Eps 10 Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Baca online Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen
Cersil Tiga Dara Pendekar - Liang Ie Shen.
Habis itu, mendadak terdengar suara gemuruh yang keras, ternyata dinding papan sebuah kamar tamu di bagian barat telah ambrol, di antara remukan papan itu terdengar pula suara jeritan ngeri, menyusul dari dalam melayang keluar dua orang secara beruntun "Perempuan busuk, titik pokok ada di sini!"
Terdengar juga Han Tiong-san lagi berteriak.
Waktu Pang Lin melirik ke sana, di antara api obor yang terang benderang ia lihat ada seorang Hwesio kurus kering, kedua matanya bersinar dan berwibawa sedang unjuk ketangkasan, sekali membentak, tangan kirinya menjambret seorang lelaki terus dilempar ke bawah undak-undakan batu, sedang tangan kanan begitu bergerak lantas mengguncang pergi Pi-hun-tuh Han Tiong-san.
• Ilmu silat Han Tiong-san di dunia persilatan sudah terhitung golongan kelas wahid, tetapi kini ia ternyata didesak mundur terus oleh tenaga pukulan Hwesio tua itu.
Karena membagi perhatiannya buat memandang ke sana, hampir saja Pang Lin kena tertikam oleh tombak orang yang sementara itu telah menyerang.
Terpaksa Pang Lin harus kumpulkan seluruh perhatiannya untuk melawan musuh ini.
Sedang telinganya mendengar Han Tiong-san lagi berseru pula.
"Perempuan busuk, lekas kau kemari! Ong Go hati-hati kau terhadap pisau budak liar itu. Kau harus menangkapnya hidup-hidup, tapi hati-hati sedikit!"
Setelah Yap Hing-po melirik sekali pada Pang Lin, habis itu baru ia melolos pedangnya buat membantu suaminya, bayangkara lainnya pun ikut mengeroyok Hwesio tua tadi, tinggal lelaki yang pakai tombak itu yang terus menempur Pang Lin.
Dalam pertarungan sengit itu terdengar suara jeritan ngeri tiga kali, agaknya beberapa bayangkara telah digulingkan si Hwesio tua.
Lelaki yang menggunakan tombak-arit ini kepandaiannya cukup kuat, terpaksa Pang Lin harus melawannya dengan sepenuh tenaga, tidak berani ia memandang ke jurusan lain, tapi diam-diam ia coba menghitung suara jeritan ngeri yang berlainan itu, dalam sekejap saja rupanya sudah ada delapan orang yang telah roboh Kiranya Hwesio tua ini adalah padri utama ruangan Ciang-keng-tong di Siau-lim-si dan kini telah menjadi Kam-si atau pengawas gereja Siau-lim-si, Hong-hoat Taysu adanya.
Hong-hoat Taysu adalah orang nomor satu sesudah Siau-Iim-sam-lo atau tiga tertua dari Siau-lim-si.
Sejak Kam-si yang dahulu, Pun-bu Sian-su tewas oleh tipu keji Lian Keng-hiau, lalu Hong-hoat naik pangkat menjadi Kam-si.
Setelah Kaisar Yong-ceng (sebutan In Ceng) naik Hkhta, Cu-ji atau pejabat ketua Siau-lim-si, Bu-cu Siansu, telah menduga biara mereka bakal tertimpa nasib malang dan mengalami bencana, sudah sejak dua tahun yang lalu ia telah perintahkan padri-padri Siau-lim-si menyingkir dengan membawa kitab suci dan benda Buddha lainnya, secara diam-diam telah dipencarkan, satu cabang menuju ke Poh-tian di propinsi Hokkian dan cabang yang lain berada di Lamhay, propinsi Kwitang.
Maka malam sebelum Siau-lim-si dibakar, para padri sudah sembilan bagian berpencar pergi.
Hari itu, ketika dapat kabar bahwa pasukan Lian Keng-hiau berkemah di luar kota Cu-sian-tin, suasana lantas menjadi genting.
Hong-hoat dan padri tema ruang Tat-mo-ih lantas minta agar Cu-ji suka menghindarkan diri, tidak terduga usul ini hanya dijawab dengan tersenyum saja oleh Bu-cu Siansu.
"Kalian saja lekas berangkat, tinggalkan aku sendiri di sini!"
Katanya. Sudah tentu Hong-hoat dan lain-lain tidak mau menuruti kehendak ini. Akan tetapi segera Bu-cu Siansu berkata lagi.
"Jika In Ceng dan Lian Keng-hiau sampai di Ko-san, lalu tidak nampak diriku, tidak nanti mereka mau terima! Sekalipun aku bisa hidup untuk sementara, tapi pasti akan menyusahkan padri Siau-lim-si lain yang akan dikejar dan diudak pemerintah. Kata Buddha, 'Kalau aku tidak masuk neraka, siapa lagi yang masuk'. Meski aku tidak dapat disamakan dengan Buddha, tapi dengan rela aku suka menghadapi segala kemungkinan."
Namun Hong-hoat dan lain-lain tetap tak mau menurut, akhirnya dengan kereng Bu-cu bersabda dan memerintahkan.
"Baiklah, kini dalam kedudukanku sebagai Cu-ji Siau-lim-si, aku mengharuskan kalian lekas berangkat dari sini!"
Siau-lim-si memang mempunyai tata-tertib dan hukum agama yang keras, maka dengan perintah itu, mau tak mau Hong-hoat dan lain-lain dalam rombongan yang terakhir terpaksa meninggalkan gunung.
Keesokan harinya, pasukan besar Lian Keng-hiau mengepung Ko-san dengan begitu rapat hingga tak tertembus air ibaratnya.
Yong-ceng dan Lian Keng-hiau semuanya bekas jebolan Siau-lim-si, maka mereka cukup kenal keadaan biara tersohor ini dengan padri-padrinya yang lihai, untuk melawannya mereka telah menyiapkan alat pembakar yang paling hebat, yakni tiga ratus prajurit I lam-lim-kun, pasukan pengawal dengan senjata yang dilengkapi bumbung semprotan api belerang, dengan alat pembakar ini mereka lelah menyapu sekeliling Siau-lim-si, dalam bumbung semprotan api itu tersembunyi bahan-bahan bakar sebangsa belerang dan bahan lain yang gampang terbakar, begitu bahan bakar itu disemprotkan, seketika pula membawa semburan, keruan begitu atap biara itu terjilat api, segera pula lantas menjalar dengan hebat dan cepat.
Alat senjata semacam ini pada beberapa abad yang lalu sudah tergolong senjata yang susah ditahan.
Bukan itu saja, In Ceng masih kualir kurang cukup, maka di belakang barisan penyemprot api itu dibantu beberapa puluh jago pilihan dari istana, habis itu pada garis luar disiapkan lagi ribuan prajurit pemanah untuk berjaga bila padri-padri Siau-lim-si berani menerjang keluar kepungan.
Siapa tahu sesudah api menganga dan berkobar dengan hebat, pintu gerbang Siau-lim-si itu masih tertutup rapat, seorang pun tiada yang mencoba lari keluar.
Keruan In Ceng terheran-heran dan merasa tidak mengerti.
"Apakah mungkin padri-padr dalam biara ini rela terbakar hangus?"
Katanya pada Lian Keng-hiau.
Sementara itu dalam sekejap saja Siau-lim-si sudah menjadi lautan api.
Suara tiang dan saka yang putus dan runtuh bercampur dengan ambruknya dinding tembok yang gemuruh, setelah api berkobar setengah harian, hanya pagoda batu yang berada di tengah biara saja yang belum ambruk.
Dalam pada itu tiba-tiba tertampak di pucuk atas pagoda batu itu berduduk sila seorang.
"He, Cu-ji Siau-lim-si itu barangkali tidak tahan oleh membaranya api, maka lari ke atas pagoda?"
Seru Lian Keng-hiau heran.
"Awas, juru pemanah siap!"
Tetapi belum habis ia memberi komando, terlihat Bu-cu Siansu telah berdiri, sambil mengucapkan sabda Buddha, mendadak padri agung ini melompat turun dari atas pagoda dan terjun ke dalam lautan api.
Selang tak lama, pagoda batu itu sekonyong-konyong runtuh dengan gemuruh, tiga puluh deret istana Siau-lim-si berikut pagoda suci Hoa-giam-po-tah semuanya termusnah dan menjadi puing.
Menyaksikan ruutuhnya Siau-lim-si, barulah Lian Keng-hiau menarik napas lega, katanya.
"Cu-ji Siau-lim-si sendiri sudah terkubur dalam lautan api, maka padri lainnya tentu juga sudah menjadi abu dalam tumpukan puing!"
In Ceng pun sedang berpikir.
"Bu-cu Siansu adalah pemimpin lima ratusan Hwesio, dia sendiri tidak sempat lolos, tentu pula padri lain-lainnya tak nanti melarikan diri mendahului ketua mereka. Cuma ada satu soal yang sukar dimengerti, adalah mengenai pagoda batu itu, pagoda itu tingginya belasan tombak, walaupun dijilat api sedikitnya bisa tahan untuk beberapa waktu lamanya, mengapa begitu gamparg lantas ambruk?"
In Ceng tidak tahu bahwa ambruknya pagoda Hoa-giam-po-tah itu sebagian karena terjilat api, setengahnya karena dirusak sendiri oleh Bu-cu Siansu, Ketika setindak demi setindak dan setingkat demi setingkat padri agung ini naik ke atas pagoda itu, pada tiap alas dasar tingkatan pagoda yang dilalui, ia telah menggunakan tenaga telapak tangannya memukul dan membikin kendur batu dindingnya, kemudian barulah ia unjuk diri di puncak pagoda, ia membiarkan Kaisar Yong-ceng menyaksikan sendiri ia terjun ke dalam lautan api, dengan demikian hati Yong-ceng bisa tenteram hingga banyak padri Siau-lim-si lain diselamatkan jiwanya.
Sebab setelah Yong-ceng menyaksikan sendiri 'pentolan' padri terbasmi, sungguhpun ia masih sangsi ada padri lain yang kabur, namun dengan sendirinya cara mengusutnya tidak begitu keras lagi.
Setelah Yong-ceng dan Lian Keng-hiu membakar habis Siau-lim-si, mereka tinggalkan serombongan orang berjaga di atas gunung, lalu mengirim pula pasukan lain untuk menyelidiki dan menggeledah sekeliling gunung Ko-san dalam lingkungan seluas tiga ratus li.
Sebabnya Yong-ceng mengatur begini adalah karena Siau-lim-si merupakan pemimpin dunia persilatan, ia menjaga bila ada tokoh golongan lain yang mencari kabar ke Ko-san, maka ia sengaja memasang jaring di sekitar Ko-san untuk menjebaknya.
Setelah lewat setengah bulan sejak Siau-lim-si dibakar, cara mengawasi pun mulai kendor, dengan membawa Haptoh dan lain-lain.
In Ceng pun lantas pergi untuk mengurus pekerjaan besar lainnya.
Hanya Han Tiong;san suami-istri ditugaskan mengawasi pekerjaan di daerah Holam, sedang di Ko-san ditinggalkan Hay-hun Hwesio dan Thongling dari pasukan pengawal, Cin Tiong-wat, untuk menjaganya.
Setelah Hong-hoat Taysu mengetahui penjagaan rada kendur, ia sangat kuatir keselamatan Bu-cu Siansu, maka diam-diam ia kembali ke Holam.
Tetapi segera ia mengetahui bahwa sang ketua sudah berkorban dengan gagah perwira, maka malam-malam ia lantas naik gunung, di tempat bekas berdirinya Hoa-giam-po-tah ia mengambil se-comot tanah sebagai benda suci dari Siau-lim-si, ia bermaksud membawa kembali tanah itu ke Poh-tian, agar bisa ditinggalkan pada murid-murid angkatan yang akan datang sebagai contoh.
Ilmu silat Hong-hoat Taysu sudah tinggi sekali, diam-diam ia balik ke Ko-san, Hay-hun Hwesio dan kawan-kawan yang menjaga gunung ternyata tiada yang tahu.
Tetapi sayang, satu rintangan dilalui, rintangan yang lain harus dihadapi pula, ia tidak menduga bahwa dalam penginapan di kota kecil ini mendadak bisa kepergok Han Tiong-sun suami-istri yang sedang memeriksa, sehingga terjadilah pertarungan sengit.
Orang yang melawan Pang Lin bernama Ong Go, termasuk jagoan kelas satu di gubernuran Ho-lam.
Oleh gubernur Ho-lam, Ong Go dikirim untuk membantu Han Tiong-san melakukan penggeledahan.
Kepandaian Ong Go meski, belum setingkat suami-istri Han Tiong-san, tapi kalau dibanding Pang Lin masih lebih kuat, apalagi ia adalah ahli menggunakan Am-gi, ia sendiri memiliki senjata rahasia khas yang dilatihnya dengan keji sekali.
Begitulah, setelah Pang Lin melawan Ong Go dengan sengit, ia unjukkan ilmu silat dari berbagai cabang yang ia pelajari, tetapi masih tetap belum bisa meloloskan diri.
Tiba-tiba ia teringat apa yang dikatakan Han Tiong-san tadi bahwa dirinya akan ditangkap hidup-hidup, ia pikir.
"Orang ini tentu tak berani mencelakai jiwaku, untuk apa aku takut padanya?"
Karena itu segera ia perkencang Kiam-hoatnya, ia ubah silatnya dan selalu menyerang.
Memang kepandaiannya selisih tidak banyak dibanding Ong Go, kini ia tidak menghiraukan jiwa sendiri, maka ia menyerang dan menghantam secara hebat, mau tak mau Ong Go didesak hingga main mundur terus, akhirnya Pang Lin dapat lolos keluar pintu.
Ong Go menjadi murka, ia mendahului mengadang di ambang pintu, habis itu tombak-aritnya menangkis pergi pedang Pang Lin yang sementara itu sudah menyerang pula, menyusul tangan kirinya bergerak, tanpa bersinar dan tak bersuara, tahu-tahu Pang Lin merasakan lengannya seperti digigit nyamuk, ia merasa sedikit linu pegal, namun ia tidak ambil perhatian pada kejadian ini, dengan satu tipu serangan ia dapat mengesampingkan serangan tombak orang, lalu disusul pula dua kali tusukan dengan cepat terus menerjang maju dan melompat keluar pintu penginapan.
"Haha, budak liar, kau sudah kena senjata rahasiaku, mengapa kau tidak lekas menurut dan letakkan senjata serta menyerah saja* buat mohon pertolonganku?"
Tiba-tiba Pang Lin mendengar Ong Go berseru dengan bergelak tertawa.
Pang Lin tertegun sejenak oleh kata-kata itu.
Sementara itu Ong Go sudah menyusul sampai di belakangnya, di luar dugaan, mendadak Pang Lin membalik dan ayunkan tangannya, dua bilah pisau menyambar berbareng dari kanan dan kiri, lekas Ong Go menangkis dengan tombaknya, dengan mengeluarkan suara nyaring sebilah pisau dipukul jatuh, tetapi yang lain menyerempet lewat pundaknya, karena sedikit terlambat menggeser tubuh, Ong Go merasa pundaknya kesakitan, ternyata ia pun terluka oleh senjata rahasia orang.
Keruan Ong Go menjadi kalap, bentaknya.
"Budak liar, apa kau cari mampus?"
Menyusul tombaknya bekerja secepat angin dan laksana badai mengurung pedang Pang Lin hingga tak bisa berkutik.
Justru pada saat itu, mendadak terdengar suara gemuruh, papan pintu gerbang penginapan ternyata remuk menjadi beberapa keping dan terpental beterbangan, menyusul beberapa bayangan orang menerjang keluar dengan cepat.
Yang menerjang keluar bukan lain adalah suami-istri Han Tiong-san.
Tadinya mereka berdua bersama empat opas dan empat jagoan bayangkara mengerubuti Hong-hoat Taysu, tetapi ilmu silat empat opas itu terlalu rendah, hanya sekejap saja mereka sudah dihantam roboh dengan luka parah, empat jago bayangkara lainnya tidak terlalu lama susul-menyusul pun terguling.
Keruan suami-istri Han Tiong-san menjadi jeri, namun sekuat tenaga mereka masih terus melawan.
Ilmu silat Hong-hoat Taysu hanya di bawah Siau-lim-sam-lo, meski suami-istri Han Tiong-san tergolong jago kelas wahid, namun sedikitpun mereka tidak bisa memperoleh keuntungan, bahkan terus terdesak di bawah angin.
Sebaliknya Hong-hoat sendiri yang dikeru-but mereka, seketikapun tak mampu melepaskan diri.
Setelah lama pertempuran berlangsung, akhirnya Hong-hoat Taysu menjadi tak sabar lagi, ia kuatir pihak musuh masih ada bala-bantuan, maka diam-diam ia kumpulkan tenaga dalamnya, ia ayun telapak tangannya kemudian mendadak disodokkan.
Ilmu pukulan Siau-lim-si selamanya tiada tandingannya, maka begitu Han Tiong-san melintangkan tangan hendak menangkis, namun susah menahan pukulan hebat itu, terdengarlah suara gabrukan yang keras, dimana telapak tangan Hong-hiat sampai, iga kiri Han Tiong-san disodok hingga tubuhnya yang besar didorong terpental keluar pintu penginapan.
Nampak suaminya kecundang, Yap Hing-po segera pura-pura menyerang, habis itu ia pun membalik tubuh terus kabur.
Ketika 1 long-hoat Taysu mengejar keluar, tiba-tiba ia dengar ada suara mengaung yang riuh, sebuah benda hitam tiba-tiba menyambar padanya, dengan kepandaian 'Ting-hong-pian-gi' (mendengarkan angin mengenali senjata), Hong-hoat Taysu cepat berkelit ke samping.
Di luar dugaan, senjata rahasia ini ternyata aneh sekali, mendadak bisa berputar balik.
Hong-hoat menjadi gusar, ia angkat telapak tangannya terus memotong, dengan angin pukulan ini senjata itu terguncang pergi menumbuk pojok dinding.
Habis itu segera Hong-hoat Taysu mengudak musuh pula.
Tidak tersangka senjata rahasia yang menumbuk pojok dinding itu sekonyong-konyong mumbul naik lagi, karena tidak berjaga akan kejadian ini, tungkak kaki Hong-hiat terasa sakit sekali, ternyata ujung senjata rahasia yang berkait itu telah menancap masuk ke dalam daging.
Dengan cepat Hong-hoat mencabut senjata rahasia itu dengan jarinya, ketika ia mengejar keluar, suami-istri Han Tiong-san sudah keburu merat tanpa bekas lagi.
Senjata rahasia yang mengenai Hong-hoat itu adalah 'Hwe-goan-kau' yang dilatih Han Tiong-san dengan sempurna, senjata rahasia ini berbentuk melengkung dan kedua ujungnya tajam, bahkan di sekitarnya dipasang pula kaitan melingkar dan bisa berputar pulang pergi dan naik turun sesukanya.
Dulu ketika untuk pertama kalinya Ie Lan-cu mengenal 'Hwe-goan-kau', ia pun hampir diselomoti, beruntung latihannya sudah dalam sekali, dengan tenaga jari sakti ia menjepit senjata kaitan itu.
Walaupun ilmu silat Hong-hoat hebat sekali, tapi kalau dibanding Ie Lan-cu, ia masih lebih rendah setingkat, lagi pula ia tidak paham bekerjanya 'Hwe-goan-kau', oleh karenanya ia telah diselomoti.
Bercerita lagi tentang Ong Go yang sedang menempur Pang Lin dengan seru, ketika mendadak melihat suami-istri Han Tiong-san berteriak dan lari terbirit-birit dan dikejar oleh Hong-hoat Taysu, keruan ia menjadi kaget dan ketakutan, segera ia pun membalik tubuh terus ikut angkat langkah seribu.
Segera Pang Lin bermaksud menguber musuh, tetapi sayup-sayup ia mendengar ada suara orang memanggil.
"Nona cilik tak perlu kau kejar lagi! Marilah kuperiksa, kau terkena senjata rahasia macam apa?!"
Pang Lin jadi tertegun oleh suara itu, sementara itu ia lihat si Hwesio tua tadi sudah berdiri di depannya.
"Hwesio tua ini betul-betul lihai, hanya melihat sekejap saja ia sudah tahu bahwa aku ini perempuan yang menyamar sebagai lelaki,"
Demikian pikir Pang Lin.
"Senjata rahasia apakah yang mengenai aku? Apakah tadi rasa seperti digigit nyamuk itu adalah senjata rahasia musuh?"
Sementara itu Hong-hoat telah menarik tangan Pang Lin dan diraba dengan perlahan, mendadak air mukanya berubah.
"Ha, ini adalah senjata rahasia 'Chit-sui-pek-bi-ciam' keluarga Tong di Suewan!"
Katanya kemudian. Dengan sendirinya Pang Lin tidak mengerti 'Pek-bi-ciam' (jarum alis putih) segala, ia pun tidak kenal keluarga Tong di Suewan. Karena itu dengan tertawa ia lantas bertanya.
"Hwesio tua, kau betul-betul hebat sekali, sanggup menghantam lari suami-istri Han Tiong-san. Kau tentu merasa sakit terkena Hwe-goan-kau. Aku sedikitpun tidak merasa sakit, maka sebaiknya kau obati dirimu sendiri dulu."
Mendengar anak dara ini bukan saja mengetahui nama Han Tiong-san, bahkan kenal senjata rahasia apa yang digunakan tadi, tak tertahan Hong-hoat menjadi terheran-heran, ia pun ragu-ragu dan penuh pertanyaan.
"Siapakah gurumu, nona cilik? Kau bernama siapa?"
Cepat ia bertanya lagi.
Sejenak Pang Lin jadi bingung oleh pertanyaan orang, sebenarnya ia tidak ingin menerangkan, tapi demi nampak wajah si padri tua yang alim dan welas-asih ini, tanpa terasa ia membuka mulut.
"Guruku banyak sekali,"
Katanya.
"Han Tiong-san, suami-istri yang kau usir pergi itupun termasuk guruku, tapi kau pun tak usah kaget, nanti kuajarkan kau cara bagaimana mengobati lukamu."
Penuturan ini sama sekali di luar dugaan Hong-hoat, maka seketika jadi melongo.
"Kaitan Han Tiong-san itu tidak berbisa, kaitannya yang melengkung itu menancap ke dalam daging, kau bisa menyedotnya keluar dengan batu sembrani,"
Dengan tersenyum manis Pang Lin menyambung lagi.
"Coba, bukankah sederhana sekali. Memang senjata rahasianya itu dipakai melulu untuk menawan musuh, tetapi kau punya kepandaian lebih tinggi dari dia hingga tidak kena mereka tawan, maka tidak usah takut senjata rahasia ini."
Rupanya Pang Lin telah membatin.
"Aku tidak lebih hanya kesakitan seperti digigit nyamuk, tapi Hwesio tua ini sudah begini kuatir, tampaknya meski ilmu silatnya cukup tinggi, namun dalam hal senjata rahasia agaknya masih belum paham."
Tetapi karena Pang Lin tertarik oleh sikap welas-asih si Hwesio tadi, ia pikir kesempatan ini dapat memamerkan kepandaiannya dalam hal pengetahuan ilmu senjata rahasia, maka ia menerocos panjang lebar.
Ia tidak tahu bahwa dirinya sebenarnya seperti orang desa yang sedang mengajar guru.
Di pii^ak lain Hong-hoat Taysu pun menjadi geli.
Pikirnya dalam hati.
"Anak dara ini betul-betul menarik dan menyenangkan, cuma sayang terlalu suka unjuk pintar sendiri dan tidak tahu betapa tebalnya bumi dan tingginya langit."
Kiranya apa yang mengenai Pang Lin sebenarnya adalah semacam senjata rahasia yang amat keji, yakni 'Chit-sui-pek-bi-ciam', semacam jarum berbisa yang lembut sekali buatan keluarga Tong di Sucwan, saking halus jarum ini seperti bulu saja, maka disebut Pek-bi-ciam, artinya jarum seperti bulu alis, saking halusnya bila jarum ini menancap masuk ke dalam tubuh orang, jarum ini akan menyelusup mengikuti jalan darah dan sampai di hulu hati, bila demikian, maka dewa sekalipun tidak bisa menolong lagi.
Dimana pergelangan tangan Pang Lin yang terkena jarum itu, mungkin perlu tujuh hari kemudian baru jarum itu akan sampai di hulu hati, dalam tiga hari pertama bila jarum berbisa itu sampai naik ke atas, maka meski kelak dapat tertolong oleh obat pemunah racun, sedikitnya ia akan menjadi cacat juga.
Sedang obat pemunah itu hanya dimiliki keluarga Tong di Sucwan, Ong Go adalah anak mantu keluarga itu, ia melukai Pang Lin dengan jarum itu sebenarnya tidak bermaksud mencelakai jiwanya, tujuannya hanya untuk menggertaknya agar menyerahkan diri.
Di luar dugaan, Ong Go sendiri tergesa-gesa menyelamatkan nyawanya sendiri, ia entah sudah merat sampai kemana, maka lebih-lebih tiada jalan untuk mencari obat pemunah racun jarum ini.
Begitulah sesudah Hong-hoat tertawa geli tadi, ia merasa ge-getun dan sedih pula.
la lihat gadis yang luar biasa ini, jika sampai tahu bahwa dalam tujuh hari ini ia bakal binasa, entah akan betapa dukanya.
Sungguhpun obat mustajab Siau-lim-si tidak kurang banyaknya, tapi justru yang kurang adalah obat pemunah racun jarum berbisa ini.
Maka diam-diam Hong-hoat Taysu hanya menghela napas menyesal.
Melihat Hwesio tua ini lama sekali masih bungkam, akhirnya dengan tertawa Pang Lin bertanya.
"Dapatkah berjalan? Jika tak dapat, biar aku carikan batu sembrani saja untuk menolong kau."
"Nona, hatimu welas-asih seperti Buddha, aku merasa banyak berterima kasih,"
Sahut Hong-hoat dengan tenangnya.
"Aku tidak perlu batu sembrani, tidak usah kau kuatir atas diriku. Sebaliknya lukamu Ternyata Hong-hoat tidak tega bercerita terus terang, maka perkataannya agak samar-samar.
"Kenapa?"
Tanya Pang Lin dengan heran. Hong-hoat lantas keluarkan tiga butir obat pil dari bajunya, ia sodorkan pada Pang Lin sambil berpesan.
"Ini tiga pil boleh kau makan, setiap hari sebutir. Lalu kau boleh menuju ke Siau-lim-si Poh-tian, Hokkian, katakan saja di tengah jalan kau telah bertemu seorang Hwesio tua semacam aku ini dan menyuruh kau ke sana, dengan begitu mereka tentu akan menerima kau dengan baik."
Obat pil yang Hong-hoat berikan ini adalah 'Siau-hoan-tan' bikinan Siau-lim-si yang mujarab, meski bukan obat pemunah yang jitu buat racun jarum berbisa itu, tetapi dalam tiga atau lima hari ini masih dapat menahan menjalarnya racun dalam badan, sehingga dalam sebulan orangnya masih belum sampai mati.
Kiranya Hong-hoat mempunyai perhitungan dalam satu-dua hari ini ia hendak mengunjungi gubernuran di Holam buat menawan Ong Go, dari bayangkara ini hendak ia paksa ambil obat pemunahnya, cuma ia belum yakin akan berhasil atau tidak, oleh karenanya ia tidak ingin mengatakan lebih dulu.
Hong-hoat sendiri adalah buronan yang diincar kerajaan maka tak berani ia membawa Pang Lin bersama dia, pula bila Pang Lin dibawa, dirinya malah tidak akan leluasa bergerak, oleh sebab itulah ia menyuruh anak dara itu berangkat dulu ke Poh-tian di Hokkian.
Karena pemberian obat pil tadi, Pang Lin pun terima dengan baik.
"Pil ini pahit tidak?"
Dengan tertawa ia malah bertanya.
"Tidak, tidak pahit, lekas kau telan saja!"
Sahut 1 long-hoat cepat.
"Itu ada orang datang, aku harus pergi!"
Habis berkata, segera ia melompat ke atap rumah terus kabur.
Pang Lin dapat melihat dengan jelas meski lungkak kaki kirinya rada pincang, tetapi gerak tubuh si Hwesio tua ternyata masih sangat gesit dan cepat.
Waktu itu sang dewi malam sudah menghias di tengah angkasa, di bawah sinar bulan Pang Lin melihat ada dua bayangan orang sedang mendatangi secepat terbang, seorang di antaranya dapat ia kenali adalah Teng Hiau-lan yang dulu pernah minta dia ikut merat pada waktu dirinya masih tinggal dalam istana pangeran.
Keruan Pang Lin terkejut, ia kuatir kalau Teng Hiau-lan segolongan dengan Lu Si-nio dan datang hendak menangkap dirinya.
Maka segera pula ia melarikan diri.
Tengah melarikan diri, tiba-tiba ia mendengar suara seman si Hwesio tua tadi.
"Hiau-lan, apa bersama Tan-toako?"
Diam-diam Pang Lin membatin.
"O, kiranya mereka adalah kenalan lama."
Karena itu larinya jadi semakin cepat, tetapi Hwesio tua tadi bersama Teng Hiau-lan ternyata tidak mengejarnya, mungkin karena Teng Hiau-lan tidak melihat dirinya, sedang Hwesio tua tadi pun tengah repot bercakap-cakap dengan mereka.
Setelah agak lama Pang Lin kabur, dan sudah keluar dari kota kecil itu, ia pikir buat apa jauh-jauh pergi ke Poh-tian di Hokkian, Ko-san justru berada di dekat sini, mengapa yang dekat tidak mau sebaliknya menuju ke tempat yang jauh?
Apalagi Siau-lim-si di Kosan ini jauh lebih terkenal daripada Siau-lim-si di Poh-tian.
Begitulah maka sesudah dua-tiga puluh li ia berlari, waktu itu hari masih belum terang, saking letihnya, akhirnya Pang Lin berhenti mengaso dan merebahkan diri di suatu tanah bukit, ia tanggalkan baju luarnya dan tertidur.
Entah sudah berapa lama ia pulas ketika samar-samar dalam keadaan kantuknya tiba-tiba ia mendengar ada suara tindakan orang, waktu Pang Lin membaliki tubuh, sekonyong-konyong ia dengar ada suara orang berkata.
"He, ada anak perempuan tertidur di sini!"
Mendengar suara itu seketika Pang Lin melompat bangun, waktu ia memandang, rasa kantuknya seketika buyar semua, ternyata orang-orang yang datang ini ada dua, seorang lelaki dan yang lain wanita, mereka bukan lain daripada Ong Go dan Yap Hing-po.
Kiranya sesudah Han Tiong-san bersama istrinya, Yap Hing-po, berhasil menyelamatkan diri, tidak lama kemudian mereka telah 'bergabung kembali dengan Ong Go.
Han Tiong-san terkena sekali hantaman Hong-hoal Taysu, meski tidak berbahaya, tetapi ia perlu merawat lukanya untuk beberapa hari lamanya.
Ong Go yang terkena pisau berbisa, sementara itu racun dalam tubuhnya pun mulai bekerja.
"Si gundul Hong-hoat itu telah terkena Hwe-goan-kau, ilmu entengi tubuhnya tentu banyak terpengaruh,"
Demikian Han Tiong-san berkata.
"Perempuan busuk, coba kau pergi menguntit dia, biar nanti aku suruh Thian-yap Sute menyusul untuk membantu kau."
Lalu ia berkata pula pada Ong Go.
"Kau telah terkena pisau berbisa budak liar itu, kau harus menangkap dia untuk memaksa memberi obat pemunahnya."
Sebenarnya kata-katanya hanya untuk menakuti Ong Go saja, ia sendiri sebetulnya punya obat pemunahnya, tetapi ia kuatir Ong Go tidak mau mengeluarkan tenaga sepenuhnya, maka ia sengaja tidak mau memberikan obat padanya, ia hanya memberi dua pil biasa untuk mencegah rasa sakit dan menahan menjalarnya racun, habis itu ia lantas mendesak Ong Go menguber musuh lagi.
Begitulah demi nampak datangnya kedua orang ini, segera Pang Lin melompat bangun terus kabur.
Namun dengan pedangnya tahu-tahu Yap Hing-po sudah mengadang di hadapannya.
Dengan gerak tipu 'Ngo-eng-king-ih' (elang lapar menyisik bulu), cepat Pang Lin menusuk lawannya.
Tetapi serangan ini disambut dengan tertawa oleh Yap Hing-po.
"Haha, betapa tinggi kepandaianmu hingga berani kau bertanding pedang dengan ibu gurumu?"
Berbareng ia menangkis menyusul pedang dipentang keluar, gerak tipu ini mempunyai gaya menyerang dan menjaga diri, tetapi Yap Hing-po kuatir melukai Pang Lin, maka ia tak berani menggunakan sepenuh tenaga, ia hanya menangkis sekenanya saja, dengan demikian ia mengira senjata Pang Lin pasti akan dia bentur terbang.
Di luar dugaan, Pang Lin kini sudah bukan lagi Pang Lin yang dulu, begitu kedua pedang saling beradu, bukannya pedang Pang Lin yang mencelat, sebaliknya senjata Yap Hin-po sendiri kena terguncang pergi, keruan perempuan tua ini menjadi terkejut.
"Eh, budak liar ini ternyata sudah banyak maju, tapi mengapa begitu pesat?"
Demikian ia membatin.
Ia tak berani memandang enteng lagi, segera ia ayun pedangnya dengan gencar, ia tekan kembali serangan Pang Lin.
Jika Yap Hing-po mau bertempur sungguh-sungguh, sudah tentu Pang Lin bukan tandingannya, tapi kini Pang Lin sudah memperoleh kitab warisan Pho Jing-cu, ia telah mempelajari Lwekang dari aliran silat yang baik, ditambah pula dia mahir berbagai cabang silat lain, setelah tiga sampai lima puluh jurus, ternyata belum ada tanda-tanda bakal kalah.
Karena itu, dengan menjinjing tombaknya Ong Go bennaksud ikut maju.
Akan tetapi segera ia dibentak Yap Hing-po.
"Tidak perlu kau membantu, aku tidak percaya tidak bisa menangkapnya!"
Segera ia perkencang pedangnya, seketika angin menyambar keras, Pang Lin segera terkurung dalam gulungan sinar senjatanya, cuma karena Yap Hing-po ada pantangan, ingin menawan hidup-hidup, maka tak berani ia mengeluarkan tipu serangan yang mematikan, karena ini juga, meski berulang kali Pang Lin harus menghadapi tekanan musuh yang berbahaya, ia masih bisa bertahan mati-matian.
Setelah lewat beberapa puluh jurus lagi, lama-kelamaan Yap Hing-po merasa kehilangan muka karena masih belum bisa mengalahkan orang, ia menjadi kalap walaupun harus melukai orang, maka tanpa kuatir lagi segera ia menyerang dengan pedang dan pun kulan sebelah tangannya, pedangnya menusuk dan tangannya hen-l dak merebut senjata lawan.
Karena perubahan ini, Pang Lin merasakan berat sekali perlawanannya, tampaknya dengan segera bisa tertangkap hidup-hidup.
Pada saat genting itulah tiba-tiba ia mendengar ada suara seman orang.
"Adik, kaukah yang di sini?"
Pang Lin kenal suara itu, tapi ia tidak berani menoleh, hanya sekuat tenaga ia menangkis sekali serangan musuh, habis itu dengan suara keras ia menyahut.
"Ya, Li Ti Toako, lekas bantu aku."
Sementara itu Yap Hing-po menekan pedangnya ke bawah, pedang Pang Lin tertindih hingga tak kuat diangkat kembali, sedang jari tangan kiri Yap Hing-po sudah menjulur lagi, laksana belati saja jarinya menutuk ke 'Moa-hiat', tempat yang membikin kaku.
Tetapi pada saat itu juga, pemuda yang berseru tadi sudah mendatangi secepat terbang, begitu pedangnya menangkis, ia sam-puk pergi tombak Ong Go, sedang telapak tangan yang lain didorong ke depan, sekaligus ia patahkan serangan menutuk Yap Hing-po tadi.
Waktu Yap Hing-po tegasi, kiranya bukan lain daripada pemuda yang pernah dia temukan di Sam-tam-in-gwat di Se-ouw dahulu itu, kemudian baru diketahuinya bahwa pemuda ini adalah buyut Li Cu-seng, pahlawan pelopor pemberontak kaum tani yang tersohor.
"Ha, kembali seorang buronan kerajaan lagi!"
Ujar Yap Hing-po tertawa dingin sambil menyambut kedatangan Li Ti dengan serangan kilat.
Tetapi Li Ti telah mengacungkan pedangnya, seperti menuju ke kanan, tetapi mendadak balik ke kiri, dengan cepat ia menusuk ke iga kiri musuh.
Dengan gerak tipu 'Hong-hou-ciu-in' atau naik pangkat merebut stempel, segera Yap Hing-po bermaksud mengunci pedang Li Ti agar tak mampu bergerak, di luar dugaan, baru saja ia bergerak, tahu-tahu senjata musuh sudah sampai di sebelah kanannya lagi.
Beberapa tipu serangan aneh itu membuat Yap Hing-po ke-labakan dan bingung, sedang Pang Lin berbareng pun menyerang bila ada kesempatan.
Keruan berulang kali Yap Hing-po harus menghadapi bahaya.
"Ong Go, coba kau tandingi budak liar ini!"
Teriaknya kemudian, rupanya ia mulai kewalahan. Ong Go mendengus akan seruan itu, dengan memutar tombak-aritnya ia maju membantu. Tetapi diam-diam ia menertawai kawannya.
"Hm, dua bocah cilik saja kau tak mampu menandingi, masih hendak berlagak kaum Cianpwe segala?"
Dengan terjunnya Ong Go ke kalangan pertempuran, sekali keempat orang bergebrak lantas menjauh lagi dan terpencar, dengan pedangnya Li Ti menekan terus Yap Hing-po, mereka mengeluarkan serangan mematikan, begitu hebat dan ramai hingga dari atas, mereka menurun sampai di bawah bukit.
Li Ti adalah ahli-waris lurus aliran Pek Hoat Mo-li, Kiam-hoatnya aneh tetapi ganasnya tiada bandingan di kolong langit ini, meski Yap Hing-po cukup ulet, namun seketika ia pun terdesak di bawah angin.
Di pihak lain, dengan datangnya Li Ti, semangat Pang Lin jadi bertambah dan terbangkit, ia sudah punya pengalaman tadi malam, maka setelah menempur Ong Go lagi, ia berganti siasat, tidak ter-gesa merangsek maju, ia hanya memainkan ilmu pedang Bu-kek-kiam-hoat dengan cepat, ia berjaga rapat tanpa lubang sedikitpun.
Sebaliknya setelah Ong Go membuka serangan sampai dua-tiga puluh jurus, perlahan-lahan ia merasakan badannya panas, ia mengerti racun pada lukanya telah bekerja, mau tak mau gaya serangannya terpengaruh dan lambat.
"Ha, kau keparat anjing ini, kepandaianmu tidak lebih hanya begini saja! Hayo, tidak lekas kau taruh senjatamu dan menyerah!"
Dengan tertawa Pang.Lin mengejek.
Sebenarnya kepandaian Ong Go memang di atas Pang Lin, tetapi karena bekerjanya racun di tubuhnya menjalar dengan cepat, maka ia merasa tak tahan.
Kini dibentak dan diejek lagi oleh Pang Lin, ia menjadi gemas dan gusar.
"Hm, budak liar, kau telah kena jarum berbisa, dalam tujuh hari kau pasti akan mampus, masih berani kau berlagak lagi?"
Dengan tertawa dingin ia balas menyindir. Akan tetapi gertakannya ternyata diganda tertawa oleh Pang Lin.
"Haha, kau ngaco-belo saja!"
Habis itu mendadak dari menjaga diri ia mulai menyerang, ia keluarkan ilmu pukulan lihai 'Tat-mo-kun-hoat' dari Siau-lim-pay yang dahulu dipelajari dari In Ceng, ia selalu mendahului menyerang, dari tipu gerakan Tt-wi-to-kang' atau dengan satu galah menyeberangi sungai, sampai tipu serangan 'Hoat-lun-sam-coan' atau roda suci berputar tiga kali, tidak lebih belasan jurus saja ia sudah membikin Ong Go kelabakan dan kerepotan.
"Apa kau tidak percaya pada omonganku?"
Ong Go berseru setelah kewalahan.
"Coba kau rasakan, bukankah kini di tempat Kiok-ti-hiat sudah terasa linu pegal?"
Kiok-ti-hiat berada di tengah sendi tulang siku, menurut perhitungan Ong Go, jika jarumnya jalan naik menurut aliran darah, kini seharusnya sudah sampai di dekat Kiok-ti-hiat, oleh karenanya ia memberi peringatan pada Pang Lin.
Tidak terduga sesudah nona ini minum 'Siau-hoan-tan' pemberian Hong-hoat Taysu, jarum 'Pek-bi-ciam' sudah terlekat oleh darah yang membeku di dalam dan sementara tidak bisa berjalan, karena itu juga sedikitpun tidak terasa sakit.
Nampak lawannya sudah kewalahan hingga mandi keringat, tetapi masih coba menggertak padanya, Pang Lin tertawa dingin.
"Hm, baiklah, boleh kita coba siapa yang bakal mampus?"
Ejeknya lagi.
Menyusul ia percepat pedangnya dengan tipu serangan lihai, maka dalam sekejap saja Ong Go terkena dua tusukan.
Ketika Ong Go melirik kawannya, ia lihat Yap Hing-po sedang menempur pemuda itu dengan sengit, keduanya sama kuat dan setanding, seketika susah dibedakan mana yang bakal menang, ia mengerti Yap Hing-po tidak sempat melepaskan diri untuk membantunya, maka ia jadi kuatir dan gelisah.
"Kalau aku mati, kau pun tidak akan hidup, lebih baik kita saling tukar obat pemunah saja, lalu kita tidak bermusuhan lagi, bagaimana?"
Katanya kemudian, lagu suaranya sudah bersifat memohon.
"Jika kau meminta secara baik-baik, mungkin aku mau mengampuni kau, tetapi kau sengaja main gertak, maka tidak sudi aku ampuni kau!"
Sahut Pang Lin dengan gelak tertawa.
Habis berkata pedangnya bekerja semakin kencang, dengan sekali memutar dan memuntir, tombak Ong Go yang saling beradu ternyata tidak sanggup tergenggam lagi, senjatanya terpental dari cekalan terus jatuh ke dalam sungai gunung dan terhanyut oleh air terjun yang menggerujuk keras dari atas gunung.
Karena sudah tak berdaya, Ong Go hanya berdiri tegak saja, tetapi matanya melototi Pang Lin sambil berseru pula.
"Usia muda dan rupa cantik, tetapi, sayang, sayang!"
"Sayang apa?"
Bentak Pang Lin dengan gusar, tanpa ampun lagi, begitu ia menggeraki pedangnya, kontan Ong Go ditusuk tembus dari dada ke punggung dan tak bernyawa lagi.
Di sebelah sana Li Ti pun sedang saling tempur dengan Yap Hing-po, mereka telah mengeluarkan seluruh kepandaian, Li Ti lebih unggul dalam hal ilmu pedang yang aneh dan hebat, sebaliknya Yap Hing-po menang dalam soal keuletan, latihannya lebih matang, maka setelah saling gebrak ratusan jurus, lambat laun dahi Li Ti mulai berkeringat, napasnya pun mulai memburu.
Dalam keadaan yang menguntungkan Yap Hing-po ini, mendadak ia mendengar jeritan Ong Go, tanpa terasa wanita tua ini menjadi jeri.
Pikirnya.
"Jika mereka berdua mengeroyok aku, terang aku bukan tandingan mereka."
Karena itu, dengan sekali serangan pancingan segera ia kabur, sedang Li Ti memang sudah tersengal-sengal napasnya, ia lantas menyapa Pang Lin dan tidak mengejar musuh lagi.
Teringat pada kejadian dahulu, dimana Pang Lin meninggalkan Li Ti yang menderita luka di dalam hutan, nona ini jadi rada malu diri, sikapnya pun serba salah dan kikuk.
"Ing-moay, sudah lama aku mencari kau,"
Terdengar Li Ti berkata dengan tertawa gembira.
"He, bukankah kau sangat baik dengan perempuan keparat tadi? Aku masih ingat waktu di Sam-tam-in-goat tahun lalu, bukankah kau berada bersama dia, tetapi mengapa sekarang kau berhantam dengan dia?"
Pang Lin tertawa genit oleh pertanyaan orang.
"Aku senang pada siapa, lantas aku baik padanya, apa yang perlu diherankan?"
Sahutnya.
"Perempuan tua ini telah menghina aku, maka aku benci padanya."
Diam-diam Li Ti merasa girang oleh penuturan itu, pikirnya dalam hati.
"Bagaimanapun juga memang ia masih punya perasaan dan masih bisa membedakan orang baik dan orang jahat. Umurnya masih terlalu muda, aku harus menjaganya baik-baik."
Sementara itu tertampak olehnya Pang Lin sedang mengerut kening, ia menjadi heran.
"Ing-moay, kenapa kau? Apa kau terluka?"
Segera ia bertanya.
"Tidak, hanya di dekat tempat Kiok-ti-hiat ini rasanya pegal dan linu, entah mengapa?"
Sahut Pang Lin.
Habis berkata mendadak ia teringat pada apa yang dikatakan Ong Go tadi, tanpa tertahan ia sangat terkejut.
Kiranya sesudah Pang Lin minum Siau-hoan-tan pemberian Hong-hoat Taysu, sebenarnya Pekrbi-ciam sudah terlekat oleh darah yang membeku, tetapi setelah mengalami pertempuran sengit tadi, darahnya mengalir cepat lagi hingga perlahan-lahan jarum dalam badannya itu berjalan lagi.
Karena Bu Sing-hua (paman Li Ti) pandai dalam ilmu ketabiban, maka sedikit banyak Li Ti pun paham, ketika ia lihat wajah Pang Lin, segera ia meraba tangan si nona yang halus itu.
Karena perbuatan ini, muka Pang Lin menjadi merah jengah.
Sejak kecil Li Ti sudah berkumpul dan bermain bersama Pang Ing, maka ia anggap perbuatannya tadi biasa saja, sedikitpun ia tidak merasa canggung.
Begitulah maka sesudah ia meraba sekali, tiba-tiba ia berseru terperanjat.
"He, kau telah terkena senjata rahasia berbisa. Ah, susah untuk diraba, senjata rahasia ini lembut sekali, agaknya sebangsa Bwe-hoa-ciam bukan?"
"Bukan Bwe-hoa-ciam, katanya Chit-sui-pek-bi-ciam!"
Jawab Pang Lin.
Kaget sekali Li Ti mendengar.keterangan ini, seketika keringatnya berbutir-butir sebesar kedele menetes dari jidatnya.
Nampak orang begini tegang dan aneh, Pang Lin menjadi terkejut dan curiga juga.
"Apa betul Pek-bi-ciam itu sangat lihai?"
Segera ia bertanya.
"Tetapi sewaktu terkena, aku hanya merasakan seperti digigit nyamuk saja, sedikitpun tidak berasa sakit."
"Siapa yang memberitahu kau bahwa senjata rahasia yang mengenai kau itu bernama Chit-sui-pek-bi-ciam?"
Li Ti bertanya pula. Pang Lin menunjukkan mayat Ong Go yang menggeletak di tanah.
"Justru dia yang memberitahu padaku, Pek-bi-ciam itupun dia yang melepasnya,"
Sahutnya.
"Malah dia mengatakan lagi bahwa umurku tidak akan lebih dari tujuh hari lagi dan pasti akan binasa!"
Habis bicara, lalu Pang Lin berpikir sejenak, menyusul dengan tertawa ia berkfta pula.
"Ha, aku justru tidak percaya. Tadi ia minta saling tukar obat pemunah dengan aku, tetapi aku tidak gubris padanya. Ia anggap aku seperti anak kecil saja, mana aku bisa ditipunya."
Tetapi saking kuatirnya hingga muka Li Ti menjadi pucat, sebelum Pang Lin habis berkata, dengan cepat ia mendekati mayat Ong Go dan menggeledah.
"Hiii, matinya dengan rupa yang menakutkan sekali, seretlah ke sebelah sana, aku tidak ingin melihatnya,"
Dengan menutup muka Pang Lin berkata.
Apapun juga Pang Lin adalah anak perempuan, meski cara turun tangannya ganas dan keji, tetapi demi nampak mayat dan mencium bau amisnya darah, ia jadi keder dan merasa tidak enak.
Tetapi Li Ti tidak pedulikan teriakannya itu, ia tetap menggeledah tubuh Ong Go, dari baju mayat itu ia dapatkan sebuah bumbung berisi senjata rahasia, ketika ia buka tutup bumbung ini, di dalamnya ternyata penuh berisi jarum kecil lembut seperti bulu kerbau, lebih halus daripada Bwe-hoa-ciam.
Li Ti masih kuatir, ia menggeledah lagi, tetapi setelah sekujur badan mayat itu dia raba tetap tidak didapatkan obat pemunah yang dia cari.
"Kau tidak menurut perkataanku, biar aku pergi saja!"
Terdengar Pang Lin buka suara pula karena kata-katanya tadi tidak diturut oleh Li Ti.
Habis berkata, betul juga ia lantas berlari pergi, tetapi ia tidak kabur jauh, sampai di samping gunung, ia menarik napas panjang dengan muka menghadap sungai pegunungan di bawahnya.
"Baik aku menurut kata-katamu, jangan kau lari pergi!"
Lekas Li Ti menyahut. Berbareng ia lantas menendang mayat Ong Go ke samping dan menutupnya dengan daun-daun kering. Melihat kelakuannya, Pang Lin tertawa geli.
"Tidak, aku hanya menakut-nakuti kau saja, tapi kau mau percaya, kini aku tidak kabur lagi,"
Katanya.
"He, apakah Pek-bi-ciam itu betul-betul sangat lihai?"
Nampak si nona yang sedang menghadapi elmaut tetapi masih tidak tahu, bahkan masih berguyon seperti anak kecil saja, Li Ti menjadi semakin kuatir dan berduka.
"Eh, dimanakah senjata orang ini?"
Tanya Li Ti.
"Sudah aku pukul dan terlempar ke dalam sungai,"
Sahut Pang Lin.
Arus air sungai mengalir dengan derasnya, sudah terang Li Ti tak berdaya mencari senjata Ong Go.
Padahal obat pemunah itu justru disimpan dalam gagang tombak Ong Go, seumpama Li Ti bisa mendapatkan gamannya itu, belum tentu ia tahu alat rahasia dalam senjata itu, apalagi hakikatnya tidak bisa diketemukan.
Bu Ging-yao paham senjata rahasia dari berbagai golongan silat, Li Ti telah belajar pada ibunya sejak kecil, maka ia pun cukup mengetahui asal-usul Chit-sui-pek-bi-ciam.
Dalam hati ia memperhitungkan.
"Dari sini ke Sucwan paling sedikit memakan waktu sebulan, seandainya keluarga Tong sudi memberi obat pemunahnya, tapi waktunya tentu sudah terlambat dan tak berguna lagi."
Begitulah saking kuatirnya, tanpa terasa ia mengucurkan air mata. Namun segera ia berpikir pula.
"Hal ini jangan sampai diketahui Ing-moay, jika ia tahu pasti akan sangat kuatir, seumpama memang tidak dapat tertolong lagi, boleh biarkan dia bersenang-senang sepuasnya sebelum tiba ajalnya."
Karenanya secara sembunyi-sembunyi ia berpaling ke jurusan lain untuk menyeka air matanya. Akan tetapi perbuatannya ini sudah keburu dilihat Pang Lin, mau tak mau hati si nona tergerak juga.
"Dulu waktu ia terluka, diam-diam aku telah meninggalkan dia, tetapi sedikitpun ia tidak marah padaku, kini aku yang terkena senjata rahasia musuh, sebaliknya dia begini memperhatikan diriku, beratus kali lipat lebih kuatir daripada diriku sendiri. Ai, meski orang ini tidak terhitung pintar, tetapi pribadinya betul-betul susah dicari yang lain,"
Demikian ia berpikir.
Pang Lin sejak kecil dibesarkan dalam istana, walaupun ia dimanja dan disayang orang banyak, tetapi dengan sendirinya punya juga perasaan murni yang timbul dari hati nuraninya, perasaan demikian inilah boleh dikatakan untuk pertama kalinya timbul selama hidupnya.
Sementara itu Li Ti sudah berpaling kembali, dengan tertawa dibuat-buat ia berusaha membikin senang Pang Lin.
"Ing-moay, apa saja yang kau suka, katakan saja!"
"Coba, begini kau merasa kuatir, sampai suara tertawamu pun gemetar!"
Sahut Pang Lin.
"Kalau tidak tertawa hendaknya jangan memaksa tertawa, tertawa yang dipaksakan tentu saja tidak sedap dipandang. Aku tidak percaya Pek-bi-ciam ini bisa mencabut nyawaku!"
Li Ti hanya diam saja, tapi dalam hati tetap mencemaskan keadaan si nona.
"Sudahlah, aku sendiri tidak kuatir, apa yang kau kuaurkan?"
Kata Pang Lin lagi.
"Tadi malam sesudah aku minum sebutir pil pemberian si Hwesio tua, segala penderitaan sakit sudah tidak terasa, la malah menyuruh aku mencarinya ke Siau-lim-si di Poh-tian, Hokkian. Coba kau pikir, jika aku tidak bisa hidup lebih dari tujuh hari, mana bisa ia suruh aku mencarinya ke sana? Bukankah sebelum sampai di sana aku sudah mampus di tengah jalan?"
Mendengar penuturan ini, Li Ti menjadi girang, ia seperti memperoleh sesuatu sinar harapan.
"Apa. Hwesio tua? Masih adakah obat pil itu?"
Tanyanya cepat. Tetapi Pang Lin lantas menelan lagi sebutir pil yang dikatakan itu. lalu menjawab.
"Ya. seorang Hwesio yang ilmu silatnya jempolan!"
"Orang tentu punya nama bukan?"
Kata Li Ti dengan tertawa.
"Tetapi kalau dia tidak memberitahukan padaku, darimana aku bisa tahu?"
Sahut Pang Lin. Mendengar si nona berkata tentang Hwesio tua, Li Ti berpikir.
"Apa mungkin ia adalah padri Siau-lim-si? Jangan-jangan adalah Cu-ji dari Siau-lim-si di Pek-tiam. Kalau begitu dari sini ke Ko-san bukankah lebih dekat? He, goblok sekali aku ini! Mengapa aku tidak ingat pada Siau-lim-si! Banyak sekali macam obat mustajab di kuil agung itu, boleh jadi tidak usah obat pemunah dari keluarga Tong akan bisa menolong adik Ing."
Nyata Li Ti masih belum tahu bahwa Siau-lim-si sudah terbakar musnah, ia pun tidak menduga bahwa Hwesio yang Pang Lin temukan itu adalah Kam-si, pengawas gereja dari Ko-san Siau-lim-si, bahkan Kam-si dari Siau-lim sendiri tidak mampu mengobati si nona.
Siau-hoan-tan, pil yang diberikan pada Pang Lin itu hanya bisa bertahan untuk beberapa hari saja, supaya jarum berbisa itu tidak berjalan mengikuti darah, bagi orang yang mempunyai dasar latihan ilmu silat, paling banyak pun hanya bisa bertahan sampai dua puluh hari atau sebulan lamanya, untuk tidak sampai mati, dan lagi badan tidak boleh terlalu letih, lebih-lebih pantang bertempur.
"He, apa yang sedang kau pikirkan?"
Tegur Pang Lin demi nampak Li Ti termenung-menung.
"Aku lagi berpikir jika kita datang ke Ko-san, besok pun rasanya kita bisa sampai di sana. Dengan begini bukanlah jauh lebih dekat daripada pergi ke Poh-tian di Hokkian?"
"Ha, apa yang kau pikir cocok sekali dengan aku, memang aku sedang berpikir hendak pergi ke Ko-san,"
Sambut Pang Lin dengan tertawa riang.
"Eh, kalau nanti kita dapatkan obat pemunah, lalu kita ajak sekalian padri Siau-lim-si untuk bertanding."
"Hus, jangan kau sembrono, Siau-lim-si adalah pucuk pimpinan dunia persilatan, kau boleh berkunjung ke sana, tetapi jangan kau bikin onar,"
Sahut Li Ti, lalu ia menyambung lagi.
"Suhumu dengan Cu-ji Siau-lim-si yang dulu Pun-khong Taysu, adalah kenalan lama, dengan Pun-bu Taysu, Kam-si yang dulu, juga sobat baik, tentu padri-padri Siau-lim-si di sana akan menyambut kau dengan hormat."
"Betulkah begitu? Mengapa belum pernah aku mendengar dari Suhu?"
Ujar Pang Lin.
"Mungkin le-pekbo menganggap kau masih bocah cilik, maka segala apa tidak diceritakan padamu bukan?"
Sahut Li Ti.
"Ya, ia bilang aku terlalu banyak omong, maka segala apa tidak diberitahukan padaku!"
Li Ti menjadi heran oleh kata-kata ini.
"Tapi dahulu kau pendiam sekali, apakah sesudah besar sekarang baru kau suka bicara? Apa adat semasa kecilmu sudah kau lupakan?"
Tanyanya. Pang Lin menjadi kaget oleh teguran ini, pikirnya.
"Celaka, aku salah wesel lagi!"
Tetapi dasarnya memang punya pikiran yang tajam dan pintar, ia bersikap seperti biasa saja, sedikitpun tidak kentara perasaannya tadi, sebaliknya dengan tersenyum ia lantas menjawab.
"Kalau berhadapan dengan orang yang rapat hubungannya dengan aku, memang banyak omong."
Li Ti pikir keterangan si nona memang betul juga, ia tahu Pang Ing dengan Ie Lan-cu seperti ibu dan anak saja, jika si nona suka ceriwis dan manja di hadapan le-pekbo, hal inipun lumrah.
Nampak Li Ti bersenyum, barulah Pang Lin merasa lega, maka ia tak berani buka suara lebih banyak lagi, dengan hati-hati ia coba memancing pula.
"Dimanakah kau punya Kiukiu (paman, adik ibu)?"
Tanyanya.
"O, karena ada keperluan, ia sudah kembali ke Thian-san,"
Sahut Li Ti.
Pang Lin tambah lega, ia tahu Li Ti berwatak tulus, kalau sekarang dirinya berdusta dan memalsu sebagai murid le Lan-cu tentu tidak bakal ketahuan.
Begitulah maka Pang Lin lantas mengenakan baju lelaki lagi dan menempuh perjalanan bersama Li Ti, sepanjang jalan Pang Lin terus memancing agar Li Ti menceritakan keadaan di Thian-san, sedang ia sendiri secara licin selalu menghindarkan pertanyaan yang ia sendiri tidak mengerti.
Keruan tidak sampai setengah hari saja terhadap kejadian dan cerita tentang Thian-san-chit-kiam serta hubungan di antara mereka, dan macam-macam lagi, semuanya diingat baik-baik oleh Pang Lin.
Gunung Ko-san sebenarnya adalah sebutan keseluruhan dari Thay-sit-san dan Siau-sit-san.
Keesokan harinya mereka berdua sudah sampai di kaki gunung Siau-sit-san, waktu itu sudah lewat sebulan sejak Siau-lim-si dibakar, maka hampir setiap pemimpin persilatan mengetahui kejadian ini, mereka melarang anak murid agar tidak menginjakkan kaki dalam lingkungan seluas tiga ratus li disekitar Ko-san, sebab itulah maka begitu Hong-hoat datang kembali, seketika kepalanya yang gundul lantas menjadi incaran orang, sehingga ketahuan oleh Han Tiong-san dan kawan-kawan Sebaliknya karena Li Ti belum terkenal, Han Tiong-san menaksir orang-orang dari cabang silat lain tiada yang berani datang mencari penyakit, oleh sebab itu penjagaan di sekitar Ko-san pun jadi agak kendur, hingga Li Ti berdua secara diam-diam berhasil menyelundup ke sana.
Tatkala Li Ti dan Pang Lin melihat seluruh gunung sudah gundul tandus dan bersih, mereka heran dan terperanjat pula, namun mereka tetap mendaki ke atas.
Jika di bawah gunung pemandangan masih menghijau, di tengah gunung pun pohon-pohon masih lebat, tetapi begitu mereka sampai di bawah puncak Ngo-hay-hong di sebelah utara Siau-sit-san, yang mereka lihat hanya tumpukan puing belaka dan sisa-sisa arang yang hangus.
"He, kenapa bisa begini, tentu kau telah salah jalan,"
Ujar Pang Lin.
"Di sini satu rumah saja tidak ada, kemana bisa mencari Siau-lim-si?"
"Siau-lim-si terletak di bawah puncak Ngo-hay-hong di sebelah utara gunung Siau-sit-san, di kolong langit ini siapa pun mengetahuinya, mana bisa aku salah jalan,"
Sahut Li Ti. Kemudian ia menunjuk pada tumpukan puing dan menyambung lagi.
"Itu, tidakkah kau lihat tumpukan puing yang terbakar hangus itu? Tentunya di atas gunung ini terjadi kebakaran besar, hingga Siau-lim-si ikut tertelan api."
Karena itulah mereka sangat kecewa, lebih-lebih Li Ti, ia merasa sedih sekali. Pikirnya.
"Untuk menolong Ing-moay, tadinya aku menaruh harapan pada Siau-lim-si, tetapi kini kuil inipun ternyata sudah terbakar musnah, lalu kemana aku harus mencari obatnya?"
"Ah, kau telah berkuatir lagi bukan?"
Terdengar Pang Lin bertanya dengan tertawa.
"Sudahlah, sekalipun tiada obat pemunahnya, belum tentu aku akan mati."
Sementara itu Pang Lin sudah menelan lagi sebutir Siau-hoan-tan yang terakhir, ia merasakan pergelangan tangannya rada linu dan pegal, selain ini ia tidak merasa apa-apa lagi.
Tatkala Li Ti melompat ke atas sebuah batu cadas dan memandang jauh ke sana, tiba-tiba ia berseru.
"Ha, di sana seperti ada sebuah rumah, ya, betul sebuah rumah. He, terdapat pula seorang!"
Lalu ia melompat turun terus berlari ke depan sana.
"Orang ini adalah Hwesio!"
Serunya lagi dengan girang.
"Tentunya padri Siau-lim-si, lekas kita panggil dia!"
Ujar Pang Lin.
Habis berkata ia lantas mendekap bibir terus bersuit hingga suara suitannya berkumandang jauh di antara puncak pegunungan, sedang orang yang mereka lihat itupun berlari mendatangi secepal terbang, setelah dekat, betul juga memang seorang Hwesio.
"Mohon tanya siapakah gelar suci Taysu?"
Segera Li Ti memapak dan menyapa dengan hormat. Tetapi padri ini ternyata tidak menjawab, sebaliknya ia malah bertanya.
"Kalian mencari siapa?"
Waktu Pang Lin mengamat-amati Hwesio ini, ia lihat orang memakai kopiah berujung lancip seperti tanduk kambing, tubuhnya mengenakan jubah hitam, matanya bersinar bengis, sedang tangan menghunus pedang yang bersinar mengkilap.
Dari dandanannya ini kelihatan padri ini bukan Hwesio dari Siau-lim-si, maka diam-diam Pang Lin menyiapkan senjata rahasia pisau di tangan.
"Kami tidak mencari siapa-siapa!"
Demikian ia mendahului menjawab. Sebaliknya Li Ti pun lantas buka suara.
"Mohon tanya sejak kapankah Siau-lim-si terbakar? Apakah Bu-cu Siansu masih ada di sini?"
Mendengar pertanyaan ini, terlihat Hwesio itu tertawa dingin.
"Apa kalian hendak mencari ketua Siau-lim-si? Ha, kebetulan sekali kedatanganmu! Justru aku sedang mencari kalian pula."
Li Ti tercengang oleh kata-kata orang yang aneh ini.
"Apakah artinya kata-kata Taysu tadi?"
Tanyanya.
"Apa artinya? Maksudku kalian boleh pergi menemui Bu-cu Siansu saja!"
Sahut Hwesio itu dengan ketus.
Habis berkata, pedangnya lantas bergerak, secepat kilat ia pun membabat.
Hwesio ini bukan lain adalah Hay-hun Hwesio yang ditugaskan menjaga di Ko-san.
Sudah hampir sebulan ia menjaga Ko-san, baru hari ini untuk pertama kalinya ia bertemu orang luar, keruan dalam hati menjadi girang dan membatin.
"Ha, akhirnya ada dua penjahat cilik yang masuk jaring sendiri!"
Sebenarnya Hay-hun Hwesio adalah jago pedang kenamaan dan disegani di daerah selatan, cuma sayang nasibnya jelek, sesudah ia mengabdi pada In Ceng, bara keluar pintu ia sudah kebentur Lu Si-nio hingga ditabas kutung pedangnya di pulau Thian-hing-to dahulu, sejak itulah ia tidak mendapat kepercayaan hingga kedudukannya tidak bisa sejajar dengan Liau-in dan Thian-yap Sanjin, ia hanya diberi tugas di luar istana untuk menjabat sebagai Kau-thau atau pelatih jago-jago pengawal, dan karena ini juga maka ia tidak pernah mengenal Pang Lin.
Kembali tadi, waktu mendadak diserang, hampir saja Li Ti tertusuk, tetapi berkat ilmu entengi tubuhnya yang gesit dan cepat, mendadak ia melompat ke atas dan menghindarkan serangan orang.
Ketika Hay-hun Hwesio mengayun pedangnya menusuk lagi-, segera ia dipapaki Pang Lin dengan timpukan tiga buah Hui-to.
Lekas Hay-hun memutar pedangnya dengan cepat hingga merupakan saru lingkaran, dengan dua kali memutar, akhirnya tiga pisau itu kena tersampuk ke angkasa dan jatah ke dalam jurang.
"Ing-moay, jangan kau ikut turun tangan, jika kau ikut campur, nanti aku bisa marah!"
Li Ti berseru.
Habis berkata pemuda ini segera melolos pedang, ia unjukkan Kiam-hoat yang hebat ajaran dari aliran Pek-hoal Mo-li yang lihai.
Semula Hay-hun Hwesio tidak pandang sebelah mata pada Li Ti, tidak terduga setelah beberapa jurus, segera ia merasakan tekanan musuh yang berat dan susah dilawan.
Keruan ia terkejut, maka tak berani ayal lagi, segera ia putar pedang dengan cepat hingga membawa suara angin menderu, sinar senjata pun melindungi seluruh tubuhnya, meski Kiam-hoat Li Ti aneh dan bagus, tapi seketika tak mampu menembus penjagaannya.
Maka dalam sekejap saja mereka berdua sudah saling gebrak hampir lima puluh jurus, semula Hay-hun hwesio hanya bertahan saja, tetapi kemudian ia ganti keras lawan keras, ia balas merangsek juga, dengan uemikian kedua belah pihak menjadi seimbang dan sama kuat, begitu hebat hingga susah dibedakan pihak mana yang bakal kecundang.
Pang Lin sebenarnya ingin ikut serta dalam pertempuran, tetapi ia kuatir Li Ti betul-betul marah padanya, maka tak berani ia menerjang maju.
Sebenarnya dengan watak gadis ini, jarang sekali ia mau menurut perkataan orang, cuma saja karena Li Ti sangat sayang padanya, maka tanpa terasa sifatnya berubah juga dan merasa tidak enak untuk membantah apa yang dikatakan Li Ti.
Sementara itu sesudah Hay-hun berebut menyerang beberapa puluh jurus, namun sedikitpun ia tidak lebih unggul, bahkan ia merasa ilmu pedang lawan aneh luar biasa dan susah diraba.
Semula ia berpikir akan menangkap lawannya satu per satu, tapi kini ia menjadi kuatir kalau-kalau Pang Lin pun ikut mengeroyoknya.
Di lain pihak, diam-diam Li Ti pun rada terkejut, tidak ia sangka Kiam-hoat musuh ternyata cepat sekali seperti sambaran kilat, bahkan tiap gerakan senjatanya seperti membawa kekuatan ribuan kati beratnya, bila pertempuran berlangsung lama, ia kuatir dirinya bakal kecundang.
Tiba-tiba terdengar lawan bersuit panjang beberapa kali, agaknya sedang mengundang begundalnya, keruan Li Ti semakin kuatir dan tak sabar lagi, mendadak ia beri satu tusukan dengan cepat.
Ketika nampak ujung senjata lawan berkelebat, seperti menusuk ke bagian atas tetapi seperti juga hendak menusuk ke lutut, maka Hay-hun menjadi ragu-ragu, ia mundur setindak, habis itu telapak tangan kirinya disampukkan ke samping, sedang pedangnya melintang di dada untuk menjaga kanan-kiri dan atas-bawahnya, dengan demikian bagaimanapun pihak musuh mengubah tipu serangan, pasti ia bisa melayaninya.
Di luar perhitungannya, mendadak Li Ti menggetarkan pedangnya, ujung senjatanya dengan cepat menusuk ke bagian tengah, tempat 'Jiau-yao-hiat' di pinggang, tempat yang membikin orang tertawa terus-menerus.
Karena tidak menyangka akan serangan ini, meski Hay-hun masih sempat berkelit namun tidak urung tempat yang diarah itu sudah ditutul sekali oleh ujung senjata orang, seketika ia merasa pegal dan juga geli, segera ia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
Li Ti girang sekali karena serangannya berhasil, tetapi ia lantas menarik Pang Lin dan diajak melarikan diri ke bawah gunung.
Namun baru sampai di tengah gunung mereka sudah keburu disusul oleh Cin Tiong-wat, pembantu Hay-hun, dengan senjatanya, 'Boan-koan-pit', segera ia menyerang ke kanan dan kiri, ia merintangi jalan kabur orang.
Sebenarnya jago-jago bayangkara yang menjaga Ko-san sangat banyak, tetapi belakangan karena tiada terjadi sesuatu, lagi pula In Ceng sendiri sedang mengalihkan perhatiannya ke urusan lainr lambat-laun penjaganya dikurangi hingga paling akhir hanya tinggal Hay-hun Hwesio dan Cin Tiong-wat saja berdua.
Ilmu silat Cin Tiong-wat meski di bawah Hay-hun Hwesio, namun senjatanya yang aneh ditambah tipu serangannya mengutamakan menutuk jalan darah, jika Li Ti hendak mengalahkan dia dalam waktu singkat rasanya susah terjadi.
Setelah mereka bergebrak dua-tiga puluh jurus, mendadak terdengar suara bentakan dan gerungannya Hay-hun Hwesio yang murka, menyusul tertampak Hwesio itu menerjang maju.
Keruan Li Ti rada tercengang, sebab 'Jiau-yao-hiat' adalah salah satu urat nadi yang lemah, bila kena tertutuk, seketika orang akan tertawa terus-menerus hingga akhirnya lemah lunglai dan tak bertenaga.
Siapa tahu Hay-hun Hwesio ternyata hanya sebentar saja tertawa geli, habis itu ia bisa berlari lagi secepat terbang, maka dapat dibayangkan betapa tinggi kekuatannya.
Sementara itu demi nampak datangnya musuh, segera Pang Lin mencabut senjatanya juga, sedang tangan lain menyiapkan pisau terbangnya.
"Kau berdiri di samping sana saja, jika aku tak mampu menandingi mereka, kau boleh melarikan diri lebih dulu,"
Demikian Li Ti berpesan.
Tengah ia bicara, waktu itu juga Hay-hun Hwesio sudah datang mendekat.
Kini Li Ti harus menghadapi dua musuh, maka keadaan segera banyak berubah, setelah beberapa puluh jurus berlalu, perlahan-lahan pemuda ini terdesak di bawah angin.
Dalam pada itu Hay-hun Hwesio telah memutar pedangnya, dengan sekali putar dan sekali puntir, ia mengunci senjata Li Ti hingga tipu serangan Kiam-hoatnya yang lihai dan keji tidak sempat dilontarkan.
Di sebelah sana Cin Tiong-wat menggunakan kesempatan ini untuk mengayun kedua senjata potlotnya dari kanan dan kiri, dengan tipu 'Siang-hong-koan-ni' atau dua arus angin menyambar kuping, dengan potlot kiri ia pura-pura menjojoh ke muka orang, sedang potlot kanan terus menikam ke dada Li Ti di tempat 'Hian-ki-hiat', tipu serangan yang lihai ini bagaimanapun susah dielakkan oleh Li Ti.
Pada saat yang berbahaya itu, Pang Lin tak bisa menurut lagi pesan Li Ti, begitu tangannya bergerak, Hui-to yang sudah siap di tangannya tadi segera menyambar.
Cin Tiong-wat coba mengegos ke, samping, oleh karena itu serangannya tadi menjadi luput, ketika ia mengulangi lagi menutul, kembali potlot bajanya dihantam melenceng oleh pisau Pang Lin yang lain, Cing Tiong-wat terpaksa melompat pergi untuk menghindarkan serangan yang lain.
Setelah terlepas dari tekanan yang lain, Li Ti segera memutar pedangnya hingga terhindar juga dari serangan Hay-hun Hwesio.
"Ing-moay, kau jangan maju, lekas minggir!"
Teriaknya pada Pang Lin. ' "Aku tak mau menurut kata-katamu lagi, kau jangan marah,"
Sahut Pang Lin dengan tertawa.
"kalau sekarang kau marah, kau tak akan bisa menandingi keledai gundul ini, nanti saja kalau kau mau marah."
Sambil berkata, ia pun tidak pernah kendur memainkan senjatanya, segera ia saling gebrak juga dengan Cin Tiong-wat.
Ilmu silat Pang Lin memangnya beraneka ragam, maka dalam sekejap ia sudah bertukar lima-enam macam tipu serangan, sedang ilmu silat Cin Tiong-wat meski tinggi, namun ia masih terhitung kelas dua saja, karena itu, begitu dirangsek oleh tipu serangan Pang Lin yang tiada habis perubahannya, ia menjadi kelabakan hingga pandangannya kabur dan kepala pusing, setelah beberapa jurus berlalu akhirnya ia hanya sanggup menangkis saja dan tak mampu balas menyerang.
Di sebelah sana, Li Ti masih berteriak terus supaya Pang Lin menyingkir, tetapi gadis ini tidak menggubris padanya, ia tetap tekun melontarkan serangan pada musuh.
Sampai pada suatu saat, karena berusaha memperoleh kemenangan di antara kekalahannya, Cin Tiong-wat melakukan gerak tipu yang berbahaya, dengan cepat mendadak ia meloncat ke atas terus memutar ke belakang lawan, lalu dengan kedua potlotnya segera menutul Hiat-to lawan yang mematikan di punggung.
Di luar tahunya ilmu entengi tubuh Pang Lin ternyata jauh lebih pandai dari dia, ditambah mahir pula dalam ilmu 'Thing-hong-pian-gi' atau mendengarkan suara angin untuk membedakan senjata, baru saja Cin Tiong-wat melompat, segera pula Pang Lin siap sedia, begitu senjata 'Boan-koan-pit' menikam dekat punggungnya, sekali menutul dengan ujung kakinya, mendadak Pang Lin memutar balik, dengan cara meminjam tenaga untuk memukul orang, terdengarlah suara "trang"
Yang nyaring dua kali, kedua senjata potlot Cin Tiong-wat ternyata sudah dibentur terus dipuntir terlepas dari cekalan.
"Kalian mengeroyok kakak Li Ti, aku tidak bisa mengampuni kau!"
Bentak Pang Lin pula.
Berbareng itu pedangnya lantas membalik, seketika lima jari Cin Tiong-wat tertabas putus, tanpa ampun lagi dengan menjerit ngeri, Cin Tiong-wat tergelincir ke bawah gunung.
Di sebelah sana, Hay-hun Hwesio dan Li Ti masih asyik bertanding, masing-masing mempunyai kepandaian sendiri, sebenarnya siapa pun tidak akan menangkan yang lain.
Cuma Hay-hun tadi sudah kena tertutuk 'Jiau-yao-hiat* dan telah banyak berkurang kekuatannya, hanya keuletannya saja ia bisa bertahan sampai sekarang, tetapi kini demi nampak Cin Tiong-wat melayang jiwanya dan terjerumus ke dalam jurang, ia menjadi jeri dan berpikir hendak angkat langkah seribu saja.
Pada suam kesempatan, ia memakai tipu 'Li Kong-sia-ciok' atau Li Kong memanah batu, tampaknya seperti menyerang, tetapi sebenarnya hanya pancingan belaka untuk meloloskan diri.
"Hai, Hwesio gendut, apa kini kau masih bisa tertawa?"
Terdengar Pang Lin berseru menyindir.
Dan begitu tangannya diayun, kembali tiga pisau terbangnya lantas menyambar.
Waktu itu Hay-hun Hwesio sudah keburu melepaskan serangannya dan tak sempat menarik kembali senjatanya untuk menjaga diri, terpaksa dengan tangan kirinya ia memukul, dengan angin pukulannya ia bikin pisau-pisau itu terguncang pergi.
Tetapi karena itu juga, pedang yang dia tusukan tadi menjadi berkurang separoh kekuatannya,, kesempatan ini tidak disia-siakan Li Ti, dengan kecepatan luar biasa ia menikam.
Walaupun tidak tepat mengenai sasaran, namun tidak urung otot miang pada lutut Hay-hun Hwesio putus juga tercungkil.
Namun Hay-hun terhitung tangkas juga, dengan sekali berguling, ia terus menggelinding ke bawah gunung tanpa menghiraukan bahaya.
Pang Lin menjadi geli.
"Haha, macam apakah ini? Seperti anjing menubruk tahi!"
Dengan tertawa ia mengejek.
Tetapi belum lenyap suara tertawanya, sekonyong-konyong ia sendiri pun jatuh terguling.
Kiranya setelah mengalami pertempuran dahsyat tadi, Pek-bi-ciam yang menyusup dalam tubuhnya perlahan-lahan telah berjalan lagi dan racunnya bekerja keras, meski ada Siau-hoan-tan pun tidak bisa menahannya.
Bukan main terkejutnya Li Ti, dengan cepat ia berjongkok untuk memeriksa keadaan si nona, tertampak olehnya muka Pang Lin pucat laksana kertas, ia coba memanggilnya beberapa kali.
tetapi tiada sahutan sama sekali.
Li Ti dan Pang Ing adalah teman bermain sejak kecil, dalam keadaan demikian ia tidak menghiraukan soal lelaki dan perempuan lagi, dengan cepat ia coba meraba ke dada orang, ia merasakan dada masih hangat dan lunak, terang si nona belum putus napasnya, hanya karena terlalu banyak mengeluarkan tenaga, maka seketika jatuh pingsan.
Li Ti ingat pada cara pertolongan pertama ajaran pamannya, cepat ia pentang mulut Pang Lin yang kecil itu, lalu dengan mulut ke mulut ia menghembuskan hawa untuk si nona.
Lewat agak lama, perlahan-lahan terlihatlah Pang Lin mulai sadar kembali, kini baru Li Ti merasakan kecantikan si nona yang menggiurkan, tanpa tertahan pikirannya terguncang, lekas ia alihkan mulutnya.
"Bagaimana kau?"
Ia bertanya dengan suara perlahan.
"Rasanya haus sekali,"
Sahut Pang Lin. Li Ti mengerti tentu ini akibat bekerjanya racun yang jahat, ia coba menghibur.
"Marilah kita mencari satu tempat untuk mengaso dulu."
Lalu ia memondong anak dara ini, ia mendapatkan sebuah gua di belakang batu cadas besar yang menonjoLaari lamping gunung, segera Li Ti memondong Pang Lin ke dalam gua itu, ia bentangkan baju luarnya dan dengan perlahan ia rebahkan Pang Lin, dari sela batu gua ia lihat ada butiran air yang menetes keluar, dengan tangan Li Ti coba mengumpulkan tetesan air itu untuk dicekokkan pada Pang Lin.
Setelah kemasukan air, Pang Lin rada jernih kembali pikirannya.
"Sudahlah, kau boleh berangkat saja dan tidak usah mengurus aku,"
Katanya kemudian.
"Jangan kuatir, Ing-moay!"
Sahut Li Ti.
"Kau pasti sembuh, aku tetap menjaga kau di sini!"
"Tidak, aku tidak baik, aku telah meninggalkanmu. Kau orang baik, kau terus menjaga aku,"
Dengan suara lirih lemah Pang Lin berkata pula. Li Ti tahu tentu si nona teringat waktu dahulu ketika ia menderita luka4an ditinggal pergi dalam hutan itu.
"Sudahlah, jangan kau berpikir yang tidak-tidak, biar aku carikan buah-buahan untuk kau makan,"
Li Ti coba menghiburnya. Akan tetapi secara samar-samar kembali terdengar Pang Lin berkata lagi.
"Aku telah mendustai kau, ada yang hendak aku katakan...."
Tetapi belum habis ia berkata, kembali ia jatuh pingsan.
Seketika Li Ti menjadi kelabakan dan tak berdaya, dengan perlahan-lahan ia coba menepuk-nepuk bahu si nona, selang tak lama kemudian barulah Pang Lin siuman kembali.
Begitu sadar Pang Lin lantas membuka mulut dan setengah mengangkat kepala seperti hendak mengatakan sesuatu.
"Sudahlah, Ing-moay, jangan kau bicara lagi, pelihara dulu semangatmu,"
Li Ti menghiburnya.
Lalu ia mengambil buntalan Pang Lin yang terletak di sampingnya untuk dibuat bantal si nona, dengan demikian bisa lebih enakan tidurnya.
Tetapi waktu ia memegang buntalan itu, tiba-tiba tangannya seperti menyetuh sesuatu, ternyata dalam buntalan itu ada benda yang tergulung tebal.
Tatkala Li Ti mengambilnya keluar dan dilihat, kiranya adalah sebuah kitab, di atas kitab ini jelas tertulis 'Kim-ciam-toh-se' empat huruf.
Demi nampak kitab ini, Li Ti menjadi girang bercampur terkejut.
Pernah ia mendengar cerita dari ibunya bahwa kitab 'Kim-ciam-toh-se' (dengan jarum emas menolong jagat), adalah buah karya hasil jerih-payah selama hidup Pho Jing-cu.
Kitab itu sebenarnya terbagi dalam dua jilid,
Jilid pertama berisikan rahasia ilmu pukulan dan intisari pelajaran ilmu pedang, ini masih belum seberapa,
Jilid kedua justru adalah mestika yang susah dicari di kolong langit ini, yakni kitab ilmu ketabiban.
Tetapi ia menjadi heran dan tidak mengerti cara bagaimana kitab ini bisa berada pada 'Pang Ing'?
Tetapi bila ia berpikir lagi, ia pun ingat le Lan-cu pernah bercerita tentang kematian Ciong Ban-tong yang menyedihkan pada ibunya, katanya kitab ini berada di tangan Ciong Ban-tong, sayang waktu itu ia lupa mencarinya.
Tetapi Li Ti lantas berpikir pula.
"Mungkinkah Ie-pekbo sengaja menyuruh Pang Ing pergi mencari kitab ini?"
Kemudian ia berpikir lagi.
"Sebenarnya aku tidak boleh mencuri baca kitab ini, tetapi dalam kitab ini terdapat resep pengobatan luka terkena Pek-bi-ciam, kini keadaan memaksa, tiada jalan lain terpaksa aku barus membacanya, siapa tahu berkat Thian bisa menyembuhkan Ing-moay, biarlah bila perlu kelak aku akan minta maaf saja padanya."
Begitulah maka sehalaman demi sehalaman Li Ti lantas membaca dan membalik-balik kitab ilmu ketabiban itu, setelah belasan halaman dibaca, tiba-tiba ia melihat ada satu halaman yang bertulis-kan 'catatan pengobatan penyakit Li-hun-cin'.
"Aneh sekali nama penyakit ini!"
Batin Li Ti.
Tetapi karena ingin lekas mendapatkan resep yang diperlukan, halaman ini segera ia lompati, ia balik beberapa lembar lagi, tiba-tiba pada satu halaman ia membaca lagi tulisan, 'khusus untuk menyembuhkan racun-racun jarum dan lain sebagainya'.
Li Ti jadi tertarik oleh kalimat tulisan ini, dengan cepat ia menggeser ke tempat yang lebih terang di mulut gua, kemudian secara teliti membaca dan mempelajarinya.
/ "Apa yang kau lakukan?"
Tiba-tiba Pang Lin membalik tubuh dan bertanya.
"Aku membaca bukumu ini,"
Sahut Li Ti.
"Li-hun-cin, Li-hun-cin, mengertikah kau maksudnya?"
Kembali Pang Lin bertanya pula. Tergerak hati Li Ti mendengar orang berulang kali menyebut "Li-hun-cin"
Atau penyakit hilang ingatan. Tapi waktu ia memandang si nona, ternyata Pang Lin sudah memejamkan mata dan terpulas.
"Eh, kenapa ia mengingat nama Li-hun-cin saja, ya, tabiatnya memang jauh berbeda dengan waktu masih di Thian-san dahulu, banyak pula kejadian lama yang tidak ia ingat lagi, jangan-jangan ia pun terkena penyakit Li-hun-cin?"
Demikian Li Ti bertanya dalam hati.
Tetapi ia tidak mengurus soal ini lebih jauh, kembali ia membaca dan mempelajari halaman yang khusus untuk menyembuhkan keracunan itu.
Karena pamannya, Bu Sing-hua, adalah ahli ilmu obat-obatan dan pertabiban, maka Li Ti pun mempunyai pengetahuan dasar dalam hal ini, tentu saja ia jauh lebih gampang memahaminya daripada Pang Lin.
Maka sesudah membaca sekali, ia menjadi sangat girang.
Kiranya cara penyembuhan racun Pek-bi-ciam tiada bedanya dengan terkena racun jarum berbisa jenis lain, tidak perlu obat khusus, cukup dengan cara penyembuhan tusuk jarum yang diciptakan oleh Pho Jing-cu, yakni lebih dulu memakai jarum perak untuk menusuk Hiat-to yang bersangkutan, dengan begitu daya tahan di tubuh orang bisa terpengaruh olehnya dan menjadi kuat, dengan demikian kekuatan racun perlahan-lahan pun menjadi lemah, sesudah itu penderita dibikin sakit perut supaya sisa racun keluar bersama kotoran!
Sedang jarum yang masuk dalam tubuh karena terlalu lembut, sekalipun tetap tinggal dalam tubuh, sudah tidak berbahaya lagi.
Halaman kitab ini oleh Li Ti berulang kali dibaca dan diha-palkan baik-baik.
'"Kiranya begitu sederhana, sungguh tidak nyana,"
Demikian pikirnya.
Dengan gembira Li Ti lalu menyimpan kembali kitab pusaka itu, tetapi mendadak ia teringat bahwa mereka kini berada di tempat pegunungan yang tandus, sudah tentu tiada jarum perak untuk penyembuhan secara tusuk jarum, tidak terdapat pula obat urus-urus, lantas bagaimana baiknya?
Setelah berpikir lagi, kemudian ia melongok keluar gua, ia dapatkan di atas pegunungan ini masih banyak tumbuh bambu petung (bambu berbatang besar).
Ia jadi tergerak,-pikirnya.
"Ha, aku bisa memakai lidi bambu sabagai jarum, mungkin aku akan berhasil. Sedang mengenai obat urus-urus, meski tidak bisa dibeli, kiranya dengan obat lain asal bisa membikin penderita sakit perut dan buang air tentunya boleh juga."
La jadi teringat ada semacam buah pegunungan, jika dipetik waktu masih mentah dan dimakan akan bisa membikin perut sakit dan mulas, tentunya buah ini dapat digunakan, mengapa tidak aku coba saja.
Begitulah dalam keadaan putus asa, kini terdapat sedikit harapan, betapapun akan dicoba juga oleh Li Ti.
Sementara itu ia lihat Pang Lin masih tidur nyenyak, ia lepaskan bajunya untuk diselimutkan ke tubuh si nona, lalu ia keluar dari gua itu untuk mencari buah yang dimaksud.
Begitu keluar dari gua, ketika ia melongok lembah di bawah, tiba-tiba tertampak olehnya sesosok bayangan orang sedang berjalan dengan perlahan dan pincang, dua kali melangkah, sekali berhenti, malahan terus-menerus mengeluarkan suara rintihan, rupanya sangat kesakitan.
Waktu Li Ti menegasi, eh, kiranya bukan lain daripada si Hwesio yang tertusuk luka olehnya, dan menggelundungkan diri ke bawah bukit tadi.
"Eh, kiranya keparat gundul ini masih belum mampus,"
Demikian pikirnya.
Tetapi ia pun tidak punya tempo untuk mengurus, ia melanjutkan usahanya mencari buah yang diperlukan.
Setelah dicari setengah harian, akhirnya Li Ti mendapatkan juga buah yang dicari, ia pilih lima-enam buah yang setengah mentah dan matang, kemudian ia tebang bambu pula untuk dibuat jarum lidi, habis itu ia lantas kembali ke gua.
' Sementara itu Pang Lin sudah mendusin, waktu tidak nampak Li Ti berada di sampingnya, ia pikir.
"Ah, tentu ia telah meninggalkan aku, inipun pantas. Dulu aku pun meninggalkan dia tatkala terluka juga."
Akan tetapi di luar dugaan, tengah ia berpikir, tahu-tahu Li Ti sudah muncul kembali.
"Eh. kau tidak pergi?"
Tanyanya heran.
"Kini aku merasakan tubuhku lemas tak bertenaga, rasanya mual hendak muntah, kepala sakit dan mulut haus, di pegunungan sepi seperti ini, terang tiada harapan tertolong lagi. Baiknya, kau pulang ke Thian-san saja, kembali saja ke sana untuk mencari kau punya Ing-moay!"
Perkataan ini ternyata tidak membikin Li Ti heran, sebab ia menganggap pikiran si nona masih belum jernih, sedang mengigau semaunya.
"Bukankah Ing-moay sudah berada di sini?"
Sahutnya dengan tertawa.
"Sudahlah, kau jangan kuatir, biar aku obati kau, tanggung sembuh!"
Dengan perlahan ia lantas mengangkat bangun Pang Lin.
"Maafkan aku Ing-moay,"
Ujarnya, karena terpaksa harus menyentuh tubuh anak dara ini.
"Apa katamu?"
Sahut Pang Lin tidak mengerti.
"Coba buka bajumu, biar aku tusuk jalan darahmu yang bersangkutan,"
Kata Li Ti.
"Sudahlah, tidak usah kau repot!"
Sahut Pang Lin tak acuh. Tetapi samar-samar ia lihat wajah Li Ti mengunjuk rasa kuatir, tiba-tiba ia tertawa.
"Baiklah, kuserahkan kau untuk mengobatinya, sejak tadi kau omong tentang maaf dan apalagi, aku sendiri belum mengetahui apa yang telah kau lakukan?"
Setelah Pang Lin bisa tidur pulas tadi, semangatnya memang sudah rada pulih dan pikiran jernih kembali, maka kata-katanya ki-nipun sudah jelas dan terang, tentu saja Li Ti sangat girang. Batinnya.
"Tadi ia masih mengigau, tetapi sekarang ia sudah begini sadar."
Kemudian dengan menggunakan jarum lidi yang dia bikin tajam, ia mulai menusuk Hiat-to yang berhubungan dengan pengobatan ini, lalu ia biarkan si nona tidur lagi, sampai waktu magrib, begitu Pang Lin terjaga dari tidurnya, seketika ia membuka mulut dan berteriak lapar.
Keruan tak kepalang rasa girang Li Ti.
"Banyak terima kasih pada Thian dan Te (langit dan bumi), kini ia sudah sembuh! Eh, apa kau mau buah-buahan. Di sini ada buah pegunungan,"
Katanya sambil menyodorkan buah yang telah disiapkan itu.
"Terima kasih,"
Sahut Pang Lin tersenyum. Segera ia menggerogoti buah yang diberikan itu, akan tetapi segera ia mengerut kening sambil berkata.
"Ehm, kau berdusta, buah ini sangat kecut."
"Lebih kecut lebih baik, turutilah kataku, lekas kau habiskan buah itu,"
Kata Li Ti. Pang Lin memang sudah sangat haus dan perutnya keroncongan, maka hanya beberapa kali saja ia sudah menggerogoti buah itu hampir separahnya.
"Baiklah aku menurut kata-katamu,"
Katanya dengan tertawa sambil mengunyah buah itu. Selang tidak lama, mendadak perutnya berbunyi keruyukan, muka Pang Lin menjadi merah jengah.
"Keluarlah kau dahulu,"
Katanya pada Li Ti.
"Kau agak baikan tidak?"
Li Ti coba bertanya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar ada suara memberebet dibarengi dengan bau busuk tidak kepalang.
"Lekas kau keluar, aku hendak berak,"
Seru Pang Lin sambil membanting kaki saking tak tahannya.
, Tidak kepalang rasa giring Li Ti, sama sekali tidak ia duga babwa bekerjanya buah pegunungan itu bisa begitu cepat, bahkan melebihi obat urus-urus yang paling mujarab, saking girangnya, bau busuk yang menusuk hidung itu tidak ia rasakan lagi, segera ia membalik tubuh dan berjalan pergi, tetapi sampai di mulut gua ia berpaling lagi sambil berkata.
"Baik, sudah baik! Bersihkanlah racun itu dari perutmu, selang beberapa hari lagi tentu dap^t turun gunung bersama aku. Bisakah kau bergerak? Tukarlah plakaianmu, nanti aku yang mencucinya."
"Ai, banyak sekali omonganmu, aku sudah tahu,"
Sahut Pang Lin sambil memencet hidung sendiri. Meski berkata demikian, namun dalam hati ia sangat berterima kasih pada Li Ti. Pikirnya.
"Aku sendiri saja merasakan bau sebusuk ini, tetapi ia malah tidak menghiraukan sama sekali."
Lalu ia berpikir pula.
"Jika ia mengetahui bahwa aku bukan Tng-moay' seperti apa yang dia sangka, entah dia tetap begini memperhatikan diriku tidak? Segala tindakannya keluar dari hati nuraninya yang bersih, hal ini sekali-kali tidak bisa berpura-pura. Dahulu waktu ia terluka dan aku kabur meninggalkan dia, tapi kini ia tetap melayani aku sedemikian baiknya. Seumpama perawatan ini dilakukan berhubung aku dianggapnya sebagai 'Ing-moay'-nya, namun sukar juga kiranya untuk mencari orang baik seperti dia ini."
Begitulah ia termangu-mangu dengan rasa terharu, tanpa terasa ia meneteskan air mata.
Kemudian sesudah Pang Lin tukar pakaian yang bersih, lalu Li Ti membtrsihkan kotoran yang berada di tanah dan menggulung pakaiannya yang kotor itu.
"Meski buah itu kecut, tetapi sangat berfaedah bagimu, makanlah dua buah lagi,"
Dengan tertawa pemuda itu berkata.
Habis itu ia lantas keluar gua dengan membawa pakaian kotor itu, tetapi bara saja ia sampai di luar, tiba-tiba ia lihat di samping gua di semak-semak yang lebat sana ada berkelebat bayangan orang.
"Siapa?"
Bentak Li Ti, berbareng ia jemput sepotong batu kecil terus disambitkan ke tempat persembunyian orang tadi.
Sementara itu orang tadi sudah memberosot turun ke bawah dengan menggandul pada akar pohon yang panjang, dengan berayun beberapa kali orang itu sudah sampai di tengah gunung terus menyelusup masuk lagi ke dalam semak-semak.
Li Ti dapat melihat jelas orang tu ternyata bukan lain daripada Hay-hun Hwesio yang dia lukai itu, dalam hati ia menjadi rada kuatir, ia tak berani mengejar musuh itu dengan meninggalkan Pang Lin sendiri, maka ia hanya mencari kali pegunungan di sekitar gua itu untuk mencuci pakaian kotor, habis itu ia periksa sekitarnya lagi, ternyata bayangan Hay-hun Hwesio sudah menghilang.
Pakaian basah itu ia gantung di dahan pohon untuk dikeringkan dengan tiupan angin, kemudian ia kembali ke dalam gua, kiranya Pang Lin sudah buang air pula sekali dan telah bertukar pakaian yang lain.
"Kau bicara dengan siapa tadi?"
Segera Pang Lin bertanya begitu Li Ti masuk.
"Hwesio jahat itu ternyata belum mampus,"
Sahut Li Ti.
"Tetapi kau pun tidak perlu kuatir, aku hanya mencuci pakaian di sekitar sini saja, kalau kau mendengar sesuatu suara, segera kau teriaki aku."
"Ya, mengertilah aku,"
Ujar Pang Lin.
"Bukankah Hwesio jahat itu terkena tusukan pedangmu? Ia pun tidak tahu bahwa aku sedang sakit, sekalipun lukanya sudah sembuh, tidak nanti ia berani datang kemari."
"Tetapi ada baiknya kita berlaku waspada,"
Kata Li Ti.
Habis itu ia menggulung pakaian kotor dan pergi mencucinya pula.
Selama sehari semalam Pang Lin berturut-turut telah buang air enam kali, namun sedikitpun Li Ti tidak kenal lelah dan takut kotor, semalaman ia tidak tidur, dengan penuh kesabaran ia merawat Pang Lin.
Keesokan harinya, Pang Lin sudah sembuh mulasnya, ia sudah bisa berjalan dengan berpegangan dinding, hanya perutnya yang dirasakan lapar sekali.
"Aku ingin makan sate kambing,"
Dengan tertawa ia berkata pada Li Ti.
Mendengar gadis ini menyebut makanan, baru kini Li Ti ikut merasakan lapar sekali, waktu ia buka kantongannya yang berisi rangsum kering, akan tetapi hanya tertinggalan sedikit saja isinya.
"Di sini tidak kurang kambing liar, untuk makan sate memangnya tidak sulit, hanya padri kejam itu masih mengintai di sekitar sini, cara bagaimana aku bisa meninggalkan dia untuk pergi berburu?"
Demikian Li Ti membatin.
\ Maka dengan tertawa ia lantas berkata pada Pang Lin, THarap kau bersabar sedikit, makan saja dahulu sedikit rangsum kering ini.
Ehm, ini masih ada beberapa iris dendeng, untuk lauk, gorengan ini masih boleh juga."
Habis itu ia lantas menyodorkan rangsum itu pada Pang Lin, sedang ia sendiri lantas keluar untuk mencari buah-buahan buat tangsal perut, ia pun mengambil air untuk Pang Lin.
Namun tidak lama kemudian ia sendiri lantas kelaparan lagi hingga perutnya ke-ruyukan.
Buah-buahan di sekitar gua ini tidak banyak, pula tidak bisa menahan lama rasa lapar, waktu ia memberi air pada Pang Lin sambil memandangi cara gadis ini makan dengan bernapsu, keruan rasa laparnya semakin menjadi-jadi.
"Kau tidak makan sedikit?"
Tanya Pang Lin.
"Tidak, aku tadi sudah makan, kini masih cukup kenyang,"
Sahut Li Ti sembari menelan ludah, la berusaha menahan rasa lapar sendiri sebisa mungkin.
Setelah Pang Lin menghabiskan beberapa iris dendeng tadi dan separoh rangsum kering, kemudian ia kecap-kecap mulutnya sambil menjilat-jilat dengan lidahnya.
"Aneh, biasanya aku paling jemu memakan rangsum kering semacam ini, di luar dugaan rangsum kering ini ternyata begini enak, malah jauh lebih enak daripada segala masakan yang paling mahal!"
Katanya dengan tertawa.
"Tentu saja, kalau perut lapar, makanan yang kasar juga akan terasa enak,"
Demikian Li Ti membatin dalam hati. Waktu Pang Lin nampak wajah pemuda ini pucat, ia tidak tahu bahwa hal ini adalah akibat dari kelaparan, maka ia hanya merasa rikuh saja.
"Dalam dua hari ini kau pun sangat letih, kau boleh tidurlah sejenak,"
Demikian ia lantas berkata.
Li Ti mengangguk-angguk, lalu ia pun minum seceguk air dari wadah yang ia bikin dari kayu, lantas ia berduduk, dengan menenangkan pikiran ia kumpulkan tenaga dalamnya untuk berlatih, lama kelamaan, mungkin laparnya sudah kelewat waktu, kini malah tidak terasa terlalu lapar seperti tadi.
Ia hanya merasakan kaki tangannya saja yang masih lemas tak bertenaga.
Sementara itu ia dengar Pang Lin membuka suara pula.
"Eh, cepat sekali terasa lapar, rangsum kering itu rasanya tidak enak lagi,"
Demikian si nona mengoceh.
"Sesudah aku sembuh, marilah kita pergi ke Pakkhia untuk makan sekenyangnya, kita bisa mencicipi 'Liu-ci-fu' (ayam masak saus) dari Khi-say-yan (nama restoran), bebek panggang dari Khing-khen-kuan, Dao-si-hu dari Wu-fang-ci dan Ma-lien-ru dari Tu-yi-su, kemudian kita bisa merasakan pula Khiang-huang-kua dari Liuk-pi-khi ... semua ini adalah restoran terkenal di Pakkhia, semua masakannya sudah tersohor!"
Pang Lin sendiri dibesarkan dalam istana, sering ia mengelu-yur keluar untuk jajan segala makanan itu, oleh karenanya semua makanan dan masakan yang tersohor di Pakkhia boleh dikata dia sudah sangat apal.
Memangnya Li Ti sedang kelaparan, nama-nama masakan yang disebutnya tadi keruan semakin menimbulkan selera makannya hingga semakin susah menahan rasa laparnya.
"Adik yang baik, sudahlah, jangan kau teruskan lagi,"
Akhirnya ia memohon. Pang Lin jadi tercengang oleh kata-kata itu.
"Eh, tampaknya kau sendiri kelaparan juga!"
Katanya tertawa.
"Tetapi di sini segalanya tidak ada, sedang kau pun tidak mau pergi berburu kambing."
"He, coba katakan, mengapa kau kenal begitu banyak nama masakan dan restorannya?"
Tiba-tiba Li Ti bertanya.
"Ya, sesudah aku turun gunung, lebih setengah tahun aku pesiar di Pakkhia,"
Sahut Pang Lin.
"Bagaimana kau bisa iseng?"
Tanya Li Ti kurang percaya. Lantaran sudah telanjur buka mulut segera Pang Lin pamer lagi.
"Tahukah kau, berapa macam cara memakan daging kambing? Biarlah kuberitahu kau, melulu Kau-ru-wan (nama restoran) satu tempat saja, cara makan daging kambing ada delapan belas macam."
Nampak si nona menerocos terus, Li Ti tahu sesudah rangsum kering dirasakan tidak enak tentunya anak dara ini tidak 4apar lagi.
Racun di dalam perutnya sudah bersih dikuras keluar, jika makan sedikit penganan lain pasti tenaganya akan pulih, tentuxjantas bisa turun gunung.
\ Dalam pada itu tiba-tiba di luar terdengar ada suara kambing mengembik.
"Kakak yang baik, dengarkah kau?"
Seru Pang Lin tertarik oleh suara kambing itu.
"Hai, burulah seekor, jika kambing tidak didapat, kelinci pun bolehlah."
"Baik, coba pinjamkan aku beberapa buah pisau!"
Kata Li Ti. Pang Lin sangat girang, cepat ia serahkan beberapa Hui-to yang tak berbisa padanya.
"Coba kau meloncat-loncat,"
Kata Li Ti pula. Pang Lin menurut, ia meloncat beberapa kali "Baiklah, sudah hampir pulih tenagamu,"
Ujar Li Ti.
"Siapkan Hui-to berbisa di tanganmu. Ingat, jika terjadi sesuatu, berteriaklah memanggil aku."
"Tahulah, jangan kau kuatir!"
Sahut Pang Lin.
Akan tetapi Li Ti masih belum yakin, ia atur pula dua panah jebakan di mulut gua dengan alat penjeplak yang ditindih dengan dua potong batu, dengan demikian kalau orang asing mendadak masuk dan mengijak batu, seketika anak panah lantas menyambar.
Setelah diatur baik, Li Ti minum segayung air pula, kemudian baru ia keluar gua.
Tidak lama kemudian, betul saja ia memergoki seekor kambing pegunungan, cuma kambing liar itu terlalu cepat larinya, sedang Li Ti sendiri masih lemas dan kelaparan, mana bisa menyandak binatang itu?
la mengaso dulu sambil makan beberapa buah-buahan.
Pikirnya.
"Lebih baik aku bersembunyi di suatu tempat yang sepi, di belakang batu gunung, begitu ada kambing lewat, segera aku tim-pukkan belati untuk membunuhnya."
Begitulah Li Ti menggunakan akalnya itu, akan tetapi dengan cara perburuan ini seperti menanti datangnya rezeki saja, meski sudah hampir setengah hari ia menunggu, namun belum ada seekor kambing pun yang lewat, keruan Li Ti semakin kelaparan dan tak sabar.
Akhirnya ia mendengar juga suara mengembiknya kambing.
Tanpa ayal lagi segera Li Ti sambitkan sebilah pisaunya, kambing itu ternyata kambing kecil, mungkin karena kesasar dan ketinggalan induk, maka binatang ini dengan gampang terkena sambitan pisau, tetapi kambing kecil ini masih bisa melompat lewat kali pegunungan dan lalu menggeletak dengan suara embikan yang mengharukan.
Li Ti menjadi tidak tega.
"Ai, kambing cilik ini sebatang-kara, agaknya ia sedang mencari induknya, jika kini aku bunuh dia, malam nanti induknya tidak mendapatkan bayinya kembali, bukankah sangat berduka!"
Demikian Li Ti berpikir, lalu pikirnya lagi.
"Ing-moay pun mirip kambing kecil ini, sampai asal-usul dirinya sendiri tidak tahu, mungkin pula ibunya sedang mengharapkan kembali! Aku harus melindungi dia, tidak boleh ia dicelakai orang jahat."
Tadi karena Li Ti masih lemas, maka tenaga timpukannya pun lemah, rupanya pisau itu hanya mengenai kaki kambing itu dan masih menancap dalam daging, waktu Li Ti mendekati, tiba-tiba kambing kecil itu mengembik pula.
Li Ti menjadi lemah hati, ia menghela napas dan berjongkok ia cabut pisau yang menancap, kemudian dari kantong senjatanya ia keluarkan obat luka dan dibubuhkan pada kaki binatang itu, kemudian didorongnya supaya pergi.
"Mendengar suaranya tidak tega makan dagingnya, peribahasa ini memang tepat,"
Demikian Li Ti membatin.
"Biarpun harus mati kelaparan tidak nanti aku makan daging kambing kecil ini."
Kemudian ia lantas bersembunyi pula di belakang batu gunung, ia hendak tunggu lewatnya binatang lain, sementara itu suara kambing tadi semakin menjauh.
Dalam pada itu tiba-tiba ia mendengar pula suara teriakan yang tajam berkumandang terbawa angin dari jauh.
"He, ini sekali-kali bukan suara kambing tadi,"
Pikir Li Ti.
Tatkala ia mendekam di tanah untuk mendengarkan lebih terang, ia dengar suara itu timbul-putus beberapa kali, terang suara itu adalah suara teriakan Pang Lin!
"Celaka, agaknya Ing-moay telah kepergok Hwesio jahat itu,"
Pikir Li Ti kuatir.
Habis itu tanpa menghiraukan badan sendiri masih lemas, dengan cepat ia keluarkan ilmu entengi tubuh warisan keluarga sendiri, segera ia berlari kembali ke gua tadi.
\ Karena hendak berburu kambing, maka sudah agak jauh ia meninggalkan gua, kini setelah berlari sejenak, napasnya jadi tersengal dan jantungnya memukul keras, kedua kak'nya seperti terbelenggu, terasa berat sekali untuk diangkat.
Waktu itu suara teriakan Pang Lin sudah sangat jelas, terang anak dara itu sedang memanggil namanya, segera Li Ti kumpulkan tenaga dan membangun semangat terus berlari ke depan.
Dalam gugupnya tiba-tiba ia kesandung batu hingga jatuh terjerembab, ketika merangkak bangun, ingin sekali ia melangkah, namun badan sudah lemas dan tiada tenaga lagi.
Keruan tidak kepalang kuatir Li Ti.
Pikirnya.
"Apa ini bukan ditakdirkan bahwa kami berdua harus mampus di sini?"
Lalu ia berpikir pula.
"Kini sedikitpun aku tidak bertenaga, seandainya bisa memburu sampai di gua sana lalu apa yang bisa kulakukan nanti?"
Habis itu ia lantas mendeprok terduduk di tanah, karena itu, sekenanya ia lantas memetik dua buah-buahan dari dahan pohon yang melambai ke bawah di sampingnya, ia gerogoti buah itu sembari mem.kirkan daya-upaya menghalau musuh.
Selang tak lama, suara pertarungan semakin mendekat.
Kiranya dimana Li Ti jatuh terduduk ini, jaraknya sudah tidak jauh dari gua, sementara itu Pang Lin yang bertempur dengan musuh, lama-kelamaan sudah menggeser hingga tidak jauh dari tempat Li Ti berada.
Waktu Li Ti melongok dari belakang sebuah batu besar, ia lihat yang sedang bertempur dengan Pang Lin bukan lain daripada si Hwesio jahat itu, tertampak Hwesio itu rada pincang kaki sebelah kirinya dan gerak-geriknya kurang leluasa, rupanya karena terluka juga.
Kiranya sesudah Hay-hun Hwesio merawat lukanya beberapa hari di lembah gunung itu, perlahan-lahan ia mulai sembuh, sejak ia dipergoki Li Ti, kemudian melihat air kali pegunungan yang mengalir turun itu warnanya bersemu kuning dengan bau busuk yang menyengat hidung.
Hay-hun adalah jago pedang dari daerah Lam-kiang, daerah selatan, sudah beberapa puluh tahun ia bertapa di Ngo-ci-san di pulau Hay-lam, ia banyak mempelajari segala jenis barang berbisa, maka ketika melihat warna air tadi.
segera ia tahu air itu bercampur kotoran yang disebabkan keracunan yang jahat.
Sudah tentu Hay-hun menjadi girang, pikirnya.
"Kedua bocah itu telah kena racun jahat, ini adalah kesempatanku yang paling baik."
Nyata ia tidak tahu bahwa apa yang mengenai Pang Lin adalah racun Pek-bi-ciam.
Begitulah maka diam-diam Hay-hun Hwesio memanjat ke atas dari lembah persembunyiannya, ia mengintip dulu di depan gua dan kemudian melongok ke dalam, tetapi karena kurang waspada, ia kena menginjak jebakan Li Ti hingga pinggangnya terkena dua anak panah yang dipasang pemuda itu, keruan ia kesakitan hingga berteriak, ia menjadi kalap, ia menyumbat mulut gua dengan rumput alang-alang kering terus hendak dibakar.
Akan tetapi sebelum ia berbuat lebih jauh, Pang Lin sudah keburu menerjang keluar dan saling gempur dengan Hay-hun di depan gua.
Apa yang terjadi ini sama sekali di luar dugaan Hay-hun Hwesio!
Sebab pada waktu mendaki gunung, Pang Lin masih menyamar sebagai lelaki, tetapi kini ia berganti pakaian wanita lagi, sudah tentu hal ini mengejutkan Hay-hun; yang lebih membikin kaget Hay-hun Hwesio adalah semula ia mengira mereka berdua terkena racun jahat, siapa duga sesudah Pang Lin buang air dan cukup tidur, makan kenyang, semangat dan tenaganya kini sudah pulih, kecuali rupanya yang tertampak agak kurusan, ternyata sudah tidak kentara seperti orang habis sakit.
Karena itu diam-diam Hay-hun mengeluh, diam-diam ia membatin.
"Celaka, apa bukan mereka sengaja membikin jebakan dan memancing aku masuk jala mereka?"
Karena rasa jerinya ini, segera ia pura-pura menusuk sekali, seketika pula ia membalik tubuh terus lari terbirit-birit.
Setelah Pang Lin tersekap beberapa hari dalam gua, memangnya ia sedang merasa sebal, kini nampak sinar matahari 4agi, semangatnya seketika terbangun, waktu ia melihat Hay-hun Hwesio melarikan diri dengan menderita luka, ia pikir.
"Keledai gundul ini hanya akan membahayakan saja selama ia tinggal di gunung ini, tidaklah lebih baik aku bereskan jiwanya pada waktu lukanya masih belum sembuh seperti sekarang ini!"
Karena itu, segera ia mengudak.
Ilmu entengi tubuh Pang Lin memang sangat tinggi, apalagi Hay-hun kini belum sembuh lukanya, ditambah oleh luka anak panah tadi, keruan lebih-lebih tidak bisa menandingi kecepatan Pang Lin, hanya dalam dua-tiga puluh tindak saja ia sudah tersusul.
Merasa dirinya tidak bisa lolos, Hay-hun berpikir.
"Kepandaian gadis ini masih di bawahku, sedang kawannya tidak kelihatan di sini, justru aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk menangkapnya sebagai sandera, agar aku tidak perlu kebat-kebit siang malam kuatir pemuda itu mencari padaku."
Ilmu kepandaian Hay-hun Hwesio sebenarnya sudah terlatih matang, meski terluka, namun kemahirannya tidak nanti di bawah Pang Lin, maka sesudah ia memancing orang sampai suatu tempat yang berbahaya, mendadak ia membalik tubuh terus balas merang-sek, ia mendahului menduduki tempat untuk lari, ia cegat Pang Lin di tengah tumpukan baru pegunungan yang berserakan, di depannya tebing dan jurang yang curam yang tidak mungkin digunakan melarikan diri, di sinilah mereka berdua lantas saling gebrak lagi dengan sengit.
Sementara itu Li Ti sedang memandang dari aling-aling batu gunung, ia lihat gaya permainan pedang Pang Lin begitu cepat dan bagus, baik menangkis, menyerang atau menghalau gempuran lawan, sedikitpun tiada tanda-tanda lemah, diam-diam pemuda ini menjadi girang.
Katanya dalam hati.
"He, ilmu penyembuhan dengan tusuk jarum ajaran Pho Jing-cu itu betul-betul luar biasa mujarabnya, tampaknya ia sudah pulih seluruhnya."
Dalam pada itu karena Lwekang Hay-hun Hwesio yang tinggi dan keuletannya pula, tipu permainan pedangnya pun lihai, meski gerak tubuhnya tidak secepat dan segesit Pang Lin, tetapi begitu ia berada di atas angin, Pang Lin terpaksa hanya mampu menangkis dan tak sanggup balas menyerang.
Li Ti melihat dalam sekejap saja Pang Lin sudah berganti lima enam macam permainan pedang, tiap kali pada saat yang berbahaya, mendadak nona ini berganti ilmu permainan pedang untuk menghindarkan diri dari ancaman maut, mulai dari Tat-mo-kiam-hoat yang mengutamakan serangan sampai akhirnya berubah menjadi Bu-kek-kiam-hoat yang bagus untuk bertahan, dengan demikian ternyata sudah lebih ratusan jurus melawan Hay-hun Hwesio.
Apapun juga Pang Lin baru sembuh dari sakit, sudah tentu tenaganya masih agak lemah, setelah lebih seratus jurus, lambat-laun Kiam-hoatnya mulai kendur.
Nampak lawannya mulai kewalahan, Hay-hun bergelak tertawa girang, tangan kanannya yang memainkan pedang semakin kencang, sedang tangan kiri juga bergerak di antara sinar pedang yang bergulung-gulung mengurung Pang Lin itu, ia bermaksud merebut senjata si nona.
Karena sudah kepepet, akhirnya Pang Lin berteriak.
"Li-koko, lekas datang!"
"Panggil ibumu pun percuma,"
Ejek Hay-hun dengan tertawa lebar.
"Kau sudah berkaok setengah harian, tetapi tiada sesuatu jawaban, apa kau perlu kuberitahu dimana ia berada?"
Pang Lin menjadi gemas oleh ejekan orang, sekuat tenaga ia menangkis dua kali serangan lawan, tapi berbalik ia hampir dijambret. Sambil menyerang, Hay-hun masih terus mengejek dan menertawai.
"Haha, kau punya Li-koko sedang menantikan kau di jalan ke akhirat sana, akulah yang akan mengantarkan kau ke sana!"
Mendengar ejekan dan hinaan Hay-hun itu, akhirnya Li Ti naik darah juga, ia coba sedot napasnya panjang-panjang, habis itu sekuat tenaga ia melompat keluar sambil membentak.
"Keparat gundul, sudah lama aku menunggu kau di sini! Haha, sekarang betul-betul kau yang masuk jaring sendiri!"
Keruan tidak kepalang kejut Hay-hun dengan munculnya Li Ti yang mendadak.
Padahal sebelum ia terluka masih bukan tandingan pemuda ini apalagi kini ia terluka parah, munculnya Li Ti yangjiba-tiba ini dirasakan dirinya betul-betul telah masuk jebakan musuh.
Maka setelah ia menyerang lagi dua kali sebisanya, ia memaksa Pang Lin berkelit ke samping, tanpa pikir lagi ia membalik tubuh terus lari sebelum Li Ti menubruk maju, kemudian sambil menutupi kepalanya, ia menggelundungkan diri di antara semak-semak yang lebat itu dan masuk ke dalam sungai.
"Haha, Li-koko, lekas kau pukul anjing yang kecemplung kali itu!"
Dengan bertepuk tangan Pang Lin berseru geli.
Akan tetapi sekonyong-konyong ia melihat muka Li Ti pucat lesi dan terhuyung-huyung hendak roboh, namun pemuda ini masih memberi tanda dengan jarinya agar Pang Lin lak bertanya padanya.
Keruan Pang Lin terkejut, tapi tiba-tiba pula ia bergelak tertawa dengan suara nyaring.
Memang Pang Lin sangat cerdik, begitu nampak keadaan Li Ti, segera ia tahu apa artinya dan pura-pura tertawa, serunya lagi ".
"Ha, kau telah dapat seekor macan, makanya kau malas buat mengudak anjing yang kecemplung kali. Baiklah, biar kila makan daging macan dahulu!"
Semula Li Ti tercengang juga oleh kata-kata Pang Lin, namun dengan cepat ia pun paham maksud orang, dengan mengumpulkan semangat ia pun tertawa dan menyahut dengan suara keras.
"Baiklah, lekas kau beset kulit macan itu dan aku akan mencari air. Sudah bosan kita makan panggang kambing, kini bisa tukar makanan yang lain."
Habis berkata pemuda ini sudah tidak kuat lagi, ia jatuh men-deprok di atas tanah, syukur dengan cepat Pang Lin memburu maju terus memayangnya.
"Tahanlah sebentar lagi, biar keledai gundul itu pergi jauh, aku nanti gendong kau kembali ke gua,"
Dengan berbisik Pang Lin berkata pada Li Ti.
Sementara itu Hay-hun yang menggelundungkan diri ke bawah lembah, ketika mendengar suara mereka berkata dengan tertawa, sungguh tidak kepalang kagetnya.
Dalam hati ia pikir.
"Ha, memang betul aku telah terjebak oleh mereka, sungguh berbahaya sekali, sungguh berbahaya! Bila kini aku kepergok harimau, aku pun sudah tiada tenaga lagi untuk melawannya."
Maka sambil merangkak dan memberosot dengan berpegangan akar pohon, Hay-hun mengeluyur ke bawah dan bersembunyi pada sebuah gua rahasia di bawah lembah.
Sementara itu Pang Lin sedang mengamat-amati dari atas gunung, setelah bayangan Hay-hun Hwesio lenyap dari pandangannya, akhirnya ia merasa lega sembari melelerkan lidah.
"Sungguh berbahaya, kiranya kau sengaja main gertak saja,"
Katanya dengan tertawa. Habis itu ia coba meraba dahi Li Ti.
"Kau tentu sangat letih, bagaimanakah keadaanmu? Jangan sampai kau jatuh sakit juga!"
Nampak kegelisahan si nona atas dirinya, diam-diam Li Ti merasa bersyukur bahwa anak dara ini sudah mulai tahu memperhatikan orang lain.
"Masih mendingan kau tidak demam. He, mengapa kau tidak bicara?"
"Aku hanya kelaparan saja dan bukan jatuh sakit,"
Sahut Li Ti kemudian dengan kikuk.
"Ai, kau ini sungguh bodoh, perut lapar mengapa tidak katakan sejak tadi, sebaliknya rangsum kering kau berikan padaku,"
Kata Pang Lin sembari mencolek muka orang dengan jarinya.
"Sehabis sakit, badanmu tentu lemah, tanpa makan sesuatu cara bagaimana kau bisa keluarkan tenaga?"
Ujar Li Ti. Maka dengan tersenyum Pang Lin lantas menggendong pemuda itu. Karena hatinya senang dan merasa nikmat, seketika tenaga pun banyak bertambah.
"Masih ada sedikit sisa rangsum kering, kau boleh makan saja dengan air, biar aku yang pergi berburu!"
Ujar Pang Lin setelah kembali ke gua.
"Lukamu baru sembuh ditambah baru saja bertarung seru, kau harus mengaso dulu,"
Kata Li Ti.
"Tetapi aneh, sesudah mengalami pertempuran tadi dan banyak mengeluarkan keringat, kini rasanya lebih segar dan semangat bertambah,"
Sahut Pang Lin "Kau boleh berbaring dahulu, biar aku memburu kambing gunung untuk dibikin sate." \ Mendengar orang menyebut kambing, Li Ti jadi teringat pada kambing kecil yang dilukainya itu.
"Ada seekor kambing cilik, kakinya terkena pistu yang aku sambitkan, jalannya jadi pincang, kalau kau lihat binatang ini, jangan kau bunuh,"
Tiba-tiba ia memberi pesan.
"He, kiranya kau telah mendapatkan kambing, mengapa tidak kau seret ke sini?"
Tanya Pang Lin dengan tertawa.
"Ya, karena jeritannya yang mengharukan, maka aku tidak tega menyembelihnya,"
Sahut Li Ti.
"Kau ini betul-betul terlalu, hatimu jauh lebih lemah dari kaum wanita seperti aku ini,"
Kata Pang Lin dengan tertawa. Habis itu ia lantas pergi keluar gua. Setelah makan sedikit rangsum yang masih ada itu, kemudian Li Ti merebahkan diri sambil termenung memandang ke mulut gua.
"Aneh, sewaktu Ing-moay masih ada di Thian-san perangainya halus dan budinya luhur, mengapa baru lebih setahun ia turun gunung sudah berubah menjadi begini buruk tabiatnya. Syukur aku temukan dia lagi, dalam beberapa hari ini sesudah mengalami sakit payah itu, agaknya jiwanya sudah mulai pulih kembali pada asal mulanya,"
Demikian ia berpikir, habis itu tiba-tiba ia teringat lagi pada sesuatu, katanya dalam hati.
"Thian-san-kiam-hoat Ie-pekbo sedemikian hebatnya, mengapa waktu melabrak Hwesio jahat tadi, Ing-moay beruntun memainkan lima-enam macam ilmu pedang, tapi tidak pernah mengeluarkan Kiam-hoat dari perguruan sendiri?"
Begitulah pikirannya penuh tanda tanya, tanpa terasa ia mengingat kembali semua kejadian dan pertemuannya dengan Pang Lin sesudah dirinya turun gunung, ia merasa gadis ini agak berlainan dengan Pang Ing, baik dalam gerak-gerik maupun dalam percakapan, karenanya ia menjadi termangu-mangu.
"Mungkinkah dia bukan Ing-moay?"
Demikian ia berpikir lagi.
"Ah, tidak bisa, mana mungkin di dunia ini terdapat dua orang yang sedemikian miripnya?"
Begitulah sambil termenung tanpa terasa hari sudah magrib, mulut gua sudah mulai gelap, tetapi masih belum nampak Pang Lin kembali. Sudah tentu Li Ti merasa kuatir.
"Jangan-jangan ia meninggalkan aku lagi seperti dahulu?"
Demikian pikirnya. Tetapi lantas terpikir pula.
"Sejak berangkat ke Ko-san sini, dari tindak-tanduk dan kata-katanya, agaknya ia sudah berlainan seperti ketika berjumpa untuk pertama kali, sekali ini kiranya tidak akan dia tinggalkan diriku lagi."
Selagi Li Ti ragu-ragu, tiba-tiba tertampak bayangan orang berkelebat di mulut gua, menyusul dengan memegang sepotong paha kambing panggang, Pang Lin masuk ke dalam gua.
Diam-diam Li Ti merasa lega, ia sesalkan diri sendiri yang berpikir tidak keruan dan terlalu menilai busuk pada orang lain, bagaimanapun nona ini usianya masih muda dan pengalamannya ce-tek, setelah salah bergaul dengan orang jahat, sedikit banyak tentu terpengaruh, seterusnya jika ia selalu berada di sampingku tentu ia akan berubah baik dengan cepat.
Sesudah berada di depan Li Ti, segera Pang Lin sodorkan paha kambing panggang itu ke dekat hidung pemuda itu.
"Coba baunya, sedap tidak?"
Dengan tertawa Pang Lin menggoda. Tanpa disuruh lagi segera Li Ti menggerogoti paha kambing panggang itu meski masih dipegangi Pang Lin.
"Ehm, sedap dan sangat lezat!"
Demikian berulang-ulang ia memuji. Habis itu segera ia pegangi paha kambing itu terus dilalap dengan lahap sekali.
"Lama kelaparan, jangan kau makan terlalu banyak, awas perutmu bisa berbalik jadi sakit,"
Ujar Pang Lin dengan tertawa.
"Jangan kuatir, kita sudah biasa berlatih Lwekang, tidak nanti punya perut begitu lemah seperti orang biasa,"
Sahut Li Ti sambil terus menjejalkan daging ke mulutnya.
Sekejap saja paha kambing panggang itu sudah dilalap bersih tinggal tulangnya saja.
Nampak orang makan dengan rakus, diam-diam Pang Lin menjadi geli, hampir saja ia tertawa, tetapi bila teringat olehnya bahwa pemuda itu kelaparan disebabkan membela dirinya^juaka urunglah ia tertawa.
"Ha, tadi aku malah kuatir kalau kau tidak kembali ke sini!"
Demikian Li Ti berkata dengan tertawa meringis.
"Aku pergi agak lama sebab aku tak berani memanggang di dekat gua sini, aku kuatir kau tak tahan asapnya,"
Sahut Pang Lin.
"Bagus, kini kau sudah banyak tahu urusan,"
Puji Li Ti.
"Tetapi aku tahu dalam hati kau mengomeli aku,"
Ujar Pang Lin.
"Kapan aku pernah mengomeli kau?"
Tanya Li Ti. Habis itu ia lantas menyalakan api unggun dengan kayu bakar yang terdapat di situ. Di bawah sinar api, ia lihat Li Ti sedang terpesona memandang dirinya, Pang Lin menjadi geli.
"Bagaimana? Apa aku telah salah omong lagi dan membikin marah kau?"
Tanyanya dengan tertawa.
"Tidak, tetapi aku sedang memikirkan sejurus tipu serangan pedang,"
Sahut Li Ti.
"Tipu serangan yang manakah?"
Tanya Pang Lin heran.
"Tadi Waktu kau bertempur melawan Hwesio jahat itu, suatu ketika Hwesio ita telah menggunakan tipu 'King-to-bik-an' (ombak mendampar pantai),"
Tatar Li Ti.
"lantas kau keluarkan tipu 'It-wi-to-kang' (sebatang galah menyebrangi sungai), dengan enteng kau mengelakkan serangan musuh dan dengan manis sekali kau menghindarkan diri, caramu itu memang tepat sekali. Namun aku masih ingat waktu Ie-pekbo mempertunjukkan 'Han-to-kiam-hoat' dari Thian-san-kiam-hoatnya, di antaranya terdapat satu gerak tipu yang disebut 'Long-yong-kim-bun' (arus air membanjiri pinta emas), satu gerakan dengan empat macam serangan susul-menyusul dan hebat sekali, cocok sekali untuk melawan tipu serangan musuh 'King-to-bik-an' tadi, tetapi mengapa tidak kau pakai jurus ita? Cuma terhadap Thian-san-kiam-hoat aku sendiri pun kurang paham, hanya pendapatku saja begitu, betul tidak, harap adik suka memberi petunjuk dan dapatkah kau perlihatkan gerak tipu 'Long-yong-kim-bun' ita padaku, agar kita dapat mempelajarinya."
Pang Lin jadi melongo oleh pertanyaan orang yang terakhir ini, namun ia masih memaksakan diri menjawab.
"Aku sudah lupa semua."
"Bagaimana kau bisa lupa?"
Kata Li Ti tidak percaya.
"Ya, sesudah aku turun gunung, pernah aku jatuh sakit payah sekali,"
Tutur Pang Lin dengan mata merah berkaca.
"Waktu itu tiada orang yang merawat aku, maka seorang perempuan tua telah memasak obat untukku, sesudah aku minum dan sembuh, lalu segala apa yang terjadi dahulu aku tidak ingat lagi."
Apa yang diuraikan Pang Lin sudah tentu bohong belaka, dengan sendirinya Li Ti pun sukar mempercayainya.
Maka pemuda ini memandangi Pang Lin dengan mata terpentang lebar.
Pang Lin agak terharu demi nampak rasa simpati pemuda ini padanya, ia pikir, lambat-laun toh akan ketahuan juga, tidakkah aku ceritakan terus terang saja sekarang?
Tetapi tiba-tiba terdengar Li Ti menghela napas dan berkata.
"Sayang, sungguh sayang sekali, Thian-san-kiam-hoat begitu hebat dan mujizat, ternyata telah dilupakan semua olehmu!"
Namun Pang Lin lantas mendekatinya dan menarik tangan Li Ti.
"Jika aku mendustai kau umpamanya, apa kau akan marah padaku?"
Demikian tiba-tiba dengan tertawa si nona bertanya. Keruan Li Ti sangat terkejut.
"Dalam hal apa kau telah mendustai aku?"
Tanyanya cepat.
"Sebenarnya aku sama sekali tidak paham Thian-san-kiam-hoat!"
Sahut Pang Lin. Di luar dugaan, jawaban ini membikin Li Ti bergelak tertawa malah.
"Haha, ucapanmu inilah yang betul-betul dusta, jika kau tidak paham Thian-san-kiam-hoat, lalu siapa lagi yang paham?"
Ujarnya geli.
"Ya, aku tahu pikiranmu, kau tentu curiga aku ini bukan kau punya Ing-moay, maka semua jasa yang telah kau berikan padaku membuatmu menyesal bukan?"
Tiba-tiba Pang Lin berkata dengan mengembeng air mata.
"Mengapa kau bisa berkata demikian?"
Sahut Li Ti dengan melonjak.
"Kita kaum pendekar sudah biasa menolong sesama, seumpama orang tidak dikenal, dalam keadaan menderita dan jatuh sakit, sudah seharusnya kita memberi pertolongan padanya. Apalagi antara kau dan aku? Dengan kata-katamu itu, kau anggap aku ini orang macam apa?"
Sebenarnya Pang Lin sudah hendak menerangkan asal-usul dirinya, tetapi demi nampak sikap Li Ti yang sungguh-sungguh ini, tiba-tiba ia urungkan maksudnya.
"Sudahlah, aku hanya bergurau saja dengan kau, lantas kau anggap sungguh-sungguh?"
Sahutnya kemudian dengan tersenyum manis.
Begitulah semalam ita, keduanya sama bergulang-guling tidak bisa pulas.
Belum pernah Pang Lin bertemu lelaki yang begini tulus, karena ita hatinya menjadi bimbang, sebentar ia pikir hendak menceritakan semua keadaan sebenarnya padanya, tetapi lain saat ia pikir tetap menutupi saja rahasia ini.
Entah mengapa, tiba-tiba ia jadi teringat pada Lian Keng-hiau.
Lian Keng-hiau mempunyai wibawa yang besar, pandai dan gagah, tindak-tanduknya dengan sendirinya punya semacam daya pengaruh yang agung, dalam hati Pang Lin sangat kagum padanya, malah pada waktu sebelum naik ke Ko-san, ia selalu merasa Li Ti tidak dapat dibandingkan dengan Lian Keng-hiau, tetapi semenjak mengalami sakitnya ini, bayangan Lian Keng-hiau perlahan-lahan telah menipis dari hati sanubarinya.
Kemudian Pang Lin teringat juga pada ln Ceng yang telah memaksa hendak menikahi dirinya, tiba-tiba timbul semacam pikiran aneh.
"Mengapa manusia harus menikah? Sungguh aku tidak mengerti. Tetapi seorang gadis harus mempunyai suami, agaknya hal ini tidak bisa dihindarkan. Jika seandainya aku harus memilih seorang suami, lalu siapakah yang aku pilih? Ah, paling baik kalau mereka bisa seperti boneka terbuat dari tanah liat yang bisa digepuk hancur dan kemudian dilebur menjadi satu setelah dicampur dengan air. Tetapi, ah, betul-betul pikiran yang bodoh! Aku toh tidak perlu menikah sekarang, untuk apa aku pikirkan soal ini?"
Berpikir sampai di sini, tiba-tiba ia tertawa sendiri.
Di pihak sana, Li Ti pun lagi berpikir tak keruan, ia sedang mengenangkan kembali apa yang pernah diucapkan Pang Lin, selagi pikirannya diliputi awan curiga, mendadak ia-mendengar suara tertawa Pang Lin.
"He, kau belum tidur?"
Tegurnya sambil berbangkit.
"Aku teringat pada keledai gundul yang lari terbirit-birit oleh gertakanmu tadi, maka aku menjadi geli,"
Sahut Pang Lin. Sementara ita kayu yang dinyalakan sebagai obor meletik-letik.
"Hawa malam sangat dingin, kau harus menjaga dirimu baik-baik, apa perlu membakar api unggun lagi?"
"Tidak, tidak perlu, aku toh bukan kaum putri yang tidak tahan angin,"
Sahut Pang Lin.
Karena tak bisa pulas, ia berbangkit untuk mengobrol dengan Li Ti, waktu ia mendorong buntalannya yang dipakai sebagai bantal, tiba-tiba tangannya menyentuh kitab yang ada di dalamnya, ia lantas mengeluarkannya.
"Semuanya berkat kitab inilah yang telah menolong jiwamu,"
Ujar Li Ti tertawa demi nampak orang memegangi kitab.
Teringat akan budi Li Ti yang tidak bisa dibalas, tanpa pikir lagi Pang Lin lantas menyodorkan kitab yang tiada bandingannya warisan Pho Jing-cu itu padanya.
"Sukakah kau pada kitab ini, biarlah kuberikan padamu saja,"
Katanya. Tiba-tiba pikiran Li Ti tergerak.
"Apa kitab ini kau ambil atas perintah Ie-pekbo?"
Tanyanya kemudian.
"Ya, darimana kau tahu?"
Sahut Pang Lin.
"Beliau menyuruh kau mengambil kitab ini, dengan sendirinya dengan maksud akan ditinggalkan untuk ahli waris Bu-kek-pay, mana boleh kau sembarangan memberikannya pada orang lain?"
Kata LiTi.
Keruan Pang Lin menjadi gelagapan, tidak ia menduga kata-katanya yang serampangan tadi ternyata salah lagi.
Hendaklah diketahui bahwa Ie Lan-cu adalah tokoh terkemuka dari suatu aliran silat, tingkatannya sangat tinggi, sekali-kali tidak beralasan baginya untuk mengangkangi kitab pusaka orang lain.
Pang Lin dibesarkan dalam istana, ia tidak mengetahui bahwa dalam dunia persilatan justru memandang berat urusan demikian ini, waktu berdusta ia hanya mengikuti lagu perkataan Li Ti, ia mengira kitab ini dikehendaki Ie Lan-cu, maka dirinya yang dikenal sebagai 'murid' ada hak buat menyelesaikannya.
Di luar dugaan, Li Ti malah mencelanya, seketika ia menjadi gelagapan dan tak bisa memberi alasan tentang apa yang diucapkannya tadi.
Sementara itu terdengar Li Ti sedang menghela napas sambil memandangi kitab itu.
v "Celaka, sekali ini tentu akan ketahuan, tentunya dia telah mengetahui kata-kataku yang bohong tadi, maka berulang kali ia menghela napas,"
Demikian kata Pang Lin dalam hati. Dalam pada itu, sesudah menghela napas, lalu terdengar Li Ti membuka suara lagi.
"Jika ingat dahulu le-locianpwe bersama Pho-cosu dari Bu-kek-pay datang ke daerah perbatasan dari Tionggoan (daerah tengah), maka beliau boleh dikata punya hubungan turun-temurun dengan Bu-kek-pay, tetapi kini sejak mangkatnya Pho Jing-cu, dia saksikan sendiri Bu-kek-pay menjadi hancur, sampai ahli waris pun tidak ada, kitab ini tepatnya entah harus diserahkan pada siapa, jika Ie-pekbo melihat kita, entah betapa ia akan berduka!"
Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung.
"Namun dengan tingkatan le-locianpwe, beliau boleh melakukan upacara paling agung dari dunia persilatan, yaitu berdasar kedudukan dirinya sebagai tokoh suatu cabang persilatan untuk memilih ahli waris dari suatu cabang lain dan menyerahkan kitab pusakanya."
"Soal ini tidak perlu kau ikut pikirkan, ahli waris Bu-kek-pay sudah lama ada orangnya,"
Sahut Pang Lin tiba-tiba dengan tertawa.
"Siapa? Apa kau maksudkan Lian Keng-hiau?"
Kata Li Ti.
"Hm, meski Lian Keng-hiau adalah murid Ciong Ban-tong, tapi dia telah mengkhianati gurunya untuk mencari kebahagiaan sendiri, perbuatannya ini tidak nanti diampuni oleh kaum pendekar kita. Pernah aku mendengar dari ibuku, suatu kali le-locianpwe dalam percakapannya pernah mengajak ibu untuk mengeluarkan pengumuman pada sesama orang Bu-lim, mereka mewakili Ciong Ban-tong membikin pembersihan perguruan untuk memecat Lian Keng-hiau dari pintu Bu-kek-pay!"
Tengah ia berkata, tiba-tiba ia lihat alis Pang Lin terkerut rapat, air mukanya pun berubah, seketika Li Ti menghentikan penuturannya dengan heran.
"Kenapa, apa kau kurang enak badan?"
Tanyanya sambil menarik tangan Pang Lin.
Kiranya Pang Lin sedang pedih sekali hatinya, sama sekali tidak terduga olehnya bahwa Lian Keng-hiau yang dia kagumi selama ini, dalam pandangan kaum pendekar dan dunia persilatan ternyata tidak lebih hanya 'telur busuk' belaka.
Sebenarnya ia hendak bertanya pada Li Ti cara bagaimana Lian Keng-hiau mengkhianati gurunya, tetapi ia kuatir Li Ti bercerita hal-hal yang lebih mendukakan hatinya, maka ia urung bertanya.
"Kau bilang sudah lama Bu-kek-pay mempunyai ahli waris, jika maksudmu bukan Lian Keng-hiau, lalu siapa lagi?"
Demikian Li Ti mendesak. Namun Pang Lin sudah menyusun kata-katanya yang bohong, setelah ia tenangkan diri, lalu dengan tertawa berkata.
"Orangnya kau kenal dengan baik!"
"Siapa?"
Tanya Li Ti pula.
"Ialah aku sendiri!"
Sahut Pang Lin. Sudah tentu Li Ti terperanjat, ia tidak mau percaya begitu saja.
"Mana bisa Ie-pekbo membiarkan kau masuk ke cabang silatnya? Kau adalah ahli warisnya yang tunggal, kalau kau masuk ke cabang lain, apa tidak berarti jerih payahnya selama sepuluh tahun mengajar kau terbuang percuma saja?"
Ujar Li Ti.
"Tetapi guruku bilang sebenarnya beliau hendak mencari ahli waris lain buat Bu-kek-pay, tapi kalau tidak didapatkan orang yang cocok berarti mengecewakan Pho Jing-cu, jika dapat yang betul-betul baik, mungkin orangnya sudah tua, pula tak bersemangat, oleh sebab itulah aku disuruh membangun kembali Bu-kek-pay. Sedang mengenai ahli waris Thian-san-pay, bukankah masih ada Teng-sioksiok?"
Demikianlah Pang Lin menjawab dengan alasannya.
Ia telah mengetahui dari ucapan Li Ti sendiri dan sudah paham seluk-beluk seseorang dari Thian-san, oleh karena itu, apa yang dikatakannya cukup masuk akal juga.
Mau tak mau Li Ti rada percaya apa yang dikatakan itu.
Pikirnya.
"Ie-pekbo adalah tokoh terkemuka dari suatu aliran sendiri, tindakannya dengan sendirinya susah diduga oleh kaum muda. Secara rela dan ikhlas ia mau mengorbankan murid kesayangannya untuk cabang lain, tindakannya ini sungguh harus dipuji!"
Kemudian teringat pula olehnya bahwa Pang Lin memang mahir ilmu pedang Bu-kek-pay, tentunya Ie Lan-cu yang menyuruh gadis ini belajar, maka terhadap apa yang dituturkannya tadi, I i l'i percaya sepenuhnya.
"Jika demikian ternyata kau adalah miang punggung Hu-kck-pay yang akan datang, selamat dan bahagialah!"
Dengan tertawa ia memberi selamat.
"Oleh karena ita juga aku ada hak buat memberikan kitab ini padamu,"
Kata Pang Lin dengan tertawa.
"Tetapi aku tidak ingin masuk perguruan lain, buat apa kau berikan padaku?"
Sahut Li Ti tertawa juga. Dalam hati ia pun menganggap Pang Lin masih bertabiat anak-anak.
"Aku tidak punya barang lain untuk diberikan padamu, maka kitab ini tidak boleh tidak harus kau terima,"
Kata Pang Lin pula.
"Kau tak usah kuatir, tidak nanti aku menyuruh kau masuk ke dalam Bu-kek-pay."
"Jangan kau berlaku seperti anak-anak,"
Sahut Li Ti tertawa.
"Ini adalah kitab mestika dari perguruanmu, tidak seharusnya kau sembarangan memberikan pada orang lain."
Namun Pang Lin memaksa lagi.
Jilid pertama yang berisi pelajaran ilmu pukulan dan ilmu pedang, semuanya sudah kuhapal-kan di luar kepala. Sedang
Jilid kedua yang berisi resep dan ilmu ketabiban, sedikitpun malah aku tidak paham, untuk membacanya saja kepalaku pusing, buat apa aku memilikinya? "
Mendengar si nona menyebut kitab ilmu ketabiban, mendadak mata Li Ti terbeliak, tiba-tiba timbul semacam pikirannya, di bawah sinar obor yang remang-remang tertampak olehnya tulisan 'Kim-ciam-to-se' yang menyolok sekali di atas kulit kitab yang pernah ia baca ita.
Ia teringat resep dan nama-nama penyakit yang terdapat dalam kitab ita, di antaranya terdapat nama penyakit aneh 'Li-hun-cin', pikirnya.
"Kata Ing-moay, sesudah dia jatah sakit, lalu semua pelajaran Thian-san-kiam-hoat telah terlupa, entah betul tidak?"
Setelah mengambil keputusan, lalu dengan tersenyum ia berkata.
"Baiklah, jika begitu berikan saja padaku kitab ketabiban
Jilid kedua ita."
Melihat orang sudah mau menerima, Pang Lin jadi senang, dengan tersenyum simpul ia lantas memberikan
Jilid kedua padanya.
"Bagus, jika kau sudah memahami isinya, kelak kalau aku menderita sesuatu penyakit, segera aku akan pergi mencari kau,"
Ia tambahkan pula dengan berkelakar. Kemudian dengan saling pandang dan tertawa, lalu mereka pun pergi tidur. Besoknya pagi-pagi sekali waktu Li Ti mendusin, ia tidak mendapatkan Pang Lin.
"Tentu ia pergi berburu pula,"
Pikir Li Ti dalam hati.
Setelah kemarin malam menghabiskan sepotong paha kambing panggang dan tidur nyenyak semalam, kini semangatnya sudah pulih seluruhnya, ia berlari keluar gua untuk menyedot hawa segar.
Setelah memainkan sejurus ilmu pukulan untuk melemaskan otot-ototnya, kemudian ia menyusuri bukit mencari Pang Lin.
Di Ko-san banyak terdapat puncak menjulang tinggi.
Li Ti memanjat ke atas sebuah puncak, ia berdiri di atas batu pegunungan dan memandang jauh, di bawah dimana ia berdiri air terjun meng-gerujuk berhamburan dengan mengeluarkan suara berdentum, di atas gunung diliputi kabut tipis dan awan mengambang, suatu pemandangan alam yang indah permai dan megah sekali.
Di depan puncak gunung sana, di sebelah utara Siau-sit-san dimana Siau-lim-si berada, setelah mengalami kebakaran hebat, seluruh gunung kelihatan tandus dengan warna kuning hangus di tengah himpitan puncak lain yang menghijau segar, jelas sekali kelihatan tidak setimpal dan menimbulkan perasaan tak enak bagi yang memandangnya.
"Entah sebab apa api berkobar, sungguh merusak pemandangan yang indah ini!"
Pikir Li Ti.
Karena rasa kecewanya itu, ia lantas masuk ke dalam hutan lebat untuk memetik bunga pegunungan.
» Pada waktu itu juga, di antara pegunungan yang sunyi senyap itu, tiba-tiba berkumandang suara tertawa orang.
Lekas Li Ti bersembunyi di belakang sebuah batu besar, waktu ia mengintip, ia lihat ada serombongan orang sedang mendatangi, setelah sampai di depan batu dimana ia bersembunyi, mendadak mereka berhenti.
Waktu Li Ti menegasi, ia lihat seorang lelaki di antaranya berusia antara tiga puluhan tahun, memakai jubah sulaman dan ikat pinggang ukiran, sikapnya agung dan berwibawa, dengan sebelah kaki menginjak di atas batu, orang ini mengerling kian kemari, kedua matanya bersinar tajam.
Orang lain memisahkan diri di kedua samping, rupanya mereka adalah pengiring, orang yang paling berdekatan dengan lelaki agung itu mempunyai wajah yang keren, begitu nampak orang ini, hampir saj;, Li Ti berteriak.
Orang ini ternyata bukan lain daripada Cing-se-tayciangkun (panglima besar penggempur ke barat) Lian Keng-hiau yang baru saja memegang kekuasaan.
"Hongsiang punya perhitungan memang tepat dan luar biasa, ditambah kewibawaan yang tinggi, maka tiada beberapa bulan naik takhta, seluruh penjuru sudah dapat ditaklukkan,"
Demikian terdengar Lian Keng-hiau menjilat.
"In Te yang memimpin pasukan sebesar dua ratus ribu prajurit sudah tertawan tanpa kesulitan, sedang Siau-lim-si yang suka mengunggulkan ilmu silatnya tiada bandingan, tidak urung kini mengalami nasib hancur lebur menjadi abu, sekalipun Cin (Si) Ong, Han Bu (Te), Tong (Thay) Cong dan Song (Thay) Co juga tidak bisa menandingi Hongsiang."
Mendengar kata-kata ini, Li Ti jadi terkejut, ia tidak menduga bahwa lelaki agung tadi ternyata Kaisar Yong Ceng adanya (dahulu pengeran In Ceng).
"Itapun atas jasamu Lian-tayciangkun,"
Terdengar Yong Ceng menjawab dengan tersenyum.
"Lima ratus padri Siau-lim-si sudah terbakar hangus oleh api tanpa seorang pun berani melawan, hal ini menunjukkan wibawa Hongsiang yang agung,"
Terdengar Lian Keng-hiau berkata lagi sambil menunjuk tumpukan puing di bawah puncak Ngo-hay-hong dimana Siau-lim-si berada. Mendengar pujian ita, Yong Ceng tertawa terbahak-bahak.
"Suatu biara yang bersejarah ribuan tahun seperti Siau-lim-si kini telah musnah terbakar habis, hanya gara-gara perbuatannya sendiri, namun perasaanku pun ikut sedih,"
Tiba-tiba Yong Ceng berkata dengan menghela napas.
"Itu tidak bisa menyalahkan Hongsiang,"
Ujar Keng-hiau cepat.
"Hongsiang sudah cukup bijaksana dan murah hati, hanya sayang, padri-padri Siau-lim-si itu yang tidak kenal peraturan pemerintah dan tidak bisa memahami kemurahan hati Hongsiang."
Mendengar ucapan terakhir ini, Li Ti menjadi muak rasanya, tanpa terasa ia pun mengkirik.
"Terbakarnya Siau-lim-si memang sayang sekali,"
Terdengar Yong Ceng berkata pula.
"biarlah setelah aku kembali ke kotaraja, segera aku titahkan Holam Sunbu memperbaiki kembali biara ini dan mencari padri pengurusnya yang berilmu tinggi."
Mendengar sampai di sini, sekonyong-konyong Li Ti merasakan batu di depannya terasa sedikit tergoyang.
Dengan cepat Li Ti berusaha mendekam lebih ke bawah, akan tetapi sudah terdengar suara gertakan orang yang keras.
"Siapa kau, lekas keluar!"
Menyusul mendadak batu besar itu roboh, mau tak mau Li Ti segera melompat keluar, segera ia dapatkan dirinya sudah dikepung musuh.
Kiranya sesudah Kaisar Yong Ceng membakar musnah Siau-lim-si, ia tinggalkan Hay-hun Hwesio untuk menjaga di tempat kebakaran ini, tetapi sudah lewat sebulan, belum tertampak Hay-hun kembali melaporkan tugasnya, ia ingin menyaksikan sendiri keadaan Siau-lim-si sesudah terbakar, karena itu, maka segera ia bawa pengiringnya antara lain Thian-yap Sanjin, Haptoh dan lain-lain naik ke Ko-san.
Ketika mendadak muncul seorang yang tak dikenal, Yong Ceng bersikap tenang saja.
"Setelah Siau-lim-si terbakar, tiada seorang pun tokoh dunia persilatan yang berani datang mengunjungi, tetapi orang ini ternyata berani naik ke Ko-san, nyalinya boleh dibilang tidak kecil,"
Katanya dengan tersenyum.
"Coba kalian mundur dahulu, biar aku tanya."
"Apa yang hendak kau tanyakan?"
Kata Li Ti dengan angkuh.
"Apa kau anak murid Siau-lim-si?"
Tanya Yong Ceng.
"Bukan,"
Jawab Li Ti ketus.
"Kalau begitu ada hubungan apakah antara kau dengan para Tianglo (tertua) Siau-lim-si?"
"Tianglo Siau-lim-si terlalu agung dan disegani, aku masih belum ada harganya untuk bisa bersahabat dengan mereka,"
Sahut Li Ti pula. Mendengar jawaban ini, seketika muka Lian Keng-hiau berubah. Akan tetapi berlainan dengan Yong Ceng, ia malah bergelak tertawa.
"Jika begitj untuk apalagi kau naik ke Ko-san sini?"
Tanyanya lagi.
"Ada permusuhan apakah antara kau dan Siau-lim-si, mengapa kau bakar habis biara kuno ini dan dua kali naik ke Ko-san?"
Ber-balik Li Ti bertanya.
"Kurangajar, berani kau adu mulut dengan Hongsiang!"
Demikian para pengiring Yong Ceng lantas membentak. Yong Ceng pun mengerut kening oleh jawaban orang yang berani ita, pikirnya dalam hati.
"Sungguh anak muda yang tak takut mati, jika aku bisa menundukkan dia, aku tentu akan mendapatkan seorang pembantu yang berguna."
Dalam pada ita salah seorang pengiringnya melaporkan.
"Mayat Cin Tiong-wat telah ditemukan, tetapi Hay-hun Hwesio sampai kini belum diketahui kemana perginya, harap Hongsiang memberi perintah penangkapan keparat cilik ini untuk diperiksa, coba ditanya apakah perbuatan dia sendiri atau masih ada begundalnya yang lain!"
Mendengar kata orang yang terakhir ini, Li Ti menjadi kuatir, ia menduga hari ini pasti sukar untuk meloloskan diri, hanya saja jangan sampai Ing-moay ikut diringkus.
Karena itu, sebelum Yong Ceng bertanya, dengan terus terang ia lantas mendahului menyawab.
"Ya, semuanya adalah perbuatanku sendiri!"
"Cin Tiong-wat telah kau bunuh, tetapi dimana Hwesio itu?"
Yong Ceng bertanya.
"Ia terluka oleh tusukan pedangku, karena tiada orang yang menolongnya, mungkin kini ia pun sudah mampus!"
Sahut Li Ti. Karena penuturan ini, para pengiring Yong Ceng menjadi gusar, segera mereka hendak meringkus Li Ti. Akan tetapi tiba-tiba Yong Ceng tertawa lagi.
"Ha, anak muda, jangan kau sembarang membual, hanya kau seorang diri, masakah kau bisa menghindarkan pemeriksaan Han Tiong-san dan bisa pula mencelakai dua jagoku?"
Dengan kata-kata itu Yong Ceng pikir kalau betul orang mempunyai kepandaian begitu tinggi, maka lebih-lebih harus ditandukkan.
Di pihak lain Li Ti tertegun juga oleh kata-kata Yong Ceng tadi, ia pikir apakah kaisar ini seorang yang paham ilmu silat?
"Harap kebijaksanaan Hongsiang, anak ini tentu punya begundal lain, harap diberi perintah penggeledahan seluruh gunung ini!"
Segera Lian Keng-hiau mengusulkan dari samping. Karena itu, Li Ti menjadi kuatir.
"Hm, jagoan apa? Tidak lebih hanya boneka saja! Apakah kedua orang yang tak berguna itu adalah jagoan yang kau perintahkan menjaga Ko-san? Haha!"
Sengaja ia mengejek. Keruan ejekan itu membikin gusar para pengiring Yong Ceng, termasuk juga Thian-yap Sanjin.
"Hongsiang, jika keparat kecil ini tidak diberi hajaran, maka nama baik para bayangkara istana kita tentu akan tersapu habis,"
Katanya dengan gemas. Namun Yong Ceng tetap tersenyum saja, ia memanggil Hap-toh ke dekatnya dan secara bisik-bisik ia memberi beberapa pesan.
"Anak muda, jangan kau anggap bisa naik ke Ko-san sini, lantas menganggap luar biasa kepandaianmu, dan jangan pula kau sombong karena bisa menjatahkan dua jagoanku,"
Katanya kemudian kepada Li Ti.
"Sekarang kau boleh pilih sesukamu, satu di antara jagoan yang aku bawa ini, asal kau mampu menandingi sama kuatnya, aku akan lepaskan kau turun gunung."
Li Ti pikir dirinya toh tidak akan bisa lolos, daripada mati konyol kenapa harus takut? Karena itu, segera pula ia cabut pedangnya sambil membentak.
"Baik, aku pun silakan kau pilih jago sesukamu! Maju satu akan kulawan satu, bila maju dua aku lantas lawan dua-duanya!"
Kata-kata ini sengaja ia ucapkan dengan suara keras dengan maksud agar didengar oleh Pang Lin, dengan demikian supaya si nona sempat menyembunyikan diri.
"Sungguh besar sekali mulut anak ini! Haptoh, coba kau saja tempur dia,"
Dengan tertawa segera Yong Ceng memberi perintah.
Tanpa diperintah untuk kedua kalinya, segera Haptoh maju ke depan, ia keluarkan senjatanya, 'Liu-sing-tui', dua buah bandul bertali, dengan cepat ia lemparkan kedua bandulan itu terus menghantam dari kanan-kiri.
Nampak datangnya serangan cukup lihai dan keras, dengan gesit Li Ti berkelit, berbareng ini secepat kucing menerkam tikus, pedangnya menusuk secepat kilat ke tenggorokan Haptoh.
Akan tetapi dengan mengikuti datangnya gaya serangan, Haptoh berputar pergi dengan sebat, sedang bandul sebelah kiri ia benturkan pada batang pedang.
Di luar dugaan, ilmu permainan pedang Li Ti ternyata lain dari yang lain, tampaknya ia menusuk ke jurusan tengah, tapi mendadak bisa menikam ke bawah.
Keruan Haptoh menjadi kaget, begitu bandulnya membentur tempat kosong, tahu-tahu ujung senjata orang telah dekat pada lutut kakinya, lekas ia mencelat ke atas, dengan kaki kiri ia injak ujung pedang lawan, berbareng ia melompat mundur beberapa tindak.
"Kiam-hoat bagus!"
Sorak Yong Ceng memuji.
Haptoh menjabat sebagai Congkoan atau pemimpin besar Wi-su (pasukan pengawal) di dalam istana, kedudukan dan kepandaiannya sederajat dengan Thian-yap Sanjin, maka demi mendengar suara pujian Hongsiang pada lawannya, ia menjadi malu, segera ia putar bandulnya secepat angin, dengan sengit ia menubruk maju pula.
Perlu diketahui bahwa kepandaian Haptoh memang tidak di bawah Liau-in, tadi ia hampir tertusuk oleh Li Ti disebabkan ia terlalu gegabah memandang enteng lawan.
Kini sesudah ia merebut kembali kehilangan mukanya di hadapan Hongsiang, sudah tentu ia putar bandulnya lebih kencang hingga membawa sambaran angin yang keras, daya tekanannya ternyata luar biasa.
Meski Kiam-hoat Li Ti hebat sekali dan aneh, namun di bawah tekanan sepasang bandulan musuh, ia tak bisa mengeluarkan seluruh kemahirannya.
Syukur semenjak Li Ti turun gunung sudah beberapa kali ia mengalami pertempuran be'sar, kepandaiannya pun sudah banyak maju daripada waktu ia bertempur melawan Liau-in di Hangciu dahulu, kalau tidak, tentu sudah sejak tadi ia diringkus oleh Haptoh.
Begitulah, setelah beberapa puluh jurus mereka saling gebrak masih belum terpisahkan, Yong Ceng jadi makin tertarik oleh kepandaian Li Ti.
"Usia anak ini masih semuda ini, tetapi ia bisa bertahan begitu lama melawan Hap-congkoan, melulu ini saja sudah susah dicari bandingannya!"
Kata Yong Ceng pada Thian-yap Sanjin.
"Cuma tenaganya sudah mulai habis, paling banyak ia hanya mampu bertahan lima puluh jurus lagi,"
Ujar Thian-yap Sanjin.
"Dia punya Kiam-hoat ini rada aneh, apa kau kenal?"
Tiba-tiba Yong Ceng bertanya.
Seketika Thian-yap menjadi merah jengah, la adalah tokoh besar suatu cabang persilatan sendiri, pengalamannya banyak dan pengetahuannya luas, akan tetapi terhadap Kiam-hoat Li Ti ini ia ternyata tidak kenal.
Sebaliknya Yong Ceng yang mempunyai kecerdasan otak melebihi orang lain, setelah berpikir sejenak, segera ia dapat meraba dari cabang mana Kiam-hoat Li Ti ini.
"Thian-san-kiam-hoat dan Hian-li-kiam-hoat sudah pernah kulihat semua,"
Demikian ia berkata.
"Kiam-hoat orang ini tidak seruwet perubahan Thian-san-kiam-hoat, tetapi juga tidak sebagus perubahan Hian-li-kiam-hoat. Akan tetapi lihainya sebaliknya berada di atas kedua macam ilmu pedang tadi. Tampaknya Kiam-hoat ini kalau bukan Tat-mo-kiam-hoat, tentu adalah Kiam-Jioat yang khas dari Pek-hoat Mo-li."
Yong Ceng sendiri keluaran Siau-lim-si, terhadap ilmu permainan pedang dari berbagai cabang persilatan meski ia belum mengenalnya, namun sedikit banyak ia sudah pernah mendengar cerita dari orang, oleh karenanya ia bisa mengutarakan pendapatnya dengan masuk akal.
"Hongsiang, Kiam-hoat orang ini tentu adalah Kiam-hoat yang khas dari Pek-hoat Mo-li,"
Kata Thian-yap Sanjin setelah berpikir sejenak.
"Mungkin dia ini adalah putra Bu Ging-yau. Sifat Bu Ging-yau yang ringan tangan dan ganas itu lebih susah dilawan daripada Ie Lan-cu. Baiknya kita jangan sembarangan mencelakai dia."
Jika Thian-yap Sanjin berkata dengan nada kuatir, Yong Ceng sebaliknya masih tertawa.
"Hal itu sudah kupesan pada Hap-congkoan,"
Kata maharaja ini.
"Hanya aku tak peduli dia ini anak siapa, yang jelas orang yang mempunyai keberanian begini adalah orang berbakat yang sukar dicari."
Dalam pada itu setelah pertempuran berjalan lebih tiga puluh jurus lagi, tenaga Li Ti sudah lemah, betul juga ia mulai mengunjuk tanda bakal kalah.
Sebaliknya Haptoh bermaksud menawan Li Ti hidup-hidup, tujuan inipun tidak gampang terkabul.
Perlu diketahui bahwa pertandingan antara kaum ahli, dalam keadaan serang-menyerang, tidak mungkin memberi peluang sedikitpun.
Meski kepandaian Haptoh masih menang setingkat, tetapi untuk menawan Li Ti sedikitnya ia harus melukai dahulu pemuda ini, tetapi justru Yong Ceng tidak memperkenankan Haptoh melukainya, inilah yang membikin Haptoh serba salah.
Sebaliknya senjata Li Ti bergerak tiada ketentuan dengan perubahan yang susah diduga sebelumnya, beberapa kali Haptoh bermaksud membentur pedangnya, tetapi selalu dengan cepat dapat dihindarkan.
Sudah tentu lama-lama Haptoh menjadi gelisah, ia tidak sabar lagi, mendadak ia dapatkan suatu akal baik, tiba-tiba ia memperkencang dua bandulnya dan beruntun melancarkan tipu serangan mematikan, dengan demikian tampaknya setiap saat Li Ti bisa tewas di bawah hantaman bandulnya.
Bahkan tiap kali ia menyerang selalu dibarengi dengan gertakan agar Li Ti suka menyerah saja.
Di luar dugaan, ternyata Li Ti malah melawan dengan mati-matian, sedikitpun ia tidak gentar, dalam serangan sengit itu, bandul Haptoh saban-saban menyambar lewat di atas kepalanya, memang tampaknya sangat menguatirkan bagi keselamatannya.
"Kau minta aku menyerah, hm, jangan kau harap!"
Jengek Li Ti dengan murka.
Habis itu tiba-tiba ia ganti permainan pedang, dari terserang ia balas merangsek, dengan mati-matian ia terus mendesak maju.
Dalam keadaan tegang itu, mendadak terdengar sekali siulan nyaring, tahu-tahu Pang Lin muncul dari hutan sana.
"Ing-moay, lekas kau melarikan diri!"
Seru Li Ti kuatir. Karena sedikit lengah ini, ternyata pedangnya lantas mencelat terbang oleh benturan bandul Haptoh. Berbareng itu terdengar Yong Ceng membentak juga.
"Berhenti dulu!"
Kiranya Pang Lin telah mendengar suara pertempuran itu, maka diam-diam ia menyusur sampai di pinggir hutan, tiba-tiba ia lihat Yong Ceng dengan membawa pengiringnya sedang menyaksikan pertempuran sengit itu dari samping, keruan tidak kepalang terkejutnya.
Sebenarnya ia berpikir hendak lari saja, tetapi waktu ia lihat Li Ti sudah terkurung oleh serangan Haptoh dan dalam keadaan gawat.
"Jika aku tidak menolong dia, jiwanya pasti akan melayang,"
Demikian ia berpikir.
Dalam keadaan demikian, Pang Lin tidak takut lagi akan ancaman Yong Ceng yang akan menikahi dirinya, segera ia mencabut belatinya yang berbisa dan mendadak melompat maju.
Yong Ceng terkejut bercampur girang demi nampak munculnya Pang Lin yang mendadak itu.
"Ha, budak Lin, sudah puaskah kau keluyuran sekian lama? Hayo, lekas, ikut aku pulang!"
Dengan tertawa ia lantas menegur. Tetapi sebagai jawaban, Pang Lin mengacungkan belatinya ke hulu hati sendiri, lalu mengancam.
"Jika kau melukai aku punya Li-koko, maka aku pun tidak ingin hidup lagi."
"Siapa yang hendak mencelakai dia, jangan kau kuatir, mari sini!"
Sahut Yong Ceng dengan tertawa.
Di bawah kepungan musuh, Li Ti sama sekali tidak gentar, tetapi kini mendadak nampak Pang Lin memohon kemurahan hati kaisar musuh, terkejutnya ini sungguh bukan buatan!
Ia sangsikan dirinya apa bukan berada dalam alam mimpi buruk?
Dalam keadaan ita tiba-tiba, ia merasa tangannya kesemutan, kiranya urat nadinya telah dipencet kencang oleh jari Haptoh.
Sementara ita selangkah demi selangkah Pang Lin lantas mendekati.
Lian Keng-hiau terguncang juga hatinya, ia kuatir kalau Pang Lin membongkar rahasia dan menceritakan bahwa dia pernah bersembunyi di rumahnya, maka ia coba memberi kedipan mata pada anak dara ini.
Namun Pang Lin seperti tidak tahu, dengan kaku ia berjalan ke samping Yong Ceng.
"Budak Lin, simpanlah pisaumu itu,"
Yong Ceng coba membujuk. Akan tetapi Pang Lin ternyata tidak menggubrisnya, ia tetap mengarahkan belati ke hulu hati sendiri.
"Sebagai kaisar tidak nanti aku berbohong, simpanlah pisaumu, aku tidak akan mencelakai dia,"
Kata Yong Ceng lagi. Sambil mengangkat kepala kemudian Pang Lin menyimpan kembali belati ke dalam kantong senjatanya.
"Si-pwelek, aku sengaja datang memberi selamat padamu!"
Demikian kemudian ia menyapa dengan ketus. « "Kau berhadapan dengan Hongsiang, mengapa tidak berlutut?"
Haptoh membentak, tujuannya ialah untuk menyadarkan sebutan si nona tadi yang keliru, karena In Ceng kini sudah menjadi Kaisar Yong Ceng.
"Biarlah, dia sudah biasa nakal, tidak perlu pakai tatacara segala!"
Ujar Yong Ceng. Habis itu dengan tertawa ia menyambung pula.
"Kau telah keluyuran kemana-mana, tentu sudah cukup kau merasakan pahit getirnya. Istana kita dahulu ita kini sudah dirombak menjadi Yong-ho-kiong, kamarmu masih tetap seperti sedia kala."
"Kau lepaskan dia, baru aku ikut kau pulang,"
Kata Pang Lin.
"Setelah kau ikut aku pulang ke istana, aku segera akan membebaskan dia,"
Sahut Yong Ceng tertawa.
"Baik, sebagai kaisar jangan kau berdusta, biarlah aku ikut kau pulang!"
Kata Pan?
Lin.
Li Ti menjadi ternganga oleh tanya-jawab itu, beruntun Pang Lin memanggil dua kali padanya, tapi sama sekali tidak dijawabnya.
Sementara itu Yong Ceng telah memberi tanda, dengan menyeret Li Ti.
lebih dulu Haptoh turun ke bawah gunung.
"Dia pernah apa dengan kau? Kalian berhubungan sangat baik bukan?"
Kemudian Yong Ceng bertanya pada Pang Lin.
"Dia adalah kakak angkatku, sudah tentu kami sangat baik!"
Sahut Pang Lin.
Sambil menjawab, dalam hati ia pun berdaya-upaya untuk menghadapi apa yang akan terjadi nanti.
Mendengar jawaban tadi, sekonyong-konyong Yong Ceng merasakan semacam perasaan cemburu, ia tidak buka suara lagi, melainkan hanya tertawa dingin.
Di lain pihak, hati Lian Keng-hiau pun sedang kebat-kebit, tetapi syukur Pang Lin tidak membongkar rahasianya.
"Harap Hongsiang menuju ke rumah hamba dahulu,"
Lapor Keng-hiau kemudian.
Yong Ceng mengangguk tanda setuju.
Waktu Pang Lin mengerling ke arah Keng-hiau, dengan cepat Keng-hiau menunduk.
Rumah Lian Keng-hiau memang tidak jauh dari Ko-san, setelah mereka turun gunung dan menukar kuda-yang segar, malam itu juga mereka tiba di rumah keluarga Lian.
"Kau aturlah yang baik terhadap dia,"
Yong Ceng memberi titah.
Keng-hiau terima perintah itu, ia kurung Pang Lin di dalam kamar bacanya yang dulu.
Di luar kamar dijaga pula oleh Thian-yap Sanjin dan Haptoh, maka tidak nanti anak dara ini mampu kabur.
Taman keluarga Lian ini, sejak Keng-hiau pulang sudah dilabur dan diperbaharui dengan mentereng dan ditambahi pula beberapa rumah, tidak sunyi senyap lagi seperti tadinya.
Maka Yong Ceng dan Li Ti pun tinggal di dalam taman itu.
Setelah makan malam, tiba-tiba Yong Ceng memanggil Lian Keng-hiau menghadap.
Sudah tentu dengan perasaan kebat-kebit Keng-hiau menghadap sang maharaja ini.
"Aku pikir hendak mengangkat budak Lin sebagai Kui-hui (selir kesayangan), bagaimana pendapatmu?"
Tanya Yong Ceng sesudah Keng-hiau datang.
"Itu adalah urusan rumah tangga kerajaan, hamba tidak berani ikut campur,"
Ujar Keng-hiau.
"Kau tentu tahu bahwa asal-usul budak Lin tidak jelas, meski peraturan putri Han masuk istana sudah dibikin longgar, tapi Thay-hou (ibu suri) masih ada ...."
Sampai di sini Yong Ceng berhenti dan ragu-ragu untuk mengucapkan. Akan tetapi dengan kecerdasannya, Keng-hiau segera paham maksud maharaja ini. Pikirnya.
"Taksiranku dahulu ternyata tidak meleset."
"Dengan memberanikan diri, hamba bersedia mengaku Lin-kuijin (sebutan penghormatan pada selir kaisar) menjadi adik angkat,"
Katanya kemudian.
"Kau ini memang betul-betul pintar,"
Ujar Yong Ceng dengan tertawa atas usul orang yang cocok dengan kemauannya.
"Baiklah, kalau kau mau mengaku, sekalian mengaku sebagai adik sepupu saja. Kau boleh kirim dia masuk istana, tentu Thay-hou tidak akan banyak omong lagi."
Diam-diam Keng-hiau jadi girang karena usahanya berhasil.
"Perjalanan ke barat untuk sementara boleh ditunda, lusa boleh kau kembali ke kotaraja bersama aku,"
Tiba-tiba Yong Ceng berkata pula. Sebenarnya Keng-hiau hendak menggunakan kesempatan ini untuk menemui Pang Lin, maka dengan kata-kata Yong Ceng terakhir ini, ia seperti diguyur air dingin.
"Dan lalu bagaimana dengan urusan Hi Kak?"
Ia bertanya.
Kiranya tempo hari sesudah Keng-hiau membereskan urusan In Te, sebenarnya ia hanya ambil keputusan hendak tinggal selama tiga hari saja di rumah, kemudian karena kedatangan Yong Ceng dan menyuruh dia menunda dulu ekspedisi ke barat dan diam-diam mereka mengatur pasukan untuk menghadapi Hi Kak, oleh karena itu ia tinggal di rumahnya sampai sekarang.
"Dia telah minta Hongsiang memenuhi janji dan menyerahkan Soatang di bawah kekuasaannya, cara bagaimana pula menghadapinya dalam urusan ini?"
Tanya Keng-hiau.
"Itu hanya soal kecil,"
Sahut Yong Ceng tertawa.
"Thio Ting-giok tidak begitu bodoh untuk diselomoti, urusan timbang terima itu perlu surat-menyurat yang memakan waktu selama beberapa bulan, kala mana Hi Kak tentu sudah seperti bulus di dalam kuali."
Karena jawaban ini, terpaksa Lian Keng-hiau hanya mengia-kan saja dan lantas mengundurkan diri.
"Jika budak Lin sampai masuk istana, lambat atau cepat ia pasti akan membongkar rahasiaku yang telah menyembunyikan dia tempo hari, hal ini bagaimana baiknya?"
Demikian Keng-hiau berpikir dengan kuatir.
Setelah kembali dalam kamarnya, segera ia suruh menyingkir semua pelayannya terus memeras otak mencari daya-upaya untuk menghadapi persoalan ini.
Kembali pada Pang Lin, setelah nona ini disekap dalam kamar, ia lihat tirai kelambu kamar itu seperti baru, selimut tersulam burung merpati masih tertata dengan baik, tanpa terasa ia mengingat-ingat pula kejadian yang telah lampau.
"Tidak jelek juga Lian Keng-hiau melayani aku, cara bagaimanakah aku bisa bertemu dia lagi?"
Demikianlah ia berpikir. Lalu pikirnya lagi.
"Taman ini seperti sudah pernah aku diami beberapa lama berselang, tetapi mengapa aku tidak mengingatnya, jika aku bisa tinggal lagi barang setengah tahun di sini, mungkin dapat menemukan sedikit sinar terang."
Tengah ia berpikir, Yong Ceng telah perintahkan Haptoh memanggil dia menghadap.
Dalam perjalanan, Pang Lin memeras otak memikirkan tipu-daya untuk menghadapi Yong Ceng.
Yong Ceng sendiri tinggal di suatu kamar besar di rumah yang baru dibangun pada pojok barat taman.
Waktu Pang Lin masuk, Yong Ceng tersenyum senang, ia memberi tanda agar Haptoh mengundurkan diri, maka dalam kamar hanya tinggal dia dan Pang Lin berdua saja.
"Sudah lama kau menetap dalam istana, selama itu aku tidak berbuat sesuatu apapun terhadap kau, tetapi mengapa kau minggat?"
Tanya Yong Ceng.
"Aku sudah bosan tinggal di sana, maka aku ingin jalan-jalan keluar, dosa apakah atas perbuatanku ini?"
Sahut Pang Lin dengan mulut memoncong. Yong Ceng jadi tergiur hatinya oleh sikap gadis ini.
"Baiklah, yang sudah biarlah sudah, cuma selanjutnya jangan kau sembarang pergi lagi!"
Ujarnya kemudian dengan tertawa.
"Aku toh bukan anggota keluargamu, mengapa kau mengurusi aku?"
Sahut Pang Lin.
"Selanjutnya kau akan menjadi anggota keluargaku!"
Kata Yong Ceng pula. Habis itu ia lantas mendekati dengan maksud hendak mencium si nona, akan tetapi dengan cepat Pang Lin mengelak.
"Hm, kau anggap aku sebagai Kiongli (dayang istana) yang hina-dina?"
Damprat Pang Lin. Yong Ceng menjadi kuatir oleh perubahan sikap si nona, dengan tertawa lekas ia membujuk lagi.
"Aku bakal mengangkat kau sebagai Kui-hui, kecuali Hong-hou (permaisuri), dalam istana kau terhitung orang yang paling agung."
Sebenarnya tidak kepalang gusar Pang Lin, tetapi ia paksakan diri untuk bersabar.
"Bagaimana? Malam ini kau jangan pergi lagi ya?"
Kata Yong Ceng.
Berbareng itu ia mengulur tangan hendak memeluk.
Melihat kelakuan orang yang semakin buas, Pang Lin pikir, ilmu silat Yong Ceng lebih tinggi, kalau sampai menggunakan kekerasan, pasti aku akan kewalahan.
Karena itu segera ia berlagak tertawa.
"Haha, seorang kaisar yang terpuja masakah berbuat begini, apa kau tidak malu?"
Katanya kemudian.
"Sungguhpun kau hendak mengangkat aku sebagai Kui-hui, tapi hal inipun harus mendapatkan persetujuanku secara sukarela."
Ia tidak tahu bahwa Yong Ceng sudah lama mengiler padanya, apalagi kini melihat anak dara ini sudah tumbuh besar dan semakin cantik, perasaannya jadi makin tergiur dan tidak bisa menguasai diri lagi.
Segera ia maju lebih dekat.
Terpaksa Pang Lin menghindarkan diri melangkah mundur.
'"Apa yang aku suka lakukan, siapa yang berani merintangi!"
Yong Ceng menjawab, habis itu ia mendesak maju terus hendak menarik pula. Akan tetapi tiba-tiba Pang Lin berkata.
"Oya, Si-pwelek sudah naik takhta, aku masih belum memberi hormat. Selamat dan bahagialah Hongsiang!"
Yong Ceng menjadi tertegun oleh kata-kata yang mendadak ini.
"Buat apa kau pakai peradatan ini segala?"
Ujarnya.
"Surat wasiat di atas Kong-beng-tay-tian itu bagus sekali cara mengubahnya!"
Pang Lin berkata pula.
Mendengar surat wasiat di atas belandar istana itu disebut-sebut, Yong Ceng jadi terperanjat, teringat olehnya memang Pang Lin dan Thian-yap Sanjin yang melakukan pengintipan surat wasiat ita dan Longetoh kemudian yang mengubah tulisannya.
"Kau lama berkeluyuran di luar, apa kau ceritakan kejadian itu pada orang luar?"
Tanya Yong Ceng dengan air muka berubah.
"Itulah kau tak perlu kuatir, aku masih bisa menjaga rahasia, mana berani aku sembarangan bercerita,"
Sahut Pang Lin tenang.
"Cuma kalau aku dibikin marah, terpaksa aku akan berteriak tentang kejadian itu."
Karena gertakan ini, hawa napsu Yong Ceng yang tadinya menyala mendadak tersirap separoh.
Sebab, meski Yong Ceng sudah bisa menghapus kekuasaan In Te, namun putra pangeran lainnya masih belum terbasmi semuanya, jika rahasia ini sampai tersiar, maka kedudukan Yong Ceng pasti akan menjadi guncang.
"Baiklah, kelak kalau aku ambil kau masuk istana secara resmi, tatkala ita baru kita menjadi suami-istri,"
Dengan menyengir Yong Ceng akhirnya berkata.
"Itu perkara nanti,"
Ujar Pang Lin.
"Tetapi kalau kau tidak menuruti kemauanku, aku segera akan bunuh kau punya Li-koko itu,"
Balas Yong Ceng menggertak.
Karena ini Pang Lin menjadi kuatir.
Pikirnya, untuk masuk istana sedikitnya masih ada tempo setengah bulan lagi, selama ada waktu aku harus berusaha mengulur waktu juga.
Maka dengan tertawa ia lantas berkata pula.
"Sudahlah, kini sudah jauh malam, kau sendiri tidak mengantuk, akulah yang mau tidur, aku kembali ke kamar saja."
Mendengar lagu suara -si nona sudah menjadi halus, Yong Ceng membatin, siapa yang tidak mengharapkan kejayaan dan kemewahan?
Budak ini tidak Lebih hanya bermaksud menjunjung tinggi harga diri saja, tentu ia pun ingin secara resmi diangkat menjadi Kui-hui dulu baru ia mau menuruti keinginanku.
Begitulah dengan girang ia lantas melambaikan tangan dan menyahut.
"Baiklah, boleh kau kembali ke kamarmu!"
Tetapi baru saja Pang Lin melangkah dua-tiga tindak, belum sampai keluar pintu kamar, mendadak Yong Ceng sudah memanggilnya kembali lagi. Keruan ia terkejut.
"Sungguh tidak gampang melayani Hongsiang, ada apalagi yang hendak kau katakan padaku?"
Tanyanya sambil menoleh. Yong Ceng tidak lantas menjawab, ia ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya ia buka suara juga.
"Kau telah berkeliaran lama di Kangouw, wajahmu tidak terurus lagi, rambutmu pun serabutan tak keruan, maka aku hendak menyuruh Kiongli merias kau sebentar."
Pang Lin sangat heran oleh kata-kata ini, ia tidak mengerti mengapa mendadak sang maharaja mengurusi soal tetek-bengek ini?
Setelah Yong Ceng masuk ke dalam, kemudian ia membawa keluar dua orang Kionggo, yang seorang membawa kotak rias dan yang lain membawa baskom berisi air cuci muka, kedua dayang itu merias dan menyisir rambut Pang Lin dan sebagainya, sudah tentu nona ini sangat kesal, namun sedapat mungkin ia bersabar dan membiarkan kedua dayang itu bekerja.
Dalam pada itu salah satu Kionggo mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam kotak rias tadi, dalam kotak kecil ini seperti terisi sebangsa gincu, dayang itu mencungkit setitik gincu itu dan di-poleskan ke lengan Pang Lin.
"Mengapa gincu dipoles di lengan, merah begitu, kelihatan kotor sekali!"
Ujar Pang Lin kurang senang. Habis itu ia angkat lengan bajunya hendak menggosok, akan tetapi gincu itu ternyata tidak bisa hilang.
"Cuci saja dengan air!"
Kata Yong Ceng bergelak tertawa.
Keruan Pang Lin heran dan curiga, ia sambar handuk dari tangan seorang Kionggo, ia celupkan ke air baskom terus dikesutkan ke lengannya, di luar dugaan warna gincu itu makin digosok semakin merah, sedang Yong Ceng masih terus tertawa terbahak-bahak, agaknya gembira sekali.
Kiranya Yong Ceng menyangsikan Pang Lin yang berhubungan terlalu rapat dengan Li Ti, ia menjadi cemburu dan curiga, maka ia sengaja memerintah Kionggo tadi menguji kesucian anak gadis ini dengan Siu-kiong-seh, gincu cecak.
Siu-kiong adalah nama lain dari cecak, kabarnya Siu-kiong-seh cara membuatnya mula-mula melolohi cecak dengan lemak sapi dan kambing, setelah lama cecak ini dipiara hingga perutnya merah membara kelihatan tembus, lalu darah binatang cilik ini diambil dan dicampurkan dengan gincu.
Bahan campuran ini kalau ditutulkan setitik di atas lengan wanita, jika wanita itu sudah menjadi nyonya, sekali kesut gincu itu segera akan hilang, tetapi kalau masih perawan, semakin digosok dan dikucek, warna gincu malah semakin menjadi merah dan menyala.
Usia Pang Lin masih terlalu muda, sudah tentu ia tidak tahu bahwa sang kaisar sengaja menguji dirinya dengan Siu-kiong-seh itu, maka setelah ia gosok dan gincu tetap tidak hilang, ia jadi uring-uringan.
"Apa-apaan ini?"
Omelnya dengan mendongkol.
Dengan tertawa Yong Ceng lantas memerintahkan kedua dayang itu memayangnya keluar.
Tapi Pang Lin sudah terlanjur ngam-bek, ia kipatkan tangan Kionggo itu terus pergi sendiri.
Besok paginya Lian Keng-hiau meminta ayah-bundanya datang ke taman untuk mengadakan upacara penerimaan 'anak angkat', Pang Lin tidak membantah, ia membiarkan dirinya diatur mereka semaunya.
Ibu Keng-hiau ternyata sangat sayang pada Pang Lin, orang tua ini tahu setelah pengakuan 'anak' ini, si nona akan segera diantar masuk istana, maka ia merasa gegetun sekali.
Karena terharunya, pada waktu ia menyisir rambut Pang Lin, hampir saja air matanya menetes.
Sudah tentu hal ini dapat dilihat oleh Pang Lin.
"Sebenarnya anak pun tidak tega meninggalkan engkau ibu,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Aku pun tidak ingin melepaskan kau, nak, cuma sayang sebenarnya orang tua itu hendak mengatakan "
Sayang Keng-hiau tiada rezeki buat mempersunting kau " , namun kata-kata yang belum sampai diucapkan ini ditelan kembali. Pang Lin sangat cerdik, tentu saja ia tahu maksud perkataan orang.
"Mengapa kakak Keng-hiau tidak mengunjungi aku?"
Katanya lagi.
"Selanjutnya kau adalah Kui-jin, tanpa perintah Hongsiang, mana berani ia mengunjungi kau sendirian,"
Ujar ibu Keng-hiau.
"Harap ibu sampaikan padanya bahwa aku sangat kangen,"
Kata Pang Lin.
"Anakku yang baik, tahulah aku, selanjutnya harap kau banyak membantu dia di hadapan Hongsiang,"
Sahut si orang tua itu sambil berpaling ke jurusan lain untuk mengusap air matanya. Pada petang harinya, di waktu makan malam, penjaga telah diganti oleh Siang-mo, kedua saudara Sat.
"Lin-kuijin, silakan bersantap!"
Kata Sat Thian~ji dengan perasaan ramah ketika ia membawakan nasi untuk Pang Lin.
"Sat-pepek, kenapa kau panggil aku seperti itu?"
Tanya Pang Lin.
"Ha, kembali kau panggil aku Pepek (paman)? Bukankah kau hendak menusuk aku hingga tembus?"
Sahut Sat Thian-ji mengejek Kiranya tempo hari Sat Thian-ji telah keliru menyangka Pang Ing sebagai Pang Lin dan hampir ditusuk olehnya, karena itu dendamnya sampai sekarang masih belum lenyap.
"Mana aku berani bergebrak dengan kau, cara bagaimana kau bisa berkata begitu?"
Sahut Pang Lin terheran-heran. Nampak si nona menjawab dengan sikap yang biasa tanpa kikuk, terang bukannya sengaja berpura-pura tidak tahu, keruan Sat Thian-ji pun merasa heran.
"Bukankah sebulan yang lalu di dekat rumah Lian ini kau pernah mencaci-maki kami berdua, bahkan Ji-pek (paman kedua, maksudnya Sat Thian-toh) telah kau lukai?"
Seketika Pang Lin melonjak kaget oleh penuturan itu.
"Aneh sekali, memang mengenai kejadian itu sampai kini aku pun masih bingung, hari itu hakikatnya aku tidak pernah melangkah keluar pintu kamar, tetapi begitu datang Lian Keng-hiau lantas bilang aku pernah bergebrak dengan kalian, aku malah menyangka dia bertemu setan, tak tahunya sekarang kau pun berkata demikian, apa mungkin di dunia ini betul-betul ada seorang lagi yang rupanya mirip sekali dengan aku, dan kalian telah sangka dia sebagai diriku?"
Karena penjelasan ini Sat Thian-ji pun tercengang.
Ia tidak tahu bahwa Pang Lin memang masih punya seorang kakak kembar, pada enam belas tahun yang.lalu, di atas Thay-hing-san ia telah menggondol lari Pang Ing, tetapi kemudian dicuri kembali oleh Ie Lan-cu, kemudian lagi ia merebut pula Pang Lin dari tangan Ciong Ban-tong, selama itu ia anggap kakak-beradik kembar itu terdiri dari seorang saja.
"Hari itu betul-betul bukan dirimu?"
Tanyanya dalam keheranannya.
"Mana bisa di dunia ini ada orang yang begini mirip?"
"Sat-pepek,"
Kata Pang Lin tiba-tiba.
"bukankah kau yang membawa aku masuk istana?"
"Ya, ada apa?"
Sahut Sat Thian-ji.
"Harap kau beritahu aku, siapa sebenarnya ayah-bundaku?"
Tanya Pang Lin pula. Thian-ji menjadi terperanjat oleh pertanyaan yang tidak disangka ini, pikirnya dalam hati.
"Aku sendiri adalah salah seorang musuh keluargamu, mana boleh aku beritahu padamu."
Kemudian dengan berlagak tertawa baru ia menjawab.
"Bukankah sudah beberapa kali aku katakan bahwa kau adalah orok buangan yang aku temukan di pinggir jalan."
"Aku tidak percaya!"
Sahut Pang Lin dengan mencibir bibir.
"Kau tidak mau percaya, apa dayaku,"
Kata Sat Thian-ji pula.
"Jika aku adalah orok buangan yang kau temukan dan kau bawa pulang, maka kau sama dengan orang tuaku dan aku pun sama dengan putrimu,"
Tiba-tiba Pang Lin berkata.
"Kau sendiri pun tiada punya anak, maukah kalau aku menjadi putrimu?"
Sat Thian-ji menjadi terharu oleh kata-kata ini.
"Tetapi kau adalah Kui-jin, mana berani aku mengharapkan kau sebagai anak?"
Sahutnya kemudian.
"Sat-pepek,"
Kata Pang Lin lagi.
"usiamu sudah lanjut, untuk apalagi kau membudak di dalam istana? Tidakkah lebih baik kau tolong aku melarikan diri saja, aku nanti melayani kau sampai akhir hidupmu."
Karena oujukan ini, hati Sat Thian-ji rada tergerak.
Memang tujuan Sat Thian-ji semula mengabdi pada In Ceng adalah mengharapkan diangkat menjadi Kok-su atau imam negara, tidak terduga orang pandai di daratan terlalu banyak, selama di bawah In Ceng, mereka berdua saudara selalu terdesak oleh Liau-in dan Haptoh serta kawan-kawan lain hingga tiada kemajuan, selama belasan tahun mereka masih tetap anggota bayangkara saja, bahkan sekarang masih harus menurut perintah Lian Keng-hiau.
Karena itu, demi mendengar bujukan Pang Lin tadi, ia berpikir.
"Memang daripada gagal mencapai cita-cita, lebih baik ada seorang anak perempuan yang melayani hari tua saja."
Tetapi bila ia ingat kekejian Hongsiang dan Lian Keng-hiau, meski ia sendiri dijuluki orang sebagai iblis, tidak urung ia pun jeri.
Sementara itu sinar mata Pang Lin terlihat seperti mengunjuk perasaan memohon, Sat Thian-ji menjadi bergidik, lekas ia hindarkan pandangan orang.
"Sudahlah, jangan kau pikir yang tidak-tidak, aku pergi saja,"
Katanya kemudian sambil bertindak pergi.
Pang Lin menjadi kecewa karena bujukannya tak berhasil.
Setelah bersantap, ia duduk sila di atas pembaringan, ia berbuat seperti Hwesio bersemedi, muka berhadapan dinding dan termenung.
Kemudian waktu ia mendengar kentongan ditabuh sekira jam sebelas malam, tiba-tiba ia ingat.
"He, bukankah di kamar ini terdapat tembok berlapis dan ada pintu rahasianya, mengapa aku tidak keluar melihatnya?"
Tetapi segera ia berpikir pula.
"Keluar pun tiada gunanya, di luar dijaga orang, cara bagaimana aku bisa meloloskan diri. Apalagi Li Ti-koko pun masih berada dalam genggaman mereka."
Ia jadi mengurungkan maksudnya itu, kembali ia berduduk sila sekira satu jam lagi, ia dengar di luar kentongan sudah ditabuh menandakan tengah malam, di luar pintu terdengar ada tindakan orang, agaknya Siang-mo sedang dinas giliran jaga.
Lantas timbul pula pikirannya.
"Berduduk saja di sinipun tak berdaya, lebih baik aku keluar melihatnya. Siang-mo tidak jelek terhadap diriku, jika mereka bergilir menjaga, mungkin mereka tidak akan merintangi aku, biar aku bertemu Li Ti-koko sekali lagi, setelah itu mati pun aku rela."
Begitulah maka ia lantas jalan ke belakang pembaringan, ia tekan dinding tembok, ia buka pintu rahasia terus masuk ke dalam dinding berlapis Itu.
Di dalam dinding berlapis itu ternyata gelap gulita, selagi Pang Lin meraba dan merembet ke depan, tiba-tiba ia lihat ada sesosok bayangan hitam sedang menggeser ke jurusannya.
Bukan main terkejutnya Pang Lin, cepat ia menyiapkan belatinya yang berbisa.
"Lin-moay, diam, akulah!"
Terdengar orang itu menyapa dengan suara perlahan.
Waktu itu sudah sejenak Pang Lin masuk ke dalam tembok itu, pandangannya di tempat gelap sudah agak biasa, maka dalam keadaan remang-remang ia dapat membedakan bayangan orang itu ternyata bukan lain daripada Lian Keng-hiau, segera Pang Lin menyimpan kembali belatinya, dengan perlahan ia mendekati, dua pasang tangan berpegangan kencang, dalam keadaan sunyi senyap Lian Keng-hiau mendengar jantung Pang Lin memukul keras.
"Kau telah datang?"
Lama dan lama sekali baru Pang Lin dapat mengucapkan perkataan ini.
"Ya, aku tahu kau sedang merindukan aku, sekalipun menghadapi bahaya aku pasti juga datang,"
Sahut Keng-hiau. Mendengar jawaban ini, dalam kegelapan wajah Pang Lin terlukis senyuman puas "Hm, aku tahu kau pasti akan datang!"
Katanya lagi.
Memang semenjak bertemu Lian Keng-hiau di Hangciu dahulu, Pang Lin lantas merasa orang ini seperti pernah dikenalnya, belakangan ia tinggal pula di rumah keluarga Lian, maka diam-diam benih asmaranya mulai tumbuh.
Kini kedua tangannya tergenggam tangan Lian Keng-hiau, ia rada jengah dan hati berdebar, pikirnya pula.
"Lian Keng-hiau belum tentu sejelek sebagaimana dikatakan mereka, maka meninggalkan perguruan!"
"Apa kau ingin melarikan diri?"
Terdengar Lian Keng-hiau bertanya dengan napas rada memburu.
"Cara bagaimana kau masuk kemari?"
Balas tanya Pang Lin. Tetapi Keng-hiau tidak menjawab, ia hanya tertawa.
"Aku menasihati kau jangan melarikan diri,"
katanya kemudian.
"Hari ini lain dari biasanya, Hongsiang berada di sini Kiranya sejak Pang Lin berhasil kabur melalui jalan rahasia ini dahulu, Keng-hiau lantas menyelidiki dengan teliti dan menemukan pintu rahasia itu, diam-diam ia pun memuji kecerdasan gurunya yang telah membikin dinding berlapis ini, semula ia berniat membikin buntu pintu rahasianya, tEtapi kemudian ia berpikir pula mungkin kelak masih bisa dipergunakan, maka ia lantas menambahi pula pesawat rahasianya dan menggali sebuah jalan dLbawah tanah yang menembus kc dalam kamar.
Begitulah demi mendengar kata-kata Keng-hiau tadi, seketika Pang Lin menjadi kuatir.
"Kau adalah panglima yang memimpin pasukan begitu besar, masakah kau takut padanya?"
Tanyanya.
"Aku masuk ke sini secara diam-diam, maka tidak bisa tinggal terlalu lama, marilah kita bicarakan dulu apa yang perlu saja,"
Ujar Keng-hiau.
Pang Lin sudah berkesan mendalam atas diri orang, maka arah pikirannya selalu ditujukan ke jurusan yang baik, ia mengira Keng-hiau berani menghadapi bahaya untuk menjumpainya, tentunya telah berdaya-upaya untuk menolongnya.
"Pembicaraan penting apakah?"
Dengan tertawa ia lantas bertanya. Tetapi Keng-hiau malah ragu-ragu, rupanya ia belum siap apa yang hendak dibicarakan.
"Aku pun ada urusan penting yang hendak kutanyakan padamu,"
Kata Pang Lin perlahan sambil lebih mepet ke dekat Keng-hiau.
"Aku seperti sudah pernah bertemu kau. Cuma entah dimana, apakah dalam mimpi?"
"Aku pun seperti pernah bertemu kau, kalau begitu agaknya kita memang ada jodoh,"
Sahut Keng-hiau.
"Aku tidak tahu apakah itu jodoh atau bukan, aku hanya merasa kau adalah orang yang sangat rapat dengan aku, serapat hubungan antara saudara sekandung saja,"
Ujar Pang Lin pula. Diam-diam Lian Keng-hiau tertawa geli dalam hati, pikirnya.
"Memang sejak kecil kita bermain bersama, tatkala itu Suhu malah mendustai aku bahwa kau adalah adik perempuan sepupuku dan aku pun mempercayainya."
"Kini aku betul-betul adalah adikmu, aku senang sekali,"
Demikian Pang Lin berkata pula.
"Sungguh aku tidak ingin masuk istana, eh, apa kau bisa berbuat seperti di Hangciu dulu, secara diam-diam melepaskan kami lari? Atau kalau kau tidak bisa menolong aku, hendaklah kau suka bantu menolong dia, aku maksudkan Li-koko itu, ia adalah seorang yang sangat baik. Lian-koko, aku pasti akan berterima kasih padamu selama hidupku. Mungkin kita memang pernah berjumpa dalam mimpi, maka begitu bertemu kau, aku lantas mempercayaimu."
Keng-hiau rada terguncang hatinya oleh bujuk rayu itu, ia jadi ragu-ragu. Tetapi mendadak teringat.
"Kini bulu sayapku masih belum tumbuh penuh, secara tidak gampang aku baru saja mendapatkan kekuasaan militer, tak boleh aku gagal akibat seorang wanita."
Karena itu, ketika Pang Lin masih menerocos terus, segera Keng-hiau menyela.
"Kita masih banyak kesempatan di kemudian hari, hendaklah kau dengarkan dulu apa yang akan kukatakan."
Pang Lin mendongak, ia menunggu apa yang hendak dikatakan orang.
"Kau tak akan bilang pada Hongsiang bahwa aku pernah menyembunyikan dirimu bukan?"
Tanya Keng-hiau lebih dulu.
"Pasti tidak!"
Sahut Pang Lin tegas. Keng-hiau merasa lega, lalu ia menyambung lagi.
"Apa yang diucapkan oleh Hongsiang, tiada seorang pun yang membantahnya. Kelak kalau kau sudah masak, tentu ia akan sangat sayang padamu, tatkala itu kau pasti akan jauh lebih berkuasa daripada Hong-hou (permaisuri), kita dapat bekerja-sama dan bantu-membantu, yang satu dari luar dan yang lain dari dalam. Ah, kau adalah orang pintar, tidak perlu aku katakan lebih lanjut, bukan?"
Kiranya kedatangan Lian Keng-hiau dengan menghadapi bahaya ini, tujuannya masalah ini.
Keruan seketika Pang Lin merasa kaku seluruh tubuhnya, ia merasa seperti disambar petir, kepalanya seperti kosong blong, sama sekali tiada yang bisa diucapkan, sekali-kali ia tidak menduga bahwa maksud tujuan Lian Keng-hiau ternyata begitu kotor dan rendah.
Dalam pada itu suara kentongan terdengar ditabuh pula berulang kali, suatu tanda sudah jauh malam.
"Baik kau kembali ke kamar saja, jangan sampai kentara pintu rahasia di dinding berlapis ini,"
Keng-hiau berkata lagi.
"Asal kita 'Sim-sim-siang-in' dan saling bantu-membantu, tentu akan sama-sama baik. Adikku, kau adalah orang pintar, tidak perlu aku berkata lebih banyak lagi."
Meski ia bilang tidak perlu banyak berkata lagi, padahal ia justru masih kuatir, maka ia ulangi sekali lagi perkataannya tadi. Sebaliknya ketika Pang Lin mendengar orang bilang "Sim-sim-siang-in"
Atau dua hati saling tempel menjadi satu, mendadak ia merasa muak.
"Sudahlah, kini aku harus pergi!"
Kata Keng-hiau akhirnya sambil melepaskan genggaman tangan Pang Lin.
Tetapi sebelum ia melepaskan diri dan melangkah pergi, di antara malam sunyi senyap itu tiba-tiba terdengar suara tindakan orang, menyusul terdengar Haptoh mengetok pintu dan sedang memanggil.
"Lin-kuijin, lekas buka pintu menerima Sri Baginda, Hongsiang datang menyambangi kau!"
Demikian Haptoh berseru.
Kiranya Yong Ceng sedang bersiap untuk kembali ke kotaraja besok pagi, tetapi hatinya merasa tidak tenang oleh paras Pang Lin yang cantik, maka sebelum tidur ia masih memerlukan menyambangi si nona sekali lagi.
Keruan tidak kepalang terkejutnya Lian Keng-hiau, segera ia hendak menekan pesawat rahasia di dinding untuk membuka pintu jalan ke bawah tanah itu, namun mendadak Pang Lin memegang tangannya.
"Jangan kau pergi!"
Kata Pang Lin dengan suara tertahan. Sementara itu di luar terdengar Yong Ceng sedang berteriak sendiri.
"Lin-ji, apa kau sudah tidur?"
Keng-hiau semakin gugup, tetapi ia tidak berani meronta buat melepaskan pegangan Pang Lin, ia kuatir membentur tembok dan menerbitkan suara.
"Adikku yang baik, jangan kau bergurau, lekas lepaskan!"
Terpaksa ia memohon dengan suara lirih. Dalam pada itu Yong Ceng sudah menunggu agak lama dan masih belum dibukakan pintu, ia menjadi tak sabar, kembali ia berseru lagi.
"Apa yang sedang kau lakukan di dalam?"
Habis itu ia berkata pula pada diri sendiri.
"Eh, tiada suara sahutan ... Hai, kalau kau tidak lekas membuka pintu, sebentar aku mendobrak pintumu!"
Sementara itu dengan kencang Pang Lin masih terus memegang tangan Lian Keng-hiau.
"Bawalah aku keluar dan tolong Li Ti-koko, habis itu baru aku lepaskan kau,"
Demikian ia membisiki telinga orang dengan setengah mengancam. Keng-hiau semakin kuatir bercampur gusar.
"Jika kau tidak mau melakukan, segera aku berteriak!"
Ancam Pang Lin lagi.
Sementara terdengar pintu sedang dipukul hingga menerbitkan suara keras, kiranya Yong Ceng mulai mendobrak pintu kamar.
Cepat Keng-hiau membentur alat rahasia dengan punggung, ia buka pintu rahasia dinding itu terus menyeret Pang Lin masuk ke dalam jalan di bawah tanah itu.
"Apa kau sengaja hendak membikin celaka aku?"
Tegurnya marah pada Pang Lin.
"Aku tiada perkataan lain, aku hanya hendak mengulangi, jika kau tidak mau menolong engkoh Li Ti, segera aku berteriak,"
Sahut Pang Lin.
"Tetapi aku sendiri tidak tahu ia dikurung dimana,"
Ujar Keng-hiau.
"Baik, kalau begitu biar aku berteriak saja!"
Ancam si nona. Dalam pada itu terdengar pintu telah dipukul lagi dengan keras.
"Lebih baik aku bunuh dia saja!"
Tiba-tiba timbul pikiran jahat dalam benak Keng-hiau setelah berlari dua tindak. Akan tetapi sebelum ia melakukan pikiran jahatnya itu, mendadak Pang Lin berteriak satu sekali.
"Ah, aku mengira kau tidak ada di dalam, lekas kau buka pintu!"
Demikian seru Yong Ceng demi mendengar suara teriakan Pang Lin. Sudah tentu hal ini membikin Lian Keng-hiau tambah kuatir.
"Baiklah, aku turuti permintaanmu, tapi kau jangan berteriak,"
Katanya kemudian. Dalam hati ia pun sedang berpikir.
"Ilmu silat anak dara ini tidak lemah, jika tidak berhasil aku bunuh dia, tentu soalnya akan lebih runyam lagi. Seandainya bisa membunuh dia di dalam lorong ini, susah pula untuk menghindarkan tanggung jawabku, bila sampai ketahuan, orang yang dicurigai bisa masuk jalan bawah tanah ini kecuali aku terang tiada orang lain lagi, kala itu bukan saja pangkat panglima tidak jadi kujabat, mungkin pula seluruh keluarga akan mengalami mala petaka."
Yong Ceng sudah lama menunggu di luar dan masih belum dibukai pintu, sedang Haptoh yang mengiringinya kadang-kadang melirik padanya, mau tak mau Yong Ceng menjadi rikuh. Pikirnya.
"Kurangajar sekali budak ini, sama sekali ia tidak pedulikan aku, lalu mukaku sebagai kaisar harus ditaruh dimana?"
Segera ia memanggil dua kali lagi, tetapi dari dalam masih tiada jawaban, Yong Ceng menjadi gusar, diam-diam ia kumpulkan tenaga dalamnya terus menggabruk daun pintu dengan kedua telapak tangannya, seketika itu pintu kamar ambrol terpukul roboh!
Ketika mendengar suara gemuruh di luar, Keng-hiau tahu pintu kamar telah dibobol Yong Ceng, tidak kepalang terkejutnya, dengan menyeret Pang Lin segera ia berlari cepat.
"Lepaskan Li Ti-koko dulu, kemudian aku akan kabur pergi, kalau tidak bisa lolos, aku pun tidak akan mengaku tentang dosamu,"
Kata Pang Lin sambil ikut berlari. Sesudah keluar dari lorong bawah tanah, Keng-hiau bersama Pang Lin menyembunyikan diri di belakang sebuah bukit-bukitan.
"Li Ti disekap di sana,"
Kata Keng-hiau pada Pang Lin sambil menunjuk sebuah rumah kecil di pojok barat.
"Baiklah, harap kau singkirkan penjaganya!"
Sahut Pang Lin. Akan tetapi Keng-hiau menjadi ragu-ragu.
"Kau mau melakukan tidak, kalau tidak, segera aku kembali untuk menemui Hongsiang,"
Dengan tertawa dingin anak dara itu mengancam pula. Kembali pada Yong Ceng, ketika masuk ke dalam kamar, nampak tiada satu bayangan "orang yang ia dapatkan, ia menjadi terkejut dan heran.
"Apa mungkin suara teriakan tadi bukan suaranya?"
Katanya. Dalam pada itu Haptoh lebih hebat lagi terkejutnya hingga mukanya pucat, ia merasa bertanggung-jawab karena ikut menjaganya tadi.
"Tadi waktu hamba gilir berjaga masih nampak bayangannya dari balik tirai jendela, terang ia tidak kabur,"
Demikian ia melapor secara samar-samar. Karena laporan ini, Yong Ceng yang memang pintar, segera yakin orang tidak kabur dan tentu ada sesuatu yang tidak beres.
"Kalau begitu, tentu ia masih di dalam rumah ini,"
Katanya.
Mengenai pesawat rahasia sebangsa pintu rahasia dan tembok berlapis adalah urusan biasa di dalam istana, Yong Ceng paham dalam hal ini, segera ia memindahkan pembaringan, ia ambil senjata Liu-sing-tui dari tangan Haptoh terus diayun ke dinding sekitar kamar, ketika bandulan mengenai alat penjeplak, pintu rahasia segera terpentang.
"Ha, tidak nyana si Lian cilik masih bisa main semacam ini!"
Ujar Yong Ceng.
"Tapi dalam taman penuh tersebar orang kepercayaan Hongsiang, sekalipun Lian-ciangkun bersama dia tidak bakal lolos. Mereka tentu masih berada di lorong bawah tanah,"
Kata Haptoh.
"Baiklah, coba kau masuk periksa dalamnya, jika menemukan mereka, segera kau silakan mereka keluar dan tidak perlu banyak omong,"
Kata Yong Ceng. Lewat tak lama, tertampak Haptoh keluar kembali dengan muka kuatir.
"Tiada seorang pun di dalam!"
Lapornya. Namun tiba-tiba Yong Ceng berkata padanya lagi.
"Kejadian hari ini yang tahu hanya kau dan aku berdua, jangan kau ceritakan pula pada orang ketiga! Kalau bertemu Lian-tayciangkun kau harus menghormat seperti biasa, sekali-kali jangan mengunjuk sesuatu tanda apa-apa."
Kiranya Yong Ceng memang banyak tipu akalnya, pada saat demikian ini timbul pikirannya hendak membunuh Lian Keng-hiau, cuma wilayah barat belum berhasil diamankan, pula Hi Kak masih belum dilenyapkan, saingan lain pun masih banyak, maka untuk sementara ia tidak bisa bentrok dengan Lian Keng-hiau.
"Hamba mengerti!"
Demikian Haptoh menyahut dengan suara gemetar, betapapun ia berkeringat dingin oleh karena pesan junjungannya yang keji itu.
"Lekas kau cari keluar, aku menduga Lian Keng-hiau tidak nanti berani membawa kabur budak Lin,"
Kata Yong Ceng sambil memberi tanda.
"Ca!"
Sahut Haptoh atas perintah itu, segera ia keluar kamar.
Tidak lama kemudian terdengarlah tanda bahaya dibunyikan dengan riuh ramai.
(Ca, adalah kata mengiakan bangsa Manchu dari kaum hamba terhadap atasannya).
Dalam pada itu Lian Keng-hiau merasa tidak berdaya menghadapi desakan Pang Lin, ketika ia mendengar tanda bahaya berbunyi, tiba-tiba ia mendapatkan akal, cepat ia berlari keluar dari tempat persembunyiannya..
Waktu itu yang menjaga Li Ti adalah Ki Pi-sia, yaitu jago yang baru ditaklukkan oleh Lian Keng-hiau.
"Dari san.. datangnya tanda/bahaya, lekas kau pergi membantunya!"
Demikian Keng-hiau memerintahkan jagoannya itu sambil menunjuk ke jurusan timur. Ki Pi-sia terima perintah itu. Begitu ia pergi, segera pula Pang Lin melompat keluar.
"Kau boleh pergi menolong temanmu itu,"
Ujar Keng-hiau.
"Baik, hendaklah kau duduk saja di tepi kolam sana dan jangan coba memakai akal jahat, sebentar lagi setelah aku keluar baru kau boleh pergi,"
Sahut Pang Lin.
Habis itu dengan pedang terhunus ia lantas melompat masuk ke dalam rumah.
Setelah Yong Ceng menguji keperawanan Pang Lin, ia tahu gadis ini tiada hubungan rahasia dengan Li Ti, maka tidak dilakukan sesuatu siksaan terhadap Li Ti, pula ia bermaksud menaklukkan pemuda itu, bahkan belenggu pun tidak dipasang padanya.
"Li Ti-koko, kesempatan baik ini jangan disia-siakan, lekas kabur ikut padaku!"
Seru Pang Lin begitu masuk ke dalam kamar.
Selama dua hari itu Li Ti merasa dirinya dalam mimpi buruk saja, tidak terhitung banyaknya rasa heran dan pertanyaan yang timbul dalam hatinya, ia hanya mengikut Pang Lin saja terus meloncat keluar dari jendela.
Sementara itu dalam taman sudah penuh dengan bayangan orang yang sedang membanjiri ke jurusan Pang Lin.
"Baiklah, kini kau boleh pergi!"
Kata Pang Lin pada Keng-hiau sesudah melompat ke belakang bukit-bukitan tadi.
Meski rasa cintanya pada Lian Keng-hiau sudah tersapu bersih oleh pembicaraan tadi, namun apapun juga di antara mereka masih terjalin rasa persahabatan, oleh karena itu Pang Lin tidak ingin terlalu mempersulit orang, ia hanya ingin meloloskan diri menuruti nasibnya sendiri.
"Harap saja kau bisa lolos dari mulut macan, jika kita ada jodoh, biarlah kita bertemu kembali di lain jelmaan!"
Kata Keng-hiau sembari mengulur tangan menjabat tangan si nona.
Pang Lin jadi terharu oleh kata-kata ini, ia ulurkan tangan menyambut.
Di luar dugaan, mendadak Keng-hiau membaliki tangannya terus memegang urat nadinya, menyusul pula dengan cepat menghantam batok kepala Pang Lin dengan sebelah tangan yang lain.
Ternyata Lian Keng-hiau memang sangat keji, ia pikir.
"Mereka berdua pasti tak akan bisa lolos, dara ini sudah putus segala budi-rasa terhadapku, dibiarkan tinggal hidup hanya akan menjadi bibit bahaya saja."
Karena itu, pada waktu melihat anak dara itu hendak kabur bersama Li Ti, ia menjadi gelisah pula, pikirnya daripada dia ingkari aku, lebih baik aku saja yang ingkari dia.
Sementara itu ia sudah di luar lorong bawah tanah itu, jika sekali kepruk aku binasakan dia, siapa berani mencurigai aku yang membunuhnya?
Tetapi karena ia tahu ilmu silat Pang Lin tidak lemah, maka sengaja ia memancing orang dengan kata-kata yang mengharukan untuk menggoncangkan perasaannya, dan pada waktu Pang Lin rada meleng, segera ia keluarkan pukulan yang mematikan.
Waktu itu Li Ti berjalan di depan, ia lihat Pang Lin bicara dengan asyik sekali pada Keng-hiau, ia menjadi heran dan ragu-ragu, tanpa sengaja ia menoleh dan kebetulan nampak Keng-hiau mengangkat sebelah tangannya, keruan ia menjadi kaget.
"Apa yang kau lakukan?"
Bentaknya.
Berbareng ia membaliki tangannya untuk menangkis pukulan Keng-hiau, sedang pedang yang terhunus di tangan yang lain segera berputar pula, terus menusuk ke dada Lian Keng-hiau.
Lekas Keng-hiau mengegos dan dengan sendirinya tangannya yang mencekal Pang Lin pun dilepaskan, habis itu ia putar haluan terus angkat langkah seribu.
Peristiwa itu telah membikin terkejut penjaga dalam taman, segera ada orang memburu ke tempat mereka.
Sementara itu dengan gusar Li Ti masih hendak mengudak musuh, namun dengan cepat Pang Lin keburu menarik dia dan bersembunyi di dalam semak.
"Sungguh jarang ditemukan manusia durjana sekeji ini!"
Damprat Li Ti atas perbuatan Lian Keng-hiau tadi. Pang Lin menghindarkan pandangan Li Ti yang tajam, ia merasa malu sekali dan menyesal mempunyai seorang sahabat macam Lian Keng-hiau.
"Sudahlah, tak usah pedulikan dia, lekas kita melarikan diri!"
Katanya kemudian dengan kepala menunduk.
Taman bunga keluarga Lian ini sangat luas, banyak bukit buatan dan pepohonan, cara mengaturnya pun aneh sekali, orang yang tidak paham jalanan di dalamnya, meski setengah hari belum tentu bisa keluar dari situ.
Namun dengan membawa Li Ti, Pang Lin menyusur ke sana dan membelok ke sini, ia berusaha bersembunyi dengan aling-aling pepohonan di dalam taman.
"He, lekas kalian kemari, jaga gardu di sebelah sana, dan bukit-bukitan di kiri sana, kemudian geledah ke jurusan tengah!"
Tiba-tiba terdengar Thian-yap Sanjin berseru memberi komando kepada bawahannya.
Waktu Pang Lin mengintip, ia lihat Lian Keng-hiau bersama Thian-yap Sanjin berdiri di atas suatu batu besar dan sedang menuding ke tempat dimana mereka bersembunyi.
Diam-diam Pang Lin mengeluh, pikirnya.
"Sudah tentu dia lebih paham jalanan di dalam taman ini daripada aku, lantas bagaimana baiknya kini?"
Karena sudah tak berdaya, segera Li Ti hendak menerjang keluar saja, namun Pang Lin keburu mencegahnya.
Sementara itu tertampak ada belasan orang membagi dari tiga jurusan mengurung tiba.
agaknya segera mereka akan kepergok.
"Ia tidak berbudi dan tak kenal kebaikan lagi, rasanya orang-orang inipun tidak berani mencelakai jiwaku, kalau aku tertawan, biar aku menghadap Hong-te (kaisar) dan membongkar semua rahasianya, habis itu aku lantas bunuh diri,"
Demikian Pang Lin bertekad hancur bersama Lian Keng-hiau.
Setelah mengambil keputusan ini, ia jadi agak lega dan tidak terlalu kuatir, sementara itu tertampak para bayangkara yang mengurung datang dari tiga jurusan itu makin lama semakin dekat.
Dengan kencang Pang Lin menggenggam tangan Li Ti, ia merasakan tangan pemuda itupun berkeringat.
"Kasihan Li-koko,"
Kata Pang Lin dalam hati.
"tempo hari meski ia terjebak dalam kepungan musuh sama sekali ia tidak gentar, tetapi kini kaki tangannya gemetar, terang dia bukan kuatir atas keselamatan sendiri, tetapi ia kuatirkan akan diriku!"
Karena pikiran ini, ia lantas ambil keputusan hendak menerjang keluar sendirian untuk memancing musuh menuju ke jurusan lain.
Tetapi sebelum ia melakukan, sekonyong-konyong ketiga jurusan bayangkara yang mengurung datang itu tahu-tahu berbelok ke tempat lain, ternyata tidak ada seorang pun yang mendekati bukit-bukitan, keruan Pang Lin sangat heran.
Kiranya bukan saja Pang Lin dan Li Ti merasa kuatir, sebaliknya Lian Keng-hiau sendiri lebih kuatir dan ketakutan.
Keng-hiau menaksir apabila Pang Lin sampai tertangkap, gadis ini pasti akan membongkar semua perbuatannya.
Dalam keadaan kepepet demikian, satu-satunya jalan baginya adalah secara diam-diam membantu Pang Lin meloloskan diri, meski terpaksa, namun ia harus melakukan juga.
Taman bunga keluarga Lian memang bagus dan aneh cara • mengaturnya, pepohonan dan bukit-bukitan dibikin sedemikian rupa sehingga jalan di dalam taman menjadi berliku-liku, sebuah bukit meski jelas tertampak berada di dekat mata, namun untuk sampai di situ ternyata harus berputar-putar dulu beberapa kali, ditambah pula keadaan sudah malam, rembulan guram dan bintang-bintang jarang, karenanya sulit untuk bisa melihat dengan jelas.
Begitulah maka Lian Keng-hiau berhasil menunjukkan jalan lain bagi kawanan bayangkara itu menuju ke tengah taman, maka Pang Lin berdua lantas terhindar dari bahaya.
Pang Lin menghela napas lega, ia tarik Li Ti diajak menerobos keluar dari mulut gua bukit-bukitan, dengan cara merangkak dan merembet, sembunyi ke utara dan mengumpet ke barat, akhirnya mereka sampai pinggir taman, pintu taman sudah tertampak oleh mereka.
"Di depan sana ada sebuah kolam teratai, untuk menuju ke sana harus memakai perahu, selain ini tiada jalan lagi,"
Kata Pang Lin pada Li Ti.
"Pada kedua tepi kolam tertambat beberapa buah perahu kecil, di tengah kolam ada sebuah batu cadas besar yang menonjol keluar, kolam teratai ini lebarnya kira-kira sepuluh tombak, sedang batu karang yang menonjol keluar itu jaraknya dengan perahu terdekat yang tertambat di tepi kolam itu kira-kira lebih tiga tombak, kau boleh mengincar baik-baik tempatnya, begitu nampak aku memberi tanda, segera kau melompat keluar, kau loncat ke atas perahu dahulu, lalu melompat ke batu karang di tengah kolam itu sebagai batu loncatan untuk kemudian melayang ke tepi seberang. Sudahkah kau incar dengan baik?"
Li Ti mengangguk, suatu tanda ia sudah siap.
Setelah Pang Lin memeriksa suasana amat sepi tiada orang, segera ia memberi isyarat, betul juga Li Ti lantas melompat menuju ke seberang.
Di luar dugaan, di seberang sana ternyata sudah ditunggu oleh Siang-mo, baru saja Li Ti melompat ke atas, belum sampai ia menancapkan kakinya kembali, mendadak Sat Thian-ji menyergap keluar dari tempat persembunyiannya yang gelap, sepuluh kuku jarinya terpentang, mendadak ia mencelat ke atas terus mencakar ke dengkul Li Ti, secara paksa ia hendak menarik Li Ti ke bawah.
Syukur Li Ti bukan orang sembarangan, meski dalam keadaan bahaya ia tidak menjadi gugup, sewaktu masih terapung di udara, segera ia mendahului menusuk ke bawah dengan pedangnya, karena ini Sat Thian-ji menjadi urung mencakar, ia tarik kembali tangannya dan Li Ti pun sempat turun ke bawah.
Tak terduga, Sat Thian-ji yang pandai cara menghantam dan menubruk seperti elang kucing, meski tubuh terapung di atas tanah, namun ia masih bisa menggeraki badannya dengan leluasa, mendadak ia mengulur sepuluh kukunya lagi terus merangsek ke atas pundak Li Ti yang sementara itu sedang menurun ke bawah.
Ketika mendadak merasakan pundaknya kesakitan, Li Ti segera menyikut, ia melepaskan diri dari cekalan musuh, menyusul secapat kilat ia balas menyerang dengan beberapa kali tusukan pedangnya.
"Ha, penjahat cilik, kau masih hendak kabur?"
Seru Sat Thian-ji.
Habis itu segera ia menubruk maju pula.
Dalam pada itu Sat Thian-toh pun tidak tinggal diam, dengan menggerung ia merangsek dari samping, susul-menyusul ia pukulkan kedua tangannya, karena itu Li Ti terguncang sempoyongan.
Sementara itu Sat Thian-ji kembali hendak mencakar lagi dari atas.
Akan tetapi sebelum serangan ini mengenai sasaran, tiba-tiba pandangannya jadi terbeliak, kiranya Pang Lin juga sudah melompat sampai di seberang, tertampak ujung baju si nona melambai tertiup angin, secepat panah gadis inipun sudah menyusul tiba.
Karena perhatiannya terganggu, cakaran Sat Thian-ji jadi mengenai tempat kosong, telinganya mendengar Pang Lin sedang berseru.
"Sat-pjpek, Haptoh dan lain-lain berada di seberang sana, untuk apa bersusah-payah kau mencegat kami?"
Ketika Sat Thian-ji merasa ragu dan merandek, cepat Pang Lin menarik Li Ti terus menerobos lewat di bawah cakarannya.
Namun Sat Thian-toh tidak membiarkan mereka lolos begitu saja, dari samping ia memukul pula.
"Biarkan dia pergi!"
Kata Sat Thian-ji kepada adiknya dengan suara perlahan.
Gerak tubuh Pang Lin dan Li Ti sangat cepat, sekejap mata mereka sudah lenyap ke dalam semak-semak.
Akan tetapi kawanan bayangkara dalam taman itu sudah mendengar suara gerangan Sat Thian-toh tadi, beramai mereka lantas memburu datang.
Pembantu Haptoh yang bernama Pang Hun-in sedang dinas menjaga pintu taman, ketika mendengar suara tadi, dia yang pertama tiba.
Karena itu, biarpun Sat Thian-ji ingin melindungi Pang Lin secara diam-diam, dalam keadaan terpaksa ia tak berani berdusta.
"Apa budak itu lari sampai di sini?"
Pang Hun-in bertanya.
"Ya, betul, dia dan penjahat cilik itu telah kabur bersama,"
Sahut Sat Thian-ji berterus terang.
"Menuju kemana?"
Tanya Pang Hun-in pula.
"Mereka ternyata sangat licin, ketika mereka bergebrak denganku, penjahat cilik itu terkena sekali cakaranku, tetapi masih bisa lolos pergi,"
Sahut Thian-ji.
"Karena keadaan gelap dan tidak jelas mungkin mereka menuju ke sana."
Habis itu ia sengaja menuding ke jurusan lain.
"Baiklah, boleh periksa dengan hati-hati, bersayap pun kiranya mereka tidak bisa lolos!"
Ujar Pang Hun-in.
Kemudian ia melepaskan dua anak panah bersuara, maka sebentar saja Haptoh dan Thian-yap Sanjin juga menyusul tiba.
Nampak datangnya kedua jagoan ini, Pang Lin rada jeri, ia mengerti ilmu silat kedua orang ini tinggi sekali, apalagi tempat dimana mereka bersembunyi tidak seluas di seberang kolam sana, pepohonan dan bukit-bukitan pun tidak sebanyak di seberang, jika lingkungan pengepungan makin lama semakin sempit, akhirnya mereka pasti akan tertangkap.
"Mari kita gempur mereka saja!"
Ajak Li Ti. Akan tetapi Pang Lin tak setuju, ia menggeleng kepala. Dalam keadaan ribut itu, tiba-tiba terdengar Haptoh berteriak.
"Lin-kuijin, Hongsiang minta kau kembali!"
Pang Lin menjadi terkejut, ia heran karena namanya disebut, pikirnya.
"Tempat dimana dirinya berada sedikitnya berjarak beberapa tombak dengan Haptoh, apakah mungkin orang sudah tahu tempat persembunyiannya?"
Selagi ia hendak unjuk diri, tiba-tiba ia dengar seruan kawanan bayangkara yang riuh ramai.
"Ini dia di sini, di sini!"
Habis itu terdengar tindakan orang yang berlari menuju ke jurusan pojok barat-daya, bahkan suara Haptoh dan Thian-yap Sanjin pun menuju ke sana.
Sudah tentu kejadian ini membikin Pang Lin terheran-heran.
"Kejadian malam ini betul-betul membikin aku bingung? Apa mereka telah melihat setan?"
Demikian kata Pang Lin kepada Li Ti.
Untuk sementara mereka tetap mendekam di antara semak-semak itu dan tak berani sembarangan bergerak.
Selang tak lama, terdengar di sana ramai suara beradunya senjata bercampur dengan suara seruan orang bertempur, sedang di sekitar tempat sembunyi mereka sudah tiada satu manusia pun.
"Inilah kesempatan yang paling baik, mari kau ikut padaku, lekas kita lari keluar taman ini!"
Ajak Pang Lin pada kawannya.
Di antara suara pertempuran yang ramai itu terdengar suara kaum wanita, suaranya mirip sekali dengan suara Pang Lin, tetapi karena keadaan ramai ribut, meski suara wanita itu cukup nyaring, namun tidak jelas kedengaran apa yang dikatakan.
Li Ti dibesarkan di Thian-san, di sana sering ia memandang jauh dari tempat tinggi, maka matanya sangat jeli, ketika ia memandang dari jauh, tiba-tiba ia berseru tertahan.
"He, aneh sekali, di sana ada seorang nona yang mirip sekali dengan kau!"
Pang Lin menjadi terguncang perasaannya oleh kata-kata Li Ti, waktu ia memandang juga ke sana nampak wanita itu sudah terkepung dan teraling-aling orang banyak, maka tidak tertampak pula.
Selama ini Pang Lin selalu berpikir siang dan malam dengan harapan bisa memecahkan teka-teki mengenai asal-usul diri sendiri, kini ia telah mendapat setitik sinar terang, ternyata di dunia ini betul-betul ada seorang yang rupanya mirip sekali dengan dirinya!
Sesaat Pang Lin menjadi bingung, perasaannya diliputi oleh rasa suka dan duka, pikirannya timbul tenggelam tidak tenteram, tetapi dirinya kini berada dalam gua macan, meski dengan sekali mengukir tangan saja misalnya ia bisa menyingkap tabir rahasia diri sendiri, tetapi terpaksa Pang Lin harus melepas kesempatan ini!
Begitulah mereka berdua diam-diam kabur keluar taman di antara suara riuh ramai pertempuran para bayangkara.yang sedang mengeroyok wanita tadi itu.
Tak perlu dijelaskan lagi, sudah tentu nona yang mirip dengan Pang Lin itu bukan lain daripada kakak kembarnya, Pang Ing.
Kedatangan Pang Ing inipun bertujuan mencari tahu teka-teki asal-usul dirinya, ia datang ke rumah keluarga Lian lagi, ia pun sedang mencari seorang lain daripada "dirinya sendiri' di dunia ini.
Tidak ia duga, begitu memasuki taman, segera pula terjeblos dalam kepungan musuh, ada orang memanggil padanya sebagai "Lin-kuijin" , ada pula yang memaki dia sebagai "budak liar" , ada yang membujuk dia kembali, ada pula yang memaksa dia supaya menyerah saja, ramai dan ribut sekali, hampir saja Pang Ing menyangka dirinya sedang memasuki rumah gila.
Sejenak ia merasa bingung, ia pikir mungkin ada seorang yang namanya pakai 'Lin' yang rupanya mirip seperti dirinya, akan tetapi dimanakah orang ini?
Apakah dia berada juga dalam taman ini?
Sebenarnya ia hendak membentak dan bertanya, akan tetapi ia berada dalam kepungan orang banyak, suara pertanyaannya seperti tenggelam di lautan suara lain, bahkan segera ada orang mengulur tangan hendak mencengkeramnya.
Karena terpaksa, Pang Ing lantas keluarkan Thian-san-kiam-hoat yang lihai, dengan beberapa kali serangan ia desak kawanan bayangkara mundur ke belakang.
Dalam pada itu Thian-yap Sanjin telah maju ke depan, dengan gerak tipu 'Hong-kwi-cian-hun' atau angin menggulung sisa awan, segera ia hendak mencekal pergelangan tangan Pang Ing.
Keruan Pang Ing terkejut, gerak tangan orang ternyata sangat cepat lagi keji, kepandaiannya jauh berada di atas kawanan bayangkara itu.
Lekas anak dara ini mengegos, dari samping segera ia balas menusuk.
Serangan balasan ini sangat cepat lagi tepat, tempat yang dia arah persis tempat yang mematikan, hingga dari pihak terserang tadi, kini ia berbalik menyerang.
Thian-yap Sanjin bersuara heran, terpaksa ia ubah tipu serangannya dan mundur ke belakang.
Ia heran oleh ilmu pedang Pang Ing yang hebat dan lihai.
"Budak liar ini keluar dari istana tidak lebih setahun saja, darimanakah ia dapat belajar ilmu pedang ini?"
Demikian ia bertanya dalam hati.
Meski jagoan pengawal itu cukup banyak, tetapi karena mereka menganggap Pang Ing sebagai Pang Lin, sedangkan Pang Lin adalah bakal selir kesayangan kaisar, siapa yang berani coba-coba melukai dia?
Oleh karena itulah, mereka tidak bisa bertindak dengan leluasa, malahan berbalik ada beberapa orang yang dilukai Pang Ing.
"Kalian mundur dulu, biar aku tangkap dia!"
Seru Thian-yap Sanjin.
Tetapi meski kepandaian Thian-yap Sanjin lebih tinggi dari Pang Ing, namun ia tak berani mengeluarkan seluruh tenaga pukulannya, dalam keadaan demikian, karena desakan Kiam-hoat Pang Ing yang bagus, ia berbalik berulang-ulang harus menghadapi serangan berbahaya.
Nampak kawannya tidak berhasil menangkap orang, Haptoh tidak tinggal diam, ia keluarkan senjata bandulannya terus maju membantu, dengan dua jagoan kelas satu dari istana ini, setelah mereka mengeluarkan segenap kekuatan dan berlaku hati-hati, akhirnya baru bisa mengurung si nona.
Namun mereka juga serba susah, sebab mereka harus menghindar dan jangan sampai terluka olehnya, sebaliknya juga tidak boleh melukai si nona.
Dan bila mereka bermaksud merampas pedang pusaka Pang Ing inipun bukan pekerjaan yang mudah.
Kembali pada Yong Ceng, waktu ia mendengar suara ribut, ia lantas menuju ke sana buat melihatnya, di samping bukit-bukitan ia bertemu dengan Liang Keng-hiau.
Walaupun dalam hati Keng-hiau sangat kuatir, tetapi lahirnya ia tidak mengunjuk perasaan apa-apa, bahkan ia lantas melapor.
"Kabarnya Lin-kuijin telah kabur, harap Hongsiang jangan kuatir, Haptoh dan Thian-yap Sanjin sedang mengejar ke sana."
"Kau tentu telah capai!"
Ujar Yong Ceng Keng-hiau tergetar oleh kata-kata ini, waktu ia melirik, ia lihat Yong Ceng ternyata biasa saja seperti tiada menaruh curiga, malah ia lantas menarik tangan Keng-hiau dan berkata dengan tertawa.
"Kau mempunyai bakat sebagai panglima, tetapi malam ini hanya menjadi pemimpin di dalam taman sekecil ini untuk mengejar seorang budak kecil, lucu juga kalau diceritakan, haha."
Melihat sang kaisar begitu sayang dan percaya padanya, hati Keng-hiau menjadi lega.
"Orang perempuan tidak lebih hanya seperti barang mainan belaka, kalau kehilangan juga tidak perlu dibuat sayang,"
Ujar Yong Ceng.
"Kebesaran jiwa Hongsiang memang tiada bandingannya,"
Sahut Keng-hiau dengan hati kebat-kebit.
"Usia Lin-kuijin masih ter^ lalu muda, mungkin karena suka bermain, maka dia telah keluyurafl di luaran, Hongsiang boleh menyuruh dia pulang dan serahkan di bawah pengawasan ibuku saja."
"Ya, jika nanti bisa menemukannya kembali, terpaksa membikin repot Lian-thayhujin (nyonya besar Lian) agar suka mengiringinya pulang ke kotaraja,"
Kata Yong Ceng.
"Hongsiang tak perlu kuatir, tidak nanti ia bisa keluar dari taman ini,"
Sahut Keng-hiau.
Meski ia berkata demikian, tetapi dalam hati sebenarnya ia sedang berdoa semoga Pang Lin dengan selamat bisa keluar dari taman ini.
Setelah mereka melangkah beberapa tindak, tiba-tiba terdengar suara pertempuran di seberang kolam sana.
"Lin-kuijin sudah ditemukan, Hap-congkoan dan Thian-yap Sanjin sedang menasihatinya agar suka kembali saja,"
Segera ada pengawal memberi laporan.
"Haik sekali, biar aku sendiri pergi memanggil dia,"
Ujar Yong Ceng. Habis itu ia berkata pula pada Lian Keng-hiau.
"Marilah kita pergi ke sana melihatnya."
Baru saja Keng-hiau menenangkan pikiran, kini ia menjadi kuatir lagi, sungguhpun ia adalah seorang lihai, tidak urung agak gemetar juga, tetapi sekuat tenaga ia mencoba bersikap tenang.
Sekilas Yong Ceng pun merasa jari tangan orang rada gemetar, cuma ia pura-pura tidak tahu, ia masih tetap menggandeng tangan Lian Keng-hiau dan naik perahu terus menyeberang ke tepi kolam sebelah sana.
_ Dalam pada itu Pang Ing sedang kerepotan melawan dua musuh tangguh, yakni Haptoh dan Thian-yap Sanjin, beberapa kali hampir saja pedangnya dirampas orang.
Sungguh berbahaya dan tegang, tiba-tiba terdengar seruan orang.
"Kalian mundur semua, biar Tim (aku) bertanya padanya!"
Sama sekali tidak Pang Ing duga bahwa orang yang berseru itu adalah kaisar, dalam keadaan genting lebih-lebih ia tidak ada waktu untuk menyelami maksud perkataan "Tim" (sebutan kaisar pada diri sendiri), ia hanya mendengar ada orang membentak supaya mundur, habis itu sekitarnya lantas sunyi senyap, dua lawannya pun seketika melompat mundur dari kalangan.
Keruan Pang Ing sangat heran, pikirnya, siapakah gerangan yang mempunyai wibawa begini besar?
Waktu ia memandang, dilihatnya seorang lelaki berusia lebih tiga puluh tahun dengan sikap yang agung, dari matanya terpancar sinar yang membikin orang jeri, ia sedang tersenyum padanya.
"A Lin, kau membikin ribut terus semalaman, apa kau tidak kuatir akan ditertawai orang? Lekas ikut pulang!"
Demikian orang itu berkata padanya.
Pang Ing menjadi bingung, ia pikir, dua orang yang bergebrak dengan aku kepandaian silatnya susah dicari bandingannya, akan tetapi terhadap orang ini ternyata berlaku sangat hormat sekali, kalau dia bukan tokoh besar dari sesuatu cabang persilatan, tentu adalah pembesar tinggi kerajaan, aku toh tidak bakal bisa lolos di bawah keroyokan mereka, baiklah aku bicara dengan dia, coba mereka mau bicara sesuai aturan atau tidak!
Karena itu, segera ia menjawab.
"Bagus, memang aku tidak ingin berkelahi dengan mereka, kedatanganmu kebetulan sekali, aku justru hendak bertanya padamu."
Yong Ceng tidak tahu apa yang hendak ditanyakan si nona, ia hanya kuatir gadis ini omong sembarangan tanpa tedeng aling-aling, maka lekas ia berkata lagi.
"Baiklah, kita kembali dahulu dan bicara di rumah!"
Tanpa banyak omong lagi Pang Ing lantas ikut mereka naik ke atas perahu, di bawah sinar rembulan mengkilap yang terpantul dari air kolam, tiba-tiba ia berkata pada Keng-hiau.
"Eh, bukankah kau adalah Lian Keng-hiau, aku kenal kau!"
Keruan Keng-hiau terperanjat hingga mandi keringat dingin, hampir saja ia tak bisa menguasai kemudi perahunya.
"Budak tolol, apa kau sudah gendeng? Masakah Lian-tay-ciangkun tidak kau kenal? Malahan hari ini kau baru saja mendapat ayah dan ibu angkat!"
Demikian Yong Ceng mengomel dengan tertawa. Pang Ing tercengang oleh semprotan Yong Ceng ini. Tetapi segera ia paham, tentunya orang menganggap perbuatan si gadis yang disebut "Lin-kuijin"
Itu dilakukan olehnya. Setelah kembali di seberang taman sana, kemudian berkatalah Yong Ceng pada Lian Keng-hiau.
"Lian-ciangkun, malam ini telah banyak membikin lelah kau, baiklah, kau pergi tidur saja!"
Maka terpaksa Keng-hiau mengundurkan diri meski dalam hati masih merasa tidak tenteram. Yong Ceng lalu membawa Pang Ing menuju ke ruangan dalam, di sini sudah tiada orang lain lagi.
"Bukankah di tempatmu sini ada seorang yang disebut 'Lin-kuijin', apa dia seorang nona cilik? Ada di sinikah dia sekarang?"
Demikian Pang Ing membuka suara. Tidak kepalang terperanjatnya Yong Ceng demi mendengar pertanyaan aneh ini.
"Apa kau kesurupan setan?"
Tegurnya.
"Kaulah yang kesurupan setan,"
Balas Pang Ing.
"Ya, tentu kalian menganggap aku sebagai nona itu. Coba, kau perintahkan orangmu mencarinya, jika dia ditemukan, tentu segalanya akan jadi terang!"
"Haha, kata-katamu ini sungguh menarik, leluconmu ini kau ucapkan dengan sungguh-sungguh, wanita secantik kau, jangan kata di dunia ini, sekalipun di surga pun sukar dicari bandingnya lagi, mengapa kau bilang ada seorang lain yang mirip kau?"
Demikian Yong Ceng berkata dengan bergelak tertawa. Begitulah meski Pang Ing berusaha menerangkan lebih lanjut, tapi Yong Ceng tetap tidak mau percaya. Keruan Pang Ing menjadi keki dan mendongkol.
"Jika kau tetap tidak percaya, terpaksa aku pergi saja!"
Katanya kemudian.
"Haha, gampang sekali caramu ini,"
Sahut Yong Ceng dengan tertawa.
"Sekali kau minggat keluar istana, inipun sudah banyak menurunkan derajat dirimu, kini kau hendak kabur lagi, lantas muka Tim hendak kau taruh kemana?"
Baru sekarang Pang Ing mendengar jelas kata "Tim"
Yang diucapkan Yong Ceng, ia menjadi kaget.
"Siapa kau? Kau bilang derajat diri dan muka apa? Urusan apakah sebenarnya?"
Demikian ia bertanya dengan tidak mengerti.
"Biar kau pura-pura bodoh dan berlagak dungu juga tidak bisa diteruskan lagi,"
Sahut Yong Ceng tertawa.
"Bukankah kau sudah berjanji hendak ikut kembali ke kotaraja, apa kini kau menyesal? Coba kau pikir, derajat diri seorang Kui-hui mana boleh sembarang-an unjuk muka dan keluyuran di luaran, malahan membikin onar segala?"
"Kau ini Hongte (kaisar)?"
Tanya Pang Ing dengan suara rada gemetar. Karena pertanyaan ini, seketika wajah tertawa Yong Ceng lenyap, segera ia menarik napas.
"Ya, aku adalah Kaisar dan kau adalah Kui-hui,"
Jawabnya.
"Usiamu tahun ini sudah enam belas, sepatutnya kau belajar sedikit tatacara keluarga kerajaan!"
Tiba-tiba Pang Ing mundur setapak, sepasang mata-bolanya yang bundar membelalak menatap ke muka orang, kini ia tidak jeri lagi pada sinar mata Yong Ceng yang berwibawa itu.
"Ha, kiranya kau adalah raja yang lalim dan cabul itu!"
Damprat Pang Ing. Karena makian ini, dari gusar Yong Ceng malah tertawa.
"Haha, bagaimana kecabulanku dan kelalimanku! Coba katakan!"
"Dari ucapanmu tadi, nona yang kau sebut Lin-kuijin tentunya takut pada napsu cabulmu, maka dia telah kabur ketakutan,"
Sahut Pang Ing tak gentar.
"Jika kau memang Kaisar yang bertakhta sekarang, kau tidak berdaya mencapai keamanan negeri, sebaliknya kau menganiaya seorang wanita, apa ini bukan cabul dan lalim?"
Keruan Yong Ceng naik darah.
"Bagus, kau bilang aku cabul dan lalim, baik malam ini juga aku hendak memiliki kau!"
Katanya dengan tertawa dingin.
Habis itu segera ia hendak menarik si nona.
Pang Ing menjadi gusar, ia baliki tangannya menangkis, berbareng menempeleng ke muka Yong Ceng.
Akan tetapi Yong Ceng tidak gampang kecundang, ilmu silat maharaja ini berasal dari Siau-lim-si, yakni ajaran asli dari Pun-khong Taysu, ketua Siau-lim-si yang dulu.
Oleh karenanya sekalipun gerak tangan Pang Ing sangat cepat, namun dengan sedikit berkelit Yong Ceng sudah menghindarkan diri dari tamparan orang, sungguhpun demikian, angin pukulan yang menyambar ke mukanya itu terasa panas psdas.
"Kurangajar, kau berani padaku? Baik, akan kubunuh dahulu kau punya Li Ti-koko!"
Teriak Yong Ceng dengan gusar. Pang Ing terkejut oleh kata-kata "Li Ti-koko"
Itu.
"Apa kau bilang? Siapa, Li Ti-koko?"
Tanyanya.
"Ha, kau kuatir bukan? Hm, kau sudah mencintai anak busuk itu bukan? Tetapi justru aku ingin bikin kau putus harapan,"
Sahut Yong Ceng mengancam.
"Kini aku akan menghitung tiga kali, jika kau tidak menurut, segera juga kuperintahkan membunuhnya."
Pang Ing dan Li Ti adalah teman bermain sejak kecil, karena itu Pang Ing lantas berpikir.
"Jangan-jangan Li Ti-koko telah jatuh ke dalam cengkeraman mereka?"
Sementara itu ia dengar Yong Ceng sedang menghitung dengan suara keras.
"Satu"
Telah diucapkan, Yong Ceng lihat Pang Ing termangu berpikir, dalam hati ia merasa girang bercampur pedih, ia menyangka ancamannya telah membawa hasil, maka dengan suara keras ia menghitung lagi.
"Dua". Tetapi sebelum "tiga"
Diucapkan, sekonyong-konyong Pang Ing melolos pedang terus menikamnya.
"Jika kau tidak lantas bebaskan Li Ti-koko, hari ini kau pasti akan mampus di sini!"
Teriak Pang Ing.
Terkejut sekali Yong Ceng oleh serangan yang mendadak ini, dalam pada itu secepat kilat susul-menyusul Pang Ing telah mengirim dua kali tusukan lagi, hampir saja Yong Ceng terluka.
Waktu Pang Ing mengirim tusukan ketiga, secepat angin Yong Ceng berkelit pergi, berbareng ia menyambar sebuah kursi terus di-tangkiskan dengan kuat.
Kursi itu terbikin dari kayu cendana yang keras, dengan serangan pedang Pang Ing ternyata kursi itu tak bisa terbelah menjadi dua, sebaliknya ia merasa tangan rada kesakitan oleh tenaga lawan yang besar.
"Hanya dengan sedikit kepandaianmu ini kau berani melawan aku?"
Demikian Yong Ceng mengejek.
Keruan Pang Ing menjadi murka, segera ia keluarkan permainan Tui-hong-kiam-hoat, ilmu pedang pemburu angin, dengan kecepatan luar biasa ia menggempur lawan.
Semula Yong Ceng mengira ilmu silat 'Pang Lin"
Pasti bukan tandingannya, siapa tahu setelah menangkis beberapa kali, ia merasa ilmu .pedang orang sangat cepat dan lihai.
Terpaksa Yong Ceng keluarkan seluruh kemahirannya, ia putar kursinya sedemikian rupa hingga membawa sambaran angin menderu, akan tetapi tetap tidak berhasil membentur pedang pusaka orang.
Di pihak lain Pang Ing pun terkejut, tadinya ia mengira seorang kaisar yang biasa hidup dalam istana dengan segala kemewahan, tentu tidak paham ilmu silat, ia menyangka cukup tiga jurus saja ia sudah bisa melukai orang dan menawannya sebagai sandera.
Di luar dugaan, Yong Ceng dapat menggunakan kursi sebagai senjata, apa yang dia gunakan ternyata adalah tipu serangan ilmu permainan kursi dari Siau-lim-pay yang lihai, kepandaiannya tergolong jago kelas satu.
Begitulah, maka dalam sekejap saja dua-tiga puluh jurus Pang Ing telah menempur Yong Ceng.
Sementara itu karena tidak bisa tidur enak, Lian Keng-hiau mengobrol dengan Haptoh di luar, mentaati pesan Yong Ceng, maka Haptoh masih berlaku sangat hormat seperti sedia kala terhadap Lian Keng-hiau.
Tengah mereka mengobrol ke timur dan ke barat, sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan di dalam, mereka berdua menjadi heran dan saling pandang, mereka mengerti apa yang terjadi, tetapi tanpa dipanggil tidak mungkin mereka masuk.
"Budak ini betul-betul kurangajar, mendengar suara itu agaknya ia sedang bergebrak dengan Hongsiang!"
Ujar Haptoh. Sebaliknya diam-diam Lian Keng-hiau merasa girang. Ia pikir.
"Jika dia sudah bentrik dengan Hongsiang, tentunya dia tidak akan bercerita tentang kebusukanku, sekalipun bercerita mungkin Hongsiang tak mau percaya padanya."
"Celaka!"
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar Haptoh berseru.
"Kenapa?"
Tanya Keng-hiau. 'Kiam-hoat budak ini bagus sekali, mungkin Hongsiang bukan tandingannya,"
Sahut Haptoh.
"Kini Hongsiang tidak memanggil kita, kalau masuk kuatir disemprot, lalu bagaimana baiknya?"
Dalam keaadaan demikian Lian Keng-hiau berbalik mengharap "Pang Lin"
Dengan sekali tabas bisa membunuh si kaisar. Oleh karena itu ia lantas berkata mengikuti lagu suara Haptoh.
"Ya, memang serba susah, dia bukan sembarang orang, dia adalah bakal Kui-hui yang agung, kini Hongsiang dan Kui-hui sedang saling gebrak, betapapun kita tidak enak menerobos masuk begitu saja."
Saat itu pertempuran semakin seru, suara gedubrakan meja kursi yang jungkir balik bercampur-aduk.
"Biarlah, sekalipun aku didamprat Hongsiang, aku harus masuk buat menolong Sri Baginda!"
Kata Haptoh tiba-tiba.
Haptoh adalah Congkoan atau pemimpin besar pasukan bayangkara istana, terhitung orang paling dipercaya oleh Hongsiang, maka pada saat demikian tidak bisa tidak ia harus bertindak.
Begitulah mendadak Haptoh menerjang masuk ke dalam, pikiran Lian Keng-hiau pun tergerak, segera ia ikut menerobos masuk.
Waktu itu Yong Ceng sedang serba salah, semula ia mengira dengan segera bisa menaklukkan "Pang Lin" , ia merasa kalau mendatangkan kaum bayangkara, keadaan bisa lebih runyam, oleh karenanya ia lantas menempur Pang Ing terus.
Di luar dugaan meski 50-60 jurus sudah lewat, karena senjatanya yang berupa kursi kurang leluasa digunakan, ia menjadi terdesak oleh Pang Ing, bahkan hampir ia terluka, keruan ia menjadi gugup.
Selagi ia hendak berseru memanggil pengawalnya, pada saat itulah Haptoh dan Lian Keng-hiau menerjang masuk.
Baca Juga: Kereta Berdarah 2
Baca Juga: Tengkorak Maut 4