Ceritasilat Novel Online

Dewi Ular 6

Eps 6 Dewi Ular - Kho Ping Hoo

Baca online Dewi Ular - Kho Ping Hoo

Cersil Dewi Ular - Kho Ping Hoo.

"Memang demikianlah. Tidak ada yang melihat ada yang dapat menyerbu masuk. Tahu-tahu telah ada belasan orang itu yang menyerbu ke dalam, tentu mereka itu sudah dapat memasuki gedung sebelum penyerangan dilakukan. Mereka tentu telah menyelundup masuk tanpa diketahui penjaga."

"Hemm, memang aku melihat sendiri betapa penjagaan di sini kurang ketat dan sebaiknya para penjaga itu diganti oleh orang-orang yang lebih tangguh. Apakah sebelum peristiwa pembunuhan atas diri Un-ciangkun itu terjadi, tidak ada tanda-tanda bahwa di daerah ini terdapat gejala-gejala pemberontakan?" -oo0dw0oo-Jilid. 13 LAI-CIANGKUN menggeleng kepalanya.

"Sepanjang yang kami ketahui, tidak ada Ciangkun. Suasana tenteram saja."

"Aku mendengar bahwa kadang terjadi perampokan di pesisir, dilakukan oleh bajak-bajak laut Jepang,"

Kata Thian Lee sambil menatap tajam wajah kurus Lai-ciangkun yang memiliki mata yang tampak cerdik itu.

"Hal itu tidak dapat dibantah, Ciangkun. Memang ada terjadi perampokan kecil-kecilan oleh bajak laut, akan tetapi itu jarang atau kadang-kadang saja. Para perampok itu lalu melarikan diri dengan perahu mereka. Mereka berani mengganggu rakyat di tempat-tempat yang kebetulan tidak ada penjaganya."

"Apakah tidak ada orang-orang Jepang yang berkeliaran di kota ini dan sekitarnya?"

"Tidak ada, Ciangkun."

"Baru seminggu Un-ciangkun tewas. Bagaimana kini engkau dapat menjadi komandan di sini, Ciangkun?"

Tanya Thian Lee sambil memandang wajah Lai Kin dengan tajam penuh selidik. Wajah perwira itu menjadi merah.

"Ah, saya sama sekali tidak nnenjadi komandan di sini, Ciangkun, hanya sementara saja menggantikan Un-ciangkun sambil menanti keputusan Sri Baginda Kaisar atas laporan saya bahwa Un-ciangkun telah tewas terbunuh."

Thian Lee mengangguk-angguk.

Memang tidak ada jalan lain.

Pasukan di situ harus memiliki eorang komandan dan selain Lai Kin tidak ada orang lain yang lebih tepat untuk menjadi komandan sementara.

Dia mengambil keputusan untuk nnelakukan penyelidikan sendiri di daerah yang menurut berita yang diperoleh Kaisar merupakan daerah rawan itu.

"Bagaimana keadaan Phoa-ciangkun yang memimpin pasukan di sepanjang pantai timur?"

Tiba-tiba dia bertanya.

"Ah, dia? Saya kira...... menurut pengetahuan saya, dia baik-baik saja, Ciang-kun,"

Jawab Lai Kin agak tersendat.

Akan tetapi Thian Lee berpura-pura tidak tahu akan sikap itu, hanya mencatat dalam hati bahwa perwira she Lai ini terkejut ketika ditanya tentang Phoa-ciangkun yang memimpin pasukan di sepanjang pantai.

Malam itu Thian Lee berrnalam di markas, memperoleh sebuah kamar yang besar sebagai seorang tamu kehormatan.

Setelah dijamu makan malam, Thian Lee lalu beristirahat, memasuki kamarnya di mana dia duduk bersila di atas pembaringan untuk mengumpulkan hawa murni, mengusir kelelahan tubuhnya dan merenungkan hasil percakapan tadi.

Thian Lee termenung.

Di timur ini yang menjadi komandan dua pasukan adalah Un-ciangkun dan Phoa-ciangkun.

Kalau ada perwira yang hendak berkhianat, tentu seorang di antara keduanya itu.

Akan tetapi, Un-ciangkun terbunuh oleh orang-orang yang tidak diketahui siapa.

Apakah Phoa-ciangkun yang membunuhnya setelah Un-ciangkun mengetahui bahwa dia hendak berkhianat dan bersekutu dengan orang Jepang?

Atau barangkali Un-ciangkun sendiri yang berkhianat?

Juga Lai-ciangkun itu patut dicurigai.

Siapa tahu dia dalang pembunuhan karena kalau Un-ciangkun tewas, besar kemungkinan dia yang akan diangkat men jadi komandan.

Atau semua dugaannya itu keliru dan ada orang-orang tersembunyi yang mendalangi itu semua?

Dia harus melakukan penyelidikan kepada Phoaciangkun dan meninjau daerah pantai.

Dengan pikiran ini Thian Lee tertidur.

Akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang sakti, dalam keadaan itu Thian Lee akan dapat terbangun oleh sedikit saja suara atau gerakan yang mencurigakan.

ooo0d-w0ooo Dua orang berpakaian serba hitam itu bergerak cepat sekali.

Hanya bayangan mereka yang berkelebatan di atas atap genteng dan sebentar kemudian bayangan mereka sudah melayang turun.

Mereka adalah dua orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan muka mereka pun tertutup kain hitam, hanya memperlihatkan kedua mata mereka saja yang tajam bersinar seperti mata kucing.

Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun mereka kini telah mendekam di luar jendela kamar di mana Thian Lee bermalam.

Seorang di antara mereka mengeluarkan sebuah tabung kecil seperti suling, memasukkan bubuk putih ke dalam tabung dan setelah orang kedua membuat lubang di jendela dengan jarinya, pemegang tabung lalu meniup melalui tabung itu sambil memasukkan ujung tabung ke dalam kamar melalui lubang.

Sampai lima kali dia melakukan ini dan dia meniup dengan tenaga khi-kang, mengerahkan bubuk yang ditiupkannya ke arah pembaringan.

Terdengar suara orang terbatuk-batuk.

Di dalam kamar itu, lalu suara batuk itu sendiri terhenti dan suasana rnenjadi sunyi kembali.

Dua orang bertopeng hitam itu saling pandang, lalu mengangguk dan seorang di antara rnereka menggunakan pedangnya untuk mencokel daun jendela.

Setelah daun jendela terbuka, bagaikan dua ekor kucing mereka berlornpatan masuk ke kamar itu tanpa mengeluarkan suara.

Kamar itu remang-remang, hanya mendapat penerangan dari luar kamar, akan tetapi dua orang itu dapat melihat bentuk tubuh manusia tertidur di atas pembaringan.

Mereka mengelebatkan pedang dan dengan gerakan cepat pedang mereka dibacokkan ke arah tubuh manusia itu.

"Crok! Crokk!"

Mereka terkejut sekali ketika mendapat kenyataan bahwa yang mereka bacok itu hanya guling yang diselimuti kain.

Maklum bahwa usaha mereka gagal, cepat berloncatan keluar lagi dari jendela yang terbuka itu.

Akan teiapi, di depan mereka berdiri seorang yang bertolak pinggang memandang mereka, tubuhnya tinggi tegap dan orang ini bukan lain adalah Song Thian Lee!

Biarpun tadinya dia tidur pulas, namun sedikit gerakan kaki di atas atap cukup untuk membangunkannya.

Dia segera maklum bahwa ada dua orang mempergunakan gin-kang yang cukup tinggi sedang menuju ke kamarnya, maka dia cepat membuka pintu, keluar lalu menutupkan lagi pintu kamarnya, mengintai dari balik pot bunga besar yang berada di luar kamar.

Dia dapat melihat apa yang dilakukan dua orang itu dan tersenyum sendiri.

Setelah dua orang meloncat ke dalam karnar, dia pun menghampiri daun jendela sehingga ketika dua orang itu keluar lagi, mereka sudah berhadapan dengan dia.

Dua orang itu terkejut dan juga penasaran.

Dengan gerakan cepat dan kuat sekali, mereka menggerakkan pedang menyerang Thian Lee.

Akan tetapi mereka merasa seperti menyerang bayangan saja karena Thian Lee bergerak jauh lebih cepat daripada mereka, mengelak ke sana-sini dan berloncatan di antara dua gulungan sinar pedang.

Dia menggunakan Hui-tiauw-kun (Silat Rajawali Terbang), dengan mudah menghindarkan diri dari semua sambaran pedang, kemudian membalas dengan tamparan-tamparan yang mendatangkan angin berciutan.

Kedua orang itu tidak melihat kesempatan untuk melarikan diri, maka dengan nekat mereka menyerang terus.

Akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, mereka terdesak hebat oleh kedua tangan Thian Lee yang menyambar-nyam bar.

Dua orang yang merasa bahwa mereka adalah jagoan-jagoan lihai sekali itu benar-benar terkejut, penasaran dan menjadi nekat.

Mereka terus menyerang karena memang tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri lagi.

Kalau mereka membalikkan tubuh, mereka khawatir akan terkena pukulan ampuh yang mengeluarkan angin amat dahsyat itu.

Biarpun kedua orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi dan memiliki ilmu pedang yang ampuh, namun menghadapi Panglima Besar Song, Thian Lee, semua serangan mereka sia-sia beiaka.

Akhirnya, dengan sebuah tendangan kaki kiri dan tamparan tangan kanan, Thian Lee dapat merobohkan kedua orang pengeroyoknya.

Mereka terlempar ke kanan kiri dan selagi Thian Lee yang sengaja merobohkan mereka tanpa membunuh hendak menghampiri, dia melihat dua sinar berkelebat ke arah kedua orang itu.

Dengan terkejut Thian Lee menghampiri, akan tetapi mereka berdua sudah berkelojotan dan tewas tanpa dapat mengeluarkan suara lagi, masing-masing tertusuk sebatang pisau belati pada ulu hati mereka.

Thian Lee menoleh ke kanan kiri, akan tetapi tidak nampak bayangan manusia dan dia pun dapat menduga bahwa Si Pelempar Belati adalah seorang yang amat lihai.

Suara ribut-ribut itu menarik perhatian beberapa orang penjaga dan mereka berlarian ke situ.

Tak lama kemudian, Lai-ciangkun juga tiba di situ.

"Ada apakah, Ciangkun?"

Tanya Lai-ciangkun dengan kaget.

"Dua orang ini berusaha untuk membunuhku,"

Jawab Thian Lee singkat dan pandang matanya mencari-cari di antara para pengawal itu dengan sinar mata penuh selidik, membuat para pengawal menundukkan muka karena pandang mata itu tajam sekali menusuk sampai ke hati.

Sementara itu, Lai-ciangkun berjongkok dan memeriksa kedua orang itu, merenggut lepas kain hitam yang menutupi muka mereka.

"Bagaimana, Lai-ciangkun? Apakah engkau mengenal mereka?"

Tanya Thian Lee akan tetapi dia sudah menduga bahwa perwira itu tentu tidak mengenal mereka.

Lai-ciangkun menggeleng kepalanya dan memanggil belasan orang pengawal itu untuk melihat kalau-kalau di antara mereka yang mengenal kedua orang itu.

Seorang di antara pengawal berseru.

"Hei, bukankah mereka ini adalah Siang-hui-houw (Sepasang Harimau Terbang), kakak beradik she Kam yang tinggal di Hui-lam? Ah, benar mereka, saya pernah bertemu dengan mereka, Ciangkun."

"Apa? Bukankah Siang-hui-houw itu sepasang pendekar dari Hui-lam?"

Tanya pula Lai ciangkun.

"Benar, Ciangkun. Mereka ini kakak beradik yang terkenal sebagai pendekar di Hui-lam."

"Akan tetapi, mengapa mereka berusaha membunuhmu, Song-ciangkun? Sepanjang yang kudengar, mereka adalah sepasang pendekar yang budiman dan menentang kejahatan. Dan mereka tewas oleh pisau di ulu hati mereka. Maaf, apakah engkau mempergunakan pisau terbang, Ciangkun?"

Lai-ciangkun bangkit berdiri dan menghadapi Thian Lee. Thian Lee menggeleng kepalanya.

"Bukan aku yang membunuh mereka. Mereka membongkar jendela kamarku, hendak membunuhku, akan tetapi aku sudah keluar dan aku hanya merobohkan mereka. Sebelum aku dapat memeriksa mereka, ada yang menyambitkan pisau-pisau itu dan menewaskan mereka. Tentu hal itu dilakukan orang agar mereka tidak mernbocorkan rahasia komplotan ini."

Dua mayat itu lalu digotong pergi dan Thian Lee kembali ke kamarnya, setelah bantal guling yang berantakan dihajar pedang itu diganti dengan bantal guling baru oleh pelayan.

Dia duduk bersila di atas pembaringannya dan memutar pikirannya untuk memecahkan teka-teki itu.

Dua orang pendekar hendak membunuhnya dan mereka terbunuh oleh orang lain.

Tentu orang lain itu komplotan mereka, merupakan orang yang lebih penting atau bahkan mungkin pemimpin mereka.

Akan tetapi, dua orang itu dikenal sebagai pendekar-pendekar gagah, lalu apa maksudnya hendak membunuhnya?

Thian Lee mengerutkan alisnya.

Siapakah yang berkepentingan untuk membunuhnya?

Tentu orang yang memusuhinya, dan karena dia seorang panglima besar, maka musuhnya itu tentulah golongan pemberontak!

Jadi, dua orang pendekar itu telah menjadi komplotan pemberontak, dan hal ini mungkin terjadi.

Banyak pendekar yang tertarik untuk membantu pemberontak yang mereka anggap sebagai perjuangan melawan penjajah.

Setelah membolak-balik pikirannya, Thian Lee lalu mendapat kesimpulan bahwa pertama.

kedua orang pembunuh itu pasti dibantu orang dalam sehingga mereka mampu bergerak dengan.

Leluasa mendekati kamarnya dan orang dalam itu tentu saja satu atau lebih di antara anak buah Lai-ciangkun.

Ada pengkhianat dalam pasukan yang dipimpin Lai-ciangkun.

Dan ke dua.

kalau dua pendekar itu berkomplot dengan pemberontak, tentu ada pendekar-pendekar lainnya di daerah ini yang juga sudah dapat ditarik menjadi komplotan para pemberontak.

Atau setidaknya, para pendekar lain tentu mengetahui tentang gerak-gerik pemberontak di daerah itu.

Maka yang harus dikerjakan adalah mencari pengkhianat dalam pasukan Lai-ciangkun, dan ke dua menyelidiki para pendekar yang berada di Hui-cu dan sekitarnya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah menemui Lai-ciangkun dan menyatakan pendapatnya.

"Lai-ciangkun, semalam aku sudah berpikir bahwa dua orang pembunuh itu tentu dibantu orang dalam sehingga mereka dapat masuk ke sini dengan mudah dan tidak diketahui oleh para penjaga. Karena itu, aku minta kepada Lai-ciangkun untuk bersikap waspada dan diam-diam melakukan penyelidikan dan pemeriksaan ke dalam untuk menangkap pengkhianat itu. Agaknya di antara orang-orang bawahanmu ada yang bersekongkol dengan orang luar, mungkin dengan para pemberontak."

Mendengar ucapan itu, Lai Kin tampak terkejut sekali.

"Ada pengkhianat di dalam? Akan tetapi...."

"Tidak perlu ragu lagi, Ciangkun. Selain dua orang itu tidak mungkin masuk tanpa diketahui kalau tidak mendapat bantuan dari dalam, juga ingat akan orang yang membunuh kedua orang bertopeng hitam itu. Bagaimana dia dapat melakukan pembunuhan lalu menghilang begitu saja? Mungkin pembunuh itu adalah orangmu sendiri. Maka berhati-hatilah dan lakukan penyelidikan dengan teliti."

"Baik, baik, Thai-ciangkun,"

Kata Lai-ciangkun dengan sikap taat dan hormat.

"Nah, kuserahkan penyelidikan itu kepadamu. Aku hendak melakukan penyelidikan keluar dan mungkin dalam beberapa hari ini aku tidak akan kembali ke sini."

"Apakah Ciangkun membutuhkan bantuan? Saya dapat menyediakan seregu perajurit pilihan untuk membantuku."

Thian Lee menggeleng kepalanya.

"Tidak usah, Lai-ciangkun. Melakukan penyelidikan beramai-ramai sukar mendapatkan hasil yang kuinginkan."

Song Thian Lee lalu berkemas, mengenakan pakaian biasa dan membawa buntalan pakaian di mana terdapat pedangnya, digendongnya buntalan itu di punggung.

Kemudian dia keluar dari markas itu melalui pintu belakang yang menembus kebun sehingga tidak akan tampak oleh orang lain.

Siang hari itu Thian Lee melakukan penyelidikan dengan mendengar keterangan dari penduduk di Hui-cu.

Dia bertanya kepada beberapa orang tentang para pendekar yang terdapat di Hui-cu.

Seorang laki-laki setengah tua yang berjualan tahu ketika ditanya memandang kepada Thian Lee dengan mata disipitkan.

"Untuk apa engkau menanyakan itu, orang muda?"

"Saya seorang perantau, Paman, dan saya senang sekali berkenalan dengan para pendekar. Tahukah Paman, siapakah pendekar-pendekar yang paling terkemuka di sini, paling dikenal rakyat sebagai pendekar yang budiman dan gagah perkasa?"

Thian Lee bertanya seperti sambil lalu dan membeli beberapa potong tahu yang sudah matang dan memaksanya untuk sarapan pagi.

"Di Hui-cu dan sekitarnya terdapat banyak orang gagah. Agaknya setelah Un-ciangkun menjadi komandan di sini, tidak ada orang yang melakukan kejahatan. Mereka yang kuat tidak ada yang berani bertindak sewenang-wenang, bahkan condong untuk menentang kejahatan. Akan tetapi di antara mereka semua itu, yang paling dikenal dan dihormati rakyat adalah keluarga Cia yang tinggal di ujung kota, di kaki bukit itu. Keluarga itu terdiri dari orang-orang gagah yang sudah sering kali menghajar orang-orang jahat sehingga tidak ada lagl orang jahat berani mengacau di sini. Ya, keluarga Cia itulah keluarga pendekar besar yang paling dikenal di sini."

Diam-diam Thian Lee membenarkan ucapan itu.

Nama keluarga Cia memang terkenal, bukan hanya di daerah itu, dlpergunakandunia kang-ouw juga membicarakan.

Sebuah keluarga tua yang sudah lama terkenal, menniliki pendekar-pendekar turun-temurun dan kabarnya ilrnu silat mereka amat lihai.

Dia sudah lama tahu bahwa di Hui-cu tinggal keluarga Cia.

Kalau dia mela.kukan penyelidikan untuk mengetahui pendekar-pendekar lainnya, hal AO adalah untuk memperlengkap penyelidikannya.

Dia tidak percaya kalau keluarga Cia yang demikian ternama mau bersekutu dengan pemberontak, apalagi dengan para peratnpok bangsa Jepang.

Akan tetapi, dia harus menyelidiki.

Siapa tahu mereka itu termasuk patriot yang membenci Kerajaan Mancu.

Banyak patriot yang seperti itu rnudah dibujuk oleh kaum pemberontak untuk "berjuang"

Menentang pemerintah penjajah sehingga mereka tidak segan-segan bersekutu dengan perkumpulan-perkumpulan sesat yang memberontak seperti Pek-lian-pai, Pat-kwa-pai dan beberapa perkumpulan sesat lainnya.

Saking besar semangatnya memusuhi pemerintah pemberontak mereka sampai lupa bahwa mereka itu dipergunakan oleh perkumpulan sesat yang "berjuang"

Demi kepentingan dan keuntungan mereka sendiri.

Thian Lee melakukan penyelidikan sampai sehari penuh.

Menjelang senja, selagi dia berjaian perlahan-lahan untuk menyusun tindakan apa yang akan dilakukan malam nanti, tiba-tiba dia melihat dua orang berjalan dari arah depan dan begitu melihat mereka, Thian Lee segera menundukkan mukanya dan melihat dari bawah ke arah muka mereka.

Dia mengenal dua orang ini, walaupun baru satu kali dia ber temu dengan mereka, akan tetapi mereka tidak mengenalnya.

Yang seorang bertubuh tinggi besar, perutnya gendut dan kulitnya hitam.

Bahkan mukanya amat menarik perhatian saking hitarnnya.

Di pinggang kirinya tergantung sebatang ruyung besar yang berduri.

Laki-laki ini berusia kurang lebih lima puluh tahun dan Thian Lee mengenalnya sebagai orang yang berjuluk Hek-bin Moko (Setan Berwajah Hitam).

Orang ke dua berusia sebaya dan tubuhnya tinggi kurus, mukanya kuning seperti orang berpenyakitan, matanya sipit dan dia memegang sebatang tongkat hitam.

Dia pun terkenal dengan julukannya Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti).

Kedua orang itu adalah dua orang tokoh sesat yang lihai.

Thian Lee membiarkan kedua orang itu lewat.

Setelah mereka jauh, barulah dia menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya, lalu membayangi kedua orang itu dari jauh.

Dia merasa heran mengapa dua orang tokoh kang-ouw itu berkeliaran di kota Hui-cu.

Tidak mungkin kalau hal ini kebetulan saja.

Dan dia tahu betul betapa lihai dua orang ini.

Agaknya kalau seorang di antara mereka yang melakukan pembunuhan secara gelap kepada dua orang bertopeng malam tadi, hal itu tidaklah aneh.

Andaikata bukan mereka yang melakukannya, namun mereka berdua datang ke tempat itu pasti mengandung makna yang amat penting.

Mereka jelas bukan sebangsa pendekar, melainkan tokoh sesat yang tidak segan melakukan perbuatan jahat.

Dua orang itu berjalan dengan santai menuju ke sebelah utara, kemudian keluar dari pintu gerbang kota Hui-cu sebelah utara.

Bagian utara kota itu merupakan daerah perbukitan yang sunyi, tidak ada dusun di situ karena daerah itu masih liar dan bukit-bukitnya penuh dengan hutan belukar.

Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai memang dua orang yang amat terkenal di dunia kang-ouw sebagai orang-orang yang suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan kehebatan ilmu kepandaian mereka.

Di mana pun mereka berada mereka pasti akan menguasai dunia hitam daerah itu dan menjadi pemimpinnya.

Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti) itu tentu segera merampas kedudukan sebagai ketua partai pengemis yang berkuasa di daerah itu dan selanjutnya menjadi raja kecil yang menerima penghormatan dan pelayanan para pengemis.

Sedangkan Hek-bin Mo-ko tentu akan menguasai semua penjahat seperti para maling dan copet, juga merampas kedudukan para kepala gerombolan yang menguasai rumah-rumah judi dan rumah pelacuran.

Akan tetapi agaknya dua orang tokoh sesat itu baru saja tiba di kota Hui-cu dan mereka belum sampai rnerampas kedudukan-kedudukan itu, karena kalau mereka berdua sudah berkuasa di situ, tentu Thian Lee akan mendengar nama mereka ketika dia melakukan penyelidikan tadi.

Dengan hati tegang Thian Lee terus membayangi mereka keluar dari kota dan mendaki bukit pertama di luar kota itu.

Malam sudah hampir tiba dan cuaca sudah remang-remang.

Dia melihat mereka memasuki sebuah hutan di bukit itu.

Tanpa ragu Thiw Lee juga membayangi mereka memasul hutan itu dari jarak lebih dekat karena dia tidak mau kehilangan mereka.

Dia merasa yakin bahwa kedua prang itu tentu berkunjung ke tempat persembunyian mereka atau mungkin juga masuk ke hutan itu untuk menemui orang yang ada hubungannya dengan pernberontakan.

Hati Thian Lee menjadi tegang penuh harapan.

Akan tetapi ketika dia membayangi sampai ke tengah hutan yang mulai gelap, tiba-tiba dia mendengar gerakan banyak orang dan tahu-tahu dari empat penjuru berloncatan banyak orang dan dirinya sudah dikepung oleh kurang lebih tiga puluh orang!

Mereka semua memegang golok dan senjata tajam lainnya.

Dia berhenti dan bersikap waspada.

Kemudian muncullah dua orang yang dibayanginya tadi di antara orang banyak dan mereka berdua tertawa bergetak menghadapi Thian Lee.

"Ha-ha-ha, sekarang engkau akan dapat berbuat apa, Panglima Besar Song Thian Lee?"

Hek-bin Mo-ko tertawa sambil mencabut ruyung berduri dari pinggangnya.

"Heh-heh-heh, seorang panglima besar antek Mancu berkeliaran di sini seperti seekor ular mencari penggebuk. Hari ini engkau akan mampus, Song Thian Lee!"

Kata Sin-ciang Mo-kai dan dia pun sudah mengangkat tongkat hitamnya.

Tongkat hitam itu berbahaya sekali karena ujungnya direndam racun dan sekali saja tergores atau tertusuk tongkat itu cukup untuk membunuh orang.

Thian Lee maklum bahwa dirinya terancam bahaya, namun dia tetap tersenyum tenang.

Dua orang itu telah mengenalnya!

Hal ini sungguh tidak mungkin karena biarpun dia pernah melihat mereka, namun mereka itu tentu tidak mengenalnya.

Kini tahu-tahu mereka.

Telah mengenalnya, bukan hanya mengenal namanya, bahkan tahu bahwa dia adalah panglima besar!

Ini tidak mungkin terjadi kecuali kalau mereka berdua memang sudah ada yang memberi tahu!

Dan siapakah yang mengetahui bahwa Panglima Besar Song berada di Hui-cu?

Lai-ciang-kun?

Ah, masa Lai-ciangkun mempunyai hubungan dengan dua orang tokoh sesat itu?

Tentu seorang di antara anak buah Lai-ciangkun, rnungkin tokoh yang telah membunuh dua orang bertopeng itu.

Thian Lee merasa tidak perlu untuk berpura-pura lagi.

"Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai! Apa maksud kalian mengepungku dan mengancamku? Sepanjang ingatanku, belum pernah aku bermusuhan dengan kalian berdua!"

"Kalau belum pernah bermusuhan, mengapa engkau membayangi kami berdua?"

Tanya Hek-bin Mo-ko.

"Engkau membayangi kami berdua tentu bukan dengan maksud mengajak kami beramah-tamah, bukan?"

Ejek Sinciang Mo-kai.

"Karena aku merasa heran dan ingin tahu mengapa dua orang seperti kalian berkeliaran di kota Hui-cu!"

Jawab Thian Lee.

"Sudahlah, Mo-ko, mengapa mengajak calon mayat ini bercakap-cakap? Cepat habisi nyawanya!"

Kata pula Sin-ciang Mo-kai dengan marah dan ia pun sudah melompat ke depan dan tongkatnya menyambar ke arah leher Thian Lee.

Pendekar ini cepat miringkan tubuhnya mengelak dan dari samping dia sudah menampar ke arah pundak Si Pengemis Iblis.

Hawa pukulan yang amat dahsyat membuat Sin-ciang Mo-kai terdorong mundur biarpun dia sudah mengelak sehingga dia terkejut sekali.

Akan tetapi pada saat itu, ruyung berduri di tangan Hek-bin Mo-ko sudah menyambar dengan hantaman yang amat kuat ke arah dada Thian Lee.

"Mampuslah!"

Bentak Mo-ko, akan tetapi dengan mudah saja Thian Lee menghindarkan diri dari sambaran ruyung itu.

Ketika Sin-ciang Mo-kai dan anak buahnya menyerbu, dia sudah mengambil pedangnya dari dalam buntalan pakaiannya dan dari situ pedang Jit-goat-sin-kiam telah berada di tangannya.

Ketika dia memutar, pedangnya menangkis hujan senjata tajam itu, terdengarlah suara nyaring berdenting-denting.

Para pengeroyok hanya melihat sinar terang bergulung-gulung menyilaukan mata dan banyak di antara mereka yang menjadi kaget karena senjata mereka telah patah menjadi dua potong ketika bertemu dengan sinar terang itu!

Thian Lee menggerakkan kakinya dan nnenendangi mereka yang masih terkejut itu sehingga empat orang pengeroyok terpental sampai tiga meter dan jatuh berpelantingan seperti daun-daun kering tertiup angin!

Tentu saja para pengeroyok menjadi terkejut bukan main, akan tetapi mereka mengandalkan banyak teman dan semakin ketat, bersikap hati-hati agar senjata mereka tidak bertemu dengan pedang yang mengeluarkan sinar gemilang itu.

Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai juga terkejut.

Mereka hanya pernah mendengar bahwa Panglima Besar Song Thian Lee adalah seorang yang sakti, akan tetapi mereka belum pernah membuktikannya sendiri.

Kini, mengandalkan pengeroyokan banyak kawan, mereka berdua maju dan menerjang dengan berani dan dahsyat, dibantu oleh seorang yang bertubuh katai dan yang memainkan sebatang pedang samurai yang panjang dan melengkung.

Orang ini juga lihai sekali permainan pedangnya.

Melihat gerakan pedang samurai itu, Song Thian Lee da-pat menduga .bahwa dia tentu seorang bangsa Jepang yang sering didengarnya.

Jagoan-jagoan Jepang memang mahir menggunakan pedang panjang melengkung yang dimainkan dengan nnemegangi tangkai pedang dengan kedua tangannya.

Thian Lee menjadi sernakin besar kecurigaannya.

Agaknya dapat dipastikan bahwa dua orang tokoh sesat ini telah bersekongkol dengan orang Jepang.

Dan anak buah mereka itu tentulah anak buah pemberontak.

Dia pun mengamuk dengan Jit-goat-sin-kiamnya sehingga robohlah beberapa orang lagi terkena sambaran sinar pedangnya.

Melihat betapa tangguhnya Thian Lee, kedua orang tokoh sesat itu menjadi terkejut dan juga penasaran sekali.

Juga orang Jepang yang rnemainkan samurai itu.

Ketika suatu saat samurai itu berkelebat ke arah pinggang.

Thian Lee, pendekar ini menangkis dengan pedangnya dari atas ke bawah dan membarengi melepas dengan sebuah tendangan yang dengan tepat rnengenai dada Si Jepang itu sehingga terlempar dan jatuh terguling-guling.

Akan tetapi agaknya dia cukup tangguh dan cepat dia sudah bangkit berdiri lagi dan agaknya dia mengerti bahwa kalau dilanjutkan, pihaknya tentu akan menderita kerugian besar.

Apalagi cuaca sudah mulai gelap, maka dia pun berseru.

"Lari......!"

Agaknya seruan Si Jepang ini berpengaruh karena para pengeroyok segera melarikan ke dalam gelap sambil menarik teman-teman mereka yang terluka.

Thian Lee meloncat hendak mengejar karena dia ingin menangkap seorang di antara mereka untuk ditanyai, akan tetapi tiba-tiba terdengar ledakan nyaring dan tampak asap tebal sehingga terpaksa Thian Lee menghentikan pengejarannya karena dia khawatir kalau-kalau asap itu mengandung racun.

Terpaksa dia kembali lagi keluar dari hutan yang mulai gelap itu.

Pengalaman di dalam hutan itu membuat Thian Lee semakin bersemangat untuk melakukan penyelidikan.

Sudah jelas sekarang bahwa memang ada komplotan yang menentang pemerintah dan yang berusaha untuk membunuh orang orang berpangkat.

Buktinya Un-ciangkun tewas terbunuh dan dia dua kali terancam bahaya maut.

Bagaimana dengan pembesar yang lain?

Dia sudah menyelidiki dan mendengar bahwa Ji-taijin yang menjadi kepala daerah itu adalah seorang yang bijaksana dan mencintai rakyatnya.

Pembesar seperti itu tentu dimusuhi juga oleh komplotan pemberontak.

Dia lalu langsung saja menunjukkan langkah kakinya ke rumah tempat tinggal Ji-taijin.

Ketika dia tiba di depan gardu di mana para perajurit berjaga didepan rumah gedung tempat tinggal Ji-taijin dia dihentikan oleh belasan orang penjaga.

"Orang muda, engkau siapakah dan apa maksudmu datang ke sini?"

Tanya kepala jaga sambil memandang penuh kecurigaan.

Bahkan semua penjaga sudah mengepungnya dan bersiap-siaga dengan senjata mereka.

Melihat ini, Thian Lee menduga bahwa pernah ada ancaman atas diri pembesa itu sehingga penjagaan diperketat.

"Aku bukan musuh dan datang dengan maksud baik. Harap kalian laporkan kepada Ji-taijin bahwa aku adalah Song Thian Lee, datang dari kota raja membawa berita penting bagi Ji-taijin."

Melihat sikap ramah dan lunak dari Thian Lee, kepala jaga juga bersikap lembut dan dia menyuruh Thian Lee menunggu setentar sedangkan dia pergi melapor ke dalam.

Tak lama kemudian dia keluar lagi berkata kepada Thian Lee.

"Engkau dipersilakan masuk, Saudara Song. Akan tetapi karena kami belum mengenalmu dan tidak tahu apa keperluanmu dengan kunjungan ini, demi keselamatan Ji-taijin, terpaksa engkau harus meninggalkan buntalan itu di sini dan masuk ke dalam gedung dengan pengawalan."

Thian Lee mengangguk.

Cukup teliti para penjaga ini, pikirnya.

Dia lalu menyerahkan buntalan pakaiannya yang juga terisi pedangnya, kemudian dia melangkah memasuki gedung dikawal oleh enam orang penjaga yang bertubuh kokoh dan yang telah rnencabut pedang mereka.

Dia membawa masuk ke ruangan tamu, disuruh duduk dengan enam orang itu berjaga di kanan kirinya.

Pintu dari dalam terbuka dan seorang laki-laki setengah tua muncul dalam ruangan itu.

Dia adalah Ji Kian atau Ji-taijin yang bertubuh tinggi kurus dengan sepasang mata tajam namun sikapnya lembut dan sinar rnatanya ramah.

Sejenak Ji-taijin mengamati wajah Thian Lee yang cepat bangkit berdiri dan memberi hormat, kemudian pembesar yang diikuti oleh enam orang pengawal yang berdiri di belakangnya itu memberi isyarat kepada enam orang pengawalnya dan enam orang penjaga yang mengawal Thian Lee agar mereka meninggalkan mereka berdua.

Sekali pandang saja tahulah Ji-taijin bahwa Thian Lee seorang baik-baik yang tidak mengandung niat jahat terhadap dirinya dan dia pun tahu bahwa para pengawal itu tidak pergi begitu saja melainkan berjaga di luar kamar tamu, siap untuk setiap saat menyerbu ke dalam kamar.

Setelah semua pengawal pergi, Ji-taijin lalu mempersilakan Thian Lee duduk.

"Engkau bernama Song Thian Lee dan datang dari kota raja? Harap perkenalkan siapa dirimu dan apa maksud kedatanganmu berkunjung kepadaku?"

Thian Lee mengeluarkan surat kuasa dari saku dalam bajunya, lalu memperlihatkan kepada Ji-taijin.

Ketika membaca surat kuasa dan mengetahui bahwa Song Thian Lee yang kini menghadapnya bukan lain adalah Song-thai-ciangkun yang amat terkenal, Ji-taijin terkejut sekali.

Dia mengembalikan surat kuasa dan segera memberi hormat dengan membungkuk dalam.

"Tidak tahu bahwa Song-ciangkun yang datang berkunjung, harap maafkan bahwa kami menyambut kurang hormat,"

Katanya dengan hormat. Thian Lee cepat membalas penghormatan itu..

"Jangan terlalu sungkan, taijin, mari kita duduk dan bicara secara terbuka. Kedatanganku di Hui-cu ini untuk melaksanakan tugas yang diberikan Sri Baginda kepadaku, yaitu untuk menyelidiki gejala-gejala pemberontakan yang tampak di daerah ini. Apa yang dapat Taijin beri tahu kepadaku mengenai gejala ini?"

Setelah berpikir sejenak, Ji-taijin lalu menjawab.

"Kami di sini tidak melihat adanya gejala pemberontakan. Yang kami ketahui adalah adanya gejala permusuhan terhadap para pejabat pemerintah. Kami sendiri sudah dua kali kedatangan seorang berkedok hitam. Entah apa yang dikehendakinya, akan tetapi yang terakhir kali muncul adalah untuk meninggalkan surat ini."

Ji-taijin menyerahkan surat peringatan yang diterimanya dari Si Kedok Hitam, seperti dia perlihatkan kepada Souw Lee Cin dahulu.

Thian Lee menerima surat itu dan membacanya dengan teliti.

Dia lalu mengembalikan surat itu kepada Ji-taijin.

"Bagaimana pendapat Ji-taijin mengenai surat ini? Siapa kira-kira yang mengirim surat peringatan ini?"

"Kami tidak tahu, Ciangkun. Karena para petugas pun hanya melihat sekelebatan saja orang berkedok hitam itu. Yang jelas, ilmu kepandaiannya amat tinggi. Dan agaknya Un-ciangkun juga terbunuh oleh orang yang sama. Semenjak itu kami selalu mengadakan penjagaan ketat, kalau-kalau dia juga menghendaki nyawa kami, Ciangkun."

"Apakah Ji-taijin kira ini ada hubungannya dengan gerakan pemberontakan?"

"Kami kira tidak begitu, Ciangkun. Kami lebih condong mengira bahwa orang berkedok itu adalah sebangsa pendekar patriot yang membenci semua orang Han yang menjadi pejabat pemerintah."

"Ji-taijin, engkau sebagai kepala daerah Hui-cu tentu lebih mengetahui, siapa pendekar-pendekar patriot yang tinggal di daerah Hui-cu."

"Yang paling terkenal adalah keluarga Cia, namun kami menyangsikan apakah mereka yang mengirim Si Kedok Hitam itu. Selama ini mereka tidak pernah melakukan hal-hal yang jahat, bahkan sebaliknya, keluarga Cia selalu menentang kejahatan."

"Hemm, akan tetapi mereka membenci pejabat yang berbangsa Han, berarti mereka membenci engkau, Ji-taijin."

"Tidak tahulah, akan tetapi melihat kenyataan bahwa mereka tidak menyerangku, hanya memperingatkan, memang ada kecenderungan menuduh mereka. Akan tetapi, tanpa bukti, bagaimana kita dapat menuduh mereka, Ciangkun?"

"Apakah Taijin pernah mendengar dari para penyelidik Taijin bahwa akhir-akhir ini terdapat orang Jepang yang berkeliaran di Hui-cu?"

Tanya Thian Lee sambil memandang tajam penuh selidik ke arah wajah pembesar itu. Akan tetapi dia melihat bahwa wajah pembesar itu tidak mernperlihatkan sesuatu yang mencurigakan dan wajar-wajar saja.

"Memang pernah kami mendengarnya, Ciangkun. Akan tetapi karena orang Jepang itu tidak melakukan gangguan, maka dia pun tidak terlalu diperhatikan."

"Menurut Taijin, bagaimana dengan sikap mendiang Un-ciangkun? Apakah dia itu dapat dipercaya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia berhubungan dengan pemberontak?"

"Ah, kami berani menanggung bahwa mendiang Un-ciangkun bersih dari sangkaan seperti itu. Dia seorang panglima yang tegas dan adil, berwibawa dan bijaksana. Tidak mungkin dia hendak memberontak! Kami berhubungan dekat sekali sehingga kalau dia akan melakukan penyelewengan, kami tentu akan mengetahui, Ciangkun."

Thian Lee mengangguk-angguk.

"Bagaimana pendapat Ciangkun mengenai diri Lai-ciangkun? Apakah dia pun sama seperti Un-ciangkun?"

"Wakil komandan itu? Kami tidak mengetahui dengan jelas, Ciangkun. Hubungan antara kami dan Un-ciangkun adalah lebih hubungan pribadi antara sahabat, maka kami tidak begitu dekat dengan Lai-ciangkun."

Thian Lee mengangguk-angguk.

Kecurigaannya terhadap keluarga Cia mengendur dengan keterangan yang bersungguh-sungguh dari Ji-taijin ini dan agaknya Ji-taijin seorang yang dapat dipercaya dan meyakinkan.

"Baiklah, terima kasih atas semua keteranganmu, Ji-taijin. Aku mohon pamit untuk meneruskan penyelidikanku."

"Apakah Ciangkun tidak akan beristirahat? Harap bermalam di sini saja!"

"Terima kasih, Taijin. Aku belum mau beristirahat dan harus melanjutkan penyelidikanku,"

Kata Thian Lee sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Apakah Ciangkun membutuhkan bantuan? Kami mempunyai beberapa orang yang lumayan ilmu silatnya. Kalau engkau membutuhkan......"

"Tidak, terima kasih. Aku lebih leluasa bekerja sendiri."

Thian Lee lalu berpamit dan keluar dari gedung itu.

Tak lama kemudian dia pun menghilang ke dalam bayangan pohon-pohon yang gelap.

Ooo0-dw-0ooO Lee Cin masih beada di kota Hui-cu dan ia mendengar tentang pembunuhan atas dir Un-ciangkun.

Hatinya merasa penasaran sekali.

Besar dugaannya bahwa keluarga Cia tentu ada hubungannya dengan pembunuhan itu.

Bukankah dua orang saudara itu, Cia Hok dan Cia Bhok, pernah mengadakan pertemuan dengan Yasuki dan Phoa-ciangkun?

Dan mereka merencanakan untuk membunuh Un-ciangkun dan Ji-taijin!

Jelas ada hubungan antara keluarga Cia dan para pemberontak termasuk orang Jepang.

Bukankah ia melihat sendiri betapa Yasuki dijamu oleh Nenek Cia?

Ia harus menyelidiki keluarga Cia!

Timbul pula dugaan yang meyakinkan di hatinya bahwa Kedok Hitam tentu anggauta keluarga Cia, mungkin sekali Tin Siong karena kepandaian pemuda itu juga hebat.

Atau setidaknya, andaikata Si Kedok Hitam bukan anggauta keluarga mereka, keluarga Cia tersangkut pula dalam pembunuhan terhadap diri Un-ciangkun.

Akan tetapi ia teringat kepada Tin Han.

Mungkinkah pemuda itu tersangkut dalam persekutuan itu?

Rasanya tidak mungkin!

Tiba-tiba timbul kecurigaannya.

Mungkin yang tersangkut itu hanya beberapa orang saja dari mereka.

Jelas Cia Hok dan Cia Bhok tersangkut, akan tetapi belum tentu Nenek Cia, Tin Siong dan Tin Han ada hubungannya dengan mereka.

Bahkan keadaan mereka ini berbahaya kalau hendak menghalangi sepak terjang para pennberontak itu.

Jangan-jangan mereka malah dimusuhi sendiri oleh komplotan itu.

Pikirannya menjadi bingung dan malam itu, setengah iseng setengah mengharapkan akan memperoleh petunjuk, ia pun meninggalkan rurnah penginapan dan pergi menuju ke gedung tempat tinggal keluarga Cia secara bersembunyi.

Malam itu gelap.

Sesosok bayangan yang amat ringan dan gesit gerakannya rnelompati pagar tembok rumah kediaman keluarga Cia, menyelinap di antara pohon-pohon dalam taman dan terus menghampiri gedung itu.

Akan tetapi setelah dia tiba di pekarangan rumah yang berada di samping di mana tergantung sebuah lampu yang cukup besar dan terang, tiba-tiba dua orang laki-laki melompat menghadangnya.

Dua orang ini adalah Cia Hok dan Cia Bhok yang tadi melihat gerak-gerik bayangan itu.

Bayangan itu adalah Song Thian Lee.

Pemuda itu terkejut juga melihat munculnya dua orang itu dan tahulah bahwa rumah keluarga itu terjaga dan dua orang ini memiliki ilmu kepandaian yang lumayan tingginya.

Tanpa banyak cakap lagi Cia Hok dan Cia Bhok sudah mencabut pedang mereka dan langsung menyerang Thian Lee dengan dahsyat.

Namun Thian Lee dapat mengelak dengan mudah dan dia pun membalas serangan mereka dengan tamparan tangannya.

Dia melawan dengan tangan kosong saja karena dia tidak berniat melukai dua orang itu.

Maksudnya hanya untuk mengukur sampai di mana kelihaian keluarga Cia sebelum dia mengajak mereka bicara.

Melihat lawan tidak mencabut pedang yang berada di punggungnya, Cia Hok dan Cia Bhok menjadi penasaran sekali.

Mereka berdua yang berpedang hanya dilawan tangan kosong belaka oleh laki-laki yang tidak dikenal ini.

Maka mereka lalu menyerang dengan lebih dahsyat lagi.

Namun semua serangan mereka sia-sia belaka.

Dengan kelincahan tubuh yang luar biasa cepat gerakannya, orang itu selalu dapat mengelak.

Bahkan adakalanya dia menangkis pedang itu dengan telapak tangannya dari samping!

Tahulah mereka bahwa mereka bukan menghadapi seorang maling biasa, melainkan seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Setelah puas menyelidiki ilmu pedang mereka, ketika pedang Cia Hok membacok dari atas ke arah kepalanya, Thian Lee miringkan tubuhnya dan ketika pedang itu meluncur dari atas ke bawah di samping tubuhnya, cepat dia memukul dengan tangan miring ke arah pergelangan tangan Cia Hok yang memegang pedang.

"Dukk!"

Tanpa dapat dihindarkan lagi pedang itu terpental lepas dari tangan Cia Hok yang terasa lumpuh seketika dan sebelum Cia Hok dapat menghindar sebuah tendangan mengenai pahanya dan dia pun terpelanting jatuh.

Walaupun tidak terluka parah, Cia Hok terkejut bukan main melihat kenyataan betapa dia begitu mudah dikalahkan.

Cia Bhok marah dan cepat menusukkan pedangnya ke arah ulu hati Thian Lee.

Pemuda itu menerima pedang itu dengan kedua tangannya.

Kedua telapak tangan menjepit ujung pedang dan Cia Bhok tidak dapat menggerakkan pedangnya lagi!

Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong pedangnya agar rnengenai ulu hati lawan, namun pedangnya seperti telah melekat dengan kedua telapak tangan lawan, sama sekali tidak dapat didorong atau dicabut.

Dengan penasaran dia lalu mengerahkan Hek-tok-ciang di tangan kirinya, lalu memukul dengan tiba-tiba ke arah pundak Thian Lee.

Thian Lee maklum akan datangnya pukulan ampuh, akan tetapi dia nnengerahkan sin-kangnya ke pundak dan menerima hantaman telapak tangan kiri itu.

"Plak.... trakkk!"

Pundak terpukul, akan tetapi sedikit pun tidak tergoyangkan, sedangkan ketika dia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya, pedang itu patah menjadi dua potong!

Cia Bhok yang tadi memukul dengan tangan kiri, merasa seolah menghantam papan baja yang amat kuat, tenaganya membalik dan karena pada saat itu pedangnya patah maka dia pun terhuyung ke belakang!

Selagi Thian Lee hendak membuka mulut dan minta maaf, tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan terdengar suara melengking.

Sebatang suling perak telah menotok ke arah lehernya dengan gerakan cepat dan dahsyat sekali!

Thian Lee menarik tubuh atasnya ke belakang dan kakinya menyapu ke arah kedua kaki orang yang baru saja melayang turun sehingga orang itu melompat lagi ke atas untuk menghindarkan sapuan kaki Thian Lee.

Kemudian dia menyerang lagi dengan suling peraknya.

Suling itu berubah menjadi gulungan sinar perak yang menyilaukan mata, mengepung dan mendesak Thian Lee dengan serangan bertubi-tubi.

Thian Lee merasa kagum.

Tingkat kepandaian pemuda tampan yang memegang suling perak ini ternyata lebih tinggi daripada tingkat kedua orang setengah tua itu.

Bangkit kegembiraannya untuk menguji kepandaian pemuda tampan yang lihai ini dan dia pun mencabut Jit-goat-kiam yang tergantung di punggungnya.

Thian Lee mengambil sikap bertahan.

Dia membiarkan dirinya dihujani serangan dengan suling perak oleh lawannya tanpa membalas.

Dia menangkis dan mengelak dengan kecepatan yang luar biasa sehingga penyerangnya yang bukan lain adalah Cia Tin Siong itu menjadi pening.

Dia merasa seolah menyerang sebuah bayangan saja.

Ke mana pun sulingnya menyambar, selalu bertemu pedang atau hanya mengenai udara kosong belaka.

Hal ini membuat Tin Siong menjadi penasaran sekali.

Rasanya selama dia menguasai ilmu-ilmu silat dari ayah dan neneknya, belum pernah dia bertemu dengan seorang lawan yang begini pandai.

Dia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya melalui suling peraknya, namun suling itu selalu gagal mengenai tubuh lawan.

Setelah membiarkan lawannya menyerang terus selama tiga puluh jurus lebih, dan menghabiskan semua jurusnya, barulah puas rasa hati Thian Lee.

Dia melihat bahwa suling perak itu dimainkan dengan ilmu pedang bercampur dengan ilmu menotok jalan darah, maka ilmu yang dimainkan dengan suling perak itu menjadi berbahaya bukan main.

Dia merasa kagum dan maklum bahwa keluarga Cia memiliki anggauta keluarga yang pandai dan berjumlah banyak.

Dia ingin tahu apakah masih ada anggauta keluarga yang lebih lihai daripada pemuda bersuling ini.

Setelah mulai membalas, Tin Siang menjadi terkejut melihat serangan balasan yang amat dahsyat dari lawannya.

Dia sudah berusaha memutar sulingnya melindungi seluruh tubuhnya, akan tetapi ketika suling peraknya menangkis, tiba-tiba sulingnya itu tidak dapat ditarik lepas dari pedang lawan, seolah telah menempel dengan pedang.

Dia mengerahkan tenaga membetot suling, lalu mendorong dan sekaligus tangan kirinya memukul dengan pengerahan ilmu pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam).

Thian Lee melihat telapak tangan menghitam memukul ke arah dadanya.

Dia pun mendorongkan tangan kirinya menyambut serangan itu.

"Plakk......!"

Tubuh Tin Siong terpental sampai empat meter sedangkan Thian Lee yang merasakan pukulan panas hanya bergoyang sedikit, tanda bahwa tenaga sin-kangnya masih menang jauh.

Tiga orang anggauta keluarga Cia itu terkejut bukan main, juga merasa khawatir karena lawan ini ternyata bukan main lihainya.

Pada saat itu, sesosok bayangan menyambar dan sebatang pedang bersinar merah menyambar dengan tusukan dahsyat ke arah dada Thian Lee.

Thian Lee cepat menangkis dengan pedangnya.

"Tranggg......!!"

Thian Lee terdorong ke belakang akan tetapi penyerang itu juga hampir terpelanting, akan tetapi dapat membuat gerakan jungkir balik sehingga tubuhnya turun ke atas tanah dengan pedang bersinar merah itu melintang di depan dada.

Dua pasang mata yang mencorong saling pandang.

"Engkau....??"

Lee Cin yang tadi menyerang itu berseru kaget dan heran.

"Eh, engkau ini..... Cin-moi....??"

Thian Lee juga berseru heran melihat gadis perkasa yang sudah dikenalnya dengan amat akrabnya itu berada di situ.

Mereka kembali saling pandang dan otomatis tangan mereka menyimpan lagi pedang yang tadi terpegang.

"Lee-ko, kenapa engkau berada di sini? Dan mengapa berkelahi dengan keluarga Cia?"

Thian Lee tersenyum.

"Hanya untuk rnenguji kepandaian mereka karena aku telah lama mendengar akan kelihaian keluarga Cia."

Lee Cin lalu memutar tubuhnya menghadapi Tin Siong, Cia Hok dan Cia Bhok. Ia membungkuk dan berkata.

"Harap maafkan dia. Dia adalah sahabat baikku bernama Song Thian Lee, bukan orang jahat."

Thian Lee tersenyum dan mengangkat kedua tangan depan dada, mernberi hormat kepada tiga orang itu lalu berkata.

"Maafkan saya. Mari, Cin-moi, kita pergi dari sini. Banyak yang harus kita saling bicarakan."

"Baik, Lee-ko."

Lee Cin kembali memberi hormat kepada tiga orang itu dan bersama Thian Lee ia berlebat lenyap dari depan tiga orang itu.

"Bukan main! Hebat sekali kepandaiannyal"

Kata Cia Bhok sambil menghela napas panjang.

"Siapa orang itu?"

Tanya Cia Tin Siong dengan alis berkerut. Tidak senang hatinya melihat keakraban di antara Lee Cin dan pemuda itu.

"Namanya Song Thian Lee?"

Kata Cia Hok.

"Ah, aku teringat sekarang! Song Thian Lee adalah pemuda perkasa yang dahulu ikut menghancurkan persekutuan pejuang yang dipimpin oleh Pangeran Tang Gi Lok! Dialah pendekar muda yang kemudian diangkat menjadi Panglima Besar oleh Kaisar Mancu!"

"Ah, sayang sekali dia menghambakan diri kepada Kaisar Mancu!"

Kata Cia Bhok sambil menarik napas panjang. Cia Tin Siong mengepal tinjunya.

"Kalau begitu dia harus disingkirkan. Orang itu berbahaya sekali!"

Mereka bertiga lalu kembali memasuki rumah untuk melaporkan peristima itu kepada Nenek Cia.

ooo0d_w0ooo "Lee-ko, bagaimana keadaanmu, Le-ko?

Bagaimana pula kabarnya dengan Enci Cin Lan?

Sudahkah kalian mempunyai keturunan?"

Lee Cin menghujani Thian Lee dengan pertanyaan yang bertubi.

Ia merasa gembira bukan main dapat bertemu dengan Song Thian Lee, pria yang pernah merebut hatinya, yang pernah dicintanya sepenuh hatinya.

Memang selama ini ia sudah dapat melupakan Thian Lee, dapat menerima kenyataan bahwa cinta sepihak tidak dapat dilanjutkan dalam pernikahan.

Ia sudah rela bahwa Thian Lee menikah dengan Tang Cin Lan yang dicinta pemuda itu.

Akan tetapi tetap saja pertemuan ini mendatangkan perasaan girang dalam hatinya, segar sejuk rasanya seperti setangkai bunga yang terkena siraman embun pagi.

Udara mendadak cerah, awan tersapu angin sehingga tampaklah bulan sepotong yang tadi tertutup awan.

Cuaca menjadi remang-remang dan mereka duduk di jalan yang sunyi, di atas batu-batu besar yang terdapat di tempat itu.

Thian Lee tersenyum menerima pertanyaan bertubi itu.

Dia sendiri pun merasa sangat gembira dengan pertemuan yang tidak terduga-duga ini.

"Keadaanku baik-baik saja, Cin-moi. Juga isteriku berada dalam keadaan sehat dan selamat. Kami telah mempunyai seorang anak laki-laki bernama Song Hong San yang kini telah berusia dua tahun. Dan bagaimana dengan keadaanmu selama ini, Lee-moi? Apakah engkau masih tinggal bersama ayahmu, Paman Souw Tek Bun di Hong-son?"

"Aku pun baik-baik saja, Lee-ko. Benar, aku tinggal di Hong-san bersama ayahku. Akan tetapi, apa yang membawamu datang ke tempat ini, dan mengapa pula engkau bertanding dengan keluarga Cia? Aku tidak percaya bahwa engkau hanya menguji kepandaian mereka. Dan lagi, engkau seorang panglima besar mengapa melakukan perjalanan dengan pakaian rakyat biasa? Apa yang telah terjadi?"

"Aku pun terkejut dan heran sekali melihat engkau membantu mereka. Akan tetapi biarlah aku bercerita lebih dulu. Aku diutus oleh Kaisar untuk melakukan penyelidikan di daerah timur ini, karena terdengar berita bahwa di daerah ini ada gejala-gejala pemberontakan. Engkau pun tentu sudah mendengar betapa Un-ciang-kun terbunuh orang-orang yang menyerang rumahnya. Nah, aku melakukan penyelidikan dan mengambil kesimpulan bahwa Un-ciangkun tentu terbunuh oleh orang-orang yang mempunyai niat untuk memberontak. Aku pun sudah mengunjungi Ji-taijin yang juga pernah didatangi orang dengan niat tidak baik pula. Menurut perhitunganku, di sini bergerak pendekar-pendekar patriot yang membenci orang-orang Han. yang menjadi pembesar. Karena aku mendengar bahwa keluarga Cia juga merupakan pendekar-pendekar patriot, maka aku datang untuk menyelidiki mereka. Aku ketahuan dan terjadilah perkelahian itu. Akan tetapi aku hanya ingin mengukur kepandaian mereka, tidak bermaksud mencelakai mereka. Nah, sekarang tiba giliranmu untuk bercerita mengapa engkau berada di sini dan agaknya engkau mengenal pula keluarga Cia."

Mendengar pertanyaan ini Lee Cin tertawa. Thian Lee tersenyum melihat dan mendengar gadis ini tertawa. Tawa Lee Cin masih seperti dulu, riang jenaka dan bebas.

"Hemm, kenapa engkau tertawa, Cin-moi? Ada yang lucu dalam ceritaku tadi?"

"Lucu sekali! Ternyata keberadaanmu di sini sama benar dengan kedatanganku di Hui-cu. Pengalaman kita juga hampir sama! Aku pun telah menyelidiki keluarga Cia dan aku sudah mendengar semua akan kematian Un-ciangkun dan akan Ji-taijin yang memperoleh surat ancaman. Semua yang kau ketahui, sudah kuketahui dan mungkin aku banyak tahu tentang semua itu. Hanya bedanya, kalau engkau datang menjadi penyelidik utusan Kaisar, aku datang ke sini untuk mencari orang yang melukai ayahku."

"Ayahmu dilukai orang? Mengapa dan siapa yang melakukannya?"

"Orang itu berkedok dan ketika aku sedang tidak berada di rumah, dia mendatangi Ayah, menegur Ayah dan mengatakan Ayah sebagai antek Mancu, kemudian menyerang Ayah. Terjadi perkelahian dan Ayah terluka oleh pukulan yang mendatangkan bekas telapak tangan hitam. Ayah telah dapat disembuhkan dan karena panasaran aku lalu mencari Si Kedok Hitam itu. Ketika aku mendengar bahwa keluarga Cia memiliki ilmu pukulan Hek-tok-ciang, aku lalu menyelidiki ke sini. Dan kebetulan sekali aku bertemu sendiri dengan Si Kedok Hitam yang ketika itu mendatangi rumah Ji-taijin. Kami sempat bertanding. Dia memang lihai akan tetapi sebelum seorang di antara kami kalah atau menang, dia sudah melarikan diri, Aku sudah menyelidiki di keluarga Cia, akan tetapi tidak menemukan Si Kedok Hitam. Kurasa dia bukan anggauta keluarga Cia yang sudah kucoba pula ilmu kepandaian mereka. Dalam penyelidikanku terhadap Si Kedok Hitam itulah aku sempat menemui Ji-taijin dan juga mendiang Un-ciangkun. Mereka berdua hanya tahu bahwa mereka didatangi Si Kedok Hitam, akan tetapi tidak dapat menduga siapa orangnya. Malam ini, karena masih penasaran aku datang lagi kepada keluarga Cia untuk mengintai dan menyelidiki. Melihat ada orang bertanding dengan mereka dan mereka terdesak, aku segera membantu karena aku telah berkenalan cukup baik dengan mereka. Nah, demikian ceritaku, Lee-ko. Bukankah pengalaman kita mirip sekali?"

Thian Lee mengangguk-angguk.

"Sungguh suatu kebetulan yang mengherankan, akan tetapi menguntungkan aku, Cin-moi. Dengan semua keteranganmu itu, aku dapat memperoleh tambahan pengetahuan dan tentu saja setelah kita bertemu di sini, aku boleh mengharapkan bantuanmu dalam penyelidikan ini."

"Masih ada lagi keteranganku yang tentu amat penting bagimu, Lee-ko. Ketahuilah bahwa dua orang di antara keluarga Cia, yaitu dua orang setengah tua yang tadi berada di sana, bernama Cia Hok dan Cia Bhok, mereka mengadakan persekutuan dengan orang Jepang bernama Yasuki dan juga dengan seorang perwira bernama Phoa-ciangkun."

Thian Lee terkejut sekali dan juga girang mendengar berita ini.

"Benarkah itu, Cin-moi? Beritamu ini sungguh teramat penting bagiku. Bagaimana engkau dapat mengetahui akan hal itu?"

"Aku mengetahuinya secara kebetulan saja, Lee-ko. Ketika itu aku menjadi tamu keluarga Cia dan pada suatu malam, secara kebetulan sekali ketika aku berada di dalam taman, aku melihat rnereka berdua bercakap-cakap dengan Yasuki dan Phoa-ciangkun. Dalam pembicaraan singkat yang kudengar ketika mereka berjalan di taman itu, mereka merencanakan pembunuhan terhadap Ji-taijin dan Un-ciangkun."

"Bagus! Kini jelaslah sudah bahwa keluarga Cia terlibat dalam usaha pemberontakan dan bergabung dengan orang jepang. Adapun panglima yang hendak berkhianat adalah Phoa-ciangkun yang memimpin pasukan di sepanjang pantai timur. Kesaksianmu ini sudah cukup untuk menangkap keluarga Cia dan Panglima Phoa, Cin-moi."

"Masih ada berita yang tentu akan mengejutkanmu, Lee-ko. Engkau tentu masih ingat akan orang yang bernanna Siangkoan Tek, bukan?"

"Siangkoan Tek, putera dari Siangkoan Bhok majikan Pulau Naga, datuk dari timur itu?"

"Benar, dia juga bersekutu dengan orang Jepang. Pernah mereka mengeroyok dan menawan aku, dan aku nyaris celaka kalau tidak ditolong oleh Si Kedok Hitam."

"Si Kedok Hitam yang mengirim surat peringatan kepada Ji-taijin?"

"Ya, dialah orangnya yang sudah dua kali menolongku. Dan selain Siangkoan Tek, masih ada seorang pemuda lain, bernama Ouw K wan Lok yang juga bersekongkol dengan orang Jepang. Pemuda ini adalah murid mendiang Pak-thian-ong dan Thian-te Mo-ong."

"Thian-te Mo-ong? Ah, datuk sesat itu dapat meloloskan diri ketika dikirim ke tempat pembuangan. Kiranya dia mempunyai murid yang bersekongkol dengan pemberontak dan Jepang."

"Ouw Kwan Lok itu lihai juga, Lee-ko. Kita harus waspada menghadapi Ouw Kwan Lok dan Siangkoan Tek."

"Hemm, kalau putera dan murid para datuk sesat itu ditarik pula oleh pemberontak untuk bergabung, maka keadaannya menjadi semakin gawat. Apalagi aku juga menaruh curiga terhadap Lai-ciangkun, pengganti Un-ciangkun. Ketika bermalam di rumahnya, aku diserang orang bertopeng. Aku merobohkan mereka, akan tetapi sebelum aku dapat memeriksa mereka, ada orang menyambitkan pisau dan keduanya tewas. Ini tentu perbuatan orang dalam markas itu, maka aku menaruh curiga kepada Lai-ciangkun."

"Sekarang, apa yang akan kaulakukan, Lee-ko?"

"Aku akan menangkapi mereka semua yang mencurigakan. Keluarga Cia akan kutangkap dulu."

"Nanti dulu, Lee-ko. Aku percaya bahwa tidak semua anggauta keluarga Cia bersekongkol dengan pemberontak. Aku melihat dua orang putera mereka bukanlah orang jahat. Yang bernama Cia Tin Siong itu seorang berjiwa patriot yang gagah perkasa dan aku sudah mengenalnya dengan baik, dan terutama sekali adiknya yang bernama Cia Tin Han, biarpun dia seorang pemuda yang lemah dan tidak mengerti ilmu silat, namun jiwanya patriotis, bahkan dia bercita-cita menjadi seorang patriot sejati yang tidak sudi bersekutu dengan perkumpulan jahat apalagi orang Jepang. Aku khawatir kalau mereka akan tersangkut karena mereka adalah dua orang anggauta keluarga Cia."

"Engkau mengenal keluarga Cia lebih baik, Cin-moi. Kalau menurut pendapatmu, siapa saja yang bersekutu dengan orang Jepang dan pemberontak?"

"Yang sudah jelas kudengarkan sendiri ketika berembuk adalah Cia Hok dan Cia Bhok. Yang kucurigai adalah Nenek Cia yang menjamu orang Jepang itu. Entah kalau ayah ibu kedua orang pemuda itu, aku belum dapat menilainya."

"Kalau begitu, aku akan menangkap Cia Hok dan Cia Bhok lebih dulu. Kalau nanti dalam pemeriksaan ada lagi anggauta keluarga mereka yang terlibat, mudah dilakukan penangkapan kembali."

"Akan tetapi biarpun engkau seorang panglima besar, engkau tidak membawa pasukan, bagaimana hendak menangkap orang, Lee-ko?" 0oo0dw0oo0 Jilid. 14 THIAN LEE tersenyum.

"Biarpun aku tidak membawa pasukan, akan tetapi aku membawa surat perintah dari Sri Baginda Kaisar. Dengan surat itu, mudah bagiku untuk memerintahkan Panglima Lai menyediakan pasukan untukku."

"Akan tetapi, bukankah engkau mencurigai Lai-ciangkun? Bagaimana kalau kecurigaanmu itu benar dan dia bersekongkol dengan orang Jepang dan Phoa-ciangkun? Tentu dia akan mengkhianatimu dan tidak akan memberi bantuan pasukan."

Thian Lee mengangguk-angguk.

"Engkau hebat, Cin-moi. Kulihat selama beberapa tahun ini semakin cerdik dan kekhawatiranmu itu memang beralasan. Karena itu, aku akan lebih dulu menguasai pasukan, mengambil alih kekuasaan dari tangan Lai-ciangkun sebelum aku bergerak."

"Kalau begitu......"

"Sssssttt......!"

Tiba-tiba Thian Lee memotong dan menempelkan telunjuknya pada bibirnya memberi isyarat agar Lee Cin tidak bersuara.

Telinganya yang memiliki pendengaran tajam dan peka sekali itu mendengar sesuatu yang tidak wajar, seperti langkah-langkah kaki orang.

Lee Cin segera dapat menangkap isyarat itu dan ia pun mengerahkan pendengarannya untuk menangkap suara yang tidak wajar.

Ia mengangguk-angguk, karena ia pun dapat menangkap suara langkah-langkah kaki yang mendatangi dari jauh!

Tiba-tiba nampak obor yang banyak jumlahnya bernyala dan mereka telah dikepung oleh orang-orang yang memegang obor.

Keadaan menjadi terang benderang dan dua orang muda itu melihat puluhan orang telah mengepung mereka!

Mereka tidak menjadi gugup, akan tetapi segera berlompatan dari batu yang mereka duduki dan berdiri tegak dan siap siaga.

Ketika Lee Cin memandang, ternyata orang-orang itu dipimpin oleh lima orang yang sudah dikenalnya.

Mereka adalah dua orang bersaudara Cia, yaitu Cia Hok dan Cia Bhok, lalu orang Jepang Yasuki, dan yang dua orang lagi adalah Siang-koan Tek dan Ouw Kwan Lok.

Masih ada lagi dua orang berusia lima puluh tahun yang berdiri di belakang lima orang ini, yang tidak ia kenal.

Akan tetapi Thian Lee mengenal mereka berdua yang bukan lain adalah Hek-bin Mo-kai dan Sin-ciang Mo-kai.

Kiranya dua orang tokoh sesat itu telah bergabung dengan persekutuan pemberontak.

Dan sekarang dia melihat bukti bahwa dua orang bersaudara Cia itu benar-benar bersekutu dengan pemberontak dan tokoh-tokoh jahat.

Hanya keterlibatan Panglima Phoa yang belum tampak buktinya, akan tetapi dia mengira bahwa tentu puluhan orang anak buah itu merupakan anak buah Phoa-ciangkun, dan melihat golok besar di pinggang para anak buah itu, dugaannya semakin keras karena dia mengenal pasukan golok besar yang merupakan pasukan inti yang ditempatkan di perbatasan-perbatasan.

Pasukan golok besar adalah pasukan yang terkenal kuat karena para anggautanya memiliki ilmu golok yang sudah lumayan tangguhnya.

Sebagai seorang yang berpengalaman, melihat sepintas lalu saja tahulah Thian Lee bahwa mereka berdua berada dalam bahaya besar.

Dia tahu bahwa lima orang di depan itu, ditambah dua orang tokoh sesat merupakan lawan yang tangguh.

Tentu saja dia mampu mengalahkan mereka satu demi satu, akan tetapi kalau mereka maju bertujuh, ditambah lagi dengan barisan golok besar yang jumlahnya paling sedikit tiga puluh orang itu, mereka merupakan pengeroyok yang amat kuat.

Dia mengkhawatirkan keselamatan Lee Cin maka sambil mengeluarkan pedang Jit-goat-kiam dia berseru.

"Cin-moi, larilah cepat!"

Akan tetapi bagaimana gadis perkasa itu mau melarikan diri meninggalkan sahabatnya yang terancam bahaya maut? Ia pun mengeluarkan Ang-coa-kiam yang tadinya melibat pinggangnya dan berkata.

"Lee-ko, kita hajar semua anjing srigala ini!"

"Tidak, larilah dari sini, Cin-moi. Biar aku yang menahan para pemberontak ini!"

Thian Lee berseru lagi. Akan tetapi Lee Cin tetap tidak mau beranjak dari situ.

"Kita lawan bersama, Lee-ko. Aku tidak dapat meninggalkanmu!"

Katanya gagah. Siangkoan Tek tertawa bergelak, merasa menang karena dua orang itu sudah terkepung erat.

"Ha-ha-ha, Song Thian Lee. Dalam keadaan terjepit engkau masih berlagak! Nona Souw Lee Cin, lebih baik engkau menyerah. Aku yang menanggung bahwa engkau tidak akan diganggu karena aku masih mengharapkan engkau menjadi isteriku."

"Siangkoan Tek jahanam busuk! Daripada menjadi isterimu aku lebih baik mati!"

Jawab Lee Cin sambil menudingkan pedangnya ke arah muka pemuda itu, kemudian gadis ini pun menyerang dan menerjang ke depan, pedangnya berkelebat menusuk ke arah dada Siangkoan Tek.

Pemuda tampan ini lalu menggerakkan pedangnya menangkis dan mereka segera bertanding dengan serunya.

Pedang Lee Cin berkelebatan dan menyambar-nyambar bagaikan kilat, namun Siangkoan Tek yang merupakan lawan yang tangguh sudah menghadang ke arah mana pedang gadis bergerak sehingga semua serangan Lee Cin dapat ditangkisnya.

Sementara itu, Ouw K wan Lok yang mendengar bahwa pemuda itu adalah Thian Lee, musuh utama kedua gurunya, cepat menerjang maju dengan sepasang pedangnya.

Gerakannya diikuti oleh kedua saudara Cia yang sudah tahu betapa lihainya Song Thian Lee yang juga mereka ketahui sebagai Panglima Besar Song itu.

Melihat ini, Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai juga terjun ke dalam pertempuran membantu mereka mengeroyok sehingga Thian Lee kini dikeroyok oleh lima orang yang lihai!

Namun Thian Lee tidak menjadi gentar.

Yang membuatnya khawatir hanyalah Lee Cin yang sudah terlibat perkelahian seru dengan Siangkoan Tek.

Dia memutar pedangnya melindungi tubuhnya dari penyerangan lima orang pengeroyoknya.

Sementara itu, Yasuki yang melihat Thian Lee sudah clikeroyok lima, segera menggerakkan samurainya untuk membantu Siangkoan Tek mengeroyok Lee Cin.

"Tranggg..... cringgg......!!"

Bunga api berpijar-pijar ketika pedang Ang-coa-kiam menangkis samurai dan pedang di tangan Siangkoan Tek.

Lee Cin mengamuk.

Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar merah yang menyambarnyambar ke arah kedua orang pengeroyoknya.

Puluhan orang anak buah yang mengepung tempat itu sejenak memandang jalannya pertempuran dengan mata kagum.

Mereka kagum melihat sepak terjang Thian Lee yang biarpun dikeroyok lima masih dapat bergerak dengan gesit, berloncatan ke sana sini dan membalas serangan lima orang pengeroyoknya.

Juga mereka kagum melihat gadis cantik itu yang biarpun dikeroyok dua masih juga memainkan pedangnya yang berubah menjadi sinar merah yang bergulung-gulung.

Pemimpin mereka lalu bersuit panjang memberi aba-aba dan majulah puluhan orang itu terbagi menjadi dua.

Sebagian mengepung Lee Cin dan sebagian lagi mengepung Thian Lee.

Lee Cin yang dikeroyok dua oleh Siangkoan Tek dan Yasuki, mengamuk dan pedangnya menyambar-nyambar ganas sehingga kedua orang pengeroyoknya itu tidak mampu mendesaknya, bahkan beberapa kali mereka harus cepat mengelak karena sambaran pedang gadis itu amat berbahaya.

Dalam keadaan itu, tiba-tiba sedikitnya lima belas orang telah maju membantu.

Mereka memegang golok besar dan ada yang tangan kirinya menggunakan obor untuk menyerang Lee Cin!

Gadis ini dikepung ketat dan hujan bacokan dan tusukan menyambar ke arah dirinya.

Terpaksa ia harus memutar pedangnya melindungi dirinya dan kalau melihat kesempatan, kakinya atau tangan kirinya bergerak cepat merobohkan seorang pengeroyok.

Tiba-tiba terdengar suitan pendek dua kali dan para pengepung yang lima belas orang banyaknya itu berlari berputaran mengubah kedudukan dan ketika mereka menyerang lagi, ternyata empat orang tetap memegang obor yang diangkat tinggi-tinggi sedangkan belasan orang yang lain kini memegang sehelai jala!

Siangkoan Tek dan Yasuki masih mencoba untuk mendesak Lee Cin.

Ketika gadis ini menyingkir dengan lompatan ke pinggir, tiba-tiba dua helai jala melayang dan menerkamnya!

Ia terkejut sekali, menggunakan pedangnya untuk dibacokkan ke arah kedua helai jala itu, akan tetapi pedangnya hanya dapat membuat jala itu gagal menerkamnya, tidak mampu merusak benang jala yang ternyata amat ulet dan kuat itu.

Serangan Siangkoan Tek dan Yasuki sudah datang lagi dan Lee Cin terpaksa memutar pedangnya sambil melangkah mundur!

Ia mulai terdesak.

Tibatiba kembali ada jala menerkamnya dari belakang.

Ia meloncat ke kanan, akan tetapi dari kanan juga menerkam sehalai jala.

Ia melompat ke kiri, kini bahkan ada dua jala menyambutnya dengan terkaman.

Ketika ia menangkis dengan pedangnya, dari segala penjuru ada jala menerkam sehingga ia tidak mampu menghindarkan diri lagi.

Tubuhnya sudah diselimuti beberapa helai jala dan ia hanya dapat meronta seperti seekor ikan besar masuk ke dalam jala yang kuat.

Pedangnya digerakkan ke kanan kiri, akan tetapi tidak dapat merobek jala itu.

Siangkoan Tek melompat ke depan dan dari belakang dia menotok pundak Lee Cin, membuat gadis itu terkulai.

Siangkoan Tek lalu mengangkat gadis itu bangkit berdiri, merampas pedangnya, dan melihat betapa Thian Lee masih mengamuk merobohkan banyak anak buah, dia berteriak lantang.

"Song Thian Lee, lihat, aku telah menangkap Souw Lee Cin! Kalau engkau tidak menyerah, aku akan membunuh gadis ini lebih dulu!"

Mendengar seruan itu, Thian Lee terkejut, melompat ke belakang dan memandang.

Dia melihat Lee Cin masih terselimuti jala, berdiri dan dipegangi oleh Siangkoan Tek yang menodongkan pedang milik gadis itu di leher Lee Cin!

Terjadi pergumulan dalam hati Thian Lee.

Kalau dia menyerah, berarti dia akan tewas!

Akan tetapi bagaimana dia tega untuk membiarkan mereka membunuh Lee Cin?

"Lee-ko, jangan mau menyerah, mereka tentu akan membunuhmu.

Biarkan aku mati, aku tidak takut!"

Lee Cin masih sempat berseru sebelum Siangkoan Tek menotok lehernya dan membuat ia terdiam, tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

"Song Thian Lee, kalau engkau menyerah, kami berjanji tidak akan membunuhmu sekarang, tergantung pimpinan kami!"

Kata pula Siangkoan Tek. Akhirnya Thian Lee mengambil keputusan. Lebih baik mati bersama Lee Cin daripada membiarkan Lee Cin mati di depan matanya. Dia lalu berkata.

"Baik, aku menyerah, jangan bunuh ia!"

Mendengar ini, Ouw Kwan Lok lalu menghampiri Thian Lee dan mengambil pedang Jit-goat-kiam dari tangan panglima itu.

"Belenggu kedua tangannya!"

Perintah Siangkoan Tek.

"Biar kubunuh dia!"

Teriak Hek-bin Mo-ko dan ruyungnya menyambar ke arah kepala Thian Lee.

"Takk..... desss......!!"

Pukulan ruyung itu tertangkis sepasang pedang Siangkoan Tek dan sebuah tendangan membuat Hek-bin Mo-ko terlempar dan terbanting ke atas tanah.

"Hek-bin Mo-ko, apakah engkau ingin mampus? Aku sudah berjanji tidak akan membunuhnya, tak seorang pun boleh melanggar janjiku!"

Bentak Siangkoan Tek sambil melotot kepada Hek-bin Mo-ko yang bangkit berdiri sambil menyeringai kesakitan.

"Maafkan aku !"

Katanya menerima salah.

Malam itu juga kedua orang tawanan itu digiring naik ke sebuah bukit.

Para pemegang obor menerangi jalan di depan dan belakang dan akhirnya, menjelang pagi, sampailah mereka di puncak bukit di mana mereka terdapat sebuah bangunan besar.

Bangunan itu terjaga oleh puluhan orang anak buah dan Thian Lee bersama Lee Cin digiring masuk ke dalam bangunan besar itu.

Mereka didorong masuk ke dalam sebuah ruangan yang luas.

Ruangan itu kosong.

Lee Cin dan Thian Lee dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang, didorong duduk di atas bangku.

Kedua orang muda ini saling pandang sejenak dan keduanya siap siaga menanti segala yang akan nnenimpa diri mereka.

Mereka tidak putus asa.

Selama mereka masih hidup, mereka tidak akan pernah putus asa dan selalu akan menggunakan segala kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Pandang mata Lee Cin terhadap Thian Lee mengandung keharuan dan juga teguran.

Gadis ini menyesal mengapa Thian Lee mengorbankan diri untuknya, padahal dengan kepandaiannya, kalau dia mau, pemuda itu masih dapat meloloskan diri ketika dikepung.

Akan tetapi ia pun merasa terharu sekali.

Pemuda yang pernah dicintanya itu ternyata masih mau mengorbankan diri untuk keselamatannya!

Thian Lee melihat apa yang terkandung dalam sinar mata Lee Cin, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu.

Mereka semua juga duduk di atas kursi-kursi yang semua menghadap ke arah dinding di mana terdapat pula beberapa buah kursi merapat dinding.

Ruangan itu kosong pada dinding tidak ada hiasan apa pun.

Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok duduk di depan, mengapit Thian Lee dan Lee Cin.

Yasuki duduk di sebelah kiri Soangkoan Tek.

Di belakang mereka duduk Cia Hok, Cia Bhok dan dua orang tokoh sesat itu, Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai.

Adapun sernua anak buah tidak ikut masuk, mungkin menjaga di luar ruangan, siap untuk menyerbu kalau ada perintah dari dalam.

Ruangan itu diterangi oleh empat buah lampu gantung sehingga keadaannya terang sekali dan semua orang kini memandang ke arah pintu besar di sebelah dalam yang daun pintunya masih tertutup.

Agaknya dari situlah para pimpinan akan muncul.

Thian Lee dan Lee Cin juga memandang ke arah pintu dengan jantung berdebar tegang.

Siapakah pemimpin komplotan ini?

Thian Lee sama sekali tidak takut bahwa dirinya menjadi tawanan.

Dia hanya menyesal mengapa Lee Cin tidak menuruti nasihatnya untuk melarikan diri.

Dia adalah seorang panglima yang melaksanakan tugasnya.

Kalau dia harus mati dalam melaksanakan tugas, dia tidak merasa penasaran.

Akan tetapi Lee Cin hanya terbawa-bawa olehnya.

Gadis itu tidak terlibat sama sekali.

Akan tetapi Thian Lee tidak pernah putus asa.

Kedatangannya di Hui-cu sudah diketahui oleh Ji-taijin juga oleh Lai-ciangkun.

Kiranya mereka berdua tidak akan berani membiarkan dia, seorang panglima besar, mendapat celaka di daerah mereka.

Bukan tidak mungkin sebentar lagi ada pasukan dari Lai-ciangkun yang menyerbu tempat itu dan membebaskannya.

Andaikata tidak, dia pun akan dapat membela diri sampai titik darah terakhir.

Akhirnya daun pintu terbuka dan Lee Cin terbelalak memandang kepada Nenek Cia yang memasuki ruangan itu, diikuti oleh Cia Kun.

Nyonya Cia Kun dan Cia Tin Siong!

Semua orang yang berada di situ bangkit untuk menghormati nenek itu.

Nenek Cia memasuki ruangan dengan langkah tegap dan sikapnya angkuh.

Ia memegang tongkat naga dan matanya tajam bersinar-sinar ketika ia memandang kepada Thian Lee dan Lee Cin.

Di antara mereka, Thian Lee hanya mengenal Cia Tin Siong yang pernah dijumpai dan pernah bertanding dengannya.

Yang lain belum pernah dilihatnya.

Lee Cin benar-benar terkejut dan heran sekali.

Tak disangkanya bahwa keluarga Cia benar-benar berkomplot dengan para pemberontak dan orang Jepang bahkan agaknya Nenek Cia menjadi pemimpin mereka.

Akan tetapi ketika Tin Siong melihat Lee Cin duduk terbelenggu, dia terkejut sekali dan cepat menghampiri Lee Cin untuk melepaskan belenggunya.

Akan tetapi.

Nenek Cia menghardiknya.

"Tin Siong, mundur kau!"

"Akan tetapi, Nek. Nona Lee Cin tidak bersalah apa-apa. Bahkan ia pernah menjadi tamu kehormatan dan sahabat baik. Mengapa ia ditangkap? Aku tidak setuju, sama sekali tidak setuju kalau Nona Lee Cin diperlakukan seperti ini, Nek! Ia bukan mata-mata Mancu, ia bukan musuh kita!"

Tin Siong membantah sambil menghadapi neneknya dengan berani.

"Lupakah Nenek bahwa Nenek pernah mengusulkan agar aku menikah dengannya? Aku masih belum lupa, Nek!"

"Tin Siong, engkau hendak membantah aku? Aku tidak akan mengganggunya kalau ternyata ia tidak bersalah. Sekarang duduk dan diamlah, dengarkan saja!"

Kembali nenek itu menghardik dan Tin Siang duduk sannbil mengerutkan alisnya, memandang kepada Lee Cin dan dalam pandang matanya dia seperti hendak meyakinkan hati Lee Cin bahwa dia akan membela dan melindunginya.

Nenek Cia lalu duduk di kursi tengah yang mepet dinding, Cia Kun duduk di sebelah kanannya bersama Nyonya Cia Kun, dan Tin Siong dengan sikap masih menentang duduk di sebelah kiri nenek itu.

Nenek itu memandang kepada Thian Lee dengan matanya yang bersinar tajam dan berapi-api, lalu bertanya, suaranya lantang dan meninggi.

"Apakah engkau yang bernama Song Thian Lee?"

"Benar,"

Jawab Thian Lee singkat.

"Dan engkau menjadi Panglima Besar Kerajaan Mancu?"

"Benar pula."

"Hem, tidak malukah engkau, orang muda? Kami mendengar bahwa engkau seorang pendekar yang berilmu tinggi, akan tetapi mengapa engkau tidak menggunakan kepandaianmu untuk menentang penjajah yang menguasai tanah air kita, sebaliknya malah menjadi anteknya? Tidak malukah engkau, Song Thian Lee?"

"Nenek, aku menjadi panglima besar bukan untuk menjadi antek penjajah, melainkan untuk mencegah terjadinya keributan yang hanya akan menyengsarakan rakyat jelata. Dengan kedudukanku aku dapat mencegah para pembesar bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Memperjuangkan kemerdekaan saat ini tidaklah tepat, semua usaha itu akan gagal karena tidak didukung sepenuhnya oleh rakyat. Apalagi kalau perjuangan itu dikotori oleh komplotan orang sesat dan orang asing."

"Itu hanyalah alasan seorang pengkhianat bangsa. Melihat bangsa dan tanah air dijajah orang Mancu, bukannya menentang penjajah malah sebaliknya mengabdi dan menjadi anteknya. Di mana kegagahanmu, orang she Song? Kalau engkau suka insaf akan kegagahanmu, suka menyadari dan mau bergabung dengan kami, kami mungkin akan dapat memaafkanmu."

"Bergabung dengan pemberontak yang bersekutu dengan tokoh-tokoh jahat dan dengan orang-orang Jepang, mendatangkan kerusuhan dan mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat jelata? Tidak, Nek, hal itu tidak akan kulakukan. Dalam keadaan tanah air terjajah seperti sekarang ini, seorang pendekar harus memperhatikan keadaan rakyat jelata. Kalau ada pembesar atau orang berkuasa menindas dan memeras rakyat, tidak peduli dia itu orang Han atau orang Mancu, akan ditentang oleh pendekar dan patriot sejati. Perjuangan seorang patriot sejati adalah murni dan bersih, tidak akan melibatkan diri bersekutu dengan golongan sesat, apalagi dengan penjahat-penjahat asing. Seorang pendekar patriot pada lahirnya menjadi pejabat pemerintah penjajah, namun sesungguhnya dia mengabdi demi kepentingan rakyat, mencegah terjadinya kejahatan yang meresahkan kehidupan rakyat. Pembesar seperti mendiang Un-ciangkun itulah patriot dan pendekar sejati yang bersih, akan tetapi kalian malah membunuhnya. Engkau telah bertindak sesat, Nek, bergabung dengan golongan sesat dan orang Jepang. Harap engkau dapat menginsafi kekeliruanmu itu."

"Jahanam keparat sombong! Engkau yang sudah tertawan hidup matimu di tanganku, masih berani membuka mulut besar! Kalau engkau tidak mau menyadari dan bergabung dengan kami, sekarang juga nyawamu akan kucabut!"

Nenek Cia sudah mengangkat tongkatnya ke atas dan tongkat kepala naga itu tergetar dalam tangannya. Akan tetapi pada saat itu, seorang pemuda muncul dari pintu dan menghampiri Nenek Cia.

"Nanti dulu, Nek! Jangan bunuh dia!"

Lee Cin melihat bahwa yang muncul itu adalah Cia Tin Han! Pemuda lemah ini kelihatan gagah dan penuh keberanian menentang neneknya.

"Tin Han, pergi kau!"

Tin Siong membentak marah.

"Aku tidak akan pergi sebelum kalian semua mendengar omonganku. Dengar baik-baik, Nek. Apa yang diucapkan orang she Song ini benar sekali! Seorang pendekar patriot berjuang dengan bersih dan murni, satu-satunya pamrih hanya untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan, membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah! Kalau pendekar patriot bergabung dengan golongan sesat dan dengan bajak laut Jepang, maka perjuangannya menjadi kotor. Golongan sesat dan bajak. Jepang itu tentu hanya mau bergerak demi keuntungan diri mereka sendiri, sama sekali bukan demi kepentingan rakyat. Bahkan mereka adalah orang-orang yang selalu meresahkan kehidupan rakyat jelata!"

"Anak bodoh! Dalarn perjuangan, kita tidak memilih teman. Siapa saja yang mau bergabung untuk menghantam penjajah, dia menjadi sahabat kita! Semua kekuatan harus dipersatukan untuk mengusir penjajah dari tanah air!"

Kata Nenek Cia penuh semangat.

"Engkau akan gagal, Nek. Benar ucapan orang ini! Engkau akan gagal kalau tidak mendapat dukungan rakyat dalam perjuanganmu. Engkau hanya akan menimbulkan kesengsaraan rakyat dengan gerakanmu ini, akan tetapi tidak akan berhasil. Tahukah engkau betapa besarnya kekuatan pasukan pemerintah? Engkau hanya akan mengorbankan banyak orang. Sekarang belum waktunya untuk berjuang mengenyahkan kaum penjajah Nek."

"Tin Han, engkau jangan banyak mulut. Menyingkirlah, aku harus membunuh panglima besar ini!"

Nenek itu menggerakkan tongkatnya. Akan tetapi Tin Han menghadang di depan Thian Lee dan Lee Cin.

"Nenek tidak boleh membunuhnya, juga tidak boleh menawan Cin-moi! Kalau Nenek memaksa, membunuh panglima ini dan mengganggu Cin-moi, aku yang akan melapor ke kota raja bahwa Nenek telah bersekutu dengan pemberontak dan keluarga kita akan terbasmi semua. Lebih baik begitu daripada keluarga kita membikin sengsara rakyat."

"Tin Han!"

Kini Cia Kun bangkit berdiri dengan marah.

"Berani engkau bersikap seperti ini?"

"Ayah, aku pun bukan seorang yang takut mati. Bagiku, lebih baik mati dalam membela kebenaran daripada hidup bergelimang kejahatan. Pendeknya aku menentang kalau kalian hendak membunuh mereka berdua ini, dan kalian boleh membunuhku lebih dulu!"

Pemuda itu berdiri dengan gagahnya, menentang keluarganya.

Tin Han adalah cucu kesayangan Nenek Cia, maka tentu saja nenek itu tidak tega untuk membunuhnya.

Bahkan pada saat itu, ketika Tin Siong melompat ke depan untuk memukul adiknya, Nenek Cia membentak.

"Tin Siong, mundur kau!"

Nenek Cia sejenak memandang kepada cucunya yang menentangnya.

Pandang matanya bersinar kagum melihat cucunya yang lemah itu berdiri dengan gagahnya melindungi kedua orang itu.

Sungguh sikap seorang keluarga Cia yang tulen, penuh keberanian, penuh kegagahan menentang maut.

"Baiklah, Tin Han. Aku belum mau membunuh mereka."

Katanya dan ia memberi isyarat kepada kedua puteranya Cia Hok dan Cia Bhok.

"Masukkan mereka ke tempat tahanan dan jaga dengan ketat jangan sampai mereka lobos!"

Cia Hok dan Cia Bhok bangkit berdiri lalu mereka berdua menggiring Thian Lee dan Lee Cin yang masih terbelenggu kedua tangan mereka ke bagian belakang bangunan itu di mana terdapat kamarkamar kosong dan kamar ini agaknya memang sengaja dibuat untuk menawan orang, karena selain kosong juga dibuat kuat sekali, dengan pintu dari besi yang kokoh kuat.

Bagian atas pintu itu beruji besi yang sebesar lengan tangan orang, arnat Ruatnya sehingga jangan harap untuk dapat lolos dari kamar itu dengan menjebol pintu besi itu.

Pintu kamar tahanan ditutup dan dikunci dari luar.

Cia Hok dan Cia Bhok lalu mengumpulkan sedikitnya tiga puluh orang anak buah dan mereka ditugaskan untuk menjaga agar kedua tawanan itu tidak sampai dapat meloloskan diri.

Setelah dua orang saudara Cia itu pergi meninggalkan mereka berdua saja, Lee Cin menyatakan penyesalannya kepada Thian Lee.

"Lee-ko, kenapa engkau menyerah? Tidak semestinya engkau menyerah sehingga kini kita berdua ditawan. Kalau ada seorang di antara kita masih bebas, tentu akan dapat berbuat sesuatu untuk menolong yang lain."

"Sudahlah, Cin-moi. Aku menyerah dengan tiga alasan, Pertama, untuk mencegah mereka membunuhmu, ke dua dengan jalan menyerahkan diri aku akan dapat melihat komplotan itu yang ternyata kini dipimpin oleh Nenek Cia. Dan ke tiga, aku yakin mereka tidak begitu bodoh untuk membunuh seorang panglima besar karena kalau hal itu mereka lakukan, tentu pemerintah akan mengirim pasukan besar untuk membasmi mereka."

"Aku juga sama sekali tidak mengira bahwa keluarga Cia ternyata memegang peran penting dalam komplotan ini. Mereka begitu baik terhadap diriku selama aku menjadi tamu mereka. Sungguh menyesal sekali aku dapat mereka kelabui. Kiranya mereka semua terlibat, kecuali agaknya, Han-ko yang tidak."

"Kau maksudkan pemuda yang menentang neneknya sendiri itu?"

"Benar, Lee-ko. Akan tetapi sayang bahwa dia seorang kutu buku yang tidak suka belajar ilmu silat. Dia seorang yang lemah walaupun jiwanya pendekar dan patriot tulen."

"Aku melihat pemuda itu bukan seorang pemuda biasa, Cin-moi. Dia memiliki keberanian besar dan aku juga melihat sesuatu hal yang akan menjamin keselamatanrnu, Cin-moi."

"Maksudmur tanya Lee Cin sambil menatap tajam wajah Thian Lee. Thian Lee tersenyum.

"Dua orang pemuda kakak beradik itu mencintamu, Cin-moi. Kakaknya yang bersenjata suling perak itu terang-terangan menyatakan cintanya kepadamu dan mengharapkan engkau menjadi jodohnya, sedangkan adiknya diam-diam mencintamu. Aku dapat melihat sinar matanya ketika dia membelamu dan memandangmu."

Lee Cin juga tersenyum dan mengangguk.

"Aku juga sudah tahu akan hal itu. Lee-ko. Cia Tin Siong itu amat baik kepadaku dan aku berkenalan dengan keluarga Cia pertama kali karena mengenalnya. Akan tetapi aku melihat sesuatu yang keras dan mengerikan dalam pandang matanya yang membuat aku tidak suka kepadanya. Adapun Cia Tin Siong itu..... ah, dia hanya seorang pemuda sastrawan yang lembut, jauh berbeda dari kakaknya walaupun kuakui bahwa dia pemberani. Akan tetapi, mengapa kita membicarakan mereka, Lee-ko? Kita harus mencari jalan keluar dari tempat ini. Apakah engkau tidak mampu mele paskan dirimu dari belenggu itu, Lee-ko?"

"Agaknya aku dapat mematahkan belenggu ini, akan tetapi apa gunanya? Kita tidak akan dapat membobol pintu yang sekuat itu. Pula, kalau mereka melihat kita mematahkan belenggu, tentu mereka akan datang semua ke sini dan dalam kamar tahanan ini, bagaimana kita dapat membela diri?"

"Tepat dengan apa yang kupikirkan, Lee-ko. Aku pun kiranya akan sanggup mematahkan belenggu ini, akan tetapi kukira hal itu tidak mendatangkan keuntungan bagi kita. Kita lihat saja kalau ada kesempatan, begitu pintu dibuka dari luar, kita terjang mereka dan membuka jalan dengan nekat."

Akan tetapi apa yang mereka harapkan itu agaknya masih merupakan hal yang meragukan.

Mereka hanya boleh berharap.

Pihak lawan adalah orang-orang yang lihai dan pandai, tidak mungkin mereka bertindak secara sembrono."

Mereka berdua lalu duduk bersila dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan tenaga mereka agar mereka dapat bersiap setiap saat.

Sambil bersila mereka berdua dapat pula tidur, karena hal ini penting sekali untuk menjaga kesehatan dan kesegaran tubuh mereka.

Dua orang muda gagah perkasa ini sedikitpun juga tidak merasa khawatir biarpun mereka sudah menjadi tawanan.

Mati bagi mereka bukan hal yang mengkhawatirkan.

Sejak kecil mereka sudah digembleng untuk menjadi orang gagah yang siap untuk mati apabila membela kebenaran.

Mereka sama sekali tidak memikirkan waktu yang akan datang, hanya menghadang kenyataan penuh kewaspadaan.

Sikap seperti inilah yang membuat orang bebas dari rasa takut, bebas dari rasa duka.

Duka selalu timbul karena kita memikirkan dan membayangkan masa lalu yang telah lewat.

Peristiwa-peristiwa yang telah lalu, yang merugikan kita, mendatangkan rasa suka karena mengenangkan semua peristiwa itu membuat kita menjadi iba diri dan merasa bahwa diri kita paling sengsara di dunia ini.

Rasa iba diri ini menumpuk dan mendatangkan duka nestapa.

Sebaliknya, membayangkan hal-hal yang belum datang, membayangkan hari esok, hanya mendatangkan rasa takut.

Membayangkan hari esok bagi orang-orang dalam keadaan seperti Thian Lee can Lee Cin tentu akan mendatangkan bayangan-bayangan yang menakutkan.

Kedua orang muda gagah itu sudah digembleng oleh pelajaran dan pengalaman.

Mereka hanya mengenal saat ini.

Mengenal apa yang mereka hadapi dan alami.

Dengan kewaspadaan mereka rnenghadapi apa yang terjadi dan karenanya.

menjadi awas dan selalu siap siaga, tidak was-was dan akan dapat bereaksi dengan cepat.

Maka, mereka pun tetap tenang-tenang saja dan dalam kesempatan itu mereka dapat tidur sambil bersila, walaupun semua syaraf mereka siap siaga menghadapi segala kemungkinan.

oood_wooo Malam telah berganti pagi.

Sinar matahari pagi lembut menerobos masuk melalui jeruji besi di atas pintu.

Akan tetapi di luar pintu kamar tahanan itu sepi sekali.

Ketika Thian Lee dan Lee Cin terbangun dari tidur mereka, mereka tidak mendengar suara di luar pintu kamar tahanan, padahal semalam para penjaga ramai saling bercakap-cakap.

Apakah mereka tertidur semua?

Atau meka telah pergi?

Keheningan itu mencurigakan hati mereka.

Tidak mungkin sedikitnya tiga puluh orang itu tidak ada yang bicara, atau mereka sedang hendak melakukan sesuatu?

Kemudian terdengar suara gedebukan di luar kamar tahanan.

Tak lama kemudian, Lee Cin dan Thian Lee melihat sebuah kepala yang memakai kedok hitam di luar jeruji besi.

Melihat ini, Thian Lee terkejut akan tetapi Lee Cin tersenyum gembira.

Seperti mendapat perintah saja, keduanya lalu mengerahkan sin-kang mereka dan belenggu yang mengikat kedua tangan mereka itu patah-patah.

Terdengar bunyi klak-klik dan daun pintu terbuka.

Si Kedok Hitam masuk ke dalam dan melihat betapa dua orang tawanan itu telah dapat membebaskan dari belenggu, dia terbelalak kagum.

"Mari cepat, ikut aku!"

Bisiknya dia sudah mendahului keluar dari tempat tahanan itu.

Lee Cin dan Thian Lee cepat mengikutinya, keluar dari pintu kamar tahanan.

Setelah tiba di luar pintu, baru mereka melihat betapa tiga puluh orang yang tadinya berjaga di tempat itu, sudah roboh malang-melintang tidak bergerak lagi, agaknya terkena totokan yang lihai dari Si Kedok Hitam.

"Kembali engkau menolongku, sobat!"

Kata Lee Cin yang kini berada di belakang Si Kedok Hitam.

"Jangan bicarakan hal itu! Ikut aku!"

Bisik Si Kedok Hitam. Dia melompati pagar yang mengelilingi bangunan itu menjadi tempat persembunyian para pemberontak.

"Hayo lari cepat! Ikut aku!"

Katanya pula dan dia pun berlari cepat sekali, akan tetapi Lee Cin dan Thian Lee dapat mengimbanginya.

Mendadak terdengar suara ribut-ribut di belakang mereka, suara orang-orang mengejar.

Si Kedok Hitam berhenti.

"Mereka sudah tahu dan kalian dikejar. Ini, terimalah senjata kalian."

Si Kedok Hitam mengeluarkan Jit-goat-sin-kiam milik Thian Lee dan menyerahkan Ang-coa-kiam milik Lee Cin.

Kedua orang ini menerima dengan girang sekali.

Akan tetapi para pengejar kini sudah dekat dan mereka tentulah orang-orang lihai yang juga memiliki ilmu berlari cepat.

Thian Lee dan Lee Cin sudah bersiap dengan pedang mereka, akan tetapi Si Kedok Hitam berkata.

"Jangan lawan mereka. Mereka terlalu banyak. Masuklah ke balik semak belukar ini, aku akan memancing mereka agar mengejarku dan kalau mereka sudah lewat, harap kalian suka melanjutkan lari ke bawah bukit,"

Katanya sambil menuding ke arah bawah bukit.

Dua orang muda itu tidak ragu-ragu lagi mengikuti petunjuknya, mereka menyusup ke balik semak belukar.

Si Kedok Hitam menanti sebentar sampai para pengejar itu kelihatan bayangannya.

Dia lalu berteriak-teriak.

"Lari, cepat lari!"

Dan dia pun lari ke depan dengan cepat.

Teriakan dan gerakannya ini terlihat oleh para pengejar.

Tentu saja mereka mempercepat lari mereka untuk mengejar karena mereka yakin bahwa kedua orang tawanan itu tentu diajak lari oleh Si Kedok Hitam.

Tadi ketika Nenek Cia dan anak buahnya melihat para penjaga menggeletak malang-melintang dalam keadaan tertotok, ia cepat membebaskan totokan mereka dan mendapat keterangan mereka bahwa mereka ditotok oleh seorang yang berkedok hitam.

Kini, dalam pengejaran itu tentu saja Nenek Cia yang lain-lain mengira bahwa Si Kedok Hitam itu yang mengajak dua orang tawanan melarikan diri.

Mereka menjadi marah dan mengejar dengan secepatnya.

Sementara itu, ketika melihat para pengejar itu mengejar bayangan Si Kedok Hitam, Thian Lee dan Lee Cin cepat keluar dari tempat persembunyian mereka dan berlari ke jurusan lain menuruni bukit.

Thian Lee yang menjadi petunjuk jalan dan akhirnya mereka tiba di kaki bukit.

Melihat Lee Cin sejak tadi diam saja, Thian Lee bertanya.

"Cin-moi kenapa engkau diam saja seperti termenung?"

"Aku sedang memikirkan Si Kedok Hitam, Lee-ko. Sudah tiga kali dia menolongku terlepas dari bahaya besar dan sekali ini aku yakin bahwa dia bukan anggauta keluarga Cia. Siapakah dia sebenarnya?"

"Aku pun tidak dapat menduganya, Cin-moi. Akan tetapi yang jelas, dia seorang laki-laki yang masih muda, matanya seperti mata naga, dan ilmu kepandaiannya tentu tinggi sekali. Akan tetapi mengapa dia memakai kedok, itu yang mengherankan hatiku."

Akan tetapi di dalam hatinya, Lee Cin terjadi suatu kebimbangan yang tidak ia ucapkan kepada Thian Lee.

Si Kedok Hitam itu memiliki tubuh yang sedang, seperti tubuh Tin Han.

Dan dia pun memiliki sikap yang sama dengan Tin Han, yaitu menentang Nenek Cia dan membelanya!

Apakah Si Kedok Hitam itu Cia Tin Han?

Akan tetapi mana mungkin Tin Han memiliki kepandaian yang tinggi?

Tentu keluarganya akan mengetahuinya.

"Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Lee-ko?"

Tanyanya sambil membuang pikiran yang penuh kebimbangan itu. Ia tidak akan pernah melupakan Si Kedok Hitam, yang diduganya penyerang ayahnya akan tetapi juga penolong besarnya.

"Aku harus bertindak secepatnya menguasai pasukan yang dipimpin Lai-ciangkun untuk membasmi komplotan pemberontak itu sebelum mereka melakukan sesuatu yang amat merugikan."

"Aku akan membantumu, Lee-ko."

"Baik, sekarang juga kita pergi ke markas Lai-ciangkun. Akan tetapi harus berhati-hati, siapa tahu Lai-ciangkun juga terlibat dan dia sudah memasang perangkap untuk kita."

Mereka lalu berlari cepat melanjutkan perjalanan ke kota Hui-cu. Ketika akan memasuki kota Hui-cu, Lee Cin berbisik.

"Sssttt, Lee-ko, lihat siapa itu di depan sana."

Thian Lee memandang ke arah yang ditunjuk Lee Cin dan dia melihat seorang laki-laki bertubuh pendek sedang berjalan tergesa-gesa memasuki pintu gerbang kota.

Thian Lee segera teringat.

Orang itu seperti Yasuki!

"Cepat kita bayangi dia,"

Bisiknya kembali.

Mereka membayangi Yasuki dari jarak jauh sehingga yang dibayangi tidak mengetahuinya.

Dan yang membuat Thian Lee tercengang adalah ketika melihat orang Jepang itu memasuki markas pasukan yang dipimpin Lai-ciangkun dengan memperlihatkan sepucuk surat kepada para penjaga.

Dia diperkenankan masuk begitu saja setelah para penjaga melihat surat itu.

"Ini mencurigakan,"

Kata Thian Lee.

"Kita masuk dari belakang untuk melihat apa yang dilakukan orang Jepang itu."

Mereka mengambil jalan memutar dan akhirnya berhasil menemukan bagian tembok dinding pagar di belakang yang menembus taman dan tempat ini tidak terjaga.

Bagaikan dua ekor burung mereka melayang naik ke pagar tembok dan masuk ke dalam.

Berindap-indap.

mereka menyeberangi taman dan akhirnya mereka dapat melompat ke atas atap dan mengintai ke bawah di mana terdapat sebuah ruangan tamu, ketika mereka mendengar suara bercakap-cakap di bawah.

Dan benar saja, di ruangan itu, Yasuki sedang bicara dengan Lai-ciangkun.

Mereka mengintai dengan hati-hati.

"Apa kau bilang? Mereka tertawan dan dapat lolos kembali? Kalau begitu, Song-ciangkun sudah tahu akan persekutuan kita? Celaka, kita harus cepat bertindak!"

Kata Lai-ciangkun dengan muka pucat.

Pada saat itulah Thian Lee melompat ke dalam, diikuti oleh Lee Cin.

Melihat ini, Yasuki mencabut samurainya, akan tetapi dengan kecepatan kilat Lee Cin sudah menggerakkan pedangnya dan menodongkan pedang itu di leher orang Jepang itu sehingga dia terkejut sekali dan tidak jadi mencabut samurainya.

Lee Cin menggerakkan tangan kiri, menotok dan Yasuki terkulai lemas.

Sementara itu, Thian Lee menghadapi Lai-ciangkun yang menjadi sangat pucat wajahnja.

"Ah, Song-ciangkun, kami..... kami....."

Dia tergagap.

"Cukuplah, Lai-ciangkun, kedokmu telah terbuka. Engkau bersekutu dengan orang Jepang, engkau pengkhianat rendah!"

Thian Lee juga menodongkan pedangnya dan panglima itu tidak berani berkutik.

Thian Lee sambil menodong Lai-ciangkun membuka daun pintu kamar itu.

Para pengawal yang berjaga di luar terkejut dan heran sekali melihat panglima mereka ditodong.

"Lai-ciangkun telah berkhianat, bersekutu dengan orang Jepang dan hendak memberontak. Kalau kalian mendukungnya, kalian akan kubasmi! Hayo cepat undang semua perwira untuk berkumpul di sini!"

Bentak Thian Lee.

Para pengawal itu menjadi jerih dan mereka lalu keluar dan memanggil para perwira.

Tak lama kemudian belasan orang perwira berdatangan dan mereka juga heran sekali melihat Lai-ciangkun ditangkap.

Thian Lee mengeluarkan surat perintah dari Kaisar dan memperlihatkannya kepada para perwira.

"Aku adalah Panglima Besar Song Thian Lee. Mendiang Un-ciangkun adalah panglima yang setia dan baik, akan tetapi Lai-ciangkun ini seorang pengkhianat. Dia bersekutu dengan orang Jepang untuk mengadakan pemberontakan. Orang Jepang yang kami tangkap di sini adalah bukti dan saksinya. Mulai saat ini, pasukan di Hui-cu kuambilalih untuk sementara. Mengertikah kalian semua?"

Para perwira sudah tunduk begitu melihat surat kuasa dari Kaisar.

Di antara mereka memang ada yang terbujuk oleh Lai-ciangkun, akan tetapi mereka belum terlibat.

Kini mereka semua mendukung Thian Lee dan Lai-ciangkun bersama Yasuki lalu dimasukkan ke dalam karnar tahanan untuk menanti pemeriksaan lebih lanjut.

Melihat tindakan Thian Lee yang demikian cepat dan bijaksana, Lee Cin menjadi kagum.

Panglima muda itu sungguh berwibawa.

"Sekarang engkau tinggal mengerahkan pasukan untuk menangkapi mereka semua, Lee-ko. Menangkapi keluarga Cia dan juga menyerbu pasukan yang dipimpin oleh Phoa-ciangkun yang berkhianat. Akan tetapi kalau menangkapi keluarga Cia, kuharap engkau menaruh kasihan kepada Cia Tin Siong dan Cia Tin Han. Mereka itu sungguh merupakan kawan baikku dan mereka kukira tidaklah sejahat neneknya."

Thian Lee menghela napas panjang.

"Keluarga Cia itu tidak ada yang jahat, Cin-moi. Bahkan Nenek Cia adalah seorang patriot yang gagah perkasa dan gigih. Banyak pendekar patriot seperti itu. Mereka demikian fanatik sehingga tidak memperhitungkan dan mempertimbangkan keadaan. Karena nafsu mereka untuk cepat meruntuhkan kerajaan penjajah Mancu, mereka tidak segan-segan bersekongkol dengan orang Jepang dan orang-orang sesat, dengan tujuan hanya satu, yaitu menggulingkan pemerintahan Mancu."

"Ya, mereka membenci semua orang yang bekerja untuk pemerintah. Mereka menganggap bahwa siapa saja yang bekerja untuk pemerintah berarti menjadi antek penjajah yang menindas rakyat dan karena itu harus dibunuh. Mereka tidak menyadari bahwa perbuatan mereka itu merugikan rakyat jelata, apalagi kalau sampai terjadi perang pemberontakan, rakyat pula yang menjadi korban."

"Benar, Cin-moi. Mereka lupa bahwa dengan bersekongkol bersama orang Jepang perampok dan para tokoh sesat itu, mereka telah tersesat pula. Gerakannya mereka tidak didukung rakyat dan tidak akan berhasil, sebaliknya malah mengacaukan. Aku kasihan kepada mereka. Sebetulnya mereka itu merupakan pendekar patriot yang gagah perkasa, sayang tidak memakai perhitungan dan terburu nafsu."

"Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Lee-ko?"

"Terpaksa harus kuserbu keluarga Cia malam ini juga. Yang melawan terpaksa akan kutundukkan dengan kekerasan, yang sudah menaluk akan kutahan untuk sementara. Kalau mereka kelak menyatakan penyesalan mereka dan menyadari akan kesalahan mereka, aku pasti tidak akan membawa mereka ke kota raja dan akan kubebaskan pula mereka."

"Ah, engkau sungguh bijaksana, Lee-ko!"

"Tidak, Cin-moi. Kurasa itu lebih mendidik dan lebih baik. Menyadarkan para patriot lebih baik dan berdaya guna daripada menindas mereka dengan kekerasan."

"Hemm, kalau begitu dipihak manakah engkau berdiri, Lee-ko? Sebagai seorang panglima, aku percaya bahwa engkau berpihak kepada pemerintah, akan tetapi mengapa sikapmu begitu longgar terhadap patriot yang hendak menentang pemerintah?"

Thian Lee menghela napas.

"Engkau sudah lama mengenalku, Cin-moi. Aku jelas bukan seorang antek penjajah yang menindas rakyat dan aku sama sekali bukan menjadi panglima untuk memperkaya diri dan mencari kekuasaan. Hanya karena aku melihat betapa Kaisar Kian Liong seorang yang bijaksana maka aku suka menjadi panglima. Dengan kedudukanku ini aku dapat mencegah terjadinya penindasan terhadap rakyat. Akan tetapi aku sama sekali tidak menentang para patriot. Bahkan kalau para patriot itu berjuang dengan dukungan rakyat jelata, berusaha untuk memerdekakan tanah air dan bangsa, aku setuju sekali dan kalau saat itu tiba, aku akan mengundurkan diri dari kedudukanku sebagai panglima dan sangat boleh jadi aku akan membantu gerakan perjuangan seperti itu. Akan tetapi kalau seperti sekarang ini, bersekongkol dengan orang Jepang dan dengan golongan sesat, sungguh aku tidak setuju."

Lee Cin mengangguk-angguk.

"Aku mengerti perasaanmu, Lee-ko. Kita dahulu membantu pemerintah menghancurkan pemberontak, karena pemberontakan itu bukan perjuangan para patriot yang didukung rakyat, melainkan usaha pemberontakan dari seorang pangeran untuk merebut tahta kerajaan. Bukan berarti kita memihak kepada pemerintah penjajah."

"Nah, sukur kalau engkau mengerti, Cin-moi. Aku masih membutuhkan bantuanmu kalau engkau mau, yaitu menghadapi keluarga Cia, membujuk mereka agar menyerahkan diri daripada terbasmi oleh pasukan."

"Baik, Lee-ko. Akan kubantu engkau."

Demikianlah, Thian Lee mengadakan perundingan dengan para perwira pembantu, mengatur siasat untuk mengepung dan menundukkan keluarga Cia dan para anak buahnya.

Dalam rapat perundingan itu, Lee Cin tidak ketinggalan, ikut pula.

Kini semua perwira sudah percaya sepenuhnya kepada Thian Lee, apalagi setelah Thian Lee mengenakan pakaian panglima yang membuatnya nampak gagah dan berwibawa.

"Siapkan tiga ratus orang perajurit yang siap untuk melakukan penyerbuan sewaktu-waktu. Lebih dulu aku membutuhkan lima puluh orang perajurit untuk melakukan penggerebekan kepada keluarga Cia. Hati-hati, jangan melakukan penyerbuan sebelum ada perintah dariku."

Para perwira bekerja cepat dan malam itu terkumpullah lima puluh orang perajurit pilihan yang siap mengikuti Thian Lee.

Dengan bantuan dua orang perwira dan Lee Cin, Thian Lee lalu memimpin mereka dan pergi ke rumah keluarga Cia.

Akan tetapi, dia kecelik ketika memasuki pekarangan gedung keluarga Cia.

Ternyata di situ sudah tidak ada orang, kecuali hanya beberapa orang pelayan yang mengatakan bahwa para majikan mereka telah pergi sore tadi dan tak seorang pun di antara mereka tahu ke mana majikan mereka pergi.

Thian Lee maklum bahwa keluarga itu memang lihai.

Agaknya mereka telah dapat menduga bahwa rumah mereka akan diserbu pasukan, maka sebelum itu mereka telah pergi lebih dulu.

Karena, menduga bahwa mereka tentu pergi mengungsi ke tempat pertemuan rahasia di bukit itu, Thian Lee lalu memimpin dua ratus orang pasukan itu, mengejar ke bukit dan mengadakan pengepungan di puncak bukit itu.

Dugaannya tidak keliru.

Rumah besar di puncak bukit itu penuh orang dan agaknya mereka telah bersiap-siap.

Thian Lee bersama Lee Cin sudah melompat ke depan, tepat di depan pekarangan bangunan itu dan Thian Lee berseru dengan suara lantang.

"Keluarga Cia! Tempat ini sudah terkepung! Harap kalian menyerah saja agar kami tidak perlu melakukan kekerasan!"

Lee Cin juga ikut membujuk mereka dan ucapannya ditujukan kepada Tin Siong dan Tin Han.

"Saudara Cia Tin Siong dan Han-ko! Mintalah kepada keluarga kalian agar menyerah saja. Yasuki dan Lai-ciangkun telah tertangkap. Tidak ada gunanya lagi kalian melakukan perlawanan!"

Akan tetapi, sebagai jawaban, puluhan anak panah meluncur dari dalam bangunan itu.

Thian Lee memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menggunakan perisai dan menyerbu ke arah bangunan.

Kurang lebih lima puluh orang anak buah pemberontak berserabutan ke luar dengan golok di tangan menyerbu ke arah para pengepung.

Terjadilah pertempuran yang hebat.

Thian Lee dan Lee Cin berlompatan ke pekarangan bangunan dan mereka segera disambut oleh Nenek Cia, Cia Kun, Nyonya Cia Kun, Cia Hok dan Cia Bhok.

Tidak terlihat Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok.

Nenek Cia tanpa banyak cakap sudah memutar tongkat kepala naga dan menyerang Thian Lee.

Thian Lee mengelak dan melompat ke belakang.

"Sekali lagi kami harap kalian suka menyerah dan kami akan mempertimbangkan keadaan kalian!"

"Nenek Cia, Song-ciangkun berkata benar. Kalian menyerahlah dan hentikan perlawanan dan aku tanggung dia akan membebaskan kalian kelak!"

Teriak pula Lee Cin.

"Kami tidak akan menyerah!"

Bentak nenek itu dan ia melanjutkan serangan kepada Thian Lee.

Terpaksa Thian Lee mencabut pedangnya dan melawan karena dia melihat betapa lihainya nenek tua ini.

Tongkatnya menyambar demikian dahsyatnya, penuh dengan tenaga lweekang yang membuat tongkatnya mengeluarkan bunyi bercuitan dan tongkat itu berubah menjadi gulungan sinar hitam yang lebar.

Tanpa banyak cakap lagi Cia Hok dan Cia Bhok meloncat dan membantu ibu mereka mengeroyok Thian Lee.

"Bocah tidak mengenal budi! Engkau pernah menjadi sahabat dan tamu karni tetapi ternyata sekarang memusuhi kami!"

Teriak Nyonya Cia Kun dan ia pun sudah menerjang maju dengan pedang di tangan.

Suaminya, Cia Kun, juga menerjang maju sehingga Lee Gin dikeroyok oleh suami isteri ini.

Dua orang perwira yang melihat pengeroyokan musuh, lalu maju membantu Thian Lee yang dikeroyok tiga.

Lee Cin mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Cia Kun masih lebih tinggi daripada kepandaian Cia Hok dan Cia Bhok, juga isterinya memiliki gerakan yang lumayan.

Maka ia pun terpaksa harus memutar pedangnya untuk membuat perlawanan yang kuat.

Ia merasa heran ke mana perginya Tin Siong, karena kalau Tin Siong maju mengeroyoknya pula, ia tentu tidak akan mampu bertahan.

Ilmu silat pemuda yang bersenjata suling perak itu tidak kalah lihai dibandingkan ayahnya.

Tiga puluh orang anak buah pemberontak itu, biarpun rata-rata lihai dengan golok mereka, namun terdesak hebat oleh dua ratus orang perajurit.

Banyak di antara mereka yang roboh dan sisanya membela diri dengan mati-matian.

Tiba-tiba muncul Tin Siong dan pemuda ini berseru nyaring.

"Nenek, Ayah dan Ibu, lari! Cepat!"

Pemuda itu lalu melemparkan beberapa bahan peledak yang meledak dan mengeluarkan asap tebal, kemudian Tin Siong menangkap tangan ibunya dan ditarik sambil diajak lari.

Melihat ini, Nenek Cia, dan ketiga puteranya, Cia Kun, Cia Hok dan Cia Bhok, lalu berlompatan melarikan diri.

Thian Lee memang bersikap lunak terhadap mereka.

Kalau dia mau, tentu saja dia dapat merobohkan seorang di antara mereka yang melarikan diri.

Akan tetapi dia tidak melakukan hal ini, lalu melompat ke atas atap bangunan dan berteriak.

"Semua anak buah pemberontak, menyerahlah dan kalian tidak akan dibunuh. Pimpinan kalian sudah melarikan diri!"

Lima puluh orang itu memang sudah payah keadaannya.

Belasan orang di antara mereka telah roboh dan melihat pimpinan mereka sudah melarikan diri semua, mereka akhirnya membuang golok dan berlutut menyerah.

Thian Lee dan Lee Cin kembali ke markas Hui-cu bersama pasukan yang menawan para perajurit pemberontak dan setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata benar seperti dugaannya, lima puluh orang itu adalah perajurit-perajurit barisan golok dari pasukan yang dipimpin Phoa-ciangkun.

Thian Lee lalu mengadakan perundingan lagi dengan belasan orang perwira pembantu.

Akan tetapi sekali ini Lee Cin tidak lagi ikut berunding.

Setelah penyerbuan ke bukit di mana keluarga Cia melarikan diri, Lee Cin merasa tidak perlu lagi melibatkan diri dalam pembasmian para pemberontak itu.

Kalau tadinya ia membantu Thian Lee adalah karena ada hubungannya dengan keluarga Cia.

Kini Thian Lee hendak menyerbu ke timur, ke pasukan perbatasan yang dipimpin oleh Phoa-ciangkun, maka ia tidak merasa perlu untuk membantu.

Itu sepenuhnya adalah urusan ketentaraan.

"Maaf, Lee-ko, aku sekarang terpaksa minta diri dan tidak dapat menyertaimu dalam penyerbuan ke timur,"

Demikian ia berkata kepada Thian Lee setelah mereka kembali ke markas sambil menawan puluhan orang perajurit pemberontak itu. Thian Lee maklum dia mengangguk.

"Baiklah, Cin-moi. Engkau sudah membantu banyak kepadaku dan aku amat berterima kasih kepadamu. Mudah-mudahan saja keluarga Cia tidak mendendam kepadamu, dan berhati-hatilah engkau terhadap orang-orang seperti Siangkoan Tek dan Ouw Kwan Lok. Mereka adalah orang-orang lihai dan juga jahat sekali, terutama Ouw Kwan Lok yang agaknya hendak membalaskan dendam guru-gurunya kepadamu."

"Aku mengerti, Lee-ko. Semoga engkau akan berhasil dengan tugasmu dan dapat segera pulang ke keluargamu dengan selamat."

"Terima kasih, Cin-moi, dan engkau jangan lupa, kalau kebetulan lewat kota raja, harap mampir ke rumah kami. Cin Lan tentu akan girang sekali kalau engkau singgah ke rumah kami. Ia sering membicarakanmu dengan penuh kerinduan."

Lee Cin tersenyum.

"Baiklah, Lee-ko. Kalau aku kebetulan lewat di kota raja pasti aku akan berkunjung ke rumah kalian."

Setelah berpamit, Lee Cin lalu meninggalkan markas itu.

Ketika tiba di jalan besar, ia teringat akan ke rumah keluarga Cia.

Keluarga itu telah melarikan diri semua dan rumahnya tentu kini telah kosong.

Rasa iba menyelubungi hatinya dan tanpa disadarinya, kakinya lalu melangkah menuju ke rumah besar bekas tempat tinggal keluarga Cia itu.

Ia teringat akan Tin Han.

Bagaimana nasib pemuda yang ramah dan jenaka itu?

Tentu ikut pula pergi mengungsi menyelamatkan diri.

Karena bagaimanapun juga, sebagai cucu Nenek Cia, tentu dia pun ikut dicurigai sebagai orang yang langsung terlibat dengan pemberontakan.

Lee Cin tidak dapat membayangkan pemuda yang jenaka dan gembira itu kini berada dalam pengasingan, menjadi buruan pemerintah.

Ia menghela napas.

Mengapa hanya kepada Tin Han ia merasa kasihan?

Bukankah mereka semua, seluruh keluarga Cia mengalami nasib yang sama?

Pikiran ini dibantahnya sendiri.

Hanya Tin Han yang agaknya tidak terlibat dalam pemberontakan.

Dan tiba-tiba timbul keinginan hatinya yang amat besar untuk dapat menolong Tin Han, untuk dapat bertemu dengan pemuda yang selalu bersikap jenaka dan membuatnya gembira itu.

Akan tetapi ke mana ia akan mencari Tin Han?

Dia tentu ikut dengan Nenek Cia.

oood_wooo Dengan pikiran penuh kenangan akan keluarga Cia, Lee Cin melangkah terus sampai ia tiba di rumah keluarga itu.

Rumah itu telah ditutup pintunya dan terdapat beberapa orang perajurit menjaga rumah itu.

Jelas bahwa rumah itu kosong, telah ditinggalkan semua penghuninya dan para pelayan yang ditinggalkan di situ tentu telah ditangkapi.

Ketika Lee Cin mengambil jalan memutar ke bagian belakang dari bangunan besar itu, ia melihat sesosok bayangan berkelebat, melompati pagar tembok dan melarikan diri.

Orang itu baru saja meninggalkan bangunan itu!

Tentu saja ia menjadi tertarik sekali.

Seorang di antara keluarga Cia?

Ataukah seorang pencuri yang memasuki bangunan yang kosong itu?

Ia segera membayangi dan berlari cepat.

Orang itu adalah seorang pemuda, akan tetapi dara ini belum melihat jelas muka orang itu.

Tin Siongkah orang itu?

Akan tetapi agaknya orang ini lebih tinggi daripada Tin Siong.

Seorang pencurikah?

Larinya cepat, akan tetapi Lee Cin dapat mengejarnya dan terus membayangi, hendak diketahuinya siapa orang itu dan mengapa dia mendatangi rumah keluarga Cia.

Orang itu meninggalkan kota Hui-cu melalui pintu gerbang sebelah selatan.

Lee Cin terus membayanginya dan setelah tiba di jalan yang sepi, ia mulai mempercepat larinya untuk mengejar dan menyusul orang itu.

Ia hanya ingin melihat siapa orang itu dan bertanya apa maksudnya datang ke rumah keluarga Cia yang kosong itu.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika orang itu berlari lebih cepat dari pada tadi.

Ia mengejar lebih cepat lagi dan mendapat kenyataan bahwa ilmu berlari cepat orang itu tidak banyak selisihnya dengan kecepatan larinya.

Mereka berkejar-kejaran dan Lee Gin maklum bahwa orang yang dikejarnya itu sudah tahu akan pengejarannya.

Melihat orang itu berlari cepat, ia menjadi semakin penasaran dan curiga.

Akhirnya, setelah tiba di dekat sebuah hutan di lereng bukit yang mereka daki dalam kejar-kejaran tadi, orang itu berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadapi Lee Cin.

Setelah gadis itu tiba di depannya, ia tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, baru sekali ini calon mempelai wanita mengejar-ngejar calon mempelai prianya!"

Lee Cin terkejut dan marah sekali mendengar ucapan itu. Orang itu ternyata adalah Siangkoan Tek, musuh besarnya! "Jahanam busuk, kiranya engkau yang menjadi pencuri di rumah keluarga Cia!"

Bentak Lee Cin sambil mencabut pedangnya.

"Ha-ha, siapa menjadi pencuri? Aku hanya mengambil barang-barangku yang tertinggal di sana. Setelah engkau mengejarku sampai di sini, tentu engkau bersedia menjadi isteriku, bukan, Adik Lee Cin yang manis?"

Sebagai jawaban Lee Gin menerjang maju sambil menyerang dengan pedangnya sambil membentak.

"Mampuslah engkau!"

Siangkoan Tek cepat mengelak dan dia pun sudah mencabut pedangnya untuk melindungi dirinya.

Akan tetapi dia tidak banyak membalas karena dia pun tidak ingin melukai gadis yang telah menarik hatinya itu.

Dia benar-benar mencinta Lee Cin dan mengharapkan gadis itu menjadi isterinya.

Dia menganggap bahwa hanya Lee Cin yang pantas untuk menjadi isterinya.

Tingkat ilmu kepandaian mereka.

memang seimbang, mungkin Lee Cin menang sedikit karena dia diperkuat dengan ilmu totok It-yang-ci.

Maka, kalau hanya mengalah terus tentu saja Siangkoan Tek menjadi terdesak hebat.

Namun Lee Cin berhati-hati sekall.

Ia tahu akan kelicikan pemuda itu dan ia tidak mau kalau ia sampai terjebak.

Ia menyerang dan berhati-hati melindungi dirinya dari serangan gelap.

"Ayah, bantulah!"

Tiba-tiba Siangkoan Tek berseru setelah dia terdesak mundur mendekati hutan.

Lee Cin terkejut karena kalau benar ayah pemuda itu, Siangkoan Bhok muncul, akan celakalah ia.

Melawan Siangkoan Tek saja hanya berimbang, kalau ayah pemuda itu muncul, tentu ia akan kalah!

Akan tetapi Siangkoan Bhok tidak muncul dan ia tahu bahwa pemuda itu hanya menggertak.

Dengan gemas Lee Cin memperhebat serangannya sehingga Siangkoan Tek terus mundur kemudian pemuda itu lari memasuki hutan.

"Hendak lari ke mana engkau, keparat!"

Lee Cin mengejar dan kembali mereka bertanding.

Lee Cin hendak mempercepat pertandingan karena ia sudah marah sekali kepada pemuda ini yang beberapa kali hampir dapat memperkosanya.

Ia harus cepat merobohkan dan membunuh pemuda jahat ini sebelum ayahnya atau kawan-kawan lain pemuda itu muncul.

Maka la lalu memainkan Ang-coa-kiam-sut dengan mengeluarkan jurus-jurus mautnya, dibarengi dengan tangan kiri yang melakukan totokan-totokan It-yang-ci yang lihai.

Siangkoan Tek yang tidak ingin melukai gadis yang dicintanya itu tentu saja menjadi terdesak hebat.

"Ayah......!"

Kembali dia berteriak.

"Ayahmu sudah mampus, tidak akan datang membantumu!"

Ejek Lee Cin yang mengira bahwa pemuda itu tentu hanya menggertak saja.

"Siapa bilang aku mampus?"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan sebatang dayung baja menyambar ke arah kepala Lee Cin dengan suara bercuitan saking cepat dan kuatnya.

Lee Cin terkejut dan cepat ia menundukkan kepalanya untuk mengelak, lalu membalik untuk menghadapi orang itu.

Seorang kakek yang tinggi besar gagah bermuka merah telah berdiri di situ sambil memegang dayung bajanya.

Siangkoan Bhok, majikan Pulau Naga!

Ternyata pemuda itu bukan hanya menggertak saja.

Siangkoan Bhok memang berada di hutan itu.

Mengertilah dia bahwa Siangkoan Tek sengaja memancingnya ke hutan itu, berdekatan dengan ayahnya sehingga ayahnya dapat membantunya!

-oo-dw-oo-Jilid.

15 (Tamat) ENGKAULAH yang mampus!"

Siangkoan Bhok kembali membentak dan dayung bajanya menyambar lagi, kini semakin dahsyat.

Lee Cin mengelak dan ia menjadi nekat.

Ia tidak mungkin dapat melarikan diri dari dua orang itu, maka jalan satu-satunya baginya hanya melawan dengan nekat dan mati-matian.

Ia lalu membalas serangan kakek itu dan mereka terlibat dalam pertandingan yang seru.

"Ayah, jangan bunuh ia, Ayah!"

Siangkoan Tek berseru sambil berjaga kalau-kalau gadis itu akan melarikan diri. Namun dayung baja itu menyambar-nyambar dengan ganasnya sehingga Lee Cin menjadi terdesak.

"Ayah, jangan sampai lukai ia, Ayah! Ia calon isteriku!"

Kembali Siangkoan Tek berseru dan kini dia pun ikut rnenyerang dengan totokan-totokan untuk mernbuat Lee Cin tidak berdaya.

Lee Chi rnengamuk dan membalas serangan kedua orang itu dengan mati-matian.

Karena dilarang puteranya agar jangan melukai atau membunuh Lee Cin, maka agak sukarlah bagi Siangkoan Bhok untuk merobohkan gadis itu tanpa membunuhnya, bahkan tanpa melukainya!

Akan tetapi dia amat sayang kepada puteranya dan dia pun memutar dayung bajanya dengan cepat sekali sehingga dayung itu berubah menjadi gulungan sinar kuning yang menyelimuti tubuh Lee Cin, menutup semua jalan keluar bagi gadis itu..

Lee Cin masih melawan dengan sekuat tenaga, akan tetapi tangannya terpukul ujung dayung sehingga pedangnya terlepas dari pegangan dan di saat itu, Siangkoan Tek telah berhasil menotoknya sehingga ia pun roboh terkulai dengan lemas.

"Ha-ha, terima kasih atas bantuanmu, Ayah. Ayah, ia adalah calon isteriku. Kawinkan aku dengannya, Ayah!"

Siangkoan Tek berkata dengan girang sekali. Dia tadi cepat menangkap tubuh Lee Cin sehingga gadis itu tidak sampai terpelanting dan kini dia masih memeluk tubuh Lee Cin.

"Hemm, bilang kepada ibumu. Aku tidak tahu urusan kawin!"

Kakek itu mendengus dan sama sekali tidak mempedulikan keadaan Lee Cin. Pada saat itu terdengar suara orang tertawa.

"Ha-ha-ha, ayahnya busuk, mana mungkin puteranya menjadi baik? Siangkoan Bhok, di mana-mana engkau selalu mengumbar nafsu burukmu!"

Dan muncullah seorang kakek bersama seorang gadis cantik.

Siangkoan Bhok menoleh dan dia terkejut melihat kakek itu.

Kakek yang pendek gendut serba bulat, dengan jubah pertapa, mulutnya terbuka lebar dalam senyumnya yang aneh.

Kakek itu memegang sebuah kebutan berbulu putih.

Dia bukan adalah Thian-tok (Racun Langit) Gu Kiat Seng, datuk dari barat.

Adapun gadis itu bukan lain adalah Liu Ceng atau yang biasa dipanggil Ceng Ceng.

Seperti telah kita ketahui di bagian depan, Ceng Ceng telah digembleng lagi oleh kakek sakti ini, mempelajari ilmu-ilmu pukulan yang ampuh.

Kalau dulu Ceng Ceng hanya bersenjata sebatang pedang, kini ia mempergunakan sebatang pedang di tangan kanan dan sebatang kebutan berbulu merah di tangan kiri.

Ceng Ceng telah menjadi seorang gadis yang lihai sekali!

Melihat Lee Cin dalam rangkulan Siangkoan Tek, Ceng Ceng sudah menjadi marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi ia mencabut pedang dan kebutannya dan membentak.

"Lepaskan gadis itu!"

Ia sudah menerjang maju dan menyerang Siangkoan Tek dengan kebutan yang menotok ke arah leher pemuda itu disusul pedangnya yang membacok ke arah pinggang! "Haiiiitttt......!"

Siangkoan Tek berseru dan cepat menghindar.

Terpaksa dia melepaskan tubuh Lee Cin yang terpelanting ke atas tanah dan tidak mampu bergerak karena masih tertotok.

Segera Siangkoan Tek balas menyerang dengan pedangnya sehingga dia sudah bertanding melawan Ceng Ceng dengan serunya.

"Thian Tok!"

Seru Siangkoan Bhok rnarah.

"Urusan ini tak ada sangkut-pautnya denganmu, mengapa engkau mencampuri?"

"Ha-ha-ha, aku paling gatal kalau melihat orang mengganggu seorang wanita. Engkau membiarkan puteramu mengganggu wanita, apakah engkau tidak malu?"

Siangkoan Bhok menjadi marah.

"Thian Tok, engkau selamanya memang seorang usil. Hari ini aku akan memecahkan kepalamu yang besar!"

Sambil berkata demikian Siangkoan Bhok menggerakkan dayung bajanya yang menyambar ke arah kepala bulat dari kakek itu.

Thian-tok Gu Kiat Seng tertawa dan begitu menundukkan kepalanya, dayung baja itu bersuitar lewat di atas kepala.

Dia lalu menggerakkan kebutannya yang menyambar ke arah dada Siangkoan Bhok.

Biarpun yang menyerangnya hanya menggunakan sebuah kebutan yang ekornya lemas, akan tetapi Siangkoan Bhok maklum betapa lihainya kebutan itu, maka dia pun melompat ke belakang untuk mengelak.

Dengan marah akan tetapi juga waspada karena maklum akan kelihaian lawannya, Siangkoan Bhok menyerang lagi dengan amat dahsyatnya.

Akan tetapi biarpun tubuhnya pendek gendut, gerakan Thian-tok ternyata amat gesitnya dan tubuh itu mengelak ke sana sini dengan lucu.

Juga kebutannya menyambar-nyambar ke arah bagian tubuh yang berbahaya dengan totokan-totokan maut.

Saking bernafsunya untuk merobohkan lawan, Siangkoan Bhok menyerang lagi dengan ganas, dayung bajanya menyambar ke arah dada lawan.

Thian-tok menyambut dayung itu dengan kebutannya.

Ekor kebutan yang berwarna putih itu melibat dayung dan kakek gendut itu bergerak maju.

Pada saat itu, Siangkoan Bhok melepaskan tangan kanannya dari dayungnya dan mengirim pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) ke arah dada Thian-tok!

Sebagai seorang ahli racun yang dijuluki Racun Langit, tentu saja Thian-tok mengenal pukulan yang amat berbahaya itu.

Dia tidak mengelak, kebutannya masih membelit dayung dan dia menggunakan tangan kirinya untuk memapaki pukulan tangan kosong itu sambil tubuhnya merendah setengah mendekam dan dari perutnya keluar suara kuk-kuk-kuk ketika tangan kirinya didorongkan dengan jari tangan terbuka ke arah tangan Siangkoan Bhok yang memukul.

"Wuuuuttt.... desss!"

Kedua tangan yang mengandung hawa beracun yang amat ampuh itu bertemu di udara dan akhirnya, tubuh kedua orang datuk itu terjengkang.

Akan tetapi keduanya dapat berdiri lagi dan sudah saling terjang lagi dengan ganas.

Ternyata dalam tenaga beracun keduanya juga seimbang sehingga mereka kini bertanding lebih hati-hati lagi.

Sementara itu, pertandingan antara Siangkoan Tek dan Ceng Ceng juga berlangsung seru.

Siangkoan Tek juga tidak berani main-main karena kebutan di tangan gadis itu dapat menyerangnya dengan totokan-totokan yang amat berbahaya.

Dia memutar pedangnya dan mainkan ilmu pedang kui-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Iblis).

Setelah bertanding selama puluhan jurus mulailah Ceng Ceng terdesak.

Biarpun dalam ilmu silat ia tidak kalah lihai, namun dibandingkan Siangkoan Tek ia masih kalah dalarn pengalaman bertanding dan perlahan-lahan ia mulai terdesak mundur.

Pada saat itu tiba-tiba sesosok bayangan hitam berkelebat ke arah tubuh Lee Cin yang masih menggeletak di situ, bayangan itu menyambar pedang Ang-coa-kiam milik Lee Cin yang tadi terpukul jatuh, kemudian dia memondong tubuh Lee Cin dan dibawa pergi dengan cepat sekali.

"Heiii......!"

Siangkoan Tek yang melihat ini cepat mengejar, akan tetapi kebutan di tangan Ceng Ceng menyambar ke arah dadanya dan hampir saja dia tertotok.

Terpaksa dia lalu rnenghadapi Ceng Ceng lagi, juga orang berkedok hitam yang membawa pergi Lee Cin sudah lenyap di antara pohon-pohon.

Kembali dia mengamuk dan Ceng Ceng terdesak mundur.

Tiba-tiba nampak bayangan biru berkelebat dan terdengar bentakan.

"Tahan!"

Seorang pemuda berpakaian serba biru sudah muncul dan dengan pedangnya dia menahan pedang Siangkoan Tek yang mendesak Ceng Ceng.

"Tranggg......!"

Kedua pedang bertemu dan Siangkoan Tek merasa tangannya tergetar, tanda bahwa pemuda baju biru itu memiliki tenaga sinkang yang kuat.

"Kenapa engkau menyerang nona ini?"

Tanya pemuda itu yang bukan lain adalah Thio Hui San, murid In-kong Taisu dari Siauw-lim-pai.

Siangkoan Tek sudah menjadi marah sekali.

Pemuda ini mengandalkan ayahnya, maka dia tidak takut kepada pemuda itu.

"Jahanam, perlu apa engkau mencampuri urusanku?"

Bentaknya. Thio Hui San yang dimaki tersenyum.

"Dari makian ini saja aku dapat mengerti bahwa tentu engkau yang berada di pihak bersalah."

"Mampuslah kau!"

Siangkoan Tek membentak dan pedangnya menyambar.

Akan tetapi Hui San menangkis dan kedua orang pemuda itu sudah saling serang dengan seru.

Melihat pemuda baju biru itu datang menolongnya, Ceng Ceng juga lalu membantunya mengeroyok Siangkoan Tek!

Siangkoan Tek menjadi bingung.

Baru menghadapi pemuda baju biru saja dia sudah harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, kini dikeroyok oleh Ceng Ceng yang tidak boleh dipandang rendah.

Dia segera terdesak ke belakang dan mulailah pemuda ini berteiak-teriak.

"Ayah, Ayah..... bantu aku......!!"

Diam-diam Siangkoan Bhok kesal sekali melihat ulah puteranya yang sama sekali tidak menunjukkan kegagahan.

Dia sendiri juga masih amat sukar untuk mengalahkan Thian-tok, bagaimana harus membantu puteranya yang jelas terdesak oleh dua orang lawannya?

Jalan satu-satunya agar tidak kehilangan muka hanya melarikan diri.

"Thian-tok, cukup sekian dulu, lain kali kita lanjutkan. Siangkoan Tek mari kita pergi!"

Katanya.

Mendengar ini, maklumlah Siangkoan Tek bahwa ayahnya tidak dapat membantunya dan menganjurkan agar melarikan diri.

Maka dia pun rnenyerang dengan ganas sehingga dua orang pengeroyoknya melompat ke belakang dan rnenggunakan kesempatan ini, dia pun meloncat jauh mengejar ayahnya.

"Sudah, jangan kejar mereka, berbahaya,"

Kata Thian-tok sambil tertawa rnelihat muridnya dan pemuda berpakaian biru itu hendak melakukan pengejaran.

"Orang muda, siapakah engkau yang telah membantu muridku Ceng Ceng?"

Thio Hui San cepat mernberi hormat kepada kakek gendut pendek itu.

Tadi dia rnelihat kakek ini menandingi Siangkoan Bhok.

Sebagai seorang pemuda yang sudah banyak pengalamannya, dia mengenal Siangkoan Bhok akan tetapi tidak mengenal kakek ini.

Dia mengingat-ingat siapa kiranya tokoh dunia kang-ouw yang bertubuh seperti ini.

Akhirnya dia teringat.

Kakek cebol gendut yang bersenjatakan kebutan bulu putih.

"Saya Thio Hui San memberi hormat kepada Locianpwe Thian-tok."

Thian-tok tertawa bergelak sambil memegangi perutnya yang terguncang.

"Ah, ternyata selain lihai engkau pun berpemandangan tajam. Aku memang Thian-tok Gu Kiat Seng. Kami bersukur bahwa engkau telah membantu muridku yang telah terdesak oleh Siangkoan Tek yang jahat. Akan tetapi, siapakah orang berkedok hitam yang tadi melarikan gadis itu? Apakah dia temanmu?"

"Orang berkedok hitam? Siapakah, Locianpwe? Saya tidak melihatnya,"

Kata Hui San heran.

"Ah, celaka kalau begitu. Gadis itu telah dibawa lari orang yang tidak kita ketahui siapa. Akan tetapi kalau orang itu melarikannya, tidak membunuhnya, barang kali gadis itu masih dapat menyelamatkan diri. Ia seorang gadis pemberani yang lihai. Thio Hui San, aku melihat ilmu pedangmu tadi, bukankah engkau seorang murid Siauw-lim-pai?"

"Pandangan Locianpwe amat tajam, membuat saya kagum sekali. Memang sesungguhnyalah, Locianpwe, saya adalah seorang murid Siauw-lim-pai."

"Hemm, bagus. Siapakah gurumu, atau, tidak bolehkah aku mengetahuinya?"

"Tidak ada rahasia dalam perguruan. kami, Locianpwe. Guru saya adalah In Kong Taisu."

"Siancai.....! Jadi engkau murid In Kong Taisu? Pantas ilmu pedangmu hebat. Akan tetapi, bagaimana engkau yang tidak kami kenal langsung saja membantu kami? Engkau tidak tahu siapa yang bersalah di antara kami tadi."

"Locianpwe, saya sudah mengenal Siangkoan Bhok dan orang macam apa adanya dia. Maka, saya langsung membantu Nona yang saya lihat sudah terdesak dan terancam."

Hui San memandang kepada Ceng Ceng dan kebetulan gadis itu juga sedang memandang kepadanya.

Dua mata bertemu pandang, dua buah hati berdetak lebih keras dari biasanya dan Ceng Ceng segera menundukkan mukanya dengan malu-malu.

Melihat ini Thian-tok tertawa bergelak.

"Ha-ha-hay, Thio Hui San, perkenalkan, ini adalah muridku bernama Lui Ceng atau biasa dipanggil Ceng Ceng. Ceng Ceng, haturkan terima kasih kepada Thio Hui San. Kalau dia tidak segera datang menolong, entah bagaimana jadinya dengan kita."

Ceng Ceng mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat, yang segera dibalas oleh Hui San. Sambil tersenyum malu Ceng Ceng berkata.

"Taihiap, banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi."

"Ah, Nona. Harap jangan menyebut aku taihiap (pendekar besar), membuat aku merasa malu saja."

Kembali Thian-tok tertawa.

"Ha-ha-ha, kalian dua orang muda bicaralah aku harus memulihkan tenagaku. Siangkoan Bhok setan tua itu sungguh lihai dan menguras tenagaku."

Setelah berkata demikian, Thian-tok lalu pergi ke sebuah batu besar tak jauh dari situ dan naik ke atas batu, lalu duduk bersila menghimpun hawa murni.

"Nona Liu, sekali lagi, jangan menyebut aku dengan sebutan taihiap. Sebutan itu terlalu tingg bagiku, padahal ilmu kepandaianku tidaklah ada artinya dibandingkan dengan kesaktian gurumu."

"Habis, aku harus menyebutmu apa, Thio-taihiap, sedangkan engkau juga menyebutku nona,"

Jawab Ceng Ceng dengan kedua pipi kemerahan.

Hui San terpesona.

Pemuda ini tidak mudah tertarik oleh wanita.

Selama hidupnya baru satu kali dia tertarik, bahkan jatuh cinta kepada wanita, yaitu kepada Lee Cin.

Akan tetapi setelah tahu bahwa Lee Cin tidak menanggapi cintanya, dia pun mundur dan tidak begitu mengharapkan lagi.

Kini, untuk kedua kalinya dia terpesona oleh budi halus dan kecantikan wanita.

Dalam pandangannya, Ceng Ceng adalah seorang gadis yang gagah perkasa, akan tetapi yang memiliki sikap lemah lembut keibuan.

Mendengar jawaban Ceng Ceng, Hui San memandang tajam lalu tersenyum dan menjawab.

"Kita telah bertemu dan berkenalan dan engkau bersama gurumu bersikap demikian baik dan bersahabat, apa salahnya kalau kita menjadi sahabat baik? Agar tidak canggung, bagaimana kalau selanjutnya aku menyebutmu moi-moi saja dan engkau menyebutku koko? Bagaimana juga, aku jauh lebih tua darimu. Bagaimana pendapatmu, Ceng-moi (Adik Ceng)?"

Ceng Ceng tersenyum.

Pemuda yang dihadapinya itu demikian sopan clan halus, ucapannya demikian lembut dan sama sekali tidak ada kesan kurang ajar, melainkan bersahabat.

Ia merasa senang sekali berkenalan dengan pemuda murid Siauw-lim-pai yang tangguh ini.

"Aku senang sekali, San-ko (Kakak San),"

Katanya dengan senyum malu-malu.

Ceng Ceng adalah seorang gadis pingitan.

Ketika ia masih ikut dengan pamannya, Souw Can, ia jarang keluar rumah dan tidak pernah bergaul, apalagi dengan pria, maka ia merasa malu-malu.

Satu-satunya pria yang pernah dikenalnya dengan baik adalah Lai Siong Ek, suhengnya.

Akan tetapi Siong Ek sering kali bersikap tidak wajar kepadanya, bahkan kalau rnereka sedang berdua, Siong Ek suka menggodanya dengan kata-kata nakal."

Maka, berlemu dengan Hui San yang sopan dan lembut, ia merasa tertarik sekali.

Apalagi baru saja ia mendapat pertolongan pemuda itu.

Kalau pemuda itu tidak datang menolong, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Siangkoan Tek itu terlalu lihai baginya dan suhunya juga tidak dapat menolongnya karena suhunya sedang bertanding dengan seru melawan kakek bersenjata dayung baja itu.

"Ceng-moi, sebetulnya apakah yang terjadi. Kenapa engkau dapat bertanding dengan Siangkoan Tek itu, dan kenapa pula gurumu bertanding dengan Siangkoan Bhok?"

"Kebetulan saja Suhu dan aku lewat di sini ketika kami melihat mereka berdua menawan seorang gadis cantik. Begitu melihat pemuda itu, aku segera mengenalnya karena aku pernah bentrok dengan Siangkoan Tek itu. Maka aku segera berusaha menolong gadis itu dan menyerang Siangkoan Tek, sedangkan Suhu menyerang kakek berdayung baja yang ternyata adalah ayah dari Siangkoan Tek. Kami bertanding mati-matian dan sebelum engkau muncul, aku sudah terdesak hebat oleh Siangkoan Tek yang lihai dan jahat."

"Hemm, dan di mana gadis yang ditawan mereka itu? Apakah benar dia dibawa lari seorang yang berkedok hitam?"

"Begitulah, aku terdesak hebat oleh Siangkoan Tek sehingga tidak begitu memperhatikan. Aku hanya melihat seorang yang berpakaian dan berkedok hitam, berkelebat cepat dan membawa pergi nona tawanan itu."

"Apakah engkau tahu siapa gadis itu, Ceng-moi7 Mengapa ia ditangkap Siangkoan Tek dan ayahnya? Dan siapa pula Si Kedok Hitam itu?"

"Aku tidak tahu, San-ko. Juga Suhu tidak tahu. Akan tetapi Suhu dan aku sempat melihat betapa gadis itu dikeroyok ayah dan anak yang jahat itu, kemudian tertawan oleh mereka. Gadis itu memiliki kepandaian hebat, akan tetapi karena dikeroyok dua, akhirnya ia tertawan."

Mereka berhenti bicara dan ketika keduanya saling pandang, kembali jantung mereka berdebar kencang dan Ceng Ceng segera menundukkan pandang matanya.

Hui San juga menjadi salah tingkah dan untuk meredakan debar jantungnya, dia bertanya, '"Ceng-rnoi, kalau boleh aku bertanya, siapakah kedua orang tuamu dan di manakah engkau tinggal?"

Pertanyaan itu seperti mencairkan kebekuan yang timbul karena rasa malu dan canggung. Akan tetapi jawaban Ceng Ceng terdengar mengandung kedukaan.

"Aku..... aku tidak mempunyai ayah dan ibu lagi, San-ko. Aku adalah seorang yatim piatu yang ditinggal mati kedua orang tuaku sejak aku masih kecil."

"Hemm, kalau begitu sejak kecil engkau ikut gurumu?"

"Tidak, San-ko. Baru dua tahun aku mengikuti guruku belajar ilmu, tadinya aku ikut menumpang di rumah pamanku yang tinggal di Pao-ting. Baru setelah bertemu dengan Suhu, aku memperdalam ilmu silat dan ikut Suhu merantau."

"Ah, kasihan sekali engkau, Ceng-moi. Riwayatmu penuh duka."

Ceng Ceng tersenyum.

"Akan tetapi aku tidak merasa berduka lagi, San-ko. Aku merasa bahagia dapat belajar ilmu dari Suhu. Akan tetapi kenapa sejak tadi hanya bicara tentang diriku saja. Bagaimana dengan engkau, San-ko? Dari mana engkau berasal dan siapa orang tuamu?"

Ceng Ceng bertanya sambil menatap tajam wajah pemuda yang jangkung, gagah dan tampan itu. Hui San menarik napas panjang, akan tetapi dia masih tersenyum sambil menatap wajah yang cantik jelita itu.

"Riwayatku tidak jauh bedanya dengan riwayatmu, Ceng-moi. Aku pun yatim piatu sejak kecil dan sejak aku masih kecil aku sudah tinggal di dalam kuil Siauw-lim-si dan akhirnya menjadi murid Suhu. Aku mempelajari ilmu silat dan juga sastra dari para suhu di Siauw-lim-pai dan aku sering melaksanakan tugas yang diberikan oleh Suhu."

"Ah, kasihan juga engkau, San-ko. Kenapa hidup ini hanya membawa duka saja. Di mana-mana aku bertemu dengan orang-orang yang tidak bahagia hidupnya. Jadi engkau bertempat tinggal di kuil Siauw-lim-si? Di manakah kuil Siauw-lim-si yang tersohor itu, San-ko?"

"Pusat kuil Siauw-lim-si berada di kaki Gunung Sung-san, di Propinsi Ho-nan. Akan tetapi aku tinggal di kuil yang berada di Kwi-cu, sebuah kuil yang merupakan cabang dari Siauw-lim-si dan guruku, In Kong Taisu, menjadi ketua di sana. Aku tinggal di sana, akan tetapi aku lebih banyak berada di luar kuil karena banyak melaksanakan tugas yang diberikan Suhu. Sekarang pun aku sedang melaksanakan tugas untuk menyebar undangan kepada para tokoh kang-ouw dan perkumpulan-perkumpulan persilatan yang ternama."

"Apakah Siauw-lim-pai hendak mengadakan pesta maka menyebar undangan, San-ko?"

"Bukan Siauw-lim-pai yang mengadakan pesta, akan tetapi Siauw-lim-pai merupakan satu di antara pimpinan bengcu kami. Kami mengundang para ahli silat di dunia kang-ouw untuk nanti pada tanggal satu bulan lima agar mereka berkunjung ke Hong-san di mana akan diadakan pertemuan besar dan penting untuk membicarakan urusan di dunia kang-ouw dan juga mengadakan pemilihan bengcu yang baru."

"Aih, menarik sekali!"

Kata Ceng Ceng.

"Apakah Suhu juga diundang? Aku akan merasa girang sekali kalau dapat ikut Suhu pergi ke sana!"

Ceng Ceng menoleh ke arah suhunya dan ia terbelalak.

"Eh, di mana Suhu?"

Hui San juga menoleh dan melihat ke arah batu di mana tadi kakek itu duduk bersila.

Akan tetapi kini kakek itu tidak tampak bayangannya lagi dan sudah pergi dari situ!

Kedua orang muda itu menjadi heran dan terkejut.

Mereka cepat melompat dan berlari ke arah batu itu dan di atas batu besar di mana Thian-tok tadi duduk terdapat coretan pada permukaan batu yang merupakan huruf-huruf yang cukup jelas.

Ceng Ceng, Engkau sudah cukup belajar, kita berpisah sekarang.

Jaga darimu baik-baik dan kalau engkau pergi ke Hong-san, mungkin kita dapat saling jumpa di sana."

Thian-tok.

"Ah, Suhu meninggalkan aku!"

Kata Ceng Ceng dengan sedih.

Ia tahu bahwa sekali waktu ia pasti akan harus berpisah dari gurunya, akan tetapi tidak seperti itu.

Suhunya meninggalkannya tanpa pamit!

Akan tetapi hatinya terhibur membaca kalimat terakhir.

Bulan lima tidak lama lagi dan kalau ia pergi ke Hong-san, menghadiri rapat itu, mungkin ia akan dapat berjumpa dengan gurunya.

"Suhumu seorang manusia yang luar biasa. Tidak mengherankan kalau dia memakai cara yang aneh untuk berpisah darimu, Ceng-moi."

"Aku..... aku merasa kehilangan sekali, San-ko. Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi dan selama ini aku menganggap Suhu sebagai pengganti orang tuaku. Kini dia pergi dan aku sebatang kara....."

"Bukankah suhumu mengatakan bahwa engkau akan dapat berjumpa dengannya di Hong-san? Kalau engkau pergi ke sana......"

"Akan tetapi aku bukan seorang yang diundang menghadiri rapat yang penting itu, San-ko."

"Mengapa tidak? Aku yang mengundangmu, mewakili guruku. Memang Suhu berpesan agar aku mengundang siapa saja yang pantas disebut sebagai pendekar atau tokoh kang-ouw. Dan engkau sudah pantas menjadi seorang pendekar wanita yang lihai, Ceng-moi."

"Akan tetapi aku belum pernah melakukan perjalanan jauh seorang diri. Sebelum ikut Suhu, aku selalu tinggal di rumah dan selama ini aku hanya ikut Suhu. Aku tidak tahu di mana Hong-san itu."

Hui San adalah seorang pemuda yang berpengalaman.

Tadinya dia pun merasa heran melihat cara Thian-tok meninggalkan muridnya begitu saja.

Akan tetapi di dalam hatinya dia merasa girang.

Thian-tok rneninggalkan murid perempuan itu setelah bertemu dengan dia.

Bukankah ini berarti bahwa datuk itu mengharapkan agar dia dapat menemani Ceng Ceng?

Kalau benar dugaannya, dia merasa bahagia sekali.

"Aku juga sedang pergi menuju ke Hong-san. Bagaimana kalau kita pergi bersama, Ceng-moi? Maafkan aku, tentu saja kalau engkau tidak merasa keberatan. Aku hanya mampir-mampir di sepanjang perjalanan ke Hong-san untuk memberikan undangan kepada para tokoh kang-ouw."

Ceng Ceng memandang dengan sinar mata menunjukkan kegembiraannya.

Biarpun baru saja berjumpa dan berkenalan, akan tetapi ia merasa seolah sudah lama mengenal pemuda ini dan sudah mengetahui wataknya yang sopan dan baik.

"Terima kasih, San-ko. Aku senang sekali kalau dapat melakukan perjalanan bersamamu, dapat menimba banyak pengalaman di dunia kang-ouw."

"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang, Ceng-moi. Matahari mulai condong ke barat dan kita harus tiba di suatu dusun atau kota sebelum malam tiba."

"Baik, San-ko. Mari kita berangkat."

Kedua orang muda itu lalu pergi menuju ke utara.

Entah siapa yang lebih bahagia di antara mereka.

Belum pernah kedua orang muda itu merasakan kebahagiaan seperti ini.

Bahkan Ceng Ceng sudah tidak lagi merasakan kepergian suhunya.

Padahal andaikata ia berjalan seorang diri, tentu ia akan merasa kehilangan dan kesepian sekali.

Memang besar sekali kekuasaan yang mencekam hati setiap orang manusia kalau dia sudah mulai tertarik kepada lawan jenisnya.

Segala sesuatu nampak indah.

Cuaca menjadi semakin cerah, pemandangan alam semakin indah, pohon-pohon tampak agung mengagumkan, terutama bunga-bunga tampak semakin jelita, kicau-kicau burung dan semua suara terdengar merdu.

Hidup menjadi begitu berarti, penuh dengan segala yang menyenangkan hati, dan inikah yang disebut kebahagiaan?

Kebahagiaan orang yang sedang jatuh cinta, tentunya.

oood_wooo Kita tinggalkan dua orang yang sedang berbunga-bunga hatinya itu dan kita ikuti perjalanan dua orang muda yang lain, yaitu Lee Cin dan Si Kedok Hitam yang memanggulnya dan membawanya pergi dari dalam hutan itu.

Lee Cin yang belum dapat bergerak tahu bahwa ia dibawa pergi oleh Si Kedok Hitam.

Berbagai perasaan memenuhi hatinya.

Ia merasa girang sekali bahwa ia ditolong lagi oleh Si Kedok Hitam, akan tetapi ia pun merasa penasaran mengapa Si Kedok Hitam tidak membebaskan totokan dari tubuhnya saja.

Ia perlu membantu gadis dan kakek pendek gendut yang menolongnya dan yang bertanding melawan Siangkoan Tek dan Siangkoan Bhok.

Tadinya ia diam saja, akan tetapi kemudian hatinya memberontak.

"Lepaskan aku......! Lepaskan......!"

Ia berseru.

Si Kedok Hitam sudah lari jauh dari tempat pertempuran tadi.

Mereka tiba di sebuah padang rumput dan mendengar teriakan itu, dia lalu menurunkan tubuh Lee Cin ke atas rumput, kemudian beberapa kali menotok jalan darah Lee Cin sehingga gadis itu mampu bergerak lagi.

Tanpa berkata-kata Si Kedok Hitam menjulurkan tangannya yang memegang pedang Ang-coa-kiam dan mengembalikannya kepada Lee Cin.

Gadis itu menyambar pedangnya dan segera meloncat berdiri hendak berlari.

"Hendak ke mana, Nona?"

Si Kedok Hitam bertanya.

"Tentu saja ke tempat tadi, ke mama lagi? Aku harus membantu mereka yang bertanding nnelawan Siangkoan Tek dan ayahnya!"

Setelah berkata demikian Lee Cin berlari cepat, diikuti oleh Si Kedok Hitam.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 11

Baca Juga: Jodoh Rajawali 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert