Eps 8 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
"Segala hendaklah jangan selalu berpikir segi baiknya saja, dulu pernah kita bantu dia menyelesaikan selisih pahamnya dengan Nyo-loenghiong dan Kwantang-si-hiap serta kawan-kawan Bu-lim, tetapi kini ia sudah menerima jabatan dalam pasukan Boanciu, kita tak dapat memandang padanya seperti dahulu kala. Harus diketahui, justru karena Teng Hiau-lan keluar dari asuhan kaum pendekar, pula kenal baik sekali dengan kita, bila kini ia berubah hati dan membantu kaum Boanciu untuk bermusuhan dengan kita, inilah betul-betul satu musuh yang paling berbahaya!"
"Dan kalau begitu, menurut pendapat Suheng harus bagaimana?"
Tanya Lu Si-nio.
"Kita harus bertindak cepat, pada waktu ia belum memegang kekuasaan, kita bunuh saja dia!"
Sahut Kam Hong-ti.
"Bunuh dia?"
Lu Si-nio menegas.
"Ya, apakah kita harus piara macan untuk menantikan bahaya di kemudian hari?"
Sahut Kam Hong-ti.
"Tetapi bagaimanapun juga kita harus temui dia dulu, kita harus tanya yang terang,"
Ujar Lu Si-nio masih menyangsikan tuduhan Suhengnya ini.
"Memang Pat-moay selalu berhati lemah. Baiklah, kalau kau harus bertemu dengan dia, kita besok pergi ke Bing-capsah-ling (kuburan tiga belas raja ahala Bing),"
Kata Kam Hong-ti.
"Apa kau sudah berjanji dengan dia?"
Tanya Si-nio dengan girang.
"Bukan aku yang janji dengan dia, tetapi In Te yang berjanji dengan dia,"
Sahut Kam Hong-ti. Lu Si-nio jadi heran.
"Apa maksudnya?"
Ia bertanya.
"Besok ln Te hendak berburu ke Bing-ling dengan membawa serombongan pengawal pribadi kepercayaannya, aku mendapat kabar bahwa Teng Hiau-lan pun ikut di antara mereka,"
Kam Hong-ti menerangkan.
Bing-capsah-ling atau tiga belas kuburan raja dinasti Bing letaknya di bawah Tiang-siu-san di utara kota Pakkhia, nama itu adalah sebutan keseluruhan bagi ketiga belas kuburan raja Bing yang berturut-turut, di sekitar kuburan ini, di lingkungan tanah seluas ratusan li, di sebelah timur, barat dan utara penuh dengan puncak bukit yang menjulang tinggi mirip aling-aling saja, sedang sebelah selatan adalah tanah datar yang mirip mulut trompet menjulur ke kota Pakkhia, di mulut jalan ini berdiri dua bukit yang disebut Liong-san dan Hou-san (bukit naga dan harimau), yang berkedudukan mengapit.
Desa sekitar kuburan agung itu, semua memakai nama kuburan raja itu.
Setelah bangsa Boanciu masuk ke pedalaman, daerah kuburan ini ditetapkan sebagai lapangan berburu, rakyat jelata dilarang keras masuk ke daerah terlarang ini untuk berburu.
Tetapi kalau orang berdiri di lereng gunung sekitarnya, keadaan dalam daerah cekung atau tanah mangkok ini dapat tertampak dengan jelas.
Begitulah, besok paginya Kam Hong-ti dan Lu Si-nio sudah berada di kuburan itu, mereka datang ke kuburan utama dari Bing-ling, yaitu yang disebut Tiang-ling, kuburan Kaisar Bing Seng Co, mereka menanti di atas bukit sekitarnya.
Bangunan Tiang-ling terhitung yang paling megah di antara ketiga belas kuburan agung itu, meski kuburan itu terhitung daerah terlarang, tetapi bila dipandang dari atas bukit, pilar dan batu nisan yang berdiri tegak dengan megahnya, patung batu yang berjajar, semuanya tertampak cukup jelas.
Ketika Lu Si-nio memandang dari atas, tak tertahan perasaannya bergolak, ia teringat pada tanah airnya yang terjajah, seketika air matanya berlinang.
Melihat Sumoaynya berduka, lekas Kam Hong-ti menghibur.
"Jika Suhu ada di sini, dia orang tua entah akan bagaimana rasa dukanya,"
Ujar Lu Si-nio pilu.
Sebagaimana telah diterangkan, guru mereka, Tok-pi-sin-ni adalah putri Kaisar Cong-cing, kaisar terakhir dari ahala Bing.
Teringat pada gurunya, maka bungkamlah Kam Hong-ti, ia pun berduka dan tak sanggup buka suara pula.
Begitulah, setelah mereka menunggu hampir dekat lohor, tiba-tiba mereka lihat jalanan yang menuju ke tanah kuburan ini debu mengepul tinggi, belasan penunggang kuda mendatangi secepat terbang, supaya tak kepergok orang, Kam Hong-ti dan Lu Si-nio sembunyi di belakang sebuah pohon besar.
Selang tak lama, rombongan orang tadi sudah sampai di depan istana Tiang-ling dan mengaso.
Ketika Lu Si-nio meneliti, betul juga ia lihat Teng Hiau-lan ikut bersama mereka, bahkan berkata sangat hormat terhadap In Te.
"Bagaimana kini?"
Tanya Kam Hong-ti pada Sumoaynya setelah bukti sudah nyata. Karena itu Lu Si-nio menjadi bungkam, tak mampu ia mendebat Suhengnya lagi.
"Coba dengan cara bagaimana kita memancing dia buat bicara dengan kita?"
Akhirnya Lu Si-nio berkata.
"Hal ini rada sukar, ya sukar sekali,"
Ujar Kam Hong-ti. Tetapi setelah ia pikir sejenak, tiba-tiba berkata lagi.
"Kau membawa senjata rahasia tidak?"
"Bawa,"
Sahut Si-nio.
"Sebentar kau coba berusaha membunuh In Te, kau sengaja unjuk diri untuk Teng Hiau-lan, coba lihat apa tindakannya,"
Ujar Kam Hong-ti.
"Tetapi kalau sekali pukul dengan tepat aku berhasil membunuh In Te, apa ini bukan membantu si keparat In Ceng?"
Kata Lu Si-nio dengan tertawa.
"Sungguhpun pangeran Boanciu yang mana saja bakal naik takhta tidak nanti ada yang berfaedah untuk bangsa Han, tetapi aku paling benci In Ceng, seumpama aku disuruh pilih, aku lebih suka In Te yang naik takhta."
"Memangnya, siapa yang tidak benci In Ceng?"
Sahut Kam Hong-ti dengan tertawa.
"Tetapi aku suruh kau menyerang In Te hal ini tidak berarti kau harus membunuh dia, cukup kalau memberi sedikit tanda padanya, perlunya hanya untuk melihat bagaimana reaksi Hiau-lan. Ilmu entengi tubuhmu sangat tinggi, begitu kau unjuk diri, pancing agar para pengawal mengejar kau, pasti mereka tak mampu menyusul kau. Saat itu bila Teng Hiau-lan sudah terang membantu In Te dan melawan kau, segera aku bereskan nyawanya."
Mendengar kata-kata Suhengnya yang tegas ini, Lu Si-nio tergetar hatinya, ia tahu sekali Kam Hong-ti berkata, tentu ia lakukan, tapi soalnya sangat penting, tidak enak membantah lagi.
Hanya dalam hati ia berdoa semoga Teng Hiau-lan tidak menyerah pada kerajaan Boan.
Sementara itu setelah In Te bersama rombongan mengaso sejenak, ia lantas membawa anjing pemburu berjalan keluar dari kuburan Tiang-ling.
Lapangan berburu terletak di sebelah barat Tiang-ling, kebetulan mereka harus melalui bukit dimana Kam Hong-ti dan Lu Si-nio bersembunyi.
Dalam pada itu, Lu Si-nio sudah berkeringat menanti orang, ia lihat In Te lewat di depannya dan Teng Hiau-lan justru berada di samping pangeran itu, ia lihat Kam Hong-ti memberi tanda menyerang dengan ujung mulutnya.
Tidak ayal lagi, sekonyong-konyong Lu Si-nio menubruk keluar dari tempat sembunyinya, terus ayun tangan, sekaligus tiga buah belati disambitkan melalui tiga jurusan.
Dalam sekejap tertampak Teng Hiau-lan melolos pedang pusakanya, Yu-liong-pokiam, sekali sampuk ia pukul jatuh belati yang datang dari jurusan tengah, In Te sendiri sudah berpengalaman di medan pertempuran, dengan sendirinya gerak tubuhnya pun cepat, mendadak ia gunakan gerakan 'Hong-hong-tiam-thau' (burung cendrawasih memanggut kepala), ia hindarkan sambaran belati yang menyerang dari sebelah kiri, sedang pengawal yang lain pun berhasil menyambut belati sebelah kanan dengan jepitan jarinya lalu disambitkan kembali.
"Tangkap pembunuh!"
Pengawal itu berteriak.
Ketika mendadak Teng Hian-lan melihat seorang wanita muda menubruk keluar dari samping jalan, sekalipun orang sudah berubah muka, namun ia tahu wanita muda ini tentu Lu Si-nio adanya, ia jadi tertegun sejenak, dalam pada itu para pengawal yang lain secara beramai sudah mengembut maju.
"Tangkap dia!"
Sem In Te pada bayangkaranya.
Teng Hiau-lan sendiri setelah tertegun dan ragu-ragu sejenak, segera ia putar pedangnya ikut menguber.
Di samping sana, Kam Hong-ti dapat melihat dengan jelas cara Teng Hiau-lan membela In Te dengan mati-matian, ia menjadi gusar sekali.
Waktu itu para pengawal yang mengudak Lu Si-nio sudah sampai di kaki bukit sebelah barat, Teng Hiau-lan agak belakang menguber, ia jadi ketinggalan rada jauh.
Maka tanpa ragu-ragu Kam Hong-ti incar baik-baik pemuda ini, sekali ia ayun tangan, enam buah pisau terbang dihamburkan berbareng dengan sinar mengkilap, semuanya diarahkan ke tempat berbahaya di tubuh Teng Hiau-lan.
Di luar dugaan, pada waktu Kam Hong-ti ayun tangan, saat itu juga tiba-tiba terdengar suara jepretan gendewa beruntun, menyusul enam buah Hui-to yang dia sambitkan tadi terpukul jatuh di udara.
Sungguh tidak kepalang kejut Kam Hong-ti atas kejadian ini.
Dalam pada itu terdengar pula suara mendesir, dua buah peluru menyambar lewat di atas kepalanya, tiba-tiba Kam Hong-ti jadi teringat pada seorang, ia balik tubuhnya tems menguber ke tempat datangnya pelum, ia lihat di atas bukit sebelah utara ada bayangan tubuh tinggi kums secepat terbang tumn sampai di kaki bukit, lekas Kam Hong-ti keluarkan kepandaian berlari cepat 'Pat-poh-koa-sian' atau mengejar tonggeret dalam delapan langkah, dengan kencang ia udak orang itu, dalam sekejap sudah mengejar melampaui dua bukit.
"Nyo-locianpwe! Mengapa bergurau padaku?"
Kam Hong-ti bersem. Mendadak orang tinggi kums di depan itu berhenti dan berpaling, maka tertampaklah jenggot orang yang panjang melambai tertiup angin pegunungan.
"Kam-tayhiap, hampir saja kau bikin kacau umsan besar!"
Kata orang tua yang bukan lain adalah Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng. Kam Hong-ti tercengang atas ucapan orang, ia bingung, tadinya ia mengira orang tua ini sengaja membela muridnya sendiri.
"Apakah kedatangan Locianpwe berhubungan dengan urusan Teng Hiau-lan?"
Segera ia bertanya.
"Betul,"
Jawab Nyo Tiong-eng. Kam Hong-ti menjadi heran, ia tidak habis mengerti atas kelakuan orang tua ini.
"Locianpwe adalah pemimpin kalangan Bu-lim yang dijunjung tinggi, mengapa membela murid yang berkhianat?"
Tanyanya kemudian.
"Haha! Biarlah sekali ini ganti aku yang mohonkan ampun untuk muridku,"
Sahut Nyo Tiong-eng dengan tertawa.
"Hiau-lan menanggung penderitaan batin yang maha besar, punya urusan pribadi yang maha rahasia dan sekali-kali ia bukan manusia penjual kawan yang terkutuk!"
Kembali Kam Hong-ti bingung sejenak oleh serentetan "maha"
Perkataan orang, ia masih ingat apa yang dikatakan ini adalah perkataan sendiri yang pernah diucapkan untuk Teng Hiau-lan dahulu kepada Nyo Tiong-eng, oleh sebab itu, tanpa terasa tergerak juga hatinya.
"Jika Locianpwe sendiri berkata demikian, tentulah aku orang she Kam ini yang sembrono,"
Ia meminta maaf sembari memberi hormat.
Kam Hong-ti dan Nyo Tiong-eng masing-masing terkenal sebagai pendekar yang dijunjung tinggi dan dihormati, sebagai pemimpin dunia persilatan yang seorang di utara dan yang lain di selatan, sebab itu, dulu begitu Nyo Tiong-eng mendengar perkataan Kam Hong-ti, seketika lenyap salah pahamnya pada Teng Hiau-lan, sebaliknya kini setelah Kam Hong-ti mendengar Nyo Tiong-eng berkata demikian, maka ia pun yakin Teng Hiau-lan pasti bukan manusia jahat.
Dalam pada itu, selagi Kam Hong-ti hendak bertanya sebab-musababnya, ia dengar Nyo Tiong-eng telah buka suara dengan tertawa.
"Sumoaymu pun sudah datang!"
Ketika Kam Hong-ti berpaling, betul juga ia lihat Lu Si-nio sedang meloncat turun dari atas bukit sebelah depan, tidak antara lama, nona itupun sudah sampai di hadapannya.
"Kawanan pengawal itu kena aku pancing dan berputar keliling beberapa kali, sampai kini mungkin mereka masih kian kemari berputar di lembah gurung sana!"
Tutur Lu Si-nio dengan tertawa geli. Lalu ia sambung lagi.
"Di atas bukit sana aku lihat Nyo-locian-pwe telah memancing Suheng ke sini, tentunya kalian sudah berbicara dengan Hiau-lan bukan?"
Kam Hong-ti menggeleng kepala atas pertanyaan ini.
"Tidak perlu bicara dengan dia,"
Ujar Nyo Tiong-eng kemudian.
"Ada seorang tokoh luar biasa yang tinggal di pedusunan dekat sini, justru dia ingin sekali berbicara dengan kalian."
Kam Hong-ti menjadi terkejut, ia pikir tokoh macam apakah sampai Nyo Tiong-eng begitu memujanya? "Mungkinkah salah seorang pendekar?"
Tanya Lu Si-nio.
"Setelah kalian bertemu tentu akan tahu,"
Sahut Nyo Tiong-eng sengaja jual mahal.
Ia lantas bawa Kam Hong-ti dan Lu Si-nio menuju ke lembah gunung sebelah yang lain, akhirnya tertampaklah rumah pedusunan yang pendek kecil tersebar di lereng pegunungan yang naik turun.
Nyo Tiong-eng membawa mereka sampai di luar sebuah rumah kecil lalu berhenti, terdengarlah oleh mereka di dalam ramah ada orang sedang menyanyikan sajak, sajak patriotik yang membangun semangat.
"He, kiranya Can-pepek ada di sini,"
Seru Lu Si-nio kegirangan setelah kenal suara orang.
Segera ia maju mengetuk pintu, sedang suara bersajak di dalam seketika berhenti, ketika pintu terbuka, tertampaklah seorang tua kampungan yang sudah ubanan berjalan keluar, meski berdandan sederhana sebagai petani, tetapi sinar matanya kelihatan menyorot tajam.
Sesudah memandang sekejap pada Lu Si-nio, orang tua ini lantas tertawa dan berkata.
"Menjadi abu sekalipun aku kenal kau si dara ini, dan yang ini tentunya kau punya Suheng, Kanglam-tayhiap bukan?"
Mendengar orang menyebut dirinya, lekas Kam Hong-ti memberi hormat.
"Lotiang tentunya Can-losianseng dari Pohtam bukan?"' balasnya menyapa.
"Sudah lama kita saling kenal nama masing-masing, tidak nyana hari ini dapat berjumpa di sini,"
Sahut si kakek dengan gelak tertawa.
Kiranya orang tua ini bernama Can Ceng, orang asal Pohtam di propinsi Ouwlam, ilmu kesusastraan dan perilakunya sudah lama dihargai orang, untuk menghormat padanya, biasanya orang hanya menyebut dia 'Pohtam-sianseng' dan tidak menyebut namanya.
Pada tiga puluh tahun berselang, waktu itu ia masih seorarg sekolahan biasa, meski tulisannya cukup baik, namun belum tertampak ada yang luar biasa.
Belakangan ketika ia ikut ujian ke kota Enghin, ia dapat membaca tulisan Lu Liu-liang yang bersifat mengkritik, di antaranya terdapat teori soal pertahanan menghadapi pihac musuh dari luar, ada pula teori tentang penentangan sistim feodal.
Karena tulisan ini, ia menjadi sadar, ia kagum sekali pendapat Lu Liu-liang itu.
Sejak itulah ia membakar semua kitab pelajarannya yang kolot dan tidak mengejar pangkat dengan ujian lagi, malah ia mengirim muridnya, Thio Hi ke kediaman Lu Liu-liang buat mencari kitab pelajaran, waktu itu Lu Liu-liang sudah wafat, tetapi paman Lu Si-nio, Lu Ek-tiong, memberikan kitab tinggalan ayahnya.
Setelah memperoleh kitab tinggalan Lu Liu-liang, akhirnya Can Ceng meneruskan cita-cita perjuangan Lu Liu-liang, ia pun menjadikan anti Boan sebagai tugasnya.
Meski ia bukan murid yang diajar sendiri oleh Lu Liu-liang, tetapi justru ia yang betul-betul meneruskan perjuangan Lu Liu-liang.
Belakangan Can Ceng sendiri datang ke rumah keluarga Lu di Ciangkan, ia berkenalan dengan Lu Po-tiong (ayah Lu Si-nio), Lu Ek-tiong, Giam Hong-kui dan kawan-kawan untuk mempelajari lebih mendalam teori ajaran Lu Liu-liang.
Oleh sebab itu sejak kecil Lu Si-nio sudah kenal baik orang tua ini.
"Kapan Can-pepek datang ke kotaraja?"
Tanya Lu Si-nio.
"Belum lama, hanya tiga hari lebih dulu dari kalian,"
Sahut Can Ceng dengan tertawa.
"Can-pepek tahu jejak kami seluruhnya?"
Tanya Lu Si-nio.
"Sudah banyak ketemu kawan lama di sini, mengapa tidak tahu?"
Ujar Can Ceng dengan tertawa pula.
"Cuma tempat tinggal kalian aku belum tahu, kalau tidak, tentu aku sudah menyambangi kalian dahulu dan tidak perlu minta bantuan Nyo-losiangseng memancing kalian datang ke sini dengan susah payah."
"Apa kedatangan kami ke sini hari ini, sebelumnya Can-sian-seng pun sudah tahu?"
Kam Hong-ti ikut bertanya.
"Akulah yang berusaha mengirim Teng Hiau-lan masuk ke istana In Te, dengan sendirinya aku harus mengawasi dirinya,"
Sahut Can Ceng.
"Kemarin ketika aku mendengar Kam-tayhiap mencari tahu diri Hiau-lan, aku lantas menduga hari ini pasti kalian akan menanti dia di sini."
"Untuk apa Can-pepek mengatur Hiau-lan ke dalam istana ln Te?"
Kembali Lu Si-nio bertanya dengan heran. Can Ceng tidak lantas menjawab, ia hirup tehnya dahulu.
"Bangsa Boanciu sudah ada tujuh delapan puluh tahun masuk ke pedalaman, kekuasaan mereka sudah terpupuk dengan kukuh, jika sekarang kita kerahkan rakyat yang setia dan kerek bendera pemberontakan untuk merobohkan pemerintah Boan, mungkin sudah terlalu sulit,"
Katanya kemudian.
"Oleh karena itu harus dilaksanakan melalui dua jalan, pertama adalah menghasut golongan panglima dalam pasukan Boan agar memberontak, jalan lain adalah berusaha supaya di antara bangsa mereka sendiri saling bunuh dan curiga."
Mendengar teori ini, dalam hati Kam Hong-ti tidak sependapat, ia pikir, urusan pembangkitan kembali negara yang maha besar mana boleh bergantung pada seseorang saja?
Memang penting juga pakai tipu muslihat untuk mengobarkan pemberontakan, tetapi bagaimanapun tak mungkin bisa diandalkan sebagai kekuatan pokok.
Sekalipun ia berpikir demikian, tetapi Can Ceng adalah seorang pelajar kenamaan pada masa itu, Kam Hong-ti baru pertama kali berkenalan, maka meski tidak sepaham terhadap teori orang, namun tidak enak baginya untuk berdebat dengan orang tua ini.
Dalam pada itu terdengar Lu Si-nio telah buka suara pula.
"Apa maksud tujuan\paman agar supaya Hiau-lan menghasut In Te bercekcok dengan In Ceng dan biar mereka saling gempur dan saling bunuh?"
Tanya si nona.
"Ya,"
Sahut Can Ceng.
"Jika mereka saling gempur, tidak peduli siapa di antara mereka yang menang atau kalah, semuanya berarti merugikan bangsa Boanciu sendiri. Kerugian di pihak mereka berarti kekuatan kita bertambah."
Habis itu ia lantas ceritakan perjalanannya ke utara sini bersama Nyo Tiong-eng.
Kiranya Can Ceng sudah lama berkelana di kalangan Kangouw, banyak pula ia bercampur gaul dengan para pahlawan dan patriot di kalangan pengembara, dengan Nyo Tiong-eng mereka terhitung kenalan lama.
Tiga bulan lalu ia mengunjungi Nyo Tiong-eng dan mendengar cerita tentang asal-usul Teng Hiau-lau yang ruwet, ia jadi tertarik dan mendapat pikiran baru, ia anggap dapat menggunakan pemuda itu untuk maksud tujuannya.
Maka secara tergesa mereka lantas datang di kotaraja.
Setelah sampai di tempat tujuan, mereka mengetahui Kaisar Khong-hi sedang sakit payah, hal ini dianggap kesempatan paling baik pula.
Oleh sebab itulah Teng Hiau-lan sengaja dikirim untuk pukul Lui-tai dan unjuk kepandaian agar bisa menyelundup masuk ke istana In Te.
"Ada satu hal yang kalian belum tahu,"
Kemudian Can Ceng berkata lagi.
"Meski sudah ada setengah bulan In Te pulang ke kotaraja, tetapi selama itu dia belum pernah berjumpa dengan ayah-bagindanya, Kaisar Khong-hi."
"Betulkah begitu?"
Tanya Lu Si-nio heran.
"Bukankah Khong-hi paling sayang pada putra ke-14 ini, mengapa ia tidak membiarkan dia masuk istana untuk bertemu?"
"Siapa lagi kalau bukan In Ceng yang mengacau?"
Ujar Can Ceng.
"Dia mendapat sokongan Long-toh yang membantunya menjaga rapat pintu gerbang istana."
"Aneh, Khong-hi adalah orang pintar dan bisa berpikir, ia pun bukan orang yang gampang didekati, tetapi istana kini sudah berada di bawah pengaruh In Ceng dan komplotannya, maka dapat dibayangkan sakit Khong-hi yang sudah parah sekali."
"Aku pun berpikir begitu,"
Sahut Can Ceng.
"Oleh sebab itu aku ingin mereka saling gempur sendiri di dalam, hal ini harus dilaksanakan selekasnya."
Setelah pasang omong sebentar, lalu Lu Si-nio tanya Nyo Tiong-eng.
"Dan dimanakah putrimu?"
"Aku kuatir dia bikin onar, maka tidak mengajak dia,"
Sahut Nyo Tiong-eng.
"Dia sudah bertunangan dengan Hiau-lan."
Mendengar kabar ini, berulang kali Lu Si-nio mengucap selamat pada orang tua itu, tetapi dalam hati ia pikir biasanya Hiau-lan benci dan muak terhadap gadis itu, dikuatirkan perjodohan ini bakal terjadi sesuatu?
Karena pikiran ini, Lu Si-nio rada tak tenteram hatinya, tetapi tak berani mengutarakannya.
"Anak Eng, kau punya hari baik mungkin juga sudah dekat bukan?"
Dengan tertawa Can Ceng menggoda Lu Si-nio.
"Sebelum aku datang ke rumah Nyo-loenghiong, pernah aku naik ke Sian-he-nia dan bertemu Cay-khoan, ia sudah bisa keluar biara dan berjalan di pelataran."
Lu Si-nio menjadi kemalu-maluan, mukanya bersemu merah, tetapi dalam hati sangat girang mendengar kabar baik kekasihnya.
"Ketika aku mengunjungi kamar tulisnya, malah aku merampas sebuah sajaknya,"
Kata Can Ceng pula.
"Mengapa harus dirampas?"
Tanya Lu Si-nio tak tahan lagi. Can Ceng bergelak tertawa.
"Setelah kau lihat tentu kau akan tahu sendiri!"
Sahutnya.
Lalu ia keluarkan selembar kertas dari bajunya, ternyata tulisan di atasnya betul adalah tulisan Sim Cay-khoan.
Apa yang tertulis di atasnya bukan lain sebuah sajak cinta yang merindukan kekasih, betapa dalam rasa cintanya dan betapa mesra keinginan akan bersua kembali, semua terlukis dalam sajak Sim Cay-khoan ini.
Sehabis membaca sajak sang kekasih, Lu Si-nio sendiri girang sekali dan rada malu, namun dalam hati ia pikir, setelah urusan di sini selesai, segera aku harus kembali ke sana buat mendampinginya.
Kembali pada Teng Hiau-lan, hari itu setelah mendadak nampak Lu Si-nio dan Kam Hong-ti, ia jadi terkejut, kuatir tugasnya menjadi runyam dan ketahuan In Te.
Syukur kemudian Kam Hongti dipancing menyingkir oleh Nyo Tiong-eng, ia pun lantas menyusul pengawal yang lain mengejar hingga melintasi beberapa bukit, sampai akhirnya Lu Si-nio menghilang baru mereka balik kembali.
Ketika melihat para pengawalnya tak berhasil menangkap pe-nyatron, In Te menjadi tidak senang.
Katanya.
"Dua perusuh sepele saja tak bisa menangkapnya, apa gunanya kalian ini?"
Karena dampratan ini, para pengawal tak berani bersuara.
"Masih lumayan kau, siapa gerangan yang membantu kau dengan Didikan peluru gendewa secara diam-diam tadi?"
Demikian In Te bertanya pada Teng Hiau-lan.
"Hamba sendiri tidak tahu,"
Sahut Hiau-lan.
In Te pun tidak mengusut lebih jauh, ia urung berburu dan segera pulang ke kota.
Diam-diam Teng Hiau-lan bergirang karena terhindar dari prasangka, tak terduga setelah kembali sampai di istana pangeran, mendadak In Te menuding dia dan membentak.
"Tangkap dia!"
Segera pengawal dari kedua samping menubruk maju dengan cepat, akan tetapi Teng Hiau-lan sedikitpun tak melawan, ia menyerah membiarkan dirinya ditangkap.
"Kau diam-diam bermaksud jahat, terang kau sejalan dengan kaum pembunuh tadi, apa kau kira aku bisa dikelabui?"
Bentak In Te pula. Hiau-lan pura-pura mengeluh dan menyatakan penasarannya.
"Hamba kurang hati-hati melakukan penjagaan, dosa ini memang besar,"
Katanya membela diri.
"Tapi jika dibilang hamba bersekongkol dengan kaum penjahat, meski mati pun hamba tak terima."
"Tetapi mengapa pada waktu mengejar pembunuh wanita itu, kau ketinggalan jauh di belakang?"
Tanya In Te pula.
"Itu karena hamba menderita sedikit luka, meski tidak parah, tetapi hamba terkejut juga, oleh karenanya rada terlambat mengubernya,"
Hiau-lan menerangkan.
Habis itu, ia lantas mengulur pergelangan tangan dan betul ada goresan sepanjang tiga senti bekas kena senjata tajam.
Kiranya pada waktu Teng Hiau-lan menyampuk belati terbang yang disambitkan Lu Si-nio, ia sengaja angkat pedangnya dan membiarkan sebuah belati itu menyerempet pergelangan tangannya.
Melihat bukti ini, wajah In Te tertampak rada pulih kembali seperti biasa.
Katanya.
"Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?"
"Sebab hanya luka sedikit, hamba tak berani bikin ribut dan pamer,"
Sahut Teng Hiau-lan. Penuturan ini makin membikin In Te percaya, air mukanya pun berubah lebih baik lagi.
"Kalau begitu, ternyata kau cukup setia padaku,"
Ujarnya.
"Tuanku yang bijaksana tentu mengetahui,"
Sahut Hiau-lan.
Sementara itu kedua mata In Te yang menyorot tajam masih terus mengerling pergi datang, Hiau-lan teringat pada pesan Can Ceng agar berlaku tabah tapi hati-hati, maka ia tetap berdiri di tempat dengan lagak biasa, tidak mengunjuk sesuatu tanda yang mencurigakan.
Selang tak lama baru terdengar ln Te buka suara.
"Baiklah, kalau begitu akulah yang telah salah menyangka kau. Boleh lepaskan dia!"
Segera Teng Hiau-lan menjura dan mengucapkan terima kasih.
"Kau ternyata betul-betul setia, besok kunaikkan pangkatmu menjadi Tothong pengawal pribadiku,"
Terdengar In Te berkata dengan wajah senang.
Karena kejadian itu, semalam suntuk Teng Hiau-lan tak enak tidur, Capsi-hongcu ternyata begini cerdik, ia kuatir rasa curiga pangeran itu tidak gampang dibikin lenyap.
Betul juga dugaannya, pada malam hari kedua, In Te perintahkan orang panggil dia seorang diri masuk ke kamar rahasia.
Keruan hati Teng Hiau-lan berdebar tak tenteram.
"Harap kau menyelesaikan satu urusanku,"
Demikian In Te berkata padanya.
"Silakan tuanku menerangkan,"
Sahut Hiau-lan.
"Urusan ini sangat gampang dilaksanakan,"
Ujar In Te, berbareng ia lantas ambil seutas tali tambang dan sebotol obat, lalu menyambung lagi.
"Hendaklah kau pergi membunuh seorang tawanan. Setelah kau jirat lehernya dengan tali ini hingga mati, kau boleh siram mayatnya dengan air obat ini. Ini adalah obat mujizat dalam istana, sehabis disiramkan, mayatnya segera hancur-luluh menjadi air darah. Tawanan itu tersekap di kamar ketiga di atas loteng sebelah timur istana ini. Pergilah kau!"
Hiau-lan terima perintah itu, ia berangkat tanpa ragu-ragu, ketika sampai di kamar tahanan itu, ia dorong pintu kamar, maka terdengar olehnya suara rintihan seorang di tempat gelap.
Hiau-lan tutup kembali pintu kamar itu, ia nyalakan api dengan batu geretan-nya, maka tertampak olehnya seorang laki-laki dengan rambut terurai dan muka kotor sedang meringkuk di pojok kamar.
"Bagus, boleh kau bunuh aku! Bangsa Han dan rakyat kami tidak nanti menyerah begini saja! Coba saja kalian bangsa anjing bisa sewenang-wenang hingga kapan?"
Demikianlah ia dengar tahanan itu sedang mencaci-maki sambil merintih. Terkejut sekali Teng Hiau-lan, dari lagu suara yang diucapkan, rupanya orang segolongan dengan dirinya.
"He, kau tawanan celaka ini, hari ini adalah hari kematianmu, ada apa lagi yang hendak kau katakan pada saat terakhir?"
Segera Hiau-lan maju membentak. Tawanan itu membuka mata.
"Kau ini bangsa asing atau bangsa Han?"
Tiba-tiba ia bertanya.
"Peduli apa kau pada diriku!"
Sahut Hiau-lan.
"Tampaknya kau adalah bangsa Han, tetapi mengapa terima jadi anjing dan alap-alap pemburu bangsa asing?"
Tegor orang itu.
Hiau-lan tidak menjawab, ia mengeluarkan tali yang dibawanya tadi, tetapi pikirannya tak tetap dan ragu-ragu antara membunuh atau menolong dia lolos?
Jika harus bunuh dia, terang dalam hati tak tega?
Kalau tidak bunuh dia, tugas yang diberi Can Ceng pasti gagal karenanya.
Tengah ia ragu-ragu, tiba-tiba ia dengar orang itu bertanya lagi.
"Coba aku ingin tanya sekali lagi, kini waktu apa?"
"Hampir dekat tengah malam,"
Sahut Hiau-lan.
"Aku telah berjanji dengan seorang yang berkepandaian tinggi hendak menolong aku pada tengah malam nanti, marilah kau ikut pergi bersama kami,"
Kata orang itu. Atas tawaran ini, pikiran Hiau-lan menjadi kacau dan sangsi, ia maju mendekat dua langkah.
"Jika kau bunuh aku, maka selamanya kau akan menjadi orang berdosa terhadap bangsa Han,"
Kata orang itu pula. Mendengar ucapan ini, tergerak hati Teng Hiau-lan, tiba-tiba ia menjawab dengan tertawa dingin.
"Aku hanya tahu menjalankan tugas Pwelek, kini aku harus mengirim kau menuju surga."
Melihat Hiau-lan tidak mau dibujuk, orang itu menjadi gusar.
"Aku adalah pemimpin pasukan pemberontak di barat-laut, kau bunuh diriku, tidak nanti saudaraku akan mengampuni kau!"
Serunya.
"Tutup bacotmu!"
Bentak Hiau-lan. Habis ini ia lantas angkat tawanan ini, ia keluarkan tali dan menjirat lehernya.
"Tolong Ji-ko!"
Sekonyong-konyong tawanan ini berteriak.
Berbareng mendadak dari luar jendela terdengar suara keras, ruji jendela ternyata sudah putus seluruhnya, dalam kegelapan dari luar melayang masuk seorang dengan pedang terhunus terus membacok.
Namun dengan gampang Hiau-lan berkelit ke samping.
"Lekas lepaskan Toakoku!"
Bentak orang yang baru datang.
"Ada pembunuh!"
Hiau-lan pun berteriak memanggil pembantu.
Sementara itu orang sudah menyerang lagi, setelah berkelit dua kali, Teng Hiau-lan pun mencabut pedangnya, dalam sekejap orang sudah merangsek dengan lima kali serangan, namun Hiau-lan tidak unjuk kelemahan, ia pun balas menusuk empat kali.
"Sungguh tidak malu, dengan kepandaianmu ini terima membudak pada Pwelek bangsa Boanciu?"
Sambil bertempur orang itu membentak.
"Berani kau ngaco-belo, besar sekali nyalimu! Lekas kau menyerahkan!"
Hiau-lan pun balas membentak.
Habis itu ia percepat senjatanya terus maju mendesak.
Dalam kegelapan, dari sinar pedangnya yang mengkilap, dapat terlihat lawannya ini ternyata bertopeng beringas dan menakutkan.
Beruntun Teng Hiau-lan pakai tipu 'Bok-ong-sin-cun' atau kuda malaikat dari Bok-ong, dan 'Ong-tan-jing-kim' atau burung hijau dari Ong Tan, dua tipu serangan dari Tui-hong-kiam-hoat, yang sekali ia menusuk ke bagian bawah orang dan yang lain senjatanya tegak mengarah muka orang.
Kedua tipu serangan atas dan bawah ini sangat sulit digunakan berbareng, akan tetapi merupakan tipu serangan yang paling berbahaya dari Tui-hong-kiam-hoat.
Tetapi gerak tubuh orang itu cukup hebat dan tangkas sekali, ia putar pedangnya ke atas dan ke bawah, di antara goncangan angin pedangnya, Yu-liong-pokiam ternyata dibentur ke samping.
Hiau-lan terkejut, lekas ia tarik pedang untuk melepaskan daya serangan lawan, habis itu ia putar senjatanya membabat dari samping, tetapi orang bertopeng ini telah palangkan pedang menangkis, keruan lelatu api memuncrat dan pedang orang itu tergumpil.
"Pedang bagus!"
Seru orang itu memuji.
Teng Hiau-lan percepat serangannya, namun mendadak ia rasakan ujung pedang seperti kena disedot oleh sesuatu benda dan ujung senjatanya melenceng menusuk tempat kosong, sebaliknya pada saat yang sama tahu-tahu pedang orang sudah menusuk sampai dekat perutnya.
Lekas Teng Hiau-lan menggeser tubuh dan berkelit ke samping.
Sebenarnya bila orang itu mau meneruskan pedangnya, sedikitnya kulit perut Teng Hiau-lan akan terbeset, tetapi aneh, rupanya orang ini sengaja menahan serangannya.
"Lekas sadar ke jalan yang benar dan aku akan ampuni jiwamu!"
Orang itu membentak pula.
"Keparat, rasakan senjataku!"
Balas Hiau-lan memaki.
Ia ayun pedang ke atas, dengan tipu 'Hui-pau-liu-coan' atau air menggerujuk arus beterbangan, sinar pedangnya yang gemerlapan laksana beratus ribu bintik perak menghambur turun dari atas.
Agaknya dampratan Hiau-lan tadi rada menggusarkan orang bertopeng itu, ia angkat pedangnya dan menusuk dari arah tengah di bawah kurungan sinar pedang Yu-liong-pokiam!
Menghadapi lawan setangguh ini, mau tidak mau Teng Hiau-lan harus keluarkan seluruh tipu serangan yang paling hebat dari Thian-san-kiam-hoat yang beraneka macam perubahannya.
'Dalam keadaan demikian, meski ilmu pedang orang bertopeng itu tidak sebagus ilmu pedang Teng Hiau-lan, tetapi karena lebih ulet, ia telah pergunakan gaya pertempuran secara menempel, memuntir, menusuk dan menghantam, dengan demikian ia masih bisa mematahkan setiap serangan Teng Hiau-lan.
Setelah pertarungan berjalan sekian lama, Hiau-lan sudah memainkan Tui-hong-kiam-hoat yang seluruhnya berjumlah 72 jurus, namun tidak sanggup menyenggol tubuh orang, dan selagi ia bermaksud ganti dengan Si-mi-kiam-hoat yang lebih hebat, tiba-tiba lawannya mendahului, pedang orang secepat kilat sudah menumpang di atas pedangnya terus dipuntir dengan kuat, tanpa kuasa senjata Hiau-lan ikut berputar dengan pedang lawan, setelah dipuntir dua lingkaran, dengan suara mendesir Yu-liong-pokiam terlepas dari cekalannya dan terbang ke udara.
Justru pada saat itu juga, mendadak orang bertopeng itu tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba kamar yang gelap gulita itu menjadi terang benderang dan tertampak Capsi-hongcu In Te sudah berdiri di dalam kamar dengan tersenyum.
"Kau memang betul setia padaku, marilah sini!"
Panggil pangeran itu.
Dalam pada itu, tawanan istimewa yang meringkuk di pojok kamar tadi tahu-tahu melompat bangun, belenggu yang tadi berada di atas tubuhnya entah sejak kapan sudah terlepas semua.
Teng Hiau-lan mengusap keringat yang membasahi jidatnya, dalam hati ia bersyukur dirinya tidak sampai terjebak.
Sebenarnya Teng Hiau-lan tidak menduga bahwa ln Te bisa menjajal dirinya dengan tipu muslihat ini hingga hampir saja ia ter-jirat karena hampir ia melepas tawanan penting tadi.
Beruntung ia masih cukup cerdik, justru pada saat ia hendak melepaskan tawanan itu, mendadak dilihatnya sesuatu yang mencurigakan, malahan sesudah orang bertopeng itu datang, hal yang membikin sangsi bertambah pula, maka Teng Hiau-lan lantas turuti tipu muslihat oiang, ia sengaja keluarkan segenap kepandaiannya untuk bertarung dengan orang itu untuk menunjukkan kesetiaannya kepada In Te secara sungguh-sungguh.
Dimanakah letak yang dicurigai Teng Hiau-lan?
Pertama, kalau tawanan itu adalah tawanan maha penting, sepatutnya sudah disiksa dan dianiaya, tentunya terluka parah dan tak bisa berkutik lagi, atau ditutuk jalan darahnya, atau dijaga rapat oleh jagoan lihai, tapi semuanya ini ternyata tidak ada, bahkan tawanan penting ini hanya memakai belenggu biasa saja, bagi orang yang berilmu silat tinggi, dengan gampang pasti akan lolos.
Kedua, tawanan itu sengaja memamerkan kedudukan dirinya yang penting sebagai pemimpin pasukan pemberontak di daerah barat laut di hadapan jagalnya, hal ini sangat aneh dan mencurigakan.
Ketiga, jika apa yang dikatakan tawanan itu benar adanya, sedangkan Teng Hiau-lan sebagai orang yang baru masuk istana pangeran, mana mungkin In Te mau percaya dan menyerahkan tugas penting itu padanya.
Keempat, setelah orang bertopeng itu datang, bukannya dia lebih dulu menolong kawan, tetapi malah menempur lawan lebih dulu, hal ini tidak lazim, sebab jika betul-betul kaum pendekar dari kalangan Kangouw, yang hendak ditolong adalah orang penting, tidak nanti membiarkan orang yang hendak ditolongnya, malah lebih dulu menggertak lawan agar menyerah saja.
Kelima, ketika ia membentak agar Teng Hiau-lan memberontak saja, ia suruh pemuda ini jangan menjadi budak dari 'Pwelek' bangsa Boanciu, jika betul-betul orang itu kaum patriot bansa Han, tidak nanti ia menyebut bangsa Boanciu dengan sebutan agung itu (Pwelek berarti Pangeran dalam bahasa Boan).
Keenam, setelah hampir satu jam musuh datang, Teng Hiau-lan sudah berulang kali berteriak minta bantuan, meski tidak sedikit jagoan dalam istana pangeran itu, namun seorang pun tiada yang muncul membantu padanya.
Kesemuanya ini sudah terang adalah jebakan yang sengaja dipasang In Te.
Semenjak Hiau-lan menginjakkan kaki di dalam kamar tahanan itu, satu per satu dari keenam tanda yang mencurigakan ini berturut-turut tertampak sampai akhirnya In Te muncul, namun demikian, bila bukan orang yang cerdas dan bisa berpikir cepat, susah juga untuk bisa mengetahuinya.
Begitulah, setelah In Te menyaksikan gerak-gerik Teng Hiau-lan dengan terang, akhirnya ia unjuk diri dari jalan bawah tanah.
Kiranya kamar tawanan ini adalah tempat yang dirahasiakan di istana pangeran ini dan ada di bawah tanah yang menembus keluar.
Tatkala mendadak Hiau-lan melihat ln Te unjukkan diri, ia sengaja berlagak kuatir, dengan satu langkah kilat ia melompat maju dan menghadang di antara ln Te dan orang bertopeng itu.
"Dia bukan pembunuh,"
Terdengar In Te membuka suara.
"Ki-ciangkun silakan tanggalkan topengmu dan kalian berdua boleh saling berkenalan."
Orang bertopeng mengiakan sambil mencopot topengnya, dia ternyata bukan lain daripada ahli pedang nomor satu di pasukan ln Te yang bernama Ki Pi-sia.
Ki Pi-sia asalnya adalah Ki-jin (salah satu suku atau bendera dari delapan pasukan yang dibentuk bangsa Boanciu setelah berkuasa), ilmu pedangnya banyak menghimpun intisari Hong-lui-kiam-hoat dari Tiang-pek-san-pay, bersama Thongling (kapten) dari pasukan pengawal pribadi In Te, Pui Kin-beng, mereka berdua disebut sebagai dua pahlawan pangeran ke-14 ini.
Lebih-lebih karena Ki Pi-sia termasuk orang Ki-jin, maka ia menjadi kesayangan In Te.
Begitulah, sesudah tahu siapa orang bertopeng itu, Teng Hiau-lan lantas meminta maaf sambil berkata.
"Beruntung Ki-ciangkun hanya bennaksud menjajal saja, jika betul-betul pembunuh adanya, maka nyawaku dapat dipastikan sudah melayang sejak tadi. Kepan-daianku belum terlatih baik sungguh memalukan."
Karena umpakan ini, Ki Pi-sia tampak senang dan tertawa lebar.
"Kalau persoalkan Kiam-hoat, kau jauh lebih tinggi dari aku, lewat berapa tahun, jika lebih gial kau melatih diri, tentu aku bukan tandinganmu lagi,"
Katanya. In Te pun sangat gembira, katanya pada Hiau-lan.
"Coba serahkan botol obat itu."
Hiau-lan menurut perintah itu, ia keluarkan botol obat dari sakunya, beruntung botol ini tidak pecah karena pertempuran tadi.
Setelah In Te terima kembali botol itu, ia buka sumbat botol terus diteguk ke mulutnya.
Terkejut sekali Teng Hiau-lan, namun sebelum ia buka suara, In Te sudah angsurkan botol obat itu padanya.
"Kalian tentu sudah letih karena pertarungan tadi, minumlah seteguk juga,"
Katanya.
Hiau-lan ragu-ragu, tetapi tak berani membantah, terpaksa ia tirukan orang dan meneguk isi botol itu, segera terasakan bau harum dan sedap sekali, kiranya isi botol itu adalah arak yang paling enak dan bukannya racun sebagai dikatakan In Te.
Berturut-turut Ki Pi-sia pun ikut minum, dengan sebelah kaki bertekuk lutut ia terima hadiah arak itu, menyusul pula si pengawal yang menyamar sebagai tawanan penting tadi pun ikut minum.
Kiranya cara pemberian arak semacam ini, dimulai dengan pemimpin mereka minum dahulu, sudah itu yang lain berturut-turut ikut meneguk sekali, cara ini adalah penghormatan tertinggi dalam pasukan Boanciu, dan hanya para panglima yang berjasa besar saja yang bisa memperoleh anugerah dari Cukong atau junjungan mereka.
Sehabis minum arak, tiba-tiba terlihat In Te menarik muka lagi.
"Kau memiliki kepandaian tinggi, mengapa kau melamar, dulu kau kerja apa dan dimana?"
Tanyanya pada Teng Hiau-lan. Akan tetapi Hiau-lan tidak menjadi gugup, dalam hati sudah siap jawaban yang masuk di akal.
"Hendaklah Pwelek suka memaafkan, hamba ada sesuatu hendak melapor,"
Katanya kemudian dengan mata mengerling ke kanan dan ke kiri.
"Mereka semua adalah orang kepercayaanku, tiada halangannya kau bicara terus terang,"
Sahut In Te. Segera Teng Hiau-lan mengeluarkan sebuah batu giok yang diterimanya dari Khong-hi dahulu.
"Tentunya Pwelek pernah melihat benda ini,"
Katanya sambil mengangsurkan giok itu pada In Te.
Pangeran ini terkejut setelah menyambut benda itu, ia kenal batu giok itu adalah milik ayah bagindanya yang selalu dibawa di badannya, mengapa kini bisa jatuh di tangan orang ini.
"Hamba tadinya adalah pengawal pribadi Hongsiang (kaisar), oleh karena ada urusan maha penting, maka masuk ke sini,"
Hiau-lan menerangkan. In Te menyahut sekali, diam-diam ia membatin orang ini hebat juga asal-asulnya.
"Sejak kapan kau masuk istana?"
Tiba-tiba ia bertanya sambil kedua matanya menatap Hiau-lan.
"Tahun yang lalu aku baru masuk istana,"
Jawab Hiau-lan.
"O, kiranya begitu, tahun yang lalu aku berada di Jinghay, pantas tidak pernah ketemu kau,"
Ujar In Te.
"Dan ada urusan rahasia apa yang hendak kau beritahu padaku?"
"Pwelek sudah lama dipilih Hongsiang sebagai penggantinya, apakah Pwelek sudah tahu?"
Kata Hiau-lan.
Sekalipun ln Te tahu bahwa ayah bagindanya paling sayang pada dirinya, namun mengenai takhta, karena di atasnya masih ada tiga belas kakaknya yang lebih tua, maka ia tak berani terlalu menaruh harapan.
Tetapi kini mendadak mendapat berita baik ini, tanpa tertahan ia menjadi girang bercampur kaget.
"Selama ini Si-pwelek sangat giat berusaha memperoleh kedudukan mahkota, tentunya Pwelek sudah tahu,"
Sambung Teng Hiau-lan pula. Mendengar kata-kata ini, mata In Te melotot seketika. Maka lekas Teng Hiau-lan teruskan.
"Bukannya hamba menghasut di antara sesama saudara Pwelek, tetapi "
Tetapi kenyataan memang demikian bukan?"
Potong In Te. Lekas Teng Hian-lan berlutut dan menjura membenarkan sambil minta ampun.
"Memang sudah lama aku tahu ln Ceng si keparat ini tidak bermaksud baik!"
Terdengar ln Te berkata dengan mendengus.
"Maka kalau Pwelek tidak berusaha lebih dulu, mungkin itik yang sudah masak bisa terbang lagi!"
Ujar Teng Hiau-lan sambil mendongak.
"Apa maksud perkataanmu?"
Tanya In Te sembari mendelik.
"Sejak Hongsiang menderita sakit hingga kini sudah setengah bulan, Pwelek pulang ke sini pun sudah hampir sepuluh hari, tetapi mengapa Hongsiang belum memanggil Pwelek menghadap?"
Kata Hiau-lan.
"Apakah mungkin ada kaum Dorna yang mengacau di dalamnya?"
Sahat In Te dengan gusar.
"Ya, Kok-hiu (adik permaisuri) Longetoh, jenderal Ortai dan menteri Thio Ting-giok, tiga orang ini adalah sekomplotan dengan Si-Pwelek,"
Hiau-lan menerangkan.
"Memang aku sudah dengar bahwa yang berada di samping Hu-ong (ayah baginda) kecuali beberapa tabib kerajaan dan beberapa dayang kepercayaan, yang lain adalah ketiga orang tadi,"
Kata In Te.
"Kalau begitu, urusan ini perlu dipertimbangkan. Dan bagaimana menurut pendapatmu?"
"Pwelek harus berdaya-upaya menjumpai Hong-siang,"
Sahut Teng Hiau-lan.
"Belum mendapat titah panggilan, cara bagaimana bisa berte-mu?"tanya In Te pula.
"Jika perlu, terjang saja masuk ke sana,"
Jawab Hiau-lan.
"Lagi pula Pwelek memegang kekuasaan besar, jika siang-siang mengatur...."
Mendengar sampai di sini, mendadak wajah In Te berubah.
"Sudahlah aku paham semua maksud baikmu,"
Katanya memotong.
"Tak usah kau teruskan lagi, bolehlah kau mengundurkan diri dari sini."
Padahal ln Te memang sudah mengatur apa yang perlu, ia pun mengerti In Ceng paling banyak mempunyai jago berilmu silat tinggi, ia kuatir dirinya dipedayai, maka sengaja ia atur pasukan besarnya di luar kota dan di^bawah pimpinan panglima kepercayaannya, Futuh, ia telah memberi pesan apabila mendadak ia ditahan atau ada sesuatu kejadian di luar dugaan, segera pasukan besar ini harus dikerahkan untuk melawan In Ceng.
Bercerita mengenai perebutan kekuasaan ini, perlu diterangkan bahwa Kaisar Kong-hi yang biasanya sehat kuat, di atas singgasana takhtanya selama 61 tahun, malah pada sepuluh tahun takhtanya yang terakhir ia masih mengunjungi Lanwan (satu tempat lapang) untuk berburu, ia masih kelihatan sehat karena masih sanggup menunggang kuda dan mengudak rusa.
Tak terduga sekembalinya berburu, mendadak ia jatuh sakit.
Biasanya orang tua yang berbadan sehat dan jarang sakit, bila suatu ketika jatuh sakit, pada umumnya tentu susah sembuh, begitu juga dengan Kaisar Khong-hi, beberapa hari ia jatuh sakit, penyakitnya lantas bertambah berat.
Kemudian Khong-hi pindah ke istana Yang-jun-wan untuk merawat penyakitnya, semula ia masih paksakan diri untuk mengurus pekerjaan negara, tetapi makin lama semakin payah, akhirnya ia perintahkan Kok-kiu Longetoh dan Menteri Thio Ting-giok untuk sementara mewakilinya sebagai 'mangkubumi'.
Kaisar Khong-hi adalah orang yang suka unggul, selama hidup ia bertempur ke selatan dan ke barat, ia banyak memajukan kesusastraan (salah satu karyanya yang terkenal ialah 'Kamus besar Khong-hi' yang dikarang oleh sastrawan pada masa itu atas perintahnya), pembuatan irigasi, kemajuan pemerintahan dan ilmu silat umumnya pun berkat jasanya, tidak nyana sesudah menginjak hari tua, belasan putranya saling gempur dan cakar-cakaran baik secara terang ataupun gelap, yang satu hantam sini, yang lain gempur sana hingga Khong-hi sendiri tak berdaya.
Oleh sebab itu, sesudah ia jatuh sakit, ia makin masgul dan tidak ingin bertemu dengan darah-dagingnya sendiri, bukan saja In Te, sekalipun In Ceng yang berusaha dengan segala daya-upaya mohon bertemu juga selalu ditolak, paling banyak hanya menjura untuk bertanya kesehatan ayah bagindanya dari luar kamar yang teraling kerai.
Apa yang In Te dan Teng Hiau-lan curigai bahwa ada kaum dorna yang mengacau sebenarnya hanya separo saja yang betul.
In Ceng memang memperoleh bantuan dari Longetoh, Ortai dan Thio Ting-giok yang menjadi mata-matanya, ia menyuap pula Kiong-li (dayang), dan Thaykam yang berdekatan dengan Khong-hi, maka setiap gerak-gerik dan perkataan Khong-hi selalu dapat diketahui In Ceng dengan terang.
Pada tanggal 13 bulan 11 tahun 61 Kaisar Khong-hi, sakit maharaja ternyata payah sekali, setelah minum semangkok wedang jin-som atau kolesom, semangatnya kelihatan rada kuat dan pikiran jernih kembali, tiba-tiba ia teringat kejadian enam puluhan tahun yang lalu, ia merasa keagungan dirinya yang tiada bandingan itu seperti asap dan awan yang lewat di depan matanya, sungguhpun tidak sedikit putranya, tetapi apa yang mereka perebutkan tidak lebih hanya urusan kedudukan atau takhta, sedikitpun mereka tidak mempunyai kasih-sayang antara ayah dan anak.
Karena pikiran ini, ia merasakan kesunyian yang tak terhing-ga, tanpa terasa ia teringat pada sobat baiknya di masa anak-anak yakni Nilan Yong-yo, tetapi sayang Nilan Yong-yo tidak berumur panjang, baru berusia 31 tahun sudah meninggal, kalau tidak, di hari tuanya ini tentu masih ada seorang sahabat yang dapat diajak bicara.
Begitulah, ketika kaum dayang nampak junjungan mereka meronta ingin bangun, mereka segera mendekati dan bertanya kesehatannya.
"Di rak buku yang tengah sana ada sebuah kipas, coba ambilkan kemari,"
Perintah Khong-hi.
Thaykam yang diperintah jadi heran, ia tidak mengerti apa gunanya mengambil kipas karena masa itu musim dingin?
Akan tetapi titah kaisar tidak berani ia membantah.
Maka sesudah kipas berada di tangannya, terdengar Khong-hi menghela napas panjang.
Sekejap itu terbayang kejadian empat puluhan tahun yang lalu, tatkala ia memimpin sendiri pasukan ekspedisi menyerbu jauh ke barat ke daerah terpencil bersama Nilan Yong-yo, waktu itu mereka berada di sekitar Turfan, suhu tempat ini rada aneh, di siang hari panas terik, tapi di malam hari amat dingin, padang pasir di luar pun sunyi senyap, dimana ia dan Nilan Yong-yo pernah membicarakan kebangkitan dan keruntuhan dunia dengan menunjuk tempat yang bersangkutan.
Pernah Nilan Yong-yo menasehatkan dia jangan terlalu mengandal kekuatan militer, dirinya malah menertawakan Nilan Yong-yo sebagai buah pikiran kaum pelajar yang lemah.
Tetapi kini, sesudah bertahun-tahun bertempur ke sana sini, para suku bangsa yang digempurnya itu ternyata masih tetap belum mau tunduk, agaknya apa yang dikatakan Nilan Yong-yo dahulu bukanlah tiada beralasan sama sekali.
Waktu itu pernah Nilan Yong-yo menulis sebuah sajak di atas sebuah kipas untuknya, karena dirinya tidak suka dengan kata-kata dalam sajak itu, maka selama ini kipasnya selalu diselipkan di atas rak buku.
Sambil merenung Khong-hi buka kipas itu dan membaca sajak yang tertulis di atasnya.' Sementara itu Longetoh dan Ortai yang mendampingi Sri Baginda, ketika nampak sang junjungan terkesima membaca sajak itu.
Sudah tentu tidak pernah menduga bahwa Kaisar Khong-hi yang begitu lama di atas takhtanya, usia pun sudah begitu tua, keagungan dan kejayaan sudah sampai di puncaknya, tiada yang tahu pada saat ajalnya perasaannya ternyata begini sunyi dan hampa.
"Semangat Hongsiang baru mulai pulih, harap jangan terlalu membikin lelah diri,"
Longetoh mendekati pembaringan Khong-hi dan berkata.
"Lekas panggil Capsi-pwelek In Te ke sini!"
Perintah Khong-hi dengan senyum pedih sambil mengayun tangannya.
Agaknya ia sendiri sudah tahu bakal tidak lama lagi tinggal di dunia fana ini, maka mulai saat ini ia hendak memberi pesan terakhir.
Di pihak lain, perebutan mahkota di antara putra pangeran itu ternyata makin panas, dalam dua hari ini karena mereka mendengar sakitnya Khong-hi bertambah berat, sejak pagi-pagi sekali mereka sudah berkerumun di luar istana Yan-jun-wan hingga jauh malam baru mereka pulang mengaso, pada esok harinya kembali mereka berkumpul lagi, tiap orang sama mengharapkan bakal tertimpa rezeki, meski harus menggigil menghadapi angin dingin di musim salju, namun mereka menanti juga di luar taman itu.
Sekalipun mereka berjumpa satu sama lain di antara saudara sendiri, namun hanya menyapa secara dingin saja, mereka mengiri satu sama lain, maka tiada yang saling pasang omong.
Pada hari itu tengah para putra pangeran tak sabar menunggu, tiba-tiba mereka lihat Longetoh mendatangi dengan berlari, seketika mereka lantas maju berkerumun.
Dalam pada itu terdengar Longetoh berseru dari jauh.
"Ada titah dari Hongsiang, para Hongcu (putra pangeran) tidak perlu masuk ke dalam, hanya Si-hongcu yarig dipanggil menghadap!"
Keruan In Ceng girang sekali, segera ia melompat maju, sambil menarik Longetoh mereka segera berlari masuk ke dalam.
Mendengar bahwa yang dipanggil hanya Si-hongcu In Ceng, pangeran yang lain seketika tertegun dan kecewa, di antara mereka Kiu-hongcu In Tong, pangeran kesembilan, wataknya paling keras dan kasar, ia yang paling dulu membangkang.
"Tak usah peduli dia, kita semua masuk saja!"
Dengan ayun tangannya ia hasut pangeran lain.
Sudah tentu semannya disambut secara beramai-ramai oleh para pangeran, dengan membawa pengikutnya, berduyun-duyun segera mereka menerjang masuk, pengawal yang menjaga taman mana berani merintangi mereka.
Teng Hiau-lan dan Ki Pi-sia adalah pengikut Capsi-hongcu In Te, tatkala itu ikut serta di antara rombongan yang membanjir ke dalam taman.
Di pihak sana, Khong-hi setelah perintahkan memanggil In Te menghadap, ia pun berada dalam keadaan sadar tak sadar lagi, secara remang-remang ia seperti merasakan dirinya berada di atas gunung Ngo-tay-san, ia lihat ada seorang Hwesio tua yang kums sedang memandangnya dengan mata melotot gusar, ia kenal Hwesio ini bukan lain daripada ayah bagindanya, Kaisar Sun-ti, tanpa tertahan seketika ia ketakutan hingga sukmanya hampir terbang meninggalkan raganya.
"Hu-ong (ayah baginda), ampun!"
Teriaknya ketakutan. Nampak Khong-hi seperti mengigau, Ortai lantas maju dan menggoyang tubuhnya.
"Mendusinlah Hongsiang, sebentar lagi Capsi-hongcu akan datang!"
Lapornya. Dengan mandi keringat dingin saking takutnya, Kaisar Khong-hi membalik tubuhnya di pembaringan.
"Tempat apakah ini?"
Mendadak ia bertanya.
"Yang-jun-wan!"
Sahut Ortai.
"Bohong kau, di sini Ngo-tay-san!"
Kata Khong-hi pula.
Nampak keadaan sang kaisar, diam-diam Ortai mengeluh, ia tahu keadaan Hongsiang sudah terlalu payah dan sudah tak sadar akan diri sendiri, tetapi Si-hongcu masih belum tampak datang.
Dalam pada itu terlihat Khong-hi kembali membalikkan tubuh, lalu mendadak ia berteriak.
"Kalian lekas usir Hwesio tua itu! Lekas! Jangan perbolehkan dia masuk!"
Saat itu bam kelihatan Si-hongcu In Ceng bersama Longetoh dengan berlari mendatangi dengan cepat.
"Hongsiang, Capsi-hongcu sudah datang!"
Dengan bertekuk lutut Ortai melapor. Maka secara perlahan-lahan Khong-hi mulai sadar kembali, ia ulur tangannya meraba ke muka ln Ceng yang sementara itu telah berlutut di hadapan pembaringannya.
"Kau, kau, kau bukan In Te!"
Sekonyong-konyong Khong-hi berteriak.
"Ananda menghadap karena panggilan ayah baginda!"
Sahut In Ceng, Akan tetapi tiba-tiba Khong-hi seperti sehat kembali, ia menjadi gusar.
"Bagus, bagus sekali! Aku belum mati, tapi kalian sudah bersekongkol membohongi aku!"
Bentaknya keras.
Berbareng itu ia ambil serenceng biji tasbih terus disambitkan ke muka In Ceng.
Perbuatan ini membikin Longetoh berseru kaget.
Pada saat itu juga, di luar pintu terdengar suara orang riuh ramai, dalam keadaan genting ini In Ceng harus ambil tindakan cepat, ia mengertak gigi dan tegakkan hati, mendadak ia menubruk ke atas pembaringan.
Tanpa ampun lagi segera terdengar Khong-hi menjerit ngeri, pernapasan pun putus dan mangkatlah dia!
Khong-hi yang membunuh ayahnya di atas Ngo-tay-san, kini ternyata harus menebus dosanya dengan mati di bawah tangan putranya sendiri juga (mengenai Khong-hi membunuh ayahnya, kaisar Sun-ti, yang menjadi Hwesio, bacalah Tujuh Pendekar Thian-san).
Kembali bercerita para putra pangeran tadi, setelah mereka menerjang masuk ke dalam, setiba di luar kamar baginda raja mereka lantas dicegat sepasukan Ham-lim-kun, pasukan penjaga istana.
Kiranya Longetoh pun sudah memperhitungkan kemungkinan putra pangeran yang lain tak menurut perintah, oleh sebab itu sebelumnya ia sudah mengatur penjagaan.
Dalam saat kritis itu segera Teng Hiau-lan mendorong In Te.
la mengisiki pangeran ini.
"Pwelek harus segera ambil tindakan cepat dan tegas!"
In Te terima kisikan ini, segera ia berteriak.
"Kami datang untuk menanyakan kesehatan Hu-ong, siapa berani merintangi kami?"
Atas protes ini, pangeran lain menyambutnya dengan berteriak riuh gemuruh, karena perbawa itu, pasukan istana itu menjadi keder, sekalipun senjata mereka diangkat, namun kaki tangan mereka sudah lemas dan gemetar.
Pada saat sedang ribut itu, dari dalam kamar mendadak terdengar suara jeritan ngeri, para pangeran menjadi terkesima, tetapi segera ada sesosok bayangan orang mendadak melayang lewat melalui atas kepala barisan pasukan penjaga istana yang paling depan, terus menerobos masuk ke dalam kamar baginda melalui jendela.
Sementara itu setelah Si-hongcu, dengan tangan sendiri mencekik ayah bagindanya hingga mati, ketika ia lepaskan tangannya, saking takutnya ia sendiri lantas jatuh terduduk ke bawah ranjang.
"Kionghi Hongsiang, tugas besar telah selesai!"
Kata Longetoh segera sesudah nampak tindakan In Ceng berhasil. Belum-belum ia sudah memanggil In Ceng sebagai Hongsiang. Pada saat itu juga, tiba-tiba tampak bayangan orang masuk dari jendela.
"Siapa kau?"
Ortai membentak dengan cepat dan segera maju hendak mencegat.
Akan tetapi tanpa buka suara sedikitpun, mendadak orang itu menyerang dengan sekali pukul, ia bildn Ortai jatuh tersungkur.
Lalu orang itu berlutut di depan pembaringan, ia mendongak dan mendadak menangis sambil mengeluh.
"O, ternyata kedatanganku terlambat!"
Orang ini ternyata Teng Hiau-lan adanya.
Semasa Khong-hi masih hidup ia tak sudi mengaku ayah padanya, tetapi kini melihat kaisar telah mati, rasa hubungan ayah dan anak yang timbul dari hati nurani membikin dia berlutut tanpa terasa.
Sementara itu semangat In Ceng sudah pulih kembali, dengan cepat ia lantas melompal bangun, segera ia menubruk sambil menutuk dengan jarinya ke 'Lou-cing-hiat' di pundak Hiau-lan, seketika Hiau-lan roboh tak berkutik meski mulutnya masih terbuka dan air mata berlinang.
Sebenarnya kepandaian Teng Hiau-lan sekarang sudah menanjak lebih tinggi daripara Si-hongcu ln Ceng.
tetapi dalam keadaan kehancuran hati, mana terpikir olehnya buat menjaga diri?
"Hongsiang tak perlu kuatir,"
Ujar Longetoh sambil menggandeng tangan In Ceng keluar dari kamar.
Meski In Ceng belum naik takhta secara resmi, tapi pembesar penjilat itu ternyata sudah ganti sebutan pada pangeran itu dengan Hongsiang atau baginda.
Begitulah, setelah In Ceng tenangkan diri, ia lantas pura-pura menjerit dan menangis.
Ketika itu para pangeran sedang ribut di luar, ketika mendengar suara tangisan, mereka lantas saling berebut lebih dulu menerobos masuk, meski Ham-lim-kun, pasukan penjaga istana segera angkat senjata, namun hanya buat menakuti saja, tatkala pangeran itu menerjang sungguhan, mereka lantas menyingkir.
"Negara tidak boleh sehari tanpa kepala dan rakyat tidak boleh sehari tanpa tuan,"
Terdengar Longetoh berseru.
"Kami sebagai pembesar yang ditugaskan oleh mendiang Sri Baginda, kami persilakan para pangeran lekas datang ke istana Cing-tay-kong-tian untuk mendengarkan pembacaan surat wasiat!"
Karena seruan ini, para pangeran lantas tenang kembali.
Setelah Sri Baginda wafat, siapa pun tiada yang ingin masuk kamar lagi, secara berbondong mereka menuju ke istana Cing-tay-ong-tian untuk menantikan kabar siapa yang bakal menggantikan takhta.
Sementara itu Longetoh telah menyerahkan Teng Hiau-lan kepada pasukan Ham-lim-kun dan digiring ke dalam istana.
"Orang ini pengikut pangeran yang mana?"
Segera ia bertanya di hadapan para pangeran itu.
Para pangeran sedang terburu-buru hendak menuju ke istana Cing-tay-kong-tian, maka tiada seorang pun yang menggubris padanya.
Dalam hati In Te pun mendongkol karena Teng Hiau-lan secara gegabah bikin gara-gara, kuatir urusannya bisa runyam, maka ia pun tak berani mengakui Teng Hiau-lan sebagai pengikutnya.
Dalam hati ia hanya membatin.
"Biar sesudah aku naik takhta, aku bunuh saja dia!"
Sementara itu sudah hampir magrib, pintu gerbang istana sidang kaisar itu sebenarnya sudah ditutup, tetapi karena perlu membacakan surat wasiat kaisar di hadapan para pangeran, pintu gerbang itu terpaksa dibuka kembali.
Sedang para kerabat atau sanak-kadang kerajaan dan pembesar tinggi sipil maupun militer, setelah mendengar berita wafatnya baginda raja, beramai mereka datang, begitu pula para selir raja pun datang mendengarkan di samping istana.
Selang tak lama, semua pembesar tinggi sudah datang lengkap.
Di bawah pendopo istana penuh berjajar rapat tiga ribu prajurit Ham-lim-kun.
Para pangeran pun berjubel di dalam istana sehingga suasana riuh ramai.
Di antara para pangeran itu, In Te sendiri pun berdebar, ia memandangi papan besar di tengah belandar utama istana yang ber-tuliskan 'Cing-tay-kong-beng' itu.
Dan justru dalam keadaan yang sangat tegang itu, mendadak In Te ditarik orang dengan perlahan, ketika ia menoleh, ia lihat bukan lain adalah orang kepercayaannya, Thongling pasukan pengawal pribadinya, Pui Kin-beng.
"Telah terjadi pergolakan dalam pasukan!"
Demikian Pui Kin-beng berbisik padanya. Terkejut sekali In Te oleh laporan yang tiba-tiba itu.
"Apa katamu?"
Tanyanya.
"Lian Keng-hiau mengatakan atas titah kaisar dia telah menjabat sebagai Bu-wan-huciangkun untuk sementara menggantikan tugas Pwelek,"
Lapor Pui Kin-beng pula.
"Sepuluh ribu tentara Tiat-ki-kun yang dia pimpin kini sudah berkemah di antara pasukan kita berada." (Tiat-ki-kun = pasukan berkuda gerak cepat). In Te makin terkejut oleh laporan itu, ia pun tidak habis mengerti, Lian Keng-hiau tidak lebih hanya seorang Thetuk, tentara yang dipimpinnya sekali pun gagah perkasa dan pandai berperang, tetapi kalau dibanding pasukan besar yang dipimpinnya yang berjumlah dua ratus ribu orang, sama seperti telur membentur batu, tetapi mengapa sebaliknya pasukan sendiri bisa kena 'diambil-alih' olehnya? Maka dengan cepat segera ia bertanya.
"Kekuasaan yang dipegang Futuh apa masih kuat? Para perwira apakah masih tetap setia padaku?"
"Futuh masih baik-baik saja,"
Tutur Pui Kin-beng.
"Pasukan pribadi dan perwira dari dua belas batalion sudah kerahkan tenaga yang ada, untuk mengepung dan mengawasi pasukan Lian Keng-hiau, maka harap Pwelek lekas kembali ke sana!"
Mendengar bahwa jenderal kepercayaannya, Futuh, masih tetap pada tugasnya, barulah In Te merasa agak lega.
"Asal kekuasaan masih ada pada kita dan prajurit masih tetap setia, kita tak usah kuatir, kau boleh pulang saja lebih dulu,"
Sahut ln Te kemudian.
"Kau boleh sampaikan perintahku supaya berdaya upaya menahan Lian Keng-hiau lebih dulu."
Pui Kin-beng menjadi ragu-ragu, mukanya mengunjuk sulit untuk melaksanakan perintah tadi.
Di lain pihak, waktu para pangeran lain mendengar In Te berbisik dengan orang, mereka lantas berpaling dan mendesis.
"Lekas kembali sana!"
Desak In Te pada jago bayangkaranya sambil mendorong.
Terpaksa Pui Kin-beng bertindak pergi menerobos di antara orang yang berjubel.
Tengah keadaan ribut, tiba-tiba terdengar Thaykam yang bertugas sebagai protokol membunyikan genta besar yang ada di dalam istana sambil berseni.
"Silakan membaca surat wasiat!"
Maka dalam sekejap keadaan dalam istana yang tadinya riuh ramai, kini menjadi sunyi senyap.
Sementara, itu terlihatlah Longetoh, Ortai, Thio Ting-giok, tiga pembesar ini maju ke tengah istana, di ruangan tengah sudah disediakan meja sembahyang, sesudah ketiga orang ini menjalankan penghormatan terhadap Thian (Allah), bayangkara istana lantas memasang tangga yang diperlukan, Longetoh yang bertugas mendaki tangga itu untuk mengambil surat wasiat tinggalan Kaisar Khong-hi yang tersimpan di belakang papan merek besar itu.
Bukan main detik yang mendebarkan hati ini, semua pangeran tegang leher menanti pembacaan surat wasiat ayah baginda mereka.
Kemudian tertampaklah Longetoh dengan tenang dan perlahan turun kembali dengan tangan memegang sebuah kotak bersulam emas, sesudah berdiri di tengah istana kembali, ia buka kotak dan mengambil keluar secarik surat wasiat, lalu dibacanya dengan suara lantang.
" ... takhta ini diturunkan kepada membaca sampai di sini, Longetoh sengaja tarik panjang suaranya, oleh karena itu suasana jadi lebih tegang dan mendebarkan, bahkan pangeran yang merasa tak sabar sudah ada yang melangkah maju seakan hendak membaca sendiri apa terusan isi surat wasiat itu. Longetoh ternyata pandai bikin sensasi, ia sengaja berdehem dahulu, habis itu baru ia baca lagi.
"... Si-hongcu!"
Keruan seketika suasana menjadi riuh gemuruh!
Sebab, semua orang tahu bahwa Kaisar Khong-hi justru paling benci kepada Si-hongcu In Ceng, mengapa sekarang justru menurunkan takhta padanya?
Itulah rahasia yang belum mereka ketahui bahwa surat wasiat itu asalnya tertulis.
"takhta diturunkan kepada Capsi-hongcu" , tetapi oleh ln Ceng secara rahasia telah dikirim Thian-yap Sanjin dan Pang Lin untuk mencuri lihat isi surat wasiat itu. Sesudah mengetahui apa yang tertulis di dalamnya, atas usul Longetoh, surat wasiat itu telah diubah, yakni huruf "Cap" (sepuluh) ditambahi dengan satu garis di atasnya dan ditambahi satu pengkol-an pada bawahnya hingga merupakan satu huruf "Ih"
Yang berarti "kepada" , dengan begitu tulisan yang tadinya berbunyi, 'Takhta diturunkan "Cap"-si Hongcu', kini berubah menjadi, 'Takhta diturunkan "kepada"
Si-hongcu'!
(Perlu diketahui bahwa mengubah atau menambah satu garis atau satu goresan pada huruf Tionghoa pada umumnya memang tidak terlalu sulit — Gan K.L.).
Begitulah, maka dalam suasana yang kacau itu, Kiu-hongcu, pangeran kesembilan ln Tong dan Cap-hongcu, pangeran kesepuluh, ln Go, dua pangeran ini yang pertama-tama kurang terima, mereka lantas mengajukan protes.
"Aku tak percaya!"
Teriak mereka berbareng sambil melangkah maju menuju ke tengah.
Akan tetapi mereka segera dicegat oleh penjaga yang sudah di tempatkan dalam istana sejak tadi.
In Tong dan In Go berdua pun pandai ilmu silat, mereka mengira Si-wi atau pengawal ini serupa saja seperti pasukan Ham-lim-kun tadi yang hanya pura-pura berteriak mencegah saja tetapi tak berani merintangi sungguh-sungguh, oleh sebab itu, secara paksa mereka lantas hendak menerjang ke tengah untuk merebut surat wasiat tadi.
Dalam keadaan desak-mendesak itu, tak terduga In Ceng mendadak berubah sikap, sekonyong-konyong ia membentak.
"Tangkap mereka!"
Maka menubruk majulah dengan cepat dua orang ke arah dua pangeran itu.
"Siapa yang berani merintangi aku?"
Teriak In Tong dan In Go berbareng, mereka masih tetap membandel.
Kedua pangeran ini tidak tahu bahwa kedua jago pengawal yang menubruk maju ini bukan pengawal biasa.
Sungguh tindakan yang cerdik dari Si-hongcu In Ceng yang mengetahui bakal terjadi peristiwa seperti hari ini, maka bukan saja ia sudah berhasil 'membeli' semua Ham-lim-kun dan penjaga istana, bahkan dua hari sebelumnya ia sudah menyelundupkan belasan jago kepercayaannya ke dalam badan-badan itu, dan kedua jago pengawal yang menubruk maju tadi bukan lain ialah Han Tiong-san dan Tang Ki-joan adanya.
Dalam pada itu, karena dirintangi, In Tong dan In Go menjadi gusar, mereka lantas menghantam, akan tetapi tidak lebih dari beberapa jurus saja mereka sudah ditutuk roboh dan dilempar ke bawah undak-undakan istana, segera orang kepercayaan Si-hongcu yang berada di dalam pasukan Ham-lim-kun maju meringkus mereka.
Habis itu tiga ribu prajurit Ham-lim-kun itu serentak berseru.
"Hidup kaisar baru!"
Begitu keras dan menggelegar seruan ketiga ribu orang itu, kerOan pembesar lain yang hadir menjadi kuncup.
Sementara-itu secara berbondong para pengawal lantas menaikkan In Ceng ke atas singgasana, In Ceng sendiri pun tidak sungkan lagi, segera ia mengenakan pakaian lengkap sebagai kaisar dengan mahkotanya, di bawah iringan Longetoh beserta begundalnya, maka duduklah In Ceng di atas singgasana takhtanya.
"Ban-swe!"
Berseru pula pasukan Ham-lim-kun sampai tiga kali, sedang pembesar yang hadir baik militer maupun sipil sebagian besar pun sudah kena 'dibeli' oleh ln Ceng, sebagian kecil lagi berada dalam kedudukan terpaksa, mau tak mau akhirnya seorang demi seorang maju menyembah kepada Sri Baginda mereka yang baru.
Para pangeran semula termangu oleh peristiwa yang tak terduga itu, tetapi akhirnya terpaksa juga maju menyembah.
Kemudian setelah acara penghormatan berakhir, berkatalah ln Ceng.
"In Tung dan In Go mengacau sidang istana, mereka melanggar peraturan secara kasar, dengan ini kuperintahkan segera membebaskan gelar mereka sebagai pangeran dan diserahkan pada Cong-jin-hu (badan pemeriksa dalam istana) untuk diperiksa!"
Lalu ia sambung lagi.
"Sianke (mendiang kaisar) punya surat wasiat, para kerabat sebenarnya tiada hak buat membacanya, tetapi hari ini karena terjadi keonaran, agar bisa membuktikan keadaan yang sebenarnya dan tanpa curang, boleh para kerabat membacanya."
Habis itu ia lantas menyerahkan surat wasiat tinggalan Khong-hi, sudah tentu para pangeran berebut untuk membaca dengan mata kepala sendiri, dan ketika mereka melihat surat itu memang betul tulisan tangan Khong-hi, bahkan dengan jelas ditulis.
"Takhta diturunkan kepada. Si-hongcu" , sekalipun dalam hati mereka masih merasa penasaran, namun mereka lalu tak berani bersuara lagi. Sementara itu terdengar In Ceng berkata pula.
"Pada saat Sian-te masih belum mangkat aku diharuskan meneruskan takhtanya, malah aku diberi serenceng tasbih ini sebagai bukti. Karena tak bisa menolak, terpaksa aku menerima kemauan terakhir Hu-ong (ayah baginda), maka selanjutnya masih mengharap para saudara banyak membantu untuk kejayaan kita bersama."
Ia berkata sembari mengeluarkan tasbih yang Khong-hi sam-bitkan padanya itu, tetapi di sini ia sengaja berlagak berduka, bahkan meneteskan air mata.
Dalam menjalankan siasatnya, In Ceng memang sangat cerdik, ia tahu betul bahwa pada diri para pangeran itu sedikit banyak masih punya pengaruh tertentu, oleh sebab itu tidak bisa tidak ia harus berpura-pura menarik hati saudara-saudaranya ini.
Di lain pihak, Capsi-hongcu In Te pun tidak kurang penasarannya, saking dongkolnya hingga kaki tangannya dirasakan dingin, ia yang pertama mengundurkan diri dari persidangan, disusul pangeran yang lain.
Malam itu juga, In Ceng (kini dengan sebutan Kaisar Yong-ceng) segera pindah tinggal dalam istana Kian-jing-kiong, bahkan semalam suntuk ia terus kumpulkan semua orang kepercayaannya untuk bekerja lembur, antara lain yang perlu diselesaikan adalah menentukan pejabat tinggi yang penting dan penggantian para gubernur bagi orang kepercayaannya, pula pengawasan kepada para pangeran, lalu pemusatan kekuasaan militer dan lain-lain lagi, tindakan yang diambil ini adalah tindakan cepat dengan tujuan memperteguh takhtanya.
Begitulah, sehabis menyelesaikan beberapa urusan penting itu, sementara itu sudah jauh malam, baru saja Longetoh dan kawan-kawan mengundurkan diri, segera In Ceng mengirim orang menghubungi Lian Keng-hiau.
"Hongsiang hendaklah suka istirahat dulu, besok pagi masih harus mengadakan sidang pagi!"
Lapor Thaykam yang melayaninya. Memangnya In Ceng sendiri pun sudah merasa letih maka ia berkata.
"Jika Lian Keng-hiau mengirim orangnya ke sini, segera suruh dia menemui aku!"
Habis itu ia lantas tidur dengan mendekap di atas meja.
Dalam keadaan layap-layap, ia seperti melihat Khong-hi berada di depannya dengan muka penuh darah, selagi ia hendak berteriak, tiba-tiba dilihatnya pula dengan pedang terhunus Lu Si-nio menyerangnya, saking kagetnya, In Ceng tersadar dari impiannya dengan mandi keringat dingin.
"Po-kok Siansu mohon menghadap,"
Ia dengar Thaykam melapor.
"Panggil kemari!"
Sahut In Ceng. Sejenak kemudian, masuklah Liau-in Hwesio, di hadapan In Ceng yang kini sudah menjadi maharaja, Hwesio ini ternyata tidak berlutut menyembah melainkan hanya membungkuk tubuh saja.
"Kionghi, tuanku sudah naik takhta,"
Ia memberi selamat.
Ternyata Liau-in terlalu unggulkan dirinya yang banyak berjasa, maka ia tetap memandang In Ceng seperti ketika masih di dalam istana pangeran saja.
Sudah tentu sikapnya ini membuat ln Ceng diam-diam kurang senang, batinnya.
"Gerombolan orang ini kelak harus kulenyapkan seorang demi seorang, supaya mereka tak sembarang membicarakan perbuatanku di kalangan Kangouw."
Sekalipun batinnya demikian, tetapi karena ia baru menduduki singgasananya, masih banyak tugas yang perlu bantuan orang yang dianggapnya berbahaya ini, oleh karenanya ia pun tidak mengunjuk sesuatu tanda.
"Ada keperluan apakah kedatangan Koksu?"
Tanyanya kemudian pada Liau-in.
"Lapor Hongsiang, pembunuh yang ditangkap Hongsiang hari ini sudah diketahui siapa adanya,"
Lapor Liau-in. Mendengar penuturan ini, In Ceng rada mendongkol, ia mengerut kening, pikirnya.
"Masakah urusan sekecil ini saja bikin ribut aku."
Karena itu ia hanya bertanya sekenanya.
"Katanya bayangkara dari istana pangeran yang mana?"
"Ini tidak diketahui, tetapi padanya diketemukan surat tinggalan Siante, yakni Teng Hiau-lan yang pernah menyebut dirinya sebagai bayangkara dalam istana,"
Tutur Liau-in lagi. Keterangan terakhir ini rupanya agak menarik bagi In Ceng. Maka ia lantas perintahkan.
"Baiklah, bawa dia ke sini!"
Sebenarnya Teng Hiau-lan telah merias mukanya dengan Th-yong-tan' yang diberi Kam Hong-ti ketika ia datang di kotaraja ini.
Tetapi ilmu merias dua ratus tahun yang lalu masih jauh bila dibandingkan dengan bahan riasan zaman ini, apalagi Liau-in tergolong jago kawakan, begitu ia kesut dengan handuk basah ke muka Hiau-lan, seketika kembali muka aslinya.
"Hm, mengapa kau selalu bermusuhan dengan aku?"
Jengek In Ceng begitu mengenali Teng Hiau-lan setelah digusur masuk.
Sebelum orang menjawab, Liau-in telah keluarkan surat perintah yang dulu Teng Hiau-lan dapat dari Khong-hi, yakni ketika pemuda ini ingin bertemu dengan In Ceng, maka ia mohon Khong-hi menuliskan surat, belakangan meski ia sudah sampai di istana In Ceng, sebelum ia unjukkan surat itu, kebetulan terjadi pengacauan istana oleh Kwantang-si-hiap, oleh sebab itu In Ceng belum melihatnya.
Kini setelah In Ceng membaca surat perintah Khong-hi yang minta supaya In Ceng berlaku baik-baik pada orang pembawa surat ini, tak tahan lagi ia jadi heran dan timbul curiganya.
"Darimanakah asal-usulmu?"
Segera ia bertanya.
Akan tetapi dengan mata melotot Teng Hiau-lan membungkam, sepatah kata pun tidak menjawab.
Nampak kebandelan orang, selagi In Ceng hendak jalankan siksaan biar orang tahu rasa, mendadak di luar terjadi ribut-ribut.
"Kebakaran, kebakaran!"
Tiba-tiba terdengar para dayang berteriak.
Bukan main terkejut In Ceng oleh kejadian tiba-tiba ini, ia dorong pintu buat memandang keluar, tapi mendadak ia rasakan sambaran angin tajam yang datang dari muka, dari atas genteng kaca di istana samping mendadak melompat turun seorang, dengan pedang yang diputar secepat angin, beruntun dua kali pendatang ini menusuk In Ceng.
Orang yang tiba-tiba datang ini ternyata bukan lain daripada orang yang mengejutkan dan membikin pecah nyali In Ceng dalam mimpi itu, adalah Lu Si-nio!
Munculnya Lu Si-nio yang mendadak ini, membuat kaget In Ceng hingga ia berdiri terpaku.
Melihat tuannya berada dalam bahaya, Liau-in tidak berpeluk tangan, ia menggerung sekali, dengan kepalan tangan yang besar kasar ia menjotos ke muka Lu Si-nio, berbareng sebelah kakinya menendang, serangan ini memakai dua jalan, pukulannyi hanya pura-pura, tetapi tendangannya yang sungguh-sungguh.
Karena tidak menyangka, pedang Lu Si-nio hampir tertendang terbang, lekas ia tinggalkan In Ceng, dengan gerak cepat 'Hong-hong-tiam-thau' atau burung cendrawasih memanggut kepala, ia balik senjatanya balas menyerang dua kali.
Tetapi dengan gerak langkah 'Boan-liong-jiau-poh' atau ular naga melingkar langkah, ia lantas berkelit ke belakang Lu Si-nio, dari sini kembali ia angkat sebelah kakinya buat mendepak punggung orang.
Serangan yang dipakai oleh Liau-in adalah gabungan dari tipu silat 'Hok-hou-kun' dan 'Lian-hoan-tui', ilmu pukulan penakluk harimau dan tendangan berantai, gaya serangannya lihai luar biasa.
Ketika mendadak Lu Si-nio mendengar angin menyambar di belakangnya, dengan cepat ia meloncat ke atas, karena itu tendangan Liau-in mengenai tempat kosong, sebab mendadak kehilangan imbangan, maka menyelononglah Liau-in dua langkah ke depan.
Kesempatan ini tidak di-sia-siakan Lu Si-nio, dengan sebelah tangan ia menahan belandar atas gedung istana itu, sebelah tangan yang lain menimpukkan dua belati yang membawa suara mengaung, dua belati ia bagi ke arah In Ceng dan Liau-in.
Beberapa gebrakan ini terjadi secepat kilat, karena In Ceng sedang tertegun, sesudah Liau-in mewakilkan dia melawan Lu Si-nio baru dia bisa tenangkan diri, ia lantas ulur tangan hendak menutuk Teng Hiau-lan di tempat yang membikin pingsan, tak terduga mendadak pisau terbang Lu Si-nio menyambar padanya, di bawah ancaman maut, lekas In Ceng menjatuhkan diri ke lantai terus menggelundung pergi, maka lewatlah pisau terbang itu di atas kepalanya, ketika ia berbangkit kembali, ia pun mencabut pedangnya.
Sedang pisau yang mengarah Liau-in kena dijepit dengan dua jari oleh Hwesio ini, dengan tenaga raksasa 'Kim-kong-ci-lik' ia tekuk patah belati itu.
"Po-kok Siansu, kau bereskan Teng Hiau-lan dulu!"
In Ceng berseru.
Lantaran Teng Hiau-lan menyimpan surat tulisan Khong-hi, lagi tidak diketahui asal-usul pemuda ini, maka In Ceng sangat mencurigainya, sebab itu pula meski dalam keadaan sangat genting, ia tidak lupa perintahkan Liau-in menghabisi jiwa pemuda itu.
Dengan sendirinya perintah itu diturut oleh Liau-in, ia melompat maju ke depan Teng Hiau-lan, akan tetapi di sebelah sana Lu Si-nio melayang turun, lebih dulu ia jambret Teng Hiau-lan terus diangkat dan melompat ke atas belandar besar itu.
Sementara itu karena mendengar ribut-ribut di dalam istana, pengawal di luar secara berbondong membanjir buat menolong Sri Baginda yang baru.
"Kau terluka tidak?"
Tanya Lu Si-nio pada Teng Hiau-lan sambil menabas putus borgol di tubuh pemuda itu sesudah mereka berada di atas belandar.
"Tidak!"
Sahut Hiau-lan.
Kiranya Liau-in telah membaca surat tulisan Khong-hi yang mengharuskan ln Ceng berlaku baik pada Teng Hiau-lan, maka sebelum melaporkan, ia tak berani sembarang menyiksanya.
Begitulah maka sesudah mendengar Hiau-lan tidak terluka, hati Lu Si-nio menjadi lega.
"Baik, kalau begitu kita terjang keluar!"
Ajaknya kemudian.
Habis itu ia meloncat ke atas lagi, di antara angin sambaran pedangnya, ia bikin hancur genteng kaca di atas atap istana itu hingga berwujud satu lubang.
Nampak orang membobol genteng buat melarikan diri, sudah tentu para pengawal tak membiarkan musuh kabur begitu saja, apalagi di hadapan Sri Baginda, ada dua jago pengawal yang Ginkang-nya bagus, segera mereka melompat ke atas buat menjambret Lu Si-nio.
Akan tetapi siapakah Lu Si-nio?
Tidak begitu gampang nona ini kecundang.
Dengan tangan kiri ia lempar Teng Hiau-lan keluar melalui lubang atap yang dibobolnya tadi, sedang senjata yang berada di tangan kanan berbareng bekerja, ia menusuk dan menikam, baru saja tangan kedua jago pengawal tadi menempel belandar, kontan mereka kena dijojoh Hiat-tonya dan terguling ke bawah.
Sungguhpun ilmu silat Liau-in sangat tinggi, tetapi menyaksikan gebrakan ini, tak tertahan ia pun terkejut dan merasa jeri.
Sebaliknya In Ceng menjadi murka melihat jago pengawalnya tak mampu menangkap Lu Si-nio.
"Lekas tangkap budak hina itu!"
Ia membentak supaya pengawalnya bekerja lebih giat.
Memangnya Liau-in cukup licin, tadi sesudah ia bertukar beberapa gebrak dengan Lu Si-nio, ia lihat Sumoaynya ini sudah lebih maju lagi Kiam-hoatnya, sedang ia sendiri tidak membawa senjata (tongkatnya dibikin melengkung oleh Pun-bu Taysu dan belum bikin yang baru), jika ia harus bergebrak melawan orang dengan tangan kosong dan satu lawan satu, ia kuatir dirinya tidak bakal unggul, sebaliknya kalau mengeroyok bersama dengan jago pengawal, ia akan kehilangan pamor sebagai seorang Suheng, walaupun sudah tidak diakui, oleh sebab itulah, begitu In Ceng memberi perintah penangkapan, jago pengawal lain seketika berebut maju, hanya Liau-in sendiri saja yang diam tidak bergerak.
"Cukong (tuanku), mungkin mereka masih ada begundal lainnya, biar aku menjaga Cukong di sini,"
Beginilah alasan Liau-in pada In Ceng.
"Baiklah, boleh juga kau tinggal di sini,"
Sahut In Ceng.
Meski di mulut ia berkata demikian, tetapi dalam hati sebenarnya ia kurang senang atas sikap Hwesio ini.
Sementara Lu Si-nio yang memiliki Ginkang sangat bagus, kepandaian Teng Hiau-lan pun setingkat lebih tinggi daripada jago pengawal itu, dalam sekejap mereka menerobos keluar dari bobolan genteng tadi, mereka sudah melayang lewat beberapa deret istana yang lain.
Tetapi di luar sana mereka telah ditunggu oleh Tang Ki-joan dan Kam Thian-liong, dua orang ini segera menggempur dari dua samping, kepandaian kedua orang ini masih berada di atas jago pengawal lainnya, maka Lu Si-nio tak berani pandang enteng, segera ia sambitkan pisau lagi.
Namun dengan sekali tangkis Kam Thian-liong menghantam jatuh pisau terbang pertama, ia incar pisau yang kedua dengan maksud untuk berkelit ke samping kiri, tak terduga Lu Si-nio seperti sudah memperhitungkan ia bakal ambil tindakan ini, maka sewaktu melepaskan senjata rahasia, diam-diam ia pakai gerak lain, kalau pisau yang pertama menjurus lurus ke depan, adalah pisau kedua sesudah dekat musuh mendadak bisa menikung ke kiri.
Keruan kaget sekali Kam Thian-liong oleh senjata rahasia ini, syukur ia masih bisa menghindarkan diri dengan cepat, sekalipun demikian, tidak urung pundaknya kesrempet hingga baju pundaknya terobek, saking kagetnya Kam Thian-liong jadi jeri, ia tak berani menguber lagi.
Di samping itu, Tang Ki-joan pun tidak tinggal diam, kontan ia balas serangan orang dengan tiga buah 'Tau-kut-ting', paku penembus tulang yang lihai.
Tetapi serangan ini kena dipukul jatuh oleh Lu Si-nio, sedang paku yang ketiga menyambar lewat di atas pundak Teng Hiau-lan hingga pemuda inipun terperanjat.
Karena serang-menyerang dengan senjata rahasia kedua belah pihak ini, mereka jadi terhalang, sementara itu pengawal istana sudah mengepung dari empat penjuru.
Dengan pedang terhunus Lu Si-nio membuka jalan di depan, ia membawa Teng Hiau-lan kabur terus dengan memilih jalan yang sepi.
Waktu itu mereka sudah memasuki taman istana bagian belakang, baru saja mereka melayang lewat sebuah bukit-bukitan, mendadak dari depan menyerbu keluar sebarisan pengawal.
Pengawal yang berada paling depan tertampak bergerak dengan cepat dan gesit sekali, segera Hiau-lan mengenali orang ini bukan lain daripada jago pengawal yang pernah menunjukkan dia mencari ibu di dalam istana dahulu, yaitu Kau Sam-pian.
Dalam pada itu terlihat Kau Sam-pian telah ayun tangan, menyusul terdengar suara panah bersuara menyambar ke arah mereka.
Teng Hiau-lan terperanjat, pikirnya.
"Kau Sam-pian adalah sobat baik guruku (Ciu Jing), mengapa terhadap diriku kini dia tidak kenal ampun?"
Waktu itu anak panah bersuara tadi sudah menyambar lewat di atas kepala Lu Si-nio, menyusul Lu Si-nio lantas melayang ke sana dengan cepat, ia memburu menuju ke tempat dimana anak panah bersuara tadi jatuh.
Hiau-lan jadi tergerak hatinya melihat tindakan kawannya ini, dengan kencang ia susul di belakang Lu Si-nio.
Di belakang sana Kau Sam-pian ternyata sudah mendahului pengawal lain menguber, beruntun ia pun melepas beberapa panah bersuara, ada yang menyambar ke kiri dan ada pula yang terbang ke jurusan kanan, tetapi tempat dimana anak panah itu jatuh, di situlah selalu Lu Si-nio menuju, laksana anak panah itu memang sengaja menjadi petunjuk jalan, akhirnya rombongan pengawal tadi tertinggal jauh di belakang, mereka membelok masuk ke dalam semak bunga di antara bukit-bukitan palsu, ternyata di sini mereka tidak ke-temukan seorang pun yang merintangi mereka.
Akhirnya setelah panah bersuara itu berhenti.
Lu Si-nio pun menghentikan langkah.
"Haha, memang Ling-sian punya akal yang bagus!"
Ujar Si-nio dengan tertawa. Dalam pada itu mendadak dari dekat persembunyian mereka melompat keluar seorang terus memegang kencang pundak Teng Hiau-lan sambil berseru tertahan.
"Ha, kau datang juga!"
Waktu Hiau-lan menoleh, ia lihat orang ini ialah seorang Hwesio, ia tercengang karena kenal orang ini adalah Ciok Keh-jiu yang dahulu pernah bergebrak dengan dia di dalam istana ini.
Jambretan J-ing-sian pada Teng Hiau-lan tadi adalah gerak tipu Kim-na-jiu yang lihai, tulang lemas di pundak mendadak kena dicekal dan dipencet oleh tiga jari, seketika Teng Hiau-lan tak bisa berkutik "Orang sendiri!"
Cepat Lu Si-nio memberitahu. Ling-sian jadi heran.
"Mana bisa, bukankah dia jago pengawal dalam istana?"
Ia tanya.
"Ia adalah putra Hay-hong!"
Sahut Lu Si-nio.
Mendengar nama Hay-hong disebut, seketika Ling-sian kelihatan gemetar, lekas ia lepaskan cekalannya, ia bawa Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan masuk ke dalam sebuah gua.
Dalam kegelapan Teng Hiau-lan nampak sinar mata Hwesio ini berkelap-kelip selalu menatap padanya.
"Hiau-lan, dia adalah sobat karib mendiang ibumu,"
Lu Si-nio coba memperkenalkan mereka. Seketika Teng Hiau-lan pun terguncang hatinya, air matanya lantas berlinang.
"Sudahkah kau bertemu dengan ibumu?"
Tanya Ling-sian kemudian.
"Sudah!"
Jawab Hiau-lan.
"Bawalah aku menemuinya di istana pengasingan itu,"
Pinta Ling-sian.
"Kau tidak usah mencarinya lagi!"
Sahut Hiau-lan dengan tak lancar karena tersenggak-sengguk.
"Ibu sudah lama meninggal!"
Keterangan ini membikin Ling-sian terpaku seketika, rasa dinginnya menembus hulu hati.
Ia sudah menanti selama tiga puluh tahun, bahkan ia sudah jadi Hwesio, tetapi masih belum melupakan cinta kasihnya di masa lampau, tak tersangka dambaan hatinya sudah meninggal.
Kiranya pada tiga puluhan tahun berselang, Ling-sian pernah bekerja di dalam istana sebagai pesuruh, ia banyak berkenalan dengan pengawal dalam istana.
Sejak tahun lalu ia datang ke kotaraja dan menyembunyikan diri di Se-san, saban kali ia memberi sokongan pula kepada janda piatu jago pengawal tua yang sudah meninggal, oleh sebab itu, jago pengawal lama yang masih belum pensiun agak akrab dengan dia.
Pada waktu Khong-hi wafat, tidak antara lama, di antara sobat jago pengawal ada yang mengirim kabar padanya, diberitahukan bahwa Teng Hiau-lan ditawan dan In Ceng pun sudah pindah ke dalam istana.
Di antara pengawal angkatan tua, kecuali Kau Sam-pian dan beberapa orang lain yang terbatas, kebanyakan sudah loyo' dan tak berpengaruh lagi, tugas mereka dalam istana tidak lebih hanya nama saja, tetapi sebenarnya menganggur.
Apalagi sesudah kaisar baru naik takhta, mereka merasa kuatir dan tak tenteram, maka Ling-sian menjadi sasaran mereka untuk diajak berunding tentang nasib mereka.
Sewaktu Ling-sian berbicara dengan kawanan bayangkara ini, Kam Hong-ti dan Lu Si-nio pun hadir dan mendengar dengan jelas di kamar mereka.
"Bagaimana Ciok-toako, apa kau masih ingin masuk istana lagi?"
Tanya Kam Hong-ti begitu kawanan jago pengawal pergi.
"Di sekitar In Ceng penuh jago lihai, selanjutnya istana pasti akan dijaga terlebih keras lagi, mana bisa aku masuk ke sana?"
Sahut Ling-sian.
"Justru kebalikannya menurut pendapatku,"
Ujar Kam Hong-ti dengan tertawa.
"Di waktu mereka sedang repot urusan penggantian kaisar baru, saat itulah paling gampang untuk menyelundup masuk ke dalam istana, jika lewat sedikit hari lagi, kesempatan ini akan hilang percuma."
Mendengar pendapat orang cukup masuk di akal, keadaan dalam istana Ling-sian pun sudah cukup hapal, maka malam itu bersama Lu Si-nio, mereka mengunjungi istana lagi secara diam-diam.
Betul juga dugaan Kam Hong-ti, karena sedang ribut urusan penggantian kaisar baru, maka penjagaan dalam istana rada kendor.
ln Ceng sendiri karena masih terlalu sibuk membereskan urusan lain yang lebih penting, terhadap jago pengawal dalam istana pun belum sempat mengaturnya, sedangkan Haptoh, Liau-in dan kawan-kawan karena baru saja masuk istana kaisar, tempatnya mereka belum hapal.
Maka dengan gampang Lu Si-nio lantas kobarkan api pada salah satu istana yang rada sepi untuk memancing pergi penjaga ln Ceng, dan pada kesempatan itu Lu Si-nio menolong Teng Hiau-lan meloloskan diri dari cengkeraman maut.
Demikianlah, sesudah Ling-sian mendengar bahwa dambaan hatinya sudah meninggal, ia jadi termangu.
• "Urusan kita sudah selesai, marilah kita keluar istana,"
Ajak Lu Si-nio. Namun rupanya Ling-sian masih berada dalam kedukaannya, ia tanya Hiau-lan lagi.
"Kapankah ia meninggal?"
"Justru pada malam di kala kau masuk istana dahulu itu,"
Tutur Hiau-lan. Keterangan ini membikin muka Ling-sian menjadi pucat. Dalam pada itu di luar gua terlihat berkelebatnya bayangan orang, ternyata Kau Sam-pian sedang mendatangi.
"Beruntung jago pengawal In Ceng belum hapal dengan tempat dalam istana dan jalanan sini, pula bayangkara yang tua tidak sudi menjual tenaga sepenuhnya pada In Ceng, kalau tidak, kalian sungguh sukar buat lolos!"
Kau Sam-pian berkata dengan tertawa. Habis itu tiba-tiba ia merasa suasana dalam gua rada lain dari biasanya, ia lantas bertanya.
"Ciok-toako, mengapa tiada yang membuka suara?"
"Hay-hong sudah meninggal!"
Sahut Ling-sian dengan perasaan pilu.
"Hay-hong sudah meninggal?"
Kau Sam-pian menegas.
"Pantas, sesudah kau masuk istana dulu, istana pengasingan itu lantas disegel, semula aku mengira dipindah ke tempat tahanan lain."
"Meski Hay-hong sudah mati, namun aku masih ingin menengok ke istana tahanannya untuk melihat bagaimana keadaan tempat tinggalnya itu sekarang,"
Tiba-tiba Ling-sian berkata lagi. Kau Sam-pian bungkam atas kemauan orang ini, sebaliknya di kegelapan tertampak mata Teng Hiau-lan mengembeng air mata.
"Aku pun ingin ke sana sekali lagi,"
Kata pemuda itu. Melihat keinginan dua orang ini, Kau Sam-ian menghela napas.
"Seorang hamba hanya mengabdi pada satu majikan, selanjutnya aku pun tidak ingin tinggal lebih lama lagi dalam istana, biarlah aku bawa kalian ke sana,"
Katanya kemudian.
Selang agak lama, keadaan ribut di luar sudah sepi kembali, Kau Sam-pian lantas membawa Ling-sian bertiga dengan mengambil jalanan kecil yang sepi terus menuju ke istana pengasingan.
Sepanjang jalan meskipun pernah ditegur oleh penjaga pada dua tiga tempat, tetapi karena mereka bukan orang In Ceng, maka sesudah Kau Sam-pian memberi tanda rahasia, dengan gampang mereka lewat tanpa halangan.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di tepi sebuah empang dengan airnya yang berkelap-kelip di malam hari.
"Di tepi empang seberang sana, rumah yang terbuat dari batu hitam itulah istana pengasingan,"
Kau Sam-pian memberitahu pada kawannya.
Setelah mereka sampai di depan istana, tiba-tiba mereka lihat pintu batu istana itu setengah terbuka, keruan Kau Sam-pian sangat heran, sementara itu Ling-sian sudah tak sabar lagi, ia mendahului menyerobot ke depan terus mendorong pintu itu dan masuk.
"Apakah Ong-tuitio (kapten) yang datang?"
Tiba-tiba terdengar orang bertanya dari dalam.
Waktu Ling-sian menegas, ia lihat ada dua kiongli atau dayang wanita yang sedang menyapu dan membersihkan istana itu.
Semula Ling-sian tertegun sejenak karena kedua kiongli itu seperti sudah pernah ia lihat, karena itu, ia tidak menggubris pertanyaan mereka tadi tentang "Ong-tuitio"
Segala, begitu maju ia lantas menegur.
"He, apakah kalian kenal Hay-hong?"
Mendengar teguran itu, kedua dayang menjadi kaget.
"He, kau Hwesio ini muncul darimana?"
Tanya mereka dengan terkejut. Sementara itu Kau Sam-pian sudah melangkah maju. Katanya pada kedua dayang itu.
"Dia adalah orang kepercayaan Hongsiang sekarang, mengapa kalian tidak menjawab pertanyaannya?"
Memang kabar tentang Liau-in Hwesio ikut In Ceng masuk istana sudah tersiar di kalangan istana, keruan kedua kiongli itu salah duga bahwa Ling-sian adalah Hwesio yang disebut Po-kok Siansu itu, mereka menjadi pucat ketakutan.
"Lekas katakan!!' Ling-sian lantas membentak. Tidak kepalang rasa takut mereka, namun tidak urung seorang di antara kiongli itu lantas menjawab.
"Hay-hong sudah lama meninggal, bahkan kamilah yang menggotong dia keluar dari sini untuk dikuburkan!"
Keterangan ini kembali memukul perasaan Ling-sian, di antara sinar matanya mendadak terpancar semacam sinar yang aneh, ia remas jari tangan sendiri dengan perasaan hancur.
"Bukankah digotong keluar dengan balai-balai bambu?"
Tiba-tiba ia bertanya pula.
"Ya, betul!"
Sahut kiongli itu.
Seketika Ling-sian terpaku seperti patung, dalam benaknya seperti terbayang sebuah lukisan yang sudah luntur warnanya, menggambarkan empat kiongli menggotong sebuah balai-balai bambu, di atas balai-balai itu rebah sesosok tubuh wanita yang tertutup dengan kain putih dengan rambut jarang-jarang dan ubanan, mukanya sangat menakutkan, kedua tangannya menjulur keluar, tertampak jari tangannya laksana cakar ayam.
Itu adalah pemandangan yang ia lihat ketika untuk pertama kalinya ia menyelidik ke dalam istana yang dijumpainya secara kebetulan.
Ia tak percaya bahwa wanita jelek laksana mayat hidup yang dijumpainya malam itu adalah Hay-hong yang dulunya secantik bidadari?
Dalam sekejap pikirannya timbul tenggelam seperti ombak samudra yang bergulung-gulung mendampar, tiba-tiba semua itu lenyap dan tenang kembali, Ling-sian benar-benar mengalami gon-cangan kalbu hebat yang selama ini belum pernah dirasakannya.
Melihat orang berdiri terpaku, Kau Sam-pian mengira Ling-sian saking sedihnya telah menjadi gila, maka lekas ia menariknya.
"Ciok-toako, hendaklah kau berpikir panjang,"
Katanya. Akan tetapi mendadak Ling-sian tertawa sambil menggumam.
"Toako, kenapakah kau?"
Tanya Kau Sam-pian kuatir. Namun Ling-sian masih terus tertawa.
"Terlepas dari kulit busuk, kembalikan wajah asliku, kulit* busuk dan wajah asli asalnya memang satu. Keelokan wanita memang kosong, kosong sama dengan keelokan, baru kini aku paham semuanya,"
Begitulah ia menggumamkan ajaran Buddha. Melihat kawannya kurang waras, Kau Sam-pian menjadi kuatir, ketika hendak menghiburnya, tiba-tiba Lu Si-nio tersenyum.
"Selamat Taysu telah sadar akan ajaran Buddha, selanjutnya jalan menuju ke dunia suci sudah terbuka bagimu,"
Dengan merangkap tangan si nona memberi selamat. Sebaliknya Kau Sam-pian dan Teng Hiau-lan jadi bingung, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Lu Si-nio tadi.
"Sudahlah kalian jangan bikin ribut padanya, kini ia jauh lebih tenang hatinya daripada kapan saja,"
Ujar Lu Si-hio.
Sementara itu kedua kiongli tadi yang melihat mereka seperti orang gendeng, Ling-sian pun tidak mirip Liau-in seperti apa yang sering dibicarakan para Thaykam dalam istana, maka mereka tidak ketakutan lagi seperti tadi.
"Apakah kalian kenal Ong-tuitio? Segera ia akan kemari, kami masih harus bikin bersih tempat ini!"
Begitu dengan hormat mereka bertanya.
"Ong-tuitio siapakah?"
Tanya Kau Sam-pian.
"Kabarnya nama lengkapnya ialah Ong Ling,"
Sahut kiongli itu ragu-ragu.
"Kalian adalah orang Hongsiang, apakah tidak kenal dia?"
Mendengar nama Ong Ling disebut, bukan main girang Teng Hiau-lan bercampur terkejut. Pikirnya.
"Dicari tidak ketemu, dapatnya tanpa buang tenaga."
Maka lekas ia menyahut.
"O, kenal, tentu kenal! Justru dia adalah sobat lama dengan aku, apakah dia akan tinggal di sini?"
"Ya, besok pagi ia akan pindah ke sini, makanya Hap-cong-koan perintahkan kami bikin bersih tempat ini,"
Tutur kedua kiongli itu pula.
"Bagus sekali, biar kami menunggunya di sini,"
Kata Hiau-lan. Habis itu ia dorong pintu kamar terus masuk ke dalam, perbuatannya ini diikuti oleh Kau Sam-pian bertiga.
"Sudah hampir terang tanah, apakah kalian tidak mau keluar istana?"
Tanya Kau Sam-pian berbisik sesudah melihat cuaca yang remang-remang. Lu Si-nio pun merasa gerak-gerik Teng Hiau-lan agak luar biasa, maka ia lantas bertanya.
"Siapakah Ong Ling itu? Ada urusan apakah kau tunggu dia? Kalau sampai terang tanah, kita tidak gampang lagi keluar istana."
"Dia adalah Suhengku,"
Jawab Teng Hiau-lan.
Habis itu ia menceritakan kisahnya dahulu tentang pengkhianatan Ong Ling pada keluarga gurunya, bahkan menggondol pergi Suso atau iparnya.
Sebenarnya Lu Si-nio sudah pernah mendengar cerita ini dari Teng Hiau-lan, cuma nama Ong Ling tidak dia ingat lagi, sudah tentu kini ia pun merasa tertarik.
"Kalau begitu, baiklah kita sembunyi satu hari di sini,"
Katanya kemudian dengan tertawa.
"Di bumi ini ternyata ada seorang rendah dan kotor sebagai dia, tentu saja aku tidak bisa lepaskan dia lagi,"
Sokong Kau Sam-pian.
Hanya Ling-sian sendiri yang masih tetap bungkam, tanpa berkata ia kian kemari berjalan dalam kamar, tiba-tiba di pojok kamar ia dapatkan sebuah Khim (kecapi), dan dipetik dua kali hingga berbunyilah alat musik itu.
Mendengar suara khim ini Teng Hiau-lan jadi teringat pada kejadian yang lalu, tanpa tertahan air matanya bercucuran.
"Eh, kiranya di sini masih ada sebuah khim bobrok, buang saja,"
Kata Kiongli yang sedang masuk ke kamar.
"Tak usah, biar nanti aku membawanya keluar,"
Sahut Lu Si-nio.
Begitulah maka selang tak lama cuaca pun sudah terang.
Tiba-tiba dari luar berkumandang suara tindakan orang yang ramai, Ong Ling dan dua pengawal telah masuk ke dalam.
Kiranya Ong Ling yang mengekor In Ceng, akhirnya ia mendapat suatu pangkat kecil sebagai Tuitio atau kapten pasukan pengawal, sesudah In Ceng naik takhta, ia pun lantas ikut masuk istana.
Waktu itu dari kapten ia sudah naik pangkat menjadi Cong-koan (komandan) seluruh pasukan pengawal dalam istana.
Haptoh tahu bahwa ilmu silat Ong Ling biasa saja, maka ia cuma diberi satu tugas sepele, yakni menyuruh dia menjaga Ham-hoa-wan, taman kerajaan sebagai rumah tinggalnya, istana pengasingan yang dahulu itu lantas dibikin bersih dan "diirikan padanya.
Bisa mendapatkan sebuah 'istana', Ong Ling pun tidak peduli lagi apa tempat itu bekas tempat tahanan atau bukan, dalam hati ia gembira sekali, sebab itulah pagi-pagi ia sudah bawa barang-barangnya bersama dua pengawal bawahannya pindah ke sini.
Begitulah tatkala Ong Ling melangkah masuk ke dalam istana pengasingan itu, segera ia mencium bau apek yang tak sedap, ia mengerut kening.
"Mengapa tidak bersih?"
Ia bentak Kiongli yang bertugas. Lalu ia sambung lagi.
"Dinding ini harus dikapur sekalian."
Tengah ia berlagak sebagai tuan besar, sekonyong-konyong dari dalam kamar melompat keluar seorang, sebenarnya kiongli itu sedang hendak mengatakan.
"Ong-tuitio, kawanmu sedang tunggu kau di sini."
Tetapi sebelum diucapkan, tahu-tahu Ong Ling dan dua pengawalnya sudah menjerit dan roboh terguling.
"Hm, Tuan besar Ong Ling, baik-baik saja kau selama ini?"
Begitulah Teng Hiau-lan lantas menegur dengan menjengek.
"Tentunya kau sudah makmur dan senang bukan? Apakah kau masih kenal diriku?"
Dengan gerak cepat Ong Ling kena ditutuk roboh oleh Teng Hiau-lan, keruan ia menjadi kaget dan akhirnya ketakutan ketika mengenali siapa yang berada di hadapannya.
"Teng-sute, kau, kau ia berkata dengan suara terputus-putus. Akan tetapi sebelum terang perkataannya, Hiau-lan sudah angkat sebelah kaki terus menginjak di atas dadanya.
"Dimana Pang-suso?"
Bentak pemuda ini.
"Dia tiada di sini,"
Sahut Ong Ling.
"Tentu telah kau celakai dia bukan?"
Bentak Hiau-lan lagi.
"Mana kakak berani?"
Kata Ong Ling.
"Siapa sudi bersebutan saudara dengan kau? Lekas katakan, dimana Suso berada?"
Bentak Hiau-lan pula.
"Aku pun tidak tahu dia ada dimana,"
Sahut Ong Ling, Karena orang tetap tidak mau mengaku, Hiau-lan menjadi gusar, ujung kakinya sedikit ditekan, seketika Ong Ling menjerit kesakitan.
"Sudah lama dia kabur!"
Seru Ong Ling kemudian.
Sudah tentu Hiau-lan tidak gampang percaya, kembali ia injak lebih keras, keruan Ong Ling tidak tahan, dengan menjerit ia jatuh pingsan.
Menyaksikan kejadian itu, kedua Kiongli tadi ketakutan hingga muka pucat lesi.
Tapi Lu Si-nio lantas menghibur mereka supaya jangan takut.
Selang tak lama,perlahan-lahan Ong Ling sadar kembali.
"Apa kau masih tidak mau mengaku?"
Bentak Hiau-lan lagi.
"Memang betul dia telah kabur, dipukul mati pun aku tidak tahu kini dia berada dimana,"
Sahut Ong Ling sambil merintih.
Sudah tersiksa dan kesakitan sedemikian rupa masih begitu jawabnya, Hiau-lan.membatin, memang Pang-suso berkepandaian lebih tinggi dari dia, boleh jadi dia memang sudah lolos dari cengkeramannya.
"Sejak kapan ia kabur?"
Ia tanya lagi.
"Tiga hari sesudah datang di kotaraja,"
Jawab Ong Ling.
Apa yang diduga Hiau-lan adalah betul.
Susonya, Khong Lian-he, lebih tinggi ilmu silatnya daripada Ong Ling, maka beruntung berhasil lolos dari mulut macan.
Dahulu tatkala Khong Lian-he tertawan oleh Siang-mo dan diserahkan pada Ong Ling, ia dipaksa Ong Ling yang hendak mengawini dia, tetapi dengan alasan harus berkabung untuk ayah dan suaminya yang meninggal, Khong Lian-he berkata harus tunggu seratus hari dahulu baru mau menikah.
Ilmu silat Ong Ling memang di bawah Khong Lian-he, maka ia tak mampu dekat padanya, kemudian sesudah sampai di kotaraja, setelah Siang-mo masuk istana, tingkatan pangkat tidak sama, mereka lantas berpisah dengan Ong Ling.
Waktu masih di tengah jalan, Khong Lian-he tidak melarikan diri karena ia segan pada Siang-mo, tetapi kini Siang-mo sudah tak di situ lagi, hanya Ong Ling seorang diri mana bisa melawan dia, maka sesudah Ong Ling dihajar lalu ia melarikan diri.
Dalam pada itu Kau Sam-pian sudah tak sabar, ia keluar darj kamar dan bertanya.
"Apakah masih belum selesai?"
"Pang-suko, hari ini dapatlah aku membalaskan sakit hatimu!"
Terdengar Hiau-lan tertawa pilu sambil mendongak, habis itu sebelah telapak tangannya lantas digablokkan, maka pecahlah batok kepala Ong Ling oleh pukulan itu.
"Lekas berangkat, cuaca sudah hampir terang, kalau lambat sedikit sudah tak keburu lagi,"
Ajak Kau Sam-pian Waktu itu cuaca remang-remang, kembang salju masih membeku, tetapi di luar taman sudah terdengar suara terompet berbunyi.
"Congkoan yang baru sungguh giat, fajar baru menyingsing sudah lantas apel besar bagi pasukan pengawal!"
Ujar Kau Sam-pian.
Habis keluar dari istana itu, ia bawa Lu Si-nio dan lain-lain berangkat dengan cepat.
Haptoh yang baru saja naik pangkat sebagai Congkoan baru dalam istana, hari pertama sudah lantas terjadi huru-hara, keruan ia gusar sekali, maka pagi sekali ia lantas kumpulkan semua pengawal dengan maksud bikin pembersihan di antara petugas lama dan diganti dengan orang kepercayaannya.
Sementara itu ia sendiri sedang meronda sampai di taman bunga, mendadak ia lihat beberapa bayangan orang melayang pergi menuju ke jurusan barat-laut secepat terbang, malahan orang yang paling depan dapat ia kenali sebagai Lu Si-nio.
Haptoh menjadi murka, katanya dalam hati.
"Kurangajar! Budak hina itu sungguh bernyali besar, ternyata ia berani bermalam di dalam istana."
Maka tanpa pikir ia ayun tangannya, dua bola seketika melayang ke angkasa dengan membawa suara mengaung.
"Hiat-ti-cu bisa berbuat apa padaku!"
Sahut Lu Si-nio dengan tertawa atas serangan itu.
Ia melompat ke atas, pedang 'Siang-hoa-kiam' menyampuk, maka di antara berkelebatnya sinar perak, pisau yang berada dalam senjata rahasia istimewa itu seketika berhamburan laksana hujan belati.
Di sebelah sana, sebuah Hiat-ti-cu yang lain telah disambut Kau Sam-pian, ia pun meniru cara Lu Si-nio, tongkatnya menyampuk cepat, Hiat-ti-cu itu disapu pergi dan terjatuh di antara gerombolan pengawal istana hingga kawanan bayangkara itu berlari menyingkir.
"Kejar lekas!"
Seru Haptoh.
Akan tetapi dalam sekejap Lu Si-nio dan kawan-kawan sudah berhasil melalui beberapa buah bukit-bukitan palsu dan sampai di pintu gerbang 'Sun-cing-bun'.
Kabur sampai di sini baru Kau Sam-pian merasa lega, tetapi di luar dugaannya, sekonyong-konyong terdengar terompet berbunyi riuh, Tang Ki-joan bersama Thian-yap Sanjin tiba-tiba muncul dari kanan-kiri dengan membawa barisan pengawal, secepat terbang mereka memburu tiba.
"Celaka!"
Mau tak mau Lu Si-nio mengeluh juga.
"Jangan kuatir, mari ikut aku!"
Kata Kau Sam-pian.
Di luar pintu gerbang Sun-cing-bun adalah pegunungan Keng-san, penjaga pintu gerbang ini sebagian besar adalah bayangkara tua, dengan sendirinya mereka cukup kenal Kau Sam-pian, maka tanpa ayal segera Kau Sam-pian berlari ke depan sana.
"Hai, kawanan pengacau sudah kabur keluar, apakah kalian tidak melihatnya?"
Bentaknya berlagak.
"Tidak tahu!"
Sahut penjaga itu.
"Lekas buka pintu, biar kami kejar mereka!"
Seru Kau Sam-pian lagi.
Namun di antara bayangkara penjaga itu terdapat pula orang baru begundal In Ceng, ketika melihat Kau Sam-pian berjumlah empat orang, di antaranya ada Hwesio, dan wanita muda pula, mereka menjadi curiga.
"Kalian ini siapa?"
Mereka balas bertanya.
"Pengawal kaisar sendiri!"
Sabut Kau Sam-pian.
Di antara penjaga itu terdapat pula kenalan Ling-sian, ketika Ling-sian memberi isyarat, dalam keadaan kacau dengan cepat pintu gerbang dibuka, maka secepat terbang Kau Sam-pian berempat berhasil lolos keluar.
Ketika Tang Ki-joan dan kawan-kawan menyusul tiba, pintu gerbang sudah tertutup kembali.
Dengan sendirinya penjaga itu memeriksa keterangan rombongan Tang Ki-joan dan ketika selesai, di lain pihak rombongan Lu Si-nio sudah kabur.
Tentu saja Haptoh menjadi murka dan uring-uringan, tapi tak bisa menyalahkan para penjaga, karena Kau Sam-pian memang betul adalah pengawal kesayangan kaisar yang lama dan berpengaruh, siapa pun tidak menyangka begitu kaisar tua mangkat, seketika juga ia memberontak.
Kembali pada Lu Si-nio dan kawan-kawan, setelah berhasil lolos berkat bantuan Kau Sam-pian dan dengan selamat sampai di luar istana terlarang itu.
"Lu-cici, pedangku telah dirampas oleh si keparat Liau-in,"
Tutur Hiau-lan pada Lu Si-nio.
"Biar kelak kita bikin perhitungan dengan dia, kini kita kembali saja buat berunding dengan Chit-ko,"
Sahut Lu Si-nio.
"Sehabis peristiwa ini, jago pengawal lama tadi pasti mendapat teguran, perubahan petugas dalam istana tentu akan banyak dilakukan, penjagaan pun pasti diperkeras, selanjutnya kita tidak boleh sembarangan ke sana lagi,"
Kau Sam-pian ikut mengutarakan pikirannya. Sesudah kembali di kelenteng di Se-san, mereka disambut Pek Thay-koan.
"Mengapa kalian baru kembali sekarang, hampir saja Chit-ko bersama Kwantang-si-hiap masuk istana buat mencari kalian,"
Katanya dengan tertawa.
"He, Kwantang-si-hiap pun datang?"
Tanya Ling-sian girang. Habis itu dengan berlari ia masuk ke dalam. Terdengar Hian-hong Tojin berseru dari dalam.
"Ciok-toako, kami akan bikin kesal kau lagi!"
"Kesal apalagi, kini aku sudah mengenakan jubah Buddha,"
Sahut Ling-sian dengan tertawa. Lalu Lu Si-nio dan Teng Hiau-lan menjumpai Kwantang-si-hiap.
"Kami empat saudara kali ini betul-betul terjungkal dengan menyedihkan, sudah jatuh di tangan seorang gadis cilik, jatuh lagi di bawah tangan seorang Kangouw-longtiong,"
Tutur Long-goat Hwesio.
"Apa?"
Tanya Ling-sian kaget.
"dengan siapa kalian bergebrak?"
Tan Goan-pa lantas gulung lengan bajunya, ia unjuk satu goresan bekas luka di lengannya.
"Coba kalian lihat, budak cilik itu betul-betul kejam sekali, kalau bukan Hian-hong Toako paham ilmu pertabiban, pasti lenganku, ini terbuang di bawah tangannya!"
Tutur Goan-pa.
"Kali ini kami datang ke kotaraja,"
Liu Sian-gai ikut menutur juga.
"waktu kami lewat Engyang di daerah Holam, karena Hian-hong Toako ada keperluan, maka kami bertiga lantas disuruh jalan lebih dulu, baru saja kami sampai di Hou-lau-koan, kami kepergok budak cilik itu dalam perjalanan dengan seorang pemuda."
"Budak cilik yang manakah?"
Tanya Teng Hiau-lan.
"Siapa lagi, budak cilik yang pernah dipelihara In Ceng itu,"
Sahut Tan Goan-pa dengan gemas.
"Dulu waktu kita obrak-abrik istana Si-hongcu, kita pernah berhadapan dengan dia, kali ini kembali kepergok dalam perjalanan, aku tertarik oleh rupanya yang menyenangkan, aku menyapa padanya, siapa duga dia lantas hamburkan tiga buah pisau padaku, karena jaraknya terlalu dekat, untuk menghindar sudah tidak keburu lagi, terpaksa aku menggunakan lenganku buat menangkis. Tak terduga kepandaian anak dara itu sudah maju pesat, satu pisau di antaranya menggores lenganku, dalam sekejap luka lenganku menjadi kaku dan hitam, maka tahulah aku bahwa pisau yang dipakainya itu berbisa!"
"O, kalau begitu dia tentu Pang Lin!"
Seru Hiau-lan.
"Dan pemuda yang bersama dia itu bukankah tampan dan berperawakan jangkung, menggunakan pedang, Kiam-hoatnya pun sangat menakjubkan?"
Lu Si-nio bertanya juga.
"Betul,"
Sahut Liu Sian-gai.
"Kalau begitu anak dara ini bukan Pang Lin, tetapi dia murid terakhir le-locianpwe di Thian-san,"
Ujar Lu Si-nio.
"Tidak, gerak tangan Pang Ing tidak begitu ganas, lagi pula ia tidak biasa menggunakan Hui-to (pisau terbang) berbisa,"
Kata Teng Hiau-lan.
"Sewaktu masih di Thian-san, aku sering melihat dia, hati bocah itu sangat welas-asih dan alim sekali."
Mendengar keterangan Teng Hiau-lan ini, Lu Si-nio menjadi heran.
"Katanya kedua keponakan perempuanmu ini anak kembar, jika begitu tentu mereka mirip sekali satu sama lain,"
Tanyanya.
"Memang, sampai aku sendiri pun tak bisa membedakan,"
Jawab Hiau-lan.
"Ya, kalau begitu tentu Li Ti telah salah sangka, sang adik,dikira sang kakak!"
Ujar Lu Si-nio tersenyum geli.
"Siapakah Li Ti?"
Tanya Liu Sian-gai heran.
"Putra Bu-locianpwe dari Thian-san-chit-kiam!"
Si-nio menerangkan lebih jauh. ."Ah, lantas bagaimana baiknya?"
Seru Liu Sian-gai terkejut.
"Aku telah bergebrak dengan dia di Hou-lau-koan, aku terkena pedangnya, sebaliknya ia pun kena aku pukul sekali dengan gelang bajaku. Jika nanti Bu-locianpwe tahu, apakah aku tidak akan didamprat?"
"Itu tidak akan terjadi, Bu-locianpwe sudah lanjut usianya, kesabarannya sudah tiada taranya, dapat dipastikan ia tidak nanti gusar karena kesalahan kalian yang tidak sengaja,"
Ujar Hiau-lan.
"Liu-tayhiap, coba kau lanjutkan ceritamu, aku nanti beritahu asal-usul si anak dara tadi,"
Sela Lu Si-nio.
"Setelah Si-te (adik keempat) terkena pisau berbisa si budak cilik itu, aku pun bergebrak dengan si pemuda dan kemudian sama terluka, si budak cilik masih hendak mengudak kami, untung Gin-kangku cukup baik, akhirnya aku bisa menolong Si-te dan kabur,"
Tutur Liu Sian-gai.
"Dan cerita selanjutnya biar Hian-hong Toako saja yang menuturkan."
Hian-hong pun tidak menolak, segera ia menyambung cerita orang.
"Aku suruh mereka bertiga jalan dulu, siapa duga bisa terjadi peristiwa itu? Kemudian setelah "
Aku susul mereka, dengan gusar aku lantas mencari budak cilik itu, aku pikir si pemuda sudah terluka, mereka tentu tidak akan pergi jauh, maka sesudah aku balut Iut ka Sam-te dan Si-te, kami lantas mencari mereka di sekitar bukit Hou-Iau-koan, pada waktu dekat magrib pemuda itu dapat kami temukan, akan tetapi budak cilik itu sudah tiada bersama dia, sebaliknya dia berteman seorang Kangouw-longtiong (tabib pengembara) yang aneh, sungguh tidak terduga sama sekali!"
Mendengar cerita terakhir ini, diam-diam Ling-sian menertawai mereka, batihnya.
"Kwantang-si-hiap yang terkenal sampai terjatah di bawah seorang gadis cilik, pantas kalau Hian-hong naik darah. Tetapi bila kebentur dengan guruku dan dia masih berani pamer kepandaian, maka pantas kalau dia ketemu batanya."
Sekalipun demikian, ia tidak lantas menjelaskan siapa si tabib pengembara itu, dengan tersenyum ia coba bertanya.
"Hian-hong Totiang, sama sekali tidak terduga bagaimana maksudmu?"
"Ya, sebab begitu pemuda itu nampak kami, ia lantas kisiki si tabib pengembara itu, tentunya ia beritahu bahwa kami adalah orang yang melukainya,"
Sambung Hian-hong lagi.
"Ternyata si tabib pengembara itu berangasan sekali, rupanya karena kisikan pemuda itu, belum sampai kami buka suara, sekonyong-konyong ia angkat galah pikulannya terus menghantam. Setelah saling gempur, akhirnya kami berlalu!"
Kembali Ling-sian tersenyum oleh cerita itu, ia tahu di antara Kwantang-si-hiap, meski usia Hian-hong paling tua dan kepandaiannya paling tinggi, namun juga yang paling suka unggul.
"Hian-hong Totiang harap jangan gusar, hanya jatuh di tangan tabib pengembara itu rasanya tidak perlu menjadi soal,"
Ia lantas berkata.
"Apa katamu,"
Sahut Hian-hong mendongkol.
"Hm, aku lihat gerak serangannya rada mirip dengan kau, tentunya kau dan dia berasal dari satu golongan?"
"Memang, malah lebih dari itu,"
Jawab Ling-sian dengan tertawa.
"Beliau adalah guruku, Bu-locianpwe dari Thian-san adalah kakak perempuannya, dia orang tua telah membikin gusar kalian, biar aku sebagai muridnya yang minta maaf saja."
Hian-hong menjadi kaget oleh keterangan ini, seketika ia terbungkam.
"Ia orang tua memang sudah tiga puluhan tahun tidak pernah menginjak daerah tengah ini, oleh sebab itu tidak kenal kalian berempat, harap Hian-hong Totiang jangan marah,"
Ling-sian berkata lagi.
"Haha, kalau memang dia adanya, maka kami jatuh di tangannya bisa berkata apalagi!"
Sahut Hian-hong dengan gelak tertawa.
"Agaknya usia gurumu tidak berselisih banyak dengan kau?"
Tanya Longgoat Siansu.
"Ya, sesudah setengah umur aku baru angkat guru padanya,"
Tutur Ling-sian. Sementara itu Kam Hong-ti pun ikut buka suara.
"Sayang si dara cilik itu lenyap lagi, apa selama kalian bergebrak dengan Bu-locianpwe, anak dara itupun tidak pernah unjuk diri?"
Tanyanya.
"Tidak,"
Sahut Hian-hong.
Kiranya sesudah Pang Lin dilepaskan oleh Lian Keng-hiau, karena yang diinginkan adalah berlatih Lwekang dari aliran yang baik, maka di malam harinya, dengan segala daya-upaya diam-diam ia memancing kabur Li Ti.
Melihat yang menggoda dia adalah anak dara yang dikenalinya, dengan sendirinya Li Ti senang sekali.
"Pamanmu ada sesuatu keperluan harus ke Bin-san dahulu, ia suruh aku bersama kau segera menyusulnya,"
Begitulah kata Pang Lin pada Li Ti.
Bu Ging-yao memang minta adiknya mengawasi putranya secara diam-diam, oleh karena itu sewaktu Li Ti menempur Liau-in dengan sengit di Hangciu, selama itu Bu Sing-hua belum unjuk diri.
Kini secara ngawur Pang Lin berkata sekenanya.
tak tahunya malah kena sasarannya dengan jitu.
Sedang Li Ti membatin.
"Tentunya ibu dan paman ingin aku lebih banyak tergembleng di kalangan Kangouw, maka paman tidak ingin bersama dengan aku,"
Lalu ia berpikir lagi.
"Pang Ing kenal paman dengan baik, pasti ia tidak mendustai aku."
Karena pikiran itulah, maka tanpa sangsi lagi Li Ti bersama Pang Lin lantas meninggalkan Hangciu.
Sepanjang jalan Pang Lin tidak habis putar otak dan berdaya untuk bertanya semua rahasia berlatih Lwekang dari Li Ti, pemuda ini mengira si anak dara ialah Pang Ing, maka sedikitpun tidak curiga, ia beritahu segala apa yang diketahuinya atas rahasia berlatih Lwekang.
Terhadap pribadi Li Ti, Pang Lin tidak merasa tertarik, tetapi juga tidak benci, ia jalan bersama pemuda ini, tujuan satu-satunya bukan lain hanya ingin memancing rahasia Lwekang dari pemuda ini, jika tujuannya sudah tercapai, segera ia akan berdaya-upaya meninggalkan pemuda ini.
Justru secara kebetulan, sebelum mereka sampai Bin-san, di Hou-lau-koan mereka kepergok dengan tiga orang dari Kwantang-si-hiap, dalam pertarungan ini, dengan pisau yang berbisa Pang Lin telah melukai Tan Goan-pa, Li Ti pun kena menusuk Liu Sian-gai satu kali, sebaliknya karena ilmu entengi tubuh Liu Sian-gai bagus sekali, tanpa terduga Li Ti pun kena digebuk sekali oleh gelang bajanya dan kena jalan darah yang berbahaya hingga mengalami luka parah.
Pang Lin tidak lantas meninggalkan Li Ti, lebih dulu ia mema-yang pemuda itu ke tempat sepi di dalam hutan yang lebat, di sini ia tinggalkan sebungkus obat bubuk, habis itu diam-diam mengeluyur pergi.
Syukur kemudian Bu Sing-hua keburu menyusul tiba dan lewat di samping hutan, ketika mendengar rintihan Li Ti, segera ia masuk hutan buat menengoknya, ketika nampak keponakannya terluka parah, ia ambil obat bubuk yang ditinggalkan itu dan diperiksanya pula, ia menjadi heran melihat obat ini, karena obat bubuk ini adalah obat pemunah racun yang paling berharga dan hanya terdapat di dalam istana, tanpa ragu-ragu ia bubuhi obat itu pada luka Li Ti, kemudian setelah ia tanya asal-usul obat itu, ia menjadi lebih heran.
"Sungguhpun obat mujarab di Thian-san tidak kurang banyaknya, tapi Ie-locianpwe tak punya obat bubuk semacam ini,"
Ujarnya.
la tidak tahu bahwa obat ini memang dibawa Pang Lin dari istana Si-hongcu.
Li Ti sendiri pun timbul curiganya, dan sebelum mereka berdua bicara lebih banyak, Kwantang-si-hiap sudah keburu datang.
Sebenarnya dengan ilmu silat yang tinggi dari Kwantang-si-hiap, kalau empat lawan satu, sekalipun Bu Sing-hua tidak gampang kalah, tetapi untuk menang pun sulit.
Akan tetapi dua di antara empat pendekar itu, yakni Liu Sian-gai dan Tan Goan-pa sudah terluka lebih dulu, sedang Li Ti sesudah dibubuhi obat, lengannya sudah bisa bergerak lagi, maka paman dan keponakan ini berjajar dan Kwantang-si-hiap kalah habis-habisan, beruntung Bu Sing-hua menguatirkan luka Li Ti, maka ia tidak mengudak lebih jauh.
Begitulah, sesudah Kwantang-si-hiap selesai menceritakan pengalaman mereka, kemudian Lu Si-nio pun menuturkan asal-usul Li Ti dan Pang Lin sebagaimana ia janjikan tadi.
Karena cerita ini, semua orang menghela napas terharu.
"Aku telah bersumpah mencari kembali keponakan perempuan itu, kini sudah tahu jejaknya, biar aku menyusulnya ke Holam,"
Demikian Teng Hiau-lan buka suara.
"Lebih baik kau kembali ke pasukan In Te dahulu,"
Ujar Kam' Hong-ti sesudah berpikir sejenak.
"Aku taksir sesudah ln Ceng naik takhta, pasti ia tidak perkenankan In Te tinggal lebih lama di kotaraja, jika ln Te pimpin pasukannya ke barat lagi, maka Holam adalah tempat yang harus dilaluinya. Dalam pasukannya kau boleh lihat gelagat, bila ada kesempatan kau bisa mengadu domba mereka, biar sesama saudara berhantam sendiri. Seandainya tidak bisa, kau dapat menggerakkan putra bangsa Han yang berada dalam pasukannya yang masih berdarah patriot."
Terlihat Lu Si-nio seperti hendak buka suara, tapi Kam Hong-ti kembali menyambung dengan tertawa.
"Mungkin Pat-moay kuatir karena Teng-hiante seorang diri berada di dalam pasukan besar dan mungkin berbahaya, tetapi dalam pasukan ln Te terdapat tidak sedikit saudara dari perkumpulan kita, lagi pula sesudah kita mendapat tahu hari keberangkatan In Te, kita dapat mendahului ke Holam secara berkelompok."
"3aik juga,"
Ujar Lu Si-nio.
"memangnya kita sudah harus naik Bin-san buat ziarah ke makam Suhu, sesudah kita berziarah ke makam Suhu baru kita kembali ke Sian-he-nia."
Di lain pihak, ternyata isi hati In Ceng kena diduga secara jitu oleh Kam Hong-ti, betul juga In Ceng (kini sudah menjadi Kaisar Yong-ceng) tidak ingin In Te tinggal lebih lama di kotaraja.
Sesudah upacara kenaikan takhta In Ceng selesai, dengan penuh rasa dongkol In Te kembali ke pasukannya malam-malam, ia tidak menduga bahwa dengan cara cepat luar biasa, Lian Keng-hiau sudah memperlemah kekuasaan militernya.
Kiranya begitu Lian Keng-hiau sampai di markas pasukan In Te, segera ia kumpulkan perwira tinggi dari dua puluh delapan batalion tentara pangeran itu dan mengumumkan kenaikan takhta ln Ceng di hadapan perwira itu, mereka diperintahkan supaya setia pada kaisar baru.
Perwira ini adalah orang kepercayaan In Te, semula mereka menaruh harapan agar In Te bisa naik takhta, tetapi kini demi mendengar In Ceng yang menduduki takhta, seketika lebih dari separo opsir itu berubah hati, mereka hanya memikirkan buat selamatkan pangkat dan kedudukan sendiri, mana berani timbul pikiran buat berontak.
Begitulah, pada senjanya, perubahan sebutan sebagai Kaisar Yong-ceng atas kenaikan takhta lu Ceng telah diumumkan secara resmi, bahkan opsir dari dua belas batalion Hui-liong-kun (pasukan naga terbang) yang paling diunggulkan In Te pun tergoncang.
Ketika In Te kembali ke dalam pasukannya, sepanjang malam ia pun kumpulkan para opsir kepercayaannya untuk berunding.
Tetapi tujuh di antara dua belas opsir tinggi Hui-liong-kun tidak setuju buat bermusuhan dengan Lian Keng-hiau, bahkan Futuh yang dianggap sebagai tangan kanan In Te pun berkata.
"Si-pwelek telah naik takhta, kini Lian Keng-hiau mendesak kita dengan menonjolkan kaisar baru, kalau kita serang dia, mungkin pasukan kita akan tergoncang."
In Te menjadi bungkam karena kata-kata panglima kepercayaannya ini, ia membatin.
"Panglima yang terpercaya saja berpikiran demikian, apalagi perwira lainnya, lebih-lebih tidak berguna berunding dengan mereka."
Tetapi ia lantas berpikir lagi.
"Asal masih ada gunung, tidak kuatir kehabisan kayu, sekalipun Lian Keng-hiau lebih kuat lagi, tidak lebih ia hanya wakilku saja, kekuasaan masih berada dalam tanganku, biar sementara ini aku bersabar dulu, kelak kalau mengadakan ekspedisi ke barat, aku akan pakai tipu 'pinjam golok membunuh orang', biar Lian Keng-hiau bersama pasukannya yang berada di garis paling depan dimusnahkan musuh. Kala itu, jarak dengan ibukota ada puluhan ribu li, sekalipun aku tidak berhasil merebut takhta, namun bisa juga memperkukuh diri dengan tentaraku dan merajai daerah barat sana supaya tak mengalami siksaan batin oleh keparat ln Ceng."
Setelah ambil keputusan ini, ia lantas berkata pada para opsirnya.
"Jika begitu, biarkan Lian Keng-hiau menjadi wakil panglima, hanya kita harus lebih waspada menghadapinya."
Kemudian setelah para opsir mengundurkan diri, ln Te berunding lagi dengan Futuh, ia menjelaskan pikirannya tadi, Futuh pun akur dengan keputusan yang diambilnya, maka besok paginya In Te mengajukan rekes, ia mohon agar diperbolehkan memimpin pasukannya ke barat lagi.
Ketika permohonan diajukan, dilaporkan bahwa Teng Hiau-lan minta bertemu.
Keruan In Te menjadi girang, segera ia perintahkan orang masuk.
"Di waktu menderita kesukaran baru tahu hati kawan sejati, di kala aku kehilangan pengaruh kau masih kembali padaku, selanjutnya aku pasti tidak sampai merugikan kau."
Lalu ia pun bertanya cara bagaimana Teng Hiau-lan bisa meloloskan diri.
"Semalam dalam istana terjadi penyerbuan, waktu keadaan kacau-balau, aku lantas kabur,"
Tutur Hiau-lan.
In Te menyangka penyerbu itu tentu atas perintah putra pangeran lain, meski ia tergolong orang yang cerdik, namun sedikitpun ia tidak curiga atas cerita Hiau-lan, bahkan ia lantas menaikkan Hiau-lan menjadi wakil komandan pasukan pengawal pribadinya setingkat dengan Ki Pi-sia dan Pui Kin-beng.
Kembali bercerita tentang In Ceng, sesudah kaisar baru ini menerima permohonan In Te, permohonan ini tentu saja cocok dengan maksudnya, maka ia titahkan In Te segera pimpin tentaranya ke barat setelah lewat tahun baru.
Di samping itu ia pun berdaya-upaya buat menyelesaikan Liau-in dan lain-lain, ia pindahkan Liau-in, Sat Thian-toh, Sat Thian-ji, Tang Ki-joan dan Thian-liong berlima ke pasukan Lian Keng-hiau, diam-diam ia panggil menghadap Keng-hiau.
"Di antara lima orang ini selain Tang Ki-joan yang rada mengerti peraturan, empat orang lainnya terlalu liar dan sukar dijinakkan, bila sudah selesai ekspedisi ke barat dan empat orang ini ternyata tidak mampus, kau boleh wakilkan aku bereskan mereka,"
Demikian titahnya kepada Lian Keng-hiau.
Perintah rahasia ini membikin Keng-hiau mengkirik, bulu ro-manya berdiri, tapi bila dipikir lagi, ia merasa bahwa justru ini adalah tanda kepercayaan In Ceng padanya, maka ia menjadi girang bercampur kuatir, lekas ia menjura menerima titah itu.
Sudah tentu Lian Keng-hiau tidak pernah menduga bahwa di lain pihak dengan cara yang sama In Ceng pun telah berpesan pada kelima jagoannya agar mereka mengawasi gerak-gerik Lian Keng-hiau.
Inilah yang dinamakan politik adu domba dari In Ceng.
Sekejap saja tahun baru sudah lewat, dengan sebutan 'Bu-wan-tay-ciangkun' (Panglima besar keamanan), In Te kembali pimpin pasukan ekspedisinya ke barat, sedang Lian Keng-hiau adalah wakil panglimanya, secara mendadak naik pangkat tiga tingkat, bahkan In Ceng telah menambah pula kekuatan lima puluh ribu tentara terlatih baik baginya, oleh karena itu, sungguhpun Lian Keng-hiau menjabat sebagai wakil panglima, tapi hakikatnya ia dengan In Te berkedudukan sama,.
Begitulah sesudah pasukan besar itu berangkat, sebulan kemudian sampailah di Cu-sian-tin di propinsi Holam, dari sini ke kampung halaman Lian Keng-hiau, yakni Tanliu, perjalanan hanya sehari saja, maka Keng-hiau lantas perintahkan pasukannya mengaso tiga hari di situ.
Pada hari itu, Teng Hiau-lan bersama beberapa perwira dari pasukan pengawal minum arak di dalam kota Cu-sian-tin, di atas loteng kedai arak yang mereka masuki, terlihat ke utara adalah kota Khayhong dan ke selatan menghadap Hijiang, kedudukan Cu-sian-tin betul-betul sangat strategis, Hiau-lan jadi teringat bahwa kota ini adalah tempat dimana dulu Gak Hui pernah menyapu bersih tentara Kim yang menyerbu ke tanah airnya, ia jadi terharu bila teringat kisah sejarah itu, batinnya, kini bangsa Boanciu telah masuk ke pe-daiahian lagi, kekejaman mereka melebihi tentara Kim yang dulu menjajah ahala Song, kini dirinya yang berdarah Boan sebaliknya ikut serta di antara pergerakan membangun kembali negara bangsa Han, sungguh suatu hal yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Tengah ia termenung-menung dan kusut pikiran, tiba-tiba terdengar di bawah loteng terjadi ribut-ribut yang ramai sekali.
Waktu Teng Hiau-lan menengok ke bawah loteng, ia lihat orang di jalan dan para penjual menyingkir dengan ketakutan.
"Ada apakah?"
Tanya Hiau-lan kepada seorang di jalan. Melihat Hiau-lan berdandan sebagai perwira, orang itu menjadi ketakutan.
"Ampun tuan, ampun! Hamba selamanya taat pada peraturan dan undang-undang, hamba bukan orang jahat,"
Ia meratap memohon.
"Apa katamu?"
Tanya Hiau-lan pula. Mendengar lagu suara Hiau-lan lemah-lembut, akhirnya orang itu menjadi lega.
"Di luar kota telah datang satu pasukan tentara, kabarnya hendak menangkap orang,"
Kemudian ia menerangkan sebabnya terjadi ribut.
"Sungguh aneh,"
Pikir Hiau-lan sembari melepaskan orang itu.
"di waktu pasukan berjalan, mana bisa mengadakan penangkapan? Apa mungkin karena prajurit yang berkeliaran mengganggu keamanan kota, padahal disiplin militer In Te dan Lian Keng-hiau sangat keras dan tidak dapat disamakan dengan pasukan tentara lain, apalagi pasukan besar berkemah di luar kota, kecuali perwira prajurit dilarang masuk ke kota, kalau begitu, pasukan tentara yang dikatakan tadi datang darimana?"
Tengah ia merasa heran dan ragu-ragu, sementara itu dari luar kota terlihat debu mengepul beterbangan, arus manusia pun semakin membanjir, karena desakan arus manusia yang membanjir itu, tanpa kuasa Hiau-lan pun ikut terdorong, tetapi baru beberapa tindak ia melangkah, sekonyong-konyong ia merasa dirinya ditumbuk orang dengan keras.
Teng Hiau-lan cukup lama berlatih silat, perasaan tubuhnya sangat tajam, karena tabrakan orang tadi, segera ia merasa ada sesuatu yang aneh, ketika ia meraba badannya, ternyata kantong uang, pedang dan batu giok pemberian Kaisar Khong-hi tempo hari sudah lenyap.
Kalau yang hilang barang lain tidak menjadi soal baginya, tapi •pedang itu adalah pemberian In Te, betapapun harus direbut kembali.
Maka cepat ia menerjang ke sana, dilihatnya di depan sana seorang sedang melotot padanya dengan mata mendelik, pedangnya jelas tergantung di pinggang orang itu, sedang batu Giok juga tampak terpegang di tangan orang.
Dengan mendongkol Teng Hiau-lan terus mengejar ke sana.
Aneh juga, orang itu ternyata tidak menghilang ke tengah lautan manusia, sebaliknya berlari ke tempat sepi.
Hiau-lan tambah curiga, segera ia mengudak lebih kencang.
Selang tidak lama mereka sudah berada di luar kota.
Lari orang itu makin lama makin cepat, arahnya berlawanan dengan tempat perkemahan pasukan.
Segera Teng Hiau-lan mengejar terlebih kencang dengan Ginkangnya yang tinggi, akan tetapi meski pemuda itu telah mengeluarkan segenap kemampuannya, tetap tidak dapat menyusul.
Keruan kejut Hiau-lan tidak terkatakan.
Perlu diketahui bahwa Ginkang Teng Hiau-lan meski belum semahir Lu Si-nio, tapi sudah tergolong jarang ada bandingannya di dunia Kangouw.
Sekarang Ginkang orang itu terlebih tinggi daripada Teng Hiau-lan, tampaknya tidak lebih rendah daripada Ban-li-tui-hong Liu Sian-gai, jelas orang itu bukan pencopet biasa.
Hati Hiau-lan tergerak, maka langkahnya sengaja dikendurkan.
Orang itu seperti serba tahu saja, langkahnya ikut dilambatkan.
"Hai, kawan di depan itu, kita selamanya tidak kenal, kenapa engkau menggoda diriku?"
Seru Hiau-lan. Orang itu menoleh dan memperlihatkan muka membadut, lalu menggumam sendiri.
"Pedang ini kalau dijual sebagai besi tua toh tidak seberapa harganya, tapi batu Giok ini sedikitnya laku beberapa tahil perak."
Sekonyong-konyong Teng Hiau-lan melompat ke depan terus menjambret.
"Ai, celaka!"
Orang itu berteriak, sekali bergerak tahu-tahu sudah melayang ke depan beberapa meter jauhnya. Lalu katanya pula dengan tertawa.
"Untung, tidak sampai tertangkap basah!"
Bersambung ke
Jilid III Seri Thiansan Jiang Hu San Nu Xia/Kang Ouw Sam Lie Hiap Karya . Liang Ie Shen Saduran . Gan KL DJVU . TAH dimhader Ebook oleh . Dewi KZ
http.//kangzusi.com atau
http.//dewi.0fees.net
Jilid 3 Teng Hiau-lan menjemput beberapa potong batu kecil dan disambitkan susul-menyusul secara cepat, tujuannya hanya untuk menakut-nakuti saja, maka sambitan batu itu sengaja lebih tinggi beberapa senti di atas kepala orang.
Tapi mendadak orang itu malah melompat ke atas sehingga batu sambitan Teng Hiau-lan tepat mengenai belakang kepalanya.
"plok", bukan kepala yang bocor, sebaliknya batu itu mencelat entah kemana.
"Aduh! Lihai amat opas ini! Aku harus lari secepatnya!"
Teriak orang itu sambil meraba kepalanya yang tersambit batu.
Tiba-tiba langkahnya bekerja cepat, larinya seperti kesetanan.
Tentu saja Teng Hiau-lan makin heran dan sangsi, ia pikir kesempatan berkenalan dengan orang kosen ini tak boleh disia-siakan.
Segera ia berseru.
"Cianpwe-enghiong (ksatria angkatan lebih tua) di depan, biarlah aku menyerah kalah saja, sudilah berhenti untuk berkenalan!"
Namun orang itu tidak menggubrisnya dan tetap berlari secepat terbang.
Hiau-lan mendongkol, segera ia pun 'tancap gas' dan mengejar, sesudah uber-menguber sekian lamanya, akhirnya mereka memasuki lereng pegunungan di depan.
Menurut taksiran Hiau-lan, mungkin sudah 20-30 li jauhnya dari kota Cu-sian-tin, ia menjadi terkesiap dan sangsi, jangan-jangan orang itu sengaja memancingnya ke situ, entah apa tujuannya.
Tiba-tiba orang itu memperlambat langkah, pandangan Teng Hiau-lan mendadak terbeliak, kiranya mereka telah memasuki sebuah lembah gunung yang penuh tertimbun salju, di tengah lembah ada sebuah rumah kecil beratap rumbia.
Di situlah orang itu berhenti, mendadak ia mengayun tangannya, sebuah benda menyambar ke arah Teng Hiau-lan.
Cepat Hiau-lan menangkap benda itu, kiranya adalah pedangnya yang dicuri tadi.
Waktu orang itu mengayunkan tangan dua kali, dompet dan batu Giok milik Hiau-lan dilempar kepadanya pula.
Habis itu mendadak orang itu menghela napas panjang dan mengomel.
"Kau ini benar-benar lebih menghargai harta benda daripada jiwa sendiri, ai, sungguh sayang dan harus disesalkan! Lantaran kau lebih sayang harta daripada jiwa, maka kukembalikan semua milikmu agar jika jadi setan janganlah rohmu menggoda diriku."
Hiau-lan merasa di balik ucapan orang itu ada maksud tertentu, ia tercengang dan berkata.
"Mana Wanpwe berani sayang harta secara membuta, bilamana ada kesalahan, sudilah Cianpwe memberi petunjuk."
"Ah, pakai Cianpwe dan Wanpwe segala, aku paling benci sebutan tetek-bengek ini,"
Ujar orang itu sambil menoleh dan tertawa.
"Coba kutanya kau, jika kau mengaku tidak sayang harta, mengapa kau terus mengudak diriku secara mati-matian hanya karena aku membawa lari tiga macam barangmu."
"Wanpwe tak bermaksud jahat, tapi ingin belajar kenal orang kosen,"
Kata Hiau-lan.
"Hahaha, mulutmu tidak cocok dengan pikiranmu,"
Ujar orang itu dengan bergelak tertawa.
"Waktu kugondol lari barangmu, masakah kau tahu aku tergolong 'orang kosen' segala?"
Memang waktu itu Teng Hiau-lan menganggap orang sebagai copet biasa, ia menjadi bungkam atas olok-olok orang. Maka orang itu berkata pula.
"Yang jelas kau merasa berat kehilangan barangmu tadi bukan?"
"Soalnya pedang ini adalah pemberian seorang kawan, betapapun aku tak boleh menghilangkannya, maka "
Kawan apa?"
Sela orang itu.
"Kukira bukan kawan biasa, tapi atasanmu bukan?"
Keruan Hiau-lan melengak atas ucapan orang secara blak-blakan itu. Dengan tertawa orang itu berkata pula.
"Tentunya kau kuatir ditanya In Te bila kehilangan pedang ini dan merasa kehilangan pamor sebagai wakil komandan pasukan pengawal, betul tidak? Padahal pedang ini juga bukan pedang pusaka segala, kalau Yu-liong-pokiam kepunyaanmu sendiri dapat hilang, mengapa pedang ini tak boleh hilang?"
Seketika Teng Hiau-lan melongo heran, orang itu ternyata kenal benar seluk-beluk dirinya, sungguh aneh. Dengan terbahak-bahak orang itu lantas menyambung.
"Orang yang menghadiahkan pedang padamu itu kini jiwanya terancam, mana dia sempat bertanya pedangmu lagi!"
Selagi Teng Hiau-lan terkejut dan merasa bingung, orang itu melanjutkan.
"Aku telah menyelamatkan jiwamu, kau tahu tidak?"
Hiau-lan terperanjat dan tambah bingung.
"Ya, kau tentu tidak percaya bukan? Baiklah, biar kutunjukkan dulu seorang padamu!"
Kata orang itu, lalu ia dekap mulutnya dan bersuit.
Dari rumah tadi segera muncul seorang.
Kembali Hiau-lan terperanjat demi mengenali siapa orang yang muncul ini.
Kiranya orang ini adalah seorang di antara dua jago kepercayaan In Te, yaitu Pui Kin-beng.
"Teng-heng, tentunya kau terkejut bukan?"
Pui Kin-beng lantas menyapa.
"Mengapa kau berada di sini, Pui-heng?"
Tanya Hiau-lan.
"Silakan masuk, biar kuceritakan nanti,"
Jawab Pui Kin-beng.
Setelah berada di dalam rumah, lebih dulu Teng Hiau-lan tanya nama orang yang mencopet barangnya tadi.
Orang itu hanya bergelak tertawa dan tidak menjawab, tiba-tiba ia menjulurkan kedua tangannya ke depan Teng Hiau-lan.
Semula Hiau-lan tidak paham maksud orang, setelah diteliti barulah diketahui ada kelainan pada kedua tangan orang itu.
Jika tangan orang biasa umumnya berjari lima, tapi pada kedua tangan orang ini masing-masing tumbuh lebih satu jari, jadi kedua tangannya seluruhnya ada dua belas jari.
Melihat tangan orang ini, tiba-tiba Hiau-lan teringat pada seseorang dan berseru.
"Ha, kau tentu adalah Cap-ji-ci Biau-jiu-sin-thau Tan Tek-thay!"
"Betul,"
Sahut orang itu mengangguk dan tertawa.
"Kini tentu kau sudah tahu bahwa aku bukan Cianpwe segala bukan?"
Hiau-lan tak bisa menjawab, matanya terbelalak lebar, ia makin heran, kejadian yang dialaminya hari ini seakan mimpi saja.
Kiranya Cap-ji-ci Biau-jiu-sin-thau Tan Tek-thay, si tukang copet sakti berjari dua belas, sebenarnya adalah Toaku (ipar, kakak istri) Kam Hong-ti, namanya di kalangan Kangouw pun cukup terkenal.
Karena itulah Teng Hiau-lan jadi heran, pikirnya.
"Pui Kin-beng dan Ki Pi-sia, dua orang ini adalah kepercayaan In Te, mengapa Pui Kin-beng bisa berada bersama dengan ipar Kam Hong-ti, malahan seperti kawan lama saja?"
"Cukong (majikan, maksudnya In Te) hari ini mungkin sukar terhindar dari maut!"
Terdengar Pui Kin-beng berkata dengan sedih. Kembali Hiau-lan heran, kalau Pui Kin-beng masih menyebut In Te sebagai Cukong, maka terang dia dan Kam Hong-ti bukan sesama golongan.
"Jika bukan Tan-toako sengaja memancingmu kemari, mungkin jiwamu pun sukar terjamin!"
Terdengar Pui Kin-beng berkata.
"Bagaimana, betul tidak?"
Dengan tertawa Tan Tek-thay menyambung.
"Bukankah aku telah berkata sebenarnya dan tidak mendustai kau?"
Tanpa ayal Hiau-lan lantas memberi hormat padanya.
"Terima kasih atas pertolongan Tan-toako,"
Katanya.
"tetapi masih mengharap suka menerangkan kejadian yang sebenarnya agar aku tidak merasa sangsi."
"Sebenarnya, kau harus berterima kasih kepada Pui-toako,"
Ujar Tan Tek-thay.
"kalau bukan dia, aku tidak tahu kau sedang minum arak di kota."
"Apa kau tahu dimana kau punya Yu-liong-pokiam itu?"
Tanya Pui Kin-beng.
"Pedangku dirampas Liau-in, tentunya berada di tangan Liau-in juga,"
Sahut Hiau-lan.
"Dan tahukah kau dimana Liau-in kini berada?"
Pui Kin-beng bertanya pula.
"Bukankah berada di dalam istana?"
Jawab Hiau-lan. Seperti diketahui Liau-in berlima ikut pasukan Lian Kenghiau, tapi karena pasukan Lian Keng-hiau berlainan pimpinan, maka Teng Hiau-lan sendiri tidak mengetahuinya.
"Bukan saja Liau-in tak berada dalam istana, bahkan pedangmu itu kinipun sudah tiada di tangan Liau-in lagi,"
Tutur Pui Kin-beng kemudian.
"Hari ini Lian Keng-hiau telah melakukan perebutan kekuasaan, pedangmu banyak membantu dia."
Hiau-lan jadi semakin heran oleh keterangan itu.
"Liau-in kini berada di pasukan Lian Keng-hiau, sedang kau punya Yu-li^ng-kiam kinipun berada di tangan Ki Pi-sia,"
Sambung Tan Tek-thay dengan tertawa.
Pui Kin-beng asalnya adalah pemimpin suatu perkumpulan Kangouw di daerah Kanglam, sewaktu In Te mencari orang pandai sepuluh tahun yang lalu, ia mengabdi pada pangeran itu.
Sebelum masuk menjadi komplotan [n Te, Pui Kin-beng dan Kam Hong-ti sudah lama kenal baik, karena itu dengan Tan Tek-thay, ia pun pernah berjumpa beberapa kali dan cukup kenal.
Begitulah maka lebih dulu Pui Kin-beng menceritakan asal-usul dirinya pada Teng Hiau-lan, habis itu baru ia berkata lagi.
"Cukong kami memegang kekuasaan militer yang penting, dengan sendirinya keparat In Ceng itu tidak dapat melepaskan dia begitu saja, sewaktu masih berada di kotaraja, karena kuatir pangeran lain ikut mencela tindakannya, maka ia tak berani turun tangan di kotaraja, tapi menanti sesudah Lian Keng-hiau berhasil merebut kekuasaan militer, barulah Lian Keng-hiau disuruh turun tangan."
Sebenarnya hal ini sudah dalam dugaan Teng Hiau-lan, tetapi ia sengaja bertanya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Ki Pi-sia paling menyukai Pokiam,"
Tutur Pui Kin-beng.
"maka Liau-in memberikan pedangmu itu padanya, ia pancing dia dengan pangkat dan kedudukan, suruh dia mengkhianati Cukong, Ki Pi-sia menyanggupi, lalu Lian Keng-hiau minta dia menghasut pula diriku. Tapi aku tidak ingin mengkhianati Cukong, dengan Ki Pi-sia aku sudah bersahabat selama belasan tahun, aku pun tidak mau melaporkan pengkhianatannya, maka aku lantas pakai akal mengulur waktu, aku minta diberi tempo satu dua hari buat berpikir, ini adalah kejadian pagi tadi. Sebenarnya aku berniat segera memperingatkan Cukong, siapa duga dia sudah keburu pergi memenuhi undangan perjamuan Lian Keng-hiau, aku insaf keadaan bakal celaka. Betul juga, selang tidak lama ada yang melapor kepadaku secara rahasia, katanya di tempat Lian Keng-hiau telah mulai bergerak."
"Di dalam pasukan Keng-hiau terdapat juga saudara-saudara kita,"
Dengan tersenyum Tan Tek-thay menyeletuk.
"Sebab itulah Pui-toako lantas kemari dan memberi kabar ini padaku."
Meski Pui Kin-beng berilmu silat tinggi, tapi dalam hal kehidupan sendiri ia terlalu sembrono, terlalu menitik beratkan hubungan pribadi dan tidak menggunakan akal-budi yang sehat.
Karena kelemahannya ini, dengan sedikit murah hati In Te merangkul dia, sebagai balasan ia pun bersedia membelanya mati-matian.
Akan tetapi terhadap Kam Hong-ti, ia pun menjunjung tinggi dan menghormatinya, karena itu pada saat ia tertimpa kesukaran, orang Kam Hong-ti menyuruh dia lekas melarikan diri dan memberitahu padanya bahwa Tan Tek-thay berada di sini, maka segera ia mencarinya.
"Dan Kam-tayhiap apa sudah tahu peristiwa ini?"
Tanya Hiau-lan dengan suara kuatir setelah selesai mendengarkan cerita orang.
"Kam-chitte mungkin dua hari lagi baru bisa sampai sini, sementara Kwantang-si-hiap sudah datang,"
Sahut Tan Tek-thay.
Kiranya Kam Hong-ti merasa kurang leluasa karena terlalu banyak kawan, maka ia atur kawan-kawannya jadi tiga rombongan.
Rombongan pertama adalah Kwantang-si-hiap dan yang kedua ialah Nyo Tiong-eng, Loh Bin-ciam dan dia sendiri, sedang rombongan ketiga adalah Lu Si-nio bersama Pek Thay-koan dan Hi Yang.
Walaupun Kam Hong-ti belum datang, tapi karena hubungannya yang luas, dalam pasukan Lian Keng-hiau pun terdapat mata-matanya, karena itu diam-diam ada orang yang menjaga keselamatan Teng Hiau-lan, tapi pemuda ini sama sekali tidak mengetahui.
"Lalu bagaimana Pui-toako, apa yang hendak kau lakukan se-lanjutnya?"
Tanya Hiau-lan kemudian.
"Aku harus bertemu KA Pi-sia dulu malam nanti baru bisa mengambil keputusan tetap,"
Sahut Pui Kin-beng dengan tertawa getir.
"Apa? Kau masih akan menemui Ki Pi-sia?"
Seru Hiau-lan kaget.
"Ya, hubunganku dengan dia selama belasan tahun seperti saudara sendiri, seandainya mesti putus hubungan, apapun harus dibicarakan,"
Ujar Pui Kin-beng.
"Lagi pula aku ingin mencari tahu bagaimana keadaan Cukong sekarang."
Hiau-lan tidak sependapat dengan jalan pikiran yang tak benar ini, tapi ia lihat Pui Kin-beng masih terus menyebut 'Cukong' pada In Te, maka tidak enak buat menasehatinya, ia lantas bertanya lagi.
"Kalau begitu, apa kau masih akan kembali ke markas tentara?"
"Tidak, aku sudah kirim orang buat berjanji dengan Ki Pi-sia untuk bertemu di Swat-hun-kok besok pagi,"
Sahut Kin-beng.
"Dimanakah letak Swat-hun-kok?"
Tanya Hiau-lan.
"Di lembah gunung sana,"
Tan Tek-thay menerangkan dengan tersenyum.
"Kalau Ki Pi-sia sudah menyerah pada pangkat dan kedudukan, hendaklah Pui-heng suka berjaga, pertemuan besok biar aku berangkat bersama kau,"
Demikian kata Teng Hiau-lan.
"Itulah jangan."
Sahut Pui Kin-beng.
"aku sudah berjanji untuk bertemu sendirian dengan dia, jika ada orang lain akan kurang leluasa."
Di sebelah sana tertampak Tan Tek-thay memberi tanda pada Teng Hiau-lan supaya tak usah banyak omong lagi.
Sorenya, dari kabar yang diperoleh, dapat diketahui bahwa Lian Keng-hiau atas firman kaisar telah menggantikan In Te menjabat sebagai 'Bu-wan-tayciangkun', sedang pasukan pengawal ln Te semuanya telah dimusnahkan bahkan tujuh perwira paling terperca-ya dari pangeran itupun dibunuh, tiga perwira di antaranya yang minum arak bersama Teng Hiau-lan, di kedai arak itulah mereka tertangkap, sedang In Te dan Futuh diketahui tertangkap di tengah perjamuan, soal mati-hidupnya masih belum diketahui.
Mendapat berita ini, keruan Pui Kin-beng berduka sekali, ia pukul-pukul dada sendiri dan menangis keras.
Besok paginya Pui Kin-beng lantas menuju ke lembah Swat-hun-kok untuk menantikan kedatangan Ki Pi-sia, cuaca pagi dingin dengan bunga salju yang berhamburan laksana bulu angsa, keadaan sepi dan seram.
Pui Kin-beng berdiri di atas sebuah batu cadas, mendongak memandang kian kemari, ia lihat orang yang ditunggunya masih belum tampak batang hidungnya, dalam hati ia pikir tentu dirinya yang datang terlalu pagi.
Tengah ia kesepian, tiba-tiba terdengar suitan panjang berkumandang dari dekat, menyusul Ki Pi-sia melompat keluar dari tengah apitan dua batu cadas di sebelah sampingnya.
"Ha, sungguh dini sekali kedatangan Pui-heng, dan dimanakah kedua kawanmu itu? Mengapa mereka tidak ikut datang sekalian?"
Terdengar Ki Pi-sia menegur. Pui Kin-beng terkejut oleh teguran ini.
"Mungkinkah semalam ia sudah berada di sini?"
Demikian ia membatin.
"Kita sudah berjanji buat bertemu berdua, mengapa mengajak orang lain?"
Sahutnya kemudian. Tiba-tiba Ki Pi-sia menarik muka.
"Apa Pui-heng sudah mempertimbangkan dengan baik?"
Ia bertanya lagi.
"Budi Cukong kepada kita tidak sedikit "Tetapi kita hendaklah bisa melihat gelagat,"
Ki Pi-sia memotong.
"mereka bersaudara saling berebut takhta, apakah kau masih ingin berkorban untuk dia?"
Sampai di sini muka Pui Kin-beng berubah.
"Jadi kau bikin celaka Cukong?"
Tanyanya.
"Soal itu aku tidak ikut turun tangan,"
Sahut Ki Pi-sia.
"Tidak nyana, kau ternyata manusia yang suka lupa budi dan tidak setia!"
Kata Pui Kin-beng dengan air mata berlinang.
"Hendaklah Pui-heng jangan kuatir, Cukong masih belum mati, apa yang kau tangisi?"
Sahut Ki Pi-sia.
"Apa? Lian Keng-hiau mau melepas dia?"
Tanya Pui Kin-beng pula.
"Kaisar sendiri telah mengirim Haptoh buat mengundangnya pulang ke kotaraja,"
Dengan tertawa Ki Pi-sia memberitahu.
Mendengar keterangan ini, Pui Kin-beng tahu dengan digiring kembalinya In Te ke kotaraja atas perintah In Ceng, maka dapat dipastikan akhirnya In Te tidak luput dari kematian, apalagi ln Ceng berhati kejam, mungkin kematian In Te akan lebih mengenaskan daripada mati di bawah senjata.
Membayangkan ini, Pui Kin-beng jadi gusar.
"Apa kau tidak ngeri akan perbuatan Hongsiang yang tak berbudi dan buta perasaan itu?"
Tanyanya. Akan tetapi Ki Pi-sia menanggapi dengan ganda tertawa saja.
"Apa yang kau tertawai?"
Damprat Put Kin-beng gusar.
"Kita berlainan dengan Capsi-pwelek,"
Sahut Ki Pi-sia tertawa.
"kita juga tidak berebut takhta dengan Hongsiang sekarang, sekalipun ia tak beibudi dan tak berperasaan, ada sangkut-paut apa dengan kita?"
Melihat bekas kawannya susah diinsafkan, Pui Kin-beng menjadi dingin hati.
"Selama belasan tahun kita berhubungan, tak nyana kau adalah Siaujin (orang yang berjiwa rendah) semacam ini!"
Dampratnya dengan suara sedih. Keruan Ki Pi-sia menjadi marah.
"Apalagi?"
Sahutnya.
"Sudahlah, pergilah kau!"
Kata Pui Kin-beng tiba-tiba dengan menghela napas.
"Sebagai lelaki tidak nanti aku mencaci secara kotor, biarlah hubungan kita sekaligus dihapus sampai di sini saja, kau boleh pergi menjadi pembesar dan aku pulang menjadi bandit lagi. Asal kau tidak melakukan penangkapan padaku, aku pun tidak akan bergebrak dengan kau."
Habis itu Pui Kin-beng membalik tubuh terus bertindak pergi.
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Ki Pi-sia berseru.
"Hendak apalagi kau?"
Tanya Kin-beng sambil menoleh.
"Harap Pui-heng pikir lagi yang matang!"
Ujar Ki Pi-sia.
Namun Pui Kin-beng tidak menyahut, saking berduka hatinya, ia tertawa dingin, lalu balik tubuh terus bertindak pergi.
Akan tetapi baru saja ia melangkah beberapa tapak, mendadak ia dengar suara tawa terbahak-bahak, ketika Pui Kin-beng berpaling memandang lagi, terlihat olehnya di balik batu cadas tadi menongol dua orang, yang seorang adalah Hwesio dan yang lain adalah seorang kakek rada gemuk, dua orang ini bukan lain adalah Liau-in dan Tang Ki-joan.
"Ha, Ki Pi-sia, kiranya kau mengajak teman untuk melayani aku?"
Damprat Kin-beng dengan murka.
"Tidak perlu aku ajak orang buat melayani kau,"
Sahut Ki Pi-sia dengan tertawa dingin.
"bagaimana kekuatan kau dan aku, kita sama tahu, aku hanya ingin tanya sekali lagi padamu, mau tidak kau ikut kami kembali?"
"Jadi kau pasti hendak menahan aku?"
Balas tanya Pui Kin-beng dengan tersenyum mengejek.
"Sudahlah Ki-thongling, kali ini kami ingin bukti darimu!"
Terdengar Tang Ki-joan membuka suara dengan tak sabar. Maka tanpa ayal Ki Pi-sia melolos pedangnya, segera sinar mengkilap berkelebat menyilaukan mata.
"Pui Kin-beng,"
Serunya kemudian.
"jika kau sudah tidak setia sebagai kaum hamba, maka aku pun tidak peduli lagi hubungan persaudaraan kita!"
"Bagus, kau boleh gunakan darahku untuk mewarnai topi kebesaranmu!"
Teriak Pui Kin-beng.
Dengan telapak tangan kiri menjaga dada, kepalan kanan segera ia pukulkan dari bawah.
Pi-sia tertawa ejek atas serangan ini, dengan sedikit menggeser, pedang Yu-liong-pokiam (milik Teng Hian-lan) segera berkelebat menusuk ke lambung orang dari samping.
"Bagus!"
Teriak Kin-beng. Mendadak ia maju dengan cepat, ia geraki tangan secepat kilat, menyodok ke dada lawan dengan membawa sambaran angin keras.
"Apa kau cari mampus?"
Bentak Ki Pi-sia atas serangan orang yang membawa resiko ini.
Mendadak ia baliki tangannya, ujung pedang berputar terus memotong ke lengan orang, tetapi Pui Kin-beng tiba-tiba melompat ke atas, tangan kiri menyanggah siku orang, sedang tangan kanan hendak mencekal lengan lawan.
Rupanya Pui Kin-beng mengetahui ilmu pedang Ki Pi-sia tidak boleh dipandang enteng, begitu turun tangan seketika mengadu jiwa, ia keluarkan tipu serangan yang berbahaya tadi.
Di pihak lain Ki Pi-sia ternyata tidak menjadi gugup, ia tekuk lengannya dan mendadak mundur, dengan demikian ia hindarkan cekalan Pui Kin-beng, sedang pedangnya berbareng disodokkan ke depan, ia menutuk 'Jiau-yo-hiat' di iga kiri Pui Kin-beng, ini adalah, tipu pertolongan di kala terancam bahaya.
Syukur Pui Kin-beng masih se,mpat berkelit dengan cepat, sehingga ujung pedang Ki Pi-sia menabas di atas pundaknya.
"Hari ini biar aku adu jiwa dengan kau!"
Bentak Pui Kin-beng dengan kalap.
Menyusul kepalannya bekerja cepat dan telapak tangan ber-sambaran, ia keluarkan delapan belas jurus 'Tiang-kun' yang lihai, ia menghantam dari atas dan memukul dada orang sambil menerobos kian kemari di bawah berkelebatnya sinar pedang lawan yang bergulung-g'.'lung.
Ilmu silat Ki Pi-sia dan Pui Kin-beng sebenarnya pilihan dari tingkat tinggi, yang seorang mahir dalam hal 'Kun-sut' atau ilmu pukulan, dan yang lain pandai 'Kiam-hoat' atau ilmu permainan pedang, kekuatan mereka sebenarnya delapan tahil setengah kati alias sama kuat, tetapi Ki Pi-sia memiliki Yu-liong-pokiam, maka tanpa terasa kekuatannya menjadi bertambah beberapa bagian, ditambah Pui Kin-beng marah terlebih dahulu, begitu maju lantas mengadu jiwa dan mati-matian menggempur musuh, karena itu tenaganya jadi lekas habis.
Maka sesudah pertarungan berlangsung beberapa lama, tipu serangan pedang Ki Pi-sia jadi semakin gencar, ia desak Pui Kin-beng hingga mundur terus tanpa bisa membalas.
Selang tidak lama, keadaan Pui Kin-beng semakin lemah, di tengah lembah salju hanya tertampak gulungan sinar pedang yang berputar kian kemari, tubuh Pui Kin-beng terkurung di dalam sinar pedang lawan.
Di samping sana Liau-in dan Tang Ki-joan mengikuti pertarungan sengit ini dengan berpeluk tangan, mereka hanya saling pandang dan tertawa sendiri.
"Orang ini ternyata telah menyerah, sebatang Yu-liong-pokiam yang kau berikan padanya boleh dikata masih ada harganya,"
Ujar Tang Ki-joan.
"Ya, asalnya toh barang orang lain dan diberikan pada orang, apa yang perlu disayangkan,"
Sahut Liau-in dengan tersenyum. Lalu ia menyambung lagi.
"Kiam-hoat orang ini masih jauh di atas Hay-hun Hwesio, cuma belum tahu bagaimana Ginkangnya?"
Tang Ki-joan tahu maksud kata-kata Liau-in ini. Maka dengan tertawa, ia berkata.
"Tampaknya Ginkangnya juga tidak lemah, kelak kalau bertemu Sumoaymu, boleh suruh dia coba menghadapinya."
Kiranya meski Liau-in lebih ulet daripada Lu Si-nio, tetapi karena segan terhadap Kiam-hoat dan Ginkang si nona, sudah beberapa kali mereka bergebrak, tapi tiap kali hanya sama kuat saja dan Liau-in tak mampu menawannya, karena itu ia ingin sekali mencari seorang yang punya Kiam-hoat dan Ginkang bagus sebagai pembantunya.
Sementara itu pertarungan kedua orang di tengah lembah gunung itu makin lama semakin sengit.
"Tidak lebih dari tiga puluh jurus Pui Kin-beng pasti akan tewas di bawah pedang Ki Pi-sia,"
Ujar Tang Ki-joan dengan tertawa.
"Ha, yang untung adalah Lian Keng-hiau,"
Liau-in turut tertawa.
"Sudah menangkap In Te, kini dua jagonya yang paling dipercaya dan paling kuat dapat dibereskan, kalau dilaporkan, adalah satu jasa besar."
Tengah mereka bercakap dan tertawa, tiba-tiba terdengar Pui Kin-beng menjerit ngeri, mungkin terkena senjata lawan.
Sudah tentu Tang Ki-joan senang sekali, ia gembira karena pandangannya tadi ternyata tidak meleset.
Tidak terduga, belum lenyap suara tawanya, mendadak terdengar suara bentakan orang yang keras, berbareng itu dari atas bukit turun beberapa orang.
"Keparat gundul Liau-in, lekas kemari terima kematianmu!"
Terdengar bentakan pemimpin dari orang yang datang itu, dia bukan lain daripada Hian-hong Tojin.
Menyusul di belakang Tosu kecuali rekan-rekan dari Kwan-tang-si-hiap, terdapat pula Tan Tek-thay dan Teng Hiau-lan.
Kiranya Tan Tek-thay sudah menduga Ki Pi-sia pasti datang dengan begundalnya, hal ini bukan lantaran Ki Pi-sia kuatir tidak sanggup menandingi Pui Kin-beng, tapi pasti Lian Keng-hiau yang tidak percaya pada orang yang baru menyerah padanya ini, dan mengirim orangnya buat mengawasi.
Karena melihat Pui Kin-beng terlalu gegabah, maka sebelumnya Tan Tek-thay juga tidak mau mencegahnya, ia secara diam-diam mengajak Kwantang-si-hiap berjaga di atas bukit lembah itu.
Tadi waktu Tang Ki-joan dan Liau-in saling pandang dengan tertawa gembira, Tan Tek-thay dan Teng Hiau-lan pun saling pandang dan tertawa.
"Biarkan Pui Kin-beng dengan mata kepala sendiri menyaksikan corak asli kawannya ini, supaya ia betul-betul percaya nasehat kita,"
Ujar Tan Tek-thay.
Dari 'ata-kata ini baru tahulah Teng Hiau-lan akan maksud Tan Tek-thay.
Kembali tatkala Liau-in melihat Kwantang-si-hiap mendadak muncul di luar dugaannya, sungguh tidak ia duga Pui Kin-beng bisa mengundang keempat pendekar ini sebagai pembantunya, tapi Liau-in pun tidak gentar, dengan congkak ia menanti kedatangan orang.
"Hahaha, apa kau kira Hud-ya takut padamu!"
Sambut Liau-in dengan tertawa, berbareng ia ayun tongkatnya menangkis pedang Hian-hong yang sementara itu sudah dekat terus menusuk.
Akan tetapi Liu Sian-gai pun segera melompat ke atas, sepuluh cincin bajanya ia keprukkan ke batok kepala Liau-in yang gundul, namun Liau-in keburu membalik tongkatnya dengan membawa sambaran angin menderu, dengan gerak tipu 'Ciam-liong-thian' atau naga sembunyi tiba-tiba naik ke langit, tongkat ia sabetkan ke atas hingga Liu Sian-gai terpaksa tak berani turun ke bawah, tapi terus melayang turun ke samping.
Ketika Liau-in tinggalkan dia, kembali Liu Sian-gai meloncat buat menghantamnya.
Liau-in menjadi murka, ia kumpulkan tenaga dalam dan mendadak menyerang Hian-hong dengan tipu yang mematikan, meski Liu Sian-gai kembali menghantam, namun sedikitpun Liau-in tak menghiraukan dia, tongkatnya tetap mengincar pada Hian-hong terus menyabet.
Dalam pada itu sepuluh cincin baja Liu Sian-gai sudah me-ngepruk ke batok kepalanya yang gundul, keruan terdengar suara "plak, plok"
Yang keras, tetapi rasanya seperti menghantam papan baja saja, karenanya Liu Sian-gai sendiri berbalik terperanjat, bahkan ia terpental pergi.
Di pihak lain sudah tentu Hian-hong tak mampu menahan tipu serangan Liau-in yang gencar dengan seluruh kekuatannya, Hian-hong coba menangkis tiga kali sepenuh tenaga, tetapi ia merasakan genggaman tangannya lecet saking kuat Lwekang yang dikeluarkan Liau-in.
Pada suatu kesempatan Liau-in mengemplang dengan tongkatnya ke kepala Hian-hong, syukur dari samping Long-goat Siansu keburu datang membantu, begitu ia membuka mulut, kontan ia semburkan arus araknya.
Karena menghamburnya arus arak ini, Liau-in merasa di depan matanya berkabut putih remang-remang, lekas ia angkat lengan baju buat melindungi mata, sedikit keterlambatannya ini, Hian-hong yang memainkan ilmu pedangnya dengan cepat luar biasa sempat balas mengirim satu tusukan ke bawah iganya.
Dengan girang Hian-hong mengira serangannya akan berhasil, tak terduga Lwekang Liau-in betul-betul sudah tiada taranya, ia bisa 'Thing-hong-pian-gi' atau mendengarkan sambaran angin membedakan darimana datangnya serangan, sekonyong-konyong otot dagingnya bisa mendekuk, karena itu meski tusukan Hian-hong tadi ujung senjatanya dapat menempel daging orang, namun mendadak terasa lunak tempat yang tertusuk itu dan tak bisa mengeluarkan tenaga lagi.
Begitulah hanya terpaut sedikit saja Hian-hong ternyata tidak mampu menusuk orang, sebaliknya Liau-in sudah lantas membentak, segera ia menubruk maju.
Kini keduanya boleh dikata akan saling bergumul, senjata mereka sudah tak keburu digunakan lagi.
Melihat Suhengnya terancam bahaya, Tan Goan-pa lekas maju menolong, ia pentang tangan terus menubruk maju menyambut tubrukan Liau-in tadi, dengan demikian ia gantikan Suhengnya bergumul dengan Liau-in.
Tan Goan-pa sudah terlatih kulit dagingnya seakan kulit tembaga dan tulang baja, tenaganya pun besar luar biasa, maka begitu keduanya saling tumbuk, seketika Liau-in didesak mundur hingga sempoyongan, tetapi Tan Goan-pa lebih celaka lagi, ia menjerit sekali, matanya berkunang-kunang dan mulutnya memuntahkan darah segar, berbareng terus terpental pergi sejauh beberapa tombak.
Tetapi syukur karena latihan dan ketangkasannya, setelah memuntahkan darah segar, ia istirahat sejenak dan segera pulih kembali.
Setelah melompat bangun, ia ayun kepalan dan segera menerjang maju lagi.
Begitulah Liau-in seorang diri melawan Kwantang-si-hiap dengan sepenuh tenaga, batok kepalanya tadi telah diketok oleh sepuluh cincin b^ja Liu Sian-gai, tempat yang terkena masih terasa sakit, maka kini ia tak berani memaksakan diri buat menerima gebukan lawan lagi.
Sementara itu Long-goat Siansu kembali menyemburkan arus araknya, tetapi dengan gampang serangan ini dapat dielakkan oleh Liau-in, ia kebas lengan bajunya yang lebar hingga membawa sambaran angin keras, arus arak yang disemburkan Long-goat dikebas' pergi hingga bercipratan dan menghamburkan bau wangi arak.
Terkejut sekali Kwantang-si-hiap oleh ketangkasan Liau-in yang luar biasa.
Tapi sebaliknya, Liau-in sendiri merasa kepayahan, ia harus berjaga dari semburan arak Long-goat Siansu yang menyerupai peluru, ia harus menghindari pula gempuran cincin baja 'Ban-li-tui-hong' Liu Sian-gai, di lain pihak ia terancam oleh serangan hebat 'Loan-pi-hong-kiam-hoat' Hian-hong Tojin yang cepat luar biasa, lagi pula harus melayani 'Toa-sui-pi-jiu' Tan Goan-pa yang lihai, seorang diri melawan empat orang, mau tak mau ia terdesak di bawah angin.
Di sebelah sana, Pui Kin-beng juga bertempur mati-matian, tampaknya sudah letih dan payah sekali, ia menduga dirinya pasti akan binasa, syukur mendadak Teng Hiau-lan menubruk maju membantu.
Begitu mendekat pemuda ini putar pedangnya dengan gerakan 'Thian-san-hui-soat' atau salju beterbangan di Thian-san, tiba-tiba ia menikam dari atas dengan sinar pedang gemerdep laksana kembang salju berhamburan.
Tetapi oleh Ki Pi-sia serangan ini dipatahkan dengan sekali tangkisan.
Keduanya sama ahli memakai pedang, kalau soal latihan dan keuletan memang Ki Pi-sia lebih tinggi, tetapi kalau bicara tentang Kiam-hoat, sari ilmu pedangnya, Teng Hiau-lan jauh lebih bagus.
Karena itu Ki Pi-sia terpaksa harus mengumpulkan Lwekang dibarengi dengan bermacam gerakan tipu untuk melawan Thian-san-kiam-hoat Teng Hiau-lan yang luar biasa itu.
Sebenarnya kalau satu lawan satu, jika keadaan berlangsung lama, Teng Hiau-lan bukanlah tandingan Ki Pi-sia, tetapi kini Hiau-lan mendapat bantuan Pui Kin-beng, kekuatan jadi bertambah, dengan dua lawan satu, akhirnya Ki Pi-sia dibikin tak berdaya dan berada di pihak terserang.
Tatkala itu kedua pihak terbagi menjadi tiga kelompok, Tan Tek-thay, si copet sakti berjari dua belas, seorang diri menempur Tang Ki-joan yang licik dan banyak tipu muslihatnya.
Begitu Tang Ki-joan balas menyerang, ia lantas memakai ge-"
Rak 'Pat-kwa-yu-sin-ciu', memancing dua kali serangan, setelah itu tiba-tiba ia berlari memutar kian-kemari.
Dengan demikian bila bukan ahli silat kelas satu, pasti akan kehabisan tenaga oleh godaannya dan akhirnya akan memberi kesempatan pihak lawan untuk menyerang.
Itulah cara Tang Ki-joan menjajal lawan untuk pertama kalinya, ia tidak lantas bergebrak sungguh-sungguh dengan orang, tetapi lebih dulu memancing gaya serangan orang untuk kemudian baru balas merangsek menurut siasat yang sudah diatur.
Siapa tahu Tang Ki-joan yang licik dan banyak akal sekali ini ia benar-benar bertemu balunya, ia diingusi oleh Tan Tek-thay.
Sebenarnya ilmu silat Tan Tek-thay yang sejati masih di bawah Tang Ki-joan maupun Teng Hiau-lan, akan tetapi ia dijuluki sebagai si tukang copet sakti, gerak tubuh dan tangannya dengan sendirinya licin dan gesit luar biasa, ditambah Ginkangnyp memang hebat, maka jika tak saling gebrak memakai tenaga dalam, orang pasti akan menyangsikan dia sebagai ahli silat kelas wahid.
Karena itu kemarin Teng Hiau-lan sendiri dikelabui hingga telanjur berseru "Cianpwe"
Padanya.
Sementara itu Tang Ki-joan telah menjajal dengan dua kali serangan pancingan, Tan Tek-thay pun tidak mau digertak, ia bergaya hendak menubruk orang, padahal cuma gerak pura-pura saja, maka keduanya sebegitu jauh masih belum beradu kekuatan.
Jika Tang Ki-joan berputar mengitarinya dengan gerak 'Boan-liong-jiau-poh' atau naga melilit melingkar langkah, maka Tan Tek-thay pun balas dengan memukul ke sini dan menjotos ke sana, tiba-tiba di timur, mendadak sudah di sebelah barat, ia berlaku selicin belut.
Melihat cara Tan Tek-thay memainkan pukulan dan jotosan-nya susp'i diraba, tetapi gerakannya cepat dan gesit luar biasa.
Tang Ki-joan menyangka diri sendiri yang terlalu cetek pengetahuannya dan tidak mengenal ilmu pukulan lawan yang lihai.
Siapa duga Tan Tek-thay hanya sengaja membikin tabir asap untuk membingungkan orang, pukulannya sebenarnya serabutan dan ngawur.
Sebaliknya semakin lama Tang Ki-joan semakin terkejut dan ragu-ragu, ia berlaku lebih hati-hati lagi melayani lawannya yang tidak bisa diraba hendak kemana tipu serangannya, suatu ketika ia coba mendekati orang, tidak tahunya justru karena berlaku hati-hati, kembali ia dikibuli oleh Tan Tek-thay.
Kiranya Tan Tek-thay sudah dapat mengetahui bahwa Tan Ki-joan hanya memakai gerak tipu pancingan belaka, maka demi nampak dia mendekat, mendadak ia unjuk kepandaian mencopet yang lihai, tahu-tahu ia merogoh saku Tang Ki-joan, habis itu segera ia melompat pergi, menyusul lantas mengayun tangan sembari berge-lak tertawa.
Cepat Tang Ki-joan mengegos sembari menangkap dengan tangannya sehingga senjata rahasia lawan jatuh di tangannya.
Akan tetapi ia menjadi terperanjat ketika mengenali senjata rahasia yang berada di tangannya ini bukan lain adalah miliknya sendiri, yakni 'Tau-kut-ting', paku penembus tulang, segera ia meraba kantong, mau tak mau ia terperanjat, ternyata satu pak berisi dua puluh empat paku itu telah hilang tanpa bekas.
Sementara di sebelah sana tampak Tan Tek-thay sedang berjingkrak dan menari kegirangan.
"Ai, Tang-lojat, kekayaanmu sungguh terlalu menyedihkan, apakah milikmu memang hanya sedikit besi tua ini saja?"
Demikian Tan Tek-thay menggoda.
Tang Ki-joan jadi semakin keder terhadap Tan Tek-thay, ia tidak mengerti mengapa paku yang berada dalam sakunya mendadak bisa berpindah tangan, ia mundur beberapa tindak buat melihat keadaan sekitarnya, ia lihat Liau-in yang dikerubut Kwantang-si-hiap tampak berada di bawah angin, sedang Ki Pi-sia yang mati-matian menempur Pui Kin-beng dan Teng Hiau-lan berdua pun tampak lebih banyak diserang daripada menyerang.
"Siang-siang kalau tahu keparat Pui Kin-beng akan mengajak konco, mestinya kita juga membawa kawan lebih banyak!"
Demikian ia pikir dengan perasaan gemas.
Dalam pada itu Liau-in kembali diketok lagi oleh cincin baja Liu Sian-gai, keruan Hwesio ini menjadi murka dan mengamuk, ia ayun tongkatnya sedemikian rupa hingga membawa angin menderu.
Di pihak lain Hian-hong Tojin menghindar dan berkelit kian-kemari sembari mencari kesempatan buat balas menyerang, Long-goat Siansu pun tiada hentinya menyemburkan arus araknya buat membantu rekan-rekannya, araknya yang penuh satu Ho-lo besar sampai hampir habis tersembur, jubah Liau-in yang tertembus oleh hujan arak pun kelihatan berlubang seperti sarang tawon, mau tak mau Liau-in rada terkejut dan kuatir juga.
"Po-kok Siansu, mereka mengandalkan orang yang lebih banyak, biarlah kita berikan kelonggaran hidup beberapa hari lagi untuk mereka!"
Tang Ki-joan meneriaki kawannya tatkala nampak gelagat jelek.
Saat itu juga terdengar Liau-in menggerung keras, ia tangkis pedang Hian-hong yang sementara itu sedang menusuk padanya, habis itu ia lantas angkat kaki menerjang keluar kepungan.
Tak terduga Tan Goan-pa yang gagah berani dan kuat di bawah perlindungan Long-goat Siansu, lagi-lagi menyemburkan arus araknya, pada waktu Liau-in mengayun tongkat dan belum ditarik kembali, mendadak dengan penuh tenaga Tan Goan-pa menangkap tongkat Liau-in terus ditekan ke bawah.
Hian-hong pun tak menyia-nyiakan terjangan saudaranya ini, seketika ia memasuki lowongan itu dan menusuk.
Karena jaraknya sudah terlalu dekat, tenaga serangan orang besar pula, meski Lwekang Liau-in sangat tinggi dan sempat menekuk sikunya terus menyikut, tetapi tidak urung lengannya tertusuk hingga darah membasahi jubahnya.
"Pergi!"
Tiba-tiba Liau-in membentak, ia sendai tongkatnya sehingga Tan Goan-pa dilempar ke udara.
Syukur pada waktu itu Liu Sian-gai sedang menubruk dari atas, maka lekas ia jambret leher baju Tan Goan-pa supaya tidak terlempar lebih jauh, kemudian keduanya tancapkan kaki kembali ke tanah.
Sementara itu dengan menjinjing tongkat, Liau-in masih terus menerjang pergi, waktu mendekati Tan Tek-thay, mendadak ia kem-plangkan tongkatnya pada si tukang copet ini, di bawah goncangan angin tongkatnya yang keras, meski tidak terkena kemplangannya, namun tidak urung Tan Tek-thay hampir tak bisa menguasai diri dan hampir roboh, berkat gerak tubuh yang lincah dan cepat, akhirnya ia bisa menghindarkan diri.
Nampak gaya orang barusan, tiba-tiba Tang Ki-joan jadi tergerak hatinya.
"Cepat, mari kita terjang bersama ke bawah gunung!"
Sementara terdengar Liau-in berseru.
Kini timbul kesangsian Tang Ki-joan pada Tan Tek-thay, ia sangsikan orang belum tentu memiliki kepandaian sejati, akan tetapi demi melihat Liau-in terluka, maka ia sendiri tak berani bertempur lebih lama lagi, tiba-tiba ia sambitkan 'Tau-kut-ting' yang dapat ia raup tadi ke arah Teng Hiau-lan sambil berseru.
"Ki-thongling, hayo lekas angkat kaki!"
Memangnya sejak tadi Ki Pi-sia sudah berpikir hendak angkat langkah seribu, akan tetapi karena dikerubut oleh Teng Hian-lan secara ketat, kini mendadak Hiau-lan harus mengegos, serangannya pun menjadi kendor, Ki Pi-sia menjadi girang, segera ia putar pedangnya dengan gerakan 'Hui-hong-bu-liu' atau angin meniup pohon liu menari, terdengar suara "trang"
Yang keras, pedang Hiau-lan dipuntir hingga terpental terbang.
Akan tetapi Hiau-lan tidak menyerah mentah-mentah, sebaliknya ia jadi makin bernapsu hendak merebut kembali pedang pusaka yang berada di tangan musuh, tiba-tiba ia serang berbareng dengan dua telapak tangannya, yang satu mendorong dan yang lain mencekal, dengan tangan kosong ia paksa hendak merebut pedang dari tangan orang.
Sudah tentu Ki Pi-sia tidak menyerah begitu saja, tiba-tiba ia putar Yu-liong-pokiam terus menikam ke bawah dengan cepat, di bawah mengkilapnya ujung senjata, tampaknya Teng Hiau-lan akan tertembus perutnya oleh tikaman itu, tetapi sebelum senjata lawan mengenai tubuhnya, mendadak dari samping Pui Kin-beng keburu mengirim satu tendangan hingga mengenai pinggang Ki Pi-sia.
Karena tidak terduga oleh 'serangan dari samping ini.
Ki Pi-sia menjerit kesakitan terus jatuh tersungkur, sebaliknya Teng Hiau-lan yang tak keburu menahan dirinya ikut jatuh tengkurap dan dengan persis menindih di atas tubuh Ki Pi-sia.
Tentu saja pemuda ini tidak mau membuang kesempatan, dengan tangan kiri segera ia cekik leher orang dan tangan kanan berusaha merebut pedang orang asal miliknya itu.
"Teng-heng, awas!"
Seru Pui Kin-beng memperingatkan Teng Hiau-lan.
Belum lenyap suaranya, betul juga Ki Pi-sia sudah bergerak, mendadak sebelah kakinya menendang dengan keras, keruan saja Teng Hiau-lan didepak pergi sejauh beberapa tombak.
Di sini tertampaklah bahwa tenaga dalam Hiau-lan masih belum dapat menandingi musuh, setelah bergumul badan adu badan, akhirnya ia menderita rugi sendiri.
Nampak kawannya kecundang, Pui Kin-beng tak bersemangat mengurus lawannya lagi, lebih dulu ia bertindak menolong kawan, ia tarik bangun Hiau-lan.
"Jangan urus aku, lekas kejar musuh!"
Ujar Hiau-lan. Waktu Pui Kin-beng coba periksa keadaan pemuda ini, ia lihat Teng Hiau-lan hanya keseleo tulang kakinya saja dan tidak berbahaya.
"Baik, biar aku rebut kembali pedangmu!"
Sahurnya kemudian sambil berlari pergi menguber musuh.
Maka terjadilah udak-udakan, .dengan Liau-in dan Tang Ki-joan berada paling depan disusul Kwantang-si-hiap serta Tan Tekthay, mereka terus berlari keluar dari lembah gunung.
Di lain pihak Ki Pi-sia yang merasakan sekali tendangan Pui Kin-beng, miang pahanya menjadi kesakitan.
Ia memang lebih cerdik dan tidak kabur sejalan dengan Liau-in dan Tang Ki-joan untuk menghindarkan ancaman Kwantang-si-hiap, maka seorang diri ia memencar ke jalan lain.
Sudah tentu Pui Kin-beng tidak membiarkan musuh bekas kawannya ini merat begitu saja, ia menguber dengan kencang.
Ilmu entengi tubuh Ki Pi-sia lebih baik daripada Liau-in, justru ia kabur dengan memilih jalanan kecil yang sepi dan paling dulu berhasil meninggalkan lembah ini, pikirnya dalam hati.
"Aku punya Pokiam, Pui Kin-beng terang bukan tandinganku, jika dia tinggalkan rombongannya dan mengejar sendirian, maka itu berarti ia cari ke-matian sendiri."
Selang tak lama, ia sudah mendahului kabur keluar dari lembah gunung, ia tinggalkan Liau-in dan kawan-kawan sejauh lebih setengah li.
Di pihak sana, Liu Sian-gai di antara Kwantang-si-hiap terhitung yang paling tinggi Ginkangnya, akan tetapi mereka harus berempat baru bisa mengalahkan Liau-in, oleh sebab itu Liu Sian-gai hanya bisa mengganggu Liau-in secara berkala saja, menguber sambil menempur mereka, tetapi tidak berani mendahului ke depan.
Kwantang-si-hiap memperkirakan Liau-in telah terluka, mereka berniat mengepung dia dan bertempur dalam jangka lama supaya Hwe-sio jahat ini binasa sendiri saking letihnya.
Sementara itu Ki Pi-sia sudah keluar dari lembah gunung, dalam hati ia sedang memperhitungkan daya upaya, maksudnya sebentar lagi akan putar balik dan menghajar Pui Kin-beng dengan serangan mematikan.
Justru pada saat itu juga mendadak pandangan matanya terbeliak, ia lihat dari depan mendatangi seorang gadis jelita berusia antara lima enam belas tahun, pada ujung rambut kepalanya terikal dua konde kecil, matanya bening, mukanya semu merah, rupanya cantik manis seperti bidadari yang turun dari kahyangan, perawakan gadis itu kecil mungil dan sangat menarik.
Melihat gadis secantik ini, sekalipun Ki Pi-sia sedang menyelamatkan jiwanya dengan berlari kencang, tidak tertahan ia memandang juga kepada gadis jelita ini.
Gadis yang pinggangnya menyandang sebatang pedang pendek ini ketika nampak Ki Pi-sia berlari datang dari depan, mendadak membentak.
"Berhenti!"
Karena heran atas bentakan orang, seketika Ki Pi-sia menghentikan langkah.
"Serahkan pedangmu itu!"
Tiba-tiba gadis itu membentak.
"Nona cilik, ada apakah dengan kau?"
Sahut Ki Pi-sia dengan tertawa, ia anggap lucu sikap anak dara yang tak dikenalnya ini. Tak terduga, mendadak anak dara itu melompat ke atas sambil mendamprat.
"Kau si pencuri ini, jika tak kau serahkan pedang itu, biar nonamu mengambilnya sendiri!"
Ilmu entengi tubuh Ki Pi-sia sangat tinggi, tentu saja ia tidak pandang sebelah mata pada orang, ketika gadis ini melompat dan menyambar ke arahnya, ia tidak tega melukai orang, maka hanya mengegos ke samping sambil mengulur tangan kiri dengan maksud memegang pergelangan tangan si nona.
Di luar dugaan tiba-tiba ia merasa pandangan mata menjadi kabur, secepat kilat anak dara itu melayang lewat dari atas kepalanya, mendadak pula Ki Pi-sia merasakan tangannya menjadi enteng, ternyata pedang pusaka Yu-liong-pokiam sudah direbut oleh nona cilik itu.
Keruan tidak kepalang rasa kaget Ki Pi-sia karena Ginkang si gadis ternyata jauh di atas dirinya.
Walaupun dirinya tidak bermaksud bergebrak, maka tidak berjaga sebelumnya, akan tetapi dalam sekejap mata dan sekali gerakan saja anak dara itu sanggup merebut pedang dari cekalan tangannya, maka dapat dimengerti ilmu silat si nona pasti juga tidak boleh dibuat mainan.
Begitulah sesudah gadis itu merampas pedang orang, segera ia mencegat di hadapan Ki Pi-sia.
"Lekas mengaku, pedang ini kau curi darimana?"
Ia membentak lagi dengan ancaman ujung senjata.
Sementara itu Pui Kin-beng yang mengudak musuh pun sudah tiba, kini Ki Pi-sia harus menghadapi lawan dari muka dan belakang, ia menjadi neka.t, mendadak ia meloncat ke atas, berbareng bogemnya menjotos ke muka si gadis.
"Hm, kau pencuri kecil ini masih berani kurangajar!"
Jengek si gadis.
Berbareng pedangnya bergerak secepat angin, beruntun dua kali ia menusuk 'Cing-ciok-hiat' di pinggang kanan dan 'Kiok-ti-hiat' di lengan kiri orang.
Serangan berantai yang lihai lagi cepat ini memaksa Ki Pi-sia menekuk tubuh dan menggeser langkah, ia harus keluarkan seluruh kemampuannya baru bisa menghindarkan diri dari tusukan itu.
Nampak orang mampu menghindarkan serangannya, muka si gadis itupun terunjuk rasa heran.
Dalam hati ia sedang membatin.
"Kata Suhu, ilmu silatku sudah boleh buat merantau Kangouw, tetapi mengapa aku sudah lantas bertemu lawan setangguh ini, dan tu-sukanku sekaligus tak bisa mengenainya? Jika semua orang yang kutemukan berkepandaian seperti dia, maka selanjurnya aku harus berlaku lebih hati-hati."
Ki Pi-sia bisa hindarkan dua serangan lagi, di sebelah lain Pui Kin-beng juga sudah tiba, ketika nampak kejadian itu, ia pun heran dan terkejut, selagi ia bermaksud maju membantu si gadis, namun ia keburu dibentak.
"Siapa kau, tak boleh kau maju!"
Demikian gadis itu membentak.
Waktu Pui Kin-beng tercengang dan merandek, ia lihat si gadis sudah susul-menyusul melancarkan serangan pada Ki Pi-sia dengan cepat hingga ia dipaksa berputar-putar, serangan dan tusukan si gadis yang satu semakin cepat dari yang lain, Kiam-hoatnya yang lihai ternyata belum pernah disaksikannya selama hidup!
Mau tak mau Pui Kin-beng jadi gegetun, ia menghela napas panjang, katanya dalam hati.
"Di bumi ini betul-betul tidak sedikit orang kosen, hanya seorang gadis cilik saja berkepandaian begini tinggi, padahal dulu aku pandang segalanya serba rendah dan tiada yang lebih unggul dari diriku, aku betul-betul seperti katak dalam tempurung!"
Sebenarnya kalau bicara soal kepandaian silat, Ki Pi-sia dan gadis cilik itu masing-masing punya keunggulan sendiri, jika bertanding ilmu pedars?, maka boleh dikata adalah setengah kati delapan tahil alias sama kuat.
Akan tetapi Ki Pi-sia sudah bertempur setengah hari melawan Pui Kin-beng dan Teng Hiau-lan, tenaganya sudah banyak berkurang, ditambah lagi ia sudah ditendang sekali oleh Pui Kin-beng, gerak-geriknya banyak terpengaruh, apalagi kini ia harus melawan dengan tangan kosong, keruan ia selalu berada di bawah ancaman pedang si gadis.
Begitulah maka sesudah berjalan beberapa puluh jurus, tiba-tiba terdengar gadis cilik itu membentak.
"Kena!"
Ternyata pundak Ki Pi-sia sudah tertusuk.
Namun Ki Pi-sia cukup sigap, segera ia jatuhkan diri terus menggelundung pergi untuk kemudian bangkit kembali di tempat sejauh beberapa tombak.
Saking kesimanya menyaksikan pertarungan hebat ini sampai Pui Kin-beng lupa membantu si gadis menangkap musuh.
Setelah tusukannya berhasil mengenai orang, gadis itu berba-lik jadi kaget, soalnya untuk pertama kali inilah ia melukai orang, maka ketika mendadak nampak ujung senjatanya berlumuran darah, seketika tangannya menjadi lemas malah.
Justru pada saat itu tiba-tiba terdengar suara bentakan orang yang keras.
"Budak liar, hendak berbuat apa kau ke sini?"
Anak dara tadi menjadi bingung, ia tidak mengerti mengapa mendadak ada orang mendamprat dia, tatkala ia menengadah, ia lihat debu bergulung-gulung, serombongan orang sudah menerjang tiba, yang paling depan adalah seorang Hwesio dengan tangan menjinjing tongkat besar, rupanya bengis, suara teriakan tadi datangnya dari Hwesio ini.
Dalam sekejap si nona melihat di belakang Hwesio itu beruntun menerjang datang beberapa orang, para pengejar Hwesio ini beraneka macam rupanya, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada Tosu pula dan ada Hwesio.
Waktu itu terlihat seorang lelaki berbadan jangkung yang ikut mengejar, setiap beberapa tindak ia lantas melayang ke atas, dengan menekuk sepuluh jarinya ia lantas mengetok ke atas kepala si Hwesio yang gundul, di samping itu seorang Tosu yang lain setelah menyerang dua kali dengan pura-pura, ia lantas menyerobot mendahului ke depan, kemudian dengan sikap ganas Tosu itu mendelik pada dirinya.
Keruan si gadis menjadi heran, ia bertanya pada diri sendiri mengapa orang mendelik padanya.
"Hai, kau budak liar ini, lekas ikut aku pulang!"
Demikian Tosu itu membentak.
Kiranya gadis cilik ini bukan lain daripada Pang Ing, si kakak dari anak perempuan kembar itu.
Ia sudah hampir sepuluh tahun belajar ikrt Ie Lan-cu, ia sudah memperoleh intisari ajaran Thian-san-kiam-hoat, ditambah sejak kecil ia belajar Lwekang dari cabang silat yang asli, dengan sendirinya dasarnya terpupuk lebih baik daripada Teng Hiau-lan.
Lebih-lebih dalam hal ilmu entengi tubuh, tidak nanti Hiau-lan bisa memadainya.
Ie Lan-cu memungut murid pada usia sudah sangat lanjut, maka ia pandang Pang Ing sebagai ahli waris satu-satunya (Teng Hiau-lan pernah belajar tiga tahun padanya, tetapi ia hanya dianggap sebagai murid 'akuan' saja).
Karena kuatir mempengaruhi jiwa dan semangat belajar Pang Ing, maka selamanya Ie Lan-cu tidak pernah menceritakan asal-usul si gadis yang menyedihkan itu.
Secara lapat-lapat Pang Ing hanya ingat bahwa kala kecil ia pernah tinggal di dalam sebuah istana yang besar sekali, di dalam istana itu banyak sekali orang, maka Ie Lan-cu lantas memberitahu bahwa tempat itu adalah sarang penjahat, ia ditolong keluar dari sarang penjahat itu.
Kecuali itu ia masih ingat seorang yang disebut "Teng-siok-siok" , orang inipun pernah belajar ilmu pedang pada Suhu, tetapi kata Suhu, orang ini tidak terhitung sebagai muridnya, mereka diharuskan saling sebut paman dan keponakan.
"Teng-sioksiok" (paman Teng) ini telah turun gunung ketika ia berusia sepuluh. Seterusnya orang yang paling dikenalnya adalah Li-pekbo dan "Li-koko"
Yang tinggal di puncak selatan Thian-san, dia sendiri pernah tinggal di sana selama setahun bersama Bu Ging-yao.
"Li-koko"
Itu beberapa tahun lebih muda daripada "Teng-sioksiok", tapi ia merasa "Li-koko"
Lebih menyenangkan daripada "Teng-sioksiok".
Sementara ini Pang Ing sudah berusia enam belas tahun, belum genap sebulan ia turun gunung, Ie Lan-cu suruh dia mencari Teng-sioksiok lebih dulu, akan tetapi le Lan-cu sendiri tidak tahu kini Teng Hiau-lan berada dimana, oleh sebab itu ia kasih tahu lagi bahwa ada seorang yang bernama "Lu Si-nio"
Sangat karib sekali hubungannya dengan Teng-sioksiok, Pang Ing disuruh meninggalkan ukiran tulisan di atas dahan pohon di samping kuburan Tok-pi Sin-ni di Bin-san, mengatakan bahwa dia sudah turun gunung, maka diharap bila Lu Si-nio membaca tulisan itu suka membawa Teng Hiau-lan menemuinya.
Ie Lan-cu pikir Kanglam-chit-hiap mempunyai hubungan sangat luas di kalangan Kangouw, lagi pula Kanglam-chit-hiap tiap tahun pasti ada yang naik ke Bin-san buat berziarah ke makam gurunya, tidak peduli yang mana, bila membaca tulisan yang ditinggalkan Pang Ing, tentu mereka akan memberitahu Lu Si-nio, sebaliknya Lu Si-nio tentu bisa mencari Pang Ing.
Tetapi berhubung jarak antara Bin-san dan Tan-liu tidak jauh, Ie Lan-cu berpesan pula pada muridnya ini bila sampai di propinsi Holam, hendaknya menengok ke taman belakang kediaman keluarga Lian, ia beritahukan pula bahwa di tengah taman bunga itu terdapat sebuah kamar baca, ia disuruh masuk ke kamar baca itu untuk menyelidiki secara teliti, sebab mungkin di dalamnya masih terdapat kitab peninggalan.
Seperti diketahui pada tahun Ciong Ban-tong binasa di bawah tangan Siang-mo, kebetulan Ie Lan-cu berlalu di tempat itu, kemudian bersama Lu Si-nio dan kawan-kawan mereka telah membikin kocar-kacir Siang-mo beserta begundalnya {baca
Jilid 1 Tiga Dara Pendekar).
Waktu itu Ie Lan-cu menyimpan peninggalan Ciong Ban-tong berupa kitab ajaran ilmu pedang dan ilmu ketabiban, ia pikir kelak akan diserahkan kembali pada ahli waris Bu-kek-pay, tatkala itu karena tergesa-gesa, maka ia tidak meneliti lebih dulu, belakangan baru kedapatan bahwa sebuah kitab •Kim-ciam-toh-se', kitab penyembuhan dengan tusuk jarum, masih ketinggalan, kitab ini adalah tinggalan Pho Jing-cu, tokoh angkatan tua Bu-kek-pay, yang dikumpulkannya dengan susah payah dan berisi resep serta cara pengobatan, bukan saja hebat dalam hal ilmu ketabiban, bahkan banyak pula terdapat sari rahasia Lwekang golongan Bu-kek-pay.
Ie Lan-cu sendiri masih terhitung tingkatan lebih muda dari Pho Jing-cu, tetapi di masa hidupnya Pho Jing-cu sangat sayang padanya, oleh karena itu Ie Lan-cu ingin Pang Ing mendapatkan kembali kitab itu, maksudnya tidak lain ialah agar darah keringat yang dikeluarkan kaum Cianpwe tidak terbuang percuma.
Karena itulah Pang Ing kebentrok dengan rombongan orang ini di jalanan antara Cu-sian-tin ke Tan-liu.
Pertama-tama yang ke-pergok olehnya adalah Ki Pi-sia.
Di tangan Ki Pi-sia waktu itu masih terhunus pedang, yakni Yu-liong-pokiam milik Teng Hiau-lan.
Perlu diketahui bahwa Yu-liong-kiam dan Toan-giok-kiam adalah dua pedang pusaka dari Thian-san, Teng Hiau-lan memperoleh Yu-liong-kiam dan Pang Ing mendapatkan Toan-giok-kiam dari gurunya, le Lan-cu.
Kedua pedang ini adalah tinggalan Hui-bing Siansu pada ratusan tahun lalu yang digembleng di masa mudanya, wujudnya sama, hanya ukuran panjang-pendeknya yang berbeda,, yakni Toan-giok-kiam berupa pedang pendek, karenanya maka begitu Pang Ing melihat, segera ia mengenali Yu-liong-pokiam dan terus merebutnya dari tangan Ki Pi-sia, bahkan orang ini dia lukai pula.
Sementara itu ketika Hian-hong melihat Pang Ing, ia telah salah sangka bahwa Pan Ing adalah Pang Lin yang dijumpainya tahun lalu, ia lantas ingat saudara keempatnya, yaitu Tan Goan-pa yang pernah luka oleh belati terbangnya, maka ia bermaksud menangkap 'Pang Lin' untuk diserahkan pada Teng Hiau-lan supaya diberi pelajaran.
Ketika Tan Goan-pa pun menyusul datang, ia pun tertegun sejenak demi menampak si gadis.
Di lain pihak saat Pang Ing nampak Hian-hong sedang melotot padanya, ia menjadi heran.
Pikirnya, orang jahat di Kangouw sungguh banyak sekali, tanpa tahu sebab persoalannya, rombongan orang ini datang-datang sudah hendak membinasakan seorang bocah cilik seperti aku ini, sungguh kejam sekali!
Lalu ia pikir pula bahwa gurunya pernah berpesan apabila merantau di Kangouw, hendaklah banyak melakukan perbuatan mulia, melawan kekejaman dan membantu kaum lemah.
Maka ia lantas ambil keputusan, Tosu ini harus diberi hajaran sedikit supaya tahu rasa.
Maka ketika kemudian Hian-hong menyabet dengan tongkatnya bermaksud memukul jatuh Yu-liong-pokiam dan kemudian baru menangkapnya, di luar dugaan, begitu tongkatnya menyabet, sekonyong-konyong sinar perak berkelebat, dengan mengeluarkan suara "trang"
Dan memuncratkan lelatu api, tongkat Hian-hong ternyata terkutung sebagian!
Hian-hong berteriak kaget oleh kejadian ini, sementara itu Pang Ing membalik, senjatanya menusuk dari samping, lekas Hian-hong menyambut dan balas menyerang lagi, tetapi baru saja ia bergerak, secepat kilat Pang Ing telah mengubah tipu serangannya yang kedua dan ketiga dengan susul-menyusul.
Ilmu pedang Hian-hong, 'Loan-pi-hong-kiam-hoat', sebenarnya terkenal kecepatannya, tak terduga tipu serangan Pang Ing melebihi kecepatannya, untung Hian-hong lebih matang dan lebih ulet, ia dapat menghindarkan tiga serangan itu.
Sementara serangan keempat Pang Ing sudah sampai pula, kali ini dengan tipu *Liu-sing-joan-goat' (bintang meluncur menembus rembulan), suatu tipu hebat dari Thian-san-kiam-hoat, ujung senjatanya secepat kilat mengarah tenggorokan Hian-hong.
Untuk menghindarkan serangan ini, Hian-hong terpaksa harus mengangkat pedang menangkis ke atas, maka kembali terdengar suara "trang"
Yang nyaring, ternyata pedang Hian-hong terkutung sebagian.
Bukan main kejut Hian-hong.
Lekas ia melompat keluar dari kalangan pertempuran.
Akan tetapi segera ia dipapaki Liau-in yang sementara itu sudah menerjang sampai di hadapannya, dengan sekali kemplangan, tongkatnya diayun ke atas kapala Hian-hong, syukur Hian-hong masih sempat meloncat pergi dengan cepat, sedang Liu Sian-gai dan Tan Tek-thay secara beramai pun sudah mengembut maju buat membantu.
Melihat si Hwesio menghantam si Tosu, Pang Ing berpikir tentu Tosu ini orang jahat dan si Hwesio adalah orang baik-baik.
Tak ia sangka waktu Liau-in nampak dia, ia pun salah sangka Pang Ing sebagai Pang Lin, pikir Liau-in.
"Pang Lin adalah orang yang dimaui oleh Hongsiang, jangan sampai dia lolos lagi.'"
Karena itulah begitu ia putar tongkatnya, ia desak Tan Tek-thay, Liu Sian-gai dan kawan-kawan hingga terpaksa harus mundur.
Rombongan orang ini dikepalai oleh Hian-hong, kini kedua senjata Hian-hong, yaitu pedang dan tongkat, sudah terkurung semua, dengan sendirinya mereka menjadi jeri dan tidak berani merangsek Liau-in lebih dekat lagi.
Dalam pada itu Liau-in dapat melihat pula di tangan Pang Ing memegang pedang pusaka Yu-liong-kiam, ia berpikir lagi.
"Budak liar ini sungguh terlalu berani, sampai Ki Pi-sia pun berani dilukai-nya."
Maka tanpa ayal lagi, begitu ia geraki tongkatnya, mendadak ia lantas menyapu ke arah Pang Ing.
Padahal Liau-in disangka orang baik oleh Pang Ing, sama sekali tidak diduganya, sekonyong-konyong Hwesio ini berbalik menyerangnya, dalam keadaan tidak berjaga lebih dulu, ia masih sempat angkat pedang buat menangkis, maka terdengarlah suara "trang"
Yang keras, walau tongkat Liau-in tergumpil sebagian, namun Yu-liong-pokiam di tangan Pang Ing tak bisa dipegang kencang lagi, pedang pusaka itu terguncang terbang ke udara.
Tang Ki-joan yang berada di dekat situ dengan cepat lantas melompat hendak merebut pedang pusaka yang terbang ke atas itu, akan tetapi gerak tubuh Tan Tek-thay ternyata terlebih cepat, tukang copet sakti ini telah mendahului setengah langkah dan berhasil menyambar pedang pusaka itu.
Tang Ki-joan menjadi murka karena didahului orang, diam-diam ia kumpulkan tenaga dalam terus mengirim sebelah telapak tangannya untuk menghantam, hendak menghindarkan diri sudah tak sempat lagi, tiada jalan lain, Tan Tek-thay terpaksa sambut serangan ini secara keras lawan keras, ia pun baliki telapak tangannya menangkis.
Maka terdengarlah suara "plak"
Yang keras dibarengi jeritan Tang Ki-joan sembari melompat mundur sejauh tiga tombak, pada telapak tangannya tertampak darah bercucuran.
Tan Tek-thay, si tukang copet sakti, dengan sendirinya punya akal licik sebagai tukang copet, sudah terang ia tahu bukan tandingan orang, jika harus beradu tenaga sungguhan terang ia akan kalah, maka diam-diam di telapak tangannya telah dia jepit sebuah 'Tau-kut-ting', paku penembus tulang, yang dia copet dari saku Tang Ki-joan tadi, tatkala kedua telapak tangan beradu, ujung paku terus menancap, keruan saja 'Tau-kut-ting' itu betul-betul menembus telapak tangan tuannya.
Sebaliknya Tan Tek-thay yang paksakan diri menerima hantaman itu, seketika juga merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, bumi dirasakan seperti berputar dan langit terbalik, untung Long-goat Siansu keburu menahan tubuhnya hingga tidak sampai roboh.
"Bagaimana keadaanmu?"
Tanya Long-goat.
Akan tetapi Tan Tek-thay tidak menyahut, ia berpaling ke jurusan lain terus meludah pada lengan bajunya, perbuatan ini dapat diketahui Long-goat Siansu, ia lihat pada lengan baju Tan Tek-thay basah merah, tahulah dia tentu Tan Tek-thay terluka dalam, oleh karena itu sengaja meludah sambil berpaling, perlunya supaya tidak diketahui musuh.
"Mari pergi saja!"
Lekas Long-goat berseru pada Suhengnya demi melihat gelagat jelek.
Dalam keadaan Hian-hong sudah terkutung senjatanya, Tan Tek-thay terluka dalam pula, sedang Pui Kin-beng sudah payah kehabisan tenaga, tiga kawannya lagi terang bukan tandingan Liau-in, bahkan masih belum diketahui si gadis cilik ini kawan atau lawan, terpaksa Hian-hong memberi tanda, mereka berenam lantas mundur teratur.
Di sebelah sana Liau-in masih menempur Pang Ing, sesudah berhasil membikin terbang pedang si gadis, maju setindak lagi ia ulurkan tangannya hendak menjambret.
Tak terduga kembali Pang Ing mencabut keluar pedangnya sendiri, Toan-giok-kiam, begitu ia geraki Pokiamnya buat membabat, dengan kaget Liau-in lekas menarik kembali tangannya, akan tetapi betapa cepatnya pun tidak urung lengan bajunya terobek sebagian.
Keruan tidak kepalang murka Liau-in, ia ayun tongkatnya dengan tujuan menghantam terbang pedang si gadis lagi seperti tadi.
Namun Pang Ing sudah berpengalaman, ia tak membiarkan pedangnya kebentur, ia melompat sambil menutulkan ujung pedangnya ke ujung tongkat orang, maka tubuhnya pun ikut membal ke atas, di angkasa ia masih putar senjatanya untuk segera menubruk lagi ke bawah sambil menikam.
Dengan sendirinya Liau-in tidak gampang dilukai, ia tegakkan tongkatnya terus menyodok ke atas.
Lekas Pang Ing mengegos di udara, habis itu beruntun ia mendahului menyerang tiga kali dengan cepat sekali.
Tetapi kembali serangan ini dapat digagalkan Liau-in dengan sekali putar tongkamya, begitu hebat daya tekanan tongkatnya hingga Pang Ing dipaksa menancapkan kembali kakinya ke bawah di tempat sejauh setombak lebih.
Liau-in tidak tinggal diam, dengan memutar tongkat segera ia memburu maju, ia ulur tangannya hendak menjambret lagi.
Tapi ilmu pedang Pang Ing ternyata hebat luar biasa, sedikit kendur daya tekanan tongkat Liau-in, mendadak ia menyelusup lewat di bawah tongkamya terus mendesak maju sambil pedang menusuk ke bawah bahu Liau-in.
Tidak kepalang kaget Liau-in atas serangan tiba-tiba ini, untuk menghindarkan diri dari kematian.
terpaksa ia harus balas membinasakan lawan juga, mendadak ia tarik tongkatnya terus menyabet ke depan, gerak tipu ini adalah gaya 'gugur gunung' dari Thian-mo-tiang-hoat yang lihai, satu tipu mencari kemenangan di kala diri sendiri terancam bahaya, tenaga yang dikeluarkan luar biasa dahsyatnya.
Pang Ing terkejut juga oleh serangan musuh yang membalik, melihat gelagat tak menguntungkan, kembali ia tutulkan ujung senjatanya ke atas tongkat orang, tubuhnya lagi-lagi tersendai naik ke udara.
"Hwesio ini sungguh tangkas sekali, terang aku bukan tandingannya!"
Begitu pikir Pang Ing.
Maka ketika ia tancapkan kakinya kembali, ia tidak menyerang Liau-in lagi, tetapi ia keluarkan ilmu entengi tubuhnya yang hebat dan kabur menuju ke jurusan selatan.
Liau-in sampai terkesima dan mata terbelalak oleh gerak tubuh dan silat si gadis yang bagus itu, dalam hati ia berkata.
"Celaka, celaka! Budak liar entah dapat belajar Kiam-hoat darimana sehingga demikian bagusnya, sejak kini di kalangan Kangouw bakal bertambah seorang 'Lu Si-nio' lagi."
Di samping sana Tang Ki-joan sedang sibuk mencabut paku yang menancap di telapak tangannya dan mengobati racunnya, tidak nyana senjata ini bisa makan tuannya sendiri, ia mendongkol sekali oleh kelicinan orang, katanya pada Liau-in dengan menghela napas.
"Kita kalah habis-habisan."
"Budak liar ini telah banyak bertambah lihai ilmu entengi tubuhnya,"
Kata Liau-in tatkala nampak gerakan Pang Ing begitu sebat dan cepat, hanya sekejap saja sudah menghilang dari pandangannya.
"Mari kita kembali dan melapor pada Lian Keng-hiau,"
Ajaknya kemudian.
Setelah Liau-in dan Tang Ki-joan kembali di Cu-sian-tin, sementara itu Ki Pi-sia sudah sampai lebih dulu, ketika mereka bertiga memasuki kemah, baru mereka mendapat tahu bahwa karena tak sabar menantikan mereka kembali, dengan membawa beberapa prajurit pengawal, Lian Keng-hiau sudah berangkat ke kampung halamannya di Tan-liu.
Mereka diberitahu pula oleh perwira piket bahwa Tayswe dua hari lagi baru akan kembali bersama pasukan, disampaikan pula pada Liau-in agar dia menyerahkan Pui Kin-beng pada Gak Ciong-ki untuk diambil tindakan seperlunya.
Atas pesan yang ditinggalkan itu, tidak bisa berbuat lain bagi Liau-in dan Tang Ki-joan kecuali menurut saja.
Bercerita tentang Lian Keng-hiau, sesudah dapat merebut kekuasaan militer dari In Te, dapat menaklukkan Ki Pi-sia pula, ia gembira sekali.
Ia memandang kampung halamannya dari jauh, dalam hati lantas terbayang wajah Pang Lin yang manis.
Ketika Keng-hiau menghitung, nyata sampai tahun ini Pang Lin sudah genap berumur enam belas, ia pikir anak dara ini tentu sudah tumbuh lebih tinggi daripada dahulu.
Ia teringat juga atas dirinya sendiri yang telah berbahagia dalam usia semuda ini, kekuasaan ada, para pangeran saja tidak ia pandang sebelah mata, begitu pula pembesar macam apapun ia anggap sepi, manusia hidup sampai pada tingkatan demikian ini boleh dika-ta sudah senang dan puas sekali.
Kekurangan satu-satunya bagi dirinya ialah masih belum mempunyai seorang istri yang menyenangkan dan cocok dengan pilihan hatinya.
Ia jadi teringat, walaupun Hongsiang menaruh hati pada Pang Lin, tapi sebagai maharaja yang mempunyai selir cantik memenuhi istananya, kalau aku bisa mendahului maju selangkah dan memperoleh Pang Lin lebih dulu, tentunya Hongsiang tidak merasa enak untuk berebut dengan aku.
Hendaklah diketahui bahwa kini kedudukan Lian Keng-hiau sudah jauh berbeda, terhadap In Ceng, ia pun tidak begitu takut seperti dahulu.
Lian Keng-hiau perintahkan pasukannya berkemah tiga hari di luar kota Cu-sian-tin, tujuannya selain hendak menyelesaikan urusan In Te, ia ingin pulang menyambangi rumahnya sekaligus mencari tahu apakah Pang Lin masih tinggal di rumahnya atau tidak.
Pagi hari itu ia menulis sepucuk surat dan menyuruh Siang-mo menyampaikan kepada ayahnya, maksudnya agar kepulangannya ini tidak terlalu mendadak hingga membikin kaget orang tua saja, sebenarnya hanya lagak Keng-hiau sesudah menjadi panglima besar.
Siang-mo, Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji dan Tay-lik-sin-mo Sat Thian-toh, meski watak kedua manusia iblis ini masih sangat liar, tetapi mereka tidak sesombong seperti Liau-in, mereka masih mau tunduk di bawah perintah Lian Keng-hiau, oleh sebab itulah diam-diam Keng-hiau telah memberi perintah rahasia kepada mereka berdua untuk mewakilkan dirinya mengawasi tindak-tanduk Liau-in, hari ini mereka diutus pula mengirim surat pribadi.
Sesudah Siang-mo berangkat, Lian Keng-hiau menunggu pula sampai hari sudah siang, namun masih belum nampak Liau-in dan kawan-kawan kembali, ia jadi tak sabar, pikirnya.
"Ah, biar urusan kecil ini diselesaikan oleh Gak Ciong-ki saja."
Maka ia sendiri lantas membawa beberapa prajurit pengawalnya, terus mencemplak kuda perangnya dan pulang ke rumah asalnya.
Kembali mengenai Pang Ing, sesudah gadis ini kabur ke jurusan yang sepi, ia lihat Hwesio jahat itu tidak menguber lebih jauh, maka ia lantas balik kembali ke jalanan tadi, ia menarik napas lega dan meneruskan perjalanan menuju ke Tan-liu.
Menjelang lohor, tiba-tiba ia mendengar di belakangnya berkumandang suara keleningan kuda, ketika menoleh, dilihatnya ada dua kakek berwajah aneh sedang cengar-cengir padanya.
Tiba-tiba Pang Ing teringat bahwa kedua orang ini seperti pernah bertemu entah dimana.
Waktu ia coba mengingatnya, tahulah dia, kedua orang ini adalah orang dari 'sarang penjahat' itu, waktu dirinya masih kecil mereka sering mengajaknya bermain di dalam gedung besar itu, ia masih ingat dalam gedung besar itu seperti banyak terdapat palung Buddha yang besar dan aneh beraneka macam.
Pang Ing ternyata masih ingat kedua iblis ini, sebaliknya ia lupa akan Liau-in, karena rupa Siang-mo rada aneh dan lain dari yang lain, pula asalnya mereka yang membawa Pang Ing ke dalam istana pangeran.
Keruan begitu nampak Pang Ing, mereka menjadi kegirangan, seketika Sat Thian-ji melompat turun dari kuda terus menghadang ke depan orang.
"Yan-ji, dalam dua tahun ini kemana kau pergi? Marilah ikut kami pulang!"
Demikian ia berseru. Akan tetapi tiba-tiba ia lihat mata Pang Ing mengunjuk sinar terang, matanya membelalak bundar padanya.
"Kenapa, apa kau sudah tak kenal aku lagi?"
Kata Sat Thian-ji rada kuatir.
"Aku kenal kau sebagai bandit!"
Tiba-tiba Pang Ing menyahut. Keruan Sat Thian-ji menjadi gusar karena orang berani mengatakan dia bandit.
"Sekalipun kami'adalah bandit atau iblis, sedikitnya ada budi juga atas dirimu!"
Balasnya mendamprat.
Memang Siang-mo di kala muda pernah menjadi bandit, mereka pun tahu bahwa di kalangan Kangouw, mereka disebut sebagai 'iblis', oleh sebab itu mereka paling benci jika orang memaki mereka bandit dan iblis, coba kalau bukan Pang Ing, sejak tadi ia tentu sudah turun tangan.
Tak terduga Sat Thian-ji belum turun tangan, tahu-tahu Pang Ing malah memulai lebih dulu, begitu tubuhnya bergerak, dengan cepat ia kirim tusukan ke muka orang.
Namun Sat Thian-ji cukup sebat, dengan enteng ia mengegos, tapi baru saja ia menghindarkan diri, sekonyong-konyong Pang Ing mengirim pula tusukan kedua dan ketiga susul-menyusul, Sat Thian-ji berulang kali ganti tipu gerakan, tapi tetap belum bisa menghindar rangsekan si dara, ia merasakan ujung pedang Pang Ing seperti berkelebat kian kemari di muka dan belakangnya, masih untung karena Sat Thian-ji pernah meyakinkan ilmu menggempur dan menubruk cara elang kucing, hingga gerakannya gesit dan licin, kalau tidak, sejak tadi ia sudah ditusuk oleh Pang Ing.
Keruan Sat Thian-ji semakin murka, saking gusarnya ia berteriak.
"Budak ini sudah tak kenal budi lagi, buat apa kita sayangi dia?"
Segera Sat Thian-toh ikut menerjang maju terus membelah dengan telapak tangannya. Melihat rupa kedua iblis yang bengis dan kejam ini mulai mengeroyok, Pang Ing pun menjadi sengit.
"Bagus sekali, kalian bandit anjing ini betul-betul jahat!"
Serunya.
Ujung senjatanya lantas membalik, Sat Thian-toh yang biasanya suka terjang dan menghantam secara ceroboh, ia tidak menduga ilmu pedang Pang Ing bisa begini bagus dan lihai, karena itu, lekas ia bermaksud menarik kembali tangannya, tetapi sudah terlambat, pundaknya tergores.
Sat Thian-ji pun tak lahan lagi, begitu tubuhnya melayang naik, tiba-tiba sepuluh jarinya terulur dan sepuluh kukunya yang panjang menjulur keluar menusuk ke muka Pang Ing.
Karena serangan yang aneh ini, Pang Ing jadi terkejut juga, lekas ia putar tubuh dan menusuk lagi dengan cepat, tetapi dengan mengeluarkan gerak serangan seperti elang kucing, dengan mencakar, menubruk, membeset dan mematuk, Sat Thian-ji mulai bergebrak dengan sengit melawan Pang Ing.
Di samping sana, Sat Thian-toh yang sudah terlatih laksana kulit tembaga dan talang besi, hanya terkena goresan pedang saja ia anggap sepele, mendadak ia cabut sekenanya sebatang pohon yang tumbuh di pinggir jalan, habis itu ia sabetkan dari samping ke arah Pang Ing.
Namun Pang Ing bisa bergerak dengan gesit dan cepat, dengan sedikit berkelit ia sudah bisa menghindarkan diri.
Sementara itu Sat Thian-ji telah mengulur tangan kanan hendak mencakar lengan dan tangan kiri mencengkeram ke muka lawan, melihat tipu serangan yang cukup ganas ini, berulang kali Pang Ing masih bisa meluputkan diri dengan gerak tabuh yang bagus.
Akhirnya Sat Thian-toh menjadi murka, tiba-tiba ia menye-rampang dengan batang pohon, ia menyapu kaki Pang Ing, dengan begini Pang Ing dipaksa harus menjaga bagian bawah dirinya, maka ilmu entengi tabuhnya pun terpengaruh, sedang kepandaian menubruk dan menghantam secara elang kucing dari Sat Thian-ji lihai luar biasa, lagi pula mereka berdua saudara bisa bekerja sama dengan rapat, meski ilmu pedang Pang Ing sangat bagus, namun ia pun tak bisa mengalahkan mereka.
Ilmu silat Pang Ing sekarang kira-kira sepadan dengan Lu Si-nio di kala untuk pertama kali turun dari Bin-san, waktu itu Lu Si-nio bisa mengalahkan Pat-pi-sin-mo, tapi masih belum bisa menandingi keroyokan Siang-mo berdua.
Kini pun demikian dengan Pang Ing, apalagi umurnya masih lebih muda daripada waktu Lu Si-nio turun gunung dulu, tenaganya pun tak bisa bertahan lebih lama daripada Siang-mo.
Begitulah, maka sesudah saling gebrak kira-kira setengah jam, Pang Ing merasa napasnya mulai memburu dan hati terguncang hebat, tenaganya habis, ia bermaksud membobol kepungan orang buat kabur, namun kedua lawan ternyata semakin kencang mengerubut-nya.
"Budak yang lupa budi dan tak setia, hayo, lekas kau berlutut dan mengaku salah, mungkin kami masih bisa ampuni engkau!"
Terdengar Sat Thian-ji mendamprat pula.
Namun sepatah kata pun Pang Ing tak menjawab, sekonyong-konyong ia memutar pedang dan menusuk pergelangan tangan Sat Thian-ji, ketika dengan cepat Sat Thian-ji menarik kembali tangannya, di lain pihak Sat Thian-toh sudah menyapu pula dengan dahan pohonnya.
Setiap kesempatan tidak pernah Pang Ing sia-siakan, dengan cepat ia menutul dahan pohon itu dengan ujung kakinya, menyusul berjumpalitan terus melayang pergi jauh.
"Lari kemana!"
Bentak Sat Thian-ji.
Ia pun melompat naik dengan cepat terus mencengkeram dari atas.
Tidak terduga ilmu entengi tubuh Pang Ing sudah sempurna, di tengah udara mendadak ia sedikit menekuk tubuh, berbareng pedang membalik terus menusuk ke atas.
Karena serangan balasan yang mendadak lagi cepat ini, Sat Thian-ji tak keburu menghindarkan diri, betisnya tertusuk, tetapi ia masih terus mencakar ke bawah, karena itu Pang Ing pun terluka oleh kuku jarinya, berbareng karena tenaga dorongan orang, Pang Ing berhasil melayang pergi sejauh lima enam tombak.
"Bagus sekali, kau budak liar ini masih berani melukai orang tua!"
Sat Thian-toh berteriak pula.
Ia putar pohon yang dicekal terus memburu maju dengan cepat.
Sat Thian-ji sudah tertusuk, untung Pang Ing menyerang di udara dan tak bisa menggunakan tenaga sepenuhnya, maka lukanya tidak berat, ia robek kain baju buat membalut lukanya, kemudian dengan menahan rasa sakit ia mengudak lagi.
Setelah Pang Ing bisa lari pergi beberapa tindak, mendadak ia merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, mulutnya kering dan kehausan, kiranya ini adalah bekerjanya racun pada lukanya yang terkena cakaran kuku Sat Thian-ji.
Perlu diketahui bahwa sepuluh kuku jari Sat Thian-ji sudah terendam dalam air racun dari ular yang paling berbisa, jika tiada obat pemunahnya, dalam dua belas jam orang yang terkena pasti akan binasa, semakin banyak mengeluarkan tenaga, menjalarnya racun semakin cepat.
Pang Ing tidak mengetahui akan hal ini, tadi ia telah angkat langkah seribu hendak kabur, karena itu hampir saja ia terjungkal pingsan, cepat ia berhenti dan mengumpulkan tenaga dalam untuk menahan bekerjanya racun, dengan demikian ia rasakan rada mendingan.
Sebab ini juga Siang-mo keburu menyusul tiba.
"Kau budak rendah yang tidak kenal budi kebaikan ini, kini kau berada di ambang pintu kematian, apa kau belum mau mengaku salah dan minta ampun?"
Dengan gemas Sat Thian-ji membentak.
"Cis!"
Tiba-tiba Pang Ing membalas dengan suara mencemooh.
Ia ingat betul apa yang diajarkan gurunya bahwa sekalipun badan boleh menjadi abu, tetapi sekali-kali tidak boleh menyerah dan minta ampun.
Maka ia lantas hentikan tindakannya, ia angkat pedang pusakanya, Toan-giok-kiam, ke atas.
x "Hayo, bandit anjing, coba majulah lagi!"
Dampratnya menantang. Sudah tentu kedua iblis ini sangat murka atas caci maki si nona yang berulang-ulang menyebut mereka bandit.
"Kau sudah terluka oleh kuku berbisa, jika kau tidak minta ampun, tidak disangsikan lagi kau pasti akan mampus, apakah kau masih belum mau insaf?"
Damprat Sat Thian ji.
"Jika kau tetap kepala batu, kami akan duduk di sampingmu sini dan menyaksikan kau mampus oleh bekerjanya racun di badanmu, tidak perlu kami berhantam lagi dengan kau!"
Pang Ing juga menjadi murka, secara kalap ia menerjang maju pula terus menyerang, ia memberondong orang dua kali tusukan.
Sat Thian-ji tertawa dingin atas serangan anak dara ini, ia tarik saudaranya mundur ke belakang, Pang Ing lantas menerjang maju lagi, tetapi kembali ia merasakan pandangan matanya kabur dan jantung memukul keras, lekas ia berusaha menenangkan semangatnya supaya tetap sadar.
"Cis, dasar bandit anjing, tidak berani secara terang-terangan, tetapi secara diam-diam memakai cakar berbisa, memang perbuatan bandit yang kotor dan rendah!"
Pang Ing mencaci maki lagi.
Sat Thian-ji mengerti gadis ini tidak akan tahan lebih lama lagi, maka ia tak gubris caci makinya, sebaliknya Sat Thian-toh menjadi tak sabar, ia membentak dengan gusar terus menubruk maju.
"Awas dengan Pokiamnya!"
Seru Sat Thian-ji memperingat-Sekonyong-klonyong Pang Ing juga melompat naik memapaki orang dengan tusukan pedangnya, hantaman Sat Thian-toh ternyata mengenai tempat kosong, sebaliknya tiba-tiba pundaknya kembali tertusuk oleh senjata Pang Ing.
Sat Thian-ji lebih licik dari saudaranya, ia telah mengincar dengan jitu, begitu ulur tangannya, seketika ia dapat merebut pedang Pang Ing, sekalian ia mendorong anak dara itu hingga Pang Ing jatuh tersungkur.
Sat Thian-toh beruntun merasakan dua kali tusukan Pang Ing, ia menjadi murka, begitu melompat maju segera ia menghampiri Pang Ing yang masih menggeletak di tanah.
"Biar dia minta ampun sendiri!"
Ujar Sat Thian-ji.
"Kau boleh ampuni dia, tetapi aku tidak!"
Sahut Sat Thian-toh dengan murka.
Dengan menggenggam kepalan ia memburu maju lagi.
Sat Thian-ji cukup kenal tabiat saudara mudanya ini yang tidak mungkin dikendalikan bila sudah umbar kemurkaan, ia tiada alasan buat merintanginya.
Dalam keadaan serba susah ini tiba-tiba terdengar suara keleningan kuda yang berbunyi nyaring dan ramai, debu pun mengepul tebal, tertampak Lian Keng-hiau sedang mendatangi dengan beberapa prajurit pengiringnya.
"Hai, apakah yang sedang kalian lakukan?"
Seru Keng-hiau dari jauh.
"Budak liar yang tidak kenal kebaikan ini telah menusuk aku dua kali!"
Tutur Sat Thian-toh dengan gemas.
Waktu itu Pang Ing masih jatuh pingsan di atas tanah, demi mengenali siapa nona itu, diam-diam Lian Keng-hiau sangat terkejut, namun ia tidak menunjukkan tanda-tanda perasaannya.
"Cara bagaimana kalian pergoki dia?"
Ia lantas tanya lagi. Maka Sat Thian-ji lantas menceritakan kejadian tadi.
"Untung dia tak dipergoki di rumahku,"
Demikian diam-diam Lian Keng-hiau bersyukur dalam hati.
"Tetapi si budak Pang Lin seperti setan cerdiknya, mengapa dia tidak lantas menyingkir demi kepergok dua iblis ini?"
Sementara itu terdengar Sal Thian-toh buka suara lagi dengan rasa gemas yang masih belum hilang.
"Budak yang tidak kenal kebaikan ini biar kubinasakan dia saja, Tayswe!"
Mendengar kata-kata ini, mata Lian Keng-hiau menjadi melotot.
"Bila kelak Hongsiang minta orangnya, siapa berani menanggung resiko?"
Dengan dingin ia bertanya. Memang Sat Thian-toh adalah seorang kasar yang tidak bisa berpikir, karena ancaman itu seketika ia tertegun.
"Thian-ji, coba berikan obat pemunahnya padaku,"
Kemudian terdengar Lian Keng-hiau berkata pada Sat Thian-ji. Dengan sendirinya Sat Thian-ji tidak berani menolak perintah dan mengeluarkan obat pemunahnya.
"Tayswe, kami berdua saudara bersedia menggiringnya ke kotaraja,"
Katanya kemudian.
Tetapi Keng-hiau tidak menjawab, ia terima obat pemunah yang disodorkan itu dan dengan cepat ia bubuhkan di luka Pang Ing, sebagian pula ia cekoki mulut anak dara itu.
Obat pemunah ini memang sangat mustajab, hanya dalam sekejap Pang Ing sudah sadarkan diri, ketika melihat Siang-mo berdiri di sebelah dan terdapat pula seorang panglima muda berjongkok di sampingnya, ia menjadi heran.
"Adik Lin, tenanglah dan kumpulkan tenagamu saja,"
Ujar Keng-hiau setelah melihat anak dara itu sadar. Pang Ing menjadi lebih heran dan bingung oleh panggilan orang, pikirnya di dalam hati.
"Hari ini entah bagaimana? Ada orang memaki aku budak liar, ada pula yang memanggil aku adik segala!"
Ketika ia lihat sikap panglima muda ini tidak bermaksud jahat, ia lantas tenangkan diri, bahkan ia lantas duduk dan diam-diam kumpulkan tenaga dalam.
Selang tidak lama, ia rasakan napasnya sudah berjalan seperti biasa dan tenaga sudah pulih, dengan sekali loncat ia lantas berdiri.
"Budak liar, sekali ini kau mau menyerah atau tidak?"
Dengan mata mendelik Sat Thian-toh mendamprat padanya.
"Saudaraku, jangan kau takut-takuti dia!"
Ujar Sat Thian-ji. Sebaliknya Lian Keng-hiau lantas berkata kepada Pang Ing.
Baca Juga: Dua Musuh Turunan Liang Ie Shen
Baca Juga: Setan Harpa 10