Eps 3 Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo
Baca online Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo
Cersil Lembah Selaksa Bunga - Kho Ping Hoo.
Mendegar suara laki-laki itu, suara yang menggetar dan penuh keakraban, bahkan terdengar begitu penuh perhatian dan mesra, Hwe-thian Mo-li tiba-tiba tak dapat menahan isaknya.
Ia menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Biarpun ia menahan suara tangisnya, namun ia terisak, kedua pundaknya bergoyang-goyang dan air mata menetes melalui celah-celah jari kedua tangannya.
Bu-beng-cu tentu saja maklum akan penderitaan hati gadis itu.
Dia memandang penuh keharuan dan rasanya ingin dia merangkul dan menghibur gadis itu.
Akan tetapi ada perasaan lega dan girang bahwa Hwe-thian Mo-li tidak putus asa dan kedatangan gadis itu kepadanya menunjukkan bahwa ia tentu ingin minta bimbingan lebih lanjut dalam ilmu silat.
Dia membiarkan gadis itu menumpahkan perasaannya dalam tangis.
Setelah tangis Siang Lan mereda, barulah dia berkata dengan lembut.
"Hemm, inikah gadis perkasa yang disebut Hwe-thian Mo-li? Sekarang menjadi seorang gadis cengeng seperti kanak-kanak? Nona, bukan begini sikap seorang gagah. Hapuslah air matamu, hentikan tangismu dan kita bicarakan permasalahan apa yang membuat engkau sampai menangis seperti ini. Tidak ada masalah yang tidak dapat dipecahkan dan diatasi!"
Mendengar ucapan itu, bangkit semangat Siang Lan. Ia mengusap air mata di pipi dengan kedua tangannya, lalu memandang Bu-beng-cu dengan mata agak kemerahan.
"Paman Bu-beng-cu, aku datang untuk sekali lagi mohon pertolonganmu."
Bu-beng-cu mengamati wajah itu dengan tajam, lalu berkata.
"Engkau tentu tahu bahwa aku selalu siap untuk membantumu, Nona. Katakan, bantuan apa yang dapat kulakukan untukmu?"
"Paman, kemarin musuh besarku datang memenuhi janjinya. Kami bertanding, aku memang dapat mengimbangi kecepatannya. Akan tetapi akhirnya aku kalah, Paman. Aku masih jauh kalah kuat dalam sin-kang (tenaga sakti) dan juga ketika dia bersenjata sebatang ranting, dia memainkan ranting itu dengan ilmu pedang yang aneh dan aku pun tidak mampu menandingi senjatanya yang hanya ranting pohon itu. Paman, hanya engkaulah yang dapat menolongku. Bimbinglah aku agar ilmu pedang dan tenaga sin-kangku meningkat sehingga kelak aku akan mampu mengalahkannya. Aku malu, Paman, dan rasanya aku hampir putus asa......"
"Hwe-thian Mo-li, tidak ada kata "putus asa"
Bagi seorang gagah!
Kalau engkau sungguh-sungguh mau belajar dengan tekun, bukan hal mustahil engkau akan mampu mengalahkan musuh yang bagaimana tangguhpun.
Akan tetapi, Nona, benar-benarkah engkau hendak membunuh orang yang satu itu?
Mengapa kau mendendam kepadanya?
Dendam apakah itu yang membuat engkau ingin membunuhnya?"
Mendapat pertanyaan ini, Hwe-thian Mo-li menundukkan mukanya yang berubah merah.
Apa yang harus dikatakannya?
Bagaimana mungkin ia menceritakan tentang aib yang dideritanya kepada orang yang ia kagumi dan yang telah menolongku berulang kali ini?
Ia takut kalau-kalau Bu-beng-cu akan berubah pandangan terhadap dirinya, akan memandang rendah dan menganggap dirinya kotor.
Bukankah Bong Kin yang tadinya mencinta Li Ai juga berubah pandangan dan menganggap gadis itu tidak pantas menjadi isterinya setelah Li Ai mengaku bahwa ia telah diperkosa orang?
Baru sekali ini seumur hidupnya Hwe-thi mo-li merasa takut kalau-kalau dipandang rendah dan kotor oleh seorang laki-laki.
Hal ini adalah karena ia menganggap Bu-beng-cu sebagai gurunya, sebagai pembimbingnya dan sebagai satu-satunya pria yang dikaguminya, terutama sekali sebagai sumber harapannya.
Akan tetapi, iapun tidak mau berbohong kepada Bu-beng-cu.
Ia harus jujur dan terbuka, tidak peduli bagaimana nanti penilaian Bu-beng-cu terhadap dirinya!
Ia yang mengajarkan Li Ai untuk berterus terang mengaku bahwa ia bukan gadis lagi.
Apakah sekarang ia sendiri tidak berani mengakui hal yang sama?
"Paman, Thian-te Mo-ong adalah musuh besarku.
Aku mempunyai dendam sakit hati sebesar gunung sedalam lautan kepadanya dan aku harus dapat membalas dendam ini dengan membunuhnya!"
"Hemm, Hwe-thian Mo-li, dendam sakit hati itu hanya akan merusak hatimu sendiri, bagaikan api yang akan membakar perasaanmu. Dosa apakah yang dilakukan Thian-te Mo-ong maka engkau demikian membencinya dan hendak membunuhnya?"
Bu-beng-cu kini menatap tajam wajah Siang Lan. Pandang mata mereka bertemu dan dengan nekat tanpa menundukkan pandang matanya Siang Lan menjawab.
"Dia telah memperkosaku!"
Bu-beng-cu yang mengelakkan pandang mata itu. Dia menunduk.
"Hemm, begitukah......?"
Katanya lirih.
"Paman Bu-beng-cu, setelah Paman mendengar aib yang menimpa diriku, apakah Paman masih mau menolongku? Apakah Paman masih mau mengajarkan ilmu untuk memperkuat tenaga sakti dan memperdalam ilmu pedangku?"
"Kenapa engkau bertanya begitu?"
"Karena...... kukira...... Paman akan memandang rendah diriku, menganggap aku kotor dan...... tidak patut menerima pelajaran dari paman......"
"Ah, mengapa engkau berpikir demikian, Nona? Peristiwa itu terjadi bukan karena engkau sengaja, bukan kesalahanmu, engkau tidak berdaya. Aku sama sekali tidak memandang rendah padamu, Hwe-thian Mo-li. Aku...... aku merasa kasihan padamu dan tentu saja aku mau memberikan seluruh kepandaianku kepadamu kalau hal itu ada artinya bagimu."
"Ada artinya......? Setelah terjadi peristiwa itu, aku tadinya ingin bunuh diri saja, Paman. Akan tetapi setelah aku mengetahui siapa pemerkosa itu, aku bersumpah untuk membalas dendam dan membunuhnya. Kemudian aku berjumpa denganmu, Paman, dan muncul harapan baru dalam hatiku. Aku tidak ingin mati dulu sebelum dapat membunuh jahanam itu dan agaknya di dunia ini hanya Paman yang akan mampu membantu aku memenuhi sumpahku."
"Aku pasti akan membantumu, Hwe-thian Mo-li. Akan tetapi mendengar pengakuanmu bahwa engkau hendak membunuh diri, membuat aku merasa ngeri. Apa artinya bagiku bersusah payah mengajarkan semua ilmuku kepadamu, kalau akhirnya engkau hanya akan membunuh diri? Bunuh diri merupakan perbuatan yang paling rendah dan merupakan dosa besar, di samping memperlihatkan sifat pengecut.
"Kita hidup ini bukan atas kemauan kita sendiri, melainkan ada yang menghidupkan. Karena itu, kita tidak berhak menghentikan kehidupan kita. Yang berhak menghentikan hanyalah Dia yang telah menghidupkan kita.
"Bunuh diri hanya dilakukan oleh seorang pengecut yang tidak berani menghadapi kehidupan. Apakah engkau kelak ingin disebut seorang pengecut yang berdosa besar, berdosa dan melakukan sesuatu yang sama sekali bukan menjadi hakmu? Kalau begitu, aku tidak mau mengajarkan apa-apa lagi kepadamu!"
"Paman Bu-beng-cu, setelah aku bertemu denganmu dan menerima pelajaranmu, juga mendengarkan semua nasihatmu, aku menyadari bahwa bunuh diri bukan merupakan perbuatan orang gagah. Baik, Paman, aku akan menambahkan janji dan sumpahku. Pertama, aku tidak akan membunuh diri dan kedua, aku tidak akan sembarangan membunuh orang kalau tidak terpaksa untuk membela diri. Akan tetapi hanya satu kecualinya, yaitu aku pasti akan membunuh Thian-te Mo-ong!"
Bu-beng-cu menghela napas lega.
"Sekarang hatiku lega, Hwe-thian Mo-li, karena aku yakin bahwa kelak engkau benar-benar akan menjadi seorang pendekar wanita yang bijaksana. Nah, marilah kita mulai berlatih. Akan tetapi, untuk melatih agar sin-kangmu benar-benar kuat, membutuhkan waktu lama, sedikitnya satu tahun. Dan untuk mengembangkan dan mematangkan ilmu pedangmu, juga membutuhkan waktu sedikitnya satu tahun."
"Aku akan belajar dengan tekun, Paman, berapa lama pun sampai akhirnya akan dapat mengalahkan musuh besarku yang amat lihai itu."
Demikianlah, mulai hari itu, Siang Lan dengan amat tekun dan penuh semangat mulai menerima gemblengan lagi dari Bu-beng-cu yang mengajarkan cara menghimpun dan memperkuat tenaga sakti dengan sungguh-sungguh.
Seperti juga dulu, Siang Lan datang ke lereng itu setiap pagi dan pulang setelah tengah hari.
Waktu yang tersisa ia pergunakan untuk mengajarkan ilmu silat kepada Li Ai yang juga memperoleh banyak kemajuan.
Juga para anggauta Ban-hwa-pang tekun mempelajari ilmu silat.
Pada waktu itu, sekitar tahun 1602, Dinasti Beng semakin kehilangan pamornya.
Hal ini terjadi karena banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan dari rakyat di daerah-daerah yang merasa tidak puas dengan pemerintah.
Waktu itu yang menjadi kaisar adalah Kaisar Wan Li (1572-162O) yang sudah berusia sekitar limapuluh tahun.
Dapat dibilang bahwa seluruh pejabat pemerintah, dari para Thai-kam (Orang Kebiri), pejabat tinggi sampai yang paling rendah, hampir tidak ada yang jujur.
Semua melakukan kecurangan, korupsi dan pemerasan terhadap rakyat, berlumba-lumba untuk memperkaya diri sendiri.
Keadilan hanya digembar gemborkan belaka oleh para pejabat.
Kesejahteraan rakyat juga hanya digambarkan sebagai mimpi, namun kenyatanya yang sejahtera, bahkan jauh lebih daripada sejahtera, adalah para pejabat dari yang rendah, terutama yang tinggi.
Para pejabat hidup bermewah-mewah, memborong tanah sampai beratus hektar bersekutu dengan para pedagang hartawan sehingga mereka hidup berlebihan.
Rakyat kecil sama sekali tidak pernah merasakan apa yang digembar-gemborkan para pembesar tentang kemakmuran.
Mereka hidup serba kekurangan, masih ditekan lagi oleh para pembesar daerah yang bersikap seolah menjadi raja di daerah mereka.
Para petani diwajibkan memberi sumbangan dengan ancaman hukuman kalau menolak.
Penindasan dan pemerasan terjadi di mana-mana sehingga rakyat mulai bersikap tidak setia terhadap pemerintah.
Masih untung bagi kerajaan dinasti Beng bahwa pada saat kerajaan itu tidak populer lagi di mata rakyat dan di mana pemberontakan-pemberontakan terjadi di utara dan barat, pemerintah mempunyai dua orang menteri yang setia dan bijaksana.
Dua orang menteri itulah yang seolah merupakan tiang penyangga sehingga pemerintah Kerajaan Beng tidak sampai ambruk.
Yang pertama adalah menteri Yang Ting Ho, menteri yang menjadi penasihat Kaisar Wan Li.
Dengan adanya Menteri Yang Ting Ho, kekuasaan para Thai-kam pejabat sipil dapat dikekang karena setidaknya mereka takut kepada Menteri Yang Ting Ho yang terkenal jujur, setia dan pemberani.
Kaisar yang lemah itu menaruh rasa hormat yang mendalam terhadap Menteri Yang Ting Ho sehingga semua nasihat Menteri Yang masih dipercaya dan dipatuhi kaisar.
Yang kedua adalah menteri Chang Ku Cing yang menjadi panglima besar, menguasai seluruh bala tentara Kerajaan Beng.
Panglima yang berusia limapuluh tahun lebih ini bertubuh tinggi tegap, gagah, memelihara kumis jenggot yang pendek rapi.
Dia seorang jantan yang jujur dan setia, berani memberantas segala kemunafikan dan keburuan para pembesar yang korup.
Dengan adanya dua orang menteri ini, keadaan di kota raja tampak tenteram.
Kalau ada kerusuhan, hal itu terjadi di daerah yang jauh dari kota raja.
Panglima Chang Ku Cing selalu siap dengan pasukannya untuk menghancurkan setiap pemberontakan yang terjadi di daerah kota raja.
Adapun urusan pemerintah sipil, dengan adanya Menteri Yang, di kota raja dapat dilaksanakan dengan tertib dan teratur.
Para pejabat hanya dapat melakukan kegiatan korup mereka secara hati-hati sekali karena sekali saja ketahuan oleh menteri Yang, mereka pasti dituntut.
Karena dua orang menteri ini merupakan penghalang bagi para pembesar yang suka menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk mengumpulkan kekayaan sebesar-besarnya, maka diam-diam mereka lalu bersekutu dan mencari seorang yang mereka anggap memiliki cukup kemampuan dan kekuasaan untuk menghadapi dua orang menteri itu.
Orang yang mereka pilih ini adalah Pangeran Bouw Ji Kong, adik tiri Kaisar Wan Li.
Pangeran Bouw ini beribu seorang puteri kepala suku Hui yang diambil selir oleh Kaisar.
Sebagai putera selir, tentu saja dia tidak mewarisi tahta kerajaan yang kemudian jatuh ke tangan Pangeran Mahkota yang kini menjadi Kaisar Wan Li.
Biarpun tidak berani berterang, diam-diam Pangeran Bouw Ji Kong menaruh rasa iri kepada Kaisar Wan Li.
Kaisar Wan Li juga memberi kedudukan kepada adik tirinya ini sebagai penasihat kaisar di bidang hubungan dengan suku-suku bangsa yang berada di luar daerah Kerajaan Beng.
Kedudukan ini cukup tinggi dan karena itu Pangeran Bouw Ji Kong cukup berpengaruh.
Bahkan dia berani mengatur kebijaksanaan para pembesar daerah-daerah perbatasan.
Ketika para pembesar dan hartawan yang sudah bergabung dengan para Thai-kam di istana itu mendekatinya, tentu saja dia menerima dengan senang.
Bagi pangeran Bouw Ji Kong, semakin banyak orang yang mendukungnya, semakin baik karena bagaimanapun juga, dia sering mengharapkan suatu saat dapat menggantikan kedudukan kakaknya sebagai kaisar!
Hubungannya dengan para pembesar dan hartawan ini membuat istana tempat tinggal Pangeran Bouw dibangun dan amat indah, menyaingi istana kaisar sendiri!
Pangeran Bouw Ji Kong melihat betapa banyaknya pembesar yang mendukungnya, menjadi semakin ambisius untuk dapat menguasai tahta kerajaan.
Untuk memperkuat kedudukannya, maka diam-diam dia mengadakan kontak dengan suku-suku bangsa di utara, terutama dengan suku bangsa ibunya, yaitu suku Hui dan dengan bangsa Mancu!
Ada beberapa orang perwira tinggi yang menjadi pendukung Pangeran Bouw, di samping banyak pembesar sipil.
Tentu saja mereka semua mengetahui akan ambisi pangeran Bouw untuk berusaha menggulingkan Kaisar Wan Li dan merampas kedudukannya sebagai kaisar.
Mereka itu mendukungnya, dengan janji mendapat imbalan pangkat tinggi kelak kalau usaha pemberontakan itu berhasil.
Selain itu, juga Pangeran Bouw mempunyai pasukan pengawal sendiri yang cukup kuat.
Pasukan pengawal yang terdiri dari kurang lebih seratus orang ini merupakan pasukan perajurit yang terlatih dan rata-rata memiliki ilmu silat cukup tangguh.
Mereka pun mengenakan seragam yang megah, dengan ciri khas, yaitu topi berwarna kuning.
Di kota raja pasukan pengawal Pangeran Bouw ini dikenal sebagai Pasukan Topi Kuning!
Yang diserahi pimpinan pasukan ini, juga yang melatih para perajurit pengawal itu dengan ilmu silat andalan tujuh orang tokoh kang-ouw yang amat terkenal di dunia persilatan.
Mereka bertujuh saudara seperguruan itu di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Kang-lam Jit-sian (Tujuh Dewa dari Kang-lam).
Julukan ini sedikit banyak mendatangkan kejumawaan dalam hati mereka dan mereka merasa seolah menjadi datuk tanpa tanding, sakti seperti dewa-dewa!
Tujuh jagoan ini dahulunya merupakan murid murid Thian-san-pai, akan tetapi mereka juga mempelajari berbagai ilmu silat dari aliran lain sehingga mereka tidak lagi menggunakan nama Thian-san-pai sebagai pusat perguruan mereka.
Karena kesombongan mereka, maka para pimpinan Thian-san-pai menyatakan bahwa mereka bertujuh tidak diakui lagi menjadi murid dan segala sepak terjang mereka bukan tanggung jawab perguruan itu.
Kang-lam Jit-sian terdiri dari tujuh orang laki-laki yang sampai saat itu belum berkeluarga walaupun usia mereka sudah setengah tua.
Yang pertama bernama Ji Gan, berusia limapuluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka persegi penuh berewok.
Senjata andalannya adalah sebuah tombak berkepala naga.
Orang kedua bernama Lui Kok, berusia empatpuluh delapan tahun, tubuhnya gemuk pendek tampak bundar, mukanya yang bulat itu tampak kekanak-kanakan, akan tetapi dia ini tidak boleh dipandang ringan karena senjata andalannya berupa golok besar dan berat amat berbahaya.
Yang ketiga bernama Pui Song, tinggi besar bermuka hitam seperti arang dan senjata andalannya adalah siang-kiam (sepasang pedang).
Yang keempat bernama Pui Seng, adik dari Pui Song, tinggi kurus dengan muka pucat dan senjatanya juga sepasang pedang.
Pui Song berusia empatpuluh tujuh tahun sedangkan adiknya, Pui Seng, berusia empatpuluh lima tahun.
Kemudian yang kelima bernama Lo Kwan, usianya empatpuluh tiga tahun, bertubuh sedang mukanya berbentuk mirip monyet dengan hidung pesek dan bibir tebal, senjatanya adalah siang-to (sepasang golok).
Orang keenam berusia empatpuluh dua tahun bertubuh sedang dan mukanya tidak lebih baik dari Si muka monyet Lo Kwan karena To Pan ini kulit mukanya penuh lubang-lubang burik atau bopeng (bekas penyakit cacar).
Orang terakhir atau yang ketujuh berusia empatpuluh tahun, bertubuh sedang dan dia inilah yang paling enak dipandang di antara mereka bertujuh karena Gu Mo Ek ini yang berkulit putih bersih memiliki wajah yang tampan.
Senjata andalannya juga sebatang pedang.
Dengan adanya Kang-lam Jit-sian ini maka Pasukan Topi Kuning merupakan pasukan pengawal yang amat kuat karena para anggautanya dilatih oleh mereka.
Juga pasukan ini mengenakan pakai seragam yang mewah gemerlapan, hingga tampak gagah dan mentereng mengalahkan pasukan pengawal Kim-i-wi (Pengawal Baju Emas) yang berada di istana kaisar!
Pangeran Bouw Ji Kong maklum benar bahwa kedudukan kakak tirinya, Kaisar Wan Li, sesungguhnya rapuh dengan adanya pemberontakan-pemberontakan di daerah barat dan utara.
Akan tetapi berkat kebijaksanaan dua orang menteri Chang Ku Cing dan Yang Ting Ho, maka pemerintah masih kuat.
Karena itu, setelah mengadakan perundingan rahasia dengan para sekutunya, Pangeran Bouw memutuskan bahwa untuk mengawali langkah pertama, yang terpenting harus lebih dulu melenyapkan kekuatan yang mendukung kaisar.
Mereka yang setia kepada Panglima Chang Ku Cing dan Menteri Yang Ting Ho, haruslah dilenyapkan sebelum kedua orang menteri itu yang mendapat giliran.
Setelah mereka semua lenyap, maka akan mudah menggulingkan kaisar Wan Li dari kedudukannya dan merampas singgasana!
Pada suatu malam yang gelap dan sunyi karena langit masih tertutup mendung tebal dan agaknya hujan sore tadi masih terancam hujan susulan, dua sosok bayangan orang berkelebat cepat sehingga kalau ada yang melihatnya tentu tidak akan mengira bahwa yang berkelebat itu adalah manusia.
Dua bayangan itu dengan kegesitan luar biasa telah berhasil melewati pagar manusia Pasukan Topi Kuning yang menjaga di sekeliling istana Pangeran Bong!
Mereka berdua melayang ke atas wuwungan tanpa ada yang mengetahui.
Sementara itu, di ruangan dalam, sebuah ruangan luas yang dirahasiakan dalam istana itu.
Pangeran Bouw Ji Kong duduk di dalam ruangan itu, di kepala meja panjang dan belasan orang duduk di sekeliling meja menghadapnya.
Pangeran Bouw Ji Kong berusia sekitar empatpuluh lima tahun.
Tubuhnya tinggi dengan perut gendut, wajahnya berwibawa dan memiliki garis-garis yang menunjukkan kekerasan hatinya.
Pakaiannya mentereng dengan sulaman benang emas, seperti pakaian kaisar saja.
Di pinggang kirinya tergantung sebatang pedang.
Enambelas orang yang duduk menghadapinya itu terdiri dari tujuh Kang-lam Jit-sian dan sembilan orang pembesar sipil dan militer.
Sembilan orang itulah yahg merupakan para pembesar di kota raja yang mendukung Pangeran Bouw Ji Kong.
Sebetulnya terdapat lebih banyak lagi, namun yang diundang berkumpul pada malam hari itu hanyalah para pendukung yang berpangkat tinggi.
Sejak tadi mereka bercakap-cakap membicarakan rencana Pangeran Bouw, akan tetapi bukan merupakan rapat karena mereka semua masih menanti datangnya orang-orang yang mereka anggap penting sekali.
Kehadiran orang-orang itu ditunggu sejak tadi oleh Pangeran Bouw Ji Kong.
Agaknya Pangeran Bouw merasa tidak sabar karena malam semakin larut dan mereka yang dinanti-nanti belum juga muncul.
Dia memandang ke arah seorang perwira tinggi yang hadir di situ lalu menegur.
"Su-goanswe (Jenderal Su), mana mereka yang engkau laporkan kepada kami akan datang hadir? Mengapa sampai sekarang mereka belum juga muncul?"
Su Lok atau Jenderal Su yang bertubuh tinggi besar dan memelihara kumis tikus dan jenggot panjang itu memberi hormat lalu menjawab.
"Harap Pangeran bersabar. Saya merasa yakin bahwa mereka pasti akan hadir karena kedua pihak itu telah memberi kepastian kepada saya. Agar tidak mencolok, maka mereka tentu datang dengan diam-diam."
"Ahh, jangan-jangan mereka itu ketahuan dan tertangkap!"
Kata seorang pembesar sipil dengan wajah tegang dan gelisah.
Kalau sampai persekutuan mereka diketahui karena tertangkapnya utusan dari luar itu, tentu mereka semua akan celaka.
Jenderal Su Lok Ti mengerutkan alisnya kepada pembesar yang mengatakan kekhawatirannya itu, akan tetapi dia tidak ingin ribut berbantahan dengan seorang rekan.
Dia berkata lagi kepada Pangeran Bouw.
"Harap Pangeran tidak khawatir. Pihak utara dan selatan pasti mengirim utusan-utusan yang berkepandaian tinggi sekali sehingga tidak mungkin mereka dapat tertangkap. Saya kira sebaiknya Paduka mulai dengan rapat ini, menjelaskan rencana Paduka kepada kami semua. Nanti kalau para utusan itu datang, dapat dijelaskan kepada mereka keputusannya."
Semua orang menyetujui usul ini dan Pangeran Bouw mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Seperti yang kita semua ketahui, pendukung Kaisar yang merupakan penghalang besar bagi kita adalah menteri Yang Ting Ho dan Panglima besar Chang Ku Cing yang diikuti beberapa orang pembesar yang setia kepada mereka. Sekarang yang ingin kita bicarakan, bagaimana kita harus menanggulangi dan menyingkirkan penghalang-penghalang itu. Kalau ada yang mempunyai usul atau saran yang baik, katakanlah."
Seorang yang berpakaian perwira tinggi berkata penuh semangat.
"Pangeran, sebaiknya kita langsung saja mencabut akar yang menjadi penghalang itu. Kita bunuh saja Yang Ting Ho dan Chang Ku Cing!"
Semua orang terkejut mendengar saran yang radikal itu. Pangeran Bouw mengerutkan alisnya, lalu menggelengkan kepalanya.
"Saran itu menuju ke sasaran pokok, namun tidak mungkin dilakukan. Ingat, mereka berdua merupakan orang penting yang dekat kaisar dan mereka mempunyai banyak bawahan yang setia kepada mereka. Amat sukar untuk dapat melenyapkan mereka karena mereka mempunyai pengawal yang kuat. Andai kata kita dapat membunuh mereka pun, tentu akan menimbulkan kegemparan dan kita dapat dicurigai. Akan berbahaya kalau kita ketahuan sebelum kedudukan kaisar menjadi lemah.
"Menurut kami, akan lebih baik kalau kita berusaha melemahkan kedudukan kedua orang penting itu dengan jalan diam-diam membinasakan para pengikut mereka yang setia. Kematian pembesar lain tentu tidak akan menimbulkan banyak kegemparan."
"Pangeran, saya mempunyai saran yang kiranya lebih baik dan lebih aman,"
Kata seorang pembesar sipil yang usianya sudah enampuluh tahun lebih.
"Kita tentu masih ingat akan kematian Panglima Kui Seng yang membunuh diri di depan Panglima besar Chang Ku Cing. Semua orang tahu bahwa mendiang Panglima Kui Seng adalah pembantu utama yang setia kepada Panglima besar Chang. Bahkan sudah membuat banyak jasa. Akan tetapi panglima besar Chang mendesaknya karena demi menolong puterinya, Panglima Kui telah membebaskan tawanan dari penjara.
"Nah, peristiwa itu tentu mendatangkan perasaan tidak senang dan penasaran dalam hati para perwira anak buah Panglima besar Chang. Kesempatan ini kita pergunakan untuk membujuk mereka agar meninggalkan Panglima besar Chang dan mendukung gerakan kita. Demikianlah, kalau mereka semua meninggalkan Panglima besar Chang, berarti kedudukan mereka menjadi lemah dan mudah bagi kita untuk menyingkirkan mereka."
Pangeran Bouw mengangguk-angguk dan sepasang matanya bersinar gembira.
"Bagus sekali saran Ciok-taijin (Pembesar Ciok) itu. Baik, kita mencoba untuk membujuk mereka dan kalau ada yang menolak, baru kita bunuh mereka yang menolak ajakan kita. Nah, siapa yang akan melaksanakan pembasmian mereka yang tidak mau bekerja sama dengan kita? Pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai ketahuan."
"Pangeran, saya yang akan mengatur pembasmian mereka itu!"
Kata Jenderal Su Lok Ti.
"Wah, itu terlalu berbahaya!"
Cela seorang pejabat tinggi lainnya.
"Kalau Su-goanswe yang mengatur, lalu ketahuan, berarti rahasia kita semua terbongkar."
"Tidak akan ada yang dapat mengetahui!"
Bantah Jenderal Su yang berwatak keras.
Terjadi perbantahan antara mereka yang hadir, ada yang pro Su-goanswe akan tetapi ada pula yang anti.
Akhirnya Pangeran Bouw mengangkat tangan memberi isyarat dan semua orang terdiam.
"Kita harus bertindak hati-hati. Memang sebaiknya kalau usaha pembasmi pihak musuh itu dilakukan oleh sekutu kita yang datang dari luar. Selain mereka mempunyai banyak orang sakti, juga seandainya mereka tertangkap, istana tentu akan menganggap penyerangan sebagai tindakan para pemberontak di luar daerah itu dan sama sekali tidak akan mencurigai kita,"
Kata Pangeran Bouw Ji Kong.
"Akan tetapi bagaimana kalau mereka kemudian mengaku tentang persekutuan mereka dengan kita, Pangeran?"
Tanya seorang di antara para perwira tinggi yang berada di situ.
"Mereka tidak akan mengaku, dan andaikata mereka mengaku, Kaisar tidak akan percaya. Buktinya tidak ada dan kaisar pasti akan lebih percaya kepadaku daripada mereka. Sudahlah, jangan khawatir. Sekarang sudah kita tentukan. Kita akan membujuk para pendukung Panglima besar Chang dengan matinya Panglima Kui sebagai alasan. Kalau bujukan itu telah dilaksanakan, maka siapa di antara mereka yang tidak mau bekerja sama, akan kita bunuh satu demi satu dan yang melaksanakan adalah orang-orang dari suku Mancu, suku Hui, dan dari Pek-lian-kauw."
"Akan tetapi, apakah mereka sanggup melaksanakan tugas berat itu?"
Tanya seorang pembesar sipil.
"Ha-ha-ha, siapa yang menyangsikan kesanggupan dan kemampuan kami?"
Tiba-tiba terdengar suara yang berlogat asing dan tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan dan tahu-tahu di dalam ruangm itu telah berdiri dua orang.
Agaknya mereka berdua tadi melayang masuk melalui atap yang mereka buat tanpa ada pengawal yang melihat mereka saking cepatnya mereka bergerak.
Seorang kakek tinggi kurus berwajah pucat seperti mayat dengan rambut putih, matanya sipit dan mulutnya menyeringai penuh ejekan membawa sebatang pedang di punggung dan sebatang kebutan putih terselip di ikat pinggang, dan seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian serba tebal, tubuhnya tinggi besar, mukanya berwarna merah tanpa kumis maupun jenggot, di pinggangnya tergantung sebatang golok gergaji.
Kakek itu berusia sekitar enampuluh lima tahun dan dia adalah Hwa Hwa Hoat-su, seorang datuk dari Pek-lian-kauw yang berilmu tinggi, baik ilmu silat maupun ilmu sihirnya.
Dia datang berkunjung sebagai wakil dan utusan Pek-lian-kauw yang menjadi satu di antara para sekutu Pangeran Bouw.
Adapun laki-laki kedua bermuka merah itu adalah Hongbacu, berusia sekitar empatpuluh lima tahun.
Dia bukan orang sembarangan karena dia adalah adik seperguruan dari Nurhacu, tokoh Mancu yang kelak berhasil merobohkan kerajaan Beng dan membangun dinasti Ceng.
Hongbacu ini menjadi wakil pihak Mancu dan utusan dari Nurhacu yang diam-diam juga menjadi sekutu Pangeran Bouw.
Hongbacu memiliki ilmu kepandaian tinggi pula, di antara bangsa-bangsa di utara dia amat terkenal karena kelihaiannya.
Pangeran Bouw yang sudah mengenal dua orang tokoh itu segera bangkit berdiri menyambut dengan girang.
"Ah, kiranya Hwa Hwa Hoat-su wakil Pek-lian-kauw dan Saudara Hongbacu wakil dari Mancu. Selamat datang dan silakan duduk!"
Setelah mereka berdua duduk di kursi yang memang sudah dipersiapkan untuk mereka, Hongbacu memandang kepada para hadirin, lalu bertanya dengan heran kepada tuan rumah.
"Pangeran Bouw, saya tidak melihat Tarmalan, padahal dia adalah orang penting dalam persekutuan kita. Kenapa dia tidak hadir malam ini?"
"Saudara Hongbacu, jangan khawatir, kami yakin bahwa dia pasti akan hadir,"
Jawab Pangeran Bouw.
"Heh-heh, apakah aku terlambat?"
Terdengar suara orang tanpa tampak orangnya.
Lalu dari jendela muncul gumpalan asap memasuki ruangan itu dan perlahan-lahan asap itu membuat bentuk lalu berubah menjadi seorang laki-laki bertubuh sedang, berwajah tampan dan memegang sebatang tongkat ular.
Usianya sekitar limapuluh lima tahun.
Inilah Tarmalan, orang penting yang menjadi utusan suku bangsa Hui dan terkenal sebagai dukun atau ahli sihir.
Dukun Tarmalan ini masih terhitung paman dari pangeran Bouw karena ibu kandung Pangeran Bouw yang menjadi selir Kaisar Cia Ceng ayah Kaisar Wan Li yang sekarang menjadi kaisar Kerajaan Beng, adalah kakak tertua dari Tarmalan.
Kecuali Hongbacu dan Hwa Hwa Hoat-su yang berilmu tinggi, mereka yang duduk di situ memandang kagum atas kemunculan Tarmalan yang luar biasa itu.
Tarmalan yang menjadi dukun dari suku bangsa Hui memang terkenal lihai, terutama ilmu sihirnya.
Setelah tiga orang tamu istimewa itu duduk, Pangeran Bouw lalu berkata kepada mereka.
"Terima kasih atas kedatangan Sam-wi (Anda bertiga) yang memang sejak tadi kami menantikan. Di dalam perundingan kami tadi, kami telah mengambil keputusan dan kini hanya tinggal minta pertimbangan Sam-wi apakah keputusan itu dapat diterima ataukah ada usul lain."
"Apakah keputusan itu, Pangeran? Harap jelaskan dan akan kami pertimbangkan,"
Kata Hwa Hwa Hoat-su sambit mengelus jenggotnya yang putih.
"Keputusan kami begini, Locianpwe (orang Tua Perkasa). Kekuatan pemerintah terletak kepada Menteri Yang Ting Ho dan Panglima Chang Ku Cing. Kalau mereka berdua tidak ada, maka pemerintah akan menjadi lemah dan mudah kita gulingkan. Membinasakan dua orang tokoh itu tidaklah mudah dan akan menimbulkan kegemparan sehingga ada bahayanya persekutuan kita ketahuan sebelum kita sempat bergerak. Maka, kami tadi mengambil keputusan untuk melemahkan kedudukan dua orang itu dengan dua cara, yaitu pertama membujuk para pembesar sipil dan militer yang setia kepada mereka berdua dan cara kedua, membunuh mereka yang tidak mau bergabung dengan kita."
"Ah, bagus sekali rencana itu!"
Kata Hwa Hwa Hoat-su.
"Tidakkah engkau juga menyetujuinya, Sobat Hongbacu?"
Tokoh Mancu itu mengangguk-anggukan kepalanya.
"Memang tepat sekali kalau dua orang menteri itu kehilangan pendukung mereka, kedudukan mereka tentu lemah dan mudah bagi kita untuk menyingkirkannya sehingga Kaisar tidak lagi mempunyai pendukung setia yang tangguh."
"Kami memang senang bahwa Sam wi agaknya sudah setuju dengan keputusan itu. Dan mengingat akan penting dan sukarnya pekerjaan ini, maka kami mengharapkan bantuan Sam-wi untuk melaksanakannya."
"Silakan Pangeran mengadakan pendekatan dan bujukan kepada para pembesar yang mendukung Menteri Yang dan Panglima Chang itu, kemudian memberitahu kami siapa-siapa yang tidak mau bergabung dan harus dienyahkan. Pekerjaan itu akan kami bagi bertiga agar dapat terlaksana lebih cepat,"
Kata Hwa Hwa Hoat-su yang memandang ringan tugas itu.
"Ha-ha-ha!"
Hongbacu tertawa.
"Tugas semudah itu serahkan saja kepadaku. Aku akan dapat membasmi mereka. Katakan saja kepadaku siapa-siapa yang harus dibunuh, Pangeran!"
"Heh-heh-heh, Hongbacu, tidak boleh kau borong sendiri! Aku setuju dengan pendapat Hwa Hwa Hoat-su tadi. Tugas itu kita bagi bertiga dan kita lihat saja siapa yang lebih dulu dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna!"
Tarmalan berkata sambil memandang kepada tokoh Mancu bertubuh tinggi besar dan bermuka merah itu.
"Kami akan melaksanakan cara pertama, melakukan pendekatan dan membujuk para pembesar itu. Sementara itu, Sam-wi lebih baik tinggal di sini dan tidak keluar agar jangan terlihat orang lain. Nanti setelah kami melakukan cara pertama, baru kami akan memberitahukan siapa-siapa yang harus dilenyapkan oleh Sam-wi,"
Kata Pangeran Bouw.
Semua orang setuju dan pertemuan itu ditutup dengan makan malam yang sudah dipersiapkan.
Hidangan mewah dengan arak yang harum.
Sampai larut lewat tengah malam barulah pertemuan itu diakhiri dan para pembesar sipil dan militer itu kembali ke rumah masing-masing.
Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, Tarmalan masing-masing diberi sebuah kamar mewah dalam istana Pangeran Bouw dan sejak malam itu mereka menanti di istana, dilayani dengan baik oleh para pelayan wanita yang khusus bertugas melayani tamu-tamu agung ini.
Pada keesokan harinya, menjelang senja, ketika Pangeran Bouw Ji Kong sedang duduk termenung memikirkan pelaksanaan rencananya mengambil alih kekuasaan kaisar Wan Li, kakak tirinya, dia mendengar langkah orang memasuki kamarnya.
Dia menoleh dan melihat seorang pemuda memasuki kamar itu.
Pemuda itu adalah Bouw Cu An atau yang biasa disebut Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw), putera tunggalnya.
Seorang pemuda bertubuh sedang dengan pakaian seperti seorang sastrawan, wajahnya tampan bulat, matanya lembut dan mulutnya selalu tersenyum.
Wajah pemuda ini mirip wajah ibunya yang cantik.
"Hemm, engkau, Cu An?"
Tegur Sang Ayah dengan lembut.
Karena dia hanya mempunyai seorang putera, tentu saja Pangeran Bouw amat sayang kepada puteranya ini.
Bouw Cu An memberi hormat kepada ayahnya sebelum duduk di depan ayahnya, terhalang meja.
"Ayah, maafkan saya kalau saya mengganggu ketenangan Ayah. Akan tetapi ada hal-hal penting yang ingin saya tanyakan dan bicarakan dengan Ayah, kalau sekiranya Ayah membolehkan."
Pangeran Bouw tersenyum. Dia selalu merasa senang melihat sikap dan cara puteranya ini bicara, penuh kesopanan dan hormat kepadanya di samping perasaan berbakti dan sayang kepada orang tua.
"Boleh saja, Cu An. Bicaralah! Apa yang ingin kautanyakan?"
"Sebelumnya saya minta maaf, Ayah. Saya melihat ada tiga orang tamu asing di ruangan bagian tamu dan saya mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Pek-lian-kauw, dari bangsa Mancu, dan suku Hui. Apakah artinya semua ini, Ayah? Juga saya mendengar bahwa Ayah bersekutu dengan mereka untuk menentang Sribaginda Kaisar. Benarkah ini, Ayah?"
"Cu An,"
Kata Pangeran Bouw dan suaranya terdengar tegas.
"Engkau tidak perlu mencampuri urusan pribadi Ayahmu. Aku melihat betapa pemerintahan Paman kaisar itu berengsek, para pejabatnya sebagian besar melakukan korupsi, menyeleweng dan bertindak sewenang-wenang. Aku tidak mungkin tinggal diam saja. Kekuasaan Pamanmu Kaisar harus dihentikan, kalau tidak rakyat akan menderita sengsara! Untuk menentang pemerintahan, aku harus bersekutu dengan pihak-pihak yang memusuhi pemerintah! Engkau tidak perlu ikut memikirkan, tidak perlu ikut campur. Engkau masih terlalu muda dan tidak tahu apa-apa."
Bouw Cun An atau Bouw Kongcu mengerutkan alisnya yang hitam.
Dia bukan hanya mewarisi wajah ibunya, akan tetapi juga watak ibunya yang lembut dan baik, dan sejak kecil dia mempelajari sastra, telah banyak membaca kitab-kitab suci, tahu akan jalan hidup terbaik yang harus ditempuh manusia.
"Maaf, Ayah. Kalau saya tidak salah dengar, Pek-lian-kauw adalah perkumpulan pemberontak yang terkenal jahat, menggunakan agama baru Teratai Putih untuk mengelabuhi rakyat. Mereka itu pembunuh dan perampok. Adapun bangsa Mancu adalah bangsa di Utara yang kini telah menguasai seluruh daerah utara dan merupakan ancaman bagi tanah air dan bangsa kita. Adapun dukun Tarmalan itu, menurut Ibu merupakan orang yang kabarnya juga menjadi rekan bangsa Mancu. Bagaimana kini Ayah bersekutu dengan mereka? Apakah tindakan Ayah itu sudah diperhitungkan benar dan tidak keliru?"
"Anak bodoh! Pek-lian-kauw dan bangsa Mancu kini memiliki kekuatan yang dapat membantu kita. Tanpa bantuan mereka, akan sukarlah menjatuhkan pemerintahan ini. Dan engkau tahu, siapa itu Tarmalan? Dia adalah Kakekmu, karena dia adalah Paman dariku! Dia adalah seorang pandai dan sakti dari suku Hui, dan dapat membantu kita menentang pemerintah Pamanmu Kaisar yang lemah itu!"
"Sekali lagi maaf, Ayah. Kalaupun benar bahwa Paman kaisar Wan Li itu lemah, dipengaruhi para Thai-kam dan para pembesar penjilat, sudah sepatutnya kalau Ayah sebagai adiknya membela Kaisar yang harus ditentang bukanlah Kaisar, melainkan para pembesar yang menyeleweng dan korup itu. Kalau pemerintah yang Ayah tentang, berarti Ayah akan melakukan pemberontakan......."
"Diam.....!"
Pangeran Bouw membentak marah.
"Cu An, jangan lanjutkan pikiran dan bicaramu seperti itu! Apakah engkau ingin agar rasa sayangku kepadamu berubah menjadi rasa benci?"
Cu An terkejut melihat ayahnya berkata demikian.
Baru sekali ini ayahnya marah seperti itu kepadanya dan memandangnya dengan sinar mata berapi penuh kebencian.
Hal ini membuat hatinya berdua sekali.
Bukan dua karena tindakan ayahnya yang dia anggap keliru, melainkan terutama sekali karena rasa sayang ayahnya demikian mudah dapat berbalik menjadi rasa benci.
"Maafkan saya, Ayah........"
Katanya halus dan dia lalu meninggalkan ruangan itu.
Pangeran Bouw menampar permukaan meja dengan perasaan kesal.
Ayah dan anak ini sama sekali tidak tahu bahwa pembicaraan mereka tadi didengar Hongbacu yang kebetulan keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan dekat ruangan itu.
Mendengar semua ucapan Bouw Kongcu, tokoh Mancu yang tinggi besar bermuka merah itu mengepal tangannya.
Anak ini sungguh berbahaya, pikirnya, dan kalau ada orang yang sepatutnya dibinasakan, maka pemuda inilah yang menjadi orang pertama.
Kalau pemuda itu berhasil membujuk ayahnya dan Pangeran Bouw berubah pikiran, maka semua rencana akan hancur dan dia akan mendapatkan teguran keras dari pemimpinnya yang keras, yaitu Nurhacu.
Bouw Kongcu merasa sedih melihat sikap ayahnya.
Sama sekali tidak disangkanya bahwa ayahnya akan memberontak terhadap Kaisar yang masih kakak tirinya sendiri.
Biasanya, sikap ayahnya selalu merasa penasaran dan menentang para pembesar yang korup dan yang menggunakan kekuasaan mereka untuk berlumba mengumpulkan kekayaan saja.
Sikap ini dianggapnya baik karena dia sendiri juga muak melihat para pembesar korup yang suka sewenang-wenang terhadap rakyat jelata.
Akan tetapi, kini ayahnya hendak memberontak dan terasa olehnya bahwa ayahnya ingin sekali menggantikan kedudukan kaisar.
Yang amat menyedihkan hatinya, ayahnya telah bersekutu dengan orang Pek-lian-kauw dan orang Mancu, juga dibantu Dukun Tarmalan yang menurut cerita ibunya merupakan seorang dukun bangsa Hui, masih paman dari ayahnya, akan tetapi terkenal jahat.
Bagaimana ayahnya sampai terperosok sedemikian dalamnya, bersekutu dengan orang-orang jahat untuk memberontak terhadap Kaisar?
Menurut kepantasan, ayahnya sebagai adik tiri kaisar, mestinya membela Kaisar dari orang-orang jahat, bukan sebaliknya bersekutu dengan mereka menentang Kaisar!
Apakah ayahnya akan menjadi pengkhianat tanah air dan bangsa?
Pemuda yang terpelajar ini maklum bahwa semua penyelewengan ayahnya itu didorong oleh ambisinya untuk menjadi kaisar!
Dan dia menjadi sedih sekali.
Sekeluarnya dari ruangan itu, Bouw Kongcu langsung keluar dari istana.
Baginya, istana ayahnya menjadi tempat yang memuakkan dan juga berbahaya, telah menjadi tempat persembunyian orang-orang jahat yang mengatur rencana pemberontakan!
Tanah pekarangan istana ayahnya saat itu terasa panas, menembus sepatunya dan membakar telapak kakinya.
Dia bersicepat lari keluar dari pekarangan.
Empat orang perajurit pengawal yang berjaga di pintu gerbang memberi hormat kepadanya, namun tidak dipedulikan.
Padahal biasanya Bouw Kongcu bersikap ramah dan manis kepada semua perajurit pengawal ayahnya, bahkan para pelayan dalam istana menghormati dan menyukainya karena dia bersikap manis kepada siapapun juga tanpa memandang kedudukan mereka.
Ketika tiba di jalan besar, Bouw Kongcu seolah melihat kota raja yang terancam perang akibat pemberontakan ayahnya.
Banyak orang tewas dan banjir darah terjadi.
Dia merasa ngeri dan cepat-cepat dia keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan.
Dia tidak tahu akan pergi ke mana.
Pokoknya dia harus meninggalkan kota raja, meninggalkan istana keluarganya, meninggalkan ayahnya sejauh mungkin agar jangan ikut ternoda kotoran akibat ulah ayahnya.
Senja telah menjelang malam.
Matahari mulai terbenam di barat sehingga cahayanya yang tertinggal amat lemah.
Sebentar lagi tentu digantikan kegelapan malam.
Bouw Kongcu berjalan terus dan tiba di jalan tepi hutan yang sunyi.
Teringat akan ayahnya, Bouw Kongcu berhenti melangkah dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, memejamkan mata dan berulang-ulang menarik napas panjang.
Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan Hongbacu yang tinggi besar bermuka merah, tokoh Mancu itu, telah berdiri di depannya.
Bouw Kongcu mendengar suara tawa seperti ringkik kuda dan ketika dia membuka matanya, dia melihat Hongbacu dan merasa terkejut sekali karena dia mengenal orang tinggi besar itu sebagai seorang di antara tiga tamu asing yang berada di istana ayahnya.
Melihat orang itu tertawa dan matanya memandangnya dengan sinar yang menyeramkan, Bouw Kongcu dapat merasakan ancaman bahaya.
Maka tanpa berkata apa pun, dia lalu memutar tubuhnya dan melarikan diri.
Dia tidak tahu ke mana akan pergi.
Dia hanya ingin menjauhkan diri dari orang Mancu itu.
Akan tetapi baru belasan langkah dia melarikan diri, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Hongbacu telah berdiri menghadang di depannya sambil bertolak pinggang dan tertawa.
"He-he-hek! Engkau hendak pergi ke mana, Bouw Kongcu?"
Pemuda itu dari ketakutan menjadi marah dan menegur.
"Bukankah engkau ini orang Mancu yang menjadi tamu Ayahku? Kenapa engkau menghalangi perjalananku?"
Dia melanjutkan dengan bentakan.
"Aku hendak pergi ke mana tidak ada urusannya denganmu. Minggir dan biarkan aku lewat, atau aku akan melaporkan kepada Ayahku tentang kekurang-ajaranmu ini!"
"Hi-hi-he-he-hek! Justru aku mewakili Ayahmu untuk mencegah engkau pergi dan berbuat macam-macam untuk menentang kami! Aku diminta untuk membawamu pulang."
"Aku tidak mau pulang dan jangan engkau mencampuri urusan pribadiku!"
"Heh-heh-heh, engkau mau atau tidak, aku tetap akan membawamu pulang, Bow Kongcu!"
Akan tetapi Bouw Cu An sudah membalikkan tubuhnya dan lari lagi secepatnya menjauhi Hongbacu.
"Ha-ha-hi-hik, engkau hendak lari ke mana, Bouw Kongcu?"
Kembali Bouw Kongcu hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu Hongbacu sudah berdiri di depannya, dalam jarak sekitar tiga tombak!
Tokoh Mancu ini menyeringai dan melangkah perlahan menghampiri pemuda itu.
"Ah, di mana-mana yang kuat menekan yang lemah!"
Terdengar suara lembut dan sesosok tubuh melayang dan seorang laki-laki telah berdiri di antara Bouw Cu An dan Hongbacu, menghadapi orang Mancu itu.
Dia seorang laki-laki berusia sekitar empatpuluh enam tahun, berpakaian jubah tosu (pendeta Agama To) kuning, bertubuh tinggi kurus dengan wajah tampan dan sikapnya lembut.
Di punggungnya terselip sebatang pedang, akan tetapi kalau ada orang memperhatikan pedang itu, dia tentu akan merasa aneh dan lucu karena pedang itu hanya sebatang pedang dari bambu seperti pedang mainan anak-anak!
Akan tetapi biarpun dia tidak mengenal tosu itu, Hongbacu adalah seorang yang mempunyai banyak pengalaman dan melihat tosu itu mempunyai sebatang pedang dari bambu, dia sama sekali tidak berani memandang rendah.
Bahkan dia merasa terkejut karena kalau seorang berani membawa senjata selemah itu, hal ini jelas menunjukkan bahwa dia tentu seorang yang berilmu tinggi!
Setelah menatap tajam wajah tosu itu, Hongbacu berkata.
"Sobat, engkau seorang pendeta, tidak pantas mencampuri urusan orang lain!"
"Siancai (damai)......! Pinto (aku) tidak mencampuri urusan, hanya ingin mengetahui apa yang terjadi maka seorang gagah seperti engkau hendak memaksa seorang pemuda yang lemah."
"Dengarlah, tosu yang baik! Pemuda ini minggat dari rumah orang tuanya dan aku diutus Ayahnya untuk membawanya pulang! Pantaskah kalau engkau menghalangiku?"
Tosu itu menoleh kepada Bouw Cu An.
"Orang muda, benarkah engkau minggat dari rumah dan sobat ini diutus Ayahmu untuk mengajakmu pulang?"
"Totiang (Bapak Pendeta), saya tidak percaya kalau dia diutus Ayah untuk mengajak saya pulang. Orang Mancu ini pasti mempunyai niat jahat terhadap saya karena saya dia anggap sebagai penghalang semua niat buruknya."
Tosu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Dua keterangan yang berbeda dan saling bertentangan. Sekarang begini saja, Sobat. Kaubiarkan pemuda ini pergi dan jangan ganggu dia lagi, lanjutkan saja perjalanan masing-masing dan aku berjanji tidak akan mencampuri urusan kalian berdua."
"Tidak bisa!"
Hongbacu berseru marah.
"Dia harus ikut aku pulang ke rumah orang tuanya, mau atau tidak dia harus ikut!"
"Siancai......! Ini namanya pemaksaan sewenang-wenang dan pinto jelas tidak dapat mendiamkannya saja."
"Bagus, Tosu usil, siapakah engkau yang berani mencampuri urusanku dan menentangku?"
"Pinto bernama Ouw-yang Sianjin, pinto tidak menentangmu, Sobat, melainkan menentang perbuatan jahat dan sewenang-wenang."
Ouw-yang Sianjin ini adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal di dunia persilatan karena dia merupakan seorang pendekar perantau yang berilmu tinggi dan selalu menentang kejahatan.
Dia adalah sute (adik seperguruan) dari mendiang Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, ayah dari Ong Lian Hong atau guru dari Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan.
Pada senja hari itu, secara kebetulan saja dia melihat Bouw Kongcu didesak oleh Hongbacu, maka dia segera turun tangan membela Bouw Kongcu.
"Ouw-yang Sianjin, tosu keparat! Engkau sudah bosan hidup!"
Kini Hongbacu tidak sabar lagi.
Memang pada dasarnya orang Mancu ini berwatak keras dan sombong karena bagi seluruh suku Mancu, dia merupakan jagoan yang sudah tersohor dan jarang dapat ditandingi.
Setelah membentak dia sudah mencabut gergajinya dari pinggang.
Senjata ini menyeramkan.
Sebatang golok yang lebar dan berat, berkilauan saking tajamnya dan punggung golok itu bergigi seperti gergaji!
Tanpa bicara lagi dia menggerakkan goloknya yang berat itu dengan cepat.
Golok itu mengeluarkan bunyi berdesing dan mengandung kekuatan yang dahsyat menyambar ke arah leher Ouw-yang Sianjin.
"Yaahhhh!"
Ouw-yang Sianjin cepat mengelak dan dari serangan pertama itu saja tahulah dia bahwa orang Mancu yang menjadi lawannya itu merupakan lawan yang tangguh.
Maka dia pun melompat ke belakang menghindari serangan susulan sambil mencabut senjatanya yang aneh dan ringan, yaitu sebatang pedang terbuat dari bambu!
Akan tetapi begitu dia menggerakkan dan memutar-mutar pedang bambu itu, tampak gulungan sinar yang bercuitan mengelilingi tubuhnya seperti membentuk sebuah perisai sinar!
Hongbacu merasa penasaran dan sambil mengerahkan sin-kang dia menyerang dengan goloknya dengan maksud untuk mematahkan pedang bambu lawan.
Sinar goloknya meluncur hendak menerobos gulungan sinar pedang bambu itu.
"Singgg...... takk......!"
Golok yang berat itu terpental ketika bertemu pedang bambu.
Akan tetapi Ouw-yang Sianjin juga merasa betapa tangannya yang memegang gagang pedang kayu tergetar hebat.
Keduanya terkejut dan mundur, maklum bahwa lawan memiliki sin-kang yang kuat dan seimbang.
Hongbacu sudah menerjang lagi.
Ouw-yang Sianjin bergerak cepat mengelak lalu balas menyerang.
Pedang bambunya itu amat lihai dan mampu menembus kulit daging lawan yang betapa kebal pun!
Terjadilah perkelahian yang amat seru.
Gerakan kedua orang itu sedemikian ringan dan cepatnya sehingga tubuh mereka seperti berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua sinar kuning dan putih dari pedang bambu dan golok.
Tenaga sakti yang mereka pergunakan sedemikian kuatnya sehingga gerakan senjata mereka menimbulkan angin yang menyambar-nyambar dan merontokkan daun-daun pohon di sekeliling mereka.
Bouw Cu An bersandar pada batang pohon sambil terduduk di atas tanah.
Dia memandang bengong, heran, kagum dan tegang mencekam hatinya.
Bunyi pedang bambu bertemu golok terkadang mengeluarkan getaran amat kuat sehingga Bouw Kongcu harus menutupi kedua telinganya dengan tangan karena suara berdenting itu seolah menusuk gendang telinganya.
Pandang matanya juga menjadi (Lanjut ke
Jilid 07) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 kabur oleh sinar yang bergulung-gulung dan menyambar-nyambar itu.
Jantungnya berdebar tegang karena dia maklum bahwa kalau tosu yang membelanya itu kalah, nyawanya sendiri pasti terancam.
Lebih dari seratus limapuluh jurus mereka bertanding, kini mereka bertanding dalam kegelapan karena malam telah tiba, atau sinar matahari tidak bersisa lagi.
Keduanya mengandalkan ketajaman telinga dan perasaan untuk berkelahi karena pandang mata tidak dapat diandalkan lagi.
Biarpun sudah demikian lamanya mereka berkelahi, tidak ada yang menang ataupun kalah.
Jangankan menang, mendesak lawan pun tidak dapat.
Kekuatan mereka seimbang, baik tenaga sin-kang, gin-kang (meringankan tubuh) maupun kehebatan jurus-jurus silat mereka.
Akan tetapi kini terdapat perbedaan.
Hongbacu mulai lelah dan pernapasannya mulai memburu.
Usia mereka memang sebaya, sekitar empatpuluh enam tahun, dan tenaga mereka juga seimbang.
Hanya bedanya, dan ini merupakan perbedaan besar, kalau Ouw-yang Sianjin hidup dengan sehat dan bersih tidak pernah menghamburkan tenaga untuk melampiaskan nafsu-nafsunya, sebaliknya Hongbacu hidup bergelimang kesenangan duniawi dan menuruti nafsu-nafsunya, terutama nafsu berahinya.
Sebagai orang yang berkedudukan tinggi dan pembantu terpercaya Nurhacu pemimpin bangsa Mancu, Hongbacu memiliki banyak isteri.
Inipun masih belum memuaskan nafsunya dan dia masih sering menggoda wanita cantik di mana pun dia berada.
Hal ini memboroskan tenaganya dan memperlemah daya tahan pernapasannya.
Maka setelah bertanding hampir seratus tujuhpuluh jurus, dia mulai merasa lemah.
Maklum bahwa kalau dilanjutnya dia akan kalah dan tidak mungkin menang, Hongbacu mengeluarkan teriakan melengking dan tubuhnya melompat jauh ke belakang lalu dia menghilang dalam kegelapan malam!
Ouw-yang Sianjin tidak mengejar karena dia memang tidak bermaksud untuk bermusuhan dengan orang Mancu itu.
Dia hanya ingin membela pemuda yang terancam tadi.
Setelah Hongbacu pergi, Ouw-yang Sianjin menyimpan pedang bambunya dan memandang kepada pemuda yang masih duduk bersandar batang pohon.
Cuaca yang gelap, hanya remang-remang mendapat sinar bintang-bintang yang bertaburan di langit, membuat dia tidak dapat melihat jelas keadaan pemuda itu.
Dia menghampiri dan berkata.
"Orang muda, bahaya telah lewat. Hari telah malam, sebaiknya engkau segera pulang ke rumahmu."
Bouw Cu An bangkit berdiri dan memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan ke dada lalu membungkuk sampai dalam.
"Totiang, saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Totiang. Kalau tidak ada Totiang, mungkin sekali saya telah dibunuh oleh orang Mancu itu."
"Sudahlah, tidak perlu berterima kasih kepada pinto, karena Sang Maha Penolong adalah Thian (Tuhan) dan kebetulan saja tadi Thian menolongmu dengan menggunakan diriku. Sekarang sebaiknya engkau pulang saja."
"Totiang, saya tidak akan pulang, saya merasa ngeri untuk pulang, apalagi setelah terjadi peristiwa tadi."
"Tidak mau pulang dan merasa ngeri untuk pulang? Aih, aneh sekali. Apakah yang telah terjadi di rumahmu, orang muda?"
"Sesungguhnya hal ini tidak semestinya saya ceritakan kepada orang lain karena saya tidak ingin menjadi anak yang durhaka, Totiang."
"Kalau begitu, jangan ceritakan kepadaku."
"Totiang, saya pernah mendengar nama Totiang. Tentu Totiang ini Ouw-yang Sianjin yang dulu pernah berjasa membongkar rencana busuk Pek-lian-kauw. Terhadap Totiang, saya ingin berterus terang, karena Totiang yang akan dapat mengerti."
Bouw Cu An lalu menceritakan tentang utusan Mancu yang tadi hendak menangkapnya, yang bersama Hwa Hwa Hoat-su utusan Pek-lian-kauw dan Tarmalan dukun suku Hui kini berada di rumah ayahnya dan mengadakan persekutuan dengan ayahnya.
Ketika dia bercerita sampai di sini, Ouw-yang Sianjin bertanya.
"Ah, siapakah Ayahmu itu?"
"Ayah saya adalah Pangeran Bouw Ji Kong, adik tiri Sribaginda Kaisar. Saya adalah putera tunggalnya, nama saya Bouw Cu An."
Ouw-yang Sianjin terkejut.
"Ah, kiranya engkau putera Pangeran Bouw, Kong-cu? Kalau begitu, engkau harus cepat pulang dan laporkan saja kepada Ayahmu apa yang tadi hendak dilakukan orang Mancu itu kepadamu."
"Tidak, Totiang, saya tidak akan pulang, saya tidak mau pulang dan melihat Ayah saya bersekutu dengan orang-orang jahat dan mempunyai rencana jahat terhadap Kaisar........"
Tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki tosu itu.
"Saya mohon agar Totiang suka membawa saya pergi dan menerima saya sebagai murid. Tolonglah, Totiang, terimalah saya karena saya ingin belajar ilmu silat agar kelak dapat menghadapi para penjahat........"
"Akan tetapi, Kongcu, engkau adalah seorang putera bangsawan tinggi, bagaimana mungkin engkau menjadi murid pinto yang hanya seorang tosu perantau? Engkau akan hidup sengsara dan serba kekurangan."
Dia menyentuh pundak pemuda itu dan hendak menariknya.
"Bangkitlah, Kongcu, tidak pantas engkau menghormati pinto seperti ini."
"Tidak, Totiang, sebelum Totiang menerima saya sebagai murid, saya akan tetap berlutut. Saya tidak mau pulang dan saya tidak tahu harus pergi ke mana."
Ouw-yang Sianjin menghela napas panjang.
Dia adalah seorang yang sejak muda menjauhkan diri dari dunia ramai, tidak seperti mendiang suhengnya, yaitu Pat-jiu Kiam-ong Ong Han Cu, yang hidup sebagai pendekar dan pejuang, bahkan menikah dan mempunyai seorang puteri.
Dia sendiri tidak menikah, bahkan selama hidupnya baru satu kali dia menerima murid, yaitu Ong Lian Hong puteri suhengnya itu.
Bahkan gadis itu pun hanya dia bimbing untuk memperdalam ilmu silatnya saja karena Ong Lian Hong sudah menerima pelajaran dari ayahnya.
Dia seorang perantau yang tidak memiliki tempat tinggal tetap.
Kini ada seorang pemuda bangsawan tinggi putera pangeran dan keponakan dari kaisar Wan Li, ingin menjadi muridnya!
Apalagi ayah pemuda ini agaknya seorang pengkhianat yang hendak memberontak terhadap kaisar dan bersekutu dengan musuh-musuh negara seperti bangsa Mancu dan perkumpulan Pek-lian-kauw!
Akan tetapi pemuda ini luar biasa, pikirnya.
Ayahnya hendak memberontak dan dia sebagai putera tunggal menentang, bahkan meninggalkan ayahnya, ingin menjadi muridnya dan siap hidup serba kekurangan dan sengsara.
Juga sikapnya demikian lembut, baik dari ucapannya yang menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar maupun dari gerak geriknya.
Timbul perasaan suka dan iba di hatinya terhadap Bouw Cun An.
"Baiklah, Bouw Kongcu. Kalau engkau bertekad untuk menjadi muridku dan ingin ikut denganku, bangkitlah."
Bukan main girang rasa hati Bouw Cu An. Dia yang masih berlutut segera memberi hormat dan berkata dengan terharu.
"Terima kasih atas penerimaan Suhu dan teecu (murid) mohon agar Suhu tidak menyebut teecu Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw). Sebut saja nama teecu Bouw Cu An."
"Baiklah, Cu An. Sekarang bangkitlah dan mulai sekarang juga engkau harus melatih badanmu memperkuat daya tahan. Ikuti aku!"
Tosu itu lalu melangkah dan sengaja dia memilih jalan dalam hutan yang sukar dan penuh rintangan.
Selain gelap karena hanya diterangi cahaya bintang-bintang, juga jalan itu kasar berbatu-batu, terhalang semak belukar yang kadang-kadang berduri.
Bahkan dia mulai mendaki bukit sehingga Bouw Cu An yang sejak kecil hidup serba enak itu merasa tersiksa sekali.
Namun, hanya badannya yang tersiksa karena hatinya masih diliputi rasa girang.
Dia sudah bertekad untuk mempelajari ilmu silat dan untuk ini dia siap untuk menderita sengsara, yaitu kesengsaraan, kenyerian dan kelelahan badannya.
Hongbacu, tokoh Mancu itu setelah gagal menangkap Bouw Cun An, lalu melapor kepada Pangeran Bouw bahwa pemuda itu diculik oleh seorang tosu bernama Ouw-yang Sianjin!
"Saya sudah berusaha untuk merebutnya kembali, akan tetapi tosu itu cukup lihai dan dapat melarikan Bouw Kongcu,"
Demikian Hongbacu mengakhiri laporannya.
"Ah, saya tahu siapa itu Ouw-yang Sianjin!"
Seru Hwa Hwa Hoat-su tokoh Pek-lian-kauw.
"Dia masih mempunyai perhitungan yang harus dibayar dengan nyawanya. Dialah yang menggagalkan rombongan kami sehingga Leng Kok Ho-siang dan beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw terbunuh. Sekarang dia malah menculik putera Paduka, Pangeran. Orang itu berbahaya bagi kita semua dan harus dibunuh!"
Pangeran Bouw Ji Kong marah sekali dan dia mengerahkan anak buahnya untuk mencari puteranya yang kabarnya diculik dan dilarikan oleh Ouw-yang Sianjin.
Namun semua usahanya sia-sia.
Bouw Cu An dan Ouw-yang Sianjin tak dapat ditemukan, lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Sementara itu, sesuai dengan rencana yang sudah diatur oleh persekutuan itu, Pangeran Bouw Ji Kong berusaha melakukan pendekatan kepada para pejabat sipil dan militer yang setia kepada Kaisar dan menaati menteri Yang Ting Ho dan Panglima Chang Ku Cing.
Dia berusaha untuk membujuk mereka dan memanas-manasi hati mereka dengan penggambaran betapa buruknya pemerintah itu di bawah Kaisar Wan Li yang sudah dipengaruhi dua orang pejabat tinggi itu.
Namun, usaha ini ternyata gagal.
Setelah kurang lebih setahun melakukan pendekatan dan bujukan, hasilnya sedikit sekali.
Hanya ada beberapa orang saja yang dapat terbujuk dan menerima ajakan Pangeran Bouw untuk bergabung dan mendukung pangeran itu.
Sebagian besar menolak dan tetap setia kepada Kaisar dan dua orang pejabat tinggi itu.
Karena cara yang pertama gagal, maka dimulailali cara kedua, yaitu membunuh para pejabat yang setia kepada Kaisar.
Untuk pekerjaan ini, diserahkan kepada tiga orang sakti yang tinggal di istana Pangeran Bouw Ji Kong, yaitu Hwa Hwa Hoat-su, Hongbacu, dan Tarmalan.
Bagaikan berlumba saja, tiga orang sakti itu dalam jangka waktu sebulan masing-masing telah membunuh dua orang pejabat tinggi.
Tentu saja kota raja menjadi gempar!
Dalam waktu sebulan ada enam orang pembesar yang setia kepada kaisar telah terbunuh dan pembunuhnya sama sekali tidak meninggalkan jejak!
Juga tidak ada seorang pun perajurit penjaga yang melihat Si pembunuh, bayangannya saja pun tidak tampak!
Kaisar Wan Li pun sempat panik mendengar laporan tentang terbunuhnya enam orang pejabat tinggi secara beruntun itu.
Kaisar segera memanggil dua orang pembantunya yang paling diandalkan, yaitu Menteri Yang Ting Ho dan Panglima besar Chang Ku Cing.
Dengan tegas Kaisar Wan Li memerintahkan kepada mereka berdua untuk melacak dan menangkap pembunuh yang membuat resah para pembesar di kota raja.
Sebelumnya, dua orang pembesar ini memang sudah amat terkejut dan penasaran.
Maka, mereka berdua sudah mendatangi rumah mereka yang terbunuh dan memeriksa sendiri keadaan mayat para pembesar yang terbunuh dalam kamar mereka itu.
Maka, setelah dipanggil kaisar dan menerima perintah yang mengandung teguran itu, keduanya lalu berunding di gedung tempat tinggal Menteri Yang Ting Ho.
Mereka berunding berdua saja dalam sebuah ruangan tertutup.
Dua orang pembantu Kaisar yang usianya sudah sekitar limapuluh tahun itu duduk berhadapan dengan wajah muram.
"Chang Ciang-kun."
Kata Menteri Yang.
"menurut dugaanku, kiranya tidak salah lagi bahwa pembunuh para pejabat tentulah orang Pek-lian-kauw. Mereka memang memiliki orang-orang sakti, dan bukan mustahil mereka datang mengacau sebagai pembalasan karena dulu gerakan mereka yang dipimpin Leng Kok Ho-siang itu telah gagal."
"Dugaanmu itu kiranya tidak meleset jauh, Yang Taijin,"
Kata Panglima Chang yang bertubuh tinggi tegap dan tampak gagah dengan kumis dan jenggotnya yang pendek terpelihara rapi dan pakaiannya sebagai seorang panglima tinggi.
"Memang agaknya hanya Pek-lian-kauw saja yang menjadi musuh besar kita di dalam negeri. Akan tetapi ada dua hal yang amat menarik hatiku. Pertama, enam orang yang terbunuh itu merupakan pejabat-pejabat tinggi yang setia kepada Sribaginda Kaisar dan merupakan pejabat yang mendukung kita berdua dalam kesetiaan kita kepada pemerintah. Dua orang pejabat sipil itu adalah pejabat yang baik dan enam orang pejabat militer itu adalah bawahan dan pembantu-pembantuku."
"Engkau benar, Ciang-kun. Dua orang itupun merupakan pembantumu yang setia. Jadi kalau begitu, pembunuh itu sengaja hendak melemahkan kita dengan jalan membunuhi para pembantu kita?"
"Tentu saja yang mereka incar adalah Sribaginda Kaisar. Karena kita berdua yang memperkuat kedudukan Sribaginda Kaisar, maka kitalah yang lebih dulu diserang. Bawahan kita yang setia dibunuh untuk melemahkan kekuatan kita sehingga mereka akan mudah untuk menujukan serangan mereka dengan sasaran utama, yaitu Sribaginda Kaisar,"
Kata Panglima Chang.
Menteri Yang Ting Ho mengerutkan alisnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Untuk urusan serang menyerang dan menggunakan siasat menyerang pihak lawan dengan berbagai akal dan cara tentu saja merupakan keahlian Panglima Chang.
"Agaknya engkau benar, Ciang-kun. Akan tetapi hal kedua apakah yang menarik hatimu?"
"Taijin, ketika kita memeriksa keadaan jenazah enam orang korban itu aku melihat keanehan."
"Keanehan? Aku hanya melihat bahwa mereka dibunuh secara kejam sekali."
"Aku memperhatikan penyebab kematian mereka, Taijin. Ada tiga macam sebab kematian mereka, dan masing-masing dua orang mati dengan cara yang sama, berbeda dengan yang lain."
"Aku tidak melihat hal itu, Ciang-kun. Aku hanya melihat bahwa mereka tewas dalam keadaan mengerikan, ada yang lehernya putus, kepalanya remuk, dadanya luka menembus punggung......"
"Nah, itulah Taijin! Dua orang di antara mereka tewas dengan leher terpenggal. Agaknya yang memenggal leher mereka menggunakan senjata yang amat tajam dan berat sehingga leher mereka itu putus terbabat dengan sempurna. Dua orang lagi mati dengan kepala mereka remuk, padahal tidak tampak terluka. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berdua menerima pukulan dengan senjata lunak yang tidak meninggalkan bekas namun dapat menghancurkan, membuktikan bahwa pelakunya memiliki sin-kang yang amat kuat. Adapun dua orang lagi mati dengan dada terluka dan menembus punggung. Luarnya bundar menandakan bahwa mereka berdua tentu ditusuk senjata yang kecil, mungkin tombak atau tongkat, akan tetapi jelas bukan pedang atau golok."
"Hemm, jadi maksudmu, mereka berenam itu dibunuh oleh tiga orang pembunuh yang memiliki keahlian berbeda?"
"Kesimpulannya begitulah, Taijin. Mereka tentu tiga orang dan mereka memiliki kepandaian tinggi, juga mereka kejam dan berbahaya sekali."
"Hemm, kalau begitu, bagaimana kita harus menghadapi mereka, Ciang-kun. Kukira engkaulah yang paling tepat untuk menanggulangi bahaya ini. Aku sendiri akan menasihati Sribaginda Kaisar untuk melipat gandakan pasukan pengawal yang kuat dan pilihan agar setiap saat Sribaginda dilindungi dengan ketat."
"Memang sebaiknya begitu, Taijin. Dan lebih penting pula, sebaiknya Sribaginda memanggil semua pejabat tinggi mengadakan persidangan agar terdapat lebih banyak pasukan untuk menjaga keselamatan kerajaan."
"Baik, aku akan mengemukakan hal itu kepada Sribaginda Kaisar,"
Kata Menteri Yang.
"Ya, dan aku akan diam-diam secara rahasia menghubungi para pendekar yang setia kepada kerajaan untuk membantu. Karena pihak musuh juga menggunakan orang-orang sakti yang dirahasiakan, maka aku juga akan mencari pendekar-pendekar yang akan menghadapi mereka secara rahasia pula."
Menteri Yang dan Jenderal atau Panglima Chang telah bersepakat untuk menghadapi serangan yang membunuh para rekan mereka.
Panglima Chang mengerahkan pasukan khusus yang diperintahkan untuk melakukan penjagaan kepada para pejabat tinggi yang setia kepada kaisar.
Beberapa hari kemudian, setelah mendapat laporan dan anjuran Menteri Yang Ting Ho, Kaisar Wan Li mengundang para pejabat tinggi untuk datang menghadap dan mengadakan persidangan untuk membahas peristiwa yang menggegerkan itu.
Setelah Kaisar Wan Li secara singkat menceritakan tentang pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi yang terkenal setia, dia berkata.
"Menurut pendapat kami, pelakunya tentulah orang-orang yang menentang pemerintah dan hendak melemahkan dan membikin kacau para pejabat pemerintah. Dan mereka yang memusuhi pemerintah pada saat ini adalah golongan pemberontak Pek-lian-kauw dan tentu saja bangsa Mancu yang kini telah menyusun kekuatan di utara. Mungkin juga ada suku-suku di luar daerah kita yang dapat dihasut mereka. Kita harus siap dan berusaha sekuatnya untuk membekuk pembunuh itu agar suasana menjadi tenang dan tenteram kembali."
Setelah berhenti sejenak dan memandang kepada para pejabat itu, Kaisar Wan Li melanjutkan.
"Karena urusan ini teramat penting dan berbahaya, maka kami telah menyerahkan penanganannya kepada Panglima Chang Ku Cing. Bagaimana pendapat kalian? Apakah ada yang mengajukan usul yang baik?"
Pangeran Bouw Ji Kong membungkuk dengan hormat sambil bangkit berdiri dari kursinya.
"Kakanda Kaisar yang mulia. Kalau menurut perkiraan hamba, pemberontak Pek-lian-kauw maupun para suku bangsa tidak akan berani melakukan kejahatan itu. Pek-lian-kauw telah kita gagalkan dan hancurkan usaha mereka mengacau beberapa waktu yang lalu, maka kiranya mereka tidak akan berani gegabah mencobanya lagi. Juga hamba yang mengawasi hubungan antara kita dan para suku bangsa di luar daerah. Hubungan itu cukup baik dan kiranya mereka tidak akan berani merusaknya dengan pembunuhan-pembunuhan itu. Menurut hamba, ada pihak lain yang melakukannya."
Kaisar Wan Li memandang kepada adik tirinya itu.
"Hemm, Adinda Pangeran, begitukah pendapatmu? Coba jelaskan, pihak lain mana dan siapa yang engkau maksudkan itu?"
"Yang Mulia, sudah bukan rahasia lagi bahwa di dunia kang-ouw terdapat orang-orang yang menamakan dirinya para pendekar. Banyak di antara mereka itu yang merasa tidak puas dan membenci para pejabat. Sudah banyak pejabat di kota raja maupun di daerah yang dihajar atau bahkan dibunuh para pendekar itu, dengan dalih bahwa pejabat itu tidak adil, sewenang-wenang, atau memeras menindas rakyat. Hamba condong untuk menduga bahwa yang membunuh enam orang pejabat itu adalah para pendekar yang hamba maksudkan itu."
Kaisar Wan Li adalah seorang yang lemah dan selalu mengandalkan pendapat para pembantunya.
Mendengar ucapan adik tirinya itu, timbul keraguan dalam hatinya dan dia memandang kepada para pejabat yang hadir.
"Kami rasakan apa yang dikemukakan Adinda Pangeran Bouw Ji Kong itu ada benarnya juga. Bagaimana kalau menurut pendapat kalian?"
Para pejabat tinggi diam saja.
Mereka sudah mengenal siapa Pangeran Bouw dan bagi para pejabat yang sudah menjadi anak buahnya tentu setuju dengan pendapat itu.
Adapun mereka yang tidak setuju, tidak berani mencela karena mereka merasa bahwa Pangeran Bouw tidak suka kepada mereka yang tidak mau dibujuk untuk menerima hadiah dan taat kepadanya.
Panglima besar Chang Ku Cing segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Kaisar.
"Hamba tidak dapat membenarkan perkiraan Pangeran Bouw bahwa para pendekar yang melakukan pembunuhan itu. Para pendekar yang gagah perkasa, pembela kebenaran dan keadilan tidak akan melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap enam orang pejabat itu karena hamba mengenal betul siapa mereka.
"Mereka adalah pejabat-pejabat yang setia kepada Paduka, mereka bersih, jujur dan adil. Tentu Paduka masih ingat betapa dahulu, setahun lebih yang lalu, ketika Pek-lian-kauw mempunyai niat jahat untuk mengacau dan Leng Kok Ho-siang sebagai wakil mereka menghadap Paduka, justeru para pendekar yang telah membantu pemerintah menghancurkan usaha jahat mereka. Hamba berani menanggung bahwa bukan para pendekar yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, melainkan musuh-musuh negara dan para pemberontak."
Para pejabat yang setia kepada kaisar mengangguk-angguk membenarkan pendapat Panglima Chang ini.
Adapun para pejabat yang telah menjadi pengikut Pangeran Bouw tidak ada yang berani membantah.
Kaisar Wan Li menutup persidangan dan memberi tugas khusus kepada tiga pejabat penting.
Panglima Chang ditugaskan untuk mencari dan menangkap pembunuh itu.
Menteri Yang ditugaskan untuk menenteramkan suasana di antara para pejabat, dan Pangeran Bouw diberi tugas untuk melakukan penyelidikan apakah para suku bangsa di luar daerah tidak ada yang melakukan aksi yang mencurigakan, terutama dia ditugaskan untuk mengamati gerak-gerik bangsa Mancu dan memberi laporan kalau ada yang mencurigakan.
Para pejabat menanti sampai kaisar Wan Li mengundurkan diri dari ruangan sidang, baru mereka kembali ke gedung masing-masing.
Pangeran Bouw cepat menghubungi tiga orang sakti yang bersembunyi di istananya dan menganjurkan mereka lebih baik untuk sementara menghentikan pembunuhan dan diam-diam meninggalkan kota raja untuk menghindar dari usaha Panglima Chang yang tentu akan mencari pembunuh itu dengan cermat.
Berbeda dengan Pangeran Bouw Ji Kong yang masih giat karena ambisius, sebaliknya Pangeran Sim Liok Ong yang merupakan saudara misan kaisar, tidak memegang kedudukan apa-apa, maka dia tidak ikut dipanggil dalam persidangan yang diadakan kaisar.
Akan tetapi dia dapat menduga bahwa Kaisar dan para pejabat tinggi tentu gelisah dengan adanya pembunuhan-pembunuhan rahasia itu.
Yang amat tertarik dengan terjadinya peristiwa pernbunuhan-pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi yang setia dan jujur adalah putera Pangeran Sim Liok Ong, yaitu Sim Tek Kun.
Sim Tek Kun yang berusia duapuluh empat tahun ini adalah murid Kun-lun-pai yang lihai dan terkenal di dunia kang-ouw sebagai Kun-lun Siauw-hiap (Pendekar Muda Kun-lun) yang selalu membela kebenaran dan keadilan sebagai seorang pendekar gagah perkasa.
Juga isterinya adalah seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan lihai, yaitu Ong Lian Hong.
Ong Lian Hong ini adalah puteri mendiang Pat-jiu Kiam-ong (Raja Pedang Tangan Delapan) Ong Han Cu, dan ia menjadi sumoi (adik seperguruan) Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, murid mendiang ayahnya.
Dulu, sekitar dua tahun yang lalu, Ong Lian Hong bersama Sim Tek Kun yang ketika itu belum menjadi suaminya, dan Hwe-thian Mo-li, ia membantu Panglima Chang Ku Cing membasmi orang-orang Pek-lian-kauw yang mengacau kota raja.
Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong telah menikah sekitar satu setengah tahun yang lalu namun mereka belum dikaruniai anak.
Selama dua tahun ini, Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong hidup bahagia dan penuh kedamaian karena mereka tidak lagi mencampuri urusan dunia persilatan.
Mereka tinggal di gedung Pangeran Sim Liok Ong yang tidak aktip dalam pemerintahan sehingga tidak pernah mendapatkan persoalan.
Akan tetapi, biarpun demikian, mereka memperhatikan peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi di kota raja, maka pembunuhan-pembunuhan yang terjadi baru-baru ini membangkitkan perasaan penasaran dan menarik perhatian mereka.
Jelas telah terjadi kejahatan dalam kota raja dan mereka tentu saja tidak dapat membiarkan hal itu terjadi berlarut-larut tanpa ikut menyelidiki dan memberantasnya atau menangkap pembunuhnya.
Pada suatu sore, suami isteri itu duduk di serambi bersama Pangeran Sim Liok Ong.
Pangeran ini berusia sekitar empatpuluh delapan tahun dan masih tampak segar dan tampan dengan sikapnya yang lembut.
Mereka membicarakan tentang pembunuhan itu.
"Kalau menurut pendapat Ayah, mengapa enam orang pembesar itu dibunuh orang dan mengapa terjadi hal ini? Pertanda apakah ini, Ayah?"
Tanya Sim Tek Kun kepada ayahnya.
"Aku mengenal baik enam orang pejabat tinggi yang terbunuh itu. Mereka semua adalah pejabat yang setia dan jujur. Karena itu, melihat pembunuhan yang dilakukan secara diam-diam penuh rahasia itu, sangat boleh jadi bahwa orang yang mengatur pembunuhan itu sengaja hendak melemahkan kedudukan kaisar dengan membunuhi para pembesar yang setia. Kalau pembunuhan ini merupakan dendam pribadi, rasanya tidak mungkin secara berturut-turut enam orang pembesar dibunuh dan mereka semua ternyata merupakan pembantu-pembantu setia dari Sribaginda Kaisar!"
Sim Tek Kun dan isterinya, Ong Lian Hong, mengangguk-angguk setuju dengan pendapat pangeran itu.
"Kalau enam orang pejabat tinggi itu terbunuh secara rahasia dan tidak ada yang mengetahui siapa pembunuh mereka, jelas bahwa dalang pembunuhan itu mengutus orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi untuk melakukan pembunuhan itu,"
Kata Ong Lian Hong.
"Dugaanmu itu tentu tepat, Hong-moi. Dan kukira yang patut dicurigai adalah Pek-lian-kauw! Merekalah yang dulu mengacau di kota raja, dan memang Pek-lian-kauw mempunyai banyak orang lihai. Agaknya sekali ini pun pembunuhan itu dilakukan mereka untuk membikin kacau atau seperti dikatakan Ayah tadi, untuk melemahkan pemerintah yang dipimpin Sribaginda Kaisar,"
Kata Sim Tek Kun.
Selagi mereka bercakap-cakap, terdengar derap kaki kuda dan roda kereta.
Mereka semua memandang dan melihat sebuah kereta memasuki pekarangan gedung itu dan para penjaga di pintu pekarangan memberi hormat.
Dari keretanya saja Pangeran Sim Liok Ong sudah mengenal siapa yang datang berkunjung.
"Panglima Chang Ku Cing yang datang!"
Katanya dan mereka bertiga segera bangkit dan menyambut di luar serambi.
Setelah kereta berhenti, benar saja yang keluar dari kereta adalah Panglima Chang Ku Cing yang berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh tinggi tegap dengan kumis dan jenggot pendek terpelihara rapi sehingga dia tampak gagah sekali dalam pakaian panglima yang serba gemerlapan.
Dia ditemani seorang pemuda gagah berusia sekitar duapuluh lima tahun.
Pangeran Sim, diikuti putera dan mantunya, memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada yang dibalas oleh Panglima Chang.
Pangeran Sim Liok Ong berkata gembira.
"Selamat datang, Panglima Chang. Mari, silakan masuk, kami merasa gembira menyambut kunjunganmu."
"Terima kasih dan maafkan kalau saya mengganggu, Pangeran. Saya datang untuk membicarakan sesuatu denganmu, terutama sekali dengan putera dan mantumu,"
Kata panglima itu sambil memandang kepada Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong.
"Mari, silakan masuk dan kita bicara di dalam, Panglima!"
Kata Pangeran Sim dan mereka lalu memasuki ruangan tamu.
Lima orang itu duduk saling berhadapan mengelilingi sebuah meja besar.
Pangeran Sim lalu menutupkan pintu depan dan belakang dari ruangan itu, memesan kepada pelayan agar mereka jangan diganggu.
Tak seorang pun boleh memasuki ruangan sebelum dipanggil.
"Saya kira Pangeran sudah dapat menduga kepentingan apa yang hendak saya bicarakan. Sebelumnya, perkenalkan dulu. Pemuda ini adalah keponakan saya putera tunggal adik saya yang telah gugur dalam perang. Namanya adalah Chang Hong Bu dan dia telah lulus belajar ilmu silat di kuil Siauw-lim-si."
Pangeran Sim Liok Ong, putera dan mantunya itu memandang kepada pemuda itu penuh perhatian.
Baru sekarang Pangeran Sim bertemu dengan pemuda itu bahkan baru sekarang dia mendengar bahwa panglima yang terkenal itu memiliki seorang keponakan yang gagah perkasa, murid Siauw-lim-pai.
Seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun yang bertubuh tegap, berwajah tampan dan gagah sikapnya tenang dan wataknya pendiam, sinar matanya tajam berwibawa seperti mata pamannya.
Ketika diperkenalkan pemuda bernama Chang Hong Bu itu bangkit dan memberi hormat dengan membungkuk kepada keluarga tuan rumah.
"Kami senang sekali dapat berkenalan dengan keponakanmu yang gagah, Panglima. Kalau kami tidak salah duga, tentu kedatangan Panglima ini ada hubungannya dengan masalah yang tadi baru saja kami bicarakan, yaitu masalah pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di kota raja. Benarkah?"
Panglima Chang tertawa dan menoleh kepada keponakannya.
"Ha-ha-ha! Kau dengar sendiri, Hong Bu! Tidak salah, bukan, keteranganku tadi, bahwa Pangeran Sim Liok Ong adalah seorang yang amat cerdik? Baru saja kita datang beliau ini telah dapat menduga dengan tepat maksud kedatanganku. Tentu Pangeran telah mengetahui pula apa yang kami inginkan sehubungan dengan peristiwa itu, bukan?"
Pangeran Sim juga tersenyum.
"Aih, Panglima. Saya dapat berbuat apakah menghadapi urusan kekerasan ini? Tentu putera dan mantuku lebih tepat untuk Panglima ajak membicarakannya."
Kembali panglima Chang tertawa dan memandang kepada keponakannya, seolah hendak membuktikan bahwa lagi-lagi pangeran itu telah dapat menebak dengan tepat.
"Memang benar, terus terang saja kami semua merasa penasaran dengan adanya peristiwa pembunuhan itu. Karena itu, saya teringat akan puteramu Sim Tek Kun dan isterinya Ong Lian Hong yang dulu pernah membantu kami menghancurkan para tokoh Pek-lian-kauw yang mendatangkan kekacauan di kota raja. Bagaimana pendapatmu tentang adanya pembunuhan-pembunuhan itu, nanda Tek kun?"
Sim Tek Kun menoleh kepada ayahnya lalu memandang kepada Panglima Chang.
"Seperti telah dikatakan Ayah tadi, Paman Panglima, ketika Paman datang, kami bertiga sedang membicarakan peristiwa itu. Menurut pendapat kami bertiga, pembunuhan-pembunuhan itu sengaja dilakukan oleh pihak yang memusuhi pemerintah. Yang dibunuh adalah pejabat-pejabat yang setia kepada Sribaginda Kaisar, maka pembunuhan itu agaknya dilakukan untuk mendatangkan kekacauan dan melemahkan pemerintah. Mengingat bahwa yang dulu memusuhi pemerintah adalah Pek-lian-kauw dan mengingat pula bahwa pembunuhan tentu dilakukan orang-orang yang lihai, maka kami menduga bahwa yang melakukan adalah orang-orang Pek-lian-kauw."
Panglima Chang mengangguk-angguk.
"Kami semua juga mempunyai dugaan seperti itu. Pek-lian-kauw atau bukan, yang melakukannya tentu mereka yang memusuhi pemerintah dan ingin melemahkan pemerintah dengan membunuhi para pejabat tinggi yang setia. Perkara ini amat gawat sehingga Sribaginda Kaisar mengadakan rapat khusus dan menugaskan saya untuk mencari dan menangkap pembunuhnya.
"Setelah kami selidiki, kami berpendapat bahwa enam orang itu dibunuh oleh tiga orang yang memiliki ilmu berbeda aliran. Hal ini dibuktikan dengan cara tewasnya enam orang itu. Dua orang tewas dengan kepala terpenggal, dua orang lagi tewas dengan dada tertusuk dan tembus sampai punggung, sedangkan yang dua orang lagi tewas dengan kepala hancur isinya tanpa luka di luarnya.
"Kita berurusan dengan orang-orang yang tinggi sekali ilmu kepandaiannya, oleh karena itu kami yang diberi tugas ingin minta bantuan para pendekar yang dulu juga membantu kami menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw yang lihai. Bagaimana, nanda Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong, bersediakah ji-wi (Anda berdua) membantu kami?"
"Tentu saja kami siap membantu sekuat kemampuan kami, Paman Panglima,"
Kata Sim Tek Kun.
"Terima kasih, nanda Sim Tek Kun. Dengan bantuan nanda berdua isteri, kami semakin yakin bahwa akhirnya kita akan dapat mengetahui siapa dalang pembunuhan ini dan kalau kita beruntung, akan dapat menangkap pelaku-pelaku pembunuhan itu. Akan tetapi kami teringat akan Hwe-thian Mo-li. Kalau saja kita dapat minta bantuannya, kiranya pekerjaan ini akan menjadi semakin mudah.
"Barangkali nanda Ong Lian Hong mengetahui, di mana tempat tinggal Hwe-thian Mo-li sekarang? Saya ingin mengutus keponakan kami Chang Hong Bu ini untuk menyampaikan permintaan saya kepadanya untuk membantu."
Mendengar pertanyaan ini, Ong Lian Hong mengerutkan alisnya dan sinar matanya membayangkan kesedihan.
Ia sudah mendengar pengakuan suaminya bahwa Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan dahulu jatuh cinta kepadanya.
Biarpun dia tidak membalas cinta Hwe-thian Mo-li namun dia merasa bahwa Nyo Siang Lan jatuh cinta kepadanya tanpa pernah menyatakannya dengan ucapan.
Mendengar ini Lian Hong baru menyadari mengapa sucinya itu sengaja mempermainkan ia dan Tek kun yang telah ditunangkan kepadanya sejak dulu, membuat mereka saling bertanding dan saling mengerti bahwa mereka telah menjadi calon jodoh sejak dulu.
Dan mengapa sejak itu sucinya pergi dan tidak pernah menjumpainya atau memberi kabar!
Kini, mendengar pertanyaan Panglima Chang, tentu saja ia teringat kepada Nyo Siang Lan dan merasa sedih.
"Paman Panglima, saya sendiri tidak pernah bertemu atau mendengar berita tentang enci Nyo Siang Lan sejak kami bersama-sama menentang orang-orang Pek-lian-kauw itu. Saya pernah melakukan penyelidikan dan mendengar bahwa Ban-hwa-pang di Ban-hwa-kok diserbu dan diambil alih kekuasaan ketuanya oleh seorang gadis yang amat lihai. Mungkin sekali gadis itu adalah Enci Siang Lan, akan tetapi saya tidak berani memastikannya."
"Ban-hwa-kok (Lembah Selaksa Bunga)? Di manakah itu?"
Panglima Chang bertanya, penuh perhatian.
"Saya sendiri tidak tahu, Paman........"
"Nanti dulu!"
Tiba-tiba Sim Tek Kun memotong.
"Lembah Selaksa Bunga? Saya pernah mendengar tentang itu, kalau tidak salah, dulu ada Ban-hwa-pang (Perkumpulan Selaksa Bunga) di lembah itu, dan pemimpinnya adalah seorang she (marga) Siangkoan yang amat lihai yang dijului Si Tombak Maut. Lembah Selaksa Bunga itu berada di puncak Ban-hwa-san (Bukit Selaksa Bunga), sebuah di antara bukit-bukit yang menjadi bagian dari Lu-liang-san."
"Bagus!"
Kata Panglima Chang girang.
"Nah, Hong Bu, engkau sudah mendengar sendiri. Nanda Sim Tek Kun berdua isterinya kami minta bantuannya untuk ikut menyelidiki siapa yang melakukan pembunuhan itu, dan engkau pergilah ke Lu-liang-san, cari Lembah Selaksa Bunga dan temui Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan. Aku akan membuat Surat untuknya. Nah, mari kita pulang, engkau cepat berkemas dan bawa suratku."
Panglima Chang lalu berpamit kepada Pangeran Sim, putera dan mantunya, dan bersama keponakannya kembali ke gedungnya.
Setelah panglima itu pergi, Sim Tek Kun dan Ong Lian Hong membuat persiapan untuk mulai melakukan penyelidikan tentang pembunuhan-pembunuhan itu.
Chang Hong Bu adalah seorang pemuda yang yatim piatu.
Ayahnya, adik Panglima Chang Ku Cing, juga seorang perwira tinggi yang gugur dalam perang melawan pemberontak di utara.
Ibunya juga meninggal dunia karena sakit sehingga Chang Hong Bu menjadi yatim piatu.
Sejak kecil dia lalu ikut pamannya yaitu Panglima Chang Ku Cing.
Melihat bakat anak itu baik sekali untuk ilmu silat, Panglima Chang lalu mengirimnya ke Siauw-lim-pai untuk belajar ilmu silat.
Selama limabelas tahun, sejak berusia sepuluh tahun, Hong Bu digembleng ilmu silat di kuil Siauw-lim-pai.
Setelah tamat belajar dan usianya sudah duapuluh lima tahun, dia kembali ke rumah pamannya.
Kini Hong Bu menerima tugas dari pamannya untuk mencari Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan di pegunungan Lu-liang-san.
Tentu saja dia merasa senang sekali menerima tugas ini.
Setelah tamat dari Siauw-lim-pai dia telah menjadi seorang pendekar muda perguruan silat yang amat terkenal itu.
Tentu saja dia ingin memanfaatkan semua pelajaran yang telah ditekuninya selama limabelas tahun itu untuk bertualang di dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan.
Akan tetapi kini tugasnya yang utama adalah menemukan Hwe-thian Mo-li agar dapat menyampaikan, surat undangan Panglima Chang.
Dari gurunya, yaitu Ci kok Ho-siang yang menjadi wakil Ketua Siauw-lim-pai, dia bukan hanya menerima pelajaran bu (ilmu silat), akan tetapi juga bun (ilmu sastra).
Hong Bu melakukan perjalanan cepat, menghindari segala gangguan dalam perjalanan karena dia harus lebih dulu menunaikan tugas yang diberikan pamannya.
Setelah tiba di kaki pegunungan Lu-liang-san, Hong Bu mulai bertanya-tanya kepada para penduduk dusun-dusun di sekitar pegunungan itu di mana adanya Ban-hwa-san (Bukit Selaksa Bunga).
Karena hari telah menjelang senja, dia melewatkan malam itu di sebuah dusun di kaki bukit, karena dia merasa tidak sopan kalau berkunjung ke tempat tinggal orang pada malam hari.
Apalagi yang dicarinya adalah seorang gadis.
Dia bermalam di rumah seorang petani tua yang duda dan sudah berusia limapuluh tahun lebih.
Dari petani inilah dia mendengar tentang Ban-hwa-pang.
Menurut kakek itu, dahulu, ketika Ban-hwa-pang masih merupakan gerombolan yang dipimpin oleh Si Tombak Maut Siangkoan Leng, tidak ada orang berani tinggal di sekitar kaki bukit itu karena gerombolan Ban-hwa-pang itu terkenal bengis dan kejam.
Akan tetapi setelah gerombolan itu dibasmi oleh seorang wanita sakti berjuluk Hwe-thian Mo-li, dibunuhi semua berikut ketuanya, lalu perkumpulan yang tetap bernama Ban-hwa-pang itu kini menjadi perkumpulan yang anggautanya terdiri dari wanita semua dan dipimpin oleh Hwe-thian Mo-li, perkumpulan itu berubah menjadi baik dan tidak pernah ada anggauta perkumpulan itu melakukan gangguan terhadap dusun-dusun di sekitarnya.
Maka mulailah ada penduduk dusun yang pindah ke kaki Bukit Ban-hwa-san yang memiliki tanah subur untuk tinggal dan bertani di situ.
Apalagi Ban-hwa-pang kini tidak memungut pajak kepada mereka, bahkan kalau ada yang berani mengganggu penduduk dusun Ban-hwa-pang akan turun tangan memberi hajaran kepada pengacau itu.
Mendengar keterangan ini, hati Chang Hong Bu merasa lega.
Jelaslah bahwa orang yang dicarinya, Hwe-thian Mo-li, biarpun julukannya mengerikan, yaitu Iblis Betina Terbang, ternyata bukan orang jahat.
Pada keesokan harinya setelah matahari naik cukup tinggi, barulah Hong Bu mendaki bukit itu.
Baru tiba di lereng tengah saja dia sudah merasa kagum bukan main karena lereng itu sudah penuh dengan tanaman bunga beraneka bentuk dan warna, dan harumnya semerbak sejak dari lereng pertama.
Ratusan ekor kupu-kupu dengan berbagai macam warna beterbangan seperti menari-nari di atas bunga-bunga itu.
Hwe-thian Mo-li setelah menguasai Ban-hwa-kok, dengan bantuan anak buahnya, memperindah lembah itu dengan menanam lebih banyak bunga lagi.
Akan tetapi ia membongkar dan melenyapkan semua perangkap dan jebakan yang dulu dipasang oleh Siangkoan Leng.
Bahkan jalan menuju ke puncak juga ia suruh bangun sehingga pendakian ke puncak kini amat mudah dan menyenangkan.
Ketika Chang Hong Bu sedang menikmati pemandangan yang amat indah di lembah itu, tanpa terasa dia sudah mendaki sampai di lereng bawah puncak.
Para wanita anggauta Ban-hwa-pang sedang sibuk bekerja di kebun sayur, maka tidak ada yang melihat datangnya pemuda ini.
Ketika Hong Bu tiba di tanah datar di bawah pondok di mana terdapat sebuah beranda bercat merah yang indah, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan putih dan di depannya telah berdiri seorang laki-laki yang berusia sekitar empatpuluh dua tahun, bertubuh sedang dan wajahnya tampan, sinar matanya tajam namun lembut.
Baru melihat cara orang itu muncul begitu saja Hong Bu sudah dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Maka dia cepat memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada.
Laki-laki itu adalah Sie Bun Liong atau yang mengaku bernama Bu-beng-cu kepada Hwe-thian Mo-li.
Sebetulnya, Bu-beng-cu tidak tinggal di Lembah Selaksa Bunga.
Bahkan dia tidak mau sampai terlihat oleh para anggauta Ban-hwa-pang karena dia khawatir kalau-kalau ada anggauta Ban-hwa-pang yang mengenalnya biarpun ketika datang berkunjung kepada adik tirinya, dia datang dengan diam-diam.
Akan tetapi karena dia amat memperhatikan keadaan Hwe-thian Mo-li maka dia sering diam-diam mendatangi Lembah Selaksa Bunga untuk melihat-lihat kalau-kalau gadis yang menjadi pusat perhatiannya itu terancam bahaya dan membutuhkan pertolongannya.
Pada pagi hari itu, ketika dia berada di kaki Bukit Ban-hwa-san, dia melihat seorang pemuda mendaki bukit itu.
Timbul kecurigaannya.
Dia tahu bahwa Hwe-thian Mo-li memiliki banyak musuh karena gadis pendekar ini biasanya bertindak amat keras terhadap orang-orang jahat.
Bahkan adik tirinya, Siangkoan Leng, Ketua Ban-hwa-pang, berikut semua anak buahnya telah dibunuh oleh Hwe-thian Mo-li.
Maka kalau kini ada pemuda yang tampak gagah perkasa mendaki Ban-hwa-pang, dia menjadi curiga, mengira pemuda itu tentu memiliki maksud yang tidak baik.
Diam-diam dia membayangi Chang Hong Bu dan setelah Hong Bu benar-benar hendak ke puncak, setibanya di lereng bawah puncak, Bu-beng-cu dengan cepat muncul dan menghadangnya.
Di lain pihak, Chang Hong Bu ketika melihat ada seorang laki-laki muncul di situ, dia pun merasa curiga.
Menurut keterangan petani tadi, Ban-hwa-pang kini merupakan perkumpulan wanita dan tidak ada laki-laki boleh naik ke puncak atau jelasnya, tempat itu merupakan daerah terlarang bagi pria.
Kini di sana ada seorang laki-laki, maka tentu saja dia pun merasa curiga.
Dengan sinar mata tajam penuh selidik Bu-beng-cu bertanya.
"Siapakah engkau dan ada keperluan apakah mendaki Ban-hwa-san?"
Hong Bu mengerutkan alisnya. Dia tadi memberi hormat karena orang itu lebih tua daripada dia dan orang itu kini tanpa membalas penghormatannya bertanya seperti menyelidik.
"Seingatku, menurut keterangan orang yang mengetahui, Ban-hwa-pang adalah perkumpulan wanita dan tidak ada pria yang boleh memasuki daerah lembah ini. Kalau yang menyambut kedatanganku dan menegurku seorang wanita, hal itu dapat kumengerti dan aku tentu akan menjelaskan maksud kunjunganku. Akan tetapi yang muncul adalah seorang laki-laki, maka aku pun kiranya berhak untuk bertanya, siapakah engkau dan mengapa engkau seorang laki-laki berada di daerah perkumpulan wanita?"
Kata Hong Bu sambil memandang tajam.
"Orang muda, engkau kutanya belum menjawab malah berbalik bertanya kepadaku. Siapa aku dan apa urusanku berada di sini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Nah, katakan siapa engkau dan apa maumu?"
"Urusanku juga tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku datang untuk bertemu dengan Hwe-thian Mo-li dan aku tidak mempunyai urusan denganmu."
"Hemm, mau apa engkau mencari Hwe-thian Mo-li?"
"Bukan urusanmu!"
Kata Hong Bu marah.
"Kalau begitu, engkau tentu mempunyai niat buruk datang ke tempat ini!"
Bu-beng-cu berseru.
"Mungkin engkau yang mempunyai niat buruk, bukan aku!"
Jawab Hong Bu.
"Bocah sombong, cepat engkau pergi dari sini atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!"
Kata Bu-beng-cu. Hong Bu yang masih muda itu menjadi marah juga, dan kecurigaannya bertambah.
"Engkau tidak berhak mengusirku dan kalau hendak menggunakan kekerasan, coba saja kalau engkau mampu!"
Bu-beng-cu atau Sie Bun Liong merasa ditantang.
Dia memang mencurigai kedatangan Hong Bu, dan ada sedikit rasa cemburu di hatinya.
Pemuda itu tampan gagah dan masih muda, bukan tidak mungkin Hwe-thian Mo-li akan tertarik hatinya kalau bertemu dengan pemuda ini, demikian bisikan hatinya yang cemburu!
"Hemm, bocah sombong, pergilah!"
Bu-beng-cu mendorong dengan tangan kirinya ke arah Hong Bu.
Dorongan mengandung sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat, akan tetapi bukan untuk memukul melainkan untuk mendorong agar pemuda itu terdorong mundur, menjadi gentar dan pergi meninggalkan tempat itu.
Angin dorongan yang amat kuat menyambar ke arah Hong Bu.
Akan tetapi menghadapi serangan dorongan ini Hong Bu tidak menjadi gentar.
Dia tidak mengelak, bahkan dia lalu mengerahkan tenaga pada tangan kanannya dan menyambut dorongan telapak tangan Bu-beng-cu.
"Wuuuttt...... desss!!"
Bu-beng-cu terkejut bukan main.
Tidak disangkanya sama sekali bahwa pemuda itu mampu menyambut dorongannya dengan tenaga yang cukup besar sehingga tubuh pemuda itu sama sekali tidak terdorong mundur, melainkan hanya tergetar, akan tetapi dia sendiri juga mengalami getaran yang kuat.
Ini membuktikan bahwa pemuda itu memiliki sin-kang yang mampu mengimbangi kekuatannya sendiri!
"Bagus!
Kiranya engkau memiliki kepandaian?
Pantas sikapmu begini sombong!"
Kata Bu-beng-cu.
"Nah, mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih unggul!"
Dia lalu mulai menyerang dan dua orang itu lalu berkelahi dengan seru.
Setelah bertanding belasan jurus, dengan kaget Bu-beng-cu mengenal ilmu silat Siauw-lim-pai yang aseli dan kokoh kuat.
Ternyata pemuda itu seorang murid Siauw-lim-pai yang tingkat kepandaiannya sudah sedemikian tingginya sehingga mampu menandingi dan mengimbanginya!
Dia merasa kagum dan mulai hilang kecurigaannya.
Dia tahu benar bahwa murid Siauw-lim-pai biasanya berwatak gagah sebagai seorang pendekar dan rasanya tidak mungkin mempunyai niat jahat.
Pasti dia mempunyai urusan penting dengan Hwe-thian Mo-li dan bukan berniat tidak baik.
Akan tetapi setelah mereka bertanding, Bu-beng-cu yang juga suka menguji ilmu silat orang lain, mulai tertarik dan ingin melanjutkan untuk melihat sampai di mana kehebatan pendekar muda Siauw-lim-pai ini.
Dia menyerang terus dan kini dia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh.
Setelah mereka bertanding selama limapuluh jurus, barulah tampak bahwa Hong Bu masih kalah kuat dan dia mulai mencurahkan kepandaiannya untuk bertahan dan melindungi dirinya.
Pertahanannya kokoh kuat dan sukar ditembus, merupakan ciri dari ilmu silat Siauw-lim-pai.
Diam-diam Bu-beng-cu menjadi semakin kagum dan dia mulai merasa suka kepada pemuda itu.
Dalam keadaan terdesak, pemuda itu tidak mau mencabut pedangnya.
Hal ini saja menunjukkan kegagahannya yang tidak mau melawan orang bertangan kosong dengan pedangnya!
Seorang pemuda yang gagah perkasa!
Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan terdengar bentakan nyaring.
"Penjahat dari mana berani mengacau di sini?"
Sinar pedang berkilat menyambar ke arah Hong Bu.
Pemuda ini terkejut sekali.
Dia cepat melompat ke samping sambil mencabut pedangnya.
Kembali sinar kilat dari pedang di tangan Hwe-thian Mo-li menyambar ke arah lehernya.
Hong Bu mengerahkan tenaganya dan menangkis dengan pedangnya.
"Tranggg......!!"
Bunga api berpijar dan pedang Lui-kong-kiam di tangan Hwe-thian Mo-li terpental. Sebelum kedua orang itu saling serang, Bu-beng-cu sudah melompat dan melerai.
"Tahan pedang! Jangan berkelahi!!"
Karena Bu-beng-cu melompat di tengah-tengah, di antara mereka, maka baik Hwe-thian Mo-li maupun Hong Bu cepat melompat ke belakang dan menahan pedang mereka.
Mereka kini berdiri saling pandang dan melihat bahwa yang menyerangnya dengan pedang secara hebat tadi adalah seorang gadis yang cantik jelita dan gagah, Hong Bu terkejut.
"Maaf, apakah...... apakah...... Nona yang bernama Hwe-thian Mo-li......?"
Nyo Siang Lan mengerutkan alisnya dan memandang pemuda itu dengan sinar mata penuh selidik.
"Siapa engkau dan mengapa engkau mengacau di sini dan berkelahi dengan Paman Bu-beng-bu?"
Bu-beng-cu segera berkata menengahi.
"Nona, kurasa semua ini hanya merupakan salah pengertian belaka. Pemuda ini bertemu denganku di sini dan kami sama-sama saling mencurigai. Setelah bertanding, baru aku tahu bahwa dia ini murid Siauw-lim-pai yang tangguh dan aku tadi hanya ingin menguji kepandaiannya. Dia datang untuk mencarimu, Hwe-thian Mo-li."
Mendengar ini, Hong Bu menyadari bahwa dia berhadapan dengan gadis yang dicarinya dan bahkan laki-laki gagah itu sama sekali bukan orang jahat, melainkan agaknya masih keluarga dengan Hwe-thian Mo-li yang menyebutnya paman.
Dia cepat menyimpan pedangnya dan mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat kepada mereka berdua.
"Saya Chang Hong Bu mohon maaf sebesarnya kepada Paman dan juga kepadamu, Nona. Seperti dikatakan Paman tadi, semua ini hanya merupakan kesalah pahaman belaka. Sayalah yang bersalah dan mohon maaf."
Hwe-thian Mo-li dan juga Bu-beng-cu merasa suka kepada pemuda ini yang ternyata selain gagah juga sikapnya sopan.
Akan tetapi Nyo Siang Lan masih curiga karena belum tahu apa maksud kedatangan pemuda yang tidak dikenalnya itu ke Ban-hwa-san.
"Paman Bu-beng-cu tadi bilang bahwa engkau datang mencari aku. Padahal aku sama sekali tidak pernah mengenalmu. Ada urusan apakah engkau mencariku?"
Tanya Siang Lan sambil menatap tajam wajah pemuda itu dan ia pun menyimpan kembali pedang Lui-kong-kiam ke dalam sarung pedangnya.
"Saya datang sebagai utusan Paman Panglima Chang Ku Cing dari kota raja untuk membicarakan urusan yang amat penting dan menyampaikan surat darinya kepadamu, Nona."
"Ah, jadi engkau adalah utusan dari panglima Chang Ku Cing? Dan engkau pun bermarga Chang, jadi......"
Kata Bu-beng-cu ragu.
"Saya adalah keponakan Panglima Chang Ku Cing,"
Kata Hong Bu sederhana.
"Hwe-thian Mo-li, kalau begitu, dia ini membawa berita yang teramat penting. Maka, sudah sepatutnya kalau engkau membicarakan urusannya di Lembah Selaksa Bunga. Aku masih mempunyai urusan lain, maafkan, aku pergi dulu!"
Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu perkelebat dan cepat menuruni lereng itu. Hong Bu memandang dengan kagum sekali.
"Bukan main lihainya Paman itu,"
Katanya.
"Kalau tadi dia bersungguh-sungguh dan tidak banyak mengalah, tentu aku sudah dikalahkannya."
"Dia itu Paman Bu-beng-cu...... sahabat baik kami. Marilah, Chang Kongcu (Tuan Muda Chang), silakan ke puncak, kita bicara di sana."
"Baik, Nyo Siocia (Nona Nyo),"
Kata Hong Bu. Siang Lan berhenti melangkah dan memandang pemuda itu dengan heran.
"Engkau mengenal namaku?"
"Tentu saja, Nona. Namamu Nyo Siang Lan, bukan? Paman Panglima yang memberitahu dan beliau mengetahui namamu dari isteri Saudara Sim Tek Kun."
"Ah, Lian Hong......"
Siang Lan berseru.
"Kongcu, bagaimana keadaan adikku Ong Lian Hong?"
"Setahuku, mereka semua itu baik-baik saja. Sebelum ke sini aku diajak Paman Panglima untuk mengunjungi mereka. Paman minta kepada mereka untuk membantu Paman melakukan penyelidikan, dan menanyakan alamatmu. Setelah Paman diberitahu bahwa mungkin engkau berada di sini, Paman lalu mengutus aku untuk mencarimu di sini, Nona."
"Apakah mereka sudah mempunyai putera?"
"Setahuku belum, Nona,"
Hong Bu merasa heran melihat gadis itu seolah tidak mempedulikan urusan yang dia bawa dari panglima Chang, melainkan sibuk bertanya tentang Ong Lian Hong dan suaminya.
Tentu hubungannya dengan mereka itu baik sekali.
Setelah tiba di bangunan mungil di tengah perkampungan Ban-hwa-pang yang dipenuhi taman-taman bunga serba indah, Hong Bu dipersilakan duduk di sebuah ruangan terbuka di samping rumah Siang Lan.
Gadis itu sengaja menerima pemuda itu di ruangan terbuka sehingga tampak dari sekelilingnya karena ia merasa tidak pantas mengadakan pertemuan dengan seorang pemuda asing di tempat tertutup.
Keharuman bunga semerbak memenuhi ruangan itu.
Begitu duduk berhadapan kembali Siang Lan menghujani pemuda itu pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan Lian Hong dan suaminya!
Akhirnya, Hong Bu mendapat kesempatan untuk menyerahkan surat pamannya kepada Siang Lan.
Gadis itu membuka surat dan membacanya.
Kemudian ia meletakkan surat di atas meja, memandang kepada Hong Bu dan berkata.
"Chang Kongcu, Panglima Chang dalam suratnya minta bantuanku untuk ikut mencari pembunuh yang melakukan pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi di kota raja. Dan dia menulis bahwa engkau dapat memberi penjelasan kepadaku tentang semua peristiwa yang terjadi di kota raja. Sebetulnya, peristiwa penting apakah yang terjadi sehingga Chang Goan-swe (Jenderal Chang) sampai minta bantuanku?"
Hong Bu lalu bercerita tentang pembunuhan-pembunuhan itu dengan jelas.
"Pembunuhan terhadap enam orang pejabat tinggi itu merupakan peristiwa gawat sehingga menarik perhatian Sribaginda sendiri. Paman Panglima mendapat tugas untuk mencari dan menemukan pembunuh-pembunuh itu."
"Kenapa begitu penting dan apakah ada banyak pembunuh?"
"Menurut penyelidikan, enam orang yang terbunuh itu adalah para pejabat tinggi yang setia kepada Sribaginda Kaisar sehingga pembunuh ini berbau pemberontakan atau setidaknya ada usaha untuk melemahkan pemerintah maka para pejabat tinggi yang setia dibunuh. Menurut perkiraan, yang membunuh enam orang pejabat itu ada tiga orang karena kematian mereka dengan tiga cara yang berbeda."
Pemuda itu lalu menceritakan secara rinci penyebab kematian enam orang itu.
Dua orang mati dengan leher terpenggal, dua orang dengan dada tertembus dan berlubang, sedangkan yang dua lagi mati dengan isi kepala hancur tanpa ada luka.
Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mengerutkan alisnya.
"Hemm, kalau begitu pembunuhan-pembunuhan itu ditujukan kepada para pembantu setia Sribaginda Kaisar dan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Aku tidak akan merasa heran kalau kemudian diketahui bahwa pembunuh-pembunuh itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw. Perkumpulan itulah yang biasa memberontak dan mereka memiliki banyak orang pandai."
"Paman Panglima juga berpendapat demikian, Nona. Akan tetapi kalau mereka itu orang-orang Pek-lian-kauw, bagaimana mereka dapat bergerak bebas di kota raja? Mereka tidak mungkin dapat bersembunyi di rumah-rumah penginapan karena semua sudah diperiksa dan digeledah."
Tiba-tiba terdengar suara (Lanjut ke
Jilid 08) Lembah Selaksa Bunga (Seri ke 02 Serial Iblis dan Bidadari) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 gaduh, lalu mereka berdua dikejutkan suara yang bergema nyaring, datangnya dari arah pintu perkampungan itu.
"Hwe-thian Mo-li! Keluarlah engkau untuk menerima pembalasan kami!"
Dengan gerakan ringan dan cepat sekali Siang Lan melompat keluar, diikuti oleh Hong Bu.
Mereka segera melihat dua orang kakek berpakaian seperti pendeta yang diiringkan sepuluh orang anak buah mereka.
Hwe-thian Mo-li terkejut karena ia mengenal dua orang kakek itu dengan baik.
Mereka adalah Hoat Hwa Cin-jin, tokoh Pek-lian-kauw dan yang lain adalah Hwa Hwa Hoat-su yang merupakan datuk sakti dari Pek-lian-kauw.
Tentu saja sepuluh orang di belakang mereka itu adalah para anggauta Pek-lian-kauw.
Melihat mereka, Hwe-thian Mo-li segera berseru kepada para wanita anggauta Ban-hwa-pang yang sudah berlarian menuju ke situ.
"Kalian semua mundur dan jangan turut campur!"
Ia melarang anak buahnya untuk ikut menghadapi dua orang tokoh Pek-lian-kauw dan anak buahnya karena maklum bahwa anak buahnya yang belum lama ia latih ilmu silat, bukanlah tandingan orang-orang Pek-lian-kauw sehingga kalau mereka maju melawan, sama saja dengan bunuh diri!
"Siapa mereka, Nona?"
Bisik Hong Bu yang belum banyak pengalaman.
"Mereka adalah tokoh-tokoh Pek-lian-kauw,"
Jawab Siang Lan dan dengan tenang dan tabah ia melangkah maju menghampiri duabelas orang itu, diikuti Hong Bu yang terkejut dan waspada ketika mendengar bahwa mereka itu adalah orang-orang Pek-lian-kauw.
Kini dua orang muda itu sudah berhadapan dengan duabelas orang Pek-lian-kauw itu.
Hwe-thian Mo-li segera menegur dengan suara nyaring.
"Kiranya Hwa Hwa Hoat-su dan Hoat Hwa Cin-jin! Hemm, kalian berdua pemberontak-pemberontak Pek-lian-kauw, datang ke Ban-hwa-kok ini mau apakah?"
"Iblis betina Hwe-thian Mo-li! Dosamu telah bertumpuk-tumpuk! Engkau telah membunuh Leng Kok Ho-siang yang menjadi utusan kami, juga engkau telah membunuh Cia Kun Tosu dan Cin Kok Tosu para keponakan murid kami, bahkan engkau telah membunuh Siangkoan Leng sahabat kami dan merampas Lembah Selaksa Bunga! Dosamu terlalu besar maka kami datang untuk menghukummu. Serahkan nyawamu untuk menebus dosa-dosamu!"
Kata Hwa Hwa Hoat-su dengan marah. Hwe-thian Mo-li tersenyum mengejek.
"Pendeta palsu! Kalian ini memakai pakaian pendeta dan menggunakan nama pendeta, semua itu hanya seperti serigala berbulu domba! Siapa tidak tahu bahwa Pek-lian-kauw adalah pemberontak dan penjahat yang berkedok sebagai pejuang, menipu rakyat jelata? "Kalian ini memutar balikkan fakta. Aku membunuh Leng Kok Ho-siang karena dia jahat dan curang, membunuh guruku Pat-jiu Kiam-ong, juga dia menjadi utusan pemberontak Pek-lian-kauw. Dia sudah patut dihukum mati sampai seratus kali! "Aku memang membunuh Cia Kun Tosu dan Cin Kok Tosu, orang-orang Pek-lian-kauw yang bejat akhlaknya itu. Mereka itu keponakan muridmu? Pantas! Mereka itu tukang pemerkosa wanita dan sayang aku hanya dapat membunuh mereka satu kali! Juga si keparat Siangkoan Leng, dia sudah sepantasnya dibunuh! Dia itu sahabatmu, ya? Memang sudah sepatutnya, anjing bersahabat dengan serigala dan buaya!"
Hong Bu sendiri sampai terkejut mendengar ucapan Siang Lan yang demikian galak dan berani!
Sungguh keberanian luar biasa, memaki-maki dua orang datuk Pek-lian-kauw seperti itu!
Dapat dibayangkan betapa panas dan marahnya hati dua orang datuk Pek-lian-kauw itu.
Tak mereka sangka bahwa Hwe-thian Mo-li bukan saja lihai ilmu silatnya, ternyata mulutnya lebih lihai lagi berdebat sehingga mereka merasa tidak mampu menandingi ketajaman mulut yang pandai melontarkan kata-kata amat menghina dan menyakitkan hati itu.
"Perempuan iblis keparat!"
Hwa Hwa Hoat-su melemparkan kebutannya ke atas dan kebutan itu terbang meluncur ke arah Siang Lan dan menyerang dengan dahsyatnya!
Namun, dengan tenang saja Siang Lan bergerak dan sinar pedangnya berkilat menangkis.
Kebutan yang dikendalikan dengan kekuatan sihir itu mengelak, agaknya Hwa Hwa Hoat-su jerih untuk mengadu kebutannya dengan pedang lawan yang berkilat.
Kemudian, pendeta ahli sihir itu sudah menerjang ke depan, membantu kebutannya dengan serangan pedangnya yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya sehingga pedang itu berubah menjadi sinar yang menyambar ke arah leher Siang Lan.
Gadis ini cepat memutar pedangnya menangkis dan karena ia sudah mengenal kelihaian pendeta ini, ia pun menangkis dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya.
"Trangggg......!!"
Bunga api yang besar berpijar menyilauan mata dan Hwa Hwa Hoat-su terkejut bukan main.
Dia pernah bertanding melawan gadis ini dan kini dia mendapat kenyataan bahwa tenaga sakti gadis ini agaknya jauh lebih kuat dibandingkan sekitar satu-dua tahun yang lalu.
Kemudian belum hilang kagetnya karena pedangnya terpental dan tangannya tergetar hebat, Siang Lan sudah membalas dengan serangan-serangan yang bertubi, hebat dan dahsyat.
Biarpun Hwa Hwa Hoat-su kini menangkap kebutannya dengan tangan kiri, lalu melawan dengan sepasang senjatanya, namun tetap saja dia terdesak oleh Siang Lan yang mengamuk bagaikan seekor naga betina!!
Akan tetapi, Hwa Hwa Hoat-su adalah datuk Pek-lian-kauw yang berilmu tinggi dan dia merupakan utusan dari Pek-lian-kauw pusat untuk memimpin gerakan Pek-lian-kauw yang diam-diam bersekutu dengan Pangeran Bouw Ji Kong di kota raja.
Maka tidak mudah bagi Siang Lan untuk mengalahkannya dan kini keduanya saling serang dengan sengit dan mati-matian.
Melihat betapa Hwa Hwa Hoat-su belum dapat mendesak gadis itu, Hoat Hwa Cin-jin segera mencabut siang-to (sepasang golok) dan melompat hendak mengeroyok.
Akan tetapi tiba-tiba Chang Hong Bu melompat dan menghadapinya dengan pedang di tangan!
Hoat Hwa Cin-jin tadinya memandang rendah pemuda yang datang menyambut bersama Siang Lan.
Dia mengira hanya Hwe-thian Mo-li saja yang merupakan lawan tangguh.
Maka melihat pemuda itu kini berani menghadapinya dengan pedang di tangan, dia membentak.
"Bocah tolol, apakah engkau sudah bosan hidup berani menghadang Hoat Hwa Cin-jin?"
Bentakannya ini mengandung tenaga sihir untuk menjatuhkan nyali lawan sehingga terdengar menggetar seperti auman seekor harimau. Namun Hong Bu tersenyum.
"Hoat Hwa Cin-jin, engkaulah yang tidak akan selamat karena kejahatanmu!"
"Mampus kau!"
Bentak Hoat Hwa Cinjin yang cepat menyerang dengan sepasang goloknya.
Hong Bu mengelebatkan pedangnya menangkis lalu balas menyerang sehingga dua orang ini sudah berkelahi mati-matian, saling serang dengan hebat karena mereka mengeluarkan jurus-jurus maut yang amat berbahaya bagi lawan.
Setelah lewat belasan jurus, Hoat Hwa Cin-jin merasa kecelik karena ternyata pemuda lawannya itu tangguh bukan main?
Hoat Hwa Cin-jin kini maklum bahwa dia dan rekannya menghadapi lawan-lawan yang tangguh dan agaknya akan sukar untuk dapat mengalahkan, apalagi membunuh mereka.
Maka dia lalu memberi aba-aba kepada sepuluh orang anak buahnya.
Mendapat isyarat aba-aba ini, sepuluh orang itu lalu mencabut golok masing-masing dan mereka mulai maju mengeroyok.
Lima orang mengeroyok Siang Lan dan lima orang lagi mengeroyok Hong Bu.
Setelah mereka mengeroyok, baru tahulah Siang Lan dan Hong Bu bahwa sepuluh orang itu bukan anak buah Pek-lian-kauw biasa, melainkan orang-orang Pek-lian-kauw yang sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi.
Gerakan mereka cepat, tenaga mereka juga kuat dan ilmu golok mereka lihai sekali.
Kini Siang Lan dan Hong Bu mulai terdesak.
Siang Lan tidak berani menyuruh anak buahnya yang menonton dari jarak jauh untuk mengeroyok, karena dara perkasa ini maklum bahwa anak buahnya masih terlalu lemah untuk bertanding melawan orang-orang Pek-lian-kauw yang lihai itu.
Bantuan anak buahnya tidak ada gunanya baginya, bahkan akan mengambil banyak korban menewaskan para anak buahnya.
Maka tidak ada jalan lain baginya kecuali melakukan perlawanan dengan nekat.
Demikian pula Hong Bu.
Biarpun terdesak, pemuda ini memiliki jurus-jurus pertahanan yang amat kokoh sehingga tidak mudah bagi para pengeroyok untuk melukai atau merobohkannya.
Akan tetapi tentu saja sekarang dia tidak ada kesempatan untuk membalas serangan mereka yang datang bertubi-tubi itu.
Demikian juga dengan Siang Lan.
Walaupun ia lebih kuat dan keadaannya tidak separah Hong Bu karena ia masih mampu membalas, namun tetap saja ia terdesak hebat.
Pada saat yang amat gawat bagi Siang Lan dan Hong Bu itu, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan Bu-beng-cu sudah berada di situ.
Tangannya memegang sebatang ranting kayu dan dia menggunakan ranting itu untuk mengamuk.
Mula-mula dia menerjang ke arah para pengeroyok Siang Lan dan dalam waktu beberapa jurus saja dia telah membuat lima orang anak buah Pek-lian-kauw itu terpaksa melepaskan golok karena tangan mereka terluka oleh tusukan ranting yang ternyata keras seperti baja!
Setelah membuat lima orang pengeroyok Siang Lan itu tidak mampu lagi mengeroyok, dia lalu menerjang ke arah para pengeroyok Hong Bu.
Seperti juga tadi, rantingnya menyambar-nyambar dan lima orang itu berteriak kesakitan dan berlompatan menjauh?
Melihat kejadian ini, dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu menjadi terkejut dan jerih, apalagi ketika mereka mengenal laki-laki yang membantu Hwe-thian Mo-li ini sebagai orang yang dulu juga pernah membantu Iblis Betina Terbang itu ketika mereka berdua menyerangnya.
Laki-laki yang bernama Bu-beng-cu!
Maka, kedua orang itu maklum bahwa kalau mereka melanjutkan perkelahian, mereka berdua tentu akan celaka.
Dua orang pendeta Pek-lian-kauw itu berseru nyaring dan mereka membanting dua buah benda peledak.
Terdengar dua kali ledakan keras dan tampak asap hitam mengepul tebal memenuhi tempat itu.
Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan, Chang Hong Bu, dan Bu-beng-cu segera berlompatan menjauhi asap karena mereka maklum bahwa bukan tidak mungkin asap dari bahan peledak itu mengandung racun karena Pek-lian-kauw memang terkenal pandai menggunakan alat peledak dengan asap beracun.
Setelah asap menghilang, dua belas orang penyerang itu sudah menghilang.
Siang Lan hendak mengejar bersama Hong Bu, akan tetapi Bu-beng-cu mencegah mereka.
"Musuh yang sudah kalah dan melarikan diri tidak perlu dikejar."
Siang Lan memandang Bu-beng-cu dengan sinar mata bersyukur.
Betapa baiknya orang ini, pikirnya.
Bukan hanya mau melatih ilmu silat kepadanya sehingga tingkatnya naik dengan cepat dan hal ini dapat ia rasakan ketika ia melawan Hwa Hwa Hoat-su tadi.
Dahulu, satu tahun setengah yang lalu, ketika ia melawan kakek datuk Pek-lian-kauw itu, ia merasa kewalahan dan terdesak.
Akan tetapi tadi ia sama sekali tidak merasa berat walaupun juga tidak mudah mengalahkan kakek itu.
Ia baru repot ketika datang lima orang yang mengeroyoknya.
Selain menggemblengnya dengan ilmu silat tinggi, juga Bu-beng-cu beberapa kali menolong dan menyelamatkannya dari bahaya!
"Paman, aku berterima kasih sekali atas pertolonganmu.
Engkau selalu muncul pada saat yang tepat.
Terima kasih, Paman!"
Sinar mata gadis itu jelas membayangkan kekaguman dan rasa terima kasih yang besar.
Hong Bu juga kagum sekali kepada laki-laki itu.
Ketika dia bertanding melawan Bu-beng-cu yang hendak mengujinya, dia juga sudah menduga bahwa orang ini memiliki ilmu silat yang lihai, akan tetapi tidak disangkanya setelah benar-benar bertanding, tadi dia menyaksikan betapa hanya dengan sebatang ranting Bu-beng-cu dapat membuat lima orang yang mengeroyoknya dan lima orang lagi yang mengeroyok Siang Lan, dalam beberapa gebrakan saja mundur semua!
Padahal dia merasakan sendiri betapa lima orang itu juga cukup kuat dengan ilmu golok mereka yang lihai.
"Saya juga mengucapkan terima kasih, Paman Bu-beng-cu. Kalau tidak ada Paman yang datang menolong, mungkin saya sudah celaka di tangan para pengeroyok itu,"
Kata Hong Bu sambil memberi hormat.
"Ah, tidak perlu berterima kasih, ilmu pedangmu sendiri juga cukup lihai,"
Kata Bu-beng-cu sederhana.
"Nah, sekarang aku mau turun dari sini menyelesaikan urusanku sendiri."
Setetah berkata demikian, Bu-beng-cu membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi.
"Nanti dulu, Paman!"
Kata Siang Lan.
"Sore ini aku ingin mengundangmu makan di sini. Mari kita makan sama-sama, Paman, untuk merayakan kemenangan kita menghadapi orang-orang Pek-lian-kauw tadi."
Bu-beng-cu menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih, Nona. Biar lain kali saja. Sekarang aku ingin memeriksa keadaan di Lembah Selaksa Bunga ini karena aku khawatir kalau-kalau pihak Pek-lian-kauw masih penasaran dan lain waktu akan datang untuk membalas kekalahannya pada Ban-hwa-pang."
"Apa yang hendak Paman lakukan?"
"Sebuah tempat yang menjadi pusat perkumpulan merupakan markas atau asrama atau juga benteng. Harus diperkuat, kalau perlu dengan perangkap dan jebakan agar tidak mudah diserbu orang luar. Aku akan merencanakan dan membuatkan sarana pertahanan itu dan untuk itu aku harus membuat rencana dan gambarnya. Nah, aku pergi dulu, Hwe"thian Mo-li!"
Setelah berkata demikian, Bu-beng-cu sudah berkelebat pergi. Hong Bu memandang kagum, kemudian menghela napas dan berkata.
"Bukan main! Hebat sekali paman Bu-beng-cu itu. Dia seorang pendekar yang gagah perkasa, budiman, dan...... aneh."
"Memang Paman Bu-beng-cu memiliki watak yang aneh, Kongcu......"
"Ah, sungguh tidak enak mendengar engkau menyebutku kongcu, Nona. Setelah kita berkenalan dan menjadi sahabat, bahkan tadi telah bersama menghadapi musuh dan mungkin juga akan bersama menghadapi musuh bila membantu Paman Panglima di kota raja, haruskah engkau bersikap sungkan dan menyebutku Kongcu?"
"Engkau ini aneh dan mau menang sendiri!"
Siang Lan menegur akan tetapi sambil tersenyum manis.
"Engkau sendiri menyebut aku Siocia (Nona), mengapa aku tidak boleh menyebutmu Kongcu (Tuan Muda)?"
"Baiklah, aku yang bersalah. Nah, kalau engkau tidak keberatan, aku akan menyebutmu moi-moi (Adik perempuan). Bagaimana pendapatmu, Lan-moi (Adik Lan)?"
Siang Lan tersenyum.
"Baik, dan aku akan menyebutmu Koko (Kakak laki-laki). Begitu kehendakmu, Bu-ko (Kakak Bu)?"
Hong Bu tersenyum dan jantungnya berdebar.
Sejak pertama dia sudah tertarik dan kagum sekali kepada Siang Lan.
Kini dia semakin kagum dan timbul perasaan suka yang mendalam, yang membuat jantungnya berdebar.
Belum pernah dia merasakan hal seperti ini.
Dalam usianya yang duapuluh lima tahun itu Hong Bu belum pernah bergaul dekat dengan wanita.
Akan tetapi dia maklum bahwa kehadirannya di situ merupakan hal yang melanggar kesopanan karena lembah Selaksa Bunga merupakan perkampungan wanita.
"Lan-moi, engkau baik sekali. Sekarang kukira sudah tiba saatnya bagiku untuk pulang ke kota raja. Akan tetapi aku memerlukan jawabanmu untuk kusampaikan kepada Paman Panglima."
"Oh, ya...... akan tetapi tunggu dulu, Bu-ko. Tadi aku mengajak Paman Bu-beng-cu makan, dia tidak mau. Barang kali engkau mau makan bersamaku sore ini? Pula, hari sudah sore, sebentar lagi malam tiba. Bagaimana kalau engkau bermalam di sini semalam, besok pagi-pagi baru turun bukit dan kembali ke kota raja? Tentang jawabanku kepada Pamanmu, tentu saja aku suka membantunya dan aku pasti akan pergi ke sana mengunjungi adikku Ong Lian Hong."
Hong Bu girang bukan main mendapat tawaran makan dan bermalam di situ.
"Akan tetapi, Lan-moi...... apakah...... apakah aku tidak melanggar kesopanan kalau aku bermalam di Lembah Selaksa Bunga?"
Siang Lan tersenyum dan hatinya merasa senang. Pemuda ini selain tampan gagah dan ilmu silatnya tinggi, juga sopan. Jarang terdapat pemuda seperti ini.
"Aih, Bu-ko! Melanggar kesopanan atau tidak itu tergantung dan pikiran dan sikap seseorang. Bukankah begitu? Aku mengundangmu karena engkau tamuku, utusan Panglima Chang Ku Cing yang terhormat, karena hari hampir malam dan tidak semestinya engkau turun bukit dalam keadaan gelap. Siapa berani menganggap kita melanggar kesopanan?"
"Terima kasih, Lan-moi. Engkau sungguh bijaksana dan baik sekali."
Tanpa ragu lagi Hong Bu lalu mandi, makan, dan bermalam di situ.
Dia merasa senang karena para anggauta Ban-hwa-pang juga terdiri dari para wanita yang bersikap gagah dan sopan.
Dia tahu bahwa mereka belum memiliki ilmu silat yang tinggi karena belum lama Hwe-thian Mo-li memimpin mereka.
Akan tetapi dia percaya bahwa perkumpulan Lembah Selaksa Bunga ini kelak akan menjadi perkumpulan yang besar.
Ketika dia diajak makan malam di ruangan makan, muncul seorang gadis manis yang kulitnya putih mulus, bertubuh tinggi ramping dengan sepasang mata lebar.
Wajahnya yang bulat dan manis itu seolah mengandung kesedihan yang tersembunyi.
"Bu-ko, mari kuperkenalkan. Ini adalah adik angkatku, namanya Kui Li Ai. Li Ai, ini adalah Kakak Chang Hong Bu, murid Siauw-lim-pai yang malam ini menjadi tamu kita."
Li Ai memberi hormat dengan gaya yang lembut dan sopan.
"Chang Taihiap (Pendekar Chang),"
Katanya sopan dan lirih.
"Kui Siocia, saya senang mendapat kehormatan berkenalan denganmu,"
Kata Hong Bu yang merasa heran karena sikap gadis ini bukan seperti gadis gunung, melainkan penuh tata susila seperti gadis bangsawan! "Aih, kalian tidak perlu bersungkan-sungkan,"
Kata Siang Lan.
"Bu-ko, Li Ai ini adalah adik angkatku sendiri, sebut saja namanya. Dan Li Ai, tidak perlu menyebut Taihiap (Pendekar Besar) kepada Bu-ko, sebut saja Bu-ko seperti aku."
"Siauw-moi, (Adik Muda), maafkan kelancanganku, aku hanya menaati usul Lan-moi,"
Kata Hong Bu.
Setelah mereka bertiga duduk, dua orang wanita anggauta Ban-hwa-pang segera menghidangkan makanan.
Mereka makan minum tanpa banyak bicara karena bagaimanapun juga, Hong Bu merasa sungkan juga makan minum bersama dua orang gadis yang demikian cantik.
Baru sekarang dia mengalami hal seperti ini dan membuatnya menjadi canggung sekali.
Dia melihat di bawah sinar lampu betapa Kui Li Ai memang cantik manis dan lembut sekali.
Akan tetapi tetap saja dia lebih kagum melihat Siang Lan yang lebih matang, juga penuh wibawa dan semangat.
Dia merasa betapa dia jatuh cinta kepada Hwe-thian Mo-li!
Selesai makan, Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan mengajak Kui Li Ai yang sekarang telah menjadi adik angkatnya dan Chang Hong Bu yang menjadi tamu mereka untuk duduk bercakap-cakap di serambi depan.
Bulan purnama tampak menjenguk melalui jendela, menambah semarak cahaya lampu gantung di serambi itu.
Mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang besar.
"Ah, aku tadi lupa menceritakan keadaan kalian masing-masing. Sekarang aku teringat bahwa sesungguhnya kalian berdua bukanlah asing sama sekali satu terhadap yang lain karena sama-sama berasal dari kota raja dan sama-sama menjadi keluarga perwira tinggi yang setia dan berjasa terhadap Kerajaan! Bu-ko, ketahuilah bahwa adikku Li Ai ini adalah puteri dari mendiang Kui Ciang-kun (Perwira Kui), seorang perwira yang gagah perkasa dan setia, dan kalau tidak salah, dia dahulu merupakan tangan kanan atau orang kepercayaan dari panglima Chang Ku Cing. Tentu engkau pernah mengenalnya."
Chang Hong Bu mengingat-ingat dan menggelengkan kepalanya, lalu berkata.
Diam-diam dia berkata kepada dirinya sendiri bahwa tidak aneh kalau tadi dia melihat sikap gadis itu begitu anggun seperti sikap seorang gadis bangsawan.
Kiranya puteri seorang perwira tinggi!
"Maaf, aku tidak pernah mendapat kehormatan mengenal Kui Ciang-kun seperti yang kusebutkan tadi, Lan-moi.
Ketahuilah bahwa sejak berusia sepuluh tahun aku telah meninggalkan kota raja, oleh Paman aku dikirim ke Siauw-lim-pai untuk mempelajari ilmu selama limabelas tahun.
Kemudian baru beberapa minggu aku kembali ke kota raja dan langsung menerima tugas mengunjungimu ini.
Akan tetapi aku merasa girang mendengar bahwa Adik Li Ai adalah puteri seorang perwira tinggi di kota raja."
Tentu saja dalam hatinya dia merasa heran mengapa puteri seorang perwira tinggi sekarang tinggal di Lembah Selaksa Bunga, menjadi adik angkat Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan.
Akan tetapi keheranan ini tidak dia tanyakan karena dia khawatir akan menyinggung perasaan orang.
"Li Ai, ketahuilah bahwa Kakak Chang Hong Bu ini adalah keponakan dari panglima Chang Ku Cing."
Tiba-tiba muka gadis itu menjadi merah sekali dan hati Hong Bu terkejut bukan main ketika dia memandang, dia melihat betapa sepasang mata indah yang memandangnya itu mengeluarkan kilatan sinar berapi penuh kemarahan dan kebencian!
Li Ai bangkit berdiri dan berkata kepada Siang Lan.
"Enci Lan, maaf, aku masuk kamar dulu, kepalaku agak pusing."
Tanpa menanti jawaban dan sama sekali tidak menoleh kepada Hong Bu, Li Ai lalu meninggalkan serambi itu dengan cepat.
Siang Lan menghela napas panjang.
Hong Bu merasakan sesuatu yang tidak enak, maka dia segera bertanya.
"Lan-moi, mungkin keliru penglihatanku, akan tetapi aku melihat agaknya Adik Li Ai berubah sikap dan menjadi marah ketika mendengar bahwa aku adalah keponakan Paman Panglima Chang. Benarkah dugaanku itu?"
Siang Lan nnenganggu-anggukan kepalanya, dan menghela napas lagi.
"Kasihan Adikku itu, aku tidak dapat menyalahkannya kalau ia bersikap seperti itu, walaupun tadinya aku mengira ia sudah mulai melupakannya. Ia agaknya masih menganggap bahwa Panglima Chang yang menyebabkan kematian ayahnya dan agaknya sukar ia untuk dapat melupakan hal itu, maka mendengar bahwa engkau keponakan Panglima Chang, ia merasa tidak enak dan pergi."
Hong Bu terkejut sekali.
"Paman Panglima menjadi penyebab kematian Kui Ciang-kun, ayah Adik Li Ai? Bagaimana ini? Bukankah engkau ceritakan tadi bahwa ayahnya adalah pembantu setia dari paman Panglima?"
"Riwayat Li Ai memang menyedihkan sekali, Bu-ko. Ibu kandungnya telah meninggal dunia dan ia hidup bersama ayahnya, Perwira Kui Seng, dan ibu tirinya yang galak dan tidak suka kepadanya. Kui Ciang-kun yang menjadi pembantu setia Panglima Chang, setahun lebih yang lalu telah berjasa membasmi gerombolan Pek-lian-kauw sehingga tujuh orang tokoh Pek-lian-kauw dapat ditawan. Empat orang di antara mereka telah dihukum mati, akan tetapi yang tiga orang masih ditahan di penjara. Pada suatu hari, Li Ai diculik orang-orang Pek-lian-kauw dan Kui Ciang-kun dipaksa untuk membebaskan tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu. Kalau dia menolak, Li Ai akan dibunuh."
"Hemm, jahat orang-orang Pek-lian-kauw itu!"
Kata Hong Bu gemas.
"Karena sayang kepada puteri tunggalnya, Kui Ciang-kun terpaksa membebaskan tiga orang tokoh Pek-lian-kauw itu. Hal ini diketahui panglima Chang yang menjadi marah dan menuduh Kui Ciang-kun berkhianat. Dengan malu dan sedih Kui Ciang-kun bunuh diri tanpa dapat dicegah lagi."
"Ahh......!"
Hong Bu terkejut sekali.
"Sebelum mati, Kui Ciang-kun minta tolong padaku agar aku suka menolong Li Ai. Aku lalu pergi ke sarang Pek-lian-kauw di Liauw-ning dan di dalam perjalanan aku melihat Li Ai bersama dua orang Pek-lian-kauw. Aku segera menyerang dan dengan bantuan Paman Bu-beng-cu aku berhasil membunuh mereka berdua. Aku ajak Li Ai pulang dan tentu saja ia terkejut dan sedih melihat ayahnya telah meninggal dunia. Ibu tirinya dengan galak menyalahkannya sehingga terpaksa aku menghajarnya. Li Ai lalu minta kepadaku untuk ikut ke sini karena ia tidak mau tinggal dengan ibu tirinya yang galak dan membencinya. Demikianlah, Bu-ko, maka maafkan ia kalau tadi bersikap marah mendengar bahwa engkau keponakan Panglima Chang yang ia anggap penyebab kematian Ayahnya."
Tentu saja Siang Lan tidak mau menceritakan bahwa Li Ai diperkosa oleh tokoh-tokoh Pek-lian-kauw yang dibunuhnya itu.
Rahasia Li Ai takkan ia ceritakan kepada siapapun juga.
Hong Bu mengerutkan alisnya.
"Aduh, kasihan sekali Adik Li Ai! Pantas ia tadi memandangku seperti orang marah dan penuh kebencian! Akan tetapi engkau...... ah, Lan-moi, engkau sungguh bijaksana dan mulia. Engkau telah menyelamatkan Li Ai dan menampungnya di sini, bahkan menjadikan adik angkatmu. Selain itu engkau tidak ikut marah kepada Paman Panglima Chang, sehingga engkau masih mau membantunya untuk mencari para pembunuh itu. Ah, di dunia ini agaknya tidak akan mudah menemukan seorang gadis seperti engkau, Lan-moi."
Siang Lan tersenyum.
Bagaimana kerasnya hati Siang Lan, ia adalah seorang gadis, seorang wanita.
Mendengar pujian dari seorang pemuda yang tampan gagah, seorang pendekar budinnan seperti Hong Bu, jantungnya berdebar, perasaannya senang sekali, dan ia pun menjadi malu sehingga kedua pipinya yang halus mulus itu menjadi kemerahan.
"Ah, Bu-ko, engkau membuat aku malu. Jangan memuji terlalu berlebihan, Bu-ko. Aku hanya seorang gadis kang-ouw, sebatang kara di dunia ini, seorang gadis kasar dan liar!"
Ia menghela napas panjang.
"Aku bahkan dijuluki Iblis Betina Terbang!"
"Hemm, mungkin yang memberi julukan itu adalah para penjahat yang pernah kautentang dan kaubasmi, Lan-moi. Aku tidak memujimu secara berlebihan. Engkau seorang gadis yang masih muda, engkau cantik jelita, engkau memiliki ilmu yang tinggi dan lihai sekali, dan di balik sikapmu yang keras itu engkau memiliki hati yang mulia, engkau bijaksana dan aku...... aku amat kagum padamu, Lan-moi."
Ketika mengucapkan kata-kata terakhir ini"
Suara pemuda itu agak gemetar dan pandang matanya tampak oleh Siang Lan demikian mesra sehingga seketika itu juga gadis itu tahu benar bahwa Chang Hong Bu jatuh cinta padanya!
Pujian pemuda itu benar-benar meresap dalam hati sanubari gadis itu, terdengar begitu merdu bagaikan nyanyian dari sorga.
Belum pernah selama hidupnya ia mendengar pujian seorang laki-laki seindah itu.
Terdengar amat merdu dan indah karena ia tahu bahwa pujian itu diucapkan seorang pemuda yang baik budi, pujian yang keluar dari hati yang tulus, bukan seperti banyak pujian yang didengarnya dari mulut para pria yang mengucapkannya terdorong nafsu rendahnya.
Pemuda ini mengucapkan pujian yang keluar dari hatinya, bukan sekedar merayu, melainkan muncul dari perasaan hati yang jatuh cinta!
Betapa indahnya!
Akan tetapi, Siang Lan tak dapat menipu perasaan hatinya sendiri.
Ia memang merasa senang sekali, merasa bangga mendengar pujian itu.
Ia tidak dapat menyangkal bahwa ia merasa kagum kepada pemuda yang tampan dan gagah serta baik budi ini, akan tetapi ia tidak merasakan cinta kasih seperti yang pernah ia rasakan terhadap Sim Tek Kun yang kini menjadi suami Ong Lian Hong!
Tentu saja sudah lama ia membuang perasaan ini dari lubuk hatinya dan menggantikan rasa cinta dari seorang wanita terhadap pria itu dengan rasa cinta persahabatan atau lebih dari itu, cinta persaudaraan karena Sim Tek Kun kini telah menjadi suami adik angkatnya, menjadi adik iparnya!
Terhadap pemuda yang duduk di depannya ini, Chang Hong Bu, ia hanya merasa kagum dan suka untuk menjadi sahabat baik, bukan sebagai kekasih atau calon suami.
Maka untuk menghilangkan suasana amat romantis yang mendebarkan hati setelah pemuda itu memuji-mujinya, Siang Lan tertawa lepas dengan gembira.
"He-he-he, Bu-ko! Sudahlah aku bisa mabok oleh pujian dan kepalaku menjadi besar sekali nanti! Sekarang, mari kita bicara tentang surat Paman Chang kepadaku. Kukira, tidak perlu aku memberi balasan surat karena yang menjadi utusan adalah engkau, keponakan Panglima Chang sendiri. Besok pagi, kalau engkau pulang ke kota raja, tolong sampaikan jawabanku kepadanya bahwa aku siap untuk membantunya. Setelah aku menyelesaikan urusan Ban-hwa-pang di sini, aku pasti akan pergi ke kota raja, menghadap Paman Panglima Chang dan sekalian mengunjungi adikku Lian Hong."
Malam itu, Hong Bu tidak dapat tidur, gelisah di dalam kamar yang disediakan untuknya.
Akan tetapi sebaliknya, Siang Lan dapat tidur nyenyak.
Di atas pembaringan lain di kamar Siang Lan, Li Ai juga tidak dapat pulas.
Ia masih merasa penasaran dan sakit hati, teringat akan kematian ayahnya yang disebabkan oleh Panglima Chang Ku Cing yang menuduhnya sebagai pengkhianat.
Biarpun sebelum tidur tadi Siang Lan telah menghiburnya dan mengatakan bahwa Panglima Chang hanya bertindak menurut hukum militer, dan Panglima itu merasa menyesal bahwa Kui Ciang-kun membunuh diri, namun hati Li Ai masih tetap tidak tenang dan ia gelisah di atas pembaringannya.
Pada keesokan harinya, setelah dijamu makan pagi, Hong Bu meninggalkan Ban-hwa-pang, dan Siang Lan lalu menemui Bu-beng-cu di tempat tinggal sementara pria itu untuk berlatih silat seperti biasa.
Selain berlatih silat, ia juga memperbincangkan dan merencanakan pembuatan perangkap dan jebakan di Lembah Selaksa Bunga untuk menjaga keselamatan Ban-hwa-pang dari serbuan musuh.
Karena pembuatan jebakan itu harus dirahasia dari orang luar, maka pembangunannya dilakukan sepenuhnya oleh para wanita anggauta Ban-hwa-pang, dipimpin oleh Siang Lan dan Li Ai.
Bu-beng-cu sendiri tidak pernah muncul, dan kalaupun dia datang memeriksa, hal itu dilakukan pada malam hari atau sewaktu para anggauta Ban-hwa-pang sudah kembali ke perkampungan.
Dia memang tidak ingin banyak terlihat di Lembah Selaksa Bunga.
Li Ai yang cerdik, dapat mengatur pembangunan itu dari gambar yang dibuat oleh Bu-beng-cu.
Alat-alatnya dibeli dari kota yang berada di kaki pegunungan Lu-liang-san.
Beberapa orang anggauta Ban-hwa-pang sengaja belajar membakar baja, menempa dan membentuknya sesuai dengan yang digambar Bu-beng-cu untuk dipasang dan diatur sebagai perangkap dan jebakan.
Hampir sebulan kemudian, setelah pembangunan taman yang penuh jebakan itu berjalan lancar, Siang Lan lalu menyerahkan pimpinan pekerjaan itu kepada Kui Li Ai dan ia minta kepada Bu-beng-cu agar ikut mengawasinya secara diam-diam.
Setelah kesemuanya beres diaturnya, ia pun meninggalkan Lembah Selaksa Bunga dan berangkat turun gunung menuju ke kota raja.
Beberapa hari kemudian, pada suatu hari menjelang tengah hari Siang Lan berjalan seorang diri dalam sebuah hutan lebat.
Jalan umum yang memasuki hutan itu kasar berbatu-batu dan di situ amat sepi.
Siang Lan berjalan biasa, wajahnya cerah karena ia gembira dan bersemangat membayangkan betapa ia akan bertemu dengan Ong Lian Hong dan Sim Tek Kun.
Ia dapat membayangkan betapa akan gembiranya Lian Hong kalau bertemu dengannya.
Ia pun tidak akan merasa canggung bertemu Tek Kun karena bagaimanapun juga, ia belum pernah menyatakan cintanya kepada Tek Kun.
Perasaan itu hanya terdapat di lubuk hatinya saja dan kini sudah hilang oleh kesadaran bahwa pemuda itu telah menjadi suami Lian Hong dan betapa kedua orang itu selain saling mengasihi juga bahkan sudah bertunangan sejak dulu.
Karena melangkah dengan pikiran melayang-layang, Siang Lan kurang waspada sehingga ia tidak tahu bahwa sejak tadi, sedikitnya tigapuluh pasang mata mengamatinya.
Mengamati dengan kagum karena mata laki-laki mana yang tidak akan kagum melihat gadis yang demikian cantik jelita berjalan seorang diri di dalam hutan lebat itu?
Hwe-thian Mo-li Nyo Siang Lan ketika itu berusia sekitar duapuluh dua tahun dengan tubuh seorang gadis yang sudah mulai matang, tingginya sedang, ramping dan denok dengan lekuk-lengkung yang sempurna menggairahkan hati pria.
Rambutnya yang hitam panjang dan berikal mayang itu digelung ke atas, dihias seekor kupu-kupu dari emas permata.
Di dahi dan pelipisnya bergantungan anak rambut yang halus melingkar menambah kemanisan wajahnya yang jelita.
Sepasang matanya yang indah itu jeli, dengan sinar yang terkadang mencorong penuh wibawa.
Hidungnya Mancung dan mulutnya memiliki bibir yang bentuknya menggairahkan.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang, yaitu Liu-kong-kiam (Pedang Kilat).
Tiba-tiba Siang Lan sadar dari lamunannya dan cepat ia berhenti melangkah dan seluruh urat syarafnya menegang penuh kewaspadaan karena ia mendengar suara gerakan banyak orang.
"Siapa di sana? Keluarlah kalian, tidak perlu mengintai seperti pengecut-pengecut!"
Bentaknya.
Terdengar suara tawa dan dari empat penjuru bermunculan sekitar tigapuluh orang, dipimpin oleh dua orang yang membuat Siang Lan terkejut akan tetapi juga marah sekali.
Mereka adalah Hwa Hwa Hoat-su datuk Pek-lian-kauw dan Hoat Hwa Cin-jin tokoh besar cabang Pek-lian-kauw di Liauw-ning, musuh-musuh besarnya yang sebulan lalu menyerbu Lembah Selaksa Bunga dan dapat ia usir bersama Chang Hong Bu, dibantu oleh Bu-beng-cu!
"Huh, kalian jahanam Pek-lian-kauw, setan-setan berjubah pendeta!
Manusia-manusia pengecut, setelah kami kalahkan, sekarang hendak mengeroyokku dengan banyak orang!
Jangan dikira aku, Hwe-thian Mo-li merasa takut!"
Setelah berkata demikian, dara sakti ini mencabut pedangnya dan tampaklah kilat pedang itu menyilauan mata.
Tigapuluh orang anggauta Pek-lian-kauw itu gentar juga melihat ini karena mereka sudah mendengar betapa sakti dan ganasnya Hwe-thian Mo-li!
Akan tetapi kembali Hwa Hwa Hoat-su tertawa dan suara tawanya sekali ini terdengar aneh.
Kemudian ternyata bahwa tawa ini merupakan isyarat kepada para anggauta Pek-lian-kauw karena mereka segera bergerak mengepung Siang Lan dan menumpuk kayu bakar lalu membakar tumpukan kayu itu di delapan penjuru!
Tigapuluh orang itu lalu berdoa, merupakan nyanyian yang aneh dan suara mereka bergemuruh, mereka melangkah dan mengitari Siang Lan sambil membawa sebatang obor bernyala.
Hwa Hwa Hoat-su berdiri dengan rambutnya yang panjang putih itu terurai.
Dia mencabut pedangnya dan menudingkan pedang itu ke atas lalu membaca mantera.
Tigapuluh orang yang kini berlari mengelilingi Siang Lan itu ketika tiba dekat Hwa Hwa Hoat-su, menyentuh ujung pedang dengan obor mereka.
Tak lama kemudian ujung pedang itu pun terbakar dan bernyala!
Kemudian datuk Pek-lian-kauw itu melontarkan pedangnya yang bernyala itu ke atas dan pedang itu meluncur dan menyerang ke arah Siang Lan seperti hidup!
Bukan itu saja, kini api dari obor-obor itu seolah mengikuti pedang, merupakan bola-bola api yang semua menyerang ke arah gadis itu!
Siang Lan terkejut dan maklum bahwa kakek itu menggunakan ilmu sihir yang agaknya telah dipersiapkan lebih dulu.
Ia tidak menjadi gentar.
Tubuhnya berkelebatan dan sinar kilat pedangnya bergulung-gulung menangkis serangan pedang terbang, sedangkan tangan kirinya dengan tenaga sakti mendorong ke arah bola-bola api yang menyambar-nyambar ke arah tubuhnya.
Akan tetapi Hoat Hwa Cin-jin kini maju mengeroyoknya dengan sepasang goloknya yang lihai.
Agaknya gerakannya juga sudah diatur karena tokoh Pek-lian-kauw dari Liauw-ning ini tidak menggunakan goloknya untuk menyerang, melainkan sepasang goloknya berusaha menahan pedang Siang Lan.
Tentu saja gadis itu kini menjadi repot karena dikeroyok banyak bola api, pedang terbang dan sepasang golok Hoat Hwa Cin-jin.
Ia masih dapat menggunakan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) untuk mengelak ke sana-sini sambil memutar pedang sebagai perisai yang menyelimuti dirinya.
Akan tetapi kini Hwa Hwa Hoat-su juga melompat ke depan dan kebutannya menyambar-nyambar melakukan totokan-totokan yang amat cepat.
Betapa pun lihainya Siang Lan yang telah menerima gemblengan Bu-beng-cu, namun menghadapi sekian banyak pengeroyok, ia tidak tahan juga.
Akhirnya ujung kebutan di tangan Hwa Hwa Hoat-su yang dapat menjadi lemas atau kaku dengan kekuatan tenaga saktinya itu dapat menotok jalan darahnya di tengkuk dan tubuh gadis itu terkulai roboh dan pingsan!
Hoat Hwa Cin-jin segera mengambil Lui-kong-kiam berikut sarungnya dan menyelipkan pedang itu di pinggangnya sambil tertawa senang.
Kemudian dia memondong tubuh Siang Lan dan hendak membawanya pergi.
"Cin-jin, hati-hatilah. Gadis itu lihai sekali, jangan sampai ia sadar lalu membunuhmu. Lebih cepat ia dibunuh lebih baik agar tidak menjadi penghalang kita di kemudian hari,"
Kata Hwa Hwa Hoat-su.
"Ha-ha-ha, Hoat-su, jangan khawatir! Aku hanya merasa sayang kalau ia dibunuh begitu saja, terlalu enak buat ia dan tidak enak untukku. Jangan khawatir, besok pagi-pagi ia sudah tinggal nama saja, akan kupenggal lehernya dan kepalanya kita pergunakan untuk upacara sembahyang saudara-saudara kita yang terbunuh oleh Hwe-thian Mo-li ini!"
Setelah berkata demikian, Hoat Hwa Cin-jin membawa lari gadis dalam pondongannya itu, memasuki hutan lebat.
Air yang dingin menyiram muka dan kepala Siang Lan, membuat gadis itu siuman dari pingsannya.
Ia gelagapan dan menggoyang kepala mengusir air yang menutupi kedua matanya.
Ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya dan ia terkejut bukan main melihat dirinya berada dalam sebuah pondok, rebah telentang di atas tanah bertilam rumput kering dengan kaki dan tangan terpentang dan terikat pada tiang-tiang besi yang kokoh.
Ia berusaha merenggut lepas tali-tali itu, namun tenaganya tidak dapat terkumpul semua.
Tahulah ia dengan kaget bahwa dirinya telah ditotok untuk melemahkan tenaganya.
Ia hanya mampu menggunakan tenaga otot saja dan tidak mampu mengerahkan sin-kang.
Yang membuat ia menjadi pucat adalah ketika ia melihat betapa pakaian luarnya telah ditanggalkan dari tubuhnya dan pakaian itu bertumpuk di sudut ruangan pondok itu.
Jantungnya mulai berdebar tegang dan......
takut!
Hwe-thian Mo-li tidak pernah gentar menghadapi kematian sekalipun, akan tetapi melihat keadaan dirinya, setengah telanjang dan terikat tak berdaya, membuat ia membayangkan malapetaka yang lebih mengerikan daripada maut!
Ia pernah diperkosa Thian-te Mo-ong.
Peristiwa itu saja sudah membuat ia hampir membunuh diri, sudah membuat hancur makna hidup ini baginya.
Bagaimana mungkin ia dapat mengalami malapetaka itu untuk kedua kalinya?
"Ha-ha-ha, engkau sudah bangun, Hwe-thian Mo-li?"
Terdengar suara dari luar dan masuklah Hoat Hwa Cin-jin.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 3
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 2