakan musuh dengan baik. Begitulah maka setelah Sek-kiu merangsek dengan murka tapi tak berhasil, sebaliknya harus menghadapi bahayaberulang-ulang, terpaksa ia gunakan tipu serangan berbahaya tapi membawa resiko, dengan gerakan ‘Giok-li-cwan-so’ (gadis ayu menyusup benang), ia memukul ke depan. Sekonyong-konyong dengan cepat sekali Nyo Liu-jing memu-tar ke belakangnya, pada waktu Ce Sek-kiu masih belum sempat mengubah gerakannya, kedua tangan ia dorong sekuat tenaga. Ketika mendadak Sek-kiu merasa angin santar mendekati tu-buh, ia pikir akan melompat ke depan, tapi khawatir dibarengi Liu-jing dengan sekali tolakan lagi, dirinya pasti akan jatuh terjerembab. Tetapi bila melompat ke samping, ia khawatir juga lawan menggu-nakan kesempatan itu untuk menyerang tempat yang tak terjaga. Dalam keadaan serba salah itu, seketika timbul pikiran jahat Sek-kiu, ia tidak pikir panjang lagi, dengan ‘Swan-coan-kian-khun’ (jagat berputar), ia membalik tubuh dengan cepat, bukannya menge-lak serangan lawan, sebaliknya ia barengi menyerang, tangan kanan diangkat ke atas, tangan kiri menjotos ke muka Nyo Liu-jing dengan tipu ‘Ling-yo-kua-kak’ (kambing menanduk). Berdebar hati Teng Hiau-lan waktu nampak keadaan berba-haya itu, kalau tadi ia menguatirkan Ce Sek-kiu, maka kini ia takut kalau Sumoaynya yang kena dilukai. Selagi ia berpikir hendak meneriaki Ce Sek-kiu supaya jangan meneruskan hantamannya itu, tiba-tiba kedua orang tua yang rae-nonton di samping sudah mendahului berseru. "Baiklah kami mengaku kalah saja, nona, jangan kau hantam habis-habisan!" Terdengar Ce Bin-kau berteriak dengan suara kha-watir. Berbareng itu, L-rdengar juga seruan Nyo Tiong-eng. "Jing-ji, jangan sembrono!" Hiau-lan menjadi bingung, tapi segera ia dengar suara benda patah dibarengi suara jerit kesakitan dan gerungan gusar Ce Sek-kiu, lalu terlihat pemuda ini roboh terguling. Cepat Ce Bin-kau menarik bangun putranya, ternyata tulang tangan kanan Ce Sek-kiu telah patah hingga lengan menggantung terkulai, keringat menetes saking kesakitan, otot hijau di batok ke-palanya pun menonjol keluar. Kiranya tadi Nyo Liu-jing telah menggunakan kesempatan sa-at Sek-kiu memakai serangan berbahaya itu, mendadak ia pun mem-berikan tipu serangan mematikan, dengan sebelah tangan ia mene-puk ke tekukan lengan lawan terus dibarengi memuntir. Thi-cio atau telapak tangan besi keluarga Nyo yang lihai itu dengan sendirinya tidak boleh dibuat gegabah, kena dipukul saja sudah celaka, apalagi Nyo Liu-jing membarengi dengan memuntir dan membetot. "Nona, kejam sekali kau!" Sek-kiu mendesis walaupun sambil merintih kesakitan. Sebaliknya Ce Bin-kau tanpa berkata terus angkat tangan pu-tranya yang patah, dengan kuat ia tarik dan disambung kembali, ke-mudian ia robek kain bajunya untuk membebat. Nyo Tiong-eng meniup jenggot dengan mata mendelik saking gusarnya, mendadak ia melangkah maju, ia angkat tangannya dan segera hendak digablokkan ke kepala putrinya. "Biar aku bereskan kau budak liar ini!" Dampratnya. Syukur tangannya yang telah diangkat dan belum diturunkan itu, mendadak Ce Bin-kau melompat maju dan menahannya. "Toako," Kata Ce Bin-kau dengan suara tajam. "jika mau mencari yang bersalah, haras salahkan putraku yang tak becus, walau-pun ia sudah merasakan Thi-cio nona, tetapi masih belum menjadi cacat! Soal menyambung tulang dan memulihkan otot, aku masih sanggup, Toako, kau tak usah khawatir! Cuma soal perjodohan boleh tak usah disebut lagi, biar Siauji (anakku) belajar lagi sepuluh tahun, kala itu apabila ada kemajuan, nanti boleh minta pengajaran pada nona." Mendengar perkataan kawan yang lembut tetapi membawa maksud yang keras itu, saking gusar dan gemasnya, Nyo Tiong-eng sampai mengucurkan air mata dan terpaku di tempatnya. Persaha-batan selama beberapa puluh tahun, kini telah berubah demikian gara-gara anak perempuannya, ia cemas dan hancur rasa hatinya. Selagi ia hendak berkata, Ce Bin-kau sudah menggendong putranya berlari pergi laksana terbang. Nyo Tiong-eng tertegun, ia hendak mengejar, namun kaki di-rasakan lemas tak bertenaga, lapat-lapat terdengar seruan Ce Bin-kau yang terputus-putus berkumandang terbawa angin. "Nyo-toako, persaudaraan kita masih tetap berlangsung, tetapi urusan anak-anak tidak usah disinggung pula!" Habis itu bayangan mereka lantas menghilang ke balik bukit. Dengan muka muram menghijau, segera Nyo Tiong-eng men-damprat putrinya, bentaknya. "Budak liar, sini ikut aku!" Dengan hati kebat-kebit Teng Hiau-lan pun ikut di belakang mereka, ia mengerti guranya sedang memuncak gusarnya, ia khawa-tir kalau terlalu berat hukuman yang dijatuhkan kepada Sumoaynya, hingga mungkin membikin Liu-jing menjadi cacat, oleh karena itu dengan rasa tak tenteram ia mengikuti mereka, ia pikir, bila perlu terpaksa hendak mintakan ampun bagi Liu-jing. Tak terduga, waktu melihat Hiau-lan mengikuti mereka, Nyo Tiong-eng lantas mendelikkan mata. "Hiau-lan, untuk apa kau ikut kemari?" Semprotnya dengan tak sayang lagi. "Tiada hubungannya denganmu. Kau boleh pergi!" Wajah Hiau-lan terasa panas, ia tercengang, tetapi segera ia beranikan diri mengutarakan pikirannya. "Baru untuk pertama kali Sumoay turun kalangan dan salah tangan dengan tidak sengaja, ha-rap Suhu suka mengampuni dia yang usianya masih muda dan pe-ngalaman cetek, hukumlah dia seringan-ringannya!" Nyo Tiong-eng menjengek, tapi segera terharu juga. "Kau bo-leh pergi, aku sendiri bisa kira-kira!" Katanya dengan melambaikan tangan. Nampak sikap ayahnya yang sungguh-sungguh ini, Nyo Liu-jing tak berani berlaku manja lagi seperti biasanya. Setelah ikut ke kamar baca, segera ia berlutut di hadapan ayahnya. "Budak liar, tahu juga kau akan kesalahanmu?" Nyo Tiong-eng mulai memeriksa. "Sudah berjanji kalian hanya saling uji dan jajal, mengapa kau berani turun tangan dengan kejam?" "Ia pun menghantam dengan pukulan mematikan, apa ayah tak melihatnya tadi?" Sahut Nyo Liu-jing dengan sesenggukan. "Masih berani kau membela diri? Bila kau tak terlalu mende-sak orang, masakah orang lain bisa bergebrak sungguh-sungguh ter-hadapmu?" Damprat Tiong-eng dengan gusar. "Sesungguhnya anak tidak sudi menjadi istrinya!" Tiba-tiba’ Nyo Liu-jing melontarkan isi hatinya terus terang. Nyo Tiong-eng tertegun, ia sama sekali tidak menduga. "O, kiranya begitu!" Katanya kemudian dengan mengelus jenggot. "Ya, sebenarnya anak hendak mengatakan tadi, tapi khawatir ayah marah," Lanjut Nyo Liu-jing. "Oleh karena itu, terpaksa anak bergebrak menjajal silatnya, dengan begitu supaya ia tahu diri dan mundur teratur. Tak tahunya begitu kepalan sudah maju, sukar di-tarik kembali, hingga salah tangan dan mencelakai saudara dari keluarga Ce!" "Melihat cara kau unggulkan diri dan berbuat keji, apa aku tak menjadi gusar?" Bentak Nyo Tiong-eng pula. "Hm, bagaimana bi-asanya aku mengajarmu?" Tiba-tiba Nyo Liu-jing mendekam di lantai terus menangis ter-sedu-sedu. "Anak terima hukuman yang ayah berikan, sekalipun di-cacatkan juga takkan menyesali ayah," Katanya dengan tersenggak-sengguk. "Yang haras disesalkan adalah mengapa ibu siang-siang sudah meninggal hingga anak kurang terurus dan tiada yang meng-ajar, sampai bikin onar dan membuat gusar ayah!" Nyo Liu-jing" Memang sejak kecil sudah ditinggal mangkat ibunya, ia dibesarkan oleh ayahnya saja. Kini mendengar gadisnya menyebut sang ibu, tak tertahan Nyo Tiong-eng jadi terharu. Ter-ingat olehnya sesudah ditinggal istri, dirinya merangkap kewajiban sebagai ibu dan ayah, sesungguhnya putrinya memang terlalu di-manjakan sehingga tabiatnya menjadi begitu buruk, sedikitnya dia sendiri hams memikul kesalahan itu. "Baiklah, asal kau insaf!" Katanya kemudian dengan menghela napas. Melihat lagu suara ayahnya sudah berubah halus dan berkata seperti biasa, baru Nyo Liu-jing merasa lega. Sehabis menghela napas tadi, Nyo Tiong-eng coba memper-hatikan gadisnya juga, ia lihat di balik paras mukanya seperti ter-sembunyi perasaan apa-apa yang tidak dikatakan, oleh karena itu hatinya jadi tergerak. "Bangkitlah kau, aku hendak tanya padamu," Katanya kemu-dian. "Mengapa kau tidak sudi menjadi istri Sek-kiu, hal apakah yang tidak memuaskanmu? Soal ilmu silat, apakah kau begitu bodoh sehingga tidak lihat tadi, begitu maju ia sengaja mengalah padamu, tapi sebenarnya kepandaiannya jauh lebih tinggi darimu?" Nyo Liu-jing tidak lantas menjawab, ia usap air matanya, se-sudah itu ia tersenyum malu. "Masakah ayah tak tahu, dalam hati putrimu sudah penujui orang lain?" Mata Nyo Tiong-eng terbuka lebar dan selagi ia hendak ber-tanya lebih jauh, tiba-tiba Nyo Liu-jing menutupi mukanya dengan lengan baju karena malu, lalu berlari pergi. Nyo Liu-jing masih belum hilang sifat anak-anaknya, setelah mengalami pertarungan sengit tadi, ia khawatir kelak ayahnya me-maksa dirinya menikah dengan orang lain lagi, maka tanpa aling-aling ia lantas melontarkan isi hatinya. Tetapi terbukanya rahasia hati si nona justru membikin Nyo Tiong-eng terkejut bercampur girang, ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar bacanya dengan menggendong tangan, tetapi masih belum juga dapat mengambil sesuatu keputusan. Ia membatin. "Eh, kiranya budak liar ini telah mencintai Suhengnya. Tadinya ia tak be-rani mengatakan terus terang hingga menimbulkan peristiwa ini dan membikin aib diriku pada Ce-laute!" Tetapi segera ia berpikir lagi. "Hiau-lan si bocah inipun tidak jelek, kecuali asal-usulnya yang kurang jelas, hal lainnya juga tidak kalah dengan Sek-kiu." Pikirannya menjadi timbul tenggelam tak tenteram, semula ia berpikir hendak meringkus putrinya dan dibawa ke rumah keluarga Ce unruK meminta maaf, tapi demi mendengar putrinya mengutara-kan isi hatinya, ia khawatir nanti jika berhadapan malah akan bikin keadaan makin runyam. Ketika ia mendongak, terlihat wajah mendiang istrinya yang terlukis pada satu pigura yang tergantung di dinding, ia menghela napas pula, mendadak ia singkap kerai kamar dan pergi mencari Teng Hiau-lan. Mengenai Teng Hiau-lan yang telah berkumpul dengan Nyo Liu-jing selama lima tahun, terhadap sifat si nona yang terlalu di-umbar itu, ia masih bisa paksakan diri melayani, padahal dalam hati ia sangat jemu dan benci, hakikatnya sedikitpun tiada pikiran untuk mencintainya. Sebaliknya terhadap Lu Si-nio, murid terakhir Tok-pi-sin-ni, meski haru bertemu muka sekali, namun bibit asmara sudah tumbuh dalam hatinya. Sikap Lu Si-nio yang begitu wajar tetapi menarik, suara dan senyumnya, semuanya selalu terbayang dalam kalbunya selama lima tahun ini, hanya saja karena Lu Si-nio memiliki ilmu silat yang tiada tara, pintar baca dan paham syair, maka Hiau-lan memandangnya laksana dewi kahyangan, ia memujanya, tetapi tak berani menaruh sesuatu pikiran untuk memilikinya, ia mengerti perasaannya itu ha-nya akan terpendam untuk selamanya dan sebagai kenang-kenangan masa hidupnya! Sudah tentu mimpi pun tidak pernah Nyo Tiong-eng berpikir bahwa si ‘bocah gede’ ini bisa mempunyai isi hati seruwet itu. Sementara itu sang dewi malam sudah menghias di tengah ca-krawala, angin malam meniup sepoi-sepoi nyaman. Waktu Nyo Tiong-eng sampai di kamar baca Hiau-lan, ia tak menemukan pemuda itu. Orang tua itu tertawa geli dan berkata pada diri sendiri. "Aku memang terburu-buru, waktu ini tentu ia telah pergi tidur, mana bisa tinggal di karaar baca? Biarlah aku bicara pa-danya besok saja." Begitulah, maka ia bermaksud keluar kembali dari kamar itu. Tetapi sebelum ia melangkah lebih jauh, tiba-tiba dilihatnya di atas meja tergeletak secarik kertas tulis yang berisikan sajak, tinta tu-lisannya tampak masih belum kering. Terdorong rasa ingin tahu, ia lantas mengambil kertas itu, ia lempit dan dimasukkan ke sakunya, ia hendak mengetahui sampai dimana kemajuan sekolah Hiau-lan. Si guru sekolah yang memberi pelajaran pada Teng Hiau-lan dan Nyo Liu-jing tinggal di kamar sebelah, sementara itu di karaar-nya masih tertampak sinar terang, tentunya belum tidur. Maka Nyo Tiong-eng lantas menuju ke sana. Guru sekolah itu adalah saudara sepupu Nyo Tiong-eng sen-diri, meski ia seorang Siucay (gelar kesusastraan terendah bagi ka-um sekolahan masa itu) yang tak lulus, namun masih terhitung pin-tar juga. Waktu ditanya mengenai kemajuan sekolah Hiau-lan, guru itu memberikan kesimpulannya. "Bocah ini mempunyai bakat melebihi orang lain, walaupun hanya lima tahun, tapi soal kitab kuno dan bersyair, ia sudah mempunyai dasar, walaupun tak mungkin menjadi seorang sastrawan ternama, namun sudah tergolong pandai juga." Sementara itu Nyo Tiong-eng mengeluarkan kertas berisikan sajak tadi. "Coba lihat, apakah yang ditulisnya ini?" Tanyanya dengan tertawa. "Mirip syair, tapi seperti bukan pula, aku tak pandai membaca, coba kau jelaskan padaku." Ketika guru itu melihat, ternyata tulisan itu adalah sebuah sa-jak yang agak panjang dan diberi judul "Pek-ji-ling" (sajak seratus huruf), sajak itu memang seluruhnya berisi seratus huruf persis. Sembari membaca, wajah guru itu tertampak sebentar menun-juk girang. kemudian berubah sedih dan akhirnya menjadi bungkam. "Bagaimana? Apa yang dikatakannya?" Tanya Tiong-eng yang sudah tak sabar. "Aku khawatir bocah ini bisa tersesat!" Sahut si guru sambil menghela napas. Nyo Tiong-eng terkejut oleh keterangan itu. "Apakah bocah ini mempunyai pikiran buruk yang dapat diketahui oleh Siansing?" Tanyanya cepat. Guru itu geleng kepala. "Bukan itu maksudku!" Jawabnya. Kiranya sajak ini bukan lain adalah sajak rindu Teng Hiau-lan terhadap Lu Si-nio. Dalam sajak itu mula-mula ia sesalkan asal-usul diri sendiri yang tak jelas dan kemasgulan hatinya yang ditulisnya dengan penuh perasaan, sedang terhadap Lu Si-nio dilukiskannya betapa ia memujanya seperti dewi. Si guru sekolah tak tahu bahwa Hiau-lan mempunyai penga-laman masa lalu, ia hanya merasa maksud sajak itu penuh penye-salan dan berperasaan hampa, mengenangkan kekasih yang hanya dapat dipandang tetapi tak dapat diraih, seperti mengenangkan bidadari kahyangan yang jauh tak tertampak. Oleh karena itu, maka si guru rada bingung dan tak paham. Atas pertanyaan Nyo Tiong-eng tadi, akhirnya ia menjawab. "Memangnya, dalam umur seperti dia tak bisa disalahkan juga. Sa-jak ini adalah sajak merindukan kekasih, timbul dari perasaan cinta, tapi cukup sopan sehingga tak dapat dikatakan berpikiran buruk." "Tapi mengapa Siansing tadi bilang dia bisa tersesat?" Desak Nyo Tiong-eng. "Arti dalam sajak ini seperti mengatakan kekasihnya sukar di-persunting olehnya, ia pandang kekasihnya seperti bidadari dan menganggapnya laksana dewi kahyangan!" Si guru sekolah mene-rangkan. "bahkan dalam sajaknya masih menyitir beberapa bait sya-ir kuno di zaman dulu " Dan apa yang dikatakan oleh syair itu?" Sela Nyo Tiong-eng. "Syair itu ialah nyanyian rakyat negeri Cin pada zaman Chun-jiu, maksudnya secara singkat menyatakan, dapat dipandang, tapi tak mungkin dimiliki," Si guru sekolah menerangkan. "Kalau dua muda-mudi saling cinta-menyintai tidak menjadi soal, yang dikha-watirkan adalah rindu seorang diri, cinta tak terbalas hingga pikiran tersesat, itulah yang berbahaya bagi kehidupannya!" Mendapat penjelasan itu, sudah tentu Nyo Tiong-eng mem-punyai pendapat sendiri, tiba-tiba ia tertawa. "Eh, kiranya Hiau-lan juga sedang merindukan Jing-ji, ia lihat Jing-ji terlalu manja dan suka umbar tabiataya, maka ia mengira ti-ada harapan, sebab itu dalam sajaknya ia anggap hanya dapat di-pandang, tetapi tak bisa dimiliki!" Begitulah ia berpikir. "Siansing tak usah khawatir, ia bukan sedang rindu seorang diri!" Akhirnya ia berkata kepada si guru sekolah, habis itu ia pun berlalu. Malam itu, Teng Hiau-lan tak bisa tidur nyenyak, ia terkenang pada Lu Si-nio, tapi juga teringat pada Nyo Liu-jing, akhirnya ia ter-tawa geli sendiri. Pikirnya, ilmu silat Lu Si-nio entah berapa kali lipat lebih tinggi daripada Nyo Liu-jing, namun perangainya begitu halus dan gampang didekati, sebaliknya Nyo Liu-jing hanya memiliki sedikit kepandaian. tapi congkak dan suka bertingkah, sungguh suatu per-bandingan yang menyolok sekali. Kemudian kejadian di siang hari terbayang kembali dalam be-naknya, teringat cara bagaimana si nona itu menghajar Ce Sek-kiu dengan keji, tak terasa ia mengkirik. Semalaman itu ia tak tenteram dan bermimpi buruk. Besoknya pagi-pagi sekali Nyo Tiong-eng sudah memanggil Teng Hiau-lan. Begitu berjumpa, segera Nyo Tiong-eng bertanya. "Hiau-lan, kau sudah lima tahun tinggal di sini, kinipun sudah de-wasa, seharusnya juga mesti berpikir untuk berumah tangga. Waktu Hian-hong Totiang membawa kau kemari, pernah ia berkata bahwa kau yatim piatu, tentu kau belum pernah mengikat jodoh bukan?" Hiau-lan terkejut dan bingung oleh berondongan pertanyaan yang mendadak itu. "Belum!" Jawabnya kemudian. "Hahaha!" Tiong-eng tertawa lebar saking gembiranya. "Ka-lau begitu, apa sudah mempunyai orang yang kau penujui?" Muka Hiau-lan merah jengah, sebagai ganti jawabannya, ia menggeleng kepala. "Guru adalah seperti ayah, tiada halangan kau berkata terus-terang saja!" Kata Tiong-eng pula. "Tidak ada!" Akhirnya Hiau-lan menjawab dengan setengah menggumam. "Orang muda memang suka malu-malu kucing!" Ujar Tiong-eng. Sesudah itu ia merogoh keluar kertas tulis berisikan sajak itu. "Apakah ini yang kau tulis?" Tanyanya lagi seraya menyodor-kan kertas itu pada Hiau-lan. Keruan saja makin menjadi merah muka pemuda itu, dan se-lagi ia hendak menerangkan, tiba-tiba terdengar Nyo Tiong-eng bu-ka suara pula. "Jing-ji pun mempunyai perasaan yang sama seperti kau," Ujar orang tua itu. "Sebagai orang tua, sederhana saja aku, kalau kalian berdua suka sama suka, akan kusuruh orang mendatangkan Hian-hong Totiang dan minta dia menjadi wali pihak lelaki, dengan begi-tu kalian berdua lekas menikah dan aku pun bisa melunasi harap-anku selama ini." Mendengar penuturan itu, Teng Hiau-lan laksana disambar ge-ledek di siang hari bolong, seketika itu ia tak bisa mengucapkan se-patah kata pun! Melihat perubahan wajah Teng Hiau-lan yang menunduk dan bungkam, Nyo Tiong-eng masih menyangka pemuda itu malu. Maka dengan tersenyum segera ia berkata. "Perempuan meni-kah dan lelaki kawin adalah urusan yang maha besar bagi kehidupan manusia, aku yang memberi keputusan, takut apalagi hingga kau tak berani bicara?" "Pelajaran Tecu belum selesai, tak berani mempunyai pikiran untuk berumah tangga, lagi pula tak berani menginginkan Sumoay!" Tiba-tiba Hiau-lan menyahut dengan tekanan suara rendah. Nyo Tiong-eng tersenyum atas jawaban orang, ia pandang ker-tas sajak yang berada di tangan Hiau-lan itu. Sekonyong-konyong Teng Hiau-lan angkat kepala. "Terhadap Sumoay, sedikitpun aku tidak berani menaruh pikiran yang tidak-tidak!" Tiba-tiba ia beranikan diri berkata. Jawabannya sungguh di luar dugaan Nyo Tiong-eng, ia ter-cengang, tapi demi melihat sikap Hiau-lan yang sungguh-sungguh, terang kata-kata itu bukan hanya untuk menutupi rasa malunya saja. Nyo Tiong-eng berdehem dua kali, lalu ia remas-remas tangan sendiri dan tiba-tiba berkata dengan keren sembari berdiri. "Pada waktu kau masuk perguruan, pernah kau bersumpah akan taat pada dua belas larangan, kedua belas larangan itu apa masih kau ingat?" Tanyanya. Hiau-lan membetulkan tempat duduknya, sesudah itu ia lurus-kan tangan dan menjawab. "Masih ingat!" "Apa yang dikatakan pada larangan yang terakhir!" Tanya pula Nyo Tiong-eng. "Tak boleh Gi-su-biat-co!" Sahut Hiau-lan. "Apa artinya itu?" Tanya Tiong-eng. "Segala urusan tidak boleh mendustai Suhu, semuanya harus berteras terang, lebih-lebih tak boleh bersekongkol dengan orang lu-ar dan menghinakan orang tua, bila melanggar pantangan ini, kalau enteng" Dihukum memusnahkan ilmu silatnya dan kalau berat tubuh dibetot dengan lima ekor kuda!" "Baik! Dan kini aku hendak tanya," Kata Tiong-eng lebih jauh. "Sajak yang kau tulis ini, Siansing bilang maksudnya mengenang-kan seorang wanita, apakah betul?" "Ya, betul!" Sahut Hiau-lan. "Siapakah gerangan wanita yang kau kenangkan itu?" Desak Tiong-eng. Merah muka Hiau-lan hingga sampai leher. "Tetapi bu … bu-kan Sumoay!" Dengan susah payah akhirnya tercetus perkataan itu dari mulutnya. Akan tetapi jawabannya membikin Nyo Tiong-eng lemas lesu, dengan kecewa ia duduk kembali. "Baiklah, kau boleh pergi!" Kata-nya kemudian dengan melambaikan tangan. Seperti kehilangan sukma, dengan linglung Hiau-lan berjalan keluar, ia mendaki bukit di belakang rumah, dilihatnya pemandang-an pegunungan yang menghijau permai dan air telaga yang bening mengkilap, di sanalah ia menghela napas panjang. "Pemandangan dan tempat yang bagus, tetapi bukan lagi tem-pat yang dapat dibuat menetap terus!" Ia menggumam sendiri. Bila teringat kegarangan dan kejumawaan Sumoaynya, tanpa terasa ia mengkirik. Ia kenal tabiat Sumoaynya, bila sudah meng-inginkan sesuatu, maka jangan harap ia mau menyudahi sebelum berhasil memperolehnya. Mana Hiau-lan berani mengharapkan punya istri semacam itu. Malam itu, ia memeras otak, berpikir pulang-pergi dan bolak-balik, akhirnya ia ambil keputusan untuk pergi dari situ! Tengah malam ia berbangkit, bebenah dan meringkasi bekal-nya, sesudah itu dia,.v-diam ia lantas berangkat! Di lain pihak, setelah Nyo Liu-jing memaparkan isi hatinya pada sang ayah, ia malu tetapi gembira juga, sebab ia tahu ayahnya yang biasanya sangat sayang padanya tentu akan pergi membica-rakannya dengan Suhengnya. Dan Suheng yang tak pernah me-nyangka akan hal itu entah betapa girangnya, begitu pikirnya. Sama sekali ia tidak menduga justru kesudahannya adalah se-baliknya, karena Teng Hiau-lan ternyata tidak menyukai dia. Hari itu, karena merasa malu, ia sengaja menghindari bertemu muka dengan Hiau-lan, ia pikir biar ayah membicarakan dahulu de-ngan Suhengnya, tentu ia akan diberi kabar juga. Siapa tahu sehari suntuk ayahnya ternyata tidak mencarinya. Malam itu, ia gulang-guling tak bisa tidur, dengan susah payah ia tunggu sampai pagi, ia tak tahan lagi, buru-buru berdandan terus pergi menghadap ayahnya. Ia temukan ayahnya sedang berjalan mondar-mandir di bawah rak bunga dengan wajah lesu, keruan ia terkejut. "Tia-tia (ayah), apa kau sakit?" Tanyanya khawatir. Akan tetapi Nyo Tiong-eng menghela napas. "Hiau-lan telah pergi!" Katanya kemudian dengan lemah. "Apa betul?" Liu-jing menegas, sungguh ia tak percaya. Segera Nyo Tiong-eng mengeluarkan sepucuk surat dan dise-rahkan pada putrinya. "Boleh kau baca sendiri!" Ujarnya. Betul juga surat itu adalah tulisan Hiau-lan. Dalam surat itu tertulis dengan jelas, lebih dulu Hiau-lan menyatakan terima kasih-nya atas budi gurunya yang selama lima tahun ini memelihara dan mengajar padanya, kemudian ia menampik halus soal perjodohan yang hendak dirangkap itu. Habis membaca, Nyo Liu-jing menjadi gusar, alisnya yang lentik menegak. "Tia, aku pergi mencari dia!" Dengan mata melotot ia berkata. "Anak bodoh, orang lain tidak sudi, buat apa kau memaksa-nya?" Ujar sang ayah. "Siapa yang sudi memaksa dia? Aku ingin jalan-jalan keluar karena tidak ingin mengeram diri di rumah!" Sahut si gadis dengan menggigit bibir, mungkin sambil menahan perasaannya. "Baik juga kalau begitu!" Sahut Tiong-eng akhirnya. Ia tak merintangi niat putri satu-satunya itu …. **** Sebulan kemudian, di pantai Laut Kuning di semenanjung Soatang (Santung) muncul seorang pemuda, ia sedang mendengar-kan deru ombak laut yang mendampar dan memandang langit yang cerah, tampak penuh mengandung perasaan yang tak terlukiskan. Pemuda itu bukan lain adalah Teng Hiau-lan yang telah me-ninggalkan rumah Suhunya secara diam-diam dan kini merantau di Kangouw. Setelah ia tinggalkan keluarga Nyo, semula ia berniat pergi ke kotaraja untuk mencari "kabar Khong Lian-he, Suso atau ipar pe-rempuan perguruannya itu. Tapi kemudian ia pikir kepandaian silat sendiri masih jauh untuk bisa menandingi Sin-mo-siang-lo, ia takut begitu sampai di ibukota dan kepergok kaum Hiat-ti-cu, sebelum berhasil menolong orang, sebaliknya jiwanya sendiri bisa melayang lebih dulu. Ia tidak punya sanak-sahabat, pikir punya pikir, akhirnya ia mengubah rencananya. Ia teringat pada Hian-hong Totiang, hanya imam inilah sahabat karib Ciu Jing, ayah angkatnya. Kwantang-si-hiap pernah berjanji padanya buat membantu mencarikan anak keturunan keluarga Pang. Apa yang sudah diucapkan oleh kaum pendekar perkasa tentu akan dipegang teguh dan ditepati. Oleh sebab itulah, maka Hiau-lan bermaksud melalui seme-nanjung Soatang lalu menyeberangi Put-hay (laut Pohai), kemudian menuju ke Liautang untuk mencari Kwantang-si-hiap. Hari itu ia sampai di Jing-to (Tsyingtao), ia lagi asyik menik-mati pemandangan laut untuk melapangkan kemasgulan hatinya. Selama hidup belum pernah Hiau-lan melihat lautan, oleh ka-rena itu, tanpa terasa ia tertarik oleh kemegahan samudera raya itu. Seorang diri ia memasuki sebuah restoran berloteng, ia pesan sebotol arak dan menempati sebuah meja yang berdekatan dengan jendela, sembari minb.n arak sambil menikmati damparan ombak laut. Tengah ia terpesona oleh pemandangan indah itu, tiba-tiba ter-dengar suara ribut, waktu ia menoleh, tertampak ada sebarisan pe-tugas negara sedang naik ke loteng. Teng Hiau-lan coba tenangkan diri, ia telah menyiapkan ja-waban bila dirinya ditanya. Tak tahunya opas itu ternyata bertanya dengan sangat teliti, bukan saja tanya she dan .nama orang, bahkan tanya pula apakah Hiau-lan mempunyai sahabat atau sanak-famili di Jing-to. "Aku hanya kaum pelancongan saja yang kebetulan lewat di sini. mana bisa punya sahabat!" Sahut Hiau-lan. "Kau sendiri mengaku Siucay dari Tong-ping-koan dan hen-dak tilik famili ke Liautang," Kata seorang opas dengan tertawa di-ngin. "pertama, kau tidak memiliki ijazah sekolah sebagai Siucay, kedua, logat suaramu pun mencurigakan. Hm, siapa berani men-jamin perkataanmu itu tidak dusta! He, sahabat! Bagus sekali per-buatanmu, ya!" "Aku tidak melakukan sesuatu perbuatan apa-apa!" Bantah Hiau-lan. Tetapi bagaimana petugas itu mau percaya, ia keluarkan rantai borgol terus dijiratkan ke leher Teng Hiau-lan. "Ikut kami ke kantor dulu, bicara nanti!" Bentaknya lagi. Namuh dengan sedikit mengegos, Hiau-lan meluputkan diri dari jiratan rantai. Karena itu petugas tadi menubruk tempat kosong. "Bagus, kau masih berani melawan!" Teriak opas itu murka. Segera ia lolos lempengan besi terus mengemplang dari depan. Selagi Teng Hiau-lan hendak menggeraki tangannya, sebuah suara sudah mendahului. "Tahan dulu!" Ketika semua orang berpaling, ternyata yang membentak ada-lah seorang Kongcu (pemuda) yang berada di meja sebelah, dengan mengibas kipas lempitnya, dengan enteng ia melompat dan menga-dang di tengah kedua orang yang saling tarik urat itu. "Siapa kau?" Opas itu membentak. Sesudah itu ia mengulur tangan hendak menjambret, tapi tiba-tiba ia merasakan tangannya kesakitan sendiri. Dari samping ternya-ta sudah menerobos keluar pula seorang lelaki bertubuh tegap dan memegang tangan si opas garang itu. "Apa kau cari mampus?" Terdengar lelaki itu membentak. Kongcu tadi tersenyum. "Lepaskan dia!" Katanya. Sementara itu para petugas lain sudah berkerumun maju dan siap bertempur. "Siapa yang menjadi pemimpin?" Dengan mata melotot Kong-cu tadi bertanya. Sinar matanya menyorot tajam, meski suara pertanyaannya tak terlalu keras, namun mempunyai keangkeran yang tak terbatas hing-ga membikin orang merasa keder. Petugas tadi sampai tergetar mundur beberapa tindak. Dalam pada itu, seorang Pothau .(kepala polisi) yang usianya sudah agak lanjut tampil ke depan. "Rekan saya yang ceroboh telah membikin gusar tuan, harap dimaafkan!" Pothau itu berkata sembari memberi hormat. "Tolong tanya siapakah ayah Kongcu yang terhormat dan ada hubungan apa dengan sobat ini?" Pothau tua ini bisa melihat gelagat, ia yakin Kongcu itu pasti putra pembesar negeri, makanya berani ikut campur urusannya Tak terduga, yang ditanya hanya tertawa dingin saja. "Dengan dirimu saja hendak kau tanya asal-usulku?" Sahut si Kongcu dengan menjengek. Sesudah itu ia mekarkan kipasnya, perlahan ia mengibas dua kali ke hadapan petugas tua itu. Demi mengetahui apa yang dilihat, seketika muka Pothau tua berubah, dengan cepat segera ia bertekuk lutut. "Maaf, maaf! Harap Kongcu suka memberi ampun!" Dengan suara gemetar ia memohon. "Baiklah, kalian boleh pergi, tamu ini adalah sahabatku, aku tanggung omongannya tadi tak dusta!" Akhirnya Kongcu itu berkata. Dengan sangat hormat sekali, Pothau tua itu menjura, sesudah itu bersama anak buahnya lekas berlalu. Sudah tentu peristiwa itu sangat mengejutkan dan mengheran-kan Hiau-lan. Namun ia pun menghaturkan terima kasih. Sementara rombongan petugas itu sudah pergi semua, di atas loteng kedai arak itu telah ramai kembali, banyak tetamu sedang mempersoalkan kejadian tadi. "Hm, menangkap ‘Jay-hoa-cat’ (maling pemetik bunga, ma-ling cabul) sampai ke sini, sungguh aneh!" Terdengar pelayan kedai berkata dengan suara keras. "Mereka betul-betul tidak punya mata, mana ada Jay-hoa-cat yang sopan-santun seperti tuan tamu ini!" Celetuk seorang tamu peminum arak. "Tetapi hal inipun tak bisa menyalahkan mereka," Timbrung seorang tamu lain. "Keonaran yang diperbuat maling cabul itu begitu hebat, mereka didesak atasannya setiap hari, dengan sendirinya mereka berusaha mencari ke semua tempat." "Ya, tapi mana ada Jay-hoa-cat yang berani terang-terangan duduk di kedai arak untuk menanti ditangkap!" Sahut pelayan yang tak menyetujui kata orang. "Bukan begitu soalnya, Jay-hoa-cat yang berkepandaian tinggi dan bernyali besar itu, bukan mustahil ia datang ke kedai ini!" Sam-bung tamu satunya lagi. "Lagi pula petugas dengan giat berusaha menangkapnya, hal itu termasuk kewajibannya untuk menyelamat-kan rakyat dari gangguan!" "Hm, mungkin penjahat yang hendak ditangkap belum kena, rakyat tak berdosa sudah merasakan penangkapan yang sewenang-wenang!" Seorang tamu lain mengejek. Mendengar percakapan itu, Teng Hiau-lan jadi heran. Untuk mengetahui apa yang terjadi, ia memanggil pelayan untuk dimintai keterangan. "Apakah di tempat sini telah terjadi gangguan Jay-hoa-cat?" Tanya pada pelayan. "Wah, hebat sekali gangguannya!" Sahut si pelayan. "Dalam sepuluh hari ini, tiap hari pasti terjadi ‘perusakan bunga’. Perawan baik-baik, di waktu tengah malam tahu-tahu sudah lenyap digondol orang, sampai putri hartawan Ong Pek-ban dan pembesar Ciu Siu-pi juga kena digondol maling!" "Bisa terjadi demikian?" Sahut Hiau-lan gusar hingga kedua alisnya menegak, tanpa terasa tangannya menepuk pedang yang ter-gantung di pinggangnya. Tiba-tiba ia lihat Kongcu muda tadi dengan sinar mata tajam lagi memandang padanya, karena itu muka-nya menjadi merah, kikuk atas kelakuannya tadi. "O, kiranya mereka menyangka aku adalah maling tukang pe-tik bunga!" Katanya dengan menyeringai. Selagi bicara, para tetamu kembali ribut lagi. "Ada sebarisan serdadu datang lagi dari jauh!" Seru seorang tamu yang duduk dekat jendela. Karena takut terjadi keonaran lagi, para tamu lekas memberes-kan pembayaran dan bubar, hanya tertinggal si Kongcu dan pengi-ringnya. lelaki tegap tadi, serta Teng Hiau-lan. Si pelayan tahu Kongcu ini bukan sembarang Kongcu, maka dengan cepat ia menukar beberapa macam lauk-pauk serta membi-kin hangat lagi tiga botol arak. "Tadi kegembiraan kita telah dibikin buyar oleh kawanan bu-dak itu!" Ujar si Kongcu, ia mengundang Hiau-lan ke mejanya dan memulai dengan makanan mereka yang baru. Kembali Hiau-lan menghaturkan terima kasih atas pertolong-annya tadi. Akan tetapi si Kongcu menganggap hal mana bukan sesuatu yang luar biasa. "Itu belum apa-apa," Ujarnya sambil kibas-kibas kipasnya. "Ayahku mempunyai hubungan baik dengan Soatang Sunbu (gu-bernur) yang sekarang ini, tulisan di atas kipas ini justru adalah Soatang Sunbu yang menulis sendiri, Pothau tua tadi barangkali kenal tulisan Sunbu, maka ia tak berani merecoki kita lebih jauh!" Mata Hiau-lan yang jeli sekelebatan dapat melihat apa yang tertulis di atas kipas adalah ‘Ih-lam-ouw-kui-sia ", arti lima huruf itu adalah. ditulis sambil berlutut oleh Ih Lam-ouw. Hati Teng Hiau-lan seketika menjadi dingin. Apakah ayahnya adalah pembesar tinggi di kotaraja? Begitu ia membatin. Sikapnya jadi lain dan tawar bila teringat pada larangan gu-runya, antara lain melarang setiap murid berdekatan dengan pem-besar dan bergaul dengan pejabat negeri. Sementara itu terdengar Kongcu itu buka suara lagi. "Ih Lam-ouw ini keluaran Hanlim (semacam lembaga kesusastraan), gaya tulisannya masih bo^h juga. Pada waktu sebelum ia berjaya, pernah menjadi murid ayahku, oleh karena itu ia sangat menghormati ayah. Keluargaku, dari leluhur hingga kini, belum pernah ada yang men-jadi pembesar negeri." Mendengar penuturan itu, baru hati Hiau-lan merasa agak le-ga. Kemudian ia coba mencari tahu nama orang. "Aku she Ong bernama Cun-it," Kongcu itu memperkenalkan diri. "Dan dia adalah Haptoh, pelayanku, orang Hwe." Teng Hiau-lan kemudian memberitahukan namanya sendiri. Ong Cun-it ternyata ramah-tamah sekali terhadapnya. "Heng-tay (saudara) membawa pedang di pinggang, tentunya seorang ahli pedang!" Ia bertanya. Akan tetapi lekas Hiau-lan menyangkal. "O, tidak, hanya per-nah belajar beberapa jurus tak berarti, mana bisa dikatakan ahli." Ong Cun-it tersenyum atas jawaban orang, lalu ia kebas ki-pasnya lagi, kemudian berkata dengan suara menyanjung. "Tempat ‘Bong-hay-lau’ ini meski bagus, cuma kurang tinggi, kalau Hengtay suka menikmati pemandangan yang indah, paling baik adalah menumpang perahu pesiar ke laut, konon ‘Thian-hing-to’ yang tidak jauh dari muara sungai terdapat puncak yang tinggi, dengan mendaki puncak itu untuk memandang matahari terbit, itu-lah baru merupakan pemandangan yang menakjubkan di dunia ini!" "Hengtay betul-betul orang yang suka akan keindahan!" Hiau-lan memuji. Ia merasa bersyukur bahwa Ong Cun-it telah mengalihkan pembicaraan pada soal lain. Tak terduga, segera terlihat orang se-perti teringat sesuatu, lalu berkata. "Betul juga, di atas puncak tung-gal pulau itu, kita dapat bersyair sembari menarikan pedang, sung guh termasuk suatu kegembiraan hidup manusja, entah Hengtay apa boleh pinjam lihat pedangmu itu?" Perkataan orang yang terakhir itu membikin Hiau-lan jadi ser-ba salah. Pedang pusaka itu oleh Ciu Jing telah wanti-wanti dipesan padanya agar tidak sembarangan diunjukkan pada orang. Tapi Ong Cun-it begini ramah-tamah, lagi pula telah menolong dirinya tadi, bagaimana bisa bilang tak boleh. Selagi merasa ragu, tiba-tiba tangga loteng berbunyi riuh, me-nyusul naik dua orang wanita. Yang di depan adalah wanita beram-but panjang hitam gompyok sampai terurai ke pundak, sinar ram-butnya mengkilap hitam, tetapi kulit mukanya sudah keriput. Kalau melihat rambutnya itu, jelas serupa rambut gadis berumur dua pu-luhan, sebaliknya kalau memandang mukanya yang sudah keriput, seperti nenek yang sudah berusia lebih lima puluhan. Sedang yang mengikut di belakangnya adalah gadis bermuka cantik, alisnya panjang lentik, belum hilang sifat kekanak-kanakan-nya, seorang gadis yang baru berusia enam belas tahun. Ketika si Kongcu berpaling, wanita yang di depan segera ber-kata padanya. "Apakah tuan tamu hendak menanggap nyanyian?" Kiranya wanita itu kerjanya adalah mengamen, penjual suara, maka ia tawarkan orang menanggap padanya. Ong Cun-it melirik pada pengawalnya dan memberi isyarat, baru kemudian ia berkata. "Boleh juga!" Tertampak si nenek mengeluarkan dua keping papan bambu, ia ketok-ketok kepingan bambu membentuk irama, menyusul si gadis tarik suara, menyanyi. Apa yang dinyanyikan adalah sebuah lagu yang memuji seo-rang pahlawan negeri Ce di zaman dahulu, walaupur negerinya musnah, tetapi ia berteguh hati tak mau takluk pada musuh, ia me-lawan penjajah dengan lima ratus prajuritnya di Thian-hing-to sam-pai titik darahpengabisan …. Belum selesai nyanyian si gadis, tertampak Ong Cun-it me-ngerut kening. "Sudahlah, tak usah diteruskan!" Ia menghentikan. "Tuan lagi menghadapi Thian-hing-to, mengapa berbalik tak sudi mendengar nyanyian yang memuji pulau itu?" Tanya si nenek. Sementara itu, pengawal Ong Cun-it sudah tak sabar lagi, ia membentak. "Tak usah cerewet!" "Berikan persen dan suruh mereka pergi!" Ujar Ong Cun-it pa-da pengiringnya itu. Waktu Haptoh mengayun tangan, dua renceng uang perak di-lemparkan pada si nenek. Di luar dugaan, nenek itu menolak. "Siapa kesudian menerima uangmu!" Omelnya. Sambil berkata ia kebut dengan lengan bajunya, ketika uang perak terserak di atas meja, ternyata sudah men jadi re-mukan berkeping-keping. Ong Cun-it dan Haptoh terkejut, namun kedua wanita tadi su-dah keburu pergi. Haptoh rupanya hendak mengejar, tapi segera di-cegah Ong Cun-it. "Biarkan saja ia pergi," Ujamya. "Teng-heng, ta-di kita bicara soal pinjam lihat Pokiam, entah boleh atau tidak?" Mendengar orang mengulangi permintaannya lagi, kembali Hiau-lan menjadi bingung pula. "Soal ini … ini …." Jawabnya tergagap. Tanpa terasa tangan-nya meraba ke pinggang, tiba-tiba ia berpekik terkejut. "Pedangku hilang!" Serunya. Waktu diperiksa, betul juga pinggangnya sudah kosong, pe-dang yang tergantung di pinggang benar-benar sudah lenyap tanpa bekas. "Gerak tangan si pengemis perempuan tua itu sungguh cepat sekali!" Haptoh mengutarakan pendapatnya. Akan tetapi Teng Hiau-lan yang kehilangan Pokiam jadi ke-labakan, hatinya bingung, lekas ia mohon diri. Kejadian itu temyata tidak mempengaruhi kegembiraan Ong Cun-it, sambil mengangkat tangan memberi salam perpisahan pada orang, ia masih berkata. "Teng-heng tidak usah khawatir, Pokiam yang hilang itu, Siaute akan minta orangku bantu mencarikan." Setelah Hiau-lan mengucapkan terima kasih, segera ia turun dari loteng rumah makan itu terus menyusul si nenek tadi. Akan tetapi jalanan di pantai yang rindang oleh pepohonan ha-nya terdapat prajurit-prajurit yang meronda, mana ada bayangan si nenek. Para prajurit yang berjaga, melihat Hiau-lan berlari keluar dari kedai, ternyata tiada seorang pun yang merintangi. Selama belajar lima tahun pada Nyo Tiong-eng, dalam hal Sin-tan atau pelor ajaib keluarga Nyo, ia sudah mahir sekali, apalagi senjata rahasia yang dia sendiri gunakan adalah Hui-bong, bobot Hui-bong enteng sekali, maka sulit untuk mempelajarinya, dari situ, soal kejelian mata harus dilatih lebih dulu. Akan tetapi dengan kepandaiannya itu, Pokiam dicuri orang sedikitpun ia tak merasa, soal pencurinya apakah si nenek atau bu-kan, betapa tinggi ilmu silat si pencuri itu dapatlah dibayangkan. Hiau-lan berpikir tiada harapan lagi mendapatkan kembali pedang pusakanya itu. Dengan menunduk kepala dan penuh penyesalan, ia berjalan menyusuri pantai, makin lama makin jauh. Tiba-tiba ia lihat di luar muara sungai sana terdapat beberapa kapal nelayan yang tertambat, pada sebuah kapal agak besar, di mu-ka kapal itu sedang berdiri seorang wanita muda dengan perawakan menggiurkan dan cantik sekali. Waktu Hiau-lan mengawasi ternyata bukan gadis yang dilihat-nya tadi. Ia tertawa geli atas kelakuan sendiri yang bernapsu ingin men-dapatkan kembali pedangnya. "Pokiam terang sudah hilang, lebih baik pulang saja," Begitu-lah pikirnya. Ia lanjutkan pula beberapa tindak, sementara itu wanita tadi sudah masuk ke dalam ruangan kapal beratap. Ketika ia berpaling, tertampak di sebelahnya ada seorang pe-muda bermuka cakap, juga sedang mernandangi kapal nelayan itu dengan penuh perhatian. Melihat pemuda itu terkesima oleh kapal nelayan, tiba-tiba pi-kiran Hiau-lan tergerak. "Jangan-jangan inilah ‘Jay-hoat-cat" Itu!" Tiba-tiba terlihat pemuda itu mengibaskan lengan bajunya. Mata Hiau-lan cukup jeli, ia tahu, itu adalah cara menyambitkan senjata rahasia dari bawah lengan baju yang lihai, senjata rahasia yang disambitkan bobotnya enteng sekali, orang biasa yang berdiri di sampingnya belum tentu dapat mengetahui. Hiau-lan tunggu sesudah pemuda tadi berlalu, baru ia mende-kati tepian perahu itu, ternyata di samping perahu sudah bertambah dengan gambar Bwe-hoa, bunga sakura berkelopak lima, terang dan jelas sekali gambar itu laksana ukiran saja. Hiau-lan tahu, itu tentu tercipta oleh senjata rahasia sejenis Bwe-hoa-ciam, maka diam-diam ia berpikir. "Celaka, tentu ini ting-galan maling cabul itu sebagai tanda, agaknya ia telah penujui pe-rempuan muda di atas kapal tadi." Ia khawatir maling itu malam nanti akan memetik bunga di kapal ini, selagi ia hendak memperingatkan juragan perahu, men-dadak pintu ruangan perahu terbuka, wanita tadi melangkah keluar. Melihat Hiau-lan, wanita itu melotot dan alisnya berdiri, ia celupkan pengayuhnya ke dalam air, mendadak ia mencukil hingga air muncrat ke arah Hiau-lan. Tidak pernah Hiau-lan duga akan kejadian itu, keruan saja muka dan bajunya basah kuyup, malahan kulit mukanya terasa pedas. Mengayuh beberapa kali, wanita nelayan itu sudah mendayung pergi perahunya. Hiau-lan mengusap percikan air tadi, diam-diam ia merasa pe-nasaran. Tentu wanita tadi menganggap dia sebagai pemuda hidung belang yang suka mengganggu wanita. Dalam hati ia berpikir, kalau sekarang memberitahu mereka, bukannya akan percaya, mungkin malah akan timbul curiga dan me-ngira aku mempunyai maksud busuk, lebih baik malam ini saja aku datang lagi dan menangkap maling pemetik bunga itu, dengan begi-tu dapat melenyapkan juga suatu malapetaka bagi masyarakat. Setelah ambil keputusan itu, ia lihat perahu nelayan tadi ber-henti di muara sungai sebelah sana. ia lantas kembali ke dalam kota dan pulang ke pondoknya. Waktu Hiau-lan meninggalkan rumah pondoknya tadi, pintu jendela kamarnya sudah ia tutup rapat, bahkan pintu kamar ia gem-bok dengan baik. Tetapi pada waktu pintu kamar ia buka, tiba-tiba ia merasa adanya desiran angin, cepat Hiau-lan menoleh, namun ti-ada sesuatu bayangan pun yang ia dapatkan. Dalam hati ia menertawai diri sendiri yang sok sangsi dan curiga. Tak tahunya begitu ia memasuki kamar, mendadak ia lihat sinar gemerlapan, hampir ia berteriak kaget. Kiranya tertampak sebatang pedang yang menggeletak di atas meja, jelas bukan lain Yu-liong-pokiam yang baru hilang tadi, sedang sarung pedang tergantung di dinding. Hiau-lan angkat Pokiam itu, ternyata di bawah pedang tertindih secarik kertas. "Tengah malam sesudah lewat tiga hari boleh menjumpai aku di Thian-hing-to!" Begitulah Hiau-lan melihat apa yang tertulis di atasnya. Bukan main perasaan Hiau-lan, hati bingung tak keruan, tidak tahu apa maksud sebenamya si pencuri pedang itu? Sedang Thian-hing-to yang disebut, ia tidak lahu dimana Ictaknya. Namun masih ada tempo tiga hari menurut janji itu, jadi masih bisa diselidiki. Setelah tenang kembali, pikimya, si pencuri pedang ini adalah orang pandai dari golongan Cianpwe (angkatan tua), tentu tiada maksud jahat terhadapku. Tetapi kalau orang jahat, tak mungkin ia mau mengcmbalikan pedangku. Kejadian ini walaupun aneh, tetapi tidak berbahaya. Sebaliknya malam nanti menempur si Jay-hoa-cat tidak boleh tidak harus hati-hati. Melihat caranya menggeraki sen-jata rahasia, terang kepandaian bangsat itu jarang ada bandingan da-lam dunia persilatan. Habis itu, ia tidak berpikir lebih jauh lagi. segera ia tidur. Waktu ia mendusin, hari sudah magrib, sesudah Hiau-lan ma kan malam dan mengaso lagi sebentar, lantas ia cantelkan pedang nya di pinggang dan mengantongi Hui-bong seperlunya, terus ia melangkah keluar rumah pondok itu. "Malam ini mungkin akan agak terlambat pulang," Ia mem beritahu pada pelayan sebelum ia berangkat. "Khek-koa (tuan tamu) silakan saja!" Ujar Siauji, si pelayan. "Kalau ada orang mencariku, jangan lupa tanya namanya!" Pe-san Hiau-lan. "Sudah tentu!" Sahut Siauji. Segera Hiau-lan berjalan menuju pantai. Malam itu adalah tanggal muda. sinar bulan remang rcmang diseling bintang berkelap-kelip membentang jauh di cakrawala nan luas, pemandangan demikian makin menambah keseraman ombak samudera yang mendampar. Akhirnya Teng Hiau-lan dapat menemukan perahu nelayan si-ang tadi, ia bersembunyi di belakang batu karang di tepi laut, dengan hati berdebar ia menantikan datangnya Jay-hoa-cat, maling pe-metik bunga. Sesudah menunggu agak lama, bulan muda yang melengkung perlahan mulai bergeser sampai di tengah angkasa, tanda sudah tengah malam. "Ini sudah waktunya!" Begitu pikir Hiau-lan. Dan betul saja, selang tak lama kemudian, sesosok bayangan dengan cepat mendatangi. Walaupun di bawah sinar bulan remang-remang, namun bisa terlihat jelas orang itu berpakaian putih mulus. Diam-diam Hiau-lan heran. Pakaian putih adalah pantangan keras bagi ‘Ya-hing-jin’ (orang jalan malam), apalagi tujuannya hendak ‘Jay-hoa’ (petik bunga) alias berbuat cabul. Saat orang berpakaian putih itu sampai di tepi laut, siapalagi kalau bukan pemuda yang dilihat Hiau-lan siang tadi? Segera Hiau-lan siapkan Hui-bong, senjata rahasianya yang khas, tapi belum sampai ia hamburkan, terlihat pemuda tadi telah menutul kaki melayang naik laksana garuda menjulang ke langit. ia meloncat ke atas tiang layar kapal itu. "Hayo, tangkap Jay-hoa-cat!" Tanpa pikir Hiau-lan berteriak. Berbareng tangan mengayun, Hui-bong segera ia hamburkan. "Akulah adanya, harap Moay-cu (adik perempuan, dimaksudkan adik kekasih) sudi keluar!" Terdengar pemuda itu berseru tanpa menghiraukan teriakan dan senjata rahasia Teng Hiau-lan. Sekonyong-konyong dari dalam kamar perahu menyerobot ke-luar seorang, sekaligus ia penggal putus tiang layar dengan golok. Sekali jumpalitan, pemuda berbaju putih itu berbalik turun ke atas perahu, gerak tubuhnya gesit sekali, terang ia tidak terluka. Hiau-lan menduga, hamburan Hui-bongnya tadi percuma saja. Yang menyerobot keluar dari kamar kapal tadi ternyata seorang nelayan yang usianya sudah lanjut, cepat sekali beruntun mem-babat dengan goloknya pada si pemuda baju putih. "Huh, tak punya malu, kau datang ke sini untuk apa?" Nelayan tua itu menyindir. Pemuda baju putih bertangan kosong, maka ia hanya berkelit sana dan mengegos sini untuk menghindarkan serangan, tapi tak ba-las menyerang, bahkan terus memanggil. "Hi-moay, Hi-moay!" Sementara itu dari dalam ruang perahu terdengar suara ta-ngisan, mendadak wanita cantik yang Hiau-lan lihat pada siang harinya meloncat keluar. "Thay-koan, baiklah kau pergi saja!" Terde-ngar ia berseru dengan air mata meleleh. "Budak hina, lekas masuk!" Terdengar nelayan tua tadi men-damprat dengan gusar. Dalam pada itu, berulang tiga kali pemuda baju putih meng-hindarkan serangan, sesudah itu mendadak ia mencelat, ia mener-jang ke dekat gadis nelayan itu! Teng Hiau-lan ternyata tidak mau tinggal diam, sekuat tenaga ia enjot tubuh melayang naik ke atas kapal, dengan gerak tipu ‘Sian-jin-ki-loh’ (sang dewa menunjuk jalan), Yu-liong-pokiam segera ia tusukkan ke dada si pemuda baju putih. "Besar sekali nyalimu, Jay-hoa-cat!" Bentaknya lagi. Saat pemuda itu mendadak melihat sinar mengkilap menyam-bar ke arahnya, cepat ia mengegos menghindarkan diri. la terce-ngang karena dirinya mendadak diserang. "Siapa Jay-hoa-cat?" Balasnya membentak dengan bingung. Tetapi kembali Teng Hiau-lan mengirim satu tusukan. Sedang nelayan tua tadi mendorong gadisnya masuk ke dalam kamar perahu, dari romannya tertampak ia pun rada heran. Dengan tangan mencekal golok, ia mengadang di pojok geladak perahu, te-tapi tidak ikut mengerubut. Hiau-lan mainkan ‘Tui-hong-kiam-hoat’ dengan kecepatan lu-ar biasa, dengan bertangan kosong pemuda baju putih itu merasa ra-da berat juga, ditambah tempatnya di atas perahu yang tidak begitu lebar, berkelit ke kanan atau mengegos ke kiri, semua dapat dicapai ujung pedang. Begitulah Hiau-lan memutar pedang pusakanya lebih hebat, sedikitnya ia sudah menusuk dua tiga puluh kali, namun sekali saja masih belum bisa mengenai sasaran, dalam hati ia merasa heran. Sebaliknya di tempat sesempit itu, pemuda baju putih itupun kurang leluasa, untuk melayani Kiam-hoat yang bukan main lihai-nya itu, ia tak sempat mengeluarkan kepandaian ‘Kang-jiu-cio-pek-yin’ (dengan tangan kosong merebut senjata lawan), sekalipun ke-pandaiannya memang tinggi, tak urung ia mandi keringat juga. Saking gopohnya karena tusukannya tak berhasil, Teng Hiau-lan keluarkan bagian ‘Tui-hong-kiam-hoat’ yang paling lihai, ia se-lalu menyerang bagian atas, mengarah kedua mata orang. "He, saudara, kalau kau tidak berhenti menyerang, jangan kau salahkan aku nanti!" Bentak si pemuda tiba-tiba, rupanya ia sudah hilang sabar. Habis itu mendadak terdengar suara membrebet, pemuda itu telah merobek sebagian baju putihnya terus dipuntir, segera pokiam Hiau-lan tergulung kain bajunya itu. Hiau-lan merasa tangan kesakitan laksana menumbuk papan besi, sedikit kendor tangannya, pokiamnya ternyata terlepas dari genggaman dan terlempar jatuh ke atas geladak perahu dengan me-nerbitkan suara nyaring. Untuk menghindarkan bahaya lebih jauh, Hiau-lan mengge-lundungkan diri ke geladak, sedang Hui-bong yang sudah disedia-kan di tangan lain segera ia tebarkan lagi. Sama sekali tidak terduga oleh pemuda baju putih itu bahwa sesudah Hiau-lan kehilangan senjatanya masih coba membela diri mati-matian, karena sedikit lengah, segera kakinya terkena dua buah Hui-bong, ia terhuyung-huyung sampai di pinggir geladak. Pada kesempatan itu, Hiau-lan meloncat berdiri kembali, ia berjaga apabila diserang kembali oleh lawan. Tetapi pemuda baju putih itu ternyata tidak menyerang, de-ngan suara serak ia berkata. "Lotiang (bapak), apa betul sudah begitu tega kau?" Sebagai jawaban, tiba-tiba nelayan tua itu membentak. "Pek Thay-koan, ada jalan ke sorga tidak kau ke sana, neraka yang tidak berpintu justru kau masuki. Apabila kau tidak lekas merat, segera aku binasakan kau!" Sesudah itu goloknya diputar hingga sinar putih menyerupai satu bundaran. Teng Hiau-lan yang berdiri di samping merasakan rambut dan bajunya melambai-lambai tertiup sambaran angin golok. Karena itu Hiau-lan menjadi jeri, ia tahu tenaga si nelayan tua pasti tidak di bawah Kwantang-si-hiap. Sementara itu pemuda baju putih yang kakinya terluka dan tak leluasa bergerak berseru lagi. "Hi-moay, Hi-moay! Selama hidup ki-ta sudah tak mungkh bertemu lagi!" Sekonyong-konyong terdengar suara pekikan dari dalam ruang perahu, gadis nelayan tadi dengan sekali pukul telah membikin re-muk pintu kamar, tanpa menghiraukan perintah ayahnya lagi, ia me-loncat keluar. Tetapi si nelayan tua lantas menggeraki goloknya dengan tipu ‘Moa-koh-boat-hun’ (dewi Moa-koh menyingkirkan awan), menda-dak ia mengayun senjata terus membabat, dengan gerak tangan ce-pat luar biasa, sebelum putrinya datang mendekat, ia hendak mem-babat kutung tubuh si pemuda baju putih. Sementara itu, setelah mengalami pertarungan sengit, tambang tambatan perahu ternyata terputus, perahu nelayan itupun terapung dan melaju menuruti arus air, waktu itu sudah belasan tombak jauhnya terpisah dari daratan. Justru pada waktu nelayan tadi mengayunkan golok memba-bat, tiba-tiba dari permukaan air terdengar suara seruan nyaring. "Tahan dulu!" Lenyap suaranya, orangnya pun sampai. Tiba-tiba seorang pe-muda baju putih melayang tiba dari permukaan laut. Ketika pandangan Hiau-lan masih kabur, tahu-tahu pemuda dari permukaan air itu sudah melompat sampai di atas geladak pe-rahu. Dalam pada itu, nelayan yang lagi mengayunkan golok tiba-tiba merasakan pergelangan tangan kaku kesemutan, ‘Hou-thau-to’, golok berujung tebal lebar, kena direbut beg’itu saja oleh pemuda yang baru datang itu tanpa berdaya sedikitpun. Bapak nelayan yang malang-melintang selama hidupnya itu, namanya sudah tersohor dan disegani kaum Kangouw, belum per-nah ia ketemukan tandingan, tak tahunya, kini tidak lebih hanya se kali gebrakan saja, entah dengan cara bagaimana goloknya sudah terampas oleh si pemuda. Keruan saja tidak kepalang gusarnya, tapi ia pun terkejut juga, maka tak berani sembarang umbar amarah. "Hm, Pek Thay-koan, kiranya kau mengajak begundal, apa kau su-dah merencanakan hendak merebut bakal istri?" Dengan dingin ia berkata pada pemuda baju putih yang duluan. Setelah Teng Hiau-lan tenang kembali, ia lihat pemuda baju putih yang datang belakangan ini beroman cakap dengan alis lentik bagus, bajunya melambai tertiup angin, bahkan lebih tampan dari pemuda baju putih yang duluan. Waktu ia menoleh, dilihatnya di permukaan laut terapung be-berapa keping papan kayu kecil, barulah ia mengerti pemuda ini menggunakan kepandaian ‘Ting-ping-toh-cui’ yang luar biasa, de-ngan meminjam daya papan kecil itu, ia melayang tiba seperti ter-bang di atas air saja. Mengenai ilmu entengi tubuh ‘Ting-ping-toh-cui’ (menum-pang daun kapu-kapu menyeberangi air), Hiau-lan hanya pernah mendengar orang bercerita, tidak nyana kini dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan ilmu hebat itu. Waktu ia mengawasi lagi, terlihat wajah pemuda ini seperti sudah pernah ia kenal entah dimana. "Nanti dulu Lotiang, biar aku tanya dia!" Dengan perlahan-lahan pemuda baju putih yang datang belakangan berkata sebagai jawaban terhadap pertanyaan nelayan tadi. Sesudah itu ia menuding pemuda baju putih yang duluan. dengan muka sungguh-sungguh ia bertanya. "Apa kau ini yang bernama Pek Thay-koan? Anak murid siapa?" "Pek Thay-koan berdiri tak pernah berganti nama dan duduk tak pernah tukar she, aku adalah murid Tok-pi-sin-ni, urutan nomor lima dari Kanglam-pat-hiap," Jawab pemuda yang duluan dengan si-kap angkuh sekali. "Terima kasih atas budi pertolongan saudara ta-di. Numpang tanya saudara hendak memberi petunjuk apa?" Atas jawaban jumawa ini, pemuda yang belakangan tertampak mengerut kening. Tapi dengan suara kereng segera ia bertanya pula. "Tok-pi-sin-ni mempunyai tata-tertib perguruan yang keras, malam-malam kau menggerayangi perahu nelayan ini, apakah tujuanmu?" Pertanyaan itu ternyata tak bisa diterima begitu saja oleh Pek Thay-koan. "Kau turun tangan memberi bantuan, budi itu aku teri-ma," Sahutnya dengan angkuh. Baca Juga: Pendekar Panji Sakti 3 Baca Juga: Duri Bunga Ju 8