Eps 3 Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo
Baca online Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo
Cersil Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo.
Demikianlah, tiga orang saudara yang menjadi ketua Hai-liong-pang itu menanti sampai tanggal limabelas.
Seperti telah diceritakan di bagian depan pada tanggal Limabelas sore di rumah makan Tung-thian, tujuh orang Hai-liong-pang sudah memesan tempat dan siap menanti kedatangan tiga orang ketua Hai-liong-pang itu yang hendak menyambut tamu dari Pek-go-to.
Tiga orang ketua ini tidak mau berlaku sembrono.
Paling sukar adalah menghadapi lawan yang belum dikenal keadaannya dan belum dikenal siapa.
Oleh karena itu mereka sudah memasang penjagaan terlebih dulu, bahkan telah diatur baihok (barisan pendam) yang bersembunyi di sekeliling tempat itu untuk melindungi keselamatan para ketua Hai-liong-pang.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, di ruang bawal tinggal sedikit saja tamu yang masih berani duduk, di antaranya adalah delapan orang pemuda kaya penduduk Ningpo dan seorang pemuda yang duduk menyendiri di pojok ruangan itu.
Suasana di ruang bawah itu sunyi, seakan-akan semua orang terpengaruh oleh sesuatu yang menakutkan.
Hal ini terutama sekali ditimbulkan oleh sikap para pelayan yang nampak sibuk dan gelisah.
Untuk menghilangkan suasana tidak enak ini.
para pemuda itu mulai bersendau-gurau dan karena mereka memang orang-orang muda yang gembira sebentar saja keadaan di situ menjadi ramai dan para pelayan juga mulai berani tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara "tar-tar-tar"
Di depan pintu rumah makan.
Seperti jengkerik-jengkerik yang tadinya riuh bersuara kini terpijak diam, semua orang tak berani membuka suara dan menoleh saja mereka tidak berani, hanya mengerling diam-diam ke arah pintu depan.
Keadaan hening itu sebentar saja karena segera terpecah oleh suara orang bernyanyi sederhana diiringi suara "tar-tar-tar"
Tadi. Suaranya nyaring, nadanya tenang menyenangkan, nyanyiannya seperti orang membaca sajak dan iramanya sederhana.
"Kata-kata yang jujur tidak bagus sebaliknya kata-kata yang bagus tidak jujur. Orang baik tidak banyak cakap sebaliknya yang banyak cakap tidak baik. Orang yang pandai tidak sombong sebaliknya yang sombong tidak pandai Orang bijaksana tidak menyimpan. ia menyumbangkan miliknya sampai habis, akan tetapi ia makin menjadi kaya; ia memberi dan terus memberi akan tetapi ia makin berkelebihan Jalan yang ditempuh oleh Langit selalu menguntungkan, tidak merugikan. Maka jalan yang ditempuh orang bijaksana juga selalu memberi, tidak merebut jasa!"
Inilah sajak terakhir dari kitab To Tik King,pelajaran dari Nabi Lo Cu dari Agama To.
Semua orang yang mendengar ini tersenyum, juga pemuda yang duduk menyendiri di sudut tersenyum kagum.
Biarpun tidak semua orang hafal akan isi sajak To Tik King, akan tetapi sajak-sajak Agama To mudah dikenal amat berbeda dengan sajak-sajak Agama Buddha.
Sebelum nyanyian habis, penyanyinya sudah muncul di depan pintu, terus masuk ke rumah makan itu dan duduk di atas sebuah kursi kosong.
Orang ini sudah tua, sedikitnya limapuluh tahun usianya, jenggot dan kumisnya terpelihara baik-baik, pakaiannya rapi dan wajahnya nampak gembira sekali.
Suara menjetar tadi adalah suara ujung tali yang diikatkan di pinggangnya, ujung tali ini ia gerak-gerakkan seperti pecut mengeluarkan bunyi yang mengiringi nyanyiannya.
Delapan orang pemuda yang tadinya juga ikut diam dan tegang kini tertawa-tawa ketika melihat bahwa yang datang hanya seorang kakek yang aneh, pakaian dan sikapnya bukan tosu (pendeta To) akan tetapi datang-datang menyanyi ayat kitab To Tik King.
"Ha-ha-ha. lopek (paman tua), kau benar-benar mengagetkan orang saja!"
Kata seorang di antara para pemuda itu.
"Lopek yang baru datang pandai bernyanyi, harus dihadiahi arak hangat!"
Kata pemuda ke dua.
"Pangcu telah datang!"
Inilah suara para penjaga tadi, yaitu orang-orang Hai-liong-pang.
Mereka sudah memasuki ruangan bawah dengan sikap tegak seperti serdadu-serdadu menanti datangnya jenderal.
Semua orang kembali merasa tegang dan gelisah.
Bahkan para pemuda tadi juga merasa tegang dan tidak berani mengeluarkan suara.
Akan tetapi kakek tadi tersenyum-senyum, menenggak cawan araknya dan tiba-tiba ia berkata perlahan.
"Kalau ini suara yang kasar dan tidak menyenangkan, juga tidak bisa dibilang bagus!"
Suaranya perlahan saja, akan tetapi jelas terdengar di ruangan itu oleh karena keadaan memang amat sunyi.
Mendengar ini, para pemuda itu cekikikan sukar dapat menahan ketawa.
Mereka lirak-lirik ke arah para penjaga Hai-liong-pang dengan mulut tersenyum-senyum.
"Itu suara yang sombong!"
Bisik seorang pemuda di balik ujung lengan bajunya.
Semua orang kaget akan tetapi sukar diketahui siapa di antara delapan orang pemuda itu yang mengeluarkan kata-kata ini tadi.
Akan tetapi kakek itu mengangguk-angguk.
"Orang yang pandai tidak sombong, maka yang berseru sombong tadi tentulah sebangsa gentong kosong!"
Tak dapat ditahan lagi, para pemuda itu tertawalah cekakak-cekikik mendengar kata-kata...
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Halaman 58 s/d 59 hilang-dewi kz ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------...
pangcu telah datang!"
Inilah suara para penjaga tadi, yaitu orang-orang Hai-liong-pang.
Mereka sudah memasuki ruangan bawah dengan sikap tegak seperti serdadu-serdadu menanti datangnya jenderal.
Semua orang kembali merasa tegang dan gelisah.
Bahkan para pemuda tadi juga merasa tegang dan tidak berani mengeluarkan suara.
Akan tetapi kakek tadi tersenyum-senyum, menenggak cawan araknya dan tiba-tiba ia berkata perlahan.
"Kalau ini suara yang kasar dan tidak menyenangkan, juga tidak bisa dibilang bagus!"
Suaranya perlahan saja, akan tetapi jelas terdengar di ruangan itu oleh karena keadaan memang amat sunyi.
Mendengar ini, para pemuda itu cekikikan sukar dapat menahan ketawa.
Mereka lirak-lirik ke arah para penjaga Hai-liong-pang dengan mulut tersenyum-senyum.
"Itu suara yang sombong!"
Bisik seorang pemuda di balik ujung lengan bajunya.
Semua orang kaget akan tetapi sukar diketahui siapa di antara delapan orang pemuda itu yang mengeluarkan kata-kata ini tadi.
Akan tetapi kakek itu mengangguk-angguk.
"Orang yang pandai tidak sombong, maka yang berseru sombong tadi tentulah sebangsa gentong kosong!"
Tak dapat ditahan lagi, para pemuda itu tertawalah cekakak-cekikik mendengar kata-kata kakek ini yang mengangguk-angguk sambil menggerak -gerakkan mulut.
Penjaga anggauta Hai-liong-pang yang tadi berseru, menjadi marah.
Dengan langkah lebar ia menghampiri kakek ini dan membentak.
"Kau ini pengemis kelaparan berani main gila di depan tuan besarmu!"
Kakek itu menengok perlahan dan tersenyum sambil menudingkan telunjuknya ke muka orang itu.
"Menurut penglihatanku, mukamu tidak kukenal dan muka seperti mukamu ini mana patut disebut tuan besar?"
Suara dan lagaknya yang lucu membuat para pemuda itu kembali tertawa.
"Kurang ajar kau!"
Si penjaga itu mengulur tangan mencengkeram leher baju kakek itu, hendak diseretnya keluar.
Akan tetapi pada saat itu tiba-tiba para penjaga lain berseru bahwa para pangcu sudah tiba maka penjaga inipun melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak memberi hormat.
Semua orang memandang ke arah pintu.
Muncullah tiga orang laki-laki setengah tua yang rata-rata bertubuh kate gemuk memasuki rumah makan itu diiringkan oleh selosin penjaga yang bersenjata lengkap.
Setelah tiba di anak tangga, tiga orang pangcu itu memberi isyarat dengan tangan melarang para pengiringnya ikut naik dan naiklah mereka bertiga ke loteng, sedangkan para penjaga atau pengiring ini berdiri berbaris di kanan kiri....
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Halaman 62 s/d 63 hilang-dewi kz ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------....maka sebentar saja kakek ini menarik perhatian para pemuda itu.
Gangguan karena datangnya tiga orang ketua Hai-liong-pang tadi sudah mereka lupakan, juga mereka tidak perduli lagi bahwa di tangga loteng itu menjaga duabelas orang anggauta Hai-liong-pang di kanan kiri seperti barisan.
Para penjaga ini memandang ke arah orang-orang muda itu dengan mata melotot akan tetapi agaknya mereka itu bertugas menjaga saja maka tidak berani meninggalkan pos penjagaannya.
Selagi orang-orang muda itu tertawa-tawa.
dari loteng terdengar bentakan keras.
"Hee. yang di bawah diam jangan ribut-ribut!"
Ketika para pemuda itu menengok, di kepala tangga muncul seorang di antara tiga ketua tadi.
Yang muncul adalah Phang Hui, berdiri dengan muka merah dan tangan kanannya memegang sumpit.
Memang Phang Hui ini terkenal ngesing (brangasan).
Ketika melihat bahwa yang ribut-ribut dan bersendau-gurau seperti tidak mengindahkan kehadiran tiga orang ketua Hai-liong-pang itu hanya serombongan pemuda biasa dan seorang kakek, ia membentak lagi "Kalau aku mendengar suara ketawa-tawa lagi, sumpitku ini takkan mengenal ampun!"
Setelah berkata begitu, tangannya bergerak dan sebatang sumpit meluncur ke bawah.
"Crepp........."
Sumpit bambu itu seperti sebatang anak panah, menancap di atas meja kayu yang tebal dan keras itu, menancap sampai setengahnya lebih dan bergoyang-goyang..
Para pemuda itu meleletkan lidah dan menjadi pucat Kalau sumpit itu ditujukan kepada mereka, kepala atau dada mereka bisa bolong tertusuk sumpit dan nyawa mereka takkan tertolong lagi!
Seketika mereka tak berani usik lagi.
Dengan lagak sombong Phang Hui meludah lalu pergi dari kepala tangga untuk kembali ke meja saudara-saudaranya di loteng.
Kakek tadi tertawa geli.
"Ha-ha-ha, alangkah bagusnya. Sedangnya kita bergembira datang pelawak menghibur kita dan main sulap!"
"Sssttt......"
Beberapa orang pemuda memberi peringatan kepada kakek yang mereka anggap lancang itu.
Kali ini mereka tidak berani menyambut kelakar si kakek, malah menjadi makin gelisah kalau-kalau para ketua Hai-liong-pang yang terkenal kejam mendengar ejekan tadi.
Phang Hui tidak mendengar, dan para penjaga di tangga yang mendengar hanya melotot, akan tetapi para penjaga di luar rumah makan mendengarnya!
Masuklah tujuh orang anggauta Hai-liong-pang itu, dikepalai oleh orang yang tadi mengancam si kakek.
Mereka menuju ke meja rombongan pemuda itu dengan sikap mengancam.
"Siapa tadi yang berani mengeluarkan omongan menghina Sam-pangcu?"
Tanya kepala rombongan itu yang berkumis tebal.
Para pemuda tak ada yang berani bergerak, dan tamu-tamu lain diam-diam sudah membayar makanan dan menyelinap pergi meninggalkan ruangan itu.
Hanya pemuda bertopi yang duduk seorang diri di pojok masih minum araknya dan matanya melirik ke arah rombongan orang Hai-liong-pang.
Kakek itu tersenyum-senyum menjawab.
"Siapa sih yang menghina orang? Apa yang kau maksudkan dengan penghinaan itu, pak kumis?"
Si kumis tebal membelalakkan matanya.
"Tadi ada yang menyebut pangcu ke tiga kami sebagai pelawak. Siapa yang bicara begitu tadi?"
"Aah, kalau yang bicara tadi adalah aku sendiri............"
Tangan kanan si kumis tebal bergerak dan pundak kakek itu sudah dicengkeram, terus diseret keluar.
Penjaga-penjaga lain tertawa dan tidak ikut keluar karena mereka ini menjaga kalau-kalau para pemuda itu ada yang hendak membela kakek itu.
Akan tetapi pemuda-pemuda itu mana berani menentang orang-orang Hai-liong-pang yang sudah terkenal sebagai jagoan-jagoan tukang pukul?
Mereka hanya saling pandang dengan muka pucat, berdebar-debar dan amat mengkhawatirkan keadaan kakek peramah tadi.
Celaka, kakek itu tentu akan dibunuh pikir mereka, atau setidaknya dipukul setengah mati.
Membunuh atau menyiksa orang sampai setengah mati adalah pekerjaan biasa dari orang-orang Hai-liong-pang dan para pembesarpun tidak ada yang mampu menghukum mereka!
Beberapa saat yang menegangkan hati lewat dengan sunyi dan semua mata memandang ke arah pintu depan ke mana kakek tadi diseret keluar ke tempat gelap.
Para pemuda sudah membayangkan kakek itu menggeletak di sisi jalan dalam keadaan mati atau setengah hidup sedangkan penyiksanya, si kumis tebal itu.
memasuki ruangan itu kembali dengan senyum mengejek.
Betul saja, seorang memasuki ruangan itu dengan langkah tenang.
Akan tetapi, semua mata terbelalak lebar ketika melihat bahwa yang masuk adalah si kakek tadi, masuk sambil berjalan tenang, tersenyum-senyum lalu duduk di tempatnya yang tadi dekat pemuda-pemuda itu seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu!
"Jaman sekarang ini orang-orang sudah lupa akan keadaan asalnya, lupa akan dirinya sebagai manusia makhluk yang paling tinggi derajatnya.
Orang-orang sekarang hidup menurutkan nafsu duniawi, lebih jahat dari pada binatang yang tidak memiliki akal budi, lebih kejam dari pada setan.
Yang kuat menindas yang lemah, yang kaya mengisap yang miskin, di dunia mana ada keadilan?"
Melihat kakek aneh itu datang lagi tanpa menderita sesuatu, para pemuda menjadi lega hatinya. Akan tetapi mereka merasa tidak enak melihat kakek ini bicara sendiri. Seorang diantara mereka berkata.
"Akan tetapi, lopek, bagaimana kau bisa bilang tidak ada keadilan sedangkan kita mempunyai pemerintah dan banyak terdapat pemimpin-pemimpin?"
Kakek itu tersenyum mengejek.
"Pemimpin? Yang mana yang kau maksudkan pemimpin?"
"Lho. bukankah para pejabat pemerintah yang berpangkat tinggi itu biasanya disebut pemimpin?"
Kata si pemuda.
"Hah, orang-orang berpangkat itu kauanggap pemimpin? Cih, mereka memualkan perut saja!"
Kata si kakek dengan lagak lucu sehingga pemuda-pemuda itu timbul lagi keberanian mereka dan tertawa, biarpun perlahan-lahan dan tertahan.
Sementara itu, dua orang penjaga sudah melangkah maju lagi.
Mereka tidak melihat kembalinya si kumis dan mengira kakek ini tentu telah dimaafkan oleh si kumis, atau mungkin sekali di luar kakek ini sudah melakukan siasat menyogok.
Siapa tahu kakek yang pakaiannya rapi ini mempunyai banyak uang dan suka menyogok.
Maka dua orang penjaga inipun mengharapkan keuntungan dan tanpa banyak cakap lagi mereka menyeret kakek itu keluar, seorang menarik sebelah lengan.
"Eh, eh. kalian ini mau apa sih?"
Tanya kakek itu sambil meronta-ronta, namun ia tak dapat terlepas dan terus diseret keluar.
"Kau tidak tahu aturan, membikin ribut saja di sini. Kau memang ingin mampus barangkali!"
Bentak seorang di antara dua penjaga itu.
Kembali para pemuda menanti dengan gelisah untuk beberapa lama dan.....
sekali lagi kakek itu muncul sendiri dari depan pintu, berjalan tenang seperti tadi dan duduk lagi.
Dua orang penjaga itu tidak kelihatan masuk lagi!
"Orang-orang berpangkat tak boleh sekali-kali kalian anggap mereka itu pemimpin, apa lagi pemimpin rakyat.
Mereka itu hanya pembesar-pembesar yang besar mulut besar kepala, dan besar perut!
Besar mulut karena pandai sekali bicara menina-bobokkan rakyat, besar kepala karena mengandalkan kedudukan berlaku sewenang-wenang dan besar perut karena mereka melakukan korupsi dan mbadok (makan) uang rakyat dan negara untuk menggendutkan perut dan kantong sendiri!
Pembesar-pembesar macam ini adalah penjahat-penjahat yang berkedok pangkat, mereka ini lebih berbahaya dari pada penjahat biasa, karenanya aku benci sekali kepada mereka."
Kakek itu bicara dengan bernafsu dan agaknya ia sama sekali tidak pernah terganggu oleh penjaga-penjaga yang tadi menyeretnya keluar.
Sebenarnya apakah yang telah terjadi?
Pertanyaan inipun memasuki benak para penjaga lain akan tetapi selagi mereka hendak keluar, dari luar masuk dua orang wanita cantik berbaju hijau dan ungu!
Dua orang wanita ini masih muda, paling banyak tiga puluh tahun usianya cantik-cantik dan pakaiannya mewah.
Akan tetapi sikap mereka angker dan pedang yang menggemblok di punggung menandakan bahwa mereka bukanlah wanita sembarangan.
Dengan langkah tenang.
tanpa menengok ke kanan kiri mereka langsung menuju ke anak tangga yang menyambung ruangan itu ke loteng.
Akan tetapi melihat pemuda-pemuda yang berada di situ, mereka melirik dan sedikit senyum, membuat hati para pemuda itu menjadi berdebar tertarik.
Sikap dua orang wanita ini begitu bertemu dengan pemuda-pemuda menjadi genit!
Akan tetapi, tiba-tiba dua orang wanita itu mengerling ke arah pemuda yang duduk di pojok dan........
mereka menahan tindakan kaki, lalu tersenyum lebar, saling pandang dan saling berbisik.
"Sayang kita ada urusan penting........."
Terdengar si baju hijau berbisik.
Kemudian mereka melangkah ke anak tangga, sedikitpun tidak perduli kepada para penjaga Hai-liong-pang yang menjaga di kanan kiri tangga.
Seorang penjaga melangkah maju memalangkan gagang tombaknya di depan dua orang wanita itu.
"Loteng sudah diborong oleh pangcu kami, harap nona-nona turun."
Si baju hijau tersenyum manis dan menyentuh gagang tombak itu dengan dua jari tangannya yang runcing dan halus.
"Kalian ini penjaga macam apakah? Tidak tahu bahwa kami datang dari Pek-go-to hendak menemui Hai-liong-pangcu?"
Penjaga itu kaget dan melangkah mundur, tiba-tiba mukanya berubah pucat karena tahu-tahu gagang tombaknya telah patah menjadi dua!
Dua orang wanita muda itu dengan langkah menggairahkan menaiki tangga loteng sambil tersenyum-senyum.
Para penjaga menjadi gelisah untuk beberapa lama.
Sama sekali tidak mereka sangka bahwa tokoh Pek-go-to yang hendak dijamu oleh para pangcu mereka ternyata adalah dua orang wanita muda dan cantik.
Akan tetapi alangkah hebat kepandaian dua orang wanita itu terbukti bahwa sekali sentuh dengan jari tangan, gagang tombak seorang penjaga telah patah menjadi dua!
Untuk beberapa lama mereka lupa akan kakek aneh dan lupa mengapa para penjaga yang tadi menyeret kakek itu tidak nampak masuk kembali ke dalam ruangan.
Akan tetapi para pemuda yang menemani kakek itu timbul hati curiga dan diam-diam seorang di antara mereka melangkah keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar.
Tak lama kemudian ia masuk kembali dengan wajah pucat, berbisik-bisik kepada kawan-kawannya dan segera mereka membayar makan dan minuman lalu bubar tergesa-gesa, memandang kepada kakek itu dengan kagum dan juga takut.
Tamu-tamu lain melihat gelagat tidak baik antara para penjaga dan kakek itu, juga berangsur-angsur bubar sehingga akhirnya di ruang bawah rumah makam itu tinggal si kakek, para penjaga dan orang muda bertopi yang duduk di pojok seorang diri.
Pemuda ini ternyata amat tampan berkulit muka halus, bermata jernih tajam, alisnya tebal menghitam, hidungnya mancung dan gerak-geriknya halus seperti seorang terpelajar.
Pemuda ini amat tampannya, pantas saja kalau dua orang wanita cantik yang mempunyai sifat-sifat cabul dan genit itu tadi memandang dan berbisik-bisik.
"Bagus, orang-orang muda tak tahu apa-apa memang lebih baik lekas pulang ke rumah masing-masing."
Kakek itu mengangguk-angguk bicara seorang diri.
Karena pemuda-pemuda itu telah pergi dan telah membayar semua makanan dan minuman, maka kakek ini sekarang minum seorang diri dari guci arak besar dengan lahapnya.
Sebentar saja mukanya sudah menjadi merah karena kebanyakan minum arak.
Kemudian ia menoleh kepada pemuda bertopi itu dan berkata mengerutkan kening.
"Eh, anak muda. Kenapa kau masih di sini. tidak lekas pulang ke rumah ayah bundamu dan belajar membaca kirab kuno?"
Pemuda itu tersenyum, amat manis dan nampak ia amat sabar dan tenang.
"Lopek, ke mana harus pulang? Aku seorang perantau, di mana aku berada di situlah rumahku, kadang-kadang berlantai bumi beratap langit.'' Mendengar jawaban ini, kakek itu nampak girang sekali-"Bagus, anak muda, kau seorang baik dan beruntung. Ha-ha-ha!"
Ia mengangkat cawan araknya yang sudah ia penuhi lagi.
"Senang bertemu dengan kau dan mari minum!"
Pemuda itupun mengangkat cawan araknya dan berkata.
"Kesenangan berada di fihakku lo-enghiong yang perkasa. Aku yang muda kagum sekali melihatmu."
Pada saat itu terdengar ribut-ribut di luar rumah makan.
Ternyata para penjaga yang melanjutkan pemeriksaannya di luar, melihat hal yang amat aneh.
Di halaman rumah makan itu bergeletakan tubuh para penjaga yang tadi menyeret kakek itu keluar, berada dalam keadaan tidak berdaya, pingsan terpukul atau tertotok!
Setelah melihat bahwa kakek iltu bukan orang biasa dan telah merobohkan tiga orang penjaga, para anggauta Hai-Iiong-pang menjadi marah sekali.
Dengan senjata tombak, pedang atau golok mereka menghampiri kakek itu dan seorang di antara mereka membentak.
"Keladi tak tahu diri, kau berani menghina kami orang-orang Hai-Iiong-pang?"
