Eps 1 Pendekar Latah - Liang Ie Shen
Baca online Pendekar Latah - Liang Ie Shen
Cersil Pendekar Latah - Liang Ie Shen.
PENDEKAR LATAH ~Tiao Deng Kan Jian Lu~ Karya .
Liang Ie Shen Diceritakan Oleh GKH.
Bagian 01 Menjelang musim semi didaerah Kanglam, hawa dan cuaca di sebelah utara sungai besar baru mulai berubah, maka banyaklah kaum pelancongan sama berdamawisata ketempat2 sejuk nan permai sebelum musim semi usai.
Demikianlah di Toa-bing-ouw yang terletak di selatan kota Kilam, dibawah kaki bukit Jian-hud-san, tidak sedikit kaum pelancongan sedang menghibur diri menghirup hawa segar menghabiskan waktu.
Diantara sekian banyak orang2 yang mondar mandir terdapat seorang pemuda berusia likuran tahun sedang berlenggang sambil menggendong tangan, kepalanya celingukan kian kemari.
Hari masih sepagi itu, maka setelah sarapan pagi, pemuda ini menyewa sebuah perahu berkayuh ke tengah danau menuju ke seberang sana.
Bangunan kelenteng dari buddha serta banyak tempat2 obyek turis di Jian-hud-san memang tidak sedikit jumlahnya, segalanya tumbuh serba alamiah sehingga keindahan alam disini jauh berlainan dengan tempat2 lain.
Pemuda ini bernama Khing Ciau, rumah tinggalnya berada di Siok-shia, kira2 seratus li dari Tiong-toh (Pakkhia), setelah Siok-shia terebut dan diduduki pasukan negeri Kim, ayahnya pernah menjabat kedudukkan cukup tinggi didalam pemerintahan.
Bahwa ayah Khing Ciau terima memperbudak diri sebagai pemerintah kelas tinggi Kerajaan Kim, bahwasanya hanya sebagai kedok saja untuk menutupi rahasia pribadinya sebagai doble agent, sebagai patriot bangsa Han yang berjiwa luhur dan setia kepada negeri Song.
Agaknya kedatangan Khing Ciau di Toa-bing-ou bukan untuk bertamasya menghibur diri, karena dia sering menggosok2 kedua tangan dan celingukan kian kemari seperti sedang menunggu atau mencari sesuatu yang menggelisahkan hatinya.
Terbayang akan pengalaman hidupnya selama ini, sungguh hatinya dirundung kepedihan dan kerisauan yang tak terperikan, ibunya ajal secara penasaran dan tidak diketahui sebab musababnya, cuma dari tanda2 ibunya sendiri, yaitu putri pamannya yang bernama Cin Long-giok, berdasarkan bukti2 yang menurut keyakinannya tidak bisa disangkalnya lagi, maka dengan hati panas, ia luruk kerumah pamannya dan tanpa sadar ia kesalahan tangan membunuh pamannya Cin Jong.
Lantaran kesalahan paham satu sama lain yang serba berbelit2 ini, Khing Ciau menjadi musuh adik iparnya Cin Longgiok yang sebenarnya adalah calon istrinya pula.
Didalam usaha penyelidikan menemukan jejak sipembunuh ibunya, berulang kali Khing Ciau mengalami ujian dan gemblengan yang hampir saja mencabut jiwanya, namun memperoleh rejeki pula yang tak ternilai besarnya, untunglah beberapa kali itu dia mendapat pertolongan dari seorang perempuan yang serba misterius asal usulnya, dan sekarang Khing Ciaapun sedang dalam perjalanan untuk menepati janji pertemuannya dengan perempuan penolong itu yang belakangan sudah sumpah setia sebagai kakak beradik dengan dia.
perempuan berkepandaian silat tinggi itu bernama Lian Ceng-poh.
Disaat pikiran kusut dan mata celingukan kian kemari itulah, tiba2 didengarnya suara riak air yang tergayuh, sebuah sampan berlaju pesat disamping sana.
Sekilas tampak oleh Khing Ciau bayangan seorang gadis yang sudah amat dikenalnya berada didalam sampan itu, hatinya mencelos, waktu ia tegasi, sampan itu sudah pergi jauh dan tak kelihatan bayangan orang itu.
Mau tidak mau Khing Ciau ber-tanya2 dalam hati.
"Siapakah dia? Kenapa seperti sudah amat kukenal? Siapakah si dia?"
Tiba2 bayangan Lian Ceng-poh terbayang pula dikelopak matanya, itulah persoalan yang paling dia perhatikan untuk pertemuan nanti, tiada tempo dia pikirkan siapakah sebenarnya bayangan orang yang sudah amat dikenalnya tadi.
Setelah tiba diseberang Khing Ciau bayar ongkos perahu terus mendarat, waktu masih pagi, kira2 setengah jam menjelang tengah hari, untuk menghabiskan waktu Khing Ciau putar kayun tanpa tujuan berkeliling dari satu ketempat lain yang banyak dikunjungi pelancongan, akhirnya dia berhenti didepan sebuah gardu dimana banyak berjubel orang2 yang sedang mendengar dongeng yang dibawakan oleh seorang gadis jelita berusia tujuh belasan, mengisahkan Hong tin-samhiap yang kenamaan dijaman dynasti Tong, begitu asyik Khing Ciau mendengarkan petualangan Li Si-bin (akhirnya menjadi raja pendiri kerajaan Tong), Jan-bau-khek dan Ang-hud, pendekar perempuan pada jamannya dulu.
Begitu asyik Khing Ciau mendengarkan cerita yang dikisahkan oleh gadis pendongeng itu sehingga lupa waktu, kebetulan ia mendongak melihat cuaca, dilihatnya sang surya sudah bergantung ditengah angkasa, baru sekarang ia tersentak kaget akan waktu janji yang ditentukan ter-sipu2 ia rogoh keluar beberapa keping perak pecahan terus ditempat kebaki seorang Iaki2 yang kebetulan sedang menarik uang tontonan.
Dengan ter-gopoh2 Khing Ciau menuju ketempat tujuan, tak lama kemudian, sebuah kelenteng sudah kelihatan tak jauh didepan sana, Khing Ciau perlambat langkahnya, hatinya gundah dan jantung berdebur turun naik, semakin dekat ke tempat tujuan, hatinya semakin tidak tenteram, pikirnya.
"Lian-cici percaya kepadaku, maka dia undang aku untuk bertemu disini, sebaliknya rahasia ini kubocorkan kepada musuh bebuyutannya, Hong-lay-mo-li memang orang dari kalangan pendekar menunjang kaum lemah, namun sikapnya terlalu sirik terhadap Lian-cici, Bukankah nanti diantara mereka nanti timbul perselisihan pula? Ai, bagaimana kalau sampai mereka berkelahi? Bagaimana pula bila Hong-lai-mo-li melukai Lian-cici dan membuktikan bahwa dia memang musuh kita? Apakah selanjutnya hatiku bisa tentram?"
Semakin dipikir hatinya semakin gundah risau dan takut, pikirannya kalut.
Akhirnya ia melangkah juga memasuki kelenteng itu.
Didalam kelenteng beberapa Tosu kecil sedang sibuk membakar kertas menunaikan tugas rutinnya, melihat kedatangan tamu, lekas salah satu maju menyambut, Khing Ciau keluarkan pecahan uangnya pula sebagai sumbangan beli minyak, katanya.
"Aku sedang melancong didanau, ingin melihat2 pula kelenteng ini sembari istirahat Banyakah jemaah yang bersembahyang hari ini?"
"Tidak banyak,"
Sahut Tosu kecil.
"Paling hanya lima orang saja."
"Adakah diantaranya gadis remaja?"
Si Tosu heran dan melirik kepada Khing Ciau, merah muka Khing Ciau, lekas ia menambahkan.
"Dia adalah Piauciku, diapun sedang melancong, sebelumnya janji untuk bertemu denganku disini."
Kata si Tosu sambil menuding kesatu arah.
"Memang tadi ada seorang nona muda menuju ke Cui-sian-si entah apakah dia Piaucimu, Kembang sedang mekar disana, banyak pelancongan yang senang melihat kembang."
Setelah mengucapkan terima kasih Khing Ciau langsung melangkah ketempat yang ditunjuk, sudah jelas bahwa Lian Ceng-poh sudah datang, maka jantungnya berdebar semakin keras, langkahnya semakin cepat sebentar saja ia sudah memasuki sebuah taman kembang, tanaman kembang yang berada disini merupakan bunga2 pilihan yang jarang ada diluaran, namun tidak kelihatan bayangan orang disini.
Khing Ciau menenangkan nati, pikirnya.
"Hong-lay-mo-li dan San San berjanji hendak bantu aku menyelesaikan pertikaian salah paham dan membeber kedok rahasia Lian Ceng-poh yang sebenarnya, entah mereka sudah datang belum?"
Dipojok taman kembang sana ada sebuah bangunan kuil kuno, sebuah papan besar yang tergantung diatas pintu bertulisan "Ko-cui-sian-si", dengan hati was2 Khing Ciau melangkah masuk ksdalam Cui-sian-si, matanya segera menjelajah keadaan sekelilingnya, bayangan Lian Ceng-poh tidak terlihat, hatinya jadi ragu2, baru saja dia hendak putar badan mencari ketempat lain, tiba2 dilihatnya ujung pakaian panjang yang menjuntai dibelakang tabir kain penutup patung pemujaan, serta didengarnya pula suara gelang gemerincing, setengah badan dari perawakan seorang gadis-pun sudah menonjol keluar, bisa dibayangkan lantaran badannya bergetar keras, gelang yang dipakainya sampai gemerincing.
Lekas Khing Ciau berteciak.
"Lian-cici, aku disini!"
Belum lenyap suaranya terdengar jeritan seorang gadis yang memburu keluar, begitu melihat orang yang keluar ini, seketika Khing Ciau menjublek ditempatnya seperti patung, sesaat kemudian baru kuasa mengeluarkan suara.
"Kau?"
Dengan napas memburu gadis itupun berseru dengan suara gemetar.
"Kiranya memang kau!"
Gadis ini bukan lain adalah Piaumoay Khing Ciau atau calon istrinya yaitu Cia Long-giok.
Ditengah jalan tadi Khing Ciau melihat bayangan punggungnya, sejak tadi ia sudah bertanya2 dan curigai Siapa tahu kejadian justru amat kebetulan, sekarang kenyataan pula yang berada dihadapannya adalah gadis yang pernah dia cintai, namun amat dibencinya pula, ini bukan mimpi.
Dipihak lain, hati Cin Long giok seperti diiris2 dan tertusuk sembilu setelah jeritannya tadi, pikiran kedua pihak sama kalut dan hambar, tak tahu apa yang harus dilakukan, Bagi Khing Ciau, Cin Long-giok adalah pembunuh ibunya, bagi Cin Longgiok Khing Ciau adalah pembunuh ayahnya, kini diketahui pula orang tidak kenal budi dan tidak setia, sakit hati lama ditambah dendam baru.
Sesaat ia bingung, apa yang harus dia lakukan?
Karena pertemuan ini memang amat diluar dugaan keduanya sama berpandangan sekian lama tanpa bergerak.
Teringat oleh Khing Ciau tentang tugas rahasia dirinya yang hanya diketahui oleh Piaumoaynya bocor sehingga ia disergap oleh sekawanan Busu negeri Kim, setiba dirumah didapatinya pula, ibundanya sudah meninggal dengan badan kaku dan mengulum senyum Iebar, dari tanda2 kematiannya ini jelas ibunya tertutuk Siau-yau-hiat dibagian pinggangnya, dan tutukan kejam ini hanya dipelajari oleh keluarga Piaumoaynya saja, kepandaian ibunya cukup tinggi meski kedua kakinya tanpa daksa setelah Cau-hwe-jip-mo dalam melatih Lwekangnya, yakin hanya sang Piaumoay saja yang bisa mendekati badannya dan menutuknya secara mendadak.
Kalau tidak masakah ibunya yang berkepandaian sedemikian tinggi begitu gampang kena dibokong?
Terbayang pula olehnya cara bagaimana dia meluruk kerumah Piaumoaynya serta melabraknya dengan sengit, untunglah sebelum ia bertindak lebih jauh, tiba2 sebuah suara serak membentak.
"Berhenti!"
Ternyata ayah Cin Long-giok yaitu Cin Jong keluar dan kebetulan melihat Khing Ciau menggampar putrinya, keruan bukan kepalang gusarnya. Tanyanya mendelik.
"Cau-tit, kenapa kau pukul Piaumoaymu, masih ada aku dalam pandanganmu?"
Kalau dalam keadaan biasa, mungkin Khing Ciau sudah ketakutan karena bentakan ini namun dendam sakit hati sudah menghayati sanubarinya, segera ia memapak maju serta balas melotot, sahutnya dengan suara serak.
"Aku kenal kau, Cin Jong, aku kenal kau!"
Mendengar Khing Ciau langsung memanggil nama-nya, semakin berkobar amarah Cin Jong, bentaknya.
"Binatang, kau kenal apa?"
"Aku kenal kau manusia tamak yang tak tahu budi kebaikan, bangsat tua yang menjual diri demi kepentingan anjing Kim, terkutuk kau!"
"Binatang, tutup mulutmu!"
Damprat Cin Jong sambil layangkan tapak tangannya, dengan keras muka Khing Ciau tergampar seningga tusukan pedangnya menceng.
Kedua orang sama2 dirasuk kemarahan dan dendam kesumat maka gerak gerik mereka tak kenal kasihan pula, sudah tentu kepandaian Khing Ciau jauh bukan ungkulan, apalagi ilmu pedangnya dia pelajari dari pamannya ini pula, sudah tentu takkan mampu melawannya.
Se-konyong2 Cin Jong membentak.
"Lepas pedang!"
Cepat sekali tangannya sudah berhasil menyanggah sikut Khing Ciau, jari tangan kiripun sudah mengkait gelang2 kecil diujung gagang pedang Khing Ciau.
Menurut biasanya, betapa tinggi Lwekang Cin Jong, apalagi dia sudah berhasil mengkait gagang pedang, sikut Khing Ciau tersanggah pula sehingga tenaga sudah tidak mampu dikerahkan untuk merebut pedang-nya, segampang membelikan tangan Cin Jong.
Tapi pada detik yang menentukan itulah, se-konyong2 Hean-tiau-hiat didengkul Cin Jong mendadak terasa linu kemeng, seketika sekujur badan lemas lunglai, karuan kaki tak kuat menyanggah badan dan tersungkur maju kedepan.
Padahal ujung pedang Khing Ciau memang tertuju kedepan, karena kehilangan keseimbangan badan-nya, berat badan Cin Jong jadi doyong kedepan dan kebetulan memapak keujung pedang Khing Ciau yang tersurung kedepan, maka terdengar Cin Jong menjerit memilukan seraya berteriak.
"Kau, kau sungguh kejam!" -ditengah kejut dan herannya, tampak oleh Khing Ciau tahu2 pamannya sudah mandi darah tertembus oleh pedangnya, keruan seketika iapun menjublek tak bergerak. Waktu ia cabut pedangnya dilihatnya Cin Long-giok sudah menubruk dan memeluk badan ayahnya sambil tangis gerung2 dan sesambatan, Namun ayahnya sudah ajal. Mimik tangis Cin Long-giok waktu itu tak jauh berbeda dengan mimik mukanya sekarang ini, Khing Ciau ber-tanya2.
"Apakah bertemu secara kebetulan. Atau sebelumnya dia sudah tahu bahwa aku memang hendak kemari? Kenapa Liancici tidak datang?"
Sementara Cin Long-giok membatin.
"Ternyata memang dia, ditempat ini dia janji bertemu dengan seorang perempuan! setelah membunuh ayah, begitu berpisah dengan aku lantas lupa sama sekali, orang yang tidak setia dan tak berbudi ini, masa aku tetap anggap dia sebagai Piaukoku?"
Sejak peristiwa yang mengenaskan tempo hari, perasaan kedua orang sama gejolak dan dirundung kepedihan disamping pandang orang sebagai musuh, namun hubungan cinta masa lalu tak mudah terlupakan begitu saja, karena perasaan serba kontras ini, maka kedua pihak sedapat mungkin menekan luka2 hatinya yang sudah terbenam, berusaha menghindari pertemuan untuk mengaburkan bayangan pujaan hati yang melekat dalam sanubarinya selama ini.
Khing Ciau cukup terlatih sikapnya rada tenang, sebaliknya Cin Long-giok tak kuasa mengendalikan rasa derita yang dialaminya selama ini, pikirannya sudah dihayati balas dendam yang membara, akhirnya dia nekad dan berteriak.
"Khing Ciau, biar hari ini aku adu jiwa dengan kau!"
"Tring"
Sebatang Toh-kut-ting tahu2 melesat keluar, jarak kedua orang sedemikian dekat, Khing Ciau dalam keadaan bingung lagi, terang dadanya takkan luput dari samberan senjata rahasia ini, Maka terdengar "Tring"
Sekali pula, angin menyambar lewat.
Toh-kut-ting tadi melesat miring dari depan dada Khing Ciau, tanpa menyentuh badan-nya.
Ternyata disaat menyambitkan senjata rahasianya ini, betapapun hati Cin Long-giok tidak tega sehingga timpukannya menceng.
Khing Ciau tak tahan lagi, teriaknya.
"Long-giok, bisakah kami bicara sekali lagi?"
Cin Long-giok menghela napas panjang, ujarnya.
"Baik, biar kusempurnakan keinginan hatimu!"
Tapak tangan Cin Long-giok masih menggenggam sebatang Toh-kut-ting, sembari bicara tapak tangannya sudah ia tepukan kedada sendiri, ujung Toh-kut-ting tepat mengarah Hian-ki-hiat didadanya.
Disaat jiwa terancam bahaya inilah tiba2 terdengar "Tring"
Toh-kut-ting ditapak tangan Cin Long-giok terlepas.
"Lepaskan, lepaskan!"
Teriak Cin Long-giok me-ronta2.
"Aku mati bukankah memenuhi keinginanmu? Kenapa kau halangi aku mati?"
Tapi mana Khing Ciau mau melepasnya lagi?
Didalam pelukan kedua tangan Khing Ciau yang kokoh kuat, betapa kusut dan derita hatinya, namun terasa amat nyaman pula sehingga kaki tangan terasa lemas, badannya lunglai rebah dalam pelukan Khing Ciau.
Se-konyong2 didengarnya seorang berkata.
Nona Cin, tak perlu kau menempuh jalan pendek, Menurut aku, kau kena ditipu orang saja."
Kumandang suaranya, bayangan orang pun berkelebat melompat turun dari atap rumah, tahu2 disamping mereka tambah dua orang, mereka adalah Hong-lay-mo-li dan San San.
Ternyata sejak tadi Hong-lay-mo-li berdua sudah tiba dan sembunyi diatas genteng, jiwa Cin Long-giokpun berhasil tertolong oleh Hong-lay-mo-li yang menimpuk jatuh Toh-kuttingnya tadi dengan seutas ujung kebutannya.
Tapi Cin Longgiok tidak tahu, ia kira Khing Ciau yang melakukan.
Khing Ciau sudah tahu Hong-Iay-mo-ki berjanji hendak datang, maka ia tidak perlu heran, cuma mukanya jengah karena dia peluk Cin Long-giok sedemikian kencang, sebaliknya Cin Long-giok amat kaget dan heran, pikirnya.
"Siapakah perempuan ini? darimana dia tahu aku she Cin? Kenapa dikatakan aku tertipu, apa sih maksudnya?"
Mendadak ia sadar dirinya dalam pelukan Khing Ciau, lekas ia meronta, kebetulan Khing Ciau lepas tangan sehingga badannya terhuyung kehilangan keimbangan badan, lekas Hong-lay-moli maju memapahnya.
Dalam pada itu San San sudah jemput Toh-kut-ting itu, diangsurkan kehadapan Hong-lay-mo-li katanya.
"Coba lihat, inilah Toh-kut-ting yang dilumuri racun berbisa yang amat jahat dan menyumbat tenggorokan begitu kena darah."
"Aku tahu,"
Hong-lay-mo-li hanya mengerling sebentar "Siluman rase yang kejam!"
"Siluman rase itu tidak datang, dia ini sebagai wakilnya!"
Jengek San San dingin, ia anggap Cin Long-giok sebagai komplotan siluman rase itu.
"Dalam hal ini pasti ada latar belakangnya, kau tak usah gelisah, hari ini persoalan harus dapat kami bikin jelas."
Ujar Hong-lay-mo-li lalu ia ambil Toh-kut-ting itu dan diacungkan didepan mata Cin Long-giok, tanyanya dengan suara halus lembut.
"Siapa kau? Kenapa kau gunakan senjata rahasia sejahat ini untuk mencelakai jiwa Khing Ciau?"
Cin Long-giok tertawa dingin, jengeknya.
"Begini besar perhatianmu kepadanya, tentu hubunganmu amat intim sama dia? Hm, Hm, kenapa tidak kau tanya dia? Tanyalah, kenapa aku harus membunuhnya? Tanya-kan, aku yang keji atau dia yang kejam?"
Hong-lay-mo-li tiba2 tertawa, ujarnya.
"San San, masakah kau tidak melihat sambitan Toh-kut-tingnya tadi sengaja dia bikin menceng? Agaknya, semula dia memang hendak membunuh Khing Ciau, tapi akhirnya tak kuasa mengeraskan hati. Dia berusaha bunuh diri itulah maksud yang sebenarnya."
Timbul curiga San San, tanyanya.
"Khing Ciau, kau sudah kenal dia, pernah apa dia dengan kau?"
"Dulu aku tahu siapa dia, sekarang aku tidak tahu lagi, jangan kau tanya lagi, hatiku amat sedih."
Berkata Hong-lay-mo-li dengan lembut.
"Nona, maukah kau dengar beberapa patah kata2ku?"
"Aku terjatuh ditangan kalian, mau bunuh atau mau sembeleh, silakan lakukan, kalau kau hendak me-ngompes keteranganku jangan harap."
Jengek Cin Long-giok dingin. Hong-lay-mo-li tersenyum, katanya.
"Sebetulnya aku sudah tahu siapa kau, kau adalah putri Kim-kong-jiu Cin Jong!"
Cin Long-iok membatin.
"Kau kenal baik dengan Khing Ciau, kenapa heran tahu namaku."
Tiba2 terdengar San San menjerit, serunya.
"Apa, jadi dia ini putri Jin Jong?"
Berkata pula Hong-lay-mo-li.
"Aku masih tahu, sebelum ayahmu terbunuh oleh musuh, beliau pernah menerima sepucuk surat, surat kiriman Li-cecu dari Tong-pek-san, Licecu adalah salah satu pemimpin laskar rakyat yang melawan pemerintah Kim."
Bukan kepalang kaget Cin Long-giok mendengar penjelasan ini, pikirnya.
"Rahasia ini Khing Ciau sendiri belum tahu menahu, darimana dia bisa tahu?"
Berkata pula Hong-lay-mo-li.
"Tahukah kau siapa yang suruh Li-cecu kirim surat kepada ayahmu?"
Sebetulnya Cin Long-giok sudah bertekad tidak mau menjawab segala pertanyaannya, kini tak tahan ia balas bertanya malah.
"Memangnya kau?"
Hong-lay-mo-li manggut2 ujarnya.
"Benar, ayahmu adalah sahabat baik guruku, aku tahu betul karakter ayahmu, Li-cecu mencari seorang pembantu, aku teringat kepada ayahmu, Licecu bilang diapun kenal cukup baik dengan ayahmu cuma tidak tahu dimana tempat tinggalnya. Kebetulan anak buahku sudah berhasil mencari tahu alamat tinggal ayahmu, maka kuberi anjuran kepada Li-cecu menulis suratnya itu. Kalau kau tidak percaya, aku bisa bacakan apa yang tertulis dalam surat itu."
Lalu ia membaca diluar kepala apa yang tertulis didalam surat itu, kecuali beberapa huruf yang berlainan, maksudnya terang benar dan sama, keruan Cin Long-giok melongo dibuatnya.
Berkata Hong-lay-mo-li lebih lanjut.
"Tidak lama setelah pengantar surat itu pergi, datang pula dua perwira kerajaan Kim kerumahmu, benar tidak?"
"Ya, ada kejadian itu, kaupun tahu?"
"Ditengah jalan pengantar surat He bertemu dengan kedua perwira itu, dia amat kuatir, lalu putar balik, tidak lama kedua perwira itu berada di rumah-mu, setelah meninggalkan kado terus minta diri Barulah sipengantar surat pergi dengan lega hati, Apa pula yang terjadi dengan kedua perwira itu?"
"Kedua perwira itu adalah anggota pasukan Bhayangkari pelindung raja Kim, mereka mengundang ayah keluar menjabat pangkat, entah bagaimana mereka bisa tahu bahwa ayah adalah Kim-hong-jiu yang kenamaan didunia persilatan dulu, minta supaya ayah sudi menjadi pelatih dari barisan Kim-wi-kun. Kuatir bila ditolak seketika bisa menimbulkan huru hara, maka ayah pura2 menerima dan minta peluang untuk pikir2 dulu, kado diterimanya pula. Hari kedua ayah lantas suruh Suko bawa semua kado2 itu dibagikan kepada penduduk kampung."
"Malam itu pernahkah kau keluar meninggalkan rumah?"
Tanya Hong-lay-mo-li.
"Malam itu aku berunding dengan ayah akan tindakkan kami selanjutnya, semalam suntuk tidak sempat tidur."
"Jadi selangkahpun kau tidak meninggalkan rumah?"
"Malam itu ayah berkeputusan besok pagi2 kami akan berangkat ketempat yang jauh, maka segala persiapan segera kami lakukan, mana senggang meninggalkan rumah, Eh, siapa kau? Kenapa kau tanyakan ini semua?"
"Siapa aku, sebentar kau akan tahu. Kutanyakan hal ini, karena pada malam itu juga dikota Siok-ciu terjadi suatu peristiwa besar, apa kau tahu?"
"Peristiwa besar apa, sedikitpun aku tidak tahu."
Sahut Cin Long-giok hambar.
Memang Cin Long-giok tidak tahu peristiwa besar apa yang dimaksud oleh Hong-lay-mo-li, sebaliknya Khing Ciau maklum, yang dimaksud adalah kejadian yang menimpa keluarganya ibu dan semua pembantu rumah tangganya, tiga orang dibunuh secara menggelap Ong An dan Siau-hiang, pembantu ibunya terkena Toh-kut-ting, ibunya tertutuk Siau-yau-hiat sehingga napas putus jiwa melayang, disusul pasukan negeri K.m meluruk kerumahnya hendak menangkap dirinya, beruntung dia mendapat bantuan Lian Ceng-poh, barulah jiwanya selamat dari mara-bahaya.
Toh-kut ting adalah senjata rahasia tunggal dari keluarga Cin, tutukan telak yang mengarah Siau-yau-hiat merupakan ilmu tutuk tunggal dari keluarga Cin pula, malah menurut cerita Lian Ceng-poh, waktu dia tiba dirumahnya, ada melihat bayangan seorang gadis menyelinap keluar lari dari rumahnya, dari gambaran yang dilukiskan oleh Lian Ceng-poh, terang sekali mirip benar dengan Cm Long-giok.
Oleh karena itu Khing Ciau berkukuh pendapat bahwa pembunuh ibu dan kedua pembantu rumah tangganya terang adalah sang Piaumoay.
Namun setelah mendengarkan jawaban Cin Long-giok pada pertanyaan Hong-lay-mo-li, pendapat kukuh dan bukti2 yang dilihatnya itu seketika goyah dan terpecahkan semuanya, segala pertanyaan dan lika liku kejadian yang serba rumit ini sekarang mendadak terbongkar semua, tanpa terasa bergejolak jantungnya, pikirnya.
"Tak heran Piaumoay hari itu ingkar janji, ternyata semalam sebelumnya rumahnya sudah terjadi berbagai peristiwa, Merekapun hendak meninggalkan rumah pergi ketempat yang jauh, semalam suntuk tidak meninggalkan rumah, jadi pembunuh ibuku tentulah bukan dia?"
Setelah gejala2 satu dicocokan dengan yang lain-nya, persoalan menjadi semakin terang, dan mau tidak mau Khing Ciau mulai sadar akan keteledorannya, seketika hatinya hambar, tiba2 ia teringat.
"Kalau demikian paman tidak mau diperbudak oleh kerajaan Kim, malah dia seorang patriot bangsa yang perwira. Ah, memang aku salah membunuhnya?"
Terdengar Hong-lay-mo-li bertanya pula.
"Nona Cin, masih ada sebuah hal yang belum kumengerti, siapakah sebetulnya pembunuh ayahmu?"
Cin Long-giok sesenggukan, tiba2 ia tuding Khing Ciau.
"Dia itulah!"
Hampir dalam waktu yang sama, Khing Ciau mendadak tersentak sadar, serunya keras.
"Aku inilah."
Tiba2 ia mencabut pedang, teriaknya.
"Kaumoay, memang aku yang salah, aku berdosa terhadap paman, bersalah terhadapmu lagi!"
Pedang terangkat terus hendak gorok leher sendiri "Tang!"
Sekali gunakan kebutannya Hong-lay-mo-li pukul jatuh pedang Khing Ciau katanya.
"Kalian sama2 salah duga, pembunuh ayahmu terang bukan Khing Ciau."
Dengan tertegun Cin Long-giok pandang Hong-lay-mo-li, batinnya.
"Aku sendiri menyaksikan dengan mata kepalaku, kenapa dikata bukan dia?"
Tapi dalam hati memang dia mengharap bukan Khing Ciau, maka tidak segera ia mendebat, ia harap Hong-lay-mo-li bisa memberikan penjelasan.
Adalah Khing Ciau sudah ribut seperti kemasukan setan, teriaknya.
"Bunuh orang menebus jiwa, akulah pembunuhnya, akulah pembunuhnya, aku salah bunuh orang, biar kutebus dengan darahku baru bisa mencuci dosaku."
"Tenangkan dulu hatimu, masih ada sebuah pertanyaanku!"
Kata Hong-lay-mo-li. Lekas San San pegang kencang tangan Khing Ciau, bujuknya lirih.
"Dengarlah petunjuk dan penjelasan Liu-cici saja!"
"Bagaimana kepandaian silatmu dibanding dengan pamanmu ?"
"Terpaut jauh sekali!"
"Lalu cara bagaimana kau bisa membunuhnya? Tempo hari kau pernah cerita kepadaku bahwa kau pernah membunuh Cin Jong, waktu itu sudah timbul curigaku, Cuma waktu itu kau tidak jelaskan bahwa Cin Jong adalah pamanmu, tidak kau jelaskan pula seluk beluk sebanyak ini, sekarang bukan saja aku sudah yakin bukan kau pembunuhnya, malah bukan mustahil aku bisa wakilkan kalian mencari si pembunuh tulen itu! Coba kau tuturkan sejelasnya pertarunganmu waktu itu."
Khing Ciau masih ragu2, katanya.
"Hmu silatku jelas bukan tandingan paman, tapi kenyataan dia ter-hunjam mati diujung pedangku, Karena waktu itu beliau hendak merebut pedangku dan kebetulan ketumbuk pada ujung pedangku."
"Jurus apa yang dia lancarkan waktu itu?"
"Aku lupa dan tak ingat lagi."
"Aku masih ingat,"
Sela Cin Long-giok.
"Ayah waktu itu melancarkan sejurus Hud-hun-jiu, jari2nya sudah berhasil menggaet gagang pedangnya!"
Berkata Hong-lay-mo-li kepada Khing Ciau.
"Lalu jurus apa yang kau gunakan waktu itu, tentunya kau masih ingat bukan?"
"Waktu itu aku menggunakan jurus Ci-ko-ngo-wi."
Sesaat lamanya Hong-lay-mo-li tenggelam dalam pikirannya, katanya kemudian.
"Disitulah letak titik kelemahannya."
Hong-lay-mo-li jembut pedang Khing Ciau diserahkan kepada San San, katanya.
"Mainkan sejurus Ci-ko-ngo-wi."
Lalu ia bertanya kepada Khing Ciau.
"Ci-ko-ngo-wi adalah ilmu pedang pertahan untuk melindungi badan, tidak bisa untuk melukai musuh, betul tidak?"
"Ya, waktu itu aku sudah terkepung oleh bayangan tapak tangan paman, hanya mampu membela diri, tak mampu balas menyerang."
"Bagus, coba kau lihat,"
Seru Hong-lay-mo-li, tapak tangannya menepuk kedepan, lekas San San melintangkan pedang mematahkan serangan ini, tapi tangan kanan Honglay-mo-li tahu2 sudah menyanggah dibawah sikutnya, sementara jari kelingking tangan kiripun sudah menggaet gelang pedang.
Sampai disini Hong-lay-mo-li berhenti pertahankan gaya masing2, tanyanya berpaling kepada Cin Long-giok.
"Jurus Hud-hun-jiu yang kupakai ini benar atau tidak?"
Cin Long-giok amat kagum, katanya.
"Sedikitpun tidak salah, itulah ajaran Toa-kim-na-jiu warisan keluarga kami, namun kau bisa main lebih bagus dari ayah."
Berkata Hong-lay-mo-li.
"Tujuan penggunaan Hud-hun-jiu ini adalah merebut pedang lawan, sekarang aku sudah berhasil menggantol gelang pedangnya, mengikuti gerakan ini, seharusnya aku menarik mundur ke belakang, berat badan terletak diatas tubuh, demikian juga bagian pinggang terdoyong kebelakang, benar tidak? "Kau memang seorang ahli silat, intisari dari Kim-na-jiu, ini, kau lebih jelas dari aku."
Puji Cin Long-giok.
"Tapi ayahmu waktu itu tidak seperti ini, menurut penjelasan Khing Ciau, badannya malah menumbuk keujung pedang Khing Ciau, kalau demikian berarti badannya tersungkur maju kedepan dan bukan terjengkang kebelakang."
"Benar!"
Seru Khing Ciau tak sadar.
"Waktu ttu memang begitulah terjadinya."
"Apakah kejadian itu tidak aneh? Gerakan Hud-hun-jiu adalah mendongak kebelakang, kenapa dia terdorong maju kedepan malah?"
Cin Long-giok terlongong, mulutnya menggumam.
"Ya, memang aneh kenapa bisa begitu?"
"Menurut dugaanku,"
Ujar Hong-lay-mo-li lebih lanjut.
"Pasti karena ada seorang tokoh kosen sembunyi tak jauh dari tempat pertempuran, dialah yang membuat gara2 secara menggelap."
Tanpa janji Khing Ciau dan Cin Long-giok berseru tanya bersama.
"Gara bagaimana membuat gara?"
"Nona Cin,"
Ujar Hong lay-mo-li menghela napas.
"Kelak bila kau memeriksa jenazah ayahmu, coba kau perhatikan, aku berani pastikan, pada Hoan-tiau-hiat didengkul ayahmu tentu dapat kau ketemukan sebatang Bwehoa-ciam. Karena Hoan-tiau-hiat tersambit Bwe-hoa-ciam sehingga dengkulnya linu lemas, tanpa kuasa badannya lantas tersungkur kedepan."
Cin Long-giok terlongong seperti patung, sesaat kemudian baru menjerit tangis dengan pilu.
"Ciau-ko, akulah yang menyalahkan kau, kau tidak membunuh ayahku."
"Giok-moay, akupun tidak pantas salahkan kau, kau tidak membunuh ibuku."
Keduanya sama berlinang air mata dan pandangan-pun ber-kaca2, tanpa terasa keduanya saling ulur tangan dan genggam menggeggam dengan kencang.
Tiba2 Cin Long-giok kipatkan tangan Khing Ciau terus berlutut dan menyembah kepada Hong-lay-mo-li, lekas Honglay-mo-li kebaskan lengan bajunya, terasa segulung tenaga menahan pundaknya sehingga Cin Long-giok berangkat naik tidak jadi berlutut Kata Hong-lay-mo-li.
"Kau ada omongan apa silakan katakan saja, mana boleh aku menerima penghormatan sebesar ini."
Dari panggilan Khing Ciau tadi Cin Long-giok sudah tahu she Hong-lay-mo-li, segera katanya.
"Liu-li-hiap, kau berhasil memeriksa keadaan sebenarnya, tentulah sudah tahu siapakah pembunuh ayahku, mohon kau suka memberi petunjuk, biar kutahu nama musuh, aku dan ayah dialam baka tentu amat berterima kasih kepadamu."
"Ayahmu adalah angkatan tuaku, musuh besarmu adalah musuhku pula, Nona Cin, biar kutanya dulu beberapa hal kepadamu, coba biar cocokan apa rekaanku benar."
Melihat orang begitu yakin dan punya pegangan, maka Cin Long giok manggut dan pasang kuping dengan perhatian. Berkata Hong-lay-mo-li.
"Setelah mengalami peristiwa itu, kau langsung menuju ke Thian-ling-si, benar tidak?"
"Benar, pengurus tua dari Thian-ling-si adalah sahabat kental ayahku. Dalam surat Li-cecu ada berpesan supaya ayah menunggu di Thian-ling-ci dan akan dijemput anak buahnya disana, Tapi aku sendiri sih belum pernah ke Thian-ling-si ."
"ltulah karena ditengah jalan kau bertemu dengan seorang perempuan, dia pura2 jadi begal hendak merampas barang2mu, paksa kau menggunakan Toh-kut-ting, lalu memberitahu kepadamu bahwa para Hwesio di Thian-ling-si sudah terbunuh orang, suruh kau lekas pergi kelain tempat saja, bukan?"
"Sedikitpun tidak salah, darimana kau bisa tahu?"
Tanya Cin Long-giok heran.
"Waktu itu aku percaya akan obrolannya, karena ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari aku, mau bunuh aku segampang dia membalikkan tangan, buat apa dia ngapusi aku, Liu Lihiap, apakah oborolannya itu bohong belaka?"
"Obrolannya sediktipun tidak salah, Tahukah kau siapa dia? Dia adalah seorang pembantuku"
"Waktu itu dia agaknya ter-gesa2, tidak sempat memberi keterangan kepadaku, Kenapa dia bujuk aku supaya lekas pergi? Kenapa pula menyamar begal hendak merampok aku? Liu-cici, dapatkah kau membongkar semua kecurigaanku ini?"
"ltulah karena ada orang menyaru dirimu membakar habis Thian-ling-si menjadi puing yang rata dengan bumi, para Hwesio penghuninya dibunuh semua, Setelah pelayanku itu paksa kau menggunakan Toh-kut-ting baru tahu bahwa kau bukan pembunuh sebenar-nya."
Kejadian ini Khing Ciau sudah pernah dengar dari perdebatan Hong-lay-mo-li melawan Lian Ceng-poh dan menyuruh pelayannya itu menjadi saksi.
Masih segar dalam ingatan Khing Ciau, malam itu tanggal lima belas, rembulan sedang bundar memancarkan cahayanya yang sejuk dan terang benderang menerangi alam sejagad.
Waktu itu dirinya masih bergaul intim dengan Lian Cengpoh yang belakangan baru dia ketahui adalah kepala dari gabungan berbagai golongan perampok, karena beberapa anak buahnya dihina dan dilukai oleh Hong-lay-mo-li terpaksa mereka berombongan meluruk ke Thian-ling-si sesuai tantangan Hong-lay-mo-li.
Karena bulan purnama keadaan sekitar Thian-ling-si yang sudah jadi puing2 itu terang benderang.
Tepat pada tengah malam, tiba2 terdengar suitan panjang melengking mengalun tinggi menembus angkasa, semula kedengaran masih jauh, sekejap saja sudah berada didalam hutan.
Tampak sebarisan gadis remaja, empat orang terdepan masing2 memegang kebutan bergagang batu pualam, empat orang dibelakang membawa sebuah lampion merah, delapan orang terbagi dua baris mengiringi seorang gadis cantik laksana bidadari yang turun dari Kahyangan, pelan2 mereka beranjak keluar dari hutan.
Lian Ceng-poh sebenarnya terhitung gadis cantik rupawan yang menggiurkan, tapi di banding dengan gadis yang baru datang ini, terang sekali jauh perbedaannya, laksana bintang dengan rembulan, Khing Ciau tahu bahwa gadis ini tentulah Hong-lay-mo-li yang telengas dan gapah tangan itu, tapi menghadapi keagungan dan kecantikannya yang rupawan.
diam2 hatinyapun terpesona, diam2 ia memuji dalam hati.
"Gadis cantik laksana bidadari!"
Gadis itu tertawa cekikian merdu sapanya.
"Giok-bin-yauhou, terhitung besar nyalimu, datang tepat sebelum waktunya. Kawanan anjing rombongan rase anak buahmu sudah datang seluruhnya belum?"
Kalau anak buah Lian Ceng-poh tidak berani bercuit, sebaliknya Khing Ciau merasa uring2an, batin-nya.
"Lian-ciciku seperti kau pula sebagai pentolan perampok, namun perampok yang berjiwa luhur dan berbudi kepada sesamanya. Kau berani memakinya sebagai Giok-bin yau-hou (siluman rase bermuka kemala), sontoloyo benar!"
Tiba2 didengarnya seseorang membentak keras.
"Keparat, kau perempuan siluman ini berani maki orang, rasakan cambukku!"
Seorang laki2 kekar berpakaian kuning tahu2 menerjang keluar sembari ayun seutas cambuk panjang satu tombak lebih, cambuknya melingkar-lingkar ditengah udara mengeluarkan deru angin keras menyambar kearah Hong-laymo-li Liu Jing-yau.
"Kembali!"
Teriak Lian Ceng-poh dengan mengerut kening. Tapi belum lagi mulutnya tertutup seorang dayang dalam barisan Liu Jing-yau sudah menghardik "Perampok anjing, cari mampus kau!"
Dasar laki2 itu memang orang berangasan, ia menerjang dengan bernafsu lagi, mana kuasa menghentikan aksi-iiya.
"Sret"
Cambuknya dengan telak melecut diatas badan dayang Hong-lay-mo-li itu.
Tiba2 terdengar suara gedebukan, seseorang tersengkelit jungkir-balik, waktu semua orang melihat tegas, kiranya laki2 itu sudah terjungkal roboh, cambuknya terbang ketengah udara.
Keruan tersirap darah Khing Ciau, ia tahu dalam ilmu silat ada semacam ilmu yang dinamakan Can-ih-cap-pwe-thiat, dulu ayahnya pernah ajarkan ilmu ini, lantaran Lwekang sendiri belum memadai, sehingga belum mampu ia menggunakan ilmu ini.
Dayang ini menggunakan Can-ih-cap-pwe-thiat dari Lwekang tingkat tinggi, dayangnya saja sudah sedemikian lihay, dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian majikannya.
Saking kagetnya, diam2 Khing Ciau merasa kuatir bagi keselamatan Lian Ceng-poh.
"Giok-bin-yau-hou, kau ingin segera turun tangan?"
Honglay-mo-li menantang dengan tertawa dingin. Lian Ceng-poh tampil kedepan, katanya.
"Agaknya kau Moli (perempuan iblis) ini juga bisa bicara aturan? Marilah main mulut atau main kepelan aku iringi kehendaknya. Cuma ingin aku tanya, kau bercokol di Soatang, aku berada di Gi-pak, masing2 seumpama air sungai tidak menyalahi air sumur, kenapa kau meluruk ke daerah kekuasaanku, menghajar anak buahku lagi?"
"Kemana aku suka pergi memangnya kau kuasa kendalikan aku? Kau berkuasa di Gipak, siapa yang memberikan hak kau berkuasa disana? Kebetulan aku lewat disini, apa kau tidak terima bila aku merampas uang gincumu?"
"Hong-lay-mo-li, biar aku belajar kenal tiga puluh enam jalan Thian-lo-hun-tim mu itu, ayolah mulai!"
"Kenapa kesusu? Masih ada pertanyaan yang kua-jukan kepada kau."
"Yang kuat hidup yang lemah mampus, buat apa cerewet lagi?"
"Oh, agaknya hatimu sudah mulai gugup, takut aku membunuhmu, ya, jangan ter-gesa2, aku sendiri belum berkeputusan cara bagaimana menghukum kau, oleh karena itu perlu aku tanya dulu kepadamu para Hwesio dari Thianling-si apakah kau yang membunuh."
"Kalau benar kenapa? jika bukan mau apa?"
"Sute Su-khong Siangjin minta aku menuntutkan balas, aku sudah berjanji kepadanya, Kalau benar kau membunuhnya, akan kubelek perutmu dan kukorek jantungmu untuk sesaji sembahyangan para arwah Hwe-sio Thian-ling-si! Kalau memang bukan kau jiwamu boleh kuampuni, cukup asal bikin cacat tulang pundakmu saja."
Sembari bicara kedua matanya menatap Lian Ceng-poh, se-olah2 dari rona muka dan tengah2 kedua alisnya ia hendak mencari jawabannya. Lian Ceng-poh menengadah sambil ter-loroh2, ujarnya.
"Orang lain takut kepadamu, sedikitpun aku tidak jeri kepada kau! Memang bukan aku yang membunuh para Hwesio Thianling-si, tapi kau sudah main gertak segala, biar anggap saja aku yang membunuhnya, kau punya cara keji apa saja silakan tampilkan kepadaku, jangan kata membelah perut mengorek jantung, seumpama tulang2 jadi abu beterbangan-pun aku tidak gentar."
"Kau tidak perlu pura2 ngelabui diri sendiri, suara tawamu sudah gemetar. Baik, biar kutunjuk seorang saksi lain kepadamu, supaya orang tidak sangka aku memfitnahmu."
Dari tumpukan puing disana tiba2 merangkak keluar seorang Thauto (imam berambut) berusia enam tujuh belasan, dengan langkah ter-pincang2 datang mendekat.
"Siau-suhu,"
Tanya Hong-lay-mo-li setelah orang datang dekat.
"Lihatlah biar jelas, orang yang membakar kelenteng dan membunuh orang apakah perempuan siluman ini?"
Cukup lama Thau-to kecil ini mengamat2i Lian Ceng-poh, akhirnya berkata dengan suara gemetar.
"Aku tidak berani mengatakan."
"Tak usah takut, ada aku disini, katakan terus terang saja."
Bujuk Hong-lay-mo-li. Raut muka dan dandanannya tidak sama, cuma... cuma..."
"Cuma apa?"
"Cuma suara tawanya tadi mirip benar dengan bangsat perempuan itu."
Lian Ceng-poh tertawa dingin, katanya.
"Sebetul-nya kau tidak perlu susah payah mencari saksi segala? Toh kau tidak bisa membuktikan perbuatanku atau bukan, Kalau kau hendak memfitnah aku, cukup pakai mulutmu yang tajam saja."
"Tutup mulutmu!"
Hardik Hong-lay-mo-li. Tiba2 ia tuding Khing Ciau dan membentak tanya.
"Siapa dia? Kenapa bisa ikut dengan kau?"
"Kau tidak usah peduli."
Jengek Lian Ceng-poh. Tiba2 salah seorang dayang Hong-lay-mo-li tampil kedepan, katanya lantang.
"Aku tahu siapa orang ini, dia bernama Khing Ciau, tiga hari yang lalu dia membunuh beberapa Busu kerajaan Kim, terus hendak lari ke negeri Song diselatan, Kerajaan Kim menjebar maklumat dengan hadiah besar hendak membekuknya, Siocia, silakan kau lihat maklumat ini?"
Sejak Khing Ciau membunuh jagoan Bhayangkan kraton dan melarikan diri, pejabat setempat menggambar dirinya dan menyebar maklumat yang ditempel didindmg berbagai jalan penting, Khing Ciau sendiri belum tahu akan hal ini.
Dayang Hong-lay-mo-li kemaren kebetulan lewat Ki-seng dan mengambil selembar di antaranya.
Berkata dayang itu lebih lanjut.
"Aku sudah menyelidiki dengan betul, orang ini adalah keturunan Sip-hun-kiam Khing Tiong, se-kali2 tiada hubungan dengan golongan hitam."
Hong-lay-mo-li unjuk rasa heran, ujarnya.
"O, putra tunggal Sip-hun-kiam Khing Tiong?"
Tiba2 tegak alisnya dan berkata menuding Khing Ciau.
"Kalau kau putra Khing Tiong, kenapa tidak tahu diri, bikin malu nama leluhur saja?"
Seketika Khing Ciau naik pitam, serunya.
"Kau, kau, kau, apa katamu ? Bagaimana aku kau katakan bikin malu nama leluhur?"
Sebetulnya ia hendak mencaci lebih kotor, namun ditatap dengan sorot mata Hong-lay-mo-li, nyalinya jadi mengkeret "Kulihat kau seorang laki2 berjiwa satria, setia nusa dan bangsa, kenapa gaul sama Giok-bin-yau-hu, apakah ini tidak bikin malu nama leluhurmu?"
Dayang itu cekikikan, cemohnya.
"Kukira dia kepincut paras cantik."
Karena diolok2 Khing Ciau tidak tahan lagi, serunya.
"Kau membual apa! Lian-cici terang bukan manusia seperti yang kau katakan, dia adalah perampok yang berjiwa luhur."
"Adik Ciau, buat apa kau membela diriku, tidak lebih dia mencari alasan untuk membunuhku saja."
"Tidak,"
Teriak Khing Ciau.
"Seumpama kita harus mati ditangannya, kita harus bikin terang siapa benar siapa salah!"
Sorot mata Hong-lay-mo-li beralih kepada Khing Ciau, katanya dingin.
"Oh, dari cara bicaramu ini, agaknya kau sudah tahu siapakah pelakunya, siapa dia?"
"Benar, aku memang tahu, tapi aku tidak sudi mengatakan kau bunuh akupun takkan kukatakan!"
"Terhadap orang yang pantas dibunuh aku tidak akan memberi ampun, kalau tidak patut mati seujung rambutnyapun aku tidak akan mengusiknya, kau kira aku sembarangan membunuh orang? Tanpa kau katakanpun aku sudah dapat meraba siapa orang yang kau curigai?"
Melonjak jantung Khing Ciau, terdengar Hong lay-mo-li bertanya pula.
"Menurut apa yang ku-tahu, ayahmu Khing Tiong dengan Pok-bi-jhi Cin Jong adalah sahabat karib, tentunya kau cukup tahu keadaan keluarga Cin bukan?"
Agaknya Hong-lay-moli belum tahu bahwa Cin Jong adalah pamannya, namun pertanyaan ini sudah bikin Khing Ciau kaget bukan main, sahutnya tergagap.
"Cin Jong? Dia, dia, sudah mati!"
"Aku tahu dia terbunuh oleh musuhnya, sekarang belum sempat aku mencaritahu sebab musabab kematiannya. Aku cuma ingin tanya kau, dia punya berapa putri?"
"Untuk apa kau tanya ini? Dia hanya punya seorang putri!"
"Oh, urusan semakin ganjil."
Gumam Hong-lay-mo-li.
"Bingcu, coba kau kisahkah pengalaman nona Cin belakangan ini, Aku tidak suka bikin orang merasa penasaran."
Bing-cu adalah nama dayang yang menyamar jadi rampok coba membegal Cin Long-giok dan paksa dia menggunakan Toh-kut-ting, bersama San San, Tai Mo dan Kian Yan berempat adalah dayang pribadi yang selalu mengiringi Honglay-mo-li dalam setiap perjalanan.
Baru sekarang Cin Long-giok tahu seluk beluk persoalan belit2 ini, heran dan tak habis mengerti pula, katanya.
"Ada kejadian itu? siapakah dia, kenapa dia menyamar aku melakukan pembunuhan yang begitu kejam?"
"Sekarang aku berani pastikan pembunuh kejam yang menyaru kau membakar Thian-ling-si itu, adalah pembunuh ayahmu pula."
Sampai disini tersirap darah Khing Ciau, sebab selama ini Hong-lay-mo-li selalu menuduh Lian Ceng-poh yang menjadi biang keladi kematian dan kebakaran Thian-ling-si, karena ini berulang kali Khing Ciau berdebat dengan Hong-lay-mo-li, namun setelah jiwa sendiri tertolong oleh Hong-lay-mo-li, karena taburan jarum beracun dan menyedot asap berbisa dari pelor kabut berjarum ganas Lian Ceng-poh, yang disambitkan kepada Hong-lay-mo-li dalam usahanya melarikan diri setelah dikalahkan dalam pertempuran maka keyakinan ini semakin luntur, kini semakin goyah pula, mau tidak mau sekarang dia rada percaya, pikirnya.
"Semakin terang persoalan semakin aneh kejadiannya, ternyata bukan saja sebagai pembunuh para Hwesio Thianling-si, Ceng-pohpun pembunuh pamanku pula? Ai, kepada siapa aku harus percaya?"
Tengah ia me-nimang2 didengarnya Cin Long-giok berteriak gugup.
"Siapakah pembunuh kejam itu?"
"Jangan kau ter-buru2, nanti akan kau ketahui sendiri, Batal ke Thian-ling-si, kau putar kejalan lain, akhirnya dengan siapa kau bertemu ditengah jalan?"
"Bertemu dengan seorang bintara kerajaan, dia hendak menangkap aku."
"Apa dia seorang Bintara?"
Tanya Hong lay-mo-li heran, agaknya hal ini diluar dugaannya.
"Ya, seorang Bintara yang bergaman sebuah cambuk panjang, hebat sekali permainan cambuknya itu, sekali sabet tahu2 pedangku sudah digulung lepas dari cekalan, sekali lecut lagi aku kena dilukainya."
"Bintara itu adalah Pakkiong Ou."
Teriak Khing Ciau kaget.
"Eh, darimana kau tahu?"
Tanya Cin Long-giok.
"Selanjutnya bagaimana?"
Tanya Khing Ciau dengan napas memburu.
"Untung aku bertemu dengan seorang Lihiap, dia gebah lari Pakkiong Ou dan menolong aku. lihiap itu adalah..."
"Lihiap itu adalah Lian Ceng-poh."
Tukas Hong-lay-mo-li.
"tebakkanku kali ini pasti tepat, benar tidak!"
"O, jadi kau sudah tahu semua kejadian itu? Lian Lihiap tentunya juga seorang temanmu?"
"Biar kusambung pengalamanmu selanjutnya, coba boleh kau cocokan satu sama lain? Lian Lihiap tolong kau mengobati Iuka2mu sampai sembuh, perhatiannya amat besar terhadap kesehatanmu karena kau tak punya rumah, terpaksa menetap dipangkalannya."
"Malah dia sudah angkat saudara dengan aku."
Sambung Cin Long-giok.
"Cara siluman perempuan itu merangkul orang memang lihay."
Sela San San. Cin Long-giok pelotot kepada San San, tanyanya kurang senang.
"Apa katamu? Siapa siluman perempuan yang kau maksud?"
"Jangan dibelokan kearah lain."
Timbrung Hong-lay-mo-li.
"Belakangan kau lantas ceritakan pengalaman hidupmu masa lalu kepada Lian-cicimu?"
"Dia penolong jiwaku, tak perlu aku kelabui dia."
Hong-lay-mo-li acungkan Toh-kut-ting, katanya.
"Toh-kutting milik keluarga Cin kalian sebenarnya tidak beracun, Liancicimu itu yang merendamnya didalam racun?"
"Ya, baru tadi pagi dia membubuhi kadar racun diatas Tohkut-ting itu."
"Kenapa dia berbuat demikian?"
Cin Long-giok mengerling kepada Khing Ciau, mulutnya megap2 tak bisa bicara.
"Lian-cicimu yang suruh kau kemari?"
Cin Long-giok merasakan persoalan rada ganjil, terpaksa dia manggut2.
"Sebelumnya kau sudah tahu Khing Ciau akan kemari? Lian-cicimu suruh kau menyerangnya dengan paku beracun ini?"
"Tidak seluruhnya. Lian-cici tidak jelaskan orang itu adalah Khing Ciau, diapun tidak suruh aku menyerang dengan paku beracun ini.
"Katanya ada seseorang mengundangnya bertemu pada suatu tempat, orang ini amat... amat baik terhadapnya, namun dia merasa ragu2 dan sedidit curiga, kuatir terperangkap olehnya, maka di suruh aku kemari me-lihat2 situasi lebih dulu, Diapun mengatakan mungkin aku ada kenal orang ini..."
Sekilas ia lirik Khing Ciau lalu meneruskan.
"Lian-cici kuatir aku dikota Kilam bertemu dengan musuh, maka dia suruh aku menggunakan senjata gelap yang dilumuri racun, Tadi mendadak kulihat dia, dia, karena tak terkendali amarahku, maka kusambit dia dengan paku berbisa, ai, untung aku tidak menyambitnya sungguh2! Ih, Ciau-ko kau, kenapakah kau?"
Roman muka Khing Ciau, pucat lesi, mendadak ia pukul doda sendiri sekeras2nya, teriaknya.
"Aku patut mampus, aku patut mampus! Aku pandang musuh besar sebagai tuan penolong."
Lekas Hong-lay-mo-li tekan kepelan tangannya, katanya.
"Nah, akhirnya kau sendiri sudah paham."
Sebaliknya Cin Long-giok masih keheranan, tanyanya hambar.
"Ciau-ko, kau paham apa?"
"Giok-moay,"
Seru Khing Ciau dengan suara gemetar "Masa kau belum paham? Iian-cicimu itulah pembunuh ayahmu."
Mendadak bergetar badan Cin Long-giok, lama ia menjublek, tanyanya dengan menarik napas.
"Apakah yang telah terjadi? Darimana kau bisa tahu?"
"Pengalamanku belakangan ini hampir mirip dengan kau, akupun pernah kepergok Pakkiong Ou, dihajar luka parah olehnya, ditolong juga oleh perempuan siluman itu, diapun angkat saudara dengan aku. Hari ini dia undang aku untuk bertemu disini, terang sedang mengatur tipu pinjam golok membunuh orang."
Maka Khing Ciau bercerita pengalaman dirinya sebagai buronan yang melarikan diri ditengah jalan kepergok oleh Paksin-pian Pakkiong Ou dan kena dilukai berat sampai terkapar diatas tanah, untung pada saat gawat itu, seorang gadis remaja keluar menolongnya, gadis ini hanya bersenjata tali pinggangnya berhasil menggsebah lari Pakkiong Ou yang kenamaan dengan ilmu cambuknya.
Sejak itu selama beberapa bulan mereka kesana kemari berduaan sebagai kakak adik angkat yang lain jenis, sampai pertemuan mereka dengan Hong-lay-mo-li di Thian-ling-si, disana dirinya tertawan pula oleh Hong-lay-mo-li dan akhirnya dibebaskan setelah luka2nya sembuh sama sekali.
Mendengar semua cerita itu, sungguh gegetun dan dendam pula hati Cin Long-giok, namun jeri dan marah pula, katanya kertak gigi.
"Ternyata ada manusia sekeji itu dalam dunia inl! Untung hari ini Liu lihiap hadir disini, kalau tidak mungkin sudah mampus kita masih kena diketahui olehnya."
"Untung pula timpukan pakumu tidak mengenai Khing Ciau, kalau tidak, tiada saksi yang diajak mencocokkan kejadian ini satu sama lain."
Merah muka Cin Long-giok, katanya sambil menyeka air mata.
"Ciauko, aku keliru menyalahkan kau, dapatkah kau maafkan aku?"
Tanpa sadar kedua orang saling genggam tangan pula, kata Khing Ciau.
"Tidak akulah yang salah, aku dulu yang keliru menuduhmu."
"Tidak, kalian salah semua!"
Sela Hong-lay-mo-li.
"Siluman perempuan itulah yang harus disalahkan! Muslihat pinjam golok membunuh orang yang dia rencanakan ini memang amat keji, kalau sampai terjadi, kau bunuh Khing Ciau atau Khing Ciau bunuh kau, sama saja memenuhi keinginan hatinya."
Bagian 02 Setelah menyeka air mata berkata Cin Long-giok.
"Ciau-ko, kalau siluman perempuan itu bisa menyaru aku membunuh para Hwesio dari Thian-ling-si, memangnya dia tidak bisa menyaru aku membunuh ibumu, apakah pernah kau pikirkan hal ini?"
"Benar. Tak usah disangsikan lagi!"
Seru Khing Ciau tersentak sadar.
"Tentulah Giok-bin-yau-hou biang keladinya! Giok-moay, kami punya musuh besar yang sama."
"Soal menuntut balas kelak bisa dicari akal, sekarang mari lekas kita pulang kediaman Khing-ciangkun, mungkin beliau sedang menunggu dengan gelisah."
"Giok-moay,"
Kata Khing Ciau.
"Kau belum pernah melihat pamanku, setelah berhadapan dengan beliau tentu kau amat senang."
"Ciau-ko, sejak berpisah banyak pengalamanmu kalau ada tempo ceritakan kepadaku Liu Lihiap aku sudah kenal, siapa nona ini, kau belum perkenalkan kepadaku."
"Beruntung aku berulang kali mendapat pertolongannya, sehingga lolos dari berbagai mara-bahaya."
Untuk jelasnya Khing Ciau lantas bercerita tentang kesudahan pertempuran Lian Ceng-poh melawan Hong lay-mo-li di Thian-ling-si tempo hari.
"Waktu itu aku masih percaya betul bahwa Lian cici adalah orang baik, maka dihadapan Hong-lay-mo-li aku membelanya mati2an. Akhirnya urusan harus diselesaikan dengan mengadu kepandaian, dengan pedang panjangnya Lian-cici menempur Hong-lay-mo-li sampai puluhan jurus, malah pedangnya hampir saja tergubat dan terpental lepas oleh kebutannya, ternyata ilmu kebutan Liu-cici memang amat hebat, kebutannya terkembang, setiap utas benangnya laksana laksaan batang jarum sekaligus berpencar mengarah tiga puluh enam jalan darah mematikan ditubuh Lian-cici."
Kepandaian kebutan menutuk jalan darah, mendengar atau melihatpun Lian Ceng-poh belum pernah, saking kagetnya, tahu2 dua belas jalan darahnya sudah terluka oleh tusukkan benang kebutan Hong-Iay-mo-li.
Untung latihan Lwekang Lian Ceng-poh bukan olah2 lihaynya, begitu merasa gelagat-jelek, lekas ia menahan napas kerahkan hawa murni menutup Hial-to sendiri, kaki bergerak dengan To-sai-chit-che, badannya melesat bagai anak panah, untung ia masih sempat lolos dari lingkungan sasaran kebutan musuh.
Waktu mencelat bangun lagi Lian Ceng-poh tahu2 sudah keluarkan selendang sutra-warna merahnya menggantikan pedangnya yang terjatuh, sekali sendal selendangnya itu melingkar2 berlapis2 tak terhitung banyaknya.
Terdengar Lian Ceng-poh menghardik sengit.
"Bukan kau yang mati biar aku yang gugur!"
Gerak geriknya segesit kera selincah kupu dan sepesat anak panah, se-konyong2 lapisan bundaran selendang merahnya menungkrup turun kearah kepala musuh.Khing Ciau cukup kenal akan jurus Pat honghong-hi-hwe-tiong-ciu.
Tempo hari dengan jurus ini pula Khing Ciau terluka parah oleh Pak-sin-pian Pakkiong Ou yang menghajarnya habis2an.
Demikian juga Lian Ceng-poh gunakan jurus ini untuk mengalahkan Pak-kiong Ou, Kini disaat jiwa terancam bahaya kembali ia lancarkan jurus hebat yang ganas ini.
Tak nyana tiba2 terdengar desiran suara riuh yang sambung me nyambung, kiranya Hong-lay-mo-li kerahkan tenaga saktinya, dia bikin benang kebutannya sekeras jarum baja sehingga selendang merah Lian Ceng-poh tertusuk berlobang2 tak terhitung banyaknya, Berbareng lengan bajunya dikebutkan dengan telak mengincar batok kepala Lian Cengpoh.
Disaat Lian Ceng-poh terancam jiwanya ini, mendadak mulutnya bersuit panjang, Serempak dua orang dayang Lian Ceng-poh melompat maju, yang kanan mengayun tangan menimpukan segulung kabut merah, sementara yang dikiri menimpukan sebuah senjata rahasia yang aneh bentuknya, bentuknya bulat seperti buah kemiri warna hitam kelam, namun panjangnya ada satu kaki, begitu terbang tiba didepan Hong-Iay-mo-li tiba2
"Dar"
Benda itu meledak dengan keras, sembilan batang sunduk perak sepanjang tiga dim berkilauan berpencar kearah Hong-lay-mo-li.
Kabut berbisa yang disemburkan dan sebuah bumbung itu dinamakan Tho-hoa-ciang, merupakan kabut beracun yang diramu dengan beberapa jenis racun lainnya dari daerah Biauciang, sedikit saja menyedot kabut ini, isi perut orang pasti akan keracunan dan semaput sementara senjata rahasia bundar panjang yang aneh itu bernama Kiu-ci-bok-im-so, sekali timpuk sembilan batang, begitu meluncur tiba didepan musuh, barulah Ci-so meledak keluar dari Bok-so (sang anak keluar dari kandungan ibunya), sehingga musuh kena dilukai disaat orang tidak men-duga2.
Betapa jahat dan hebat serangan menggelap ini, apalagi kebutan Hong-lay-mo-li kena terlibat oleh selendang sutra Lian Ceng-poh lagi, disaat jiwa menghadapi elmaut inilah, sekaligus Hong-lay-mo-li demonstrasikan kepandaian Lwekang dan Ginkang yang dahsyat dan hebat sekaligus, cepat sekali ia sudah tutup semua Hiat-to dan menahan napas.
Terdengar "Creng, creng creng!", jari tangan kirinya menjentik tiga kali, tiga sunduk perak yang mengarah bagian atas di-selentik jatuh, cepat sekali jarinya terkembang beruntun ia menyamber pula tiga buah yang menerjang dari tengah sudah diraihnya, berbareng kaki menggeser dengan Ih-sing-hoan-wi, tiga batang yang menyerang bagian bawah melesat lewat dari bawah kakinya.
Seiring dengan lompatan ini Hong-lay-mo-li sekaligus menukik turun seperti elang kelaparan menyamber kelinci, ujung kebutannya menusuk turun mengarah tengah2 alis Lian Ceng-poh.
Ujung kebutan masih terpaut beberapa kaki diatas kepalanya, namun Lian Ceng-poh sudah tertindih roboh oleh kekuatan tenaga dalam lawan dipinggir badan Khing Ciau, jelas jiwa Lian Ceng-poh bakal ajal dengan batok kepala berlobang tertusuk kebutan musuh.
Se-konyong2 Khing Ciau menjerit keras terus menubruk maju menindih diatas badan Lian Ceng-poh.
Sudah tentu kenekadan Khing Ciau jauh diluar dugaan Hong-lay-mo-li, untunglah kepandaiannya sudah diyakinkan sedemikian sempurna sehingga gerak geriknya dapat dikontrol menurut kemauan hatinya, sedikit merandek berbareng tangan kiri jinjing badan Khing Ciau terus didorong kesamping.
Tapi sekilas itu lekas sekali Lian Ceng-poh sudah gunakan Yan-ceng-cap-pwe-hoan (burung walet jumpalitan delapan belas kali) beruntung ia bergelundungan beberapa tombak jauhnya, disaat badannya melejit bangun berbareng ia ayun tangannya.
"Blum!"
Segulung sinar api mendadak meledak dengan dahsyat, seketika asap tebal berkembang keempat penjuru, ditengah2 keremangan asap tebal itu beterbangan jarum2 lembut sebesar rambut kerbau bewarna kuning emas diselingi suara mendesis ramai seketika Khing Ciau merasa segulung bau busuk dan amis yang memualkan merangsang hidung, seketika mata berkunang dan kepala berat, kesadarannya mulai kabur.
Kiranya senjata rahasia yang digunakan Lian Ceng-poh kali ini adalah senjata rahasia terampuh dan jahat serta keji dari golongan Sia-pay, dinamakan Tok-u-kim-ciam-liat-yan-tan (granat kabut beracun dan jarum emas), jauh lebih lihay dari Tho-hoa-ciang tadi.
Hong-lay-mo-li tidak menyangka orang masih menyimpan senjata rahasia terlihay untuk babak terakhir ini, keruan bukan kepalang kagetnya, sekali raih ia bawa badan Khing Ciau, dengan Sip-hiong-kiau-hon-hun.
Ginkang tingkat tinggi ia jumpalitan tiga tombak kebelakang, Kejadian berlangsung teramat cepat, terasa oleh Khing Ciau bawah ketiaknya terasa sakit seperti ditusuk jarum, seketika ia menjerit, kembali ia menghirup asap beracun dua kali, seketika badan lemas lunglai jatuh semaput.
Disaat itu pula Lian Ceng-poh sudah kabur tak kelihatan bayangannya pula.
Entah berselang berapa lamanya, waktu Khing Ciau siuman dari pingsannya, terasa hidung mengendus bau harum, ternyata dirinya rebah diatas ranjang.
Bergegas Khing Ciau merangkak bangun, dengan kepala masih terasa berat ia celingukan kian kemari, didapati dirinya berada disebuah kamar buku, terbukti sekelilingnya penuh dengan rak2 yang berjajar dengan koleksi buku2, diatas dinding penuh ditempeli gambar2 lukisan dari pelukis2 kuno yang kenamaan.
Serta merta Khing Ciau meraba2 badan sendiri, mendadak jantungnya serasa hampir melonjak keluar, ternyata buku warisan peninggalan ayahnya yang disimpan dibalik bajunya sudah terbang tanpa sayap.
Disaat ia bingung dan gelisah, didengarnya langkah kaki mendatangi, daun pintu terbuka dilihatnya seorang budak perempuan melangkah masuk, sekilas ia pandang dirinya, katanya tertawa.
"Kau sudah siuman? Bagus, dari air mukamu, racun yang mengeram dalam badanmu agaknya sudah terkuras habis. Hayolah ikut aku, Siocia kami hendak bicara dengan kau!"
Khing Ciau sudah pasrah nasib, tanpa ragu2 ia ikuti budak itu keluar.
Setelah melewati sebuah serambi panjang mereka memasuki sebuah ruang pendopo, dilihatnya Hong-lay-mo-li sudah duduk bercokol disana, tak jauh dihada-pannya bergerombol kawanan brandal anak buah Lian Ceng-poh yang ditawannya, seolah2 dirinya sedang memasuki ruang sidang pengadilan layaknya.
Budak itu lapor.
"Bocah she Khing sudah dibawa kemari, silakan Siocia memutuskan!"
"Baik, suruh dia duduk disamping, setelah urusan orang banyak selesai nanti kutanya dia."
Sahut Hong-lay-mo-li sambil mengulap tangan. Khing Ciau mendengus hidung, dengan angker dia duduk dikursi yang ditunjuk.
"Bagaimana, kalian sudah pikir matang belum?"
Tanya Hong-lay-mo-li lebih lanjut kepada kawanan brandal dihadapannya.
"Kalian suka ikut Giok-bin-yau-hou atau rela ikut aku?"
Kawanan brandal itu menjawab bersama.
"Kita dulu dikelabui dan diancam ooleh siluman rase itu, terpaksa harus tunduk dan bekerja untuk kepentingannya. Siocia sudah berhasil menggebahnya lari mencawat ekor, sungguh kami amat berterima kasih, dengan senang hati terima menghamba diri, silakan Li-hiap memberi petunjuk."
"Apa benar kalian tunduk lahir batin? Aku mengiris hidungmu, memotong kupingmu, apa kalianpun tak merasa dendam dan sakit hati?"
Ia tuding dua orang laki2 bertubuh tegap dibarisan paling depan. Gemetar kedua brandal ini, sahutnya dengan takut2.
"Hamba hanya mohon pengampunan mana berani dendam kepada Lihiap?"
Hong-lay-mo-li tertawa dingin.
"Kalian sudah tahu takut ya? Biasanya kalian berlaku kejam dan telengas, pernahkah terpikir oleh kalian orang lainpun hanya punya selembar jiwa?" -ternyata kedua orang ini adalah gembong iblis yang doyan main bunuh dikalangan brandal. Pucat pias muka kedua brandal ini, ter-sipu2 mereka jatuhkan diri berlutut, serunya gemetar.
"Harap Lihiap memberi ampun, hamba rela menjadi budak Lihiap."
Hong-lay-mo-li mendengus, katanya.
"Kemana wibawa kalian biasanya ? Hm, orang seperti kalian menjadi budakkupun tidak setimpal."
"Aku tahu kalian adalah anak buah Giok-bin-yau-hou yang paling di andalkan, suatu ketika kalian berebut daerah operasi dengan Li-ma-cu di Jiangciu, Li-ma-cu adalah anak buah pimpinan laskar rakyat di Jiangciu, kalian kalah kuat dan tidak ungkulan melawannya, lalu diam2 memberi kabar pihak pasukan Kim, meminjam kekuatan tentara Kim menggempur dan menduduki pangkalan mereka, dengan mudah kalian lalu memungut keuntungan ini, benar tidak kejadian itu?"
Kejadian itu amat rahasia, kedua brandal ini sungguh tidak nyana Hong-lay-mo-li mengetahui kejahatan mereka masa lalu demikian jelas, saking ketakutan mulut terkencing tak berani bersuara, cuma kepala manggut2.
Bentak Hong-lay-mo-li.
"Apakah Giok-bin-you-hou yang perintahkan kalian melakukan kejahatan ini?"
Khing Ciau berkeringat dingin, jantungnya berdebur keras hampir saja melonjak keluar dari rongga dadanya, Dengan penuh perhatian ia pasang kuping, Lian Ceng-poh adalah teman atau musuh bangsa, tergantung dari jawaban kedua brandal ini.
Hong-lay-mo-li ulangi pertanyaannya, namun tidak mendapat jawaban, semula kedua brandal ini berlutut sambil manggut2, kini keduanya diam saja tanpa bergerak San San dan Tai Mo segera maju memeriksa, teriaknya berbareng.
"Kedua bangsat ini sudah mampus!"
Mendengar Hong-lay-mo-li memaki mereka menjadi budakpun tak setimpal, saking takut seketika jantung nya pecah.
Bahwasanya pertanyaan Hong-lay-mo-li selanjutnya sudah tidak mereka dengar, karena jiwa sudah melayang.
"Hanya pembunuh kejam saja yang berjiwa kerdil dan paling penakut. Seret mereka keluar dan lempar kelembah gunung biar dimakan serigala! jangan bikin kotor daerahku!"
Kawanan brandal yang lain seketika pucat dan gemetar, Lekas Hong-lay-mo-li menambahkan "Kalian tidak perlu takut, salah benar aku bisa bertindak secara wajar dan jelas, dinilai dari sepak terjang kalian biasanya, meski lebih banyak melakukan kejahatan dari kebaikan, namun belum setimpal dihukum mati, aku boleh ampuni jiwa kalian, asal kalian mau mendengar petunjukku."
Serempak kawanan brandal itu menjawab bersama.
"Silakan Lihiap memberi petunjuk!"
"Biar kuajukan tiga syarat kepada kalian pertama, dilarang membuat kejahatan di daerah setempat, membunuh tanpa dosa. Kedua. dilarang memperkosa berbuat cabul, merampok dan merugikan kepentingan rakyat, diidzinkan merampas milik yang punya untuk menolong yang miskin, bunuh pejabat lalim dan kuras gudang hartanya, Ketiga kita harus kibarkan bendera menentang kerajaan Kim bersama, siapa saja yang menerima panah perintahku, diharuskan bekerja menurut petunjuk dan tidak boleh lalai, kalian suka terima syarat2ku?"
Sepatah demi sepatah kata2 Hong-lay-mo-li dijawab dengan tegas dan lantang, Hong-lay-mo-li tertawa dingin, jengeknya.
"Sekarang kalian tunduk dan setuju akan syaratku, jangan menyesal dikelak kemudian, sekarang kulepas kalian pulang, bukan saja tidak akan mengangkangi pangkalan kalian, kalianpun tidak perlu kirim upeti kepadaku, jikalau kuketahui siapa2 diantara kalian yang melanggar janji, aku tidak kenal am-pun, kedua orang ini menjadi contoh bagi kalian."
Kawanan brandal menyahut bersama.
"Tidak berani, tidak berani. Se-kali2 kita takkan berani melanggar sumpah setia hari ini."
Semula mereka sangka setelah terjatuh ditangan iblis perempuan (Mo-li) ini, tiada harapan pulang dengan selamat, tak nyana Hong-lay-mo-li tidak bunuh mereka, malah meringankan beban tak usah memberi upeti pula, maka mereka pulang dengan hati riang gembira dan syukur.
"Sekarang giliranku tanya kepada kau?"
Ujar Hong-lay-mo-li kepada Khing Ciau.
"Aku tidak perduli si dia itu apamu, kekasih, musuh, tuan penolong atau sanak kandangmu, pendek kata, kau sudah tahu asal usulnya, kau harus jelaskan ke-padaku!"
"Kau pandang aku sebagai tawanan, hendak kompes keteranganku? Bunuh aku saja!"
Sahut Khing Ciau lantang. Dengan gagah ia berdiri dihadapan Hong-lay-mo-li sambil tutup mulut rapat2. Hong-lay-mo-li rada melengak, katanya halus.
"Ketahuilah, semua anak buahnya yang tahu seluk beluknya tiada seorangpun yang selamat, meski dayang priba-dinyapun dia bunuh, kau sendiripun merasakan jarum dan asap berbisa itu, untung jiwamu kutolong, namun kau masih membelanya mati2an?"
Khing Ciau tetap membungkam. Hong-lay-mo-li menghela napas.
"Sayang, sayang, sayang jerih payah ayahmu dihari tuanya!"
Baru sekarang Khing Ciau berteriak.
"O, jadi buku peninggalan ayahku, kaulah yang mengambilnya? Lekas kembalikan kepadaku!"
"Begitu besar tekadmu membela siluman rase itu, mana aku bisa lega hati mengembalikan buku itu kepadanya ? Bagaimana mau jelaskan tidak?"
"Nona Lian jelas adalah pendekar besar bangsa Han kita, kau selalu memfitnahnya, Ketahuilah, diapun buronan kerajaan Kim yang pernah bentrok langsung dengan mereka."
"O, cara bagaimana dia bentrok dengan jago2 kerajaan Kim?"
"Bulan yang lalu dia bunuh dua Busu negeri Kim di Tiongtoh, tak lama kemudian membunuh dua orang dari pasukan Kim-wi-kun di Bit-hun."
"Gok-bin-yau-hou sendiri yang beritahu kepadamu tentang kejadian itu?"
"Benar, memangnya bukan kenyataan?"
"Tai Mo, coba kau saja yang jelaskan tentang kejadian itu."
Kata Hong-lay-mo-li kepada anak buahnya.
"Bulan yang lalu aku mendapat tugas dari Siocia, untuk menyirapi jejak duta besar Mongol, pihak negeri Kim mengutus dua anggota Kimwi-kun untuk menyambut ditengah jalan, kebetulan di Bi-hun aku berhasil menguntit mereka."
Demikian tutur Tai Mo.
"Malam itu secara diam2 aku menyelundup kedalam tempat penginapan Duta besar itu, kucuri dengar pembicaraan mereka, aku sembunyi diatas belandar, belum sepeminuman teh, dipinggir telingaku seperti kudengar orang berbisik.
"Nona cilik waspadalah, ada tikus hendak menggigit kau!"
Keruan aku kaget, sekelilingku tiada orang, pada saat itulah, Duta besar Mongol itu mendadak membentak.
"Turun!"
"Hebat sekali Bik-khong-ciang duta besar ini, untung aku sudah menyingkir dua kaki, balok blandar tempat sembunyiku tadi seketika terpukul putus seperti terbacok golok, Untung sebelum jejakku konangan, tiba2 terdengar seseorang bergelak tawa.
"Aku berada disini, apa kalian sudah picak semua?"
Entah kapan mendadak dalam ruang itu tambah seseorang.
"Orang ini berdandan seperti pelajar umumnya, kedua matanya mengawasi langit, berdiri tegak bertolak pinggang ditengah ruangan, mulutnya berkakakan menghadapi Duta besar Mongol itu.
"Siapa kau?"
Tanya Duta besar Mongol dengan keras. pelajar itu menjawab.
"Akulah duta penyabut nyawamu!"
Kontan Duta besar Mongol lontarkan tepukan tapak tangannya, kedua orang berjarak tiga kaki, dengan telak secara berhadapan pelajar itu menghadapi kekuatan Bik-khong-ciang orang, namun pakaiannyapun tak kelihatan bergerak, sebaliknya Duta besar Mongol itu mendadak seperti ditonjok dadanya, terhuyung mundur malah, mulut terpentang menyemburkan darah segar.
"Kontan kedua anggota Kim-wi-hun menjadi keripuhan, lekas mereka lolos senjata, berbareng lantas membacok kepada si pelajar, Kedua orang ini ternyata berkepandaian cukup hebat, gerak geriknya lincah lagi, seorang yang bergaman golok sekaligus lancarkan sejurus tujuh tipu ilmu goloknya, dalam sekejap ia sudah menyerang tiga belas jurus, menggunakan sembilan puluh satu tipu2 lihay seorang lagi bergaman Boan-koan-pit, serempak ia merangsak maju, sekaligus mengincar delapan Hiat-to besar ditubuh si pelajar."
Hong-lay-mo-li tertawa, ujarnya.
"Agaknya kepandaian mereka termasuk kelas dua dikalangan persilatan."
Tai Mo meneruskan ceritanya.
"Serangan mereka cepat, pelajar itu lebih cepat, tipu2 mereka gonas, pelajar itu lebih telengas, Entah bagaimana tahu2 golok musuh kena direbutnya, berbareng kedua potlot musuh itupun kena dipukulnya jatuh. Dengan goloknya pelajar itu bunuh kedua perwira Bayangkari dan memukul mampus Duta besar Mongol, kejadian berlangsung dalam dua tegukan orang minum teh. Betapa hebat dan menggiriskan pertempuran itu, sukar aku melukiskan dengan kata2."
Berkata Hong lay-mo-li tertawa.
"Selama aku kelana di Kangouw, belum pernah menghadapi lawan tangguh, Mendengar ceritamu ini, aku jadi pingin bertanding dengan pelajar itu, Akhirnya bagaimana?"
"Akhirnya aku ucapkan terima kasih bepadanya, mohon dia suka perkenalkan namanya. Dia malah bergelak tertawa, sekejap saja tahu2 bayangannya sudah lenyap dari pandanganku dari jauh kudengar kumandang senandungnya!"
"Aku sudah tahu!"
Hong-lay-mo-li tiba2 tepuk tangannya.
"pelajar itu tentulah Siau-go-kan-kun pendekar Latah Hoa Kok-ham!"
Lalu ia berpaling kepada Khing Ciau dan menjengek.
"Kau sudah dengar bukan, peristiwa itu adalah buah tangan pendekar Latah Hoa Kok-ham, apa sangkut pautnya dengan Giok-bin-yau-hou?"
"Baik, anggap saja memang dia membual dalam hal ini, tapi sesuatu pernah terjadi atas diriku, waktu aku terkepung oleh kawanan Busu di Siok-ciu, dia bunuh banyak kawanan Busu secara diam2 sehingga aku lolos dari bahaya!"
Lalu ia ceritakan pengalaman dirinya waktu itu.
Entah mengapa kini dalam sanubari Khing Ciau merasakan suatu wibawa dan keangkeran yang tak bisa dilawan dari keagungkan Hong-lay-mo-li, rasa penasaran dan permusuhannyapun semakin nipis.
"Jadi waktu malam itu kau pulang kerumah, ibu dan kacung rumahmu Ong An dan Siau-hong sudah terbunuh, Masakah didalam hal ini tiada seluk beluk yang dapat dicurigai? Kau percaya demikian saja akan obrolan Giok-bin-yau-hou?"
Khing Ciau terkejut, teriaknya.
"Apa katamu? Kau, maksudmu pembunuhnya adalah nona Lian malah? Tapi tutukan yang mengarah Siau-yau-hiat dan Toh-kut-ting itu adalah kepandaian yang dimiliki oleh keluarga Cin saja, bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Kedua ilmu itu memang warisan keluarga Cin, tapi bagi tokoh silat yang lihay, tidak sukar meniru dan bisa menggunakan kedua macam itu? Coba lihat...."
Tiba2 jarinya menuding kearah Khing Ciau dari kejauhan, Kontan Khing Ciau rasakan pinggangnya kesemutan, tanpa sadar ia tertawa keras, lekas Hong-lay-mo-li tambahi sekali tutukan lagi membuka Hiat-tonya tadi.
Keruan tersirap darah Khing Ciau, dalam jarak beberapa kaki Hong-lay-mo-li dapat lancarkan tutu-kannya dengan telak dan kuat, naga2nya malah jauh lebih lihay dari pamannya.
Berkata Hong-lay-mo-li lebih lanjut.
"Kepandaian, Giok-binyau-hou tidak jauh dibawahku, siapa tahu kalau diapun bisa menggunakan kedua ilmu ini? Ter-bukti para Hwesio dari Thian-ling-si bukankah sama mati oleh serangan Toh-kuttingnya?"
"Banjir darah di Thian-ling-si terang bukan per-buatannya, karena dalam tiga hari tiga malam itu, dia selalu berada didampingku, memangnya dia punya ilmu membagi diri?"
Hong-lay-mo-li unjuk rasa heran, sesaat ia menerawang, Katanya kemudian.
"Baik, soal ini sementara tunda dulu, buku peninggalan ayahmu ini biar ku-kembalikan dulu kepada kau."
Khing Ciau menerima buku itu dan hendak disimpan kedalam kantongnya, Tiba2 Hong-lay-mo-li bertanya pula.
"Kau pandang buku peninggalan ayahmu itu lebih penting dari jiwamu sendiri kenapa kau perlihatkan kepada siluman rase itu?"
Khing Ciau melengak, katanya menentang.
"Siapa bilang aku perlihatkan kepadanya?"
"Coba kau periksa, ada apa didalam lembaran bukumu itu?"
Selembar demi selembar Khing Ciau membalik buku itu, tanyanya hambar.
"Ada apanya?"
"Periksa lagi lebih teliti!"
Mendadak Khing Ciau berseru heran, ternyata pada lembaran terakhir ada terselip seutas rambut panjang.
"Coba kau ambil rambut itu, periksalah, apakah itu mirip rambut laki? Rambut itu kriting, berlainan dengan rambutku!"
Khing Ciau lihat rambut ini memang keriting, hatinya bertanya2 dan tak bisa berkeputusan sebagai Iaki2 jujur dan lapang dada tak enak ia mendebat terus, akhirnya ia mandah bungkam saja.
"Sampai sekarang kau masih pandang siluman rase itu sebagai orang baik? Ya, terserah kepadamu, ingin aku tanya, bagaimana rencanamu selanjutnya?"
Khing Ciau angkat kepala, sahutnya lantang.
"Kalau kau lepas aku, sudah tentu aku akan ke Kanglam."
"Baik, pergilah istirahat setelah luka2mu sembuh kusuruh orang mengantarmu turun gunung."
Lalu ia suruh budak tadi mengantar Khing Ciau pulang ke-kamarnya.
Beberapa hari lamanya Khing Ciau harus rebah istirahat diatas ranjang minum obat, dalam beberapa hari ini hanya San San saja yang sering datang menengok dirinya.
Kira2 seminggu kemudian baru Hong-lay-mo-li datang menengok dirinya, tanyanya.
"Bagaimana sudah lebih baik tidak hari ini?"
"Jauh lebih baik, terima kasih, kukira dalam beberapa hari lagi aku sudah bisa berangkat!"
"Ya setelah kadar racun dalam badanmu bersih seluruhnya, boleh kau berangkat Aku sendiri ada urusan penting yang perlu segera kuselesaikan, legakan saja kau istirahat disini, San San, setelah aku pergi segala sesuatunya kupasrahkan kepadamu! Boleh kau antar Khing-siangkong sehingga dia selamat meninggalkan wilayah Hopak."
Khing Ciau jadi rikuh dan kurang enak, katanya.
"Setelah luka2ku sembuh, aku bisa berangkat sendiri tak usah merepotkan nona San San!"
"Kau sekarang sudah jadi buronan kerajaan Kim. seorang diri bagaimana kalau kau kebentur oleh musuh2 setingkat Pakkiong 0u. Bila sudah keluar dari wilayah Hopak barulah keadaanmu rada mending, sebagai sesama kaum persilatan tak usah kau sungkan2."
Setelah memberikan pesan dan petunjuknya Hong-lay-mo-li lantas berangkat seorang diri.
sementara Khing Ciau tinggal lagi lima hari baru kesehatannya mulai pulih, Setelah San San memberi obat segera ia menggoda.
"Khing-siangkong tadi seorang diri kau melamun, apa sih yang sedang kau pikiri?"
"Tiada yang kupikirkan, cuma besok aku harus berangkat!"
Begitulah sepanjang jalan memang Khing Ciau diiringi dan dilindungi oleh San San sampai disini, sudah tentu banyak pula suka duka yang mereka alami ditengah jalan, namun biarlah pengalaman yang berbekas itu kami kesampingkan dulu.
Berlinang air mata Cin Long giok mendengar cerita Khing Ciau yang panjang lebar ini, katanya.
"San-cici, kau betul2 seorang perempuan satria yang gagah perkasa! Em, kau sudah angkat saudara dengan Ciau-ko, berarti menjadi ciciku pula, harap sukalah terima hormat Siaumoay!"
San San lekas memapahnya bangun serta balas memberi hormat, katanya.
"Cin-cici, kau mengalami banyak derita yang begitu mengenaskan, aku sendiri tidak tahu, tadi malah menyalahkan kau!"
Tangan mereka saling genggam dengan kencang.
Tatkala itu hari sudah menjelang magrib, sang surya sudah doyong kearah barat, sementara perahu yang mereka naiki sudah hampir tiba disebrang sana, Hong-Iay-mo-li berdiri dihaluan kapal, matanya memandang jauh kesana, tiba2 ia berteriak.
"Lekas kalian lihat, disana seperti terbit kebakaran!"
Tampak dibalik Jian-hud-san sebelah sana, asap tebal mengepul tinggi, Cahaya merah mengangah menjulang tinggi keangkasa. Khing Ciau kaget, serunya.
"Tempat kebakaran agaknya tepat ditangsi besar kita!"
Begitu mendarat, mereka berempat segera ber-lari2 kencang kearah nyala api, mereka kembangkan ginkang ditengah jalan raya tanpa hiraukan perhatian dan bikin heran orang2 dijalan raya.
Cepat sekali Khing Ciau berempat sudah tiba ditempat kebakaran, ternyata markas tentara sebesar itu kini sudah terjilat habis oleh api, kobaran api sudah tertekan dan hampir padam oleh kerja berat para tentara.
Seorang perwira kebetulan berlari datang dan berteriak "Kebetulan, Khing-siangkong sudah kembali."
Khing Ciau kenal orang ini adalah pengawal pribadi pamannya, lekas ia memapak maju dan menyapa.
"Apa yang terjadi, mana pamanku? Kenapa Sin-ciang-kun tidak kelihatan?"
Pengawal itu tiba2 bercucuran air mata, katanya dengan sedih.
"Goanswe terbunuh orang!"
Seperti mendengar geledek disiang hari bolong, seketika Khing Ciau tertegun menjublek ditempatnya. Hong-lay-mo-li lekas menimbrung.
"Atur dulu napasmu apakah yang terjadi? Goanswe dibunuh oleh siapa?"
"Thio-tohwi memberontak!"
Menyala biji mata Khing Ciau, teriaknya.
"Maksudmu Thio Ting-kok?"
"Benar, dia pura2 ada urusan menghadap Goan-swe lalu membunuhnya, markas besar dibakarnya pula, sekarang dia pimpin pasukannya yang ikut berontak keluar kota."
Hong-lay-mo-li membanting kaki, katanya.
"Kami kena dipancing harimau meninggalkan sarangnya oleh siluman rase itu."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Khing Ciau sudah paham duduknya perkara, terang sebelumnya Lian Ceng-poh sudah berintrik dengan Thio Ting-kok, disaat Khing Ciau memenuhi undangan pertemuan dengan Lian Ceng-poh, baru dia berani turun tangan.
"Mana Sin-ciang-kim?"
Tanya Khing Ciau.
"Sin-ciangkun pergi mengejar para pemberontak itu."
"Lewat jalan mana?"
"Kearah barat!"
Tanpa banyak membuang waktu Khing Ciau segera minta empat kuda, katanya.
"Bekuk dulu pemberontak itu, baru berurusan dengan siluman rase itu!"
Segera ia mendahului cemplak keatas kuda terus di-bedal kearah pintu berat.
Hari semakin gelap, kuda mereka mencongklang dengan pesat, akhirnya mereka tiba dibawah bukit gu-nung, tampak obor berlarik panjang mengelilingi bu-kit, sepasukan besar tentara bersenjata lengkap seperti merubungi sebuah arena pertempuran kiranya Sin Gi-cik berhasil menyandak Thio Tingkok, dua pasukan teraling sebuah selat dan berhadapan terang suatu pertempuran besar acak2an bakal berlangsung.
Khing Ciau cukup dikenal oleh anak buah pamannya, segera mereka membuka jalan, sehingga Khing Ciau terus membedal kedepan, dilihatnya Sin Gi-cik sedang mengayun pecut dipunggung kudanya, menuding laskar pemberontak yang dipimpin Thio Tmg-kok.
"Thio Tiang-kok pengkhianat keluar kau!"
Laskar pemberontak menduduki atas bukit, bergerombol tak terhitung banyaknya, jumlahnya lebih besar dari anak buah Sin Gi-cik.
Se-konyong2 terdengar bunyi terompet ditiup, dari tengah laskar pemberontak berkibar sebuah panji besar yang melambai megah bertuliskan satu huruf "Thio"
Yang besar menyolok, disusul Thio Ting-kok muncul dari barisannya menunggang seekor kuda tinggi kekar. Diatas kudanya ia balas tuding Sin Gi-cik dan membentak.
"sekian tahun kita sama2 berdampingan, kenapa kita saling cakar sendiri? Lebih baik bergabung saja demi urusan besar tercapai!"
Sin Gi-cik memakinya.
"Sekian tahun kau membantu Goanswe, betapa kebaikan yang pernah kau dapatkan dari beliau, kenapa kau membunuhnya malah? Kini masih tebal muka kau bicara persaudaraan segala?"
Semakin bicara emosinya menghayati sanubari-nya, suaranya semakin lantang dan perkasa.
"Saudara disana dengarkan, Thio Ting-kok membunuh atasannya untuk memberontak menyerah kepada musuh, kalian adalah patriot2 bangsa yang setia kepada nusa, kenapa ikut mengekor memberontak, mungkin kalian kena dikelabui oleh dia, kini masih ada kesempatan menyesali diri dan berpaling muka. Lekaslah kembali, kita masih kawan seperjuangan."
Khing Ciau segera menambahkan.
"Dosa2 besar Thio Tingkok dia sendiri yang harus terima ganjarannya, bila siapa berhasil memenggal kepala Thio Ting-kok akan diberi hadiah besar, disamping pangkat kedudukan yang setingkat dengan Thio Ting-kok!"
Thio Ting-kok adalah panglima perang yang gagah berani, anak buahnya mana berani membunuhnya?
Tapi kata2 Sin Gicik tadi sudah merusak dan mengetuk sanubari mereka, ada sebarisan laskar pemberontak ber-ramai2 membuang senjata mengeprak kuda lari kebawah.
Thio Ting-kok ulapkan sebelah tangannya, bentak-nya.
"Bunuh tunggangan mereka!"
Seketika hujan anak panah memberondong kebawah, semua kuda tunggangan orang2 yang lari turun terpanah mati sehingga penunggangnya jungkir balik sungsang sumbel saling tindih.
Thio Ting-kok ter-bahak2.
Se-konyong2 didengar-nya sebuah hardikan keras dari sampingnya.
"Pengkhianat, mampuslah kau!"
Tahu2 golok panjang terayun membacok kebatok kepala Thio Ting-kok.
Dari kejauhan Sin Gi-cik melihat jelas penyerang ini adalah Cin Hou, sahabat baiknya, perbuatan Cin Hoa amat mendadak dan tak terduga, disaat batok kepala Thio Ting-kok hampir terpenggal itulah, tiba2 terdengar suara "Trang", seorang perwira dipinggir Thio Ting-kok tahu2 sudah berhasil merebut golok panjang itu terus dibuang kedalam jurang.
Kejadian berlangsung teramat cepat, belum lagi Cin Hou angkat tangan menghantam musuh, tahu2 dirinya sudah tercengkram tak berkutik dan terangkat tinggi, setelah diputar kencang seperti kitiran, badannya terus dilempar kearah batu cadas disebrang sana.
Terdengarlah lolong panjang yang mengerikan, Cin Hou hancur lebur menjadi bergedel Kaget dan gusar bukan main Sin Gi-cik dibuatnya, ia tahu sampai dimana tingkat kepandaian Cin Hou, Diluar tahunya bahwa Thio Ting-kok menyembunyikan pembantu gelapnya yang lebih lihay lagi.
Thio Ting-kok ter-loroh2, serunya sambil menuding dengan cambuk.
"Kau kira mata2mu dengan mudah bisa membokong aku? siapa berani petingkah lagi Cin Hou sebagai contohnya."
Melihat sahabatnya gugur begitu mengenaskan sungguh tak terkendali amarah Sin Gi-cik, serunya lantang.
"Pengkhianat, turunlah hadapi aku!"
Thio Ting-kok mandah tertawa besar, ujarnya.
"Kau bukan tandinganku, menyerah saja bergabung dengan akui"
Gusar Sin Gi-cik bukan kepalang, lekas ia keprak kudanya pimpin pasukannya menyerang maju, beberapa anak buah Thio Ting-kok yang terdepan dengan mudah ia bikin roboh sungsang sumbel, Thio Ting-kok ter-loroh2, lekas ia memberi aba2, barisan panahnya segera menarik busur membidik beramai2, ribuan anak panah serempak meluncur kebawah.
Sin Gi-cik putar kencang tombak panjangnya, sehingga tiada anak panah yang mengenai dirinya, celaka adalah anak buahnya yang ikut menerjang datang,, tidak sedikit yang roboh terluka atau binasa.
Sekonyong2 terdengar Thio Ting-kok menghardik "Yu-an, jangan kau menyesali tangan terayun ia timpukkan sebatang piau, tenaga lengannya besar, bobot piau inipun cukup berat, maka luncurannya mengeluarkan suara mendesis nyaring Untunglah sebelum Sin Gi-cik tercabut nyawanya oleh piau ini tiba2 sinar kilat berkelebat "Tang", ternyata Khing Ciau menyusul tiba tepat pada waktunya, dengan sekali sampuk dengan pedang ia bikin piau itu jatuh, serunya kepada Sin Gicik.
"Yu-an, tidak perlu main kekerasan dengan para pengkhianat itu, Liu lihiap tentu punya caranya sendiri menghadapinya!"
Tepat pada saat itulah tiba2 pasukan Thio Ting-kok dilamping gunung sama2 berseru gempar, Waktu Sin dan Khing berdua mendongak,, dilihatnya segumpal bayangan hitam laksana meteor terbang tengah meluncur turun dari puncak gunung disebrang sana yang curam dan tinggi, seperti seekor burung raksasa, mendadak kembangkan sayap menukik turun menubruk mangsanya.
Ternyata dengan mengandal Ginkangnya yang tinggi Honglay-mo-li berputar kepuncak gunung sebelah sana, tiba diatas puncak dimana kedudukan Thio Ting-kok sekarang berada, langsung ia terjun dari lamping gunung yang curam itu, sudah tentu dari sini bahayanya jauh lebih besar dari pada dia menyebrang selat langsung berhadapan dengan musuh.
Kebetulan Thio Tiang-kok dan beberapa orang anak buahnya sedang berada dibawah lamping gunung yang tingginya tidak kurang dua tiga puluh tombak, dari atas kebawah lempang dan curam seperti dinding yang ditatah tegak rata, tiada tempat berpijak untuk pinjam tenaga, jangan kata dibawah jurang sana batu2 gunung bercuat runcing.
Disebelah sinipun ada musuh yang bakal merintangi dan menyerangnya, seumpama ditempat datar yang berumput tebal, bila terjatuh dari tempat ketinggian seperti itu, badan pasti hancur lebur.
Mimpipun Thio Ting-kok tidak menduga, Hong-lay-mo-li punya nyali dan keberanian yang begitu besar.
Satu Brigade barisan pemanah Thio Ting-kok sudah pengalaman dimedan perang, meski kaget tidak jadi gugup dan ribut, ditengah seruan kaget riuh rendah, tiga ratusan pemanah segera bidikan anak panahnya.
Hebat memang kepandaian Hong-lay-mo-li, ditengah udara ia perlihatkan kehebatan Ginkang dan Lwekangnya, lekas tumit kaki kiri menjejak punggung tapak kaki kanan, badannya mendadak meluncur minggir beberapa tombak, sehingga ia terhindar dari bidikan hujan panah.
Betapapun tiga ratus batang panah tidak bisa dia hindarkan seluruhnya, kira2 dua tiga puluh batang diantaranya yang dibidikan belakangan tetap mengarah dirinya, namun semuanya kena disampuk jatuh oleh kebutannya.
Belum lagi para pemanah sempat membidikan panahnya pula, cepat sekali, Hong-lay-mo-li sudah jumpalitan ditengah udara dengan kepala dibawah kaki diatas menukik turun, cepat sekali ia sudah meraih ujung galah bendera Thio Tingkok, sekaligus ia punahkan tekanan luncuran badannya yang keras sehingga badannya tidak terbanting keras kebawah.
Belum lagi orang banyak sempat berbuat apa2, sigap sekali Hong-lay-mo-li sudah cabut pedang.
""Krak"
Galah bendera tu sudah terbabat putus ditengah2, berbareng dengan enteng ia hinggap ditanah, segera ia ayun dan mainkan panji besar itu dengan sengit.
Dilandasi oleh Lwe-kangnya yang tinggi, bendera yang besar ini laksana sebuah tameng besar, bidikan panah yang membron-dong tiba dengan gampang dia kebut rontok oleh kobaran panji besar ditangannya, celaka adalah anak panah itu banyak yang terpental balik sehingga tidak sedikit pengawal pribadi Thio Ting-kok yang terluka oleh panah sendiri.
Bagai angin puyuh cepat sekali Hong-lay-mo-li sudah menubruk kearah Thio Ting-kok, dimana ia kebas pula dengan gulungan panji besar itu, beberapa orang pengawalnya dia bikin roboh, se-konyong2 seutas cambuk panjang menyapu datang, Hong-lay-mo-li lempar panji besar itu ketengah udara, berbareng iapun melompat keatas, cambuk panjang menyamber lewat dibawah kakinya, cepat sekali ia sudah berada disamping perwira ini, jengeknya.
"Kiranya kau!"
Perwira inilah yang tadi membanting mati Cin Hou, kini diapun sudah mengenali Hong-lay-mo-li, keruan kagetnya bukan kepalang, namun meski tahu diri bukan tandingan, betapapun ia harus berusaha mencari jalan hidup, dalam waktu dekat cambuknya tak mungkin digulung balik, sebat sekali ia gunakan To-sing-thi-to, kedua kakinya menendang bergantian, sementara tapak tangan kiri menabas tegak laksana golok dengan jurus Hian-niau-hoat-sa, serangan serempak dari kedua tendangan dan tapak tangan ini, sekaligus memperlihatkan betapa tinggi Lwekang dan kepandaiannya.
Betapapun tinggi kepandaiannya, kebentur ditangan Honglay-mo-li yang jauh lebih unggul kepandaiannya, cukup ia berkelit dan berkelebat, kedua tendangan kaki mengenai tempat kosong.
"Mau lari kemana?"
Sekali cengkram entah bagaimana tahu2 pergelangan tangan kiri sudah tercengkram oleh Hong-lay-mo-li, jadi jurus Hian-niau-hoat-sanya ini baru dilancarkan setengah jalan.
Tepat pada saat itu, golok cepat Thio Ting-kok kebetulan membacok datang, sungguh tak nyana hanya dalam segebrakan saja perwira andalannya ini sudah jatuh tertawan oleh Hong-lay-mo-li, bacokkan-nya ini amat berat dan kencang, untuk ditarik balik tidak mungkin lagi, jelas goloknya bakal memenggal badan kawan sendiri Dengan susah payah Hong-lay-mo-li baru berhasil membekuk seorang tawanan hidup2, sudah tentu ia tidak membiarkan si perwira ini terbacok mampus, di-saat2 yang genting itulah, mendadak ia sendal siperwira, berbareng kebutannya terkembang.
"Tang"
Golok panjang Thio Ting-kok tergulung lepas dari cekalannya, cepat sekali ia putar kebutannya, dengan gagang kebutannya sekaligus ia tutuk Hiat-to pelemas dibadan Thio Ting-kok.
Beberapa jurus ini berlangsung teramat cepat begitu berhasil meringkus Thio Ting-kok, belum lagi badan si perwira itu melayang turun, lekas Hong-lay-mo-li melangkah maju dua langkah, kebetulan meraih badan si perwira yang melayang jatuh, puluhan Busu anak buah Thio Tiang-kok sama ketakutan dan tak berani berbuat apa2.
Barisan pemanah sudah siap pula membidikan anak panahnya, lekas Hong-lay-mo-ling jinjing tinggi badan Thio Ting-kok serta menggertak.
"Suruhlah mereka membidikan panahnya kemari!"
Keruan kejut dan takut Thio Ting-kok se-akan2 arwahnya copot, lekas ia berteriak.
"Lekas turunkan busur, mundur sepuluh langkah!"
Satu tangan mencengkram satu orang, lekas Hong-lay-moli tutulkan ujung kakinya diatas batu runcing yang menonjol keluar terus melambung tinggi keatas sebuah batu panggung setinggi tiga tombak, berat si perwira dengan Thio Ting-kok paling ringan ada dua ratusan kati, namun dengan menjinjing kedua orang ini, Hong-lay-mo-li masih kuasa kembangkan Ginkang-nya yang hebat luar biasa, sudah tentu pertunjukan Teng-hun-jong ini mempesonakan seluruh anak buah Thio Ting-kok.
Terlebih dulu Hong-lay-mo-li turunkan Thio Ting-kok, lekas ia berteriak.
"LiuLihiap, aku ada omongan."
Hong-lay-mo-li tertawa dingin, jengeknya.
"Nanti sebentar tentu akan kusuruh kau bicara, sekarang belum tiba giliranmu."
Thio Ting-kok rebah terlentang diatas panggung, kaki kanan Hong-lay-mo-li menindih diatas dadanya, sehingga orang tidak bisa berkutik, Dengan tangan kanan Hong-lay-moli lantas geledah saku si perwira dan mengeluarkan sebentuk medali kuning yang berkilauan, keduanya ia angkat tinggi serta berseru lantang.
"Kalian lihat biar tegas, apakah ini, inilah medali emas tanda pengenal yang tertinggi dari negeri Kim, yang membekal medali emas ini orang boleh keluar masuk dengan bebas diistana kerajaan Kim! siapakah dia? Dialah pengawal pribadi raja negeri Kim yang bernama Pakkong Ou!"
Lwekangnya kuat, suaranya kumandang keseluruh permukaan pe gunungan, seluruh tentara yang hadir di kedua puncak pegunungan dapat mendengar dengan jelas.
Reaksi dari para tentara itu sungguh luar biasa, se-akan2 mereka ber-golak dengan dahsyat, ada yang mengumpat caci, ada yang berdebat, ada pula yang masih terkejut dan ragu2.
Tapi sebagian besar perwira2 tinggi, semua tahu bahwa setiap anggota pasukan bayangkari negeri Kim semua memiliki medali emas seperti itu, palagi Pakkiong Ou ini adalah salah satu dari Su-pak-thian yang amat terkenal itu, walaupun sebelum ini mereka belum pernah menyaksikan namanya sih sudah lama mereka dengar.
Karena Pakkiong Ou terangkat tinggi, maka seluruh tentara bisa melihat dengan jelas, maka berseru Hong-lay-mo-li dengan lantang.
"Siapa diantara kalian yang sebelum ini sudah mengenalnya? Apakah dia ini pimpinan kalian?"
Memang semua tentara itu tiada yang kenal Pakkiong Ou, keruan mereka menduga2 dan sama curiga bahwa dia orang memang mata2 musuh yang menyelundup kedalam pasukan besar mereka, mau tidak mau mereka mulai goyah dan sedikit percaya.
Hong-lay-mo-li bebaskan Hiat-to Pakkiong Ou lalu gusur orang kedepan panggung, tangan mencengkram punggungnya, bentaknya.
"Pakkiong Ou, apa maksud kedatanganmu kemari? Lekas katakan!"
Sebagai salah satu Su-pak-thian, Pakkiong Ou ingat jiwa sendiri takkan bisa selamat, maka ia tidak sudi bikin malu dan merendahkan derajat, maka dengan mendongakkan kepala, ia pura2 jadi orang gagah.
Serunya dengan angkuh.
"Aku terjatuh ketangan kau iblis ini, memangnya sudah bertekad gugur disini, mau bunuh mau sembelih, silakan saja meski badan terbacok tiga kali berlobang enam tempat, aku takkan mengerut alis, seorang laki2 matipun tak sudi menyerah, jangan harap kau mengompes keteranganku!"
Habis berkata ia membusungkan dada dan berdiri dengan gagah se-olah2 menghadapi kematian seperti pulang ketempat asalnya.
"Apa benar kau takkan mengerut alis? Baik, ingin aku mencoba apa benar kau ini laki2 keras kepala?"
Dengan ringan kelima jarinya terkembang, mengebas kepunggung Pakkiong Ou, inilah kepandaian Lo-khi-cit-hiat Hong-lay-mo-li yang amat lihay, seketika Pakkiong Ou rasakan sekujur badannya seperti digigit oleh ribuan ular2 kecil, seluruh Hiat-to dalam tubuh seperti ditusuk jarum, sakitnya luar biasa, kaki tangan dan tulang belulang pun seperti retak dan lepas sendi2nya.
Betapa sakit dan tersiksanya sungguh susah dilukiskan.
Betapapun keras tekad dan hati Pakkiong Ou, akhirnya tak kuasa menahan derita yang luar biasa ini, ahkirnya mulut berkaok2 seperti babi disembelih, teriaknya mencaci.
"Sungguh kejam kau, kau menyiksaku dengan cara seperti ini? Lekas, lekas kau bacok aku mampus saja!"
Saking kesakitan kata2nya yang terakhir sudah membuat napasnya ngos2an.
"Mau mengaku tidak,"
Ancam Hong-lay-mo-li ter-tawa.
"kalau tidak mau bicara, aku masih punya cara siksaan lain yang lebih kejam, biar satu persatu kau rasakan!"
Pakkiong Ou berkukuh mengeraskan kepala, akhirnya dia berkeluh kesah.
"Liu Lihiap, sukalah kau berbelas hati, baiklah, kukatakan, akan kukatakan!"
Lekas Hong-lay-mo-li menepuk dipunggungnya pula, namun hanya sedikit mengurangi deritanya saja, katanya.
"Katakan! Kalau ada sepatah katamu yang bohong, akan kubuat kau tidak bisa mati tak bisa hidup !"
Keringat membanjir keseluruh badan Pakkiong Ou, katanya menyengir kecut.
"Liu Lihiap, dihadapanmu masakah aku berani berbohong?"
Segera ia menghadap kearah pasukan besar dan berseru lantang.
"Bicara terus terang, aku diutus kemari untuk menjadi penasehat militer."
"Diutus oleh siapa?"
Desak Hong-lay-mo-li.
"Diutus oleh maharaja negeri Kim Wanyen Liang!"
"Cara bagaimana Thio Ting-kok bersekongkol dengan kalian? siapa yang menjadi kurir? Tugas apa saja yang harus kau lakukan sebagai penasehat militer disini? Bicaralah terus terang sedetailnya!"
"Siapa yang jadi kurir aku tidak tahu, Aku hanya ditugaskan mengawasi gerak gerik Thio Ting-kok, supaya dia tunduk akan perintah Wanyen Liang dan melaksanakan rencananya."
"Rencana apa?"
"Supaya Thio Ting-kok membunuh Khing King dan setelah itu, dia tetap diperbolehkan pengerek panji perlawanan terhadap negeri Kim kita, menyerukan kepada semua kaum brandal atau golongan orang2 gagah persilatan yang menentang penjajahan negeri Kim, supaya datang membantu gerakan besarnya, setelah itu pimpin mereka kesuatu tempat dimana sebelumnya pasukan negeri Kim sudah terpendam untuk menjebak mereka dan menumpas seluruhnya, yang suka menyerah boleh diterima sebagai kaki tangan, yang tidak mau tunduk dibunuh habis perkara. Bila dia berhasil menunaikan tugas dengan baik, raja negeri Kim berjanji hendak mengangkat Thio Ting-kok sebagai raja kecil di Soatang.!"
Mendengar pengakuan yang gamblang ini, seketika para tentara yang berdarah panas mengumpat caci.
"Thio Ting-kok yang dipelihara ibu anjing, sedemikian kejam dan demikian tega hendak membabat seluruh teman seperjuangan dan menjual nusa dan bangsa." -"Bangsat anjing itu bukan manusia, gorok saja lehernya!"
"Pertahankan dulu jiwa anjingnya, setelah kita mengebumikan Gwanswe baru kita penggal kepalanya untuk menuntut balas bagi kematian Gwanswe!"
Seru Hong-lay-mo-li sambil menurunkan Pakkiong Ou, bentaknya.
"Thio Ting-kok, apa pula yang hendak kau katakan ?"
Thio Ting-kok tertawa sedih, serunya keras.
"Se-orang laki2 sejati tak bisa meninggalkan nama harum didalam lembaran sejarah, biarlah nama busuk berbau laksaan tahun, Aku sudah bertekad kalau sukses jadi raja bila gagal jadi brandal, kini terjatuh ketangan kalian, apa pula yang bisa kukatakan!"
Tiba2 terdengar "Cret"
Seketika darah segar merembes dari sela2 bibirnya, ternyata ia gigit lidah sendiri sampai putus.
Sudah tentu Hong-lay-mo-li amat gusar, lekas ia remas dagu orang sehingga mulut Thio Ting-kok ter-buka, kutungan lidahnya segera mencotot keluar, mu-lutpun tak bisa bungkam pula.
Kata Hong-lay-mo-li tertawa dingin.
"Jangan harap kau terhindar dari hukuman setimpal! Sin-ciang-kun, silakan kau kemari!"
Sambil mengiakan lekas Sin Gi-cik keprak kudanya memburu naik kepuncak gunung tanpa membawa pengawalnya, setiba diatas ia berseru lantang kearah pasukan pemberontak.
"Kini duduk perkaranya sudah dibikin terang, pengkhianat inipun sudah teringkus, dosa besar ini hanya Thio Ting-kok seorang yang harus memikulnya. Kalian yang tidak mau ikut berjuang bersama aku boleh bubar dan pulang."
Pasukan pemberontak itu sama menyesal dan bertobat bahwa mereka kena dikelabui, banyak yang berseru beramai2.
"Kami suka hati menjunjung Sin-ciang-kun, harap Sin-ciangkun suka menerima kita, menebus dosa dengan pahala."
Diluar dugaan suatu tragedi yang tak diinginkan dengan mudah dapat dibereskan tanpa menimbulkan banyak pertumpahan darah. Hong-lay-mo-li lemparkan badan Thio Ting-kok kebawah panggung seraya berseru.
"Sin ciangkun, pengkhianat ini kuserahkan kepadamu untuk membereskannya."
Banyak anak buah Thio Ting kok yang merasa tertipu sama merubung maju main gigit kepada Thio Ting-kok, lekas Sin Gi cik cegah perbuatan mereka, dengan susah payah baru dia berhasil kendalikan kemarahan mereka, namun badan Thio Ting-kok sudah penuh luka2 gigitan yang berdarah.
Sin Gi-cik tertawa dingin.
"Thio Tiang-kok, sekarang kau sudah tahu bukan, dipandangan orang banyak, kau tidak lebih hanya seekor anjing belaka, masakah setimpal nama busukmu berbau sampai laksana tahun!"
Segera ia suruh anak buahnya menggusur Thio Ting-kok kebawah dengan sebuah kereta kurungan.
Sementara itu, kedua pasukan besar yang terpisah pada dua gugusan gunung sudah bergabung, Khing Ciau, San San dan Cin Long-giokpun sudah datang kemari, begitu melihat Pakkiong Ouw, Cin Long-giok jadi girang, katanya.
"Hari itu setelah aku meninggalkan Thian-ling-si, ditengah jalan perwira yang kutemui adalah dia ini."
"Memangnya kutahan dia untuk kau kompes keterangannya."
Ujar Hong-lay-mo-li, bersama Khing Ciau berempat merekapun gusur Pakkiong Ou naik sebuah kereta yang lain, sementara itu Sin Gi-cik sudah pimpin pasukan besar itu kembali ke kota.
Tanpa membuang waktu diatas kereta ditengah jalan itu pula Hong-lay-mo-li lantas bertanya kepada Pakkiong Ou.
"Siapakah sebenarnya Lian Ceng-poh? Lekas katakan!"
Blji mata Pakkiong Ou terbalik seperti biji mata ikan yang sudah mati, sikapnya hambar dan tdk tenang, sesaat baru menyahut.
"Siapa itu Lian Ceng-poh, aku tidak tahu siapa orang itu."
"Kau masih pura2 pikun?"
Damrat Khing Ciau gusar.
"Hari itu kau bikin aku terluka parah di Sam-kui-kip, disaat kau hendak meringkus aku, bukankah kedatangan seorang perempuan yang menggebahmu lari, memangnya kau sudah lama kejadian itu?" ---------------------Dapatkah Hong-lay-mo-li membongkar rahasia Lian Cengpoh yang sebenarnya? Apa pula latar belakang dari semua perbuatannya itu? Ada intrik apa pula antara Lian Ceng-poh dengan Kongsun Ki Suheng Hong-Iay-mo-Ii? Kenapa Kongsun Ki hendak meracun istri sendiri? (Bersambung ke bagian 3) Bagian 03
"Oh, jadi perempuan itulah yang kau maksud?"
"Ya, bukankah kau sudah sekongkol sama dia untuk mempermainkan sandiwara ini?"
Cin Long-giok ikut menimbrung.
"Buka matamu lebar-2, apakah kau masih kenal aku?"
"Kenal."
Sahut Pakkiong Ou tertawa getir.
"Nona jangan kau salahkan aku, aku di tugaskan untuk membekuk kau, tidak bisa tidak aku harus bekerja menurut perintah."
"Bukan aku hendak cari perhitungan lama dengan kau, aku hanya ingin tanya kejadian hari itu, apakah kau sekongkol dengan Lian Ceng-poh."
Pakkiong Ou mengeluh, katanya."
Kalau demikian Lian Ceng-poh kan orang kalian sendiri, kenapa diputar balik menuduh aku bersekongkol dengan dia ?
Dosa-ku memang besar, namun aku mohon jangan disiksa, ditambah satu dosa lagi tidak menjadi soal, tapi terus terang aku tidak tahu menahu siapa itu Lian Ceng-poh."
Hong-lay-mo-li mengerut kening, ia cukup mengerti bahwa Pakkiong Ou takkan berani membual dihadapannya, jadi jawabannya ini memang bukan pura2 Tapi San San tak mau percaya, timbrungnya.
"Siocia, dia tidak mau bicara sejujurnya, gunakan lagi cara kompes!"
"Kalau demikian, kalian paksa aku untuk mengarang cerita bohong!"
Sahut Pakkiong Ou tertawa getir.
"San San, tidak usah memaksanya."
Ujar Hong-lay-mo-li.
"Didalam hal ini pasti ada latar-belakangnya, terang dia sendiripun dikelabui oleh siluman perempuan itu."
Baiklah, persoalan siluman rase itu boleh dikesampingkan dulu, kelak pasti dapat kita selidiki sendiri siapa dia sebenarnya.
Pakkiong Ou, sekarang hendak kutanya seorang lain, orang ini tentunya kau kenal baik."
"Siapa?"
"Bu-lim-thian-kiau!"
Agaknya Pakkiong Ou amat kaget.
"Bu-lim-thian-kiau? Kau hendak tanya dia?"
"Ya, aku ingin tahu, aku ingin tahu siapa she dan nama aslinya, bagaimana pula asal usulnya?"
Sekali lagi Pakkiong Ou unjuk sikap hambar dari melamun gumamnya.
"Bu-lim-thian-kiau? Bu-lim-thian-kiau!"
"Kenapa? Memangnya kau tidak pernah mendengar namanya?"
Desak Hong-lay-mo-li.
"Nama besar Bu-lim-thian-kiau laksana geledek menggelegar dipinggir telinga, tapi aku tak tahu dari mana aku harus mulai bicara? Hm, Bu-lim-thian-kiau, Bu-lim-thiankiau! Siau-go-kan-kun!"
Tiba2 dia sejajarkan nama Bu-limthian-kiau dengan Siau-go-kan-kun. Keruan Hong-lay-mo-li ter-heran2, katanya.
"Apa pula hubungan Bu-lim-thian-kiau dengan Siau-go-kan-kun? Mereka kan bukan orang dari segolongan!"
"Aku tahu mereka bukan segolongan, cuma sepak terjang mereka rada mirip satu sama lain, Maksudku supaya kan bisa gampang memahaminya."
"Baik, coba kau jelaskan dimana titik persamaan mereka? Asal kau bicara sejujurnya, jiwamu boleh kuampuni!"
Terbangkit semangat Pakkiong Ou, katanya.
"Dalam kalangan orang Han kalian, bukankah Siau-go-kan-kun dipandang sebagai jago silat nomor satu?"
San San segera mendengus hidung, sikapnya tawar dan acuh tak acuh.
"Benar,"
Sela Hong-lay-mo-li.
"kepandaiannya lebih tinggi dari aku, tidak perlu kau menyanjungku, asal kau bicara sejujurnya, aku amat senang."
Lega hati Pakkiong Ou, katanya lebih lanjut.
"Ku-dengar beberapa tahun terakhir, nama Siau-go-kan-kun amat tenar, seluruh jago2 silat di Tionggoan pernah dengar nama besarnya, amat kagum segan dan tunduk kepadanya, namun tiada orang yang tahu pasti siapa she dan nama aslinya, benar tidak?"
"Benar, tapi apa hubungannya dengan Bu-lim-thian-kiau?"
"Begitu pula keadaan Bu-lim-thian-kiau, para Bu-su di negeri Kim sama pandang dia sebagai tokoh kosen nomor satu dinegerinya, semua orang sama hormat dan gentar menghadapinya, namun tiada orang yang tahu nama dan asal usulnya!"
"O, jadi dalam hal inilah mereka punya persamaan"
Ujar Hong-lay-mo-li. Betapapun hatinya masih ke-cewa, sedemikian jauh dia masih belum tahu nama asli Bu-lim-thian-kiau. San San mendengus pula, jengeknya. Kalau begini obrolanmu ini kan sisa2 belaka."
"Nama tidak begitu penting, kau tidak tahu ya sudah. Tapi Teman2 sejawatmu tentunya sering memperbincangkan tentang Bu-lim-thian-kiau, sedikit atau banyak tentu kau pernah mendengar sesuatu mengenai dirinya, bagaimana pula asal usulnya?"
"Yang mereka bicarakan kebanyakan mengenai ilmu silat Bu-lim-thian-kiau yang mujijat, mengenai asal usulnya, tiada yang jelas!"
San San uring2an, semprotnya.
"Tidak jelas lagi, memangnya apa yang jelas yang kau ketahui?"
"Ya, berapa banyak yang kau ketahui, katakan seluruhnya!"
Hong-lay-mo-li menambahkan.
"Aku hanya tahu sedikit, Bu-lim-thian-kiau adalah orang yang... paling dibenci oleh Hong... oleh Wanyen Liang."
Hong-lay-mo-li melengak heran, tanyanya.
"Darimana kau bisa tahu?"
"Kenapa Wanyen Liang membencinya, sebabnya aku tidak tahu. Tapi aku tahu Wanyen Liang beberapa kali mengutus anak buahnya yang amat diandalkan untuk membunuh Bulim-thian-kiau."
"Ada kejadian itu?"
Tanya Hong-lay-mo-li heran.
"Para Busu darri negeri Kim umumnya sama kagum dan segan terhadap Bu-lim-thian-kiau, siapapun tak mau bentrok sama dia, namun perintah sang raja tidak berani dibangkang, terpaksa mereka harus berangkat juga. Menurut apa yang kuketahui sudah tiga rombongan yang pergi, namun aneh kalau dikatakan, ketiga rombongan orang2 itu pergi tanpa kabar berita seperti ditelan bumi tanpa jejak dan tidak pernah kembali. Entah mereka terbunuh oleh Bu-lim-thian-kiau, atau tak mau bentrok dengan Bu-lim-thian-kiau, maka mereka melarikan diri ketempat yang jauh menyembunyikan diri, Koksu negeri Kim yang sekarang Kiu-lo Siangjinpun mengutus dua sutenya diantara ketiga rombongan itu, namun merekapun ikut menghilang. Kiu-lo Siangjin bukan bangsa Nuchen, karena kehilangan kedua sutenya itu, dia amat benci dan dendam kepada Bu-limthian-kiau. Maka dia sendiri mohon idzin kepada raja untuk memburu jejak Bu-lim-thian-kiau. Kiu-lo Siangjin amat membanggakan kepandaiannya sendiri, namun para Busu negeri Kim tiada yang kagum kepadanya, banyak orang bilang kepandaiannya bila dibanding dengan Bu-lim-thian-kiau, seperti sinar bintang dibandingkan dengan cahaya rembulan atau matahari, tidak tahu diri!"
Pakkiong Ou sudah mengudal seluruh apa yang dia ketahui, namun apa yang dia tuturkan ini sudah diketahui oleh Honglay-mo-li, sedemikian jauh, tetap ia tak berhasil mengetahui asal usul dan nama asli Bu-lim-thian-kiau.
Disaat ia menerawang soal apa pula yang hendak dia ajukan, se-konyong2 terdengar sebuah lengking suitan panjang, mengalun diangkasa seperti pekikan nega, Hong-laymo-li kaget, batinnya.
"Siapakah dia? Masakah Siiau-go-kankun?"
Tapi dengan cermat ia perhatikan pula, meski nada suitan itu cukup tinggi Lwekangnya, namun dibanding pendekar latah Hoa Kok-ham, masih terpaut cukup jauh bedanya.
Tengah me-nimang2, seorang serdadu datang melapor, katanya seseorang mohon bertemu dengan Khing Ciau, belum selesai serdadu ini melaporkan, tampak seorang menunggang kuda sudah memburu datang, kiranya Tang hay-liong Tangwan Bong.
lekas Tangwan-Bong melompat turun serta menyapa lebih dulu .
Ternyata Liu Lihiap berada disini, itulah lebih baik."
Diam2 Khing Ciau mendelu, pikirnya.
"Selama ini aku belum kenal dia, buat apa dia mencari diriku?" -Hong-lay-mo-li Liu Jing-yaupun merasakan kata2nya ini punya maksud tertentu, berbareng mereka berdua balas menyapa.
"Tangwan Cianpwe!"
Tengah mereka hendak tanyak maksud kedatangannya, Tang-hay-liong (naga laut timur) tiba2 membentak.
"Angkat kepalamu!"
Sudah tentu Khing Ciau tertegun, sebaliknya Hong lay-mo-li tahu bentakannya ditujukan kepada Pakkiong Ou, pikirnya "Kebetulan kau datang, aku sendiri sedang bingung cara bagaimana menghukum Pakkiong Ou, biarlah kuserahkan kepadanya."
Ternyata selama hidupnya Pakkiong Ou paling takut terhadap Toakonya ini, begitu melihat kedatangan Tang-hayliong, lekas ia tundukan kepalanya dan mengkeret disamping, namun masih konangan juga oleh pandangan tajam Tanghay-liong, terpaksa ia angkat kepala, suaranya gemetar dan tersendat sapa-nya.
"Toako."
Membesi hijau muka Tang-hay-liong, jengeknya setelah mendengus hidung.
"Siapa Toakomu, masih ada muka kau berhadapan dengan aku?"
"Toako mohon ampun!"
Gemetar sekujur badannya, Maki Tang-hay-liong sambil menudingnya.
"segala tindak tandukmu belakangan ini sudah kuketahui semua, Tahukah kau orang poyoki apa terhadap kau? Orang memanggilmu Pak-bong-kau (anjing buduk utara)! Dianggapnya kau sebagai anjing penjaga pintu negeri Kim! Memang bukan sembarang orang bisa menjadi Enghiong atau pendekar, akupun tidak mengharap kau jadi pendekar atau Enghiong, tapi benar dan salah harus bisa kau bedakan, seorang laki2 harus punya pambek dan jiwa ksatria, kau tidak takut membikin malu dan menghina nama leluhur, suka rela menjadi antek bangsa lain, aku sebagai orang yang kau pandang sebagai Toako, kulit mukaku ikut kau kupas, bikin malu saja!"
Tertunduk kepala Pakkiong Ou, rona mukanya berubah merah, hijau dan pucat, desisnya ketakutan.
"Toako, aku tahu bersalah!"
Tang-hay-liong memakinya pula.
"Aku pernah tulis surat kepadamu, kubujuk kau lekas berpaling dan bertobat, kupesan teman2 untuk membujukmu pula, kau agaknya sudah kelelap akan harta dan pangkat, terjeblos semakin dalam! Kau tahu apa? Hm, kali ini kau sekongkol dengan Thio Ting-kok, membunuh Khing ciangkun lagi, sungguh kau sudah gila, dosamu takkan terampun lagi oleh Thian!"
Semakin damprat semakin memuncak amarah Tang-hay-liong saking sengit tiba2 tapak tangannya terayun.
"prak"
Batok kepala Pakkiong Ou remuk seketika.
Terlambat Hong-lay-mo-li hendak mencegahnya.
Sebetulnya Hong lay-mo-li masih ingin bertanya kepada Pakkiong Ou, namun apa boleh buat segera ia suruh serdadu angkat jenazah Pakkiong Ou, kembali mereka saling memberi hormat kepada Tanghay-liong, serta tanya maksud kedatangannya.
"Kali ini aku diminta Hoa Tayhiap Hoa Kok-ham untuk mengantar surat."
Kata Tangwian Bong.
Tempo hari dengan susah payah Hong-lay-mo-li pernah mengejar jejak orang, hasilnya nihil, tak nyana hari ini mendadak bertemu dengan Tang-hay-liong yang membawa suratnya, segera ia bertanya.
"Dimana Hoa Tayhiap ? Kapan kalian berpisah ? Untuk siapa surat yang kau bawa?"
"Hoa Tayhiap sudah menuju ke Kanglam."
"O, untuk urusan apa dia pergi ke Kanglam, apa Cianpwe tahu?"
"Ditengah jalan Hoa Tayhiap mendapat sebuah berita rahasia yang teramat penting, Kabarnya maha raja negeri Kim Wanyen Liang sudah mulai kerahkan pasukannya hendak menyerbu negeri Song, dengan sesumbar dia berkata hendak mengadakan perayaan Tiongchiu di Ling-an."
"Kapan kabar ini diketahui?"
Tanya Hong lay-mo-li.
"Tanggal empat belas bulan yang lalu, waktu itu aku menginap di Giok-hong-koan dipuncak Thaysan bersama dia, Thay-ceng Totiang ketua Giok-hong-koan adalah sahabatku, malam itu aku mengobrol berduaan semalam suntuk, Hoa Tayhiap seorang diri pergi ke puncak Giok-hong-ting menikmati bulan purnama. Di-saat kami mengobrol itulah Hoa Tayhiap pulang tergesa2, segera ia desak aku turun gunung, katanya kalau terlambat atau tetap tinggal disini, mungkin bisa membawa kesulitan, terpaksa aku menurut saja turun gunung. Setiba dikaki gunung baru dia menyelaskan, kiranya raja negeri Kim Wanyen Liang juga berada di-atas gunung, jago2 pengawalnya yang kosen cukup banyak, walau tidak takut, tapi kalau sampai bentrok, Thay-ceng Totiang yang akan tertimpa getahnya, terpaksa kami harus menyingkir saja."
Setelah menuturkan pengalamannya Tang-hay-liong merasa heran pula melihat sikap Hong-lay-mo-li tidak menunjukkan rasa heran dan prihatin.
Ternyata diiuar tahunya bahwa Hong-lay-mo-li pada waktu yang bersamaanpun pernah memergoki kehadiran Wanyen Liang di puncak Thaysan itu.
Pada tanggal lima belas bulan yang lalu, karena mengejar jejak pendekar Latah Hoa Kok-ham, secara kebetulan Honglay-mo-li memergoki Wanyen liang bersama jago2nya sedang menikmati bulan purnama sambil senandung dan menciptakan syair2 baru, secara langsung karena disanjung puji para menterinya, Wanyen Liang keluarkan isi hatinya.
Mendengar rencana orang, seketika timbul pikiran Honglay-mo-li untuk membunuhnya terlebih dulu, sebelum musuh bangsa Han ini berhasil dengan rencananya.
Dengan menghardik keras.
"Raja anjing, lihat pedang!"
Hong-lay-mo-li melompat turun dari pucuk pohon tempat sembunyinya, sinar pedangnya bagaikan seutas rantai panjang, langsung menusuk ketenggorokan Wanyen Liang.
Sudah tentu Wanyen Liang amat kaget, namun serta melihat jelas orang yang berada dihadapannya adalah perempuan cantik molek, seketika ia bersorak kegirangan, serunya.
"Buat apa harus cari cewek ayu ke Kanglam, perempuan ini jauh lebih cantik dari dewi bulan! Lekas kalian ringkus dia, jangan sampai melukainya!"
Para pengawal Wanyen Liang adalah jago2 kosen yang berkepandaian tinggi, sudah tentu mereka tidak tinggal diam menghadapi aksi Hong-lay-mo-li, dengan mati2an mereka merintangi dan mengadang dihadapannya.
Tangan kiri Hong-lay-mo-li mainkan kebutannya, sementara tangan kanan dengan sebatang pedang sekaligus mengombinasikan permainan Thian-lo-hud-tim-cap-pwe-sek dan Yo-hun-kiam-hoat, didalam kepungan jago2 pengawal itu, ia tuding timur hantam barat, incar selatan pukul utara, para Busu ini tidak berani melukai dia, sudah tentu jauh lebih menguntungkan Hong-lay-mo-li malah.
"Trang"
Beruntun beberapa kali, senjata2 kawanan Busu tergulung lepas oleh kebutannya, disusul dengan samberan kilat pedangnya, seorang Busu tahu2 terjengkang roboh dengan tenggorokan berlobang.
Melihat kelihayannya, kawanan Busu baru insaf akan kepandaiannya dan jeri.
Tapi untuk menjebol kepungan jago2 pengawal yang sedemikian banyaknya, bukan soal sepele bagi Hong-lay-mo-li.
Se-konyong2 salah satu Busu itu berteriak.
"Aku kenal dia, hati2 saudara2, kita sedang menghadapi Hong-lay-mo-li Liu Jing-yau."
Terdengar Wanyen Liang bergelak tertawa diluar kalangan, serunya.
"Jelas dia ini patut dinamakan Hong-lay-sian-cu, kenapa dipanggil Hong-lay-mo-li?"
Busu tadi mundur keluar kalangan, sehingga tekanan serangan Hong-lay-mo-Ii tidak sampai mengenai dirinya, katanya.
"Ucapan Cukong memang tidak salah, semula perempuan ini memang dijuluki Hong-lay-sian-cu, soalnya dia bertangan gapah berhati kejam, maka kawan2 Kangouw mengubah nama julukannya."
Wanyen Liang ter-kekeh2, serunya.
"Tim tidak takut dia kejam atau telengas, asal kalian membekuknya hidup2, Tim akan beri hadiah besar kepada kalian!"
Hong-lay-mo-Ii gusar, kebetulan wakil komandan Gi-limkun yang bergelar San-tian-sin-chio (tombak kilat sakti) itu berada dibelakangnya, sebat sekali mendadak ia menerjang kebelakang dengan punggungnya.
Wakil komandan ini sedang menyerang dengan tusukan tombaknya, mimpipun ia tidak menduga Hong-lay-mo-li bakal menggunakan permainannya yang aneh ini, keruan hatinya mencelos, soalnya junjungannya sudah berpesan melarang melukai seujung rambut perempuan yaug dipenujuinya ini, kalau tusukan tombaknya diteruskan, bukankah jiwa orang bakal melayang diujung tombaknya?
Namun memang tidak malu dia dijuluki tombak sakti, dalam waktu yang gawat itu tombak panjangnya secepat kilat tahu2 sudah ditarik mundur.
Diluar tahunya bahwa Hong-lay-mo-Ii memang mengharap demikian.
Baru saja wakil komandan itu hendak mengubah tutukan menjadi menjungkit tungkak kaki Hong-lay-mo-li untuk menyengkelit orang, tak nyana gerakan Hong-lay-mo-Ii jauh lebih cepat dari tombak kilatnya.
"sret"
Tahu2 Hong-lay-mo-li membalikan pedang, sementara kaki masih melangkah mundur seperti meluncur dipermukaan salju, tanpa berpaling ujung pedangnya menyelonong keluar dari bawah ketiaknya, menusuk kebelakang, telak sekali menghujam ketenggorokan wakil komandan ini.
Karena kematian wakil komandan ini kepungan menjadi berlobang, lekas dua Busu mengisi kekosongan ini, namun kepandaian kedua orang ini jauh lebih rendah dari wakil komandannya, pedang Hong-lay-mo-li ditarikan bagai kitiran, Sret, sret, dalam kilasan pedangnya, dua Busu roboh binasa pula, tiba2 badannya melambung tinggi laksana burung raksasa, ditengah udara ia kembangkan sejurus To-kian-culian (menggantung kerai mutiara), berbareng kebutan ditangan kiri, tahu2 mengepruk kebatok kepala seorang Busu tercekat.
Serasa copot arwah si Busu, lekas ia lecutkan cambuk panjangnya menjadi bundaran besar kecil ber-lapis2 berkisar hebat laksana gelombang samudra, maka terdengar "Byar!"
Tipu hebat dari serangan balasan lawan ini seketika dipatahkan oleh kebutan Hong-lay-mo-li.
Seketika Busu itu rasakan pergelangan tangan seperti tertusuk jarum, jari2nya tak kuasa pegang cambuknya lagi, lekas ia jatuhkan diri terus menggelundung sambil memeluk kepala, terdengar suara mendesis, ternyata Hong-lay-mo-li kerahkan Lwe-kangnya keujung kebutannya sehingga benang2nya berkembang laksana ribuan ujung jarum2 tajam, seketika pakaian si Busu berlobahg tak terhitung banyaknya.
Untunglah tipu cambuknya tadi sedikit banyak mengurangi tenaga Iawan, disamping gerakan menggelundung tadi teramat tangkas, meski badannya tertusuk luka puluhan tempat, jiwa masih bisa dipertahankan.
Hong lay-mo-li pikir bunuh Wanyen Liang lebih penting, tanpa bertindak lebih jauh kepada si Busu, kembali ia tutul ujung kakinya, seketika badannya melejit tinggi, bagai burung menyusup kedalam hutan, seperti burung walet melesat diatas gelombang samudra, luncuran tubuhnya cepat bagai kilat membawa samberan selarik sinar pedang, langsung menusuk kearah Wanyen Liang yang sedang berdiri dibawah sebuah pohon besar.
Busu2 pengawal itu sama berkaok memburu dibelakang, mana mereka bisa menandingi kecekatan gerak badan Hong-lay-mo-li.
Terdengarlah jeritan keras yang menyayatkan hati, seketika para Busu pengawal itu terbelalak pucat, sementara Hong-laymo-lipun berseru heran, damprat-nya.
"Raja anjing yang licin, kemana kau bisa lari?" -ternyata karena tidak bisa melarikan diri, lekas Wanyen Liang tarik seorang pengawal pribadinya yang berdiri disamping terus didorong kedepan menyongsong kedatangan pedang Hong-lay-mo-li. Keruan dadanya tembus dan jiwa melayang seketika. Betapa cepat gerakan Hong-lay-mo-li, seperti bayangan mengikuti wujudnya, sebat sekali ia mengudak kepada Wanyen Liang, kembali pedangnya berkelebat menusuk. Disaat rangkaian serangan pedang Hong-lay-mo-li dilancarkan se-konyong2 terdengar hardikan keras bagai guntur menggelegar.
"jangan lukai Cukong-ku!"
Dari samping melayang tiba segumpal awan merah menghadang didepan Wanyen Liang, maka tusukan pedang Hong-lay-mo-li seketika menerbitkan suara gemerantang yang ramai, sehingga kuping semua hadirin terasa pekak.
Ternyata dalam waktu yang gawat itu, seorang Lama berkasa merah tiba2 menerobos keluar dari samping Wanyen Liang, dia kembangkan sepasang kecernya sekaligus menangkis tusukan pedang Hong-lay-mo-li.
Ternyata lama berkasa merah ini adalah Sute dari ketua Miciong di Tibet, gelarannya Kiu-lo Hoatsu, tingkat kepandaiannya sudah tiada tandingan di daerah Se-sk, Wanyen Liang mengundangnya serta mengangkatnya jadi Koksu (iman negara), setiap melakukan inspeksi melindungi jiwa Wanyen Liang lagi, disaat para Busu mengepung Honglay-mo-li ia tetap berpeluk tangan mendampingi junjungannya, Walau berhasil mematahkan serangan Hong-lay-mo-li tak urung Kiu-lo Hoatsu sendiri mengucurkan keringat dingin, Kecepatan gerak badan dan serangan kilat pedang Hong-laymo-li barusan sungguh jauh berada diluar perhitungannya.
untunglah Wanyen Liang keburu menarik pengawalnya, namun Kiu-lo toh sudah terlambat setindak Maka terdengarlah suara ting-ting-tang-tang yang ramai, dalam sekejap mata, pedang Hong-lay-mo-li sudah beradu puluhan kali dengan sepasang kecer Kiu-lo Hoatsu.
Kiu-lo kembangkan sepasang kecernya melindungi seluruh badan sedemikian rapatnya, dalam waktu dekat Hong-lay-moli tak berhasil menjebol pertahanan lawan, Kiu-lo Hoatsu sendiripun tak mampu balas menyerang.
Sementara kawanan Busu itu sudah memburu datang, mereka kepung Hong-lay-mo-li di tengah lingkaran pula, Sejak malang melintang di kalangan Kang-ouw Hong-lay-mo-li tak pernah kalah menghadapi musuhnya, hari ini baru pertama menghadapi musuh tangguh, semangat tempurnya seketika bergairah, pedang panjang ditarikan sedemikian lincah dan kebat, meski dirinya terkepung, namun dia menyerang lebih banyak dari pada berahan, Lama kelamaan kawanan Busu itu menjadi jeri sendiri.
Badan Wanyen Liang berlepotan darah, namun dia sendiri tidak terluka apa2, saking kagetnya tadi serasa arwahnya sudah melayang keluar.
Tiba2 dilihatnya sesosok bayangan orang meluncur turun disampingnya, belum lagi hatinya tenang, seketika ia menjerit kaget dan ketakutan.
Lekas orang itu bersuara.
"Hamba datang terlambat membuat Cukong kaget saja!"
Baru sekarang Wanyen liang lega, ternyata orang ini adalah komandan Gi-lim-kun Tam Toceng adanya.
Tadi Tam To-ceng ikut mengerubut Hong-laymo-li, setelah Kiu-lo Hoatsu menerjunkan diri, lekas dia menggantikan kedudukan Kiu-lo Siangjin melindungi junjungannya.
Semula Wanyen Liang kepincut oleh paras cantik Hong-laymo-li, kini setelah jiwanya hampir saja terbunuh, dengan berat hati terpaksa ia ubah keputusannya.
Lekas Tam To-ceng disuruh mengubah pengumumannya.
Wanyen Liang kira kepandaian Kiu-lo Siangjin tiada tandingan, setelah perintahnya dikeluarkan Hong-lay-mo-li pasti dapat dibereskan dengan gampang, siapa tahu setelah ia saksikan jalannya pertempuran beberapa kejap lagi, dilihatnya Hong-lay-mo-li semakin gagah dan perkasa.
Kiu-lo Siangjin hanya mampu membela diri tak bisa balas menyerang, Kawanan Bu-su itupun kocar kacir tak berani maju mendekat di-luar kalangan.
Rasa sayang Wanyen Liang seketika berubah menjadi kaget, gelisah dan kuatir.
Kiranya walau kepandaian Kiu-lo Siangjin amat tinggi, betapapun setingkat masih lebih rendah dibanding Hong-laymo-li.
Waktu itu Hong-lay-mo-li sudah membunuh lima Busu, melukai berat Busu bersenjata cambuk yang bernama Pakkiong Ou pula, sementara Tam To-ceng harus mengundurkan diri mendampingi sang junjungan.
Oleh karena itu kekuatan yang mengepung Hong-lay-mo-li, meski kutambah tenaga Kiu-lo Siangjin, namun dikurangi dua jagoan kosen dan kematian lima Busu, terang kekuatan sekarang bukan bertambah kuat malah jauh lebih lemah.
Lwekang Kiu-lo Siangjin terpaut tidak jauh dibanding Honglay-mo-li, namun Ginkangnya terang ketinggalan jauh, serangan Hong-lay-mo-li laksana kilat cepatnya, setiap tipu serangannya ganas dan mematikan lagi.
Kedua kecer Kiu-lo Siangjin cukup mampu untuk menjaga diri saja, untuk melindungi sesama teman terang tidak mungkin, Suatu ketika Hong-lay-mo-li melihat suatu peluang, sebat sekali ia gunakan Ih-sing-hoan-wi, mendadak ia menerobos kearah timur laut, dua Busu yang berjaga disini lebih jauh dari teman2 yang lain melihat musuh justru menubruk kearah mereka, belum lagi sempat angkat senjata, satu persatu jiwa mereka sudah dihabisi.
Lekas Kiu-lo Siangjin memburu maju, secepat kilat Honglay-mo-li sudah bunuh dua Busu, tiba2 ia menyebir bibir bersiul panjang tangkas sekali dia sudah membalik badan memapak kedatangan Kiu-lo Siangjin.
Melihat kehebatan orang, semakin jeri hati kawanan Busu, dalam sekejap kembali tiga orang kena terbunuh oleh kebutan Hong-lay-mo-li.
Jelas sebentar lagi kekuatan kepungan ini bakal kocar kacir, Kiu-lo Siangjin kertak gigi melawan mati2-an.
Se-konyong2 ujung pedang Hong-lay-mo-li menukik kebelakang, beberapa Busu dibelakangnya ia desak mundur, mendadak mulutnya menghardik.
"Kena!"
Berbareng kakinya menjejak bumi badan melambung ketengah udara, dimana kebutannya terkembang ia kepruk batok kepala Kiu-lo Siangjin yang gundul kelimis.
Kepandaian Kiu-lo Siangjin memang tidak rendah, lekas ia gunakan Hong-tiam-thau, berbareng sebelah kecernya dia lempar keatas udara menangkis kebutan Hong lay-mo-li.
Tangkas sekali Hong lay-mo-li menekuk kedua kakinya, badan jumpalitan me!uncur-turun kesamping, berbareng ia tarik kebutannya, beberapa ujung kebutannya kebetulan menyapu lewat menyerempet batok kepala Kiu-lo Siangjin, membuat beberapa jalur luka2 berdarah, untung kebutan Hong-lay-mo-li sebelumnya tertolak oleh kecernya, kepalanya hanya keserempet sisa tenaganya saja, kalau tidak tentu batok kepalanya sudah bocor dan mengucurkan kecap.
Walau berhasil melindung jiwanya, tapi sebuah kecer Kiu-lo Siangjin terpental jauh, maka pertahanan kepungannya semakin kendor.
Tam Toceng berjaga disamping Wanyen Liang, tapak tangannya yang menyoreng pedang sudah berkeringat dingin, sebetulnya kalau dia bergabung dengan Kiu-lo Siangjin, sedikitnya bisa menandingi Hong-lay-mo-li.
tapi dia kuatir, apakah Hong-lay-mo-li punya kamrat tidak, ingin dia maju membantu, kuatir Wanyen Liang menghadapi bahaya pula, hatinya jadi hebat kebit, susah dia mengambil keputusan.
Tiba2 Wanyen Liang menghela napas, gumamnya.
"Sayang orang itu tiada, Kalau orang itu disini, tak usah kuatir perempuan ini takkan bisa dibekuk!"
Hong-lay-mo-li menyeringai dingin, jengeknya-"Kematian didepan matamu, kau bermimpi hendak menawanku?"
"Sret, sret"
Kembali ia melukai dua Busu. Teriak Wanyen Liang.
"Tim berikan separo dari negeri kekuasaanku ini kepadamu, kau sudah puas belum? Hm Hm, kau memang terlalu pongah!"
"Aku hanya ingin jiwa anjingmu, persetan dengan negerimu!"
Hong-lay-mo-li kira kata2 Wanyen liang ini ditujukan kepada dirinya, setelah dipikir lebih cermat terasa janggal, sekilas ia melirik, dilihatnya Wanyen Liang menengadah, mulutnya menggumam sendiri, se-olah2 sedang bicara dan minta bantuan kepada orang lain.
Meski sedang menghadapi kerubutan musuh2nya, namun mata dan kuping Hong-lay-mo-li selalu perhatikan keadaan sekelilingnya, kecuali Tam To-ceng yang menjaga Wanyen Liang, tiada Busu lain disamping Wanyen Liang, mengandal ketajaman kupingnya, Hong-lay-mo-li yakin tiada seseorang yang sembunyi disekitar gelanggang.
Cepat ia kembangkan serangan lebih ganas, kebutannya berkelebat didepan mata Kiu-lo Siangjin memancing sorot pandangan orang, cepat sekali pedangnya membarengi menusuk kekiri dimana tempat kelemahan orang yang terbuka, Kecer Kiu-lo Siangjin tinggal sebuah, mana mampu bertahan, tahu2 pundaknya tertusuk berlobang, terpaut satu dim saja, hampir tulang pundaknya tembus.
Karena darah bercucuran dan rasa sakit merangsang ulu hati, lekas Kiu-lo Siangjin mundur beberapa langkah, Dengan berhasil menjebol kepungan, Hong-lay-mo-li kembangkan pedangnya secepat angin puyu, kekiri menyendal, ke-kanan mengetuk, sebentar saja, ia sudah menerjang keluar dari kepungan.
Baru saja Hong-lay-mo-li hendak menerjang kea-rah Wanyen Liang, se-konyong2 kupingnya seperti mendengar seseorang berbisik dipinggir telinganya.
"Hong-lay-mo-li, ilmu silatmu memang hebat, tapi jangan harap kau bisa membunuh maha raja negeri Kim!"
Sekilas Hong-lay-mo-li tertegun merandek oleh suara ini, sementara Kiu-lo Siangjin sudah jemput sebuah kecernya yang jatuh tadi, mundur kesamping Wanyen Liang.
Segumpal awan kebetulan terhembus angin sehingga menutupi sinar rembulan, kembali Hong-lay-mo-li desak mundur kawanan Busu, baru saja ia hendak melayang kesana, suara tadi kembali terkiang di-pinggir telingannya.
"Kau masih belum lepas tangan? Baik, biar aku jajal kepandaianmu!"
Sekonyong2 terasa angin berkesiur, lekas Hong-lay-mo-li kembangkan kebutannya menjaga badan.
"Ting"
Tusuk kundai kemala diatas sanggul kepalanya tahu2 terpukul jatuh oleh samberan Am-gi.
Selama hidupnya Hong-lay-mo-li belum pernah kecundang sedemikian rupa, keruan kaget dan gusar pula, didengarnya suara itu berkata pula dengan tertawa.
"Bagaimana, kau berani adu kepandaian dengan aku?"
Dari datangnya suara Hong-lay-mo-li menentukan arah, sambil mengayun kebutan untuk melindungi tubuh, badannya meluncur kesana sambil menusukkan pedang.
Tusukan mengenai tempat kosong, rembulan kembali menongol keluar, Hong-lay-mo-li sudah mengejar keluar hutan, bayangan orangpun Hong-lay-mo-li tidak melihatnya, bentaknya.
"Main sembunyi dan membokong pula, terhitung orang gagah macam apa? Kalau berani keluar dan lawan aku!"
Suara itu tertawa, sahutnya.
"Kalau berani kau kejar aku!"
Dari suaranya sedikitnya sudah terpaut dua tiga li. Hong-lay-mo-li membatin.
"Ada tokoh sedemikian kosen diam2 melindungi raja anjing itu, agaknya tujuanku malam ini tak dapat terlaksana. Baik, biar aku lihat tokoh macam apa keparat ini, berani permainkan aku."
Segera ia kembangkan Ginkang mengejar kedepan, Agaknya orang itu tahu bahwa dirinya tengah dikejar, tak perlu memancing dengan suara tawanya, lambat laun suaranya jauh dan sirap.
Begitulah Hong lay-mo-li melanjutkan pengejaran sampai di Ngo-toa-hu-siong, keluar dari Tiong-thian-bun tiba di Kwi-hwesam-li.
Naik lagi keatas tiba di Seng-sian-hong dan Tio-yangtong, semakin naik semakin tinggi, jalan gunungpun semakin berbahaya, akhirnya ia tiba dijalan yang diapit dinding gunung yang tinggi, inilah Lam-thian-bun, daerah paling berbahaya di gunung Thaysan.
Dengan hati kebat kebit Hong-lay-mo-li maju terus dengan waspada kuatir di-bokong musuh, namun setelah dia keluar dari jalan sempit yang berputar2 itu, sesuatupun tidak terjadi, barulah Hong-lay-mo-li menghela napas lega.
Setiba diatas Lam-thian-bun keadaan disini rada datar, pandangan bisa menjelajahi ke segala penjuru, sesaat Honglay-mo-li sampai terpesona melihat pemandangan alam dibulan purnama dipuncak Thaysan ini, kebetulan angin datang menghembus, pohon2 raksasa itu segera menggoyang melambai mengeluarkan suaranya, seketika Hong-lay-mo-li tersentak sadar.
"Aku sedang mengejar musuh, kenapa sampai terpesona oleh pemandangan seindah ini."
Se-konyong2 didengarnya suara harpa dipetik mengalun dari dalam hutan dipinggir sana, Hong-lay-mo-li pelan2 menghampiri kesana, dilihatnya seorang laki2 mengenakan mantel kulit rase duduk dibawah pohon menopang sebuah harpa diatas lututnya.
Begitu asyik orang ini memetik harpanya, mendadak ia menengadah sambil bersenandung dengan suara lantang dan gagah, Hong-lay-mo-li sampai menjublek dan kesi-ma.
"creng"
Tiba2 snar harpa putus. Tiba2 orang itu angkat harpanya terus dibanting, lalu peluk kepala tangis gerung2. Hong-lay-mo-li tersentak kaget, tanyanya.
"He, siapa kau? Kenapa nangis disini?"
"Aku nangis, apa sangkut pautnya dengan kau? Siapa pula kau?"
"Aku rakyat Song raya, apa maksudmu?"
"Kau tahu siapa aku?"
"Agaknya kau memang pikun? Kalau aku tahu buat apa aku tanya?"
Sambil berlinang air mata, tiba2 orang itu ter-loroh2 tawa.
"Apa pula yang kau tertawakan?"
Tanya Hong-lay-mo-li.
"Aku tertawa melihat kegabahanmu, kami belum saling kenal, kau belum tahu siapa aku? Kenapa kau perhatikan diriku? sehingga aku tak bisa nangis se-puasnya."
"Cis, siapa perdulikan kau? Mau nangis silakan, sampai matipun aku tidak peduli."
Orang itu melongo, mulutnya menggumam.
"Nangis sampai mati tiada orang yang pedulikan diriku, Haha, betapa besar dunia ini, kiranya tiada satu orangpun yang perhatikan diriku."
Lenyap tawanya, kembali ia menangis sesenggukan.
"Memangnya orang gila!"
Batin Hong-lay-mo-li dalam hati ia merasa sayang melihat harpa yang terbanting hancur itu, tak terasa mulutpun mendesis pelahan ."Sayang, sayang."
Mendadak orang itu ter-bahak2 pula, serunya lantang.
"Apanya sayang, hanya sebuah harpa kuno saja apanya yang dibuat sayang? Haha, kukira kau ini perempuan ksatria besar, ternyata begini kikir, Baiklah, barangmu biar kukembalikan saja."
Tengah Hong-lay-mo-li melengak heran, tiba2 didengarnya suara samberan senjata rahasia, selarik sinar perak berkelebat sebuah benda tahu2 meluncur kearah dirinya, Keki hati Honglay-mo-li, ia kira dirinya diserang senjata rahasia, segera ia kembangkan cara meraih senjata rahasia, cukup ia gape sebelah ta-ngan, tahu2 benda itu sudah terjepit oleh kedua jarinya.
Terasa tangan sedikit bergetar kemeng, ternyata sambitan orang ini amat kuat.
Setelah melihat tegas benda yang terjepit dikedua jarinya, seketika Hong-lay-mo-li kaget gusar dan heran pula, kiranya benda itu adalah tusuk kondai diatas sanggulnya yang tertimpuk jatuh tadi, Baru sekarang ia paham seluruhnya, jadi laki2 inilah yang secara diam2 membantu dan melindungi Wanyen Liang.
"Bagus, jadi kau kiranya! Kenapa kau bantu raja anjing itu?"
Bentak Hong-lay-mo-li. Orang itu menjengek dingin.
"Raja Song-kau memangnya juga baik?"
"Sekarang jelas sudah bagiku, kau adalah antek anjing dari raja anjing itu."
"Siapa aku, tak perlu kau tahu. Matamu tak pandang lain orang, aku tak senang melihat tindak tandukmu."
Saking gusar hampir saja Hong-lay-mo-li melabrak musuh, namun ia tahan dan mendadak tertawa lebar sambil menengadah.
"Apa pula yang kau tertawakan?"
Tanya orang itu.
"Aku geli melihat kau tak bisa membedakan hitam dan putih, baik buruk, pintarmu cuma menyalahkan orang lain, Ketahuilah Wanyen Liang adalah raja anjing yang paling lalim dalam dunia ini, dia hendak kerahkan pasukannya mencaplok Kanglam, dia sangka Song raya tiada orang pandai, maka perlu aku bikin dia melek matanya, Wanyen Liang anak serigala berhati buas, membuat kehidupan rakyat seluruh duni menderita dan sengsara, kau tidak membencinya, malah memakiku, kecuali kau ini memang budaknya, kalau tidak sampai hati kau membelanya?"
Orang itu menjadi rawan, tiba2 menghela napas, katanya.
"Song dan Kim bertentangan bentrokan besar takkan mungkin dicegah, Aku atau kau takkan kuasa meredakan peperangan ini. Tadi aku nangis lantaran ini. Kau hendak membunuh Wanyen Liang aku tidak salahkan kau, tapi dihadapanku jangan harap keinginanmu bisa terlaksana."
Mendengar komentar orang, bertambah rasa bermusuhan Hong-lay-mo-li terhadap orang ini. Segera ia meraba pedang dan berkata.
"Kalau demikian, kau sudah berkeputusan hendak menjual jiwa bagai Wanyen Liang?"
Orang itu tertawa dingm, katanya.
"Dalam kolong langit ini siapapun tak kuasa menyuruh aku menjual jiwa bagi dia, aku hanya mengejar ketenangan dan ketentraman hati belaka, Kau dan aku baru kali ini bertemu dan berkenalan, isi hatiku tak bisa kujelaskan kepada kau!"
"Siapa tahu apa isi hatimu? Yang jelas bahwa kau berdiri dipihak musuhku, itu sudah cukup! Tak perlu cerewet lagi, lihat pedang!"
"Nanti dulu!"
Seru orang itu mundur selangkah.
"Apa pula yang hendak kau katakan?"
"Bagaimana kalau kuajukan pertaruhan kepada kau?"
"Apa?"
"Jikalau kau mengalahkan aku, terserah kalau kau hendak membunuh Wanyen Liang, aku tak mau tahu lagi. Tapi bagaimana kalau kau yang kalah?"
"Kecuali kau bunuh aku, kalau tidak setiap ada kesempatan, aku akan tetap membunuh dia."
Tukas Hong-laymo-li.
"Sebagai rakyat Song yang setia kepada negerinya, aku bersumpah takkan berjajar dengan raja anjing dari negeri Kim itu, Aku tidak sudi bertaruh segala dengan kau!!"
Sekilas bertaut alis orang itu, kejap lain mendadak ia terbahak2, serunya.
"Begitupun baik, Biarlah kami tak usah bertaruh, kami atur saja menurut aturan Kangouw yang biasa berlaku, Akan kubuat kau tahu, dalam kolong langit ini kecuali kau dan Siau-go-kan-kun pendekar Latah Hoa Koh-ham bukannya tiada tokoh lain yang sejajar!"
Tergerak hati Hong-lay-mo-li mendengar orang menyinggung Hoa Kok-ham pendekar Latah, terasa semakin misterius asal usul orang ini.
Tanpa banyak pikir segera ia angkat kebutannya dan mengayun pedang, tantangnya.
"Keluarkan senjatamu!"
"Tidak usah sungkan, kau sebagai tamu, silakan kau menyerang dulu!"
Hong-lay-mo-li gusar, damratnya.
"Kau hendak bertangan kosong melawanku ?"
Orang itu mengeluarkan sebatang seruling, katanya tertawa.
"Kau tidak sudi melawan tangan kosong-ku, biarlah kutiupkan sebuah lagu kepadamu."
Beruntun dua kali ia tiup serulingnya dengan suara merdu mengalun jernih, enteng laksana mega beralun, tapi tiba2 ia turunkan pula serulingnya dan berkata.
"Lagu untuk menyambut tamu sudah kutiup, kau tamu agung ini kenapa tidak lekas mulai ?"
Hong-lay-mo-li naik pitam, tanpa banyak bicara aturan Kangouw segala, segera ia mendahului menubruk maju, Thian-lo-tim-hoat segera dia kembangkan, dengan sejurus Tokian-sing-ho, setiap ujung benang kebutannya seruncing jarum, ribuan jumlahnya bagai kan ujung tombak besar, yang diarah adalah batok kepala orang itu.
Jurus To-kian-sing-ho ini merupakan salah satu jurus yang lihay dan keji dari Thian-lo-hud-tim-koat yang mempunyai tiga puluh enam jalan dan variasi, begitu benang2 kebutan berkembang, bayangan orang itu seketika terkurung dalam lingkungan sambaran kebutannya, untuk berkelitpun tak bisa lagi.
Tapi dalam keadaan terdesak yang berbahaya ini, ternyata orang itu masih adem ayem seperti tidak menghadapi apa2, pelan2 ia tempelkan pula seruling kedepan bibirnya, kembali meniupkan lagunya.
Bergetar hati Hong-lay-mo-li se-konyong2 terasa segulung hawa hangat menghembus datang dari depan, benang2 kebutannya seketika terhempas bubar bertaburan Sudah tentu kejut Hong-lay-mo-li bukan main, batinnya.
"Ternyata orang ini sudah berhasil meyakinkan Lwekang tingkat tinggi dari aliran Sia-pay."
Kiranya seruling itu kosong bagian tengahnya, dari batang seruling yang kosong ini orang itu meniup keluar segulung hawa murni yang bersuhu hangat, sehingga benang kebutan Hong-lay-mo-li terhembus bubar.
Orang itu masih tertawa serunya.
"Lagu menyambut tamu agungku ini belum selesai Lho!"
Segera ia meniup serulingnya pula, Hong-lay-mo-li mengerut kening, lekas ia tusukan pedangnya, Sret, seketika ia bikin suara lagu lawan terganggu "Sayang! Sayang!"
Seru orang itu, lekas ia gunakan serulingnya menyampuk, suara benturan kedua senjata amat nyaring memekakkan telinga, entah terbuat dan bahan apa seruling ini, Ceng-kong-kiam ditangan Hong-lay-mo-li ternyata tergentak miring, tapak tanganpun terasa linu kemeng, sebaliknya seruling itu tidak kurang suatu apa.
Pedang Hong-lay-mo-li memang bukan benda mestika, namun dilandasi Lwekangnya, jangan kata sebilah pedang tajam, seumpama sebatang pohon, diapun bisa bikin batu keras pecah berantakan dengan sekali ketuk.
Tapi seruling orang ini malah menyampuk miring pedangnya, Terang Lwekang orang ini agaknya lebih tinggi dari dirinya.
Baru pertama kali ini Hong-lay-mo-li menghadapi lawan yang benar2 tangguh, seketika semangat tempurnya semakin me-nyala2, Ceng-kong-kiam terayun melingkar diudara, seketika terciptalah bayangan sinar pedang kemilau yang ceplok2 seperti kuntum bunga, laksana sinar bintang yang beterbaran diangkasa, beribu berlaksa jumlahnya, semuanya meluncur turun bersama meluruk kearah lawan, dalam sejurus, beruntun ia incar tiga puluh enam Hiat-to besar dibadan musuh.
"ilmu pedang bagus!"
Seru orang itu memuji, kembali terdengar suara Trang tring ber-ulang2 yang gencar, didalam kilasan bentrokan sejurus ini, seruling orang itu sudah saling bentur tiga belas kali dengan pedang panjang Hong-lay-mo-li.
Berputar tajam pedang Hong-lay-mo-li, sementara kebutan ditangan kiri lagi2 mengebas datang, kali ini ia kerahkan tenaganya sehingga benang2 kebutannya tergulung dalam satu untaian maka ia gunakan kebutan sebagai Boan-koan-pit, sasarannya adalah Thay-yang-hiat orang itu, sementara pedang bergerak menggunakan daya lengket, pikirnya hendak menuntun seruling lawan kelingkaran luar.
Kembali orang itu menghela napas, ujarnya.
"Kami cukup saling sentuh saja, bukankah lebih baik? Apa benar kau hendak adu jiwa kepadaku?"
Mulut bicara kaki tangan tidak menjadi kendor, serulingnya dia jungkit keatas dengan jurus Ki-hwe-liau-thian, kembali ia sampuk miring kebutan lawan, sebat sekali ia robah pula dengan gerakan melintang, begitu membentur pedang panjang kembali serulingnya ia puntir dan disendal, sekaligus ia punahkan tekanan daya lengket Honglay-mo-li.
Sekaligus Hcng-lay-mo-li menggunakan dua macam gaman, satu lemas yang lain kaku, sekali tempo bisa dibuat lunak bisa digunakan secara kekerasan pula, bahwasanya kombinasi ilmu yang hebat ini merupakan inti pelajaran silat tingkat tinggi yang sukar dipelajari orang sembarangan, tak nyana lawan dengan mudah dapat mematahkan setiap rangsakan kedua senjatanya ini, mau tidak mau Hong-lay-mo-li merasa masgul dan hambar.
"Nah, sekarang tiba saatnya, silakan siocia sambut beberapa jurusku."
Dimana serulingnya terayun, terbayanglah bayangan seruling beribu lapis, sekaligus ia lancarkan enam jurus serangan, beruntun menutuk tiga puluh enam Hiat-to Hong-lay-mo-li.
Dengan kebutan melindungi badan, pedang Hong-lay-mo-li menyerang musuh, ia tumplek seluruh kemampuan latihan silatnya, satu persatu enam jurus rangsakan lawan ia patahkan.
Orang itu berseru memuji.
"Bagus, Hong-lay-mo-li memang tidak bernama kosong!"
Sebaliknya Hong-lay-mo-li sendiri amat mendelu, maklumlah orang melawan serangannya dengan adem ayem, sebaliknya dia harus kerahkan seluruh kemahirannya baru bisa punahkan enam jurus serangannya.
Timbul rasa ingin menang dalam benak Hong-lay-mo-li, segera ia kembangkan Thian-lo-hud-tim-sha-cap-lak-sek dan Yo-hun-kiamhoat, entah berkembang atau terikat kencang kebutannya, sementara pedangnya tegak atau mengiris miring, permainannya amat serasi dan kompak antara kedua gaman yang berlainan ini, gerak langkahnya enteng laksana air mengalir selincah kupu menari diatas kuntum kembang, setiap ujung pedangnya meluncur mengeluarkan desiran suara tajam.
Kedua macam ilmu tunggal antara positip dan negatip dikembangkan bersama, sungguh hebat iluar biasa perbawanya, Hanya bertahan dengan serulingnya lambat laun orang itu mulai terdesak, sebentar lagi, Hong-lay-mo-li sudah mendesak lawannya dari bertahan balik menyerang.
Tiba2 orang itu bersiul panjang, serunya.
"Baik, sekarang akupun harus bertindaklah!"
Seruling melintang melindungi dada, se-konyong2 tapak tangan kirinya menepuk kedepan, kelihatannya tapak tangannya menepuk sewajarnya saja, tapi tenaganya menerpa kedepan dengan dahsyat, se-olah2 mengandung damparan gelombang yang tak kelihatan melandai kedada Hong-lay-mo-li, lekas Hong-lay-mo-li gunakan gerakan Jian-kin-tui (berat seribu kati), tak urung badan masih ter-geliat Merasa Lwekang lawan lebih unggul dari dirinya, lekas Hong-lay-mo-li robah permainan pedangnya, dari Yo-hunkiam-hoat menjadi Tui-hong-kiam-sek, dikombinasikan dengan kebutannya ia merangsak lebh gencar lagi, kedua senjata sama menggunakan tenaga kasar, jurus tipunyapun semakin ganas dan keji.
Tapi pukulan tapak tangan lawanpun tak kalah gencarnya, dari satu disusul yang iain, angin pukulannya menderu keras, sehingga kebutan Hong-lay-mo-li terhembus buyar melambai lambai, sinar pedang pecah berhamburan.
Meski Hong-lay-moli sudah mencecar dengan rangsakan membadai, namun tak kuasa mendesak lawan.
Semakin tempur semakin cepat dan sengit, sehingga dahan dan daon pohon rontok berhamburan, burung2 dipucuk pohon terkejut terbang kian kemari, begitulah mereka bergerak selulup timbul naik turun mengadu kelincahan dan ketangkasan pula, tanpa terasa seratus jurus sudah dicapai Hong-lay-mo-li merasa tenaga dalamnya takkan kuat bertahan lama lagi, diam2 ia mengeluh dalm hati, terpaksa ia pergencar serangannya, sebaliknya orang itu kembali bersikap adem ayem dan tak gentar sedikitpun, kembali ia tempelkan seruling kebibirnya dan berkata tertawa.
"Tiada perjamuan yang tak bubar dalam dunia ini, kalau tadi kutiup lagu selamat datang, biar sekarang kuan-tar dengan lagu selamat berpisah."
Irama yang bernada sedih memilukan seketika mengalun dari batang serulingnya.
Begitu rawan dan sedih lagu serulingnya ini, se-olah2 menyayangkan perkenalan singkat dengan seorang teman baru yang belum lama dikenalnya harus berpisah kembali, sementara dirinya selanjutnya seperti mega mengembang yang mendadak dihembus angin dibawa kian kemari tak menentu arah, empat lautan menjadi rumahnya.
Semula Hong-1ay-mo-li masih punya rasa permusuhan, tapi serta mendengar irama serulingnya yang memilukan ini, mau tidak mau ia terbawa kealam pikiran yang mengetuk kalbu.
Hong-lay-mo-li tersentak sadar dari buaian irama seruling yang sedih ini, segera ia kertak gigi, Sret, pedangnya segera menusuk, Orang itu sedang meniup lagunya sampai ritme2 terakhir, agaknya dia sendiripun sedang tenggelam dalam buaian kepedihan irama serulingnya sendiri, karena rangsakan pedang Hong-lay-mo-li yang gencar ini, tanpa sadar ia mundur ke-pinggir jurang.
Betapa cepat gerak serangan pedang Hong-lay-mo-li, kebetulan disaat lagunya habis belum lagi orang itu gerakan serulingnya untuk melawan, ujung pedang lawan tahu2 sudah mengancam ulu hatinya, tenaga tepukan tapak tanganpun tak kuasa menyampuk miring tusukan telak pedang lawan.
Tahu2 kaki orang itu menginjak tempat kosong, seketika badannya terjungkal jatuh kedalam jurang melayang seperti layang2 putus benang, Semula Hong-lay-mo-li amat getol hendak membunuh orang, mimpipun tak terpikir olehnya kemenangan dicapainya sedemikian mudah, keruan hatinya amat kaget dan terasa hambar, hampir saja dia menjerit kaget dan kuatir.
Dalam kejap lain orang itu jumpalitan dengan gaya burung dara jungkir balik ditengah angkasa, kaki kanan menginjak dipunggung kaki kiri, dengan ringan tahu2 badannya sudah hinggap diatas bumi dibawah jurang sana.
Terdengar senandungnya yg lantang ku-mandang dialam pegunungan, sekejap saja orang sudah kembangkan Ginkangnya dan menghilang ditelan semak2 rumput yang belukar dikeremangan malam purnama.
Bayangan orang itu sudah tak kelihatan pula, Tapi siulan panjangnya masih bergema dari kejauhan, laksana naga menari terbang keangkasa.
Lama dan lama sekali dalam kehambaran hati Hong-laymo-li tersentak sadar.
Disaat ia menerawang pengalaman selama ini dan baru saja hendak meninggalkan tempat itu, tiba2 didengarnya keresekan suara lirih, terang itulah langkah2 Ginkang tinggi yang sedang mendatangi kearah dirinya.
Tanpa banyak membuang waktu lekas Hong-lay-mo-li melambung naik ke-pucuk pohon, dengan cermat ia awasi keadaan sekelilingnya.
Dibawah cahaya bulan betul juga dilihatnya dua orang mendatangi, tapi kedua orang ini sama mengenakan seragam militer, Ternyata kedua orang ini adalah komandan Gi-lim-kun negeri Kim Tam To-ceng dan seorang Busu anak buahnya, kedua orang ini tiba ditempat pertempuran Hong-lay-mo-li tadi, dengan seksama mereka memeriksa jejak2 pertempuran yang masih membekas diatas tanah, terdengar Tam To-ceng berkata lantang.
"Banswe (raja) ada mengundang, diharap Kongcu sudi keluar supaya kami menghadapi keadaan hutan sunyi senyap, yang terdengar hanya gema suara Tam To-ceng sendiri. Tiba2 Busu itu menjerit kaget "Ada apa gembar gembor?"
Tanya Tam To-ceng.
"Tam-ciangkun, lihatlah kemari, dipinggir jurang ini ada setengah tapak kaki, tanah disinipun gugur sebagian, terang baru saja rontok kebawah, wah, mungkinkah orang itu sudah terbunuh oleh Hong-lay-mo-li?"
Dugaannya sebenarnya tidak meleset, namun Tam To-ceng mendengus hidung, melirikpun ia tidak kearah yang ditunjuk, jengeknya dingin.
"Omong kosong belaka, Bu-lim-thian-kiau memangnya gampang dikalahkan orang Iain?"
Baru sekarang Hong-lay-mo-li tahu nama orang yang dilabraknya tadi kiranya bergelar Bu lim-thian-kiau, gelar julukannya ini memang cukup segar, cuma rada takabur, demikian batinnya.
Busu itu kurang terima, tapi Tam To-ceng sebagai atasannya, tak berani ia mendebatnya, sesaat baru dia bertanya.
"Tam-ciangkun, apa kau pernah melihat Bu-limthian-kiau ?"
"Pernah melihatnya sekali."
"Aku hanya pernah dengar petualangannya, Tam-ciangkun apa benar ilmu silatnya selihay apa yang tersiar dikalangan Kangouw? Menurut pendapatmu bagaimana kalau dibanding Kiu-lo Siangjin?"
"ltu seumpama aliran sungai dibanding lautan teduh, sinar kunang2 dibanding cahaya bulan purnama, bahwasanya tak bisa disejajarkan, jangan kau sangka Mo-li itu bisa kalahkan Kiu-lo Siangjin lantas tiada tandingan dikolong langit, aku yakin Bu-lim-thian-kiau kita itu pasti bisa membekuknya."
"Kalau demikian, sekarang dia sudah menagih jasanya kepada Hong-siang, untuk apa pula kami lama2 berada disini?"
"Kalau Bu-lim-thian-kiau seorang yang sudi terima jasa dari Hongsiang, dia takkan menggunakan julukan Thian-kiau! Kau tidak tahu..."
Mendadak ia berhenti "Tidak tahu apa?"
Desak si Busu.
"Tak perlu kukatakan, kalau kau tahu urusan2 itu malah bikin celaka dirimu."
"Aku memang ada mendengar sedikit kabar, katanya Hongsiang ingin minta bantuannya, namun juga rada takut terhadapnya, dia..."
"Urusan kerajaan tak boleh kami sembarang memperbincangkan."
Sentak Tam To-ceng, lalu ia menghela napas, katanya.
"Bu-lim-thian-kiau tidak mau unjukan diri, terpaksa kita pulang saja."
Kebetulan Hong-lay-mo-li dapat mencari tahu asal usul Bulim-thian-kiau dari kedua orang ini, mana dia mandah membiarkan mereka berlalu? Segera a lompat turun dari atas pohon, serunya.
"Coba kalian lihat siapa aku? Aku belum mati Iho! Siapa itu Bu-lim-thian-kiau, lekas katakan ?"
Pucat seketika rona muka Busu itu, batinnya.
"Kiranya benar Bu-lim-thian-kiau sudah terbunuh olehnya!"
Sebagai komandan Gi-lim-kun, kepandaian dan nyali Tam To-ceng sudah tentu lebih besar dan berani, meski kedatangan Hong-lay-mo-li amat mendadak dan diluar dugaan, namun ia tidak menjadi gugup.
"Sret"
Beruntun dua kali ia menusuk kepada Hong-lay-mo-li lebih dulu, Hong-lay-mo-li menyontek dengan kebutannya, pedang panjang Tam To-ceng ternyata cukup lincah dan bisa berubah menurut gelagat, dengan tenang ia hindari kebutan lawan yang hendak merebut pedangnya, segera ia kembangkan ilmu pedangnya saling serang menyerang dengan sengit.
Bagian 04 Busu itu mengeluarkan golok panjang yang melengkung, cepat ia menubruk maju membantu, dia yakin jiwanya takkan hidup lagi, rasa takutnya hilang malah, sambil menggembor dan membentak2 segera ia mainkan ilmu goloknya menyerang dengan kalap, sengaja Hong-lay-mo-li memberi lobang sehingga lawan merangsak masuk kedalam perangkapnya, disaat golok lawan membacok datang, tiba2 kebutannya ia putar balik, digunakan sebagai potlot baja, dimana gagangnya mengetuk, dengan telak ia menutuk Hoan-tiau-hiat dilutut si Busu, golok si Busu seketika berhenti ditengah udara tak kuasa diayunkan.
Sekejap saja Tam To-ceng sudah menyerang dua puluhan jurus, Sekonyong2 pedang Hong-lay-mo-li melengket dan memelintir terus dituntun keluar, sebat sekali merangsak balik pula ketengah, Tam To-ceng mengayun balik pedang, terasa angin keras menerpa, tahu2 Hong-lay-mo-li sudah mengubah permainan menggeser kedudukan, ujung pedangnya menukik turun mengincar Hiat-to di tulang iga kirinya, begitu Tam Toceng memantek dengan pedang, tahu2 Hong-lay-mo-li sudah berada disebelah kanannya, ujung pedang kembali mengincar tulang iga kanan.
Beruntun Tam To-ceng sudah gunakan beberapa permainan pedang dan gerakan tubuh, selalu tak berhasil meloloskan diri dari libatan sinar pedang lawan, Hong-lay-moli selalu setindak lebih cepat mendahuluinya, yang dincarpun selalu Hiat-to yang mematikan.
Hong-lay-mo-li bermaksud membekuknya hidup2, kalau tidak mana dia mampu bertahan sampai tiga puluhan jurus melawannya?
Tatkala itu Tam To-ceng boleh dikata sudah bisa ditundukkan asal sedikit menyurung ujung pedangnya, jiwa Tam To-ceng tentu melayang seketika.
Dengan bandel Tam To-ceng malah membentak.
"Mau bunuh atau sembelih, silakan saja, apa sih maksudmu?"
"Tam-ciangkun,"
Ujar Hong lay-mo-li tertawa.
"Kau sudah menyerah? Kulihat kau memang laki2 sejati, aku tidak ingin membunuhmu. sebetulnya siapakah Bu-lim-thian-kiau itu? Tuturkan asal usulnya, nanti kulepas kau pulang!"
Tam To-ceng gusar serunya.
"Seorang laki2 sejati matipun tak sudi dihina, mana aku sudi minta ampun dibawah ancaman pedangmu? Gampang kau bunuh aku, sulit kau bisa mendengar setengah patah omonganku."
Tiba2 pedang ia balikan lantas hendak menusuk puser sendiri, lekas kebutan Hong-lay-mo-li menggulung, ia rebut pedang panjang orang,, tapi ujung pedang sudah melukai kulit perutnya, darah segar memancur deras.
Melihat orang berwatak begitu keras dan kukuh, timbul rasa hormatnya, sengaja ia beri kesempatan orang lari, pelan2 ia putar badan tanpa hiraukan dia, dengan kebutannya ia buka tutukan Hiat-to Busu itu, dengan ujung pedang ia mengancam.
"Kau belum pernah melihat Bu-lim-thian-kiau, tentu pernah mendengar banyak persoalannya, asal kau tuturkan apa yang kau ketahui, kuampuni jiwamu."
Karena ada harapan hidup, Busu itu ragu2, katanya dengan ter-gagap.
"Aku, kukatakan..."
Baru dua patah kata, tiba2 terdengar suara mendesir menyamber datang, dengan kebutannya Hong-lay-mo-li mengebas jatuh satu batang panah pendek, tapi sebatang yang lain meluncur dari arah yang berlainan keleher si Busu, Hong-lay-mo-li tak sempat memukul-nya jatuh, seketika Busu itu menjerit mengenaskan dan roboh binasa, panah itu menembus kedalam tenggorokannya.
"Kurangajar, sengaja kuberi kelonggaran kepada mu, malah kau merusak usahaku! Kau kira aku tidak berani membunuhmu?"
Damprat Hong-lay-mo-li menghampiri bagaikan api lilin yang terhembus angin bergoyang gontai badan Tam To-ceng terhuyung2, serunya sambung menyambung.
"Kerajaan besar Kim tak bisa antap manusia tak punya tulang seperti itu hidup, ingin aku supaya kau tahu kerajaan besar Kim juga punya laki2 gagah."
Tiba2 sekumur darah menyembur keras dari mulutnya, berbareng badannya roboh terjengkang kiranya setelah menyambitkan anak panah-nya, ia sendiri bikin urat nadi dalam tubuhnya bergetar pecah dan binasa.
Setelah kekerasan berlalu, bau darah yang amis-pun terhembus angin lalu, suasana gunung belukar ini kembali sunyi senyap, ketinggalan dua sosok mayat yang menggeletak diatas tanah, Betapapun Hong-lay-mo-li tetap gagal untuk mengetahui asal usul Bu-lim-thian-kiau yang sebenarnya.
Peristiwa sudah berselang satu bulan, kini mendengar Tangwan Bong mengisahkan pengalaman kejadian ditempat yang sama dalam waktu yang bersamaan pula, maka dalam hati ia membatin.
"Kiranya satu hari dia datang lebih dulu dari aku di Thay-san, entah pernahkah dia bertemu dengan Bu-limthian-kiau? Dia menyingkir ter-gesa2, kecuali hendak melindungi keselamatan Tang-hay-liong, apakah lantaran Bulim-thian-kiau juga?"
Terdengar Tang-hay-liong melanjutkan ceritanya.
"Hoa Tayhiappun bilang, waktu dia menemukan jejak Wanyen liang dan kamrat2nya, secara diam2 ia mencuri dengar percakapan mereka, yaitu tentang penyerbuan pasukan besar negeri Kim ke negeri Song diselatan, Maka dibawah gunung Thaysan dia berjanji kepadaku, kami masing2 berpencar menunaikan tugas, dia langsung menuju ke Kanglam, sementara aku diutus menemui Khing King Ciangkun, Hoa Tayhiap ada menulis sepucuk surat, suruh aku langsung menyerahkan kepada Khing King Ciangkun, siapa tahu aku datang terlambat satu hari! Ada orang beritahu kepadaku, Khing-siangkong adalah keponakan Khing-ciangkun, terpaksa surat ini kuserahkan kepadanya saja."
Baru sekarang Khing Ciau tahu kenapa Tang-hay-liong mencari dirinya.
Khing Ciau buka surat itu, Ternyata sebelum ini Hou Kokham memang pernah bertemu dengan Khing King, dalam suratnya ini dia anjurkan supaya Khing King pimpin pasukannya memberontak demi membela nusa dan bangsa, sekaligus untuk mengobrak-abrik garis belakang pasukan negeri Kim.
Berkata Khing Ciau berlinang air mata setelah membaca surat ini.
"Terima kasih akan petunjuk dan bantuan Hoa Tayhiap, terima kasih kepada Lo-cian-pwe jauh2 kemari mengantar surat ini, sebelum cita2 paman terlaksana, beliau menemui ajalnya dengan mengenaskan Tapi apa yang diharapkan oleh Hoa Tayhiap, beliau sudah melaksanakannya dengan baik."
Baru sekarang Tang-hay-liong ingat seperti pernah mengenalnya, tanyanya.
"Khing-siangkong, agaknya kami seperti pernah bertemu entah dimana?"
"Tajam benar pandangan Lo-ciannpwe, tempo hari waktu Lo-cianpwe meluruk ke Siang-keh-po, menempur Kongsun Ki suami istri, kebetulan Wanpwepun berada disana."
"Benar, menyinggung peristiwa Siang-keh-po, aku jadi ingat Liu Lihiap, Hoa Tayhiap titip kabar kepadaku supaya disampaikan kepada kau, yaitu mengenai keparat Kongsun Ki itu."
"Darimana Hoa Tayhiap tahu aku berada disini?"
"Kalau dikatakan persoalan ini rada ber-belit2, biarlah aku mulai dari Khing-siang-kong saja, Hoa Tayhiap memang belum pernah melihat Khing-siang-kong, tapi dia tahu akan dirinya, kerajaan Kim sedang menyebar maklumat hendak menangkap dirinya."
Khing Ciau menyela bicara.
"Hoa Tayhiap pernah bertemu dengan paman, tentu paman pernah menyinggung diriku kepadanya, apalagi setelah melihat maklumat itu, tentu dia mengira bahwa aku sudah berada dalam pasukan paman."
"Benar, bukan saja dia jelas tahu mengenai dirimu, malah diapun tahu kau seperjalanan dengan nona San San. Dia berkata kepadaku, setelah bertemu dengan Khing Ciau, boleh titip kabar ini supaya disampaikan kepada nona San San, dari San San langsung disampaikan pula kepada Liu Lihiap, Tak kira Liu Li-hiap pun berada disini, urusan jadi tak usah berputar2."
Hong-lay-mo-li manggut2 paham, Tanyanya.
"Kabar apa yang Hoa Tayhiap minta disampaikan kepada-ku?"
"Hoa Tayhiap berkata, hari itu karena dia pandang muka Liu Lihiap maka dia lepaskan Kongsun Ki. Di-katakan Kongsun Ki sudah nyeleweng dan terjeblos ke jalan sesat, kabarnya belakangan ada main pat-gulipat dengan Giok-bin-you-hou, dia kuatir Liu Lihiap kena dikelabui. Sepak terjang Kongsun Ki belakangan ini Hoa Tayhiap bilang tak leluasa turut campur, dia ...."
"Jadi dia minta supaya aku menyelesaikan persoalan..."
"Dia tidak bicara secara gamblang, dia cuma minta aku menyampaikan kabar ini kepadamu!"
Hong-lay-mo-li menggigit bibir, katanya.
"Ya, aku sudah tahu."
Dalam hati ia amat sedih, teringat olehnya bahwa gurunya hanya punya seorang anak tunggal saja, yaitu Kongsun Ki, tak urung hatinya jadi gundah dan kusut.
"Baiklah, surat sudah kusampaikan, sekarang aku harus kembali."
"Kenapa Lo-cianpwe ter-buru2?"
Tanya Hong-lay-mo-li.
"Adikku ketiga Say-ci-hong ada janji dengan seorang musuhnya, aku kuatir akan keselamatan jiwanya, hari yang ditentukan sudah bakal tiba, aku harus lekas kesana membantunya."
Ternyata diantara "Su-pak-thian" (empat brandal langit) Tang-hay-liong adalah yang tertua, ilmu silatnyapun paling tinggi, namun sepak terbangnya ada kalanya rada nyeleweng juga.
Sebaliknya Say-ci-hong berbakat dalam ilmu silat dan sastra, dimana ia berada sering membantu yang lemah menindas yang lalim, bolehlah di pandang sebagai pendekar kelana pembela keadilan, ilmu silatnyapun tidak terpaut jauh dengan Tang-hay-liong.
Diam2 Hong-lay-mo-li membatin.
"Hanya ada beberapa tokoh kosen saja yang berkepandaian silat lebih unggul dari Tang-hay-liong dan Say-ci-hong, entah siapa pula musuh Sayciihong itu, sehingga mereka berdua harus melawannya bersama?"
Tapi ia tahu persoalan balas dendam dalam Bulim sering terjadi, kalau orang yang bersangkutan tidak memberi penjelasan orang lainpun tidak enak menanyakannya.
"Samte Say-ci-hong, sering mendarma baktikan dirinya bagi kesejahteraan hidup sesama manusia, dalam hal ini dia jauh lebih unggul dari aku. sebaliknya jite Lamkiong Tio sepak terjangnya tak boleh dihargai pula, walau tidak sebejat Pakkiong Ou terima menjadi antek bangsa lain, namun sering berbuat jahat sekarang dia menjadi begal besar di Kanglam. Kali ini entah aku masih bisa hidup tidak dengan Samte, jikalau tak beruntung aku ajal, kumohon kepada Khing kongcu menyampaikan permintaanku kepada Hoa Tay-hiap, supaya dia mengekang dan menindas Jiteku itu. Kebetulan Khingsiangkong hendak ke Kanglam, tentu kau bisa bertemu dengan Hoa Tayhiap disana."
"Sesat takkan mengalahkan lurus, Lo-cianpwe tentu bisa selamat dalam menghadapi tantangan mara-bahaya kali ini, Mengenai pesan Lo-cianpwe, pasti akan kusampaikan kepada Hoa Tayhiap."
San San membatin.
"Lam-san-hou Lamkiong Tio itu adalah musuh pembunuh ayahku, kau tidak menindas-nya, biar aku yang menuntut balas kepadanya."
Namun ia tidak utarakan isi hatinya. Setelah Tang-hay-liong pergi dengan tertawa San San berkata.
"Cici, selama ini kau mengejar jejak Hoa Kok-ham, kini kau sudah tahu kabar beritanya yang sesungguhnya, kenapa tidak bersama kami pergi ke Kanglam saja? Soal Giokbin-yau-hou masih ada lain kesempatan untuk membereskan dia."
Merah kedua pipi Hong-Iay-mo-li, katanya menggeleng.
"Bukan karena Giok-bin-yau-hou tapi lantaran Kongsun Ki. Aku harus cegah dia tertipu oleh siluman rase itu, urusan ini tidak boleh terlambat sebentar aku harus langsung menuju ke Siang-keh-po."
"Kongsun Ki sudah jelas seorang jahat,"
Ujar San San,"
Siocia, buat apa kau berjerih payah lantaran dia?"
"Orang2 Kangouw pandang aku sebagai Mo-li memangnya kaupun berpandangan demikian?"
"Aku tahu siocia punya hati welas asih dan bajik seperti sang Budha, tapi..."
"Kau sudah tahu dan tak perlu banyak bicara lagi. Posat memberi bimbingan hidup kepada umatnya, memangnya aku tidak pantas menolong Kongsun Ki"
Terpaksa San San diam saja, cuma hati rada heran.
Diluar tahunya bahwa Kongsun Ki bahwasanya adalah suheng atau anak tunggal gurunya.
Mereka langsung kembali ke Kilam, saat mana Sin Gi-Cik sedang pimpin upacara penguburan jenazah Khing King, dengan tangannya sendiri dia penggal kepala Thio Ting-kok dihadapan pusara Khing King sebagai sesaji sembahyang.
Setelah upacara selesai Hong-Lay-mo-li minta diri dan berpisah dengan Khing Ciau dan San San.
Berkata Sin Gi-cik.
"Kali ini berkat bantuan Liu Lihiap pemberontak dapat ditumpas, kelak masih mengharap bantuan Lu lihiap pula untuk mengkerek panji perjuangan demi kemerdekaan nusa dan bangsa."
"Ciangkun tak usah kuatir,"
Ujar Hong-lay-mo-li.
"Disaat pasukan besarmu kembali keutara, aku pasti pimpin laskar rakyat menyambutmu!"
Mendengar jawaban ini Sin Gi-cik amat girang dan lega hati.
"Biar kuantar Liu-cici!"
Kata San San, karena sedang berkabung Khing Ciau tak enak ikut mengantar. Setelah cukup jauh Hong-lay-mo-li berkata.
"Adikku, kau kembalilah."
"Hari masih begini pagi, kenapa ter-gesa2. Cici, Thian-lohud-tim-sha-cap-lak-sek dan Yo-hun-kiam-hoat yang kau ajarkan kepadaku masih ada beberapa jurus yang belum kupahami."
"Coba jelaskan, jurus2 yang mana?"
Lalu sambil jalan Honglay-mo-li memberi petunjuk dan penjelasan, tanpa terasa mereka sudah sepuluhan li diluar kota, semua pertanyaan San Sanpun sudah terjawab. Berkata Hong-Iay-mo-li.
"Kecerdasanmu luar biasa, setelah memahami Thian-lo-hud-tim dan Yo-hun-kiam-hoat ini, berkecukupan untuk menghadapi Lam-san-hou (harimau gunung selatan), Hari sudah hampir lohor, kau mengantarku sedemikian jauh, apa kau tidak kuatir Khing Ciau gelisah? Lekaslah pulang!"
"Cici, aku takkan kembali pula."
Hong-lay-mo-li melengak.
"Kenapa kau tidak kembali?"
Sudah kutulis surat untuk Khing Ciau, kuberitahu bahwa aku hendak ikut Cici, tak bisa seperjalanan dengan dia."
"Apa kau tak mau ke Kanglam menuntut balas kepada Lamsan-hou pembunuh ayahmu itu?"
"Dendam kematian ayah, mana boleh tidak dibalas? Cici, disini aku berpisah dengan kau, langsung aku-akan menuju ke Kanglam."
Demikian sahut San San penuh keyakinan. Hong-lay-moli melengak, tanyanya.
"Lha tadi kau katakan hendak ikut aku? Apakah yang terjadi?"
San San tertawa cekikikan sambil membuat muka setan, ujarnya.
"Kalau tidak kukatakan demikian, mana dia mau percaya?"
Sengaja ia perlihatkan sikapnya yang nakal, dengan mengulum senyum lebar, namun senyum yang syahdu dan tawa yang getir dan pilu. Hong-lay-mo-li paham, katanya.
"O, jadi kau sengaja menyingkir dari samping Khing Ciau, seorang diri hendak pergi ke Kanglam."
San San tertunduk, sahutnya.
"Benar, aku tidak bisa bergaul sama dia pula, Aku tidak suka menimbulkan banyak kecurigaan-nya, sengaja kubuat alasan ini untuk meninggalkan dia."
Dengan hambar Hong-lay-mo-li bertanya.
"Kenapa kau berbuat demikian, bukankah Khing Ciau baik2 terhadapmu?"
"Justru dia terlalu baik kepadaku, dia pandang dan bersikap sebagai kakak kandungku sendiri, maka aku tidak akan membuatnya sulit dan bimbang."
Hong-lay-mo-li menghela napas, katanya.
"Aku sudah paham, bukan saja lantaran Khing Ciau, demi merangkap perjodohan orang lain pula, Tapi bukankah hatimu malah sedih?"
Ber-kaca2 mata San San, katanya.
"Cici, jangan kau bujuk dan cegah aku. Aku memang teramat sedih. Tapi, kalau aku tidak tinggalkan Khing Ciau, ada orang yang lebih sedih dan merana daripadaku. Riwayat hidup nona Cin seperti aku, sekarang diapun anak yatim-piatu, tapi dia jauh lebih harus dikasihani dari aku, aku masih punya kau sebagai Cici-ku, ada Tai Mo, Bing Cu dan lain2 sebagai saudara dekat sebaliknya dia hanya Khing Ciau seorang sebagai tulang punggung. Sejak kecil mereka sudah terangkap dan tumbuh dewasa bersama, hati masing2 sudah terjalin mendalam, Cici, memangnya kau tidak tahu akan hal ini? Mereka mengalami banyak penderitaan dan kesengsaraan, gembelangan dan ujian yang begitu berat hampir saja membuat mereka salah paham dan bermusuhan, baru sekarang duduk perkaranya dibikin jelas dan rujuk kembali, mana boleh aku menyelinap diantara mereka?"
Hong-lay-mo-li tertunduk diam, ujung matanyapun pun berlinang air mata. Ujar San San lebih lanjut.
"Cici, apa kau anggap perbuatanku ini salah? Kalau kau sendiri, apa pula yang akan kau lakukan?"
Dengan kencang Hong-lay-mo-li genggam tangan San San, katanya.
"Adikku, kau memang nona yang baik, gadis bijaksana, Memang kalau aku sendiri yang mengalami akupun akan berbuat seperti kau."
San San mendongak melihat cuaca sambil tersenyum, katanya.
"Baiklah, kini aku harus segera berangkat Cici, semoga kau selekasnya tiba di Kanglam, Siau-go-kan-kun Hoa Kok-ham itu sekarang sedang berada di Kanglam bukan!"
San San menempuh kejalan lain yang jaraknya lebih jauh, maksudnya hendak mengitari Kilam langsung menuju ke Kanglam, Hong-lay-mo-li antar bayangan orang sampai tidak kelihatan, baru dengan langkah gemuntai ia lanjutkan perjalanannya sendiri.
Belum jauh ia berjalan, tiba2 didengarnya suara keliningan kuda, seseorang sedang membedal kudanya mengejar dari belakang, yang bercokol dipunggung kuda adalah seorang gadis, dari kejauhan sudah berteriak.
"Liu Lihiap, harap tunggu sebentar."
Tak terasa melengak pula Hong-lay-mo-li dibuat-nya, serunya.
"Eh, nona Cin, kenapa kaupun datang?"
Cin Long giok lompat turun lalu memburu kede-pan Hong-Iay-mo-Ii, tanyanya.
"Apakah San San cici sudah pulang?"
"Sudah sejak tadi Masa kau tidak bertemu ditengah jalan?"
Hong-lay-mo-li tahu orang sengaja mengejar kemari hendak menarik San San pulang. Tak nyana Cin Long-giok sudah unjuk rasa riang, katanya.
"Untung tidak ketemu dia, aku berputar lewat jalan kecil, maksudku supaya tidak kebentur sama dia."
"Kenapa?"
Tanya Hong-lay-mo-li tertegun.
"Karena aku tidak ingin pulang."
Kejut dan heran Hong-lay-mo-li, tanyanya.
"Eh, memangnya kenapa?"
"Liu Lihiap, urusan akan kujelaskan kepadamu, aku mohon sesuatu dulu kepada kau, apa kau sudi melulusi?"
"Apa yang kau inginkan, silakan berkata."
"Aku minta kau menerima aku sebagai dayangmu."
"Nona Cin, kau hendak menyiksaku saja. Ayahmu dan guruku setingkat dan seangkatan, hubungan kami layak sebagai kakak beradik pula."
"Sakit hati pembunuh ayahku, berkat petunjuk dan jerih payahmu baru aku mendapat tahu pembunuh yang sebenarnya, Liu Lihiap, budi bantuanmu terhadapku, meski badanku hancur leburpun tak kuasa aku membalasnya. Biarlah kau terima diriku mendampingimu saja."
Habis berkata ia tekuk lutut hendak menjura. Lekas Hong-lay-mo-li kebaskan lengan bajunya, menerbitkan segulung tenaga lunak, menahan kedua pundaknya, katanya.
"Se-kali2 aku tidak berani terima, seumpama San San, selama ini aku tidak pernah pandang dia sebagai dayangku, Nona Cin, kau lahir dalam tahun yang sama dengan Khing Ciau, benar tidak?"
Orang mendadak menyinggung Khing Ciau, Cin Long-giok tidak tahu kemana maksud kata2nya, sahutnya setelah melengak.
"Benar!"
"Kalau demikian, aku lebih tua dua tahun dari kau, biarlah aku anggap diriku sebagai kakak, kau boleh panggil aku sebagai Cici."
"Liu Lihiap, kau terlalu baik terhadapku."
Setelah dia menyebut "Cici", barulah Hong-lay-mo-li menerima sembah hormatnya.
"Cici, kau tidak mau terima aku sebagai dayangmu, sukalah kau bawa aku, sekarang aku sudah tidak punya rumah lagi!"
"Kau kan masih punya Piauko? Kau harus ikut Khing Ciau, kenapa kau harus meninggalkan dia?"
Tanya Hong-lay-mo-li! Merah biji mata Cin Long-giok, sahutnya.
"Aku tidak mau membuatnya serba susah, kalau aku berada bersama dia, bukan saja hatiku takkan tenang, kelak diapun pasti menyesal"
Mendengar lagu bicara orang mirip dengan San San, Honglay-mo-li sudah paham seluruh persoalan nya, tergerak dan haru hatinya, katanya lembut sambil mengelus rambutnya.
"Adikku, kau punya isi hati apa, bicaralah dengan Cicimu!"
Ber-Iinang air mata Cin Long-giok, ujarnya.
"Aku sudah berpikir bolak balik, kecuali aku berpisah dengan dia, kalau tidak hatiku takkan tenang."
"Maksudmu lantaran San San?"
Tanya Hong-lay-mo-li secara langsung.
"Demi San San cici juga demi dia. Cici San San setia dan berbudi terhadap Piauko, aku tahu riwayat hidup Cici San San seperti aku harus dikasihani aku tidak bisa membuat seorang anak yatim piatu kesusahan seorang diri."
Ia menyeka air mata, lalu meneruskan.
"Budi pertolongan cici San San terhadap Piauko setinggi gunung, beberapa hari ini secara seksama aku mengamati dari samping, perangai dan watak mereka satu sama lain amat cocok, satu sama lain punya pengertian yang mendalam lagi. Kalau aku hadir diantara mereka, akibatnya tentu amat fatal, Aku harap dia tidak menyia2kan cinta kasih cici San San, akupun dak mau melukai dan membuat hati cici San San sedih Liu Lihiap sukalah kau menerima permohonanku, biar aku ikut kau saja."
Hong-lay-mo-li amat haru dan serba susah pula. Terdengar Cin Long-giok berkata pula.
"Cici, aku ingin ikut kau masih ada tujuan pribadiku sendiri."
"Tujuan pribadi apa?"
"Musuh pembunuh ayahku sudah kuketahui, sayang ilmu silatku teramat rendah, mungkin takkan mampu menuntut balas, Cici, biar aku meladeni kau, disamping minta belajar kepandaian kepadamu."
Sembari bicara kembali ia hendak berlutut lagi. Lekas Hong-lay-mo-li menariknya pula, katanya.
"Jangan begitu, nona Cin, dengarkan dulu kata2ku! Aku tahu apa yang kau katakan tadi adalah suara hati nuranimu! Tapi apa yang pernah kukatakan tadi, terus terang aku ngapusi kau!"
Cin Long-giok tertegun, sorot matanya hambar dan was2, dengan mendelong ia awasi Hong-lay-mo-li. Berkata Hong-laymo-li pelan2.
"Tadi kukatakan San San sudah pulang, itu tidak benar, Dia tidak pulang, seorang diri dia sudah pergi."
Terkejut Cin Long-giok, katanya ter-gagap.
"Dia, dia sudah pergi seorang diri? Kenapa?"
"Karena jalan pikirannya sama seperti kau, diapun tidak ingin membuatmu sedih, Maka diapun berkeputusan untuk berpisah dengan Khing Ciau."
Cin Long-giok menjerit gugup dan gelisah, hatinya hambar dan menjublek tak bergerak. Hong-lay-mo-li pegang lengannya, katanya lebih lanjut.
"Maksud kalian sama, tentunya kau bisa memahami isi hatinya, Dia ingin supaya kau tetap mendampingi Khing Ciau kini dia sudah pergi, maka kau jangan berlalu."
"Tidak!"
Tiba2 Cin Long-giok menjerit dari lamunannya.
"Cici San San pergi lantaran aku, aku harus mencarinya kembali."
"Tenangkan dulu pikiranmu, jangan kau abaikan maksud baik San San!"
Sampai disini, tiba2 Hong-lay-mo-li ulur jari tangannya menutuk Hiat-to Cin Long-giok.
Seketika Cin Long-giok rasakan badannya lemas lunglai, tanpa kuasa ia meloso jatuh terduduk diatas tanah tanpa bisa bergerak.
Hong-lay-mo-li berkata.
"Aku pergi, Aku hanya bisa sekedar bantu kau mempertinggi ilmu silatmu, meski tidak mencapai tingkatan tertinggi namun untuk menghadapi Giok-bin-yauhou, kukira sudah cukup berkelebihan."
Suaranya semakin jauh dan lirih, sekejap saja bayangannya sudah hilang dikejauhan.
Karena Hiat-to mendadak tertutuk sungguh Cin Long-giok kaget dan heran pula, terasa badan menjadi panas seperti dibakar, hawa murninya bergolak dan luber menerjang kian kemari, se-olah2 hendak menerjang keluar dari sendi2 tulang dan semua Hiat-to2 tubuhnya, rasanya amat menyiksa.
Secara reflek lekas ia gunakan ajaran inti sari Lwekang perguruannya, duduk samadi, menghimpun semangat mengatur napas, hawa murni mulai dia himpun kembali, semula dalam hati ia masih ber-tanya2, kenapa Hong-lay-mo-li menutuk Hiat-tonya.
Lambat laun hawa murninya sudah terkumpul seluruh Hiatto dalam tubuhnya seperti tertusuk jarum sakitnya, terpaksa ia harus kerahkan seluruh tenaganya untuk pertahankan diri, maka segala persoalan tak sempat dipikir pula.
Entah berapa lama kemudian, tiba2 terasa badan nyaman, darah dalam badannya berjalan lancar seperti air bah yang menyebol bendungan mengalir dengan lancar dan leluasa, semangat menjadi segar dan napaspun enteng, dengan sendirinya Hiat-to yang tertutuk tadipun terbuka punah.
Dengan rasa hambar dan tidak mengerti Cin Long-giok bangkit berdiri, coba2 ia gerakan kaki tangan, terasa tenaga murni bersemayam penuh dalam badan, setiap gerak kaki tangannya menerbitkan deru angin keras.
Keruan heran dan tak mengerti Cin Long-giok dibuat-nya, coba2 tapak tangannya menebas kedepan, dahan pohon sebesar lengan bocah dengan mudah terbabat kutung.
Baru sekarang Cin Long-giok sadar dan paham, Ternyata tutukan Hiat-to Hong-lay-mo-li barusan ternyata sekaligus bantu dia menyebol Sam-king-meh dalam badannya yang selalu menghambat kemajuan latihan ajaran ilmu pedang dan pukulan perguruannya selama ini.
Karena King-meh atau urat nadi ini terbuka, selanjutnya dalam latihan Lwekang tingkat tinggi, akan jauh lebih mudah tercapai sungguh haru, terima kasih dan hambar pula hati Cin Long-giok.
Akhirnya ia berkeputusan lekas ia cemplak kepunggung kudanya, seorang diri dengan menunggang kuda ia menuju ke utara, Dia ingin memindah dulu pusara ayahnya ketempat yang lebih sesuai dan tersembunyi, setelah itu baru berusaha menemukan jejak Ciok-bin-yau-hou serta menuntut belas kepadanya.
Sementara kami tinggalkan dulu pengalaman Cin Long-giok dan San San dalam perjalanan masing2.
Ma-rilah kita ikuti perjalanan Hong-lay-mo-li yang menuju kerumah Su-hengnya, sepanjang jalan hatinya gundah hampa dan terkekang akan masa lalu.
Dua hari kemudian ia sudah tiba di Hou-loan-san, dimana letak Siang-khe-po tempat tinggal Kongsum Ki suami istri, Tatkala itu sudah menjelang kentongan kedua, rembulan pudar sinar bintang guram, tabir malam remang2, diam2 Hong-lay-mo-li menimang dalam hati aku harus langsgung hadapi Suheng seorang diri atau menemui Suso saja?
Suso (istri Kongsun Ki) adalah putri tertua gembong iblis siang Kian-thian, belum tentu dia sehaluan dan seorang yang baik hati?
suheng nyeleweng kejalan sesat, tentulah lantaran terpengaruh oleh istrinya ini."
Sejak kecil kesan Hong-lay-mo-li terhadap suhengnya yang diasuh dan dididik bersama oleh gurunya (ayah Kongsun Ki) amat baik, oleh karena itu betapapun Hong-lay-mo-li jauh memberi kelonggaran dan memaafkan kekeliruan Suhengnya, sulit ia percaya bahwa suhengnya sudah sedemikian bejat dan tak bisa ditolong lagi.
Keadaan Hou-loan-san memang amat berbahaya, namun betapapun sukarnya tidak akan bisa mempersulit Hong-laymo-li, dengan mengembangkan entengi tubuhnya, sebentar saja, dia sudah tiba dipinggang gunung.
Rumput liar tumbuh setinggi kepala manusia, hembusan angin malam membuat rumput bergoyang mengeluarkan suara keresekan, suasana malam memang seram dan menggiriskan, namun dengan tabah Hong-lay-mo-li maju terus keatas gunung.
Tak lama kemudian, Hong-lay-mo-li sudah tiba di balik gugusan puncak Hou-loan-san, dari arah yang tak terdua diam2 ia menyelundup turun dan masuk kedalam Siang-kehpo, memang tidak sedikit jumlah Busu yang jaga malam, namun tiada seorangpun yang menemukan jejaknya.
Hong-lay-mo-li cukup kenal situasi perkampungan ini, tanpa banyak makan tenaga, langsung ia menuju kekamar tidur Suhengnya.
Dilihatnya sinar pelita dalam kamar masih menyorot terang benderang, bayangan sesosok tubuh kelihatan diatas jendela, itulah bayangan bentuk badan Suhengnya.
Disaat Hong-lay-mo-li menerawang bagaimana cara memancingnya keluar, tiba2 didengarnya suara Siang Pekhong istri Kongsun Ki berkata dengan napas memburu.
"Kukira obat ini tak perlu kumakan lagi. Sudah beberapa hari, sedikitpun aku tidak merasa lebih baik."
Hong-lay-mo-li kembangkan Ginkangnya bergelantung diemperen rumah, kepala ia dekatkan ke jendela mengintip kedalam, Tampak Siang Pek-hong rebah diatas ranjang menghadap keluar, kearah suaminya.
Raut mukanya pucat kekuningan, dibawah penerangan sinar pelita lebih jelas akan kesehatannya yang terganggu, kulit mukanya kelihatan kuyu.
Didepan ranjang terdapat sebuah meja kecil, dimana terletak sebuah mangkok yang mengepulkan asap, agaknya berisi obat yang baru digodok oleh Kongsun Ki dan menunggu rada dingin baru akan diminumkan kepada istrinya.
Kongsun Ki menyengir tawa, katanya.
"Hong-moay, kenapa kau begini gugup, penyakit harus dirawat secara sabar dan tenang, jangan kau terlalu banyak pikiran membuat hati sendiri tidak tenang."
"Aku tidak banyak pikiran, coba kau pikir Tay-hoan-tan buatan keluarga kami khusus untuk menyembuhkan luka2 dalam, luka2mu sembuh sedemikian cepat sebaliknya semakin hari kesehatanku malah memburuk, apakah lantaran ajalku memang sudah dekat sungguh aku tak sabar lagi minum obat!"
"Menurut tabib kau terluka bagian empedu, Tay-hoan-tan jadi kurang cocok untuk menyembuhkan penyakitmu ini, resep obat dari tabib ini justru untuk menambah semangat dan kekuatan empedumu, kira2 setengah bulan lagi baru akan nampak hasilnya, sabarkanlah hatimu."
"Aduh, harus menunggu setengah bulan lagi, aku bisa mati saking sebal dan kesal, kau tidak tahu betapa dongkol dan jengkel hatiku?"
"Aku tahu keluarga Siang kalian menjagoi Kang-ouw puluhan tahun, selamanya belum pernah terjungkal. Hari itu Tangwan Bong dan Hoa Kok-ham ber-turut2 meluruk datang, sampaipun kawanan Song Kim-kong keparat itupun ikut2 mencari gara2 terhadap kita, sudah tentu hatimu amat marah dan dongkol, untunglah setengah bulan akan tiba dengan cepat, setelah penyakitmu sembuh, kita balik labrak kawanan Song Kim-kong itu, lalu satu persatu mencari perhitungan dengan, Tangwan Bong dan Hoa Kok-ham."
Tiba2 Siang Pek-hong merayap duduk menggelendot dipinggir ranjang, dengan tajam ia pandang sua-minya, katanya.
"Kau singgung peristiwa beberapa waktu yang lalu itu, kenapa tidak kau singgung pula seorang yang lain?"
"Siapa maksudmu?"
Balas tanya Kongsun Ki.
"Siapa lag??"
Jengek siang Pek-hong dingin.
"Su-moaymu Liu Jing-yau."
"Hari itu dia kan kemari membantu kesulitan kami, toh bukan musuh kami!"
"Aku tahu, Kalau toh kau bicara soal peristiwa hari itu, peduli tuan penolong atau musuh kan seharusnya kau menyinggung dirinya, Coba kutanya, dalam hati, apakah kau tidak amat berterima kasih terhadap Sumoaymu?"
"Sumoayku itu anak yatim piatu, ayahku mengasuh dan merawatnya sampai dewasa, dia bantu aku kan jamak dan pantas, buat apa harus terima kasih segala."
Siang Pek-hong tertawa dingin.
"O, jadi kalian sudah orang sekeluarga, sanak dekat, bantu membantu dan tolong menolong adalah jamak dan wajar, jadi aku yang keterlaluan menyinggung soal terima kasih segala."
Melihat roman muka orang yang kurang wajar, lekas Kongsun Ki berkata.
"Hong-moay, kau..."
"Nanti dulu, aku masih ingin bertanya, jikalau aku mati, kau hendak mengawini Sumoaymu itu?"
Berubah rona muka Kongsun Ki, lekas sekali ia unjuk tawa getir, katanya.
"Hong-moay, itulah lantaran hatimu tidak sabar dan banyak curiga, jikalau kau bisa melegakan hati, melapangkan pikiran, penyakitmu tentu lekas sembuh."
Sungguh dongkol hati Hong-lay-mo-li mendengar percakapan ini, namun iapun sedih hati bagi nasib Suhengnya, Batinnya.
"Suso menilai orang lain dengan ukuran manusia rendah macam pribadinya sendiri, dibelakang orang menista dan memburukan nama orang lain, menghinaku lagi. Hm, jikalau tidak dalam keadaan sakit, pasti kupersen dua kali tamparan pipinya! suhengku memang harus dikasihani, sebagai putra dari keluarga kenamaan, dia sudi kawin lari dan terpincut oleh siluman perempuan ini, jalan yang ditempuhnyapun semakin sesat. Agaknya dia cukup kasih sayang dan telaten meladeni istrinya, Suso malah curiga dan mengolok2."
Terdengar Siang Pek-hong berkata lebih lanjut.
"Memangnya aku amat kuatir, O, jadi kau memang mencintai aku sesungguh hatimu, benar2 mengharap penyakit ku lekas sembuh?"
"Baik, biar aku bersumpah dihadapanmu, bilamana aku mempunyai maksud hati yang tidak baik terhadapmu biar aku mampus tiada liang kubur."
Terpercik sekulum senyum dimuka Siang Pek-hong, lekas ia ulur tangan menutup mulutnya, katanya.
"Baiklah, aku percaya kepadamu, tak usah kau bersumpah lagi."
Kongsun Ki payang istrinya rebah kembali, katanya.
"Supaya hatimu tentram, biarlah aku bicara sejujurnya, Semula aku hendak cari Sumoay mohon bantuannya untuk menuntut balas, kalau kau masih kuatir, baiklah kubatalkan niatku ini selanjutnya, akupun takkan menemui dia lagi."
"Buat apa kau berkeputusan begitu."
"Aku ingin melampiaskan dendam hatimu, tanpa bantuan orang luar, kitapun bisa menuntut balas."
Siang Pek-hong menghela napas, ujarnya.
"Semoga hatimu takkan berubah selamanya terhadapku, bila tak bisa menuntut batas ya sudahlah, Kami berdua bergabung tak kuasa melawan Siau-go-kan-hun Hoa Kok-ham, kalau kau tidak minta bantuan Sumoaymu, kecuali kau kembali keharibaan ayahmu, mohon pengampunannya, lalu mempelajari seluruh kepandaian beliau, tapi keluargamu dengan keluargaku merupakan musuh kebuyutan, ayahmu mungkin mau mengampuni kau, mana sudi memberi kelonggaran terhadapku, aku tahu dia tidak sudi melihat aku memasuki pintu keluargamu, menjadi menantunya. Lebih baik tidak usah menuntut balas, dari pada aku kehilangan kau."
Dengan lembut Kongsun Ki mengelus rambut istrinya, katanya lembut.
"Legakan hatimu, Mana aku rela meninggalkan kau? Tapi aku sudah memikirkan tanpa minta bantuan ayahku, tak perlu pula minta bantuan Sumoayku, kita tetap masih bisa menjatuhkan Hoa Kok-ham."
"Aku sebaliknya tidak begitu yakin."
"Tidak, jikalau ilmu silat dua keluarga kita dapat kita kombinasikan Hoa Kok-ham tidak perlu ditakuti, setelah aku meyakinkan Tay-hing-pat-sek, terasa Lwekangku maju pesat, sayang sampai sekarang kau belum mengidzinkan aku melatih..."
"Jangan kau salahkan aku,"
Tukas Siang Pek-hong.
"Sebelum ajal ayah pernah berpesan kepadaku, kepandaian silat keluarga Siang sekali-kali tidak boleh diturunkan kepada orang luar!"
Kongsun Ki tertawa, ujarnya.
"Menantu bukan orang luar, jikalau ayahmu masih hidup, tentu beliau tidak sependapat seperti itu."
"Justru lantaran sikap baikmu terhadapku, maka beberapa tahun ini aku sudah melanggar larangan ayah, menurunkan beberapa macam ilmu kepadamu."
Pelajaran itu kan tidak termasuk ilmu tingkat tinggi."
"Tay-hing-pat-sek kau sendiri sudah melatihnya, apapula yang kau inginkan?"
"Aku ingin meyakinkan dua ilmu beracun dari keluarga Siang kalian -Hu-kut-ciang dan Hoa-hiat-to."
"Apa?"
Siang Pek-hong menjerit kaget
"Kau ingin meyakinkan kedua macam ilmu itu? ini, ini .."
Kongsun Ki membungkuk badan mengecup pipi istrinya.
"Hong-moay,"
Bujuknya lembut.
"Aku sudah bersumpah berat, memangnya kau masih tidak percaya kepadaku? Kau kuatir setelah aku meyakinkan kedua ilmu itu lantas meninggalkan kau? Ai, lantaran kerisauan hatimu inilah, maka kau jatuh sakit dan tidak bisa sembuh, sebetulnya kita bisa mengecap kehidupan bahagia, asal kau mengurangi rasa curigamu!"
Mendengar sampai disini hati Hong-lay-mo-li jadi kurang enak, plkirnya.
"Kukira mereka suami istri hidup senang dan saling cinta dan kasih sayang, tak nyana satu sama lain menaruh curiga dan main sembunyi2. Suami istri harus hidup rukun memberi saling pengertian yang mendalam, Suso justru merahasiakan kepandaian khibunya untuk membelenggu suaminya, jiwanya memang terlalu sempit sebaliknya Suheng tidak punya pambek seorang laki2 sejati, buat apa dia incar ilmu silat keluarga orang lain? Kepandaian ayahnya sendiri jelas tidak lebih asor dari keluarga Siang, jikalau dia suka giat dan tekun belajar, selama hidupnya takkan habis dia menggunakan manfaatnya. Kenapa pula harus meyakinkan ilmu beracun yang jahat dari aliran sesat?"
Sebaliknya siang Pek-hong agaknya terharu akan kesungguhan kata2 suaminya, katanya.
"Suamiku, dengarlah penjelasanku bukan aku kikir tidak mau menurunkan kepada kau, aku kuatir bila kau meyakinkan kedua ilmu beracun itu malah membawa malapetaka bagi dirimu, tahukah kau bagaimana kematian ayah?"
"Bukankah ayahmu meninggal lantaran sakit?"
Tanya Kongsun Ki heran.
"Lantaran meyakinkan kedua ilmu beracun itulah, karena kurang hati2 ayah tersesat jalan dan meninggal. Kedua ilmu beracun itu amat hebat pengaruhnya, bahayanya terlalu besar dalam latihan, Selama ini aku sendiripun tak berani melatihnya."
"Tapi kalau kita hendak mengalahkan Hoa Kok-ham, kedua ilmu beracun itu harus kita yakinkan, Biarlah aku mencobanya. Mungkin mengandal Lwekang murni dari perguruanku sebagai landasan, bisa mengendalikan kadar racunnya"
Siang Pek-hong bimbang dan tak bersuara, Berkata Kongsun Ki lebih jauh.
"Aku bekerja demi kau pula. Coba pikir, kalau kami berhasil kombinasikan ilmu dari kedua keluarga kita, tiada orang yang menjadi tandingan kita dikolong langit ini? Takut apa?"
Siang Pek-hong lemas dan bersikap aleman, sesaat baru berkata.
"Suamiku, Berilah waktu biar aku pikir2 dulu ya? Kedua ilmu beracun itu teramat lihay. Sudah tentu kau ingin berlatih, akupun tidak akan kikir lagi, namun terhadap rahasia inti latihannya, aku sendiri belum lagi menyebarnya secara sempurna, perlu aku mulai mempelajarinya kembali supaya jelas dan aman."
Meski rada kecewa, namun Kangsun Ki tahu sang istri sudah terbujuk olehnya, cepat atau lambat kedua ilmu beracun itu pasti berhasil dipelajari, tanpa terasa lirikkan matanya menyungging senyum kegirangan, segera ia ambil cawan obat terus diangsurkan katanya.
"Kami terlalu asyik bicara, obat sampai dingin, nan lekas minumlah!"
Siang Pek-hong tolak cawan obat itu, katanya.
"Nanti dulu!"
"Kenapa?"
"lngin aku tanya kau sebuah hal lagi, dimana adikku?"
"Minumlah dulu, nanti kujelaskan."
"Tidak, selama ini aku amat menguatirkan dirinya, kau tidak mau jelaskan, hatiku terasa pepat dan kusut, sedih sekali, Kau jelaskan dulu baru kuminum obat itu."
Kongsun Ki tertawa ujarnya.
"Ceng-hong mungkin pergi kejar bocah she Khing itu."
"Siapa yang memberitahu kepadanya?"
"lni, ini... dia cerdik dan lincah, kupingnya tajam lagi, Darimana aku tahu entah dari siapa dia tahu akan kabar bocah keparat itu?"
"Jangan kau kelabui aku, bukankah Giok-bin-yau-hou pernah berkunjung kerumah kami?"
Kongsun Ki tertawa getir, sahutnya.
"Aku kuatir kau menaruh curiga lagi, maka tidak kuberitahu kepada kau, Benar, dia memang pernah kemari."
"Apa benar kau tidak sekongkol dan ada main sama dia?"
Kongsun Ki pura2 marah, katanya.
"Kau pandang orang apa suamimu ini, siluman rase itu umpama kembang dipinggir jalan yang boleh dimiliki laki2 siapa saja, masakah suamimu sudah sedemikian bejat dan rendah."
Karena Kongsun Ki marah, Siang Pek-hong malah unjuk tawa manis, ujarnya.
"Aku tahu kau takkan berani, Tapi Giokbin-yau-hou memang bukan manusia baik2, aku tidak ingin kau hubungan terlalu erat sama dia."
"Dia hanya mencari Ceng-hong. Hari kedua secara diam2 Ceng-hong lantas berlalu sama dia, akupun tidak diberitahu."
"Dia bukan hanya mencari adik bukan? Bukankah kau pernah bicara apa2 dengan dia dua kali dalam kamar rahasia? Apa yang kalian bicarakan, boleh beritahu kepadaku?"
Kongsun Ki terkejut, sahutnya.
"Tiada apa2 yang kami bicarakan, dia cuma memberitahu berita bocah she Khing itu, dia tahu bahwa Khing Ciau berhasil mencuri belajar Tay-hingpat-sek kita, dia tanya kepadaku apakah Khing Ciau perlu diringkus. Aku ingat pesanmu, kupandang muka adikmu, kau sendiri tidak mau pedulikan persoalan ini, maka kujawab demikian kepadanya. Mungkin karena aku sendiri tiada perhatian, belakangan dia beritahukan kabar ini kepada adikmu, kau harus tahu bahwa adikmu sudah jatuh hati kepada bocah itu, maka esok harinya lantas pergi tanpa pamit. Sakitmu belum sembuh, aku kuatir penyakitmu bertambah berat, maka tidak kuberitahu kepada kau."
"Kukira persoalan tidak sederhana seperti itu saja bukan?"
Jengek Siang Pek-hong.
"Memangnya kau sangka masih ada apa lagi?"
"Aku kuatir kau kena dipelet dan digosok oleh dia, melakukan perbuatan yang tercela."
"Ah, kau mengada2 saja, ai, selalu kau tidak bisa melegakan suamimu."
"Tidak, bukan begitu maksudku."
Sela siang Pek-hong goyang tangan.
"Memangnya apa maksudmu?"
"Aku sedang kuatir, kuatir kau kena digosok dan dipancing menjadi antek kerajaan Kim."
Berubah air muka Kongsun Ki, katanya.
"Kau memang ngelantur, sembarang berpikir, tak ada kejadian itu."
"Kaiau tidak itulah baik, Masihkah kau ingat, tempo hari waktu Pakkiong Ou kemari, dia memberi kisikan, katanya raja Kim Wanyen Liang hendak mengundangmu menjadi apa Liong-ki To-wi, segera kugebah dia lari. Aku justru tak senang kau menjabat pangkat dari kerajaan Kim, bergaul dan keluntang keluntung sama Pakkiong Ou dan Giok-bin-yau-hou orang2 bejat itu."
Kongsun Ki-berkata lirih.
"Aku tahu maksud baikmu."
"Masih ada yang tidak kau ketahui."
Kata Siang Pek-hong meninggikan suaranya.
"Ayah disebut gembong iblis besar, diapun kepala perampok. Tapi selama hidup dia tidak sudi melakukan sesuatu, dimasa hidupnya beliau berkata kepadaku, perbuatan jahat apa saja boleh dilakukan, cuma pantang menjadi pejabat bangsa Nuchen, karena begitu kau terima meng-hamba kepada bangsa penjajah, laki2 siapa saya yang punya jiwa gagah, tidak akan tunduk pula kepadamu, masakah mereka sudi menjunjungmu sebagai kepala perampok. Anak buah kita sekarang, kebanyakan adalah pembantu lama ayah dulu, asal mereda tahu kau ada hubungan dengan siluman rase itu, mereka akan menentang dan takkan setia pula kepadamu, Oleh karena itu bukan lantaran aku kuatir kau dipelet oleh siluman rase itu saja, aku kuatir kau bikin usaha besar kita ini berantakan, kukira kau perlu berpikir kembali secara cermat sebelum bertindak."
Dingin bulu kuduk Kongsun Ki, katanya.
"Hong-moay, benar ucapanmu, legakan hatimu, akupun tidak akan melakukan perbuatan sebodoh itu."
Mendengar ucapan siang Pek-hong ini, Hong-Iay-mo-li merasa diluar dugaan, batinnya.
"Kukira Suso yang membuat Suheng bejat, ternyata diapun punya hati yang lurus, Walau demi keuntungan pribadi, namun patut dihargai juga."
Karena pikirannya ini, rasa benci terhadap Susonya inipun berkurang. Kembali Kongsun Ki angsurkan cawan obat sembari berkata.
"Obatnya sudah dingin, nah minumlah!"
"Ai, sungguh aku tidak ingin meminumnya lagi."
"Kalau tidak minum obat, sakitmu mana bisa sembuh? Hong-moay, seumpama lantaran aku, silakan kau minum sajalah!"
"Aku punya firasat aneh, penyakitku ini takkan bisa sembuh. (Kongsun Ki menyela.
"Hus!") Tapi kalau kau ingin aku meminumnya, baiklah biar kuminum."
Cawan obat sudah dekat didepan bibir, disaat Siang Pekhong buka mulut hendak hirup obat dalam cawan itu, sekonyong2 terjadi sesuatu peristiwa yang tak pernah terduga, terdengar "Ting"
Disusul suara mangkok jatuh dan pecah, kiranya cawan obat yang diangsurkan Kongsun Ki jatuh dan pecah menjadi delapan belah, cairan obat muncrat ke-mana2 diatas lantai serta mengepulkan segulung asap ungu.
Dalam sekilas itu, saking kejut Kongsun Ki sampai melenggong.
"Eh, kenapa kau?"
Ujar Siang Pek-hong.
"Tidak minum obat inipun tak menjadi soal, kenapa dibuat sedih?"
Karena sedang sakit mata kupingnya kurang tajam, ia kira Kongsun Ki kurang hati2 menjatuhkan cawan obat itu.
Dilain pihak, kejut Hong-lay-mo-li justru jauh lebih besar dari Suhengnya, dari luar jendela ia sempat mendengar suara "Ting"
Yang amat lirih itu, seperti senjata rahasia lembut macam Bwe-hoa-ciam membentur cawan, tapi karena cawan itu seketika jatuh dan mengeluarkan suara ramai, maka suara lirih pertama itu kelelap dan tak terdengar bila memang tidak diperhatikan Siang Pek-hong sendiri baru terkejut setelah mendengar suara jatuh pecah diatas lantai, bahwasanya ia tidak tahu bahwa ada seseorang menggunakan senjata rahasia menimpuk jatuh cawan obat itu.
Cepat sekali Hong-lay-mo-li menginsafi bahwa ada seorang lain, seperti dirinya, sedang mengintip keadaan didalam kamar, sebelumnya Kongsun Ki sendiri tidak tahu akan hal ini, maka dapatlah dibayangkan bahwa kepandaian silat orang ini tentu amat tinggi.
Serta merta Hong-lay-mo-li ber-tanya2 dalam hati.
"Siapa yang punya kepandaian sedemikian tinggl? Kenapa dia menimpuk jatuh cawan obat itu? Mengandal kepandaian orang itu, ia mampu mengincar Kongsun Ki, kenapa justru cawan obat itu yang dijadikan sasarannya? ini tidak lain lantaran dia hendak mencegah Siang Pek-kong minum obat ini, Kenapa? Ai, wah, apa mungkin..."
Sampai disini tak berani Hong-laymo-li banyak pikir, lekas dengan gaya burung dara jumpalitan, dari badan bergelantung ia rubah gerakan badannya menjadi It-ho-ciong-thian, sebat sekali ia melejit naik keatas rumah, gerakannya sudah amat cekatan dan cepat luar biasa, namun dibawah sinar bintang tak terlihat bayangan seorang manusiapun disekelilingnya.
Tepat pada saat itulah baru terdengar Siang Pek-hong berteriak.
"Diluar ada orang!"
Ia meronta berusaha bangun, Serempak Kongsun Ki tersentak sadar, tangkas sekali ia putar badan seraya mengebutkan lengan baju membuyarkan asap ungu itu, terus melejit keluar jendela.
Siang Pek-hong keheranan, dengan mendelong ia awasi bayangan punggung orang, gumamnya.
"Apakah sebabnya? Kenapa dia kelihatan begitu gugup?"
Karena rasa curiganya ini pelan2 ia meronta bangun dan turun dari atas ranjang, ingin dia memeriksa duduk persoalan yang sebenarnya.
Sementara mari kami ikuti jejak Kongsun Ki yang mengejar keluar, sementara itu Hong-lay-mo-li sudah sembunyi dibelakang sebuah gunung palsu.
Disamping ingin menunggu orang lain itu muncul, diapun tidak ingin menimbulkan kecurigaan Siang Pek-hong, maka sementara dia tidak keluar untuk menemui Suhengnya.
Begitu lompat keatas sebuah gunung2an palsu, Kongsun Ki jelajahkan matanya keberbagai penjuru, tidak terlihat bayangan seorangpun, tapi diapun tidak membikin banyak keributan, seenteng asap segera ia angkat langkah seribu dari tempat itu.
Mimpipun ia tidak menduga bahwa Hong-lay-mo-li sembunyi dibawahnya.
Dengan mendekam ditanah Hong-lay-mo-li dengarkan arah langkah kaki suhengnya, setelah orang pergi dalam jarak tertentu, baru dia kembangkan ilmu en-tengi tubuhnya yang tinggi mengudak ke jurusan sana.
Dari kejauhan dilihatnya sang Suheng memasuki sebuah petak bangunan rumah.
Disinilah letak kamar buku Kongsun Ki, langsung ia menyulut pelita, menarik laci, mengeluarkan se
Jilid buku catatan terus dimasukan kedalam kantung bajunya, itulah catatan ilmu silat dari keluarga Siang yang dapat dia pelajari secara sembunyi2, Tay hing-pat-sek yang belakangan ini dia perolehpun tercatat didalamnya, cuma catatan ilmu silat dari kumpulan bukunya ini masih morat marit dan petil2an belum lengkap dan tidak bisa sambung satu sama lain, maka perlu dia andalkan kepintaran dan kecerdikan otaknya untuk menyelami, menganalisa dan menyempurnakannya.
Oleh karena itu bukan saja buku ini merupakan catatan ilmu silat hasil curiannya, boleh dikata merupakan hasil ciptaannya sendiri dari jerih payah dan peras keringatnya.
Dengan main sembunyi dibalik bayangan pohon dan batu2 gunungan palsu, Hong-lay-mo-li maju terus mendekati kamar buku Suhengnya, dari luar jendela ia mengintip kedalam pula, dilihatnya sang Suheng sedang berjalan mondar mandir bolah balik sambil menggendong kedua tangannya, sikapnya gugup, gelisah seperti ada persoalan besar yang merasuk ketenangan hatinya, sehingga susah ia mengambil ketetapan.
Kiranya saat itu Kongsun Ki sedang menerawang.
"Pekhong adalah seorang ahli dalam permainan racun, jikalau timbul rasa curiganya, tentulah dia tahu akan rencanaku, Ai, kenapa tidak segera kubunuh dia tadi."
Mendadak timbul keinginan jahatnya, dia sendiripun menjadi kaget, lalu terpikir pula olehnya.
"Mana boleh aku punya pikiran yang jahat ini? Betapapun dia adalah istriku, jikalau aku benar2 membunuhnya, urusan bakal menjadi besar, penghuni perkampungan ini kebanyakan anak buah lama ayahnya, meski aku tidak gentar menghadapi akibatnya, namun tempatku berpijak disini bakal ludes. Apalagi inti pelajaran kedua ilmu berbisa itu, belum lagi berhasil kudapatkan."
Teringat akan kedua ilmu beracun itu, tanpa sadar mulutnya menggumam.
"Aku pergi atau tetap tinggal disini?"
Ternyata dia takut belangnya konangan, satu hal dia takut akan rencana kejinya diketahui oleh Siang Pekhong, sebab lain ia kuatir orang yang menimpuk jatuh cawan obat beracun yang hendak dia minumkan kepada Siang Pekhong itu adalah orang kepercayaan Siang Pek-hong yang sebelumnya memang sudah dipendam dalam kamarnya, jikalau urusan menjadi kenyataan, terang dirinya takkan bisa tinggal lebih lama lagi dalam perkampungan ini.
--------------------Apakah Hong-Iay-mo-Ii kuasa menundukkan sang Suheng dan menuntunnya ke jalan yang lurus?
Apa pula yang dikuatirkan oleh Kongsun Ki sehingga hatinya kurang tenang?
Siapa pula gembong iblis besar musuh Tang-hay-liong dan Samte-nya Say-ci-hong?
Apa pula hubungan antara Giok-bin-yau-hou Lian Ceng-poh dengan Bu-Iim thian-kiau?
(Bersambung ke bagian 5) Bagian 05 Tapi terpikir pula olehnya.
"Tidak benar, kepandaian orang itu begitu tinggi, jauh lebih unggul dari Pek-hong, penghuni perkampungan ini mana ada yang memiliki kepandaian setinggi itu? Em, sulit juga di-katakan, ayahnya adalah gembong iblis maha guru persilatan, teman2nya tak terhitung banyaknya, bukan mustahil salah seorang kenalan lama itu yang sembunyikan diri diperkampungan, sehingga akupun kena dikelabui? Hari ini rencana jahatku sudah konangan, maka dia turun tangan memberi sekedar peringatan."
Bolak balik Kongsun Ki menganalisa segala seluk beluk persoalan yang dihadapinya ini, lama kelamaan hatinya jadi jeri sendiri, bukan saja tak berani pulang kekamar Siang Pek-hong, takut pula orang yang tersembunyi itu membuat perhitungan kepadanya.
Terang istrinya tidak akan berpeluk tangan melabrak dirinya habis-habisan, setelah pikir punya pikir, karena tiada jalan lain yang lebih sempurna terpaksa ia berkeputusan tinggal minggat saja.
Disaat ia siap hendak buka pintu, tiba2 didengarnya grendel pintu berputar mengeluarkan suara lirih, itu pertanda seseorang mengetuk pintu diluar, keruan bukan kepalang kejut Kongsun Ki, bentaknya.
"Siapa?"
Begitu pintu ditariknya terbuka ia mundur sembunyi kebelakang pintu sambil melolos pedang, begitu orang diiuar melangkah masuk, ia siap menyerang dengan tusukan pedangnya.
Tak nyana orang itu melangkah sambil menjawab sepatah kata.
"Akulah!"
Tusukan pedang Kongsun Ki seketika berhenti ditengah udara, yang masuk bukan lain adalah Hong lay-mo-li.
Kongsun Ki lekas menyeka keringat dingin di atas jidatnya, pedang disarung masuk kedalam sarungnya, katanya.
"Sumoay kiranya kau? Kenapa kau kemari? Bikin aku kaget saja."
Hong-lay-mo-li bersikap dingin, jengeknya.
"Selama hidup tak pernah berbuat jahat, mendengar ketukan pintu ditengah malampun takkan terkejut. Memangnya perbuatan jahat apa yang pernah kau lakukan?"
"O, jadi yang menyambitkan Bwe-hoa-ciam tadi adalah kau?"
Tanya Kongsun Ki, hatinya kaget namun girang. Dengan tatapan dingin Hong-lay-mo-li awasi Suhengnya, katanya.
"Obat apa yang hendak kau mium-kan kepada Suso?"
"Kuah jinsom yang menambah semangat!"
Tegak alis Hong-lay-mo-li, katanya tertawa dingin.
"jangan kau kelabui aku, kuah jinsom mana bisa mengepulkan asap ungu diatas lantai?"
Kongsun Ki nekad, katanya.
"Sumoay, kau sudah tahu, biar aku bicara terus terang, memang dalam kuah jinson itu kutambahi sedikit bubuk akar kembang ari2 yang terdapat di Tho-hoa-hi di Binglam."
Hong-lay-mo-li terkejut, teriaknya tertahan.
"Apakah itu bukan racun?"
Kongsun Ki tertawa kikuk, katanya.
"Aku tak bermaksud menghabisi jiwanya, racun ini bekerja lambat latihan Lwekangnyapun sudah tinggi, tidak akan mati begitu saja. Asal aku berhasil mendapatkan pelajaran kedua ilmu beracun itu, aku takkan menggunakan obat beracun ini."
"Bila dia berkukuh tak mau menyerahkan inti pelajaran kedua ilmu itu, kau tetap hendak menggunakan obat itu untuk membunuhnya? Dan lagi, kadar racun sudah terlalu banyak bersemayam dalam badannya, seumpama kau hentikan perbuatanmu diapun akan rebah ber-tahun2 diatas ranjang takkan mampu bangun lagi."
Kongsun Ki megap2 tak mampu menjawab.
"Kau gunakan obat racun yang bekerja lambat, lalu pura2 telaten meladeni, jadi tujuanmu hendak menipu pelajaran kedua ilmu itu?"
"Dan lagi, kau masih ingin kendalikan anak buah lama ayahnya, untuk menjagoi Kangouw, maka kau harus bikin dia mati tanpa menunjukan gejala2 keracunan supaya semua anak buahnya tidak curiga, tetap setia kepadamu?"
Karena dikorek isi hatinya, terpaksa Kongsun Ki tunduk kepala tak bersuara.
Bergidik seram bulu kuduk Hong-lay-mo-li, tak nyana suhengnya ini bertindak begitu keji dan jahat, sungguh pedih dan perih serta marah hatinya, pikir-nya.
"Kukira Suso bukan orang baik, ternyata suheng jauh lebih jahat berlipat ganda."
Tiba2 Kongsun Ki berkata.
"Sumoay, kau tidak tahu, sungguh aku amat menyesal."
"Apa yang kau sesalkan?"
"Aku menyesal kenapa dulu aku meninggalkan kalian, kawin lari dengan perempuan siluman itu."
Tertusuk perasaan Hong-lay-mo-li mendengar sang Suheng menyebut istri sendiri sebagai perempuan siluman, katanya.
"Suso tetap cinta setia terhadap kau, sampai hati kau memakinya demikian? Baik buruk kalian sudah menjadi suami istri, memangnya kau tidak punya perasaan hubungan antar suami istri ini?"
Kongsun Ki menjengek tawa, katanya.
"Sumoay, kau tidak tahu, semula memang aku tiada rencana menjadi suaminya. Dulu aku baru tumbuh dewasa, lantas kena dipelet dan terpincut oleh dia, sampai aku dibawanya lari meninggalkan keluarga, kini kalau dipikirkan sungguh tidak setimpal. Coba kau pikir, mungkin kaupun bisa geli, sebenarnya usianya lebih tua dari aku, tapi selama ini aku memanggilnya Hong-moay. Coba katakan, menggelikan tidak? Hm, bicara terus terang, sudah lama aku membencinya."
Dalam hati Hong-lay-mo-lipun membatin.
"Kau tidak tahu, mendengar ucapanmu ini, betapa benciku kepada kau."
Betapa cerdik Kongsun Ki, diam2 ia perhatikan perubahan rona wajahnya, katanya pula sambil menghela napas.
"Setelah mengawini biniku ini, sampai aku tak berani pulang ke rumah sendiri, ayah tak akui sebagai putranya lagi, Sumoay hubungan mesra kami dulupun terputus sama sekali. Ai, terkenang akan kehidupan kami dulu, masakah aku takkan menyesal, tidak bersedih?"
Ternyata menetes dua butir air matanya.
sebetulnya Hong-lay mo-li amat buruk kesannya terhadap sang Suheng, mendengar kata2nya ini, teringat pula akan kasih sayang sang guru, sedang sang guru hanya punya putra tunggal ini, tak terasa ia ikut terbenam dalam kedukaan, katanya.
"Suheng, memang ayah tak senang melihat perbuatanmu, lahirnya beliau tak mengakui kau sebagai putranya, namun beliau masih mengenangmu. Begitu dia mabuk minum arak, namamu masih sering disebutnya, Suheng, jikalau kau bertobat dan insaf akan kesalahanmu tentu kubantu kau minta ampun dihadapan ayahmu, Susopun boleh dibawa pulang, Mengenai aku, aku tetap pandang kau sebagai Suhengku."
"Terima kasih Sumoay, aku tahu kau baik terhadapku asal hubungan kami tetap seperti sedia kala, akupun takkan bersedih hati, Tapi kukira tak perlu membawa perempuan jalang itu pulang kerumah, Coba pikir urusan sudah ketelanjur, apakah aku bisa tetap hubungan sebagai suami istri dengan dia? Sumoay asal sikapmu masih tetap seperti dulu kepadaku, sekarang juga aku ikut kau pulang, Segala apa yang kuinginkan selama ini boleh tak usah ku-kejar2 lagi."
Berubah muka Hong-lay-mo-li, katanya.
"Suheng, apa2an maksud ucapanmu ini?"
"Sumoay, kau seorang pintar masakan belum mengerti? Sampai hati aku menggunakan racun terhadap Susomu, lantaran untuk kau juga."
Saking marah Hong-lay-mo-li tak kuasa bicara, baru saja ia hendak umbar amarahnya, tiba2 terdengar derap langkah mendatangi Kongsun Ki kaget, dengan gerakan tangan ia suruh Hong-lay-mo-li sembunyi ke-belakang almari, Hong-laymo-lipun berpikir "Biar kulihat siapa yang kemari?"
Maka ia menurut petunjuk Kongsun Ki, lekas menyelinap kebelakang almari, diluar sudah terdengar ketukan pintu.
"Ya, tunggu sebentar!"
Sahut Kongsun Ki, diam2 tangannya sudah menggenggam sebatang jarum beracun, lekas ia maju membuka pintu.
Kong-sun Ki kira istrinya datang hendak membuat penyelesaian kepadanya, maka dia nekad hendak membunuhnya saja dengan jarum beracun ini.
Beta-papun mereka sudah menjadi suami istri belasan tahun, untuk turun tangan keji terhadap istri sendiri, tangan yang menggenggam jarum itu tak terasa gemetar, tapak tangannyapun berkeringat.
Pelan2 Kongsun Ki menarik daon pintu, tampak seorang gadis berpakaian mantel berbulu melangkah masuk sapanya tertawa.
"Kongsun Ki, ternyata kau sembunyi disini, sulit juga menemukan kau!"
Sekilas Kongsun Ki melenggong, katanya.
"Kira-nya kau, untuk apa pula kau kemari?"
Pendatang ini bukan lain, ialah Giok-bin-yau-hou Lian Ceng-poh.
Hong-lay-mo-li yang sembunyi dibelakang almari diam2 bersorak girang, dicari tak ketemu, hari ini ke-bentur diluar dugaan, perempuan siluman ini hari ini masuk kedalam jaring tangannya, pasti takkan lolos dari tapak tanganku.
Biarlah aku dengar dulu percakapan mereka, ada intrik rahasia apa diantara hubungan mereka ?
Demikian pikir Hong-lay-mo-li.
Lian Ceng-poh tertawa cekikikan, katanya.
"Kau sangka siapa? Kalau tidak kau katakan hampir saja aku lupa, tempo hari kapan aku datang kemari?"
Kongsun Ki, mengerut kening, katanya.
"Aku tiada tempo mengobrol dengan kau."
"E, eh, besar benar pamormu, memangnya kau tidak mau kenal lagi dengan aku? Hai, aku memang sudah lupa kapan kami pernah bertemu, kau tidak sudi beritahu kepadaku?"
Kongsun Ki membelakangi almari, dia duga Hong-lay-mo-li takkan melihat mimik wajahnya, maka berulang kali dia memberi tanda kedipan mata, memberitahu bahwa dalam rumah ada orang lain, supaya kau lekas pergi saja, sementara dalam hati heran, kenapa orang menyinggung perihal pertemuan tempo hari?
Segera ia menjawab "Aku sendiri tidak ingat lagi, mungkin tanggal dua belas atau tiga belas bulan yang lalu."
Agaknya Lian Ceng-poh tidak paham kedipan matanya, katanya.
"Baik, jadi satu bulan lebih sudah berselang, urusan yang kami rundingkan tempo hari, kau sudah persiapkan diri belum ?"
"Sudah siap apa segala? Bahwasanya aku tidak tahu apa maksud ucapanmu ini?"
Kembali dia gerakan jari tangan ditambah gerakan mata memberi isyarat.
"Coba kau pikir, urusan apa yang tempo hari kubicarakan dengan kau?"
"Kau ini memang meng-ada2 mencari gara2, lekas pergi, pergilah!"
Bukan pergi Lian Ceng-poh malah mendeprok duduk diatas kursi, katanya.
"Betapa aku susah payah menemukan kau, memangnya harus pergi begini saja? jangan kuatir, aku sudah periksa keadaan sekeliling kamarmu ini, tiada orang diluar sana. Lekas kau katakan, bagaimana rencanamu yang sudah kau siapkan, beritahu kepadaku, segera aku berlalu."
Tiba2 terpikir sebuah akal, kata Kongsun Ki mengurut alis.
"Ceng-poh, tahukah kau, istriku sedang marah2 karena kau, penyakitnya sudah sembuh."
Maksudnya hendak menggertak Lian Ceng-poh supaya lari pergi, siapa tahu Lian Ceng-poh hanya mengerut kening, tetap tak bergerak dari tempat duduknya, katanya tertawa dingin.
"Aku tahu dia memang perempuan cemburu, aku kemari secara terang2an, kenapa takut kepadanya? Hm, jika kau takut bini jangan kau mengulur waktu, lekas beritahukan rencanamu, supaya aku kembali laporkan tugasku, kaupun tidak perlu dicurigai orang."
"Kau tahu kenapa dia marah kepada kau? Lantaran kau menggosok adiknya dan membawanya pergi, maka dia hendak membuat perhitungan dengan kau! Soal rencana apa segala, aku tidak tahu apa2, aku tahu tempo hari kau kemari hanya hendak mengajak Ceng-hong pergi mengejar bocah she Khing itu. Kau harus hati2, kalau sampai dia marah besar, aku tak mampu melindungi kau."
Sengaja Kongsun Ki ucapkan kata2nya ini supaya didengar oleh Hong-lay-mo-li dan tahu jelas hubungan dirinya dengan Lian Ceng-poh. Tak nyana Lian Ceng-poh tetap tak mengerti, katanya.
"Bocah she Khing yang mana, perduli amat dengan urusannya."
"Bukankah kau yang memberitahu kepada Ceng-hong serta membawanya pergi untuk menggusur bocah she Khing itu kembali? Kemana dia sekarang?"
Lian Ceng-boh menghadap kealmari, dari sela2 lobang kecil Hong-lay-mo-li mengintip keluar, dilihatnya roman mukanya melengak sebentar, barulah dia menyahut dengan suara tak lancar.
"O, ya, benar, Ceng-hong memang mengejar bocah she Khing itu, ilmu silatnya lebih tinggi, maka aku tidak bantu dia, Setiba di kota Po-tong, aku lantas berpisah sama dia."
Sebentar dia merandek, lalu menambahkan "Jangan kau bicarakan urusan lain, marilah bicarakan urusan pokok, Bukan kah kau bilang hendak bekerja bagi kerajaan, tapi menurut maksud Pakkiong Ou, supaya kau bekerja secara diam2 saja?
Pakkiong, Ou ingin tahu rencanamu, supaya kau memberi laporan jelas kepadanya."
Mendengar sampai disini, seketika timbul kecurigaan-Hong-lay-mo-li.
Pertama.
jelas Lian Ceng-poh ditengah perjalanan ke Kilam pernah bertemu dengan Khing Ciau, malah Khing Ciau ditipunya untuk menolong perwira tawanan itu, Siang Ceng-hongpun terang ikut dia sampai di Kilam.
Kedua, waktu Pakkiong Ou tertawan, dia berada di Kilam, bukan mustahil dia sudah tahu akan hal ini, kenapa dikatakan Pakkiong Ou sedang menunggu laporan?
Diam2 ia menerawang.
"Kata2nya menunjukan banyak kejanggalan, semuanya tak cocok dengan kenyataan, Suheng sedang sekongkol sama dia, masakah perlu dia berbohong terhadap Suheng. Agaknya diapun sedang memancing keterangan atau pengakuan Suheng, apa pula maksudnya? Percakapannya dengan Suhengpun tidak cocok satu sama lain, Aneh, Giok-bin-yau-hou terkenal licin dan licik, mungkin dia sudah tahu aku sembunyi disini, sengaja mengobrol sembarangan?"
Baca Juga: Romantika Sebilah Pedang 4
Baca Juga: Jala Pedang Jaring Sutra 8