Ceritasilat Novel Online

Cheng Hoa Kiam 9

Eps 9 Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo

Baca online Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo

Cersil Cheng Hoa Kiam - Kho Ping Hoo.

Ngeri ia menghadapi kematian, maka ia selalu ketakutan terhadap Kun Hong.

sekarang ia makin takut lagi dengan munculnya Wi Liong.

Ia masih mencoba untuk mengerahkan tenaga dan balas menyerang dengan tasbehnya.

Kalau perlu ia akan mengadu nyawa, pikirnya nekat karena suling pemuda itu seakan-akan telah berubah menjadi berpuluh batang dan mengurungnya dari semua jurusan.

Ia yang tadinya hanya mampu menangkis saja, sekarang tidak perduli suling lawan dan membarengi dengan hantaman tasbeh ke arah kepala pemuda itu.

Serangan yang nekat sekali!

Mana Wi Liong sudi mati bersama musuh besarnya?

Ia menarik sulingnya dan menangkis hantaman itu.

Hebatnya, begitu tasbeh tertangkis, senjata aneh ini terus melibat suling dengan kuatnya, tak dapat terlepas lagi!

Beng Kun Cinjin merasa diri cerdik, dengan girang ia membetot untuk merampas suling.

Kepandaiannya "melibat dan merampas"

Ini dahulu selalu menjadi modalnya dalam pertempuran menghadapi lawan berat dan jarang sekali gagal.

Dengan modal gerakan ini ia selalu dapat merampas senjata lawan dan mencapai kemenangan.

Akan tetapi kali ini.

ia tidak mampu merampas suling yang ringan itu!

Malah-malah ketika ia hendak menarik kembali tasbehnya dan melepaskan libatan, ia tidak sanggup, seakan-akan suling itu berakar dan menjadi satu dengan tasbeh.

Kini ia tidak tahu lagi apakah tasbehnya yang melibat ataukah suling lawan yang menahan!

Beng Kun Cinjin menggunakan tangan kirinya untuk memukul ke depan sambal melangkah maju.

Angin menyambar kuat karena inilah pukulan Pat-in-ciang (Pukulan Mendorong Awan) yang lihainya bukan main dan dahulu sudah merobohkan entah berapa banyak lawan.

Akan tetapi kali ini ia menghadapi Wi Liong.

Pemuda itu dengan tenang juga menggerakkan tangan kirinya dan dengan telapak tangan dibuka ia menerima pukulan itu.

"Plakk.........!"

Beng Kun Cinjin mengeluh dan mencelat ke belakang, tasbehnya putus untaiannya dan berjatuhan di atas tanah, menggelinding ke sana ke mari.

Hwesio itu sendiri setelah dapat menguasai keseimbangan badan dan tidak terhuyung lagi, berdiri dengan muka pucat.

Ia telah mendapa luka di dalam dada karena pukulannya sendiri membalik ketika bertemu dengan tangan Wi Liong.

"Bagus sekali.........!"

Terdengar Cheng In memuji.

"Pemuda hebat.........!"

Ang Hwa juga memuji dengan muka merah dan mata bersinar-sinar.

Wi Liong tidak perdulikan semua itu, ia melangkah maju perlahan untuk menghampiri musuh besarnya dan melanjutkan pertempuran.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara mencela.

"Biar tampan dan lihai, musuh tetap musuh tak boleh dipuji. Hayo kalian pergi!"

Para wanita muda itu tidak ada yang berani membantah, cepat pada pergi berlari-lari dari tempat situ.

Wi Liong menengok dan kagetlah ia melihat Thai Khek Sian muncul dengan tiba-tiba.

Ia kaget karena melihat kakek ini sekarang lebih mengerikan lagi dari pada dahulu ketika ia bertemu untuk pertama kalinya.

Kakek ini masih tetap berkulit hitam, bertelanjang dada hanya mengenakan celana hitam panjang, kepalanya gundul, kuku jari tangannya panjang-panjang seperti cakar setan.

Yang lebih mengerikan lagi, sekarang kakek ini memakai sebuah kalung yang mengikat sebuah tengkorak manusia.

Tengkorak itu bergerak-gerak tergantung di depan dadanya, mengerikan sekali.

Ia tidak tahu bahwa inilah "pakaian"

Thai Khek Sian di waktu ia sedang bersamadhi atau melatih ilmunya. Tadi ia tengah bersamadhi maka ia "berpakaian"

Seperti ini dan ia keluar karena terganggu oleh suara-suara itu, terutama sekali karena pendengarannya yang luar biasa itu sudah dapat menangkap angin-angin pukulan dua orang yang sedang bertempur di taman.

"Gan Tui, kau mundurlah!"

Tentu saja Beng Kun Cinjin menjadi girang sekali dan cepat pergi dari situ untuk mengobati luka di dalam dadanya.

"Bocah kurang ajar, kau siapa dan bagaimana kau berani memasuki pulauku membuat kacau?"

Thai Khek Sian menegur. Wi Liong berlaku waspada dan bersikap tenang.

"Aku bernama Thio Wi Liong. aku bukan pengacau hanya akan membunuh Beng Kun Cinjin untuk membalaskan sakit hati ayah bundaku. Thai Khek Siansu, harap kau minggir dan jangan mencampuri urusanku dengan........."

Tiba-tiba Thai Khek Sian menubruk maju dan menyerang dengan kuku-kuku jari tangan kirinya, mencengkeram ke arah leher Wi Liong sambil tertawa-tawa.

"Kau curang!"

Wi Liong berseru marah sambil menangkis dengan sulingnya.

Ketika suling itu bertemu dengan kuku meruncing itu.

terdengar suara nyaring seperti senjata-senjata tajam bertemu dan Wi Liong merasa telapak tangannya tergetar.

Ia maklum akan kelihaian lawan, maka ia berlaku hati-hati sekali.

Tadipun kalau ia tidak hati-hati, ia sudah kena dibokong dengan penyerangan tiba-tiba selagi ia bicara.

Selain lihai, juga Thai Khek Sian amat curang, licin, penuh tipu muslihat, pendeknya segala macam kejahatan dan kecurangan memenuhi kepala yang gundul plontos itu.

Thai Khek Sian penasaran sekali.

Ia sebagai seorang tokoh besar, seorang pentolan Mo-kauw nomor wahid, masa tidak bisa merobohkan seorang pemuda dengan sekali serang?

Benar memalukan, pikirnya.

Baiknya selir-selirnya sudah pada pergi dari situ, kalau tidak ia dapat kehilangan muka karena serangannya tadi gagal.

Dengan kemarahan meluap ia menyerang lagi, Wi Liong menangkis dan di lain detik terjadilah serang-menyerang yang hebatnya bukan main.

Wi Long memusatkan seluruh perhatian, tenaga, dan kepandaiannya ke dalam semua gerakannya.

Selama hidupnya baru kali ini ia menghadapi lawan setangguh ini dan setiap gerakan harus diperhitungkan benar-benar.

Ia cukup maklum bahwa sekali saja meleset dan terkena pukulan kakek ini berarti maut baginya.

Thai Khek Sian makin penasaran.

Ternyata bocah ini dapat melayaninya dengan baik!

Setiap serangan darinya selalu dapat dielakkan atau ditangkis, malah dapat membalas dengan penyerangan kilat.

Suling itu hebat sekali.

Ia memperhatikan gerak tipu-gerak tipu pemuda itu dan tiba-tiba ia berteriak.

"Kau murid Thian Te Cu.........!!"

Sambil berteriak begini ia melompat mundur. Wi Liong menyilangkan suling di depan dadanya, sikapnya tetap tenang dan keren.

"Betul, dan aku musuh besar Beng Kun Cinjin. Dia pembunuh ayah bundaku. Harap kau orang tua jangan mencampuri urusanku."

Thai Khek Sian tertawa bergelak. Tengkorak di depan dadanya bergerak-gerak mengangguk-angguk.

"Bocah kurang ajar, kau berhadapan dengan susiokmu (paman gurumu) sendiri berani bersikap begini tak tahu adat?"

Wi Liong tersenyum sindir.

"Kau tidak pernah mengakui suhu sebagai suheng (kakak seperguruan), bagaimana aku bisa mengakui kau sebagai susiok?"

"Bocah sombong, kau perlu dihajar!"

Dengan gemas sekali Thai Khek Sian menerjang maju dengan sepuluh jari kukunya.

Kukunya panjang-panjang dan setiap jari merupakan semacam pisau berbisa yang amat menakutkan.

Bukan hanya berbisa, malah mengandung kekuatan tak kalah oleh pedang sehingga tiap kali bertemu dengan suling Wi Liong, terdengar suara nyaring seperti baja bertemu.

Wi Liong tidak berani berlaku lambat.

Cepat ia menandingi kakek itu dengan ilmu pedangnya yang sempurna, yang dimainkan dengan suling.

Kalau pukulan-pukulan Thai Khek Sian mendatangkan angin bersiutan sehingga daun-daun tetanaman di taman itu pada gugur, adalah suling Wi Liong mengeluarkan suara melengking seperti ditiup, dan suling itu dalam tangannya seperti berubah menjadi banyak sekali.

Gulungan sinar suling bergelombang mengimbangi gerakan kuku-kuku jari lawannya.

Mereka telah bertanding lagi dengan hebatnya, seru dan mati-matian.

Makin lama Thai Khek Sian makin marah karena penasaran sekali.

Sampai puluhan jurus belum juga ia dapat mengalahkan lawannya yang muda.

Jangan kata mengalahkan, mendesakpun tidak mampu.

Matanya mengeluarkan cahaya berapi, kepalanya seperti mengeluarkan uap dan gerakannya makin menggila.

Wi Liong diam-diam terkejut bukan main.

Setiap pertemuan antara sulingnya dengan tangan manusia iblis itu, ia merasa lengannya tergetar.

Akan tetapi ia mengumpulkan semangatnya dan melawan mati-matian sepenuh tenaga.

Pertempuran itu bukan main hebatnya.

Pepohonan tercabut dan roboh, batu-batu pada pecah yang berada di dekat tempat itu.

semua itu hanya terkena hawa pukulan yang membabi-buta.

Dua orang gadis, Hui Nio dan Hui Siam yang sudah menyusul sampai di situ.

menonton dari belakang batu besar dengan muka pucat.

Selama hidupnya belum pernah mereka menyakskan pertandingan sehebat itu.

Angin-angin pukulan menyambar sampai ke tempat mereka dan hanya dengan berlindung di balik batu besar itu mereka dapat menonton.

Kalau tidak, hawa pukulan itu tentu menyerang mereka dan biarpun jaraknya jauh, kiranya mereka takkan dapat menahan dan akan roboh.

Malah suara melengkingnya suling yang keluar dari senjata Wi Liong tak kuat mereka dengarkan lebih lama lagi.

Suara itu mengandung khikang tinggi, membuat mereka lemas dan tulang-tulang terasa sakit.

Terpaksa mereka menggunakan saputangan untuk menutupi kedua telinga!

Puluhan jurus telah lewat.

Bahkan ratusan jurus.

Sejam, dua jam, tiga, empat jam sudah dua orang itu bertanding, akan tetapi masih belum ada yang kalah atau menang.

Mereka sudah tidak kelihatan lagi, sudah berubah menjadi dua gundukan sinar yang aneh, sinar bergulung-gulung dan menyambar ke sana ke mari seperti dua ekor naga sakti bermain-main di angkasa raya.

Akhirnya Thai Khek Sian tak dapat menahan sabar lagi.

Memang Wi Liong sudah lama sejak tadi terdesak hebat, akan tetapi ia masih terus mempertahankan diri dan karena Thai Khek Sian ingin merobohkan pemuda itu dengan ilmu silatnya maka sebegitu lama ia belum mampu merobohkan pemuda itu.

Setelah-kesabarannya habis, tiba-tiba kakek ini mengeluarkan pekik yang luar biasa dahsyatnya, bukan pekik manusia lagi melainkan suara yang patutnya keluar dari neraka jahanarm.

Tengkorak yang tergantung di dadanya tiba-tiba mengeluarkan asap putih dari mulut yang menyambar ke arah Wi Liong.

Pemuda ini memang sudah sibuk terkurung oleh jari-jari tangan berkuku tajam itu sehingga ia tidak keburu lagi menghindarkan diri.

Sekali ia menyedot asap itu, tubuhnya terhuyung dan ia roboh pingsan di atas tanah!

Thai Khek Sian tertawa tergelak, akan tetapi, ia masih ingat bahwa pemuda ini adalah murid Thian Te Cu maka ia tidak mau membunuhnya.

Betapapun juga.

ia masih merasa ngeri untuk menanam permusuhan dan menimbulkan marahnya Mayat Hidup Thian Te Cu itu.

Baru muridnya saja sudah begini hebat, pikirnya, entah bagaimana lihainya kakek itu yang sudah lama sekali tak pernah ia jumpai.

Selagi Thai Khek San tertawa-tawa girang, muncul Hui Nio dan Hui Sian dari tempat sembunyinya.

Dua orang gadis ini yang menganggap Wi Liong sebagai penolong mereka, tentu saja tidak bisa tinggal diam melihat penolong mereka roboh pingsan.

Mereka takut kalau-kalau Thai Khek Sian membunuh pemuda itu.

Hui Sian dengan tabah lalu melompat ke depan Thai Khek Sian dengan pedang di tangan.

"Kau baru bisa bunuh dia melalui mayatku!"

Katanya gagah sambil bersiap untuk bertempur.

Sedangkan Hui Nio yang melihat wajah pemuda itu pucat dan napasnya tidak ada lagi, cepat mengangkat tubuh atas Wi Liong dan dipangkunya.

Wi liong sudah lemas dan pucat, napasnya tidak ada lagi seperti orang mati.

"Kau.........kau membunuhnya.........!"

Kata Hui Nio marah sekali. Dengan perlahan ia lalu menurunkan tubuh Wi Liong di atas rumput dan melompat di samping Hui Sian dengan pedang di tangan.

"Eh-he-he. kalian ini mau apa?"

Thai Khek Sian mentertawakan mereka.

"Pemuda itu apamu sih?"

"Bukan apa-apa!"

Jawab Hui Sian tegas.

"Akan tetapi dia mau menolong kami keluar dan sini. Oleh karena kau telah membunuhnya, kamipun hendak mengadu nyawa denganmu!"

Setelah, berkata demikian, Hui Sian lalu menerjang maju, diikuti oleh Hui Nio.

Thai Khek Sian tertawa bergelak.

Tentu saja dua orang gadis itu bukan lawannya.

Ia membuat gerakan aneh ke kanan kiri, terdengar bunyi "krak-krak!"

Dan dua batang pedang di tangan Hui Nio dan Hui Sian itu telah kena ia rampas dan ia patah-patahkan!

Lalu ia melempar pedang-pedang itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Akan tetapi Hui Nio dan Hui Sian tidak mau sampai di situ saja.

Biarpun pedang mereka sudah dirampas, mereka serentak maju dan menyerang dengan kepalan dan tendangan mereka!

Thai Khek Sian mulai marah.

Ia membiarkan dua orang gadis itu memukul dadanya, pukulan-pukulan itu terpental dan dua orang gadis itu merasa tangan mereka sakit sekali.

Pada saat itu Thai Khek Sian memberi tanda panggilan dengan teriakannya dan datanglah Cheng In dan Ang Hwa berlarian.

"Robohkan mereka, tapi jangan bunuh"

Kata Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa bertindak cepat.

Mereka menyerang Hui Nio dan Hui Sian yang tentu saja berusaha melawan.

Akan tetapi dari jauh Thai Khek Sian mendorong mereka sehingga keduanya jatuh terguling.

Pada saat itu Cheng In dan Ang Hwa sudah menotok jalan darah mereka, membuat dua orang gadis tawanan itu tak berdaya lagi..

Melihat Wi Liong juga rebah tak bergerak, Cheng In dan Ang Hwa menjadi khawatir sekali.

"Bawa mereka ke dalam perahu, lepaskan perahu di tengah lautan. Biarkan ombak yang memutuskan mati hidup mereka!"

Perintah Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa sudah kenal betul watak Thai Khek Sian.

Dari suara kakek ini saja tahulah mereka bahwa kakek ini sedang kesal hati dan tidak ingin perintahnya dibantah.

Maka tanpa berani banyak cakap lagi dua orang wanita cantik ini lalu menjalankan perintah itu.

Mereka mengangkat tubuh Wi Liong yang sudah lemas seperti mayat, juga tubuh dua saudara Liok dan membawanya ke dalam sebuah perahu, dibantu oleh seorang kawan lain.

Lalu perahu itu mereka dayung ke tengah lautan, antara Pulau Pek-go-to dan daratan kemudian berpindah perahu dan meninggalkan perahu kecil bergolak-golek di atas lautan.

Dengan hati berat Cheng In dan Ang Hwa meninggalkan perahu itu, berat hati mereka melihat Wi Liong, akan tetapi tidak berdaya menolong, takut kepada Thai Khek Sian.

Apa sebabnya Thai Khek Sian tidak mau membunuh Wi Liong?

Dan mengapa pula ia melepaskan Hui Nio dan Hui Sian?

Kakek ini biarpun kejam dan berwatak aneh, ia cerdik luar biasa dan dapat melihat datangnya akibat-akibat buruk kalau ia membunuh pemuda itu.

Ia tahu dari pertempurannya melawan Wi Liong tadi bahwa Thian Te Cu sudah menurunkan hampir seluruh kepandaiannya kepada muridnya.

Dia takkan mampu mengalahkan Wi Liong kalau saja ia tidak mempergunakan uap beracun.

Dengan ilmu silat saja, kiranya ia takkan dapat mengalahkan Wi Liong.

Maka ia dapat membayangkan betapa besar kesayangan Thian Te Cu kepada muridnya.

Kalau ia membunuh Wi Liong, tentu kelak Thian Te Cu takkan mau mengampunkannya.

Lain lagi kalau ia bisa mengatasi Thian Te Cu.

tentu ia takkan takut.

Akan tetapi, melihat tingkat kepandaian Wi Liong, benar-benar Thian Te Cu tak boleh dipandang ringan.

Beberapa bulan lagi ia akan mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh besar maka tak boleh ia menanam permusuhan besar dengan tokoh yang masih terhitung suhengnya itu.

Inilah yang menyebabkan ia tidak mau membunuh Wi Liong dan menyuruh dua orang muridnya, Cheng In dan Ang Hwa.

melepaskan Wi Liong di atas perahu di tengah lautan.

Juga ia tidak mau mengganggu Hui Sian dan Hui Nio karena ia tidak mau kalau hal ini kelak dipergunakan oleh Thai It Cinjin yang membencinya untuk menyerangnya di depan umum.

Pula, diam-diam ia kagum melihat sikap dua orang gadis yang membela Wi Liong tadi.

Akan tetapi Thai Khek Sian menjadi amat penasaran dan gelisah.

Hatinya mengkal dan tak senang sekali oleh kenyataan bahwa menghadapi Wi Liong saja ia tidak mampu mengalahkannya.

Ia merasa khawatir bahwa ia takkan dapat menjadi tokoh nomor satu di dunia, yang penentuannya akan ia adakan kelak pada waktu para tokoh berkumpul di pulaunya.

Maka sepergi Cheng In dan Ang Hwa yang memenuhi perintahnya, yaitu membawa tubuh Wi Liong.

Hui Nio, dan Hui Sian ke perahu dan melepaskan perahu itu di atas laut, kakek ini lalu memasuki bilik samadhinya untuk tekun melatih diri mencari kemajuan untuk ia pergunakan kelak menghadapi tokoh-tokoh besar, terutama sekali Thian Te Cu.

Sementara itu.

di atas lautan, sebuah perahu kecil terapung-apung dipermainkan ombak, miring ke kanan kiri, terayun-ayun seperti dalam buaian tangan ibu yang mencinta.

Beberapa ekor ikan hiu yang sisiknya loreng-loreng seperti harimau meluncur di kanan kiri perahu, mendorong-dorong dengan moncongnya, mengharapkan perahu itu terguling seakan-akan binatang air yang amat ganas ini sudah tahu atau mencium bahwa orang-orang yang berada di dalam perahu itu tak berdaya lagi.

Gerakan perahu oleh ayunan ombak amat halus, akan tetapi dorongan moncong ikan-ikan itu kasar dan keras seperti menggugah orang-orang yang berada di dalam perahu.

Wi Liong lebih dulu sadar atau lebih tepat lagi siuman dari pada keadaan pingsan.

Goyangan-goyangan kasar akibat perbuatan ikan-ikan itu membuat kepalanya beberapa kali terbentur pada kayu keras pinggiran perahu.

Begitu siuman, pemuda ini membuka mata dan alangkah kaget, jengah dan herannya ketika ia mendapatkan dirinya bertumpuk tidak karuan dengan dua orang gadis Liok, boleh dibilang saling berpelukan tidak sewajarnya dengan Liok Hui Nio dan Liok Hui Sian!

Yang membuat ia malu bukan main adalah kenyataan betapa ia beradu muka dengan Hui Sian seperti orang berciuman.

Ia melihat pipi yang kemerahan dan mata yang bersinar aneh dari gadis itu, seakan-akan Hui Sian membiarkan keadaan seperti itu, bahkan merasa senang!

Tentu saja ia tidak tahu bahwa gadis itu seperti juga encinya, biarpun panca inderanya masih bekerja, namun karena jalan darah mereka tertotok, mereka tidak kuasa bergerak.

Oleh karena inilah, betapapun malu dan jengah hati Hui Sian, gadis ini tidak dapat mencegah ia berciuman tanpa disengaja dengan Wi Liong.

Wi Liong cepat bangun duduk dan memandang ke kanan kiri.

Baru ia tahu bahwa ia bertumpuk di dalam perahu kecil bersama Hui Sian dan Hui Nio, dan betapa perahu itu terayun-ayun di tengah lautan.

Kaget ia melihat ikan-ikan hiu berseliweran di pinggir perahu.

Kedua tangannya digerakkan ke kanan kiri perahu mengirim pukulan dan dua ekor ikan hiu sebesar bantal berkelojotan lalu terapung dalam keadaan mati.

Bangkai mereka ini segera menjadi rebutan kawan-kawan sendiri.

Mengerikan!

Dengan tangannya pula, Wi Liong mendayung perahu menjauhi gerombolan ikan liar itu.

Kemudian ia menoleh ke arah Hui Nio dan Hui Sian.

Melihat dua orang nona ini masih saja rebah seperti tadi, tidak bergerak sama sekali, barulah Wi Liong sadar bahwa mereka itu berada dalam keadaan tertotok.

Lenyaplah sebagian besar rasa heran dan jengahnya akan sikap dua orang gadis yang seakan-akan mandah dan diam saja berpelukan dengan dia tadi.

Segera ia mengulur tangan membuka jalan darah mereka.

Hui Nio dan Hui Sian mengeluh, menggeliat melemaskan urat-urat tubuh yang kaku, kemudian Hui Sian menangis sambil menyembunyikan muka di pangkuan encinya yang menghiburnya.

"Eh, nona mengapa menangis? Kita sudah terhindar dari bahaya, terbebas dari Thai Khek Sian yang keji. Seharusnya kita bergirang, biarpun aku tidak mengerti bagaimana kita bisa tertolong dari bahaya maut."

"Sian-moi, sudahlah jangan menangis, Thio-taihiap berkata betul, tak perlu kau bersedih karena kita sudah dibebaskan oleh siluman itu dan tak perlu kau malu karena kau tidak berdaya."

Wi Liong terheran mendengar kata-kata terakhir, ia sama sekali tidak tahu bahwa Hui Sian tadi menangis karena setelah siuman menjadi malu sekali teringat akan keadaannya dengan Wi Liong tadi.

juga tidak tahu bahwa Hui Nio mengerti pula akan keadaan mereka yang aneh tadi.

Namun, tetap saja warna merah menjalar di seluruh mukanya ketika Hui Sian mengangkat muka dan bertemu pandang dengannya.

Bukan main keadaan tadi.

pikirnya, dan sekarang dia yang tak berani memandang pipi merah itu lama-lama!

"Sekarang harap ji-wi terangkan bagaimana kita bisa berada di perahu ini?"

Tanya Wi Liong, menujukan pertanyaannya kepada Hui Nio karena sekarang pandang mata Hui Sian kepadanya seakan-akan mengandung seribu bahasa yang membuat ia berdebar dan takut-takut.

"Memang aneh pengalaman kita."

Hui Nio mulai menuturkan pengalaman tadi.

"kau bertempur dengan kakek siluman dan kau tiba-tiba roboh pingsan entah mengapa aku tidak tahu. Kami mencoba untuk melawan kakek itu. akan tetapi pedang kami dipatahkan dan segebrakan saja kami roboh. Kami ditotok tak berdaya oleh perempuan-perempuan baju hijau dan merah........."

Sampai di sini Hui Nio kelihatan gemas sekali.

"Tentu saja aku sudah habis harapan dan menyerahkan diri kepada nasib. Akan tetapi aneh sekali, kakek itu tidak membunuh dan tidak mengganggu kita malah ia menyuruh dua orang perempuan itu untuk membawa kita ke perahu lalu dilepas di tengah lautan, ditinggalkan begitu saja........."

Wajah Hui Nio tiba-tiba menjadi merah karena tadipun ia rebah dengan kepala di atas dada Wi Liong!

Mendengar penuturan ini, Wi Liong mengangguk-angguk dan berkata perlahan, seperti kepada diri sendiri.

"Bagus dia masih punya rasa takut kepada suhu.........!"

Tiba-tiba ada suara menjawab kara-kata ini, suara yang datangnya sayup sampai seperti terbawa angin yang datang bertiup.

"Siapa takut gurumu? Aku sengaja memberi kau hidup supaya kau bisa cerita kepada suhumu betapa muridnya tidak berdaya menghadapi aku, dan bahwa pada musim chun nanti gurumu harus datang mengadu ilmu!"

Wi Liong berdiri di atas perahu, lalu menghadap ke arah Pulau Pek-go-to, berkata mengerahkan khikangnya, melakukan ilmu yang disebut Coan-im-jit-bit (Mengirim Suara dari Jauh).

"Thai Khek Siansu. tidak usah guruku sendiri datang. Kelak cukup aku yang datang membalas kebaikanmu membebaskan aku dari maut!"

Ucapan ini dikeluarkan oleh Wi Liong dengan nada penasaran dan pahit sekali.

Memang, bagi seorang gagah, dibebaskan begitu saja oleh seorang musuh, merupakan semacam penghinaan yang harus dibalas pula!

Thai Khek Sian tidak menjawab pula, hanya terdengar suara ketawanya yang menggema di seluruh permukaan air seperti suara iblis tertawa.

Memang hebat kepandaian kakek itu, tidak tahunya sejak tadi ia masih mengawasi orang-orang muda ini dari jauh.

Betapapun lihainya Thai Khek Sian yang harus diakui pula oleh Wi Liong, namun pemuda ini masih penasaran.

Dia memang kalah, akan tetapi kekalahan yang tidak sah, karena kakek itu menggunakan kecurangan.

Ia harus minta nasihat gurunya dalam hal ini dan kelak, jika masanya tiba.

ia akan menghadapi Thai Khek Sian lagi untuk menebus kekalahannya, untuk menebus penghinaan tadi dan sekali waktu ia harus dapat membebaskan pula kakek iblis itu dari maut, seperti tadi!

Sementara itu, Hui Nio dan adiknya memandang kepada Wi Liong dengan melongo.

Memang tadipun ketika menyaksikan pertempuran antara pemuda ini dengan Thai Khek Sian, mereka sudah kagum sekali.

Sekarang baru mereka takluk betul dan mengakui bahwa pemuda ini adalah seorang sakti.

Malah lebih hebat dari pada Kun Hong, pikir mereka.

Hui Sian makin kagum saja.

Baru-baru ini ia bertemu dengan Kun Hong yang amat mengagumkan hatinya, sekarang ia bertemu dengan pemuda yang malah melebihi Kun Hong.

Hal ini adalah karena hati gadis ini masih kosong, maka ia tertarik kepada pemuda-pemuda yang gagah perkasa dan tampan.

Tidak demikian dengan Hui Nio.

Biarpun ia juga merasa kagum sekali melihat Wi Liong, namun hatinya sudah tertambat kepada Kong Bu dan di dunia ini tidak ada pemuda yang dapat melebihi Kong Bu tunangannya itu.

"Thio-taihiap telah bersusah payah menolong kami berdua kakak adik. maka kau adalah penolong kami yang patut kami muliakan. Terima kasih banyak. Thiotaihiap dan semoga Thian saja kelak membalas budi ini kalau kami tidak kuasa membalasnya."

Kata Hui Nio sambil menjura dengan hormat. Wi Liong terkejut dan cepat-cepat membalas penghormatan itu.

"Harap ji-wi siocia (nona berdua) jangan mempergunakan banyak peraturan sungkan. Mana bisa aku disebut penolong!"

Ia tertawa pahit teringat akan kekalahannya lagi.

"Belum sempat menolong aku sudah tertawan! Kalau ada bicara tentang menolong, kiranya harus dikatakan bahwa kita bertiga ini tertolong oleh Thai Khek Sian!"

"Jangan berkata begitu, taihiap. Yang patut di hargai bukanlah perbuatannya, melainkan usahanya. Usaha yang baiklah yang patut dihargai tanpa melihat bagaimana hasilnya. Taihiap sudah bersusah payah berusaha menolong kami dengan melupakan keselamatan diri sendiri, betapapun hasil usaha pertolongan itu. tetap saja kami merasa berterima kasih sekali dan taihiap adalah penolong kami!"

Wi Liong tersenyum dan kagum mendengar ucapan gadis ini yang sekaligus membayangkan kecerdasan otaknya dan kebaikan hatinya.

"Enci Hui, kau bagaimana sih? Kalau tidak datang Thio-taihiap. apakah kita sekarang bisa ter-bebas dan berada di atas perahu ini? Biarpun yang melepaskan kita adalah Thai Khek Sian, akan te-tapi sebetulnya yang dilepas adalah taihiap dan kita hanya membonceng saja. Bukankah begitu?"

Hui Nio tertawa menutupi mulutnya, memandang kepada Wi Liong.

"Kau betul, Hui Sian. Aku sampai lupa. Nah, taihiap. Kau mendengar sendiri. Memang, biarpun kau dirobohkan Thai Khek Sian. akan tetapi usahamu menolong kami berhasil baik, buktinya kami sudah terbebas! Kalau tidak kau datang menyerbu, mana bisa kami dibebaskan?"

Wi Liong terpaksa mengakui kebenaran kata-kata ini.

"Sudahlah, di antara orang sendiri mana perlu bicara tentang tolong-menolong? Yang ada hanya wajib."

"Ketika datang, taihiap bilang disuruh oleh Kong-twako. Bagaimana kau bisa bertemu dan berkenalan dengan dia?"

Tanya Hui Sian.

"Apakah luka-lukanya sudah sembuh......?"

Hui Nio menyambung dengan suara mengandung penuh kekhawatiran akan keselamatan tunangannya itu.

"Mari bantu aku mendayung perahu ini menuju ke daratan, nanti kuceritakan,"

Ajak Wi Liong.

Tiga orang muda itu lalu mendayung perahu mempergunakan tangan saja.

Biarpun hanya telapak tangan yang menggantikan dayung, Hui Nio dan Hui Sian di sebelah kiri perahu sedangkan Wi Liong di sebelah kanan, namun karena mereka bertiga adalah orang-orang terlatih dan memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga yang luar biasa, maka perahu dapat meluncur cepat, tidak kalah oleh perahu yang didayung oleh tukang-tukang perahu mempergunakan dayung yang baik.

Dengan singkat Wi Liong lalu menceritakan perjalanannya.

Dua orang gadis itu gembira sekali mendengar bahwa Wi Liong sudah kenal baik dengan See-thian Hoat-ong Kong Lek In ayah Kong Bu dan lebih kagum lagi mendengar betapa Pak-thian Koai-jin juga datang untuk bersama See-thian Hoat-ong menolong Pui Eng Lan murid Pak-thian Koai-jin yang terculik oleh Kui-bo Thai-houw.

"Kui-bo Thai-houw lihai dan berbahaya sekali........."

Kata Hui Nio.

"Karena itu aku harus lekas-lekas menyusul ke sana untuk membantu kawan-kawan,"

Kata Wi Liong yang kini merasa khawatir juga mengingat betapa See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin hendak menolong Eng Lan di Pulau Ban-mo-to, menghadapi Kui-bo Thai-houw yang berbahaya.

"Taihiap, biarkan kami ikut. Kami akan membantu sedapat mungkin,"

Kata Hui Sian dengan suara memohon.

"Dengan perahu ini dari sini kita bisa langsung pergi ke Ban-mo-to. arahnya ke selatan."

Wi Liong menggeleng kepala.

"Tidak perlu, nona. Selain kalian sudah lelah dan mengalami kekagetan, juga perjalanan itu amat berbahaya. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kalian, bagaimana aku akan berkata kepada See-thian Hoat-ong lo-enghiong? Mari kalian kuantar mendarat lebih dulu setelah itu terpaksa aku akan mendahului kalian pergi ke Ban-mo-to."

Hui Sian nampak merengut, akan tetapi kakaknya yang lebih cerdik lalu berkata.

"Hui Sian. kau ini masa masih hendak membikin susah Thio-taihiap? Kau sendiri tahu betapa lihainya penghuni Ban-mo-to dan perjalanan itu kiranya tidak kurang bahayanya dari pada ke Pek-go to Malah-malah iblis betina itu bisa lebih kejam dari pada iblis Pek-go-to. Kita yang berkepandaian rendah jangan kata membantu, malah-malah membikin repot saja. Jangan bersikap seperti anak kecil!"

Hui Sian mengangguk-angguk maklum. Wi Liong merasa tidak enak sekali.

"Aku sama sekali tidak berani memandang rendah kepada kalian. Ilmu kepandaian kalian sudah cukup tinggi, malah lebih tinggi dari pada kebanyakan gadis ahli silat. Sedikitnya setingkat dengan kepandaian nona Pui Eng Lan. Akan tetapi, biarpun aku tidak bermaksud meremehkan kalian, namun kata-kata yang diucapkan oleh nona Hui Nio tadi tepat sekali. Kalau sampai terjadi pertempuran, seperti ketika aku menghadapi Thai Khek Sian tadi, bagaimana aku bisa melindungi kalian? Kabarnya, Kui-bo Thai-houw tidak kalah lihainya oleh Thai Khek Sian."

Dua orang gadis itu tak dapat membantah lagi setelah mendengar ucapan yang jujur ini.

Mereka menjadi makin kagum dan suka kepada pemuda yang selain lihai, juga halus perangainya dan jujur sikapnya ini.

Setelah memandang beberapa lamanya dengan kagum, Hui Sian bertanya.

"Thio-taihiap ini murid siapakah? Agaknya Thai Khek Sian takut kepada suhumu."

"Suhu disebut Thian Te Cu."

Dua orang gadis itu terkejut sekali.

"Si Mayat Hidup?"

"Hush...... Hui Sian. jangan kurang ajar!"

Tegur Hui Nio kepada adiknya yang tadi menyebutkan "Si Mayat Hidup". Akan tetapi Wi Liong hanya tersenyum.

"Begitulah orang-orang yang tidak suka menyebut nama suhu. Anehnya, bagaimana kau bisa tahu nama poyokan itu, nona?"

Muka Hui Sian menjadi merah.

"Maafkan, aku tidak sengaja mengejek. Aku mendengar nama itu dari......... dari........."

"Begini, taihiap. Yang suka menyebut nama itu adalah suhu kami,"

"Siapakah guru kalian?"

"Suhu adalah Thai It Cinjin di Bukit Kum-Ie-san,"

Jawab Hui Nio.

Wi Liong tercengang.

Teringat ia kepada kakek tinggi besar berkepala botak bermata lebar yang lengannya berbulu, kakek yang bersama Im-yang Siang-cu pernah menyerbu Wuyi-san.

Ia mengangguk-angguk dan maklumlah ia kini mengapa Hui Sian mengenal poyokan gurunya itu.

Memang ia tahu bahwa ipar dari Gan Yan Ki itu benci kepada Thian Te Cu dan lebih benci kepada Thai Khek Sian.

seorang tokoh yang amat aneh.

"Dan di sana tinggal pula dua orang kakek yang disebut Im-yang Siang-cu?"

Tanyanya minta kepastian.

"Im-yang Siang-cu adalah tokoh-tokoh Bu-tong-pai, mereka paman-paman guru kami,"

Kata Hui Sian. kaget dan heran bagaimana pemuda ini bisa mengenal susiok-susioknya.

"Dan Beng Kun Cinjin, itu, bukankah dia itu....... keponakan suhu kalian, Thai It Cinjin? Mengapa dia malah bersama Thai Khek Sian menculik kalian yang menjadi murid-murid pamannya?"

"Keledai gundul itu!"

Hui Sian memaki.

"Siapa tahu akan maksudnya? Tadinya ia berada di Kum-Ie-san, menumpang kepada suhu, sikapnya baik-baik dan dia diperlakukan baik pula oleh guru dan kami semua. Ia melarikan diri setelah Kim-Ie-san didatangi pemuda yang bernama Kun Hong itu. Tahu-tahu.ia lari ke Pek-go-to dan bersekutu dengan iblis itu menculik kami."

Selama perjalanan ke daratan, Wi Liong mengobrol dengan dua orang gadis itu.

Hui Sian memang ramah-tamah, lincah dan pandai bergaul.

Juga Wi Liong mendapat banyak keterangan sehingga ia tahu banyak tentang Kun Hong.

tentang Ban-mo-to, tentang Thai It Cinjin dan lain-lain.

Setelah tiba di darat, ia lalu berpisah dengan kedua orang gadis itu.

"Kalian tahu betapa perlunya aku harus menyusul ke Ban-mo-to. Di sana ada Kong Bu, ada See-thian Hoat-ong, ada Pak-thian Koai-jin, ada nona Pui. dan mungkin mereka itu membutuhkan bantuanku. Maafkan aku terpaksa meninggalkan kalian, menyesal sekali karena sesungguhnya menyenangkan melakukan perjalanan dengan kalian yang ramah dan manis budi."

"Taihiap, kalau sudah pulang dari Ban-mo-to. harap kau sudi mampir ke Kim-Ie-san."

Kata Hui Sian, Wi Liong mengangguk.

"Kalau tiada halangan,"

Jawabnya.

Kemudian setelah berpamit sekali lagi, tubuhnya berkelebat lenyap dan dua orang aadis itu untuk beberapa lama masih berdiri kagum.

Kemudian keduanya lalu melanjutkan perjalanan, pulang ke Kim-Ie-san.

Dengan cepat sekali Wi Liong melakukan perjalanan kembali ke Kim-Ie-san.

Untung baginya bahwa Thai Khek Sian benar-benar tidak ingin menimbulkan kemarahan Thian Te Cu maka ketika merobohkannya, hanya mempergunakan asap beracun yang tidak berbahaya, hanya membuat dia pingsan saja.

Akan tetapi pengalaman ini bagi Wi Liong terasa amat pahit dan menyakitkan hati.

Sudah dua kali dia roboh oleh kakek pentolan Mo-kauw itu.

Pertama kali dahulu lebih hebat lagi, baru segebrakan saja ia sudah roboh dan pasti akan tewas kalau tidak ada Cheng In dan Ang Hwa yang menolongnya.

Sekarang kembali dia roboh setelah ia menerima gemblengan dari suhunya.

Pengalaman ini membuatnya lebih hati-hati kelak kalau menghadapi lawan-lawan tangguh semacam Thai Khek Sian.

Cheng In dan Ang Hwa.........!

Teringat akan dua orang gadis ini, mau tidak mau Wi Liong terkenang pula kepada Hui Nio dan Hui Sian.

Terutama sekali Hui Sian!

Terbayang ia ketika ia rebah di perahu, boleh dibilang bertumpang tindih dengan dua orang gadis itu.

Lagi-lagi pemuda ini menarik napas panjang.

Kenapa nasibnya selalu membawanya kepada wanita-wanita yang menarik dan yang mendebarkan jantungnya?

Setelah ia kehilangan Siok Lan, setelah hatinya rusak dan patah mendengar betapa Siok Lan telah meninggal dunia karena hendak bersetia kepadanya, kenapa masih saja ada gadis-gadis yang menghadang dalam perjalanan hidupnya?

Tidak, pikirnya mantap.

Aku takkan memperdulikan mereka.

Tidak ada seorangpun gadis di dunia ini seperti Siok Lan!

Ketika tiba di Kim-Ie-san, ia mendapat kenyataan bahwa tak seorangpun di antara tokoh-tokoh yang hendak menolong Eng Lan nampak sudah kembali!

Semua orang pergi ke Ban-mo-to.

Tidak hanya See-thian Hoat-ong, Pak-thian Koai-jin, dan Kong Bu, bahkan Thai It Cinjin dan kedua Im-yang Siang-cu keduanya juga ikut pergi menyeberang ke Ban-mo-to.

Dan tak seorangpun kembali!

Hati Wi Liong menjadi tidak enak sekali.

Ia belum pernah bertemu dengan Kui-bo Thai-houw, akan tetapi sudah lama ia mendengar akan kelihaian nenek itu dan tentang bahayanya pergi ke Ban-mo-to yang kabarnya malah tidak kalah hebatnya kalau dibandingkan dengan Thai Khek Sian di Pekgo-to.

Ia merasa amat khawatr akan keselamatan Eng Lan dan yang lain-lain.

Tanpa membuang waktu lagi Wi Liong lalu niengejar ke pantai, hendak menyusul ke Ban-mo-to menghadapi Kui-bo Thai-houw!

Ia belum pernah merasai kelihaian permaisuri itu, maka diam-diam ia ingin belajar kenal.

Ternyata harapannya ini terpenuhi dengan cepat, malah sebelum ia tiba di Ban-mo-to.

Ketika ia menuju ke pantai dan melewati daerah pegunungan yang masih termasuk dalam wilayah kekuasaan Thai It Cinjin di Kim-Ie-san, dari jauh ia melihat banyak orang berkumpul di sebuah tanah datar di antara gunung-gunung kecil dari batu kapur.

Di bagian kiri berkumpul sederetan orang berpakaian seragam, nampaknya seperti ahli-ahlj silat dan sikap mereka tenang keren dengan kedua lengan disembunyikan di belakang badan.

Ada duapuluh empat orang yang berdiri di sebelah kiri dengan kaki terpentang lebar dan mata memandang ke depan.

Di sebelah kanan kelihatan beberapa orang petani yang agaknya juga tertarik dan melihat apa yang terjadi di situ.

Apakah yang mereka lihat?

Dua orang kakek aneh yang saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago tengah berlagak.

Yang seorang bertubuh pendek, kepalanya gundul pelontos, jangankan rambut, bekasnyapun tidak ada seperti kulit bawang yang menutupi batok kepalanya.

Kepala itu tidak rata pula, benjal-benjol biarpun bentuknya bundar.

Matanya seperti meram terus, akan tetapi mulutnya nyengir terus seperti orang merasa geli hatinya.

Bajunya, seperti celananya, sudah koyak-koyak pada ujungnya.

Kakek pendek gundul ini berdiri dengan sebuah senjata aneh di tangan kanan.

Senjatanya ini belum pernah terlihat di dunia persilatan, karena merupakan senjata bergagang yang luar biasa.

Bentuknya gepeng bulat, merupakan gigi-gigi seperti roda bergigi, gagang itu dipasang sampai di tengah roda sehingga roda dapat berputaran.

Gigi-giginya tajam dan runcing.

Yang dihadapinya adalah seorang setengah tua yang menyeramkan.

Laki-laki ini bertubuh tinggi besar, alisnya tebal sekali akan tetapi tidak panjang, dahinya lebar dan yang paling menarik dan menyeramkan adalah gurat-gurat bekas luka pada mukanya di alis mata kanan kiri dan di pipinya seperti bekas luka bacokan senjata tajam.

Kedua tangan orang tinggi besar ini memegang senjata sepasang gembolan yang dahsyat, gembolan baja yang diberi duri.

Melihat sikap dan pakaiannya, tentu orang ini serombongan dengan barisan orang yang berdiri di belakangnya.

(Lanjut ke

Jilid 27) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 27 Wi Liong menjadi tertarik hatinya dan menyelinap untuk mengintai karena ia mendengar nama Kui-bo Thai-houw disebut-sebut.

Yang menyebut nama ini adalah orang tinggi besar yang mukanya bergores cacad itu.

"Tak perduli kau sahabat baik Kui-bo Thai-houw atau masih keponakan Raja Neraka, jangan harap kau akan menakutkan aku dan boleh menghina Pek-eng-pai (Perkumpulan Garuda Putih),"

Kata si muka cacad.

Mulut yang selalu tersenyum-senyum itu tiba-tiba terbuka dan mengeluarkan suara ketawa terbahak.

Wi Liong bergidik mendengar ini, juga geli.

Suara ketawa ini mengingatkan ia akan suara seekor ular besar di dalam hutan.

"Kak-kak-hah-hah! Sombongmu! Mukamu yang penuh goretan pedang itu saja sudah menunjukkan kelemahanmu, toh kau bersikap seperti orang yang tak pernah terkalahkan! Hah-hah, kau dan dua losin orang-orangmu ini sudah bosan hidup agaknya, berani sekali menghina Thai-houw. Aku Si Naga Sakti tidak bisa memberi ampun lagi!"

Sambi1 berkata demikian, orang gemuk pendek, yang lucu ini menggerak-gerakkan senjata roda bergigi di tangannya penuh ancaman.

Akan tetapi karena mulutnya selalu menyeringai ia sama sekali tidak kelihatan galak atau keren, malah lucu menggelikan.

Wi Liong sampai menahan suara ketawanya mendengar orang lucu ini menyebut diri sendiri Si Naga Sakti!

Akan tetapi, bagi orang yang cacad mukanya itu sama sekali tidak dapat melihat kelucuan ini, dengan marah ia lalu mengayun sepasang senjata gembolannya dan sambil menggereng seperti singa ia mulai menyerang.

Gembolan baja yang demikian beratnya, ditambah duri-duri lagi, menyambar ke arah kepala yang gundul pelontos dan kehhatan halus kulitnya itu seperti buah tomat besar yang sudah masak.

Kalau kena tentu akan bejat!

Tidak disangka orang gemuk pendek berkepala gundul itu ternyata gesit sekali gerak-geraknya.

Sambaran gembolan kiri ke arah kepalanya yang licin pelontos itu dapat ia kelit ke kiri dengan mudahnya dan ketika lawannya menyerang lagi dengan gembolan kanan, ia sudah menangkis dengan senjatanya roda bergigi.

"Klang.........!!"

Terdengar bunyi nyaring disusul muncratnya bunga api ketika dua senjata itu bertemu.

Keduanya terpental mundur, sekilas memeriksa senjata masing-masing dan merasa lega karena senjata mereka tidak rusak dalam pertemuan dahsyat itu.

Dengan cepat mereka menerjang maju lagi, lebih hebat dan lebih hati-hati dari pada tadi karena maklum bahwa lawan bukan orang lemah.

Di lain saat dua orang jagoan itu sudah saling hantam lagi dengan sengitnya.

Siapakah kedua orang yang tahu-tahu sudah berkelahi mati-matan ini?

Pertanyaan ini memasuki kepala Wi Liong.

Orang muka cacad itu memang kepala perkumpulan Pek-eng-pai, bernama Tek Loan berjuluk Eng-jiauw-ong (Raja Kuku Garuda), merupakan orang terkemuka di selatan dan perkumpulannya Pek-eng-pai biarpun tidak besar namun cukup berpengaruh.

Pada hari itu ia membawa anggauta-anggautanya hendak mengunjungi Thai It Cinjin dengan keperluan............

meminang Liok Hui Sian!

Ia pernah bertemu dengan Hui Nio dan Hui Sian, dan karena ia sudah tahu pula bahwa Hui Nio sudah bertunangan dengan putera See-thian Hoat-ong, maka ia datang melamar adiknya, Hui Sian.

Tentu saja kalau mengingat akan usia dan mukanya yang bercacad, tidak patut orang ini melamar Hui Sian.

Akan tetapi ia mengandalkan kepandaiannya, dan kekayaannya.

Pula, ia memang kenal baik dengan Thai It Cinjin dan Im-yang Siangcu.

Maka besar harapannya akan diterima pinangannya itu.

Ketika tiba di Kim-Ie-san.

ia mendapatkan rumah Thai It Cinjin kosong dan.

tak seorangpun dapat dijumpainya kecuali para pelayan yang menyatakan bahwa Thai It Cinjin dan kawan-kawannya sedang pergi ke Ban-mo-to.

Tek Loan orangnya sombong.

Ia memang sudah pernah mendengar nama Kui-bo Thai-houw dari Ban-mo-to, akan tetapi karena di daerahnya sendiri ia merupakan orang nomor wahid.

mana ia takuti segala macam Kui-bo Thai-houw?

Dengan semangat sebesar Gunung Thai-san.

ia lalu mengajak anak buahnya menyusul ke Ban-mo-to.

Dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan si gundul lucu itu.

Si gundul ini petentang-petenteng menghadang jalan, malah datang-datang menegur marah suaranya -akan tetapi masih tersenyum-senyum mulutnya.

"Kalian ini bocah-bocah dari mana berani memasuki wilayah yang sudah dikuasakan oleh Thai-houw kepadaku untuk menjaga? Tanpa seijin Thai-houw, tidak boleh orang luar dan orang asing memasuki wilayah sini. Hayo kalian ini lekas pergi minggat, kecuali kalau sudah meninggalkan benda tanggungan."

"Benda tanggungan apa?"

Tanya Tek Loan yang masih bingung mendengar teguran itu.

"Benda tanggungannya kepala kalian."

Si gundul berkata sambil pecengas-pecengis.

Tentu saja Tek Loan menjadi marah dan seperti sudah dituturkan di bagian atas, mereka lalu bertempur hebat.

Tentu saja Tek Loan terkejut sekali ketika mendapatkenyataan bahwa si gundul yang lucu ini ternyata tidak lucu kepandaiannya jauh dari pada lucu, tak boleh dibuat mainan.

Senjata roda bergigi itu lihai dan berbahaya sekali.

Terpaksa Tek Loan yang di kandang sendiri menjadi jago nomor satu itu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan berusaha mati-matian merobohkan lawan gundul pacul ini.

"Remuk kepalamu!"

Bentaknya sambil mengerahkan tenaga, menghantam kepala si gundul itu. Hantaman ini hebat sekali, agaknya sudah tak keburu ditangkis atau dielakkan lagi.

"Belum, tidak kena!"

Terdengar si gundul mengejek dan aneh sekali, tiba-tiba kepalanya hilang!

Benar-benar hebat si gundul ini.

Agaknya ia mempunyai ilmu bulus, karena kepalanya seperti disedot masuk bersembunyi di dalam dadanya.

Tentu saja tidak demikian halnya, hanya saking cepatnya gerakan lehernya dan tubuhnya yang merendah, seakan-akan kepalanya hilang.

Seketika Tek Loan kaget sekali dan terheran-heran.

Akan tetapi melihat bahwa lawannya sudah berhasil menghindarkan diri kemarahannya memuncak.

"Pecah dadamu!"

Bentaknya dan kini tubuhnya mumbul ke atas dan seperti seekor burung garuda, ia menyambar dari atas, mengayun gembolan kanan menghantam dada si gundul.

"Pecah apanya, kena juga tidak!"

Si gundul kembali mengejek sambil menangkis dengan senjata roda bergigi.

"Klangggg.........!"

Bunga api berpijar dan tiba-tiba si gundul marah-marah. Ia berjingklak-jingklak (meloncat-loncat dengan sebelah kaki), kaki kirinya diangkat dan dengan kaki kanan ia meloncat berputaran.

"Aduh...... aduh...... curang.......!"

Keluhnya.

Ternyata ketika dua senjata tadi bertemu, sebuah di antara duri-duri baja di gembolan Tek Loan telah patah dan menyambar betis kaki kirinya.

Tentu saja ini menyakitkan sekali.

Tek Loan yang melihat ini, tertawa bergelak.

"Hah ha-ha, monyet gundul rasakan kelihaianku. Ha-ha-ha!"

"Curang! Cuhhh.........!!"

Si gundul tiba-tiba meludah ke arah muka Tek Loan.

Karuan saja ketua Pek-eng-pai ini menjadi gelagapan, Ia tadi sedang tertawa karena girang, mentertawakan lawannya yang terluka, maka ketika serangan air ludah lawan datang, ia tidak sempat mengelak dan penuhlah mukanya dengan air ludah.

Hebatnya, air ludah yang mengenai mukanya itu menimbulkan rasa perih dan sakit.

Ini karena si gundul bukan sembarangan orang dan bukan sembarangan meludah, melainkan mempergunakan lweekangnya.

Lebih celaka lagi bagi Tek Loan, selagi matanya pedas terkena hujan air ludah dan ia tengah gebres-gebres karena hidung dan mulutnya juga kebagian air ludah, si gundul sudah maju menerjangnya lagi dengan mulut tetap menyengir kuda!

Dengan repot sekali Tek Loan memutar sepasang gembolannya melindungi tubuhnya sambil memberi isyarat kepada kawan-kawannya.

Serentak lima orang kawannya melompat maju mengeroyok si gundul itu.

"Eh-eh. curang! Licik! Mana ada aturan main keroyokan?"

Biarpun ia sibuk sekali-melompat ke sana ke mari menghadapi keroyokan itu, si gundul ini masih sempat memaki dan mencela.

"Apa macammu ini tidak curang?"

Tek Loan membentak marah.

"Apanya yang curang?"

Si gundul balas membentak sambil melompat ke belakang akan tetapi segera dikejar dan dikepung lagi.

"Mana ada aturan bertempur terdesak lalu meludahi muka!"

Omel Tek Loan mendongkol.

Untuk sesaat si gundul tak dapat menjawab, memutar senjata melindungi diri sambil memutar otak.

Kemudian ia menjawab, agaknya sudah mendapat alasan baik untuk menyangkal bahwa ia curang.

"Habis baumu tidak enak, bikin orang ingin meludah!"

Tentu saja jawaban ini bukan membikin Tek Loan menarik kembali tuduhannya bahwa si gundul curang, malah-malah membuat ia marah bukan main.

"Bunuh monyet gundul ini! Penggal lehernya!"

Sambil berkata demikian, bersama lima orang kawannya Tek Loan mendesak maju.

Si gundul masih mencoba mempertahankan diri, akan tetapi repot sekali dia sampai tubuhnya basah semua oleh peluh.

Kepalanya yang seperti bola karet itupun sampai mengeluarkan keringat berbutir-butir.

Melihat ini.

Wi Liong menjadi kasihan.

Biarpun ia tidak tahu siapa adanya si gundul ini, dan orang macam apa adanya mereka semua itu, tidak tahu pula siapa salah siapa benar dalam pertempuran itu.

akan tetapi ia suka melihat si gundul yang amat lucu.

Sekarang melihat si gundul dikeroyok dan terdesak hebat sehingga berbahaya keselamatannya, Wi Liong mengambil keputusan hendak menolongnya.

Akan tetapi ia tidak jadi bergerak karena tiba-tiba telinganya mendengar berkesiurnya angin disusul suara ketawa cekikikan, suara ketawa beberapa orang wanita.

Kagetlah dia karena dalam suara ketawa ini terkandung khikang yang hebat juga.

"Engko Ek Kok, apa kadal-kadal itu mengganggumu?"

Terdengar suara seorang wanita dan muncullah empat orang wanita yang lucu, gemuk-gemuk genit-genit dan serupa, baik wajah maupun pakaiannya, mukanya burik-burik semua, serupa pula bopengnya.

"Jangan takut,"

Sambung wanita ke dua.

"'Kami membantumu,"

Kata yang ke tiga.

"Mari basmi kadal-kadal ini, engko Ek Kok!"

Kata yang ke empat.

"Ha-ha-ho-ho-kak-kak-kak, bagus sekali kalian datang, adik-adikku yang manis, adik-adikku yang denok ayu! Kadal-kadal ini menjemukan, hayo ganyang!"

Sahut si gundul yang sebetulnya bernama Phang Ek Kok dan dia adalah saudara sekandung, kakak empat orang wanita kembar ini.

Empat orang wanita kembar ini bukan lain adalah Phang Si Hwa, Phang Tung Hwa, Phang Nam Hwa, dan Phang Pai Hwa yang menjadi pelayan-pelayan kesayangan dari Kui-bo Thai-houw!

Begitu empat orang perawan tua kembar empat yang genit dan lihai ini menyerbu, mainkan sabuk tali dan pukulan-pukulan mereka yang hebat dalam bentuk barisan segi empat, bubarlah keroyokan Tek Loan dan lima orang kawannya.

Hebat dan anehnya, begitu terlepas dari kepungan dan mendapat bantuan, Phang Ek Kok kakek gundul itu lalu menjatuhkan diri di atas tanah, bersandar kepada batu gunung dan.....

tidur mendengkur, mengorok seperti babi dipotong lehernya!

Benar-benar tokoh yang lihai, aneh dan lucu sekali.

Belum lama Phang Ek Kok datang ke Ban-mo-to.

Seperti biasa, ia datang untuk menjenguk empat orang adik kembar yang amat dikasihinya itu, datang bersama seorang anaknya yang sudah remaja puteri.

Akan tetapi Kui-bo Thai-houw tidak suka melihat dia lama-lama di Ban-mo-to.

Sungguhpun tiada alasan bagi Kui-bo Thai-houw untuk membenci orang lucu ini, akan tetapi ia tidak suka melihat tokoh yang kadang-kadang bermulut lancang, bicara seenaknya saja tanpa sungkan lagi.

Akan tetapi mengingat empat orang pelayannya, Kui-bo Thai-houw masih selalu bersabar.

Sekarang melihat kedatangan kakek gundul aneh ini yang bicara tidak karuan ketika kakek ini melihat Kun Hong di situ, ia lalu menyuruh Ek Kok untuk mengawasi keadaan di wilayah Kim-le-san.

"Daerah itu sekarang tidak bertuan, kau boleh awasi dan wakili aku menjaga daerah itu. Jangan boleh lain orang kangkangi,"

Demikian pesan Kui-bo Thai-houw.

Karena dia memang aneh, Ek Kok taat tanpa banyak bertanya lagi.

Puteri-nya yang masih suka tinggal di Ban-mo-to.

terpaksa ikut juga, akan tetapi tidak ikut ayahnya yang suka berkeliaran, melainkan tinggal di dekat bekas tempat tinggal Thai It Cinjin melakukan penjagaan mentaati perintah ratu Ban-mo-to.

Setelah empat orang nenek kembar itu menggantikan kakak mereka menghadapi Tek Loan dan kawan-kawannya, ketua Pek-eng-pai menjadi terdesak.

Malah dua orang pembantunya telah kena dirobohkan sehingga sekarang keadaan menjadi empat lawan empat.

"Maju, serbu.........!!"

Perintah Tek Loan kepada orang-orangnya dan menyerbulah belasan orang itu dengan senjata tajam di tangan.

Betapapun lihainya empat orang pelayan Kui-bo Thai-houw itu, menghadapi keroyokan duapuluh lebih orang-orang Pek-eng-pai yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu, repot jugalah mereka.

"Engko Ek Kok........."

"......... jangan ngorok aja........."

"......... bangunlah segera........."

"......... bantulah kami.........!"

Demikian mereka bersahut-sahutan minta bantuan kakak mereka yang masih tidur mendengkur sambil bergerak secepatnya untuk melindungi diri dari hujan senjata para pengeroyok.

Akan tetapi kakek gundul itu tetap saja mengorok.

Melihat munculnya empat orang wanita yang juga amat lucu dan aneh.

mukanya buruk-buruk dan ada mirip-miripnya dengan Ek Kok si gundul.

Wi Liong menjadi makin geli dan tertarik.

Alangkah banyaknya orang-orang aneh di dunia ini, pikirnya kagum.

Juga ia harus memuji ilmu silat empat orang wanita itu yang betul-betul lihai sekali.

Akan tetapi ia juga kaget melihat betapa setiap orang pengeroyok yang roboh di tangan empat orang wanita ini, kesemuanya roboh untuk selamanya karena tak dapat bangun lagi, sudah tewas.

Diam-diam ia ngeri juga melihat keganasan hati orang yang dilakukan dengan tertawa-tawa cekikikan!

Karena melihat kekejaman inilah membuat Wi Liong ragu-ragu dan tidak mau turun tangan membantu biarpun empat orang wanita itu mulai terkurung dan terdesak oleh para anggauta Pek-eng-pai.

Pada saat ia sedang bimbang, ia kaget sekali mendengar berkesiurnya angin yang luar biasa disertai bau semerbak harum.

Segera disusul jerit-jerit mengerikan dan ketika Wi Liong memandang, hampir ia berteriak kaget karena semua orang Pek-eng-pai, berikut kepalanya, Tek Loan dan sisanya yang masih ada sembilan belas orang, semua rcboh tak dapat bangun lagi!

Dan sebagai gantinya, di atas sebuah batu besar berdiri seorang wanita cantik agung dan angkuh, seorang wanita yang sebetulnya sudah tua akan tetapi karena pakaiannya yang indah, karena hiasan-hiasan dan rawatan mukanya yang dulu memang cantik jelita, ia masih nampak muda dan tetap menarik, apa lagi kerling matanya yang masih seindah mata burung hong dan bibirnya yang merah semringah membayangkan gairah hati yang tak kunjung padam.

Dari tubuhnya keluar bau semerbak yang harum tadi.

Wi Liong melongo.

Tak dapat disangikal lagi, wanita ini memiliki kepandaian yang amat luar biasa.

Ginkangnya sempurna sampai-sampai kedatangannya begitu cepat sukar diikuti pandangan mata.

kepandaiannya tinggi sehingga dalam sekejap mata saja semua pengeroyok sudah dirobohkannya Akan tetapi alangkah kejam dan ganasnya!

Ataukah dia tidak membunuh semua orang itu?

Dari tempat Wi Liong bersembunyi, orang-orang yang rcboh itu seperti orang pingsan atau terkena totokan saja.

akan tetapi tarikan muka pada para korban itu mengerikan dan meragukan hatinya.

Wanita cantik itu membuka mulut dan suaranya halus berpengaruh.

"Ek Kok. percuma saja kau memakai julukan Sin-liong (Naga Sakti). Menghadapi orang-orang seperti ini saja kau tidak dapat mengatasi. Karena sudah cukup lama kau bertemu dan melepas rindu dengan keempat orang adikmu, sekarang kau pergilah bersama anakmu dan jangan kau datang kembali sebelum membawa serta anakmu yang seorang lagi. Aku ingin melihat si kembar bersatu kembali!"

Setelah berkata demikian, wanita itu memberi isyarat dengan lambaian tangannya dan empat orang wanita burik yang aneh itu seperti anjing-anjing piaraan lalu mengikuti wanita itu.

Adapun kakek gundul itu, tanpa berani membantah lagi lalu pergi dari situ berlari-lari cepat.

Tadi begitu wanita cantik itu muncul, ia sudah bangun dan berdiri dengan kepala tunduk.

Tinggal Wi Liong seorang diri di tempat sembunyinya.

Keadaan sunyi sepi, mengerikan sekali kalau melihat tubuh-tubuh bertumpuk menggeletak di sana-sini!

Wi Liong melompat keluar dan seruan kaget serta marah keluar dari bibirnya ketika ia memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa semua anggauta Pek-eng pai itu sudah mati terkena pukulan jarak jauh yang luar biasa keji dan lihainya.

"Kui-bo Thai-houw.........!"

Bisiknya mengertak gigi saking gemasnya.

"Tak salah lagi, dia tentu Kui-bo Thai-houw. Siapa lagi kalau bukan dia di dunia ini yang begini kejam?"

Makin gelisah hatinya memikirkan keselamatan Eng Lan dan orang-orang lain yang mendatangi Ban-mo-to.

Ia cepat melompat, memanggil-manggil para petani yang tadi lari cerai-berai setelah terjadi pertempuran hebat.

"Sudah tidak ada orang jahat lagi. Mayat-mayat itu perlu segera dikubur, kalau tidak, akan membusuk dan akan meracuni daerah ini. Harap saudara-saudara mengumpulkan teman-teman untuk mengurus dan menguburnya. Aku hendak menyusul kawan-kawan ke Ban-mo-to."

Setelah berkata demikian, pemuda ini cepat berlari kencang mengejar Kui-bo Thai-houw dan empat orang pelayannya.

Ia tidak perdulikan lagi kakek gundul tadi.

Kalau saja Wi Liong mengikuti perjalanan kakek gundul ini dan melihat puterinya, tentu pemuda itu akan mengalami kekagetan yang hebat!

Wi Liong mengerahkan kepandaiannya untuk mengejar Kui-bo Thai-houw, akan tetapi karena yang dikejarnya juga bukan sembarang orang, maka ketika ia tiba di pantai, ia melihat Kui-bo Thai-houw dan empat orang pelayannya itu telah naik sebuah perahu mewah yang sudah mulai bergerak ke tengah lautan pula.

Di atas perahu itu ia hanya melihat empat orang pelayan kembar yang gemuk-gemuk tadi, yang berdiri memandang kepadanya sambil tertawa-tawa cekikikan dan menuding-nuding dengan telunjuk seakan-akan mentertawakannya.

Wi Liong membanting kaki saking gemasnya, kemudian mencabut sebatang tonggak yang agaknya tadi dipakai untuk mengikat perahu.

"Tunggu dulu.........!!"

Teriaknya dan pemuda perkasa ini mengenjot tubuhnya melompat kc depan.

Seperti seekor burung melayang, tubuhnya meluncur ringan dari pantai, mengejar perahu.

Akan tetapi jarak antara pantai dan perahu itu sudah terlampau jauh.

maka lompatannya yang hebat ini tidak bisa mencapai perahu.

Hal ini sudah diperhitungkannya, maka ia segera melempar tonggak tadi ke atas air dan ketika kedua kakinya turun, ia menginjak tonggak yang terapung itu dan mengenjot lagi mempergunakan tonggak sebagai dasar loncatan.

Dengan cara demikian ia bisa sampai di perahu!

"Hebat sekali........."

"Pemuda ganteng........."

"Tapi tidak boleh........."

"Naik ke perahu.........!"

Empat orang nenek kembar itu berkata dan bagaikan dikomando saja, tangan mereka dengan gerakan sama menyambit sebuah kim-chi-piauw (senjata rahasia seperti uang logam) ke arah tubuh Wi Liong yang masih melayang ke arah perahu itu.

Serangan ini benar-benar berbahaya sekail Tubuh yang sedang melayang dalam loncatan itu mana bisa mengelak?

Wi Liong yang melihat serangan ini, mengulur iangan dan berhasil menyampok dua buah mata uang, akan tetapi yang dua lagi ia biarkan mengenai dada dan perutnya setelah ia mengerahkan lweekang menghentikan jalan darah dan membikin kebal dada dan perutnya.

Dengan demikian, dua buah senjata rahasia itu mental ketika menyentuh kulit dada dan perutnya, dan hanya membikin bolong pakaiannya saja.

"Ayaaa..... Lihai sekali......"

"Pemuda ganteng......."

"Perlu lekas......."

"Laporkan Thai-houw........!!"

Empat orang wanita itu serentak berlari memasuki bilik perahu yang dicat merah.

"Siluman-siluman jangan lari........!"

Wi Liong membentak.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika kedua kakinya turun ke atas perahu, baru saja dua kaki itu menyentuh papan perahu dan ia masih menjaga keseimbangan tubuhnya, secara mendadak perahu itu terguling ke kanan seperti roboh terkena serangan hebat dari bawah perahu.

"Celaka.........!' Wi Liong berseru keras. Hal ini sama sekali tak pernah ia sangka-sangka, karenanya ia menjadi kaget dan bingung. Dari pada terguling bersama perahu dan ada bahaya tertindih, ia malah melompat ke kiri dan menceburkan diri ke dalam air. Biarpun bukan seorang ahli, akan tetapi kalau hanya berenang saja Wi Liong juga dapat maka ia tidak takut-takut melompat ke dalam air melihat perahu itu roboh. Aneh bin ajaib! Perahu yang tadinya mendadak terguling roboh ke kanan itu kini tiba-tiba dan serentak bisa bangun lagi! Dan muncullah Kui-bo Thai-houw di atas dek diiringkan oleh empat orang nenek dan delapan orang pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik.

"Hih-hih-hih........."

"Aduh lucunya........"

"Ada ikan bagus........."

"Tak ada buntutnya.........!"

Empat orang nenek itu mengejek Wi Liong yang masih menggerak-gerakkan kaki tangannya di dalam air untuk menjaga tubuhnya jangan sampai tenggelam.

Delapan orang pelayan yang berpakaian serba hijau dan serba merah menutupi mulut dengan ujung lengan baju menahan ketawa.

Mereka ini selain cantik-cantik jelita, juga gerak gerik mereka halus dan sopan seperti puteri-puteri istana saja.

"Tangkap ikan itu,"

Terdengar Kui-bo Thai-houw memerintah dengan suara halus.

"Ikan liar itu........."

"Berbahaya dan kuat........."

"Kalau akan ditangkap........."

"Sebaiknya menggunakan jala emas."

Kui-bo Thai-houw mengangguk setuju dengan mata masih menatap tajam ke arah Wi Liong.

Empat orang nenek kembar itu segera berlari masuk dan tak lama kemudian keluar lagi membawa sebuah jala yang terbuat dari pada benang halus berwarna keemasan.

Atas isyarat Kui-bo Thai-houw, mereka lalu melempar jala itu ke arah Wl L;ong sambil tertawa-tawa dan memegangi ujung jala yang merupakan tali panjang.

Wi Liong boleh menjagoi di daratan, akan tetapi di dalam air kepandaiannya terbatas, tak banyak bedanya dengan orang biasa.

Ia tadi mendongkol bukan main ketika melihat perahu itu tiba-tiba "bangun"

Lagi dan tahulah ia bahwa ia telah ditipu mentah-mentah, bahwa perahu tadi miring bukannya akan roboh tenggelam melainkan sengaja dimiringkan oleh orang pandai dari dalam perahu.

Orang sakti seperti Kui-bo Thai-houw tentu saja sanggup melakukan hal ini.

Sekarang, tidak ada lain jalan baginya kecuali menyerah saja.

Ia takkan melawan sampai ia dinaikkan ke dalam perahu.

Karena itu, biarpun menjadi bahan tertawa dan diperlakukan seperti seekor ikan yang dijala dari perahu, pemuda ini hanya menggigit bibir menahan kemarahannya, dan menyerah saja ketika tubuhnya dijatuhi jala kemudian ia dikerek naik ke atas perahu seperti seekor ikan.

"Hi-hi-hi......... dapat ikan.........!"

"Alangkah gantengnya ikan ini.........!"

"Tentu enak dagingnya.........!"

"Berikan saja kepada kami.........!"

Demikian empat orang nenek kembar itu berkata sambil cekikikan dan menarik tali jala itu ke atas mengerek tubuh Wi Liong yang berada di dalam jala.

Akan tetapi, ketika jala itu sudah tiba di tengah-tengah antara pinggiran perahu dan air, tiba-tiba Kui-bo Thai-houw memberi isyarat supaya pengerekan itu jangan dilanjutkan.

Malah tali jala itu lalu diikatkan di atas dan dengan demikian Wi Liong tergantung di tengah-tengah, di pinggir perahu!

"Eh, kenapa tidak dikerek terus?"

Seru pemuda ini yang mulai merasa bingung.

Tidak ada jawaban dari atas kecuali suara ketawa cekikikan dan ketawa halus merdu para pelayan muda yang mulai mengiringkan Kui-bo Thai-houw memasuki bilik perahu lagi.

Wi Liong menyumpah-nyumpah.

Perahu itu tinggi sekali, berbeda dengan perahu-perahu biasa.

Badan perahu itu dari permukaan air ada tiga meter lebih dan kini ia berada di dalam jala, tergantung antara air dan pinggir perahu, tak berdaya sama sekali.

Ia tidak mau berusaha memberontak keluar dari jala itu karena kalau hal ini terjadi, berarti ia akan jatuh ke dalam air lagi.

Dari pada berenang dan ada bahaya dimakan ikan hiu, lebih baik berada di jala ini.

Apa lagi karena ia memang hendak ke Ban-mo-to.

Biarpun dalam keadaan tidak enak dan memalukan, ia sudah membonceng perahu orang ke pulau itu.

Masih untung baginya bahwa benang-benang jala itu benar-benar luar biasa dan halus sehingga ia boleh "duduk"

Melenggut, terayun-ayun enak juga.

Hanya satu hal yang amat mengganggunya, yaitu pakaiannya yang basah kuyup.dan tak lama kemudian setelah pakaiannya agak mengering, ia merasa seluruh tubuhnya kaku-kaku dan asin!

"Awas kalian nanti kalau sudah mendarat,"

Pikirnya gemas.

Sekarang ia tidak meragukan lagi bahwa wanita setengah tua yang cantik dan sikapnya agung itu tentulah Kui-bo Thai-houw.

Diam-diam ia merasa heran.

Tadinya, mendengar nama Kui-bo Thai-houw (Permaisuri Biang Iblis) ia membayangkan seorang wanita yang amat buruk rupa dan menakutkan.

Tidak tahunya demikian cantik dan sikapnya seperti seorang permaisuri yang tulen.

Girang hati Wi Liong ketika akhirnya perahu itu berhenti di pinggir sebuah pulau.

Ia masih mandah saja tidak melawan ketika jala itu diseret turun.

Akan tetapi begitu jala berikut tubuhnya dilempar ke atas pasir di pantai pulau itu, ia serentak melompat berdiri.

Ia melihat penyambutan yang mengagumkan terhadap Kui-bo Thai-houw.

Di kanan kiri berderet barisan wanita-wanita cantik dengan pakaian beraneka warna, merupakan gapura indah.

"Selamat datang Thai-houw yang mulia! Ban-ban-swe( hidup).........!!"

Demikian pekik sambutan itu.

Dan Kui-bo Thai-houw dengan langkah halus dan lenggang menarik menuruni anak tangga yang dipasang di pinggir perahu agar kaki wanita ini jangan terkena air laut.

Wi Liong sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi Ia merenggut jala itu dengan kedua tangan, lalu ditariknya agar benang-benang jala itu putus.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika benang jala itu mulur dan tidak mau putus!

Ia menarik-narik lagi, mengerahkan tenaga, namun hasilnya sia-sia belaka.

Benang jala itu tidak bisa ia putuskan dengan kedua tangannya!

Wi Liong mulai gelisah.

Ia terheran-heran.

Tenaga lweekangnya sudah mencapai tingkat tinggi sekali.

Benang bajupun sanggup ia menarik putus, masa benang biasa yang berwarna keemasan ini tak dapat ia memutusnya?

Ia mencoba-coba lagi, tubuhnya meronta-ronta mencari jalan keluar, tetap saja sia-sia.

Ia seperti ikan dalam jala yang di lempar ke daratan, meronta-ronta, bergerak-gerak hendak keluar.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa cekikikan dan empat orang nenek kembar tadilah yang menertawakannya.

Wi Liong marah sekali.

Dengan geram ia lalu menerjang maju dan mengamuk dari dalam jala!

Empat orang nenek itu masih tertawa-tawa melihatnya, akan tetapi segera mereka lari tunggang-langgang ketika mendapat kenyataan bahwa amukan pemuda itu tak boleh mereka pandang ringan.

Mereka hendak mengelak atau menangkis, akan tetapi entah bagaimana, tahu-tahu dua orang di antara mereka, yaitu Nam Hwa dan Si Hwa.

sudah tak dapat mempertahankan diri dan roboh tertotok!

Cepat Tung Hwa menyambar Nam Hwa dam Pai Hwa menyambar Si Hwa, dibawa lari menjauhi pemuda di dalam jala itu, lari menuju kepada Thai-houw untuk minta bantuan.

Mendengar laporan mereka.

Thai-houw mengerutkan kening dan dua totokan tangannya membuat Nam Hwa dan Si Hwa terbebas dari pengaruh totokan.

Kemudian Kui-bo Thai-houw menghampiri Wi Liong.

Pemuda ini yang sudah marah sekali memaiki.

"Siluman betina, apakah kau yang bernama Kui-bo Thai-houw.........?"

Beberapa orang pelayan wanita yang muda dan cantik menahan jerit kengeriannya mendengar ada orang muda begini tampan berani menghina Thai-houw.

Mereka maklum bahwa menyebut Kui-bo (Biang Iblis) di depan Thai-houw, berarti mencari kematian secara mengerikan.

Mereka sudah berdebar menanti Thai-houw menjatuhkan tangan mautnya.

Akan tetapi aneh!

Setelah beberapa menit saling pandang tanpa berkedip.

Kui-bo Thai-houw malah tersenyum dan mengangguk!

"Benar dugaanmu.

Orang muda yang berani, kau siapakah dan apa maksudmu membikin marah kami?"

"Aku Thio Wi Liong,"

Jawab Wi Liong singkat.

"'Kui-bo Thai-houw. kalau kau memang orang gagah, lepaskan jala ini dan mari kita berhadapan secara gagah, tidak curang!"

Wanita itu tersenyum dan semua pengikutnya memandang penuh kekaguman kepada pemuda di dalam jala itu. yang begitu berani, begitu gagah dan begitu ganteng.

"Lepaskan sih gampang. Katakan dulu apa maksud kedatanganmu di perahu kami."

"Aku datang untuk minta kau bebaskan nona Pui Eng Lan yang kau culik, juga hendak menyusul rombongan Pak-thian Koai-jin yang kabarnya datang ke Ban-mo-to untuk menolong nona Pui."

Tiba-tiba Kui-bo Thai-houw tertawa.

Jarang wanita ini tertawa memperlihatkan giginya, dan sekarang ketika ia tertawa, Wi Liong harus mengakui bahwa wanita ini memang cantik sekali.

Giginya masih bagus, kecil rata putih berkilat.

Aneh, dalam ketawanya itu, Wi Liong melihat adanya bayangan iri hati yang besar di sudut mata Kui-bo Thai-houw.

"Semua orang tergila-gila kepada si hitam manis! Apa kau mencinta Eng Lan?"

Wi Liong terkejut. Pertanyaan yang sama sekali tak pernah diduganya akan keluar dari mulut Ratu Ban-mo-to ini.

"Ti.........tidak.........! Kui-bo Thai-houw, alasan apa yang membuat kau majukan pertanyaan gila-gilaan ini?"

Kembali Kui-bo Thai-houw tertawa, kini lirih dan tidak menggerakkan bibirnya.

"Kau memasuki jala emas adalah kesalahanmu sendiri, seperti ikan sudah masuk jala, mana bisa dilepas? Kalau ada kepandaian, boleh coba melepaskan diri."

Wi Liong marah dan dari dalam jalanya ia menerjang maju, tak dapat melangkah leluasa hanya melompat bersama jalanya.

Akan tetapi Kui-bo Thai-houw menggerakkan tangan dan di lain saat ia sudah memegang ujung jala dan memutar tali jala itu di atas kepalanya.

Tubuh Wi Liong di dalam jala itu ikut terputar di udara, di atas kepala Kui-bo Thai-houw!

Sambil tersenyum-senyum dan diikuti pandang mata kagum dari para pengikutnya, wanita ini berjalan terus sambil memutar-mutar jala berikut tubuh Wi Liong itu, seperti seorang anak nakal bermain-main.

Wi Liong mendongkol tak usah diceritakan lagi, akan tetapi apa dayanya?

Ia berada di dalam sebuah jala yang luar biasa kuatnya, yang terbuat dari pada benang-benang halus yang tak dapat diputus, dan selain itu berada dalam tangan seorang sakti yang berilmu tinggi lagi.

Ia hanya mengharapkan akan dapat kesempatan bertemu muka dan bertanding secara seimbang dengan Ratu Ban-mo-to ini.

Kui-bo Thai-houw membawanya terus ke taman bunganya yang hebat.

Bukan hanya taman bunga, lebih patut dinamakan kebun raya, karena di situ selain terdapat seribu macam tanaman kembang serba indah, juga terdapat pohon-pohon besar segala macam yang tumbuh dengan megahnya, merupakan sebuah hutan kecil akan tetapi semua tanaman dan pepohonan teratur rapi.

Dengan gerakan ringan seperti burung walet, Kui-bo Thai-houw melompat ke atas sebuah pohon yang besar dan tinggi, kemudian ia mengikatkan ujung jala itu berkali-kali ke sebuah dahan sehingga jala berikut tubuh Wi Liong itu tergantung!

Pemuda itu marah-marah dan menuntut supaya dilepaskan, namun percuma saja, Kui-bo Thai-houw hanya tersenyum dan berkata.

"Kau bocah nakal harus diberi hajaran biar kapok!"

Kemudian pergi dari situ melenggang memanas hati.

Selagi Wi Liong marah-marah dan tak berdaya seperti seekor burung dalam kurungan itu, tiba-tiba pohon itu dahannya tergoyang dan ia melihat seorang gadis melompat ke atas dahan di mana jalanya tergantung.

"Nona Eng Lan.........!"

Wi Liong berseru kaget heran, dan girang.

"Ssttt........."

Gadis manis itu mengisyaratkan dengan jari di depan bibir menyuruh Wi Liong jangan berisik.

"Bagaimana kau bisa sampai di sini dan ditawan dengan jala emas!"

Bisiknya.

"Mereka curangi aku!"

Jawab Wi Liong gemas.

"Nona Eng Lan, lekas kau bantu aku putuskan tali-tali ini dari luar dengan pedangmu."

Eng Lan menggeleng kepalanya.

"Percuma, jala ini terbuat dari pada benang yang berasal dari sutera ular emas. Pedang biasa saja takkan mampu memutusnya. Ah, kalau saja Cheng-hoa-kiam......... kau tunggulah, aku akan berusaha mengambil Cheng-hoa-kiam."

Gadis itu hendak pergi lagi.

Wi Liong tertegun memandang gadis itu meloncat turun dan lenyap di antara gerombolan pohon.

Ia bingung Bagaimana Eng Lan bisa bebas saja di situ?

Apakah yang telah terjadi di Pulau Ban-mo-to ini?

Di mana yang lain-lain?

Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala Wi Liong, marilah kita mundur sebentar dan mengikuti pengalaman-pengalaman Eng Lan.

Telah dituturkan di bagian depan bagaimana Eng Lan yang tak berdaya karena totokan Hak Lui, telah disambar dan dibawa lari oleh Kun Hong yang datang bersama Kui-bo Thai-houw membasmi Ngo-tok-kauw dan merampas Ngo-heng-giokcu.

Biarpun tubuhnya tak dapat bergerak, akan tetapi Eng Lan masih ingat dan semenjak melihat kedatangan Kun Hong, gadis ini sudah merasa terheran-heran kemudian menjadi amat gelisah melihat betapa pemuda itu seakan-akan menjadi boneka hidup, menurut dan taat saja atas kehendak dan perintah wanita setengah tua yang lihai itu, Kui-bo Thai-houw.

Ia mandah saja dibawa lari dan dipondong oleh kekasihnya, sungguhpun hatinya tidak rela karena ia masih penasaran hendak mendengar penjelasan semua itu dari mulut Kun Hong.

Di balik rasa keraguan dan kegelisahan ini, iapun merasa bahagia sekali, bukan karena dapat melepaskan rindunya dalam pondongan orang yang dikasihinya, akan tetapi terutama sekali karena melihat kekasihnya itu selamat dan agaknya sehat-sehat saja.

Sudah sembuhkah Kun Hong?

Mengapa sekarang seperti menjadi kaki tangan wanita siluman itu?

Kun Hong yang memondong Eng Lan, di tengah jalan diam-diam membuka jalan darah gadis itu, lalu memberi isyarat supaya Eng Lan jangan banyak membantah.

"Kau bawa aku ke mana.........?"

Gadis ini berbisik setelah dapat menormalkan kembali peredaran darahnya.

"Diamlah, sayang......... diamlah dan serahkan saja kepadaku........."

Jawab Kun Hong sambil mendekap tubuh kekasihnya erat-erat pada dadanya.

Untuk sejenak Eng Lan meramkan matanya, merasa berbahagia sekali.

Akan tetapi kembali timbul keraguan dan kesangsian hatinya dan ketika ia membuka mata.

ia melihat Kun Hong memandang kepadanya dengan mesra.

Akan tetapi di balik kemesraan ini ia melihat sesuatu yang ganjil memancar keluar dari mata pemuda itu, seperti orang marah, seperti orang iri, seperti orang cemburu.

Ketika Kui-bo Thai-houw melihat pemuda itu memondong Eng Lan.

keningnya berkerut akan tetapi senyumnya manis dan suaranya lembut ketika bertanya.

"Kau bawa gadis ini?"

Kun Hong mengangguk.

"Dia kawan baikku, aku suka padanya, biar tinggal di pulau bersama kita."

"Siapa namanya?"

Tanya pula Kui-bo Thai-houw, garis kerut-merut pada keningnya makin jelas.

"Pui Eng Lan,"

Jawab Kun Hong singkat. Kui-bo Thai-houw mengangguk-angguk.

"Sudah pernah kumendengar nama itu kau sebut-sebut dalam tidurmu."

Lalu wanita ini melanjutkan perjalanan dan tidak memperdulikan lagi pada Kun Hong dan Eng Lan.

Kui-bo Thai-houw tidak seperti Thai Khek Sian yang membolehkan kekasih-kekasihnya bermain gila dengan siapapun juga.

Wanita ini amat cemburu.

Akan tetapi terhadap Kun Hong ia tidak berani melarang.

Hal ini adalah karena ia terlampau sayang kepada pemuda itu yang sudah menjadi kekasih, anak angkat dan murid sekaligus.

Pernah ia melihat Kun Hong berkasih-kasihan dengan seorang pengikutnya.

Ia marah.

Pelayan itu dibunuhnya dan melihat ini Kun Hong memberontak, hampir minggat dari pulau.

Kui-bo Thai-houw menyesal dan selanjutnya berjanji takkan melarang pemuda itu berkasihan dengan siapapun juga asalkan tidak meninggalkan dirinya dan selalu taat!

Kun Hong yang masih belum mendapatkan pengobatan Im-yang-giok-cu, merasa seperti diikat kaki tangannya.

Ia terpaksa tunduk kepada wanita aneh ini.

Selain menanti datangnya saat pengobatan untuk menyambung nyawanya, juga di samping ini ia masih menambah kepandaiannya dari Kui-bo Thai-houw yang tidak segan-segan menurunkan ilmunya kepada pemuda itu.

Inilah sebabnya mengapa Kun Hong berani membawa Eng Lan bersamanya ke Ban-mo-to dan Kui bo Thai-houw tidak melarangnya.

Akan tetapi kalau Kun Hong merasa gembira dapat membawa Eng Lan bersamanya, adalah gadis itu yang menjadi panas hatinya dan sakit perasaannya, dibakar api cemburu.

Ia memberontak dari pondongan Kun Hong.

Kun Hong mencegahnya.

"Kalau kau lari, Thai-houw akan membunuhmu!"

Ia memperingatkan.

"Aku tidak sudi kau pondong!"

Jawab Eng Lan yang cukup cerdik untuk menahan diri tidak lari, karena iapun maklum bahwa menghadapi orang-orang sakti itu ia takkan berdaya melarikan diri.

Eng Lan mengikuti rombongan itu berjalan kaki dan Kun Hong berjalan di sampingnya.

"'Kenapa kau bisa melakukan perjalanan bersama Wi Liong? Ada apa antara kau dan dia?"

Tak tertahan lagi Kun Hong mengajukan pertanyaan ini karena ia dibakar oleh api cemburu sejak tadi melihat Eng Lan dan Wi Liong menjadi tawanan Ngo-tok-kauw.

Suaranya jelas membayangkan cemburu dan iri hatinya, dan hal ini diketahui baik oleh Eng Lan yang menjadi lebih marah lagi.

"Manusia tak tahu diri!"

Desisnya perlahan.

"Kau yang katanya pergi mencari obat, kiranya hidup mewah dan senang di dekat siluman-siluman itu. menjadi orang hina-dina. Dan semua itu masih kau tambah lagi dengan pikiran yang rendah dan bukan-bukan terhadap diriku? Sungguh memualkan!"

Dan gadis ini jalan menjauhi Kun Hong tidak sudi menengok lagi.

Merah wajah Kun Hong.

Ia mengerti bahwa Eng Lan sudah dapat menduga akan keadaannya dengan Kui-bo Thai-houw.

Ia ingin bicara banyak, ingin menerangkan isi hatinya kepada Eng Lan, akan tetapi karena mereka sedang berjalan bersama rombongan Kui-bo Thai-houw, tentu saja tidak leluasa baginya untuk bicara di situ.

Maka ia diam saja dan hanya menjaga agar Eng Lan jangan sampai melarikan diri.

Demikianlah, Eng Lan dibawa ke Ban-mo-to, mendapatkan kebebasan karena ia dianggap kekasih Kun Hong.

Tak seorangpun mengganggunya.

Akan tetapi mana sudi Eng Lan didekati Kun Hong?

Ia malah selalu menjauhkan diri dari pemuda itu dan berkeliaran di atas Pulau Ban-mo-to yang indah.

Pernah Kun Hong berhasil menjumpainya seorang diri dan pemuda ini berkata perlahan.

"Eng Lan, kau pertimbangkan keadaanku baik-baik. Aku memang mencari obat dan satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengobati aku dan menyambung nyawaku hanyalah Thai-houw. Oleh karena itu, mana bisa aku tidak mentaatinya? Selain pengobatan, akupun menerima petunjuk ilmu silat. Budi yang begitu besar, apakah tidak patut kalau dibalas? Harap kau jangan cemburu, aku......... aku tetap mencinta padamu. Percayalah, kalau ada gadis yang kucinta sepenuh jiwaku, kaulah gadis itu."

Dengan sinar mata berapi gadis itu memandang Kun Hong.

"Siapa perduli? Siapa perduli kau mau apa? Mau jungkir-balik di sini, mau hidup sebagai pangeran, mau menjadi begundal atau......... kekasih siluman-siluman di sini...... tidak perduli aku!"

Air matanya mulai bercucuran.

"Aku......... aku lebih suka melihat kau mati karena lukamu.........!"

Tak tertahan lagi Eng Lan menangis sambil berlari pergi menjauhi Kun Hong.

Pemuda ini berdiri bengong.

Hatinya risau dan ia tidak tahu harus berbuat apa.

Memang sesungguhnya pengakuannya tadi.

Semenjak bertemu dengan Eng Lan, hatinya sudah terisi dan tidak ada lain wanita di dunia ini yang dapat merebut cinta kasihnya.

Kalau ia menjadi kekasih Kui-bo Thai-houw dan wanita-wanita lain, itu bukanlah cinta kasih hanya sekedar menuruti hati muda dan terutama sekali karena ia terpaksa menuruti kehendak hati Kui-bo Thai-houw yang ia butuhkan untuk menolongnya memberi obat.

Demikianlah pentingnya pendidikan.

Kun Hong yang semenjak mudanya terdidik oleh orang-orang sesat dan hidup di dalam lingkungan orang-orang seperti Bu-ceng Tok-ong, Tok-sim Sian-li, dan Thai Khek Sian, jalan pikirannyapun terpengaruh dan baginya, bermain gila dengan wanita-wanita penghuni Ban-mo-to, bukanlah apa-apa dan tak perlu dipusingkan oleh Eng Lan.

Ia belum dapat menjajaki hati Eng Lan dan menyelami isi hati yang murni dari seorang gadis sopan dan putih bersih seperti Eng Lan.

Selama ini Kun Hong hanya mengenal isi hati wanita-wanita seperti Tok sim Sian li!

Di lain fihak.

biarpun hatinya terasa perih dan sakit sekali melihat keadaan Kun Hong di Ban-mo-to, namun cinta kasih yang bersemi dalam hati Eng Lan sudah amat mendalam.

Ia boleh kecewa, boleh berduka, akan tetapi tak dapat ia membenci Kun Hong.

Boleh mulutnya memaki-maki dan sinar matanya berapi hendak membakar pemuda itu, namun hatinya tetap sejuk dan tidak bisa ia melempar atau membuang bayangan Kun Hong dari lubuk hatinya.

Cinta kasihnya terhadap pemuda itu sudah mendarah daging, sudah terlalu mendalam sehingga gadis ini malah tidak mempunyai ingatan untuk mencoba melarikan diri dari Ban-mo-to.

Kun Hong berada di situ, iapun tidak mau pergi, biarpun ia harus menderita kesengsaraan hati dan selalu bersikap benci dan menjauhi Kun Hong.

Memang cinta kasih bisa membikin banyak macam dongeng dan menimbulkan banyak macam perangai yang aneh-aneh pada orang-orang muda.

Beberapa hari kemudian, sebuah perahu besar mendekati Pulau Ban mo-to.

Hal ini menimbulkan geger di pulau itu.

Para gadis penjaga pantai yang melihat perahu ini terheran-heran.

Belum pernah ada perahu asing berani mendekati Ban-mo-to, apa lagi mendarat, karena mendarat berarti mengantar nyawa dengan sia-sia.

Mereka cepat-cepat mengirim laporan kepada Kui-bo Thai-houw dan sebagian pula mempersiapkan perlawanan dan memperkuat penjagaan.

Yang pertama kali keluar dari perahu itu adalah seorang kakek tinggi besar.

Thai It Cinjin diikuti oleh Im yang Siang-cu.

Kemudian muncul Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong, di belakangnya menyusul puteranya yaitu Kong Bu yang nampak pucat dan lemah karena lukanya bekas pukulan Hek-tok-sin-ciang dari Thai Khek Sian.

Para gadis penjaga pantai tentu saja mengenal Thai It Cinjin, maka mereka tidak berani sembarangan bergerak.

Namun tetap saja mereka tidak bisa membiarkan pulau yang mereka anggap keramat ini didatangi orang-orang begitu saja.

Mereka membentuk barisan menghadang di jalan dan seorang gadis yang berpakaian merah berkata.

"Pulau Ban-mo-to tidak boleh didatangi orang tanpa seijin Thai-houw!"

Melihat barisan gadis-gadis cantik ini, Thai It Cinjin dan kawan-kawannya berhenti. Thai It Cinjin tertawa bergelak lalu berkata.

"Nona-nona manis, lekas laporkan kepada Thai-houw bahwa aku Thai It Cinjin dari Kim-Ie-san dan beberapa orang kawan sengaja datang berkunjung untuk membalas kebaikan kunjungan Thai-houw ke Kim-Ie-san tempo hari,"

Sebelum ada yang menjawab dari tengah pulau itu terdengar suara halus akan tetapi berpengaruh sekali, suara Kui-bo Thai-houw.

"Biarkan mereka datang menghadap!"

"Terima kasih, Tiai-houw yang baik, terima kasih. Kami datang menghadap!"

Kata Thai It Cinjin sambil berjalan menuju ke tengah pulau, diikuti oleh kawan-kawannya.

Seperti sudah dituturkan terdahulu, Kong Bu.

See-thian Hoat-ong, dan Pak-thian Koai-jin yang hendak menolong Eng Lan pergi ke Ban-mo-to lebih dulu mampir di Kim-Ie-san minta bantuan Thai It Cinjin dan dua orang sutenya, Im-yang Siang-cu.

Kong Bu yang minta tolong kepada Thai It Cinjin.

Tadinya Thai It Cinjin segan membantu karena maklum bahwa menentang Kui-bo Thai-houw bukanlah hal yang mudah dan tidak berbahaya.

Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa dua orang muridnya terculik oleh Thai Khek Sian dan kini sedang dikejar oleh seorang pemuda murid Thian Te Cu, ia menjadi tidak enak juga kalau tinggal peluk tangan.

Thai It Cinjin orangnya cerdik sekali maka seketika itu juga ia mendapatkan akal.

"Boleh saja dan tentu aku suka membantu kalian,"

Katanya.

"Akan tetapi karena Kui-bo Thai-houw tak boleh dipandang ringan, harap kalian bersabar dan biarkan aku menghadapinya dengan jalan damai. Jangan ada yang bersikap sembrono dan mengambil keputusan sendiri. Setuju?"

Demikianlah, dengan langkah tenang dan muka ramah Thai It Cinjin memimpin kawan-kawannya menuju ke tengah pulau.

Setelah dekat dengan perumahan Kui-bo Thai-houw dan anak buahnya; di kanan kiri jalan berderet barisan gadis-gadis cantik, sikap mereka keren dan gagah, tangan kanan memegang pedang tangan kiri bertolak pinggang!

Thai It Cinjin dan Pak-thian Koai-jin tersenyum-senyum, yang lain memandang kagum.

Benar-benar sebuah pulau wanita yang aneh dan indah, orangnya cantik-cantik dan tetanaman di pulau itu kesemuanya tidak ada yang liar, semua terawat dan teratur indah.

Tiba-tiba melompat bayangan yang gesit dan Eng Lan muncul, langsung maju menghadap Pak-thian Koai-jin.

"Suhu.........!"

Melihat muridnya bebas lepas, malah pedangnya masih dibawa di pinggang, bergerak begitu saja seperti menjadi seorang di antara penghuni-penghuni pulau, Pak-thian Koai-jin menjadi bengong terlongong.

Tentu saja hal ini sama sekali tak pernah disangkanya, ia susah-susah datang untuk menolong muridnya yang disangkanya terculik orang jahat eh, tidak tahunya muridnya itu bebas saja kelihatan enak-enak di pulau ini!

"Kau.........

tidak apa-apa.........!"

Tanya Pak-thian Koai-jin kepada muridnya, memandangi muridnya itu dari kepala sampai ke kaki.

Eng Lan menggeleng kepala, tersenyum akan tetapi matanya menitikkan dua butir air mata!

Gadis ini lalu ikut berjalan bersama suhunya, mengikuti Thai It Cinjin yang hanya terganggu sebentar oleh kedatangan Eng Lan.

Baginya, munculnya Eng Lan yang membuat Pak-thian Koai-jin girang sekali itu tidak ada artinya.

"Suhu, teecu telah bertemu dengan........ Kun Hong........."

"Hemm, di sini? Bagus, karena itukah kau bisa bebas?"

Jawab Pak-thian Koai-jin dengan suara berbisik pula. Eng Lan mengangguk.

"Suhu, dia......... dia berubah sekali........ dia......."

Eng Lan menahan-nahan, akan tetapi pipinya tahu-tahu sudah basah oleh air mata.

Pak-thian Koai-jin adalah seorang yang sudah banyak pengalamannya.

Ia tadi melihat adanya banyak gadis-gadis cantik di pulau ini dan ia dapat menduga orang macam bagaimana adanya Kun Hong murid Thai Khek Sian.

"Bangsat muda itu tidak pantas untukmu........."

Celanya.

"Suhu.........!"

Pak thian Koai-jin menarik napas panjang sambil menggeleng-geleng kepalanya.

"Hemmm, baiklah........... baiklah.......... aku takkan mencela pilihanmu itu."

"Suhu. teecu biarpun bebas akan tetapi tidak bisa pergi dari Ban-mo-to. Di sini berbahaya sekali, Kui-bo Thai-houw lihai bukan main. Harap suhu berhati-hati."

"Aku hanya datang untuk minta kau dibebaskan. Mudah-mudahan Thaihouw tidak membikin urusan menjadi sengketa,"

Kata Pak-thian Koai-jin, suaranya terdengar biasa dan tenang-tenang saja.

akan tetapi sebetulnya ia gelisah sekali.

Bukan gelisah menghadapi musuh berat seperti Kui-bo Thai-houw karena bagi tokoh besar seperti dia ini, menghadapi lawan-lawan berat bukanlah hal yang asing lagi.

Akan tetapi yang membuat ia gelisah adalah keadaan muridnya ini mengenai diri Kun Hong.

Juga Eng Lan gelisah bukan main.

Belum tentu gurunya kalah oleh Kui-bo Thai-houw, melihat bahwa gurunya datang bersama orang-orang pandai.

Akan tetapi biarpun andaikata suhunya menang dan ia diperbolehkan meninggalkan Ban-mo-to, apa artinya baginya kalau Kun Hong tetap berada di situ?

Apa artinya baginya kalau dengan mendapatkan kembali kemerdekaannya ia kehilangan Kun Hong?

Rombongan itu telah tiba di depan rumah besar tempat tinggal Kui-bo Thai-houw dan berhenti di situ karena di depan pekarangan yang lebar terjaga oleh belasan orang gadis pelayan yang memegang tombak.

Akan tetapi tidak lama mereka tertahan di situ karena tampak Kui-bo Thai-houw dalam pakaian seindah-indahnya berjalan keluar dari pintu rumahnya dengan langkah halus.

Mukanya baru dibedak, putih kemerahan, matanya bersinar bibirnya tersenyum, ia diikuti oleh Kun Hong, kemudian di belakangnya berjalan empat orang nenek kembar dan belasan orang pelayan cantik-cantik barisan serba empat.

Benar-benar amat ganjil melihat Kun Hong di antara sekian banyaknya wanita.

Satu-(Lanjut ke

Jilid 28) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28 satunya pria dalam sebuah dunia wanita!

Kui-bo Thai-houw duduk di atas sebuah kursi kuning yang sudah disediakan di pekarangan itu, yang lain-lain berdiri di belakangnya.

Setelah itu barulah dia memberi isyarat ke depan supaya tamu-tamu disuruh masuk.

Pintu pekarangan dibuka dan masuklah rombongan itu, Thai It Cinjin di depan, baru yang lain-lain.

"Thai It Cinjin, apa maksud kau dan kawan-kawanmu datang mengganggu kami di sini?"

Kui-bo Thai-houw menegur dan dari suaranya saja sudah dapat diketahui bahwa wanita ini merasa tidak senang hatinya.

Matanya menyambar ke aran semua tamunya dan sekilas ia memandang Eng Lan yang berdiri di sebelah kiri suhunya.

Wajah Kun Hong menjadi berubah sedikit ketika ia melihat Eng Lan bersama rombongan itu, akan tetapi aneh, pemuda ini tidak memandang lama dan selanjutnya bersikap tidak mengacuhkan hal itu sama sekali.

Bukan main mendongkolnya hati Eng Lan.

Thai It Cinjin cepat memberi hormat kepada wanita cantik itu, lalu berkata, mukanya ramah tersenyum.

"Thai-houw yang baik. harap maafkan aku dan kawan-kawanku. Aku datang untuk memberi hormat, untuk membalas kunjunganmu beberapa bulan yang lalu, dan untuk mengagumi pulaumu yang indah ini."

"Tak usah plintat-plintut panjang lebar, hayo katakan apa keperluanmu!"

Kui-bo Thai-houw membentak dengan suara masih halus.

Thai It Cinjin menjadi gugup juga.

Bukan main wanita ini.

tidak bisa diajak bersopan-sopan, la menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang berguncang.

Lalu ia melangkah maju dan berkata.

"Dahulu Thai-houw sudah datang mengunjungi Kim-Ie-san dan dalam kesempatan itu aku melihat kelihaian Thai-houw, Juga ketika itu aku tidak jadi menewaskan saudara muda ini,"

Ia menuding ke arah Kun Hong.

"karena ternyata dia ini sudah menjadi sahabat-sahabat baik kedua orang muridku Hui Nio dan Hui Sian. Urusannya dengan Beng Kun Cinjin adalah urusan ayah dan anak dan kami tidak ikut campur. Baiknya Thai-houw keburu datang sehingga saudara muda ini selamat dan sekarang malah berada di sini. Aku merasa girang melihat hal ini dan........."

"Cukup, jangan berbelit-belit. Apa maksudmu sebenarnya?"

Thai-houw memotong tak sabar lagi. Thai It Cinjin melanjutkan kata-katanya dengan tergesa-gesa.

"Saudara muda ini murid Thai Khek Sian. akan tetapi sungguh aneh sekali, beberapa hari yang lalu Thai Khek Siansu dan Beng Kun Cinjin datang dan menculik kedua orang muridku dan melukai tunangan muridku, Kong Bu ini,"

Ia menuding calon suami Hui Nio.

"Karena mengingat bahwa murid-muridku itu sahabat baik saudara muda ini, mengingat pula akan kelihaian Thai-houw dan nama besar Thai-houw yang tentu saja tidak kalah oleh Thai Khek Siansu. maka kedatanganku ke sini selain kunjungan penghormatan juga hendak minta kemurahan hati Thai-houw untuk mengobati Kong Bu yang terkena pukulan Hek-tok-sin-ciang dan kemudian menggunakan pengaruh Thai-houw untuk minta kedua orang muridku dibebaskan,"

Kun Hong mengerutkan alisnya.

Tak senang hatinya mendengar gurunya.

Thai Khek Sian, menculik Hui Nio dan Hui Sian.

Juga ia merasa aneh bagaimana gurunya bisa datang bersama Beng Kun Cinjin.

Hatinya panas dan ingin ia segera mengejar 4ce Pek-go-to mencari ayahnya yang amat dibencinya itu, akan tetapi ia berada dalam kekuasaan Kui-bo Thai-houw, tak dapat ia pergi sembarangan saja.

Mendengar omongan Thai It Cinjin itu, Pak-thian Koai-jin tersenyum pahit.

Ia maklum bahwa urusan Eng Lan sama sekali tidak diperdulikan oleh orang tua itu maka tidak disebut-sebut.

Adapun Kui-bo Thai-houw memandang sejenak ke arah Kong Bu, kemudian ia menatap wajah See-thian Hoat-ong dan Pak-thian Koai-jin, pandang matanya menduga-duga dan menaksir-naksir, Im-yang Siang-cu tak ditolehnya.

"Saudara yang seperti panglima perang gagah perkasa ini siapakah?"

Tanyanya menuding See-thian Hoat-ong.

"Aku adalah ayah Kong Bu yang luka ini, namaku Kong Lek In........."

Thai-houw mengingat-ingat. Dahulu dia tinggal di istana kaisar dan dia paling memperhatikan urusan negara maka banyak ia mengenal nama-nama panglima besar yang berkuasa dan terkenal.

"Kau dari Sin-kiang?"

Tanyanya tiba-tiba, teringat. Kong Lek In mengangguk hormati.

"Mohon kemurahan hati Thai-houw untuk mengobati puteraku yang terluka,"

Katanya.

"Ah, kau tentu See-thian Hoat-ong, bukan?"

Ketika Kong Lek In kembali mengangguk, wanita itu kelihatan gembira.

"Bagus, bagus! Sudah lama mengenal nama, dahulu tiada kesempatan bertemu. Dan pengemis ini siapa?"

Ia menuding ke arah Pak-thian Koai-jin. Kakek ini mengangguk-angguk sambil tertawa, menggerak-gerakkan mangkok butut di tangan kanan seperti seorang pengemis sedang meminta-minta.

"Kiranya Thai-houw bersifat pemurah, buktinya Cinjin (orang berkedudukan tinggi) dan Hoat-ong pada datang minta berkah. Aku seorang pengemis mana mau ketinggalan? Tongkat pembantu jalan sudah kubawa, mangkok tempat sedekah sudah kupegang! Thai-houw, aku Pak-thian Koai-jin datang minta kau bebaskan muridku ini sekalian menghaturkan terima kasih bahwa selama ini muridku sudah menjadi tamumu di sini."

Ucapan yang agak aneh dan berputar-putar ini tidak memarahkan Kui-bo Thai-houw, malah wanita ini kelihatan tercengang dan gembira.

"Ah, kiranya tokoh-tokoh besar belaka yang datang ke sini."

Tiba-tiba sikapnya berubah, nampak keren dan sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar berapi.

"Semua bilang mohon, minta pada hakekatnya menuntut! Boleh saja kalian membuka mulut, akan tetapi mana aku takut terhadap tuntutan kalian? Hemm, Thai It Cinjin, soal Thai Khek Sian adalah urusanku sendiri untuk mengajar adat atau tidak, tak perlu kau membawa-bawa aku dan Kun Hong. Juga tentang mengobati puteramu, See-thian Hoat-ong, tergantung dari sikapnya dalam beberapa hari ini di sini. Aku yang memutuskan kelak hendak diobati ataukah tidak. Dan kau, pengemis dari utara, sudah lama aku mendengar nama besarmu, kiranya kau hanya seorang pengemis yang tidak mampu mengajar adat pada murid. Kalau aku tidak mau membebaskan muridmu, kau mau apakah?"

Menarik sekali kalau memperhatikan muka tiga orang tokoh besar itu pada saat mendengar kata-kata ini.

Muka Thai It Cinjin berubah pucat, muka See-thian Hoat-ong yang sudah kemerahan itu menjadi merah sekali dan muka Pak-thian Koai-jin bergerak-gerak tersenyum lebar.

"Thai-houw. jawabannya berada di mulutmu. Sebenarnya kau menghendaki apakah?"

Pak-thian Koai-jin bertanya. Bagi orang lain. kiranya pertanyaan ini akan dianggap kurang ajar, akan tetapi tidak bagi Kui-bo Thai-houw. Ia malah tersenyum mengangguk-angguk.

"Tak percuma kau berjuluk Koai-jin (Orang Aneh). Kau sudah dapat menangkap kehendakku, Dengarlah, kalian hari ini datang sebagai tamu-tamu tak diundang, karenanya harus mentaati undang-undangku, begini . Siapapun juga berani menginjak pulau ini tanpa seijinku, harus mati!"

Tentu saja Thai It Cinjin, Im-yang Siang-cu, See-thian Hoat-ong, dan Pak-thian Koai-jin marah sekali mendengar "undang-undang"

Seenaknya sendiri saja ini, akan tetapi mereka diam saja.

ingin mendengarkan apa yang selanjutnya akan diucapkan oleh wanita cantik akan tetapi berhati iblis ini.

Setelah berhenti sebentar untuk melihat bagaimana sikap tamu-tamunya mendengar ucapannya tadi, sambil tersenyum Kui-bo Thai-houw melanjutkan kata-katanya.

"Akan tetapi, karena kalian adalah tokoh-tokoh penting di dunia kangouw dan datang dengan permintaan-permintaan, biar kurobah sedikit undang-undang itu. Kalian tidak akan mati begitu saja, akan tetapi diberi kesempatan membela diri. Malah ada pahalanya. Karena kalian adalah ahli-ahli silat, biarlah kalian seorang demi seorang melawan anak angkatku ini. Kalau kalian kalah, tak perlu bicara lagi, berarti mati. Kalau menang, selain kuanggap sebagai tamu yang kuundang, juga permintaan. permintaanmu tadi akan dipertimbangkan."

Kaget bukan main para tamu itu mendengar keputusan ini.

Lebih-lebih Eng Lan, gadis ini menjadi pucat dan memandang ke arah Kun Hong dengan mata terbelalak.

Kemudian ia melompat maju dan menghunus pedangnya menghadapi Kun Hong.

"Dia ini yang akan maju menjadi jagonya? Baik sekali, biar dia mengadu jiwa dulu dengan aku. baru dengan suhu!"

Dengan marah sekali Eng Lan melompat maju menerjang dan menyerang Kun Hong dengan pedangnya.

Sukar sekali untuk menduga bagaimana rasa hati dan perasaan Kun Hong di saat itu.

Pemuda ini berdiri tanpa bergerak, memandang kepada Eng Lan dengan mata sayu dan bibir gemetar, akan tegapi ia tidak mengelak sedikitpun dari tusukan pedang yang mengarah ulu hatinya!

Pedang litu dengan cepat dan kuatnya meluncur ke depan dan agaknya sudah pasti akan menembus ulu hati Kun Hong.

"Plak! Traaanggg..........!"

Pedang itu tiba-tiba terlepas dan terlempar ke atas tanah sedangkan tubuh Eng Lan terhuyung mundur.

"Tangkap si liar ini, masukkan dulu di kamar tahanan jangan boleh keluar!"

Perintah Kui bo Thai-houw yang tadi menggerakkan tangan menangkis pedang itu dan menyelamatkan Kun Hong.

Wajah wanita ini merah sekali karena ia marah melihat Kun Hong diam saja tidak melawan, rela mati di bawah tangan gadis itu.

"Akan tetapi jangan ganggu dia!"

Terdengar suara Kun Hong cukup berpengaruh karena diucapkan dengan nada ancaman ketika ia melihat Eng Lan dipegang oleh dua orang gadis pakaian putih.

Kui-bo Thai-houw melirik kepadanya lalu berkata perlahan kepada gadis-gadis itu.

"Yaaaah, jangan ganggu dia."

Pak-thian Koai-jin tadinya hendak memberontak melihat muridnya ditangkap, akan tetap melihat sikap Kun Hong dan mendengar kata-kata tadi, ia menahan diri.

Ia cukup cerdik unluk menginsyafi bahwa tidak ada gunanya mempergunakan kekerasan di sini karena takkan menang.

Apa lagi ia berada di pulau orang dan tadi nyonya rumah sudah mengajukan syarat-syarat.

Pak-thian Koai-jin dan See-thian Hoat-ong sudah pernah merasai kelihaian Kun Hong, maka tentu saja syarat yang diajukan tadi terasa berat bagi mereka dan membuat mereka ragu-ragu.

Akan tetapi tidak demikian dengan Thai It Cinjin dan dua orang sutenya.

Im-yang Siang-cu yang berkepandaian lebih tinggi.

Mereka ini, terutama Thai It Cinjin, merasa akan sanggup mengalahkan Kun Hong.

maka mereka tersenyum dan bersiap-siap.

Thai It Cinjin melangkah maju dan berkata dengan senyum.

"Thai-houw malah mengajukan murid Thai Khek Sian menjadi jago untuk menguji kami? Baiklah kalau demikian kehendakmu. Orang muda, majulah."

Kun Hong sudah pernah bertanding melawan Thai It Cinjin dan dalam pertandingan dahulu itu, ia terdesak oleh kakek yang lihai ini.

Ia masih merasa penasaran dan sekarang terbuka kesempatan baginya untuk menebus kekalahannya.

"Kun Hong, kau tahu bagaimana harus mengalahkan dia. Majulah,"

Kata Kui-bo Thai-houw dengan muka berseri dan mata bersinar penuh harapan.

Kun Hong mengangguk, lalu meloloskan pedangnya.

Cheng-hoa-kiam.

Memang, selama berada di Ban-mo-to ia tidak hanya menghabiskan waktunya untuk bersenang.

senang saja.

Ia telah menerima banyak petunjuk ilmu silat dari Kui-bo Thai-houw.

malah telah mewarisi berbagai ilmu pukulan yang hebat-hebat dan selain ini, pernah ia membicarakan tentang kekalahannya dari Thai It Cinjin dahulu dan mendapat petunjuk-petunjuk bagaimana umtuk menghadapi kakek dari Kim-Ie-san ini.

Melihat Kun Hong sudah bersiap di depannya, tanpa sungkan-sungkan lagi Thai It Cinjin lalu membuka serangan dengan sepasang ujung lengan bajunya yang ampuh.

Kun Hong juga menggerakkan tubuh dan pedangnya dan di lain saat keduanya sudah saling terjang dengan hebat.

Baru beberapa gebrakan saja Thai It Cinjin terkejut.

Benar-benar ia telah melihat perubahan luar biasa dalam gerakan pemuda ini.

Dahulu ketika ia menghadapi pemuda ini, ia masih dapat mengenal ilmu pedang dan gerakan-gerakan pukulan aneh dari Thai Khek Sian, akan tetapi seaneh-anehnya masih berdasarkan ilmu silat dari Wuyi-san dan sebagai seorang yang pernah menerima pelajaran dari Gan Yan Ki, tentu saja ia dapat menghadapi ilmu silat warisan Wuyi-san biarpun sudah amat berubah.

Akan terapi sekarang.

menghadapi dia, agaknya pemuda ini tidak mau lagi mempergunakan ilmu silat Wuyi-san, melainkan mainkan ilmu silat lain yang amat aneh akan tetapi di dalam gerak-gerik yang halus terkandung pukulan-pukulan maut yang amat ganas dan tak kenal ampun.

Ia dapat menduga bahwa ini tentulah ilmu dari Ban-mo-to karena sifatnya serasi benar dengan keadaan Kui-bo Thai-houw, halus lemah lembut namun kejam dan keji luar biasa.

Memang dugaan tokoh besar ini tepat.

Kun Hong sekarang mainkan Ilmu Pedang Giok li-coan-ciam (Dewi Kemala Menusuk Jarum) yang ia pelajari dari Kui-bo Thai-houw.

Ilmu pedang ini adalah ilmu simpanan dari Kui-bo Thai-houw dan baru diajarkan kepada Kun Hong seorang saking sayangnya ia kepada pemuda itu.

Sesuai dengan namanya, ilmu pedang ini halus gerak-geriknya seperti gerak-gerik seorang dewi, akan tetapi ganas dan kejam seperti jarum menusuk-nusuk kain tanpa kenal ampun lagi!

Thai It Cinjin mulai terdesak.

Ia masih menduga-duga dan masih mempelajari gerakan-gerakan lawan, sebaliknya Kun Hong tentu saja dapat mengenal dasar gerakan-gerakannya.

Biar-pun dalam hal lweekang maupun ginkang ia tidak kalah akan tetapi kekalahan ilmu silat ini benar-benar membuat ia terdesak hebat.

Sambil menggereng keras Thai It Cinjin lalu mencabut sebatang pedang dari pinggangnya.

Kakek ini memang jarang sekali menggunakan pedang, biasanya dengan kedua tangan berikut ujung lengan baju saja ia, sudah jarang terkalahkan.

Akan tetapi sebagai seorang lokoh Bu-tong-pai, tentu saja iapun seorang ahli ilmu pedang dan selalu membawa pedang yang jarang ia keluarkan.

Setelah memegang pedang di tangan.

Thai It Cinjin lalu mainkan ilmu pedang Bu-tong-pai yang paling lihai, masih dibantu lagi dengan ujung lengan baju tangan kirinya.

Keadaan menjadi makin ramai karena sekarang keduanya menggunakan pedang dan biarpun sudah mengenal Bu-tong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Bu-tong).

namun tidak sampai sedalam-dalamnya, maka sekarang Kun Hong harus bersilat dengan lebih hati-hati lagi.

Karena Thai It Cinjin memang lihai sekali, perlahan-lahan Kun Hong mulai terdesak.

Tiba-tiba pemuda ini mengeluarkan seruan keras dan tangan kirinya bergerak cepat.

Sinar kuning emas menyambar ke arah muka Thai It Cinjin yang menjadi kaget sekali dan cepat menangkis sambil melompat mundur.

Hampir ia mendamprat karena mengira lawan menggunakan senjata rahasia, akan tetapi ketika ia memandang, ternyata itu bukanlah senjata gelap, melainkan sebuah tali pengikat pinggang dari benang sutera kuning yang tadi dipergunakan oleh Kun Hong.

Sekarang pemuda ini telah berlambah sebuah senjata lain di tangan kiri, senjata yang menjadi keistimewaan Kui-bo Thai-houw.

Ternyata bahwa pemuda yang pintar ini dalam waktu singkat saja, selain mewarisi Ilmu Pedang Giok-lt coan-ciam, juga telah mahir ilmu silat mempergunakan tali ikat pinggang yang lihai Itu!

Pertandingan dilanjutkan dan keadaan berubah lagi.

Kun Hong telah mulai dapat mendesak lagi, akan tetapi karena lawannya memang seorang tokoh besar yang amat lihai, tetap saja masih sukar baginya untuk mencapai kemenangan walaupun pertandingan sudah berlangsung hampir duaratus jurus.

Akhirnya ia melihat tanda-tanda bahwa lawannya kehabisan napas.

Maklum Thai It Cinjin sudah tua dan napasnya tidak sepanjang dahulu, tenaganyapun terbatas Melihat ini Kun Hong mengerahkan semangat dan menerjang dengan hebat.

Tiba-tiba terdengar seman marah dan dua bayangan orang, Im Thian Cu dan Yang Thian Cu dua orang kakak beradik tokoh Bu-tong-pai yang menjadi sute Thai It Cinjin, menyerbu ke dalam kalangan pertempuran membantu kakak seperguruan mereka.

Mereka semenjak tadi menahan hati.

akan tetapi akhirnya tidak kuat melihat suheng mereka mulai terdesak dan mandi keringat.

Penyerbuan mereka dalam keroyokan ini tidak menguntungkan Thai It Cinjin yang tidak keburu mencegah.

Hampir berbareng terdengar suara ketawa halus, dua sinar merah menyambar dan Im Yang Siang Cu berdua roboh terguling.

Thai It Cinjin terkejut sekali dan kesempatan baik ini dipergunakan oleh Kun Hong untuk menotok pundaknya dengan ujung tali ikat pinggangnya, tepat mengenai jalan darah dan tubuh Thai It Cinjin yang tinggi besar terhuyung ke belakang lalu roboh lemas.

"Jangan bunuh mereka!"

Bentak Kun Hong keras sekali yang membuat Kui-bo Thai-houw menoleh kepadanya dengan heran sambil menahan sabuk benang sutera merahnya yang sudah akan ia gerakkan untuk membunuh tiga orang itu.

"Kun Hong, kau kenapa?"

Tanyanya heran dan agak gelisah.

"Thai-houw, harap kau penuhi permintaanku ini. Para tamu ini jangan dibunuh. Memang mereka melanggar peraturan Thai-houw, akan tetapi pelanggaran yang tidak begitu hebat. Kalau dibunuh, aku akan merasa tidak enak dan tidak senang selalu. Kalau Thai-houw hendak menghukum mereka, hukumlah dan penjarakan mereka, akan tetapi jangan sekali-kali dibunuh."

Menarik sekali untuk mempelajari wajah Kui-bo Thai-houw di saat itu.

Cahaya merah berubah pucat berganti-ganti, alis yang melengkung hitam itu bergerak-gerak naik turun, bibirnya yang masih manis sekali bergerak-gerak perlahan, matanya melirik ke kanan kiri.

Akhirnya ia menatap wajah Kun Hong dan menarik napas panjang.

"Aku bodoh sekali, akan tetapi aku tak sampai hati membikin kau tidak senang."

Ia lalu menoleh ke arah Thai It Cinjin dan berkata, suaranya lantang berpengaruh.

"Thai It Cinjin, kau sudah berdosa besar. Seharusnya kau dihukum mati, akan tetapi mengingat permintaan anak angkatku, kau mendapat keringanan. Kau dihukum satu tahun dalam kamar tahanan di pulau ini, dan Kim-Ie-san semenjak sekarang menjadi hak milik dan wilayah kami. Im-yang Siangcu dihukum satu tahun pula dan setelah itu harus cepat pergi jangan sampai memperlihatkan diri lagi. Sekali lagi bertemu dengan kami berarti mengantar nyawa dan harus mati!"

Setelah berkata demikian ia memberi isyarat dengan tangannya.

Belasan orang gadis pelayan beraneka warna pakaiannya memburu datang dan segera tiga orang kakek yang sudah tak berdaya itu diseret dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan!

"Ha, sudah kukatakan berkali-kali, muridku yang berhati keras telah salah pilih.

Orang muda untuk aku pengemis hina tak perlu kau mintakan ampun.

Hayo maju dan bertanding mengadu nyawa kalau kalian tidak mau membebaskan Eng Lan dari pulau siluman ini!"

Pak thian Koai jin melangkah maju dengan marah.

"Pak-thian Koai jin, bawalah muridmu itu pergi dan sini dan selanjutnya jangan ganggu kami!"

Kata Kui-bo Thai-houw yang sebetulnya tidak suka melihat Kun Hong tergila -gila kepada gadis itu.

"Tidak boleh!"

Kun Hong menbantah, suaranya gemetar.

"Thai-houw, aku tidak rela kalau Lam-moi dia bawa pergi. Dahulu juga hampir saja Lam-moi celaka oleh Ngotok kauw tanpa gurunya ini dapat membela. Harap tangkap dan penjarakan saja Pak-thian Koai-jin!"

Mendengar ini, Pak-thian Koai-jin marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi ia menerjang Kun Hong dengan tongkat bambunya.

Kun Hong cepat mengelak dan melawan.

Kui-bo Thai-houw terheran mendengar ucapan Kun Hong tadi, akan tetapi ia girang juga bahwa pemuda itu tidak membela pengemis ini malah suruh memenjarakan.

"Kun Hong, kalau begitu bunuh saja pengemis tua bangka ini!"

Perintahnya.

Kun Hong terkejut.

Bukan maksudnya demikian.

Ia sengaja hendak menahan Pak-thian Koai-jin agar Eng Lan juga tidak pergi dan di samping itu, kelak kalau tiba saatnya ia memberontak terhadap Kui-bo Thai-houw, yaitu kalau ia sudah mendapat pengobatan, ada kawan-kawan yang tangguh membantunya.

Kalau ia selalu membantah, akhirnya Kui-bo Thai-houw akan kehilangan kesabarannya.

Ia sudah mengenal betul watak wanita ini.

Amat sayang kepadanya dan beberapa buah permintaannya selalu diluluskan.

Akan tetapi kalau wanita ini sudah marah dan hilang kesabarannya, segalanya bisa gagal dan rusak.

Sambil menghadapi serangan-serangan Pak-thian Koai-jin, ia mencari akal dan akhirnya berkata.

"Thai-houw, beberapa bulan lagi akan ada pentemuan puncak antara tokoh-tokoh di Pek go to. Para lo-enghiong yang hari ini datang ke sini termasuk tokoh-tokoh penting dan ternama. Kalau kita ini hari membunuhnya, bukanlah kelak hal ini akan. dapat dipergunakan orang untuk menurunkan derajat dan merendahkan nama besar Thai-houw? Lebih baik kita penjarakan mereka ini semua dan kita lepaskan menjelang pertemuan puncak itu."

Sampai lama Kui-bo Thai-houw diam saja, hanya memandang ke arah pertempuran itu.

Kun Hong diam-diam gelisah sekali, apa lagi karena Pak-thian Koai-jin mendesaknya dengan hebat.

Ilmu kepandaian Pak-thian Koai-jin juga istimewa sekali, apa lagi mangkok bututnya yang selain merupakan "lambang"

Kedudukannya sebagai pengemis aneh, juga merupakan senjata yang tidak boleh dipandang ringan.

Tongkat bambu yang amat ringan itu bergerak cepat bagaikan kilat menyambar sehingga biarpun tingkat kepandaian Kun Hong lebih tinggi, namun tetap saja pemuda ini harus mencurahkan perhatiannya kalau tidak mau celaka.

Pedang Cheng-hoa-kiam lagi-lagi memperlihatkan keunggulannya, berubah menjadi gulungan sinar terang yang melindungi tubuhnya.

Sebelum ada keputusan dari Kui-bo Thai-houw, pemuda ini tidak berani sembarangan memutuskan sendiri.

Ia berani membantah dan mengajukan usul hanya bermodalkan kasih sayang wanita itu terhadapnya.

Kalau wanita itu tidak setuju, iapun tidak berdaya apa-apa.

Ia tahu betul akan kelihaian Kui-bo Thai-houw dan mengerti bahwa apa bila ia menggunakan kekerasan, ia akan celaka dan takkan dapat menang.

Biarpun dibantu oleh Eng Lan.

Pak-thian Koai-jin, See-thian Hoat-ong, Kong Bu, Thai It Cinjin dan kedua Im yang Siang-cu agaknya mereka semua takkan berdaya menghadapi Kui-bo Thai-houw yang juga banyak sekali pembantunya yang lihai-lihai.

Akhirnya Kui-bo Thai-houw yang tahu bahwa pemuda itu masih menanti keputusannya berkata.

"Usulmu baik, Kun Hong. Robohkan dan tawan mereka semua seperti kehendakmu."

Bukan main girangnya hati Kun Hong.

Tadinya ia sudah khawatir sekali oleh kedatangan rombongan ini yang dianggapnya amat sembrono.

Dia sendiri biarpun dianggap anak angkat, murid, juga kekasih, sebetulnya hanyalah seorang tawanan yang tak mampu melarikan diri dari situ.

Ia sengaja membawa Eng Lan karena selain ia merasa rindu dan ingin terus berdekatan, juga ia baru merasa aman kalau melihat Eng Lan selamat.

Semenjak ada Eng Lan di situ, makin tekun ia belajar dengan maksud kelak dapat mengatasi Kui-bo Thai-houw dan selain membebaskan diri sendiri, juga diri Eng Lan.

Ia merasa yakin hal ini tak lama lagi akan dapat ia lakukan, yaitu kalau dia sudah mendapat pengobatan Im-yang giok-cu dari Kui-bo Thai-houw.

Maka kedatangan rombongan ini membikin dia bingung sekali.

Baiknya dia bisa membujuk Kuii'bo Thai-houw sehingga mereka tidak dibunuh.

Hal ini baik sekali karena kelak mereka ini boleh diharapkan bantuannya menghadapi wanita iblis yang amat lihai itu.

"Pak-thian Koai-lo-enghiong, apakah kau masih tidak mau mengalah? Thai-houw mengampuni kalian semua dan hanya menghukum satu tahun, Tidak ada satu tahun malah, sampai menjelang pertemuan di Pek go-to. Asal saja muridmu dalam selamat, kau mau apa lagi? Harap jangan bodoh!"

Kata Kun Hong sambil menangkis serangan tongkat dibarengi dengan gerakan memutar sehingga tongkat bambu itu tak dapat ditahan lagi terlepas dari pegangan kakek itu.

Pak-thian Koai-jin melompat ke belakang dan menarik napas panjang berulang-ulang.

"Seorang gagah tidak menarik kembali omongannya. Aku sudah kalah, terserah kepadamu. Mau bunuh boleh bunuh, mau hukum boleh hukum asal Eng Lan jangan diganggu."

Tanpa banyak bantahan lagi ia lalu mengikuti rombongan penjaga yang membawanya ke kamar tahanannya!

Melihat semua kejadian ini, See-thian Hoat-ong yang berwatak keras, bekas seorang panglima perang, menjadi tak senang hatinya.

Ia berdiri tegak di dekat puteranya, menatap wajah Kui-bo Thai-houw dengan muka merah lalu berkata, suaranya lantang dan tegas.

"Aku datang bersama anakku selain untuk menemani Pak-thian Koai-jin minta pembebasan muridnya, juga untuk minta tolong kepada Thai-houw supaya suka menggunakan Ngo-heng giok-cu mengobati luka anakku karena pukulan beracun. Kalau fihak nyonya rumah menganggap aku sebagai tamu. aku minta diperlakukan sepantasnya, tidak semestinya dihina. Kalau aku dan puteraku datang dianggap musuh, aku orang she Kong selamanya belum pernah takluk kepada musuh tanpa mempertaruhkan nyawa. Seribu kali lebih baik tewas dari pada menaluk kepada musuh!"

Kui bo Thai-houw adalah bekas selir kaisar.

Melihat sikap ini, mendengar omongan yang gagah, memandang orang tinggi besar gagah perkasa bersama puteranya yang tampan dan gagah itu, timbul rasa kagumnya.

Akan tetapi dia orang aneh dan kehendaknya selalu ingin ditaati orang saja.

Baiknya Kun Hong yang melihat sinar kagum di mata Thai-houw.

cepat-cepat ia maju dan berkata.

"Biar aku mewakili Thai-houw agar tidak membikin beliau lelah bicara denganmu, See-thiau Hoat-ong. Ketahuilah, terhadap orang orang gagah seperti kau dan puteramu, kami mana tidak menghormat? Adalah karena kalian melanggar larangan mengunjungi pulau ini yang membikin Thai-houw marah. Kau minta tolong pengobatan puteramu. Pukulan itu adalah Hek-tok-sin-ciang yang hebat Apa kau kira gampang saja mengobatinya? Sedikitnya makan waktu berbulan. Kalau kau mau puteramu diobati, harus taat kepada peraturan. Tamu-tamu tidak boleh berkeliaran sesukanya, harus tinggal di kamar khusus. Setelah puteramu sembuh, baru kalian boleh pergi. Kalau tidak suka akan aturan ini, lebih baik kau dan puteramu pergi saja membawa luka-luka itu."

Thai-houw mengangguk-angguk puas.

Setidaknya ucapan Kun Hong itu masih mengangkat derajatnya dan membayangkan dengan jelas akan besarnya pengaruhnya.

See-thian Hoat-ong orangnya jujur dan agaknya Kun Hong yang memang cerdik itu dapat menduga akan hal ini, maka sengaja pemuda itu tadi mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Menurut jalan pikiran See-thian Hoat-ong, ucapan tadi mengandung banyak cengli (aturan yang betul) juga.

Dia datang untuk mengobatkan puteranya, tentu saja ia harus mentaati peraturan yang akan menolongnya.

"Hemm, kalau begitu baiklah. Aku dan Kong Bu akan tinggal untuk sementara di sini, mengobati luka-lukanya. Di mana kamar kami?"

Beberapa orang pelayan datang dan membawa mereka pergi dari situ. Kun Hong tersenyum lega dan memandang kepada Kui-bo Thai-houw dengan wajah berseri.

"Bagus sekali, Thai-houw. Hari ini urusan dapat diselesaikan tanpa banyak membuang tenaga, bukan?"

Kui-bo Thai-houw berdiri dan membelai dagu pemuda itu penuh kasih sayang.

"Kau hampir membikin marah aku karena Eng Lan. Akan tetapi apa yang kau lakukan tadi memang cerdik. Biar mereka tahu rasa dalam tahanan dan tidak lagi berani memandang ringan orang-orang wanita!"

Akan tetapi Kun Hong tidak khawatir akan keselamatan para tawanan itu. Dia boleh dibilang "kenal baik"

Dengan semua pelayan yang berkuasa dan ia dapat memesan mereka supaya memperlakukan para tawanan dengan baik.

Adapun tentang luka yang diderita oleh Kong Bu, dia adalah murid terkasih dari Thai Khek Sian, tentu saja ia mengenal luka pukulan Hek-tok-sin-ciang itu dan tahu cara pengobatannya.

Malah tadi sepintas lalu ia melihat bahwa gurunya tidak bermaksud membunuh Kong Bu, dan luka itu hanyalah luka di luar yang tidak akan membahayakan nyawanya.

Demikianlah, para tawanan itu sebetulnya tidak seperti tawanan nasibnya.

Mereka tinggal di dalam kamar-kamar tersendiri di bawah tanah, kamar-kamar yang indah dan mewah, mendapat makan minum yang amat baik.

dilayani oleh gadis-gadis cantik Hanya penjagaan amat kuat dan mereka betul-betul dikurung, tak dapat keluar dari ruangan di bawah tanah.

Eng Lan sendiri yang bebas di luar, biarpun tahu bahwa suhunya dan yang lain.

lain terkurung di dalam ruangan-ruangan di bawah tanah, namun ia tidak diperkenankan masuk untuk menengok.

Beberapa hari kemudian datanglah Phang Ek Kok, kakak dari empat orang nenek kembar pelayan Kui-bo Thai-houw, di Pulau Ban-mo-to.

Beberapa tahun sekali kakek pendek gemuk gundul ini tentu datang mengunjungi empat orang adiknya di pulau itu.

Dia datang bersama seorang gadis cantik yang masih muda, gadis yang sikapnya pendiam dan nampak berduka saja.

Ketika ia muncul di depan Kui-bo Thai-houw bersama Ek Kok, Kun Hong memandang dengan mata terbelalak, kaget bukan main karena ia mengenal Kwa Siok Lan dalam diri gadis ini!

Muka itu tiada bedanya dengan muka Kwa Siok Lan, seperti pinang dibelah dua, hanya sanggul rambut dan cara berpakaian saja yang lain, dan gadis ini lebih muda.

Bentuk tubuh dan potongan muka persis tidak ada bedanya sedikitpun juga sampai Kun Hong memandang dengan bengong.

Gadis itu sendiri setelah menjura di depan Kui-bo Thai-houw, berdiri menundukkan mukanya, sama sekali tidak perduli kepada pemuda yang memandangnya dengan bengong itu.

"Kun Hong, kau melihat apa?"

Tegur Kui-bo Thai-houw. bibirnya tersenyum akan tetapi pada matanya terbayang lagi iri hati. Kun Hong sadar dan mukanya menjadi merah.

"Aku......... aku seperti sudah pernah bertemu dengan nona ini......... lupa lagi entah di mana........"

Phang Ek Kok tertawa terkekeh kekeh, persis seperti empat orang adiknya kalau tertawa, hanya dia ini lebih besar suara ketawanya.

"Dia puteriku, selamanya berada di samping ayahnya ini, mana pernah bertemu dengan kau? Orang muda, jangan ngawur!"

Phang Ek Kok tidak lama berada di Pulau Ban-mo-to.

Pertama karena memang Kui-bo Thai-houw tidak begitu suka dengan orang aneh ini, keduanya karena Thai-houw khawatir kalau kalau Kun Hong tertarik oleh gadis langsing puteri Ek Kok itu.

Maka baru sehari di situ, ia lalu memberi tugas kepada Phang Ek Kok untuk "mengawasi"

Dan menjaga wilayah Kim-Ie-san bekas tempat tinggal Thai It Cinjin yang telah dirampasnya.

Demikianlah keadaan di Pulau Ban-mo-to sebelum Wi Liong datang ke pulau itu dan tertangkap oleh jaring emas Kui-bo Thai-houw.

Dan sekarang mari kita lanjutkan cerita ini dan mengikuti pengalaman Wi Liong lebih lanjut.

Seperti sudah dituturkan di bagian depan, munculnya Eng Lan yang sudah mendapat kebebasan lagi setelah gurunya dan yang lain-lain ditahan dalam ruangan-ruangan bawah tanah, membuat Wi Liong terheran-heran, juga ia merasa girang sekali karena ada harapan tertolong keluar dari dalam jala yang mujijat itu.

Kalau ia tidak dapat keluar lebih dulu dari dalam jala emas itu, bagaimana ia bisa bergerak leluasa menghadapi musuh-musuh yang demikian lihainya seperti Kui-bo Thai-houw dan anak buahnya?

Akan tetapi malang baginya.

Selagi ia menanti kembalinya Eng Lan penuh harapan, tiba-tiba muncul Kui-bo Thai-houw dan seorang pemuda, berjalan-jalan sambil bergandeng tangan, tertawa-tawa bersendau-gurau di bawah pohon-pohon itu.

Ketika Wi Liong menggerakkan tubuh agar jala yang mengurung dirinya berputar sehingga ia dapat melihat mereka dengan jelas, pemuda ini terkejut, heran, dan marah sekali.

Ternyata bahwa pemuda yang bersendau-gurau dengan Kui-bo Thai-houw, yang bercakap-cakap dan tersenyum-senyum mesra itu bukan lain adalah Kun Hong!

"Aku tadi mendengar orang-orang bicara tentang Thai-houw menjala ikan.

Tidak sari-sarinya Thai-houw suka menangkap ikan.

Ikan apa sih yang begitu menarik hati?"

Terdengar Kun Hong bertanya. Kui-bo Thai-houw tertawa genit.

"Tidak ada ikan di dunia ini yang dapat menarik perhatianku seperti engkau, anak manis. Memang ikan itu istimewa dan aku mengajakmu ke sini juga untuk memperlihatkannya kepadamu."

"Aah. Souw Niang. harap kau jangan main-main,"

Kata Kun Hong dengan sikap merayu. Jika berada berdua saja, memang Kun Hong tidak lagi menyebut Thai-houw, melainkan memanggil nama kecil wanita itu.

"Souw Niang, untuk apa bicara tentang ikan? Aku sudah sering kali melihat ikan. Ada urusan yang lebih penting dari pada itu, yang selalu menggelisahkan hatiku........."

Kui-bo Thai-houw berseri wajahnya dan melebar senyumnya, kelihatan senang sekali dirayu pe-muda ini.

"Kun Hong, apa sih yang menggelisahkan hatimu? Bukankah aku berada di sampingmu?"

"Souw Niang, kau berjanji hendak mengobati lukaku dengan Im-yang-giok-cu. Mengapa sampai sekarang belum juga kaulakukan? Souw Niang, lupakah kau bahwa luka ini bisa mendatangkan kematian bagiku?"

Suara Kun Hong memohon. Kui bo Thai-houw tertawa kecil.

"Pemuda bodoh. Kalau aku berada di sampingmu selamanya, apa lagi yang kautakuti? Biar Giam-lo-ong (Raja Akhirat) sendiri yang datang, ia tidak akan mampu merampas kau dari hatiku. Jangan kau bingung, kekasih........."

Wi Liong merasa terkejut, heran dan muak sekali sampai ia menggigit bibirnya.

Tak disangkanya bahwa Kun Hong adalah pemuda serendah itu.

pemuda tak tahu malu yang benar-benar di luar dugaannya.

Memang ia tahu bahwa Kun Hong semenjak kecil hidup di antara orang-orang jahat.

Akan tetapi sampai menjadi kekasih Kui-bo Thai-houw hanya untuk mencari obat, merayu wanita tua itu dan melupakan Eng Lan, benar-benar mendatangkan kemarahan luar biasa dalam hati Wi Liong.

Saking marahnya ia tidak dapat melihat lagi ke arah dua orang itu dan terpaksa meramkan mata karena tidak dapat membalikkan tubuhnya.

Kun Hong hendak membantah lagi, akan tetapi wanita itu mencegahnya dengan kata-kata lirih.

"Ssttt, hal itu kita bicarakan lagi nanti. Sekarang mari kaulihat ikan yang kutangkap. Tanggung kau akan tertarik sekali."

Sambil berkata demikian.

Kui bo Thai-houw memegang lengan pemuda itu dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah melompat ke atas pohon sambil menggandeng Kun Hong!

"Eh........eh.........kenapa lihat ikan ke pohon?

Ikan atau burung yang......."

Tiba-tiba Kun Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya saking heran dan terkejutnya melihat Wi Liong di dalam jala, tergantung dan terayun-ayun pada cabang pohon, persis seperti seekor burung dalam sangkar!

Tak dapat ditahan lagi saking geli hatinya, Kun Hong tertawa terbahak-bahak ketika bersama Kui-bo Thai-houw ia duduk di atas sebuah cabang pohon yang melintang tepat di depan Wi Liong.

"Ha-ha-ha-ha, alangkah lucunya ikan yang kau jaring! Ha-ha-ha!"

Demikian Kun Hong tertawa, akan tetapi diam-diam otaknya yang cerdik bekerja dan mencari siasat.

Wi Liong, inilah orangnya yang ia butuhkan, pikirnya!

Dengan Wi Liong di sampingnya, ia merasa akan kuat menghadapi Kui-bo Thai-houw.

Akan tetapi, ia sengaja tertawa dan mengejek, dan karena memang ia betul-betul merasa geli melihat keadaan Wi Liong, maka tidak sukarlah permainan sandiwara ini.

Kui-bo Thai-houw tersenyum.

"Tahukah kau? Bocah ini datang hendak merampas Eng Lan dari sini."

Wajah Kun Hong agak berubah.

Memang Kui-bo Thai-houw sengaja menyebar racun melalui kata-katanya agar supaya pemuda kekasihnya ini membenci Eng Lan.

Hal ini mudah saja termakan oleh Kun Hong yang memang sudah menaruh hati cemburu kepada Wi Liong ketika ia dahulu melihat Eng Lan bersama Wi Liong tertawan oleh Ngo tok-kauw.

"Dia tentu ada hubungan dengan Eng Lan. Kalau tidak masa ia berani mati datang ke sini untuk membawa pergi gadis itu!"

Kui-bo Thai-houw melanjutkan penyebaran racunnya.

"Apakah orang ini juga akan dimaafkan dan diampuni seperti yang lain? Kun Hcng, aku serahkan dia padamu, mau kau bunuh atau kauampuni. terserah."

Sementara itu, Wi Liong tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Kun Hong manusia tak tahu malu! Lepaskan aku dan mari kita bertempur secara laki-laki sampai seribu jurus! Boleh kau dibantu oleh Kui-bo Thai-houw sekalian, aku Thio Wi Liong bukan manusia yang takut dikeroyok!"

Kun Hong tertawa terbahak-bahak, mentertawakan Wi Liong yang marah-marah dan meronta-ronta dalam jaring itu.

"Ha ha, lucu benar orang ini, Thai-houw. Dia ini adalah anak keponakan Kwee Sun Tek, orangnya sombong sekali akan tetapi tidak berapa kepandaiannya. Betapapun juga, aku ingin menjajal kepandaiannya setelah aku menerima petunjuk darimu. Thai-houw, harap kau lepaskan dia, biar aku menghadapinya barang seratus jurus kalau dia kuat bertahan."

Kui-bo Thaihouw mengangguk.

"Mana pedangmu? Kenapa tidak kau bawa pedangmu Cheng-hoa-kiam?"

"Aku akan mengambilnya dulu."

Kata Kun Hong sambil melompat turun dari cabang pohon itu dan berlari cepat ke kamarnya. Kui-bo Thai-houw masih duduk di atas cabang di depan Wi Liong.

"Orang muda. apakah kau cinta kepada Eng Lan?"

Ia bertanya sambil memandang wajah yang tampan itu, merasa sayang juga bahwa pemuda setampan ini datang memusuhinya.

Wi Liong adalah seorang pemuda yang berotak tajam dan cerdik sekali.

Ketika ia tadi mendengar pembicaraan antara wanita ini dan Kun Hong di depannya, ia sudah mengerti bahwa ada hubungan mesra antara mereka berdua itu dan bahwa wanita setengah tua yang genit ini menaruh hati cemburu terhadap Eng Lan dan mengharapkan Eng Lan pergi dari pulaunya agar ia dapat memiliki Kun Hong tanpa adanya saingan.

Ia merasa jemu dan muak, dan tadinya ia tidak sudi melayani wanita ini bercakap-cakap.

Akan tetapi mendengar pertanyaan itu mau tidak mau ia menjawab juga dengan singkat.

"Tidak. Jangan mengacau yang bukan-bukan."

"Sayang........."

Kui-bo Thai-houw mengangkat pundaknya, gerakannya genit sekali tak kalah oleh gadis-gadis remaja puteri.

"Kalau kau cinta padanya dan berjanji padaku mau membawanya pergi dari sini dan takkan kembali lagi, aku akan dapat mencegah Kun Hong membunuhmu."

"Hemm, bagaimana kau bisa tahu Kun Hong hendak membunuhku?"

"Apa lagi? Kau akan kulepaskan dari jaring itu. Kun Hong mengajakmu bertanding dan kau tentu akan mampus."

"Belum tentu! Aku tidak takut kepada Kun Hong!"

Kui-bo Thai-houw tersenyum manis, matanya memandang wajah pemuda dalam jaring itu dengan sinar berseri.

"Ah, kau gagah juga! Pemuda lumayan......... bukan lumayan lagi.......... boleh dibandingkan dengan Kun Hong.......... sayang kau sombong dan tidak taat kepadaku, sayang kau harus mampus.....!"

Wi Liong mendongkol sekali. Tahu dia jalan pikiran wanita tua yang cabul dan gila pemuda ini.

"Kuibo Thai houw, jangan kira aku pemuda semacam Kun Hong yang sudi dan mandah saja kau-permainkan!"

Pada saat itu, bayangan Eng Lan berkelebat melompat ke belakang Wi Liong dan pedang Cheng-hoa-kiam di tangannya digerakkan membacok dengan maksud membabat putus jaring yang tergantung itu.

Wi Liong girang sekali.

Bagaimana gadis itu berani bergerak selagi Kuibo Thai houw berada di dekat situ?

Kekhawatiran hati Wi Liong ini terbukti.

Melihat gadis itu datang-datang membawa pedang hendak dibacokkan ke arah Wi Liong, Kui-bo Thai-houw salah sangka.

Dikiranya bahwa gadis itu hendak membunuh Wi Liong.

"Gadis liar jangan kurang ajar. Pergi!"

Dari tempat duduknya, Kui-bo Thai-houw menggerakkan tangan mengirim pukulan jarak jauh ke arah dada Eng Lan.

Wi Liong kaget sekali, maklum bahwa itulah pukulan maut yang belum tentu dapat ditahan oleh Eng Lan.

Cepat ia mengerahkan tenaga dan dari dalam jaring ia menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah Kui-bo Thai-houw.

Dua tenaga luar biasa bertemu di udara.

Eng Lan selamat karena tenaga atau hawa pukulan Kui-bo Thai-houw kena digempur meleset oleh Wi Liong, akan tetapi karena hawa pukulan itu memang hebat, baru anginnya saja membuat Eng Lan kehilangaii keseimbangan tubuhnya, pedangnya tidak mengenai jaring dan tubuhnya terhuyung lalu terpaksa ia melompat turun agar tidak jatuh!

Kui bo Thai-houw ketika hawa pukulannya digempur oleh hawa pukulan lain dari depan, kaget setengah mati, apa lagi karena cabang yang ia duduki sampai menjadi patah saking hebatnya gempuran tadi.

Seujung rambutpun ia tak pernah mengira bahwa pemuda di dalam jaring ini memiliki tenaga sehebat itu, akan tetapi ia tidak sempat memikirkan hal ini karena ia harus cepat menggerakkan tubuh melompat ke cabang lain supaya tidak ikut terpelanting bersama cabang yang ia duduki tadi.

Sebelum ia hilang kagetnya, tiba-tiba datang empat orang gadis pelayan berpakaian hijau berlari-lari sambil menjerit-jerit.

"Thai-houw......... harap lekas datang....... thai-cu memasuki kamar besar, dicegah oleh empat toanio dan sekarang mereka bertempur!"

Kagetlah Kui-bo Thai-houw mendengar ini.

Kamar besar adalah kamarnya dan di situ ia menyimpan semua miliknya yang paling berharga.

Tak seorangpun boleh memasuki kamar itu, juga Kun Hong yang disebut thai-cu (pangeran) tidak pernah diperbolehkan masuk.

Kamar besar itu selalu dijaga oleh empat toanio yaitu empat wanita kembar yang gemuk buruk rupa itu, dijaga keras dan siapapun dilarang menginjakkan kaki di dalam kamar ini.

Kalau Kun Hong sudah nekat memasuki kamar dan sampai berkelahi dengan para penjaga itu, benar-benar kejadian yang hebat dan tentu terjadi perubahan yang luar biasa.

Semua benda pusakanya disimpan di situ, termasuk kemala mujijat Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu!

Tanpa perdulikan Wi Liong dan Eng Lan lagi, wanita ini sambil mengeluarkan seruan aneh berkelebat pergi cepat sekali, menuju ke kamar besar.

Eng Lan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Cepat ia melompat lagi ke dekat Wi Liong dan sekali babat saja putuslah jaring itu dan tubuh Wi Liong melayang ke bawah.

Namun pemuda yang sakti ini dapat mencapai tanah dengan tubuh ringan.

Cepat ia melepaskan jaring yang masih menyelubunginya dan ia menghadapi Eng Lan yang sudah ikut melayang turun.

"Terima kasih, nona,"

Katanya singkat akan tetapi suaranya mengandung rasa syukur.

"'Cepat, mari bebaskan suhu dan yang lain-lain lebih dulu "

Kata Eng Lan.

"Nanti dulu. kita bantu dulu Kun Hong, Ke sinikan Cheng-hoa-kiam itu, Kui-bo Thai-houw lihai sekali"

Kata Wi Liong. Eng Lan mengerutkan kening akan tetapi memberikan pedang itu kepada Wi Liong.

"Manusia macam dia perlu apa dibantu?"

Kemudian ia berkata lagi dengan sikap mendongkol.

"Laginya, dia mana perlu bantuan? Dia sudah menjadi tapak kaki siluman betina itu."

"Kurasa tidak demikian, nona. Kun Hong hanya bersandiwara. Dia ingin obat dan ingin menyelamatkan kau dan yang lain-lain. Aku dapat menduga isi hatinya dari pandang matanya tadi. Tentu sekarang ia mengharapkan bantuanku maka ia berani menentang Kui-bo Thai-houw. Mari....... atau kau boleh membebaskan suhumu, biar aku membantu Kun Hong."

Wi Liong berlari-lari dan Eng Lan setelah ragu-ragu sebentar lalu menyusul pemuda itu.

Dugaan Wi Liong memang tidak keliru.

Kun Hong mempergunakan kesempatan ketika mengambil pedangnya yang ternyata sudah tidak berada di kamarnya lagi, ia cepat menuju ke kamar besar di mana ia tahu disimpan Im-yang giok-cu dan Ngo-heng giok-cu.

Tentu saja ia dilarang oleh empat orang wanita kembar.

"Aku disuruh Thai-houw mengambil Im-yang giok-cu,"

Katanya kepada empat orang wanita kembar itu.

"Biarpun thai-cu........"

".........tak boleh masuk......."

"......... tanpa ijin.........."

"......... Thai-houw!"

Demikian kata mereka. Kun Hong menjadi marah.

"Apa kalian tidak tahu bahwa Thai-houw amat sayang padaku? Thai-houw yang menyuruh aku masuk!"

"Tidak ada bukti........."

"Tak boleh masuk........."

"Kecuali kalau........."

"Thai-houw sendiri datang............!"

Kun Hong tidak sabar lagi.

"Aku mau masuk, coba kalian mau apa!"

Cepat ia menerjang empat orang wanita itu dengan hebat sekali.

Mereka kaget bukan main, tidak mengira bahwa pemuda yang selama ini mendapat perlakuan dan rawatan baik sekali ternyata sekarang menyerang mereka dengan sungguh-sungguh, menyerang dengan pukulan maut!

Saking kagetnya mereka melompat ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh Kun Hong untuk menerobos masuk ke dalam kamar besar.

Sudah sering kali dari luar ia memperhatikan kamar yang indah ini dan ia tahu betul di mana Thai-houw menyimpan Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu, karena dalam keadaan gembira wanita itu pernah menceritakan hal itu kepadanya.

Cepat ia menyambar sebuah peti hitam berukir naga di bawah ranjang dan membukanya.

Untuk sedetik ia silau karena di dalam peti itu terdapat perhiasan yang serba indah, dari batu-batu giok (kemala) yang jarang ada di dunia ini.

Akan tetapi Kun Hong hanya mengambil dua buah benda, yaitu sebuah tongkat potong dengan kepala batu kemala lima warna yaitu Ngo-heng-giok-cu dan sebuah kalung dengan mata batu warna dua yang aneh sekali warnanya, disebut hitam putih kadang-kadang putihnya menjadi kuning hitamnya menjadi merah dan kalau dipandang lebih teliti berubah lagi, akan tetapi selalu dua warna yang bertentangan.

Inilah Im-yang-giok cu!

Ketika Kun Hong mengantongi dua benda ini, empat orang nenek kembar itu sudah dapat melenyapkan kebingungan mereka dan kini dengan wajah keren mereka menyerbu masuk.

Empat helai tali ikat pinggang mereka yang lihai menyambar ke arah Kun Hong, mengarah jalan darah yang berbahaya.

Kun Hong melompat mundur.

Sayang Cheng-hoa-kiam tidak ada padaku, pikirnya.

Ia melihat sebatang pedang dengan sarung berukir indah tergantung di dinding kamar itu.

Cepat pedang itu disambarnya dan dihunus.

Girang hatinya karena pedang itupun sebatang pedang yang tua dan selain indah juga tajam sekali.

Ia memutar pedang dan di lain saat ia sudah dikeroyok oleh empat orang nenek itu, bertempur dengan serunya.

Dahulupun ketika untuk pertama kali Kun Hong datang ke Ban-mo-to, empat orang nenek ini tidak kuat melawannya.

Apa lagi sekarang Kun Hong sudah menerima pelajaran ilmu silat dengan tali ikat pinggang itu, maka tentu saja ia lebih mudah menghadapi empat orang pengeroyoknya yang sudah ia kenal ilmu silatnya yang berdasarkan barisan segi empat.

Dalam belasan jurus ia sudah dapat mendesak mereka mundur dan keluar dari kamar itu, dan pertempuran dilanjutkan di luar kamar.

"Mundur! Apa kalian sudah bosan hidup?"

Kun Hong membentak, mendongkol sekali dengan adanya rintangan ini karena ia ingin buru-buru melepaskan Wi Liong agar supaya dapat membantunya menghadapi Kui-bo Thai-houw yang lihai.

Akan tetapi empat orang nenek yang amat setia terhadap Kui-bo Thai houw itu mana mau mundur?

Mereka malah mendesak dengan nekat dan melakukan serangan-serangan yang herbahaya.

Banyak pelayan-pelayan yang cantik dan muda melihat pertempuran ini.

Mereka serentak maju.

akan tetapi karena maklum bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan mereka yang sedang bertempur, maka mereka ini hanya menonton saja dengan pedang di tangan, tidak berani mengeroyok Kun Hong.

Empat orang pelayan pakaian hijau cepat lari mencari Kui bo Thai-houw di dalam taman hutan.

Maklum bahwa keadaan amat tidak baik baginya, Kun Hong mempercepat gerakan pedangnya dan berturut-turut ia merobohkan empat orang nenek kembar itu dengan tendangan dan totokan tangan kiri.

Ia masih tidak mau memperbesar urusan dengan pembunuhan, maka ia robohkan empat orang nenek itu dengan luka-luka ringan Selagi ia merasa lega karena tidak dikeroyok lagi dan hendak cepat-cepat lari kembali ke dalam taman, tiba-tiba ia mendengar bentakan halus.

"Manusia tak kenal budi. Kau berbuat apa?"

Suara ini halus sekali, akan tetapi bagi Kun Hong terdengar lebih menyeramkan dari pada suara yang kasar dan parau.

Mukanya menjadi pucat.

Bukannya ia terlalu takut menghadapi wanita ini, akan tetapi karena ia merasa telah terlambat dan rencananya gagal.

Ia kaget sekali melihat Kui-bo Thai-houw yang tidak disangka-sangkanya akan tiba di situ.

Dan Wi Liong belum ia lepaskan lagi!

Akan tetapi pemuda ini segera bisa menenangkan dirinya lagi.

Ia tersenyum dan berkata.

"Thai-houw, tadi aku hendak mengambil pedangku, akan tetapi siapa kira pedang Cheng-hoa-kiam telah lenyap dari kamarku. Aku teringat bahwa di dalam kamarmu terdapat sebatang pedang, maka aku pergi ke situ untuk mengambilnya, hendak kupergunakan melawan pemuda sombong itu. Eh, tidak tahunya empat orang penjagamu begitu kurang ajar dan tidak mempercayaiku sehingga kami bertempur dan aku terpaksa merobohkan mereka dengan totokan dan tendangan. Harap kau jangan marah."

Api kemarahan dalam dada Kui-bo Thai-houw mengurang kobarannya mendengar keterangan ini.

"Memang masuk di akal sekali. Tadipun ia melihat pedang itu di tangan Eng Lan. Bagaimana kalau Kun Hong bersekongkol dengan Eng Lan dan sengaja memberikan pedang Cheng-hoa-kiam kepada gadis itu untuk pergi membunuh Wi Liong? Tak mungkin. Pertama, apa perlunya membunuh Wi Liong meminjam tangan Eng Lan? Pula, Kun Hong tidak begitu goblok menyuruh Eng Lan melakukan sesuatu di hadapannya. Kalau begitu, lebih tepat keterangan Kun Hong. Pedang Cheng-hoa kiam bisa jadi sekali dicuri oleh Eng Lan. Ia hampir mempercayai kekasihnya ini dan sudah membayang senyumnya, senyum lega bahwa kekasihnya tidak menghianatinya. Akan tetapi, Si Hwa yang robohnya tidak terkena totokan melainkan terkena tendangan Kun Hong, masih bisa mengeluarkan suara.

"Thai-houw.......dia mengambil Im-yang-giok-cu dan Ngo-heng-giok-cu............!"

Api kemarahan yang hampir padam itu berkobar lagi, kelihatan dari sinar mata yang berapi-api.

"Kun Hong, apa benar itu?"

Kun Hong tersenyum.

Rahasianya sudah ketahuan, tidak ada jalan lain baginya kecuali menentang wanita ini secara berterang.

Ia memegang pedang itu lebih erat lagi dan siap sedia menghadapi serangan mendadak yang menjadi kebiasaan wanita itu.

"Terpaksa kuambil karena kau sendiri tahu betapa aku amat membutuhkannya untuk mengobati lukaku di dalam tubuh,"

Jawabnya singkat, menanti penuh kewaspadaan.

Kui-bo Thai-houw mengeluarkan suara ketawa merdu tanpa menggerakkan bibir atau membuka mulut.

Sungguh mengerikan wanita ini, tertawa seperti itu.

Inilah tandanya bahwa dia marah sekali, tanda bahwa maut sedang mengintai korban melalui keganasan wanita ini.

"Kau mengambil pedang dan batu-batu kemala masih bisa diampuni, akan tetapi penipuan dan (Lanjut ke

Jilid 29) Cheng Hoa Kiam (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 29 penghianatanmu kepadaku hanya dapat ditebus dengan nyawa. Kun Hong, keluarkan benda-benda itu dari saku bajumu!"

"Menyesal tak dapat kukembalikan, Thai-houw, karena aku membutuhkannya sekali."

"Aku bicara sebagai ibu angkatmu!"

"Kau yang mengangkatku sebagai anak angkat, akan tetapi aku taik pernah mengangkatmu sebagai ibu."

"Keparat! Apa kau tidak ingat akan hubungan kita? Kau tak kenal budi!"

"Kau yang menjadikan aku kekasihmu, aku terpaksa dan hanya melayani kehendakmu."

"Bedebah! Kau tidak mau menurut? Aku gurumu!"

"Seorang guru tentu akan membela muridnya, apalagi melihat murid terancam maut. Kau malah mengulur-ulur waktu tidak mau mengobatiku. Kau bukan guruku dan aku tak pernah mengangkatmu sebagai guru"

"Bocah kurang ajar! Kau mengandalkan apa? Mampuslah!"

Kui-bo Thai-houw yang sudah kehabisan kesabarannya mencelat maju, tangan kanannya bergerak memukul dan tangan kirinya menggerakkan tali ikat pinggangnya yang sudah terkenal amat lihai itu.

Inilah serangan luar biasa yang sudah merampas jiwa entah berapa banyak musuh.

Pukulan tangan kanannya itu halus dan tidak terasa ada angin pukulannya, akan tetapi dari jarak jauh sudah cukup kuat untuk mencabut nyawa lawan!

Jangan lupa lagi serangan tali ikat pinggang itu.

Tali itu kecil panjang dan mengeluarkan suara bercuit, melengking tinggi ketika menyambar ke arah jalan darah kematian di leher Kun Hong, melebihi bahayanya serangan seekor ular terbang yang berbisa.

Sekali ujung tali ini mengenai sasaran, betapapun pandai lawan, jangan harap bisa hidup lagi.

jalan darah akan putus, urat terpenting akan hancur sehingga darah akan merembes ke dalam kepala secara liar dan sekaligus mematikan lawan!

Baiknya Kun Hong sudah siap sedia dan bersikap waspada serta hati-hati sekati.

Ia sudah lama hidup perdekatan dengan wanita ini, sudah banyak ia menyaksikan wanita ini membunuh lawannya dengan serangan-serangan serentak dan tiba-tiba.

Sudah banyak pula ia mempelajari ilmu silat tinggi dari Kui-bo Thai-houw.

maka gerak-gerik wanita ini sudah dikenalnya baik-baik.

Melihat Kui-bo Thai-houw bergerak tadi, ia sudah menduga bahwa wanita itu tentu menyerangnya dengan pukulan tangan kanan yang disebut Thian-li-toat-beng (Bidadari Mencabut Nyawa) sedangkan ia yang sudah mempelajari ilmu silat dengan tali ikat pinggang secara mendalam, tahu bahwa serangan ikat pinggang yang talinya panjang itu tentu mengarah jalan darah di lehernya.

Oleh karena sudah dapat menduga lebih dulu.

maka cepat-cepat Kun Hong melompat ke kiri, cukup jauh untuk menghindarkan hawa pukulan Thian-li-toat-beng sambil menggerakkan pedang di tangannya untuk menangkis ujung tali yang mengejarnya dengan titik serangan tidak berobah.

Betapapun juga, ketika pedang bertemu dengan ujung tali.

Kun Hong merasa seluruh lengan tangannya tergetar hebat dan ujung tali itu secara lihai sekali tahu-tahu sudah melibat pedangnya dan terjadilah perebutan pedang antara Kui-bo Thai-houw dan Kun Hong.

Tarik-menarik sambil mengerahkaan lweekang.

Kun Hong makin lama makin menggigil kedua kakinya dan tangan yang memegang gagang pedang sudah gemetar, sedangkan Kui-bo Thai-houw masih berdiri tegak dengan bibir tersenyum mengejek.

Tahulah Kun Hong bahwa kalau sampai pedang itu terlepas dari pegangannya, celakalah dia, berarti nyawanya akan putus oleh serangan berikutnya dengan tali ikat pinggang itu!

Maka ia mengerahkan seluruh tenaga dan menahan napas, menyatukan semangatnya.

Dengan perlawanan yang gigih ini tidak mudah juga bagi Kui-bo Thai-houw untuk merampas pedang.

Kui-bo Thai-houw makin marah karena penasaran.

Ia mengeluarkan suara menjerit nyaring dan tinggi, tangan kirinya digunakau untuk mendorong ke arah dada Kun Hong dengan pukulan lweekang jarak jauh yang amat kuat!

Kun Hong terkejut sekali.

Tak disangkanya bahwa wanita itu ternyata belum menghabiskan seluruh tenaganya untuk merampas pedang sehingga masih sanggup melakukan pukulan hebat it u dengan tangan kiri.

Terpaksa iapun mengangkat tangan kirinya untuk menangkis.

Tentu saja gerakan mi mengurangi tenaganya sehingga kuda-kuda kakinya tergempur membuat tubuhnya doyong ke depan.

Kui-bo Thai-houw tertawa mengejek dan menarik tali ikat pinggangnya lebih kuat.

Makin doyong saja tubuh Kun Hong dan kini dapat dipastikan bahwa tak lama lagi pemuda ini tentu akan menyerah kalah.

Pada saat itu muncullah Wi Liong yang berlari-lari membawa Cheng-hoa-kiam.

Melihat keadaan Kun Hong yang nyawanya terancam Kui-bo Thai-houw, tahulah Wi Liong bahwa sangkaannya tadi ternyata betul.

Kun Hong hanya bersandiwara di depan wanita itu, pura-pura tunduk dan membalas cinta kasihnya, akan tetapi sebetulnya pemuda itu menanti saat baik untuk memberontak, untuk mencari obat dan membebaskan kawan-kawannya.

Biarpun ia tidak setuju sama sekali akan taktik Kun Hong yang tidak gagah dan memalukan itu, namun karena melihat Kun Hong terancam, ia menjadi tidak tega.

Bagaikan kilat menyambar tubuhnya melesat dan pedang Cheng-hoa-kiam membabat tali ikat pinggang yang masih menarik pedang Kun Hong.

"Tinggg.........!"

Kui-bo Thai houw menjerit kecil, tubuhnya terhuyung ke belakang dan tali ikat pinggangnya ia tarik kembali.

Pada saat itu Kun Hong yang tiba-tiba terlepas, hampir jatuh tersungkur ke depan kalau ia tidak cepat-cepat memutar tubuh dan berjumpalitan.

Akan tetapi Kui-bo Thai-houw menggunakan kesempatan ini untuk mengirim serangan dengan tali ikat pinggangnya, menyambarlah senjata maut itu ke arah kepala Kun Hong yang sedang berjungkir balik dan tidak berdaya menangkis itu.

Lagi-lagi Wi Liong yang menggerakkan Cheng-hoa-kiam menangkis.

Baru sekarang Kui-bo Thai-houw terkejut bukan main.

Tadi memang Cheng-hoa-kiam di tangan pemuda itu dapat melepaskan ikatan tali pinggangnya, akan tetapi ia mengira bahwa hal itu dapat terjadi karena tenaga pemuda ini tergabung dengan tenaga Kun Hong maka begitu kuat.

Sekarang, senjatanya bertemu dengan senjata Wi Liong itu tanpa bantuan dan ia merasa telapak tangannya tergetar dan tali ikat pinggangnya membalik cepat.

Tentu saja hal ini tidak disangkanya sama sekali.

Kiranya pemuda ini memiliki kepandaian yang tidak kalah oleh Kun Hong, bahkan tenaga dalamnya agaknya lebih unggul.

"Bagus, ternyata ikan yang kutangkap memiliki kepandaian juga. Biar kubunuh kau lebih dulu sebelum kumampuskan Kun Hong!"

Dengan penasaran sekali Kui-bo Thai-houw menyerang Wi Liong dengan senjatanya yang istimewa. Wi Liong menangkis tenang sambil berkata.

"Kui bo Thai-houw, sekarang kita berhadapan seorang lawan seorang di daratan. Keluarkanlah semua kepandaianmu, aku mana takut padamu!"

"Wi Liong, jangan takut. Aku membantumu. Mari kita basmi siluman betina jahat ini!"

Kata Kun Hong gembira.

"Sulingmu juga sudah kurampas kembali, terimalah!"

Memang tadi ketika memasuki kamar Kui-bo Thai houw, Kun Hong melihat suling yang menjadi senjata Wi Liong terletak di atas meja.

Ia menyambar suling itu dan menyelipkannya di pinggang karena memang ia bermaksud mengajak Wi Liong menggempur Kui-bo Thai-houw yang lihai.

Melihat sulingnya dilemparkan kepadanya, Wi Liong cepat menyambarnya.

Biarpun ia sudah memegang Cheng-hoa-kiam, namun baginya lebih enak bersenjatakan sulingnya itu.

"Kun Hong. tak usah kau membantuku. Lebih baik kau pergi menolong kawan-kawan yang kini sedang ditolong oleh Eng Lan,"

Kata Wi Liong yang mengkhawatirkan keselamatan Eng Lan.

Mendengar ini, kembali terasa tak enak di hati Kun Hong, tak enak karena cemburu.

Kini ia dapat menduga bahwa pedangnya tentu dicuri oleh Eng Lan dan gadis itulah kiranya yang membebaskan Wi Liong.

Kalau tidak demikian, bagaimana Cheng-hoa-kiam bisa berada di tangan Wi Liong dan pemuda itu tahu pula bahwa Eng Lan pergi menolong orang-orang yang tertawan?

Wi Liong gagah perkasa dan tampan, tidak kalah olehnya, bukan hal tak mungkin kalau Eng Lan tertarik hatinya.

Biarpun hatinya tidak enak sekali, akan tetapi mendengar bahwa Eng Lan pergi seorang diri menolong mereka yang tertawan, ia merasa khawatir juga dan cepat ia pergi tinggalkan tempat itu menyusul Eng Lan.

Kui bo Thai-houw gemas sekali melihat Kun Hong pergi membawa dua buah batu kemalanya berikut pedangnya, akan tetapi ia tidak berdaya mencegah Pemuda yang menghadapinya ini benar benar tangguh.

Apa lagi sekarang dengan suling di tangan kiri, pemuda ini benar-benar merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan sama sekali.

Kui-bo Thai-houw mengerahkan tenaga dan mengeluarkan kepandaiannya.

Tali ikat pinggangnya masih melayang-layang mencari sasaran maut, tangan kakinya juga menyerang dengan serangan-serangan luar biasa.

Jarang ada lawan dapat menahan hujan serangan yang kesemuanya merupakan tangan tangan maut yang menjangkau mencari korban itu.

Akan tetapi serangan-serangan yang datangnya seperti hujan ini dan sekaligus secara bertubi-tubi tidak kurang dan tigapuluh enam jurus serangan yang tidak pernah putus dengan amat indah dan cepatnya dapat dilayani dan dipunahkan oleh Wi Liong!

Bukan main kagetnya hati Kui-bo Thai-houw.

Belum pernah selama hidupnya ia berhadapan dengan pemuda segagah ini.

Hampir tidak percaya kalau bukan dia sendiri yang mengalaminya.

Pukulan-pukulan dengan hawa lweekang yang sangat dahsyat ternyata dapat dilawan oleh dorongan pemuda itu dengan hawa lweekang yang sama kuatnya!

Ia memperhatikan gerak-gerik pemuda itu, dari pergeseran kaki sampai pergerakan lengan dan pundak.

Tiba-tiba Kui-bo Thai-houw melompat mundur dan menarik kembali tali pinggangnya.

Mukanya menjadi merah sekali, membuat ia kelihatan makin muda dan cantik.

"Kau......... murid Thian Te Cu kenapa datang menggangguku? Thian Te Cu sendiri tak pernah memusuhiku! Apakah............ Thian Te Cu menyuruh kau datang untuk menghinaku?"

Dan aneh sekali, Wi Liong melihat dua butir air mata melompat keluar dari sepasang mata itu, membasahi pipi!

Kui-bo Thai-houw mengeluarkan air mata.

Wi Liong menjadi tidak enak sekali.

Tak disangkanya bahwa agaknya wanita ini kenal baik dengan suhunya, malah melihat gelagatnya, agaknya dahulu ada terjadi sesuatu antara suhunya dan Kui-bo Thai-houw.

Celaka kalau sampai nama gurunya terbawa-bawa dalam urusan ini, padahal gurunya tidak tahu-menahu tentang penyerbuannya ke Ban-mo-to ini.

"Aku memang murid beliau, akan tetapi suhu tidak turut campur dengan kedatanganku di pulau ini. Seperti sudah kukatakan kepadamu, Kui-bo Thai-houw, kedatanganku adalah untuk minta kau bebaskan nona Pui Eng Lan. Apa lagi sekarang kulihat kawan-kawanku, Pak-thian Koai-jin, See-thian Hoat-ong dan puteranya. juga kabarnya Thai It Cinjin dan kedua orang satenya, semua kau tahan. Harap kau suka melepaskan mereka.'' Kui bo Thai-houw menarik napas panjang, agaknya lega mendengar bahwa pemuda ini datang bukan atas perintah Thian Te Cu.

"Akupun dapat menduga, tak mungkin dia mau menyerangku. Kau ini bocah memang kurang ajar sekali. Eng Lan dan yang lain-lain tidak diganggu, malah sekarang tentu sudah bebas dibantu oleh anjing penghianat Kun Hong itu. Mengapa kau masih ribut-ribut di sini? Apakah kau begitu sombong hendak mencoba kepandaianku? Awas, bocah muda, jangan membikin aku marah dan lupa bahwa kau murid Thian Te Cu!"

Wi Liong sadar. Tadinya ia melawan Kui bo Tha"

Houw hanya dengan maksud membantu dan menolong Kun Hong, kemudian memberi kesempatan kepada Kun Hong untuk menolong yang lain-lain maka ia menahan Kui-bo Thai-houw agar tidak mengejarnya.

Sekarang wanita ini agaknya sudah rela membiarkan semua orang terlepas, maka perlu apa dia mendesak terus?

Harus diakui bahwa kepandaian wanita ini lihai dan berbahaya sekali dan ia sama sekali tidak berani memastikan apakah kalau pertandingan dilanjutkan ia akan bisa menang.

Wi Liong lalu menjura dan berkata halus.

"Terima kasih kalau kau sudah rela membebaskan semua tawananmu. Akupun orang muda mana berani berlaku kurang ajar di tempat orang? Kui-bo Thai-houw, harap kau maafkan aku dan selamat tinggal."

Setelah berkata demikian. Wi Liong melesat pergi.

"Tunggu saja sampai pertemuan puncak di Pek-go-to pada musim chun mendatang!"

Kui-bo Thai-houw berkata lirih, penuh kegemasan dan penasaran.

Masa dia tidak dapat menangkan murid Thian Te Cu?

Kalau ia kalah terhadap Thian Te Cu.

hal itu tidak memalukan benar.

Akan tetapi terhadap muridnya yang masih begitu muda?

Ia penasaran sekali.

"Aku perlu memperkuat diri, perlu memperdalam kepandaian. Usiaku belum terlalu tua. Aku bisa lebih maju untuk menghadapi pertemuan puncak,"

Demikian katanya kepada diri sendiri dan pikiran serta semangat ini membuat ia agak terhibur dari kehilangan senjata pedang dan dua buah batu kemalanya.

Wi Liong berlari cepat sekali menuju ke pantai.

Ia hendak melihat dulu apakah betul Eng Lan dan yang lain-lain sudah bebas.

Ia masih khawatir kalau-kalau ia ditipu oleh Kui-bo Thai-houw.

Selagi ia berlari lari, tanpa disengaja ia melalui sebuah tanah pekuburan.

Inilah tanah kuburan di pulau itu, dan di sinilah dikuburnya orang-orang yang mati di Pulau Ban-mo-to, baik karena sakit karena tua maupun karena terbunuh oleh Kui-bo Thai-houw.

Akan tetapi sebagian besar di antara mereka adalah korban-korban keganasan Kui-bo Thai-houw!

"Wi Liong, berhentilah kau!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan seorang pemuda yang membawa pedang muncul menghadang.

Dia ini bukan lain adalah Kun Hong!

Melihat Kun Hong, dagu Wi Liong mengeras dan ia memandang tajam, berdiri tegak akan tetapi sikapnya tenang.

"Kun Hong, kau masih di sini? Di mana yang lain-lain? Apakah mereka sudah dibebaskan semua?"

"Mereka sudah pergi meninggalkan pulau ini!"

Jawab Kun Hong singkat dan mata pemuda ini mengincar ke arah Cheng hoa kiam di tangan kiri Wi Liong, mulutnya cemberut dan ia nampak marah dan mendongkol.

"Kau mau apakah? Mengapa kau tidak ikut pergi dan apa maksudmu menghadangku di sini?"

Tanya Wi Liong penuh selidik. Untuk beberapa lama Kun Hong tidak menjawab. Tiba-tiba ia membentak.

"Kembalikan Cheng-hoa-kiam kepadaku!"

Wi Liong tersenyum dingin.

"Kaulah yang harus mengembalikannya kepadaku. Ingat, kau mencuri pedang ini dari Wuyi-san."

"Kau harus merampasnya kembali dari tanganku, bukan mendapatkan kembali begitu mudah!"

Kembali Kun Hong membentak marah. Wi Liong tetap tenang.

"Kau mau menang sendiri saja, Kun Hong. Pendeknya. Cheng-hoa-kiam tidak akan terlepas lagi dari tanganku. Kau mau apa!"

"Aku harus mendapatkannya kembali!"

Setelah berkata begini Kun Hong lalu menubruk maju, menyerang dengan pedangnya, pedang rampasan atau pedang curian dari kamar Kui-bo Thai-houw.

Pedang inipun bukan pedang sembarangan melainkan sebatang pedang pusaka yang ampuh.

Maka ketika Wi Liong menangkiskan Cheng-hoa-kiam untuk merusak pedang Kun Hong itu, hanya terdengar suara nyaring disusul muncratnya bunga api, akan tetapi kedua pedang itu tidak ada yang rusak.

"Kau sendiri sudah mempunyai pedang baik, mengapa masih menginginkan milik lain orang?"

Wi Liong mencela Kun Hong, diam-diam kagum juga melihat keampuhan pedang di tangan Kun Hong itu.

Akan tetapi Kun Hong tidak perduli lagi.

Cepat dan antep dia menyerang lagi, mengerahkan tenaga dan mengeluarkan kepandaiannya, ia tidak hanya ingin merampas pedang, akan tetapi ia ingin mencoba kepandaiannya yang sudah digembleng lagi oleh Kui-bo Thai-houw itu untuk melawan musuh lamanya ini.

Pertandingan berlangsung seru dan ramai sekali.

Wi Liong selalu mengalah dan untuk menjaga agar jangan sebuah di antara dua pedang pusaka itu rusak, ia menghadapi pedang Kun Hong dengan suling di tangan kanannya.

Ia kaget menyaksikan keganasan ilmu pedang Kun Hong dan maklumlah ia bahwa pemuda murid Thai Khek Sian ini benar-benar telah mendapatkan banyak kemajuan dan ilmu pedang yang sudah ganas itu menjadi lebih keji lagi kini.

Tentu telah menerima latihan-latihan dari Kui bo Thai-houw, pikirnya.

Menghadapi Kun Hong, Wi Liong tidak bisa enak-enakan saja.

Iapun terpaksa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya agar jangan sampai celaka dalam tangan pemuda aneh ini.

Setelah seratus jurus lewat, ketika pedang Kun Hong menusuk dadanya, Wi Liong menggunakan tenaga lweekang tinggi untuk menempel pedang itu dengan suling, menindihnya ke bawah, lalu membentak dengan suara keren.

"Kun Hong, apa kau hendak mengadu nyawa karena Cheng-hoa kiam?"

Lengan tangan kanan Kun Hong yang memegang gagang pedangnya menggigil.

Harus ia akui bahwa ia kalah tenaga oleh Wi Liong dan hal ini karena dia tidak pandai menjaga diri, tidak kuat mengekang nafsu seperti Wi Liong.

Akan tetapi dia tidak mau kalah, malah dengan cemberut ia membentak kembali.

"Kau menggoda Eng Lan!!"

Seruan ini membuat Wi Liong demikian kaget dan heran sehingga tenaganya agak mengendur.

Kun Hong cepat merenggut pedangnya terlepas dan dengan marah membacok kepala Wi Liong.

Wi Liong sigap miringkan tubuh.

Pedang Kun Hong menyabet bongpai (batu nisan) sebuah kuburan dan sebelum ia sempat menarik kembali pedangnya, lagi-lagi suling Wi Liong sudah menindih pedang itu.

"Kun Hong. jangan kau gila. Apa maksudmu dengan menggoda Eng Lan?"

"Kau memutuskan hubungan dengan Siok Lan karena kau mencinta Eng Lan!"

Lagi-lagi ucapan ini membuat Wi Liong kaget dan tenaganya berkurang sehingga Kun Hong dapat menarik pedangnya lalu langsung menusuk perut Wi Liong.

Wi Liong menjadi marah sekali mendengar fitnah keji itu.

Ia menyampok pedang lawan sekuatnya sehingga pedang itu hampir saja terlepas dari tangan Kun Hong.

"Gila kau! Jadi kau......... kau cemburu.......? Apa buktinya? Apa buktinya aku menggodanya? Hayo bicara dulu jangan mengamuk seperti kerbau gila!"

"Buktinya? Dia sudah mengambil pedangku dan selain digunakan untuk mengeluarkan kau dari jaring juga ia memberikan pedang Cheng-hoa-kiam kepadamu. Dahulupun dia bersama kau menjadi tawanan Ngo-tok-kauw, kemudian sikapnya terhadapku menjadi tawar, malah tadi ia marah-marah karena aku meninggalkanmu seorang diri menghadapi Kui-bo Thai houw dan sekarang ia pergi meninggalkan aku dengan marah dan benci. Mana bisa Eng Lan-ku yang dulu amat menyintaku sekarang berobah begitu kalau tidak kau ganggu?"

Wi Liong tertawa, suara ketawa kering untuk memperlihatkan kegemasan hatinya, tertawa mengejek dan merendahkan Kun Hong.

"Kau pemuda gila, kau manusia picik dan rendah budi. Ah, alangkah rendahnya budimu, alangkah bodoh dan buta matamu. Kun Hong, lebih baik kau cokel ke luar dua biji matamu itu, karena percuma saja kau bermata akan tetapi lebih buta dari pada orang tak bermata. Kau keji sekali, menuduh yang bukan-bukan kepada Eng Lan. Apa kau tahu bagaimana gadis itu mati-matian menyeret gurunya menyerbu Ngo-tok-kauw, semata mata untuk mencari Im-yang-giok cu, semata-mata untuk mengobatimu karena ia mencintamu? Setan hina, apa kau tidak melihat betapa setelah melihat kelakuanmu yang menjemukan dan yang kotor di pulau ini, setelah ia melihat kau menjadi kekasih dan anjing Kui-bo Thai-houw. setelah kau menyakitkan hatinya seperti itu, ia toh masih tidak tega meninggalkanmu di sini, seorang diri? Ia masih setia, rela menjadi tawanan di sini, semata-mata karena ia ingin selalu dekat denganmu? Semua itu ia lakukan, ia gadis suci murni itu, yang cinta kasihnya suci murni pula, semua ia lakukan untukmu yang ternyata malah membalasnya dengan fitnah keji, kau tuduh yang bukan-bukan dengan aku. Ooo. alangkah rendahnya kau ini!"

Kun Hong terduduk tanpa merasa.

Terduduk dengan muka pucat seperti mayat.

Pedang di tangannya gemetar, matanya membelalak memandang Wi Liong, bibirnya menggigil pucat tanpa kuasa mengeluarkan suara, hidungnya kembang kempis dan air matanya mengalir turun membasahi kedua pipinya yang pucat.

Akhirnya setelah beberapa kali membuka mulut tanpa bisa mengeluarkan suara, ia dapat juga berkata dengan suara parau dan lirih.

"Wi Liong.......... demi lblis neraka.......... Wi Liong............. betulkah semua omonganmu itu......?"

"Selama hidupku belum pernah aku memaki dan menyumpah seperti sekarang ini, belum pernah aku marah dan gemas kepada orang lain seperti kepadamu sekarang ini, Ahhhh, alangkah inginnya aku memancungkan pedang ini pada lehermu, alangkah inginnya aku meremukkan kepalamu dengan sulingku ini."

Kun Hong tak kuat lagi menahan keharuan dan kesedihan hatinya. Ia menjatuhkan diri berlutut menciumi tanah merenggut rumput-rumput.

"Lakukanlah Wi Liong....... lakukanlah....... bunuh saja orang keji ini........ supaya iblis jahat pergi dari hatiku........."

Kun Hong menangis seperti anak kecil!

Hatinya penuh penyesalan, teringat akan apa yang baru saja terjadi antara dia dan Eng Lan.

Tadi setelah ia mendengar dari Wi Liong bahwa Eng Lan pergi hendak membebaskan para tawanan, ia cepat mengejar dan menyusul.

Benar saja, ia melihat Eng Lan tengah dikeroyok oleh para pelayan dan berada dalam bahaya.

Ia segera membentak para pelayan yang segera mundur karena mereka ini sebagian besar sudah mengenalnya.

"Mengapa kau menyusul ke sini? Mana saudara Wi Liong?"

Tanya Eng Lan wajar karena dalam keadaan tegang itu ia untuk sementara melupakan kemarahan kepada Kun Hong. Dada Kun. Hong makin panas karena begitu bertemu, gadis ini terus saja menanyakan Wi Liong.

"Dia bertempur melayani Kui-bo Thai-houw,"

Jawabnya singkat sambil berlari memasuki ruangan di bawah tanah, tempat para tawanan.

"Dan kau biarkan dia menghadapi Kui bo Thai-houw seorang diri? Tidak kau bantu? Benar-benar kau keterlaluan!"

Mendengar ucapan marah dari gadis ini, rasa cemburu di hati Kun Hong menjadi berkobar dan pemuda ini tak dapat mengendalikan diri lagi.

Ia tidak jadi memasuki tempat tahanan, malah melompat kembali menghadapi Eng Lan yang berdiri dengan penuh kekhawatiran untuk keselamatan Wi Liong.

"Mengapa aku harus membantunya?"

Tanyanya ketus sambil menatap wajah Eng Lan dengan hati panas.

"Mengapa katamu?"

Eng Lan juga membentak marah.

"Tentu saja kau harus membantunya, ataukah kau memang sengaja meninggalkannya supaya ia celaka di tangan Kui-bo Thai-houw ke-Cintaanmu itu?"

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 12

Baca Juga: Sepasang Naga Lembah Iblis 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert