Eps 1 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com Seri Thiansan Jiang Hu San Nu Xia/Kang Ouw Sam Lie Hiap Karya . Liang Ie Shen Saduran . Gan KL DJVU . Manise dan TAH Ebook oleh . Dewi KZ
http.//kangzusi.com atau
http.//dewi.0fees.net
Jilid 1 Di antara ketiga belas kaisar dinasti Boan hanya Khong-hi yang paling lama bersinggasana di alas takhtanya, yakni selama 61 tahun (1662 – 1723), selama itu ia telah menumpas tiga raja muda pemberontak di daerah selatan, menaklukkan daerah-daerah Mongolia dan Tibet, kewibawaan negerinya waktu itu cukup kuat dan disegani.
Cerita ini berawal bangsa Boan sudah 63 tahun menjajah ke pedalaman, kedudukannya sudah kuat, para pahlawan dan kaum patriot tak berdaya, mereka hanya menyembunyikan diri di antara rakyat jelata dan sambil menahan air mata menunggu saat yang baik bagi pergerakan mereka.
Di antara para patriot itu terdapat seorang guru silat she Pang bernama Kong-tiau, bertempat tinggal di Lu-ciu, propinsi Holam, ilmu silat tunggalnya Liok-hap-tay-jiang, yakni sermacam tombak gapit, cukup terkenal di kalangan Kangouw.
Semenjak umur tiga puluh lebih, secara tiba-tiba ia menga-singkan diri kembali ke kampung halamannya dan menutup pintu tidak mau terima tamu, yang diutamakan hanya menyekolahkan anak dan mengajar murid.
Kalau ditanya tetangga atau kawan dunia persilatan mengapa selagi masih muda dan kuat tenaganya sudah men-jauhkan diri ke pedusunan, maka selalu ia menyimpangkan pokok pertanyaan atau hanya tersenyum raja tanpa menjawab.
Waktu Pang Kong-tiau berumur empat puluh dua, sudah jadi engkong atau kakek.
Putranya yang bernama Pang Eng-ki beristri-kan Khong Lian-he, putri seorang jago silat juga, bernama Khong Liang, setahun lalu telah melahirkan anak perempuan kembar yang mungil, maka tidak heran, siapa saja yang melihat bayi kembar itu pasti suka, lebih-lebih karena wajah kedua anak kembar itu serupa benar laksana pinang dibelah dua.
Sudah tentu jago silat she Pang itu paling sayang pada kedua cucu perempuannya itu.
Hari ini genap setahun lahir kedua bocah tadi, sesuai kebiasaan di kampung, Pang Kong-tiau merayakan ulang tahun kedua cu-cunya itu.
Sudah tentu ia mengundang beberapa sobat-handai dan sanak-famili, di antaranya termasuk Khong Liang.
Hari itu pagi-pagi sekali Khong Liang berangkat dari rumah-nya yang berada di pojok kampung, tak lupa membawa beberapa hadiah yang akan diberikan pada kedua cucu luarnya itu.
Waktu sampai di depan rumah keluarga Pang, tiba-tiba ia lihat di lapangan latihan keluarga itu ada seorang pemuda beroman cakap, beralis tebal, mata bersinar, pinggang ramping dan tangan panjang kuat, sedang berlatih silat.
Terlihat pemuda itu berputar cepat sambil kadang-kadang mendekam ke bawah untuk kemudian berbalik kembali, tempo-tempo meloncat tinggi sambil mementang ta-ngan, gayanya manis dan bagus sekali.
"Jinkeh (besan laki) suka memuji murid barunya berbakat baik dan giat belajar, tampaknya memang tidak salah, hanya saja yang dimainkan ini ilmu silat cabang mana’."
Dalam hati Khong Liang bertanya-tanya.
Pang Kong-tiau mempunyai dua orang murid, murid pertama bernama Ong Ling, setelah tamat belajar tiga tahun lalu meninggal-kan perguruan dan kini menjalankan pekerjaan sebagai Piausu (pe-ngawal) di ibukota.
Pemuda yang sedang berlatih di lapangan tadi bernama Teng Hiau-lan, muridnya yang kedua.
Asal-usul Teng Hiau-lan sangat mengherankan, bahkan Khong Liang belum tahu darimana asal pemuda ini.
Pada suatu hari, tiba-tiba Pang Kong-tiau membawa seorang pemuda berusia tujuh dela-pan belas tahun, datang padanya, mengatakan pemuda ini adalah muridnya yang baru, kalau bicara pemuda ini berlogat Kwangwa (daerah perbatasan), beroman cakap dan tampaknya masih polos.
Pang Kong-tiau selamanya belum pernah pergi ke Kwangwa, tapi mengapa bisa mendapatkan seorang murid berlogat Kwangwa, inilah yang membikin Khong Liang tidak mengerti.
la pernah berta-nya pada sang besan tentang hal itu, tapi Kong-tiau tak mau berterus terang, malahan seperti ada kisah duka yang tak dapat dijdaskan.
Di dunia persilatan umumnya, walaupun termasuk famili de-kat, tidak sopan untuk mencari tahu rahasia orang lain.
Oleh karena itu Khong Liang tidak bertanya lebih jauh.
Hari ini kebetulan ia me-lihat Teng Hiau-lan sedang berlatih silat seorang diri.
Dengan cermat Khong Liang menyaksikan, tidak lama kemudian ia menjadi sangat terkejut.
Gerakan Teng Hiau-lan makin lama makin cepat, sampai po-hon Gui di samping lapangan berkeresekan dan daun pohon satu per satu rontok.
Khong Liang memandang dengan teliti, tetapi tidak tampak adanya senjata rahasia.
Melihat gerak tubuh dan tangannya, juga bukan sebangsa ilmu ‘Pi-khong-ciang’ atau pukulan tangan kosong jarak jauh, sebab bila tergetar angin pukulan, seharusnya seka-ligus akan rontok bertebaran, namun kini daun-daun itu selembar demi selembar jatuh dengan enteng, seperti sengaja dipetik tangan jahil.
Khong Liang sudah tergolong jago silat berpengalaman, sege-ra ia tahu daun-daun tadi jatuh karena tertusuk putus tangkai daun-nya oleh semacam senjata rahasia sangat lembut sebangsa Bwe-hoa-ciam (jarum).
Kejutnya sungguh tidak kepalang.
Senjata rahasia Bwe-hoa-ciam itu sangat enteng, untuk bisa melatihnya hingga tepat menge-nai sasaran pun sulit, tetapi kini Teng Hiau-lan sanggup memukul rontok daun dalam jarak tiga tombak, betapa kuat tenaga pergelang-an tangan dan ketajaman matanya, di antara jago-jago silat ternama pun sukar ditemukan, tampaknya pasti bukan Pang Kong-tiau yang mengajarkan ilmu silat tingkat tinggi ini.
Lagi pula Khong Liang be-lum pernah mendengar Pang Kong-tiau dapat menggunakan Bwe--hoa-ciam, tentu pemuda ini berguru pada Kong-tiau sesudah mahir silat, jika begitu siapakah gerangan gurunya yang terdahulu’?
Meni-lik kemahirannya, sungguh aneh, untuk apa jauh-jauh dia datang ke pedusunan sini belajar ilmu silat keluarga Pang.
Sungguhpun ilmu silat Pang Kong-tiau tergolong lumayan, tetapi sama seperti Khong Liang, masih belum terhitung tokoh kalangan Kangouw.
Maka da-pat dipastikan gurunya yang terdahulu lebih hebat dari Pang Kong-tiau.
Sementara itu Teng Hiau-lan yang sedang berlatih tiba-tiba berhenti, lalu mencabut sebatang pedang tajam berukuran panjang.
Sinar tajam kemilau pedang tertampak waktu pedang diayun ke atas, setelah itu ia menusuk dan membacok ke kanan ke kiri segesit kera dan selicin kucing, makin lama makin kencang permainan pedang-nya, sinar pedang gemerdep memancarkan aneka wama karena ter-sorot sinar matahari pagi hingga menyilaukan mata.
Rasa kejut dan heran Khong Liang makin bertambah, pikirnya.
"Pang Kong-tiau terkenal karena tombaknya, bagaimana bisa me-ngajar muridnya menggunakan pedang? Apalagi Kiam-hoat atau il-mu pedang pemuda ini begitu cepat, lincah dan tiada taranya, belum pernah kulihat selama hidup. Orang yang bisa mengajar Kiam-hoat demikian kepada pemuda ini kalau bukan seorang pemimpin cabang silat, tentu seorang Kiam-khek atau pendekar pedang ternama."
Makin lama Khong Liang memandang, makin bertarnbah he-ran, ketika ia terkesima, terlihat Teng Hiau-lan memutar pedang sa-tu lingkaran, lalu dipalangkan di depan dada, sambil sedikit mem-bungkuk ia berkata dengan suara nyaring.
"Tecu masih dalam taraf permulaan berlatih dan belum masak betul, tentu akan ditertawakan kaum ahli. Apakah Cianpwe datang hendak mencari guruku?"
Dalam hati Khong Liang mendongkol, baru ia hendak mengo-mel dengan kata-kata.
"Cianpwe apa segala, kau bocah ini sudah ti-dak kenal padaku?"
Tapi ternyata ia salah wesel.
Belum sempat ia buka suara, tiba-tiba terdengar suara siulan panjang, setelah itu di tengah lapangan bertambah seorang berjeng-got panjang cabang tiga, memakai ikat kepala dan memegang kipas bulu, dandanannya menarik seperti dewa, tampaknya seorang cendekiawan yang berusia 50-an.
Gerak tubuhnya begitu cepat, hakikatnya sulit digambarkan, hingga Khong Liang tak tahu sejak kapan pendatang ini berada di belakangnya dan cara bagaimana melompat ke tengah lapangan, seperti jatuh mendadak dari udara dan muncul tiba-tiba dari dalam tanah.
Orang yang baru datang ini mengibas kipasnya perlahan, kemudian dengan tersenyum berkata.
"Kiam-hoat yang kau mainkan tadi sudah lama tidak pernah kulihat, nampaknya kau sudah tiga ba-gian matang, tak usah merendah diri. Berdasar ilmu pedang yang kau miliki sekarang, boleh kau kembangkan namamu di kalangan Kangouw. Hayo, coba-coba aku menjajal seranganmu!"
Setelah itu ia simpan kipasnya, lalu menggapai Hiau-lan dan melanjutkan ucap-annya.
"aku bergebrak tanpa senjata. Hayo maju, coba ‘Tui-hong-kiam-hoat’ itu apakah dapat menyenggol ujung bajuku atau tidak!"
Akan tetapi Teng Hiau-lan ragu, ia bingung apakah harus me-nuruti ajakan orang tua itu atau harus menolak.
"Kau jangan khawatir,"
Tamu aneh itu berkata pula.
"gurumu pasti takkan menyalahkanmu. Sepuluh tahun yang lalu sewaktu ia baru saja memahami Kiam-hoat ini juga pernah bergebrak dengan-ku, malah kami berkumpul lebih sepuluh hari baru kemudian ber-pisah."
Air muka Teng Hiau-lan berubah, serunya.
"Khong-lopek, su-dilah memberitahu guruku, aku sedang menerima petunjuk beberapa gebrakan pada Locianpwe ini di sini."
Sehabis berkata, pedangnya bergerak, segera ia menusuk ke depan.
Namun gerak,tubuh tamu aneh itu tenlyata sebat sekali, pe-dang Teng Hiau-lan menusuk tempat kosong.
Tetapi dengan cepat Hiau-lan menyusuli dengan gerak tipu ‘Kuai-bong-hwan-sin’ (ular sawah membalik tubuh), ia memutar tubuh, tangan kiri menuding ke atas dan pedang di tangan kanan membabat, dengan cepat memo-tong tangan orang.
"Kecepatan sudah boleh, tetapi kejituan masih kurang!"
Seru orang itu sambil bergelak tertawa dan mengangkat tangannya untuk menghindarkan serangan.
Setelah itu mendadak tubuhnya menga-pung terus menginjak ke bawah.
Waktu Teng Hiau-lan berkelit dan pedang menyabet ke atas, ia merasakan angin menyambar tiba, le-kas ia menyerong ke depan, tetapi ujung kaki tamu aneh itu sempat menutul pundaknya perlahan terus berjumpalitan ke belakang.
Kalau injakan tamu aneh itu serangan sesungguhnya, maka nasib Hau-lan pasti tidak luput dari tulang patah dan otot putus.
"Nyata tamu aneh ini bukan saja gerak tubuhnya sangat cepat, bahkan tenaga bisa dikeluarkan dan ditarik kembali, sebab waktu ia turun dari atas, daya tekanannya sangat besar, tapi ia sanggup dalam sekejap itu menahan serangan dan menyimpan kekuatan, dengan in-jakan perlahan pada pundakku sambil menghindari serangan pedang terus melayang pergi dan turun kembali ke bawah, kepandaian ini saja sudah jauh di atas guru (Pang Kong-tiau),"
Pikir Hiau-lan.
Teng Hiau-lan diam-diam terkejut, sedang Khong Liang yang menyaksikan di pinggir juga tidak kurang kejutnya.
Sebenarnya ia bermaksud pergi memberitahu Pang Kong-tiau sebagaimana diminta Teng Hiau-lan tadi, tapi karena perasaan ingin tahu, ia merandek un-tuk melihat lebih lama sedikit, tak terduga justru dalam tempo seke-jap itu, kedua belah pihak sudah silih berganti dengan beberapa kali serangan berbahaya, maka ia tak berani ayal lagi, cepat ia berlari menuju ke rumah keluarga Pang, sementara itu di belakangnya ma-sih terdengar suara gelak tertawa tamu aneh itu dan berkata.
"Ha, beberapa gerakan ini boleh juga, lebih mantap daripada tadi!"
Tetapi Khong Liang sudah tak sempat menengok lagi, segera ia berlari masuk ke rumah Pang Kong-tiau.
Pang Kong-tiau sedang berduduk di pelataran depan sambil mengisap tembakau, waktu mendadak melihat Khong Liang berlari mendatangi, ia menertawainya.
"Jinkeh, hendak menengok cucu luar kan juga tidak perlu ber-lari secara terburu-buru begitu!"
Namun Khong Liang segera menariknya menuju keluar sete-lah menaruh barang oleh-oleh yang ia bawa tadi.
"Jinkeh,"
Katanya pada Kong-tiau.
"muridmu sedang bergebrak dengan orang di luar, apa kau tak ingin lekas pergi melihatnya?"
Kiranya Khong Liang khawatir kalau-kalau tamu aneh itu mu-suh Pang Kong-tiau, yang sengaja datang hendak bikin onar dengan lebih dulu menghantam muridnya dan kemudian mencari gurunya.
Mendengar penuturan ini, Pang Kong-tiau mempercepat lang-kahnya, namun ia tetap tenang.
"Siapakah orangnya?"
Katanya tersenyum.
"si Hiau-lan kalau dua gebrakan atau tiga jurus saja kukira masih sanggup bertahan."
Lapangan latihan itu memang hanya belasan langkah saja dari pintu besar rumahnya, karena itu, kedua besan-berbesan itu dalam sekejap saja sudah sampai di pinggir lapangan.
Sementara itu, kedua orang masih bergebrak seru di tengah la-pangan, ketika tiba-tiba terdengar suara "brebet" , tamu aneh itu me-lompat keluar kalangan pertempuran, tangannya memegang pedang Hiau-lan, sebaliknya Hiau-lan sendiri tampak jatuh telentang.
Tanpa pikir Khong Liang bermaksud maju menolong, tetapi Kong-tiau keburu menariknya.
"Aku kira siapa, tak tahunya adalah kau!"
Terdengar Kong-tiau berkata dengan tertawa.
"Bagaimana dengan muridku ini? Kau telah menjatuhkannya, apakah ini terhitung hadiah perkenalan? Haha!"
Murid sendiri dirobohkan orang, tetapi sedikitpun ia tak men-jadi gusar.
"Sepuluh tahun tak bertemu, murid yang kau didik ternyata su-dah pandai juga!"
Tamu aneh itu berkata dengan tertawa terbahak-bahak.
Waktu ia periksa bajunya yang panjang, ternyata ujung baju sudah terobek sebagian terkena pedang.
Kiranya waktu ia melihat Pang Kong-tiau datang, karena sedi-kit meleng, ‘Tui-hong-kiam-hoat’ Teng Hiau-lan yang cepat luar bi-asa telah menusuk ke sebelah bawah, terpaksa ia menyikut ke be-lakang, meskipun Hiau-lan kena disikut jatuh, tetapi bajunya pun terobek.
"Siapa suruh kau berlagak, sudah tua tidak mau dihormati ma-lah sewenang-wenang terhadap yang muda!"
Kong-tiau mengolok sambil tertawa.
"Kau sudah mengajarnya beberapa tahun, sekarang kuberi ha-diah besar kepada muridmu ini, tapi kau yang menjadi guru tidak menghaturkan terima kasih malah memutar balik dan mengatakan aku berlaku sewenang-wenang terhadap yang muda,"
Omel tamu aneh itu seraya mengipas kipas bulunya. Sementara itu, Teng Hiau-lan sudah bangkit dari jatuhnya, mendadak ia berlari ke hadapan si tamu aneh itu, segera ia berlutut dan memberi hormat.
"Terima kasih kepada Locianpwe yang telah memberi petun-juk Kiam-hoat!"
Katanya.
"Kiam-hoatmu jauh lebih bagus daripada yang kuduga semu-la;"
Ujar tamu itu sambil membangunkan Hiau-lan.
"Kukira kau tak-kan bisa menyenggol bajuku, tidak terduga malah mampu merobek bajuku yang baru saja kubikin."
Habis berkata, ia tertawa terbahak-bahak pula.
"Semua berkat petunjuk Locianpwe tadi,"
Kata Hiau-lan, tapi kemudian ia menyesal juga baju orang telah dirobeknya, segera ia menambahkan.
"silakan Locianpwe lepas baju dan Tecu akan men-jahitnya."
"Ha, apakah aku tidak bisa minta ganti pada gurumu? Siapa suruh kau menjahit segala?"
Omel si tamu aneh. Dalam pada itu, Pang Kong-tiau telah berada di tengah lapang-an, ia berkata dengan bergelak tertawa.
"Mana aku tahu kau sengaja memberi petunjuk padanya dengan cara bergebrak? Kau jangan kha-watir, meskipun melarat, untuk sepotong baju masih sanggup ku-ganti. Mari, mari, berkenalan dahulu dengan Jinkeh. Putraku dua ta-hun yang lalu telah menikah. Ai, sang tempo lewat sungguh cepat sekali!"
Lalu ia mengundang Khong Liang agar datang mendekat.
Khong Liang heran bercampur malu.
Ia heran karena selama ini belum pernah mendengar besannya itu punya seorang kawan yang memiliki ilmu silat begitu tinggi, dan malu karena dirinya ter-nyata tidak tahu cara bagaimana tadi si tamu itu memberi atau me-loloh serangan untuk memberi petunjuk pada Teng Hiau-lan.
‘Tui-hong-kiam-hoat’ yang dilatih Teng Hiau-lan hingga kini belum ada setahun, selama itu belum pernah dicoba, tadi ia berge-brak dengan sungguh-sungguh, di samping bergerak si tamu aneh menunjukkan tempat kelemahan dan kebaikannya, oleh karena itu banyak menambah manfaat baginya.
Kini dengan perasaan girang dan kagum ia berdiri di samping mendengarkan sang guru bercerita dengan tamunya.
"Tohji (muridku), Supek (paman guru) telah memberi hadiah perkenalan yang tidak kecil, masih berharga juga jatuhmu tadi,"
Ujar Kong-tiau sambil mengelus jenggot.
"Jinkeh, nama besar tamu ini tentu pernah kau dengar, ia bukan lain tokoh ternama dari Bu-kek-kiam, Ciong Ban-tong."
Khong Liang bersuara terkejut waktu mengetahui siapa ge-rangan yang berada di hadapannya.
"Kiranya Ciong-losu, pantas begini lihai!"
Katanya kemudian.
Suco (kakek guru) Ciong Ban-tong bukan lain ialah Pho Jing-cu yang terkenal dengan ilmu tabibnya yang mengagumkan, oleh karena itu (‘iong Ban-tong pun cukup paham ilmu tabib.
Dengan pe-dang dan peti obat yang selalu dibawanya, ia pun banyak melakukan perbuatan mulia di kalangan Kangouw, hanya saja sejak belasan ta-hun ini, seperti juga Pang Kong-tiau, ia pun mendadak menghilang dari masyarakat ramai dan mengasingkan diri, maka Khong Liang tak pernah menduga Kiam-khek (pendekar) yang namanya mengge-tarkan Kangouw ini mendadak datang di pedusunan sunyi ini, bah-kan menjadi sahabat karib besannya.
"Aku tahu kau akan datang, tapi tidak menduga kau datang be-gini cepat!"
Kata Kong-tiau sambil berjalan menuju rumah.
"Terlalu cepat? Ya, memang betul, lebih cepat tiga hari. Janji sepuluh tahun yang lalu ternyata masih kau ingat dengan jelas!"
Sa-hut Ciong Ban-tong.
"Tiga hari lagi Tiongchiu, bukankah gampang diingat’?"
Ujar Kong-tiau.
"Eh, kedatanganmu ini kebetulan sekali, rambutku be-lum beruban, namun aku sudah menjadi engkong! Hari ini adalah ulang tahun pertama kedua cucu perempuanku. Hayo, kau ikut me-ramaikan pesta perayaan bagi mereka!"
"Putramu saja aku belum pernah lihat, malah kini sudah punya cucu,"
Kata Ciong Ban-tong.
"Hai, Pang-laute, kau sungguh berun-tung sekali! Jauh lebih beruntung daripada aku si kakek loyo ini!"
"Aku yang sudah jadi engkong saja belum mau mengaku tua, sebaliknya kau malah mengaku tua?"
Sahut Pang Kong-tiau dengan tertawa.
Dan begitulah dengan membanyol kedua sahabat lama itu me-masuki rumah keluarga Pang.
Pang Eng-ki, putra Pang Kong-tiau lantas diperkenalkan pada Ciong Ban-tong dan memberi hormat, kemudian menantu perempu-annya pun keluar dengan menggendong dua anak perempuan, me-lihat kedua bayi itu, mata Ciong Ban-tong terbeliak terang.
Rupa kedua bocah itu serupa benar seperti pinang dibelah dua, dua pasang mata yang hitam besar mengerling tiada hentinya sambil mengoceh dalam gendongan ibunya, agaknya kedua bocah itu mulai belajar omong, gerak-geriknya luar biasa, lain daripada anak-anak umumnya.
Bukan saja rupa mereka sangat mirip, bahkan kalau ter-tawa atau menangis pun berbareng, seperti perasaan dan pikiran me-reka pun menjadi satu!
Begitu tertarik Ciong Ban-tong melihat kedua bocah itu hing-ga berulang memuji.
"Laute, bagaikan dewi-dewi Kwan-im-po-sat yang diberikan padamu, pantas kau begitu gembira! Coba lihat, be-gitu gembiranya sampai tertawamu sedemikian rupa!"
"Aku menertawai kau yang sudah tua tapi tak mau dihormati, kau pun haha-hihi serupa cucuku saja,"
Kata Pang Kong-tiau sambil menghentikan tawanya, lalu melanjutkan pula.
"Dua bocah ini ba-gusnya memang bagus, hanya ada satu kekurangan!"
"Kongkong, apanya yang kurang baik’?"
Lekas Khong Lian-he bertanya.
"Mereka sudah berumur setahun, tetapi aku masih belum bisa membedakan mana taci dan mana yang adik,"
Sahut Kong-tiau de-ngan mengelus jenggot.
"Eh, coba katakan padaku, mana yang Ing-ji dan mana yang Lin-ji?"
Anak perempuan kembar ini yang tua diberi nama Pang Ing dan yang muda Pang Lin. Engkongnya tak bisa membedakan, se-hari-hari selalu keliru memanggil dengan tak keruan.
"Biasanya aku pun tidak bisa membedakan!"
Khong Lian-he menerangkan.
"kecuali kalau menggoda hingga mereka tertawa ba-ru bisa mengenali mana yang taci dan mana yang adik."
"He, masa ada persoalan begitu?"
Aneh juga rasanya bagi Pang Kong-tiau.
"Dan apa bedanya bila mereka tertawa?"
"Ayo, manis, coba tertawa pada Kongkong!"
Khong Lian-he yang sebelah tangan mendukung satu putri, berusaha menggoda supaya bayi-bayi itu tertawa.
Setelah menggoda sebentar dengan berbagai jalan, akhirnya kedua bocah itu tertawa lebar dan keduanya menunjukkan satu dekik di pipinya.
"Ini Kongkong, sudahkah kau lihat jelas? Yang satu berdekik di pipi sebelah kiri dan yang lain sebelah kanan,"
Khong Lian-he menerangkan. Waktu kedua bocah itu tertawa dan Pang Kong-tiau menga-mati, ternyata memang betul apa yang dikatakan menantunya itu, saking gembiranya ia tertawa terbahak-bahak.
"Yang dekik sebelah kiri adalah taci dan yang dekik sebelah kanan ialah adik. Kongkong, harap kau ingat baik-baik!"
Kata Lian-he pula. Sahabat lama bertemu kembali dan cucu perempuan berulang tahun, sudah tentu kegembiraan Pang Kong-tiau luar biasa.
"Mari lihat Ing-ji dan Lin ji cakar-cakaran,"
Kata Lian-he ke-pada Kong-tiau setelah semuanya sudah disiapkan.
Menurut adat-istiadat di pedusunan Holam, kalau bayi beru-lang tahun pertama, orang tuanya menaruh beraneka barang di atas satu meja bundar yang digelari kain merah, sang ibu niendukung anaknya melihat dari pinggir meja, anak itu dibiarkan mengambil barang yang terserak di atas meja.
Katanya dengan begitu dapat di-ramalkan tabiat dan nasib anak itu di kemudian hari, perayaan ini disebut ‘Jiau-ciu’ atau pesta meraba-raba.
Umumnya yang diraba atau dipegang anak-anak kebanyakan sebangsa barang mainan, mata uang atau gula-gula dan sebagainya.
Kalau ada anak laki-laki mengambil buku, kertas, alat tulis dan se-bangsanya atau anak perempuan mengambil cermin, bedak, yanci (gincu) dan sebagainya, sudah dianggap anak yang luar biasa.
"Baik, aku pun menaruh dua macam barang, kalau anak-anak itu dapat mengambilnya, kuanggap sebagai hadiah perkenalan buat mereka,"
Kata Ciong Ban-tong tertarik.
Lain ia merogoh baju dan mengeluarkan sebuah `Kim-si-nui-kah’ (baju kutang lemas terbuat dari benang emas), barang ini ter-bikin dari bulu `Kim-mo-hau’, yakni sejenis kera aneh yang terdapat di Tibet, kalau dikumpulkan tak lebih dari segenggaman tangan, tapi jika dipakai dapat dibuat baju kutang untuk menahan serangan sen-jata tajam, maka barang ini sangat ternama dan susah didapatkan.
Kutang lemas ini adalah penemuan salah satu tokoh Bu-kek-kiam ternama, yaitu Pho Jing-cu, yang diperolehnya dengan mem-buru seekor ‘Kim-mo-hau’ di atas pegunungan Himalaya di Tibet, lain ia tenunkan pada tukang tenun yang pandai hingga jadilah baju kutang, setelah turun temurun dua angkatan, akhimya sampai di ta-ngan Ciong Ban-tong.
"Lauko, mana boleh begitu?"
Ujar Pang Kong-tiau waktu me-lihat barang pusaka itu.
"ini adalah pusaka perguruanmu!"
"Nyata kau terlalu memandang hina Bu-kek-pay kami,"
Sahut Ciong Ban-tong.
"pusaka warisan golongan kami ialah ilmu perta-biban dan Kiam-sut (ilmu pedang) dan bukan baju kutang ini. Ba-rang ini hanya secara kebetulan diperoleh Pho-suco dulu."
Sambil berkata tangannya mengeluarkan hadiah kedua. Jika Pang Kong-tiau merasa sungkan dan hendak mengemba-likan baju kutang itu, namun hadiah kedua sudah Ciong Ban-tong keluarkan.
"Barang hadiah ini tidak begitu berharga seperti ‘Kim-si-nui-kah’, tetapi merupakan barang mainan selama hidupku,"
Kata Ban-tong dengan tertawa.
Yang dikeluarkannya kali ini temyata sebilah belati yang pan-jangnya hanya lima dim saja.
Yang mengherankan ialah belati ini hitam mulus dan licin keminyak-minyakan, sampai bagian yang ta-jam itupun bersinar hitam.
Barang ini adalah senjata rahasia Ciong Ban-tong yang terso-hor, disebut ‘Toat-beng-sin-to’ (pisau pencabut nyawa).
Seperti diketahui, Bob Wan-lian dari angkatan yang lebih tua waktu belajar pada Pho Jing-cu, senjata rahasia yang digunakannya disebut ‘Toat-beng-sin-soa’, semacam pasir beracun, begitu melukai orang, dalam dua belas jam kalau tidak diobati tentu akan binasa oleh racun itu (Baca Thian San Tjhit Kiam).
Dan ilmu senjata rahasia tunggal inipun telah diwariskan, se-telah sampai di tangan Ciong Ban-tong, ia merasa senjata rahasia pasir beracun itu ada baiknya tetapi juga ada kelemahannya, baiknya sekali menghambur segenggam penuh, menguntungkan bila meng-hadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak.
Adapun kelemah-annya ialah tidak dapat digunakan jarak jauh, musuh yang berada lebih dari tiga tombak sudah sukar terjangkau.
Ciong Ban-tong suka berhantam dengan kekersan, maka ia mengganti pasir dengan belati yang direndam racun yang sama, be-lati ini sangat tajam, bahkan ‘Kian-hiat-hong-au’ atau kena darah menutup tenggorokan, artinya begitu berdarah maka korbannya su-kar tertolong lagi.
Waktu melihat pisau belati tadi.
Pang Kong-tiau lantas terdi-am, ia merasa senjata rahasia semacam itu terlalu ganas dan tak co-cok untuk permainan anak Perempuan.
Tetapi melihat pemberian Ciong Ban-tong yang sungguh-sungguh itu dan sedang penuh ke-gembiraan, terpaksa ia pun membiarkan.
"Jika ada yang mengambil, aku akan mengajarnya menggu-nakan senjata rahasia ini,"
Kata Ciong Ban-tong pula dengan tertawa sambil memasukkan hui-to atau pisau terbang itu ke dalam sarung-nya dan ditaruh di atas meja.
Seelah semuanya diatur beres, dengan mendukung kedua pu-trinya, Khong Lian-he memulai perayaan ‘Jiau-ciu’.
Sungguh aneh, begitu Permainan dimulai, pertama kali kedua-nya sudah mengambil sebatang peang kayu.
"Bagus, merereka ingin menjadi Li-kiam-khek (pendekar cilik) semua, sedikit kepandaian yang kau miliki itu, mungkin harus ditu-runkan semua pada rmereka,"
Kata Ciong Ban-tong sambil bergelak tertawa pada Pang Kong-tiau.
Sementara itu kedua bocah tadi sebelah tangan yang lain ma-sih kosong.
Khong Lian-he mengitari meja sekali lagi.
Pang Ing mengulur tangannya yang putih gemuk untuk meraup, yang kena disambar ternyata baju kutang ‘Kim-si-nui-kah’.
"Bagus, kau sungguh pintar memilih barang baik! Sampai pu-saka orang kena kau gaet!"
Pang Kong-tiau berseru gembira.
Sebaliknya tidak demikian dengan Pang Lin, si kecil ini mementang lebar kedua matanya yang besar, biji matanya yang hitam berputar.
Pang Kong-tiau merasa heran atas sikap bayi ini.
Setelah mengikuti ibunya memutar meja sekali lagi, mendadak Pang Lin berteriak cerewet.
Khong Lian-he berhenti dan memperhatikan ge-rak-gerik putrinya itu.
Waktu Pang Lin mengulur tangan ke meja, bukannya meng-ambil sesuatu barang yang dikehendakinya, tapi sebaliknya mengo-brak-abrik barang-barang yang berada di atas meja.
"Busyet, bocah ini mau apa!"
Omel Khong Lian-he.
Kemudian Pang Lin berteriak lagi, tahu-tahu ia membungkuk dan mengulur tangan ke tengah meja, menyusul barang yang kena diambilnya bukan lain daripada hui-to beracun itu.
Pang Kong-tiau berkerut kening dan terdiam.
Sebaliknya Ban-tong bertepuk tangan kegirangan.
"Bagus, dia malah mengincar kepandaian tunggalku itu,"
Seru-nya.
"Adik Pang, kalau ia sudah besar, kau serahkan dia padaku, akan kuterima dia sebagai murid perempuanku."
"Sudah tentu baik sekali, tapi aku khawatir kalau ia sudah be-sar akin menjadi anak perempuan yang bandal!"
Kata Pang Kong-tiau tersenyum ewa.
Sudah selesai upacara perayaan, dua sahabat lama itu meng-obrol pula ke timur dan ke barat.
Khong Liang ingin mengetahui cara bagaimana mereka berkenalan dulu, namun tidak berhasil karena mereka tidak mau membicarakannya.
"Setelah Leng Bwe-hong Cianpwe wafat, kabarnya Ciangbun tua Bu-tong-pay cabang utara pun menyusul mangkat,"
Terdengar Ciong Ban-tong berkata.
"kini Kiam-khek yang masih ada jauh ka-lah dibanding dengan kedua Cianpwe itu!"
Setelah itu keduanya tampak mengela napas panjang, teruta-ma Pang Kong-tiau, tampaknya lebih gegetun dan berduka.
Waktu itu sudah dekat magrib, tiba-tiba terdengar suara anjing menyalak riuh di luar, agaknya ketakutan oleh sesuatu yang luar biasa.
"Jinkeh, biar aku yang melihat, siapakah yang datang!"
Ujar Khong Liang.
Segera ia keuar, tapi baru sampai di depan pintu be-sar pekarangan, tiba-liba tercium bau anyir yang menyenggeruk hidung, di antara cuaca magrib yang remang-remang tertampak seorang laki-laki berperawakan jangkung, berjenggot pendek kaku, ta-ngan menjinjing sebuah kantong kulit, sedang mendatangi dengan langkah lebar.
Khong Liang bergidik melihat keseraman orang itu, tapi sege-ra ia memapak.
"Ada apa? Hendak mencari siapa?"
Tanyanya ber-ulang-ulang.
Namun lelaki itu tak menggubris, ia terus maju ke depan, wak-tu kedua tangannya bergerak, Khong Liang yang coba menghalangi tiba-tiba merasa satu kekuatan yang luar biasa besarnya menerjang, keruan tubuhnya mencelat kembali masuk ke dalam rumah.
Waktu Khong Liang berbangkit kembali, orang itu sudah sampai di ruang-an tengah.
Melihat orang itu, Pang Kong-tiau dan Ciong Ban-tong berteriak terkejut berbareng.
"Ciu-losu, kenapakah kau’?"
Baru mereka sempat bertanya se-patah kata itu, mendadak orang itu roboh di tengah ruangan.
"Lekas ambil obat luka dan bubuk pemunah racun ke sini!"
Terdengar orang itu berkata dengan suara lemah dan serak.
Setelah meronta beberapa kali, orang itu jatuh pingsan.
Saking terkesima karena kagetnya, Khong Liang ternganga tak sanggup berkata.
Sementara itu Pang Kong-tiau lantas berseru pa-danya.
"Jinkeh, lekas, lekas tutup pintu besar!"
Mengetahui persoalan genting, cepat Khong Liang menutup pintu.
Ketika kembali, terlihat Ciong Ban-tong sudah merebahkan orang tadi ke atas pembaringan dan melepaskan bajunya untuk me-meriksa luka.
Baru kini Khong Liang dapat melihat jelas bahwa orang tadi beroman kuning hangus, berusia antara lima puluhan, baju atasnya yang kencang sepan penuh dengan darah berbau busuk dan amis, mungkin terkena senjata rahasia beracun, oleh karena itu buru-buru datang minta pengobatan dan tak sempat berbicara dengannya tadi, maka secara paksa menerjang masuk.
Ketika kemudian Ciong Ban-tong melepaskan baju orang itu, seketika muka sendiri berubah pucat melihat luka orang.
"Senjata rahasia apakah ini?"
Tanya Pang Kong-tiau dengan suara khawatir.
Waktu Khong Liang ikut memeriksa dari dekat, terlihat oleh-nya di atas dada orang itu terdapat belasan goresan luka, seperti ter-luka oleh cengkeraman tajam, tetapi juga mirip tergores pisau, jarak antara tiap goresan luka hampir sama rata dan rajin dalam dua baris berupa setengah bundaran, mirip sekali kena dicakar tangan iblis, ta-pi kalau dihitung banyaknya goresan luka yang ada belasan, terang bukan terluka karena cengkeraman jari tangan, pula kekuatan jari tangan manusia pun tidak sdihai itu..Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar Pang Eng-ki berteriak terkejut.
"Ayah, kepala manusia!"
Ternyata Pang Eng-ki yang masih muda dan kurang penga-laman, karena ingin tahu, ia telah membuka kantong kulit tamu aneh itu dan menggelundung keluar dua kepala manusia yang masih ber-darah, baunya yang amis busuk membuat orang merasa mual.
"Kau ini sungguh tidak tahu aturan, mana boleh sembarang membuka barang orang lain!"
Omel Pang Kong-tiau.
"tahukah kau siapa dia?"
Sembari berkata cepat ia melompat maju dan memasukkan ke-pala manusia itu kembali ke dalam kantong. Sedang Ciong Ban-tong masih memberi obat pada luka orang itu dengan penuh perhatian.
"Masihkah dapat tertolong?"
Tanya Kong-tiau kemudian.
"Senjata rahasia cabang atau golongan manapun sudah pernah kulihat atau kudengar,"
Ciong Ban-tong menutur.
"hanya senjata rahasia macam ini, bukan saja belum pernah kulihat, hahkan belum pernah kudengar. Racun senjata rahasia ini jika bukan ‘Khong-jiok-ta’ (empedu merak) tentu adalah ‘llo-ting-hong’ (jenger bangau), mungkin sukar disembuhkan, terpaksa aku hanya bisa mengobatinya dengan obat pemunah racun dari hui-to yang kupakai. Berkat Lwe-kang Ciu-tayhiap yang hebat dan sempurna, mungkin masih ada se-dikit harapan."
Sesudah dibubuhi obat, tamu aneh itu tampak bersuara sekali, tapi orangnya masih tetap belum sadarkan diri.
Dengan sangat hormat dan bertekuk lutut sebelah kaki, Pang Kong-tiau mengganti baju orang itu dan membersihkan noda darah-nya, setelah itu dengan menghela napas baru berkata kepada Pang Eng-ki, putranya.
"Kau tahu siapakah dia, nak? la bukan lain kau punya Suco (kakek guru)!"
Mendengar keterangan itu, yang paling heran ialah Khong Liang.
"Kong-tiau, gurumu apakah bukan ‘Liok-hap-jiang’ Chi Tay-ceng yang telah meninggal itu?"
Tanyanya heran.
"mengapa secara mendadak bisa muncul lagi seorang guru?"
"Mungkin menyebut dia sebagai guruku masih agak keterlalu-an, karena sebenarnya aku hataya murid akuannya saja,"
Sahut Pang Kong-tiau tertawa getir.
"Eng ji, lekas kau berlutut dan menjura tiga kali dahulu, walaupun Suco masih belum sadarkan diri, tapi sopan-santun tidak boleh diabaikan!"
Pang Eng-ki menurut, ia berlutut dan memberi hormat. Se-mentara itu Teng Hiau-lan pun sudah berlutut di sebelah yang lain dan sedang menangis sesenggukan perlahan.
"Anak baik, tidak sia-sia Ciu-pepek menyayangimu, nyata kau pun orang berperasaan,"
Kong-tiau berkata sambil mengelus kepala Hiau-lan.
Sudah heran, bertambah heran pula Khong Liang saat mende-ngar perkataan Pang Kong-tiau.
Tamu aneh ini disebut `Tay-hiap’ atau pendekar besar oleh Ciong Ban-tong, sebaliknya Teng Hiau-lan memanggilnya ‘Pepek’ atau paman.
Padahal tamu aneh ini tampak-nya berusia kurang lebih lima puluhan, dibanding Pang Kong-tiau pun tidak banyak berselisih, tapi malahan adalah ‘Suhu’ atau guru.
Kong-tiau.
Makin Khong Liang berpikir makin terasa heran dan tak mengerti.
Selesai menjalankan penghormatan, Pang Eng-ki bangkit kem-bali, setelah itu Pang Kong-tiau menerangkan lagi.
"Sucomu ini ber-nama Ciu Jing, murid akuan Thian-san-kiam-hiap Leng Bwe-hong!"
Terkejut lagi Khong Liang. Pikirnya, pantas begitu lihai, da-lam keadaan terluka parah, dengan sekali bergerak, aku ditumbuilc-nya hingga terguling.
"Pada permulaan Kaisar Khong-hi bertakhta,"
Pang Kong-tiau melanjutkan ceritanya.
"Leng Bwe-hong tertawan oleh Suhengnya, yaitu Coh Ciau-larn dan dikurung di dalam istana Potala di Tibet, berkat bantuan dua jago pengawal kerajaan Boan, akhirnya ia lolos dari bahaya. Dua jago pengawal itu, seorang bernama Be Hong dan yang lain adalah Suco Ciu Jing ini. Pada waktu penggropyokan is-tana Potala, Be Hong tidak beruntung telah terbinasa, namun Ciu Jing tertolong oleh Pho Jing-cu, mengingat jasa dan budinya, maka Leng Bwe-hong mengajarkan ‘Tui-hong-kiam-hoat’ padanya, seba-liknya menolak menerimanya sebagai murid resmi. Oleh karena itu, ia hanya terhitung murid akuan Leng Bwe-hong saja." (Baca Thian San Tjhit Kiam) Bagi golongan tua dunia persilatan, cerita ini sebenarnya ba-nyak diketahui, tetapi bagi Pang Eng-ki, cerita ini baru pertama kali ia dengar, oleh karenanya ia melongo, tidak menduga ayahnya ter-nyata termasuk keluarga cabang samping Thian-san-kiam-hiap Leng Bwe-hong yang termasyhur di seluruh jagat itu.
"Jinkeh,"
Kata Pang Kong-tiau pula kepada Khong Liang se-telah rnenghirup seteguk air teh.
"Bukannya An sengaja mendus-taimu selama ini, karena kau adalah orang alim, An khawatir jika kau mengetahui urusan ini bisa-bisa terkejut dan khawatir. Leng Bwe-hong mengasingkan diri di Thian-san, kerajaan Jing tak bisa berbuat apa-apa terhadapnya, tetapi Ciu Jing sebaliknya adalah bu-ronan yang hendak ditangkap selama tiga puluhan tahun ini!"
"Ciu-tayhiap menghindari penguberan kerajaan, aku menying-kir karena musuh dan tidak sembarangan mau unjuk diri di Kang-ouw, selama belasan tahun ini Aku pun sudah merasa bosan,"
De-ngan tertawa Ciong Ban-tong ikut berkata.
"Jinkeh, malam ini kau sudah melihat semuanya, Aku tak usah menutupi pula, biar kuberitahukan seluruhnya,"
Kong-tiau menerus-kan pula.
"tampaknya Ciu-losu (guru) terluka oleh musuh yang li-hai, pengejarnya esok atau malam ini pasti akan menyusul tiba, aku serahkan kedua cucuku itu kepadamu, bawalah mereka pergi dahu-lu! Kau adalah guru silat yang hidup jujur dan tiada musuh, orang--orang Kangouw yang kenal padamu pun tidak banyak, maka pihak kerajaan tentu juga tak akan memperhatikan dirimu!"
"Jinkeh, mengapa kau bicara demikian?"
Kata Khong Liang.
"Walaupun aku belajar silat dan bertani, tapi setidaknya juga lelaki berdarah panas, ada kesukaran biarlah sama-sama kita rasakan, ka-lau pengejarnya datang, mari kita bersatu padu melabrak mereka."
"Memang yang diharap. kalau bisa menerjang pergi seperti yang Jinkeh katakan, tetapi, maaf Jinkeh, kalau hanya mengandal-kan sedikit kepandaian kita yang tak berarti ini, mungkin belum da-pat melawan musuh yang tangkas!"
Kata Kong-tiau tersenyum. Melihat Ciu Jing saja terluka parah, Khong Liang insaf apa yang dikatakan Kong-tiau memang tidak salah, maka dengan meng-hela napas ia berkata pula.
"Baiklah, kalau begitu besok pagi aku bawa Ing-ji dan Lin-ji ke Lian-ciu untuk mencari Suhengku."
Pang Kong-tiau coba meraba batok kepala Ciu Jing, melihat orang masih belum sadar, ia lantas melanjutkan pembicaraannya.
"Jinkeh, sepuluh tahun yang lalu, waktu aku kembali ke kampung halaman, kawan-kawan kalangan Kangouw banyak yang merasa he-ran, kau sendiri pun pernah bertanya padaku, kala itu aku tak man menerangkan, tapi kini bolehlah kujelaskan. Ketika itu aku baru saja bisa mempelajari ‘Tui-hong-kiam-hoat’ dan Ciu-losu sendiri yang menyuruhku mengasingkan diri!"
"Ayah, kau berhasil belajar ‘Tui-hong-kiam-hoat’, mengapa ti-dak mengajarkannya padaku?"
Tanya Pang Eng-ki dengan mata ter-buka lebar karena heran.
"Dan yang diajarkan padaku hanya `Liok-hap-tay-jiang’. Kalau begitu Kiam-hoat yang dilatih Teng-sute itu apakah ‘Tui-hong-kiam-hoat’ adanya?"
Kong-tiau memanggut tanda membenarkan.
Mendapat jawab-an itu tampak air muka Pang Eng-ki ada perasaan kurang senang, ia merasa ayahnya pilih kasih, `Tui-hong-kiam-hoat’ diajarkan kepada murid, tapi tidak kepada putra sendiri.
"Kau mengerti apa? Aku justru tidak ingin membikin susah kau!"
Kata Kong-tiau seperti tahu perasaan putranya ini. Kedua mata Teng Hiau-lan tampak merah basah hendak me-ngucurkan air mata. Dengan mengelus jenggot dan menghela napas, Pang Kong-tiau berpikir.
"Lebih baik kuceritakan terus terang saja, agar di an-tara mereka tidak terjadi salah paham."
"Ayahmu bisa mendapat pelajaran ‘Tui-hong-kiam-hoat’ asal-nya juga disebabkan oleh Teng-sute ini. Biarlah kuceritakan, tentu kau akan tahu mengapa aku tidak mengajarkan ilmu pedang itu ke-padamu,"
Kata Pang Kong-tiau sambil memegang bahu putranya.
"Sepuluh tahun yang lalu, aku berkelana di daerah perbatasan, pada suatu hari aku sampai di Pek-ling-bio dan hendak memasuki daerah Sinkiang, waktu itu langit mendung dan sinar matahari guram, tiba--tiba kudengar suara pertempuran ramai, terdapat belasan orang jahat sedang mengerubut seorang wanita muda dan bertarung dengan se-ngit sekali.
"Kiam-hoat wanita muda itu sedemikian bagusnya hingga di antara gerombolan panjahat sudah ada beberapa orang terluka, na-mun mereka masim terus mengepung tak mau mundur.
Dengan ta-ngan kanan menghunus pedang, tangan kiri wanita itu memegang seorang anak kecil yang berusia sekira tujuh atau delapan tahun, ia hanya sanggup bertahan dan tak mampu balas menyerang lagi.
Dalam pertarungan yang seru itu, karena si wanita harus me-lindungi si bocah, terpaksa berulang-ulang menghadapi serangan lawan yang berbahaya.
Waktu aku memburu maju bermaksud mem-bantu, justru aku mendengar teriakannya, ‘Kalian inginkan jiwaku boleh saja, tapi kenapa juga akan mencelakai anakku?’ Mendingan kalau ia tak buka suara, tapi begitu ia berteriak, serentak senjata pa-ra penjahat itu ditujukan kepada si bocah.
Dengan pedangnya, wani-ta itu menahan ke depan dan menangkis ke belakang, pedangnya di-putar hingga merupakan satu lingkaran sinar perak, ia menjaga se-kitar anaknya sedemikian rapat sehingga tidak tertembus oleh angin maupun air.
Namun sesudah dapat menjaga diri bocah tadi, sebaliknya ia tak bisa menjaga diri sendiri.
Tiba-tiba terdengar beberapa kali jerit-an ngeri, terang ia terluka.
Tak tahan lagi perasaanku.
Aku pun tak mempedulikan kepandaianku yang sebenarnya tak seberapa, begitu menarik tali kendali kuda, segera aku menerjang turun dari bukit di-mana aku berada, karena tak menduga akan kedatanganku, di antara penjahat itu ada dua yang ter-tusuk roboh oleh tombakku dan aku terus menerjang ke kalangan pertempuran.
Melihat kedatanganku, wanita itu melemparkan anaknya ke atas kudaku sambil berseru, ‘Gisu (orang berbudi atau penolong), kuserahkan anak ini padamu, terjanglah pergi!’ Setelah itu pedangnya berganti tangan dan sinar gemerdep pula, dua penjahat lain kena terjungkal olehnya."
Dengan tangan kiri membopong bocah, tombak yang ada di tangan kananku menusuk dan menyabet dengan cepat untuk mener-jang keluar kepungan, berkat wanita tadi yang melindungi dari bela-kang, akhirnya aku bisa menerjang keluar dengan mati-matian.
Te-tapi sayang, baru saja aku keluar dari kepungan, lantas terdengar su-ara jeritan mengerikan di belakangku, setelah itu keadaan sunyi se-nyap tiada suara lagi.
Terang wanita muda tadi sudah mengalami nasib malang.
Waktu aku menengok ke belakang, tidak tersangka mendadak sebuah anak panah menancap di dadaku, saking sakitnya aku terjungkal dari kuda dan anak tadi pun terlempar jatuh hingga berteriak menangis.
"Melihat anak itu terlepas, kawanan penjahat memburu da-tang, karena sudah tak berdaya lagi aku hanya menyerah saja pada takdir. Dalam keadaan sadar talc sadar, aku mendengar suara gertak-an, ‘Bangsa tikus jangan kurang ajar.’ Menyusul dari atas bukit me-layang turun seorang, aku yang bertiarap di atas tanah hanya men-dengar suara beradunya senjata, kemudian terdengar pula beberapa kali suara tertawa panjang dan jeritan mengerikan bercampur-aduk, dengan memaksakan diri aku coba membuka mata untuk melihat sambil menahan badanku dengan siku, terlihat di tempat sejauh be-lasan tombak ada bayangan hitam yang tak terhitung banyaknya, di samping itu satu sinar putih menari-nari naik-turun dan berkelebat kian kemari di antara bayangan hitam, dimana sinar perak sampai, di situ bayangan hitam terpecah-belah dan berlari bersebaran ke se-gala penjuru. Sinar putih mengejar setiap bayangan hitam laksana kilat, sebentar ke timur dan lain saat ke barat, dalam sekejap saja ba-yangan hitam tadi sudah tersapu hingga lenyap bersih. Kemudian tertampak di tempat sunyi itu berdiri seorang laki-laki berperawakan jangkung. la mendekati dan membangunkan diriku sambil berka-ta, ‘Gisu, kau tentu terkejut!’ "
Sebenarnya lukaku waktu itu sangat berat dan sakitnya mem-bikin aku hampir pingsan, tapi setelah menyaksikan pertempuran se-ru itu, aku terkejut hingga ternganga tak bisa berkata, karena itu rasa sakit terlupakan olehku.
‘Apakah kau Kiam-sian (dewa pedang)?’ tanyaku.
Orang itu hanya tersenyum saja, ia mengobati lukaku sam-bil berkata, ‘Orang berkepandaian seperti aku ini masih banyak di dunia ini!’ Sementara itu si bocah pun sudah bangkit dari jatuhnya dan terus merangkul kaki orang itu sambil berkata dengan mena-ngis, ‘Ciu-pepek, Ciu-pepek!
Di-manakah ibuku?’."
Bercerita sampai di sini, mata Teng Hiau-lan yang berada di samping semakin berkaca, air matanya hampir menetes.
"Dan bocah itu adalah dia!"
Kata Pang Kong-tiau pula sambil menuding Teng Hiau-lan, ia meneguk teh, lalu meneruskan lagi.
"dan lelaki berperawakan jangkung itu ialah Ciu Jing yang bela-kangan jadi guruku. Setelah mendengar pertanyaan Hiau-lan tadi, dengan senyum sedih beliau berkata, ‘Nak, syukur kau masih ingat padaku, tapi aku datang terlambat!’ Lalu dengan menggandeng bo-cah itu, ia mencari jenazah wanita muda tadi di antara mayat-mayat yang bergelimpangan. ‘Karena hendak melindungi kau, ibumu ter-bunuh oleh penjahat, tetapi kawanan penjahat itu pun sudah Pepek bunuh semua.’ la berkata pula dengan suara berat, ‘Kau harus men-jadi anak baik agar kelak bisa membalaskan sakit hati ayahmu.’ "
Hiau-lan memang berotak tajam, sesudah bertangisan seben-tar, lantas ia merangkul Ciu-tayhiap dan berkata, `Pepek, kau ajar-kan kepandaian padaku.’.
‘Baik, asal kau jadi anak yang baik ….’ jawab Ciu-tayhiap, tetapi ia tak sanggup meneruskan pula karena ra-sa harunya.
la menggali sebuah lubang dengan pedangnya untuk mengubur ibu Hiau-lan, lalu berkata padaku, ‘Mereka suami-istri adalah sahabatku yang paling karib, siang-siang aku sudah menduga akan terjadi peristiwa seperti hari ini, namun aku tetap terlambat da-tang.’ "
Ketika itu lukaku sudah diobati, walaupun tak sakit lagi, na-mun masih belum bisa bergerak, Ciu-losu menaikkan aku ke atas kuda, ia membopong anak itu dan melarikan kudanya dengan cepat.
Besoknya pagi-pagi kami sudah sampai di sebuah biara tua, menurut Ciu-losu, tempat itu sudah dekat di perbatasan Sinkiang.
Hwesio yang ada di biara itu adalah sahabatnya.
Setelah beristirahat bebe-rapa hari di biara itu, lukaku perlahan-lahan mulai sembuh.
Aku me-mohon Ciu-losu agar diterima sebagai murid, sesudah ia berpikir, lain ia berkata padaku, ‘Melihat tindak-tanduk serta cita-citamu, terang kau adalah orang golongan kita.
Tetapi pertama karena umur kita terpaut tidak banyak.
Kedua, aku senantiasa mengembara tiada tentu, lagi pula buronan pemerintah, tiada tempo buat mengajarmu.
Baiknya begini saja, aku ajarkan kau sejurus Kiam-hoat dan sema-cam senjata rahasia, tapi kita masih bersebutan secara sahabat dan tidak usah pakai nama guru dan murid.’ Tetapi aku berkeras tidak mau, akhirnya disetujui bersama, bahwa aku terhitung `Ki-beng-te-cu’ atau murid akuannya saja.
"Dalam tujuh hari, Ciu-losu menurunkan Tui-hong-kiam-hoat dan senjata rahasia Hui-bong kepadaku. Katanya, ‘Jangan menilai rendah kedua macam kepandaian ini, karena ini ajaran yang diwaris-kan Thian-san-kiam Leng Bwe-hong! Tui-hong-kiam-hoat yang ee-pat dan sebat tiada tara adalah ilmu silat yang mempunyai serangan paling hebat dari Thian-san-kiam-hoat, dan senjata rahasia Hui-bong adalah perubahan dari Thian-san-sin-bong yang tersohor dari Leng-tayhiap dahulu, hanya lebih lembut dan kecil daripada Thian-san-sin-bong, terbuat dari sari logam, bentuknya seperti Bwe-hoa-ciam, khusus untuk menyerang mata, kuping dan tempat jalan darah mu-suh yang mematikan. Jika dapat kau yakinkan hingga masak, di ka-langan Kangouw jarang ada tandingannya. Tetapi aku melarang kau sengaja pamer diri, jika kau melanggar larangan ini, maka akan ter-timpa malapetaka sendiri! Tanpa izinku, kau juga tak boleh menu-runkan ajaran ini pada orang lain, sekalipun bini atau anakmu sen-diri. Dapatkah kau berjanji?’ "
Aku segera menyatakan sanggup mentaati pesannya itu, lalu Ciu-losu berkata pula, ‘Bukannya aku sengaja menilai tinggi kepan-daian sendiri, tetapi karena di dalamnya ada sebabnya.
Tahukah kau siapa aku?
Aku ialah murid akuan Leng Bwe-hong, Ciu Jing!
Bu-ronan yang kini diuber-uber oleh kerajaan Jing, pengawal istana pa-da dua pulub tahun lalu, Tui-hong-kiam-hoat Leng Bwe-hong di daerah Tionggoan (daerah tengah, Tiongkok) yang bisa hanya aku seorang, apabila kau unjukkan di kalangan Kangouw, hingga diketa-hui oleh anjing dan alap-alap pemerintah, kau akan tertimpa benca-na.
Pahamkah kau?’ "Sesudah tujuh hari, gerak tipu ilmu pedang itu sudah kuha-fal, lalu Ciu-tayhiap berkata padaku, ‘Di daerahmu Holam sana ma-sih ada seorang kosen pada zaman ini, ilmu silatnya tidak di bawah-ku, ia adalah ahli waris Bu-kek-kiam, namanya Ciong Ban-tong, meskipun tak paham Tui-hong-kiam-hoat, namun Bu-kek-kiam-hoat miliknya sejajar dengan Tui-hong-kiam-hoat hebatnya, sementara ini kau sudah hafal gerak ilmu pedang kita, aku sudah tak sempat mengajarkan lebih jauh, maka boleh kau bawa barang buktiku ini dan pergi mencarinya di Hok-g-san, minta padanya agar suka ber-latih pedang bersama, dengan begitu masing-masing pihak akan memperoleh manfaat!’."
Bercerita sampai di sini, Ciu Jing yang rebah di atas pemba-ringan tiba-tiba bergerak.
"Lwekang Ciu-tayhiap memang tinggi, agaknya tak lama lagi ia bisa sadar,"
Ujar Ciong Ban-tong setelah memeriksa denyut nadi-nya.
"Hanya karena terlalu hebat terserang racun, kekuatan obatnya lemah, sesudah sadar masih harus berobat tiga hari lagi dengan cara Gi-kang-liau-hoat (pengobatan dengan mengatur pernapasan)."
Pang Kong-tiau menghela napas lega mendengar Ciu Jing bakal tertolong, lalu ia menyambung pula ceritanya tadi.
"Waktu hendak berpisah, Ciu-tayhiap kembali berpesan padaku, ‘Aku dan orang-orang gagah di lima propinsi utara tiap lima tahun sekali mengadakan pertemuan, sepuluh tahun yang akan datang, tepat pada hari Tiongchiu adalah hari pertemuan yang kedua, bakal diadakan di atas gunung Thay-hing-san di tanah asalmu Holam. Ciong Ban-tong karena harus menghindari musuh yang lihai, ia pasti tidak ikut serta pertemuan kaum Kangouw itu, maka bolehlah kau minta padanya agar pada hari Tiongchiu sepuluh tahun lagi, datang ke rumahmu, tiba waktunya aku akan sekalian meninjau kalian di sana, kala itu bolehlah kita bercakap-cakap lebih lama.’ Tak nyana belum tiba waktu yang ditetapkan, kedua orang ini sudah datang semua!"
De-mikianlah Pang Kong-tiau mengakhiri ceritanya.
"Semula aku mengasingkan diri di Hok-gu-san,"
Dengan ter-senyum Ciong Ban-tong menceritakan pula kisahnya.
"Dua tahun yang lalu, jejakku diketahui musuh, terpaksa aku harus mencari tempat lain untuk menyembunyikan diri. Tak terduga beberapa hari yang lalu, dari kabar yang aku peroleh, dua musuh besarku hendak datang ke tempat itu, oleh karenanya aku minta cuti majikanku, aku pura-pura bilang hendak menilik kampung halaman, tapi sebenarnya datang ke sini untuk menyambangimu."
Pikiran Pang Kong-tiau tergerak oleh karena kata-kata "maji-kan"
Yang Ciong Ban-tong sebut tadi.
"Bagaimana kau bisa mempu-nyai majikan?"
Tanyanya.
"Ya, dalam dua tahun ini aku menjadi guru sastra pada rumah seorang,"
Sahut Ban-tong. Bertambah heran Pang Kong-tiau.
"Kawan kalangan Kangouw mana yang begitu beruntung hingga dapat memperoleh seorang guru seperti kau ini?"
Tanyanya pula.
"Yang aku ajari adalah seorang bocah yang paling nakal di kolong langit ini,"
Kata Ciong Ban-tong dengan tertawa.
"Ayahnya tiada hubungan dengan kawan-kawan Bu-lim (dunia persilatan), se-baliknya besar sangkut-pautnya dengan pembesar negeri di Holam!"
Heran Pang Kong-tiau makin bertambah atas keterangannya, selagi ia hendak bertanya, tiba-tiba Ciong Ban-tong sudah menda-hului balik bertanya.
"Jika begitu tentu Ciu-tayhiap yang minta kau mengajar Hiau-lan!"
"Betul,"
Kong-tiau membenarkan.
"Hari Toan-ngo (tanggal 5 bulan 5= Pekeun) tahun yang lalu, anak ini datang dengan mem-bawa surat dari Ciu-losu. Dalam surat dikatakan anak ini sudah cu-kup besar, tidak leluasa lagi dibawa kian kemari merantau di Kang-ouw, sebaliknya sayang juga menghalangi kemajuan kepandaian-nya, oleh karena itu ia dikirim kemari untuk belajar Tui-hong-kiam-hoat dan senjata rahasia Hui-bong padaku."
Sampai di sini, tiba-tiba terdengar Teng Hiau-lan berseru.
"Lh, Ciu-pepek sudah mendusin!"
Lekas Pang Kong-tiau memeriksa Ciu Jing lagi, terlihat dia membalik tubuh dan setelah itu matanya membuka perlahan, segera sinar matanya mengerling tajam.
"Ciong-laute, banyak bikin repot kau!"
Terdengar Ciu Jing ber-kata dengan suara lemah.
"Ciu-losu, bagaimana rasanya kini?"
Tanya Pang Kong-tiau.
"Ambilkan kantong kulitku itu!"
Pinta Ciu Jing.
Dalam pada itu Teng Hiau-lan sudah menghaturkan kantong kulit yang diminta.
Dengan cepat Ciu Jing bangkit berduduk, setelah itu ia merogoh saku bajunya, jarinya menyentil ke dalarn kantong kulitnya, sekejap kemudian, dua kepala manusia dalam kantong su-dah hancur luluh menjadi cairan darah!
"Cukup lebih dari pokok, mati pun aku kini sudah ada harga-nya!"
Kata Ciu Jing dengan tertawa terbahak-bahak.
"Dengan keuletan tenagamu, asal duduk diam tiga hari saja, masih bisa disembuhkan!"
Ciong Ban-tong menganjurkan.
"Siapa sudi duduk tiga hari,"
Jawab Cm Jing dengan tertawa.
"Biar aku mengaso sebentar, setelah itu aku berangkat, kalau lambat pasti akan merembet pada kalian!"
"Jika Suhu ada kesulitan, walaupun Tecu menghadapi maut pasti takkan mundur,"
Ujar Pang Kong-tiau.
"Aku saja bukan tandingan mereka, apalagi kau!"
Sahut Ciu Jing.
"Musuh macam apakah sampai begitu lihai?"
Ciong Ban-tong bertanya. Kepandaian Ciong Ban-tong boleh dikata setanding dengan Ciu Jing, oleh karenanya ia berpikir.
"Sesudah luka parah, Ciu Jing masih sempat lari sampai di sini, maka sedikitnya aku masih sang-gup menahan musuh walaupun hanya sejenak."
Ciu Jing tak menjawab, ia tunjuk luka di dadanya dan berkata.
"Apakah kalian tidak melihat luka ini?"
Selagi Ciong Ban-tong hendak bertanya terluka oleh senjata rahasia apa, tiba-tiba Ciu Jing sudah mengeluarkan dari buntalan yang ia bawa, semacam benda berbentuk bulat.
Waktu Ciong Ban-tong menegasi, terlihat benda berbentuk bundar terbuat dari baja, dari luarnya tiada tanda yang mengheran-kan.
Waktu Ciu Jing memutar sekuatnya, mendadak bola itu men-jeplak terbuka dan di dalamnya tersembunyi belasan pisau yang ta-jam, tiap pisau tidak lebih tiga dim panjangnya, putih mengkilap dan tipis laksana daun, terbaris sangat rajin dalam dua belahan bola tadi, mirip seperti sayap burung.
"Kali ini aku diuber dari kotaraja sampai sini, justru benda inilah yang mencelakai aku!"
Ciu Jing menerangkan.
"Aku telah membunuh dua orang dan berhasil merebut benda ini, setelah itu mereka agak keder dan tak berani mengejar terlalu kencang!"
Ciong Ban-tong masih terus mengamati senjata istimewa itu, ia merasa heran sekali.
"Senjata rahasia ini disebut Hiat-ti-cu! Aku pun baru pertama kali melihat benda ini,"
Ciu Jing menjelaskan pula.
"begitu pesawat rahasia terbuka, pisau di dalamnya segera berputar dan sekali men-jeplak dapat mencakup kepala manusia ke dalamnya dan setelah itu bola menutup sendiri, sudah tentu kepala manusia pun ikut lenyap! Pisau tajam yang ada di dalamnya semua-direndam obat racun, se-umpama bisa menghindarkan bahaya kepala tercakup putus, asal terluka mungkin susah terhindar dari kematian. Kali ini aku dike-royok belasan jago Hiat-ti-cu, karena tak sempat berkelit aku ter-luka. Jika kelak kalian berhadapan sendiri dengan Hiat-ti-cu, mung-kin masih dapat melayani senjata rahasia ini dengan senjata rahasia juga atau berkelit menggunakan Ginkang (ilmu entengi tubuh). Te-tapi kalau dikerubut, boleh diduga akan sangat berbahaya sekali!"
"Kalau sudah jelas tak bisa dilawan dengan kekuatan, lebih baik kita lekas berangkat!"
Kata Ciong Ban-tong sambil bangkit.
"Mari aku temani kau ke Thay-hing-san, sepanjang jalan akan kura-wat lukamu dengan obatku, jika sudah dekat Thay-hing-san tentu ti-dak perlu khawatir lagi. Kini para pahlawan dari lima propinsi utara berangsur mulai berkumpul, kalau hanya belasan Hiat-ti-cu saja ti-dak perlu ditakuti!"
"Tetapi apa kau tidak takut pula pada musuhmu?"
Dengan ma-ta terbeliak Ciu Jing bertanya.
"Dalam keadaan demikian, takut apa?"
Sahut Ciong Ban-tong.
"Aku menghindar karena merasa tiada harganya berhantam dengan mereka, tetapi kini yang penting ialah menyelamatkan dirimu!"
Tapi Ciu Jing tetap kurang setuju, ia menggeleng kepala.
"Jika masih belum mau berangkat, terpaksa aku.gendong kau pergi!"
Kata Ciong Ban-tong pula tak sabar.
"Nanti dulu!"
Ujar Ciu Jing. Mendadak ia turun dari pembaringan dan terus mendekam ke tanah untuk mendengarkan.
"Di kejauhan ada suara derapan kuda, bila kini berangkat, tentu kepergok mereka!"
Katanya. Tanpa menunggu perintah lagi, segera Ciong Ban-tong me-niup padam lampu yang ada dalam rumah, setelah itu barn ia buka suara.
"Jangan berisik, kalau nanti kita dapat ditemukan, terpaksa kita tempur mereka!"
Dalam kegelapan tiba-uba Ciu Jing melolos pedang, segera tampak sinar tajam gemerdep.
"Simpan senjatamu dahulu!"
Kata Ciong Ban-tong dengan sua-ra rendah.
"Nanti kalau musuh sudah tiba, belum terlambat untuk melolos pedang!"
Ciu Jing menurut, ia kembalikan pedang ke sarungnya, lalu menarik Teng Hiau-lan ke sisinya sambil berbisik padanya.
"Pedang ini kuberikan padamu, pedang peninggalan Suco Leng Bwe-hong ini disebut Yu-liong-kiam!"
Ciong Ban-tong terperanjat demi mendengar nama pedang itu, Yu-liong-kiam adalah satu di antara dua pedang pusaka Thian-san, beberapa puluh tahun yang lalu Hui-bing Siansu punya murid dur-haka yang menggunakan pedang tersebut malang melintang di ka-langan Kangouw, tak tersangka Leng Bwe-hong menyerahkan pe-dang itu pada Ciu Jing dan kini tak nyana pula jatuh ke tangan bo-cah ini.
Diam-diam ia mengkhawatirkan Teng Hiau-lan, ia khawatir karena kepandaiannya yang belum sempurna tak sesuai memakai pedang pusaka itu, dengan membekal pokiam itu mungkin malah akan membawa bencana baginya.
Dalam kegelapan, Ciu Jing menarik tangan Ciong Ban-tong pula dan berbisik.
"Laute, kita jarang berkumpul, kini dapat bersua, selanjutnya mungkin sukar diramalkan. Musuhmu yang lihai itu kini pun sudah turun ke daerah selatan Kwangwa. Kau sendiri sekarang bersembunyi dimana?"
Persahabatan mereka kekal, perkataan Ciu Jing yang penuh perhatian itu membikin Ciong Ban-tong terharu, matanya basah ber-kaca.
"Terima kasih atas perhatianmu,"
Katanya dengan berbisik ju-ga.
"Aku kini jadi guru di kota kabupaten Tan-liu."
"Apa guru keluarga orang she Lian itu?"
Tanya Ciu Jing.
"Ya, betul!"
Jawab Ciong Ban-tong.
"Kau memang sesuai mengajar murid berbakat itu!"
Tanpa te-rasa Ciu Jing berseru. Tetapi baru saja seruan dicetuskan, tiba-tiba ia sendiri berkata pula dengan mendesis.
"Sssst, diam, diam! Kini me-reka sudah datang, sudah datang!"
Dengan bingung Ciong Ban-tong mendekam di atas tanah ber-sama yang lain.
Tak lama kemudian, betul juga terdengar ada suara derapan kuda sampai di depan rumah.
Dalam kegelapan, semua orang mendekap senjata untuk sege-ra bertindak bila perlu, mereka bernapas perlahan dan penuh waspa-da.
Akan tetapi suara derapan kuda tadi sesudah sampai di depan rumah mendadak berhenti.
"Aneh, kenapa hanya seorang dan setunggangan saja!"
Ciong Ban-tong membatin dengan heran. Ciu Jing pun merasa heran, selagi ia hendak berbangkit, tiba--tiba terdengar orang yang datang di luar tadi telah mengetuk pintu sambil berseru.
"Suhu, Suhu!"
Terdengar ia mernanggil.
"0, kiranya Ong Ling,"
Kata Pang Kong-tiau dengan girang dan menghela napas lega.
"Hiau-lan, lekas kau pergi membuka pin-tu untuk menyambut kedatangan Toasuheng!"
Sementara itu Ciu Jing menarik Pang Kong-tiau dan bertanya.
"Apakah dia muridmu yang bekerja sebagai piausu di ibukota?"
Pang Kong-tiau membenarkan atas pertanyaan orang.
"Jangan mengatakan bahwa kau pernah mengangkat guru pa-daku!"
Pesan Cm Jing.
"Apa ada yang mencurigakan?"
Tanya Kong-tiau terkejut.
"Lebih baik berhati-hati!"
Ujar Ciu Jing. Ketika pintu besar terbuka dan lampu dalam ruangan menyala kembali, tertampak seorang laki-laki berusia tiga puluhan dengan perawakan kekar berjalan masuk dengan perlahan.
"Suhu, apakah hari ini ada perayaan?"
Tanyanya dengan mem-bungkuk waktu menampak dalam rumah terdapat banyak orang.
"Ya, kau telah tambah dua keponakan, hari ini adalah hari ulang tahun merekd yang pertama,"
Kong-tiau menerangkan. Mendengar penjelasan itu, cepat Ong Ling mengucapkan sela-mat kepada Pang Eng-ki.
"Dimana Enso dan Titli (keponakan perempuan)? Apakah su-dah tidur?"
Tanyanya.
"Ada di dalam, lekas suruh mereka menemui Supek,"
Sahut Pang Eng-ki. Kemudian dia memperkenalkan diri pada para tetamu, waktu mendengar nama Ciong Ban-tong, ia terkejut, ditambah pula nama Ciu Jing, lekas ia menjura memberi hormat.
"Sepanjang jalan apakah kau bersua dengan orang yang men-curigakan?"
Dengan lantang Ciu Jing.bertanya, sinar matanya mena-tap tajam.
"Di sekitar Si-tiam pernah kulihat ada belasan orang yang ber-dandan sebagai Bu-su (jago silat) berbondong-bondong menuju ke barat!"
Jawab Ong Ling.
Si-tiam hanya berjarak ratusan li saja dari Lu-ciu, rombongan orang itu kalau betul Hiat-ti-cu yang datang dari kotaraja seharus-nya sudah sampai di Lu-ciu sebelurn Ong Ling.
Oleh karena itu hati Pang Kong-tiau agak lega, pikirnya.
"Me-reka mungkin tidak mengetahui Ciu-losu berada di sini dan kini su-dah melewati Lu-ciu menuju ke barat."
Begitu pula wajah Ciu Jing tampak agak reda, tidak setegang tadi.
"Apakab mereka tidak bertanya padamu?"
Tanya Cm Jing.
"Tidak!"
Sahut Ong Ling menggeleng kepala.
Ciu Jing tidak bertanya lagi.
Sementara itu Khong Lian-he yang mendengar suara sang Suheng, lantas membopong Pang Ing dan Pang Lin keluar dari ruangan dalam.
Khong Lian-he dan suaminya bersama Ong Ling adalah teman sekampung, Pang Eng-ki dan Ong Ling malah sejak kecil sudah ber-main bersama dan belajar silat berbareng, oleh karena itu hubungan mereka karib sekali.
"Sumoay, salam selamat dariku!"
Dengan gembira Ong Ling berkata pada Khong Lian-he setelah menciumi kedua bocah cilik.
"Arak pemikahanmu aku belum minum, tapi kini harus minum lagi arak kebahagiaanmu yang lain."
Khong Lian-he tidak menjawab, ia hanya menunduk.
"Kau bekerja di kotaraja, bagaimana bisa pulang ke sini?"
Kong-tiau bertanya pada muridnya itu.
"Alcu diperintahkan Piau-hang (perusahaan pengawalan) pergi ke Hui-yang untuk menerima suatu pekerjaan, maka sekalian mam-pir menyambangi kau orang tua!"
Sahut Ong Ling.
"Kongkong, Suheng datang dari jauh, biarlah membersihkan badan dulu, setelah itu baru bicara lebih asyik,"
Ujar Khong Lian-he.
"Betul! Aku sudah tua dan pikun. Nah, boleh kau antar Su-hengmu, Ing-ji dan Lin-ji tinggalkan saja di sini,"
Dengan tertawa Kong-tiau berkata.
Sebenarnya Ciu Jing sedang termenung, mendadak ia lihat ke-dua bocah cilik yang berwajah mirip itu matanya terbeliak terang, ia mendekatinya dan mengamat-amati sejenak, kemudian meraba pula tulang kepala kedua bocah tadi.
"Dua dara cilik ini jauh lebih bagus daripadamu, rupanya pem-bawaan mengharuskan mereka belajar silat!"
Katanya.
"He, saudara Ciu, tak nyana kau juga bisa menujum!"
Kata Ciong Ban-tong berkelakar.
"Soal nujum sebenarnya hanya omong kosong belaka, tapi bentuk tulang dan tabiat manusia sejak kecil sudah kentara,"
Ujar Ciu Jing serius.
"Sudah lama aku berkelana di Kangouw, hanya ada tiga anak yang punya bentuk tulang aneh pernah kulihat. Tabiat dua dara cilik ini aku belum tahu, tapi ada lagi seorang analc, belasan ta-hun yang akan datang, kalau tidak jadi Enghiong (pahlawan) tentu akan jadi Siauhiong (penjahat besar)!"
"Maksudmu muridku itu?"
Tanya Ciong Ban-tong sambil me-lonj ak.
"Betul,"
Sahut Ciu Jing.
"Bocah itu pernah kulihat. Karena aku sendiri ada urusan, kalau tidak, siang-siang aku sudah membawanya pergi!"
"Kau pernah lihat dia, mengapa aku tak mengetahui?"
Kata Ciong Ban-tong dengan terheran-heran.
"Muridmu, itu bukankah putra Lian Toan-leng yang bernama Lian Keng-hiau?"
Berbalik Ciu Jing bertanya.
"Ya, bocah itu memang aneh!"
Sahut Ciong Ban-tong.
Pang Kong-tiau terkejut demi mendengar nama Lian Toan-leng yang adalah hartawan besar di Holam, bagaimana Ciong Ban-tong dengan suka hati mau bekerja sebagai guru di rumahnya.
Tapi kemudian ia berpendapat lain, untuk menghindarkan musuh, rumah keluarga Lian memang tempat yang sempurna dan cocok untuk ber-sembunyi.
Hanya saja Ciong Ban-tong yang memiliki kepandaian silat begitu tinggi masih harus main sembunyi, maka dapat diba-yangkan musuhnya itu entah betapa lebih lihai daripada Hiat-ti-cu.
"Sudah lama aku mendengar keadaan Lian Keng-hiau yang lu-ar biasa,"-terdengar Ciu Jing berkata pula.
"Tahun itu aku justru le-wat Tan-liu, diam-diam aku masuk ke rumah keluarga Lian untuk menyelidik Kulihat ada seorang guru kampung yang sedang meng-omeli anak itu karena tak man membaca, mendadak anak itu ber-teriak, ‘Siansing, coba kau baca lagi sekali.’ ‘Baik,’ kata guru itu, `aku ajarkan kau sekali lagi, malam ini kalau kau tidak hafalkan, ti-dak kuperkenankan kau tidur.’ Lalu guru itu membaca kitabnya, tiba-tiba terdengar Lian Keng-hiau bergelak tertawa dan mengata-kan, ‘Sudahlah, dengarkan!’ Habis itu dengan bertolak pinggang ia menghafal isi kitab yang dibacakan gurunya tadi di luar kepala, ter-nyata sehuruf pun tiada yang meleset Bukan main kejut guru kam-pung itu. Sementara itu Lian Keng-hiau tiba-tiba mendamprat, ‘Apa sukarnya sih orang bersekolah? Siauya (tuan kecil) tidak sudi mem-baca bukumu, berani kau urus aku?’ "
Setelah itu ia menubruk maju, dengan dua kepalan kecilnya segera menghantam.
Meskipun hanya bocah yang baru berumur enam tujuh tahun, namun kedua tangannya seperti berkekuatan ra-tusan kati, si guru kampung kena ditonjok berkali-kali hingga jung-kir-balik, sesudah itu ia lari terbirit-birit, agaknya tak berani meng-ajar lagi.
Dan bagaimana denganmu, saudara Ciong, apakah kau ju-ga pernah dijotos olehnya?"
"Tidak, sebaliknya bocah itu sangat menghormati aku,"
Sahut Ciong Ban-tong.
"Hanya saja aku pun perlu bersabar selama setahun baru bisa menaklukkan si nakal itu."
Ketika hendak meneiuskan, tiba-tiba ia lihat ada perubahan pada air muka Cm Jing.
"Kenapa?"
Tanyanya cepat. Ciu Jing tak menjawab, ia tiarap di atas tanah untuk mende-ngarkan, lewat tak lama, ia berbangkit dan berkata.
"Kita salah ter-ka, kawanan Hiat-ti-cu itu ternyata tidak pernah pergi dari Lu-ciu, kini mereka betul-betul datang!"
"Kalau begitu lekas sirapkan lampu dan siapkan senjata raha-sia!"
Usul Ciong Ban-tong.
"Jangan berdiam di dalam rumah,"
Kata Ciu Jing sambil berpi-kir.
"musuh datang dari selatan, kita terjang ke utara!"
"Jangan, terlalu berbahaya,"
Ujar Ciong Ban-tong menggeleng kepala.
"Lukamu walaupun sementara agak baikan, tapi kekuatan-mu masih belum pulih!"
"Di dalam rumah mungkin akan lebih berbahaya!"
Sahut Ciu Jing dengan tegas.
Kemudian sekali melesat ia menerjang keluar pintu besar.
Tin-dakannya itu membikin Ciong Ban-tong dan Pang Kong-tiau terte-gun, mereka tidak bisa memahami pikiran Ciu Jing, mengapa tidak mau diam di dalam, malah menerjang keluar!
Ketika itu sudah dekat hari Tiongchiu atau tanggal lima belas bulan delapan, sinar bulan pumama terang benderang.
Waktu Ciong Ban-tong menyusul keluar mengikuti Ciu Jing, mendadak ia lihat di tengah lapangan depan rumah, dari belakang sebaris bangku batu tiba-tiba menongol seorang dengan roman luar biasa, hidung mem-betet, mulut lebar dan muka bengis.
Tiba-tiba terdengar siulannya yang aneh, sungguh amat menyeramkan.
"Hwe-hun Tongcu,"
Bentak Ciu Jing dengan mengacungkan tangan.
"Ternyata kau juga sudi menjadi budak penguasa lalim, sa-yang, nama baik Hai-hun Tianglo telah ternoda oleh murid durl-aka macam kau ini!"
Hwe-hun Tongcu, nama aslinya Liong Bok-kong,-berasal dari Ngo-ci-san di pulau Hailam (Hainan) dan kepala suku Le di sana.
Gurunya, Hai-hun Hwesio, namanya cukup disegani di daerah Sin-kiang selatan, kepandaiannya sudah diwariskan seluruhnya kepada Liong Bok-kong, sudah lebih dua puluh tahun dia tak pernah meng-injak tanah Tionggoan, oleh karena itu para Kiam-khek di daerah pedalaman jarang yang mengenalnya.
Sebenarnya kepandaian guru dan murid itutidak tidak kalah de-ngan para pendekar daerah pedalaman.
Belasan tahun lalu, Ciu Jing pemah menjelajah sampai pegunungan pulau itu dan naik ke Ngo-ci-san bertemu dengan Liong Bok-kong, tak tersangka belasan tahun kemudian ia kena terpelet oleh kerajaan Jing.
Saat dibentak Ciu Jing tadi, Hwe-hun Tongcu Liong Bok-kong hanya tertawa cekikikan saja secara aneh, sementara itu Ciu Jing telah melayang berkelit ke samping, ternyata satu titik tajam me-nyambar dari depan.
Segera Ciong Ban-tong menghadang, dengan pedang la menangkis.
"trang" , sebuah piau telah disampuk jatuh ketanah. Tiba-tiba dari atas pohon Gui di tepi lapangan sana, mendadak melayang turun seorang laksana burung terbang.
"Ciu Jing,"
Seru orang itu.
"Turun-temurun kau mendapat ke-baikan dari negara, lekas ikut aku kembali ke ibukota!"
Orang itu berambut merah laksana api. Menampak orang ini, amarah Ciu Jing memuncak.
"Melukai orang dengan mengandalkan senjata rahasia beracun terhitung orang gagah macam apa?"
Bentaknya.
"Baiklah, nih ku-kembalikan senjata rahasiamu!"
Sekonyong-konyong ia memutar dan kemudian mengayun ta-ngan, satu bola baja terbang ke depan dengan membawa desiran angin yang keras.
Orang yang muncul belakangan bernama Lui Hay-im, salah seorang jago aneh di bawah Si-hongcu (Pangeran keempat) In Ceng yang kemudian menjadi Kaisar Yong Ceng.
Kaisar Khong-hi mempunyai putra-putri tidak sedikit, yakni enam belas putra atau Hongcu (pangeran) dan tujuh Kiongcu atau putri, tetapi yang paling disayang hanya Capsi-hongcu atau Pange-ran keempat belas.
Si-hongcu atau Pangeran keempat In Ceng adalah yang paling pintar dan cerdik di antara saudara-saudaranya itu, tapi juga paling tidak disukai oleh ayah bagindanya.
Pada suatu hari, Khong-hi memberikan dua sangkar tikus pu-tih keluaran Tibet kepada Si-hongcu dan Capsi-hongcu.
Lewat sepu-luh hari kemudiaji, waktu ditanyakan, Capsi-hongcu menjawab.
"Ti-kus-tikus putih itu terkurung dalam sangkar rasanya sangat kasihan, maka ananda dengan lancang telah melepaskannya, harap ayah ba-ginda suka memaaflcan!"
Sebaliknya tidak demikian dengan Si-hongcu, tikus-tikus yang ia dapat dari ayah bagindanya itu, ia bagi menjadi dua barisan dan dilatih bertarung, keruan belum sampai sepuluh hari tikus-tikus itu mampus semua, ketika ayahnya bertanya, dengan berseri ia mence-ritakan apa yang diperbuat atas tikus-tikusnya.
Selama hidup Khong-hi tumbuh di atas pergolakan peperang-an, ilmu silatnya pun sangat tinggi, setelah menanjak umurnya, lam-bat-laun ia beralih berpikiran, ia berhasrat menambah nama baiknya dengan menanggallcan Bu (silat atau militer) berganti ke jurusan Bun (sipil atau sastra), misalnya ‘Khong-hi-ji-tian’ atau kamus besar Khong-hi, adalah buah karyanya kala itu dengan memerintahkan ba-wahannya untuk rnenerbitkan.
Setelah mendengar laporan Si-hongcu, dalam hati ia memba-tin.
"Anak ini kalau kelak menggantikan aku, tentu adalah raja yang kejam."
Karenanya diam-diam ia tidak menyukai In Ceng.
Menurut tradisi keluarga kerajaan Jing, kedudukan putra mah-kota tidak diturunkan dari ayah kepada anak, tapi berdasar pilihan Kaisar dengan cara meninggalkan pesan terakhir, menunjuk putra pilihan yang bakal menggantikannya dituliskan pada secarik surat wasiat, kernudian ditaruh di atas belandar tengah istana, sesudah Kaisar wafat barulah surat wasiat itu dibuka di hadapan keluarga ke-rajaan.
Oleh karena itu, di antara putra pangeran itu terjadi persa-ingan sengit dalam memperebutkan mahkota.
Karena tahu dirinya tidak disukai oleh Hu-ong (ayah baginda), maka Si-hongcu makin giat memperebutkan kedudukan, di samping bersekongkol dengan Kok-kiu (saudara permaisuri) Kulungto, ber-bareng ia pun memupuk kekuatan dengan banyak mengumpulkan jagoan.
Hiat-ti-cu yang terkenal itu sebenarnya adalah nama semacam senjata rahasia ciptaan Angkau Lamma (Lamma merah) di Tibet, karena para Lamma dapat diperalat Si-hongcu In Ceng, dengan sen-dirinya kepandaian menggunakan Hiat-ti-cu itupun diajarkan kepada jagoan di bawah pangeran itu.
Kemudian organisasi teroris yang di-bentuk In Ceng juga diberi nama yang sama.
Lui Hay-im adalah seorang di antara ‘Si-pa’ atau empat jagoan bawahan In Ceng, sedang Liong Bok-kong sebaliknya baru saja ‘di-beli’ dari tempat jauh.
Hiat-ti-cu yang melukai Ciu Jing bukan lain adalah perbuatan Lui Hay-im.
Oleh karena itu, begitu melihat dia, amarah Ciu Jing memuncak dan dengan Hiat-ti-cu yang dapat direbut dari Lui Hay-im, ia serangkan kembali kepada pemiliknya.
Mendengar deru suara yang santar, Lui Hay-im mengerti tena-ga yang tiba terlalu besar, maka tidak berani menyambut, tapi Liong Bok-kong meloncat naik, dengan ‘Liong-thau-kuay-tiang’ (tongkat berujung kepala naga) ia sambut bola besi itu, sekali pukul mener-bitlcan suara kelontangan, Hiat-ti-cu itu terbang ke samping.
"Ciu Jing,"
Terdengar Lui Hay-im berkata dengan tertawa se-ram.
"kau termasuk kawakan Kangouw, kau telah terluka oleh Hiat--ti-cu, andaikan bisa bertahan sementara, dalam dua belas jam ini ka-lau racun bekerja, tentu kau akan mampus, untuk apa kau berhantam mati-matian denganku? Tidakkah lebih baik kau ikut aku kembali ke ibukota, nanti kuberikan obat pemunah racunnya padamu."
"Cis!"
Damprat Ciu Jing.
"Kalau sudi kembali ke istana, tiga puluh tahun yang lalu tidak perlu aku memberontak, apa kau kira menjual jiwa pada raja durjana itu lantas bisa memperoleh keun-tungan dan hidup mewah? Aku sudah mengalami sendiri dan jauh lebih mengetahui daripadamu. Aku nasihatkan padamu, lekas buang "
Golok algojomu dan tinggalkan sedikit berkat bagi anak cucu ketu-runanmu!"
La mengira Lui Hay-im adalah jago pengawal istana, maka se-ngaja mengatakan pengalamannya untuk menginsafkan.
Tak tahu-nya Lui Hay-im sudah bercita-cita mendukung Si-hongcu naik takh-ta, hanya beberapa patah kata itu mana bisa menyadarkannya, tanpa menunggu Ciu Jing menghabiskan perkataannya, secepat kilat ia melompat maju.
"Tak usah banyak omong, kalau kau tak suka kembali ke ibukota, lekas terima kematian!"
Bentaknya.
Sekali angkat tangan, dengan ‘Kui-thau-to’ ia membacok dari atas.
Ciu Jing mengegos ke samping untuk menghindarkan bacokan musuh, sementara itu Liong Bok-kong pun tidak tinggal diam, tong-katnya dengan cepat menghantam.
Dengan membentak, Ciu Jing menyapu dengan kaki kanan, pada waktu badannya agak menyerong, ia hindarkan serangan terns balas menyerang, dengan tipu pukulan ‘Lik-pi-hoa-san’ (sekuat te-naga membelah Hoa-san), tangan kiri menghantam ke depan, de-ngan latihan selama beberapa puluh tahun, gerak pukulan Ciu Jing sungguh luar biasa, kalau terkena, maka sedikitnya sebelah bahu Liong Bok-kong pasti akan patah!
Tetapi gerakan Liong Bok-kong pun hebat dan aneh, tubuhnya berputar dengan cepat, menyusul tongkatnya menyabet dari sebelah kanan hendak mengarah ‘Thian-ti-hiat’ Ciu Jing.
Serangan berbahaya ini membuat lawan harus berusaha meng-hindarkan diri kalau tidak mau menjadi pecundang.
Diam-diam Ciu Jing gegetun melihat kepandaian lawan yang tinggi tetapi sudi di-peralat kaum penindas.
Untuk menghindarkan serangan musuh, Ciu Jing sedikit menarik diri ke belakang, kemudian tangannya meraup ke belakang hingga berhasil mencekal tangan Lui Hay-im yang se-dang memukul.
"Pergi!"
Bentak Ciu Jing sambil melemparkan Lui Hay-im sekuat tenaga, bagaikan terbang Lui Hay-im kena disengkelit jatuh, tetapi dalam sekejap suara deru tongkat Liong Bok-kong terdengar menyambar pula, dengan cepat Ciu Jing mengegos, namun tongkat lawan terlihat sudah sampai di depan dada.
Ciu Jing menduga dirinya pasti akan celaka; tetapi tahu-tahu tongkat musuh melenceng ke samping disusul suara "trang"
Yang nyaring dan lelatu api bercipratan, kiranya pedang Ciong Ban-tong telah menghalangi serangan tongkat Liong Bok-kong tadi.
Pada kesempatan itu Ciu Jing melompat agak jauh, sementara itu Lui Hay-im sudah berdiri kembali, dengan golok terhunus me-nanti musuh, namun ia sudah tak berani sembarang menyerang lagi.
Setelah Ciu Jing terkena pisau beracun Hiat-ti-cu, Lui Hay-im menaksir kalau ia tidak terbinasa sedikitnya akan terluka parah, tak tersangka ternyata Ciu Jing masih begitu gagah perkasa, keruan ia sangat terperanj at.
Ciu Jing bermaksud hendak maju merangsek, tiba-tiba terde-ngar suara ringkik kuda yang ramai makin mendekat, sementara itu orang-orang keluarga Pang pun telah berkerumun.
"Celaka!"
Ciu Jing diam-diam mengeluh, tetapi sudah terlam-bat, tiba-tiba dari semua penjuru muncul Hiat-ti-cu dan mengurung segenap keluarga Pang di tengah.
Dengan membopong Pang Lin, selagi Pang Eng-ki mengikuti Pang Kong-tiau menerjang keluar kepungan, mendadak di atas ke-palanya mendengung suara aneh yang ramai sekali, beberapa benda kehitam-hitaman dengan cepat menutup dari atas kepala, lekas ia mengempit kencang putrinya dan kemudian mengerutkan tubuh untuk berkelit, tapi segera terdengar suara jeritan ngeri ayahnya, menyusul sebuah Hiat-ti-cu mengurung di atas kepala dan kena de-ngan tepat.
Nampak peristiwa itu, Ciong Ban-tong pura-pura menusuk de-ngan pedangnya, lantas meninggalkan Liong Bok-kong, dengan se-kali lompatan jauh ia mendahului melemparkan sebilah pisau belati untuk menumbuk Hiat-ti-cu yang sedang mengarah kepala Khong Liang, kemudian dengan lebih cepat dari Pang Kong-tiau, ia mem-buru main, Pang Lin keburu direnggutnya, sementara itu dengan sa-ngat mengerikan Pang Eng-ki sudah mengalarni nasib malang, ke-palanya terpisah dengan tubuh oleh tangkupan Hiat-ti-cu tadi.
Dalam pada itu, Liong Bok-kong dan Lui Hay-im sedang me-ngerubut Ciu Jing, sedang di udara suara aneh masih mendengung ramai sekali.
"Kalian jangan hiraukan aku, lekas melarikan diri!"
Ciu Jing berteriak pada kawan-kawannya. Tanpa ayal, dengan tangan kiri mengempit Pang Lin dan ta-ngan kanan memutar pedang, Ciong Ban-tong lantas membuka jalan keluar.
"Mepet saja mengikuti aku, jangan sembarang bergerak!"
Pesannya pada Khong Liang.
Khong Liang adalah seorang tua yang jujur, maka Ciong Ban-tong agak cocok dengannya, ia mengerti ilmu silat Khong Liang ku-rang kuat, maka sekuat tenaga ia coba melindunginya.
Di pihak lain, Khong Lian-he yang membopong Pang Ing me-lihat suaminya terbunuh, pedih hatinya, tapi untuk menangis sudah tidak bisa lagi.
Ong Ling dan Teng Hiau-lan menggunakan senjata tombak dan Yu-liong-kiam melindungi Khong Lian-he dari kedua samping.
Tiba-tiba sebuah Hiat-ti-cu terbang memapak dari muka, Teng Hiau-lan lantas menebas dengan pedang, segera membikin Hiat-ti-cu itu terbelah menjadi dua.
Hendaklah diketahui bahwa Yu-liong-kiam luar biasa tajamnya, juga berkat pedang inilah Ciu Jing yang diuber beberapa puluh Hiat-ti-cu dapat meloloskan diri.
Namun kini anggota keluarga Pang terlalu banyak, Hiat-ti-cu tidak melulu me-nyerang seorang saja, maka meskipun ilmu silat Teng Hiau-lan jauh lebih rendah daripada Ciu Jing, berhasil juga ia menerjang keluar sejauh beberapa puluh tombak sambil melindungi Khong Lian-he dan putrinya, Pang Ing.
Beberapa jago pengawal yang kehilangan Hiat-ti-cu, saat men-dadak nampak Teng Hiau-Jan mengunjuk Yu-liong-pokiam, mereka berteriak dan beramai mencegatnya.
Tetapi Teng Hiau-lan tidak menjadi gentar, sekali menggerak-kan pedang, sinar putih berkelebat, secepat kilat ia menikam seo-rang musuh hingga tembus, berbareng itu telinganya tiba-tiba men-dengar Ong Ling bersuara keheranan.
Teng Hiau-lan sudah tak sempat berpaling untuk melihat apa yang membuat Suhengnya merasa heran, dengan memutar pedang pusakanya, segera ia merangsek maju lagi.
Tak tahunya yang meng-hadapi dia adalah dua musuh yang tergolong kelas tinggi, yang se-orang memakai ‘Jit-ciat-pian’ atau ruyung bertekuk tujuh, orang ini pernah mendapat ajaran dari guru ternama, terhadap Yu-liong-kiam sedikitpun tidak jeri, ruyungnya dimainkan bagus sekali dengan ber-macam jurus serangan berbahaya.
Sedang seorang lagi memakai ‘Gun-goan-pay’, sejenis tameng, dengan cara menghantam, meng-gabruk dan berbagai serangan yang membahayakan!
Teng Hiau-lan baru pertama kali ini unjuk diri di medan per-tempuran, ternyata sudah kebentur musuh tangguh, tentu ia agak gugup.
Dalam pada itu Ong Ling dengan setengah menyeret sambil melindungi Khong Lian-he pun sedang merasa kerepotan.
Mendadak Pang Kong-tiau menggertak, ‘Tui-hong-kiam-hoat’ atau ilmu pedang pemburu angin segera ia mainkan dengan cepat.
Dalam sekejap ia telah melukai dua musuh di depannya, setelah itu segera menerjang maju, dan selagi berniat menolong menantu pe-rempuannya, mendadak ia melihat dua bayangan bagaikan layang-layang putus benangnya, susul-menyusul melayang datang, yang pertama ternyata adalah Ciu Jing, waktu Pang Kong-tiau menun-dukkan kepala, Ciu Jing dengan cepat lewat di atasnya, tetapi barn saja ia mendongak, orang yang datang belakangan menghantamnya dari atas dengan tongkat.
Walaupun Pang Kong-tiau dapat menang-kiskan pedangnya ke atas, namun ia pun tergetar mundur hingga beberapa tindak.
Orang ini bukan lain ialah Hwe-hun Tongcu Liong Bok-kong.
Kedatangan Ciu Jing ternyata tepat pada waktunya, karena sa-at itu musuh yang memakai ruyung sedang menyabet ke samping pinggang kanan Teng Hiau-lan, sabetan ini begitu keras dan cepat, sedang pedang Teng Hiau-lan sendiri justru lagi ditekan tameng mu-suh yang lain, maka tak sempat ia menarik pedangnya untuk me-nangkis dan sulit baginya lobs dari bahaya maut.
Selagi musuh pemakai ruyung merasa senang, tak terduga Ciu Jing tiba-tiba melayang turun dari udara dan menubruk ke bawah, tangan kanan menekan ruyung musuh dan berbareng menubruk ma-ju.
Musuh itu tidak menyangka gerak tubuh Ciu Jing begitu cepat, untuk menarik senjata buat berjaga diri sudah terlambat, dengan ce-pat ia melompat mundur ke belakang, namun kelima jari Ciu Jing laksana kaitan sudah keburu mencengkeram pundaknya terus dibe-tot, keruan saja dengan jeritan ngeri ‘Pi-pe-kut’ atau tulang pun-daknya terbetot remuk.
Melihat kawannya mengalami celaka, musuh yang memakai tameng jadi tergetar, sedikit kendor tenaganya, Teng Hiau-Jan sudah sempat menarik kembali pedangnya, ‘Tui-hong-kiam-hoat’ atau il-mu pedang pemburu angin memang sesuai dengan namanya, cepat laksana angin, begitu pedang berputar segera menusuk ke dada mu-suh lagi.
Dengan tipu ‘Hing-keh-kim-nio’ (memalang menyanggah be-landar emas), dengan tamengnya musuh itu membentur ke atas, tak ia duga tiba-tiba Teng Hiau-Jan mengubah serangannya, mendadak ia membabat ke bawah.
Karena tak keburu menarik tamengnya yang baru saja diangkat ke atas, maka dua kaki musuh sebatas lutut ke bawah tertabas kutung!
Saat itu Ong Ling dan Khong Lian-he juga sedang menempur dua jago pengawal dengan seru pada jarak sejauh lebih tiga tombak.
Selagi Teng Hiau-lan berniat membantu mereka, tiba-tiba ia ditahan Ciu Jing.
Karena heran, Teng Hiau-lan hendak bertanya sebabnya, se-mentara itu terdengar Ciu Jing membisiki telinganya.
"Terhadap Ong Ling kau harus waspada!"
Setelah itu dengan satu bentakan menggelegar, ia melayang ke belakang bagai terbang.
Hiau-lan merasa bingung, namun dilihatnya gerak langkah Pang Kong-tiau sudah tak keruan dan sempoyongan hendak roboh.
Kiranya Ciu-tayhiap memburu ke sana perlunya untuk menolong murid sendiri, begitu pikir Hiau-lan.
Pedih sekali rasa hati Hiau-lan, pada saat mati hidup yang hanya ditentukan dalam sekejap itu, dirinya ternyata tidak pergi me-lihat Suhunya, tetapi karena Suso (istri Suheng) dan Suheng punya kepandaian paling lemah dan keadaan juga paling berbahaya, maka terpaksa ia harus pergi membantu mereka.
Pada saat genting ini, tiada tempo lagi buat memikirkan pesan Ciu Jing tadi!
Mengapa Ciu Jing bisa timbul curiga terhadap Ong Ling?
Ki-ranya ia sudah lama berpengalaman Kangouw, soal mendengarkan dengan bertiarap di atas tanah pasti tidak meleset.
Tadi waktu ia mendekam mendengarkan suara di dalam rumah Pang Kong-tiau, terang ia dengar bukan terdiri dari seorang saja, tapi yang mengetuk pintu ternyata hanya Ong Ling sendiri yang muncul, waktu itu ia sudah merasa sangsi.
Oleh karena itu ia tak berani tinggal diam da-lam rumah Pang Kong-tiau, belakangan waktu keluar dari rumah buat menghindari musuh, mendadak Liong Bok-kong dan Lui Hay-im muncul dari dekat, maka bertambahlah rasa curiganya.
Pikirnya, dua orang ini memiliki ilmu entengi tubuh yang tinggi, dari suara derapan kuda tadi jangan-jangan datang bersama Ong Ling.
Walau dalam hati curiga, ia masih belum berani ambil kepas-tian, khawatir salah sangka terhadap orang baik, kalau tidak, sejak tadi ia sudah bereskan Ong Ling!
Dalam pada itu, Pang Kong-tiau yang sekonyong-konyong bertemu musuh tangguh, Tui-hong-kiam-hoat yang dilatihnya sela-ma sepuluh tahun segera dimainkan, ia sudah dapat membinasakan dua Hiat-ti-cu, ketika hendak menyerbu keluar, tak terduga lantas kebentrok Hwe-hun Tongcu Liong Bok-kong dan baru sekali gebrak ia sudah tergetar mundur.
Liong Bok-kong memutar tongkatnya dengan cepat dan mem-hadai, mendadak ia mendengar suara gemerincing yang ramai, me-nyusul tiba-tiba ia merasa pundaknya agak linu kaku laksana digigit semut besar beberapa kali, hatinya tergerak, ia menduga tentu ter-kena senjata rahasia sebangsa Bwe-hoa-ciam yang halus, namun mengandalkan Lwekangnya yang tinggi, dengan mengatur perna-pasan ia lindungi tempat Hiat-to yang berbahaya, sedang Liong--thau-kuay-tiang dengan sebat diputar kencang hingga debu pasir be-terbangan.
Kiranya Pang Kong-tiau menyerang musuh dengan segeng-gam Hui-bong, selagi pedangnya hendak menyerang, tiba-tiba tong-kat musuh sudah mendahului tiba.
Tui-hong-kiam-hoat memang ce-pat sekali, waktu tahu tidak bisa memaksakan diri menangkis tong-kat musuh dengan pedang, Pang Kong-tiau segera mengubah gerak-annya, sedikit angkat kaki kanan untuk melindungi selangkangan, tubuhnya agak memutar, mata melirik dan pedangnya terus memo-tong, ia tak menangkis tapi memotong pergelangan tangan musuh.
Pedang gemerlapan, di bawah sinar bulan yang terang bende-rang terlihat jelas ujung pedangnya menyambar sampai di urat nadi musuh.
Tipu serangan yang paling berbahaya untuk membela diri da-lam keadaan terdesak, dengan sendirinya serangan musuh tadi dapat ia hindarkan.
Serangan ganas Liong Bok-kong tidak berhasil, maka begitu melihat Pang Kong-tiau bergerrak, segera ia pun dapat mengetahui apa yang hendak diperbuat lawannya ini, oleh karenanya segera ia berseru.
"Bagus sekali!"
Sesudah itu pergelangan tangarmya membalik ke bawah, ia mengubah tipu untuk menyerang lagi, dengan ‘Wan-te-hoan-hun’ (membalik awan di bawah tangan) ia mencegat pedang Pang Kong-tiau, namun dia pun bukan lawan lemah, dengan cepat ia tarik kem-bali serangannya dan merangsek dengan terlebih kencang, kali ini ia metiusuk ke bawah iga musuh.
Ketika Liong Bok-kong mendadak memutar tubuh, ujung pedang Pang Kong-tiau sudah dekat di bawah iga sebelah kanan, sangat girang hati Pang Kong-tiau melihat se-rangannya akan berhasil.
Tetapi ia salah duga, karena tiba-tiba Liong Bok-kong mero-bohkan diri ke belakang dan tongkatnya dilempar membentur pe-dang Pang Kong-tiau, karena benturan keras terjadi dari dekat, maka berkekuatan jauh lebih besar, pedang Pang.
Kong-tiau tergetar men-celat dan genggaman tangannya berdarah.
Sementara itu Liong Bok-kong telah melompat bangun, terus mengulur tangannya yang lebar bagaikan daun pisang, di bawah si-nar bulan yang terang, tertampak telapak tangannya merah membara dan hendak mencengkeram.
Saking takutnya melihat tangan musuh itu, Kong-tiau berpikir hendak angkat kaki, tapi agak terlambat, pundaknya keburu kena di-cekal musuh, rasanya seperti tertindih barang seberat ribuan ‘.cati, untuk menghindarkan bahaya, sebisanya Pang Kong-tiau mendak dan menarik pundaknya meronta ke bawah, segera ia rasakan kesa-kitan yang meresap tulang, pundaknya sudah bermandi darah, kulit berikut daging pundak terbeset sebagian oleh Liong Bok-kong!
Menghindarkan serangan pedang, melempar tongkat, balas memukul dan mencengkeram, semuanya adalah serangan lihai ilmu silat Liong Bok-kong, sekaligus dilakukannya dalam sekejap saja secepat kilat.
Waktu Ciu Jing mengetahui dan memburu datang hen-dak menolong, sementara itu Pang Kong-tiau sudah roboh tak sang-gup berbangkit pula.
Ketika itu Khong Liang sedang mengikuti Ciong Ban-tong menerjang keluar sekuat tenaga, waktu ia mendengar suara jeritan, ia berbalik hendak menolong, tapi golok Lui Hay-im mendahului membacok dengan gerakan ‘Thay-san-ap-ting’ (Gunung Thay me-nindih dari atas kepala), orang berikut goloknya berbareng menu-bruk dari atas.
Khong Liang mengegos ke samping sambil menangkis ke atas sekuatnya, tetapi ternyata tak mampu menahan tenaga yang menin-dih itu, sementara Lui Hay-im menendang pula dan tepat mengenai kaki Khong Liang, keruan ia terhuyung-huyung ke samping dan me-nyeruduk tubuh seorang Hiat-ti-cu.
Ciong Ban-tong melayang tiba dari jurusan lain, ia mengang-I "Pang-jinkeh telah mengalami celaka!" Seru Khong Liang. Sinar mata Ciong Ban-tong mengerling tajam, tapi ia hanya menggeleng kepala tanpa berkata. "Kalian lekas melarikan diri, makin banyak yang selamat ma-kin baik!;" Tiba-tiba terdengar Pang Kong-tiau berseru dengan serak. Di bawah sinar bulan terlihat ia telah berdiri dan secara sempo-yongan berjalan beberapa langkah, tapi dua buah Hiat-ti-cu dengan membawa suara. mendengung aneh menyambar ke arahnya, terde-ngar jeritan ngeri Pang Kong-tiau, setelah itu kepalanya lenyap ter-potong Hiat-ti-cu itu. Betapa pedih Ciong Ban-tong dan Teng Hiau-lan, mereka sa-ngat gusar bercampur keder juga, sementara itu Pang Lin yang ber-ada di bopongan Ciong Ban-tong mendadak menangis keras saking ketakutan. Di bawah sinar bulan, paras Pang Lin yang kecil mungil dan bundar seperti buah apel, makin menarik dan sayang. "Tolong anak-anak dahulu!" Tiba-tiba Ciong Ban-tong berkata dengan menghela napas. Sesudah itu ia serahkan Pang Lin kepada Teng Hiau-lan, lalu tangan kirinya menyiapkan dua pisau belati beracun. "Ikut aku, terjang pergi!" Serunya pada kawan-kawannya. Menyusul ia lantas mendahului menerjang_ Nampak Ciong Ban-tong kalap, Lui Hay-im tak berani sembarang mencegat, tetapi dua jago pengawal di sampingnya berbareng mendahului memapak maju. Dengan pedangnya yang mengkilap, Ciong Ban-tong menung-gu musuh datang mendekat, baru mendadak pedangnya menyapu ke bawah. Saking kagetnya karena serangan tiba-tiba itu, seorang jago pengawal berseru terkejut, temyata bajunya telah terbabat robek, un-tung ia cukup cerdik, dengan merobohkan diri clan menggelunclung pergi ia berhasil menyelamatkan diri! Tetapi tidak demikian dengan pengawal yang lain, karena terkejut, ia hanya mundur dua tindak ke belakang, ketika akan rnengangkat senjata buat menangkis pedang musuh, tahu-tahu Ciong Ban-tong telah bekerja dengan lebih cepat, pisau terbangnya menyerang lewat bawah pedangnya. "Roboh!" Berbareng ia membentak. Karena tak menyangka, jago pengawal itu tiba-tiba merasa ba-gian pinggangnya kesakitan, sebisanya, ia berbangkit, tapi baiii ber-jalan dua tindak, pandangan matanya sudah gelap, menyusul dengan satu jeritan ia roboh terguling. "Awas, senjata rahasia beracun!" Demikian ia masih sempat meneriaki kawannya. Kemudian Ciong Ban-tong mengayun tangan lagi, tiga pisau terbangnya menyambar pula, Lui Hay-irn membentur dengan golok clan dapat menjatuhkan sebuah pisau, tetapi dua jago pengawal di sampingnya kembali menjerit beruntun clan keduanya roboh meng-gelongsor! Menampak keadaan itu, sudah tentu Lui Hay-im menjadi ke-der, mana berani mengejar lagi? Karena senjata Hiat-ti-cu miliknya sudah hilang, maka ia ha-nya memerintah kawan-kawannya. "Lekas, lepaskan Hiat-ti-cu pada musuh, lekas!" Hiat-ti-cu hanya berguna untuk menyerang dari jarak agak ja-uh clan tak dapat digunakan jika terlalu dekat, dalam pertarungan se-ngit yang gaduh tadi, lebih-lebih tak mungkin mereka gunakan. Te-iapi kini keadaan berlainan pula. Ciong Ban-tong clan kawan-kawan baru berlari belasan tom-hak jauhnya, tiba-tiba terdengar suara aneh mendengung ramai di atas kepala, waktu ia menoleh, tertampak lima enam buah Hiat-ti-cu membmu dengan membawa angin mendesir. Dengan cepat Ciong Ban-tong menyarungkan pedangnya clan dua tangannya lantas mengambil enam buah Hui-to. "Hiat-ti-cu bisa berbuat apa terhadapku?" Ia membentak, ke-tika tangannya bergerak, enam buah pisau terbangnya secepat kilat ditimpukkan_ Menyusul di udara terdengar suara nyaring beradunya benda logam, Hiat-ti-cu terbuka karena benturan pisau terbang dan Jua belas pisau kecil mengkilap yang terdapat pada tiap Hiat-ti-cu, teriatuh bersebaran laksana hujan pisau! Ada satu Hiat-ti-cu di antaranya agaknya dilepaskan oleh jago-an yang berkepandaian lebih tinggi, maka kekuatannya lebih besar, dibentur oleh Hui-to masih belum terjatuh, terns menyelonong me-nuju sasaran. Cepat Ciong Ban-tong mencabut pedang clan melompat ke atas untuk memapak, ia dapat menyampuk Hiat-ti-cu itu hingga terjatuh jauh, kemudian terdengar suara letusan, Hiat-ti-cu itu pecah beran-takan. Melihat lihainya Hiat-ti-cu. Ciong Ban-tong pun terkejut, ba-tinnya. "Bila belasan Hiat-ti-cu mengeroyok berbareng, sungguh susah dilawan, pantas Ciu-tayhiap kena dilukai!" Saat itu dengan menggandeng Khong Liang, ia sudah berada (fi jarak yang tak bisa dicapai Hiat-ti-cu, ketika ia berpaling me-mandang dari jauh, terlihat bayangan tubuh Ciu Jing yang jangkung masih meloncat clan menubruk dengan sangat hebat, sedikitpun be-lum menunjukkan tanda-tanda akan kalah. la agak lega melihat ketangguhan Ciu Jing, pikirnya. "Kepan-daiannya berada di atasku, yang dikhawatirkan hanya karena ia ter-luka parah oleh Hiat-ti-cu, mungkin tak sanggup bertempur terus, tetapi jumlah musuh yang datang malam ini sudah hampir separoh mati atau terluka, sedang senjata mereka yang keji telah banyak ter-musnahkan, sebaliknya Ciu Jing punya senjata rahasia Hui-bong pun tidak di bawah Hui-to milikku, mungkin ia masih bisa lolos dari bahaya." La agak lega melihat ketangguhan Ciu Jing, pikirnya. "Kepan-daiannya berada di atasku, yang dikhawatirkan hanya karena ia ter-luka parah oleh Hiat-ti-cu, mungkin tak sanggup bertempur terus, tetapi jumlah musuh yang datang malam ini sudah hampir separoh mati atau terluka, sedang senjata mereka yang keji telah banyak ter-musnahkan, sebaliknya Ciu Jing punya senjata rahasia Hui-bong pun tidak di bawah Hui-to milikku, mungkin ia masih bisa lolos dari bahaya." Selagi ia ragu oleh pikiran sendiri, Pang Lin menangis seben-tar, mungkin karena letih, lalu tertidur nyenyak di pangkuan Khong Liang, dengan tersenyum Ciong Ban-tong mencium anak itu, dalam pada itu dari jauh terdengar seruan Ciu Jing. "Ciong-toako, lekas kau bawa lari anak itu, murid yang baru kau terima itu, kalau keta-huan hatinya tidak jujur, hendaklah kau bikin cacat padanya, sekali--kali jangan merasa sayang! Apabila aku terlolos dari bahaya, aku akan datang ke Tan-liu menyambangimu, lekas lari, lekas!" Terguncang hati Ciong Ban-tong, ia tidak mengerti, dalam ke-adaan segenting ini Ciu Jing masih sempat wanti-wanti berpesan padanya, apa betul Lian Keng-hiau kelak menjadi seorang yang be-sar tetapi di pihak yang sesat? Keadaan tidak mengizinkan banyak berpikir, ia hanya menyahut dari kejauhan. "Selamatlah Ciu-heng, sampai bertemu di Tan-liu!" Sesudah itu dengan membopong Pang Lin dan bersama Khong Liang, cepat mereka angkat langkah lebar dan lari pergi! Melihat Ciong Ban-tong sudah terlepas dari bahaya, Ciu Jing merasa lega, waktu ia lihat Teng Hiau-lan, tertampak pemuda itu bersama Ong Ling dan Khong Lian-he bertiga sedang melabrak mu-suh dengan mati-matian. Yu-liong-kiam milik Teng Hiau-lan bersi-nar gemerlapan, dengan gesit dan cepat sekali selalu mengincar sen-jata musuh, sedang senjata Liok-hap jiang Ong Ling yang diputar dengan hebat tampaknya juga tidak lemah. Tiga Hiat-ti-cu lawan mereka meski bukan tandingan yang enteng, tapi dibanding Liong Bok-kong dan Lui Hay-im, sudah terang berselisih jauh. Oleh ka-rena itu, Teng Hiau-lan ber-tiga cukup kuat untuk bertahan. Karena tiada kekhawatiran lain lagi, Ciu Jing jadi bersema-ngat, ia kencangkan gerak silatnya, sebelah tangan menyanggah ke atas dan yang lain lantas menarik, segera seorang musuh dibetot putus tangannya. Liong Bok-kong jadi murka, ia tarik tongkatnya keatas lalu memutar secepat kilat mengemplang muka Ciu Jing. Serangan ini begitu hebat dan tepat, tetapi Ciu Jing tidak gam-pang kecundang, walaupun sudah tak sempat berkelit lagi, segera ia kumpulkan seluruh tenaga, tangan menangkis ke atas, secara paksa ia sambut serangan Liong Bok-kong itu, tubuhnya pun meminjam kekuatan pukulan lawan terns berjumpalitan jauh ke belakang. Kemplangan Liong Bok-kong tadi seperti mengenai batu, ia sendiri tergetar mundur bebeerapa tindak dengan tangan terasa pegal sakit, mau tak mau ia merasa keder. la tidak tahu sebenarnya luka Ciu Jing telah bertarnbah parah. Sungguhpun Lwekang Ciu Jing cukup tinggi, tapi sesudah ter-luka oleh senjata rahasia berbisa jahat, ditambah tangkisan terhadap tongkat musuh, seluruh isi tubuhnya kini sudah terguncang remuk, pandangan matanya jadi gelap dan sakitnya meresap tulang, ia insaf jiwanya susah dipertahankan lagi. Tempat dimana Ciu Jing menancapkan kakinya, jaraknya tidak jauh dengan Teng Hiau-lan, segera ia dapat mendengar suara pang-gilan Teng Hiau-lan. "Ciu-pepek, kau hebat sekali, marilah kita ber-sama-sama menerjang keluar!" Semangat Ciu Jing mendadak menyala kembali, dengan sekali mengayun tangan, musuh yang mengepung Teng Hiau-lan segera menjerit dan terguling roboh, ternyata punggungnya terkena tujuh huah Hui-bong. Karena itu, dua musuh lain yang merangsek Ong Ling dan Khong Lian-he terkejut. ‘Tui-hong-kiam-hoat’ milik Teng Hiau-lan juga tidak pernah kendor, dimana ada lubang segera dimasuki. Wak-tu seorang musuh hendak lari, segera ia kirim satu tusukan dari sam-ping, karena sedikit terlambat ujung pedang hanya menyerempet lewat di atas pundak musuh, hingga terluka dan darah mengucur, masih untung baginya sempat melompat, terus kabur sipat-kuping! Musuh lain kena disodok gagang tombak Ong Ling dibarengi golok Khong Lian-he yang gemilapan membacok dari atas, anggota Hiat-ti-cu ini berkepandaian lebih rendah hingga tak mampu meng-liindarkan diri lagi, segera terkutung menjadi dua, mulai dari atas bahu sampai ke pinggang. Melihat ketiga lawan kena dibereskan, Teng Hiau-lan bergi-rang sekali, namun terdengar Ciu Jing berseru padanya. "Kalian le-kas lari, lekas! Tak usah tunggu aku!" Sudah tentu Teng Hiau-lan tertegun, segera terdengar Ciu Jing membentak pula. "Kau tidak mau dengar perkataanku?" Menyusul di belakang terdengar suara aneh yang riuh ramai, sebuah bola baja telah sampai di atas kepalanya, lekas Teng Hiau--lan mengangkat pedang mencungkil ke atas hingga Hiat-ti-cu yang hendak menyerangnya kena dicungkil pergi. Sementara itu Ciu Jing berteriak lagi. "Lekas lari, lekas lari! Hantam mereka dengan Hui-bong!" Tidak ayal lagi, dengan mengapit Khong Lian-he yang mem-bopong Pang Ing di tengah, Teng Hiau-lan dan Ong Ling segera kabur secepatnya, sementara itu di belakang masih ada beberapa ja-goan musuh yang mengejar mereka dengan kencang! Melihat Teng Hiau-lan bertiga lepas dari bahaya dan sudah la-ri jauh, semangat Ciu Jing banyak bertambah, ia tahu dirinya tidak mungkin tertolong lagi, maka dengan sisa tenaga pengabisan ia lin-dungi mereka agar bisa bebas dengan selamat. Sementara itu Lui Hay-im telah memburu maju, ia lihat mata Ciu Jing bersinar keren, sekali menggertak, tangannya menghantam secepat kilat. Lui Hay-im terperanjat dan hendak mundur, akan tetapi sudah terlambat, per-gelangan tangannya kena dihantam hingga tulang remuk kesakitan, goloknya tak dapat ia kuasai lagi dan mencelat terbang, Lui Hay-im pun roboh pingsan. Menyaksikan kejadian mendadak itu, dua Hiat-ti-cu yang lain menjerit kaget, mereka hendak lari, namun Liong Bok-kong sudah mendahului membentak. "Manusia tak berguna, tidak kalian hantam dia, malah lari!’." Melihat mata Ciu Jing yang membelalak lebar, tidak urung Liong Bok-kong sendiri merasa keder dan gugup, Hiat-ti-cu yang masih tertinggal beruntun melepas senjata rahasia lagi. Pedang Ciu Jing sudah diserahkan Teng Hiau-lan, maka terpaksa mengandalkan kesebatan berkelit sini-sana atas gempuran senjata rahasia musuh yang sambar-menyambar itu. Meski Hiat-ti-cu harus diakui lihai, tetapi tidak bisa melukainya, sudah tentu ketangkasan Ciu Jing itu membikin para jagoan musuh menjadi kuncup, sebaliknya Ciu Jing sendiri tidak lantas lari, juga tidak melabrak musuh lebih jauh, ia ha-nya menghadang di tengah jalan dengan sikapnya yang galak dan bengis luar biasa laksana malaikat jahat, maksudnya hanya untuk melindungi Teng Hiau-lan dari kejaran musuh! "Marilah kita pergi saja, jangan recoki dia lagi!" Terdengar se-orang anggota Hiat-ti-cu berkata. Dalam pertempuran sengit itu, walaupun ayah dan anak Pang Kong-tiau telah terbunuh, tetapi di pihak Hiat-ti-cu sendiri pun lebih dari separoh mati atau luka, malahan Lui Hay-im juga terluka parah, kecuali tiga empat orang yang pergi mengejar Teng Hiau-lan, sisa-nya termasuk Liong Bok-kong, tidak lebih hanya lima orang. Sebenarnya Liong Bok-kong jeri, saat mendengar ajakan Hiat--ti-cu tadi, ia mengamati Ciu Jing sekejap, sesudah itu tiba-tiba ia mendamprat dengan gusar pada kawannya. "Sungguh goblok! ikuti aku, ia tak akan bisa kabur!" Setelah itu tongkatnya bergerak, segera ia mendahului mener-jang ke depan. Kiranya Liong Bok-kong telah menyaksikan waktu Ciu Jing menghindarkan serangan Hiat-ti-cu tadi, gerak tubuhnya sudah tidak secepat dan segesit semula, di antara gerakannya itu ada tanda-tanda tenaga lemah dan tak tetap, kalau bukan ahli memang tak bisa tahu, tetapi buat Liong Bok-kong yang cukup sempurna kepandaiannya dan tidak banyak selisih dengan Ciu Jing, ia pun tergolong kawakan Kangouw, maka sedikit tanda kelemahan saja sudah dapat diketa-huinya bahwa Ciu Jing sudah dalam keadaan payah, tinggal maju untuk menangkapnya dan sembilan bagian pasti akan berhasil, maka segera ia menerjang maju walaupun sebenarnya ia pun merasa jeri. Beberapa Hiat-ti-cu adalah orang kepercayaan Si-hongcu, Pa-ngeran keempat, mereka dua kali dicaci oleh Liong Bok-kong de-n-an kata-kata "Goblok dan tak berguna", sudah tentu mereka men-dongkol sekali, batin mereka dengan benci. "Hm, kau Liong Bok-kong hanya tamu yang baru datang, kau berani menghina kami. Ba-il., kami akan lihat kepandaianmu!" Dan karena itu, dengan sengaja angkah diperlambat, mereka biarkan Liong Bok-kong menerjang maju seorang diri. Dalam pada itu Liong Bok-kong yang menyerbu maju dengan tongkatnya, telah didahului Ciu Jing dengan segenggam Hui-bong yang dihamburkan kepadanya. Mendadak Liong Bok-kong merasa pandangan matanya menjadi silau, ia enjot tubuhnya melompat ke atas dan tongkatnya berbareng diputar dengan cepat, maka terdengar suara gemerincing yang nyaring ramai, menyusul lantas terdengar Liong Bok-kong menjerit kesakitan, walau ia sudah berusaha meng-hindarkan serangan itu, tidak urung mata kirinya telah buta kena tertusuk sebuah Hui-bong yang kecil lembut laksana jarum. Selama hidup belum pernah ia kecundang begitu rupa, maka dapat dibayangkan kemurkaannya, dengan sekali berjumpalitan di angkasa, tongkat beserta orangnya bagaikan seekor naga hitam yang ganas mendadak menubruk dari atas, pada saat demikian Ciu Jing unjuk ketangkasannya, dengan kedua tangannya ia sambut tongkat musuh dan sekali tarik dapat mencekal ujung tongkat yang berben-tuk kepala naga itu, dengan sekali gertakan, kedua orang sama-sama mengeluarkan tenaga sepenuhnya, tongkat yang terbikin dari baja itu patah menjadi dua potong. Setengah potong yang dicekal Liong Bok-kong ditimpukkan sekuatnya, Ciu Jing mengangkat sebelah ka-ki menendang, keruan Liong Bok-kong kena tertendang pergi sejauh tiga tombak lebih, sebaliknya dada Ciu Jing tersodok dengan tepat oleh potongan tongkat yang ditimpukkan Liong Bok-kong, lukanya yang memang sudah berat bertambah parah pula, tenaga dalamnya buyar, dan begitulah ‘murid akuan’ Leng Bwe-hong ini, satu-satu-nya pendekar di Tionggoan yang mahir ‘Tui-hong-kiam-hoat’ telah berakhir riwayatnya di pedusunan sunyi ini. Adapun Liong Bok-kong yang tertendang dadanya juga mera-sakan sakit yang tidak kepalang, darah segar menyembur dari mu-lutnya, lekas ia mengatur napas untuk menahan luka, dalam pada itu tiba-tiba terdengar Hiat-ti-cu yang berada di sampingnya bersorak gembira dan berkata. "Kionghi, kionghi, buronan kita telah terbunuh oleh kau orang tua!" Walaupun dipuji, namun Liong Bok-kong tidak bergirang, se-baliknya ia menjadi gusar. "Hm, kalian manusia tak berguna ini, sesudah rnusuh mampus baru berani maju!" Dampratnya. Didamprat cara begitu, para Hiat-ti-cu itu terdiam, tidak lama kemudian, seorang di antara mereka berkata dengan nada dingin. "Baiklah, memang kami tak berguna. Dan kami pun tidak ingin me-rebut jasamu, biarlah kau boleh potong kepala Ciu Jing untuk dila-porkan pada Si-hongcu!" Sesudah itu mereka lantas hendak berlalu. Dengan luka parah yang Liong Bok-kong derita, kalau tiada orang memberi pertolongan pasti dia akan terkubur juga di pedu-sunan sunyi ini. Kini mendengar lagu perkataan Hiat-ti-cu tadi yang tidak akan urus dirinya, keruan Liong Bok-kong menjadi khawatir. "Terbunuhnya penjahat besar ini semua punya bagian jasa, bu-at apa kita harus bertengkar!" Dengan muka manis ia berkata. Hiat-ti-cu yang berkata tadi menjengek, lalu mereka bangun-kan Liong Bok-kong serta Lui Hay-im. Sejak itu, di antara Liong Bok-kong dan kaum Hiat-ti-cu telah tertanarn benih perpecahan. "Dan dimana pemuda yang menggunakan pedang tadi?" Tanya Lui Hay-im tiba-tiba sesudah sadar dari pingsannya. "Di antara kawan kita sudah ada tiga atau empat orang yang mengejar, kiranya ia takkan bisa lolos!" Sahut seorang jagoan di sarnpingnya. "Hm, belum tentu bisa menyandak orang!" Kata Lui Hay-im dengan sangsi. "Dia buron bersama Ong Ling!" Menyambung pula seorang jagoan lain. "0, kalau begitu masih ada harapan," Ujar Lui Hay-im. "Baik-lah, lekas kalian utus dua orang memberitahu Hiat-ti-cu yang di be-lakang, supaya mencegat ke jurusan lain!" Kiranya Si-hongcu In Ceng menguber Ciu Jing kali ini me-mang mempunyai dua tujuan. Pertama karena Ciu Jing adalah bekas jago pengawal Kaisar Khong-hi, satu-satunya jago pengawal peng-hianat yang masih hidup, hal mana menjadi pantangan Khong-hi yang tidak mungkin membiarkan bekas pengawalnya berkhianat, ia hertekad menangkap hidup-hidup untuk dicincang buat memberi peringatan pada yang lain. Si-hongcu In Ceng dapat meraba maksud yang dikandung ayah bagindanya itu, oleh karena itu ia perintahkan bawahannya menguber secara giat, ia bermaksud menunjukkan ke-mampuannya kepada ayah baginda untuk merobohkan para Hongcu yang lain. Tujuannya yang kedua ialah bermaksud merampas Yu-liong-kiam dan ‘Tui-hong-kiam-boh’ atau kitab rahasia ilmu pedang ‘Tui-hong’ yang dimiliki Ciu Jing. Si-hongcu In Ceng memang mempunyai ambisi besar merebut kedudukan putra mahkota, maka ia tidak sayang mengerahkan selu-ruh anak-buahnya. Di samping bersekongkol dengan pejabat-pejabat penting dalam istana dan coba merebut kesayangan ayah baginda-nya, di pihak lain bila perlu ia pun tidak sayang menggunakan ke-kerasan untuk perebutan takhta dengan mengalirkan darah, oleh ka-rena itu, ia paling banyak mengumpulkan jago jago silat dan ia sen-diri pun mahir ilmu silat, yang masih dirasakan kurang hanya seba-tang pokiam atau pedang pusaka saja. Yu-liong-pokiam bekas milik Coh Ciau-lam cukup terkenal dan diketahui benar oleh jago pengawal atau pelatih pasukan Kim-wi-kun yang sedikit berumur, sudah lama Si-hongcu sendiri menge-nal nama pokiam yang ia kagumi itu, maka senantiasa berhasrat se-kali untuk memilikinya. Lui Hay-im adalah seorang di antara ‘Si-pa’ atau empat per-kasa dart istana pangeran dan cukup disayang In Ceng, maka ia pun paham isi hati yang dikandung pangeran majikannya itu. Kini sete-lah menyaksikan Ciu Jing terbunuh, walaupun masih bisa meren-dam kepala Ciu Jing dengan arak obat untuk mempertahankan wa-jahnya yang asli dan bisa ditunjukkan kepada Si-hongcu untuk dila-porkan pula kepada Kaisar Khong-hi, namun bagaimanapun toh ti-dak sebaik kalau bisa menangkapnya hidup-hidup, dengan begitu dapat melampiaskan ganjalan hati Khong-hi selama ini. Oleh sebab itu juga tujuan pertama Si-hongcu boleh dikata terlaksana setengah, sedang pokok tujuann kedua tetap masih belum terkabul. Sebab itu pula Lui Hay-im bersikap kurang senang. Sebaliknya Liong Bok-kong yang senjatanya patah, mata kiri buta dan tubuhnya terluka parah, setelah berhasil membunuh Ciu Jing, ia mengira telah mendapat jasa yang maha besar, tak terduga Lui Hay-im dan kawanan Hiat-ti-cu lainnya masih kurang puas dan tak memuji padanya, tentu saja dalam hati ia pun merasa mendong-kol dan penasaran. Kembali pada diri Teng Hiau-lan. Sewaktu pertempuran sengit tadi ia tidak sempat menggunakan senjata rahasia Hui-bong, setelah diinsafkan Ciu Jing, barn ia hamburkan senjata rahasia untuk me-nyerang-musuh. Sementara itu tiga empat anggota Hiat-ti-cu yang kehilangan senjata Hiat-ti-cu masih tak tahu kelihaian orang, mere-ka masih terus mengejar. "Suheng, kau lindungi Suso jalan dahulu, biar aku memberes-kan beberapa keroco yang tidak kenal mati-hidup ini!" Seru Teng Hiau-lan pada Ong Ling. "Baik, mari kita jalan dulu!" Dengan girang Ong Ling berkata pada Khong Lian-he menurut pesan Sutenya itu. Tak tahunya Khong Lian-he berpikir lain, ia malah merandek dan tidak mau pergi. "Kalau ada kesukaran harus sama-sama kita pikul!" Ujarnya. "Ong-suheng, harap kau membopong Ing-ji!" Sesudah itu dengan golok terhunus ia hendak membantu Teng Hiau-lan bertempur lagi. Keruan Ong Ling menjadi serba susah, terima membopong anak salah, tak menerima, rasanya pun keliru. Dalam pada itu terde-ngar bentakan Teng Hiau-lan berulang-ulang. "Roboh, roboh!" Terlihat ia mengayun kedua tangan, empat musuh dalam seke-jap sudah roboh separoh, tinggal dua orang pun terluka oleh Hui-bong hingga gerak tubuh mereka menjadi tak leluasa, sudah tentu Teng Hiau-lan tidak ayal, Yu-liong-pokiam berputar secepat angin, beberapa kali serangan saja sudah membikin dua Hiat-ti-cu itu ka-lang kabut. Sementara itu dengan tombaknya, Ong Ling memburu maju hendak membantu. "Sute, biar aku bantu kau!" Teriaknya. Tetapi sebelum ia sampai di tempat, pedang Teng Hiau-lan te-lah menyapu ke kiri dan menyabet ke kanan, dua jagoan musuh itu sudah lebih dulu dibereskannya. "Kiam-hoat bagus!" Mau tak man Ong Ling memuji. Tetapi dengan segera ia seperti teringat sesuatu. Ketika Teng Hiau-lan menoleh ke belakang, ia lihat Khong Lian-he sedang tersedu-sedan dengan perlahan, berduka mengingat rumah tangganya yang berantakan dan anggota keluarganya yang mati. Sedang Pang Ing tampak tertidur nyenyak dalam pangkuan ibunya. "Sumoay," Kata Ong Ling. "urusan sudah telanjur begini, ba-iknya jangan terlalu bersedih, paling perlu hendaklah menyelamat-kan diri dahulu!" "Kasihan anak ini," Dengan air mata masih berlinang Khong Lian-he berkata sambil mengusap muka Pang Ing yang mungil me-merah apel itu. "Baru menginjak umur setahun sudah harus menga-lami rumah tangga berantakan dan keluarga berpisah. Dia dan adik-nya entah kapan baru bisa bersua kembali?" "Ciong-tayhiap berkepandaian tinggi, ia berjanji pula hendak menerima Pang Lin sebagai murid, kukira mereka tak,akan menga-lami apa-apa, harap Suso jangan bersedih," Ujar Hiau-lan. Meskipun Khong Lian-he tergolong wanita gagah perkasa, ta-pi mendadak mengalami malapetaka semacam ini, tak urung hatinya jadi gundah dan tak bisa berpikir dengan baik lagi. "Dan bagaimana, kini kita harus menuju kemana?" Tanyanya dengan hampa. "Kuncu (laki-laki) hendak balas dendam, biar sepuluh tahun masih belum lambat," Kata Ong Ling. "Biar kau ikut aku ke kotaraja saja. Aku tinggal di Piauhang sana, kenalan cukup banyak, lagi pula Hiat-ti-cu di ibukota pun tidak kenal kita, kau dan Titli boleh tinggal bersamaku di sana, nanti kucarikan guru terpandai untuk mengajar ilmu silat padanya, kira-kira jalan ini adalah paling baik." Namun Teng Hiau-lan tidak sepaham dengan Suhengnya, ia berpikir sejenak, setelah itu baru berkata. "Suso, lebih baik kita per-gi ke Thay-hing-san saja!" "Apa? Thay-hing-san?" Tanya Khong Lian-he tak mengerti. "Ya, bukankah dikatakan Ciu-tayhiap tadi bahwa orang-orang gagah dari lima propinsi utara, tiap lima tahun sekali pasti menga-dakan pertemuan di sana?" Hiau-lan menerangkan. "Hari Tiongchiu tahun ini justru adalah hari pertemuan mereka, tempatnya ialah di Thay-hing-san!" "Ada sangkut-paut apa pertemuan orang-orang gagah lima propinsi utara dengan kita?" Tanya Ong Ling. "Usiaku masih muda dan pengalamanku cetek, tetapi melihat kaum Hiat-ti-cu bergerak secara besar-besaran, dapat diduga di be-lakang mereka tentu ada sisa-sisa komplotannya, dari sini perjalanan ke kotaraja terlalu jauh, di tengah jalan akan banyak mengalami ba-haya," Ujar Teng Hiau-lan. "sebaliknya dari sini ke Thay-hing-san hanya beberapa hari saja, dalam beberapa hari ini para ksatria lima propinsi beruntunpun datang, seandainya Hiat-ti-cu berani mengejar kita, sedikitnya mereka harus pikir-pikir’juga." "Huh, kau seperti kenal orang-orang gagah itu saja?" Ejek Ong Ling. "Berdasar apa kau mengharap mereka akan menjadi pelindung kita ? Teng Hiau-lan tidak menggubris ejekan orang, ia melanjutkan omongannya. "Walaupun aku tidak banyak mengenal orang, tapi manusia yang berbudi tentu banyak juga, biarpun bukan sanak fa-mili, kalau melihat ada ketidak-adilan, tentu mereka akan angkat senjata membantu!" Karena kedua orang saling mempertahankan pendirian, Khong Lian-he menunduk sambil berpikir, ia sendiri tidak bisa mengambil sesuatu keputusan. "Sute, kau punya Kiam-hoat siapa yang mengajarkan?" Tiba--tiba Ong Ling bertanya. "Sudah tentu Suhu!" Sahut Hiau-lan. Tetapi segera ia merasa kurang tepat jawabannya itu. "Coba pinjam pokiammu itu!" Kata Ong Ling pula. Melihat Ong Ling mendesak, tiba-tiba Hiau-lan teringat pesan Ciu Jing, kecurigaannya lantas timbul, segera ia menjawab. "Ini adalah pemberian Ciu-tayhiap, ia berpesan sekali-kali tak boleh ber-pisah dengan pedang ini, walaupun Suheng yang minta, terpaksa aku tak berani mengingkari pesan Ciu-tayhiap." Ong Ling menjengek, lalu bertanya lagi. "Kau berasal dari-mana?" "Aku telah piatu sejak kecil dan menggelandang di Kangouw, aku sendiri tak tahu berasal darimana," Sahut Hiau-lan. "Bukankah kau lama tinggal di Kwangwa?" Desak Ong Ling. "Ya," Jawab Hiau-lan. "Untuk apakah Suheng bertanya semua ini?" Ong Ling tidak menjawab, sebaliknya ia berpaling dan berkata pada Khong Lian-he. "Sekian lama aku berada di pintu perguruan Suhu, tapi belum pernah kutahu Suhu bisa menggunakan pedang, Teng-sute baru datang setahun, tiba-tiba Suhu mengajarkan padanya Kiam-hoat yang luar biasa, nyata masing-masing mempunyai jodoh sendiri. Sumoay, kita dibesarkan di tempat yang sama, asal-usul kita cukup jelas. Tetapi Sute ini datang jauh jauh dari Kwangwa, dan Suhu begitu sayang padanya, maka asal-usulnya pasti tidak biasa! Hanya sayang, ia masuk perguruan baru setahun dan Hiat-ti-cu su-dah lantas mengunjungi kita, bukannya aku tahayul, tapi mungkin perbintangannya berpengaruh jelek terhadap jiwa Suhu!" Dengan perkataan Ong Ling itu, terang ia mendakwa asal-usul Teng Hiau-lan tidak jelas, bahkan mengandung tuduhan Teng Hiau-lan yang mendatangkan Hiat-ti-cu membinasakan keluarga Suhu. Sesungguhnya Teng Hiau-lan sudah naik darah dan hampir mengunjuk kemurkaan. Tetapi segera ia ingat bahwa pada saat de-mikian ini tidak seharusnya bertengkar di antara saudara sepergu-ruan sendiri. Padahal asul-usul dirinya memang penuh rahasia yang sukar untuk diterangkan, Suhengnya tidak tahu, pantas dia menaruh curiga. Karena pikiran ini, api amarah Hiau-lan jadi agak reda, ia hanya memandang Khong Lian-he. Dengan penuh perhatian Hiau-lan menunggu sikap Khong Lian-he, ia telah ambil keputusan, apabila Suso atau ipar pergura-annya menaruh curiga, terpaksa ia hendak tinggal pergi. Pada waktu Pang Kong-tiau bercerita dengan Ciong Ban-tong tentang kisah Teng Hiau-lan, Ong Ling masih belum datang, tetapi Khong Lian-he berada di situ, oleh karenanya ia tahu walaupun asal-usul Sutenya ini tidak terang, namun titipan Ciu-tayhiap yang berpesan agar bapak mertuanya mengajarkan ilmu padanya. Maka terhadap perkataan Ong Ling yang bermaksud memecah-belah, ia sangat tidak senang, sebenarnya ia belum berani mengambil sesuatu keputusan, tiba-tiba ia mendongak dan berkata. "Pikiran Teng-sute memang beralasan, marilah kita menuju ke Thay-hing-san dulu!" Ong Ling tercengang oleh ketetapan Khong Lian-he itu. Se-mentara itu dengan menuding Pang Ing, Khong Lian-he melanjut-kan pula. "Kami ibu dan anak selamat berkat pertolongan kalian, kita bertiga hendaklah bersatu-padu menghadapi musuh, bagaima-napun jadinya, pada jelmaan hidup yang akan datang, aku pasti akan membalas budi luhur kalian!" Mendengar ucapan Khong Lian-he ini, Ong Ling insaf dirinya dicurigai hendak memecah-belah, oleh karenanya ia tak berani ba-nyak omong lagi. "Hematku, lebih selamat kalau kita menuju ke kotaraja," Ka-tanya kemudian. "Kalau Sumoay dan Sute sudah menetapkan ke Thay-hing-san lebih dulu, aku yang jadi Suheng, sekalipun harus mengorbankan jiwa akan mengiringi Sumoay ke sana!" Thay-hing-san, sebuah gunung yang terletak di barat laut Ho-lam, jaraknya kira-kira lima hari perjalanan dari Lu-ciu. Menurut perhitungan Khong Lian-he, hari Tiongchiu masih ada tiga hari lagi, begitu tiba di Thay-hing-san, para pahlawan yang berkumpul di sana baru dua hari, jadi mereka masih belum bubar. Sepanjang jalan Ong Ling mengunjuk sikap kurang tenteram, Khong Lian-he mengira tentu akibat perselisihannya dengan Teng Hiau-lan, maka ia tidak menaruh sesuatu curiga. Setelah berjalan dua hari, mereka sampai di kota Lokyang, Ong Ling sudah banyak berpengalaman di Kangouw, dengan sedi-kit memperhatikan saja sudah nampak adanya tokoh-tokoh kaum Lok-lim (kawanan yang hidup di hutan atau gunung, sebutan lain bagi kaum begal atau bandit) berkeliaran di dalam kota, maka diam--diam ia pun waspada. Teng Hiau-lan pun berlaku hati-hati, pada waktu mereka hen-dak mencari pondokan, tiba-tiba nampak Ong Ling memanggut pa-da sekelompok laki-laki tegap, waktu ditanya, Ong Ling mengata-kan bahwa itu hanya rekan sekerja yang tidak begitu rapat hubung-annya, maka cukup sedikit memberi salam saja. Meski ada keterangan begitu, malam itu Teng Hiau-lan tidak berani tidur nyenyak, pedang disiapkan didekatnya dan senjata ra-hasia Hui-bong tergenggam di tangan. la berjaga sepanjang malam, ternyata tidak terjadi sesuatu. Hari ketiga mereka sampai di Bengcin, sebuah kota muara penting dan ramai dengan talu-lintas darat dan sungai. Ketika me-masuki kota, tiba-tiba tertampak serombongan laki-laki kekar tegap sebangsa Soatang (Santung), naik beberapa kereta besar sedang me-nuju keluar kota dengan cepat. Pemimpin rombongan menunggang seekor kuda tinggi bagus berbulu kuning, seorang lelaki yang ber-muka hitam kemerah-merahan. Ketika melihat Teng Hiau-lan bertiga, agaknya laki-laki itu heran, pada waktu berpapasan, mendadak laki-laki tadi bertanya. "Kalian hendak menuju kemana?" "Menyambangi famili di Bengcin sini!" Jawab Ong Ling. "Bukan ke Thay-hing-san?" Tanya pula lelaki tadi. "Bukan, bukan!" Berulang Ong Ling menyangkal. Selagi lelaki itu hendak bertanya lagi, dengan tergesa-gesa Ong Ling lewat dan masuk ke kota, di antara orang-orang yang ada di atas kereta tadipun sedang mendesak kawannya. "Toako, mari le-kas berlalu!" Dengan mengempit kencang kudanya, lelaki itu lantas kabur menyusul kawan-kawannya, tetapi kadang kala masih menoleh me-mandang Ong Ling dan kawan-kawan.. "Siapa dia, Suheng!" Tanya Hiau-lan sesudah mereka masuk ke dalam kota. "Beng Kian-hiong, yang terkenal sebagai orang gagah di Loh-se Holam barat," Ong Ling menerangkan. Teng Hiau-lan pernah mendengar Ciu Jing mengisahkan pah-lawan dan orang-orang gagah zaman ini, maka ia tahu Beng Kian-hiong adalah tokoh kenamaan yang pandai menggunakan ‘Hui-hwe-tan, semacam pelor berapi, dan pemimpin dunia persilatan di Ho-lam barat, maka ia jadi heran. "Malam ini para pahlawan dari lima propinsi utara berkumpul di Thay-hing-san, Beng Kian-hiong tidak ikut hadir, sebaliknya ia datang dari jurusan sana, bahkan tampaknya tergesa-gesa!" Begitu pikirnya dengan tidak mengerti. Maka ia bertanya lagi pada Ong Ling. "Beng Kian-hiong ter-hitung tokoh Bu-lim, kenapa Suheng tak berterus-terang padanya?" Ditanya begitu, hati Ong Ling jadi tidak tenteram, wajahnya mendadak berubah, segera ia berkata dengan menertawai Sutenya itu. "Sute, bukan aku mengolok kau, pengalamanmu di Kangouw memang masih cetek, Kata pepatah. ‘Tahu orangnya, tahu mukanya, tak tahu hatinya’. Apalagi Beng Kian-hiong tiada sesuatu hubungan dengan kita, bagaimana kita boleh sembarang bicara terus terang pa-da orang lain?" Pada waktu mengucapkan itu, ia memandang seke-jap pada Khong Lian-he. "Memang tak salah perkataan Suheng, tiada jeleknya berhati-hati sedikit," Ujar Lian-he. Namun tidak demikian dengan Teng Hiau-lan, ia malah ber-tambah curiga. Malam ini di Bengcin, ia tetap tak berani tidur nye-nyak, sampai esok paginya masih tidak terjadi sesuatu pula. Pada hari keempat mereka sampai di Siubu, sebuah kota kabu-paten kecil. Sebenarnya perjalanan selewatnya Bengcin sudah boleh dikata memasuki tanah pegunungan, tapi sepanjang jalan ternyata ramai orang hilir-mudik. Waktu Ong Ling mengamati, berulang-ulang tertampak tokoh-tokoh kalangan Kangouw yang berpapasan dengan mereka dalam kelompok bertiga atau berlima. Diam-diam Ong Ling bergirang. Sementara itu Teng Hiau-lan pun sudah dapat mencium gela-gat yang agak ganjil, hanya Khong Lian-he saja yang jarang keluar rumah dan kurang pengalaman, ia masih terselimut belum sadar. Malam itu mereka bermalam pada suatu rumah pondok di kota tiiubu, barn saja mereka meletakkan buntalan bekal, tiba-tiba dike-jutkan suara rintihan yang datang dari kamar sebelah. Teng Hiau-lan coba melongok, ia lihat pada pembaringan ka-mar sebelah rebah seorang sakit, di dalam kamar masih duduk dua orang lelaki dan seorang gadis. Gadis itu bermata jeli dan alis lentik, tanda kekanak-kanakan masih belum lenyap, umurnya paling ba-nyak antara lima enam belas saja. Ketika nampak Hiau-lan melo-ngok, dengan bengis anak dara itu pelototkan matanya. "Hai, apa yang kau lihat!" Tegurnya sambil mencibir. Tidak demikian dengan kedua lelaki itu, waktu mendengar su-ara teguran, mereka berbangkit dan lantas Kiongciu (bersoja) sambil berkata. "Khek-koan (tuan tamu), silakan duduk kemari!" Ong Ling coba menahan, namun sudah tak keburu lagi, Hiaulan telah mengeluyur pergi ke kamar sebelah. Yang rebah di pembaringan kamar sebelah memang betul orang sakit, malah selimutnya masih ada noda darah. Ketika Hiau-lan masuk kamar, orang yang rebah sekonyong-konyong bangun, ternyata seorang kakek kurus kering berwajah kuning hangus, tetapi begitu kedua matanya terbentang, sinar matanya yang tajam meng-kilap membikin orang merasa keder. Si kakek memandang Hiau-lan sejenak, lalu menggeleng. "Di depan, orang berilmu tak usah berdusta, katakan apa kau man pergi ke Thay-hing-san?" Tiba-tiba ia bertanya pada Hiau-lan. Karena belum jelas latar belakang orang ini, Hiau-lan tak be-rani mengatakan terus terang, malah sebaliknya ia bertanya. "Apa Locianpwe datang dari Thay-hing-san?" Orang tua kurus kering itu bersuara heran, rnenyusul menda-dak ia mengulur tangan dari dalam selimut dan merangsek ke pun-dak Teng Hiau-lan. Dengan suara kaget, tak tertahan tubuh Hiau-lan tertekan mendak ke bawah. "He, Locianpwe, apa artinya ini?" Tanya Hiau-lan dengan mata membelalak. Si kakek tertawa bergelak, kemudian menarik kembali tangan-nya. "Ah, Lohu (orang tua, sebutan pada diri sendiri) ingin turun dari pembaringan, maka minta tolong kau memapah aku, tak tahu nya kau ternyata begini lemah!" Katanya kemudian. Sementara itu si gadis lekas maju memayang si kakek dan memberi kedipan mata padanya. "Bocah ini bukan orang Kangouw!" Kata si kakek menggeleng kepala pula. Sudah tentu Hiau-lan mendongkol, maka segera ia kiongciu dan mohon diri. "Aku berharap ia bukan orang yang hendak pergi ke Thay-hing-san! Dengan sedikit kepandaiannya ini, jika naik ke gunung itu, seratus jiwanya pun tak akan selamat!" Terdengar si kakek ber-kata perlahan di belakangnya. Suara perkataannya rendah, tetapi tiap katanya jelas tandas, seperti sengaja diucapkan agar didengar Teng Hiau-lan. Dengan rasa mendongkol dan curiga Hiau-lan kembali ke ka-marnya, ia tak mengetahui si kakek itu kawan atau lawan. Ketika Ong Ling bertanya, khawatir ditertawai, Hiau-lan tak berani menceritakan bagaimana dirinya mendapat malu, ia hanya mengatakan mereka tamu perjalanan biasa saja, karena kesepian dalam pengembaraan, maka memanggilnya untuk mengobrol. Sudah tentu Ong Ling tak gampang percaya, ia mengunjuk senyum ejekan, namun Teng Hiau-lan tak menggubris. Malamnya Hiau-lan kembali tak enak tidur lagi. Sampai te-ngah malam, sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan ramai di luar, pintu depan rumah pondokan didobrak orang dan terang-benderang oleh api obor. Ketika Hiau-lan bangun dan mengintip, ia lihat dari luar menerjang masuk belasan laki-laki dan menggeledah setiap kamar dengan mendobrak pintu. Tetapi tamu kamar sebelah tanpa menunggu orang-orang itu datang, sudah mendahului membu-ka piutu, si kakek kurus kering itu berdiri di ambang pintu dengan dipayang si gadis. "Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng ada di sini, jangan ganggu orang lain yang sedang tidur!" Serunya sambil menyandar pintu. Dengan munculnya orang yang mereka cari, rombongan tadi berseru ramai. Mendadak suara aneh berdesiran, tiga bola baja sece-pat kilat menyambar ke jurusan si kakek. "Hiat-ti-cu!" Desis Hiau-lan kaget. Tiba-tiba ia merasa pundaknya tertindih, entah sejak kapan Ong Ling sudah bangun dan memegang pundaknya. "Ada apa?" Bentak Hiau-lan dengan suara tertahan. "Sssst, jangan sembarang bergerak!" Sahut Ong Ling dengan mendesis. Segera Teng Hiau-lan menarik pundak dan mendoyong ke be-lakang, ia punahkan cekalan Ong Ling tadi, karena mendadak kehi-langan imbangan badan, hampir saja Ong Ling terjerembab keluar kamar. "Teng-sute," Lekas ia berkata. "Mereka berkawan banyak, kita pun belum unjuk sesuatu tanda mencurigakan, jangan ikut campur hingga terlibat di dalamnya!" Teng Hiau-lan mengiakan, dalam hati ia berpikir. "Eh, kiranya Suheng masih bermaksud baik, biarlah kulihat perkembangan selan-jutnya." Dalam pada itu, tiga buah Hiat-ti-cu sudah menyambar sampai di atas kepala si orang tua dan baru saja hendak menutup ke bawah, mendadak mumbul dan terbang kembali! Si kakek menarik kedua tangannya dan segera menyambut gendewa dan pelornya dan tangan si gadis, dengan suara bentakan, gedewanya dipentang hingga hampir bulat, segera pelornya laksa-na bintang meluncur menyambar serabutan, kawanan penyatron itu dihantam hingga kalang-kabut, dalam sekejap sudah roboh beberapa orang. Dari pihak lawan tiba-tiba melompat maju seseorang dengan sebat, ia memakai sarung tangan kulit menjangan dan berulang melompat naik turun, ia sambut semua pelor terus dibuang. "Sin-tan (pelor sakti) sudah dicoba, kini coba kau punya thi-cio (tangan besi)!" Teriaknya dengan lantang. Dengan sekali lompat ia sudah sampai di depan si orang tua, kedua tangannya bergerak, kontan dua lelaki di samping si kakek terhuyung mundur ke belakang. Dalam pada itu si kakek telah me-ngirim sebelah telapak tangannya secepat kilat, kedua tangan lawan yang sedang menyerang dengan tepat berpapasan tangan si kakek, tetapi yang tersebut belakangan ini tidak berhenti sampai di situ, tangan kiri cepat memukul pula. "Plak", dengan keras mengenai paha kiri musuh, berbareng si kakek membentak. "Roboh!" Orang itu sempuyungan mundur beherapa tindak. tetapi segera berpaling dan berseru. "Thi-cio pun sudah kurasakan, namun justru tidak roboh seperti keinginanmu. Hayo, maju berbareng tang-kap tua bangka ini!" Menyaksikan gebrakan sengit itu, Teng Hiau-lan terkejut dan melongo, ia pernah mendengar cerita Ciu Jing bahwa Thi-cio-sin-tan (telapak tangan besi pelor sakti) Nyo Tiong-eng adalah orang gagah nomor satu di lima propinsi utara, kemahiran ilmu silatnya di atas Ciu Jing. Tetapi entah mengapa kini ia pun menderita luka? La-gi pula hari ini adalah hari pertemuan para pahlawan di atas Thay-hing-san, kenapa ia malah berada di sini? Sedang orang yang terke-na pukulannya tadi tidak roboh, ilmu silatnya juga sangat tinggi. Sementara itu kedua belah pihak sudah berada dalam perke-lahian yang gaduh dan keroyokan, si lelaki yang menandingi Nyo Tiong-eng mempunyai gerak tubuh dan langkah yang aneh dan gesit sekali. Sebaliknya Nyo Tiong-eng telah terluka parah, gerak-gerik kaki tidak leluasa, tapi kedua kakinya menancap begitu kuat laksa-na gunung yang tak tergoyahkan, angin pukulannya menyambar de-ngan sangat lihai, sejauh delapan kaki di sekitarnya, musuh tak be-rani coba mendekatinya. Si gadis tadi dengan menggunakan ‘Liu-yap-to’, golok berben-tuk sempit seperti daun Liu, tidak pernah meninggalkan si orang tua, sinar goloknya yang gemerdep dimainkan dengan cepat, ilmu golok yang dimainkan ternyata cukup lihai. Selamanya belum ada orang yang sanggup menerima satu kali pukulan Nyo Tiong-eng, tetapi kini musuh tidak roboh dipukulnya, mau tak mau ia terperanjat juga.-"Yang datang ini apa murid Pat-pi-sin-mo?" Bentaknya berta-nya sesudah pertempuran lewat tak lama lagi. Tapi segera dijawab lawannya dengan tertawa aneh. "Kau ber-untung bisa lolos di bawah telapak tangan Suhuku, kini justru kau ketumbuk padaku, apa yang hendak kau katakan. Thi-cio-sin-tan, hari inilah hari ajalmu!" Sesudah itu mendadak ia menubruk maju dan menyerang de-ngan cepat, Nyo Tiong-eng tidak unjuk kelemahan, telapak tangan-nya menyambar berulang-ulang, tetapi gerak tubuh orang itu sangat cepat, begitu berkelit segera ia maju pula, ia tak membiarkan dirinya terkena pukulan lawan, agalulya ia sengaja hendak membikin letih Nyo Tiong-eng. Karena tak bisa bergerak dengan leluasa, maka Nyo Tiong-eng berada di pihak lemah, meskipun kepandaian silatnya berada di atas lawan, namun ia tak mampu mengejar dan menggempur lawannya. Tiba-tiba ia mendapat akal, pura-pura ia gerakkan tangan kiri, selagi lawan mengegos ke samping, mendadak Nyo Tiong-eng me-langkah maju setindak dan tangan kanan segera memukul dengan cepat, segera terdengar jeritan ngeri, seorang musuh yang mengero-yok si gadis dihantam hiigga terpental jauh dengan kepala remuk. Seketika musuh yang mengeroyok jadi kalang-kabut. "Serang bagian bawah anak dara itu!" Lelaki tadi berseru. Kemudian ia sendiri melompat dan menerkam, ia hendak men-cengkeram si kakek. Nyo Tiong-eng menyambut musuhnya dengan satu pukulan ke atas, tetapi lawan sudah menancapkan kaki ke sam-ping kiri dengan perlahan untuk kemudian mendadak kakinya me-nyapu, si gadis memang kurang kuat latihan kakinya, terpaksa harus mundur untuk menghindari serampangan musuh, karena itu membe-ri kesempatan pada lawan yang lain, dengan beramai mereka maju memotong ke tengah antara si kakek dan si gadis! Si gadis dan dua orang Suhengnya menghadapi musuh tang-guh, beruntun mereka harus berhadapan dengan maut, sedang Nyo Tiong-eng sendiri kena dipaku oleh murid ‘Pat-pi-sin-mo’ (Iblis sakti bertangan delapan), ia tidak bisa berkutik. Dalam pertarungan sengit itu, mendadak Nyo Tiong-eng kena dicakar sekali, pundak kanannya mengucurkan darah, kulit dagingnya terbeset, untung, la-wan tadi sudah terkena pukulannya hingga tenaganya banyak ber-kurang, kalau tidak, cakaran tadi pasti berarti maut baginya. Si gadis berseru terkejut karena si orang tua terluka, ia sendiri hampir kena dibacok musuh sebab lengahnya itu. "Jing-ji, lekas gunakan Soan-hong-sau-yap-ngo-hou-toan-bun-to!" Nyo Tiong-eng meneriaki gadisnya. Mendadak si gadis sadar, ia menurut, tipu silatnya segera ber-ubah, sinar golok berkilauan, ia selalu menyerang dari bawah ke atas untuk melindungi kuda-kudanya yang kurang kuat, beberapa lawan menjadi kelabakan menghadapi ilmu golok ‘Angin puyuh’ yang lihai ini. Tak lama kemudian kembali terdengar Nyo Tiong-eng berte-riak, pundak kirinya terluka pula oleh cengkeraman musuh, saking gugupnya keringat mengucur deras sebesar kedelai. Sebenarnya Teng Hiau-lan merasa dongkol terhadap si kakek, sesudah tahu orang adalah Nyo Tiong-eng, pandangannya berubah dan rasa hormatnya lantas timbul. la siapkan senjata rahasia Hui-bong, dengan menggunakan tenaga dalam ia rusak ruji jendela, be-runtun ia ayun kedua tangannya, Hui-bong di tangan kanan ia incar si lelaki dan Hui-bong di tangan lain dihamburkan pada musuh yang mengeroyok si gadis. Senjata rahasia Hui-bong, semacam duri tumbuhan kecil tapi keras dan hanya terdapat di Thian-san, bobot sangat enteng. Secara mendadak dihamburkan waktu kedua belah pihak sedang bertempur sengit, kontan beberapa anggota Hiat-ti-cu yang mengeroyok si ga-dis segera menjerit, agaknya ada dua orang yang terkena Hui-bong dan roboh, sedang sisanya yang lain beramai lantas lari berpencar. "Pengecut darimana hanya berani membokong?" Damprat me-reka penasaran. Lelaki tadi berilmu silat tinggi, meski berada dalam pertarung-an sengit, matanya selalu mengawasi enam arah, yaitu, timur, barat, utara dan selatan, ditarnbah atas dan bawah. Sedang telinga selalu mendengarkan delapan penjuru. Meskipun suara sambaran Hui-bong begitu halus, tapi segera ia berasa, di antara seruan orang, tiba-tiba ia melompat pergi dan pa-sang kuping mendengarkan dengan cermat, sesudah itu mendadak ia melompat lagi melayang ke tempat persembunyian Teng Hiau-lan! Ong Ling tidak tahu bahwa Teng Hiau-lan diam-diam mele-paskan senjata rahasia, melihat lelaki itu menubruk ke tempatnya, ia sangat terkejut dan lekas mendekam menyembunyikan diri ke pojok kamar. Berlainan dengan Teng hiau-lan yang segera menyambut de-ngan segenggam Hui-bong. Namun lelaki itu tertawa terkekeh, ia kibaskan lengan bajunya dan Hui-bong yang dihamburkan itu se-rentak menyambar balik, lekas Hiau-lan mendekam ke bawah, me-nyusul ia dengar suara nyaring gemerisik tiada hentinya! Ternyata Hui-bong menerobos di antara ruji jendela dan me-nancap di dinding. Dalam pada itu, terdengar suara "kraak" , ruji jen-dela patah, sebuah tangan besar lebar menyelonong masuk, malah membawa angin santar. Dalam sekejap itu Teng Hiau-lan merasa-kan kulit kepalanya dingin dan kaku, segera ia akan kena diceng-keram orang. Syukur dengan gerakan ‘Le-hi-tah-ting’ atau ikan lele meletik, ia sempat menggelundung pergi sejauh lebih setombak, dan pada saat itu juga terdengar di luar ada orang mencaci-maki. "Tak tahu malu, tua menganiaya muda!" Menyusul terdengar suara benturan keras seperti kayu besar yang saling tumbuk, tangan aneh tadi mendadak menyurut lenyap dan suara bentakan tadipun berhenti seketika. Walau tubuh Teng Hiau-lan kecil, tapi hatinya tabah, segera ia herdiri kembali dan mengintip keluar, ia lihat di luar sudah bertam-bah dua tamu aneh, yang seorang kurus jangkung, biji mata putih mendelik, seorang lagi gemuk kate, tingginya kira-kira hanya lima kaki. kedua orang ini bertangan kosong dan sedang mengawasi si lelaki tadi. Sementara itu di lantai bergelimpangan lima enam orang, en-tah roboh terpukul oleh dua tamu aneh ini atau kena dijungkalkan pukulan Nyo Tiong-eng. "Kalian Kwantang-si-hiap ternyata juga ikut berkecimpung dulam air keruh ini!" Terdengar si lelaki tadi berseru aneh. "Kalau begitu, hari ini ajalmu sudah sampai!" "Kami empat saudara tidak takut langit dan tak gentar bumi, si ihlis tua gurumu saja ingin kami temui, jangankan hanya Bu-beng-siau-cut (orang kecil tak ternama) macam kau ini!" Jawab si kate dengan tertawa. "Tang Thay jing, lebih baik kau panggil Suhu dan Sui0kmu yang maju, tangan kami tidak sudi membunuh manusia tak terrnama" Baru kini Teng Hiau-lan mengetahui si lelaki yang menempur Nvo Tiong-eng tadi bernama Tang Thay jing. Diam-diam ia mem-batin. "Orang macam apakah Tang Thay jing ini? Ciu-pepek yang biasanya suka bercerita tentang tokoh dunia persilatan, selamanya belum pernah menyebut namanya, kelihatannya ilmu silatnya tidak dibawah Ciu-pepek, namun kedua orang yang datang belakangan ini menyebutnya sebagai Bu-beng-siau-cut, kalau begitu ilmu silat mereka berdua tentu sukar diukur. Tang Thay jing menyebut mere-ka Kwantang-si-hiap (empat pendekar dari Kwantang, timur luar tembok besar disebut Kwantang), kalau begitu tentu masih ada dua orang lagi yang belum datang." Dengan tertawa cekikikan aneh, mungkin saking gusar dan dongkol, Tang Thay jing mengulur tangan hendak menjambret si jangkung. "Site, kau lempar semua orang itu keluar!" Seru si jangkung pada si kate, sesudah itu tiba-tiba ia bersiul panjang dan sepuluh jari tangannya menjulur, tiap jarinya memakai sebuah cincin baja, jam-bretan Tang Thay jing sampai setengah jalan lekas diurungkan, lalu tubahnya sedikit mendak, ia ubah jambretan menjadi menyerang ba-gian bawah lawan. Si jangkung bertubuh panjang dan tangan juga panjang, de-ngan kedua tangan ia menekan ke bawah, dalam sekejap itu mereka sudah bergebrak beberapa jurus. Tiba-tiba Tang Thay jing berseru aneh, ia berjongkok, dengan gerak `Boan-liong jiau-poh’ (naga melilit melingkar langkah), kaki-nya menyapu berulang-ulang secepat kitiran hingga merupakan se-gulungan bayangan hitam, lalu ia menyerang sebelah bawah lawan dengan gerakan aneh itu. Si jangkung berlompatan berkelit dengan gesit, kalau Tang Thay-jing menyerang makin cepat, maka ia pun melompat lebih cepat, dengan begitu pertarungan mereka menjadi susah ditentukan. Agaknya Tang Thay jing insaf kelihaian musuh, maka ia gu-nakan gerak ‘Boan-liong-jiau-poh’ buat menyerang lawan yang ber-perawakan jangkung, ia menjambret dan menendang selangkangan orang, tempat kelemahan lawan. Tak terduga, Gin-kang (ilmu en-tengkan tubuh) lawan ternyata jauh di atasnya, sedang ‘Boan-liong-jiau-poh’ adalah ilmu silat yang menempel di atas lantai dan harus banyak mengeluarkan tenaga, maka tidak mungkin bertahan lama. Karena itu diam-diam ia mengeluh. Saat itu suasana dalam rumah pondokan itu menjadi riuh ra-mai dengan jerit tangis bercampur-aduk. Si kate mengunjuk ketang-kasannya, ia menghantam dan menjambret, pukulan seperti geledek dan jambretannya laksana kaitan besi, para Hiat-ti-cu lari tunggang-langgang, tenaga si kate ternyata besar luar biasa, Gwakangnya su-dah mencapai puncak kesempurnaan, begitu musuh tercekal segera dibuang keluar, satu tangan satu orang, bagai mencekal anak ayam, hanya sekejap saja kawanan Hiat-ti-cu itu sudah kena dilempar satu per satu. Sementara itu Tang Thay-jing pura-pura memukul, kembali si jangkung bersiul panjang, kedua tangannya mengayun berbareng, sepuluh cincin di jari tangannya menyambar sekaligus, di antara angin pukulan dan bayangan cincin itu, mendadak terdengar Tang Thay-jing menjerit ngeri, sekonyong-konyong ia melompat pergi dengan berjumpalitan. Si kate masih hendak mengejar, tetapi segera ditahan oleh si jangkung, katanya. "Ia sudah terkena tiga buah cincin bajaku, tepat mengenai jalan darahnya, ia masih sanggup kabur, terhitung musuh tangguh, biarkan dia kabur!" Sejak Kwantang-si-hiap tonjolkan diri, bilamana musuh bisa lari di bawah ilmu silat mereka, menurut kebiasaan, mereka tidak mengejar untuk menghabisi jiwanya, oleh karena itu si kate menu-rut, tidak jadi mengejar. "Apa murid si iblis tua itu juga demikian lihai?" Tanyanya de-ngan mata terbuka lebar. "Sudahlah Site, urusan sudah telanjur begini, kita berusaha se-kuat tenaga!" Sahut si jangkung. Perkataannya ini seperti mengan-dung nada khawatir terhadap ‘iblis tua’ yang dimaksud. Dalam pada itu Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng yang sudah ter-luka parah dan harus mengalami pertempuran sengit pula, wajahnya tampak putih pucat dan sempoyongan hendak roboh. "Samko dan Siko, aku telah merembetkan kalian ikut mena-nam dendam dengan musuh tangguh, bagaimana baiknya nanti?" Kata orang tua itu dengan napas memburu. "Nyo-toako, sudah lama kita saling mengagumi nama masing-masing, hari ini bisa bertemu, sungguh sangat menggirangkan," Sa-hut si kate. "Hian Hong Toako minta aku menyampaikan salam pa-damu, malah membawakan obat pula bagimu, ia bilang sesudah per-temuan Thay-hing-san, kalau beruntung selamat, kelak tentu akan berkunjung ke tempatmu." "Terima kasih kepada Toako kalian yang berbudi, tetapi hen-daklah kalian hati-hati juga!" Kata Nyo Tiong-eng pula. "Baiklah Nyo-toako!" Sambung si jangkung sambil memberi hormat. "Tempo sudah mendesak, harap kau lekas berangkat!" Sesudah itu ia maju memayang Nyo Tiong-eng. Sebaliknya dua lelaki dan si gadis mengawasi mereka dengan melongo. Ong Ling sementara itupun sudah tenang kembali dari kaget-nya dan telah berdiri, tapi tiba-tiba seperti terasa angin sepoi meng-hembus membawa hawa dingin masuk ke dalam kamar. "Teng-sute, Teng-sute!" Ia memanggil. Sementara Teng Hiau-lan pun merasa ada angin tajam me-nyambar lewat, dengan cepat ia menoleh, tapi tidak tertampak sesu-atu apapun. Sebaliknya dari luar berkumandang suara tertawa nya-ring si gadis. "Anak muda, banyak terima kasih kepadamu!" Katanya de-ngan melambaikan tangan. Waktu Teng Hiau-lan melongok lagi, Nyo Tiong-eng bersama rombongan dan Kwantang-si-hiap sudah berangkat. Habis pertempuran sengit selesai, baru orang-orang dalam ru-mah pondokan itu menjadi ribut dan membuka pintu kamar untuk melihat apa yang telah terjadi. "Ong-suheng, Teng-sute, lekas kernari, lekas!" Tiba-tiba terde-ngar Khong Lian-he memanggil di dalam kamar. Ketika Teng Hiau-lan masuk ke kamar, ia lihat Khong Lian-he membopong Pang Ing sedang duduk di pembaringan dengan muka mengunjuk rasa khawatir. Sementara Pang Ing mengayun kedua ta-ngannya yang kecil sedang menangis. "Sumoay, kau tidak kaget bukan?" Tanya Ong Ling dengan le-mah lembut. Khong Lian-he tidak menjawab, sebaliknya ia lantas menu-ding ke atas meja dan berkata. "Lihat!" Ternyata di atas meja tertancap sebilah belati dan secarik ker-tas terpaku di antaranya dengan tulisan. "Lekas kembali ke jalan se-mula, jangan menuju ke Thay-hing-san!" "Orang yang meninggalkan surat ini bermaksud baik, kalau berniat mencelakai kita, apa kita masih bisa hidup?" Ujar Teng Hiau-lan. "maka dari itu Soso tidak perlu takut!" "Kongkong dan suamiku sudah meninggal, apa yang masih kutakuti?" Sahut Khong Lian-he. "Cuma anak yang begini mungil ini, bagaimanapun jadinya, aku harus membesarkannya." Pang Ing ternyata sangat cerdik, tadi waktu di luar sedang ra-mainya pertarungan, ibunya dengan kencang merangkul di pangku-an, nampak wajah ibunya rada berlainan, sedikitpun ia tidak berani bergerak, tetapi kini melihat perubahan wajah ibunya, baru ia me-nangis. "0, mestikaku, jangan menangis, ibu ada di sini!" Dengan menciumi muka Pang Ing yang kecil mungil, Khong Lian-he me-nimang. Sepasang mata, Pang Ing yang bundar jeli berkerling meman-dang, melihat ibunya tertawa, ia pun berhenti dari tangisnya dan ikut tertawa. Dalam pada itu Teng Hiau-lan teringat sesuatu, ia keluar ka-mar, tetapi segera ia lihat di atas dinding tembok telah menancap sebilah belati pula. "Teng-sute, ada apalagi?" Tanya Khong Lian-he yang ikut ke-luar sambil membopong Pang Ing. Waktu melihat belati yang me-nancap di tembok itu, ia jadi terperanjat. Teng Hiau-Jan mencabut belati yang tertancap itu, di ujung be-lati juga terpaku secarik kertas, Khong Lian-he mencomot kertas itu, ternyata di atasnya tertulis maksud yang sama, gaya tulisannya sama pula dengan surat tadi. "Sute, menurut pendapatmu, apa artinya ini?" Tanya Khong Lian-he dengan berkerut kening. Meskipun usia Hiau-lan masih muda, tapi pengetahuannya cu-kup banyak, ia merenung. "Mungkin ini petunjuk kaum Cianpwe, menurut aku, sebaik-nya kita batalkan niat ke Thay-hing-san!" Katanya kemudian. Dalam pada itu Ong Ling pun sudah datang mendekat, men-dengar ucapan Hiau-lan, tiba-tiba ia mengomel. "Yang mengajak pergi ke sana adalah kau sendiri, kini yang berkata tidak ke sana juga kau, seperti anak-anak saja?" Sedapat mungkin Hiau-lan menahan amarahnya, segera ia ber-kata. "Suheng, orang tua di kamar sebelah tadi ialah Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng yang namanya tersohor di lima propinsi utara." "Ada apa kalau Nyo Tiong-eng?" Sahut Ong Ling dingin. "Tadi malam adalah Tiongchiu, saat pertemuan para pahlawan di Thay-hing-san," Teng Hiau-lan menjelaskan. "Tokoh seperti Nyo Tiong-eng tentu hadir, tapi kini ia datang dari jurusan sana. Aku menduga tentu di atas gunung telah terjadi sesuatu." "Kau hanya melamun dan bingung sendiri," Ujar Ong Ling. "Nyo Tiong-eng terang terluka parah, bergerak saja susah, bagai-mana pula ia bisa meninggalkan pisau dan surat dalam sekejap di dua tempat?" "Aku toh tidak bilang surat belati itu perbuatan Nyo Tiong-eng," Sahut Hiau-lan. "kalau kawan atau keluarganya yang berbuat, kan sama saja? Lagi pula Hui-hwe-tan Beng Kian-hiong yang kita jumpai tempo hari juga datang dari jurusan Thay-hing-san, dengan menghubungkan kedua peristiwa ini, kalau menuju ke sana mungkin lebih banyak celaka daripada selamat!" Mendengar itu, Ong Ling berpeluk tangan dan tertawa dingin. "Apa yang kau tertawakan, Suheng?" Tanya Khong Lian-he kurang senang. "Teng-sute ternyata bernyali kecil," Jawab Ong Ling. "Tahu begitu, siang-siang menurut perkataanku saja menuju ke kotaraja, kan tak perlu berjalan begini jauh dengan sia-sia?" "Dimana-mana terdapat musuh, apa betul selangkah saja susah bertindak bagi kita?" Khong Lian-he menghela napas, pikirannya sudah bingung dan buntu. Tiba-tiba hati Hiau-lan tergerak, pikirnya. "Jika tidak ke Thay-hing-san, tentu harus ikut Ong-suheng ke kotaraja. Bagaimana ting-kah laku Ong Ling belum diketahui dengan pasti, aku masih tak me-ngapa, tetapi Suso mungkin akan terjebak olehnya." Lain ia berpikir lagi. "Perkataan Suso pun tidak salah, musuh berada dimana-mana, dapat menghindarkan yang ini belum tentu bisa menghindarkan yang lain, tempat para pahlawan lima propinsi utara bertemu adalah pegunungan tinggi dan banyak bukit curam, seumpama dikepung puluhan ribu tentara pun, musuh tak akan bisa berbuat apa-apa ter-hadap mereka." "Bagaimana? Jadi tidak ke Thay-hing-san?" Ong Ling meng-ejek, ia lihat Hiau-lan sedang menunduk kepala berpikir. Mendadak Hiau-lan mendongak, dengan mantap ia berkata. "Seandainya goa macan dan sarang naga juga harus kita terobos, be-sok kita segera menuju ke gunung itu!" Walaupun Khong Lian-he dibesarkan bersama Ong Ling sejak kecil di suatu kampung, tetapi setelah mengalami perubahan besar ini dan jalan bersama beberapa hari, ia malah merasa Teng Hiau-lan lebih simpatik dan jujur. Maka mendengar perkataannya tadi, segera ia menyatakan setuju. "Sudah sampai di sini, Thay-hing-san di depan mata, menurut aku, baik juga menuju ke sana," Katanya mengangguk. "Mengharap di gunung itu kita bisa bertemu dengan sahabat Ciu-tayhiap." Besok paginya, mereka lantas berangkat dari Siubu, setelah menempuh lima enam puluh li, menjelang lohor mereka sampai di kaki gunung. Sepanjang jalan, jarang orang berlalu-lalang, setelah memasuki daerah pegunungan, keadaan makin sepi. "Pertemuan besar para pahlawan lima propinsi utara di sini, mengapa tidak tampak ada orang menyambut di mulut gunung?" Pikir Teng Hiau-lan dalam hati, ia merasa sangsi. Thay-hing-san adalah gunung yang cukup tinggi dengan hutan lebat dan rindang, banyak terdapat bukit dan puncak di sana-sini di-selubungi kabut tebal. Mereka bertiga mendaki ke atas dengan me-nembus semua rintangan duri belukar. Sesudah setengah harian, ma-sih juga keadaan sunyi-senyap, hanya tampak burung beterbangan, tapi tak mendengar suara manusia. Mendadak Teng Hiau-lan menghentikan langkahnya, sedang Khong Lian-he pun penuh dengan rasa sangsi. "Teng-sute, kita lanjutkan perjalanan tidak?" Tanyanya. Baru saja habis perkataannya, mendadak terdengar suara suit-an, kemudian di antara rumput alang-alang yang tinggi lebat sejauh puluhan tombak sana terdengar suara kresekan, lekas Teng Hiau-lan menarik Khong Lian-he berjongkok ke bawah, menyusul di antara alang-alang lebat tadi tiba-tiba melompat keluar beberapa orang. Tidak kepalang kaget Hiau-lan ketika melihat yang muncul itu. Pemimpin orang-orang itu mencekal tongkat berujung kepala naga, ternyata bukan lain ialah Liong Bok-kong! Sementara itu Ong Ling hendak bergerak, namun Teng Hiau-lan keburu memegang pundaknya sambil berkata dengan berbisik. "Suheng, jangan sembarang bergerak!" Tempat dimana tangannya mencengkeram adalah Pi-pe-kut di pundak, yakni tulang lemas yang menghubungkan lengan dan pun-dak yang menjadi ciri kelemahan tubuh manusia. Keruan Ong Ling terkejut dan khawatir hingga berkeringat dingin. "Sute, jangan berguyon!" Katanya dengan wajah berubah. "Rebahlah! Apa kau sengaja biar dilihat musuh?" Sahut Teng Hiau-lan. Terpaksa.Ong Ling menurut, ia tiarap di antara rumput alang-alang dan tak berani berkutik sedikitpun. Waktu Hiau-lan meng-intip, ia lihat Liong Bok-kong sedang pentang mata yang tinggal satu itu dan memandang sekelilingnya. "Aku seperti mendengar ada suara orang, mengapa mendadak lenyap!" Katanya kepada kawan-kawannya. Orang-orang yang datang bersamanya, semua berseragam hi-jau ringkas dan tangan menghunus golok, di pinggang setiap orang menggelantung dua bola baja, terang itulah Hiat-ti-cu. "Hai, kawan! Mau mencari jalan atau mau ikut hadir dalam pertemuan? Lekas unjukkan diri!" Terdengar seorang di antaranya berkata dalam bahasa rahasia (sandi) kalangan Kangouw. Khong Lian-he tidak paham bahasa rahasia yang diucapkan itu, Teng Hiau-lan diam-diam khawatir, ia menyangka jejak mereka sudah konangan, tetapi dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan ia te-tap tak bergerak. Karena tiada sesuatu jawaban, sesudah agak lama, terdengar pula suara serak membentak. "Hai, kawan! Jika masih tidak unjukkan diri, terpaksa kami sambut dengan senjata rahasia!" Teng Hiau-lan mendekam di antara rumput alang-alang lebat, di sampingnya teraling batu cadas besar yang berserakan, ia mem-batin. "Musuh berteriak dan membentak tak keruan, pasti belum mengetahui tempat persembunyianku, biar saja, tak usah digubris." Karena masih tetap tidak memperoleh jawaban, maka di antara kawanan Hiat-ti-cu itu saling kedip mata, kemudian seorang di an-taranya berkata. "Go-seng-ho-kiat (orang gagah lima propinsi) se-muanya sudah terpukul mati atau luka, kinipun sudah lewat dua ha-ri, kecuali orang sendiri, siapalagi yang masih berani naik gunung! Apa bukan Liong-toako yang salah dengar!" Dikatakan salah dengar, Liong Bok-kong menjadi murka, ia banting tongkatnya hingga bersuara keras, matanya yang tunggal mendelik, kemudian ia mendamprat. "Meski aku hanya sebuah ma-ta, tetapi lebih terang penglihatanku dibanding kalian sepuluh mata, dengan jelas kudengar suara manusia, apakah kalian semua tuli?" Lima hari yang lalu Liong Bok-kong terluka dalam pertarung-annya dengan Ciu Jing, kecuali matanya terbuta sebelah, luka lain-nya yang diderita bukan luka dalam yang parah, oleh karena itu, se-sudah berobat, berkat kesempurnaan Lwekang yang dalam, ia masih terus mengejar Teng Hiau-lan dan kawan-kawan bersama Lui Hay-im dan mencari jejak musuh sepanjang jalan. Teng Hiau-lan bertiga terdiri dari dua laki-laki dan satu wa-nita, sedang Khong Lian-he ialah wanita cantik dengan membopong bayi mungil, tentu sangat menarik perhatian orang, maka Liong Bok-kong dan kawan-kawan bisa menguntit terns dan akhirnya ter-susul sampai di Thay-hing-san. Pada waktu mereka mendaki gunung, karena jalanan yang me-reka tempuh berlainan, rombongan Liong Bok-kong tiba lebih dulu di atas gunung, orang-orang Si-hongcu ternyata masih belum bubar, Liong Bok-kong dan Lui Hay-im lantas menghadap kedua iblis tua, Ahirnya Lui Hay-im tertahan di sana untuk sesuatu urusan, sedang Liong Bok-kong dengan membawa tujuh delapan anggota Hiat-ti-cu lainnya ditugaskan menggeledah ke seluruh gunung. Sementara itu luka Liong Bok-kong sudah sembuh, maka ta-biatnya yang takabur dan berangasan timbul kembali. Atas damprat-an tadi, para Hiat-ti-cu tak berani buka suara, mereka mandah saja. "Apa kerjamu, hayo periksa tempat ini!" Teriak Liong Bok-kong sambil tongkatnya diketok-ketokkan pula. Teng Hiau-lan tidak berani mencabut pedang, diam-diam ia si-apkan segenggam Hui-bong di tangan, ia menanti bila kaum Hiat-ti-cu mendekat, segera ia hendak mengadu jiwa. Segera para Hiat-ti-cu mulai melakukan pemeriksaan, ketika hampir mendekati dimana Teng Hiau-lan dan kawan-kawan berada, tiba-tiba Liong Bok-kong mengangkat tongkat menuding ke timur sambil membentak. "Itu, musuh telah datang!" Para Hiat-ti-cu menarik diri dan berhimpun, sedang Hiau-lan menghela napas lega. la bersandar pada batu cadas untuk mengintip lebih jauh, ia lihat dari bawah gunung sana terlihat dua titik hitam, dengan cepat titik hitam itu menjadi besar dan sekejap saja sudah tiba di depan mereka. Kini dapat terlihat jelas, yang seorang ialah Tosu (imam) berjubah hitam, tangan kiri-mencekal tongkat dan ta-ngan kanan menenteng pedang panjang, mata bersinar, lagaknya ga-gah. Menyusul di belakangnya seorang Hwesio gemuk, bertangan kosong tanpa senjata, hanya di pinggangnya menggantung sebuah holo besar (buli-buli, semacam labu bundar berbentuk gitar). "Hai, kalian siapa? Orang yang Si-hongcu kirim atau kawan tua bangka Nyo Tiong-eng?" Tanya Liong Bok-kong menggertak. Si imam jubah hitam tertawa. "Mendengar perkataanmu, kau tentu orang yang Si-hongcu ki-rim bukan? Ha, justru aku sedang mencarimu!" Mendadak tongkatnya mengayun dan pedangnya menusuk da-ri bawah, waktu Liong Bok-kong mongangkat tongkatnya menang-kis, segera ia tergetar mundur. "Ehm, boleh juga kau!" Ujar si imam dengan tertawa. la berkata, tetapi senjatanya tidak pernah berhenti, pedangnya berkelebat beberapa kali, segera darah mengucur memenuhi muka dua anggota Hiat-ti-cu, empat daun kuping mereka ternyata sudah terkupas seluruhnya dan kena digulung lengan baju si imam. Kesebatan beberapa serangan imam itu sungguh cepat luar bi-asa dan tak pernah dilihat Liong Bok-kong selama hidup, maka se-gera ia memberi tanda sambil berseru. "Lepaskan senjata rahasia!" Menyusul dalam sekejap suara aneh telah menggema di ang-kasa, enam bola baja menyambar dengan suara menderu. "Haha! Barang permainan anak-anak saja dipertunjukkan di sini!" Seru si imam sambil tertawa panjang. Sementara itu sebuah Hiat-ti-cu telah sampai di atas kepala-nya, si imam jubah hitam menyambut dengan tongkatnya, sekali menutul, bola bundar itu terbang balik dan bertumbukan dengan Hiat-ti-cu lainnya serta segera menjeplak terbuka, pisau di dalamnya bertebaran menyambar keluar, secara tangkas si imam memutar tongkatnya menyapu dan menghantam, enam bola baja kesemuanya dihantam remuk, sedang pedangnya mengayun dengan cepat, hujan pisau tadi telah disapu bersih hingga terpental membentur batu ca-das, lelatu api bercipratan, para jagoan Hiat-ti-cu lari serabutan. Paras Liong Bok-kong berubah gelap, ia enjot tubuh hendak kabur, tetapi si imam telah mendahului menggertak. "Lari kemana!" Sesudah itu secepat anak panah lepas dari busumya ia melesat maju, tongkat di tangan kiri dengan gerakan ‘Pao-liong-kau-hay’ (naga jahat membikin ribut lautan), dengan membawa angin mende-ru ia menghantam. Liong Bok-kong memalangkan tongkatnya ke atas untuk me-nangkis, segera merasakan satu kekuatan yang luar biasa besarnya menindih dari atas. Sebenarnya Liong Bok-kong tidak lemah, tetapi ternyata ia tidak tahan kena kemplangan itu, `Liong-thau-kuay-tiang’, tongkat berujung kepala naga miliknya terlepas dari tangan dan terbang, tongkatnya adalah bikinan baru waktu ia lewat kota Lokyang, bobotnya sedikit lebih enteng dari yang lama, tapi bera-dunya senjata tadi membuatnya patah menjadi beberapa potong. Sementara itu tongkat dan pedang si imam telah menyerang pula berbareng, pedangnya dengan gerakan `To-sia-thian-ho’ (air sungai menggerujuk), sinar pedang laksana disiramkan mengurung dari atas, untung dengan gerakan ‘Hui-hoa-kwi-uh’ (bunga terbang menggulung air hujan), dengan langkah cepat Liong Bok-kong ma-sih sempat menerobos pergi di bawah sinar pedang, sungguhpun Ginkangnya luar biasa, namun tidak urung ia rasakan sebelah teli-nganya silir-silir dingin, di belakangnya terdengar si imam jubah hi-tam sedang tertawa tergelak. "Kau sanggup menghindarkan setengah seranganku, terhitung boleh juga, biarlah kau pergi!" Seru si imam. Kiranya si imam jubah hitam itu bermaksud mengiris kedua daun kupingnya, tetapi saking cepat gerak tubuh Liong Bok-kong, serangan si imam sekaligus meliputi beberapa gerakan, hanya ber-hasil mengupas sebelah daun kuping Liong Bok-kong yang kanan saja. Kiam-hoat si imam menjagoi daerah utara, selama hidup ia bangga akan kepandaiannya itu, maka siapa yang bisa lari di bawah pedangnya, seperti biasa, ia tidak mengejar. Dalam pada itu, para Hiat-ti-cu yang sudah kehilangan sen-jata, beramai membalik tubuh hendak lari. Si Hwesio gemuk ternyata mempunyai gerak tubuh yang cepat sekali, kaki menutul, tubuhnya lantas melesat, pandangan para Hiat--ti-cu mendadak menjadi gelap, seakan di atas kepala mereka segum-pal awan hitam melayang lewat, waktu mereka membuka mata, si Hwesio gemuk sudah berdiri di depan dengan tertawa, sedang ta-ngannya memegang holo besar yang tadi tergantung di pinggang. "Eh, jangan buru-buru! Pinceng (Hwesio miskin) menyuguh minum arak dulu!" Katanya dengan menggeleng kepala. Sesudah itu ia angkat holo dan meneguk ke mulutnya, pada kesempatan itu para Hiat-ti-cu secara serentak menyerbu maju, tapi belum sampai mereka mendekat, si Hwesio gemuk mendadak mern-buka mulut menyemprot, dalam sekejap bau arak semerbak, arus arak menyemprot dari depan, para Hiat-ti-cu merasa pandangan bu-yar dan sakit pedas, kemudian gelap gulita, sedang telinga mende-ngar suara gelak tertawa si Hwesio yang menggema menggetar suk-ma, keruan tanpa menghiraukan lagi mata yang kesakitan, di antara batu pegunungan yang berserakan dan lekak-lekuk, tujuh delapan Hiat-ti-cu berpikiran sama, mereka menjatuhkan tubuh terus meng-gelundung ke bawah gunung. Si Hwesio gemuk pun tidak mengejar lebih jauh, dengan ber-gelak tertawa ia tanya rekannya. "Toheng, berhasilkah kau?" "Hanya dapat separoh, dan bagaimana denganmu?" Sahut si imam jubah hitam. "Aku pun tidak berhasil seluruhnya, hanya dapat menyemprot buta tiga belas biji mata anjing!" Jawab si Hwesio. Kiranya di antara delapan Hiat-ti-cu tadi, lima di antaranya ke-dua matanya terbuta semua, tetapi ada tiga orang yang hanya buta sebelah saja tersemprot arak. Menyaksikan pertunjukan itu, Ong Ling hampir semaput keta-kutan. Beruntung tadi ia ditahan oleh Teng Hiau-lan hingga tidak sembarang bergerak, kalau tidak, entah apa jadinya, begitu pikirnya. Teng Hiau-lan sendiri pun ternganga oleh peristiwa tadi. Me-lihat ilmu silat yang hebat dari kedua orang pertapaan, Hwesio dan Tosu ini, tiba-tiba ia teringat, tentu keempat orang kosen yang be-runtun diketemukan dalam dua hari inilah yang disebut Kwantang-si-hiap. Yang pertama bernama Hian Hong Totiang, yaitu si imam jubah hitam yang menggunakan tongkat dan pedang, ilmu pedang-nya disebut `Loan-pi-hong’ dan termasuk kepandaian tunggal di Bu-lim (dunia persitatan), dibanding ‘Tui-hong-kiam-hoat’ boleh dikata lain silatnya tetapi sama lihainya, bahkan tiap gerak serangannya mengandung banyak gerak perubahan, lebih ganas dibanding `Tui-hong-kiam-hoat’. Ciu Jing sudah lama saling kenal dengan Hian Hong, semen-jak dua puluh tahun lalu bertemu di kediaman Nyo Tiong-eng, me-reka saling tukar pikiran Kiam-hoat masing-masing dan sejak itu terikat menjadi sahabat karib. Selain Suhunya, Leng Bwe-hong, yang paling dikagumi Ciu Jing boleh dibilang hanya Hian Hong. Se-dang ketiga pendekar lainnya, walaupun Ciu Jing belum pernah bertemu, tapi sering mendengar dari cerita Hian Hong tentang rupa dan ilmu silat mereka, maka berkesan cukup dalam. Orang kedua ialah si Hwesio gemuk itu, namanya Long-goat Hwesio, tabiatnya jenaka, orang menjuluki ‘Siau-mi-lik’, si Buddha tertawa. la paling doyan minum arak dan justru kepandaiannya yang tunggal adalah menggunakan arak sebagai senjata rahasia, selalu mengarah kedua mata orang dengan lihai sekali, arak yang disem-protkan laksana pelor, termasuk kepandaian tunggal di dunia persi-latan. Orang ketiga ialah si jangkung yang Teng Hiau-lan temukan di rumah penginapan itu, namanya Liu Sian-gai, khusus mengenai Ginkang, ia sudah mencapai puncak kesempurnaan. Yang mening-galkan pisau bersurat di rumah pondokan itu bukan lain adalah per-buatannya. la mahir Tah-hiat (memukul titik jalan darah) dengan cincin baja yang terpakai di jarinya itu. Yang keempat dan yang terakhir adalah si kate yang dikenal di rumah pondokan itu. la bernama Tan Goan-pa, meyakinkan ilmu Gwakang (kepandaian luar) yang sudah sempurna, tenaganya luar biasa, kepandaiannya yang tunggal adalah `Toa-sui-pi jiu’, sema-cam kepandaian membanting dan ‘Hun-kin jo-kut jiu’, semacam kepandaian mencekal dan membikin lawan tak berdaya lolos, siapa saja yang tertangkap tangannya tentu sukar terlepas. Di kala Ciu Jing bersahabat dengan Hian Hong, Liu Sian-gai dan Tan Goan-pa masih terlalu muda, kepandaian mereka walaupun tinggi, tapi belum terkenal, pada masa itu masih belum ada sebutan Kwantang-si-hiap. Belakangan sesudah Liu Sian-gai dan Tan Goan-pa tersohor di kalangan Kangouw dan kemudian keempat orang se-ring berkumpul, lalu disebut orang Kwantang-si-hiap atau empat pendekar dari Kwantang. Begitulah setelah melihat kepandaian si Hwesio tadi, Teng Hiau-lan lantas teringat bahwa keempat orang itu tak usah disangsi-kan lagi tentu Kwantang-si-hiap adanya, hatinya girang sekali. Ss-lagi hendak keluar untuk memanggil, tiba-tiba ia dengar si imam jubah hitam berkata. "Jite, kedua iblis tua itu belum muncul, Samte dan Site berjanji dengan kita akan naik gunung hari ini tapi belum tertampak juga, aku khawatir mereka telah bertemu kedua iblis itu dan mungkin mengalami celaka, kita cari mereka dulu, kau ke sebe-lah selatan gunung dan aku ke utara, dan kembali berjumpa di sini." "Baiklah!" Sahut si Hwesio dengan tertawa ria. Setelah itu tubuh mereka melesat, dalam sekejap sudah meng-hilang dari pandangan mata. Teng Hiau-lan hendak mengejar tapi sudah tak keburu lagi. "Hebat sekali!" Kata Ong Ling dengan menarik napas lega. Khong Lian-he pun sampai berkeringat, ia sedang mengusap dengan lengan bajunya. "Si imam jubah hitam itu sahabat karib Ciu-pepek," Cerita Hiau-lan sesudah lewat sejenak. Tetapi barn saja ia berkata, tiba-tiba dari kejauhan kembali terdengar dua kali suitan aneh, suaranya ta-jam memekik telinga, lekas Hiau-lan menarik Ong Ling mendekam ke bawah. Begitu terdengar suaranya, orangnya pun sudah sampai. Keti-ka Hiau-lan mengintip, dilihatnya di medan perkelahian tadi telah muncul dua orang. Kedua orang itu semuanya adalah kakek kurus-kering dan bermuka kuning hangus, berpakaian kain kasar dan muka niereka kaku tanpa mengunjuk sesuatu perasaan, kedua orang me-iiyangking sebuah karung kulit besar, keduanya pincang, yang se-orang pincang kaki sebelah kiri dan yang lain sebelah kanan, ‘Thay-vang-hiat’ di pelipis mereka menonjol, suatu tanda Lwekang mereka sangat tinggi. Teng Hiau-lan heran, kedua orang itu masing-masing pincang sebelah kaki, tetapi gerak langkah mereka ternyata begitu cepat. Kedua orang tadi tanpa berkata mengitari lapangan pertempur-an tadi, mereka periksa rumput dan alang-alang yang terinjak rusak tak keruan itu. Tak lama kemudian baru terdengar si kakek sebelah kiri buka suara. "Ehm, jelas keempat manusia yang tak kenal mati-hidup dari Kwantang itu sudah datang!" "Apa perlu kita cari mereka?" Tanya kakek sebelah kanan. "Tak usah!" Sahut yang duluan. Sesudah itu tiba-tiba ia pencet bibirnya dan bersuit aneh, ka-rena jarak begitu dekat, sedang Teng Hiau-lan dan kawan-kawan selamanya belum pemah mendengar suara yang memekik tajam be-gitu, mereka merasakan jantung terguncang keras, bahkan Pang Ing hampir menjerit ketakutan. Untung Kbong Lian-he cukup cepat, le-kas ia robek sepotong kain bajunya dan terus menyumpal mulutnya yang kecil, keruan Pang Ing jadi gelagapan dan tangannya yang ke-cil meronta, dengan perlahan Khong Lian-he menepuk, untung ke-dua kakek tadi sedang mencurahkan perhatian buat memeriksa tem-pat itu, seperti tidak merasa di belakang batu cadas belasan tombak sana ada bersembunyi orang banyak. "Empat manusia Kwantang tak kenal mati-hidup itu kalau me-mang bertujuan mencari kita, sesudah mendengar suara suitan tentu akan kemari!" Ujar si kakek sebelah kiri yang bersuit tadi. Lalu mereka berdua berdiri di atas sebuah batu besar untuk memandang tempat jauh. Lewat tak lama, betul juga terlihat ada dua bayangan orang berlari mendatangi dari bawah gunung. Semula Teng Hiau-lan menyangka yang datang pasti Kwan-tang-si-hiap, dengan tak sabar ia menantikan lagi tontonan pertem-puran seru. Tak lama kernudian orang-orang itu sudah dekat, ternyata me-reka bukan Kwantang-si-hiap, seorang di antaranya berambut merah membara, sedang seorang lainnya berhidung besar membetet, yang berambut merah itu bukan lain adalah seorang di antara ‘Si-pa’ dari istana Si-hongcu, yaitu Lui Hay-im. Kedatangan mereka agaknya juga di luar dugaan kedua kakek tadi. "Lui Hay-im, kusuruh kau menjaga markas, untuk apa kau da-tang ke sini?" Tanya mereka berbareng. "Markas kita diobrak-abrik orang!" Sahut Lui Hay-im dengan napas memburu sambil mengusap keringatnya dengan lengan baju. Mendengar laporan itu, kedua orang tua itu berjingkrak seke-tika. "Apa, diobrak-abrik orang?" Tanya mereka dengan gusar. "Apa perbuatan Kwantang-si-hiap?" "Aku tak tahu apa mereka itu Kwantang-si-hiap atau bukan," Lui Hay-im menerangkan. "Yang terang kedua orang yang datang lebih dulu, yang seorang tinggi dan yang lain pendek. Yang jang-kung jari tangannya memakai cincin baja, gerakannya cenat laksana angin, jari jarinya yang ditekuk selalu menggepuk kepala siapa saja yang ditemuinya, sedang yang pendek lebih lihai lagi, kawan-kawan kita satu per satu kena dicekal dan dilemparkan ke jurang!" "Ehm, itu adalah Losam (ketiga) dan Losi (keempat) dari Si-hiap yang bernama Ban-li-tui-hong Liu Sian-gai dan Tan-ciang-gay-pi Tan Goan-pa!" Kata si kakek sebelah kanan sambil mengangguk. "Dengan mati-matian kami menerjang keluar, tidak tahunya kembali datang pula dua musuh, bahkan jauh lebih lihai dari yang duluan," Lui Hay-im melanjutkan penuturannya. "Yang seorang ia-lah imam kurus dan yang lain Hwesio gemuk, si imam tangan kiri memakai tongkat dan tangan kanan menggunakan pedang, ia me-nusuk dan membacok serabutan. Baru saja aku menerima satu se-rangannya, senjataku sudah terkutung, lekas aku melarikan diri, un-tung si imam tidak menyusulkan tusukan pedangnya." "O, kalau begitu kau tentu telah mendapatkan tanda jasa!" Ganti si kakek sebelah kiri yang berkata. "Ya, tidak salah, daun ku-pingmu sebelah kanan sudah tiada lagi! Masih untung, kau hanya terkupas sebelah kuping saja!" Keruan saja Lui Hay-im merasa malu, mukanya merah padam dan terus menutur pula. "Sesudah imam jahat itu mengupas sebelah kupingku, ia masih berseru dari belakang, ‘Kau pun terhitung seo-rang laki-laki, sayang, sayang! Harap jaga baik-baik kupingmu yang tinggal sebelah itu’!" Habis mendengar cerita itu, kedua kakek tadi menjadi gusar bercampur mengkal. "Aturan busuk Kwantang-si-hiap sungguh me-muakkan!" Kata mereka. Sesudah itu mereka berpaling dan berkata pada lelaki berhidung betet itu. "Dan kau? Bukankah matamu yang kiri buta disemprot arak oleh si Hwesio gemuk?" Darah dari mata kiri si lelaki hidung betet itu masih bercu-curan, ia sedang menyobek kain bajunya untuk membalut lukanya. "Suhu, aku … aku tak berguna dan betul telah dibikin buta oleh semprotan arak Hwesio gemuk itu!" Sahutnya dengan suara ge-metar. Kedua kakek terdiam sejenak, sesudah itu sekonyong-konyong mereka bersuit aneh tiga kali. Teng Hiau-lan bertiga yang bersem-bunyi berdebar. Paling tersiksa agaknya Pang Ing, tenggorokan su-dah berkeruyukan, air mata bercucuran dan kaki tangan meronta di pangkuan ibunya, rupanya sudah payah sekali, maklum mulutnya tersumbat. Betapa pedih Khong Lian-he, tetapi ia tak berani mengambil gulungan kain yang menyumpal mulut anaknya itu. "Tampaknya Kwantang-si-hiap tidak lemah juga!" Sementara itu terdengar si kakek sebelah kiri berkata. Kakek satunya menjengek. "Toako," Katanya. "dengan nama kita Sin-mo-siang-lo, umpama mereka menjadi Kwantang-pat-hiap, apa sih yang harus ditakuti?" Perkataannya itu dapat didengar Teng Hiau-lan dengan jelas, maka sungguh tidak kepalang terperanjatnya. Dulu Ciu Jing pernah menyebut juga nama `Sin-mo-siang-lo’ atau dua kakek iblis sakti, menurut cerita, mereka sebenarnya sau-dara kembar dan bernama Sat Thian ji dan Sat Thian-toh, entah da-rimana mereka dapat mempelajari ilmu silat tinggi, Lwekang dan Gwakang si kakak diyakinkan dengan sempurna, sang adik sebalik-nya mempelajari `Tay-kim-kong jiu’ kaum agama di Tibet. Sang kakak dijuluki orang dengan Pat-pi-sin-mo atau si iblis sakti berta-ngan delapan dan sang adik berjuluk Tay-lik-sin-mo, si iblis sakti bertenaga raksasa, keduanya tinggal di suatu pulau di luar Li-sun (Port Arthur) yang bernama Niau-eng-to atau pulau Elang Kucing (pulau Burung Hantu). Bersama seorang kosen lainnya, Hok-liong Cuncia, mereka disebut Liautang-sam-koay atau tiga makhluk aneh dari Liautang (daerah timur laut Tiongkok). Hok-liong Cuncia sendiri tinggal di suatu pulau tetangga lainnya yang bernama Coa-to, pulau Ular. Niau-eng-to dan Coa-to di dekat Li-sun adalah dua pulau yang paling misterius, selama berabad-abad belum pernah ada manusia yang berani menyelidik ke sana, kaum nelayan kalau menangkap ikan dari jauh sudah membelok, kaum cerdik pandai dan orang-orang gagah Bu-lim juga tak berani menginjakkan kaki ke sana. Kabarnya di Coa-to penuh hidup ular-ular yang paling jahat dan berbisa, saking jahatnya, bisa yang disemburkan seakan berwu-jud kabut. Sedang Niau-eng-to di atasnya hidup semacam burung aneh sebangsa kokok-beluk, kalau berbunyi laksana suara kucing, sedang cakarnya pun seperti cakar kucing, oleh karena itu dina-makan Niau-eng atau Elang Kucing. Niau-eng bergerak dalam gerombolan banyak, sering kali ber-tarung sengit dengan ular berbisa yang ada di Coa-to, jika Niau-eng terbang rendah, kerap kali terpagut mati oleh ular-ular berbisa itu atau jatuh ke bawah terkena hawa beracun yang jahat. Sebaliknya ular-ular itupun sering mendapat serangan mendadak dari Niau-eng, begitu kena tercengkeram, si ular segera dibawa ke udara. Tiap kali kedua jenis binatang itu sedang bertempur, nelayan di lautan pasti menyingkir jauh, apabila pertempuran selesai, baru mereka berani mendekat untuk menjemput elang atau ular-ular berbisa yang terbi-nasa dan terapung di permukaan laut. Ciu Jing pernah mendengar tiga puluh tahun yang lalu, Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh berada di Tibet, berkomplot dengan ‘Se-ek-sam-yao’ (tiga siluman dari barat), sesudah `Se-ek-sam-yao’ ter-binasa di tangan Leng Bwe-hong, kernudian Sat Thian-toh pun diu-sir Leng Bwe-hong dari daerah barat. Setelah terusir, Sat Thian-toh bergabung kembali dengan saudara tuanya Sat Thian-ji yang me-ngembara di daerah timur laut dan kemudian mereka bersarang di Niau-eng-to, (Baca Thian San Tjhit Kiam) Seorang aneh lainnya ‘Hok-liong Cuncia’ atau Resi penakluk naga. Sesuai namanya, ia pandai menaklukkan ular, maka menga-singkan diri di Coa-to, ia mengikat persaudaraan dengan Siang-mo, si iblis kembar itu. Selamanya Hok liong Cuncia tinggal di pulau Coa-to dan tidak pernah keluar pulau, oleh karena itu, sampai dimana ilmu silatnya tiada orang tahu. Sebaliknya Pat-pi-sin-mo Sat Thian ji dan Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh tiap dua tahun sekali berkeliling mengembara dan banyak berbuat sewenang-wenang, banyak menanam dendam dengan para jago dunia persilatan. Belasan tahun yang lalu, tiba-tiba Siang-mo menghilang tiada kabar beritanya dan tak pernah nongol lagi di kalangan Kangouw, ada yang bilang mereka menemukan la-wan tangguh dan kena dikalahkan, maka bersembunyi kembali ke sarang mereka di Niau-eng-to untuk meyakinkan lebih dalam ilmu silat. Kabar itu entah betul atau tidak, tapi para jago dunia persilatan pun tak berani coba mengeluruk ke sarang mereka di Niau-eng-to. Tidak dinyana tidak tersangka, kini mereka muncul di atas Thay-hing-san. Munculnya mereka yang mendadak memang bukan tiada se-hab. Kiranya mereka pun termasuk tetamu agung yang dapat ‘dibeli’ oleh Si-hongcu In Ceng dengan harga tidak sedikit. Si-hongcu telah memerintahkan seorang Lamma berilmu silat tinggi, dengan pakaian istimewa anti gas racun yang tebal, sampai mata kepala pun dike-rudungi topi baja berkaca yang hanya tampak biji matanya saja, membekal pula obat pemunah racun dari istana untuk berjaga jaga kalau dipagut ular atau dicakar Niau-eng, lebih dulu yang dikun-jungi adalah Hok-liong Cuncia, tapi bagaimanapun Hok-liong Cun-cia tidak mau keluar dari tempat pengasingannya, barulah kemudian utusan itu menemui Siang-mo di Niau-eng-to. Dalam pada itu, kedua iblis berhasil meyakinkan ilmu silat mereka yang tunggal hingga matang betul, saking isengnya lantas ingin bergerak. Pikir mereka. "Dengan kepintaran Si-hongcu kelak pasti naik takhta, kalau bisa membantu, ada harapan akan diangkat menjadi Koksu (imam negara) hingga nama menjadi termasyhur." Kedua iblis itu tidak suka harta benda, tetapi tamak kedudukan tinggi, akhirnya mereka menerima undangan Si-hongcu In Ceng dan diam-diam muncul di masyarakat ramai. Si-hongcu banyak mengumpulkan tokoh kosen dan orang pan-dai, ia mengetahui kaum pahlawan dari lima propinsi utara tahun ini akan mengadakan perternuan di Thay-hing-san, maka timbul pikir-annya hendak ’sekali lempar jala tertangkap semua’, dengan begitu ia hendak unjuk ketangkasan kepada ayah bagindanya dan berba-reng pula sebagai langkah pertama untuk perebutan kekuasaan. Sebab itu ia mengirim tiga ratus Bu-su atau jago silat yang te-lah dikumpulkan itu, di antaranya termasuk ratusan anggota Hiat-ti-cu. Yang menguber Ciu Jing adalah sebagian dari Hiat-ti-cu itu, se-dang bagian besar jagoan lainnya, dipimpin oleh Siang-mo langsung mengeluruk ke Thay-hing-san, sepanjang jalan mereka banyak me-lukai pahlawan yang hendak hadir pada pertemuan di atas gunung itu. Pada malam Tiongchiu, yakni tanggal lima belas bulan delapan Imlek, terjadi pertarungan sengit dengan beberapa ratus pahlawan dari lima propinsi utara di atas gunung, di antaranya Thi-cio-sin-tan; si tangan besi pelor sakti Nyo Tiong-eng. Beruntun Nyo Tiong-eng berhasil membinasakan belasan jagoan pihak lawan, tapi akhirnya ia sendiri terluka oleh cakar Pat-pi-sin-mo Sat Thian ji yang beracun. Dalam pertarungan sengit itu, kaum pahlawan lima propinsi utara terbinasa atau terluka lebih dari separoh, oleh karena itu dalam beberapa hari ini, yang dijumpai Teng Hiau-lan bukan lain adalah tokoh kalangan Kangouw yang berhasil lolos dari Thay-hing-san itu. Di antaranya Beng Kian-hiong, yang baru saja sampai di kaki gunung sudah mendapat kabar jelek itu, maka lekas balik kembali hingga ia sendiri tidak mengalami sesuatu luka apapun. Sedang Nyo Tiong-eng terkena cakar Pat-pi-sin-mo telah dikejar Tang Thay-jing, murid satu-satunya iblis tua itu bersama begundalnya, dan hampir mengalami malapetaka kalau dua saudara dari Kwantang-si-hiap ti-dak keburu datang. Kembali pada kedua iblis tadi, sesudah mereka mendapat la-poran pendahuluan bahwa Kwantang-si-hiap sudah naik gunung, mereka saling pandang dengan tertawa. "Hari ini kalau kita bisa sekaligus merobohkan Kwantang-si-hiap, para pahlawan di utara pasti kuncup dan takluk semua, sesu-dah itu kita boleh turun ke Kanglam pula (Kanglam, sebutan umum daerah di selatan sungai Yangtse) untuk menyapu habis Kanglam-pat-hiap (delapan pendekar dari Kanglam)," Kata Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji dengan takabur. "Benar, mari kita beri hajaran keras dahulu kepada Kwantang-si-hiap," Sahut Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh. Lalu keduanya mengitari lapangan itu sekali lagi. Tiba-tiba Sat Thian-toh menggertak, kemudian ia berjalan menuju ke tempat di-mana Teng Hiau-lan dan kawan-kawan bersembunyi. Bukan main takut Teng Hiau-lan dan Khong Lian-he, muka mereka pucat dan keringat dingin mengucur. Waktu mereka memandang, ternyata Sat Thian-toh berhenti di depan mereka sebelum dekat, sesudah itu kedua tangannya merang-kul sepotong batu gunung yang menonjol, terus diangkat. "Naik!" Demikian gertaknya. Batu besar itu kena dibetot lepas dari tanah yang melekat. Kalau kedua tangannya tidak punya kekuatan beribu kati, ten-tu barn besar itu tidak akan bisa digoyahkan. Biarpun nyali Teng li iau-lan cukup besar, tak urung ia ketakutan hingga tubuh lemas. Dalam pada itu Khong Lian-he berdoa dalam hati, dilihatnya sepasang mata Pang Ing yang kecil gemerdep, air mata sudah mem-basahi kain lehernya, mungkin karena sumpal di mulutnya terlalu la-ma dan pernapasannya menjadi sulit. Sambil mengalirkan air mata, ia memandang ibunya, rupanya sedang memohon kasihan sang ibu agar sudi melepas sumpalnya supaya bisa bernapas dengan lega. Sementara itu, setelah membetot batu besar tadi, Sat Thian-toh kembali ke tempatnya semula dan meletakkan batu itu di lapangan rumput. "Toako," Katanya kemudian dengan tertawa kepada saudara tuanya. "coba lihat, batu ini sangat licin dan rata, tepat sekali seba-gai meja bundar, biar aku mencari beberapa buah lagi!" Baru kini Teng Hiau-lan tahu maksud Sat Thian-toh membetot batu besar itu, bukan lain untuk digunakan sebagai meja, cuma tidak tahu untuk apakah meja batu itu. Apakah hendak menjamu tamu? Sesudah berkeliling lagi di lapangan itu, kembali Sat Thian-toh memperoleh lima buah batu besar seperti tadi, jumlah semuanya menjadi enatn buah, meja-meja itu diatur dengan baik, empat buah di empat penjuru dan dua buah lainnya di tengah. "Cukuplah!" Katanya dengan tersenyum. Lalu ia buka kantong kulit besar yang ia bawa, dikeluarkannya benda dalam kantong itu satu per satu. Melihat benda itu, seketika Khong Lian-he pingsan. Barang apakah yang Sat Thian-toh keluarkan dari kantong ku-litnya? Ternyata bukan lain adalah kepala manusia! Tiap kepala manusia itu sudah direndam air obat, maka keada-annya masih utuh seperti hidup, hanya sudah agak mengerut se-dikit, isi kepala manusia itu sudah dikorek keluar, hanya tinggal ku-lit membungkus tengkorak kosong saja. Sat Thian-toh letakkan tiap kepala manusia itu di atas meja ba-tu yang dia atur tadi. Tiap meja batu persis tertaruh sebuah kepala. Sementara itu Pat-pi-sin-mo Sat Thian ji sudah melepaskan kantong kulit yang ia bawa. Dalam sekejap bau wangi arak semerbak, kira-nya kantong kulit itu berisi penuh arak enak, kedua saudara itu lalu menuangkan arak itu ke dalam kepala manusia, batok kepala di ba-wah dan bagian leher menghadap ke atas, kemudian diletakkan pula dengan berjajar. "Nah, cara beginilah kita nanti menyuguh Kwantang-si-hiap minum arak!" Mereka tertawa dengan bertepuk tangan. Jantung Teng Hiau-lan berdenyut keras melihat Khong Lian-he jatuh pingsan, lekas ia memegangnya. Dalam pada itu mendadak ia lihat Ong Ling meskipun mendekam di atas tanah, tapi sikapnya ternyata tidak merasa terkejut oleh pandangan yang luar biasa itu. Hiau-lan menjadi heran. la pikir Suhengnya ini mengapa men-dadak bernyali besar! Sementara itu perlahan-lahan Khong Lian-he siuman kembali, tetapi pikirannya masih belum jernih. Begitu sadar, segera ia lihat muka Pang Ing putih pucat, air mata dan keringat me-ngucur, sedang meronta dengan mulut ternganga. Karena rasa pedih hatinya, dalam keadaan sadar tak sadar ia mencopot kain sumpal di mulut putrinya. Keruan saja segera terdengar pekik tangis Pang Ing. Seketika itu juga Sat Thian ji berteriak aneh, kedua kakinya menutul dan meloncat naik, laksana burung besar menjulang ke la-ngit mendadak menubruk, sekali mengulur tangan segera ia men-cengkeram ke tempat dimana Teng Hiau-lan menyembunyikan diri. Sudah tentu Teng Hiau-lan tidak tinggal diam. Segenggam Hui-bong yang sudah disiapkan sejak tadi segera ia hamburkan. De-ngan jelas terlihat tiap senjata rahasia itu mengenai badan Pat-pi-sin-mo, tapi anehnya hanya menerbitkan suara gemerincing nyaring, lalu jatuh rontok semuanya. Hui-bong yang mengenai badan musuh seperti mengenai batu saja. Betapa cemas dan kagetnya Hiau-lan. Sementara itu bayangan hitam telah menyambar turun dari atas. "craat" , terdengar suara han-curnya batu cadas dibarengi lelatu api yang bercipratan. Kiranya da-ya serangan Sat Thian-ji tadi terlalu cepat, cengkeramannya menge-nai batu gunung besar yang ada di depan Teng Hiau-lan, menyusul ia angkat kakinya, batu besar itu ditendang pergi, dengan biji mata-nya yang besar melotot, ia pandang Teng Hiau-lan bertiga. "Siapa kalian? Lekas keluar!" Bentaknya. Pang Ing masih terus menangis, kepalanya mendekap di bahu ibunya dan tak berani memandang wajah Pat-pi-sin-mo yang bengis. Sebenarnya tadi Khong Lian-he sudah lemas karena takutnya, tetapi kini mendadak tangan kirinya meraba golok dan tangan lain membopong putrinya. "Jangan coba menyentuh anakku!" Balasnya membentak dengan galak, wajahnya begitu kereng dan sikapnya be-rani, kasih ibu yang murni seketika menguatkan keberaniannya. Se-dikitpun ia tak gentar walaupun berhadapan dengan iblis yang pa-ling bengis! Pat-pi-sin-mo sedikit tercenqang, tanpa terasa ia mundur setin-dak, kesempatan itu dipergunakan Teng Hiau-lan dengan baik, Yu-liong-pokiamnya secepat kilat bekerja. la menusuk muka Sat Thian-ji. Dengan suara heran Sat Thian ji mengegos tusukan itu. Saat itu juga, Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh juga sudah maju, sekali angkat tangan, segera ia menghantam. "Jangan celakai dia!" Tiba-tiba Pat-pi-sin-mo meneriaki sauda-ranya. Tangan Sat Thian-toh yang sudah dipukulkan itu, di tengah ja-lan mendadak ia ubah menjadi cengkeraman. Waktu Teng Hiau-lan memutar pedangnya dan hendak menusuk lagi, mendadak ia rasakan pergelangan tangannya kesakitan seperti terjepit tanggam dan pe-dangnya sudah berpindah tangan terebut lawan, ia sendiri pun lantas dikempit orang! Dengan membopong Pang Ing, Khong Lian-he masih berdiri tegak di tempatnya, sementara tangis Pang Ing tidak menjadi reda, bahkan bertambah keras, terpaksa Khong Lian-he kembalikan golok ke dalam sarung, kemudian ia mengusap dan menimang putrinya. "Mestikaku, jangan takut, tidurlah! Besok ibu belikan gula-gula dan bawa kau naik gunung menangkap burung!" Demikian ia menina-bobokan anaknya. Suara tangisan dan lagu timangan itu membuat Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji merasa sebal dan hilang sabar, ia mengulur tangan men-jambret. Khong Lian-he jadi beringas, matanya melotot, sinar mata-nya tajam laksana duri sehingga Sat Thian ji memalingkan muka menghindari pandangan luar biasa itu, tetapi tangannya masih terus menuju sasaran. Ketika ia menarik kembali tangannya, Pang Ing su-dah berpindah ke dalam cengkeramannya. "Teruslah menangis!" Bentak Sat Thian ji sambil mengangkat Pang Ing, bermaksud membanting dara cilik itu ke atas batu gunung. Karena terlalu letih menangis sekian lama, tiba-tiba Pang Ing berhenti menangis, waktu tubuhnya diangkat Sat Thian-ji ke atas dan hendak diayunkan, ia merasa senang karena dikira sedang dia-jak guyon. la malah tertawa mendadak. Saat itu Sat Thian ji tepat muka berhadapan muka dengan si dara cilik, sudah tentu tertawa manis si kecil itu tertampak olehnya dengan jelas, melihat itu, tanpa terasa hawa napsu membunuh yang tadinya meluap tiba-tiba hilang buyar dan tangannya yang sudah diangkat ke atas perlahan-lahan di-turunkan kembali. Kembali Pang Ing memperlihatkan tawanya yang manis hing-ga dekik atau suyen di pipi kirinya tertampak j elas. Tiba-tiba Sat Thian ji merasa si dara cilik di tangannya itu sa-ngat menyenangkan dan menarik, walaupun biasanya ia membunuh orang seperti menyembelih ayam, tapi kini ternyata ia tak sanggup turun tangan. la sendiri pun terheran-heran, bagaimana ia bisa tertarik oleh si kecil itu. Akhirnya ia balik anak itu dan digendongnya di bela-kang punggung. "Ha, rupanya ada jodoh!" Katanya kemudian dengan tertawa. Dalam pada itu, Ong Ling yang masih mendekam di antara rumput alang-alang lebat itu, secara merangkak akhirnya berdiri. "Siapa kau?" Sat Thian-ji bertanya dengan membentak. Sementara Khong Lian-he yang kehilangan anaknya menjadi kalap, dengan mati-matian ia menerjang maju. Tapi Sat Thian-ji cu-kup angkat dua jarinya, sekali menutuk, Khong Lian-he dibikin tak berdaya dan roboh terguling. "Koksuya, harap memandang diriku yang rendah ini dan ja-ngan mencelakai dia!" Tiba-tiba Ong Ling memburu main dan ber-seru. Dengan mata membelalak Sat Thian ji memandangnya, lapat-lapat agaknya ia mengenali orang. Sementara itu Lui Hay-im sudah maju ke dekatnya dan membisiki. "Orang ini bernama Ong Ling, ki-ta yang perintahkan dia memata-matai rumah keluarga Pang!" Kiranya Ong Ling yang belajar silat di perguruan Pang Kong-tiau dan dibesarkan bersama Khong Lian-he di suatu kampung, su-dah lama ia menaruh hati terhadap Lian-he, tak terduga akhirnya Lian-he dijodohkan dengan Pang Eng-ki, sudah tentu hal itu sangat menjadikan kesal hatinya. Tak lama sesudah ia menamatkan pelajaran, ia pergi ke kota-raja dan bekerja pada Piauhang (perusahaan pengawalan), sering ka-li dalarn percakapan iseng dengan orang, ia bercerita tentang bagai-mana gurunya yang berusia masih muda sudah kembali ke kampung halaman, akhirnya sampai di telinga antek Si-hongcu hingga me-nimbulkan curiga, maka dengan macam-macam tipu akal, setengah dipaksa dan setengah dipancing, akhirnya Ong Ling masuk juga ke dalam komplotan Si-hongcu. Sesudah Ong Ling berada di kotaraja, yang dilihatnya saban hari adalah kejayaan dan kemewahan, oleh karena itu lambat laun ia pun memiliki jiwa ingin mewah dan kedudukan, ditambah rindunya pada Khong Lian-he yang tak pernah kunjung padam, maka akhir-nya ia tersesat dan terima menjadi anjing pernburu Si-hongcu. Kali ini para jagoan di bawah Si-hongcu dikerahkan dari sa-rang mereka untuk menumpas para pahlawan dari lima propinsi uta-ra di Thay-hing-san, Congkoan atau pemimpin tertinggi Hiat-ti-cu, Haptoh, seorang Lamma dari Tibet, teringat Ong Ling, orang asal Soatang, oleh karena itu lebih dulu Ong Ling diperintahkan menjadi mata-mata ke rumah keluarga Pang dan sekaligus mengawasi gerak--gerik para pahlawan sepanjang jalan. Sebenarnya Haptoh tak pernah menyangka bahwa Pang Kong-tiau menjadi ahli waris ‘Tui-hong-kiam-hoat’, siasatnya mengirim Ong Ling tidak lain hanya satu langkah kebetulan saja sebagai dinas luar kaum Hiat-ti-cu, tak terduga dengan tepat malah kena sasaran-nya. Ciu Jing yang selama ini menjadi buronan Si-hongya ternyata justru adalah Sukong atau kakek guru Ong Ling. Begitulah sesudah mendengar bisikan Lui Hay-im, Sat Thian-ji menjadi ingat. "Oya, baik sekali!" Katanya kemudian dengan ber-gelak tertawa. "Mohon Koksuya suka menghadiahkan wanita ini pada hamba yang rendah!" Kata Ong Ling sambil bertekuk lutut dan menjura. Mata Sat Thian ji mengerling, ia membatin. "Orang ini entah orang kepercayaan Si-hongcu atau bukan, biar aku berikan sedikit kebaikan, toh tiada jeleknya!" Lalu ia menggerakkan tangannya dan berkata. "Lui Hay-im dan Hek Hau jiang, kalian bersama Ong Ling boleh menggiring wa-nita ini kembali ke kotaraja dahulu agar tidak menjadi beban rin-tangan di sini!" Khong Lian-he yang sedang mencurahkan seluruh perhatian terhadap putrinya, belum sadar akan bahaya yang menimpa dirinya, sebaliknya walaupun Teng Hiau-lan kena dikempit Sat Thian-toh hingga tak bisa berkutik, dengan suara keras ia mencaci-maki. Sat Thian-toh segera menutuk Hiat-to yang membikin bisu hingga Teng Hiau-lan terpaksa bungkam. Mendengar suara caci-maki Teng Hiau-lan, baru Khong Lian-he mengetahui bahwa Ong Ling ternyata adalah manusia rendah, pengkhianat yang sudah kehilangan budi pekertinya. "Ong Ling, Kongkong menganggap kau seperti putra sendiri, sebaliknya kau begini keji terhadap kami ibu dan anak, kau ini ma-nusia atau binatang?" Dengan pedas ia pun mendamprat. Tapi Ong Ling malah mendekatinya. Saking gemasnya Khong Lian-he meludahinya hingga membikin paras muka Ong Ling ber-lumuran air ludah. Dengan lengan bajunya Ong Ling membersihkan dan masih juga mengunjuk senyuman yang tak kenal malu. "He-moay, putrimu masih berada di tangan musuh, jangan kau coba berkepala batu," Ia berbisik di pinggir telinga Khong Lian-he. "Urusan sudah telanjur begini, paling baik kalau kau ikut aku ke ko-ta raja, kemudian kita berdaya menolong kembali Titli (keponakan perempuan). Hal ini hendaklah kau pikirkan baik-baik." Tergerak juga hati Khong Lian-he, maka ia tidak melanjutkan caciannya lagi. Sat Thian-toh kemudian melepaskan tutukannya tadi, sedang Lui Hay-im dan Hek Hau jiang segera maju menelikung kedua ta-ngan Khong Lian-he dan diikat kencang, sesudah itu baru diserah-kan pada Ong Ling sambil berkata. "Ini, bawalah kau punya Suso!" "Hau jiang, jika kau bertemu Thay jing, suruh dia kembali ke kotaraja dahulu!" Pesan Sat Thian-ji. Tang Thay jing adalah murid Pat-pi-sin-mo Sat Thian ji dan Hek Hau jiang ialah murid Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh, tetapi Hek Hau-jiang lebih belakangan berguru dan juga bakatnya kurang, ma-ka soal ilmu silat masih selisih jauh dibanding Tang Thay jing. Dengan mata kepala sendiri, Teng Hiau-lan hanya bisa me-mandang Khong Lian-he digiring pergi oleh Ong Ling, ia gusar se-kali dan gemas, tetapi sepatah kata pun tak bisa bersuara, maka terpaksa hanya mengertak gigi saja. Sesudah menangis, mungkin terlalu letih, Pang Ing tidur nye-nyak di gendongan Sat Thian-ji. Sudah tentu ia belum mengerti ka-lau ibunya tertangkap musuh. Sat Thian-toh pun meneliti sejenak si kecil Pang Ing, agaknya ia pun tertarik dan merasa senang terhadap si dara cilik itu. Men-dadak ia gabrukan Teng Hiau-lan dari kempitannya, kemudian de-ngan kedua tangannya ia meraba raut muka dan kepala Pang Ing. "Sudahlah, tak usah kau raba, anak ini memang dikodratkan belajar silat sejak lahir!" Ujar Sat Thian-ji yang mengetahui maksud saudaranya. Sat Thian-toh melepaskan Pang Ing dan menarik bangun Teng Hiau-lan. Dengan mata mendelik, Teng Hiau-lan pelototi iblis itu. "Ehm, bocah ini tampaknya tidak takut mati!" Kata Sat Thian-toh dengan tertawa. Kemudian ia mengangkat pedang Yu-liong-kiam yang direbut-nya dan disentil. Sekonyong-konyong ia bersuit aneh, pedang itu lantas diputar, dimana ujung pedang mengenai batu pegunungan, di situ juga remukan batu segera beterbangan! "Yu-liong-kiam ternyata tak mengecewakan!" Serunya dengan hersiul panjang. Sesudah itu ia berpaling, lalu melepaskan tutukan Teng Hiau-lan dan bertanya dengan suara bengis. "Leng Bwe-hong pernah apa denganmu?" "Kiranya kau pun kenal nama Thaysuco!" Sahut Hiau-lan de-ngan bangga. Sat Thian-toh menyentil pula Yu-liong-kiam beberapa kali. "Kau bocah ini, kepala batu juga!" Katanya dengan tertawa di-ngin, mendadak ia pegang pundak Teng Hiau-lan, segera ia hendak meremukkan Pi-pe-kut di pundaknya. "Tahan dulu!" Tiba-tiba Sat Thian-ji berseru, lalu ia mendekati Teng Hiau-Ian dan mengamat-amatinya. "Kita justru kekurangan murid berbakat seperti ini!" Katanya kemudian. Kiranya Siang-mo yang telah malang melintang selama hidup, hingga kini belum menemukan murid yang memuaskan dan berba-kat, lebih-lebih Sat Thian-toh, murid satu-satunya, Hek Hau-jiang, ternyata tak mampu menahan sekali serangan si Hwesio gemuk, begitu bertemu musuh, sudah tersemprot buta sebelah matanya yang kiri. Kini mendengar saudaranya memuji Hiau-lan, tiba-tiba hatinya jadi tertarik. "Kalau bisa menerima anak murid Leng Bwe-hong tingkat ke-empat sebagai murid, bukan saja bisa mewarisi ilmu silatku yang tunggal, bahkan hal ini merupakan suatu kebanggaan juga di kalang-an Kangouw," Begitu pikirnya. Maka wajahnya lantas menjadi ra-mah dan tenang, ia kembalikan Yu-liong-kiam ke sarungnya yang masih tetap menggantung di pinggang Teng Hiau-lan. "Thaysucomu sudah lama mati di Thian-san, umpama belum mati, ia pun bukan tandingan kami bersaudara," Sat Thian-toh mem-bujuk dengan lemah-lembut. "Lebih baik k’au masuk ke pintu pergu-ruan kami saja, tanggung kau akan mendapatkan pelajaran silat yang tiada taranya." "Aku tidak sudi menjadi muridmu!" Sahut Teng Hiau-lan de-ngan gusar. Sudah tentu jawaban itu membuat Sat Thian-toh menjadi mur-ka, selagi ia hendak mengumbar amarahnya, mendadak dari kejauh-an terdengar suara suitan saling sahut dan menggema di angkasa. "Kwantang-si-hiap telah datang!" Kata Sat Thian-ji. "Baiklah, soal menerima murid ditunda sampai nanti!" Ujar Sat Thian-toh. Sesudah itu kembali ia menutuk Teng Hiau-lan dan membikin kaku tak berkutik, kemudian ditaruhnya di tempat luang yang terapit dua batu besar, lalu ia berkata padanya. "Kau boleh re-bah saja di sini untuk menyaksikan kepandaian kami!" Mengenai Kwantang-si-hiap, setelah mereka mengobrak-abrik markas Hiat-ti-cu yang didirikan di Thay-hing-san, lalu mereka tu-run ke bawah. Saat mereka mendengar suitan aneh Siang-mo yang menusuk telinga dan mendebarkan hati, mereka kembali ke tempat tadi. Sampai di lapangan itu, tiba-tiba mereka menampak dua orang tua berbaju kain kasar sedang duduk di samping dua rheja batu ba-gian tengah. Di sekitar mereka berjajar empat meja batu yang penuh dengan kepala manusia, pemandangan ini cukup membikin bulu ku-duk berdiri. "He, apa kalian berdua adalah Sin-mo-siang-lo? Permainan apakah yang sedang kalian pertontonkan?" Bentak Hian Hong To-tiang, tertua dari Kwantang-si-hiap. Setelah ditanya baru Pat-pi-sin-mo berdiri perlahan-lahan. "Si-hiap datang dari tempat jauh, maafkan kami tak menyam-but dengan baik, kami berdua saudara telah menyediakan sedikit arak tawar untuk menyambut kedatangan kalian!" Katanya kemudi-an dengan tertawa seram. "Malah kami telah mengajak beberapa teman untuk menemani Si-hiap!" Sambung Sat Thian-toh sambil menuding ke atas meja. Tan Goan-pa berseru kaget. Kepala manusia yang ditaruh di atas meja itu, meskipun diletakkan terbalik, tetapi coraknya masih utuh seperti hidup, maka begitu melihat, segera dapat mengenalinya, di antaranya ternyata banyak yang menjadi sahabat baiknya. "Hian Hong Totiang, silakan duduk di tempat pertama ini!" Kata Sat Thian-ji dengan hormat sambil membungkuk. "di tempat itu ada Ngo-hou-to Ma Kun yang mengiringi, Long-goat Taysu si-lakan duduk di tempat kedua, di situ terdapat Kim-jio Chi Eng-liong dan tamu agung yang mengiringi, sedang Liu-samko silakan duduk di meja sebelah barat sana ditemani Hou-bwe-kun-co Nyo Chian-piu dan akhirnya Tan-siko silakan duduk di meja sebelah timur, di icmpat itu telah menanti Yit-goat-lun Hoa Si-pe sebagai pengiring. Silakan, silakan duduk dan mari minum bersama!" Nama-nama seperti Ma Kun, Chi Eng-liong, Nyo Chian-piu, I loa Si-pe dan kawan-kawan yang disebut tadi, semuanya termasuk orang gagah di lima propinsi utara yang tersohor, masing-masing terkenal dengan senjata yang istimewa, keempatnya pun termasuk sahabat baik Kwantang-si-hiap. Tak terduga, hari ini mereka itu ce-laka di tangan kedua iblis ini, bahkan kepala mereka dipenggal dan dipakai sebagai alat pengisi arak untuk menyuguh Si-hiap. Di antara keempat pendekar itu, Tan Goan-pa yang pertama tak tahan, ia naik darah, dengan mata mendelik segera hendak urn-bar kemurkaan, namun Hian Hong Totiang keburu mencegah dan memberi tanda dengan tongkatnya agar sementara bersabar. Sesu-dah itu Hian Hong menduduki tempat pertama sebagaimana ditun-juk tadi, akan tetapi lebih dulu ia masukkan kepala Ma Kun ke da-lam kantong kulitnya sambil berkata sendiri. "Aku tidak berani teri-ma Ma-toako menjadi pengiring!" Sesudah itu Long-goat Taysu pun meniru cara yang sama, ia pun menyusul duduk di tempat kedua dan menyimpan kepala Chi Eng-liong. Perbuatan itu segera dimengerti oleh Liu Sian-gai dan Tan Goan-pa, mereka tahu bahwa maksud sang Toako adalah jika harus terjadi pertarungan sengit yang susah dielakkan, maka simpan dahu-lu kepala sahabat lama supaya tidak ikut dihancur-leburkan. Maka mereka pun meniru dan menduduki tempatnya masing-masing, lalu memasukkan kepala Nyo Chian-piu dan Hoa Si-pe ke dalam kantong kulit mereka. "Haha, Kwantang-si-hiap memang manusia periang, mari sila-kan keringkan tiga cawan dahulu baru kemudian bicara urusan pen-ting," Dengan gelak tertawa Pat-pi-sin-mo berkata. Berbareng Sat Thian-toh menuang arak yang mereka bawa ke dalam tiga buah tengkorak kepala manusia, terus diminum hingga kering, akhirnya ia lemparkan kepala itu ke dalam jurang. Jika kedua iblis itu bergelak tertawa sambil minum arak, maka Kwantang-si-hiap masih tetap duduk saja. "Kwantang-si-hiap, silakan minum!" Ajak Tay-lik-sin-mo de-ngan berteriak. "Ada arak tanpa sayur agaknya kurang lengkap!" Kata Hian Hong Totiang dengan dingin. "Biar Pinto (imam miskin) menyuguh makanan enak yang kuambil dari pihak kalian berdua!" Siang-mo tidak paham apa yang dimaksud, tapi waktu mene-gas, tertampak Hian Hong mengebas lengan bajunya yang lebar, beruntun berpasang-pasang daun kuping manusia yang masih berda-rah segar melayang ke depan. Daun-daun kuping itu hasil irisannya di Thay-hing-san tadi, sedikitnya ada beberapa puluh pasang, di an-taranya termasuk daun kuping Liong Bok-kong dan Lui Hay-im. Belum ada setengah hari Hian Hong Totiang sampai di Thay-hing-san, ia sudah berhasil .nengiris begitu banyak daun kuping ja-goan kerajaan, Kiam-hoatnya yang lihai dan cepat itu mau tak mau mengejutkan kedua iblis itu. "Ha, satu kepala lawan sepasang kuping, masih tetap arak le-bih banyak daripada sayur!" Kata Tay-lik-sin-mo menyeringai. "Kalau kalian merasa masih kurang, nanti Pinto boleh tambahi pula," Sahut Hian Hong dengan tidak kalah angkuhnya. "Tidak perlu kita adu mulut," Kata Pat-pi-sin-mo dengan suara tertawanya yang aneh. "Kalian datang dari jauh, jika tidak mencela arak yang bening ini, mari silakan membasahi tenggorokan dulu." Sesudah itu, sekali teguk ia habiskan arak yang terisi dalam sebuah tengkorak, lalu tertawa terbahak-bahak dan berseru. "Kepala manusia sebagai cawan, minum habis darah musuh!" Tan Goan-pa menjadi gusar, ia bangkit berdiri. Tetapi Tay-lik-sin-mo sudah mendahuluinya melompat ke depan, sekali angkat, se-gera meja batu di depannya disurung ke arah Tan Goan-pa. "Tan-siko apakah bermaksud mengundurkan diri?" Serunya tertawa mengejek. "Tak boleh, tak boleh jadi, harus keringkan dulu beberapa cawan!" Tentu Tan Goan-pa tidak mandah dihina mentah-mentah, ke-dua tangannya menahan meja batu yang disurungkan kepadanya itu, segera pula ia dorong kembali. "Silakan minum!" Mendadak terdengar Sat Thian-toh mem-bentak, Tan Goan-pa merasa angin santar menyerang ke depan da-danya, meja batu tadi kembali disurungkan pula kepadanya, maka lekas ia curahkan perhatian dan mengumpulkan tenaga. Ia unjuk ke-tangkasannya, dengan kedua tangan ia menahan, berbareng meng-geser ke samping. Ilmu Gwakang kedua orang sudah mencapai puncak kemahir-an dan bertenaga besar luar biasa, dengan mengeluarkan tenaga ber-bareng tadi, sekonyong-konyong terdengar suara keras bergemuruh, meja batu itu retak menjadi beberapa potong kecil dan bertebaran. Tan Goan-pa kena tergetar mundur beberapa tindak, kedua tangan-nya terasa kaku linu, sedang Sat Thian-toh tetap berdiri tegak di an-tara batu kerikil yang bertebaran laksana hujan sambil tertawa ter-gelak. Dengan mengadu tenaga tadi, tampak sepintas keduanya tiada yang terluka, tetapi sebenarnya Tan Goan-pa sudah mengalami ke-kalahan tenaga dalam, ketangkasan Tan-ciang-gay-pi (tangan tung-gal membelah pilar) kini harus terjungkal di tangan Tay-lik-sin-mo. Melihat saudara muda mereka kecundang, Hian Hong dan Long-goat Siansu masih tetap duduk tak bergerak, tidak demikian dengan Ban-li-tui-hong (si pemburu angin berpuluh ribu li) Liu Sian-gai, ia tak sabar lagi, segera berdiri. Mendadak terdengar Pat-pi-sin-mo bersiul panjang aneh, de-ngan membawa dua buah kepala manusia, ia melayang ke arah Liu Sian-gai sambil membentak. "Liu-samko, silakan minum!" Liu Sian-gai tidak tinggal diam, dengan sebelah tangan ia te-kan meja batu, tubuhnya lantas mengapung ke atas, ia berjumpalitan sekali di udara untuk kemudian turun kembali ke tengah lapangan, kedua orang saling menyerempet lewat, tangan Liu Sian-gai juga memegang dua buah kepala manusia. "Silakan tuan rumah minum arak dulu!" Ia pun balas membentak. Berbareng dua kepala yang berada di tangannya dilempar ke depan, sementara itu kedua kepala yang Sat Thian-ji lemparkan ta-dipun melayang tiba, dua pasang kepala berganti tempat, berbareng sampai di tangan masing-masing, arak di dalamnya setetes pun tidak tercecer, kedua orang melompat ke samping, kemudian saling me-mandang pula. Ginkang Pat-pi-sin-mo sebenarnya sudah sampai puncak ke-sempurnaan, tetapi Liu Sian-gai berjuluk Ban-li-tui-hong (pengejar angin berpuluh ribu li), sesuai dengan nama julukannya, Ginkang-nya masih lebih tinggi setingkat daripada lawan dalam pergeseran tempat tadi, Sat Thian-ji bergerak lebih dulu dan Liu Sian-gai mela-yang belakangan, keduanya bersamaan sampai di tengah lapangan terns menyerempet lewat, terang Liu Sian-gai lebih unggul sedikit. Sat Thian-ji melatih kepandaian luar-dalam, ilmu silatnya luar biasa, justru dalam percobaan adu Ginkang ternyata dikalahkan, ke-raan mukanya merah jengah, namun ia masih tidak berhenti sampai di situ saja, dengan menyangking dua buah kepala di tangan, ia ber-jalan menuju ‘Siau-mi-lik’, si Buddha tertawa, yang menjadi sasar-annya. "Dengan hormat aku menyuguh sedikit arak pada Long-goat Taysu!" Sera Sat Thian-ji. Dengan tertawa tergelak, si Hwesio gemuk itupun tidak sung-kan, ia sambut kepala manusia yang dilontarkan kepadanya dan se-mua arak yang terisi di dalamnya dihirup kering sekaligus, kemu-dian sekonyong-konyong ia menyemprot, ‘arus arak’ yang disem-burkan beterbangan menuju musuh. Agaknya Pat-pi-sin-mo sudah tahu Long-goat Siansu memiliki kepandaian istimewa itu, maka sebelumnya ia sudah siap sedia, ia berlaku waspada, begitu kepala ia lemparkan, segera pula orangnya mengenjot naik ke atas hingga ‘arus arak’ tadi menyambar lewat di bawah kakinya, setetes pun tidak terciprat. Dalam pada itu Tay-lik-sin-mo dengan langkah lebar telah ma-ju pula, Long-goat Hwesio tertawa ngakak, tenggorokannya masih berbunyi kelurukan. "Silakan kau minum juga!" Serunya pada Sat Thian-toh, mu-lutnya yang lebar terbuka, arus arak segera disemburkan pula lak-sana hujan. Semula Sat Thian-toh mengira arak di dalam mulut lawan su-dah habis, maka ia tidak berjaga sebelumnya, kini tiba-tiba dari de-pan selapis kabut remang-remang menyambar dengan cepat, lekas ia lindungi matanya dengan tangan, hujan arak itu hanya mengenai tu-buhnya, kain bajunya tersusup hingga berlubang kecil seperti sarang tawon. Kalau hanya jago silat biasa yang terkena butiran arak tadi pasti tak tahan karena rasanya seperti terkena peluru timah. Tapi lain dengan Sat Thian-toh, karena ia sudah terlatih sede mikian rupa, laksana tulang baja dan kulit tembaga, tersemprot oleh arak tadi, tidak lebih seperti terkena gigitan semut atau terantup nyamuk saja. Dan tentu pula ia tidak mandah dirinya dihina begitu saja. Dengan satu bentakan segera ia terjang si Hwesio gemuk. Kembali pada Pat-pi-sin-mo, sesudah menghindarkan sembur-an arak, ia melayang lewat di atas kepala Long-goat Siansu dan me-nancapkan kaki di depan Hian Hong Tojin. "Hian Hong Totiang, silakan minum!" Baru sempat ia berkata begitu, mendadak Hian Hong angkat tongkatnya mengetok ke meja batu terus dijungkirkan. "Mana ada cara menyuguh arak begini!" Bentak Hian Hong dan pedang di tangan kanan berbareng menusuk. Dengan suitan aneh, Sat Thian-ji bergerak dengan sebat, tu-buhnya terombang-ambing menurut gaya serangan pedang Hian Hong Tojin, dalam sekejap ia telah menghindarkan tujuh delapan serangan berbahaya. Dalam pada itu Pang Ing yang berada di gendongan Sat Thian-ji telah mendusin karena terkejut, sekonyong-konyong bocah itu menangis pula. Hian Hong Tojin punya Loan-pi-hong-kiam-hoat, ilmu pedang dengan serangan serabutan seperti sambaran angin, sebenarnya sa-ngat lihai, beruntun ia memberi beberapa kali serangan, tapi ujung baju Pat-pi-sin-mo ternyata tak bisa disenggolnya. Kini mendadak nampak bayi yang berada dalam gendongan lawan berpekik tangis, tanpa terasa ia agak merandek. Karena melengnya itu, cepat Sat Thian-ji enjot tubuh dan me-layang ke atas, sepuluh jarinya menjulur berbareng, segera ia men-cakar kepala Hian Hong Tojin! Gerak serangan ini cepat luar biasa, waktu Hian Hong berkelit, dengan menggendong bayi digigirnya (punggung) Sat Thian-ji ter-nyata sanggup berkisar walaupun tubuh terapung di udara, laksana burung terbang saja segera ia menjambret. Pedang Hian Hong yang ditusukkan tadi masih belum sempat ditarik kembali, oleh karena itu ia ayun tongkat di tangan kiri untuk menangkis, tapi malah kena dipegang lawan. Lekas Hian Hong pu tar pedangnya membalik, namun tak urung ia sudah tertarik hingga bergeser beberapa langkah ke depan dan tangan musuh masih tetap menyelonong menyambar mukanya. Secepat kilat Hian Hong berkerut ke belakang dan mendo-yongkan kepala untuk menghindarkan cakaran musuh. Dalam seke-jap itu, tiba-tiba dari samping, sesosok bayangan hitam laksana ter-bang menyambar datang. Baca Juga: Pohon Kramat Khu Lung Baca Juga: Tengkorak Maut 6