Eps 5 Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo
Baca online Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo
Cersil Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo.
Wataknya yang tidak baik ini terutama sekali adalah pengaruh dari watak dua orang gurunya yang mendidiknya sejak ia kecil, yaitu Tok-sim Sian-li wanita cabul itu dan Bu-ceng Tok-ong tokoh yang terkenal paling mbocengli (tidak tahu aturan)!
Kemudian gurunya yang terakhir, Thai Khek Sian yang juga seorang manusia iblis berwatak rendah dan cabul.
Ini semua masih ditambah lagi oleh lingkungan atau perhubungannya dengan orang-orang yang memang tidak bersih pikirannya.
Sudah banyak wanita yang dikenal Kun Hong, yang dipermainkannya seperti orang mempermainkan boneka atau kembang.
Dia pemuda pembosan.
Akan tetapi aneh bin ajaib, begitu bertemu dengan Pui Eng Lan, tak sedetikpun ia dapat melupakan wajah yang manis itu, tak dapat ia mengusir bayangan senyum gadis itu, kerlingnya yang tajam, lesung pipit di ujung bibirnya.
"Aku harus mendapatkan dia!"
Berkali-kali pemuda ini mengambil keputusan.
"Aku bisa mati karena rindu kalau tidak bisa mendapatkan dia!"
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa gembira hatinya ketika ia mendengar bahwa gadis pujaan hatinya itu telah tertawan, bersama Tung-hai Sian-li!
Cepat ia mendatangi tempat tahanan mereka dan melarang semua orang mengganggu dua orang tawanan itu, terutama sekali si gadis.
Biarpun baru sebentar di kota raja, namun Kam Kun Hong sudah mempunyai pengaruh dan kekuasaan besar sekali.
Ini bukan hanya karena dia datang sebagai wakil Thai Khek Sian, akan tetapi terutama sekali karena semua orang sudah menyaksikan sendiri betapa lihatnya pemuda ini.
Apa lagi melihat betapa Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong, tokoh-tokoh yang amat terkenal di antara pasukan-pasukan penjaga Mongol, bersikap demikian takut-takut terhadap Kun Hong.
Kekuasaan pemuda, ini menguntungkan Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan.
Oleh larangan Kun Hong ini, tak seorangpun berani mengganggu mereka, bahkan Bu-ceng Tok-ong sendiripun tidak berani!
Pada hari ke dua, selagi Pui Eng Lan merenung menantikan nasibnya di dalam kamar tahanan, pintu kamar itu terbuka dari luar.
Nona ini mendapat perlakuan baik.
Biarpun masih diborgol kaki tangannya, akan tetapi ia berada di dalam sebuah kamar yang bersih, duduk di atas kursi dan di atas meja tersedia makanan dan minuman.
Borgol kaki tangannya berantai panjang, tidak menghalangi apa bila ia hendak makan atau minum..
Akan tetapi mana bisa gadis ini mengisi perutnya?
Ia hanya menanti datangnya musuh yang hendak membunuhnya sambil mengharapkan munculnya suhu dan kawan-kawannya untuk menolong dia dari kamar tahanan ini.
Ia menyesal sekali karena dipisahkan dari Tung-hai Sian-li yang tiada hentinya memaki-maki menantang orang-orang Mongol mengadakan pertandingan secara jujur.
Eng Lan kaget sekali ketika mendengar pintu tahanannya terbuka dari luar.
Tak salah lagi.
pasti musuh yang datang.
Kalau suhunya atau kawan-kawannya yang hendak menolong, tentu datang pada malam hari tidak pada pagi hari seperti itu.
Akan tetapi ia tidak takut.
Pui Eng Lan tidak mengenal takut.
Rasa takut akan bahaya sudah habis dideritanya ketika ia masih berusia enam tahun dahulu, ketika bala tentara Mongol menyerbu ke Tiongkok desanya dihancurkan, orang tuanya binasa dalam rumahnya yang dibakar.
Dia lari, lari terus menjauhkan diri dari segala kengerian itu sampai akhirnya dipungut oleh Pak-thian Koai-jin dan menjadi muridnya.
Kalau di waktu masih kecil sudah mengalami kengerian seperti itu apa lagi yang dapat mendatangkan rasa takut dalam hatinya?
Tidak, Pui Eng Lan tidak kenal lagi terutama sekali tidak takut akan bahaya yang dapat membawa maut.
Mukanya yang agak pucat menjadi merah secara tiba-tiba dan matanya yang indah jeli berapi-api, bibirnya yang manis bentuknya itu merengut.
"Kau?? Mau apa kau datang ke sini? Penghianat, pengecut! Tak usah membuka mulut, kalau mau bunuh lekas bunuh, aku Pui Eng Lan tidak takut!"
Katanya, menyambut masuknya pemuda tampan itu dengan makian pedas.
Kun Hong tersenyum, senyum mengejek yang sudah menjadi kebiasaannya dan sepasang matanya berseri-seri.
penuh godaan dan penuh kegembiraan.
"Kalah madu olehmu......"
Katanya dan pandangannya penuh gairah.
"Kalah apa? Madu bagaimana? Jangan ngaco-belo!"' Eng Lan memang tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh pemuda ini.
"Kalah manis!"
"Setan jahanam, siapa sudi mendengar pujianmu? Jangan coba bermain gila di sini!"
"Main gila apa? Memang aku sudah tergila-gila kepadamu. Nona Pui Eng Lan, tahukah kau bahwa selama hidupku baru kali ini aku bertemu dengan seorang gadis yang gagah perkasa, cantik jelita, manis denok, tiada cacad seujung rambut-pun! Adikku yang baik, aku tidak main-main kali ini, aku betul-betul cinta kepadamu. Katakan saja kau suka, aku akan meminangmu untuk menjadi isteriku!"
"Keparat busuk, siapa sudi mendengarkan omonganmu? Kau penghianat dan pengecut, kau menyuruh anjing-anjing Mongol itu menawan aku dan Tunghai Sian-li secara curang, dan sekarang kau masih ada muka untuk pura-pura bersikap manis? Hemm. kaukira aku orang macam apa mudah kautipu dan bujuk?"
"Kau galak, akan tetapi aku lebih suka gadis bersemangat. Kau menuduh orang sembarangan saja. Yang menawanmu memang pasukan kerajaan, akan tetapi apa kau tidak ingat akan perbuatanmu yang amat ceroboh dan menggegerkan kota raja? Kau telah membunuh seorang hartawan she Liu yang mempunyai pengaruh besar. Masih herankah kau kalau kau ditawan? Memang mudah menyalahkan orang, alangkah sukarnya meneliti kesalahan diri sendiri."
Sambil berkata demikian, Kun Hong menggerakkan kedua tangannya, terdengar suara pletak-pletok dan belenggu yang mengikat kaki tangan gadis itu putus semua!
Bukan main kagumnya hati Eng Lan.
Ia sejak malam tadi sudah mengerahkan seluruh lweekangnya untuk mencoba mematahkan belenggu, akan tetapi tambang itu terbuat dari pada kulit binatang yang amat kuat, ulet dan mulur.
Sekarang dengan gerakan demikian ringan dan cepat, pemuda ini sudah berhasil memutuskan semua ikatannya.
Benar-benar hebat pemuda ini.
Eng Lan mengangkat dadanya.
"Memang aku yang membunuh hartawan okpa (jahat) itu. Kau hanya menegur karena aku membunuh, tidak bertanya mengapa aku membunuhnya. Bandot tua she Liu itu karena ingin memaksa enciku menjadi selirnya, telah membunuh enciku dan suaminya berikut seorang anaknya setelah enciku menolak. Coba kau pikir, apa bandot macam itu tidak patut dibunuh?"
"Sudah sepatutnya! Dia harus seribu kali dibunuh!"
Kun Hong mengangguk-angguk dengan muka sungguh-sungguh.
"Akan tetapi dengar. Aku dan pasukan itu adalah petugas-petugas, penjaga keamanan kota Peking dan sekitarnya. Kau sudah datang bersama kawan-kawanmu dan melakukan pembunuhan atas diri seorang bangsawan kaya, sudah tentu kami menangkapmu."
Eng Lan mengedikkan kepalanya.
"Aku yang membunuh anjing tua itu! Kau boleh tangkap aku, boleh bunuh aku. Akan tetapi jangan mengganggu yang lain. Tung-hai Sian-li tidak berdosa, mengapa ikut-ikut ditangkap? Akulah pembunuhnya dan aku siap menerima hukumannya, jangan bawa-bawa orang lain. Lepaskan dia!"
Kun Hong mengangguk-angguk.
"Kau betul juga. Biar sekarang aku menyuruh orang membebaskan Tung-hai Sian-li. Dan kau juga! Akan tetapi berjanjilah bahwa kau takkan menikah dengan orang lain dan menanti pinanganku!"
Eng Lan kurang memperhatikan kalimat terakhir ini. Dia terlampau heran mendengar ucapan pemuda ini yang hendak membebaskannya, juga Tung-hai Sian-li.
"Membebaskan...... aku......?"
Tanyanya, matanya terbelalak lebar memandang pemuda itu, tidak percaya. Kun Hong mengangguk, tersenyum.
"Eng Lan. aku cinta padamu. Lebih baik aku menggantung leherku sendiri dari pada melihat dan membiarkan kau dihukum gantung! Aku cinta padamu, masih herankah kau?"
Sambil berkata demikian, dengan mata bersinar-sinar dan bibir tersenyum pemuda ini melangkah maju.
Eng Lan melangkah mundur, takut dan ngeri akan apa yang diperbuat oleh pemuda ini kcpadanya, Tiba-tiba, melihat bahwa ia tidak akan dapat melarikan diri lagi, nona ini menjadi nekat.
Sambil berseru keras ia menerjang maju, memukul dada pemuda itu sekuatnya.
Eng Lan adalah murid terkasih dari Pak-thian Koai-jin, biarpun dia seorang ahli ilmu pedang, namun pukulan tangannya juga lihai dan berbahaya.
Kun Hong mengeluarkan suara ketawa menyeramkan dan sekali ia menggerakkan tangan, ia telah berhasil menangkap pergelangan tangan gadis itu yang lalu dipeluknya.
Eng Lan mencoba untuk meronta, namun tak berdaya lagi.
Dalam pegangan Kun Hong ia sama sekali tidak kuasa memberontak.
Ia menjadi gelisah dan.........
menangis!
Aneh sekali.
Kun Hong yang biasanya berhati keras dan tidak mengenal kasihan, mendengar tangis Eng Lan tiba-tiba seperti lemas seluruh tubuhnya.
Cekalannya mengendur, hatinya penuh rasa kasihan.
Tidak tega ia menggoda gadis yang dicintanya ini, tidak ingin ia menyusahkan hati Eng Lan.
Ia melepaskan pelukannya dan.......
berlutut!
"Eng Lan, maafkan aku..........
jangan khawatir, aku takkan mengganggumu.........
maafkan aku, aku cinta padamu........."
Eng Lan menjatuhkan diri di atas kursi, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu.
"Pergi kau! Pergilah.......! Pergiii!!"
Kun Hong berdiri, memandang beberapa lama, menarik napas panjang, lalu berkata.
"Malam ini aku akan membebaskan kau dan Tung-hai Sian-li. Aku tidak mungkin dapat menyusahkan hatimu. Eng Lan. Sementara menanti datangnya malam, kau makan dan minumlah, jangan sampai terkena angin dan jatuh sakit."
Makin keras tangis Eng Lan mendengar ucapan yang halus dan penuh perhatian ini.
Ia menangis sampai lama sesudah pintu kamar itu ditutup dan dikunci lagi dari luar.
Hatinya tidak karuan rasanya.
Ia kagum kepada Kun Hong.
pemuda yang amat lihai ilmu silatnya, yang amat pemberani itu.
Ia kagum, ia benci setengah mati, akan tetapi ia juga kasihan kepadanya!
Pemuda lihai, kurang ajar.
jahat, namun.........
Eng Lan mulai makan hidangan di depannya!
Malamnya, menjelang tengah malam, pintu kamar tahanannya terbuka dari luar dan masuklah.........
Tung-hai Sian-li.
Pendekar wanita ini menaruh jari telunjuk di bibir, lalu menghampiri sambil berbisik.
"Kita pergi dari sini......."
Eng Lan makin terharu, maklum bahwa pemuda yang jahat itu ternyata memegang janji.
Tung-hai Sian-li lalu mendahuluinya, keluar dari pintu.
Tidak kelihatan ada penjaga di luar pintu.
Eng Lan mengikutinya.
Kemudian, setelah melihat suasana sunyi saja.
Tung-hai Sian-li dan Eng Lan melompat ke atas genteng rumah gedung yang menjadi tempat tahanan itu, lalu mulai melompat-lompat pergi dari situ.
"Kuntianak dari timur, jangan lari!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong di depan Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan.
Tentu saja dua orang wanita ini kaget sekali, maklum bahwa mereka telah dihadang oleh dua orang musuh yang amat tangguh.
"Siluman beracun, kalau tidak kau, tentu aku yang menggeletak tak bernyawa!"
Bentak Tung-hai Sian-li dengan kemarahan meluap-luap melihat musuh besarnya kembali telah mencoba menghalangi larinya.
Cepat ia mencabut pedang dan menyerang.
Tok-sim Sian-li yang memang lebih lihai, tertawa mengejek sambil melompat ke samping.
Akari tetapi tiba-tiba Tok-sim Sian-li terhuyung mundur dan Bu-ceng Tok-ong yang hendak maju juga tersentak kaget dan melompat ke belakang.
"Jangan halangi mereka, biarkan mereka bebas!"
Kata Kun Hong yang muncul secara tiba-tiba dan tadi mendorong Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong.
"Kun Hong! Kau membiarkan mereka lolos?"
Terdengar Tok-sim Sian-li berseru kaget sekali, juga terheran-heran.
Bu-ceng Tok-ong juga heran dan mengomel.
Sementara itu.
melihat munculnya pemuda yang menolong mereka, Tung-hai Sian-li dan Pui Eng Lan tidak membuang waktu lagi, terus melompat pergi dan berlari-lari menghilang di dalam gelap malam.
Mereka mempergunakan kesempatan ini untuk lari saja oleh karena maklum bahwa apa bila terjadi pertempuran, tanpa dibantu kawan-kawan lain, mereka pasti akan kalah.
Biarpun merasa penasaran, Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong tidak berani mengejar.
"Kun Hong., melepaskan mereka berarti melanggar tugas kita yang sudah berjanji hendak membantu pemerintah menghalau para pengacau. Bagaimana kita harus mempertanggung-jawabkan terhadap Hek-mo Sai-ong yang tentu akan melaporkan hal ini ke kota raja!"
Kata pula Tok-sim Sian-li penuh penyesalan.
"Kita bungkam mulut Hek-mo Sai-ong untuk selamanya kalau dia melapor."
Kata Kun Hong tidak perdulian.
"Biarpun Hek-mo Sai-ong dapat dibungkam, semua pasukan akan tahu belaka bahwa kau sengaja melepaskan tawanan. Apa kaukira mereka begitu bodoh?"
Tok-sim mendesak lagi.
"Hayaaa. mengapa ribut-ribut? Kita tinggal pergi, habis perkara,"
Kata Bu-ceng Tok-ong sambil tersenyum masam.
"Tok-ong, kita sudah menerima banyak hadiah dan kesenangan dari orang-orang Mongol, masa belum memperlihatkan jasa lalu ditinggal pergi?"
Tegur Tok-sim.
"Perduli apa? Mereka boleh mampus!"
Jawab Bu-ceng Tok-ong.
Tahu akan watak Bu-ceng Tok-ong yang memang paling mbocengli (tidak tahu aturan) dan susah diajak urusan.
Tok-sim Sian-li yang hendak mengingatkan Kun Hong berkata lagi kepada pemuda itu.
"Kun Hong, anak baik. Boleh jadi kita tidak usah terlalu pusingkan pemerintah Mongol akan tetapi kita harus ingat akan perintah Thai Khek Siansu. Thai Khek Siansu bilang, selama murid keturunan Thian Te Cu dan Gan Yan Ki memusuhi orang-orang Mongol, kita harus membantu orang-orang Mongol dan menghadapi anak murid dua orang musuh lama itu."
"Siapa melanggar perintah suhu? Tung-hai Sian-li dan nona Pui Eng Lan bukan murid dua orang itu."
Bantah Kun Hong.
"Akan tetapi mereka bersekongkol dengan murid Thian Te Cu. Memang keturunan Gan Yan Ki sekarang menyembunyikan diri dan tidak membantu siapa-siapa, kita boleh tidak usah memusingkan dia, akan tetapi harus diingat bahwa murid Thian Te Cu, pemuda she Thio itu telah membantu rombongan yang mengacau di sini. membantu pembunuh-pembunuh kakek Liu. Pembunuhnya sudah tertawan, akan tetapi kau membebaskannya........."
"Cukup! Aku sengaja membebaskannya, siapa melarang!"
Kun Hong membentak marah dan bekas guru-gurunya tidak ada yang berani berkelisik.
"Aku......... aku cinta kepada gadis itu. Aku akan mencari ayah untuk......... untuk mengatur perjodohanku dengan dia........."
Merah muka Tok-sim Sian-li, dan terdengar Bu-ceng Tok-ong tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha cinta bisa membikin dunia jungkir-balik! Aku mencinta Tok-sim., Tok-sim mencinta Kun Hong, Kun Hong mencinta nona Pui dan nona Pui mencinta siapa?"
"Dia tentu mencintaiku!"
Potong Kun Hong, matanya bersinar, siap untuk marah kalau ada yang berani menyangkal. (Lanjut ke
Jilid 14) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14
"Tidak bagus kalau begitu. Urusan akan berhenti di sini saja, tidak ramai lagi, tidak menggembirakan. Selama ada keruwetan dan keributan, baru ada kegembiraan. Kalau Kun Hong sudah jatuh cinta dan terbalas, untuk apa aku lama-lama di sini bengong melihati orang asyik mesra? Aku mau pergi saja!"
Setelah berkata demikian, kakek yang wataknya aneh ini lalu melompat pergi, didiamkan saja oleh dua orang kawannya.
"Akupun malam ini juga hendak mencari ayah di Kun-lun-san."
Kata Kun Hong sambil berkelebat pergi pula.
Tok-sim Sian-li berdiri bengong.
Tak terasa lagi dua butir air mata mengalir turun di atas pipinya.
Hatinya perih, penuh sesal, penuh iri.
penuh cemburu.
Kebenciannya terhadap Tung-hai Sian-li meluap-luap.
"Siluman betina dari timur!"
Bisiknya sambil menggigit gigi saking gemas dan sakit hati.
"Dahulu kau datang merampas Kwa Cun Ek dari tanganku, merobek luka hatiku. Sekarang kau datang lagi bersama Pui Eng Lan yang mencuri hati Kun Hong kekasihku kau menghancur-leburkan hatiku. Kalau aku tidak dapat membelek dadamu dan mencabut jantungmu, sampai matipun aku akan menjadi setan penasaran!"
Setelah menyumpah-nyumpah dan memaki-maki, Tok-sim Sian-li juga pergi dari situ.
Untuk apa lebih lama berada di kota raja membantu Kaisar Mongol kalau di situ tidak ada Kun Hong di sampingnya?
Ia hendak kembali ke Pulau Pek-go-to, hendak minta keadilan kepada Thai Khek Sian.
hendak membujuk Thai Khek Sian mempergunakan pengaruhnya yang masih kuat atas diri pentolan Mo-kauw itu, agar supaya Thai Khek Sian melarang Kun Hong berjodoh dengan Pui Eng Lan!
Pegunungan Kun-lun adalah daerah yang amat luas.
Panjangnya meliputi daerah Propinsi Cinghai memanjang ke barat sampai ke Tibet.
Jarang ada orang kelihatan di daerah liar ini, kecuali para pertapa yang memang selalu mencari tempat-tempat sunyi seperti itu.
Bahkan di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Kun-lun-san, terdapat kelenteng besar yang merupakan kompleks perumahan para tosu dari Kun-lun-pai, partai persilatan yang sudah terkenal di dunia kang-ouw.
Kam Kun Hong berlari-lari di lereng Pegunungan Kun-lun-pai dengan wajah gembira sekali.
Wajahnya yang tampan berseri-seri.
rambutnya yang hitam tebal itu digelung ke atas.
diikat saputangan putih, membuat mukanya nampak bundar putih tampan sekali, matanya bersinar-sinar.
Hatinya gembira melihat pegunungan yang sudah amat dikenalnya ini.
Ia pernah dahulu tinggal di puncak Kun-lun-san, di dalam kelompok perumahan Kun-lun-pai bersama ayahnya.
Seng-goat-pian Kam Ceng Swi.
Belasan tahun ia meninggalkan tempat ini, semenjak ia diculik oleh Tok-sim dan Tok-ong.
Tigabelas tahun ia tidak bertemu dengan ayahnya.
Kadang-kadang ia merasa rindu juga, akan tetapi kadang-kadang ia tidak ingin bertemu dengan ayahnya.
Entah mengapa.
Akan tetapi kali ini dengan penuh harapan ia mendaki Bukit Kun-lun untuk dapat bertemu dengan ayahnya.
Tidak hanya karena rindu, terutama sekali untuk mengajukan sebuah permintaan, yaitu meminang Pui Eng Lan murid dari Pak-thian Koai-jin.
Dia sendiri tidak tahu di mana tempat tinggal nona itu atau gurunya, akan tetapi ia percaya bahwa ayahnya tentu akan mengetahuinya.
Ayahnya amat luas pengalaman dan pergaulannya, mustahil tidak tahu di mana tinggalnya Pak-thian Koai-jin, kakek kang-ouw berpakaian pengemis, bertubuh kecil pendek, matanya besar, nakal dan senjatanya juga aneh, mangkok butut dan tongkat bambu itu.
Ketika tiba di lereng di mana dahulu Tok-sim Sian-li dan Bu-ceng Tok-ong menculik dia dan Wi Liong, hari telah menjelang senja.
Kun Hong berhenti dan merenung.
Seakan-akan baru kemarin saja terjadinya hal itu.
Masih terbayang di depan matanya ketika ia berkelahi dengan Wi Liong.
Masih teringat ia ketika Pak-thian Koai-jin mempermain-mainkannya dan mau mengambil murid padanya.
"Orang muda dari mana dan siapa nama yang datang ke tempat sunyi ini?"
Tiba-tiba terdengar orang menegur sampai Kun Hong menjadi kaget.
Dari cara orang ini datang begitu tiba-tiba tanpa ia melihatnya, sudah dapat diduga oleh Kun Hong bahwa orang ini tentu memiliki kepandaian tinggi.
Dia seorang kakek kurus bermata sipit, jenggotnya sedikit, tak terpelihara, rambutnya digelung ke atas.
Dia tidak membawa apa-apa, hanya di punggungnya tergantung sebuah tempat arak terbuat dari kulit buah waluh yang dikeringkan.
Karena berada di tempat perguruan ayahnya.
Kun Hong tidak berani berlaku lancang dan kurang hormat.
Ia segera menjura dan menjawab.
'Siauwte adalah Kam Kun Hong.
datang sengaja hendak menghadap ayahku.
Kam Ceng Swi.
Entah siapakah lo-enghiong ini.
apakah seorang anak murid Kun-lun-pai?"
Orang itu melengak, memandang tajam lalu tertawa bergelak.
"Kau putera Seng-gwat-pian? Ha-ha-ha, tidak nyana Kam-twako mempunyai seorang putera begini ganteng dan gagah! Eh Kam Kun Hong, ketahuilah, aku Cin Cin Cu sahabat baik ayahmu, seperti adik sendiri. Ha-ha, alangkah senangnya mempunyai seorang keponakan begini ganteng. Pertemuan ini harus dirayakan dengan minum arak wangi."
Sambil berkata demikian, orang yang bernama Cin Cin Cu itu menurunkan ciu-ouw (tempat arak) dari punggungnya dan membuka sumbatnya. Betul saja tercium bau arak yang amat harum oleh Kun Hong.
"Maaf, siok-siok (paman). Bukan kurang menghormat, akan tetapi aku ingin sekali cepat bertemu dengan ayah. Nanti setelah bertemu dengan ayah, tentu dengan senang hati aku akan melayanimu minum arak,"
Kata Kun Hong sambil tersenyum.
"'Tidak bisa. tidak bisa. Ayahmu kebetulan tidak berada di sini,"
Kata Cin Cin Cu.
"Tidak berada di sini?"
Kun Hong bertanya dengan suara kecewa sekali.
"Ke manakah perginya ayah?"
"Kau ikutlah ke sini. minum arak. Tidak ada yang lebih nikmat dari pada minum arak sambil memandang bulan purnama dari tempat sunyi."
Kakek itu lalu melompat dan tahu-tahu ia telah duduk di atas sebuah cabang pohon yang menjulang ke atas sebuah jurang yang curam.
Cabang itu bergoyang-goyang naik turun dan hanya orang yang berkepandaian tinggi saja berani duduk di tempat seperti itu, dengan melompat dari bawah pula.
Sekali cabang itu patah, orangnya tentu akan terjerumus ke dalam jurang yang amat dalam!"Anak muda.
kau ke sinilah temani aku minum arak mengagumi bulan sambil mengobrol seenaknya."
Kun Hong merasa ditantang.
Ajakan kakek itu hampir sama dengan mencoba kepandaiannya.
Di samping ini, juga ia ingin sekali mendengar di mana adanya ayahnya agar ia dapat menyusulnya Pemuda ini mengenjotkan kedua kakinya, mengerahkan ginkangnya dan melayang ke atas cabang itu, duduk di sebelah kanan kakek tadi.
Diam-diam Cin Cin Cu kaget dan kagum bukan main karena cabang itu sedikitpun tidak bergoyang!
Padahal tadi ketika ia melompat ke situ, cabang itu bergoyang-goyang.
Terang bahwa dalam ilmu ginkang, ia malah kalah oleh pemuda ini!
Padahal ia adalah seorang ahli ginkang yang sudah mendapat julukan Bu-beng-kwi (Setan Tanpa Bayangan)!
"Bagus, kau pemuda gagah pantas menjadi keponakanku, pantas kuberi hadiah secawan arak harum!"
Katanya sambil mengeluarkan sebuah cawan arak yang amat kecil dan menuangkan arak dari tempat arak itu ke dalam cawan sampai penuh.
Kun Hong menerima cawan penuh arak itu dan tersenyum.
Alangkah kikirnya kakek ini.
cawan araknya saja demikian kecil, seperempat cawan arak biasa!
Akan tetapi karena gembira juga melihat bahwa dari tempat itu ternyata mereka dapat melihat bulan purnama yang baru timbul dari timur, Kun Hong menyatakan terima kasih dan mengirup araknya sekaligus.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa arak itu menyengat lidah dan mulutnya.
Arak yang demikian keras, demikian harum dan demikian enak belum pernah ia minum selama hidupnya.
Hampir ia tersedak.
Cin Cin Cu tertawa ketika menerima cawan yang sudah kosong.
"Ha-ha. kaukira arak ini sama dengan arak yang boleh kaubeli dari segala warung? Ha-ha-ha, arak ini telah menyimpan sari cahaya bulan bertahun-tahun lamanya, namanya juga arak sinar bulan! Kau dapat menenggak habis sekaligus tanpa tersedak, itu menandakan bahwa lweekangmu sudah amat tinggi. Kau seorang muda begini lihai, patut minum cawan ke dua!"
Kembali ia menuangkan arak ke dalam cawan sampai penuh memberikannya kepada Kun Hong.
Kini tahulah Kun Hong bahwa kakek ini tidak pelit, melainkan araknya yang istimewa dan tidak bisa disamakan dengan arak lain yang boleh ditenggak sampai berpuluh cawan besar.
Timbul kegembiraannya, ia menerima cawan itu sambil mengucapkan terima kasih.
"Lo-enghiong patut menjadi pamanku, patut menjadi saudara ayah......."
"Ha-ha-ha. tentu saja. Aku Cin Cin Cu memang dengan Kam Ceng Swi seperti adik dan kakak. Kau selanjutnya boleh menyebutku paman Cin!"
Kun Hong juga tertawa.
"Paman Cin benar-benar baik sekali. Tidak tahu apakah kau juga mengerti mengapa ayah turun gunung dan sekarang berada di mana?"
"Ayahmu turun gunung menuju ke Peking untuk membantu perjuangan ornag-orang gagah sedunia yang berusaha membendung pengaruh Mongol yang makin meracuni semangat orang-orang kang-ouw. Kabarnya orang-orang Mo-kauw juga sudah terang-terangan membantu para penghianat dan pembesar Mongol. Oleh karena itu ayahmu tidak dapat menahan hatinya dan sudah mendahului kami turun gunung. Apa lagi ketika ia mendengar bahwa manusia-manusia busuk macam Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-U juga ikut-ikut menjadi anjing penjilat Bangsa Mongol, malah kabarnya si gembong Mo-kauw Thai Khek Sian juga turut-turut!"
Sambil berkata demikian, tiba-tiba Cin Cin Cu menghentikan sikapnya yang tertawa-tawa, sebaliknya kini menatap wajah Kun Hong dengan tajam penuh selidik!
Ucapan itu memang benar merupakan serangan mendadak yang menikam isi dada Kun Hong, akan tetapi pemuda ini dapat mengendalikan diri dan untuk menutupi mukanya yang menjadi merah, ia meneguk arak di dalam cawannya sekaligus ke dalam mulut.
Kali ini ia tidak akan tersedak lagi karena ia sudah bersiap menghadapi arak keras itu.
Cin Cin Cu kembali tertawa bergelak.
"Ayahmu memang bersemangat sekali, seorang gagah perkasa yang mulutnya saja sering kali bilang tidak perduli urusan dunia., akan tetapi di dalam hatinya selalu membela rakyat kecil yang terus-menerus menjadi korban kekuasaan ganas. Kaupun gagah, mari minum cawan ke tiga. Kau.tahu hanya tokoh-tokoh nomor satu dari Go-bi-pai yang sanggup menghabiskan tiga cawan arak sinar bulan ini sekaligus!' Kembali cawan diisi penuh dan mendengar ucapan terakhir ini. darah muda dalam tubuh Kun Hong membuat ia pantang mundur. Kalau tokoh-tokoh nomor satu dari Go-bi-pai sanggup, masa ia tidak sanggup? Padahal pandang matanya sudah mulai berkunang dan kepalanya mulai berdenyut-denyut. Dari tempat tinggi itu ia melihat jurang di bawah ternganga seperti mulut hitam yang besar mengerikan. Bulan yang tadinya bundar terang, sekarang masih terang malah lebih terang, hanya bundarnya sudah pletat-pletot dan kadang-kadang kelihatan seperti ada dua atau tiga bertumpuk-tumpuk. Akan tetapi sebagai seorang muda yang tidak mau kalah, Kun Hong malu kalau menolak. Ia menerima cawan itu dan minum habis sekali tenggak, la mengambil keputusan untuk segera melompat turun setelah menenggak cawan ke tiga dan bercakap-cakap di atas tanah. Akan tetapi, begitu isi cawan ke tiga memasuki perutnya, matanya menjadi gelap, denyut di kepalanya makin hebat dan tiba-tiba Cin Cin Cu bergerak melompat dari tempat itu, dari alas cabang pohon. Kun Hong maklum bahwa kalau dia tidak lekas-lekas turun, ia bisa jatuh terguling. Cepat ia melompat, akan tetapi oleh karena pandang matanya sudah kabur, lompatannya tidak tepat dan tubuhnya melayang ke pinggir jurang! "Bagus. Cin Cin Cu sicu. terima kasih atas pertolonganmu!'"
Terdengar suara halus dan sehelai tambang meluncur bagaikan ular panjang, melibat tubuh Kun Hong yang.
masih melayang lalu menariknya dengan sentakan kuat sekali ke atas tanah.
Tambang ini yang dipegang oleh seorang tosu tua telah menolong Kun Hong dari bahaya terjerumus ke dalam jurang.
Kun Hong bergulingan di atas tanah dalam keadaan setengah pingsan.
Tosu tua itu lalu terus mengikat kaki tangannya dengan tambang tadi.
biarpun ia sudah amat tua namun gerakannya cekatan dan segera muncul lima enam orang tosu yang membantunya.
Sebentar saja Kun Hong sudah menjadi orang tawanan yang dibelenggu, tak berdaya sama sekali Tosu tua tinggi kurus berambut putih ini bukan lain adalah Pek Mau Sianjin atau juga terkenal disebut Kun-lun Lojin, couwsu atau guru besar dari Kun-lun-pai!
Beberapa orang tosu lain adalah anak-anak muridnya atau tokoh-tokoh utama dari partai Kun-lun.
Cin Cin Cu menjura dan menarik napas panjang.
"Thian memang tidak menghendaki kejahatan merajalela di dunia. Kebetulan sekali selagi aku turun gunung hendak pulang, muncul pemuda ini yang memang kita cari-cari. Kalau ia tidak lekas-lekas mengaku putera Seng-gwat-pian, mana aku bisa mengenal murid Thai Khek Stan?"
Ia menggeleng-geleng kepala dan berkata lagi.
"Sungguh berbahaya! Dari lompatannya ke atas cabang saja sudah membuktikan bahwa dia benar-benar lihai sekali."
"Syukur dia datang sendiri, tak usah kita susah-susah mencarinya,"
Kata Pek Mau Sianjin, kemudian ia menyuruh murid-muridnya menggusur pemuda itu dan membawanya ke kelenteng dan menjaganya keras-keras.
Siapakah Cin Cin Cu dan mengapa dia dan tokoh-tokoh Kun-lun-pai menawan Kun Hong mempergunakan arak keras yang agaknya dicampuri obat memabokkan?
Cin Cin Cu adalah seorang tokoh Go-bi-pai.
partai persilatan yang tidak kalah ternama oleh Kun-lun-pai.
Dia ini adalah sute (adik seperguruan) dari Pak-thian Koai-jin dan Hulek Siansu yang menjadi ketua Go-bi-pai.
Seperti juga Pak-thian Koai-jin, Cin Cin Cu ini paling gemar merantau, tidak suka berdiam di gunung seperti Hu Lek Siansu dan saudara-saudara yang lain.
Cin Cin Cu hidup seperti burung, terbang ke sana ke mari tidak ada yang melarang, hidup sebatangkara bersama guci araknya.
Dia seorang yang amat doyan minum arak, maka julukannya Bu-eng-kwi (Setan Tanpa Bayangan) kadang-kadang ditambah dengan ciu-kwi (Setan Arak)!
Seperti halnya Pak-thian Koai-jin.
Cin Cin Cu juga seorang yang berjiwa patriotik, tidak rela ia melihat tanah airnya dijajah oleh orang-orang Mongol.
Akan tetapi menghadapi kekuatan yang maha besar dari bala tentara Mongol, ia bisa apakah?
Paling-paling hanya mengganggu dan mengacau saja seperti yang dilakukan oleh pendekar-pendekar lainnya.
Dalam hal ilmu silat, biarpun tidak sepandai Pak-thian Koai-jin, kiranya tidak kalah jauh oleh suhengnya.
Hu Lek Siansu, hwesio yang menjadi ketua Go-bi-pai.
Ada kelebihannya dari kedua orang suhengnya itu, ialah bahwa Cin Cin Cu mahir ilmu pengobatan.
Ketika melakukan perjalanan ke Peking, Cin Cin Cu mendengar tentang keadaan di sana, mendengar bahwa Thai Khek Sian, gembong pertama dari Mo-kauw telah mengutus seorang muridnya yang pandai bernama Kam Kun Hong, dikawani oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li, untuk memperkuat kedudukan kaki tangan Mongol.
Ketika mendengar bahwa murid Thai Khek Sian itu adalah putera Kam Ceng Swi yang dulu diculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li yang kini menjadi murid Thai Khek Sian.
Cin Cin Cu cepat-cepat menuju ke Kun-lun-pai.
Kam Ceng Swi adalah murid Kun-lun-pai, kalau puteranya sekarang menjadi jago Mongol.
bukankah hal itu dapat mencemarkan nama baik partai Kun-lun-pai yang menjadi partai sahabat perkumpulannya?
Cin Cin Cu lebih tahu dari pada Kun Hong mana jalan terdekat menuju ke.
Kun-lun, maka dia datang lebih dulu dari Kun Hong, biarpun selisihnya hanya dua hari.
Diceritakannya kepada Pek Mau Sianjin tentang pemuda putera Kam Ceng Swi itu.
Semua tokoh Kun-lun-pai masih teringat akan Kun Hong yang memang pernah tinggal di situ, maka kagetlah mereka.
Terutama sekali Pek Mau Sianjin.
"Kita harus tangkap dia dan beri hukuman. Sayang Kam Ceng Swi sedang turun gunung, kalau.tidak tentu hal ini bisa kita rundingkan dengan dia sebagai ayahnya."
Dua hari Cin Cin Cu melepaskan lelah di puncak Kun-lun-san yang permai.
Pada hari ke tiga, ia turun gunung pada waktu senja.
Seperti sudah diceritakan, secara kebetulan sekali ia bertemu dengan Kun Hong.
Ia belum pernah melihat pemuda ini, akan tetapi begitu mendengar pengakuan Kun Hong, ia cepat mengatur siasat untuk menangkapnya.
Tentu saja Cin Cin Cu takkan menggunakan bantuan arak obatnya sekiranya ia tidak lebih dulu mengetahui sampai di mana kelihaian pemuda ini.
Itulah sebabnya ia sengaja menguji kepandaian Kun Hong di atas cabang.
Arak yang diminum Kun Hong sebanyak tiga cawan itu bukan arak sembarangan.
melainkan arak pilihan yang amat keras dan kuat.
Dua cawan pertama tidak dicampuri apa-apa.
akan tetapi melihat Kun Hong sudah agak pusing, cawan ke tiga dicampuri obat mabok oleh Cin Cin Cu di luar tahu Kun Hong.
Biarpun Kun Hong memiliki kepandaian tinggi, lebih tinggi dari pada kepandaian jago tua Go-bi-pai ini, namun Kun Hong tetap seorang pemuda yang masih hijau.
Ia terlalu percaya kepada Cin Cin Cu dan tidak merasa bahwa ia sedang di "loloh"
Sampai mabok.
Kini ia dilempar ke dalam kamar tahanan dalam keadaan terbelenggu dan mabok setengah pingsan.
Sampai sehari semalam ia tidak sadar, seperti orang tidur.
Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika ia bangun kembali, ia mendapatkan dirinya terbaring di atas pembaringan bambu dalam keadaan terbelenggu.
Ia berusaha mengerahkan tenaga melepaskan ikatannya, namun sia-sia belaka.
Tambang itu adalah tambang terbuat dari pada benang perak yang amat kuat.
Kulit dagingnya akan lebih dulu rusak sebelum ia dapat memutuskan tambang itu.
Ia maklum bahwa ia telah tertawan oleh orang pandai.
Ia mengingat-ingat.
"Cin Cin Cu manusia curang!"
Tiba-tiba ia memaki keras setelah ia teringat akan pengalamannya sebelum ia pingsan.
"Lepaskan aku dan mari kita bertanding secara jantan kalau kau memang laki-laki!"
Biarpun ia terikat kaki tangannya, sekali menggerakkan tubuh. Kun Hong sudah melompat ke arah pintu dan begitu saja ia menumbukkan tubuhnya kepada daun pintu.
"Braakkk!' Pecahlah daun pintu itu dihantam pundaknya. Ia jatuh bergulingan keluar dan ketika ia mengangkat muka memandang, ia melihat banyak tosu tua dengan pedang di tangan sudah mengurungnya, dipimpin oleh tosu rambut putih yang masih ia kenal, karena tosu ini bukan lain adalah Pek Mau Sianjin, sucouw-nya atau guru dari ayahnya.
"Sucouw!"
Teriaknya girang.
"Tolong lepaskan ikatan kaki tangan teecu. Teecu ditipu dan ditawan oleh seorang penjahat bernama Cin Cin Cu yang malam tadi berkeliaran di sini.........!"
"Cin Cin Cu adalah sahabat pinto (aku) dan yang membelenggumu bukan dia, melainkan pinto sendiri!"
Jawab Pek Mau Siannjin dengan suaranya yang halus dan sikapnya yang lemah-lembut, namun sungguh-sungguh dan keren sekali.
Di samping kemarahannya, juga kakek tua ini amat kagum menyaksikan pemuda putera Kam Ceng Swi yang dulu merupakan seorang bocah nakal sekarang telah memiliki kepandaian hebat.
Bahkan dibelenggu kaki tangannya masih dapat menghancurkan pintu kamar tahanan!
Adapun Kun Hong ketika mendengar kata-kata ini.
seketika melompat bangun saking herannya lupa bahwa kaki tangannya masih dibelenggu sehingga biarpun ia dapat melompat berdiri, namun ia terhuyung-huyung dan melompat-lompat seperti seekor monyet untuk menjaga keseimbangan tubuhnya jangan jatuh terguling.
Setelah dapat berdiri tegak, ia melihat tosu-tosu tua itu sudah menodongkan ujung pedang kepadanya.
Pedangnya sendiri.
Cheng-hoa-kiam.
ternyata telah dirampas.
"Apa....... apa artinya ini? Mana ayah,mengapa Kun-lun-pai memusuhiku?"
"Kam Kun Hong. tak perlu menyeret nama baik ayahmu. Jawablah, apakah kau benar menjadi murid Thai Khek Sian?"
Tanya Pek Mau Sianjin.
"Kalau betul mengapa? Berdosakah menjadi muridnya!"
Kun Hong mulai penasaran dan suaranya tidak menghormat lagi.
Ia mulai memandang rendah kepada sucouwnya yang telah menangkap dia secara curang.
Kun-lun Lojin atau Pek Mau Sianjin.
ketua Kun-lun-pai itu menarik napas panjang.
"Jadi kau betul murid Thai Khek Sian? Dan kau menjadi wakil gurumu itu untuk membantu para penghianat bangsa dan para bangsawan penjajah Bangsa Mongol?"
"Memang aku mewakili suhu untuk membantu penjagaan keamanan kota raja dari para pengacau. Apa salahnya pula?"
Jawab Kun Hong berani.
"Memang tidak salah, kalau saja kau bukan anak Kam Ceng Swi."
Kata ketua Kun-lun-pai itu.
"Akan tetapi sebagai keturunan seorang tokoh Kun-lun-pai. perbuatanmu itu tidak saja berarti merusak nama baik ayahmu, malah kau telah merusak nama baik Kun-lun-pai di dunia kang-ouw. Oleh karena kau putera Kam Ceng Swi. kau terhitung cucu murid pinto dan karenanya kau juga seorang anak murid Kun-lun-pai. Oleh karena inilah maka pinto harus menangkapmu dan menghabiskan riwayat sepak-terjangmu yang benar-benar memalukan itu."
"Susiok, dia telah bercampur gaul dengan orang-orang Mo-kauw. dengan perempuan-perempuan cabul seperti Tok-sim Sian-li, itu saja sudah cukup untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Apa lagi ditambah dengan peristiwa-peristiwa yang timbul akibat sepak-terjangnya yang sudah seperti iblis Mo-kauw, suka mengganggu wanita dan sebagainya.........!"
Kata seorang tosu yang sudah gatal-gatal tangannya untuk segera menjatuhkan hukuman itu. Ketua Kun-lun-pai itu menarik napas panjang.
"Sungguh pinto menyesal sekali. Kau seorang berbakat baik sekarang telah memiliki kepandaian tinggi sekali. Akan tetapi ilmu sesat yang kaumiliki hanya akan menjerumuskan kau ke dalam lembah kehinaan, menyeret nama baik orang tua dan partai. Karena itu. dengan hati berat terpaksa pinto menjatuhkan hukuman mati kepadamu. Kam Kun Hong!"
"Nanti dulu!"
Teriak Kun Hong marah sekali.
"Hemm, apa kau takut mampus!"
Bentak tosu keponakan Pek Mau Sianjin yang tadi memperingatkan susioknya tentang keburukan watak Kun Hong.
"Kalian yang takut mampus, masih tanya lagi kepadaku? Kalau kalian gagah dan tidak takut mampus hayo lepaskan aku dan boleh kalian keroyok. Hendak kulihat sampai di mana sih kehebatan Kun-lun-pai. Masa nama besar Kun-lun-pai ternyata sekarang hanya terbukti dengan menawan seorang, pemuda secara curang kemudian membunuhnya seperti orang membunuh ayam? Cih. tidak malukah kalian?"
"Bocah ingusan besar mulut! Berani kau menghina Kun-lun-pai?"
Teriak tosu tadi yang bernama Ban Heng Tosu.
murid keponakan Pek Mau Sianjin.
Guru dari Ban.
Heng Tosu ini adalah seorang suheng dari ketua Kun-lun-pai itu.
atau kakak seperguruannya, yang suka merantau.
Akhirnya suheng ini meninggal di perantauan, meninggalkan surat untuk Pek Mau Sianjin agar suka memelihara muridnya yaitu Ban Heng Tosu yang membawa surat peninggalannya.
Tosu ini terkenal keras wataknya la membentak Kun Hong berbareng menusuk dada pemuda itu dengan pedangnya.
Gerakannya cepat bukan main sampai-sampai Pek Mau Sianjin tidak sempat mencegahnya Akan tetapi secepat-cepatnya gerakan Ban Heng Tosu.
Kun Hong lebih cepat lagi.
Biarpun kedua tangan dan kakinya dibelenggu, ia berhasil miringkan tubuh.
"Breettt!"
Baju Kun Hong robek di bagian dada.
"Ban Heng. jangan menjatuhkan hukuman sendiri!"
Bentak Pek Mau Sianjin melihat Ban Heng Tosu yang penasaran melihat tusukannya dapat dielakkan oleh orang muda yang sudah dibelenggu kaki tangannya ini masih melanjutkan serangannya.
"Bleekkk........ aauuukkkhh!"
Cepat sekali terjadinya hal yang aneh dan membuat semua orang tertegun ini.
Ketika pedang di tangan Ban Heng Tosu sudah menyerang lagi, tiba-tiba tubuh Kun Hong melayang dan pemuda ini telah mengirim tendangan yang dilakukan dengan dua kaki, tepat mengenai dada tosu sombong itu.
Ban Heng Tosu terlempar ke belakang dan menggeletak tak bergerak lagi, dari mulutnya keluar darah.
Sedangkan Kun Hong yang melakukan tendangan dalam posisi seperti itu juga tertolak ke belakang dan jatuh seperti balok pohon dilempar.
Pek Mau Sianjin cepat menghampiri Ban Heng Tosu dan memeriksa keadaan murid keponakan ini, Cepat ia mengeluarkan obat bubuk.
dicekokkan ke dalam mulut tosu yang sudah mau mati itu, lalu mengurut-urut dadanya beberapa lama.
"Ia terluka hebat, sukur tidak akan tewas,"
Kata ketua Kun-lun-pai akhirnya sambil bangkit berdiri memandang Kun Hong yang kini masih rebah di atas lantai dengan ujung banyak pedang ditodongkan ke tubuhnya.
Sedikit saja ia bergerak tentu tubuhnya akan menjadi bulan-bulan banyak pedang para tosu itu.
"Kau terlalu berbahaya.........."
Kata Pek Mau Sianjin. akan tetapi dalam suaranya terkandung rasa kagum.
"Kau terlalu lihai dan terlalu jahat, karena itu terpaksa pinto tidak segan menangkapmu mengandalkan arak Cin Cin Cu. Kam Kun Hong, orang seperti engkau ini kalau dibiarkan hidup, selain akan mencemarkan nama baik orang tua dan partai, juga akan mendatangkan banyak kesengsaraan bagi rakyat."
Ketua Kun-lun-pai ini menoleh kepada murid-muridnya.
"Ikat dia di Kim-kio (jembatan emas)!"
Kun Hong lalu diseret dan dibawa ke jembatan emas yang dimaksudkan ketua partai itu.
Jembatan emas ini adalah sebuah jembatan terbuat dari pada kayu kuning yang melintang di atas jurang yang amat dalam sampai tidak kelihatan dasarnya.
Di tengah jembatan ini terdapat tiangnya dan inilah tempat latihan ginkang juga tempat menghukum murid-murid murtad.
Di samping partai Siauw-lim-si yang amat keras terhadap murid-murid yang menyeleweng, Kun-lun-pai merupakan partai ke dua yang amat berdisiplin dan tak kenal ampun.
Pengurus-pengurus Kun-lun-pai selain dipilih seorang yang berdisiplin dan menjunjung tinggi panji kepartaian.
Nama baik partai adalah nomor satu, lebih berharga dari pada nyawa sendiri, apa lagi nyawa murid menyeleweng yang akan mencemarkan nama partai.
Biasanya, kalau ada murid yang menyeleweng dan sudah dijatuhi hukuman mati, ketuanya sendiri yang melakukan hukuman itu, yakni dengan cara membunuh si murid penyeleweng di atas jembatan emas (kiru-kio) itu.
Akan tetapi oleh karena ketua Kun-lun-pai adalah seorang pendeta To yang mencucikan diri, cara membunuhnya juga tidak menusuk dengan begitu saja, melainkan dengan cara menyambitkan pedang pusaka dari jarak jauh ke arah dada yang terhukum!
Untuk menghukum Kun Hong, Pek Mau Sianjin sudah memegang pedang pusaka Kun-lun-pai.
berdiri dalam jarak seratus langkah dari tempat di mana Kun Hong sudah diikat erat-erat pada tiang jembatan.
Sebelum melempar pedang Pek Mau Sianjin mengeluarkan suara keren sebagai keputusan hukuman.
"Kam Kun Hong. kau sebagai putera Kam Ceng Swi berarti anak murid Kun-lun-pai, akan tetapi kau telah mencemarkan nama baik Kun-lun-pai dengan menjadi rnurid orang-orang Mo-kauw dan terutama sekali oleh perbuatanmu membantu penjajah asing Bangsa Mongol. Oleh karena itu demi nama baik Kun-lun-pai yang kami junjung tinggi melebihi segala apa. kami mengambil keputusan untuk menghukum mati kepadamu agar bahaya kecemaran nama partai lebih lanjut dapat dilenyapkan. Kam Kun Hong pinto (aku) atas nama Kun-lun-pai hendak melakukan hukuman atas dirimu, bersiaplah!"
Pek Mau Sianjin sudah mengangkat tangan yang memegang pedang Kun Hong yang sejak tadi mencoba untuk mengerahkan tenaga dan melepaskan diri dari ikatan ternyata sia-sia belaka karena ikatan itu kuat sekali, kini sudah tidak melihat jalan keluar.
Ia tenang-tenang saja memandang ketua Kun-lun-pai dengan tajam, sama sekali tidak gentar menghadapi maut yang bersembunyi di balik ujung pedang pusaka yang setiap saat akan menembusi jantungnya!
Para tosu Kun-lun-pai diam-diam memuji.
Jarang sekali ada anak murid Kun-lun-pai dihukum mati.
karena belum tentu tiga tahun sekali terjadi penyelewengan-penyelewengan, akan tetapi anak murid lain yang menghadapi maut tentu akan menjadi pucat atau setidaknya meramkan mata.
Pemuda ini sama sekali tidak demikian!
Dia menghadapi kematian dengan mata mendelik dan bibir tersenyum mengejek!
"Murid iblis tentu saja sudah bukan manusia lagi........."
Kata seorang tosu.
"Dia hebat betul, sayang menyeleweng...."
Kata seorang tosu tua sambil menarik napas panjang.
"Kasihan sekali Seng-gwat-pian Kam Ceng Swi......."
Kata lagi tosu ke tiga.
Ketika Pek Mau Sianjin melangkah mundur tiga tindak, semua tosu berdiam dan semua mata ditujukan ke arah Kun Hong.
Semua orang tahu bahwa kakek ketua Kun-lun-pai itu hendak melakukan gerakan Sin-liong-hian-bwe (Naga Sakti Mengulur Ekornya), yaitu ilmu pedang yang dilakukan dengan jalan menimpukkan pedang sambil memutar tubuh.
Gerakan ini hanya dapat dilakukan oleh jago-jago kelas utama dari Kun-lun-pai karena pedang jauh sekali bedanya dengan senjata timpuk semacam piauw dan lain-lain.
Dengan penggunaan ilmu lweekang tinggi serta latihan yang bertahun-tahun, pedang yang ditimpukkan ini akan meluncur seperti anak panah dan akan mengenai sasarannya dengan ketepatan seratus kali timpuk seratus kali kena!
Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi keras"
Tar! tar! tar!"
Diikuti seruan.
"Suhu. tunggu dulu. Jangan bunuh dia.........!"
Bayangan orang berkelebat dan Seng-goat-pian Kam Ceng Swi sudah berlutut di depan Pek Mau Sianjin!
Semua tosu kaget dan khawatir sekali melihat sikap Kam Ceng Swi ini.
Sikap iai dapat diartikan merintangi ketua yang hendak menjalankan tugas menghukum, dan ini boleh dianggap membela yang menyeleweng dan ikut berdosa pula!
Kam Ceng Swi adalah tokoh Kun-lun-pai yang amat disegani dan disayang oleh para tosu karena dia adalah bekas seorang pembesar Cin yang setia dan berbudi.
Di samping ini, sepak-terjang Kam Ceng Swi sebagai seorang pendekar besar telah banyak mendatangkan pujian bagi Kun-lun-pai.
Maka semua tosu amat khawatir melihat sikapnya takut kalau-kalau pendekar ini akan mendapat kesalahan dari ketua.
Pek Mau Sianjin mengeratkan keningnya.
Kam Ceng Swi merupakan murid tersayang baginya, murid yang kepandaiannya hampir mengimbangi kepandaiannya sendiri oleh karena Kam Ceng Swi berkenan menggerakkan hati Liong Tosu, susioknya yang mengasingkan diri di balik gunung.
Kalau bukan Kam Ceng Swi yang merintangi pelaksanaan hukuman ini tentu ia sudah menjadi marah sekali.
Namun betapapun besar rasa sayangyna kepada Kam Ceng Swi, rintangan ini benar-benar membuat hatinya tersinggung.
"Kam Ceng Swi kau mau apa menghalangi pinto menurunkan hukuman kepada orang berdosa?"
Tegurnya.
"Suhu, harap ampunkan teecu. Apakah dosa Kun Hong maka hendak dijatuhi hukuman mati? Kiranya teecu sebagai ayahnya berhak mengetahui sebab-sebabnya."
"'Hemmm kau memang tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu? Dia telah menjadi murid orang-orang Mo-kauw, telah membantu Bangsa Mongol dan kau masih bertanya lagi tentang dosa-dosanya?"
"Maaf. suhu. Dia tidak seharusnya dihukum secara anak murid Kun-lun-pai. karena ia bukan murid Kun-lun-pai!"
Bantah Kam Ceng Swi.
"Belum pernah dia diambil sumpahnya sebagai anak murid Kun-lun-pai, bagaimana dia sekarang bisa dikenakan hukuman secara murid Kun-lun-pai?"
Pek Mau Sianjin melengak. Betul juga ucapan ini! "Akan tetapi. Ceng Swi. kau harus ingat, dia itu puteramu. Kalau dia mencemarkan namamu berarti mencemarkan nama Kun-lun-pai juga!"
"Tidak bisa, suhu. karena....... karena dia itu....... bukan anak teecu!"
Kagetlah semua orang, termasuk Kam Kun Hong sendiri.
"Ayah, jangan kau menyangkal aku sebagai anakmu hanya untuk menolongku!"
Teriak pemuda ini, penuh keharuan dan kemenyesalan. Ia tidak rela melihat ayahnya membohong merendah, dan bahkan menyangkalnya sebagai anak, hanya untuk menyelamatkannya dari maut.
"Siapa bilang kau anakku?"
Kam Ceng Swi berkata ketus. Untung bagiku kau bukan anakku sehingga aku tidak begitu malu mempunyai anak yang menjadi penghianat bangsa!"
"Ceng Swi, dahulu kau tidak bercerita apa-apa dan kami semua menganggap dia betul-betul puteramu yang ibunya sudah meninggal. Coba kauterangkan yang jelas. Kalau dia bukan anakmu. anak siapakah?"
"Teecu juga tidak tahu."
Kata Kam Ceng Swi dengan keras-keras, sengaja supaya Kun Hong mendengarnya.
"Dia masih kecil sekali ketika teecu mendapatkan dia menggeletak dan menangis di samping seorang wanita muda yang sudah tewas dalam sebuah hutan. Wanita muda itu tewas oleh cengkeraman seperti Tiat-jiauw-kang (Ilmu Cengkeraman Besi) di dadanya dan di situ tidak ada tanda-tanda siapa adanya nyonya muda itu. Satu-satunya tanda hanyalah gelang emas dengan ukiran huruf KUN HONG pada lengan kiri anak itu yang teecu bawa setelah teecu mengubur jenazah itu. Sampai sekarang teecu tidak tahu siapakah ayah anak itu dan siapa pula nyonya muda yang agaknya ibunya itu."
Terdengar isak tangis.
Semua orang melihat Kun Hong yang menangis terisak-isak.
Air matanya membanjir keluar dari sepasang matanya, mengalir turun di atas pipinya tanpa ia dapat menghapus karena kedua tangannya diikat ke belakang.
Baru sekarang Kun Hong menangis, betul-betul menangis karena hatinya terasa perih, terharu dan nelangsa.
Sampai ayah bundanya saja tidak ada orang yang mengenal!
Jadi dia bukan putera Kam Ceng Swi!
"Namaku terukir di gelang, akan tetapi siapa she-ku?"
Tanyanya dengan suara terputus-putus dan serak. Berkali-kali ia menelan ludah dan menggerak-gerakkan kepala untuk mengusir air mata yang membanjir turun itu dari mukanya.
"Aku tidak tahu siapa she mu. Akan tetapi biarpun kau anak orang lain, semenjak kecil aku memeliharamu, mendidikmu sampai kau diculik orang jahat. Tidak nyana sama sekali bahwa hari ini aku bertemu lagi dengan kau sebagai seorang penghianat yang jahat sekali. Kun Hong, kalau aku tahu akan begini jadinya, lebih baik dulu kau kubiarkan mati di samping ibumu!"
Kata Kam Ceng Swi yang tak dapat menahan air matanya saking menyesal dan kecewa. Untuk beberapa lama tidak ada yang membuka mulut. Kemudian Pek Mau Sianjin berkata.
"Ceng Swi, setelah ternyata bahwa orang itu bukan anakmu, memang dia tidak boleh dianggap sebagai murid Kun-lun-pai. Akan tetapi dia murid Thai Khek Sian, dia seorang penghianat yang berbahaya. Setelah terjatuh ke dalam tangan kita, masa kita harus melepaskannya begitu saja? Bukankah itu sangat berbahaya?"
"Suhu, biarpun dia hanya anak pungut, akan tetapi teecu merasa akan kelemahan hati sendiri, teecu sudah menganggap dia anak sendiri dan terlalu tebal kasih sayang di dalam hati teecu. Karena inilah teecu harus berdaya sekuat tenaga untuk menyelamatkannya, lahir batin. Kalau suhu sudi mengampuni nyawanya, itu berarti teecu sudah berhasil menyelamatkan dia dari kematian. Akan tetapi tentu saja teecu takkan membiarkan dia terlepas begitu saja, membahayakan keselamatan rakyat. Melihat penjahat tanpa turun tangan berusaha membasminya, sama dengan bersekutu dengan penjahat itu."
"Lalu, bagaimana kehendakmu sekarang? Karena bukan murid Kun-lun-pai, juga bukan anakmu, pinto tidak kuasa lagi mengambil keputusan atas dirinya setelah kau berada di sini. Kau yang lebih berhak"
Kata ketua Kun-lun-pai dengan suara halus, hatinya merasa kasihan kepada muridnya ini yang bernasib demikian buruk sehingga mempunyai dan menyayang seorang anak pungut yang demikian jahat.
"Perkenankan teecu bicara dengan dia."
Kata Kam Ceng Swi.
Setelah ketua itu mengangguk memberi ijin, ia lalu melangkah maju mendekati jembatan.
Hatinya hancur menyaksikan betapa puteranya itu telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali, tepat seperti yang sering kali ia bayangkan di kala ia merindukan anak pungutnya ini.
Dia begini gagah, begini tampan, mengapa tersesat?
Semua gara-gara Bu-ceng Tok-ong yang telah menculiknya, pikir pendekar ini dengan hati geram.
Bocahnya ini tidak bersalah.
Tentu saja karena mendapat didikan dari orang-orang Mo-kauw, ia menjadi tersesat.
Bukan salah anak itu karena terjatuh ke dalam tangan orang-orang Mo-kauw bukanlah kehendaknya.
Malah Kun-lun-pai yang bersalah dalam hal ini, karena Kun-lun-pai tidak mampu merampas kembali anak ini dari tangan orang jahat.
"Kun Hong, kau bersumpahlah demi arwah ibumu bahwa sudah bertobat tidak akan melakukan kejahatan seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Mo-kauw, tidak akan menjadi kaki tangan pemerintah penjajah dan akan membantu perjuangan orang-orang gagah membela rakyat. Bersumpahlah dan aku yang akan menanggung supaya kau diampuni oleh Kun-lun-pai."
Kalau tadinya Kun Hong nampak terharu dan menangis karena mendengar bahwa dia bukan putera Kam Ceng Swi.
akan tetapi anak yang ditemukan di tengah jalan di samping mayat ibunya, tidak diketahui pula siapa ayahnya sekarang mendengar ucapan Kam Ceng Swi yang dikeluarkan dengan suara mengandung penuh harapan, pemuda ini tiba-tiba tertawa bergelak.
Kelakuannya ini demikian aneh sampai semua tosu memandangnya, juga Seng-goat-pian Kam Ceng Swi melengak.
"Ayah. kau tadi bilang bahwa kau bukan ayahku, bahwa aku anak yatim piatu yang tidak diketahui siapa ibu bapaknya. Akan tetapi kenapa kau bersusah-payah hendak menolongku? Orang-orang Kun-lun-pai berlaku pengecut, menangkap aku secara menggelap dan memalukan. Mau bunuh boleh bunuh, siapa sih takut mati? Orang-orang hanya bisa menumpahkan kesalahan kepadaku. Aku dibawa ke Kun-lun-pai bukan kehendakku, kemudian diculik Bu-ceng Tok-ong dan menjadi murid Thai Khek Sian, masa itu salahku? Suruh aku bersumpah? Ha-ha-ha. lucu sekali, aku boleh melakukan apa saja sesuka hatiku, kenapa harus diikat dengan sumpah segala?"
Seorang tosu Kun-lun-pai marah sekali mendengar ini.
"Suheng. untuk apa mintakan ampun bagi manusia macam begitu? Kita basmi saja iblis ini berarti kita menolong banyak orang."
"Nanti dulu! Ucapannya itu. bagaimana jahat terdengarnya, memang ada betulnya. Dia sampai menjadi dewasa, salahku karena aku dahulu yang menolongnya. Dia sampai menjadi murid Mo-kauw, salah Kun-lun-pai karena dulu bocah ini berada di sini dan Kun-lun-pai tidak berdaya merampasnya kembali ketika ia diculik oleh Bu-ceng Tok-ong. Akan tetapi bagaimanapun juga kalau dia tidak mau berjanji, memang berbahaya melepaskan dia......"
Seng-goat-pian Kam Ceng Swi kelihatan bingung dan sedih sekali.
Melihat keadaan Kun Hong.
memang seharusnya demi keamanan pemuda ini dihukum dan ditewaskan.
Akan tetapi bagaimana seorang ayah dapat melihat puteranya dibunuh?
Di dalam hatinya, ia menganggap Kun Hong seperti anak sendiri.
Pek Mau Sianjin yang berpemandangan awas tahu akan hal ini.
Kakek ini berkata lembut.
"Muridku, ada jalan pemecahannya, melenyapkan kepandaiannya tanpa melenyapkan nyawanya. Kalau kau setuju pinto akan mematikan hawa thai-yang dalam tubuhnya."
Wajah Kam Ceng Swi berseri.
Inilah jalan satu-satunya menyelamatkan anak pungutnya itu, menyelamatkannya lahir batin.
Pemuda itu tidak saja takkan terbunuh mati.
juga kalau kepandaiannya lenyap, ia akan dapat melakukan kejahatan apakah?
"Suhu bersedia melakukan hal ini, sungguh menjadi bukti lagi akan kemuliaan hati suhu.
Teecu menghaturkan banyak terima kasih dan tentu saja teecu menyetujuinya, kalau saja hal ini tidak akan mengganggu kesehatan suhu sendiri."
Ilmu untuk mematikan hawa thai-yang adalah ilmu warisan Kun-lun-pai yang amat dirahasiakan dan biasanya hanya boleh diwarisi oleh ketua-ketua Kun-lun-pai atau tokoh-tokoh yang mempunyai kedudukan paling tinggi.
Murid-murid biasa, biarpun tokoh seperti Kam Ceng Swi sekalipun, tidak diperbolehkan mempelajarinya.
Sebetulnya ilmu ini adalah semacam ilmu pengobatan untuk mengusir hawa di dalam tubuh yang menimbulkan pelbagai penyakit, juga menimbulkan daya kekuatan, adapun cara untuk melakukannya amat sukar, lagi melelahkan dan menghabiskan tenaga lwee-kang.
Oleh karena itu, biarpun ia sendiri tidak bisa, akan tetapi Kam Ceng Swi yang sudah pernah melihat guru besarnya dahulu melakukan ilmu ini, menyatakan kekhawatirannya kalau-kalau ketua Kun-lun-pai itu akan menjadi sakit jika menjalankan ilmu ini.
"Bawa dia ke lian-bu-thia (ruang belajar silat),"
Kata kakek itu perlahan kepada Kam Ceng Swi, lalu mendahuluinya pergi ke arah kelenteng besar yang berada di puncak bukit itu diikuti oleh para tosu lainnya.
Kam Ceng Swi menghampiri Kun Hong berdiri memandang pemuda itu dengan kening berkerut dan mata penuh keharuan, kemudian ia memeluk pemuda itu sambil berkata.
"Kun Hong. kau tahu betapa besar kasih sayangku kepadamu. Aku melakukan hal ini demi keselamatanmu."
Melihat Kam Ceng Swi.
orang yang selama ini ia anggap ayahnya dan yang kadang-kadang ia kenang penuh kerinduan tiba-tiba Kun Hong teringat akan maksudnya mencari ayahnya dan terbayanglah Pui Eng Lan yang manis.
Begitu teringat kepada gadis ini, otomatis semua kekhawatiran lenyap, semua urusan terlupa, dan serta-merta ia berkata.
"Ayah. apa benar kau sayang kepadaku?"
"Masih perlukah kau bertanya lagi? Aku sayang kepadamu seperti seorang ayah kepada anaknya sendiri."
"Kalau begitu, harap ayah mencari Pak-thian Koai-jin dan melamarkan murid perempuannya yang bernama Pui Eng Lan untuk aku!"
Kam Ceng Swi melengak dan bengong memandang putera angkatnya.
Bocah ini menghadapi urusan besar, sebentar lagi akan kehilangan semua kepandaiannya, akan tetapi yang dipikirkan adalah soal perjodohan!
Di samping keheranannya, ia juga merasa terharu sekali.
"Baiklah. Kun Hong. Aku akan melamar dia untukmu. Sekarang kau harus ikut ke lian-bu-thia dan merelakan kepandaianmu yang didapat dari orang-orang jahat. Lebih baik tak berkepandaian namun bersih dari pada berkepandaian akan tetapi kotor. Kepandaian yang dipergunakan untuk kebenaran adalah suatu berkah dan nikmat, akan tetapi kepandaian yang dipergunakan untuk kejahatan adalah suatu kutuk dan awal kesengsaraan."
Setelah berkata demikian, Kam Ceng Swi memondong tubuh anak pungutnya yang masih terikat itu dibawanya lari menuju ke lian-bu-thia di mana Pek Mau Sianjin dan tosu-tosu Kun-lun-pai sudah menanti kedatangannya.
Ketika Kam Ceng Swi merebahkan tubuh Kun Hong di tengah lian-bu-thia itu, dengan gerakan tubuhnya Kun Hong berhasil bangkit dan duduk dengan lutut ditekuk ke belakang.
Pemuda ini tersenyum memandang ke arah Pek Mau Sianjin.
lalu berkata mengejek.
"Tosu tua bangka bau! Alangkah lucunya kalau para tokoh kang-ouw melihat kau menghadapi seorang pemuda yang sudah diikat erat-erat. Ha-ha. biarpun sudah diikat, agaknya aku masih mampu membuat kau tak berdaya. Haa. kau kelihatan takut! Wajahmu yang kurus kering menjadi pucat. Ha-ha-ha! Sungguh tidak patut kau menjadi ketua Kun-lun-pai!"
"Kun Hong, jangan kurang ajar!"
Bentak Ceng Swi, gelisah melihat sikap putera angkatnya ini.
"Suhu, lebih baik basmi saja manusia iblis ini,"
Bentak lain orang tosu yang menjadi panas perutnya mendengar ejekan Kun Hong.
Pemuda itu menoleh dan melihat tosu yang mengusulkan supaya ia dibunuh ini adalah seorang tosu yang mukanya bopeng bekas dimakan penyakit cacar, ia berkata.
"Eh. tosu bopeng, kau berani bilang begitu apakah juga berani melawanku? Coba kaulepaskan ikatan ini, tanggung dalam sepuluh jurus aku sudah dapat membuat kau lebih bopeng lagi!"
"Kun Hong. apa kau berani melawan aku?"
Bentak Kam Ceng Swi sambil melompat maju mendekati pemuda itu. Kun Hong menjadi serba susah. Ia menundukkan mukanya dan berkata perlahan.
"Kau bukan ayahku, akan tetapi kau telah berlaku sebagai ayahku sendiri, kau baik dan sayang kepadaku. Bagaimana aku berani melawanmu?"
"Kalau begitu kaupun harus taat kepadaku. Kun-lun-pai mengampuni kau akan tetapi kau harus rela membuang kepandaianmu yang sesat. Kau tahu, untuk mematikan hawa thai-yang di tubuhmu, suhu mengorbankan tenaga beliau yang sudah tua. Kau seharusnya berterima kasih atas maksud baik suhu bukan bersikap kurang ajar seperti itu. Atau kau lebih suka mati?"
Kam Ceng Swi marah karena ia sudah bersusah payah untuk menolong nyawa anak angkatnya, tidak tahunya yang ditolong malah bersikap demikian kurang ajar.
Ia khawatir kalau-kalau ketua Kun-lun-pai akan berubah pikiran dan melanjutkan niatnya semula, membunuh pemuda ini.
Kun Hong menarik napas panjang, akan tetapi ia tersenyum.
"Ayah, manusia sudah berani hidup mengapa takut mati? Di dunia ini tidak ada orang baik setiap perbuatan baik setiap pertolongan, merupakan kedok untuk menutupi pamrih yang buruk. Kun-lun-pai hendak menolongku? Mengapa aku ditangkap dengan curang? Pek Mau Sianjin hendak menolongku? Tentu di belakang maksud ini ada niat lebih buruk dan jahat. Akan tetapi kau sudah kuanggap ayahku sendiri aku belum pernah membalas budi biarlah kali ini aku menyenangkan hatimu. Pek Mau tosu tua bangka, kau akan berbuat apa saja atas diriku, silahkan!"
Setelah berkata demikian.
Kun Hong meramkan matanya.
Kedua kakinya masih ditekuk berlutut karena ia tidak dapat bersila, sedangkan kedua tangannya masih diikat di belakang tubuhnya.
Sikapnya ini seperti seorang hukuman yang hendak menjalani hukum potong leher!
Pek Mau Sianjin sudah bersiap-siap.
ia mengerahkan seluruh tenaga sinkang di tubuhnya sambil meramkan kedua matanya.
Uap putih perlahan mengebul dari kepalanya yang agak botak, tanda bahwa hawa Yang di tubuhnya bekerja sekuatnya, kemudian perlahan-lahan uap itu menghilang dan semua tosu yang berada di situ, yang tadinya merasakan hawa panas keluar dari tubuh ketua Kun-lun-pai ini, kini merasa betapa hawa panas itu berubah menjadi dingin sekali.
Inilah hawa sakti Im yang keluar dari tubuh kakek itu.
Pek Mau Sianjin sedang mematangkan perubahan-perubahan hawa di tubuhnya agar siap melakukan mematikan hawa thai-yang dari Kun Hong.
Perubahan makin cepat, sebentar panas sebentar dingin dan tiba-tiba kakek itu mengeluarkan seruan keras tangan kanannya bergerak maju dan dua jari tangan ini.
telunjuk dan tengah menotok ke arah punggung Kun Hong.
"Plak!!"
Dua jari tangan itu menempel di punggung Kun Hong dan seketika pemuda itu menjadi merah sekali mukanya, cepat sekali peluhnya keluar semua dan dari kepalanya mengepul uap putih.
Inilah tanda bahwa hawa Yang di tubuhnya sudah dibangkitkan oleh totokan itu.
bagaikan api menjadi berkobar-kobar di tubuhnya, panasnya tak tertahankan lagi.
"Uaakkhh!"
Kun Hong muntahkan segumpal darah dari mulutnya, kemudian ia mengeluarkan seruan dan............"krekk!"
Sebagian tambang yang mengikat kedua kakinya putus!
Pek Mau Sianjin mengeluarkan seruan kaget sekali.
Cepat tangan kirinya bergerak dan dua jari tangannya menggantikan tangan kanan, kini menotok ke arah lambung dekat pusar.
Kembali dua jari tangannya menempel di situ dan tenaga Im yang hebat menyerang Kun Hong.
Memang inilah kehebatan ilmu pukulan mematikan hawa thai-yang.
Mula-mula hawa Yang di dalam tubuh lawan dibangkitkan sampai sehebatnya, kemudian dengan tiba-tiba menyerang dengan hawa Im yang akan meresap ke dalam tulang sumsum dan perubahan yang mendadak ini akan memusnahkan hawa Thai-yang sehingga orang itu akan kehilangan semua lweekamg di tubuhnya dan menjadi seorang yang biasa saja tidak akan mungkin dapat mempergunakan kepandaian silatnya lagi.
Tadi Pek Mau Sianjin kaget menyaksikan hawa Yang di tubuh Kun Hong yang ternyata demikian hebatnya sehingga hawa ini mendatangkan kekuatan luar biasa, dan membuat pemuda itu tanpa disengaja dapat memutuskan sebagian dari tambang yang membelenggu kakinya.
Ia tidak tahu bahwa pemuda itu telah mewarisi ilmu yang hebat dari Thai Khek Sian, sehingga tenaga Yang dari Pek Mau Sianjin yang dikeluarkan untuk memancing; atau membangkitkan tenaganya, dapat ia sedot dan bahkan menambah kekuatan hawa Yang di tubuhnya!
Tiba-tiba Kun Hong merasakan pukulan atau totokan pada lambungnya yang mendatangkan hawa dingin melebihi dinginnya salju.
Meresap di seluruh tubuhnya membuat ia menggigil.
Tubuhnya yang tadinya disaluri hawa panas luar biasa karena hawa Yang di tubuhnya dibangkitkan, sekarang mengalami serangan hawa dingin yang hebatnya bukan kepalang.
Ia maklum bahwa hawa ini akan merusak sinkang di tubuhnya, maka cepat-cepat ia mengerahkan tenaganya untuk merobah hawa Yang menjadi hawa Im.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendapatkan kenyataan bahwa ia tidak dapat melakukan perobahan itu, karena tenaga Im yang disalurkan dari totokan Pek Mau Sianjin sudah mendahuluinya dan kini sudah terlampau kuat sehingga ia tidak keburu lagi merobah hawa di tubuhnya.
Kun Hong berlaku nekat.
Biarpun ia maklum bahwa pertarungan antara kedua hawa yang bertentangan di dalam tubuhnya membuat jiwanya terancam, namun tidak ada lain jalan lagi baginya.
Begitu hawa Im dari tangan Pek Mau Sianjin sudah makin menguat, Kun Hong lalu menyedot hawa ini sekuatnya ke dalam tubuhnya.
Ia seperti orang kemasukan arus listrik, bulu-bulu dan rambut di tubuhnya sampai berdiri semua dan tiba-tiba dengan teriakan dahsyat semua belenggu di tubuhnya putus dan Pek Mau Sianjin sendiri memekik kesakitan lalu melompat mundur.
Melihat ini.
Kam Ceng Swi yang khawatir kalau-kalau pemuda itu memberontak dan menyerang Pek Mau Sianjin cepat maju dan memukul anak angkatnya.
Akan tetapi ia terkejut sekali.
Ketika tangannya mengenai tubuh Kun Hong di bagian dada Seng-goat-pian Kam Ceng Swi merasa tangannya seperti digigit ular berbisa sehingga ia menariknya dan melompat ke belakang dengan muka meringis kesakitan.
"Siancai...... siancai....... baru kali ini pinto bertemu dengan pemuda begini lihai........"
Kata Pek Mau Sianjin yang cepat menjatuhkan diri bersila sambil mengatur napasnya.
Wajahnya pucat sekali dan napasnya empas-empis.
tanda bahwa kakek tua ini hampir kehabisan tenaga dan napas.
Sementara itu, Kun Hong berkelojotan di atas tanah sebentar, lalu diam dan rebah dengan muka pucat sekali.
Ceng Swi memandang dengan muka pucat pula, lalu dihampirinya pemuda itu.
Hatinya lega karena pemuda itu ternyata masih bernapas, biarpun amat lemah.
Ia lalu berdiri dan pergi hendak mengambil air untuk diminumkan kepada anak angkatnya.
Akan tetapi begitu ia pergi, Kun Hong siuman dari pingsannya.
Ia bangun duduk, nampaknya lemas.
Seorang tosu.
yaitu yang bopeng tadi melihat pemuda ini sudah berhasil melepaskan ikatan dan kini bangun duduk sedangkan Pek Mau Sianjin masih duduk bersila mengatur pernapasan, menjadi khawatir sekali.
Cepat ia melompat maju dan menggerakkan pedangnya membabat ke arah leher Kun Hong!
"Plak.........
traaanggg!"
Pedang itu mencelat, si tosu bopeng melompat ke belakang sambil memegangi tangan kanannya yang sakit sekali.
Ternyata tadi Kun Hong telah menggerakkan tangan kiri menyampok, sekali sampok saja ia berhasil membuat pedang itu terlepas.
Akan tetapi gerakan ini yang hanya menggunakan sedikit tenaga lweekang, sudah mendatangkan rasa sakit di dadanya sampai-sampai ia menggigit bibir dan menahan keluhannya.
Melihat ini, Ceng Swi sudah berlari cepat datang ke tempat itu.
Ia menegur sutenya yang lancang hendak menyerang Kun Hong, akan tetapi diam-diam iapun khawatir karena dari tangkisan tadi masih terbukti bahwa kepandaian anak muda ini tidak lenyap, tenaga lwekangnya masih hebat.
"Jangan ganggu dia, dia sudah terluka hebat......"
Tiba-rtiba terdengar suara Pek Mau Sianjin yang masih lemah.
"Salahnya sendiri. Kalau dia tidak menyedot hawa pukulanku yang ke dua, totokan itu akan membuyarkan thai-yang di tubuhnya dan ia hanya akan kehilangan tenaga di dalam tubuhnya tanpa terluka. Sekarang, tenaganya tidak lenyap bahkan ditambah oleh sebagian dari tenaga hawa pukulan pinto tadi, tenaganya makin hebat. Akan tetapi dia telah menderita luka hebat di jantung dan paru-paru karena bentrokan dua macam tenaga yang berlawanan. Luka ini akan menghalangi dia mengerahkan tenaga lweekangnya. Setiap kali dia mengerahkan tenaga, dia akan terpukul sendiri dan lukanya di dalam dada akan menghebat. Thian Maha Adil, anak itu telah membuat sendiri pencegahnya sehingga dia takkan dapat berbuat jahat tanpa terancam nyawanya oleh luka itu."
Kun Hong menderita kesakitan hebat, namun ia mendengar jelas semua kata-kata ini.
Ia mendongkol sekali, akan tetapi juga cemas karena baru saja ia telah mengalami bukti bahwa kata-kata kakek itu benar adanya.
Ia meraba-raba dadanya dan diam-diam memaki ketua Kun-lun-pai.
(Lanjut ke
Jilid 15) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15
"Kun Hong, kau sudah mendengar sendiri ucapan suhu. Kuharap saja mulai sekarang kau takkan melanjutkan kesesatanmu. Lebih baik menjadi rakyat biasa dari pada menjadi seorang pandai tapi menghianati bangsa sendiri."
Kun Hong tersenyum pahit, lalu berdiri perlahan dan menjura kepada ayah angkatnya.
"Ayah, hanya ada dua permintaan dariku, harap ayah penuhi."
"Apa itu? Katakan,"
Jawab Ceng Swi, terharu juga melihat keadaan pemuda yang seperti putus asa ini.
"Pertama, harap kau jangan lanjutkan pelamaranmu kepada nona Pui Eng Lan."
Ceng Swi adalah seorang yang cerdik dan luas pandangannya.
Mendengar omongan ini, ia merasa hatinya tertusuk.
Ia tahu akan isi hati anak angkatnya.
Tentu saja pemuda ini tidak berani lagi mengharapkan perjodohannya dengan murid Pak-thian Koai-jin yang tentu memiliki kepandaian tinggi, sedangkan pemuda itu sendiri sekarang boleh dibilang telah menjadi seorang pemuda yang lemah dan selalu berada di tepi jurang maut.
Maka ia mengangguk tanpa kuasa mengeluarkan kata-kata jawabannya.
"Ke dua, harap suka beri tahu, di mana dahulu kau telah mengubur jenazah ibu."
Mendengar ini Ceng Swi menjadi makin terharu. Ia melompat dekat dan memeluk leher pemuda itu.
"Kau anak tak bahagia......."
Bisiknya.
"Sebetulnya ada rencanaku membawamu ke sana, marilah kita bersama mengunjungi makam itu......"
"Tak usah. ayah. Biar aku sendiri yang mengunjungi makam ibuku........."
"Kalau begitu, pergilah ke sebuah hutan tak jauh di sebelah selatan kota raja, hutan yang banyak terdapat batu karang berbentuk menara. Makam itu kutandai dengan batu karang menara yang tinggi di mana terdapat tanda senjataku. Carilah."
Kun Hong melepaskan diri dari pelukan ayahnya, memandang kepada Pek Mau Sianjin yang masih duduk bersila, lalu berkata.
"Kau tosu tua tentu sudah puas dapat melukaiku, akan tetapi apakah kau juga masih begitu tamak untuk mengangkangi pedangku?"
Pek Mau Sianjin memberi isyarat kepada muridnya yang membawa Cheng-hoa-kiam, mengembalikan pedang itu kepada Kun Hong sambil berkata.
"Pokiam yang baik, berguna sekali bagi seorang penegak keadilan, berbahaya bagi seorang penjahat. Semoga berguna bagimu, orang muda."
Kun Hong menerima pedang itu menyembunyikannya di bawah baju luarnya sehingga tidak kelihatan dari luar.
Setelah sekarang ia tidak dapat lagi menggunakan kepandaiannya, untuk apa pedang itu?
Lebih baik disembunyikan agar jangan sampai dirampas orang, apa lagi jika bertemu dengan Thio Wi Liong!
"Aku pergi,"
Katanya singkat kepada ayahnya.
lalu berjalan perlahan meninggalkan puncak itu.
Ia tidak berani lagi menggunakan ilmu lari cepatnya, karena sedikit saja mengerahkan lwee-kang di dalam tubuh, berarti memperhebat luka di dadanya!
Kam Ceng Swi memandang putera angkatnya sampai jauh.
Setelah Kun Hong menghilang di sebuah tikungan.
Seng-goat-pian Kam Ceng Swi menghantam-hantamkan senjatanya itu di udara sehingga berbunyi "tar!
tar!
tar!"
Lalu disusul oleh nyanyian-nyanyiannya yang terkenal!
Pek Mau Sianjin menghela napas, maklum betapa hebat kesedihan hati dan kekecewaan muridnya itu.
Nasib buruk..........
siapa dapat mengubahnya?
Hanya hati yang kuat menerima, hati yang maklum bahwa hidup ini memang merupakan ujian lahir batin, siapa kuat dia menang.
Dan baiknya Kam Ceng Swi termasuk orang yang kuat batinnya, maka dihadapinya kesedihan dan kekecewaan itu dengan nyanyian.
Pek Mau Sianjin diikuti oleh murid-muridnya memasuki ruangan dalam untuk beristirahat.
Sedikitnya membutuhkan waktu satu bulan bagi kakek ini untuk memulihkan tenaganya setelah melakukan totokan-totokan hebat tadi.
Dengan langkah perlahan dan hati-hati Kun Hong keluar dari ruangan belajar silat di Kelenteng Kun-lun-pai.
lalu menuruni puncak.
Ia harus berlaku hati-hati, karena jalan di situ amat sukar dan berbahaya.
Kalau di waktu datangnya, ia dapat berlari-lari dengan mudah.
Akan tetapi sekarang, sekali terpelesat ia harus menggunakar ginkangnya dan ini berarti ia akan memperhebat luka di dadanya.
Ia benar-benar tersiksa, memiliki kepandaian tinggi tanpa berani mempergunakannya.
"Keparat si tua bangka Pek Mau Sianjin."
Hatinya memaki.
"Kalau aku mendapat kesempatan, akan kucabuti semua tulang-tulang tuamu dari tubuhmu. Awas kau siluman Go-bi Cin Cin Cu! Kelak kuminumi arak sampai pecah perutmu. Awas kau Seng-goat-pian Kam Ceng Swi.......". Baru sampai di sini jalan pikirannya, ia mendengar tindakan kaki orang. Pendengarannya amat tajam dan Kun Hong segera memutar tubuhnya. Ia melihat orang yang baru saja menjadi buah pikirannya, Kam Ceng Swi, berlari-lari menyusulnya.
"Kun Hong, kau hendak ke mana?"
Tanya ayah angkat ini.
"Kau terluka hebat, mari kuantar."
"Aku hendak ke mana, apa sangkut-pautnya dengan kau? Aku tidak membutuhkan pengantar?"
Jawab Kun Hong yang masih panas kepalanya karena mendongkol. Kam Ceng Swi menundukkan kepalanya.
"Aku tahu kau amat marah, akan tetapi semua itu kubiarkan demi kebaikanmu sendiri."
"Hemm, kau angkat aku dari tepi jurang kematian, dulu di waktu kecil dan sekarang pula, hanya untuk melihat aku hidup menderita? Bagus, kelak akan kubalas budimu ini!"
"Kun Hong, kau terlalu! Tak dapatkah kau melihat kenyataan? Aku tak menghendaki balasan, aku tidak perlu menonjolkan jasa, akan tetapi kalau memang hatimu belum rusak betul oleh pendidikan orang-orang Mo-kauw, kelak kau akan insyaf bahwa aku Kam Ceng Swi sesungguhnya sayang kepadamu. Kau lihat ini, selama kau tidak ada, gelangmu ini menjadi kawan yang tak pernah meninggalkan saku bajuku. Sekarang, kau sudah kembali dan pandanganmu terhadap aku sudah tidak selayaknya. Nah, kau ambil kembali gelang ini.'' Kam Ceng Swi melemparkan sebuah gelang emas kecil ke arah Kun Hong yang segera menyambarnya. Pemuda itu memandang gelang yang berada di tangannya, tidak memperdulikan lagi kepada Kam Ceng Swi yang sudah pergi dengan muka muram dan hati penuh kedukaan. Tak lama kemudian terdengar lagi suara senjata cambuknya menjeletar-jeletar dan suara nyanyiannya dari jauh. Akan tetapi Kun Hong tidak mendengarkannya lagi. Pemuda ini memandang kepada gelang emas kecil yang dipegangnya. Di situ terdapat ukiran dua buah huruf yang diukir amat indah dan halusnya, dua buah huruf yang berbunyi KUN HONG. Hanya benda dan huruf inilah yang menjadi pengenal dirinya, yang membuat ia disebut Kun Hong, tanpa nama keturunan! Kun Hong mencium gelang yang lengkat pada lengannya ketika ia masih bayi dan ditemukan oleh Kam Ceng Swi. Ia menciuminya dengan air mata berlinang, kemudian ia berkata seperti orang gila.
"Kaulah ibu bapaku! Kaulah orang tuaku dan kau yang menciptakan Kun Hong di dunia ini. Ha-ha-ha!"
Sikap ini timbul dari keperihan hatinya.
Biarpun Kun Hong semenjak berusia tujuh tahun sudah terjatuh ke dalam tangan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li.
kemudian semenjak itu hidup di lingkungan orang-orang yang terkenal sebagai golongan yang tidak mengenal prikebajikan sehingga bocah ini dewasa dalam keadaan kurang bersih batinnya, namun sebagai seorang manusia ia mempunyai perasaan cinta kasih yang dalam terhadap ayah bundanya.
Sekarang, mendengar bahwa ayah bundanya tidak ada yang kenal, dan bahwa yang menjadi kawan hidupnya senenjak ia ditemukan hanyalah sebuah gelang itu tentu saja ia amat menyayang benda itu dan menganggapnya sebagai pengganti ayah bundanya.
Selagi ia tertawa sambil berjalan perlahan tanpa memperhatikan ke mana sepasang kakinya menuju, tiba-tiba ia melihat seekor kera melompat dari atas cabang pohon dan berdiri di atas batu.
Binatang kera bukan merupakan binatang aneh dan melihat seekor kera melompat turun dan pohon juga bukan merupakan penglihatan yang aneh.
Akan tetapi melihat seekor kera yang membawa sehelai kertas bertulisan huruf-huruf "ORANG MUDA, KAU KE SINILAH"
Benar-benar merupakan pemandangan yang jarang terdapat!
Kun Hong berdiri bengong.
Apakah hal ini hanya kebetulan saja?
Apakah binatang itu menemukan kertas yang dibawanya ke mana-mana dan kertas itu kebetulan sekali ada tulisannya seperti itu?
Akan tetapi, tiba-tiba kera itu berjalan dan kadang-kadang menengok kepadanya, meringis seperti gadis cantik tersenyum dan menggerak-gerakkan tangan kirinya seperti melambai kepadanya!
Kun Hong sampai menjadi bengong.
Apakah kera ini dapat menulis?
Aah, belum pernah ia mendengar akan hal ini.
Biarpun di antara orang-orang Mo-kauw banyak yang memiliki kepandaian aneh.
akan tetapi belum pernah ia melihat atau mendengar akan adanya seekor binatang kera yang pandai menulis.
Ia masih sangsi.
Tak mungkin kera itu melambai-lambai kepadanya.
Ia diam saja, akan tetapi kera itu memutar tubuhnya, mengeluarkan bunyi bercuitan.
lalu kembali melambai-lambaikan kertas itu kepadanya, lalu berjalan lagi ke depan sambil menengok beberapa kali seperti orang yang mengajak Kun Hong supaya mengikutinya.
Kun Hong menjadi tertarik dan mulai berjalan mengikuti monyet itu.
Akan tetapi monyet itu amat gesit, melompat dari batu ke batu.
membuat Kun Hong payah sekali.
Kalau ia tidak terluka jangankan hanya mengikuti monyet itu.
biar di suruh menangkap sekalipun dapat dilakukannya dengan mudah.
Sekarang, takut akan menghebatnya luka di dadanya, pemuda ini terpaksa bersusah payah, berjalan perlahan, bahkan setengah merangkak apa bila melalui batu-batu karang yang sukar.
Anehnya, kera itu seperti mengerti akan keadaannya dan beberapa kali binatang itu berhenti dan menengok seperti sengaja menantinya.
Kera itu membawanya mengitari puncak.
Kun Hong terkejut karena tahu-tahu setelah mengikuti kera itu sampai setengah hari lamanya, ia tiba di daerah terlarang yang dianggap suci oleh Kun-lun-pai, yaitu tanah kuburan para guru besar Kun-lun-pai yang dimakamkan di situ!
Tempat ini merupakan sebidang tanah yang penuh dengan makam, keadaannya selain sunyi juga menyeramkan, ditumbuhi pohon-pohon yang berbunga putih.
Kera itu terus memasuki tanah kuburan sambil menengok-nengok.
Dengan tindakan kaki perlahan dan hati seram Kun Hong memasuki tempat terlarang itu.
Akan tetapi ia tidak takut dan terus mengikuti kera itu.
Tiba-tiba kera itu melompat ke atas sebuah batu karang, melompat-lompat sambil mengeluarkan suara kemudian sekali meloncat ia telah berada di atas cabang pohon berkembang, melepaskan kertas yang tadi dipegangnya.
Mulutnya dimonyongkan dan terus bercuitan.
Kun Hong melangkah terus ke depan dan hampir ia berteriak saking kagetnya ketika ia tiba di bawah pohon itu.
Kalau ia tidak berlaku hati-hati mungkin ia kena injak kepala orang yang menonjol keluar dari tanah seperti sepotong batu!
Kepala ini botak kelimis.
mengkilap dan hitam seperti batu hitam digosok, mukanya penuh rambat putih, alisnya gompyok akan tetapi sudah putih semua saking tuanya, matanya meram-melek.
Untungnya waktu itu siang hari, kalau melihat pemandangan seperti ini pada malam hari.
benar-benar mengerikan sekali.
Orang itu ternyata bersila ke dalam sebuah lubang di tanah sehingga hanya kepalanya saja yang kelihatan.
Ketika Kun Hong menjenguk, ternyata tubuh orang laki-laki tua renta ini sama sekali tidak berpakaian, telanjang bulat seperti tengkorak hidup karena tubuhnya kurus kering tinggal tulang dibungkus kulit.
"Bagus sekali kau mau datang, orang muda!"
Ucapan ini terdengar nyaring dan jelas sampai Kun Hong melompait perlahan.
Ia lupa akan pantangannya dan terasa dadanya sakit sekali ketika ia melompat kaget dan heran tadi.
la meringis, akan tetapi tanpa memperdulikan rasa sakit, ia menoleh ke sana ke mari untuk mencari siapa orangnya yang bicara tadi.
Kakek telanjang ini tentu bukan orangnya yang bicara, karena semenjak tiba di situ pandang matanya tak pernah terlepas dari wajah orang dan ia tidak melihat orang itu bicara, hanya matanya meram-melek seperti boneka mainan kanak-kanak.
Karena tidak melihat ada orang di sekelilingnya, Kun Hong menoleh kepada kera yang masih ayun-ayunan di atas cabang pohon di atasnya.
Ah.
aku sudah menjadi gila.
pikirnya dengan muka merah.
Monyet menulis saja sudah tak mungkin, mana ada monyet bicara?
Aku terlalu terpengaruh oleh tulisan di atas kertas itu sehingga telingaku mendengar yang bukan-bukan pikirnya.
Perhatiannya segera tertuju kepada kakek itu lagi.
Apa sih yang dilakukan oleh kakek ini?
Melihat keadaan wajah dan kepalanya kakek ini tentu sudah sangat tua, mungkin seratus tahun lebih usianya.
Seluruh tubuhnya nampak seperti sudah mati, kulit yang berkeriput dan kering itu, bibir yang pecah-pecah, rambut yang putih layu.
Hanya sepasang matanya saja yang membuktikan bahwa mahluk ini masih hidup.
Sudah seperti bukan manusia lagi.
"Kau terluka oleh totokan Im-yang lian-hoan! Sudah kuduga, karenanya kau kupanggil ke sini!"
Kembali suara yang tadi, suara serak dan pelo terdengar.
Sekali lagi Kun Hong gedandapan (terkejut dan bingung), celingukan ke sana ke mari.
Sukar sekali menentukan dari mana suara tadi arah datangnya, bisa dibilang dari depan, dari kakek yang diam tak bergerak kecuali matanya itu, mungkin juga dari belakang, kanan kiri, atau dari atas!
Ketika ia memandang ke atas, monyet itu mengeluarkan suara cecowetan seperti orang bergembira dan, tertawa-tawa!
"Pek-wan (lutung putih), kau senang mendengar pinto bicara dengan seorang manusia, ya?
Bagus kau ambil hidangan untuk tamu kita."
Suara itu terdengar lagi.
Kera atau lutung putih itu melompat pergi sambil cecowetan.
memasuki hutan sebelah kanan.
Sedangkan Kun Hong celingukan lagi, akan tetapi kini kecurigaannya timbul kepada kakek itu.
Kalau di situ ada manusia, manusianya hanya kakek itu sendiri dan dia tentu.
Siapa lagi kalau bukan kakek ini yang bicara?
Ia tentu saja pernah mempelajari Ilmu Coan-im-kang (Ilmu Mengirim Suara) dari jauh sehingga suaranya dapat ia tujukan untuk orang-orang tertentu tanpa orang lain dapat mendengarnya.
Akan tetapi, setidaknya bibir orang yang melakukan ilmu ini akan bergerak sedikit.
Sedangkan kakek ini sama sekali tidak menggerakkan bibirnya yang seakan-akan sudah mati!
"Lapisan luar paru-parumu hampir terbakar oleh hawa thai-yang, sedangkan jantungnya hampir beku oleh pukulan Im-kang.
Tanpa diobati mana kau bisa hidup leluasa!"
Kun Hong sudah amat memperhatikan kakek itu.
Ketika suara ini terdengar, ia tidak celingukan lagi, melainkan memandang ke wajah kakek itu dengan seksama.
Biarpun bibir kakek itu tidak bergerak, namun ada sedikit perubahan pada wajahnya, yaitu jenggotnya bergerak-gerak tanda bahwa di dalam leher atau perut tentu terjadi pergerakan-pergerakan oleh hawa mujijat.
Ternyata benar kakek ini yang bicara, mempergunakan semacam coan-im-kang yang tinggi sekali!
Kun Hong boleh jadi buruk wataknya, akan tetapi dia cerdik.
Melihat keadaan orang ini yang begitu aneh, ia segera dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang sakti dan mungkin sekali dapat menyembuhkan luka di dadanya.
Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kepala itu sambil membentur-benturkan jidatnya di atas tanah seperti seekor ayam makan beras.
"Huh, sikapmu tadi lebih jantan. Perlu apa bermuka-muka? Bilang saja kau ingin ditolong, hentikan segala tekuk lutut dan sembah itu!"
Kata kakek itu tanpa menggerakkan bibirnya. Merah muka Kun Hong mendengar ucapan dengan nada mengejek ini. Keangkuhannya tersinggung. Ia segera berdiri dan berkata sambil lalu.
"Orang tua, aku datang kau yang panggil, apa kehendakmu? Kau bilang aku terluka oleh totokan Im-yang-lian-hoan, kalau bukan untuk memberi obat, apakah hanya untuk mengejek?"
Kakek itu tertawa tanpa membuka mulut, akan tetapi suaranya seperti orang gelak terbahak, membuat Kun Hong memandang dengan melongo.
Banyak sudah ia melihat orang-orang aneh di dunianya orang-orang Mo-kauw.
gurunya sendiri Thai Khek Sian adalah seorang manusia yang luar biasa sekali.
Akan tetapi yang selucu kakek ini belum pernah ia melihatnya Masa ada orang bicara dan tertawa-tawa tanpa membuka mulut atau menggerakkan bibirnya!
"Ha-ha-ha"
Kalau aku mengobatimu bagaimana dan kalau aku hanya mengejek bagaimana?"
"Kalau kau mengobatiku, tak mungkin, mana ada orang miring otak macam kau mampu mengobatiku? Kalau kau mengejek, itu hakmu karena kau berada di sini tentu ada hubungannya dengan Kun-lun-pai dan karenanya namamu akan kucatat di hatiku agar kelak kalau ada kesempatan akan kubalas hinaanmu bersama si tua bangka Pek Mau Sianjin!"
Tiba-tiba kakek itu menarik napas panjang, bibirnya tetap tertutup rapat akan tetapi dadanya yang gepeng itu beralun.
"Hemm, benar-benar kau kotor......! He, orang muda ketahuilah bahwa hanya karena kau ini anak pungut Kam Ceng Swi maka aku ambil perduli padamu. Ceng Swi orang baik. seorang jantan tulen maka aku tidak sayang menurunkan satu dua ilmu pukulan kepadanya. Dia jauh lebih baik dari pada semua tosu di Kun-lun. Dia sayang kepadamu, celakanya kau hidup di antara bangkai-bangkai yang berbau busuk. Akan tetapi emas tetap berharga biarpun terendam lumpur, bunga teratai tetap gemilang biarpun hidup di pecomberan. Hatimu kulihat tidak jahat."
"Stop! Kakek tua bangka, aku kau panggil ini apakah hanya untuk mendengarkan pidatomu?"
Kun Hong mencela, mendongkol.
"Heh-heh-heh, kau sudah ketempatan watak Bu-ceng Tok-ong! Ketahuilah, pukulan Im-yang-lian-hoan adalah pukulan rahasia dari partai Kun-lun, biarpun orang-orang seperti Tian Te Cu atau Thai Khek Sian takkan mampu mengobati luka akibat pukulan Im-yang-lian-hoan! Pinto orang Kun-lun-pai, tentu saja dapat mengetahui ini semua. Sayang pmgobatannya tak dapat dilakukan oleh pinto seorang. Pukulan Im-kang dapat kusembuhkan dan kau akan terbebas dari rasa sakit apa bila mempergunakan lweekangmu. Akan tetapi pengaruh desakan hawa thai-yang darimu sendiri hanya dapat disembuhkan oleh seorang ahli gwakang seperti temanku hwesio bermuka hitam. Setelah kuobati, tenaga lweekangmu pulih kembali akan tetapi celaka kalau kau berhadapan dengan ahli gwakang. Setelah diobati oleh temanku hwesio bermuka hitam, tenagamu luar dalam pulih semua, akan tetapi tetap saja bekas luka pada jantungmu membuat kau hanya dapat hidup paling banyak untuk dua tahun saja"
Kakek itu berhenti bicara, agaknya menjadi lelah setelah bicara panjang lebar.
"Aku hidup bukan atas kehendakku, matipun bukan atas kehendakku. Kau orang tua mana bisa bicara tentang matiku? Jangan mengoceh!"
Kata, Kun Hong mencela lagi.
"Heh-heh-heh, bagus. Ucapan ini menyatakan kebesaran hatimu sehingga kau hidup dua tahun lagi juga tidak menyesal. Hanya kalau kau bisa mendapatkan batu kemala yang bernama Im-yang-giok-cu yang dimiliki oleh Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to maka kau akan dapat menyambung nyawamu."
Diam-diam Kun Hong kaget sekali.
Gurunya, Thai Khek Sian pernah berpesan kepadanya bahwa di dunia ini hanya dua orang yang disegani gurunya yaitu pertama Thian Te Cu kakak seperguruan Thai Khek Sian sendiri dan Kui-bo Thai-houw di Ban-mo-to!
"Orang muda, jangan bengong saja.
Maju dan berlututlah agar aku dapat menotokmu!"
Kun Hong berpikir bahwa ia telah mendapat luka hebat, hiduppun percuma kalau setiap kali mengerahkan tenaga lweekang ia merasa dadanya sakit sekali.
Kalau kakek ini membohong dan sebagai orang Kun-lun-pai hendak membunuhnya, paling-paling ia hanya mati!
Lebih baik dari pada sekarang ini mati tidak hiduppun bukan!
Ia lalu maju dan berlutut di dekat kepala itu.
Kakek itu mengeluarkan tangan kanan kiri dari lubang, dua lengan dan tangan yang kurus tinggal tulang terbungkus kulit, mengerikan.
"Jangan bergerak!"
Kata kakek itu dan dua tangannya bergerak cepat bukan main.
Andaikata Kun Hong belum terluka dan masih leluasa bergerak sekalipun, agaknya tidak mudah mengelak dari dua serangan yang dilakukan hampir berbareng itu.
Tahu-tahu jari-jari tangan kiri kakek itu sudah menotok punggungnya.
Seketika hawa yang panas sekali memasuki tubuhnya melalui punggung, membuat seluruh kulitnya merah dan peluh berkumpul di jidatnya.
Kemudian dengan cepat sekali menyusul totokan di lambungnya yang mendatangkan hawa dingin seperti salju.
Dua serangan ini gerakannya serupa benar dengan serangan Pek Mau Sianjin, maka diam-diam Kun Hong kaget sekali.
Diserang satu kali saja oleh Pek Mau Sianjin ia terluka hebat, sekarang diserang dengan pukulan yang sama untuk kedua kalinya!
Akan tetapi ia sudah tak dapat bergerak lagi karena hawa panas dan dingin yang bercampur aduk itu membuat dia pusing dan.......
tiba-tiba ia muntahkan darah lalu terguling pingsan!
Kun Hong tidak tahu berapa lama ia jatuh pingsan, akan tetapi ketika ia siuman kembali, ia mendengar suara kera itu cecowetan dengan aneh.
la menengok dan melihat kera itu bergulingan seperti anak kecil menangis di atas tanah dan.......
kepala kakek itu sudah terkulai miring, matanya meram dan sekarang mata itu sudah mati seperti anggauta tubuh yang lain.
Kun Hong cepat mendekat dan meraba jidat kakek itu.
Dingin!
Ternyata kakek itu benar sudah menghembuskan napas terakhir.
Di atas tanah terdapat corat-coret tulisannya.
Kun Hong segera membacanya, dan benar saja.
tulisan itu memang sengaja ditulis oleh kakek aneh itu sebagai pesan terakhir untuknya.
"Hwesio muka hitam di puncak Kepala Harimau Pegunungan Bayangkara. Mintalah obat kepadanya, katakan bahwa kau diberi petunjuk oleh Liong Tosu di Kun-lun-san!"
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring.
"Pemuda iblis, kau berani mengganggu Liong-couwsuhu!"
Serombongan tosu Kun-lun-pai dikepalai oleh Pek Mau Sianjin sendiri, berlari-larian cepat sekali menuju ke tempat itu.
Kun Hong cepat menghapus tulisan di atas tanah itu.
kemudian ia melompat berdiri lalu melarikan diri turun gunung.
Tak mungkin aku dapat melawan mereka, pikirnya.
Karena ingin lekas pergi ke Pegunungan Bayangkara dan khawatir kalau-kalau dikejar oleh para tosu Kun-lun-pai.
ia berlari cepat, lupa bahwa kalau berlari cepat mengerahkan lweekang dadanya akan menjadi sakit sekali.
Setelah ia berlari cepat sekali mengerahkan seluruh lweekangnya dan berada di kaki gunung jauh meninggalkan para tosu Kun-lun-pai baru ia teringat dengan kaget dan heran bahwa dadanya tidak terasa sakit sama sekali!
"Aah, lukaku sembuh sebagian.
Kalau begitu tua bangka aneh itu tidak bicara bohong"
Katanya nyaring dengan hati girang sekali, ia lalu berlutut dan menjura ke atas langit.
"Liong Tosu, terima kasih atas kebaikanmu. Semoga arwahmu menjadi dewa!"
Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa Liong Tosu telah mengorbankan nyawa sendiri untuk menolong menyembuhkan sebagian dari pada luka di dadanya.
Untuk menyembuhkan luka hebat itu, Liong Tosu harus mengerahkan seluruh sinkangnya dan hal ini terlampau berat bagi jasmaninya yang sudah tua sekali sehingga begitu selesai mengobati pemuda itu ia lalu jatuh terkulai dan nyawanya melayang.
"Setelah ada bukti bahwa totokan Liong Tosu itu mendatangkan hasil baik dan dadaku tidak terasa sakit lagi. tentu bicaranya tentang hwesio muka hitam yang dapat menyembuhkan sama sekali luka di dadaku itu benar pula. Pegunungan Bayangkara tidak jauh dari sini, di sebelah timur. Aku harus ke sana, mencari puncak Kepala Harimau, minta tolong kepada hwesio muka hitam,"
Pikir Kun Hong dengan hati gembira.
Tadinya ia terluka parah dan bergerak sedikit saja dadanya sakit.
Sekarang rasa sakit lenyap, akan tetapi menurut Liong Tosu penyakit itu baru sembuh sama sekali setelah ia diobati oleh hwesio muka hitam-Karena Bayangkara tidak jauh, hal itu kiranya tidak sukar dilakukan.
Biarpun setelah disembuhkan, menurut tosu tua itu, ia hanya dapat hidup selama dua tahun saja, akan tetapi hal inipun ada obatnya, yaitu Im-yang-giok-cu di Ban-mo-to.
Betapapun sukarnya, kalau obat untuk menyambung nyawa, tentu akan ia cari sampai dapat!
Kun Hong hanya tahu bahwa Pegunungan Bayangkara terletak di sebelah timur Kun-lun-san akan tetapi ia tidak tahu benar, malah hampir tidak mengenal jalan di daerah ini.
Pada suatu hari.
perjalanannya terhalang oleh sebuah sungai yang besar.
Inilah Sungai Kun-sha-kiang yang merupakan sebuah dari pada sungai-sungai yang mengawali Sungai Yang ce-kiang.
Hari telah menjelang senja ketika ia tiba di tepi sungai itu.
Di tempat yang sunyi ini hanya kelihatan sebuah perahu kecil, tergolek-golek di tepi sungai dan seorang nelayan setengah tua, agaknya pemiliknya, duduk melenggut di atas kepala perahu sambil memegangi sebatang pancing.
Agaknya sudah terlalu lama ia memancing namun tidak ada ikan yang menyambar maka membuat ia mengantuk, apa lagi hawa di siang hari itu memang amat panasnya.
"Haai, kakek pemalas! Hayo antar aku menyeberang sungai!"
Kun Hong membentak. Hampir saja kakek itu terguling dari perahunya saking kaget. Baru enak-enak tidur ayam dibentak sampai ia menjumbul dan tersentak kaget, matanya terbelalak.
"A......... ada apa...... ikan besar......?"
Ia gagap-gugup lalu menarik-narik pancingnya. Akan tetapi tidak ada ikan yang menyangkut. Kun Hong tertawa terbahak-bahak.
"Mana ada ikan mau makan umpan tukang pancing yang malas? Paling-paling yuyu (kepiting sungai) yang mau menyapit. Ha-ha!"
Tukang pancing itu membuka capingnya yang lebar, lalu memandang kepada Kun Hong penuh perhatian, agak merengut.
"Eh, orang muda. Kau siapakah dan apa kehendakmu datang menggoda seorang nelayan tua yang kurang makan kurang tidur?"
"Kakek, aku hendak menyeberang. Hayo kau seberangkan aku dengan perahumu ini."
Kakek itu mengamat-amati pemuda ini.
"Kau mau bayar berapa?"
Kun Hong mengerutkan kening.
Pemuda ini tak pernah membawa uang, tak pernah mengenal uang.
Kebiasaan golongannya, yaitu golongan Mo-kauw.
mau makan atau pakai ambil saja.
Milik setiap orang milik mereka juga!
"Aku tidak punya uang.
Aku butuh menyeberang, kau mempunyai perahu perlu apa uang?"
Katanya tak senang. Kakek itu meludah ke dalam air.
"Tak punya uang untuk bayar tak punya perah u sendiri untuk menyeberang, kalau mau menyeberang boleh berenang saja."
Setelah berkata demikian kembali kakek itu memperhatikan pancingnya, sama sekali tidak mau perdulikan Kun Hong.
"Tua bangka busuk! Cacingmu tidak ada ikan makan? Kau makanlah sendiri!"
Kaki Kun Hong bergerak dan tubuh kakek itu terlempar ke dalam air sungai!
Air muncrat dan kakek itu gelagapan baiknya ia seorang nelayan yang pandai berenang, kalau tidak tentu ia akan mati tenggelam di air yang dalam itu-Sambil tertawa-tawa Kun Hong mencabut pedang Cheng-hoa-kiam.
"He, kakek tukang pancing lihat ini! Lain kali pedangku akan membabat lehermu seperti ini. Baiknya sekarang aku sedang gembira maka kuampuni nyawamu!"
Kun Hong menyabetkan pedangnya ke arah cabang pohon yang tumbuh di pinggir sungai.
Sekali sabet saja putuslah cabang itu.
Kakek nelayan makin ketakutan dan berenang menjauhi tempat itu, tidak memperdulikan perahunya lagi.
Kun Hong tertawa dan hendak menghampiri perahu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring lembut.
"Orang jahat kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini!"
Dari atas pohon melayang turun sesosok bayangan yang bergerak cepat dan langsung menyerang Kun Hong dengan sebatang pedang tipis.
Serangan ini berhabaya sekali, akan tetapi dengan mudah saja Kun Hong menangkis, terus menggunakan pedangnya menempel dan menindih pedang lawan.
Ketika ia memandang, ia mengeluarkan seruan kaget dan melompat mundur.
Orang itu bukan lain adalah Pui Eng Lan.
gadis manis yang selama ini memenuhi ruangan hati Kun Hong dan setiap detik terbayang di depan matanya.
"Nona Pui Eng Lan..........alangkah girang hatiku bertemu dengan kau di sini...... eeehhh....... anu...... aku tadi hanya main-main saja dengan tukang perahu, harap kau jangan salah mengerti........."
Katanya ketika ingat bahwa mungkin sekali nona pujaan hatinya ini marah melihat dia mempermainkan tukang perahu tadi.
Heran benar, Kun Hong yang selama ini tidak perduli apa yang lain orang akan menganggap tentang sepak-terjangnya, sekarang di hadapan Eng Lan begitu gugup dan kikuk seperti pengantin baru di depan mertuanya!
Eng Lan merengut dan matanya berkilat-kilat.
"Tak perlu mengobrol yang bukan-bukan! Aku tidak mengenal segala tukang perahu! Kau girang bertemu dengan aku? Bagus! Aku lebih girang lagi karena sekarang datang kesempatan bagiku untuk membalaskan sakit hati enci Siok Lan kepadamu!"
Begitu kata-kata terakhir diucapkan, pedangnya meluncur cepat menusuk dada pemuda itu.
"Traangg.........!"
Kun Hong menahan pedang itu, cukup perlahan agar gadis itu tidak terkejut.
"Sabar, nona manis......... sabaaar......!"
"Apa sabar? Kau pengecut jahanam, kau mempermainkan enci Siok Lan! Kau membikin sakit hatinya, merusak kebahagiaan hidupnya. Gara-gara kau yang mengacau, gara-gara kejahatan dan kecuranganmu, enci Siok Lan sampai diputus perjodohannya dengan calon suaminya!"
Kembali Eng Lan menyerang, sekarang dengan bacokan keras. Kun Hong mengelak cepat, lalu menggerakkan pedangnya menindih pedang nona itu sebelum Eng Lan sempat menyerang lagi.
"Nanti dulu. kau menyerang aku ini apakah untuk membunuhku?"
"Tentu saja! Kau kira main-mainkah ini?"
Eng Lan meronta hendak melepaskan pedangnya dari tindihan pedang pemuda itu, namun tidak berhasil.
"Sabar dulu, adikku yang manis. Percayalah kalau memang aku bersalah dan layak menerima hukuman mati. hanya pedang di tanganmu yang akan dapat mengantar nyawaku ke sorga. Aku rela seribu kali mati di tanganmu. Akan tetapi berilah kesempatan padaku untuk mendengar uraianmu sejelasnya. Kalau kau tidak percaya, lihat. kusimpan pedangku dan ini dadaku kalau kau nanti mau tusuk setelah aku mendengar penuturanmu dan merasa aku berdosa dan layak mati."
Pemuda itu benar-benar menarik pedangnya dan menyimpannya di sarung pedang, membusungkan dadanya yang bidang.
"Kau....... kau menantang.......?"
Eng Lan menggerakkan pedangnya menusuk cepat dan kuat ke arah ulu hati pemuda itu.
Ia menduga bahwa pemuda yang biasa mempermainkan orang berilmu tinggi ini tentu berpura-pura saja dan akan mengelak.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat pemuda itu sama sekali tidak bergerak, bahkan sepasang mata yang tajam seperti bintang itu sedikitpun tidak berkedip.
"Cesss........"
Pedang menembus baju mengenai kulit.
"Aduhhhh celaka.........!"
Aneh, yang menjerit ini bukan Kun Hong yang tertusuk, melainkan Eng Lan sendiri.
Gadis ini merasa kaget setengah mati melihat pedangnya menembus baju, cepat-cepat ia menarik pulang pedangnya akan tetapi ujung pedang sudah mengenai kulit dada.
Darah merah membasahi baju pemuda itu yang tetap tersenyum dan berdiri tegak.
"Aku........ aku tidak bermaksud membunuhmu secara begitu......... aku tak sudi membunuh orang yang tak mau melawan........."
Katanya gagap sambil memandang ke arah baju yang penuh darah itu.
"Kau belum membunuhku, baru menggores kulit. Mengapa tidak jadi? Kalau kau memang menghendaki nyawaku, ambillah. Nyawaku sudah bukan milikku lagi, adikku sayang. Nyawa dan badan ini sudah lama menjadi milik seorang gadis manis bernama Pui Eng Lan........."
"Cih. tak tahu malu!!"
Eng Lan menjadi merah sekali mukanya, hampir semerah baju Kun Hong yang terkena darah.
"Aku menantangmu bertempur seperti layaknya orang-orang gagah. Salahmu sendiri mengapa tidak melawan?"
"Eng Lan, adikku yang manis, aku tidak main-main. Padamu aku tidak kuasa melawan, aku menyerah kalah, menurut hendak kau apakan juga. Akan tetapi coba kau ceritakan dulu apa kesalahanku. Seorang pesakitan yang diperiksa oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman mati sekalipun akan lebih dulu diceritakan apa yang menjadi dosanya."
"Kau masih berpura-pura? Sudah kusebutkan tadi dosamu kepada enci Siok Lan sekeluarga."
"Aku tidak merasa berdosa kepada enci Siok Lan. Apakah kau maksudkan murid Pak-thian Koai-jin itu? Aku sama sekali tidak mengenalnya, bagaimana bisa berdosa kepadanya? Aku tidak berpura-pura, sungguh mati, aku tidak mengerti. Coba kau ceritakan."
Eng Lan menarik napas panjang dan memaki diri sendiri.
Mengapa menghadapi pemuda ini yang sudah menyerah begitu saja, tinggal menusuk dadanya cuss dan beres mengapa mendadak ia menjadi lemah dan tidak tega?
Ah, keterlaluan memang kalau dia membunuhnya begitu saja, membunuh orang yang tidak melakukan perlawanan, membunuh orang yang kelihatannya betul-betul belum tahu akan dosanya, seorang yang.........
yang.......
demikian mencintanya.
Dulupun.
ketika pemuda ini membebaskannya dari tawanan, ia sudah tahu akan cinta kasih hati pemuda ini kepadanya.
"Baik kuceritakan, supaya orang tidak menganggap aku keterlaluan, akan tetapi itu......... lukamu itu obatilah dulu. Ini aku mernbekal obat. Tak. tahan aku melihat darah."
Kata gadis itu sambil mengeluarkan sebungkus obat bubuk untuk mengobati luka.
"Kau yang melukai, kau pula yang harus mengobati."
Kata Kun Hong tersenyum. Makin merah muka gadis itu.
"Jangan main gila! Maksudku baik kau anggap yang bukan-bukan. Mau pakai obatku atau tidak?"
Melihat gadis itu marah-marah lagi dan bicaranya ketus, Kun Hong tertawa, menerima bungkusan itu dan mengobati luka kulit dadanya.
Eng Lan miringkan kepalanya, jengah melihat pemuda itu membuka kancing baju, malu ia melihat kulit dada yang putih itu, yang sekarang kelihatan tergores ujung pedangnya.
Setelah mengenakan obat, rasa perih hilang dan Kun Hong menutup lagi bajunya.
"Kau berceritalah, aku sudah siap mendengarkan."
Katanya sambil memandang muka gadis yang masih dipalingkan ke kiri.
Eng Lan lalu bercerita, Kun Hong mendengarkan.
Mereka duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan tanah.
Keduanya kelihatan seakan-akan dua orang sahabat baik yang sedang mengobrol sambil makan angin.
Padahal Eng Lan masih memegang pedangnya dan ia masih menganggap pemuda ini musuhnya seorang jahat yang layak ia bunuh!
Apakah yang diceritakan oleh Eng Lan kepada Kun Hong.
Mari kita ikuti sendiri pengalaman gadis itu.
Semenjak dibebaskan dari tawanan oleh Kun Hong di Peking, Eng Lan bersama Tung-hai Sian-li berhasil melarikan diri keluar dari kota raja.
Begitu mereka lolos keluar dari tembok kota, mereka bertemu Siok Lan dan See-thian Hoat-ong.
Tentu saja dua orang ini merasa girang sekali melihat mereka telah berhasil menyelamatkan diri.
Tak lama selagi mereka maling bicara, datang pula Pak-thian Koai-jin dan Lam-san Sian-ong yang melompat keluar dari balik tembok kota.
"Kami melihat kalian berlari-lari. Merasa heran tidak ada yang mengejar, maka diam-diam kami hanya mengikuti, takut kalau-kalau ada musuh menyerang dari belakang."
Kata Pak-thian Koai-jin.
Tadinya dia bersama Lam-san Sian-ong memasuki kota raja dengan maksud hendak menolong Tung hai Sian-li dan Pui Eng Lan.
Akan tetapi selagi mereka mencari-cari pada tengah malam itu mereka melihat bayangan dua orang wanita itu berlari-lari cepat sambil berlompat-lompatan dari genteng ke genteng.
"Kami ditolong oleh pemuda yang bernama Kam Kun Hong itu. Lebih baik kita lekas pergi dari sini siapa tahu kalau-kalau musuh mengirim barisan mengejar,"
Kata Tung-hai Sian-li. Tanpa banyak cakap mereka semua lalu berlari cepat ke selatan. Setelah malam terganti pagi baru mereka berhenti dan Tung-hai Sian-li menceritakan pengalamannya.
"Sungguh mati aku tidak nyana bahwa pemuda yang lihai sekali itu ternyata berhati baik, tidak seperti yang lain. Sukar dipercaya kalau dia itu murid Thai Khek Sian. Dia memasuki kamar tahanan, minta maaf atas kecurangan kawan-kawannya yang menangkap aku dan Eng Lan secara pengecut. Kemudian ia mematahkan belenggu dan minta supaya aku menjemput Eng Lan dan melarikan diri sambil memesan agar jangan aku melayani serangan kawan-kawannya. Aahh. sungguh berbahaya. Kalau tidak ada pemuda itu, aku dan Eng Lan mana kuat melawan keroyokan mereka? Cuma heranku, apakah yang menyebabkan pemuda itu berbalik pikir dan menolong kami!"
Eng Lan seorang yang mengetahui sebabnya.
Akan tetapi ia diam saja dan menundukkan kepala.
Setelah Tung-hai Sian-li selesai bercerita.
Siok Lan lalu menghampiri ibunya ini.
Sikapnya lain dari pada ketika mereka saling bertemu untuk pertama kalinya.
Gadis ini berlutut dan dengan suara gemetar ia berkata.
"Apakah kau masih menganggap aku anakmu?"
Tung-hai Sian-li tercengang.
Tak disangkanya gadis ini akan bersikap begini.
Tadinya ia sudah putus harapan dan mengira bahwa selamanya gadis itu tentu akan membencinya.
Akan tetapi dia tidak menyalahkan Siok Lan yang membela ayahnya.
Melihat anaknya itu kini berlutut di depannya dan mengeluarkan pertanyaan itu.
hatinya berdebar dan dengan mata basah ia memeluk Siok Lan.
"Anak bodoh, tentu saja kau anakku! Sampai matipun aku akan menganggap kau anakku."
"Kalau begitu, sebagai seorang ibu tentu akan suka memenuhi permintaan anaknya yang selamanya tak pernah minta apa-apa!"
Tung-hai Sian-li terharu dan membelai kepala anaknya.
"Sudah tentu saja, nyawaku kusediakan untuk memenuhi permintaanmu."
Kwa Siok Lan membalas pelukan ibunya.
"Ibu, tidak begitu sukar permintaanku. Hanya satu, yalah ibu supaya ikut anak pulang ke Poan-kun."
Wajah yang masih cantik itu menjadi pucat seketika.
"Dan....... dan........ ayahmu.......?"
"Sudah bertahun-tahun ayah menanti kedatangan ibu seperti malam gelap menanti munculnya matahari. Kau tentu mau pulang bersamaku, bukan? Ibu. permintaanku hanya satu ini, kalau ibu tidak mau penuhi, kuanggap ibu tidak mencintaku dan tidak mau menganggap aku sebagai anakmu!"
Tiba-tiba Tung-hai Sain-li melepaskan pelukannya, bangkit berdiri dan melangkah mundur. Ia membanting kakinya dan membentak "Kau hendak memaksaku?"
Siok Lan juga melompat berdiri tegak, menjawab sama kerasnya.
"Ibu terlalu kejam kepada ayah!"
Dua orang wanita ini berdiri tegak saling berhadapan.
Sama cantik sama tinggi langsing, dan sama-sama keras kepala dan marah!
Dua pasang mata yang indah bening itu berkilat-kilat seperti mengeluarkan api.
Mereka sama sekali bukan seperti ibu dan anak, lebih patut disebut dua orang lawan yang sedang saling berhadapan hendak bertempur.
Seperti dua ekor singa betina!
See-thian Hoat-ong, adik seperguruan atau sute dari Kwa Cun Ek melihat keadaan ibu dan anak itu, mendehem dan berkata perlahan, berbeda dengan biasanya.
"Siok Lan, jangan bersikap begitu terhadap ibumu........."
Terang bahwa kakek gagah perkasa ini merasa terharu.
Ia menyaksikan persamaan yang tak dapat disangkal lagi antara ibu dan anak ini, bukan persamaan rupa, melainkan persamaan watak.
Sama keras kepala, sama pemarah dan sama berani!
Pak-thian Koai-jin tertawa, suara ketawanya mengandung tenaga khikang membuyarkan suasana tegang itu.
Memang kakek ini sengaja hendak mendinginkan suasana, maka ia tertawa lalu disambungnya dengan kata-kata "Nona Kwa memang betul.
Mengajak ibu pulang agar supaya dapat berbakti terhadap ayah bunda.
Cinta kasih yang suci tidak mementingkan perasaan sendiri.
Ha-ha-ha."
Ucapan ini seperti air dingin diguyurkan ke atas kepala Tung-hai Sian-li. Terdengar ia mengisak ditahan, lalu ditubruknya tubuh anaknya dan ia berkata.
"Aku menurut....... apa saja yang kau minta, aku menurut........."
Katanya.
Siok Lan memeluk ibunya dan menangis, menangis saking girang hatinya.
Pui Eng Lan yang semenjak tadi diam saja menyaksikan adegan ini.
sekarang ia tak dapat menahan keharuan hatinya.
Ia menghampiri Siok Lan dan dengan air mata berlinang ia memegang tangan sahabatnya itu.
Siok Lan menoleh dan tersenyum kepadanya, penuh perasaan kasihan.
Siok Lan tahu betapa Eng Lan tertusuk hatinya menyaksikan ia dapat bertemu dan berbaik kembali dengan ibunya.
Eng Lan sendiri seorang gadis yatim piatu, hanya hidup berdua dengan encinya.
Akan tetapi encinya itu menjadi korban keganasan hartawan Liu si tua bangka mata keranjang sehingga enci Eng Lan sekeluarga binasa.
Itulah yang menyebabkan Eng Lan pergi ke kota raja bersama suhunya untuk membalas dendam, membunuh kakek hartawan Liu.
"Eng Lan kau berjanji hendak berkunjung ke rumahku. Lebih baik sekarang kau sekalian ikut bersama aku dan ibu ke Poan-kun. Bagaimana?"
Kata Siok Lan. Eng Lan hanya menoleh kepada suhunya, orang aneh dari utara yang selama ini menjadi pengganti orang tuanya.
"Boleh, boleh! Kau memang seharusnya menghibur dirimu. Pergilah ke Poan-kun tiga bulan kemudian aku menyusul ke sana."
Kata Pak-thian Koai-jin.
Maka berangkatlah Siok Lan dan Eng Lan bersama Tung-hai Sian-li dan juga See-thian Hoat-ong ke Poan-kun.
Pak-thian Koai-jin pergi bersama Lam-san Sian-ong katanya mereka berdua hendak mancing ikan dan minum arak di Telaga See-ouw.
Hati Eng Lan agak terhibur ketika ia melakukan perjalanan dengan Siok Lan dan Tung-hai Sian-li.
Adapun See-thian Hoat-ong adalah seorang gagah yang pendiam dan dengan adanya kakek tinggi besar seperti Kwan Kong ini di samping mereka, tiga orang wanita ini tidak mengalami kepusingan karena tidak ada orang berani mengganggu mereka.
Jarang ada orang berani bersikap kurang ajar di depan orang seperti See-thian Hoat-ong.
Kepada Tung-hai Sian-li dan Eng Lan, Siok Lan menceritakan keadaan rumah tangganya.
Karena perjalanan itu jauh dan memakan waktu lama.
banyak yang sempat diceritakan oleh Siok Lan, malah ia bercerita juga tentang Ciok Kim Li.
gadis yang menjadi korban keganasan Tok-sim Sian-li, sehingga kedua kakinya sampai dibuntungi oleh Kun Hong.
"Pemuda itu baik sekali kepandaiannya luar biasa tingginya. Sebagai murid Thai Khek Sian. memang pantas ia memiliki kepandaian demikian lihai. Sayangnya, ia berkawan dengan orang-orang Mo-kauw. Aku dan Eng Lan sudah berhutang budi kepadanya."
Sambil berkata demikian, Tung-hai Sian-li melirik ke arah Eng Lan dengan pandang mata penuh arti.
Wanita gagah ini sudah dapat menduga mengapa Kun Hong membebaskan dia dan Eng Lan".
Eng Lan menjadi merah mukanya.
"Bibi mengapa harus disayangkan? Orang jahat bergaul dengan orang-orang jahat, itu sudah sejamaknya. Mana ada burung gagak bergaul dengan burung hong?"
"Eng Lan. kenapa kau bicara begitu? Dia sudah menolongmu, tahu?"
Siok Lan menggoda. Gadis inipun mengerti akan jalan pikiran ibunya. Memang Siok Lan amat cerdik.
"Siok Lan, kenapa kau bicara begitu? Dia nolong ibumu, bukan aku!"
Bantah Eng Lan, akan tetapi Siok Lan dan ibunya hanya tertawa.
Ketika tiba di luar kota Poan-kun.
tiba-tiba Tung-Hai Sian-li berhenti.
Siok Lan memandang heran.
Sudah semenjak makin dekat dengan Poan-kun.
pendekar wanita ini nampak makin muram mukanya, berbeda dengan Siok Lan yang menjadi makin gembira.
"Ibu, kita sudah sampai di Poan-kun, kenapa berhenti?"
Tanya Siok Lan sambil memandang wajah yang menjadi agak pucat itu.
"Kau pulanglah dulu beri tahu ayahmu. Aku menanti di sini."
Jawab Tung-hai Sian-li singkat.
Siok Lan seorang gadis cerdik luar biasa, akan tetapi ia berwatak keras seperti ibunya sehingga ia tidak mengerti akan sikap ini.
Sebaliknya, Eng Lan lebih halus perasaannya maka Eng Lan lalu menggandeng tangannya dan berbisik.
"Enci Siok Lan, sudah sepantasnya kau pulang dulu memberitahukan ayahmu akan kedatangan ibumu."
Sambil berkata demikian, ia mengerahkan tenaga menarik lengan sahabatnya itu melanjutkan perjalanan.
Siok Lan memandang tak mengerti, akan tetapi Eng Lan berkedip memberi isyarat sehingga dia menurut saja memasuki kota Poan-kun.
"Enci Siok Lan. mengapa kau hendak memaksa ibumu masuk? Tentu aaja ayahmu harus keluar menyambut kedatangannya. Masa kau tidak dapat menyelami perasaannya?"
Siok Lan mengangguk-anguk, akan tetapi di dalam hatinya ia merasa heran mengapa ibunya harus bersikap demikian.
Namun kini timbul lagi kegirangan hatinya dan cepat-cepat ia mengajak Eng Lan menuju ke rumahnya.
Sunyi saja di rumah besar itu.
Siok Lan terheran.
Mengapa tidak kelihatan seorangpun di halaman depan?
Ia bersama Eng Lan terus memasuki halaman dan kini terlihatlah ayahnya duduk di atas kursi, diam tak bergerak seperti patung dan Kim Li juga duduk di atas kursi pendek Gadis buntung kakinya ini memakai celana yang menutupi kedua kaki itu sehingga ia kelihatan berkaki pendek sekali tidak kelihatan buntung.
"Ayah.........!"
Seru Siok Lan sambil berlari menghampiri ayahnya. Ketika ia pergi, ayahnya memang kurang enak badan, akan tetapi tidak sekurus ini dan juga tidak kelihatan begini sedih.
"Ayah. aku membawa oleh-oleh yang amat indah dan akan menyenangkan hatimu......!"
Kata Siok Lan setelah tiba di depan ayahnya, lalu ia menjatuhkan diri berlutut daan memeluk lutut ayahnya. Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika tiba-tiba ayahnya menggerakkan tangan menamparnya.
"Plakk!!"
Siok Lan menjerit dan terjengkang ke belakang. Pipi kirinya merah bengkak dan mulutnya berdarah! "Anak setan, kau lebih baik mampus dari pada membikin malu orang tua!"
Terdengar Kwa Cun Ek memaki marah sambil bangkit berdiri.
Kim Li biarpun kedua kakinya sudah buntung, namun semenjak memperdalam ilmu silatnya di bawah asuhan Kwa Cun Ek, gerakannya menjadi gesit.
Cepat ia melompat dan menubruk Siok Lan.
lalu menghalangi di depan Kwa Cun Ek sambil berkata.
"Suhu, ingat, jangan menuruti nafsu amarah! Belum tentu nona Siok Lan bersalah dalam urusan itu........!"
Kwa Cun Ek membanting kaki.
"Kwee Sun Tek adalah seorang laki-laki sejati, mana dia bisa membohong? Anak ini biar minggat saja dan sini, biar aku hidup seorang diri menderita sampai mampus dari pada didekati anak yang hanya mencemarkan namaku!"
Kembali ia hendak memukul akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring.
"Kau berani memukul anakku?"
Kwa Cun Ek tersentak kaget, berdiri tegak seperti patung, matanya melotot dan mulutnya melongo.
Tung-hai Sian-li telah berdiri di hadapannya, secantik dulu, segagah dulu, segalak dulu!
Di belakangnya nampak Eng Lan berdiri di pojok.
Nona ini yang tadi cepat-cepat memberi tahu kepada Tung-hai Sian-li akan peristiwa di rumah itu.
Mendengar anaknya dipukul oleh Kwa Cun Ek, bagaikan seekor harimau betina Tung-hai Sian-li berlari cepat sekali sampai-sampai Eng Lan sukar menyusulnya.
Tung-hai Sian-li memeluk puterinya.
"Begini kau memperlakukan anakku......?"
Melihat Siok Lan menangis dengan pipi bengkak dan bibir berdarah. Tung-hai Sian-li mencabut pedangnya dan melompat berdiri.
"Kau hendak membunuh dia! Kau bunuh aku lebih dulu!"
Tantangnya.
Kwa Cun Ek yang tadinya marah-marah dan berdiri tegak kini merasa kakinya gemetar dan ia tentu akan roboh terguling kalau saja Kim Li tidak cepat-cepat membawa sebuah kursi di belakangnya.
Kwa Cun Ek menjatuhkan diri di atas kursi dan menutupi mukanya.
"Kenapa baru sekarang kau datang! Kalau siang-siang kau datang, takkan terjadi peristiwa ini. Hui Goat........ Hui Goat........"
Kata Kwa Cun Ek, suaranya terdengar menyedihkan sekali.
Hui Goat adalah nama Tung-hai Sian-li.
Wanita ini menarik napas panjang lalu menyimpan kembali pedangnya.
Sementara itu, Siok Lan sudah menubruk kaki ayahnya dan menangis sedih.
Ia mengira akan menyaksikan pertemuan yang mesra antara ayah dan ibunya, tidak tahu datang-datang ia dipersen tamparan oleh ayahnya dan menyebabkan ayah dan ibunya hampir saja bertempur sendiri!
"Ada urusan dengan anak boleh dibicarakan, boleh dirunding, bukan datang-datang anak ditampar sampai begitu.
Ayah macam apa begini?"
Tung-hai Sian-li mengomel dan semacam perasaan yang aneh menjalar di dada pendekar gagah Kwa Cun Ek.
Ia merasa senang diomeli isterinya, alangkah nikmat perasaan ini!
"Semua salahku.........
Hui Goat, apakah kau mau kembali?
Membantuku merawat dan mendidik Siok Lan.........?
Aku sudah tidak kuat lagi mendidiknya seorang diri........"
Diam-diam Eng Lan melangkah keluar dari ruangan itu dan menangis seorang diri di halaman rumah.
Ia merasa terharu dan teringat akan nasibnya sendiri.
Ia tidak kuasa lagi menyaksikan pertemuan mereka, akan tetapi masih dapat mendengar pembicaraan mereka.
Juga Kim Li diam-diam pergi ke belakang untuk mengambilkan minum dan persediaan lain bagi Tung-hai Sian-li dan Siok Lan.
Anak ini memang mengenal kewajiban dengan baik.
"Kau kira aku datang mau apa? Kalau tidak Siok Lan yang memaksaku, untuk apa aku datang? Kau datang-datang memukul Siok Lan, apakah kesalahannya? Kau jelaskan, kalau tidak betul omonganmu, jangan kau menyesal kalau aku pergi lagi membawa serta anakku!"
Ancam Tung-hai Sian-li.
Diam-diam besar sekali hati Kwa Cun Ek.
Mendapatkan kembali Tung-hai Sianli hidup serumah dengan isterinya yang tercinta, ah seakan-akan ia memasuki hidup baru.
Akan tetapi ia menekan perasaannya dan setelah berkali-kali menarik napas panjang ia bercerita.
"Telah Lama aku ingin mendapatkan seorang calon jodoh Siok Lan akan tetapi bocah ini selalu menolak. Akhirnya aku memutuskan sendiri ikatan jodohnya dengan keponakan Kwee Sun Tek yang bernama Thio Wi Liong. Pemuda itu adalah murid Thian Te Cu, seorang anak yatim piatu. Aku segera menerima ikatan jodoh ini karena selain mengingat bahwa pemuda itu murid Thian Te Cu, juga aku kagum melihat Kwee Sun Tek yang kukenal baik di waktu mudanya. Ketika aku memberi tahu hal ini kepada Siok Lan, dia tidak menyatakan apa-apa."
Tung-hai Sian-li memandang heran kepada anaknya.
"Apa kau bilang? Thio Wi Liong........?? Siok Lan, (Lanjut ke
Jilid 16) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 bukankah itu pemuda yang menolong kita dari kepungan pasukan Mongol........?"
Ketika Siok Lan tidak menjawab dan hanya menundukkan muka, Tung-hai Sian-li berteriak memanggil Eng Lan. Eng Lan cepat-cepat masuk setelah menghapus air matanya, dan menghadap nyonya pendekar itu.
"Eng Lan bukankah pemuda lihai yang menolong kita di kelenteng Siauw-lim-si itu bernama Thio Wi Liong?"
Eng Lan hanya mengangguk.
"Teruskan ceritamu, teruskan. Aku menjadi bingung........."
Kata Tung-hai Sian-li. Tentu saja pendekar wanita ini bingung sekali teringat akan sikap Siok Lan terhadap Wi Liong yang ternyata adalah tunangannya sendiri.
"Sebelum aku mengikat jodoh anak kita dengan keponakan Kwee Sun Tek. pernah aku bertemu dengan seorang pemuda yang lihai, pemuda bekas murid Tok-sim Sian-li, akan tetapi dalam pertemuan itu kulihat dia gagah dan berhati baik, yang kemudian kuketahui bernama Kam Kun Hong."
Kembali Tung-hai Sian-li melengak, akan tetapi suaminya tidak memperdulikan ini dan melanjutkan ceritanya.
"Dalam hati kecilku, aku kagum melihat pemuda itu dan kiranya akan suka bermantukan dia, akan tetapi karena dia sudah galang-gulung dengan orang-orang jahat, aku memilih murid Thian Te Cu. Kemudian terjadi hal yang tak kusangka-sangka."
Pendekar ini nampak gemas sekali.
"Baru kemarin, Kwee Sun Tek datang ke sini dengan sikap marah-marah dan berkata bahwa Siok Lan diam-diam telah mempunyai pilihan sendiri, telah mempunyai seorang kekasih, malah kekasihnya itu datang ke Wuyi-san bersama Tok-sim Sian-li mencuri sebatang pedang pusaka, pedang Cheng-hoa-kiam. Dan pemuda itu menurut dugaan adalah Kam Kun Hong! Bukankah itu memalukan sekali! Tentu saja Kwee Sun Tek membatalkan ikatan jodoh dan menyatakan menyesal dan kecewanya."
"Bohong semua itu.......!!"
Tiba-tiba Siok Lan melompat ke atas dan jeritannya demikian keras sampai mengagetkan orang-orang dan See-thian Hoat-ong yang tadinya merasa sungkan untuk masuk ke ruangan itu dan hanya menanti di luar tak berani mengganggu suhengnya yang sedang mengadakan pertemuan dengan anak isterinya, kini berjalan masuk.
Melihat keadaan tegang, ia diam saja, hanya duduk di atas sebuah bangku di pojok, dekat Eng Lan yang juga tidak berani berkutik.
"Hemmm, dan kau percaya saja akan obrolan kosong manusia yang bernama Kwee Sun Tek itu?"
Tegur Tung-hai Sian-li kepada suaminya.
"Kwee Sun Tek adalah seorang laki-laki sejati, seorang jantan yang gagah perkasa, selama hidupnya tak pernah ia membohong biarpun kedua matanya sudah buta."
Jawab Kwa Cun Ek membela diri.
"Jadi kau lebih percaya kepada orang lain dari pada anak sendiri?"
Isterinya mendesak, penuh kemarahan dan penyesalan.
Kwa Cun Ek terdesak dan bingung.
Menghadapi serangan-serangan omongan isterinya yang kini berdiri galak di depannya dalam membantu Siok Lan, Kwa Cun Ek menjadi lemas.
Timbul penyesalannya mengapa ia buru-buru marah kepada Siok Lan dan tidak menyelidiki lebih dulu.
Biasanya pureri tunggalnya itu tak pernah mengecewakan hatinya, masa sekarang gadis itu benar-benar telah main gila dengan pemuda lain di luar tahunya?
Agaknya tak masuk di akal mengingat bahwa Siok Lan tentu akan menolak kalau dahulu tidak suka dijodohkan dengan keponakan Kwee Sun Tek.
Akan tetapi.
Kwee Sun Tek adalah seorang gagah yang sangat boleh dipercaya!
"Tentu saja aku juga percaya kepada Siok Lan,"
Akhirnya ia menjawab teguran isterinya.
"Akan tetapi, tidak mungkin agaknya kalau Kwee Sun Tek membohongiku. Untuk apa dia berbohong? Apa keuntungannya baginya? Dia marah-marah dan sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak membohong ketika dia mencelaku dan memutuskan pertunangan keponakannya dengan Siok Lan."
Tiba-tiba wajah Tung-hai Sian-li Lee Hui Goat berubah dan ia memandang kepada puterinya.
"Siok Lan coba katakan sekali lagi. Betulkah kau tidak ada hubungan dengan pemuda bernama Kam Kun Hong itu?"
Siok Lan membalas pandang mata selidik ibunya itu dengan berani ketika ia menjawab.
"Ibu sendiri menjadi saksi bahwa selama hidupku baru kumelihat pemuda itu di kelenteng Siauw-lim-si dahulu Aku tidak kenal kepadanya sebelum atau sesudah itu, bagaimana orang berani memfitnahku yang bukan-bukan?"
"Semua kata-katamu itu kupercaya penuh. Akan tetapi anakku, kalau kau sudah menjadi tunangan pemuda yang bernama Thio Wi Liong itu, mengapa kau bersikap aneh dan bermusuh kepadanya ketika kita berhadapan dengan dia? Apa artinya semua sikapmu itu?"
Merah wajah Siok Lan ditanya begini. Bagaimana ia harus menjawab? Akan tetapi dasar cerdik, ia dapat juga menjawab dengan suara mengandung penasaran.
"Ibu. biarpun aku dan dia bertunangan, namun selamanya kami tak pernah saling bertemu muka. Dia tidak mengenal aku. akupun tidak mengenal dia. Ketika dia muncul, sikapnya mencurigakan. Biarpun dia itu tunanganku akan tetapi kalau dia mencurigakan, masa aku harus membelanya? Laginya, dia tidak mengenalku, apakah aku harus memperkenalkan diri? Memalukan sikap demikian bagiku, ibu"
Tung-hai Sian-li mengangguk kemudian ia teringat bahwa memang anaknya ini sama sekali tidak pernah tampak ada hubungan dengan Kun Hong.
malah beberapa kali bertanding dan selalu memperlihatkan sikap bermusuhan.
Tidak ada tanda-tanda sedikitpun yang membayangkan bahwa anaknya mempunyai hubungan tidak bersih dengan pemuda murid Thai Khek Sian yang amat lihai itu.
Ia menoleh kepada suaminya dan berkata tetap.
"Tak mungkin Lan-ji mempunyai hubungan dengan Kam Kun Hong. Kau telah dibohongi orang. Kwee Sun Tek itu bicara bohong, akan kucari dan kuberi hajaran! Membatalkan pertunangan sih tidak apa-apa, di dunia ini bukan hanya Thio Wi Liong seorang yang patut menjadi jodoh anakku. Akan tetapi dia telah memburukkan nama baik Lan-ji dan hal ini aku tidak bisa mendiamkannya begitu saja."
Kwa Cun Ek terkejut sekali.
Ia cukup maklum akan kekerasan hati isterinya dan sekali bicara, tentu akan dibuktikannya.
Akan tetapi apa yang dapat ia perbuat?
Baiknya pada saat itu.
See-thian Hoat-ong yang sudah luas pengalamannya dan maklum pula bahwa orang seperti Kwee Sun Tek patut dipercaya, segera bertanya kepadanya.
"Suheng. sebetulnya tentang tuduhan Kwee Sun Tek itu terhadap Siok Lan, apakah yang menjadi dasar? Bagaimana dia bisa menyatakan tuduhan seperti itu?"
Kwa Cun Ek bernapas lega. Ada jalan baginya untuk menyabarkan hati isterinya, untuk membela Kwee Sun Tek yang dianggapnya tidak bersalah.
"Hal itupun sudah kutanyakan kepadanya karena mana aku bisa percaya begitu saja terhadap tuduhan itu? Dia bercerita bahwa seorang pemuda bersama Tok-sim Sian-li datang di Wuyi-san dan mencuri pedang Cheng-hoa-kiam. Dia telah bertempur dengan pemuda itu dan dengan Tok-sim Sian-li. Pemuda itulah yang mengaku menjadi tunangan tak resmi dari Lan-ji tanpa memperkenalkan diri sendiri. Akhirnya Kwee Sun Tek dapat mengetahui bahwa pemuda itu adalah Kam Kun Hong. Demikianlah, dia lalu datang ke sini untuk menegurku dan membatalkan ikatan jodoh."
Tung-hai Sian-li.
Kwa Siok Lan, See-thian Hoat-ong.
dan juga Pui Eng Lan teringat bahwa memang Kam Kun Hong memegang pedang pusaka Cheng-hoa-kiam.
Mendengar penuturan itu, diam-diam Pui Eng Lan merasa panas sekali hatinya.
Entah mengapa, mendengar Kun Hong mengaku-ngaku sebagai kekasih Siok Lan dan memburukkan nama sahabatnya itu, ia menjadi marah sekali.
"Kalau begitu pemuda keparat itulah yang salah!"
Bentaknya, membuat semua orang menjadi kaget dan memandang kepadanya.
Setelah semua orang memandangnya, baru Eng Lan sadar bahwa ia tanpa disengaja telah menarik perhatiaa semua orang, wajahnya menjadi merah karenanya.
"Maafkan, Kwa-lo-enghiong, bukan maksudku mencampuri urusan ini. Akan tetapi aku berani bersumpah bahwa enci Siok Lan tidak bersalah apa -apa dan pemuda bernama Kam Kun Hong itulah agaknya yang sengaja hendak memburukkan nama enci Siok Lan. Biar aku mencari suhu dan melaporkan hal ini agar suhu membantu cari pemuda keparat itu!"
Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan kepada Siok Lan dan yang lain-lain untuk mencegahnya, gadis itu sudah melompat pergi dan lari cepat meninggalkan rumah Kwa Cun Ek.
Fihak tuan rumah sekeluarga karena sedang menghadapi urusan yang menyangkut nama baik mereka dan berada dalam suasana tegang, tidak mempunyai kesempatan untuk mencegah gadis itu pergi.
Akhirnya Kwa Cun Ek dan anak isterinya, ditengahi oleh See-thian Hoat-ong, dapat berbaik kembali dan sama-sama menduga bahwa yang menjadi biang keladi adalah Kam Kun Hong.."Pemuda itu aneh sekali,"
Kata Tung-hai Sian-li akhirnya,.
"kepandaiannya lihai bukan main, kadang-kadang wataknya nakal kurang ajar, akan tetapi ada kalanya ia berbudi baik seperti ketika membebaskan aku dan Eng Lan. Hemm. benar-benar sukar dijajaki hatinya, sukar diketahui wataknya."
"Sudah pantas dengan kedudukannya,"
Kata See-thian Hoat-ong.
"sebagai murid Thai Khek Sian, mana tidak aneh dan jahat! Betapapun juga, kita harus selalu berhati-hati menghadapi orang seperti itu yang setiap waktu bisa menjadi lawan. Bangsa Mongol tetap merupakan ancaman besar bagi tanah air dan orang-orang bagaimana gagahpun kalau sudah dapat diperalat oleh Bangsa Mongol berarti mereka itu penghianat bangsa yang berjiwa rendah! Pemuda itu sudah terang-terangan membela kepentingan bala tentara Mongol dan kaki tangannya, mana orang begitu bisa dipercaya?"
"Kalau begitu, Kwee Sun Tek berarti dibohongi oleh pemuda itu. Aku harus mencari Kwee Sun Tek di Wuyi-san dan memberitahukan hal ini. Perjodohan yang sudah diikat erat mana bisa diputuskan hanya karena gangguan orang luar yang sengaja mengacau? Tanpa alasan yang kuat. tak boleh Kwee Sun Tek mengambil tindakan sefihak yang merugikan nama baik kita."
Kata Kwa Cun Ek penasaran.
Sementara itu.
sejak tadi Kwa Siok Lan mengerutkan kening.
Ketika bertemu dengan Wi Liong, ia sengaja hendak mercberi pelajaran kepada tunangannya itu untuk datang sendiri membatalkan pertunangannya dengan Siok Lan, tanpa mengetahui bahwa Kwa Siok Lan adalah gadis yang dicintanya!
Akan tetapi, siapa kira ada terjadi perkara begini membingungkan.
Sebelum pemuda itu tiba, kiranya sudah didahului oleh paman pemuda itu memutuskan pertunangan, dengan alasan yang bukan-bukan.
Gadis ini menjadi bingung, sedih dan juga marah.
Diam-diam ia harus akui bahwa ia telah jatuh cinta kepada pemuda tunangannya sendiri!
Kini mendengar kata-kata ayahnya, kekerasan hatinya tiba-tiba bangkit dan dia berkata.
"Tidak ayah! Untuk apa kita harus merendahkan diri merangkak-rangkak seperti orang mohon supaya perjodohan itu jangan diputuskan? Alangkah rendahnya kalau kita berbuat demikian. Mereka sudah memutuskan, sudahlah! Jangankan tidak menjadi jodoh manusia itu biar selamanya tidak kawin sekalipun aku takkan mati!"
Selelah berkata demikian. Siok Lan lalu lari keluar rumah sambil menangis. Kwa Cun Ek dan Tung-hai Sian-li memandang bengong lalu menarik napas panjang.
"Kau lihat, Hui Goat, setelah kau tinggalkan aku, keadaanku menjadi kacau-balau, hidupku tidak tenteram, bahkan anakmu sendiripun tidak bahagia. Apakah kau masih tega meninggalkan kami lagi.........?"
Suara Kwa Cun Ek terdengar demikian mengenaskan sehingga di kedua mata nyonya itu nampak berlinang air mata.
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, suami isteri yang sudah berpisah belasan tahun lamanya itu saling pandang, penuh keharuan, penuh kerinduan penuh cinta kasih.
Demikianlah pengalaman Pui Eng Lan ketika ia ikut dengan Siok Lan ke Poan-kun menjadi saksi dari adegan pertemuan yang amat mengharukan.
Gadis ini setelah lari pergi dari Poan-kun, tidak pergi mencari suhunya yang katanya hendak berpesiar di Telaga See-ouw, melainkan ia terus menuju ke Kun-lun-san untuk mengadukan tentang perbuatan Kam Kun Hong itu kepada Kam Ceng Swi.
Dari gurunya ia mendapat tahu bahwa Kam Kun Hong dahulunya ikut dengan ayahnya.
Seng-goat-pian Kam Ceng Swi di Kun-lun-san sebelum bocah itu terculik orang jahat dan kemudian jatuh di tangan Thai Khek Sian sebagai muridnya.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan.
Pui Eng Lan kebetulan sekali bertemu dengan Kam Kun Hong ddan menyerang pemuda itu, melukai dadanya dan kemudian-sambil duduk berhadapan di bawah pohon, dua orang muda itu bercakap-cakap, Eng Lan menceritakan pengalamannya dan sebabnya mengapa ia menyerang Kun Hong.
"Begitulah."
Ia mengakhiri penuturannya.
"kau dengan keji sekali telah merusak perjodohan antara enci Siok Lan dan tunangannya, telah membuat sekeluarga Kwa berduka-cita. Apa sekarang kau masih hendak katakan bahwa tidak sepatutnya kalau aku membunuhmu untuk dosa-dosamu?"
Setelah berkata demikian, kembali Eng Lan bangkit berdiri dan pedangnya sudah siap lagi di tangannya, siap untuk melakukan pertempuran mati-matian.
"Hayo kau keluarkan pedangmu, pedang Cheng-hoa-kiam yang kau curi itu dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita mengeletak di sini tak bernyawa!"
Kam Kun Hong atau sekarang ia tidak mau mempergunakan she Kam lagi oleh karena telah tahu bahwa Kam Ceng Swi bukan ayahnya, tersenyum getir dan memandang wajah nona itu dengan hati tidak karuan rasa.
Terbayang olehnya betapa tadinya dengan segala kebahagiaan ia naik ke Kun-lun-san untuk minta ayahnya pergi meminang gadis ini sebagai isterinya tidak tahu selain disambut dengan pukulan yang akhirnya membuat ia terluka hebat, juga ia dipukul batinnya dengan keterangan bahwa ia bukanlah anak Kam Ceng Swi, melainkan anak pungut yang tidak karuan siapa bapak ibunya dan yang hanya diketahui di mana ibunya yang tak terkenal itu dikuburkan!
"Eh kau mentertawai aku?"
Tegur Eng Lan marah.
"Aku tahu kau lihai dan aku takkan dapat mengalahkanmu, akan tetapi jangan kira aku takut padamu!"
"Eng Lan, nona manis aku percaya akan kegagahanmu. Kalau kau ingin benar membunuhku, bunuhlah. Apa bedanya bagiku? Tidak kau bunuh sekarang dua tahun lagi akupun akan mati konyol. Laginya biarpun tidak kusangkal bahwa aku telah mempermainkan si tua buta Kwee Sun Tek. akan tetapi salahnya sendiri mengapa begitu mudah dipermainkan orang!"
Mendengar ucapan ini, Eng Lan diam-diam kaget.
"Apa artinya dua tahun lagi kau mati?"
Tanyanya dengan penuh gairah yang tidak disadarinya.
Melihat sikap ini.
Kun Hong menjadi girang bukan main.
Kalau ada seorang gadis mengkhawatirkan keselamatan seseorang, hal itu berarti bahwa si gadis tadi menaruh perhatian dan dapat diharapkan bahwa timbangannya dalam asmara tidak berat sebelah!
"Kau sudi mendengarkan nona?
Biarlah kuceritakan kepadamu.
Hanya kepadamu seorang aku mau bercerita.
Aku telah naik ke Kun-lun-san dengan maksud mencari ayahku.
Kam Ceng Swi untuk minta dia.......
dia.......
ah, tak perlu kuceritakan apa perluku mencarinya.
Akan tetapi.........
setelah tiba di puncak Kun-lun-san.
secara curang sekali aku dikeroyok oleh orang-orang Kun-lun-pai dan ditawan secara licik, lalu aku dipukul sampai terluka hebat dan membuat aku hanya akan hidup dua tahun lagi kecuali jika mendapatkan obat tertentu yang amat sukar dicarinya, melebihi sukarnya masuk sorga!
Ini semua belum seberapa........."
Kun Hong menarik napas panjang dan nampak sedih sekali, mukanya menjadi pucat dan jelas kelihatan ia menahan air matanya.
"yang hebat........ aku mendengar kenyataan pahit bahwa ayahku itu........ Kam Ceng Swi yang semula kuanggap ayahku, ternyata bukan ayahku........ dan....... dan aku tidak diketahui anak siapa, tidak tahu siapa ayahku, ibuku sudah meninggal dan....... dan......."
Kun Hong tak dapat melanjutkan ceritanya.
Entah mengapa di depan gadis ini ia mencurahkan isi hatinya dan seluruh perasaannya sehingga ia menjadi berduka bukan main, padahal tadinya ia tidak begitu perduli akan nasib dirinya.
Di depan Eng Lan ia merasa dirinya begitu penting dan menghadapi kenyataan tentang dirinya yang tidak berayah ibu ia menjadi terharu bukan main.
Ia menyembunyikan muka di antara kedua lututnya dan diam-diam menghapus dua titik air mara yang tak tertahankan lagi keluar dari kedua matanya.
Baru ini kali Kun Hong menitikkan air mata, air mata yang keluar dari lubuk hatinya karena merasa betapa percakapan dengan Eng Lan ini demikian sungguh-sungguh menembus ke dalam sanubari.
Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya, demikian mesra sentuhan itu sampai Kun Hong merasa betapa tubuhnya menggigil.
Sudah banyak ia mendekati wanita sudah banyak wanita mencintanya, akan tetapi belum pernah sentuhan jari tangan wanita dapat membuat ia menggigil seluruh tubuhnya.
Ketika perlahan ia mengangkat mukanya dan menengadah, ia melihat Eng Lan menunduk dan memandang kepadanya dengan air mata bercucuran!
"Kun Hong........"
Suaranya lirih halus, menggetar penuh perasaan terharu.
"jangan berduka, bukan hanya kau anak yatim piatu akupun tiada ayah bunda."
Memang Eng Lan tak dapat lagi menahan perasaannya.
Semenjak ia bertemu dergan pemuda itu di lubuk hatinya sudah dipenuhi rasa kagum.
Hanya karena pemuda itu dianggap fihak musuh maka ia mengeraskan hati dan rasa kagumnya menjadi kebencian maka membuat ia menyerang pemuda itu di Kelenteng Siauw-lim dahulu.
Akan tetapi biarpun pada umumnya Kun Hong memperlihatkan sikap jahat dan nakal, terhadap dia pemuda ini memperlihatkan kebaikan budi.
Malah tanpa tedeng aling-aling lagi pemuda itu menyatakan cinta kasihnya.
Diam-diam, di luar kesadarannya sendiri bahkan di luar kehendaknya yang diperkuat oleh wataknya sebagai seorang pendekar yang patriotik, gadis ini ternyata telah jatuh cinta kepada Kun Hong.
Tadinya ia masih dapat mengeraskan hati, masih dapat membantah hasrat hatinya sendiri, akan tetapi ketika melihat pemuda itu berduka, mendengar kata-kata yang mengharukan dan mendengar kenyataan bahwa pemuda inipun seorang yatim piatu seperti jmja dia, patahlah semua pertahanan di hati Eng Lan dan tanpa daya lagi gadis itu memperlihatkan kelunakan dan kelemahannya.
"Eng Lan........."
Dengan hati tak karuan rasa, bahagia duka terharu bercampur aduk menjadi satu.
Kun Hong lalu memeluk kedua kaki gadis itu Eng Lan berdongak ke atas dengan kedua mata dimeramkan.
air matanya menetes turun di sepanjang pipinya dan tangan kirinya menekan dada sedangkan tangan kanannya membelai rambut pemuda itu.
Kemudian gadis itu limbung dan ia tentu roboh terguling kalau tidak cepat-cepat Kun Hong memeluknya.
Eng Lan merasa dirinya aman sentausa dalam pelukan Kun Hong, menemukan kembali kasih sayang ayah bunda dan kasih sayang sanak saudara yang kini tidak pernah dirasainya.
semua itu bercampur dengan kasih sayang seorang pemuda yang dicintanya di luar kehendaknya!
Dalam keadaan hampir pingsan karena bergeloranya perasaan.
Eng Lan menyembunyikan mukanya di dada Kun Hong.
Di lain fihak.
Kun Hong mendapatkan sesuatu yang amat mengherankan hatinya sendiri.
Ia merasa bangga dan bahagia sekali pada saat itu, akan tetapi anehnya, tidak seperti biasanya dengan wanita lain.
terhadap Eng Lan hatinya bersih dari pada segala kekotoran nafsu.
Kasih sayangnya terhadap Eng Lan mendalam dan sedikitpun tidak pernah timbul dalam pikirannya untuk menguasai gadis ini berdasarkan nafsu.
Ia mencinta Eng Lan dan mengharapkan cinta imbalan.
Maka ia berlaku hati-hati sekali, hanya tangannya mengelus-elus rambut yang hitam halus dan harum itu.
Akhirnya Kun Hong dapat juga menekan perasaan yang bergelombang, yang tadi membuat ia menjadi gagu.
Ia berbisik di dekat telinga Eng Lan.
"Eng Lan. dewi pujaan........ terima kasih......... terima kasih bahwa di dunia ini, di mana semua orang baik-baik memusuhiku. membenciku, masih ada kau seorang dewi yang sudi memperdulikan orang seperti aku......... terima kasih Eng Lan dan aku bersumpah, takkan mencinta orang lain kecuali engkau. Kelak.......... kalau Thian mengijinkan aku hidup lebih lama, kalau aku bisa mendapatkan obat untuk menyambung nyawa........ kelak aku akan mencari gurumu, akan mengajukan pinangan dengan hormat untukmu........."
"Kun Hong........."
Eng Lan membalas bisikan dengan lirih, hampir tidak kedengaran.
"kau tidak jahat......... kau orang baik......... ooohhh, betapa inginku meneriakkan di telinga mereka bahwa kau bukan orang jahat. Tidak, kau tidak jahat!"
Kun Hong bersenyum pahit.
"Aku memang jahat, Eng Lan. Kau tidak dapat membayangkan betapa jahatnya aku! Pikiranku kotor, hatiku selalu ingin melihat orang menderita, tergoda. Setiap melihat wanita cantik aku tergila-gila........ ah, betapa jahatnya aku. Akan tetapi sekarang, demi engkau......... aku akan membuang semua itu jauh-jauh.........!"
Tiba-tiba Eng Lan seakan-akan orang baru sadar dari tidur dan mimpi.
Ia tersentak kaget, melihat dirinya berpelukan dengan Kun Hong ia merenggut tubuhnya, mengeluarkan jerit lirih, melompat berdiri sambil menyambar pedangnya lalu.........
menyabetkan pedang itu ke lehernya!
"Eng Lan............!!!"
Secepat kilat Kun Hong bergerak menyambar tangan gadis itu dan merampas pedang lalu membuang pedang itu jauh-jauh. Eng Lan mengeluarkan isak tertahan, lalu berlari pergi sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku......... aku gadis hina-dina.......... aku lebih baik mati.........!!"
Keluhnya di antara tangis sambil berlari terhuyung-huyung, dengan saputangan menutupi mukanya yang banjir air mata.
"Eng Lan.......... tunggu aku.........! Kau hendak ke mana.........? Ah. Eng Lan kekasihku, kau kenapakah?"
Teriak Kun Hong sambil lari mengejar.
Karena ilmu lari cepat Kun Hong memang jauh lebih cepat, sebentar saja ia dapat menyusul dan ia memegang lengan gadis itu.
Eng Lan merontas-rontas dan berteriak-teriak.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku.......... Kun Hong, kau bunuhlah aku, jangan seret aku ke jurang kehinaan. Ah. suhu. ampunkan teecu yang telah menjadi seorang berbatin hina........"
Gadis itu menangis makin sedih ketika tak berdaya melepaskan diri dari pegangan Kun Hong. Kun Hong kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Eng Lan.
"Eng Lan akulah orangnya yang siap sedia kau kutuk siap sedia kau maki atau kau bunuh sekalipun kalau aku yang membikin kau bersedih. Eng Lan, apakah karena aku hanya tinggal hidup dua tahun lagi maka kau tiba-tiba mengubah sikapmu? Apakah karena aku seorang penjahat yang sudah mengakui kejahatannya maka kau menjadi benci dan jijik kepadaku?"
"Tidak....... tidak........ Kun Hong kau tidak tahu. Aku tadinya datang untuk membalaskan penghinaan yang kau jatuhkan atas diri enci Siok Lan dan keluarganya. Akan tetapi....... apa yang kulakukan di sini........ ah,. benar-benar tak patut aku......."
Kun Hong bangkit berdiri dan tersenyum, menggunakan tangan mengangkat muka gadis itu dengan memegang dagunya.
"Anak manis! Anak nakal! Begitu saja kau hendak memenggal lehermu yang indah itu? Hai. nanti dulu, manis! Aku mencintamu dengan segenap jiwaku, ini kau sudah yakin, bukan? Dan kaupun mencintaku, aku percaya penuh akan hal ini. Apa salahnya dalam hal ini? Bukankah cinta kasih kita suci dan bersih? Mengapa harus malu? Kecuali kalau kau merasa bahwa kau jauh lebih tinggi, lebih bersih dan lebih mulia dari pada aku, tidak ada yang harus dibuat malu!"
Eng Lan menghapus matanya dengan saputangan, lalu menatap wajah yang tampan dan nampak sungguh-sungguh itu.
Ia melihat sinar terang pada wajah itu dan kembali cinta kasihnya bangkit.
Ia tersenyum dan mengangguk!
"Naaahh, begitu baru anak manis yang kusayang.
Eng Lan.
sekali lagi aku menyatakan kepadamu, demi kehormatanku sebagai laki-laki, aku sama sekali tidak ada niat atau kesengajaan untuk menghina keluarga Kwa.
Hanya kebetulan saja aku mendengar tentang Kwa Cun Ek, malah aku sama sekali tidak tahu apakah Kwa Cun Ek itu mempunyai anak gadis ketika aku membohong dan mempermainkan Kwee Sun Tek."
Lalu dengan singkat ia menceritakan pertemuannya dengan Kwee Sun Tek ketika ia mencuri pedang Cheng-hoa-kiam. Setelah mendengar penuturan Kun Hong, Eng Lan pura-pura marah, cemberut dan menegur.
"Kau memang nakal. Untuk apa kau mencuri pedang orang?"
Wajah Kun Hong menjadi merah.
Heran, pikirnya dalam hati, ditegur begini saja hatinya berdebar seperti anak kecil mencuri kueh ditegur ibunya!
"Aku hanya.......
ingin memiliki pedang pusaka ampuh dan di samping itu, sejak kecil aku memang sudah ada keinginan menguji kepandaian Wi Liong.
Selain itu,"
Ia menyambung cepat-cepat.
"pedang Cheng-hoa-kiam ini memang dahulunya bukan milik supek Thian Te Cu, melainkan milik susiok Gan Yan Ki. Entah bagaimana bisa berada di Wuyi-san. Oleh karena memang nenek moyang guru-guru kami selalu bermusuhan dan bersaing, maka aku sengaja hendak memperlihatkan bahwa perguruan kami tidak kalah oleh mereka. Sebagai bukti. Cheng-hoa-kiam sekarang berada di tanganku."
Eng Lan menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku tidak tahu dan tidak perduli akan itu semua, pokoknya aku percaya bahwa kau tidak jahat, Kun Hong."
"Terima kasih, kau seperti dewi kahyangan yang turun ke bumi untuk mengangkat aku dari lembah kesengsaraan."
Seru Kun Hong girang sambil memegang lengan gadis itu.
"Nanti dulu, aku takkan berjanji apa-apa kepadamu sebelum kau penuhi permintaanku."
Kata Eng Lan sungguh-sungguh. Kun Hong melebarkan mata dan mengangkat alis.
"Permintaan apa.......?"
"Jawablah dengan sejujurnya apakah kau betul-betul tidak mencinta enci Siok Lan?"
Kun Hong benar-benar terkejut dan heran mendengar pertanyaan ini, juga ia merasa penasaran mengapa gadis ini masih saja menyangsikan hatinya.
"Kalau mencinta bagaimana dan kalau tidak bagaimana?"
Tanyanya sambil tersenyum menggoda.
"Kalau kau mencintanya, sekarang juga kau bersama aku harus pergi ke Poan-kun untuk minta maaf dan sekalian mengajukan pinangan secara sah. Kalau kau tidak mencintanya, sekarang juga kau bersama aku harus pergi ke Wuyi-san untuk mengakui kesalahanmu di depan Thio Wi Liong, kemudian membujuk atau memaksa pemuda itu untuk menyambung ikatan jodohnya dengan enci Siok Lan yang sudah diputuskan oleh pamannya."
Sampai lama Kun Hong menatap wajah kekasihnya itu dengan mata mengandung keheranan dan kekaguman besar.
"Eng Lan....... Eng Lan....... begini anehkah watak semua gadis secantik engkau? Yang kau bicarakan itu adalah urusan Siok Lan dan Wi Liong mengapa kau mau bersusah payah karenanya dan mengajak aku serta pula? Suhu sering berkata bahwa tidak perlu kira mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kita. yang tidak menguntungkan kita!"
Eng Lan membanting-banting kakinya dengan gemas-"Itulah celakanya!
Kau sudah diracuni oleh ajaran-ajaran busuk!
Selalu berpikir untuk keuntungan diri sendiri.
Kun Hong, kau tidak tahu bahwa di luar dunia golonganmu kita manusia tidak selalu memikirkan kepentingan sendiri, malah selalu mencari kesempatan untuk memikirkan dan menolong orang lain.
Tentang enci Siok Lan dan perjodohannya, tak dapat dipungkiri lagi kaulah biang keladinya sampai perjodohan itu diputuskan.
Oleh karena itu, kau pula orangnya yang harus menyambungnya kembali."
Ucapan ini terdengar baru bagi telinga Kun Hong.
Selama ia berkumpul dengan Thai Khek Sian, para selirnya.
Tok-sim Sian-li, Bu-ceng Tok-ong, dan lain-lain tokoh golongan mereka selalu orang mengutamakan kepentingan sendiri.
Ia mengangguk-angguk dengan kening berkerut lalu bertanya lagi.
"Kalau aku biang keladinya mengapa kau juga bersusah-payah, malah tadi kau siap mempertaruhkan nyawa membela Siok Lan?"
Eng Lan menggigit bibir dengan gemas.
"Anak bodoh! Kalau bukan kau yang menjadi biang keladinya, aku takkan susah-susah seperti ini. Hayo jawab, kau pilih yang mana. Mengawini Siok Lan atau menyambung kembali ikatan jodoh antara dia dan Wi Liong?"
Kun Hong benar-benar tak mengerti. Akan tetapi mendengar desakan pertanyaan tadi, terpaksa ia menjawab.
"Tentu saja aku tidak akan mengawini Siok Lan karena aku tidak mencintanya."
"Kalau begitu kita harus ke Wuyi-san sekarang juga."
Kata Eng Lan.
Di dalam hatinya.
Kun Hong merasa gentar untuk pergi ke Wuyi-san.
Ia tidak takut berhadapan dengan Kwee Sun Tek orang tua buta itu.
juga menghadapi Wi Liong sekalipun ia tidak takut.
Akan tetapi yang membuat hatinya gentar adalah Thian Te Cu, kakek yang sebetulnya masih terhitung supek-nya (uwa guru) sendiri.
Andaikata supeknya turun tangan, ia dapat berdaya apakah?
Betapapun juga.
melihat sepasang mata bintang gadis itu menatap wajahnya penuh selidik, Kun Hong mengertak gigi dan berkata gagah.
"Baik, kupenuhi permintaanmu. Mari kita mencari Wi Liong dan kalau perlu akan kupaksa dia pergi ke Poan-kun menyambung tali perjodohannya dengan Kwa Siok Lan."
Eng Lan tersenyum girang dan dengan mesra memegang tangannya.
"Kalau begitu mari kita lekas berangkat!"
Ia menarik tangan Kun Hong dan pemuda ini sambil tertawa terpaksa mengikuti gadis itu berlari cepat.
"'Eng Lan, nanti dulu! Kau mengajakku ke Wuyi-san mengapa lari ke sana? Kita harus menyeberang sungai ini!"
Eng Lan berhenti, tercengang lalu tertawa.
Sambil bergandengan tangan mereka lalu masuk ke dalam perahu yang telah ditinggal pergi oleh pemiliknya tadi, dan Kun Hong mendayung perahu itu ke seberang.
Diam-diam ia tersenyum geli melihat kini gadis itu sama sekali tidak perduli lagi bahwa mereka telah memakai perahu orang lain.
Anehnya bagi Kun Hong.
setelah tiba di seberang, ia terdorong oleh semacam perasaan yang, membuat ia turun tangan mengikat perahu itu pada sebarang akar pohon agar perahu itu jangan hilang dan hanyut.
Heran sekali baru kali ini ia melakukan sesuatu demi kepentingan lain orang, dalam hal ini demi kepentingan si tukang perahu agar jangan kehilangan perahunya.
Dan ia tahu dengan penuh keyakinan bahwa perasaan ini timbul karena Eng Lan.!
Eng Lan nampak gembira sekali.
Memang.
dia gembira karena akhirnya ia toh akan dapat berjasa dalam membela Siok Lan.
Kalau saja ia berhasil menghubungkan kembali perjodohan Siok Lan dan tunangannya!
Dengan Kun Hong di sampingnya, ia berbesar hati dan pasti usahanya akan berhasil.
Melihat wajah pemuda ini saja sudah mendatangkan keyakinan baginya bahwa bersama Kun Hong.
ia akan sanggup melakukan hal-hal besar.
"Eng Lan, aku masih tidak mengerti mengapa, justeru karena aku biang keladinya, maka kau mau bersusah-payah?"
Di tengah perjalanan Kun Hong bertanya. Eng Lan memandang kepadanya dengan senyum simpul.
"Kelak kau akan tahu sebabnya dan sekarang tak usah kau sebut-sebut hal itu."
Kun Hong melengak.
Alangkah besarnya cinta kasih di dalam hatinya terhadap gadis ini.
Dengan Eng Lan di sampingnya, seakan-akan hidup ini baru baginya Ia merasa tenang, tenteram, penuh kebahagiaan.
Di lain fihak.
Eng Lan yang sudah menyerahkan kasihnya kepada Kun Hong, diam-diam mempergunakan perjalanan jauh ini sebagai ujian terhadap kekasihnya.
Di lubuk hatinya ia sudah percaya bahwa kekasihnya ini pada hakekatnya adalah seorang yang baik.
akan tetapi kalau belum terbukti, kelak hanya akan menjadi gangguan batin baginya.
Maka ia sengaja tidak menjauhkan diri.
dan hendak menyaksikan bagaimana watak aseli dari Kun Hong.
Akibatnya hebat bagi Kun Hong.
Sering kali di waktu malam, apa bila terpaksa mereka bermalam di dalam hutan karena jauh dari kampung, melihat Eng Lan tidur di bawah pohon tidur pulas dan penuh kepercayaan kepadanya, pemuda ini duduk menjauh, bersandar pohon dan semalam suntuk tak dapat memejamkan matanya.
Pelbagai rangsangan hawa nafsu yang digerakkan oleh setan yang tak pernah menjauhi manusia, membuat ia panas dingin.
Akan tetapi setiap kali ia menatap wajah gadis itu, hatinya melembut dan semua rangsangan itu dapat ia tekan.
Tidak, pikirnya, Eng Lan bukan seperti wanita lain.
Ia mencinta gadis ini dengan murni, penuh kelembutan dan kehormatan.
Ia hanya membuka jubahnya untuk diselimutkan kepada tubuh gadis itu dan seekor nyamuk kecil saja yang berani mengganggu Eng Lan.
akan mampus oleh sambaran tangannya.
Demikianlah, berpekan-pekan hubungan mereka makin erat dan makin yakinlah hati Eng Lan bahwa pilihannya tidak keliru.
Kun Hong benar-benar seorang laki-laki yang boleh dipercaya.
Belum pernah ia diganggu di sepanjang perjalanan.
Hanya beberapa kali, apa bila mereka sedang duduk berhadapan menghadapi api unggun di dalam hutan untuk mengusir dingin, pemuda itu berkata.
"Eng Lan, setelah selesai tugasku menemui Wi Liong, kau harus kembali kepada suhumu. Aku akan mencari obat dan...... dan hanya kalau kelak aku sudah terhindar dari bahaya maut yang mengeram di dalam tubuhku, aku akan mencarimu, akan meminangmu dari tangan suhumu. Sementara itu kita......... kita tak boleh berkumpul seperti ini........."
"Kenapa, Kun Hong.........?"
"Tidak baik. Eng Lan. Dan....... dan merupakan siksaan bagiku......... semua itu bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan besarnya kekhawatiranku kalau-kalau aku......... tak dapat menahan gelora hatiku......... aku khawatir sekali........."
Eng Lan tersenyum apa bila mendengar keluhan ini, senyum bangga dan girang.
Ia tahu akan perjuangan batin kekasihnya, tahu bahwa pengaruh kehidupan lama yang kotor sedang diperanginya sendiri di dalam batinnya.
Dan ia senang sekali melihat Kun Hong berada di fihak yang menang.
Ia mencinta pemuda ini, mencinta sepenuh jiwanya.
Kepada Kun Hong seorang ia menggantungkan harapannya.
Baik Kun Hong menjadi sadar maupun tetap jahat, ia tetap mencintanya.
Oleh karena itu gadis ini tidak gentar menghadapi bahaya, karena ia yakin betul bahwa melakukan perjalanan bersama seorang pemuda seperti Kun Hong, merupakan bahaya besar bagi seorang gadis.
Sungguhpun ia berkepandaian, namun apa dayanya terhadap Kun Hong?
Kalau pemuda itu runtuh pertahanan batinnya, ia akan menjadi korban Dan andaikata terjadi hal demikian, ia akan mengundurkan diri dari Kun Hong.
akan mengundurkan diri dari dunia karena idam-idaman dan cita-citanya berarti sudah hancur.
Akan tetapi sebaliknya kalau pemuda itu lulus dalam "ujian"
Ini, ia benar-benar akan menemui kebahagiaan sejati.
Demikianlah, setelah melakukan perjalanan cukup lama.
dua orang muda-mudl ini akhirnya sainpai di Wuyi-san.
Karena Kun Hong sudah pernah mendatangi tempat itu, maka mudah ia mencari jalan mendaki bukit itu.
Hari telah mulai gelap ketika mereka akhirnya tiba di puncak, di mana tempat tinggal Thian Te Cu.
sudah kelihatan.
Rumah besar dari batu bertumpuk yang kokoh, kuat itu membuat jantung Kun Hong berdebar lebih keras dari biasanya.
"'Kita berhenti di sini dulu."
Katanya sambit berhenti dan duduk di atas sebuah batu.
"Kenapa berhenti? Bukankah lebih baik terus langsung menemui Thio Wi Liong?"
Tanya Eng Lan.
"Tidak. Aku tidak mau mendatangkan keributan. Kalau si tua buta mendengar akan kedatanganku, pasti dia akan marah-marah dan membikin ribut. Lebih baik kita menanti dan sedapat mungkin aku hendak menjumpai Wi Liong sendiri saja."
Ucapan ini memang sesungguhnya, hanya harus ditambah sedikit bahwa sebetulnya selain alasan di atas, juga Kun Hong jerih sekali kalau sampai kedatangannya diketahui oleh Thian Te Cu dan membuat marah orang tua itu.
Melihat gadis itu memandang heran dan ragu-ragu, ia melanjutkan.
"Eng Lan, kaupun tahu malam ini terang bulan purnama. Kiranya takkan sukar mencari Wi Liong. Dengan pemuda itu mungkin kita bisa bicara secara baik-baik, akan tetapi tidak demikian dengan pamannya yang keras hati."
Karena Eng Lan sendiri belum pernah bertemu dengan Kwee Sun Tek.
dan iapun merasa jerih melihat bangunan yang megah dan kokoh itu, ia menurut saja akan kehendak Kun Hong.
Menantilah dua orang muda-mudi ini agak jauh dari bangunan tempat tinggal Thian Te Cu itu, duduk di atas batu-batu hitam.
Tiba-tiba Eng Lan memandang wajah Kun Hong ketika ia mendengar suara yang keluar dari perut yang lapar.
Ia teringat bahwa sehari itu Kun Hong belum makan sesuatu.
Sudah dua hari dua malam tak pernah bertemu dengan dusun sehingga mereka hanya makan buah-buahan di hutan.
Celakanya, sehari tadi mereka hanya mendapatkan sedikit buah-buah yang masak dan Kun Hong menyuruhnya makan semua sedangkan pemuda itu sendiri hanya minum air gunung dengan alasan ia belum lapar.
Kun Hong juga merasa betapa perutnya yang perih tadi mengeluarkan bunyi perlahan.
Wajahnya memerah dan ia tersenyum sambil berkata kepada Eng Lan yang memandangnya dengan kasihan.
"Perut tak tahu diri, sering dimanja menjadi tak tahu malu! Padahal dahulu sudah sering kali aku mengalami tak makan sampai berhari-hari."
Eng Lan menarik napas panjang. Alangkah sengsara kehidupan pemuda ini, sunyi dan kosong hidupnya.
"Kau tentu lapar sekali. Kun Hong."
"Ah. tidak apa. Sudah jamak sekali-kali mengurangi makan. Seorang gagah menganggap makan soal ke dua. Kalau kita sudah berumah tangga, tentu takkan terjadi hal seperti ini kelaparan di atas gunung."
Kelakarnya sambil tertawa. Berdebar jantung Eng Lan mendengar ucapan ini.
"Pulang ke rumah........."
Katanya perlahan tanpa memandang pemuda itu.
sebaliknya menatap wajah bulan purnama yang mulai timbul dari timur.
Kata-kata ini amat besar pengaruhnya, amat sedap didengar dan amat indah artinya.
Pulang ke rumah, rumah dia dan Kun Hong, suaminya.
Rumah yang bahagia, di mana mereka hidup aman tenteram., kasih-mengasihi, dilengkapi pula oleh suara tawa anak-anak!
Belum pernah dia merasai kebahagiaan rumah tangga, seperti juga Kun Hong!
Bukan main indahnya pemandangan di puncak itu ketika bulan purnama bersinar-sinar di angkasa raya yang bersih dan cerah Semua nampak mandi cahaya keemasan, redup hening, sejuk bersih.
Memandang ke bawah nampak puncak-puncak pohon hitam kekuningan, kadang-kadang bergerak tertiup angin, berombak-ombak membuat dua orang muda itu merasa duduk di atas sebuah perahu besar yang terapung di samudera luas.
Menengok ke puncak bukit, kelihatan bangunan dengan genteng-gentengnya yang hitam merah bermandikan cahaya kuning, mengkilat seperti habis dicuci.
"Eng Lan, kau telah kuceritakan tentang riwayatku semenjak kecil. Sekarang sambil menanti bulan naik tinggi, kau berceritalah tentang dirimu. Selama ini yang kuketahui tentang kau hanya bahwa kau seorang gadis bernama Pui Eng Lan murid Pak-thian Koai-jin."
Eng Lan menjawab lirih.
"Apa sih yang menarik tertang riwayatku? Semenjak kecil mengalami kesengsaraan belaka."
"Dewiku, kesengsaraan hidup di waktu kecil tak patut disesalkan, malah mereka yang belum pernah merasai kesengsaraan hidup harus dikasihani karena jiwa mereka menjadi lemah. Kesengsaraan hidup di waktu kecil merupakan gemblengan hidup, membuat orang menjadi tabah dan berpengalaman. Bukankah pengalaman-pengalaman yang pahit dan berbahaya itu justeru dapat menjadi kenangan yang tak mudah dilupa dan nikmat dibicarakan?"
Eng Lan menatap wajah kekasihnya di bawah sinar bulan purnama dengan pandang mata berseri akan tetapi ia juga terharu.
Benar sekali dugaannya, kekasihnya ini bukan pada dasarnya jahat, melainkan telah terkena noda hitam karena dahulunya selalu berdekatan dengan pergaulan kotor.
"Riwayatku singkat dan tidak menarik."
Ia mulai menuturkan keadaan dirinya.
"Entah masih ada berapa banyak gadis yang seperti aku riwayatnya, yang hingga kini masih tenis-menerus berulang, riwayat anak-anak malang para petani dusun."
Kun Hong mendengarkan dengan penuh perhatian, sepasang matanya yang tajam luar biasa itu menatap wajah Eng Lan penuh perasaan cinta kasih dan iba hati.
"Ayah bundaku petani-petani dusun yang miskin Sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya dalam hati mengapa para petani yang mengerjakan sawah ladang, yang memeras keringat bercocok tanam kadang-kadang malah tidak dapat makan, banyak malah yarg mati kelaparan. Tak mengerti aku mengapa di kota-kotalah tempat beras dan sayur berlimpah-limpah sedangkan di dusun, di tempat tumbuh dan dikerjakannya semua bahan pangan itu orang-orang sampai kekurangan dan kelaparan. Tentu saja aku mengerti kemudian bahwa inilah gara-gara para tuan tanah, gara-gara para pengisap darah rakyat petani yang diperlakukan lebih buruk dari pada kerbau-kerbau atau anjing-anjing. Demikian payah kehidupan para petani, tidak saja banyak di antara mereka yang mati kelaparan bahkan banyak yang terpaksa menjual anak-anak mereka, yang wanita untuk dijadikan permainan para tuan tanah dan pembesar setempat, yang laki-laki untuk dijadikan budak, dijadikan kerbau kaki dua!"
Kun Hong memandang heran.
Baru kali ini ia mendengar hal-hal seperti itu dan sukar baginya untuk mempercaya.
Semenjak dahulu, dia tidak pernah dihadapkan dengan hal-hal seperti itu.
Dunianya yang dulu hanyalah mempergunakan kepandaian untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan sandang-pangan maupun kebutuhan lain, tanpa memperdulikan bagaimana caranya mendapatkan itu.
Baik dengan merampok maupun mencuri, asalkan terpenuhi hasrat hati dan kebutuhan.
"Oleh karena keadaan hidup yang tercekik, bagi kaum tani, menikah berarti menambah beban hidup yang luar biasa, permulaan dari pada semua kesengsaraan karena sudah hampir lajim menjadi kenyataan bahwa mempunyai anak berarti sebuah malapetaka besar. Banyak sekali kandungan digugurkan, malah tidak jarang orang terpaksa mencekik mati bayi yang baru lahir, apa lagi kalau bayinya perempuan......."
"Setan.........!!"
Kun Hong memaki kaget.
"Bagaimana manusia bisa sekeji itu? Banyak sudah kumelihat perbuatan kejam, akan tetapi belum pernah yang sekeji itu!"
"Siapa itu yang kau katakan kejam dan keji?' "Siapa lagi kalau bukan setan-setan yang mencekik mati bayi sendiri yang baru terlahir?"
Baca Juga: Rajawali Emas 11
Baca Juga: Si Bayangan Iblis 3