Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Pedang Terbang 1

Eps 1 Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo.

Kisah Si Pedang Terbang (Seri ke 02 Mustika Burung Hong Kemala) Karya .

Asmaraman S Kho Ping hoo Sungainya bagaikan pita sutera biru, Gunungnya laksana tusuk sanggul kemala!

Demikianlah pujian yang ditulis dalam dua baris atau sebait sajak oleh Han Ji (768 -824), seorang di, antara para pujangga besar di jaman Dinasti Tang (618-907) itu.

Sebait sajak yang sederhana, namun jelas menggambar kan keindahan alam dari lembah Sungai Li yang dilihat dari puncak Gunung Teratai Biru.

Memang, kebesaran alam dengan segala keindahannya terbentang luas di sekitar Kuilin, Propinsi Juangsi itu.

Dan Sungai Li merupakan penunjang kuat untuk segala keindahan ini, kesuburan tanahnya, kemakmuran rakyatnya.

Sungai Li ini dikenal pula dengan sebutan Sungai Kui atau Sungai Haijang, sebagai sungai yang bermata air dari Gunung Haijang.

Gunung Haijang berdiri tegak menjulang di antara dua propinsi, yaitu di perbatasan Propinsi Kuangsi dan Propinsi Hunan.

Dari gunung ini mengalir dua batang sungai, yaitu Sungai Li yang mengalir masuk ke daerah Propinsi Kuangsi, sedangkan yang mengalir ke daerah Hunan adalah Sungai Siang.

Dari daerah Kuilin sampai ke da erah Yangsuo terbentang keindahan alam yang tiada habishabisnya, yang satu lebih menarik dan lebih indah dari pada yang lain.

Namun, seperti banyak ditulis para penyair dan dilukis oleh para pelukis, yang terindah di antara semuanya adalah pemandangan alam di Yangsuo.

Di daerah ini, Gunung Teratai Biru mencakar langit, seringkali puncaknya terselimut kabut tipis, nampak seperti wajah jelita seorang puteri mengintai dari balik tirai putih yang tipis.

Indah bukan main!

Dari jauh, gunung ini nampak seperti bentuk sekuntum bunga teratai yang menguncup, segar dan indah kebiruan.

Di kaki gunung ini terdapat dusundusun yang tenang tenteram, dihuni para petani merangkap nelayan yang hidupnya tak pernah kekurangan karena tanah di situ subur dan Sungai Li mengandung banyak ikan.

Dan di lereng gunung itu, terpencil sunyi namun penuh kedamaian, berdiri sebuah kuil tua yang indah.

Itulah Kuil Cian yang seolah menjadi lambang ketenteraman, mengamati kehidupan rakyat pedusunan yang berada di bawah.

Dari kuil ini kita dapat menikmati tamasya alam yang berubahubah keindahannya dari pagi sampai senja.

Bahkan di waktu malam, kalau bulan muncul bersih tidak terhalang awan, pemandangan di situ amat mempesonakan.

Kota Yangsuo seolah menjadi pusat dari semua keindahan itu, bagaikan sekuntum bunga teratai biru, dikitari berlapisIapis pegunungan yang hijau zamrud, seperti setangkai bunga yang terllndung dalam pelukan daundaun bunga.

Di daerah itu, kedua tepi Sungai Li terjaga pegunungan, dari Gunung Teratai Biru, kalau kita menyusur ke hilir sungai, akan nampaklah Gunung Pelayan Pelajar.

Gunung ini memperoleh namanya dari bentuknya yang seperti seorang pelayan pelajar, tenang, diam dan patuh, duduk tegak lurus membantu sang pelajar mendeklamasikan sajak buatan majikannya.

Dari sisi lain, dia nampak seperti sedang membungkuk, siap menerima tugas dari sang pelajar, Di antara puncakpuncak pegunungan itu, yang terkenal adalah Puncak Singa' Kembar di Gunung Besi.

Memang puncak itu mirip sekali sepasang singa yang duduk dengan tenangnya nampak gagah dan jinak, tidak membayangkan keganasan.

Air Sungai Li itu sendiri amat jernih karena belum melalui kotakota besar di mana penduduknya tak segansegan mengotorinya.

Airnya jernih tembus pandang sampai ke dasarnya yang terben tuk dari batubatu cadas.

Di kanan kiri sungai nampak pegunungan, jurang dan pa lungpalung buatan alam.

Ada dongeng rakyat setempat bahwa di sana pernah terjadi peristiwa hebat, yaitu ketika Sembilan Naga Berlumba Menyeberangi Sungai!

Dongeng ini timbul karena adanya garisgaris timbul yang berliku di dasar sungai, sehingga nampak seolah ada sembilan ekor naga berlumba melintasi sungai.

Tak jauh di sebelah.depan lagi nampak di kejauhan dua pegunungan yang berhadapan dan nampak seperti dua pasukan saling berhadapan dengan seragam putih dan merah.

Itulah Pegunungan Tebing Putih, dan Pegunungan Tebing Merah.

Pemandangan pegunungan yang kehijauan bertahtakan tebingtebing putih dan merah!

Maju sedikit Iagi, di daerah Singping di tepi Sungai Li, terdapat Pegunungan Lima Puncak, dan Gunung Lukisan.

Keindahan di daerah ini menggerakkan hati banyak penyair untuk datang berkunjung dan menuliskan pujian hati mereka melalui sajaksajak indah, juga tiada habisnya para pelukis kenamaan mencoba untuk menggoreskan suara hati mereka mengutip semua keindahan i tu.

Terdapat dongeng rekyat pula di daerah itu bahwa demikian indahnya pemandangnya alam di situ sehingga seorang dewapun tergerak hatinya, dan pada suatu hari, sang dewa itu duduk di atas sepetak rumput menikmati keindahan sambil minum arak dan bersajaklah sang dewa itu.

Hal ini sudah terjadi ribuan tahun yang lalu (sajak dari abad ke duabelas sebelum Masehi).

Senja menjelang tiba embun mulai mengelimuti rumput penuhilah lagi cawan cakrawala sebelum malam menghapus semua keindahan ini!

Sepanjang malam kabut menutupi semua keindahan menakjubkan ini namun itupun takkan lama kabut akan mengering malam akan berakhir!

Hampir semua penyair di jaman itu, yaitu dalam dinasti Tang (618-907) pernah berkunjung dan mengagumi keindahan pemandangan alam di sepanjang Sungai Li, terutama di daerah Kuangsi ini.

Di antara mereka adalah pa ra penyair besar seperti Han Ji, Liu Cung Yuen, Huang Ting Ciang, Ji Fu, Fan Ceng Ta, Wang Wei dan terutama sekali Li Tai Po, Tu Fu dan masih banyak lagi.

Kabarnya, Li Tai Po sendiri pernah naik perahu seorang diri di Sungai Li, minum arak dan pada malam terang bulan purnama, penyair besar inimengenang pengalamannya dengan bersajak.

Sajaknya itu amat terkenal, terutama di daerah yang dialiri Sungai Li.

Seperti kebanyakan sajaknya, penyair ini lebih suka menulis tentang perasaan dan kehi dupan manusia melalui dirinya sendiri dari pada sekedar memuji keindahan alam.

Dengan cawan anggur di tangan dikelilingi bunga, aku minum sendiri tanpa seorangpun menemaniku.

Kuangkat cawan anggurku kepada bulan kuminta bulan mendatangkan bayanganku dan membuat kami menjadi bertiga.

Namun, bulan tidak dapat minum dan bayanganku tertinggal.

hampa; betapapun mereka adalah kawan kawanku menamaniku sepanjang musim semi Aku bernyanyi.

Bulan tersenyum padaku.

Aku berjoget.

Bayanganku mendampingiku.

Kutahu, kami adalah sahabatsahabat baik, ketika aku mabok, kami saling kehilangan.

Dapatkah kemauan baik bertahan?

Kutatap jalan panjang Sungai Bintangbintang!

Di kaki Bukit Ayam Emas yang ter masuk daerah Yuangsuo, terdapat beberapa buah dusun yang bertebaran di sekeliling bukit itu.

Di antaranya adalah dusun Libun yang terletak di tepi sungaj Li.

Dusun ini hanya berpenduduk sekitar limapuluh keluarga saja, agak jauh dari dusun lain, paling dekat sepuluh li dari dusun lain dan nampak te nang dan tenteram.

Para penghuninya be kerja sebagai petani dan juga nelayan dan di tepi sungai nampak banyak perahu dan rakit dari bambu fertambat.

Mereka yang keadaannya agak mampu memiliki sebuah perahu, yang lebih sederha na cukup dengan rakit yang mereka buat sendiri dari bambu.

Pada umumnya, penghuni dusun Libun merasa cukup.

Memang sesungguhnya, kaya atau miskin tak dapat diukur dari isi saku atau harta milik.

Betapapun besar dan banyak harta milik yang dipunyai seseorang, kalau dia masih mera sa kurang atau belum cukup, sama saja artinya dengan seorang yang miskin dan dia tidak akan dapat menikmati apa yang telah dimilikinya.

Sebaliknya, biarpun seseorang hidup sederhana, namun kalau dia sudah merasa cukup, sama saja halnya dengan seorang kaya raya dan dia dapat menikmati apa yang telah dimilikinya.

Jadi letak ukurannya bukan di saku atau di gudang harta, melainkan di dalam hatinya.

Seperti para penduduk dusun Libun.

Karena mereka tinggal di dusun sederhana, maka kebutuhan hidup merekapun tidak banyak, sekedar sandang, pangan dan papan yang sederhana cukuplah.

Tidak terdapat banyak godaan terhadap mereka, seperti dalam kota di mana terdapat toko-toko yang men jual barang-barang mewah dan indah, rumah-rumah makan dengan masakan yang mahal, dan rumahrumah indah, juga tontonantontonan yang kesemuanya itu membutuhkan uang banyak sehingga tentu saja kehidupan di kota mendatangkan banyak keinginan dan kebutuhan.

Berbahagialah manusia yang dap menikmati apa yang ada, menikmati apa yang dimilikinya.

Namun, selama kita masih dicengkeram nafsu, kita takkan pernah dapat menikmati apa yang kita miliki karena kita selalu menjangkau yang belum kita miliki, yang kita anggap akan lebih indah dari pada apa yang telah kita miliki.

Sifat nafsu adalah selalu mencari yang lebih dan hanya sejenak saja menikmati apa yang kita dapatkan lalu terganti kebosanan karena kita sudah mengejar yang kita anggap lebih menyenangkan lagi.

Dan untuk dapat menjadi manusia berbahagia seperti itu, satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kasih Kalau kita menyerahkan diri kepada Tuhan, kita tidak akan mengeluh dan selalu akan bersukur kepa da Tuhan, dalam keadaan apapun kita berada.

Kalau segala peristiwa kita sambut sebagai sesuatu yang telah dikehendaki Tuhan, kita tidak akan mengeluh lagi, karena kita yakin bahwa semua kehendak Tuhan pasti terjadi, dan apapun yang ditimpakan kepada kita pasti memillki hikmah karena Tuhan mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

Kewajiban kita dalam hidup ini hanyalah mempergunakan atau memanfaatkan semua anggauta tubuh ini termasuk hati akal pikiran kita untuk kesejahteraan hidup ini, dari diri pribadi sampai lingkungan yang makin meluas, keluarga masyarakat, bangsa, dan seluruh manusia.

Semua usaha itu didasari penyerahan dan keyakinan bahwa semua hasil usaha kita, baik yang bagi kita menyenangkan maupun menyusahkan, terjadi atas kehen dak dan bimbingan Tuhan.

Karena itu, hanya puji syukurlah yang keluar dari hati dan mulut kita kepada Tuhan Maha Pengasih.

Pagi itu amat cerah.

Sinar matahari pagi seolah menggugah semua yang terlelap di malam yang baru lewat, dan memberi kehidupan kepada setiap tumbuh tumbuhan, besar maupun kecil, memberi kehidupan kepada semua mahluk, merupakan satu di antara berkah Tuhan yang berlimpahan kepada ciptaanNya, alam beserta seluruh isinya.

Permukaan Sungai Li amat tenang dan jernihnya.

Kecuali apa bila hujan turun yang membawa banyak tanah dan daun kering mengotori air sungai, air itu selalu jernih dan pagi hari yang cerah Itu, air sungai nampak jernih seperti kaca dan matahari pagi membuat garis-garis perak dipermukaannya.

Sebuah rakit kecil yang hanya terbuat dari beberapa batang bambu, meluncur perlahan menyeberang sungai.

Rakit itu membawa seorang anak laki-laki yang dengan gerakan kuat karena sudah terbiasa, mendorong rakit meluncur dengan sebatang dayung.

Setelah tiba di seberang, anak laki-laki itu menempelkan rakitnya di tepi sungai, lalu meloncat ke darat dan mengikatkan tali rakitnya pada sebatang pohon bambu yang besar.

Tepi sungai dimana dia mendarat itu memang merupakan sebuah kebun bambu yang lebat, di mana terdapat banyak sekali rumpun bambu yang bermacammacam bentuknya.

Diapun meninggalkan rakitnya, memasuki hutan bambu membawa sebuah golok dalam sarunq kulit yang dia selipkan di pinggangnya.

Anak itu berpakaian sederhana, seperti pakaian anak-anak dusun di daerah itu, bercelana panjang sampai ke bawah lutut, sepatunya dari kulit kasar, bajunya berlengan pendek, berwarna hitam seperti yang biasa dipakai semua anak di situ karena warna hitam ini awet tidak lekas kotor.

Biarpun pakaiannya tidak berbeda dengan pakaian anak-anak lain di.

dusun itu, sederhana namum wajahnya memiliki sesuatu yang tidak biasa didapatkan pada wajah anak anak di situ.

Wajahnya amat tampan, dengan kulit yang bersih dan segar kemerahan.

Wajah itu berbentuk keras, memperl ihatkan kejantanan pada rahang dan dagunya, namun matanya lebar dan bersinar tajam, hidungnya dan mulutnya mengandung wibawa dan membuat dia nampak anggun, rambut yang hitam dan subur itu dipotong pendek.

Tubuhnya tinggi tegap, me]ebih bentuk tubuh anak-anak yang berusia tujuh tahun, namun wajah dan tubuh yang membayangkan kegagahan itu di.perlembut oleh senyumnya yang se lalu menghias mulut dan matanya.

Tidaklah terlalu mengherankan melihat anak laki-laki yang demlkian tampan dan gagah walapun berpakaian seperti anak dusun kalau orang mengetahui latar belakang yang amat mengejutkan dari anak laki-laki itu.

Ibu kandungnya adalah puteri seorang Menteri Utama Kerajaan Tang, dan ayah kandungnya bahkan pernah menjadi kaisar, walaupun hanya untuk waktu selama sembilan tahun!

Ibunya bernama Yang Kui Bi, puteri mendiang.Yang Kok Tiong, menteri utama kerajaan Tang ketika dipimpin Kaisar Hsuan Tsung (Beng On g, 712 -755).

Adapun ayah kandungnya adalah Sia Su Beng, seorang panglima dari pasukan yang dipimpin pemberontak An Lu Shan.

Seperti dapat diketahui dalam catatan sejarah, An Lu Shan memberontak dalam tahun 755 dan berhasil merebut tahta kerajaan dari tangan Kaisar Hsuan Tsung yang melarikan diri ke barat.

An Lu Shan yang mengangkat diri menjadi kaisar, saling berebut kekuasa an dengan puteranya sendiri yang bernama An Kong dan An Lu Shan dibunuh oleh puteranya sendiri.

Dalam keadaan yang kacau itu, Sia Su Beng, dibantu oleh kekasihnya, yaitu Yang Kui Bi, berhasil menyingkirkan An Kong dan Sia Su Beng mengangkat diri menjadi kaisar Kerajaan Tang!

Akan tetapi, Kaisar Hsuan Tsung yang lari ke barat, menghimpun kekuatan, kemudian dilanjutkan oleh penggantinya, yaitu puteranya yang kemudian menjadi Kaisar Su Tsung, dan pasukan gabungan dari barat itu menyerbu untuk merebut tahta kerajaan yang kini telah berada di tangan Sia Su Beng.

Perang itu berjalan selama sembilan tahun dan sementara itu, Sia Su Beng yang telah menjadi kaisar menikah dengan kekasihnya, Yang Kui Bi dan mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Sia Han Lin.

Akhirnya, ketika Sia Han Lin berusia lima tahun, pasukan Tang yang menyerbu dari barat itu berhasil merebut Tianoan, kota raja dan dalam pertempuran yang hebat, Sia Su Beng dan isterinya, Yang Kui Bi, bertempur sampai tewas.

Akan tetapi sebelum mereka maju bertempur, mereka lebih dahulu menyerahkan putera mereka kepada seorang pengasuh, seorang wanita setengah baya yang setia dan yang mengasuh Sia Han Lin sejak bayi, dan minta kepada wanita itu untuk membawa lari Sia Han Lin, mengungsi keluar dari kota raja bersama rakyat.

Demikianlah, bocah berusia tujuh tahun itu adalah Sia Han Lin, putera dari suami isteri mendiang Sia Su Beng dan Yang Kui Bi, suami isteri yang berdarah bangsawan dan tewas gugur dalam perang dalam usia muda.

Mereka itu adalah suami isteri yang memiliki ilmu silat tinggi dan gagah perkasa.

Sayang bahwa ambisi yang berlebihan, pengejaran kekuasaan, membuat mereka tewas dalam pertempuran.

Liu Ma, yaitu janda yang menjadi pelayan pengasuh keluarga Sia Su Beng, adalah seorang janda yang telah menjadi pelayan pengasuh sejak Han Lin dilahirkan.

la amat setia dan amat sayang kepada Han Lin, karena janda ini sendiri tidak mempunyai anak.

la kini berusia empatpuluh tujuh tahun.

Dua tahun yang lalu, ketika ia menerima tugas yang berat, ia segera membawa Han Lin yang ketika itu berusia lima tahun, melarikan diri mengungsi ke luar kota raja.

Tak seorangpun mengira bahwa anak laki-laki yang mengenakan pakaian biasa dan ditarik-tarik tangannya oleh Liu Ma, berbaur dengan para pengungsi itu adalah putera Sia Su Beng yang menjadi kaisar!

Liu Ma harus pandaipandai membu juk karena Han Lin selalu rewel dan ta dinya berkeras tidak mau meninggalkan ayah ibunya.

Namun, dia sudah cukup besar untuk mengerti bahwa kota raja diserbu musuh dan dia terancam bahaya maut kalau tidak mau diajak melarikan diri.

"Akan tetapi, ayah dan ibu tidak pergi!"

Dia membantah ketika dia ditariktarik Liu Ma keluar dari kota raja.

"Ayah ibumu tidak takut karena mereka berjuang, mereka melawan musuh,"

Kata Liu Ma yang terpaksa harus menggunakan kalimat biasa, tidak seperti biasanya ia bersikap sebagai seorang pelayan terhadap seorang pangeran!

Mulai saat itu, ia harus memperla kukan Han Lin seperti anak biasa, dan mengakuinya sebagai anaknya.

Itulah jalan satusatunya untuk menyelamatkan anak yang dikasihinya itu.

"Akupun tidak takut!"

Kata Han Lin, berusaha melepaskan pegangantangan Liu Ma pada pergelangan tangannya.

"Akupun ingin membantu ayah dan ibu melawan musuh!"

"Stt!"

Liu Ma memondong anak itu dan mendekap mulutnya, lalu berbisik dekat telinganya.

"Pangeran, lupakah paduka akan pesan Sribaginda dan Permaisuri? Paduka harus patuh kepada hamba dan jangan menentang, ini semua merupakan perintah beliau yang tidak boleh kita bantah. Ingatkah paduka?"

Mendengar ini, Han Lin menangis di atas pundak Liu Ma.

Memang sejak kecil dia dekat dengan pengasuh ini dan sekarang, diingatkan perintah dan pesan terakhir ayah ibunya, diapun merasa sedih dan menangis.

"Liu Ma, kenapa ayah dan ibu menyuruh aku pergi...."

Kenapa aku harus berpisah dari mereka?"

Isaknya.

"Stttt...., pesan mereka sudah jelas, bukan? Mulai saat ini, kita harus merahasiakan bahwa paduka adalah pangeran. Paduka mulai sekarang harus mengaku sebagai anak hamba, dan maafkan, hamba tidak akan lagi bersikap dan berbicara seperti biasa. Dan maafkan kalau mulai sekarang hamba akan menyebut paduka dengan nama paduka saja karena ingat, paduka adalah anak hamba."

Han Lin mengangguk dan diapun tidak meronta lagi ketika diturunkan dan tangannya digandeng Liu Ma.

Demikianlah, Liu Ma mengajak Sia Han Lin mengungsi ke daerah selatan, kembali ke dusun yang menjadi tempat kelahirannya Ketika masih kecil Liu Ma lahir dan tinggal di dusun Libun, termasuk wilayah Kweilin propinsi Kuangsi.

Karena ketika pergi meninggalkan istana ia dibekali emas permata yang cukup banyak, maka ia dapat membeli rumah sederhana dan sawah ladang, juga ternak dan ia hidup tidak kekurangan dengan Han Lin yang semua orang menerimanya sebagai putera Liu Ma.

Liu Ma menaati pesan Sia Su Beng dan Yang Kui Bi.

Dengan uangnya, ia membayar seorang penduduk yang cukup berpendidikan untuk mengajarkan ilmu membaca dan menulis kepada Han Lin.

Ternyata anak itu cerdas sekali dan selama dua tahun kurang mempelajari sastra, ia kini sudah pandai membaca dan menulis, membuat para anak di dusun itu merasa kagum karena sebagian besar anak-anak dusun itu buta huruf.

Han Lin memang tidak pernah bertanya kepada Liu Ma tentang ayah bunda nya lagi sejak dia mendengar dari Liu Ma bahwa menurut berita yang sampai di dusun itu, Sia Su Beng dan Yang Kui Bi telah tewas, gugur dalam pertempuran.

Semalam suntuk Han Lin tidak tidur, merenung dan menangis, akan tetapi sejak hari itu, dia tidak pernah lagi bertanya tentang mereka kepada Liu Ma, membuat bekas pelayan yang kini menjadi ibunya merasa lega hatinya.

Akan tetapi, janda ini sama sekali tidak tahu bahwa Han Lin tidak pernah melupakan ayah ibunya, tidak pernah lupa bahwa ayah dan ibunya tewas sebagai orang-orang gagah, gugur dalam pertempuran.

Dia tidak pernah dan tidak akan pernah melupakan kenyataan itu!

Seperti anak-anak lain di dusun Libun, Han Lin juga bekerja membantu ibunya yang menggunakan dua orang tenaga kerja.

Dia membantu bertani, menggembala ternak, juga mencari ikan sehingga dalam usia tujuh tahun itu, dia sudah pandai sekali menjala atau mengail ikan.

Juga karena hidup dekat sungai, bersama anak-anak lain dia suka mandi di sungai sehingga dia pandai berenang dan gagah pula mendayung perahu atau rakit.

Pada hari yang cerah itu, seorang diri Han Lin pergi berakit mencari bambu yang terbaik untuk dibuat menjadi joran pancingnya.

Joran pancing yang baik adalah yang panjang, tidak berat, lentur dan tidak mudah patah, juga sekecil mungkin.

Tidak mudah men cari bambu yang baik untuk itu, dan ka lau hendak mencari bambu, ke mana lagi kalau bukan ke hutan bambu di seberang sungai itu?

Han Lin berjalan perlahan, memandang ke kanan kiri mencari bambu yang dibutuhkannya.

la mengenal hutan ini karena sering dia bersama temanteman atau seorang diri berkeliaran di sini, juga dia mengenal banyak macam bambu yang tumbuh di.hutan itu.

Guru sastra nya adalah seorang yang ahli perbambuan, mengenal namanama dan sifat banyak bambu sehingga diapun mengenal banyak bambu yang beraneka bentuk dan tumbuh disitu.

Ada bambu yang disebut Bambu Dawai Kecapi, batangnya lurus dan ruasnya agak berjauhan, tidak.

bermiang dan warna dasarnya kuning dengan garis-garis lurus berwarna kehijauan.

Bambu ini yang biasa disebut pula Bambu Kuning.

Akan tetapi jenis ini ada yang dasarnya berwarna hijau muda dengan garis-garis hijau tua kehitaman.

Ada pula bambu yang disebut Bambu Berbintik, juga ada yang menamakannya Bambu Selir Siang!

Tentang nama yang yang ke dua ini ada dongengnya.

Di jaman purba terdapat seorang kaisar yang meninggal dunia karena sakit ketika dia sedang melakukan perjalanan ke selatan.

Selirnya yang terkasih demikian sedihnya dan putus asa karena kematian kaisar ini dan selir itupun terjun ke dalam sungai dan kabarnya menjelma menjadi dewi sungai.

Batang bambu itu menjadi berbintikbintik terkena air mata selir itu.

Karena sungai di mana selir membunuh diri itulah ada lah Sungai Siang, maka bambu itu dinamakan Bambu Selir Siang.

Pada ruasnya seringkali tumbuh cabang berkelompok, dasar warnanya abuabu kuning dan bintikbintiknya yang tidak rata dan lebih tebal di dekat ruas itu berwarna coklat.

Ada pula bambu yang disebut bambu Muka Manusia karena bentuk ruasnya yang mirip muka manusia, ada juga bambu Tak Berlubang yang batangnya hanya sebesar jari.

Bambu Persegi adalah bambu yang aneh, tidak bundar dan kuIit batangnya keras sekali.

Ada lagi Bambu Manis yang daunnya amat lebar, menjadi kebalikan dari Bambu Cina yang daunnya kecilkecil sehingga perbandingan daun antara kedua jenis bambu ini sama dengan limapuluh berbanding satu!

Ada bambu yang dapat berbunga semerbak harum, di antaranya adalah Bambu Pahit dan Bambu Hitam Berduri.

Bambu yang terakhir ini tidak terlalu hitam, akan tetapi pada bukubukunya antara ruas terdapat duriduri hitam mengeliliinginya, seolah bukubuku itu dipasangi roda bergigi.

Ada pula Bambu Bermiang, ketika mudanya penuh dengan miang yang dapat membuat kulit manusia gatalgatal.

Di antara semua bambu itu, Han Lin paling suka mengagumi bambu yang dinamakan Bambu Sisik Naga!

Memang bambu ini luar biasa sekali.

Batangnya bundar dan gemuk, kokoh dan berlikuli ku seperti tubuh naga, dan ruasnya juga aneh sekali, berselangseling dengan bukubuku menyerong seperti sisik ular atau sisik naga.

Han Lin menghampiri bambu yang dicarinya, yaitu Bambu Tak berlubang.

Bambu jenis inilah yang peling cocok untuk dijadikan joran pancingnya.

Hanya sebesar ibu jari, tidak berlubang dan lentur sekali.

Dengan menggunakan goloknya, Han Lin menebang lima batang yang dipilihnya, tidak terlalu tua agar tidak kaku dan cukup lentur, dan tidak terlalu muda agar tidak getas.

Dia membersihkan cabang dan daun lima batang bambu itu, kemudian membawa lima batangnya keluar dari dalam hutan bambu.

Seperti biasa kalau bermain di tempat itu, dia duduk di luar hutan, di tepi sungai di mana rakitnya ditambatkan, dan dia menikmati pemandangan yang amat disenangi nya.

Memang luar biasa sekali suasana di tempat yang sunyi itu.

Seluruh panca indera kita seperti dibelai dan dimanjakan kalau kita berada situ.

Hidung mencium keharuman yang khas dari tanah, daun dan bunga.

Telinga menikmati gemersik daun daun bambu dihembus angin semilir, bagaikan musik dan nyanyian sorga, dan mata yang.

paling banyak mendapat limpahan keindahan.

Tidak mengherankan kalau para penyair memujimuji keindahan daundaun bambu yang selalu menarinari, dengan pucuk batangnya yang meli ukliuk, juga para pelukis tak pernah bosan melukis daundaun bambu yang nampak kacau namun indah serasi itu.

Kacau namun serasi, itulah keadaan daundaun bambu.

Andaikata diatur tangan manusia dan tidak kacau mencuat ke sana sini, bahkan menjadi tidak serasi dan tidak indah.

Seperti biasa, kalau berada seorang diri di situ, mendengar dendang merdu gemercik air di tepi sungai dan gemersik daundaun bambu, disentuh kelembutan semilir angin, Han Lin tenggelam dalam lamunan.

Seperti terbayang semua peristiwa yang telah lalu, mengingatkan dia bahwa dia pernah hidup sebagai seorang pangeran!

Hidup di dalam istana yang megah di mana setiap orang menghormati dan memuliakannya, dibelai kasih sayang ayah ibunya.

Dan sekarang?

Semua itu telah musnah.

Dia menjadi seorang anak yatim piatu yang terpaksa mengakui Liu Ma sebagai ibunya.

Dia telah mendengar bahwa ayah ibunya gugur di dalam pertempuran.

Dia telah kehilangan segala-galanya.

Akan tetapi tidak!

Dia membantah renungannya sendiri.

Dia tidak kehilangan segalanya.

Dia masih memiliki dirinya!

Kalimat ini seperti telah menjadi dasar untuk menghidupkan gairah dan semangatnya.

Ibunya menyertakan sehelai surat untuknya dan surat itu selalu disimpan baik-baik oleh Liu Ma.

Setelah dia pandai membaca, beberapa bulan yang lalu surat itu diberikan Liu Ma kepadanya.

Dan kalimat pertama dalam surat ibunya kepada berbunyi.

"Jangan putus asa, Han Lin puteraku. Engkau masih memiliki dirimu!"

Kalimat itulah yang selama ini menjadi pegangannya dan selalu berdengung di telinganya setiap kali dia termenung dan kedukaan mulai menyelinap di hatinya.

Kemudian, di dalam surat itu ibunya memesan kepadanya agar kelak dia mencari anggauta keluarga ibunya, yaitu kakak ibunya yang bernama Yang Cin Han, dan enci ibunya bernama Yang Kui Lan.

Ibunya tidak tahu mereka berada di mana, dan dia sendiri belum pernah bertemu mereka.

Akan tetapi kedua nama itu telah terukir dalam hatinya dan dia berjanji kepada diri sendiri bahwa sekali waktu, dia pasti akan pergi mencari mereka, paman dan bibinya itu.

Sampai lama Han Lin melamun di situ, tidak.tahu bahwa sebuah perahu meluncur ke tepi sungai, dekat rakitnya dan dua orang yang tadi duduk di dalam perahu, melompat ke darat, kemudian sekali tarik, perahu itu telah terseret ke daratan pula.

Agaknya dua orang itu kini mulai bercekcok dan barulah Han Lin sadar dari lamunannya ke tika mendengar mereka berdua bicara degan suara nyaring karena marah.

Dia cepat menoleh dan dia terbelalak memandang kepada dua orang yang sedang ribut mulut itu.

Yang seorang bertubuh pendek gendut, mukanya hitam arang, matanya besar lebar dan mulutnya selalu tersenyum mengarah tawa.

Bajunya terbuka di bagian dada, memperlihatkan dadanya yang penuh gajih.

Adapun orang ke dua tidak kalah anehnya, bahkan agaknya merupakan kebalikan dari orang pertama karena orang ke dua ini bertubuh tinggi kurus, mukanya pucat seperti kapur, matanya sipit hampir terpejam dan mulutnya selalu mewek seperti orang menangis.

Usia kedua orang aneh ini sekitar limapuluh tahun dan kini mereka bertengkar, didengarkan oleh Han Lin yang merasa terheranheran.

"Hek Bin (Muka hitam), jangan sombong kau! Mentang-mentang sudah belasan tahun bertapa di kutub utara, kau kira kini ilmu kepandaianmu tidak ada yang dapat menandingi? Apa kau kira selama belasan tahun ini aku tinggal menganggur saja? Hemm, kautahu, akupun memperdalam ilmuku dan aku yakin engkau tidak akan mampu menandingiku!"

Kata si muka putih.

Si gendut bermuka hitam itu tertawa bergelak, mengangkat muka ke atas dan ketika tertawa.

perut gendutnya bergerak-gerak seperti bergelombang.

Hahahaha, Pek Bin (Muka Putih), engkau yang tekebur!

Engkau selama belasan tahun bertapa di kutub Selatan?

Hehehheh, kita dahulu memang setingkat, akan tetapi sekarang, jangan harap engkau akan mampu menandingiku.

Lebih baik engkau mengangkat aku menjadi guru dan saudara tua agar aku dapat membimbingmu, hahaha!"

"Wah, gendut muka hitam sombong. kita uji, tidak perlu banyak bica Kita buktikan siapa di antara kita yang lebih kuat dan lebih pantas menja saudara tua! kata si tinggi kurus muka putih.

"Baik, majulah! "

Mereka berdua lalu berkelahi!

Han Lin masih terlalu kecil dan asing dengan ilmu silat untuk dapat menqetahui bahwa dua orang itu bukan hanya berkelahi biasa saja, melainkan bertanding dengan menggunakan ilmuilmu yang dahsyat sekali!

Gerakan kaki tangan mereka mendatangkan angin bersiutan, debu mengepul dan nampak batu batu beterbangan terlanda angin tendangan kaki mereka, dan rumpun bambu terdekat seperti dilanda angin besar!

Mereka itu kadang bergerak sedemikian cepatnya sehingga tidak nampak bentuk tubuh mereka, hanya nampak dua bayangan saja yang seperti bergu]at menjadi satu, dan kadang nampak gerakan mereka per lahanlahan seperti orang bermainmain.

Namun, sesungguhnya ketika bertanding dengan gerakan perlahan itu mereka amat berbahaya karena keduanya mengandalkan sinkang yang amat kuat.

Han Lin merasa khawatir sekali melihat dua orang itu bertanding seperti itu.

Kenapa orangorang tua itu demi kian pandir, tanpa hujan tanpa angin hanya untuk pamer kepandaian dan tidak mau kalah, saling hantam seperti itu?

Dia khawatir kalaukalau seorang di antara mereka akan terluka atau tewas, maka dia lalu bangkit dan lain menghampiri, untuk melerai.

Pada saat itu, dua orang aneh yang merasa penasaran karena belum dapat mendesak lawan, dalam benturan kedua tangan, keduanya meloncat ke belakang dan kini keduanya mengerahkan seluruh tenaga melalui kedua tangan yang didorongkan ke depan, saling serang dengan pukulan jarak jauh.

"Tahan! Harap kedua paman berhenti berkelahi!"

Han Lin berlari di antara kedua orang itu.

Dia tidak tahu bahwa dia berada di antara dua pukulan jarak jauh yang saling menghantam!

Kedua orang itupun terkejut, akan tetapi agaknya mereka tidak perduli dengan munculnya seorang anak laki-laki di antara mereka dan mereka melanjutkan dorongan mereka.

Han Lin yang sedang berlari itu tibatiba tertahan larinya dan dia terbelalak.

Dia berdiri presis di antara kedua orang itu, menghadap ke arah si pendek gendut muka hitam.

Dia merasa betapa dadanya diterpa hawa dingin seperti es yang membuat tubuhnya seperti kaku membeku, akan tetapi pada saat yang bersamaan, punggungnya dihantam hawa yang amat panas seperti api.

Han Lin dihimpit dua tenaga dahsyat, bukan saja tenaga sinkang kedua orang itu kuat bukan main, akan tetapi juga keduanya mengandung hawa beracun yang mematikan!

Hawa racun dingin dari si muka hitam itu dapat membuat darah menjadi beku, sedangkan hawa racun panas dari si muka putih dapat membuat seluruh isi tubuh menjadi hangus terbakar!

Seorang ahli silat yang tangguh sekalipun tidak akan kuat menerima hantaman dari kedua pihak dengan tenaga sinkang beracun seperti itu, apa lagi tubuh Han Lin, anak berusia tujuh tahun yang belum pernah belajar ilmu silat sama sekali.

Tubuhnya berkelojotan dan matanya melotot, kaki tangannya terpetang seperti disambar halilintar, rambutnya berdiri semua, jari-jari tangannya terpentang.

Agaknya kedua orang aneh itu tidak memperdulikannya, bahkan merasa jengkel dan menganggap anak itu menjadi pengganggu saja, maka sekali keduanya menggerakkan lengan, tubuh Han Lin terlempar ke dalam hutan bambu dan jatuh ke dalam rumpun bambu.

Dua orang aneh itu tidak memperdulikan lagi kepadanya karena mereka berdua merasa yakin bahwa anak itu tentu sudah mati.

Biar seorang ahli silat tangguh sekali pun, sukar untuk dapat bertahan hidup terkena pukulan seorang saja dari mereka, apa lagi anak kecil itu menerima pukulan dari mereka berdua!

Mereka melanjutkan adu tenaga dan ternyata keduanya seimbang sampai akhirnya mereka berdua sama-sama lemas dan mengakhiri adu tenaga itu dan cepat duduk bersila untuk menghimpun tenaga.

Kemudian mereka bangkit lagi.

"Hekbin yang gendut, engkau ternyata hebat!"

Kata si muka putih.

"Engkaupun hebat, Pekbin. Ternyata kita masih juga seimbang sekarang, maka biarlah kita menjadi seperti dahulu, tidak ada yang lebih tua tidak ada yang lebih muda, tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah."

Si gendut tertawa bergelak.

"Bagus, kalau begitu, mari kita bersama mencari rejeki!"

Kata si muka putih.

Mereka berdua lalu berkelebat dan tahu-tahu mereka sudah berada di atas perahu lagi yang diluncurkan cepat ke tengah sungai.

Mereka sudah lupa lagi kepada anak yang menjadi korban adu tenaga mereka tadi.

Dua orang itu memang bukan orang sembarangan.

Belasan"

Tahun yang lalu mereka sudah terkenal sebagai Hek Pek Moong (Raja Hitam dan Putih) sepasang datuk yang berilmu tinggi akan tetapi sesat.

Akhirnya, para pendekar bangkit dan mereka itu terusir dari dunia kangouw.

Keduanya lalu merantau, seorang ke selatan seorang ke utara dan selama belasan tahun mereka bersembunyi sambil memperdalam ilmu mereka.

Kini mereka telah turun kembali ke dunia ramai sebagai dua orang tokoh yang ilmu kepandaiannya hebat sekali.

Yang gendut muka hi tam ber juluk Hekbin Moong (Raja Iblis Muka Hitam), sedangkan yang kurus kering muka putih berjuluk Pekbin Moong (Raja Iblis Muka Putih).

Dunia persilatan pasti akan menjadi gempar dengan turunnya dua orang datuk sesat ini dari tempat persembunyian mereka.

Tubuh Han Lin bergerak-gerak, berkelojotan dalam sekarat, Anak berusia tujuh tahun itu telah diserang pukulan ampuh dari depan dan belakang, dengan hawa beracun dingin dari depan dan hawa beracun panas dari belakang.

Kalau saja dia terkena satu saja dari dua pukulan itu, tentu dia telah tewas seketika.

Kalau terkena pukulan dingin saja, tentu semua darah di tubuhnya sudan membeku, atau kalau terkena pukulan panas saja, tubuhnya sudah hangus.

Akan tetapi justeru karena pukulan itu datang dari depan dan belakang, tubuhnya seperti terhimpit dua pukulan yang saling menolak.

Hal ini membuat dia tidak sampai tewas seketika.

Namun, hawa beracun panas dan dingin itu telah menyusup ke dalam tubuhnya, membuat tubuh itu berkelojotan dalam sekarat, mati tidak hiduppun enggan.

Sejak lahir sampai mati, kita tidak dapat mengatur atau menguasai kehidupan kita sendiri.

Kita dilahirkan begitu saja di luar kehendak kita, kemudian selama hidup kitapun tidak tahu apa akan terjadi dengan hidup kita, kemudian kematian datang tanpa dapat kita tolak atau minta.

Mati atau hidup sepenuhnya berada di tangan Tuhan, dalam kekuasaanNya.

Kalau Tuhan menghendaki kita mati, tidak ada tempat persembunyian bagi kita untuk menghindarkan diri.

Biar kita bersembunyi ke lubang semut, maut tetap akan datang menjemput.

Sebaliknya, apa bila Tuhan belum menghendaki kita mati, biarpun dihujani seribu batang anak panah, kita akan terhindar dari pada maut.

Betapa banyaknya manusia, yang diakuinya maupun tidak, merasa takut akan kematian.

Pada lahirnya boleh membual dan berlagak tidak takut mati, namun jauh di sebelah dalam, lubuk hatinya, dia merasa ngeri dan takut!

Mengapa takut akan sesuatu sudah pasti terjadi, akan sesuatu yang tidak mungkin terelakkan lagi, sesuatu yang akan menimpa setiap orang di dunia ini, tidak perduli tua ataupun muda, kaya ataupun miskin, pandai atau bodoh?

Kenapa takut menghadap sesuatu yang tidak dapat kita ketahui keadaannya, sesuatu yang tidak kita kenal?.

Sesungguhnya, kita tidak mungkin takut kepada suatu keadaan yang tidak kita ketahui.

Yang kita takuti adalah suatu keadaan yang kita ketahui melalui kepercayaan, dongeng dan penuturan tentang keadaan sesudah mati.

Yang kita takuti adalah kenyataan bahwa kalau kita mati, kita meninggalkan semua yang kita sukai dan cintai.

Meninggalkan harta benda, meninggalkan keluarga meninggalkan segala macam kesenangan hidup di dunia ini.

Berbahagialah orang yang menyerah kepada Tuhan secara menyeluruh, lahir batin, pasrah dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan.

Baginya, kematian bukanlah suatu akhiran, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan di dunia ini.

Dan, baik hidup di dunia ataupun kelanjutannya yang dinamakan mati, selama kita menyerah kepada Tuhan, Sang Maha Pencipta yang menguasai dan memiliki seluruh alam beserta isinya, berarti yang memiliki dan menguasai diri kita, maka tidak ada rasa takut terhadap kehidupan maupun kematian.

Menyerah kepada Tuhan sama sekali bukan berarti acuh, pasip, ataupun mandeg.

Sama sekali bukan!

Itu bukan pasrah namanya kalau kita hanya menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa mau berusaha sesuatu!

Tuhan telah melahirkan kita dengan alat yang paling sempuma dan lengkap, tangan kaki, hati akal pikiran, semua itu tentu untuk dimanfaatkan, dikerjakan sekuat kemampuan masingmasing, demi kesejahteraan hidup di dunia ini, demi kelangsungan hidup dan penjagaan diri.

Bekerja!

Itu lah hidup, karena hidup berarti gerak, dan gerakan kita berarti bekerja.

Namun semua pekerjaan, usaha dan ikhtiar kita itu dilandasi kepasrahan mutlak kepada Tuhan, karena hanya Tuhan yang dapat menentukan, apa yang akan kita alami dalam kehidupan ini maupun dalam kelanjutannya setelah kita meninggalkan dunia.

Kalau sudah begitu, apa lagi yang perlu ditakuti?

Adakah yang lebih membahagiakan bagi setetes air dari pada kembali ke samudera tempat dia berasal?

Demikianlah pula dengan Han Lin yang tubuhnya nyangkut di antara rebung bambu di rumpun itu.

Tubuhnya berkelojotan, kaki tangannya bergerak-gerak.

Tanpa disadarinya, kaki kanannya menendang seekor ular yang sedang melingkar di rumpun bambu itu.

Ular itu adalah seekor ular senduk kepala putih yang amat berbisa.

Karena tertendang kaki yang berkelojotan, ular itu menjadi marah dan lehernya mekar, mulutnya mendesis, lalu leher itu terangkat tinggi, matanya mencorong mengikuti gerakan kaki yang masih menendangnendang.

Mungkin dia mengira bahwa kaki itu sengaja hendak menyerangnya, maka tiba-tiba saja kepalanya bergerak dan pada detik lain, moncongnya telah menggigit betis Han Lin yang kiri.

"Capp!"

Gigi-gigi kecil runcing terhunjam di dalam daging betis itu dan liur beracun memasuki jalan darah di betis Han Lin.

Akan tetapi ular itu menggeliat-geliat, tidak dapat melepaskan lagi moncongnya dan hanya sebentar dia mengeliat lalu tak bergerak, mati dengan gigi masih menancap ke dalam betis Han Lin.

Kini terjadi perubahan pada tubuh Han Lin.

Kaki tangannya tidak berkelojotan lagi, melainkan terdiam dan diapun rebah di antara rebung bambu, menggeletak miring dan sama sekali tidak bergerakgerak Iagi.

Matikah dia seperti ular senduk itu?

"Omitohud!"

Suara pujian ini keluar dari mulut seorang hwesio yang berdiri di dekat rumpun bambu, meman dang kearah tubuh Han Lin yang tidak bergerak.

Hwesio ini berusia lanjut, sedikit nya tentu sudah tujuh puluh tahun, tubuhnya gendut seperti patung Jilaihud, namun wajahnya yang gemuk itu seperti wajah seorang anak kecil, segar kemerahan dan sinar matanya begitu terang.

Jubahnya kuning sederhana, sepatunya dari kulit kayu dan tangannya memegang sebatang tongkat bambu ular kuning, semacam bambu kuning yang bentuknya seperti ular, seperti Bambu Sisik Naga yang terdapat di hutan itu akan tetapi lebih kecil.

Hwesio itu kini berjongkok, memeriksa keadaan Han Lin, menyentuh nadinya dan melihat ular senduk yang masih menggigit betis anak itu.

lalu dia tertegun, menggelenq-geleng kepalanya dan menarik napas panjang, merangkap kedua tangan depan dada, lalu berseru penuh ketakjuban.

"Omitohud, suatu mujijat telah terjadi pada diri anak ini "

Dengan teliti dia membuka baju Han Lin, memeriksa dada, leher, dan kembali memeriksa denyut nadinya.

dan memeriksa bekas gigitan ular pada betis setelah dia melepaskan gigitan ular itu dan memeriksa pula tubuh ular yang wamanya berubah kehitaman.

"Omitohud!"

Berulang-ulang dia berseru, mengangguk"anggukkan kepalanya yang gundul, lalu tersenyum lebar.

"Bukan main, belum pemah aku melihat hal yang begini kebetulan! Mujijat-mujijat! Dalam tubuh anak ini terdapat hawa beracun, dingin dan hawa beracun panas, akan tetapi ke dua hawa beracun itu kehilangan kekuatannya oleh racun ular senduk kepala putih! Justeru perpaduan antara racun dingin dan racun panas itu, ketika bertemu racun ular, menjadi jinak dan tidak merenggut nyawa anak ini. Sungguh, nyawa anak ini tadi hanya bergantung kepada sehelai rambut yang halus sekali. Bukan main!"

Akan tetapi, hwesio tua itu lalu memandang ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan.

"Orang yang dapat memukul dengan hawa beracun dingin atau panas seperti itu, sungguh merupakan orang yang amat berbahaya dan lihai."

Katanya kepada diri sendiri.

Hatinya lega setelah melihat bahwa di situ tidak terdapat orang lain dan kembali perhatiannya tertuju kepada Han Lin.

Anak itu mengeluarkan suara keluhan lirih dan tubuhnya mulai bergerak.

Ketika dia membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah dua buah rebung Bambu Persegi.

Rebung ini enak sekali kalau dibuat sayur, rasanya gurih dan seringkali dia mengambil rebung Bambu Persegi ini untuk dimasak ibunya.

Han Lin sekarang sudah hampir lupa bahwa Liu Ma bukan ibunya, saking terbiasa menyebut ibu kepada wanita yang amat mengasihinya itu.

"Sukurlah engkau tidak apa-apa nak."

Han Lin terkejut mendengar suara itu dan ketika dia menoieh melihat seorang hwesio tua bersila di dekat situ, dia cepat merangkak bangun, akan tetapi dia mengeluh dan memejamkan matanya karena tiba-tiba dia merasa pening dan ingin muntah.

Dia merasa sebuah tangan yang lebar dan hangat menempel di punggungnya dan suara lembut tadi berkata lagi.

"Anak baik, duduklah bersila dan pejamkan matamu, tenangkan hatimu. Engkau telah terlepas dari bahaya maut. Biarkan hawa hangat dari tangan pinceng memasuki tubuhmu dan membantumu membersihkan sisa hawa beracun yang menyerangmu."

Han Lin tidak mengerti apa arti semua katakata itu, akan tetapi dia teringat akan peristiwa yang dialaminya tadi dan dia dapat menduga bahwa hwesio tua ini tentu bermaksud menolongnya, maka diapun menaati.

Dia menahan kepeningan kepalanya, lalu bersila dan dia membiarkan hawa hangat yang terasa memasuki punggungnya itu menjalar masuk ke seluruh tubuhnya.

Tak lama ke mudian, pening kepalanya hilang, juga rasa mual hendak muntah.

Dia tidak melihat betapa dari kepalanya mengepul uap tipis hitam!.

"Omitohud.... sungguh ajaib, ini namanya bahaya maut berubah menjadi berkah yang amat besar! Bukan saja engkau terbebas dari maut akan tetapi kini tubuhmu akan kebal terhadap serangan racun. Bukan main!"

Han Lin belum mengerti benar kecuali hanya bahwa hwesio tua itu telah menyelamatkannya, maka diapun berlutut di depan hwesio itu.

"Losuhu, terima kasih atas pertolongan losuhu kepada saya,"

Katanya.

"Omitohud!"

Hwesio tua itu kembali memandang heran.

Anak ini memang berpakaian seperti anak dusun, akan tetapi wajahnya jelas bukan anak biasa, dan begitu mengerti tata susila, juga ucapannya teratur seperti seorang anak yang terpelajar.

"Anak baik, apakah yang telah terjadi denganmu tadi? Pinceng menemukan engkau tergigit seekor ular dan tubuhmu penuh dengan hawa beracun."

"Ular? Saya saya tidak tahu, losuhu,"

Kata Han Lin dan melihat bangkai ular tak jauh dari kakinya, bangkai ular yang kering seperti terbakar kehitaman, diapun memandang heran.

"Tadi saya melihat dua orang kakek berkelahi, saya bermaksud untuk melerai dan mencegah mereka berkelahi. Tiba-tiba saja saya merasa dada saya amat dingin dan punggung saya amat panas dan tubuh saya terlempar ke sini, lalu saya tidak ingat apaapa lagi."

"Omitohud..., engkau tentu bertemu dengan dua orang sakti yang sedang mengadu tenaga sinkang! Mereka itu lihai bukan main. Seperti apakah mereka itu?"

"Yang seorang bertubuh gemuk pendek dengan muka hitam, orang ke dua tinggi kurus bermuka putih seperti kapur. Yang muka hitam arang itu disebut oleh kawannya Hekbin oleh kawannya dan yang muka putih kapur disebut Pekbin."

"Hemmm, berapa usia mereka?"

"Kirakira limapuluh tahun, losuhu."

"Hemm.... mungkinkah mereka...?"

Setelah belasan tahun menghilang, mungkinkah mereka kini muncul kembali?"

"Siapakah mereka, losuhu?"

"Kelak engkau akan mengetahui, sekarang yang penting, siapakah engkau, di mana rumahmu dan siapa pula orang tuamu?".

"Losuhu, nama saya Sia Han Lin, rumah saya di seberang sungai, dusun Libun, dan orang tua saya, hanya ibu saya yang berada di rumah. Saya tidak mempunyai ayah lagi."

"Omitohud, engkau yang sekecil ini telah kehilangan ayah. Han Lin, pinceng melihat engkau bukan seperti anak dusun biasa. Ingin pinceng berkenalan dan bicara dengan ibumu. Bolehkah pinceng mengantarmu pulang agar pinceng dapat bicara dengan ibumu?"

"Tentu saja boleh, losuhu!"

Ka'ca Han Lin gembira.

"Ibu tentu akan merasa gembira dan berterima kasih sekali karena losuhu telah menolong saya."

"Omitohud. bukan pinceng yang menolongmu, Han Lin. Engkau tertolong oleh suatu kebetulan, suatu keadaan yang amat aneh. Pada saat bersamaan, engkau terkena pukulan-pukulan yang me matikan, agaknya ketika engkau melerai dua orang yang sedang betanding tadi. Karena dua ma cam pukulan mengandung daya yang saling bertentangan, maka engkau tidak jadi tewas, padahal setiap pukulan itu sudah cukup untuk menewaskan seorang dewasa yang tangguh sekali pun. Namun, karena dua hawa pukulan beracun itu saling meluruhkan. Biarpun begitu, tubuhmu dipenu hi dua macam hawa beracun dan pada saat itu, sungguh menakjubkan sekali, muncul ular senduk kepala putih menggigit betismu. Pada hal, gigitan ular itu akan mematikan seorang yang tangguh sekalipun! Dan racun gigitan ular itulah yang membebaskanmu dari kematian karena pengaruh dua hawa beracun itu. Engkau selamat, bukan oleh pinceng, bukan pula oleh ular, melainkan oleh Pem beri Kehidupan yang agaknya belum menghendaki engkau mati. Nah, mari antar aku berkunjung ke rumah ibumu, Han Lin."

Mereka lalu menggunakan rakit menyeberangi sungai.

Hwesio tua itu agak nya sengaja membiar kan Han Lin yang mendayung rakit menyeberangi sungai dan diam-diam dia memandang dengan wajah ramah dan hati kagum karena anak itu sedikitpun tidak lagi nampak menderita, dan biarpun rakit yang ditumpangi dua orang itu cukup berat, namun Han Lin mendayung dengan penuh semangat.

Anak ini jelas memiliki semangat yang amat tinggi, pantang menyerah, tabah dan juga sama sekali tidak cengeng!

Liu Ma menyambut pulangnya Han Lin dengan terheran-heran karena anak itu bergandeng tangan dengan seorang hwesio tua yang bertubuh gendut dan berwajah seperti anak kecil, kulitnya putih kemerahan dan segar.

"Han Lin, apa yang terjadi dan siapakah losuhu ini?"

Tanya janda itu dengan pandang mata khawatir.

Apapun yang terjadi kepada anak itu, selalu mendatangkan perasaan khawatir di hati nya.

la selalu gelisah nemikirkan nasib anak itu, takut kalau-kalau ada yang tahu bahwa Han Lin adalah putera Sia Su Beng yang pernah menjadi kaisar!

'Omitohud, harap nyonya tidak khawatir.

Putera nyonya baik-baik saja dan karena pinceng tertarik sekali melihat pribadinya, maka pinceng ingin sekali bertemu dengan nyonya yang demikian pandainya mendidik puteranya.

Sungguh pinceng merasa kagum dan hormat kepada nyonya karena nyonya telah mendidik seorang putera dengan demikian baiknya."

Liu Ma tersenyum juga wajahnya berubah kemerahan karena tentu saja ia merasa bangga meneri ma pujian dari seorang hwesio tua.

Siapa tahu, arwah ayah ibu kandung Han Lin akan dapat mendengarkan suara seorang pendeta tua ini bahwa ia telah benar-benar setia dan patuh me laksa nakan tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu merawat dan mendidik Han Lin dengan penuh kasih sayang dan kesungguhan hati.

"Ibu,"

Kata Han Lin dengan hati tegang karena mendapat ke sempatan menceritakan peristiwa aneh tadi.

"Tadi aku bertemu dua orang manusia aneh dan aku hampir mati karena pertemuan itu. Juga kakiku digigit ular senduk kepala putih yang sangat beracun. akan tetapi aku tidak mati. Losuhu ini yang telah menyelamatkan nyawaku. Wajah wanita itu seketika m enjadi pucat, matanya terbelalak dan dengan menahan jeritnya, ia merangkul Han Lin.

"Han Lin apa yang terjadi, nak? Bagaimana perasaanmu sekaranq? Apanya yang terasa sakit?"

Dengan penuh kasih sayang wanita itu memeriksa tubuh anaknya dan tampak gugup ketika melihat bekas gigitan ular pada betis anak itu.

"Kau.... kau harus cepat kuperiksakan pada tabib"

"Omitohud..., harap nyonya tidak khawatir. Han Lin telah terhindar dari bahaya maut, bukan karena pinceng, melainkan karena memang dia belum waktunya meninggalkan dunia ini."

"Benar, ibu. Aku tidak apa-apa, ibu jangan khawatir."

"Ah, kalau begitu, kami berhutahg budi kepada losuhu,"

Dan wanita itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio tua itu.

Hwesio itu tergopoh menyuruhnya bangkit dan diam-diam dia semakin heran.

Wanita inipun bukan seperti wanita dusun, melainkan seorang yang lemah lembut dan mengerti tata susila seperti orang-orang berpendidikan.

Dia tidak tahu bahwa tentu saja Liu Ma mengerti tatasusila karena ia pemah menjadi seorang hamba di dalam istana, melayani keluarga kaisar!

Setelah disuruh bangun, Liu Ma bangkit berdiri lalu dengan sikap hormat sekali ia mempersilakan hwesio itu untuk duduk di ruangan dalam.

la segera sibuk menyuruh pembantunya untuk mempersiapkan makanan yang tidak mengandung daging, juga membuatkan minuman dari sari buah untuk menjamu hwesio itu makan minum.

Hwesio tua itu memperkenalkan diri sebagai Kong Hwi Hosiang kepada Liu Ma dan dia tidak menolak jamuan makan yang diadakan oleh Liu Ma untuk menghormatInya.

Dan hidangan makan minum itu menambah rasa kagumnya kepada wanita itu karena temyata nyonya rumah itu menjaga benar agar tidak ada daging dalam semua hidangan.

Seorang wanita yang pandai membawa diri dan cermat.

Pantas saja memiliki seorang putera seperti Han Lin.

Dan diapun semakin tertarik kepada Han Lin dan semakin kuat keinginannya untuk mengambil anak itu menjadi muridnya.

Kong Hwi Hosiang adalah seorang hwesio berilmu tinggi yang sejak muda mempunyai kesukaan merantau, tidak menetap di dalam sebuah kuil.

Dia merantau sambil mengajarkan agama Buddha, di samping itu, karena dia seorang ahli silat yang tangguh, diapun bertindak sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan.

Namanya dikenal di dunia persilatan, dan selama puluhan tahun merantau dia memperdalam ilmu-ilmunya sehingga menjadi seorang yang sakti.

Karera dia suka merantau, maka selama hidupnya, dia hanya mempunyai dua orang saja murid wanita dan murid-muridnya itu bukan lain adalah ibu kandunq Han Lin sendiri yang bemama Yang Kui Bi dan encinya, yaitu Yang Kui Lan!.

Memang sungguh aneh sekali jalan hidup Han Lin.

Bukan saja dia secara aneh dan kebetulan terhindar dari maut terpukul dua orang datuk sesat lalu digigit ular beracun, bahkan dia lalu mendapatkan kekebalan dalam tubuhnya terhadap racun.

juga secara aneh dan tidak disengaja, guru mendiang ibunya sendiri yang lewat di tempat itu dan menolongnya!

Kong Hosiang sendiri tidak pemah menduga bahwa anak yang dikaguminya dan membuat dia ingin sekali mengambilnya sebagai murid itu bukan lain adalah putera seorang di antara kedua orang muridnya!

Semenjak enci adik itu selesai belajar dan berpisah darinya, Kong Hwi Hosiang sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan mereka, juga tidak tahu bagaimana keadaan kedua orang muridnya itu.

Hwesio tua ini sudah mencapai suatu tingkat kehidupan di mana dia tidak terikat lagi dengan apapun.

Setelah makan, dilayani sendiri oleh Liu Ma dan ditemani pula oleh Han Lin, Kong Hwi Hosiang minta kepada nyonya rumah untuk dapat bicara empat mata dengannya.

Liu Ma memandang heran, akan tetapi ia segera menyuruh Han Lin untuk meninggalkan ruangan tamu agar ia dan tamunya dapat bicara berdua saja.

Dengan patuh Han Lin mengundurkan diri.

Setelah duduk berdua saja, berhadapan dengan nyonya rum ah, Kong Hwi Ho hwesio berkata dengan suaranya yang lembut.

"Sebelumnya pinceng mengharapkan maaf apabila apa yang hendak pinceng utarakan ini tidak berkenan di hati nyonya. Secara tidak disengaja, nasib telah mempertemukan pinceng dengan putera nyonya, dan begitu melihatnya, pinceng merasa tertarik sekali. Putera nyonya itu mempu nyai darah dan tulang yang baik, berbakat sekali untuk mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, juga kiranya akan baik kalau dia memperdalam ilmu sastera dan keagamaan untuk bekal hidupnya kelak. Pinceng tertarik sekali dan kalau nyonya merelakan dan tidak berkeberatan, pinceng akan merasa bersukur sekali untuk mengambilnya sebagai murid pinceng."

Mendengar ucapan ini, wajah Liu Ma berseri sehingga legalah hati hwesio itu.

"Saya akan berterima kasih dan merasa girang sekali kalau losuhu suka mendidik Han Lin sebagai murid suhu. Akan tetapi, di manakah suhu tinggal, di kelenteng mana, dan jauhkah dari sini?"

Kong Hwi Hwesio menggeleng kepala dan tersenyum lebar sehingga nampak mulutnya yang ompong tanpa gigi lagi sehingga wajahnya makin mirip wajah bayi yang belum bergigi!

"Omitohud pinceng tidak pernah mempunyai kelenteng, tidak pernah tinggal di suatu tempat yang tetap.

Pinceng adalah seorang hwesio pengembara, nyonya."

Wanita itu mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, bagaimana suhu hendak mengambil anak saya sebagai murid kalau losuhu tidak mempunyai tempat tinggal? Apakah apakah suhu hendak membawa anak saya pergi mengembara pula, tidak tentu tempat tinggalnya?"

Ketika hwesio tua itu mengangguk, Liu Ma segera menyatakan keberatannya.

"Harap losuhu sudi mengampuni saya. Saya akan berterima kasih sekali kalau anak saya dapat menjadi murid losuhu, akan tetapi sebaliknya, saya tidak akan dapat hidup dijauhkan darinya. Hendaknya losuhu ketahui bahwa hidup saya hanyalah untuk Han Lin seorang, bagaimana mungkin sekarang dia akan losuhu bawa pergi mengembara? Saya hanya mempunyai dia seorang, losuhu."

"Omitohud...., pinceng juga tidak ingin membuat nyonya yang baik hati berduka. Akan tetapi, pinceng adalah seorang hwesio yang miskin dan tidak mempunyai harta secuilpun, tentu tidak dapat mengadakan tempat tinggal "

"Ah, saya teringat, losuhu! Bagaimana kalau diatur sehingga kebutuhan kita berdua terpenuhi dan kita sama sama merasa enak dan senang? Maksud saya, losuhu tetap dapat menjadi guru anak saya, sedangkan saya dapat tetap tidak kehilangan Han Lin, tidak berjauhan darinya?"

Hwesio tua itu merangkap kedua tangan depan dada.

"Omitohud pinceng yakin bahwa hati nyonya bersih, dan maksud hati nyonya baik sekali. Akan tetapi, demi menjaga nama baik nyonya, tidak mungkin pinceng tinggal di sini. Biarpun pinceng sudah tua renta, akan tetapi nyonya adalah seorang wanita janda, maka tidak baik sekali...."

Liu Ma tersenyum geli, membuat Kong Hwi Hwesio tidak melanjutkan ucapannya dan memandang heran.

"Losuhu salah paham, bukan maksud saya minta kepada losuhu untuk tinggal di sini. Akan tetapi di dekat puncak Bukit Ayam Emas di sana itu terdapat sebuah kuil tua yang kosong dan tidak dipergunakan lagi. Kabarnya, puluhan tahun yang lalu kuil itu menjadi tempat tinggal seorang tosu, dan pertapa itu kemudian meninggal dunia di kuil dan dimakamkan di pekarangan kuil. Dan sejak itu, kuil itu tidak ada penghuninya dan rusak karena tidak terawat. Bagaimana kalau saya minta ijin kepada kepala dusun, memperbaiki kuil itu dan losuhu tinggal di sana, mendirikan sebuah kelenteng dan dengan demikian, losuhu dapat mendidik Han Lin dan setiap saat saya dapat menjenguknya?"

Wajah hwesio itu berseri.

"Omitohud semua. agaknya telah digariskan dengan lurus dan tepat! Pinceng akan merasa senang sekali, nyonya, dan sebelumnya, pinceng mengucapkan banyak terima kasih atas budi kebaikan nyonya."

Ucapan hwesio tua itu bukan sekedar untuk menyenangkan hati Liu Ma.

Ketika dia melakukan perantauan dan tiba di daerah itu, hatinya sudah merasa tertarik sekali akan keindahan alam di situ.

Dia merasa dirinya sudah terlalu tua untuk mengembara Iagi, dan timbul keinginannya tinggal di daerah yang amat indah itu, untuk menghabiskan sisa hidupnya.

Selain itu, juga dia ingin sekali meninggalkan ilmu-"ilmunya kepada seorang murid yang berbakat, di samping apa yang telah dia ajarkan kepada Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi.

Maka, dapat dibayangkan betapa senang rasa hatinya bahwa semua keinginan hatinya itu ternyata terkabul sedemikian mudahnya.

Tanpa disengaja, ketika dia menikmati keindahan alam di dekat hutan bambu, dia bertemu dengan Han Lin yang segera dipilihnya sebagai calonmuridnya.

Kemudian dia bertemu ibu anak itu yang dengan senang hati hendak memperbaiki kuil tua untuk menjadi tempat tinggalnya!

Semua begitu kebetulan, begitu tepat memenuhi kebutuhannya.

Ketika ditanya pendapatnya, Han Lin menyambut dengan gembira sekali keinginan Kong Hwi Hosiang yang hendak mengangkat dia sebagai muridnya.

Segera dia menjatuhkan diri berlutut didepan kaki hwesio itu dan menyebut "suhu"

Berkali-kali, Hwesio tua itu tertawa bergelak, dan Liu Ma juga tertawa senang karena ia percaya bahwa dibawah bimbingan seorang hwesio tua yang demikian ramah dan baik, tentu Han Lin kelak akan menjadi seorang yang berguna.

Dengan demikian, tentu ia akan merasa berbahagia dan puas bahwa ia telah dapat memenuhi kewajiban dengan baik.

Kuil tua itu ternyata masih memiliki dinding yang kokoh.

Hanya lantai dan atapnya saja yang membutuhkan perbaikan.

Liu Ma menjual beberapa buah perhiasan yang ia terima dari orang tua Han Lin, dijualnya ke kota dan iapun memperbaiki kuil itu sehingga menjadi perhatian yang menggembirakan bagi para penduduk Li-bun.

Akan tetapi ketika perbaikan atap mulai dilakukan, terjadilah hai-hal yang mendatangkan perasaan ngeri dan takut kepada para pekerja yang terdiri dari penghuni dusun Li-bun sendiri.

Memang hal-hal yang amat aneh terjadi.

Begitu atap di pugar, dua orang pekerja jatuh dari atas atap dan keduanya menceritakan pengalamannya yang sama, yaitu bahwa mereka didorong oleh seorang berpakaian tosu dari atas atap.

Untung mereka hanya menderita patah tulang kaki saja, tidak sampai tewas.

Mula-mula, peristiwa itu masih dianggap sebagai hal yang terjadi karena kekurang hati-hatian dua orang pekerja itu, Akan tetapi ketika mereka hendak memasang atap baru, seorang pekerja tiba-tiba saja terkulai dan berkelojotan seperti orang sedang sekarat.

Ketika teman-temannya datang menolong, orang itu menjadi beringas, matanya melotot, mututnya berbuih dan diapun berteriak-teriak kacau, dan suaranya terdengar parau.

"Pergi kalian semua! Pergi jangan mengganggu tempatku! Akan kucekik kalian semua!"

Demikian orang itu berteriak-"teriak dan meronta-ronta karena kaki tangannya dipegangi banyak orang.

Para penduduk dusun yang masih mudah sekali dipengaruhi tahyul itu menjadi ketakutan dan segera Kong Hwi Hosiang diundang.

Hwesio itu datang diikuti oleh Liu Ma dan juga Han Lin.

Ketika Kong Hw i Hosiang memasuki kuil itu dan melihat se orang pekerja rebah di atas lantai, kaki tangannya dipegangi banyak orang dan semua pekerja berhenti bekerja dan merubung orang itu yang berteriak-teriak mengusir mereka, dia lalu mendekati, diikuti oleh Liu Ma yang takut-takut dan Han Lin yang terheran-heran.

"Omitohud...., saudara sekalian, harap lepaskan saja dia,"

Katanya dengan lembut.

Para pekerja melepaskan orang itu dan cepat mundur ketakutan, khawatir kalau orang yang mereka tahu kesurupan (kemasukan roh jahat) itu akan mengamuk.

Ketika orang itu dilepaskan, dia pun meloncat bangkit matanya melotot liar, mulutnya berbuih, dan dia memandang kepada Kong Hwi Hosiang lalu bertolak pinggang, sikapnya menantang!

"Huh, kiranya ini biang keladinya.

Hwe sio gendut tua bangka, engkau menggunduli kepala dan mengenakan jubah kuning, akan tetapi masih bertindak semena-mena, mengganggu dan hendak meram-pas tempatku, ya?"

Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan depan dada dan berkata dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran.

"Omitohud, tuduhaninu itu menjadi kebalikan dari kenyataannya. Tidak ada seorangpun manusia yang mengganggumu, dan bangunan ini sama sekali bukan menjadi tempat tinggalmu. Bangunan ini tempat tinggal manusia yang masih mempunyai badan jasmani. Engkaulah yang salah memilih tempat. Sebaiknya engkau mencari tempat yang jauh dari manusia, dan mohon ampunlah kepada Yang Maha Kasih agar engkau dapat memperoleh kebebasan kesempurnaan."

Akan tetapi, pekerja yang masih muda dan tubuhnya kekar itu kelihatan semakin marah.

Dia mengeluarkan suara yang serak dan tidak begitu jelas, akan tetapi dia membuat gerakan seolah hendak mencekik Kong Hwi Hosiang.

Melihat ini, Liu Ma yang berada di belakang hwesio itu menjadi gemetar keta"kutan, dan Han Lin memegang tangannya.

Anak ini juga merasa ngeri, akan tetapi dia tidak takut, percaya bahwa gurunya tentu akan mampu mengalahkan iblis yang memasuki tubuh pekerja itu.

Kong Hwi Hosiang dengan sikap tenang, memandang wajah pekerja itu.

Suaranya masih lembut, namun menggetar penuh kewibawaan ketika dia berkata.

"Roh penasaran! Perbuatanmu ini akan menambah dosamu dan memberatkan penderitaanmu. Pergilah engkau!"

Kong Hwi Hosiang lalu membaca mantram dan menggerakkan kedua tangannya seperti mendorong dan pekerja itu mengeluarkan teriakan nyaring, lalu terkulai roboh.

Akan tetapi begitu roboh, dia bangkit duduk dan memandang ke kanan kiri dengan keheranan.

"Aih, apa yang telah terjadi? Kenapa aku? Dan kalian mengapa berhenti bekerja?"

Setelah melihat bahwa pekerja itu sudah biasa lagi menunjukkan bahwa roh penasaran yang tadi menyusup ke dalam dirinya telah pergi, teman-temannya berani menghampiri dan ada yang memberinya minum sebelum menceritakan bahwa dia tadi kesurupan.

Pekerja kuil itu bergidik, lalu meninggal kan pekerjaannya itu, palang dan tidak berani kembali lagi, dan perbuatannya ini dan beberapa orang yang merasa ketakutan.

Biarkan mereka pulang kata Kong Hwi Hosiang-kepada Li Ma yang hendak menegur mereka Kalau mereka memang takut, lebih baik tidak usah' ikut membantu dan kita mencari saja orang yang tidak takut.

Demikianlah, perbaikan kuiI itu dalanjutkan dan yang bekerja adalah orang-orang yang tidak gentar terhadap gangguan roh jahat.

Dan anehnya, sejak peristiwa itu, tidak ada lagi gangguan sampai pembangunan itu selesai.

Berdirilah sebuah kelenteng baru di dekat puncak itu.

Dan mulailah Kong Hwi Hosiang menyebar kan keagamaan dan kelenteng itu mulai dikunjungi orang, untuk mempelajari agama, juga untuk bersembahyang.

Han Lin tinggal di ke"lenteng itu sebagai murid Kong Hwi Hosiang, dan anak yang ingin mengetahui Han Lin pada suatu hari bertanya tentang peristiwa kesurupan yang membuat banyak orang ketakutan.

"Suhu, apa sih artinya peristiwa itu? Benarkah roh halus itu bias memasuki tubuh manusia "

Kong Hwi Hosiang tersenyum, girang bahwa muridnya, biarpun masih kanak.-kanak, tidak takut dan tidak dicengkeram tahyul, hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang memiliki dasar watak yang kuat.

"Engkau telah melihat sendiri, Han Lin. Orang itu jelas tidak berpura-pura, dan tidak pula sakit. Dia memang telah dirasuki roh penasaran yang tidak ingin kuil itu diperbaiki karena kuil itu telah menjadi tempat tinggalnya."

"Suhu, apakah setiap orang manusia dapat dimasuki roh seperti itu?"

Kong Hwi Hosiang menggeleng kepala.

"Omitohud, tidak begitu mudah bagi roh jahat untuk memasuki diri seorang manusia, Han Lin. Hanya manusia yang lemah batinnya, manusia yang percaya dan tunduk kepada kekuasaan setan, dan manusia yang berada pada saat-saat lemah batinnya seperti kalau dia sedang dikuasai nafsu, sedang marah, sedang bersedih, pendeknya dicengkeram nafsu, dialah yang seolah-olah terbuka bagi roh jahat unttk memasukinya. Sebaliknya dia yang kuat batinnya, yang tidak sedikitpun mau menyerah terhadap kekuasaan nafsu, tidak tunduk terhadap pengaruh roh jahat, dia yang menya dari bahwa kedudukan manusia lebih tinggi dari pada roh-roh jahat, dia yang me"nyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kasih, tidak mungkin dapat dimasuki roh jahat."

"Suhu, apakah mantram-mantram itu dapat mengusir roh jahat?"

Tanya pula Han Lin.

"Mantram adalah doa keyakinan manusia terhadap kekuasaan Yang Maha Kuasa, namun bukan mantramnya itu yang ampuh, melainkan batin manusianya. Segala kekuatan datang dari kekuasaan Yang Maha Kuasa, kalau kita menyerah dengan penuh kepasrahan, kita akan terlindung oleh Kekuasaan itu, dan tidak ada kekuasaan gelap manapun yang akan mampu mengganggu kita."

Dengan penuh kasih sayang, Kong Hwi Hosiang mulai mengajarkan iImu kepada Han Lin yang baru berusia tujuh tahun.

Dia digembleng dengan dasar ilmu silat tinggi, dilatih cara menghimpun tenaga sinkang tanpa paksaan agar tidak menghambat pertumbuhan tubuhnya, juga dia disuruh membaca banyak kitab kuno dan kebiasaan membaca ini dengan sendirinya memperdalam penge tahuannya tentang sastra.

Dan seperti yang dapat nampak oleh hwesio tua itu pada pertemuan pertama, benar saja bahwa Han Lin memiliki bakat yang amat baik dalam ilmu silat.

Dia memiliki keluwesan gerakan, kelincahan dan mudah menangkap inti suatu gerakan.

Biarpun Han Lin tinggal di kelenteng, namun Liu Ma tidak merasa kehilangan.

Ia dapat bertemu dengan anak itu kapan saja ia kehendaki dan sering ia datang berkunjung, bahkan Han Lin selalu mendapat perkenan suhunya setiap kali dia hendak turun bukit menengok ibunya.

Tiga tahun kemudian, pada suatu pagi, Kong Hwi Hosiang sudah keluar dari kelenteng dan berjalan-jalan ke puncak.

Usianya sudah tujuhpuluh tiga tahun lebih, dan biarpun dia masih nampak segar, namun harus diakuinya bahwa usia telah menggerogoti kekuatan tubuhnya.

SegaIa sesuatu di permukaan bumi ini akhirnya akan menyerah kalah terhadap waktu,pikirnya sam bil tersenyum ketika dia melangkah mendaki puncak bukit.

Akan tetapi dia tidak pernah mau me nyerah terhadap waktu, karena dia mengenal waktu.

Baginya yang ada hanyalah saat ini, sekarang, tidak mau dipengaruhi waktu lalu ataupun waktu mendatang.

Waktu lalu hanya mendatangkan kenangan, waktu mendatang hanya menimbulkan bayangan.

Waktu lalu sudah mati dan waktu mendatang hanya mimpi, Saat ini yang penting, saat ini yang menentukan.

Ketika akhirnya tiba di puncak, dia melihat muridnya sudah berada dipuncak pula, dan agaknya telah mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar.

Akan tetapi muridnya itu sedang menggunakan sebatang ranting dan menggerak"gerakkan ranting itu seperti orang bersilat.

Bukan gerakan silat dasar seperti yang dia ajarkan, melainkan gerakan silat yang membuat hwesio tua itu terbelalak.

Tentu saja dia mengenal gerakan itu, karena itu adalah satu di antara ilmu silatnya sendiri yang dia andalkan.

Kong-in Sin-pang (Tongkat Sakti Angin dan Awan)!

ltulah gerakan yang dilakukan Han Lin, walaupun hanya sepotong-sepotong dan tidak sempurna!

Bagaimana mungkin anak itu dapat melakukan gerakan itu?

Pada hal, dia ingat benar bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu tongkat itu, walaupun sedikit, dan dia tidak percaya di daerah itu ada yang mampu memainkan ilmu silat"tongkat itu.

Ketika Han Lin kebetulan membalikkan tubuhnya dan melihat gurunya, segera dia melepaskan ranting itu dan berlari menghampiri kakek itu.

"Suhu"...,! Sepagi ini suhu sudah mendaki ke puncak?"

Kong Hwi Hosiang menghapus peluh dari dahinya dengan ujung lengan bajunya yang lebar, tersenyum.

"Omitohud....kalau usia sudah tua mendaki sebegini saja sudah berkeringat, Han Lin apakah engkau sudah cukup mengumpulkan kayu bakar?".

"Sudah, suhu. Itu sudah teecu (murid) ikat semua. Dia menuding ke arah ranting-ranting kering seikat besar. Bagus, dan pinceng tadi melihat engkau bersilat dengan ranting kayu. Dari mana engkau mempe lajarinya? Tanya hwesio itu sambil lalu, seolah tidak menaruh perhatian. Wajah anak itu berubah kernerahan dan dia tersenyum.

"Aih, suhu, teecu hanya main-main sembarangan saja "

"Han Lin, gerakanmu tadi bukan main-main, melainkan semacam ilmu tongkat. Nah, katakan saja sejujurnya, dari siapa engkau mempelajari ilmu tongkat itu? Atau kalau engkau meniru gerakan.orang lain, siapa yang kaulihat memainkan ilmu tongkat itu?"

Han lin nampak salah tingkah dan diam-diam hwesio tua itu merasa heran. Belum pernah selama tiga tahun ini dia melihat muridnya bersikap seperti itu, penuh keraguan, penuh kepanikan.

"Teecu ah, teecu "

"Han Lin, engkau tentu masih ingat bahwa di antara kita tidak pernah ada rahasia, dan bahwa amat tidak baik untuk berbohong, apa lagi terhadap pinceng, bukan?"

Kini Han Lin mengambil sikap tegas. Dengan berani dia menentang lagi sinar mata suhunya.

"Teecu ingat, dan teecu tidak akan pernah melanggarnya, suhu. Akan tetapi teecu juga ingat bahwa seorang laki-laki haruslah selalu memegang teguh janjinya. Mengingkari janji merupakan perbuatan yang pengecut, dan teecu yakin bahwa suhu tidak ingin melihat teecu melanggar janji."

Hwesio itu mengangguk-angguk.

Anak ini memang hebat, pikirnya.

Dan kepada siapa lagi anak ini berjanji, kalau bukan kepada dia sendiri atau kepada ibunya?

Hanya mereka berdua sajalah yang agaknya patut menerima janji Han Lin.

Dan agaknya memang terdapat suatu rahasia antara Han Lin dan ibunya itu.

Kini dia mulai melihat betapa pandang mata nyonya janda itu terhadap puteranya, selain pandang penuh kasih sayang, juga pandang yang mengandung penghormatan!

Pasti ada suatu rahasia di antara mereka, dan rahasia itu pula yang menyangkut gerakan ilmu tongkat tadi!

"Sudahlah, Han Lin, kalau engkau tidak.dapat menceritakan kepada pinceng, tidak mengapa, Memang seorang laki-laki harus memegang teguh janjinya, karena itu mengenai kehormatan.

Nah, mari kita kembali ke kelenteng."

Kong Hwi Hosiang yang bijaksana tidak pernah bertanya lagi kepada muridnya tentang ilmu tongkat itu, akan tetapi ketika dia mendapat.

kesempatan bertemu dengan Liu Ma dan-bicara empat mata, diapun mengajukan pertanyaan kepada Liu Ma.

"Dengan pertanyaan pinceng ini. Beberapa pekan yang lalu, pinceng memergoki Han Lin bermain silat tongkat di puncak bukit dan pinceng heran sekali mengenal ilmu tongkat itu. Ketika pinceng bertanya dari mana dia mempelajari ilmu silat tongkat itu, dia tidak berani mengaku, mengatakan bahwa dia tidak boleh melanggar janjinya. Nah, sekarang pinceng mohon kepadamu, nyonya, agar suka berterus terang kepada pinceng. Pinceng tahu bahwa nyonya amat menyayangnya, juga pinceng menyayangnya. Akan tetapi, sungguh tidak baik kalau terdapat rahasia di antara kita, seolah ada jurang yang memisahkan. Pula, pinceng yakin bahwa nyonya tentu percaya kepada pinceng ". Liu Ma menundukkan mukanya, Terjadi perang di dalam hatinya. Tentu saja ia percaya sepenuh nya kepada Kong Hwi Hosiang. Pendeta ini selama tiga tahun ini telah menunjukkan bahwa dia seorang yang berhati baik, bijaksana dan penuh belas kasihan kepada manusia lain. Sudah banyak sekali orang sakit yang diobatinya, dan dia tidak pernah mau menerima imbalan apapun. Juga menurut pengakuan Han Lin, hwesio itu amat sayang kepada Han Lin, dan anak itupun memperoleh banyak ilmu darinya. Ia tidak akan khawatir lagi tentang pendidikan anak itu! Akan tetapi, haruskah ia membuka rahasia anak itu kepada hwesio ini? Ia masih bimbang ragu.

"Memang terdapat rahasia besar dalam diri Han Lin, losuhu. Akan tetapi perlukah losuhu mengeta huinya? Rahasia itu selama ini terpendam di dalam lubuk hati kami berdua dan sudah kami anggap terkubur. Apa gunanya kalau saya ceritakan kepada losuhu? Dan apa perlunya pula losuhu menge tahui rahasia pribadi Han Lin? Bukankah selama ini dia menjadi murid yang baik dan patuh? " 'Omitohud, pinceng bukanlah orang yang suka usil dan mencampuri urusan orang lain, bukan pula orang yang suka mengetahui urusan pribadi orang lain. Akan tetapi dalam urusan yang menyang kut pribadi Han Lin terdapat sesuatu yang pinceng yakin ada hubungannya dengan pinceng. Sebai knya kalau pinceng katakan terus terang mengapa tiba-"tiba pinceng ingin mengetahui latar bela kang kehidupan atau rahasia Han Lin, nyonya Liu. Ketahuilah bahwa selama hidupku, pinceng hanya mempunyai dua orang murid dan hanya kepada mereka berdua itu saja pinceng mengajar kan ilmu tongkat pinceng. Dan nyonya tentu merasa heran sekali melihat betapa pinceng melihat Han Lin memainkan ilmu tongkat itu, walaupun tidak sempurna. Nah, pinceng yakin bahwa anak itu mempunyai hubungan, atau setidaknya pernah melihat, seorang di antara kedua orang murid pinceng itu."

Liu Ma memandang heran. Usia wanita ini sekitar limapuluh tahun, namun ia nampak lebih tua karena selama ini ia mengalami hal-hal yang menyedih kan dan menegangkan.

"Losuhu, bolehkah saya mengetahui nama kedua orang murid losuhu itu?"

"Tentu saja boleh. Mereka adalah dua orang bersaudara, enci dan adik, puteri mendiang Yang Kok Tiong yang menjadi Menteri Utama Kaisar Beng Ong yang melarikan di kebarat. Mereka bernama Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi dan eh, nyonya, ada apakah?"

Kong Hwi Hosiang memandang penuh perhatian melihat betapa wanita itu memandang ke padanya dengan mata terbelalak lebar dan mukanya menjadi pucat.

"Nyonya Liu, tenanglah. Ada apakah?"

Akan tetapi wanita itu kini menangis, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan ia terisak-isak.

Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan depan dada dan berkemak-kemik, membiarkan wanita itu menangis dulu sepuasnya untuk mencairkan sesuatu yang membeku dan mengganjal dihatinya.

Setelah hatinya terasa ringan karena tangisnya akhirnya Liu Ma dapat menghapus air matanya dan dengan mata kemerahan ia memandang kepada hwesio itu.

"Losuhu, ternyata memang benar dugaan losuhu. Ketahuilah, losuhu, bahwa sebenarnya Han Lin adalah Pangeran Sia Han Lin yang lolos dari istana ketika "istana diserbu musuh. Ayahnya adalah mendiang Sia Su Beng dan ibunya adalah mendiang Permaisuri Yang Kui Bi!!! "

"Omitohud!"

Kong Hwi Hosiang berseru keheranan, bukan hanya heran mendengar bahwa Han Lin ternyata putera kandung muridnya sendiri, Yang Kui Bi, akan tetapi juga heran mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi isteri pemherontak Sia Su Beng yang telah mengangkat diri menjadi kaisar akan tetapi kemudian kekuasaannya dirobohkan dan dia tewas da lam pertempuran.

"Jadi kalau begitu, Han Lin adalah putera murid pinceng sendiri..? Akan tetapi, dia telah ikut denganmu, bagaimana dapat memainkan ilmu tongkat itu? "

Kami melarikan diri dari istana ketika Han Lin berusia lima tahun, losuhu.

Agaknya dia masih ingat kepada ibunya kalau ibunya berlatih silat dan sekarang, setelah dia belajar silat kepada losuhu, dia mencoba untuk memainkan ilmu silat yang pernah dilihatnya dimainkan ibunya itu."

"Omitohud tidak salah lagi, benar seperti yang nyonya katakana itu"

Dia termenung dan semakin kagum.

Tentu Han Lin sudah mengetahui bahwa dia adalah bekas seorang pangeran!

Akan tetapi anak itu begitu pandai membawa diri, bahkan sikapnya demikian hormat dan sayang kepada Liu Ma, memegang janji dan sama sekali tidak nampak congkak.

"Sebelum ayah ibunya maju perang, mereka menitipkan Han Lin kepada saya, losuhu. Saya adalah pelayan pengasuh keluarga itu dan saya yang mengasuh Han Lin sejak kecil. Saya mengajak Han Lin melarikan diri mengungsi dan tinggal di dusun Li-bun ini, dusun yang menjadi kampung halaman saya."

Dengan jelas Liu Ma lalu menceritakan semua yang telah dialaminya semenjak ia membawa Han Lin melarikan diri dari kota raja Tiang-an dan mengungsi ke dusun itu. Hwesio itu menghela napas panjang.

"Betapa aneh jalan hidup anak itu.. Tanpa disengaja seolah dia dipertemukan dengan pinceng. Engkau telah melaksanakan tugas dengan baik, nyonya. Sebaiknya, kita biarkan saja keadaan seperti sekarang, tidak perlu memberitahu kepada Han Lin bahwa pinceng telah mengetahui riwayatnya."

Demikianlah, mulai hari itu, dengan tekun Kong Hwi Hosiang mengajarkan ilmu silat tongkat Hong-in Sin-pang kepada Han Lin.

Anak ini tentu saja girang bukan main mengenaI ilmu tongkat seperti yang dahulu sering dia lihat dimainkan ibunya, akan tetapi tentu saja ilmu ini lebih lengkap dan lebih dahsyat.

Disamping menggembleng muridnya dengan ilmu silat, juga Kong Hwi Hosiang lebih tekun mengajarkan sastra dan terutama tentang inti pelajaran agama.

Dengan dongeng, perumpaan dan contoh-contoh kehidupan para bijaksana jaman dahulu, Kong Hwi Hosiang berusaha untuk menghapus dendam dari hati muridnya itu.

"Ingat baik-baik, Han Lin. Musuh utama bagi seorang pendekar adalah perasaan dendam. Dan perasaan ini memang amat sukar untuk dikalahkan, karena dendam timbul dari berkembangnya rasa ciri. Begitu rasa diri disinggung dan Terasa dirugikan, disakiti, dihina atau dibikin sedih karena kehilangan, maka dendam akan timbul meracuni hati dan pikiran. Dan kalau dendam sudah mencengkeram hati dan pikiran, maka tindakanmu tidak mungkin lurus melalui jalan yang harus dilalui seorang pendekar lagi. Dendam akan menyeretmu ke arah perbuatan yang semata-mata didorong kebencian dan sakit hati, dan kalau sudah begitu, sama sekali sudah tidak adil dan tidak benarlagi."

Mendengar ucapan gurunya itu, Han Lin teringat akan kematian ayah bundanya.

Seringkali, kalau dia terkenang akan kematian mereka, timbul dendamnya kepada Kaisar, bahkan kepada Kerajaan Kini, mendengar ucapan gurunya dia mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, suhu, kalau kita tidak membenci penjahat, bagaimana kita akan membasmi mereka yang jahat? Bukankah menurut dongeng sejak jaman dahulu, orang bijaksana dan para pendekar selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan? Kalau kita tidak boleh menden dam dan membenci penjahat, bagai mana kita dapat bertindak terhadap mereka?"

"Omitohud! Kalau hati sudah diracuni dendam,bagaimana mungkin kita membela keadilan? Den dam dan kebencian menghapus keadilan, karena perbuatan yang didasari kebencian, bagaimana mungkin dapat adil lagi? Kebencian melenyapkan pertimbangan dan satu-satu nya keinginan hanyalah melampiaskan dendam kebencian."

"Kalau begitu, kita tidak boleh memusuhi siapapun, suhu?"

"Omitohud, pertanyaan itu tepat sekali. Kita memang tidak boleh memusuhi siapapun! Yang ditentang seorang pendekar bukanlah manusianya, melainkan kejahatannya. Perbuatan jahat sewenang-wenang yang mengganggu orang lain patut kita tentang, akan tetapi dasarnya bukan kebencian terhadap siapapun. Mengertikah engkau?"

Melihat anak berusia belasan tahun itu masih juga belum mengerti betul, perlahan-lahan Kong Hwi Hosiang lalu memberi penjelasan tentang dendam kembencian.

Dendam kebencian memang membuat orang kehilangan pertimbangan lagi.

Dendam kebencian merupakan nafsu yang selalu hanya ingin mendapat kepuasan, dan kepuasan dari nafsu dendam hanyalah membalas dan mencelakai orang yang dibenci dan didendamnya.

Dendam timbul karena adanya aku yang merasa dirugikan.

Aku dipukul balas memukul, aku di benci balas membenci, bahkan biasanya, pembalasan harus lebih berat, lebih hebat dari pada penyebab dendam.

Maka tImbullah dendam mendendam, balas membalas yang tiada berkesuda han, kebencian yang mendarah-daging dan terjadilah perang, pembunuhan, pembantaian dan sega la macam kekejaman yang tidak layak dilakukan oleh manusia, mahluk yang katanya paling sempurna dan tinggi derajatnya itu.

Maka kita selalu ditujukan kepada orang lain, menilai perbuatan orang lain sehingga segala kesalahan orang lain, betapapun kecil pun, akan nampak oleh kita.

Kalau saja kita suka membalikkan pandangan kita, mengamati diri sendiri, akan nampak bahwa kita ini tidaklah lebih baik dari pada orang lain yang kita anggap jahat atau buruk itu.

Pengamatan ini akan menyadarkan kita bahwa kitapun bukan manusia sempurna, bahwa kitapun tidak lepas dari pada dosa.

Kalau ki ta sudah merasa kotor, maka melihat orang lain kotor, tentu kita tidak akan memandang jijik.

Kalau kita sudah melihat jelas bahwa kita sendiri penuh dosa, maka melihat orang lain berdosa, tentu akan mudah sekali bagi kita untuk memaafkan orang lain.

Kita tidaklah lebih baik dari orang lain, dan dunia ini menjadi kacau balau bukan hanya karena ulah orang lain, melainkan karena ulah kita bersama!

Kita sendiri, masing"masing dari kita ikut bertang gung jawab.

Hanya orang yang suka mengamati diri sendiri, hanya orang yang tahu bahwa diri nya kotor timbul usaha dalam dirinya untuk membersihkan diri dari kekotoran itu.

Sebaliknya, orang yang hanya melihat kekotoran pada diri orang lain dan merasa diri nya sendiri bersih, orang seperti ini tidak akan pernah mau mela kukan usaha membersihkan dirinya dari kekotoran dan diluar kesadarannya, dia terus menumpuk kekotoran dalam dirinya sendiri.

Kalau ada orang memukul kita lalu kita membalas dan memukulnya, lalu apa bedanya antara kita dan orang itu?

Kalau ada orang membunuh, lalu kita balas membunuh, berarti kita semua sama-sama menjadi pembunuh Kalau orang menipu kita dan kita balas menipu, kita sama-sama menipu.

Dendam membuat kita lupa diri, kehilangan pertimbangan, kehilangan keseimbangan dan tidak tahu membedakan lagi mana benar dan mana tidak benar.

Waktu bergerak seperti siput.

Kalau kita perhatikan, merangkak lambat sekali, akan tetapi kalau tidak kita perhatikan, tahu-tahu sudah jauh!

Kalau kita tidak memperhatikan, bertahun tahun lewat seperti beberapa hari saja rasanya, sebaliknya kalau kita menanti sesuatu dan selalu memperhati kan waktu, beberapa jam rasanya seperti beberapa tahun.

Lima tahun lewat bagaikan terbang saja semenjak Kong Hwi Hosiang mendengar tentang riwayat Han Lin dari Liu Ma.

Dia menggembleng muridnya itu dengan penuh kesungguhan, dan Han Lin juga belajar dengan tekunnya sehingga kini, Han Lin telah menjadi seorang remaja berusia lima belas tahun yang gagah tegap dan memiliki ilmu kepandaian yang hebat!

Berkat pertemuan hawa beracun dingin dan panas, lalu ditambah racun ular senduk kepala putih, di dalam tubuhnya terkandung kekuatan yang aneh, dan tubuhnyapun kebal terhadap racun.

Semua ini dimanfaatkan oleh Kong Hwi Hosiang yang mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya, terma suk Hong-in Sin pang, ilmu silat tangan kosong Pat-kwa kun, dan juga ilmu menghimpun tenaga sakti Im-yang Sin-kang.

Tentu saja karena dia masih amat muda, biarpun dia sudah menguasai semua ilmu itu dengan baik sekali, namun latihannya masih belum matang, apa lagi dia masih belum mempunyai pengalaman bertanding dengan orang lain.

Kalau Han Lin tumbuh semakin besar dan semakin kuat, sebaliknya Kong Hwi Hosiang menjadi semakin tua dan semakin lemah.

Proses ketuaan ini melanda seluruh umat manusia di dunia ini.

Tidak ada seorangpun manusia, betapapun kuatnva, yang akhirnya tidak tunduk kepada ketuaan dan kelemahan.

Demikian pula Kong Hwi Hosiang.

Dalam usia yang hampir delapanpuluh tahun, dia mulai lemah walaupun semangatnya tidak pernah nampak merosot.

Wajahnya masih nampak segar, senyumnya masih selalu membuat wajahnya berseri.

Namun, di waktu dia mengajak Han Lin berlatih silat, muridnya itu melihat betapa gerakan gurunya kini semakin lambat dan tenaganyapun berkurang, terutama tenaga otot.

Pada suatu pagi yang cerah!

Seperti biasa, Han Lin sudah sejak subuh bangun dari tidurnya.

Gurunya mengajarkan bahwa mengawali hari sebaiknya dimulai dengan bangun yang pagi sekali, sebelum fajar menyingsing, pada waktu ayam Jantan berkokok.

Sejak pagi tadi, Han Lin telah bangun tidur, berlatih si]at lalu mandi dan kini dia sudah sibuk membantu dua orang hwesio lain yang sibuk di dapur.

Sudah dua tahun ini, di kelenteng itu terdapat dua orang hwesio lain, pendatang dari lain tempat yang menetap di situ menjadi pembantu Kong Hwi Hosiang.

Cun Hwesio dan Kun Hwesio adalah dua orang hwesio berusia limapuluhan tahun yang rajin.

Dari dua orang hwesio ini, Han Lin juga mendapatkan dua macam iImu yang amat berguna baginya.

Biarpun kedua orang hwesio itu tidak memiliki ilmu silat yang terlalu tinggi, namun Cun Hwe sio adalah seorang ahli ginkang sehingga dalam hal ilmu berlari cepat dan berlonca tinggi, dia masih lebih lihai di bandingkan Kong Hwi Hosiang sekalipun.

Dan Kun Hwesio adalah seorang hwesio yang memiliki keahlian dalam hal ilmu menolak dan mengusir setan juga pandai mempergunakan kekuatan sihir.

Dari kedua orang hwesio ini, yang merasa sayang pula kepada Han Lin, pemuda ini menerima gemblengan.

Melihat persediaan kayu bakar menipis, tanpa diperintah lagi Han Lin lari keluar dari dapur dan menuruni puncak menuju ke hutan untuk mencari kayu bakar.

Dia tidak tahu betapa tak lama setelah dia meninggalkan kuil, muncul tiga orang laki-laki berusia antara limapuluh sampai enampuluh tahun di pekarangan kelenteng itu.

Seorang di antara mereka yang tubuhnya pendek gendut seperti katak, mukanya kuning seperti dicat, yang tertua di antara mereka, berseru dan suaranya parau lantang seolah menggetarkan atap kelenteng itu.

"Hei!, para hwesio penghuni kelenteng! Keluarlah kalian, kami ingin.bicara!"

Sikap dan kata-katanya sungguh kasar memerintah, tidak memakai tata susila.

Adapun dua orang temannya yang juga berdiri di situ, hanya menunggu dengan sikap congkak.

Seorang di antara mereka juga gendut pendek bermuka hitarn, adapaun orang ke dua tinggi kurus bermuka putih dan usia mereka limapuluh lebih, agak lebih muda dibandingkan si gendut muka kuning.

Mendengar teriakan itu, Cun Hwesio dan Kun Hwesio bergegas keluar dan mereka berdua terheran-heran melihat tiga orang asing yang berdiri di pekarangan kelenteng itu.

Akan tetapi sebagai pendeta-pendeta yang sopan dan lembut, mereka cepat mengangkat kedua tangan depan -dada member!

normat, dan Cun Hwesio menyambut dengan kata"kata halus.

"Omitohud...., siapakah sam-si (anda bertiga) dan ada keperluan apa kiranya berkunjung ke kelenteng kami yang buruk? Si gendut muka kuning menyeringai.

"Hemm, kami ingin bicara dengan ketua kelenteng. Siapa di antara kalian yang menjadi ketua kelenteng ini?"

"Ketua kami sedang bersembahyang dan bersamadhi,"

Jawab Cun Hwesio.

"Ha-ha-ha, para hwesio gundul ini memang orang-orang pemalas. Selalu menggunakan doa dan samadhi sebagai alasan, pada hal itu tidur mendengkur, ha-ha-ha!"

Dua orang iainnya juga ikut tertawa. Cun Hwesio saling pandang dengan Kun Hwesio akan tetapi mereka masih bersabar.

"Omitohud, pinceng tidak tidur, sudah bangun sejak pagi tadi,"

Tiba-tiba terdengar suara ketua mereka, membuat kedua orang hwesio pembantu itu bernapas lega.

Tiga orang itu kini berhadapan dengan Kong Hwi Hosiang yang bertopang pada tongkat bambu ular kuningnya.

Karena yang berdiri paling dekat dengannya adalah laki-laki gendut bermuka hitam arang, Kong Hwi Hosiang bertanya sambil memandang kepadanya.

"Siapakah sam-wi dan kepentingan apakah yang membuat sam-wi datang berkunjung?' Si gendut muka hitam arang itu segera memperkenalkan diri dengan sikap angkuh.

"Aku disebut orang Hek-bin Mo"ong!"

"Omi tohud!"

Kong Hwi Hosiang berseru heran dan memandang kepada mereka bertiga bergantian.

"Kalau begitu, pinceng berhadapan dengan Sam Mo-ong (Tiga Raja IbIis)? Akan tetapi, pinceng pernah berjumpa dengan Hek-bin.Mo-ong dan seingat pinceng, Hek-bin Mo-ong adalah seorang yang bertubuh tinggi besar tidak seperti engkau yang bertubuh pendek." 'Hwesio sombong! Kaukira tubuhmu itu tinggi ramping? Engkau pun tidak banyak bedanya dengan aku, pendek dan gendut!"

Hek-bin Mo-ong berkata marah.

"Omi tohud!"

Kong Hwi Hosiang yang memang biasanya selalu tersenyum, kini tertawa gembira.

"Bagaimanapun juga, pinceng pernah bertemu dengan Sam Mo-ong dan jelas mereka itu bukan sam-wi."

"Hwesio, ketahuilah bahwa memang kami bukan Sam Mo"ong. Akan tetapi Sam Mo-ong adalah guru-guru kami bertiga. Aku disebut orang Kwi-jiauw Lo-mo (iblis Tua Cakar Setan), dan aku murid mendiang suhu Toat-beng Mo-ong (Raja Iblis Pencabut Nyawa)."

"Dan aku disebut Pek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Putih), guruku adalah mendiang Siauw-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Tertawa),"

Kata orang yang tinggi kurus muka putih kapur dengan mulut mewek-mewek seperti hendak menangis.

Sungguh aneh orang yang mukanya seperti selalu menangis ini menjadi murid Raja Iblis Muka Tertawa, yang selalu tertawa itu.

"Mendiang guruku adalah Hek-bin, Mo-ong, dan untuk menghormati beliau, akupun menggunakan nama Julukan guruku itu!"

Kata yang gendut muka hitam arang.

"Omitohud, sekarang pinceng mengerti. Kirahya sam-wi adalah murid-murid Sam Mo-ong, diam-diam Kong Hwi Ho"siang merasa terkejut dan heran. Kalau dia tidak salah ingat akan cerita muridnya, dua orang aneh yang pernah menyerang muridnya yaitu agaknya Hek-bin Mo-ong dan Pek-bi"n Mo-ong, dua orang di antara mereka bertiga itu. Dan mereka semua mengaku murid-murid Sam Mo-ong. Akan tetapi, kenapa ilmu kepandaian mereka demikian hebat, me lebihi tingkat Sam Mo-ong yang pernah dikenal kepandaiannya?! "Hwesio tua, siapakah engkau dan apakah engkau ketua kelenteng ini?"

Tanya Kwi-jiauw Lo-mo. Kong Hwi Hosiang tidak mau memperkenalkan namanya karena bagaimanapun, namanya sudah dikenal didunia persilatan dan dia tidak ingin dikenal tiga orang ini.

"Pinceng memang pengurus kelenteng ini bersama dua orang saudara pinceng ini. Kami bertiga pengurus kelenteng ini. Akan tetapi, ada kepentingan apakah sam-wi datang berkunjung?"

"Hwesio tua, kami bertiga membutuhkan kelenteng ini, maka kami harap kalian bertiga suka pergi meninggalkan kelenteng ini. Kami memerlukan tempat dan kelenteng ini memenuhi syarat,"

Kata Kwi-jiauw Lo-mo tanpa sungkan-"sungkan lagi. Cun Hwesio dan Kun Hwesio mengerutkan alisnya, akan tetapi Kong Hwi Hosiang bersikap tenang dan tetap sabar.

"Tiga orang sahabat yang baik, kalau kalian bertiga hendak tinggal di kelenteng ini sebagai tamu kami, silakan. Dibagian belakang masih terdapat kamar-kamar yang boleh samwi tempati. Kami selalu menerima tamu dengan hati dan tangan terbuka,"

"Hemm, kami tidak ingin menjadi tamu, melainkan ingin mengambil kelenteng ini sebagai tempat tinggal kami. Kalian bertiga harus pergi dari sini, sekarang juga!"

"Omi tohud, kenapa sam-wi' bersikap begini? Kelenteng ini bukan milik kami, melainkan milik penduduk dusun Li -bun, kami bertiga hanya sekedar menjadi pengurus kelenteng "

"Hwesio tua, karena melihat kalian adalah hwesio-hwesio, maka kami masih berlaku ramah dan lembut dan dengan baik-"baik meminta kalian pergi. Apakah kalian menghendaki kami bersikap keras dan melempar kalian bertiga keluar dari tempat InI? "

Bentak Pek-bin Mo-ong yang selalu berwajah muram.

"Omi tohud, kiranya kalian ini bukan hanya manusia-"manusia yang menggunakan nama julukan iblis, melainkan iblis sendiri yang menyamar manusia. Jahat sekali! "

Bentak Cun Hwesio yang sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi sambil menudingkan telunjuknya kearah muka Pek-bin Mo-ong.

Sementara itu, Kun Hwesio yang juga sudah merasa penasaran sekali, diam-diam mengerahkan kekuatan sihirnya dan melangkah maju.

"Hei!, kalian bertiga murid Sam Mo-ong! "

Teriakan Kun Hwesio ini melengking penuh wibawa, membuat tiga orang itu mau tidak mau terpaksa menengok dan memandang kepadanya.

Kun Hwesio menggerakkan kedua tangannya ke atas lalu dihadapkan kepada mereka sambil berseru lagi, kini suaranya menggetar kuat.

"Kalian bertiga berlututlah!"

Terjadi keanehan, Tiga orang yang.tadinya bersikap bengis dan galak itu, tiba-tiba saja menekuk kedua lutut kaki mereka dan mereka berlutut menghadap Kun Hwesio!

Biarpun mereka bertiga kelihatan terkejut dan heran, terbelalak, namun mereka tetap saja berlutut dengan sikap hormat.

Kalau saja Kong Hwi Hosiang dan kedua orang pembantunya merupakan orang-orang yang mencari kemenangan, ketika tiga orang itu sedang berlutut, tentu akan mudah sekali menyerang dan merobohkan.

mereka.

Akan tetapi, Kong Hwi Hosiang dan dua orang pembantunya adalah tiga orang pendeta yang menaati hukum agama mereka.

Mereka memang tidak meninggalkan kewajiban membela diri, namun mereka sama sekali tidak berani melanggar pantangan membunuh.

Membunuh hewanpun mereka pantang, apa lagi membunuh manusia.

Selain hukum agama, juga mereka tidak mau melanggar hukum tak tertulis dari para pendekar yang pantang menyerang lawan yang tidak dapat melawan.

Melihat betapa tiga orang itu berada di bawah pengaruh kekuatan sihir dari Kun Hwesio, Kong Hw i Hosiang laIu berkata lembut.

"Nah, harap kalian pergi dan jangan mengganggu kami lagi."

Akan tetapi, tiga orang datuk itu telah memiliki tingkat kepandaian tinggi dan merekapun memiliki sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat.

Kalau tadi mereka dapat dipengaruhi kekuatan sihir Kun Hwesio, hal itu adalah karena mereka sama sekali tidak menyangka dan mereka tidak bersikap menyambut serangan kekuatan sihir itu.

Hanya sebentar mereka terpengaruh dan ucapan lembut Kong Hwi Hosiang telah menyadarkan mereka kembali.

Hek-bin Mo-ong yang gendut bermuka hi tam masih berlutut, akan tetapi matanya terangkat ke atas dan dia melirik ke arah Kun Hwesio yang tadi membentak agar mereka berlutut.

Dia tahu bahwa hwesio itu yang menyerang dengan sihir, maka tiba tiba saja, kedua tangannya yang pendek besar itu didorongkan ke arah Kun Hwesio dan dia mengeluarkan bentakan nyaring.

"Hyaaaaahhhh....!"

Pada detik berikutnya, Kwi-jiauw Lo-mo telah meloncat dan menyerang Kong Hwi Hosiang dengan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sepasang cakar setan yang telah disambungkan dengan kedua tangannya, dan Pek-bin Mo-ong juga sudah menyerang Cun Hwesio.

Tentu saja kedua orang hwesio itu tidak sempat nenolong Kun Hwesio yang diserang oleh si muka hitam.

"Desss!! "

Tubuh Kun Hwesio terlempar ke belakang ketika terkena hantaman kedua telapak tangan Hek-bin Mo"ong.

Memang dalam.hal iImu silat, dua orang hwesio pembantu itu kalah jauh di bandingkan para penyerang itu yang kesemuanya adalah datuk-datuk sesat yang tentu saja amat lihai.

Begitu terkena hantaman kedua tangan Hek-bin Mo-ong, tubuh Kun Hwesio terbanting keras dan tubuh itu kini menggigil kedinginan, lalu tubuh itu menjadi kaku dan diapun tewas seketika karena darah di tubuhnya menjadi beku!

Tidak seperti Kun Hwesio, Cun Hwesio yang ahli ginkang tidak mudah dirobohkan Pek-bin Mo-ong.

Biarpun si kurus muka putih kapur itu menghujankan serangan, namun dengan lincah sekali Cun Hwesio dapat berloncatan keSana sini dan selalu dapat menghindarkan diri dari semua serangan itu!

Tubuhnya bagaikan seekor burung walet saja, gerakannya ringan dan cepat berkelebatan mengejutkan Pek-bin Mo-ong yang mengira bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

Melihat ginkang nya, tentu hwesio ini jauh lebih lihai darinya.

Akan tetapi, ketika diserang bertubi-tubi itu Cun Hwesio hanya mengelak saja tak pernah menang kis apa lagi balas menyerang, Pek-bin Mo-ong dapat menduga bahwa hwesio ini hanya ahli gin-kang saja akan tetapi bukan ahli silat tinggi.

Maka diapun menyerang terus dengan gencar.

Yang mampu mengimbangi serangan lawan hanyalah Kong Hwi Hosiang.

Dengan tongkat bambunya, hwesio tua renta ini ternyata masih tangguh bukan main.

Ilmu tongkatnya.

Hong-in Sin-pang membuat sepasang cakar setan di tangan Kwi -jiauw Lo-mo tak pernah berhasil me ngenai sasaran, bahkan hwesio tua itu membalas tak kalah dahsyatnya, membuat Kwi"jiauw Lo-mo harus berhati-hati.

Tak disangkanya bahwa hwesio tua itu demikian lihainya.

Kalau saja dia tahu bahwa yang dilawannya adalah Kong Hwi Hosiang, tentu dia tidak akan merasa heran dan tidak berani memandang rendah.

Hek-bin Mo-ong tertawa melihat lawannya yang pandai sihir tadi telah tewas sedemikian mudah nya di tangannya.

Dia melihat betapa lawan Pek-bin Mo-ong memiliki ginkang istimewa, akan tetapi diapun tidak bodoh.

Melihat hwesio itu hanya berloncatan ke sana sini tanpa membalas, diapun dapat menduga bahwa hwesio itu hanya pandai ginkang saja namun tidak memiliki ilmu silat yang akan membahayakan rekannya.

Sebaliknya, dia melihat Kwi-jiauw Lo-mo agak repot menghadapi Kong HwiHosiang, maka diapun meloncat ke depan membantu rekan ini mengeroyok Kong Hwi Hosiang..

Tentu saja Kong Hwi Hosiang semakin repot.

Melawan Kwi"jiauw Lo-mo saja, dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengimbanginya, apa lagi dikeroyok oleh Hek-bin Mo"ong yang memiliki kepandaian setingkat dengan datuk pertama itu.

Dia sudah tua, tenaganya sudah banyak berkurang, dan napasnya juga sudah tidak setahan dahulu.

Namun, hwesio tua ini memang hebat.

Karena ilmu kepandaiannya sudah matang, sudah menda rah daging, biar dikeroyok dua orang datuk yang demikian tangguhnya, dia masih mampu membe la diri dan tongkatnya yang berbentuk ular kuning dari bambu yang khas itu selalu dapat menang kis sepasang cakar setan Kwi-jiauw Lo-mo dan pukulan tangan dingin Hek-bin Mo-ong.

Sampai belasan jurus, Cun Hwesio masih mampu menghindarkan diri dari serangan Pek-bin Mo-ong yang bertubi-tubi.

Karena serangannya selalu luput, Pek-bin Mo-ong merasa penasaran sekali dan memperhebat serangan pukulan yang berhawa panas itu.

Akan tetapi, ketika melihat betapa Kun Hwes io tewas sedangkan Kong Hwi Hosiang di keroyok dua dan keadaannya juga terdesak, dia merasa khawatir sekali dan kegelisahannya, di tambah lagi kini dia memecah perhatian untuk melihat ke arah Kong Hwi Hos i-ang, Cun Hwes io kurang waspada dan lambungnya terkena sambaran pukulan Pek-bin Mo-ong.

Plakk!"

Sekali saja terkena pukulan ampuh itu pada lambungnya, Cun Hwes io terpelanting dan roboh berkelojotan sebentar lalu tewas dengan tubuh kehitaman seperti terbakar!.

Pek-bin Mo-ong tidak lagi memperdulikan lawan yang dia yakin tentu telah tewas.

Dia menoleh ke arah rekan-rekannya dan mendengus marah melihat betapa dua rekan yang mengeroyok hwesio itu masih juga belum mampu merobohkannya.

Diapun meloncat dan dengan bentakan nyaring, diapun terjun kedalam perkelahian, ikut mengeroyok Kong Hwi Hosiang!

Kong Hwi Hosiang mencoba untuk melawan sekuatnya, namun dia sudah tua dan tingkat kepandaian tiga orang itu tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya, maka dikeroyok tiga, tentu saja dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi.

Sebuah tamparan tangan beracun dingin dari Hek-bin Mo-ong mengenai punggungnya.

Dia terhuyung dan menggigil kedinginan, lalu datang pukulan Pek-bin Mo-ong yang berhawa panas.

Selagi Kong Hwi Hosiang terhuyung, cakaran tangan kiri Kwi-j iauw Lo-mi mengenai dadanya dan hwesio tua itupun roboh dan tidak bergerak lagi, mukanya hitam keracunan dan diapun tewas seketika.

Tiga orang datuk itu memeriksa ketiga hwesio dan setelah merasa yakin bahwa mereka itu tewas semua, mereka lalu menyerbu kedalam kelenteng mencari kalau-kalau masih terdapat penghuni kelenteng yang lain.

Akan tetapi ternyata tidak ada orang lain lagi di dalam kelenteng.

"Hemmm, di mana Seng Gun?"

Tiba-tiba Kwi-jiauw lo-mo bertanya kepada kedua orang rekannya.

"Bukankah tadi dia naik ke pun-cak?! "

Kata Pek-bin Mo-ong.

"Pemandangan alam disini amat indahnya, tentu dia pergi berjalan-jalan. Biar aku mencarinya!"

Kata Hek-bin Mo-ong.

Ketika Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk, Hek-bih Mo-ong tertawa lalu tubuhnya yang gendut bundar itu seperti menggelinding pergi dengan cepat sekali.

Dewa maut berpesta pora di pekarangan kelenteng itu dan mengambil korban nyawa tiga orang hweslo yang selama ini hidup tenteram penuh damai dan pekerjaan mereka hanyalah berdoa dan menolong para penduduk dusun-dusun di sekitar daerah Itu.

Akan tetapi mengapa mereka bertiga mengalami nasib sedemikian buruknya?.

Sejak jaman dahulu, orang selalu bertanya-tanya tentang kenyataan ini, yaitu bahwa betapa banyaknya manusia yang semasa hidupnya nampak begitu baik hati, dermawan, suka menolong sesamanya, juga beribadat, namun kenyataan nya tertimpa malapetaka, bahkan banyak juga yang tewas secara menyedihkan, baik melalui kecelakaan mengerikan, bencana alam, atau juga dibunuh orang.

Banyak orang yang hidupnya nampak baik dan saleh, semua orang menganggap dia seorang budiman, namun hidupnya miskin, berpenyakitan, dan tertimpa malapetaka pula sehingga mengalami kematian yang menyedihkan.

Sebaliknya, banyak pula orang yang pada umumnya dianggap jahat, kejam, kikir, tidak pernah suka menolong sesamanya, bahkan mengingkari Tuhan, namun hidupnya nampak bergelimang kekayaan, selalu nampak senang dan bahkan berumur panjang!

Kenyataan ini merupakan satu di antara rahasia-rahasia kehidupan yang tidak dapat dimengerti manusia, Banyak yang mencoba untuk mengungkap rahasia ini dengan berbagai teori dan dalih.

Ada yang menganggap bahwa hal itu merupakan hukum karma atau hukum sebab akibat atau hukum menanggung akibat perbuatan sendiri, memetik buah dari pohon yang ditanamnya sendiri.

Tanaman pohon ini mungkin dilakukan dalam kehidupan masa lalu, atau ditanam oleh orang tua, nenek moyang dan selanjutnya, Ada pula yang berpendapat bahwa semua keadaan yang tidak menyenangkan itu adalah perbuatan setan yang selalu berusaha untuk menyengsarakan manusia.

Namun, semua itu hanyalah anggapan dan perkiraan belaka yang tidak dapat dibuktikan kebenaran nya.

Hati akal pikiran manusia terlalu terbatas untuk dapat mengungkap pekerjaan Tuhan yang maha besar dan maha rumit.

Ada orang berpendapat bahwa segala yang menyengsarakan manusia, termasuk pekerjaan setan yang selalu ingin menyengsarakan manusia.

Benarkah ini?

Ada pula yang beranggapan bahwa hal ini tidak mungkin karena bukankah penyakit disebabkan kuman-kuman, dan kuman adalah mahluk hidup yang berarti ciptaan Tuhan pula?

Kalau Tuhan Maha Pencipta, berarti bahwa semua kuman dan apa saja yang dapat menyebabkan manusia sakit, baik itu hewan maupun tanaman, adalah ciptaan Tuhan.

Berarti bahwa semua yang menimpa manusia dapat terjadi kalau sudah dikehendaki Tuhan.

Benarkah ini?

Tidak ada yang akan dapat menjawab, karena semua jawabanpun, seperti semua perkiraan tadi, hanya merupakan pendapat belaka, hanya perkiraan dan tidak akan dapat dibukti kan.

Pengertian manusia amat terbatas, terbatas untuk melayani dan mencukup kebutuhan manusia hidup di dunia saja, karena itu, alat berupa hati akal pikiran tidak dapat kita pergunakan untuk menguak dan menjenguk rahasia yang lebih dari pada kebutuhan kita.

Pendapat kita, betapapun indah mengemukakannya, betapa kuat alasan-alasannya, tetap saja hanya berupa pendapat.

Dan pendapat itu sudah pasti dilandasi.

perhitungan untung rugi, Kita pernah mengutuk binatang ular, terutama yang berbisa, sebagai mahluk yang paling jahat, bahkan alat setan, kita kutuk dan kita menasihati anak cucu kita untuk memusuhinya/ membunuhnya setiap kali melihatnya.

Akan tetapi, setelah kini diketahui kegunaan bisa ular, untuk menqobatan, bahkan mungkin dapat menyelamatkan nyawa manusia, setelah kini daging ular dimasak dan dimakan, kulit ular dibuat dompet, tas dan sebagainya, masihkah kita mengumpat dan mengutuk binatang itu?

Semua pendapat memang tak lepas dari pada perhitungan untung rugi bagi kita.

Hujanpun dianggap baik alau menguntungkan dan buruk kalau merugikan., demikin pula panasnya matahari dan segala saja yang berhubungan dengan kehidupan kita.

Pembantaian yang di lakukan tiga orang datuk murid mendiang Sam Mo-ong itu tidak diketahui oleh Han Lin yang sedang mengumpulkan kayu bakar dihutan.

Dia sudah mengumpulkan dengan cukup dan mengikatnya.

Ketika dia sudah bersiap untuk kembali ke kelenteng, tiba tiba terdengar suara suling ditiup orang.

Suara suling itu demikian indah, merdu dan melengking-lengking, tanda bahwa peniupnya ahli.

Datangnya suara suling itu dan puncak bukit.

Han Lin tertarik dan segera dia mendaki puncak untuk melihat siapa gerangan yang meniup suling seindah itu, Setahunya, di sekitar situ tidak ada orang yang pandai meniup suling seperti itu.

Setelah tiba di puncak, Han Lin tertegun.

Dia melihat seorang anak laki-laki remaja, sebaya dengan nya, berpakaian sutera putih-putih dengan pita rambut merah dan ikat pinggang sutera biru, nampak anggun dan tampan sekali, seperti seorang putera bangsawan atau hartawan, Pemuda remaja itu berwajah bundar, dengan hidung mancung besar, matanya lebar dan dia sedang meniup sebatang suling perak yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Pantas saja suara suling itu demikian nyaring melengking, tidak lembut seperti suara suling bambu, pikir Han Lin.

Dia sendiri suka meniup suling, dan dia sudah mahir pula, akan tetapi biasanya dia meniup sebatang suling bambu.

Melihatpun baru sekarang sebatang suling perak seperti yang sedang ditiup pemuda remaja itu.

Karena tertarik, diapun mendekat.

akan tetapi tidak menegurnya karena pemuda itu masih asyik meniup suling.

Setelah lagu yang dimainkan pemuda itu selesai dan dia menghentikan tiupan sulingnya, barulah Han Lin bertepuk tangan memuji.

Pemuda itu, yang tadinya duduk di atas batu, bangkit berdiri dan memandang Han Lin.

Pemuda itu bertubuh tinggi tegap, wajahnya yang tampan itu dihias senyum dingin dan pandang matanya membayangkan ketinggian hati.

"Bagus sekali sobat, kata Han Lin kagum tiupan sulingmu sungguh bagus dan merdu sekali!"

Sepasang mata yang lebar dan tajam itu mengamati Han Lin dari kepala sampai ke kakinya yang mengenakan sepatu kasar, alisnya berkerut, matanya yang lebar tajam itu nampak tak senang.

Namun Han lin juga memperlihatkan kemahirannya.

Dengan mudah dia dapat mengelak dan totokan ketiga ditangkisnya dengan tangan miring dari samping.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------(Maaf ada halaman yang hilang) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------menyerang orang.

Kalau yang diserangnya benar-benar pemuda dusun yang tidak mempunyai kepandaian silat, tentu kepalanya hancur dan akan tewas seketika.

ahhh...!

Dia berseru dan cepat dia mengelak kebelakang sehingga sambaran suling itu lewat di depannya.

Akan tetapi elakan Han Lin itu membuat pemuda itu menjadi penasaran dan semakin marah.

Dia menyerang lagi, kini sulingnya menotok ke arah leher, lalu menurun ke dada dan perut!

Sungguh merupakan jurus serangan maut yang amat dahsyat.

Namun, Han Lin juga memperlihatkan kemahirannya.

Dengan mudah dia dapat mengelak dan totokan ketiga ditangkisnya dengan tangan miring dari samping.

Keduanya terkejut karena masing-masing merasa betapa tangan mereka tergetar "Aha, kiranya engkau bukan bocah dusun petani busuk biasa!

Engkau pandai iImu siIat, keparat!"

Bentak pemuda itu. 'Dan engkau seorang pemuda sombong dan kejam!"

Kata Han Lin yang sudah mulai marah.

"Mampuslah!"

Pemuda itu membentak dan kembali dia menyerang dengan sulingnya, sekarang dia menyerang dengan pengerahan tenaga dan menggunakan jurus maut yang berbahaya karena dia tahu bahwa yang diserangnya bukan bocah dusun sembarangan.

"Engkau patut dihajar!"

Kata Han Lin dan diapun mengelak, lalu membalas dengan jurus pukulan dari ilmu silat Pat-kwa"kun (Silat Segi Delapan).

Namun, pemuda itupun dapat mengelak dan dengan marah sekali dia menggerakkan sulingnya sedemikian rupa sehingga seolah-olah dia bukan memegang sebatang, melainkan belasan batang suling yang menyerang Han Lin bertubi-tubi.

Biarpun dengan langkah-langkah dalam Pat-kwa-kun Han Lin mampu menghindarkan semua serangan, namun dia kewalahan dan tiba-tiba dia menjatuhkan diri bergulingan, di kejar oleh lawannya.

Ketika Han Lin meloncat berdiri lagi, tangannya sudah memegang sebatang ranting kayu dan inilah senjatanya yang istimewa.

Dia memang ketika dilatih Hong-in Sin-pang oleh gurunya, dibiasakan untuk menggunakan segala macam ranting kayu untuk pengganti tongkat.

Ranting atau cabang kayu yang bagaimanapun menjadi senjata ampuh di tangan Han Lin yang sudah menguasai Hong-in Sin-pang cukup baik.

Segera terdengar suara nyaring berulang kali ketika suling bertemu ranting dan sekali ini, pemuda itu yang terkejut bukan main.

Ranting kayu ditangan bocah dusun itu lihai bukan main, membuat permainan sulingnya menjadi kacau.

"Sing-singg....!!"

Beberapa kali pemuda itu meniup dan dari suling peraknya meluncur banyak jarum halus yang menyambar ke arah seluruh tubuh Han Lin.

Namun, Han Lin yang sudah waspada, memutar tongkatnya sambil melompat ke atas dan jarum-jarum itupun runtuh ke atas tanah.

Dari atas, tubuh Han Lin menukik turun dan rantingnya bergerak cepat, berhasil menotok pundak pemuda itu yang mengeluarkan seruan kaget dan terpelanting, Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali dengan muka berubah pucat karena kini dia tahu bahwa lawannya si bocah dusun itu benar-benar lihai bukan main.

Pada saat itu, selagi Han Lin menyambut serangan suling yang semakin ganas dengan rantingnya, ada angin dahsyat menyambar.

Han Lin meloncat untuk mengelak dari serangan gelap yang dilakukan orang dari arah belakangnya itu, namun terlambat.

Serangan itu dahsyat bukan main dan cepat sehingga punggung nya terkena sambaran hawa yang dingin sekali.

Han Lin roboh dan sebelum dia sempat bergerak, pundaknya sudah ditotok orang dan diapun tidak mampu bergerak lagi!

Pemuda yang memegang suling itu ketika melihat Han Lin tidak mampu bergerak lagi, menggerak kan sulingnya menghantam kearah kepala Han Lin.

Pemuda ini tidak mampu bergerak, maka diapun hanya dapat memandang dengan melotot, siap menghadapi kematian.

Dia sudah digem bleng matang oleh Kong Hwi Hosiang sehingga tidak gentar menghadapi kematian yang dengan penuh keyakinan dikatakan gurunya itu bahwa kematian bukanlah suatu akhiran, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan didunia ini.

"PIakk!ll Suling itu terpental dan hampir terlepas dari tangan pemuda itu ketika tertangkis ujung lengan baju Hek"bin Mo-ong. Kiranya Hek-bin Mo-ong yang tadi datang dan merobohkan Han Lih dan kakek gendut muka hitam arang ini yang mencegah si pemuda membunuh Han Lin.

"Susiok Hek-bin (Paman Guru Muka Hitam), kenapa engkau mencegah aku membunuh jahanam dusun ini?"

Pemuda itu bertanya penuh penasaran.

"Seng Gun, bagaimanapun juga, golongan kita pantang membunuh orang yang sudah tidak berdaya seperti pemuda dusun ini. Pula, dia masih kita perlukan Kaukira siapa yang akan menjadi pelayan kita untuk menjamu para tamu nanti? Siapa pula yang akan mencari kan tenaga pelayan dan mencarikan semua keperluan kita?"

"Hek-bin Susiok, apakah kita telah mendapatkan tempat yang baik untuk...."

"Sudah, mari kita pergi, ayahmu dan Pek-bin Susiok telah menanti disana,"

Kata pula Hek-bin Mo-ong.

Kemudian Hek"bin Mo-ong memandang kepada Han Lin.

Pemuda ini sejak tadi telah mengenalnya.

Seorang di antara dua orang aneh yang pernah memukulnya tujuh delapan tahun yang lalu, pikirnya.

Dan orang itu tadi menyebut-nyebut nama Pek-bin susiok untuk pemuda itu,tentu yang di maksudkan orang bermuka putih kapur itu.

Dan pemuda ini adalah murid keponakannya.

"Susiok, pemuda ini cukup Iihai, dia akan membahayakan kita kalau tidak dibunuh."

Kata Seng Gun. Pemuda ini memang cerdik sekali Namanya Tong Seng Gun dan dia adalah putera dari Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui, datuk tertua diantara tiga datuk murid mendiang Sam Mo-ong itu.

"Tentu saja dia memiliki sedikit kepandaian karena dia tentulah murid hwesio pengurus kelenteng di bawah puncak itu. Bukankah benar begitu, orang muda?"

Di dalam hatinya, Han Lin marah sekali kepada mereka ini dan tahu bahwa mereka ini adalah orang-orang yang jahat sekali.

Akan tetapi dia teringat akan semua nasihat gurunya.

Dia harus mengetahui keadaan dan bertindak sesuai dengan keadaan itu, demikian antara lain nasihat gurunya.

Seorang pendekar haruslah tabah dan berani, akan tetapi bukan berani dengan nekat, melainkan berani dengan perhitungan.

Nekat melawan secara membuta dan mati konyol bukanlah keberanian namanya, melainkan kebodohan.

Dan sekarang dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tidak akan mampu dia kalahkan.

Berusaha menyelamatkan diri dalam keadaan seperti sekarang ini bukanlah suatu sifat pengecut, melainkan suatu kecerdikan dan tahu diri.

"Benar, locianpwe. Kong Hwi Ho siang adalah guruku,"

Jawabnya, wajahnya tidak menunjukkan rasa takut, juga tidak membayangkan kemarahan.

Akan tetapi dia merasa heran juga melihat betapa orang gendut muka hitam arang itu menjadi terkejut mendengar jawabannya.

"Kong Hwi Hosiang, katamu? Aha, jadi dia adalah Kong Hwi Hosiang yang amat terkenal itu? Pantas dia lihai, sayang sudah tua renta, ha-ha-ha! Siapa namamu?"

"Namaku Han Lin,"

Kata Han Lin sejujurnya, dan hatinya berdebar. tegang mendengar ucapan si muka hitam ini tentang gurunya.

"Nah, Han Lin, engkau belum bosan hidup, bukan? MuIai sekarang engkau harus menaati perintah kami dan tidak melawan, dan kami tidak akan membunuhmu. Bangunlah,"

Tangan Hek-bin Mo-ong menyambar ke arah pundaknya dan Han Lin mengeluarkan seruan tertahan.

Rasa nyeri yang amat sangat menusuk pundaknya.

Dia kini mampu bergerak, akan tetapi perasaan nyeri di pundaknya itu seperti menembus ke jantungnya.

Dia memejamkan matanya dan seperti dalam mimpi mendengar suara Hek-bin Mo-ong.

"Ha-ha-ha-ha, Han Lin. Pukulanku tadi adalah pukulan yang memasukan hawa beracun ke dalam tubuhmu. Engkau sudah keracunan dan dalam waktu sebulan, kalau tidak kuberi obat, engkau akan mati! Nah, kalau engkau bersikap baik, menaati semua perintahku, sebelum sebulan tentu engkau akan kuobati sampai sembuh. Akan tetapi kalau engkau melarikan diri atau membangkang, engkau akan kubunuh, atau kalau engkau dapat lolos sekalipun, engkau akan mati karena selain aku, tidak akan ada orang yang mampu mengobatimu sampai sembuh."

Akan tetapi, dari bawah pusar di perut Han Lin muncul hawa yang hangat dan sebentar saja rasa nyeri di pundaknya itu lenyap.

Han Lin adalah seorang yang cerdik sekali.

Dia tahu bahwa menurut keterangan gurunya, tubuhnya kebal terhadap racun, maka hawa beracun itupun hanya sebentar saja mempengaruhinya.

Namun, dia pura-pura masih kesakitan, masih menyeringai kesakitan.

"Aku.... aku akan taat,"

Katanya lirih, Bagi dia, bahaya yang mengancam bukan datang dari hawa beracun di tubuhnya itu, melainkan dari orang-orang jahat ini.

Sekali dia dapat meloloskan diri, dia tentu akan selamat.

Yang penting, dia harus memperlihatkan ketaatan agar dipercaya, karena diapun ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan orang-orang jahat yang aneh ini.

Han Lin, hayo kau ikut kami ke kelenteng, kata Hek-bin Mo-ong, dan Han Lin mengangguk, lalu mengikuti mereka kembali ke kelenteng dengan hati merasa tidak enak dan berdebar tegang.

Apa yang telah terjadi dengan suhunya?

Ketika mereka tiba di depan kelenteng dan memasuki pekarangan, Han Lin terbelalak melihat Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio sudah menggeletak menjadi mayat, berserakan di pekarangan itu.

"Suhu! "

Dia lari menubruk jenazah suhunya.

"Suhu...., Cun Suhu Kun Suhu!"

Dia meratap dan menangis.

"Heh-heh-heh, Han Lin, hentikan tangismu seperti anak perempuan yang cengeng saja. Dan kalau engkau tidak menaati kami, engkaupun akan segera menyusul mereka!"

Kata Seng Gun.

Han Lin mengepal tinju dan harus menekan gerahamnya agar tidak sampai didorong menjadi nekad oleh kemarahan dan dendam.

Tidak, pikirnya.

Sekarang bukan saatnya untuk melawan mereka.

Dia akan kalah.

Amukannya tidak akan ada gunanya, sama dengan bunuh diri.

Tiga orang hwesio itu telah dibunuh mereka, hal ini saja membuktikan mereka adalah lawan yang amat tangguh, Dia bukan takut melawan mereka, bukan takut mati, hanya tidak ingin mati konyol dan sia-sia.

Dia harus memperkuat dirinya untuk kelak menentang kejahatan yang luar biasa kejamnya ini.

"Cukup, Han Lin. Tidak perlu banyak menangis lagi. Sekarang, angkat ketiga jenazah itu dan bawa ke kebun belakang. Kita kubur mereka di sana,"

Kata Hek-bin Mo-ong dan pada saat itu, muncullah Pek-bin Mo-ong yang segera dikenal oleh Han Lin.

Orang yang kurus tinggi bermuka putih kapur itu adalah orang kedua orang yang dahulu pernah menyerangnya bersama Hek-bin Mo-ong.

Yang seorang lagi, lebih tua dan juga tubuhnya pendek gendut seperti katak, tidak dikenalnya, akan tetapi melihat sikapnya, agaknya dia menjadi pimpinan mereka berempat.

Diapun dapat menduga bahwa Seng Gun tentulah putera dari si katak gendut itu.

"Hemm, siapa bocah itu dan mengapa engkau bawa dia ke sini,.Hek-bin sute?"

Tanya Kwi jauw Lo-mo sambil mengerutkan alisnya. Mereka mempunyaI tugas rahasia yang penting, maka sungguh bodoh kalau sutenya itu membawa seorang pemuda asing ke situ.

"Ayah, tadi aku hendak membunuh saja bocah ini, akan tetapi Hek-bin Susiok melarangku."

Kata Seng Gun kepada ayahnya dan sikap ini saja menunjukkan bahwa dla seorang anak yang manja dan mengandalkan ayahnya sehingga dia tidak menghormati susioknya.

"Twa-suheng (Kakak seperguruan tertua),"

Kata Hek-bin Mo"ong sambil tersenyum menyeringai.

"Dia adalah murid hwesio tua itu dan tahukah twasuheng siapa hwesio tua yang baru saja tewas ditangan kita ini? Dia adalah Kong Hwi Hosiang!"

"Ahhh?"

Kwi-jiauw Lo-mo dan Pek-bin Mo-ong mengeluarkan seruan kaget.

"Kalau begitu, lebih perlu lagi anak itu harus segera dibunuh!"

Kata Kwi-iauw Lo-mo yang merasa jerih juga mendengar bahwa korban mereka adalah Kong Hwi Hosiang yang memiliki hubungan luas dan nama besar didunia persilatan.

Dia khawatir kalau banyak pendekar akan membela kematian tokoh itu.

Hek-bin Mo-ong tertawa.

"Ha-ha-ha jangan khawatir. Dia sudah kupukul dengan pukulan beracun. Kalau dia membangkang dan melawan, dia akan mati keracunan. Kita dapat mempergunakan dia untuk keperluan kita disini, twa"suheng". Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk-angguk.

"Baiklah, akan tetapi engkau bertanggungjawab mengawasi dia, Hek-bin sute.". Han Lin tidak memperdulikan mereka lagi, tidak memperdulikan apa-apa kecuali mengurus jenazah tiga orang hwesio itu. Mula-mula dia memondong jenazah Kong Hwi Hosiang dan sambil terisak-isak dia membawa jenazah itu ke dalam kelenteng, terus menuju ke kebun belakang seperti yang diperintahkan Hek-bin Mo-ong. Tanpa banyak cakap diapun menggali tiga buah lubang, ditonton dan dijaga oleh Hek-bin Mo-ong dan Tong Seng Gun yang tidak mau membantunya sama sekali. Akan tetapi Han Lin merasa lebih senang tidak dibantu mereka. Sebaiknya dia sendiri, dengan kedua tangannya sendiri menggali lubang kuburan untuk tiga orang hwesio itu, tidak, dikotori tangan orang-orang jahat itu. Tanpa mengenal lelah, dia menggali lubang dan dia kadang-kadang dengan sengaja merintih seperti menahan sakit agar tidak menimbulkan kecurigaan kedua orang itu yang menyangka bahwa dia masih dipengaruhi hawa beracun pukulan Hek-bin Mo-ong tadi. Kemudian dia mengubur tiga buah jenazah itu dan setelah menguruk lubang-lubang itu dengan tanah, dia lalu berlutut sampai lama di depan kuburan gurunya.

"Sudah, cukup! Hayo ikut dengan kami ke kelenteng. Engkau harus membuatkan makanan untuk kami berempat,"

Kata Hek-bin Mo-ong.

"Setelah itu, kau carikan tenaga bantuan dari dusun di bawah sana sebanyak lima sampai sepuluh orang. Kami akan menerima beberapa orang tamu penting malam ini di kelenteng? "

Han Lin tidak menjawab, akan tetapi diapun menurut saja, memberi hormat untuk yang pengha bisan kepada makam gurunya lalu dia bangkit dan mengikuti dua orang itu kembali ke kelenteng.

Ketika mereka memasuki kelenteng dari pintu belakang, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Han Lin mendengar.

suara gaduh di ruangan depan, dan terdengar pula suara Liu Ma!

Sebelum melihat mereka, Han Lin dapat menduga bahwa tentu ibunya itu bersama beberapa penduduk dusun Li-bun, datang kekelenteng untuk bersembahyang seperti yang kadang mereka lakukan pada hari hari tertentu.

Diapun bergegas menuju ke ruangan depan dan di situ memang sedang terjadi keributan.

"Kalian ini siapakah? terdengar suara Ibunya berkata dan agaknya sembilan orang penghuni dusun itu tadi bercekcok dengan Pek-bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo.

"Kelenteng Ini adalah milik kami penduduk dusun, dan kami hendak bersembahyang, kenapa kalian melarang dan menghalangi? Biarkan kami bertemu dengan losuhu, kami hendak bicara dengan dia!"

Ucapan ini dibenarkan oleh yang lain sehingga kembali suasana menjadi gaduh.

Melihat.betapa di antara para pendatang itu terdapat seorang wanita muda yang cukup manis, Hek-bin Mo-ong lalu cepat menghampiri mereka dan dengan mukanya yang selalu tertawa lebar itu dia bertanya.

"Heii, ada apa sih ribut-ribut ini? "

Dia menoleh kepada kedua orang rekannya dan berkata.

"Sungguh kebetulan sekali. Kita membutuhkan bantuan tenaga dan mereka ini datang secara suka rela! Dan nona manis ini dapat menemaniku minum arak heh-heh-heh!"

Setelah berkata demikian, sekali menggerakkan tangan kirinya, tubuh wanita itu seperti terbetot dan tahu-tahu telah terhuyung ke arah Hek-bin Mo"ong dan dirangkulnya!

Wanita muda itu menjerit-jerit dan meronta hendak melepaskan diri, menggunakan kedua tangan untuk memukul dan mencakar ketika sambil terkekeh hek-bin Mo-ong mendekatkan mukanya hendak menciuminya begitu saja di depan-banyak orang!

Melihat ini, Liu Ma menjadi marah sekali dan iapun sudah mendekati si gendut bundar muka hitam itu.

"Engkau ini laki-laki biadab dan jahat! Lepaskan wanita ini! Ia sudah mempunyai suami, lepaskan!"

Liu Ma hendak menarik lepas wanita muda itu, dan teman-temannya yang tadinya gentar menjadi berani.

Merekapun mendekati Hek-bin Mo-ong untuk memaksanya melepaskan wanita muda yang dirangkulnya itu.

Melihat kenekatan ibunya, Han lin terbelalak dengan wajah pucat karena dia tahu bahwa ibunya terancam bahaya maut berani menentang Hek-bin Mo-ong seperti itu.

Maka, diapun cepat melompat, mendekati ibunya.

"Ibu, jangan,...!,Dan dia menyambar tubuh ibunya dan dipondongnya tubuh Liu Ma dan dibawanya keluar dari kelenteng itu. Dia harus menyelamatkan ibunya, harus membawanya lari jauh-jauh dari manusia-manusia berwatak iblis itu. Peristiwa itu terjadi demikian cepatnya sehingga semua orang tertegun. Tiga orang datuk itu sendiri tidak menyangka bahwa Han Lin akan berani melarikan wanita Itu.

"Hek-bin, mereka itu tanggung-jawabmu! "

Kata Kwi-jiauw Lo-mo marah.

Mendengar ini, Hek-bin Mo-ong melepaskan wanita muda yang di rangkulnya tadi dan diapun melakukan pengejaran keluar kelenteng, diikuti pula oleh Seng Gun yang juga merasa penasaran melihat perbuatan Han Lin tadi.

Han Lin maklum bahwa ibunya terancam bahaya maut, hanya itu saja yang dia perhatikan maka dia harus dapat mengajak ibunya melarikan diri.

Setelah tiba di luar kelenteng, dia menurunkan ibunya yang berkeras minta diturunkan.

"Han Lin, apa-apaan engkau ini? Kenapa engkau? "

"Nanti saja, ibu, penjelasannya, Sekarang kita harus melarikan diri.Hayo cepat, bahaya maut mengancam kita"

Katanya dan dia menggandeng tangan ibunya, diajak lari sekuatnya, melalui kebun dan memasuki hutan yang berada di dekat situ.

Dia sudah hafal dengan keadaan di situ dan dia tidak mengambil jalan umum, melainkan menerobos semak dan hutan sehingga Liu Ma beberapa kali mengaduh dan mengeluh karena kakinya tertusuk duri semak belukar.

"Han Lin, berhenti kau, keparat!"

Terdengar teriakan di belakang mereka itu adalah suara Seng Gun yang sudah dekat di belakang, dan disusul suara tawa Hek-bin Mo-ong.

"Ha-ha-ha, bocah tolol, engkau hendak lari ke mana?"

Mendengar suara mereka, Liu Ma berbisik kepada anaknya.

"Han Lin, mereka siapa dan mau apa......."

"Sstt, ibu, orang-orang jahat itu telah membunuh ketiga suhu."

Liu Ma terbelalak dan mukanya pucat sekali dan ketakutan hebat membuat wanita ini seperti mendapatkan tenaga baru untuk berlari cepat.

Han Lin yang menggandeng tangan ibunya menariknya dan mereka mengambil jalan dekat jurang yang tertutup oleh alang-alang tinggi.

Akan tetapi, dua orang pengejarnya itu sudah cepat dapat menyusul dan kini berada di belakangnya.

Han Lin maklum bahwa tidak mungkin ibunya dapat meloloskan diri, maka diapun berkata.

"Ibu, cepat ibu menyusup terus, melarikan diri dan bersembunyi, biar aku yang menahan mereka."

Pemuda itu melepaskan tangan ibunya dan membalik, memasang kuda-kuda dan nekat untuk menyerang agar ibunya dapat lolos.

"Han Lin"

Ibunya berbisik.

"Pergilah, ibu. Dan cepat!"

Pada saat itu, Hek-bin Moong telah datang dekat dan di belakangnya nampak Seng Gun yang tersenyum mengejek.

Han Lin tidak banyak cakap iagi, lalu maju menerjang dan menyerang Hek-bin Mo-ong, menggunakan,sebatang ranting yang tadi dipungutnya dalam pelarian untuk dipakai sebagai senjata.

Ilmu tongkat Hong-in Sin-pang yang dikuasai Han Lin memang hebat dan tadi telah membuat Seng Gun kewalahan, akan tetapi menghadapi seorang datuk seperti Hek-bin Mo"ong, kepandaian nya itu belum ada artinya.

Serangan tongkat Han Lin itu disambut tangan kiri Hek-bin Mo-ong yang tertawa-tawa.

"Krakkk!"

Ranting itu patah-patah dan sebelum Han Lin dapat menghindar, si gendut muka hitam itu menggerakkan tangan kanan dan hawa dingin yang amat dahsyat menyambar ke arah.

Han Lin.

Pemuda ini, tidak mampu bertahan lagi dan diapun terlempar dan terjungkal ke dalam jurang!

Pada saat itu, Liu Ma yang tidak mau pergi meninggalkan anaknya begitu saja dan mengintai dari balik ilalang, ketika melihat Han Lin terjungkal ke dalam jurang, segera berlari keluar dan menuju tepi jurang.

"Han Liiiinnn.. anakkuuu...!"

Dan wanita itupun melompat ke dalam jurang menyusul pemuda yang amat dikasihinya dan telah dianggap sebagai anaknya sendiri itu.

Lengkingan teriakan Liu Ma terdengar panjang dan bergema, lalu terdiam dan disusul kesunyian yang mencekam.

pek-bin Mo-ong dan Seng Gun menjenguk ke bawah jurang dan mereka tertawa.

Mereka yakin bahwa dua orang itu sudah pasti telah tewas dengan tubuh remuk karena jurang itu amat dalam dan curam.

Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke kelenteng.

Jauh di bawah, di lereng jurang yang curam, Han Lin bergantung kepada sebatang pohon.

Dia menggigit bibir memejamkan matanya ketika Liu Ma meloncat ke dalam jurang.

Air matanya bercucuran melalui kedua pipinya akan tapi dia menahan diri agar tidak mengeluarkan suara tangis.

Setelah menanti agak lama, barulah dia menuruni lereng jurang yang curam itu, berpegang kepada batu-batu dan akar"akar yang me nonjol keluar dan akhirnya dia tiba di dasar jurang.

Dia menubruk tubuh Liu Ma yang telah menjadi mayat di dasar jurang itu dan menangis.

Kadang-kadang dia mengepal tinju dan mengeluarkan suara geraman penuh kedukaan, kemarahan, sakit hati dan dendam.

Tiga orang hwesio itu telah dibunuh, dan sekarang wanita yang telah dianggapnya sebagai peng ganti orang tuanya, dibunuh pula.

Biarpun dia tahu bahwa ibunya mati membunuh diri dengan terjun ke dalam jurang, namun penyebab kematiannya adalah manusia-manusia iblis itu.

Akan tetapi dalam keadaan amarahnya berkobar seperti api itu, terngianglah di telinganya nasihat-nasihat Kong Hwi Hosiang bahwa dendam kebencian dan kemarahan adalah racun bagi diri sendiri.

Dendam kebencian dan kemarahan adalah nafsu yang mendorong orang melakukan perbuatan kejam demi membalas dendam, dan perbuatan yang kejam, yang didasari kebencian, adalah perbuatan jahat.

Perbuatan jahat bagian bibit pohon beracun yang kelak buahnya akan dimakan sendiri oleh si pembuat!

"Tidak, aku tidak boleh mendendam..

ah, ibu....

ibuuuu...."

Dia meratap-ratap, lalu dia memaksa diri menggunakan batu yang runcing untuk menggali lubang di dasar jurang itu.

Dia menguburkan jenazah Liu Ma dengan sederhana namun penuh khidmat, dengan curan air mata, kemudian dia berlutut di depan makam yang hanya merupakan segundukan tanah berbatu-batu.

"Liu Ma yang setia, engkau telah menjadi ibu bagiku ibu yang penuh kasih sayang, penuh kesetiaan, semoga engkau mendapatkan tempat yang layak disana "

Setelah penguburan selesai, barulah dia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit, lengan kanannya nyeri bukan main kalau dia gerakkan.

Agaknya lengan itu terkilir.

Ketika tadi tubuhnya melayang ke bawah jurang, entah bagaimana, kebetulan sekali tangannya mencengkeram ke sana sini dan tangan kanannya berhasil mencengkeram batang pohon yang tumbuh di lereng tebing jurang sehingga tertahan dan dia selamat Kini, baru terasa betapa lengan kanannya itu agak membengkak dan nyeri sekali, terutama di bagian sambungan lengan di pundak.

Juga, pukulan Hek-bin Mo-ong tadi masih terasa, membuat dadanya terasa sesak dan dingin..

Semua itu ditambah Lagi pengerahan tenaganya ketika menggali tanah berbatu di dasar jurang untuk membuat lubang kuburan.

Kini, dia kehabisan tenaga dan mengeluh panjang, lalu terkulai pingsan di depan gundukan tanah kuburan Liu Ma.

Sepuluh tahun yang lalu, dalam tahun 766, kekuasaan Kerajaan Tang dapat berdiri kembali di kota raja Tiang an, setelah selama sepuluh atau sebelas tahun (755 -766) kerajaan itu dikuasai para pemberontak, dimulai dengan pemberontakan An Lu Shan, kemudian puteranya, An Kong, dan terakhir di kuasai oleh Sia Su Beng.

Kaisar Hsuan Tsung (712 -755) melarikan diri mengungsi ketika dalam tahun 755 An Lu Shan, seorang panglima yang dipercayanya dan yang bertugas menjaga perbatasan utara, melakukan pemberontakan dan menduduki ibu kota atau kota raja Tiang"an.

Kaisar Hsuan Tsung mengungsi ke barat, dan setahun kemudian menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya, pangeran mahkota yang kemudian menjadi penggantinya, yaitu Kaisar Su Tsung.

Dengan adanya panglima besar Kok Cu It yang setia dan pandai, maka Kerajaan Tang itu tidak pernah patah semangat.

Panglima Kok Cu It menyusun kekuatan di barat, dan dengan bantuan banyak suku bangsa barat dan utara, di antaranya bangsa Tibet, Turki dan banyak Lagi suku bangsa kecil-kecil, akhirnya dalam tahun 766, Kaisar Su Tsung berhasil menguasai kembali kota raja Tiangan dan pemberontakan dapat dipadamkan.

Tentu saja semua ini adalah jasa Panglima Kok Cu It.

Namun, berhasiLnya Kerajaan Tang bangkit kembali ini tidak disambut dengan gembira oleh rakyat.

Banyak penyair menuliskan syair yang menggambarkan keadaan Kerajaan Tang sebagai "mengusir harimau dengan bantuan segerombolan srigala!"

Gambaran ini memang tidak terlalu berlebihan.

Ketika Kerajaan Tang dijatuhkan oleh para pemberontak, maka yang berkuasa adalah pemberon tak yang bagaimanapun masih merupakan gabungan bangsa Han dan bangsa Khitan.

Setidaknya, yang berkuasa adalah bangsa sendiri.

Kemudian, Kerajaan Tang berkuasa kembali dengan bantuan orang orang asing dan setelah kota raja berhasil diduduki dan pemberontak dapat dibasmi, orang-orang asing ini tidak mau lagi meninggalkan daerah pedalaman yang subur, dengan kota-kotanya yang indah, dengan adanya segala macam kesenangan yang tidak dapat mereka temukan di tempat tinggal mereka yang tandus dan terbelakang!

Bagi rakyat, keadaan kehidupan mereka jauh lebih baik ketika dikuasai pemberontak An Lu Shan sampai Sia Su Beng dibandingkan sekarang karena mereka dirongrong oleh orang"orang Tibet, Gurkha, Turki, Biauw, dan masih banyak lagi Ada pula orang-orang Mongol dan Mancu.

Dan mereka ini seperti seriga-serigala kelaparan yang memasuki kandang domba.

TerjadiLah kekerasan di mana-mana, perampokan,penganiayaan, perkosaan sehingga rakyat amat menderita.

Panglima Kok Cu-It sendiri kewalahan menghadapi keadaan seperti itu.

Kalau ditindak dengan keras, tentu tidak enak sekali mengingat bahwa orang-orang asing itu telah berjasa nembantu Kerajaan Tang memperoleh kembali kekuasaannya.

Kalau dibiarkan, rakyat yang menderita.

Akhirnya, perlahan-lLahan sehingga berlarut-larut sampai sepuluh tahun lebih lamanya, baru Kerajaan Tang berhasil membujuk para pimpinan suku-suku asing itu untuk?

meninggalkan wiiayah Kerajaan Tang?' tentu saja setelah mereka itu di berikan yang banyak berupa barang-barang berharga, bahkan gadis-gadis cantik.

Kerajaan Tang sampai menguras habis kekayaannya untuk diberikan kepada mereka sebagai bekal!

Biarpun gerombolan-gerombolan suku asing itu telah pergi, dan kota raja Tiang-an tidak dipenuhi lagi orang-orang asing yang berkeliaran, namun Kerajaan itu masih tidak lepas dari rongrongan para suku bangsa asing itu di sebelah barat dan utara.

Terutama sekali dari bangsa Tibet dan Mongol.

Juga, kelemahan kerajaan ini membuat para pejabat tinggi daerah banyak yang bertindak sewenang-wenang, hidup sebagai raja kecil dan ada kecenderungan untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat di Tiang-an.

Kelemahan pemerintah mendatangkan kekacauan pula di dunia kangouw, juga di dunia persilatan, para pendekar seolah saling bersaing dan hal ini didukung pula oleh perkumpulan-"perkumpulan agama yang kini bangkit kembali secara liar setelah dahulu pernah ditertibkan oleh Kaisar Hsuan Tsung atau Beng Ong.

Kini semua aliran agama bermunculan seperti cendawan di musim hujan, di antaranya, perkumpu lan atau aliran agama yang terbesar, tidak termasuk puluhan macam yang kecil-kecil, adalah seperti berikut .

Aliran agama Ru, dengan nabi atau guru pertamanya Khong-cu (Confucius, 551 -479 sebelum Masehi), Aliran ini mengutamakan Li (upacara, aturan), menganjurkan tata-masyarakat feodal, menggolong-golongkan manusia dengan kedudukannya dan tugasnya di tempat masing-masing.

Ada atasan dan ada pula bawahan, ada pihak tua dan pihak muda dengan sikap menurut cara yang ditentu kan oleh Li.

Bahkan rajapun mempunyai atasan yaitu langit sebagai pengganti kekuasaan Tuhan.

Dan rajapun mendapat sebutan Putera Langit.

Di samping Li, juga Khong-cu menganjurkan Jin (Kemanusiaan) dan Gi (Keadilan).

Terutama sekali raja diharuskan memiliki semua ini karena raja merupakan panutan rakyat.

Biarpun aliran Ru ini bukan merupakan agama dengan upacara tertentu, tidak mempersoaLkan keadaan sesudah mati, tidak pula menyinggung tentang Ketuhanan melainkan lebih condong kepada Kemanusiaan, namun karena kebudayaan yang dibawanya telah meresap ke dalam kalangan atas, dari raja sampai kepada para bangsawan tinggi, maka tetap berpengaruh.

Aliran agama Mo menganggap Mo Ti (490 -403 sebelum Masehi) sebagai guru besarnya.

Pada dasarnya aliran Mo Ti ini mengutamakan cinta kasih sesama, mencari kebahagiaan batin bukan karena duniawi, oleh karena itu menganjurkan agar kita menjauhi kemewahan.

Bahkan mereka menentang upacara-upacara yang memboroskan, menentang musik, juga menentang perang antara manusia.

Mereka lebih condong untuk mengejar dan memperdalam ilmu pengetahuan.

Pada umumnya, anggauta aliran ini amat setia dan taat kepada pimpinan mereka, bahkan siap mengorbankan nyawa apa bila hal itu dikehendaki sang pemimpin.

Justeru karena berlumba dan bersaing dalam ilmu, termasuk ilmu silat, banyak di antara para anggautanya bahkan terperosok ke dalam pertentangan dan permusuhan dengan kelompok lain, karena tidak mau kalah.

Aliran agama To, mereka menganggap Lo-cu (diperkirakan sejaman dengan Khong-cu) sebagai nabi mereka.

Agama ini menganjurkan persatuan dengan alam, dan tunduk terhadap hukum alam.

Aliran ini, sebaliknya dari aliran Ru yang mengikuti ajaran Khong-cu, mengesampingkan urusan kehidupan di dunia, melainkan lebih menerawang tentang kekuasaan yang mereka hanya namakan To yang sesungguhnya tidak bernama.

Mereka menamakan To sebagai yang terahasia, yang mencakup segalanya, mengatur segalanya dan hidup di dunia ini seyogianya membiarkan To bekerja.

Karena To dapat diartikan mirip dengan yang kita namakan Kekuasaan Tuhan, maka agama To ini lebih condong kepada Ketuhanan.

Namun, karena banyak rahasia terkandung di dalamnya, maka dengan sendirinya berkembanglah suatu cara untuk memperoleb kekuatan yang ajaib, dan aliran ini membentuk banyak manusia aneh yang memiliki ilmu kepandaian yang aneh-aneh pula.

Mereka juga mempelajarj perbintangan, dan banyak di antara mereka yang menjadi peramal, ahli sihir dan sebagainya.

Aliran agama Beng (Beng kauw) berasal dari Persia (Iran) dan pendiri nya yang dianggap guru besar mereka adalah seorang putera bangsawan Persia bernama Mani.

Oleh karena itu, Bengkauw (Agama Terang) juga disebut Manichaeism.

Agama ini masuk di Cina Barat setelah abad kedua Masehi.

Di dalam agama ini, seperti juga keadaan pendirinya, terdapat pengaruh agama Kristen Mithraism, dan juga Magism dari Persia.

Mani sendiri menamakan dirinya Duta Terang, dan menurut ajarannya, dalam alam semesta terdapat dua kekuasaan, Terang dan Gelap yang bertentangan.

Setan terlahir di Kekuasaan Gelap.

Dalam aliran ini juga berkembang aturan-aturan aneh yang bagi orang biasa terasa amat ganjil.

Apa lagi kalimat yang biasa mereka ucapkan, sungguh membuat orang menjadi bingung.

Memang kata-kata mereka terkadang membuat orang yang mendengar menjadi kacau pikirannya.

Mereka suka mempergunakan kalimat dengan arti yang berlawanan seperti "kuda putih bukan kuda", anjing hitam adalah putih"

Dan sebagainya.

Namun, para penganutnya, terutama para pimpinannya, banyak yang memiliki ilmu kepandaian silat yang aneh dan tinggi, maka Bengkauw ini cukup disegani, dan oleh banyak kalangan dianggap sebagai golongan sesat karena keanehan mereka..

Aliran Im Yang (positip dan negatip) menganggap alam terbentuk.

atas ngo-heng (lima unsur) yang menjadikan im"yang (positip dan negatip).

Dua kekuatan ini yang membuat segala sesuatu berputar dan bergerak, yang menimbulkan kekuatan.

Di antara semua aliran, aliran inilah yang melahirkan banyak sekali ahli nujum dan peramal yang kenamaan, karena aliran ini paling tekun dan mendalam mempelajari tentang peredaran matahari, bulan, bintang, musim dan gejala aneh termasuk bencana alam.

Juga ilmu silat mereka dipengaruhi pelajaran ini.

Aliran Fa, juga berkembang sekitar abad ke empat sebelum Masehi, merupakan aliran yang sesuai dengan namanya, yaitu Fa (Hukum).

Menurut aliran ini, seluruh alam maya pada dapat bergerak dan berjalan secara teratur dan lancar berkat adanya Hukum.

Oleh karena itu, sebuah kerajaan haruslah"

Menegakkan hukum, karena hanya hukum yang akan mampu mengatur pemerintahan sehingga berjalan dengan lancar dan baik.

Baca Juga: Raja Pedang 6

Baca Juga: Naga Beracun 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert