Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Pedang Terbang 5

Eps 5 Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo.

Ketika Kang Hin menangkis suling Seng Gun dengan pengerahan tenaga untuk mematahkan suling itu, dari dalam suling itu menyambar jarum-jarum hitam.

Kang Hin yang sedang sibuk menghadapi senjata para pengeroyoknya, tidak sempat mengelak lagi dan dua batang jarum mengenai dahinya!

Dia terhuyung dan terguling roboh.

Tiga orang lawannya dengan gembira menubruk untuk menghabisinya, namun tiba-tiba datang angin bertiup, bagaikan ada badai, dan ketika tiga orang itu terkejut melihat pohon-pohon meliuk keras, ada bayangan berkelebat menyambar tubuh Kang Hin.

Ketika tiga orang itu melihat, ternyata Kang Hin sudah lenyap dari situ.

"Celaka, dia melarikan diri. Kejar!"

Teriak Ang"sin-liong Yu Kiat.

"Ha-ha-ha,"

Seng Gun tertawa dengan sombongnya.

"Apa sih yang perlu dikhawatirkan? Paman sendiri tadi melihat bahwa dahinya telah terkena jarum sulingku. Dan akibatnya hebat, paman. Racun jarumku akan membuat dia mati atau gila. Ingat, yang terkena adalah dahinya!"

Pemuda itu tertawa-tawa dan dua orang rekannya menjadi lega.

"Akan tetapi, apakah yang terjadi? Kenapa dia bisa melarikan diri dan angin topan tadi.. apakah artinya itu?"

Tanya Lai Cin.

"Paman, mengapa khawatir? Orang bengkauw memang memiliki ilmu sihir maka tidak aneh kalau tadi mereka dapat melarikan Kang Hin. Akan tetapi jangan harap kalau mereka mampu menyelamatkan Kang Hin dari racun jarumku!"

Akan tetapi bagaimanapun juga, peristiwa lenyapnya tubuh Kang Hin tadi mendatangkan perasaan tidak nyaman dihati mereka, maka tanpa banyak cakap lagi mereka lalu meninggalkan tempat itu.

Mereka saling berpisah, kedua ang tokoh Hoat-kauw kembali (ke pusat hoat-kauw yang akan mengadakan perayaan di Bukit Harimau sedangkan Seng Gun akan melapor dulu ke Nam-kiang-pang.

Dengan dilengkapi segala macam bumbu dan minyak, Seng Gun menghidangkan ceritanya tentang "pengkhianatan "

Kang Hin sehingga semua tokoh Nam-kiang-pang menjadi marah bukan main.

"Anak tak tahu diuntung! Tak mengenal budi!"

Kata beberapa orang tokoh tua.

"Sejak kecil ketua telah memelihara dan mendidiknya, begitukah balasnya?"

Akan tetapi Tio Hui Po sendiri berdiam diri, dan sepasang alisnya bekerut.

Dia lebih merasa terpukul dan kecewa dari pada marah, juga merasa amat heran.

Sukar dia dapat percaya bahwa muridnya itu, yang sejak kecil merupakan anak yang patuh sekali, kini dapat bersekutu dengan Bengkauw!

"Seng Gun, yakin benarkah engkauj bahwa suhengmu bersekorigkol dengan Bengkauw dan mengkhianati kita?"

"Suhu, tidak ada yang lebih penasaran dari pada teecu. Teecu paling sayang dan paling hormat kepada suheng, akan tetapi tak dinyana sama sekali suheng tega sekali, sampai hati dia berkhianat. Hampir saja teecu menjadi korban dari pengkhianatannya. Untung teecu bersama dua orang rekan dari Ho-at-kauw sempat melarikan diri. Akan tetapi Ho Jin Hwesio, Pek Kok Sengjin, dan Kiang Cu Tojin.... Ahh......"

"Mengapa mereka? Hayo ceritakan, ang terjadi dengan tokoh-tokoh siauw-lim-pai, Butong-pai, dan Kong-thong-pai itu?"

"Mereka telah tewas oleh Ciu Kang Hin dan orang-orang Bengkauw...."

"Jahanam!!"

Kini Tio Hui Po marah sekali.

"Akan tetapi harap suhu tenangkan diri. Pengkhianat itu telah terluka oleh senjata rahasia beracun dari tokoh Hoat"kauw jarum beracun telah memasuki dahinya, pasti dia akan tewas atau gila!"

"Mati atau hidup, kita harus dapat yakin agar kalau ada aliran yang menuntut kita dapat memperlihatkan bukti kematiannya,"

Kata Tio Hui Po. Agaknya Tio Hui Po menjadi patah semangatnya mendengar akan pengkhianat Ciu Kang Hin itu. Dia lalu mengumpulkan semua tokoh Nam-kiang-pang, dan mengadakan rapat besar.

"Perkumpulan kita menghadapi hal-hal penting dan besar. Permusuhan Bengkauw dengan kita belum selesai kini muncul pengkhianatan murid yang tadinya kuangkat menjadi calon ketua. Dan aku sudah lelah, agaknya aku sudah terlalu tua untuk memimpin kalian. Oleh karena itu, hari ini aku mengumpulkan kalian di sini untuk menjadi saksi. Aku menetapkan Tong Seng Gun menjadi ketua Nam-kiang-pang! Di antara para tokoh Nam-k iang-pang, jarang yang tidak setuju, karena mereka maklurn bahwa pemuda yang pandai membawa diri ini memang merupakan orang kedua yang telah menguasai Thian-te To-hoat. Akan tetapi serta merta Seng Gun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya sambil menangis. Tentu saja gurunya terkejut dan bertanya.

"Seng Gun kenapa engkau menangis?"

Setelah menyusut air matanya, Seng Gun menjawab.

"Suhu, teecu menangis karena haru atas budi kebaikan suhu kepada teecu, dan mengingatkan teecu kepada bibi teecu. Akan tetapi suhu, di Nam-kiang-pang ini terdapat banyak murid yang lebih tua dan lebih pandai dari teecu, kenapa suhu memilih teecu? Tugas itu terlalu berat bagi teecu yang bodoh.

"Seng Gun, jangan berkata begitu, Semua anggauta Nam"kiang-pang juga sudah tahu bahwa engkau adalah calon kedua. Karena itu aku mengajarkan Thian-te To-hoat kepada engkau dan suhengmu yang keparat itu. Tidak perlu ditunda"tunda lagi, aku akan mengundang semua wakil partai dunia persilatan untuk menjadi saksi dan untuk merayakan pengangkatanmu. Seng Gun kelihatan terharu dan sama sekali tidak nampak bergembira, pada hal di dalam hatinya dia bersorak karena tujuannya telah tercapai dengan baik. Sesuai dengan rencana yang diatur oleh Sam Mo-ong yang dipimpin oleh kakeknya atau ayahnya, dia berhasil menyusup Nam-kiang-pang dan berhasil pula menguasai partai itu. Juga dia berhasil menghasut semua partai persilatan untuk memusuhi Bengkauw. Di samping semua hasil itu, dia berhasil pula mewarisi ilmu golok Thian-te To-hoat yang merupakan satu di antara ilmu langka di waktu itu. Mulailah para anggauta Nam-kiang pang sibuk. Ada yang membersihkan bangunan-bangunan dan halaman untuk menyambut pesta, dan ada yang mengantar undangan ke segala penjuru. Hari sudah ditetapkan dan semua orang sudah siap menerima datangnya para tamu di pagi hari itu. Setelah matahari naik tinggi, mulai berdatanganlah para tamu. Tidak kurang dari duaratus orang hadir dan pestapun dimulai. Pertama-tama upacara pengangkatan ketua dilakukan. Dari dalam, seperti pengantin saja, keluar ketua Nam-kiang-pang yang tua, yaitu Tio Hui Po, dengan baju kebesarannya, diiringkan tujuh tokoh tua Nam-kiang pang, dan kemudian muncul calon ketua, Tong Seng Gun dan di belakangnya berjalan sutenya, Tio Ki Bhok putera Tio Hui Po yang diaku keponakannya. Para tamu bangkit berdiri untuk menghormati ronbongan ketua ini dan musik dimain"perlahan-lahan. Mereka menghampiri meja sembahyang yang sudah dipersiapkan di tengah ruangan. Ketika rombongan lewat di depan butek Ngo Sin-liong yang juga hadir, terdengar suara cekikikan dari Bi-sin-liong Kwa-lian yang pernah menjadi kekasih Seng Gun, dibalas dengan senyum oleh pemuda itu. Akan tetapi Tio ki Bhok yang ketololan, mengira bahwa wanita cantik itu tertawa kepadanya, maka diapun mengangguk sambil menyerigai lebar. Hal ini dilihat banyak tamu yang segera tertawa geli, dan melihat keadaan ini, wajah Seng Gun berubah merah. Akan tetapi Tio Hui Po tidak melihatnya. Upacara sembahyang dilakukan dan Seng Gun disuruh bersumpah di depan meja sembahyang para leluhur pimpinan Nam-kiang-pang bahwa dia mulai hari itu akan memimpin Nam-kiang-pang dengan kesungguhan hati, dengan setia dan akan mengangkat nama perkumpulan itu. Setelah upacara selesai, Tio Hui Po lalu melepas sabuk emas yang menjadi. lambang ketua, mengenakan sabuk emas itu ke pinggang Seng Gun dan sabuk emas itu mempunyai sebatang golok yang gagangnya terukir indah. Setelah begitu, Tio Hui Po memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.

"Pangcu, mulai hari ini kita semua anggauta Nam-kiang"pang menaati semua perintahmu."

Dengan tersipu Seng Gun lalu menjatuhkan dirinya berlutut.

"Suhu, harap suhu tidak berkata demikian." ."Hushh, ini merupakan upacara yang tidak boleh dilanggar,"

Dan setelah itu, satu demi satu para tokoh Nam kiang-pang memberi hormat kepada ketua muda itu.

Setelah semua orang memberi hormat, barulah tiba giliran para tamu, seorang demi.

seorang maju memberi ucapan selamat.

Seorang hwesio.Siauw-lim-pai maju bersama dua orang tosu, yaitu seorang tosu dari Butong-pai dan seorang lagi dari Kong-thong-pai.

Hwesio Siauw lim-pai itu agaknya menjadi juru bicara kedua orang rekannya.

"Omitohud, pinceng bersama dua orang totiang ini juga ingin mengucapkan selamat kepada ketua Baru Nam-kiang-pang, Semoga dengan pangcu yang duduk memimpin Nam-kiang-pang, hubungan dan kerja sama antara kita menjadi semakin baik. dan kami yakin pangcu akan bersikap jujur terhadap kami se-bagai kawan."

Seng Gun cepat membalas penghormatan itu dengan mengangkat kedua tagan depan dada.

"Terima kasih, suhu, dan ji-wi totiang. Tentu saja kami akan meningkatkan kerja sama di antara kita. Dan bukankah selama ini kami bersikap jujur terhadap sam-wi?"

"Omitohud, pinceng mendengar berita buruk sekali. Bukankah dahulu yang menjadi calon ketua Nam-kiang-pang adalah Ciu Kang Hin! Di mana dia sekarang? Kenapa tidak ikut hadir? Saudara-saudara, hendaknya diketahui bahwa Ciu Kang Hin yang pernah dicalonkan menjadi ketua Nam-kiang-pang itu telah bersekutu dengan Beng-kauw dan dia telah membunuh seorang tokoh Siauw-lim-pai, seorang tosu Butong-pai dan seorang tokoh Kong-thong-pai!"

Segera berita ini disambut dengan suara berisik dari para tamu karena hal itu memang merupakan berita yang mengejutkan sekali.

Mereka semua sudah mengetahui siapa Ciu Kang Hin yang tadinya disohorkan sebagai pembasmi Beng-kauw nomor satu.

Mendengar ucapan ini dan melihat semua orang ribut-ribut, dengan tenang Seng Gun mengangkat kedua tangan ke atas sehingga keributan itu mereda.

Dengan suara lantang dia bertanya kepada hwesio itu.

"Maaf, losuhu. Berita itu memang benar dan baru saja kami hendak mengumumkannya. Akan tetapi dari siapakah losuhu mendengarnya! Kami tidak ingin ada berita yang simpang siur."

"Kami mendengar dari saksi mata yang hidup, yaitu dua orang tokoh dari Bu-tek Ngo Sin-liong!"

Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin melangkah maju dengan gagah dan keduanya mengangkat tangan.

"Benar, kami melihatnya sendiri, rena kami juga melawan Bengkauw bersama sama Tong-pangcu."

"Saudara-saudara sekalian, harap tenang dan dengarkan penjelasanku."

Kata Seng Gun dengan sikap berwibawa seperti dikatakan dua orang lo-cian-pwe dari Bu-tek Ngo Sin-liong tadi.

"memang benar kami bertujuh menyerang Beng-kauw di Bukit Tanduk Rusa. Kita bertujuh adalah aku sendiri, suheng Ciu Kang Hin, kedua lo-cian-pwe dari -tek Ngo Sin-liong, Ho Jin Hwesio dari Siauw-lim-pai, Kiang Cu Tojin dari Butong-pai dan Pek Kong Sengjin dari kong-thong-pai. Ketika kami sedang bertanding, dikeroyok banyak orang Bengkaw, dan kami sudah merobohkan banyak lawan, tiba-tiba suheng Ciu Kang Hin, sekarang bukan suhengku lagi, membalik membantu Beng"kauw menyerang kami cara mendadak sehingga tiga orang tokoh yang disebutkan tadi tewas! Kami bertiga nyaris celaka, akan tetapi beruntung dapat meloloskan diri, akan tetapi dua orang lo-cian-pwe dari Bu-tek Ngo Sin-liong ini berhasil melukai Ciu Kang Hin sehingga kami kira dia tidak akan dapat hidup lagi."

"Omitohud! Kami juga mendengar akan hal itu, akan tetapi kami tidak puas hanya mendengar Ciu Kang Hin terluka saja. Kami menuntut kepada Nam-kiang-pang untuk menghadapkan Ciu Kang Hin kepada kami, hidup atau mati, agar arwah saudara kami yang tewas tidak menjadi penasaran!"

Terdengar teriakan di sana sini tanda setuju. Kembali Seng Gun mengangkat kedua tangannya.

"Baik, baik, kami berjanji dalam waktu satu bulan kami akan menghadapkan Ciu Kang Hin, hidup atau mati kepada cuwi untuk diadili. Nah, marilah kita mulai dengan perayaan ini untuk menghormati cuwi yang terhormat."

Pesta dimulai dan para tamu rata rata merasa senang dan puas dengan sikap ketua baru yang tegas.

Pesta itu bubaran setelah senja hari dan banyak tamu yang pulang dalam keadaan puas dan mabok.

Hanya ada beberapa orang tamu dekat yang tinggal untuk bermalam semalam, di antara mereka tentu saja Bu-tek Ngo Sin-liong!

Seng Gun sendiri sudah setengah mabok dan dalam keadaan seperti itu dia tidak begitu ingat lagi dan berani bercanda dengan Bi-sin-liong Kwan Lian main tebak jari dengan taruhan minum sehingga kedua orang ini menjadi mabok dan tertawa cekikikan, ditonton oleh Bu-tek Ngo Sin"liong yang lain.

Melihat ulah muridnya yang kini menjadi ketua baru itu, Nam-kiang-pang cu yang lama, Tio Hui Po, mengerutkan alisnya dan pergi ke dalam kamarnya.

Dia merasa kecewa sekali dan di dalam kamarnya dia termenung dan mulai meragukan kebijaksanaannya.

Murid utamanya telah hilang, bahkan menjadi pengkhianat, puteranya sendiri tidak becus dan yang diangkatnya sebagai ketua sekarang sesungguhnya seorang yang baru dia,kenal empat lima tahun yang lalu.

Timbul perasaan sedih dan khawatir di hatinya.

Terbayang sikap Ciu Kang Hin yang lembut dan taat, yang sopan dan pandang matanya yang jujur, kemudian terbayanglah dia betapa Seng Gun secara tidak tahu malu bercanda dengan si cantik Bi-sin-liong Kwa Lian di depan banyak orang.

Sementara itu, para tamu telah memasuki kamar mereka masing-masing yang dipersiapkan untuk mereka.

Jumlah para tamu yang menginap hanya ada belasan orang.

Seng Gun dengan sempoyongan juga memasuki kamarnya, akan tetapi tidak sendirian, melainkan berama Kwa Lian.

Dia tidak menyadari bahwa Tio Ki Bhok dengan bersungut-sungut mengikutinya dan pemuda ini mengintai dari jendela kamarnya ketika mendengar suara cekikikan dari dalam kamar itu.

Ternyata pemuda tolol itu jatuh cinta kepada Kwa Lian!.

Ketika Tio Ki Bhok mengintai ke dalam dan melihat betapa Seng Gun bermesraan dengan Kwa Lian, dia terbelalak dan mukanya menjadi merah.

Tanpa pikir panjang lagi ditolaknya daun jendela dan dia melompat masuk.

Tentu saja Seng Gun dan Kwa Lian terkejut sekali dan Seng Gun segera melompat turun dari pembaringan dan membentak.

"Sute, mau apa engkau memasuki kamarku seperti ini?"' "Suheng, nona ini adalah kekasih ku, aku cinta padanya, aku akan minta ayah melamarnya."

"Sute, pergi dan jangan ganggu aku!"

"Ahh, suheng, engkau sudah banyak mempunyai kekasih. Kalau engkau tidak memberikan kepadaku, akan kulaporkan kepada ayah!"

"Bocah tolol! Mau lapor apa kau!"

"Akan kulaporkan bahwa dulu kau pernah menangkap enci ini, dijadikan tawanan akan tetapi kaubebaskan diwaktu malam hari. Malah topengnya kau lempar di luar kamar Ciu Suheng. Hayo.... aku melihat sendiri, kalian tidak dapat menyangkal. Nona ini melepaskan topeng dan melepaskan penyamarannya, aku mengenalnya benar!"

Seng Gun dan Kwa Lian terbelalak, dan muka Seng Gun berubah pucat.

Akan tetapi Kwa Lian yang mempunyai banyak pengalaman, tidak membuang waktu.

la melihat adanya bahaya terbukanya rahasia mereka, maka secepat kilat, wanita cantik jelita ini sudah menggerakkan kepalanya.

Rambutnya tadi memang terlepas dan terurai panjang ketika ia bermesraan dengan Seng Gun.

Kini, rambut panjang itu meluncur ke arah tubuh Tio Ki Bhok.

Kasihan sekali pemuda tolol ini.

Dia memang memiliki ilmu silat yang dapat dikatakan amat tangguh bagi orang awam, akan tetapi menghadapi seorang datuk sesat seperti Bi-sin-liong (Naga Sakti Cantik) Kwa Lian, dia bukan apa-apa.

Dia bingung melihat lembaran rambut halus itu menyambar dan bagaikan ular saja, rambut harum itu telah membelit lehernya!

Dia berusaha untuk melepaskan, akan tetapi tidak mungkin lagi.

Rambut itu seperti menembus kulitnya dan membuat dia tidak dapat bernapas.

Akhirnya dia berke lojotan dan pingsan.

"Jangan bunuh dia!"

Kata Seng Gun.

Kwa Lian melepaskan rambutnya, dan menyanggulnya.

Manisnya bukan main gerakan Kwa Lian ketika menyanggul rambutnya.

Entah mengapa, gerakan wanita yang menyanggul rambutnya selalu menda tangkan gairah tersendiri dalam hati pria!

Kwa Lian memandang kekasihnya.

"Kenapa, Seng Gun? Orang ini berbahaya sekali, kalau dia bicara dan orang lain mendengarkan omongannya, bisa celaka semua rencana kita."

"Justeru itu tidak boleh dibunuh. Akan tetapi kalau dia dibuat tidak mampu bicara dan tidak mampu mendengar, tidak mampu melihat, tidak akan ada yang percaya kepadanya."

"Maksudmu?"

Kwa Lian memandang, lalu maklum dan iapun menubruk dan merangkul, lalu mencium pemuda itu dengan girang.

"Ah, engkau memang cerdik bukan main!"

Seng Gun hanya tertawa ha-ha-he-he, lalu menghampiri Tio Ki Bhok.

Pemuda tolol ini agaknya dapat menduga bahaya apa yang mengancam dirinya karena ketika itu dia sudah siuman kembali.

Dia menjadi pucat, terbelalak dan meng geleng-geleng kepala.

Akan tetapi sekali tangan Seng Gun bergerak, jari-jari tangannya sudah menusuk ke arah teng-gorokan.

Hanya terdengar bunyi "krok"

Dan tulang tenggorokan menjadi remuk, membuat pemuda itu tidak dapat mengelu arkan suara lagi.

Dia membuka mulut lebar-lebar untuk menjerit, akan tetapi tidak mengeluarkan suara.

Seng Gun mengelebatkan golok sambil menangkap lidah Tio Ki Bhok dan l idah itupun putus!

Dua kali lagi tangannya bergerak, sekali ke arah mata dan sekali lagi ke arah bawah telinga dan pemuda itu sudah menjadi seorang tapadaksa yang paling tidak berguna di dunia.

Dia tidak mampu lagi bicara, tidak dapat mendengarkan dan tidak dapat melihat.

Darah membasahi mulut, mata yang berlubang, dan telinga, dan diapun pingsan.

Pada saat itu, hati Tio Hui Po merasa tidak enak.

Tadi dia teringat akan puteranya.

Satu-satunya orang di dunia ini yang dekat dengannya, biarpun bodoh.

Dia lalu keluar dari kamarnya dan memanggil-manggil.

Ketika tiba di dekat kamar Seng Gun, pintu kamar itu terbuka dan Seng Gun muncul.

Cepat dia memberi hormat kepada gurunya.

"Suhu, suhu mencari siapakah?"

"Pangcu, kau melihat Tio Ki Bhok?"

"Sute? Ada teecu melihatnya, suhu. Mari teecu antar, kalau tidak salah dia berada di bangunan bawah tanah."

"Kenapa berada di sana?!"

"Entahlah, suhu. Akhir-akhir ini dia sering termenung di ruang tahanan kosong di bawah tanah itu."

"Aneh...."

Kata Tio Hui Po akan tetapi dia mengikuti Seng Gun menuju ke bangunan bawah tanah.

Bangunan ini berada di belakang, dan biasanya dipergunakan untuk mengeram tawanan yang berbahaya, Akan tetapi sudah lama tidak ada tawanan yang dikeram di tempat itu.

Mereka menuruni lorong yang menurun ke bawah tanah.

Tempat itu menyeramkan, diterangi dengan obor-obor"

Yang dipasang di dinding, dan dinding batu itu lembab dan dingin.

Setelah tiba di ruangan paling dalam, Seng Gun berjalan di belakang membiarkan gurunya berjalan di depan.

Tio Hui Po melihat puteranya ber ada di ruangan tahanan, bersandar pada dinding dan keadaannya amat menyedihkan.

Mukanya penuh darah yang keluar dari hidung mulut mata dan telinga!

Dan puteranya itu agaknya pingsan.

"Ki Bhok!"

Tio Hui Po masuk ke ruangan itu dan menghampiri puteranya.

"Klikk!"

Daun pintu besi ruangan yang luas itu tertutup.

Tio Hui Po menengok dan melihat Seng Gun sudah berdiri di dalam bersama seorang wanita yang dikenalnya sebagai Bi-sin-li-ong Kwa Lian, orang termuda dari Bu-tek Ngo Sin-liong, Mereka berdiri sam-bil tersenyum mengejek.

"Seng Gun, apa artinya ini! Kena pa Ki Bhok menjadi luka begini?"' "Tanyakan saja kepadanya sendiri!"

Kata Seng Gun dengan suara mengejek. Tio Hui Po mengguncang pundak puteranya.

"Ki Bhok, kau kenapa? Siapa yang melukaimu?"

Pemuda itu menggerakkan tubuhnya, matanya sudah buta, mulutnya tak dapat bicara dan telinganya tuli.

Dia hanya bisa menggerakkan telunjuknya, menuding ke arah Seng Gun.

Tio Hui Po memeriksa keadaan puteranya dan ia mengeluarkan jerit ngeri ketika melihat keadaan puteranya yang sebenarnya.

Puteranya lebih baik mati dari pada hidup!

Dia meloncat ganas dan memandang kepada Seng Gun dengan mata memancarkan api kemarahan.

"Seng Gun, apa yang terjadi dengan keponakanku? "Ha-ha-ha, keponakan? Tio Hui Po Ki Bhok itu bukan keponakanmu, melain-kan anak gelapmu dengan Ang-lian"pang-cu yang bernama Siang-cu Sian-li...."

"Tapi ia bibimu?"

"Bibi kakiku! la mati karena kami yang membunuhnya dan kami sudah mengetahui rahasia busukmu dengannya."

Tio Hui Po terbelalak, marahnya sudah sampai ke ubun"ubun, akan tetap' diapun penasaran dan ingin tahu.

"Tapi tapi.... kau menyusup ke Nam-kiang-pang, malah engkau menerima warisan Thian-te To-hoat dan engkau ah, kalau begitu, Ciu Kang Hin juga hanya menjadi korban fitnahmu!"

"Ha-ha-ha, engkau pintar, akan tetapi terlambat, Tio Hui Po. Sekarang aku yang menjadi ketua Nam-kiang-pang, dan kau boleh tinggal di sini selamanya dengan anakmu, ha-ha!"

"Tapi... tapi... kenapa? Siapakah sebenarnya engkau?"

"Ha-ha, sekarang tidak ada persoalan kalau engkau mengenalku, Tio Hui Po. Aku adalah putera An Lu Shan, nama ku An Seng Gun. Aku cucu Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui. Aku ingin mendirikan kembali kejayaan ayahku yang sudah runtuh Dan karena aku membutuhkan nama Nam-kiang-pang maka aku ingin menguasainya Ang-lian-pang kami basmi karena tidak mau tunduk kepada kami. Hoat-kauw adalah sekutu kami. Juga kami akan mempergunakan Nam-kiang-pang untuk membasmi Beng-kauw dan mengadu-domba semua perkumpulan yang tidak mau bekerja sama dengan kami!"

"Jahanam keparat.....! Kau iblis "

Tio Hui Po mencabut goloknya dan menyerang bekas murid itu dengan jurus dari Thian-te To-hoat.

Akan tetapi Seng Gun yang baru saja menamatkan ilmu golok itu, tentu saja mampu menangkis, apa lagi di tangannya terdapat golok pusaka yang turun temurun dimiliki para ketua Nam-kiang-pang.

Biarpun demikian, andaikata Seng Gun tidak sudah mempelajari ilmu dari kakeknya, dan di situ tidak terdapat Kwa Lian, belum tentu dia akan berani menandingi gurunya yang sudah banyak pengalaman dan terkenal sebagai seorang gagah di dunia kangouw.

Tio Hui Po mengamuk dengan golok nya, kini dikeroyok dua oleh Seng Gun dan Bi-sin-liong Kwa Lian.

Baru ting-kat kepandaian Kwa Lian saja sudah sebanding dengan tingkatnya, apa lagi di situ ada Seng Gun yang mengenal semua jurus gerakan goloknya, maka setelah mengamuk selama tigapuluh jurus, akhirnya Tio Hui Po terkena sabetan pedang beronce merah dari Bi-sin-liong Kwa Lian.

Sabetan pedang itu tepat mengenal pergelangan tangan kanannya, membuat lengan itu buntung dan goloknya terlepas!

Serangan susulan dari suling dan golok di tangan Seng Gun membuat bekas ketua Nam-kiang-pang ini terjungkal dengan luka di pundak oleh bacokan golok dan tusukan suling perak pada lambungnya.

Dia tidak mampu bangkit lagi.

Seng Gun tertawa.

"Ha-ha-ha, tinggallah kau di sini menemani putera mu, Tio Hui Po. Jangan khawatir, setiap hari akan kusuruh orang mengantar makanan untukmu!"

Setelah berkata demi kian dia menggandeng Kwa Lian keluar dari ruangan itu dan menguncikan pintu nya dari luar.

Dapat dibayangkan hebatnya penderitaan Tio Hui Po, derita yang dialami itu amat berat, bukan hanya derita lahir melainkan derita batin.

Nyeri badan dapat ditanggung oleh"

Laki-laki yang gagah perkasa ini, akan tetapi nyeri di hatinya membuat dia hampir putus asa.

Akan tetapi dia mempunyai semangat besar.

Dia menggunakan tangan kirinya untuk mengobati luka-lukanya, kemudian melihat keadaan puteranya, dia tahu bahwa jalan satu-satunya bagi puteranya hanyalah kematian.

Dia menyambar goloknya dengan tangan kiri dan memejamkan mata ketika goloknya me nyambar ke depan dan menembus jantung puteranya.

Setelah puteranya roboh tak bernyawa lagi, barulah dia berlutut dan menangis sambil menciumi muka yang masih berlumuran darah itu.

Dia duduk bersila.

Terbayang olehnya semua sikapnya yang keliru selama ini terhadap Ciu Kang Hin.

Ah, betapa buta dia!

Percaya sepenuhnya kepada Seng Gun dan sebaliknya malah mencurigai Kang Hin!

Dia merasa menyesal bukan main.

Penyesalan yang selalu kasep datangnya.

Penyesalan menyusul setiap kali perbuatan mendatangkan akibat yang buruk.

Kalau tidak berakibat buruk, betapapun jeleknya perbuatan itu tidak akan mendatangkan penyesalan.

asal tidak ada gunanya, karena sesal hanya menunjukkan kekecewaan dari tidak tercapainya keinginan.

Penyesalan tidak mendidik dan tidak menyadarkan.

Apakah artinya kesadaran setelah perbuatan dilakukan?

Perbuatan itu akan terulang kembali dan penyesalannyapun akan terulang kembali.

Akan tetapi bagi orang yang waspada akan tindakannya sendiri setiap saat, bagi orang yang selalu bersandar kepada kekuasaan Tuhan, kesadaran akan datang"

Sebelum dia berbuat, sehingga tidak menimbulkan penyesalan yang sudah terlambat.

Dan semenjak hari itu, Seng Gun sepenuhnya berkuasa atas Nam-kiang-pang.

Dia bahkan membasmi orang-orang yang tidak mau tunduk dan yang masih terus menanyakan tentang Tio Hui -po sehingga akhirnya Nam-kiang-pang tinggal orang-orang yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan Seng Gun.

Dan tentu saja hubungan dengan Hoat"kauw menjadi semakin erat, bahkan Hoat-kauw yang tadinya berpusat di Bukit Ayam dekat dusun Li-bun, yang sudah diobrak-abrik pasukan, kini dipindahkan ke Nam-kiang-pang!

Ciu Kang Hin merasa bagaikan dalam mimpi.

Kepalanya berdenyut-denyut nyeri dan panas dan tadi ketika dia roboh, tiba-tiba saja tubuhnya terangkat tanpa dia berdaya untuk melawan, dan tubuh itu diterbangkan orang tanpa dia dapat melihat jelas bagaimana caranya dan siapa orang itu.

Dia sudah pingsan dalam pondongan dan tidak tahu bahwa dia di bawa pergi jauh sekali dari tempat itu dan baru orang yang memondongnya berhenti ketika mereka tiba di atas sebuah bukit bambu yang sunyi.

Pemondongnya menurunkan tubuhnya di.

atas petak rumput yang bersih tebal dan memeriksa dirinya.

Ketika mendapat kenyataan bahwa ada dua bintik kecil berwarna hitam di dahi pemuda itu, si penolong lalu membungkuk, menggunakan mulutnya untuk mengecup bintik di dahi, menggunakan kekuatan saktinya untuk menyedot.

Setelah beberapa lamanya, berhasil juga dia menyedot keluar dua batang jarum hitam halus.

Dia masih terus menyedot sampai darah yang keluar dari dahi itu berwarna merah.

Lalu dia menggunakan dua telapak tangannya, ditempelkan di dada Kang Hin dan menggunakan sin-kang disalurkan ke dalam dada untuk membantu pemuda itu membersihkan diri nya dari hawa beracun.

Matahari telah mulai tenggelam ketika akhirnya Kang Hin tersadar.

Dia mendapatkan dirinya tergantung di pohon bambu besar, tergantung pada kedua kakinya dengan kepala di bawah!

Kang Hin terkejut, masih.

nanar sehingga belum ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya.

Kepalanya masih pening.

Perlahan-lahan dia membuka kedua matanya.

Tak salah lagi.

Dia di.gantung orang di pohon itu dengan kedua kaki.

di atas dan kedua tangannya diikat!

Ketika dia melihat ke bawah, dia melihat seorang pemuda duduk dekat api unggun dan sedang makan paha ayam hutan bakar!

Lezatnya baunya ayam panggang itu.

Biarpun tubuhnya terasa sakit-sakit, mengilar juga Kang Hin mencium bau kesedapan itu.

Kang Hin seorang pemuda yang cerdik.

Biarpun dia masih pening, dia mampu mempergunakan otaknya mempertimbang kan keadaan dan mengambil kesimpulan.

Pemuda itu tidak drkenalnya, bukan seorang di antara para pengeroyoknya tadi, pakaian sederhana dan bersih, Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya jantan, rahang dan dagunya keras akan tetapi matanya lembut dan kocak, mulutnya selalu terhias senyum.

Bukan wajah seorang jahat.

Dan dia tadi mestinya mati, karena sudah terluka oleh senjata rahasia, dan kenyataan bahwa dia berada di sini, biarpun tergantung tapi belum mati membuktikan bahwa dia tentu sudah ditolong orang.

Siapa lagi orangnya kalau bukan pemuda itu?

Kalau pemuda itu orang jahat yang memusuhinya, perlu apa bersusah payah lagi?

Membunuh dia akan mudah sekali.

Tidak, dia bukan orang jahat dan tidak bermaksud membunuhnya.

Kang Hin yakin akan hal ini.

"Sobat, ayammu gurih sekali baunya. Boleh aku minta sedikit?"

Pemuda itu nampak terkejut.

"Hen......? Hah.....? Apa...

"apa kaukata?"

Dia menoleh ke kanan kiri seperti orang bingung.

Kini pemuda itu menengadah, lalu bangkit berdiri.

Ternyata tubuhnya tegap sekali, dadanya bidang dan matanya mencorong.

Pemuda itu adalah Sia Han Lin.

Dia sedang menuju ke Bukit Hari-mau untuk menyelidiki Hoat-kauw yang mengadakan pertemuan dan pesta ketika dia lewat di tempat itu dan secara kebetulan sekali melihat Kang Hin terancam maut di tangan tiga orang yang lihai bukan main'.

Biarpun dia belum mengenal Kang Hin, namun tidak mungkin dia dapat membiarkan saja orang dikeroyok dan dibunuh apa lagi orang yang memiliki kepandaian hebat seperti pemuda itu.

Dia menggunakan ilmu sihirnya mendatangkan angin, lalu menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menyambar dan melarikan tubuh Kang Hin yang setengah pingsan.

Han Lin memang terkejut bukan main.

Tak disangkanya pemuda yang ditolongnya itu akan menegur minta ayam panggang!

Betapa lucunya.

Dan diapun tertawa.

Tadi, setelah menyedot keluar dua batang jarum beracun, dia melihat betapa kuatnya racun itu dan kalau dibiarkan akan dapat mengganggu kewarasan otak pemuda itu.

Maka, dia lalu menggantung Kang Hin dengan kepala di bawah untuk memberi kesempatan kepada darah di tubuh Kang Hin mengalir seba-nyaknya ke kepala dan darah itu akar dengan sendirinya melawan pengaruh racun yang dapat merusak jaringan otak.

Siapa kira, pemuda itu siuman dan minta bagian daging ayam karena lapar!

Sesungguhnya seorang pemuda yang menyenangkan, pikir Han Lin, dan jelas bukan orang jahat.

"Sobat, sayang sekali. Engkau terpaksa berpuasa semalam ini. Tahukah kau, kalau aku memberimu paha ayam ini sama saja aku membunuhmu? Engkau keracunan hebat, dan bergantung terbalik itulah satu-satunya jalan untuk menyembuhkanmu. Engkau tidak boleh banyak bergerak, apa lagi makan. Besok pagi setelah matahari terbit baru engkau boleh turun dan engkau akan sama sekali sembuh. Aku akan membuatkan sarapan yang lezat untukmu. Nah, sekarang kau boleh tidur!"

Kang Hin tertegun. Ah, jadi Ini kah cara pengobatan itu.

"Kawan, siapa namamu?"

"Heii, untuk banyak bicarapun kau dilarang. Tentang nama, besok pagi kita berkenalan juga belum terlambat, bukan? Nah, istirahatlah, bungkus pikiranmu dalam keheningan malam."

Kang Hin dapat merasakan kesungguhan di balik kata-kata yang seperti kelakar itu, dan diapun mematuhinya.

Dia segera menenteramkan hatinya, membenamkan diri dalam keheningan.

Keruyuk ayam jago membangunkan Kang Hin dari tidurnya.

Kepalanya berdenyut-denyut akan tetapi tidak nyeri lagi dan begitu dia sadar hidungnya mencium bau yang amat sedap sehingga dia membuka matanya.

Matahari telah mulai nampak cahayanya dan dia melihat pemuda tadi sedang memanggang seekor rusa kecil yang ditusuk dari mulut ke ekornya.

Panggang rusa itulah agaknya yang mengeluarkan bau sedap tadi, yang membangunkannya bersama keruyuk ayam jantan.

Han Lin mendongak dan memandang, lalu tertawa.

"Ha-ha, kiranya engkau sudah bangun. Alangkah tajam ciuman hidungmu!."

"Dan kau! Alangkah kejamnya hatimu. Orang yang sejahat"jahatnya engkau!"

Terdengar bentak nyaring dan lembut. Dan bagaikan seekor garuda menyambar, seorang wanita telah menerjang dan menempiling kepala Han Lin.

"Wan! 'Han Lin menjatuhkan diri dan bergulingan di atas rumput, menghindarkan diri dari serangan itu.

"Jangan galak-galak, nona."

Akan tetapi gadis itu yang ternyata seorang gadis cantik jelita, berusia tidak lebih dari sembilanbelas tahun, menjadi penasaran ketika tamparannya tadi luput.

la membalik dan kini menyerang lagi dengan tendangan kaki.

Han Lin dapat merasakan betapa tendangan itu mengandung tenaga sinkang yang amat dahsyat.

Maka, diapun mengerahkan tenaga dalamnya dan menangkis.

"Dukk!"

Akibatnya, keduanya terdorong ke belakang dan merasa tubuh mereka tergetar hebat.

Keduanya tertegun dan baru maklum bahwa lawan adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Maka, gadis itu yang bukan lain adalah Yang Mei Li, menjadi penasaran dan mencabut sepasang pedang terbangnya.

"Eh, nanti dulu, aku tidak ingin berkelahi!"

Kata Han Lin sambil duduk kembali ke depan panggang rusanya Akan tetapi hal ini dianggap sebagai sikap memandang rendah oleh Mei Li, maka ia mengelebatkan pedangnya.

"Hayo bangkit dan lawanlah, atau aku akan menggunduli kepalamu!"

Mendengar ini, Han Lin terbelalak.

Suasananya saat itu setelah gadis tadi mengeluarkan ancaman, terasa begitu lucu oleh Han Lin sehingga dia tertawa.

Mana ada lawan mengancam musuh dengan penggundulan rambut?

"Ha-ha, engkau hendak menggunduli rambut-ku?

Berapa biayanya?

Apakah engkau tu-kang cukur?"

Sejenak Mei Li terbelalak, lalu mukanya menjadi merah.

la menganggap pemuda itu mempermainkannya, maka ia menggerakkan pedangnya yang kiri.

Pedang menyambar, Han Lin mengelak, pedang mengejar dan benar-benar mengancam kepalanya.

Terpaksa dia berloncatan.

"Eh! Oh! Nanti dulu, rusa panggang ku ah, wah celaka, bisa hangus.."

Akan tetapi kini Mei Li sudah marah dan terus mendesak.

Karena Mei Li bukan ahli silat biasa, betapapun lihainya tentu saja Han Lin tidak bisa hanya main mengelak saja.

Terpaksa dia menyambar tongkat yang tadinya dia letakkan di atas tanah.

Akan tetapi dia tidak ingin memamerkan iImu tongkat Lui-tai-hong-tung yang dia pelajari dari Lojin.

IImu tongkat itu terlalu dahsyat Maka dia lalu menggerakkan tongkatnya memainkan ilmu Hong-in Sing-pang untuk menangkis sepasang pedang yang mengaung-ngaung dan menyambar"nyambar seperti dua ekor burung garuda itu.

Namun, semua gerakan tongkatnya itu seperti terkepung dan terdesak oleh sepasang pedang, maka diapun mengubah lagi permainan tongkatnya.

Biarpun tahu bahwa lawan amat hebat, dia masih belum mau mengeluarkan Lui-tai-hong-tung, melainkan kini memainkan tongkatnya seperti memainkan pedang saja, dengan ilmu pedang Sian-li Kiam-sut.

Setelah dia main beberapa jurus, Mei Li meloncat ke belakang dan berseru.

"Tahan...,..! Mei Li memandang heran, akan tetapi Han Lin tidak perduli. Dia segera membuang tongkatnya dan lari menghampiri panggang rusa, memutarnya agar tidak hangus dan tersenyum puas.

"Dari mana engkau mempelajari Sian-li Kiam sut?"

Bentak Mei Li sambil memandang tajam. Han Lin tersenyum dan menjawab.

"Nona, apakah nona ini seorang puteri kaisar, atau puteri raja di hutan ini?"

"Eh! Kenapa?"

"Nona bersikap seperti puteri yang memerintah, menuntut dan.memeriksa pesakitan. Nona puteri dari mana?"

Tanya Han Lin sambil tetap melanjutkan pekerjaannya memutar-mutar daging rusa sehingga dapat terpanggang rata.

Karena perhatian Han Lin sepenuhnya tertuju kepada.

panggang rusa, nau tidak mau Mei Li juga memandang kepada panggung rusa itu dan ia menalan ludah.

Sungguh pemandangan yang menimbulkan selera!

Daging itu meneteskan minyak lemak, dan baunya membuat perutnya mendadak terasa lapar sekali.

la merasa betapa sayangnya kalau panggang rusa itu sampai hangus, maka ia menahan diri dan membiarkan pemuda itu menyelesaikan pekerjaannya.

"Ditanya belum menjawab balas bertanya. Engkau selain kejam juga cerewet, dan pengecut!"

Han Lin membelalakkan matanya dan tersenyum kepada panggang rusa di depannya.

"Eh, rusa yang baik, apakah memang wanita cantik itu selalu galak? Nona, kau datang"datang memaki aku sebagai orang yang sekejam-kejamnya, apa sih kesalahanku kepadamu sehingga nona menganggap aku kejam? Apakah karena aku menyembelih dan memanggang rusa ini?"

"Kau masih pura-pura bertanya?"

Mei Li menoleh dan memandang kepada Kang Hin yang masih tergantung di pohon dengan kepala di bawah.

"Kau menyiksa orang seperti itu dan masih bertanya mengapa kau kumaki kejam?"

Han Lin menoleh dan merasa geli.

Kiranya itu yang menyebabkan gadis ini marah-marah dan menyerangnya kalang kabut.

Hal ini mendatangkan kesan baik di hatinya.

Seorang gadis yang memiliki watak gagah dan suka membela orang yang tertindas, pikirnya.

Karena mendapatkan kesan baik, maka timbul ke inginan hatinya untuk menguji kepandaian gadis itu.

Kebetulan panggang rusanya juga sudah matang, tinggal makan dan tunggu agak mendingin saja.

Dia menaruh panggang rusa itu di atas tonggak kayu, kemudian dia mengha dapi Mei Li, memandang penuh perhatian dan mendapat kenyataan bahwa gadis itu memang cantik jelita luar biasa, dan bertanya dengan nada suara menantang.

"Wahai paduka puteri yang mulia, apakah gerangan dosa hamba maka paduka semarah ini? Datang-datang menyerang hamba, hendak menggunduli kepala hamba. Kalau hamba menggantung orang ini, apa sangkut pautnya dengan paduka?"

"Kurang ajar! Engkau jahat, engkau perlu dihajar!"

Dan sekali ini Mei Li marah bukan main dan mencabut sepasang pedang terbangnya. Nampak kilat menyambar ketika dara ini mencabut senjatanya.

"Hemm, hendak kulihat, aku atau engkau yang perlu dihajar,"

Kata Han Lin, sengaja untuk membuat gadis itu semakin marah. Dan memang usahanya berhasil. Mei Li menjadi merah mukanya dan berseru melengking nyaring, sambil menggerakkan pedang kirinya.

"Sambut pedangku!"

Han Lin tidak berani main-main.

Diapun menyambar tongkat wasiatnya yang dia peroleh dari gurunya, menangkis dan balas menyerang.

Namun, karena dia tidak bermaksud buruk, dia masih belum mau memainkan Liu-tai-hong-tung melainkan memainkan Sian-li Kiam-sut yang pernah dia pelajari ketika dia masih kecil, dari mendiang ibunya.

Biarpun Mei Li menjadi semakin heran dan penasaran bagaimana pemuda ini dapat memainkan Sian-li Kiam-sut, ilmu pedang dari ayahnya, namun ia tidak mau bertanya lagi.

Ia harus mengalahkan dulu pemuda jahat ini dan nanti belum terlambat untuk memaksanya mengaku dari mana dia mempelajari ilmu pedang itu.

Akan tetapi, ternyata pemuda itu lihai sekali dan ia bahkan menduga bahwa ayahnya sendiri tidak akan mampu memainkan Sian-li Kiam-sut dengan sebatang tongkat sebaik pemuda itu!

Maka, iapun mendesak dan mengerahkan tenaganya untuk meraih kemenangan.

Sementara itu, sejak tadi Kang Hin hanya menjadi penonton.

Girang sekali hatinya melihat gadis perkasa itu membelanya mati-matian, akan tetapi diapun khawatir melihat mereka berkelahi amat seru, makin lama semakin hebat.

Seorang di antara mereka dapat saja terluka parah dalam perkelahian seperti itu.

"Nona, hentikan seranganmu. Dia bukan orang yang jahat, dia malah menolongku!"

Teriaknya.

Setelah dua tiga kali berteriak, barulah Mei Li.

menghentikan serangannya dan meloncat ke belakang.

Tadi ia sudah mulai mempergunakan ilmu pedang terbangnya sehingga se pasang pedangnya itu bagaikan sepasang garuda menyambar-nyambar membuat Han Lin terkejut dan kagum sekali.

Kini, melihat gadis itu melompat mundur, dia pun memuji.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------(Maaf ada halaman hilang) ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------benar dengan wajah"

Ibuku' Kiranya engkau anak bibi Can Kim Hong dan paman Yang Cin Han? Kata orang wajah ibuku sama benar dengan wajah ayahmu!"

Mei Li terbelalak, mukanya juga berubah pucat, lalu me rah dan seperti didorong oleh sesuatu, entah siapa yang lebih dahulu bergerak, kedua orang muda itu lalu saling tubruk dan saling rangkul.

Dan Mei Li menangis saking terharu dan girang.

Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa ia akan bertemu dengan kakak misannya!

"Sia Han Lin!

Engkau tentu kakak Sia Han Lin!

Ah, Lin"koko betapa kami semua memikirkan dan mengkhawa tirkan dirimu!"

Han Lin dapat' menguasai perasaan hatinya dan dengan lembut dia melepaskan rangkulannya, memegang kedua pundak gadis itu dan mendorongnya ke depan untuk dilihat lebih jelas.

Kedua matanya sendiri menjadi basah, akan tetapi mulutnya tersenyum.

"Terima kasih, adikku Mei Li, terima kasih. Tak kusangka bahwa paman sekeluarga mengkhawatirkan dan memikirkan diriku, dan dipikirkari seorang gadis sehebat engkau sungguh amat menyenangkan hati. Akan tetapi, kebetulan sekali, mari kita bertiga makan bersama. Rusa ini sudah masak benar, masih muda, tentu dagingnya lunak dan gurih."

"Koko, engkau hebat. Perutku memang lapar sekali."

"Ha-ha, jadi agaknya engkau membuat ulah dan ribut-ribut tadi untuk merampas daging rusaku, ya?"

Han Lin mengamangkan telunjuknya sambil tertawa. Mei Li yang memang wataknya lincah jenaka, kini tertawa juga mendengar itu.

"Habis, dari jauh saja panggang rusamu sudah tercium olehku! Cuma aku tadi kaget bukan main dan mengira engkau orang jahat karena engkau membuat saudara Kang Hin tergantung seperti orang disiksa."

"Saudara Kang Hin! Ah, aku hampir lupa kepadamu. Maafkan, jadi namamu Ciu Kang Hin? Aku pernah mendengar nama itu. Bukankah engkau tokoh besar dari Nam-kiang"pang? Kenapa tadi dikeroyok orang-orang Hoat-kauw?."

Kang Hin menghela napas panjang.

Dia tadi ikut tertegun menyaksikan pertemuan antara kakak dan adik itu, dan ikut merasa terharu karena dia sendiri seorang yatim piatu yang tidak mempunyai keluarga lagi.

"Ah, saudara Sia Han Lin, panjang ceritanya...."

Katanya sambil duduk dekat api unggun seperti kedua orang kakak beradik itu.

"Ya, Lin-ko, ceritanya panjang dan memang nasib yang menimpa diri Ciu koko ini buruk sekali,"

Kata Mei Li.

"Agaknya kalian sudah saling mengenal dengan baik,"

Kata Han Lin.

"Tidak, koko. Kami baru saja berkenalan, bahkan sebelum berkenalan, kami sudah sempat saling serang dengan hebat. Aku tidak tahu akan keadaan yang sesungguhnya, maka aku menyerangnya dan berusaha untuk membunuhnya."

"Memang nasibku yang buruk, dan semua ini karena perbuatan Seng Gun yang licik dan melawan nona Yang, bagaimana mungkin aku dapat menang?"

"Ah, engkau merendahkan diri, twako. Lin-ko, ketahuilah bahwa toako Ciu Kang Hin ini adalah pewaris il-mu Thian-te Sin-to yang terkenal. Dia lihai sekali dan aku bukanlah lawannya.

"Bagus, kalian berdua saling merendahkan diri, itu menunjukkan watak yang baik. Sekarang marilah kita makan dulu, saudara Kang Hin perlu makan untuk memperkuat tubuhnya yang lemah. Nanti saja kita saling menceritakan pengalaman masing-masing,"

Kata Han Lin.

Dua orang itu tidak membantah dan mereka bertiga segera mulai makan daging rusa yang amat sedap dan gurih, pada hal bumbunya hanya garam dan bawang putih saja.

Daging itu lunak dan panas, dan Mei Li memuji kepandaian kakaknya memanggang daging rusa.

Mereka makan sampai kenyang dan seekor rusa muda itu hampir habis dimakan oleh mereka bertiga.

Setelah kenyang dan mereka minum anggur yang disediakan pula oleh Han Lin, mereka lalu pindah duduk ke tempat yang bersih dan bercakap-cakap.

Mula-mula Kang Hin menceritakan riwayatnya, sebagai seorang yatim piatu menjadi murid Tio Hui Po, ketua Nam kiang-pang yang amat baik kepadanya.

Dia menjadi murid kesayangan, murid kepala yang dipercaya dan mewarisi ilmu simpanan Thian-te Sin-to-hoat.

Akan tetapi, kemudian datang pula Tong Seng Gun yang dapat pula menarik perhatian dan rasa sayang di hati ketua Nam-kiang-pang sehingga Tong Seng Gun menjadi murid ke dua setelah dia yang menerima warisan ilmu Thian-te To-hoat itu.

Diceritakan pula tentang sepak terjang Tong Seng Gun yang ternyata palsu, bahkan pemuda itu ternyata adalah tokoh Hoat-kauw yang menyusup ke Nam-kiang-pang.

Kini jelas baginya bahwa Seng Gun sengaja hendak mengadu domba antara Nam-kiang-pang dan Beng-kauw juga dengan perkumpulan-perkumpulan persilatan lain.

"Tidak ada yang mengira bahwa dia adalah seorang palsu yang amat jahat, tentu keadaan Nam-kiang-pang berbahaya sekali. Aku harus memberi ingat kepada suhu!"

Kata Kang Hin.

"Jangan tergesa-gesa, Ciu-toako Seng Gun amat licik dan tanpa bukti, mana Sie-pangcu akan percaya kepadamu? Tentu dia lebih percaya kepada Seng Gun."

"Benar sekali. Orang yang bernama Seng Gun itu berbahaya sekali. Bukan saja dia tokoh Hoat-kauw, akan tetapi agaknya dia bekerja sama dengan orang Mongol untuk membikin kacau dan lemah dunia kangouw agar mereka dapat menguasainya. Aku melihat sendiri betapa dia dan kawan"kawannya hampir saja membunuh Pek Kong Seng-jin dari Kong-thong-pai.

"Ah, benarkah itu?"

Kang Hin berseru Kaget sekali.

"Lin-koko, sekarang tiba giliran mu, ceritakanlah riwayatmu sejak engkau lenyap dari kota raja itu. Ke mana saja engkau pergi? Ayahku khawatir bukan main kalau bicara tentang dirimu. Ceritakan sampai engkau melihat Seng un hendak membunuh Pek Kong Sengjin."

Han Lin melirik kepada Kang Hin an berkata "Li-moi, akan kuceritakan entang Seng Gun itu, akan tetapi mengenai riwayatku merupakan cerita panjang yang akan kuceritakan kepadamu lain waktu saja."

Kang Hin maklum bahwa mengena riwayat pribadi pemuda aneh yang menolongnya itu tentu ada rahasia yang hanya boleh diketahui keluarga sendiri maka dia cepat berkata.

"Saudara Han Lin, tentang riwayatmu, tidak perlu diceritakan. Aku hanya ingin sekali tahu tentang Seng Gun karena dia adalah adik seperguruanku yang ternyata merupakan musuh yang menyusup ke Nam-kiang-pang."

Han Lin lalu bercerita tentang pengalamannya Betapa secara kebetulan sekali dia melihat Seng Gun dan dua orang sekutunya menyerang Pek Kong Seng-jin tokoh Kong-thong"pai itu dan mendengar percakapan mereka.

"Seng Gun secara curang telah memukul dan mendorong Pek Kong Seng-jin ke dalam jurang untung secara kebetulan aku berada di sana sehingga berhasil menyelamatkan nyawa tokoh Kong-thong-pai itu. Kemudian aku sempat pula mendengarkan percakapan antara Seng Gun dan dua orang tokoh Hoat-kauw. Ternyata dari percakapan itu bahwa mereka memang sengaja hendak menguasai Nam-kiang-pang dan menggunakan perkumpulan itu untuk mengadu domba antara Beng-kauw dan perkumpulan lain. Agaknya mereka hendak menghancurkan aliran dan perkumpulan lain agar Hoat-kauw menjadi penguasa, dan dalam memusuhi Beng-kauw mereka mempergunakan namamu untuk mengacaukan, saudara Kang Hin."

Kang Hin mengangguk-angguk, agaknya memang sudah diduganya hal itu, dan tiba-tiba dia mengepal tinju dan bangkit berdiri.

"Celaka, suhu tentu terancam bahaya. Mereka tentu mengandung niat busuk terhadap suhu, aku harus menolong suhu!"

"Ciu-toako, aku akan membantumu dan menjadi saksi akan kejahatan Seng Gun!"

Kata Mei Li.

"Kalau kau pulang sendiri, tentu gurumu tidak akan percaya karena dia sudah dipengaruhi Seng Gun."

"Akan tetapi mereka telah melihat engkau membela Beng"kauw, nona, tentu suhu akan lebih marah kepadaku dan kepadamu."

"Aku tidak perduli, aku tidak takut! Kalau suhumu tidak percaya, dia bodoh!"

Kang Hin mengerutkan alisnya Baginya, suhunya adalah satu-satunya orang yang ditaati dan dihormatinya, dan biarpun suhunya sudah bersikap tidak adil kepadanya, namun dia yakin bahwa hal.itu dilakukan suhunya karena suhunya sudah dipengaruhi oleh kelicikan Seng Gun.

"Nona, suhu tidak bodoh, akan tetapi Seng Gun yang terlalu licik dan jahat seperti iblis."

Melihat Kang Hin tersinggung, Han Lin lalu berkata.

"Sebetulnya aku hendak pergi ke Bukit Harimau menyelidiki tentang Hoat-kauw yang hendak mengadakan pesta ulang tahun dan mengumpulkan semua aliran dan perkumpulan besar, akan tetapi melihat gawatnya persoalan yang melanda Nam-kiang-pang, juga masih ada waktu untuk kelak pergi ke Bukit Harimau, biarlah aku menemani kalian ke sana. Girang bukan main hati Kang Hin mendengar ini karena dia yakin bahwa kalau dua orang muda sakti seperti Mei dan Han Lin membantunya, kiranya gurunya dan Nam-kiang-pang akan dapat diselamatkan dari tangan orang-orang Hoat-kauw.

"Terima kasih........ terima kasih"

Hanya itu yang dapat diucapkan berulang kali sambil mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat sehingga mengharukan hati Han Lin dan Mei Li.

"Aihhhh, Ciu-toako, di antara kita sendiri, kenapa harus bersikap sungkan! Mari kita berangkat!"

Tiga orang muda itu lalu menggunakan ilmu berlari cepat, melesat di antara pohon"pohon dalam hutan dan Kang Hin menjadi penunjuk jalan.

Nam-kiang-pang telah dikuasai se penuhnya oleh Seng Gun setelah dia mengeram Tio Hui Po di tempat tahanan bawah tanah.

Dia menyingkirkan dan membunuh banyak orang Nam"kiang-pang yang setia kepada ketua Tio, dan hanya anak buah Nam-kiang-pang yang bersedia taat kepadanya saja yang masih dibiarkan hidup.

Sebagian besar dari mereka mengaku taat dan taluk karena takut, walau-pun diam-diam di dalam hati mereka menentang ketua baru yang berkhianat itu.

Para anak buah Nam-kiang-pang yang terpaksa tunduk kepada Seng Gun ada seratus orang banyaknya, sedangkan kini Seng Gun mendatangkan limpaluh orang anggota Hoat"kauw ini, para angauta Nam-kiang-pang semakin tidak berdaya lagi karena tingkat kepandaian orang-orang Hoat"kauw itu rata-rata lebih tinggi dari tingkat kepandaian mereka sehingga andaikata mereka akan melawanpun tidak ada gunanya karena mereka pasti akan kalah.

Dan limapuluh orang Hoat-kauw itu bersikap sebagai pimpinan dan memperlakukan orang-orang Nam-kiang-pang sebagai pelayan.

Hari itu suasana di Nam-kiang-pang sunyi sekali, pada hal semua angauta dikumpulkan di lapangan.

Seng Gun dan para tokoh Hoat-kauw kemarin pergi meninggalkan perkampungan itu karena mereka akan pergi ke Bukit Harimau menghadiri perayaan pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw.

Nam-kiang"pang kini oleh Seng Gun diserahkan penjagaan dan kekuasaannya kepada limapuluh orang anak buah Hoat-kauw dan seorang tokoh Hoat-kauw bernama Kauw Lo diangkat sebagai pimpinan.

Kauw Lo ini murid dari Ang-sin-liong Yu Kiat, berusia tigapuluh tahun, tinggi besar dan galak bukan main, mukanya hitam karena penyakit kulit maka dia nampak makin menyeramkan.

Akan tetapi dia memang lihai, sebagai murid utama Ang-sin-liong dia pandai mempergunakan sebatang golok besar.

Pagi itu dia mengumpulkan seratus orang anggauta Nam"kiang-pang dan limapuluh orang anggauta Hoat-kauw di lapangan dan dia sendiri berdiri di atas panggung tinggi yang dibuat khusus untuk keperluan memberi perintah dan komando kepada para anak buah.

"Orang-orang Nam-kiang-pang, dengar baik-baik perintahku ini. Kalian semua sudah tahu bahwa penjahat besar Ciu Kang Hin masih berkeliaran dan belum mampus. Selama dia masih berkeliaran, kita tidak akan aman. Pengkhianat itu harus dicari dan dapat ditangkap, mati atau hidup. Oleh karena itu, hari ini kita akan mencari dengan berpencar dan berkelompok kecil. Kalian berpencar menjadi sepuluh kelompok, masing-masing sepuluh orang dan ditemani oleh lima orang Hoat-kauw dan sepuluh kelompok dari limabelas orang itu mencari ke semua penjuru Mengertikah?"

Seperti sekawanan burung orang-orang itu menjawab.

"Kalau nanti di antara kalian ada yang melihat penjahat Ciu Kang Hin harus berseru dan memanggil kawan-kawan."

Pada saat itu, nampak tiga sosok bayangan berloncatan naik ke atas panggung dan terdengar suara nyaring, terdengar oleh semua orang yang berada di bawah panggung.

"Ciu Kang Hin berada di sini!"

Semua orang yang berada di bawah panggung terkejut.

Orang yang menjadi bahan pembicaraan itu kini telah berada di situ, di atas panggung.

Kekagetan membuat mereka hanya melongo saja, tidak tahu harus berbuat apa.

Juga Kauw-Lo terkejut dan melihat dengan mata terbelalak.

Tiga orang yang muncul didepanya itu sama sekali tidak menakutkan apa lagi Mei Li yang cantik jelita, Han Lin yang tersenyum-senyum.

Akan tetapi Kang Hin nampak marah dan menyeramkan, matanya seperti mengeluarkan bara api.

"Ciu-twako serahkan si muka hitam ini kepadaku!"

Kata Mei Li sambil tersenyum mengejek. Kang Hin setuju Orang muka hitam itu tidak penting Yang penting adalah seratus orang bekas anak buahnya yang berada di bawah, yang harus disadarkan.

"Saudara-saudara anggauta Nam-kiang-pang! Perkumpulan kita telah dikuasai orang-orang Hoat-kauw! Tong Seng Gun adalah seorang penyelundup, dia musuh besar Nam-kiang"pang. Hayo kita serang orang-orang Hoat-kauw, jangan takut, ada aku di sini!"

Mendengar ucapan itu, orang-orang Nam-kiang-pang bangkit semangatnya.

Sejak semula mereka memang tidak percaya kalau Kang Hin jahat.

Dan melihat sikap orang-orang Nam-kiang-pang, orang-orang Hoat-kauw menghardik.

"Apa kah kalian berani melawan kami?"

Kang Hin meloncat turun dari atas dan berseru.

"Serbuuuu?"

Maka bergeraklah seratus orang Nam-kiang-pang itu, menggerakkan senjata.

masing-maing menyerang Hoat-kauw sehingga terjadilah pertempuran yang seru.

Kang Hin mengamuk dan bagaikan orang membabat rumput saja dia merobohkan orang-orang Hoat-kauw.

Kauw Lo marah sekali.

Ketika dia hendak meloncat turun, dia dihadang oleh Mei Li.

Melihat seorang gadis cantik berani menghadangnya, Kauw Lo memandang rendah dan membentak.

"Engkau anak perempuan kecil, apakah sudah bosan hidup?"

Mei Li sudah berusia hampir sembilanbelas tahun, sudah merasa dewasa sepenuhnya.

Kini dimaki anak perempuan, tentu saja menganggap makian itu sebagai penghinaan dan mukanya menjadi merah.

Akan tetapi karena ia memang lincah jenaka, maka ia tidak memperlihatkan kemarahannya melainkan menjawab dengan nada suara mengejek.

"Eh, munyuk monyet muka hitam, engkaulah yang sudah bosan hidup dan nonamu yang akan menghabisi riwayatmu yang hitam!"

Kauw Lo dalam keadaan biasa tentu akan mencoba untuk menguasai dan mendapatkan gadis itu karena diapun terhitung orang yang mata keranjang.

Akan tetapi keadaan sekarang amat gawat dengan munculnya Kang Hin yang sudah dia dengar kelihaiannya, maka dia ingin menghalau penghalang itu walaupun merupakan seorang gadis yang amat cantik jelita.

"Mampuslah!"

Bentaknya dan golok besarnya mengeluarkan sinar berkilauan ketika menyambar ke arah leher Mei Li.

Namun, mudah saja bagi Mei Li untuk menghindarkan diri dengan menundukkan kepala dan sinar pedang di tangan kirinya sudah mencuat ke arah perut penyerangnya yang menjadi terkejut setengah mati.

Dengan gugup Kauw Lo melompat ke belakang akan tetapi pedang kanan Mei Li menyambar.

Terpaksa Ia menggerakkan goloknya menangkis dan murid utama Ang-sing-liong ini segera dihujani sambaran pedang sehingga tidak mampu membalas sama sekali.

Melihat bahwa lawan Mei Li tidak berbahaya, bahkan anak buah Nam-kiang-pang yang melawan mati-matian terhadap serangan orang-orang Hoat-kauw yang rata-rata lebih tangguh itu, Han Lin segera melayang turun untuk membantu mereka.

Dia melihat betapa Kang Hin mengamuk, akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak mau membunuh orang, hanya merobohkan saja orang-orang Hoat-kauw itu sehingga dia merasa semakin suka kepada Kang Hin yang dianggapnya berjiwa pendekar dan bukan pembunuh kejam.

Oleh karena itu, diapun bergerak cepat merobohkan para anggauta Hoat"kauw untuk mencegah mereka membunuhi anak buah Nam"kiang-pang.

Pertandingan antara Mei Li dan Kauw Lo tidak terjadi lama.

Tingkat kepandaian dara perkasa itu sudah setara degan tingkat kepandaian guru Kauw Lo, yaitu Ang-sing-liong Yu Kiat orang pertama dari Bu-tek Ngo Sin-liong Maka tentu saja Kauw Lo merasa repot berat sekali menandingi dara itu.

Apa lagi karena Mei Li tidak mau memberi hati sedikitpun juga dan terus menerus mendesak dengan sepasang pedang terbangnya.

Belum sampai duapuluh jurus, pedang ditangan kiri Mei Li yang meluncur dengan cepat seperti kilat itu telah menyambar leher Kouw Lo yang roboh bermandikan darah dari lehernya yang seperti digorok!

Mei Li tidak memperdulikan lagi tubuh yang berkelojotan sekarat itu iapun melayang ke bawah panggung ikut mengamuk.

Para anggauta Hoat-kauw sudah kacau balau dan bercerai-berai menghadapi amukan Kang Hin dan Han Lin, kini ditambah dengan sepasang pedang terbang yang menyambar-nyambar, nyali mereka menjadi kecil dan mereka yang belum roboh segera menggerakkan kaki untuk melarikan diri.

'Hanya belasan orang saja yang mampu meloloskan diri, selebihnya roboh terluka atau tewas.

Dan sebelum ada yang sempat mencegah mereka, para anggauta Nam-kiang-pang telah menghantami mereka yang luka sehingga tewaslah semua orang Hoat-kauw itu.

"Di mana suhu?"

Tanya Kang Hin ke pada seorang anggauta tua.

"Pangcu ditahan di bawah tanah... Mendengar keterangan ini, Kang Hin segera lari diikuti Han Lin dan Mei Li. Dua orang Hoat-kauw yang bertugas jaga dan masih berada dr pintu lorong bawah tanah, menyambut dengan serangan golok. mereka, akan tetapi sekali menggerakkan kaki tangannya Kang Hin membuat mereka terjungkal dan tak dapat bangun kembali. Kang Hin berlari terus sampai tiba di kamar tahanan.

"Suhu!!"

Dia berseru sambil mematahkan rantai pintu dan berlari, menubruk suhunya yang duduk sandarkan dinding kamar tahanan.

Tio Hui Po nampak lemah sekali dan ketika dia melihat Kang Hin, dia menangis tersedu-sedu, menggunakan tangannya untuk menggosok kedua matanya seperti anak kecil menangis.

"Kang Hin.... Kang Hin hu-hu-huuuhh...."

Dia mengguguk.

"Suhu, suhu, apakah yang terjadi Ah, suhu, apa yang telah dilakukanan iblis itu kepadamu?"

Kang Hin bertanya, memandang ke arah tangan kanan gurunya yang buntung. Dia lalu teringat Tio Ki Bhok, keponakan gurunya yang amat disayang gurunya.

"Dan di mana sute Tio Ki Bhok, suhu?"

Tio Hui Po dengan masih menangis meneogok ke kiri, di mana dahulu mayat telah disingkirkan oleh anak buah Hoat"kauw, dan mendengar pertanyaan itu dia menangis semakin sedih.

"Kang Hin.... iihhh, maafkan aku, maafkan gurumu yang tolol ini... ah, semua salahku sendiri, Kang Hin. Iblis itu telah menipuku, dia telah menyiksa Ki Bhok dan terpaksa aku membunuhnya untuk menghentikan penderitaannya. Ya Tuhan, aku telah membunuhnya...membunuh.... puteraku sendiri..."

"Suhu.........!"

Kang Hin terkejut dan khawatir, mengira suhunya sudah berubah ingatan.

"Tak perlu lagi aku menyembunyikan aib itu. Tio Ki Bhok puteraku, ibunya adalah Siang-cu Sian-li ketua Ang-Kiang "Pang yang juga sudah tewas oleh Seng Gun iblis busuk itu. Ahh, aku benar bodoh tertipu oleh iblis yang ternyata orang yang bersekutu dengan Hoat kaw untuk menguasai Nam"kiang-pang."

Dan aku telah mengajarkan Thian-te Sin to kepadanya, dan aku telah mencurigai engkau!

Dia menyiksa Ki Bhok, menjebak aku ke sini dan membuntungi tanganku.....

ah, Kang Hin, aku layak begini,salahku sendiri...."

Orang tua itu nampak sedih sekali dan makin lemah keadaan nya.

"Suhu, tidak ada yang menyalahkan suhu, biar teecu mengobat! suhu, kemudian teecu yang akan menghajar murid murtad itu!"

"Tidak ada gunanya lagi, Kang Hin Aku memang hanya menahan kematian untuk menunggumu. Sekarang aku mohon kepadamu, aku mohon.... bangunlah kembali Nam-kiang"pang.... dan bersihkan namanya"

Tio Hui Po terkulai dan cepat Kang Hin memondong gurunya keluar dari tempat itu.

Setibanya di luar, puluhan orang anak buah menyambut dengan terharu.

Tio Hui Po minta diturunkan, lalu dia bangkit berdiri dengan susah payah, di papah oleh Kang Hin dan diikuti oleh Mei Lin dan Han Lin.

Dia lalu mengerah kan tenaganya, bicara dengan suara lantang "Semua anggauta Nam-kiang-pang, dengarlah baik-baik.

Aku, Tio Hui Po, ketua dan pemimpin kalian, saat ini menyatakan bahwa aku mengangkat Ciu Kang Hin menjadi ketua Nam-kiang-pang yang baru!"

Hampir seratus orang itu menyambut dengan sorakan setuju.

"Dan kedudukan Tong Seng Gun seba gai ketua telah kubatalkan!"

"Bunuh si jahat Tong Seng Gun!"

Anak buah itu berteriak"teriak.

Akan tetapi mereka berhenti bersorak ketika melihat betapa tiba-tiba Tio Hui Po roboh terkulai dan dipapah oleh Kang Hin, melihat betapa pemuda itu menangis dan memangil-manggil gurunya.

Kiranya, Tio Hui Po telah mengerahkan tenaga terakhir untuk bicara tadi.

Hanya sebentar saja Kang Hin menangis karena terdengar suara Mei Li.

"Ciu-toako, tidak ada gunanya lagi kematian Tio"pang-cu kautangisi "

Ucapan itu berpengaruh besar sekali kepada Kang Hin dan diapun bangkit berdiri sambil mengusap air matanya.

"Aku memang lemah dan tidak sepatutnya menangis seperti orang cengeng. Akan tetapi, nona. Suhu satu-satunya manusia di dunia ini yang berbuat segala kebaikan kepadaku, pengganti orang tuaku."

Untuk menghibur hati Kang Hin, Han Lin dan Mei Li tinggal di Nam-kiang-pang sampai jenazah ketua Tio di makamkan.

Kang Hin sendiri lalu membenahi perkumpulan itu, mulai menggembleng semua anak buahnya, meningkatkan kepandaian mereka agar Nam-kiang-pang menjadi perkumpulan yang kuat dan tidak mudah dipengaruhi atau dikuasai orang jahat.

Sudah dua minggu Mei Li tinggal di Nam-kiang-pang.

Besok pagi Han Lin akan mengajaknya pergi ke Bukit Harimau, melihat pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw.

Selama dua minggu ini ia bergaul dengan akrab sekali dengan Kang Hin yang kini ia yakin memang seorang pria yang hebat, sopan dan gagah perkasa, Hatinya tertarik dan ia bimbang.

Sore itu ia duduk di taman belakang rumah induk perkumpulan itu ia mengenang dua orang pria, yaitu Sie Kwan Lee yang kini menjadi ketua Beng-kauw menggantikan ayahnya, dan Ciu Kang Hin yang juga menjadi ketua Nam"kiang-pang menggantikan gurunya.

Hatinya tertarik oleh kedua orang pemuda itu.

Keduanya mengagumkan hatinya dan mendatangkan kesan mendalam.

Sie Kwan Lee biarpun putera seorang tokoh Beng-kauw yang aneh, bahkan tidak mengenal aturan dan pandangan hidupnya berbeda dengan manusia pada umumnya, namun Kwan Lee membuktikan bahwa dia seorang pria berjiwa pendekar yang gagah perkasa.

Kulit mukanya yang coklat itu tampan dan jantan, juga memiliki kejujuran walaupun bicaranya lembut, tidak seperti mendiang ayahnya yang kasar namun juga jujur dan terbuka sekali.

Dan Ciu Kang Hin?

Pemuda tampan gagah inipun mengagumkan hatinya.

Penyabar dan pendiam, tenang seperti air telaga.

Dan sikap kedua pemuda itu kepadanya sungguh mendebarkan hatinya, Nalurinya sebagai wanita membisikkan kepadanya bahwa kedua pemuda yang menarik hatinya itu jelas jatuh hati kepadanya!.

Tiba-tiba saja ia mengerutkan alisnya ketika sebuah wajah menyelinap di antara dua wajah pemuda itu.

Wajah Sia Han Lin, kakak misannya!

Dan ia tersenyum, dan kedua wajah pemuda itu menghilang.

ia merasa berbahagia sekali bertemu dengan Sia Han Lin, kakak misannya itu dan dia juga kagum bukan main karena tahu bahwa kakak misannya itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Akan tetapi dia kakak misannya!

Dia adalah keluarga sendiri.

Entah mengapa, begitu ingat kepada Han Lin, gadis ini merasa gembira sekali.

Kakaknya itu memang periang, jenaka, dan lincah, sungguh menggembirakan.

"Nona Yang!"

Mei Li terkejut.

Karena melamun dan pikirannya me layang"layang, ia sam pai tidak tahu bahwa ada orang mengham pirinya dari belakang.

la memutar tubuhnya dan ternyata Kang Hin sudah berdiri di depannya.

"Ah, Ciu-pangcu.... silakan duduk,"

Katanya sambil tersenyum gembira. Wajah Kang Hin menjadi kernerahan.

"Nona, harap jangan sebut aku pangcu. Buikankah engkau biasa menyebut aku twa ko?"

"Eh, baiklah, Ciu-toako. Memangnya engkau kini pangcu dari Nam-kiang-pang, apa salahnya menyebutmu pangcu? Nah, apakah engkau mencari aku?"

Kang Hin duduk di atas bangku berhadapan dengan gadis itu. Beberapa kali, dia menghela napas panjang dan agaknya sukar sekali untuk mengeluarkan isi hatinya melalui kata-kata.

"Eh, toako. Engkau hendak bicara apakah? Kenapa hanya menarik napas panjang saja dari tadi?"

"Aku teringat suhu,"

Kata Kang Hin.

"Mendiang suhu menderita karena peraturan di Nam-kiang-pang yang dia buat sendiri."

"Aturan apakah itu, toako?"

"Aturan bahwa seorang ketua Nam-kiang-pang tidak boleh menikah. Peraturan itu menjegalnya sendiri ketika dia jatuh cinta dan berhubungan dengan ketua Ang-liang-pang. Rahasia itulah yang menjatuhkannya, karena Seng Gun mengaku sebagai keponakan ketua Ang-liang-pang sehingga memperoleh kepercayaan suhu. Kalau saja peraturan itu tidak ada dan suhu menikah dengan ketua Ang-liang-pang, tentu tidak akan begini nasib suhu."

Mei Li menarik napas panjang, lalu memandang kepada Kang Hin.

"Ciu toa ko, bagaimana dengan pendapatmu sendiri tentang peraturan itu? Apakah engkau setuju?"

Dengan langsung pemuda itu menggeleng kepala dan menjawab.

"Tentu saja aku tidak setuju sama sekali!"

"Kenapa, toako? Apakah karena eng Kau ingin menikah?"

Wajah Kang Hin berubah merah. Baru dia teringat bahwa dialah ketua Nam-kiang-pang dan dia seoranglah yang terkena peraturan itu.

"Aku seorang manusia biasa, nona. Tadinya tidak terpikirkan olehku tentang perjodohan sedikitpun juga, akan tetapi setelah..."

Dan dia berhenti bicara. Matanya tajam menatap wajah Mei Li.

"Kenapa, toako? Kenapa tidak kaulanjutkan? Akan tetapi setelah apa?"

Tanya Mei Li, pura-pura tidak tahu pada hal dari pandang mata pemuda itu dia sudah menduga isi hatinya.

Kini ia merasa jantungnya berdebar.

Beginikah pemuda ini mengakui isi hatinya?

"Setelah..,.

setelah aku bertemu denganmu, nona Yang."

Mau ticlak mau Mei Li menjadi tersipu. Akan tetapi gadis yang lincah clan tabah ini menclesak terus. Ehh? Setelah bertemu denganku pikiranmu lalu berubah, toako? Kenapa?"

"Karena.... karena.... demi Tuhan kalau engkau ingin tahu, nona. Karena aku cinta padamu clan mengharapkan engkau menjadi isteriku!"

Biarpun ia sudah mencluga akan isi hati pemucla itu, mendengar pernyataan yang demikian jujur, Mei Li terkejut juga.

"Ah!"

"Maafkan aku, nona. Tidak sepatutnya aku mengatakan demikian, karena aku tentu saja ticlak pantas untuk menjadi jodohmu"

"Tidak ada yang perlu dimaafkan clan jangan terlalu merenclahkan diri, Ciu-toako. Aku hanya terkejut karena ticlak mengira engkau akan menyatakan perasaan hatimu itu. Akan tetapi, terus terang saja, kita belum lama berkenalan, clan aku.... seclikitpun aku belum berpikir tentang perjoclohan. karena itu, ticlak mungkin aku dapat memberi tanggapan atau jawaban."

"Akan tetapi, engkau ticlak menolak clan ticlak marah, nona?"

Mei Li tersenyum clan Kang Hin merasa hatinya hanvut dalam senyuman yang luar biasa manisnya itu.

"Aku ticlak marah clan bagaimana mungkin menolak cinta kasih orang? Hanya aku ticlak clapat menjawabnya sekarang clan kuharap engkau ticlak menyinggung-nyinggung tentang hal itu lagi, toako."

Kang Hin merasa girang sekali.

Gadis itu memang belum menerima cintanya, namun ia ticlak marah clan ticlak menolak.

Hal ini berarti memberi harapan kepaclanya!

"Terima kasih, nona.

Engkau ticlak marah, hal itu sudah menyenangkan sekali.

Sekarang perkenankan aku mengundurkan diri clan ticlak mengganggumu lagi."

Dia mengangkat tangan memberi hormat lalu pergi dari taman itu.

Akan te tapi kegirangannya mendadak saja berubah menjadi kegelisahan ketika dia teringat akan peraturan gurunya bahwa seorang ketua tidak boleh menikah itu.

Bagaimana mungkin dia dapat melanggar peraturan dari gurunya yang amat dipatuhi dan dihormatinya?

Kang Hin masih termenung duduk di ruangan depan ketika Han Lin memasuki ruangan itu.

Tadi, secara tidak disengaja Han Lin melihat Mei Li dan Kang Hin bercakap-cakap di taman.

Hatinya tergetar melihat kedua orang muda itu bicara dengan begitu akrabnya.

Dia tidak mencuri dengar maka segera meninggalkan tempat itu dan mencatat dalam hati bahwa mungkin sekali adik misannya itu saling jatuh cinta dengan Ciu Kang Hin.

Seorang pemuda yang baik sekali, demikian pikirnya, tanpa memperdulikan perasaan hatinya yang merasakan suatu kegetiran aneh.

Ketika dia lewat di ruangan depan dan melihat Kang Hin termenung dengan wajah murung, diam-diam dia merasa khawatir.

Apakah Mei Li telah menolak cintanya?

Rasanya tidak, karena mereka tadi bercakap-cakap dengan akrab.

Kang Hin mengangkat muka dan segera dia bangkit berdiri ketika mengenal siapa yang datang.

"Ah, Sia-ingkong (tuan penolong Sia), silakan duduk."

Mendengar sebutan in-kong itu, Han Lin tersenyum.

"Ah, Ciu-twako, harap jangan menyebut aku inkong. Kita sama"sama mengetahui bahwa membantu orang yang benar dan terancam malapetaka adalah merupakan kewajiban kita. Engkau sendiripun tentu akan berbuat seperti aku. Karena itu, adalah wajar saja dan jangan terlalu dilebihkan. Engkau lebih tua setahun dariku, sebut saja aku adik."

Mendengar ucapan itu, Kang Hin menjadi berseri wajahnya.

"Sia-siauwte (adik Sia), engkau sungguh seorang budiman sejati. Baiklah, aku merasa bangga sekali dapat menyebut siauwte kepadamu. Silakan duduk."

Mereka duduk berhadapan dan Han Lin langsung saja bertanya.

"Twako, aku melihat engkau termenung dan muram, ada urusan apakah gerangan yang mengganggu hatimu, kalau aku boleh mengetahuinya?"

"Aku teringat kepada suhu."

"Ah, tidak baik mengingat yang sudah mati dengan kesedihan. Tidak akan memberi jalan terang kepada yang mati, twako.

"Aku tidak teringat akan kematian suhu, melainkan akan peraturan yang ditinggalkannya."

"Peraturan apa yang kaupikiran itu, twako? Bukankah mendiang Tio-pang-cu meninggalkan peraturan-peraturan sebagai layaknya ditrapkan pada perkumpulan yang gagah perkasa?"

"Engkau tahu, siauwte. Suhu menderita kesengsaraan adalah akibat dia melanggar peraturan, yaitu peraturan tidak boleh menikah. Karena peraturan itu, maka suhu mengadakan hubungan gelap dengan ketua Ang-liang-pang dan hal ini dijadikan modal oleh Seng Gun untuk menyusup ke Nam"kiang-pang."

"Tapi, toako. Peraturan itu tidak ada hubungannya dengan dirimu, kenapa disusahkan? Atau.... apakah berangkali Ciu"toako juga mempunyai niat akan menikah?"

"Aku hanyalah seorang laki-laki biasa, siauwte, yang dapat saja jatuh cinta kepada seorang wanita dan menikah. Akan tetapi, dengan adanya peraturan itu, aku merasa dibelenggu."

Han Lin merasa isi dadanya seperti ditusuk, kini tahulah dia bahwa Kang Hin dan Mei Li sudah saling mencinta akan tetapi hal ini malah menyusahkan hati Kang Hin karena mereka tidak bisa menikah oleh adanya peraturan itu.

Akan tetapi dia tersenyum cerah dan tidak memperlihatkan perasaan hati nya.

Bahkan dia merasa iba kepada Kang Hin.

"Apa susahnya, toako? Siapa yang membuat peraturan itu? Tentu ketua Nam-kiang-pang yang dahulu, bukan.Nah, kini ketuanya adalah engkau, maka engkau berhak mengubah dan mengadakan peraturan baru. Engkau dapat membatalkan larangan itu dan membolehkan ketua Nam kiang-pang berumah tangga dan berkeluarga."

"Tapi.... tapi.... apakah hal itu bukan suatu pelanggaran dan memalukan sekali?"

"Eh, kenapa melanggar? Kalau peraturan itu mengenai sepakterjang yang menunjukkan kegagahan seorang anggauta Nam-kiang-pang, tentu akan buruk sekali, misalnya engkau membolehkan seorang anggauta untuk melakukan kejahatan. Akan tetapi, pernikahan bagi seorang ketua perkumpulan adalah wajar, apa lagi perkumpulanmu bukanlah perkumpulan para pendeta. Kalau engkau kumpulkan semua anggauta dan kau ambil ke putusan, mengumumkan dicabutnya peraturan itu, maka tentu saja sudah sah dan tak seorangpun dari luar perkumpulan boleh mencampuri."

Wajah Kang Hin kini berseri.

"Ah, begitukah, siauwte? Sungguh, ucapanmu ini melegakan hatiku. Terimakasih banyak, Sia-siauwte. Han Lin tersenyum.

"Kupujikan saja engkau akan berhasil menyunting bunga idamanmu itu, toako. Aku hanya mengharapkan kartu undangannya saja."

Wajah Kang Hin berubah merah.

"Aih, siauwte, biarpun aku berterima kasih atas pujianmu itu, namun aku belum mendapat kepastian tentang hal itu."

Jawaban ini saja membuat Han Lin mengerti bahwa di antara adik misannya dan pemuda ini belum terdapat pertalian cinta kasih.

Dan sungguh aneh, ada semacam kelegaan menyusupi hatinya.

Han Lin diam-diam terkejut melihat kenyataan dalam dirinya ini.

Berarti bahwa dia mencinta piauw-moinya itu.

Mencinta Mei Li yang adik misannya sendiri?

Pada keesokan harinya, Han Lin dan Mei Li berpamit dari Kang Hin dan ketika berpamitan ini, diam-diam Han Lin memperhatikan sikap Mei Li.

Biasa-biasa saja, tidak nampak kesedihan se pasang kekasih yang berpisah.

Namun jelas bahwa Kang Hin nampak lesu seperti kehilangan semangatnya sehingga dia merasa kasihan kepada pemuda itu.

Cinta Sepihak?

Entahlah, akan tetapi mudah-mudahan begitu dan dia terkejut sendiri dengan harapan hatinya ini.

Karena waktu diadakannya pesta oleh Hoat-kauw tinggal seminggu lagi, maka Han Lin dan Mei Li tidak menolak ketika Kang Hin memberi dua ekor kuda yang baik ke pada mereka.

Mereka melakukan perjalanan berkuda dengan secepatnya menuju ke arah Bukit Harimau.

Setelah Han Lin dan Mei Li pergi, Kang Hin cepat mengumpulkan anak buahnya.

"Kita harus pergi ke sana, ke Bukit Harimau. Kita harus membuat pembalasan dan membantu mereka yang menentang Hoat-kauw yang bersekutu dengan orang Mongol untuk mengacaukan keadaan Dan aku akan melapor ke benteng pasukan pemerintah."

Demikianlah, kalau tadinya Kang Hin tidak menyatakan niatnya itu kepada.

Mei Li dan Han Lin, adalah karena dia tidak ingin gerakan besar-besaran itu diketahui orang lain dan mungkin kedua orang itu akan mencegahnya.

Setelah memberitahu anak buahnya, dia sendiri pergi ke benteng pasukan Kerajaan Tang yang berada sekitar limapuluh li jauhnya dari Nam-kiang-pang.

Nam-kiang-pang sudah dikenal baik oleh para komandan pasukan.

Bahkan Tio-pangcu pernah berjasa dengan ikut pasukan membasmi gerombolan pemberontak sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Pasukan mengenal Nam-kiang-pang sebagai perkumpulan orang gagah.

Oleh karena itu ketika terdengar berita ada keributan di Nam-kiang-pang, para komandan merasa segan untuk mencampurinya.

Kini, seorang gagah yang mengaku sebagai ketua Nam-kiang-pang datang mohon menghadap komandan, tentu saja dia segera.

di terima dengan baik dan oleh penjaga dia dikawal menuju ke ruangan tamu dan komandan pasukan itu, Bu-ciang-kun yang nama lengkapnya Bu Kim Thouw, setelah diberi laporan, segera pula menyambutnya.

Setelah memberi hormat dan dibalas oleh komandan Bu, Kang Hin memperkenalkan diri sebagai ketua Nam-kiang-pang yang berkunjung untuk melaporkan hal yang amat penting.

"Nanti dulu, Ciu-pangcu. Yang kami ketahui, Nam-kiang"pang diketuai oleh Tio-pangcu.

"Benar sekali, ciangkun. Akan tetapi Tio-pangcu meninggal dunia dan saya adalah muridnya yang diangkat untuk menggantikan kedudukannya."

"Ahhh! Kapan dan bagaimana meninggalnya? Kenapa kami tidak diberitahu?"

"Belum lama terjadinya dan karena ini menyangkut urusan dalam, maka tidak disiarkan keluar. Suhu tewas di tangan persekutuan jahat dan persekutuan itu bertujuan menggulingkan pemerintah, karena itulah saya sengaja datang menemui ciangkun untuk membuat laporan. Mendengar ada persekutuan hendak menjatuhkan pemerintah, tentu saja Bu-ciangkun segera menaruh perhatian dan mendengarkan dengan tertarik. Kang Hin tidak menyembunyikan sesuatu. Dimulai dengan menyelundupnya Tong Seng Gun ke dalam Nam kiang-pang, kemudian betapa Seng Gun dan rekan-rekannya berusaha mengadu domba antara partai aliran dan perkumpulan untuk melemahkan dunia persilatan, kemudian betapa Seng Gun yang ternyata adalah antek Mongol itu bekerja sama dengan Hoat-kauw. Mendergar laporan itu, Bu-siang-kun mengerutkan alisnya. Hal itu merupakan berita penting dan gawat.

"Sudah yakin benarkah engkau bahwa Hoat kauw bersekutu dengan orang Mongol Ciu-pangcu?"

"Sudah ada buktinya, ciangkun. Bahkan saya sudah melakukan penyelidikan diantara para anggauta kami yang dahulunya dipaksa menjadi anak buah Tong Seng Gun bahwa dia sebetulnya adalah murid dari Sam Mo-ong yang menjadi antek orang Mongol. Kabarnya Sam Mo-ong ini adalah kaki tangan Ku Ma Khan, kepala suku Mongol yang berpengaruh itu."

"Ah, kita harus bergerak! Di mana sarang mereka, pangcu?"

"Mereka suka berpindah-pindah, memang cerdik orang"orang Mongol itu. Akan tetapi beberapa hari lagi Hoatkauw mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang para tokoh kangouw. Tentu untuk dipengaruhi atau dipaksa mendukung gerakan mereka dan saya kira tokoh-tokoh Mongol itu akan hadir pula. Saya sendiri akan membawa anak buah saya untuk menyerbu ke sana. Kalau ciangkun percaya kepada saya dan suka bekerja sama, saya mohon bantuan pasukan...."

"Tentu saja, pangcu. Bahkan aku sendiri yang akan memimpin limaratus orang pasukan!"

Tentu saja Kang Hin merasa girang dan berterima kasih sekali.

Mereka berangkat hari itu juga, seratus orang anak buah Nam-kiang-pang dan limaratus orang pasukan yang dipimpin sendiri oleh Bu-ciangkun.

Bukit Harimau mendapat kunjungan banyak orang sehingga suasananya ramai dan meriah.

Puncak bukit itu memang merupakan lapangan yang luas sekali dan di sana dibangun pondok-pondok darurat yang mengelilingi sebuah panggung yang luas dan di situ disediakan tempat duduk yang banyak sekali.

Dalam peristiwa yang amat penting bagi Hoat-kauw itu, karena saat itu bukan saja merupakan pesta ulang tahun, akan tetapi juga merupakan penentuan keberhasilan usaha mereka bekerja sama dengan pihak Mongol, yaitu meharik semua golongan untuk membantu Mongol dan tunduk kepada Hoat-kauw sebagai pimpinan, maka Bu-tek Ngo Sin-liong yang merupakan tokoh-tokoh Hoat-kauw, juga hadir pula ketua Hoat-kauw, yaitu Hoat Lan Siansu, paman guru dari Bu-tek Ngo Sin-liong yang sudah berusia tujuhpuluh tahun.

Kakek ini merupakan datuk besar dunia persilatan yang tingkat kepandaiannya sejajar dengan pera ketua perkumpulan besar seperti ketua Beng-kauw, ketua Im-yang-kauw dan lain-lain.

Dan tentu saja wakil dari orang Mongol, yaitu Sam Mo-ong hadir pula di sana bersama Tong Seng Gun yang sudah dianggap berjasa besar menundukkan Nam kiang-pang dan menanam permusuhan di antara para tokoh dan perkumpulan dunia persilatan, bersama orang-orang Hoat-kauw.

Sedangkan Sam Mo-ong sendiri dengan pasukan khusus Mongol telah menundukkan banyak suku bangsa di utara yang dipaksa untuk membantu gerakan Mongol kalau saatnya sudah tiba.

Bukan saja para tokoh besar yang lihai itu berada di situ, akan tetapi diam-diam merekapun mengerahkan anak buah mereka.

Hoat-kauw sendiri menaruh orang sebanyak duaratus lebih di situ, juga pasukan khusus Mongol yang terdi-ri dari seratus orang memasang barisan pendam atau barisan yang tersembunyi, siap menjaga keselamatan para pimpinan mereka!

Biarpun pesta baru akan diadakan besok, akan tetapi hari itu sudah banyak orang datang.

Dan di antara mereka itu terdapat seorang gadis cantik jelita yang tentu saja menarik perhatian banyak orang.

Gadis berusia delapan belas tahun lebih itu memang cantik je lita dan menarik perhatian.

Nampak begitu lembut dan lemah gemulai.

Langkahnya saja seperti seorang penari ketika ia meloncat turun dari atas sela kudanya dan menundukkan mukanya sambil menuntun kuda.

Apa lagi ia tidak memegang sepotongpun senjata tajam sehingga hanya kelihatan sebagai seorang puteri hartawan atau bangsawan terpelajar yang lemah.

Akan tetapi kalau orang mengetahui siapa ia, tentu orang itu akan tertagun dan kaget.

Gadis ini bukan lain adalah Ji Kiang Bwe, yang biarpun usianya baru delapanbelas tahun namun telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dan tinggi dari Pek Mau Sinkouw, seorang datuk yang mengasingkan diri.

Dan ia adalah ketua dari Kim-kok pang namun tidak ada orang mengenalnya, karena baru beberapa pekan saja ia menjadi ketua, menggantikan ayahnya yang terbunuh dalam pertandingannya melawan orang Hoat"kauw.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ji Kiang Bwe bertemu dan berkenalan dengan Souw Kian Bu yang menjadi tamunya.

Kemudian Ji Kiang Bwe menerima surat undangan dari Hoat-kauw untuk.datang kepesta ulang tahun di Bukit Harimau.

Ia menolak ketika Kian Bu hendak menemaninya, dan pemuda itu lalu meninggalkan Kim-kok-pang.

Hari ini, Kiang Bwe tiba dari perjalanannya berkuda menuju bukit itu.

Para tokoh Hoat-kauw sudah mengatur sedemikian rupa sehingga kedatangan setiap orang telah diketahuinya dari kaki bukit mula.

Maka, kedatangan gadis inipun sudah diketahui.

Semua orang merasa heran.karena tidak ada yang mengenalnya.

Ketika Bi-sin-liong Kwa Lian, si cantik dari Bu"tek Ngo Sin-liong mengirim surat undangan, ia hanya menyerahkan kepada seorang anggauta Kim-kok-pang untuk disampaikan kepada pimpinannya, tidak tahu bahwa kini yang menjadi ketua Kim-kok-pang adalah seorang gadis muda, puteri dari ketua yang telah tewas dalam perkelahiannya melawan Ang-sin-liong Yu Kiat.

Biarpun tidak mengenalnya, akan tetapi karena ia.

cantik jelita dan kedatangan nya seorang diri dan penuh rahasia, menunggang seekor kuda yang baik dan pakaiannyapun seperti seorang puteri bangsawan dan indah rapi, maka Lam-hai Sin-liong Kwa Him, orang ke empat dari Bu-tek Ngo-Sin-liong yang memiliki watak mata keranjang, segera mewakili Hoat-kauw menyambutnya.

Kiang Bwe melihat seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun lebih bermuka merah bertubuh tinggi besar, di pinggangnya terdapat sepasang golok, maju menghadang dan menyambutnya dengan senyum.

Laki-laki itu member!

hormat.

Kiang Bwe menahan kakinya dan mem balas penghormatan itu sambil memandang penuh perhatian.

"Selamat datang, nona. Kami merasa mendapat kehormatan besar dengan kunjungan nona. Nona dari golongan dan partai apakah? Kami perlu mengetahui untuk mengatur tempat penginapan bagi nona.

"Tidak perlu repot-repot. Aku dapat melewatkan malam di bawah pohon. Namaku Ji Kiang Bwe dan aku adalah ketua baru Kim-kok-pang."

Kwa Him tertegun.

Dia tahu bahwa Ji-pangcu, ketua Kim"kok-pang, beberapa bulan yang lalu tewas di tangan twa suhengnya, dan sumoinya, Kwa Lian, telah mengirim surat undangan kepada pimpinan Kim-kok-pang.

Siapa kira ketuanya yang sekarang gadis yang begini cantik!

Kim-kok"pang amat penting untuk ditundukkan, karena perkumpulan itu dapat menjadi sumber keuangan yang kuat, maka diapun segera memberi hormat lagi.

"Aih, kiranya nona adalah Pangcu dari Kim-kok-pang. Mari, nona silakan, tempat untuk istarahat nona sudah dipersiapkan."

Dia lalu menuntun kuda itu dari tangan Kiang Bwe yang menyerahkan kendali kudanya, dan mengajak gadis itu menuju ke sebuah pondok yang kecil mungil.

Kwa Him menambatkan kuda itu di depan rumah dan berkata.

"Silakan, nona, dan anggaplah pondok ini sebagai rumahmu sendiri."

"Terima kasih,"

Jawab gadis itu sederhana, tanpa ingin tahu siapa orang yang mewakili Hoat-kauw menyambutnya itu.

Namun, hal ini membuatnya waspada, karena sekarang orang Hoat-kauw sudah tahu bahwa ia adalah ketua Kim-kok-pang dan tentu saja mereka dapat menduga bahwa kedatangannya bukan hanya karena undangan, melainkan ada hubungannya dengan kematian ayahnya.

Ia lalu membuka daun pintu pondok yang tidak terkunci dan ternyata pondok kecil itu bersih dan.cukup menyenangkan.

Ia lalu membuka sepatunya dan bersila di atas dipan kayu untuk bersamadhi.

Kiang Bwe tidak menyadari bahwa sejak dari kaki bukit tadi, diam-diam ada orang yang membayanginya dari jauh.

Orang ini adalah seorang pemuda tampan bercaping lebar dan membawa pedang di punggungnya.

Dia adalah Souw Kian Bu.

Seperti telah diceritakan terdahulu, ketika Kiang Bwe menolak dia temani ke Bukit Harimau, dia bertanya kepada gadis itu di mana dan kapan pesta Hoat-kauw diadakan.

Berdasarkan keterangan gadis itu, dia dapat mencari tempat itu dan bahkan mendahului Kiang Bwe sehingga dia dapat membayangi gadis itu.

Dia tidak mau memperlihatkan diri, khawatir kalau-kalau Kiang Bwe menjadi tidak senang.

Akan tetapi diam diam dia mengambil keputusan untuk melindungi gadis yang ternyata telah mencuri hatinya itu.

Cinta memang sesuatu yang rahasia dan ajaib.

Dari manakah asalnya dan apa penyebabnya?

Cinta jelas bukan sex, karena binatang agaknya tidak mengenal cinta, kecuali induk kepada anaknya, namun binatang mengenal sex.

Dari manakah datangnya?

Memang, pertama kali orang jatuh cinta setelah melihat lawan jenisnya.

Akan tetapi, inipun belum benar, karena bukankah orang buta juga dapat jatuh cinta?

Tentu saja pengenalan pertama melalui pancaindranya, ini berarti bahwa cinta ada hubungannya dengan jasmani, cinta timbul dari daya tarik alami antara lawan jenis, kemudian diperkuat oleh nafsu berahi.

Sukar membayangkan kita dapat mencinta kekasih kita yang sekarang kalau andaikata hidungnya mendadak lenyap atau cacat lain yang membuat wajahnya menjadi mengerikan.

Itu menandakan bahwa dalam cinta terkandung nafsu yang tertarik oleh keindahan tubuh.

Sukar pula membayangkan kita dapat mencinta seseorang yang tidak lagi dapat berhubungan badan sebagai suami isteri!

Inipun menandakan bahwa di dalam cinta terkandung nafsu berahi.

Semua ini sudah wajar karena memang sudah kita bawa serta ketika lahir.

Namun, di antara banyak wanita cantik, di antara banyak pria tampan, mengapa ada seorang yang tertentu yang kita cinta?

Kenapa kita tidak mencinta semua wanita cantik atau semua pria tampan?

Di sini menunjukkan bahwa di dalam cinta ada pengaruh batiniah, bukan sekadar badaniah, yang mungkin sekali berujut dengan persamaan selera, persamaan watak, prilaku dan sebagainya lagi.

Maka, tidak mengherankan kalau ada pria tampan jatuh cinta kepada wanita yang tidak cantik, sebaliknya banyak wanita cantik jatuh hati kepada pria yang tidak tampan.

Demikian banyak lika-liku cinta sehingga tiada bosan"bosannya kita membicarakannya.

Bagaimanapun juga, bukankah hidup ini cinta juga?

Entah itu cinta kepada kekasih kepada sahabat, kepada sanak keluarga, kepada tanaman, benda atau hewan atau lingkungan, bahkan cinta ke pada diri sendiri atau makanan!

Cinta menimbulkan gairah untuk hidup, untuk melanjutkan hidup.

Kalau orang tidak mempunyai perasaan cinta lagi kepada apapun juga, maka sama halnya orang itu sudah mati!

Selain Kang Bwe yang muncul di situ dan Kian Bu yang datang secara gelap, sembunyi-sembunyi berbaur dengan para tamu sehingga tentu saja dia disangka seorang anggauta rombongan tamu, muncul pula Han Lin yang datang bersama Mei Li.

Kedatangan gadis inipun menarik perhatian banyak orang, karena walaupun ada pula tokoh-tokoh wanita dunia kangouw yang datang, namun tidak ada yang secantik Mei Li atau Kiang Bwe.

Dua orang kakak beradik misan inipun disambut oleh seorang di antara Bu-tek Ngo Sin-liong, yaitu Ti-at-sin-liong Lai Cin yang tinggi kurus bermuka pucat.

Ketika ditanya dari mana mereka datang, dan dari golongan apa, Han Lin menjawab bahwa mereka adalah kakak beradik yang baru melakukan perantauan dan tidak termasuk golongan manapun.

"Dalam perjalanan, kami mendengar tentang pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw, maka kami tertarik.dan datang. Kalau tidak dilarang, kami ingin menyaksikan keramaian dan meluaskan pemandangan."

Kalau saja di situ tidak ada Mei Li, mungkin Han Lin akan diusir oleh Tiat-sin-liong Lai Cin.

Akan tetapi wajah cantik molek memang besar sekali pengaruhnya.

Lai Cin hanya mengangguk dan mempersilakan mereka menempati sebuah pondok.

Mei Li hendak membantah akan tetapi Han Lin memberi isarat dan setelah berada berdua saja di pondok itu dia berbisik.

"Kalau membantah akan menimbulkan kecurigaan, Li-moi. Biarlah kita tinggal sepondok, engkau tidur di dalam dan aku akan tinggal di luar."

"Mana bisa begitu, koko? Aku tidak mungkin dapat tidur membiarkan engkau kedinginan dan masuk angin di luar pondok. Aku akan tidur di pembaringan dan engkau tidur di bawah, dan tilam pembaringan boleh kaupakai. Bagaimanapun juga, kita berdua adalah saudara misan, kakak dan adik, bukan?"

Han Lin tersenyum, akan tetapi sungguh aneh, dia merasa betapa hatinya tidak enak sekali mendengar ucapan Mei Li itu, yang mengingatkan bahwa mereka adalah kakak beradik!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali muncul dua orang muda yang kembali menjadi pusat perhatian.

Bahkan orang"orang Hoat-kauw terkejut dan heran sekali karena yang muncul itu bukan lain adalah Sie Kwan Lee dan Sie Kwan Eng, kakak beradik dari Bengkauw!

Pada hal mereka tidak mengundang Bengkauw, bahkan merencanakan untuk menghasut agar semua partai memusuhi Beng-kauw.

Sekarang, dua orang muda putera ketua Beng-kauw bahkan datang sendiri.

Ular mencari penggebuk namanya.

Tetapi mereka menyambut juga dan mempersilakan dua orang muda itu menduduki deretan bangku yang disediakan untuk para ketua partai dan tokoh besar.

Han Lin dan Mei Li hanya mendapatkan bangku tempat para tamu yang lebih rendah tingkatnya.

Sebaiiknya, Yu Kiang Bwe mendapatkan tempat kehormatan karena dia adalah ketua Kim-kok-pang.

Di situ duduk pula wakil-wakil dari Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kong-thong pai, Gobi-pai dan lain-lain.

Juga wakil dari aliran-aliran agama dan kepercayaan hadir.

Pesta itu sungguh sukses dan mendatangkan banyak tamu karena keadaan pada waktu itu membuat para tokoh ingin sekali mendengar apa yang hendak dibicarakan dalam pesta itu.

Seng Gun juga duduk di kursi kehormatan sebagai ketua Nam-kiang-pang.

Dan di kursi utama duduklah empat orang laki-laki tua yang mengesankan ngan sikap mereka yang angker dan angkuh.

Mereka ini bukan lain adalah Hoat Lan Sian-su, ketua Hoat-kauw sendiri yang rambutnya sudah putih semua, jenggotnya panjang putih dan di punggungnya terdapat sebatang pedang beronce kuning.

Pakaiannya longgar dan serba kuning seperti jubah pendeta.

Dan di samping kirinya duduk pula tiga orang yang angker.

Mereka bukan lain adalah Sam Mo-ong, utusan orang Mongol yang bersekutu dengan Hoat-kauw.

Kedudukan Hoat-kauw dan sekutunya saat itu kuat sekali.

Bukan saja di situ hadir ketua Hoat-kauw, lima orang Bu-tek Ngo Sin-liong, ada pula Seng Gun dan masih banyak tokoh Hoat-kauw yang lain, juga Sam Mo-ong yang tidak dikenal banyak orang, akan tetapi merupakan kekuatan inti dari persekutuan itu.

Dan selain ini, seratus orang anak buah Mongol dan duaratus orang ang gauta Hoat-kauw siap untuk menentang siapa saja yang memusuhi Hoat-kauw.

Jumlah tamu yang datang ada kurang lebih seratus orang.

Sebelum pertemuan dibuka, nampak Bu-tek Ngo Sin-liong bicara berbisik-bisik dengan Ho-at Lan Sian-su dan Sam Mo"ong, juga Seng Gun ikut bicara.

Agaknya mereka mengatur siasat.

Hal ini tidak luput dari penglihatan Han Lin dan Mei Li, juga Kiang Bwe melirik dan tersenyum.

Kwan Lee dan Kwan Eng juga melihatnya akan tetapi kakak beradik ini bersikap tenang dan santai saja.

Tibalah saatnya bagi Hoat Lan Sian-su ketua Hoat-kauw untuk bicara.

Dia bangkit berdiri dan tubuhnya masih tinggi tegap walaupun usianya sudah tujuhpuluh tahun.

Dengan gagah dia melangkah ke depan sampai ke tengah panggung dan setelah memberi hormat ke seluruh penjuru, dia berkata dengan nyaring.

"Kami ketua Hoat-kauw menghaturkan terima kasih atas kedatangan saudara sekalian dan atas semua bingkisan yang diberikan kepada kami. Semoga ini akan dapat mempererat hubungan di antara kita dan mudah-mudahan lain waktu kami akan dapat membalas semua kebaikan saudara. Karena kami sudah tua, maka selanjutnya untuk membicarakan persoalan kami serahkan kepada murid keponakan kami, Ang Sin-liong Yu Kiat!"

Terdengarlah orang bertepuk tangan dan yang lain ikut menyusul dan terdengarlah tepuk tangan gemuruh mengiring ketua itu mundur dan menyambut munculnya Ang-sin-liong Yu Kiat.

Tokoh ini sudah banyak dikenal orang karena sebagai orang pertama dari Bu-tek Ngo Sin-liong, tentu saja dia terkenal sekali.

Dia seorang yang tinggi tegap dan tampan, pakaiannya berwarna merah dan sikapnya sombong.

Tidak mengherankan kalau orang-orang Bu-tek Ngo Sin-liong bersikap sombong.

Baru julukan mereka saja sudah menunjukkan kesombongan mereka.

Mereka menggunakan julukan Bu-tek (Tanpa Tanding), seolah mereka mau membual bahwa merekalah jagoan-jagoan tanpa tanding, tidak ada yang mampu melawan!

Dengan sikap tangkas Yu Kiat yang berusia limapuluh tahun itu memberi hormat ke seluruh penjuru, lalu terdengar suaranya yang menggeledek.

"Saudara sekalian, semestinya dalam pesta ulang tahun ini kami bergembira, apa lagi saudara sekalian sudah datang menghadirinya. Akan tetapi mengingat suasana sekarang di dunia persilatan sedang kacau, maka kami mohon agar sebelum melanjutkan pesta, saudara sekalian mengambil keputusan atas sikap yang akan kami lakukan. Saudara sekalian pasti telah mendengar berita tentang keganasan Beng-kauw, tentang sepak terjang Beng"kauw yang telah membunuhi banyak orang. Juga saudara sekalian tentu sudah mendengar tentang pengkhianatan se orang muda bernama Ciu Kang Hin dari Nam-kiang-pang yang kemudian ternyata membantu orang Beng-kauw. Oleh karena itu, karena di sini kami melihat hadir pula dua orang tokoh Beng-kauw, maka bagaimana pendapat saudara kalau kami mengusir mereka?"

Sejenak sunyi menyambut ucapan itu.

Akan tetapi lalu terdengar suara setuju di sana-sini, dan para tokoh kang-oauw yang termasuk golongan bersih seperti Siauw-lim-pai, Butong-pai dan lain-lain tidak mau memberi suara.

Mereka memang tidak pernah suka kepada Beng-kauw, akan tetapi mereka tidak mempunyai alasan untuk memusuh?

Beng-kauw.

Bahkan mereka lebih condong memusuhi Ciu Kang Hin yang dikabarkan telah membunuh seorang tokoh Siauw-lim-pai dan seorang tokoh Butong-pai.

Sementara itu, kakak beradik putera ketua Beng-kauw saling pandang.

Kwan Eng mengangguk dan dara jelita ini yang lebih dahulu menggerakkan tubuhnya melayang ke atas panggung, diikuti oleh Kwan Lee, kakaknya.

Dua orang muda itu sudah berdiri di depan Yu Kiat, lalu berbalik dan menghadapi para tamu.

"Kami kakak beradik memang putera puteri ketua Beng-kauw, dan kami sengaja datang untuk membela diri, mempertahankan kebenaran Beng-kauw yang tidak bersalah. Hendaknya cuwi semua ketahui bahwa selama ini, anggauta"anggauta ka mi yang dibunuhi, bahkan wanita dan kanak"kanak juga dibunuh tanpa alasan yang jelas. Kami dikabarkan membunuhi banyak tokoh dunia kangouw, akan tetapi semua itu fitnah belaka. Kami tidak menyangkal bahwa mungkin ada di antara anggauta kami yang membunuh dalam perkelahian, akan tetapi hal itu adalah wajar, karena kalau anggauta kami yang kalah kuat, maka dialah yang tewas atau terluka. Apa anehnya terluka atau tewas dalam perkelahian di dunia persilatan?.Akan tetapi kalau anggauta kami diburu seperti binatang buas, dibunuh tanpa alasan seperti orang membunuhi ayam, sungguh membuat kami penasaran dan kami minta keadilan di sini, janganlah para locian-pwe mudali saja percaya ucapan orang-orang yang melakukan fitnah kepada kami!"

"Bocah-bocah lancang!"

Ang-sin-liong Yu Kiat membentak marah.

"Kalian hendak menuduh Hoat-Kauw melakukan fitnah kepada kalian? Sudah jelas bahwa Beng-kauw sejak dahulu merupakan perkumpulan sesat yang ditentang para pendekar dan semua orang tahu bahwa Ciu Kang Hin dari Nam-kiang"pang berkhianat dan membela orang-orang Beng-kauw!"

"Ciu Kang Hin tidak membela Beng-kauw, melainkan dia menjadi korban dari pengkhianatan seorang sutenya yang palsu!"

Bentak pula Sie Kwan Eng dengan berani dan sikap menantang. Seng Gun bangkit berdiri.

"Nanti dulu!"

Katanya lantang.

"Yang dimaksud sute dari Ciu Kang Hin adalah aku, dan aku yang membela Nam-kiang-pang mati-matian sehingga diangkat menjadi ketua. Ciu Kang Hin memang pengkhianat dan dia membela Beng-kauw, mungkin karena jatuh cinta kepa da puteri ketua Beng-kauw ini!"

"Tong Seng Gun binatang berkaki dua"

Kwan Eng memaki.

"Tidak usah banyak cakap, di sini aku menantangmu untuk bertanding, membuktikan siapa di antara kita yang benar!"

Sebelum Seng Gun menjawab, Ang-sin-liong Yu Kiat yang sudah mendengar bahwa puteri ketua Beng-kauw itu telah berhasil menguasai ilmu pukulan Salju Putih, segera berkata.

"Tidak perlu banyak berbantahan. Sekarang kita dengar saja pendapat para orang gagah yang hadir di sini. Apakah ada di antara para lo-cian-pwe dan para saudara yang gagah mendukung pendapat puteri ketua Beng-kauw itu? Ataukah semua menyangkal kebenarannya dan bahwa Hoat-kauw sama sekali tidak melempar fitnah?"

Tiba-tiba Ji Kiang Bwe bangkit berdiri dan mengangkat tangan ke atas sambil berseru.

"Kami mempunyai penilaian sendiri tentang Hoat-kauw! Kami dari Kim-kok-pang menuntut kepada Hoat kauw yang telah membunuh ayah kami, ketua Kim-kok-pang! Biarpun pertandingan itu satu lawan satu, akan tetapi terjadi karena Hoat-kauw hendak memaksa Kim kok"pang menjadi sekutunya dan ditolak oleh Kim-kok-pang. Aku sebagai puterinya menghendaki agar pembunuh ayah itu maju ke depan untuk menandingi aku!"

Mendengar ini, Ang-sin-liong Yu Kiat sebagai orang yang telah membunuh Yu-pangcu dari Kim-kok-pang, menjawab lantang.

"Yu-pangcu dari Kim-kok-pang berselisih paham dengan kami dan tewas dalam pertandingan satu lawan satu. Kalau nona hendak membalas dendam, itu wajar dan nanti tentu nona akan dihadapkan dengan orang yang telah menewas kan ayahmu dalam pertandingan. Harap nona menunggu sampai urusan dengan Beng-kauw selesai."

Sebetulnya, Ang-sin-liong Yu Kiat mendatangi ketua Kim"kok-pang untuk membujuk agar Kim-kok-pang mau bersekutu dengan Hoat-kauw, apa lagi mengingat bahwa ketua Kim-kok"pang itu ma-sih satu marga dengan dia.

Akan tetapi Yupangcu berkeras menolak sehingga terjadi percekco kan yang dilanjutkan dengan pertandingan, sehingga mengakibatkan tewasnya ketua Kim-kok-pang itu.

Kiang Bwe duduk kembali akan tetapi ia sudah mengambilkeputusan untuk membantu orang Beng-kauw karena ia yakin bahwa orang-orang Hoat-kauw bukanlah orang-orang yang baik dan boleh di percaya.

Sebaliknya iapun tahu bahwa biarpun Beng-kauw terkenal sebagai perkumpulan aneh dan sesat, akan tetapi tidak pernah menanam permusuhan dengan perkumpulan lain.

"Kami ulangi, apakah di antara para tamu yang mendukung Beng-kauw?"

Ang sin-liong Yu Kiat mengulang pertanyaan nya dengan lantang dengan keyakinan bahwa tentu tidak akan ada orang yang mau membela atau mendukung Beng-kauw, perkumpulan sesat itu.

Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring seorang wanita yang bangkit berdiri dan mengangkat ta ngan ke atas.

"Kami berdua mendukung kebenaran Beng-kauw karena kami yakin benar bahwa Beng-kauw telah di.fitnah!"

Semua orang terkejut dan memandang pern bicara itu yang bukan lain adalah Mei Li, dan Han Lin terpaksa ikut bangkit di samping adik misannya yang sudah me nyatakan sikapnya itu.

Sebetulnya dia tidak ingin bicara dulu, akan tetapi karena Mei Li yang sudah tidak sabar lagi itu sudah mendahului, terpaksa diapun bangkit berdiri untuk mendu kung pernyataan gadis itu.

Seng Gun yang mengenal Mei Li segera berbisik kepada Hoat Lan Sian-su yang mengangguk-angguk.

Dia memperkenalkan gadis itu sebagai Hui-kiam Sianli (Dewi Pedang Terbang) yang lihai sekali ilmu pedangnya.

Dan diapun memandang kepada Han Lin dengan alis berkerut.

Rasanya pernah dia bertemu dengan pemuda itu, akan tetapi dia lupa lagi entah di mana.

Tiba-tiba Kwi-jiauw Lo-mo ayahnya atau sesungguhnya kakeknya, orang pertama dari Sam Mo-ong, berkata.

"Ah, bukankah itu pemuda yang dari Libun, murid mendiang Kong Hwi Hosiang?"

Barulah Seng Gun teringat dan dia terheran-heran. Bocah itu sudah terjungkal kedalam jurang! Kiranya belum tewas dan kini muncul dan berani membela Beng-kauw.

"Apa buktinya bahwa Beng-kauw hanya difitnah?"

Ang-sin"liong menantang karena dia yakin gadis itu tidak tahu rahasia di balik semua peristiwa itu.

"Aku tahu bahwa yang melakukan fitnah adalah Hoat-kauw sendiri, yang menyelundupkan orangnya, yaitu Tong Seng Gun sehingga pengkhianat itu berhasil menguasai Nam-kiang"pang, Dan melalui Nam-kiang-pang, mereka melakukan fitnah kepada Beng-kauw. Semua pembunuhan itu sebetulnya dilakukan oleh mereka yang menyelundup ke dalam Nam"kiang-pang!"

Semua orang terbelalak tidak percaya dan Yu Kiat tertawa bergelak.

"Ha ha-ha, saudara sekalian dengarlah baik baik. Ini jelas akal busuk Beng-kauw memutar balikkan fakta. Jelas yang memimpin Nam-kiang-pang adalah Tio Hui Po dan muridnya, Ciu Kang Hin, yang memusuhi Beng-kauw karena Beng-kauw melakukan banyak kejahatan dan pembunuhan. Bahkan kemudian Beng-kauw berhasil membujuk Ciu Kang Hin sehingga murid Nam-kiang-pang itu menjadi pengkhianat. Kalau kita dapat menangkap Ciu Kang Hin, tentu dia menjadi saksi utama tentang kejahatan Beng-kauw.

"Semua itu bohong, omong kosong!"

Terdengar bentakan nyaring dan semua orang makin terkejut lagi melihat munculnya Ciu Kang Hin yang sudah meloncat ke atas panggung itu!

Melihat pemuda itu berani muncul, Ang-sin-liong Yu Kiat terkejut akan tetapi juga girang.

"Ini dia penjahat besar itu datang, kita tangkap dia!"

Dia sudah siap untuk menyerang, akan tetapi Yang Mei Li dan Han Lin meloncat ke atas panggung dan Han Lin berseru keras dengan suara berpengaruh karena dia menggunakan kekuatan sihirnya.

"Jangan bergerak!"

Seketika Ang-sin-liong merasa kaki tangannya kaku dan tidak mampu bergerak. Biarpun hanya sesaat, peristiwa itu mengejutkan hatinya.

"Biarkan Ciu Kang Hin memberi penjelasan agar didengar semua orang, baru mengambil keputusan. Apakah cuwi yang terhormat menganggap hal ini adil?"

Karena urusan itu ternyata amat berliku dan amat menarik, maka semua orang menyatakan setuju.

Ang-sin-liong Yu Kiat menjadi bingung dan diapun kembali kerombongannya, sedangkan Han Lin mengajak Mei Li kembali ke tempat duduknya.

Sengaja kedua orang muda ini melayang bagaikan dua ekor burung saja dan tahu-tahu telah berada di kursi mereka, melampaui kepala banyak orang.

Tentu saja demonstrasi ginkang yang tinggi ini mengagumkan semua orang.

Kini tinggal Ciu Kang Hin seorang diri yang berdiri di panggung.

Seng Gun berbisik-bisik dengan Sam Mo-ong dan ketua Hoat-kauw dan mereka diam-diam menyuruh para pembantu mempersiapkan pasukan mereka menjaga segala kemungkinan.

Sedangkan Souw Kian Bu yang berada diantara para tamu, diam-diam kagum kepada adik misannya, juga tunangannya, Yang Mei Li, yang begitu berani membela Beng"kauw, Akan tetapi yang dijaganya tetap saja Ji Ki-ang Bwe!

Kini Ciu Kang Hin dengan sikap gagah berdiri menghadapi semua orang dan setelah mengangkat kedua tangan untuk memberi hormat, dia berkata.

"Saya tidak tahu apakah semua ucapan saya akan ada gunanya, karena saya tahu bahwa para lo-cian-pwe dan saudara yang gagah perkasa telah dipengaruhi oleh Tong Seng Gun. Dia adalah seorang penyelundup dan yang berhasil menipu suhu. Dialah yang mengatur segalanya sehingga semua pembunuhan seolah dilakukan orang Beng-kauw. Saya sendiri dapat dikelabui dan selama ini saya menentang Beng-kauw sebagai perkumpulan jahat. Akan tetapi saya belum pernah membunuh orang Beng"kauw yang tidak bersalah. Seng Gun yang meniupkan berita seolah saya pembunuh nomor satu dari Beng-kauw sehingga saya dimusuhi Beng-kauw. Akan tetapi semua itu akhirnya terungkap dia sendiri dan kaki tangannya yang membunuh para tokoh kang-ouw yang tidak menurut. Dia dan sekutunya yang membunuh Ho Jin Hwesio, Kiang Cu To-jin, dan Pek Kong Seng-jin. Dia ber sekutu dengan Hoat-kauw, dengan orang-orang yang menjadi antek Mongol untuk menjatuhkan pemerintah kerajaan Tang.

"Bohong! Pemutar-balikkan kenyataan! Mana buktinya bahwa aku membunuh para tokoh itu? Engkaulah yang membunuhnya dan banyak saksinya. Puluhan orang anggauta Nam-kiang-pang menjadi saksi"

Tiba-tiba terdengar suara orang.

"Siancai semua itu tidak bohong!"

Dan Seng Gun menjadi pucat meilhat Pek Kong Seng-jin sudah berada dipanggung, di dekat Ciu Kang Hin.

"Yang mencoba untuk membunuh pinto adalah Tong Seng Gun, dilakukan secara curang, memukul pinto dari belakang ketika pinto berada di tepi jurang. Untung ada yang menolong pinto"

Wajah Seng Gun berubah pucat, akan tetapi pada saat itu, Bu-tek Ngo Sin-liong sudah berlompatan ke atas panggung, seolah hendak menangkap Kang Hin.

Melihat ini Pek Kong Seng-jin la-lu meninggalkan panggung dan melompat ke bangku di antara para tamu.

Pada saat yang sama, Mei Li dan Han Lin sudah melompat ke atas panggung, demikian pula Yu Kiang Bwe yang berseru nyaring.

"Sudah jelas sekarang kelicikan dan ke curangan Hoat-kauw!"

Kakak beradik Beng-kauw, Sie Kwan Lee dan Sie Kwan Eng yang tadi sudah mengundurkan diri juga berlompatan ke atas panggung sehingga kini Bu-tek Ngo Sin-liong berhadapan dengan enam orang muda mudi yang gagah perkasa!

Suasana menjadi gaduh.

dan ribut karena semua tamu tidak tahu harus berbuat apa.

Di atas segala kegaduhan itu, tiba-tiba terdengar suara ketua Hoat-kauw, yaitu Hoat Lan Sian-su.

"Cu wi, ha rap tenang. Kami akan mengatasi orang"orang Beng-kauw dengan semua anteknya ini. Harap cuwi jangan ada yang membela mereka, bahkan sepatutnya cuwi membantu kami untuk menangkap dan menghukum mereka!"

Di antara para tamu memang banyak yang merasa sakit hati kepada Beng-kauw, maka ada belasan orang yang sudah bangkit berdiri dan berteriak, Basmi Beng-kauw!!"

"Orang-orang Hoat-kauw pengecut, hayo suruh keluar orang yang telah membunuh ayahku!"

Tantang Yu Kiang Bwe dan dara perkasa ini sudah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu sabuk rantai baja putih yang panjangnya satu meter dan ujungnya tajam dan runcing, Sabuk itu mengeluarkan cahaya berkilauan ketika ia menggerakkannya dengan sikap menantang.

"Ha-ha-ha, akulah yang membunuh Yu-pangcu. Dan kalau engkau hendak menyusul ayahmu, majulah!"

Kata Ang-sin"liong Yu Kiat sambil meloloskan golok gergajinya yang menyeramkan. Pertempuran sudah hampir terjadi ketika ketua Hoat-kauw kembali berseru.

"Harap semua tamu duduk tenang dan menjadi penonton saja. Siapa yang bergerak membantu Beng"kauw, terpaksa kami anggap musuh!"

Dan tiba-tiba muncullah kini pasukan Hoat-kauw dan orang-orang Mongol, yang jumlah seluruhnya tidak kurang dari tigaratus orang, mengepung tempat itu! Han Lin dan kawan-kawannya terkejut.

"Curang sekali!"

Kata Yu Kiang Bwe.

"Aku sebagai ketua Kim-kok-pang, seorang diri saja datang tanpa anak buah seorangpun, dan kalian sudah mempersiapkan pasukan besar untuk mengeroyok!"

"Ha-ha-ha,"

Ketua Hoat-kauw itu berseru.

"Sebaiknya kalau kalian orang orang muda tahu diri, menyerah dan mau bekerja sama dengan kami. Kalau tidak, kalian akan dicincang hancur!"

"Omitohud, Hoat Lan Sian-su, pang cu dari Hoat-kauw, apa artinya semua ini? Kenapa banyak bermunculan orang Mongol di sini? Benarkah bahwa Hoat-kauw bersekutu dengan orang Mongol?"

Seorang hwesio wakil Siauw-lim-pai yang hadir di situ bertanya.

"Orang luar tidak perlu mencampuri urusan kami!"

Jawab Hoat Lan Sian su dengan tegas.

"Yang penting, kami mengajak Siauw-lim-pai dan semua aliran untuk bekerja sama memakmurkan rakyat jelata. Siapa yang menentang, terpaksa kami anggap sebagai musuh."

Mendengar ini, semua orang menjadi terkejut sekali, akan tetapi mereka merasa tidak berdaya karena dikepung ratusan orang anak buah Hoat-kauw.

"Hayo tangkap orang-orang Beng-kauw dan pendukungnya itu!"

Hoat Lan Sian-su memerintah.

Tiba-tiba terdengar bunyi tambur dan terompet.

Semua orang terkejut dan memutar tubuh, dan muncullah ratusan orang anggauta Nam-kiang-pang dan pasukan pemerintah.

Seorang panglima yang menunggang kuda, yaitu Bu"ciangkun, membentak.

"Semua orang Hoat-kauw dan orang Mongol menyerah atau akan kami basmi. Para tamu yang tidak terlibat harap mundur dan jangan ikut campur!"

Kini keadaan menjadi berbalik.

orang-orang Hoat-kauw menjadi pucat karena pasukan yang mengepung itu bersen jata lengkap dan jumlahnya banyak sekali!

Akan tetapi Hoat Lan Sian-su yang melihat betapa pihaknya terancam lawan yang banyak jumlahnya, segera tertawa.

"Ha"ha-ha-ha, orang muda jaman sekarang ternyata curang dan sama sekali tidak gagah, lagi pengecut. Beraninya mengerahkan pasukan pemerintah!"

Sementara itu Seng Gun yang melihat anak buah Nam"kiang-pang ikut mengepung, segera menghardik mereka.

"Kalian anak buah Nam-kiang-pang, siapa suruh kalian mengepung tempat ini. Kembalilah!"

Akan tetapi banyak orang Nam-kian ang-pang berseru.

"Bunuh Tong Seng Gun!!"

Mendengar ini, Tong Seng Gun menjadi pucat dan maklumlah dia bahwa Nam-kiang-pang telah dikuasai kembali oleh Kang Hin.

Akan tetapi Han Lin yang merasa tidak enak mendengar ejekan Hoat Lan Sian-su tadi, segera berbisik kepada Kang Hin karena dia dapat menduga bahwa tentu Kang Hin yang minta bantuan pasukan karena anak buah Nam-kiang-pang datang bersama pasukan itu.

"Ciu twako, minta kepada komandan itu agar menunda gerakannya agar kita dapat melawan mereka satu lawan satu secara jantan."

Kang Hin mengangguk lalu dia berseru kepada Bu"ciangkun.

"Bu-ciangkun, karena ini adalah urusan orang"orang dunia persilatan, maka selama mereka tidak melakukan pengeroyokan, biarkan kami melawan mereka dalam pertandingan satu lawan satu."

Bu Kim Thouw, panglima itu sendiri adalah seorang ahli silat yang cukup tangguh, maka mendengar ini, dia dapat mengerti.

Apa lagi diapun ingin menonton pertandingan silat dari orang orang tingkat tinggi.

Maka dia mengangguk dan memberi aba-aba kepada semua pasukan untuk siap berjaga"jaga saja menanti perintah selanjutnya namun agar tidak membiarkan siapa saja keluar dari kepungan.

Setelah itu, Han Lin berkata kepa da Hoat Lan Sian-su.

"Nah, pangcu dari Hoat-kauw, kini kami telah siap. Kita boleh bertanding satu lawan satu untuk menentukan siapa lebih gagah di antara kita. Ingat, kalau kalian bertindak curang, pasukan sudah siap untuk menghancurkan kalian!"

Hoat Lan Sian-su masih mempunyai harapan. Kalau orang"orang muda ini sudah dapat dibasmi, tentu mereka tidak akan mengalami kesulitan menggempur pasukan itu, walaupun jumlah mereka lebih banyak.

"Baik!"

Dan dia menoleh kepada murid-murid keponakannya.

"Kalian atur saja siapa yang akan maju melawan musuh."

Ang-sin-liong Yu Kiat memandang rendah mereka yang muda-muda itu, maka dia lalu berkata kepada Bin-sin-liong Kwa Lian.

"Sumoi, engkau majulah dulu."

Bi-sin-liong Kwa Lian yang berusia duapuluh delapan tahun dan cantik jelita dan genit itu, tersenyum Iapun tidak takut menghadapi lawan yang terdiri dari orang-orang muda itu.

Setelah semua orang yang berada di atas panggung mengundurkan diri, ia mencabut pedang beronce merah dan memasang aksi yang menarik dan gagah.

"Nan, siapa yang akan mengantarkan nyawa ke sini?"

Mei Li yang sejak tadi sudah gatal-gatal tangannya, tidak ingin didahului orang.

Tubuhnya sudah melayang ke atas panggung dan ia telah berdiri di depan Kwa Lian.

Berhadapan dengan Mei Li, kecantikan Kwa Lian memudar bagaikan bulan disaingi munculnya matahari.

Mei.

Li nampak jauh lebih jelita, lebih segar dan lebih lincah.

"Hemm, katakan dulu siapa engkau karena dahulu ketika kita saling bertemu, aku mengenalmu sebagai orang Hoat"kauw yang hendak membunuhi orang-orang Beng-kauw yang tidak bersalah,"

Tanya Mei Li, suaranya mengandung ejekan. Kwan Lian terkejut mengenal ' Mei Li.

"Hemm, kiranya Hui"kiam Sian-li yang sejak dahulu sudah membantu Beng-kauw? Bagus, ketahuilah, aku adalah orang termuda dari Bu-tek Ngo Sin-liong namaku Bi-sin-liong Kwa Lian. Kalau dulu aku belum sempat merobohkanmu, seka rang bersiaplah menerima kematianmu!"

Wanita mata keranjang dan cabul itu sudah menggerakkan pedangnya. Sinar pedang berkelebat dan Mei Li menggunakan pedang kirinya menangkis sambil mengerahkan tenaga sin"kang.

"Trangg.,..!!"

Nampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan kedua wanita perkasa yang cantik itu sudah saling terjang lagi.

Bi-sin-liong Kwa Lian tidak percuma menjadi orang termuda dari Bu-tek Ngo-Si-liong karena ilmu pedangnya tangguh sekali, tenaganya kuat dan gerakannya cepat.

Akan tetapi sekali ini ia bertemu tanding, bahkan seorang lawan yang jauh lebih lincah dan lebih kuat dibandingkan dengannya.

Sepasang pedang yang beterbangan menyambar-nyambar bagaikan dua ekor burung hidup itu, membuat ia berkeringat dan repot harus mengelak dan menangkis.

Ia merasa seolah-olah dikeroyok banyak orang, Setelah pertandingan lewat tigapuluh jurus, tahulah Bi-sin"liong bahwa julukan lawannya bukan kosong belaka, Dewi Pedang Terbang itu memang benar-benar memiliki ilmu pedang terbang yang belum pernah ditemuinya selama ia malang melintang di dunia persilatan sehingga ia berani menjadi orang ke lima dari mereka yang menyebut diri Lima Naga Sakti Tanpa Tanding!

"Haiiiiittt!"

Mei Li berseru nyaring dan pedang kanannya menyambar dengan dahsyatnya, kali ini menukik dan menyambar ke arah perut lawan.

"Cringggg!"

Pedang di tangan Kwa Lian menangkis, akan tetapi pada saat itu, ujung pedang yang satu lagi.

dari Mei Li sudah datang menusuk dada.

Kwa Lian membuang tubuh.

ke kanan, dan pedang itu masih sempat menyambar dan melukai pundaknya.

Biarpun hanya merobek baju dan kulit pundak, namun cukup perih dan mengejutkan, Naga Sakti Cantik (Bi"sin-liong) mengeluarkan rintihan lirih dan melihat sepasang pedang itu masih terbang menyambar, ia lalu melempar tubuh ke atas tanah dan bergulingan menjauh.

Terpaksa Mei Li menarik tali pedangnya dan memegang kembali sepasang pedang.

Pada saat itu, Kwa Lian melompat turun.

"Hyaaaatt,...!"

Kwa Lian menggerakkan tangan kirinya dan serangkum sinar hijau menyambar.

Itulah jarum-jarum beracun yang dilemparkan Kwa Lian untuk menyerang lawannya.

Mei Li tidak menjadi gugup Pedang kirinya berkelebat dan jarum-jarum halus itupun runtuh ke atas papan panggung.

Kwa Lian agaknya sudah nekat Karena kini jarak di antara mereka sudah dekat, ia lalu menggerakkan kepalanya dan rambut yang disanggul itu terlepas dan gumpalan rambut yang hitam dan panjang menyambar bagaikan ular ke depan, menyerang ke arah leher Mei Li!

Mei Li terkejut bukan main.

Tak disangkanya bahwa lawannya dapat menggunakan rambut panjangnya sebagai senjata.

Karena itu, tahu-tahu rambut itu sudah melibat lehernya dan untung bahwa ia tidak menjadi gugup.

Pedang kanannya menyambar dan....

"brett"

Rambut itu putus terbabat pedang.

"Ihhh!"

Kwa Lian menjerit!

Biasanya, dengan kekuatan sinkangnya, rambutnya menjadi ulet dan kuat seperti tali sutera, siapa kira kini dapat dibabat buntung oleh pedang Mei Li.

Kaget dan marah membuat ia kurang was-pada dan ketika pedang kiri Mei Li menyambar, ia tidak sempat lagi mengelak atau menangkis.

Begitu cepatnya pedang menyambar, bagaikan kilat saja dan orang tidak melihat tubuhnya tertusuk pedang, akan tetapi ia mengeluh, terkulai dan roboh dengan dada kiri bercucuran darah yang membasahi pakaiannya.

Ia mendekap dada kiri yang sempat dimasuki pedang Mei Li yang melompat kebelakang dengan sikap tenang, lalu roboh, pedangnya terlepas dari tangannya.

Melihat kekasihnya roboh, Seng Gun marah sekali.

Dia melompat ke atas panggung dan cepat berlutut memeriksa keadaan Kwa Lian.

Terlambat, wanita cantik itu telah tewas.

Seng Gun menahan geramnya dan memberi isarat kepada anak buahnya.

Dua orang melompat ke atas panggung dan membawa tubuh yang masih hangat itu turun dari panggung dan Seng Gun sudah menghadapi Mei Li dengan muka merah saking marahnya.

"Hui-kiam Sian-li, engkau ternyata antek Beng-kauw yang jahat. Mari, akulah lawanmu!"

Tantangnya dan kini Seng Gun mencabut golok dengan tangan kanan dan suling perak dengan tangan kiri.

Dia telah mahir menggunakan Thi-an-te To-hoat, satu di antara ilmu-ilmu ampuh di dunia persilatan yang dia pelajari dari Tio Hui Po, akan tetapi diapun hendak memanfaatkan ilmu sulingnya yang dia pelajari dari kakeknya sendiri, yaitu Kwi-jiauw Lo-mo.

Mei Li tersenyum dan sebelum ia menjawab, tiba-tiba Kang Hin meloncat ke atas panggung.

"Manusia pengecut!"

Dan dia menjura kepada Mei Li sambil berkata.

"Siauw-moi, harap kau istirahat, biar akulah yang akan melayani jahanam busuk ini."

Mei Li mengerti bahwa Kang Hin adalah orang yang paling mendendam atas kejahatan Seng Gun, maka biarpun ia sendiri sebetulnya ingin turun tangan membunuhnya, ia harus mengalah.

Sambil tersenyum ia mengangguk.

"Hati-hati twako Ular ini banyak akalnya dan waspadalah terhadap suling peraknya itu."

Kini dua orang lawan yang dahulunya menjadi suheng dan sute itu saling berhadapan, saling pandang dan mata mencorong penuh kebencian, akan tetapi mulut Seng Gun menyeringai penuh ejekan karena dia merasa yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan bekas suhengnya itu.

Ilmu golok sakti sudah mereka kuasai dan dalam hal ilmu golok itu dia tidak akan kalah dibandingkan Kang Hin, sedangkan dia telah memiliki ilmu ilmu hebat dari Sam Mo-ong.

Bahkan Tio Hui Po sendiri yang menjadi guru dapat dibunuhnya tanpa banyak kesukaran, apa lagi muridnya!

Kang Hin juga maklum bahwa Seng Gun lihai sekali, maka dia bersikap hati-hati, akan tetapi bukan berarti dia takut Sama sekali tidak bahkan dia bertekad bulat untuk dapat membalaskan dendam sakit hatinya atas kematian suhunya.

Dia sudah memalangkan goloknya di depan dada lalu mulai bergerak melakukan serangan.

Seng Gun memperlebar seringainya karena tentu saja dia sudah hafal akan gerakan dari ilmu silat Thian-te To-hoat itu.

Cepat dia menghindar dan membalas dengan serangan kilat suling peraknya.

Terjadilah pertandingan yang seru dan hebat.

Golok di tangan Kang Hin membentuk sinar yang lebar dan mengeluarkan suara mengaung-ngaung, akan tetapi karena Seng Gun sudah mengenal baik ilmu golok itu, dengan mudahnya dia menghindar sambil membalas dengan jurus serangan yang tidak dikenal Kang Hin.

Oleh karena itu, perlahan-lahan mulailah Kang Hin terdesak hebat setelah lewat tigapuluh jurus.

Namun, Kang Hin menggigit bibirnya, mengerahkan seluruh tenaganya dan memutar goloknya sedemikian rupa sehingga tidaklah mudah bagi Seng Gun untuk dapat mengenai tubuh lawan.

Dia mulai penasaran dan ketika terdapat kesempatan baik, dia memukul punggung golok itu dari pinggir sehingga tubuh Kang Hin terhuyung karena memang arah goloknya telah diketahui lawan.

Dan selagi dia terhuyung, Seng Gun meniupsulingnya, menyerang dengan jarum-jarum beracun!

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan Sie Kwan Eng, bagaikan seekor burung rajawali, telah meloncat ke atas dan sekali tangannya bergerak, terasa ada hawa dingin menyambar dan semua jarum itu runtuh ke atas tanah.

Itulah pukulan jarak jauh dengan Ilmu Pukulan Salju Putih yang telah menyelamatkan nyawa Kang Hin walaupun ada sebatang jarum yang tetap melesat dan menancap di pundak pemudaNam-kiang-pang itu.

Biarpun hanya sebatang, akan tetapi karena jarum itu mengandung racun yang ampuh, Kang Hin terhuyung dan tentu akan roboh kalau saja Sie Kwan Eng tidak cepat memapahnya.

Kang Hin sudah pernah terkena racun dari jarum-jarum suling Seng Gun, dan ini adalah yang kedua kalinya dia terkena racun jarum hitam itu.

Melihat bahwa yang menyelamatkan Kang Hin adalah gadis Beng-kauw itu, Seng Gun tertawa dan berkata lantang, 'Cuwi lihat sendiri betapa Kang Hin saling bantu dengan puteri ketua Beng-kauw.

Kiranya ada hubungan di antara mereka!

"Jahanam, tunggu, aku yang akan nenghadapimu!

kata Sie Kwan Eng yang masih memapah tubuh Kang Hin.

Akan tetapi tahu-tahu Si Pedang Terbang Yang Mei Li sudah berada di sampingnya.

"Kau urus Ciu-twako yang terluka, biar aku yang menghadapi anjing licik dan curang ini!"

Melihat yang maju adalah Hui-kiam Sian-li, Kwan Eng lalu mundur dan memapah tubuh Kang Hin untuk dirawat dan diobati.

Sebagai puteri ketua Beng-kauw yang tidak asing dengan bermacam racun, tentu saja ia memiliki obat pemunah yang manjur.

Kini Seng Gun berhadapan dengan Mei Li dan diam-diam pemuda ini merasa agak gentar karena dia sudah mengenal kelihaian si pedang terbang yang baru saja mengalahkan dan menewaskan kekasihnya, orang ke lima dari Bu-tek Ngo Sin"liong.

Dia memegang goloknya dengan erat dan menyilangkan golok itu dengan suling peraknya, siap untuk melawan mati"matian.

Akan tetapi, sebelum kedua orang ini bergerak saling serang, kembali ada tubuh melayang naik ke atas panggung, dan ternyata sekarang yang berada di situ adalah Sie Kwan Lee.

Pemuda ini berkata kepada Mei Li.

"Li-moi harap suka mundur dan biarkan aku menghadapi orang ini. Kami memiliki dendam yang bertumpuk-tumpuk terhadap orang ini karena dialah yang mendalangi semua pembunuhan atas diri ratusan orang Beng-kauw dan keluarga mereka yang tidak berdosa."

Sebetulnya bukan hanya karena itu Sie Kwan Lee naik ke panggung, melainkan karena khawatir akan keselamatan gadis yang dicintanya itu.

Dia tadi sudah melihat kelihaian Seng Gun yang hampir membunuh Kang Hin, maka melihat Mei Li hendak melawan pemuda yang curang itu, dia merasa khawatir.

Apa lagi tadi Mei Li sudah memenangkan sebuah pertandingan sehingga tidak adil kalau gadis itu maju melawan musuh untuk yang ke dua kalinya sedangkan dia masih belum maju.

Melihat munculnya pemuda itu, Mei Li tentu saja tidak dapat membantah karena alasan Kwan Lee kuat sekali.

Memang, ia sendiri sebetulnya tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Seng Gun dan pemuda Beng-kauw ini yang lebih tepat untuk membalas dendamnya yang teramat besar.

Beng-kauw difitnah oleh Seng Gun yang mengakibatkan kematian ratusan orang anggauta Beng-kauw dan keluarganya, bahkan ayahnya tewas pula.

"Baiklah, toako, akan tetapi hati hati menghadapi ular berbisa ini,"

Katanya sambil mengundurkan diri.

la kembali ke tempat kakaknya yang kini membantu Kwan Eng mengobati luka di pundak Kang Hin.

Untung luka itu tidak berbahaya dan Kwan Eng mempunyai obat penawar racun yang amat manjur sehingga keadaan Kang Hin sudah pulih kembali dalam waktu singkat.

Tergetar juga hati Kang Hin ketika merasakan jari-jari tangan yang lembut hangat dan sedikit gemetar dari Sie Kwan Eng menyentuh pundaknya ketika gadis itu merawat lukanya.

Sementara itu, melihat pemuda Beng-kauw yang maju menghadapinya, menjadi nekat.

Dia tahu-benar betapa lihainya pemuda ini yang sudah menguasai ilmu pukulan Matahari Merah.

Maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang dengan goloknya, menggunakan jurus Thian-te To-hoat yang ampuh.

"Sing!"

Kwan Lee meloncat ke belakang sehingga sambaran golok itu luput dan ketika tubuhnya turun, dia sudah memegang sebatang cambuk dari kulit yang amat ulet.

Begitu dia menggerakkan cambuknya terdengar suara "tar-tar"tarr!"

Nyaring sekali.

Perlu diketahui bahwa putera ketua Beng-kauw ini bukan saja menguasai ilmu pukulan ampuh Matahari Merah, akan tetapi diapun mahir memainkan delapanbelas macam senjata dan yang menjadi kesukaannya adalah ilmu cambuk itu.

Seng Gun menyerang dengan ganas Golok dan sulingnya bergantian menyerang dengan tusukan dan totokan amat berbahaya bagi lawan, namun Kwan Lee selalu dapat menghindar dengan gerakannya yang gesit, tubuhnya yang ringan seperti beterbangan kian kemari, sedangkan cambuknya juga tidak tinggal diam, membalas setiap ada kesempatan.

Cambuk itu melecut, mencambuk dan kadang dapat menjadi kaku untuk menotok jalan darah, atau menjadi lentur untuk meiilit tubuh lawan.

Han Lin dengan seksama mengamati jalannya pertandingan hebat ini dan semua tamu juga menonton sambil menahan napas karena pertandingan itu jauh lebih ramai ketimbang pertandingan pertama dan kedua tadi.

Han Lin melihat bahwa Seng Gun menyimpan serangannya yang paling berbahaya, yaitu tiupan sulingnya yang mengeluarkan jarum beracun hitam.

Kalau sampai dia sempat mempergunakannya dan Kwan Lee agak lengah, maka serangan itu dapat membahayakan Kwan Lee.

Suling itu perlu dilumpuhkan dulu, agar bahaya jarum tidak mengancam.

"Libat sulingnya!"

Ia berkata dengan pengerahan khikang yang hanya tendengar jelas oleh Kwan Lee.

Ilmu mengirim suara ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah memiliki sinkang yang amat kuat.

Kwan Lee yang mendengar ini berpikir apa sebabnya ada yang memberi nasihat kepadanya agar melibat suling musuhnya.

Kemudian dia teringat bahwa suling itu dapat dipergunakan untuk melakukan penyerangan gelap, memuntahkan jarum-jarum hitam beracun.

Maka, ketika untuk kesekian kalinya suling itu menyambar ke arah kepalanya, dia melompat ke belakang, menggerakkan cambuknya ke arah suling.

"Tarr!"

Cambuk menangkis suling, akan tetapi bukan sekedar menangkis, melainkan menempel dan melibat Seng Gun terkejut sekali ketika sulingnya dilibat cambuk.

Dia menggerakkan goloknya untuk membabat putus cambuk itu.

Akan tetapi pada saat itu Kwan Lee menggerakkan tangan kirinya, memukul dengan ilmu pukulan ampuh Matahari Merah!

Hawa yang amat panas terasa di sekeliling tempat itu dan golok di tangan Seng Gun terpental ke belakang, bahkan sulingnya juga dapat dirampas dan ditarik lepasdari tangan kirinya.

Seng Gun terkejut setengah mati dan menjadi semakin nekat.

Karena kini hanya golok yang masih berada di tangannya, dia lalu memainkan goloknya dengan ilmu golok Thian-te To-hoat yang ampuh.' Meskipun dia sudah dapat merampas suling perak yang kini dia lontarkan ke arah adiknya, namun Kwan Lee masih harus bersilat dengan hati-hati sekali.

Lawannya telah menguasai Thian-te To-hoat yang ampuh, yang seolah pada saat itu menjadi ilmu golok yang sukar dicari tandingannya.

Untung baginya bahwa dia memilih cambuk sebagai senjatanya.

Cambuk ini dapat menghalau semua serangan golok karena lebih panjang.

Setelah lewat limapuluh jurus dan keduanya belum dapat saling merobohkan, Kwan Lee kembali teringat pengalamannya yang tadi.

Kenapa dia tidak mencoba untuk merampas golok itu Libatan cambuknya pada golok memang memungkinkan cambuknya terpotong, akan tetapi setidaknya memberi kesempatan baginya untuk melakukan pukulan Matahari Merah.

"Singgg wuuuuttt...... plakk!"

Golok itu terlibat cambuk dan agaknya ini yang dinanti"nanti pula oleh Seng Gun.

Dia mengerahkan tenaga pada golok nya dan dengan menggunakan gerakan memutar dan menarik dia berusaha membikin putus cambuk yang melibat dengan goloknya yang tajam.

Cambuk itu tidak dapat bertahan dan putus!

Akan tetapi pada saat cambuk putus, Kwan Lee sudah mengerahkan tenaga Matahari Merah dan memukul ke arah kepala Seng Gun.

"Desss!!"

Biarpun sudah mengangkat tangan kiri untuk menangkis, tetap saja Seng Gun terdorong sampai terjengkang oleh pukulan itu.

Dia berusaha merangkak bangkit, akan tetapi pukulan Matahari Merah kedua tiba dan diapun terkulai dengan tubuh hangus!

Seng Gun tewas seketika.

Terdengar sorak sorai dari anak buah Nam-kiang"pang ketika melihat Seng Gun yang mereka benci itu roboh dan tewas.

Melihat cucunya tewas, Kwi Jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Setan) Tong Lui mengeluarkan suara teriakan panjang yang parau dan menyeramkan, tubuhnya melayang ke atas panggung dan begitu tiba di atas panggung, tubuhnya yang pendek gendut seperti katak itu menggelinding seperti bola ke arah Kwan Lee dan dia mengirim pukulan dengan kedua tangannya ke arah pemuda itu.

Kwan Lee terkejut dan dengan tenaga Matahari Merah dia menangkis, namun tetap saja dia terdorong ke belakang walaupun tidak sampai terluka.

Kwi"jiauw Lo-mo tidak mengejarnya, melainkan menghampiri mayat cucunya dan mengangkatnya, dipondongnya dan dibawa meloncat turun dari atas panggung dengan wajah diliputi kedukaan.

Hoat Lan Sian-su marah sekali dan dia yang kini maju melompat ke atas panggung.

Dia tahu bahwa nama baik Hoat"kauw berada di ambang kehancuran, maka dia bertekad untuk mempertahankan kehormatannya.

"Aku Hoat Lan Sian-su ketua Hoat-kauw siap menyambut lawan yang hendak memburukkan Hoat-kauw. Hayo, siapa berani melawanku?"

Orang-orang merasa segan karena maklum bahwa kakek berusia tujuhpuluh tahun ini lihai bukan main.

Baru murid keponakannya saja, Bu-tek Ngo Sin-liong sudah amat lihai, apalagi dia sebagai paman gurunya.

Akan tetapi ternyata ada yang berani menyambut dan orang itu adalah Han Lin.

Pemuda ini maklum bahwa kakek itu terlalu berbahaya bagi teman-temannya dan dia tahu bahwa orang-orang seperti Mei Li, Kang Hin, Kwan Lee, Kwan Eng dan banyak lagi, walaupun tahu akan kelihaian kakek itu, tentu tidak akan mundur-untuk menghadapinya.

Maka sebelum seorang di antara mereka maju, dia yang mendahului maju.

Hoat Lan Sian-su memandang Han Lin dengan mata dipincingkan.

"Siapa kau? Benarkah engkau berani melawan pinto?"

"Sian-su, engkau adalah seorang lo-cian-pwe, aku tentu tidak akan berani melawanmu kalau saja Hoat-kauw tidak melakukan penyelewengan dan bersekutu dengan orang Mongol."

"Hemm, bocah sombong. Siapakah na mamu dan siapa pula gurumu? Lebih baik gurumu saja yang maju melawanku, bukan engkau bocah ingusan."

Han Lin tetap tersenyum cerah Dia sudah digembleng oleh Lo-jin, tidak mungkin hatinya mudah dipengaruhi kemarahan, satu di antara nafsu perasaan yang amat merugikan, apalagi bagi orang yang sedang menghadapi lawan tangguh.

Kemarahan dapat mengurangi kewaspadaan.

"Sudahlah, lo-cian-pwe, aku sudah maju untuk melayanimu, apakah lo-cian-pwe berani?"

Sepasang alis putih itu bergerak-gerak.

"Bocah sombong, agaknya engkau memang sudah bosan hidup!"

Katanya dan kakek itu menudingkan telunjuknya ke arah muka Han Lin sambil membentak dengan suara berwibawa.

"Orang muda, aku adalah orang yang lebih tua dan kedudukanku jauh lebih tinggi, kau harus menghormatiku. Hayo cepat berlutut! Berlutut, kataku!"

Han Lin merasa betapa lututnya gemetar dan dia maklum bahwa kakek itu berusaha untuk memaksanya berlutut dengan kekuatan sihir yang diperkuat dengan tenaga sin-kang.

Dia tersenyum dan mengerahkan kekuatan sihirnya, memandang tajam dan menjawab dengan nyaring.

"Hoat Lan'Sian-su, kita berhadapan sebagai lawan. Kalau aku berlutut, engkaupun harus berlutut, mari berlutut sama-sama!"

Dan diapun menjatuhkan diri berlutut.

Aneh, sekali, seperti otomatis saja, kakek itupun menekuk lututnya dan berlutut.

Sungguh merupakan suatu pemandangan yang lucu dan ganjil.

Dua orang yang seharusnya saling serang dalam suatu pertandingan, kini keduanya saling berlutut seperti seorang murid menghormati gurunya!

Yang paling kaget adalah Hoat Lan Sian-su.

Cepat dia bangkit berdiri, berbareng dengan Han Lin yang juga sudah berdiri dan sejenak kakek itu seperti bingung, tidak mengerti mengapa dia juga ikut berlutut, dan akhirnya dia dapat menduga bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan dan sudah mengimbangi kekuatan sihirnya.

"Orang muda, siapa namamu?"

"Saya Sia Han Lin, Lo-cian-pwe."

Mendengar disebutnya nama ini, Souw Kian Bu yang sejak tadi berdiri menonton, berseru girang.

"Ah, kakak Sia Han Lin. Kiranya engkau berada di sini!"

Dan pemuda inipun bangkit berdiri menghampiri panggung. Han Lin menoleh dan melihat pemuda di bawah panggung itu, dia bertanya "Saudara siapakah?"

"Lin-koko, aku Souw Kian Bu, adik misanmu!"

Han Lin girang sekali "Ah, Souw Kian Bu! Bu-te, kau tunggu dulu, biar aku menyelesaikan urusanku dengan kakek ini, baru nanti kita bicara."

"Baik, Lin-ko, kau berhati-hatilah."

Kini Souw Kian Bu tidak bersembunyi-sembunyi lagi lalu menghampiri Yang Mei Li' yang duduk berdekatan dengan Kang Hin, Kwan Lee dan Kwan Eng.

Bahkan kini Yu Kiang Bwe juga sudah duduk dekat mereka.

Dengan sendirinya orang"orang muda ini berkelompok.

"Li-moi!"

Kata Kian Bu kepada Mei Li yang menyambutnya dengan gembira pula. Pemuda ini adalah tunangannya, akan tetapi ia tidak pernah menganggap sebagai tunangan, melainkan sebagai kakak misannya.

"Bu-ko, engkau juga berada di sini?"

Ia balas menegur. Kian Bu memandang kepada Yu Kiang "Bwe yang juga memandang kepadanya. Sepasang mata bertemu pandang dan Kian Bu berkata.

"Bwe-moi akhirnya kita saling berjumpa juga di sini."

"Bu-twako, tak kusangka engkau juga hadir disini."

Akan tetapi percakapan mereka terbatas karena mereka semua kini memusat kan perhatian ke arah panggung di mana Hoat Lan Sian-su ketua Hoat-kauw itu sudah mencabut pedang dari punggungnya.

Dan begitu pedang dicabut semua orang terkejut.

Pedang.beronce kuning itu mengeluarkan cahaya kemerahan yang mengerikan, seolah pedang itu membayangkan akan tumpahnya darah!

Dan Hoat!Lan Sian"su sebetulnya jarang sekali mencabut pedangnya.

Dengan tangan kosong saja dia mampu mengalahkan lawan yang tangguh, akan tetapi sekali ini dia tidak berani memandang rendah kepada lawannya.

Biarpun lawannya pantas menjadi cucunya, akan tetapi tadi lawannya itu telah berhasil mengimbangi kekuatan sihirnya!

Pula, pertandingan sekali ini bukan main-main melainkan nyawa taruhannya karena Hoat"kauw sudah terkepung dan ketahuan rahasianya sehingga pasukan kerajaan pasti akan membasminya.

Dia harus mempertahankan nama dan kehormatan dan kelangsungan Hoat-kauw dengan taruhan nyawa, dan dia siap membunuh siapa saja yang mengancam dia dan Hoat-kauw.

Melihat kakek itu mengeluarkan pedang yang berkilauan dan nampaknya ampuh menggiriskan itu, Mei Li segera berseru dari bawah panggung.

"Lin-ko, mari kau pergunakan siang-kiamku! "Golokku boleh kaupakai, siauw-te!"

Teriak pula Kang Hin.

"Lin-ko, pedangku ini juga cukup baik!"

Teriak Souw Kian Bu tak mau kalah. Melihat mereka semua menawarkan senjata, Han Lin tersenyum kepada Mei Li.

"Li-moi, tolong ambllkan saja tongkatku itu!"

Mei Li mengerutkan alisnya.

Memang Han Lin membawa tongkat butut yang ditinggalkan di bangkunya.

Akan tetapi ia tahu bahwa kakaknya itu memiliki ilmu kepandaian hebat dan mungkin tongkat butut itu bertuah.

Maka ia memungut tongkat itu dan ternyata cukup berat, maju mendekati panggung dan melontarkan tongkat kepada Han Lin yang menyambutnya dengan girang.

Memang Mei Li tidak keliru.

Tongkat itu tentu saja tongkat bertuah karena tongkat itu pemberian Lo-jin kepada muridnya itu.

Akan tetapi, melihat lawannya yang muda akan menghadapi pedangnya dengan sebatang tongkat butut, wajah kakek ketua Hoat-kauw menjadi merah saking marahnya.

Tentu saja dia merasa di pandang rendah sekali, karena pedang nya adalah pedang pusaka.

Sedangkan pedang yang tajam sekalipun takkan mampu bertahan terhadap keampuhan pedangnya, apalagi hanya tongkat butut!

"Orang muda, jangan main-main dengan nyawamu.

Pilihlah senjata yang baik dan tajam,"

Katanya kepada Han Lin. Akan tetapi Han Lin tersenyum dan melintangkan tongkatnya di depan dadanya.

"Lo-cian-pwe, tidak ada senjata yang lebih baik dari pada ini. Ketahui lah, tongkat ini adalah tongkat yang biasanya untuk mengusir setan dan hantu yang mengganggu manusia, jadi cocok sekali kalau sekarang kupakai menghadapimu."

Secara tidak langsung Han Lin telah memaki kakek itu sebagai setan dan hantu pengganggu manusia! "Baik, engkau mencari mampus sendiri, jangan salahkan aku orang tua yang dianggap menghina yang muda,"

Katanya dan diapun sudah memutar sebatang pedang yang beronce kuning itu.

Nampak sinar kemerahan bergulung-gulung dan terdengar suara berdesing-desing seperti gasing ketika gulungan sinar kemerahan itu menerjang ke arah Han Lin.

Semua orang yang berpihak kepada Han Lin tentu saja memandang dengan khawatir dan hati tegang.

Hampir mereka ini tidak berani berkedip, karena tidak ingin melewatkan semua gerakan yang menegangkan itu.

Mereka melihat Han Lin bersikap tenang sekali, akan tetapi ketika sinar merah bergulung-gulung itu menerjang ke arahnya, diapun menggerakkan tongkat bututnya menangkis berkali-kali.

Terdengarlah suara nyaring berdenting berulang kali ketika pedang Itu tertangkis dan semua orang yang memandang kagum karena tongkat butut itu ternyata tidak menjadi patah bertemu dengan pedang yang tajam itu.

Dan Han Lin juga tidak mau membuang waktu lagi, segera dia memainkan ilmu tongkat Lui Tai-hong-tung (Tongkat halilintar dan angin badai), dan semua orang terbelalak.

Kalau tadi yang nampak jelas hanyalah gulungan sinar pedang kemerahan yang seolah gelombang menerjang Han Lin, kini nampaklah sinar kehitaman yang lebih besar dari gulungannya, dan terdengar suara deru angin menyambar-nyambar yang terasa sampai di bawah panggung.

Pakaian semua orang berkibar, bahkan rambut mere kapun berkibar tertiup angin dan kini-barulah Hoat Lan Sian-su maklum.

Kiranya pemuda itu memang hebat bukan main dan menghadapi tongkat itu, dia benar-benar tidak berdaya.

Bukan saja pedang nya selalu terpental bertemu dengan gulungan sinar tongkat, akan tetapi juga dia merasa limbung diterpa angin badai yang dahsyat itu.

Ada semacam kekuatan mujijat tersembunyi di dalam gulungan sinar hitam itu.

Belum juga limapuluh jurus kakek itu tiba-tiba mengeluarkan teriakan panjang dan tubuhnya terlempar sampai dua meter ke belakang, jatuh berdebuk di atas papan panggung, sedangkan pedangnya masih dipegangnya.

Melihat ketua mereka kalah, para anggauta Hoat-kauw seolah tidak dapat percaya dan merekapun maklum bahwa harapan mereka sudah lenyap maka mereka menjadi nekat.

Tiba-tiba saja mereka menyerbu ke panggung, bersama orang-orang Mongol yang diam-diam menerima pe rintah Sam Mo-ong untuk bergerak.

Akan tetapi melihat ini, pasukan kerajaan dan anak buah Nam-kiang-pang menyerbu masuk sehingga orang-orang Hoat-kauw dan Mongol itu terpaksa membalik dan terjadilah pertempuran hebat di tempat itu.

Han Lin masih bertanding dengan Hoat Lan Sian-su yang bangkit lagi dan mengamuk.

Juga Bu-tek Ngo Sin-liong yang kini tinggal empat orang itu, mengamuk dengan senjata mereka, dihadapi orang-orang muda yang gagah perkasa itu.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 4

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert