Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Merah 2

Eps 2 Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Ular Merah - Kho Ping Hoo.

"Nah, dengar baik-baik. Besok pagi-pagi, tiga orang itu tentu akan datang bersama, dan kita berlima yang mengerti ilmu silat boleh duduk menanti di ruang depan yang lebar itu, Ting piauwsu, lebih baik kau suruh isteri, anak-anakmu. dan para pelayan yang lemah lebih dulu menyingkir ke lain tempat agar tidak menimbulkan hal-hal yang membutuhkan tenaga bantuan kita. Kemudian para piauwsu yang pandai melepas anak panah atau senjata rahasia lain, bersembunyi merupakan baihok (barisan pendam) mengurung ruangan itu. Apa bila ketiga orang iblis itu sudah datang dan hendak turun tangan, aku akan memberi tanda dengan lambaian tangan dan para piauwsu harus serentak menyerang dengan senjata rahasia. Nah dengan serangan tiba-tiba itu, ditambah oleh serangan kita, mustahil kita takkan dapat mengalahkan mereka."

Diam-diam Ting Kwan Ek dan Ouw Tang Sin merasa malu dan tidak setuju dengan cara yang curang dan pengecut ini, akan tetapi pada waktu yang amat terdesak dan berbahaya, agaknya tidak ada lain jalan lagi yang lebih baik.

Semua orang menyetujui siasat ini dan segera setiap orang piauwsu diharuskan mempersiapkan diri.

Kebetulan sekali pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar dan ternyata rombongan piauwsu yang pergi ke Kanglam mengantar dan mengambil barang-barang telah kembali.

Akan tetapi, apakah yang terdapat dalam kendaraan mereka?

Bukan barang berharga, melainkan mayat tiga orang piauwsu!

Rombongan ini berdiri dari lima orang piauwsu yang terpilih pandai dan mereka kembali dari Kanglam membawa beberapa bal kain sutera yang mahal.

Ketika rombongan ini hendak memasuki kota Han-leng mereka dicegat oleh Thian te Sam-kui!

Ketiga iblis ini selain mencabut dan merobek-robek bendera Pek-eng Piauwkiok, juga membunuh tiga orang piauwsu, merampas barang-barang dan setelah mengerat daun telinga kedua piauwsu yang lainnya, mereka lalu menyuruh dua orang piauwsu itu masuk ke dalam kota Hun-leng, membawa jenazah ketiga orang kawannya!

Sambil merintih-rintih kedua orang piauwsu ini menuturkan pengalamannya kepada Ting-piauwsu dan Ouw piauwsu yang menjadi marah dan sakit hati sekali.

Sambil mengepal tangan mereka berjanji hendak menghancurkan Thian-te Sam-kui pada esok hari atau mereka siap untuk menerima kematian di tangan ketiga orang Iblis Bumi Langit yang lihai itu!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali di perusahaan Pek eng Piauwkiok itu semua orang telah bersiap sedia.

Di atas genteng, terpisah menjadi dua rombongan di kanan kiri telah siap dua belas orang piauwsu yang memegang anak panah, menjaga di atas ruang depan itu.

Lo Beng Tat dengan garangnya telah duduk di kursi tengah sambil menaruh sepasang goloknya di atas meja, Lo Houw telah siap pula dengan sepasang ruyung di tangan.

Lo Kim Bwe juga duduk di situ dengan sepasang goloknya pula.

Adapun Ouw piauwsu dan Ting piauwsu dengan wajah tegang juga telah berkumpul di situ dengan senjata di tangan.

Keadaan sunyi sekali, karena hari masih amat pagi.

Yang terdengar hanya kokok ayam jantan dan kicau burung-burung pagi.

Semua berdiam diri, tidak berani mengeluarkan suara, dan memasang telinga dengan penuh perhatian, menanti datangnya ketiga iblis yang menakutkan itu.

Untuk lebih memperkuat penjagaan mereka Ting piauwsu telah melepaskan tiga ekor anjing peliharaan di luar pekarangan depan.

Semua orang merasa gelisah dan boleh dibilang hampir semalam penuh tak seorangpun dapat meramkan mata.

Tiba-tiba terdengar anjing-anjing penjaga yang menggonggong keras dan riuh, akan tetapi dengan mendadak pula suara mereka lenyap seakan-akan leher ketiga anjing itu dicekik oleh tangan yang kuat!

Keadaan menjadi sunyi kembali dan semua orang yang bersiap di ruang depan itu, makin gelisah dan memandang keluar dengan hati berdebar.

Lo Beng Tat, jago tua itu kini telah mengambil golok yang ditaruh di atas meja, dipegangnya dengan kedua tangannya.

Tiba-tiba dari luar menyambar tiga bayangan hitam dan bayangan-bayangan ini langsung menubruk ke arah Lo Beng Tat, Ouw Tang Sin dan Ting Kwan Ek!

Ketiga orang ini terkejut sekali.

Lo Beng Tat mengayun goloknya membacok, demikian Ouw Tang Sin dan Ting Kwan Ek membacok ke arah bayangan yang menyambar ke arah mereka.

"Crap! Crap! Crap!"

Darah muncrat membasahi lantai dibarengi oleh jatuhnya tiga bayangan yang menyerang itu, ketika golok ketiga orang ini mengenai sasarannya.

Mereka semua memandang dan hampir saja Ting Kwan Ek mengeluarkan seruan keras saking kagetnya ketika melihat bahwa tiga bayangan yang menubruk tadi bukan lain adalah tiga ekor anjingnya yang tadinya menjaga di luar dan yang tadi masih terdengar gonggongannya.

Kini tiga ekor anjing itu telah menggeletak di atas lantai dengan tubuh hampir terbelah dua dan darahnya membanjir di tempat itu!

Ting Kwan Ek dan Ouw.Tang Sin cepat menyeret bangkai ketiga anjing itu dan melemparkannya keluar ruangan.

Pada saat ituv terdengarlah suara ketawa bergelak dari luar dan muncullah seorang hwesio yang gemuk dan bundar.

"Ha, ha, ha I Para piauwsu dari Pek-eng Piauwkiok! Kalian semua hanyalah anjing-anjing kaki dua yang pengecut dan nasib kalian takkan jauh bedanya dengan tiga ekor anjing kaki empat itu, Ha, ha, ha!"

Dengan tenang dan enaknya, hwesio gendut itu memasuki pekarangan depan lalu berjalan melenggang ke ruang depan menghampiri tuan rumah yang sudah siap dan berdiri dengan senjata di tangan itu.

"Hm, yang datang bukankah Ban Im Hosiang ketua dari Thiau-te Sam-kui?"

Tanya Lo Beng Tat sambil menenangkan hatinya yang berdebar.

"Harap kau suka memandang mukaku, kalau mantuku Ouw Tang Sin telah melakukan pelanggaran, aku sanggup mintakan maaf!"

Hwesio itu tertawa lagi bergelak-gelak.

"Lo Beng Tat, kau seorang kepala rampok telah menyerahkan anakmu kepada seorang piauwsu, hal ini sudah amat ganjil dan menunjukan bahwa kau bukan seorang yang dapat dipercaya! Mana ada harimau yang mengawinkan anaknya pada seekor ular yang menjadi musuhnya? Aku tidak mau memandang muka seorang yang tak berharga seperti kau! Pula Pek-eng Piauw-kiok telah menghina Thian-te Sam-kui, maka hari ini harus hancur dan musnahl"

"Hwesio keparat!"

Lo Beng Tat yang berwatak kasar itu memaki marah.

"Siapa takut padamu? Kau telah memilih jalan Kematianmu."

Sambil berkata demikian Lo Beng Tat memberi tanda dengan tangan kanan dengan mengacungkan goloknya itu kepada Ban Im Hosiang. Pada saat itu terdengarlah bunyi "srr srr!!"

Susul menyusul dari atas genteng karena enam orang di sebelah kiri dan enam orang di sebelah kanan telah melepaskan anak panah ke arah tubuh yang gendut dari Ban Im Hosiang itu.

Hwesio ini terkejut juga, akan tetapi benar-benar mengagumkan gerakannya yang amat tenang dan cepat.

Biarpun tubuhnya dan sudah terancam oleh belasan batang anak panah itu, ia masih berlaku sigap sekali.

Dengan seruan keras ia mengenjot kakinya dan tubuhnya mumbul bagaikan sebuah balon karet tertiup angin, kemudian ia menarik kedua kakinya ke atas sehingga lututnya menempel pada perutnya dan kedua tangannya yang tertutup oleh lengan baju yang lebar dan panjang digerakkan sedemikian rupa sehingga dua potong lebihan kain itu merupakan segulung sinar putih yang melindungi seluruh tubuhnya.

Lo Beng Tat dan yang lain lain melihat dengan mata terbelalak betapa semua anak panah itu runtuh ke atas lantai ketika terkena sambatan gulungan sinar itu.

Lo Beng Tat terkejut cekali dan dengan hati kecut ia melihat hwesio iiu telah turun kembali sambil tertawa bergelak-gelak.

"Ha, ha, ha! Lo Beng Tat, perampok rendah, Kau tidak malu mempergunakan akal pengecut"

"Hujani anak panah "

Teriak Lo Beng Tat ke atas, akan tetapi tidak ada anak panah lagi yang melayang turun, sebaliknya mereka lalu mendengar ribut ribut di atas genteng.

Tak lama kemudian, nampak tubuh orang dilemparkan dari atas dan ketika tubuh orang-orang itu jatuh berdebuk di atas lantai, ternyata bahwa mereka ini adalah para piauwsu yang tadi membokong dan atas, dalam keadaan tidak bernyawa pula!

Dua belas orang piauwsu itu semuanya telah ditewaskan dan kini mayat mereka bertumpuk-tumpuk di depan Lo Beng Tat!

Bukan main kagetnya semua orang menyaksikan pemandangan yang mengerikan ini dan ketika terdengar suara tertawa mengejek dari atas, maka nampaklah berkelebat bayangan Ban Hwa Yong melompat dari atas genteng sebelah kiri dan bayangan Ban Yang Tojin dari genteng sebelah kanan.

Ternyata bahwa kedua oranc inilah yang telah menewaskan para piauwsu tadi.

Kini Thian-te Sam kui ketiga iblis itu, lengkap ketiga tiganya telah hadir di situ!

Ban Yang Tojin dengan senjatanya tombak berujung bintang di tangan, sedangkan Ban Hwa Yong dengan sepasang senjatanya yang melengkung ujungnya seperti kaitan.

Bahkan Ban Im Hosiang sambil tertawa besar juga sudah mengeluarkan senjatanya yang hebat, yakni sebatang pedang perak yang berkilau saking tajamnya.

Merasa bahwa tidak ada gunanya untuk bercakap pula dengan tiga orang musuh yang datang dengan nafsu memburuh ini.

Ting piauwsu lalu bersetu keras dan melompat maju, menyerang dengan goloknya.

Juga Ouw piauwsu, Lu Kim Bwe, Lo Houw, dan Lo Beng Tat cepat pula maju mengeroyok tiga orang lawan itu.

"Suheng, jangan dirusak bunga indah ini!"

Ban Hwa Yong tertawa berkata kepada koedua suhengnya, kemudian manusia cabul ini lalu menubruk maju menghadapi Lo Kim Bwe yang menyerangnya dengan sepasang goloknya.

Sekali saja Ban Hwa Yong menangkis dengan sepasang senjatanya, kedua golok itu terlempar dari tangan Kim Bwe dan sebelum nyonya muda cantik ini sempat mengelak, Ban Hwa Yong telah mengulur tangan kirinya menangkapnya!

Kim Bwe hendak melawan akan tetapi dengan gerakan yang cepat, Ban Hwa Yong sudah menotok pundak nyonya ini sehingga tubuh Kim Bwe menjadi lemas tidak berdaya lagi.

Sambil tertawa bergolak Ban Hwa Yong lalu mengalihkan senjata di tangan kanan semua dan menggunakan tangan kiri nya untuk memeluk tubuh nyonya itu dan mengempitnya dengan cara yang kurang ajar sekali.

"Bangsat rendah lepaskan isteriku "

Ouw Tang Sio maju menyerangnya dengan golok yang dimainkan secara hebat sekali.

Melihat gerakan ini, Ban Hwa Yong maklum bahwa ilmu golok Ouw piauwsu tak boleh dibuat permainan, maka dengan tangan kanan ia menangkis keras.

Biarpun Ouw-piauwsu merasa betapa tangannya sampai tergetar karena tangkisan itu, namun ia masih dapat mempertahankan goloknya dan tidak sampai terlepas.

Ia lalu menyerang lagi dengan hebat.

Ban Hwa Yong sedang mengempit tubuh Kim Bwe, maka tentu saja gerakannya tidak leluasa lagi dan ia hanya dapat menggerakkan senjatanya menangkis.

"Twa-suheng, tolong bereskan dulu cacing ini "

Serunya sambil tertawa dan ketika Ban lm Hosiang menggerakkan pedangnya dari samping, Ouw Tang Sin cepat menangkis pedang yang bersinar terang ini.

"Trangl"

Golok di tangan Ouw Tang Sin terlepas ke atas lantai, bukan golok itu saja, bahkan jaga lengannya yang tadi memegang golok, telah terputus oleh pedang itu sebatas sikunya, Ouw Tang Sio menjerit ngeri dan pada saat itu, Ban Hwa Yong menyusulkan pula dengan serangan senjatanya dan terkaitlah perut Ouw-piauwsu oleh senjata itu.

Sekali Ban Hwa Yong menarik tangannya, robeklah perut Ouw-piauwsu, tubuhnya roboh dan menggeletak dengan perut terbuka, tewas pada saat Itu juga.

Sementara itu, setelah menolong sutenya, Ban Im Hosiang dan Ban Yang Tojin mengamuk hebat dan tentu saja para lawannya yang berkepandaian jauh di bawah tingkat kepandaian mereka itu bagaikan rumput kering menghadapi api.

Sebentar saja Ting Kwan Ek terguling mandi darah, demikian pula Lo Houw dan Lo Beng Tat.

Belum sampai dua puluh jurus, seluruh isi rumah dan pemimpin Pek-eng Piauwkiok telah tewas semua, kecuali Kim Bwe yang masih dikempit oleh lengan kiri Ban Hwa Yong.

Tiga Iblis Bumi Langit ini lalu melakukan perampokan, mengambil semua barang berharga, bahkan lalu membunuh semua orang yang berada di dalam rumah itu!

Celakalah nyonya Ting dengan anak-anakya, karena nyonya ini biarpun telah dibujuk oleh suaminya, tetap tidak mau meninggalkan rumah itu.

Ketika Ban Hwa Yong melihat nyonya Ting, timbul pula pikiran jahatnya untuk menculik nyonya yang muda dan manis Ini, akan tetapi nyonya Ting melakukan perlawanan hebat sehingga ia lalu dibunuh berikut anak-anaknya yang masih kecil.

Benar-benar musnah dan hancur lebur Pek-eng Piauwkiok, cocok dengan ancaman tiga orang Iblis jahat itu.

Benar-benar mengerikan sekali!

Tidak kurang dari dua puluh orang melayang nyawanya di dalam tangan Thian tu Sam-koi!

Sambil tertawa-tawa, rnembawa hasil rampokan dan menculik Kim Bwe, tiga orang manusia yang berhati iblis itu meninggalkan rumah itu dan dengan cepatnya melarikan diri keluar kota Hun-leng.

Para tetangga yang mendengar teriakan-teriakan dan pertempuran itu, cepat menyembunyikan diri dan biarpun keadaannya sudah sunyi, mereka masih tidak berani keluar dari pintu .

Belum lama setelah ketiga orang iblis itu pergi, nampak bayangan yang ramping dan gesit melompat memasuki pekarangan Pek-eng Piauwkiok.

Bayangan ini adalah Eng Eng yang hendak mengambil pakaiannya lebelum melanjutkan perjalanannya.

Ia merasa heran melihat keadaan yang amat sunyi di sekitar rumah itu, dan ketika ia memasuki ruangan depan gadis ini berdiri terbelalak bagaikan patung.

Ia melihat tumpukan tubuh manusia yang sudah menjadi mayat dan darah memenuhi ruangan itu!

Ketika melpat para piauwsu, Lo Beng Tat, Lo Houw, dan Ouw Tang Sin menggeletak menjadi mayat hatinya tidak merasa apa paa, akan tetapi ketika ia melihat Ting Kwan Ek berada di situ pula rebah mandi darah dengan tangan kanan masih memegang goloknya bukan main kagetnya.

"Ting-twako........"

Serunya dan cepat ia melompat ke dekat tuouh Ting piauwsu. dilihatnya Ting piauwsu membuka mata dan menggerak. gerakkan bibirnya.

"Ting-twako, siapa yang melakukan perbuatan ini?"

Tanya Eng Eng sambil berjongkok di dekat tubuh orang yang bernasib malang itu.

Ting Kwan Ek masih dapat menggerakkan bibirnya dengan amat lemah, dan akhirnya dapat juga bibir itu mengeluarkan kata kata yang perlahan sekail.

"Thian-te Sam-kui...!"

Setelah berkata demikian agaknya ia telah mengerahkan tenaganya terlalu banyak untuk menahan nyawanya, maka tiba-tiba ia menjadi lemas dan menghembuskan nafas yang terakhir!

Mengalirlah air mata dari kedua mata Eng Eng.

Ia teringat kepada suhunya yang meninggal dunia.

Di dalam dunia ini, baginya hanya Ting Kwan Ek dan isterinya yang dianggap sebagai manusia-manusia baik dan sayang kepadanya.

Eng Eng mengambil colok yang masih dipegang oleh tangan Ting Kwan Ek, lalu katanya penuh kegemasan.

"Ting-twako, aku akan membunuh tiga iblis itu dengan golokmu ini!"

Setelah berkata demikian, ia lalu melompat ke dalam rumah dan melihat nyonya Ting menggeletak di dekat anak-anaknya yang semuanya telah menjadi mayat.

Eng Eng menubruk mayat nyonya Ting dan menangis tersedu sedu.

Baru kali ini selama hidupnya Eig Eng merasa amat sedih dan hancur hatinya.

Kembali la berjanji kepada nyonya Ting untuk membunuh tiga iblis jahat itu.

Kemudian setelah mengambil bungkusan pakaiannya, Eng Eng lalu melompat keluar dari rumah itu dan berlari cepat sekali memasuki hutan.

Iu betlari cepat sekali sehingga setelah mata hari naik tinggi, ia telah memasuki hutan ke tiga di atas pegunungan yang indah pemandangannya.

Dasar sudah menjadi nasib orang kedua dari Thian-te Sam-kui, atau memang karena dosa-dosanya sudah bertumpuk-tumpuk, maka orang kedua itu, yakni Ban Yang Tojin, telah memisahkan diri dari kedua orang saudaranya dan berada di dalam hutan itu.

Demikianlah ketika Ban Yang Tojin sedang berjalan di dalam hutan itu, hendak pergi ke kota Tit-le di mana tinggal seorang sahabatnya tiba-tiba bayangan seorang yang ramping tubuhnya tahu-tahu telah berkelebat dan telah berdiri di depannya!

Ban Yang Tojin terkejut dan heran melihat seorang gadis cantik dan gagah sekali telah berdiri di depannya dengan memegang sebatang golok besar.

Tojin itu biarpun tidak tergila-gila wanita seperti sutenya, Ban Hwa Yang akan tetapi melihat dara muda yang cantik sekali ini mau tak mau ia memandang dengan mata terbelalak kagum.

Sebelum ia sempat bertanya, gadis itu telah mendahuluinya dan bertanya dengan suaranya yang merdu dan nyaring sekali.

"Orang tua, siapakah kau dan kenalkah kepada Thian-te Sam-kui?"

Ban Yang Tojin tercengang, akan tetapi ia lalu tersenyum girang.

Ia pikir bahwa gadis ini tentulah telah mendengar dan mengagumi nama dia dan kedua saudaranya dan kini mencari untuk minta menjadi murid.

la lalu tertawa bergolak sambil mendongakkan kepala ke atas, komudiao la berkata.

"Nona, kau mencari tiga orang gagah itu? Ha, ha, ha! Tidak jauh! Aku adalah Bin Yang Tojin, orang ke dua dari Thiante Sam-kui (Tiga iblis Bumi Langit)! Kau mencari kami apakah hendak belajar ilmu ulat? Kebetulan sekali, nona, aku memang sedang mencari murid yang cocok, dan agaknya kau lah yang patut menjadi muridku!"

Mendengar suara tosu ini.

Eng Eog memandang tajam dan teringatlah ia kini bahwa tosu ini adalah tosu yang pernah bertempur dengan dia dan bahkan telah ia kalahkan ketika ia membantu Ting Kwan Ek!

Mendengar ucapan totu itu, diam-diam ia menjadi geli, karena ternyata bahwa tosu ini tidak mengenalnya lagi.

Dulu ketika ia bertempur dengan Ban Yang Tojin, ia mengenakan pakaian seperti seorang pemuda, dan tentu saja tosu itu tidak mengenalnya yang kini telah berubah menjadi seorang gadis!

Akan tetapi, berbareng deogan kegelian hatinya, iapun merasa marah sekali karena kalau saja ia tidak lupa akan muka tosu ini dan tahu bahwa inilah orangnya yang menjadi biang keladi kebinasaan seluruh keluarga Pek-ong Piauwkiok, tentu ia tak perlu bertanya lagi.

"Bagus sekali "

Serunya dengan wajah berubah merah saking marahnya.

"Jadi kau sengaja menanti di sini untuk menunggu aku mengambil nyawamu? Mana kedua orang saudaramu agar aku dapat membasmi sekalian?"

Sambil berkata demikian, Eng Eng lalu menggerakkan goloknya dan sambil menyerang dengan hebatnya!

Tentu saja Ban Yang Tojin menjadi sangat terkejut.

Akan tetapi la masih memandang rendah kepada gadis cantik ini dan cepat ia mengelak.

Alangkah terkejutnya ketika golok di tangan nona itu biarpun sudah dapat meng-hindarkannya namun dilanjutkan pula dengan serangan menyerong yang amat berbahaya.

Tosu ini cepat melempar tubuhnya ke belakang menggunakan gerak loncat Kera Tua Melompati Cabang dan hampir saja ujung golok memakan tubuhnya.

Keringat dingin keluar dari jidatnya dan cepat tosu itu lalu mencabut senjatanya yang istimewa, yakni tongkat runcing yang berbintang ujungnya.

"Eh eh, siapakah kau dan kenapa kau menyerangku tanpa sebab?"

"Tidak ada hal yang tak bersebab,"

Jawab Eng Eng tenang.

"lupakah kau kepada Pek-eng Piauwkiok yang baru saja kaubinasakan secara keji? Dan lupakah kau pula ketika golokku masih memberi ampun kepadamu, tidak memenggal lehermu, akan tetapi hanya melukai pundakmu? sekarang aku tidak menghendaki sedikit kulit pundakmu, melainkan menghendaki kepalamu"

Eng Eng lalu menyerbu lagi dan Ban Yang Tojin tidak mendapat kesempatan barang sedikitpun untuk mengeluarkan seruan heran dan terkejut.

Ia kini teringat lagi dan terbukalah bahwa gadis ini adalah "pemuda"

Yang dulu pernah melukainya dan yang membantu Ting Kwan Ek.

"Perempuan rendah! Jadi kaukah orangnya yang dulu membantu anjing she Ting? Bagus, kau telah menyerahkan diri tanpa dicari lagi!"

Memang tosu ini merasa amat benci dan dendam terhadap "pemuda"

Yang telah melukainya dan semenjak dia dikalahkan oleh Eng Eng tosu Ini lalu melatih diri dan terutama sekali ia melatih ilmu pukulan Pek-lek-ciang dengan tekunnya.

Tenaga lweekang kakek ini sekarang jauh lebih tinggi dan kuat daripada dulu, sedangkan ilmu pukulannya Pek-lek-ciang benar-benar amat berbahaya.

Ia dapat merobohkan lawan dari jarak jauh hanya dengan hawa pukulannya ini.

Akan tetapi, setelah mereka bertempur belasan jurus lamanya, tahulah Ban Yang Tojin bahwa dalam hal ilmu mainkan senjata la masih jauh berada di bawah tingkat gadis aneh ini.

Sepasang tombak bintangnya sama sekali tidak berdaya dan belum juga dua puluh jurus mereka bertempur, ia tidak kuasa menyerang lagi.

Gerakan golok di tangan gadis itu benar-benar aneh dan luar biasa sekali, sukar diikuti oleh pandangan mata dan sukar pula diduga ke mana perobahan gerakannya.

la hanya dapat melindungi tubuhnya dengan sepasang tombaknya dengan jalan memutarnya secepat mungkin, merupakan benteng yang kuat.

Agaknya gulungan sinar golok di tangan Eng Eng merupakan halilintar yang hendak memecah dan menembus awan dari gerakan sepasang tombak bintang.

Golok itu berkelebat-kelebat ke atas, ke bawah, dari kanan dan kiri, pendeknya amat sukar dijaga.

Ban Yang Tojin tidak sempat mempergunakan ilmu pukulan Pek-lek-ciang yang diandalkannya, karena gadis itu tidak memberi kesempatan scdikitpun juga kepadanya.

Tosu ini memutar otak, mencati jalan keluar dari pada kepungan sinar golok ini.

Pada saat sinar golok Eng Eng menyambar ke arah mukanya dengan cepat Ban Yang Tojin menggerakkan kedua tombaknya yang berbintang, dengan gerak tipu OranrgTua Menutup Pintu, la berhasil menjepit golok lawannya, ia mengerahkan tenaga Iweekangnya untuk mematahkan golok di tangan gadis itu, lalu menggerakkan sepasang senjatanya untuk diputar sedemikian rupa supaya gadis itu melepaskan goloknya.

Akan tetap, tiba-tiba Eng Eng berseru keras sekali dan tenaga yang luar biasa dahsyatnya keluar dari golok yang terpegang oleh Eng Eng.

Kini gadis inilah yang menguasai keadaan dan Eng Eng membalas gertakan lawan, mempergunakan tenaga "menempel"

Lalu memutar goloknya cepat sekali dari kanan ke kiri!

Ban Yang Tojin tak dapatt mempertahankan serangan ini dan sepasang senjatanya ikut berputar, kemudian dengan mengeluarkan suara keras, sepasang tombak berbintang ini patah menjadi empat potong!

Bukan main marahnya tosu itu.

Ia menyambitkan sepasang senjatanya yang tinggal gagang itu ke arah lawannya akan tetapi dengan amat mudahnya Eng Eng mengelak dan kemudian goloknya diputar amat cepatnya menyerarg Ban Yang Toiin dengan gerak gerak tipu yang paling lihai!

Tadi ketika masih memegang sepasang senjata saja tosu itu sudah terdesak hebat dan tidak mampu mengimbangi permainan golok Eng Eng apa lagi sekarang satelah bertangan kosong!

Ia berusaha hendak melarikan diri, akan tetapi sinar golok gadis lihai itu mengurungnya rapat-rapat dan tidak memberi jalan keluar sama sekali.

Karenanya Ban Yang Tojin lalu berlaku mati-matian, dan sambil mengelak dan melompat ke sana ke mari, ia berusaha untuk melancarkan terangan pukulan Pek-lek-ciang yang hebat.

Betapapun tinggi ilmu kepandaian Eng Eng gadis ini belum mempunyai banyak pengalaman bertempur dan ia tidak dapat menduga bahwa lawannya yang sudah tidak berdaya ini masih memiliki kepandaian simpanan yang jahat dan berbahaya sekali, maka ia berlaku lalai.

Ia terlalu girang karena sudah hampir berbasil membunuh seorang di antara musuh-musuh Ting Kwan Ek, membalaskan sakit hatinya, dengan seruan keras gadis Ini lalu menyerang dengan sabetan golok dari atas ke arah kepala lawannya, la hendak membelah kepala tosu itu menjadi dua.

Gerakan ini cepat sekali dan biarpun Ban Yang Tojin cepat mengelak, golok itu masih menyembur hebat ke arah pundaknya.

Di dalam keadaan berbahaya dan tidak berdaya itu, Ban Yang Tojin lalu melakukan serangan balasan mati-matian dan tangan kanannya lalu mengerahkan pukulan Pek-lek-ciang yang dilakukan dengan sepenuh tenaganya!

Akibatnya hebat sekali untuk kedua fihak.

Terdengar Ban Yang Tojin memekik ngeri dan lengan kirinya sebatas pundak terbabat putus.

Akan tetapi, tangan kanannya yang dipukulkan dengan gerakan mendorong ke arah dada Eng Eng juga mendapat hasil baik.

Biarpun tangan itu tidak sampai menyentuh dada gadis itu, namun hawa pukulannya yang hebat itu telah menghantam dengan telak sekali, sehingga Eng Eng terjengkang ke belakang, goloknya terlepas dan pegangan dan setelah terhuyung-huyung, Eng Eng bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan pingsan!

Hampir eaja Ban Yang Tojin tak dapat menahan rasa sakitnya.

Darah mengucur bagaikan pancuran dari pundak kirinya yang telah tak berlengan lagi itu.

Akan tetapi, sambil menggigit bibirnya hingga berdarah dalam menahan rasa sukitnya, tosu ini masih cukup bertenaga untuk mengambil golok Eng Eng yang terlempar ke atas tanah dan bermaksud hendak membacok tubuh bekas lawannya itu.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar teriakan dari jauh aan nampak sesosok bayangan orang yang amat cepat berlari bagaikan terbang menuju ke tempat itu.

Ban Yang Tojin merasa khawatir kalau kalau orang itu merupakan musuh, maka tanpa banyak cakap lagi ia melarikan diri pergi dari situ, meninggalkan tubuh Eng Eng yang masih menggeletak pingsan, dan meninggalkan juga lengan kirinya yang sudah putus!

Bayangan ini adalah seorang pemuda yang berwajah tampan sekali.

Pakaiannya berwarna biru muda dengan leher dan pinggir lengan baju warna putih, ikat kepala berwarna merah.

Karena pakaiannya itu terbuat dari pada sutera halus, maka ia nampaknya makin cakap dan mewah.

Di pinggangnya tergantung gagang pedang yang berukir gambar liong yang indah sekali.

Ketika pemuda ini melihat berkelebatnya tubuh seorang tosu yang putus lengan kirinya, ia hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia melihat Eng Eng yang menggeletak di atas rumput seperti majat.

Ia menahan kakinya dan matanya teibelulak kagum memandang ke arah wajah yang jelita dan tubuh yang ramping mengulurkan hati itu.

Ia menghampiri lalu berlutut di dekat tubuh gadis itu.

Ketika melihat muka yang pucat dan pakaian Eng Eng di bagian dada remuk dan robek, ia menjadi terkejut sekali.

Tanpa ragu-ragu lalu diangkatnya tubuh itu dan dibawanya ke dalam hutan itu, di mana terdapat sebuah bangunan bobrok bekas sebuah kuil tua.

Ia memondong tubuh gadis itu ke dalam kuil dan meletakkan di atas lantai yang bersih Tempat ini memang menjadi tempat tinggalnya sementara ia berada ditempat itu.

"Ah, kasihan."

Bisiknya perlahan.

"pukulan Pek-lek ciang! Sungguh jahat sekali"

Kemudian dengan jati-jari tangan gemetar, pemuda itu lalu merobek baju Eng Eng untuk memeriksa luka akibat pukulan Pek-lek-ciang yang lihai.

Kulit tubuh gadis itu hanya nampak merah saja, akan tetapi pemuda ini cukup maklum bahwa gadis yang mempunyai wajah seperti bidadari dan potongan tubuh luar biasa indahnya ini telah menderita pukulan dan terluka di sebelah dalam!

Ia memeriksa dada gadis itu dan tak lama kemudian terlihat ia berkelebat keluar dari kuil bobrok itu dan masuk ke dalam hutan.

Ia mencari-cari dan setelah matahari sudah condong ke barat, nampak ia kembali ke kuil membawa banyak sekali daun-daun obat.

Ternyata Eng Eng masih belum siuman dari pingsannya, dan pemuda itu dengan cekatan sekali lalu memeras daun-daun itu dengan kedua tangannya, memberi minum perasan daun obat itu kepada Eng Eng dengan paksa, Lalu ampas daun itu ditempelkannya ke atas dada Eng Eng yang nampak merah.

Kemudian ia lalu mengurut dan menotok jalan darah di pundak dan punggung gadis itu.

Semua ini dilakukan dengan tangan gemetar, dada berdebar dan kadang-kadang la meramkan kedua matanya, tidak tahan ia melihat keindahan tubuh yang nampak di depan matanya!

Iblis adalah menggoda atau pembujuk hati manusia dan dia akan selalu akan muncul dan menggoda manusia apabila manusia itu sedang berada di tempat sunyi, berada seorang diri dan terutama sekali apabila manusia itu sedang menghadapi atau melihat sesuatu yang merangsang atau menarik hatinya.

Oleh karena tahu akan sifat sifat iblis penganjur segala kejahatan dunia ini Nabi LOCU pernah bersabda demikian .

"Jangan memperlihatkan sesuatu yang merangsang dan menimbulkan nafsu, agar manusia tidak tergoda hatinyal"

Dan juga Nabi KHONG Cu pernah bersabda.

"Berhati-hatilah apabila kau sedang berada seorang diri"

Memang, tepat sekali wejangan-wejangan ini bagi manusia untuk ingat bahwa pikiran-pikiran dan nafsu-nafsu timbul waktu berada seorang diri dan menghadapi sesuatu yang neutmbulkan nafsu.

Amatlah berbahaya bujukan iblis pada saat-saat seperti itu.

Apalagi kalau orang ysng terbujuk itu tidak memiliki iman yang kuat, dan kesadarannya akan baik dan buruk sudah menyuram.

Nafsu yang dibangkitkan oleh iblis akan sedemikian kuatnya sehingga ia tidak memperdulikan lagi akan segala pelanggaran, tidak perduli akan prikemenusiaan, dan ia akan menjadi buta dan lupa daratan karena di-pengaruhi oleh nafsu.

Pemuda baju biru itupun demikian.

Setelah ia berhasil mengobati Eng Eng, melihat wajah yang cantik jelita itu, melihat bagian tubuh yang menggiurkan hatinya, ia tidak dapat menahan bujukan iblis.

Ia lupa segala telinganya penuh oleh pendengaran suara iblis yang terdengar merdu sekali, bagaikan telinga seorang pemabok mendengar musik.

Matanya seakan-akan tidak sewajarnya lagi, bagaikan mata seorang yang sedang kelaparan melihat roti atau lebih tepat lagi, seperti mata seekor anjing kurus melihat tulang.

Harus dikasihani nasib Eng Eng.

Dalam keadaan pingsan dan terluka ia bertemu dengan seorang "penolong"

Yang ternyata merupakan seorang pemuda yang lemah iman, seorang yang telah lupa akan asal mulanya yang suci murni.

Menjelang tengah malam, Eng Eng siuman dari pingsannya.

Ia terkejut sekali ketika melihat bahwa ia berada dalam pelukan seorang laki-laki!

Tempat itu diterangi oleh api unggun yang bernyala dari setumpuk kayu kering sehingga ia hanya melihat samar-samar wajah seorang laki laki muda yang amat tampan, seorang pemuda yang berkulit muka putih, bermata tajam, berbibir merah dan berpakaian biru muda!

Kemudian gadis ini roboh pingsan lagi, tidak kuat menahan pukulan hatin yang luar biasa, malapetaka yang datang kepadanya, yang lebih mengerikan dan pada maut sendiri!

Perguruan silat Kim-liong-pai terletak di puncak Gunung Liong-san dan nama Kim-liong-pai sudah amat terkenal di dunia persilatan sebagai cabang ilmu silat yang luar biasa.

Dulu ketika ketua Kim-liong-pai masih berada di tangan seseorang yang luar biasa yang berjuluk Hu beng Siansu, cabang persilatan ini boleh dibilang menjagoi seluruh kangouw, tidak kalah terkenalnya dengan cabang cabang ilmu silat lain seperti Kun-lun-pai atau Go-bi pai yang besar.

Semenjak Bu Beng Siansu lenyap dari permukaan bumi, tak seorangpun mengetahui di mana adanya kakek sakti itu yang telah mencuci tangan dan tidak mau mencampuri urusan dunia, maka Kim-liong pai jatuh ke tangan anak muridnya.

Pada waktu cerita ini terjadi, Kim-liong-pai dipimpin oleh cucu murid Bu Beng Siansu yang hidup sebagai seorang tosu (Pendeta Agama To) dan sudah berjuluk Lui Thian Sianjin pada waktu mudanya Lui Thian Sianjin mempunyai belasan orang anak murid.

Akan tetapi ketika beberapa orang di antara murid-muridnya itu melakukan pelanggaran dan penyelewengan, ia menjadi marah dan putus asa.

Dibubarkannyaiah murid muridnya itu dan masih baik bahwa mereka itu mempelajari ilmu pedang Kim liong-pai yang disebut Ang-coa-kiamsut (Ilmu Pedang Ular Merah) sebanyak enam puluh bagian saja!

Ang-coa-kiamsut adalah ilmu pedang warisan dari Bu Bng Siansu, dan ilmu pedang ini terkenal sebagai raja ilmu pedang di seluruh dunia kangouw.

Tidak mudah untuk mempelajari ilmu pedang ini, oleh karena gerakannya amat sulit dan perkembangannya amat luas pula untuk dapat mainkan Ang-coa-kiamsut orang harus lebih dulu memiliki ginkang dan lweekang tingkat tinggi.

Bahkan Lui Thian Sianjin sendiri hanya dapat mewarisi delapan puluh bagian dari Bu Beng Siansu sucouw (guru besar) Kim-hong-pai ia mendapat tinggalan kitab ilmu pedang itu, namun tetap saja ia tidak dapat mewarisi seluruhnya.

Setelah bertahun tahun tiduk mau menerima murid, ketika berusia lima puluh tahun lebih, diam-diam Lui Thian Sianjin merasa gelisah sendiri.

Dari suhunya, ia dulu pernah mendapat pesan bahwa sebelum mati ia harus dapat mewariskan Ang coa kiamsut kepada seorang murid yang benar-benar baik.

Akhirnya ia mulai mercari murid lagi dan kini ia memilih dengan amat hati-hati.

Akhirnya ia menemukan sepasang anak kembar yang baru berusia lima tahun, dari keluarga Sim yang telah tewas semua karena pemberontakan.

Kedua anak itu adalah anak laki-laki, bernama Sim Tiong Han dan Sim Tiong Kiat, ia mengambil kedua orang anak yang dilihatnya berbakat baik ini, lalu melatihnya ilmu silat.

Selain kedua orang anak kembar ini, Lui Thian Sianjin juga mengambil seorang murid perempuan yang bernama Can Kui Hwa.

Usianya ini sebaya dengan Sim Tiong Kiat, dan juga memiliki bakat yang luar biasa.

Can Kui Hwa adalah anak dari seorang murid Kim-liong-pai juga yang bernama Can Kong dan yang kini menjadi guru silat di kota Sam koan.

Empat belas tahun kemudian, ketiga orang anak ini telah menjadi dewasa.

Kalau orang tidak mempunyai perhubungan dekat dengan sepasang pemula kembar itu, akan amat sukarlah baginya untuk membedakan.

Keduanya sama benar, baik wajah maupun bentuk badan.

Sama tampan, bermuka putih dengan mata tajam dan bibir merah, alis mata tebal dan pantang.

Ada sedikit tanda pada Tiong Kiat yang menjadi tanda pengenal, yakni sebuah tahi lalat kecil hitam di atas dagunya, tepat di bawah bibir.

Juga watak kedua orang ini jauh berbeda.

Tiong Iian yang lebih tua beberapa jam dari adiknya berwatak pendiam dan lemah lembut.

Sebaliknya, Tiong Kiat jenaka, gembira, juga nakal sekali.

Semenjak kecilnya, seringkali Tiong Kiat menggoda kakaknya, akan tetapi Tiong Han yang amat mencinta adiknya selalu mengalah.

Namun, di dalam pelajaran ilmu silat Tiong Kiat lebih maju daripada kakaknya.

Memang anak ini luar biasa sekali bakatnya dalam hal ilmu silat.

Harus diakui bahwa kecerdikannya tidak melebihi Tiong Han, namun agaknya ia berdarah ahli silat, karena gerakannya demikian lemas dan cepat.

Ini pula yang membuat Lui Thian Sianjin amat sayang kepadanya, sungguhpun seringkali kakek ini termenung dan mengerutkan keningnya, karena ia masih meragukan watak daripada Tiong Kiat.

Tidak seperti Tiong Han, kakek ini sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya.

Juga Kui Hwa memiliki bakat yang amat baik, sungguhpun ia tidak dapat mengimbangi bakat Tiong Han, apalagi kalau dibandingkan dengan Tiong Kiat, ia kalah jauh.

Setelah dewasa ia menjidi seorang gadis yang cantik manis.

Sikapnya gembira dan jenaka seperti Tiong Kiat, sehingga kedua anak ini menjadi sahabat baik.

Perhubungan gadis ini terhadap Tiong Kiat jauh lebih erat apabila dibanding, kan dengan hubungannya terhadap Tiong Han.

Setelah mendapat gemblengan ilmu ailat selama empat belas tahun, kepandaian ilmu silat dan ilmu pedang ketiga orang murid itu mencapai tingkat tinggi.

Lebih-lebih Tiong Kiat, ia telah mewarisi ilmu pedang Ang coa kiamsut sampai tujuh puluh bagian lebih, sedangkan Kui Hwa hanya memiliki lima puluh bagian, sedangkan Tiong Han sendiri paling banyak hanya mewarisi enam puluh bagian.

Di dalam latihan nampak sekali perbedaan itu, baik Tiong Han maupun Kui Hwa tidak dapat mengimbangi permainan pedang Tiong Kiat yang luar biasa.

Tentu saja suhu mereka menjadi girang sekali, merasa bahwa ia telah cukup mewariskan ilmu pedang itu dan karenanya Kim-liong-pai tak usah dikhawatirkan lagi akan tinggal nama saja!

Akan tetapi, kadang-kadang ia merasa gelisah dan berdebar dadanya kalau ia melihat Tiong Kiat, karena bagaimanakah kelak kalau ternyata ia salah pilih.

Siapa yang akan dapat memasang kendali pada hidungnya atau dengan lain kata-kata siapa yang akan dapat menundukkannya?

Dan apa yang dikuatirkan oleh kakek ini terbukti.

Setelah dewasa dan ingin agar supaya ilmu pedang Ang coa.kiamsut tidak sampai terpecah-pecah, Lui Thian Sianjin mengusulkan agar supaya Tiong Han dijodohkan dengan Kui Hwa!

Pemuda itu karena sudah tiada ayah bunda lagi, hanya menyerahkan nasibnya kepada suhunya yang amat dihormatinya, adapun ayah Kui Hwa, yakni Can Kong beserta isterinya, juga tidak keberatan.

Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, terjadilah peristiwa yang amat menggemparkan itu!

Peristiwa yang amat menyedihkan hati Lui Thian Sianjin, menghancurkan hati Tiong Han, dan memarahkan hati Can Kong .

Dengan cara yang tidak tahu malu sekali, Tiong Kiat telah melarikan diri bersama dengan sumoinya, yakni Kui Hwa!

Dan yang lebih hebat lagi, adalah kedua orang muda ini telah "menyikat"

Pedang mustika yang menjadi barang pusaka di Kim liong-pai, yakni pedang Ang-coa-kiam (Pedang Ular Merah) warisan dari Bu Beng Siansu, guru besar dari Kim-liong-pai.

Lui Thian Sianjin ketika membaca surat yang ditinggalkan oleh Tiong Kiat yang menyatakan bahwa ia dan sumoinya telah bosan tinggal di gunung itu dan ingin merantau bersama serta membawa pedang pusaka dengan menyatakan bahwa ia sebagai murid terpandai berhak untuk memiliki pedang itu, kakek ini duduk bagaikan patung, mukanya pucat dan napasnya memburu!

Yang lebih hebat lagi adalah sedikit "embel-embel"

Dalam surat itu bahwa tak perlu orang mencari mereka, karena mereka sudah saling mencintai Tiong Han cepat membujuk suhunya agar suka bersabar dan menenangkan pikiran.

"Sudahlah, suhu, harap jangan banyak berduka dan marah. Adikku itu masih amat muda dan masih hijau sehingga ia mudah dikuasai oleh nafsu. Ampunkanlah dia suhu."

Pemuda ini berkata dengan mata basah. Tosu itu memandang kepada Tiong Han dengan mata heran hampir ia tidak percaya akan pendengarannya.

"Apa...?"

Katanya dengan suara parau.

"Kau... kau yang dihina dan diperlakukan seperti itu, kau masih minta ampun untuknya........?"

Tiong Han menundukkan mukanya.

"Dia adalah adikku suhu, oraag satu-satunya di dunia harus teecu cinta, sayang, dan bela."

"Dan.. tunanganmu...? Ah, Tiong Han benar-benar kau lebih berhasil menguasai hati dan perasaan dari pada aku yang sudah tua bangka. Tidak sakitkah hatimu karena tunanganmu dibawa pergi oleh adikmu sendiri?"

Tiong Han menggelengkan kepalanya dan walaupun mukanya berobah pucat la menjawab dengan tenang.

"Tidak, suhu. Hal ini tidak mengherankan teecu."

Kakek itu berdiri dari duduknya.

"Apa katamu .,? Jadi kau sudah tahu akan hal busuk dan memalukan itu? Dan kau diam saja tidak memberitahukan kepadaku?"

Tiong Han melihat suhunya menjadi marah, lalu menjatuhkan diri dan berlutut.

"Suhu, ampunkan adik Tiong Kiat. Sesungguhnya ........ sudah sebulan yang lalu teecu tanpa disengaja melihat perhubungan erat antara Tiong Kiat dan sumoi. Dan ... dan ... agaknya karena teeecu telah mengetahui akan hubungan rahasia mereka itulah yang membuat meteka pagi hari ini melarikan diri. Hanya satu hal yang teecu sayangkan, mengapa Tiong Kiat begitu sembrono membawa pergi pedang pusaka Ang-coa.kiam."

Lui Thian Sianjin membanting-banting kakinya.

"Gila ... Gila..! Mengapa aku seperti buta mataku? Semenjak dahulu aku sudah ragu-ragu dan menaruh hati curiga terhadap watak adikmu! Sekarang.. ah, Tiong Han, hanya kaulah yang dapat menolongku. Hanya kau satu-satunya orang yang akan dapat membelaku dan membuat aku dapat meninggalkan dunia ini dengan rela."

"Apakah maksud ucapan suhu ini?"

"Bersumpahlah, muridku, bersumpahlah dengan saksi bumi dan langit! Bersumpahlah bahwa kau akan menjunjung tinggi nama Kim-liong-pai, akan berlaku sebagai seorang pendekar gagah yang menjunjung tinggi kebajikan, prikemanusiaan dan membela keadilan."

"Teecu bersumpah untuk melakukan semua nasihat suhu itu."

"Dengarlah kau harus bersumpah untuk memenuhi dua macam tugas berat yang harus Kau lakukan, baik sewaktu aku masih hidup maupun sesudah aku mati."

"Teecu bersedia untuk bersumpah, harap suhu beritahukan apakah adanya dua macam tugas itu."

"Pertama, kau harus berusaha dan mencari atau merampas kenbali sampai dapat pedang Angcoa-kiam dari tangan Tiong Kiat dan membawa pedang itu ke mana juga kau pergi, menjaga dengan seluruh kehormatan."

"Bagaimana teecu dapat melakukan hal ini, suhu? Suhu maklum sendiri bahwa ilmu kepandaian Tiong Kiat masih lebih tinggi dari pada teecu, apalagi karena sekarang ia telah memiliki pedang Ang coa . kiam. Bagaimana teecu dapat memenuhi tugas ini dan merampas pedang pusaka Ang-coa kiam"

"Bersumpah lah dulu bahwa kau mau melakukan hal itu!"

Kata Lui Thian Sianjin tidak sabar.

"Hal kekalahanmu terhadap dia mudah dibicarakan kemudian."

"Baiklah, suhu, teecu bersumpah bahwa tecu akan mencari dan merampas pedang Ang-coa-kiam sampai dapat. Teecu takkan berhenti berusaha sebelum pedang itu dapat terampas oleh teecu"

"Bagus, itu sumpah pertama, kau harus mendapatkan kembali pedang itu agar nama Kim-liong-pai jangan sampai ternoda karena orang telah menyalah gunakan pedang pusaka itu. Dan sumpah kedua, kau harus mencari dan membunuh Sim Tiong Kiat!"

Pucatlah muka Tiong Han mendengar permintaan suhunya ini. Ia memandang kepada suhunya dengan mata terbelalak dan tak dapat menjawab, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

"Tiong Han! Ucapkanlah sumpahmu!"

"Ti..dak, ,suhu ..teecu tak dapat melakukan hal ini! Teecu tidak sanggup "

Setelah berkata demikian Tiong Han lalu menjatuhkan mukanya di atas tanah dan meratap serta mintakan ampun untuk adiknya.

Sungguh harus dikasihani pemuda yang berhati penuh kasih sayang terhadap adik kembarnya ini.

Air matanya membasahi seluruh mukanya dan karena ia membentur-benturkan jidatnya di atas tanah, maka mukanya kini menjadi kotor.

"Tiong Han!"

Suhunya membentak marah.

"Kalau aku tidak sudah tua dan kekurangan tenaga, pasti aku sendiri yang akan kurun gunung dan mereiri murid murtad itu untuk kubunuh sendiril Akan tetapi, di Kim-lioog-pai kini tinggal kaulah ahli waris satu-satunya yang kiranya kuat dan dapat melakukan tugas ini!"

Sampai beberapa lama tidak terdengar pemuda itu berkata kata, hanya ia menangis terisak-isak seperti seorang anak kecil.

Ia tak kiasa membuka mulut, bagaimanakah la dapat membunuh Tiong Kiat?

Bagaimana ia dapat bertega hati membunuh adiknya yang dikasihi nya sepenuh hati dan jiwanya?

Tiong Kiat merupakan sebagian dari pada tubuhnya sebagian daripada nyawanya.

"Ampun, suhu........ ampunkanlah teecu dan ampunkan adikku Teecu tidak sanggup, tidak sampai hati melakukan tugas ini dan apakah dosa Tiong Kiat maka harus dibunuh? Terhadap Kim-liong pai, kesalahannya hanya mencuri pedang pusaka, tidak cukupkah kalau teecu bersumpah mengambil kembali pedang itu? Ampunkanlah dia suhu!"

"Tiong Han, kau terlalu lemah! Kau bilang Tiong Kiat tidak begitu besar salahnya terhadap Kim liong-pai? Soal pedang bukanlah soal terutama, akan tetapi yang paling hebat adalah perbuatannya yang melanggar adat, melanggar kesopanan, melanggar prikemanusiaan melanggar prikebajikan. Dia sudah berani membawa lari tunangan kakaknya apakah kau mau bilang bahwa manusia macam itu tidak seharusnya dibunuh?"

"Suhu, beribu ampun apabila pendapat tecu lain dengan pendapat suhu. Bukan sekali-kali teecu membutakan mata dan membela adik sendiri tanpa alasan. Memang sesungguhnya pembuatan Tiong Kiat yang melarikan sumoi itu amat tidak sopan dan kurang ajar. Akan tetapi, siapakah yang tak terluka hatinya oleh perbuatan ini? Siapakah yang terhina dan siapa pula yang dirugikan? Kalau ada orapg yang seharusnya merasa sakit hati, maka orang itu hanya teeculah. Akan tetapi, suhu, teecu tidak merasa sakit hati kepadanya teecu tidak merasa terhina, bahkan teecu dengan rela hati mengalah, biar sumoi menjadi jodoh Tiong Kiat, sudab cukup cocok dan pantas! Biarlah, hitung-hitung teecu mencarikan jodoh untuk adik teecu, apa salahnya? Bukankah dengan demikian tidak ada urutan sakit hati lagi, tidak ada keharusan hukuman mati terhadap Tiong Kiat?"

Pemuda itu berbicara dengan bernafsu sekali, nafsu yang terdorong oleh rasa sayangnya terhadap Tiong Kiat dan dalam kesungguhan membela adiknya itu.

Pertapa itu mengelus elus jenggotnya dan menarik napas panjang berkali-kali.

la duduk termenung dan pandangan matanya melayang jauh.

"Kalau begitu, terpaksa aku harus memaksa tulang belulangku yang sudah reyot dan lapuk ini untuk turun gunung dan bekerja sendiri. Ah... tidak kusangka akan menjadi demikian nasibku......Tiga orang murid tersayang kugembleng dan kulatih selama.... belasan tahun.. bersusah payah....... tanpa....mengharapkan pembalasan sedikit jugapun .... dua orang dari pada mereka menikam hatiku dan melarikan diri, siap merusak nama baikku, nama baik Kim-liong-pai. Sekarang kau pula tidak bersedia membelaku, ah Su-couw tentu akan menerima rohku dengan teguran hebatl"

Kakek ini lalu menundukkan mukanya dan untuk menyembunyikan sesuatu dari pandangan mata Tiong Han, akan tetapi pemuda itu sudah melihat bahwa suhunya telah mengalirkan dua titik air mata.

Suatu hal yang amat langka terjadi, karena ia maklum betapa suhunya ini pantang mengalirkan air mata.

"Suhu..."

Kata Tiong Han terharu.

"Teecu sama sekali bukan tidak mau membela suhu, karena suhu tentu sudah maklum dan cukup mengerti bahwa teecu bahkan bersedia membela suhu dengan taruhan nyawa sekalipun! Hanya yang membuat tecu ragu ragu, sndah patutkah Tiong Kiat dibunuh, karena kesalahannya terhadap teecu yang sudah lama teocu maafkan itu?"

"Sudahlah, sudahlah.. mana kau ada... hati untuk mengganggu adikmu yang tercinta walaupun ia amat jahat dan menyeleweng? Kalau ia sampai mencemarkan nama Kim-liong-pai, kaupun tidak akan terbawa bawa tentu saja kau lebih berat kepada adikmu daripada kepadaku ataupun kepala Kim-liong-pai. Sudahlah ......"

Bukan main perihnya rasa hati Tiong Han mendengar sindiran suhunya ini. Ia lalu memberi hormat lagi, kemudian ia berdiri dan berkata.

"Suhu, teecu bermohon diri. Tecu hendak mencari Tiong Kiat dan hendak minta kembali pedang pusaka Ang-cong-klam, juga tecu hendak mencegah segala kejahatan atau penyelewengannya, kalau perlu dengan nyawa teecu!"

Setelah berkata demikian Tiong Han lalu menggerakkan tubuh hendak berlari turun.

"Tiong Han, tunggul"

Tiba-tiba suhunya membentak dm ketika pemuda itu memutar tubuhnya, Lui Thian Sianjin melemparkan sesuatu kepadanya.

Tiong Hin cepat menyambut benda itu dan ternyata bahwa yang diberikan kepadanya adalah sebuah kitab yang terbungkus dengan sutera putih.

"Pedang Ang coa-kiam telah berada di tangan Tiong Kiat. Satu-satunya benda yang dapat melawan pedang itu hanyalah kitab ini. Pelajarilah baik-baik dan dengan adanya kitab itu di tanganmu, maka kedudukanmu dalam Kim liong-pai masih lebih tinggi dari pada pemegang pedang Ang coa kiam. Menurut peraturan di Kim.liong-pai, seperti kau juga sudah mengetahuinya, sebagaimana yang dipesankan dahulu oleh mendiang sucouw kita, semua murid Kim-liong-pai harus tunduk dan taat kepada pemegang dua buah pusaka Kim-liong-pai, pertama-tama sekali kepada pemegang dari kitab ilmu pedang Ang-coa-kiam-coan-si sebagai pemimpin tertinggi, dan kedua kepada pemegang pedang Ang.coa kiam sebagai pemimpin kedua. Tiong Kiat juga tahu akan peraturan ini dan kalau dia hendak mempergunakan haknya sebagai pemegang pedang Ang-coa kiam, maka menurut aturan, la masih harus tunduk dan taat kepada pemegang kitab Ang-coa-kiam-coan-si . Nah, kau pergilah."

Adapun Can Kong, ayah dari Can Kui Hwa, ketika mendengar berita tentang puterinya yang melarikan diri sama Sim Tiong Kiat menjadi marah sekali.

Tanpa dapat dicegah lagi oleh isterinya yang menangis dan meratap lalu membawa pedangnya keluar dari rumah untuk mencari anaknya dan Tiong Kiat.

"Terkutuk!"

Makinya dengan muka merah "Aku harus mencarl dan membunuh sepasang anjing itu!"

Ayah ini merasa malu sekali malu terhadap suhunya, malu terhadap calon mantunya, dan malu kepada diri sendiri.

Bagaimana puteri tunggalnya bisa melakukan perbuatan yang rendah itu?

Dan kemarahannya terhadap Tiong Kiat memuncak.

Dua bayangan yang cepat sekali gerakannya berlari bagaikan dua ekor burung garuda melayang turun dari Gunung Liong-san.

Kalau dilihat dail jauh, mereka ini nampak bagaikan dua ekor burung saja dan bagaikan dua titik yang makin lama makin membesar.

Akan tetapi setelah kedua sosok bayangan ini datang dekat, ternyata mereka adalah sepasang orang muda dan elok sekali, sepasang pemuda dan pemudi yang amat sedap dilihat karena mereka ini benar-benar tampan dan cantik.

Pemuda itu adalah Sim Tiong Kiat, pemuda yang berusia dua puluh tahun yang amat tampan.

Tubuhnya sedang, dadanya bidang, mukanya yang bundar dengan dagu tajam itu berkulit putih bersih kemerah-merahan bagaikan muka seorang wanita.

Sepasang matanya berkilat-kilat dan bersinar tajam sekali, dengan gerakan yang liar dan tiada hentinya bergerak.

Alisnya tebal dan panjang menghitam, nampak makin jelas pada wajahnya yang putih bagaikan dicat.

Hidungrya mancung dan bibirnya merah den berbentuk indah.

Benar benar seorang pemuda yang amat cakap dan tampan.

Hanya tarikan mulut dan dagunya saja yang membayangkan kegagahan dan ketinggian hati, sikap mukanya selalu memandang rendah dan mengejek orarg lain yang dipandangnya.

Pakaiannya berwarna biru dengan ikat kepala dan pinggir leher berwarna merah menambah kegagahannya.

Sarung pedang yang Indah sekali tergantung di pinggang kirinya.

Inilah Sim Tong kiat, murid dari Kim-liong-pai yang melarikan diri itu, dan pedang ynng tergantung di pinggangnya itu sdalnh pedang Ang-coa-kiam, pedang pusaka Kim liong-pai yang dicuri dan dibawanya pergi.

Dara yang berjalan di sebelah kirinya cantik sekali.

Wajahnya manis dan potongan tubuhnya langsing dan penuh hampir mendekati sebutan montok.

Ikat kepalanya biru, pakaiannya merah, agak kehitaman.

Di atas telinga kanannya terhias oleh bunga bungaan dari sutera yang indah.

Bibirnya selalu tersenyum manis dan sepasang matanya kocak, kalau mengerling nampak nyata kegenitannya, kegenitan yang tidak menjemukan, bahkan yang merupakan senjata istimewa dari pada kecantikannya, karena sukarlah bagi seorang pria untuk bertahan menghadapi serangan kerling semanis itu.

Gadis itu bukan lain adalah sumoi (adik seperguruan) dari Sim Tiong Kiat yang bernama Can Kui Hui, puteri tunggal dari Can Kong.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, biarpun oleh suhu dan ayahnya ia di tunangkan dengan Tiong Han namun di dalam hatinya, Kui Hwa, tidak menyetujui pertunangan ini, karena semenjak kecil ia telah tertarik kepada Tiong Kiat.

Setelah menjadi dewasa rasa suka ini berobah menjadi cinta kasih yarg mendalam.

Watak Tiong Kiat yang gembira dan jenaka, cocok sekali dengan wataknya, tidak seperti Tiong Han yang pendiam dan bersikap sungguh-sungguh.

Apalagi dari fihak Tiong Kiat ada jawaban maka kakak beradik seperguruan ini saling jatuh cinta dan makin lama hubungan mereka makin erat.

Sungguh amat disayangkan bahwa gadis y"ng cantik itu memiliki sifat genit, dan demikian pula Tiong Kiat mempunyai watak yang mata keranjang.

Hubungan mereka yang amat erat pergaulan mereka yang bebas lepas di atas puncak Liong san, kesempatan-kesempatan yang terbuka dan watak mereka yang romantis merupakan kekuatan yang maha besar mendobrak daya tahan iman mereka yang muda.

Ditambah lagi oleh kata-kata manis dari Tiong Kiat yang agaknya berbakat pula untuk mencumbu rayu wanita, maka jatuhlah hati Kui Hwa.

Mereka lupa daratan, tak acuh kepada bisikan-bisikan dan teguran hati nurani sendiri dan akhirnya merela melakukan hubungan yang melanggar batas-batas kesopanan dan kesusilaan!

Sesungguhnya mereka tidak ada niat sama sekali untuk lari minggat dari puncak gunung itu.

Sungguhpun Kui Hwa amat mencintai Tiong Kiat, namun ia tidak berani membantah kehendak suhu dan ayahnya dalam hal ikatan jodohnya dengan Tiong Han.

Akan tetapi, ketika pada malam hari itu tanpa disangka sangka Tiong Han melihat mereka berdua sedang berkasih-kasihan, keduanya menjadi malu dan gelisah sekali.

Memang Tiong Han segera pergi dan berlaku biasa pura-pura tidak melihat mereka, namun mereka tetap saja takut kalau-kalau Tiong Han akan melaporkan hal itu kepada Lui Thian Sianjin atau kepada Can Kong.

Demikianlah mereka lalu mengambil keputusan untuk minggat saja, Untuk menjaga agar kelak tidak menghadapi kemurkaan Lui Thian Sianjin dan juga karena memang suka kepada pedang pusuka Ang coa kiam, Tiong Kiat lalu mencuri pedang itu, bahkan secara kurang ajar dan berani sekali meninggalkan surat untuk suhunya, mengakui terus terang bahwa dia mengambil pedang pusaka dan bahwa ia dan sumoinya akan pergi karena telah saling menyinta.

"Suheng, bagaimana kalau twa-suheng (kakak seperguruan tertua) mengejar kita?"

Kata Kui Hwa sambil memegang tangan Tiong Kait dengan sikap manja ketika mereka berjalan berdampingan di dalam sebuah hutan di kaki Gunung Liong san.

"Hwa moi, mengapa kau takut? Han-ko tidak akan mengejar kita, karena tidak tahukah kau bahwa dia sebenarnya juga tidak menaruh rasa cinta kepadamu, kalau bukan demikian mengapa dia tidak menegur kita ketika dia melihat perhubungan kita? Pula kalau sampai dia mengejar juga apa sih yang harus ditakuti? Menghadapi kau saja belum temu dia akan menang, apalagi terhadap aku. Dan masih ada pokiam (pedang mustika) ini"

"Takut sih tidak, koko (kanda). Akan tetapi......"

Kui Hwa menahan langkahnya dan hendak menundukkan mukanya yang bersemu merah. Tiong Kiat juga berhenti dan juga memegang tangan kekasihnya itu "Akan tetapi apa.. moi... moi?"

"Kalau twa-suheng datang, aku.... aku merasa malu. Bukankah aku sudah dipertunangkan dengan dia?. Aku .... .... aku malu,"

Tiong Kiat merenggutkan tangannya dari tangan Kui Hwa dan keningnya berkerut.

"Kau menyesal? Kalau kau masih menyayangkan pertunanganmu dengan dia kau boleh kembali"

Terbelalak mata Kui Hwa ketika ia memandang wajah pemuda itu. Kemudian melangkah maju dan memeluk kekasihnya sambil menjatuhkan jidat pada dada Tiong Kiat.

"Tega benar kau berkata begitu kepadaku, koko. Mengapakah kau tidak percaya kepadaku? Masih belum cukupkah pengorbananku? Aku memutuskan pertunangan yang telah dijadikan oleh suhu dan ayah, telah meninggalkan suhu dan meningalkan ayah untuk ikut padamu, telah dengan rela menyerahkan jiwa raga kepadamu, kini tega benar kau mengeluarkan kata-kata seperti itu"

Tiong Kiat mengelus-elus kepala Kui Hwa dan membelai rambutnya dengan sentuhan mesra.

"Hwa moi, kita sudah bersumpah sehidup semati, dengan disaksikan oleh bulan dan bintang kita telah menjadi suami isteri, mengapa kau masih mau memperdulikan orang lain? Biarkan Han-ko datang mengejar kalau ia berani. Kau jangan ikut-ikut, aku sendiri yang akan menghadapinya"

Kui Hwa mempererat pelukanrya dan bisiknya.

"Kekasihku.. aku tak dapat mencintai orang lain, dan aku hanya menyerahkan nasib hidupku kepadamu. Aku akan turut kepadamu, ke mana juapun kau pergi! Aku bersedia hidup sengsara asal saja berada di sampingmu. Hanya satu hal ...jangan sekali-kali kau menyia-nyiakan cintaku, koko jangan sekali-kali kau bermain gila dengan wanita lain. Kalau terjadi hal seperti itu, akan kubunuh wanita itu dan aku akan meninggalkanmu!"

Tiong Kiat tersenyum dan berkata jenaka.

"Bagiku di atas dunia ini hanya ada seorang wanita, yakni engkaulah. Bagaimana aku dapat bermain dengan wanita lain? Wanita mana yang dapat menyamaimu? Wanita mana yang mempunyai mata seindah ini, bibir semanis ini, dan rambut sehalus ini?"

Sambil berkata demikian ia membelai mata, bibir dan rambut gadis itu.

"Tidak, aku akan tetap setia padamu seperti juga setiamu kepadaku, Hwa-moil"

Akan tetapi di dalam Hatinya, Tiong Kiat mentertawakan sumoinya ini, sungguhpun ia berdebar juga mendengar ancaman yang diucapkan Kui Hwa, karena ia maklum bahwa gadis ini tentu akan membuktikan ancamannya itu.

Karena buaian cumbu rayu dan kasih sayang, sepasang orang muda ini melakukan perjalanan dengan amat gembira.

Mereka tidak memperdulikan lagi akan bahaya yang mungkin datang dari kejaran Tiong Han maupun suhu mereka.

Kui Hwa amat percaya kepada kekasihnya, karena dara inipun maklum akan kelihaian Tiong Kiat.

Misalnya suhu mereka mengejar, dengan kekuatan mereka, agaknya guru mereka sendiripun takkan dapat mengganggu kebahagiaan mereka.

Akan tetapi beberapa belas hari kemudian, ketika sepasang orang muda ini akan pesiar di sebuah telaga, mengaso di pinggir telaga melihat orang-orang berpesta di atas perahu alangkah terkejutnya hati mereka ketika tiba-tiba Can Kong berdiri di hadapan mereka dengan pedang terhunus di tangan kanan.

"Ayah...!"

Kui Hwa berseru dengan wajah pucat dan gadis itu menghampiri ayahnya hendak berlutut, akan tetapi Can Kong menggerakkan pedangnya dan membacokkan pedang itu ke arah leher Kui Hwa!

Biatpun kepandaian Kui Hwa lebih tinggi dari pada ayahnya, namun bacokan yang dilakukan oleh ayahnya dan diserangkan kepadanya yang sedang berlutut itu, agaknya tak dapat dielakkan lagi!

"Traang........!"

Terdengar suara keras dan pedang di tangan Can Kong tinggal gagangnya saja.

Ternyata bahwa pedangnya yang mengancam nyawa puterinya sendiri itu tehh kena ditangkis oleh Tiong Kiat yang mempergunakan pedang Ang-coa kiam.

Dapat dibayangkan betapa tajam dan ampuhnya pedang Ang-coa-kiam.

Baru saja terbentur sekali, pedang di tangan Can Kong telah dibabat putus!

"Anjing..

anjing rendah tak tahu bermalu l"

Can Kong berseru dengan nafas terengah-engah.

"Kalian harus mampus."

Kemudian dengan nekad Can Kong lalu menubruk Kui Hwa untuk mencekik lehernya.

"Ayah...! Ampunkan anakmu, ayah..."

Kui Hwa mengeluh tanpa berani melawan, akan tetapi kembali Tiong Kiat yang menolongnya Sebuah sampokan lengan kanan pemuda ini membuat tubuh Can Kong terpental dan terhuyung-huyung mundur ke belakang hampir jatuh!

Memang, kepandaian Can Kong masih kalah jauh kalah dibandingkan dengan kepandaian Tiong Kiat, baik ilmu pedang, maupun tenaga lweekangnya.

"Suheng,"

Kata Tiong Kiat yang menyebut "kakak seperguruan"

Karena memang Can Kong juga murid dari Lui Thian Sianjin.

"tidak ada harimau makan anaknya, apalagi manusia!"

"Anjing she Sim!"

Can Kong marah sekali sehingga sepasang matanya seakan-akan mengeluarkan cahaya api dan mulutnya mengeluarkan buih.

"Kau telah melakukan perbuatan rendah melarikan anak gadis orang, masih dapat memberi nasihat kepadaku? Saat ini kalau bukan kau, tentu aku yang akan mampus!"

Setelah berkata demikian, Can Kong kembali menyerang, dan kali ini ia menyerang Tiong Kiat dengan sepenuh tenaga! "Ayah...!"

Kui Hwa menjerit dan hanya dapat menangis.

Ayahnya sudah nekad benar dan menyerang secara bertubi-tubi dan mata gelap.

Tiong Kiat telah menyimpan kembali pedangnya dan sesungguhnya ia tidak berani untuk membalas serangannya orang tua yang nekad itu.

Akan tetapi, karena Can Kong menyerang dengan mati-matian, ia menjadi repot juga.

"Can suheng, mengapa kau berlaku seperti anak kecil. Biarkan kami berdua pergi. Aku masih menghormatimu sebagai seorang subeng dan kalau boleh, sebagai orang tua sendiri, akan tetapi kesabaran ada batasnya "

Kata Tiong Kiat sambil menangkis sebuah pukulan dengan tenaga sepenuhnya sehingga Can Kong merasa betapa lengannya sakit sekali dan kembali tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.

"Bangsat rendah! Binatang tak bermalu!"

Can Kong memaki lagi tanpa memperdulikan rasa sakit pada lengannya, ia menyerbu kembali dengan ilmu pukulan Kim-liong pai yang berbahaya bagi lawannya.

"Kau mencari penyakit sendiri"

Kata Tiong Kiat dengan marah karena ia anggap orang tua ini amat keterlaluan.

"Koko, jangan...!"

Kui Hwa berseru akan tetapi terlambat.

Tiong Kiat telah membalas serangan lawannya dan ketika tubuhnya bergerak cepat, sebuah tendangannya yang lihai telah mengenai lambung Can Kong dengan hebatnya.

Tubuh Can Kong terlempar jauh dan roboh ke dalam air telaga!

"Ayah..."

Kui Hwa menjerit dan menolong ayahnya, akan tetapi pada saat itu, diantara perahu-perahu yang bergerak ke sana ke mari di atas telaga, meluncur cepat sebuah perahu kecil yang ditumpangi oleh seorang hwesio gemuk, sekali ia mengulurkan tangannya tubuh Can Kong yang hampir tenggelam itu telah berpindah ke dalam perahu.

"Siapa pemuda itu, siapa pula gadis itu dan siapa kau"

Tanya pendeta Buddha ini kepada Can Kong yang napasnya sudah empas-empis.

Can Kong membuka matanya dan ketika ia melihat hwesio gemuk itu ia tersenyum pahit.

Ia mengenal hwesio ini yane bukan lain adalah seorang tokoh kang-ouw yang cukup terkenal, la bernama Cin Kun Hosiang, tokoh dari Bu-tong-pai, hwesio perantau yang menjadi pendekar besar penolong rakyat sehingga namanya amat terkenal, baik di kalangan rakyat maupun di dunia kang-ouw.

"Cin suhu, celakalah... hancur nama ....baikku oleh anjing-anjing tak bermalu itu. Perempuan itu adalah puteri tunggalku, sedangkan pemuda itu adalah suteku sendiri. Mereka.. mereka minggay....... dan......."

Orang tua itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia menjadi lemas dan pingsan karena luka pada lambungnya yang hebat akibat tendangan Tiong Kiat.

Bukan main marahnya Cin Kun Hosiang mendengar keterangan ini.

Dengan tangan kiri memondong tubuh Can Kong.

Ia lalu melompat ke pantai, mengagumkan sekali gerakannya ini karena tubuhnya yang gendut itu seakan-akan amat ringan.

Ketika berhadapan dengan Tiong Kiat yang memandang dengan sikap dingin dan Kui Hwa yang masih mengucurkan air mata, hwesio itu lalu menurunkan tubuh Can Kong yang masih pingsan itu di atas tanah.

Kui Hwa hendak menubruk ayahnya, akan tetapi hwesio itu mengebutkan ujung lengan bajunya ke arah gadis itu sambil berkata.

"Jangan mengotori ayahmu dengan tanganmu yang bernoda"

Kui Hwa terkejut sekali karena ujung lengan baju itu mengeluarkan hawa pukulan yang amat kuat. Akan tetapi dengan lincahnya ia dapat mengelak dan memandang kepada hwesio itu dengan marah.

"Kepala gundul. Siapakah kau maka berani sekali kau berkata demikian kepadaku?"

Bentaknya. Hwesio itu tertawa bergelak.

"Pinceng Cin Kun Hosiang paling benci kepada orang orang jahat, akan tetapi lebih benci lagi kepada seorang anak durbaka. Kau adalah seorang anak perempuan yang mendurhaka terhadap orang tua, seorang anak gadis tak bermalu yang menodai nama keluarga! Percuma saja kau dilahirkan di atas dunia, lebih baik sekarang juga kau meninggalkan dunia agar nama baik ayahmu tidak sampai menjadi buah tutur orang"

"Keparat"

Bentak Kui Hwa.

"Aku pernah mendengar nama Cin Kun Hosiang sebagai tokoh Bu-tong-pai yang tersohor, akan tetapi ternyata kau hanya seorang kepala gundul yang berpura-pura alim dan orang yang lancang yang suka mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Kau kira aku takut kepadamu?"

Kui Hwa menjadi marah sekali oleh karena ucapan itu didengar oleh orang-orang yang kini mulai berkumpul menonton mereka.

Ia merasa dihina dan dibikin malu sekali, maka setelah mencabut pedangnya ia lalu menyerang hwesio gemuk itu.

Cin Kun Hosiang ketika melihat datangnya serangan yang cukup hebat mi, diam-diam menjadi terkejut.

Ia maklum akan kehebatan ilmu pedang Kim-liong-pai akan tetapi ia pernah melihat Can Kong bermain silat dengan pedang dan karena tingkat Can Kong masih rendah, maka hwesio ini merasa sanggup untuk menghadapinya, Kini melihat gerakan Kui Hwa, selain terkejut iapun merasa heran bagaimana gadis ini memiliki ilmu pedang yang jauh lebih hebat dari pada ilmu pedang ayahnya!

Akan tetapi ia tidak tempat banyak berpikir dan cepat pula ia mencabut senjatanya, yakni sebatang tongkat pendek yang tadinya terselip di pinggangnya.

Pertempuran hebat terjadi di pantai telaga itu antara Cin Kun Hosiang dan Kui Hwa.

Kalau dibandingkan antara kedua orang yang sedang bertempur ini, maka kepandaian mereka boleh dibilang berimbang kuatnya.

Hwesio gemuk itu lebih menang dalam hal tenaga lweekang dan pengalaman, akan tetapi Kui Hwa menang jauh dalam kecepatan dan kehebatan gerakan pedangnya.

Pedangnya melupakan seekor burung elang yang menyerang dan menyambar-nyambar dan semua penjuru, sedangkan tongkat di tangan Cin Kun Hosiang merupakan seekor induk ayam yang melindungi anak anaknya dari serangan elang itu.

Gerakannya tidak cepat dan amat tenang, akan tetapi sekali digerakkan, cukup untuk membikiu pedang Kui Hwa terpental kembali.

Betapapun juga, karena kalah lihai ilmu silatnya, hwesio gendut itu terdesak hebat oleh Kui Hwa, sungguhpun takkan mudah bagi Kui Hwa untuk merobohkan lawannya.

Diam-diam Cin Kun Hosiang merasa kaget sekali.

Jarang sekali hwesio ini bertemu dengan lawan yang sedemikian tangguhnya.

Banyak sudah ia mengalami pertempuran menghadapi penjahat-penjahat oan perampok-perampok, akan tetapi selalu ia memperoleh kemenangan.

Jarang ada orang yang sanggup menghadapi tongkatnya yang digerakkan dengan tenaga lweekangnya yang sudah tinggi.

Akan tetapi siapa kira bahwa kini menghadapi puteri Can Kong seorang dara jelita yang masih muda sekali, ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas serangan gadis ini.

Cin Kun Hosiang menjadi kekhi (gemas) juga.

Pada saat pedang Kui Hwa menyambar dari atas, ia cepat menangkis dengan tongkatnya, dan membarengi dengan serangan pukulan tangan kirinya ke arah dada gadis itu!

Inilah serangan dari ilmu pukulan Lwee-khi-ciang-hoat yang luar biasa hebatnya, karena pukulan ini dilakukan dengan pengerahan tenaga khi-kang.

pukulan ini tidak perlu mengenai tubuh, hawa pukulannya saja cukup mengalahkan lawan.

Yang paling hebat adalah pukulan ini takkan terasa oleh lawan dan tidak melukai tubuh luar, namun menyerang dan melukai tubuh bagian dalam.

Untung bagi Kui Hwa selama itu, Tiong Kiat memandang pertempuran dengan penuh perhatian.

Ketika ia melihat betapa Kui Hwa dapat mendesak lawannya dan meyakinkan bahwa kekasihnya itu pasti akan dapat mengalahkan Cin Kun Hosiang, ia merasa lega dan tidak mau turun tangan membantu.

Akan tetapi ketika melihat gerakan pukulan hwesio itu, ia menjadi terkejut sekali."Awas pukulan Lwee-khi!"

Teriaknya memperingatkan Kui Hwa dan berbareng ia mengirim pukulan dengan tenaga khikangnya ke arah hwesio itu.

Cin Kun Hosiang terkejut ketika merasa angin pukulan yang luar biasa kuatnya menyambar dari samping.

Ia terpaksa menarik kembali pukulannya itu dan mencoba menjejak, akan tetapi Kui Hwa yang merasa marah sekali kepada lawannya, tidak memberi hati dan ketika pedangnya meluncur ke depan biarpun Cin Kun Hosiang mencoba untuk mengelak, tetap saja ujung pedang itu menancap ke pundaknya sebelah kanan.

Ketika Kui Hwa mencabut pedangnya, Cin Kun Hoaiang terhuyung ke belakang, kemudian roboh mandi darah dalam keadaan pingsan.

Tiong Kiat memegang tangan kekasihnya, menariknya sambil berkata.

"Hayo kita pergi, moi moi"

Kui Hwa beberapa kali menengok ke arah ayahnya, akan tetapi ia hanya terisak sedih dan mengikuti kekasihnya yang berlari cepat.

Setelah jauh dari tempat itu, Kui Hwa berhenti berlari, menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis tersedu-sedu.

Tiong Kiat menghampirinya, lalu memeluknya.

"Koko mengapa kau melukai ayah? Bagaimana kalau kalau ia mati? Ah, kau yang membunuhnya"

Tiong Kiat mnmegang kedua pundak Kui Hwa dan memaksa gadis itu memandangnya.

"Kui Hwa, pikirlah baik-baik. Dalam keadaan seperti itu, kau hanya tinggal memilih, ayahmu atau aku! Dia telah menyerangku mati-matian, dan kaupun tahu bahwa tadinya aku selalu mengalah. Akan tetapi, kalau aku terus mengalah, bukan dia yang roboh pasti aku yang roboh, pasti akulah yang telah dirobohkannya. Kalau aku yang terluka, apakah ayahmu akan mau melepaskan aku begitu saja tanpa membunuhku lebih dulu?"

Mendengar ucapan ini, Kui Hwa menundukkan mukanya sambil terisak-isak menahan kepedihan.

"Aku aku menyesal sekali, koko....... Bagaimanakah nasioku menjadi begini? Aku bermusuh dengan ayah sendiri......."

Tiong Kiat menghiburnya, menggunakan tangannya untuk menghapus air mata kekasihnya yang mengalir turun di sepanjang pipinya, lalu mendekap kepalanya.

"Jangan takut, moi-moi. Bukankah ada aku yang akan selalu melindungimu? Tidak apalah kalau ayahmu membencimu, bukankah sudah ada aku seorang yang akan mencinta dan membelamu selama hidupku?"

Terhibur juga hati Kui Hwa mendengar ucapan yang penuh cinta kasih ini.

"Koko, betul-betulkah kau akan tetap mencintaiku selama hidupmu? Tidak akan tertarik oleh gadis lain yang lebih cantik dari pada aku?"

Bisiknya manja.

"Aku bersumpah, moi-moi. Bukankah sudah berkali-kali aku menyatakan bahwa aku mencintamu dengan segenap nyawaku?"

Kata Tiong Kiat kepada Kui Hwa yang merem melek terayun oleh bujuk rayu yang dikeluarkan dengan suara halus dan yang cukup kuat untuk merobohkan hati seoiang gadis ini.

Demikianlah amat berbahaya kalau seorang gadis hanya membuka telinga untuk mendengarkan bujuk rayu seorang pemuda, tanpa membuka kewaspadaan hatinya dan kewaspadaan matanya untuk dapat melihat apakah yang tersembunyi di balik senyum manis, dan apa yang terdengar di balik cumbu rayu itu.

Sekali ia telah terjebak dan masuk perangkap sukarlah baginya untuk keluar kembali.

"Koko, sekali lagi aku mohon kepadamu, janganlah kau melupakan aku, jangan meninggalkan aku, dan jangan pula kau bermain gila dengar wanita lain. Aku takkan kuat menahannya dan aku lebih baik mati dari pada harus berpisah dengan kau, dari pada harus melihat engkau berkasih-kasihan dengan wanita lain. Akan kubunuh wanita itu!"

"Jangan khawatir, kekasihku, tidak ada wanita yang lebih cantik, lebih manis dan lebih setia dari padamu!"

Terhiburlah hati Kui Hwa dan anak ini telah melupakan lagi ayahnya yang ditinggalkan dalam keadaan terluka parah.

Tidak teringat lagi ia apakah ayahnya akan mati akibat tendangan kekasihnya itu, ataukah masih hidupi Bahkan Kui Hwa tidak perduli lagi akan nama Cin Kun Hoaiang yang sudah ia lukai.

Pada hal kalau pikirannya sadar, ia akan mengeluarkan keringat dingin kalau teringat betapa telah melukai seorang pendekar yang sudah tersohor namanya, seorang gagah yang dicintai oleh orang-orang kang-ouw, yang mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang tentu saja takkan tinggal diam.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan, merantau tanpa arah tujuan tetap.

Di mana saja mereka mendengar ada tempat yang bagus dan menyenangkan, mereka lalu mendatangi tempat itu.

Keadaan mereka tiada ubahnya seperti sepasang pengantin baru yang melakukan perjalanan berbulan madu.

Akan tetapi, tepat sebagaimana yang di ajarkan oleh para cerdik pandai dan para bijaksana di jaman dahulu, bahwa segala sesuatu mengenai tindakan dalam hidup, harus dilakukan dengan hati suci, bersih dari pada Lima Sifat yang dipergunakan sebagai garis dan batas hidup.

Lima Sifat itu adalah Jin, Gie, Lee, Ti, Sin.

Demikianlah dengan hubungan antara Tiong Kiat dan Kui Hwa.

Kedua orang muda ini melakukan hubungan hanya karena dorongan nafsu semata, nafsu yang membikin buta mata batin mereka, yang melumpuhkan keteguhan iman mereka.

Dan semua penyelewengan ini terjadi karena tidak adanya Lee, karena tidak adanya peraturan.

Mereka telah melanggar Lee, melanggar peraturan yang diajarkan oleh para bijaksana.

Hubungan mereka setelah dewasa melampaui kesopanan dan sama sekali melanggar peraturan kesopanan dan kesusilaan.

Akibatnya mereka terkena bujukan iblis, dan kemudian mereka bahkan meninggalkan suhu dan orang tua, minggat dan melakukan pelanggaran peraturan yang kedua.

Ketiga kalinya mereka hidup seperti suami isteri di luar pernikahan yang sah, dan hal ini lebih-lebih melakukan pelanggaran peraturan yang amat buruk.

Semenjak jaman dahulu, orang orang di negeri Tiongkok selalu berpegang teguh kepada peraturan, terutama sekali dalam hal hubungan antara laki-laki dan wanita, dan bagaimana bukti kebaikannya?

Bagi seorang rakyat Tiongkok, pernikahannya hanya terjadi satu kali selama mereka hidup.

Jarang sekali, hampir tidak ada, terjadi perceraian-perceraian, dan suami isteri hidup rukun sampai di hari tua.

Setelah melakukan perjalanan beberapa bulan saja, mulai lunturlah "cinta kasih"

Yang didengungkan oleh mulut Tiong Kiat terhadap Kui Hwa.

Biarpun kini pemuda itu sama sekali tidak menyatakan kelunturan cinta kasihnya dalam kata kata, namun pandangan mata dan sikapnya membuat Kui Hwa amat gelisah.

Gadis ini benar-benar mencinta Tiong Kiat, bahkan telah membuktikan cintanya itu dengan memberatkan pemuda itu dari pada ayahnya.

Berkali-kali mulai timbul percecokan dan perbantahan diantara mereka karena soal kecil saja dan hati Kui Hwa makin lama makin gelisah dan sedih.

Ia membujuk-bujuk kekasihnya itu untuk menghentikan perantauan mereka dan tinggal di dalam sebuah kota, mencari rumah dan hidup berumah tangga sebagaimana yang diidam-idamkan oleh semua gadis di dunia ini.

Akan tetapi Tiong Kiat selalu menyatakan tidak setuju.

"Aku tidak betah tinggal di rumah. Kalau kau merasa lelah ikut aku merantau, marilah kita mencari rumah dan kau beristirahat di situ. biar aku melanjutkan perantauan seorang diri."

Semenjak mendapat jawaban ini, Kui Hwa tidak berani lagi bicara tentang menghentikan perantauan mereka.

Ia juga tidak membantah ketika melihat Tiong Kiat mendatangi rumah gedung orang-orang hartawan untuk mencuri emas dan perak guna dipakai membiayai perjalanan mereka.

Beberapa bulan kemudian, mereka tiba di sebuah dusun di luar kota Heng-yang.

Baru saja mereka berjalan mematuki pagar dusun, tiba-tiba terdengar jeritan-jeritan dan mereka melihat dua orang wanita sedang berlari ketakutan, dikejar oleh seorang laki-laki tua yang membawa golok yang diangkatnya tinggi-tinggi.

Dua orang wanita itu adalah orang-orang dusun, akan tetapi yang seorang biarpun berpakaian sederhana seperti pakaian orang dusun, ternyata masih muda dan amat cantiknya.

Adapun wanita kedua sudah setengah tua, berlari sambil menggandeng dan menarik lengan gadis cantik manis itu.

Melihat bahaya maut mengancam kedua orang wanita itu, Tiong Kiat dan Kui Hwa segera turun tangan.

Kui Hwa melompat ke dekat kedua orang wanita itu untuk melindungi mereka, adapun Tiong Kiat cepat menyerbu laki-laki bergolok itu.

Akan tetapi, alangkah herannya ketika sekali saja mengulur tangan, golok itu dengan mudah telah dapat dirampasnya.

Ternyata laki laki itu seorang dusun yang lemah dan sama sekali tidak pantas menjadi orang jahat yang mengganggu dan mengancam wanita!

la menyangka bahwa mungkin orang ini berotak miring, maka bentaknya,"Orang gila darimana berlaku kurang ajar kepada orang perempuan?"

Akan tetapi orang laki-laki yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu, menjadi marah dan menegur Tiong Kiat dengan mata merah.

"Orang muda, kau perduli apakah dengan urusan rumah tangga orang lain? Mereka adalah istri dan anakku, aku hendak membunuh mereka kemudian membunuh diri sendiri, ada hubungan apakah dengan engkau?"

Tiong Kiat tersenyum jenaka.

"Kakek lucu, kau ingin mati mengapa mengajak orang lain? Bila kau memaksa anak istri untuk ikut sertamu mati, sungguh pengecut!"

Kakek itu makin marah,"mengapa kau bilang aku pengecut!"

"Itu karena kau takut hidup, takut menghadapi kesukaran, maka kuanggap kau pengecut! Sudah terang bahwa anak istrimu tidak sudi mati, akan tetapi kau hendak memaksa mereka. Dengan perbuatan ini, kembali kau pengecut, jadi dua kali pengecut!"

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba wajah yang tadinya marah itu menjadi muram dan laki-laki itu menjatuhkan diri duduk di atas tanah dan menangis!

Kedua orang wanita yang dikejar-kejar tadi lalu berlari menghampiri dan bertangis-tangisanlah ketiga orang itu!

Tentu saja Tiong Kiat dan Kui Hwa hanya bisa saling pandang dengan heran dan geli hatinya.

"Eh, ah, bagaimana pula ini?"

Kui Hwa kini maju bertanya.

"Seperti anak keciI saja kalian ini. Tadi berkejar-kejaran sekarang bertangis-tangisan! Kesusahan apakah yang mengganggu kalian? Beritahukan kepada kami, pasti kami akan dapat membantu kalian."

Ketiga orang itu mengangkat muka memandang kepada dua orang muda itu dan setelah kini melihat dari dekat, diam diam Tiong Kiat mengerling kagum ke arah gadis dusun yang benar benar cantik sekali itu!

Karena menangis sepasang pipi gadis itu menjadi kemerah-merahan dan bibirnya demikian menarik dan indah sehingga diam-diam Tiong Kiat menelan ludah!

"Kami adalah orang orang yang tertimpa kemalangan hebat,"

Kata kakek itu.

"Loan Li puteri kami yang hanya seorang ini telah terlihat oleh Hek pa cu (Macan Tutul Hitam) dan telah dipinang! Kami tidak melihat jalan keluar, maka kupikir lebih baik kami binasa daripada anak kami menjadi korban Hek pa cu! "Hm, siapakah Hek pa cu itu? Orang macam apakah dia?"

Tanya Tiong Kiat sambil memandang gadis yang bernama Loan Li itu. Kini kakek itu yang memandang heran.

"jiwi tentu datang dari tempat jauh maka belum pernah mendengar nama Hek pa cu Tong Sun! Dia telah dikenal baik olen seluruh penduduk di sekitar daerah Heng-yang. Dialah pemimpin dari gerombolan Sorban Merah yang terkenal!"

"Kalau begitu mengapa pula kau menolak pinangannya? Bukankah ia seorang ternama seperti katamu tadi? Terima saja pinangannya, habis perkara!"

Kata Kui Hwa.

"Tidak ...... tidak sudi....... lebih baik mati!"

Gadis cantik berkata dan wajahnya berobah pucat, sambiI menggoyang-goyangkan kedua tangan ia menyatakan tidak setuju.

"Nah, itulah yang menggelisahkan hatiku. Anakku tidak mau menjadi bini muda Hek pa cu dan penolakan ini berarti kematian yang mengerikan bagi kami bertiga. Dari pada mati disiksa oleh kaki tangan Hek pacu lebih baik aku sendiri yang menjadi algojo atas nyawa kami bertiga."

"Hm, orang macam apakah Hek pa cu ini sehingga ia demikian berkuasa?"

Kata Tiong Kiat.

"Empek, jangan kau takut, kebetulan sekali aku adalah seorang ahli menangkap se-.... ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------(ketikan tidak bisa terbaca karena terlalu gelap) ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------"Kami keluarga Gu, namaku Gu Seng, bertempat tinggal di dusun ini. Banyak terima kasih karena taihiap dan lihiap sudi menolong kami. Akan tetapi, Hek.pa cu adalah seorang yang kejam dan tangguh sekali, adapun kaki tangannya amat banyak jumlahnya. Bagaimanakah jiwi dapat menghadapinya?"

"Tak usah kuatir lopek "

Kata Kui Hwa.

"biarpun seandainya terdapat seratus orang Hek pa-cu kami berdua sanggup untuk mencabuti kumis dan ekor mereka!"

Dengan girang tiga orang itu berlutut menghaturkan terima kasih, kemudian mereka lalu kembali ke rumah mereka dan menanti dengan hati berdebar-debar.

"Hwa moi, agaknya Hek-pa-cu ini amat jahat dan berpengaruh. Lebih baik kita mendatangi sarangnya dan membasminya sama sekali agar daerah ini terhindar dari pada kejahatannya. Biarlah gadis itu dibawa ke sarang mereka dan diam-diam kita mengikutinya, Setelah tiba di sarang mereka, barulah kita turun tangan, menolong gadis itu dan sekalian menghancurkan sarang mereka. Bagaimana pendapatmu?"

"Memang sebaiknya demikian, koko. Akan tetapi, hal ini perlu kita beritahukan kepada keluarga Gu, agar mereka tidak menjadi terkejut dan gelisah, dan mengerti akan siasat kita."

Menjelang malam, kedua orang muda ini mendatangi rumah keluarga Gu, dan memberi-tahukan siasat mereka itu.

Karena keluarga Gu tidak melihat jalan keluar dari pada ancaman ini, maka tentu saja mereka menurut segala petunjuk dan kehendak penolong mereka!

Dan pada malam hari ini, datanglah serombongan orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar berpakaian seragam dengan sorban merah.

Mereka ini adalah anak buah dari Hek-pacu yang datang membawa sebuah tandu untuk mengambil Loan Li.

Jumlah mereka lima belas orang, semuanya nampak seram dan galak.

Penduduk kampung itu yang sudah mendengar tentang kehendak Hek pa cu untuk mengambil Loan Li, siang-siang sudah menutup pintu dan yang berani keluar hanyalah orang-orang lelaki yang berdiri di depan rumah dengan sikap menghormat.

Mereka memandang kepada rombongan orang-orang itu dengan ketakutan, bagaikan melihat serombongan macan tutul yang galak.

Dengan hati tidak karuan rasa, Gu Seng dan istrinya menyambut kedatangan rombongan itu dan dengan memaksa diri menarik muka manis dan ramah tamah, mereka lalu menghidangkan minuman dan makanan.

Akan tetapi pemimpin rombongan itu menolak hidangannya sambil berkata.

"Orang she Gu tak perlu menyambut kami. Yang penting segera suruh anakmu berias dan masuk ke dalam tandu, ikut dengan kami. Twako sudah tidak sabar lagi, dan besok siang kau boleh datang ke hutan sebelah barat untuk menerima penghormatan dari twako serta hadiah-hadiah!"

Dengan wajah pucat dan kedua kaki gemetar, loan Li lalu berjalan keluar, dibimbing oleh ibunya, lalu setengah memaksa ibunya menyuruh gadis itu memasuki tandu yang sudah tersedia di depan rumah.

Rombongan itu sambil tertawa-tawa melihat gadis ini dan kemudian tandu lalu dipanggul dan dibawalah gadis itu keluar dari dusun memasuki hutan sebelah barat!

Diam diam dua bayangan orang mengikuti gerak gerik rombongan Sorban Merah ini.

Mereka bukan lain adalah Tiong Kiat dan Kui Hwa.

Mereka mengikuti rombongan itu memasuki hutan dan ternyata bahwa rombongan itu membawa loan Li ke sebuah rumah besar yang terdapat di dalam hutan itu.

Akan tetapi, ketika Kui Hwa dan Tiong Kiat mengintai dari atas genteng, mereka melihat bahwa gadis itu dimasukkan ke dalam kamar yang terjaga kuat, sedangkan di tempat itu tidak nampak bayangan Hek-pa cu!

Kemudian mereka mendengar dari pembicaraan para penjaga itu bahwa Hek-pa-cu sebetulnya tinggal di kota Heng-yang dan keesokan harinya baru akan datang menjemput calon bini mudanya!

Terpaksa sepasang orang muda ini melewatkan malam itu di dalam hutan, akan tetapi karena mereka berdua dapat saling menghibur maka malam itu dilewatkan dengan penuh kegembiraan.

Pada saat seperti itu dalam bujuk dan cumbu rayu Tiong Kiat yang tampan dan manis bahasa, lenyaplah segala keraguan hati Kui Hwa dan cinta kasihnya terhadap Tiong Kiat makin mendalam.

Pada keesokan harinya, baru saja matahari muncul dan burung-burung berkicau riuh rendah menyambut datangnya siang, terdengarlah suara gemuruh dari luar hutan.

Suara ini ternyata adalah sorak-sorai yang penuh kegembiraan dari serombongan anggauta-anggauta Sorban Merah terdiri dari empat puluh orang lebih.

Mereka mengiringkan seorang laki-laki tinggi besar yang berusia hampir empat puluh tahun, berbaju biru, bercelana hitam dan sorbannya merah sekali.

Orang ini berjalan dengan langkah yang gagah dan yang mendatangkan rasa seram pada orang yang melihatnya, adalah sepasang matanya yang liar dan senjatanya yang luar biasa.

Senjatanya ini adalah sebuah penggada yang aneh dan mengerikan bentuknya, bulat memanjang dengan ujung tiga meruncing.

Penggada ini nampak berat sekali, akan tetapi biarpun senjata besar ini tergantung pada pinggangnya, ia berjalan dengan enak saja, seakan-akan senjata itu hanya merupakan benda yang ringan saja.

Inilah dia Teng Sun yang berjuluk Hek pa cu Si Macan Tutul Hitam, kepala dari gerombolan Sorban Merah yang amat terkenal dan ditakuti oleh orang!

Ketika Hek.pa cu dengan rombongan telah tiba di dekat rumah besar itu, tiba tiba dari atas pohon melayang turun dua orang muda yang dengan tenang berdiri di depan kepala gerombolan ini.

Teng Sun tercengang melihat seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan berdiri di depannya maka ia membentak keras.

"Jiwi siapakah dan ada keperluan apa kiranya menghadang perjalanan kami?"

"Kaukah yang bernama Hek pa cu Teng Sun?"

Tanya Tiong Kiat.

"Benar dugaanmu saudara muda yang gagah. Siapakah kalian ini dan keperluan apakah yang membawamu datang ke tempat ini?"

"Hek pa cu! Tak usah kau tahu siapa kami, akan tetapi kedatangan kami ini untuk menamatkan riwayatmu yang buruk! Kau telah memaksa gadis she Gu untuk menjadi bini mudamu! Apakah ini laku seorang jantan? Kau mempergunakan pengaruhmu untuk menakut-nakuti penduduk dusun, untuk mengganggu anak bini orang. Sungguh tidak patut!"

Tiba-tiba Hek-pa-cu Tang Sun terbahak-bahak tertawa mendengar makian-makian ini.

la anggap sangat lucu seorang pemuda yang tampak lemah bersama dengan seorang gadis cantik ini berani memaki dan menentangnya!

Bahkan orang orang kang-ouw yang ternama saja masih akan berpikir-pikir dulu untuk menantangnya bagaimana dua orang muda yang masih seperti kanak-kanak ini berani berlaku kurang ajar kepadanya?

"Ha, ha, ha, bocah yang masih hijau!

Kau perduli apakah dengan segala urusan dan kesenanganku?

Kalau kau mau mengambil gadis she Gu itu, ambillah.

Aku rela melepaskannya asal saja kau tinggalkan kawanmu itu sebagai gantinya!"

Bukan main marahnya Tiong Kiat mendengar ini, akan tetapi ia kalah dulu oleh Kui Hwa yang juga menjadi luar biasa marahnya.

"Jahanam besar, kau sudah bosan hidup!"

Teriak Kui Hwa dan tahu-tahu ia telah menyerang Hek-pa-cu dengan pedangnya!

Gerakannya amat cepat bagaikan kilat menyambar sehingga kepala perampok itu terkejut sekali.

Ia cepat mengelak, akan tetapi ujung sorbannya masih terbabat!

Tak disangkanya bahwa gadis cantik ini mempunyai kepandaian demikian hebatnya, maka tahulah dia bahwa ia menghadapi lawan yang tangguh.

Cepat ia menarik senjatanya yang hebat itu dan bertempurlah mereka dengan seru.

Sementara itu, Tong Kiat juga sudah mencabut pedang Ang coa-kiam dan sekali ia memutar pedangnya, dua orang anggauta Sorban Merah roboh mandi darah!

Anak buah gerombolan Sorban Merah itu berteriak teriak marah dan semua mencabut golok mereka, akan tetapi kembali beberapa orang roboh oleh Tiong Kiat ketika pemuda ini menerjang ke depan!

Dalam waktu yang amat singkat saja sudah ada delapan orang yang binasa di ujung pedang Ang coa-kiam!

Penjahat-penjahat itu menjadi gentar juga dan merasa ragu-ragu untuk mengeroyok Tiong Kiat.

"Moi moi, kau uruslah anjing-anjing ini, biar aku menolong nona Gu!"

Tiong Kiat berseru dan tanpa menanti jawaban kekasihnya, ia lalu berlari ke arah rumah besar di mana Loan Li ditahan.

Di situ ia disambut oleh beberapa orang penjaga, akan tetapi mereka bukanlah lawan Tiong Kiat yang lihai, maka bertumpuk-tumpuklah mayat anak buah Sorban Merah, ketika pemuda ini mengamuk sambil menyerbu ke dalam rumah.

Sementara itu, pertempuran yang terjadi antara Kui Hwa dan Teng Sun berjalan amat serunya, Hek pa-cu Teng Sun ternyata memang pandai dan kosen.

Senjatanya yang besar dan berat itu diputar sedemikian rupa, mendatangkan angin besar dan celakalah Kui Hwa kalau satu kali saja senjata itu mengenai tubuhnya!

Senjata ini beratnya sedikitnya ada dua ratus kati dan dimainkan dengan tenaga yang luar biasa kuatnya.

Akan tetapi Kui Hwa mempergunakan ginkangnya yang luar biasa sehingga tubuhnya seakan-akan merupakan seekor burung yang menyambar-nyambar dari segala jurusan.

Pedangnya berkelebat-kelebat merupakan segulung sinar putih dan tubuhnya kadang kadang mumbul ke atas, melayang dan menyambar dari atas dengan kecepatan luar biasa!

Setelah bertempur lima puluh jurus lebih, Teng Sun merasa terdesak hebat.

Pedang di tangan dara manis itu benar-benar amat lihai.

Gerakan pedang yang cepat, ditambah pula oleh ginkang yang luar biasa membuat gadis itu kadang-kadang lenyap dari depan matanya.

Kalau saja Teng Sun tidak bersenjata penggada yang besar dan berat yang diputar-putar sedemikian rupa sehingga Kui Hwa harus berlaku hati-hati, tentu kepala gerombolan ini sudah roboh sejak tadi!

"Kawan-kawan, bantulah menangkap gadis liar ini!"

Teng Sun berseru keras kepada kawannya karena la benar-benar telah kewalahan sekali.

Beberapa orang tauwbak (pemimpin gerombolan pembantu-pembantunya) yang semenjak tadi berdiri bengong menonton pertempuran itu, bergerak maju hendak mengeroyok.

Mereka adalah empat orang yang bertubuh tinggi besar yang dipilih oleh Hek-pa cu Teng Sun sebagai pembantu-pembantunya.

Akan tetapi belum juga mereka dapat menggerakkan golok, tiba-tiba Kui Hwa berseru nyaring dan keras.

Tubuhnya melompat ke atas sampai hampir dua tombak, dan dengan gerakan Merak Sakti Mematuk Ular, pedangnya meluncur dari atas ke bawah, melakukan serangan yang luar biasa cepat dan kuatnya!

Gerakan ini benar benar mengandalkan ginkang yang sempurna, sehingga tidak terduga sama sekali oleh Hek-pacu Teng Sun.

Percuma saja ia mengangkat penggadanya untuk menghantam tubuh yang melayang ke atas itu, karena baru saja ia mengangkat penggadanya, pedang di tangan Kui Hwa telah menyambar dan menancap di tenggorokannya!

Hek-pacu Teng San mengeluarkan suara seperti seekor babi disembelih, tubuhnya terhuyung-huyung, penggadanya terlepas dari pegangan dan ia lalu roboh tak bernapas lagi!

Dengan wajah keren, Kui Hwa menghadapi empat orang tauwbak dan para anak buah gerombolan dengan pedang di tangan.

"Siapa telah bosan hidup? Hayo majulah! Biarlah hari ini pedangku membasmi gerombolan Sorban Merah sampai ke akar akarnya!"

Sikapnya demikian gagah dan garang sehingga empat orang tauwbak itu saling pandang dan kemudian mereka berempat lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kui Hwa!

Kawan kawannya yang puluhan banyaknya ketika melihat empat orang pemimpin itu berlutut, segera menjatuhkan diri pula berlutut sambil meletakkan senjata di atas tanah.

Inilah tanda menyerah dan takluk terhadap gadis yang gagah perkasa itu.

"Lihiap yang gagah perkasa. Sepak terjangmu demikian gagah dan amat mengagumkan hati kami seluruh anggauta Sorban Merah. Lihiap jauh lebih gagah dari pada Hek-pa-cu Teng Sun, maka kami seluruh anggauta Sorban Merah menyerah dan mohon ampun dari lihiap. Sudilah kiranya lihiap memimpin kami orang orang bodoh menggantikan kedudukan Hek-pa cu!"

Untuk sesaat, gadis itu berdiri bengong.

Tak disangkanya sama sekali bahwa orang-orang yang tinggi besar dan galak itu kini semua berlutut memberi hormat kepadanya, bahkan memilihnya sebagai kepala mereka!

Ia tak dapat menjawab, dan akhirnya ia berkata perlahan.

"Aku Can Kui Hwa bukanlah keturunan perampok bagaimana kalian mau mengangkat aku menjadi kepala perampok?"

"Lihiap, harap jangan salah sangka,"

Berkata seorang diantara empat orang tauwbak itu.

"Sesungguhnya rombongan Sorban Merah bukanlah gerombolan perampok. Perkumpulan kami dulunya merupakan perkumpulan orang orang gagah yang bekerja dengan cara jujur, menjaga keamanan kampung-kampung dari serbuan perampok, mengawal pengiriman barang barang atau orang-orang hartawan yang melakukan perjalanan Jauh, dan di samping pekerjaan itu, kami memperdalam kepandaian silat. Semenjak Hek pa-cu datang dan merampas kedudukan ketua, kami diselewengkan dan terpaksa mengikuti jejaknya. Kami kini telah bertobat, dan asal saja lihiap sudi memimpin kami, perkumpulan Sorban Merah akan menjadi perkumpulan yang baik lagi."

Akan tetapi pada saat itu, Kui Hwa teringat kepada Tiong Kiat, maka ia segera bertanya.

"Di manakah adanya kawanku tadi? Dan bagaimanakah dengan nasib nona Gu Loan Li?"

"Kawanmu itupun hebat dan ganas sekali lihiap. Banyak kawan kami telah mati di dalam tangannya. Nona Gu yang ditahan di dalam kamar, telah dirampas dan dibawa lari oleh kawanmu itu."

"Kalau begitu biarlah urusan pengangkatan ketua ini nanti saja dibicarakan lagi setelah aku dapat bertemu dengan kawanku. Dia adalah suhengku dan kalau kalian hendak mencari seorang pemimpin, dialah orangnya, bukan aku!"

Setelah berkata demikian, sekali ia menggerakkan kedua kakinya, Kui Hwa telah lenyap dari situ, membuat para anggota Sorban Merah menjadi makin kagum saja.

Dengan cepat Kui Hwa berlari kembali ke dusun tempat tinggal Loan Li.

Akan tetapi, ketika ia tiba di rumah keluarga Gu Seng, ternyata bahwa keluarga itu masih menanti-nanti dan Tiong Kiat bersama nona Gu belum juga tiba di rumah itu!

Kui Hwa menjadi heran dan juga bercuriga.

Tanpa berkata sesuatu kepada keluarga yang memandang penuh kegelisahaan itu, ia melompat pergi dan kembali ke dalam hutan.

Ia mencari-cari sampai hari menjadi gelap, akan tetapi ia tak melihat bayangan suhengnya dan nona Gu yang ditolongnya itu.

Akhirnya ia kembali lagi ke dusun dan menuju ke rumah keluarga Gu.

Lalu apakah yang didengarnya?

Keluh kesah dan tangis yang memilukan!

Kui Hwa merasa tak enak hati sekali dan cepat ia masuk ke dalam rumah itu lalu menuju ke ruang belakang.

la melihat Gu Seng duduk sambiI menangis dan ketika melihat Kui Hwa datang, kakek itu berkata.

"Tidak ada gunanya pertolonganmu nona. akhirnya anakku tertimpa bencana juga!"

Kui Hwa terkejut sekali. Ia memegang lengan kakek itu dengan keras sehingga Gu Seng memandangnya dengan kaget dan kesakitan.

"Hayo lekas ceritakan apa yang terjadi dan di mana adanya suhengku!"

Kakek itu memandang heran.

"Nona, benar-benarkah kau tidak tahu? Suhengmu telah mengantarkan Loan Li pulang dengan selamat, akan tetapi begitu masuk ke kamarnya Loan Li telah menggantung diri sampai mati! Ternyata........ kau dan suhengmu........ datang terlambat..... dan dia .... anakku itu telah menjadi korban keganasan Hek pa cu.......!"

Kakek itu mendekap mukanya dan menangis lagi. Kui Hwa menjadi pucat air mukanya, dan setelah termenung sebentar, mengerahkan otak untuk berpikir, ia lalu memegang lagi tangan kakek itu dan berkata.

"Apakah yang terjadi? Mengapakah Loan Li menggantung diri!"

"Inilah suratnya, lihiap. Kau bacalah sendiri""."

Kakek itu memperlihatkan sehelai kertas yang ditinggalkan oleh Loan Li yang bernasib malang.

Surat itu ternyata ditulis dengan tangan gemetar, merupakan empat baris pantun sederhana yang berbunyi demikian.

Mengusir harimau dengan pertolongan srigala Apa bedanya?

Hanya satu Jalan membebaskan diri dari noda.

Tinggalkan raga!

"Aku juga tidak tahu apakah artinya tulisan ini lihiap.

Akan tetapi ia menyebut tentang membebaskan diri dari noda, maka mudah sekali diduga bahwa ia tentu telah menjadi korban keganasan Hek-pa-cu!"

Kata Gu Seng dengan suara sedih. Akan tetapi wajah Kui Hwa makin pucat. Jari-jari tangan yang memegang surat itu menggigil sehingga surat itu terlepas dan melayang turun.

"Di mana suhengku!"

Tanyanya dengan suara berat dan bibir gemetar. Gu Seng yang baru berduka tidak melihat perobahan ini dan ia berkata.

"Taihiap tentu sedang beristirahat di ruang depan. Maafkanlah kami yang tidak dapat menghormat dan menjamu kalian yang telah menolong kami."

Akan tetapi Kui Hwa telah pergi, tanpa menanti habisnya ucapan itu.

Dan ketika ia berdiri di depan Tiong Kiat yang duduk menghadapi arak di ruang depan, Kui Hwa merupakan seekor singa betina yang marah sekali!

"Moi-moi, kau baru datang?

Bagaimana dengan Hek pa cu?

Sudah kau kirim ke neraka?"

Ia bertanya sambil tersenyum manis. Akan tetapi Kui Hwa memandang bagaikan hendak menelan suhengnya itu. Matanya memancarkan sinar berapi dan ia berkata tegas dan singkat.

"Ji-suheng, mari kita keluar. Tidak perlu kita ribut-ribut di rumah orang!"

Setelah berkata demikian, Kui Hwa melompat keluar dan menanti suhengnya di tempat sunyi dalam dusun itu.

Tak lama kemudian, tampak bayangan Tiong Kiat berkelebat dan pemuda ini berdiri di hadapannya dengan tenang sungguhpun senyumnya yang tadi telah lenyap.

"Ada apakah, sumoi? Sikapmu aneh sekali."

Sebagai jawaban Kui Hwa menghunus pedangnya.

"ji-suheng, ingatkah kau bahwa aku telah mengorbankan segalanya karena setiaku kepadamu? Aku telah mengorbankan guru, ayah, keluargaku, kehormatan dan namaku jiwa ragaku, semua kukorbankan demi cintaku kepadamu. Kau, tentu tahu, bukan?"

"Tentu saja, moi-moi, kita memang sudah saling mencinta dan......."

"Jangan sebut-sebut tentang cintamu!"

Kui Hwa memotong marah.

"Kau tentu masih ingat akan sumpahmu untuk bersetia? Dan sekarang apakah yang telah kaulakukan kepada gadis she Gu itu?"

Di dalam kegelapan senja Tiong Kiat mencoba untuk bersenyum.

"Apa maksudmu, sumoi? Gadis she Gu itu sudah kutolong dan kukembalikan kepada orang tuanya."

"Bohong! Pengecut yang berani berbuat tak berani mengaku! Telah lama semenjak siang hari kau membawa Loan Li kembali ke rumahnya akan tetapi sampai senja baru kau datang bersama dia! Sebelum kau membawanya pulang, ke mana kau bawa dia dan apa yang telah kau perbuat! Mengapa Loan Li datang-datang lalu membunuh diri? Apa kaukira aku begitu bodoh, ji suheng? Kau telah menyalahi janji, melanggar sumpah. Kau seorang laki-laki mata keranjang, berhati cabul, menjadi hamba nafsu jahat! Kau laki-laki tak beriman. perusak kehidupan orang lain, kaulah yang membunuh Loan Li!"

Tiong Kiat terdesak sekali oleh tuduhan-tuduhan ini, dan tiba-tiba dengan suara gagah ia berkata.

"Sumoi kau terlalu sekali! Apakah dengan adanya hubungan antara kita, aku harus mengikatkan kakiku kepadamu? Apakah aku tidak boleh hidup dengan bebas lagi? Harus selalu menurut dan menjadi budakmu? Memang kuakui bahwa aku telah mengadakan perhubungan dengan Loan Li! Akan tetapi, dia juga mencintaiku! Su moi, ketahuilah, seorang laki-laki tak dapat mengikat hatinya kepada seorang perempuan saja! Ini memang sudah menjadi sifat jantan, lihatlah buktinya. Lihatlah sifat jantan pada seekor ayam, pada binatang-binatang lain yang jantan! Lihat pula kepada raja dan para bangsawan. Cukupkah dengan seorang saja perempuan disampingnya? Ha, ha, moi-moi yang manis jangan kau cemburu, aku akan tetap mencintamu, moi-moi!"

"Bangsat besar!"

Kui Hwa menjadi marah sekali.

"Aku sudah bersumpah akan membunuh perempuan yang main gila dengan kau dan karena perempuan she Gu itu sudah mati sekarang kaulah gantinya!"

Setelah berkata demikian, Kui Hwa menyerang Tiong Kiat dengan hebatnya! Tiong Kiat terkejut sekali, akan tetapi juga menjadi penasaran dan marah. Ia mencabut pedangnya dan berkata.

"Sumoi, kau ikut aku meninggalkan perguruan bukan karena kupaksa! Sekarang kau hendak memisahkan diri dari aku, bukan pula atas paksaanku. Kau memang berkepala batu! Tidak tahu dicinta orang!"

Sambil berkata demikian, ia mainkan pedangnya dengan gerakan yang paling lihai.

Memang, kepandaian Kui hwa masih kalah jauh apabila dibandingkan dengan ilmu silat Tiong Kiat.

Apalagi pedang di tangan Tiong Kiat adalah pedang pusaka Ang.coa-kiam yang amat tajam dan kuat.

Baru beberapa jurus saja terdengar suara keras dan pedang di tangan Kui Hwa terlempar kesamping.

Tiong Kiat masih berlaku murah dan sengaja tidak mau mematahkan pedang bekas kekasihnya itu.

Biarpun telah kehilangan pedangnya, dengan nekad Kui Hwa masih maju menubruk, Tekadnya hendak membunuh atau dibunuh!

Namun Tiong Kiat telah melompat pergi sambil mentertawakannya.

Kui Hwa mengejar, akan tetapi pemuda itu telah menghilang di dalam gelap!

Kui Hwa menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis.

Sampai setengah malam ia menangis sedih, terisak-isak mendekam di atas tanah itu.

Ia merasa menyesal sekali,menyesal, kecewa dan juga bersedih.

Betapapun juga ia amat mencinta pemuda itu yang kini sudah meninggalkannya.

Pada keesokan harinya, Kui Hwa yang saking hampir putus asa dan tidak tahu harus pergi ke mana, ia teringat akan permintaan anggauta Sorban Merah agar ia suka memimpin mereka.

Timbul harapan baru padanya dan ia lalu menjumpai para tauwbak dan anak buah Sorban Merah yang menerimanya dengan gembira sekali.

Semenjak hari itu, Kui Hwa diangkat menjadi kepala dari gerombolan Sorban Merah!

Adapun Tiong Kiat yang kini telah dapat memisahkan diri dari Kui Hwa, melanjutkan perantauannya seorang diri.

Pada hari-hari pertama ia memang kesepian dan merasa amat rindu kepada Kui Hwa.

Beberapa kali ia ingin kembali kepada sumoinya itu, ingin minta maaf dan berbaik kembali, akan tetapi keangkuhan hatinya menahannya melakukan hal yang dipandangnya lemah ini.

Akan tetapi, lambat laun dapat juga ia menghilangkan rindunya.

Apalagi setelah ia melihat wanita-wanita lain dan dapat menghibur hatinya dengan mereka ini.

Tiong Kiat adalah seorang pemuda yang sebetulnya tidak mempunyai hati buruk.

Ia cukup berwatak gagah dan budiman.

akan tetapi sayang sekali, ia gila perempuan!

Dan kegilaannya dalam hal ini kadang-kadang merangsangnya sedemikian kuatnya sehingga hati nurani dan kebijaksanaannya tertutup!

Di dalam perantauannya, tiap kali bertemu dengan kejadian yang tidak adil, dengan kekejaman-kekejaman dan penindasan, selalu ia turun tangan membela fihak yang tertindas.

Dengan kejam sekali ia membasmi orang-orang jahat tanpa mengenal ampun lagi karena sesungguhnya ia amat benci akan kejahatan.

Pernah ia membasmi sampai habis rombongan perampok yang dua puluh orang jumlahnya.

Semua ia bunuh dan tak seorangpun anggauta perampok terlepas dari pada Ang-coa-kiam di tangannya!

Banyak hartawan yang kikir dan yang suka mengandalkan pengaruh uangnya untuk berlaku sewenang-wenang ia bakar rumahnya, dan merampas harta bendanya untuk dibagi-bagikan kepada rakyat miskin!

Banyak pula bangsawan dan pembesar yang korup dan tidak bijaksana, ia datangi dan ia ancam sambil mencukur rambutnya atun bahkan memotong sebuah telinganya!

Akan tetapi, di samping semua kebaikan ini, banyak pula ia melakukan pelanggaran kesusilaan.

Di mana saja ia berada, la selalu mengadakan perhubungan dengan wanita-wanita, baik perempuan golongan pelacur maupun wanita baik-baik, dan tidak perduIi apakah hubungan itu berjalan atas dasar sama suka ataupun dengan paksaan!

Banyak pula wanita yang jatuh hati kepadanya, karena memang Tiong Kiat memiliki wajah yang tampan dan gagah.

Pendeknya, ia menuntut penghidupan sebagai seorang hiapkek (pendekar) yang gagah dan cabul!

Sungguh amat sayang betapa seorang pemuda gagah perkasa yang memiliki dasar amat baik seperti Tiong Kiat, dapat terjerumus sampai demikian dalam.

Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya telah dinodainya sendiri.

Kebajikan dan kejahatan tak dapat berjalan sama.

Kebaikan akan lenyap sifatnya apabila dilakukan di samping kejahatan, seperti sebuah lukisan indah yang terkena noda kotor.

Sebaliknya, kejahatan takkan lenyap sifatnya biarpun disampingnya orang melakukan pula kebaikan, seperti sebuah lukisan yang buruk takkan menjadi baik biarpun akan diberi pigura yang betapa indahpun.

Demikianlah, pada suatu hari dengan kebetulan sekali ia bertemu dengan Suma Eng, atau Eng Eng, gadis gagah perkasa yang roboh pingsan terkena pukulan Pek-lek-jiu dari Ban Yang Tojin yang telah dikalahkannya.

Melihat keadaan gadis itu, timbullah rasa kasihan dalam hati Tiong Kiat dan segera ia memondong tubuh Eng Eng dan dibawanya ke tempat tinggalnya di dalam hutan itu.

Memang telah beberapa pekan ia tinggal di hutan ini.Dengan sungguh-sungguh ia lalu mengohati gadis yang ternyata menderita luka berat didalam dadanya itu.

Tiong Kiat memang pernah mempelajari sedikit ilmu pengobatan, yakni pengobatan yang khusus untuk mengohati luka-luka di sebelah dalam, ilmu pengetahuan yang amat penting bagi orang perantau dan ahli silat.

la dapat menolong nyawa Eng Eng akan tetapi sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, pemuda yang mata keranjang ini mana dapat tahan menghadapi kecantikan Eng Eng yang memang luar biasa sekali?

Melihat wajah yang cantik Jelita dan manis, melihat tubuh yang menggiurkan, tidak kuatlah ia menahan nafsu jahatnya.

Melihat luka di dada gadis itu, Tiong Kiat dapat menduga bahwa gadis ini tentu berkepandaian tinggi sekali karena kalau tidak memiliki Iweekang yang tinggi, pasti orang akan mati terkena pukulan sehebat itu!

Sampai setengah malam pemuda ini termenung.

Perang hebat terjadi di dalam hatinya, perang antara nafsu jahat dan hati nuraninya.

Nafsu jahat mendorongnya agar ia melakukan perbuatan jahat terhadap gadis cantik yang ditolongnya ini, sedangkan hati nuraninya berbisik agar ia tidak mengganggu gadis ini.

Akhirnya hati nuraninya kalah dan Eng Eng telah menjadi korban kelemahan hati pemuda itu!

Pada keesokan harinya, Tiong Kiat amal menyesal atas perbuatannya.

Ia maklum bahwa gadis ini bukanlah gadis sembarangan, dan baru sekarang ia merasa takut akan perbuatannya sendiri.

Ia melarikan diri, meninggalkan Eng Eng yang masih pingsan di dalam kuil itu.

Baru kali ini Tiong Kiat melarikan diri karena ketakutan.

Ia tidak tahu akan kepandaian Eng Eng, tidak tahu apakah gadis itu memiliki ilmu silat yang luar biasa.

akan tetapi entah bagaimana, ia merasa takut dan menyesal sekali.

Mungkin karena ia merasa amat kasihan kepada Eng Eng, merasa betapa hatinya amat tertarik kepada gadis yang tidak berdaya dan pingsan itu!

Biasanya, ia mengenangkan wanita-wanita yang menjadi korbannya dengan hati senang dan gembira.

Akan tetapi, kali ia mengenangkan wajah Eng Eng dengan menyesal dan amat malu!

Sementara itu marilah kita ikuti perjalanan Eng Eng.

Ketika pagi-pagi itu ia sadar dari pingsannya, ia mendapatkan dirinya berada di kuil bobrok seorang diri.

Hancurlah rasa hati dan pikirannya, dan ia menangis tersedu-sedu.

Ingin ia mencabut pedang dan membunuh diri akan tetapi tiba-tiba ia menghentikan isaknya dan pandangan matanya menjadi liar.

kalau ada orang yang melihat pandangan matanya ini, tentu orang itu akan menjadi terkejut sekali.

Nafsu membunuh terbayang pada matanya.

"Aku akan bunuh dia...... aku akan bunuh dia......."

Ucapan ini terulang beberapa kali oleh bibirnya yang gemetar.

Wajahnya pucat sekali dan ia merasa tubuhnya lemah.

Ketika meraba dadanya, ia menyentuh ampas daun-daun obat yang ditempelkan pada lukanya.

Dengan gemas ia merenggut obat itu dan membantingnya di atas tanah.

Sesungguhnya, iapun maklum bahwa orang telah menoIongnya dan kini lukanya di dalam dada sudah sembuh, hanya tinggal bekasnya saja.

Akan tetapi oleh karena ia marah, jengkel, gemas dan berduka, dadanya terasa amat sesak lagi.

Kini rasanya jauh lebih sakit dari pada ketika ia terpukul oleh Ban Yang Tojin.

Yang terasa perih bukan kulit dan daging dada, melainkan dalam sekali, jauh di dalam dada dan kepalanya!

Dengan air mata bercucuran, Eng Eng jalan terhuyung huyung keluar dari dalam kuil bobrok.

ia mengerahkan tenaga kakinya dan berlari untuk menyusul atau mencari orang yang telah menolongnya akan tetapi juga yang telah menghancurkan hidupnya.

Nafsu membunuh menyesakkan nafasnya dan kepalanya menjadi panas dan pening sekali.

Setelah ia berlari cepat beberapa lamanya, rasa panas dari kepalanya itu menjalar turun dan membuat seluruh tubuhnya terasa panas membara, seakan api di dalam tubuhnya bernyala-nyala!

Akhirnya dara yang sengsara itu tidak kuat menahan lagi.

Kepalanya berdenyut-denyut, pandangan matanya berkunang, segala sesuatu dihadapannya serasa terputar-putar, bumi yang diinjaknya bergoyang-goyang bagaikan air laut terayun-ayun.

la mencoba untuk mempertahankan dirinya, akan tetapi sia-sia.

Tubuhnya terguling dan tanpa mengeluarkan sedikitpun suara Eng Eng jatuh pingsan lagi!

Kali ini bukan roboh pingsan karena Iuka pukulan, melainkan oleh pukulan yang datang dari hatinnya sendiri sehingga luka akibat pukuIan Ban Yang Tojin telah merekah kembali.

Sampai berapa lama ia pingsan, Eng Eng tak dapat ingat lagi.

Ketika ia siuman dan membuka matanya perlahan, ia merasa betapa kepala dan mukanya menjadi basah.

Ternyata hujan turun di dalam hutan itu dan biarpun hari masih siang, namun hutan nampak gelap oleh mendung.

Sukarlah baginya untuk membuka mata karena air hujan menyerang kedua matanya dari atas.

Ia melindungi matanya dengan tangan dan memandang ke atas.

Alangkah herannya ia ketika melihat seorang Iaki-Iaki tengah berlutut di dekatnya dan ternyata bahwa tubuhnya telah ditutupi selimut.

Ketika Eng Eng memperhatikan, penutup tubuhnya itu bukan selimut melainkan sehelai mantel warna biru.

Orang itu sendiri kini telah menjadi basah kuyup karena air hujan!

Untuk sesaat Eng Eng tidak mengenal orang ini, karena air hujan manghalangi pandangan matanya.

Akan tetapi ketika ia memandang dengan penuh perhatian, tiba-tiba ia melompat bangun.

"Kau.......! Manusia jahanam, bagus kau datang mengantarkan nyawa! Setelah berkata demikian, Eng Eng lalu mencabut pedangnya dan menyerang dengan hebat!"

Laki-laki itu adalah seorang pemuda yang tampan sekali dan pakaiannya berwarna biru.

Tidak salah lagi pikir Eng Eng.

inilah laki-laki yang telah mendatangkan malapetaka atas dirinya!

Biarpun ia merasa heran mengapa laki-laki ini berani muncul lagi, namun ia tidak banyak pikir dan cepat menyerang sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Hujan yang turun telah membuat tubuhnya terasa segar dan karena yang membuat ia menderita adalah hati dan pikirannya, maka ketika pingsan tadi, keadaannya sudah menjadi banyak baik.

Apa lagi ketika ia masih siuman, pemuda yang tadi berlutut di dekatnya telah menotok dan mengurut pundaknya berkali-kali kemudian pemuda itu untuk beberapa lama telah memegang tangannya dan menyalurkan hawa di dalam tubuh untuk membantu gadis itu pulih kembali jalan darahnya.

Pemuda itu sesungguhnya mirip sekali dengan Tiong Kiat, karena dia adaIah Tiong Han!

Ketika tadi melihat seorang dara jelita rebah pingsan di dalam hutan, ia menjadi terkejut dan merasa kasihan sekali.

Sekali memandang saja maklumlah Tiong Han bahwa gadis itu menderita luka, maka ia cepat maju untuk memberi pertolongan.

Ketika hujan turun dengan lebatnya, pemuda ini tidak pergi dari situ hanya mengangkat tubuh Eng Eng ke bawah pohon besar dan mempergunakan mantelnya untuk menyelimuti tubuh orang dan berusaha mengohati gadis itu yang ternyata berhasil baik sekali.

Tidak disangkanya sama sekali setelah siuman gadis itu menyerangnya dengan demikian ganasnya!

Tiong Han telah berbulan-bulan mencari jejak Tiong Kiat untuk minta kembali pedang Ang.coa kiam sesuai dengan perintah suhunya.

Di sepanjang jalan, ia tidak pernah Iupa untuk mempelajari ilmu pedang dari kitab Ang-coa-kiam coansi.

Dengan bantuan kitab ini, maka ilmu pedangnya banyak mendapat kemajuan.

Ia mendengar keterangan orang-orang yang di jumpai di jalan, bahwa ada seorang pemuda yang serupa benar dengannya memasuki hutan itu, maka cepat-cepat Tiong Han mengejar ke dalam hutan.

Tidak disangkanya bahwa ia tidak bertemu dengan adiknya, sebaliknya melihat seorang gadis cantik yang rebah terluka hebat di dalam hutan.

Melihat serangan Eng Eng, Tiong Han terkejut bukan main.

Serangan itu menunjukkan bahwa gadis ini memiliki ilmu pedang yang amat luar biasa.

Cepat Tiong Han mengelak, akan tetapi sinar pedang gadis itu mengejarnya bagaikan kilat cepatnya sehingga ia cepat melompat ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari bencana.

Namun pedang itu terus mengejarnya dan menyerang dengan serangan berbahaya yang bertubi tubi datangnya!

"Eh, eh, tahan dulu nona!

Mengapa kau menyerangku tanpa sebab?

Apakah salahku terhadapmu?"

Tanya Tiong Han sambil melompat ke belakang dengan gerak tipu Le-hi-ta teng (Ikan Le Melompat Tinggi) Dengan cara mengelak ini ia dapat menjauhkan diri dan untuk sementara dapat bernafas karena terlepas dari serangan yang bertubi-tubi itu.

"Keparat jahanam!"

Dengan nafas terengah-engah saking marahnya, Eng Eng menudingkan pedangnya.

"Kau masih bertanya-tanya lagi? Anjing bermuka manusia kalau aku tidak membunuhmu sekarang juga, aku tidak bernama Suma Eng lagi! Akan kuhancurkan tubuhmu menjadi makanan srigala!"

Kembali ia menubruk maju dan menyerang dengan cepat kembali.

Tiong Han terpaksa mencabut pedangnya dan menangkis.

Ia maklum bahwa kalau ia menghadapi gadis ini dengan tangan kosong saja, ia pasti akan roboh dan benar-benar akan dicincang sampai hancur oleh gadis berotak miring ini.

Akan tetapi ia merasa kasihan sekali.

Mungkin gadis ini tiba-tiba menjadi gila karena telah menderita luka hebat, pikirnya.

"Nona, aku tidak kenal padamu. Baru sekarang kita bertemu muka, kau telah salah lihat, nona!"

"Bangsat rendah! Pengecut besar! Kau lebih pengecut daripada anjing! Anjing yang menggigit masih melingkarkan ekornya (karena takut) akan tetapi kau berpura-pula baru sekarang bertemu denganku. Bagus, akan kuantar kau ke neraka, hendak kulihat apakah di sana kau masih akan dapat menyangkal pula!"

Kembali ia menyerang, dan Tiong Han yang merasa makin terkejut melihat gerakan pedang yang luar biasa anehnya itu, dengan cepat menangkis dan melindungi dirinya.

Ia makin terheran-heran karena gerakan pedang gadis ini pada dasarnya hampir bersamaan dengan Ang coa.kiamsut yang dipelajarinya akan tetapi yang aneh sekali adalah perkembangannya, karena ilmu pedang gadis itu benar benar ilmu pedang yang aneh.

Sama sekali terbalik daripada ilmu pedang yang pernah dipelajarinya!

"Nona, nona.....

kau tenang dan sabarlah!

Aku bersumpah, selama hidupku, aku Sim Tiong Han belum pernah bertemu dengan kau.

belum pernah aku mendengar nama Suma Eng!

Bagaimanakah kau bisa menuduhku yang bukan-bukan?

Kesalahan apakah yang telah kuperbuat terhadapmu?"

"Bagus! Namamu yang hina dina akan teringat selalu olehku sehingga kalau kali ini aku tidak berhasil, lain kali aku masih ada kesempatan untuk mencari dan membunuhmu! Kau tak perlu bersumpah, sumpah laki-laki hina dina macam engkau tiada harganya! Mampuslah!"

Eng Eng menyerang lagi, kali ini dengan gerak tipu yang paling berbahaya!

Hujan masih turun dengan lebatnya dan pertempuran berjalan makin seru.

Tiong Han yang hanya menangkis dan mengelak saja, terdesak hebat.

Selain ilmu pedang nona ini benar benar aneh dan berbahaya, juga pedang di tangan Eng Eng yang mengeluarkan sinar merah amat Iihai!

Beberapa kali pedang Tiong Han bertemu dengan pedang Eng Eng dan ketika pemuda itu memperhatikan, ia terkejut sekali karena pedangnya telah gompal di beberapa bagian!

"Nona, sabarlah, kau masih terluka!

Berbahaya bagimu kalau terus mengerahkan tenaga lweekang!"

Ia masih berseru memperingatkan biarpun ia berada dalam bahaya.

Betapa pun juga Tiong Han merasa amat kasihan kepada gadis ini yang masih disangkanya gila.

Akan tetapi jawaban dari Eng Eng adalah serangan yang mengganas.

Tiong Han menangkis akan tetapi pedangnya terbabat putus menjadi dua dan pedang di tangan Eng Eng menyambar cepat ke arah lehernya dibarengi seruan girang dari gadis itu!

Tiong Han menjatuhkan diri, pundaknya terserempet pedang sehingga terluka.

Akan tetapi ia lolos dari bahaya maut karena begitu ia menjatuhkan diri ia lalu menggelundung dengan gerakan Trenggiling Turun dari Lereng!

Setelah dapat menjatuhkan diri, ia cepat melompat dan lari secepat mungkin!

"Jahanam hina dina, jangan lari!"

Eng Eng berseru mengejar, akan tetapi ia mengeluh kesakitan dan terpaksa duduk di bawah sebatang pohon karena dadanya terasa sakit dan napasnya sesak.

Betul seperti yang dikatakan Tiong Han tadi, pengerahan tenaga dalam membuat lukanya kambuh kembali, ia merasa amat sakit pada dadanya dan cepat gadis ini lalu berjungkir balik, kepala di atas tanah dan kaki di atas lalu mengerahkan tenaga dan mengatur nafas.

Beginilah caranya melatih lweekang dan pernafasan sebagaimana yang dipelajarinya dari suhunya, yakni Hek Sin-mo!

Sampai beberapa lama ia berjungkir balik dan baru ia berhenti mengatur pernafasannya setelah merasa dadanya ringan dan tidak sakit lagi.

Barulah ia duduk beristirahat dan ia mempergunakan tenaga hatinnya untuk melawan keinginannya hendak menangis saking sedihnya.

"Aku tak boleh terlalu bersedih, aku harus sembuhkan luka ini, aku harus dapat hidup beberapa lama lagi untuk membalas penghinaan ini! Tiong Han... Tiong Han... sebelum aku dapat menghancur-leburkan tubuhmu mencincang kepalamu, aku takkan berhenti berusaha....... Tiong Han...!"

Ia mendekap dadanya dan cepat mengatur nafasnya panjang-panjang karena kesedihan membuat dadanya terasa sesak dan sakit lagi.

Menjelang senja, hujan berhenti dan nampaklah tubuh seorang wanita yang layu dan lemah lunglai berjalan keluar dari hutan itu.

Wanita ini adalah Eng Eng.

Sementara itu, Tiong Han berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Ia masih merasa terharu, kagum dan juga heran.

Ia merasa terharu, melihat keadaan nona yang benar-benar kenal ilmu pedangnya itu.

Tiada hentinya sambiI berlari ia memikirkan gadis itu.

Siapakah gadis itu?

Alangkah cantik manisnya dan alangkah lihai ilmu silatnya.

Kalau saja ia membalas serangan gadis itu dan memiliki pedang yang baik, agaknya kepandaian mereka berimbang.

Belum tentu ia akan dapat menangkan gadis itu karena ia dapat membayangkan betapa hebat dan lihainya gadis itu kalau tidak sedang terluka dadanya.

Ia benar-benar merasa kagum sekali, dan hatinya tertarik.

Bayangan gadis itu tak dapat ia usir dari depan matanya.

Akan tetapi ia merasa heran sekali, karena mengapakah gadis itu marah-marah dan membencinya?

Mengapa gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk membunuhnya?

Mengapa ia disangka telah berbuat sesuatu yang amat jahat kepada gadis Itu?

Apakah ia disangka orang yang telah melukai dada gadis itu?

Ah, Tiong Han menghadapi teka-teki yang amat sulit dalam diri Eng Eng.

Namanya Suma Eng, alangkah indah nama itu.

Akan tetapi mengapa sikap gadis itu demikian aneh?

Gilakah dia?

Tak mungkin, gadis yang bicara demikian jelas dan yang dapat bersilat demikian Iihai, sungguhpun ilmu silatnya amat aneh tak mungkin gila!

Demikianlah Tiong Han benar-benar menjadi bingung.

Akan tetapi ia tidak berani mendekati gadis itu, karena ia yakin bahwa gadis itu takkan berhenti sebelum dapat membunuhnya.

Hal yang amat menyakitkan hati dan membuatnya berduka.

Setelah berlari jauh, barulah Tiong Han merasa betapa pundaknya perih karena pundak itu sudah terluka dan lecet kulitnya.

Terasa amat panas luka itu dan ketika ia memandang, ia menjadi terkejut sekali.

Ternyata luka itu kini menjadi bengkak.

"Ah, lihai sekali! Agaknya pedang itu mengandung bisa pula!"

Katanya dalam hati.

Cepat-cepat ia membuka bungkusannya dan mengeluarkan obat pemunah bisa.

Setelah menelan dua butir pel putih dan menghancurkan obat bubuk dengan arak yang dibawanya dalam sebuah guci kecil untuk dipergunakan sebagai obat luar, ia merasa lega.

Ternyata bisa yang terkandung oleh pedang gadis itu tidak berapa jahatnya.

Beberapa hari kemudian ketika ia tiba di luar sebuah dusun, Tiong Han mendengar suara ribut-ribut dan ketika ia telah tiba di tempat itu, ia melihat seorang laki-laki tinggi kurus yang hidungnya seperti burung kakaktua dan bersenjata sepasang besi kaitan sedang dikeroyok oleh banyak orang.

llmu silat laki laki itu benar-benar lihai dan tujuh orang yang berpakaian seragam piauwsu (pengawal barang kiriman) itu biarpun mengeroyok dengan senjata golok dan pedang, sama sekali tidak berdaya menghadapinya.

Tiong Han yang sedang merasa sedih dan menyesal karena pikirannya masih penuh dengan bayangan Suma Eng, tadinya tidak begitu tertarik hatinya.

Akan tetapi karena ia melihat betapa di atas tanah menggeletak tubuh seorang wanita cantik yang sudah menjadi mayat dan ada pula dua orang piauwsu yang merintih-rintih dengan tubuh terluka berat, ia menjadi tertarik dan segera melompat menghampiri.

Pada saat itu ia tiba di tempat pertempuran, laki-laki bersenjata kaitan itu sedang mendesak para pengeroyoknya dengan senjatanya yang luar biasa dan dengan satu sabetan keras, ia kembali telah merobohkan seorang pengeroyok!

"Ha, ha, ha!

Buka matamu lebar-lebar, hendak kucongkel matamu!"

Kata laki laki itu dan kaitannya cepat menyambar ke arah mata orang yang telah roboh terlentang itu!

Akan tetapi tiba-tiba laki-laki itu berseru keras dan tubuhnya terjengkang ke belakang.

Ia cepat berpaling untuk melihat siapa orang yang dapat mendorongnya tanpa ia ketahui lebih dulu itu.

Ternyata di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan yang robek baju pada pundaknya dan pundak itu terluka karena masih tampak tanda-tanda darah dan kulit pundak tertutup oleh obat.

"Sabar dulu, kawan "

Kata Tiong Han kepada orang tinggi kurus yang bukan lain adalah Ban Hwa Yong orang ketiga dari Thian-te Sam kui!

"Bangsat rendah!

Kau berani sekali mencampuri urusan Ban Hwa Yong, tokoh besar dari Thian-te Sam-kui?"

Teriak Ban Hwa Yong marah dan cepat kaitannya menyambar ke arah leher Tiong Han!

Pemuda ini melihat gerakan lawannya yang cepat dan kuat, segera melompat mundur dengan marah sekali.

Akan tetapi Ban Hwa Yong tidak memberi kesempatan kepadanya dan cepat melangkah maju mengejar dan menyerangnya secara bertubi-tubi.

Sepasang kaitannya menyambar-nyambar dan senjata ini memang berbahaya sekali, karena penyerangannya berbeda dengan senjata-senjata lain, bukan dari depan bahaya yang datang, melainkan dari belakang dan dari samping.

Senjata ini dipergunakan untuk menggali dan sekali saja tubuh tergait oleh kaitan yang kuat dan runcing sekali itu, akan robeklah kulit dan daging!

Diam-diam Tiong Han merasa terkejut sekali.

Tak disangkanya lawan ini demikian lihainya.

Ia pernah mendengar nama Thian-te Sam kui, tiga orang iblis bumi langit yang terkenal jahat, maka kini menghadapi seorang diantara iblis ini, la tahu bahwa ia harus turun tangan!

Akan tetapi, dengan pundak terluka dan bertangan kosong, bagaimana ia bisa menghadapi seorang tokoh dari Thian-te Sam-kui yang berkepandaian tinggi?

Akan tetapi, Tiong Han mengerahkan ginkangnya dan mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya untuk menghindarkan setiap serangan lawan.

Sampai tiga puluh jurus Tiong Han dapat menghadapi lawannya dan dapat juga melakukan serangan balasan dengan pukulan-pukulan dari ilmu silat Kim-liong pai.

Ban Hwa Yong merasa penasaran sekali.

Betulkah dia tidak dapat merobohkan seorang pemuda bertangan kosong yang sudah terluka dan tampaknya lemah?

Ia berseru marah dan mempercepat gerakan senjatanya, menyerang dengan gerak tipu yang paling dahsyat.

Kewalahan jugalah Tiong Han menghadapi Jai-hwa-cat (penjahat penculik bunga) ini!

Tiba tiba seorang piauwsu yang paling tua usianya, melemparkan sebatang pedang ke arah Tiong Han sambil berseru,"Hohan (orang gagah) silakan kau menggunakan pedangku ini!"

Bukan main girangnya hati Tiong Han melihat berkelebatnya pedang ini.

Ban Hwa Yong juga melihat pedang yang dilemparkan ini, maka ia cepat mendesak Tiong Han dengan pukulan kaitan kiri, sedangkan kaitan kanan dipergunakan untuk memukul ke arah pedang itu!

Tiong Han cepat mempergunakan gerak tipu Dewa Awan Menyambut Pelangi.

Ia miringkan tubuh untuk menghindari sabetan senjata kiri lawan, kaki kanannya bergerak cepat menendang pergelangan tangan kanan Ban Hwa Yong dan dengan tangan kiri diulur cepat menangkap pedang itu!

Ban Hwa Yong terpaksa menarik kembali kaitannya yang tadi hendak dipergunakan untuk memukul pedang karena ujung sepatu lawannya mengancam pergelangan tangan dan sementara itu, Tiong Han telah melompat ke belakang dan kini pemuda ini telah memegang sebatang pedang yang berkilauan tajamnya!

Semua piauwsu dan orang orang dusun yang menonton pertempuran itu bersorak memuji melihat ketangkasan dan keindahan gerakan Tiong Han tadi.

Akan tetapi Tiong Han sebaliknya memandang kepada pedang yang dipegangnya sambil berkata kagum.

"Pokiam (pedang pusaka) yang bagus!"

Baru saja ia menutup mulutnya, angin yang keras menyambar dari kanan-kiri dan kini sepasang kaitan di tangan Ban Hwa Yong telah menyambarnya dengan gerak tipu Menutup Pintu Menggencet Lawan!

Akan tetapi, dengan gerakan indah sekali Tiong Han menggerakkan pedang di tangan kanannya, memutarnya merupakan sinar melengkung dari kanan ke kiri.

"Trang! Trang!"

Bunga bunga api memancar keluar ketika sepasang kaitan itu sekaligus terbentur oleh pedang ini dan Ban Hwa Yong merasa betapa telapak tangannya kesemutan.

Ia menjadi terkejut sekali, apalagi ketika tlba-tiba matanya silau oleh sinar pedang Tiong Han yang kini membalas dengan serangan-serangan hebat!

Harus diketahui semenjak turun gunung dan mempelajari ilmu pedang Ang coa-kiam sut dari kitab peninggalan sucouwnya, ilmu kepandaian pemuda ini telah maju pesat sekali.

Apalagi kini yang dimainkannya adalah sebatang pedang pusaka, maka tentu saja gerakannya amat hebat dan pedangnya bergulung-gulung merupakan sinar putih yang menyilaukan mata.

Ban Hwa Yong mempertahankan diri sampai dua puluh Jurus, akan tetapi sekarang ia bertempur sambil mundur teratur, terus terdesak hebat tanpa dapat berdaya lagi.

Akan tetapi, betapapun keuletannya boleh dipuji.

Ia telah puluhan tahun merantau dan menjagoi di dunia kang-ouw, sudah mengalami banyak sekali pertempuran, maka ia telah dapat mempertahankan diri dengan amat kuatnya.

Baru setelah bertempur selama dua puluh tujuh jurus terdengar suara keras dan kaitan di tangan kanan Ban Hwa Yong terpental jauh ke atas!

Penjahat cabul ini mengeluarkan teriakan keras dan tiba-tiba la merogoh sakunya dengan tangan kanan dan tiga buah senjata rahasia berbentuk paku hitam menyambar kearah jalan darah di tubuh Tiong Han!

Pemuda ini cepat memutar pedangnya untuk menangkis paku-paku itu akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh lawannya untuk melompat dan berlari pergi secepat mungkin seperti orang dikejar setan!

Tiong Han yang tidak ingin mencari permusuhan, melihat lawannya berlari ketakutan, tidak mau mengejar, bahkan lalu menghampiri piauwsu tua yang memberi pinjam pedang itu.

"Lo-enghiong. pedangmu ini benar-benar bagus sekali. Terima kasih atas bantuanmu "

Tiong Han mengembalikan pedang itu. akan tetapi piauwsu itu memegang lengannya dengan muka girang sekali dan berkata.

"Tak usah berlaku sungkan, hohan. Pedang pusaka ini telah berpuluh tahun berada di tanganku dan sesungguhnya aku tidak berharga untuk memiliki pedang ini. Biarlah untuk pertolonganmu kepada kami, pedang ini kami persembahkan kepadamu!"

Tentu saja Tiong Han menjadi terkejut sekali.

Ia merasa malu dan sungkan, karena bagaimanakah ia dapat menerima pemberian pedang mustika begitu saja dari orang yang tak dikenalnya?

Piauwsu itu melihat keraguannya, maka ia lalu berkata,"Orang muda yang gagah.

Marilah kau ikut kami dan mari kaudengarkan penuturan kami agar kau dapat mengerti betapa besar jasamu tadi!

Kau telah menghindarkan penyembelihan besar-besaran terhadap keluarga piauwkiok (perusahaan ekspedisi) kami!"

Karena ia merasa letih dan juga pundaknya terasa perih, terutama sekali karena ia ingin mendengar siapakah adanya wanita cantik yang mati di situ dan mengapa tokoh Thian.

te Sam-kui itu sampai bentrok dengan kawanan piauwsu ini, maka Tiong Han tidak menampik undangan ini, dan beramai ramai mereka lalu pergi ke rumah piauwkiok yang tidak jauh dari situ.

Seperti telah kita ketahui, ketiga Thian-te Sam kui setelah berhasil membasmi dan membunuh semua keluarga Pak eng piauwkiok di kota Hun-leng, tiga manusia iblis ini lalu melarikan diri sambil menculik Lo Kim Bwe atau nyonya Ouw Tang Sin yang cantik jelita dan genit.

Atau lebih tepat lagi, yang membawa lari Kim Bwe adalah Ban Hwa Yong si penjahat cabul.

Oleh karena memang ketiga orang penjahat ini mempunyai kesukaan sendiri-sendiri maka setelah keluar dari kota Hun leng mereka lalu berpisah dan mengambil Jalan masing-masing, Ban Hwa Yong yang membawa Kim Bwe lalu melanjutkan perjalanannya.

Girangnya bukan main, ketika ia mendapat kenyataan bahwa wanita yang diculiknya ini tidak seperti yang lain-lainnya.

Biasanya wanita yang diculik dan dipermainkannya selalu melawan dan berduka atau bahkan ada yang nekad membunuh diri, akan tetapi Kim Bwe tidak demikian.

Perempuan ini tidak nampak bersedih meskipun keluarganya telah terbasmi semua, bahkan ia nampaknya suka melakukan perjalanan dengan Ban Hwa Yong!

"Sayang kau dan suheng-suhengmu tidak mau menunggu dulu kedatangan dara yang cantik jelita seperti bidadari!"

Katanya kepada penjahat cabul itu, dan ia lalu menceritakan perihal Eng Eng kepada Ban Hwa Yong. Penjahat ini hanya tertawa saja dan berkata.

"Betapapun juga, ia tidak mungkin secantik engkau manisku!"

Demikianlah sampai sebulan lebih Kim Bwe melakukan perjalanan menurut saja ke mana penjahat itu membawanya.

Ban Hwa Yong nampaknya amat sayang kepadanya dan sebaliknya Kim Bwe juga memperlihatkan kasih sayangnya.

Padahal semua sikap Kim Bwe ini hanya dilahir saja.

Ia merasa melawan tiada gunanya, dan berarti sama dengan membunuh diri.

Sesungguhnya ia amat benci kepada laki-laki ini, bukan hanya karena Ban Hwa Yong telah membunuh semua keluarganya termasuk ayah dan adiknya yang tercinta, akan tetapi terutama sekali karena Ban Hwa Yong berwajah buruk.

Kalau saja laki-aki yang menculiknya ini seorang laki laki muda yang tampan, bukan tak mungkin Kim Bwe akan dapat menerimanya dan melupakan sakit hatinya!

Diam diam Kim Bwe selalu mencari kesempatan baik untuk membunuh jai hwa cat ini.

Pertama-tama karena Ban Hwa Yong amat tinggi ilmu kepandaiannya, kedua kalinya karena penjahat cabul itu selalu berlaku hati-hati sekali.

Pada suatu hari, ketika mereka berdua sedang berjalan hendak memasuki dusun Cia-keng-bun, mereka melihat serombongan piauwsu menyusul mereka dan mendahului masuk ke dalam dusun itu.

Mereka itu terdiri dari sembilan orang dan karena mereka ini menunggang kuda mengiringi sebuah kereta barang, maka mudah dilihat dari bendera di atas kereta bahwa mereka adalah piauwsu-piauwsu dari perusahaan Gin-houw piauwkiok (Perusahaan Ekspedisi Macan Perak).

Piauwsu yang termuda ketika lewat, berpaling dan memandang ke arah Kim Bwe dengan penuh perhatian, lalu tersenyum.

Kim Bwe melihat wajah piauwsu muda yang tampan itu, membalas senyum ini.

la melakukan hal ini dengan sengaja, bahkan ketika rombongan piauwsu itu telah lewat, Kim Bwe mengeluarkan saputangan dari dalam bajunya dan melambaikan ke arah piauwsu muda tadi!

Tentu saja Ban Hwa Yong menjadi cemburu dan marah sekali.

Hampir saja ia memukul muka kekasihnya itu, akan tetapi Kim Bwe segera berkata.

"Mengapa kau marah-marah? Gin houw piauwkiok adalah piauwkiok yang amat terkenal, dan orang-orangnya memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai. Mereka pernah datang di tempat tinggalku dan mengenal mendiang suamiku. Sebagai kenalan-kenalan lama, tidak bolehkah aku memberi salam kepada mereka?"

Kemudian ia sengaja membikin panas hati Ban Hwa Yong.

"Kurasa lebih baik kita jangan masuk ke dusun itu dan melewatinya saja dengan mengambil jalan lain, karena kalau para piauwsu itu melihat aku berjalan bersamamu, mereka tentu akan merasa curiga dan kalau mereka menyelidiki celakalah kau!"

Benar saja, usahanya memancing-mancing dan membikin panas hati Ban Hwa Yong untuk mengadudombakan penjahat ini dengan para piauwsu itu, telah mendapat hasil baik.

Ban Hwa Yong yang merasa cemburu menjadi benci kepada piauwsu-piauwsu itu, apalagi mendengar Kim Bwe memuji-muji.

Kini mendengar ucapan nyonya muda ini, mukanya menjadi merah saking marahnya.

"siapa yang celaka? Aku? Mengapa aku yang celaka?"

Tanyanya penasaran.

"Karena kepandaian mereka benar-benar tinggi! Mendiang suamikupun tidak dapat mengalahkan ilmu silat pemimpin-pemimpin Gin-houw-piauwkiok,"

Kata Kim Bwe pula. Ban Hwa Yong hampir saja membanting-banting kakinya.

"Suamimu? Hm, cacing tanah itu bisa apa sih! Kau lihat saja nanti, akan kubasmi habis pemimpin-pemimpin Gin houw-piauwkiok dan kuratakan dengan bumi perusahaan mereka seperti halnya Peng eng-piauwkiok! Akan tetapi kalau di situ terdapat wanitanya yang cantik seperti engkau, engkau harus mengalah dan membiarkan aku membawanya!"

Bukan main girangnya hati Kim Bwe mendengar bahwa usahanya mengadu domba ini berhasil, akan tetapi ia berpura-pura memperlihatkan muka marah mendengar ucapan terakhir dari Ban Hwa Yong.

"Dasar mata keranjang! Orang yang selalu mencari wanita cantik seperti kau, mana bisa menangkan piauwsu-piauwsu dari Gin-houw piauwkiok?"

Ucapan ini merupakan minyak yang menyiram api kemarahan Ban Hwa Yong sehingga tanpa banyak Cakap lagi penjahat cabul ini lalu memegang lengan tangan Kim Bwe dan membawanya lari cepat memasuki dusun itu!

Memang sesungguhnya dalam kata-kata Kim Bwe kepada Ban Hwa Yong tadi, tidak semuanya bohong.

Pemimpin Gin houw-piauwkiok memang kenal dengan Pak.eng piauwkiok milik suaminya.

Ketua dari Gin-houw-piauwkiok itu adalah seorang piauwsu setengah tua, berusia lima puluh tahun akan tetapi masih nampak gagah dan kuat.

Piauwsu ini bernama Lai Siong Te seorang gagah yang amat pandai bermain pedang.

Oleh karena kegagahannya, nama Gin-houw-piauwkiok amat terkenal dan tidak sembarang perampok berani mengganggu barang-barang yang dikawal oleh piauwsu-piauwsu dari Gin-houw-piauwkiok.

Bendera piauwkiok yang bersulam lukisan harimau dari benang perak itu merupakan tanda yang ditakuti oleh para perampok.

Lai Siong Te memang pernah berkunjung ke Hun leng dan berkenalan dengan Ouw Teng Sin dan Ting Kwan Ek, kedua piauwsu dari Pek-eng-piauwkiok itu.

Bahkan pernah ia melihat Kim Bwe yang ketika itu masih menjadi nyonya Ouw Teng sin.

Di dalam perjalanan tadi, Lai Siong Te tidak ikut karena piauwsu tua ini sekarang jarang sekali mengantar sendiri barang-barang yang dilindungi oleh piauwkioknya.

Cukup dilakukan oleh anak buahnya dan murid-muridnya saja.

Tentu saja untuk mengawal barang-barang amat berharga kadang-kadang ia sendiri turun tangan.

Ketika rombongan piauwsu itu tiba Lai Siong Te menyambut dengan gembira karena mendengar bahwa rombongan itu tidak menemui kesulitan sesuatu di dalam perjalanan.

Sebagai seorang ketua yang pandai, ia lalu memerintahkan para pelayan untuk menyediakan minuman dan hidangan sebagai hiburan kepada para pegawainya.

Pada saat-saat orang-orang itu sedang makan minum tiba tiba datang seorang piauwsu yang menghadap Lai Siong Te dengan muka pucat dan memberi laporan.

"Celaka, Lai piauwsu, di perempatan sebelah selatan itu ada seorang laki-laki dan seorang wanita yang memaki-maki dan menantang semua piauwsu dari Gin-houw piauwkiok!"

Mendengar ucapan ini, marahlah para piauwsu muda yang berada di situ.

Tanpa menanti jawaban kepala piauwsu itu, dua orang piauwsu muda telah lari sambil mencabut pedang mereka!

Benar saja di tengah jalan perempatan, tak jauh dari rumah piauwkiok itu, tampak seorang laki-laki tinggi kurus dengan seorang wanita muda yang cantik sekali berdiri sambil memaki-maki.

"Manakah tikus-tikus dari Gin-houw piauwkiok? Biar mereka maju ke sini hendak kuhitung berapa helai kumisnya!"

Seorang di antara piauwsu muda ini adalah seorang muda yang tadi telah tertarik oleh kecentilan Kim Bwe dan telah bertukar pandang dan senyum dengan nyonya muda itu, maka ia lalu main ke depan bersama kawannya dan membentak.

"Manusia kurang ajar dari manakah yang berani datang menghina nama piauwkiok kami? Siapakah namamu dan mengapa kau datang-datang ngaco belo seperti orang gila?"

Melihat piauwsu muda yang tadi telah berani bermain mata dengan Kim Bwe, Ban Hwa Yong marah sekali.

"Ha. ha, ha, begini sajakah macamnya tikus-tikus dari Gin houw-piauwkiok? Tidak tahunya hanya tikus selokan yang kotor, pemakan kecoa dan kotoran!"

Bukan main marahnya kedua orang piauwsu muda itu mendengar hinaan ini.

Biarpun yang ditanya belum memberitahukan namanya namun kekurangajarannya membuat keduanya tak sabar lagi.

Serentak mereka maju menyerang dengan pedang di tangan.

Akan tetapi, dengan bertangan kosong Ban Hwa Yong maju menyambut serangan mereka dan baru lima jurus saja, ia berhasil merampas pedang seorang di antaranya dan begitu pedang rampasan ini digerakkan, robohlah kedua orang piauwsu muda itu dengan luka pada lengan dan pundak!

Ban Hwa Yong tertawa bergelak dan hendak maju membunuh kedua orang ini.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras.

"Penjahat kejam jangan main gila di sini!"

Ban Hwa Yong tidak memperdulikan bentakan ini, pedangnya terus hendak membacok leher kedua piauwsu muda yang telah dilukainya itu, akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar putih yang menyilaukan, menangkis pedangnya.

"Traang!"

Terdengar suara keras tahu-tahu pedang itu telah terbabat putus!

Ban Hwa Yong terkejut dan marah sekali.

Ia cepat memutar tubuhnya dan ternyata bahwa yang membabat putus pedangnya itu tadi adalah seorang tua yang bersikap tenang.

"Hm jadi inikah orang she Lai yang menjadi pemimpin dari Gin houw piauwkiok? Kau berani membikin putus pedang rampasan di tangan Ban Hwa Yorg bagus sekali!"

Sementara itu, Lai Siong Te biarpun berhasil membuat putus pedang tadi, namun ia merasa tangannya tergetar, maka ia tadi menjadi terkejut juga.

Kini mendengar nama orang tinggi kurus yang berhidung bengkok ini, makin terkejutlah dia.

Ia telah mendengar nama Thian te Sam-kui dan tahu bahwa tiga orang iblis itu amat lihai, maka sering kali ia memberi nasihat kepada anak buahnya agar supaya menjauhi tiga iblis itu, Tidak tahunya sekarang orang termuda dari pada tiga iblis itu datang sendiri mencari perkara!

la cepat menjura dan berkata.

"Maaf, maaf, tidak tahunya kami berhadapan dengan Ban taihiap yang terkenal gagah perkasa! Setelah sekarang aku mengetahui dengan siapakah aku berhadapan aku harap sudilah kiranya taihiap memberi maaf kepada murid-muridku yang telah berlaku kurang ajar. SiIakan taihiap datang ke rumah kami yang buruk untuk menerima penghormatan kami dan beristirahat!"

Ucapan ini amat merendah dan sesungguhnya telah membuat hati Ban Hwa Yong menjadi dingin.

Penjahat ini mempunyai hati yang suka sekali mendapat pujian orang.

Melihat sikap merendah dari piauwsu tua itu, dia melihat betapa semua orang memandangnya dengan takut-takut dan penuh hormat, ia sudah menjadi bangga sekali sehingga ia tertawa terbahak-bahak.

"Bagus, bagus, Lai-piauwsu. Baiknya kau masih mengenal orang dan dapat membedakan mana ulat mana naga! Kalau tidak, aku khawatir Gin houw-piauwkiok akan tinggal namanya saja hari ini!"

Biarpun Lai Siong Te merasa mendongkol sekali mendengar kesombongan ini, namun ia menekan perasaan marahnya dan hanya tersenyum saja.

Agaknya semua akan berjalan beres dan damai kalau saja Kim Bwe tidak bertindak.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 2

Baca Juga: Pendekar Sadis 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert