Ceritasilat Novel Online

Cheng Hoa Kiam 4

Eps 4 Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo

Baca online Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo

Cersil Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo.

Kwee Sun Tek memang sengaja tidak mau menceritakan tentang obrolan maling pedang yang mengaku-aku menjadi kekasih Kwa Siok Lan, dan sekarang ia menyuruh Wi Liong ke sana untuk melihat apakah obrolan itu betul-betul ataukah hanya omong kosong belaka.

Selain itu memang ia tidak rela Wi Liong melangsungkan pernikahan sebelum pemuda itu sempat berdarma bhakti kepada ayah bundanya yaitu membalaskan sakit hati mereka.

Setelah menerima banyak nasihat dari pamannya.

Wi Liong lalu turun gunung membawa bekal pakaian dan senjata satu-satunya hanya suling pemberian gurunya.

Suling ini bukan suling biasa, melainkan sebuah senjata yang istimewa sekali.

Ketika Wi Liong turun gunung, matahari baru mulai timbul.

Ia turun melalui lereng sebelah utara gunung dan matahari muncul dari sebelah kanannya muncul dari permukaan laut yang jauh berada di timur.

Hawa pegunungan yang sejak ditimpa cahaya matahari yang hangat nyaman benar-benar mendatangkan suasana yang menggembirakan.

Daun-daun pohon seperti disepuh air emas kuning kemilau tapi sejuk sinarnya tidak menyilaukan mata.

Burung-burung berkicau di dahan pohon dan kelihatan beberapa ekor burung bermain-main dengan riangnya merupakan keluarga yang amat berbahagia menyambut darangnya matahari.

Wi Liong sengaja berhenti berjalan untuk menikmati pemandangan itu, pemandangan keluarga burung kuning yang kebahagiaannya membuat ia tersenyum dan juga iri.

Dua ekor anak burung mencicit diloloh oleh biangnya sedangkan bapak burung menyisiri bulu si biang dari belakang!

Wi Liong tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya.

Ingin ia berdendang.

Hawa dan keadaan semeriah itu memang menimbulkan selera orang untuk berdendang dan bernyanyi seperti burung, atau lari berlompat-lompatan seperti anak kijang.

Tiba-tiba Wi Liong mendengar pekik burung dari udara.

Ia mendongak dan melihat seekor burung berbulu kehitaman terbang lewat sendiri, merupakan titik hitam pada langit yang bersih cerah.

Wi Liong mengerutkan keningnya, ada sesuatu menusuk pada ulu hatinya.

Burung itu sendiri kelihatan begitu sunyi tak berkawan, hidup menyendiri di alam yang luas.

Teringat Wi Liong akan keadaan dirinya, yatim-piatu dan seorang diri pula di dalam dunia.

Sedih hatinya dan bangkit rindunya kepada pamannya Tidak tega rasanya meninggalkan pamannya satu-satunya orang yang semenjak ia kecil berada di sampingnya, pengganti orang tuanya.

"Beng Kun Cinjin jahanam busuk, kau pembunuh ayah ibuku dan kau yang membikin buta sepasang mata pamanku. Tunggu saja pembalasanku!"

Kata hatinya yang menjadi panas karena pembunuh orang tuanya itu yang menjadi biang keladi sehingga ia sekarang hidup seorang diri dan kesepian.

Teringat kepada musuh besarnya bangun kembali semangat Wi Liong dan ia segara mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk berlari cepat sekali turun gunung.

Seperti telah dituturkan di depan biarpun kekuasaan Bangsa Mongol berkembang pesat dan Tiongkok utara telah diduduki, namun Tiongkok bagian selatan masih berada dalam kekuasaan pemerintah lama, yaitu Kerajaan Sung selatan.

Pemerintah Mongol tidak melanjutkan penyerbuannya ke selatan adalah karena ia sedang memusatkan bala tentaranya untuk menyerbu lagi ke barat.

Untuk sementara waktu keadaan dalam negeri menjadi aman, kecuali hentrokan-bentrokan di antara para pengikut pendukung dua kerajaan itu yang saling bersaing dan bermusuhan sendiri.

Kaisar Mongol Oguthai.

yang berhasil merebut wilayah Cin di Tiongkok utara masih menggunakan kota Mongol bernama Karakorum sebagai ibu kota kerajaannya.

Istananya megah dan indah, penuh barang-barang berharga hasil perampasan dari macam -macam negara yang diserbu oleh bala tentaranya yang amat kuat.

Juga di istana bekas Kaisar Cin.

yaitu di Peking, dijadikan istana ke dua, dan kerusakan-kerusakan telah dibangun dan diperbaiki kembali, malah sekarang lebih mewah dari pada dahulu.

Peking merupakan kota raja ke dua dan kota besar ini menjadi semacam tempat beristirahat kaisar dan para pembesar tinggi.

Akan tetapi kaisar sendiri jarang sekali berada di Peking, atau kalau kebetulan berada di situ juga hanya untuk beberapa minggu saja.

Yang sudah pasti, di situ menjadi sarang para pembesar Mongol dan kaki tangannya, yaitu penghianat-penghianat bangsa yang bermuka-muka terhadap penjajah menjual bangsa sendiri untuk mencari kedudukan dan harta.

Banyak jumlahnya pembesar-pembesar penghianat macam ini, orang-orang Tiongkok yang lagak-lagunya sudah pula meniru-niru lagak penjajah.

Amat lucu melihat orang Tiongkok itu berpakaian seperti pembesar Mongol bertopi Mongol.

aksinya seperti orang Mongol.

bahkan bicaranya di pelo-pelokan meniru-niru logat orang Mongol!

Bukan main!

Dan mereka menganggap mereka telah menjadi orang berkuasa yang gagah.

Inilah macamnya orang-orang yang kehilangan kepribadiannya, beginilah manusia yang menjadi bujang nafsu kesenangan, mengejar kesenangan diri dengan pengorbanan apapun juga, rela bersikap palsu, hidup bertentangan dengan hati nurani dan jiwa sendiri, asal bisa memperoleh kedudukan bisa memperoleh kemuliaan dan harta dunia!

Sudah tentu saja manusia-manusia macam begini ini memuakkan perasaan setiap orang yang sedikit saja mempunyai kepribadian manusia-manusia macam penghianat-penghianat bangsa yang sudah seperti badut-badut menari menurut irama musik majikannya kaum penjajah tentu saja menimbulkan rasa benci kepada setiap orang yang sehat pikirannya.

Untuk menyenangkan majikan-majikannya, para bangsawan Mongol itu, para penghianat ini tidak segan-segan untuk menangkap-nangkapi bangsa sendiri dengan tuduhan memberontak, dengan ketawa-tawa sambil menuangkan arak di cawan majikannya melihat bangsa sendiri dipenggal batang lehemya sebagai hukuman seorang pemberontak.

Alangkah rendahnya akhlak mereka!

Untuk mendapatkan kedudukan dan uang.

tidak segan-segan penghianat bangsa ini mencari dan menangkapi gadis-gadis cantik anak bangrsanya, untuk dijadikan umpan dan mangsa bagi bangsawan-bangsawan Mongol yang liar seperti bandot tua!

Bahkan ada beberapa orang tikus kaki dua macam ini yang tidak sayang-sayang memberikan anak gadisnya sendiri kepada bangsawan Mongol.

hanya agar dia mendapat kedudukan, kekuasaan dan kekayaan!

Dunia sudah tua.....

manusia sudah gila.....

demikian keluh rakyat jelata yang hanya pandai berkeluh-kesah tanpa berani berkutik.

Tak dapat disalahkan rakyat jelata, tidak boleh mereka ini disebut lemah atau kurang semangat.

Apa daya mereka kalau berkutik sedikit saja berarti kepala mereka dipenggal?

Apa daya-mereka kalau di sana tidak ada pahlawan-pahlawan bangsa yang sanggup mempersatukan dan memimpin mereka?

Yang bermunculan malah bangsa sendiri yang menjadi penghianat dan lincah darat!

Kalau orang-orang biasa saja sudah merasa penasaran dan kemarahan mereka hanya dipendam dalam dada.

lebih-lebih lagi para pendekar perkasa yang tadinya hidup sebagai penghuni-penghuni hutan di gunung-gunung.

Mereka merasa marah dan penasaran sekaii.

Mereka maklum bahwa terhadap kaum penjajah Bangsa Mongol yang memiliki bala tentara kuat dan besar sekali itu.

mereka tidak berdaya.

Akan tetapi melihat bangsa sendiri menjadi penghianat.

mereka tak dapat menahan kemarahan hati dan segera para enghiong pendekar ini turun gunung.

Gegerlah di Peking setelah secara aneh.

beberapa orang "pembesar"

Bangsa Han yang menjadi penghianat ini tahu-tahu kedapatan tewas dipenggal orang lehernya di dalam kamar, tanpa ada tanda-tanda siapa adanya pembunuh-pembunuh itu.

Kemudian, setelah diketahui bahwa yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para "boneka"

Penjajah itu adalah orang-orang kang-ouw, mulailah para.pembesar mendatangkan jagoan-jagoan, untuk menjadi pelindung dan penjaga keamanan dan mulailah kerusuhan-kerusuhan terjadi, pertempuran-pertempuran kecil dan pertentangan-pertentangan antara orang-orang kang-ouw yang membenci para penghianat dan para jagoan yang dapat dijadikan kaki tangan mereka.

Thio Wi Liong tiba di Peking pada saat sedang gawat-gawatnya karena beberapa hari yang lalu seorang pembesar boneka she Ciu terbunuh ketika sedang melakukan perjalanan dalam keretanya.

Pemuda ini sengaja datang ke Peking karena setelah berbulan-bulan mencari keterangan di selatan, ia mendengar bahwa Gan Tui atau Beng Kun Cinjin lari dari istananya setelah membunuh seorang pangeran muda she Liu.

Semenjak melarikan diri, tak seorangpun mendengar ke mana perginya bekas koksu itu?

Oleh karena berita ini Wi Liong langsung menuju ke Peking untuk melakukan penyelidikan.

Kalau dari orang-orang kang-ouw ia tidak bisa mendapat keterangan, mungkin dari pembesar-pembesar dan kaki tangan Kerajaan Mongol ia bisa mendapatkan jejak musuh besarnya.

Kalau perlu ia akan menyusul ke kota raja di utara.

Sebagai seorang yang berpakaian seperti seorang pemuda pelajar yang lemah lembut gerak-geriknya.

ia tidak banyak menarik perhatian orang.

Ia menginap dalam kamar sebuah rumah penginapan sedernana dan kelihatannya tidak mencurigakan.

Akan tetapi setiap hari ia berkeluyuran ke tempat ramai, setiap kali ada kesempatan ia mencoba untuk bicara kepada orang-orang tua dan memancing tentang keadaan Koksu Beng Kun Cinjin.

Di waktu malam ia keluyuran pula dan di waktu malam gelap begini lenyap sifatnya yang lemah lembut berubah menjadi seorang yang gerak-geriknya gesit seperti burung walet.

Pada suatu pagi Wi Liong sudah nampak duduk di bangku rumah makan kecil menghadapi scmangkok bubur panas.

Bukan kebetulan bahwa ia berada di warung itu, karena warung itu berada di seberang jalan di mana berdiri sebuah rumah gadung besar sekali milik keluarga Liu.

Pemuda ini ternyata berhasil mendapat keterangan bahwa keluarga dari pemuda she Liu yang dahulu dibunuh oleh Beng Kun Cinjin, sekarang telah pindah ke Peking, di dalam rumah gedung itulah.

Akan tetapi hanya sampai sekian saja keterangan yang ia peroleh.

Tak seorangpun rupanya mengetahui mengapa pemuda Liu itu dibunuh.

"Tentu ada rahasianya."

Pikir Wi Liong dan bukan tidak bisa jadi kalau anggauta keluarga Liu itu ada yang tahu atau setidaknya dapat menduga ke mana perginya Beng Kun Cinjin yang kabarnya lari pergi membawa isteri dan anaknya.

Warung itu cukup besar dan di situ sudah ada belasan orang tamu yang semua ingin mengisi perut dengan bubur panas yang sedap.

"Buburnya satu mangkok lagi!"

Terdengar suara keras dari belakang tempat duduk Wi Liong.

Suara ini nyaring akan tetapi tidak menarik perhatian.

Wi Liong yang sedang melamun sambil pandang matanya selalu menatap ke arah pintu halaman gedung keluarga kaya raya Liu itu.

"Hebat betul orang itu, sudah habis tujuh mangkok masih tambah terus."

Terdengar pelayan berkata perlahan sekali ketika memberi Wi Liong semangkok bubur lagi yang dimintanya.

"Dengan arak lagi.......!"

Ucapan ini menggerakkan hati Wi Liong.

Tidak aneh orang banyak makan, di mana-mana juga ada orang gembul.

Akan tetapi pagi-pagi menghabiskan tujuh mangkok bubur dengan arak?

Lucu juga.

Ia melirik ke belakang dan melihat bahwa orang gembul itu ternyata adalah seorang laki-laki tua berusia limapuluh tahunan, bertubuh tinggi besar tegap dan sikapnya gagah sekali.

Hampir semua orang di dalam warung itu memandang kepada kakek ini dengan muka kagum.

Memang kakek itu benar-benar gagah, pakaiannya ringkas dan kuat.

Mukanya kemerahan dengan kumis dan jenggot seperti pahlawan besar di jaman Sam-kok, Kwan In Tiang atau Kwan Kong!

Golok besar bersarung indah tergantung di pinggang kiri.

Duduknya tegak dan gerak-geriknya membayangkan bahwa dia bukan orang sembarangan.

Sekaligus Wi Liong tertawan hatinya oleh orang tua gagah perkasa ini.

Tidak sukar untuk diduga bahwa orang ini tentulah seorang yang berjiwa gagah, seorang kang-ouw yang patut dijadikan kawan.

Mangkok bubur panas mengepul sudah diantar lagi ke depan kakek itu.

Sambil mengibaskan tangannya yang besar, kakek itu berkata tak senang.

"Hemm. di Peking sekarang menjadi sarang lalat hijau!"

Wi Liong tersenyum diam-diam. Sebagai orang yang sudah beberapa hari berada di situ, tentu saja ia segera dapat mengenal tiga orang "mata-mata'"

Kerajaan yang sejak tadi memperhatikan kakek itu sambil saling bisik-bisik.

Akan tetapi tak seorangpun kecuali Wi Liong melihat betapa kibasan tangan yang lebar itu sekaligus membuat tiga ekor lalat menempel pada telapak tangan.

"Lalat makan lalat, sudah sepatutnya."

Kembali kakek itu berkata. Kecuali Wi Liong, tidak ada yang melihat bagaimana kakek itu menggerakkan jari-jari tangannya. Di lain saat. tiga orang mata-mata itu berseru marah.

"Heeei.........pelayan! Dalam mangkok bubur ini ada lalatnya!"

"Di sini juga ada."

"Ini juga!"

Tiga orang itu melotot dan memandang jijik.

Pelayan berlari-lari menghampiri dan melihat bahwa betul dalam mangkok tiga orang itu terdapat masing-masin seekor lalat hijau yang besar!

Ini betul-betul aneh dan tak dapat dimengerti karena sungguh kejadian yang langka ada lalat sampai masuk ke dalam mangkok bubur.

Akan tetapi mata pelayan ini juga tajam, ia mengenal siapa adanya tiga orang itu, maka sambil membungkuk-bungkuk ia mengambil tiga mangkok itu dan berkata "Maaf loya.

Biar saya mengambilkan gantinya."

Buru-buru ia mundur dan tak lama datang lagi membawa tiga mangkok bubur panas di atas baki.

Dengan hati-hati ia menaruh tiga mangkok bubur itu di depan tiga orang tamunya yang segera mengaduk-aduk dengan sumpit untuk melihat kalau-kalau ada lalatnya, sedangkan pelayan itu mengusir lalat yang mendekat dengan kain lapnya.

Setelah melihat betul bahwa di dalam mangkok mereka tidak terdapat lalat, tiga orang itu mulai makan buburnya dan kembali mereka mulai melanjutkan pengawasan terhadap kakek gagah tadi.

Kini Wi Liong sudah selesai makan dan sengaja duduk miring agar ia dapat mengawasi gerak-gerik kakek aneh itu.

Kakek itu tersenyum kepadanya tangannya kembali mengebut lalat dan kini tidak kurang dari enam ekor lalat hijau "menempel"

Pada jari-jari tangannya.

"Lalat hijau menjemukan!"

Kakek itu kembali menggerutu dan tangannya bergerak perlahan.

"Auupphhh......!!"

Seorang di antara tiga mata-mata itu membawa tangan ke mulut sambil melepaskan mangkok buburnya di atas meja, lalu terbatuk-batuk dan matanya mendelik.

"Ada apa.........?"

Tanya dua orang kawannya sambil menunda makannya.

"Ada....... lalat........ ma........ mahukk........"

Kata orang yang mulutnya kemasukan lalat besar yang menempel di kerongkongannya itu.

Dua orang kawannya tertawa bergelak akan tetapi tiba-tiba mereka inipun terengah-engah, malah yang seorang terus muntah-muntah karena ada lalat memasuki mulut terus tanpa permisi masuk ke dalam perutnya!

Kejadian yang lucu ini tentu saja menarik perhatian banyak orang dan tak dapat dicegah lagi meledaklah suara kerawa orang-orang yang sedang makan di situ, sampai ada yang tersedak-sedak dan terbatuk-batuk.

Tiga orang mata-mata itu marah sekali, akan tetapi kepada siapa harus marah?

Dengan mata melotot dan mulut memaki-maki tiga orang itu meninggalkan rumah makan tanpa membayar harga makanan.

Pelayan yang menghadangnya menerima semprotan.

"Mau minta bayaran? Tidak kulaporkan dan tidak ditutup rumah makanmu masih enak kau! Pedagang bubur lalat!!"

Pelayan itu buru-buru mundur membiarkan mereka pergi dan kembali orang-orang di situ gelak tertawa.

Mereka sebagian besar adalah penduduk aseli Peking maka mereka tahu belaka hahwa tiga orang itu adalah kaki tangan manusia-manusia penghianat yang suka menangkap-nangkapi bangsa sendiri yang dicurigai.

Orang-orang macam ini kerjanya hanya keluyuran setiap hari mencari orang yang kiranya dapat dijadikan korban.

Bagi para tamu.

kejadian tadi adalah hal yang kebetulan saja dan mungkin sebagai hukuman atas dosa-dosa mereka.

Kalau tidak begitu, masa hanya mereka saja yang diserbu lalat?

"Mulut mereka terlalu busuk baunya sampai-sampai menarik lalat-lalat hijau."

Kata seorang tamu sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"Lalat juga tahu mana sahabatnya!"

Kata orang lain.

Akan tetapi senda-gurau dan ejekan terhadap tiga orang mata-mata itu berhenti seketika setelah mereka melihat bahwa tiga orang itu ternyata tidak pergi jauh hanya berhenti di depan warung dan berdiri di seberang jalan dekat pintu halaman rumah gedung keluarga Liu.

Sementara itu, kakek aneh itu menggapaikan tangan kepada seorang pelayan tua.

Pelayan itu cepat menghampiri membungkuk-bungkuk merendahkan diri seperti sikap seorang pelayan rumah makan yang pandai.

"Duduklah, mari temani aku minum arak."

Kata kakek itu. Pelayan tua kaget, menggeleng-gelengkan kepala.

"Mana berani saya berlaku kurang ajar terhaaap tamu? Silahkan loya minun, saya yang melayani."

"Duduk kataku mengapa bantahan?"

Kakek gagah itu menarik lengan si pelayan yang terduduk di atas bangku seperti bukan atas kehendaknya sendiri, tahu-tahu ia telah duduk begitu saja.

"Minum secawan arak!"

Pelayan itu dengan wajah berobah terpaksa minum, dan ternyata diapun seorang setan arak karena sekali tuang saja arak secawan itu sudah amblas!

Ia menaruh cawannya yang sudah kering di atas meja wajahnya yang tadi agak pucat menjadi kemerahan dan ia tersenyum-senyum."Terima kasih.

loya (tuan tua), arak ini enak sekali "

Akan tetapi diam-diam Wi Liong mengerutkan kening karena ia melihat bagaimana secara cepat dan diam-diam tadi kakek aneh itu menaruh sebutir pel ke dalam cawan arak pelayan.

Agaknya pel itu mudah cair dan tidak ada rasanya, buktinya pelayan itu minum habis tanpa merasa apa-apa.

Apakah niat kakek itu melakukan hal ini?

Apa kehendaknya?

Wi Liong benar-benar merasa heran sekali.

Akan tetapi tak lama kemudian ia segera mengerti.

Kakek pelayan itu melihat caranya minum arak, terang bukan seorang yang tak pernah minum arak kalau tak mau dikata masuk golongan setan arak.

Akan tetapi mengapa baru minum dua cawan saja sudah merah sekali mukanya dan suara ketawanya menandakan bahwa ia telah mabok berat?

Kalau baru dua cawan saja, arak yang bagaimana tua pun takkan dapat memabokkan seorang ahli minum!

Pelayan itu mulai bicara tidak karuan diselingi ketawa-tawa dan kini ia tidak begitu merendah-rendah seperti tadi.

Wi Liong menjadi tak senang.

Kakek tua aneh itu boleh jadi seorang tokoh kang-ouw yang nakal, akan tetapi tidak semestinya kalau ia mempermainkan seorang, pelayan yang tidak punya desa.

Selagi ia hendak menegur, ia tersentak kaget dan tidak jadi bergerak ketika mendengar kakek itu berkata.

"Nah. loheng (kakak tua), sekarang kau dongengkan tentang orang-orang ternama seperti misalnya keluarga Liu pemilik rumah gedung di depan itu."

Pelayan itu tertawa terkekeh-kekeh, tawa seorang mabok yang tidak sadar lagi.

"Bandot tua bangka itu? Heh-heh-heh. apanya yang patut didongengkan? Bandot mata keranjang sampai ke tulang sumsum, bapak anak seringgit dua-rupiah-setengah, sama saja!"

Wajah kakek aneh itu nampak berseri dan penuh harap.

"Mengapa kau bisa bilang keluarga itu mata keranjang? Apa buktinya?"

"Heh-heh-heh. bukti? Mau bukti? Hanya orang buta yang tidak melihat. Siapa tidak tahu tentang gadis desa yang tahu-tahu mati dan dikubur diam-diam di tengah malam? Dan belum lama ini setiap malam terdengar tangis wanita, kabarnya ada lagi gadis yang diculiknya. Padahal usianya sudah enampuluh lebih. Kalah tua aku! Tapi tua-tua keladi makin tua makin menjadi! Heh-heh-heh."

"Semua orang tahu memang kalau Liu-wangwe hartawan Liu mata keranjang, akan tetapi kau bilang ayah anak sama saja, apa artinya itu? Bukankah anaknya hanya seorang yang sudah remaja puteri?"

"Oooo kau keliru........."

Pada saat itu pengurus rumah makan itu datang menghampiri dengan langkah lebar.

"A Sam. jangan mengganggu tamu........."

Kakek aneh itu melotot kepada pengurus rumah makan.

"Apa mengganggu? Aku yang mengundangnya menemani aku minum. Kau mau apa?"

"Maaf, loya........."

Pengurus itu merendah dan wajahnya memperlihatkan kekhawatiran dan beberapa kali ia menengok ke arah tiga orang mata-mala yang sejak tadi berdiri di depan.

"akan tetapi A Sam kami beri upah bukan untuk mengobrol, melainkan untuk bekerja....... dan........"

"Berapa sih upahnya? Nih gantinya!"

Kakek aneh itu melemparkan sepotong perak yang barangkali cukup untuk membayar upah A Sam selama sepekan!"Sudah, enyah! Teruskan Sam-ko!"

Pengurus itu tidak berani berkata apa-apa lagi dan pergi. Ia maklum bahwa kakek yang seperti Kwan Kong dan membawa-bawa golok itu tentu seorang kangouw maka ia tidak berani memaksa.

"Celaka, pikirnya. A Sam sudah mabuk. dan membuka-buka rahasia orang sedangkan anjing-anjing pemburu itu masih berada di depan pintu. Celaka, celaka......... apa yang akan menimpa rumah makan kita?"

Demikian pengurus itu menggerutu seorang diri. Adapun A Sam setelah longak-longok dan tersenyum-senyum puas melanjutkan kata-katanya.

"Kau keliru loya. Keluarga Liu itu dahulunya mempunyai seorang putera, dalam hal watak cabulnya tidak kalah oleh si bandot tua ayahnya sendiri."

Pengurus rumah makan itu membanting-banting kaki melihat tiga orang mata-mata kaget mendengar seorang pelayan warung berani memaki-maki Liu-wangwe (hartawan Liu) atau boleh juga disebut Liu-taijin (pembesar Liu).

Saking herannya mereka ini sampai tidak bertindak apa-apa.

hanya membuka telinga ikut mendengarkan.

"Di mana puteranya itu sekarang?"

Tanya kakek aneh penuh perhatian.

"Ho-ho. sudah tidak ada lagi. Sudah mampus! Akibat mata keranjangnya. Masa dia berani main gila dengan isteri koksu baru."

"Kau maksudkan Beng Kun Jinjin?"

"Namanya siapa aku tidak tahu, mana aku bisa tahu? Kabarnya koksu itu seorang hwesio tua, diberi hadiah selir kaisar yang disebut Puteri Harum! Ha-ha-ha lucunya manusia! Puteri Harum bekas selir kaisar dijodohkan dengar seorang hwesio gundul tua, mana puas? Diam-diam main gila dengan putera keluarga Liu yang muda dan ganteng. Semua orang tahu belaka, hanya hwesio tua bangka itu goblok seperti kerbau...... Ha-ha. tentu saja aku juga tahu, dahulu aku berdagang di kota raja, sampai jatuh gulung tikar karena aku keedanan judi dan........."

Mendengar cerita itu melantur tidak karuan, kakek tadi lalu menyetop.

"Main gila dengan isteri koksu lalu bagaimana?"

"Akhirnya hwesio koksu itu tahu juga rupanya. Pada suatu malam si hwesio minggat setelah membunuh pemuda she Liu itu di kamarnya. Dengar baik-baik loya, dibunuh di dalam kamar tidur koksu itu sendiri. Ha-ha itu saja sudah menerangkan keadaan sebenarnya. Hwesio itu membunuh si pemuda lalu minggat bersama Puteri Harum dan anaknya." (Lanjut ke

Jilid 11) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11

"Sudah punya anakkah Puteri Harum dan hwesio itu?"

"Bukan anak si hwesio!"

"Anak orang she Liu "

"Juga belum tentu."

"Habis anak siapa?"

"Ha-ha-ho-ho, bapaknya banyak......... ha-ha. Tadinya selir kaisar, lalu isteri hwesio dan kekasih Liu-kongcu. Coba bilang, siapa bapaknya?"

"A Sam, cukup! Bantu aku di sini!"

Teriak si pengurus rumah makan dengan muka pucat.

A Sam agaknya masih ingat akan pengaruh bentakan majikannya ini, cepat-cepat ia berdiri menjura kepada kakek aneh itu dan menghampiri majikannya untuk membantu pekerjaan lain.

Kakek aneh itu tertawa seorang diri sambil menenggak araknya.

"Bandot tua....... mata keranjang......!"

Terdengar ia bersungut-sungut.

Akan tetapi kakek itu tersentak kaget ketika memandang ke depan.

Terlihat tiga orang mata-mata itu sedang bercakap-cakap dengan seorang kakek tinggi besar dan buruk rupa, bengis kelihatannya, alisnya tebal menutupi mata.

"Dia di sini.......?"

Kakek itu berbisik, buru-buru membayar harga makanan dan segera pergi dari warung itu.

Akan tetapi Wi Liong masih dapat melihat bagaimana kakek itu menekan, pinggir meja yang segera melesak ke bawah dan meja itu menjadi miring!

Wi Liong diam-diam merasa kagum dan tidak mengerti akan sikap yang aneh ini.

Ia masih terlampau tertegun mendengar penuturan pelayan tua yang benar-benar sangat menguntungkan baginya itu.

Jadi sudah jelas bahwa keluarga Liu ini pernah berurusan dengan Beng Kun Cinjin dan kiranya kakek pelayan atau keluarga itu akan dapat memberi petunjuk kepadanya ke mana perginya Beng Kun Cinjin.

Ketika ia melihat lagi, kakek aneh bermuka Kwan Kong itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya dan sebagai gantinya, dengan langkah lebar masuklah kakek tinggi besar yang tadi bercakap-cakap dengan tiga orang mata-mata di halaman gedung keluarga Liu.

Kakek ini tidak kalah anehnya oleh yang tadi.

Tubuhnya tinggi besar, mukanya segi empat alisnya tebai menutupi mata, kulit tubuhnya mbengkerok seperti kulit buaya kudisan.

"Mana dia A Sam si mulut busuk?"

Tanya kakek tinggi besar itu sambil terus melangkah menghampiri pengurus warung yang kelihatan ketakutan melihat kakek ini.

Pengurus itu menudingkan telunjuknya ke kiri dan......

A Sam telah tidur mendengkur di atas bangku panjang!

Kakek itu menghampiri A Sam yang mabok berat sekali, melihat sebentar lalu menepuK kepalanya beberapa kali.

Aneh.

A Sam lalu membuka matanya dan agaknya sudah sadar sama sekali dari pengaruh arak.

Wi Liong yang menyaksikan ini semua membuka mata lebar-lebar.

Ternyata kakek itu telah membuka hawa murni pelayan itu sehingga semua hawa pengaruh arak telah buyar dan lenyap.

Hanya seorang berilmu tinggi saja yang sanggup menotok urat-urat kecil di bagian kepala untuk memberi jalan kepada hawa arak yang memenuhi kepala!

Lagi-lagi seorang pandai di depannya!

Ia memandang terus dan makin lama ia merasa makin tidak asing, seakan-akan ia pernah bertemu dengan kakek ini, entah di mana.

A Sam memandang bingung, kemudian kelihatan ketakutan.

"Hayo katakan, kau yang tahu akan riwayat dahulu, di mana adanya Beng Kun Cinjin sekarang!"

Tanya kakek tinggi besar itu dengan suaranya yang parau dan kasar.

"Saya....... hamba....... tidak tahu. Nama itupun baru sekarang hamba dengar........"

"Bulus! Kalau tidak tahu mengapa tadi mengobrol tidak karuan?"

"Hamba tidak mengobrol, loya. Sejak tadi melayani para tamu dan........."

Terdengar beberapa orang tamu tertawa geli, akan tetapi segera diam kembali seperti jengkerik terpijak ketika kakek tinggi besar itu mengerutkan kening dan membentak.

"Siapa orang muka merah yang kau ajak mengobrol tadi?"

"Orang muka merah yang mana? Aahhhh......."

A Sam teringat.

"dia kan tamu di sini tadi.........?"

A Sam benar-benar kelihatan bingung sekali.

"Hamba tidak kenal dan tidak tahu ke mana perginya........."

A Sam memandang ke arah meja yang sudah miring. Melihat meja itu, kakek tinggi besar menghampiri dengan langkah lebar, lalu tertawa bergelak menyeramkan.

"Yang beginian saja dipamerkan?"

Jari telunjuknya mengungkit ujung meja yang segera terangkat dan rata kembali berdirinya.

Kemudian kakek itu menyambar kedua kaki pelayan tua, mengangkatnya ke atas sehingga pelayan itu tergantung dengan kepala di bawah!

Tentu saja A Sam menjerit-jerit seperti babi disembelih minta diampuni.

Sambil tertawa-tawa kakek itu membawa A Sam ke dekat tempat godokan bubur dan menggantung kepala A Sam di situ.

mengancamnya hendak memasukkan kepala yang kecil gepeng (tipis) itu ke dalam bubur yang mendidih!

"Aduuhhh......

aaa......

aadduuhhh.......

loyaa.......

panas.......!"

A Sam menjerit-jerit, ngeri melihat bubur yang panas mendidih, yang setiap pagi menjadi permainannya kalau ia melayani para tamu.

Belum juga kepalanya menyentuh bubur, ia sudah hampir pingsan dan berteriak-teriak kepanasan!

Para tamu memandang penuh kengerian pula.

Betul-betulkah kepala itu hendak dimasukkan ke dalam bubur mendidih?

Sementara itu pengurus rumah makan berdiri dengan kaki menggigil dan muka pucat.

Kakek kejam itu agaknya mengalami kegembiraan benar melihat A Sam yang ketakutan.

Ia tertawa-tawa geli seperti meiihat sesuatu yang lucu.

Tangan kirinya yang memegang dua pergelangan kaki A Sam sebentar diturunkan sampai kepala itu sudah mulai terkena uap lalu diangkat lagi, dipermainkan.

"Ampuuunn...... am..... ampun, tuan besaaarrr......"

"Ha-ha-ha. mana bisa ada ampun? Kau kemarin memberi bubur yang terlalu panas sampai lidahku serasa terbakar, sekarang kau rasakan bagaimana kalau kepalamu kumasukkan ke dalam bubur panas"

Kata kakek itu membuat semua orang terheran-heran.

Tadinya mereka mengira bahwa kakek itu hendak menghukum A Sam karena tadi A Sam membongkar rahasia keluarga Liu, tidak tahunya sekarang mendadak si tinggi besar itu mempersoalkan lidah terbakar oleh panasnya bubur.

Benar-benar hal yang amat mbo-cengli (tiada aturan)!

"Bu-ceng Tok-ong.......!"

Tiba-tiba terdengar suara ini dan kakek itu seperti dipagut ular, melemparkan tubuh A Sam ke samping, membuat pelayan itu mengaduh kesakitan dan kepalanya benjol sebesar telur bebek.

Cepat ia merayap dan menymgkirkan diri ke belakang, terus bersembunyi masuk ke kolong meja dapur!

Adapun kakek itu yang sebetulnya bukan lain memang Bu-ceng Tok-ong.

meraba-raba siku tangan kirinya sambil memandang ke sekelilingnya.

Sinar matanya yang bersembunyi dari balik alis tebal itu menyambar-nyambar penuh bahaya.

Akan tetapi, para tamu di dalam warung itu hanya orang-orang biasa, tidak ada yang mencurigakan.

Diam-diam ia bergidik sendiri.

Sudah terang baginya bahwa ada orang pandai yang baru saja menyerangnya dengan pukulan dari jauh, tepat mengenai siku tangan kirinya, membuat tangan kirinya terasa lumpuh.

Orang yang mampu melakukan hal ini sudah tentu seorang pandai sekali.

Akan tetapi ternyata orang itupun tidak bermaksud jahat, kalau tidak demikian kiranya pergelangan sikunya dapat terluka lebih hebat lagi.

Setelah mendapat kenyataan bahwa di tempat itu tidak terdapat orang yang patut memiliki kepandaian tinggi dalam pandangannya, Bu-ceng Tok-ong dengan langkah lebar keluar dari warung itu, sedikitpun tidak menengok lagi kepada A Sam.

Para tamupun bubaran cepat-cepat dan sehari itu warung yang biasanya ramai ini menjadi sepi.

Berita tentang peristiwa itu cepat sekali tersiar dan orang-orang tidak berani berbelanja di situ, takut kalau terbawa-bawa.

Juga Wi Liong diam-diam pergi dari tempat itu.

Tadi dia yang menolong A Sam dan diam-diam dia mengirim pukulan jarak jauh, tidak terlalu kuat akan tetapi cukup memberi peringatan kepada Bu-ceng Tok-ong bahwa kalau Raja Racun ini melanjutkan perbuatannya, menggodok kepala A Sam hidup-hidup, tentu akan ada orang yang menolong pelayan itu.

Wi Liong bukan seorang bodoh.

Dia tidak mau berlaku ceroboh di dalam kota yang selalu terjaga kuat dan penuh dengan mata-mata pemerintah Mongol.

Ia hendak menyelidiki urusan pribadinya dengan diam-diam tanpa banyak menimbulkan keributan.

Ia sudah mengambil keputusan untuk menemui A Sam malam nanti dan minta penjelasan lebih jauh tentang Beng Kun Cinjin.

Malam hari itu kota raja ke dua itu nampak indah di bawah sinar bulan yang sore-sore telah muncul di langit biru.

Suasana remang-remang romantis menimbulkan kegembiraan dalam hati.

Sayang sekali hawa amat dinginnya, orang-orang tidak sda yang berani keluar kalau tidak mempunyai keperluan penting.

Lebin enak berdiam di rumah menghadapi hangatnya api di perapian.

Apa lagi menjelang tengah malam setelah bulan jauh terbang ke arah barat, dinginnya bukan kepalang.

Akan tetapi bagi Wi Liong yang sudah memiliki kepandaian tinggi, dengan hawa sinkangnya ia dapat mempertahankan kedinginan itu.

Malah ia melompat ke sana ke mari dari genteng rumah ini ke genteng rumah itu bagaikan seekor burung beterbangan.

Gerakannya gesit bukan main dan bagi mata biasa sukarlah mengikuti gerakan-gerakan Wi Liong.

Sebentar saja ia sudah tiba di atas genteng rumah makan yang pagi hari tadi menjadi tempat keributan.

Wi Liong mengintai dari atas genteng.

Di bawah gelap saja.

tanda penghuninya sudah tidur.

Ia melompat turun dan sekali raba terbukalah jendela rumah itu.

Wi Liong terheran karena mendapat kenyataan bahwa jendela itu memang tidak terkunci dari dalam.

Ia melompat masuk bagaikan seekor kucing tanpa menerbitkan suara sedikitpun dan di lain saat ia hampir mengeluarkan seruan kaget ketika di bawah sinar bulan yang menerobos masuk ia melihat tubuh A Sam terbujur kaku dan tak bernyawa di atas bangku panjang!

Ia cepat melompat lagi dan kini ia menuju ke rumah gedung di depan warung itu.

A Sam sudah tidak bisa dimintai keterangan dan orang satu-satunya yang dapat memberi keterangan kiranya hanya orang she Liu yang oleh A Sam disebut bandot tua.

Dari jauh ia sudah melihat pertempuran hebat terjadi di atas genteng tebal rumah gedung keluarga Liu.

Ia mengenal kakek aneh bermuka merah yang pagi tadi makan di warung.

Kakek itu dibantu oleh seorang gadis muda mengeroyok Bu-ceng Tok-ong yang lihai, menggunakan golok besarnya sedangkan gadis muda itu menggunakan sebatang pedang, ilmu silatnya cepat dan cukup lihai.

Namun Bu-ceng Tok-ong yang bertangan kosong itu dapat melayani dua orang lawannya yang bersenjata dengan baik, malah dengan pukulan-pukulan yang mengandung hawa beracun ia dapat mendesak dua orang lawannya yang bersikap hati-hati dan main mundur!

Wi Liong tahu akan kejahatan Bu-ceng Tok-ong dan ia memang tidak suka kepada tokoh Mo-kauw yang sudah pernah menculiknya dari puncak Kun-lun-san itu.

Akan tetapi ia tidak mengenal kakek bermuka merah dan gadis berpedang itu.

maka merasa tidak pada tempatnya kalau ia membantu mereka tanpa mengetahui sebab-sebab pertempuran.

Tanpa diketahui oleh mereka yang sedang bertempur seru, Wi Liong menyelinap dan terus melompat ke bagian lain dari rumah gedung keluarga Liu.

Dia hendak menyelidiki dan mencari musuh besarnya, tak perlu melibatkan diri dengan urusan orang lain, pikirnya.

Akan tetapi baru saja kedua kakinya menginjak genteng di bagian belakang, tiba-tiba ia berjongkok dan bersembunyi di balik wuwungan ketika dari bawah melayang naik dua bayangan orang, juga seorang gadis dan seorang kakek pengemis.

Gadis manis itu belum pernah Wi Liong mengenalnya, akan tetapi melihat kakek pengemis yang tangan kiri memegang tongkat bambu dan tangan kanan memegang mangkok, pengemis bertubuh kecil pendek dan bermata besar ini.

ia teringat akan penuturan pamannya bahwa di dunia kang-ouw terdapat seorang tokoh besar bernama Pak-thian Koai-jin.

Inikah orangnya?

"Suhu.

puas hati teecu (aku) dapat membasmi seorang okpa (hartawan jahat) seperti bandot tua she Liu itu!"

Terdengar gadis manis itu berkata, suaranya nyaring dan bersemangat.

"Hemm. kalian orang-orang muda memang berdarah panas. Lihat agaknya See-thian Hoat-ong dan keponakannya yang jelita itu tidak akan kuat menghadapi Bu-ceng Tok-ong. Mari kita bantu!"

Kata kakek tadi yang sebetulnya memang Pak-thian Koai-jin adanya.

Dua pendatang baru ini cepat menyerbu dan betapapun lihai kepandaian Bu-ceng Tok-ong.

menghadapi empat orang lawan yang berilmu tinggi, apa lagi dua orang kakek itu, ia segera terdesak dan menjadi kerepotan.

"Ramai-ramai mengeroyok seorang lawan! Curang sekali......!"

Ia memaki-maki sambil melompat ke sana ke mari mengibaskan tangan baju dan mengirim pukulan-pukulan dahsyat.

Melihat sekarang Bu-ceng Tok-ong mundur-mundur.

Pak-thian Koai-jin berkata kepada kawan-kawannya.

"Beri ampun dia kali ini!"

Inilah tanda ajakan bagi kawan-kawannya untuk melarikan diri.

Pandangan mata Pak-thian Koai-jin memang tajam sekali.

Ia sudah melihat berkelebatnya bayangan dua orang yang cepat sekali gerakannya, maka maklum bahwa Bu-ceng Tok-ong akan mendapat bantuan kuat, ia mengajak kawan-kawannya pergi lebih dulu.

Betul saja, baru empat orang itu melompat jauh dan melarikan diri, terdengar bentakan nyaring suara seorang wanita.

"Tok-ong kejar mereka, kami bantu!"

Bu-ceng Tok-ong girang bukan main melihat munculnya Tok-sim Sian-Ii dan seorang pemuda ganteng yang bukan lain adalah Kam Kun Hong bekas muridnya!

Akan tetapi tiba-tiba dua buah benda kecil hitam melayang dan menyamhar ke arah Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li dengan kecepatan luar biasa.

Dua orang Mo-kauw itu mengeluarkan seruan marah dan mengibaskan tangan.

Dua potong genteng itu hancur berantakan, akan tetapi dua orang itupun merasa telapak tangan yang dipakai menghantam tadi panas dan agak sakit.

Kagetlah mereka.

Lweekang mereka sudah mencapai tingkat tinggi, masa menghadapi sambitan genteng saja terasa sakit?

Terang bahwa penyambitnya seorang berilmu.

Mereka ragu-ragu.

Tiba-tiba terdengar hiruk-pikuk dan tangis riuh rendah dari dalam gedung itu.

Bu-ceng Tok-ong menarik napas panjang.

"Sayang kau datang terlambat, kalau tadi kau di sini mereka takkan berhasil memasuki gedung. Mari kita lihat apa yang terjadi di bawah."

"Mana Kun Hong?'' tanya Tok-sim Sian-li. memandang ke kanan kiri dan merasa khawatir tidak melihat Kun Hong.

"Celaka, tentu dia mengejar mereka. Mereka itu adalah orang-orang kuat, mana bisa Kun Hong melawan mereka seorang diri saja?"

Tok-sim Sian-li mengeluarkan suara mengejek.

"Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong itu orang-orang macam apa sih? Biar ditambah sepuluh lagi mereka itu bukan apa-apa bagi Kun Hong. Jangan kira Kun Hong sekarang sama dengan dulu. hemmmm!"

Bu-ceng Tok-ong maklum bahwa tentu pemuda bekas muridnya itu telah menerima warisan ilmu dari Thai Khek Sian, maka ia tidak membantah lagi dan mengajak wanita itu turun untuk melihat apa yang telah terjadi di bawah.

Ke mana perginya Kun Hong?

Pemuda ini tadi melihat dua orang gadis cantik manis mengeroyok Bu-ceng Tok-ong dan sekaligus hatinya tertarik dan tergila-gila.

Melihat mereka lari pergi, Kun Hong lalu mengikuti mereka secara diam-diam, tidak mau menyerang hanya membayangi mereka untuk mengetahui ke mana mereka pergi.

Ia mengandalkan ilmu ginkangnya yang luar biasa dan dengan mudah ia mengikuti empat orang itu tanpa diketahui oleh mereka yang ia bayangi.

Sebaliknya, seujung rambutpun pemuda ini tidak pernah menduga bahwa ada bayangan lain yang mengikutinya dengan gerakan yang tidak kalah gesit dan ringannya!

Benar-benar hal yang amat ajaib kalau dibicarakan.

Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong adalah dua orang tokoh kang-ouw yang sudah memasuki tingkat tokoh-tokoh tertinggi, namun mereka berdua, juga dua orang gadis cantik yang kepandaiannya sudah tinggi pula itu sama sekali tidak tahu bahwa mereka diikuti oleh dua orang pemuda!

Kun Hong terus mengikuti empat orang itu yang mempergunakan ilmu lari cepat keluar dari kota menuju ke barat.

Ia merasa gembira sekali melihat bahwa dua orang gadis itu betul-betul cantik menarik kalau sewaktu-waktu ia dapat melihat wajah mereka tertimpa cahaya bulan.

Yang seorang adalali seorang gadis bertubuh langsing agak tinggi dengan kepala digelung ke atas, dibungkus saputangan sutera.

Gadis ke dua manis sekali, agak pendek kalau dibandingkan dengan yang pertama, rambutnya dikepang dua dan ujungnya dibiarkan terurai di atas punggung.

Gadis pertama kelihatan cantik jelita, keren dan gagah.

Sedangkan yang ke dua nampak manis sekali dan lincah.

"Aduh, keduanya sama hebatnya. Yang satu jelita yang satu manis sukar dikatakan yang mana lebih menarik hati."

Pikir Kun Hong.

"Kalau aku disuruh pilih, tentu aku akan pilih......... keduanya!"

Ia baru siang tadi memasuki kota bersama Tok-sim Sian-li.

setelah mendapat perkenan dari Thai Khek Sian.

Selama setahun lebih ia menerima gemblengan dari gurunya itu, mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi sehingga dalam waktu sependek itu kepandaiannya telah meningkat secara luar biasa sekali.

Juga ia dipercaya penuh oleh Thai Khek Sian dan kedatangannya di Peking juga membawa tugas sebagai wakil gurunya.

Akan tetapi, seperti kebiasaan orang-orang golongannya, dia dan Tok-sim Sian-li tidak mau muncul sebelum malam tiba dan segera setelah tengah malam tiba, mereka pergi mencari Bu-ceng Tok-ong yang mereka dengar berada di gedung keluarga hartawan Liu.

Dan melihat dua orang gadis jelita itu Kun Hong sekaligus lupa akan tugasnya dan kini ia mengikuti mereka secara diam-diam sampai jauh di luar kota.

Sambil berlari ia berpikir.

Ia menerima tugas untuk mewakili gurunya, mengadakan hubungan dengan orang-orang segolongan yang sudah berada di Peking dan di kota raja, membantu pergerakan Bangsa Mongol.

Ia diberi hak untuk bertindak atas nama Thai Khek Sian dan mewakili gurunya itu membantu pemerintah baru.

Begitu tiba di situ, ia sudah mendapat kenyataan bahwa kawan-kawan segolongannya ternyata dimusuhi oleh orang-orang kang-ouw seperti Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong.

Akan sibuk dan banyak pekerjaan kelak pikirnya.

Kebetulan sekali sekarang aku mengikuti mereka, jadi aku dapat mengetahui di mana sarang musuh, pikir Kun Hong yang menjadi makin gembira oleh karena selain dapat mengenal dua orang nona itu, juga ia dapat menyelidiki sarang musuh!

Ternyata setelah berlari-larian cepat setengah malam lamanya, di waktu fajar menyingsiag empat orang itu tiba di sebuah bukit yang berbatu-batu.

Di atas puncak bukit itu terdapat sebuah kelenteng tua dan dari jauh sudah dapat diketahui bahwa itu adalah kelenteng Siauw-lim-si.

bangunannya sudah tua dan kuno akan tetapi masih kokoh.

Anehnya, tidak ada jalan masuk ke kelenteng itu.

Sekelilingnya adalah jurang-jurang lebar belaka dan kelenteng itu jadinya berdiri di atas batu besar terpisah dari tanah datar yang lain.

Melihat potongan batu itu.

dapat diduga bahwa dahulu batu itu menjadi satu dengan tanah di sebelah kiri, akan tetapi mungkin karena gempa bumi menjadi pecah dan makin lama retaknya makin melebar menjadi jurang yang amat lebar dan dalam.

Kun Hong yang bersembunyi di balik pohon melihat dari jauh betapa empat orang itu menyelinap ke dalam semak-semak lalu menghilang!

Ia menjadi bingung dan mencari-cari.

Ke mana perginya mereka?

Setelah sampai di sini, sudah tentu mereka pergi ke kelenteng itu.

Itulah sarang mereka, tak salah lagi.

pikirnya.

Kalau aku kembali ke kota, membawa kawan-kawan untuk menyerbu ke sini, sekaligus mereka akan dapat kutawan!

Akan tetapi Kun Hong belum puas kalau belum melihat sebelah dalam, apa lagi kalau belum melihat dua orang nona manis tadi!

la mulai mencari-cari jalan masuk dan baru ia mendapat kenyataan bahwa jalan masuk memang tidak ada.

Akan tetapi empat orang tadi, mengambil jalan manakah?

Mari kita menengok ke dalam kelenteng yang agaknya tersembunyi di atas bukit itu.

Memang kelenteng ini bekas Kelenteng Siauw-lim-si yang sudah amat tua.

Bangunannya kuno dan kokoh sekali.

Kelenteng ini masih ditempati oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-si, merupakan cabang dari partai Siauw-lim yang amat terkenal.

Ada duapuluh orang lebih hwesio tinggal di situ, rata-rata lulusan tingkat pertengahan, jadi rata-rata memiliki kepandaian silat yang lumayan.

Yang mengepalai mereka adalah Souw Lo Hosiang, murid pertengahan dari Bhok Lo Cinjin ketua Siauw-lim-pai.

Memang semenjak terjadinya pertentangan antara pembela-pembela penjajah Mongol dan orang-orang kang-ouw yang memusuhi para penghianat bangsa, kelenteng ini menjadi sarang atau tempat persembunyian orang-orang gagah.

Pak-thian Koai-jin dan tiga orang kawannya tadi memasuki kelenteng melalui jalan tambang yang sengaja dipasang dari seberang jurang, disembunyikan di dalam semak-semak.

Tambang ini cukup besar dan kuat, dipasang dari akar pohon di semak-semak itu sampai ke sebuah jendela bulan di samping kelenteng.

Dengan ilmu meringankan tubuh, empat orang itu melalui jalan tambang yang amat berbahaya dan mengerikan bagi mereka yang tidak berkepandaian, lalu mereka melompat ke dalam jendela bulan, yaitu jendela yang bentuknya bundar.

Wi Liong yang mengikuti mereka segera dapat menemukan jalan ini dan mempergunakan kesempatan selagi empat orang itu melompat ke dalam jendela, secepat burung terbang pemuda ini lari melalui jalan aneh itu.

Tanpa ragu-ragu karena tidak bermaksud buruk, iapun melompat ke dalam jendela dan......

tubuhnya terus "nyeplos"

Ke bawah karena di balik jendela itu ternyata tidak ada lantainya!

Atau lebih tepat lagi.

tadinya memang ada lantainya, hanya saja sekarang lantai digeser dengan alat yang sudah disiapkan dan menjadi lubang jembatan yang amat lihai.

Memang Siauw-lim-pai terkenal dalam hal memasang jebakan-jebakan rahasia.

Kalau Wi Liong tidak memiliki kepandaian tinggi, tentu ia akan jatuh tunggang-langgang dan mungkin kepalanya akan pecah menimpa lantai batu di bawah, di dalam "sumur"

Yang dalamnya tidak kurang dari lima tombak itu!

Ia cepat mengatur keseimbangan tubuhnya dan dapat meluncur ke bawah dengan kaki lebih dulu dan tiba di dasar sumur itu tanpa menderita luka.

Ketika ia melihat ke depan, ternyata ia berada dalam sebuah kerangkeng besi dan di luar kerangkeng itu ia melihat empat orang yang tadi ia ikuti.

Pertama-tama pandang mata Wi Liong bertumbuk dengan sinar mata yang amat tajam, sinar sepasang mata yang membuat jantung dalam dadanya tidak karuan lagi kerjanya, gedebak-gedebur tak menentu.

Itulah sepasang mata nona yang tinggi langsing, yang rambutnya diikat ke atas.

nona yang matanya tajam hidungnya mancung bibirnya kecil!

Cepat-cepat Wi Liong mengalihkan pandang matanya dan merasa jengah, merasa pipinya menjadi panas-panas.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa kedua pipinya memang berubah merah sekali seperti orang kalau merasa malu.

Kakek muka merah yang kemarin pernah bertemu dengan dia di warung, yang melempar senyum kepadanya, melangkah maju sambil tertawa.

"Sudah kuduga kau kemarin memang bersikap mencurigakan, terlalu halus! Orang muda. melihat muka dan sinar matamu kau bukan dari golongan sana. Mengapa kau mengikuti kami dan kau siapakah?"

Wi Liong memang merasa malu.

Tidak hanya malu yang tak diketahui sebabnya kalau ia memandang atau lebih tepat bertemu pandang dengan nona tinggi langsing itu.

akan tetapi juga malu karena ia sampai terjebak, dan malu pula karena keadaannya memang mencurigakan sekali, memasuki tempat orang tanpa minta, ijin!

"Aku.........

aku hanya mau memberi tahu bahwa ada orang-orang dari gedung keluarga Liu itu mengejar kalian."

Katanya sederhana.

"Ha-ha-ha. jangan mencoba menimpakan dosa ke pundak orang lain, orang muda."

Kata Pak-thian Koai-jin.

"Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li tidak mengejar kami dan andaikata ada, tentu tidak bisa sampai di sini. Hayo kau mengaku kau ini siapa dan apa maksudmu masuk ke sini? Jangan banyak bicara bohong."

Biarpun ia berlagak galak, namun orang seperti Pak-thian Koai-jin mana bisa galak?

Mukanya saja sudah amat lucu dengan matanya yang lebar dan bersinar lembut, biarpun ada cahaya kenakalan terpancar dari manik matanya.

"Mana berani aku yang bodoh membohong di depan locianpwe seperti Pak-thian Koai-jin?"

Kata Wi Liong.

"Lho.........?! Kau kok sudah mengenalku? Di mana kita pernah bertemu?"

"Andaikata tidak mengenal muka lccianpwe yang mulia, sedikitnya aku mengenal tongkat dan mangkok itu, sepasang senjata locianpwe sudah terlalu banyak dikenal orang sehingga pamanku Kwee Sun Tek sendiripun mengenalnya. Pamanku itu yang memperkenalkan keadaan dan gambaran tentang locianpwe kepadaku."

Nama Kwee Sun Tek mana dikenal oleh orang-orang seperti Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong?

Akan tetapi tiba-tiba nona cantik bertubuh langsing itu melangkah maju dan menodongkan pedangnya di depan ulu hati Wi Liong.

"Jangan banyak mengobrol bohong! Lekas kau menjawab pertanyaan susiok See-thian Hoat-ong tadi, siapa namamu dan apa maksudmu datang ke sini?"

Bentaknya dan matanya memandang tajam.

Wi Liong mengangkat muka dan kembali kedua pipinya panas ketika ia bertemu pandang dengan gadis itu.

Dalam marahnya gadis itu kelihatan makin cantik menarik pikirnya dan ia sama sekali tidak gentar melihat ujung pedang menerobos masuk melalui jeruji besi dan menyentuh baju di dadanya.

Malah Wi Liong tersenyum dan saking terpesona oleh wajah jelita itu, sukar baginya menjawab.

"Hayo jawab! Apakah kau gagu?"

Gadis itu membentak lagi.

"Nona, selama hidup aku tidak pernah dan tidak akan membohong. Namaku Thio Wi Liong dan aku datang untuk memberi tahu bahwa di luar ada musuh. Malah sekarang agaknya sudah mau memasuki kelenteng ini."

Pedang itu ditarik mundur dan nona itu nampak kaget, sungguhpun mukanya berobah merah sekali, entah marah entah mengapa.

"Susiok. jangan-jangan betul ada musuh datang!"

Katanya menoleh kepada See-thian Hoat-ong. Jawabannya segera datang dengan munculnya dua orang hwesio bertubuh tegap dari pintu.

"Cuwi-enghiong"

Di luar ada seorang muda mencurigakan menyelidiki tempat ini! Seorang di antara mereka melapor.

"Gerakannya gesit luar biasa dan agaknya ia berilmu tinggi."

"Kalau begitu kau tidak membohong"

Kata Pak-thian Koai-jin sambil membuka kaitan yang menutup pintu kerangkeng, Beramai mereka lalu naik ke kamar atas di mana ada jendela bulan tadi melalui sebuah anak tangga kecil.

Thio Wi Liong ikut berlari-lari dan begitu sampai di kamar yang kini lantainya sudah pulih kembali, ia segera mendekati jendela dan menuding keluar.

"Lihat, dia itulah yang tadi mengikuti kalian sampai di seberang sana!"

Katanya dan otomatis tangan kirinya mencabut suling di pinggangnya.

Semua orang memandang.

Betul saja, seorang pemuda tampan sedang berjalan di atas jembatan tambang dengan enaknya seperti orang bermain-main.

Mulut pemuda itu tersenyum manis dan matanya berseri-seri ketika ia memandang ke arah jendela dan melihat dua orang nona manis itu berada di balik jendela.

Inilah Kam Kun Hong, murid Thai Khek Sian yang lihai dan berani.

"Kalau dia musuh biar kuputuskan tambang ini!"

Kata gadis manis murid Pak-thian Koai-jin gemas, pedangnya sudah digerakkan ke depan untuk memotong jembatan tambang.

"Eng Lan jangan! Biarkan dia masuk, mau tahu apa kehendaknya!"

Kata Pak-thian Koai-jin mencegah niat muridnya.

Tidak mau kakek tokoh kang-ouw ini membiarkan muridnya melakukan penyerangan curang kepada musuh, apa lagi kalau dipikir bahwa musuh itu hanya seorang pemuda remaja.

Belum dapat dipastikan lagi apakah yang datang ini musuh, seperti halnya Thio Wi Liong yang ternyata juga bukan seoramg musuh.

Sementara itu.

Kun Hong yang melihat perbuatan gadis manis itu, dari atas tambang tersenyum lebar.

"Aduhai nasib........! Tega benar orang hendak membuat aku terjerumus ke dalam jurang begini dalamnya. Bagaimana kelak orang dapai menyembahyangi bongpai-ku (pusaraku)!"

Dengan sengaja ia membikin berat tubuhnya dan ia berjalan di atas tambang dengan tubuh goyang-goyang tidak tegak. Melihat sikap jenaka pemuda yang baru datang, Pak-thian Koai-jin timbul gembiranya.

"Ha-ha-ha orang muda, awas jangan kau sampai jatuh. Di sini tidak ada cadangan nyawa untukmu!"

Kun Hong tertawa dan sementara itu ia sudah sampai di pinggir jendela bulan, lalu melompat masuk, sengaja membuat gerakannya kaku dan berat.

Gadis manis murid Pak-thian Koai-jin yang bernama Pui Eng Lan yang tadi herdak memutus tambang, sekarang menjadi merah pipinya ketika melihat betapa sepasang mata pemuda yang baru datang itu menatapnya penuh arti.

Setelah dekat baru ternyata betapa gantengnya pemuda yang baru datang ini.

ganteng dan aneh sekali, hampir sama dengan pemuda Thio Wi Liong yang datang lebih dulu.

Sementara itu Wi Liong sudah mengundurkan diri di sudut dan diam-diam memperhatikan keadaan sambil kadang-kadang melirik ke arah gadis langsing yang amat menarik hatinya.

Begitu memasuki ruangan itu, Kun Hong menatap wajah dua orang gadis itu ganti-berganti dengan sinar mata berseri gembira.

Memang hebat dua orang gadis itu, cantik jelita dan kecantikan yang aseli, jauh lebih menarik dari pada Cheng ln dan Ang Hwa atau selir-selir lain dari Thai Khek Sian gurunya yang memiliki kecantikan sudah agak meluntur atau dibantu oleh alat-alat kecantikan.

Akan tetapi dua orang gadis ini memang cantik manis bawaan lahir, yang seorang tinggi langsing berkulit kuning langsat dengan sikap gagah, yang ke dua agak pendek berkulit sedikit gelap, manis sekali.

Kecantikan yang berbeda sifatnya, namun masing-masing memiliki daya penarik yang sama besarnya seperti orang melihat kembang teratai dan kembang seruni, amat berbeda bentuk dan warna, namun sama cantik menariknya sehingga sukar untuk menentukan mana yang lebih menarik tergantung dari selera yang melihat!

Akan tetapi sifat lincah jenaka yang memancar keluar dari mata Pui Eng Lan lebih cocok dengan wataknya.

Gadis manis lincah galak berkepandaian tinggi, inilah idam-idaman hatinya.

"Hemm. inilah calon kawan hidupku........."

Kun Hong diam-diam mengambil keputusan dalam hatinya. Akan tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk makin lama memandangi gadis-gadis itu karena Pak-thian Koai-jin sudah menyambutnya dengan pertanyaan.

"Orang muda. kau seperti anak lembu berjantung harimau. Berani betul kau mengikuti kami dan datang ke sini. Kau mau apa?"

Kun Hong tersenyum, sama sekali tidak kelihatan takut.

"Orang tua. kau keliru, bukan seperti anak lembu berjantung harimau sebaliknya anak harimau berjantung lembu. Lebih baik di luar kelihatan gagah biarpun jantungnya lemah dari pada jantungnya kuat tapi kelihatan seperti anak lembu!"

Tentu saja ucapan ini mbocengli (tanpa aturan) karena sebagian orang tentu lebih suka disebut berjantung harimau dari pada berjantung lembu.

Akan tetapi Kun Hong pernah menjadi murid Bu-ceng Tok-ong Si Raja Racun Tanpa Aturan, tentu saja ia lain dari pada orang lain.

"Ha-ha-ha, orang muda gemblung (idiot), kenapa kau bilang begitu? Apa sebabnya kau bilang lebih baik luarnya kelihatan gagah dari pada dalamnya yang gagah?"

"Karena yang berada di luar itu yang kelihatan, orangj tua. Tentu aku lebih suka kelihatan seperti anak harimau, gagah dan ganteng dari pada menjadi anak lembu. Tentang jantung, siapa sih yang dapat mengetahui bagaimana isi perut orang?"

Kun Hong tertawa-tawa dan Pak-thian Koai-jin yang terkenal sebagai seorang kakek nakal dan jenaka, juga ikut tertawa terbahak-bahak.

Akan tetapi See-thian Hoat-ong menjadi hilang kesabarannya.

Berbeda dengan Pak-thian Koai-jin, jago tua dari barat ini dahulunya adalah seorang raja muda di Sin-kiang.

seorang bangsawan dan ahli perang yang jujur dan tidak suka akan segala perkataan yang plintat-plintut.

Melihat sikap Kun Hong yang dianggap pemuda mata-mata musuh itu demikian riang dan seperti orang main-main, ia membentak sambil mengancam dengan kepalan tangannya yang besar dan kuat.

"Jangan kurang ajar, hayo mengaku siapa kau dan mau apa berkeliaran sampai ke sini!"

Kun Hong masih bersikap tenang, ia memandang rendah kepada kakek itu, memandang rendah kepada semua orang yang berada di situ karena yakin akan kelihaian sendiri.

"Aku bernama Kam Kun Hong, datang ke sini karena ingin berkenalan dengan dua orang nona ini dan ingin jalan-jalan........."

Kata-kata ini membikin marah semua orang, kecuali gadis langsing dan Wi Liong yang menjadi terkejut sekali.

"Kun Hong...... aku telah bertemu dengan ayahmu.....!"

Kata Wi Liong dan untuk sedetik Kun Hong melempar pandang kepadanya, kaget. Akan tetapi gadis tinggi langsing itu sudah menerjang maju dengan pedangnya sambil membentak.

"Jadi kau ini jahanam muda yang membuntungi kedua kaki Ciok Kim Li!"

Serangan pedang itu hebat sekali dan hanya kelihatan sinarnya menyambar ke dada Kun Hong.

Akan tetapi, dengan gerakan enak saja Kun Hong miringkan tubuh dan......

di lain saat dua jari tangannya telah berhasil menjepit punggung pedang itu!

"Aku adalah sahabat baik Ciok Kim Li.

kenapa kau marah-marah?"

Tanya Kun Hong tanpa melepaskan pedang yang dijepitnya dengan jari tangan.

"Susiok. dia ini kawan Tok-sim Sian-li."

Kata gadis itu yang menjadi penasaran karena tidak mampu mencabut kembali pedangnya juga ia amat terkejut karena tidak menyangka bahwa pemuda itu demikian lihainya.

Siapakah gadis ini?

Dia bukan orang sembarangan karena inilah Kwa Siok Lan, puteri tunggal dari Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek.

Dia inilah tunangan dari Thio Wi Liong yang sekarang berada di situ tanpa mengetahui bahwa dia berhadapan dengan calon isterinya yang belum pernah dijumpainya itu.

Juga ia mana bisa menyangka bahwa hatinya tergila-gila kepada gadis yang sesungguhnya tunangannya sendiri?

Di bagian depan sudah diceritakan tentang pertemuan antara Kun Hong dengan Kwa Cun Ek ketika Kwa Cun Ek menolong Kim Li dari tangan Tok-sim Sian-li.

Itulah sebabnya mengapa Siok Lan kaget mendengar nama Kam Kun Hong yang selalu disebut-sebut oleh Kim Li setelah tadi ia terkejut juga mendengar nama Thio Wi Liong, tunangannya!

Sungguh ia tidak menyangka sama sekali bahwa di Kelenteng Siauw-lim itu, ia akan bertemu dengan dua orang yang selama ini hanya didengar namanya saja dan begitu bertemu ia menjadi tertegun, juga girang.

Ternyata tunangannya adalah seorang pemuda yang tampan sekali dan bukti bahwa pemuda itu bisa memasuki kelenteng menandakan bahwa dia memiliki kepandaian yang tidak mengecewakan!

Dan sekarang ia berhadapan dengan Kam Kun Hong.

pemuda yang membuat Kim Li tergila-gila, yang selalu dipuji-puji gadis buntung itu, ternyata pemuda ini memiliki kepandaian yang luar biasa sekali.

Sekali lagi Siok Lan mengerahkan tenaga membetot pedangnya dan kali ini Kun Hong sengaja melepas dengan tiba-tiba sampai Siok Lan terhuyung ke belakang.

Akan tetapi tiba-tiba gadis ini berdiri tegak kembali dan merasa ada tenaga aneh menahan punggungnya menjaganya dari jatuh terjengkang.

Tak terasa lagi ia menoleh akan tetapi tidak ada siapa-siapa di belakangnya yang ada hanya Wi Liong yang berdiri di sudut, agak jauh.

Sementara itu, See-thian Hoat-ong ketika melihat keponakannya dipermainkan dan mendengar bahwa pemuda itu adalah kawan Tok-sim Sian-li, segera mencabut golok besarnya dan menerjang sambil membentak keras "Mata-mata anjing Mongol.

kau datang mengantarkan nyawa!"

Melihat datangnya golok besar demikian cepat dan kuat. merupakan bahaya maut yang mengerikan dan mengancam lehernya Kun Hong berseru.

"Ayaaa...... galak amat!' la mengerti akan kelihaian lawan ini maka cepat-cepat, ia mengelak sambil melompat ke kanan.

"Jangan memamerkan kepandaianmu di sini!"

Terdengar bentakan dan sebuah mangkok retak menyambar hendak menelangkup kepala Kun Hong.

Gerakan ini mendatangkan angin dan kembali Kun Hong kaget bukan main.

Tidak disangkanya bahwa dua orang kakek itu demikian lihainya, ia pikir tidak enak kalau melayani mereka ini di sarang lawan.

Biarpun ia tidak takut meghadapi mereka, akan tetapi kalau ia mengalami keroyokan di tempat musuh, benar-benar merupakan bahaya besar.

"Ha-ha-ha, kiranya orang-orang tua malah tidak tahu menghormat datangnya tamu."

Kata-katanya ini hanya untuk mengacaukan perhatian lawan, karena tiba-tiba ia menyelinap dan di lain saat ia telah berkelebat mendekati Pui Eng Lan murid perempuan yang cantik manis dari Pak-thian Koai-jin.

Eng Lan bukan seorang wanita lemah.

Melihat musuh mendekat ia mengirim pukulan dengan tangan kanan.

Akan tetapi sambil tertawa Kun Hong menangkap lengan ini dan sekali jari tangannya menotok, tubuh Eng Lan telah menjadi lemas dan Kun Hong menyambar tubuh itu terus dibawa melompat ke atas.

Biarpun tokoh-tokoh kangouw besar seperti Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong, sama sekali tidak menyangka akan hal ini sampai mereka tertegun dan tidak lekas melakukan sesuatu untuk mencegah tamu muda itu membawa lari Eng Lan.

"Kun Hong, jangan kurang ajar!"

Bentakan lirih ini terdengar dari mulut Wi Liong, disusul suara tertahan dari Kun Hong dan.........

tubuh Eng Lan yang tadinya sudah dibawa melompat ke atas itu terlepas dari pondongannya, jatuh ke bawah dalam keadaan masih lemas.

Baiknya jatuhnya tepat di atas Wi Liong, maka pemuda ini segera menerima dengan kedua tangannya, dan tubuh gadis yang ringan itu jatuh ke dalam pelukan kedua lengannya.

Adapun Kun Hong yang pada saat itu sudah diserbu lagi oleh Siok Lan, Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong.

secepat kilat melompat ke arah jendela bulan lalu terus melompat ke atas jembatan tambang sambil memutar sebatang pedang yang tahu-tahu telah ia cabut keluar dari balik bajunya.

Matanya untuk sejenak menatap ke arah Wi Liong penuh pertanyaan keheranan dan penasaran, akan tetapi mulutnya tidak berkata apa-apa karena ia tidak sempat lagi.

didesak terus oleh tiga orang lawannya yang lihai.

Siok Lan yang melihat pemuda itu mulai berlari melalui jembatan tambang, cepat mengayun pedang membacok tambang itu.

"Ahh, jangan.......!"

Kata Pak-thian Koai-jin hendak mencegah, akan tetapi terlambat. Tambang itu sudah putus oleh sabetan pedang di tangan Kwa Siok Lan. sedangkan See-thian Hoat-ong berkata.

"Biar saja. Koai-jin, anjing Bangsa Mongol sudah sepatutnya mampus di dalam jurang!"

Akan tetapi segera ketiga orang ini terbelalak memandang ke bawah dengan kagum.

Biarpun tambang itu sudah putus dan tubuh Kun Hong terjerumus ke bawah, namun dalam saat terakhir pemuda ini masih sempat menyambar tambang itu, menggunakan kakinya menjejak pinggiran jurang dan.........

dengan enaknya ia merayap melalui tambang itu terus ke atas.

selamat sampai di seberang jurang!

Dari jauh kelihatan pemuda ini tertawa-tawa, lalu mengacung-acungkan pedangnya sambil memperdengarkan suara yang disuarakan dengan pengerahan khikang istimewa.

"Kalau hendak mengadu tenaga, tunggu tiga hari lagi!"

Kemudian bayangan pemuda itu lenyap. Pak-thian Koai-jin menarik napas panjang.

"Hebat.........!"

Katanya perlahan.

"Pemuda itu benar-benar mengagumkan sekali kepandaiannya. Ginkangnya dan khikangnya sedemikian sempurna, entah sampai di mana kelihaian ilmu silatnya.........!"

Memang kakek ini amat suka melihat orang pandai apa lagi yang dipujinya itu seorang pemuda yang ganteng, lincah dan juga sifatnya agak nakal seperti dia sendiri, sungguhpun kenakalannya bukan berarti jahat.

Selagi tiga orang itu masih tertegun memandang keluar jendela, tiba-tiba terdengar suara Pui Eng Lan menjerit lirih.

"Lepaskan aku........ tak tahu malu kau.........!"

Siok Lan secepat kilat memutar tubuh memandang, juga dua orang kakek itu menoleh.

Pak-thian Koai-jin tertawa terkekeh-kekeh melihat Wi Liong masih berdiri memondong tubuh Eng Lan.

Pemuda ini seperti kena tenung (sihir), berdiri bengong memandang keluar jendela.

Memang Wi Liong tadi terkejut, heran, dan juga marah melihat sepak-terjang Kun Hong.

Terkejut karena melihat kepandaian Kun Hong demikian tinggi, heran melihat bahwa tadi Kun Hong mempergunakan gerakan yang mirip sekali dengan ilmu lompat yang ia pelajari dari gurunya kemudian ia marah melihat pedang yang berada di tangan Kun Hong.

Itulah Cheng-hoa-kiam tak salah lagi!

Jadi Kun Hong pula yang mencuri pedang dan berani naik ke Wuyi-san?

Benar-benar kurang ajar sekali!

Saking terlampau dikuasai perasaan ini ia sampai lupa kalau sejak tadi ia memondong tubuh seorang gadis cantik yang ia sambar tubuhnya agar jangan terbanting ke atas lantai!

Eng Lan tadi terkena totokan Kun Hong yang dilakukan dengan istimewa, membuat ia lemas, ia telah mencoba untuk mengerahkan lweekangnya agar dapat terbebas dari totokan, namun percuma saja.

Celakanya, pemuda yang menerimanya dari kejatuhan tadi, tidak segera menurunkannya, malah terus memondongnya seperti seorang ayah memondong anaknya!

Saking jengkel dan malu Eng Lan lalu menjerit minta dilepaskan dan memaki Wi Liong tak tahu malu.

Wi Liong memang tadi tidak sengaja memondong tubuh Eng Lan terlalu lama.

Sekarang ia kaget dan malu sekali, ketika ia melihat gadis langsing itu menoleh dan memandang kepadanya dengan mata mengandung cemooh dan bibirnya agak terbuka mengejek, ia menjadi makin malu sampai meningkat menjadi bingung.

Dalam kebingungannya, ia tidak menurunkan tubuh Eng Lan.

malah di bawa berjalan menghampiri gadis langsing itu dan menyodorkan tubuh Eng Lan seperti orang memberikan sebuah barang kepada pemiliknya!

"Turunkan dia di sini."

Kata Pak-thian Koai-jin sambil tertawa nakal.

"Apa kau menggendongnya selama hidup? Ha-ha-ha!"

Wi Liong menjadi makin merah mukanya dan cepat-cepat ia menghampiri Pak-thian Koai-jin dan menurunkan tubuh Eng Lan di atas lantai.

Jago tua dari utara yang bertubuh pendek kecil berpakaian pengemis ini sambil tertawa ha-ha-he-he menotokkan tongkatnya dan seketika itu juga Eng Lan sudah dapat bergerak.

Begitu ia bangkit ia melompat dan tangan kanannya menyambar.

"Plak!"

Pipi kiri Wi Liong menjadi makin merah karena ditampar oleh Eng Lan.

"Lho. mengapa nona menamparku? Apa salahku??"

Tanya Wi Liong terheran.

"Mengapa......mengapa kau pondong aku?"

Eng Lan membentak dengan muka merah dan mata basah air mata. Gadis ini merasa malu dan jengah, membuat ia menjadi marah kepada pemuda tampan ini.

"Ha-ha-ha, Eng Lan anak bodoh! Tentu saja ia suka memondongmu. Pemuda mana yang tidak akan suka memondongmu? Ha-ha-ha, orang muda. Kau tadi bilang namamu Thio Wi Liong dan; pamanmu Kwee Sun Tek? Apakah orang gagah yang buta dan yang dulu pernah membawamu ke puncak Kun-lun-san?"

"Betul, locianpwe. Dan barangkali locianpwe tidak tahu bahwa pemuda tadi kukenal baik, dia itulah Kam Kun Hong, putera Seng-goat-pian Kam Ceng Swi di Kun-lun-san, bocah yang dulu bersama aku diculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li."

Pak-thian Koai-jin menepuk jidatnya.

"Aduhh...... diakah itu? Dulu aku pernah suka melihatnya dan ingin mengambilnya sebagai murid."

Matanya bersinar-sinar ketika dia memandang kepada Wi Liong.

"Wi Liong, kau anak baik. Dia ini muridku, namanya Pui Eng Lan, yatim-piatu dan aku walinya. Karena kau tadi telah memondongnya, dan aku suka melihatmu, aku akan merasa girang sekali kalau muridku ini dapat berjodoh denganmu. Hoat-ong, bagaimana pendapatmu dengan usulku ini?"

Memang orang-orang kang-ouw seperti Pak-thian Koai-jin ini aneh.

Namanya saja sudah Pak-thian Koai-jin (Orang Aneh dari Kutub Utara) orangnya nakal, suka menggoda orang dan kalau bicara seenaknya sendiri saja.

Masa begitu berjumpa hendak memunguit mantu?

Dapat dibayangkan betapa bingungnya Wi Liong mendengar ucapan itu.

Lebih-lebih lagi Eng Lan.

Kasihan gadis ini yang menjadi amat kikuk dan jengah.

Mukanya sebentar pucat sebentar merah, membuat dia nampak jelita bukan main.

Kalau tadi ia bersikap galak, ia sekarang mati kutunya.

memutar tubuh dan berdiri membelakangi mereka semua sambil menundukkan dan menutupi muka dengan kedua tangan.

Tak seorangpun di antara mereka tahu betapa hebat kegoncangan hati Kwa Siok Lan di saat itu.

Tanpa diketahui oleh siapapun juga, ia menjadi saksi betapa tunangannya, calon suaminya, di depannya telah dilamar orang lain!

Akan tetapi gadis ini dapat mengeraskan hatinya dan diam-diam ia malah ingin sekali mendengar bagaimana jawaban Thio Wi Liong, tunangannya yang baru kali ini ia lihat.

Sementara itu.

See-thian Hoat-ong mengangguk-anggukan kepalanya.

"Memang cocok sekali. Pemuda ini baik, kepandaiannyapun lumayan setelah ia dapat memasuki tempat ini!"

Sambil berkata demikian.

See-thian Hoat-ong menanggalkan bajunya dan kini terlihatlah pakaian perangnya yang tadi sengaja ia tutup dengan pakaian biasa agar jangan menimbulkan kecurigaan di dalam kota.

Inilah pakaian perangnya sebagai Raja Muda Sin-kang yang selalu dipakainya untuk mencerminkan bahwa biarpun negaranya sudah dikalahkan oleh bala tentara Mongol.

di dalam hatinya ia tetap saja memaklumkan perang.

"Kau dengar, pilihanku memang tidak keliru!"

Kata Pak-thian Koai-jin sambil terkekeh-kekeh girang dan menepuk-nepuk pundak Wi Liong.

"Pilihanmupun tidak keliru kalau kau mendapatkan seorang jodoh seperti muridku Pui Eng Lan ini. orang muda,. Kau belum tahu betapa besar semangatnya, betapa berani hatinya. Dia menyeret-nyeretku unituk mendatangi gedung keluarga Liu di kota raja dan berhasil menewaskan bandot tua she Liu itu yang telah membunuh encinya (kakak perempuannya) sekeluarga. Untung aku bertemu dengan Hoat-ong dan keponakannya yang begitu baik hati suka membantu, kalau tidak belum tentu kami dapat berhasil. Apa lagi setelah ternyata gedung keluarga Liu dijaga oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li. Hemmm, berbahaya sekali!"

Wi Liong hampir tidak mendengarkan kata-kata yang melantur-lantur dari kakek itu.

Dia sudah terpukul dan bingung ketika mendengar hendak ditarik mantu!

Tak dapat disangkalnya lagi, Eng Lan seorang gadis yang tiada cacad celanya, wajah cantik manis sekali, bentuk tubuh indah menarik, berwatak gagah dan berkepandaian lihai lagi.

Mau apa lagi?

Biarpun dalam pandangannya Eng Lan tidak semenarik gadis tinggi langsing keponakan See-thian Hoat-ong itu.

namun tak boleh disangkal lagi bahwa sukarlah mencari seorang seperti Eng Lan di antara seratus orang gadis!

Dia hendak dijodohkan begitu saja dengan seorang gadis cantik menarik seperti Eng Lan dan di situ masih ada seorang gadis langsing yang benar-benar membuatnya tertarik, akan tetapi dia sudah ditunangkan oleh pamannya dengan seorang gadis lain.

seorang gadis she Kwa yang tinggal di Poan-kun, yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya, entah buruk entah cacad yang karena belum dilihatnya tak mungkin ia dapat menentukan apakah ia menyukainya ataukah tidak!

"Bagaimana, Wi Liong?

Nyatakan kesanggupanmu menerima perjodohan ini!"

Tiba-tiba Pak-thian Koai-jin mendesak sambil terkekeh-kekeh lagi.

kegirangan melihat wajah Wi Liong dan wajah Eng Lan kemerahan dan kedua orang muda itu malu dan jengah bukan main.

Memang kakek ini tukang menggoda orang.

"Maaf, locianpwe. Bukan sekali-kali aku menampik kebaikan hatimu, bahkan aku amat berterima kasih bahwa ada orang menaruh perhatian dan kepercayaan kepadaku yang bodoh. Akan tetapi, sesungguhnya tentang perjodohan......... terpaksa tak dapat aku menerimanya.........!"

"Ehhh.........? Apa Eng Lan kurang cantik?"

Benar-benar keterlaluan Pak-thian Koai-jin menggoda orang, sampai-sampai muridnya tidak kuat mendengarkan terus dan larilah Eng Lan ke dalam sambil menutupi mukanya.

"Sekali-kali bukan begitu, locianpwe. Nona Pui sudah terlampau baik bagi seorang seperti aku, malah aku tidak berharga baginya. Akan tetapi....... aku......... aku sudah mempunyai seorang calon jodoh yang sudah ditentukan oleh paman Kwee........."

Untuk sejenak Pak-thian Koai-jin kelihatan tertegun, akan tetapi wajahnya berseri kembali dan senyumnya muncul lagi pada mukanya yang lucu.

"Aha, muda-muda sudah mempunyai calon isteri? Benar-benar tergesa-gesa! Tentu cantik dia, secantik Eng Lankah? Kau tentu suka sekali padanya, he? Kapan menikahnya? Jangan lupa undang aku orang tua, jangan terlalu pelit dengan arakmu."

Merah sekali wajah Wi Liong, bukan hanya karena malu, juga karena mendongkol.

"Locianpwe, siapa sih yang memikirkan pernikahan? Aku ditunangkan di luar kehendakku. Kalau saja aku tidak mau menyakitkan hati paman, kalau saja bukan karena aku hendak berbakti kepada paman, tentu perjodohan itu kutolak tentu ikatannya kuputuskan dan pertunangannya kubatalkan."

Wi Liong mengeluarkan kata-kata ini dengan sungguh-sungguh sambil mengerling kearah gadis tinggi langsing itu.

Memang di dalam hatinya pemuda ini sudah merasa kurang setuju terhadap keputusan pamannya yang menjodohkannya dengan seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya.

Apa lagi setelah sekarang, bertemu dengan gadis langsing itu, makin kecewa hatinya bahwa ia telah bertunangan dengan gadis lain!

Dapat dibayangkan betapa hebat pengaruh kata-kata ini terhadap Siok Lan sendiri.

Gadis ini menjadi pucat, menggigit bibirnya dan segera meninggalkan tempat itu menyusul Eng Lan.

Juga gadis ini menahan air matanya, dan perasaannya ketika meninggalkan tempat itu tidak berbeda dengan perasaan hati Eng Lan, yaitu perasaan hati seorang gadis yang merasa ditolak oleh seorang pemuda!

Pada saat itu terdengar suara pekik memanjang dari seberang jurang dan Souw Lo Hosiang, ketua kelenteng itu muncul dari pintu, menjura kepada dua orang kakek itu sambil berkata.

"Pinceng melihat dua orang di seberang jurang, seorang wanita dan seorang kakek yang buntung tangan kirinya. Harap ji-wi sicu memberi petunjuk."

Hwesio ini adalah murid Bhok Lo Cinjin, maka ia berlaku amat hormat kepada dua orang kakek yang menjadi sahabat baik gurunya itu, yang ia ketahui memiliki kepandaian tinggi.

Seperti hampir semua anggauta Siauw-lim-pai, juga Souw Lo Hosiang ini berjiwa patriot dan selalu menentang penjajah Mongol.

Oleh karena itu dia rela menggunakan kelentengnya sebagai tempat pertemuan dan tempat persembunyian orang-orang gagah, malah dia menyediakan tenaga untuk membantu bersama murid-muridnya.

Mendengar laporan yang disampaikan sendiri oleh ketua kelenteng, Pak-thian Koai-jin tertawa bergelak dan See-thian Hoat-ong juga tersenyum girang.

"Tua bangka buntung itu tentu Lam-san Sian-ong!"

Kata Pak-thian Koai-jin sambil bertepuk tangan.

Beramai mereka lalu menuju ke jendela bulan untuk memandang keluar.

Kelihatanlah dua orang tamu itu.

tidak begitu jelas karena memang jurang itu lebar sekali, akan tetapi mudah mengenal kakek gemuk pendek yang buntung tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu yang butut.

Di sebelahnya berdiri seorang wanita, dari jauh kelihatan cantik.

"Wanita baju biru apakah bukan Tung-hai Sian-li?"

Kata See-thian Hoat-ong sambil mengerutkan kening. See-thian Hoat-ong adalah adik seperguruan dan Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, jadi paman (Lanjut ke

Jilid 12) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 guru dari Kwa Siok Lan.

Dia mengawani Siok Lan ke Peking untuk membantu pergerakan para orang gagah karena Kwa Cun Ek sendiri berhalangan pergi dan sedang menderita sakit.

Memang semenjak ditinggal pergi oleh isterinya yaitu Tung-hai Sian-li, sering kali Kwa Cun Ek termenung penuh kedukaan dan sering kali menderita sakit di dada.

Sekarang muncul Tung-hai Sian-li sedangkan Kwa Siok Lan berada di situ.

Ibu dan anak yang tak pernah bertemu muka semenjak Siok Lan berusia satu tahun dan ditinggalkan, sekarang akan bertemu!

See-thian Hoat-ong mengkhawatirkan kalau akan terjadi sesuatu yang tak diingini antara ibu dan anaknya ini.

"Hei, setan-setan gundul yang di kelenteng, mana jembatan tambang kalian?"

Teriak Lam-san Sian-ong dengan suaranya yang nyaring dan tongkat di tangan kanannya diacung-acungkan.

"Kakek buntung, kenapa kau tidak terbang saja ke sini?"

Pak-thian Koai-jin berseru menggoda.

"Pengemis kelaparan, sayapku belum tumbuh, mana bisa terbang?"

Selagi dua orang kakek aneh yang sama pendek sama gemuknya itu berkelakar mempergunakan tenaga khikang untuk "mengirim'"

Suara mereka satu kepada yang lain.

Souw Lo Hosiang memberi perintah kepada murid-muridnya untuk mengambil tambang dan panahnya.

Empat orang murid menggotong gulungan tambang yang panjang dan kuat, seorang murid lain membawa sebuah gendewa besar dan berat.

Souw Lo Hosiang adalah murid Bhok Lo Cin-jin yang amat pandai menggunakan anak panah, dan dia pula yang menciptakan jembatan tambang yang hanya dapat dipasang olehnya secara istimewa, yaitu menggunakan anak panahnya.

Dengan tenang tapi cepat ia memasangkan sebatang anak panah yang berat dan kuat terbuat dari pada baja tulen pada gendewanya setelah ekor anak panah itu diikat oleh ujung tambang.

Ia berdiri di belakang jendela bulan, memasang kuda-kuda yang teguh seperti biasa anak murid Siauw-lim-pai memasang kuda-kuda.

mementang gendewa sampai hampir melengkung bundar, lalu mulutnya berseru.

"Haaaiiiihhh!"

Terdengar suara menciut dan anak panah itu meluncur seperti burung terbang ke seberang jurang, membawa tambang yang melayang di belakangnya seperti ular yang panjang sekali.

Betul indah kelihatannya anak panah yang di belakangnya diikuti tambang itu dan anak panah itu akhirnya dengan tepat sekali menancap pada batang pohon besar yang tumbuh di seberang jurang.

Kalau tidak memiliki tenaga lweekang yang matang dan kepandaian ilmu memanah yang mahir, tak mungkin dapat melakukan apa yang telah diperlihatkan oleh Souw Lo Hosiang tadi.

"Bagus!"

Pak-thian Koai-jin memuji.

Sementara itu.

Lam-san Sian-ong dan kawannya yang berada di seberang segera mengikatkan ujung tambang itu erat-erat dan kuat-kuat kepada batang pohon besar.

Tambang lalu ditarik oleh Souw Lo Hosiang sampai menegang kemudian ujungnya yang sebelah sini diikatkan pada tiang yang berada di luar ruangan, maka siaplah jembatan tambang itu.

Lam-san Sian-ong bersama kawannya lalu melompat ke atas tambang dan berlari-lari dengan enaknya seperti akrobat-akrobat tambang yang mahir.

Hal ini tidak mengherankan kalau orang mengenal siapa Lam-san Sian-ong dan kawannya itu yang setelah dekat ternyata benar Tung-hai Sian-li adanya.

Lam-san Sian-ong, kakek yang tangan kirinya buntung itu memiliki ilmu yang sudah terkenal di seluruh wilayah selatan, sedangkan Tung-hai Sian-li, siapakah di antara orang kang-ouw yang tidak pernah mendengar namanya?

Orangnya jujur dan galak akan tetapi pedang dan ilmu silatnya lebih galak lagi!

Sebagai tuan rumah.

Souw Lo Hosiang menyambut kedatangan dua orang tamu yang sudah dikenalnya baik siapa adanya itu dengan menjura dan berkata.

"Sungguh merupakan kehormatan besar bagi kelenteng yang buruk ini menerima kunjungan ji-wi yang terhormat. Selamat datang.........!' Tung-hai Sian-li balas menjura sebagaimana mestinya, wajahnya yang cantik dan masih nampak muda itu kelihatan sungguh-sungguh dan bibirnya memperlihatkan senyum sopan. Akan tetapi Lam-san Sian-ong hanya menggerak-gerakkan tangannya yang buntung tanpa membalas penghormatan orang, hanya berkata.

"Siauw-lim-pai benar-benar partai terbesar, di mana-mana terdapat muridnya yang pandai. Ilmu memanah tadi benar-benar tidak jelek. Kau ini seorang hwesio tak pernah makan daging bisa mempunyai tenaga sehebat itu, benar-benar mengagumkan sekali."

Souw Lo Hosiang hanya tersenyum menjura dan merendahkan diri.

Dia sudah kenal baik watak orang aneh ini.

Bukan Lam-san Sian-ong namanya kalau bicaranya genah!

Sudah menjadi watak Lam-san Sian-ong kalau bicara tidak karuan atau seenak perutnya sendiri saja.

Lam-san Sian-ong lalu menghadapi Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong sambil berkata.

"Kedatanganku bersama Tung-hai Sian-li ini untuk menyelamatkan nyawa kalian dari bahaya maut!"

"Lam-san Sian-ong, enak saja kau bicara!"

Suara See-thian Hoat-ong menggeledek.

"Apa kau kira kami ini memerlukan bantuanmu kalau hanya ingin menjaga keselamatan diri saja?"

"Hoat-ong. perduli apa obrolan kosong Lam-san Sian-ong si kakek buntung?"

Kata Pak-thian Koai-jin mengejek.

"Lebih baik kita bicara dengan Tung-hai Sian-li. Sebetulnya apakah yang terjadi dan berita apa yang kalian bawa?"

Tanya Pak-thian Koai-jin kepada wanita itu.

Sebelum menjawab, Tung-hai Sian-li melirik ke arah Thio Wi Liong yang sejak tadi masih berdiri di pojok dengan pandang mata penuh kekaguman dan kegembiraan dapat bertemu dengan orang-orang ternama di dunia kang-ouw.

"Aku mengenal kalian, juga mengenal Souw Lo Hosiang dan murid-muridnya. Akan itetapi di sini kulihat seorang pemuda asing, tak enak untuk bicara!"

Pak-thian Koai-jin tertawa dan memang kakek ini wataknya aneh sekali.

Melihat orang tersinggung ia malah suka.

melihat orang tergoda malah diketawai.

wataknya presis seorang bocah yang bengal sekali.

Mendengar ucapan Tung-hai Sian-li ia mengerti betapa tersinggung dan tak enak hati Wi Liong maka sengaja ia berkata.

"Kalau begitu mari kita bicara di luar ruangan ini!"

Cepat ia mengajak kawan-kawannya keluar dari ruangan dan sebentar saja Wi Liong ditinggal seorang diri!

Diam-diam pemuda ini mendongkol sekali dan merasa tidak suka kepada Tung-hai Sian-li, wanita yang dianggapnya amat galak dan penuh curiga.

Ia tersenyum mengejek karena orang-orang yang menganggap diri sebagai pentolan-pentolan kang-ouw itu terlalu memandang rendah kepadanya.

Mereka itu sama sekali tidak.tahu bahwa biarpun mereka mengadakan pembicaraan di luar ruangan itu dengan suara perlahan tetap saja pendengarannya yang tajam masih dapat menangkap pembicaraan itu dengan cukup jelas!

Akan tetapi hatinya sudah panas, mana ia sudi mendengarkan percakapan orang?

Malah ia sengaja menjauhkan diri berdiri di depan jendela bulan.

Hanya karena mendengar disebutnya nama Beng Kun Cinjin membuat Wi Liong terpaksa memasang telinga mendengarkan juga.

"Mereka mengira bahwa Beng Kun Cinjin bersembunyi di sini, maka mereka datang dengan pengerahan tenaga ratusan orang perajurit pilihan. Di antara mereka terdapat Bu-ceng Tok-ong. Tok-sim Sian-li. Hek-mo Sai-ong dan beberapa orang Panglima Mongol yang kosen. Sama sekali kita bukan lawan mereka dan melawan berarti membuang nyawa cuma-cuma. Untuk apa kita melayani mereka?"

Terdengar Tung-hai Sian-li berkata.

"Jalan ke sini tidak ada dan tanpa jembatan tambang tak mungkin mereka datang. Takut apa? Kalau mereka berani melalui jembatan tambang, kita tinggal merobohkan mereka seorang demi seorang."

Kata Pak-thian Koai-jin.

"Tidak bisa begitu."

See-thian Hoat-ong mencela. Dia seorang bekas raja muda, juga bekas panglima perang, tentu saja mengerti akan siasat perang.

"Barisan Mongol dipimpin oleh panglima-panglima yang pandai". Mereka takkan begitu goblok untuk mencoba menyerbu ke sini melalui jembatan tambang. Ada dua macam penyerangan mereka, pertama menghujani anak panah sampai kelenteng ini terbakar habis dan ke dua mengurung sekeliling jurang memutuskan jalan keluar sehingga kita akan menjadi kering dan kelaparan di tempat ini."

"Waduh, benar-benar bukan jalan mati yang enak."

Pak-thian Koai-jin berkelakar.

"mati terpanggang atau mati kelaparan. Lebih baik kita terbang pergi saja!"

"Itulah jalan terbaik", kata See-thian Hoat-ong.

"kita lari dari sini bukan karena takut musuh, hanya agar jangan mati konyol. Biarpun kita lari, masih ada bahaya terkepung di seberang sana akan tetapi lebih baik dikeroyok dan tewas dalam pertempuran dengan golok di tangan dari pada mati konyol di sini tanpa dapat membalas sedikit pun kepada musuh."

Pada saat itu dari dalam muncul Kwa Siok Lan dan Pui Eng Lan.

Mereka mendengar orang bercakap-cakap dan mendengar suara wanita, maka dengan heran mereka lalu keluar.

Anehnya, tidak hanya mata Eng Lan yang merah bekas menangis, malah mata Siok Lan juga kelihatan tanda-tanda bekas menangis!

Hal ini tidak mengherankan kalau diingat betapa mendongkol dan marahnya mendengar tunangan, calon suaminya, menyatakan tidak suka akan ikatan jodoh itu!

Pak-thian Koai-jin yang melihat Tung-hai Sian-li membalikkan tubuh dan memandang kepada dua orang gadis itu, segera tertawa dan memperkenalkan muridnya.

"Tung-hai Sian-li. jangan curiga. Yang hitam manis itu adalah muridku. Pui Eng Lan.......!"

Akan tetapi Tung-hai Sian-li seperti tidak mendengar ucapan ini dan matanya menatap wajah Siok Lan dengan tajam.

Sebaliknya, ketika Siok Lan mendengar Pak-thian Koai-jin menyebut wanita itu Tung-hai Sian-li.

seketika menjadi pucat wajahnya dan matanya terbelalak menatap wanita itu, bibirnya gemetar dan tubuhnya agak menggigil.

Ia melangkah maju tiga tindak, matanya seakan-akan membakar seluruh tubuh Tung-hai Sian-li, telunjuknya menuding dan bibirnya yang gemetar itu berkata perlahan.

"'Kau..... kau...... Tung-hai Sian-li......??"

Ia segera memutar tubuhnya dan menutupi muka dengan kedua tangan, menangis terisak-isak.

Jadi inikah ibunya?

Wanita cantik jelita dan gagah perkasa ini ibu kandungnya?

Keharuan membuat seluruh tubuhnya menggigil dan tentu ia akan menubruk, merangkul ibu kandungnya yang sering kali ia impi-impikan ini kalau saja tidak teringat olehnya betapa ibunya dengan keji telah meninggalkan ayahnya dan meninggalkan ia ketika ia berusia satu tahun!

Perbuatan ini ia anggap sebuah perbuatan yang paling kejam tiada taranya, perbuatan yang tidak boleh diampunkan!

Ia bangga melihat ibunya demikian cantik, gagah dan masih muda nampaknya, akan tetapi ia menjadi benci sebenci-bencinya kalau teringat akan perbuatan ibunya terhadap ayahnya, teringat betapa ayahnya menderita, betapa ayahnya sering kali jatuh sakit dan mengigau menyebut-nyebut nama ibunya.

Dengan dua langkah lebar Tung-hai Sian-li sudah berada di belakang Siok Lan.

Dia seorang wanita yang jujur dan galak.

Sekali tangannya bergerak ia sudah memegang pundak Siok Lan dan diputarnya tubuh gadis itu sehingga menghadapinya.

"Siapa kau? Apa maksud sikapmu yang aneh ini? Hayo kau bilang!"

Diguncang-guncang tubuh Siok Lan dengan tangannya yang amat kuat sehingga gadis itu terhuyung-huyung. See-thian Hoat-ong melangkah maju dan berkata dengan suaranya yang keren dan tegas.

"Tung-hai Sian-li dia inilah puteri suheng yang kau tinggalkan ketika ia masih berusia satu tahun!' Bagaikan disambar geledek. Tung-hai Sian-ii tersentak mundur, wajahnya pucat sekali.

"Kau....... kau........??"

Katanya perlahan dan di lain saat ia telah menubruk dan merangkul Siok Lan.

Untuk sesaat Siok Lan menyerah kepada perasaan hatinya membalas pelukan kasih sayang ibunya, akan tetapi segera ia merenggut diri terlepas dan berkata.

"Tidak....... tidak.......! Kau bukan ibuku....... kau wanita yang mencelakai hidup ayah....... pergi kau.......!"

Tung-hai Sian-li berdiri terpaku, tak bergerak dan tidak tahu harus berbuat apa, matanya masih basah air mata yang sudah belasan tahun tak pernah mengalir dari matanya, kedua tangan terkepal, hatinya tidak karuan rasanya.

Semua orang berdiri tertegun, juga terharu menghadapi pertemuan luar biasa ini.

Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring sekali.

"Kun Hong, kalau kau laki-laki, tunggu aku di seberang situ. Aku Thio Wi Liong, masih ingatkah kau? Mari kita ulangi pibu yang dahulu untuk melihat siapa yang lebih unggul!"

Dari seberang jurang terdengar jawaban nyaring.

"Aha, bagus sekali! Jadi kaukah itu? Kesinilah, aku sudah siap menghajarmu setengah mampus!"

Mendengar teriakan-teriakan ini semua orang lari ke ruangan itu dan melihat Wi Liong sudah melompat ke atas jembatan tambang.

Pemuda itu menoleh dan berkata kepada Pak-thian Koai-jin "Locianpwe harap bawa kawan-kawan menyeberang, biar aku yang menjaga di sana."

Semua orang mendongkol karena siapa percaya omongan pemuda itu?

Di seberang sana kelihatan Kun Hong.

Bu-ceng Tok-ong, Tok-sim Sian-li dan yang lain-lain, bahkan kelihatan barisan di lereng bukit, bagaimana pemuda itu bisa menjaga di sana?

Tentu untuk menyombong saja dan sebetulnya pemuda itu hendak melarikan diri.

"Celaka, jangan-jangan dia itu mata-mata musuh yang sengaja memancing kita!"

Tiba-tiba Pui Eng Lan berkata dan tangannya bergerak.

Sebatang piauw menyambar ke arah punggung Wi Liong.

Tak terasa lagi Siok Lan mengeluarkan teriakan kaget.

Teriakan ini disusul oleh seruan-seruan kaget dan kagum dari lain orang yang berada di situ ketika melihat betapa piauw yang tepat mengenai punggung Wi Liong itu runtuh ke bawah seperti mengenai tubuh terbuat dari karet saja.

Wi Liong seperti tidak merasa apa-apa dan berjalan terus.

Benar-benar mengherankan sekali.

Pemuda yang berjalan di atas tali itu saja menggunakan kedua lengan untuk menahan keseimbangan tubuh, yang kelihatan begitu lemah, bagaimana bisa menahan serangan piauw seakan-akan punggungnya itu disentuh oleh tangan yang halus?

Akan tetapi See-thian Hoat-ong yang tidak mau membuang banyak waktu segera berkata.

"Hayo kita menyeberang ke sana sebelum mereka bergerak!"

Dan ia menarik tangan Siok Lan.

mengajak keponakannya itu melompat ke atas jembatan tambang disusul oleh Pak-thian Koai-jin yang menarik tangan muridnya, kemudian disusul oleh Tung-hai Sian-li.

dan Lam-san Sian-ong.

Souw Lo Hosiang dan para muridnya tidak mau meninggalkan kelenteng.

"Pinceng tinggal di sini. mereka kiranya takkan mengganggu para hwesio". Karena kukuh tidak mau ikut pergi, terpaksa pendeta ini dan murid-muridnya ditinggalkan. Sementara itu. Wi Liong sudah sampai di seberang jurang di mana ia disambut oleh Kun Hong yang memandang kepadanya lalu tertawa bergelak.

"Eh eh, benar-benar kau ini? Ha-ha-ha. Wi Liong. Menyeberangi jembatan tambang saja kau sudah gemetaran, masa kau berani menantang pibu kepadaku?"

"Kun Hong, soal pibu tentu saja akan kulayani. Akan tetapi yang terpenting sekarang, mengapa kau tidak bertindak sebagai seorang laki-laki? Kau sudah berjanji hendak mengadu tenaga tiga hari kemudian, mengapa sekarang kau sudah datang lagi dan membawa kawan-kawan? Apakah janjimu tak dapat dipegang lagi?"

"Janji macam apa? Jangan banyak cerewet kau!"

Bentak Bu-ceng Tok-ong dan tangannya menampar ke arah kepala Wi Liong, tamparan yang mengandung kekuatan dan pukulan berhawa racun.

"Ayaaaa Bu-ceng Tok-ong betul-betul tak tahu malu!"

Ejek Wi Liong dan ia mengangkat tangan kiri menangkis.

"Plakk!"

Dua tenaga hebat bertemu melalui dua lengan tangan.

"Ayaaaaaa...........!"

Tubuh Bu-ceng Tok-ong terhuyung mundur dan Raja Racun ini memegangi lengan kanannya yang seperti remuk tulangnya rasanya.

Ia meringis dan menahan sakit sambil memandang penuh keheranan dan penasaran.

Mana ia bisa menyangka bahwa bocah yang dulu pernah hendak ia jadikan murid, sekarang telah menjadi begini lihai sehingga sekali tangkis saja tidak hanya dapat menolak hawa pukulan beracun, malah hampir membikin remuk tulang lengannya?

"Tok-ong.

muridmu itu manis sekali sekarang!"

Ejek Tok-sim Sian-li yang sudah mencabut pedang.

"Sayang dia memihak musuh."

Sambil bicara tangannya bekerja, pedangnya menusuk dan tangan kirinya melakukan pukulan Toat-sim-ciaug yang lihai! "Kun Hong, guru-gurumu memang mboceng-li (tak tahu aturan)!"

Ejek Wi Liong lagi. Ia menggerakkan tangan kiri lagi dikibaskan ke arah pedang sedangkan tangan kanan wanita itu yang menghantam dadanya tidak diapa-apakan, ia terima begitu saja pukulan itu.

"Dukk.........! Aaauuuu.........!!"

Tok-sim Sian-li hampir saja melepaskan pedangnya. Ia merasa pergelangan tangan kanannya lumpuh dan kepalan tangan kiri yang melakukan Pukulan Pencabut Jantung sakit bukan main.

"Kun Hong. mengapa guru-gurumu begini lemah?"

Wi Liong mengejek Kun Hong lagi, sengaja membikin panas hati pemuda itu supaya jangan mempunyai kesempatan mengganggu Pak-thian Koai-jin dan kawan-kawannya yang sudah mulai berdatangan menyeberang melalui jembatan tambang.

"Apa anehnya mengalahkan dua orang yang sudah tua-tua?"

Teriak Kun Hong.

"Akulah lawanmu, jangan kau sombong!"

"Kun Hong, hati-hati. Dia murid Thian Te Cu......!"

Kata Bu-ceng Tok-ong yang kini sudah percaya betul akan kelihaian pemuda yang dulu dibawa pergi oleh Thian Te Cu ini.

"Kun Hong. kau bilang aku sudah tua......??"

Tok-sim Sian-li berseru dengan suara sedih mengandung keluhan.

Akan tetapi Kun Hong tidak perdulikan seruan dua orang itu dan mulai menyerang Wi Liong dengan pukulan kanan kiri yang dahsyat.

Kembali Wi Liong tertegun karena pukulan ini mengandung unsur-unsur pat-kwa dan dasarnya hampir sama dengan pukulan Pat-kwa-ciang-hoat yang ia pelajari dari gurunya.

"Hemmm, agaknya kau sudah menerima pelajaran dari Thai Khek Sian."

Wi Liong yang sudah dapat menduga itu menegurnya.

Kun Hong hanya mempercepat serangannya tanpa menjawab.

Wi Liong cepat mengelak karena maklum akan kelihaian serangan ini dan sebentar saja dua orang muda murid orang-orang sakti itu mulai bertanding hebat sekali.

Sementara itu, Pak-thian Koai-jin dan kawan-kawannya sudah sampai di tempat itu.

"Lari terus jangan layani pertempuran. Musuh terlampau banyak, barisan berada di lereng seru See-thian Hoat-ong yang maklum bahwa kalau bertempur, kawan-kawannya akan menghadapi keroyokan beratus orang musuh". Pui Eng Lan dan Kwa Siok Lan berlari di depan, baru di belakangnya mengikuti Lam-san Sian-ong, Tung-hai Sian-li, See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin. Sebagai seorang ahli perang, See-thian Hoat-ong maklum bahwa biarpun fihaknya kuat sekali, namun fihak musuh selain mempunyai orang-orang pandai seperti Bu-ceng Tok-ong dan lain-lain, juga terdiri dari ratusan orang tentara, sehingga kalau terjadi pengeroyokan, fihaknya yang akan kalah. Beberapa orang perwira membawa pasukan mereka menghadang dan mencoba untuk menghalangi larinya enam orang ini. Akan tetapi mana bisa mereka menghadapi orang-orang gagah itu? Eng Lan dan Siok Lan mengerjakan pedang masing-masing dan beberapa orang anggauta pasukan roboh. Lam-san Sian-ong memutar tongkat bambunya dan empat orang jungkir-balik tak dapat bangun lagi. Yang hebat adalah Tung-hai Sian-li. Tokoh wanita ini sedang marah dan sedih karena melihat puterinya yang cantik itu tidak mau mengakuinya, maka sekarang menghadapi pasukan musuh ia melampiaskan kemarahannya. Pedamgnya menyambar bagaikan kilat menyambar-nyambar dan celakalah pengeroyok yang terkena sinar pedangnya. Pak-thian Koai-jin sambil tertawa-tawa merobohkan banyak pengeroyok dengan tongkat bambu dan mangkoknya. Lima orang itu kiranya akan lupa waktu dan terus membabati musuh yang empuk-empuk itu kalau saja di situ itidak ada See-thian Hoat-ong yang memberi "komando". Kakek bermuka merah bekas panglima besar ini yang memberi ingat kepada kawan-kawannya bahkan dia yang mengatur siasat mencari jalan keluar yang paling lemah. Akhirnya mereka dapat menyelamatkan diri turun dari bukit itu dari sebelah selatan, bebas dari pengepungan para tentara Mongol yang berani mati itu. Akan tetapi di dalam keributan itu setelah terbebas dari pengeroyokan, baru mereka melihat bahwa Kwa Siok Lan tidak berada di situ! "Celaka mana dia......! Mana Siok Lan......?"

Seru Tung-hai Sian-li dengan muka berubah. Tokoh-tokoh yang lain juga kaget, khawatir kalau-kalau gadis itu roboh oleh pengeroyokan musuh.

"Tadi dia melawan musuh berdekatan dengan teecu."

Kata Eng Lan kepada gurunya, ''dan melihat keadaan para pengeroyok, tidak mungkin kalau enci Siok Lan roboh."

"Aku akan mencarinya!"

Kata See-thian Hoat-ong dengan suaranya yang menggeledek, tanda bahwa dia marah sekali karena murid keponakannya dalam bahaya.

Golok besarnya sudah bergerak dalam tangannya, mukanya kelihatan makin angker.

Ia sudah membuang pakaian luarnya dan kini See-thian Hoat-ong yang mengenakan pakaian perang dari suku bangsanya, benar-benar nampak angker dan gagah.

Bahkan ia jauh nampak muda dari usia sebenarnya.

Akan tetapi sebelum ia bergerak, berkelebat bayangan biru dan tahu-tahu Tung-hai Sian-li sudah mendahuluinya, naik lagi ke atas bukit untuk mencari dan membela anaknya.

Benar-benar aneh wanita ini.

Semenjak belasan tahun, ia meninggalkan puterinya begitu saja kepada bekas suaminya dan hatinya yang keras menindas semua rasa rindu kepada anak dan suami, membuat ia kuat menahan keinginan hati dan tidak pernah bertemu muka dengan mereka.

Akan tetapi sekarang, begitu bertemu dengan Siok Lan, kasih ibu yang terpendam di hati dan sebetulnya tak pernah lenyap itu tiba-tiba bangkit dan dia akan rela berkorban nyawa demi keselamatan anaknya, biarpun anak itu tidak mau mengakuinya sebagai ibu.

Memang, tidak ada kecintaan lebih mulia dari pada kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, sebaliknya juga tidak ada kekejaman lebih hebat dan pada hati wanita yang dibakar api cemburu terhadap suaminya.

Tung-hai Sian-li adalah seorang wanita yang menjadi korban cemburu.

See-thian Hoat-ong dengan golok terhunus juga mengejar Tung-hai Sian-li.

Melihat ini, Pak-thian Koai-jin tertawa.

"Ha-ha-ha bukan saja untuk membela nona Kwa. akan tetapi terutama sekali untuk melindungi keselamatan murid-murid Siauw-lim-pai. Memang tidak pantas kalau kita tidak membantu mereka."

Iapun memberi isyarat kepada Pui Eng Lan dan cepat menyeret tongkat bambunya, mengejar kembali ke atas bukit.

Tidak ada lain pilihan bagi Lam-san Sian-ong.

Kakek yang buntung tangan kirinya ini.

yang juga termasuk seorang gagah, menggerakkan kedua kakinya yang pendek-pendek, lari cepat mengikuti yang lain.

Ke mana larinya Kwa Siok Lan?

Apa betul seperti yang dikhawatirkan oleh rombongan itu bahwa gadis ini roboh atau tertawan?

Tidak demikian halnya.

Ketika dia dan rombongan itu mulai terlepas dari kepungan musuh dan tinggal lari saja turun gunung.

Siok Lan ingat kepada Wi Liong, pemuda tunangannya itu.

Biarpun Wi Liong tanpa disengaja telah menyakiti hatinya, yaitu mengaku di depan Pak-thian Koai-jin bahwa adalah di luar kehendaknya ditunangkan dengan gadis she Kwa, akan tetapi Siok Lan harus mengaku bahwa wajah dan kegagahan pemuda itu amat menarik hatinya.

Pemuda itu demikian ganteng dan gagah, pula telah memperlihatkan keberanian luar biasa.

Adapun tentang kepandaian ia sudah menyaksikan sendiri kelihaiannya.

Bukan saja serangan piauw dari Eng Lan sama sekali tidak melukainya malah juga ia tadi melihat sepintas lalu betapa calon suaminya itu telah mengalahkan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li secara mudah sekali!

Kenyataan ini tentu saja membuat Siok Lan makin kagum kepada pemuda itu.

Pemuda itu betapapun juga adalah tunangannya yang diresmikan oleh ayahnya, sekarang pemuda itu telah dikepung banyak musuh karena hendak menolong dia dan rombongannya.

Bagaimana ia bisa meninggalkannya begitu saja?

Sungguhpun hatinya sakit oleh ucapan Wi Liong di depan Pak-thian Koai-jin.

akan tetapi tidak seharusnya ia meninggalkannya begitu saja.

Dengan pikiran ini, di luar tahunya yang lain, malah ia kembali ke dekat jurang di mana Wi Liong tadi menghadapi musuh-musuhnya.

Melihat gadis cantik ini kembali ke dalam kepungan, para anggauta pasukan segera mengurung dan menerjangnya.

Akan tetapi Siok Lan tidak menjadi gentar, pedangnya dikerjakan dan kembali ia mengamuk.

"Niocu, kau wakili aku tawan gadis jelita itu hidup-hidup untukku!"

Terdengar suara nyaring. Inilah suara Kun Hong yang minta tolong kepada Tok-sim Sian-li supaya menangkap dan menawan Siok Lan.

"Akan tetapi ingat, jangan lukai dia!"

Kun Hong benar lihai dalam menghadapi Wi Liong ia masih sempat melihat amukan Siok Lan dan menyuruh bekas gurunya menangkapnya.

Tok-sim Sian-li menjebikan bibir, hatinya mendongkol akan tetapi ia tidak berani membantah perintah bekas muridnya yang kini sudah terlampau lihai baginya itu.

"Minggir semua! Biarkan aku menangkap kuda betina yang binal ini!"

Kwa Siok Lan yang tiba-tiba berhadapan dengan Tok-sim Sian-li.

tidak membuang banyak waktu lagi terus saja ia menyerang dengan pedangnya secara hebat.

Tok-sim Sian-li menangkis.Terdengar suara nyaring ketika dua pedang bertemu dan Siok Lan hampir saja melepaskan pedangnya karena tangannya terasa sakit.

"Hi-hi, anak baik. Lepaskan saja pedangmu dan menyerahlah. Percuma kau melawanku."

Kata Tok-sim Sian-li mengejek.

"Siapa takut padamu?"

Siok Lan membentak marah dan melompat lagi menerkam dengan pedangnya.

Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan menggerakkan pedang secepatnya karena maklum bahwa lawannya ini amat lihai.

Akan tetapi, kepandaian Tok-sim Sian-li memang jauh lebih tinggi.

Dengan mudah pedang Siok Lan ditangkis lagi.

Kemudian sambil tertawa-tawa Tok-sim Sian-li balas menyerang.

Kalau wanita ini menuruti hatinya, ingin ia menikam mati gadis muda itu, akan tetapi ia tidak berani membuat Kun Hong marah.

Ia lalu mainkan pedangnya secara istimewa sekali, diputarnya cepat membuat Siok Lan menjadi silau pandangannya dan bingung.

Dalam belasan jurus saja Tok-sim Sian li berhasil merampas pedangnya dan menotoknya roboh.

Siok Lan roboh tak dapat berkutik lagi.

"Bocah manis, kalau Kun Hong sudah begitu tergila-gila kepadamu, tentu dia sudah pernah pernah melihatmu. Kau bernama siapakah dan kapan kau mulai kenal dengan Kun Hong?"

"Aku Kwa Siok Lan selamanya tak pernah berkenalan dengan orang-orang macam kalian!"

Jawab Siok Lan ketus.

Ia berusaha keras untuk membebaskan pengaruh totokan itu, akan tetapi sia-sia saja.

Ia hanya dapat bicara, akan tetapi tidak mampu menggerakkan kedua kakinya.

Tiba-tiba tangan Tok-sim Sian-li melayang.

"Plak! Plak!"

Kedua pipi Siok Lan telah ditamparnya.

Masih baik dia tetap iteringat akan pesan Kun Hong sehingga tamparan itupun hanya membikin pipi Siok Lan menjadi merah dan terasa panas pedas saja, akan tetapi tidak melukainya.

"Kau puteri Tung-hai Sian-li? Ha-ha. bagus! Kalau saja aku tidak ingat akan ayahmu. Kwa Cun Ek, yang pernah menjadi kekasihku sampai bertahun-tahun tentu akan kupecahkan kepalamu!"

Siok Lan adalah seorang gadis cantik yang memiliki keberanian istimewa dan kegagahan seperti ayahnya, akan tetapi sedikitnya ia mewarisi kekerasan hati ibunya.

Ia memandang kepada Tok-sim Sian-li dengan mata berapi dan berkata.

"Wanita siluman, kau mau bunuh boleh bunuh. Siapa takut mati? Tak usah kau banyak bicara tidak karuan, siapa percaya omonganmu yang busuk seperti racun?"

Pada saat itu terdengar ribut-ribut dan barisan di sebelah selatan kacau-balau.

Tak lama kemudian muncul Tung-hai Sian-li dan kawan-kawannya.

Tung-hai Sian-li dari jauh sudah melihat Siok Lan tertawan.

Ia cepat menggerakkan pedangnya merobohkan dua orang serdadu musuh dan dengan lompatan-lompatan jauh ia menghampiri Tok-sim Sian-li.

Wanita ini sudah tersenyum-senyum mengejek lalu berkata kepada seorang perwira Mongol.

"Kau tawan gadis ini, akan tetapi ingat, dia ini pesanan Kam-taihiap jangan ganggu! Siok Lan tak berdaya lagi ketika ia dibawa pergi oleh perwira itu.

"Tok-sim siluman betina! Kau apakan anakku?"

Tung-hai Sian-li membentak dan pedangnya berkelebat menyerang dengan tusukan mematikan karena ia tidak sabar lagi hendak cepat-cepat menolong anaknya.

"He-he-he, budak hina-dina, jangan banyak tingkah!"

Tok-sim Sian-li menangkis keras.

Dua musuh kawakan saling bertemu muka.

Tok-sim Sian-li masih menaruh dendam karena merasa kekasihnya, Kwa Cun Ek dirampas oleh musuh ini, sebaliknya Tung-hai Sian-li mendendam karena gara-gara Tok-sim Sian-li inilah ia sampai terpaksa meninggalkan suami dan anaknya.

Dua orang wanita biasa saja yang saling bermusuhan kalau bertemu muka akan terjadi hal yang hebat.

Apa lagi dua orang wanita ini yang keduanya terkenal sebagai tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan.

Segera terjadi perang tanding yang amat seru dan hebat.

Akan tetapi, segera Tung-hai Sian-li kaget karena dibandingkan dengan belasan tahun yang lalu, kepandaian Tok-sim Sian-li ternyata meningkat banyak sekali.

Ini berkat latihan-latihan yang ia dapat dari Thai Khek Sian.

Hanya dengan pengerahan tenaga dan seluruh kepandaian saja Tung-hai Sian-li masih dapat mengimbangi permainan pedang lawannya yang dahsyat dan ganas itu.

Baiknya See-thian Hoat-ong juga sudah datang dan cepat membantunya ketika melihat Tung-hai Sian-li terdesak.

Berubahlah keadaannya dan kini Tok-sim Sian-li yang montang-manting dikeroyok dua oleh dua orang yang tinggi ilmunya dan banyak pengalaman dalam pertempuran.

Akan tetapi Dewi Hati Beracun ini masih dapat mempertahankan dan masih dapat membalas serangan-serangan lawan dengan ilmu pedang dan pukulan-pukulan Toat-sim-ciang yang berbahaya.

Bu-ceng Tok-ong sudah datang pula di tempat pertempuran itu.

Dia dikawani oleh Hek-ma Sai-ong.

Seperti pernah diceritakan dalam

Jilid pertama.

Hek-mo Sai-ong ini adalah Perwira Kim-i-wi di istana kaisar, pengawal kelas satu yang lihai ilmu silatnya.

Dia berusia limapuluh tahun lebih, bertubuh besar kuat bermuka hitam lagi berbulu seperti muka singa.

Hek-mo Sai-ong ini adalah seorang ahli gwakang.

tenaganya sebesar tenaga gajah dan senjatanya sepasang gembolan yang entah sudah menghancur-remukkan berapa puluh buah kepala orang!

Tadinya ia bekerja sebagai kepala pengawal di ruang depan istana Kaisar Mongol, sekarang dia dipindahkan sebagai kepala penjaga istana di kota raja ke dua.

Ketika tadi Bu-ceng Tok-ong mendengar laporan Kun Hong bahwa di bukit itu terdapat sebuah Kelenteng Siauw-Iim-si yang mencurigakan, menjadi tempat bersembunyi para pembunuh bangsawan-bangsawan di Peking, ia cepat minta bantuan Hek-mo Sai-ong yang segera mengerahkan pasukan-pasukannya untuk melakukan penyerbuan.

Bu-ceng Tok-ong segera disambut oleh Lam-san Sian-ong.

Kakek ini tangan kirinya buntung akibat pukulan Ngo-tok-jiauw dari Bu-ceng Tok-ong.

belasan tahun yang lalu.

Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa marah dan dendam hatinya melihat musuh besar ini.

Sebaliknya, melihat Lam-san Sian-ong, Bu-ceng Tok-ong tertawa bergelak dengan sikap mengejek.

"Ha-ha-ha, apa kau datang untuk menyumbangkan tangan kananmu?"

Lam-san Sian-ong tidak menjawab, melainkan menggerakkan tongkatnya menyerang dengan dahsyat.

Dengan masih tertawa bergelak.

Bu-ceng Tok-ong mengelak dan membalas dengan pukulan-pukulannya yang berbahaya.

Lam-san Sian-ong sudah mengenal kelihaian pukulan-pukulan ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono dan karenanya ia bertempur sambil mundur.

Bu-ceng Tok-ong terus tertawa mengejek dan mendesak keras.

Akan tetapi, tiba-tiba ada tongkat bambu butut ke dua yang menyambar dan menyerangnya, di samping tongkat di tangan Lam-san Sian-ong, lalu terdengar suara nyaring mengejek.

"Raja Racun, kau sekarang seperti anjing yang diancam dua tongkat bambu. Ha-ha-ha, ke mana kau dapat melarikan diri?"

Yang baru datang ini adalah Pak-thian Koai-jin yang tahu bahwa Lam-san Sian-ong takkan menang kalau seorang diri menghadapi Bu-ceng Tok-ong yang kosen itu.

maka lalu membantunya.

Hek-mo Sai-ong menggereng seperti singa, dan menerjang maju dengan sepasang gembolannya.

Akan tetapi ia dihadapi secara berani oleh Pui Eng Lan, gadis cantik manis murid Pak-thian Koai-jin yang gagah itu!

Kini pertempuran terpecah menjadi empat rombongan.

Tok-sim Sian-li dikeroyok oleh Tung-hai Sian-li dan See-thian Hoat-ong.

Bu-ceng Tok-ong dikeroyok oleh Lam-san Sian-ong dan Pak-thian Koai-jin.

Hek-mo Sai-ong bertempur melawan Pui Eng Lan.

dan Kun Hong digempur oleh Wi Liong.

Para serdadu Mongol hanya berteriak-teriak memberi semangat kepada kawan sendiri.

Pertempuran orang-orang kang-ouw dengan tingkat yang sudah tinggi itu amat sukar bagi mereka untuk membantunya.

Membedakan mana kawan mana lawan saja sudah amat sukarnya.

Oleh karena itu, para perwira Mongol rendahan lalu mulai menyuruh orang-orangnya menghujankan anak panah ke arah Kelenteng Siauw-lim-si di seberang jurang.

Segera berluncuran panah-panah api ke arah kelenteng itu!

Adapun pertempuran antara Kun Hong dan Wi Liong terjadi amat hebatnya.

Kun Hong adalah murid Thai Khek Sian yang sudah mewarisi sebagian besar ilmu pentolan Mo-kauw itu sebaliknya Wi Liong telah menerima gemblengan hebat dan penuh kasih sayang dari Thian Te Cu.

Dahulu, pernah Thian Te Cu bertanding dengan Thai Khek Sian sampai memakan waktu tiga hari tiga malam baru Thai Khek Sian mengakui keunggulan Thian Te Cu.

Siapa sangka sekarang murid-murid mereka, keduanya masih muda belia dan rupawan mengulangi pertandingan itu dengan tidak kalah ramainya.

Setelah mengeluarkan pelbagai pukulan beracun yang semuanya dapat dihadapi dan ditangkis oleh Wi Liong, Kun Hong memuncak kemarahannya dan ia mencabut Cheng-hoa-kiam.

"Hemm, maling pedang tak tahu malu. Apa kau tidak malu menggunakan pedang yang sudah kau curi dari paman?"

Wi Liong mengejek.

"Siapa bilang mencuri?"

Kun Hong membentak.

"Gurumu kakek tua bangka itu tahu bahwa pedang ini bukan hak milik Kwee Sun Tek pamanmu, maka gurumu membiarkan saja aku mengambil pedang ini. Pedang ini mengapa bisa terjatuh ke dalam tangan pamanmu? Tentu ia dapat mencurinya......"

"Ngawur! Paman menerimanya dari ibuku dan ibu menerima dari gurunya. Beng Kun Cinjin"

Kun Hong kaget.

Tak disangkanya dari mulut Wi Liong ia akan mendengar lagi nama Beng Kun Cinjin atau Gan Tui putera Gan Yan Ki yang masih terhitung saudara sesumber dari suhunya.

Lebih tidak disangka-sangkanya lagi bahwa ibu pemuda yang menjadi saingannya ini adalah murid Beng Kun Cinjin Gan Tui!

Akan tetapi karena dia cerdik, lagi memang tidak memperdulikan aturan, Kun Hong berkata tertawa.

"Aha, begitukah? Tidak tahunya Beng Kun Cinjin itu sukongmu (kakek gurumu). Aku mendengar Beng Kun Cinjin seorang hwesio gundul tua bangka yang masih suka menikah dengan puteri muda dan cantik......"

"Tutup mulutmu! Antara Beng Kun Cinjin dan aku tidak ada hubungan kakek guru dan murid!"

Wi Liong membentak marah. Bicara tentang Beng Kun Cinjin mengingatkan dia betapa ayah bundanya dibunuh oleh kakek itu, dan pamannya dibikin buta matanya, membuat ia naik darah. Kun Hong menyeringai.

"Sejak dulu pedang ini menjadi rebutan, siapa kuat dia menang dan berhak menjadi pemiliknya. Kau boleh coba merampas kalau kau becus."

"Melawan macammu saja masa takut?"

Bentak Wi Liong yang cepat mencabut sulingnya dan menyerang.

Biarpun Wi Liong marah dan menghadapi Kun Hong yang benar-benar lihai sekali, namun perhatian Wi Liong terpecah.

Ia amat memperhatikan Siok Lan yang tiba-tiba muncul kembali setelah tadi ia lihat melarikan diri turun gunung.

Ia menjadi gelisah.

Bagaimana gadis itu muncul lagi?

Tadinya ia sudah merasa senang melihat gadis itu dan kawan-kawannya berhasil melarikan diri.

Apa lagi ketika melihat Siok Lan mengamuk, ia menjadi makin khawatir.

Terlampau banyak musuh tangguh di sini dan Siok Lan takkan mampu melawan mereka.

Melihat perhatian Wi Liong tertarik ke tempat lain.

Kun Hong menengok.

Wajahnya yang ganteng menjadi berseri dan ia gembira sekali ketika melihat gadis langsing jelita itu datang kembali seorang diri.

Cepat ia minta tolong Tok-sim Sian-li yang hanya berdiri menonton di pinggir.

Seperti sudah diceritakan di depan, akhirnya Siok Lan tertawan oleh Tok-sim Sian-li dan dibawa pergi oleh seorang perwira Mongol sedangkan tokoh-tokoh lain sudah datang pula dan disambut oleh Bu-ceng Tok-ong dan kawan-kawannya.

Ilmu pedang yang dimainkan Kun Hong betul-betul hebat.

Wi Liong melihat bahwa ilmunya dan ilmu lawannya mempunyai dasar yang hampir sama, maka ia maklum pula bahwa kalau dilanjutkan biarpun ia takkan kalah, akan tetapi untuk memperoleh kemenangan juga memerlukan waktu yang lama sekali.

Sedangkan hatinya gelisah melihat Siok Lan tertawan!

Baiknya ia dapat mendesak Kun Hong dengan ilmu pedang yang dimainkan dengan suling, berdasarkan Ilmu Silat Pat-sian-lo (Jalan Delapan Dewa) yang sudah diubah dan dicipta oleh Thian Te Cu.

Dan lebih menguntungkan lagi pertempuran di rombongan lain juga berhasil baik.

Pak-thian Koai-jin yang lebih banyak jumlah kawan yang berilmu silat tinggi, dapat mendesak lawan.

Akhirnya Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong.

juga Hek-mo Sai-ong.

tidak kuat lagi.

Atas isyarat Bu-ceng Tok-ong, mereka bertiga melompat ke dalam barisan dan Hek-mo Sai-ong memberi aba-aba.

Barisan panah lalu menghujankan anak panah ke arah Pak-thian Koai-jin berlima!

Mereka adalah orang-orang lihai, akan tetapi menghadapi hujan anak panah ini tentu saja mereka tak berani melanjutkan pertempuran.

Bahkan Pui Eng Lan yang tadi dengan gagahnya mendesak Hek-mo Sai-ong kini dalam sibuknya terluka sedikit pundaknya oleh sebatang anak panah.

Lima orang ini terpaksa lari lagi turun gunung.

Wi Liong melihat hal ini.

cepat mengirim serangan maut sambil berseru keras.

Hebat sekali pengerahan tenaganya, sampai-sampai pedang Cheng-hoa-kiam yang dipakai menangkis sulingnya terpental.

Kun Hong terkejut dan saat itu digunakan oleh Wi Liong untuk berkelebat lenyap dari depannya.

Kun Hong marah sekali.

"Kejar mereka! Bunuh semua! Hujani anak panah."

Akan tetapi.

Pak-thian Koai-jin dan kawan-kawannya sudah berlari cepat sekali turun gunung, sedangkan Wi Liong sudah lenyap entah ke mana.

Ke manakah perginya Wi Liong?

Apakah dia juga jerih menyaksikan kehebatan pasukan lawan dan melarikan diri ketakutan?

Thio Wi Liong takkan pantas disebut mund Thian Te Cu kalau dia takut dan melarikan diri.

Apa lagi dalam keadaan seperti itu.

di mana orang-orang yang dibelanya, karenanya ia anggap mereka itu di fihak yang benar, sedang terancam bahaya.

Pemuda ini tadi sengaja mempergunakan kesempatan selagi keadaan ribut-ribut, untuk menyelinap pergi dari depan Kun Hong dan secara cepat sekali ia melakukan pengejaran terhadap perwira yang tadi ia lihat membawa pergi gadis langsing yang roboh oleh Tok-sim Sian-li.

Perwira itu tadi membawa lari gadis itu dengan menunggang seekor kuda putih yang baik sekali dan cepat larinya.

Berbeda dengan gadis-gadis lain yang dalam keadaan seperti itu pasti akan menjerit-jerit minta tolong.

Siok Lan sama sekali tidak mengeluarkan suara.

Dia maklum bahwa dia telah terjatuh ke dalam tangan musuh dan keselamatannya terancam bahaya hebat, namun gadis pendekar ini tidak takut sama sekali.

Selama napasnya masih ada, ia tidak akan putus asa dan akan berdaya menolong diri sendiri.

"Gadis jelita, kau manis sekali!"

Berkali-kali perwira Mongol itu berkata.

Perwira itu masih muda.

tinggi besar dan mukanya buruk sekali.

Sepasang matanya sipit sampai seperti meram terus, hidungnya bundar pesek dengan lubang hidung besar-besar, bibirnya tebal dan giginya kuning menjijikkan.

"Sayang kau sudah dipesan oleh Kam-taihiap, kalau tidak...... hemmm, aku mau dipotong usiaku satu tahun kalau bisa mendapatkan engkau.........!"

Dapat dibayangkan betapa mendongkol dan marah hati Siok Lan.

Gadis ini mewarisi watak keras sekali seperti ibunya.

Akan tetapi mulutnya tetap terkunci rapar-rapat bahkan melirik sedikit saja ia tidak sudi.

Diam-diam ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk membebaskan totokan yang masih membuat kaki tangannya lemas tak berdaya itu.

Ia seperti seorang anak kecil dalam pondongan perwira itu.

Masih baik nasibnya bahwa perwira ini tahu siapa adanya Tok-sim Sian-li dan Kam Kun Hong, maka ia sekali-kali tidak berani mengganggunya, sungguhpun kata-kata yang keluar dari mulutnya cukup menyakitkan hati.

Perwira itu tahu ke mana harus membawa gadis tawanan ini.

Ke kota raja Peking dan ke rumah gedung Kok-konghu (istana pangeran).

Gedung ini merupakan kelompok istana di mana selain tinggal orang-orang Mongol.

juga disediakan gedung-gedung untuk tempat bermalam orang-orang gagah yang dipandang tinggi sebagai tempat kehormatan.

Tentu saja Bu-ceng Tok-ong.

Tok-sim Sian-li, Kam Kun Hong juga Hek-nio Sai-ong bermalam di gedung-gedung ini.

Dengan hati berdebar girang Siok Lan merasa bahwa jalan darahnya mulai pulih berkat usahanya yang tekun dan sungguh-sungguh.

Ternyata Tok-sim Sian-li terlalu memandang rendah nona ini dan dikiranya totokannya itu akan membuat nona ini tidak berdaya untuk waktu yang cukup lama.

Ia tidak tahu bahwa Siok Lan sudah memiliki lweekang yang cukup tinggi tingkatnya dan sebagai murid Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, tentu saja ia sanggup memunahkan totokan ini.

biarpun tidak secara serentak.

Hatinya sudah girang sekali.

Gatal-gatal tangannya.

Ia sabar menanti, karena kalau tenaganya belum pulih betul, ia tidak berani gegabah menyerang perwira Mongol ini.

Hampir rata-rata perwira Mongol memiliki kepandaian lumayan dan kalau dia gagal karena terlampau tergesa-gesa, bukankah berarti sia-sia saja usahanya selama ini?

Tiba-tiba.

seperti diterjang angin taufan, perwira itu terlempar dari atas kudanya, jatuh bergulingan di atas tanah dan Siok Lan juga ikut terlempar, terlepas dari pondongannya.

Perwira itu cepat bangun berdiri, mencabut pedangnya, akan tetapi ia bengong terheran-heran memandang ke depan.

Ternyata Wi Liong sudah berdiri di situ dengan suling di tangan dan sepasang matanya berapi-api memandang perwira itu penuh kemarahan dan kebencian!

"Nona, jangan khawatir, aku akan menolongmu dari bangsat ini."

Kata Wi Liong sambil memandang ke arah gadis yang masih duduk di atas tanah. Setelah berkata demikian, Wi Liong melangkah maju perlahan-lahan ke arah perwira itu, penuh ancaman.

"Jangan sentuh dia!"

Tiba-tiba gadis itu berseru marah dan melompat bangun.

"Aku tidak butuh pertolonganmu! Biarkan aku sendiri membunuhnya!"

Secepat kilat Siok Lan yang kini sudah pulih kembali sebagian dari kekuatannya itu menyerang perwira tadi.

Akan tetapi perwira itu ternyata gesit juga, cepat dapat mengelak dan mengirim serangan balasan dengan pedangnya!

Siok Lan terkejut, apa lagi setelah mendapat kenyataan bahwa tenaganya baru pulih tujuh bagian saja, dan sekarang dia bentangan kosong menghadapi lawan berpedang yang tidak lemah.

Siok Lan menyerang terus, akan tetapi perwira itu membela diri mati-matian.

Kalau saja gadis itu memegang pedang, kiranya biarpun tenaganya belum pulih semua, ia akan dapat menangkan lawannya.

Atau.

biarpun ia bertangan kosong, kalau tenaganya sudah pulih semua tentu ia takkan begitu sibuk.

Tiba-tiba perwira itu mengeluarkan seruan kaget dan kakinya tertumbuk pada akar pohon, membuat ia roboh terguling!

Kesempatan ini dipergunakan oleh Siok Lan untuk menendang pundaknya, membuat tangan kanannya lumpuh dan di lain saat pedang perwira itu sudah berpindah ke tangan Siok Lan.

Sekali pedang itu berkelebat dan.........

tubuh perwira itu lenyap, bagaikan terbawa angin melayang ke dalam jurang yang berada tak jauh dari tempat itu!

Untuk sesaat Siok Lan melenggong, kemudian ia membalik dan memandang kepada Wi Liong dengan mata penasaran.

"Kau manusia usilan! Mengapa tidak mengurus urusanmu sendiri dan mengejar sampai di sini?"

Wi Liong gelagapan. Tak dinyana tak dikira pertolongannya akan disambut dengan sikap demikian galak.

"Aku....... aku........ tadinya kukira kau berada dalam bahaya, nona......... maka aku mengejar ke sini."

"Kau pcrduli apa aku dalam bahaya atau tidak?"

Bentak Siok Lan marah-marah. Selagi Wi Liong "ap-ap, ep-ep"

Sukar menjawab, gadis itu sudah membentak lagi.

"Dan kenapa kau lancang-lancang menghalangiku membunuhnya, dan membunuh dia dengan tanganmu sendiri? Apa kau sengaja hendak memamerkan kepandaian? Apa kaukira di kolong langit ini hanya kau sendiri yang pandai? Pemuda sombong!!"

Wi Liong berdiri seperti patung dengan muka bodoh.

Ia diberondong caci maki, dan gadis itu kelihatan betul-betul marah sekali kepadanya.

Ia benar-benar tidak mengerti.

Masa gadis ini demikian buruk wataknya?

Akan tetapi benar-benar ia merasa lebih heran terhadap perasaan hatinya sendiri.

Kenapa melihat gadis itu memaki-makinya dan marah-marah malah nampak lebih manis?

"Maafkan, aku sebanyaknya nona.

Bukan sekali-kali aku hendak memamerkan kepandaian.

Aku seorang bodoh, kepandaian apakah yang patut dipamerkan?

Aku hanya.........

hanya merasa sayang kalau kau mengotorkan tangan melakukan pembunuhan."

Siok Lan masih mendongkol.

Pertama-tama ia marah karena sakit hati mendengar pemuda itu menyatakan tidak suka ditunangkan dengan puteri Kwa Cun Ek atau dirinya sendiri.

Kedua kalinya ia yang hendak membantu pemuda ini malah ditawan, dan sekarang malah ditolong oleh pemuda ini.

Benar-benar memalukan sekali, pikirnya.

Alangkah kecil tak berarti aku tampak di depan matanya, pikir Siok Lan kecewa, mendongkol dan marah.

Ketika ia melirik dan melihat pemuda itu memandang kepadanya dengan mata mengandung penuh penyesalan dan minta maaf, ia memutar tubuhnya dan pergi dari situ cepat-cepat sambil membawa pedang rampasannya tadi.

"Nona. kau hendak ke manakah?"

Wi Liong bertanya, agaknya kaget melihat nona itu tiba-tiba meninggalkannya. Tanpa menoleh Siak Lan menjawab.

"Ke mana aku pergi ada sangkut-paut apakah dengan kau?"

Mendengar jawaban ketus ini.

Wi Liong menarik napas panjang.

Memang kalau dipikir-pikir betul juga teguran nona ini.

Ia bertanya-tanya maksud kepergian orang ada perlu apakah?

Dengan hati sedih Wi Liong melihat betapa tubuh langsing menarik itu berlari cepat sekali pergi dari situ.

Tiba-tiba ia mendengar ringkik kuda.

Ia menoleh dan melihat kuda putih bekas tunggangan perwira yang sudah ia lemparkan dengan hawa pukulan ke dalam jurang itu berada di bawah pohon.

Aah.

ada jalan untuk menyenangkan hatinya, pikirnya girang.

Cepat ia melompat dan dengan mudah ia menangkap kuda itu pada kendalinya.

Lalu ia melompat dan membedal kuda itu mengejar nona cantik menarik tadi.

"Kuda bagus."

Pikirnya.

"Dia tentu senang melihat perhatianku."

Kuda itu memang kuda baik sekali, kuda yang tinggi besar dan dapat berlari cepat. Tak lama kemudian Wi Liong dapat menyusul nona itu. Dari jauh ia sudah berteriak-teriak.

"Nona. harap tunggu sebentar!"

Siok Lan berhenti dan menengok, mukanya tetap cemberut.

"Ada apa lagi kau mengejar-ngejar aku?"

Wi Liong merasa bingung lagi.

Entah mengapa dia yang biasanya tenang-tenang saja, menghadapi nona ketus galak ini mendadak menjadi bingung dan pemalu.

Akan tetapi diam-diam ia merasa penasaran juga.

Nona ini benar-benar tak memandang mata kepadaku, pikirnya.

Hemm, kalau bukan dia, kalau bukan dia yang membikin hatinya demikian kacau-balau tidak karuan tentu ia sudah meninggalkan gadis itu dan selamanya takkan mau melihatnya lagi!

"Nona.

kalau kau melakukan perjalanan jauh.

lebih baik kau memakai kuda ini supaya tidak lelah dan perjalananmu dapat dilakukan lebih cepat.

Aku sengaja menangkap kuda ini untuk kuberikan kepadamu.

Pakailah!"

"Aku tidak pergi jauh! Aku hendak kembali kepada kawan-kawanku,"

Jawab Siok Lan, sukar untuk bersikap keras dan ketus lagi melihat kebaikan pemuda ini.

Juga diam-diam gadis ini girang di dalam hatinya dan bangga bahwa agaknya pemuda tunangannya yang di depan orang lain secara terang-terangan menyatakan tidak suka ditunangkan dengan dia, agaknya sekarang "ada hati"

Padanya!

Benar-benar lucu!

Akan tetapi kalau dia tertawa di dalam hati, mukanya tetap cemberut.

Tentu saja ia kaget dan heran ketika tiba-tiba Wi Liong yang tertawa.

Wajah yang ganteng dan gagah itu kelihatan muda sekali, bahkan seperti muka bocah ketika tertawa, membuat orang yang melihat ia ketawa menjadi ketularan dan ingin ikut-ikut tertawa.

"Ha-ha. kau lucu, nona. Kalau kau hendak kembali ke sana, bukan ini jalannya, seharusnya ke sana. Kau telah salah jalan! Mari kau kuantar saja. nona. Duduklah di kuda ini. biar aku berjalan kaki di belakang kuda."

"Tak usah, aku bisa berjalan sendiri."

"Apa boleh buat,"

Wi Liong menghela napas.

"Sayang kalau kuda ini tidak dipakai. Apa kau berkeberatan kalau aku berjalan bersamamu?"

"Kau naiki saja kudamu, aku tidak butuh melakukan perjalanan bersama orang lain. Laginya. kau seorang pemuda, sudah bertunangan lagi. Bukankah amat mencemarkan namaku kalau orang melihat aku bersamamu? Tunanganmu akan marah-marah dan aku yang akan mendapat nama busuk! Cih, kau laki-laki tidak setia!"

Wi Liong tersenyum dan menjalankan kudanya terus di samping nona itu.

Ucapan nona itu menarik perhatian dan menimbulkan harapan baru baginya.

Jadi nona ini bersikap keras dan ketus kepadanya hanya kaarena dia sudah bertunangan.

"Nona, percayalah bahwa aku belum tentu akan suka berjodoh dengan orang yang dipaksakan menjadi tunanganku itu."

"Kau......... kau orang puthauw (tidak berbakti)!"

Cela gadis itu.

"Tidak, nona. Aku akan mentaati perintah pamanku dalam segala hal, akan tetapi dalam hal perjodohan, aku tidak mau dijerumuskan begitu saja. Aku belum pernah melihat gadis yang ditunangkan dengan aku, akan tetapi aku......... aku tidak suka kepadanya."

"Mengapa?"

"Dia puteri Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek seorang tokoh kang-ouw yang terkenal. Dan aku mendengar bahwa ada sesuatu yang tidak beres antara tokoh itu dengan isterinya. Entah apa sebabnya pamanku (Lanjut ke

Jilid 13) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 tidak memberi tahu, hanya memberi tahu bahwa tokoh itu sudah bercerai semenjak anaknya masih kecil.

Anak dari suami isteri yang tak dapat menjaga kesetiaan macam itu ditunangkan dengan aku.

Hemm tentu saja aku tidak mau.

Tentu gadis itu wataknya tidak jauh dari ayah bundanya, tidak setia dan kasar!"

Alangkah kagetnya hati Siok Lan mendengar ini dapat dibayangkan! Wajahnya menjadi pucat dan ia menahan-nahan diri untuk tidak menjerit menangis.

"Kau percayalah, nona,"

Kata pula Wi Liong sambil merenung karena ia merasa amat berduka kalau teringat akan keputusan Kwee Sun Tek yang menjodohkannya dengan seorang gadis yang tak pernah dilihatnya dan yang menjadi anak tunggal suami isteri yang tidak rukun.

"Percayalah, begitu bertemu dengan engkau, hatiku memastikan bahwa hanya dengan seorang gadis seperti kau inilah kiranya aku mau berjodoh, dan........."

Pada saat itu terjadi dua hal yang berbareng dan amat mengejutkan hati Wi Liong.

Dari sebelah kanan, yaitu dari jurusan Kelenteng Siauw-lim-si itu kelihatan api berkobar tinggi dan pada saat itu pula terdengar seruan nyaring dan tahu-tahu gadis jelita itu menyerang Wi Liong dengan pedangnya dari samping.

Gadis itu menusukkan pedangnya sambil melompat, serangannya hebat sekali!

Namun Wi Liong telah memiliki kecepatan luar biasa.

Melihat berkelebatnya sinar pedang, ia menggenjot tubuhnya melayang dari atas punggung kudanya dan ketika pedang itu menusuk lewat di depannya, ia cepat menangkap pergelangan tangan gadis itu.

"Nona, apa yang kau lakukan ini?"

Katanya dan di lain saat gadis itu telah ia tangkap dan ia dudukkan di atas punggung kuda yang sementara itu sudah lari lagi ke depan.

Siok Lan berusaha melepaskan diri, namun ia sama sekali tidak berdaya.

Wi Liong yang duduk di belakangnya sudah memegang kedua pergelangan tangannya, membuat ia tidak dapat berkutik.

"Nona. tahan dulu kebencianmu kepadaku. Kau lihat di sana itu, kebakaran besar. Apa kau tidak ingat akan nasib para locianpwe? Entah apa yang telah terjadi di sana. Hayo kita cepat ke sana untuk menolong mereka!"

Baru sekarang Siok Lan melihat cahaya api itu dan ia menjadi khawatir sekali.

Paman gurunya berada di sana dan sahabat-sahabat lain termasuk.......

ibunya!

Karena ingin tahu apa yang telah terjadi di sana dan bagaimana keadaan para sahabat itu, ia tidak memberontak lagi dan Wi Liong segera melepaskan pegangannya, maiah pemuda itu cepat melompat turun lalu berlari cepat di samping kuda putih itu.

Diam-diam Siok Lan kagum melihat pemuda ini yang begitu sopan, begitu lihai, begitu tampan dan begitu.....

begitu menyakitkan hatinya!

Setelah tiba kembali di tempat pertempuran tadi, mereka melihat hal yang hebat.

Pasukan-pasukan Mongol sudah pergi, juga Pak-thian Koai-jin dan yang lain-lain tidak nampak lagi.

Yang kelihatan hanya di seberang jurang.

Kelenteng Siauw-lim-si yang megah dan kuat itu.

kini menjadi makanan api!

Ternyata kelenteng itu telah dibakar oleh Kun Hong dan kawan-kawannya untuk melampiaskan kemarahan mereka dan di antara para hwesio di situ.

hanya Souw Lo Hosiang ketuanya saja yang berhasil menyelamatkan diri dengan jalan menuruni jurang melalui jalan rahasia.

Sedangkan hwesio-hwesio lain yang kurang tinggi kepandaiannya, terbunuh semua!

Dengan hati penuh kekhawatiran.

Siok Lan mencari ke sana ke mari kalau-kalau melihat jejak kawan-kawannya.

Ia baru bernapas lega ketika tidak melihat mayat kawan-kawannya.

Akan tetapi biarpun tahu bahwa di antara rombongannya tidak ada yang tewas, ia masih gelisah juga.

Siapa tahu kalau mereka itu tertawan oleh musuh seperti dia tadi?

"Jangan khawatir, nona.

Orang-orang seperti para locianpwe itu tidak sembarangan dapat ditawan.

Aku percaya mereka itu sudah dapat menyelamatkan diri."

"Mudah-mudahan begitu......."

Kata gadis itu perlahan.

Wi Liong melirik, melihat betapa wajah yang jelita itu nampak sedih.

Ia tidak tahu bahwa gadis itu teringat akan ibunya dan ia masih terharu sekali.

Pertemuan dengan ibunya, orang yang semenjak ia kecil sudah dirindukannya, juga amat dibencinya karena ibunya itu meninggalkan ayahnya yang ia tahu amat merindukan ibunya pula, pertemuan tadi benar-benar telah mengguncangkan hati dan perasaannya.

Ia sendiri tidak tahu apakah dia cinta atau benci kepada ibunya.

Ia memang merindukannya dan melihat ibunya begitu cantik, begitu gagah, ia menjadi bangga dan ingin sekali ia menangis dalam pelukan ibunya.

Akan tetapi kalau ia teringat akan ayahnya, yang hidup menyepi dan menderita kesengsaraan batin akibat perginya ibunya, ia menjadi benci kepada Tung-hai Sian-li.

Ia tidak tahu mengapa ibunya pergi meninggalkan dia dan ayahnya.

Ayahnya hanya memberi tahu bahwa ibunya pergi, pergi semenjak ia masih amat kecil dan ayahnya selalu menggeleng kepala dan nampak sedih kalau ia bertanya sebab kepergian ibunya.

Melihat sinar mata sedih di wajah gadis itu, Wi Liong merasa terharu dan kasihan.

"Kau suka memaafkan aku atas kelancangan mulutku tadi. nona?"

Tanyanya, merasa menyesal bahwa tadi.

karena dorongan nafsunya, ia telah menyatakan perasaan hatinya yang mencinta, membuat gadis ini menjadi marah.

Merah wajah gadis itu.

ia menoleh dan menatap muka Wi Liong.

Tidak cemberut lagi akan tetapi nampak sedih.

Sedih karena ucapan Wi Liong tadi.

yang menganggap ayah bundanya suami isteri tidak setia dan karenanya anaknyapun tentu tidak mempunyai hati setia!

"Kau tidak marah lagi kepadaku, nona?"

Siok Lan sadar kembali dari lamunannya.

"Hemmm? Ah, mengapa aku harus marah? Asal kau tidak bicara yang bukan-bukan........"

"Aku akan berlaku hati-hati. Bolehkah aku mengetahui siapa nama nona? Seperti kau ketahui aku Thio Wi Liong, anak keponakan paman Kwee Sun Tek. Aku seorang sebatangkara. tiada ayah bunda lagi....... dan aku......aku......"

"Kau tunangan puteri Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, calon mantu seorang tokoh kang-ouw!"

Wi Liong menarik napas panjang.

Ia menyesal sekali mengapa nona ini lagi-lagi mengemukan persoalan ini.

Untuk menyimpangkan pembicaraan dari persoalan yang tak disukainya itu.

Wi Liong pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan kata-katanya.

"Nona sudah tahu aku siapa, akan tetapi tentang dirimu sama sekali aku tidak tahu. Yang kuketahui hanya bahwa kau adalah murid keponakan kakek gagah perkasa yang mukanya seperti Kwan Kong itu. Kau siapakah, nona?"

Bagaimana Siok Lan mampu menjawab?

Tak mungkin ia bisa memperkenalkan dirinya sebagai Kwa Siok Lan, tunangan pemuda itu sendiri!

"Apa sih gunanya kuperkenalkan nama?

Tidak perlu sama sekali.

Yang lebih perlu pada saat ini adalah mencari tahu di mana adanya susiok dan yang lain-lain.

Nah.

aku pergi!"

Kata Siok Lan sambil mengeprak kudanya supaya lari cepat.

Di tikungan jalan ia menengok dan masih melihat Wi Liong berdiri seperti patung memandang kepadanya.

Siok Lan tersenyum geli dan membalapkan kudanya lebih cepat lagi keluar dari hutan itu menuju ke selatan.

Akan tetapi, baru saja ia keluar dari hutan itu, ia telah dihadang oleh pasukan orang-orang Mongol yang dikepalai oleh tiga orang Perwira Mongol.

Melihat nona yang tadi tertawan telah terlepas lagi dan menunggang kuda seorang diri saja.

pasukan itu menjadi girang dan cepat para komandannya memerintahkan untuk menawan nona manis itu.

Siok Lan tidak menjadi gentar.

Dicabutnya pedang rampasannya tadi dan sambil mengajukan kudanya ia mengamuk.

Sebentar saja beberapa orang serdadu Mongol roboh binasa.

Yang lain-lain menjadi gentar juga.

Perintah para komandan adalah untuk menawan si nona.

dan hal ini jauh lebih mudah diperintahkan dari pada dilaksanakan.

"Robohkan kudanya!"

Bentak seorang perwira.

Golok dan pedang berkelebatan dan kuda putih yang ditunggangi Siok Lan roboh.

Kaki belakangnya luka-luka.

Siok Lan terpaksa melompat agar jangan terbawa jatuh, akan tetapi ia disambut oleh keroyokan.

Betul ia dapat menusukkan pedangnya yang amblas ke dalam perut seorang musuh, akan tetapi sebelum ia sempat mencabut pedangnya, ia telah disergap dan diikat.

Akan tetapi pada saat itu, rombongan serdadu itu lari cerai-berai dan tiga orang perwiranya sudah terlempar ke kanan kiri seperti daun-daun kering tertiup angin.

Sebentar saja mereka pada melarikan diri tunggang-langgang.

Kiranya Wi Liong yang datang menolong.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, pemuda ini dapat melempar-lemparkan para serdadu yang tentu saja menjadi ketakutan melihat pemuda itu mengalahkan tiga orang komandan mereka dengan cara demikian mudah, seperti orang mencabuti rumput saja.

Sebelum Wi Liong sempat membebaskan Siok Lan dari ikatannya,, baru dihampiri saja gadis itu sudah mengerahkan tenaganya dan memutus tali itu sampai kulit lengannya agak lecet-lecet.

Melihat ini Wi Liong menggeleng kepala.

Benar-benar seorang gadis yang amat angkuh!

"Nona,, mari kutemani kau mencari susiokmu.

Di daerah ini banyak sekali tentara Mongol yang dipimpin oleh perwira-perwira kosen, malah di sampingnya dibantu oleh orang-orang seperti Bu-ceng Tok-ong dan kawan-kawannya."

Siok Lan memang seorang gadis yang keras hati dan angkuh.

Pula ia mempunyai kepercayaan besar kepada diri sendiri.

Kecelakaan yang menimpanya tadi.

tertawan oleh musuh adalah karena di sana terdapat Tok-sim Sian-li yang kepandaiannya jauh lebih tinggi.

Baru tadi ia hampir tertawan kembali oleh rombongan serdadu Mongol adalah karena ia terpelanting dari atas kudanya.

Kalau tidak demikian, jangan harap pasukan kecil dengan tiga perwiranya itu dapat menangkap dia!

Biarpun di daerah itu berkeliaran orang-orang Mongol.

Siok Lan sama sekali tidak merasa takut.

Akan tetapi, pemuda ini biarpun tanpa disengaja telah menghina dan menyakiti hatinya dengan pernyataan menolak pertunangannya dengan dia, namun tak dapat disangkal lagi telah memperlihatkan sikap yang amat ramah dan baik terhadap dia.

Siok Lan maklum betul bahwa sekali pemuda itu tahu siapa dia.

pasti pemuda itu akan menyesali pengakuan sendiri.

Karena kebaikan sikap Wi Liong, Siok Lan merasa malu sendiri kalau terus-menerus memperlihatkan keangkuhannya.

Ia tidak menjawab ajakan Wi Liong untuk menemaninya mencari kakek muka merah, hanya mengangguk.

Dua orang muda itu berjalan pergi dari situ tanpa berkata-kata dan Siok Lan yang tidak begitu hafal akan daerah ini mengikuti saja arah yang ditempuh Wi Liong.

Pemuda ini sendiri juga baru kali ini menginjak daerah utara, akan tetapi karena ketika berangkatnya ia melakukan penyelidikan secara teliti, ia masih hafal akan jalan menuju ke selatan.

Ia dapat menduga bahwa rombongan orang gagah itu kalau sudah berhasil menyelamatkan diri tentu akan kembali ke selatan.

Hari telah malam ketika Wi Liong dan Siok Lan tiba di tepi sungai yang mengalir di sebelah selatan kota raja.

Keadaan di situ sunyi bukan main.

Perahu-perahu yang nampak agak jauh bergerak-gerak perlahan di pinggir sungai, tak sebuahpun yang berisi manusia.

Pada waktu seperti itu memang tidak pernah ada orang menyeberang.

Tiba-tiba sebuah perahu yang berada dekat tempat mereka berdiri, bergerak dan sebuah kepala manusia menjenguk keluar.

"Ji-wi mencari siapa?"

Tanya suara yang parau. Keadaan gelap, tak dapat melihat muka orang itu kecuali bayangannya yang menyatakan bahwa dia seorang laki-laki berkepala bulat besar.

"Kami hendak menyeberang.,"

Jawab Wi Liong.

"Dapatkah kau menyeberangkan kami?"

Orang itu tidak menjawab dan kedua tangannya bekerja membuat api.

lalu menyalakan obor yang diangkat tinggi-tinggi.

Tangan kanan yang memegang obor itu bergerak-gerak untuk dapat menerangi wajah dua orang yang baru tiba.

Akan tetapi pandang mata Wi Liong yang tajam dapat melihat betapa gerakan tangan itu aneh dan teratur, seakan-akan merupakan isyarat, bergerak-gerak dari kanan ke kiri dua kali berturut-turut, lalu dari depan ke belakang.

Apakah gerangan maksud orang itu?

Ia memandang teliti dan melihat bahwa sungguhpun pakaian orang itu seperti nelayan, namun sepasang matanya bersinar tajam dan tubuhnya nampak kuat berisi.

Laki-laki setengah tua itu tercengang ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda tampan dan seorang gadis cantik jelita.

"'Malam-malam gelap begini ji-wi hendak menyeberang? Mengapa begitu tergesa-gesa? Lebih baik besok pagi saja."

Kata orang itu sambil keluar dari perahunya.

"Kami perlu menyeberang sekarang,"

Kata Siok Lan ketus.

"Apakah kau melihat tiga orang kakek, seorang nyonya dan seorang nona menyeberang sungai ini siang tadi?"

Tanpa dilihat orang itu, Wi Liong menowel lengan Siok Lan, akan tetapi terlambat, gadis itu sudah mengajukan pertanyaan ini.

Orang itu menggerakkan obornya sehingga mukanya bersembunyi di dalam gelap, hanya terdengar suaranya.

"Tiga orang kakek aneh dan dua orang wanita cantik? Ada......ada....... malah aku sendiri yang menyeberangkan mereka sore tadi!"

Kata tukang perahu itu, suaranya gembira sekali.

Kembali obornya bergoyang-goyang, akan tetapi hanya Wi Liong yang dapat melihat ini tanpa mengetahui artinya.

Siok Lan sama sekali tidak memperhatikannya, malah dengan girang gadis ini berkata.

"Lekas seberangkan kami dan turunkan kami di tempat mereka tadi mendarat di seberang sana. Jangan khawatir, aku mau membayar sepuluh kali lipat dari pada biaya yang biasa."

Kembali orang itu tertawa aneh. mengangguk-angguk dan mundur ke dalam perahunya.

"Silahkan masuk, silahkan masuk.........!"

Katanya. Wi Liong hendak menolak, akan tetapi Siok Lan sudah mendahuluinya melompat ke dalam perahu, terpaksa diapun melangkah ke dalam perahu itu.

"Tentu akan terjadi sesuatu", pikirnya.

"Tukang perahu ini mencurigakan sekali. Hendak kulihat dia akan berbuat apa". Tukang perahu itu menancapkan obornya di kepala perahu, lalu mengambil dayung, melepaskan tambang dari batang pohon, lalu mulai menggerakkan perahunya ke tengah sungai yang lebar itu. Siok Lan berdiri memandang ke seberang. Hatinya girang akan tetapi tidak sabar lagi, hendak cepat-cepat menyeberang dan mengejar rombongannya, terutama ingin sekali lagi bertemu dengan ibunya! Setelah bertemu dengan Wi Liong dan mendengar buah pikiran Wi Liong tentang perhubungan ayah bundanya, Siok Lan diam-diam mengambil keputusan untuk membujuk atau memaksa ibunya kembali kepada ayahnya! Wi Liong juga diam saja, duduk di belakang perahu sambil diam-diam memperhatikan tukang perahu yang mendayung perahunya perlahan-lahan, nampaknya sama sekali tidak tergesa-gesa. Akan tetapi orang itu mempergunakan tenaganya karena ia mendayung perahunya mudik, melawan arus sungai.

"Sahabat tukang perahu, mengapa kau dayung perahu mudik?"

Tanya Wi Liong sambil lalu agar tidak kentara bahwa dia menaruh hati curiga. Tukang perahu itu tertawa.

"Orang muda. agaknya kau tak pernah naik perahu menyeberang sungai. Untuk menyeberang sungai, perahu harus didayung mudik lebih dulu agar ketika menyeberang terbawa arus sungai ke hilir, dapat tepat mendarat di seberang. Pula, bukankah nona ini minta supaya aku mendaratkan di tempat rombongan kakek-kakek aneh tadi? Nah. inilah jurusannya."

Merah muka Wi Liong.

Memang benar ucapan nelayan ini, ia sampai lupa untuk memperhatikan hal itu.

Akan tetapi tetap saja ia menaruh hati curiga, apa lagi ketika dari seberang kelihatan bayangan empat buah perahu yang bentuknya sama benar dengan perahu ini, menuju ke tengah sungai seakan-akan hendak menjemput mereka!

Akan tetapi ia diam saja dan makin memperhatikan tukang perahu itu yang kini menayung perahunya cepat-cepat.

"Dukk!"

Perahu itu tiba-tiba menempel pada perahu-perahu yang telah mengurung di depan dan kanan kiri.

"Eh-eh, apa artinya ini?"

Siok Lan berseru kaget dan mencabut pedangnya. Tukang perahu tertawa.

"Kawan-kawan, dua ekor domba ini adalah teman-teman yang tadi!"

"Bangsat, jangan kau main-main! Apa artinya ini?"

Siok Lan mengancam tukang perahu dengan pedangnya. Akan tetapi tukang perahu itu tiba-tiba sudah memegang sebatang golok yang dipergunakannya untuk menangkis pedang itu.

"Jangan kalian bergerak!"

Bentaknya dengan suara mengancam.

"Percuma saja melawan. Satu kali kugulingkan perahu, kalian akan menjadi makanan ikan! Lebih baik menurut dan menyerah saja!"

"Jahanam, kau yang mampus lebih dulu!"

Bentak Siok Lan sambil menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi ia berteriak kaget dan terhuyung, terpaksa membatalkan niatnya menyerang ketika tiba-tiba perahu menjadi miring dan hampir saja ia terjungkal.

Tukang perahu itu ternyata telah memegangi pinggiran perahu dan mengguncang-guncangnya!

Kalau ia menjungkalkan perahu, celakalah Wi Liong dan Siok Lan yang tidak bisa berenang, sebaliknya tukang perahu itu tentu saja amat pandai.

"Ha-ha-ha-ha........ auppp!"

Tiba-tiba tukang perahu yang tadinya tertawa-tawa itu berhenti dan ia terduduk di kepala perahu, diam seperti patung batu!

Sehelai tambang yang tadi dipakai mengikat perahunya, telah meluncur seperti ular dan tahu-tahu ujungnya menotok jalan darahnya, seketika membuat ia kaku.

Tentu saja perbuatan lihai ini dilakukan oleh Wi Liong.

"Bu Beng Siocia (Nona Tiada Nama), kau pegang dayung dan jaga perahu supaya tidak hanyut. Biar aku bereskan mereka!"

Kata Wi Liong yang tidak mengenal nama nona itu sambil berkelakar.

Siok Lan maklum bahwa saat genting itu amat berbahaya.

Ia melompat dan mengambil dayung dari tangan tukang perahu yang sudah kaku.

Ketika ia merampas dayung, tukang perahu itu roboh terguling ke dalam perahu, rebah miring tak bergerak seperti balok.

Biarpun bukan ahli, kalau hanya menggerakkan dayung supaya perahu tidak berputar-putar saja Siok Lan sudah pandai.

Sementara itu, melihat bahwa di tiap perahu terdapat dua orang yang berpakaian seperti serdadu Mongol, tahulah Wi Liong bahwa tukang perahu itu memang seorang mata-mata Mongol.

Ia cepat melompat, bagaikan seekor burung hantu yang sukar diikuti mata gerak-geriknya.

ia berloncatan dari perahu ke perahu.

Terdengar seruan-seruan kesakitan dan orang-orang di dalam perahu itu sudah dapat dibikin tak berdaya dalam waktu singkat.

Perahu-perahu mereka yang empat buah jumlahnya itu mulai hanyut berputaran dibawa arus sungai.

"Jangan bunuh dia!"

Teriak Wi Liong yang tahu-tahu telah melompat kembali ke dalam perahu dan mencegah Siok Lan yang hendak menusuk tukang perahu itu.

"Lagi-lagi kau menghalang-halangiku,"

Kata Siok Lan tak puas, akan tetapi tidak marah lagi. Ia kini makin kagum melihat sepak-terjang Wi Liong yang betul-betul memiliki kelihaian yang luar biasa sekali itu.

"Apa kau lupa bahwa susiokmu dan yang lain-lain tadi juga menumpang perahunya? Kita bisa memaksa dia mengaku apa yang telah terjadi dengan mereka."

Ingin Siok Lan menampar kepalanya sendiri.

Mengapa ia begitu bodoh?

Di samping ini, timbul rasa gelisahnya.

Jangan-jangan susiok dan ibunya telah terpedaya oleh tukang perahu ini dan telah mengalami kecelakaan!

"Lekas katakan, apa yang telah terjadi dengan rombongan itu!"

Bentak Siok Lan, mengancam tukang perahu itu dengan ujung pedang, siap ditusukkan ke lehernya.

Melihat betapa pemuda itu dengan mudahnya merobohkan semua kawannya, tukang perahu atau mata-mata Mongol itu menjadi pucat, tubuhnya gemetar dan ia berlutut di atas perahunya dengan kedua kaki lemas.

"Ampun, aku......... aku hanya tukang perahu biasa....... aku tidak ikut-ikut.......!"

"Bohong!"

Siok Lan membentak marah.

"Tak usah pura-pura, hayo lekas ceritakan apa yang terjadi dengan mereka."

"Rombongan itu, tiga orang kakek dan dua orang wanita......... mereka menumpang perahuku, lalu datang pasukan kerajaan......... mereka menggulingkan perahu......... mereka menawan dua orang yang wanita. Tiga orang kakek berhasil melarikan diri........."

Siok Lan menjadi pucat. Celaka, ibunya tertawan, bersama Pui Eng Lan.

"Yang tertawan itu dibawa ke mana?"

Kini Wi Liong yang bicara.

"Mana aku tahu? Tentu ke kota raja........ ke mana lagi.........?"

"Pergilah!"

Siok Lan tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Sekali tendang tukang perahu itu terlempar ke dalam air dan tidak timbul lagi.

"Kita harus menolong mereka"

Kata Wi Liong sambil mengambil dayung.

"lebih dekat kita mengambil jalan melalui sungai itu, lebih cepat dan aman. Tentu di belakang penangkapan ini berdiri Kun Hong jahanam busuk itu"

Siok Lan memandang dengan terima kasih.

Tanpa pemuda ini.

agaknya ia tidak mempunyai harapan untuk dapat menolong ibunya.

Dengan pemuda ini di sampingnya, ia merasa kuat, aman dan sanggup melakukan pekerjaan yang betapapun beratnya.

Ia hanya mengangguk dan mukanya tidak cemberut lagi.

Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali perahu mereka telah tiba di sebelah selatan kota raja.

Siok Lan bangun dari tidurnya.

Saking lelahnya, ketika ia duduk di dalam perahu, ia tertidur sambil menyandarkan tubuhnya pada papan perahu.

Wi Liong mengemudi perahu hanyut oleh arus sungai, tidak berani mengeluarkan suara berisik agar dara itu tidak terganggu tidurnya.

Makin dipandang makin meresap, makin lama makin mendalam perasaan kasih sayangnya kepada dara yang pemarah ini.

Di balik sifat marah ini Wi Liong mendapatkan sesuatu yang menarik hatinya, mendapatkan watak yang mulia dan kedukaan yang menimbulkan kasihan di hatinya terhadap gadis ini.

"Selamat pagi. Bu Beng Siocia."

Kelakar Wi Liong menyambut gadis yang baru bangun itu. Siok Lan menggosok kedua matanya. Masih mengantuk rasanya. Lelah dan kurang tidur, lapar pula, membuat tubuhnya lesu.

"Aku sampai tertidur tanpa kurasa."

Katanya perlahan sambil mencuci muka dengan air sungai yang mudah saja dicapai tangan di pinggir perahu.

"Apa kau tidak tidur?"

Tanyanya, mengangkat mukanya yang menjadi segar kemerahan setelah digosok-gosoknya dengan air. Wi Liong tersenyum, menggeleng kepala.

"Kau tidak mengantuk?"

"Rasa kantuk sih ada, akan tetapi dapat kutahan. Melihat kau dapat tidur enak saja sudah puas hatiku."

Wajah Siok Lan makin memerah. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya lagi, memandang tajam sambil bertanya.

"Mengapa kau begini baik terhadap aku?"

Ketika mengajukan pertanyaan ini matanya bersinar dan bibirnya yang merah agak tersenyum, bukan main manisnya dalam pandangan Wi Liong.

"Aku baik terhadapmu?"

Wi Liong berkata sambil mengangkat alis dan menggerakkan bahunya.

"Entahlah, ada sesuatu yang memaksa aku harus bersikap baik kepadamu, lebih kepada semua orang di dunia ini."

"Apa maksudmu! Apa yang kau harapkan dari sikap baikmu ini? Tentu agar akupun bersikap baik dan suka kepadamu, bukan?"

Wi Liong berdebar hatinya. Gadis ini luar biasa sekali. Sinar matanya menunjukkan bahwa di balik sinar mata itu terdapat kecerdikan yang tinggi, yang sekaligus sudah dapat menebak isi hatinya.

"Tak perlu aku bicara panjang lebar dan berputar-putar, nona. Sungguhpun baru satu kali aku bertemu denganmu, bahkan namamupun aku belum tahu, akan tetapi ada sesuatu di dalam dadaku yang membuat aku amat suka kepadamu, membuat aku ingin selalu berada di sampingmu, membuat aku ingin selama hidupku menjadi pelindungmu. Memang ada pula perasaan yang menginginkan supaya kaupun suka kepadaku, akan tetapi, melihat kau selamat dan bebas dari pada bahaya dan kedukaan saja rasanya aku sudah puas!"

Siok Lan adalah seorang gadis yang cerdik bukan main.

Semenjak pemuda itu menolongnya untuk pertama kali, bahkan semenjak pemuda itu memandang kepadanya di Kelenteng Siauw-lim-si, ia dapat menduga bahwa pemuda ini jatuh cinta kepadanya.

Pemuda ini, tunangannya, calon suaminya yang sah, jatuh cinta kepadanya dan pada saat itu juga, di depan orang lain menyangkal atau menolak ikatan pertunangannya dengan dia pula.

Alangkah lucu dan anehnya!

Dapat dibayangkan betapa hatinya menjadi bahagia, kecewa, marah dan banyak macam lagi teraduk menjadi satu.

Ia merasa bahagia oleh karena melihat bahwa tunangannya ternyata seorang pemuda yang menarik hatinya.

Tak dapat disangkal pula bahwa diapun suka dan bangga mempunyai tunangan seperti Thio Wi Liong ini.

Akan tetapi ia marah dan kecewa karena pemuda ini tidak setia terhadap ikatan jodoh yang sudah dilakukan oleh paman pemuda itu dan ayahnya, sehingga di luaran berani menyatakan tidak cocok dengan pertunangan itu.

Malah ia marah sekali karena pemuda ini di depannya berani mencela ayah bundanya!

Melihat pemuda itu berdiri sambil memegang dayung tersenyum ganteng sekali kepadanya, Siok Lan makin berdebar hatinya.

Kemudian ia membuang muka dan memandang ke darat.

"Kurasa........."

"Ya.........?"

Wi Liong mendesak melihat gadis itu ragu-ragu.

"Kau ini.........seorang pemuda yang terlalu baik hati akan tetapi........"

"Akan tetapi apa.........? Teruskan......"

"Akan tetapi......... bodoh, sombong dan tidak setia!"

Wi Liong melengak, kemudian mukanya menjadi merah sekali.

Ia mendongkol juga.

Ingin ia memaksa gadis itu menengok memandangnya, akan tetapi gadis itu tetap menghadapi daratan dan sedikitpun tidak mengerling kepadanya.

"Hemm, begitukah........? Kau maksudkan aku tidak setia terhadap pertunanganku dengan gadis bernama Kwa Siok Lan yang selama hidupku belum pernah kulihat itu? Bu Beng Siocia (Nona Tiada Nama), kau tidak adil! Andaikata kau yang menjadi nona yang ditunangkan dengan seorang pemuda yang selama hidupmu belum pernah kaulihat, apakkah kau juga akan suka hati? Aku tidak melanggar kesetiaan, karena di dalam hati aku merasa belum ada ikatan sesuatu dengan gadis yang dipaksa menjadi tunanganku itu. Akan tetapi terhadap kau....... aku......."

"Sttt. diam! Kulihat susiok di sana!"

Kata gadis itu sambil melambai ke darat. Wi Liong menengok dan betul saja, ia melihat kakek muka merah itu sudah berada di darat seorang diri.

"Kita berpisah di sini......"

Bisik Siok Lan.

"Akan tetapi......... ke mana aku harus mencarimu kelak.........?"

"Kau masih bertunangan, untuk apa mencariku? Kalau kau sanggup memutuskan tali perjodohanmu dengan gadis she Kwa itu. kelak pasti kita saling bertemu......"

Ia berbisik lalu disambungnya keras-keras.

"Hayo dayung ke pinggir!'' Berseri wajah Wi Liong.

"Betulkah?"

Bisiknya.

"Baik, aku akan memutuskan pertunangan itu, kemudian akan kucari kau!"

Ia lalu mendayung perahunya ke pinggir. Sebelum perahu menempel daratan, Siok Lan berbisik pula.

"Aku mendarat dan sini jangan kau ke pinggir, tak usah kau menemui susiok!"

Dalam kata-kata ini terkandung permintaan yang amat sangat sehingga Wi Liong berdiri mematung, tidak mendayung perahunya lagi.

Adapun Siok Lan dengan gerakan lincah ringan, melompat seperti seekor burung melayang ke darat di mana susioknya, See-thian Hoat-ong.

kakek gagah perkasa yang berpakaian baju perang itu, telah menanti dengan muka girang.

"Syukur kau telah dapat terlepas dari cengkeraman musuh!"

Kata kakek itu menyambut kedatangan Siok Lan.

"Mengapa dia tidak ikut ke sini? Apakah dia yang telah menolongmu? Pemuda itu sungguh lihai!"

Karena gadis itu meminta dengan suara mengandung penuh permohonan, Wi Liong merasa tidak enak untuk menolak, maka iapun cepat-cepat mendayung perahunya ke tengah lagi dan sebentar saja perahunya menghilang di sebuah tikungan.

Gadis aneh, benar-benar aneh sekali, akan tetapi menarik!

Anehnya itukah yang menjadi daya paling menarik?

Kemudian ia teringat akan gadis yang seorang lagi, yang agak hitam manis, gadis yang oleh gurunya, Pak-thian Koai-jin.

hendak dijodohkan dengan dia!

Gadis itu kini tertawan musuh, juga wanita gagah Tung-hai Sian-li.

Mereka ini, dua orang wanita dan tiga orang kakek aneh, seperti juga gadis langsing yang aneh itu, adalah orang-orang kang-ouw yang mengagumkan.

Orang-orang gagah yang tidak mau diam membiarkan, para penghianat bangsa mempergunakan kedudukan untuk memeras rakyat.

Mereka ini memang patut disebut pendekar-pendekar perkasa, karena bukankah gurunya juga memberi petunjuk bahwa kalau dia hendak memilih jalan benar, harus ia bersatu dan membela rakyat jelata?

"Aku harus menolong mereka,"

Pikirnya.

"Dia bersama susioknya si muka merah itu tentu kembali ke kota raja juga. Di sana berbahaya, ada Kun Hong yang lihai sekali. Aku harus membantunya menolong kawan-kawannya yang tertawan."

Dengan pikiran ini.

Wi Liong lalu mendayung perahunya cepat-cepat ke depan, kemudian iapun mendarat dan menuju ke kota raja yang temboknya sudah kelihatan dari tempat itu.

Adapun Siok Lan begitu bertemu dengan See-thian Hoat-ong, segera bertanya apa yang telah terjadi semenjak mereka berpisah.

"Berbahaya sekali........."

Kata See-thian Hoat-ong sambil menggeleng kepalanya.

Kemudian ia menceritakan pengalamannya.

Seperti telah dituturkan di bagian depan.

See-thian Hoat-ong, Pak-thian Koai-jin Lam-san Sian-ong.

Tung-hai Sian-li.

dan Pui Eng Lan, terpaksa melarikan diri karena pasukan Mongol menyerang mereka dengan hujan anak panah.

Mereka lari turun gunung dan terus ke selatan.

Mereka bermaksud untuk memasuki kota raja melalui sungai dan mencoba menyelamatkan Siok Lan yang tertawan.

Tukang perahu yang ternyata mata-mata Mongol itu menyeberangkan mereka, akan tetapi setelah tiba di tengah sungai, tukang perahu itu melompat ke dalam air dan menyelam.

Rupa-rupanya memang sudah diatur lebih dulu karena begitu tukang perahu melompat ke air.

dari kedua seberang sungai datang banyak perahu yang ditumpangi oleh pasukan Mongol.

Belasan orang serdadu Mongol ahli renang melompat ke dalam air menyelam dan menyerang perahu itu dari bawah.

Perahu itu mereka balikkan dan lima orang gagah itu tidak berdaya sama sekali.

Mau melompat, melompat ke mana?

Daratan masih terlampau jauh.

Terpaksa mereka melompat ke air dan segera dikeroyok oleh banyak orang serdadu yang pandai bermain di air.

Celakalah Pui Eng Lan dan Tung-hai Sian-li.

Mereka lihai sekali kalau di darat, akan tetapi di air.

mereka tak berdaya dan sebentar saja mereka telah dapat ditawan dalam keadaan setengah pingsan.

Sungguh menyedihkan.

Apa lagi bagi Tung-hai Sian-li seorang tokoh besar di dunia kang-ouw begitu mudah tertawan oleh serdadu-serdadu Mongol yang kalau di darat, biar ada limapuluh orang sekalipun tak mungkin akan dapat menawannya!

Tiga orang kakek itu biarpun tak boleh dibilang ahli.

namun masih dapat berenang, maka serdadu-serdadu itu mana dapat menangkap mereka?

Beberapa orang serdadu yang berani mendekat, tewas oleh pukulan-pukulan mereka dan sambil mengikuti arus air, tiga orang kakek ini akhirnya berhasil mendarat.

Akan tetapi mereka tidak berdaya sama sekali untuk menolong Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan yang sudah dibelenggu dan dibawa pergi dengan perahu oleh para serdadu.

Demikianlah pengalaman yang dituturkan oleh See-thian Hoat-ong.

"Pak-thian Koai-jin tidak sabar lagi, langsung mengejar ke kota raja untuk menolong muridnya."

Berkata kakek muka merah itu.

"Lam-san Sian-ong mengawaninya. Aku menanti di sini kalau-kalau Tung-hai Sian-li atau nona Pui itu muncul, karena ketika kami bertiga mati-matian berusaha mendarat, mereka yang tertawan sudah tidak ada lagi. Aku sudah mencari-cari di sekitar sini. khawatir kalau-kalau kawan-kawan yang tertawan tidak dibawa ke kota raja. Akan tetapi menurut beberapa orang nelayan yang melihatnya, memang Tung-hai Sian-li dan nona Pui dibawa ke kota raja."

"Susiok kita harus menolong dia............"

Kata Siok Lan.

"Ibumu.........?"

Siok Lan mengangguk, lalu berkata pasti.

"Kita harus menolong dia dan membawanya ke Poan-kun!"

See-thian Hoat-ong memandang tajam, lalu menarik napas panjang dan berkata.

"Alangkah baiknya kalau usahamu berhasil. Akan tetapi aku amat menyangsikannya. Ibumu itu terkenal berwatak keras seperti baja, kemauannya tak dapat dirobah lagi........."

Mereka lalu melakukan perjalanan cepat, kembali ke kota raja untuk berusaha menolong Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan yang tertawan.

Semenjak dunia berkembang, cinta memang merupakan sesuatu yang amat berpengaruh.

Cinta memegang peran penting sekali dalam kehidupan manusia, menguasai hati manusia sepenuhnya, baik ia seorang bodoh atau pintar, jahat atau baik.

Demikian besar pengaruh cinta kasih terhadap manusia sehingga ia kadang-kadang bahkan mengalahkan watak.

Orang bodoh sewaktu-waktu bisa menjadi cerdik orang pintar bisa menjadi tolol, orang jahat bisa berbuat kebaikan sebaliknya orang baik bisa melakukan perbuatan jahat, ini semua gara-gara cinta!

Kam Kun Hong adalah seorang pemuda yang biasanya memandang rendah kaum wanita.

Melihat wanita baginya sama dengan melihat boneka-boneka cantik yang adanya hanya untuk ditimang-timang kemudian dibuang setelah bosan.

Atau seperti kembang-kembang segar yang adanya hanya untuk dipetik kemudian dibuang setelah layu.

Baca Juga: Si Tangan Sakti 1

Baca Juga: Rajawali Emas 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert