Eps 2 Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo.
Dengan adanya hukum, maka kedudukan raja akan menjadi kokoh kuat, berwibawa, dan rakyat jelata hidup makmur karena semua orang menaati hukum yang berlaku.
Aliran Fa ini banyak dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan yang lalu, di antaranya Kerajaan Cin yang dikuasai oleh Tsin Shih Huang-ti (221 -210 sebelum Masehi).
Shih Huang-ti ini mempergu nakan aliran Fa, dengan segala kekerasan menjalankan hukum sehingga akhirnya dia berhasil menundukkan seluruh negeri dan berhasil menggalang persatuan melalui kekerasan.
Justeru disini letak kekuatan aliran Fa, jaitu menegakkan hukum dengan kekerasan.
Demikianlah beberapa di antara aliran-aliran yang besar dan berpengaruh.
Masih terdapat banyak aliran yang merupakan perpecahan dari aliran-aliran besar.
Tentu saja selain beberapa aliran itu, masih terdapat agama Buddha yang amat besar pengaruhnya, juga agama Kristen yang mengalami perkembangan yang bercampur dengan filsafat tradisionil.
Karena Kerajaan Tang dalam keadaan lemah, dan banyak gerombolan pengacau mempergunakan kesempatan mengail di air keruh, maka aliran-aliran itupun mendapat angin.
Banyak pula di antara mereka yang dimasuki gerombolan dari suku-suku dari barat dan utara, berlumba untuk mengeduk keuntungan dan kekuasaan.
Tiga orang datuk murid Sam-mo-ong juga tidak lepas dari pada pengaruh kelompok orang Mongol yang berhasil menarik mereka menjadi kaki tangan kepala suku Mongol.
Karena maklum hanya mempergunakan kekuatan anak buah saja mereka tidak akan dapat menguasai pedalaman, maka orang"orang Mongol itu lalu mengutus tiga orang datuk untuk mengadakan hubungan dengan para pemimpin aliran Fa atau Hoat, mengharapkan bahwa aliran itu akan dapat membantu mereka menguasai daerah perbatasan di utara, untuk kemudian, kalau keadaan memungkinkan, mengem bangkan dan memperluas daerah kekuasaan mereka jauh ke selatan.
Demikianiah, kemunculan Kwi-jiauw Lo-mo, Hek-bin Mo"ong dan Pek-bin Mo-ong di Bukit Ayam Emas itu ada hubungannya dengan tugas mereka mengadakan hubungan dengan para pimpinan Hoatkauw yang berpusat di propinsi Kuang-si.
Mereka mencari tempat yang aman dan cukup sepi, dan tempat itu mereka merasa cocok, jauh dari pasukan keamanan pemerintah, juga di situ mereka dapat melakukan pertemuan dengan aman, tidak diketahui oleh golongan lain.
Selain itu, juga orang-orang dusun itu mudah mereka paksa untuk membantu mereka menjamu para pimpinan Hoat-kauw.
Orang-orang yang datang bersembahyang melihat betapa Liu Ma dan Han Lin lenyap, dan mereka ketakutan sekali, terutama setelah wanita muda yang tadi dirangkul Hek-bin Mo-ong, setelah dilepaskan, saking takutnya wanita itu lalu lari menubruk dinding, sengaja membenturkan kepalanya pada dinding dan iapun roboh dan tewas dengan kepala retak berlumuran darah.
Kwi-jiauw Lo-mo mengerutkan alisnya, tak senang dengan adanya gangguan itu yang semua disebabkan ulah Hek-bin Mo-ong yang mata keranjang.
"Kalian semua harus menaati kami, kalau tidak, kalian semua akan kami siksa seorang demi seorang sampai mati!"
Mendengar ini, tujuh orang pengunjung kelenteng itu, dua orang wanita setengah tua dan lima orang pria, menjadi ketakutan dan mereka menjatuhkan diri berlutut.
"Kami..., kami tidak berani kami akan taat...."
Kata seorang diantara mereka, yang laki-laki dan yang masih mampu mengeluarkan suara.
"Bagus begitu!"
Kata Kwi-jiauw Lo-mo.
"Sekarang, kalian lima orang laki-laki cepat bawa mayat ini ke kebun belakang dan kubur di sana, dan kalian dua orang wanita, cepat pergi ke dusun dan carikan kami daging ayam dan babi, juga sayur-sayuran, beras dan minuman arak. Nih uangnya dan cepat kalian kembali ke sini, minta bantuan orang dusun untuk membawakan semua itu. Beli sebanyak yang cukup untuk menjamu sepuluh orang dan awas, jangan macam-macam. Kalau kalian tidak menaati perintah kami, kepala kalian akan menjadi seperti ini!"
Kwi-jiauw Lo-mo menepuk singa-singaan batu dengan tangan kirinya dan kepala singa-singaan batu itu hancur berkeping-keping. Tentu saja tujuh orang itu menjadi pucat dan semakin ketakutan.
"Dan kalau kalian mengajak penduduk dusun untuk menentang kami, dusun Li-bun akan kami bakar dan semua penghuninya kami lemparkan ke dalam api!"
Dua orang wanita itu hanya mengangguk-angguk, tidak berani mengeluarkan suara saking takutnya.
Mereka menerima beberapa potong perak dari Kwi-jiauw Lomo lalu pergi meninggalkan kelenteng, sedangkan lima orang pria itu segera mengangkat jenazah wanita yang membunuh diri dan membawanya ke kebun belakang untuk dikubur.
Dusun Li-bun menjadi geger ketika dua orang wanita itu pulang sambil menangis dan mencerita kan semua peristiwa yang terjadi di kelenteng, betapa Liu Ma dan Han Lin dikejar kakek gendut muka hitam dan lenyap, betapa wanita muda itu dihina olehnya dan membunuh diri dengan mem benturkan kepala kedinding, dan lima orang pria ditahan di sana dan disuruh mengubur jenazah wanita yang membunuh diri.
Suami wanita itu menangis dan hendak nekat pergi ke kelenteng, membalaskan kematian isterinya.
Akan tetapi dua orang wanita itu memegangi tangannya sambil menangis, melarangnya pergi karena tiga orang kakek dan seorang pemuda yang kini menguasai kelenteng nampaknya bukan orang biasa.
"Kakek yang gendut seperti katak itu tadi menampar kepala singa-singaan batu dan kepala singa itu hancur berantakan. Kami takut sekali dan kalau engkau nekat kesana, berarti hanya mengantar nyawa."! Kepala dusun itu segera datang dan dan mendengar laporan dua orang wanita itu, dia mengerutkan alisnya.
"Dan di mana adanya tiga orang losuhu yang mengurus kelenteng?"
Tanyanya.
"Kami tidak tahu, mereka tidak nampak. Akan tetapi menurut pendengaran kami dari percakapan manusia-manusia iblis itu, agaknya tiga orang losuhu juga sudah mereka bunuh. Dan kamipun khawatir sekali akan nasib Liu Ma. Ia dilarikan anaknya ketika itu, kemudian dikejar oleh si gendut muka hitam dan kami mendengar teriakan mengerikan dari Liu Ma yang memanggil anaknya, kemudian tidak terdengar apa-apa lagi."
Dua orang wanita itu lalu menceritakan betapa mereka berdua diberi perak dan disuruh berbelanja untuk membuat masakan, untuk menjamu sepuluh orang di kelenteng itu.
"Aku harus membalas kematian isteriku!"
Suami yang kehilangan isterinya itu berseru dan teman-temannya juga mendukung nya. Kepala dusun ya.ig sudah setengah tua itu mengangkat kedua tangan minta agar warganya tenang.
"Memang kita tidak dapat membiarkan saja orang jahat menguasai kelenteng kita itu. Akan tetapi menurut keterangan dua orang ini, mereka adalah orang-orang yang tangguh dan lihai oleh karena itu, kita tidak boleh gegabah dan menyerang begitu saja. Kita harus menghimpun tenaga yang ada, karena hanya dengan jumlah yang banyak saja kita akan mampu menandingi dan mengusir mereka dari sini."
Semua orang menyatakan setuju dan setelah semua laki-"laki di dusun Li-bun dikumpulkan, jumlah mereka ada tigapuluh orang lebih, dari yang berusia duapuluh sampai empatpuluh tahun.
Yang usianya kurang dari duapuluh dan lewat empatpuluh, dilarang ikut pergi oleh kepala dusun.
Kemudian, berbondong-bondong mereka mendaki bukit itu menuju kelenteng, dipimpin sendiri oleh kepala dusun Can.
Kepala dusun Can adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dan usianya sekitar empatpuluh lima tahun, namun dia seorang pemberani dan dibandingkan para penghuni dusun lainnya, dia merupakan seorang terpelajar karena pernah lama tinggal di kota dan juga pernah mempelajari.
sastera sampai cukup.
Lurah ini pula yang oleh Liu Ma diminta untuk mendidik Han Lin dalam iImu sastera.
Hari telah menjelang senja ketika rombongan penghuni dusun Li-bun tiba di luar pekarangan kelenteng yang nampak sunyi itu.
Akan tetapi sebetulnya tempat orang yang kini menguasai kelenteng itu memandang kepada rombongan orang itu dengan senyum mengejek, sedangkan Iima orang penduduk dusun yang tadi mengubur jenazah wanita muda yang membunuh diri, terbelalak dan khawatir sekali melihat para rekan sedusun berbondong-bondong naik ke situ.
Karena ngeri membayangkan ancaman para datuk sesat itu bahwa kalau orang dusun Li-bun berani menentang mereka, dusun Li-bun akan dibakar dan semua penghuni nya akan dibunuh, lima orang itu lalu berlari ke pekarangan dan mengangkat ke dua tangan tingi-tinggi ke atas untuk mencegah mereka melakukan penyerbuan.
"Can chung-cu (Lurah Can), perlahan dulu!"
Teriak lima orang itu. Lurah Can segera maju menghadapi mereka.
"Kenapa kalian menahan kami? Kalau kelenteng kami dirampas orang, dan ada penduduk dusun yang tewas, kami tidak mungkin dapat berdiam diri saja. Sepatutnya kalian berlima juga membantu kami!"
"Tidak, Jangan"
Lalu lima orang itu berbisik-bisik, memberitahu bahwa tiga orang hwesio pengurus kelenteng juga sudah tewas terbunuh dan jenazah mereka sudah dikubur di kebun kelenteng di belakang.
Juga bahwa empat orang itu bukan orang-orang sembarangan, namun memiliki ilmu kepandaian seperti iblis.
Sementara itu, Seng Gun tidak sabar melihat rombongan orang dusun berkerumun di luar pekarangan kelenteng itu.
"Ayah, monyet-monyet dusun itu sudah bosan hidup, biar aku yang membasmi mereka semua!"
Akan tetapi Kwi-jiauw Lo-mo meng geleng kepala.
"Mereka itu tidak ada harganya dibunuh semua, hanya orang-orang dusun dan kalau dibunuh semua hanya akan merepotkan saja, Kesempatan ini baik sekali untuk menguji kepandaianmu, Seng Gun. Aku menghendaki engkau membunuh dua tiga orang pimpinan mereka saja, dan mengalahkan mereka akan tetapi tidak membunuh agar mereka semua selanjutnya patuh dan tidak berani lagi mengganggu kita."
"Baik, ayah!"
Kata Seng Gun gembira dan pemuda ini lalu meloncat keluar dan menyambut tigapuluh orang lebih itu di pekarangan kelenteng yang luas.
Sementara itu, para penghuni dusun ketika mendengar keterangan lima orang rekan mereka bahwa tiga orang hwesio kelenteng itu telah dibunuh oleh para penjahat yang menguasai kelenteng, menjadi semakin penasaran dan marah.
Kepala dusun Can juga tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Dia melangkah maju bersama dua orang pembantunya yang di dusun itu terkenal sebagai orang-orang yang tangguh dan bantuan mereka itulah yang membuat kepala dusun Can dapat memimpin dusunnya dengan adil.
Kepala dusun agak ragu melihat bahwa yang muncul menyambut mereka adalah seorang pemuda remaja berusia belasan tahun yang berpakaian sastrawan serba putih dan lagaknya anggun dan angkuh.
Pemuda itu berdiri di pekarangan sambil bertolak pinggang dan wajahnya yang tampan tersenyum mengejek.
Karena pemuda remaja itu nampak tampan dan seperti bangsawan, sama sekali bukan seperti penjahat, kepala dusun Can bersikap hati-hati.
"Orang muda, siapakah engkau dan kami ingin bicara dengan mereka yang telah membunuh hwesio dan beberapa orang penduduk dusun kami."
Seng Gun tersenyum akan tetapi pandang matanya yang tajam, itu memandang dingin.
"Anggap saja aku yang telah membunuhi mereka karena mereka menentang kami. Nah, kalau kalian tidak ingin mengalami nasib seperti mereka, pergilah dan jangan menentang kami!"
Tentu saja kepala dusun Can terbelalak mendengar ucapan itu.
Bocah begini tampan dan nampak terpelajar, kenapa dapat bersikap begini sombong dan kejam?
Dia mendengar laporan dari dua orang wanita tadi bahwa iblis-iblis itu adalah tiga orang kakek lihai, dan pemuda tampan ini tentulah murid mereka.
Tiba-tiba dia mendapat pikiran yang dianggapnya amat baik.
Kalau mereka menawan pemuda ini, tentu tanpa kekerasan mereka dapat menjadi kan"
Pemuda ini sebagai sandera dan minta kepada tiga orang kakek itu untuk menyerahkan diri untuk diseret ke pengadilan!
"Kita tangkap pemuda ini!' katanya kepada dua orang pembantunya.
Dua orang pembantu itu boleh diandalkan.
Mereka berdua memiliki tenaga besar dan juga pandai silat.
Pendeknya, untuk dusun Li-bun dan sekitarnya, dua orang pembantu kepala dusun Can ini merupakan orang-orang yang tangguh.
Sambil membeniak nyaring, dua orang itu menubruk dari kanan kiri untuk menangkap Seng Gun, dan kepala dusun Can juga menerjang ke depan untuk membantu mereka menangkap pemuda itu untuk dijadikan sandera.
Akan tetapi, pemuda yang mereka tubruk itu tiba-tiba saja lenyap dari depan mereka karena sudah meloncat ke atas dengan gerakan yang ringan sekali.
Mereka terkejut dan cepat memandang ke atas.
Tubuh Seng Gun yang tadinya meloncat ke atas, kini menukik ke bawah dan sebatang suling perak telah berada di tangannya dan ujung suling itu menempel di mulutnya.
"Srr!!"
Tiupan itu amat kuat dan nampak sinar hitam menyambar kebawah, ke arah kepala desa Can dan dua orang pembantunya.
Serangan itu demikian mendadak dan tidak terduga-duga.
Apa lagi kepala desa Can, sedangkan dua orang pembantunya saja tidak menduga sama sekali dan sinar hitam itu menyambar dari jarak dekat, dari atas dan dengan kecepatan kilat, maka merekapun tidak sempat menghindarkan diri.
Tiga orang itu tiba-tiba saja terpelanting dan berkelojotan, lalu terdiam dan tewas dalam keadaan mengerikan karena muka mereka berubah kehitaman.
Kereka telah menjadi korban jarum-jarum beracun yang ditiupkan melalui suling dan mengenai muka dan leher mereka.
Melihat betapa kepala dusun Can bersama dua orang pembantunya tewas, para penduduk dusun Li-bun terkejut dan marah bukan main.
Karena merasa bersedih merekapun menjadi nekat dan sambil berteriak-teriak mereka mau mengeroyok Seng Gun dengan segala macam senjata yang mereka bawa dari rumah, yaitu alat-alat bertani dan berkebun seperti cangkul, parang, linggis, kapak dan sebagainya.
Dan Seng Gun lalu mengamuk.
Pemuda ini merasa gembira sekali mendapatkan kesempatan untuk menguji kepandaiannya.
Dia menaati pesan ayahnya dan tidak melakukan pembunuhan Dengan suling peraknya di tangan, dia mengamuk, menyambut terjangan puluhan orang itu dan dia menangkis dengan pengerahan tenaga, membuat banyak senjata para pengeroyok terpental dan terlempar, dan dia merobohkan mereka satu demi satu dengan tendangan.
tamparan tangan kiri, juga totokan sulingnya tanpa pengerahan tenaga yang terlalu kuat sehingga tidak ada di antara mereka yang sampai tewas.
Dalam waktu singkat saja, kurang lebih tigapuluh orang itu sudah roboh semua dan biarpun tidak ada yang menderita luka parah, namun mereka menjadi jerih dan tidak berani lagi melanjutkan pengeroyokan.
Kini, tiga orang kakek itu keluar dan Kwi-jiauw Lo-mo tertawa senang melihat kemajuan puteranya.
"Bagus, Seng Gun."
Pemuda itu berdiri dengan mulut tersenyum dan wajah berseri. Hek bin Mo-ong lalu berseru dengan suara nyaring kepada semua orang yang. masih nampak terkejut, jerih dan juga gelisah itu.
"Kalian masih diampuni, akan tetapi kalau kami melihat penduduk Li-bun masih berani menentang kami, dusun itu akan kami bakar dan kalian semua beserta seluruh keluarga kalian akan kami bunuh! Nah, bawa pergi mayat-mayat ini dan jangan sekali-kali berani ke sini kalau tidak kami panggil!"
Para penduduk dusun itu tidak berani banyak cakap lagi.
Mereka menggotong mayat tiga orang itu dan menuruni bukit dengan wajah muram.
Lima orang warga dusun yang pertama tidak berani pergi karena mereka telah diberi tugas untuk bekerja melayani para datuk itu, dan dua orang wanita yang menerima tugas memasak dan menyediakan bahan masakan, sudah datang dan dibantu oleh beberapa orang menggotong semua bahan masakan yang mereka beli.
Pada malam hari, setelah matahari tenggelam di kaki langit barat dan hari berubah menjadi gelap, muncullah tamu-tamu yang dinanti oleh tiga orang datuk sesat itu.
Dan kemunculan lima orang tamu inipun seperti setan saja.
Tahu-tahu mereka telah muncul di pekarangan kelenteng itu.
Seng Gun yang oleh ayahnya ditugaskan berjaga di ruangan depan kelenteng, terkejut dan kagum.
Lima orang tamu itu benar-benar hebat, tanpa mengeluarkan suara, juga tidak nampak bayangan mereka datang, tahu-tahu sudah berdiri disitu, berjajar bagaikan patung, tidak mengeluarkan suara, namun mereka berdiri tegak dengan sikap berwibawa.
Inilah lima orang yang oleh ayahnya dan dua orang susioknya disebut sebagai Bu-tek Ngo Sin-liong (Lima Naga Sakti Tanpa Tanding)!
Mereka adalah tokoh-tokoh besar dari perkumpulan atau aliran Hoat-kauw dan kabarnya mereka memiliki tingkat ilmu kepandaian yang hebat, bahkan menurut ayahnya, tingkat mereka sudah sebanding tingkat ayahnya dan dua orang susioknya!
Bukan main!
Padahal, selama ini dia selalu beranggapan bahwa di dunia.
persilatan, ayahnya dan dua orang susioknya merupakan datuk-datuk tanpa tanding!
Apa lagi setelah melihat perwujutan mereka, hatinya meragu.
Dia sudah mendapat keterangan jelas dari ayahnya mengenai lima orang tokoh ini dan setelah kini mereka berada di pekarangan, wajah mereka disinari lampu-lampu gantung di depan kelenteng, dia dapat mengenal mereka satu demi satu.
Orang pertama dari Lima Naga Sakti itu adalah Ang-sin"liong (Naga Sakti Merah) Yu Kiat, seorang laki-laki berusia empatpuluh lima tahun, bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan, sikapnya tinggi hati dan pakaiannya serba merah.
Di pinggangnya terselip sebatang goiok yang punggungnya seperti gergaji.
Orang ke dua bernama Tiat-sin-liong (Naga Sakti Besi) Lai Cin, yang berusia sekitar empatpuluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dengan muka pucat.
Nanpaknya saja orang ini berpenyakitan dan Iemah, akan tetapi sesuai dengan julukannya, dia adalah seorang manusia besi alias kebal tubuhnya, keras seperti besi.
Dia memegang sebatang konce (tombak cagak) yang beronce biru.
Orang ketiga seurang wanita bernama Hwi-sin-liong (Naga Sakti Terbang) Mo Hwa, berusia tigapuluh tahun, cantik dan anggun, dengan sikap yang angkuh galak, pandang matanya dingin, tubuhnya ramping dan di punggungnya nampak siang"kiam (sepasang pedang).
Sesuai dengan julukannya, wanita ini memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sehingga ia dijuluki Naga Sakti Terbang.
Orang ke empat bernama Lam-hai Sin-liong Kwa Him, berusia duapuluh tujuh tahun, tubuhnya tinggi besar dan mukanya merah, gagah sekali.
Sesuai dengan julukannya Lam-hai Sin-liong (Naga Sakti Laut Seiatan) dia memang memiliki keahlian dalam air seperti seekor naga laut, dan di samping keahlian dalam air, juga Kwa Kim ini terkenal memiliki tenaga gajah.
Orang ke lima adalah adik dari Kwa Him ini, seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang bernama Bi-sin-liong (Naga Sakti Cantik) Kwa Lian.
Wajahnya cantik manis, terutama sekali mata dan mulutnya yang nampak menantang dan genit, tubuhnya ramping sekali dengan pinggang yang kecil dan pinggul besar.
Sebatang pedang nampak di punggungnya, dengan ronce merah.
Akan tetapi melihat mereka, apa lagi orang ke tiga, ke empat dan ke lima, Seng Gun mengerutkan alisnya.
Orang"orang seperti itu dikatakan amat lihai oleh ayahnya?
Dia tidak percaya!
Terutama sekali orang termuda, Bi-sin-liong Kwa Lian.
Gadis cantik yang nampak lembut itu bagaimana mungkin dapat memiliki ilmu kepandaian tinggi?
Timbul keinginan hatinya untuk menguji Dia lalu turun dari ruangan depan, ke pekarangan menghampiri lima orang yang berdiri bagaikan patung itu.
Seng Gun mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.
Pemuda remaja yang berpakaian sutera putih ini memang tampan dan pandai membawa diri sehingga sikapnya yang menghormat itu menyenangkan.
Akan tetapi lima orang itu tidak bergerak.
"Kalau boleh saya mengetahui, si apakah ngo-wi (anda berlima) dan ada keperluan apakah datang ke kelenteng ini?"
Tanya Seng Gun dengan sikap menjajagi.
Bin-sin-liong Kwa Li an adalah seorang gadis cantik yang memiliki satu kelemahan, yaitu dia mudah terpikat oleh pria yang halus dan tampan.
Kini, melihat Seng Gun, biarpun pemuda itu masih remaja, paling banyak enambelas tahun usianya, seketika ia terpikat.
Pemuda itu memang tampan menarik.
Mendengar pertanyaan Seng Gun, Kwa Lian lalu melangkah maju, mewakili empat orang rekannya tanpa minta persetujuan lagi dan ia memandang kepada Seng Gun sambil tersenyum manis dan pandang matanya mengerling tajam.
"Kami Bu-tek Ngo Sin-liong, memenuhi undangan Kwi-jiauw Lo-mo. Siapakah engkau, adik tampan? Kalau Kwi-jiauw Lo"mo berada di kelenteng, tolong panggil dia keluar menemui kami. Dan engkau sendiri siapakah?"
"Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui adalah ayahku dan namaku Tong Seng Gun. Aku memang ditugaskan ayah untuk menyambut Bu-tek Ngo Sin-liong akan tetapi melihat ngo-wi, aku menjadi ragu apakah benar aku berhadapan dengan Bu"tek Ngo Sin-liong. Apa lagi melihat engkau, enci, yang masih begini muda, cantik dan kelihatan lemah. Pada hal, menurut yang kudengar, Lima Naga Sakti adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian hebat."
Kalau empat orang yang lain mengerutkan alis mereka memandang kepada Seng Gun dengan tak senang, sebaliknya Bi-sin-liong Kwa Lian terkekeh genit.
"Hi-hi-hik, katakan saja engkau menguji kami, adik tampan! Baiklah, sebagai putera Kwi-jiauw Lo-mo, tentu engkaupun bukan anak sembarangan. Nah, untuk meyakinkan hatimu bahwa nama kami bukan hanya nama kosong belaka, majulah dan kalau daIam sepuluh jurus sulingmu dapat menyentuhku dan aku masih belum dapat menundukkanmu, biar aku berganti julukan saja, hi-hik!"
Kini Seng Gun yang merasa mukanya panas karena penasaran.
Memang dia pernah terdesak oleh murid mendiang Kong Hwi Hosiang, akan tetapi dengan seorang diri saja dia mampu merobohkan tigapuluhan orang!
Bagaimana mungkin hanya sepuluh-jurus saja dia akan kalah oleh gadis yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu?
"Baik, enci Kalau dalam sepuluh jurus engkau dapat menundukkan aku, nanti di dalam aku akan memberi hormat dan menyuguhkan tiga cawan arak kepadamu.
Akan tetapi bagaimana kalau aku mampu bertahan sampai sepuluh jurus?"
Kembali wanita itu terkekeh dan kini senyumnya yang melebar membuat deretan giginya yang terpelihara rapi dan putih bersih nampak manis sekali.
"Kalau engkau mampu bertahan sampai sepuluh jurus, aku mengaku kalah dan aku akan memberi ciuman tiga kali padamu!"
Wajah Seng Gun berubah kemerahan akan tetapi hatinya girang bukan main.
Dicium wanita biasa, betapapun cantiknya ia, masih belum ada artinya, akan tetapi dicium Bi-sin-liong Kwa Lian?
Sungguh merupakan kebanggaan tersendiri!
' "Baik, aku akan mulai, enci!"
Katanya sambil mencabut suling perak dari sabuknya.
"Bagus, aku sudah siap!"
Kata pu la Kwa Lian gembira.
Seng Gun yang tentu saja ingin mendapat kan kemenangan segera menyerang dengan sulingnya.
Suling itu menjadi sinar putih kemilauan yang menyambar diiringi suara ngaung yang nyaring, dan sudah meluncur ke arah leher wa Lian untuk menotok jalan darah.
"Bagus!"
Kata Kwa Lian, dan dengan gerakan ringan sekali, ia mengelak.
Seng Gun tidak melanjutkan serangannya.
Dia teringat bahwa taruhannya adalah bahwa dia harus mampu bertahan sampai sepuluh jurus, maka sikap paling menguntungkan baginya adalah sikap berjaga d'iri dan mencurahkan seluruh daya untuk mencegah agar dia tidak sampai dikalahkan dalam sepuluh jurus.
Satu jurus telah lewat dan dia tidak mau menyia-nyiakan jurus-jurus selebihnya untuk menyerang karena dengan menyerang, penjagaan dirinya tentu kurang kuat.
Setiap kali menyerang, tentu ada bagian tubuhnya yang terbuka dan pertahanannya lemah.
Maka, kini dia hanya memutar suling menjadi gulungan sinar perak dan dia/tidak melakukan serangan!
Melihat ini, Kwa Lian tertawa.
"Heh-heh-heh, engkau adik yang tampan dan cerdik. Lihat, encimu mulai menyerang!"
Mulailah wanita itu menyerang, dengan cengkeram dan totokan, sambil menghitung jurus-jurusnya.
Gerakannya aneh namun indah, dan bau harum yang keluar dari kedua tangannya kalau ia menyerang, membuat Seng Gun merasa agak pening.
Dia terkejut dan mengerahkan sinkang karena maklum bahwa bau harum itu bukan sembarang bau, melainkan racun atau hawa beracun!
Diapun mengelak dan menggerakkan suling untuk me nangkis kelebatan tangan yang mencengkeram atau menotok.
Sampai hitungan ke delapan, dia mampu bertahan dan hatinya sudah merasa qirang bukan main.
Dia akan mendapal hadiah tiga kali ciuman, dan ada rasa bangga bahwa dia telah dapat membuat orang ke lima dari Bu-tek Ngo Sin-liong kalah bertaruh!
"Awas, jurus, ke sembilan!"
Terdengar suara Kwa Lian dan kedua tangannya melakukan totokan dari kanan kiri!.
Melihat ini, Seng Gun menggerakkan sulingnya untuk menyambut tangan kiri gadis itu dengan totokan pada telapak tangan, sedangkan tangan kirinya siap menangkis totokan lawan dengan tangan kanan.
Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara terkekeh, kepalanya bergerak dan tiba-tiba nampak sinar hitam menyambar dari atas kepalanya.
Itulah rambutnya yang hitam dan panjang, yang merupakan senjata ampuh wanita itu di samping pedangnya.
Rambut itu, sekali ia meng"gerakkan' kepala dengan sentakan tertentu, telah terlepas dari sanggulnya dan rambut yang hitam panjang itu kini menyambar ke arah Seng Gun, terpecah menjadi dua gumpal dan tahu-tahu dua gumpal rambut itu telah melibat kedua pergelangan tangan Seng Gun!
Demikian kuat libatannya sehingga pemuda remaja itu merasa kedua lengannya lumpuh.
"Nan, dalam sembilan jurus aku telah mengalahkanmu, adik tampan!"
Ka-ta Kwa Lian.
Seng Gun mengerahkan tenaga, berusaha melepaskan kedua tangannya yang terlibat rambut, namun gagal.
Muka wanita itu demikian dekat dengan muka mereka sehingga dia dapat merasakan hembusan napas dari hidung wanita itu ke mukanya, akan tetapi dia sudah gagal untuk mendapatkan ciuman kemenangan.
Dia menghela napas kecewa.
"Baiklah, aku mengaku kalah dan aku akan memberi hormat kepadamu dengan cawan arak,"
Katanya lemas.
"Hi-hik, engkau tampan dan cerdik, sudah sepatutnya kuberi hadiah ciuman, biarpun hanya satu kali,"
Kata Kwa Lian dan tanpa melepaskan libatan rambutnya.
ia menggunakan kedua tangan merangkul leher pemuda itu, menariknya dan di lain saat, mulutnya telah mencium mulut Seng Gun.
Pemuda ini, hampir pingsan rasanya ketika merasakan betapa bibir yang lunak dan lembut, hangat dan penuh gairah itu menghisap bibirnya.
Setelah Kwa Lian melepaskan ciumannya, Seng Gun terengah dan mukanya menjadi merah sekali.
Bi-sin-liong Kwa Lian melepaskan libatan rambutnya sambil tertawa.
Sementara itu, Ang-sin-liong Yu Kiat, orang "tertua yang menjadi pemimpin Bu-tek Ngo-sin-liong, segera berseru dengan suara berwibawa ke arah kelenteng.
"Kwi-jiauw Lo-mo, apakah engkau tidak cepat keluar menyambut kami?"
Dari dalam kelenteng segera terdengar suara tawa dan jawaban Kwi-ji-auw Lo-mo segera terdengar.
"Aha, maaf kan kami, Bu-tek Ngo-sin-liong! Kami sudah menyuruh puteraku menyambut, agaknya dia yang masih muda suka bermain"main. Maafkan kami!"
Tiga orang datuk itu berjalan keluar dengan kedua tangan terangkap di depan dada, menyambut dengan gembira.
"Hi-hik, Lo-mo!.Puteramu ini menyenangkan juga!"
Kata Kwa Lian kepada Kwi-jiauw Lo-mo. Datuk yang gendut seperti katak itu tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, tentu saja. Anak siapa? Akan tetapi usianya baru enam belas tahun. Nona Kwa, maka. kuharap engkau jangan menyeret dia!"
Kedua nya tertawa, dan Kwa Lian menjawab dengan suara mengejek.
"Hemm, aku bukan wanita yang suka memperkosa seperti engkau! Dan kalau saja puteramu ini seperti engkau, seperti seekor katak, aku tidak akan mengatakan dia menyenangkan,"
Kembali mereka tertawa-tawa.
Melihat sikap orang-orang itu, diam-diam Seng Gun merasa heran.
Kiranya lima orang tamu itu tidak banyak bedanya dalam hal sikap dibandingkan ayahnya dan kedua orang susioknya.
Pada hal, bukankah mereka itu tokoh-tokoh besar dari Hoat-kauw?
Dan sepanjang pengetahuannya, Hoat-kauw adalah suatu aliran yang menjaga keras peraturan!
Menjaga keras tegaknya hukum dan keadilan!
Tadinya dia sudah khawatir mendengar ayahnya dan dua orang susioknya yang menjadi kepercayaan dan utusan orang-orang Mongol, hendak menga dakan hubungan dan kerjasama dengan Hoat-kauw.
Dia khawatir kalau-kalau ayahnya tidak akan cocok dengan orang-orang yang kabarnya menegakkan hukum dan keadilan dengan kekerasan.
Siapa kira, sikap mereka itu ugal-ugalan dan tidak mengenal peraturan seperti juga sikap ayahnya, susioknya dan segolongan mereka.
Tentu saja seorang pemuda berusia enambelas tahun seperti Seng Gun, apa lagi yang sejak kecil hidup di tengah lingkungan orang-orang sesat, tidak dapat menangkap keadaan yang nampaknya bertentangan itu.
Dia tahu bahwa seperti juga semua aliran dan ajaran kebatinan, bahkan ajaran agama, merupakan ajaran yang baik, menjadi penuntun bagi manusia agar hidup bermanfaat bagi kemanusiaan, bagi dunia, agar hidup sebagai orang yang selalu membela kebenaran, keadilan dan menumbuhkan cinta kasih di antara manusia.
Tidak ada ajaran agama atau aliran kebatinan yang mengajarkan orang untuk berbuat jahat dan kejam.
Namun, ajaran tetap merupakan ajaran, sesuatu yang mati.
Yang hidup dan yang menen tukan adalah manusianya, penganut ajaran itu.
Baik dan buruknya bukan terletak di da lam ajaran itu, melainkan di dalam pelaksanaannya dalam kehidupan, di dalam langkah hidup dan perbuatan nya.
Betapa pun suci teorinya, kalau prakteknya kotor, maka perbuatan atau praktek itu hanya akan menodai dan mengotori teorinya.
Betapa banyaknya terjadi pertentangan agama, pertentangan aliran.
Sesungguhnya, bukan ajaran-ajaran itu yang bertentangan, karena tidak ada ajaran yang menganjurkan manusia saling bertentangan, melainkan ulah si manusia sendirilah yang memperten tangkannya.
Ajaran aliran dan keagamaan diada kan untuk manusia di dunia tanpa pilih bulu.
Kalau ajaran itu sudah dimonopoli, menjadi milikku, milik golongan atau kelompokku, milik bangsaku, maka timbullah pertentangan antara milikku dan milikmu, agamaku dan agamamu.Apa pun diperebutkan oleh kita manusia ini.
Kebenaran diperebutkan, bahkan Tuhan diperebutkan!.
Aliran Hoat-kauw mempunyai ajaran agar manusia menaati hukum dan keadilan.
Akan tetapi, bagaimana kenyataannya?
Manusia tetap manusia dengan segala macam nafsu daya rendah yang menguasai dirinya.
Kenyataannya, seperti yang dilihat Seng Gun, hukum itu hanya berlaku bagi mereka yang kalah, mereka yang berada di bawah.
Mereka itulah yang harus menaati hukum.
Bagi yang menang dan yang berkuasa?
Merekalah hukum!
Merekalah pembuataan penggaris hukum!
Merekalah yang benar dan apapun yang mereka lakukan adalah adil dan benar.
Mereka adalah penegak hukum, yaitu menegakkan hukum agar ditaati bawahan.
Merekalah lambang hukum, kebenaran dan keadilan.
Yang salah adalah orang lain, terutama orang bawahan.
Sesungguhnya, kalau kita mau melihat keadaan sebagaimana adanya, hukum rimbalah yang berlaku di mana-mana.
Yang kuat dia menang, yang menang dia berkuasa, yang berkuasa dia benar dan baik!
Tentu saja hukum rimba ini diselubungi berbagai macam peraturan yang nampak nya beradab dan baik sehingga tidak nampak lagi.
Karena yang kuasa selalu benar, maka di dunia ini manusia saling berlumba memperebutkan kekuasaan.
Dalam keluarga, di antara teman, dalam masyarakat, dalam perkumpulan, dalam pemerintahan.
Di mana saja orang memperebutkan kekuasaan karena kekuasaan sumber kesenangan.' kekuasaan memungkinkan orang memperoleh apapun yang dikehendaki nya.
Kini empat 'orang pihak tuan rumah dan l ima orang tamu mereka i tu duduk menghadapi meja dan menikmati jamuan makan yang dibuat oleh orang-orang dusun yang dipaksa menjadi pembantu di kelenteng itu.
Kwi-jiauw Lo-mo menyatakan keinginan kepala suku Mongol untuk mengajak Hoat-kauw bersekutu agar mereka dapat bersama-sama menguasai seluruh negara.
"Menurut Ku-ma-khan, kepala suku Mongol, sekaranglah waktunya yang tepat untuk menguasai Kerajaan Tang yang semakin lemah. Orang-orang Mongol sudah menghimpun kekuatan dan siap untuk melakukan penyerbuan ketimur dan selatan. Dan melihat bahwa Hoat-kauw merupakan perkumpulan yang besar dan mempunyai banyak orang pandai, maka Ku-ma khan mengulurkan tangan mengajak bekerja sama. Kalau kelak berhasil, maka Ho at-kauw yang akan menjadi satu-satu aliran agama yang harus dipejuk oleh seluruh rakyat."
Ang-sin-liong Yu Kiat minum arak dari cawannya dan tersenyum lebar.
"Ha ha agaknya kepala suku Mongol seorang yang bijaksana dan pandai. Mungkin beliau teringat betapa ratusan tahun yang lalu, aliran Hoat-kauw kami yang berhasil memperkuat Kerajaan Cin dan menguasai seluruh wllayah negeri. Memang, hanya dengan memegang teguh ajaran aliran kamilah maka suatu pemerintahan akan berhasil!"
Ucapan terakhir ini bernada sombong. Kwi-jiauw Lo-mo tidak mau kalah.
"Akan tetapi, sobat. Hanya mengandalkan peraturan ketat saja, tanpa adanya kekuatan pasukan, juga tidak akan mampu menghasilkan kekuasaan. Oleh karena itulah, kepala suku kami mengajak Hoat ka uw bergabung, agar dengan kekuatan pasukan Mongol, ditambah lagi penyebaran aliran Hoat-kauw, maka perjuangan akan berhasil. Ang-sin-liong mengangguk-angguk.
"Pendapatmu memang benar, Lo-mo. Akan tetapi, untuk mencapai hasil yang baik, merupakan jalan panjang dan tidak mudah. Kami mendengar bahwa bukan hanya bangsa Mongol yang melakukan gerakan untuk merampas kekuasaan, akan tetapi juga banyak suku bangsa lain, terutama sekali suku bangsa Tibet dengan para Lama Jubah Merah. Dan kami kira, kita harus membagi tugas kalau hendak bekerja sama. Kami akan mencoba untuk mengalahkan aliran-aliran yang ada, sedangkan pihak Mongol berusaha untuk menalukkan suku-suku bangsa yang melakukan gerakan. Kalau kita kedua pihak su dah dapat menguasai suku-suku bangsa yang memberontak, menghimpun pula aliran-aliran di bawah satu bendera, yaitu bendera Hoat-kauw, barulah kita mempunyai kekuatan untuk bertindak."
"Tepat sekaii,"
Kata Hek-bin Mo-ong sambil tersenyum lebar.
"Kita memang harus membagi tugas.
"Akan tetapi, menghadapi orang-orang Tibet kita harus 'bersatu padu karena mereka itu merupakan gerakan gabungan antara pasukan Tibet yang dipimpin pula oleh para pendeta Lama yang hendak menyebar agama mereka."
"Memang sebaiknya demikian. Bangsa Tibet cukup kuat. Bukan saja mereka mempunyai banyak pendeta Lama yang sakti, akan tetapi juga suku bangsa Yi an Miao termasuk suku yang tunduk kepada mereka dan menjadi sekutu mereka."
"Hemm, untuk menghadapi pasukan mereka, kami tidak akan gentar,"
Kata Kwi-jiauw Lo-mo.
"Bangsa Mongol juga mempunyai banyak kawan dari suku-suku bangsa yang berada di utara, seperti suku Mancu, Hui dan peranakan Han dengan kedua suku itu. Seperti juga kami bertiga ini.
"Aku sendiri peranakan Mongol, Hek-bin Mo-ong peranakan Mancu, dan Pek-bin Mo-ong peranakan Hui."
Demikianlah, delapan orang itu bercakap-cakap dan membagi siasat dan memutuskan bahwa kelenteng di Bukit Ayam Emas itu mereka jadikan tempat pertemuan.
Ketika Kwi"jiauw Lo-mo mengusulkan agar Hoat-kauw mengambil alih kelenteng itu dan membuka cabang di situ agar tempat itu terjaga, Bu-tek Ngo sin-liong setuju.
Memang tempat itu in dah sekali, juga cukup sepi dan jauh dari kota besar.
"Baik, kami akan mengirim anak buah ke sini dan sementara menjaga tempat ini agar tidak lagi dikunjungi orang dusun,"
Kata Ang-sin-liong Yu Ki-at.
Ketika perundingan itu berlangsung, Seng Gun hanya mendengarkan saja, tidak pernah mencampuri.
Akan tetapi ada suatu rahasia yang hanya diketahui dia dan tiga orang datuk besar itu saja, rahasia besar tentang dirinya dan tentang cita-cita Kwi-jiauw Lo mo.
Sepuluh tahun yang lalu, atau lebih sedikit, dia berusia enam tahun dia dilarikan dari istana kerajaan di Tiang-an ketika di istana terjadi perebutan kekuasaan secara besar-besaran dengan terbunuhnya Kaisar An Lu Shan karena keracunan.
Seng Gun sebetulnya bermarga An, karena dia adalah putera An Lu Shan, dan ibunya adalah puteri Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui.
Melihat betapa puteri dan cucunya terancam oleh perebutan kekuasaan, Kwi-jiauw Lo"mo menggunakan kepandaiannya untuk menyelamatkan mereka keluar dari istana.
Akan tetapi, puterinya tidak mau, bahkan saking sedihnya karena kematian suaminya, sebagai seorang selir tercinta yang sebagai peranakan Mongol dahulu banyak membantu pemberontakan An Lu Shan sehingga berhasil, puterinya itu, Tong Kiauw Ni., membunuh diri Terpaksa Kwi-jiauw Lo-mo hanya melarikan cucunya saja, dan semenjak itu, untuk menjaga agar tidak ada yang mengenal Seng Gun sebagai putera Kaisar An Lu Shan, dia mengakui Seng Gun sebagai puteranya sendiri dan mengganti marga An di depan nama Seng Gun menjadi marganya sendiri, yaitu Tong.
Biarpun ketika itu usianya baru enam tahun, Seng Gun mengerti akan semua peristiwa yang ter jadi dan menyadari bahwa demi keselamatan dirinya, dia harus mengakui kakek luarnya itu sebagai ayahnya.
Perundingan yang dilakukan tiga orang datuk dengan para pimpinan atau tokoh Hoat-kauw itu diikuti dengan penuh perhatian oleh Seng Gun, akan tetapi dia tidak mencampurinya sama sekali, hanya menjadi pendengar saja.
Akan tetapi dia tahu benar bahwa kakeknya yang kini diakuinya sebagai ayahnya itu sedang mengatur suatu rencana untuk dirinya!
Ya, dia tahu benar bahwa Kwi-jiauw Lo-mo berusaha keras untuk mengembalikan dia ke tempatnya semula, yaitu di istana kota raja, kalau mungkin sebagai kaisar baru!
Sebagai penerus kekuasaan An Lu Shan yang telah hancur dan diambil alih oleh Sia Su Beng.
Han Lin merasa seperti melayang di angkasa!
Awan berarak di sekeliling nya seperti asap putih yang tebal.
Tubuhnya terasa ringan sekali dan setiap ada angin berhembus, tubuhnya hanyut dalam aliran angin itu.
Dan dia mendengar percakapan antara dua suara yang tidak nampak orangnya, suara yang kecil dan suara yang parau besar.
Begitu jauh bedanya antara kedua suara itu sehingga tanpa melihat si pembicara sekalipun.
Han Lin dapat membayangkan bahwa sepantasnya pemilik suara kecil itu seorang yang kurus dan pemilik suara besar seorang yang tinggi gemuk.
Suara kecil bertanya.
"Tahukah engkau dengan sesungguhnya bahwa segala sesuatu adalah sama saja?"
Suara besar menjawab dengan pertanyaan pula.
"Bagaimana saya bisa tahu?"
"Tahukah engkau apa yang engkau tidak tahu?"
"Bagaimana saya bisa tahu?"
"Kalau begitu tidak ada seorangpun tahu?"
"Bagaimana saya bisa tahu?"
Terdengar pula suara besar, lalu suara Itu melanjutkan.
"Bagaimana juga, akan saya coba menerangkan padamu. Bagaimana dapat diketahui bahwa yang saya katakan tahu itu sesungguhnya tidak tahu, dan apa yang saya katakan tidak tahu itu sebetulnya tahu? Mungkin yang dikatakan salah itu benar dan yang dikatakan benar itu salah. Seorang manusia yang tidur di tempat basah akan jatuh sakit dan mati. Akan tetapi bagaimana dengan seekor belut? Dan hidup di atas puncak pohon adalah berbahaya dan menegangkan syaraf. Akan tetapi bagaimana dengan seekor monyet? Di antara manusia, belut dan monyet itu, tempat tinggal siapakah yang lebih benar dan tepat? Manusia makan daging, rusa makan rumput, burung makan ulat, kucing makan tikus. Dari mereka semua itu, selera manakah yang lebih benar dan tepat? Monyet jantan bergaul dengan monyet betina, rusa jantan dengan rusa betina, belut dengan ikan, sedangkan manusia pria mengagumi Dewi Mo Ciang dan Dewi Li Ci, pada hal melihat kedua wanita ini, ikan-ikan bersembunyi menyelam dan burung-burung ketakutan terbang, kijang lari ketakutan pula. Lalu siapakah dapat mengatakan yang manakah ukuran kecantikan"
Itu? Saya kira, pelajaran tentang kemanusiaan dan keadilan dan lorong"lorong dari benar dan salah demikian kacau balau sehingga tidak mungkin diselami dan diketahui."
"Kalau begitu, Manusia Sempurna tidak tahu akan baik dan buruk?"
"Manusia Sempurna adalah mahluk suci. Bahkan andaikata lautan mendidih, dia tidak akan merasa kepanasan. Apa bila sungai-sungai membeku, dia tidak akan merasa kedinginan. Apa bila gunung-gunung dibelah halilintar, dan lautan-lautan diamuk badai, dia tidak akan gemetar ketakutan. Maka, dia seolah mendaki awan-awan di langit, menggembala matahari dan bulan di depannya, dan melewati batas-batas dari keberadaan duniawi. Mati' dan hidup tidak lagi menguasai dia. Sama sekali dia ti dak lagi memperdulikan untung atau rugi."
Mendengar percakapan antara dua suara kecil dan besar itu, Han Lin tersenyum dan diapun berkata.
"Percakapan antara Yeh Cia dan Wang Yi, pelajaran bagi Mahaguru Juang"ce!"
Sebagai jawaban ucapannya itu, terdengar suara tawa yang aneh.
"Heh-heh-heh-ha-ha-hihihik!! "
Seolah yang tertawa ada beberapa orang.
Suara tawa itu seperti menyentakkan Han Lin ke dalam kesadaran.
Seperti orang baru bangun tidur, dia menggosok kedua mata, membuka mata dan bangkit duduk.
Dia masih berada di depar gundukan makam Liu Ma, cuaca gelap dan hanya remang-remang diterangi bintang di langit.
Han Lin segera teringat segalanya dan diapun memutar tubuh dan nampak gundukan tanah kuburan ibu angkatnya, Liu Ma.
Dan teringatlah dia akan peristiwa di kelenteng, betapa tiga orang hwesio telah terbunuh, dan ibu angkatnya juga tewas membunuh diri ke dalam jurang ini karena melihat dia terjerumus ke dalam jurang.
Teringat akan ini, Han Lin men-jatuhkan diri tiarap di depan gundukan tanah itu dan menangis lagi, menangisi"
Kematian.
Liu Ma yang telah mengorbankan nyawanya karena amat menyayangnya.
Kini terkenang semua kebaikan hati Liu Ma yang menyayangnya seperti anak sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara tawa aneh tadi, disusul kata-kata yang lembut.
"Betapa indahnya sangkar emas penuh makanan, burung akan tetap berusaha meloloskan diri. Setelah burung terbang bebas, lepas dari sangkarnya, pantaskah ditangisi?"
Han Lin menghentikan tangisnya, merangkak bangun dan membalikkan tubuh Dia tadi tidak mimpi!
Suara kecil berlawanan dengan suara besar, suara tawa aneh itu, tanya"jawab seperti dua orang memainkan ajaran Juang-ce, semua itu bukan mimpi!
Dan dia meiihat seorang kakek berdiri di depannya!
Cuaca memang remang-remang, akan tetapi entah bagaimana, dia dapat melihat wajah itu dengan jelas sekali.
Apakah wajah itu mengandung cahaya sehingga demikian jelas?
Dia tidak tahu.
Wajah seorang kakek yang tubuhnya sedang tingginya namun agak kurus.
Wajah itu nampak putih kemerahan, matanya seperti sepasang bintang, rambutnya, kumis dan jenggotnya, seperti benang sutera putih.
Pakaiannya dari kain kasar berwar na putih kekuningan, namun bersih.
Sepatunya dari kulit kayu, merupakan pelindung telapak kaki saja.
Sukar menaksir usianya, bisa saja sudah tua sekali lebih dari seratus tahun, akan tetapi wajah dan terutama matanya seperti masih amat muda.
Ketuaannya itu diperkuat dengan adanya sebatang tongkat bambu yang dipegangnya, seolah menjadi penopang tubuhnya.
"Heh-heh-heh, engkau mengenal ajaran Mahaguru Juang"ce, bagus memang, akan tetapi alangkah lebih bagusnya ka lau engkau tidak hafal akan semua ajaran mahaguru yang manapun juga."
Tentu saja ucapan yang berlawanan ini membuat Han Lin mengerutkan alisnya. Dia sudah duduk bersila menghadap gurunya, seperti kalau dia menghadap mendiang Kong Hwi Hosiang di kelenteng.
"Maafkan saya, lo-cian-pwe. Saya kira pendapat lo-cian"pwe tadi membingungkan dan berlawanan. Lo-cian-pwe mengatakan bagus bahwa saya mengenal ajaran Juang-ce, lalu menambahkan akan lebih bagus kalau' saya tidak mengenal semua ajaran."
Kembali kakek itu tertawa, kini suara tawanya lembut sekali.
"Memang sebaiknya kalau mengenal semua ajaran para bijaksana itu dengan membaca kitabnya, namun hanya sekedar mengenal saja untuk menambah pengertian. Namun, semua ujar-ujar dan nasihat yang ribuan banyaknya itu tidak ada manfaatnya kalau hahya dihafal saja."
"Maaf, lo-cian-pwe. Bukankah ajaran-ajaran itu baik sekali untuk pedoman kita hidup di dunia ini? Ajaran-ajaran itu dapat menuntun kita melalui jalan kebenaran dalam hidup, membuat kita mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang salah."
"Ha-ha-ha, di situlah letak kesalahannya, anak yang baik. Kalau orang menjalani hidup ini disesuaikan dengan ajaran"ajaran itu, melakukan perbuatan yang sesuai dengan petunjuk ajaran, maka kebaikan yang dilakukan dengan kesadaran bahwa itu adalah kebaikan bukanlah kebaikan lagi namanya! Perbuatan seperti itu palsu, anakku, karena perbuatan seperti itu hanya merupakan suatu cara untuk mencapai sesuatu, bukan merupakan suatu keadaan yang wajar, yang dengan sendirinya sudah merupakan suatu keadaan tanpa membutuhkan cara untuk mencapainya lagi."
Han Lin menjadi pening tujuh keliling! "Wah, saya tidak mengerti, locianpwe. Apa artinya semua itu? Mohon penjelasan."
"Sudah jelas, anak baik. Perbuat an baik yang dilakukan dengan pamrih meraih sesuatu hasil dari perbuatan itu, adalah perbuatan palsu, hanya merupakan suatu cara mendapatkan sesuatu. Perbuatan apapun itu, dinilai baik ataupun buruk, kalau dilakukan karena digerakkan pamrih memperoleh hasil sesuatu, adalah palsu! Munafik, topeng kebaikan untuk mendapatkan keuntungan, sama seperti harimau bertopeng domba, tidak lebih baik dari pada harimau tanpa topeng. Dan ajaran-ajaran kebaikan itu seringkali menjadi topeng domba bagi harimau-harimau yang berkeliaran."
"Wah, saya menjadi semakin bingung. Kalau perbuatan baik menurut ajaran dianggap palsu, lalu yang baik itu bagaimana, locianpwe?"
Han Lin mengejar dengan hati penasaran.
Alangkah bedanya pendapat kakek aneh ini di bandingkan ajaran yang dia terima dari Kong Hwi Hosiang yang selalu mengajarkan bahwa hidup haruslah melalui jalan kebenaran, memupuk kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat.
Dan kakek ini mengatakan bahwa perbuatan baik menurut ajaran adalah palsu dan sama saja dengan perbuatan jahat.
Bagaimana ini?
"Kebaikan dan kejahatan itu sama saja, hanya penilaian, seperti siang dan malam, kanan dan kiri, benar dan tidak benar dan selanjutnya, dan selama kita dikuasai oleh im-yang (positif negatif) ini, maka biduk kehidupan tak kan pernah merasakan ketenangan, dipermainkan ombak kanan kiri."
"Tapi, apa yang narus kita laku ke dalam kehidupan ini, locianpwe?"
"Lakukan apa saja yang harus kau lakukanl Yang dinamakan kebenaran, kebajikan dan sebagainya, sesungguhnya merupakan suatu keadaan batin, tidak dinilai dari kata dan perbuatannya. Selama batin masih dicengkeram nafsu, maka daya-daya rendah yang menjadi dasar setiap kata dan perbuatan, karenanya palsu."
"Lalu sikap apa yanq harus kita ambil dalam hidup?"
"Lihatlah bulan, bintang, matahari, awan dan seluruh alam ini. Mereka semua bergerak, mereka semua bekerja, dan memang demikianlah keharusan dan keadaan mereka. Tidak baik tidak buruk, tidak benar tidak salah, dan itu adalah karena mereka itu wajar. Bunga mawar berduri dan harum, itulah kewajaran. Bunga anggrek indah dan tidak harum, itulah kewajaran. Wajar itulah indah, wajar itulah kenyataan, wajar itulah To (Jalan, atau Kekuasaan Mutlak). Seyogianya kita menjadi manusia wajar."
"Akan tetapi, dari mana timbulnya rangsangan kejahatan yang membuat manusia melakukan perbuatan kejam dan jahat?"
"Nafsu daya rendah yang mendorong manusia melakukan perbuatan merugikan sesamanya. Nafsu selalu mendorong, ingin ini, ingin itu, berpamrih demi pemuasan diri, demi kesenangan, karena itu, perbuatan yang didorongnya selalu berpamrih. Dan pamrih tetap pamrih, bisa berpakaian bersih dan indah atau berpakaian butut kotor, tetap pamrih dan selama ada pamrih, setiap perbuatan adalah palsu. Sudahlah, Han Lin, kelak engkau akan mengerti sendiri kalau engkau mulai saat ini suka menjadi temanku."
Han Lin terbelalak.
"Bagaimana lo-cian-pwe dapat mengetahui nama saya?"
"Ha-ha, apa artinya nama? Karena engkau bernama, maka aku mengetahu-nya."
"Maksud lo-cian-pwe, mulai sekarang saya menjadi murid lo-cian-pwe?"
"Bukan murid, melainkan teman, sahabat. Tidak ada guru manusia lain dalam kehidupan ini, mengenai soal kehidupan karena kita sendiri masing-masing adalah gurunya, juga muridnya. Bimbingan utama datang dari dalam diri sendiri, To (Kekuasaan Tuhan) telah berada dalam diri setiap orang manusia dan Dialah yang menjadi Pembimbing. Tentu saja kalau engkau ingin mempelajari ilmu jasmaniah yang dikuasai, engkau dapat belajar dariku."
Mendengar ini, langsung saja Han Lin menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakek itu.
"Suhu yang mulia, mulai malam ini, teecu (murid) Han Lin akan menaati semua petunjuk suhu!"
Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih halus dan tertawa gembira.
"Ha-ha-ha,. bukan kehendakku engkau menjadi muridku, Han Lin, bukan kehendakku, melainkan sudah digariskan dari semula!"
Kakek itu menengadah memandang langit, seolah hendak mencari rahasia kejadian itu di antara bintang di langit.
"Suhu, kalau boleh teecu mengeta hui, suhu siapakah?"
"Heh-heh, tidak tahukah engkau? Aku juga seorang manusia seperti engkau, hanya bedanya, aku lebih lama berada di dunia ini dibandingkan engkau."
Han Lin tertegun. Jawaban itu memang tentu saja benar, namun begitu sederhana, seperti percakapan antara kanak"kanak saja.
"Maksud teecu, suhu. Siapakah nama suhu yang mulia?"
"Hemm, apakah artinya nama? Nama tidak sama dengan yang dinamakan. Sebutan bulan bukanlah bendanya, sebutan Han Lin bukanlah orangnya."
Han Lin sudah banyak membaca. kitab-kitab kuno, maka ucapan ini tidak membuatnya heran.
"Teecu mengerti, suhu. Akan tetapi, tanpa adanya nama atau sebutan, tentu tidak ada percakapan, tidak ada hubungan antar manusia. Maksud teecu,.sebutan teecu dengan kata "suhu"
Juga merupakan nama, bukan? Nah, maksud teecu, nama suhu, bukan sebutannya, siapakah?"
"Ha-ha, kalau hendak menyebutku, sebut saja Lo-jin (Orang tua), karena memang aku seorang yang sudah tua!"
Diapun tertawa-tawa seperti merasa geli mendengar ucapannya sendiri.
"Ingat suhu. Nama Lo-jin itupun dapat menjadi nama, dan Lo-jin bukanlah orangnya!"
Kini guru dan murid itu tertawa-tawa geli dan sungguh aneh sekali kalau ada orang lain melihatnya.
Seorang pemuda remaja dan seorang kakek, di tengah malam penuh bintang didasar jurang depan gundukan tanah kuburan baru, tertawa"tawa seperti digelitik perutnya!
"Sudahlah, hayo ikut aku.
Pegang ujung tongkatku,"
Kata kakek itu sambil menyodorkan tongkat bambunya.
Han Lin memegang ujung tongkat bambu itu dan kakek itu lalu bergerak melangkah.
Dan terjadilah sesuatu yang "membuat Han Lin terbelalak dan tengkuknya terasa dingin.
Dia merasa seperti dalam mimpi ketika dia setengah tertarik ketika memegangi ujung tongkat, mengikuti kakek itu mendaki jurang yang amat curam, tebing yang berlawanan dengan tebing di mana dia terjatuh.
Menurut nalar, agaknya tidak mungkin mendaki tebing secara itu, apa lagi dalam malam yang remang-remang.
Akan tetapi Han Lin merasa seperti seekor cecak saja, atau lebih tepat lagi dia terbetot dan terseret naik oleh tongkat bambu itu.
Dia merasa ngeri dan memejamkan kedua matanya, menurut saja diseret ke atas, kedua kakinyapun asal melangkah saja, akan tetapi dia memegangi ujung tongkat dengan pengerahan seluruh tenaganya karena sekali tongkat itu terlepas dari tangannya, tentu dia akan meluncur ke bawah dan tidak akan ada yang mampu menyelamatkannya.
Akhirnya mereka tiba di atas tebing.
akan tetapi kakek itu masih terus saja monariknya.
Demikian kuatnya tenaga yang tersalur melalui tongkat bambu itu sehing ga Han Lin merasa seolah-olah tubuhnya diterbangkan.
Cuaca kadang gelap, kadang terang, namun mereka meiuncur terus.
Han Lin merasa seperti dalam mimpi dan kembali dia memejamkan mata, menyerah saja penuh keyakinan bahwa kakek itu bukan manusia biasa, bahkan mungkin pula bukan manusia!
Ataukah ka kek itu petugas menjemputnya meninggalkan dunia ini?
Apakah dia sudah mati?
Langit di ufuk timur mulai terbakar oleh cahaya kemerahan.
Sinar cerah sang matahari mulai mengusir kegelapan walaupun mataharinya sendiri beium nampak.
Seluruh permukaan bumi agaknya menyambut kemunculan Sang Surya ini dengan penuh kegembiraan.
Bayang-bayang hitam kegelapan mulai memudar, terganti cahaya yang.mulai menghidupkan segala sesuatu.
Pohon-pohon dan semua tumbuh-tumbuhan sampai rumput, seolah baru bangkit dari tidur lelap diselimuti kegelapan malam.
Burung-burung berkicau riang, ayam hutan berkokok bangga.
Kabut pagi mulai menyingkir perlahan dihembus semilir angin, dihalau cahaya matahari pagi.
Embun bergantungan pada pucuk daun dan rumput, di bibir bunga-bunga, nampak tak rela melepaskan pegangan terakhir sebelum akhirnya terle pas dan terhempas ke tanah pula.
Segala sesuatu nampak segar gemilang.
Han Lin duduk bersila.
Baru saja kakek itu menghentikan gerakannya dan melihat kakek itu duduk bersila di atas batu datar halus diapun ikut duduk di atas rumput kering.
Mereka kini berada di puncak sebuah bukit yang sepi sekali, di tengah perbukitan yang amat luas.
Dia tidak berani mengganggu karena kakek itu duduk bersila dengan ke dua mata terpejam dan pernapasannya seperti orang yang sedang tidur.
Melihat kakek itu beristirahat, Han Lin tidak berani mengganggu dan diapun memperhatikan kakek aneh itu.
Melihat wajah kakek itu, dia teringat kepada mendiang Kong Hwi Hosiang yang mempunyai wajah seperti wajah anak kecil.
Wajah kakek inipun segar kemerahan dan tidak terhias keriput walaupun tubuhnya tidak gemuk seperti Kong Hwi Hosiang.
Tubuh kakek ini tegap dan kurus.
Rambut, kumis dan jenggotnya putih seperti benang sutera putih.
Karena baru saja dia nyaris tewas, juga telah terpukul, kemudian semalam suntuk mengikuti kakek itu melakukan perjalanan seperti terbang, Han Lin merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan lelah sekali, maka diapun mencontoh kakek di depannya dan memejamkan mata, beristirahat.
Ketukan tongkat pada batu membangunkan Han Lin dan ternyata hari telah menjelang siang.
Matahari telah naik tinggi dan kakek itu memandang kepadanya dengan senyum aneh.
Senyum itu seperti sinar matahari pagi yang menghidupkan, hangat dan menimbulkan gairah hidup, penuh kepasrahan, kesabaran, kewajaran.
"Suhu!"
Kata Han Lin dan diapun mengubah kedudukan kakinya yang tadi bersila kini berlutut.
"Han Lin, duduklah bersila seperti tadi dan sekarang ceritakan segalanya tentang dirimu,"
Terdengar kakek yang hanya dikenalnya dengan' sebutan Lo-jin (Orang tua) itu berkata dengan lembut.
Suaranya bagaikan desir angin bermain-main di antara daun pohon dan ujung rumput.
Han Lin menaati perintah gurunya dan kembali duduk bersila, lalu berkata.
"Teecu kira suhu sudah pasti telah mengetahui hal mengenai diri teecu. Perlukah lagi teecu menceritakannya sendiri?"
Suara tawa kakek itu mempunyai daya tular yang kuat sehingga Han Lin juga ikut tertawa.
Tawa maupun tangis merupakan suara aseli dari semua manusia di dunia ini.
Biarpun bahasa antara bangsa berbeda, namun tawa dan tangis semua bangsa tidak ada bedanya ka rena suara tawa dan tangis itu mengandung seluruh perasaan, maka mudah sekali menular kepada orang lain.
Demikian pula tawa kakek itu yang wajar, tidak di buat-buat, tidak pula mengandung sesuatu yang lain, seperti tawa seorang bayi yang mendatangkan rasa gembira da lam hati setiap orang.yang mendengarnya, maka Han Lin tidak dapat menahan diri untuk.
tidak ikut tersenyum lebar.
"Ha-ha-ha-heh-heh, Han Lin. orang yang mengaku tahu adalah orang yang tidak tahu! Ceritakanlah semuanya sejak engkau kecil sampai sekarang ini."
Tiba-tiba Han Lin menyadari.
Kakek ini jelas bukan manusia biasa.
Kalau tanpa diberitahu kakek ini sudah mengetahui namanya, tentu telah mengetahu segala tentang dirinya.
Kenapa masih bertanya dan menginginkan dia bercerita?
Tentu untuk mengujinya, menguji kejujurannya!
Maka, tanpa ragu-ragu lagi diapun bercerita tentang dirinya, semenjak dia hidup sebagai seorang "pangeran"
Kecil, putera Sia Su Beng dan Yang Kui Bi sampai terjadinya penyerbuan pasukan Tang yang memasuki kota raja dan kedua orang tuanya ikut bertempur.
Betapa dia diungsikan oleh Liu Ma yang kemudian dianggap sebagai ibunya.
Betapa dia menjadi murid Kong Hwi Hosiang di kelenteng dekat puncak Bukit Ayam Emas itu dan tentang munculnya tiga orang datuk sesat bersama seorang pemuda, dan betapa Kong Hwi Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio terbunuh oleh para datuk sesat itu.
Kemudian tentang ibunya yang melempar diri ke dalam jurang menyusul dirinya yang terpukul dan terjungkal ke dalam jurang itu.
"Agaknya Tuhan belum menghendaki mati, suhu, maka teecu berhasil menangkap cabang pohon dan tidak terbantingke dasar jurang. Akan tetapi ibu Liu Ma ia tewas dan teecu kubur jenazahnya di dasar jurang itu."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Belum kauceritakan tentang keadaan tubuh mu. Pukulan yang membuatmu terjungkal ke jurang itu adalah pukulan yang mengandung hawa beracun, akan tetapi engkau tidak keracunan. Nah, bagaimana hal itu dapat terjadi?"
"Ah, maafkan teecu, suhu. Teecu sampai lupa,"
Kata Han Lin, pada hal dia sengaja melewatkan bagian itu untuk melihat apakah kakek itu mengetahui akan keadaan tubuhnya yang telah menjadi kebal terhadap racun itu.
Dengan tersipu karena ternyata kakek itu mengetahui segalanya,.diapun menceritakan dengan jelas akan peristiwa pertemuannya dengan Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong yang pertama kalinya, ketika dia terkena pukulan dari depan dan belakang oleh kedua orang datuk itu, ditambah lagi gigitan ular senduk kepala putih yang membuat tubuhnya dimasuki tiga macam racun sekaligus.
"Menurut keterangan mendiang suhu Kong hwi Hosiang, akibat tiga racun itu, tubuh teecu menjadi kebal terhadap racun."
Demikian dia mengakhiri ceritanya dan kakek itupun mengangguk-angguk senang.
Demikianlah, mulai hari itu, Han Lin menjadi murid kakek yang hanya dikenal sebagai Lo-jin.
Dan ternyata kemudian oleh pemuda remaja ini bahwa kakek itu adalah seorang manusia yang amat sederhana, juga aneh sekali.
Kadang hanya cukup hidup sehari dengan beberapa helai daun dan seteguk air saja, kadang tidak ada entah ke mana sampai beberapa hari, lalu muncul kembali.
Akan tetapi dia menganggap.
semua itu wajar karena memang demikianlah ke adaan Lo-jin.
Dan dia mulai menerima gemblengan dari kakek aneh itu.
Namun, Lo-jin mengatakan bahwa semua ilmu yang diajarkannya itu adalah ilmu untuk mempertahankan keselamatan jasmani, dan ilmu-ilmu itu adalah ilmu untuk dipergunakan selagi hidup di dunia ini dan kelak ilmu-ilmu itu akan musna bersama raga.
Karena itu.
dia tidak boleh terikat kepada ilmu-ilmu itu, dan untuk dapat membebaskan diri dari segala sesuatu, dia harus memiliki dasar yang satu, yaitu kewajaran yang berarti penyerahan!
Menyerah sebagai dasar semua ikhtiar hidup, menyerah secara mutlak kepada Sang Maha Pencipta, seperti halnya bumi, matahari, bulan, bintang dan segala mahluk di alam ini yang tidak dikuasai nafsu daya rendah dan hidup selaras dengan To (Kekuasaan Tuhan).
Dara itu berusia delapanbelas tahun.
Cantik jelita bagaikan setangkai bunga mawar rimba.
Mukanya berbentuk bulat telur dan kulit mukanya halus putih kemerahan.
Wajah yang bentuknya indah itu dihias rambut bagaikan mahkotanya, rambut yang halus lebat dan hitam mengkilat, digelung ke atas, di ikat dengan,pita sutera kuning dan dihias tusuk sanggul dari batu kemala.
Sepasang matanya lebar dan sinarnya tajam.
Hidungnya mancung dengan cuping hidung tipis yang dapat berkembang kempis dengan lucunya.
Mulutnya penuh gairah hidup dan selalu tersenyum bersama matanya, senyum yang amat manis, apa lagi kalau lesung pipit di kedua pipinya nampak.
Tubuhnya padat dan ramping, dan di balik kelembutannya sebagai seorang dara remaja, terkandung suatu kekuatan yang hebat, yang dapat nampak pada lekukan di dagu dan tubuh yang tegak dan dada yang membusung.
Gerak geriknya lincah, matanya memandang penuh gairah dan kejenakaan.
la berdiri di bawah sebatang pohon, pungggungnya hanya terpisah seperempat meter saja dari batang pohon dan ia berdiri tegak, dengan mata dan mulut tersenyum ke arah wanita yang berdiri dalam jarak sekitar limapuluh kaki.
Dan di atas ubun-ubun kepalanya, di depan sanggulnya, terletak sebutir buah apel merah.
Mei Li!
kaulepas saja sanggulmu yang tinggi itu agar jangan sampai ada yang terbabat Hui-kiam (pedang terbang)!"
Kata wanita yang berada di depannya dalam jarak limapuluh kaki itu.
Wanita itu berusia kurang lebih tigapuluh sembilan tahun walaupun nampak jauh lebih muda, pakaiannya sutera serba hitam, wajahnya juga cantik dan mirip sekali dengan wajah gadis itu, tubuhnya masih padat ramping dengan pinggang kecil dan pinggul besar.
Wanita cantik ini nampak gagah perkasa dan di balik kecantikannya dan kelembutannya sebagai seorang wanita tersembunyi sifat gagah yang mudah dilihat dari sinar matanya yang tajam mencorong.
Ia memang bukan wanita sambarangan.
Ia adalah seorang pendekar wanita yang pernah menggegerkan dunia persilatan karena sepak terjangnya yang menggiriskan lawan mengagumkan kawan.
Namanya Can Kim Hong dan ia ibu kandung gadis jelita itu yang bernama Yang Mei Li.
Can Kim Hong ini isteri Yang Cin Han, putera bangsawan tinggi yang pernah menjadi perdana menteri, yaitu mendiang Yang Kok Tiong, Seperti isterinya, Yang Cin Han juga seorang pendekar yang tangguh karena dia adalah murid dari Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), seorang datuk dunia persilatan yang terkenal.
Namun, isterinya, Can Kim Hong, lebih hebat lagi karena isterinya ini murid Hek-liong (Naga Hitam) Kwan Bhok Cu seorang pendekar sakti yang aneh, yang telah merangkai ilmu pedang yang amat hebat, yaitu ilmu pedang Hek-liong Hui-kiam (Pedang Terbang Naga Hitam).
Dapat dibayangkan betapa bahagianya Yang Mei Li, gadis berusia delapanbelas tahun yang suka belajar ilmu silat itu karena ia langsung dibimbing oleh ayah ibu nya yang keduanya memiliki ilmu kepardaian silat yang tinggi.
Dan pada sore hari itu, mereka melakukan latihan ilmu silat dan ibunya memberi petunjuk dan contoh cara menggunakan ilmu hui"kiam (pedang terbang).
Mendengar ucapan ibunya, Mei Li lalu melepas sanggulnya membiarkan rambutnya yang hitam lebat itu terurai lepas, panjang sampai ke pinggulnya.
Kini buah apel itu terletak di atas rambut yang padat menutup ubun-ubun kepalanya.
"Jangan bergoyang!"
Terdengar nyonya cantik itu berseru dan ia menggerakkan tangan kanannya.
Sebatang pedang kecil yang berada di tangannya meluncur bagaikan anak panah cepatnya, berubah bentuknya menjadi sinar kilat menyambar ke atas kepala Mei Li.
"Singgg.... cappp!!"
Pedang kecil itu meluncur dan tepat sekali membabat putus buah itu pada tengah-tengah dan pedangnya menancap di batang pohon.
Apel terpotong menjadi dua, bagian atasnya terlempar jatuh dan bagian bawahnya masih berada di atas kepala Mei Li!
Mei Li menggerakkan kepala sehingga potongan apel itu terlempar jatuh pula dari atas kepalanya dan iapun bertepuk tangan memuji.
"Hebat, ibu memang hebat!"
Serunya gembira. Can Kim Hong tersenyum dan kedua pipinya kemerahan.
"Aih, anak nakal, engkau hendak menggoda ibumu? Apa sih hebatnya memotong buah apel itu dengan hui-kiam (pedang terbang)? Aku yakin engkaupun akan mampu melakukannya. Aku tadi hanya memberi contoh bagaimana untuk bersikap agar tanganmu mantap dan tidak ragu sedikitpun."
"Aih, ibu! Mana aku berani menggoda ibu? biarpun mungkin saja aku dapat melakukan seperti yang ibu lakukan tadi, akan tetapi dipaksa bagaimanapun juga, aku tidak akan berani menyambit apel dengan hui-kiam kalau apel itu di taruh di atas kepala ibu. Hih, meleset sedikit saja ke bawah....."
Dara itu memejamkan kedua matanya dan menggerak gerakkan kedua pundaknya seperti orang yang merasa kengerian.
"Hemm, karena itulah maka aku sengaja memberi contoh padamu tadi, Mei Li. Ilmu mempergunakan hui-kiam bukan hanya tergantung kepada kemahiran tangan saja, melainkan terutama sekali keteguhan hati. Kalau hatimu seteguh baja, bidikanmu takkan meleset serambutpun dan jari-jari tanganmu akan mantap dan tidak tergetar sedikitpun juga."
Gadis manis itu menjulurkan lidah, ujung lidah yang merah itu mengintai dari sepasang bibirnya dan iapun menjawab.
"Aku tahu, ibu memiliki ketabahan hati seteguh baja! Ayah juga sering menceritakan kepadaku dan memuji-muji ibu. Mungkin aku yang telah berlatih dengan tekun memiliki kemahiran itu, akan tetapi keteguhan hati tak dapat dilatih, ibu. Betapapun keras hati ku, bagaimana mungkin aku berani membidik apel di atas kepala ibu? Sekarang tolong ibu lemparkan sebuah apel ke atas, aku akan mencoba denqan jurus Siang-liong-jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mestika) dengan sepasang pedangku."
Can Kim Hong tersenyum, lalu mengambil sebuah apel dari dalam keranjang yang memang dipersiapkan untuk latihan, kemudian ia melempar buah itu ke atas.
Mei Li dengan gerakan cepat sekali sudah mencabut keluar sepasang pedang yang bentuknya indah dan merupakan sepasang pedang pendek yang berkilauan saking tajamnya, dan pedang-pedang itu diberi tali sutera merah yang cukup panjang dan digulung dan dibelitkan di ujung gagang pedang.
Sekali gadis itu mengeluarkan bentakan halus dan menggerakkan sepasang pedangnya, maka nampak dua sinar menyambar ke atas menyerang apel tadi dan meluncur dengan menyilang membabat buah apel.
Buah apel itu terpotong menjadi empat oleh sepasang pedang, dan potongannya berjatuhan di atas tanah sedangkan sepasang pedang itu meluncur kembali ke arah kedua tangan Mei Li ketika ia menarik tali sutera itu.
Dan cepat sekali, begitu sepasang pedang telah berada di kedua tangannya, sukar diikuti pandang mata saking cepatnya sepasang pedang itu telah kembali ke dalam sarungnya, hampir berbareng saatnya dengan jatuhnya empat potong apel itu.
"Cukup bagus!"
Puji ibunya, 'Sekarang coba perl ihatkan siang-hui-kiam sut (Ilmu Sepasang Pedang Terbang) yang telah digabung dengan Sian-li Ki-am-sut (Ilmu Pedang Dewi).
Berlatihlah yang sungguh-sungguh, karena aku akan menyerangmu dengan apel-apel ini, dan aku akan menyerang dengan sungguh-sungguh!"
Mei Li segera mencabut sepasang pedangnya dan kini ia bersilat dengan sepasang pedang.
Gerakannya indah seperti seorang dewi menari-nari dan itulah Sian-li Kiam-sut yang ia pelajari dari ayahnya, akan tetapi kadang-kadang pedangnya menyambar lepas dari tangan untuk cepat berputar dan terbang kembali ke tangannya.
itulah Siang-hui Kiam-sut.
Dengan bantuan ayah dan ibunya, Mei Li berhasil menggabungkan kedua ilmu pedang yang ia pelajari dari ayah ibunya.
Can Kim Hong mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring dan ibu ini menyerang puterinva dengan lemparan apel-apel dari dalam keranjang.
Sambitan Can Kim Hong bukan sambitan biasa, melainkan sambitan seorang ahli silat tingkat tinggi yang memiliki tenaga sinkang kuat, maka tentu saja buah-buah apel itu menyambar-nyambar seperti peluru meriam!
Namun, sepasang pedang yang digerakkan dengan indahnya itu kini bergerak cepat sehingga lenyaplah bentuk sepasang pedang itu, berubah menjadi dua sinar yang bergulung-gulung membentuk perisai sinar dan semua buah apel yang menyambar tentu runtuh terbelah oleh sinar pedang yang amat tajam!
Dalam waktu beberapa menit saja, puluhan buah apel itu habis terpotong-potong dan berserakan di atas tanah.
Can Kim Hong mengeluarkan suara melengking dan ibu inipun kini menerjang maju dengan sepasang pedangnya sendiri, menyerang Mei Li dengan gerakan cepat.
Dan terjadilah latihan pertandingan yang amat seru dan kalau ada orang lain kebetulan menjadi penonton, tentu dia akan merasa tegang dan mengira bahwa kedua orang wanita itu benar"benar sedang berkelahi mati-matian!
Me mang ibu dan anak itu berlatih dengan sungguh-sungguh, mengerahkan tenaga dan kecepatan.
Hal ini berani mereka lakukan karena keduanya sudah menguasai benar ilmu sepasang pedang terbang itu.
"Awas pedang!"
Tiba-tiba Mei Li berseru dan pedangnya yang kiri meluncur cepat dan ke arah leher ibunya, bagaikan anak panah terlepas dari.
busurnya.
Can Kim Hong berusaha keras.
untuk mengalahkan puterinya dalam latihan ini, maka iapun menggunakan sepasang pedangnya untuk menggunting atau menjepit pedang yang terbang menyerang nya itu dengan kedua pedangnya yang bergerak cepat..Akan tetapi, begitu pedang kiri itu terjepit di antara sepasang pedang ibunya, Mei Li sudah membentak lagi dan pedang kanannya kini meluncur ke arah kaki ibunya.
Can Kim Hong mengeluarkan seruan kagum dan tubuhnya mencelat ke atas, dan dengan sendirinya jepitan kedua pedangnya terlepas dan sekali tarik, pedang kiri itu sudah melayang kembali kepada pemiliknya.
Can Kim Hcng melayang turun dan menyimpan kembali sepasang pedangnya sambil tersenyum.
"Thian-te-siang-liong (Sepasang Naga Langit Bumi) yang cukup bagus dalam penyeranganmu tadi, Mei Li. Akan tetapi, pedang ke dua itu agak terlambat, kalau kaulepaskan pedang kanan itu sedetik lebih cepat, sebelum pedang kirimu terjepit, tentu akan membuat aku lebih repot."
Dara berusia delapanbelas tahun itu memang telah menguasai sepasang pedang terbang dengan amat baiknya.
Memang ia memiliki bakat besar dan ditambah ketekunannya dan kecerdikannya, maka dalam usia delapanbelas tahun ia bahkan lebih mahir dibandingkan ibunya!
Hal ini tidaklah terlalu aneh karena selain ayah ibunya yang menggemblengnya sejak ia masih kecil, juga Mei Li selama dua tahun terakhir ini menerima penggemblengan dari kakek gurunya, yaitu Hek-liong Kwan Bhok Cu, guru ibunya.
Yang Mei Li merupakan anak tunggal dari suami isteri Yang Cin Han dan Can Kim Hong.
Ayah dari Yang Cin Han, yaitu mendiang perdana menteri Yang Kok Tiong, kakak dari mendiang selir Yang Kui Hui yang amat terkenal, terlibat langsung ketika terjadi pemberontakan dalam Kerajaan Tang yang dilakukan oleh An Lu Shan.
Dalam keributan pemberontakan itu, yang membuat Kaisar Hsuan Tsung terpaksa melarikan diri dan diiringkan pula oleh Perdana Menteri Yang Kok Tiong, perdana menteri ini tewas.
Juga isterinya tewas membunuh diri ketika kota raja diserbu pemberontak.
Perdana menteri ini meninggalkan tiga orang anak, yaitu Yang Cin Han sebagai anak tertua, kemudian masih ada dua orang adiknya, keduanya wanita, yaitu Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi.
Yang Kui Bi menikah dengan Sia Su Beng pemberontak lain yang berhasil membunuh An Lu Shan dan puteranya, kemudian Yang Kui Bi, yaitu ibu kandung Sia Han Lin, gugur ketika pasukan pemerintah Tang merebut kembali kota raja.
Sedangkan Yang Kui Lan yang menjadi isteri pendekar Go-bipai yang bernama Souw Hui San tinggal di Wu-han di pantai Yang-ce-kiang.
Biarpun tiga orang ini merupakan putera puteri mendiang Menteri Yang Kok Tiong, namun yang terlibat langsung dalam perang perebutan mahkota Kerajaan hanyalah Yang Kui Bi yang menjadi isteri Sia Su Beng yang telah mengangkat diri sendiri sebagai kaisar baru menggantikan An Lu Shan.
Yang Cin Han dan adiknya, Yang Kui Lan, tidak mau melibatkan diri dan ketika pasukan Tang akhirnya berhasil merebut kembali tahta kerajaan dari tangan Sia Su Beng dalam tahun 766, kakak beradik ini tidak mencampuri.
Ketika mendengar bahwa kota raja telah jatuh kembali ke tangan pasukan Tang yang dipimpin oleh Pang lima Kok Cu It yang setia dan gagah perkasa, dan mendengar pula akan gugurnya Sia Su Beng dan adiknya, Yang Kui Bi, Yang Cin Han mencoba untuk mencari berita tentang adiknya itu di kota raja yang telah diduduki kembali oleh Kaisar Su Tsung.
Dia mendengar bahwa adiknya itu benar telah gugur, demikian pula suami adiknya.
Akan tetapi dia tidak dapat menemukan keponakannya, Sia Han Lin yang baru berusia lima tahun.Anak itu lenyap tak tentu rimbanya dan dia tidak berhasil menemukan jejaknya.
Demikianlah sedikit riwayat Yang Cin Han, ayah Yang Mei Li.
Kini, Kerajaan Tang telah pulih kembali, telah berdiri kembali dengan tegaknya berkat kegagahan Panglima Kok Cu It.
Akan tetapi, semenjak Kaisar Su Tsung yang menggantikan Kaisar Hsuan Tsung merebut kembali kota raja dalam tahun 766, sudah beberapa kali terjadi penggantian kaisar.
Kaisar Su Tsung hanya memerintah sampai tahun 768 saja sejak dinobatkan menggantikan ayahnya dalam tahun 755.
Kemudian penggantinya, Kaisar Kui Tsung, adiknya sendiri, memerintah sebagai kaisar dari tahun 768 sampai 773.
Kemudian, baru saja beberapa bulan yang lalu Kaisar Kui Tsung meninggal dunia dan tahta kerajaan diserahkan kepada.puteranya, yaitu Kaisar Thai Tsung.
Ketika kisah ini terjadi, kaisarnya adalah Kaisar Thai Tsung.
Karena pasukan Tang merampas kembali tahta kerajaan dengan bantuan banyak suku asing dari barat dan utara, maka setelah kerajaan Tang dapat dibangun kembali, suku-suku bangsa yang tadinya membantu itu menuntut balas jasa.
Banyak di antara mereka yang tidak mau kembali ke kampung halaman, keenakan tinggal di daerah pedalaman Kerajaan Tang.
Berbagai bangsa tinggal bertebaran di wilayah Tang, di antara mereka adalah bangsa Arab yang tadinya merupakan pasukan Arab yang dikirim oleh Kalif Abu Jafar al Mansur dalam tahun 756 untuk pembantu Kerajaan Tang menghadapi pemberontakan yang telah menduduki kota raja Tiang-an, ada pula bangsa Nepal, Turki dan banyak suku bangsa lagi.
Banyak di antara mereka telah menikah dengan wanita Han dan tinggal menetap di pedalaman.
Namun, yang merupakan gangguan terbesar bagi Kerajaan Tang yang baru saja menguasai kembali kota raja Tiang-an adalah gerakan dari bangsa Tibet di barat dan disusul gerakan Kerajaan Nan Chao yang berkedudukan di Yunnan, sebelah selatan.
Gangguan dari barat dan selatan inilah yang merong"rong Kerajaan Tang sepanjang tahun-tahun mendatang.
Yang Cin Han dan keluarganya tinggal di Lok-yang, kota besar yang merupakan ibukota ke dua setelah Tiang-an.
Dia menjadi saudagar rempa-rempa yang "berhasil sehingga keadaan keluarganya cukup kaya.
Dan biarpun dia sendiri seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, demikian pula isterinya, namun suami isteri ini selalu menjaga agar mereka jangan sampai terlibat dalam urusan dunia kangouw.
Juga Mei Li mereka pesan agar jangan mencari permusuhan.
Gadis ini bukan saja digembleng ilmu silat tinggi, akan tetapi juga sastra dan kesenian lain.
Mei Li memang cantik, kecantikan yang amat menarik seperti biasa kecantikan wanita yang berdarah campuran.
Ibunya, Can Kim Hong, adalah seorang peranakan Khitan, ayahnya orang Han dan ibunya orang Khitan.
Dan Mei Li ju ga mewarisi kecantikan campuran dari ibunya.
Seperti juga Cin Han, Kim Hong juga sudah yatim piatu.
Ayahnya, seorang perwira bernama Can Bu, belum lama ini meninggal dunia karena terluka dalam pertempuran kemudian menderita sakit sampai berbulan-bulan.
Hek-liong Kwan Bhok Cu, guru Can Kim Hong, pernah berkunjung ke rumah muridnya sekitar tiga tahun yang lalu.
Atas permohonan muridnya, juga Yang tapi " ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------(Maaf ada halaman yang hilang) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------"Sudahlah, jangan merisaukan yang bukan-bukan,"
Kata Yang Cin Han dan dia merangkul isterinya dengan penuh perasaan sayang.
Suasana menjadi sunyi dalam kamar itu.
Di kota Wu-han, Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan, berdagang kain dan mempunyai sebuah toko yang cukup besar.
Mereka hidup serba kecukupan dan tenang, tidak pernah suami isteri pendekar ini menonjolkan diri sebagai jagoan.
Biarpun demikian, diam-diam mereka berdua menggembleng anak tunggal mereka, yaitu Souw Kian Bu yang telah berusia sembilanbelas tahun.
Souw Hui San telah berusia empat puluh lima tahun.
Dia seorang Murid Go bi-pai yang terpandai, seorang yang sejak muda sudah yatim piatu dan bertualang di dunia persilatan sebagai seorang pendekar yang lincah jenaka dan gembira, namun cerdik dan lihai sekali.
Wajahnya cukup tampan dengan bentuk yang bulat..., matanya membayangkan kecerdikan dan.
mulutnya membayangkan keramahan dengan senyum yang agaknya penuh pengertian.
Tubuhnya sedang dan kekar.
Sebagai seorang ayah, dia menurunkan semua ilmu silatnya kepada Souw Kian Bu, di samping mengharuskan puteranya itu mempelajari kesusasteraan dari seorang guru sastra yang sengaja dia bayar untuk mendidik puteranya.
Isterinya, Yang Kui Lan, juga mengajarkan ilmu-ilmunya yang ia dapat dari Kong Hwi Hosiang.
Yang Kui Lan berusia tigapuluh sembilan tahun akan tetapi nampak jauh lebih muda.
Wanita ini memang cantik jelita, kecantikan yang lembut dan agung, ia mirip sekali dengan bibinya yang terkenal, mendiang selir kaisar yang bernama Yang Kui Hui.
Setitik tahi lalat di dagu kiri nya menambah kemanisan wanita yang sudah separuh baya ini.
la merupakan isteri yang cocok sekali bagi Souw Hui San.
Kalau suaminya seorang yang lincah jenaka suka bergurau, sang isteri pendiam dan agung sehingga keduanya dapat saling mengisi dan melengkapi.
Seperti juga kakaknya, Yang Cin Han, Kui Lan bersama suaminya juga merasa gelisah ketika mendengar tentang gugurnya adiknya, Yang Kui Bi.
lapun berusaha mencari keponakannya, putera adiknya itu yang bernama Sia Han Lin, namun tidak berhasil menemukan jejak anak yang hilang dalam keributan ketika kota raja diserbu pasukan Tang.
Atas persetujuan kedua pihak, Souw Hui San dan Yang Kui Lan mengikat tali perjodohan putera mereka dengan puteri kakaknya.
Ketika dua pasang suami Isteri ini mengikat tali perjodohan anak mereka, Kian Bu berusia dua tahun dan Mei Li berusia satu tahun.
Sedikitnya setahun sekali, kedua keluarga itu saling datang berkunjung sehingga Kian Bu dan Mei Li mulai berkenalan dan bersahabat karena setiap kali datang berkunjung, tentu keluarga yang berkunjung itu bermalam sampai seminggu lamanya.
Ketika mereka berusia lima enam tahunan, mereka diperkenalkan sebagai saudara misan.
Baru setelah mereka mencapai usia belasan tahun, orang tua mereka memberitahu bahwa mereka sudah saling dijodohkan.
Di luar pengetahuan kedua orang tua masing-masing, ketika tiga tahun yang lalu Kian Bu bersama orang tuanya datang berkunjung, diam-diam Kian Bu dan Mei Li mengadakan pertemuan empat mata dan sambil berbisik-bisik mereka berdua menyatakan ketidakpuasan hati mereka bahwa mereka itu sejak kecil saling dijodohkan.
Keduanya memiliki perasaan yang sama, yaitu bahwa mereka saling menyayang sebagai kakak dan adik misan, dan merekapun keduanya merasa tidak bebas dan terikat oleh perjodohan yang dipaksakan di luar kehendak mereka itu.
Dan sejak tiga tahun yang lalu itu, keduanya selalu menolak kalau diajak berkunjung.
Baik orang tua Kian Bu maupun orang tua Mei Li tidak memaksa dan mengira bahwa keduanya sudah mulai dewasa dan agaknya mulai merasa malu untuk berkunjung ke rumah tunangan mereka!.
Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan, sudah mendengar bahwa Mei Li telah mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silatnya berkat bimbingan langsung dari kakek gurunya, yaitu Si Naga Hitam.
Oleh karena itu, suami isteri ini berusaha keras untuk menggembleng putera mereka agar dapat mengimbangi tingkat kepandaian Mei Li, karena sebagai seorang calon suami, sebaiknya kalau tingkat kepandaiannya tidak tertinggal jauh oleh calon isterinya.
Maka, selama tiga tahun ini mereka mewariskan semua ilmu mereka kepada Kian Bu, bahkan menggabungkan iImu silat Gobi-pai dengan ilmu silat yang dikuasai Yang Kui Lan yang bersumber dari aliran Siauw-limpai.
Pada hari itu, pagi-pagi sekali, setelah mereka mengamati putera mereka berlatih silat pedang, Souw Hui San dan Yang Kui Lan mengajak Kian Bu untuk bicara di dalam.
Toko mereka belum dibuka karena selain hari masih terlalu pagi, juga dua orang pembantu penjaga toko mereka belum datang.
"Kian Bu, bersiap-siaplah engkau seminggu lagi kita bertiga akan pergi berkunjung ke Lok-yang,"
Kata Souw Hui San.
Souw Kian Bu.
mengangkat muke memandang ayahnya, lalu ibunya.
Akan tetapi wajah ayah dan ibunya itu tidak berbeda, keduanya memandang dengan sinar mata tajam dan sikap mereka meyakinkan, tanda bahwa mereka berdua serius.
Kian Bu berpura-pura dan bersikap tenang dan biasa.
"Kalau ayah dan ibu merasa rindu kepada keluarga pek-hu (uwa) Yang Cin Han, silakan ayah dan ibu yang pergi berkunjung ke Lok-yang. Aku akan tinggal di rumah saja, mengurus toko."
"Tidak bisa, Kian Bu,"
Kata Yang Kui Lan dengan lembut.
"Sekali ini engkau harus ikut karena ada urusan yang amat penting."
Pemuda itu memandang ibunya.
"Urusan amat penting apakah, ibu?"
"Kita harus memenuhi janji, Kian Bu,"
Kata pula ibunya.
"Janji? Aku tidak merasa berjanji kepada siapapun, ibu."
"Kian Bu, seminggu lagi, Yang Mei Li tepat berusia delapanbelas tahun dan tibalah saatnya bagi kita untuk memenuhi janji, yaitu membicarakan dan menentukan hari pernikahanmu dengan Mei Li. Karena yang akan dibicarakan mengenai pernikahanmu, maka tentu saja engkau harus ikut,"
Kata ayahnya.
Sejenak Kian Bu mengangkat muka memandang ayahnya.
Dua pasang mata yang sama tajamnya beradu pandang, akan tetapi Kian Bu segera menundukkan muka, tidak ingin ayahnya meiihat perlawanan dalam sinar matanya.
Agaknya Yang Kui Lan dapat merasakan isi hati puteranya, maka ia berkata dengan suara menghibur dan penuh kesayangan.
"Kian Bu, ingatlah bahwa sejak engkau berusia dua tahun, engkau telah kami. tunangkan dengan Mei Li yang ketika itu berusia satu tahun. Sekarang, ia telah berusia delapan belas tahun dan engkau sembilanbelas tahun, sudah tiba saatnya memenuhi janji kita kepada pekhumu. Dan engkau sendiri melihat bahwa pilihan kami tidak keliru. Mei Li seorang dara yang cantik jelita dan gagah perkasa. sungguh cocok sekali menjadi isterimu. Kiranya akan sulit ditemukan seorang gadis yang lebih sepadan untuk menjadi jodohmu, Kian Bu!"
Kian Bu menghela napas panjang, lalu dia memandang kepada ayah dan ibunya, bergantian, kemudian dia memberanikan diri bertanya.
"Ayah dan ibu, dahulu, tentu ayah dan ibu pernah juga muda seperti aku, bukan?"
Ayah dan ibunya menjawab berbareng.
"Tentu saja!".dan ayahnya menambahkan sambil tertawa.
"Bukan hanya pernah muda seusiamu, Kian Bu, juga aku pernah menjadi bayi, ha-ha-ha!"
"Bukan begitu maksudku, ayah. Akan tetapi apakah ayah dan ibu dahulu juga eh, sudah dijodohkan sejak masih kecil?"
Suami isteri itu terkeju.t dan saling pandang, tidak menyangka putera mereka akan bertanya demikian. Keduanya menggeleng tanpa menjawab.
"Atau apakah dahulu ibu adalah pilihan kakek dan nenek Yang, dan ayah adalah pilihan kakek dan nenek Souw?"
Pemuda itu mengejar dan sekarang. mengertilah ayah dan ibu itu ke mana arah pertanyaan Kian Bu.
"Kian Bu, kami mengerti apa yang kaupikirkan dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu,"
Kata Souw Hui San, kini wajahnya yang biasanya periang itu nampak serius.
"Akan tetapi, keadaanku dan keadaanmu sungguh jauh berbeda. Ibumu dan aku memang berjodoh karena pilihan sendiri, akan tetapi ketika kami saling berjumpa dan saling jatuh cinta, kami berdua adalah yatim piatu."
"Kian Bu, kami dan pek-humu Yang Cin Han bersama isterinya menjodohkan engkau dan Mei Li dengan niat yang baik sekali. Kami tidak memaksamu, akan tetapi, bukankah pilihan kami itu, amat tepat? Apakah apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau telah jatuh cinta kepada seorang gadis lain?"
Kini.pandang mata suami isteri itu menatap.wajah putera mereka penuh selidik.
"Tidak, ibu. Hanya aku merasa... eh, ganjil dan lucu kalau memikirkan bahwa aku harus berjodoh dengan adik Mei Li. Aku selalu merasa bahwa ia seperti adikku sendiri sehingga janggallah membayangkan ia menjadi jodohku."
Pada saat itu, pembantu toko datang dan melaporkan bahwa di luar ada seorang tamu ingin bertemu dengan tuan rumah dan katanya bahwa tamu itu datang dari Lok-yang.
Mendengar ini, Souw Hui San segera keluar, diikuti isterinya yang ingin sekali tahu berita apa yang dibawa utusan dari Lok"yang itu, karena sudah pasti berita itu datang dari kakaknya.
Dugaannya benar.
Orang itu adalah utusan Yang Cin Han yang mengantar kan surat.
Setelah member!
upah tambahan kepada utusan itu, Souw Hui San dan isterinya membawa surat itu ke dalam.
Utusan tadi mengatakan bahwa pengirim surat tidak minta balasan, maka dia la lu pergi lagi, tidak menanti jawaban.
Dan setelah mereka membaca isi surat, memang tidak diperlukan balasan.
Surat itu menyatakan bahwa dengan minta maaf keluarga di Lok-yang, itu minta agar ketentuan hari pernikahan diundur antara satu sampai dua tahun!
Alasan yang dikemukakan Yang Cin Han mengenai pengunduran itu adalah karena Mei Li berkeras ingin pergi merantau mencari pengalaman sebelum menikah dan bahwa mereka tidak dapat menahan keinginan hati puteri mereka itu.
Suami isteri itu saling pandang dan mereka berdua dapat memaklumi.
Mei Li adalah puteri suami isteri pendekar, maka kalau timbul hasrat ingin merantau dan mencari pengalaman, maka hal itu wajar saja.
Ketika Kian Bu diberitahu akan pengunduran itu, wajahnya berseri dan dia tidak menyembunyikan kegembiraannya.
"Ha-ha-ha, sudah kuduga Li-moi akan melakukan hal itu!"
Katanya gembira.
"Ehhh? Bagaimana engkau dapat menduga?"
Tanya ibunya.
"Kian Bu, apa yang terjadi dengan. kalian?"
Tanya pula ayahnya. Kian Bu masih tersenyum.
"Tidak apa-apa, ayah. Hanya aku dapat menduga bahwa iapun tentu tidak suka dengan ikatan jodoh yang sudah ditentukan sejak kecil itu. Kukira perasaan kami tidak jauh berbeda, dan akupun ingin pergi mencari pengalaman."
"Apa? Hendak ke mana engkau?"
Tanya ayahnya. Kian Bu tersenyum memandang ayahnya.
"Dari ayah dan dari ibu aku seringkali mendengar betapa ketika muda dahulu, baik ayah maupun ibu banyak me lakukan petualangan di dunia kangouw. Apakah sekarang ayah dan ibu merasa heran kalau akupun ingin mencari pengalaman dan meluaskan pandangan dengan merantau barang setahun dua tahun? Aku ingin sekali mencari jejak kakak Sia Han Lin, puteri Kui Bi yang hilang tanpa meninggalkan jejak itu. Juga aku ingin mencari dan bertemu dengan sukong (kakek guru) Kong Hwi Hosiang, dan berkunjung ke Gobi-pai, bertemu dengan para suhu di Gobi-pai."
Souw Hui San dan Yang Kui Lan tidak mampu mencegah putera mereka yang hendak pergi merantau.
Mereka hanya dapat memberi banyak nasihat kepada putera mereka agar berhati-hati dan tidak menanam bibit permusuhan di dunia kangouw.
Dua hari kemudian, berangkatlah pemuda yang kini nampak bergembira itu, meninggalkan Wu-han dan membawa buntalan pakaian yang digendongnya di punggung, membawa sebatang pedang dan dengan wajah berseri-seri dia pergi menuju ke Tiang-an, kota raja di mana dia ingin mencari jejak kakak misannya, yaitu Sia Han Lin, putera mendiang bibinya, Yang Kui Bi.
Apa yang terjadi dengan Mei Li dan mengapa pula gadis itu tiba-tiba saja pergi merantau seperti yang diceritakan Yang Cin Han dalam suratnya ke pada Souw Hui San dan Yang Kui Lan?
Seperti juga yang terjadi dengan Kian'Bu, ketika Mei Li mendengar dari ayah ibunya bahwa waktu yanq dijanjikan oleh dua keluarga itu tiba, yaitu untuk menentukan hari pernikahan, Mei Li mengerutkan alisnya dan membantah dengan keras.
"Tidak, ayah dan ibu. Aku belum ingin menikah!"
Katanya memrotes.
"Akan tetapi, urusan ini telah ditentukan dan telah dijanjikan Dalam waktu sebulan ini, keluarga Souw akan datang dan kita semua akan membicarakan penentuan hari pernikahan,"
Kata ibunya.
"Benar, Mei Li, janji haruslah ditepati, kalau tidak, bagaimana kita akan dapat menghadapi keluarga bibimu itu?"
Sambung ayahnya.
"Tidak, ayah. Batalkan saja...!"
Mei Li hampir menangis, akan tetapi di tahannya karena anak ini sejak kecil memang digembleng agar menjadi seorang pendekar wanita yang tidak cengeng.
"Batalkan? Sepihak? Tidak mungkin "
"Kalau begitu tangguhkan' saja, setahun dua tahun. Aku ingin pergi merantau, ayah, aku belum ingin menikah."
"Mei Li, jangan engkau membuat kacau urusan dan menyusahkan ayah ibumu!"
Can Kim Hong menegur puterinya.
"Ibu, apakah ibu dahulu juga dipaksa menikah dengan ayah?"
Mei Li bertanya dengan suara lantang.
"Ayah dan ibu bersusah payah mengajarkan ilmu silat kepadaku dan sejak kecil aku rajin berlatih setiap hari. Bahkan sukong juga sudah ikut bersusah-payah mengajarku selama dua tahun. Dan semua itu tidak boleh kupergunakan, semua itu akan lenyap terbakar api dapur di mana aku harus melayani suami? Tidak, ibu, urusan perjodohan itu harus ditangguhkan barang setahun dua tahun. Aku ingin merantau, ingin berkunjung ke Tiang-an, aku ingin mencari sukong!"
Demikianlah, terpaksa Yang Cin Han dan Can Kim Hong mengalah dan memberi ijin kepada puteri mereka untuk mencari pengalaman di dunia kangouw.
Bagaimanapun juga, puterinya itu tidak perlu dikhawatirkan lagi karena telah memiliki tingkat kepandaian yang bahkan lebih lihai dibandingkan mereka.
Dan mereka lalu mengirim surat kepada keluarga Souw Hui San untuk minta agar urusan pernikahan itu ditangguhkan satu atau dua tahun.
Mei Li berangkat meninggalkan Lok-yang menunggang seekor kuda putih yang baik.
Kuda pilihan yang tinggi dan kuat, tentu saja berharga mahal.
Akan tetapi ayah ibunya berkeras agar puterinya melakukan perjalanan dengan berkuda dan memang sejak kecil Mei Li sudah berlatih menunggang kuda sehingga ia kuat berkuda sampai berjam"jam lamanya.
Demikianlah, pada suatu pagi yang cerah, setelah berpamit dan mohon doa restu ayah ibunya, dara itu menunggang kuda putihnya keluar dari pintu gerbang barat kota Lok-yang.
Sebuah buntalan kain kuning berada di punggungnya dan di bawah buntalan itu nampak tergantung sepasang pedangnya yang gagangnya diberi tali sutera panjang.
Di pinggangnya kanan kiri masih tergantung pula dua batang pedang pendek.
Tidak lupa ia membawa bekal uang perak dan emas dalam buntalan pakaiannya, untuk bekal dalam perjalanan.
Tujuan pertama dari perjalanannya itu adalah ke kota raja Tiang-an.
Ia belum pernah pergi ke kota raja itu.
Ketika ayahnya pergi ke kota raja untuk mencari putera bibinya yang tewas dalam pertempuran, ia baru berusia tiga tahun dan ditinggal di rumah bersama ibunya.
la memang banyak mendengar cerita ayah ibunya tentang kota raja Tiang-an dan tentang pergolakan selama ini dan ia tahu pula bahwa kakak misannya, putera bibinya Yang Ku i Bi telah lenyap dari kota raja ketika terjadi perang.
Nama kakak.misannya itu Sia Han Lin, akan tetapi belum pernah ia bertemu dengannya.
Wajah dara perkasa itu nampak berseri.
Rambutnya yang hitam halus panjang, yang disanggul tinggi dan dihias tusuk sanggul dari perak dan hiasan merak dari batu kemala, nampak agak kusut karena hembusan angin yang bermain"main dengan rambut hitam halus itu.
Matanya yang lebar, yang jelas membayangkan bahwa ia seorang gadis peranakan yang masih ada darah Khitan mengalir dalam tubuhnya, mata yang indah dan jeli itu kini berbinar-binar, penuh kegembiraan ketika memandang ke depan dan kanan kiri di sepanjang jalan.
Mulutnya yang mungil itupun selalu terhias senyum.
Hati Mei Li memang mengalami kebahagiaan yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan.
Ada ketegangan yang menggairahkan, ada semangat baru dalam kehidupannya, merasa bebas merdeka seperti seekor burung rajawali melayang-layang di angkasa.
Perasaan seperti yang dialami Mei Li itu akan terasa oleh siapa saja yang dalam kehidupan sehari-harinya se lalu disibukkan oleh pekerjaan, keramaian, kebisingan dan segala macam masalah kehidupan dalam masyarakat yang tinggal di kota besar.
Kehidupan dalam kota selalu berkisar kepada soal"soal duniawi, mengejar uang, harga diri, ke hormatan dan kesenangan jasmani, mencari jalan pemuasan nafsu, persaingan dalam segala bidang.
Semua itu ditambah oleh banyaknya manusia yang berdesakan di kota besar, segala macam kotoran sampah, udara yang tidak murni lagi, membuat dada rasanya tidak longgar untuk bernapas, pikiranpun tiada hentinya mengalami guncangan dan tantangan, dan kesehatanpun mengalami kemunduran dan gangguan.
Oleh karena itu, apa bila terdapat kesempatan penghuni kota yang selalu sibuk itu dapat berada di luar kota, di tempat terbuka yang jauh dari perumahan, jauh dari keramaian manusia, dia akan dapat merasakan seperti yang dialami Mei Li pa da saat ia menjalankan kudanya perlahan"lahan itu.
Kebesaran, keagungan dan keindahan alam hanya dapat dirasakan dan dinikmati apa bila kita berada di daerah pegunungan, hutan-hutan atau di pantai lautan yang sepi dari manusia dan belum dikotori oleh ulah manusia yang hanya mendatangkan kerusakan dan noda pada lingkungan.
Kalau kita berada seorang diri di dataran tinggi yang jauh dari manusia lain, jauh dari pemukiman manusia, menghirup udara segar yang mengalir melimpah ke dalam dada kita, terasa sesuatu yang sukar digambarkan.
Dalam keadaan seperti itu, untuk beberapa saat lamanya sadarlah kita bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang rindu akan segala ini, yang bukan dari dunia ramai, bukan kesenangan jasmani, bukan pemuasan nafsu, bukan pengejaran cita-cita.
Kita rindu dan haus akan kedamaian alami, rindu kepada Sumber Segala sumber, dari mana kita datang dan kemana kita kelak pergi.
Manusia dan Alam, tak terpisahkan karena tercipta oleh Tangan Yang Satu, terbimbing oleh Tanqan Yang Satu, namun sungguh sayang kita lebih terseret oleh kesenangan duniawi, pemuasan nafsu badani yang kita perebutkan, kalau perlu dengan saling hantam, pada hal yang kita dapatkan hanyalah kesenangan hampa yang hanya sementara, lewat begitu saja seperti angin lalu untuk memberi giliran kepada saudara kembarnya, yaitu kesusahan, kedukaan dan kekecewaan.
Mei Li sadar dari lamunannya ketika kudanya meringkik.
Kudanya memang kuda yang terlatih dan baik dan kalau kuda itu meringkik, itu tandanya bahwa kudanya merasakan, melihat atau mendengar sesuatu yang asing dan tidak wajar.
Apakah ada binatang buas?
Harimau?
Mei Li tidak merasa gentar dan ia pun kini sudah siap siaga kalau-kalau di tempat itu muncul bahaya.
Ternyata yang muncul dari dalam hutan di depan adalah serombongan orang.
Ada limabelas orang pria yang keadaannya amat menyedihkan.
Mereka menggotong tiga buah mayat, dan lima orang yang agaknya terluka parah.
Lima belas orang itu sendiri keadaannya juga tidak utuh, banyak di antara mereka yang terluka walaupun tidak seberat luka lima orang itu.
Melihat bahwa belasan orang pria itu kelihatan kuat, bahkan mereka itu membawa senjata pedang atau golok yang tergantung di pinggang, akan tetapi kini nampak ketakutan, tentu saja Mei Li merasa heran sekali.
la sudah meloncat turun dari atas kudanya dan menghadang di tengah jalan.
Sementara itu, ketika rombongan itu melihat seorang gadis muda cantik jelita menuntun seekor kuda putih besar kini menghadang di tengah jalan, mereka narnpak kaget dan seorang di anta mereka, seorang laki-laki tinggi besar berusia kurang lebih empatpuluh lima tahun, mendahului rombongan itu nenghampiri Mei Li.
"Apakah nona hendak melakukan perjalanan melalui' hutan itu?"
Tanyanya sambil memandang Mei Li penuh perhatian.Sebetulnya, Mei Li yang tertarik melihat keadaan mereka dan ingin mengetahui apa yang telah terjadi, akan tetapi karena didahului orang, iapun mengangguk.
"Benar, paman."
"Jangan, nona! Sebaiknya nona cepat menunggang kuda nona itu dan cepat meninggalkan tempat ini, kembali ke sana!"
Dia menuding ke arah dari mana Mei Li datang.
"Kenapa, paman? Dan kenapa pula paman serombongan seperti orang yang habis kalah perang? Ada pula yang te was dan luka-luka? Apa yang telah terjadi?"
Kini Mei Li bertanya dan rombongan itu telah berada di depannya.
"Sudahlah, harap jangan banyak bertanya, nona. Selagi masih ada kesempatan, pergilah cepat. Kalau melihat nona membawa kuda sebagus ini, tentu mereka tidak akan mau melepaskanmu, apa lagi nona masih muda dan cantik jelita. Percayalah kepadaku, nona cepat pergilah!."
Orang tinggi besar itu mendesak.
Sikap orang tinggi besar ini saja sudah membuat Mei Li makin tertarik.
Bagaimanapun juga, orang yang belum dikenalnya ini telah bersikap dan berniat baik kepadanya, memperingatkanya akan adanya bahaya dan orang itu tidak ingin melihat ia tertimpa bencana.
Sikap ini membuat ia semakin penasaran.
Orang-orang ini jelas bukan penjahat, bahkan agaknya sebaliknya, menjadi korban kejahatan, karena itu harus ditolongnya!
"Terima kasih atas peringatan dan nasihatmu, paman.
Akan tetapi, aku tidak akan melarikan diri, bahkan aku ingin sekali mengetahui, apa yang telah terjadi dengan rombongan paman.
Kalau terdapat bahaya di depan sana, aku tidak takut!"
Katanya gagah. Orang tinggi besar itu mengerutkan alisnya.
"Nona, engkau masih amat muda, mungkin pernah belajar sedikit ilmu silat, akan tetapi tidak baik kalau tekebur. Di hutan itu terdapat gerombolan iblis yang amat jahat dan lihai!"
Akan tetapi, dara jelita itu tetap tenang, bahkan tersenyum.
"Maksud paman tenlu gerombolan perampok? Hemm, aku tidak takut, bahlkan aku harus membasmi mereka kalau mereka itu menjadi pengganggu rakyat yang berlalu lalang di daerah ini."
Mendengar ucapan lantang itu, si tinggi besar dan beberapa orang kawannya tersenyum getir, agaknya merasa geli, seperti mendengar seekor ayam betina muda berkuruyuk seperti lagak seekor jago!
"Hemm, ketahuilah, nona muda yang bernyali naga!
Aku dikenal sebagai Si Golok Setan, kepala Pek-houw-piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Harimau Putih) yang sudah terkenal di seluruh daerah Lok-yang!
Engkau lihat sendiri, kami para pengawal Pek-houw-pia-uw-kiok sebanyak duapuluh tiga orang, mengawal sepasang pengantin hartawan melewati hutan itu dan kami dihadang gerombolan itu.
Kau lihat sendiri akibatnya.
Tiga orang kawan kami tewas, lima orang terluka berat, sepasang mempelai itu ditawan dan semua barang berharga dirampas!
Nah, apakah engkau akan begitu gila untuk melanjutkan perjalanan melewati hutan itu?
Gerombolan itu agaknya baru saja mendiami hutan itu karena biasanya di sana aman, Pergilah, nona, dan bersukurlah bahwa nona telah bertemu dengan kami sehingga tidak menjadi korban."
Mei Li memperlebar senyumnya sehingga wajahnya nampak cantik manis bukan main, membuat rombongan pria itu tertegun dan tenpesona.
"Kalian yang sepatutnya bersukur, paman, karena bertemu dengan aku. Aku yang akan membantu kalian mendapatkan kembali barang-barang yang mereka rampok, dan menolong sepasang mempelai itu. Ceritakan bagaimana keadaan kawanan perampok itu dan di mana mereka."
"Tapi tapi kami merasa ngeri, tidak ingin melihat nona yang begini muda dan jelita terjatuh ke tangan mereka...."
Si tinggi besar berkata ragu, juga teman-temannya agak nya tidak setuju.
Mereka itu tentu sudah merasa takut bukan main terhadap gerombolan perampok itu, pikir Mei Li.
Perlu dibangkitkan semangat mereka.
Ia memandang ke kiri di mana terdapat sebuah pohon setinggi hampir tiga meter dengan daun yang lebat.
"Agaknya kalian belum percaya ke padaku, ya? Nah, lihatlah baik-baik!"
Mei Li menggerakkan kedua tangan ke arah punggungnya dan begitu cepat gerakannya mencabut sepasang pedangnya sehingga para anggauta piauw-kiok itu tidak melihat ia mencabut pedang dan tiba-tiba saja pandang mata mereka menjadi silau ketika nampak dua sinar terang bergulung-gulung dan terbang mengitari pohon itu bagaikan dua ekor naga yang sedang berkejaran.
Dan yang membuat mereka menahan napas adalah ketika melihat daun-daun dan ranting potion jatuh berhamburan, terbabat kedua gulungan sinar dan ketika dua sinar itu membalik ke arah Mei Li dan gadis itu sudah menangkap kembali sepasang pedangnya dan memasukkan ke dalam sarung pedang, semua orang melihat betapa pohon itu telah menjadi rata bagian atasnya, seperti kepala seorang anak-anak yang tadi ditumbuhi banyak rambut dan sekarang dicukur hampir gundul di sekitar pohon nampak daun dan ranting berserakan.
"Pedang terbang?"
Si tinggi besar dan para kawannya berseru heran, takjub dan kagum.
Belum pernah mereka menyaksikan kepandaian sehebat itu.
Kalau orang bersilat pedang, tentu saja mereka sudah sering melihatnya, bahkan mereka sendiri ahli bersilat pedang atau golok.
Akan tetapi tadi mereka melihat Mei Li tetap berdiri di dekat kudanya, hanya menggerak-gerakkan kedua tangan ke arah pohon dan sepasang pedang itu berubah menjadi dua sinar bergulung"gulung yang seolah bergerak sendiri, beterbangan menggunduli pohon itu.
Setelah hening sejenak karena mereka tertegun, lalu meledaklah kekaguman dan kegembiraan mereka.
Terdengar mereka bertepuk tangan memuji dan si tinggi besar lalu melangkah maju menghadapi Mei Li dan memberi hormat dengan membungkuk dalam.
"Mohon maaf kepada lihiap (Pendekar wanita) bahwa kami seperti buta, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Li-hiap, saya Couw Sam menyatakan taluk dan mengharapkan bantuan lihiap agar kami dapat menyelamatkan sepasang pengantin itu berikut barang-barang mereka yang kami kawal."
Mei Li tersenyum.
"Ceritakan dulu keadaan mereka dan apa yang telah terjadi,"
Katanya tenang.
"Kami Pek-houw-piauw-kiok mengawal sepasang mempelai berikut barang-barang mereka dari Lok-yang menuju ke Kwi"yang di barat, ketika kami melewati hutan di lereng depan itu, kami dihadang oleh duabelas orang yang berpakaian serba hitam. Mereka mengaku sebagai gerombolan Hek-i-kwi-pang, (Perkumpulan Iblis Pakaian Hitam) dan mereka hendak merampok semua barang dan menyandera sepasang mempelai. Tentu saja kami melawan karena jumlah kami duapuluh tiga orang, dan biasanya di daerah ini tidak ada penjahat yang berani mengganggu perusahaan pengawal kami. Akan tetapi, ternyata pimpinan gerombolan itu luar biasa lihainya.Pertempuran yang terjadi ternyata berat sebelah dan kami dihajar habis-habisan dan terpaksa melarikan diri, tidak dapat melindungi sepasang mempelai itu yang ditawan dan semua barang terpaksa kami tinggalkan. Kami harus mencari bala bantuan yang lebih kuat lagi, akan tetapi kami bertemu dengan lihiap yang sakti seperti dewi. Motion bantuan lihiap"
"Hemm, kalau begitu, siapa di antara kalian yang memiliki keberanian, mari ikut denganku. Aku akan membasmi gerombolan iblis itu!"
Limabelas orang itu, dipimpin oleh Si Golok Setan Couw Sam, dengan gembira mengangkat tangan menyatakan siap untuk ikut dengan dara perkasa itu.
"Kami semua siap untuk ikut menyerbu Hek I Kwi-pang kalau dipimpin oleh Hui-kiam S ian-li"
Kata Couw Sam dengan gembira dan penuh semangat.
"Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang)?"
Tanya Mei Li "Siapa itu?"
"Maaf, mulai sekarang kami meny but nona dengan julukan Hui-kiam Sian-li!"
Kata Couw Sam dan semua anak buah nya mengangguk setuju. Wajah Mei Li menjadi kemerahan.
"Ihh! Jangan terlalu pagi memuji orang. Belum apa-apa kalian sudah meng angkat aku terlalu tinggi. Lihat saja nanti hasilnya. Mari kita berangkat!"
Mei Li meloncat ke atas punggung kudanya dan menjalankan kudanya, tidak terlalu cepat karena limabelas orang itu mengikutinya dari belakang.
Lima orang yang terluka ditinggalkan di situ, bersama tiga jenazah, dengan janji nanti akan dijemput kalau mereka sudah selesai menyerbu gerombolan penjahat di dalam hutan.
Limabelas orang itu, termasuk Couw Sam, nampak gelisah.
Jantung mereka berdebar tegang, mulut terasa kering sampai ke kerongkongan karena sebetulnya mereka merasa gentar harus berhadapan lagi dengan gerombolan berpakaian hitam itu.
Anak buah gerombolan itu masih dapat mereka lawan, akan tetapi kalau mereka membayangkan kehebatan pemimpinnya, sungguh membuat mereka bergidik ngeri.
Akan tetapi Mei Li yang melihat betapa para piauwsu (pengawal barang) itu diam dan gelisah, duduk di atas punggung kudanya dengan sikap tenang sekali, bahkan ia lalu bersenandung lirih.
Suaranya memang merdu dan ia pandai bernyanyi, akan tetapi hanya ia sendiri yang mengetahui bahwa senandung itu disuarakannya untuk menutupi degup jantungnya yang tegang.
Sikap limabelas orang itulah yang mendatangkan ketegangan di hatinya.
Biarpun ia puteri suami isteri pendekar sakti, juga telah menguasai ilmu silat yang tinggi, namun selamanya ia belum pernah bertanding sungguh-sungguh melawan musuh.
Ia hanya bertanding melawan ayahnya atau ibunya dalam latihan saja.
Dan sekarang, tiba-tiba saja ia dihadapkan gerombolan perampok yang agaknya amat kejam, jahat dan lihai sehingga rombongan piauwsu itupun menjadi ketakutan!
Kini rombongan itu tiba di tepi hutan.
Melihat wajah Couw Sam dan anak buahnya kini loyo dan pucat, yang tentu saja mempengaruhi hatinya, Mei Li mengerutkan alisnya, menghentikan kudanya dan menoleh kepada mereka.
"Kalau kalian merasa takut, sebaiknya tidak usah ikut denganku!"
Ucapannya bernada keras karena hatinya memang mengkal me lihat para piauwsu yang dianggapnya pengecut itu, Mendengar teguran itu, Couw Sam cepat mendekati nya.
"Harap nona memaafkankami. Kami siap membantu karena sebenarnya ini adalah tugas kami. Harap nona berhati-hati."
Mei Li mengangguk dan memasuki hutan menurut petunjuk Couw Sam yang berjalan di dekat kudanya.
Dan di tengah hutan itu nampak beberapa buah pondok yang nampaknya masih baru.
Couw Sam menunjuk ke arah pondok-pondok itu dan membisikkan bahwa agaknya itulah sarang gerombolan iblis itu.
Mei Li menjalankan kudanya menghampiri tempat itu.
Ternyata merupakan tempat terbuka dan banyak pohon di situ ditebang sehingga terdapat lapangan terbuka yang cukup luas, di mana didirikan empat buah pondok kayu.
"Tantang mereka keluar!"
Kata Mei Li kepada Couw Sam. Karena melihat sikap Mei Li yang demikian tenang dan gagah, Couw Sam menjadi berani.
"Haiili, gerombolan iblis Hek I Kwi-pang! Keluarlah kalian untuk menerima hukuman!!"
Teriakan lantang itu segera mendapat sambutan dari dalam empat buah pondok.
Nampak bayangan hitam berkelebatan keluar dari dalam pondok.
Mereka semua berjumlah duabelas orang, dan yang berada di depan adalah seorang pria yang amat menyeramkan.
Mei Li sendiri merasa ngeri.
Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang laki-laki seperti kepala gerombolan itu.
Usianya tentu ada empatpuluhan tahun, akan tetapi bentuk tubuhnya sungguh menyeramkan.
Couw Sam yang tinggi besar itu akan nampak kecil jika berdiri di sebelahnya!
Sungguh seorang raksasa yang kulitnya hitam seperti hangus, matanya besar-besar, hidungnya, mulutnya, semuanva nampak besar pada rakasa itu.
Kulitnya sedemikian hitamnya sehingga kalau dia berada di tempat gelap, tentu hanya putih matanya dan giginya saja yang akan nampak.
Sudah kulitnya hitam hangus, pakaiannya juga berwarna hitam.
Di pinggangnya terselip sebatang golok yang punggungnya berbentuk gergaji, bergigi runcing tajam!
Ketika raksasa hitam itu melihat Mei Li yang meloncat turun dari kuda putihnya dan menambatkan kuda itu di pangkal batang pohon yang bekas ditebang dan masih menonjol di permukaan tanah, dia terbelalak.
"Ha-ha-ha-ha, kalian kembali untuk menebus pengantin? Bagus sekali! Kalau tidak kalian tebus cepat-cepat, pengantin perempuan itu menjadi milikku. Akan tetapi ini wah, betapa cantik jelitanya! Kalian boleh bawa se pasang pengantin sialan itu kalau si jelita ini bersama kudanya ditinggal di sini!"
Mendengar ucapan raksasa hitam itu, anak buahnya yang sebelas orang juga menyeringai dan mereka semua memandang kepada Mei Li dengan mata buas, membuat gadis itu diam-diam bergidik.
Akan tetapi, Couw Sam yang kini sudah bersemangat kembali, menjadi marah.
"Gerombolan Hek I Kwi-pang, jangan bicara sembarangan! Kami datang untuk mengambil kembali semua barang dan sepasang pengantin yang kalian rampas!"
Raksasa hitam itu memandang ke sekeliling dan melihat bahwa Couw Sam hanya datang bersama empatbelas orang anak buahnya yang sudah luka-luka.
sisa dari mereka yang roboh tewas dan luka berat, bersama si gadis jelita, dia tertawa bergelak.
"Apakah engkau gila dan mengantar nyawa untuk menemui kawan-kawanmu yang sudah mampus tadi? Ha-ha-ha, kalau begitu lebih bagus lagi. Si jelita ini bersama kudanya, juga pengantin perempuan itu untuk aku dan kalian semua akan mati di sini dan bangkai kalian menjadi pupuk hutan, ha-ha-ha!"
"Raksasa hitam, jangan sombong dulu engkau! Kami datang kembali ke si ni untuk menantangmu. Jagoan kami adalah Hu i-ka im, Sian-li ini!"
Kata Couw Sam dengan suara lantang. Si raksasa hitam itu berjuluk Tiat-ciang Hek-mo (Iblis Hitam Tangan Besi). Sejenak dia mengerutkan alis memandang kepada Mei Li, kemudian dia tertawa bergelak.
"Nona jelita ini? Ha-ha-ha, jangan bergurau!"
Mei Li kini berkata dengan suaranya.yang merdu halus namun mengandung kelincahan.
"Engkaukah kepala gerombolan Hek I Kwi-pang ini, dan siapakah na mamu?"
Si raksasa hitam masih menyeringai.
"Engkau ingin mengenalku, nona manis? Aku disebut orang Tiat-ciang Hek"mo dan akulah pemimpin Hek I Kwi-pang."
"Bagus, engkau tadi mengatakan a kan membebaskan sepasang pengantin itu kalau aku dan kudaku menjadi pengantinya, Nah, aku terima usulmu itu. Bebas kan sepasang pengantin itu dan aku akan menemanimu di sini."
Tentu saja Couw Sam dan anak buahnya terkejut mendengar ucapan Mei Li ini.
Tak mereka sangka bahwa gadis jelita yang lihai itu kini mau saja ditukar dengan sepasang pengantin untuk menjadi permainan si raksasa hitam.
"Ha-ha-ha, boleh-boleh sekali!"
Kata Tiat-ciang Hek-mo sambil memberi isyarat kepada seorang pembantunya.
"Keluarkan mereka dan bawa ke sini!"
Anak buahnya itu sambil tersenyum menyeringai, memasuki sebuah di antara pondok-pondok itu dan tak lama kemudian diapun keluar lagi mendorong sepasang orang muda yang masih berpakaian pengantin.
Pengantin pria dan pengantin wanita itu diikat kedua tangan mereka ke belakang, dan baju pengantin wanita itu robek di bagian dada.
Untung, pikir Couw Sam.
Kedatangan mereka belum terlambat, dan pengantin wanita itu agaknya hanya baru mengalami gangguan kecil saja, belum ternoda oleh kebuasan iblis-iblis itu.
"Paman Couw, sambut dan bebaskan mereka,"
Kata Mei Li.
Couw Sam yang tadinya meragu dan bingung, menaati perintah itu.
Dia menerima sepasang pengantin itu dan segera membuka ikatan tangan mereka.
Pengantin wanita itu menangis di dada suaminya.
Mereka masih nampak ketakutan.
"Ha-ha-ha-ha!"
Hek-mo tertawa bergelak.
"Mulai detik ini, engkau menjadi milikku, nona jelita, Kesinilah!"
Dia mengernbangkan kedua lengannya ke arah Mei Li dan memerintahkan seorang anak buahnya untuk menuntun ku danputih itu.
"Nanti dulu, Hek-mo! Engkau ini iblis hitam sudah biasa mengambil sesuatu dengan menggunakan kekerasan. Karena itu, untuk memiliki diriku, engkau harus menggunakan kekerasan pula. Kalau engkau tidak mampu mengalahkan aku, bagaimana mungkin aku sudi menaatimu?"
Mendengar ucapan yang biarpun lembut bernada menantang itu, Hek-mo tertawa bergelak. Bajunya yang terbuka kancingnya memperlihatkan perut besar yang bergelombang ketika dia tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, aku bertanding denganmu? Wah, sayang kalau sampai kulit mu yang halus mulus itu lecet, manis. Kalau engkau masih meragukan kekuatanku, nah, engkau boleh memukulku dan aku tidak akan mengelak atau menangkis. Pukul bagian mana sesukamu, akan tetapi hati-hati, jangan terlalu keras karena tanganmu dapat terluka dan kalau hal itu terjadi wah, sungguh sayang sekali.... ha-ha-ha!"
Raksasa hitam itu tertawa dan anak buahnya ikut pula tertawa ha-ha"he-he.
Mereka semua maklum bahwa akhirnya, pengantin wani..ta itu tidak akan dilepas begitu saja oleh kepala gerombolan itu, dan mereka lah yang beruntung karena setelah mendapatkan pengganti yang jauh lebih cantik, tentu pengantin wanita itu akan diberikan kepada mereka!
Mei Li menghampiri raksasa hitam itu yang kini sudah melepas bajunya sehingga tubuhnya bagian atas telanjang.
Nampaklah dada yang bidang dan penuh bulu hitam, di bawah kulit hitam itu nampak tonjolan otot-otot besar, dan perutnya vang gendut itupun nampak keras dan tebal kulitnya.
Kemudian, da 'ra itu tersenyum dan memandang ke seke liling, kepada anak buah Hek I Kwi-pang dan anak buah Pek"houw Piauw-kiok dan berkata lantano.
"Kalian semua men dengar sendiri bahwa Hek-mo menantang aku untuk memukulnya tanpa dia mengelak atau menangkis. Kalian menjadi sak si, kalau satu kalau pukulanku membuat dia mampus, arwahnya tidak boleh menya lahkan aku!"
Ucapan itu dianggap main-main oleh Tiat-ciang Hek-mo dan anak buahnya, juga Couw Sam dan anak buahnya me rasa khawatir karena mereka tidak percaya kalau da ra itu akan marnpu meroboh kan Hek-mo yang kebal dan kuat itu de..ngan sekali pukul.
Mungkin saja gadis itu pandai bermain pedang, akan tetapi pukulan tangan kosong dari tangan yang kecil lembut itu, mana marnpu membuat roboh raksasa hitam itu?
"Ha-ha-ha, pukul lah pukullah mungkin setiap malam engkau harus memukuli tubuhku karena pukulanmu tentu akan terasa hangat dan nyaman seperti dipijati, heh-heh!"
Kata Hek-mo dan kembali semua anak buah tertawa. Mei Li meiangkah maju lagi dan diam-diam ia mengerahkan sinkang pada tangan kirinya dan berseru.
"Hek"mo, terimalah pijatan ini!"
Tangan kirinya menyambar dengan jari tangan terbuka ke arah dada.
Raksasa hitam itu menerima dengan dada di.busungkan dan mulut menyeringai, diam-diam dia mengerahkan tenaganya untuk membuat dadanya kebal.
Akan tetapi, ternyata jari-jari tangan tidak menghantam atau menampar dada, melainkan mencuat ke atas dan dua buah jari tangan yang kecil mungil, yaitu telunjuk dan jari tengah kiri Mei Li telah menotok tenggorokannya.
"Tukkk!!"
Semua orang melihat betapa wajah Hek-mo tertawa lebar, akan tetapi mulut yang terbuka lebar itu tidak menutup kembali bahkan dilengkapi kedua matanya yang juga terbelalak lebar menyaingi mulutnya dan dari mulut itu tidak keluar suara tawa melainkan suara seperti orang tercekik.
"Kek... kek.... kekkkk.. aughh...."
Dia memegangi leher dengan kedua tangan, matanya mendelik dan diapun roboh bergulingan seperti ayam disembelih, berkelojotan dengan mata mendelik!
Dia tidak dapat bernapas!
Semua anak buahnya terkejut bukan main, sedangkan Couw Sam dan kawan-kawannya me mandang dengan terheran-heran, belum sempat bergembira karena belum tahu benar apa yang telah terjadi dengan Hek-mo yang mereka takuti itu.
Mei Li adalah puteri suami isteri pendekar besar yang telah menanamkan watak pendekar kepada dara itu, maka iapun tidak ingin melihat lawannya tewas dan ia mengambil keuntungan karena diperbolehkan memukul tanpa ditangkis atau dielakkan.
Maka, setelah totokannya pada kerongkongan itu berhasil menyumbat jalan pernapasan Hek-mo iapun melangkah maju dan kaki kanannya meluncur cepat menendang ke arah kanan kiri kerongkongan itu.
"Dukk! Dukkk!"
Dua kali terkena sambaran ujung sepatu dara itu.
Hek-mo dapat bernapas lagi.
Wajahnya berubah semakin hitam, matanya melotot dan dia pun meloncat berdiri dengan kemarahan memuncak ke ubun-ubun kepalanya.
Tahu lah dia bahwa dia telah bersikap ceroboh, terlalu memandang rendah dara itu yang ternyata benar-benar memiliki kepandaian tinggi.
Pantas saja para piauwsu mengajukan dara ini sebagai jagoan mereka!
Biarpun kerongkongannya masih terasa agak nyeri, akan tetapi pernapasannya telah lancar kembali dan Hek-mo memandang kepada dara itu dengan mata mencorong marah.
"Keparat, kiranya engkau memiliki ilmu totok yang cukup kuat. Aku akan membalasmu, dan sebelum aku hancurkan semua tulang di tubuhmu, katakan dulu siapa namamu, murid dari perguruan mana agar engkau tidak mati penasaran!"
Kini lenyaplah nada mengejek dan memandang rendah sehingga anak buah Hek-mo sendiri merasa heran dan menjadi tegang karena sikap pimpinan mereka menunjukkan bahwa dara jelita yang masih muda itu merupakan musuh yang tidak boleh dipandang ringan.
Mei Li teringat akan julukan yang diberikan Couw Sam kepadanya dan iapun tersenyum.
Mengapa tidak?
Julukan itu, tanpa diketahui oleh Couw Sai dan kawan-kawannya, merupakan julukan yang amat tepat.
Oleh ayah ibunya ia dibantu untuk menggabungkan ilmu pedang Siang-hui-kiamsut (Ilmu Sepasang Pedang Terbang); dan Sian-li Kiamsut (Ilmu Pedang Dewi).
la telah menguasai ilmu-ilmu pedang gabungan itu, maka kalau ia dijuluki Hui-kiam Sian-li, julukan itu tepat sekali sebagai gabungan Hui-kiam (Pedang Terbang) dan Sian-li (Dewi)!.
"Hek-mo, sudah tulikah telingamu? Tadi Couw-piauwsu sudah memperkenalkan namaku kepadamu. Aku adalah Hui kiam Sian-li dan sekali ini Dewi akan membasmi Iblis Hitam, sudah wajar sekali!"
Mendengar ini, dan kini mengerti bahwa jagoan mereka tadi telah membuat Hek-mo terkapar, para piauwsu tersenyum, bahkan ada yang menertawakan Hek mo.
"Bocah sombong! Kaukira dengan sedikit ilmu totok itu engkau sudah merasa menang? Engkau memakai julukan Pedang Terbang! Nah, ingin kulihat bagaimana pedangmu terbang kecuali diterbangkan oleh golokku ini!"
"Srattt!l"
Nampak sinar berkilat ketika raksasa hitam itu mencabut goloknya.
Golok besar dan berat itu juga mengerikan seperti pemegangnya.
Selain lebar, panjang dan berkilauan saking tajamnya, juga punggung golok yang berbentuk gergaji itu dapat membuat lawan belum apa-apa sudah menjadi gentar.
Agaknya raksasa hitam ini diam-diam merasa jerih juga terhadap ilmu totok atau ilmu tangan kosong dara itu, maka dia sengaja menantang untuk bertanding dengan senjata.
Dianggapnya julukan Si Pedang Terbang itu kosong belaka.
Mana ada pedang dapat terbang, kecuali dalam dongeng kuno?
Sementara itu, Mei Li merasa mendapat hati.
Tak disangkanya bahwa hanya dengan totokannya saja tadi ia sudah dapat membuat raksasa hitam itu roboh.
Timbullah kepercayaan besar kepada dirinya sendiri.
Dan ia merasa bersukur bahwa ayah ibunya telah menggemblengnya secara keras dan tekun, juga kakek gurunya telah memberi bimbingan selama dua tahun dengan keras.
Kini timbul keyakinan dalam hatinya bahwa semua ilmu yang dipelajarinya benar-benar dapat dipraktekkan dan dimanfaat kan.
Ayah dan ibunya selalu menasihatinya bahwa ia pantang untuk membiarkan perasaan benci mcnguasai hatinya.
Kalaupun ia harus menentang kejahatan, maka perbuatannyalah yang harus ditentang, bukan karena kebencian terhadap orangnya.
"Jangan sekali-kali mempergunakan ilmu kepandaian untuk menguasai orang lain, untuk memaksakan kehendak, untuk melampiaskan dendam kebencian. Kalau engkau terpaksa harus membunuh orang, maka lakukanlah itu seperti engkau membasmi ular berbisa atau binatang buas lain yang mengancam keselamatan manusia, tanpa perasaan benci sehingga erigkau tidak akan melakukannya dengan cara yang kejam Dan berpantang lah selalu menghadapi lawan dengan cara yang curang dan licik karena perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan seorang pendekar."
Demikianlah ucapan ayah ibunya yang tak pernah dapat ia lupakan.
Karena itu maka tadi melihat raksasa hitam itu menjadi korban totokan jari tangannya dan terancam mati lemas karena tidak dapat bernapas, ia sudah membebaskan totokannya dengan tendangan kaki.
Melihat Tiat-ciang Hek-mo sudah mencabut golok besar gergajinya, Mei Li yang sudah merasa berbesar hati dan yakin akan kemampuannya sendiri, segera mencabut sepasang pedang yang berada di punggungnya.
Dan dengan pasangan kuda-kuda Dewi-pedang-menari, ia berdiri dengan kedua kaki bersilang, lutut agak ditekuk, pedang kiri diangkat ke atas kepala dan melintang, sedangkan pedang kanan melintang di depan dada, mulutnya tersenyum manis dan matanya memandang tajam ke arah lawan.
Karena Couw Sam dan anak buah ingin sekali melihat bagaimana Dewi Pedang Terbang melawan raksasa hitam itu, juga anak buah Hek-mo ingin menyaksikan pemimpin mereka menundukkan gadis jelita itu, maka kedua pihak hanya menjadi penonton karena memang tidak ada yang memberi aba-aba kepada mereka untuk saling serang.
Tiat-ciang Hek-mo mengeluarkan gerengan seperti auman harimau dan goloknya menyambar dahsyat.
Golok berat itu digerakkan tenaga otot yang kuat maka golok itu menyambar dengan cepat, mengeluarkan suara mengaung dan nampak sinar golok menyambar ke arah kepala Mei Li ketika Hek-mo menyerang dengan bacokan.
"Wuuuuttt...!"
Namun, dengan mudah saja Mei Li mengelak ke samping karena bagi penglihatannya, sambaran golok itu lamban dan mudah baginya untuk menghindarkan diri dengan elakan.
Sambil mengelak, iapun membalas dan pedang kanannya sudah menusuk ke arah lambung lawan.
"Trangg!!"
Bunga api berpijar ketika golok itu cepat membalik dan menangkis tusukan itu.
Mei Li ter kejut karena tenaga otot lawan sedemikian kuatnya sehingga pedang kanan yang terkena tangkisan golok itu terpental, namun tidak sampai lepas dari genggamannya.
Tahulah ia bahwa ia tidak boleh mengadu tenaga dengan raksasa ini dan iapun memainkan sepasang pedangnya dengan cepat dan menghindarkan benturan senjata.
Setiap kali lawan hendak mengadu senjata dengan tangkisan yang kuat, ia menarik kembali pedang yang menyerang itu dan disusul se rangan dengan pedang lain.
Kekuatan melawan kecepatan dan tentu saja Tiat-ciang Hek-mo menjadi repot sekali.
Kecepatan gerakan gadis itu sungguh di luar dugaan dan tahu-tahu saja ujung sebatang pedang sudah mengancamnya.
Terpaksa dia memutar goloknya untuk membentuk perisai sinar golok, akan tetapi kalau hal ini dia lakukan terus menerus, berarti dia hanya melindungi diri dan tidak sempat membalas serangan.
Bagaimana mungkin dia akan dapat menang kalau tak dapat membalas dan hanya melindungi diri saja!
Mei Li yang biarpun kurang pengalaman namun memiliki kecerdikan itu segera dapat menemukan kelebihan dan kekurangan lawan.
Harus ia akui bahwa lawannya itu memiliki tenaga gajah yang kuat sekali, akan tetapi sebagai imbangannya, lawannya itu baginya termasuk lamban.
Karena itu, ia pun mempergunakan kelebihannya dalam hal kecepatan untuk mendesak lawan.
Sepasang pedangnya bergerak cepat sekali, membentuk dua gulungan sinar pedang yang makin lama semakin melebar.
Dari dua gulungan sinar pedang ini kadang mencuat sinar seperti kilat menyambar-nyambar ke arah tubuh Hek-mo yang dilindung i perisai sinar golok yang diputar cepat ke sekitar tubuhnya.
Tiat-ciang Hek-mo terkejut bukan main dan berulang-ulang dia mengeluarkan suara gerengan marah dan memaki-maki.
Tak disangkanya hari ini dia akan bertemu dan bertanding melawan seorang dara yang demikian lihainya.
Gerakan dara itu sedemikian cepatnya sehingga sukar baginya untuk mengimbangi, bahkan untuk mengikuti gerakan sepasang pedang itu saja dia sudah merasa pening, maka satu-satunya hal yang dapat dia lakukan hanyalah melindungi tubuhnya tanpa sempat membalas satu kali pun!
Kecepatan gerakan pedang Mei Li tidak mengherankan kalau orang mengerti bahwa ia adalah puteri Can Kim Hong murid Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu.
Datuk besar ini adalah seorang yang gagu, dan dia mengadakan hubungan dengan orang lain melalui tulisan yang dibuatnya dengan tongkat, dicorat-coret di atas tanah dan bagi Can Kim Hong, ia sudah biasa melihat gerakan coretan tongkat gurunya itu dan setiap gerakan langsung dikenalnya sebagai suatu huruf tertentu.
Karena kebiasaan menulis di udara ini, maka Si Naga Hitam memiliki kecepatan gerakan tangan yang diwariskan kepada muridnya itu, dan selanjutnya, Can Kim Hong juga mengajarkan kepada puterinya.
Bahkan kemudian selama dua tahun, ilmu kepandaian dara ini diperdalam oleh gemblengan Si Naga Hitam sendiri.
Kini gulungan dua sinar pedang itu sudah mengurung ketat dan membuat ruangan gerak golok di tangan Hek-mo makin menyempit.
Ketika Mei Li mengeluarkan suara melengking nyaring, pedang kirinya sengaja dibiarkan tertangkis golok, akan tetapi dara ini mengerahkan sinkangnya sehingga pedang kirinya menempel golok.
Pedang kanannya menusuk dada lawan.
Hek-mo yang melihat keadaan berbahaya ini segera mengerahkan seluruh tenaga menarik goloknya dan membuang diri ke belakang.
Dia berhasil lolos, akan tetapi gerakan cepat Mei Li membuat dara ini sudah dapat mengejar dan sebuah tendangan kaki mengenai perutnya.
"Dukk!"
Memang perut yang penuh lemak itu keras dan kebal, namun tendangan Mei Li juga mengandung tenaga sakti sehingga tubuh Hek-mo terjengkang!
Anak buahnya yang melihat ini se gera berteriak-teriak dan dengan senjata di tangan mereka maju hendak mengeroyok Mei Li, akan tetapi gerakan mereka itu seperti aba-aba saja bagi Couw Sam dan kawan-kawannya untuk menerjang maju.
Terjadilah pertempuran antara sebelas orang anak buah Hek"mo melawan limabelas orang anggauta piauw-kok.
yang dipimpin Couw Sam.
hek-mo sendiri menjadi semakin marah.
Dia adalah seorang tokoh sesat yang jarang bertemu tanding dan dia sudah amat percaya kepada diri sendiri, mengagungkan diri sebagai jagoan tak terkalahkan.
Dia sudah terbiasa menang, maka kini menghadapi seorang dara yang mampu membuatnya roboh sampai dua kali, kemarahannya memuncak.
Crang seperti dia tak pernah dapat atau mau mengakui kekurangan dan kelemahannya sendiri.
Begitu bangkit kembali karena nemang tendangan tadi hanya membuat dia terjengkang dan tidak melukainya, dia menjadi semakin geram.
"Bunuh mereka semua! Bunuh!"
Teriaknya kepada anak buahnya yang sudah mulai bertempur melawan para piauwsu dan dia sendiri lalu menerjang Mei Li dengan goloknya.
Akan tetapi kini Mei Li yang melihat beta pa para piawsu sudah bertempur melawan anak buah Hek I Kui-pang, merasa khawatir kalau-kalau para piauwsu tidak akan marpu menandingi mereka, maka dara ini mengambil keputusan untuk dapat secepatnya merobohkan Hek-mo agar ia dapat membantu para piauwsu.
"Haiiiittt!!"
Mei Li mengeluarkan teriakan melengking dan ketika tangan kirinya bergerak, pedang di tangan kirinya meluncur seperti anak panah menyambar ke arah kepala Hek"mo.
Hek-mo mengira bahwa dara itu menyambitnya dengan pedang, maka dia menggerakkan goloknya untuk memukul pedang yang terbang ke arahnya itu.
Akan tetapi tiba-tiba saja pedang itu melengkung dan membalik ke arah pemiliknya dan pedang ke dua datang menyambar, lebih cepat lagi.
Hek-mo terkejut, tidak mengerti bagaimana pedang itu dapat terbang dan kembali kepada pemiliknya seolah hidup, dan ketika pedang ke dua menyambar, dia mengelak dengan loncatan ke samping dan seperti pedang pertama, ketika pedang ke dua ini luput mengenai dirinya, pedang itu meliuk dan terbang kembali kepada dara itu.
Benar-benar sepasang Hui-kiam (pedang terbang), pikir Hek-mo dengan gentar dan kini sepasang pedang itu sudah menyambar-nyambar bagaikan dua ekor burung garuda memperebutkan korban.
Betapapun Hek-mo mengelak dan berusaha memukul pedang terbang dengan golok, tetap saja tidak berhasil dan pundak kirinya terluka oleh sebatang pedang, merobek kulit pundak sehingga berdarah.
Raksasa hitam itu mulai panik.
Dia tidak tahu bahwa kalau Mei Li menghendaki, kalau dara ini memilki hati kejam dan ganas, tentu sejak tadi dia sudah roboh!
Mei Li masih sangsi dan merasa ngeri sendiri membayangkan bahwa ia harus membunuh orang.
Ia hanya ingin menyelamatkan sepasang pengantin dan merampas kembali harta benda mereka yang dirampok.
Kalau sudah berhasil melakukan itu dan sekedar menghajar para perampok, cukuplah sudah baginya.
Kini Hek-mo benar-benar terkejut dan gentar.
Tahulah dia bahwa dara itu benar-benar amat lihai, dan julukan Hui-kiam Sian-li bukaniah kosong belaka.
Belum pernah dia bertanding dengan lawan selihai ini.
Hek-mo mulai panik.
Biarpun anak buahnya masih bertempur seru dan ramai menghadapi Iimabelas orang piauw-su itu, namun hatinya sudah merasa gentar sekali dan diapun melompat jauh ke belakang dengan maksud mengajak anak buah melarikan diri saja.
"Heii, monyet hitam, engkau hendak lari ke mana?"
Tiba-tiba saja terdengar bentakan orang dan tahu-tahu di depan Tiat-ciang hek-mo telah berdiri seorang pemuda.
Mei Li memandang dan melihat seorang pemuda berpakaian sasterawan yang serba putih, dari sutera putih yanq halus berdiri dengan sikap lembut dan santai di depan raksasa hitam itu.
Pakaian dari sutera putih ini nampak bersih sekali, dan sepatunya dari kulit hitam juga mengkilap bersih dan baru.
Pemuda itu tampan dengan muka putih bundar, hidungnya mancung besar dan matanya lebar, mulutnya selalu tersenyum condong mengejek, rambutnya tersisir rapi dan mengkilap pula karena diminyaki.
Seorang pemuda sastrawan yang tampan dan pesolek.
Tangan kanannya memegang sebatang suling dari perak.
Melihat ada seorang pemuda yang nampaknya lemah berani menghalangnya, bahkan memakinya monyet hitam, tentu saja Tiat-ciang Hek-mo menjadi marah dan tanpa banyak cakap lagi dia menubruk ke depan menggerakkan goloknya untuk membunuh pemuda lancang itu.
Mei Li sudah merasa terkejut dan khawatir sekali.
Jaraknya terlalu jauh baginya untuk melindungi pemuda itu, maka ia hanya menyambit dengan pedang pendek yang ia cabut dari pinggangnya, dituju kan ke arah pundak kanan Hek-mo.
Hek-mo memacokkan goloknya ke arah kepala pemuda berpakaian putih itu.
Pemuda itu dengan senyum dingin menggeser kaki ke kiri sehingga bacokan itu luput dan sulingnya bergerak ke depan, ke arah pundak kanan Hek-mo, bukan untuk menyerang pundak Hek-mo, melainkan untuk menangkis pedang yang di lontarkan Mei Li tadi untuk menolongnya.
"Cringgg!"
Pedang pendek itu tertangkis dan terpental kembali ke pada Mei Li!
Dara itu terkejut.
Pedang pendeknya itu merupakan pedang terbang yang tidak untuk kembali, maka tidak dipasangi tali, diperuntukkan sasaran yang jaraknya jauh dan tidak terjangkau oleh sepasang pedang terbangnya yang diikat tali sutera.
Akan tetapi pedang itu tertangkis suling dan kembali kepadanya.
Ia menerima pedangnya dan menyimpannya kembali, sambil menonton pertandingan yang terjadi antara Hek-mo dan pemuda bersenjatakan suling perak itu.
Dan iapun kagum.
Pemuda itu ternyata lihai bukan main.
Suling perak di tangannya menyambar-nyambar cepat dan berubah menjadi gulungan.
sinar perak yang menyilaukan mata dan mengeluarkan suara, melengking-lengking seolah suling itu ditiup dan dimainkan orang.
Tiat-ciang Hek-mo diam-diam mengeluh.
Kenapa dia menjadi.
amat sial hari ini?
Tadi bertanding dengan dara jelita yang luar biasa lihainya sehingga dia selalu terdesak bahkan beberapa kali roboh, juga pundaknya terluka pedang terbang, dan sekarang, kembali dia harus bertanding melawan seorang pemuda yang juga amat lihai.
Apa lagi pundaknya telah terluka dan terasa perih, juga nyalinya sudah menyempit karena dia merasa tidak mampu menandingi Hui-kiam Sian-li.
Kini, pemuda sastrawan bersuling perak itu ternyata juga memiliki gerakan yang amat cepat.
Pemuda itu ternyata memang hebat.
Berbeda dengan Mei Li yang tadi hanya bermaksud memberi hajaran kepada Hek"mo, kini pemuda itu membalas dengan serangan yang mematikan.
Setiap kali sulingnya bergerak, maka serangan itu merupakan cengkeraman maut.
Kembali Hek-mo harus melindungi dirinya dengan putaran goloknya yang membentuk benteng sinar golok dan kenekatannya untuk menyelamatkan diri ini membuat suling pemuda itu berkali-kali tertangkis.
Karena maklum bahwa kalau dara jelita dengan pedang terbangnya itu membantu si pemuda dia tentu akan celaka, Hek-mo mencari kesempatan dan ketika tangkisan goloknya yang dilakukan sekuat tenaga membuat suling perak itu terpental, diapun meloncat ke belakang untuk melarikan diri.
"Monyet hitam mampuslah! "
Pemuda itu berseru clan dia seperti henclak"
Memainkan sulingnya, menempelkan suling di bibirnya.
Begitu suling itu menempel di bibirnya clan dia meniup, terclengar suara melengking clan tubuh Hek-mo roboh terjungkal.
Dia berkelojotan sebentar lalu tewaslah raksasa hitam itu.
Orang lain tentu akan merasa heran mengapa begitu pemuda itu meniup sulingnya Hek-mo terjungkal dan tewas.
Akan tetapi Mei Li clapat melihat sinar hitam yang menyambar keluar clari ujung suling perak clan menyambar kearah tengkuk Hek-mo, clan mengertilah ia bahwa pemuda itu telah mempergunakan senjata rahasia lembut, mungkin jarum halus hitam yang beracun untuk membunuh Hek-mo.
Jarum beracun yang mengenai tengkuk tentu saja clapat membunuh dengan cepat karena racunnya langsung masuk ke dalam kepala!
Ia mengerutkan alisnya, clan makin tak senang melihat betapa kini pemuda bersuling perak itu mengamuk dengan sulingnya, membantu para piauwsu yang memang telah, menclesak anak buah Hek I Kui-pang.
Pemuda itu mengamuk hebat clan dalam waktu ticlak terlalu lama, sebelas orang berpakaian hitam itupun roboh clan tewas, tak seorangpun sempat melarikan diri.
Tewaslah seluruh gerombolan Hek I Kui-pang yang cluabelas orang itu, sebagian besar tewas di tangan pemuda bersuling perak.
Kalau para piauwsu merasa gembira sekali clan kagum kepacla pemuda bersuling perak yang kini mengebut-ngebut kan pakaian sutera putihnya yang terkena debu lalu menyelipkan suling peraknya di ikat pinggangnya clari sutera me rah, Mei Li menghampirinya clan dengan alis berkerut dan pandang mata marah ia menegur,"Kenapa engkau membunuh mereka?"
Pemuda itu memandang, dua pasang mata bertemu pandang dan pemuda itu tersenyum sehingga nampak deretan gigi nya yang rapi dan putih, dagunya berlekuk ketika dia tersenyum, menambah ketampanannya.
"Nona, bukankah mereka itu gerombolan jahat dan engkau juga membantu para piauwsu ini untuk membasmi mereka? Nona, aku Tong Seng Gun merasa kagum bukan main melihat ilmu kepandaian nona. Bolehkah aku mengetahui nama nona yang mulia?"
Sikapnya sopan dan maris, hanya pandang mata itu yang membuat Mei Li.merasa salah tingkah.
Pandang mata itu seperti menembus dan menanggalkan pakaian!
"Aku hanya orang yang kebetulan lewat, tidak perlu dikenal siapa namaku,"
Katanya dan iapun memutar tubuh, menghampiri kuda putihnya yang masih tertambat di pohon.
"Taihiap, lihiap itu adalah Hui-kiam Sian-Li"
Kata beberapa orang piauwsu ketika melihat dara itu sudah meloncat ke atas punggung kuda putihnya dan melarikan kuda itu dengan cepat meninggalkan hutan itu.
Pemuda itu adalah Tong Seng Gun, pemuda berusia duapuluh satu tahun, cucu Kwi-jiauw Lo-mo yang diangkat anak oleh datuk itu untuk merahasiakan bahwa sesungguhnya Seng Gun bermarga An karena dia adalah putera mendiang pemberontak An Lu Shan dan mendiang puterinya yang bernama Tong Kiauw Ni.
Kalau pemerintah kerajaan Tang mengetahui bahwa pemuda itu putera mendiang An Lu Shan, besar bahayanya dia akan dikejar-kejar, ditangkap dan dihukum sebagai putera seorang pemberontak yang amat dibenci Kerajaan Tang.
Seperti telah kita ketahui, telah terjalin persekutuan kerjasama antara Kwi-jiuauw Lo-mo Tong Lui dan dua orang sutenya, yaitu Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo"ong, bersama Butek Ngo Sin-liong, para tokoh Hoat-kauw.
Tiga orang datuk dan Hoat-kauw membagi tugas.
Kalau tiga orang datuk itu sebagai pembantu Ku Ma Khan kepala suku Mongol akan nenentang suku-suku bangsa lain yang menjadi saingan mereka memperbesar kekuasaan di pedalaman, Hoat"kauw bertugas untuk menundukkan aliran-aliran lain dan berusaha agar menguasai dunia kangouw.
Dan untuk dapat mengawasi hasil gerakan Hoat-kauw, oleh tiga orang datuk itu Seng Gun diperbantukan kepada Hoat-kauw.
Demikianlah,' pada hari itu, kebetulan Seng Gun lewat di hutan itu dan menyaksikan Mei Li dan para piauwsu bertempur melawan Tiat-ciang Hek-mo dan Hek I Kui-pang yang sebelas orang banyaknya itu, dia segera berpihak kepada Mei Li.
Bukan hanya karena menjadi tugasnya untuk membuat nama besar di dunia kangouw sebagai usaha mereka menguasai dunia kangouw, akan tetapi terutama sekali melihat Mei Li yang demikian cantik jelita dan gagah perkasa sehingga otomatis dia berpihak kepada dara itu, tidak perduli siapa yang menjadi lawan gadis itu.
Karena kini gadis jelita yang telah menyelamatkan mereka itu telah pergi tanpa pamit, sepasang pengantin yang sejak tadi hanya saling rangkul dengan ketakutan melihat pertempuran, kini menghampiri Seng Gun dan mereka berdua segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pemuda itu.
Mereka tadi sudah mendengar pemuda itu menyebutkan namanya kepada Hui-kiam Sian-li, maka pengantin pria itu segera berkata dengan suara lantang dan gembira.
"Kami berdua menghaturkan terima kasih kepada Tong"taihiap. Kalau tidak ada taihiap yang menolong, tentu kami berdua telah menjadi korban kebuasan gerombolan iblis itu."
"Terima kasih, taihiap..."
Pengantin wanita juga memberi hormat sambil berlutut dan mengucapkan terima kasihnya.
Seng Gun memandang dan dia tersenyum.
Sungguh lucu melihat sepasang pengantin yang masih mengenakan pakaian pengantin itu berlutut memberi hormat kepadanya.
Akan tetapi, pengantin wanita itu cantik juga.
Usianya paling banyak tujuhbelas tahun, wajahnya manis dan matanya jeli, bajunya bagian atas terkoyak sehingga nampak sedikit kulit dadanya yang putih mulus.
Tidak sejelita Hui-kiam Sian-li memang, akan tetapi cukup lumayan.
"Bangkitlah kalian. Sudah menjadi tugasku untuk menolong siapa saja yang terancam bahaya. Bagaimana kalian sepasang pengantin baru dapat menjadi korban gerombolan itu?"
Tanya Seng Gun dengan sikap dan suara yang lembutdan gagah.
Pengantin pria itu dengan singkat menceritakan bahwa setelah selesai upacara pernikahan di Lok-yang, mereka sedang menuju ke Kwi-yang, tempat tinggal pengantin pria di mana mereka akan mengadakan pesta besar di rumah pengantin pria yang kaya raya.
Mereka membawa barang"barang hadiah dan berkereta, dikawal.oleh Pek-houw Piauw"kiok akan tetapi setelah tiba di hutan itu mereka diserbu gerombolan itu dan mereka berdua ditangkap, barang-barang di rampas dan banyak piauwsu yang roboh tewas.
Kemudian, para piauwsu datang lagi bersama Hui-kiam Sian-li dan muncul pula Seng Gun.
Seng Gun lalu menganjurkan agar para piauwsu merawat teman-teman mereka yang terluka dan mengurus semua jenazah yang berserakan di tempat itu.
"Biar aku sendiri yang akan mengawal pengantin ini dalam kereta mereka,"
Kata Seng Gun.
Mendengar ini tentu saja para piauwsu merasa girang.
Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 1
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 4