Eps 2 Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo
Baca online Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo
Cersil Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo.
"Enci...... apakah engkau...... seorang pendekar wanita?"
Siang Lan tersenyum. Bagus, pikirnya, gadis yang hancur hatinya itu mulai mau bicara, tanda bahwa ia mulai dapat menguasai perasaannya yang tertekan hebat.
"Entahlah, Adik Li Ai, aku ini pendekar wanita ataukah iblis wanita karena orang menyebut aku Hwe-thian Mo-li."
"Hwe-thian Mo-li? Aih, Enci, Ayah pernah menyebut namamu sebagai seorang di antara para pendekar yang membantu pemerintah membasmi Pek-lian-kauw!"
Setelah memasuki kota raja, hari telah menjelang senja.
Karena merasa sudah kuat berjalan dan merasa tidak enak kalau memasuki kota raja dilihat orang bahwa ia dipondong, Li Ai minta diturunkan dan mereka berdua lalu menuju ke gedung tempat tinggal Panglima Kui.
Setelah memasuki pekarangan, lima orang perajurit pengawal yang berjaga di situ memberi hormat kepada Li Ai, akan tetapi wajah mereka tampak muram.
Li Ai agaknya dapat melihat dan merasakan hal yang tidak wajar ini.
Biasanya para perajurit itu selain amat hormat, juga amat ramah kepadanya.
"Apa yang terjadi?"
Ia seolah bertanya kepada diri sendiri dan matanya memandang ke arah serambi depan rumahnya di mana terdapat banyak orang.
"Apa yang terjadi di sana?"
Kembali ia bertanya. Siang Lan merangkulnya.
"Adik Li Ai, bersikaplah tenang dan kuatkan hatimu......"
Suara pendekar yang gagah perkasa ini tersendat karena ia harus menahan keharuan hatinya.
"Apa......? Mengapa......?"
Li Ai seolah mendapatkan tenaga baru dan ia berlari ke arah serambi depan rumahnya.
Siang Lan cepat mengikutinya.
Setelah berada di ruangan terbuka di serambi itu, di mana terdapat banyak orang duduk diam, Li Ai melihat dengan mata terbelalak ke sebuah peti mati yang dipasang di tengah.
Wajahnya yang sudah pucat itu menjadi semakin pucat seperti kapur dan ia lari terhuyung-huyung menghampiri peti mati.
Ketika ia melihat nama ayahnya tertulis di depan peti mati, ia menjerit dan menubruk ke depan.
"Ayaaaaahhh......!"
Tubuh Li Ai terguling roboh dan tentu kepalanya akan terbentur pada peti mati kalau Siang Lan tidak cepat menyambar tubuhnya dan memeluk gadis yang sudah jatuh pingsan itu.
Siang Lan menoleh kepada beberapa orang wanita yang berkumpul dekat peti mati sambil menangis.
Melihat pakaian mereka, ia dapat menduga bahwa mereka adalah pelayan-pelayan di gedung panglima itu.
"Di mana kamar Nona Kui? Tolong antarkan aku ke sana,"
Kata Siang Lan dan pelayan tua itu lalu menunjukkan Siang Lan yang memondong tubuh Li Ai ke sebuah kamar.
Dalam kamar itu, Siang Lan merebahkan tubuh Li Ai ke atas pembaringan.
Dua orang pelayan yang agaknya menjadi pelayan pribadi Li Ai ikut masuk dan mereka menangisi nona majikan mereka.
"Siocia...... ahh, Siocia...... ia mengapa......?"
Tangis mereka.
"Harap kalian diam, biarkan aku menanganinya,"
Kata Siang Lan yang mengurut beberapa jalan darah di pusat-pusat jalan darah seperti di telapak tangan dekat ibu jari, di dekat siku dan di pangkal lengan.
Li Ai mengeluh lirih dan begitu membua matanya, ia menjerit.
"Ayaaah...... Ayahhh, kenapa Ayahku......? Kenapa ia, Enci? Kenapa Ayahku mati......?"
Tangisnya.
"Tenanglah, Adikku, tenanglah. Sudah kupesan tadi, kuatkan hatimu, Adik Li Ai......"
Siang Lan menghibur dengan hati terharu.
"...... Enci...... engkau sudah tahu......?"
Ketika Siang Lan mengangguk, ia melanjutkan.
"......mengapa engkau tidak memberitahu padaku tadi......?"
"Hatimu sedang sedih, aku tidak menambahkan kesedihanmu lagi. Biar engkau melihat sendiri......"
Kata Siang Lan terharu.
"Ayaaahhh......!"
Li Ai bangkit, turun dari pembaringan dan berlari lagi. Dua orang pembantunya sambil menangis mencoba untuk menghalanginya.
"Siocia...... Siocia sebaiknya beristirahat di sini saja......"
Akan tetapi Siang Lan mencegah mereka.
"Biarlah ia menumpahkan kedukaannya."
Dan ia sendiri lalu mengikuti Li Ai untuk menjaga hal-hal yang tidak baik.
Li Ai berlari terhuyung menuju ke serambi depan dan sambil menjerit-jerit dan menangis mengguguk ia berlutut di depan peti mati ayahnya.
Semua orang yang berada di situ menjadi terharu dan semua wanita yang melayat, juga para pembantu rumah tangga, ikut pula menangis.
Para tamu laki-laki hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas panjang dengan wajah muram.
Tiba-tiba dari dalam keluar seorang wanita berusia tigapuluh tahun lebih yang mengenakan pakaian berkabung namun rambutnya tersisir rapi dan mukanya yang cukup cantik itu masih dipulas bedak dan gincu, suatu hal yang sebetulnya tidak lajim bagi keluarga yang berkabung.
Agaknya wanita itu keluar karena tertarik oleh suara tangis dan jeritan Li Ai.
Ia menghampiri dan sambil berdiri, memandang kepada Li Ai yang berlutut sambil menangis itu, alisnya berkerut tanda tak senang dan begitu tangis Li Ai mereda, ia berkata dengan suara lantang.
"Li Ai, engkau baru pulang?"
Li Ai mengangkat muka memandang kepada wanita itu lalu ia berseru.
"Ibuuu......!"
Akan tetapi tiba-tiba wanita yang ternyata adalah isteri Pangeran Kui itu berkata dengan sikap dingin dan galak.
"Hemm, untuk apa kautangisi Ayahmu? Kau tahu, Ayahmu mati karena engkau! Engkau anak put-hauw (tidak berbakti), anak durhaka, belum dapat membalas budi orang tua, malah menjadi penyebab kematian Ayahmu!!"
Li Ai terbelalak mendengar ini, lalu ia menjerit panjang dan terkulai lemas dalam rangkulan Siang Lan yang cepat menangkap tubuhnya.
Ia pingsan lagi!
Siang Lan menjadi marah bukan main.
Setelah merebahkan tubuh yang lemas pingsan itu di lantai, ia bangkit berdiri dan sekali tangannya bergerak, ia telah menotok pundak kiri Nyonya Kui.
Nyonya itu menjerit-jerit karena tiba-tiba merasa tubuhnya nyeri semua, panas seperti terbakar dari dalam.
"Auuuuww...... aduuuhhh...... aduuhhhh...... ia...... ia memukulku......! Pengawal, tangkap perempuan jahat ini......!!"
Lima orang pengawal maju, akan tetapi cepat Siang Lan menggunakan tangan kiri menjambak rambut Nyonya Kui dan mencabut pedang yang ia tempelkan ke leher nyonya itu.
"Siapa yang maju akan kubunuh semua setelah lebih dulu kusembelih leher perempuan ini!"
Ia mengancam dan lima orang perajurit itu mundur ketakutan. Siang Lan menotok pundak itu dan membebaskan totokannya, lalu membentak.
"Perempuan bermulut lancang dan jahat, siapa engkau berani bicara seperti tadi kepada Nona Kui Li Ai?"
"Aku...... aku isteri Panglima Kui......!"
Nyonya Kui mencoba untuk bersikap galak berwibawa setelah tidak merasa kesakitan lagi. Tangan kiri Siang Lan memperkuat jambakannya sehingga nyonya itu meringis.
"Tak mungkin engkau ibu Adik Ai!"
"Aku...... aku Ibu tirinya......"
"Pantas! Engkau Ibu tiri keparat!"
Siang Lan memaki dan memperkuat lagi jambakannya sehingga wanita itu semakin kesakitan.
Para tamu itu ada yang berpangkat panglima, rekan mendiang Panglima Kui.
Seorang dari mereka maju dan berkata kepada Siang Lan dengan sikap hormat.
"Kalau kami tidak salah sangka, tentu Nona Hwe-thian Mo-li, bukan? Kami dulu membantu Kui Ciang-kun ketika menangkap para tokoh Pek-lian-kauw dan kami mengenal Nona."
Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mengangguk.
"Benar, aku Hwe-thian Mo-li dan aku mengantarkan Adik Li Ai pulang setelah kubunuh dua orang di antara tiga orang tahanan yang dibebaskan. Adik Li Ai menderita setelah ditawan penjahat dan kini kematian Ayah kandungnya. Kenapa perempuan cerewet jahat ini malah memaki dan memarahinya? He, perempuan busuk, apa engkau sudah bosan hidup? Aku akan membunuhmu agar rohmu menghadap dan mohon ampun kepada Kui Ciang-kun atas kejahatan mulutmu terhadap Adik Li Ai!"
Setelah berkata demikian, Siang Lan menempelkan pedangnya semakin ketat di leher Nyonya Kui.
Wanita itu menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil dan ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Siang Lan, membentur-benturkan dahinya di lantai dan berkata dengan suara terputus-putus.
"Ampunkan saya...... ampunkan saya...... karena terlalu sedih saya memarahi Li Ai...... ampuni saya, Li-hiap........"
Ia meratap dengan tubuh menggigil dan tanpa ia sadari saking takutnya, lantai di bawah tubuhnya menjadi basah karena ia terkencing-kencing saking ngerinya!
Siang Lan membalikkan tubuhnya, mengangkat tubuh Li Ai yang masih pingsan dan membawanya kembali ke dalam kamar gadis itu.
Ia merawat Li Ai sehingga gadis itu siuman kembali, lalu menghiburnya.
Dua orang pembantu pribadi Li Ai membantunya dan mereka segera mempersiapkan pakaian pengganti untuk Li Ai.
Setelah Li Ai tenang kembali, Siang Lan membujuknya agar mandi dan berganti pakaian bersih.
Lalu mengajaknya makan yang telah dihidangkan oleh dua orang pelayan itu.
"Makanlah, Adik Li Ai, mari kutemani. Ingat kesehatanmu dan sadarlah bahwa semua yang telah terjadi tidak cukup untuk ditangisi saja. Kalau engkau merasa sakit hati, engkau harus tetap hidup sehat agar dapat melampiaskan dendam sakit hatimu kepada mereka yang telah membuat engkau menderita."
"Enci aku seorang gadis lemah bagaimana mungkin dapat membalas dendam kepada tokoh Pek-lian-kauw yang menculikku? Sedangkan Ayahku saja tidak berdaya ketika aku diculik. Orang-orang Pek-lian-kauw amat lihai. Kalau aku memiliki kepandaian seperti engkau........"
"Jangan khawatir, aku akan mengajarimu ilmu silat."
"Benarkah, Enci?"
Terhibur juga perasaan hati Li Ai mendengar ini dan ia mau diajak makan.
Setelah Li Ai tenang kembali dan dihibur oleh Siang Lan yang merasa dekat dengan gadis itu karena senasib, gadis itu lalu keluar bersama Siang Lan untuk melakukan upacara sembahyang di depan peti jenazah ayahnya.
Ia tidak menangis dengan suara lagi, hanya air matanya saja menetes-netes ketika bersembahyang.
Nyonya Kui tidak tampak karena setelah peristiwa tadi ia bersembunyi di dalam kamarnya.
Setelah melakukan upacara sembahyang, Siang Lan mengajak Li Ai kembali ke dalam kamarnya.
"Adik Li Ai, sekarang engkau telah kembali ke rumahmu dengan selamat. Aku pamit hendak melanjutkan perjalanan,"
Kata Siang Lan. Li Ai terkejut, bangkit berdiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Hwe-thian Mo-li.
"Enci, jangan tinggalkan aku......!"
Katanya sambil merangkul kedua kaki Siang Lan.
"Aku tidak mau tinggal di rumah ini, tidak mau hidup bersama ibu tiri yang membenciku."
Siang Lan mengangkat bangun gadis itu dan menyuruhnya duduk kembali.
"Jangan begini, Adik Li Ai. Mari kita bicara baik-baik. Kalau engkau tidak mau tinggal di sini, lalu bagaimana? Jangan khawatir kepada ibu tirimu, aku sebelum pergi akan mengancamnya bahwa kalau ia berani mengganggumu, aku akan datang memenggal kepalanya!"
"Tidak, Enci, biarpun begitu tetap saja aku akan hidup menderita di sini. Bahkan keadaanku...... sudah begini...... kalau sampai diketahui orang, aku akan semakin dihina dan dicemooh orang. Jangan tinggalkan aku, Enci. Kalau kautinggalkan, kukira...... lebih baik aku bunuh diri daripada hidup menanggung aib dan malu. Aku ingin ikut denganmu, Enci, biar aku menjadi saudaramu, atau sahabatmu, atau...... pembantumu. Aku mau mengerjakan apapun juga untukmu asal boleh ikut denganmu. Ingat, engkau hendak mengajarkan ilmu silat padaku seperti janjimu!"
Siang Lan tersenyum.
"Ikut dengan aku? Li Ai, engkau seorang gadis bangsawan, puteri seorang panglima. Bagaimana hendak ikut aku, seorang petualang yang memiliki jalan hidup penuh kekerasan? Apakah tidak lebih baik, kalau engkau tidak mau tinggal bersama Ibu engkau ikut dengan keluarga ayahmu? Engkau tentu mempunyai Paman atau Bibi, saudara Ayahmu."
"Tidak, Enci. Aku tidak mau tinggal bersama mereka. Aku seorang gadis yatim piatu, sudah kotor ternoda pula, tercemar, aku malu, Enci, aku merasa rendah dan tidak sanggup menghadapi mereka. Kalau engkau kelak mengetahui....... ah, betapa akan malunya aku! Enci, biarlah aku ikut denganmu!"
Air mata menetes-netes dari sepasang mata yang sudah merah dan membengkak itu karena terlalu banyak menangis.
Siang Lan merasa terharu sekali.
Ia dapat mengerti bahwa kalau ia memaksakan pendiriannya meninggalkan gadis ini, besar sekali kemungkinannya, Li Ai akan bunuh diri!
"Baiklah, Li Ai.
Akan tetapi sebagai puteri Ayahmu, engkau tidak boleh pergi sebelum jenazah Ayahmu dimakamkan dengan baik.
Aku akan pergi dulu mengunjungi seorang sahabat baikku dan kau tinggal di sini sampai jenazah Ayah dimakamkan."
"Enci, malam-malam begini engkau hendak pergi? Apakah tidak lebih baik besok pagi saja?"
Siang Lan mengangguk.
Benar juga tidak baik rasanya mengunjungi Ong Lian Hong di rumah Jaksa Ciok Gun malam-malam begini.
Malam itu ia tidur bersama Li Ai dan kesempatan itu mereka pergunakan untuk saling mengenal lebih akrab.
"Enci, bolehkah aku mengetahui siapa namamu yang sebenarnya? Sungguh aku merasa tidak enak kalau harus menyebutmu Enci Hwe-thian Mo-li, terutama sebutan Mo-li (Iblis Betina) itu! Bagiku engkau seorang dewi penolong, Enci, sama sekali bukan Mo-li!"
Dalam percakapan mereka itu Li Ai berkata hati-hati agar tidak menyinggung penolongnya yang terkadang bersikap amat ganas. Siang Lan menghela napas panjang.
"Li Ai, yang menyebut aku Iblis Betina adalah golongan sesat karena aku selalu bersikap keras terhadap mereka. Terhadap orang-orang jahat seperti dua orang tosu yang menghinamu itu aku tak pernah memberi ampun. Karena itu mungkin aku dijuluki Hwe-thian Mo-li. Akan tetapi aku tidak peduli. Lebih baik disebut Mo-li akan tetapi membela orang tertindas dan menentang kejahatan daripada disebut Dewi akan tetapi hidupnya bergelimang perbuatan jahat, bukan?"
"Engkau benar, Enci. Akan tetapi aku ingin mengetahui namamu yang sebenarnya. Engkau tentu memiliki she (marga) dan nama bukan? Siapa pula Gurumu? Maukah engkau menceritakan tentang riwayatmu, orang tuamu, sanak keluargamu dan sahabat baikmu yang akan kau kunjungi besok?"
"Baiklah, Li Ai. Karena engkau sudah mengambil keputusan untuk ikut denganku, engkau berhak mengetahuinya. Akan tetapi sebelumnya, engkau harus berjanji tidak akan memperkenalkan atau menyebut namaku di depan orang lain. Bagi orang lain aku ingin dikenal sebagai Hwe-thian Mo-li saja."
"Baik, Enci. Aku berjanji."
"Aku adalah seorang yatim piatu. Ayah Ibuku meninggal dunia ketika aku masih kecil. Namaku adalah Nyo Siang Lan."
"Sejak berusia sepuluh tahun aku di rawat dan dididik oleh mendiang Guruku yaitu Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu. Guruku mempunyai seorang puteri bernama Ong Lian Hong yang selain menjadi adik seperguruan, juga menjadi sahabat baikku. Suhu tewas dibunuh lima orang. Aku dan Adik Ong Lian Hong berhasil membalas dendam kematian Suhu. Sekarang Su-moi Ong Lian Hong tinggal di kota raja, ia bertunangan, mungkin sekarang sudah menikah, dengan Sim Tek Kun, putera Pangeran Sim Liok Ong......"
"Ah, aku sudah mendengar, Enci Siang Lan......!"
"Huss!"
Siang Lan memotong.
"Di sini jangan sebut namaku, aku tidak ingin terdengar orang lain. Engkau telah mendengar apa, Li Ai?"
"Aku sudah mendengar bahwa Sim Kongcu, putera Pangeran Sim yang terkenal itu menikah dengan seorang gadis yang lihai ilmu silatnya! Kalau tidak salah dengar, ia itu cucu Jaksa Ciok Gun, bukan?"
"Benar sekali! Sumoi Ong Lian Hong adalah cucu Jaksa Ciok. Ibunya puteri Jaksa Ciok dan ayahnya adalah mendiang Suhu Ong Han Cu. Ah, jadi mereka sudah menikah?"
Siang Lan termenung, merasa betapa hatinya hampa dan kering.
"Hemm, tahukah engkau di mana sekarang Sumoi tinggal?"
"Yang kudengar, sebagai mantu Pangeran Sim tentu saja ia tinggal bersama suaminya di rumah mertuanya itu. Pernikahan mereka menjadi buah bibir masyarakat yang mengagumi mereka, Enci, karena pengantin pria yang tampan, pengantin wanita cantik jelita dan keduanya merupakan pendekar-pendekar yang amat lihai. Begitu yang kudengar dibicarakan orang. Ayah juga bercerita banyak tentang mereka setelah pulang dari menghadiri perayaan pernikahan mereka."
Siang Lan semakin tenggelam ke dalam lamunannya.
Berbagai macam perasaan mengaduk hatinya.
Ada rasa girang dan bahagia membayangkan kebahagiaan Ong Lian Hong, sumoi yang dikasihinya itu, akan tetapi ada pula perasaan haru dan sedih mengingat akan keadaan dirinya sendiri yang sudah ternoda tanpa ia mampu membalas dendamnya kepada musuh besar itu.
Awas kamu, hatinya berteriak, akan tiba saatnya aku menghancurkan kepalamu dan membelah dadamu, Thian-te Mo-ong.
"Engkau kenapa, Enci?"
Li Ai bertanya melihat perubahan muka pendekar wanita itu.
"Ah, tidak apa-apa, Li Ai. Aku hanya berpikir bahwa sebaiknya aku tidak mengunjungi mereka dulu karena aku tidak sempat hadir dalam perayaan pernikahan mereka. Aku merasa malu dan bersalah bertemu mereka. Setelah Ayahmu diurus pemakamannya, kita pergi meninggalkan kota raja, kalau benar-benar sudah bulat tekadmu untuk ikut dengan aku."
"Tentu saja aku ikut denganmu, Enci, kemana pun engkau pergi. Akan tetapi kalau boleh aku bertanya, kenapa engkau tidak menghadiri pesta pernikahan Sumoimu itu?"
"Mereka tidak tahu aku berada di mana sehingga tidak dapat mengundangku dan aku pun tidak tahu kapan mereka menikah. Berbulan-bulan ini aku sibuk membenahi tempat tinggalku yang baru saja kudapatkan."
"Di mana itu, Enci?"
"Di Lembah Selaksa Bunga."
"Ah, alangkah indah nama itu."
"Tempatnya pun indah, terletak di bukit kecil. Lembah itu penuh dengan beraneka macam bunga, maka disebut Ban-hwa-san-kok (Lembah Bukit Selaksa Bunga) dan di sana aku memimpin perkumpulan wanita Ban-hwa-pang (Perkumpulan Selaksa Bunga)."
"Perkumpulan wanita, Enci? Anggautanya semua wanita?"
"Benar, semua wanita yang tidak berkeluarga, jumlah mereka ada tigapuluh lima orang. Baru beberapa bulan aku merampas Lembah Selaksa Bunga dari tangan orang-orang jahat."
"Ah, aku akan senang tinggal di sana dan belajar ilmu silat darimu, Enci!"
Siang Lan tinggal di gedung keluarga Kui itu sampai tiga hari lamanya. Setelah jenazah Kui Seng dimakamkan, ia mengajak Li Ai bercakap-cakap dalam kamarnya.
"Li Ai, engkau merupakan ahli waris tunggal dari mendiang Ayahmu. Biarpun ada Ibu tirimu, akan tetapi yang lebih berhak adalah engkau karena engkau puterinya dan Nyonya Kui itu hanya ibu tirimu. Maka engkaulah ahli-waris Ayahmu dan berhak menguasai semua harta ayahmu. Engkau di sini tinggal di rumah gedung dan memiliki harta yang banyak, sedangkan kalau engkau ikut denganku, engkau akan tinggal di sebuah bukit sunyi dan aku bukanlah orang kaya."
"Enci, apa maksudmu dengan kata-kata ini? Apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak jadi dan tidak ingin mengajakku?"
Tanya Li Ai dengan mata terbelalak penuh kegelisahan.
"Bukan begitu, Li Ai. Aku hanya sangsi apakah engkau akan betah tinggal di tempatku, meninggalkan semua kemewahan ini."
"Kenapa engkau masih merasa sangsi, enci? Bagaimanapun juga, aku tidak mau tinggal di sini bersama Ibu tiriku. Kalau andaikata engkau tidak mau mengajakku, aku pun pasti akan pergi meninggalkan rumah ini."
"Aku sama sekali tidak keberatan kalau engkau ikut aku, bahkan aku merasa senang. Baiklah, kalau engkau merelakan semua harta warisanmu terjatuh ke tangan Ibu tirimu yang sikapnya terhadapmu amat buruk itu. Kalau begitu, kemasi barangmu dan mari kita berangkat."
"Nanti dulu, Enci!"
"Ada apalagi, Li Ai?"
"Mendengar ucapanmu tadi, seperti dibangkitkan semangatku. Ibu tiriku memang selalu membenciku, biarpun hal itu ia sembunyikan dari mendiang Ayahku. Engkau benar, harta warisan Ayahku, tidak boleh semuanya jatuh ke tangannya. Biarlah gedung ini karena gedung ini merupakan pemberian pemerintah yang tentu akan diambil kembali. Akan tetapi uang Ayah, perhiasan peninggalan Ibu kandungku, semua itu harus kubawa. Tentu kita dapat mempergunakannya di Lembah Selaksa Bunga!"
"Hemm, terserah, bukan aku yang menyuruhmu, akan tetapi aku mendukungmu, Li Ai."
"Sebaiknya begitu, Enci, karena aku yakin Ibu tiriku tidak rela kalau aku membawa harta benda Ayah."
Li Ai lalu pergi ke kamar pribadi ayahnya, akan tetapi ternyata kamar itu terkunci.
"Hemm, kamar ini tentu dikunci oleh Ibu tiriku. Enci, kita dobrak saja pintunya."
"Jangan, Li Ai, lebih baik kita minta kunci itu dari Ibu tirimu. Engkau berhak memegang kunci itu."
Mereka lalu mencari Nyonya Kui yang berada di kamarnya sendiri.
Mereka melihat Nyonya Kui sedang bicara dengan seorang laki-laki setengah tua berpakaian perwira dan ketika dua orang gadis itu memasuki ruangan dalam, perwira itu buru-buru pergi meninggalkan ruangan.
Nyonya Kui bangkit berdiri dengan alis berkerut akan tetapi tampak jerih melihat Li Ai muncul bersama Hwe-thian Mo-li yang ia takuti.
"Ibu, aku ingin minta kunci kamar pribadi mendiang Ayahku,"
Kata Li Ai.
"Aku...... tidak tahu........"
Jawab Nyonya Kui dengan alis berkerut.
"Ibu, jangan berbohong. Hanya mendiang Ayah, engkau dan aku yang boleh membuka kamar itu, dan aku berhak untuk memasuki kamar Ayahku."
"Nyonya, harap engkau tidak membuat ulah, Kui Li Ai berhak atas rumah dan semua harta benda Ayahnya. Sebaiknya engkau serahkan kunci itu kepadanya agar aku tidak perlu menggunakan kekerasan untuk membela Adik Kui Li Ai!"
Kata Hwe-thian Mo-li.
Dengan jari-jari tangan gemetar wanita itu mengambil sebuah kunci dari balik ikat pinggangnya dan menyerahkannya kepada Li Ai dengan cemberut tanpa bicara apa pun.
Li Ai menerima kunci dan bersama Hwe-thian Mo-li lalu membuka pintu kamar mendiang Panglima Kui yang cukup luas itu.
Karena sudah mengetahui di mana ayahnya menyimpan harta benda berupa uang emas dan juga perhiasan yang dulu menjadi milik ibu kandungnya, maka langsung saja Li Ai menuju ke sebuah almari besar dan karena ia tidak menemukan kuncinya, ia minta kepada Siang Lan untuk membukanya dengan paksa.
Dengan mudah Siang Lan membuka pintu almari itu dan Li Ai lalu mengambil harta benda yang banyak dari almari, membungkusnya dengan kain.
Karena harta benda itu cukup banyak dan berat, maka Siang Lan membantu membawanya dengan menggantung bungkusan kain itu punggungnya.
Li Ai sendiri menggendong buntalan berisi pakaiannya.
Setelah itu mereka berdua keluar dari gedung tanpa pamit lagi kepada ibu tiri Li Ai.
Beberapa orang wanita pelayan yang setia dan sayang kepada gadis itu, sambil menangis mengikuti Li Ai sampai di luar gedung.
Li Ai memberi beberapa potong uang emas kepada mereka karena mereka menyatakan bahwa setelah Li Ai pergi, mereka pun akan meninggalkan gedung itu.
Nyonya Kui adalah seorang wanita yang galak dan membenci Li Ai sehingga para pelayan yang sayang kepada Li Ai juga ikut pula dibencinya.
Tadinya Siang Lan menduga bahwa mereka berdua akan menghadapi gangguan dan halangan keluar dari gedung itu.
Akan tetapi ternyata tidak terjadi sesuatu.
Mereka keluar dari gedung dan terus menuntun dua ekor kuda yang diambil oleh Li Ai dari dalam kandang kuda sampai ke jalan raya di depan gedung.
Mereka berdua menunggang kuda dan menjalankan kuda mereka perlahan-lahan keluar dari kota raja.
Ternyata bahwa biarpun Li Ai tidak pernah belajar ilmu silat secara mendalam, sebagai seorang puteri panglima ia cukup pandai dan sudah biasa menunggang kuda.
Akan tetapi, belum terlalu jauh mereka meninggalkan pintu gerbang kota raja dan tiba di jalan yang sepi, mereka melihat segerombolan orang berdiri menghadang di jalan.
Li Ai segera berkata kepada Siang Lan dengan lirih dan tampak gelisah.
"Enci, yang di depan itu adalah Perwira Can yang masih ada hubungan keluarga dengan Ibu tiriku. Mau apa mereka.....?"
"Biar aku yang menghadapi mereka!"
Kata Siang Lan tenang saja.
Ia juga mengenal perwira yang kini berpakaian preman itu karena dia adalah perwira yang tadi ia lihat sedang bercakap-cakap dengan Nyonya Kui dan segera pergi setelah ia dan Li Ai memasuki ruangan itu.
Perwira setengah tua itu bertubuh tinggi dan tampak kokoh kuat, juga sinar matanya yang tajam menunjukkan bahwa dia tentu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.
Yang berada di belakang Perwira Can adalah orang-orang yang dari sikapnya yang tegak dapat diduga bahwa merekapun tentu para perajurit yang berpakaian preman.
Biarpun mereka tidak mengenakan pakaian seragam perajurit, namun limabelas orang itu mempunyai golok yang sama dan sikap mereka adalah sikap orang-orang yang biasa berbaris dalam pasukan.
Setelah memberi isyarat kepada Li Ai untuk berhenti dan memegangi kendali kudanya sendiri, Siang Lan melompat turun dari atas punggung kuda dan melangkah menghampiri rombongan orang itu.
Dengan tenang ia berhadapan dengan Perwira Can dan berkata dengan suara tenang dan mengejek.
"Apakah kehendak kalian, belasan orang laki-laki menghadang perjalanan dua orang wanita?"
Perwira Can yang mempunyai sebatang pedang yang tergantung di pinggangnya, menjawab dengan suara galak.
"Kami tidak ingin mengganggu kalian berdua, hanya minta agar kalian menyerahkan harta benda yang kalian rampas dari dalam gedung Panglima Kui agar dapat kami serahkan kembali kepada keluarganya!"
Siang Lan tersenyum.
"Maksudmu diserahkan kepada keluargamu, yang menjadi isteri mendiang Panglima itu? Ketahuilah, harta itu menjadi hak milik Nona Kui Li Ai, maka ia membawanya pergi. Kami bukan merampas, akan tetapi kulihat kalian ini perajurit-perajurit yang agaknya ingin menjadi perampok! Perwira Can, kalau (Lanjut ke
Jilid 04) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 engkau masih ingin hidup, bawa pasukanmu pergi dan jangan ganggu kami!"
"Heh, Hwe-thian Mo-li, siapa tidak tahu bahwa engkau adalah seorang Iblis Betina yang jahat? Nona Kui Li Ai adalah seorang gadis bangsawan yang lembut, pasti engkau yang membujuknya untuk melarikan diri dan merampas harta benda keluarga Kui!"
Bentak perwira itu. Siang Lan marah sekali. Tanpa banyak cakap lagi ia sudah mencabut pedangnya dan menyerang perwira itu dengan gerakan cepat.
"Sing-tranggg......!"
Perwira Can juga sudah mencabut pedangnya dan menangkis. Ternyata perwira itu cukup tangguh dan Siang Lan segera dikepung dan dikeroyok belasan orang! "Kalian sudah bosan hidup!"
Bentaknya dan begitu ia mempercepat gerakan pedangnya, dua orang pengeroyok telah roboh mandi darah!
Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar dua ekor kuda itu meringkik dan begitu ia menoleh, ia terkejut sekali melihat Li Ai sudah ditangkap!
Dua orang anak buah Perwira Can memegangi kedua lengannya dan seorang lagi menempelkan golok di leher gadis bangsawan yang meronta-ronta itu.
"Lepaskan, kalian orang-orang jahat! Lepaskan aku!"
Li Ai meronta-ronta namun apa dayanya seorang gadis lembut seperti ia menghadapi dua orang laki-laki yang kuat itu. Kedua lengannya telah ditekuk ke belakang oleh dua orang itu.
"Ha-ha, Hwe-thian Mo-li, menyerahlah kalau tidak ingin melihat Nona Kui kami bunuh lebih dulu!"
Bentak Perwira Can sambil menahan serangan, diikuti oleh para anak buahnya.
Sejenak Siang Lan tertegun dan merasa tak berdaya.
Jelas bahwa kalau ia bergerak hendak menyerang tiga orang yang menawan Li Ai itu, gadis itu pasti akan tewas karena sekali golok yang menempel di leher itu digerakkan, kematian Li Ai tak dapat dihindarkan lagi!
"Enci, jangan pedulikan mereka!
Mereka hanya menggertak!
Mereka tidak berani membunuhku karena keluarga Ayah tentu akan menuntut.
Perwira Can, manusia busuk, hayo bunuh aku kalau kau berani!
Enci, teruskan hajar mereka, aku tidak takut mati!"
Teriak Li Ai.
Mendengar ini, Siang Lan tersenyum dan kembali sinar kilat pedangnya berkelebat menyambar dan dua orang lagi pengeroyok roboh dibabat pedangnya.
Tiba-tiba tampak bayangan dua orang berkelebat dan di depan Siang Lan telah muncul dua orang yang berpakaian seperti tosu.
Yang seorang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, kedua tangannya memegang siang-to (sepasang golok) sedangkan orang kedua yang berusia sekitar enampuluh lima, beberapa tahun lebih tua daripada tosu pertama, berwajah pucat bermata sipit, rambutnya sudah putih semua dan tubuhnya tinggi kurus, memegang pedang di tangan kanan dan sebuah kebutan di tangan kiri.
Tosu pertama yang bermuka hitam membentak.
"Hwe-thian Mo-li, iblis betina, engkau harus menebus kematian dua orang suteku dengan nyawamu!"
Sepasang golok di tangannya menyambar dengan gerakan menggunting dari kanan kiri. Siang Lan cepat menggerakkan pedangnya menangkis ke kanan kiri.
"Trang-trangg......!"
Gadis itu merasa betapa tenaga tosu muka hitam ini jauh lebih kuat dari tenaga Perwira Can sehingga akan merupakan seorang lawan yang cukup tangguh.
"Awas, Enci. Pendeta siluman muka hitam itulah yang menculikku!"
Teriak Li Ai yang masih dipegangi kedua lengannya oleh dua orang anak buah Perwira Can.
Memang Li Ai benar.
Perwira Can tidak berani membunuhnya karena Li Ai mempunyai dua orang paman, adik-adik ayahnya, yang menjadi pembesar di kota raja dan kedudukan mereka lebih tinggi daripada kedudukan Perwira Can, maka kini ia hanya dipegangi dua orang anak buah tanpa diancam golok lagi.
Melihat betapa tangkisan pedang Siang Lan dapat membuat sepasang golok di tangan tosu muka hitam itu terpental, tosu kedua yang bermuka pucat berseru.
"Siancai! Tenaga saktimu boleh juga, Hwe-thian Mo-li!"
Dan dia pun menyerang dengan pedang di tangan kanan yang menyambar ke arah leher Siang Lan disusul ujung bulu kebutan yang tiba-tiba menjadi kaku itu menotok ke arah ulu hati!
Sungguh berbahaya sekali serangan tosu bermua pucat itu.
Cepat ia menggerakkan pedangnya untuk menangkis pedang lawan dan tangan kirinya dengan tenaga sin-kang menangkis bulu kebutan berwarna putih itu.
"Cringg...... plakk!"
Siang Lan berhasil menangkis pedang dan kebutan, akan tetapi ia terdorong ke belakang oleh tenaga yang amat kuat!
Tahulah ia bahwa tosu berwajah pucat ini memiliki tenaga sakti yang kuat bukan main dan merupakan lawan yang amat tangguh.
Menghadapi dua orang lawan seperti itu dapat membahayakan dirinya.
Akan tetapi gadis perkasa yang tidak pernah mengenal takut ini sama sekali tidak merasa gentar, bahkan ia lalu mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua jurus-jurus simpanannya untuk mengamuk melawan dua orang tosu yang lihai itu.
Sementara itu, Perwira Can dan anak buahnya yang merasa agak gentar terhadap Siang Lan, hanya mengepung dari jarak aman seolah hendak menutup jalan keluar gadis itu agar tidak mampu melarikan diri!
Siang Lan mengamuk mati-matian, namun ia segera terdesak karena kedua orang lawannya, terutama tosu muka pucat, memang memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Melawan tosu muka pucat itu saja belum tentu ia dapat menang, apalagi kini dikeroyok dua, padahal kepandaian tosu muka hitam itu juga hebat sekali.
Biarpun terdesak hebat, Siang Lan tidak mempunyai niat sedikit pun juga untuk melarikan diri.
Tak mungkin ia melarikan diri dan meninggalkan Li Ai.
Ia akan melindungi Li Ai sampai tidak mampu melawan lagi!
Tekadnya yang besar ini membuat ia masih mampu bertahan, walaupun lebih banyak mengelak dan menangkis daripada balas menyerang.
Tiba-tiba terdengar suara berdebukan dan dua orang anak buah perajurit yang tadinya memegangi kedua lengan Li Ai, berteriak dan roboh tak dapat bergerak lagi!
Ternyata yang merobohkan mereka adalah seorang laki-laki setengah tua, berusia empatpuluh dua tahun, bertubuh sedang dan wajahnya tampan dan lembut, pakaiannya sederhana.
Dia merobohkan dua orang yang tadi meringkus Li Ai hanya dengan tamparan dari jarak jauh dan kini dia melompat dengan ringannya ke sebelah Siang Lan.
"Hwe-thian Mo-li, lindungi dan larikan gadis itu dari sini, biar aku yang akan menghadapi dua orang sesat Pek-lian-kauw ini!"
Katanya lembut namun berwibawa.
Setelah berkata demikian, dia bergerak maju dan dengan hanya menggunakan ujung lengan bajunya yang panjang, dia menyambut serangan dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu!
Namun, tangkisan kain ujung lengan baju itu membuat senjata dua orang tosu itu terpental dan mereka merasa betapa tangan mereka tergetar hebat!
Siang Lan yang telah melompat mundur, memandang penuh perhatian dan ia merasa heran sekali bagaimana orang itu dapat mengenal julukannya.
Ia belum pernah melihat orang ini dan dari beberapa gebrakan saja tahulah ia bahwa orang itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi!
Baru tiga jurus saja dua orang tosu itu sudah terdorong mundur!
Ia menoleh dan melihat bahwa Li Ai sudah terbebas dari pegangan dua orang anak buah Perwira Can yang kini sudah menggeletak tak bergerak.
Perwira Can yang memang sudah gentar terhadap Siang Lan, kini mengerahkan sisa anak buahnya untuk membantu dua orang tosu mengeroyok laki-laki yang menolong Siang Lan itu.
"Mari, Li Ai!"
Ia berseru dan menyambar tubuh gadis itu, dibawanya lari ke arah dua ekor kuda mereka.
Tak lama kemudian mereka berdua sudah melarikan kuda dengan cepat melanjutkan perjalanan menuju Lembah Selaksa Bunga.
Laki-laki yang menolong Siang Lan itu bukan lain adalah Sie Bun Liong!
Peristiwa di malam jahanam di mana dalam keadaan setengah mabok dan terpengaruh racun perangsang, secara hampir tidak sadar dia telah melakukan perkosaan terhadap Hwe-thian Mo-li.
Dia merasa amat menyesal dan duka, dan dia mengambil keputusan untuk menebus dosanya dengan melindungi Siang Lan dan menurunkan ilmunya kepada gadis itu agar kelak gadis itu dapat membalas dendam dan membunuh musuh besar yang telah menodainya, yaitu Thian-te Mo-ong atau dia sendiri!
Untuk dapat mencapai keputusannya ini dengan baik, dia harus menyamar menjadi dua orang, yaitu pertama menyamar sebagai Thian-te Mo-ong yang memakai topeng kayu dan kedua menyamar sebagai pelindung dengan nama Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama)!
Nama aselinya, Sie Bun Liong, tidak dipakainya lagi!
Melihat kehebatan lawan yang membela Hwe-thian Mo-li, dua orang tosu Pek-lian-kauw menjadi penasaran.
"Tahan!"
Seru tosu berwajah pucat. Mendengar ini, semua orang menghentikan perkelahian dan tosu itu memandang tajam penuh selidik kepada lawannya.
"Siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan kami? Kami sedang membantu pasukan yang hendak menangkap dua orang gadis yang mencuri harta milik keluarga Kui!"
Sie Bun Liong yang kini menggunakan nama julukan Bu-beng-cu, tersenyum menjawab terang.
"Hwa Hwa, engkau seorang datuk masih suka memutar-balikkan fakta."
"Engkau mengenal kami?"
Bentak tosu berwajah pucat yang bernama Hwa Hwa Hoat-su, datuk sesat yang jarang turun tangan sendiri karena sudah banyak saudara dan murid yang lebih muda mengurus semua masalah di Pek-lian-kauw.
"Tentu saja aku mengenal kalian, Hwa Hwa Hoat-su dan Hoat Hwa Cin-jin. Seperti kuatakan tadi, kalian memutar-balikkan kenyataan. Nona Kui Li Ai membawa hartanya sendiri, peninggalan Ayahnya, yang hendak merampok harta keluarga Kui adalah kalian orang-orang Pek-lian-kauw yang agaknya bekerja sama dengan pasukan yang menyamar ini!"
"Keparat, siapa engkau?"
Bentak Hoat Hwa Cin-jin, marah dan terkejut karena kerja sama Pek-lian-kauw dengan Perwira Can telah diketahui.
"Namaku tidak ada, sebut saja aku Bu-beng-cu!"
"Manusia sombong!"
Tiba-tiba Hwa Hwa Hoat-su melemparkan kebutannya ke atas dan...... kebutan berbulu putih itu terbang melayang ke arah Bu-beng-cu dan seperti hidup kebutan itu menyerang ke arah mukanya.
"Hemm, permainan kanak-kanak ini kau pamerkan?"
Bentak Bu-beng-cu dan, sekali tangannya didorongkan ke arah kebutan itu, senjata itu terpental dan terbang kembali ke tangan kiri Hwa Hwa Hoat-su!
Hwa Hwa Hoat-su marah dan sambil mengeluarkan gerengan, seperti seekor biruang dia sudah menerjang maju, menggerakkan pedang di tangan kanan dan kebutan tangan kiri.
Hoat Hwa Cin-jin tidak tinggal diam.
Dia sudah menerjang pula dengan siang-to (sepasang golok) di tangannya.
Bu-beng-cu menggerakkan tubuhnya yang seolah berubah menjadi bayang-bayang yang cepat sekali gerakannya.
Bayangan tubuhnya berkelebatan di antara gulungan sinar senjata kedua orang pengeroyoknya yang amat lihai itu.
Niat Bu-beng-cu hanya untuk menyelamatkan Hwe-thian Mo-li dan Kui Li Ai.
Dia tidak ingin bermusuhan dengan Pek-lian-kauw atau dengan siapapun juga.
Selama bertahun-tahun dia hanya memperdalam ilmu dan bersembunyi di Pegunungan Himalaya.
Sungguh tak disangka-sangkanya bahwa rasa rindunya kepada adik tirinya, yaitu Siangkoan Leng yang menjadi Ban-hwa-pang-cu (Ketua Ban-hwa-pang) akan mendatangkan malapetaka baginya.
Pertama-tama, dalam keadaan tak sadar dikuasai pengaruh racun perangsang dia telah memperkosa Hwe-thian Mo-li yang disusul dengan dendam sakit hati gadis itu kepadanya dan sekarang, karena dia harus melindungi Hwe-thian Mo-li, dia harus bermusuhan dengan orang-orang kang-ouw, hal yang sama sekali tidak dikehendakinya.
Dia menyadari bahwa peristiwa malam jahanam itu akan membawa akibat panjang yang akan merusak ketenteraman hidupnya.
Setelah dia merasa bahwa tentu Hwe-thian Mo-li dan Li Ai telah pergi jauh dan bebas dari ancaman orang-orang ini, maka setelah melawan dan selalu menghindarkan diri dari serangan dua orang tosu Pek-lian-kauw itu.
Bu-beng-cu menggunakan gin-kangnya untuk melompat jauh ke belakang dan dengan beberapa lompatan saja dia sudah meninggalkan tempat itu dan menghilang di balik pohon-pohon!
Dua orang tosu itu tidak mengejar karena keduanya maklum betapa tingginya gin-kang dari orang berjuluk Bu-beng-cu yang tidak mereka kenal itu.
Bahkan nama Bu-beng-cu juga tak pernah terdengar di dunia kang-ouw.
Perwira Can yang gagal merampas harta benda keluarga Kui yang dibawa Li Ai walaupun sudah dibantu dua orang tokoh Pek-lian-kauw, terpaksa mengajak anak buahnya kembali ke kota raja dengan tangan hampa.
Bahkan beberapa orang anak buahnya tewas dan terluka!
Kui Li Ai merasa kagum ketika ia mengikuti Siang Lan tiba di Lembah Selaksa Bunga.
Sebagai seorang gadis bangsawan yang sejak kecil hidup mewah, tentu saja ia sudah banyak melihat taman-taman yang indah milik para bangsawan di kota raja, bahkan pernah satu kali ayahnya mengajak ia melihat taman istana kaisar yang megah.
Namun, dibandingkan lembah ini, taman bunga itu bukan apa-apa.
Lembah ini demikian luas dan alami, penuh dengan beraneka bunga, terbuka dan bebas, tidak seperti taman-taman bunga yang terkurung pagar tembok tinggi, membuat orang merasa seperti dalam tahanan atau penjara.
Sedangkan di Lembah Selaksa Bunga ini, ia merasa demikian bebas merdeka, dapat melihat jauh ke bawah bukit dan merasa seperti burung yang terbang bebas lepas melayang di udara!
Segala bentuk kesenangan yang dapat kita rasakan melalui indera kita, merupakan anugerah Tuhan kepada kita.
Dengan adanya nafsu dalam diri kita yang telah disertakan kita sejak lahir, mendatangkan kenikmatan bagi kita.
Demikian besar kasih Tuhan kepada kita.
Nafsu yang terkandung dalam penglihatan mata membuat kita dapat menikmati pemandangan yang indah-indah, bentuk dan warna yang menyenangkan hati kita.
Melalui pendengaran telinga, nafsu mendatangkan kenikmatan kepada kita kalau kita mendengar suara-suara merdu yang sesuai dengan selera kita.
Demikian pula, melalui penciuman hidung, kita dapat menikmati keharuman.
Melalui mulut, kita dapat menikmati makanan dan selanjutnya.
Namun, justeru kenikmatan-kenikmatan yang kita rasakan melalui anggauta-anggauta badan kita ini yang sering kali menjerumuskan kita.
Nafsu yang menimbulkan kenikmatan dalam kehidupan, yang semestinya menjadi peserta dan pelayan kita, kalau terlalu dibiarkan dan dimanja, dapat merajalela dan berbalik akan memperbudak kita.
Kalau sudah demikian, akan celakalah kita.
Keinginan memperoleh kenikmatan-kenikmatan itu membuat kita selalu mengejar dan dalam pengejaran itu, seringkali terjadilah pelanggaran-pelanggaran, menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang amat diinginkan.
Padahal, kalau sesuatu yang kita kejar, yang kita anggap akan mendatangkan kesenangan itu, telah terdapat, maka biasanya hanya akan mendatangkan kebosanan, cepat atau lambat.
Nafsu mendorong kita untuk mencari yang lain lagi, yang kita anggap akan lebih menyenangkan daripada apa yang telah kita dapatkan.
Demikianlah, kita menjadi budak pengejar kesenangan yang tak pernah mengenal puas sampai akhirnya kita terjatuh sendiri karena pelanggaran yang kita lakuan dalam pengejaran itu.
Berbahagialah orang yang selalu merasa puas dengan apa yang diperoleh dari hasil usahanya dan mensyukuri perolehan itu sebagai berkat dari Tuhan, kemudian dapat menyalurkan berkat dari Tuhan itu untuk sebagian diberikan kepada orang-orang lain yang membutuhkan.
Penyalur berkat Tuhan berupa kepandaian, kekuatan, ataupun kelebihan materi, adalah orang-orang yang mengagungkan namanya sehingga orang-orang yang menerima penyaluran berkat itu juga akan memuja dan mengagungkan nama Tuhan.
Kesenangan yang dirasakan Li Ai ketika ia tiba di Lembah Selaksa Bunga dan melihat keindahan lembah itu, juga tidak bertahan lama.
Beberapa waktu kemudian, sudah timbul perasaan bosan melihat taman bunga alami itu.
Karena sering melihat, maka lembah itu pun tampak "biasa"
Saja, tidak ada keanehannya, tidak ada keunikannya, tidak ada daya tariknya lagi.
Tidak heran kalau kita mendengar betapa orang-orang gunung merindukan pantai laut dan orang-orang pantai laut merindukan pegunungan.
Orang-orang kota menyukai dusun yang hening menyejukkan, dan orang-orang dusun menyukai kota yang ramai menggembirakan!
Orang selalu menghendaki yang belum dia miliki dan merasa bosan dengan apa yang telah mereka punyai.
Demikian pula dengan Li Ai.
Kalau mula-mula ia merasa senang dan kagum melihat Lembah Selaksa Bunga dan senang tinggal bersama Hwe-thian Mo-li di lembah itu, beberapa pekan kemudian ia sudah merasa bosan.
Apalagi kalau ia teringat akan penghidupannya yang lalu di kota raja ketika ayahnya masih hidup.
Ia kini merasa kehilangan segala-galanya.
Kehilangan kehormatan diri karena peristiwa perkosaan itu selalu menghantuinya, terutama di waktu malam.
Mimpi-mimpi menakutkan tentang peristiwa itu seringkali membuat ia menjerit-jerit dan terbangun.
Dahulu ia menjadi seorang gadis bangsawan yang selalu riang, dihormati, disayang banyak orang, dan terutama sekali digandrungi banyak pemuda!
Pada sore hari itu pemandangan di Lembah Selaksa Bunga sungguh indah sekali.
Matahari senja dengan sinarnya yang lembut kemerahan memandikan lembah itu sehingga tampak kemerah-merahan dan matahari sendiri sudah mulai turun bagaikan wajah seorang dara yang malu-malu dan hendak menyembunyikan diri di balik tirai awan sutera putih.
Namun Kui Li Ai yang sedang termenung dan tenggelam dalam lamunannya itu, tidak lagi dapat menyadari akan semua keindahan itu.
Bahkan suasana senja seperti itu mengingatkan ia akan pertemuannya dengan seorang pemuda yang baginya merupakan seorang laki-laki yang amat menarik, tampan dan gagah.
Pemuda itu bernama Bong Kin, putera dari hartawan Bong yang selain kaya raya, juga dekat hubungannya dengan para pejabat.
Beberapa bulan yang lalu sebelum Panglima Kui wafat, hartawan Bong datang berkunjung, ditemani puteranya, yaitu Bong Kin yang biasa disebut Bong Kongcu (Tuan Muda Bong).
Karena tidak ingin mengganggu percakapan antara ayahnya dan Panglima Kui, Bong Kongcu pamit untuk berjalan-jalan dalam taman bunga yang terdapat di samping gedung Panglima Kui.
Pada sore hari yang hawanya panas itu, kebetulan Kui Li Ai sedang mencari angin dalam taman.
Tanpa disengaja, dara dan pemuda itu saling jumpa dan Bong Kin yang pandai bergaul itu segera memperkenalkan diri.
Karena sikapnya yang sopan dan ramah, Li Ai menyambut perkenalan itu.
Perkenalan itu disambut baik dan berlanjut menjadi persahabatan di antara mereka.
Ketika Bong Kin menyatakan cinta, Li Ai belum berani menerimanya.
Ia sudah banyak menolak pernyataan cinta dan pinangan pemuda-pemuda yang menggandrunginya.
Biarpun ia belum menerima Bong Kin yang menyatakan cinta itu sebagai pria pilihannya, namun ia sungguh tertarik kepada Bong Kin.
Pemuda itu selain sopan dan ramah, juga kata-katanya penuh madu penuh rayuan yang menggetarkan hatinya.
Li Ai menghela napas panjang.
Ketika teringat kepada Bong Kin yang menjadi sahabatnya, ia semakin terpukul dan merasa kehilangan.
Ingatan akan pemuda yang telah menyatakan cinta kepadanya itu membuat ia teringat akan keadaan dirinya yang telah ternoda.
Maka tak dapat ditahannya lagi Li Ai menangis tersedu-sedu tanpa suara karena ia menahan agar tangisnya tidak terdengar oleh orang lain.
Sebuah tangan dengan lembut memegang pundaknya.
Li Ai terkejut dan mengangkat muka memandang.
Kiranya Siang Lan sudah berdiri di belakangnya.
"Li Ai, mengapa engkau menangis? Apakah engkau masih berduka karena nasibmu dahulu itu?"
Li Ai menggelengkan kepala.
"Hemm, apakah engkau merasa menyesal meninggalkan rumahmu dan tinggal di tempat sunyi ini?"
Li Ai cepat menggelengkan kepala dan menjawab.
"Tidak, Enci, aku senang sekali tinggal di sini bersamamu. Aku hanya...... sedih teringat kepada...... seorang sahabat baikku......"
"Sahabat baikmu? Siapakah itu, Li Ai?"
"Dia...... dia putera Bong Wan-gwe (Hartawan Bong) sahabat mendiang Ayahku yang tinggal di kota raja."
"Hemm, seorang pemuda?"
Wajah ayu itu menjadi kemerahan.
"Dia bernama Bong Kin dan sebelum terjadi malapetaka menimpa keluargaku, Bong Kongcu itu telah menyatakan bahwa dia...... cinta padaku dan akan meminangku......"
"Ah, dan engkau juga cinta padanya?"
Li Ai hanya mengangguk perlahan dan menundukkan mukanya.
"Kalau begitu, biar aku mencarinya dan kuberitahuan bahwa engkau berada di sini. Kalau memang dia mencintamu, tentu dia akan datang dan meminang ke sini."
"Tapi...... tapi, Enci, keadaanku sekarang...... aku sudah ternoda...... bagaimana mungkin aku menjadi isterinya?"
Li Ai terisak sedih.
"Mengapa tidak mungkin? Kalau memang Bong Kongcu itu mencintamu, Li Ai, hal itu pasti bukan merupakan halangan. Kau tunggu saja di sini, aku akan ke kota raja mencarinya dan memberitahu padanya bahwa engkau sekarang tinggal di sini. Kalau dia mencintamu tentu dia akan datang menjemputmu di sini."
"Akan tetapi...... kalau dia datang, apa yang harus kuperbuat? Apa yang harus kukatakan padanya? Apakah aku harus berterus terang mengatakan bahwa aku telah...... telah...... dinodai dua orang tokoh Pek-lian-kauw jahanam keji itu? Enci aku takut......"
"Li Ai, kalau engkau memang mencintanya, engkau tidak perlu takut dan kalau dia memang mencintamu, dia akan memaklumi keadaanmu yang tidak berdaya dan menaruh kasihan kepadamu. Memang sebaiknya berterus terang, karena kalau engkau sembunyikan dan kemudian dia mengetahui, hal itu sungguh tidak baik jadinya. Nah, kautunggu saja di sini!"
Siang Lan lalu pergi meninggalkan Lembah Selaksa Bunga menuju ke kota raja.
Dalam perjalanan yang dilakukannya dengan cepat ini, Siang Lan banyak melamun.
Ia tidak dapat melupakan pria yang telah menolongnya ketika ia dikeroyok tokoh-tokoh Pek-lian-kauw yang lihai.
Bagaimana mungkin ia dapat melupakan orang itu?
Tanpa pertolongannya, tentu ia dan Li Ai telah tewas atau terjatuh ke tangan orang-orang Pek-lian-kauw.
Ia merasa menyesal sekali tidak sempat berkenalan dengan penolongnya itu.
Sudah dua kali ia ditolong orang tanpa mengenal penolongnya.
Yang pertama ketika ia dikeroyok oleh Cin Kok Tosu dan Cia Kun Tosu, dua orang tokoh Pek-lian-kauw yang memperkosa Li Ai, ia dibantu orang yang tidak memperlihatkan diri dengan sambitan batu ke arah dua orang lawannya itu, kemudian ketika ia roboh pingsan, ada yang mengobatinya sehingga ia terbebas dari racun.
Ia tidak sempat melihat siapa penolongnya yang pertama itu.
Kemudian, untuk kedua kalinya ia ditolong, bahkan diselamatkan orang dan ia masih sempat melihat penolongnya walaupun ia tidak sempat mengetahui siapa nama penolongnya itu.
Apakah dia juga yang dulu pernah menolongnya tanpa ia lihat orangnya?
Ia tidak dapat melupakan wajah laki-laki penolongnya itu dan ingin sekali ia bertemu untuk sekadar mengucapkan terima kasihnya.
Bahkan ada harapan yang lebih dari sekadar mengucapkan terima kasih, yaitu ia ingin sekali memperdalam ilmu silatnya, berguru kepada laki-laki itu.
Dari gerakan orang itu, ia tahu benar bahwa dia memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan kalau ia dapat berguru kepadanya, mungkin ia akan mampu kelak membalas dendamnya kepada Thian-te Mo-ong, jahanam berkedok setan yang telah memperkosanya dan menghancurkan kebahagiaan hidupnya.
Akan tetapi, ke mana ia harus mencari penolongnya itu?
Ia hanya pernah melihatnya, mengenal wajahnya akan tetapi tidak tahu siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya.
Teringat akan kenyataan ini, hatinya merasa kecewa dan murung.
Ia lalu mengerahkan gin-kangnya dan berlari cepat sekali menuju ke kota raja.
Kalau ia sendiri tidak mungkin membangun penghidupannya yang sudah runtuh dan mustahil dapat hidup berbahagia, setidaknya ia dapat membantu Li Ai untuk mulai hidup baru, berbahagia bersama pria yang dicintanya!
Bong Kin atau yang biasa dipanggil Bong Kongcu (Tuan Muda Bong) adalah putera tunggal Bong Wan-gwe (Hartawan Bong), seorang pedagang rempah-rempah yang kaya raya di kota raja.
Seperti sudah lajim terjadi, baik di kota-kota daerah atau di ibu kota (kota raja), para hartawan selalu berhubungan dekat dan akrab dengan para pembesar atau pejabat tinggi.
Dua golongan masyarakat ini memang saling membutuhkan dan saling bantu.
Si Pembesar membantu dengan kekuasaan jabatan yang dipegangnya, sebaliknya Si Hartawan membantu dengan harta yang dimilikinya.
Kerja sama ini mendatangkan keuntungan kedua pihak.
Yang kaya menjadi semakin kaya dan Sang Pembesar pun memperoleh hasil yang ribuan kali lipat besarnya daripada gajinya yang dia dapatkan dari pemerintah.
Demikian pula dengan Hartawan Bong.
Perusahaannya, yaitu berdagang rempah-rempah menjadi semakin besar karena dengan perlindungan pembesar yang berwenang, dia memiliki monopoli atas bermacam-macam rempah-rempah terpenting sehingga dia dapat mengendalikan harga hasil bumi itu dan memperoleh keuntungan yang berlipat ganda.
Tentu saja sebagian keuntungan itu lari ke dalam kantung pembesar yang melindunginya.
Siapa yang menderita rugi?
Tentu saja pertama adalah rakyat kecil, terutama para petani yang menanam rempah-rempah itu karena harganya ditekan serendah-rendahnya oleh Hartawan Bong sebagai pembeli tunggalnya.
Hubungan Hartawan Bong dengan para pembesar di kota raja amat dekat.
Dia tidak sayang menghamburkan uang untuk dapat mengikat persahabatan dengan para pembesar.
Maka, Hartawan Bong mengenal hampir seluruh pejabat sipil maupun militer yang berkuasa waktu itu di kota raja, termasuk mendiang Panglima Kui Seng.
Biarpun dia tidak membutuhkan bantuan dari panglima ini, juga sebaliknya Panglima Kui tidak pernah menerima semacam "upeti"
Darinya, namun tetap saja Hartawan Bong mendekatinya dengan cara mengirimkan hadiah barang atau makanan pada waktu-waktu tertentu, seperti hari raya dan sebagainya.
Bahkan dia sering pula datang berkunjung sekadar untuk bercakap-cakap.
Dalam kesempatan ini, Bong Kongcu bertemu dan berkenalan dengan Kui Li Ai dan pemuda hartawan itu jatuh cinta kepada Li Ai.
Bong Kongcu bukan seorang pemuda alim.
Pemuda berusia duapuluh lima tahun yang tampan gagah, pesolek dan perayu ini terkenal di rumah-rumah pelesir termahal di kota raja.
Dia sudah banyak pengalaman dan bergaul dengan banyak wanita cantik.
Akan tetapi baru sekali ini dia benar-benar jatuh cinta kepada Kui Li Ai.
Dia memang belum menikah dengan resmi walaupun sejak berusia duapuluh tahun dia telah mempunyai beberapa orang gadis simpanan sebagai selirnya.
Dia melihat keuntungan besar kalau dapat menikahi Kui Li Ai sebagai isterinya.
Pertama, Kui Li Ai memiliki kecantikan yang memang menggairahkan di samping memiliki pendidikan tinggi dan juga sebagai puteri panglima tentu saja namanya terhormat.
Kedua, kalau dia menjadi mantu Panglima Kui, tentu saja diapun memiliki perlindungan yang kuat dan martabatnya akan naik di mata penduduk kota raja.
Bahkan ayahnya juga sudah merasa setuju sekali dan mendukungnya kalau dia ingin berjodoh dengan puteri Panglima Kui.
Akan tetapi walaupun dia sudah menyatakan cintanya kepada Li Ai, gadis itu belum menjawab, maka dia belum berani mengajukan pinangan.
Kemudian, datang malapetaka menimpa keluarga Kui dengan diculiknya Li Ai dan berakibat kematian Panglima Kui Seng.
Kemudian, Bong Kongcu mendengar bahwa Kui Li Ai pergi bersama seorang pendekar wanita yang terkenal liar dan ganas bernama Hwe-thian Mo-li.
Tentu saja dia merasa kecewa sekali karena keinginannya untuk menikah dengan Li Ai dan menjadi mantu Panglima Kui telah gagal!
Dia tidak tahu ke mana harus mencari gadis yang dicintanya itu dan biarpun dia telah menghamburkan uang untuk membiayai pencariannya terhadap Li Ai dengan mengerahkan orang-orangnya, tetap saja tidak berhasil menemukan gadis itu.
Bong Kongcu mencoba untuk menghibur hatinya dengan bersenang-senang dengan banyak gadis penghibur yang cantik, namun tetap saja dia setiap hari murung teringat kepada Li Ai yang membuatnya tergila-gila.
Bagi seorang pemuda yang sedang kasmaran, tergila-gila seperti dia, tidak ada wanita lain yang lebih cantik menarik dan menggairahkan selain gadis yang telah menjatuhkan hatinya itu.
Pada suatu pagi, ketika Bong Kin sedang duduk termenung dan teringat kepada Kui Li Ai, wajahnya muram dan hidangan makanan kecil yang sejak tadi ditaruh oleh pelayan di depannya, di atas meja, tak disentuhnya, muncullah seorang pelayan wanita.
"Kongcu, di luar ada seorang gadis ingin bertemu dengan Kongcu."
Bong Kongcu memandang pelayannya itu dengan mata bersinar.
"Seorang gadis? Ia...... Nona Kui Li Ai......?"
"Bukan, Kongcu. Ia seorang gadis yang cantik dan di punggungnya tergantung sebatang pedang. Ia tidak memperkenalkan nama, hanya bilang bahwa ia mempunyai urusan yang amat penting dan katanya Kongcu tentu akan senang mendengarnya."
Mendengar ini, Bong Kin lalu bangkit dan melangkah keluar dengan heran dan ingin sekali melihat siapa gadis itu.
Setelah tiba di luar dia merasa heran sekali melihat seorang gadis yang cantik jelita dan belum pernah dilihatnya.
Yang menarik hatinya, gadis ini bukan seperti gadis cantik lainnya yang pernah dikenalnya.
Gadis ini selain cantik jelita juga memiliki sikap gagah, dengan sinar mata tajam dan terutama yang membuat ia gagah berwibawa adalah sikapnya ketika berdiri tegak memandangnya.
Sebatang pedang yang tergantung di belakang punggungnya menambah kegagahannya.
Harus dia akui bahwa selama dia bertualang di antara para gadis cantik, belum pernah dia bergaul dengan gadis cantik yang begini gagah sehingga memiliki daya tarik yang lain daripada gadis lain yang pernah dikenalnya.
"Nona, siapakah dan ada keperluan apa mencariku?"
Tanya Bong Kin dengan senyum ramah dan sikapnya yang sopan. Dia memang pandai membawa diri, pandai pula bersikap untuk mendatangkan kesan baik dalam hati para wanita.
"Apakah engkau yang bernama Bong Kin, putera Bong Wan-gwe?"
Tanya gadis itu yang bukan lain adalah Hwe-thian Mo-li. Pertanyaannya yang dijawab dengan pertanyaan pula itu tidak membuat Bong Kongcu menjadi marah. Dia tetap tersenyum.
"Benar sekali, Nona. Aku bernama Bong Kin dan kalau Nona memiliki keperluan denganku, silakan masuk dan duduk di kamar tamu di mana kita dapat bicara dengan baik, tidak berdiri saja di sini. Silakan, Nona."
Senang juga hati Siang Lan melihat sikap dan penyambutan yang ramah dan sopan ini.
Ia mengangguk dan mengikuti pemuda itu memasuki sebuah ruangan tamu.
Setelah duduk berhadapan terhalang meja besar Siang Lan berkata.
"Bong Kongcu, aku datang sebagai utusan Nona Kui Li Ai......"
Siang Lan menghentikan ucapannya ketika melihat betapa wajah pemuda itu tampak berseri, sepasang matanya terbelalak dan dia tampak girang sekali.
"Aih, berita ini sungguh membahagiakan sekali, Nona! Tolong katakan di mana kini Nona Kui Li Ai dan berita apa yang engkau bawa darinya?"
Hati Siang Lan senang melihat sikap pemuda ini yang ternyata tampak girang sekali mendengar tentang Li Ai, menandakan bahwa dia memang mencinta puteri mendiang Panglima Kui itu.
"Nona Kui Li Ai sekarang tinggal bersamaku di Lembah Selaksa Bunga, Bong Kongcu, dalam keadaan sehat dan selamat."
Dengan singkat Siang Lan lalu menceritakan tentang Li Ai yang meninggalkan rumah keluarga Kui karena tidak suka tinggal bersama ibu tirinya yang galak.
Bagaimana Li Ai kini berada di Lembah Selaksa Bunga bersamanya.
Setelah menceritakan keadaan Li Ai, Siang Lan menatap tajam wajah pemuda yang tampan itu dan bertanya.
"Kedatanganku ini untuk bertanya kepadamu, Bong Kongcu, apakah benar seperti yang kudengar dari Adik Kui Li Ai bahwa engkau cinta padanya?"
Wajah Bong Kin berubah kemerahan, akan tetapi dengan sungguh-sungguh dia berkata.
"Sesungguhnya, Nona. Aku amat mencinta Nona Kui Li Ai dan aku merasa sedih sekali akan kematian Ayahnya dan semakin sedih ketika mendengar ia pergi meninggalkan rumahnya. Aku telah bersusah payah berusaha untuk mencarinya selama ini, namun tidak berhasil. Maka, sungguh girang sekali hatiku mendengar bahwa ia berada di tempat tinggalmu dalam keadaan sehat dan selamat."
"Kedatanganku ini hendak menegaskan, apakah sampai sekarang engkau masih tetap mencintanya, Kongcu?"
"Tentu saja, bahkan semakin mencintanya karena aku merasa iba kepadanya."
"Dan engkau menginginkan agar ia menjadi isterimu, Kongcu?"
"Benar, Nona."
"Kalau begitu, sekarang engkau boleh meminangnya, Kongcu, karena Adik Li Ai yang merasa hidup sebatang kara telah menyatakan kepadaku bahwa kalau engkau meminangnya, ia akan menerimanya dan kini siap untuk menjadi isterimu."
Pemuda itu tampak semakin girang.
"Aih, kedatanganmu membawa berkat bagiku, Nona! Kalau boleh aku mengetahui, siapakah engkau, Nona? Aku pernah mendengar bahwa Adik Kui Li Ai pergi bersama seorang pendekar berjuluk Hwe-thian Mo-li. Apakah...... apakah engkau pendekar itu, Nona?"
"Tidak salah, Kongcu. Akulah Hwe-thian Mo-li yang melindungi Nona Kui Li Ai dan ia sekarang tinggal bersamaku di Lembah Selaksa Bunga. Setelah berunding dengannya, maka hari ini aku datang untuk minta ketegasan darimu. Setelah kini engkau menyatakan masih mencintanya dan ingin meminangnya, maka kuharap engkau suka berkunjung ke tempat kami agar dapat bertemu dan bicara sendiri dengannya."
"Wah, aku senang sekali, Li-hiap (Pendekar Wanita)! Aku akan segera mengunjunginya di Lembah Selaksa Bunga. Di manakah lembah itu?"
Siang Lan menerangkan di bukit mana lembah itu terletak. Kemudian ia berpamit.
"Nah, tugasku telah selesai, aku hendak kembali ke Lembah Selaksa Bunga, menceritakan hal ini kepada adik Kui Li Ai. Kami akan siap menyambut kunjunganmu, Bong Kongcu."
Bong Kin mengucapkan terima kasih dan mengantar kepergian Siang Lan sampai ke depan gedungnya.
Setelah gadis itu pergi, dengan girang dia mengabarkan hal itu kepada ayah ibunya.
Bong Wan-gwe, seorang laki-laki setengah tua berusia sekitar limapuluh tahun yang bertubuh gendut berwajah ramah mendengar pemberitahuan puteranya dan dia mengerutkan alisnya.
Dulu, hartawan ini tentu saja merasa senang dan bangga ketika puteranya menyatakan bahwa puteranya jatuh cinta dan memilih Kui Li Ai untuk menjadi calon isterinya.
Pada waktu itu, Bong Wan-gwe merasa bangga kalau memiliki mantu puteri Panglima Kui itu.
Akan tetapi sekarang keadaannya sudah lain.
Panglima Kui telah tiada, bahkan dia mati dalam keadaan cemar, yaitu dikabarkan bunuh diri setelah mengkhianati negara dengan membebaskan tiga orang tawanan pemberontak Pek-lian-kauw!
Tidak ada lagi yang patut dibanggakan kalau dia mempunyai mantu gadis she Kui itu, bahkan akan menurunkan dan merendahkan derajat dan martabatnya!
"Bong Kin, apakah sudah engkau pikir masak-masak sebelum engkau meminang Kui Li Ai?
Ingat, keadaan gadis itu tidak seperti dulu lagi.
Ayahnya sudah mati dan Panglima Kui yang sudah almarhum itu bukan seorang panglima terhormat lagi, bahkan dianggap pengkhianat.
Masih banyak gadis yang ayahnya memiliki kedudukan tinggi dan lebih terhormat untuk menjadi isterimu.
Aku sanggup melamarkan!"
"Tidak, Ayah! Hatiku sudah bulat mengambil keputusan untuk menikah dengan Kui Li Ai. Aku amat mencintanya, Ayah. Ia gadis yang paling cantik di dunia ini!"
Hartawan Bong menghela napas panjang.
"Jadi sekarang kita akan mengajukan pinangan? Akan tetapi kepada siapa? Siapa yang menjadi pengganti orang tuanya? Siapa yang menjadi walinya?"
"Aku akan pergi dulu mengunjungi di Lembah Selaksa Bunga untuk merundingkan hal ini dengannya, Ayah. Setelah itu baru kita mengajukan pinangan."
"Kin-ji (Anak Kin), engkau hati-hatilah kalau pergi ke sana!"
Kata Nyonya Bong khawatir.
"Ibumu benar, Bong Kin!"
Kata Bong Wan-gwe.
"Tempat itu asing bagimu dan aku mendengar bahwa pendekar wanita yang melindungi Nona Kui itu liar dan ganas. Melihat julukannya Si Iblis Betina Terbang, mungkin saja ia itu memiliki watak jahat. Maka engkau harus membawa rombongan pengawal untuk melindungimu."
Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dengan menunggang kuda, Bong Kin dikawal selosin orang laki-laki yang biasa mengawal kiriman barang-barang berangkat meninggalkan kota raja menuju ke bukit yang telah ditunjukkan Siang Lan.
Dua belas orang pengawal itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat dan memang pekerjaan mereka menggunakan kekuatan dan ilmu silat untuk mengawal dan melindungi barang atau orang dalam perjalanan.
Pada tengah hari mereka tiba di kaki bukit yang dimaksudkan dan berhenti.
Pimpinan rombongan pengawal, seorang laki-laki tinggi besar bermuka berewok yang usianya sekitar empatpuluh tahun bernama Gu Sam, berkata kepada Bong Kin.
"Bong Kongcu, di bukit yang disebut Ban-hwa-san (Bukit Selaksa Bunga) dulu terdapat sebuah perkumpulan bernama Ban-hwa-pang yang sering melakukan perampasan barang yang dibawa lewat di daerah ini. Akan tetapi sudah beberapa bulan ini tidak ada lagi orang Ban-hwa-san melakukan perampasan dan kabarnya, Ban-hwa-pang telah dibasmi seorang pendekar wanita."
"Hemm, bukankah yang membasmi itu pendekar wanita berjuluk Hwe-thian Mo-li?"
Tanya Bong Kin. Gu Sam tampak terkejut.
"Benar sekali, Kongcu! Bagaimana Kongcu dapat mengetahuinya?"
Bong Kin tersenyum bangga.
"Hwe-thian Mo-li itu sahabatku! Kemarin ia datang berkunjung ke rumahku."
Dia tidak bicara lebih lanjut, membiarkan Gu Sam dan orang-orangnya terheran-heran.
Dengan kagum Bong Kin dan para pengawalnya kini mendaki bukit dan tiba di Lembah Selaksa Bunga.
Daerah perkampungan Ban-hwa-pang yang baru, termasuk lembah yang indah itu kini dikelilingi pagar bambu runcing yang diatur rapi dan dicat warna-warni sehingga tampak nyeni dan indah.
Di pintu gerbang, yang berada di bawah lereng, sudah berjaga belasan orang anggauta Ban-hwa-pang yang semua terdiri dari wanita.
Mereka berpakaian gagah dan terdiri dari tiga regu.
Regu pertama memegang tombak, regu kedua memegang golok dan regu ketiga memegang pedang, masing-masing terdiri dari lima orang.
Sikap mereka gagah dan wajah mereka rata-rata manis.
Melihat sikap para wanita ini, Bong Kin memerintahkan para pengawal untuk turun dari atas kuda masing-masing.
Kemudian Gu Sam melangkah maju memberi hormat kepada seorang wanita berpedang yang agaknya memimpin tiga regu itu karena ia berdiri paling depan dan sikapnya berwibawa.
"Nona, Kongcu kami Bong Kin datang memenuhi undangan Hwe-thian Mo-li,"
Katanya menirukan perintah majikannya tadi.
"Ban-hwa-pang kami pantang menerima tamu laki-laki. Akan tetapi karena Pang-cu kami sudah memesan dan kini menunggu Bong Kongcu datang menghadap, kami persilakan Bong Kongcu masuk. Yang lain tidak boleh masuk!"
"Akan tetapi......!"
Gu Sam hendak membantah.
"Tidak ada tapi! Kaum lelaki, tanpa ijin Pang-cu, dilarang masuk perkampungan Ban-hwa-pang!"
Bentak wanita itu dan limabelas orang rekannya siap meraba gagang senjata mereka.
Bong Kongcu memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk menunggu di luar dan dia lalu memasuki pintu gapura yang segera tertutup kembali oleh para penjaga wanita.
"Sialan......!"
Para pengawal itu mengomel.
"Entah apa yang terjadi dengan Ban-hwa-pang,"
Kata pula Gu Sam dan dia mengajak para rekannya untuk menunggu dan mengaso di bawah pohon-pohon tidak jauh dari gapura perkampungan Ban-hwa-pang itu.
Sementara itu, Bong Kin diantar dua orang pengawal wanita memasuki ruangan tamu di mana Hwe-thian Mo-li dan Kui Li Ai sudah duduk menanti.
Hwe-thian Mo-li berwajah cerah gembira, akan tetapi Li Ai nampak menundukkan mukanya karena jantungnya berdebar penuh ketegangan dan juga merasa rikuh dan tidak enak hati.
Ia harus mengakui dalam hatinya bahwa ia memang mengharapkan untuk dapat menjadi isteri pemuda yang biasanya bersikap lembut dan sopan itu.
Begitu Bong Kin memasuki ruangan dan melihat Li Ai sudah duduk di situ, dia segera berseru gembira.
"Nona Kui......! Ah, betapa girang hatiku dapat bertemu denganmu di sini......!"
Hwe-thian Mo-li dan Li Ai bangkit berdiri dan membalas penghormatan Bong Kin yang sudah menjura sambil merangkap kedua tangan depan dada.
"Bong Kongcu, silakan duduk,"
Kata Hwe-thian Mo-li. Pemuda itu mengucapkan terima kasih dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan dua orang gadis itu, dengan jarak cukup jauh dan sopan.
"Aku merasa senang bahwa Bong Kongcu benar-benar datang berkunjung, hal ini bagiku merupakan bukti akan kesungguhan hati Kongcu. Sekarang, aku memberi kesempatan kepada Adik Kui Li Ai dan Bong Kongcu untuk membicarakan urusan kalian berdua."
Setelah berkata demikian, Hwe-thian Mo-li bangkit berdiri dan hendak meninggalkan ruangan tamu itu menuju ke dalam.
"Enci......!"
Li Ai berseru menahan karena gadis ini merasa malu dan juga takut untuk menceritakan apa yang telah menimpa dirinya seperti yang telah ia sepakati dengan Hwe-thian Mo-li bahwa ia akan berterus terang kepada pemuda itu untuk menguji ketulusan cintanya.
"Li Ai, inilah kesempatan baik bagimu. Jangan sungkan dan malu, di tanganmu sendirilah terletak nasibmu di kemudian hari."
Setelah berkata demikian dengan cepat Hwe-thian Mo-li meninggalkan ruangan itu, menuju ke ruangan dalam di mana ia termenung dan duduk seorang diri.
Gambaran topeng kayu yang menyeramkan itu selalu terbayang di depan matanya dan terkadang tampak bayangan wajah laki-laki setengah tua sederhana dan gagah yang juga penuh rahasia itu, yang telah menolongnya dan yang ingin dia temukan kembali karena ia mempunyai keinginan untuk berguru kepada penolong yang amat lihai itu.
Setelah Hwe-thian Mo-li meninggalkan ruangan tamu, suasana di situ menjadi hening sekali.
Li Ai masih menundukkan mukanya, tidak berani ia bertemu pandang dengan pemuda yang duduk di depannya, padahal pemuda ini dulu pernah menjadi kenalan baiknya dan mereka sudah sering beramah tamah dan bercakap-cakap.
Bong Kongcu yang tidak dapat menahan hatinya lagi untuk berdiam diri.
"Kui Siocia (Nona Kui), benarkah apa yang kudengar dari Hwe-thian Mo-li?"
Terpaksa Li Ai mengangkat mukanya dan baru pertama kali ini sejak pemuda itu datang ia bertemu pandang yang membuat kedua pipinya berubah merah.
Ia melihat betapa sinar mata pemuda itu masih seperti dulu, masih jelas membayangkan rasa kagum dan cinta kepadanya!
Hanya sebentar saja sinar mata gadis itu bertemu pandang.
Ia segera menundukkan pandang matanya dan bertanya lirih.
"Mendengar apakah Bong Kongcu maksudkan?"
Tentu saja ia sudah mendengar dari Siang Lan tentang pertemuan Hwe-thian Mo-li dengan pemuda itu. Akan tetapi ia tidak ingin mendahului percakapan tentang urusan perjodohan itu.
"Siocia, aku mendengar keterangan dari Hwe-thian Mo-li bahwa engkau sekarang berada di sini, tinggal bersamanya. Aku merasa amat terharu dan iba melihat nasibmu kehilangan Ayahmu dan aku mendengar dari Hwe-thian Mo-li bahwa...... bahwa sekarang engkau...... bersedia menerima...... cintaku, dan engkau akan setuju kalau aku meminangmu untuk menjadi isteriku. Bagaimana, Kui Siocia benarkah apa yang kudengar dari Hwe-thian Mo-li itu?"
Setelah mendengar ucapan Bong kongcu itu, rasa sungkan dan malu mulai meninggalkan perasaan Li Ai dan kini ia mengangkat mukanya, memandang wajah pemuda itu penuh selidik karena ia ingin sekali mendapat kepastian apakah benar-benar pemuda hartawan ini mencintanya.
"Kongcu, apakah benar dan dapat kupercaya ucapanmu bahwa engkau mencintaku?"
"Aih, Siocia...... perlukah engkau tanya lagi hal ini? Sejak dulu aku mencintamu, sudah kunyatakan berulang kali. Sampai saat ini aku tetap mencintamu, dinda Li Ai...... aku berani bersumpah bahwa hanya engkau yang kuinginkan menjadi isteriku. Dinda Li Ai, engkau sih belum menjawab. Benarkah keterangan Hwe-thian Mo-li bahwa engkau bersedia menerima cintaku dan akan menyetujui kalau keluargaku datang meminangmu untuk menjadi isteriku?"
Li Ai mengangguk.
"Benar, akan tetapi sebelum engkau mengambil keputusan, lebih dulu aku ingin melihat apakah cintamu itu murni, Bong Kongcu."
"Eh? Apa maksudmu?"
Kini dengan sinar mata tajam penuh selidik Li Ai menatap wajah pemuda dan tanpa dihantui rasa malu dan khawatir lagi ia lalu berkata.
"Ketahuilah, Bong Kongcu, bahwa ketika aku diculik oleh orang-orang Pek-lian-kauw, aku telah dinodai oleh dua orang pendeta Pek-lian-kauw."
Sepasang mata pemuda itu terbelalak, seolah tidak percaya atau tidak mengerti apa yang dimaksudkan Li Ai.
"Kau...... di...... dinodai......?"
Tanyanya gagap.
"Benar, Kongcu. Dua orang tosu Pek-lian-kauw telah memperkosa aku......"
"Keparat jahanam......!!"
Wajah pemuda itu menjadi pucat sekali lalu berubah merah dan dia bangkit berdiri sambil mengepal tinju dengan marah sekali.
"Tenanglah, Kongcu. Dua orang keparat jahanam itu telah dibunuh oleh Enci...... Hwe-thian Mo-li."
"Tenang......? Bagaimana aku bisa tenang? Keperawananmu direnggut orang-orang jahat, engkau diperkosa....., engkau bukan perawan lagi. Ahhh......!"
Pemuda itu menjatuhkan diri di atas kursi dan tampak lemas, menundukkan muka dan menopang kepalanya dengan kedua tangan.
Li Ai hanya memandang dan keduanya berdiam diri, tenggelam ke dalam suasana yang amat tidak mengenakkan hati.
Berulang-ulang pemuda itu menghela napas panjang dan dari kerongkonganya terdengar suara gerengan lirih seperti mengerang atau merintih.
Li Ai mulai tidak sabar melihat pemuda itu hanya berdiam diri saja sambil mengerang dengan wajah muram.
Lenyaplah semua sinar kegembiraan yang tadi tampak pada sikap dan wajah Bong kongcu.
Maka ia lalu bertanya.
"Bagaimana sekarang, Bong Kongcu? Apakah engkau masih mencintaku dan ingin meminangku sebagai isterimu?"
Sampai beberapa saat lamanya Bong kongcu tidak dapat menjawab, hanya mengangkat muka menatap wajah Li Ai dengan muka pucat dan sinar mata muram. Akhirnya dia berkata.
"Tentu, aku tetap mencintamu, Li Ai, marilah engkau ikut denganku ke kota raja dan menjadi selirku yang tersayang......"
"Apa......? Selir......?"
Bong Kongcu menghela napas panjang.
"Benar, Li Ai, menjadi selirku. Aku tetap mencintamu, akan tetapi untuk meminangmu menjadi isteriku...... bagaimana mungkin setelah...... setelah engkau......"
"Tidak sudi!"
Li Ai berseru lalu berlari keluar dari ruangan itu meninggalkan Bong Kongcu sambil menutupi muka dengan tangan dan menahan suara tangisnya. Bong Kongcu bangkit mengejar.
"Li Ai......!"
Akan tetapi tiba-tiba Hwe-thian Mo-li muncul di pintu sehingga pemuda itu mundur kembali.
"Orang she Bong! Engkau telah menghina adikku Kui Li Ai! Engkau memandang rendah Adikku! Engkau bilang hendak datang meminang ia sebagai isterimu, ternyata engkau menghinanya dengan mengatakan hendak mengambilnya menjadi selirmu! Engkau pemuda berengsek, sombong dan cintamu palsu! Engkau bilang mencinta akan tetapi merendahkan dan menghinanya!"
"Nona, aku tidak berbohong, aku memang mencintanya. Akan tetapi bagaimana mungkin ia menjadi isteriku? Ia sudah bukan perawan lagi, hal ini tentu akan mencemarkan nama dan kehormatanku!"
"Omong kosong! Engkau tidak mencinta Li Ai, tidak mencinta orangnya! Yang kau cinta hanya keperawanannya! Engkau munafik, berlagak terhormat akan tetapi sebetulnya engkau rendah dan hina. Engkau kotor berlagak bersih! Engkau menganggap Li Ai yang kehilangan keperawanannya karena dipaksa dan diperkosa orang sebagai hal yang kotor! Dan engkau sendiri bagaimana? Apakah engkau berani mengatakan bahwa engkau tidak kehilangan keperjakaanmu? Engkau menggauli wanita-wanita dengan sadar dan kausengaja, dan engkau masih menganggap dirimu bersih dan terhormat! Munafik berengsek!"
"Nona, engkau sungguh tidak adil! Aku sama sekali tidak menyalahkan Li Ai karena ia diperkosa dan tidak berdaya. Akan tetapi jelas aku tidak mungkin mengambilnya sebagai isteriku. Ah, kalau saja ia tidak menceritakan tentang perkosaan itu kepadaku, tentu ia akan kupinang sebagai isteriku......"
"Bohong! Aku mengenal laki-laki macam kamu ini! Kalau ia tidak menceritakan dan kemudian engkau mengetahui hal itu, pasti engkau akan menceraikannya karena ia tidak berterus terang, engkau tentu akan mengatakan ia berbohong dan menipumu. Engkau akan makin menghinanya! Jahanam busuk macam engkau ini patut dihajar!"
"Hwe-thian Mo-li, engkau sungguh keterlaluan!"
Teriak Bong Kongcu dengan marah.
"Keterlaluan? Huh, kau manusia kotor bersembunyi di balik hartamu. Kaukira harta dan keadaanmu yang terhormat itu dapat menutupi kekotoranmu? Harta, kedudukan, kepandaian, hanya pakaian saja. Kalau dikenakan orang yang memang kotor, tetap saja tampak kekotorannya yang menjijikkan! Pergi kau, sebelum aku kehilangan kesabaran dan kuajar engkau!"
"Hwe-thian Mo-li, aku akan mengerahkan orang-orangku untuk menghukummu karena engkau berani menghinaku!"
Teriak Bong Kongcu.
"Wuut...... plak-plak......!"
"Aduhh......!! Bong Kin terhuyung ke belakang. Ke dua tangannya menutupi ke dua pipinya yang bengkak-bengkak dan darah mengalir dari ke dua ujung bibirnya yang pecah-pecah. Dia lalu berlari keluar, diikuti Hwe-thian Mo-li yang marah-marah.
"Pergi, kau anjing Bong!"
Bentaknya sambil mendorong-dorong punggung Bong Kin sehingga terhuyung-huyung menuju ke pintu gerbang perkampungan Ban-hwa-pang.
Setelah keluar dari pintu gerbang, duabelas orang pengawal segera menyambut dan mereka merasa kaget dan heran melihat Bong Kongcu keluar terhuyung-huyung, mukanya bengkak-bengkak dan kedua ujung mulutnya berlepotan darah.
Mereka juga melihat betapa seorang gadis cantik dengan mata mencorong muncul dan memaki Bong Kongcu, mengusirnya.
"Pergi kamu, jahanam busuk!"
Melihat selosin orang pengawalnya, bangkit semangat Bong Kongcu.
Dia bukan seorang pemuda hartawan yang biasa bertindak sewenang-wenang.
Akan tetapi baru saja dia dihina dan ditampar Hwe-thian Mo-li padahal dia tidak merasa bersalah.
Maka tentu saja hatinya menjadi panas dan sakit.
Kini dia berkata kepada para pengawalnya.
"Perempuan itu telah menghina dan memukulku. Kalian balaskan sakit hatiku ini!"
Mendengar perintah Bong Kongcu, selosin orang pengawal tukang pukul itu serentak maju mengepung Siang Lan.
Mereka tadi memang sudah mendongkol karena tidak diperbolehkan memasuki perkampungan itu.
Kini melihat majikan mereka disakiti dan mereka menerima perintah untuk membalaskan, kemarahan mereka ditumpahkan kepada gadis yang memaki dan mengusir Bong Kongcu.
Akan tetapi karena yang mereka hadapi itu seorang gadis cantik, mereka kini berlumba untuk meringkusnya agar dapat mereka serahkan kepada Bong Kongcu, biar majikan mereka itu sendiri yang menghukumnya.
Melihat betapa selosin orang itu mengepungnya lalu menjulurkan tangan seolah hendak berlumba menangkapnya, Siang Lan menjadi marah sekali.
Tubuhnya berkelebat, kedua tangannya menampar-nampar dan kedua kakinya menendang-nendang.
Akibatnya, selosin orang itu mengaduh dan tubuh mereka berpelantingan disambar tamparan atau tendangan.
Dua belas orang tukang pukul itu terkejut bukan main, akan tetapi juga marah dan penasaran sekali.
Sambil meringis kesakitan mereka bangkit dan mencabut senjata golok mereka.
Pada saat itu, belasan orang wanita anggauta Ban-hwa-pang keluar dari pintu gerbang dengan senjata di tangan.
Mereka adalah tiga regu yang bersenjata tombak, golok, dan pedang masing-masing lima orang.
Agaknya mereka hendak maju menghadapi selosin tukang pukul yang sudah mencabut golok mereka itu.
Akan tetapi Siang Lan yang tahu benar bahwa para anggautanya belum pandai dan kuat benar, tidak ingin melihat mereka terluka.
Maka ia dengan nyaring berseru.
"Kalian diam dan..... lihat saja betapa aku menghajar anjing-anjing jantan ini!"
Mendengar seruan ini, tentu saja limabelas orang anggauta Ban-hwa-pang itu tidak berani membantah dan mereka lalu berdiri di luar pintu gerbang dengan tertib.
Siang Lan yang sudah menjadi marah sekali mengingat akan nasib Li Ai yang ditolak dan dipermalukan Bong Kin, melihat betapa duabelas orang anak buah pemuda hartawan itu mengepungnya dengan golok di tangan, ia cepat mencabut Lui-kong-kiam yang mengeluarkan sinar kilat mengerikan.
Akan tetapi sebelum ia bergerak, pada saat itu ia mendengar suara berbisik.
"Hwe-thian Mo-li, tidak baik membunuhi mereka yang hanya melakukan perintah majikan mereka!"
Siang Lan terkejut.
Suara itu berbisik dekat sekali dengan telinga kirinya.
Ia cepat menengok ke kiri namun tidak tampak ada orang yang berbisik itu!
Melihat gadis yang sudah mgncabut pedang itu kini tampak seperti bimbang atau bingung, duabelas orang tukang pukul mengira bahwa ia merasa jerih menghadapi mereka.
Hal ini membesarkan hati mereka dan sambil berteriak-teriak mereka pun langsung menyerang dari sekeliling Siang Lan.
Belasan golok itu menyambar-nyambar ke arah seluruh tubuh Siang Lan sehingga limabelas orang anak buah Ban-hwa-pang yang menonton merasa ngeri karena bagaimana mungkin ketua mereka dapat lobos dari serangan duabelas batang golok itu?
Akan tetapi, tentu saja bagi Siang Lan, serangan selosin batang golok itu bukan merupakan bahaya karena ia melihat betapa golok-golok itu digerakkan oleh tenaga kasar yang hanya mengandalkan otot.
Ia segera memutar pedangnya dengan putaran yang luar biasa cepatnya sehingga yang tampak hanya sinar kilat bergulung-gulung menyelimuti tubuh Siang Lan.
Segera terdengar bunyi berdencingan ketika golok-golok yang menyerang itu, bertemu dengan sinar kilat, disusul teriakan mereka yang tiba-tiba kehilangan golok mereka yang patah-patah dan terpental lepas dari tangan mereka.
Hwe-thian Mo-li (Lanjut ke
Jilid 05) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 sudah menggerakkan pedang dan kalau saja pada saat itu tidak terdengar lagi bisikan.
"Jangan bunuh!?' tentu pedangnya sudah membuat buntung leher selosin orang pengeroyok itu. Entah mengapa, suara bisikan itu amat berwibawa baginya dan Siang Lan menahan serangan pedangnya, kemudian hanya menggerakkan tangan kiri dan kaki berulang-ulang. Untuk kedua kalinya, kini lebih kuat lagi, mereka terpelanting roboh disambar tamparan atau tendangan! Duabelas orang itu kini kehilangan nyali mereka. Selain tamparan atau tendangan yang mereka terima untuk kedua kalinya ini membuat mereka patah tulang atau bengkak-bengkak, juga mereka kini baru menyadari benar bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita yang amat lihai. Mereka lalu teringat akan kabar bahwa Ban-hwa-pang telah terbasmi dan dikuasai oleh seorang wanita lihai yang berjuluk Hwe-thian Mo-li. Tentu inilah orangnya! Kini Siang Lan dengan pedang di tangan menghampiri Bong Kongcu yang berdiri dengan wajah pucat. Pemuda ini maklum bahwa nyawanya terancam maut, akan tetapi dia tidak takut.
"Hwe-thian Mo-li, engkau mengandalkan kepandaian silatmu untuk menghina kami yang datang sebagai tamu!"
"]ahanam Bong! Engkau masih berani mengeluarkan ucapan menyalahkan aku? Engkau yang telah menghina Li Ai dan engkau yang harus minta ampun, atau aku akan memenggal batang lehermu!"
"Aku tidak bersalah apa-apa!"
"Tidak mengaku salah? Engkau telah menghina Li Ai!"
"Siapa menghina? Aku tetap mencintanya dan mau membawanya ke rumahku sebagai selir tersayang. Aku tidak dapat memperisterinya karena keadaannya. Aku tidak menghinanya, akan tetapi engkau yang telah menghinaku, memukul aku dan orang-orangku. Engkau sewenang-wenang hwe-thian Mo-li!"
"Jahanam busuk!"
Siang Lan marah sekali dan ia mengangkat pedangnya untuk membacokkan ke leher pemuda hartawan itu.
Akan tetapi tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang laki-laki telah berdiri di dekat Siang Lan dan dia menahan lengan Siang Lan yang memegang pedang sehingga gadis itu tidak dapat membacokkan pedangnya ke arah leher Bong Kongcu.
Siang Lan terkejut sekali dan diam-diam ada perasaan girang dan juga penasaran ketika mengenal bahwa laki-laki itu adalah orang yang telah menolong ia dan Li Ai ketika dikeroyok orang-orang Pek-lian-kauw!
Ia merasa girang karena memang ia ingin berguru kepada orang ini, dan ia merasa penasaran karena orang itu kini menahan lengannya yang hendak membunuh Bong Kongcu.
Ia mengerahkan tenaga saktinya dan menggerakkan lagi lengan kanannya, akan tetapi tetap saja ia tidak mampu membacokkan pedangnya karena tangan kiri orang yang menahan lengannya itu kuat bukan main!
Siang Lan adalah seorang gadis yang tidak pernah takut menghadapi siapapun juga.
Kini ia merasa amat penasaran dan marah.
Tangan kirinya lalu bergerak mendorong ke arah dada laki-laki yang menghalangi niatnya membunuh Bong Kin.
"Wuut...... plakk!"
Telapak tangannya bertemu dada orang itu dan menempel, akan tetapi yang didorongnya itu sama sekali tidak terdorong dan ia bahkan merasakan betapa telapak tangan kirinya menjadi panas seperti dibakar!
"Tidak perlu membunuh, dia tidak cukup pantas untuk dibunuh!"
Kata laki-laki itu dan kini dia melepaskan tangannya dari lengan Siang Lan, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Bong Kin.
"Engkau pemuda yang tidak menghargai wanita, memandang rendah wanita yang tidak berdaya. Pergilah dan bawa semua anak buahmu dari sini!"
Orang itu mendorong dari jarak jauh dan tubuh Bong Kin melayang bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, lalu terbanting jatuh terguling-guling.
Beberapa orang anak buahnya yang tidak begitu parah segera menolong dan memapahnya, lalu mereka semua meninggalkan tempat itu dengan terpincang-pincang dan saling menolong untuk naik menunggangi kuda mereka.
Kini Siang Lan berhadapan dengan laki-laki itu yang bukan lain adalah Sie Bun Liong.
Semenjak terjadi peristiwa di Ban-hwa-pang, yaitu setelah di luar kesadarannya dia memperkosa Hwe-thian Mo-li, Sie Bun Liong yang merasa berdosa dan amat menyesal itu tidak pernah meninggalkan Hwe-thian Mo-li.
Mula-mula dia menggunakan topeng, mengaku bernama Thian-te Mo-ong, memberi semangat hidup kepada gadis itu agar tetap hidup dan memperdalam ilmunya sehingga kelak dapat membalas dendam dan membunuh Thian-te Mo-ong yang mengaku sebagai pelaku pemerkosaan itu.
Kemudian, Sie Bun Liong tidak pernah meninggalkan Hwe-thian Mo-li, selalu membayanginya dan dia selalu menolong kalau gadis itu terancam bahaya.
Sekarang pun dia muncul, bukan untuk melindunginya, melainkan untuk mencegah gadis itu melakukan pembunuhan dengan kejam.
"Kenapa engkau dulu menolong aku dari pengeroyokan orang-orang Pek-lian-kauw? Bukankah engkau pula yang dulu mengobatiku ketika aku pingsan?"
Sie Bun Liong menjawab tenang.
"Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menolong sesamanya yang terancam bahaya dan menderita kesusahan."
"Akan tetapi mengapa engkau sekarang menentangku dan menghalangi aku membunuh pemuda Bong yang berengsek bersama anak buahnya itu?"
"Yang kutentang adalah kekejamanmu akan membunuh orang-orang yang sudah tidak berdaya, dan sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk mengingatkan sesamanya yang tersesat."
Siang Lan merasa heran terhadap dirinya sendiri mengapa ia tidak menjadi marah dan tidak merasa benci terhadap orang yang telah menghalangi niatnya membunuh Bong Kongcu dan anak buahnya tadi.
Mungkin karena aku mengharapkan dia akan membantunya memperdalam ilmu silatku, pikirnya menghibur diri sendiri.
"Aku telah berhutang budi kepadamu, Paman. Bolehkah aku mengetahui namamu?"
Tanya Siang Lan.
Sie Bun Liong tersenyum mendengar gadis itu menyebutnya paman.
Memang sudah sepatutnya kalau dia menjadi paman gadis itu.
Usianya sudah empatpuluh dua tahun sedangkan Hwee-thian Mo-li yang liar dan ganas itu paling banyak berusia duapuluh dua atau duapuluh satu tahun!
"Tentu saja boleh, Nona.
Namaku sendiri aku sudah lupa karena tidak kupergunakan lagi.
Maka engkau boleh mengenalku sebagai Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama)."
"Paman Bu-beng-cu, aku adalah Hwe-thian Mo-li, ketua dari Ban-hwa-pang. Karena Paman sudah berkali-kali menolongku, maka kupersilakan Paman memasuki perkampungan kami karena aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Silakan, Paman."
Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Nona. Ban-hwa-pang kini merupakan perkumpulan wanita, bagaimana aku boleh memasukinya? Kalau engkau mempunyai kepentingan untuk dibicarakan denganku, kita dapat bicara di sini saja."
Siang Lan menoleh kepada belasan orang anak buah Ban-hwa-pang yang masih berdiri di depan pintu gerbang dan memberi isyarat kepada mereka agar masuk kembali ke dalam perkampungan Ban-hwa-pang.
Setelah mereka semua masuk, ia menghadapi lagi Bu-beng-cu dan berkata sambil menatap wajah laki-laki itu.
"Begini, Paman Bu-beng-cu. Aku telah melihat ilmu kepandaian silat Paman yang amat tinggi. Karena itu, sejak Paman membantuku, telah timbul niat dalam hatiku untuk dapat belajar ilmu silat darimu. Demikianlah, Paman, aku ingin berguru padamu jika Paman tidak berkeberatan."
Bu-beng-cu mengangguk-angguk.
"Hwe-thian Mo-li, engkau adalah seorang wanita yang telah memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi dan kukira jarang ada musuh yang dapat mengalahkanmu. Kenapa engkau masih hendak belajar silat lagi?"
"Paman Bu-beng-cu, aku harus memperdalam ilmu silatku karena aku mempunyai seorang musuh besar yang tinggi sekali ilmu silatnya. Tanpa memperdalam ilmuku, tak mungkin aku dapat membalas dendam terhadap musuh besarku itu. Karena itu, Paman, janganlah kepalang menolongku. Terimalah aku sebagai muridmu dan aku selamanya akan merasa berterima kasih sekali kepadamu!"
"Hemm, Hwe-thian Mo-li, melihat kesungguhan hatimu, aku tidak keberatan untuk mengajarkan ilmu silat untuk memperdalam ilmumu. Akan tetapi aku baru mau mengajarmu kalau engkau dapat memenuhi syarat-syaratnya."
"Aku akan melakukan apa pun yang menjadi syaratnya, Paman Bu-beng-cu!"
Kata Hwe-thian Mo-li dengan sungguh-sungguh karena baginya, tujuan utama sisa hidupnya hanya untuk membalas dendam dan membunuh Thian-te Mo-ong!
"Syarat pertama adalah bahwa aku tidak mau kausebut guru karena aku sejak dulu tidak berkeinginan mengambil murid.
Sebut saja aku Bu-beng-cu, tanpa embel-embel Suhu, dan engkau tidak boleh memberitahukan siapa pun bahwa engkau muridku."
"Akan kulaksanakan syarat itu, Paman, sungguhpun syaratmu ini aneh. Baik, aku akan selalu menyebutmu Paman Bu-beng-cu."
"Syarat kedua, aku tidak mau tinggal di dalam perkampungan Ban-hwa-pang karena sebagai seorang laki-laki, tidak pantas tinggal di perkampungan wanita. Aku tinggal di dalam guha di lereng sebelah utara sana. Kalau engkau belajar ilmu, engkaulah yang harus datang ke sana setiap hari di waktu matahari mulai bersinar. Engkau akan kuberi pelajaran dan latihan sampai siang hari."
"Baik, Paman. Syarat kedua ini pun akan kutaati dan kulaksanakan dengan baik."
"Sekarang syarat ketiga dan terakhir, namun aku merasa sangsi apakah engkau akan dapat memenuhi syarat ini ataukah tidak."
"Apakah syarat itu, Paman. Kedua syarat pertama amat mudah kulaksanakan dan betapa pun berat syarat yang terakhir, pasti akan kutaati dan kulaksankan!"
Kata Siang Lan penuh semangat karena hatinya merasa girang sekali bahwa laki-laki yang amat lihai ini sudah mau mengajarinya ilmu silat tinggi.
"Syarat terakhir ini harus kaujanjikan dengan sumpah."
"Baik, Paman! Aku akan bersumpah. Katakan apa syarat itu!"
"Syaratnya adalah, setelah engkau mempelajari ilmu-ilmu dariku, engkau harus bersumpah kelak tidak akan melakukan pembunuhan lagi. Selama hidupmu engkau tidak boleh lagi bersikap ganas dan kejam, mudah membunuh orang!"
Wajah Siang Lan berubah agak pucat alisnya berkerut dan mukanya muram.
Ia segera teringat kepada Thian-te Mo-ong.
Justeru ia ingin memperdalam ilmu silatnya agar kelak dapat membunuh musuh besar yang telah merusak kebahagiaan hidupnya!
Biarlah ia selamanya tidak boleh membunuh orang, asalkan ia mencapatkan ilmu-ilmu untuk membunuh Thian-te Mo-ong!
"Paman, bagaimana kalau aku diserang orang dan terancam bahaya maut di tangan musuh itu?"
"Kalau terpaksa sekali untuk membela diri, tentu saja itu bukan merupakan kekejaman membunuh. Maksudku kalau masih ada jalan lain engkau sama sekali tidak boleh membunuh orang. Cukup dengan mengalahkan, merobohkan dan melukai ringan saja. Bagaimana, apakah engkau sanggup? Kalau sanggup, bersumpahlah sekarang juga!"
Karena merasa tersudut, Siang Lan lalu nekat. Ia berlutut dan mengucapkan sumpahnya.
"Aku bersumpah untuk tidak membunuh orang lagi kecuali membela diri karena terancam bahaya. Sumpah ini berlaku untuk semua orang di dunia, kecuali satu orang, yaitu Thian-te Mo-ong. Aku bersumpah untuk membunuhnya karena membalas sakit hati dan membunuhnya merupakan satu-satunya keinginanku dalam hidup ini!"
Mendengar sumpah itu, Bu-beng-cu memandang dengan wajah pucat, alisnya berkerut, matanya tampak gelisah dan dia menghela napas panjang.
"Hwe-thian Mo-li, agaknya engkau tidak dapat mengampuni musuhmu yang satu itu......"
"Mengampuninya? Hemm, mau rasanya aku membunuhnya sampai seribu kali untuk menebus dosanya terhadap diriku! Aku menggunakan sisa hidupku ini hanya untuk membalas dendam kepadanya, Paman. Apa pun akan kujalani untuk dapat berhasil membunuhnya!"
"Baiklah, Hwe-thian Mo-li. Harap engkau memegang sumpahmu, yaitu tidak akan membunuh siapa-siapa lagi kecuali musuh besarmu yang satu itu."
Dia menghela napas lagi.
Memang sejak terjadi peristiwa jahanam di malam itu, dia sudah mengambil keputusan.
Untuk menebus dosanya, dia harus mati di tangan gadis ini.
Akan tetapi sebagai seorang gagah, baik dia sendiri maupun Hwe-thian Mo-li, kematiannya harus terjadi sewajarnya, yaitu dalam perkelahian.
Dan dia sendiri yang akan melatih gadis ini agar tingkat kepandaiannya cukup kuat untuk mengalahkan dan membunuhnya!
Dengan cara ini, bukan saja dia dapat menebus dosanya, juga dia dapat membuat Hwe-thian Mo-li tidak putus asa dan memiliki semangat untuk terus hidup dan berjuang.
Selain itu, dia juga dapat mengubah sifat gadis yang tadinya liar dan ganas, mudah membunuh orang itu dengan ikatan sumpahnya.
Dengan mengorbankan dirinya kelak, dia dapat membuat banyak kebaikan, bagi dirinya sendiri, bagi Hwe-thian Mo-li, juga bagi rakyat karena mereka kini terbebas dari ancaman maut di tangan Si Iblis Betina Terbang ini.
"Sekarang aku hendak kembali ke guhaku. Mulai besok pagi, setelah matahari tampak bersinar, datanglah ke sana dan kita mulai latihan."
Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Siang Lan, sekali berkelebat Bu-beng-cu telah lenyap dari situ.
Melihat gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang demikian hebatnya, Siang Lan merasa kagum dan juga girang sekali.
Ia tahu bahwa dalam hal gin-kang ia masih kalah jauh.
Siang Lan kembali ke dalam perkampungan, terus memasuki rumahnya dan ia mendapatkan Li Ai tengah menangis tanpa suara sambil membenamkan muka pada bantal......
Melihat kedua pundaknya yang tergoyang-goyang itu Siang Lan tahu bahwa gadis itu sedang menangis.
Ia duduk di tepi pembaringan dan menyentuh pundak Li Ai.
"Li Ai, hentikan tangismu. Tiada gunanya menangis. Engkau masih beruntung tidak jadi berjodoh dengan pemuda macam itu."
Li Ai bangkit dan merangkul Siang Lan, kini tangisnya mengguguk.
"Enci Lan...... ahh, kenapa aku tidak mati saja......??"
Rintihnya memelas. Siang Lan dapat merasakan kepedihan di hati Li Ai, maka teringat akan keadaan dirinya sendiri, tak terasa lagi ia pun balas merangkul dan sepasang matanya basah.
"Tenang, dan sabarlah, Li Ai, jangan putus asa. Engkau tidak menderita seorang diri. Aku pun pernah ingin mati saja seperti engkau sekarang ini, aku pun pernah menjadi korban kebiadaban laki-laki."
Li Ai tiba-tiba menghentikan tangisnya saking terkejut dan heran mendengar ucapan Siang Lan itu.
"Kau......? Maksudmu...... engkau juga pernah diperkosa orang, Enci?"
Siang Lan mengangguk dan menghela napas panjang.
"Benar, Li Ai. Dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak, aku telah diperkosa seorang manusia iblis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali."
"Akan tetapi, engkau begini lihai, bagaimana sampai dapat terjadi hal itu?"
"Aku tertotok, dan orang itu memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi dariku. Tadinya aku pun sudah putus asa dan ingin bunuh diri saja. Akan tetapi aku teringat bahwa aku tidak boleh mati sebelum membalas dendam, sebelum membunuh musuh besarku itu! Bangkit kembali semangatku dan aku harus memperdalam ilmuku sehingga dapat mengalahkan musuh besarku."
"Aih, Enci, sungguh tidak pernah kusangka bahwa engkau pun pernah mengalami malapetaka seperti aku. Siapakah musuh besarmu itu, Enci?"
"Dia seorang pengecut benar, tidak berani memperlihatkan wajahnya yang selalu mengenakan sebuah topeng kayu dan dia mengaku berjuluk Thian-te Mo-ong. Belum pernah aku mendengar nama julukan itu di dunia kang-ouw. Aku tidak dapat mencarinya karena dia tidak mau memberitahukan di mana tempat tinggalnya. Akan tetapi dia berjanji dengan penuh kesombongan bahwa setiap tahun dia akan datang mencariku untuk mengadu ilmu."
"Aku akan memperdalam ilmuku dan aku sudah menemukan seorang guru, Li Ai, yaitu laki-laki setengah tua yang dulu menolong kita melarikan diri ketika dikepung orang-orang Pek-lian-kauw. Dia itu lihai sekali dan kuharap setelah mendapat gemblengannya, aku akan berhasil membunuh si keparat jahanam pengecut Thian-te Mo-ong!"
Siang Lan bicara penuh semangat sambil mengepal tinju. Li Ai yang sudah menghentikan tangisnya karena tertarik oleh keterangan Siang Lan tadi, menghela napas panjang.
"Enci, bagaimana pun engkau masih mempunyai semangat hidup karena masih memiliki tujuan, yaitu membalas sakit hatimu terhadap orang-orang yang telah memperkosamu. Akan tetapi aku, apa artinya hidup ini? Dua orang yang menghinaku itu telah kau bunuh, dan namaku juga tentu akan tercemar karena Bong Kin itu tentu akan menyiarkan tentang keadaanku yang sudah ternoda. Semua orang di kota raja akan mendengarnya. Ah, apa gunanya aku hidup lebih lama?"
"Dia tidak akan berani, Li Ai. Aku sudah menghajarnya habis-habisan, bahkan nyaris membunuhnya. Juga selosin orang anak buahnya telah kuberi pelajaran keras. Seandainya dia belum jera dan masih menyiarkan berita tentang dirimu, kelak engkau masih mempunyai banyak kesempatan untuk membalas penghinaannya!"
"Akan tetapi, apa yang dapat kulakukan terhadap orang she Bong itu, Enci? Aku seorang gadis lemah dan tak berdaya......"
"Hemm, bukankah aku sudah berjanji untuk mengajarkan ilmu silat kepadamu? Jangan putus asa dan buang jauh-jauh keinginanmu untuk mati itu. Hidupmu masih kau butuhkan dan dibutuhkan banyak orang. Kelak, kalau engkau sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, engkau dapat membantuku untuk memberi hajaran keras kepada para pria yang jahat dan yang menghina kaum wanita. Kita berdua akan malang melintang di dunia kang-ouw, menjadi pembela kaum wanita dan penentang pria yang suka menghina wanita."
"Bagaimana pendapatmu? Bukankah itu merupakan tujuan sisa hidup kita yang amat baik? Kita perangi para pria yang jahat dan kita bangun Ban-hwa-pang menjadi perkumpulan wanita gagah yang melindungi kaum wanita dari kejahatan laki-laki berengsek seperti Thian-te Mo-ong, dua orang tokoh Pek-lian-kauw yang sudah mati di tanganku, juga orang-orang macam Bong Kin itu!"
Mendengar ini, bangkit semangat hidup Li Ai.
Ia harus dapat melupakan apa yang telah terjadi kepadanya.
Dua orang jahanam yang memperkosanya itu sudah dibunuh Siang Lan, sakit hatinya telah terbalas impas dan ia tidak perlu memikirkan dua orang musuh besar itu lagi.
Adapun tentang kegagalannya berjodoh dengan Bong Kongcu, hal itu sama sekali tidak membuat ia berduka atau kecewa karena kenyataannya, ia belum mempunyai perasaan cinta kepada pemuda itu.
Hanya sikap dan kata-kata pemuda itu yang membuat ia merasa terhina.
Biarpun Bong Kongcu telah dihajar oleh Siang Lan, namun pemuda yang menghinanya itu masih hidup.
Siang Lan benar, harus mempelajari ilmu silat.
Kalau ia sudah kuat dan tangguh ia akan menghajar semua laki-laki macam dua orang tosu Pek-lian-kauw, Bong Kin, dan semua hidung belang mata keranjang yang menjadi jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga atau pemerkosa)!
Sisa hidupnya kini mempunyai tujuan!
Demikianlah, mulai hari itu, setiap pagi sekali Siang Lan keluar dari perkampungan Ban-hwa-pang untuk menerima gemblengan ilmu dari Bu-beng-cu.
Pertama-tama, Bu-beng-cu mengajarkan ilmu untuk memperkuat gin-kangnya hingga gerakannya menjadi semakin ringan dan makin cepat.
Setelah pada siang harinya ia kembali ke perkampungan, Siang Lan melatih ilmu silat kepada Li Ai yang belajar dengan tekun sekali.
Juga para anak buah Ban-hwa-pang menerima latihan agar mereka menjadi lebih kuat.
Pekerjaan semua wanita di Ban-hwa-pang mulai dari ketuanya sampai kepada anak buahnya yang tingkatnya paling rendah, setiap hari hanya berlatih ilmu silat.
Harta yang dibawa Li Ai dari rumah ayahnya amat bermanfaat bagi Ban-hwa-pang.
Perkampungan itu dibangun, dan atas petunjuk Siang Lan dan Li Ai lembah itu ditata dan diperbaiki, tumbuh-tumbuhan bunga beraneka macam itu diatur rapi sehingga lembah itu tampak semakin asri dan pantaslah kalau dinamakan Lembah Selaksa Bunga.
Lembah yang luas itu dibentuk seperti sebuah taman bunga yang indah, dengan bangunan kecil-kecil mungil, beranda-beranda yang dicat beraneka warna di dekat empang-empang ikan dan bunga teratai.
Di beranda-beranda itu digantungi lampu-lampu sehingga kalau malam tiba, lampu-lampu dengan selubung beraneka warna itu menambah indah taman atau lembah itu.
Di bagian lain dari lembah itu ditanami tumbuh-tumbuhan obat dan ada pula bagian taman yang-liu (semacam cemara) yang mendatangkan suasana sejuk.
Karena setiap hari hanya berlatih ilmu silat dan juga melatih Li Ai dan para anak buah Ban-hwa-pang, maka Siang Lan lupa akan waktu.
Apalagi karena Bu-beng-cu setiap hari melatih gin-kang sehingga setelah lewat kurang lebih setengah tahun, gin-kangnya sudah maju pesat dan kini ia bahkan mampu mengimbangi kecepatan gerakan Bu-beng-cu.
Pada pagi itu, seperti biasa Siang Lan datang ke depan guha yang menjadi tempat tinggal Bu-beng-cu.
Laki-laki itu menyambutnya dengan senyum cerah.
Begitu berhadapan, Siang Lan seperti terpesona.
Laki-laki yang melatihnya akan tetapi tidak mau disebut guru itu tampak segar karena rambutnya yang hitam panjang itu masih basah dan digelung ke atas, diikat pita kuning.
Mukanya yang dicukur bersih itu tampak lebih muda dari usianya yang sudah empatpuluh dua tahun.
Pakaiannya yang sederhana namun bersih tidak menyembunyikan tubuhnya yang sedang namun tegap.
Sepasang matanya bersinar lembut mulutnya tersenyum.
Dalam penglihatan Siang Lan pada saat itu, Bu-beng-cu tampak amat gagah dan menarik hati.
Apalagi mengingat betapa laki-laki ini selain menyelamatkannya dari bahaya juga telah menggemblengnya dengan sungguh-sungguh walaupun tidak mau disebut sebagai guru.
Sikapnya selalu lembut, pandang matanya mendatangkan ketenangan dalam hatinya dan senyum serta sikapnya terkadang jelas menunjukkan bahwa Bu-beng-cu menghormati dan menyayangnya.
Dan anehnya, selama setengah tahun lebih ini Bu-beng-cu sama sekali tidak pernah mengajak ia bicara tentang keadaan diri masing-masing, seolah dia tidak suka menceritakan riwayat hidupnya dan tidak pula ingin tahu riwayat hidup Hwe-thian Mo-li.
Kalau dia bicara, yang dibicarakan tentu soal ilmu mempertinggi gin-kang yang sedang dilatih Siang Lan!
Pagi ini, Siang Lan sengaja datang lebih pagi daripada biasanya karena ia mengambil keputusan untuk mengajak Bu-beng-cu bicara tentang riwayat mereka masing-masing agar mereka dapat saling mengenal lebih baik.
Ia merasa berhutang budi kepada Bu-beng-cu dan ingin mempererat persahabatan karena laki-laki itu tidak mau dianggap guru.
Biarlah hubungan guru dan murid ini menjadi hubungan persahabatan yang lebih akrab, demikian pikirnya.
Akan tetapi begitu mereka berhadapan, sebelum ia dapat mengeluarkan kata-kata, Bu-beng-cu sudah mendahului menegurnya dengan suara ramah dan senyum tenang dan sabar.
"Hwe-thian Mo-li, engkau datang pagi benar, lebih pagi dari biasanya."
Siang Lan tersenyum.
Ia sering merasa heran sendiri mengapa ia yang biasanya mempunyai perasaan tidak senang kepada laki-laki, apalagi semenjak cinta pertama terhadap Sim Tek Kun gagal, ia merasa tidak enak hati dan tidak suka.
Rasa suka ini hampir berubah menjadi benci terhadap pria setelah ia mengalami peristiwa terkutuk menjadi korban perkosaan itu.
Akan tetapi mengapa kalau ia bertemu dengan Bu-beng-cu, ia merasa gembira sekali?
Hal ini karena ia merasa berhutang budi dan pria yang satu ini memang lain daripada yang lain.
Biasanya setiap ia bertemu laki-laki, mata mereka itu pasti memandangnya bagaikan seekor anjing kelaparan melihat daging seolah sinar mata itu menggerayangi seluruh tubuhnya.
Akan tetapi sinar mata Bu-beng-cu ini lain.
Selalu lembut tidak pernah terlalu lama mengamati wajahnya, bahkan jarang dapat bertemu pandang karena laki-laki ini selalu mengelak kalau pandang matanya bertemu dengan pandang mata Siang Lan.
"Paman Bu-beng-cu, aku memang sengaja datang lebih pagi karena aku ingin lebih dulu membicarakan sesuatu denganmu sebelum aku mulai terlatih."
"Hendak membicarakan apakah, Hwe-thian Mo-li? Katakan saja karena hari ini engkau tidak perlu latihan lagi. Hari ini aku akan menguji sampai di mana kemajuan gin-kangmu selama engkau memperdalamnya lebih dari setengah tahun."
"Setengah tahun lebih?"
Siang Lan berseru kaget karena selama ini ia seolah telah melupakan waktu.
Setelah ia mengingat-ingat, hari ini tentu sudah setahun lewat sejak musuh besarnya berjanji untuk menemuinya dan mengadu ilmu!
"Kalau begitu, sewaktu-waktu tentu musuh besarku akan muncul mencariku untuk membuat perhitungan dan mengadu ilmu!"
"Apakah yang ingin kau bicarakan dengaanku?"
Bu-beng-cu menunju ke arah batu-batu sebesar perut kerbau yang terdapat banyak di depan guha besar tempat tinggalnya. Mereka lalu duduk di atas batu, berhadapan dalam jarak dua tombak.
"Begini, Paman. Telah lebih dari setengah tahun kita berhubungan, biarpun bukan sebagai guru dan murid karena engkau tidak mau kusebut guru, setidaknya sebagai sahabat baik. Aku berhutang banyak budi kebaikan darimu, akan tetapi kita tidak saling mengenal riwayat masing-masing. Oleh karena itu, aku harap engkau suka mendengarkan riwayatku kemudian engkau menceritakan riwayatmu kepadaku sehingga perkenalan ini menjadi semakin akrab. Kalau engkau setuju, aku akan menceritakan riwayatku lebih dulu. Bagaimana pendapatmu, Paman?"
Bu-beng-cu menghela napas panjang, akan tetapi wajahnya tetap tenang.
"Terserah kepadamu, Nona."
Siang Lan girang sekali mendengar pria itu tidak merasa keberatan.
Maka ia lalu menceritakan riwayatnya dengan singkat tanpa ragu, akan tetapi tentu saja tidak mau bercerita tentang kegagalan cintanya dengan Sim Tek Kun, putera pangeran yang menjadi tokoh Kun-lun-pai itu.
"Sejak kecil aku kehilangan Ayah Ibuku. Aku menjadi yatim piatu dan hidup sebatang kara. Dalam usia sepuluh tahun, aku ditolong dan diambil murid oleh Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu dan dibawa ke Liong-cu-san."
"Hemm, pantas ilmu silatmu tinggi. Aku pernah mendengar nama besar pahlawan bangsa Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu,"
Kata Bu-beng-cu kagum. Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Delapan) memang terkenal sekali sebagai seorang pendekar patriot yang amat lihai ilmu pedangnya, gagah perkasa dan berjiwa pahlawan.
"Suhu Pat-jiu Kiam-ong yang memelihara, membesarkan dan mendidikku, maka engkau dapat membayangkan kedukaan dan kemarahanku ketika Suhu dibunuh secara curang oleh lima orang kang-ouw golongan sesat."
"Hemm, siapakah mereka?"
"Mereka adalah Leng Kok Hosiang berjuluk Jai-hwa-sian (Dewa Pemetik Bunga), Toat-beng Sin-to (Golok Sakti Pencabut Nyawa) Liok Kong, Hek-wan (Lutung hitam) Yap Cin, Shan-tung Tai-hiap (Pendekar Shan-tung) Siong Tat, dan Kim-gan-liong (Naga Mata Emas) Cin Liu Ek. Aku dan Sumoi Ong Lian Hong mencari lima orang pembunuh Suhu itu dan akhirnya kami berdua dapat membunuh mereka. Sumoi Ong Lian Hong adalah puteri mendiang Suhu."
"Kim-gan-liong Cin Liu Ek? Bukankah dia yang tinggal di kota Lun-cong. Akan tetapi sebelum aku tinggal di sini, aku pernah bertemu dengan pendekar itu dan dia ternyata seorang pendekar bijaksana dan tidak terbunuh......"
"Benar, Paman. Aku tidak membunuhnya karena ternyata di antara lima orang yang kami sangka mengeroyok dan membunuh Suhu, ternyata Kim-gan-liong Cin Lu Ek tidak ikut membunuhnya dan dia tidak bersalah."
Bu-beng-cu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus sekali, kebijaksanaanmu itu sebaiknya ditingkatkan dengan tidak melakukan pembunuhan, Hwe-thian Mo-li. Biarpun ada yang bersalah kepadamu, sebaiknya engkau hanya memberi pelajaran kepadanya agar orang itu menyadari kesalahannya dan bertobat. Orang yang melakukan perbuatan jahat ada seorang yang sedang sakit, bukan jasmaninya melainkan sakit rohaninya. Penyakit itu dapat sembuh dan orang yang sehat pun sewaktu-waktu dapat saja jatuh sakit. Orang sesat mungkin saja bertobat dan menjadi baik, seperti kemungkinan orang baik-baik tergoda dan melakukan perbuatan jahat. Kita sama sekali tidak berhak membunuh orang."
"Akan tetapi, seperti sumpahku, Paman, aku tidak akan membunuh orang lagi kecuali yang seorang itu, musuh besarku Thian-te Mo-ong."
Kembali Bu-beng-cu menghela napas panjang.
"Terserah kepadamu, engkau tentu memiliki alasan kuat untuk berkeras membunuhnya. Lanjutkan ceritamu."
"Aku selalu menentang kejahatan dan terhadap para penjahat itu aku tidak pernah memberi ampun dan bertindak tegas dan keras sehingga para kaum sesat di dunia kang-ouw memberi julukan Hwe-thian Mo-li kepadaku. Aku tidak peduli akan julukan Iblis Betina, karena aku memang ganas seperti iblis terhadap kaum sesat. Pada suatu hari, aku jatuh pingsan di lereng Ban-hwa-san ini, aku ditangkap oleh Ketua Ban-hwa-pang dan dikeram dalam sebuah kamar dalam keadaan tertotok. Aku tidak berdaya dan pada malam harinya...... muncul...... Thian-te Mo-ong itu...... dia...... menghina aku yang sedang tak berdaya! Karena itulah aku mendendam kepadanya dan aku bersumpah untuk membalas membunuhnya! "Setelah jahanam itu pergi dan aku terbebas dari totokan, aku lalu mengamuk. Kubunuh Ketua Ban-hwa-pang berikut semua anak buahnya dan aku menguasai Ban-hwa-pang. Kini akulah Ketua Ban-hwa-pang dan para anggautanya terdiri dari para wanita bekas anak buah Ban-hwa-pang lama. Aku bertemu dengan engkau yang berkali-kali telah menolongku dan melihat kelihaianmu, aku ingin belajar ilmu silat, memperdalam ilmuku agar kelak dapat kupergunakan untuk membalas dendam kepada musuh besarku, dan juga untuk menghadapi Pek-lian-kauw yang jahat dan yang memiliki banyak orang pandai."
Siang Lan menghentikan ceritanya dan menatap wajah Bu-beng-cu.
Ia merasa heran melihat wajah yang biasanya cerah itu kini tampak agak muram.
Melihat Bu-beng-cu kini diam saja sambil mengerutkan alis dan menundukkan mukanya, Siang Lan bertanya.
"Paman, bagaimana dengan riwayatmu? Sekarang giliranmu untuk menceritakan riwayatmu kepadaku."
Bu-beng-cu menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Apakah yang dapat kuceritakan? Tidak ada suatu yang menarik tentang diriku. Apa yang ingin kau ketahui?"
Siang Lan maklum bahwa orang tentu hendak menyembunyikan keadaan dirinya, maka namanya pun sudah menunjukkan bahwa dia tidak ingin dikenal orang. Hal ini membuatnya penasaran.
"Paman, dengan menggunakan nama Bu-beng-cu (Si Tanpa Nama) engkau seperti menyangkal dirimu sendiri. Aku ingin mengetahui apakah Paman mempunyai keluarga, isteri atau anak-anak?"
Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Hwe-thian Mo-li, aku tidak mempunyai keluarga, aku hidup sebatang kara, hanya hidup berdua dengan bayanganku yang sering kali menggangguku."
Jawaban yang aneh itu membuat Siang Lan menjadi semakin penasaran.
"Apakah Paman tidak pernah beristeri?"
"Tidak, sejak kecil aku merantau jauh ke barat dan selama ini aku hanya mempelajari ilmu silat."
"Akan tetapi sikap Paman lembut dan kata-kata Paman teratur seperti seorang sastrawan."
Senyum yang biasanya menghias mulut orang itu kini muncul sehingga hati Siang Lan merasa tenang.
"Aku suka mempelajari sastra dan aku sudah membaca kitab-kitab suci dari tiga agama, yaitu Hud-kauw (Buddhism), To-kauw (Taosim), dan Khong-kauw (Confucianism)."
Diam-diam ada perasaan lega dan girang dalam hati Siang Lan mendengar bahwa Bu-beng-cu tidak mempunyai keluarga seperti juga dirinya sendiri, dan ia pun heran akan dirinya sendiri mengapa merasa girang mendengar akan kesendirian laki-laki itu.
Kini mendengar bahwa Bu-beng-cu agaknya ahli akan kitab-kitab tiga agama yang waktu itu memiliki pengaruh besar dalam kebudayaan dan kehidupan rakyat, dengan penasaran ia bertanya.
"Paman, aku melihat betapa semua orang agaknya beragama. Akan tetapi mengapa kejahatan merajalela dan bahkan mereka yang sudah mengenakan jubah pendeta, mengaku sebagai ahli agama, masih suka melakukan perbuatan jahat?"
Kini wajah Bu-beng-cu bersinar dan tampak bersemangat setelah Siang Lan bicara tentang agama.
"Hwe-thian Mo-li, jangan heran melihat gejala seperti itu. Yang jahat itu bukanlah agamanya, melainkan manusianya. Kalau ada seorang manusia mengaku beragama dan dia melakukan perbuatan jahat, maka dia itu bukanlah seorang beragama, melainkan seorang penjahat yang mengaku-aku beragama. Agamanya hanya dipergunakan sebagai kedok untuk menutupi perbuatannya. Kalau dia benar seorang beragama, pasti dia tidak mau dan tidak berani melakukan kejahatan karena hal itu dilarang oleh semua agama.
"Demikian pula kalau ada seorang pendeta agama melakukan perbuatan jahat, dia hanya seorang manusia yang palsu dan menggunakan pakaian pendeta dan agamanya sebagai kedok belaka. Agama merupakan pelajaran agar manusia menjadi baik dan benar, namun pelajaran itu tidak ada artinya sama sekali kalau tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Api atau inti semua agama itu terbukti dalam sikap dan perbuatan sehari-hari, adapun semua upacaranya itu kalau tidak terbukti apinya, hanya menjadi asap dan abu yang menggelapkan mata dan mengotori keadaan belaka."
Siang Lan adalah seorang wanita yang cerdas.
Biarpun hanya sedikit saja pengetahuannya tentang filsafat dan agama, namun ucapan Bu-beng-cu itu berkesan dalam hatinya dan ia dapat mengerti maksudnya.
Akan tetapi, juga mendatangkan rasa penasaran dalam hatinya yang mendorongnya ingin mengetahui lebih banyak lagi.
"Paman, karena demikian banyaknya terdapat orang yang beragama akan tetapi melakukan perbuatan jahat yang dilarang agamanya, apakah tidak lebih baik kalau manusia tidak beragama saja?"
Bu-beng-cu tertawa.
"Bukan begitu, Nona. Agama merupakan obor bagi manusia yang hidup di dunia ini, dunia yang bagaikan sebuah lorong yang gelap. Obor itu akan menerangi lorong sehingga kita dapat melihat ke arah mana kita melangkah, karena ada jalan menuju kepada Thian (Tuhan) yang menjadi Sumber kita, akan tetapi juga ada jalan yang membawa kita ke jurang dosa dan kehancuran.
"Agama sebagai obor itu memang amat penting dan setiap orang seyogianya memegang obor masing-masing agar jangan salah jalan. Akan tetapi, apakah artinya obor bernyala di tangan kalau kita tidak mau melangkah ke arah jalan kebenaran. Apa artinya semua pelajaran keagamaan kita pelajari dan kita hafalkan kalau tidak kita laksanakan dalam hidup ini? Jadi, agama baru bermanfaat kalau kita amalkan sesuai dengan ajarannya.
"Sebaliknya, kalau orang tidak beragama, bagaikan berjalan dalam lorong gelap tanpa mempunyai obor penerangan, dia sudah tersesat atau jatuh tersandung. Memiliki obor tanpa melangkah atau tidak memegang obor penerangan sama sekali, sama buruknya. Yang benar adalah membawa obor yang menerangi jalan hidup sambil melangkah atau memiliki agama sambil mengamalkan pelajaran agamanya."
"Ah, kalau aku tidak keliru berpendapat, seorang penjahat yang beragama itu lebih sesat dibandingkan seorang penjahat yang tidak beragama. Betulkah itu, Paman?"
"Dua-duanya jelas tidak betul karena melakukan kejahatan. Akan tetapi dosa orang yang beragama namun jahat lebih buruk lagi karena dia mencemarkan kebersihan agama itu sendiri. Ah, sudahlah, Hwe-thian Mo-li, sekarang tiba saatnya aku menguji gin-kangmu. Mari kita berlumba lari sampai ke puncak bukit itu mengambil sebuah batu kapur yang hanya terdapat di puncak lalu cepat kembali ke sini."
Dengan gembira Siang Lan mengangguk dan setelah Bu-beng-cu memberi isyarat, mereka berdua lalu berkelebat sedemikian cepatnya sehingga yang tampak hanya dua sosok bayangan melejit ke arah puncak bukit.
Siang Lan mengerahkan gin-kang yang sudah maju pesat dan kini larinya jauh lebih cepat dibandingkan setengah tahun yang lalu.
Kalau ada orang melihat mereka, tentu akan terkejut dan mungkin ketakutan, mengira bahwa dua sosok bayangan yang berkelebat itu adalah setan-setan penjaga bukit!
Siang Lan mempergunakan ilmu berlari cepat yang selama ini ia pelajari dan latih atas bimbingan dan petunjuk Bu-beng-cu, yaitu Yan-cu-coan-in (Walet Menembus Awan).
Ia mengerahkan seluruh tenaganya karena ia melihat betapa bayangan Bu-beng-cu juga berlari cepat di sampingnya.
Setelah tiba di puncak bukit, ia menyambar sepotong batu kapur lalu lari seperti terbang lagi, menuruni puncak menuju ke lereng di mana tadi mereka mulai berlumba lari.
Begitu ia menghentikan gerakannya, ia melihat bahwa Bu-beng-cu juga sudah berhenti dan ternyata mereka berdua tiba di situ dengan berbareng!
Masing-masing memegang sepotong batu kapur.
Melihat betapa kecepatan mereka berimbang, Siang Lan berkata.
"Ah, engkau sengaja mengalah sehingga tidak mendahului aku, Paman Bu-beng-cu!"
Bu-beng-cu tertawa dan tampak wajahnya cerah gembira.
"Sama sekali tidak, Hwe-thian Mo-li. Aku tadi juga sudah mengerahkan seluruh kemampuan, akan tetapi ternyata tidak dapat mendahuluimu, bahkan agak sukar bagiku untuk menjaga agar tidak ketinggalan. Aku girang sekali karena setelah sekian lama engkau berlatih dengan tekun, hari ini tampak hasilnya. Kiraku sekarang jarang ada orang yang dapat menandingimu dalam hal kecepatan sehingga julukanmu tepat sekali yaitu Hwe-thian (Terbang ke Langit), walaupun julukan Mo-li (Iblis Betina) itu kini tidak cocok lagi bagimu. Engkau bukan iblis betina lagi karena engkau sudah bersumpah untuk tidak sembarangan membunuh orang lagi."
"Akan tetapi ada kecualinya, Paman, yaitu aku harus membunuh musuh besarku yang satu itu! Paman, setelah sekarang aku mendapat kemajuan dalam gin-kang, tentu aku akan berhasil membunuhnya. Kalau tidak salah perhitunganku sekarang sudah lewat setahun dan jahanam itu tentu akan datang menemuiku sebagaimana yang dia janjikan untuk membuat perhitungan."
Bu-beng-cu menghela napas panjang.
"Aku tidak tahu sampai di mana kelihaian musuhmu itu, Nona. Akan tetapi jangan engkau terlalu yakin dulu. Memang gin-kangmu sudah maju pesat dan kiranya akan sulit bagi musuhmu itu untuk mengalahkan kecepatan gerakanmu. Akan tetapi, dalam sebuah pi-bu (pertandingan silat) bukan hanya kecepatan gerakan yang menentukan walaupun kecepatan itu tentu saja merupakan bagian penting. Selain gin-kang, engkau harus lebih unggul dalam ilmu silat dan tenaga sakti. Berhati-hatilah kalau engkau bertemu dengan musuh besarmu."
"Akan kuperhatikan nasihat Paman."
"Nah, hari ini kunyatakan bahwa engkau telah lulus dalam pelajaran memperkuat gin-kangmu, Hwe-thian Mo-li. Mudah-mudahan engkau akan mendapatkan manfaat dari pelajaran ini dan aku akan merasa berbahagia sekali kalau engkau dapat memegang sumpahmu untuk tidak membunuh orang, juga kalau mungkin menghilangkan dendammu dan keinginanmu untuk membunuh orang yang kau anggap sebagai musuh besar itu. Aku sekarang hendak melanjutkan pertapaanku sini dan tidak ingin diganggu. Kecuali kalau ada urusan penting sekali, harap jangan ganggu aku lagi."
Siang Lan memberi hormat dan berkata dengan nada terharu.
"Paman telah mengorbankan waktu pertapaan Paman, sudah berulang kali menolongku, aku mengucapkan banyak terima kasih dan selama hidupku aku tidak akan melupakan kebaikan Paman Bu-beng-cu."
"Pulanglah, Nona, dan jaga dirimu baik-baik,"
Kata Bu-beng-cu, suaranya juga tergetar karena dia merasa terharu pula mendengar suara gadis itu begitu menyentuh perasaannya.
"Engkau juga, jaga dirimu baik-baik, Paman. Selamat tinggal."
Setelah berkata demikian, Siang Lan berkelebat dan lenyap dari depan guha tempat pertapaan Bu-beng-cu itu.
Setelah Siang Lan pergi jauh, Bu-beng-cu kini menghela napas panjang dan pandang matanya ditujukan ke langit yang mulai cerah dengan sinar matahari pagi.
"Thian, alangkah pahitnya akibat dari kebodohan dan kelemahanku saat itu. Puji syukur kepadamu, Ya Tuhan, bahwa Engkau telah memberi kesempatan kepadaku untuk menebus dosaku itu......"
Setelah mengeluarkan ucapan lirih dan sepasang matanya menjadi basah air mata, Bu-beng-cu atau Thian-te Mo-ong atau nama aselinya Sie Bun Liong melangkah perlahan-lahan memasuki guhanya.
Hati Siang Lan yang merasa girang sekali karena kini ia telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu meringankan tubuh sehingga ia mampu bergerak jauh lebih cepat daripada dahulu sebelum digembleng oleh Bu-beng-cu.
Masih teringat ia betapa dulu ia amat mengagumi kecepatan gerakan Bu-beng-cu.
Akan tetapi sekarang ketika berlumba lari, ia dapat mengimbangi gurunya itu!
Ia merasa yakin bahwa kini ia pasti akan mampu mengalahkan Thian-te Mo-ong dan membunuhnya untuk membalas dendam atas perbuatan keji yang dilakukan atas dirinya.
Ia merasa lebih gembira lagi karena kini anak buahnya, semua wanita, yang berjumlah kurang lebih limapuluh orang telah memperoleh kemajuan dalam ilmu silat sehingga mereka merupakan anggauta Ban-hwa-pang yang tangguh.
Lebih lagi, ia melihat betapa Li Ai ternyata memiliki bakat yang amat baik.
Gadis ini memang cerdik sekali dan didorong oleh sakit hatinya, ia berlatih dengan tekun sehingga setelah lewat hampir setahun di Lembah Selaksa Bunga, tingkat kepandaian silatnya bahkan telah melampaui tingkat semua wanita anggauta Ban-hwa-pang.
Melihat gadis yang dahulunya lemah-lembut itu menyukai senjata sepasang pedang, maka Siang Lan memberi sepasang pedang yang mungil dan indah kepada Li Ai dan mengajarkan Siang-kiam-sut (Ilmu Sepasang Pedang) di samping ilmu silat tangan kosong.
Juga Li Ai sudah mulai diberi pelajaran dasar untuk menghimpun tenaga sakti.
Belasan hari kemudian, pada suatu pagi Siang Lan sudah bangun dari tidurnya.
Kini ia mempunyai kebiasaan bangun pagi sekali karena biasanya, begitu bangun dan mandi, ia langsung pergi ke lereng di mana terdapat guha tempat bertapa Bu-beng-cu.
Maka, biarpun sekarang ia tidak lagi harus pergi ke sana seperti yang dilakukan tiap hari selama setengah tahun, ia sudah terbiasa dan pagi hari itu ia sudah mandi dan duduk di dalam kamarnya.
Tadi ia melamun dengan hati penasaran karena sejak berhenti latihan di depan guha Bu-beng-cu, ia menunggu-nunggu munculnya Thian-te Mo-ong, musuh besarnya yang dulu pernah berjanji akan mengunjunginya setiap tahun untuk membuat perhitungan.
Ia ingat-ingat dan merasa yakin bahwa sekaranglah saatnya, setahun telah lewat sejak ia bertanding melawan Thian-te Mo-ong dan kalah.
Karena kesal dan penasaran, Siang Lan kini duduk bersamadhi untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Jahanam sombong itu pasti akan muncul, demikian ia menghibur diri sendiri.
Segera ia tenggelam ke dalam samadhinya.
Pada waktu itu seperti kebiasaan mereka setiap pagi sebelum melakukan pekerjaan sehari-hari membersihkan rumah, taman dan bekerja di kebun sayur dan buah-buahan, limapuluh orang anggauta Ban-hwa-pang asyik berlatih ilmu silat di pekarangan depan yang luas dari perkampungan mereka.
Li Ai tidak ketinggalan.
Gadis ini yang dahulunya seorang gadis yang lembut, ahli seni tari, musik, nyanyi, juga mengenal sastra, kini berpakaian ringkas dan ia berlatih silat pedang.
Sepasang pedangnya menyambar-nyambar dan karena gerakannya halus indah saking terbiasa menari, maka gerakan silatnya seperti orang menari.
Para anggauta Ban-hwa-pang juga sibuk latihan sendiri, ada yang berlatih silat tangan kosong, atau dengan berbagai macam senjata.
Mereka latihan dengan sungguh-sungguh dan ternyata tidak percuma Hwe-thian Mo-li menggembleng anggauta Ban-hwa-pang karena mereka itu rata-rata cukup gesit.
Tiba-tiba terdengar suara tawa parau dan aneh.
Ketika Li Ai dan limapuluh orang lebih anggauta Ban-hwa-pang itu menghentikan gerakan mereka dan memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang laki-laki yang mukanya ditutupi sebuah topeng kayu.
Yang tampak hanya empat buah lubang, dua lubang hidung dan dua lagi di atas untuk mata.
Di balik dua lubang di atas itu tampak sinar mata yang mencorong.
Karena kedok atau topeng itulah maka suara tawanya terdengar parau dan aneh.
"Ha-ha-ha! Ban-hwa-pang yang tersohor itu hanya memiliki para anggauta yang begini lemah dan ilmu silatnya rendah? Sungguh Hwe-thian Mo-li seorang ketua yang tidak becus mendidik, anak buahnya, ha-ha-ha!"
Tentu saja semua anak buah Ban-hwa-pang menjadi marah mendengar suara parau yang mengejek itu.
Didahului oleh Li Ai mereka lalu berlari menghampiri dan mengepung orang bertopeng itu.
Li Ai menudingkan pedang kirinya ke arah muka bertopeng itu dan membentak, akan tetapi tetap saja suaranya terdengar lembut halus.
"Orang asing yang tidak mengenal aturan! Siapakah engkau yang begini lancang memasuki perkampungan kami yang terlarang bagi kaum pria dan datang-datang menghina ketua kami?"
"Ha-ha-ha, kalian panggil Hwe-thian Mo-li ke sini menemui aku, ia akan mengenal siapa aku!"
Kata Si Topeng Kayu dengan nada suara sombong. Akan tetapi Li Ai sudah dapat menduga bahwa orang ini pasti bukan seorang sahabat dan bukan orang baik-baik, maka ia berkata, suaranya lebih tegas.
"Engkau sudah melakukan tiga pelanggaran. Pertama, engkau seorang pria berani masuk ke sini tanpa ijin. Kedua, engkau bersikap pengecut dengan menyembunyikan mukamu di balik topeng, dan ketiga, engkau telah bersikap dan bicara dengan kasar menghina ketua kami. Karena itu, kami minta engkau segera pergi meninggalkan perkampungan kami!"
"Hemm, Nona, kalian mau berbuat apa kalau aku tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Hwe-thian Mo-li?"
Hati Li Ai menjadi semakin panas karena nada suara orang bertopeng itu jelas mengandung ejekan dan tantangan! "Kalau engkau tidak mau pergi, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan untuk mengusirmu!"
"Ha-ha-ha, begitukah? Ingin aku melihat bagaimana kalian dapat mengusirku!"
Tantang Si Topeng Kayu.
Karena marah mendengar Siang Lan diejek, Li Ai lalu menggerakkan sepasang pedangnya, menyerang laki-laki bertopeng itu.
Laki-laki itu adalah Thian-te Mo-ong dan melihat serangan gadis yang masih dangkal dan mentah ilmu silatnya ini, dia tertawa mengejek dan dengan mudah dia mengelak sehingga serangan sepasang pedang di tangan Li Ai tidak mengenai sasaran.
Akan tetapi kini semua anak buah Ban-hwa-pang maju mengeroyoknya!
Thian-te Mo-ong masih tertawa-tawa dan tubuhnya berkelebatan ke sana-sini seperti bayangan iblis.
Limapuluh orang anggauta Ban-hwa-pang itu terus mengejarnya sambil berteriak-teriak, seperti sekumpulan anak-anak hendak menangkap seekor burung yang amat gesit.
Kalau saja laki-laki bertopeng itu menghendaki, dengan mudah dia tentu akan dapat merobohkan limapuluh orang lebih anggauta Ban-hwa-pang itu karena kepandaian mereka masih terlalu rendah untuk dapat mengalahkan Thian-te Mo-ong.
Akan tetapi agaknya orang bertopeng itu tidak mau mencelakakan mereka.
Bagaimanapun juga dia merasa kerepotan dikeroyok puluhan wanita muda.
Dia merasa ngeri sendiri dan tiba-tiba bayangan tubuhnya melayang ke atas dan tahu-tahu dia telah berada di atas wuwungan rumah!
Para anggauta Ban-hwa-pang hanya dapat mengacung-acungkan senjata ke arahnya tanpa dapat melakukan pengejaran.
"Ha-ha-ha-ha! Hayo siapa berani mengejar ke sini?"
Thian-te Mo-ong tertawa menantang dengan suara mengejek.
Tiba-tiba terdengar teriakan melengking nyaring disusul berkelebatnya bayangan Hwe-thian Mo-li yang melayang keluar dari dalam rumah.
Ia terkejut dan sadar dari samadhinya ketika terdengar teriakan-teriakan anak buahnya di luar.
Ketika ia mendengar tawa dan ejekan Thian-te Mo-ong, segera ia mengenal siapa yang bersuara parau dan aneh itu.
Musuh besarnya telah datang!
Maka sambil mengeluarkan teriakan melengking ia melompat keluar lalu memandang ke atas wuwungan rumah dengan wajah berubah merah dan sinar matanya mencorong penuh kemarahan dan kebencian.
"Keparat jahanam Thian-te Mo-ong! Bagus kamu datang mengantarkan nyawamu ke sini!"
Siang Lan mencabut Lui-kong-kiam yang ditudingkannya ke arah muka bertopeng itu.
"Ha-ha-ha, Hwe-thian Mo-li, apakah engkau hendak mengeroyok aku bersama puluhan orang anak buahmu itu?"
Siang Lan merasa dalam dadanya seperti dibakar.
"Iblis busuk! Aku bukan pengecut macam kau!"
Lalu ia menoleh dan membentak para anggauta Ban-hwa-pang.
"Hayo kalian mundur dan jangan sekali-kali mencampuri pertandingan antara aku dan jahanam busuk bertopeng itu!"
Li Ai memberi isyarat kepada semua orang untuk menjauhkan diri dan menyimpan senjata masing-masing.
"Ha-ha-ha, bagus! Akan tetapi tetap saja aku tidak sudi bertanding di sini. Kalau engkau bukan jago kandang, hayo kejar aku dan kita bertanding mengadu nyawa di luar perkampungan ini!"
Setelah berkata demikian, Thian-te Mo-ong lalu melayang turun dari atas wuwungan langsung saja dia berlari cepat sekali keluar dari perkampungan Ban-hwa-pang.
"Bangsat busuk, engkau hendak lari ke mana?"
Siang Lan memaki dan cepat melakukan pengejaran, mengerahkan seluruh kekuatan gin-kangnya yang kini telah meningkat jauh.
Li Ai dan para anak buah Ban-hwa-pang hanya melihat dua bayangan berkelebat cepat ke arah pintu gerbang lalu lenyap.
Li Ai yang mengenal watak baik Siang Lan melarang para anggauta Ban-hwa-pang untuk melakukan pengejaran dan hanya menanti saja di situ dengan hati tegang.
Mereka hanya duduk-duduk bergerombol dan tidak ada semangat lagi untuk berlatih.
Mereka semua maklum bahwa orang bertopeng itu adalah musuh ketua mereka dan kini tentu ketua mereka sedang bertanding mati-matian dengan musuh yang mereka tahu amat lihai itu.
Siang Lan mengerahkan seluruh kecepatan larinya melakukan pengejaran.
Akan tetapi musuh besarnya tetap berada di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak.
Ternyata kecepatan lari mereka seimbang dan Thian-te Mo-ong juga tidak mampu memperjauh jarak itu.
Akhirnya Siang Lan yang marah sekali memungut dua buah batu sebesar kepalannya dan setelah memindahkan pedang ke tangan kirinya, ia melontarkan dua buah batu itu ke arah kepala dan punggung Thian-te Mo-ong.
Thian-te Mo-ong ternyata memiliki pendengaran yang amat tajam.
Biarpun ditimpuk dari belakang, dia mampu mendengar desir angin timpukan itu dan cepat melompat ke samping sehingga dua buah batu itu tidak mengenai tubuhnya.
Dia berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadapi Siang Lan sambil tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha-ha! Sebaiknya di sini kita mengadu nyawa, Hwe-thian Mo-li. Jangan mengira bahwa dengan kecepatan dan sambitan batumu itu aku menjadi gentar!"
"Jahanam busuk Thian-te Mo-ong, bersiapkah untuk mampus di tanganku."
Siang Lan yang sudah tak dapat menahan kesabarannya lalu menerjang dan menyerang dengan buas dan dahsyat sekali karena ia menggunakan jurus yang paling ampuh.
Ia maklum akan kelihaian lawan maka ia pun begitu menyerang mengerahkan semua tenaganya!
Menghadapi serangan maut itu, Thian-te Mo-ong cepat mengelak dan dia melompat ke atas, menyambar sebatang ranting pohon lalu melawan pedang Lu-kong-kiam dengan ranting sepanjang lengan itu!
Mereka saling serang dengan hebatnya karena Siang Lan berusaha mati-matian untuk merobohkan dan membunuh musuh besar yang amat dibencinya ini.
Ia sudah bersumpah di depan Bu-beng-cu bahwa ia tidak akan membunuh orang lain kecuali Thian-te Mo-ong, maka seluruh kebencian yang berada dalam hatinya terhadap golongan sesat kini ditimpakan seluruhnya kepada Thian-te Mo-ong.
"Singgg......!"
Pedang Lui-kong-kiam meluncur dan berdesing membuat gerakan melingkar-lingkar amat dahsyatnya.
Gadis itu menggunakan jurus Liong-ong-lo-hai (Raja Naga Kacau Lautan).
Lui-kong-kiam berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi berdesing-desing menyilauan mata dan menyakitkan telinga.
"Bagus!"
Thian-te Mo-ong yang lihai itu memuji karena memang jurus Liong-ong-lo-hai ciptaan mendiang Ong Han Cu yang dijului Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Delapan) itu dahsyat bukan main.
Thian-te Mo-ong yang memang memiliki tingkat ilmu silat yang sudah tinggi sekali hanya merasa kagum akan tetapi sama sekali tidak merasa gentar.
Dia menghindarkan diri dari serangan maut itu dengan jurus Sian-jin-hoan-eng (Dewa Menukar Bayangan), kemudian membalas dengan totokan-totokan berbahaya dengan ujung rantingnya.
Mereka bertanding tanpa ada orang lain yang mengetahuinya itu berlangsung selama limapuluh jurus lebih dan mereka saling serang tanpa ada yang tampak terdesak.
Siang Lan merasa penasaran sekali.
Selama setengah tahun lebih ia sudah mendapatkan kemajuan pesat dalam ilmu meringankan tubuh sehingga gerakannya jauh lebih cepat dibandingkan dahulu sebelum digembleng Bu-beng-cu.
Dulu saja ia sudah terkenal memiliki gin-kang yang hebat.
Gerakannya amat cepat sehingga dunia kang-ouw memberinya julukan Iblis Betina Terbang.
Setelah kini gin-kangnya meningkat banyak, tetap saja ia tidak mampu mendesak musuh besarnya.
Dalam pertandingan itu, ia melihat jelas bahwa lawannya juga dapat bergerak cepat sekali dan agaknya dalam ilmu gin-kang, Thian-te Mo-ong tidak kalah dan dapat mengimbanginya!
Gin-kang mereka seimbang, akan tetapi ia harus mengakui bahwa dalam hal tenaga sakti ia masih kalah kuat, bahkan jauh kalah.
Hal ini terbukti dari senjata mereka.
(Lanjut ke
Jilid 06) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Ia sendiri memegang Lui-kong-kiam (Pedang Kilat), sebuah pedang pusaka yang terbuat dari baja langka, biasanya mudah mematahkan senjata-senjata lawan dari besi atau baja.
Akan tetapi sekarang, menghadapi sebatang ranting di tangan musuhnya, pedang itu sama sekali tidak berdaya.
Apalagi mematahkannya, bahkan kalau pedangnya dan ranting itu bertemu keras, telapak tangannya terasa pedas dan pedih.
Hal ini membuktikan bahwa tenaga sakti yang tersalur dalam ranting sungguh amat kuat!
Biarpun ia mulai ragu apakah ia akan mampu mengalahkan dan membunuh musuh besar ini, Siang Lan tidak menjadi putus asa dan ia mengamuk seperti harimau terluka.
Tiba-tiba Thian-te Mo-ong berseru.
"Hwe-thian Mo-li, kalau hanya sebegini kepandaianmu, jangan harap engkau akan dapat mengalahkan aku, ha-ha-ha!"
Tiba-tiba orang berkedok itu berseru nyaring.
"Haiiittt......!"
Tangan kirinya, dengan telapak tangan terbuka didorongkan ke arah Siang Lan. Gadis ini cepat mendorong dengan tangan kiri menyambut pukulan jarak jauh itu.
"Wuuuttt...... desss......!!"
Tubuh Siang Lan terpental sekitar dua meter ke belakang, akan tetapi ia dapat berjungkir balik membuat salto sehingga tubuhnya tidak sampai terbanting.
Ia terkejut dan semakin marah.
Dengan nekat ia menyerang lagi dengan pedangnya.
"Hyaaaahh......!"
Pedang itu menyambar ke arah leher Thian-te Mo-ong. Orang berkedok itu menggerakkan rantingnya menyambut.
"Tuk!"
Pedang bertemu ranting dan melekat!
Ketika Siang Lan mencoba untuk menarik pedangnya, ternyata pedang itu tertahan dan melekat pada ranting dan pada saat itu, kembali Thian-te Mo-ong menyerang dengan dorongan tangan kirinya.
Siang Lan terkejut dan menyambut dengan tangan kirinya pula.
"Plakk......!"
Tubuh Siang Lan terjengkang dan pedangnya terlepas dari pegangannya.
Ia terbanting roboh dan menggulingkan tubuhnya, lalu melompat berdiri lagi.
Dadanya terasa sesak dan pedangnya sudah berada di tangan kiri Thian-te Mo-ong.
Hampir saja Siang Lan menjerit dan menangis saking marah, kecewa, dan malu.
Ia menjadi semakin nekat dan dengan tangan kosong ia menerjang lagi!
"Hemm, belajarlah lagi selama sepuluh tahun, baru engkau akan mampu menandingiku, Hwe-thian Mo-li!"
Kata orang bertopeng itu dan dia melemparkan pedang Lui-kong-kiam ke atas tanah di depan Siang Lan. Pedang menancap sampai dalam dan dia melompat ke belakang sambil tertawa.
"Ha-ha-ha, setahun lagi aku akan datang menemuimu dan kita boleh bertanding lagi, kalau kau berani!"
Kemudian tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ.
Siang Lan yang maklum bahwa ia tidak mampu mengejar karena dalam dadanya masih terasa nyeri, menjatuhkan diri di dekat pedangnya dan ia menangis!
Marah, benci, kecewa, malu, dan penasaran mengadu dalam hatinya, membuatnya merasa sedih sekali dan ia menangis mengguguk seperti anak kecil sambil memukul-mukul tanah dengan kedua tangannya.
"Jahanam Thian-te Mo-ong, kubunuh kau...... kubunuh kau...., kubunuh kau......!"
Ia berteriak-teriak dan menangis lagi tersedu-sedu.
Ia tidak terluka, hanya benturan tenaga dalam tadi mengguncang isi dadanya karena ia kalah kuat.
Jelaslah bahwa ia kalah karena tenaga sin-kangnya masih jauh dibandingkan lawannya.
Tanpa memiliki tenaga sakti yang lebih kuat, tidak mungkin ia dapat menang melawan Thian-te Mo-ong.
Akan tetapi sekali ini ia tidak putus asa walaupun ia menyesal dan kecewa sekali.
Ia bahkan semakin bersemangat.
Ia harus memperdalam ilmunya lagi sampai ia mampu mengalahkan dan membunuh musuh besarnya.
Sementara itu, agak jauh dari situ, Thian-te Mo-ong bersembunyi di balik batang pohon besar dan mengintai ke arah Siang Lan yang menangis tersedu-sedu sambil memukuli tanah.
Dia menghela napas berulang-ulang, lalu melepaskan topengnya dan menyembunyikan topeng kayu itu di balik bajunya.
Kini tampak wajah Bu-beng-cu, wajah yang tampak muram dan sedih ketika dia memandang ke arah Siang Lan.
Sepasang matanya dikejap-kejapkan dan dua tetes air mata melompat keluar dari pelupuk matanya.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu perlahan-lahan berbisik kepada diri sendiri.
"Aku harus membangkitkan semangatnya, harus mengembalikan harga dirinya. Suatu hari ia akan mengalahkan aku dan membunuhku. Tidak ada lain jalan untuk membangkitkan semangatnya dan memulihkan harga dirinya."
Dia terus mengamati Hwe-thian Mo-li sampai gadis itu menghentikan tangisnya dan pergi dari tempat itu, kembali ke perkampungan Ban-hwa-pang.
Setelah Siang Lan pergi, barulah Bu-beng-cu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dipakai oleh Bu-beng-cu.
Pakaian yang longgar dengan jubah lebar yang tadi dipakai Thian-te Mo-ong dia gulung dan dia lalu pergi perlahan-lahan meninggalkan tempat itu.
Setibanya di perkampungan Ban-hwa-pang, Siang Lan disambut oleh Li Ai dan para anggauta perkumpulan itu.
Melihat wajah Siang Lan yang muram, para anggauta tidak ada yang berani bertanya walaupun pandang mata mereka kepada Siang Lan mengandung keinginan tahu tentang laki-laki bertopeng yang dikejar ketua mereka tadi.
Siang Lan diam saja dan terus memasuki rumah, diikuti oleh Li Ai.
Gadis ini juga dapat melihat keadaan maka ia tidak bertanya apa-apa ketika Siang Lan datang.
Akan tetapi setelah mereka berdua memasuki kamar, Li Ai bertanya dengan hati tegang.
"Bagaimana, Enci? Berhasilkah engkau mengejar penjahat bertopeng tadi? Engkau tentu telah dapat membunuhnya, bukan?"
Pertanyaan itu dirasakan Siang Lan seperti menusuk hatinya. Ia menahan tangisnya dan menggelengkan kepalanya.
"Ia masih terlalu kuat bagiku, Li Ai. Aku harus memperdalam lagi ilmuku sampai akhirnya aku mampu mengalahkannya dan membalas dendam."
Melihat wajah Hwe-thian Mo-li yang muram dan mendengar bahwa gadis itu gagal membunuh musuh besarnya, Li Ai tidak berani bertanya lagi.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Siang Lan sudah keluar dari perkampungan menuju ke lereng di mana Bu-beng-cu tinggal dalam guha.
Ketika ia tiba di situ, ia melihat Bu-beng-cu sudah duduk di depan guha, di atas batu datar, bersila dan kedua matanya terpejam.
"Paman Bu-beng-cu......"
Sian Lan menghampiri dan berlutut di depan gurunya itu. Bu-beng-cu membuka matanya sejenak dia memandang kepada wajah gadis itu. Kemudian, dia berkata suaranya terdengar lembut mesra.
"Hwe-thian Mo-li, engkau datang......?"
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 1
Baca Juga: Suling Naga 4