Eps 6 Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Pedang Terbang - Kho Ping Hoo.
Lam-hai Sin-liong Kwa Him dilawan oleh Yu Kiang Bwe, akan tetapi Souw Kian Bu yang mengkhawatirkan gadis itu lalu membantunya sehingga Lam-hai Sin-liong (Naga Sakti Laut Selatan) Kwa Him, orang ke empat dari Bu-tek Ngo Sin-liong terpaksa menghadapi pengeroyokan Kian Bu dan Kiang Bwe.
Hwi Sin-liong Mo Hwa dilawan oleh Sie Kwan Eng dan orang ke tiga Bu-tek Ngo Sin-liong yang cantik sadis dan galak ini segera repot menggerakkan siang-kiamnya dari desakan Puteri Beng-kauw yang sudah menguasai ilmu Pukulan Salju Putih itu.
Tiat-sin-liong Lai Cin, orang kedua Bu-tek Ngo Sin"liong bertanding melawan Kang Hin yang telah pulih kembali kesehatannya, dan orang pertama Ngo Sin-liong, yaitu Ang"sin-liong Yu Kiat ditandingi oleh Sie Kwan Lee.
Kalau saja Sam Mo-ong terjun dalam arena pertandingan, tentu pihak para muda itu akan kalah kuat.
Akan teta pi Sam Mo-ong ini rupanya orang-orang yang amat licik dan cerdik.
Mereka sudah memperhitungkan bahwa kalau mereka bertanding akhirnya mereka akan celaka menghadapi pengeroyokan begitu banyaknya lawan.
Maka, menggunakan kesempatan selagi para pemuda yang lihai itu bertanding dengan lawan masing-masing, mereka bertiga lalu berlompatan menerjang para perajurit dan mencari jalan keluar.
Tentu saja para perajurit itu tidak dapat bertahan terhadap amukan orang-orang seperti Hek-bin Mo-ong, Pek"bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo i-tu.
Mereka jatuh bergelimpangan dan akhirnya tiga orang kakek itu dapat meloloskan diri dan lari pergi tanpa memperdulikan nasib anak buah mereka lagi.
Alangkah banyaknya watak orang-orang yang merasa diri menjadi pemimpin kelompok seperti mereka bertiga ini.
Di waktu mereka itu mengejar kedudukan dan membutuhkan bantuan dan dukungan anak buah, mereka mengharapkan kesetiaan dan ketaatan mereka.
Juga mereka memperlihatkan bahwa mereka itu memperhatikan kesejanteraan anak buah mereka.
Akan tetapi, sekali mereka itu tersudut dan terancam bahaya, merekapun akan melarikan diri tanpa memperdulikan lagi nasib para anak buahnya.
Berbeda dengan sikap tiga orang iblis tua itu, empat-orang dari Bu-tek Ngo Sin-liong membela nama Hoat-kauw.
Mereka adalah tokoh-tokoh Hoat-kauw.
Kini Hoat-kauw terancam bahaya dan ketua mereka, juga paman guru mereka, kakek yang tua itu telah maju sendiri bertanding melawan Han Lin.
Merekapun maklum bahwa pasukan tentu tidak akan membiarkan mereka lolos.
Oleh karena itu mereka menjadi nekat dan mereka menggerakkan senjata masing-masing untuk mengamuk.
Pertandingan antara Lam-hai Sin-liong Kwa Him melawan Yu Kiang Bwe yang dibantu oleh Souw Kian Bu, berlangsung berat sebelah.
Kwa Him yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata siang-to (sepasang golok) itu mengamuk dengan tenaganya yang besar.
Kalau dua orang pengeroyoknya maju satu demi satu, akan sukar dapat mengalahkannya.
Tenaga orang ini seperti tenaga gajah dan goloknya yang menyambar itu mempunyai kekuatan dahsyat yang akan dapat merusak atau melepaskan senjata di tangan lawan.
Akan tetapi Yu Kiang Bwe yang bersenjata sabuk rantai baja putih itu cukup cerdik, tidak mau mengadu senjatanya dengan senjata lawan,.
melainkan menggunakan kelincahan tubuh nya untuk mengelak dan membalas dengan serangan rantai baja putihnya.
Demikian pula Souw Kian Bu.
Pemuda ini memainkan pedangnya dengan ilmu pedang Si-an-li Kiam-sut dan tidak mau mengadu pedangnya dengan golok lawan.
Inilah yang membuat Kwa Him kerepotan.
Dua orang pengeroyoknya tidak pernah menangkis goloknya dan tiap kali mereka menyerang diapun tidak pernah dapat memukul senjata mereka.
Juga, biarpun tenaganya besar, namun dia tidak begitu lincah, gerakannya agak lamban sehingga dalam waktu tigapuluh jurus saja, sudah dua kali pundak dan pahanya keserempet pedang lawan sehingga kulit-nya robek dan mengucurkan darah yang membuat dia semakin marah seperti harimau terluka.
Hwi-sin-liong (Naga Sakti Terbang) Mo Hwa yang bertanding melawan Sie Kwan Eng masih mending, karena ia dapat mengimbangi permainan pedang gadis Beng-kauw itu, bahkan dengan siang kiamnya, ia dapat lebih banyak melakukan serangan dibandingkan lawannya yang hanya berpedang tunggal.
Akan tetapi, Sie Kwan Eng memiliki ilmu pukulan Salju Putih yang ampuhnya menggiriskan.
Sudah dua kali Sie Kwan Eng menggerakkan tangan kirinya memukul, dan selalu Mo Hwa terhuyung dan menggigil walaupun pukulan itu dapat ia elakkan.
Hal ini membuat ia jerih dan sepasang pedangnya tidak begitu mengurung lagi, karena ia agak menjauhkan diri, khawatir secara tiba-tiba diserang pukulan Salju Putih yang ampuh itu.
Tiat-sin-liong (Naga Sakti besi) Lai Cin didesak hebat oleh Kang Hin.
Dengan permainan goloknya dalam ilmu Thian-te Sin-to, Kang Hin mendesak Lai Cin yang bersenjata tombak cagak ronce biru.
Biarpun Lai Cin memiliki kekebalan, tubuhnya laksana besi, namun menghadapi ilmu golok Thian"te Sin-to, dia tidak berani mengandalkan kekebalannya.
Diapun terdesak hebat oleh ketua Nam-kiang-pang yang baru ini.
Seperti juga tiga saudaranya yang lain, orang pertama dari Ngo Sin-liong yaitu Ang-sin-liong (Naga sakti merah) Yu Kiat yang dihadapi Sie Kwan Lee, terdesak hebat.
Ang-sin-liong Yu Kiat bersenjata golok gergaji, akan tetapi betapapun hebatnya permainan goloknya, menghadapi pedang Kwan Lee yang diseling pukulan tangan kiri dengan ilmu Matahari Merah, dia kewalahan.
Pukulan itu yang seringkali membuat dia terhuyung dan merasa seluruh tubuhnya panas, padahal pukulan itu tidak mengenainya dan dapat dielakkannya.
Hoat Lan Sian-su akhirnya tidak kuat menahan ilmu Lui-tai"hong-tung dari tongkat butut Han Lin dan akhirnya dia roboh ketika perutnya tertotok tongkat.
Han Lin memang tidak berniat membunuhnya, hanya merobohkan untuk menangkap ketua Hoat-kauw itu.
Akan tetapi, kakek itu tidak mau ditangkap.
Dalam keadaan tertotok dan setengah lumpuh itu, dia menggunakan sisa tenaganya, membenamkan pedangnya di dalam dadanya sendiri menembus jantung dan dia tewas seketika.
Empat orang dari Bu-tek Ngo Sin-liong melihat tewasnya ketua atau paman guru mereka, menjadi semakln gentar dan satu demi satu merekapun roboh di tangan para pendekar muda itu.
Pertempuran berakhir setelah terjadi selama dua jam.
Hanya sedikit saja orang-orang Mongol dan anak-buah Hoat-kauw yang berhasil meloloskan diri dari kematian.
Sebagian besar terbantai, mati atau terluka-parah.
Di pihak pasukan pemerintah dan orang-orang Nam-kiang-pang juga terdapat korban yang berjatuhan, namun jumlahnya tidaklah sebanyak pihak musuh.
Setelah mengumpulkan "
Perajuritnya, Bu-ciangkun lalu memerintahkan mereka untuk menggali lubang dan menguburkan semua orang yang menjadi korban dalam pertempuran.
Setelah itu dia membawa pasukannya untuk pulang ke benteng dan membuat laporan kepada Kaisar.
Mereka bertujuh duduk di bawah pohon, jauh dari tempat pertempuran tadi.
Pedang merah milik Hoat Lan Sian-su tadi disimpan oleh Han Lin.
"Pedang ini merupakan pusaka yang baik. Sayang kalau dibiarkan di sana dan kelak terjatuh ke tangan orang jahat. Kelak, kalau Hoat-kauw sudah kembali ke jalan benar, dipimpin oleh ketua yang baik, aku sendiri yang akan mengembalikan pedang ini kepadanya,"
Demikian katanya kepada yang lain.
Ketika diperiksa dengan teliti, pedang itu diukir dengan tiga huruf yang berbunyi "Ang-in"kiam" (Pedang Awan Merah).
Sebuah nama yang indah dan tepat "karena sinar merah yang dikeluarkan pedang itu adalah merahnya awan yang terbakar matahari di waktu senja.
Entah disengaja atau tidak ketika tujuh orang itu duduk di bawah pohon bercakap-cakap, Sie Kwan Lee mendekati Yang Mei Li.
Sie Kwan Eng mendekati Ciu Kang Hin.
Adapun Souw Kian Bu dengan sendirinya mendekati Yu Kiang Bwe yang dicintanya.
Semua ini tak dapat lepas dari perhatian Han Lin.
Diam-diam dia merasa girang melihat Souw Kian Bu demikian akrab dengan Yu Kiang Bwe karena dia dapat melihat bahwa gadis ketua Kim-kok-pang ini memang cukup pantas untuk menjadi jodoh adik misannya itu.
Juga dia melihat bahwa Kang Hin bertukar pandang dengan Sie Kwan Eng, atau setidaknya Sie Kwan Eng memandang kepada pemuda ketua Nam-kiang-pang itu dengan sinar mata berseri-seri yang mengandung perasaan kagum dan sayang.
Akan tetapi satu ha l dirasakan seolah menusuk perasaannya, yaitu sikap Mei Li terhadap Sie Kwan Lee.
Diantara kedua orang muda inipun jelas terdapat hubungan batin yang mesra.
Dia cepat menekan perasaannya dan mengusir perasaan cemburu dan tidak senang yang menyesak di dada.
Bodoh kau doa menegur diri sendiri.
Gadis itu adalah adik misannya, bukan orang lain, jadi jangan mengharapkan yang bukan-bukan!
Tujuh orang muda itu saling menceritakan pengalaman masing-masing dan ketika tiba giliran Han Lin, dia hanya bercerita bahwa dia menjadi murid mendiang Kong Hwi Hosiang, kemudian memperdalam ilmu-ilmunya di dalam perantauannya.
Sesuai dengan pesan Lo-jin, dia tidak berani bercerita tentang gurunya yang terakhir itu.
Ketika dengan alasan untuk membicarakan sesuatu, tiga pasang orang muda itu menjauhi tempat itu, meninggal kan Han Lin seorang diri, pemuda ini duduk melamun dan menghela napas panjang, di dalam batinnya dia memanjatkan doa agar dua orang saudara misannya itu tidak akan salah memilih calon jodoh mereka masing-masing.
Souw Kian Bu yang berjalan berdua Yu Kiang Bwe, berhenti di tempat sunyi dan Kian Bu berkata.
"Bwe-moi "
Kiang Bwe berhenti dan menoleh.
"Ada apakah, Bu-ko? Apa yang hendak kaubicarakan denganku maka engkau me-ngajak aku memisahkan diri dari yang lain?"
"Bwe moi, terus terang saja, aku hendak membicarakan urusan kita berdua. Bagaimana pendapatmu kalau pada suatu hari aku minta ayah bundaku untuk datang ke tempat tinggalmu dan mengajukan pinangan terhadap dirimu kepa da keluargamu, wakil dari ayahmu dan juga kepada ibumu!"
Kiang Bwe tidak menjadi terkejut karena iapun sudah menduga bahwa pemuda itu jatuh cinta kepadanya, hal yang diterimanya dengan bangga dan bahagia karena ia sendiripun amat tertarik kepada pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sopan itu.
Akan tetapi naluri kewanitaannya memaksa dia bermerah pipi mendengar ucapan yang terus terang itu.
"Sudahkah kau pikir baik-baik niatmu itu, Bu-koko? Dan apakah ayah ibumu akan menyetujuinya?"
"Sudan menjadi keputusan bulat hatiku, Bwe-moi. Tentang ayah ibuku...."
Tiba-tiba dia mengerutkan alisnya dan nampak gelisah.
"akan kubujuk mereka agar menyetujui. Mereka harus menyetujui!"
Mendengar ucapan ini yang nadanya keras, Kiang Bwe niemandang kekasihnya.
"Ada apakah, Bu-koko? Agaknya apakah engkau sangsi akan persetujuan orang tuamu?"
Kian Bu menghela napas beberapa kali sebelum menjawab.
"Bwe-moi, aku tidak akan menyembunyikan apapun juga darimu. Aku akan berterus terang saja. Sebetulnya, ayah dan ibu telah menentukan jodohku sejak aku masih kanak-kanak. Tentu saja aku tidak setuju, bahkan gadis yang ditunangkan dengan aku pun tidak setuju karena sesungguhnya di antara kami masih ada hubungan keluarga dekat. Engkau tentu sudah dapat menduga siapa orangnya."
Kiang Bwe terbelalak.
"Kau maksud kan.... Dewi Pedang Terbang 'Yang Mei Li?"
"Benar."
"Ahhh......... tapi ia.... ia gadis yang hebat, cantik jelita dan lihai sekali!!"
"Bwe-moi, ingat, kami adalah saudara misan. Ayahnya adalah kakak dari ibuku. Sejak kami masih kecil kalau kami saling jumpa dan bicara, kami berdua sudah tidak setuju dengan ikatan pedjodohan itu. Dan engkau melihat sendiri, adik Mei Li nampak begitu akrab dengan Sie Kwan Lee, pemuda Beng-kauw itu! Bagaimana, moi-moi, kalau orang tuaku meminangmu, engkau tidak akan menolak, bukan?"
Sambil tersenyum dan tersipu Kiang Bwe memandang kekasihnya dan menggeleng kepala.
"Aku hanya sangsi apakah orang tuamu akan setuju, koko."
"Terimakasih, moi-moi. Tentang orang tuaku, jangan khawatir, aku dan adik Mei Li akan berusaha keras meyakinkan mereka bahwa kami tidak berjodoh dan kami telah memiliki pilihan hati masing-masing."
Di lain bagian dari tempat itu, terpisah, Yang Mei Li juga bercakap-cakap dengan Sie Kwan Lee.
Pemuda yang kulit mukanya gelap wajahnya tampan ganteng dan penuh kejantanan itu, berkata seperti biasanya, tegas dan jujur namun lembut.
"Li-moi, kesempatan ini akan kupergunakan untuk menyatakan perasaan hatiku kepadamu Li-moi, kalau engkau berkenan menerimaku, aku cinta padamu dan aku ingin agar engkau menjadi isteri ku!"
Mei Li tersenyum.
Satu di antara hal-hal yang menarik hatinya dari pemu da ini adalah keterbukaan dan kejujurannya.
Seperti juga mendiang ayahnya, hanya kalau mendiang Sie Wan Cu keterbukaannya itu kasar sehingga berkesan kurang ajar, sebaliknya pemuda ini jujur dengan teratur dan membatasi diri sehingga menjaga kesopanan.
"Aih, hal itu keputusannya tergantung kepada ayah ibuku, twa ko."
"Tentu saja, Li-moi. Akan tetapi sebelum mereka memutuskan, aku ingin lebih dahulu mendengar pendapatmu. Apakah engkau mau dan dapat menerima cintaku dan tidak keberatan kalau aku kelak meminangmu?"
"Aku.... aku tidak keberatan dan akan merasa berbahagia sekali twako."
Bukan main gembiranya Sie Kwan Lee mendengar ini, Dengan lembut dia memegang kedua tangan gadis itu, membawa tangan itu ke atas dan diciumnya dengan khidmat dan penuh perasaan.
"Terima kasih, Li-moi. Ah, engkau tidak tahu betapa besar kebahagiaan yang kurasakan saat ini! Mei Li terharu. Pemuda itu tetap menghargainya dan bersikap sopan.
"Twa ko, kalau tadi aku mengatakan tergantung dari ayah ibuku, hal itu adalah sebenarnya. Ketahuilah, sejak aku masih keci l sekali, aku telah ditunangkan dengan pemuda lain "
Me? Li melihat betapa wajah itu pucat, tangannya dilepas dan pemuda itu mundur tiga langkah.
"Ah, maafkan aku,... maafkan kelancanganku"
"Jangan salah mengerti, twako. Biarpun kami sudah ditunangkan, akan tetapi kami tidak saling mencinta. Kami masih ada hubungan keluarga, dan sejak dahulu kami berdua sudah mengambil keputusan untuk menolak kehendak orang tua dan membatalkan perjodohan. Engkau tentu dapat menduga siapa orangnya.Ya, dia adalah kakak Souw Kian Bu."
Wajah itu menjadi merah lagi.
"Akan tetapi, kenapa kalian tidak setuju Li-moi? Bukankah dia seorang pemuda yang hebat dan engkau seorang gadis yang hebat pula?"
"Twako, kami masih saudara misan dan sejak kecil kami sudah menganggap seperti saudara sendiri. Kasih di antara kami adalah kasih sayang antara kakak dan adik, bagaimana mungkin kita berjodoh?"
"Kalau begitu engkau engkau menerima cintaku?"
Kini barulah wajah Mei Li menjadi kemerahan dan ia mengangguk. Lalu dia menundukkan mukanya karena tersipu malu.
"Dan bagaimana dengar orang tuamu, Li-moi?"
"Akan kunyatakan terus terang bahwa aku tidak ingin berjodoh dengan Bu-koko, bahwa aku telah memiliki pilihan hati "
"Akulah orangnya?"
Mei Li mengangkat mukanya dan mengangguk.
Han Lin masih duduk melamun ketika dua pasang orang muda itu muncul, Han Lin tersenyum akan tetapi pura-pura tidak tahu saja, walaupun dari wajah empat orang muda itu yang berseri dan sinar mata mereka yang penuh kasih dia tahu apa yang telah terjadi di antara mereka.
Tentu mereka telah menyatakan isi hati masing-masing.
"Lin-ko, kami datang untuk minta pertolonganmu!"
Kata Souw Kian Bu.
"Benar, Lin-koko. Hanya engkaulah yang akan dapat menolong kami,"
Kata Mei Li.
Gadis ini tadi sudah mengadakan pembicaraan serius dengan Souw Kian Bu, disaksikan oleh kekasih masing-masing, dan mereka mengambil keputusan untuk minta pertolongan Han Lin.
Han Lin mengangkat alisnya dan tersenyum.
"Aih, ada urusan apakah? Pertolongan apakah yang akan dapat kuberikan kepada kalian?"
Mei Li saling pandang dengan Kian Bu dan akhirnya Mei Li yang menjadi juru bicara.
"Lin-koko, maafkan kami. Baru saja bertemu denganmu, kami sudah membikin repot dan minta bantuanmu. Ketahuilah, koko, sejak kecil aku dan koko Kian Bu telah dijodohkan oleh orang tua kita."
Biarpun dia tahu bahwa di sini timbul keruwetan karena masing-masing agaknya telah memilih pasangan, Han Lin mengangguk-angguk tersenyum.
"Wah, itu baik sekali!"
"Apanya yang baik!"
Kata Mei Li "Sama sekali tidak baik, ko cemberut. ko."
"Lho? Kenapa?"
Tanya Han Lin sambil menoleh, memandang kepada Kian Bu. Pemuda ini juga menggeleng kepala sambil menghela napas.
"Memang tidak baik, Lin-ko,"
Katanya.
"Ehh? Kalian ini bagaimana sih? Dijodohkan orang tua, kenapa bilang tidak baik? Apakah Bu-te kurang tampan dan gagah? Apakah Li-moi kurang cantik jelita dan perkasa?"
"Bukan begitu, Lin-koko. Engkau tahu sendiri bahwa kami adalah kakak beradik misan. Sejak kecil kami memang sudah tidak setuju karena kami berdua saling sayang sebagai kakak dan adik. Bagaimana mungkin kami menjadi suami isteri"
Kata Mei Li. Han Lin mengangguk-angguk.
"Aahh, begitukah? Nah, kenapa kalian minta pertolongan dariku Apa yang dapat kulakukan untuk kalian dalam hal itu?"
Mei Li memandang Kian Bu.
"Bu-koko engkau saja yang menjelaskan kepada Lin-ko."
Kian Bu berkata kepada Han Lin.
"Begini, Lin-ko. Kami tidak dapat menerima perjodohan itu, dan terus terang saja, sekarang kami masing-masing telah menemukan pilihan hati. Aku dan adik Yu Kiang Bwe telah bersepakat untuk membina rumah tangga, sedangkan Li moi, dan saudara Kwan Lee juga sudah saling mencinta untuk kemudian berjodoh."
Han Lin mengangguk-angguk. Dia ti dak merasa heran karena memang sudah menduga demikian.
"Kalau begitu, apa yang dapat kulakukah untuk kalian?"
"Begini, koko,"
Kata Mei Li.
"Kami tentu akan mendapat tantangan dan kesulitan dari orang tua kami. Oleh ka rena itu, kami mohon agar engkau suka menjadi pembicara membela dan membantu kami di depan orang tua kami, membujuk mereka agar menyetujui pilihan hati kami masing-masing dan tidak memaksa aku dan Bu-ko saling berjodoh."
"Wah, aku kalian angkat menjadi comblang?"
Tanya Han Lin sambil tertawa, lalu disambungnya dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah, aku akan membantu, dan mudah-mudahan saja bantuanku ada gunanya."
"Terima kasih, Lin-ko."
"Terima kasih, Lin-koko."
"Akan tetapi kurasa hal ini tidak mudah. Apa lagi bagi adik Mei Li. Terus terang saja, kalau Bu-te hendak berjodoh dengan nona Yu Kiang Bwe sebagai ketua Kim-kok-pang, hal itu tidak akan ada masalahnya bagi orang tuanya, akan tetapi engkau, Li"moi. Maaf-kan aku, saudara Sie Kwan Lee. Akan tetapi kalau orang tuamu mendengar bahwa engkau akan berjodoh dengan putera ketua Beng-kauw, aku sangsi apakah mereka akan menyetujuinya."
"Tidak apa, Sia-taihiap. Aku menyadari keadaanku. Memang Beng-kauw telah mempunyai nama yang tidak begitu baik bagi para pendekar, akan tetapi aku berani menghadapi kenyataan, bahkan andaikata aku ditampik sekalipun. Bagaimanapun, kalau sudah dicoba, aku tidak akan menjadi penasaran."
"Jangan khawatir, Lee-ko, ayah ibu bukanlah orang yang kukuh. Aku ya-kin Lin-koko pasti akan mampu mencairkan hati mereka, dan aku sendiri juga tidak mau dipaksa menikah dengan orang lain."
"Begitulah seharusnya sikap orang muda. Jangan lebih dahulu menyerah sebelum diusahakan. Karena dalam hal ini, pendapat Bu-te juga amat diperlukan untuk memperkuat bujukan terhadap Paman Yang Cin Han, maka aku mengusulkan agar kalian berempat bersama aku pergi menghadap beliau dan bibi. Sesudah berhasil barulah pergi menghadap bibi Yang Kui Lan dan suaminya. Bagaimana pendapat kalian?"
Mei Li dan Kian Bu tentu saja menyetujui.
Dan pada saat itu muncullah Kang Hin dan Kwan Eng.
Wajah kedua orang ini kemerahan ketika lima orang pemuda itu memandang kepada mereka.
Kang Hin telah melihat keakraban aritara Mei li dan Kwan Lee, maka dia maklum bahwa harapannya untuk berjodoh dengan Mei Li sia-sia belaka.
Maka, ketika melihat Kwan Eng bersikap mesra kepadanya, dia menyambutnya karena dia pun tertarik sekali kepada puteri Beng kauw yang cantik manis itu.
Han Lin mendahului yang lain.
"Saudara Ciu Kang Hin, dan juga nona Kwan Eng, aku mengucapkan selamat!"
Dua orang itu terbelalak, dan kedua pipi mereka menjadi semakin merah.
"Eh, saudara Sia Han Lin, mengapa engkau mengucapkan selamat kepada kami berdua?"
Han Lin tidak menjawab melainkan tertawa, dan empat orang yang lain ikut pula tertawa.
Melihat lima orang muda itu tertawa-tawa gembira, Kang Hin dan Kwan Eng saling pandang dan tersipu.
Lalu Kang Hin bicara dengan sejujurnya.
"Baiklah, terimakasih atas ucapan selamat itu. Memang, aku dan nona Sie Kwan Eng telah bersepakat untuk menjadi suami isteri."
Dia memandang kepada Mei Li dan gadis ini kelihatan paling gembira mendengar ucapan itu.
"Bagus dan selamat, Ciu-twako! Kalian memang merupakan jodoh yang cocok sekali!"
Kwan Lee yang memang tidak pernah menyimpan rahasia itu, lalu berkata ke pada adiknya.
"Adik Eng, engkau pulang lah dulu dan beritahukan kepada ibu bahwa aku akan pergi dulu kepada orang tua nona Yang Mei Li untuk membicarakan urusan perjodohan kami., bersama de ngan saudara Sia Han Lin, saudara Souw Kian Bu dan nona Yu Kiang Bwe."
Kini Kang Hin yang menjadi gembira sekali.
Tadinya dia merasa agak sungkan kepada Mei Li karena belum begitu lama dia mengaku cinta kepada gadis itu dan sekarang dia telah menyata kan hendak berjodoh dengan gadis lain!
"Ah, pilihan yang tepat sekali!
Kiong-hi (selamat), kionghi!"
Katanya berulang-ulang. Melihat mereka saling memberi selamat Han Lin tertawa.
"Kalian lupa untuk memberi selamat kepada pasangan ketiga antara saudara Souw Kian Bu dan nona Yu Kiang Bwe."
Demikianlah, tiga pasang orang muda itu saling memberi selamat dalam suasana yang gembira dan tersipu malah.
Dan selagi mereka berenam itu bergembira tertawa, Han Lin diam"diam merasa betapa sepinya hati ini.
Mereka lalu berangkat meninggalkan tempat itu.
Yu Kiang Bwe bersama Souw Kian Bu, Mei Li bersama Kwan Lee, pergi bersama Han Lin.
Sedangkan Ciu Kang Hin dan Sie Kwan Eng pergi berdua, menuju ke pusat Beng-kauw untuk menghadap ibu Kwan Eng, minta doa restu atas pilihan hatinya.
Bagi Sie Kwan Eng tidak ada halangan sesuatu karena sudah menjadi kebiasaan keluarganya di Beng-kauw untuk menentukan dan memilih sendiri calon jodohnya.
Dengan bantuan Han Lin yang diterima oleh suami.isteri Yang Cin Han dan Can Kim Hong dengan gembira,"akhirnya suami isteri itu dapat menerima pilihan hati puteri mereka.
Memang tadinya mereka merasa tidak enak sekali kepada Souw Kian Bu.
Akan tetapi setelah terdapat kenyataan bahwa Kian Bu juga mendapat pilihan hatinya sendiri, mereka tak dapat berkata apa-apa lagi.
Kenyataan bahwa puteri mereka memilih putera Beng-kauw menjadi calon suami sempat membuat suami isteri itu mengerutkan alis, akan tetapi kesaksian dan pembelaan Han Lin akan kebaikan calon mantu itu membuat mereka akhirnya menyetujui pula.
Setelah orang tua Mei Li setuju, Han Lin mengantar mereka berlima menghadap Souw Hui San dan Yang Kui Lan.
Juga di sini Han Lin memegang peran besar sebagai pembela dan pembujuk dan akhirnya suami isteri inipun menyetujui.
Demikianlah, dua pasang kekasih itu, seperti juga halnya pasangan Ciu Kang Hin dan Sie Kwan Eng, akhirnya menikah dengan penuh kebahagiaan.
Pernikahan mereka, tiga pasangan itu, dihadiri oleh Sia Han Lin dan setelah selesai menghadiri undangan, Sia Han Lin lalu pergi seorang diri.
Sore itu dia tiba di puncak sebuah bukit yang amat indah pemandangannya.
Senja hari yang cerah.
Matahari senja menciptakan pemandangan menakjub kan di langit barat.
Han Lin berdiri termenung.
Hatinya terasa sunyi, sepi, menyendiri dan seolah hidup ini kosong tidak ada artinya sama sekali baginya.
Akan tetapi, ketika tangannya.
meraba pinggang, tangan itu bertemu dengan pedang yang tergantung di pinggang.
Dia sadar dan mencabut pedangnya.
Nampak sinar yang menyamai warna langit di barat.
Han Lin memandang pedangnya, lalu menancapkan tongkat bututnya di atas tanah.
Digerakkan pedang itu dan di lain saat dia telah bersilat pedang.
Nampak sinar merah bergulung-gulung, terdengar suara angin menderu dan daun daun kering rontok seolah ditiup badai.
Han Lin terus bersilat memainkan pedangnya dan perlahan"lahan, sinar merah di barat makin layu dan kegelapan makin menyelimut!
bumi sampai Han Lin yang bermain pedang ditelan kegelapan malam.
Sampai di sini berakhirlah sudah kisah Si Pedang Terbang ini yang melibatkan beberapa orang tokoh dunia persilatan, dengan harapan pengarang kisah ini dapat menghibur hari para pembacanya.
Sampai jumpa di lain kisah.
T A M A T Lereng Lawu, medio Juli l986.
jisokam,
http.//indozone.net
/literatures/literature/1025 15 Mei 2011 jam 7.19pm
Baca Juga: Jodoh Rajawali 6
Baca Juga: Kemelut Kerajaan Mancu 6