Tiga Dara Pendekar 9

Eps 9 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen

Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen

Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.

"Ambil pedangmu itu dan pulanglah bersama aku!"

Pang Ing tak menyahut, ia masukkan pedang ke dalam sarungnya, lalu ia memberi, hormat kepada Lian Keng-hiau.

"Banyak terima kasih atas budi pertolonganmu tadi,"

Katanya. Habis itu mendadak tubuhnya bergerak, ia keluarkan Ginkang yang hebat luar biasa, ia melompat turun ke gili-gili sawah terus kabur dengan kencang.

"Lekas kejar!"

Seru Lian Keng-hiau gugup.

Segera pula ia sendiri menguber dengan disusul oleh prajurit pengiringnya.

Siang-mo pun ikut pula mengudak.

Akan tetapi dalam sekejap Pang Ing sudah melayang lewat belasan petak sawah kering dan naik ke atas bukit sana, dengan kuda susah untuk mendaki gunung, sedang ilmu entengi tubuh Siang-mo tidak lebih unggul dari si nona, maka dengan mata terbuka lebar Lian Keng-hiau menyaksikan anak dara itu menghilang ke dalam rimba gunung dan tidak muncul pula.

"Budak ini sudah tak kenal budi kebaikan lagi, kami berdua saja tidak mau dikenalnya lagi, tak usah mengharapkan kembalinya lagi,"

Ujar Sat Thian-toh dengan mendongkol. Lian Keng-hiau jadi tertegun, ia terdiam, rada lama baru terdengar ia menjawab.

"Kelak saja mengurusnya lagi."

Lalu dengan membawa prajuritnya ia kembali ke jalanan besar, ia melanjutkan perjalanan, pada waktu magrib baru ia sampai di rumahnya.

Melihat putranya pulang, Lian Toan-ling girang sekali, tiada hentinya ia tanya ini dan itu, akan tetapi Lian Keng-hiau lantas singkirkan bawahannya, lalu tanya ayahnya dengan suara bisik-bisik.

"Ayah, apakah ada seorang anak perempuan seperti ini datang kemari?"

Lantas ia menceritakan wajah Pang Lin.

"Ada, sudah hampir setengah tahun ia berada di sini, ia bawa tanda bukti dan surat dari kau,"

Sahut Lian Toan-ling.

"Dan kapan ia telah pergi?"

Tanya Keng-hiau pula.

"Siapa bilang dia pergi?"

Ayahnya berbalik tanya dengan tidak mengerti.

"Siang tadi aku masih suruh orang antarkan yan-oh-theng (kuah sarang burung) padanya. Ibumu sangat suka padanya, tetapi nona cilik itu justru bertabiat sangat aneh, ia tak mau tinggal bersama kita, ia ingin sendirian tinggal dalam taman bunga di belakang, yaitu tinggal di kamar yang dulu ditinggali gurumu itu! Ia pun tidak sudi dilayani orang, terpaksa kami hanya mengirim santapan padanya setiap hari, seperti melayani gurumu dahulu saja."

"Memang aku yang suruh dia berbuat begini,"

Kata Keng-hiau.

"Apa dia adalah bakal menantu yang telah kau penujui?"

Tanya Lian Toan-ling. Keng-hiau merasa heran, dalam hati ia membatin.

"Siang tadi justru dia masih saling hantam dengan Siang-mo, tetapi mengapa ayah bilang dia masih makan yan-oh-theng di rumah?"

Karena itu, maka ia tidak menjawab pertanyaan ayahnya tadi, dengan tergesa-gesa ia menuju ke taman bunga.

Melihat kelakuan putranya, Lian Toan-ling menyangka anaknya merasa malu, maka dengan tertawa ia kembali ke kamarnya.

Ketika Keng-hiau masuk ke dalam taman, ia lihat rumput liar memenuhi seluruh taman, dinding tembok pun roboh dan bobol, pikirnya.

"Agaknya sesudah Suhu meninggal, ayah ikut berduka dan enggan merawat taman ini."

Setelah ia jalan lagi, tiba-tiba ia mencium bau wangi bunga Bwe yang sedap, ternyata beberapa ratus tangkai bunga Bwe tampak mengitari dimana dulu ia tinggal bersama gurunya, waktu ia mendekat dan melihatnya, ternyata tiap tangkai bunga semuanya terpotong dan dirawat dengan rajin, ia menduga tentu kerjaan Pang Lin di sini.

Ia dapat melihat pula batu undak-undakan depan rumah itu bersih mengkilap, rumah ini pun terawat, lain sekali dengan keadaan di luar sana.

Dengan perlahan Keng-hiau mendorong pintu rumah dan masuk ke dalam, ia melihat di kamar baca masih ada sinar pelita yang menembus keluar, maka dengan perlahan Lian Keng-hiau mengetok dua kali.

"Siapa? Sudah begini malam, aku tidak ingin makan lagi!"

Terdengar Pang Lin berseru dari dalam.

Keruan Keng-hiau girang sekali, ia tersenyum, secara mendadak ia mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Tiba-tiba ia lihat Pang Lin duduk di dalam kamar baca dengan wajah yang heran bercampur gugup, gadis itu sedang membalik-balik halaman se

Jilid buku!

Mengenai Pang Lin, sejak hari dimana ia tinggalkan Li Ti yang terluka dan menggeletak di rimba, kemudian ia menuju ke rumah orang she Lian ini dan menunjukkan surat pengantar dari Lian Keng-hiau, lalu tinggal di dalam taman besar ini.

Taman ini sudah lama tak terawat, sebenarnya Lian Toan-ling, ayah Liar Keng-hiau, tidak tega membiarkan anak dara ini tinggal di dalamnya, akan tetapi dengan tersenyum Pang Lin unjuk sedikit kepandaiannya, ia jemput sebutir batu krikil, dengan sekali timpuk ia bidik jatuh burung yang hinggap di pohon dalam taman itu.

Melihat kepandaian si nona, Lian Toan-ling jadi teringat pada putranya yang banyak menimbulkan hal-hal aneh, pikirnya, kalau nona cilik ini memang disuruh kemari oleh Keng-hiau, tentu bukan orang sembarang orang, maka sesudah dibikin bersih, ia lantas pindahkan Pang Lin tinggal di kamar baca yang dulu ditinggali Ciong Ban-tong itu.

Begitu memasuki taman ini, segera Pang Lin merasakan hatinya tergoncang, kemudian sesudah masuk kamar baca itu, lebih-lebih ia merasa tempat ini seperti sudah pernah didatanginya.

Ia berpikir keras dan coba mengingatnya, akan tetapi sedikitpun ia tidak ingat sesuatu lagi.

Ia disuruh tinggal dalam taman ini oleh Lian Keng-hiau, memangnya panglima muda ini mempunyai maksud tujuan yang dalam.

Pang Lin sudah minum obat pelupa yang diberi In Ceng hingga daya ingatannya lenyap semua, kejadian sebelum anak dara ini masuk istana sudah sama sekali tak diingatnya lagi.

Oleh sebab itulah Keng-hiau membiarkan gadis ini tinggal di tempat yang dulu pernah ditinggalinya agar ingatannya bisa tersentak dan pulih kembali kejernihannya.

Akan tetapi sudah beberapa tahun Pang Lin kehilangan daya ingatan, meski betul ia merasa taman ini seperti sudah dikenalnya, namun masih tetap belum bisa teringat kejadian dahulu.

Sesudah beberapa hari ia tinggal di situ, semua tempat dan pelosok taman sudah didatangi dan dikelilinginya, lapat-lapat ia seperti ingat bahwa tempat ini adalah tempat lama yang dulu sering dibuat bermain dirinya.

Akan tetapi kapankah ia pernah datang ke taman ini?

Inilah yang tak diingatnya lagi.

Timbul pikirannya.

"Aku dan Lian Keng-hiau baru saja kenal, darimana aku bisa pernah tinggal di rumahnya?"

Ia menjadi ragu-ragu dan bingung.

Setelah lewat lebih setengah bulan, perlahan-lahan pikirannya baru terasa rada tenteram.

Pada suatu malam, Pang Lin mondar-mandir di dalam taman, ia putar otak berpikir dan mengingatnya.

Dalam pada itu mendadak ia lihat di atas pagar tembok ada berkelebatnya bayangan, berturut-turut ada dua orang meloncat masuk ke dalam taman.

Pang Lin dapat melihat gerak tubuh kedua orang ini meski cepat dan gesit, tetapi Ginkangnya masih belum tergolong ahli, diam-diam ia siapkan dua buah pisau terbang berbisa, waktu hendak ia sambitkan, tiba-tiba ia berbalik pikiran, ia urungkan niatnya.

Sementara itu terdengar kedua pendatang itu saling bicara.

"Apakah tempat ini yang dulu ditinggali Ciong Ban-tong? Eh, mengapa di dalam kamar sana ada sinar pelita?"

Kata orang yang di depan.

"Apa mungkin anak dara itu masih berada di sini?"

Sahut kawannya.

"Itu tidak mungkin,"

Kata pula orang yang duluan.

"Aku sudah selidiki dengan terang, pada hari kematian Ciong Ban-tong, anak dara itu digondol pergi oleh Siang-mo ke dalam istana."

Mendengar kata-kata "Ciong Ban-tong", hati Pang Lin berdegup keras, nama ini terasa hapal sekali. Dalam pada itu, terdengar pendatang yang di belakang tadi telah buka suara lagi.

"Jangan-jangan Lian-Keng-hiau menaruh penjaga di sini?"

"Lian Keng-hiau kini di Pakkhia, ia sedang sibuk membantu In Ceng merebut takhta, mana sempat mengurus tamannya ini."

"Tetapi Lian Keng-hiau banyak tipu akalnya, kita harus berjaga-jaga."

Begitulah setelah mereka berdua berembuk sejenak, masing-masing lantas mengeluarkan sebuah benda yang bentuknya mirip leher dan mulut burung bangau, mereka menuju ke bawah jendela kamar baca itu, apa yang hendak diperbuat mereka, Pang Lin sendiri tidak paham, tetapi ia terus mengawasi gerak-gerik mereka.

Selang tak lama, kedua orang itu mendorong pintu dan masuk ke dalam kamar.

Diam-diam Pang Lin menyelusup keluar dari semak bunga, begitu bergerak ia ayunkan tabuhnya ke atas emperan rumah, dengan gaya '^in-cu-to-kwi-liam' atau kerai mutiara tergantung terbalik, dengan kedua ujung kaki menggantol pada emper rumah dan kepalanya menjungkir ke bawah, ia coba mengintip ke dalam kamar.

Sementara itu ia lihat kedua orang itu sedang saling pandang di dalam, rupanya mereka merasa heran dan ragu-ragu.

Kiranya mereka mengira di dalam rumah pasti terdapat penghuninya, maka mereka pergunakan alat yang menyerupai mulut bangau tadi dan menyemburkan semacam obat tidur 'Khe-bin-ngo-ko-hoan-hua-hio' ke dalam, orang yang terkena obat tidur ini akan tidak sadar sebelum menjelang pagi di waktu ayam jago mulai berkokok.

Tetapi ketika mereka masuk ke dalam rumah, mereka mendapatkan rumah ini kosong melompong tanpa ada satu manusia pun.

Ini adalah ciri dan pantangan besar bagi orang yang suka kelayapan malam.

Keruan mereka menjadi gugup.

Karena itu, seorang di antara mereka segera melompat keluar lagi buat memeriksa sekelilingnya, namun Pang Lin sudah keburu bersembunyi di pojok emperan, orang itu ketika tidak mendapatkan suatu bayangan pun, kemudian masuk lagi ke dalam.

"Aneh, betul-betul tiada satu manusia pun,"

Katanya pada sang kawan dengan terheran-heran.

"Sudahlah, peduli ada orang atau tidak, lekaslah geledah,"

Ujar yang lain. Begitulah mereka lantas bekerja keras, membongkar semua almari dan kopor yang ada di situ, tetapi demi nampak pakaian Pang Lin, kembali mereka heran sekali.

"Apa mungkin cucu perempuan luar Khong-susiok itu telah kembali ke sini?"

Kata seorang di antara mereka.

"la tinggal dengan baik-baik dan senang sekali dalam istana, mana bisa ia kembali ke sini."

Sahut yang lain.

"Sudahlah, jangan berpikir yang tidak-tidak."

Segera mereka teruskan penggeledahan sampai menggunakan alat senjata buat mengetok dinding dan membongkar lantai. Pang Lin jadi bingung melihat perbuatan mereka, pikirnya.

"Apa mungkin di sini terpendam sesuatu harta karun yang dirahasiakan?"

Selang tak lama, kedua orang itupun menggeser tempat tidur dan mencari di bawah ranjang, mereka kembali menggali lagi, habis itu tiba-tiba terdengar suara nyaring beradunya benda keras.

"Ha, sudah ketemu!"

Terdengar seorang berkata dengan suara girang.

Menyusul terlihat ia menggali keluar sebuah kotak besi, ia coba kutak-katik kotak besi itu, akan tetapi tidak dapat membukanya.

Melihat kawannya sudali lama masih belum bisa membuka kotak itu, yang seorang lagi jadi tak sabar.

"Bawa pulang saja untuk diupayakan nanti!"

Ujarnya.

"Tetapi belum diketahui apakah di dalamnya tersimpan kitab yang kita cari itu, jika bukan, perjalanan kita ini kan sia-sia belaka?"

Sahut yang duluan tadi. Habis itu ia lantas lolos keluar goloknya dan menyambung lagi.

"Biar aku belah saja dengan golok ini."

"Hati-hati sedikit, jangan sampai kitab di dalamnya terusak,"

Ujar yang lain.

Belum selesai ia berkata, golok kawannya sudah bekerja, sekonyong-konyong tertampak lelatu bercipratan, tutup kotak mendadak menjeplak, berbareng dua buah Hui-to menyambar keluar dari dalam, karena tidak pernah menduga akan hal ini, hulu hati orang itu tepat tertancap pisau terbang, ia menjerit ngeri terus roboh terguling.

Sedang seorang lagi masih sempat berkelit ke samping, setelah agak lama tiada tanda-tanda yang mencurigakan, ia baru melangkah maju lagi, ia ambil keluar kitab yang berada dalam kotak dan diperiksa, habis itu cepat ia masukkan kitab itu ke dalam bajunya.

"Ha, akhirnya kudapat juga,"

Katanya dengan tertawa senang. Lalu ia menendang mayat kawannya ke pinggir sambil berkata.

"Suko, pada hari ulang tahunmu nanti aku akan bersembahyang untukmu. Kini kitab yang dicari sudah diketemukan, di alam baka kiranya kau boleh menutup mata dengan tenang."

Kemudian ia putar tubuh terus bertindak keluar.

Akan tetapi ia sudah dinanti Pang Lin sejak tadi, gadis ini jadi gusar melihat peristiwa tadi, pikirnya, orang ini sungguh busuk, biar dia rasakan juga pisau terbangku.

Begitu orang melangkah keluar rumah, sekonyong-konyong pisau Pang Lin menyambar dengan tepat mengenai hulu hatinya, orang itu roboh dengan menjerit, dalam sekejap jiwanya melayang menyusul Suhengnya tadi.

Pang Lin lantas melompat turun dari atas rumah, lebih dulu ia ambil kitab yang berada dalam baju orang tadi, ia lihat pada kulit kitab itu tertulis empat huruf "Kim-cian-to-se".

Kemudian ia masuk ke dalam rumah dan menjemput kedua pisau terbang yang menyambar keluar dari kotak besi.

Akan tetapi segera ia terperanjat demi melihat jelas Hui-to itu!

Kiranya kedua pisau tadi serupa benar dengan pisau miliknya.

Pang Lin coba memeriksa luka kedua orang itu, ia dapatkan tanda-tanda lukanya pun sama pula.

Keruan ia semakin curiga dan terkejut.

Pikirnya, Han-pepek pernah bilang Hui-to berbisa yang aku pakai ini adalah senjata rahasia tunggal yang tidak biasa digunakan orang lain di Kangouw, tapi mengapa Hui-to yang menyambar keluar dari kotak besi ini serupa dengan miliknya?

Kiranya sejak kecil Pang Lin ikut Ciong Ban-tong dan mempelajari kepandaian lihai 'Tiao-beng-sin-to', pisau sakti sambar nyawa, setelah dia digondol masuk ke dalam istana oleh Siang-mo, walaupun daya ingatannya hilang, namun ilmu silat yang dipelajarinya sejak kecil masih belum terlupakan, kotak yang berisi dua puluh empat buah Hui-to pun senantiasa terbawa di tubuhnya.

Di istana Si-hongcu In Ceng memang penuh dengan orang-orang pandai, karena Pang Lin sangat lincah dan menyenangkan, maka dari ahli-ahli silat yang ada dalam istana itu ia telah banyak mendapatkan ajaran ilmu silat yang beraneka ragam.

Di antaranya Han Tiong-san adalah ahli menggunakam Am-gi, tatkala ia lihat Hui-to yang dipakai Pang Lin, segera ia kenal pisau ini adalah ajaran asli dari cabang silat Pho Jing-cu, dengan mengambil sebuah pisau Pang Lin, secara teliti Han Tiong-san telah mempelajarinya, maka tidak selang beberapa hari, racun apa yang terlekat di atas pisau itupun dapat diketahuinya.

Han Tiong-san sendiri adalah seorang tokoh cabang persilatan juga, ia tidak ingin menggunakan senjata rahasia dari cabang orang lain, oleh sebab itulah ia hanya mengajarkan cara merendam Hui-to itu dengan racun dan resep obat pemunahnya pada Pang Lin dan menerangkan pula cara menggunakannya.

Semenjak Ciong Ban-tong wafat, Bu-kek-pay tiada ahli waris lagi, meski Lian Keng-hiau sudah berhasil mempelajari cabang ilmu silat itu beberapa bagian, tetapi dengan kedudukan Lian Keng-hiau sekarang, dengan sendirinya tidak nanti ia keluyuran di kalangan Kangouw, karena itu Han Tiong-san mengatakan pada Pang Lin bahwa pisau terbangnya itu tiada orang lain lagi yang bisa menggunakannya di kalangan Kangouw.

Pang Lin menyangka Hui-to itu ajaran asli dari Han Tiong-san sendiri, hakikatnya ia tidak teringat lagi pernah ada seorang 'Ciong Ban-tong'.

Begitulah sesudah Pang Lin berpikir pulang-pergi masih belum juga paham, akhirnya ia pendam kedua mayat yang menggeletak di situ, ia bebenah kamarnya yang diobrak-abrik tadi, kemudian ia coba membuka kotak besi dan memeriksa kitab yang tersimpan di dalamnya, tapi kembali ia terkejut, disusul dengan rasa kegirangan!

Ternyata kitab itu terbagi menjadi

Jilid A dan

Jilid B, dalam

Jilid A seluruhnya terbagi menjadi tiga belas bab, tiga bab yang pertama isinya adajah rahasia berlatih Lwekang, sedang sepuluh bab di belakang adalah ajaran ilmu pukulan dan ilmu pedang.

Jilid B yang seluruhnya terdiri dari dua belas bab ternyata adalah kitab ilmu ketabiban.

Lebih dulu Pang Lin coba membaca ajaran ilmu pukulan dan pedang, ia merasa beberapa pelajaran di dalamnya masih kurang lihai daripada apa yang telah dia pelajari, tetapi bila ia membaca tiga bab yang di depan, ia merasa di dalamnya mengandung arti yang terlalu dalam dan sangat luas.

Dari Li Ti, Pang Lin dapat belajar sedikit cara berlatih ilmu Lwekang, tetapi karena Li Ti sendiri dalam ilmu Lwekang juga belum mencapai tingkat yang sempurna, hanya tahu kulitnya tetapi tidak paham sarinya, apalagi pelajaran dilakukan secara lisan yang terputus-putus dan tidak sambung-menyambung, kini setelah dapat membaca kitab ini, seketika Pang Lin menjadi jelas seluruhnya, apa yang dulu pernah ia pelajari, bukan saja di dalam kitab ini telah dijelaskan secara luas, bahkan ia banyak memperoleh sari yang lebih hebat di dalamnya.

Hendaklah diketahui bahwa Pho Jing-cu adalah ahli silat dari cabang silat terkemuka, meski kepandaiannya tidak memadai keganasan Pek-hoat Mo-li, tetapi dalam hal belajar Lwekang menurut caranya ini, dibanding dengan cabang silat Pek-hoat Mo-li, boleh di-kata jauh lebih berhasil.

Pang Lin memang gadis berbakat, maka semenjak itulah ia tinggal di dalam kamar sunyi di dalam taman untuk mempelajarinya secara mendalam, selang setengah tahun ia sudah memperoleh kemajuan yang pesat, sampai semua ilmu pukulan dan ilmu pedang pun dapat ia pelajari dengan baik.

Hari ini secara iseng ia sedang membalik-balik kitab

Jilid kedua, sebenarnya Pang Lin tidak sabar membaca kitab pelajaran ilmu ketabiban ini, tetapi setelah ia balik-balik sepuluh dua puluh halaman, tiba-tiba ia membaca di antaranya terdapat resep dan cara menyembuhkan sakit hilang ingatan.

Ia jadi tertarik, tapi meski setengah hari ia membacanya berulang-ulang, namun tetap tidak paham isinya.

Kiranya ini adalah catatan dan konsep yang Pho Jing-cu bikin ketika dahulu ia menyembuhkan Kui Tiong-bing yang terkena penyakit 'Li-hun-cing' atau sakit linglung, tak ingat asal-usul diri sendiri.

Pho Jing-cu pun senantiasa mempelajari ilmu ketabiban secara mendalam, sekalipun sembuhnya penyakit Kui Tiong-bing dahulu berkat jasa Boh Wan-lian, juga karena bantuan yang tidak sengaja.

Karena itulah Pho Jing-cu berpendapat mengobati orang sakit tidak dapat melulu mengandalkan kejadian yang kebetulan, ia memeras otak terus dan akhirnya mendapatkan resep dan cara menyembuhkan penyakit sebangsa kehilangan ingatan, cara penyembuhan yang dipakainya kira-kira serupa seperti hipnotis pada zaman ini.

* Pang Lin yang sama sekali tiada dasar pengertian ilmu ketabiban, dengan sendirinya ia tidak paham apa yang dibacanya.

Sungguhpun Pang Lin tidak paham apa yang dibaca tetapi timbul pikirannya, kejadian dirinya di masa kanak-kanak tidak dapat diingatnya, ditanyakan pada para paman dan mamak itu, mereka pun tak dapat menjelaskan, apa yang diterangkan oleh mereka tiada yang cocok satu sama lain, ia sangsi jangan-jangan dirinya juga terkena penyakit hilang ingatan yang aneh ini, kalau begitu kitab ini agaknya banyak juga gunanya.

Lalu ia coba membalik-balik pula, sampai pada halaman terakhir, tiba-tiba ia lihat di situ tertulis beberapa baris huruf yang berbunyi.

Untuk diketahui Keng-hiau muridku, Kitab ini adalah hasil darah keringat Pho-suco, kau harus menyimpannya sebagai barang pusaka dan menggunakan pula kitab ini sebagai bukti untuk menerima jabatan Ciangbun Bu-kek-pay.

Ciong Ban-tong.

Kiranya pada masa hidup Ciong Ban-tong, dengan susah payah ia mendidik Lian Keng-hiau hingga menjadi pemuda 'Bun-bu-coan-cay' atau serba pandai dalam hal ilmu silat maupun ilmu surat, tujuannya tidak lain ialah supaya pemuda ini bisa mewarisi Bu-kek-pay, cuma waktu itu karena Lian Keng-hiau masih belum dewasa (waktu Ciong Ban-tong mati ia baru berumur empat belas), oleh sebab itu kitab pusaka ini masih belum diturunkan padanya.

Karena harus berjaga apabila dirinya mendadak terbinasa di tangan musuh, Ciong Ban-tong telah menuliskan beberapa baris huruf pada akhir kitab itu, maksudnya adalah seperti surat wasiat atau pesan yang ditinggalkannya itu.

Betul saja akhirnya Ciong Ban-tong terbinasa di tangan Siangmo, sebelum ia menghembuskan napas yang penghabisan, ia dapat mengetahui bahwa Lian Keng-hiau ternyata adalah manusia yang berjiwa kotor dan telah mengkhianati guru, maka ia tidak jadi memberitahukan tempat dimana kitab pusaka itu disimpan.

Begitulah sesudah Pang Lin membaca Beberapa baris tulisan tadi, baru ia ketahui bahwa Ciong Ban-tong adalah guru Lian Keng-hiau, tanpa terasa ia jadi berpikir.

"Entah siapakah Ciong Ban-tong ini? Tetapi Hui-to dalam kotak besinya itu serupa seperti pisau yang aku gunakan, dengan aku tentu ada sangkut-pautnya. Tetapi bila mendengar .apa yang dikatakan kedua pencuri kitab tadi bahwa si Ciong Ban-tong ini sudah mati, agaknya soal ini hanya bisa ditanyakan pada Lian Keng-hiau saja."

Dan malam itu Pang Lin sedang termenung menghadapi kitab yang dipegangnya, ia berpikir sampai jauh malam, sampai akhirnya ia terkejut oleh kedatangan Lian Keng-hiau.

Tatkala Lian Keng-hiau masuk ke dalam secara tiba-tiba.

dan melihat Pang Lin sedang duduk dalam kamar dan sedang membalik-balik sebuah kitab, ia pun tercengang sejenak.

"Sudah begini jauh malam kau masih belum tidur? Kitab apakah yang sedang kau baca?"

Kemudian ia menegurnya.

Karena pertanyaan ini, sekonyong-konyong Pang Lin teringat bahwa kitab ini adalah tinggalan Ciong Ban-tong untuk Lian Keng-hiau sebagaimana dituliskan, jika sampai dilihatnya tulisan itu, bukankah kitab ini harus diserahkan padanya.

Pang Lin tidak rela memberikan kitab itu padanya, maka tatkala Keng-hiau hendak melongok kitab yang dipegangnya, lekas Pang Lin gulung buku itu dan dimasukkan ke dalam bajunya.

"Kau ini sungguh terlalu, masuk tanpa permisi dulu,"

Segera ia pura-pura mengomel. Lian Keng-hiau menjadi terkesima demi melihat wajah si gadis dengan senyuman yang manis ini.

"Apakah lukamu sudah baik?"

Tanyanya kemudian. Sudah tentu Pang Lin menjadi bingung, ia tidak mengerti arti pertanyaan orang.

"Apa katamu?"

Balasnya tanya.

"Ha, kepandaianmu sungguh bagus, sudah jauh lebih tinggi daripada dulu Kembali Pang Lin tercengang oleh kata-kata ini, ia membatin jangan-jangan Keng-hiau telah tahu aku mendapatkan kitab pusaka ini.

"Cakar Pat-pi-sfh-mo yang berbisa sungguh lihai, setelah minum obat pemunahnya, hanya dalam setengah jam kau sudah bisa berjalan seperti biasa, cepat amat,"

Terdengar Keng-hiau berkata.

"Melihat cahaya mukamu, sama seperti orang sehat."

Keruan Pang Lin jadi semakin bingung.

"Kapan aku terluka?"

Akhirnya ia bertanya.

"Ha, kau si cilik nakal ini masih ingin bergurau dengan aku,"

Sahut Keng-hiau dengan tertawa.

"Kau tak ingin bertemu Siang-mo, maka aku telah singkirkan mereka ke lain tempat."

Tentu saja Pang Lin tetap bingung atas kata-kata orang.

"Apakah arti sebenarnya kata-katamu ini, sedikitpun aku tidak paham!"

Sahutnya lagi.

"Siang hari tadi kau berkelahi dengan siapa?"

Tanya Keng-hiau dengan mendongkol.

"Aneh, sudah ada setengah tahun aku di sini dan tidak pernah keluar dari taman ini, kapankah aku berkelahi dengan orang?"

Sahut Pang Lin terheran-heran. Melihat jawaban si anak dara yang sungguh-sungguh dan tampaknya sedikitpun tidak bergurau ini, mau tak mau Lian Keng-hiau terheran-heran juga.

"Sehari penuh kau berada di dalam kamar ini?"

Desaknya lagi.

"Tentu saja, buat apa aku dustai kau?"

Sahut Pang Lin.

"Tetapi sudah jelas hari ini aku telah bertemu dengan kau!"

Kata Keng-hiau lagi dengan mata terpentang lebar saking herannya. Melihat sikapnya yang aneh ini, Pang Lin jadi tertawa geli.

"Barangkali kau telah melihat setan!"

Ujarnya. Setelah ia berhenti sejenak, tiba-tiba ia berkata.

"Sudahlah, tidak usah merecoki urusan setan. Coba jawab, bukankah Ciong Ban-tong adalah gurumu?"

"Ya, kenapa?"

Sahut Keng-hiau ragu-ragu.

Mendadak Pang Lin ayun tangannya, sebuah Hui-to ditimpukkan ke muka Keng-hiau.

Serangan yang tiba-tiba ini keruan membikin Keng-hiau terkejut, lekas ia ulur tangan menangkap pisau itu dengan tepat.

"Apa yang kau perbuat?"

Bentaknya.

"Hihi, cara kau menyambut Hui-to ini sama seperti caraku!"

Dengan tertawa Pang Lin menyahut. Mendengar kata-kata ini, dalam hati Keng-hiau berkata.

"Aku dan kau memang sama belajar dari satu guru, mengapa bisa lain."

Mal'a ia lantas berkata pula.

"Kiranya kau sengaja menjajal aku!"

"Ya, tempo hari aku masih belum jelas dengan gerak tanganmu, maka kini aku menjajal sekali lagi,"

Sahut Pang Lin.

"Perlu apa kau melakukan ini?"

Tanya Keng-hiau. Ternyata Pang Lin tidak menjawab, dengan bertopang dagu ia menatap terus pada Lian Keng-hiau.

"Tamanmu ini, dulu aku seperti sudah pernah datang ke sini,"

Katanya kemudian dengan tertawa. Keng-hiau menjadi terguncang hatinya. Segera terdengar Pang Lin meneruskan lagi.

"Aku dan kau seperti sudah kenal juga? Mengapa mereka se-dikitpun tidak mau memberitahukan padaku?"

Kata-kata ini membikin hati Keng-hiau tergerak, ia memang orang yang banyak berprasangka, maka ia lantas berpikir.

"Budak liar ini secerdik setan, apa yang dikatakan tidak boleh dipercaya penuh. Jika umpama ia bukan sungguh-sungguh selisih paham dengan Hong-siang, tapi Hongsiang yang sengaja mengutus dia buat menyelidiki diriku, bukankah hal ini bisa runyam bagi diriku?"

"Kenapa kau tidak buka suara?"

Tegur Pang Lin demi nampak Keng-hiau termenung.

"Darimana kau mendapat tahu nama Suhuku?"

Tanya Keng-hiau kemudian.

Karena pertanyaan ini, giliran Pang Lin tak bisa menjawab seketika.

Ia tidak ingin kehilangan kitab itu, dengan sendirinya ia tak dapat menjelaskan bahwa dia mengetahuinya dari tulisan Ciong Ban-tong.

Keragu-raguannya ini dapat dilihat oleh Lian Keng-hiau, maka ia semakin menaruh curiga.

Ia pikir, jika bukan orang istana yang memberitahu padanya, tentunya orang Kangouw yang bilang padanya.

Ia sudah hampir setahun kabur dari istana, selama ini entah berhubungan dengan orang macam apa saja, tidak boleh tidak harus waspada.

Sementara itu dengan mengerut kening Pang Lin telah menjawabnya.

"Kau ini betul-betul suka curiga,"

Katanya dengan tertawa.

"Kau adalah Lian-tayciangkun yang maha sohor, urusanmu dengan sendirinya banyak orang yang mengetahui."

"Siapakah yang memberitahu kau?"

Desak Keng-hiau lagi.

"Aku dengar dari pembicaraan orang di jalan, mana aku tahu namanya?"

Sahut Pang Lin.

Dengan jawaban ini Pang Lin menyangka telah cukup masuk akal dan tentunya bisa diterima, tak terduga justru kata-katanya ini mengenai pantangan Lian Keng-hiau, urusan Keng-hiau belajar silat dengan Ciong Ban-tong sangat dirahasiakan, mana mungkin orang di jalan bisa mengetahuinya.

Dengan sendirinya ia pun tahu gadis ini sedang berdusta.

"Haha, sejak kapan kau mulai belajar berdusta?"

Katanya kemudian dengan bergelak tertawa.

"Siapakah yang berdusta?"

Sahut Pang Lin.

"aku bertanya padamu, tapi kau tidak gubris, sebaliknya kau tanya terus padaku. Hm, jangan kau membaiki diriku lagi!"

Karena kata-kata terakhir ini, Keng-hiau menjadi serba salah, ia tidak dapat memastikan sikap si nona yang kekanak-kanakan ini sungguh-sungguh atau pura-pura "Baiklah, kau duduk dulu,"

Katanya kemudian.

"coba jawab, kau punya Hui-to itu siapa yang mengajarkan padamu?"

"Paman Han Tiong-san yang mengajari,"

Sahut Pang Lin.

"Bukan!"

Kata Keng-hiau geleng-geleng kepala.

"Kalau begitu siapa?"

Tanya Pang Lin. Selagi Keng-hiau hendak berkata, tiba-tiba ia dengar di luar seperti ada suara berisik, maka lekas ia urungkan perkataannya.

"Ssssssttt, lekas kau sembunyi, biar aku lihat siapa yang datang?"

Katanya pada Pang Lin dengan suara tertahan.

Dengan melelet lidah Pang Lin menurut dan bersembunyi ke belakang tempat tidur.

Kemudian Lian Keng-hiau membuka pintu kamar dan melongok keluar, maka tertampak olehnya Liau-in sedang mendatangi dengan langkah lebar, tongkat terjinjing di tangannya.

Kiranya setelah Liau-in dan Tang Ki-joan kembali dengan mengalami kekalahan besar, mereka telah diberitahu bahwa Lian Keng-hiau sudah pulang ke kampung halamannya.

Waktu Liau-in berlima hendak berangkat dari kotaraja, In Ceng pernah memberi titah rahasia agar mereka secara diam-diam mengawasi gerak-gerik Lian Keng-hiau.

Apalagi Liau-in biasanya anggap dirinya lebih tua, maka ia suka jual lagak, selamanya ia tidak pandang sebelah mata atas diri Lian Keng-hiau, kini ia mendongkol pula karena Lian Keng-hiau tidak menunggu kembalinya, maka ia lantas berunding dengan Tang Ki-joan.

"Si Lian cilik ingin kita bekerja mati-matian untuk kepentingannya, sebaliknya ia sendiri enak-enak pulang ke rumah, mari kita cari dia ke rumahnya!"

Ajaknya pada Tang Ki-joan. Akan tetapi Tang Ki-joan lebih tahu tata-krama antara kaum pembesar negeri, ia tidak setuju ajakan kawannya ini.

"Dia adalah panglima pasukan, tanpa undangannya lagi pula tiada urusan penting, bagaimana boleh kita pergi mencarinya?"

Sahutnya kemudian.

"Kita memberitahu dia bahwa Pui Kin-beng tidak berhasil kita tangkap, tetapi kita kepergok budak liar itu, apakah ini bukan urusan penting?"

Kata Liau-in.

"Urusan ini hanya urusan kecil saja,"

Ujar Tang Ki-joan dengan menggeleng kepala. Liau-in jadi mendongkol.

"Kau tak mau pergi, biar aku pergi sendiri!"

Katanya dengan rada aseran.

"Kita mendapat titah rahasia kaisar, kita bukan bawahan bocah she Lian itu, apa yang harus kita takuti?"

Begitulah, maka dengan menjinjing tongkatnya segera ia menyusul ke Tan-li;; malam-malam. Keruan Keng-hiau jadi kaget melihat datangnya Liau-in yang sekonyong-konyong ini.

"Po-kok Siansu, mengapa malam-malam engkau datang kemari?"

Tegurnya segera. Akan tetapi Liau-in tidak lantas menjawab, ia memandang ke sekeliling ruangan.

"Siao Lian. kau sedang bicara dengan siapa?"

Tanyanya kemudian.

"Aku sedang membaca di dalam kamar, mungkin kau salah dengar,"

Sahut Keng-hiau.

"Apakah kamar ini dulu tempat tinggal Ciong Ban-tong?"

Tanya Liau-in lagi.

"Ya,"

Sahut Keng-hiau.

"Wah, sungguh indah sekali. Baiklah, mari kita duduk di dalam,"

Tanpa diminta dan sebelum Lian Keng-hiau buka suara, segera Liau-in mendorong pintu kamar dan masuk ke dalam.

Sudah tentu bukan buatan dongkol Lian Keng-hiau melihat ke-kurang-ajarannya ini, ia mendamprat di dalam hati.

"Kau kepala gundul ini, lambat laun aku pasti akan ajar adat padamu."

Sungguhpun dalam hati gusar, tetapi pada wajahnya sedikit-pun tidak tampak perasaannya.

"Jika Siansu sudi mampir, itulah baik sekali,"

Demikian ia malah menyambut dengan tertawa. Lantas ia masuk mengikut di belakang Liau-in.

"Ehm, harum sekali, seperti kamar tidur perawan,"

Kata Liau-in dengan tertawa sambil menyedot dengan hidung sesudah mengambil tempat duduk.

"Taysu suka berkelakar saja!"

Sambut Keng-hiau pula. Akan tetapi mata Liau-in yang mirip mata maling segera celi-ngukan ke seluruh pelosok kamar.

"Hah, sarung bantal sulaman dengan selimut dan kasur merah, he, Lian cilik, mungkin secara rahasia kau pulang buat kawin hingga kami semua tiada yang diberitahu, kau harus didenda apa nanti?"

Kata Liau-in.

"Aku adalah putra tunggal, ibuku terlalu memanjakan dan sayang padaku sejak kecil,"

Tutur Keng-hiau.

"beliau kuatir aku tidak bisa tumbuh hingga besar, beliau telah terima macam-macam usul kaum Nikoh dan mak comblang segala dan anggap aku seperti anak perempuan saja, maka semua perabot yang ada di kamar ini terdiri dari perabot anak perempuan, untuk tumbal, katanya dengan begini bisa menghilangkan sial dan buang segala bencana, sungguh menggelikan sekali."

Pada masa itu di kalangan rakyat ada kebiasaan membesarkan putra tunggal dengan menganggapnya sebagai anak perempuan.

Namun Liau-in masih setengah percaya dan setengah tidak, mendadak ia mendekati tempat tidur, ia goyang perlahan ranjang itu.

Keruan tidak kepalang rasa terkejut Lian Keng-hiau, ia pikir rahasianya sekali ini pasti akan terbongkar.

"Ha, ranjangmu inipun bagus dan indah sekali, sungguh aku ingin merasakan empuknya dan tidur di sini,"

Liau-in berkata pula dengan tertawa.

Lian Keng-hiau mengira Pang Lin pasti akan dilihat olehnya, siapa duga meski Liau-in sudah menggoyang beberapa kali, namun di belakang kelambu ternyata tiada suara apa-apa.

Keruan Lian Keng-hiau sangat heran, batinnya.

"Budak setan cerdik ini sungguh pintar sekali menyembunyikan dirinya!"

Sementara itu dengan memukul tongkat ke lantai, Liau-in lantas duduk di pinggiran ranjang.

"Di rumahku, masih tersedia kamar tamu lagi, mana aku berani merendahkan diri Taysu buat tinggal di sini,"

Ujar Keng-hiau dengan air muka yang sengaja berubah jadi kurang senang.

"Halia, aku hanya seorang Hwesio kasar dan bergurau saja dengan kau, jangan kau anggap sungguh-sungguh,"

Sahut Liau-in dengan bergelak tertawa ketika nampak gelagat kurang baik. Bagaimanapun Lian Keng-hiau adalah seorang panglima dari suatu pasukan besar, maka Liau-in tak berani terlalu kurangajar.

"Tadi aku telah pergoki budak liar itu,"

Segera ia mengada-ada ke persoalan lain.

"rupanya ilmu silatnya telah jauh lebih tinggi dari dulu, sungguh aneh bukan?"

Kembali Keng-hiau tercengang oleh perkataan ini.

"Kau pun pergoki dia?"

Tanyanya.

"Ya, dan siapa lagi yang memergoki dia?"

Sahut Liau-in.

"Kedua bersaudara Sat, mereka telah dikibuli olehnya,"

Tutor Keng-hiau. Habis itu mereka lantas saling menceritakan apa yang telah dialami masing-masing pada siang hari tadi.

"Pui Kin-beng tak berhasil ditangkap, hal ini harus dilaporkan pada Hongsiang,"

Kata Keng-hiau dengan sungguh-sungguh.

Lalu ia mengambil kertas dan angkat pit hendak menulis laporan.

Liau-in sendiri tidak mengerti kesusastraan, maka ia paling tidak sabar menyaksikan orang menulis dan membaca.

"Bagus, Lian cilik, kau tulis laporan, apa perlu aku melayani kau di sini?"

Kata Liau-in. Sudah tentu keinginan Liau-in inilah yang diharapkan Keng-hiau, segera ia menjawab.

"Biar kuantar kau ke rumah besar di sebelah sana, aku nanti suruh dua penyanyi cantik melayani kau."

Keluarga Lian adalah hartawan kaya raya di daerah Holam, maka penyanyi yang ada di rumahnya cukup terkenal. Keruan Liau-in menjadi girang sekali.

"Haha, inilah baru dapat disebut sobat sejati,"

Ujarnya dengan tertawa.

Begitulah Lian Keng-hiau lantas mengantar Liau-in keluar dari taman bobrok itu, ia panggil menghadap pengurus rumah tangganya dan memberi perintah supaya meladeni Liau-in dengan baik.

Habis itu seorang diri ia lantas kembali ke kamar baca di dalam taman.

Sementara itu sinar pelita di dalam kamar berkelap-kelip bergoyang, dengan perlahan Lian Keng-hiau mendorong pintu dan masuk ke dalam, tetapi mendadak dari atas belandar rumah meloncat turun seorang.

"Kau si kecil nakal ini hendak bergurau apa dengan aku,"

Bentak Lian Keng-hiau. Gadis yang melompat turun ini mencabut pedangnya terus menusuk, ketika ia melihat jelas bahwa orang yang masuk ini adalah Lian Keng-hiau, tangannya mendadak ditarik kembali.

"Kau sudah dengar terang bukan apa yang aku percakapkan dengan Liau-in tadi?"

Kata Keng-hiau pula.

"Liau-in pun telah memergoki kau, tapi kau masih berani bilang hari ini kau tidak pernah keluar dari rumah ini!"

"Liau-in, Liau-in yang mana?"

Tanya gadis itu.

"Hm, kau masih pura-pura bodoh, masakah Po-kok Siansu saja tidak kau kenal lagi?"

Sahut Keng-hiau. Nona itu seperti baru paham.

"O, apa kau maksudkan Hwesio gendut bengis dengan menjinjing tongkat itu?"

Katanya kemudian.

"Kau ini sungguh nakal, kalau perkataanmu ini didengar Liau-in, pasti bukan main gusarnya!"

Sahut Keng-hiau dengan tertawa.

"Dan kini kau sudah mengaku bukan? Bukankah hari ini lebih dulu kau bentrok dengan Liau-in, kemudian baru kepergok oleh Siang-mo?"

Waktu Lian Keng-hiau berbicara dengan Liau-in mengenai kejadian siang tadi, tujuannya adalah supaya didengar Pang Lin untuk melihat bagaimana reaksinya.

Tak terduga si anak dara ini menjadi heran malah.

"O, kiranya Hwesio gendut itu betul adalah Liau-in?"

Sahutnya.

"Kalau begitu, bukan saja aku telah bertemu dengan dia, bahkan telah bergebrak dengan dia, ada apakah?"

"Nah, akhirnya kau mengaku juga?"

Ujar Keng-hiau girang.

"Kalau begitu biar aku pun bicara terus terang padamu, kau punya Hui-to itu bukan Han Tiong-san yang mengajarkan padamu, tetapi Ciong Ban-tong yang mengajarkan, meski aku dengan kau bukan saudara, namun tiada ubahnya seperti saudara."

Sembari berkata ia lantas mengulur tangan hendak menarik si nona. Tak terduga mendadak nona itu telah mengibaskan lengan bajunya.

"plok", muka Lian Keng-hiau telah ditampar sekali.

"Hm, cengar-cengir dan bertingkah, apa kau cari mampus?"

Damprat si nona pula. Sudah tentu Lian Keng-hiau menjadi bingung.

"He, mengapa kau ini? Kenapa kau begini galak?"

Katanya.

"Kau ini bernama Lian Keng-hiau bukan?"

Damprat si gadis sembari geraki pedangnya ke muka orang.

"Nonaku yang baik, jangan kau berlagak, di sini bukan panggung sandiwara!"

Ujar Keng-hiau.

"Kau telah paksa si iblis tadi memberi obat pemunah padaku, mengingat hal ini, aku boleh ampuni jiwamu!"

Terdengar si gadis buka suara pula.

"Di mana kitab pusaka tinggalan Pho Jing-cu, lekas kau serahkan padaku."

"Kitab apa?"

Tanya Keng-hiau tak mengerti.

"Masih kau pura-pura bodoh?"

Semprot anak dara itu.

"Bukankah kitab itu telah kau dapat, jika tidak, mengapa aku mencari ke-mana-mana tidak menemukannya?"

Mendengar ini, pikiran Keng-hiau jadi tergerak.

"Apakah kitab yang kau baca tadi itu? Hahaha! Hm!"

Katanya dan akhirnya menjengek. Lalu ia berpikir dalam hati.

"Kiranya kitab pusaka kakek guruku sudah kau ambil, sedang asal-usul dirimu pun sudah kau ketahui, sebaliknya kini kau masih mempermainkan diriku."

Karena mendongkolnya ini, segera ia ulur tangan menjambret, tak terduga mendadak si nona telah menyikut juga, karena sodokan sikutnya ini hingga Keng-hiau sendiri ditumbuk pergi beberapa tindak, menyusul pedangnya menusuk lagi.

Lian Keng-hiau jadi murka, dengan sekali gerungan, ia menyambar sebuah kursi untuk menangkis pedang orang.

Tetapi tiba-tiba nona itu menarik kembali senjatanya.

"Budi dan dendam selamanya kuingat dengan baik, biar aku tidak bunuh kau!"

Anak dara itu berkata.

Berbareng itu, dengan sekali enjot ia melompat keluar melalui jendela.

Keruan Lian Keng-hiau gusar sekali, ia terjang keluar rumah buat mencegatnya.

Karena belum paham jalanan di dalam taman itu, maka sekejap saja anak dara itu sudah dicegat Lian Keng-hiau melalui jalanan kecil.

"Kau budak yang tidak kenal budi kebaikan ini, lekas katakan siapa yang menyuruh kau ke sini?"

Damprat Keng-hiau sambil lolos pedang kebesaran pemberian In Ceng.

"Ha, aku telah mengampuni jiwamu, mengapa sebaliknya kau malah menguber aku terus?!"

Sambut si gadis dengan tertawa mengejek.

Habis itu, dengan gerak tipu 'Jun-hong-hut-liu' atau angin musim semi menghembus pohon liu, segera ia menusuk ke arah dada Lian Keng-hiau.

Gadis ini memang bukan Pang Lin sebagaimana disangka Lian Keng-hiau, melainkan Pang Ing adanya.

Waktu Pang Ing turun gunung, Ie Lan-cu telah berpesan padanya agar dalam perjalanan ke Bin-san supaya sekalian datang ke Tan-liu untuk mencari kitab pusaka tinggalan Pho Jing-cu.

Ia tidak tahu bahwa panglima muda yang diketemukan siang tadi adalah Lian Keng-hiau, maka sesudah ia lolos dari tangan Siang-mo, pada malamnya dengan menggunakan ilmu entengkan tubuh yang hebat diam-diam ia menyambangi rumah keluarga Lian, secara kebetulan ia kesasar ke dalam taman bobrok itu, sesampainya di sini, justru waktu itu Lian Keng-hiau sedang mengantar Liau-in keluar, maka mereka berdua masih belum saling pergok.

Tatkala Pang Ing memasuki kamar dalam taman itu, ia lihat api pelita masih menyala dengan terang, kelambu sutera terurai indah, terang sekali kamar itu adalah kamar anak perawan, bahkan ia ketahui penghuninya seperti bara saja keluar dari kamar.

Karena itu ia merasa heran sekali.

Ia telah mencari dan menggeledah seluruh kamar, tapi tak menemukan kitab yang dikatakan Suhunya itu, cari punya cari, akhirnya ia membongkar sampai di belakang kelambu tempat tidur, secara kebetulan ia menyenggol alat rahasia yang ada di situ, mendadak dinding kamar di pojok situ menjeplak terbuka dan terlihat satu pintu rahasia.

Pang Ing jadi terheran-heran, ia pikir kamar ini sungguh aneh sekali!

Ketika ia coba memasuki pintu rahasia itu, ia merasakan bau wangi semerbak menusuk hidung, tampaknya seperti baru saja ada orang bersembunyi di tempat ini.

Waktu ia menyalakan api dan mencari lagi secara lebih teliti di dalam dinding berlapis itu, tetap tidak diketemukan kitab yang dimaksud, sebaliknya ia malah menemukan pintu rahasia di ujung lain dan diketahuinya ternyata bisa menembus keluar.

Kiranya dinding tembok berlapis rahasia ini sebenarnya adalah ciptaan Ciong Ban-tong ketika ia bersembunyi di rumah keluarga Lian ini untuk menghindarkan pencarian musuh.

Ketika Pang Lin tinggal di sini, gadis inipun dapat menemukan pintu rahasianya, sebaliknya Lian Keng-hiau sendiri tidak mengetahui.

Tatkala Liau-in masuk ke dalam kamar, waktu itu Pang Lin sudah mengeluyur keluar melalui pintu rahasia itu.

Begitulah, maka sewaktu Pang Ing mencari kitab tinggalannya Pho Jing-cu di dinding lapisan rahasia itu, karena tidak bisa menemukan, ia lantas kembali ke kamar dan kebetulan kepergok Lian Keng-hiau yang telah kembali.

Sebenarnya sudah lama Pang Ing mendengar dari gurunya bahwa Lian Keng-hiau adalah seorang pentolan pengkhianat, sedianya ia hendak sekali tusuk membinasakannya, tetapi karena siang hari tadi dirinya telah ditolong, karena itu ia memberi ampun dan hanya berusaha kabur saja.

Sebaliknya Lian Keng-hiau malah salah sangka Pang Ing sebagai Pang Lin, tanpa pikir lagi segera ia mengudak keluar.

Saking mendongkolnya, Pang Ing menjadi benci, ia keluarkan Thian-san-kiam-hoat yang paling hebat, keruan Lian Keng-hiau dibikin kerepotan oleh tipu-tipu serangannya.

Namun Liang Keng-hiau pun bukan orang lemah, sejak kecil ia sudah mendapatkan ajaran Ciong Ban-tong, ia mendapat didikan dari Siau-lim-sam-lo, tiga tema Siau-lim-si, oleh sebab itu ilmu silatnya juga tidak rendah, walaupun ia masih bukan tandingan Pang Ing, namun setelah bertempur tiga lima jurus, ia masih belum terkalahkan.

Pang Ing menjadi sebal bergebrak terlalu lama, ia tidak mau terlibat dalam pertarungan tems, ia merangsek berulang kali, ia desak Lian Keng-hiau mundur ke belakang, habis itu segera ia membalik tubuh terus hendak kabur.

Dalam pada itu, sungguhpun Lian Keng-hiau menaruh hati pada Pang Lin, tapi melihat Pang Ing berulang kali melancarkan serangan yang mematikan, mau tak mau timbul juga rasa curiganya, ia sangsikan anak dara ini apa bukan dikirim oleh In Ceng untuk menyelidiki dirinya, atau sudah berkomplot dengan musuh yang lain, hanya ada satu di antara dua kemungkinan ini.

Sebab itulah ia harus menyandaknya, ia mengandalkan dirinya paham sekali jalanan dalam taman bunga yang luas ini, ia terus mencegat sambil menempurnya.

Pada suatu kesempatan ia melepaskan dua buah panah bersuara sebagai tanda bahaya, ia hendak memanggil datangnya Siang-mo.

Taman bunga ini memang sangat luas, mereka berdua bertempur sepanjang jalan, melintasi beberapa buah bukit-bukitan palsu, mereka terus bergebrak hingga sampai pojok taman sebelah barat-daya.

Padr saat itu juga tiba-tiba terdengar di sebelah timur berkumandang juga suara bentakan orang bertempur, Lian Keng-hiau jadi tertegun, tetapi ia lantas berpikir, jangan-jangan jago bawahannya telah memergoki begundal nona ini dan sedang saling gebrak di sana.

Karena itu, ia lebih-lebih tak mau melepaskan orang, sambil bertempur ia berseru memanggil bala bantuan.

Keruan Pang Ing menjadi murka juga.

"Kau ini betul-betul tidak kenal baik dan busuk!"

Dampratnya.

Menyusul Toan-giok-kiam berkelebat, dengan tipu 'Tay-boh-liu-soa' atau pasir berhamburan di gurun luas, dengan cepat ia melancarkan tipu serangan yang mematikan.

Di antara sinar pedang yang menyambar dan debu yang beterbangan, sekuat tenaga Lian Keng-hiau menangkis serangan lawan, maka terdengarlah suara "kraak"

Yang keras disusul muncratnya lelatu api, pedang yang dipegangnya ternyata gumpil sebagian.

Pada waktu ilmu pedang orang mulai kacau, kembali Pang Ing menyerang dengan tipu 'Tay-hay-yang-po' atau ombak menderu di samudera raya, di antara sinar pedangnya yang gemerlapan, pundak Lian Keng-hiau akhirnya terkena sekali tusukan.

Pada saat itu juga tiba-tiba Lian Keng-hiau nampak sesosok bayangan orang secepat terbang sedang mendatangi, segera ia berseru.

"Tangkap budak liar itu!"

Akan tetapi Pang Ing sudah keburu melompat ke atas pagar tembok terus melompat keluar dan menghilang di tengah kegelapan.

Orang yang datang ini ternyata adalah seorang pemuda tampan berperawakan jangkung.

"Hm, budak liar yang mana?"

Ia menjengek.

Ketika Lian Keng-hiau menuding keluar, di bawah sinar rembulan yang remang-remang mendadak ia mengetahui bahwa orang ini bukan jago bawahannya, ia jadi tercengang, dalam pada itu secepat kilat, orang itu telah menusukkan pedangnya.

Keruan Lian Keng-hiau terkejut, lekas ia menarik diri ke belakang, ia keluarkan tipu Bu-kek-kiam-hoat yang hebat dengan cara lunak melawan keras.

Tak terduga Kiam-hoat orang ini aneh dan ganas, sudah terang gaya serangannya mengarah ke kiri, tetapi entah mengapa mendadak berbalik menuju ke kanan, lekas Lian Keng-hiau menghindarkan diri dengan melompat pergi, akan tetapi sudah terlambat, mendadak ia merasakan kepala menjadi enteng, ternyata rambutnya sudah terkupas sebagian.

Pemuda yang datang ini bukan lain adalah Li Ti.

Sejak ia ditolong oleh Bu Sing-hua, terhadap Pang Lin yang meninggalkan dia di saat dia berada dalam bahaya, ia merasa tidak mengerti.

Tetapi ketika melihat anak dara itu suka tinggalkan obat untuknya, hatinya jadi rada lega dan terhibur.

Pikirnya, sesudah "Ing-moay"

Turun gunung, sekalipun tabiatnya telah berubah banyak, namun belum terhitung kehilangan budi pekertinya, dari obat yang ditinggalkan ini dapat diketahui martabatnya.

Oleh sebab itulah, ia jadi lebih besar lagi minatnya menemukan anak dara itu.

Bu Sing-hua adalah paman (adik ibu) Li Ti, tetapi Sing-hua tidak tinggal di Thian-san, walaupun di waktu menyambangi kakak perempuannya pernah juga ia dua kali bertemu Pang Ing, namun ia belum kenal tabiat anak dara ini.

Maka waktu mendengar lagu suara sang keponakan yang telah jatuh cinta pada Pang Ing, ia lantas me-nasehati Li Ti.

"Sudahlah, walaupun anak dara itu adalah murid kesayangan le-lihiap, muka dan ilmu silatnya tergolong pilihan pula, tetapi melihat kelakuannya, jangan berani-berani memujinya. Sekalipun ia masih tinggalkan obat untukmu, namun dalam keadaan bahaya ia tinggalkan kawan sendiri yang terkarib, itulah perbuatan yang tidak mungkin dibenarkan di kalangan Bu-lim,"

Demikian Bu Sing-hua berkata. Setelah berpikir sejenak, lalu ia berkata pula.

"Apalagi anak dara yang bersama kau itu, apakah betul Pang Ing atau bukan, juga masih belum diketahui dengari pasti. Kalau melihat obat yang dia tinggalkan ini adalah obat yang jarang ada, tapi juga bukan obat keluaran Thian-san."

"Ya, asal di dunia ini tiada dua orang Pang Ing, maka pasti tidak bisa salah!"

Sahut Li Ti tertawa. Lalu ia berkata lagi.

"Omelan paman tadi memang tidak salah, tapi bagaimanapun ia masih anak-anak, tabiatnya masih aneh dan belum kuat, ia gampang terpancing oleh barang yang datang dari luar, paman adalah angkatan tuanya, tanggung jawab mendidiknya engkau juga harus pikul sebagian."

Mendengar keponakannya ini malah membikin pembelaan bagi anak dara itu, maka Bu Sing-hua pun tak ingin menyebutnya lagi.

Hari ini mereka kebetulan sampai di Tan-liu, Bu Sing-hua teringat bahwa Ciong Ban-tong, cucu murid Pho Jing-cu yang merupakan ahli waris satu-satunya Bu-kek-pay pernah mengajar di rumah keluarga Lian.

Menurut Ie Lan-cu, abu jenazah Ciong Ban-tong ditanam di taman, meski belum pernah bersua dengan Ciong Ban-tong, tapi aku pernah mendapat ajaran beberapa jurus dari Pho Jing-cu, sedikit banyak aku juga masih ada hubungan dengan Bu-kek-pay, kini aku sudah sampai di sini, sepantasnya aku berziarah ke kuburannya.

Begitulah maka malam-malam bersama Li Ti, mereka memasuki taman tak terawat itu secara diam-diam.

Sesudah berada di dalam taman, tiba-tiba mereka lihat di kamar baca yang ada di tengah taman itu ada cahaya lampu berkelap-kelip.

"He, ada orang tinggal di situ!"

Desis Bu Sing-hua dengan heran.

"Taman inipun aneh sekali bangunannya, hanya terdapat rumah itu saja satu-satunya,"

Kata Li Ti.

"Kata Ie-lihiap, sesudah Ciong Ban-tong meninggal, kabarnya taman ini ditutup oleh keluarga Lian, tapi mengapa ada orang tinggal di dalam situ?"

Sahut Bu Sing-hua.

Maka secara mengendap, mereka berdua lantas mendekati rumah itu.

Sesampai di luar rumah, tiba-tiba mereka mendengar di dalam kamar itu ada suara gelak tertawa keras, lalu ada suara bentakan pula.

"Ha, Lian kecil, telah kembalikah kau? Bagus sekali perbuatanmu?"

Menyusul dari dalam lantas melompat keluar seorang Hwesio gendut, ketika mereka perhatikan, ternyata bukan lain dari Liau-in Hwesio!

Kiranya Liau-in meski suka sembrono, hanya tangkas tapi kurang akal.

Namun kali ini di antara kasarnya terdapat halusnya juga, ternyata ia dapat menggunakan otak.

Ketika ia diantar Keng-hiau keluar taman dan diserahkan pada pengurus rumah tangganya untuk dilayani lebih jauh.

Tiba-tiba Liau-in ingat bahwa kejadian malam ini banyak terdapat hal-hal yang mencurigakan.

Pantasnya jika sejak anak-anak dibesarkan sebagai anak perempuan, sesudah dewasa, sedikitnya anak itu juga akan mempunyai sifat-sifat wanita.

Akan tetapi Lian Keng-hiau tidak demikian, ia gagah dan tampan, tindakannya pun tegas, mana ada sifat seperti perempuan?

Karena hatinya sangsi, maka Liau-in pun tiada selera untuk menikmati kesenangan lagi.

"Taysu, silakan mengaso, akan kupanggil dua penyanyi cantik buat meladeni kau,"

Kata si pelayan sesudah membawanya masuk sebuah kamar yang terhias mewah sekali.

"Nanti dulu,"

Tiba-tiba Liau-in mencegah.

"Taysu ada perintah apa?"

Tanya si pelayan.

"Tuan muda adalah putra tunggal majikanmu, di waktu kecil tentu ia disayang sekali oleh orang tuanya bukan,"

Tanya Liau-in.

"Sudah tentu,"

Sahut si pelayan. Dalam hati ia membatin mengapa Hwesio ini bertanya hal-hal ini.

"Menurut adat istiadat di kampungmu sini, putra yang tunggal, biasanya dibesarkan oleh orang tua dengan cara seperti anak perempuan, betulkah?"

Tanya Liau-in lagi.

"Kebiasaan ini memang ada, tetapi tuan muda kami lain daripada yang lain, sejak kecil ia luar biasa nakalnya, ia paling suka berkelahi dengan orang. Coba kau pikir, mana mungkin ia sudi dianggap sebagai anak perempuan oleh orang tuanya?"

Tutur si pelayan. Mendengar keterangan ini Liau-in terdiam sejenak. Kemudian baru ia berkata pula.

"Aku tak usah dilayani penyanyi lagi. Itu dua orang tua aneh yang datang siang tadi apakah masih tinggal di sini?"

"Ya, ada!"

Sahut pelayan.

"Aku ingin sekali bicara dengan mereka,"

Kata Liau-in lagi.

"Harap kau undang mereka, katakan Po-kok Siansu hendak bicara."

Pelayan itu tahu mereka adalah kawan sendiri, maka sedikitpun tidak curiga, segera ia pergi mengundang Siang-mo.

"Tuan muda bilang Hwesio ini gemar minum dan suka main perempuan, tampaknya tidak demikian halnya,"

Demikian dalam hati si pelayan berpikir. Pada waktu itu Siang-mo masih belum tidur, ketika mereka dengar Liau-in berada juga di sini, cepat mereka datang menemuinya.

"Cukong, (maksudnya In Ceng) suruh kita mengawasi gerak-gerik si Lian,"

Demikian Liau-in mulai berkata kepada Siang-mo sesudah menyingkirkan si pelayan.

"tadinya kita mengira si Lian dapat dipercaya dan setia, siapa tahu malam ini aku pergoki dia berbuat hal-hal yang merugikan Hongsiang."

Sudah tentu Siang-mo menjadi kaget oleh kabar itu, segera mereka bertanya kejadian apakah yang telah dilihat Liau-in. Maka Liau-in lantas menceritakan pengalamannya dibohongi Keng-hiau.

"Di kamarnya itu pasti ada apa-apa yang aneh. Marilah kita coba menggeledah ke sana?"

Akhirnya ia mengajak Siang-mo.

Liau-in menyangka Siang-mo pasti akan menerima ajakannya, tak terduga karena kedudukan Siang-mo berada di bawah Liau-in dan Haptoh, sedang lagak Liau-in biasanya juga congkak dan sombong, sudah lama mereka penasaran.

Lian Keng-hiau dapat mengetahui di antara mereka ada persaingan, maka siang-siang ia telah memikat Siang-mo dengan sedikit budi.

"Urusan sekecil ini belum bisa dibilang merugikan kaisar!"

Demikian mereka menyahut.

"Bagaimanapun ia adalah panglima su-atu pasukan dari tiga angkatan perang, mana boleh kita kurang sopan padanya."

Keruan Liau-in menjadi gusar oleh bantahan itu.

"Baik, jika kalian tidak mau pergi, kalau nanti aku dapat menggeledah sesuatu bukti dan melapor pada Hongsiang, sedikitnya kalian akan ikut tersangkut juga,"

Ia mengancam.

Mau tak mau Siang-mo harus berpikir juga bila ancaman itu betul-betul terjadi.

Pat-pi-sin-mo Sat Thian-ji lebih banyak pengalaman, maka ia tarik lengan baju saudaranya supaya jangan membantah lebih lanjut.

"Jika memang Po-kok Siansu ada perintah, mana berani kami tidak menurut,"

Katanya kemudian.

"mari silakan Siansu berangkat dulu, kami segera menyusul."

Dengan cara begini Sat Thian-ji bertujuan melihat gelagat dulu.

Liau-in pun tidak banyak omong lagi, ia pikir, mereka sudah mau menurut, boleh dibiarkan meronda saja di belakangnya.

Waktu Liau-in mendatangi kamar baca, ketika itu Lian Keng-hiau sudah menguber Pang Ing ke ujung taman di sebelah barat-daya.

Saking luasnya taman itu, maka mereka bertiga tidak sampai saling pergok.

Sekalipun sayup-sayup Liau-in mendengar ada suara beradunya senjata di tempat yang agak jauh di pojok taman, tapi teringat kesempatan yang baik tidak boleh dilewatkan begitu saja, maka ia lantas curahkan perhatian seluruhnya untuk menggeledah kamar.

Ketika ia dapatkan pakaian Pang Lin, dalam hati ia tertawai Lian Keng-hiau yang berani menyembunyikan anak dara itu untuk bermusuhan dengan diri mereka!

Ketika ia ketok-ketok dinding tembok dengan tongkamya, ia dapatkan pintu rahasia pada dinding berlapis itu, keruan ia bertambah gusar.

Tengah ia hendak mencari Lian Keng-hiau, tak terduga mendadak kebentur dengan kedatangan Bu Sing-hua dan Li Ti.

Liau-in pernah kecundang di tangan Bu Sing-hua, musuh lama bertemu lagi, sudah tentu ia menjadi murka.

Begitu ayun tongkat, segera ia kepruk kepala orang.

Namun Bu Sing-hua sudah siap sedia, ia putar galah pikulannya, dalam sekejap ia balas menyerang beberapa kali hingga terjadilah pertarungan sengit.

Pada waktu itu Li Ti mendengar suara anak panah yang dilepas Lian Keng-hiau menggema di angkasa, lekas mencari ke tempat datangnya suara, tatkala sampai di ujung barat-daya, dari jauh ia sudah nampak Lian Keng-hiau sedang bergebrak dengan seorang anak gadis, waktu ia memburu tiba, gadis tadi sudah lebih dulu melompat lewat ke sebelah pagar.

Mendadak pula Li Ti keluarkan tipu serangan lihai dari aliran Pek-hoat Mo-li, dengan sekali menebas ia berhasil mengupas sebagian rambut Lian Keng-hiau, lalu secara tergesa-gesa mengejar keluar taman.

Bagi Lian Keng-hiau, begitu bertemu Li Ti, seketika jiwanya hampir melayang, keruan ia terkejut sekali.

Sebenarnya, biarpun ilmu silat I i Ti sangat lihai, tetapi dibanding Lian Keng-hiau selisihnya pun tidak banyak.

Soalnya Kiam-hoat ajaran cabang Pek-hoat Mo-li berlawanan dengan Kiam-hoat cabang lain, aneh lagi ganas tiada bandingannya, Lian Keng-hiau tidak pernah menduga dan siap sedia lebih dulu, dengan sendirinya ia kecundang oleh pedang Li Ti.

Keruan ia menjadi jeri, ia mengira Li Ti adalah jagoan yang diundang Pang Lin untuk menggempur dirinya, maka lekas ia berlari kembali ke kamarnya.

Waktu itu Liau-in sedang menempur Bu Sing-hua dengan sengit.

Kedua orang memiliki Lwekang yang tinggi, tiap kali senjata mereka saling bentur, tentu menerbitkan suara keras nyaring.

Di waktu senjata mereka diputar dengan cepat, maka terdengarlah sambaran angin menderu sampai tanaman di dalam taman terguncang semua dan berantakan.

Saking kerasnya tenaga mereka, keduanya terpaksa mundur setombak lebih ke belakang oleh desakan senjata lawan.

Sudah tentu Lian Keng-hiau tak berani coba-coba maju ke tengah demi melihat pertempuran mereka yang hebat itu.

Selang tak lama, perlahan-lahan Liau-in tertampak mulai berada di bawah angin, ketika Bu Sing-hua mengumpulkan tenaga dalamnya, begitu galah pikulannya diayun, dengan membawa angin keras galahnya mengemplang di atas tongkat Liau-in hingga memuncratkan lelatu api, saking keras hantaman itu hingga genggaman Liau-in kesemutan sampai ia tergetar mundur dua tindak.

Sebenarnya Bu Sing-hua tiada niat bertempur lebih lama, maka begitu mendesak mundur musuh, segera ia hendak angkat kaki.

Akan tetapi Liau-in ternyata masih penasaran, matanya menjadi merah, begitu mundur segera ia menubruk maju lagi, dengan gerak tipu 'Jong-liong-pah-bwe' atau naga tua menggoyang buntut, segera tongkatnya menyabet pula.

Namun Bu Sing-hua telah tegakkan galahnya dengan gerakan 'Sing-hing-tau-coan' atau bintang meluncur matahari berputar, dengan galahnya ia tangkis tongkat Liau-in.

"Hwesio jahat, apa kau benar-benar tidak kenal kelihaianku, biar kucabut nyawamu!"

Bentak Bu Sing-hua.

Habis itu ia keluarkan sebuah kelcnengan, ia komak-kamik seperti membaca mantera, sedang tangan kiri menggoyang terus ke-lenengannya tanpa berhenti.

Keruan suara genta kecil yang riuh ramai itu membikin pikiran Liau-in menjadi kacau dan tak tenteram, daya permainan tongkatnya pun mulai kendur dan tidak sehebat tadi, sebaliknya galah Bu Sing-hua makin lama semakin lihai, serangannya juga semakin gencar.

"Lian cilik, apa kau hanya bisa pasang mata saja di samping?"

Liau-in membentak gemas demi nampak Lian Keng-hiau hanya menonton saja tanpa turun tangan membantunya.

Akan tetapi kedudukan Lian Keng-hiau kini adalah panglima perang besar, ia tidak sudi turun tangan bersama Liau-in, apalagi ia lihat pihak musuh terlalu kuat, lebih-lebih ia tak mau ambil resiko itu.

Karena bentakan Liau-in tadi, dalam hati ia menjadi gusar.

"Siang-mo selekasnya akan datang, untuk apa aku ikut campur?"

Demikian ia berkata dengan tertawa dingin. Tengah ia buka suara, betul juga dari arah timur telah muncul dua bayangan orang mendatangi secepat terbang, memang tidak salah lagi adalah Siang-mo adanya.

"Lekas kalian maju membantu,"

Seru Lian Keng-hiau. Di antara kedua saudara Sat ini, Sat Thian-ji lebih bisa berpikir, tatkala ia melayang maju dan lewat di samping Keng-hiau, sekalian ia membisiki telinganya.

"Liau-in tadi telah menggeledah kamarmu!"

Saking cepatnya ia melayang lewat hingga bisikannya tidak kentara, ketika mendadak Lian Keng-hiau sadar akan arti bisikan itu, dua bersaudara maju dari dua jurusan, bersama Liau-in mereka bertiga mengepung Bu Sing-hua di tengah.

Karena bisikan Sat Thian-ji tadi, Lian Keng-hiau menjadi tertegun sejenak, ia pun tidak ada hasrat buat menonton pertarungan itu lebih lama, segera ia berlari kembali ke kamarnya, maka ia dapatkan seisi kamarnya sudah diobrak-abrik orang.

"Hm, sungguh kurangajar kepala keledai itu,"

Demikian ia pikir dengan gemas, tapi ia lantas membatin pula.

"Aku adalah panglima angkatan perang, jenderal kepercayaan kaisar yang bertakhta sekarang, mengapa Liau-in diam-diam berani menggeledah kamarku kalau tiada orang yang menjadi sandarannya?"

Tindak-tanduk In Ceng yang kejam selama ini sudah cukup diketahui Lian Keng-hiau, karena itulah bila ia pikir kembali satu per satu apa yang telah terjadi, tak tertahan ia jadi berkeringat dingin sendiri.

Namun ia lantas membatin pula.

"Liau-in ini tidak boleh dibiarkan tinggal lebih lama di sampingku, In Ceng pernah memberi titah rahasia padaku agar mencari kesempatan membasminya, kini kalau aku lakukan dengan lebih cepat, kiranya tiada halangan! Apalagi kini aku memegang kekuasaan, dibanding Liau-in kedudukanku jauh lebih penting, tidak nanti hanya karena aku membunuh Liau-in, lantas In Ceng berselisihan paham dengan aku."

Lian Keng-hiau berotak tajam dan banyak mempelajari ilmu siasat militer, pada saat demikian ia sudah dapat menerka bahwa In Ceng yang telah mengatur sendiri politik adu dombanya, yaitu supaya dia dan Liau-in saling awas mengawasi dan saling bentur bila perlu.

Karena itulah keinginan Keng-hiau buat melenyapkan Liau-in semakin menjadi kuat, seorang diri ia mondar-mandir di kamar untuk mencari daya upaya cara membinasakan Liau-in.

Jika Keng-hiau sedang memeras otak mencari tipu-dayanya, adalah Liau-in dan kawan-kawan pun sedang memeras tenaga mereka bertempur di luar sana.

Walaupun kepandaian Liau-in sedikit di bawah Bu Sing-hua, tetapi dengan ditambah Siang-mo yang ikut mengeroyok, segera pula pihaknya berubah menjadi di atas angin.

Sementara itu Sat Thian-ji dengan sepuluh kuku jarinya yang mirip cakar itu sedang menyerang dengan hebat, ia keluarkan cara menubruk dan menggempur seperti elang kucing, ia melompat kian kemari secara gesit dan lincah, selalu ia serang tempat luang di pihak musuh.

Sebaliknya Sat Thian-toh mengandalkan dirinya kuat perkasa, ia menerjang dan menghantam secara serabutan, sedang Liau-in pun memutar tongkat menandingi galah pikulan Bu Sing-hua, tapi ia bermain cukup hati-hati supayartongkatnya tidak mengenai kawan.

Keruan Bu Sing-hua menjadi gusar bercampur kuatir, ia gusar karena Liau-in yang namanya sangat tersobor, kini secara tidak malu mengeroyoknya tiga lawan satu, sedang kuatirnya disebabkan karena Li Ti yang terpencar tadi sampai kini masih belum nampak kembali atau kedengaran suaranya, ia tidak tahu apakah keponakannya itu kena tertawan musuh atau sudah mengejar keluar taman?

Dalam keadaan gusar dan kuatir itu ia pun tidak ingin terlibat lebih lama dalam pertempuran, karena ingin menerjang keluar dari kepungan, segera ia perkencang senjatanya, begitu cepat dan keras ia mengayun galah hingga membawa guncangan angin yang keras, saking hebat senjata yang diputarnya, Siang-mo dipaksa berputar-putar mengikuti gerakan senjatanya, hanya Liau-in saja yang masih sanggup melayani galah pikulan Bu Sing-hua, sedang Siang-mo sudah tak mampu mendesak maju lagi.

Dalam pertarungan sengit itu, Sat Thian-toh menjadi kesal dan merasa sebal dengan bunyi kelenengan yang dikocok terus oleh Bu Sing-hua.

"Kurangajar, barang apakah itu, pakai model setan segala!"

Dampratnya dengan gusar.

Ia tidak tahu bahwa membunyikan genta untuk membikin bingung musuh adalah semacam kepandaian tunggal Bu Sing-hua.

Bagi kaum ahli, pantangan terbesar adalah tidak dapat memusatkan perhatian, maka Bu Sing-hua menggunakan kelenengannya unmk membikin kacau pikiran musuh, sebaliknya ia sendiri tidak terpengaruh oleh bunyi kelenengannya sendiri, tanpa kelihatan kekuatannya jadi bertambah beberapa bagian.

Akan tetapi siasat membunyikan kelenengan untuk mengacaukan perhatian musuh, faedahnya hanya sekedar membantu saja, soal kalah menang masih harus bergantung pada kekuatan dari kedua belah pihak.

Liau-in mengeroyok dengan bantuan Siang-mo, kekuatan yang nyata ini jauh lebih kuat daripada Bu Sing-hua, oleh sebab itulah meski sudah ratusan jurus masih belum bisa diputuskan pihak yang kalah dan menang, namun jelas Liau-in bertiga sudah berada di atas angin dan lebih kuat!

Di antara tiga orang pihak Liau-in, kepandaian Sat Thian-toh paling rendah, malahan tabiatnya jauh lebih berangasan dari Liau-in, justru karena ia dibikin bingung oleh bunyi kelenengan hingga hatinya tak tenteram dan pikiran kacau, ia menjadi murka dan mencaci maki secara kotor, segera ia menerjang maju dan hendak merebut kelenengan yang dipegang Bu Sing-hua.

Melihat musuhnya berani coba-coba mendekat, Bu Sing-hua tertawa mengejek, begitu galahnya bergerak, dengan tipu 'Ki-lam-hing-kang' atau kapal besar melintang di sungai, lebih dulu ia menutup jalan serangan Liau-in, berbareng tangan kirinya yang mencekal kelenengan mendadak dikocok keras di tepi telinga Sat Thian-toh.

' Karena tidak menduga akan perbuatan lawan, saking kagetnya oleh bunyi kelenengan yang keras dan mendadak ini, Sat Thian-toh melompat ke atas, akan tetapi Bu Sing-hua tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia kebut dengan lengan bajunya, dengan tipu serangan yang lihai 'Liu-sing-hui-siu' atau bintang meluncur lengan baju terbang, suatu tipu serangan yang lihai ajaran cabang silat Pho Jing-cu, maka tubuh Sat Thian-toh yang besar seperti kerbau itu terlempar pergi sejauh lebih tiga tombak.

Karena serangannya berhasil hingga kepungan musuh bobol, seketika Bu Sing-hua menerobos keluar kalangan.

Sat Thian-ji lagi sibuk menolong saudaranya, dengan sendirinya Liau-in tak berani menguber sendirian.

Rupanya pertarungan ini cukup memakan tenaga Liau-in, selelah Bu Sing-hua kabur, ia tarik kembali tongkatnya, napasnya masih memburu, ngos-ngosan.

"Siansu tentu telah capai!"

Terdengar Lian Keng-hiau menyapa dengan tersenyum dan berdiri di ambang pintu kamarnya.

Melihat sikap Lian Keng-hiau yang tenang-tenang saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu, keruan Liau-in menjadi heran.

"Dia sudah masuk ke kamarnya, masakah dia tak mengetahui bahwa aku telah menggeledah kamarnya itu?"

Demikian ia membatin dengan heran. Maka dengan menjinjing tongkamya, ia lantas mendekati Lian Keng-hiau.

"Po-kok Siansu, silakan masuk!"

Keng-hiau berkata pula, Liau-in pun tidak sungkan, dengan langkah lebar ia lantas masuk ke kamar baca itu, entah disengaja atau tidak, tongkatnya mendadak mengetok lantai, maka terdengarlah suara keras nyaring dari senjatanya itu.

Lalu terdengar ia berkata.

"Lian cilik, dimanakah nona yang kau sembunyikan itu? Kita adalah kenalan lama, mengapa tidak suruh dia keluar menemui aku?"

Keng-hiau tersenyum.

"Po-kok Siansu,"

Ia menyahut.

"percuma saja sudah beberapa tahun kau ikut Hongsiang, masakah kau belum bisa menyelami pikirannya."

"Kenapa?"

Tanya Liau-in tak mengerti.

"Hongsiang paling suka mencurigai orang, tatkala kita berangkat, bukankah dia pernah perintahkan kau agar diam-diam mengawasi diriku?"

Demikian tiba-tiba Keng-hiau bertanya secara terus terang. Keruan Liau-in kaget, matanya membelalak lebar, ia tidak mengerti darimana orang mendapat tahu hal itu.

"Hal itu sudah lama kuketahui,"

Lanjut Keng-hiau pula.

"justru Hongsiang sendiri yang memberitahu padaku, la bilang, dengan memberi perintah itu padamu, maksudnya justru hendak menguji kesetiaanmu?"

Liau-in mengiakan, setengah percaya dan setengah sangsi atas penuturan ini.

"Oleh sebab itu, bukannya Hongsiang hendak mengawasi aku, justru kaulah yang perlu diawasi!"

Demikian Keng-hiau menyambung pula. Kata-kata terakhir ini rada menggoncangkan hati Liau-in, sekalipun demikian, di mulut ia berkata.

"Siao Lian, apakah kau sengaja hendak memecah belah antara aku dengan Hongsiang?"

"Mana aku berani,"

Sahut Keng-hiau dengan tertawa.

"Cuma saja Siansu tidak perlu kuatir, tidak nanti aku membusuk-busukkan kau di hadapan Hongsiang."

Dengan perkataannya ini, maksud Keng-hiau sebenarnya adalah memaksa agar Liau-in mau bekerja sama dan saling melindungi dengan dia.

Sudah tentu karena gertakan ini, Liau-in dibikin ragu-ragu, ia menunduk dan bungkam, ia masih belum percaya penuh apa yang dikatakan Lian Keng-hiau.

Pikirnya.

"Urusan ini sangat penting, harus kurundingkan dulu dengan Tang Ki-joan."

Melihat Liau-in terdiam, kembali Keng-hiau berkata lagi dengan tertawa.

"Anak dara itu memang ada di rumahku, bahkan sudah setengah tahun tinggal di sini!"

Mendengar orang tiba-tiba berterus-terang, sungguh di luar dugaan Liau-in.

"Inipun atas kemauan Hongsiang!"

Sambung Keng-hiau pula.

"Kau bohong Lian cilik,"

Tuduh Liau-in tiba-tiba.

"Po-kok Siansu,"

Sahut Keng-hiau.

"Umpama kepandaianmu sudah tiada taranya, tapi soal orang muda, tampaknya kau masih belum cukup paham."

"Mengapa?"

Tanya Liau-in.

"Hongsiang bermaksud memasukkan anak dara ini ke belakang istana dan akan diangkat sebagai Kui-hui (selir kesayangan), tahukah kau hal ini?"

Berbalik Keng-hiau bertanya.

"Aku hanya tahu bahwa Cukong (tuanku) memang penujui dia,"

Sahut Liau-in.

"Sedang mengenai apakah anak dara itu hendak diangkat sebagai Kui-hui atau tidak, itulah aku tidak tahu. Asal Cukong senang, mengangkat dia sebagai Kui-hui juga bukan hal yang aneh."

Mendengar kata-kata Liau-in, Lian Keng-hiau terbahak-bahak.

"Haha, apa yang Po-kok Siansu katakan tadi terang kurang tepat! Tampaknya dalam hal ini masih banyak sekali persoalan yang belum kau pahami!"

Liau-in jadi bingung.

"Mengapa kata-kataku kurang tepat?"

Ia bertanya.

"Mengenai larangan istana bahwa wanita Han tidak boleh masuk istana, tahukah kau akan hal ini?"

Tanya Keng-hiau dengan tertawa.

"Ya, itu tidak lebih hanya aturan kosong saja, bukankah Tang Siau-wan dari angkatan yang lalu juga wanita Han?"

Ujar Liau-in.

"Betul, memang peraturan itu belakangan telah dibikin longgar, tetapi wanita Han sekali-kali tidak boleh diangkat menjadi permaisuri, apakah kau masih tidak mengetahuinya?"

Tanya pula Keng-hiau dengan tertawa.

"O, kalau begitu anggap saja aku yang salah omong,"

Sahut Liau-in kemudian.

"Padahal anak dara itu akan diangkat menjadi apapun tiada sangkut pautnya dengan aku. Aku hanya tahu Cukong suka dia, sebaliknya kau telah menyembunyikan dia selama setengah tahun, cara bagaimana kau hendak menerangkan perbuatanmu itu?"

Kembali Lian Keng-hiau bergelak tertawa.

"Jika melulu karena Hongsiang menginginkan dia, itu masih soal yang terlalu sederhana, seumpama akan dibuat permainan sekalipun juga bukan soal. Yang menjadi soal adalah Hongsiang justru sungguh-sungguh penu-jui dia!"

Kata Keng-hiau.

"Lian cilik, kau jangan pakai perkataan yang berbelit-belit, bukankah persoalannya sama saja?"

Sahut Liau-in.

"Haha, justru perbedaannya banyak sekali,"

Kata Keng-hiau.

"Bilamana Hongsiang menyukai dia dan hendak menganugerahi su-atu gelar angkatan padanya, maka dia harus berasal dari keluarga yang terhormat atau bangsawan, tahukah kau akan hal ini?"

"O, soal ini aku masih belum tahu,"

Sahut Liau-in heran.

"Kalau orang biasa dalam urusan perjodohan suka bicara setimpal tidak antara keluarga dan kedudukan, hal ini tentunya kau tahu bukan?"

Kata Keng-hiau.

"Sekarang Hongsiang adalah orang terhormat dan paling agung di kolong langit ini, oleh sebab itu pengangkatan permaisuri dan pemilihan selir kesayangan harus juga terdiri dari putri-putri keluarga bangsawan dan terhormat. Jika dari keluarga rakyat biasa, paling banyak hanya bisa dipilih jadi Kiong-go (dayang istana), untuk inipun harus melalui seleksi dahulu, dan bila beruntung si gadis mendapat perhatian dari kaisar dan digauli, dia harus melahirkan anak laki-laki dahulu baru dapat diangkat menjadi Kui-hui. Sedang anak dara ini asal-usulnya masih belum terang, sebaliknya Hongsiang pun tak suka merendahkan dia menjadi Kiong-go, maka terpaksa harus dicari jalan lain."

"O, kalau begitu sekarang aku mengerti."

"Oleh karena itu Hongsiang telah mengirim dia keluar istana dan suruh tinggal di rumahku, sekalian menganggap ayahku sebagai ayah angkatnya!"

Sambung Keng-hiau.

"Tetapi mengapa Cukong bilang padaku bahwa anak dara itu minggat sendiri dari istana, malahan menyuruh aku ikut mencarinya!"

Kata Liau-in.

"Itulah karena kalian sudah sangat kenal dengan dia, jika mendadak ia menghilang, untuk menjaga agar kalian tidak curiga, maka Hongsiang sengaja bilang dia telah minggat,"

Ujar Keng-hiau.

"Bila kelak dia masuk kembali ke istana, kalian tentu menyangka dia adalah adik perempuanku, mana mungkin menduga bahwa dia adalah budak liar itu?"

Mendengar sampai di sini, dalam hati Liau-in sudah percaya tujuh delapan bagian, oleh karena itu ia lantas bertanya pula.

"Tetapi mengapa ia tinggal dalam kamarmu?"

"Cis,"

Sengaja Keng-hiau mengomel.

"Kau ini mengapa berpikir ke jurusan yang tidak-tidak? Taman ini sudah lama ditutup, justru baik sekali kalau dia tinggal di sini."

"O, kalau begitu memang sengaja dirahasiakan supaya tidak diketahui orang luar,"

Kata Liau-in.

"Tetapi "Aku pulang ke sini sengaja menyambangi dia, memangnya kau sangka aku pun tinggal di sini?"

Potong Keng-hiau. Maka tertawalah Liau-in oleh jawaban itu.

"Oleh sebab itu juga, sekali-kali jangan kau beritahu Hongsiang,"

Melanjutkan Keng-hiau pula.

"Jika tidak, karena kau telah mengetahui rahasianya, bukannya kau mendapat sesuatu jasa, sebaliknya kau bakal mendapat ganjaran."

Karena gertakan dan ancaman ini, seketika hati Liau-in kuncup separah, ia lantas angkat tongkatnya dan hendak pergi.

"Lalu anak dara yang bakal menjadi Kui-hui yang terhormat itu bersembunyi kemana?"

Tiba-tiba ia buka suara sebelum melangkah pergi.

"Begitu dia melihat kedatanganmu, sejak tadi ia sudah kabur ketakutan!"

Sahut Keng-hiau.

Habis itu dengan menggandeng tangan Liau-in, Keng-hiau mengajaknya keluar dan memanggil Siang-mo, mereka berempat lalu kembali ke kamar masing-masing.

Dengan tipu dayanya tadi Keng-hiau telah berhasil menundukkan Liau-in, ia tahu bahwa tabiat Liau-in keras dan kaku, oleh karena itu lebih dulu ia berusaha merangkulnya, jika siasatnya ini tidak berhasil lalu ia mendahului menggertaknya agar Hwesio ini tidak berani main gila.

Begitulah, maka sesudah Keng-hiau berada di kamar, ia tunggu sesudah Liau-in tidur, secara diam-diam ia memanggil menghadap Sat Thian-ji.

"Dahulu ketika Hongsiang mengundang kalian, beliau pernah berjanji bila kelak beliau berhasil merebut takhta, kau akan diangkat menjadi Kok-su (iman negara), tidak nyana kini kalian malah berkedudukan di bawah orang lain,"

Kata Keng-hiau pada Sat Thian-ji dengan tujuan menghasut.

"Ya, memang kepandaian kami terlalu rendah, apa yang bisa dikatakan lagi!"

Sahut Sat Thian-ji. Meski berkata demikian, tetapi di antara lagu suara Keng-hiau dapat mengetahui adanya rasa penyesalan.

"Hendaklah Sat-locianpwe tidak perlu merendahkan diri sendiri,"

Ujar Keng-hiau pula.

"Kalau bicara tentang kepandaian dan tingkatan, sedikitnya kau harus sejajar dengan Liau-in."

Sat Thian-ji hanya bungkam saja.

"Sebenarnya maksud Hongsiang sendiri ingin kau menggantikan Liau-in!"

Sambung Keng-hiau. Berulang-ulang Sat Thian-ji menggeleng kepala.

"Tiada telinga di dinding sebelah, apa yang perlu kau takuti?"

Ujar Keng-hiau.

"Terus terang saja, oleh karena dia terlalu sombong dan berlagak karena sedikit jasanya, maka Hongsiang ingin aku melenyapkan dia!"

Di antara kelima orang yang dikirim In Ceng, yakni Liau-in, Tang Ki-joan, Siang-mo dan Kam Thian-liong, Liau-in selalu menganggap dirinya sebagai orang kepercayaan In Ceng, ia tidak dirangkul oleh Lian Keng-hiau.

Sedang Tang Ki-joan orangnya lebih licik, ia tahu In Ceng segan pada Lian Keng-hiau dan juga segan pada Liau-in, akan tetapi dalam keadaan perang, In Ceng harus menggunakan tenaga Lian Keng-hiau, maka terhadap Keng-hiau ia berusaha mendekati, sekali-kali tak berani menganggap diri sendiri sebagai kaum Cianpwe atau orang lebih tua.

Adapun Kam Thian-liong selamanya membuntut pada Tang Ki-joan, ia sendiri tidak punya pendirian.

Siang-mo sudah lama dirangkul Lian Keng-hiau, oleh sebab itu setelah berunding sebentar secara rahasia, mereka sudah mendapatkan tipu akal untuk melenyapkan Liau-in.

Terhadap bencana yang bakal menimpa dirinya itu, sedikitpun Liau-in ternyata belum tahu, ia masih berselubung di dalam selimut.

Besoknya pagi-pagi sekali, Siang-mo sudah menggedor pintu dan membangunkan Liau-in.

"Kami berdua saudara hari ini hendak kembali ke induk pasukan, apakah Po-kok Siansu masih ingin tinggal di sini?"

Demikian tanya mereka pada Liau-in.

"Biarlah aku kembali bersama kalian!"

Sahut Liau-in, ia tergesa-gesa kembali karena hendak berunding dengan Tang Ki-joan.

Sementara itu Lian Keng-hiau sejak tadi sudah menyiapkan perjamuan sebagai ucapan selamat jalan pada Liau-in dan kawan-kawan Begitu arak dituang, segera Siang-mo mendahului menghabiskan isi cawan mereka.

Liau-in yang biasanya memang paling doyan air kata-kata, dalam sekejap mengeringkan tiga cawan.

Tiba-tiba ia lihat air muka Siang-mo agak lain daripada biasanya, Lian Keng-hiau pun tidak muncul, Liau-in jadi curiga, ia coba kumpulkan Lwekangnya, dengan memusatkan tenaga di perut ia berusaha mendesak keluar hawa arak, mendadak ia rasakan arus tenaganya tidak selancar biasanya, sekonyong-konyong matanya melotot!

Melihat mata orang yang mendelik ini, Siang-mo menjadi ketakutan hingga muka pucat, sementara itu Liau-in telah membentak keras, sekali tarik ia jambret Sat Thian-ji.

Sebenarnya kepandaian Siang-mo meski lebih lemah daripada Liau-in, kalau mereka bersatu padu dan mengeroyok berbareng, sedikitnya mereka bisa menandingi Liau-in sama kuat, apalagi jika ditambah dengan Lian Keng-hiau, terang kemenangan pasti berada dalam tangan mereka.

Tetapi karena jeri atas ketangkasan Liau-in, Lian Keng-hiau sendiri tak berani keluar, sedang Siang-mo berdua selama ini memang berada di bawah pengaruh kewibawaan Liau-in, mereka sangat keder padanya.

Lebih-lebih Sat Thian-toh, pernah ia coba adu tenaga dengan Liau-in, tapi ditundukkan oleh lawannya ini, bahkan tulang tangannya hampir terpuntir patah.

Sat Thian-toh adalah orang yang berwatak polos, maka sejak itu ia jeri pada Liau-in.

Dalam arak yang mereka minum tadi telah dicampuri obat racun keluaran pulau Ular, mereka berdua saudara sudah minum obat pemunahnya lebih dulu, karena itu walaupun minum sepuasnya tidak bakal terkena racun.

Dengan begitu Lian Keng-hiau telah melaksanakan tipu muslihatnya, ia suruh Siang-mo mengajak minum Liau-in, semula ia diduga Liau-in pasti mampus keracunan, tak tersangka Lwekang Liau-in sudah terlatih hebat, meski beruntun ia habiskan tiga cawan arak berbisa, namun wajahnya tetap tidak berubah.

Karenanya Siang-mo menjadi gugup oleh ketangkasan orang, karena itu meski kepandaian Sat Thian-ji cukup tinggi, ia kena dicekal Liau-in dengan sekali gerak saja.

"Lekas serahkan obat penawarnya!"

Bentak Liau-in begitu berhasil menawan Sat Thian-ji, ia tekan urat nadinya dengan tiga jari.

"Tiada sangkut pautnya dengan kami,"

Sahut Sat Thian-ji dengan gugup. Akan tetapi Liau-in telah kencangkan ketiga jarinya dan pencet lebih keras tangannya.

"Obat penawar ada di dalam kantongku,"

Sahut Sat Thian-ji akhirnya.

Tanpa ayal segera Liau-in keluarkan obat penawar dari kantong tawanannya dan dijejalkan ke mulut.

Dalam pada itu dari belakang pintu angin secara beramai dan berteriak telah menyerbu keluar jago-jago dari keluarga Lian.

Segera Liau-in lemparkan Sat Thian-ji, ia sambar tongkatnya dan diputar secepat angin, ia pukul ke timur dan menyabet ke barat dengan hebat, hingga pintu angin, meja kursi dihantam remuk be-rantakan.

"Sat Thian-ji lekas maju!"

Terdengar teriakan Lian Keng-hiau yang menongolkan kepala dari loteng.

Mau tidak mau Sat Thian-ji melompat bangun, bersama Sat Thian-toh segera melawan dengan mati-matian.

Dalam pada itu mendadak Liau-in ayun tongkatnya, senjatanya menghantam pada pilar batu, seketika pilar batu yang kasar bulat itu dihantam patah hingga dinding tembok ambruk dan rumah runtuh.

Di antara pecahan genteng dan batu yang berhamburan dan debu beterbangan, Siang-mo masih sempat mengundurkan diri dengan cepat, sedang jago-jago keluarga Lian yang tak sempat menyelamatkan diri, banyak yang tertindih hingga tangan putus dan kaki patah bergelimpangan memenuhi lantai.

Sementara itu dengan memutar tongkat, Liau-in membobol kepungan orang dan menerjang ke ruangan belakang dengan maksud mengadu jiwa dengan Lian Keng-hiau yang sementara itu masih menongol di atas loteng!

Tetapi dengan cepat Siang-mo sudah keburu menubruk maju lagi, sedang pemanah yang sudah disiapkan oleh Lian Keng-hiau pun telah berjaga menantikan segala kemungkinan.

Tidak antara lama, tiba-tiba Liau-in merasakan napasnya sesak dan jantung memukul keras, tenggorokan terasa kering.

Walaupun ia sudah minum obat penawar yang didapat dari Sat Thian-toh, namun belum sempat mengatur pernapasan untuk menjalankan tenaga dalamnya, tapi segera ia harus menghadapi pertarungan sengit, karenanya obat penawar itu belum bisa mengatasi bekerjanya racun hingga perlahan-lahan racunnya menjalar.

Liau-in insaf tidak sanggup bertempur lebih lama lagi, maka dengan sekali membalik tubuh ia ayun tongkamya terus menerjang keluar.

Tidak ayal lagi pemanah yang sudah siap tadi, seketika menghamburkan anak panah, akan tetapi sekalipun anak panah beterbangan, mana bisa mengenai Liau-in, tidak lama ia sudah berhasil menerjang sampai di pintu gerbang.

"Lian Keng-hiau, kau keparat, suatu waktu jika kau ketumbuk di tanganku, dengan tongkatku nanti kupatahkan kaki anjingmu!"

Demikian saking gemasnya Lian-in berteriak mencaci-maki.

Habis itu dengan sekali depak ia bikin pintu gerbang rumah keluarga Lian terpentang, menyusul tongkatnya bekerja pula, ia hancur leburkan dua buah singa batu yang berada di kanan-kiri luar pintu, kemudian bertindak pergi dengan perasaan tetap penasaran.

Setelah Liau-in berlalu, Lian Keng-hiau memeriksa keadaan rumahnya, ia lihat anak panah berserakan memenuhi lantai, tanpa tertahan ia merasa keder atas ketangkasan Liau-in.

"Bagaimana baiknya, ia telah berhasil lolos?"

Tanya Siang-mo berbareng dengan kuatir.

"Jangan kuatir, segera aku tulis laporan pada Hongsiang, tidak nanti Hongsiang percaya pada perkataannya,"

Ujar Lian Keng-hiau.

"Aku akan perintahkan Ki Pi-sia dan Tang Ki-joan menangkap dia, rasanya tidak mungkin dia bisa lolos dari telapak tanganku."

Begitulah, setelah Liau-in menerjang keluar rumah keluarga Lian, semakin dipikir ia semakin gemas, lebih dulu ia sembunyikan diri pada sebuah bukit terdekat, ia duduk semedi, dengan demikian ia dapat memaksa racun yang berada dalam badannya keluar semua dengan ilmu Lwekangnya yang tinggi.

"Kalau seorang diri melawan orang banyak untuk mencari keparat itu buat menuntut balas, seketika rasanya tidak bakal berhasil, lebih baik aku kembali ke kotaraja melapor pada Hongsiang saja, biar pangkat panglima she Lian dipecat dulu, kemudian baru aku cari dia buat bikin perhitungan,"

Demikian Liau-in berpikir.

Ia mengira In Ceng pasti akan membela dirinya, maka dengan hati gemas menujulah dia kembali ke Pakkhia.

Kembali mengenai Pang Lin, sejak malam itu ia lolos dan kabur melalui pintu rahasia dinding berlapis, ia pun menuju ke jurusan utara, pada hari kedua sampailah dia di Sin-an, sepanjang jalan ia lihat banyak orang memperhatikan dirinya, semua mengincar padanya.

"Memang aku hanya seorang gadis dan berjalan sendiri, pantas kalau menai \k perhatian orang,"

Pikirnya. Ia tidak tahu bahwa yang menarik perhatian orang adalah karena rupanya yang cantik.

"Liau-in dan kawan-kawan kini sudah keluar semua, tentunya mereka tidak akan melepaskan diriku, ada baiknya kalau aku menyamar saja,"

Demikian ia berpikir lagi.

Waktu itu ia sampai di Sin-an, sebuah kota kecil, tiba-tiba ia dengar di belakangnya ada suara kelenengan kuda, ketika Pang Lin menoleh, ia lihat penunggang kuda itu adalah seorang sastrawan yang berusia setengah umur, mukanya putih bersih, perawakannya pendek, dandanannya agak perlente, bajunya yang terbikin dari kain sutra bersulam menyolok pandangan mata.

Rupanya seorang keturunan bangsawan.

"He, pakaian orang ini sangat bagus, biar malam nanti aku mencurinya buat menyamar,"

Pang Lin membatin dalam hati.

Sementara ia lihat orang itu telah masuk ke sebuah penginapan, maka Pang Lin pun ikut memasuki rumah penginapan itu.

Melihat kedatangan tamu, dengan sendirinya pengurus penginapan melakukan penyambutan.

"Apa kalian perlu sebuah atau dua buah kamar, Toaya?"

Tanyanya pada sastrawan tadi.

"Apa katamu?"

Sahut sastrawan itu dengan bingung. Waktu ia menoleh, ia lihat seorang gadis cantik ikut di belakangnya, maka tahulah dia bahwa si pengurus penginapan telah salah paham.

"Aku hanya sendirian, cara bagamana bisa tinggal di dua kamar?"

Dengan tertawa ia menjawab.

"O, saya mengira nona ini adalah kawan tuan,"

Kata pengurus penginapan dengan tertawa juga.

"Cis!"

Pang Lin hendak mendamprat. Tetapi segera si pengurus penginapan minta maaf.

"Hendaklah nona jangan marah, karena suasana tidak aman, jarang sekali ada kaum wanita yang menginap di sini sendirian,"

Katanya.

Sementara itu si sastrawan tadi sudah minta disediakan kamar kelas satu, Pang Lin sendiri pun minta disediakan sebuah.

Atas permintaan orang, pengurus penginapan itu berbalik mengerut kening, ia menjadi sangsi sebab seorang perempuan yang sendirian mengembara masih dapat dimengerti, tetapi kini ia lihat Pang Lin berdandan sebagai Siocia keluarga hartawan, mau tak mau si pengurus penginapan jadi curiga, ia tak berani menerima orang tinggal di penginapannya.

"Kenapa? Apa kau sangka aku tak mampu bayar?"

Demikian omel Pang Lin rada naik darah. Berbareng ia rogoh keluar dua keping uang emas terus dibanting di atas meja.

"Mana aku berani menolak,"

Lekas pengurus itu merendah dengan muka tertawa.

"Cuma tempatku ini terlalu sederhana dan kotor, aku hanya kuatir kalau nona mencelanya nanti."

Habis itu lekas ia sediakan sebuah kamar bagus untuk Pang Lin.

Menjelang tengah malam, diam-diam Pang Lin bangun, dengan perlahan ia melompat ke atas rumah, ia melayang lewat ke kamar sebelah, ia tempelkan kuping buat mendengarkan, tetapi ia dapatkan dalam kamar keadaan sepi.

"Sastrawan ini toh bukan orang dari kalangan Kangouw, mengapa berlaku begini hati-hati,"

Demikian ia menertawai diri sendiri.

Segera ia patahkan ruji jendela, sekali loncat ia melayang masuk ke dalam kamar orang, perlahan-lahan ia mendekati pembaringan terus mengambil pakaian sutra bersulam si sastrawan itu.

Tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba orang yang rebah di pembaringan tertawa dingin dan berbareng melompat bangun, sekali ulur tangan, seketika pergelangan tangan Pang Lin dicekal!

Kejadian ini di luar dugaan Pang Lin hingga gadis ini rada terkejut, namun ia cukup sebat, dengan sedikit memuntir dan menarik, ia gunakan gerakan 'Hi-hu-kay-bang' atau nelayan melepas jala, segera ia dapat melepaskan tangannya dari cekalan orang.

Sastrawan itu bersuara heran karena dengan gampang Pang Lin bisa lepaskan diri dari cekalannya, menyusul jarinya mengulur terus menutuk, dalam kegelapan ia seperti bermata kucing saja, tempat yang dia tutuk ternyata mengarah 'Thian-cu-hiat' yang berbahaya di belakang leher.

Tidak usah disangsikan lagi, serangan sastrawan di malam gelap secara tepat ini, terang adalah seorang ahli silat, jika pada setengah tahun berselang dapat dipastikan Pang Lin akan roboh di-tutuk.

Tetapi kini kepandaiannya sudah lain, Sastrawan itu menyerang secepat kilat, tetapi tempat dimana jarinya mengenai, tiba-tiba terasa empuk lunak, sekonyong-konyong jarinya meleset dan melenceng ke arah lain.

Dalam pada itu Pang Lin telah baliki telapak tangannya hingga saling beradu tangan dengan sastrawan itu, Pang Lin terdorong dan hampir saja jatuh terjerumus, sebaliknya orang itu rada terkejut juga karena kepandaian Pang Lin yang di luar dugaannya, ia tergoncang juga oleh tenaga Pang Lin, syukur dengan cepat ia bisa melayang pergi dengan meminjam tenaga pukulan si nona ini, terus melompat lewat meja yang berada di tengah kamar.

Begitu tancapkan kaki di dekat pintu, segera ia nyalakan api dengan batu apinya.

"Ha, memang aku sudah menduga kau pasti akan datang,"

Dengan tersenyum sastrawan itu berkata.

"Marilah duduk, silakan duduk, kita boleh bicara baik-baik dan jangan mengejutkan tetamu lain."

Karena perbuatannya sudah ketahuan orang, keruan Pang Lin serba salah dan rikuh, terpaksa ia menurut dan duduk.

"Dengan wajahmu yang rupawan dan ilmu silatmu yang tinggi, mengapa kau menjadi pencuri?"

Tanya sastrawan itu dengan tersenyum sesudah menyulut pelita yang ada di atas meja.

"Darimana kau mengetahui aku akan mencuri barangmu?"

Berbalik Pang Lin bertanya.

"Sejak bertemu, kau lantas menguntit terus di belakangku, kalau hal sekecil ini saja aku tak bisa menduga, apakah aku masih bisa berkelana di Kangouw?"

Sahut sastrawan itu dengan tertawa.

"Ha, cuma kau salah lihat, walau dandananku perlente, ini hanya watakku saja yang memang suka demikian, milikku sebenarnya tiada harganya buat kau curi. Tetapi jika kau kekurangan uang, aku nanti boleh berikan serenteng uang emas padamu, lebih banyak dari itu aku tidak punya."

"Siapa ingin emasmu?"

Ujar Pang Lin tertawa.

£ambil berkata ia membuka leher bajunya, ia perlihatkan kalung yang dipakainya dengan mutiaranya yang gemerlapan menyilaukan mata.

Ini adalah barang berharga dari istana yang dia pakai, tiap mutiara pada kalung yang dipakainya itu adalah sama besarnya, bundar lagi besar.

Hanya kalung mutiara ini saja harganya sudah lebih dari ratusan tahil emas.

Keruan sastrawan itu menjadi kaget, sekalipun ia sudah banyak pengalaman, namun ia bingung juga atas diri Pang Lin.

Setelah berpikir lagi, sekonyong-konyong ia memegang pedangnya.

"Kalau bukan pendekar wanita dari kalangan hitam (maksudnya golongan bandit) tentunya kau adalah jagoan dari kerajaan? Maafkan, maaf kalau aku kurang hormat?"

Demikian dengan suara ketus ia menegur.

"Kalangan hitam atau kalangan putih apa segala, aku tidak mengerti semua itu!"

Sahut Pang Lin dengan tertawa geli.

"Kalau begitu, apa maksud kedatanganmu ini?"

Tanya si sastrawan pula.

"Bajumu ini berapa harganya?"

Tanya Pang Lin.

"Boleh kau jual saja padaku!"

Sastrawan itu menjadi bingung oleh kata-kata itu, ia tidak mengerti apa maksud orang, ia pun tidak paham apa gadis ini sedang bergurau atau sungguh-sungguh.

"Aku akan beli pakaianmu dengan kalung mutiaraku ini, tentunya kau tidak bakal rugi bukan?"

Tanya Pang Lin pula. Tak terduga, sastrawan itu menjadi gusar.

"Kau sengaja datang buat mempermainkan diriku bukan?"

Dampratnya tiba-tiba.

"Siapa ada tempo bermain dengan kau?"

Sahut Pang Lin. Sastrawan itu bertambah heran, ia lihat anak dara ini berkata dengan sikap tidak seperti bergurau.

"Tidak menjadi soal kuberikan cuma-cuma seperangkat pakaianku,"

Katanya kemudian.

"Tetapi numpang tanya siapakah guru dan nama nona yang terhormat? Bolehkah menerangkan?"

Atas pertanyaan orang, kembali Pang Lin tertawa geli.

"Kita hanya kebetulan bertemu di perjalanan, buat apa mencari tahu diri orang,"

Sahurnya.

"lagi pula guruku terlalu banyak, mana bisa aku terangkan satu per satu padamu?"

"Lalu untuk apa kau inginkan pakaian lelaki?"

Tanya si sastrawan. '"Kau mau kasih atau tidak, kalau tidak biar aku lantas pergi,"

Kata Pang Lin tak sabar lagi. Sastrawan itu cukup ternama di kalangan Bu-lim, tapi ia tidak bisa meraba asal-usul si nona, tentu dalam hati ia masih penasaran.

"Baiklah, jika kau mampu boleh kau coba pergi,"

Sahurnya dengan tersenyum sambil berdiri. Nampak orang siap sedia manghadapi kekerasan, Pang Lin berpikir.

"Jika harus berkelahi, tidak nanti aku jeri padamu, tetapi kalau mengejutkan tamu lain, rasanya kurang baik."

Maka berkatalah dia.

"Sebenarnya tiada halangannya kujawab pertanyaanmu, tetapi tidak boleh kau sembarangan menyiarkan di luaran."

"Sudah tentu,"

Jawab si sastrawan? "Nah, dengarkan,"

Tutur Pang Lin.

"ayahku adalah bandit besar, ia paksa aku menikah dengan orang yang aku tidak suka, oleh karena itu aku melarikan diri, tapi ayahku banyak mempunyai mata-mata di luar, aku kuatir dipergoki, maka aku ingin menyamar buat menghindarkan incaran mereka."

Sudah tentu apa yang dituturkan Pang Lin bohong belaka, tetapi cerita yang dikarang ini menjadi mirip benar dengan urusan Hi Yang. Maka dengan penuh perhatian sastrawan itu mengamat-amati padanya.

"Berapa umurmu tahun ini?"

Tiba-tiba ia bertanya.

"Kau ini sungguh tidak punya aturan, mengapa bertanya umur orang segala?"

Sahut Pang Lin kurang senang. Sastrawan itu bergelak tertawa oleh jawabannya.

"Betul kau, betul, baiklah aku tidak tanya lagi,"

Katanya kemudian.

"Dan asal-usulmu pun tidak perlu kau beritahukan padaku. Asal kita sama tahu dalam hati saja, bolehlah."

"Kau mau jual pakaian padaku tidak?"

Ulang Pang Lin akan maksudnya.

"Tidak perlu beli, akan kuberikan padamu dengan gratis,"

Sahut sastrawan itu. Keruan Pang Lin sangat girang, ia menghaturkan terima kasih.

"Meski kepandaianku tidak seberapa, tetapi di kalangan Kang-ouw juga tidak sedikit sobat andaiku,"

Terdengar sastrawan berkata lagi.

"Besok kau berangkat bersama aku saja. Aku tanggung semua orang dari utara maupun selatan sungai atau dari kalangan hitam, siapa saja tiada yang berani mengganggu kau."

Dalam hati Pang Lin pikir besar amat mulut sastrawan ini, boleh juga aku melihat tokoh macam apakah dia ini.

Karena itu, ia lantas terima tawaran itu dengan tersenyum.

Kiranya sastrawan ini bukan lain adalah Sute Pek Thay-koan, yaitu murid keenam Tok-pi Sin-ni yang bernama Li Gwan.

Li Gwan adalah keturunan bangsawan di Ouw-lam, selama sepuluh tahun belakangan ini belum pernah ia menjelajah keluar kampung halamannya.

Belakangan ia menerima surat undangan Kam Hong-ti yang meminta dia berziarah ke makam gurunya di Bin-san pada hari Ching-beng.

Ditegaskan pula oleh Kam Hong-ti bahwa kali ini adalah pertemuan besar bagi sesama saudara perguruan, tidak boleh tidak datang.

Karena itulah Li Gwan lantas berangkat ke utara seorang diri.

Meski sudah lama Li Gwan tidak berkelana keluar kampung halamannya, tetapi di antara sesama saudara perguruan masih sering berhubungan dan saling kirim kabar.

Oleh karenanya terhadap urusan Pek Thay-koan ia pun pernah mendengar, maka ketika mendengar perkataan Pang Lin tadi, ia sangsi gadis ini apa bukan Hi Yang adanya.

Tetapi jika melihat umur Pang Lin tidak lebih baru belasan tahun saja, sedang peristiwa perjodohan Pek Thay-koan sudah ramai dibicarakan orang dan tersebar di Kangouw pada lima-enam tahun yang lalu.

Dengan dasar ini, tampaknya Hi Yang tidak mungkin berumur begini muda.

Tetapi bila ia pikir lagi bahwa kaum wanita pintar bersolek, kabarnya Pat-moay Lu Si-nio juga senantiasa beroman seperti gadis yang berumur dua puluhan saja meski usia yang sebenarnya sudah lebih tiga puluh.

Kalau begitu, jika Hi Yang mendapat ajaran dari orang kosen dan dapat meremajakan wajahnya, rasanya hal inipun bukan mustahil.

"Tidak peduli dia Hi Yang atau bukan, biar sementara aku berjalan bersama dia, besok lusa sudah bisa sampai di Bin-san, asal di sana bertemu Ciu-ji-ko atau Kam-chit-te, pasti mereka akan dapat mengenalnya,"

Demikian katanya dalam hati.

Besok paginya, Pang Lin menyamar sebagai lelaki, ia beli seekor kuda, lantas berangkat mengikuti Li Gwan.

Di tengah jalan kedua orang sama coba berusaha memancing pihak lain, tetapi Pang Lin cukup licin dan cerdik, mana bisa Li Gwan berhasil dengan pancingannya.

Setelah perjalanan dilanjutkan lagi, kemudian mereka turun dari kuda dan mengaso sambil mengobrol di bawah sebuah pohon yang rindang.

"Wanita yang tinggi ilmu silatnya di kalangan Kangouw terlalu jarang sekali, boleh dikatakan bisa dihitung dengan jari, kecuali Lu Si-nio, harus disebut pula Hi Yang,"

Demikian Li Gwan mulai buka suara dengan tidak pernah melepaskan usahanya memancing perkataan orang. Namun Pang Lin hanya tersenyum saja, dalam hati ia tidak setuju dengan pendapat orang.

"Ilmu silatmu pun terhitung kelas tinggi,"

Kata Li Gwan pula.

"Menurut penglihatanku, sekalipun kau belum bisa menandingi Lu Si-nio, tetapi dibandingkan Hi Yang terang tidak kalah."

Kembali Pang Lin memperlihatkan senyumannya.

"Apakah kau pernah melihat mereka berdua?"

Tanyanya. Li Gwan jadi tercengang oleh pertanyaan yang mendadak ini.

"Belum pernah,"

Sahutnya kemudian. Apa yang dikatakan ini memang sungguh-sungguh.

"Kalau kau belum pernah melihat mereka, darimana kau mengetahui tinggi rendahnya ilmu silat mereka dan sembarangan membuat bandingan?"

Tanya Pang Lin. Li Gwan gelagapan, tadinya ia hanya bermaksud memancing rahasia orang, tak tahunya ia sendiri tak bisa menjawab.

"Meski belum pernah melihatnya, tetapi menurut cerita kawan kalangan Kangouw, bisa aku ketahui gambarannya,"

Sahutnya kemudian dengan tertawa paksa.

"Dan kau sendiri, apa kau pernah melihat mereka?"

"Aku malah betul-betul sudah pernah melihat mereka,"

Kata Pang Lin dengan tertawa.

"Lu Si-nio punya kepandaian betul-betul jarang ada bandingannya. Tetapi Hi Yang meski mahir ilmu silat, namun tidak tertampak sesuatu yang luar biasa."

Apa yang dikatakan Pang Lin juga betul, sebab tahun yang lalu ketika berada di 'Sam-kam-in-goat' di Se-ouw, kota Hangciu, ia sendiri menyaksikan pertarungan antara Liau-in di satu pihak dengan Lu Si-nio dan Hi Yang di lain pihak.

Mendengar Pang Lin banyak memuji Lu Si-nio sebaliknya menilai rendah Hi Yang, Li Gwan jadi lebih mencurigai si gadis ini adalah Hi Yang sendiri.

Dan selagi ia hendak memancing dengan kata-kata lain, tiba-tiba ia dengar Pang Lin berkata.

"Lekas berangkat, hayo lekas!"

Ketika Li Gwan mengangkat kepala memandang jauh, maka tertampak olehnya ada seorang Hwesio gendut dengan menjinjing tongkat sedang mendatangi dengan langkah lebar, ia kenal Hwesio ini bukan lain adalah Toasuheng atau kakak perguruan pertama, Liau-in Hwesio, ia jadi terkejut.

Selagi ia hendak angkat langkah menuruti anjuran Pang Lin, tiba-tiba Liau-in sudah meneriaki dia.

"Liok-te (adik keenam), tunggu dulu, kita sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah berjumpa!"

Karena teriakan ini, Li Gwan tak jadi melangkah pergi.

Melihat Li Gwan tidak bergerak, Pang Lin berpikir, jika aku sendiri angkat kaki, tentu segera dapat diketahui oleh Liau-in akan diriku yang sebenarnya.

Ilmu silatnya sangat tinggi, bila ia keprak kudanya mengejar aku, pasti aku tidak bisa lolos.

Karena pikiran ini, ia lantas berlagak tenang, dengan seenaknya saja ia bersandar pada pohon di pinggir jalan.

Sedang dalam hati ia memikirkan daya upaya untuk meloloskan diri dari cengkeraman musuh.

Di pihak lain, walau sudah hampir sepuluh tahun Li Gwan tidak pernah berjumpa dengan Liau-in, tetapi dari saudara seperguruan yang lain ia sudah mengetahui tindak-tanduk Liau-in selama ini, semua kejahatan yang telah dilakukan Suhengnya yang paling tua ini telah ia ketahui dengan jelas.

Karena itu, jika kini ia sendiri harus menghadapi sang Suheng, diam-diam ia mengeluh juga.

"Sute, baik-baikkah kau? Siapakah kawanmu ini?"

Terdengar Liau-in menyapa lagi.

Ilmu silat Li Gwan seperti juga enam saudara di perguruannya yang lain, sebagian besar adalah Liau-in yang mewakilkan guru mereka mengajarkan padanya.

Karena itu sekalipun Li Gwan tahu sang Suheng telah berkkhianat dan tersesat, tidak urung ia memberi hormat juga sambil bertanya keselamatannya.

"Berkat doa restu Suheng, selama ini aku baik sekali,"

Sahutnya kemudian.

"Kawanku ini baru kenal di perjalanan."

Atas jawaban Sutenya ini, Liau in hanya mendengus saja, sedang pandangan matanya terus menatap Pang Lin dalam dandanannya sebagai kaum pria.

"Kabarnya Suheng paling belakang ini sangat makmur,"

Demikian Li Gwan buka suara lagi.

"Em, karena itu kau yang menjadi Sute lantas kurang senang?"

Sahut Liau-in.

Li Gwan tak berani menjawab.

Sedang Liau-in masih terus memandang Pang Lin tanpa berkesip, melihat sikap si nona, diam-diam Li Gwan sesalkan orang tidak kenal sopan-santun kalangan Kangouw, maka ia lantas mendekati anak dara itu.

"Ini adalah Suhengku Liau-in, kau boleh berkenalan dengan dia,"

Demikian ia terangkan pada Pang Lin.

Di luar dugaan, bukannya Pang Lin menurut, sebagai jawaban ia ayun tangannya, mendadak tiga belati menyambar ke depan, yang sebuah mengarah kuda tunggangan Li Gwan dan dua belati lainnya mengincar tubuh Li Gwan.

Keruan Li Gwan terkejut sekali, dalam keadaan tidak berjaga, sekalipun masih sempat menghindarkan sebuah belati, tetapi sebuah yang lain menancap di pundak kirinya, tanpa ampun ia terguling dan tak sadarkan diri.

Pada saat itu juga secepat terbang Pang Lin lantas cemplak kudanya, dengan belatinya ia tusuk pantat kuda, saking sakitnya karena tusukan itu, dengan mengeluarkan suara lengkingan keras, kuda itu segera membedal ke depan laksana terbang!

Rupanya demi mendengar Li Gwan dan Liau-in saling sebut Suheng dan Sute, dalam hati Pang Lin pikir.

"Jika aku tidak lantas kabur, sebentar lagi kalau mereka berdua berbicara lebih terang, pasti diriku bakal celaka!"

Meski usia Pang Lin masih muda, tapi tipu dayanya cukup banyak, ia mengerti ilmu silat Liau-in sangat tinggi, Hui-to atau belati terbang pasti tidak akan bisa mengenainya, maka ia lantas ganti haluan dan mengincar Li Gwan.

Ia sudah menduga dengan tindakan ini, sesudah Li Gwan terluka, karena harus menolong Sutenya lebih dulu, tentu Liau-in tidak sempat mengejar dirinya.

Apa yang Pang Lin perhitungkan ternyata tidak salah, tetapi karena itu pula Li Gwan yang tidak berdosa menjadi sasaran dan terluka.

Melihat Pang Lin sudah kabur dengan mencemplak kuda, untuk memburu jelas tak menyandak lagi.

Betul juga Liau-in lantas menolong Li Gwan dahulu.

Terhadap pisau berbisa Pang Lin, Liau-in sudah cukup kenal dan tahu asal-usulnya, meski dalam kantong ia tak membekal obal pemunah yang tepat untuk racun pisau terbang orang, tapi segera ia mengorek luka Li Gwan untuk mencegah menjalarnya racun, kemudian dengan obat luka dari istana yang mustajab ia bubuhkan ke luka Sutenya itu, dengan demikian keselamatan Li Gwan terjamin.

Sebenarnya bukannya Liau-in lebih sayang pada Sutenya ini, maka ia mau mengobati lukanya, tapi ia berniat memaksa sang Sute untuk menuruti perintahnya dan ikut dia ke kotaraja.

Memang sejak Liau-in menyerah pada In Ceng, ia merasa namanya banyak tercemar dan kehilangan muka karena di antara adik seperguruannya tiada seorang pun yang mau menurut padanya.

Nama Li Gwan di antara Kanglam-pat-hiap meski belum bisa memadai nama Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan yang cemerlang, namun bila ia dapat dipaksa untuk menurut, sedikitnya Liau-in bisa memulihkan wibawanya.

Dengan begini ia takkan ditertawai kawan-kawan kalangan Kangouw bahwa dia sebagai kepala dari 'Kanglam-pat-hiap' ternyata tiada seorang pun Sutenya mau tunduk padanya.

Ketika Liau-in melepas baju luar Li Gwan untuk mengorek daging busuk buat menghilangkan racun, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu, hatinya jadi tergerak, ia coba menggagapi barang-barang dalam baju Li Gwan, alhasil dari baju Sutenya ini ia dapat menggeledah sebutir Lak-wan atau lilin sebesar biji kelengkeng.

Liau-in sudah banyak pengalaman, tanpa ayal segera ia remas biji lilin itu, ternyata di dalamnya terdapat secarik kertas, waktu ia ambil dan dibacanya, maka tahulah dia, kiranya itu adalah surat rahasia yang dikirim oleh Can Cing dari Ouwlam dan ditujukan pada Gak Ciong-ki.

Can Cing masih terhitung sahabat baik ayah Gak Ciong-ki, suratnya ini bermaksud menghasut agar setelah Gak Ciong-ki dapat memperoleh kekuasaan militer hendaklah lantas memberontak melawan kerajaan Boan-jing.

Dalam surat ini malah Can Cing sengaja menonjolkan leluhur pujaan keluarga she Gak, yaitu Gak Hui, jenderal pembela tanah air dan pencinta bangsa yang melawan penjajahan bangsa Nukhin dari negeri Khin atau Kim pada zaman dinasti Song.

Gak Ciong-ki dinasehati pula agar suka mencontoh leluhurnya melawan penjajah serta penindasan bangsa asing.

Begitulah, sungguhpun tidak banyak Liau-in mengenal huruf, tetapi maksud sekedarnya isi surat itu dapat ia pahami.

"Hm, tidak nyana kaum Kongcu ini bisa melakukan urusan begini juga,"

Diam-diam ia tertawa dingin.

Ketika ia berpikir lagi bahwa Gak Ciong-ki adalah wakil Lian Keng-hiau, dengan surai rahasia ini sebagai bukti, tentu Lian Keng-hiau bisa juga dibikin terjungkal kedudukannya.

Mengingat bahwa sakit hatinya bakal terbalas, tanpa terasa Liau-in girang sekali.

Pada saat itu pikiran Liau-in berubah, yang ia pikirkan adalah menggusur Li Gwan ke Pakkhia, soal Li Gwan mau menurut atau tidak, sudah tidak ia peduli lagi.

Selang tak lama, perlahan-lahan Li Gwan sadar, demi melihat Liau-in sedang cengar-cengir di sampingnya dengan gembira sambil memegang secarik kertas, seketika Li Gwan mandi keringat dingin, ia insaf urusan rahasianya sudah terbongkar, maka dengan mati-matian dan sekuat tenaga segera ia melompat bangun, tetapi belum sampai ia berbuat lebih jauh mendadak Liau-in sudah mendahului mendorongnya perlahan, di tengah suara tertawa dingin Liau-in, kembali Li Gwan terjatuh roboh.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Bentak Liau-in kemudian.

"Suheng, bukankah kau adalah bangsa Han?"

Teriak Li Gwan.

"Kalau bangsa Han, memangnya kenapa?"

Sahut Liau-in.

"Kalau kau bangsa Han, maka hendaklah kau kembalikan surat itu padaku."

"Fui, paling betul kaulah yang ikut aku ke Pakkhia!"

Damprat Liau-in.

"Apakah sama sekali kau sudah melupakan apa yang dipesan Suhu?"

Tanya Li Gwan pula. Mendengar Sutenya menonjolkan nama Suhu mereka, Liau-in tertawa terbahak-bahak.

"Haha, dimana Suhu kini? Suhu sudah mati, maka sekarang akulah Suhu kamu sekalian!"

"Bagus, Liau-in!"

Teriak Li Gwan dengan murka.

"Kalau begitu, boleh kau bunuh saja diriku!"

"Hm, apa susahnya jika kau ingin mampus,"

Sahut Liau-in mengejek.

"Kau tentu sudah kenal kelihaianku, kau ingin aku menggunakan cara 'Hun-kin-cho-kut-hoat' untuk mematahkan miangmu, atau kau minta aku memakai cara Tiam-hiat-hoat supaya mayatmu tetap utuh, malahan masih bisa hidup lebih lama tiga hari lagi?"

Kedua macam siksaan yang disebut itu adalah cara yang sangat lihai dan kejam, fHun-kin-cho-kut' atau memisahkan otot dan membikin keseleo tulang, lebih mengerikan daripada orang dicincang, tetapi orang ditutuk dengan cara yang kejam, penderitaan pun luar biasa, ingin hidup tidak bisa, mohon dibinasakan pun tidak mungkin.

Li Gwan berasal dari keluarga mampu, demi mendengar ancaman tadi, ia menjadi ngeri dan bergidik.

Melihat muka orang rada pucat, Liau-in mengerti gertakannya telah membawa hasil.

"Kau sudah berpikir terang belum?"

Desaknya lagi dengan t°rtawa.

Akan tetapi sekalipun dalam keadaan terancam, Li Gwan yang telah banyak membaca kitab kuno, teringat pada pribahasa lama yang maksudnya 'sejak dulu manusia mana yang tidak mati, lebih baik meninggalkan nama harum sepanjang masa ".

Karena itu, seketika ia menjadi berani dan tabah kembali.

"Tidak usah banyak omong, jika aku takut mati, tidak perlu aku dihitung seorang dari Kanglam-chit-hiap lagi!"

Dampratnya.

Melihat orang tetap membandel, Liau-in tertawa mendengus, ia tarik Li Gwan ke dekatnya, ia angkat telapak tangannya yang lebar terus hendak meremas kuduk Li Gwan.

Dalam keadaan demikian, tanpa gentar Li Gwan pejamkan matanya menantikan ajal.

Akan tetapi mendadak ia dengar Liau-in membuka suara lagi dengan tertawa.

"Sayang mulai hari ini Kanglam-pat-hiap akan tinggal tujuh orang saja. Kau selalu berkata taat pada pesan ajaran Suhu, maka bolehlah kau pergi menemui Suhu saja! Ha, tempat ini justru dekat dengan Bin-san, inginkah aku menguburkan kau di samping makam Suhu?"

Mendengar Liau-in menyebut Suhu, pikiran Li Gwan jadi tergerak, ia teringat bahwa dari sini menuju ke Bin-san, besok pagi saja sudah bisa sampai di pegunungan itu, ia teringat pula saudara-saudara seperguruannya bakal berkumpul di Bin-san.

Karenanya ia lantas balik pikiran, walaupun ia tidak gentar binasa, tetapi selama masih ada harapan hidup, tidak boleh melepaskan kesempatan ini.

Sementara itu, tangan Liau-in sudah menempel ke lehernya dan sedang merandek sejenak, maka Li Gwan lantas berseru.

"Suheng, baiklah aku tunduk padamu!"

Mendengar Sutenya mau menyerah, -Liau-in bergelak tertawa sambil mengendorkan tangannya.

"Ha, putra bangsawan ini ternyata tidak tahan gertakanku!"

Ia membatin dalam hati.

"Aku akan ikut kau ke Pakkhia, tetapi harap kau jangan bikin susah Can-losiansing,"

Demikian Li Gwan memohon.

"Hm, urusan ini kelak saja dibicarakan lagi, asal kau mau menuruti omonganku, mungkin aku bisa mengampuni dia,"

Sahut Liau-in.

Kemudian Liau-in lantas bertanya pula cara bagaimana Pang Lin bisa sejalan dengan dia, maka dengan terus terang Li Gwan menceritakan pengalamannya.

Liau-in tahu Sutenya ini sudah berpuluh tahun tidak pernah meninggalkan rumahnya, ia menduga apa yang diceritakan tidak nanti berbohong, maka ia tidak bertanya lebih jauh, ia lantas menggiring Sutenya ini berangkat.

Esoknya menjelang lohor mereka sudah sampai di bawah Bin-san, mendengar suara gemuruh air sungai Kuning (Huangho) yang mendampar keras, Bin-san dengan megahnya tertampak berdiri di depan mata.

Liau-in jadi teringat pada waktu yang lalu tatkala ia belajar silat di atas gunung ini, tanpa terasa ia memandang pula ke sekitar pegunungan sambil membayangkan kejadian dulu.

"Suheng, hari ini jatuh hari apakah?"

Tiba-tiba Li Gwan bertanya.

"Siapa yang telaten mengingatnya?"

Sahut Liau-in aseran.

"Bukankah hari ini adalah hari Ching-bing (hari menengok kubur lelehur)!"

Ujar Li Gwan. Liau-in coba menghitung, betul juga apa yang dikatakan sang Sute.

"Ada apa, kalau Ching-bing?"

Tanyanya kemudian.

"Ya, sejak Suhu mangkat, beberapa kali Siaute berniat mengunjungi makamnya, tapi selalu terhalang oleh urusan rumah tangga sampai sekarang baru betul-betul terkabul, sungguh aku merasa malu sekali,"

Kata Li Gwan lagi.

"Hari ini kebetulan hari raya Ching-bing dan kita justru lewat di sini, Siaute mohon Suheng suka berlaku murah hati dan memperkenankan aku berziarah ke makam Suhu."

Mendengar kata-kata Sutenya, muka Liau-in menjadi merah, ia pun merasa jengah karena teringat sejak gurunya mangkat, ia sendiri pun belum pernah berziarah ke kuburan sang guru.

Sungguhpun terhadap meninggalnya Tok-pi Sin-ni, sedikitpun Liau-in tidak peduli, tetapi bagaimanapun juga Tok-pi Sin-ni adalah guru yang banyak menanam budi atas dirinya, kini ia lewat gunung ini dan justru jatuh hari Ching-bing pula, tanpa terasa timbul juga keinginannya hendak berziarah ke makam gurunya.

"Baiklah, mari kita bersama-sama bersembahyang ke atas gunung."

Lalu dengan masih mencekal tangan Li Gwan, menujulah mereka ke Bin-san.

Hari-hari musim semi di Bin-san, pemandangan alam luar biasa indahnya, seluruh gunung penuh dengan bunga pegunungan yang mekar semarak dengan aneka warnanya.

Liau-in dan Li Gwan meneruskan perjalanan, akhirnya sampailah mereka di atas puncak utama, air terjun yang terdapat di puncak ini sedang menghamburkan airnya dengan menimbulkan butiran busa'yang gemilapan laksana mutiara terkena sorotan sinar matahari.

Sekalipun Liau-in sudah kelelap oleh kehidupan mewah di kota, tapi tidak urung semangatnya menjadi segar juga.

Waktu ia menengadah, ia masih ingat betul puncak gunung yang menonjol di depan adalah tempat gurunya mengajarkan Ginkang dahulu, cuma karena dasarnya kurang sempurna terpupuk, maka kepandaian itu selalu tidak dapat ia latih sampai puncak kemahiran.

Pada batu besar di tepi air terjun sebelah sana itu dulu adalah tempat yang sering dibuat mencoba tongkatnya, tentu di atas batu itu masih terdapat bekas pukulan tongkatnya.

Begitulah sambil jalan Liau-in merenungkan semua kejadian dulu.

Tak lama kemudian mereka sampai di atas puncak tertinggi.

Tertampak dua ekor burung rajawali piaraan Tok-pi Sin-ni, seekor berwarna hitam dan yang lain putih, sedang terbang mengitar di angkasa sembari mengeluarkan suara cuitan, rupanya seperti sedang menyambut datangnya tetamu.

"Siau-oh, Siau-pek!"

Liau-in coba menyapa kedua binatang itu. Akan tetapi kedua rajawali hitam-putih itu tiba-tiba melayang lewat saja di atas kepala Liau-in.

"He, mengapa Siau-oh dan Siau-pek juga tidak mengenal aku lagi!"

Kata Liau-in di dalam hati.

Tetapi ia lantas ingat bahwa dirinya kini sudah berupa orang yang berumur hampir enam puluh, berpisah dengan gunung inipun sudah lebih dari dua puluhan tahun.

Siau-oh dan Siau-pek (si hitam kecil dan si putih kecil) kini sudah harus juga disebut 'Lau-oh dan Lau-pek' (si hitam tua dan si putih tua).

Di samping lain, demi nampak munculnya kedua burung rajawali itu, seketika semangat Li Gwan terbangun, segera ia percepat langkahnya, maka sesudah melalui jalanan pegunungan yang diapit dua baris pohon Gui, tertampaklah tanah kuburan gurunya dari jauh.

"Eh, di sana ada orang,"

Tiba-tiba Liau-in berkata.

"Agaknya saudara perguruan yang lain juga berziarah ke sini."

Belum hilang suaranya, mendadak Lu Si-nio dan Kam Hong-ti sudah muncul berbareng.

Keruan Liau-in terkejut, segera ia hendak menjambret Li Gwan, namun Sutenya ini sudah keburu melompat pergi.

Terdengar Lu Si-nio bersuit, maka kedua rajawali hitam-putih tadi mendadak menubruk dari atas udara terus mencakar Liau-in.

Liau-in menjadi gusar, ia pikir kedua binatang ini benar-benar kurangajar hanya mau menurut pada perintah Lu Si-nio dan menyerang dirinya, segera tongkatnya diayunkan ke atas sambil membentak.

"Kau binatang inipun hendak menghina aku!"

Karena gerak tongkatnya yang hebat, kedua ekor rajawali itu tidak berani menubruk ke bawah, hanya sekali menyambar, kembali kedua binatang ini membal ke angkasa pula.

Akan tetapi justru dalam sekejap itulah, dengan mengacungkan pedangnya ke depan Lu Si-nio berhasil mengadang ke tengah dan menyelamatkan Li Gwan.

Saking gusarnya hingga mata Liau-in berapi, akan tetapi sikapnya"

Ini diganda senyum oleh Lu Si-nio, sementara itu di atas pegunungan sudah tampak berjajar sekelompok manusia yang tinggi dan pendek, kurus dan gemuk, bukan saja enam orang Sutenya yang lain tertampak lengkap, bahkan Kwantang-si-hiap dan Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng dan kawan-kawan pun hadir seluruhnya.

"Hm, Liau-in akhirnya kau datang juga?"

Terdengar Ji-sutenya, Ciu Sun, menegur dengan sikap dingin.

Dalan, pada itu Li Gwan sudah menemui semua saudara seperguruannya, kemudian baru diketahuinya bahwa gadis yang menolong dia tadi bukan lain adalah murid penutup mendiang gurunya yang bernama Lu Si-nio.

Keruan ia merasa heran sekali.

Sementara itu Kam Hong-ti telah mengetahui pundak Li Gwan terluka, ia lantas bertanya sebab musababnya dan oleh Li Gwan lantas diceritakan pengalamannya.

Keruan Kam Hong-ti menjadi gusar sekali atas sepak terjang Liau-in.

"Ji-ko (kakak kedua), dia sudah jadi orang besar dan banyak urusan, mana mungkin ada tempo buat berziarah ke makam sini,"

Ia berkata pada Ciu Sun.

"kedatangannya ini hanya kebetulan saja, ia sedang menggiring Lak-ko (kakak keenam) ke kotaraja untuk menerima hadiah, karena melalui tempat ini, Lak-ko mohon 'kemurahan hatinya' buat naik gunung sini, ia kuatir 'tawanan' kabur, maka ia lantas ikut datang ke sini."

Mendengar dirinya diolok-olok, muka Liau-in menjadi merah lerus menjadi pucat biru saking murkanya, sekali sabet dengan tongkatnya, ia hantam remuk sebuah batu pegunungan di sampingnya.

"Hong-ti, kau sedang berbicara dengan siapa?"

Dampratnya dengan gusar. Akan tetapi dengan muka merengut Kam Hong-ti tidak gubris tegurannya, ia tidak menjawab.

"Baik sekali dengan kedatanganmu ini, hayo, boleh kau bicara di hadapan makam Suhu sana,"

Demikian Ciu Sun buka suara lagi.

Ajakan ini tidak membikin Liau-in mengkeret, dengan menjinjing tongkatnya ia berjalan di depan menuju ke makam gurunya dengan lagak angkuh, sedang dalam hati ia sedang memikirkan dayaupaya buat meloloskan diri.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di tanah pekuburan itu, terlihat oleh Liau-in di atas bongpay (batu nisan) kuburan gurunya itu tertulis.

"Di sini bersemayam putri dinasti Beng yang lalu, pendekar paderi dari dunia persilatan" , sedang di pojok bawah batu nisan tertulis nama-nama anak muridnya, Ciu Sun, Loh Bin-ciam, Cho Jin-hu, Pek Thay-koan, Li Gwan, Kam Hong-ti dan Lu Si-nio bertujuh, hanya nama Liau-in sendiri yang tidak dicantumkan. Karena itu kembali Liau-in naik darah, ia ketok tongkatnya ke tanah dan bertanya dengan gusar.

"Atas usul siapa batu nisan ini didirikan dan tulisan di atasnya ini siapa yang mengarang?"

"Akulah yang mendirikan sesudah meminta persetujuan semua saudara seperguruan,"

Sahut Kam Hong-ti tak gentar.

"Sedang tulisan di atas bongpay dilakukan oleh Loh-samko dengan dukungan semua saudara seperguruan, kau mau apa?"

"Mengapa kau tidak tanya pendapatku dulu? Dan mengapa di atas bongpay (nisan) tiada namaku pula?"

Damprat Liau-in. Akan tetapi kembali Kam Hong-ti tidak gubris padanya, ia tutup mulut tidak menjawab. Maka Ciu Sun lantas buka suara lagi.

"Kini kita semua sudah berkumpul, marilah kita mulai menjalankan penghormatan berurut-urutan!"

Begitulah mereka bertujuh lantas berjajar berbaris dengan dipimpin oleh Ciu Sun di depan. Selagi mereka hendak menjalankan "

Upacara penghormatan, sekonyong-konyong Liau-in melompat maju ke depan, dengan sekali dorong, ia desak Ciu Sun ke samping, sedang ia sendiri lantas menggantikan tempat paling depan, sebab ia anggap dirinya adalah Toasuheng, saudara perguruan paling tua.

Tak terduga, ia memang cepat, tetapi Lu Si-nio terlebih cepat daripada dia, saat itu juga Lu Si-nio melayang ke atas terus mendahului mengadang di depan kuburan gurunya, dengan pedang melintang di dada ia merintangi orang.

"Kami seperguruan hendak bersembahyang, maka dengan hormat menolak orang luar ikut serta,"

Lu Si-nio berkata secara dingin.

"Jika kau ingin bersembahyang juga dan pay-kui, kau harus tunggu dulu setelah kami selesai. Apa sedikit peraturan ini saja kau tidak paham?"

Keruan Liau-in berjingkrak oleh kata-kata Lu Si-nio.

"Dunia terbalik, dunia terbalik!"

Ia berteriak dengan murka.

"Tatkala aku masuk pintu perguruan, waktu itu mungkin kau lahir saja belum, tetapi kini sebaliknya kau berani merintangi aku!"

Sementara itu Ciu Sun lantas melompat ke atas sebuah batu cadas dan buka suara pula.

"Dengan sepakat para anak murid Tok-pi Sin-ni telah menuturkan segalanya di hadapan makam Suhu, murid murtad Liau-in telah diusir keluar dari pintu perguruan. Kebetulan kini para Bu-lim-cianpwe juga berada di sini, maka hari ini kami umumkan secara resmi!"

Sampai di sini Liau-in mendadak juga melompat ke atas batu dimana Ciu Sun berdiri, namun kembali ia didahului Lu Si-nio lagi, gadis ini sudah berdiri mendampingi Jisuhengnya.

Karena itu dengan bebas Ciu Sun lantas meneruskan lagi pengumumannya.

"Karena murid murtad Liau-in telah mengkhianati guru dan ingkar sumpah suci, kami hari ini menuruti ajaran guru dan melakukan pesan tinggalan beliau, membikin pembersihan pintu perguruan sendiri. Hendaklah para Bu-lim-cianpwe yang ada di sini suka memberi kesaksian."

Habis Ciu Sun berkata, segera pula Kam Hong-ti membentak.

"Liau-in, apakah masih perlu kami turun tangan?"

Umumnya di kalangan Kangouw bila ada yang sedang membikin pembersihan pintu perguruan bagi Suhu yang sudah meninggal, tindakan pertama adalah diambil keputusan oleh para anak murid dan memecat murid murtad keluar dari perguruan, habis itu baru murid yang berkhianat itu mengaku berdosa di hadapan abu pemujaan sang guru, diri sendiri mengakui dosa.

Jika dosa yang dia tetapkan sendiri terlalu enteng, maka saudara perguruan yang lain ada liak buat membetulkan.

Bila ia tidak terima, maka saaudara perguruan lain yang mana saja ada hak buat membunuhnya.

Hari ini Liau-in secara tak sengaja seperti 'ular cari gebuk', ia lelah antarkan nyawa sendiri, maka Kanglam-chit-hiap dalam sehari saja bisa selesaikan dua urusan sekaligus.

Begitulah, maka demi mendengar bentakan Kam Hong-ti tadi, Liau-in tertawa dingin beberapa kali, lalu mendadak ia melompat balik, tongkatnya terus berputar dengan cepat.

Lekas Loh Bin-ciam dan Pek Thay-koan menyingkir menghindarkan sambaran tongkat orang, karena itu dengan sekali melayang Liau-in lantas menerjang keluar, ia lari mendaki ke puncak gunung di sebelah kiri.

Di situ adalah tempat para tetamu 'peninjau' yang terdiri dari Kwantang-si-hiap, Cho Kim-ji, putri Cho Jin-hu, bersama dengan Hi Yang, mereka sedang bersandar di atas batu pegunungan dan lagi bercakap-cakap dengan suara rendah, ketika mendadak Liau-in menerjang datang, dalam terkejutnya Hi Yang berteriak kaget terus melolos golok sambil melompat pergi, adalah Cho Kim-ji yang tak keburu menghindarkan diri, adalah yang pertama-tama menghadapi terjangan Liau-in, tanpa ampun ia dicengkeram oleh Liau-in.

"Hayo, siapa berani naik ke sini!"

Segera Liau-in mengancam dengan masih mencengkeram Cho Kim-ji. Kam Hong-ti menjadi gusar, matanya berapi, ia murka atas kelicikan orang.

"Liau-in! Kau punya muka atau tidak?"

Segera ia berteriak.

"Dekat ajalmu masih kau coba menghina kaum muda!"

Namun Liau-in sudah tidak pikirkan tentang sopan-santun kalangan Kangouw lagi, terdengar ia bergelak tertawa sambil mengayun tubuh Cho Kim-ji.

"Cho Jin-hu, usiamu sudah sekian banyak, tentunya kau tidak berpandangan seperti mereka, coba kaulah yang tampil ke muka buat bicara secara adil!"

Dengan tertawa dingin ia berkata.

Di antara sesama saudara seperguruan mereka, Cho Jin-hu terhitung nomor empat, tetapi usianya terhitung paling tua, bahkan dua tahun lebih tua dari Liau-in.

Cho Kim-ji adalah putri satu-satunya, sudah tentu ia sayang dan memanjakan sekali.

Untuk putrinya ini pernah jauh-jauh ia melawat ke Sinkiang buat memohon Ie Lan-cu suka menerima Kim-ji sebagai murid.

Tetapi permohonan ini tidak diluluskan Ie Lan-cu, belakangan hanya diajarkan pada Kim-ji suatu ilmu pedang dan beberapa jurus pukulan lihai.

Kini nampak putrinya berada di bawah cengkeraman Liau-in, Cho Jin-hu menjadi cemas tercampur kuatir.

"Liau-in, apa kau ini manusia?"

Katanya dengan suara terputus-putus saking cemasnya. Namun Liau-in tidak menghiraukan olok-olok orang, ia masih tertawa dingin.

"Apa yang diputuskan para saudara seperguruan tadi sedikit-pun tidak salah,"

Kata Cho Jin-hu pula dengan murka.

"Sekalipun Kim-ji tewas di tanganmu, aku tetap berkata juga kau adalah murid pengkkhianat, murid murtad!"

Di antara suara dampratan Cho Jin-hu ini, sekonyong-konyong terdengar Liau-in berteriak tajam, menyusul tampak ia lemparkan Cho Kim-ji ke dalam jurang yang curam sekali.

Waktu itu juga, berbareng Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan menghamburkan senjata rahasia mereka yang berupa belati dan Bwe-hoa-ciam, tetapi dengan ketangkasan Liau-in, mana bisa senjata rahasia itu mengenai dia.

Menyaksikan Kim-ji terlempar ke dalam jurang, semua orang menjerit berbareng, sedang Cho Jin-hu hampir saja jatuh pingsan.

Di lain pihak mendadak tertampak Lu Si-nio secara cepat dan gesit melompat juga ke bawah jurang, sedang muka Liau-in kelihatan pucat lesi.

"Bagus sekali, kalian kaum kurcaci ini boleh coba mempeda-yai aku!"

Terdengar Liau-in berteriak.

Kam Hong-ti sudah tidak tahan lagi, ia cabut goloknya terus menerjang maju, segera ia akan saling gebrak dengan Liau-in.

Waktu itu juga dari pinggang gunung tiba-tiba tertampak bayangan baju orang melambai-lambai tertiup angin.

"Eh, Pat-moy sudah naik kembali, ia memondong seorang,"

Terdengar Pek Thay-koan buka suara dahulu. Sementara itu dalam sekejap saja, tertampak Lu Si-nio sudah naik ke atas lagi dengan memondong tubuh Cho Kim-ji, dengan cepat Cho Jin-hu lantas memapaknya.

"Tidak apa-apa!"

Ujar Lu Si-nio.

Waktu Cho Jin-hu merangkul putrinya dan dilihat, ternyata hanya kaki tangannya saja yang terdapat sedikit lecet dan darah menodai bajunya, tetapi jiwanya tidak berbahaya.

Saking girang dan terharunya, Cho Jin-hu meneteskan air mata.

Kiranya Cho Kim-ji punya tabiat keras, ia tidak sudi menjadi barang jaminan bagi Liau-in, meski ilmu silatnya jauh sekali dibanding Liau-in, tapi pada saat genting ini, tiba-tiba ia ingat satu jurus pukulan lihai penolong jiwa di waktu berbahaya, asal ajaran Ie Lan-cu, mendadak ia angkat kaki terus mendepak, dengan tepat ia depak urat nadi berbahaya di tubuh Liau-in, karena serangan ini, terpaksa Lian-in harus melemparkan tubuh Cho Kim-ji, syukur Lu Si-nio yang ilmu entengkan tubuhnya mahir luar biasa, di saat ia menggelundung ke bawah jurang.

Lu Si-nio masih dapat menyusul dan sempat meraih tungkak kakinya hingga jiwanya tertolong.

Dalam pada itu, karena perbuatannya yang kejam tadi, Liau-in makin dibenci dan menimbulkan kegusaran para tokoh yang hadir.

"Liau-in, kau pengecut, apa kau masih punya muka untuk terus berdiri di sini?"

Kam Hong-ti kembali membentaknya. Liau-in selalu anggap dirinya sebagai seorang ksatria, mana ia mau terima dampratan orang, maka segera ia balas mendamprat.

"Aku pengecut? Hm, beranikah, kau naik ke sini untuk adu jiwa dengan aku?"

"Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, kau sudah banyak berbuat kejahatan, tetapi kini kau tak berani menetapkan dosa sendiri dan tak berani pula terima hukuman, ini namanya apa kplau bukan pengecut?"

Debat Kam Hong-ti "Bagus kata-katamu,"

Sahut Liau-in dengan gusar.

"Hayo kita coba sama-sama ke depan kuburan Suhu, aku ingin tahu kalian ini punya kepandaian apa?"

Sekalipun Liau-in berkata dengan suara galak dan tak gentar, tetapi dalam hati sebenarnya jeri dan rada ketakutan, dengan tantangan ini ia telah menyiapkan serentet perkataan yang hendak dilontarkan nanti sebagai jalan untuk meloloskan diri.

Begitulah maka dengan menyeret tongkat segera Liau-in mendahului menuju ke depan kuburan guru mereka, ia merebut dulu tempat kedudukan yang menguntungkan.

"Begini banyak sobat dari Bu-lim yang kalian undang kemari, sekalipun mati, tidak nanti aku takut!"

Dengan tertawa dingin ia mulai melontarkan siasatnya.

"Ngaco-belo kau, kami bikin pembersihan pintu perguruan sendiri, sekali-kali tidak perlu pinjam tenaga dari luar!"

Sahut Kam Hong-ti mendamprat. Karena jawaban yang seakan-akan merupakan janji ini, hati Liau-in rada lega. Maka ia berkata pula.

"Kalian tujuh orang ini, kecuali Lu Si-nio, enam orang lainnya semua pernah mendapat ajaran silat dari tanganku, kalian berkata hendak bikin pembersihan perguruan, maka aku pun bilang hendak membersihkan pintu rumah tangga, jelek-jelek aku adalah Suheng kalian, bahkan terhitung setengah guru kalian, hari ini kalian berani berlaku kurangajar padaku, perbuatan ini sama saja seperti hendak membunuh guru, maka aku justru akan menghukum kalian dahulu, aku ingin lihat sedikit kepandaian yang kalian dapat dari ajaranku dulu, apakah kini bisa mematikan aku atau tidak!"

Demikianlah Liau-in berbalik menggugat kesalahan orang.

Menurut kebiasaan di kalangan persilatan, menghormati guru dan membela golongan adalah tugas suci, karena kebiasaan ini maka ada pameo, 'menjadi guru sehari, seperti seribu hari menjadi ayah'.

Kini Liau-in anggap dirinya 'setengah guru' orang, justru ia hendak minta para Sute yang dahulu pernah terima ajaran dari dia untuk bertanding dulu, dalam dunia persilatan memang terdapat peraturan seperti ini.

Sebenarnya keadaan Liau-in sekarang ini agak berlainan dengan peraturan itu, ia telah ingkar pesan gurunya, mengkkhianati negara dan perguruan, ini saja sudah merupakan dosa yang paling besar, jangankan para Sutenya, bahkan anak murid tingkatan lebih muda lagi juga berhak membunuhnya.

Mestinya Kam Hong-ti dan kawan-kawan boleh tidak menggubris peraturan itu, ia bisa ajak Lu Si-nio dan lain-lain mengeroyoknya, tetapi ia gemas oleh kata-kata Liau-in yang sombong dan menantang itu, seakan-akan mengatakan mereka berenam bukan tandingannya yang sembabat.

"Baiklah, supaya kau mampus dengan ikhlas, lekas katakan apa yang kau kehendaki!"

Segera Ciu Sun buka suara.

"Tetapi aku tiada sesuatu hubungan saudara seperguruan dengan kau, hari ini kau hendak menyelamatkan diriku, sungguh kau hanya mimpi belaka!"

Dengus Lu Si-nio pada Liau-in. Keruan Liau-in menjadi gusar. Segera ia mendamprat.

"Baik, jika jurus pertama aku kalah, nanti kalian boleh tentukan hukuman sesukanya bagiku, tetapi kalau aku menang, aku nanti bikin perhitungan lagi dengan kau si budak hina ini!"

Di antara sesama saudara seperguruan, Liau-in paling jeri terhadap Lu Si-nio, tetapi ia pikir jika seorang lawan seorang, pasti aku akan menang dari dia.

Karenanya lebih dulu ia pakai perkataan tadi buat mendesak keluar Lu Si-nio dari pertandingan pertama, segera pula tongkatnya yang bulat kasar berputar.

"Baiklah, hayo kamu boleh maju!"

Teriaknya lagi.

Berbareng itu dengan membawa sambaran angin, tiba-tiba ia mengemplang kepala Ciu Sun dengan pukulan mematikan!

Walau Ciu Sun menurut urutan terhitung nomor dua dari saudara seperguruannya, tetapi ilmu silatnya sebenarnya kurang kuat, ketika ia melolos senjatanya yang berupa sebuah 'kik', sejenis lembing pendek, dan menangkis ke atas, segera pula kedua lengannya dirasakan kaku kesemutan.

Melihat Suhengnya terancam, Kam Hong-ti tidak tinggal diam, dengan sekali lompat, golok di tangan kanannya dengan tipu 'Boat-hun-kian-jit' atau menyingkap awan tertampak matahari, dari samping segera ia membabat, sedang tangan kirinya berbareng hendak menggantol urat nadi Liau-in dengan gerakan 'Toa-kim-na-jiu-hoat', cara mencekal dan menawan yang lihai.

Serangan Kam Hong-ti yang kiri hanya pancingan dan yang kanan sungguh-sungguh, ia mengerti dengan serangan ini tidak nanti bisa mengenai Liau-in, tujuannya hanya untuk melindungi Ciu Sun dari desakan saja.

Sebaliknya Liau-in sangat licin, ia hindarkan yang kuat dan menggempur tempat lemah, begitu tongkatnya diangkat, lebih dulu ia bikin golok Kam Hong-ti terbentur pergi, menyusul mendadak sebelah telapak tangannya dipukulkan, kelihatannya ia menghantam Kam Hong-ti yang berhadapan dengan dia, tetapi sebenarnya ia memukul Loh Bin-ciam yang berada di sayap kiri.

Sementara itu Ciu Sun sudah berputar dan menyerang pula dari belakang, ujung senjatanya sudah hampir mengenai belakang kepala Liau-in, namun Liau-in yang berpandangan jeli dan berpen-dengaran tajam, tiba-tiba mendak ke bawah, tongkatnya berbareng diputar dan didorong ke belakang, hingga menerbitkan suara "trang"

Yang nyaring, senjata 'Hong-than-hoa-kik' Ciu Sun tergetar dan terbang dari tangannya, berbareng Liau-in masih terus memukul ke dada Loh Bin-ciam.

Melihat ancaman bahaya, Pek Thay-koan segera ikut terjun ke kalangan pertempuran, 'Hou-thau-to', golok berkepala harimau, segera membacok.

Di antara saudara seperguruan, kecuali Liau-in dan Lu Si-nio, ilmu silat Pek Thay-koan hanya berada di bawah Kam Hong-ti, maka begitu golok pusakanya berkelebat dan membelah dengan 'Boan-liong-to-hoat', ilmu permainan golok naga melingkar, seketika juga menerbitkan sinar perak yang menyilaukan di depan Liau-in.

Karena serangan ini, Liau-in dipaksa harus menarik kembali telapak tangannya untuk membela diri, kemudian dengan kepandaian 'Khong-jiu-jip-pek-yi' atau dengan tangan kosong melawan senjata tajam, ia menggempur Pek Thay-koan, sedang tongkatnya yang berada di tangan kanan ia sabetkan, berbareng ia sampuk pergi senjata lawan lain yang sedang menyerang sekaligus.

Luka Li Gwan belum sembuh, ketika ia ayun senjatanya 'Chit-ciat-pian', ruyung yang bertekuk tujuh, menyabet ke bagian kaki Liau-in, mendadak Liau-in papaki senjatanya ini dengan tongkat, keruan ruyungnya seketika melilit di atas tongkat.

"Pergi!"

Sekonyong-konyong Liau-in membentak, diam-diam ia salurkan tenaga dalamnya ke batang tongkat hingga ruyung Li Gwan tergetar putus.

Tidak kepalang kaget Li Gwan melihat ketangkasan Liau-in, lekas ia melompat keluar kalangan pertempuran.

Sementara itu Ciu Sun yang sudah menjemput kembali senjatanya, kembali menerjang maju untuk membantu Sutenya yang lain.

"Lak-te (adik keenam), kau boleh mengaso dulu!"

Seru Cho Jin-hu. Akan tetapi Li Gwan tidak gentar, ia kertak gigi.

"Kita maju dan mundur bersama, sebelum membunuh keparat ini, aku bersumpah tidak akan berhenti!"

Sahutnya dengan gregetan.

Habis itu lantas ia melepaskan ikat pinggangnya, ia putar senjatanya dengan cepat laksana naga menari kian kemari, ia menyabet dan melilit, ia lancarkan tipu-tipu serangan seperti ia memainkan ruyungnya yang lemas tadi.

Di antara saudara seperguruan, ilmu silat Li Gwan setingkat dengan Pek Thay-koan, hanya tenaganya yang rada kurang, ditambah lagi kini ia menderita luka, oleh karenanya tadi ia dipedayai Liau-in.

Tetapi sekarang ia gunakan sabuk sebagai senjata, ikat pinggang adalah benda lemas dan tidak kuatir tergetar putus, dalam hal senjata ia sudah menang, maka sambil menyerang dan berputar, walaupun tak membahayakan jiwa Liau-in, tapi sedikitnya membikin Liau-in menjadi kerepotan dan terdesak.

Di samping itu Cho Jin-hu sudah benci pada Liau-in, senjata yang dia gunakan adalah sebuah 'Thi-pi-pe', semacam alat musik berbentuk gitar terbuat dari besi, senjata ini bisa dibuat merebut senjata lawan, di dalamnya tersembunyi pula senjata rahasia, Cho Jin-hu menyerang dengan mati-matian, mau tak mau Liau-in harus berjaga-jaga juga padanya.

Pertempuran ini ternyata berlangsung dengan hebat dan sengit, Liau-in telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, tongkatnya diputar sedemikian rupa hingga membawa angin menderu-deru, dalam lingkar jarak beberapa tombak angin menyambar keras sekali, orang yang berkepandaian sedikit rendah pasti tidak tahan.

Akan tetapi Ciu Sun dan para Sutenya dalam kedudukan enam lawan satu, bisa bahu-membahu dan bantu-membantu, tidak gampang bagi Liau-in menggempur mereka satu per satu, ditambah pula Kam Hong-ti yang lihai luar biasa, tenaga pun kuat dan hanya sedikit di bawah Liau-in, dalam hal ilmu silat pun beda tidak jauh, ia dan Pek Thay-koan menggempur dari jurusan tengah, mereka lawan tongkat Liau-in dan mengurangi tekanan musuh.

Sedang Cho Jin-hu dan Loh Bin-ciam menyerang dari sayap kiri, tiap kali menghadapi bahaya segera Cho Jin-hu menekan alat senjata 'Thi-pi-pe' dan melepaskan senjata rahasia yang terselip di dalamnya, sedang Li Gwan dan Ciu Sun merangsek dari sayap kanan, mereka bekerja sama dengan rapat sekali.

Begitulah mereka berenam terbagi menjadi tiga kelompok dan mengeroyok Liau-in dengan rapat dan menghujani serangan hebat.

Para tokoh silat yang hadir menyaksikan pertarungan sengit ini, sekali-kali keadaan meningkat tegang, mereka menjadi getol dan ingin mencabut senjata ikut bertempur.

Ak«.a tetapi ini adalah urusan rumah tangga orang yang sedang mengadakan pembersihan, orang luar sekali-kali tidak boleh ikut campur tangan.

Di lain pihak, dengan tenang-tenang saja Lu Si-nio menonton dengan menyandarkan diri pada sebuah pohon, kadangkala ia pun tersenyum.

"Tampaknya Kanglam-lak-hiap tidak bisa menangkan Suheng mereka,"

Demikian Hian-hong Totiang berkata.

"babak selanjutnya yang akan maju hanya Lu Si-nio sendiri, lebih-lebih sulit buat menangkan Liau-in, paderi jahat ini mungkin bisa lolos dari kematian!"

"Jika beruntun ia menang dua kali, kita tunggu saja kalau ia turun gunung, baru kemudian mencegat dia,"

Ujar Nyo Tiong-eng.

"Kita bertujuan melenyapkan bahaya dunia persilatan, maka. tiada sangkut-pautnya dengan urusan pembersihan perguruan mereka."

Agaknya Liu Sian-gai tidak sependapat dengan percakapan kawan-kawannya itu, ia pun ikut berkata dengan tertawa.

"Locian-pwe tidak usah kuatir, sebentar lagi kita boleh saksikan Lu Si-nio turun tangan sendiri!"

Di antara Kwantang-si-hiap, hanya Liu Sian-gai yang pernah merasakan kepandaian Lu Si-nio, maka terhadap si gadis ia menaruh kepercayaan penuh.

Pertarungan ini sudah berjalan lebih satu jam, Ciu Sun berenam merasakan Liau-in sudah jauh bertambah kuat daripada dulu, sebaliknya Liau-in pun merasakan keenam Sutenya sudah jauh lebih maju.

Dalam pertempuran sengit ini perlahan-lahan jidat Liau-in sudah tampak berkeringat, napasnya pun mulai memburu dan jantungnya memukul keras, tetapi kedua belah pihak masih tetap belum bisa menentukan kalah atau menang.

"Celaka, sebenarnya aku dapat bertempur lama, tapi dalam keadaan begini tidak menguntungkan bila aku bertempur lebih lama dengan mereka,"

Diam-diam Liau-in berpikir.

Maka permainan tongkatnya segera berubah, berulang-ulang ia memberi serangan mematikan.

Dengan perubahan serangan ini, Kam Hong-ti dan Pek Thay-koan dengan sepenuh tenaga masih sanggup bertahan, tetapi empat kawannya yang lain sudah tak berani mencoba maju lagi.

Sekali Liau-in ayun tongkat, kontan ia bentur pergi semua senjata lawan, berbareng lantas membentak.

"Tahan dulu! Babak ini boleh dihitung seri saja, kedua belah pihak tiada yang kalah atau menang, kini biar aku belajar kenal kepandaian budak hina itu, aku akan lihat dalam beberapa tahun ini betapa banyak kemajuannya?"

Dengan ucapan ini, nyata ia masih anggap dirinya sebagai Suheng penjabat ketua perguruan.

Habis itu segera ia melompat keluar kalangan, dengan tongkat melintang di dada ia menatap tajam Lu Si-nio.

Dengan pertempuran tadi sungguhpun sudah banyak tenaga Liau-in yang terbuang, tapi Ciu Sun dan lain-lain pun sudah letih dan payah.

Pikir Kam Hong-ti, jika pertempuran diteruskan, meski dapat dipastikan akan menang, tetapi di antara saudara seperguruan yang lain, satu atau dua orang pasti juga akan menderita luka, bila kini pertarungan dihentikan dan dihitung seri, boleh juga.

Maka dengan berpeluk golok segera ia mundur ke belakang sebagai tanda setuju, tindakannya ini segera diikuti Ciu Sun, Pek Thay-koan dan lain-lain.

Di sebelah sana dengan senyuman yang selalu fersunting di bibirnya, Lu Si-nio melompat maju ke tengah kalangan.

Setelah Liau-in tenangkan diri, lalu ia membentak.

"Sekali ini kalau aku yang menang, masing-masing pihak tidak boleh menuntut balas."

Ucapannya ini terang bernada rasa jeri.

"Dengan segala senang hati!"

Sambut Lu Si-nio dengan tertawa.

Berbareng pedangnya lantas menusuk.

Tetapi Liau-in pun sangat cepat, dengan gerak tipu 'Hoan-kang-to-hay' atau sungai membeludak dan laut meluap, begitu tongkatnya dibalik, seketika senjata ini menyambar secara bergulung-gulung laksana ular naga.

Ciu Sun, Cho Jin-hu dan Li Gwan bertiga masih belum pernah menyaksikan kepandaian Sumoay cilik mereka, ketika melihat Liau-in mulai menyerang dengan tipu pukulan yang keji, mereka menjadi terkejut.

"Tidak apa-apa!"

Ujar Kam Hong-ti.

Dalam pada itu terdengar Lu Si-nio bersiul panjang, mendadak ia meloncat ke atas, ujung kaki kiri menginjak ke ujung tongkat orang, dengan meminjam tenaga injakan ini, tubuhnya seketika membal balik ke atas secepat burung terbang terus melayang lewat di atas kepala Liau-in, sebelum tubuhnya turun ke bawah, senjata 'Siang-hoa-kiam' berputar pula di angkasa, dengan tipu serangan LPeng-bok-kiu-siau' atau burung garuda menjulang ke langit, cepat sekali ia menusuk kepala Liau-in yang gundul itu.

Nampak gaya serangan yang manis ini, para tokoh silat yang hadir berseru memuji.

"Bagus!"

Dengan cepat Liau-in angkat tongkatnya ke atas, dengan gerak lipu 'Ki-hwe-liau-thian' atau mengangkat obor menerangi langit, ia tangkis pedang Lu Si-nio ke samping, tetapi tidak urung ia pun mandi keringat dingin saking kagetnya oleh serangan orang yang lihai tadi.

"Budak hina ini betul-betul sudah jauh lebih hebat daripada dulu!"

Diam-diam ia terperanjat oleh gaya serangan Lu Si-nio.

Sebaliknya melihat sesudah bertempur lama Liau-in masih belum tampak berkurang ketangkasannya, Lu Si-nio pun tak berani ayal, ia mainkan 'Hian-li-kiam-hoat' dengan luar biasa, pedangnya seperti pelangi yang menyambar kian kemari.

Tetapi dengan memutar tongkatnya, Liau-in dapat menggagalkan setiap serangannya, menjaga dan menyerang dengan teratur.

Setelah sekian lama pertempuran mereka berlangsung, namun keadaan masih ramai dan sama kuat.

Diam-diam Liau-in terkejut sekali, pikirnya.

"Dulu waktu ia bergebrak dengan aku, sekalipun aku tak mampu menewaskan dia, tapi terang aku berada di atas angin. Tetapi mengapa pertarungan yang sudah berlangsung tiga ratusan jurus ini, sedikitpun aku belum bisa memperoleh keuntungan? Ai, jika tahu akan begini, tadi waktu melawan mereka berenam seharusnya aku jangan banyak membuang tenaga percuma."

Agaknya Lu Si-nio mengetahui lawannya mulai keder, maka serangannya bertambah kencang.

Karena tekanan lawan yang berat, mendadak Liau-in menger-tak gigi dan membentak, permainan tongkatnya pun berubah, ia keluarkan seluruh tenaganya, tongkatnya berputar dengan rapat sekali tak tertembuskan angin maupun air, bayangan tongkatnya melebar laksana gunung membungkus sinar pedang Lu Si-nio.

Ciu Sun dan lain-lain terkejut, tampak satu sinar perak menerobos kian kemari seperti menyusur di antara beratus pohon.

Keadaan dalam kalangan pertempuran susah dibedakan mana Liau-in dan mana Lu Si-nio.

Kiranya Lu Si-nio telah menduga pada suatu waktu pasti akan menghadapi Liau-in untuk menentukan mati-hidup kedua belah pihak, oleh karena itu selain Kiam-hoatnya semakin dipelajari lebih mendalam, selama lima tahun tinggal di atas Sian-he-hia, ia telah melatih ilmu Lwekang pula, dari inti Lwekang yang ia dapat belajar dari gurunya ditambah petunjuk yang pernah diperoleh dari Ie Lan-cu, maka setelah lima tahun, Lwekangnya sudah jauh lebih maju, dibanding Liau-in kini selisih tidak banyak lagi.

Sebaliknya Liau-in tadi sudah bertempur lebih dahulu, tenaganya sudah berkurang separoh.

Yang satu berkurang sebaliknya yang lain bertambah, bukan saja dalam hal Ginkang dan Kiam-hoat Lu Si-nio berada di atas angin, bahkan dalam perbandingan tenaga dalam, ia bisa menandingi Liau-in.

Jika dulu Lu Si-nio masih kalah menghadapi Liau-in, soalnya karena Lwekangnya tidak melebihi Suhengnya ini, tapi kini tenaganya sudah setanding, Lu Si-nio sudah tidak usah kuatir lagi, ia menyerang dengan hebat secara berani.

Sebenarnya dengan kepandaian Liau-in, sekalipun berada di bawah angin, sedikitnya ia masih kuat bertahan untuk setengah harian, tetapi justru tabiatnya yang keras dan wataknya berangasan, ia bernapsu lekas merobohkan lawan dan lekas beres, maka seluruh tenaganya telah ia keluarkan untuk menggempur mati-matian, sebaliknya Lu Si-nio berlaku tenang, ia sengaja memancing orang lebih kalap, dengan demikian ia dapat balas menyerang tempat kelemahan musuh.

Setelah pertempuran berlangsung lagi, lambat-laun Liau-in mulai letih, dalam gebrakan yang sengit itu tiba-tiba terdengar suara tertawa ri.ih para tokoh silat yang menonton, saat itu juga terlihat Liau-in melarikan diri dengan menyeret tongkat, ternyata sebelah matanya telah buta kena tusukan pedang Lu Si-nio.

Ilmu entengi tubuh Lu Si-nio tinggi sekali, tidak mungkin ia biarkan orang kabur begitu saja, segera ia enjot tubuh, seketika sudah melampaui orang dan mengadang di depan Liau-in, sinar pedang berkelebat, kembali ia paksa Liau-in mundur.

Dalam keadaan kepepet, Liau-in menjadi kalap dan nekat, ia menghantam kalang-kabut bagai kerbau gila, tongkatnya menyambar dengan hebat.

"Pat-moay, awas!"

Terdengar Kam Hong-ti memperingatkan Sumoaynya demi nampak Liau-in sudah kalap.

Tetapi Lu Si-nio memang cekatan, secara tenang ia hadapi lawannya yang mengamuk itu, pedangnya seperti kupu-kupu menyusur bunga, langkahnya seperti kucing, gesit seakan hendak menerkam tikus, tubuhnya lemah gemulai seperti dahan pohon liu tertiup angin, bila Liau-in mengayun tongkatnya ke timur, ia berkelit ke barat dan begitu seterusnya.

Tetapi ia pun tidak melulu berkelit saja, di samping menghindarkan gempuran orang, dengan gerak tubuhnya yang enteng pedangnya balas menyerang.

Begitulah tengah para penonton terkesima oleh pertarungan yang hebat itu, tiba-tiba terdengar jeritan Liau-in yang mengerikan, ternyata sebelah matanya yang lain kembali ditusuk buta oleh Lu Si-nio.

Dengan hasil serangannya itu, Lu Si-nio lalu melangkah maju dan menggeraki tangannya, jika mau, pedangnya segera dapat memenggal kepala Liau-in, tapi mendadak ia berpikir, bagaimanapun juga Liau-in adalah murid tertua gurunya, pula enam Suhengnya yang lain pernah mendapat pelajaran silatnya, sepantasnya membiarkan dia mati dengan mayat yang utuh.

Karena pikiran ini, pedangnya yang sudah diulur setengah jalan tiba-tiba berubah tipu serangannya, ujung pedang mengarah ke bawah dan menutul perlahan Hiat-to di bawah iga Liau-in, tanpa ampun lagi Liau-in menjerit, mendadak tongkatnya ia timpukkan.

Timpukan tongkat sebelum ajalnya ini ternyata mempunyai tenaga yang luar biasa, begitu Lu Si-nio mengegos, tongkat itu menancap masuk ke dalam dinding baru pegunungan dan amblas tinggal ujungnya yang tertampak di luar.

Dengan ilmu silat Liau-in yang tinggi, karena jiwanya menyeleweng hingga tersesat ke jalan salah, akhirnya ia tewas secara mengerikan di depan makam gurunya, para tokoh silat yang menyaksikan tiada yang menghela napas dan mengambil kejadian sebagai contoh.

Kam Hong-ti pun teringat di waktu Liau-in mewakili sang guru mengajarkan silat padanya dahulu, ia pun menghela napas di depan kuburan gurunya.

"Kalau kau mau taat pada pesan tinggalan Suhu, tidak sampai kau mengalami nasib seperti hari ini!"

Demikian ia berkata dengan penuh penyesalan.

Kemudian setelah berunding, diambil keputusan untuk mengubur Liau-in di samping makam gurunya dan mendirikan batu nisan untuk menjelaskan peristiwa itu, supaya angkatan muda yang akan datang dapat bercermin akan kejadian ini.

Maka semua orang lantas menunjuk Lu Si-nio untuk menuliskan kisah itu di atas batu nisan.

Kanglam-chit-hiap dan pahlawan peninjau lainnya berturut-Uirut lantas meninggalkan tanah pekuburan ini dan masuk ke dalam rumah tempat tinggal mendiang Tok-pi Sin-ni.

Lu Si-nio dan Loh Bin-ciam berunding tentang tulisan di batu nisan itu, sedang Kam Hong-ti seorang diri duduk di samping dengan diam.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar di luar seperti ada suara orang, Kam Hong-ti jadi heran, Lu Si-nio pun terkejut, dengan cepat ia memburu keluar.

Waktu sampai di tanah pekuburan, keadaan ternyata sepi tiada bayangan orang, tetapi kepala Liau-in ternyata sudah lenyap.

Lu Si-nio bersuara heran, tetapi segera alisnya menegak demi nampak kepala Suhengnya yang murtad itu telah lenyap.

"Siapa begitu berani naik ke Bin-san buat mencuri kepala,"

Katanya gusar.

"Belum jauh perginya, lekas kejar ke jurusan utara!"

Ujar Kam Hong-ti setelah mendekam ke tanah buat mendengarkan. Sementara itu Pek Thay-koan, Loh Bin-ciam dengan saudara seperguruan yang lain beserta Kwantang-si-hiap juga sudah mem-buru-keluar.

"Harap Long-goat Siansu dan Goan-pa Toako suka menjaga di sini, Sam-ko dan Go-ko dengan Nyo-loenghiong meronda ke bagian selatan gunung,"

Demikian Kam Hong-ti mulai mengatur.

"Ji-ko dan Si-ko hendaklah menjaga di dalam biara, sedang yang lain ikut aku mengejar."

Kam Hong-ti adalah kawakan Kangouw, kepandaiannya mendengarkan dengan mendekam ke tanah tidak pernah meleset.

Setelah mengudak tak lama, betul saja mereka dapatkan sekelompok orang terdiri dari empat orang sedang berlari turun gunung secepat terbang.

Tanpa ayal lagi segera Lu Si-nio mempercepat langkahnya, ilmu entengi tubuhnya memang sangat tinggi, keruan seperti bintang meluncur saja ia menguber ke bawah, hanya sekejap ia sudah sampai di belakang orang-orang itu.

Tatkala ia menegasi, kiranya empat orang ini adalah Thian-yap Sanjin, Ki Pi-sia, Tang Ki-joan dan Kam Thian-liong.

Agaknya sesudah Lian Keng-hiau memaksa Liau-in memberontak, ia sendiri pun merasa tidak tenteram, dengan hati kebat-kebit ia kembali ke markasnya.

Setiba di sana ia lihat suasana dalam pasukannya ternyata lain sekali, di luar dugaannya, In Ceng, Sri Baginda yang baru naik takhta telah berkunjung ke sini, lekas Lian Keng-hiau masuk ke dalam kemah untuk menghadap.

Terhadap pekerjaan Keng-hiau yang dengan cepat telah membereskan In Te, In Ceng memberi pujian yaug sangat tinggi.

Karenanya hati Keng-hiau jadi rada lega, kemudian ia gunakan kesempatan itu pula untuk melapor.

"Liau-in anggap dirinya berjasa dan menjadi sombong,"

Demikian ia coba mengadu biru.

"Bukan saja ia tidak tunduk pada perintah militerku, bahkan di belakang ia merusak nama baik Hongsiang, katanya Hongsiang naik takhta seperti hari ini, semua karena jasanya. Aku telah omeli dia beberapa patah-kata, tapi dengan marah ia lantas pergi. Mungkin ia telah kembali ke kotaraja untuk mendahului melaporkan diriku."

Atas pengaduan ini, tampak In Ceng malahan bergelak tertawa.

"Hahaha! justru aku ingin bertemu dia!"

Keng-hiau jadi terguncang hatinya, mukanya pun putih-biru. Namun segera In Ceng mengelus pundaknya.

"Lian-tayciangkun, kau adalah saka-guruku, kau pimpin pasukan sebesar ini siang malam tanpa mengenal lelah, buat apa mesti gusar dengan manusia liar yang tidak kenal adat itu,"

Demikian ia coba menghibur, lalu dengan tertawa ia menyambung lagi.

"Dia ingin bertemu aku? Tapi mungkin sebelum bisa menjumpai aku, ia sudah tak bisa bicara lagi!"

Habis itu segera ia pangggil menghadap Thian-yap Sanjin, Ki Pi-sia, Tang Ki-joan dan Kam Thian-liong berempat.

"Kalian diberi tempo dalam sepuluh hari harus membawa kepala Liau-in ke hadapanku,"

Demikian In Ceng memberi titah.

Pada waktu seperti ini, In Ceng sedang memerlukan tenaga Lian Keng-hiau, maka ia lebih suka mengorbankan Liau-in untuk menarik hati Keng-hiau.

Begitulah maka sesudah Thian-yap Sanjin berempat berangkat, segera Keng-hiau berlutut menjura mengucapkan terima kasih.

Dengan tertawa In Ceng lantas menariknya berdiri.

"Ada urusan penting lain yang perlu kurundingkan dengan kau,"

Katanya dan mereka lantas masuk ke perumahan belakang untuk berunding secara rahasia.

Dalam pada itu, sepanjang jalan Thian-yap Sanjin berempat telah menyelidiki jejak Liau-in.

Muka Liau-in yang bengis, ditambah lagi ia adalah Hwesio, maka untuk mencari tahu jejaknya bukan soal sulit.

Meski Thian-yap Sanjin dan kawan-kawan kenal kelihaian Liau-in, tetapi mereka menduga dengan kekuatan mereka berempat masih cukup untuk melenyapkan nyawa Hwesio itu, maka dengan berani mereka terus mengejar naik ke atas Bin-san.

Di luar dugaan mereka, sesampai di atas Bin-san mereka dapatkan Liau-in sudah mati, bukan main terkejut Thian-yap Sanjin dan kawan-kawan, dalam keadaan gugup, lekas mereka potong kepala Liau-in terus kabur.

Kembali tadi sesudah Lu Si-nio menguber sampai di pinggang gunung, segera ia mencegat musuh.

"Besar sekali nyali kalian, tempat apakah sini, mana boleh kalian berkeliaran sesukanya?"

Segera ia mendamprat dengan tertawa dingin. Nampak Lu Si-nio sendirian, Ki Pi-sia berpikir.

"Semua orang bilang Kiam-hoat budak hina ini sangat lihai, biar aku menjajalnya."

Maka dengan tipu serangan 'Tau-coan-sing-hing' (bintang berputar meluncur ke samping), pedangnya mendahului menusuk dari samping.

Serangan ini disambut dengan tertawa dingin oleh Lu Si-nio, begitu pedang nona ini bergerak, mendadak sinar perak beterbangan, dengan sekali puntir perlahan, seketika tipu serangan musuh terpatahkan.

Selagi Ki Pi-sia angkat pedangnya menusuk, mendadak ujung senjata Lu Si-nio telah menusuk ke tenggorokannya lebih dulu.

Lekas Ki Pi-sia angkat pedangnya menangkis, di luar dugaan, pedang Lu Si-nio laksana ular perak meluncur ke bawah, lekas Ki Pi-sia mundur ke belakang, namun masih agak terlambat, perge-langan tangannya luka tergores, hampir saja pedangnya terlepas dari genggaman.

Nampak kawannya terancam bahaya, dari samping Thian-yap segera menyerang dengan cepat.

"Budak hina, apa hukumanmu yang telah berani membunuh Suheng sendiri?"

Berbareng Thian-yap Sanjin membentak pula.

"Peduli apa dengan kau? Lekas susul Liau-in!"

Sambut Lu Si-nio dengan gusar. Menyusul dengan cepat Lu Si-nio mengirim dua kali tusukan, ia menempur Thian-yap Sanjin dengan sengit, sedang Ki Pi-sia lantas ikut membantu, ia menyerang dari samping.

"Titik keras, banyak batu pasir, angin kencang, tarik lekas,"

Sementara terdengar Tang Ki-joan berseru dengan kata-kata rahasia yang berarti.

"Lu Si-nio susah dilawan, begundalnya banyak, dan kinipun sudah menyusul datang, tampaknya genting, lebih baik angkat kaki saja!"

Karena itu segera Thian-yap Sanjin memukul dengan tipu 'Jiu-hun-pi-pe' (tangan menyentil alat musik pi-pe), ia menggablok dengan balikan tangan.

Namun segera Lu Si-nio balas menyerang dengan tusukannya.

Ilmu silat Thian-yap Sanjin tidak di bawah Liau-in, begitu telapak tangan kirinya berubah menjadi kepalan, dengan tipu 'Sia-po-pan-lan-cing' atau langkah menubruk dan menumbuk, segera ia menerjang maju.

Ketika Lu Si-nio baliki pedangnya balas menyerang, dengan sekali tusukan pancingan, cepat Ki Pi-sia meloncat keluar kalangan.

Waktu itu Kam Hong-ti, Hian-hong Totiang dan Liu Sian-gai susul-menyusul pun sudah sampai dan melabrak lawan.

Ki Pi-sia yang baru saja menerjang keluar, tanpa terduga di-papaki Liu Sian-gai dengan memberi persen sekali ketokan cincin bajanya, keruan kepalanya sakit tidak kepalang seakan pecah, terpaksa ia harus bergebrak lagi melawan Liu Sian-gai.

Selang tak lama, pahlawan yang lain sudah memburu datang.

Melihat musuh jauh lebih banyak dan gelagat tidak menguntungkan, Thian-yap Sanjin tidak ingin lebih lama lagi terlibat dalam pertempuran, begitu kedua tangannya bergerak, tangan kiri menyanggah ke batang pedang Lu Si-nio, sedang tangan kanan lantas hendak mem'otong lengan si nona yang putih halus itu.

Serangan ini bermaksud membela diri saja, tekanannya sangat lihai, tetapi Lu Si-nio tidak gampang diingusi, begitu ujung senjatanya diputar, ia menggeser dan melangkah pergi, tiba-tiba ia ganti serangan menikam dari samping.

Justru dalam sekejap, dengan sekali berkelit dan sekali melompat, pergi, Thian-yap Sanjin telah terlepas keluar dari lingkungan sinar pedang Lu Si-nio.

Nampak ada musuh hendak kabur, berbareng Hian-hong Tojin dan Pek Thay-koan menubruk maju.

Thian-yap Sanjin menjadi kalap, ia membentak dengan tipu 'Sin-eng-bok-tho' (garuda sakti menyambar kelinci), telapak tanan kiri mencengkeram ke atas kepala Pek Thay-koan, sedang tangan kanan menarik tongkat Hian-hong, dan berbareng pula ia hindarkan tusukan pedang.