Sebentar saja kakek itu dikurung oleh belasan orang Hai-liong-pang yang sikapnya mengancam.
Akan tetapi kakek ini tenang-tenang saja, malah segera menggunakan dua jari tangan menjepit sumpit yang tadi menancap meja dilempar oleh Phang Hui.
lalu berkata.
"Kalian ini diperintah menjaga tiga orang pangcumu di loteng, mengapa memusuhi aku yang berada di bawah? Kawan-kawanmu tadi menyeretku keluar, mereka yang tidak becus merangketku sekarang kalian hendak menyalahkan aku. Aturan mana ini?"
Katanya sambil tertawa-tawa dan melanjutkan minum araknya.
"Kami yang akan merangketmu!"
Bentak seorang Hai-Iiong-pang sambil membacokkan goloknya.
Kakek itu tidak menghentikan minumnya, hanya menggerakkan sumpit bambu di tangannya.
Si penyerang menjerit kesakitan, goloknya terlempar dan ia berjingkrak-jingkrak ke belakang sambil memegangi lengan kanannya yang telah kena ditotok sumpit, sakitnya bukan buatan!
Orang-orang Hai-liong-pang yang lain berseru-seru marah dan segera menghujankan senjata mereka kepada kakek itu.
Terdengar bunyi suara nyaring "trang-tring-trang-tring!"
Ketika kakek itu dengan cekatan menggunakan sumpit di tangan kanan dan cawan arak di tangan kiri untuk menangkis semua serangan orang-orang Hai-Iiong-pang itu, disusul oleh semburan arak dari mulutnya "whirr-whirr-whirr!"
Semburan arak dari mulut orang biasa tentu hanya akan membasahi muka dan pakaian orang seperti datangnya air hujan saja, akan tetapi semburan arak dari mulut kakek ini jauh berlainan.
Para pengeroyok itu menjerit kesakitan dan di lain saat mereka lari pontang-panting keluar dari ruangan itu sambil menutupi muka yang terasa sakit-sakit seperti ditusuk-tusuk ratusan jarum yang runcing!
Sebentar saja para pengeroyok itu habis berlarian keluar, tidak tahan menghadapi kakek yang ternyata seorang berilmu tinggi ini.
Pemuda sasterawan yang duduk di pojok mengangguk-angguk kepala perlahan dan matanya berkilat.
"Seorang tokoh Kun-lun-pai......!"
Bisiknya perlahan kepada diri sendiri.
Sementara itu, tiga orang ketua Hai-liong-pang yang mendengar suara ribut-ribut sudah cepat muncul di kepala tangga.
Alangkah kaget dan marah hati mereka ketika melihat anak buah mereka kocar-kacir dan lari cerai-berai oleh amukan seorang kakek yang tadi mereka anggap sebagai seorang tukang dongeng yang sedang dijamu oleh serombongan orang muda.
Akan tetapi Phang Cu yang paling cerdik segera dapat melihat bahwa kakek itu bukanlah orang biasa, maka ia cepat berseru ke bawah.
"Sahabat yang berada di bawah, kalau orang-orang Hai-liong-pang kami lalai tidak mengadakan penyambutan sebagai tamu, silahkan naik. Arak dan daging kami masih berlimpah-limpah di sini!"
Kakek itu memandang ke atas lalu tertawa.
"Ha-ha-ha, perut! Kau mimpi apa semalam? Baru saja ada yang menjamu, sekarang ada yang menawari arak dan daging. Akan tetapi rejeki tak layak ditolak dan tidak saban hari perut mendapatkan rejeki bertumpuk-tumpuk. He. kawan muda perenung, jangan kau mimpi siang di pojok itu, ada orang-orang menawari arak dan daging, mari-mari jangan sungkan, seji sipun (yang sungkan tak kebagian)!"
Katanya kepada pemuda sasterawan yang duduk di pojok.
Pemuda itu tersenyum, mengangguk dan bangkit berdiri lalu bersama kakek itu menaiki tangga loteng.
Mereka dipersilahkan duduk menghadapi meja penuh hidangan dan mereka melihat betapa dua orang wanita muda cantik tadi tengah duduk minum arak.
Tanpa malu-malu lagi kakek itu lalu duduk dan menggayam daging, terus didorong arak memasuki perutnya.
Sebaliknya pemuda itu hanya minum sedikit arak tidak perduli sama sekali betapa dua pasang mata yang bening dan genit mengerling-ngerling disertai bibir merah tersenyum-senyum memikat.
"Kongcu tinggal di mana dan siapakah nama yang mulia?"
Si baju hijau langsung bertanya dengan merdu dan senyum lebar memperlihatkan deretan gigi yang putih seperti mutiara.
Pemuda itu sekali lagi mengirup araknya untuk menyembunyikan rasa malu dan jengah.
Belun pernah selama hidupnya ia menghadapi rayuan wanita, apa lagi wanita yang tanpa malu-malu memperlihatkan kegenitan dan bertanya rumah dan nama pada seorang pria yang baru saja dijumpainya!
"Aku sebatangkara, tidak ada tempat tinggal yang tetap......"
Jawabnya. Si baju ungu tertawa kecil.
"Iiih. agaknya kongcu belum mau memperkenalkan nama karena kamipun belum memperkenalkan diri. Dia ini enci Cheng Po dan aku Ang Po. Kami enci adik saudara-saudara angkat. Kongcu siapakah?"
Pemuda itu nampak bingung dan kakek itulah yang tertawa lebar menjawab.
"Datang-datang ditanya nama, perlu apa sih? Waktu lahirpun tidak bernama kalau sudah mati nama dilupakan orang! Kami berdua datang atas undangan, paling perlu makan minum. He, kau ini siucai atau bukan kupanggil siucai (sasterawan) saja. Hayo lekas sikat habis daging-daging itu."
Kakek itu tertawa terbahak. Phang Kong bangkit berdiri, menyambar cawan arak di depan kakek itu yang telah kosong lalu mengisinya dengan arak dari guci sambil berkata.
"Kami tiga orang saudara she Phang ketua Hai-liong-pang berlaku kurang hormat, ada orang gagah di ruang bawah sampai tidak tahu. Harap maafkan dan biarlah siauwte minta maaf dengan secawan arak!"
Ia terus menuangkan arak itu, dan biarpun sudah penuh dituang terus.
Arak sampai naik lebih tinggi dari pada pinggiran cawan, akan tetapi anehnya tidak meluber dan tidak tumpah keluar seakan-akan arak itu telah menjadi beku!
Inilah demonstrasi tenaga lweekang yang tinggi.
Dengan hawa lweekangnya.
Phang Kong telah mempergunakan tenaga menyedot melalui cawan sehingga biarpun isi cawan melebihi batas namun tidak tumpah keluar.
Dengan cawan yang terlalu penuh ini Phang Kong menghampiri kakek itu dan memberikan cawan.
Maksudnya kalau kakek itu menerima cawan dan ternyata kurang pandai, pasti arak kelebihan di cawan itu akan tumpah membasahi tangan dan pakaian sehingga kakek itu mendapatkan hajaran.
Pula ini adalah sebagai ujian, kalau kakek itu ternyata tidak berkepandaian tinggi, dapat "dilempar"
Ke luar sebagai pembalasan. Kakek itu memandang ke arah cawan yang diangsurkan kepadanya, tertawa ha-ha-he-he. tidak segera menerimanya. (Lanjut ke
Jilid 08) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08
"Waah. kok penuh amat? Mana perutku kuat menerimanya? Jangan penuh-penuh, pang-cu. jangan sungkan-sungkan, bikin malu saja."
Kakek itu meniup dengan mulutnya ke arah arak di cawan.
Arak itu muncrat dan menyiram muka Phang Kong tanpa dapat dicegah lagi.
Ketua nomor satu dari Hai-liong-pang itu kaget dan kesakitan, akan tetapi sebelum ia dapat berbuat sesuatu, cawan yang dipegangnya telah berpindah tangan!
Kini cawan itu tidak seperti tadi isinya hanya penuh saja, tidak lebih seperti tadi.
Sambil tersenyum-senyum kakek itu menanti sampai Phang Kong dapat membuka kembali matanya dan menyusut mukanya yang basah, lalu sambil mengangguk dan menjura ia mengangkat cawan itu, berdongak sambil membuka mulut dan menuang cawan ke arah mulutnya.
Aneh bin ajaib!
Arak itu tidak mau mengalir turun, seolah-olah telah membeku di dalam cawan.
Ini namanya saling memamerkan lweekang tingkat tinggi.
Kalau tadi Phang Kong hanya menahan arak itu tidak meluber saja, sekarang kakek itu malah menjungkir-balikkan cawan dan arak itu tidak tumpah!
"Arak pangcu enak betul, terima kasih."
Kata kakek itu dan membalikkan lagi cawannya lalu minum arak itu seperti biasa, seperti lajimnya manusia minum arak dari cawannya.
Muka Phang Kong menjadi merah sekali karena dalam demonstrasi ini sudah terang ia mendapat malu, selain kalah juga ia mendapat hadiah, mukanya disiram arak.
Phang Cu sudah melangkah maju.
Orang ke dua dari ketua-ketua Hai-Iiong-pang ini selain cerdik, juga memiliki tenaga gwakang (tenaga luar) yang amat besar, juga ia seorang ahli pedang yang cekatan dan lihai.
Ia pikir bahwa mengadu lweekang dengan kakek ini takkan ada gunanya, juga kalau menyerang begitu saja berarti mencemarkan nama kehormatannya sebagai pangcu Hai-liong-pang, apa lagi di situ ada tamu-tamu terhormat seperti utusan dari Pulau Pek-go-to itu.
Sambil tersenyum.
Phang Cu mempergunakan sebatang sumpit, menusuk sepotong daging lalu menghampiri kakek itu.
"Orang tua yang gagah, kakakku sudah menyuguh minuman, biar aku pangcu ke dua dari Hai-liong-pang menyuguh daging kepadamu dan kepada siucai muda itu, masing-masing sepotong!"
Begitu kata-katanya habis diucapkan, sumpit yang ada daging di ujungnya itu ia gerakkan menusuk ke arah mulut kakek tadi! "Kamsia......... (terima kasih)!"
Kakek itu berkata sambil membuka mulutnya dan........"Cappp!"
Daging memasuki mulutnya berikut sumpit.
Sumpit itu bukan hanya dimasukkan saja melainkan ditusukkan dan kalau penerimanya kurang pandai sudah pasti sumpit itu akan melukai tenggorokan yang berarti orangnya akan tewas.
Akan tetapi hebatnya, setibanya di mulut, sumpit itu macet tidak dapat terus tidak dapat ditarik kembali.
Phang Cu menarik dan membetot sia-sia belaka biarpun ia memiliki tenaga sebesar tenaga gajah.
Pada saat Phang Cu mengerahkan semua tenaganya, kakek itu tiba-tiba melepaskan gigitannya dan.......
Phang Cu terdorong ke belakang oleh tenaganya sendiri, menabrak bangku sampai roboh.
Baiknya ia terdorong terus ke arah wanita baju ungu yang tersenyum manis dan berkata.
"Ji-pangcu, hati-hati sedikit!"
Sambil menggerakkan tangan kiri menahan ke depan.
Phang Cu tertahan dan tidak jadi jatuh oleh gerakan ini.
Diam-diam kakek itu menjadi kaget melihat kekuatan lweekang dari jarak jauh ini dan maklum bahwa kepandaian wanita itu jauh lebih tinggi dari pada kepandaian tiga orang ketua Hai-liong-pang.
Phang Cu menjadi merah sekali mukanya.
Setelah ia dipermainkan oleh kakek itu, ia tidak ada muka lagi untuk melanjutkan penyuguhan daging kepada siucai muda kawan kakek itu, maka ia lalu menjura dan berkata.
"Biarlah penyuguhan daging kepada siucai muda ku wakilkan kepada sam-te saja."
Memang Phang Cu ini orangnya cerdik.
Setelah melihat betapa kakaknya dan dia sendiri tidak nempil kepandaiannya melawan kakek itu, ia maklum bahwa Phang Hui juga bukan lawannya.
Oleh karena itu, untuk bisa mencuci malu karena dua kali kalah tadi, ia sengaja hendak mewakilkan penyuguhan daging kepada siucai itu pada adiknya.
Ia maklum betapa berangasan adanya Phang Hui dan kalau Phang Hui didiamkan saja tentu akan melakukan sesuatu terhadap kakek lihai itu dan akhirnya menderita kekalahan yang lebih memalukan lagi.
Phang Hui memang orangnya pemarah dan keberaniannya luar biasa Mendengar bahwa ia disuruh menjadi wakil menyuguh daging kepada siucai muda yang nampaknya lembah lembut itu ia tertawa girang.
Memang sejak tadi ia merasa iri hati dan cemburu melihat betapa dua orang tamu wanita itu kelihatan amat tergila-gila kepada siucai.
Dia sendiri terkenal paling mata keranjang di antara saudara-saudaranya dan sejak tadi semangatnya sudah terbang sebagian besar ketika melihat bahwa tamu-tamunya adalah dua orang wanita yang cantik-cantik.
Dengan langkah lebar ia menghampiri meja di depan siucai itu.
lalu mencabut sebuah pisau belati.
Dengan pisau yang runcing tajam mengkilap ini ia menusuk sepotong bakso yang kecil, lalu menghampiri siucai tadi.
"Kau siucai yang masih muda, mulutmu kecil, maka perkenankan aku menyuguh cacahan daging yang kecil pula!"
Karuan saja si siucai menjadi gelagapan dan nampak bingung dan takut.
Siapa yang tidak takut kalau membayangkan bahwa cara menyuguh bakso itu dilakukan dengan menusukkan pisau runcing itu ke mulut?
Kalau meleset bibir bisa suwing, kalau tepat tenggorokan bisa bolong!
"Tahan, sam-pangcu!"
Si baju hijau mencegah dengan suara lembut akan tetapi amat berpengaruh.
"Siucai ini tidak ikut apa-apa, hanya terbawa oleh kakek itu. Penghormatan secara itu patut diberikan kepada si kakek!"
Tentu saja Phang Hui menjadi makin mendongkol. Memang ia sudah cemburu dan iri, sekarang si baju hijau yang manis itu mencegah ia mencelakakan siucai tampan itu, perutnya menjadi makin panas.
"Dia sudah berani naik ke sini, mengapa takut menerima suguhan?"
Bantahnya.
Semenjak dua orang wanita itu naik ke loteng, tiga orang ketua Hai-liong-pang memang belum sempat menyaksikan kelihaian mereka.
Dua orang wanita itu hanya datang memperkenalkan diri bahwa mereka adalah utusan dari Thai Khek Siansu di Pek-go-to dan datang untuk memberi peringatan kepada Hai-liong-pang bahwa di wilayah Kepulauan Couw-san-to, yang berdaulat dan berkuasa adalah Thai Khek Siansu dan setiap perahu Hai-Iiong-pang harus menghormati peraturan-peraturan yang ditentukan oleh Thai Khek Siansu!
Sebelum perundingan itu dibicarakan selesai, keburu naiknya kakek yang mengganggu pertemuan itu.
Oleh karena belum mengetahui kelihaian dua orang utusan dari Pek-go-to itu, maka Phang Hui berani membantah dan ketua ke tiga dari Hai-Iiong-pang ini melanjutkan maksudnya, menusukkan pisau berujung bakso itu ke arah mulut siucai tadi.
"Trang......... auupp!"
Pisau itu terlepas dari tangan Phang Hui dan sial baginya, bakso di ujung pisau itu mencelat dan secara kebetulan sekali memasuki mulutnya yang terbuka karena kagetnya.
"Ha-ha-ha-ha. aduh lucunya! Sam-pangcu dari Hai-liong-pang benar-benar pandai membadut. Lihai sekali cara makan bakso seperti itu, beberapa mangkok bakso bisa lenyap dalam sekejab mata kalau menggunakan cara seperti tadi. Sekali lagi. sam-pangcu. sekali lagi biar lohu melihat dan menikmati!"
Siucai yang tadi ketakutan, melihat kejadian ini dan mendengar omongan kakek itu menjadi geli dan ikut tertawa.
Phang Hui memandang kepada wanita baju hijau yang telah menyambit pisaunya dengan sumpit sehingga pisaunya tadi terlepas dari tangan dan bakso masuk ke dalam mulut terus menggelinding memasuki perutnya.
Ia hendak marah kepada wanita baju hijau itu, akan tetapi agak jerih karena dari sambitan tadi ia tahu bahwa wanita itu lihai sekali.
Kemudian, mendengar suara ejekan kakek tadi, semua kemarahannya sekaligus berpindah kepada kakek itu.
malah makin memuncak.
Tubuhnya yang gemuk pendek kelihatan makin pendek lagi ketika ia mencabut sebuah golok panjang dari pinggangnya dan menghampiri kakek itu dengan tubuh agak direndahkan, siap untuk menerjang seperti seekor harimau mengintai korban.
"Setan tua, kau berani menghina Koai-to Phang Hui?"
Serunya marah sekali, mukanya merah dan lubang hidungnya berkembang-kempis. Memang Phang Hui terkenal akan ilmu goloknya maka mendapat nama poyokan Koai-to (Si Golok Setan).
"Tuanmu akan membikin kau menjadi setan tak berkepala!"
Cepat golok besar itu menyambar, bersiut suaranya mendatangkan angin, bergemerlapan mengerikan.
"Aaiiit, aduh galaknya. Agaknya yang kau makan tadi bakso perangsang, obat kuat penambah semangat!"
Si kakek tetap mengejek tenang, akan tetapi secepat kilat tangan kirinya menyambar mangkok kuah dan tangan kanannya siap dengan jari tangan terbuka.
Di lain saat, ketika tangan kirinya digerakkan, semangkok kuah panas menyambar muka Phang Hui dengan kecepatan yang sukar dielakkan lagi.
"Celaka.........!"
Phang Hui berseru kaget, cepat melompat mundur dan miringkan mukanya.
Akan tetapi tetap saja kuah itu menyemprot leher dan pundaknya, sampai basah kuyup.
Kalau lidah yang sudah biasa akan kuah panas, agaknya akan merasa segar kalau disiram kuah itu, akan tetapi kulit leher dan pundak yang tidak biasa, seketika menjadi merah dan panasnya membuat Phang Hui jingkrak-jingkrak dan kelejetan.
"Aauphh...... panas...... panas......!"
Ia mengaduh-aduh.
akan tetapi suaranya itu tiba-tiba berhenti dan ia terguling roboh terkena totokan jari tangan kanan kakek yang lihai itu.
Kini Phang Kong dan Phang Cu kaget sekali.
Mereka tidak nyana bahwa hari ini selagi mengadakan pertemuan dengan orang-orang Pek-go-to yang belum mereka ketahui bagaimana lihainya, tahu-tahu muncul orang asing yang datang-datang terus saja membikin kacau dan ternyata amat lihai.
Keduanya melompat maju menghadapi kakek itu.
"Hemm, sobat yang memperlihatkan kepandaian dan sengaja mencari perkara dengan Hai-liong-pang, sebetulnya siapa dan dari manakah? Apa alasannya pula datang-datang sengaja memusuhi Hai-liong-pang?"
Tanya Phang Kong sambil mencabut pedangnya, juga Phang Cu mencabut pedangnya yang tipis dan agak melengkung bentuknya seperti senjata orang-orang dari barat.
Kakek itu kini berkata dengan suara sungguh-sungguh "Sudah lama aku mendengar bahwa di daerah ini muncul Hai-liong-pang yang benar-benar merupakan hai liong (naga laut) yang jahat bagi rakyat nelayan.
Oleh karena aku paling tidak suka mendengar adanya binatang binatang laut yang mengganas di darat, aku sengaja hendak menyelidiki ke sini dan ternyata memang Hai-Iiong-pang mempunyai kaki tangan yang ganas sekali.
Kalau saja kepalanya tidak jahat dan dapat mengatur keadilan, menekan dan melenyapkan keganasan kaki tangannya, mengatur agar supaya rakyat nelayan dapat hidup beruntung dan cukup sandang pangan, aku orang tua akan pergi dengan senang dan tidak mau mencampuri urusan orang.
Biar orang jangan panggil aku Seng-goat-pian Kam Ceng Swi lagi kalau aku suka mencampuri urusan orang lain yang tidak bersifat menindas rakyat jelata."
Mendengar nama ini, Phang Kong dan Phang Cu kelihatan kaget sekali.
Memang Kam Ceng Swi adalah seorang tokoh Kun-lun yang amat terkenal sebagai seorang pendekar yang budiman, terkenal pula kelihaian dengan senjatanya yang istimewa, yaitu tali yang kedua ujungnya terdapat senjata tajam berbentuk bulan dan bintang.
Karena senjata ini maka ia mendapat julukan Seng-goat-pian (Senjata Pian Bintang Bulan).
"Kami Hai-liong-pang tidak ada permusuhan dengan fihak Kun-Iun-pai, juga kami adalah nelayan-nelayan yang menyewakan perahu, hidup mengandalkan nasib baik di tengah laut mencari ikan. Bagaimana kau bisa menyebut kami penjahat-penjahat pemeras rakyat nelayan?"
Kata Phang Cu. Kam Ceng Swi tertawa bergelak.
"Kalau di dunia ini semua orang dapat melihat dan mengakui kesalahan sendiri, dunia akan menjadi aman dan tenteram. Kalau ketua-ketua Hai-liong-pang dapat melihat kesalahan sendiri, Hai-liong-pang tidak akan menjadi Hai-liong-pang yang sekarang ini! Oleh karena tak dapat melihat sendiri, aku membantu kalian melihat kesalahan itu dan merobahnya. Melarang nelayan menggunakan perahu sendiri, merampas perahu, menyewakan perahu-perahu dengan aturan seenaknya sendiri, memungut hasil terbesar dan membagi kepada nelayan hanya asal mereka tidak kelaparan, bukankah ini memeras namanya?"
Phang Kong tak dapat menahan marahnya lagi.
"Orang she Kam! Kau sombong amat. Kau ini berhak apakah hendak mengatur pekerjaan dan cara hidup kami?"
Phang Cu juga sudah marah.
"Persetan dengan dia, twako. Dikiranya kita takut. Serang!". Dua batang pedang dengan cepatnya meluncur dan menyerang Kam Ceng Swi. Tokoh Kun-lun ini mengeluarkan suara mengejek. Ia membuat gerakan aneh dengan kaki tangan dan tubuhnya.
"Traangg.........! Traaangg.........!"
Dua saudara Phang itu melompat mundur dan menjadi terkejut sekali karena mereka merasa tangan mereka menjadi pegal-pegal setelah pedang mereka ditangkis oleh senjata bulan di ujung kiri tali yang tahu-tahu sudah berada di tangan Kam Ceng Swi.
"Kalian memang benar jahat, tidak cukup dihajar dengan kata-kata,"
Kata Kam Ceng Swi dan sebelum dua orang pengeroyoknya sempat tergerak menyerang, ia telah memutar senjatanya lebih dulu dan di lain saat dua orang saudara Phang itu menjadi sibuk tidak karuan.
Dalam pandangan mereka, seakan-akan segala bintang dan bulan di langit runtuh berhamburan, menyambar-nyambar ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa sampai mata mereka menjadi berkunang!
Mereka masih berusaha mengerahkan tenaga dan kepandaian, memutar pedang melindungi diri dan balas menyerang, namun ternyata mereka hanya dapat bertahan belasan jurus saja.
Tanpa mereka ketahui bagaimana caranya, tahu-tahu secara berturut-turut pedang mereka telah terlibat tali dan dibetot terlepas dari tangan mereka!
Sebelum mereka dapat melompat mundur, senjata bintang telah menghantam pinggang Phang Kong dan senjata bulan menghamtam pundak Phang Cu, membuat dua orang ketua Hai-liong-pang itu terjungkal dan merayap-rayap mundur dalam keadaan terluka, tidak membahayakan jiwa akan tetapi cukup parah.
Tiba-tiba berkelebat bayangan hijau dan ungu dan dua sinar berkeredepan menyambar ke arah tubuh Kam Ceng Swi.
"Ayaaaa......... lihai sekali.........!"
Seru tokoh Kun-Iun ini dengan kaget.
Baiknya ia dapat bergerak luar biasa cepatnya, memutar senjata Seng-goat-pian sedemikian rupa sehingga tubuhnya seperti dilindungi oleh benteng baja dan dua batang pedang yang menyerangnya tadi terpaksa ditarik mundur.
Akan tetapi Kam Ceng Swi merasa sesuatu tak beres dan ketika ia memperhatikan, ternyata ujung lengan baju kirinya sudah terbabat putus.
Keringat dingin membasahi jidatnya ketika ia berkata perlahan.
"Berbahaya sekali............"
Dan ia berdiri tegak memandang ke arah dua orang wanita muda yang tahu-tahu sudah berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangan, sikap mereka keren.
"Orang-orang Kun-lun-pai dari Pek Mau Sianjin sampai kepada murid-muridnya, semua adalah manusia-manusia usil yang gatal tangan, suka mencampuri urusan orang lain! Kiranya murid Kun-lun yang bernama Seng-goat-pian. Kam Ceng Swi juga tidak terkecuali!"
Kata wanita baju hijau sambil tersenyum, akan tetapi matanya bersinar tajam menyambar ke arah kakek itu.
Kam Ceng Swi adalah seorang tokoh kang-ouw yang sudah banyak pengalaman.
Dari serangan satu gebrakan tadi saja tahulah ia bahwa biarpun dua orang wanita di depannya ini masih muda-muda, namun agaknya memiliki kepandaian ganas dan lihai yang tak boleh dipandang ringan sama sekali.
Maka ia menjura dan berkata, juga dengan senyum.
"Tidak lohu (aku yang tua) sangkal, kata kata lihiap memang tepat. Orang Kun-lun-pai memang selalu mencampuri urusan orang, yaitu urusan yang tidak-adil. Memang murid-murid Kun-lun-pai belajar ilmu silat untuk membela yang lemah membasmi yang jahat, maka selalu mencampuri urusan orang lain. Bukankah demikian pula dengan semua murid partai persilatan seperti Siauw-lim-pai. Go-bi-pai, Hoa-san-pai; Kong-thong-pai dan yang lain-lain?"
Dengan kata-kata ini Kam Ceng Swi hendak bertanya sebetulnya dua orang itu dari partai mana karena terus terang saja dalam segebrakan tadi ia tidak dapat mengenal gaya ilmu silat pedang mereka.
Akan tetapi si baju hijau menjawab sambil tersenyum mengejek.
"Itu kan menurut pendapatmu. Kalau menurut pendapat kami, orang yang mencampuri urusan lain orang adalah orang-orang usilan yang patut dibasmi. Orang-orang Kun-lun. Siauw-lim. Go-bi dan lain-lain adalah manusia-manusia sombong yang menganggap diri sendiri paling gagah, paling baik dan paling bersih. Cih memuakkan perut!"
Kam Ceng Swi terkejut.
Ucapan semacam ini hanya dapat dikeluarkan oleh orang-orang dari satu golongan saja, yaitu golongan sia-pai atau pemeluk Mo-kauw!
Ia memang sudah mendengar berita selewat bahwa di antara pulau-pulau Couw-san-to terdapat pulau yang dijadikan sarang benggolan Mo-kauw.
"Hemm, agaknya ji-wi mewakili fihak Mo-kauw. Entah siapakah gerangan yang bertahta di Kepulauan Couw-san-to?"
"Kami adalah utusan dari Thai Khek Siansu, kau yang mengganggu tugas kami sudah seharusnya dihukum. Berlututlah!"
Kata wanita baju hijau.
Kam Ceng Swi berubah air mukanya.
Tak dinyana sama sekali bahwa ia berhadapan dengan orang-orang utusan Thai Khek Sian, orang nomor satu dari fihak Mo-kauw, orang yang berilmu tinggi sekali, bahkan yang dikabarkan bukan manusia melainkan iblis sendiri yang turun ke dunia untuk memimpin para penjahat!
Dia maklum bahwa meiawan mereka ini berbahaya sekali, dan kalau ia berlutut mungkin hukumannya ringan, sebaliknya melawan mereka berarti mati betapapun tinggi ilmunya!
Akan tetapi, seorang pendekar gagah perkasa seperti Kam Ceng Swi, mana sudi berlutut minta ampun di depan penjahat?
Dia bersedia mengalah dalam segala hal, bersedia sabar, akan tetapi berlutut minta ampun di depan utusan-utusan Thai Khek Sian?
Tidak sudi!
"Sebelum Kam Ceng Swi mati, mana bisa kau menyuruh dia berlutut?"
Bentaknya dan senjata Seng-goat-pian di tangannya sudah diputar untuk melindungi dirinya.
"Kalau begitu kau harus mati!"
Bentak si baju hijau dan seperti sepasang sinar kilat dari angkasa, pedangnya dan pedang si baju ungu itu tahu-tahu sudah menyambar cepat sekali.
Kam Ceng Swi menangkis dan terjadilah pertempuran hebat dan sengit di loteng rumah makan Tung-thian itu.
Seng-goat-pian Kam Ceng Swi adalah seorang tokoh persilatan yang lihai.
Selain ilmu silatnya yang ia warisi dari Kun-lun-pai di mana merupakan tokoh pertengahan, juga sebagai seorang pembesar militer Kerajaan Cin dahulu, ia memiliki pengalaman luas dalam soal persilatan.
Inilah sebabnya maka ia dapat menciptrakan senjata aneh seperti Seng-goat-pian yang agaknya hanya satu-satunya di dunia kang-ouw.
Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmunya, hanya sedikit di bawah tingkat ketua Kun-lun-pai sendiri.
Pek Mau Sianjin, oleh karena Kam Ceng Swi mendapat pimpinan langsung dari seorang jago tua Kun-lun, susiok dari Pek Mau Sianjin yang bernama Liong Tosu.
Akan tetapi, kali ini menghadapi dua pedang di tangan dua orang wanita utusan dari Pek-go-to ia benar-benar menjadi sibuk sekali.
Belum pernah ia melawan ilmu pedang yang begini anehnya, aneh cepat dan ganas sekali, ilmu silat yang sama sekali tidak mengandung keindahan dan agaknya penciptanya tidak memperdulikan segi keindahannya, melainkan khusus setiap gerakan untuk mematikan lawan!
Kam Ceng Swi mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, piannya yang berujung bulan sabit dan bintang itu digerakkan cepat untuk melindungi tubuh dan untuk balas menyerang.
Namun ia hanya dapat bertahan sampai limapuluh jurus saja.
Piannya mulai menyempit gerakannya, gulungan sinar pian yang tadinya panjang menjadi pendek dan kecil, tanda bahwa ia mulai terkurung dan hanya mampu mempertahankan diri secara mati-matian saja.
"Seng-goat-pian Kam Ceng Swi, hayo lempar senjata dan berlutut minta ampun!"
Terdengar si baju ungu membentak sambil mendesak terus.
"Kam Ceng Swi seorang jantan tulen, mana sudi berlutut di depan siluman-siluman betina?"
Bentak jago Kun-lun itu sambil bertahan mati-matian.
Baiknya senjatanya terbuat dari pada bahan yang kuat, juga talinya ulet sekali sehingga tidak sampai rusak oleh desakan dua pedang itu.
Akan tetapi ia benar-benar sudah payah dan mengerti bahwa sebentar lagi ia tentu akan roboh.
Dalam saat yang amat berbahaya bagi Kam Ceng Swi jago Kun-Iun yang gagah perkasa itu, tiba-tiba terdengar pujian halus.
"Seorang gagah seperti Seng-goat-pian Kam Ceng Swi pada waktu sekarang jarang terdapat, sungguh membikin orang kagum!"
Yang bicara ini ternyata adalah pemuda sasterawan tadi.
Dia sudah berdiri dari bangkunya dan berjalan menghampiri tempat pertempuran.
Di antara tiga orang ketua Hai-liong-pang, Phang Cu paling berat lukanya karena tulang pundaknya patah ketika terpukul oleh senjata bulan sabit dari Kam Ceng Swi.
Oleh karena itu, ketika Phang Kong dan Phang Hui maju menghadang siucai itu, ia tidak dapat ikut.
Phang Kong sudah membawa pedang bengkoknya yang tadi ia pungut dari atas lantai, dan Phang Hui memegang goloknya.
Sikap dua orang ini mengancam, karena merekapun hendak menumpahkan sakit hati mereka kepada siucai ini sebagai kawan Kam Ceng Swi.
"Cacing buku kau mau apa?"
Bentak Phang Hui dan goloknya ditodongkan di depan dada siucai itu, sikapnya mengancam sekali.
Siucai itu tersenyum tenang, sama sekali tidak takut biarpun ujung golok yang runcing itu sudah menempel di depan dadanya.
Juga kini Phang Kong sudah menempelkan pedang bengkoknya ke lehernya!
"Kalian ini tadi sudah keok oleh Kam-lo-enghiong, kok sekarang hendak menjual lagak Malu ah!"
Merah muka kedua orang ketua Hai-Iiong-pang itu.
"Olehmu aku belum kalah!"
Bentak Phang Hui.
"Belek saja dadanya!"
Kata Phang Kong.
Dia sendiri menggerakkan pedang dibacokkan ke leher sedangkan Phang Hui menusukkan goloknya ke dada.
Agaknya siucai muda yang tampan dan halus gerak-geriknya itu akan mati konyol di situ.
Demikian tentu pendapat semua orang kalau melihat adegan ini.
Akan tetapi benar-benar di luar dugaan karena tiba-tiba, entah mengapa, Phang Kong dan Phang Hui berhenti bergerak dan tubuh mereka kaku dalam sikap menyerang seperti tadi.
seolah-olah mereka secara mendadak telah berubah menjadi batu.
"Dua orang perempuan tamu itu terlalu ganas, mengapa kalian tidak melarang?"
Kata lagi pemuda itu dan sekarang ia kelihatan menggerakkan kedua tangan ke arah Phang Kong dan Phang Hui.
dan......
tubuh yang sudah kaku dari dua orang ketua Hai-liong-pang itu melayang ke tempat pertempuran!
Dengan tepat sekali dua tubuh ketua itu menimpa dua orang wanita utusan Pek-go-to yang sedang mendesak Kam Ceng Swi dengan pedang mereka!
Tentu saja dua orang wanita itu kaget sekali melihat Phang Kong dan Phang Hui tiba-tiba datang menubruk mereka.
Kalau saja mereka tidak melihat sikap yang aneh dari dua orang tuan rumah itu, tentu mereka akan menyambut dengan tusukan pedang.
Akan tetapi melihat gerak-gerik yang kaku dan tidak sewajarnya dari Phang Kong dan Phang Hui, dua orang wanita muda itu cepat melompat ke samping dan terpaksa meninggalkan Kam Ceng Swi yang dapat melangkah mundur terlepas dari desakan hebat.
"Bruk! Bruk!"
Tubuh Phang Kong dan Phang Hui jatuh terbanting ke atas lantai, akan tetapi tetap saja mereka tidak bergerak dan kedudukan tubuh masih seperti tadi, dalam sikap menyerang!
Benar-benar aneh dan lucu keadaan dua orang itu, seperti boneka-boneka besar digeletakkan di atas lantai.
Sekali pandang saja tahulah dua orang wanita itu bahwa Phang Kong dan Phang Hui telah kena ditotok orang dan mereka terkejut.
Tidak mereka sangka bahwa siucai yang sekarang masih berdiri tersenyum-senyum itu ternyata adalah seorang yang memiliki kepandaian juga!
Sementara itu, Kam Ceng Swi yang biarpun sudah menduga bahwa pemuda ini memiliki kepandaian akan tetapi tidak mengira sedemikian lihainya sehingga bisa menolongnya dari bahaya maut, tertawa terbahak-bahak lalu piannya membuat suara "tar-tar-tar"
Diikuti oleh suara nyanyiannya.
"Pendekar sejati tidak memperlihatkan kegagahannya, ahli ilmu perang tidak menunjukkan kemarahannya, yang pandai mengagahkan musuh tidak bertengkar dengannya, yang pandai mengepalai orang merendahkan diri kepadanya. Inilah yang disebut ; Sakti yang tidak merebut atau cara mempergunakan orang, atau penyesuaian dengan Langit! Nyanyian yang dinyanyikan oleh Kam Ceng Swi itu adalah sajak dari kitab To-tik-khing. dinyanyikan untuk memuji pemuda sasterawan itu. Kemudian ia menjura kepada pemuda itu dan berkata.
"Sejak tadi lohu sudah menduga bahwa kau tentu seorang pendekar muda yang pandai sastera dan silat (bun-bu-coan-jai). Ternyata kenyataan jauh melampaui dugaan."
Pemuda itu tersenyum dan cepat-cepat membalas penghormatan orang.
"Kam-lo-enghiong (orang tua gagah she Kam) terlalu memuji. Kaulah seorang tua yang patut dijadikan teladan, gagah berani dan bersemangat. Aku yang muda benar-benar tunduk dan takluk."
Dua orang ini bicara seakan-akan di situ tidak ada lain orang.
Tentu saja perempuan-perempuan muda dari Pek-go-to menjadi mendongkol, lebih-lebih kepada Phang Kong dan Phang Hui yang mereka anggap tolol dan mendatangkan malu saja.
Dengan ujung sepatu mereka yang runcing dan kecil itu mereka menendang tubuh Phang Kong dan Phang Hui yang dalam sekejab mata saja dapait bergerak lagi dan merayap bangun sambil mengaduh-aduh.
Melihat itu.
pemuda sasterawan tadi diam-diam memuji.
Dengan ujung sepatu dapat memulihkan totokan berarti telah memiliki ilmu tendang yang hebat sekali, berarti pula dengan tendangan ujung kaki dapat menotok jalan darah orang.
Pantas saja Kam Ceng Swi tidak dapat menangkan mereka, karena orang-orang yang sudah memiliki kepandaian seperti itu beranti telah mencapai tingkat yang tinggi.
Setelah membebaskan Phang Kong dan Phang Hui.
dua orang perempuan muda itu melangkah maju menghadapi pemuda itu.
Kembali mereka tersenyum-senyum manis dan mata mereka memandang penuh gairah, mesra dan genit.
Harus mereka akui bahwa jarang mereka bertemu dengan seorang pemuda setampan ini, dengan kulit muka yang putih halus, alis hitam tebal mata bersinar-sinar, hidung mancung dan bibir merah berbentuk bagus dan gagah.
"Kiranya kongcu yang bersikap lemah seperti seorang siucai juga memiliki ilmu silat yang tinggi. Sungguh mengagumkan sekali. Siauwmoi (adikmu yang muda) Cheng ln (Awan Hijau) dan ini ci-ciku Ang Hwa (Bunga Merah) mohon sedikit petunjuk dari kongcu yang ingin sekali kami ketahui namanya yang mulia."
Kata-kata yang keluar dari bibir merah gadis baju hijau itu amat merdu dengan suara mengalun naik turun, mesra menarik.
Adapun si baju ungu yang bernama Ang Hwa itu melirak-lirik dengan senyum-senyum simpul pula.
Pemuda itu menjadi merah mukanya.
Biarpun ia belum mempunyai pengalaman sama sekali dengan wanita dan tidak tahu apa maksud dua orang gadis cantik itu tersenyum-senyum dan melirak-lirik, namun perasaannya memberitahukan bahwa ia menghadapi dua orang perempuan cabul dan genit, membuat ia merasa jengah dan malu-malu.
Akan tetapi karena mendengar ucapan orang merendah, iapun menjawab dengan suara menyindir.
"Biarpun kelihatan lemah aku seorang laki-laki sejati, apa anehnya memiliki sedikit kepandaian untuk menjaga diri? Sebaliknya, ji-wi adalah nona-nona muda yang kelihatan amat lemah, tidak nyana memiliki ilmu silat yang demikian ganas!"
Ang Hwa tertawa sambil menutupi mulut dengan tangan kirinya, pedangnya dilintangkan di depan dada dengan sikap aksi sekali.
"Kongcu yang baik, dalam jaman seperti ini kalau kami wanita-wanita lemah tidak mengandalkan pedang dan kecepatan, bukankah kita ini hanya akan menjadi permainan pria seperti kembang-kembang yang tiada berduri dan tidak ada yang membela?"
Ucapan ini disertai kerling mata yang amat menarik dan penuh arti.
Akan tetapi mana pemuda itu mengerti?"Kongcu telah mengetahui nama kami, akan tetapi pertanyaan adikku Cheng In tadi belum kongcu jawab.
Siapakah nama besar kongcu dan dari partai mana?"
Pemuda itu tersenyum dan kembali hati dua orang perempuan itu dak-dik-duk tidak karuan.
"Orang seperti aku ini mana mempunyai nama besar? Diberi tahu juga tidak akan kenal. Akan tetapi agar jangan disangka orang aku menyembunyikan nama dan takut dikenal orang, biarlah ji-wi ketahui bahwa aku she Thio bernama Wi Liong. Dari partai mana aku sendiripun tidak tahu karena sepanjang pengetahuanku, aku tidak masuk partai mana-mana dan hanya mempelajari sedikit ilmu penjaga diri."
Mendengar pemuda itu menyebut namanya Seng-goat-pian Kam Ceng Swi mendengarkan penuh perhatian.
Ia merasa pernah mendengar nama Thio Wi Liong ini akan tetapi sudah lupa lagi entah kapan dan di mana.
Tentu pembaca masih ingat akan nama ini.
Tak salah, pemuda ini adalah bocah yang dahulu dibawa oleh pamannya, Kwee Sun Tek, ke puncak Kun-lun-san untuk mencari tokoh Siauw-lim yang berada di puncak.
Pemuda ini adalah putera tunggal Thio Houw dan Kwee Goat yang telah tewas oleh guru mereka sendiri, Beng Kun Cinjin dan anak buahnya, yaitu para pengawal istana Jengis Khan!
Seperti telah dituturkan di bagian depan, ketika Thio Wi Liong dibawa naik ke puncak Kun-lun-san oleh pamannya yang telah buta oleh Beng Kun Cinjin.
terjadi keributan di puncak itu dengan munculnya dua orang tokoh Mo-kauw yang lihai, yaitu Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li.
Dua orang manusia iblis ini telah menculik Wi Liong dan seorang bocah lain.
yaitu Kam Kun Hong anak pungut Kam Ceng Swi.
Akan tetapi di tengah jalan, Wi Liong dirampas dari tangan dua orang iblis itu oleh Thian Te Cu Si Mayat Hidup, tokoh aneh yang jarang sekali muncul di dunia ramai dan tidak mau tahu tentang urusan dunia.
Sebagai seorang tukang ramal atau ahli bintang.
Thian Te Cu maklum bahwa Thio Wi Liong adalah seorang bocah yang selain berbakat baik sekali, juga jodoh dengan dia, seorang bocah yang patut mewarisi kepandaian tinggi karena memiliki watak yang boleh dipercaya dan mempunyai pembawaan seorang ksatria dan pendekar budiman.
Karena itu Thian Te Cu membawa Wi Liong ke Wuyi-san di mana ia bertapa dan menggembleng bocah itu, mewariskan semua kepandaiannya ilmu silat yang tinggi dan jarang tandingannya di dunia kang-ouw.
Wi Liong adalah seorang anak yang amat berbakti.
Biarpun ia merasa aman dan senang berada di puncak Gunung Wuyi-san, akan tetapi hatinya selalu gelisah dan berduka kalau ia mengingat keadaan pamannya yang buta.
Bagaimana dengan keadaan pamannya itu?
Siapa yang akan menuntunnya kalau berjalan dan siapa yang akan mencarikan sesuap nasi?
Thian Te Cu berpemandangan awas.
Tanpa bertanya ia sudah dapat membaca isi hati muridnya.
Pada suatu hari ia memesan agar muridnya itu berlatih baik-baik dan tinggal seorang diri di puncak karena ia mau turun gunung untuk beberapa bulan lamanya.
Dan dapat dibayangkan betapa girang hali bocah itu ketika gurunya pulang bersama dengan pamannya, Kwee Sun Tek yang buta!
Paman dan keponakan saling peluk dengan air mata mengalir turun saking bahagia dan girang.
Mulai saat itu, Kwee Sun Tek juga tinggal di Wuyi-san, malah ia menerima pelajaran ilmu batin yang tinggi, juga ilmu silatnya bertambah maju dengan cepat sekali di bawah petunjuk Thian Te Cu.
Sepuluh tahun lewat dengan amat cepatnya dan selama itu, belum pernah seharipun Wi Liong dan pamannya meninggalkan puncak Wu-yi-san, Mereka nampaknya hidup dengan amat.tenteram, aman damai tidak membutuhkan apa-apa.
Akan tetapi di dalam hati Kwee Sun Tek yang matanya buta itu selalu menyala api dendam yang tak kunjung padam, bahkan ada kalanya berkobar-kobar membuat ia seperti gila menahan kemarahannya.
Hanya berkat ilmu batin yang banyak ia pelajari, maka ia dapat menahan dan selama itu menyimpan rahasia hatinya.
Wi Liong yang pernah bertanya tentang ayah bundanya, dijawab singkat bahwa ayah bundanya sudah meninggal dan kelak kalau sudah tiba masanya ia akan menceritakan dengan jelas tentang ayah bundanya itu.
Pedang Cheng-hoa-kiam tak pernah disentuhnya, juga ia melarang keponakannya itu menjamahnya.
Ia menaruh pedang itu di dalam sebuah peti dan menyimpan peti itu di sebuah ruangan kosong di rumah kediaman Thian Te Cu di puncak gunung.
Rumah besar terbuat dari pada batu besar yang ditumpuk-tumpuk, sederhana namun kuat sekali.
Setelah Thian Te Cu menyatakan bahwa pelajaran Wi Liong dalam ilmu silat dan ilmu surat sudah tamat dan kakek ini tak mau diganggu lagi karena hendak bertapa sampai datang saat penghabisan dalam hidupnya.
Kwee Sun Tek lalu memanggil Wi Liong dan berkata.
"Wi Liong, saatnya sudah hampir tiba bagimu untuk mengetahui semua rahasia yang selama ini terkandung dalam hatiku. Kau hanya tahu bahwa aku ini pamanmu, adik ibumu, akan tetapi kau sendiri belum pernah melihat wajah ayah bundamu. Kasihan kau......!"
Teringat akan kakak dan iparnya, Kwee Sun Tek menjadi terharu sekali, memeluk pundak keponakannya dan matanya yang selalu terbuka akan tetapi tidak melihat apa-apa itu menjadi basah.
Wi Liong lebih tenang dan ia menahan hasratnya hendak banyak bertanya.
Karena semenjak kecil iapun banyak menerima pelajaran ilmu surat, bahkan Thian Te Cu menyuruh ia membaca kitab-kitab kuno tentang filsafat hidup, maka pengetahuannya tentang kebatinan tidak kalah oleh pamannya.
Malah dalam hal menguasai perasaan dan pikiran ia jauh lebih kuat.
"Gurumu sudah mengundurkan diri dan mulai sekarang kau boleh pergi ke mana saja."
Kata pula Kwee Sun Tek.
"Sekarang kau turunlah dari puncak ini dan pergilah ke utara ke kota raja. Di sana kau selidiki apakah orang tua yang bernama Beng Kun Cinjin Gan Tui masih menjadi koksu, ataukah sudah pindah kalau pindah ke mana. Aku ingin sekali tahu apakah dia masih hidup dan di mana sekarang ia berada. Kalau kau sudah mendapat tempat tinggalnya, kau kembalilah ke sini lagi dan nanti bersama aku turun gunung. Pada saat itulah aku akan membuka rahasiamu anak baik!"
Wi Liong mengerutkan alisnya.
Mengapa pamannya ini demikian pelit dengan rahasia orang tuanya?
Dia tidak berani mendesak, dan diam saja.
Agaknya Kwee Sun Tek merasa juga akan perasaan hati pemuda itu maka katanya.
"Kau bersabarlah, Wi Liong. Percayalah bahwa apa yang kulakukan adalah demi kebaikanmu sendiri. Hanya kau boleh mengetahui bahwa Beng Kun Cinjin itu adalah guruku sendiri. Nah, kau berangkatlah."
Wi Liong terkejut dan makin terheran-heran.
Akan tetapi ia memang kuat menyimpan dan menekan perasaan hatinya, maka ia lalu berkemas dan berangkat.
Ia hanya merasa kecewa tidak dapat berpamit dari gurunya, karena Thian Te Cu sudah memesan tidak mau diganggu kecuali kalau dia sendiri keluar dari kamar pertapaannya.
Demikianlah, pada hari itu Wi Liong sudah sampai di Ningpo dan kebetulan sekali dalam sebuah rumah makan bertemu dengan Seng-goat-pian Kam Ceng Swi yang gagah perkasa dan menarik perhatiannya.
Sikap Kam Ceng Swi yang amat gagah, kata-katanya yang mengandung arti, sepak-terjangnya ketika menghadapi orang-orang Hai-Iiong-pang yang galak dan sewenang-wenang, benar-benar amat menarik hati Wi Liong dan mendatangkan rasa kagum dalam hatinya.
Ingin benar ia berkenalan dengan orang tua gagah perkasa ini, ingin benar ia belajar dari orang yang gerak-geriknya malah jauh lebih masak dari pada pamannya ini.
Di samping itu, iapun agak khawatir akan keselamatannya ketika kakek ini diundang naik ke loteng, karena pandangan mata yang amat tajam dari Wi Liong telah melihat bahwa orang-orang yang berada di loteng itu tak boleh dipandang ringan.
Makin besar rasa kagum dan suka hatinya ketika ia melihat kakek itu menghadapi tiga orang ketua Hai-Iiong-pang.
Ia sengaja bersikap bodoh, sampai akhirnya ia melihat Kam Ceng Swi terancam hebat oleh desakan dua orang wanita Pek-go-to.
baru ia turun tangan menolong.
Kita kembali kepada keadaan di atas loteng rumah makan Tung-thian di kota Ningpo.
Wi Liong dengan sikap tenang sekali menghadapi dua orang wanita muda.
Cheng In dan Ang Hwa yang amat lihai itu, hendak melihat apa yang selanjutnya akan terjadi.
Dia tadi sudah mendengar pengakuan dua orang gadis itu bahwa mereka adalah utusan Thai Khek Sian akan tetapi ia tidak gentar mendengar nama ini karena memang selama hidupnya ia belum pernah mendengarnya dan tidak tahu orang macam apa adanya Thai Khek Sian!
Di lain fihak, dua orang perempuan itu yang sebetulnya selain utusan, juga setengah murid dan setengah kekasih Thai Khek Sian gembong Mo-kauw itu.
adalah wanita-wanita yang berhati kotor dan cabul.
Melihat Wi Liong yang tampan, mana hati mereka tidak tergerak?
Sukar bagi mereka untuk marah terhadap seorang pemuda sehebat Wi Liong, biarpun terhadap orang lain mereka ini biasa bertindak seperti iblis-iblis betina dari neraka yang tidak mengenal kasihan.
"Kalian lihatlah,"
Kata Cheng In kepada tiga orang pangcu dari Hai-liong-pang.
"pemuda seperti inilah yang tepat untuk mengangkat diri menjadi pangcu. bukan orang-orang tiada guna seperti kalian. Orang macam Seng-goat-pian Kam Ceng Swi juga berani main gila di depan kita? Hemm, kalau tidak sungkan terhadap Thio-kong-cu yang gagah, tentu nyawanya telah putus. Thio-kongcu yang baik, melihat mukamu biarlah kami bikin habis urusan dengan Seng-goat-pian asal kongcu sudi memenuhi undangan kami untuk berkunjung ke pulau kami."
Kata-kata ini disambut suara ketawa Kam Ceng Swi yang segera membunyikan cambuknya.
"Tar-tar-tar"
Disambung nyanyiannya dengan suara lantang.
"Menyukai yang indah membenci yang buruk inilah sifat manusia dewasa. Melihat keburukan dalam keindahan dan keindahan dalam keburukan inilah keunggulan kaum bijaksana! Buah yang kulitnya halus menimbulkan selera belum tentu dalamnya manis tak berulat Karena ini ; Kaum budiman tidak buta oleh sinar keindahan!"
Mendengar nyanyian ini, merah wajah dua orang wanita itu, juga Wi Liong berkata tertawa.
"Kam-lo-enghiong, jangan khawatir."
Kemudian ia menghadapi dua orang gadis itu, menjura dan berkata.
"Terima kasih atas undangan ji-wi. akan tetapi maafkan siauwte tidak dapat memenuhi undangan itu karena siauwte sedang dalam perjalanan jauh. Adapun tentang urusan Kam-lo-enghiong, sesungguhnya memang tidak ada sesuatu antara kita yang harus direntang panjang. Terima kasih kalau ji-wi suka menghabiskan keributan ini."
"Dengan Mo-kauw tidak ada urusan, akan tetapi dengan Hai-liong-pang masih banyak urusan. Kalau Hai-Iiong-pang tidak menghentikan praktek-prakteknya memeras para nelayan, mencekik leher mereka dan mempergunakan tenaga nelayan untuk membikin kaya diri sendiri, aku orang she Kam takkan berhenti dan takkan gentar untuk menentangnya!"
Sementara itu, dua orang wanita itu tadi berlaku sabar dan bersikap lemah mengalah terhadap Wi Liong hanya karena mereka sayang akan ketampanan wajah dan kehalusan sikap pemuda sasterawan ini yang sengaja hendak mereka pikat.
Sama sekali mereka bukan bersikap lemah karena.takut.
Sekarang melihat bahwa pemuda itu tidak bersedia memenuhi undangan mereka, berubahlah sikap mereka.
"Orang she Thio, kami tidak biasa menerima penolakan atas undangan kami. Satu kali kami mengundang, biar kaisar sekalipun akan datang! Kaupun. setelah menerima undangan kami. bagaimanapun juga harus datang!"
Kata Ang Hwa dengan mata bersinar galak.
"Kalau aku tidak mau?"
Kata Wi Liong tersenyum tabah.
"Kami akan memaksamu!"
Jawab Ang Hwa.
"Kalau aku melawan?"
Tanya pula Wi Liong.
"Hwa-moi, cubit saja bibirnya yang banyak membantah itu. Gemas aku!"
Seru Cheng In sambil menggigit bibir dengan gemas, lalu jari-jari tangannya yang halus dan kecil itu menyambar ke depan betul-betul hendak mencubit bibir Wi Liong! "Aauuuu!"
"Anak nakal, kau perlu dihajar!"
Yang menjerit kesakitan bukan Wi Liong, melainkan Cheng In.
Sebaliknya yang menegur adalah Wi Liong.
Ketika tadi tangan Cheng in menyambar dan sudah dekat sekali dengan bibirnya.
Wi Liong menggerakkan tangan kanan menangkis akan tetapi bukan tangkisan biasa melainkan tangannya terus menyelonong maju dan jari tangan kanannya menyentil daun telinga kiri Cheng In, membuat gadis itu menjerit kesakitan karena daun telinganya terasa panas dan pedas.
Mengapa Wi Liong menyentil daun telinga dan tidak menyerang?
Ini adalah karena pemuda yang belum banyak pengalaman ini merasa tidak enak hati kalau harus menyerang seorang wanita.
Ia hanya menganggap Cheng In seorang anak nakal maka iapun memberi hajaran seperti orang menghajar bocah, dengan menyentil daun telinganya!
"Eh.
kau berani kurang ajar?"
Ang Hwa berseru marah dan melompat maju menotok ke arah tiga bagian jalan darah di tubuh Wi Liong untuk membikin pemuda itu tak berdaya.
Hebat sekali serangan ini dan sebuah tangan dapat dengan berturut-turut cepat sekali menotok tiga jalan darah, ini merupakan kepandaian luar biasa dan Kam Ceng Swi sendiri kiranya tidak akan mampu melakukannya.
Oleh karena melihat hebatnya serangan ini, tak terasa lagi ia berseru kaget.
Biarpun serangan itu tidak ditujukan pada bagian yang mematikan, namun sekali pemuda itu tertawan, siapa yang akan sanggup menolongnya?
"Ayaaa......!
Kau lebih nakal lagi......!"
Wi Liong memutar tubuhnya dan menggerakkan kedua tangannya.
Kam Ceng Swi memandang dengan mulut celangap.
Hampir ia tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
Begitu mustahil nampaknya.
Gerakan Wi Liong sukar diikuti oleh pandangan mata saking cepatnya, akan tetapi hasil gerakannya itu benar-benar mengherankan karena tahu-tahu Ang Hwa yang tadi melakukan serangan totokan secara dahsyat, kini telah berdiri kaku karena totokan!
Yang menotok tertotok, apa ini tidak aneh?
Seperti tadi para ketua Hai-liong-pang.
Ang Hwa berdiri dalam keadaan menyerang, jari tangannya dibuka siap untuk melakukan ilmu pukulan Tiam-hiat-hoat (Ilmu Menotok Jalan Darah), kedua kakinya memasang kuda-kuda, lutut sedang ditekuk sedikit maka kedudukan tubuhnya seperti orang naik kuda dengan tubuh belakang menonjol ke belakang, lucu sekali!
Tidak hanya Kam Ceng Swi dan Ang Hwa sendiri yang kaget, juga Cheng In terkejut bukan main melihat adiknya dikalahkan orang secara demikian mudahnya.
Ia tahu bahwa dalam hal ilmu menotok, kepandaian Ang Hwa malah lebih tinggi dari pada kepandaiannya.
Bagaimana mungkin dalam keadaan menyerang hebat gadis itu malah tertotok seakan-akan totokannya tadi mengenai tubuh sendiri?
Ia cepat melompat dan membebaskan totokan di tubuh Ang Hwa dengan beberapa tepukan dan pijatan.
Setelah Ang Hwa dapat bergerak lagi Cheng In mencabut pedangnya dan menudingkan senjata itu ke arah Wi Liong sambil membentak.
"Bocah setan tak tahu diuntung! Tak tahu orang mengalah malah berani menghina! Rasakan pedangku!"
Juga Ang Hwa sudah mencabut pedangnya dan menyerang sambil berseru.
"Orang tak berbudi, tak mau terima kasih sayang, sudah bosan hidup rupanya!"
Dua orang wanita lihai itu menggerakkan pedang dari dua jurusan dan dalam sekejap mata saja dua gulung sinar yang berkilauan menyambar-nyambar dan mengurung tubuh Wi Liong, memotong dan menutupi semua jalan keluar!
Kam Ceng Swi memandang penuh kekhawatiran.
Jago tua ini maklum akan kelihaian dua orang gadis yang ilmu pedangnya benar-benar tak boleh dipandang ringan itu.
Wi Liong bukanlah pemuda sembarangan.
Dia ahli waris tunggal dari ilmu kepandaian Thian Te Cu.
seorang aneh yang memiliki kesaktian tinggi.
Di waktu masih terkenal dengan julukan Mayat Hidup dahulu, ketika ia masih suka berkelana dan menggegerkan dunia persilatan, dengan sebatang suling bambu saja Thian Te Cu sudah mengalahkan entah berapa banyaknya jago-jago pedang yang terkenal tinggi ilmu pedangnya.
Ketika ia datang mengaduk-aduk dunianya kaum Mo-kauw, jago-jago sakti dari Mo-kauw geger dan baru ia bertemu lawan ketika benggolan Mo-kauw Thai Khek Sian muncul.
Tiga hari tiga malam Thian Te Cu bertempur melawan Thai Khek Sian, hanya mengaso untuk memulihkan napas saja, lupa makan lupa tidur, dan akhirnya Thai Khek Sian terpaksa masih harus mengakui keunggulan lawan dalam mengadu kesaktian hawa murni dalam tubuh.
Ini adalah karena kalau Thian Te Cu selalu hidup dalam keadaan bersih batinnya, sebaliknya Thai Khek Sian mengumbar kesenangan.
Sekarang Wi Liong berhadapan dengan dua orang gadis yang boleh dibilang murid juga dari Thai Khek Sian!
Wi Liong tidak pernah tahu bahwa gurunya dahulu pernah bertanding mati-matian dan hebat selama tiga hari tiga malam melawan Thai Khek Sian kalau dia tahu, tentu ia lebih bersemangat lagi menghadapi dua orang utusan yang ia tadi mendengar adalah utusan seorang tokoh bernama Thai Khek Sian yang tidak dikenalnya.
Begitu dua pedang gadis itu berkelebat, sebagai seorang ahli silat yang sudah masak ilmunya, Wi Liong segera dapat mengetahui bahwa dua orang lawannya memang betul-betul pandai dan dahsyat ilmu pedangnya.
Pantas saja jago tua dari Kun-lun-pai tadi terdesak hebat.
Sekarang ia tidak boleh memandang rendah karena biarpun tadi dalam keadaan bertangan kosong, dua orang gadis itu boleh ia permainkan, sekarang ia harus berlaku hati-hati.
Pedang mereka memiliki gerakan cepat sekali terbukti dari sinar pedang yang berkelebat dan bergulung panjang.
Juga tenaga lweekang mereka dalam mempergunakan pedang sudah tinggi sehingga ujung pedang mereka tergetar menjadi tujuh!
"Bocah perempuan bermain senjata tajam, sungguh berbahaya!"
Wi Liong berkata dan ketika tangan kirinya bergerak, ia telah mengeluarkan sebatang suling dari balik jubahnya.
Suling ini adalah hadiah dari suhunya, sebuah suling yang panjangnya seperti pedang pendek, terbuat dari pada logam yang amat kuat melebihi baja.
Suling ini selain indah sekali bunyinya kalau ditiup.
juga baik sekali dipakai sebagai senjata.
Karena suhunya seorang yang ahli dalam mainkan suling sebagai senjata pedang, tentu saja Wi Liong juga menuruni kepandaian hebat ini.
Biarpun hatinya mendongkol dan marah.
Cheng In dan Ang Hwa masih tidak tega untuk melukai atau membunuh pemuda tampan ini.
Tadinya mereka berniat untuk menawan saja dan dibawa ke Pulau Pek-go-to.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika suling di tangan pemuda itu bergerak perlahan, sekaligus sudah dapat menangkis pedang mereka yang terpental oleh getaran suling!
Mereka hampir tidak percaya dan mendesak lagi.
Sama saja pedang mereka selalu terpental setelah terbentur oleh suling, malah kini mereka merasa betapa telapak tangan mereka gatal-gatal dan dingin, tanda bahwa getaran pada suling itu amat halus dan kuat!
Baru terbuka mata dua orang wanita Pek-go-to itu bahwa mereka sebenarnya berhadapan dengan seorang pemuda sakti, pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, jauh lebih tinggi dari pada Seng-goat-pian Kam Ceng Swi.
malah masih lebih tinggi dari pada kepandaian mereka sendiri digabung menjadi satu.
Dari kaget mereka menjadi jerih.
Akan tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Mereka sudah menyerang dan mencari permusuhan.
Terpaksa keduanya lalu mengerahkan seluruh kepandaian dan mencoba untuk membobolkan pertahanan suling di tangan Wi Liong yang sinarnya bergulung bulat dan mengeluarkan bunyi halus lembut.
Ang Hwa yang sudah hilang lagi rasa cintanya karena penasaran tak mampu mengalahkan lawannya, cepat mengeluarkan senjata rahasia Kim-ji-piauw dan tanpa peringatan melepas senjata rahasia itu ke arah tubuh Wi Liong, tujuh buah banyaknya!
Wi Liong tetap saja melayani pedang, sama sekali tidak memperdulikan datangnya senjata rahasia itu.
Hebatnya, ketika senjata rahasia yang berupa mata uang tembaga disepuh emas ini mengenai tubuhnya, benda-benda kecil ini terpental kembali seperti mengenai karet saja, beterbangan ke kanan kiri.
"Aduh"
Berbahaya! Aduh lihai........!"
Seru Kam Ceng Swi berulang-ulang, ia menyebut berbahaya melihat serangan menggelap itu dan menyebut lihai melihat cara Wi Liong menerima serangan.
Akan tetapi ia cepat-cepat membuang diri untuk mengelak dari sambaran beberapa buah mata uang yang tadinya terpental dan terbang ke arahnya.
Ia maklum bahwa tenaga sambaran mata uang ini masih kuat sekali dan setidaknya kulitnya akan lecet kalau terkena!
Dengan gembira sekali Kam Ceng Swi menonton pertempuran itu dan tiba-tiba jago tua ini tak dapat menahan tangisnya!
Ia teringat akan putera pungutnya Kam Kun Hong, dan sekaligus begitu teringat akan Kun Hong.
iapun ingat siapa adanya bocah lihai bernama Thio Wi Liong ini!
Inilah bocah yang dulu dibawa datang oleh Kwee Sun Tek yang buta dan bocah inilah yang bersama Kun Hong telah diculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li!
Dengan mata terbelalak dan basah air mata.
Kam Ceng Swi memandang kepada Wi Liong.
"Jadi kaukah ini? Begini lihai? Dan di mana adanya Kun Hong?"
Katanya yang ditujukan kepada Wi Liong, akan tetapi perlahan saja seperti bicara kepada diri sendiri.
Sementara itu.
pertempuran telah terjadi makin seru.
Kini Wi Liong mulai menyerang, marah karena dua orang lawannya menggunakan senjata rahasia tanpa memberi tanda, dan hal ini dalam dunia persilatan dianggap perbuatan yang amat curang.
"Cukup, kembalilah ke tempat asalmu!"
Bentak Wi Liong dan dengan gerakan memutar sehingga sinar sulingnya melibat dua sinar pedang, ia mengerahkan tenaga membuang ke samping.
Tak dapat ditahan lagi, dua orang nona itu mengeluarkan seruan tertahan dan pedang mereka terlepas dari pegangan meluncur ke kiri dan menancap setengahnya di atas tanah, gagangnya bergoyang-goyang.
Pada saat itu.
menyusul sinar berkilauan di depan mata Cheng In dan Ang Hwa yang menjerit kaget, akan tetapi suling itu yang tadi berkelebat di depan mata telah ditarik kembali dan pemuda itu sudah berdiri di depan mereka tersenyum-senyum.
Sulingnya sudah diselipkan di ikat pinggangnya.
Cheng In dan Ang Hwa mengeluarkan keringat dingin, bersyukur bahwa pemuda ganteng itu akhirnya tidak mencelakakan mereka yang mutlak sudah kalah itu.
Dengan muka kemerahan mereka membungkuk mengambil pedang masing-masing, mengerahkan tenaga untuk mencabut pedang.
Setelah hal ini terlaksana, mereka saling pandang dan menjadi pucat.
"Celaka..... Ceng In cici...... pipimu......!"
Jerit Ang Hwa.
"Ang Hwa siauwmoi............ pipimu sendiri kenapa.........?"
Kata Cheng In.
Keduanya mengangkat tangan dengan otomatis sambil melepaskan pedang, kedua telapak tangan mengusap-usap pipi yang halus putih itu.
Kini, entah dari mana datangnya, pada kulit pipi yang halus itu terdapat "cap"
Bundar merah seperti bulan purnama di kanan kiri merupakan "tembong"
Yang cukup besar urttuk membuat muka mereka menjadi seperti muka badut!
Mereka saling pandang penuh perhatian karena maklum bahwa mereka mengalami nasib yang sama.
bahwa melihat tanda merah di pipi kawan sama dengan melihat tanda di pipi sendin.
Melihat bentuk bulat dan ukuran besarnya, keduanya mengerti dan dengan marah mereka memandang ke arah Wi Liong.
"Kau...... kau telah menghina kami......!"
Teriak Ang Hwa dengan isak tangis mengancam suaranya.
"Tak bisa lain, tanda merah di pipi kami ini tentu dibuat oleh sulingmu yang terkutuk!"
Bentak Cheng In marah. Wi Liong tersenyum.
"Nona-nona yang baik. Tadi pedangmu mengancam nyawaku yang hanya satu, sedangkan sulingku hanya menyentuh sedikit pipi kalian, mengapa marah-marah? Aku hanya memberi peringatan agar lain kali kalian tidak begitu ganas dan kejam, mudah saja hendak (Lanjut ke
Jilid 09) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 membunuh orang."
Cheng In dan Ang Hwa maklum bahwa tiada gunanya melawan, mereka toh akan kalah.
Dengan marah sekali mereka mengambil pedang masing-masing dan tanpa pamit mereka melompat turun dari loteng rumah makan, tidak melalui anak tangga lagi, langsung melompat keluar terus lari pergi!
Tiga orang ketua Hai-liong-pang yang melihat dengan mata kepala sendiri betapa hebatnya pemuda iitu di samping Seng-goat-pian yang sudah membikin keok mereka, kini berdiri di sudut dengan kepala tunduk, mati kutu sama sekali.
"Orang she Thio, kau tunggu saja. Siansu akan datang membalaskan sakit hati kami!"
Dari jauh terdengar Cheng In berseru dengan pengerahan tenaga khikang.
"Orang muda, mari. kita pergi dari sini '"
Tiba-tiba Kam Ceng Swi berkata sambil memegang tangan orang dan ditarik pergi menuruni anak tangga. Di kepala tangga ia menoleh dan berkata kepada tiga orang ketua Hai-liong-pang.
"Harap saja kejadian hari ini akan membuat kalian berlaku lebih adil dan pantas terhadap kaum nelayan yang miskin!"
Tanpa menanti jawaban ia lalu menarik tangan Wi Liong dan dibawa lari menjauhi tempat itu.
"Lo-enghiong. hendak mengajak aku ke manakah?"
Tanya Wi Liong terheran-heran sambil tersenyum.
Kalau ia mau, tentu saja dengan mudah ia dapat menarik lepas tangannya yang dipegang, akan tetapi percaya bahwa kakek ini tidak berniat jahat, ia menurut saja dan ikut berlari-lari.
"Ikut saja, nanti kuberi tahu!"
Jawab Kam Ceng Swi mempercepat larinya.
Setelah berlari jauh meninggalkan kota Ningpo dan memasuki sebuah hutan di sebelah barat kota itu, baru Kam Ceng Swi berhenti, memandang ke belakang dan menarik napas panjang penuh kelegaan hati.
"Orang muda, kau bernama Thio Wi Liong, bukankah kau ini anak keponakan Kwee Sun Tek!"
"Kam-lo-enghiong bagaimana bisa tahu? Memang betul aku keponakannya."
"Aku adalah seorang Kun-lun-pai. bagaimana tidak tahu? Aku berada di sana ketika kau diantar oleh pamanmu ke puncak Kun-lun untuk mencari Bhok Lo Cinjin ketua Siauw-lim-pai."
"Ah, kalau begitu aku berlaku kurang hormat."
Kata Wi Liong sambil menjura.
"Tak usah menggunakan banyak upacara, orang muda. Aku girang sekali bertemu dengan kau, girang dan kagum melihat bahwa kau telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Akan tetapi aku mengharap keteranganmu. orang muda. Kau tentu masih ingat bahwa ketika kau terculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li. ada seorang bocah lain yang terculik bersamamu."
"Kun Hong.....?"
Tanya Wi Liong yang tentu saja ingat kepada bocah nakal itu.
"Ya......... ya. dia Kam Kun Hong........ anakku........."
Wi Liong terkejut dan memandang kepada kakek itu.
Tak dinyana sama sekali bahwa bocah nakal itu adalah putera kakek yang simpatik ini.
Sinar kasihan berpancar keluar dari pandang matanya dan ini agaknya terasa oleh Kam Ceng Swi yang menjadi pucat ketika bertanya.
"Apa yang telah terjadi dengan Kun Hong. anakku? Thio-siauwhiap. lekas katakan, apa yang tejah terjadi dengan dia?"
"Menyesal sekali aku tidak dapat menjawab pertanyaan ini. lo-enghiong. karena aku sendiri juga tidak tahu di mana adanya puteramu itu."
Secara jelas Wi Liong lalu menceritakan pengalamannya ketika dulu bersama Kun Hong ia diculik oleh Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li sampai kemudian ia ditolong oleh Thian Te Cu.
"Sayang Kun Hong tidak mau ikut suhu dan lebih suka menjadi murid dua orang itu, tentu sekarang diapun masih ikut Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li yang menjadi gurunya."
Wi Liong menutup penuturannya.
Kam Ceng Swi menarik napas panjang, diam-diam ia merasa menyesal sekali mengapa Kun Hong tidak mau ditolong oleh Thian Te Cu seperti Wi Liong yang ternyata sekarang telah memiliki kepandaian tinggi.
"Di mana anak itu? Sudah sepuluh tahun berpisah, apa ia tidak ingat padaku?"
Orang tua itu berkata seorang diri.
Wi Liong memandang heran.
Masa ada anak tidak ingat kepada ayahnya?
Akan tetapi Kam Ceng Swi berpikir lain.
Ia teringat akan waktu dahulu ketika ia mengangkat seorang bayi yang menangis di samping jenazah ibunya.
Teringat betapa dengan susah payah ia memelihara bocah itu sampai besar, bocah yang ia cinta seperti kepada anak sendiri.
Kemudian anak itu menghilang, diculik manusia-manusia iblis!
Kam Ceng Swi terkejut dan sadar dari lamunannya ketika Wi Liong menegurnya.
"Lo-enghiong, kau membawa aku ke sini apakah hanya untuk bertanya tentang Kun Hong?"
"Betul...... hanya untuk itu......."
"Akan tetapi tadi lo-enghiong kelihatan seperti orang ketakutan dan agaknya ingin cepat-cepat membawa aku keluar dari kota Ningpo, Sebetulnya apakah yang menggelisahkan hati lo-enghiong?"
"Kau bermata awas dan berotak cerdik, kuharap saja Kun Hong juga seperti kau ini......"
Kakek itu mengangguk-angguk.
"ya benar....... dia dulu juga cerdik dan pintar dan sebaya dengan kau........."
"Aku lebih tua satu dua tahun."
Kata Wi Liong teringat kepada bocah cilik yang nakal sekali dan dahulu begitu bertemu telah menantangnya dan mengajaknya berkelahi!"Akan tetapi, siapakah yang lo-enghiong takuti tadi?"
"Thai Khek Sian,"
Jawab Kam Ceng Swi dengan suara sungguh-sungguh.
"aku tadi takut dia datang."
"Penghuni Pek-go-to?"
Kakek itu mengangguk.
"Dia orang nomor satu, atau setidaknya seorang di antara tokoh-tokoh terbesar di dunia Mo-kauw. Kepandaiannva tinggi bukan main dan kekejamannya sudah terkenal di kolong langit. Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan tokoh besar itu."
"Aku tidak takut!"
Kata Wi Liong yang merasa tidak senang setelah mengetahui bahwa dia tadi diajak lari-lari karena takut terhadap Thai Khek Sian.
Masa dia harus berlari-lari.
melarikan diri ketakutan?
"Akan tetapi aku takut, orang muda.
aku khawatir kalau-kalau kau akan mengalami bencana kalau Thai Khek Sian muncul.
Oleh karena itulah aku mengajakmu melarikan diri."
Wi Liong berperasaan halus.
Ia menjadi terharu mendengar kata-kata ini.
Tadi di atas loteng rumah makan ia telah menyaksikan sendiri keberanian dan kegagahan tokoh Kun-lun-pai itu, menyaksikan betapa untuk menjaga nama dan kehormaitan, kakek itu tidak takut menghadapi maut di tangan dua orang wanita utusan Pek-go-to yang lihai.
Akan tetapi sekarang, karena takut kalau dia sampai terkena celaka, kakek itu mengajaknya lari.
Ini merupakan tanda bahwa kakek itu sayang kepadanya!
Mungkin sayang ini timbul karena kakek yang hidupnya kesunyian ini terlalu rindu kepada puteranya sehingga merasa sayang terhadap setiap orang muda.
Buktinya kakek itupun di rumah makan telah beramah-tamah dan bergembira dengan serombongan anak muda yang tidak dikenal sama sekali.
"Harap lo-enghiong jangan mengkhawatirkan aku. Kiranya Thai Khek Sian takkan begitu mudah mencelakakan aku, siapapuh juga dan orang macam apa dia itu!"
Setelah berkata demikian. Wi Liong lalu memutar tubuh dan berlari cepat hendak kembali ke kota Ningpo.
"Wi Liong, tunggu........!' Kam Ceng Swi berseru sambil lari mengejar. Kakek ini sudah tahu betul siapa adanya Thai Khek Sian dan orang macam apa tokoh iblis ini. Ia amat sayang melihat Wi Liong yang tentu akan celaka apabila bertemu dengan Thai Khek Sian.
"Kalau lo-enghiong takut kepada Thai Khek Sian, jangan kembali, biar aku sendiri yang melihat orang macam apakah itu!"
Jawab Wi Liong.
Tahu bahwa orang muda yang behati keras dan tabah ini tak mungkin mau menurut bujukannya agar menjauhkan diri dari Thai Khek Sian.
terpaksa Kam Ceng Swi berlari cepat mengikuti Wi Liong, hatinya gelisah bukan main.
Kita tinggalkan dulu Wi Liong dan Kam Ceng Swi untuk menengok ke puncak Wuyi-san.
karena sepeninggal Wi Liong yang turun gunung memenuhi perintah pamannya, di puncak itu terjadi hal yang menarik.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, di puncak Wuyi-san hanya tinggal tiga orang, yaitu Thian Te Cu.
Kwcc Sun Tek; dan Thio Wi Liong.
Setelah sekarang Wi Liong turun gunung dan Thian Te Cu mengurung diri di dalam kamar, Kwee Sun Tek hidup kesepian.
Baiknya ia telah banyak mempelajari ilmu batin dan kepandaiannya sudah meningkat tinggi maka ia melewatkan waktu menganggurnya dengan bersamadhi atau melatih ilmu silatnya yang ia dapatkan dari petunjuk Thian Te Cu.
Kalau dibandingkan dengan dahulu, Kwee Sun Tek kini telah memperoleh kemajuan hebat, dan biarpun kedua matanya sudah buta, akan tetapi kepandaiannya jauh lebih sempurna dari pada dahulu ketika ia masih pandai melihat.
Pada suatu hari, ketika Kwee Sun Tek tengah duduk terpekur, mengenang dan mendoakan agar keponakannya selamat di perjalanan dan bisa mendapatkan keterangan tentang Beng Kun Cinjin musuh besarnya, mendengar suara tindakan kaki orang yang amat ringan.
Kagetlah hati Kwee Sun Tek karena biarpun ia buta, telinganya yang berpendengaran tajam terlatih itu dapat membedakan tindakan kaki orang.
Bahkan ia dapat mengetahui bahwa yang datang adalah seorang luar yang tidak bermaksud baik, kentara dari tindakan kaki ringan berhati-hati dan ragu-ragu seperti lakunya seorang pencuri memasuki rumah orang.
Kwee Sun Tek cepat menyelinap dan bersembunyi di balik tembok tebal, menanti dengan hati berdebar.
Siapakah orangnya yang berani mendatangi tempat bertapa Thian Te Cu dan mau apa?
Ia merasa menyesal sekali bahwa ia tidak dapat melihat lagi siapa orangnya yang berani mati ini.
Menilik dari suara gerakan kakinya, biarpun pendatang ini memiliki ginkang yang cukup tinggi, akan tetapi bukan apa-apa baginya, apa lagi bagi Thian Te Cu!
Benar-benar menggelikan sekali kalau orang dengan tingkat kepandaian seperti itu saja berani menyerbu tempat tinggal Thian Te Cu!
"Tentu seorang yang masih muda,"
Pikir Kwee Sun Tek.
Kalau seorang kang-ouw yang sudah lanjut usianya sudah pasti pernah mendengar tentang Thian Te Cu dan tidak begitu bodoh untuk mencari penyakit.
Sayang Kwee Sun Tek tidak dapat melihat bahwa dugaannya itu memang tepat sekali.
Orang yang berani mati mengunjungi tempat kediaman Thian Te Cu sebagai seorang pencuri ini bukan lain adalah Kam Kun Hong!
Pemuda ini setelah berhasil meninggalkan Tok-sim Sian-li, gurunya yang mati-matian mencintainya seperti seorang kekasih itu, lalu lari terus menuju ke Wuyi-san.
Memang ke situlah ia hendak pergi, dengan maksud untuk mencuri atau merampas pedang pusaka Cheng-hoa-kiam dari tangan Kwee Sun Tek atau Thio Wi Liong juga sekalian untuk menjajal kepandaian Wi Liong guna menebus kekalahannya sepuluh tahun yang lalu!
Ia tidak perduli akan peringatan Tok-sim Sian-li yang takut setengah mati mendengar muridnya terkasih itu hendak pergi ke Wuyi-san.
Akan tetapi ia tidak takut.
Mana ada anak kerbau yang masih hijau takut akan harimau?
Demikianlah, pada siang hari itu Kun Hong berhasil mendaki Wuyi-san sampai di puncak.
Melihat keadaan yang sunyi sepi itu, hati Kun Hong makin besar.
Kini ia telah maju dan sampai di depan rumah batu.
Ia heran dan kagum melihat tempat tinggal terbuat dari pada batu ditumpuk-tumpuk itu, tempat tinggal yang kelihatan megah dan angker.
Pintu depan yang lebar merupakan gapura yang tidak ada daun pintunya, terbuka celangap begitu saja seperti mulut gua.
Kun Hong berlaku hati-hati, menghampiri pintu gapura itu dengan perlahan seluruh urat di tubuhnya menegang, siap menghadapi setiap kemungkinan.
Akan tetapi sunyi-sunyi saja.
Ia masuk dan longak-longok.
Sunyi tidak terdengar suara apa-apa.
Rumah kosongkah?
Salah carikah dia?
Tak mungkin.
Di puncak tidak ada rumah lain.
Inilah rumah satu-satunya.
Ataukah penghuninya sedang pergi atau sudah pindah?
Kun Hong tidak segera masuk, memandang dari luar penuh perhatian.
Ia melihat lantai dan dinding batu bersih terpelihara, hatinya lega.
Rumah ini terawat tanda penghuninya ada.
Andaikata keliru memasuki rumah orang lain, ia dapat menanyakan di mana tempat tinggal Thian Te Cu.
Dengan besar hati dan tabah sekali Kun Hong masuk, celingukan dan mulai memeriksa.
Sama sekali ia tidak mengira bahwa gerak-geriknya diperhatikan orang, di "ikuti"
Pendengaran yang amat tajam.
Segera Kun Hong kecewa sekali karena di dalam rumah batu yang besar itu ia tidak melihat siapapun juga.
Rumah kosong, pikirnya.
Telah ada tiga buah kamar dimasukinya, namun di dalam kamar-kamar itu tidak terdapal apa-apa.
Ia memeriksa terus, penasaran.
Kwee Sun Tek yang mengikuti gerak-gerik pemuda itu dengan pendengarannya, tahu belaka ke mana Kun Hong bergerak dan diam-diam tersenyum mendengar "pencuri"
Itu memasuki kamar-kamar kosong.
Akan tetapi ia terkejut sekali ketika mendengar gerakan pendatang itu yang membuka pintu kamar Thian Te Cu!
Benar-benar mencari celaka orang itu, pikirnya dengan hati berdebar.
Ia menanti dengan penuh perhatian, mendengarkan dengan kepala dimiringkan, la.
mendengar pintu kamar itu dibuka dari luar dan gerakan kaki maling itu memasuki kamar dan......
tidak terjadi sesuatu, sunyi saja!
Sun Tek terheran-heran, apa lagi ketika ia mendengar maling itu keluar dari kamar Thian Te Cu dan menggerutu.
"Sialan benar, rumah setan ini kosong agaknya......!"
Jelas bahwa Thian Te Cu tidak Berada di dalam kamarnya.
Ke mana perginya orang tua itu?
Sun Tek benar-benar merasa heran sekali, baru saja tadi ia mendengar gerakan kakek itu di kamarnya.
Akan tetapi orang selihai Thian Te Cu memang tak mungkin diikuti gerak-geriknva.
Kun Hong memang tidak melihat siapa-siapa di dalam kamar tadi dan kini ia memasuki kamar terakhir yang berada di belakang.
Melihat orang memasuki kamar belakang.
Kwee Sun Tek menjadi khawatir, karena di ruangan belakang inilah ia menyimpan barang-barang dan juga pedang Cheng-hoa-kiam!
Cepat ia menyelinap dan bersembunyi di balik dinding, mengintai dari sebuah lubang yang sengaja dibuat untuk mengintai ke dalam ruangan.
Begitu memasuki ruangan ini, Kun Hong mengeluarkan seruan tertahan.
"Aahhh, tempat ini tentu ada penghuninya........."
Pikirnya melihat kotak-kotak dan peti-peti yang berjajar di situ.
Ia teringat akan pedang Cheng-hoa-kiam yang dahulu dirampas oleh Thian Te Cu dari tangan Bu-ceng Tok-ong.
Timbul harapannya untuk mencari pedang itu.
Siapa tahu berada di antara peti-peti itu.
Kun Hong bukan seorang pencuri, akan tetapi sekarang terpaksa ia membuka-bukai peti orang lain.
Hatinya berdebar dan tangannya sedikit gemetar, Ia melihat pakaian-pakaian orang, pakaian sederhana, tapi tidak melihat pedang.
Ia membuka peti ke dua dan seterusnya.
Isinya selain pakaian, hanya perabot-perabot dapur dan makan.
Ia tiba pada peti terakhir, peti kecil panjang yang terletak di sudut, dekat pintu.
Tepat di atas peti itu terdapat lubang pada dinding dari mana Sun Tek mengintai.
Tentu saja ia menyelinap pergi ketika mendengar orang di dalam ruangan itu mendekati lubang, dan mengintai lagi dengan hati-hati.
Kun Hong membuka peti, bergerit bunyi tutup peti dibuka saking sudah lama tidak pernah dibuka.
Sinar putih berkilauan keluar dari peti itu.
sinar pedang Cheng-hoa-kiam yang tidak bersarung.
Kun Hong mengeluarkan seruan girang.
Ia tidak tahu apakah pedang ini betul Cheng-hoa-kiam, akan tetapi tak dapat disangkal lagi sebuah pedang pusaka yang amat baik.
Pada saat itu ia mendengar suara angin menyambar, suara yang datangnya dari pintu.
Ia menengok dan matanya masih melihat bayangan berkelebat.
Akan tetapi ia tidak yakin apakah betul ia melihat bayangan orang tadi lewat di pintu.
Kalau betul orang mengapa tidak terdengar tindakan kakinya dan bayangan itu majunya demikian lambat mengapa tidak kelihatan orangnya?
Memang betul bentuknya seperti sosok tubuh manusia, akan tetapi mana ada manusia bisa terbang dan menghilang?
Bergidik juga pemuda gagah ini dan bulu tengkuknya berdiri.
Ia mempunyai bermacam dugaan.
Entah matanya yang melihat bayangan karena memikirkan yang bukan-bukan, entah betul telah melihat setan di siang hari atau.......
melihat bayangan manusia yang luar biasa saktinya.
Saking tercengang dan kaget, ia sampai tidak melihat orang lain yang berdiri tepat di depannya, hanya terpisah tembok batu, orang yang kepalanya melongok dari balik lubang di depannya.
Perhatiannya sudah seluruhnya habis ditujukan kepada bayangan aneh di pintu tadi maka Kun Hong tidak memperhatikan lubang di atas kepalanya.
Kalau ia melihat wajah yang berjenggot lebat, sepasang mata yang melotot di depannya itu, tentu ia akan menjadi kaget sekali.
Akan tetapi wajah itu hanya sebentar saja mengintai, kemudian lenyap.
Kun Hong tidak segera mengambil pedang.
Ia berlaku hati-hati, maklum bahwa pedang pusaka tidak digeletakkan begitu saja.
Kalau tidak ada orang menjaganya, tentu ada rahasianya.
Ketika ia mengamat-amati, alangkah girang hatinya melihat gagang pedang itu ada ukiran dua huruf kecil "Cheng Hoa".
Tak salah lagi, inilah Cheng-hoa-kiam yang dimaksudkan oleh suhunya.
Inilah pedang pusaka yang harus ia rampas.
Alangkah mudahnya, tinggal mengambil saja!
Akan tetapi belum juga tangannya menjamah pedang, terdengar bentakan keras.
"Maling rendah! Kau hendak mencuri apa?"
Kun Hong kaget sekali, apa lagi ketika orang itu menggerakkan tangan mencengkeram ke pundaknya dengan tenaga dahsyat sampai mendatangkan angin, ia cepat melompat ke samping dan terus kabur!
Kun Hong bukan seorang penakut, akan tetapi ia bukan pencuri dan sekarang ia kepergok sedang hendak melakukan pencurian, ia menjadi malu sekali dan tidak mau melayani orang.
Lebih baik lekas-lekas kabur sebelum orang mengenalnya.
Alangkah malunya kalau kelak ia disohorkan sebagai seorang pencuri!
Kun Hong memang dididik oleh dua orang manusia iblis yang tidak segan-segan membunuh orang, menyiksa orang atau mencurangi orang, akan tetapi mencuri?
Ini adalah perbuatan rendah yang manusia-manusia macam Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li sekalipun tidak sudi melakukannya!
Mereka mau merampas, mau merampok, akan tetapi tidak sudi mencuri.
Mempergunakan kesempatan selagi orang tidak ada atau tidur untuk mengambil barangnya, inilah perbuatan pengecut dan tak tahu malu.
Sebaliknya, merampas atau merampok dilakukan mengandalkan kepandaian, setelah lebih dulu mengalahkan pemiliknya, inilah perbuatan yang termasuk perbuatan gagah.
Demikian jalan pikiran orang-orang macam mereka.
Sudah tentu saja jalan pikiran yang dipengaruhi oleh hukum rimba, hukum liar yang menentukan bahwa siapa kuat dia berkuasa.
Sudah tentu saja jalan pikiran macam ini tidak betul, karena mencuri, menyopet, merampas atau merampok bagi seorang manusia sama buruknya, sama jahatnya karena mengambil hak milik orang.
"Maling busuk, kau hendak lari ke mana"
Bentak Kwee Sun Tek yang cepat mengejar.
Biarpun kedua matanya sudah buta.
namun Sun Tek dapat bergerak cepat sekali dan pendengarannya yang tajam dapat membuat ia tahu ke mana larinya maling itu.
Dia sudah tinggal di puncak ini selama sepuluh tahun lebih, biarpun ia buta, namun ia sudah hafal benar akan keadaan di situ dan dapat bergerak leluasa sekali tanpa dibantu tongkat.
Tentu saja kalau ia pergi ke tempat lain, atau turun dari puncak, ia takkan dapat bergerak secepat itu.
harus berhati-hati agar' jangan terjeblos ke dalam jurang.
Kun Hong makin bingung.
Ternyata pengejarnya itu cepat sekali gerakannya.
Untuk melawan, ia merasa malu karena ia telah melakukan perbuatan mencuri.
Di depannya terdapat batu-batu gunung yang besar dan cepat ia menyelinap dan bersembunyi di balik sebuah batu besar.
Aneh!
Orang yang mengejarnya tiba-tiba berhenti di dekat batu itu, mengerutkan kening dan miringkan kepala, berdiri tegak tidak bergerak sedikitpun.
Matanya tetap melotot memandang ke depan tanpa sinar, hanya telinga kiri yang dipasang ke arah depan.
Melihat hal ini.
Kun Hong terheran-heran.
Sekarang ia mulai mengenal muka ini.
Benar, tak salah lagi.
Inilah Kwee Sun Tek yang dulu pernah membawa Thio Wi Liong ke puncak Kun-lun-san!
Akan tetapi mengapa agaknya orang ini menjadi buta?
Memang dulu Kun Hong tidak tahu bahwa Sun Tek yang matanya melotot itu sebetulnya telah buta.
Ia telah dibawa pergi Tok-sim Sian-li dari puncak ketika orang-orang lain mendapat kenyataan tentang kebutaan Sun Tek.
Melihat bahwa orang yang mengejarnya adalah Kwee Sun Tek paman dari Thio Wi Liong dan orangnya buta lagi, lenyap rasa malu di hati Kun Hong.
Kalau pengejarnya buta, ia takut apa?
Malah ia bisa mempermainkannya, pikir pemuda nakal ini.
Perlahan ia keluar dari tempat sembunyinya, akan tetapi betapapun perlahan gerakannya, masih terdengar oleh Kwee Sun Tek yang cepat melompat mendekat dan membentak.
"Maling cilik, kau hendak lari ke mana?"
"Orang tua, aku tidak lari karena takut, hanya aku tidak tega melawan seorang buta,"
Jawab Kun Hong penuh ejekan.
"Setan keparat! Apa kau tidak tahu bahwa kau telah datang di tempat kediaman Thian Te Cu Lo-siansu? Mengapa kau berani berlaku kurang ajar? Siapakah kau?"
"Aku tidak kurang ajar. Memang aku datang hendak mengambil Cheng-hoa-kiam. Akan tetapi bukankah pedang itu dahulu juga dapat orang merampas dari tangan orang lain? Sekarang giliranku untuk memilikinya. Mau tahu aku siapa? Cari saja di kota Poan-kun, keluarga Kwa......"
Memang Kun Hong sengaja mempermainkan.
Dalam menghadapi Kwee Sun Tek itu ia teringat akan pengalamannya di dalam hutan dekat kota Poan-kun ketika ia dikeroyok anjing-anjing kepunyaan Ciok Kim Li gadis manis itu.
la teringat ketika Ciok Sam, ayah gadis itu yang kemudian dibunuhnya, marah-marah dan menyatakan bahwa anjing-anjing itu didapat dari Kwa-lo-eng-hiong di Poan-kun.
Maka nama inilah ia pergunakan untuk mempermainkan Kwee Sun Tek.
Tidak nyana sama sekali bahwa Kwee Sun Tek kelihatan terkejut mendengar nama ini.
"Apa kau bilang? Kau maksudkan Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek yang tinggal di Poan-kun?"
Tentu saja Kun Hong melengak.
Ia tidak mengenal siapa itu Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek, juga tadi nama keluarga Kwa di Poan-kun ia bawa-bawa secara ngawur saja.
Akan tetapi sudah kepalang membohong, sambil tertawa ia berkata.
"Tentu saja, mana ada orang she Kwa lainnya?"
Kwee Sun Tek kelihaian bingung dan terheran-heran.
"Kau......... kau apanya?"
Kun Hong memang seorang yang berwatak nakal, suka mempermainkan orang dan suka melihat orang menderita.
Kini menghadapi Kwee Sun Tek yang buta, ia ingin mempermainkan kakek ini, maka ditanya begitu ia menjawab makin melantur lagi.
"Aku? Ah, aku mantunya!"
Sungguh sama sekali tidak dinyana oleh Kun Hong bahwa jawabannya ini membuat Sun Tek tiba-tiba menjadi pucat mukanya.
"Ucapan apa ini?! Kau mau bilang bahwa kau suami Kwa Siok Lan......?"
Untuk kedua kalinya Kun Hong tercengang.
Bagaimana ada hal yang begitu kebetulan?
Dia tadi, ngawur saja mengaku mantu dari orang bernama Kwa Cun Ek tanpa mengetahui apakah orang she Kwa itu punya anak perempuan ataukah tidak.
Dan ternyata orang itu betul-betul punya anak perempuan yang agaknya bernama Kwa Siok Lan!
Sambil menahan ketawanya, pemuda nakal itu menjawab.
"Tentu saja!"
"Kau bohong! Penipu!!"
Kwee Sun Tek membentak sambil menyerang hebat dengan pukulan tangan kiri, disusul cengkeraman tangan kanan.
Serangan ini dahsyat sekali dan tenaga lweekang dari Kwee Sun Tek tak boleh disamakan dengan dahulu sebelum ia menerima petunjuk dari Thian Te Cu.
Kun Hong sampai menjadi kaget sekali dan cepat-cepat ia melompat mundur untuk menyelamatkan diri dari pukulan dan cengkeraman berbahaya itu.
"Nanti dulu!"
Ia berseru, masih belum hilang kagetnya menyaksikan penyerangan demikian hebatnya dari kakek ini.
"Bagaimana kau bisa bilang aku pembohong dan penipu?"
"Kwa Siok Lan itu tunangan keponakanku Wi Liong, dia masih gadis mana bisa kau bilang bahwa kau suaminya?"
Bentak Kwee Sun Tek.
Memang hal ini betul.
Kwa Cun Ek pernah datang mengunjungi Thian Te Cu di Wuyi-san untuk sekedar menyampaikan hormat dan kagumnya kepada tokoh besar ini.
Dia bertemu dengan Kwee Sun Tek dan juga melihat Wi Liong.
Timbul rasa sukanya melihat pemuda itu, apa lagi melihat bahwa Wi Liong adalah murid Thian Te Cu.
Ia lalu berunding dengan Kwee Sun Tek, mengusulkan perjodohan antara puteri tunggalnya, Kwa Siok Lan dengan Wi Liong.
Tadinya Kwee Sun Tek belum dapat mengambil keputusan, akan tetapi Thian Te Cu menyatakan bahwa memang Wi Liong berjodoh dengan puteri Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek ini, maka ikatan jodoh diikatlah.
Ketika itu Wi Liong baru berusia tigabelas tahun dan sampai dewasa anak ini belum pernah bertemu muka dengan gadis yang menjadi tunangannya, sungguhpun ia telah tahu hahwa tunangannya bernama Kwa Siok Lan, puteri dari tokoh besar di dunia kang-ouw yang berjuluk Siang-jiu Lo-thian (Sepasang Kepalan Mengacau Langit).
Keterangan Lu tentu saja membuat Kun Hong kaget sekali juga girang karena ia mendapat kesempatan mempermainkan paman dari Wi Liong ini, bahkan dapat mengacaukan urusan perjodohan Thio Wi Liong, orang yang ia benci semenjak mereka saling bertemu sepuluh tahun yang lalu.
"Aku dan nona Kwa belum menikah, akan tetapi sudah saling mencinta dan berjanji kelak akan menikah. Apakah itu tidak sama halnya dengan ikatan perjodohan?"
Ejeknya dan pemuda yang curang ini tiba-tiba mengirim pukulan ke arah dada Kwee Sun Tek.
"Bukkk!!"
Pukulan itu tepat mengenai dada orang buta itu.
Hal ini tidak mengherankan karena ketika mendengar ucapan Kun Hong.
Kwee Sun Tek menjadi demikian kaget, heran dan marah sampai ia berdiri melenggong, perhatiannya terpecah dan ketajaman telinganya terganggu.
Tentu saja ia tidak dapat melihat datangnya pukulan yang tepat mengenai dadanya.
Pukulan itu hebat bukan.main.
Pukulan Toat-sim-ciang (Pukulan Tangan Pencabut Hati) warisan Tok-sim Sian li yang amat hebat, selain mengandung tenaga lweekang juga mengandung hawa beracun.
Orang biasa takkan sanggup menahan dan akan tewas seketika kalau terkena pukulan ini.
Akan tetapi tubuh Kwee Sun Tek sudah memiliki kekuatan sinkang yang tangguh.
Apa lagi karena matanya huta, ia selalu melindungi tubuhnya dengan aliran sinkang untuk menjaga serangan gelap.
Terkena pukulan hebat itu ia terjengkang dan roboh bergulingan.
Dadanya terasa sakit, akan tetapi tidak mengganggu pernapasannya, berarti ia tidak menderita luka terlalu hebat.
Sekali berpoksai (bersalto) ia sudah berdiri lagi!
Kun Hong tercengang.
Pukulannya tadi hebat sekali dan kakek ini ternyata hanya terguling saja dan dapat segera bangun kembali.
Dari kenyataan ini saja sudah jelas bahwa ia tidak akan dapat menangkan kakek aneh ini maka ia cepat lari, mengambil jalan memutar dan......
kembali ke rumah batu untuk mengambil pedang Cheng hoa kiam!
Ia sengaja lari dulu turun dari puncak, ketika melihat kakek itu mengejar ia menyelinap dan memutar kemudian lari naik lagi sebelum Kwee Sun Tek maklum akan siasatnya.
Dengan mudah ia mendaki puncak dan memasuki rumah batu, langsung menuju ke ruangan belakang di mana pedang Cheng-hoa-kiam tersimpan.
Akan tetapi matanya terbelalak kaget ketika ia melihat bahwa peti tempat pedang itu terbuka, sedangkan pedang itu sendiri telah lenyap!
"Celaka.........!"
Ia berseru dan membanting kaki.
Ia telah didahului oleh orang lain.
Tiba-tiba ia teringat akan bayangan aneh yang ia lihat sekelebatan ketika ia pertama kali datang di tempat itu.
Cepat ia melompat melalui pintu dan mencari ke seluruh isi rumah.
Namun hasilnya sia-sia belaka.
Ia tidak melihat seorangpun manusia.
"Kwee Sun Tek manusia celaka!"
Ia memaki marah.
"Kalau tidak karena dia. tentu pedang itu sudah kubawa tadi!"
Kun Hong menjadi marah sekali dan kemarahan ini memuncak ketika ia melihat kedatangan Kwee Sun Tek dari jauh.
Ia tidak perduli lagi akan kelihaian orang tua itu yang tadi sudah ia rasai, saking marahnya ia malah lari memapaki orang tua itu sambil berseru.
"Manusia celaka, karena kau pedang yang hendak kubawa telah hilang!"
Kwee Sun Tek berhenti dan terkejut.
"Hilang? Kalau bukan kau maling kecil yang mengambil, siapa lagi?"
Bentaknya.
"Setan! Kalau aku yang ambil tak perlu aku berdiam lebih lama di sini!"
Kun Hong marah sekali dan menyerang dengan hebat.
Karena usahanya untuk merampas pedang dan mencoba kepandaian Wi Liong gagal, ia menumpahkan kemarahannya kepada Kwee Sun Tek.
Sementara itu, Sun Tek heran sekali.
Kalau pemuda ini betul mantu atau masih ada hubungan dengan Kwa Cun Ek, tak mungkin macam ini orangnya.
Dan pemuda yang datang hendak mencuri pedang ini mengapa bilang pedangnya hilang dan marah-marah kepadanya?
Benar-benar pemuda aneh sekali!
"Kau benar-benar manusia tak tahu diri!
Kepandaianmu masih begini rendah berani naik ke Wuyi-san untuk berlagak.
Jangan kaukira aku orang tua yang sudah lemah takut kepadamu!"
Jawab Sun Tek sambil menangkis dan dua orang ini bertempur dengan hebat.
Namun, baru duapuluh jurus lebih saja Kun Hong terpaksa harus mengakui kehebatan ilmu silat dan tenaga lawan.
Setiap kali lengannya beradu dengan lengan lawan, ia merasa tulang-tulangnya sakit semua.
Kalau dia tidak memiliki kegesitan yang ia warisi dari Tok-sim Sian-li, kiranya sukar baginya untuk masih dapat bertahan.
Pukulan yang dilakukan oleh kedua tangan kakek itu menyambar-nyambar dahsyat.
Kun Hong mulai terdesak hebat dan setelah lewat iimapuluh jurus, ia hanya dapat mengelak dan menangkis, main mundur saja.
Sama sekali ia tidak diberi kesempatan untuk membalas.
Hebat sekali kemajuan Kwee Sun Tek selama sepuiuh tahun ini.
Dia telah menjadi seerang sakti yang tinggi sekali ilmunya.
"Kun Hong jangan khawatir. Biar aku yang membikin mampus anjing buta ini!"
Terdengar suara nyaring sinar putih berkelebat menyilaukan mata ketika sebatang pedang menyambar leher Kwee Sun Tek.
Kaget sekali Kwee Sun Tek ketika tahu-tahu ada hawa dingin menyambar cepat.
Ia mengibaskan lengan bajunya dan melompat mundur.
Kun Hong cepat memandang dan melihat gurunya.
Tok-sim Sian-li, sudah berdiri dengan pedang di tangan!
Yang membikin Kun Hong kaget dan heran adalah melihat pedang itu.
Bukan lain pedang Cheng-hoa-kiam yang lenyap tadi.
Kiranya Tok-sim Sian-li yang mengambil!
Kun Hong menjadi merah mukanya.
Ia malu dan penasaran.
Masa melawan seorang buta saja ia kalah?
Dari malu dan penasaran ia menjadi marah.
Dengan seruan keras ia menerjang maju lagi, menyerang Kwee Sun Tek yang masih berdiri miring.
Namun kakek buta itu dengan mudah menangkis bahkan mengerahkan tenaga dalam targkisannya ini, membuat Kun Hong terhuyung ke samping, hampir roboh.
Pada saat itu, Tok-sim Sian-li sudah menerjang maju dengan pedang Cheng-hoa-kiam, menyerang Sun Tek dengan tusukan pada leher dibarengi cengkeraman tangan kiri dengan pukulan Toat-sim-ciang yang berbahaya.
Sun Tek cepat menggeser kaki mengelak dan mcngebutkan lengan bajunya menangkis pukulan ini.
Di lain saat, orang buta itu sudah dikeroyok dan dihujani serangan oleh Tok-sim Sian-li dan Kun Hong.
Biarpun tingkat kepandaiannya masih menang setingkat kalau dibandingkan dengan Kun Hong atau Tok-sim Sian-li, namun dikeroyok dua Sun Tek merasa berat juga.
Terutama sekali penyerangan dengan pedang oleh wanita iblis itu Benar-benar berbahaya.
Orang buta ini hanya mengaudalkan pendengarannya yang tajam dan pedang itu begitu tipis dan ringan sampai suaranya ketika menyambar tidak begitu dapat ditangkap oleh pendengaran.
Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan Kwee Sun Tek yang buta itu, tiba-tiba berkesiur angin dan terdengar Kun Hong bersama gurunya berseru kaget, lalu memutar tubuh dan keduanya lari tunggang-langgang turun dari puncak Wuyi-san seperti orang dikejar setan!
Kwee Sun Tek tidak mengejar bahkan segera memutar tubuhnya dan menjatuhkan diri berlutut ke arah rumah batu.
"Terima kasih atas pertolongan Siansu. Akan tetapi mengapa Siansu membiarkan saja mereka pergi membawa pedang Cheng-hoa-kiam?"
Terdengar suara halus dari dalam rumah batu, suara Thian Te Cu.
"Pedang itu haus darah, belum sampai waktunya menjadi milik Wi Liong."
Kwee Sun Tek menarik nanas panjang, maklum bahwa orang sakti itu tidak mau banyak bicara seperti biasanya dan.akan percuma saja kalau ia bertanya tentang pemuda yang mengaku suami Kwa Siok Lan itu.
Hatinya gelisah bukan main dan setiap hari ia mengharapkan kembalinya Wi Liong, keponakannya.
Sementara itu.
Kun Hong dan Tok-sim Sian-li lari secepatnya turun dari puncak.
Setelah tiba di dalam sebuah hutan di lereng, baru mereka berhenti dan terengah-engah mengambil napas.
"Berbahaya sekali........."
Kata Kun Hong sambil menghapus peluh dingin dari dahinya dengan lengan baju.
"Apa kubilang dulu!"
Kata Tok-sim Sian-li wajahnya yang masih cantik itu agak pucat.
"Thian Te Cu benar sakti dan lihai sekali. Hanya Thai Khek Siansu yang sanggup melawannya. Baiknya Thian Te Cu tidak bermaksud membunuh kita, kalau dia bermaksud demikian, apa kaukira kita bisa melarikan diri? Karena itu. kita harus cepat-cepat pergi ke pantai timur mencari Thai Khek Siansu di Pulau Pek-go-to. Kun Hong mengangguk-angguk. Memang pengalamannya yang tadi hebat sekali. Ketika dia dan Tok-sim Sian-li sedang mendesak Kwee Sun Tek yang buta namun cukup tangguh itu, tiba-tiba dia dan Tok-sim Sian-li merasa didorong-dorong orang dari depan. Pendorongnya tidak kelihatan, namun semacam tenaga aneh yang tidak tampak mendorong-dorong; mereka, mengacaukan semua serangan mereka bahkan telinga mereka mendengar suara perlahan namun jelas sekali "Pergilah...... Pergilah.......!"
Maklum bahwa mereka menghadapi orang yang memiliki kesaktian luar biasa baik Kun Hong maupun Tok-sim Sian-li menjadi keder bergidik dan tanpa banyak cakap lagi melarikan diri tunggang-langgang.
"Kau harus menjadi mund Thai Khek Siansu, baru kau dapat mengimbangi kepandaian pemuda yang menjadi murid Thian Te Cu."
Kata pula Tok-sim Sian-li yang maklum akan isi hati pemuda murid dan kekasihnya itu.
"Inikah pedang yang kau idam-idamkan? Boleh kauterima memang kuambil untukmu."
"Niocu, bagaimana kau bisa sampai di sini dan mengambil pedang ini?"
Tanya Kun Hong dengan suara halus sambil menerima pedang.
Betapapun jemunya kepada Tok-sim Sian-li.
wanita cabul yang dahulu menjadi gurunya ini benar-benar cinta kepadanya.
Tok-sim Sian-li tertawa, memperlihatkan giginya yang masih berderet bagus menarik.
"Anak baik, kaukira mudah begitu saja meninggalkan aku? Aku tahu bahwa kau yang keras hati tentu melanjutkan perjalanan ke Wuyi-san ini, maka aku segera mengejar secepat mungkin. Ketika kau dikejar oleh si mata buta, aku mempergunakan kesempatan itu untuk mengambil Cheng-hoa-kiam lalu datang membantumu."
Kun Hong mengangguk-angguk lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan turun Gunung Wuyi-san untuk menuju ke pantai laut timur mencari Thai Khek Sian.
Lama Kun Hong diam saja setelah menyelipkan pedang di punggung.
Ia masih mengenang pertemuan dan pertempuran melawan Kwee Sun Tek tadi.
Baru Kwee Sun Tek saja setelah tinggal dekat dengan Thian Te Cu sudah menjadi demikian kosen.
apa lagi Wi Liong, pikirnya gelisah.
Kemudian ia teringat akan percakapannya dengan Sun Tek tentang Kwa Cun Ek.
Ia menengok kepada Tok-sim Sian-li yang berjalan di sampingnya.
Kebetulan wanita ini sejak tadi menatap wajahnya yang tampan, dari samping, tatapan mata penuh kasih mesra dan sayang.
"Niocu. apakah kau mengenal nama Kwa Cun Ek?"
Secara tiba-tiba ditanya tentang nama orang yang tentu saja dikenal amat baik itu, Tok-sim Sian-li menjadi terkejut bukan main sampai alisnya terangkat tinggi dan digerak-gerakkan.
Bagaimana ia tidak mengenal Kwa Cun Ek?
Siang-jiu Lo-thian Kwa Cun Ek dahulu adalah kekasihnya, maiah menjadi calon suaminya!
Akhirnya entah mengapa Kwa Cun Ek meninggalkannya dan menikah dengan Tung-hai Sian-li sampai mempunyai seorang anak perempuan bernama Kwa Siok Lan.
Untuk menenteramkan hatinya yang berdebar, ia pnra-pura bertanya.
"Kwa Cun Ek yang manakah?".
"Kwa Cun Ek yang tinggal di Poan-kun dan yang dijuluki Siang-jiu Lo-thian."
Mendengar ini, Tok-sim Sian-ii tidak kaget lagi karena ia memang sudah dapat memulihkan hatinya. Dengan sikap tenang ia menjawab.
"Dia seorang tokoh kang-ouw yang cukup terkenal. Tentu saja aku mengenalnya. Akan tetapi. mengapa kau tanya tentang dia?"
Kun Hong tertawa.
"Kwee Sun Tek yang buta itu mengira aku betul-betul calon mantu Kwa Cun Ek, tunangan dari nona Kwa Siok Lan yang katanya telah ditunangkan dengan keponakannya!"
Sambil tertawa-tawa geli Kun Hong menceritakan bagaimana ia mempermainkan Kwee Sun Tek dan tanpa disengaja membawa-bawa nama Kwa Cun Ek yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Bagaimana ada hal demikian kebetulan?"
Tok-sim Sian-li berseru heran.
"Dan lebih kebetulan lagi. aku dengan Kwa Cun Ek adalah......adalah kenalan baik sekali. Dia memang mempunyai anak perempuan, anak dari Tung-hai Sian-li. isterinya yang kini sudah dicerainya. Sudahlah, kelak kau akan dapat bertemu dengan mereka. Sekarang, paling perlu mari kita mencari Thai Khek Siansu agar kau diberi pelajaran lebih mendalam karena kepandaianmu masih jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan murid Thian Te Cu."
Kun Hong maklum akan kebenaran ucapan ini.
Memang semenjak bertanding dengan Kwee Sun Tek yang buta, kemudian merasai bekas tangan Thian Te Cu yang sakti, ia bergidik dan dapat menduga bahwa menghadapi Wi Liong ia tentu akan kalah lagi.
Thai Khek Sian adalah sucouw-nya, karena tokoh ini masih paman guru dari Bu-ceng Tok-ong, tentu kepandaiannya hebat.
Kalau dia bisa mewarisi kepandaian sucouw ini, alangkah baiknya.
Maka berangkatlah Kun Hong bersama Tok-sim Sian-li menuju ke pantai laut timur, ke Puiau Pek-go-to yang berada di antara Kepulauan Couw-san-to.
Kedatangan mereka disambut dengan gembira oleh Thai Khek Sian dan selir-selirnya.
Thai Khek Sian sendiri masih belum hilang rasa cintanya kepada Tok-sim Sian-li.
maka kedatangan wanita ini tentu saja menggembirakan hatinya.
Adapun selir-selirnya yang jumlahnya belasan orang, muda-muda dan cantik-cantik itu, juga diam-diam merasa amat gembira menerima tamu seorang pemuda ganteng seperti Kam Kun Hong!
Dalam waktu singkat saja Kun Hong sudah menjadi "sahabat baik"
Dari Cheng In dan Ang Hwa, dua orang selir berbaju hijau dan ungu yang merupakan selir-selir kepala, juga murid-murid terkasih dari Thai Khek Sian.
Kembali Tok-sim Sian-li membuktikan cinta kasihnya yang mendalam terhadap Kun Hong.
Mempergunakan pengaruhnya di depan Thai Khek Sian.
ia membujuk dan memperingatkan Thai Khek Sian akan janjinya dulu untuk menurunkan kepandaian kepada Kam Kun Hong.
"Anak itu bakatnya luar biasa. Golongan kita masih belum mempunyai ahli waris. Kalau kau tidak menurunkan kepandaiamnu kepada seorang murid yang betul-betul pandai, siapa kelak yang akan menjaga nama kita? Siapa yang akan mengimbangi murid Thian Te Cu yang juga sudah menurunkan kepandaiannya kepada seorang pemuda bernama Thio Wi Liong?"
Demikian antara lain Tok-sim Sian-li membujuk gembong Mo-kauw itu.
Mendengar bahwa musuh sejak mudanya, Thian Te Cu, sudah menurunkan kepandaian kepada murid tergerak hati Thai Khek Sian Tentu saja segala macam ianji dengan aiudah dapat ia bataikan.
akan terata kenyataan oahwa Thian Te Cu sudah menurunkan kepandaian kepada seorang murid, tak boleh ia biarkan begitu saja.
Melawan Thian Te Cu sama-sama tuanya ia masih tidak gentar, akan tetapi kalau ada murid muda yang menggantikannya, inilah berat.
Ia harus mendapatkan murid yang baik pula untuk menyaingi musuh besar itu Demikianlah, setelah puas mendapat kenyataan bahwa Kun Hong betul-betul memiliki "tulang baik"
Thai Khek Sian mulai menurunkan kepandaiannya kepada pemuda itu yang belajar dengan amat tekunnya.
Kun Hong selama ini sudah mendapat bimbingan Bu-ceng Tok-ong dan Tok-sim Sian-li.
maka kini ia hanya menerima tambahan-tambahan saja, yaitu ilmu pukulan-pukulan yang aneh dan sakti dari sucouwnya.
Thai Khek Sian yang aneh luar biasa dan bukan seperti manusia biasa itu.
Di lain fihak.
Thai Khek Sian girang sekali melihat kemajuan murid baru ini.
"Setahun saja kau belajar seperti ini. kutanggung kau tidak akan kalah oieh murid si tua bangka Thian Te Cu!"
Mendengar ini Kun Hong girang sekali dan belajar makin giat.
Sementara itu.
Tok-sim Sian-li selalu mcndampinginya dan tentu saja dalam segala hal ia membantu muridnya yang terkasih.
Hanya satu hal yang menyakitkan hatinya, yaitu adanya hubungan yang tidak wajar antara muridnya itu dengan para selir muda Thai Khek Sian Akan tetapi, anehnya.
Thai Khek Sian sendiri tidak apa-apa.
menganggap hal itu "biasa"
Saja, malah menganjurkan Cheng In dan Ang Hwa melayani murid baru ini baik-baik karena kelak murid baru inilah yang akan menggantikan kedudukannya sebagai gembong Mo-kauw!
Ketika pada suatu heri kebetulan Thai Khek Sian melihat pedang di tangan Kun Hong tokoh besar ini berseru heran.
"Aahhh. bukankah itu Cheng-hoa-kiam?"
Sebelum Kun Hong sempat menjawab tahu-tahu pedang itu seperti "terbang"
Dari tangannya dan pindah ke tangan guru besar itu. Thai Khek Sian mengamat-amati pedang itu dan mengangguk-angguk.
"Tak salah lagi. ini Cheng-hoa-kiam! Mengapa pedang ini bisa terjatuh ke tanganmu? Apa Gan Tui sudah mati?"
Kun Hong tidak tahu siapa itu Gan Tui yang disebut sucouwnya.
"Teecu mendapatkan pedang ini dari tangan seorang bernama Kwee Sun Tek."
Katanya, kemudian Kun Hong menceritkan apa yang ia ketahui dari pedang itu.
Mula-mula dari tangan Sun Tek dirampas oleh Bu-ceng Tok-ong.
kemudian dari Bu-ceng Tok-ong berpindah ke tangan Thian Te Cu sampai akhirnya ia dan Tok-sim Sian-li berhasil mengambil pedang itu dari Wuyi-san, merampasnya dari tangan Kwee Sun Tek.
Thai Khek Sian memutar-mutar matanya.
menimang-nimang pedang itu dan bibirnya tersenyum aneh.
"Kalau Thian Te Cu merampas pedang ini tidak aneh dan itu berarti dia masih ingat urusan lama. Akan tetapi ia membiarkan kau merampasnya itu berarti hatinya sudah dingin lagi. Cheng hoa kiam........ Cheng-hoa-kiam kau benar-benar tak pernah tu! Dulu mengacaukan hati orang-orang muda. Ha-ha-ha! Dan orang-orang muda yang dulu kau permainkan sekarang sudah menjadi kakek-kakek seperti Thian Te Cu!"
Kembali Thai Khek Sian tertawa bergelak.
Kun Hong terheran-heran.
Baru sekarang ia melihat Thai Khek Sian tertawa dan bicara agak panjang.
Biasanya orang aneh ini hanya bicara seperlunya saja dan tak pernah tertawa.
Ketika ia bertemu dengan Tok-sim Sian-li, ia menceritakan pengalamannya tadi.
"Niocu. apakah kau tahu akan riwayat Cheng-hoa-kiam yang agaknya dikenal baik oleh Sucouw?"
Tanyanya. Tok-sim Sian-li menggeleng kepalanya, akan terapi iapun tertarik sekali."
"Biar aku akan mencoba supaya sucouw-mu suka menceritakannya kepadaku,"
Jawabnya.
Kekuasaan wanita terhadap pria memang luar biasa.
Betapapun keras hati seorang pria, pada suatu waktu akan datang seorang wanita yang akan sanggup menghancur-luluhkan hatinya yang keras itu.
Thai Khek Sian terkenal seorang yang keras hati, seorang aneh yang tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun juga.
Belasan erang selirnya yang muda-muda dan cantik-cantik juga tidak dapat mempengaruhinya.
Akan tetapi agaknya Tok-sim Sian-li merupakan kelemahannya.
Agaknya wanita inilah satu-satunya wanita yang dapat mempengaruhinya dan menembus kekerasannya.
Setelah dirayu oleh Tok-sim Sian li luluh juga hati Thai Khek Sian dan setengah malam lamanya ia bercerita tentang pedang Cheng-hoa-kiam yang menyangkut riwayatnya di waktu muda.
Agar kita semua mengenal Cheng-hoa-kiam dan tokoh-tokoh besar itu di waktu muda, mari kita ikuti ceritanya yang singkat-seperti di bawah ini.
Pedang Cheng-hoa-kiam sebetulnya adalah pedang rampasan dari Suku Bangsa Yucen (Nu-cen) yang bertempat tinggal di sebelah utara Shansi, yaitu ketika terjadi pertempuran hebat antara bala tentara Sung dan bala tentara Nucen.
Panglima Besar Sung yang terkenal gagah perkasa Gak Hui, merampas pedang ini dan selanjutnya pedang ini jatuh dari tangan ke tangan panglima-panglima besar sampai yang terakhir sekali, puluhan tahun yang lalu, terjatuh ke dalam tangan seorang panglima she Bu yang kemudian menjauhkan diri dari pergaulan ramai dan menjadi pertapa di Wuyi-san bernama Bu Tek Cinjin.
Dia pergi bertapa diikuti oleh dua orang kawannya, juga panglima-panglima yang berilmu tinggi, she Yap dan she Kui Aklirnya tiga orang ini menjadi kakek-kakek pertapa dan amat disegani orang, terkenal dengan sebutan Wuyi Sam-lojin (Tiga Orarg Kakek Gunung Wuyi).
Rupanya takdir sudah menentukan bahwa di antara tiga orarg kakek berusia lima puluh tahun ini akhirnya terjadi perpecahan.
Dan sebab perpecahannya benar-benar membikin kaget seluruh dunia kaag-ouw, sebab yang amat memalukan dan tak masuk di akal yaitu sebabnya adalah karena......
seorang gadis!
Gadis itu seorang yatim piatu yang hidup sengsara, menjadi pelayan seorang kaya raya digoda oleh majikannya, melarikan diri dan hendak membunuh diri di dalam hutan.
Akan tetapi ketika tubuhnya sudah tergantung dengan leher diikat dengan ikat pinggang sendiri, datang Wuyi Sam-lojin menolong dan menyelamatkan nyawanya.
Kemudian gadis ini dibawa ke Wuyi-san dan di sinilah mulai terjadinya percekcokan.
Mereka saling berebut untuk mengangkat gadis itu sebagai.....
murid, tak mau saling mengalah sampai terjadi adu kepandaian yang hebat.
Dan gadis itu lari ke dalam pondok, ketakutan dan makin berduka karena dia hanya menimbulkan keributan di antara tiga orang kakek sakti yang tadinya hidup tenteram.
Dapat dibayangkan betapa menyesal dan sebal hatinya karena ia mengira bahwa tiga orang kakek itu memperebutkannya untuk maksud yang tidak baik.
mengira bahwa tiga orang kakek ini tergila-gila kepadanya!
Oleh karena itu.
ketika akhirnya tiga orang tua ini agak mereda nafsu marahnya dan mencari gadis itu, mereka mendapatkan gadis itu telah tewas dengan leher hampir putus di dalam pondok.
Gadis itu dengan nekat telah membunuh diri, menggorok leher sendiri menggunakan pedang pusaka yang tergantung di tembok!
Bu Tek Cinjin marah sekali.
"Kita menolong gadis ini hanya untuk membunuhnya! Alangkah rendahnya! Pedang ini menjadi saksi akan kebodohan kita!"
Ia lalu mengusir dua orang sahabatnya itu yang pergi berpencaran dengan marah pula. Pedang pusaka itu lalu disimpan oleh Bu Tek Cinjin dan pada gagangnya diukir dua huruf "Cheng Hoa"
Yaitu nama gadis yang tewas itu!
Demikianlah, mulai saat itu pedang pusaka rampasan Gak Hui dari Suku Bangsa Nucen yang tadinya tidak diketahui apa namanya sekarang menjadi Cheng-hoa-kiam.
Tiga orang kakek dari Wuyi-san yang sakti itu setelah berpencaran; tidak pernah dapat melupakan peristiwa itu.
Mereka saling marah dan berpisah karena berebut murid, maka setelah mereka hidup sendiri-sendiri mereka masing-masing mengambil seorang murid.
Bu Tek Cinjin menjadi guru Thian Te Cu, kakek she Yap menjadi guru Thai Khek Sian, sedangkan kakek she Kui menjadi guru Gan Yan Ki yang kemudian menjadi tokoh besar dunia kang-ouw pula.
Sayang sekali Gan Yan Ki ini meninggal dalam usia tigapuluh tahun lebih, mengikuti isterinya yang telah meninggal lebih dulu karena sakit.
Lebih sayang lagi.
ilmunya yang tinggi, yang ia pelajari dari kakek she Kui, hanya sebagian saja yang dapat ia turunkan kepada putera tunggalnya yang baru berusia tiga-belas tahun.
Puteranya ini adalah Gan Tui yang kemudian lebih terkenal dengan nama Beng Kun Cinjin!
Rupa-rupanya permusuhan atau dendam karena urusan kecil antara "tiga orang kakek"
Ini turun-temurun.
Setelah mereka tidak ada lagi di dunia, murid-murid mereka juga tidak akur malah bersaing.
Terutama sekali Thai Khek Sian murid kakek Yap yang sudah mewariskan seluruh kepandaiannya, selalu mencari kesempatan untuk mengadu kepandaian dengan dua orang murid lain.
Akan tetapi ia kalah jauh oleh Gan Yan Ki maupun oleh Thian Te Cu.
Dengan hati sakit akhirnya Thai Khek Sian merantau ke barat, mempelajari ilmu silat tinggi dari partai hitam dan kembali dengan membawa ilmu yang amat tinggi dan menyeramkan.
Akan tatapi, tetap saja ia harus mengakui keunggulan Thian Te Cu yang masih terhitung suhengnya itu.
Pedang Cheng-hoa-kiam tetap dijadikan rebutan.
Tadinya oleh Bu Tek Cinjin pedang itu diberikan kepada Thian Te Cu.
Beberapa kali Thai Khek Sian mencoba untuk merampasnya, akan tetapi selalu ia kalah oleh Thian Te Cu, sungguhpun kekalahan itu hanya terjadi setelah melalui pergulatan yang sengit dan seni.
Boleh dibilang tingkat kepandaian mereka seimbang, hanya Thian Te Cu lebih matang tenaga dalamnya dan lebih murni hawa sakti di dalam tubuhnya.
Makin tua mereka makin dingin terhadap urusan pedang itu.
Akhirnya ketika Gan Yan Ki meninggal dunia, sebagai seorang suheng.
apa lagi sebagai seorang yang mulai tertarik oleh iimu kebatinan.
Thian Te Cu menjadi kasihan dan datang menengok.
Ia amat kasihan melihat Gan Tui, malah ia lalu memberikan pedang Cheng-hoa-kiam kepada Gan Tui dan menurunkan beberapa macam ilmu pukulan kepada anak yang baru belasan tahun usianya itu.
Demikianlah riwayat singkat dari Cheng-hoa-kiam.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, pedang Cheng-hoa-kiam itu oleh Gan Tui atau Beng Kun Cinjin diberikan kepada murid perempuannya, Kwee Goat.
Kemudian ketika Beng Kun Cinjin tersesat dan tergila-gila oleh Kui Hui Niang sehingga rela diperalat oleh penjajah menjadi kepala pengawal, pedang itu dibawa oleh Kwee Sun Tek yang menyelamatkan Thio Wi Liong.
Kemudian pedang itu dirampas oleh Bu-ceng Tok-ong dari tangan Kwee Sun Tek, kemudian dari tangan Raja Racun ini diambil kembali oleh Thian Te Cu.
Karena mengingat akan riwayat pedang itu yang membawa nama orang yang menjadi biang keladi permusuhan antara tiga orang saudara sendiri.
Thian Te Cu membiarkan saja pedang itu dibawa pergi oleh Tok-sim Sian-li, sungguhpun kalau dia mau, tentu saja dengan mudah ia dapat mencegahnya.
Demikian pula, tentu saja Thai Khek Sian terheran-heran melihat pedang Cheng-hoa-kiam berada di tangan muridnya yang baru, Kun Hong.
dan diam-diam ia pun heran sekali mengapa Thian Te Cu mendiamkan saja pedang beriwayat itu diambil oleh Kun Hong, padahal dahulu beberapa kali ia mencoba untuk merampas selalu gagal.
Alangkah banyaknya perubahan pada sikap Thian Te Cu, pikirnya.
Cerita tentang pedang ini yang dituturkan oleh Thai Khek Sian kepada Tok-sim Sian-li, oleh wanita ini disampaikan pula kepada Kun Hong.
Pemuda itu mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Ah, kalau begitu, Thian Te Cu sebetulnya masih suheng (kakak seperguruan) dari sucouw. Yang tidak kumengerti mengapa pedang yang katanya oleh Thian Te Cu diberikan kepada Gan Tui atau Beng kun Cinjin kemudian berada pada Kwee Sun Tek? Benar-benar aku tidak mengerti!"
"Aku sendiripun tidak mengerti, dan Thai Khek Siansu sendiri tidak dapat menceritakan hal itu. Sudah amat lama dia tidak mengadakan hubungan, baik dengan Thian Te Cu maupun dengan GanTui yang kemudian bernama Beng Kun Cinjin."
"Beng Kun Cinjin itu, apakah juga selihai sucouw atau Thian Te Cu? Dan dia sekarang di mana?"
"Aku sudah mendengar tentang dia. Lihai juga biarpun tidak selihai Thai Khek Siansu tentunya. Pernah dia membasmi Lima Siluman Huang-ho dan banyak sudah orang-orarg kang-ouw yang kalah olehnya. Dahulu dia amat ganas dan suka berkelahi, suka sekali mencoba kepandaian orang lain. Sayang aku sendiri belum pernah bertemu dengan dia sehingga belum dapat mengatakan sampai di mana lihainya. Akan tetapi pernah aku mendengar dia diangkat menjadi koksu oleh Kaisar Mongol dan akhir-akhir ini katanya ia meninggalkan kedudukannya dan entah berada di mana tak seerangpun pernah membicakannya lagi."
Entah mengapa, hati Kun Hong tergerak dan ia ingin sekali mengetahui siapakah Beng Kun Cinjin dan orang macam apa adanya dia.
Nama Gan Tui dan Beng Kun Cinjin amat menarik hatinya, apa lagi orang itu pernah diwarisi beberapa macam ilmu pukulan oleh Thian Te Cu.
Ingin ia bertemu dengan orang itu.
Tentu saja baik dia sendiri maupun Tok-sim Sian-li tak pernah menyangka bahwa (Lanjut ke
Jilid 10) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 sesungguhnya Beng Kun Cinjin Gan Tui itu bukan lain adalah ayah pemuda itu!
Maklum bahwa di bawah bimbingan Thian Te Cu tentu ilmu kepandaian Wi Liong amat tinggi, Kun Hong lalu belajar dengan amat tekun sehingga menyenangkan hati Thai Khek Sian.
Apalagi di situ terdapat Tok-sim Sian-li yang merayu hati gembong Mo-kauw itu supaya menurunkan ilmunya yang tinggi-tinggi kepada Kun Hong.
Sementara itu.
telah terjadi perobahan besar dalam pimpinan bala tentara Mongol yang pada waktu itu sedang berkembang hebat dan melakukan penyerbuan ke barat sampai menggegerkan setengah dunia.
Seperti telah dituturkan di bagian depan ketika Beng Kun Cinjin Gan Tui masih aktip membantu pergerakan bala tentara Mongol, bala tentara yang perkasa ini sedang melakukan penyerbuan ke barat.
Kemudian Beng Kun Cinjin mendapatkan ketidaksetiaan Kiu Hui Nian dan membuat ia mata gelap, membunuh Hui Niang yang dicintainya itu lalu minggat tidak kembali ke kota raja.
Jengis Khan kecewa mendengar bahwa Beng Kun Cinjin melarikan diri karena kakek itu sebetulnya merupakan tenaga bantuan yang amat kuat.
Akan tetapi kehilangan seorang pembantu saja tidak melemahkan bala tentara Mongol yang hebat.
Sebagian besar dari negara barat ditundukkan dan dikalahkan, negara-negara besar mereka gilas hancur seperti Sin-kang, Iran, Afganistan.
Kota-kota besar jatuh satu demi satu dalam penyerbuan bala tentara Mongol.
Akhirnya setelah puas dengan petualangannya.
Jengis Khan memimpin bala tentaranya kembali ke timur melalui Pegunungan Ural di sebelah utara Laut Kaspia menuju Sin-kiang.
Setelah tiba kembali di Mongol, Jengis Khan menumpahkan dendam hatinya kepada Suku Bangsa Hsi-hsia yang tidak memperlihatkan kesetiaannya dan tidak mau menbantu secara memuaskan ketika bala tentara Mongol itu menyerbu ke barat.
Suku Bangsa Hsi-hsia yang pernah ditundukkan itu kini diserbu lagi, banyak orang dibunuh tanpa pilih bulu.
Malah ibu kota Hsi-hsia dijatuhkan, dibakar dan semua penduduknya, tidak ada kecualinya tua muda besar kecil laki perempuan dibunuh!
Akan tetapi di tengah-tengah kekejian ini, Jengis Khan meninggal dunia dalam usia tujuh puluh dua tahun.
Akan tetapi kematian pemimpin besar Bangsa Mongol ini tidak melemahkan semangat mereka.
Di bawah pimpinan putera ke tiga dari Jengis Khan yang bernama Oguthai, bala tentara Mongol malah mengadakan penyerbuan ke selatan yaitu Kerajaan Cin.
Perang hebat terjadi selama tiga tahun lebih.
Akan tetapi juga bala tentara Kerajaan Cin dihancurkan dan seluruh kerajaan terjatuh ke dalam tangan bala tentara Mongol.
Semenjak jatuhnya Kerajaan Cin (tahun 1234) seluruh Tiongkok utara menjadi wilayah Kerajaan Mongol.
Tiongkok selatan masih tetap menjadi wilayah Kerajaan Sung.
Setelah Kerajaan Cin roboh rakyat Tiongkok baru dapat bernapas lagi karena perang dihentikan.
Biarpun tidak dapat dikatakan bersahabat, namun antara pemerintah Mongol dan pemerintah Sun tidak terjadi perang, hanya saling menjaga tapal batas masing-masing.
Rakyat mulai dapat bekerja lagi tentu saja di utara harus tunduk kepada pemerintah baru.
pemerintah penjajah baru, yaitu Kerajaan Mongol.
Mengapa bala tentara Mongol tidak menyerang terus ke selatan?
Oleh karena seperti juga ayahnya, Oguthai Khan amat tertarik oleh dunia barat dan melakukan penyerbuar besar-besaran ke dua menuju ke barat.
Iran ditundukan, Rusia selatan dikalahkan.
Kota-kota besar Kiey dan Moskou direbut dan dibakar (tahun 1240), terus menyerang Polandia, bahkan sampai menghancurkan dan membakar kota Pest di Hongaria.
Karena kesibukan-kesibukan di barat inilah maka balatentara Mongol untuk sementara tidak menghiraukan Kerajaan Sung di selatan dan rakyat boleh menarik napas lega, karena untuk sementara waktu tidak ada perang.
Biarpun begitu terasa sekali pertentangan dan persaingan, juga terasa di dunia kang-ouw adanya fihak yang bertentangan, sebagian mengakui Kerajaan Mongol sebagai kerajaan baru yang baik, sebagian pula tetap setia kepada Kerajaan Sung dan menentang pengaruh Mongol.
Di puncak Wuyi-san.
Wi Liong sedang duduk berlutut di atas lantai menghadap suhunya Thian Te Cu.
Mereka berada di dalam kamar guru besar itu.
kamar sempit yang agak gelap akan tetapi bersih karena memang kamar batu ini tidak ada apa-apanya seperti sebuah gua yang menyeramkan.
Apa lagi melihat Thian Te Cu duduk bersila di atas pembaringan batu, kelihatan seperti tengkorak hidup, benar-benar menyeramkan.
Muka kakek ini makin kurus saja bersinar kehijauan.
Bibirnya masih selalu tersenyum mengejek dan matanya memandang lembut.
Pakaiannya berwarna putih melibat-libat tubuh yang kurus dan kuku-kuku jarinya yang panjang-panjang itu sampai melingkar-lingkar.
Benar-benar seorang yang kelihatan menyeramkan dan aneh.
"Wi Liong, pengalamanmu setahun yang lalu itu kuharap sudah dapat membuka hatimu untuk menyadari sepenuhnya bahwa di dunia ini tidak.ada manusia yang terpandai. Di atas puncak Gunumg Thai san masih ada awan dan di atas awan masih ada bulan, bahkan di atas bulan masih ada bintang-bintang dan matahari, tanda bahwa kekuasaan alam tiada terbatas. Demikian pun dengan kepandaian manusia, sudah tinggi ada yang lebih tinggi, sudah pandai ada yang iebih pandai. Kepandaian manusia juga merupakan sebagian kecil dari pada kekuasaan alam, oleh karena itu kita sekali-kali tidak boleh merasa diri sendiri paling pandai"
Wi Liong menundukkan mukanya.
Ia teringat akan peristiwa setahun lebih yang lalu, pengalaman pahit sekali ketika untuk pertama kalinya ia mendapat penghinaan dan kekalahan.
Seperti telah dituturkan, setahun yang lalu ketika suhunya mengasingkan diri di dalam kamar.
Wi Liong turun dari puncak Wuyi-san untuk memenuhi permintaan pamannya, yaitu untuk mencari keterangan perihal seorang bernama Beng Kun Cinjin Gan Tui, dan kebetulan sekali di dalam sebuah rumah makan Tung-thian di kota Ningpo ia bertemu dengan Seng-goat-pian Kam Ceng Swi yang hampir celaka menghadapi Cheng In dan Ang Hwa dua orang nona utusan Pek-go-to.
Kemudian Wi Liong mengalahkan dua orang nona itu dan Kam Ceng Swi membawanya pergi dari Ningpo karena tokoh Kun-Iun ini takut kalau-kalau Thai Khek Sian datang melakukan pembalasan atas kekalahan dua orang utusannya.
Akan tetapi Wi Liong yang baru saja turun gunung, sebagai seorang pendekar muda yang belum berpengalaman dan belum pernah mendengar nama Thai Khek Sian, mana merasa takut?
Ia bahkan cepat kembali ke Ningpo dikejar oleh Kam Ceng Swi yang merasa khawatir sekali karena kakek ini merasa amat sayang dan suka kepada Wi Liong.
Dugaan dan kekhawatiran Seng-goat-pian Kam Ceng Swi ternyata betul sekali.
Ketika mereka memasuki kota Ningpo, dari jauh sudah kelihatan, asap bergulung naik dan orang-orang panik berlari-larian sambil bercerita bahwa rumah makan Tung-thian dibakar siluman!
Dengan hati tabah Wi Liong mempercepar larinya menuju ke rumah makan itu.
Makin dekat dengan rumah makan, makin sunyilah karena orang-orang yang tinggal berdekatan agaknya ketakutan dan lari bersembunyi.
Sekarang sudah kelihatan api bernyala membakar rumah makan di mana tadi Wi Liong makan minum dan loteng tempat berpibu tadi sudah mulai runtuh.
"Kurang ajar."
Wi Liong memaki marah.
"siapakah yang berhati keji membakar rumah makan umum?"
Pemuda ini tidak memperhatikan Kam Ceng Swi yang tertinggal di belakang karena orang tua ini kelihatan jerih sekali, dapat menduga bahwa yang dimaksudkan orang-orang dengan "siluman"
Tentulah Thai Khek Sian atau anak buahnya Betul saja setelah dekat dengan tempat kebakaran itu.
Wi Liong melihat serombongan wanita-wanita cantik dan muda sebanyak tigabelas orang berbaris rapi dan menarik, dengan pedang terhunus di tangan.
Yang berjalan paling depan adalah Cheng In dan Ang Hwa dan di tengah-tengah mereka berjalan seorang laki-laki yang amat aneh dan menggelikan, lucu sekali keadaan orang itn.
Usianya sudah enampuluh tahun lebih namun kelihatan masih muda, bertubuh kekar, berkulit hitam sekali dan kepalanya gundul pelontos.
Celananya hitam.diikat dengan ikat pinggang mutiara indah, akan tatapi ia tidak berbaju!
Sepatunya juga indah, demikian pula celananya terbuat dari pada sutera mahal.
Pendeknya, sebatas pinggang ke bawah ia merupakan seorang yang betul-betul pesolek dan gagah, akan tetapi dari pinggang ke atas amat sederhana, telanjang dan tak terpelihara.
Kuku-kuku jari tangannya runcing, kalau di-beri warna merah tentu seperti tangan perempuan!
Matanya lebar bundar, mukanya halus tidak ada rambutnya, sama halusnya dengan kepalanya yang gundul licin itu.
Inilah dia Thai Khek Sian.
seorang di antara gembong-gembong Mo-kauw kelas teratas!
Sudah puluhan tahun dia jarang sekali keluar dari tempat bertapanya, yaitu Pulau Pek-go-to.
Semua keperluannya disediakan dan dilayani oleh belasan orang selir-selirnya yang cantik-cantik lagi muda.
Memang, sebagian besar orang kang-ouw tahu belaka bahwa Thai Khek Sian adalah seorang bandot tua yang anehnya amat disuka oleh wanita-wanita muda!
Ada yang bilang dia mempunyai ilmu.
pandai mempergunakan guna-guna pengasihan untuk membikin wanita-wanita muda tergila-gila.
Tentu saja berita ini kosong belaka.
Boleh jadi dahulunya di waktu muda Thai Khek Sian memang gagah dan tampan, hitam-hitam manis, akan tetapi dia sekarang sudah tua, biarpun tubuhnya masih kekar tetap saja kelihatan tuanya.
Kalau dilihat macamnya wanita-wanita muda yang menjadi selirnya dan wanita-wanita lain yang menjadi kekasihnya, mudah saja diketahui mengapa Thai Khek Sian disuka.
Tentu karena wanita-wanita itu memang genit dan cabul, juga mereka mendekati Thai Khek Sian dengan banyak maksud, pertama-tama tentu saja karena dengan kedudukan mereka menjadi selir, mereka akan dihormati dan disegani orang-orang, melebihi kedudukan seorang isteri pembesar tinggi.
Juga Thai Khek Sian memiliki harta benda yang besar, membuat para selirnya dapat hidup secara mewah dan berlebihan.
Selain ini, juga mereka ini ingin sekali mewarisi ilmu kepandaian Thai Khek Sian yang memang amat tinggi dan luar biasa.
Di samping semua alasan ini, masih ada hal lucu dan aneh lagi yang membuat wanita-wanita muda itu suka diselir kakek-kakek ini, yaitu bahwa Thai Khek Sian yang aneh itu sama sekali tidak perduli kalau selir-selirnya berlaku serong, tidak perduli selir-selirnya suka kepada laki-laki lain asal saja terhadap dia bersikap manis dan menurut!
Memang sukar dicari keduanya laki-laki seperti Thai Khek Sian ini.
"Heh-heh. puas hatiku dapat membasmi rumah makan bangsat itu'' Wi Liong mendengar orang gundul aneh itu bicara seorang diri.
"Sayangnya tidak ada Seng-goat-pian di sini, kalau ada akan kupatahkan batang lehernya dan kepalanya kujadikan penghias pintu gapura. Biar kapok dia menghina selir-selirku!"
Mendengar ucapan ini. tahulah Wi Liong bahwa orang aneh ini yang disebut Thai Khek Sian dan amat ditakuti Kam Ceng Swi. Kemarahannya memuncak.
"Manusia siluman bertangan keji, kau harus dibasmi!"
Bentak Wi Liong sambil melompat maju, menerjang dan menyerang Thai Khek Sian yang diapit di kanan kirinya oleh Cheng In dan Ang Hwa.
Ia dapat menduga bahwa orang gundul hitam itu tentu berilmu tinggi maka Wi Liong tidak berani memandang ringan.
Begitu melakukan serangan, ia mengerahkan semua tenaga memukul dada orang gundul hitam itu.
"Buk! Buk!"
Wi Liong terkejut setengah mati karena tubuhnya terpental ke belakang dan kedua tangannya sakit sekali, bengkak-bengkak dan ototnya terkilir!
Adapun orang gundul hitam itu mundur tiga langkah, membuka matanya lebar-lebar dan membentak.
"Hee...... kau murid siapa?"
Ia melangkah maju dengan tangan terkepal. Cheng In dan Ang Hwa cepat melompat maju menghalangi Thai Khek Sian. Cheng In berkata.
"Harap ampunkan dia, dia masih muda, kasihan kalau dibunuh......"
"Siapa dia ini?"
Bentak Thai Khek Sian.
Kalau saja Cheng In mengatakan terus terang bahwa inilah pemuda yang mengalahkan mereka di loteng rumah makan, tentu Thai Khek Sian tak-kan mau memberi ampun dan akan membunuhnya.
Akan tetapi entah bagaimana, melihat munculnya Wi Liong, dua orang wanita muda itu menjadi tidak tega untuk melihat pemuda ganteng itu tewas.
"Dia tentu orang muda yang merasa diri berkepandaian dan tidak suka melihat rumah makan dibakar. Sudahlah, harap lepaskan dia. tidak ada harganya untuk kita membunuh orang macam ini."
Kata pula Cheng In. Sementara, itu, Ang Hwa menghampiri Wi Liong dan berbisik.
"Bodoh mana kau bisa melawan Thai Khek Siansu? Hayo lekas pergi dan lain kali harap jangan lupa kepada kami....". Wi Liong masih belum lenyap rasa kagetnya, akan tetapi maklum bahwa ia berhadapan dengan orang yang jauh lebih tinggi ilmunya, ia tidak mau melawan lagi, apa pula kedua tangannya sudah bengkak-bengkak. Tanpa banyak cakap ia lalu pergi dari tempat itu. Tentu saja ia tidak suka membawa-bawa nama gurunya dan tidak mengaku bahwa dia murid Thian Te Cu. karena hal ini berarti akan merendahkan nama besar gurunya. Thai Khek Sian tertawa bergelak.
"Hemm. pantas kalian melindunginya, dia memang tampan!"
Kemudian sambil mengerutkan kening, dia berkata lagi.
"Ah, mengapa tadi dilepas sebelum ditanya? Pukulannya tadi...... aneh kalau dia bukan murid Thian Te Cu atau Gan-susiok......"
Yang dimaksudkan Gan-susiok oleh kakek ini tentu saja Gan Yan Ki ayah Gan Tui.
"Hayo kejar dia! Seret ke sini, hendak kutanya!"
Bentaknya.
Biarpun amat sayang kepada Wi Liong, baik Cheng In, Ang Hwa maupun selir yang lain, tak seorangpun berani membantah perintah Thai Khek Sian.
Membangkang berani mati, demikian hukum di tangan tokoh Mo-kauw ini.
Maka, mendengar ini, cepat Cheng in dan Ang Kwa mengepalai sebelas orang selir lain untuk berlari cepat mengejar Wi Liong yang sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.
Andaikata tersusul, tentu Cheng In dan kawan-kawannya akan menyeretnya kembali, takkan terpengaruh oleh ketampanan wajah pemuda itu.
Akan retapi biarpun mereka mencari sampai jauh dan cermat, mereka tidak berhasil mendapatkan Wi Liong.
Ke mana perginya pemuda ini?
Bukan lain Seng-goat-pian Kam Ceng Swi yang menolongnya Kebetulan sekali Kam Ceng Swi yang tidak berani mendekat Thai Khek Sian, melihat dari jauh akan semua kejadian itu.
Ketika ia melihat Wi Liong dapat melepaskan diri dengan selamat dari tangan kakek siluman itu.
ia cepat menemui Wi Liong dan mengajaknya bersembunyi ke dalam sebuah kelenteng yang pengurusnya telah ia kenal baik.
Di sini aman karena wanita-wanita Pek-go-to itu tidak mau memasuki kelenteng.
Juga Kam Ceng Swi merawat kedua tangan Wi Liong, memberinya obat Kun-lun-pai yang memang amat manjur terhadap luka-luka kena pukulan atau urat-urat yang terkilir.
Wi Liong amat berterima kasih kepada tokoh Kun-lun ini.
"Lo-enghiong berkata benar. Thai Khek Sian itu ternyata memiliki ilmu seperti iblis."
Kata Wi Liong. Kam Ceng Swi menarik napas panjang.
"Ilmu kepandaian itu tidak ada batasnya. Melihat kepandaian dua orang wanita kaki tangan Thai Khek Sian. aku sudah takluk, kemudian melihat kepandaianmu yang membuat aku kagum sekali. Kini bentemu dengan Thai Khek Sian, entah di dunia ini siapa orangnya yang akan dapat melawan dia. Guruku sendiri, Kun-lun Lojin yang menjadi ketua dari Kun-lun-pai, pernah menyatakan bahwa ilmu kepandaian Thai Khek Sian sukar dicari lawannya. Mungkin hanya susiok-couw yang bertapa di belakang puncak dapat menandinginya, inipun belum tentu. Kembali ia menarik napas panjang, teringat akan anak pungutnya ketika ia mengobati tangan Wi Liong.
"Anak muda, sebetulnya kau hendak pergi ke manakah?"
Wi Liong juga amat tertarik kepada orang tua yang baik budi ini.
Teringat ia kepada Kwee Sun Tek pamannya, dan dibandingkan dengan pamannya, orang tua ini sama baiknya, berbudi dan ramah-tamah serta jenaka pula.
Oleh karena itu ia merasa tidak perlu membohong, jawabnya terus terang.
"Aku hendak mencari seorang di kota raja memenuhi permintaan pamanku."
"Ke kota raja di utara?"
Kam Ceng Swi mengerutkan keningnya.
"Di sana tidak begitu baik keadaannya, orang muda. Orang-orang selatan amat dicurigai dan salah-salah kau akan ditangkap. Bukan hanya serdadu-serdadu Mongol itu yang membenci orang selatan seperti kita, malah orang-orang kang-ouw di utara yang sudah menjadi kaki tangan Mongol, juga selalu memusuhi kita. Kau tahu, orang-orang seperti Thai Khek Sian itupun kabarnya membantu pemerintah Mongol......."
Wi Liong menjawab tenang.
"Tidak apa, lo-enghiong......"
"Wi Liong, terhadap kau aku merasa seperti berhadapan dengan keluarga sendiri, jangan kau menyebut lo-enghiong (orang tua gagah) segala. Sebut saja paman, lebih sedap didengar."
Wi Liong tersenyum. Benar-benar kakek ini menarik hati dan menyenangkan.
"Baiklah. Kam-siok-siok (paman Kam). Sebetulnya aku memenuhi perintah paman Kwee Sun Tek untuk mencari keterangan perihal orang bernama Beng Kun Cinjin Gan Tui yang kabarnya menjadi panglima di istana Kaisar Mongol."
"Aahhh......., dia.......?"
Kam Ceng Swi mengerutkan kenangnya.
"Untuk apakah kau mencari dia?' "Paman Kwee belum memberi tahu kepentingannya, hanya minta supaya aku menyelidiki di mana dia sekarang berada."
"Kalau begitu tak usah kau ke utara. Wi Liong."
"Eh, kenapakah? Apa dia sudah mati?"
"Tidak. Dia itu dahulunya seorang tokoh kang-ouw yang cukup terkenal seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi sayang sekali, ia dapat dibujuk oleh Kaisar Mongol menjadi kaki tangannya, malah menikah segala di istana! Sungguh memalukan dan mengecewakan sekali, apa lagi kalau diingat bahwa hal itu terjadi setelah dia menjadi seorang hwesio!"
"Apa dia sekarang masih di istana. Kam-siok-siok?"
Tanya Wi Liong, dalam hati terheran-heran mengapa pamannya menyuruh dia mencari orang macam itu.
"Kurasa tidak. Pernah aku mendengar bahwa dia telah meninggalkan Jengis Khan beberapa tahun yang lalu dan semenjak itu tak seorangpun mendengar di mana adanya Beng Kun Cinjin."
Memang Kam Ceng Swi dahulu tidak mendapat kesempatan mendengar tentang perbuatan Beng Kun Cinjin terhadap murid-muridnya, juga tidak tahu bahwa Kwee Sun Tek itu murid Beng Kun Cinjin.
Kalau ia mendengar akan hal itu tentu ia sudah menceritakannya kepada Wi Liong.
"Kalau begitu memang percuma saja aku pergi ke utara."
Kata Wi Liong.
"Memang tidak ada gunanya. Semenjak melarikan diri dari istana. Beng Kun Cinjin tentu saja dianggap musuh dan dicari oleh.orang-orang Mongol. Maka dapat dipastikan bahwa dia tentu melarikan diri ke selatan. Kalau hendak mencari dia, sebaiknya di selatan menanyakan kepada orang-orang kang-ouw di daerah selatan tentu ada yang tahu."
Wi Liong menurut akan petunjuk ini.
Mereka lalu berpisah setelah Wi Liong menghaturkan terima kasihnya dan berjanji kelak akan mengunjungi Kun-lun-san.
Akan tetapi dia tetap menyembunyikan nama gurunya karena tahu bahwa gurunya tidak menghendaki namanya disebut-sebut di luaran.
Dia sendiri lalu kembali ke Wuyi-san, menceritakan pengalamannya kepada Kwee Suu Tek kemudian setelah suhunya keluar, ia bercerita pula sambil menangis tentang kekalahannya yang amat memalukan terhadap Thai Khek Sian.
"Tentu saja kau kalah. Mana bisa menang melawan susiokmu?"
Komentar Thian Te Cu singkat, membuat Wi Liong terkejut bukan main.
Setelah menuturkan tentang kekalahannya terhadap Thai Khek Sian kepada gurunya sambil menangis.
Wi Liong lalu menerima latihan-latihan lagi selama satu tahun.
Ilmu-ilmu tinggi yang tadinya disimpan saja oleh Thian Te Cu.
sekarang diwariskan kepada pemuda itu, di samping nasihat-nasihat dan gemblengan ilmu batin yang sekaligus merobah watak Wi Liong menjadi lebih pendiam dan masak.
Demikianlah, seperti telah dituturkan dalam bagian yang lalu.
Thio Wi Liong; duduk berlutut di hadapan suhunya yang bersila di tempat samadhinya.
Hati Wi Liong amat terharu namun ia dapat menekannya karena pemuda ini sekarang telah memiliki kekuatan batin untuk menekan dan mengalahkan segala perasaan yang datang dalam kalbunya.
Baru sekarang selama belasan tahun hidup di dekat Thian Te Cu.
ia mendengar orang aneh ini bicara agak banyak.
Biasanya Thian Te Cu hanya bicara sedikit sekali singkat dan yang perlu saja.
Bahkan ada kalanya kakek luar biasa ini hanya mempergunakan gerak tangan dan kepala untuk menyatakan kehendaknya, seperti orang gagu.
Baru hari itu.
setelah gurunya menyatakan bahwa kepandaiannya sudah cukup untuk menandingi Thai Khek Sian gurunya bicara panjang lebar memberi nasihat-nasihat.
Perasaannya membisiki bahwa ini merupakan tanda bahwa gurunya hendak memisahkan diri, mungkin untuk selamanya.
"Mulai sekarang kau boleh turuni gunung dan mulai hidup baru. Ingat, pekerjaan apapun juga yang kaulakukan kerjakanlah dengan hati bersih, dengan semangat besar dan dengan kesadaran sepenuhnya bahwa yang kau kerjakan tidak berlawanan dengan kebajikan dan keadilan. Jangan kau mudah dimabok kesenangan dan kemuliaan dunia yang palsu dan yang mudah menyelewengkan batin manusia. Ingat bahwa segala kejahatan manusia yang terjadi di dunia ini selalu ditimbulkan oleh ketidak-sadaran karena mabok dan silau oleh kesenangan, kemuliaan dunia, karena lemah dan tak berdaya terhadap nafsu sendiri."
Kakek aneh itu berhenti, agaknya lelah sekali karena terlalu banyak bicara. Memang sudah lama dia menghemat suaranya dan bicara agak banyak ini amat melelahkannya.
"Suhu teccu mendengar dari paman Kwee, juga dari luaran ketika teecu turun gunung bahwa sekarang ini negara sedang dalam keadaan terancam dan tidak aman. Orang-orang kang-ouw saling bermusuhan, ada yang memihak pemerintah baru di utara dan ada yang memihak Kerajaan Sung. Kalau teecu turun gunung dan sampai terlibat ke dalam persaingan atau permusuhan ini teecu harus membantu yang mana?"
Terdengar kakek itu menarik napas panjang.
"Manusia tiada hentinya berebut kekuasaan. Hanya mereka yang bekerja dengan penuh kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan itu demi kebenaran adalah orang-orang bahagia. Perang....... perang....... semenjak nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu, negara kita selalu dilanda perang. Siapa menang siapa kalah? Belum tentu yang benar menang. Biarpun kemenangan sementara, sepuluh tahun seratus tahun, seribu tahun, namun ada kalanya yang jahat menang dan rakyat menderita. Semua ditentukan olen Thian!". Kembali kakek itu berhenti dan Wi Liong tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Akan tetapi ia tidak merasa heran oleh karena sudah biasa mendengar kata-kata yang aneh dan penuh rahasia dari kakek itu.
"Suhu, andaikata bala tentara Mongol menyerbu ke selatan, teecu harus membantu yang mana? Mongol atau Sung? Dan pertentangan antara orang-orang kang-ouw teecu harus memihak yang mana?"
Ia mendesak oleh karena biarpun hatinya sendiri sudah menemukan bagaimana ia harus bertindak, tetap saja ia hendak mendengar petunjuk suhunya sebagai pegangan.
Anehnya, kakek itu hanya menggeleng-geleng kepala dan keningnya berkerut.
"Suhu. siapa yang harus teecu bantu?"
Tanya pula pemuda itu.
Sekali lagi Thian Te Cu menggeleng kepala dan lebih aneh lagi ia kelihatan berduka sekali.
Kembali mereka diam sampai lama.
Akhirnya Wi Liong memberanikan diri bertanya untuk ke tiga kalinya.
"Suhu. nasihat suhu akan teecu jadikan obor bagi perjalanan teecu agar teecu tidak sampai sesat jalan. Keadaan dunia sedang bergolak, kalau teecu salah tindak, bukankah berarti akan melakukan dosa besar dan suhu akan terbawa nama suhu kalau tidak memberi petunjuk?"
"Obor berada di tangan rakyat. Selama kau dekat dengan rakyat dan memihak mereka yang tertindas, mengulurkan tangan kepada mereka yang lemah sengsara, kau takkan tersesat. Inilah sebabnya mengapa dunia selalu dilanda perang, karena manusia selalu lupa diri, kalau sudah mendapatkan yang besar lupa kepada yang kecil. Orang-orang berebut kedudukan, berebut kesenangan dan kemuliaan tanpa mau menoleh kepada rakyat kecil yang tak pernah mengetahui sesuatu, tak pernah diberi kesempatan untuk tahu akan sesuatu. Coba ada yang berebut untuk mengangkat mereka dari penderitaan, coba segala usaha dikerahkan untuk bersatu dengan mereka, satu nasib satu penderitaan, iblispun takkan berani mengganggu tanah air karena akan berhadapan dengan rakyat yang merasa kebahagiaan dan keamanannya terganggu. Sekarang bagaimana? Setiap kerajaan merupakan penindas baru......ahhh, Wi Liong, jangan tanya kerajaan mana yang harus kau bantu. Asal kau tidak lupa bahwa kau mempelajari ilmu untuk bertugas sebagai pemberantas kejahatan dan pembela si lemah yang tertindas, cukuplah. Segala di dunia yang nampak besar-besar itu belum tentu betul-betul besar. Aku lebih suka melihat engkau menjadi seorang petani miskin yang berbatin bersih dan berjiwa gagah pembela keadilan dari pada melihat engkau menjadi seorang berpangkat, kaya raya dan mulia akan tetapi batinmu kotor oleh suau emas dan jiwamu bejat, lupa akan keadilan. Nah. pergilah, kelak kita bertemu sekali lagi kalau aku datang nntuk minta kembali Cheng-hoa-kiam."
Tentu caja ucapan terakhir ini membingungkan Wi Liong.
Tentang Cheng-hoa-kiam tadi ia benar tidak mengerti.
Ketika ia pergi turun gunung, pedang itu dicuri orang, mengapa suhunya bilang kelak hendak mengambil kembali dan bertemu dengannya?
la hendak bertanya akan tetapi kakek itu sudah meramkan kedua mata dan berada dalam keadaan samadhi lagi, maka ia tidak berani mengganggu.
"Semua petunjuk akan teecu ingat betul"
Katanya sambil berlutut memberi penghormatan terakhir, kemudian keluar dari kamar suhunya. Pamannya segera menemuinya.
"Bagaimana? Sudah boleh turun gunung?"
Tanya Kwee Sun Tek penuh gairah.
"Sudah dan kuharap paman suka pergi bersamaku. Aku tidak tega meninggalkan kau orang tua seorang diri di sini."
Kwee Sun Tek menghela napas panjang.
"Apa sih perlunya aku turun gunung? Di puncak gunung, atau di dusun maupun di kota raja sekalipun bagiku sama saja......"
Wi Liong kasihan memandang pamannya.
Ia dapat menangkap maksud kata-kata pamannya ini.
Memang apa sih bedanya bagi seorang buta?
"Tak usah aku ikut pergi, Wi Liong.
Kau pergilah dan cari manusia jahanam Beng Kun Cinjin itu, balaskan sakit hati ayah bundamu, kemudian kau carilah nama untuk menjunjung nama orang tuamu.
Kau sudah meudengar semua riwayat orang tuamu, kalau kau berhasil membinasakan manusia jahanam Beng Kun Cinjin.
baru hatiku puas dan aku tidak penasaran biarpun aku hidup tak bermata lagi!"
Kata-kata ini diucapkan dengan keras penuh semangat, membayangkan sakit hati yang dipendam bertahun-tahun.
Wi Liong menundukkan mukanya.
Pemuda inipun merasa berduka sekali, baru setelah ia pulang dari perjalanannya mencari Beng Kun Cinjin, pamannya menceritakan pengalaman ayah bundanya yang tewas ketika mereka berusaha menyadarkan Beng Kun Cinjin dari kesesatannya.
"Wi Liong, belasan tahun aku bertahan hidup menderita hanya untuk dapat menyaksikan bahwa pada suatu hari putera enciku akan dapat berhasil membalaskan sakit hati ayah bunda dan pamannya. Kuharap kau tidak akan gagal. Wi Liong."
"Akan kuusahakan sedapat mungkin, paman."
Jawab Wi Liong.
"Dan jangan lupa, kau harus mampir di Poan-kun dan tengok calon mertuamu. Sampaikan hormatku dan jangan lupa bilang bahwa pernikahan baru dapat dilangsungkan kalau kalau sudah berhasil membalas dendam kepada Beng Kun Cinjin."
Baca Juga: Pendekar Sakti 3
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 2