Melihat musuh sangat tangkas, baru berhadapan, dengan sekali gebrak saja beruntun sudah bisa menghindarkan rangsekan dari tiga macam senjata, bahkan masih bisa balas menyerang, Hian-hong menjadi gusar, pedang dan tongkatnya diputar bergantian, bersama Pek Thay-koan mereka mengerubuti lawannya dari kanan dan kiri.

"Tidak serahkan kembali kepala Liau-in, jangan harap kalian bisa turun dari gunung ini!"

Terdengar Lu Si-nio berseru.

Tetapi Thian-yap Sanjin bungkam saja tidak menjawab, mendadak ia baliki tangannya terus menghantam, dengan cepat ia bikin golok Pek Thay-koan terguncang pergi, lalu ia memutar tubuh untuk menghindarkan tusukan pedang Hian-hong, habis itu, dengan sekali meloncat setinggi setombak lebih, tiba-tiba ia melayang lewat di samping Hian-hong Tojin.

Lu Sian-gai cukup kenal tabiat Hian-hong yang suka unggul, oleh karena itu ia tidak ingin maju mengerubut dengan tiga lawan satu.

Tetapi kini demi nampak Thian-yap Sanjin mendesak mundur Suhengnya dengan gerak tangan 'Toa-sui-pi-jiu' yang keras, cepat ia mengudak maju dengan pedang terhunus.

Sementara itu secepat angin Thian-yap Sanjin telah kebutkan lengan bajunya, kesempatan ini dipergunakan oleh Ki Pi-sia untuk meloloskan diri terus kabur turun ke bawah gunung.

Akan tetapi dalam sekejap itu juga, Lu Si-nio tahu-tahu sudah membayangi di belakangnya, begitu sinar putih kehijauan berkelebat, ujung pedangnya mengarah ke punggung Thian-yap Sanjin.

Tapi sekonyong-konyong terdengar Thian-yap Sanjin tertawa panjang, tiba-tiba ia mengayun tangan sambil membentak.

"Awas barang mestika!"

Berbareng satu buntalan kain merah telah ditimpukkan ke muka Lu Si-nio.

Cepat nona ini menundukkan kepala sembari mengulur tangan menyambar buntalan itu.

Sementara itu ia dengar Thian-yap Sanjin telah berseru lagi.

"Budak hina, pergilah menangis saja untuk Suhengmu!"

Ketika jari tangan Lu Si-nio menyentuh isi buntalan yang bundar empuk, ia menduga pasti kepala Liau-in yang gundul, seketika jadi tertegun.

Kesempatan ini dipergunakan Thian-yap Sanjin untuk menerjang turun ke bawah gunung.

Di pihak sana, Tang Ki-joan yang mengeroyok Kam Hong-ti bersama kawannya Kam Thian-liong, ketika nampak gelagat jelek, ia pun bermaksud angkat langkah seribu, ia gunakan gerak tipu 'Boan-liong-jiau-poh' atau naga melilit melingkar langkah, laksana kitiran cepatnya ia berputar terus melingkar pergi, akhirnya ia pun bisa meloloskan diri, dengan menjatahkan diri sambil berguling-guling, dari atas bukit ia terus menggelundung ke bawah.

Di antara empat orang yang datang ke Bin-san, ilmu silat Kam Thian-liong yang paling rendah, sementara ita ia pun berpikir hendak angkat langkah seribu, akan tetapi sudah terlambat, tiba-tiba terdengar Kam Hong-ti membentak, berbareng telapak tangan membalik terus menggablok secepat kilat, baru saja Kam Thian-liong sempat berlari dua-tiga langkah, mendadak ia rasakan punggungnya seperti dipalu.

Tanpa ampun lagi ia menjerit ngeri, darah menyembur keluar dari mulutnya, ia terguling roboh dan berkelejotan di tanah.

Dalam pada ita Kam Hong-ti masih berniat mengudak musuh yang lain, namun dicegah oleh Lu Si-nio.

"Kepala Liau-in sudah didapat kembali, biarkan saja mereka merat!"

Ujar si nona.

Kam Hong-ti coba membuka buntalan yang diperoleh dari Thian-yap Sanjin, maka tertampak olehnya darah meleleh pada kepala Liau-in yang masih basah, rupanya beringas menakutkan, seketika ia jadi teringat hubungan saudara seperguruan selama ini, bahkan dulu pernah mewakili Suhu mengajarkan silat padanya, ia terharu dan meneteskan air mata.

"Sudahlah, biar kita jahit kepala ke atas tubuhnya, supaya dia mati dalam keadaan badan yang utuh,"

Katanya kemudian dengan menghela napas.

Lalu dengan mengempit Kam Thian-liong yang tertawan tadi mereka kembali lagi ke tanah pekuburan guru mereka.

Sementara itu Li Gwan dan kawan-kawan yang meronda ke jurusan selatan gunung masih belum kembali, waktu itu sudah senja, sang surya sudah terbenam, hanya sinar merah membara di langit ujung barat.

"Lihatlah di sudut langit sana awan yang merah itu!"

Tiba-tiba terdengar Hi Yang berkata. Awan merah itu memang aneh juga, sama seperti selapis tabir merah yang terbentang di ujung langit.

"Awan merah menandakan terjadinya malapetaka berdarah!"

Ujar Hian-hong.

"Mana mungkin!"

Sahut Lu Si-nio tertawa. Akan tetapi selang tak lama, awan merah itu makin lama semakin meluas, separoh di sudut langit sebelah selatan ikut merah membara.

"Ko-san terbakar!"

Mendadak Kam Hong-ti berteriak.

Ketika semua orang naik ke tempat yang lebih tinggi dan memandang, betul saja tertampak cahaya api yang menjulang tinggi di jurusan Ko-san sana.

Bin-san dan Ko-san saling berhadapan dari jauh, jaraknya kira-kira lebih tiga ratus li, maka dari Bin-san cukup terang memandang api yang berkobar di Ko-san, betapa hebat bekerjanya api dapat diduga.

Karena itu, Kam Hong-ti dan Lu Si-nio saling pandang dengan kesima.

"Dalam Siau-lim-si di Ko-san terdapat lima ratusan padri yang semuanya berilmu tinggi, mengapa mereka tidak mampu memadamkan api itu hingga api menjilat begitu hebat, sungguh aneh sekali!"

Ujar Pek Thay-koan.

"Dikuatirkan api ini sengaja dibakar oleh kerajaan Jing!"

Kata Lu Si-nio. Seketika Kam Hong-ti bergidik ngeri, tetapi segera ia cengkeram kencang Kam Thian-liong dan membentak.

"Kau adalah bayangkara istana, kau tentu tahu siapa yang menyulut api itu?"

Tapi Kam Thian-liong hanya tertawa mengejek.

"Hm, kalian sudah tahu sendiri, buat apa tanya aku lagi!"

Sahutnya menantang.

"Dengan kekuatan Siau-lim-si yang hebat itu, akhirnya terbasmi habis seperti abu yang beterbangan dan asap yang buyar! Apalagi kalian yang hanya beberapa gelintir orang saja, bisa berbuat apa? Kalau kau kenal gelagat, lekas lepaskan tuanmu!"

Kam Hong-ti menjadi murka, ia pun tertawa dingin, tiba-tiba ia menutuk ke bawah iga orang dengan dua jarinya, seketika Kam Thian-liong merasa tubuhnya seperti digigit ular kecil yang tidak terhitung banyaknya sedang menerobos ke sini dan ke sana, saking sakitnya hingga jagoan bayangkara itu menjerit-jerit.

"Mengapa kalian berani naik Bin-san mencuri kepala, lekas mengaku terus terang! Bila tidak, hm, boleh kau rasakan yang lebih hebat nanti!"

Tanya Kam Hong-ti sambil mengancam. Terpaksa Kam Thian-liong mengaku yang sebenarnya.

"Sungguh tidak nyana [n Ceng dan Lian Keng-hiau bisa begini kejam,"

Kata Kam Hong-ti dengan mengertak gigi setelah mendengar pengakuan tawanan itu.

"Sayang keparat ini terlambat datangnya, bila tidak, biar Liau-in tahu bahwa dia yang telah berkhianat dan menjual diri pada Hongte (kaisar) macam apa!"

Hendaklah diketahui bahwa meski Kanglam-chit-hiap bersama membasmi Suheng yang jahat, tapi apapun juga rasa sesama saudara seperguruan masih terdapat di antara mereka, oleh karenanya sungguhpun Lu Si-nio begitu benci pada Liau-in, waktu bertempur dan membunuhnya ia masih memberi ampun padanya dengan membiarkan Suhengnya yang murtad itu bermayat utuh.

Siapa duga justru In Ceng malah hendak mengambil kepalanya, kekejaman ini sudah tentu membikin para pahlawan merasa gusar sekali.

Begitulah setelah Kam Thian-liong habis menutur, segera Kam Hong-ti menjambret dia dan diangkat, terus dilemparkan ke dalam jurang.

"Kejahatan Liau-in sudah bertumpuk-tumpuk, mati dengan mayat tidak utuh, hal inipun akibat perbuatannya sendiri,"

Ujar Lu Si-nio. Karena memahami perasaan Kam Hong-ti, ia mengerti Su-hengnya ini rada gegetun dan sayang akan kematian Liau-in, maka sengaja ia mengeluarkan kata-kata menghibur.

"Sungguhpun begitu, tapi kalau membiarkan keparat In Ceng mengambil kepala Liau-in, betul-betul aku tidak rela,"

Sahut Kam Hong-ti.

"Chit-ko jangan kesal,"

Kata Lu Si-nio tersenyum.

"Aku bersumpah pada suatu hari pasti akan memenggal kepala In Ceng untuk dibuat sembahyang di hadapan makam Suhu."

Nampak Sumoaynya ini berkata dengan penuh semangat dan berkeras hati, diam-diam Kam Hong-ti mengaguminya.

Sementara itu api yang berkobar di jurusan Ko-san sana makin lama semakin hebat, dipandang dari jauh seperti ular panjang merah melilit Ko-san beberapa kali lingkaran.

"Sam-ko dan Lak-te mengapa masih belum kembali?"

Tiba-tiba Pek Thay-koan berkata dengan kuatir.

Memang hubungan antara Pek Thay-koan dengan Li Gwan biasanya paling rapat, ia tahu Sutenya itu terluka pundaknya oleh pisau berbisa dan masih belum sembuh betul, ditambah habis me-nempur Liau-in secara sengit, maka ia kuatir Sutenya mengalami lain-lain kejadian lagi.

"Go-ko tak usah kuatir, bukankah itu mereka sudah kemba-li?"

Kata Lu Si-nio dengan tertawa sambil memandang jauh ke sana.

"Eh, mengapa bertambah seorang lain?"

Yang meronda ke selatan gunung sebenarnya hanya Nyo Tiong-eng, Loh Bin-ciam dan Li Gwan bertiga, tetapi kini terlihat dari lereng gunung sebelah kiri muncul empat orang.

"Aneh, siapa lagi yang datang?"

Kam Hong-ti heran juga. Dalam sekejap saja empat orang itu sudah datang mendekat.

"He, It-biau Taysu, kau datang juga? Bagaimana dengan Cay-khoan?"

Segera Lu Si-nio menyapa.

Memang orang yang baru datang ini bukan lain adalah It-biau Hwesio, tiba-tiba ia duduk mendeprok dengan lemas, seketika ia tak bisa membuka suara.

Ketika Lu Si-nio mengamat-amati mukanya, kembali ia berseru.

"He, mengapa kau terluka, untung luka tidak berat. Chit-ko, harap kau bikin lancar jalan darahnya!"

Kiranya hari itu, sesudah Pang Ing meninggalkan taman keluarga Lian, ia bertanya dan mengetahui Bin-san tidak lebih hanya beberapa ratus li saja dari Tanliu, ia ingat pesan gurunya, maka ia ingin meninggalkan tulisan di atas pohon di samping makam Tok-pi Sin-nio untuk Lu Si-nio, karenanya ia pun menuju ke jurusan Bin-san.

Sepanjang jalan ia berpikir.

"Nama Lu Si-nio sudah tersohor, bahkan Suhu sendiri memuji ilmu pedangnya, kalau aku dapat bertemu dengan dia, jangan aku lepaskan kesempatan meminta petunjuk dari dia."

Pada hari itu juga, ia sampai di Bin-san.

tetapi keadaan sudah magrib, ia lantas mendaki gunung itu dari sebelah selatan.

Tetapi baru saja ia memasuki pegunungan itu, mendadak dari tebing sebelah atas menubruk turun seorang terus mencaci-maki padanya.

"Ha, kau penjahat wanita ini ternyata berani datang ke Bin-san! Hayo dimana kau punya Hui-to? Coba unjukkan sekali lagi!"

Begitulah dengan mendamprat orang itu pun mengayun tali ikat pinggangnya, dengan gerak tubuh yang cepat terus menyerang padanya.

Di belakang orang ini masih ada pula seorang tua dan seorang pemuda.

Ketiga orang ini bukan lain adalah Li Gwan, Loh Bin-ciam dan Nyo Tiong-eng yang bertugas meronda di selatan gunung.

Harus diketahui, sebagai salah seorang dari Kanglam-chit-hiap, tujuh pendekar dari daerah Kanglam, belum pernah Li Gwan dipecundangi orang, karenanya pada waktu disambit Hui-to oleh Pang Lin, ia anggap sebagai satu penghinaan terbesar baginya.

Justru ia sedang berpikir bila urusan di Bin-san sudah beres, ia hendak pergi menyelidiki asal-usul Pang Lin untuk membalas dendam timpukan belati itu.

Di luar dugaan kini ia kepergok Pang Ing, si kakak dari kedua dara kembar, ia mengira Pang Lin yang telah masuk jurang sendiri, ular memapaki penggebuk, keruan ia tidak mau melepaskan begitu saja.

Begitulah ketika Pang Ing dicaci maki tak keruan, ia menjadi bingung.

Sementara itu Li Gwan telah mengayun tali ikat pinggangnya, dengan cepat menyabet dan hendak melilit tangan Pang Ing.

Namun dengan gampang Pang Ing dapat menghindarkan serangan itu sambil bertanya.

"He, apa yang kau katakan? Siapa kau?"

Tetapi dengan cepat Li Gwan menubruk maju pula, ia mainkan tali ikat pinggangnya seperti menggunakan ruyung, kembali dengan tipu 'Tiang-coa-jiau-jiu' atau ular panjang melilit pohon, segera ia menyabet ke pinggang Pang Ing sembari mendamprat pula, 'Penjahat cilik yang berhati keji, sekalipun kau jadi abu, aku pasti akan mengenal kau!"

Ilmu silat Li Gwan tidak di bawah Pek Thay-koan, ditambah ia sedang murka, tipu-tipu serangan yang ia keluarkan cepat sekali dan keji, maka sesudah Pang Ing berkelit beberapa kali.

hampir saja pinggangnya disabet sabuk orang.

"Kurangajar, kau begini tidak kenal aturan, jangan sesalkan aku,"

Damprat Pang Ing kemudian, akhirnya ia naik darah juga, segera ia pun melolos pedangnya.

Begitu serangan Li Gwan mengenai tempat kosong, tiba-tiba ia rasakan di belakang kepalanya menyambar angin tajam, ternyata lawan sudah melingkar ke belakang terus menusuk, lekas Li Gwan menggeser pergi dan berkelit.

Tapi belum sempat berpaling, ia lihat ujung pedang musuh kembali mengarah tenggorokannya, cepat Li Gwan ayun sabuknya ke depan dengan maksud membelit pedang di tangan Pang Ing.

-Di luar dugaan, ilmu pedang Pang Ing adalah ajaran asli dari Thian-san, beruntun dua kali serangan ke kanan dan ke kiri, bukan saja Li Gwan tak dapat melibat pedangnya, bahkan senjata lawan masih menerobos kian-kemari di antara lingkaran sabuknya yang diputar, bahkan tiap tusukan pedangnya tidak pernah meninggalkan tempat berbahaya.

Sekalipun Li Gwan tidak menderita luka juga bukan tandingan Pang Ing, apalagi luka di pundaknya masih belum sembuh, ditambah ia habis menempur Liau-in.

Nampak saudara seperguruannya terdesak, Loh Bin-ciam tidak bisa tinggal berpeluk tangan, segera ia cabut goloknya terus maju membantu.

Di lain pihak Nyo Tiong-eng pun sedang terheran-heran, pikirnya dalam hati.

"Anak dara ini mengapa begini lihai, jauh lebih kuat daripada budakku itu (maksudnya putrinya, Nyo Liu-jing)!"

Sementara Li Gwan dan Loh Bin-ciam berdua mengeroyok seorang lawan masih tetap banyak bertahan daripada menyerang, mereka tetap berada di bawah angin.

Setelah agak lama, mendadak Loh Bin-ciam ganti ilmu permainan goloknya, ia melangkah menurut hitungan Pat-kwa, dengan tipu serangan 'Sin-liong-toat-kah' atau naga sakti membersihkan sisik, goloknya membacok ke pundak musuh.

Tetapi Pang Ing segera balas menyerang dua kali, ia pun rada heran karena senjatanya tak bisa membentur golok orang.

Kiranya selama hidup, Tok-pi Sin-ni mempelajari intisari ilmu silat, boleh dikata delapan belas macam senjata, tiada satu pun yang tidak dipahaminya.

Oleh karena itu senjata yang dipakai tiap muridnya tidak sama, bahkan masing-masing mempunyai kepandaian sendiri-sendiri.

Loh Bin-ciam memperoleh pelajaran 'Pat-kwa-ci-kim-to-hoat', ilmu permainan golok yang dijalankan menurut hitungan Pat-kwa, dalam keadaan menjaga diri dapat pula berbareng menyerang, khusus dipergunakan bila bertemu tandingan tangguh.

Begitulah setelah Pang Ing memberi beberapa kali serangan masih belum berhasil, akhirnya ia jadi tak sabar, begitu permainan pedangnya berubah, segera ia memainkan 'Si-mi-kiam-hoat' yang paling hebat dari Thian-san-kiam-hoat.

Walaupun ilmu permainan golok Loh Bin-ciam cukup hebat, tetapi bagaimanapun juga masih belum bisa memadai Thian-san-kiam-hoat yang ajaib, lebih-lebih 'Si-mi-kiam-hoat' dari Thian-san-kiam-hoat itu tiada habis perubahannya, tiap tipu serangan tersembunyi pula perubahan serangan lain.

Untuk zaman ini yang bisa menandinginya hanya 'Hian-li-kiam-hoat' warisan Tok-pi Sin-ni, kecuali Lu Si-nio sondiri, tujuh saudara seperguruannya yang lain tiada yang pernah mempelajarinya, karena waktu mereka belajar, Tok-pi Sin-ni sendiri belum berhasil meyakinkan 'Hian-li-kiam-hoat'.

Begitulah, maka Loh Bin-ciam dan Li Gwan menjadi kalang-kabut oleh rangsekan ilmu pedang Pang Ing.

Melihat gelagat jelek, Nyo Tiong-eng tidak pikir panjang lagi, segera ia ambil peluru dan gendewanya, dengan cepat dan susul-menyusul ia bidikkan beberapa buah pelurunya.

Nyo Tiong-eng dijuluki orang 'Thi-cio-sin-tan' atau telapak tangan besi peluru ajaib, maka dalam hal kepandaian membidik peluru dengan sendirinya luar biasa.

Sementara itu Pang Ing sedang memainkan pedangnya dengan cepat, ketika melihat Nyo Tiong-eng menggunakan senjata rahasia, dalam hati ia merasa geli.

"Aku punya Si-mi-kiam-hoat tidak ter-tembuskan air, hanya pelurumu yang kecil ini bisa berguna apa!"

Karena itu, ia hanya memperkencang pedangnya, ia tetap mencecar Li Gwan dan Loh Bin-ciam, sama sekali tidak ambil perhatian pada peluru yang dibidikkan Nyo Tiong-eng tadi. Di luar perhitungannya.

"trang" , tiba-tiba ia merasa ujung senjatanya terguncang, genggaman tangan Pang Ing pun terasa kesakitan, serangannya meleset semua, karena itu memberi kesempatan golok Loh Bin-ciam dan sabuk Li Gwan untuk menyerang berbareng! Kiranya ilmu pedang yang dimainkan Pang Ing meski hebat sekali dan memang betul tak dapat ditembus oleh peluru Nyo Tiong-eng, tapi apapun juga keuletan Pang Ing masih rada kurang, peluru Nyo Tiong-eng yang ajaib bukan saja kejituannya, bahkan tenaga pun luar biasa besarnya, jika tidak, mana bisa kepandaiannya membidik peluru disebut nomor satu di jagat ini? Tetapi masih untung pedang yang dipakai Pang Ing adalah pedang pusaka, oleh karenanya tidak sampai terbidik gumpil oleh pelurunya. Pang Ing terkejut sekali oleh bidikan peluru orang, syukur peluru yang dibidikkan Nyo Tiong-eng hanya serentetan saja, habis itu berhenti, maka waktu kemudian Loh Bin-ciam dan Li Gwan menyerang pula, Pang Ing sudah sempat berganti napas dan bisa menandingi pula dengan pedangnya. Kalau Pang Ing terkejut, sebaliknya Nyo Tiong-eng lebih terkejut dari dia. Peluru sakti Nyo Tiong-eng sudah tiada tandingannya di kolong langit, tetapi kini sebutir saja tak bisa menembus penjagaan orang, ia hanya mendengar suara nyaring riuh, ia menduga peluru besinya tentu pecah terbelah oleh pedang pusaka orang. Mestinya ia tidak perlu heran jika lawan adalah tokoh kenamaan seperti Liau-in, Kam Hong-ti atau Thian-yap Sanjin, tapi musuhnya kini hanya seorang dara cilik yang berusia belasan tahun saja! Nyo Tiong-eng tidak tahu bahwa Pokiam yang dipakai Pang Ing adalah Toan-giok-kiam ditambah ilmu pedangnya yang hebat, barulah ia dapat menahan serangannya. Sementara itu karena bidikan peluru sudah berhenti, kembali Li Gwan dan Loh Bin-ciam terdesak lagi hingga terpaksa harus main mundur terus.

"Nyo-locianpwe, lekas bidikkan peluru lagi!"

Seru Li Gwan kewalahan.

Betul juga Nyo Tiong-eng lantas menarik busurnya melepaskan peluru.

Begitulah secara bergantian membidik dan berhenti, Li Gwan dan Loh Bin-ciam baru bisa menandingi rangsekan Pang Ing.

Selang tak lama, peluru Nyo Tiong-eng yang berjumlah 64 butir sudah hampir habis dibidikkan, tetapi Pang Ing masih belum bisa mereka kalahkan.

Nyo Tiong-eng adalah pemimpin kalangan persilatan dari lima propinsi daerah utara, maka ia tidak ingin ikut mengeroyok seorang gadis cilik.

Apalagi sesudah menyaksikan ilmu pedang Pang Ing, meski ia tidak kenal namanya, tapi diam-diam ia pun merasa kagum, karena itulah timbul rasa sayangnya pada kepandaian orang, segera ia berseru.

"Tempat ini adalah makam suci Tok-pi Sin-ni, hari ini para pahlawan dari Bu-lim sama berziarah ke sini, mana boleh kau naik gunung dengan membawa pedang? Lekas kau enyan dari sini!"

Dengan perkataan ini ia memberi tanda agar Pang Ing boleh pergi saja. Di luar dugaan, Pang Ing yang berada di atas angin, bukannya mundur teratur, sebaliknya ia menjadi naik darah. Pikirnya.

"Suhuku sendiri pun tidak berlagak semacam kau ini, tapi kau tua bangka ini berani membentak aku?"

Pedangnya segera diperkencang dan serangan semakin gencar.

Dalam pertarungan hebat itu, terdengarlah suara terputusnya logam, ternyata golok Loh Bin-ciam 'Pat-kwa-ci-kim-to' ditabas kutung menjadi dua oleh Pokiam Pang Ing.

Terkejut sekali Nyo Tiong-eng atas kejadian itu, ia tidak pikirkan kedudukan dirinya lagi, dengan gendewa bajanya segera ia melompat maju hendak menolong.

Namun sebelum ia sampai di tengah kalangan, tertampak Loh Bin-ciam terdesak oleh Pang Ing hingga mepet ke pinggir tebing gunung bahkan tertampak Loh Bin-ciam berusaha berkelit dengan mengganti beberapa gerakan, namun selalu terdesak dan tak mampu lolos dari kurungan sinar pedang musuh.

Sebenarnya tujuan Pang Ing tidak hendak menewaskan Loh Bin-ciam, ia hanya dongkol tanpa sebab dirinya dihina dan dikeroyok, oleh sebab itu ia hanya ingin memberi sedikit peringatan pada mereka.

Dalam keadaan kuatir, seketika Nyo Tiong-eng menghamburkan tiga butir pelurunya yang masih ada, karena itu Pang Ing jadi rada terganggu dan merandek sejenak, pada saat itu juga mendadak dari bawah tebing meloncat naik seorang.

"Tolong, It-biau Taysu!"

Terdengar Loh Bin-ciam berseru demi mengenali siapa orang yang baru datang ini.

Hwesio yang baru tiba ini segera mengirim kepalan menjotos, tapi tahu-tahu ia sendiri menjerit terus melayang pergi sejauh lebih setombak, Pang Ing pun berseru, lalu seperti layang-layang putus benangnya, ia kabur ke bawah gunung.

Hwesio yang baru datang ialah It-biau Taysu, dengan Kang-lam-chit-hiap adalah sobat karib, ketika mendengar seruan Loh Bin-ciam minta tolong, segera ia menerjang maju, ia lihat Pang Ing hanya seorang gadis cilik, maka tanpa pikir kelihaian musuh, lebih dulu ia menolong kawan, dengan gerak tipu 'Pay-san-un-ciang' atau mendorong gunung dengan telapak tangan, segera ia memukul ke depan, sekalipun tenaga yang dia pakai sangat besar, tetapi penjagaan sendiri pun menjadi luang, Kiam-hoat Pang Ing sudah sangat bagus, tahu-tahu ujung pedangnya menusuk sampai di bawah teng-gorokan It-biau.

Untung Pang Ing tidak berniat mencelakai orang, maka begitu It-biau berusaha berkelit mundur, sekalian ia lantas melencengkan senjatanya dan hanya menusuk pundak It-biau saja, tetapi tidak urung Pang Ing sendiri pun terguncang oleh tenaga pukulan lawan yang keras hingga tak mampu menahan diri, tubuhnya melayang ke bawah.

Demikianlah tadi, tatkala Lu Si-nio nampak It-biau Hwesio terluka, ia merasa heran, sebab ia mengenal kepandaian It-biau yang tinggi dan boleh diandalkan.

"Apakah ada musuh tangguh telah datang?"

Ia bertanya pada Nyo Tiong-eng.

"Justru adalah si budak liar yang kita temukan di Hangciu dahulu itu,"

Kata Lob Bin-ciam dengan gemas.

"Hm, sungguh keji sekali budak liar ini."

"Belati berbisa yang melukai aku itupun perbuatan budak liar ini,"

Li Gwan ikut berkata.

"Belum pernah aku tahu dia, tapi tindakannya sungguh keji, umurnya masih semuda itu, bila kelak sudah dewasa, tentu akan merupakan bahaya bagi kalangan Bu-lim, Pat-moay, mumpung dia belum tumbuh sayap, kita lenyapkan dia saja!"

Seperti diketahui, begitu sampai di Bin-san, segera Li Gwan ikut menempur Liau-in bersama saudara seperguruannya, maka ia belum sempat menceritakan kejadian terlukanya itu.

Kini setelah Lu Si-nio mendengar penuturannya, ia pun rada heran, pikirnya.

"Sungguhpun ilmu silat Pang Lin tidak bisa dibilang rendah, tetapi kalau ia bisa melukai It-biau Taysu, inilah susah dipercaya, sejak di Hangciu sampai kini belum ada setahun, mana mungkin kepandaiannya sudah maju begitu pesat?"

Selagi ia hendak buka suara, tiba-tiba It-biau sudah berdiri lebih dulu dan berkata dengan tersenyum.

"Anak dara ini tidak keji, Loh-heng d

Keruan semua orang kaget tercampur heran oleh perkataan ini.

Mereka tidak mengerti, It-biau sendiri dilukai, tapi ia sendiri pula menjadi pembela nona cilik itu.

Tetapi segera perkataan It-biau diperkuat oleh Kam Hong-ti.

"Kalau melihat keadaan luka It-biau Taysu, anak dara ini memang bukan manusia yang keji,"

Kata Hong-ti.

"Bagaimana bisa begitu?"

Tanya Li Gwan terheran-heran.

Untuk membuktikan perkataannya maka It-biau Hwesio lantas membuka baju luarnya, ia unjukkan luka di pundaknya, maka tertampak di tepi 'Pi-pe-kut', yakni miang di atas pundak, terdapat satu goresan luka yang enteng, dimana yang terkena ujung pedang, di tempat 'Thong-hay-hiat' masih ketinggalan satu titik merah sebesar kepala paku.

'Thong-hay-hiat' adalah salah satu bagian yang terpenting di lubuh orang, oleh karena itu begitu kena tertutul pedang, darah seketika terbeku, maka tadi Kam Hong-ti memijat untuk membantu menjalankan darahnya.

"Begitu turun tangan sudah menusuk ke tempat yang berbahaya, apa ini masih kurang keji?"

Ujar Li Gwan dengan penasaran.

"Ilmu pedang anak dara yang hebat ini, boleh dikata belum pernah aku saksikan selama ini,"

Tutor lt-biau pula.

"Tentunya ia telah bisa melebur pedang dengan pikirannya, maka ia bisa sesukanya menggunakan pedang dan mengarah tempat yang berbahaya. Tetapi jelas ia tidak sengaja hendak menewaskan aku, coba pikir, ujung pedangnya tadi sudah mengenai 'Pi-pe-kut' di pundakku, asal ia gunakan sedikit tenaga lagi, bukankah tulangku akan putus? Dan tentu pula, Li-heng kini sudah menjadi orang cacat."

Setelah dipikir, Loh Bin-ciam merasa betul juga apa yang diuraikan It-biau Hwesio, pikirnya.

"Dengan ilmu pedang anak dara itu, memang dapat ia cukil putus miang pundak It-biau Taysu. Bukan saja begitu, bila kini diingat kembali, tadi ia pun banyak memberi kelonggaran padaku, beberapa kali mestinya bisa melukai aku."

Begitulah, maka ia pun heran dan tidak habis mengerti.

"Sudahlah, tidak peduli ia kejam atau tidak, sekali-kali kita tidak dapat mencelakai dia,"

Akhirnya Lu Si-nio berkata dengan tertawa.

"Mengapa Pat-moay mau membiarkannya? Siapakah dia?"

Tanya Li Gwan.

"Mungkin ia ahli waris le-locianpwe dari Thian-san, mungkin pula ia adalah murid Siang-mo!"

Sahut Lu Si-nio.

"Aneh, bagaimana bisa begitu?"

Tanya Loh Bin-ciam terheran-heran. Dan selagi Lu Si-nio hendak menceritakan apa yang pernah ia dengar dari Teng Hiau-lan, ketika ia menatap It-biau Hwesio, tiba-tiba ia urung bercerita.

"Mengapa Pat-moay tak jadi menerangkan?"

Tanya Bin-ciam.

"Cerita ini terlalu panjang,"

Sahut Si-nio dengan tertawa.

"It-biau Taysu datang dari jauh, tentu mempunyai urusan penting, marilah kita dengarkan cerita It-biau Taysu lebih dulu."

"Aku pun tiada urusan penting, hanya karena sudah lama kau belum kembali, maka Cay-khoan suruh aku kirim surat untukmu,"

Tutur It-biau.

"Kalau begitu apa kini hanya ia sendiri yang tinggal di Sian-he-nia?"

Tanya Lu Si-nio rada kuatir.

"Ya, kemajuan Cay-khoan sungguh pesat sekali,"

Tutur It-biau pula.

"bukan saja ia bisa berjalan sesukanya, bahkan Lwekangnya pun mulai kuat dasarnya. Kini ia sudah tak perlu perawatan orang lain lagi!"

"Ia belum pernah turun gunung bukan?"

Tanya Si-nio pula.

Ia cukup kenal tabiat Cay-khoan, ia percaya bila kekasihnya ini tiada urusan penting, tidak nanti ia kirim It-biau Hwesio buat mencari dirinya, oleh karenanya ia sangsi kekasihnya telah turun gunung dan bertemu dengan seseorang tokoh.

Tetapi segera It-biau mengeluarkan sepucuk surat dan disodorkan pada Lu Si-nio sambil berkata.

"Ia belum pernah turun gunung, hanya bulan yang lalu, seorang sanak keluargamu yang bernama Lu Goan datang mencari padanya."

Tadinya Lu Si-nio tersenyum simpul, tetapi demi sudah habis membaca surat tadi, mendadak mukanya menjadi pucat lesi.

Ternyata isi surat kekasihnya itu memberitahu padanya bahwa setelah kaisar baru naik takhta, seketika juga mengirim bala tentara menangkap semua sanak keluarga Lu Liu-liang, hanya Lu Goan saja seorang yang bisa menyelamatkan diri.

Bukan itu saja, bahkan semua karya pujangga itu telah dirusak dan dibakar habis, yang lebih kejam lagi adalah sampai kuburan Lu Liu-liang dan Lu Po-tiong juga telah dibongkar, jenazah mereka dihancur-leburkan.

Lu Goan beruntung bisa menyelamatkan diri, ia pergi ke Sian-he-nia, tapi tidak dapat menjumpai Lu Si-nio, di situ ia hanya bertemu Sim Cay-khoan dan memberitahukan semua kejadian itu.

Cay-khoan kenal tabiat It-biau Hwesio yang keras dan berdarah panas, ia mengerti jika hal itu sampai diketahuinya, padri ini tanpa menghiraukan jiwa sendiri pasti akan datang ke penjara buat merampas tawanan, bila terjadi hal ini, bukan saja tiada faedahnya, bahkan membikin urusan bisa lebih runyam, oleh karenanya setelah Cay-khoan berpikir pergi datang, ia putuskan tetap menutup rahasia, .

ia hanya meminta It-biau suka mengantar surat pada Lu Si-nio.

Begitulah maka demi nampak muka Lu Si-nio berubah pucat tadi, segera pula It-biau bertanya.

"Apakah yang dikatakan Cay-khoan dalam surat itu?"

Si-nio tidak menjawab, ia hanya menyodorkan surat itu supaya dibacanya sendiri, di samping itu segera ia melolos pedang, dengan sekali bacok, ia potong sebuah batu besar di sampingnya hingga terbelah menjadi dua.

"Jika sakit hati ini tidak kubalas, aku bersumpah tidak akan jadi manusia!"

Dengan mengembeng air mata ia bersumpah dengan perasaan gusar. Sementara itu berturut-turut Kam Hong-ti dan lain-lain juga sudah membaca surat Sim Cay-khoan itu.

"Kalau demikian keadaannya, marilah kita berangkat bersama!"

Kam Hong-ti berkata.

Keesokan harinya, para pahlawan itupun meninggalkan Bin-san, setelah perasaan duka Lu Si-nio rada berkurang, ia baru menuturkan cerita yang ia dengar dari Teng Hiau-lan tentang kedua dara kembar itu.

"Jika begitu, roman muka Pang Ing dan Pang Lin tentu mirip sekali, yang aku temukan itu entah si kakak atau si adik?"

Kata Li Gwan akhirnya.

"Teng Hiau-lan sendiri tidak bisa membedakan mereka, jangankan kita,"

Ujar Lu Si-nio.

"Hendak membedakan mereka hanya ada satu jalan, ialah si kakak berkepandaian lebih tinggi,"

Kata Kam Hong-ti.

"Tetapi bagaimana kalau ilmu silat si adik nanti pun maju pesat?"

Kata It-biau Hwesio.

"Kalau begitu, tentu susah lagi membedakan mereka!"

Sahut-Kam Hong-ti.

"Dan dimana Teng Hiau-lan sekarang?"

Tanya It-biau pada Lu Si-nio.

"Kini ia sedang merawat lukanya bersama Cap-ji-ci Biau-jiu-sin-thau Tan Tek-thay di lembah Swat-han-kok,"

Jawab Si-nio.

"Si keparat In Ceng ini memang keji, belum beberapa bulan ia naik takhta, ia sudah membikin padat penjaranya, bahkan Siau-lim-si telah musnah oleh apinya!"

Kata It-biau.

"Apa kau lewat di Ko-san?"

Tanya Hong-ti.

"Di tengah jalan aku lihat pasukan Lian Keng-hiau berangkat menuju Ko-san, terpaksa aku memutar kemari,"

Tutur It-biau.

"Setelah itu, tidak lama aku lihat api berkobar di atas Ko-san, kelima ratus padri Siau-lim-si semuanya memiliki kepandaian tinggi, jika mereka terjebak sekaligus, ini betul-betul malapetaka yang belum pernah terjadi di kalangan Bu-lim!"

Dalam pada itu Kam Hong-ti jadi teringat pada waktu dahulu ketika ia mengantar In-hong Hwesio naik ke Ko-san, di safia ia mendengar dari Bu-cu Siansu yang meramalkan Siau-lim-si bakal mengalami bencana besar.

"Bu-cu Siansu yang berilmu dan bisa memandang jauh sebelumnya, harap saja ia bisa lolos dari malapetaka ini,"

Katanya kemudian.

Dari tempat sejauh tiga ratus li para pahlawan memandang ke arah Ko-san, mereka lihat api yang menjilat-jilat masih berkobar, tanpa tertahan mereka menghela napas panjang.

Kembali berceritera mengenai diri Pang Ing, sesudah ia kabur turun dari Bin-san, pikirannya penuh pertanyaan, ia merasa kejadian yang dialami sejak ia turun dari Thian-san, semuanya sangat aneh sekali.

Pernah tanpa sebab di tengah jalan ia bertemu serombongan orang mengudak dirinya, Lian Keng-hiau menyangka dia sebagai seorang nona yang lain, sedang kini pemuda yang diketemukan di atas Bin-san yang menggunakan tali ikat pinggang sebagai senjata tadi, menuduh dirinya pernah melukainya dengan belati berbisa, entah apa sebabnya?

Begitulah Pang Ing menjadi bingung, setelah dipikir pergi datang, ia berkata dalam hati.

"Apakah mungkin di muka bumi ini terdapat pula seorang gadis yang rupanya mirip dengan aku?"

Ketika ia melintasi sebuah sungai kecil, ia coba bercermin di permukaan air sungai, ia lihat bayangan orang di dalam air tidak ter-hingga cantik moleknya, sampai ia sendiri terpesona.

"Aku tidak percaya di muka bumi ini terdapat pula seorang yang serupa ini!"

Demikian ia menggumam sendiri. Dengan rasa bimbang ia ganti haluan dan menuju ke Tanliu lagi, ia ingin mendatangi rumah keluarga Lian pula, ia harus menyelidik semua ini hingga jelas.

"Apa mungkin di muka bumi ini terdapat pula seorang yang rupanya sangat mirip dengan aku? Ah, aku tidak percaya di muka bumi ini terdapat pula seorang serupa aku ini!"

Demikian pula pada saat itu, Pang Lin, si adik dari kedua dara kembar itupun sedang berpikir dengan ragu-ragu.

Malam itu sesudah ia meloloskan diri melalui pintu rahasia dinding berlapis dalam kamar Lian Keng-hiau, kemudian ia dapat mencuri seekor kuda, lalu malam-malam melarikan diri dari Tanliu, teringat pada Li Ti yang menyangka dia sebagai murid Ie Lan-cu, pemuda itu selalu memanggil padanya sebagai "Eng-moay" , sedang Lian Keng-hiau begitu datang lantas bertanya apakah dia pernah keluar dari taman itu, malah bilang di tengah jalan telah melihat dia berkelahi dengan Siang-mo.

Kalau begitu tampaknya masih ada seorang pula yang mirip sekali dengan diriku?

Begitulah tanpa terasa Pang Lin pun bercer-min ke permukaan air, ia sesalkan diri sambil memandangi bayangan yang berada di dalam air itu.

"Aku adalah aku, di bumi ini hanya ada seorang aku, mana mungkin ada dua Pang Lin!"

Demikian ia berteriak sendiri.

Sebenarnya ia hendak kembali ke rumah keluarga Lian buat menyelidiki lagi, tapi karena jeri pada Liau-in, akhirnya ia batalkan niatnya terus menuju ke depan dengan perasaan bingung dan tanpa arah tujuan.

Pada suatu hari, tengah Pang Lin melanjutkan perjalanan, tiba-tiba ia lihat di depan ada seorang menunggang kuda putih, penunggang kuda itu adalah seorang wanita muda memakai mantel merah tua.

Kudanya putih mantelnya merah, sungguh dua warna yang sangat menyolok.

Ketika Pang Lin memandang lagi, ia lihat pada pinggang wanita itu tergantung pedang, malah terdapat pula kantong kulit wadah senjata rahasia, ia menduga wanita itu tentu orang yang pandai ilmu silat.

Melihat keadaan orang, Pang Lin berpikir, sejak aku mengembara kian kemari, belum banyak aku temukan wanita yang pandai ilmu silat, entah sampai dimana kepandaian orang ini?

Karena ingin tahu, segera Pang Lin bedal kudanya dan menguntit di belakang wanita muda itu.

Ketika mendengar di belakangnya ada suara derapan kuda lain, nona itu menoleh ke belakang, ia melotot sekejap pada Pang Lin.

Pang Lin dapat melihat wajah orang dengan alis lentik seperti bulan sabit, matanya jeli dan bibirnya kecil rada menjengkit sedikit, cantik, tetapi sikapnya rada sombong, angkuh, di antara cantiknya seperti ada yang tak sesuai dan membikin orang merasa tidak suka.

Karena jemu pada sikapnya itu, ketika dipelototi, Pang Lin pun balas melotot.

Karena ini, tiba-tiba nona itu mendengus dengan sikap yang menghina, habis itu ia mencambuk kudanya terus membedal pergi dengan cepat.

Sejak kecil hingga besar Pang Lin tinggal di dalam istana, senam orang suka memuja dan memanjakan dia sebagai mestika, mana pernah ia mend.ipat hinaan seperti tadi?

Keruan ia menjadi gusar.

Diam-diam ia berkata.

"Wanita ini betul-betul tak kenal kesopanan. Baik, justru aku ingin menguntit dia terus, sengaja aku bikin jengkel dia."

Nyata Pang Lin tidak menyadari bahwa dirinya kini menyamar sebagai pria, waktu orang masih menguntit, nona tadi menyangka Pang Lin bermaksud jahat, oleh sebab itu ia menjadi marah.

Jika nona ini adalah wanita biasa, tentu tidak menjadi soal, justru karena nona ini adalah Siocia yang bertabiat keras dan sombong dan terkenal di kalangan Kangouw, ia bukan lain daripada Nyo Liu-jing.

Kawan-kawan kalangan Kangouw menghormati ayahnya, Thi-cio-sin-tan Nyo Tiong-eng sebagai pemimpin dunia persilatan kelima propinsi utara, maka semua suka mengalah padanya.

Tetapi sebaliknya Nyo Liu-jing mengira ilmu silat dirinya lebih tinggi daripada orang lain, maka ia anggap dirinya sebagai 'pendekar' wanita dan oleh karena itu ia semakin menjadi sombong dan suka bertindak menurut wataknya sendiri.

Kali ini ayahnya bersama Teng Hiau-lan berangkat ke kotaraja, sebenarnya ia diperintahkan menjaga rumah, sebelum berangkat Nyo Tiong-eng berpesan wanti-wanti agar supaya gadisnya ini jangan sembarangan keluar rumah.

Setelah menunggu beberapa bulan, namun masih belum nampak ayahnya pulang, ia pun kangen pada Teng Hiau-lan meski Teng Hiau-lan sudah bertunangan dengan dia, tapi lama sekali belum mau menikah hingga membikin Nyo Liu-jing kurang senang, namun hal ini dengan sendirinya kurang leluasa diutarakan oleh kaum wanita, maka tanpa menghiraukan pesan ayahnya lagi, seorang diri ia lantas menyusul ke kotaraja.

Sebaliknya Pang Lin masih bersifat anak-anak, ia lihat sikap Nyo Liu-jing yang sombong dan berulang-ulang menoleh serta mendelik padanya, dara cilik ini jadi semakin ingin menggoda dan menguntit terus, kalau Nyo Liu-jing mengeprak kudanya dengan cepat, ia pun pecut kudanya menyusul kencang, jika Nyo Liu-jing lambat, ia pun kendorkan tali kendali kudanya, tidak jauh dan tidak dekat, selalu mempertahankan dalam jarak antara tiga puluh langkah.

Pang Lin dibesarkan dalam istana, entah berapa banyak kuda-kuda terkenal yang telah dia coba, dengan sendirinya kepandaian menunggang kudanya jauh lebih tinggi daripada Nyo Liu-jing.

Sebaliknya karena dikuntit terus, akhirnya Nyo Liu-jing jadi naik darah, setibanya di suatu tempat sepi dekat hutan, mendadak ia tahan kudanya dan palangkan cambuknya, gendewa segera disiapkan dengan pelurunya.

"He, kau bocah ini hendak apa?"

Segera ia membentak dengan gusar. Pang Lin menjadi geli.

"Ai, nona, kau boleh jalan menurut jalanmu dan aku jalan menurut jalanku, buat apa kau urus apa kerjaku?"

Sahutnya dengan tertawa. Nyo Liu-jing jadi lebih gemas hingga alisnya terkerut menegak.

"Kurangajar! He, siapa namamu? Dari garis manakah kau? Berani kau membuntuti terus nonamu ini?"

Dampratnya lagi.

"Tidak malu!"

Goda Pang Lin dengan tertawa, sambil menco-lek pipi sendiri.

"Aku toh tidak hendak besanan dengan kau, buat apa kau cari tahu dan tanya namaku? Jalan inipun bukan milikmu, kau boleh lewat, mengapa aku tidak boleh?"

"Tahukah kau siapa aku?"

Tanya Nyo Liu-jing dengan tertawa dingin.

"Tahu saja,"

Sahut Pang Lin.

"aku tahu kau adalah nona yang sedang cari lelaki!"

Karena kata-kata ini, Nyo Liu-jing menjadi merah mukanya.

"Bocah kurangajar, masih semuda ini sudah ngaco-belo tak genah, jangan kau sesalkan aku!"

Bentaknya dengan gusar.

Berbareng ia tarik busurnya terus menjepretkan tiga butir peluru dengan cepat laksana bintang meluncur.

Tetapi dengan gerakan 'Ting-li-cong-sin' (menyembunyikan badan di bawah pelana), dengan gampang Pang Lin menghindarkan peluru pertama, menyusul dengan kedua jari ia jepit peluru kedua terus disentil dengan perlahan, maka terbenturlah peluru ini dengan peluru ketiga dan kemudian jatuh ke tanah.

"Oi, tak kena!"

Pang Lin menggoda lagi dengan tertawa sambil membalik naik ke atas kudanya.

Keruan tidak kepalang marah Nyo Liu-jing, kembali ia pentang gendewanya dan membidik pula, susul-menyusul ia hujani Pang Lin dengan pelurunya.

"Haya, celaka!"

Tiba-tiba Pang Lin berteriak.

Berbareng itu mendadak ia terjungkal ke bawah kuda, tetapi ternyata tidak terbanting ke tanah, melainkan kedua kakinya masih menyantol di punggung kudanya, tubuhnya tergantung balik dan kudanya terus membedal pergi beberapa tombak jauhnya, semua peluru yang Nyo Liu-jing lepaskan menyambar lewat di atas kudanya dan tiada satu pun yang mengenainya.

Setelah Pang Lin unjuk kepandaiannya menunggang kuda yang hebat ini, mau tak mau Nyo Liu-jing terkejut dan agak jeri.

Dalam pada itu dengan cepat sekali terlihat Pang Lin sudah membalik ke atas kudanya lagi.

"Jika hanya terima tanpa memberi itulah kurang sopan. Awas pisau!"

Mendadak Pang Lin berseru.

Berbareng ia keprak kudanya menerjang maju, dua pisau secepat kilat menyambar ke depan.

Kepandaian Pang Lin menggunakan pisau diperoleh dari ajaran Ciong Ban-tong, ditambah mendapat petunjuk dari Han Tiong-san, maka sambitannya ini tidak bisa dipandang enteng.

Sementara itu Nyo Liu-jing telah mengincar baik-baik datangnya senjata rahasia lawan, ia bermaksud menghindarkan pisau yang pertama, untuk kemudian menghantam jatuh pisau kedua.

Di luar dugaan pisau kedua yang Pang Lin lepaskan belakangan ternyata datangnya lebih dahulu, baru saja Nyo Liu-jjng berkelit ke kiri, mendadak sinar tajam telah menyambar sampai di depannya, dalam keadaan gugup lekas Liu-jing menangkis dengan gendewanya, maka terdengarlah suara "krak"

Yang keras, gendewanya ternyata patah, bahkan ia rasakan pinggir lehernya segar dingin, ternyata pisau yang kedua telah menyambar lewat.

Sebenarnya serangan Pang Lin hanya bermaksud menggodanya saja, tiada niat mencelakakan, bila tidak maka pisau tadi pasti sudah menembus lehernya.

Dalam keadaan terkejut bercampur murka, Nyo Liu-jing lantas melolos pedang, ia keprak kuda hendak menempur Pang Lin dengan mati-matian.

Dalam pada itu tiba-tiba terdengar di belakang mereka ada suara derapan kuda lagi, Pang Lin cukup awas matanya, lapat-lapat ia sudah melihat dari tempat sejauh dua-tiga li sedang mendatangi beberapa penunggang kuda, melihat dandanan mereka rupanya seperti sebangsa opas.

Karenanya ia pikir.

"Jika orang-orang ini adalah kiriman In Ceng, keadaan tentu bakal runyam, biarlah aku tinggalkan perempuan galak ini."

Segera ia tepuk leher kudanya.

Kuda ini adalah kuda perang yang dipelihara Lian Keng-hiau, karena tepukannya itu, tiba-tiba binatang ini menegak leher dan mendengking keras terus membedal ke depan.

Ketika mendadak Nyo Liu-jing nampak kuda Pang Lin secepat angin dilarikan ke arahnya, pandangannya seketika menjadi kabur, lekas ia angkat pedangnya menusuk dua kali serabutan ke arah kuda Pang Lin, akan tetapi mana bisa kena sasaran, sebaliknya tiba-tiba ia rasakan kepalanya diraba orang dengan perlahan, berbareng terdengar menderunya angin, kuda orang sudah menyerempet lewat di sampingnya, dan waktu Nyo Liu-jing meraba kepalanya, ternyata dua tusuk kondenya yang terbuat dari pualam sudah diserobot Pang Lin.

Bukan main gusar Nyo Liu-jing, ia keprak kudanya lantas mengudak, tetapi semakin mengudak ia semakin jauh ketinggalan, sampai akhirnya bayangan Pang Lin saja tak tertampak olehnya.

Pang Lin telah melarikan kudanya secepat terbang, dalam sekejap ia sudah kabur sejauh lebih dua puluh li, dari jauh ia lihat gunung Ko-san berdiri dengan megahnya, ia jadi lega, pikirnya dalam hati.

"Kabarnya Siau-lim-si berada di atas Ko-san, Siau-lim-si pun disebut sebagai pusat pelajaran ilmu silat di jagat ini, aku sudah belajar begini banyak ilmu silat dari berbagai cabang dan golongan, entah mampu tidak berlawanan dengan padri Siau-lim-si?"

Karena pikiran itu, tiba-tiba timbul keinginannya hendak naik ke Ko-san buat 'belajar kenal' dengan padri Siau-lim-si.

Pada waktu magrib ia tiba di suatu kota kecil yang bernama Kwe-keh-t;n, dari penduduk kota ia mendapat tahu bahwa dari sini menuju Ko-san hanya perjalanan dua hari, tetapi kalau kudanya cepat, hanya setengah hari sudah bisa sampai.

Pang Lin lantas memilih sebuah penginapan yang paling mentereng dalam kota untuk menginap, sehabis bersantap malam dan selagi hendak mengaso, tiba-tiba ia dengar di luar ada suara orang perempuan.

"Hai. pengurus, berikan sebuah kamar paling baik padaku, ada tidak?"

"Ada, tentu ada,"

Terdengar pengurus penginapan menjawab dengan menghormat.

"Nyo-lihiap, engkau orang tua yang minta, tidak adapun harus diadakan. Hai, Siau-ji (panggilan pada pelayan kedai arak atau penginapan), lekas bawa tamu agung ke kamar bagus di sebelah timur sana."

Pang Lin merasa suara wanita tadi seperti pernah dikenalnya, ketika ia mengintip dari sela-sela pintu, eh, kiranya bukan lain adalah wanita yang ia temukan di tengah jalan tadi, ia jadi tertawa geli, dalam hati diam-diam ia membatin.

"Hm, hanya dengan sedikit ke-pandaianmu saja lantas pamer dan menyebut diri sendiri sebagai Li-hiap (pendekar wanita) segala."

Secara kebetulan, kamar Nyo Liu-jing justru berada di sebelah Pang Lin.

Sementara itu sesudah Nyo Liu-jing berada di kamarnya, si pengurus penginapan datang melayani sendiri, mengantar teh, menyediakan air panas, menyuguh daharan dan macam-macam lagi.

"Sudahlah, bikin repot kau saja, Ong-lothau (kakek she Ong),"

Terdengar Nyo Liu-jing berkata. Menyusul itu Pang Lin dengar ada suara gemerincing di dalam kamar sebelah.

"Ini, serenceng uang perak untukmu,"

Terdengar Nyo Liu-jing berkata pula. Tetapi segera terdengar si pengurus penginapan buka suara.

"Ha, mana berani aku terima uangmu, tahun yang lalu Nyo-loyacu (tuan besar Nyo) telah membasmikan seorang Ok-pa (buaya darat) di kota kami, karena itu penginapan kami setahun ini sedikitnya bisa menghemat dua tiga puluh tahil perak upeti, kami berterima kasih saja belum, mana berani menerima duitmu lagi."

"Itu urusan ayahku, aku tidak bisa makan dan tinggal percuma di tempatmu ini,"

Sahut Nyo Liu-jing. Setelah si pengurus menampik berkali-kali, akhirnya ia terima juga uang perak itu.

"Baiklah, silakan engkau mengaso saja,"

Katanya sambil melangkah keluar kamar. Mendengar percakapan mereka, diam-diam Pang Lin membatin.

"Menurut pendengaran tadi, rupanya ayah wanita bawel ini seperti orang dari golongan pendekar berbudi luhur."

Menyusul ia dengar pula suara keresekan di kamar sebelah, lalu disusul suara tiupan memadamkan lampu. Diam-diam Pang Lin berpikir.

"Biar sesudah ia pulas, nanti aku geledah kamarnya untuk melihat putri siapakah dia ini."

Selang agak lama, Pang Lin dengar di kamar sebelah sudah mulai ada suara gerosan orang, ia mengerti orang tentu sudah pulas.

Tengah ia hendak bangun, tiba-tiba terdengar pula suara tindakan orang banyak di luar dibarengi pintu penginapan dibuka secara kasar, para tetamu penginapan pun terperanjat, keadaan menjadi kacau balau.

"Opas mengadakan pemeriksaan, para tetamu diharap tinggal saja dalam kamar masing-masing dan jangan keluar!"

Terdengar pengurus penginapan berseru.

Mendengar ada opas yang hendak periksa kamar, Pang Lin kebat-kebit, ia kenakan pakaiannya terus duduk di pembaringan, la dengar suara tindakan opas itu seperti membagi dalam dua kelorfipok dan memeriksa kamar berbareng dari dua deretan.

Diam-diam Pang Lin siap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu mendadak dari kamar sebelah terdengar suara ribut-ribut.

"Kalian sudah selesai menggeledah belum?"

Terdengar Nyo Liu-jing membentak dengan suara galak. Tetapi bentakannya segera disambut dengan suara gelak tertawa oleh seorang opas.

"Haha, apakah kau ini perempuan pengembara yang biasa menjual silat, dimanakah lakimu?"

"Huus, orang masih perawan lho!"

Timbrung opas yang lain. Keruan Liu-jing menjadi gusar.

"Jika sudah menggeledah, lekas enyah dari sini!"

Dampratnya. Akan tetapi opas yang duluan tadi masih coba menggoda lagi dengan muka cengar-cengir.

"Belum selesai, kamar sudah selesai digeledah, tetapi badanmu masih belum!"

Baru habis kata-kata itu, segera terdengar suara "plak"

Yang keras, agaknya muka si opas telah ditampar sekali, saking kerasnya tempelengan itu sampai ia menjerit kesakitan seperti babi disembelih.

"Lekas enyah dari sini semua!"

Nyo Liu-jing membentak pula. Karena ribut-ribut ini, opas-opas yang sedang menggeledah kamar tamu yang lain lantas merubung datang.

"Enyah!"

Kembali terdengar Nyo Liu-jing membentak.

Berbareng itu susul-menyusul ia geraki kedua telapak tangannya, dengan gerak tipu 'Lik-tiat-chian-kin' (dengan tenaga menjatuhkan barang seberat ribuan kati), satu gerak serangan asli ilmu keluarganya, segera ia lempar dua opas keluar pintu, sedang ia sendiri melolos pedang terus menyusul melompat keluar.

"Ah, perempuan ini begini galak!"

Seru opas-opas yang lain. Dalam keadaan ribut-ribut itu, terdengar ada orang membentak.

"Tangkap dulu perempuan keparat ini!"

Seketika keadaan menjadi ramai dengan suara beradunya senjata, pertempuran sengit telah terjadi di Cim-che (pelataran) dalam penginapan itu.

Demi mendengar suara benturan senjata di luar, Pang Lin terkejut.

Katanya dalam hati.

"Eh, mengapa dalam rombongan opas ini terdapat orang pandai!"

Waktu ia coba melongok keluar, tertampak olehnya ada empat opas sedang mengembut Nyo Liu-jing, kepala dari empat opas ini adalah seorang yang memakai senjata 'Kau-lian-jio' (tombak berujung melengkung seperti arit), orang ini ternyata menyerang dengan lihai sekali hingga Nyo Liu-jing terdesak terus tanpa bisa balas menyerang, keadaan nona ini cukup gawat.

"Baiklah, mengingat sesama wanita, biar aku menolong dia!"

Pikir Pang Lin. Menyusul ia sentilkan jarinya, kedua tusuk konde yang diambil dari Nyo Liu-jing tadi ia sambitkan. Ketika mendadak nampak munculnya Pang Lin, Nyo Liu-jing menjadi kaget.

"Celaka, orang busuk ini ternyata sekomplotan dengan anjing alap-alap pembesar negeri! Sekali ini aku pasti celaka!"

Demikian ia membatin. Sementara itu orang yang memakai senjata Kau-lian-jio dengan cepat berkelit, ketika mendadak nampak senjata rahasia menyambar.

"Awas!"

Berbareng ia coba peringatkan kawannya.

Namun sudah terlambat, dua opas yang ikut mengeroyok Nyo Liu-jing seketika roboh terguling, kiranya jalan darah mereka tertimpuk oleh senjata rahasia Pang Lin itu.

Kesempatan itu segera dipergunakan Nyo Liu-jing untuk melompat keluar dari kalangan.

"He, tusuk kondemu itu kukembalikan, mengapa tidak kau sambut!"

Dengan tertawa kembali Pang Lin menggoda.

Nyo Liu-jing tidak menghiraukan, secepat angin ia menerjang keluar penginapan, sampai di luar ia masih pentang gendewanya terus menghujani peluru ke dalam.

Orang yang memakai 'tombak-arit' tadi menjadi gusar, dengan sekali menggerung ia putar senjatanya menyampuk jatuh peluru yang mendekat itu, habis itu ia lantas hendak menguber keluar.

Tetapi tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan berkata.

"Tangkap bocah ini! Ah, dia bukan anak busuk, tapi adalah budak liar yang menyamar lelaki, buronan yang dikehendaki Hongsiang!"

Mendengar suara orang itu Pang Lin menjadi kaget, perempuan ini ternyata Yap Hing-po adanya, yaitu istri Han Tiong-san.

Tanpa ayal lagi segera Pang Lin putar pedangnya terus menerjang keluar, ia mencari jalan buat kabur, berbareng pula ia ayun tangan kirinya, tiga bilah belati segera menyambar, yang dua mengarah lelaki yang menggunakan senjata 'tombak-arit', sedang sebilah yang lain menuju Yap Hing-po.

"Ha, murid berbalik hendak menghantam sang guru!"

Terdengar Yap Hing-po berkata dengan tertawa.

Menyusul ia pukulkan tangannya ke udara, belati yang mengarah padanya terguncang balik oleh angin pukulannya terus membentur kedua belati yang lain dan terjatuh semua ke lantai.

Sementara itu secepat terbang lelaki yang memakai senjata Kau-lian-jio sudah memburu maju, dengan tipu 'Ku-coa-so-kang' (ular dan kura-kura menjaga sungai), begitu mengulur tombaknya, segera ia bermaksud menggantol pedang Pang Lin.

Namun nona ini tak gampang diingusi, dengan gerakan 'Boan-liong-jiau-poh' (ular naga melingkar langkah), beruntun dua kali serangan ia tusuk kedua opas di sampingnya hingga roboh terluka, habis itu ia baliki tubuh terus menempur si lelaki bertombak lagi.

"Hai, lelaki busuk, orang yang dicari ada di sini, lekas kau menyaksikan muridmu yang pintar ini!"

Terdengar Yap Hing-po berseru sambil tertawa cekikikan.

Baca Juga: Tujuh Pembunuh 4

Baca Juga: Sukma Pedang 8

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger