Ceritasilat Novel Online

Mestika Burung Hong Kemala 2

Eps 2 Mestika Burung Hong Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Mestika Burung Hong Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Mestika Burung Hong Kemala - Kho Ping Hoo.

Ini berarti bahwa hwesio gendut itu bukan seorang tokoh besar dunia persilatan, melainkan seorang pendeta yang sama sekali tidak ternama!

Saking geramnya karena sudah belasan kali semua serangannya gagal total, tiba-tiba Kwi-jiauw Lo-mo mengeluarkan suara gerangan seperti seekor biruang dan sepasang cakarnya menyambar dari kanan kiri dengan tenaga sepenuhnya.

Agaknya, satu di antara cakar itu tentu akan mengenai sasaran karena tongkat itu mana ma mpu menangkis sepasang cakar yang datang pada saat yang bersamaan dari kanan kiri?

Akan tetapi, tubuh yang gembrot itu ternyata mampu bergerak dengan ringan sekali seperti seekor burung saja tubuh itu sudah melayang ke belakang.

"Tranggg...... !!"

Bunga api berpijar ketika sepasang cakar itu saling berbenturan.

Sungguh merupakan senjata yang mengerikan!

Sementara itu, kakak beradik Kui Lan dan Kui Bi mengamuk dengan pedang mereka dan membuat belasan orang pengeroyok mereka kocar-kacir.

Banyak di antara mereka yang terluka oleh pedang kedua orang gadis itu.

Setelah dua orang roboh tewas dan lima yang lain terluka, para pengeroyok itu menjadi gentar dan sambil menyeret kawan"kawan yang terluka, mereka lalu melarikan diri.

Melihat betapa anak buahnya melarikan diri dan dia sendiripun tidak mampu menandingi tongkat bambu yang amat lihai itu, Kwi-jiauw Lo-mo maklum bahwa kalau dia nekat melanjutkan perkelahian, akhirnya dia akan mendapat malu.

"Hwesio usil! Biar lain kali aku mencarimu untuk membuat perhitungan!"

Katanya sambil melompat ke belakang Melihat hwesio itu hanya menyeringai lebar dan tidak mengejar, diapun melompat dan melarikan diri.

Dua ekor kuda milik kakak beradik itu ditinggalkan oleh kawanan perampok.

"Omitohud, hanya dengan kemampuan seperti itu sudah berani memaksakan kehendak mengganggu orang lain!"

Kata hwesio itu sambil tersenyum.

Kalau dia meng hendaki, tidak akan terlalu suka baginya untuk merobohkan Si Cakar Setan itu tadi.

Akan tetapi dia tidak mau melakukan itu dan kini dia memandang kepada dua orang gadis yang sudah menjatuh kan diri berlutut di depan kakinya.

"locianpwe telah menyela matkan nyawa kami!"

Kata Kui Lan.

"Kami menghaturkan terima kasih locianpwe,,"

Kata pula Kui Bi.

"kami akan membalas budi locianpwe dengan melayani semua kebutuhan Locianpwe kalau sudi menerima kami sebagai murid."

Hwesio itu tersenyum, me mandang kepada mereka dan matanya berseri ketika dia memandang kepada Kui Bi.

"Omitohud..... kalian ini gadis-gadis petualang telah memaksa pinceng sehingga terseret ke dalam perkelahian! Luar biasa sekali!"

"Maaf, locianpwe,"

Kata Kui Bi yang memang lincah dan pandai bicara.

"Bukan kami yang memaksa Locianpwe, melainkan kemuliaan hati locianpwe sebagai seorang pendeta suci dan orang tua gagah perkasa berwatak pendekar yang memaksa locianpwe turun tangan menolong kami."

Hwesio itu menghela napas panjang dan menggeleng"geleng kepalanya yang gundul dan bundar seperti bola, akan tetapi wajahnya masih berseri dan mulutnya masih tersenyum.

"Bukan itu yang menarik sekali hati dan perhatian pinceng, nona. Biasanya, pinceng tidak mau usil mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi, melihat permainan pedang kalian, pinceng merasa tertarik sekali. Bukankah ilmu pedang yang kalian mainkan itu adalah Sian-li Kia m-sut (Ilmu Pedang Dewi)?"

Kakak beradik itu saling pandang dengan heran, lalu keduanya mengangguk "Tepat sekali dugaan locianpwe.

Memang kami tadi memainkan Sian-li Kia m-sut, akan tetapi karena kami baru saja mempe lajarinya, latihan kami belum matang......"

Kata Kui Lan.

Hwesio itu mengangguk-angguk "Hemm, engkau benar, nona.

Kalau latihan kalian sudah matang, mana mungkin Si Cakar Setan itu akan mampu mengalahkan kalian dengan mudah?

Jadi kalian ini murid Sin-tung Kai-ong?

Inilah yang menarik hati pinceng untuk turun tangan tadi."

Kui Bi yang cerdik hendak mengatakan benar, akan tetapi kakaknya lebih cepat, Kui Lan seorang berwatak lembut dan sama sekali tidak suka berbohong, dan ia sudah khawatir kalau adiknya berbohong.

"Tidak, locianpwe kami bukan murid orang yang namanya locianpwe sebut tadi."

"Ehh? La lu dari mana kalian dapat memainkan Sian-li Kia m"sut? Siapa yang mengajarkannya kepada kalian?"

Dengan singkat namun jelas Kui Lan menceritakan pengalaman mereka ketika bertemu dengan seorang pengemis tua yang kemudian secara rahasia mengajarkan ilmu pedang itu kepada mereka.

"Kami tidak pernah mengenal siapa beliau, locianpwe, bahkan beliau memesan agar kami merahasiakan ajaran itu. Akan tetapi karena locianpwe telah mengenal ilmu pedang kami, terpaksa kami me mbuka rahasia ini."

"Ha-ha-ha-ha! Omitohud...... ! Si jembel tua itu sampai sekarang masih suka bersikap rahasia-rahasiaan! Jembel tua yang mengajarkan ilmu pedang itu kepada kalian adalah Sin"tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), seorang di antara tokoh-tokoh sakti dalam dunia persilatan. Kalian bangkitlah. Tidak perlu berlutut, mari kita bicara dengan baik. Pinceng melihat bahwa kalian bukanlah gadis-gadis kang-ouw biasa. Pakaian kalian dan kuda kalian menunjukkan bahwa kalian adalah gadis-gadis hartawan, dan sikap serta bicara kalian juga berbau bangsawan! Bagaimana gadis-gadis seperti kalian dapat berkeliaran di sini? Pinceng Kong Hwi Ho-siang paling tidak suka melihat kepalsuan, maka kalau kalian tidak ingin pinceng tinggalkan sekarang juga, ceritakan sejujurnya siapa kalian dan mengapa pula dapat berada di tempat ini."

Melihat wajah yang cerah dan penuh senyum itu kini nampak bersungguh-sungguh, Kui Bi tidak berani main-main lagi.

"locianpwe, karena locianpwe juga bersikap jujur, maka kami berjanji akan berterus terang kepada locianpwe. Kami kakak beradik, namaku Yang Kui Bi dan ini kakakku Yang Kui Lan. Kami dari kota raja........"

"She Yang dari kota raja?"

Hwesio itu memotong dan kini sepasang alisnya berkerut, matanya mencorong.

"Mengingatkan pin-ceng kepada Menteri Utama Yang Kok Tiong dan selir Kaisar Yang Kui Hui yang tersohor itu....!"

"Mereka adalah ayah dan bibi kami, locianpwe,"

Kata Kui Lan dengan suara lirih.

Hwesio itu terbelalak, untuk beberapa detik lamanya wajahnya berubah, senyumnya hilang dan alisnya berkerut.

Akan tetapi dia segera dapat menguasai dirinya dan nampak tenang kembali.

"Hemm, kalian adalah puteri Menteri Utama, bahkan keponakan selir Kaisar yang paling berpengaruh. Kalian kaya raya dan berkedudukan tinggi, berenang dalam lautan kemewahan dan kemuliaan. Kenapa dapat berkeliaran ke tempat sunyi ini tanpa pengawal?"

Kui Lan tidak dapat menjawab dan mengerling kepada adiknya, menyerahkan tugas kepada adiknya untuk menerangkan. Kui Bi tersenyum dan menatap tajam wajah hwesio itu.

"locianpwe sendiri merasa tidak senang mendengar bahwa kami dari keluarga Yang. Hal ini kami ketahui dari pandang mata dan sikap locianpwe. Apa lagi locianpwe, bahkan kami sendiripun muak dengan segala macam kepalsuan yang berada di kota raja, terutama di istana. Justeru karena kemuakan kami itulah kami meninggalkan kota raja dan merantau, locianpwe."

"Omitohud..... ! Mana mungkin dapat dipercaya keterangan ini? Kalian puteri-puteri bangsawan, dekat dengan istana, bagaimana mungkin merasa muak dengan kehidupan mewah itu dan pergi meninggalkan ru mah untuk merantau? Kepalsuan-kepalsuan apa yang kalian lihat dan rasakan?"

"locianpwe, kami adalah tiga bersaudara. Kami masih mempunyai seorang kakak kami bernama Yang Cin Han. Kami bertiga sejak kecil suka mempelajari silat dan juga kami membaca kitab kitab sejarah. Kami melihat ketidak wajaran dan kepalsuan merajalela di istana. Sribaginda Kaisar seperti boneka di tangan bibi kami Yang Kui Hui. Ayah kamipun diangkat menjadi Menteri Utama bukan karena kecakapan dan ke ma mpuan melainkan karena jasa bibi Yang Hui. Kami muak dengan semua itu dan kami bertiga meninggalkan rumah. Kami ingin bertualang, ingin bebas merdeka seperti burung "burung di angkasa. Kami ingin meluas kan pengalaman dan memperdalam ilmu kami. Kebetulan kami bertemu dengan locianpwe di sini, maka kami mohon sekali lagi, sudilah kiranya locianpwe menerima kami sebagai murid."

Setelah berkata demikian, Kui Bi memegang tangan kakaknya dan kembali mereka berdua menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio itu yang duduk bersila di atas batu besar.

"Omitohud...., sungguh menakjubkan! Betapa akan bahagianya bangsa dan negara kalau semua orang muda seperti kalian ini, tidak silau oleh kesenangan melainkan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun, agaknya masih sangat sukar untuk percaya begitu saja. Kalau kalian ingin menjadi murid pinceng, dapat pinceng menerima kalian namun dengan satu syarat."

"Apa syaratnya, locianpwe? Kami siap memenuhinya,"

Kata Kui Bi dengan tegas.

"Syaratnya, kalian harus taat, dan selama dua tahun penuh kalian tidak boleh meningga lkan kuil di mana kalian akan pinceng titipkan. Selama dua tahun itu, apapun yang terjadi di kota raja, kalian tidak boleh meninggal kuil dan harus melatih semua ilmu yang pinceng ajarkan dengan tekun. Nah bersediakah kalian memenuhi syarat itu?"

"Saya bersedia!"

Kata Kui Bi tegas.

"Saya..... saya.... bagaimana kalau ayah dan ibu menjadi gelisah dan sedih karena selama itu kita tidak pulang, Bi-moi?"

Kui Lan meragu.

"Lan-ci, bu kankah kita sudah bertekad meninggalkan semua itu? Setelah lewat dua tahun, baru kita pulang!"

Bantah adiknya.

"Omitohud...., kalau kalian tidak rela, jangan memaksa diri agar kelak tidak akan menyesal dan menyalakan pinceng,"

Kata hwesio itu dan tanpa diketahui dua orang gadis itu, dia memandang mereka dengan sinar mata yang tiba-tiba membayangkan perasaan iba yang mendalam!

"Sudahlah, Lan-ci, bagaimana kita dapat melewatkan kesempatan baik ini!

Bukankah selama ini kita menda mbakan seorang guru yang sakti?"

Kui Lan menyerah "Baiklah, saya bersedia melaksanakan perintah dan memenuhi syarat itu,"

Katanya.

"Bagus! Nah, sekarang tunggangilah kuda kalian dan ikuti pinceng pergi dari sini!"

"Nanti dulu, locianpwe. Kami belum melakukan upacara pengangkatan guru."

Kata Kui Bi dan iapun kembali menggandeng tangan encinya untuk berlutut dan memberi hormat delapan kali ke ada hwesio itu sambil menyebut "Suhu".

Hwesio itu yang kini telah mendapatkan kembali kegembiraannya, tertawa tawa sampai perutnya yang gendut itu bergerak-gerak, seolah ada kehidupan bersendiri dala m perut yang besar itu.

"Sudahlah, pin-ceng senang sekali mempunyai murid-murid seperti kalian,"

Kata Kong Hwi Ho-siang dan sekali menggerakkan tangan, ujung lengan bajunya menyentuh pundak dua orang gadis itu dan luar biasa sekali, Kui Lan dan Kui Bi merasa seperti terangkat oleh angin yang amat kuat sehingga mau tidak mau mereka bangkit berdiri dan memandang kagum karena mereka mengerti bahwa gerakan guru mereka tadi merupa kan pengerahan sin-kang (tenaga sakti) yang amat kuat.

"Akan tetapi, suhu. Bagaimana mungkin teecu berdua menunggang kuda sedangkan suhu berjalan kaki? Biarlah teecu dan enci Kui Lan berboncengan dan suhu menunggang kuda teecu (murid)."

Hwesio itu tertawa bergelak dan mulutnya terbuka.

Dua orang gadis itu memandang dengan heran melihat betapa mulut itu sama sekali tidak mempunyai gigi lagi, seperti mulut bayi!

Dan tertawa seperti itu, me mang wajah Kong Hwi Ho"siang mirip wajah seorang bayi.

"Ha-ha-ha-ha, pin-ceng telah di kurnia i sepasang kaki yang kuat, kenapa mesti pinjam kaki kuda untuk berdiri? Sudahlah, kalian tunggangi saja kuda kalian dan pin-ceng berjalan kaki Kaukira gurumu ini tidak akan mampu menandingi larinya kuda?"

Dua orang gadis itu saling pandang, merasa heran, kagum dan juga bangga, akan tetapi ada pula perasaan ingin membuktikan dan penasaran.

Boleh jadi suhunya memiliki ilmu silat yang hebat, akan tetapi lari menandingi kuda?

Melihat kedua orang murid itu na mpa k tertegun dan ragu, Kong Hwi Ho-siang memberi isyarat dengan tangan agar keduanya cepat melo ncat ke atas punggung kuda.

"Nah, ikuti pin-ceng!"

Katanya dan tubuhnya berkelebat ke depan dan melesat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya!

Dua orang gadis itu terkejut dan cepat menggebrak kendali agar kuda mereka berlari cepat mengejar bayangan guru mereka yang sudah jauh itu.

Mereka memba lapkan kuda, akan tetapi tetap saja tidak ma mpu menyusul bayangan yang bergerak meluncur menyusuri sungai.

Padahal, mereka melihat betapa hwesio itu seperti melangkah biasa saja, namun jubahnya yang lebar berkibar-kibar!

Mereka tentu saja menjadi kagum bukan main dan kini lenyap pula sedikit keraguan yang masih bersisa di hati Kui Lan.

Kegembiraan melihat kenyataan akan kesaktian gurunya membuat gadis ini dapat melupakan bayangan kerinduan terhadap orang tuanya.

Guru seperti hwesio ini sukar ditemukan dan mereka berun tung sekali, tidak saja tadi disela matkan dari ma lapetaka mengerikan, bahkan kini diterima menjadi murid.

Ketika akhirnya mereka menghentikan larinya kuda di pekarangan sebuah kuil yang berada di tempat sunyi, di tepi sungai dan di kaki sebuah bukit, kuda mereka terengah dan berpeluh, akan tetapi hwesio itu sama sekali tidak berkeringat, dan napasnya biasa saja, masih tersenyum lebar.

"Wah, suhu hebat sekali! Suhu lari melebihi kecepatan kuda kami!"

Kui Bi berseru kagum sambil melompat turun.

"Suhu harus mengajarkan ilmu berlari cepat seperti itu kepada teecu!"

"Hushh, Bi-moi, mana ada murid mengharuskan gurunya!"

Kui Lan menegur, khawatir kalau guru mereka menjadi marah mendengar kelancangan adiknya.

"Omitohud....! Kakak beradik memiliki watak yang jauh berbeda, akan tetapi keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Demikianlah segala.apa yang berada di dunia ini, termasuk manusia. Ada kelebihannya pasti ada kekurangannya, ha-ha-ha. Kalian jangan khawatir. Kalau kalian tekun berlatih, dalam dua tahun pin-ceng akan menurunkan ilmu-ilmu simpanan pin-ceng kepada kalian. Ilmu berlari cepat seperti tadi bukan apa-apa, walaupun amat penting, yaitu kalau-kalau kalian terpaksa melarikan diri, tidak akan mudah, dikejar, ha-ha-ha!"

Dua orang gadis itupun tersenyum mendengar kelakar guru mereka yang kadang penampilannya tidak mirip pendeta bahkan lebih mirip kanak-kanak.

Mereka memasuki kuil.

Kuil yang tidak besar itu berada di tepi Sungai Wei, di kaki Bukit Bangau.

Tempat yang cukup sunyi karena berada di luar dusun, bahkan jauh dari kota Mereka di sambut oleh seorang nikouw (pendeta wanita) yang bertubuh kurus dan nampak bersih dan rapi.

Usianya sekitar lima puluh tahun, masih cantik akan tetap dirinya di bungkus kesederhanaan yang wajar, matanya lembut dan gerak-geriknya nampak ringkih.

"Susiok (paman guru)!"

Nikow itu memberi hormat kepada Kong Hwi Ho-siang yang tertawa-tawa.

"Pek-lian, ini adalah murid-murid pin-ceng, namanya Yang Kui Lan dan adiknya, Yang Kui Bi. Kui Lan dan Kui Bi, ini adalah murid keponakan pinceng, namanya Pek-lian Nikouw. Kalian boleh menyebut suci (kaka k seperguruan) kepadanya dan dapat mengharapkan petunjuknya. Jangan mengira ia lemah ia memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang membuat gerakan pin-ceng akan nampak lamban seka li!"

Hwesio itu tertawa dan dua orang gadis itu terkejut dan kagum bukan main.

Kalau guru mereka yang memiliki ilmu berlari secepat itu masih memuji ginkang nikow ini, sudah tentu ia memiliki kepandaian hebat bukan main.

"Omitohud. susiok selalu berkelakar dan terlalu memuji.,"

Kata nikouw tua dengan lembut dan senyumnya amat ramah.

"Dalam hal ilmu silat, pin-ni (saya) seperti semut dibandingkan susiok yang seperti gajah. Pin-ni hanya belajar sedikit ilmu untuk melarikan diri dari bahaya."

Kong Hwi Ho-siang tertawa terpingkal-pingkal.

"Ha-ha"heh-heh, pin-ceng seperti gajah? Ha-ha-ha, sungguh tepat. Ketahuilah, PeK-lian, pin-ceng hendak menitipkan dua orang murid pin-ceng itu di sini. Tidak, mereka tidak harus menjadi nikouw, mereka hanya pinceng titipkan selama pin-ceng mengajar ilmu silat kepada mereka."

"Tentu saja, susiok. Mereka boleh tinggal di sini selama mereka sukai, asal tempat yang sederhana ini tidak membosankan hati mereka. Mari, kedua sumoi, mari masuk dan pin-ni pilihkan ka mar yang pantas untuk kalian."

"Aih, suci, tidak perlu repot-repot mengurus kami.Sebaiknya kalau kami berkenalan dulu dengan para nikouw yang tinggal di sini,"

Kata kui bi.

Mereka lalu diperkenalkan dengan lima orang nikouw lain yang tinggal di kuil Thian-bun"tang itu.

Demikianlah, sejak hari itu, Kui Lan dan Kui Bi tinggal di kuil Thian-bun-tang dan setiap hari mereka melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang diajarkan oleh guru mereka.

Kong Hwi Ho-siang sendiri tidak tinggal di kuil itu, hanya seminggu sekali datang untuk menggembleng dua orang muridnya diri pagi hingga malam.

Juga mereka berdua mendapatkan petunjuk jalan ilmu meringankan tubuh dari Pek-lian Nikouw, dan mempelajari isi kitab-kitab agama dari para nikouw lain.

Atas kehendak Kong Hwi Ho-siang dua orang gadis ini tidak pernah keluar dari kuil sehingga tidak ada orang lain yang mengetahui bahwa di kuil itu tinggal dua orang gadis cantik jelita Inilah sebabnya mengapa semua usaha Menteri Yang untuk mencari kedua orang puterinya itu gagal.

Karena kakak beradik ini memang berbakat baik, apa lagi di bawah bimbingan yang tekun dari Kong Hwi Ho-siang, juga lingkungan hidup yang bersih rajin dan tekun dengan para nikouw, kedua orang gadis bangsawan itu memperoleh kemajuan pesat sekali.

Pelajaran keagamaan juga merupakan hiburan yang baik, sekali dan dapat mengobati kerinduan mereka terhadap orang tua.

Apa yang dikhawatirkan Yang Kok Tiong terjadilah.

Setelah An Lu Shan dianggap tidak bersa lah oleh kaisar, bahkan menerima hadiah dan pujian atas kesetiaannya, memang tidak nampak tanda-tanda bahwa panglima peranakan Khitan Turki itu akan memberontak.

Bahkan kaisar juga tidak menaruh curiga ketika An Lu Shan memperkuat pasukannya dengan alasan untuk memperkuat penjagaan di perbatasan utara.

Akan tetapi dua tahun kemudian An Lu Shan membuka kedoknya.

Diam-diam dia bukan hanya menghim pun kekuatan pasukannya, bahkan juga mengadakan hubungan dan persekongkolan dengan suku-suku asing di utara, terutama dengan suku Khitan.

Mulailah dia menggerakkan pasukannya menuju ke selatan.

Mula-mula ia tidak ada yang curiga melihat gerakan ini, karena bukankah pasukan yang dipimpin An Lu Shan merupakan pasukan Kerajaan Tang?

Dan panglima An Lu Shan tentu saja memiliki pasukan pilih yang terkuat dari Kerajaan Tang.

Dia membawa pasukan besarnya menyeberang Sungai Kuning, kemudian menyerbu Lok-yang tanpa kesulitan.

Pasukan yang menjaga Lok-yang yang merupakan kota raja yang kedua setelah kota raja Tiang-an dikejutkan oleh serbuan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu.

Lok-yang diduduki dengan mudahnya.

Gegerlah kota raja ketika kaisar mendengar berita itu.

Dia bukan hanya terkejut, akan tetapi juga khawatir kali.

Dengan tergesa-gesa Kaisar Ia mengerahkan seluruh pasukan untuk menyambut gerakan barisan pemberontak itu.

Terjadilah pertempuran besar di Ling-pao yang berlangsung sampai dua pekan lebih.

Namun, akhirnya pasukan pemerintah tidak kuat bertahan dan dapat dihancurkan dan sisa pasukan mundur ke benteng pasukan pemerintah di Terusan Tiong-koan.

Terjadi perang besar di benteng Tiong-koan ini.

Namun, pasukan pemberontak yang sudah lama membuat persiapan penyerbuan itu dan keadaannya jauh lebih kuat, dapat menghancurkan pertahanan pasukan pemerintahan sehingga benteng Tiong-koan juga bobol.

Benteng pertahanan terakhir yang merupakan pintu gerbang ke kota raja, jatuh.

Tentu saja hal ini membuat Kaisar Hsuan Tsung atau Beng Ong yang sudah berusia tujuh puluh tahun ini menjadi gentar.

Kepanikan melanda keluarga kaisar, dan dengan tergesa-gesa Kaisar melarikan diri mengungsi ke barat, menuju ke Se-cuan.

Demikianlah, pasca tahun 755, An Lu Shan memimpin pasukannya menyerbu ibu kota Tiang-an dan boleh dibilang hampir tidak mendapatkan perlawanan.

Hanya ada beberapa orang panglima yang setia melakukan usaha yang sia-sia untuk melawan sampai mati, namun pasukan kecil mereka tidak ada artinya terhadap balatentara besar yang menyerbu kota raja bagaikan air bah itu.

Kota raja Tiang-an diduduki oleh An Lu Shan dan terjadilah apa yang ditakuti rakyat.

Yaitu perampokan, perkosaan dan pembunuhan.

Sebagian besar keluarga kaisar tertumpas, para wanitanya yang muda dan cantik dipaksa menjadi selir atau bunuh.

Yang diajak pergi mengungsi.

Hanya kaisar hanyalah keluarga dekat, bahkan selirnya yang tak pernah terpisah dari sisinya hanyalah Yang Kui Hui!

Selain selir yang tercinta ini, juga ikut pula Menteri Utama.

Yang Kok Tiong, kakak kandung selir Yang Kui Hui itu.

Yang Kok Tiong hanya seorang diri saja mengikuti kaisarnya yang melarikan diri.

isterinya, berkeras tidak mau meninggalkan gedungnya karena ia akan menunggu kembalinya tiga orang anaknya yang telah menghilang selama dua tahun.

Akhirnya, dalam kerusuhan itu, ketika para perajurit pemberontak merampok rumahnya dan ia akan di perlakukan tidak senonoh oleh seorang di antara mereka, nyonya yang cantik dan lembut ini memilih kematian dengan minum racun yang memang sudah ia persiapkan!

Selain Menteri Yang Kok Tiong dan Selir Yang Kui Hui, ada pula pasukan pengawal yang terdiri dari seratus orang lebih mengawal rombongan kaisar.

Pasukan ini dipimpin oleh Panglima Kok Cu It, panglima berusia empat puluh dua tahun yang terkenal setia kepada kaisar, Panglima Kok Cu ini pula yang mati-matian menghimpun pasukan dan melakukan perlawanan di Terusan Tung-ku-an, akan tetapi akhirnya pasukannya terpukul hancur karena memang kalah besar dan kalah persiapan.

Kini, dengan pasukan pengawal yang hanya seratus orang lebih, panglima ini tidak mau melarikan diri seperti rekan-rekannya, melain kan dengan setia dia mengawal kaisar melarikan diri ke barat.

Semula, Kaisar Beng Ong yang sudah tua itu masih merasa terhibur dalam pelariannya.

Selirnya tercinta berada di sampingnya.

Dan di situ masih terdapat Menteri Yang Kok Tiong yang setia dan dapat menjadi penasihatnya, juga terdapat pula Panglima Kok Cu It yang dapat dipercaya akan me mbe la nya mati-mat ian.

Akan tetapi, sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa malapetaka datang bukan dari luar, melainkan dari pasukan pengawal itu sendiri.

Peristiwa yang tercatat dalam sejarah itu terjadi ketika rombongan pengungsi ini tiba di pos penjagaan di Ma-wei, di Shensi sebelah barat.

Di tempat yang berada di perbatasan dengan Tibet ini, rombongan berhenti untuk beristirahat melewatkan malam.

Para perajurit yang berjaga di pos itu berjumlah tiga losin orang dan mereka segera bergabung dengan pasukan pengawal yang menceritakan keadaan di timur yang telah diduduki para pemberontak.

Menteri Yang Kok Tiong tidak tinggal diam.

Dia maklum bahwa rombongan telah tiba di perbatasan dengan daerah Tibet, dan untuk menyelamatkan dan mengamankan kaisarnya, sebaiknya kalau dia dapat menghubungi para tokoh di Tibet untuk mencari perlindungan bagi kaisarnya.

Oleh karena itu, diapun segera mengadakan hubungan dengan para kepala Lama, yaitu pendeta di Tibet yang memegang kekuasaan di daerah itu, agar para pendeta itu dapat menerima rombongan pengungsi sebagai sahabat.

Akan tetapi, pada saat Menteri Yang Kok Tiong mengadakan perundingan dengan beberapa tokoh pendeta Lama di tendanya, terjadi perundingan lain di antara pasukan.

Para perajurit yang menderita dalam pelarian itu, lelah dan lapar, juga harapan mereka semakin tipis, masa depan demikian suram.

Kalau mula-mula mereka hanya mengeluh, kemudian mereka merasa penasaran.

Para perwira yang menjadi pembantu-pembantu panglima Kok Cu mulai menyinggung tentang kelemahan kaisar yang menjadi permainan Selir Yang Kui Hui.

"Coba bayangkan, orang macam Yang Kok Tiong diangkat menjadi Menteri Utama! Hanya karena dia kakak selir itu maka dia diangkat menempati kedudukan tertinggi sesudah kaisar!"

"Dan sekarang, lihat saja! Dia malah bersekongkol dengan para pendeta Lama!"

"Jangan-jangan dia hendak mengkhianati kaisar. Melihat kaisar telah jatuh, dia kini menjilat kepada para pendeta Lama!"

"Seret pengkhianat Yang Kok Tiong!"

Segera mereka bersorak-sorak dari memaki-maki Menteri Yang Kok Tiong!

Bahkan seratus dua puluh orang lebih itu kini menyerbu ke arah tenda yang menjadi tempat tinggal sementara dari Menteri Yang Kok Tiong!

Ketika itu, para pendeta Lama telah meninggalkan tenda Menteri Yang!

Tentu saja dia terkejut bukan main mendengar ribut-ribut di luar.

Dia segera melangkah keluar, hanya untuk menghadapi amukan para perajurit.

Menteri itu sama sekali tidak berdaya.

Pada waktu itu, dia sudah tidak lagi dijaga oleh pengawal seperti ketika dia masih tinggal di kota raja.

Dia tidak dapat melawan dan tewas seketika di bawah banyak senjata yang membuat tubuhnya hancur!

Mendengar keributan ini.

Kaisar Beng Ong terkejut bukan main, demikian pula panglima Kok Cu It yang ketika peristiwa itu terjadi sedang berbincang-bincang dengan kaisar.

Mereka berlari keluar dan Panglima Kok Cu sudah mencabut pedangnya untuk melindungi kasar.

Sementara itu, bagaikan srigala-srigala buas yang menjadi semakin ganas setelah merasakan sedikit darah, para perajurit pengawal setelah melumatkan tubuh Menteri Yang Kok Tiong yang mereka anggap menjadi seorang diantara mereka yang melemahkan negara dan mengakibatkan kerajaan jatuh ke tangan pemberon tak, kini berbondong-bondong menuju ke pondok darurat yang di bangun untuk menjadi tempat tinggal sementara bagi kaisar.

"Bunuh Selir Yang Kui Hui!"

"Gantung iblis betina itu!"

Kaisar dan Panglima Kok Cu it muncul di beranda loteng dan mereka melihat betapa semua pasukan telah berdiri di depan pondok dan sikap mereka seperti harimau yang haus darah !

Ketika melihat kaisar dan Panglima Kok Cu It muncul di loteng, semua orang terdiam.

Bagaimanapun juga, kaisar dan panglima itu masih memiliki wibawa besar yang membuat mereka gentar dan tunduk.

Sekilas pandang saja tahulah Panglima Kok Cu bahwa semua perwira terlibat dalam unjuk perasaan itu, maka tidak mungkin melakukan tertib hukum, militer.

Kalau mereka itu dihukum, sama saja dengan melenyapkan pasukan pengawal!

"Apa artinya semua ini?"

Terdengar suara Kok Cu It yang menggelegar.

"Kami mendengar kalian telah membunuh Menteri Yang! Dan sekarang kalian membikin ribut di sini. Apakah kalian hendak memberontak terhadap Sribaginda Kaisar?"

Kaisar sendiri juga berusaha menenangkan hati mereka.

"Para perajurit dengarlah baik-baik. Kami mengerti bahwa kalian menderita kelaparan dan kehausan, kelelahan. Akan tetapi, kami tidak akan pernah melupakan jasa kalian. Jasa kalian masing-masing telah kami catat dan percayalah, Kerajaan Tang akan bangkit kembali dan setelah kita berhasil, kalian masing-masing akan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Kami percaya kalian adalah pahlawan-pahlawan, bukan pengkhianat."

Mendengar ucapan kaisar dan panglima mereka, para perajurit itu kini berteriak-teriak lagi.

"Hukum gantung Yang Kui Hui! ia telah meracuni istana, ia telah melemahkan kerajaan, mempermain kan Sribagincla!"

"Kami telah menghukum Yang Kok Tiong, dan kami akan menghukum Yang Kui Hui! Kerajaan Tang harus dibersihkan dari orang-orang yang mempermainkan kerajaan dan mau enaknya saja!"

Wajah kaisar menjadi pucat menclengar ini.

"Ah, bagaimana ini, Kok-ciangkun......?"

Bisiknya kepada panglimanya dengan suara gemetar.

Kok Cu It menga mati keadaan para anak buahnya.

Pendengarannya yang tajam mendengar bahwa di antara teriakan-teriakan mereka terdapat ancaman, bahwa kalau Kaisar tidak menghukum mati Yang Kui Hui, mereka akan membakar pondok itu dan membunuh seluruh keluarga kaisar!

Pangeran Su Tsung, yaitu putera mahkota yang ikut pula naik keberancla loteng dan sejak tadi bercliri di belakang kaisar bersama Selir Yang Kui Hui juga mendengar teriakan-teriakan itu.

Selir ini sudah merasa sedih dan sakit hati sekali mendengar bahwa kakaknya dibunuh oleh para perajurit dan kini mereka berteriak-teriak menuntut agar ia di hukum mati!

"Sribaginda, hamba tidak melihat lain jalan...."

Kata Panglima Kok Cu It.

Diam-diam, jauh di dasar lubuk hatinya, panglima ini tidak dapat menyalahkan sikap pasukannya.

Memang semua orang tahu betapa Yang Kui Hui telah melemahkan istana, melemahkan kaisar dan dengan sendirinya juga melemahkan negara.

Wanita ini menjadi rebutan antara anak dan ayah.

Isteri Pangeran houw ini direbut oleh mertuanya sendiri dan setelah menjadi selir kaisar, semua kekuasaan kaisar di kendalikannya !

"Hukum Yang Kui Hui!"

"Iblis betina itu kekasih An Lu han si pemberontak!"

Teriakan-teriakan semakin berani.

Yang Kui Hui maklum bahwa tidak ada lagi harapan baginya, lapun kini teringat akan semua sikap dan perbuatannya, yang dilakukan demi kesenangan diri sendiri dan keluarganya.

Kini semua itu mengalami kegagalan dan ia harus berani menerima kenyataan.

Maka, iapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kaisar.

"Sribaginda, hukumlah hamba, gantunglah hamba kalau itu dapat meredakan kemarahan mereka..... hamba rela mati.... untuk menyelamatkan paduka..."

Katanya sambil menangis. Kaisar yang amat mencinta selirnya ini terharu, mengangkat selirnya berdiri dan merangkulnya. Mereka berangkulan sambil menangis.

"Tidak......, tidak.... Kui Hui, engkau tidak boleh dihukum mati......"

Rintih kaisar yang tua itu dengan memelas. Melihat adegan romantis di atas loteng, di mana kaisar itu rangkulan dengan selir yang dibenci pasukan itu, mereka berteriak-teriak semakin ganas.

"Sribaginda...... relakan hamba..... hamba sudah menerima kasih sayang paduka yang berlimpahan..... sekaranglah saatnya hamba membalas jasa... dengan nyawa hamba untuk menyela matkan paduka....."

Kui Hui berkata di antara isak tangisnya. Iapun melepaskan diri dari pelukan kaisar.

"Kok-ciangkun, minta mereka menanti sebentar, aku mau berganti pakaian dulu, baru. aku akan menggantung diri di sini agar mereka semua dapat melihatnya."

"Kui Hui......!"

Kaisar berseru, akan tetapi selir itu telah berlari turun ke kamarnya. Kaisar tua itu hendak mengejarnya, akan tetapi terhuyung dan cepat Pangeran Su Tsung merangkulnya.

"Sribaginda, tidak ada jalan lain, harap paduka menguatkan hati paduka, semua ini demi negara!"

Kata Kok-ciangkun dan mendengar kalimat terakhir ini, kaisar mendapatkan tenaga baru, dan diapun mengangguk.

Demi negara!

Demi kerajaan!

Dia harus mengorbankan Yang Kui Hui, selir tercinta.

Kok Cu It lalu berdiri di tepi loteng dan berseru dengan suara lantang bahwa Selir Yang Kui Hui siap menerima hukuman mati, dan agar para perajurit tenang.

Mendengar teriakan ini, semua perajurit menjadi diam dan suasana menjadi hening, namun mencekam sekali, menegangkan perasaan.

Tak lama kemudian Yang Kui Hui naik ke loteng dan ia telah mengenakan pakaian serba putih dari sutera halus, rambutnya yang masih hitam dan panjang itu dibiarkan terurai dan ia tidak mengena kan perhiasan sebuahpun.

Namun, dalam pakaian sederhana serba putih dan mengurai rambut itu, makin nampak kecantikannya yang aseli dan memang wanita ini memiliki kecantikan yang sukar dicari bandingnya!

Melihat selirnya sudah siap untuk mati, kaisar merangkulnya lagi.

"Kui Hui ah, Kui Hui.. bagaimana aku dapat membiarkan engkau mati meninggalkan aku......?"

Kui Hui juga menangis, akan tetapi ia menghibur kaisar.

"Sribaginda, harap relakan hamba. Hamba akan menanti paduka di sana...."

Selir itu lalu melepaskan rangkulan dan ia menyerahkan sebuah sabuk sutera putih kepada Kok Cu It untuk dipasangkan di galok melintang.

Kok-ciangkun tanpa ragu lagi segera membuat tali penjirat yang tergantung di balok melintang, kemudian, setelah Yang Kui Hui merangkul dan mencium kaisar, ia lari dan dibantu Kok Cu It, selir ini memasukkan kepala nya di lubang jiratan yang dibuat di ujung sabuk, kemudian ia meloncat dan tubuhnya terayun-ayun, lehernya tergantung!

"Kui Hui......!"

Kaisar merintih dan terkulai pingsan dalam rangkulan pangeran mahkota Su Tsung.

Melihat tubuh selir itu tergantung dan meronta sebentar lalu terkulai, para perajurit yang menonton dari bawah bersorak gembira.

Timbul lagi semangat mereka setelah kini dua orang yang mereka benci, yaitu Yang Kok Tiong dan Yang Kui Hui, telah tewas.

Setelah terjadinya peristiwa yang membuat hati kaisar terbenam dalam duka, rombongan itu melanjutkan pengungsian mereka ke daerah Se-cuan.

Dan di sepanjang jalan, Panglima Kok Cu it berhasil menghimpun pasukannya, yaitu menampung para perajurit yang melarikan diri dan yang menyusul ke barat untuk bergabung dengan kaisar mereka.

Setelah Yang Kui Hui tidak ada lagi, Kaisar Hsuan Tsung atau Kaisar Beng Ong yang berusa tujuhpuluh tahun itu tidak mempunyai semangat lagi dan diapun melimpahkan tahta kerajaan kepada pangeran mahkota, yaitu Pangeran Su Tsung.

Dan di tempat pengungsian ini, Kaisar yang baru, Kaisar Su Tsung, dibantu oleh Panglima Kok Cu It dan para pengawal yang masih setia, membangun kembali kekuatan Kerajaan Tang.

Berkat kebijaksanaan Panglima Kok Cu It yang menjanjikan imbalan besar kepada mereka, pasukan Kerajaan Tang mendapat bantuan dari orang-orang Turki, bahkan mendapat bantuan pula dari Caliph, yaitu panglima kerajaan Arab, dan beberapa suku bangsa lain.

Akhirnya, dengan balatentara campuran ini, Panglima Ko Cu It mulai bergerak ke timur untuk merebut kembali Kerajaan Tang yang terjatuh ke tangan An Lu Shan.

Dan terjadilah perang yang berkepanjangan.

Setelah jenazah Yang Kui Hui dikubur secara sepantasnya, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan, Kaisar Hsuan Tsung mengadakan percakapan rahasia dengan Pangeran Mahkota dan dengan Panglima Kok Cu It.

Hanya mereka bertiga saja yang bicara di dala m ruangan itu, tidak boleh dihadiri orang lain.

Mula-mula kaisar dan pangeran mahkota berdua saja yang duduk di dalam ruangan itu, dan para pengawal disuruh menjaga di luar ruangan.

Kemudian datanglah Panglima Kok Cu It dengan wajah muram, dan begitu dia muncul, kaisar sudah cepat bertanya.

"Bagaimana, ciangkun, berhasilkah menemukannya?"

Panglima itu dengan murung menggeleng kepala.

"Tidak berhasil, Sribaginda. Hamba tidak dapat menemukannya di dalam pakaian yang dipakai nya, juga di antara perbekalan di dalam tendanya, hamba tidak dapat menemukan pusaka itu."

Panglima itu dipersilakan duduk dan mereka bertiga nampak murung.

"Akan tetapi, kenapa ayahanda menitipkan pusaka yang amat penting itu kepada Paman Yang Kok Tiong?"

Kata sang pangeran dengan nada suara menyesal. Ayahnya menghela napas panjang .

"Keadaan amat gawat dan kami tiadak melupakan untuk membawa pusaka itu ketika mengungsi. Dan kami yakin bahwa pusaka itu tentu akhirnya akan diperebutkan orang, karena menjadi lam bang kekuasaan. Untuk mengamankan, diam-diam kami titipkan kepada Menteri Yang. tidak akan dicari orang, dan tidak akan ada yang mengira bahwa pusaka ada padanya. Siapa tahu hari ini terjadi malapetaka yang mendadak tidak disangka"sangka?"

"Ampun, Sribaginda. Kiranya tidak perlu disesalkan hal yang telah terjadi. Yang terpenting, kita harus dapat menemukan kembali pusaka itu dan sementara ini, kehilangan itu harus dirahasiakan karena kalau sampai terdengar rakyat, tentu dukungan mereka terhadap paduka menjadi lemah "

"Apa yang dikatakan Paman Panglima Kok memang benar, ayahanda. Tanpa adanya pusaka itu, hamba sendiri akan merasa lemah menunaikan tugas."

Kaisar mengangguk-angguk dan mereka bertiga terbenam ke dalam kekhawatiran.

Pusaka apa yang membuat mereka bertiga begitu cemas karena dinyatakan hilang?

Sejak Kerajaan Tang berdiri, satu setengah abad yang lalu, semenjak kaisar pertama Kerajaan Tang memerintah, yaitu Kaisar Tang Kaocu, Kerajaan Tang memiliki banyak pusaka yang menjadi pusaka kerajaan.

Akan tetapi di antara semua pusaka yang ada, yang dianggap terpenting dan sebagai pusaka tanda kekuasaan adalah sebuah benda mustika yang amat kuno dan amat indah.

Benda itu adalah sebuah kemala yang amat luar biasa karena dalam sebongkah kemala itu terdapat warna merah, putih,hijau dan hitam.

Jarang ada kemala yang mengandung beraneka warna seperti itu.

Hiasan kemala itu diukir amat halusnya, berbentuk seekor burung Hong yang sedang terbang membentangkan sayapnya.

Ukiran itu sedemikian halusnya sehingga seolah hidup saja, dan sepa sang matanya juga mengeluarkan sinar.

Bukan Saja benda ini amat indah dan amat berharga, merupakan benda langka, namun lebih dari pada itu, benda ini dianggap memiliki daya atau pengaruh sehingga menjadi kepercayaan umum bahwa siapa yang memiliki benda itu, dialah yang mendapat wahyu untuk menjadi kaisar!

Seolah benda itu diturunkan dari langit sebagai tanda kekuasaan Kaisar!

Kepercayaan ini merupakan tahyul yang sudah berakar mendalam di hati keluarga Kerajaan Tang dan bahkan semua ponggawanya.

Inilah sebabnya, mengapa ketika kaisar Hsuan Tsung kehilangan mestika itu, dia, pangeran mah kota, dan panglima Kok termangu dan berduka.

Kalau sampai berita tentang kehilangan mestika itu terdengar keluar, maka sukar sekali mengharapkan dukungan rakyat untuk bergerak dan bang kit kembali.

Raja yang sudah kehilangan giok-hong (Hong Kemala) berarti sudah kehilangan hak untuk menjadi raja!

"Ah, mungkinkah dia mengkhianati kami?"

Kaisar yang tua itu mengepal tinju.

"Keparat engkau Yang Kok Tiong kalau engkau mengkhianati kami dan memberikan mestika itu kepada orang lain!"

"Ayahanda tentu maklum bahwa Paman Yang mempunyai tiga orang anak, seorang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan. Bahkan kabarnya ketika terjadi penyerbuan di kota raja, tiga orang anaknya itu belum pulang. Mereka tentu selamat dan mengapa mereka tidak menyusul kita, padahal ayah mereka berada bersama kita? Ini tentu ada sebabnya. Hamba tidak akan merasa heran kalau kelak ternyata bahwa mestika itu berada di tangan seorang di antara anaknya!"

"Mungkin sekali itu. Keparat engkau, Yang Kok Tiong!"

Kaisar memaki-maki menterinya yang sudah tewas. Panglima Kok Cu It menyabarkan dan menenangkan hati ayah dan anak itu.

"Hamba kira, hal itu kelak akan dapat kita selidiki. Hamba kelak akan berdaya upaya sekuat tenaga untuk menemukan kembali mestika itu. Sekarang, sebaiknya kita tidak ribut-ribut dan merahasia kan hal ini, seolah mestika itu masih ada pada paduka. Yang terpenting sekarang adalah menghim pun tenaga agar kita dapat membalas kekalahan kita dari An Lu Shan."

Kaisar tua mengangguk-angguk. Pangeran mahkota Su Tsung yang masih cemas dengan kehilangan mestika itu yang akan membuat dia merasa hampa kalau kelak menjadi kaisar tanpa memilikinya, segera bertanya.

"Akan tetapi, Paman Panglima.Bagaimana kalau nanti para pimpinan kelompok yang kita mintai bantuan mengetahui bahwa mestika itu tidak ada pada kita lagi? Bagaimana kalau mereka minta agar ayahanda Kaisar memperlihatkan mestika itu kepada mereka? Ingat, suku-suku bangsa di sini, terutama bangsa Uigur yang kita harapkan sekali bantuannya, amat percaya akan lambang kekuasaan itu."

"Paduka benar, Pangeran, akan tetapi jangan khawatir, hamba akan mempersiapkan tiruannya!"

Demikianlah, kehilangan mestika itu tetap menjadi rahasia karena setelah tukang yang pandai membuatkan sebuah mestika tiruan yang dilihat begitu saja serupa dengan yang aseli, diam-diam Panglima Kok Cu membunuhnya.

Mestika Hong Kemala yang palsu itu lalu diserahkan kepada Kaisar.

Ketika kaisar menyerahkan kedudukannya kepada Pangeran MaKkota, maka mestika palsu itupun diberikan kepadanya.

Beberapa kali mestika itu diperlihatkan sepintas lalu kepada para pimpinan kelompok atau suku bangsa sehingga mereka semua percaya bahwa kaisar baru itu masih memiliki Mestika Hong Ke mala, maka mereka bersemangat membantunya karena mereka percaya bahwa barang siapa memiliki mestika itu, dia pasti akan berhasil menjadi raja!

Bukit itu disebut orang Bukit Hitam, berdiri tegar di seberang utara Sungai Yang-ce.

Disebut Bukit Hita m karena memang bukit itu selalu nampak hitam!

Pohon-pohon yang tumbuh di situ, hutan-hutan, nampaknya memang kehitam hitaman atau hijau tua dan gelap.

Dan bukit ini merupakan tempat yang ditakuti orang, karena selain terdapat banyak ular-ular yang beracun, juga menjadi tempat pelarian dan persembunyian para penjahat yang dikejar-kejar yang berwajib atau di kejar-kejar para pendekar.

Bahkan terdengar desas-desus bahwa hutan-hutan di bukit itu juga dihuni oleh setan dan iblis, menjadi sarang siluman yang suka mengganggu manusia.

Tidak mengherankan kalau hampir tidak pernah ada orang berani mendakinya, bahkan para pemburu yang terkenal berani dan gagah sekalipun, akan berpikir seratus kali untuk memburu binatang hutan di bukit itu.

Akan tetapi, pada pagi hari itu para petani yang sedang menggarap sawah di kaki bu kit sebelah timur, menghentikan pekerjaan mereka dan mata mereka terbelalak memandang kepada seorang gadis yang melenggang seorang diri melalui jalan dusun itu menuju ke arah Bukit Hitam!

Kalau saja gadis itu merupakan seorang wanita yang berwajah mengerikan, atau setidaknya nampak seperti seorang wanita kang-ouw yang gagah perkasa, agaknya para petani tidak akan menjadi bengong memandangnya.

Akan tetapi, gadis itu demikian cantik jelita dan lembut, langkahnya juga lemah gemulai seperti orang menari saja.

Gadis itu masih muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, dan ia cantik jelita, wajahnya yang bulat telur dengan kulit muka putih kemerahan tanpa bedak dan gincu.

Rambutnya hitam lebat dan agak berombak, dengan anak rambut bermain di dahi dan pelipis, me lingkar-lingkar.

Akan tetapi yang teramat indah adalah matanya dan mulut nya.

Sepasang mat itu lebar dan bersinar"sinar, dengan kedua ujung agak menyerong ke atas dan mata itu makin indah karena dihias bulu mata yang panjang lentik.

Dan mulutnya!

Bibir itu selalu nampak basah dan merah segar, lengkungnya seperti gendewa terpentang, kalau senyum sedikit saja nampak lesung pipit di sebelah kiri mulutnya.

Mulut itu menantang dan menggemaskan!

Tubuhnya ramping dan padat, dengan lekuk lengkung yang sempurna.

Pakaiannya memang sederhana, terbuat dari kain yang kasar, namun bersih dan karena bentuk tubuhnya memang menggairahkan, mengenakan pakaian apapun akan pantas saja.

Agaknya gadis yang melangkah seorang diri sambil senyum-senyum pada burung-burung yang beterbangan, kepada kerbau-kerbau yang meluku di sawah, kepada para petani, menyadari pula bahwa orang-orang itu berhenti bekerja dan memandangnya penuh perhatian.

Namun, pandangan mata para petani itu jauh bedanya, bagaikan bu mi dan langit, dengan pandang mata para pemuda yang pernah dijumpainya selama ini.

Pandang mata para pemuda, terutama pemuda kota mengandung kekurangajaran dan kegenitan.

Sebaliknya, pandang mata para petani itu hanya membayangkan keheranan dan keinginan tahu.

ia lalu menghampiri mereka.

"Para paman yang baik, benarkah dugaanku bahwa bukit di depan itu yang dinamakan orang Bukit Hitam?"

"Betul nona,"

Kata seorang di antara mereka, seorang petani berusia limapuluh tahun lebih.

"Ah, kalau betul dugaanku. Nah, terima kasih, paman. Pagi ini cerah sekali, aku ingin cepat-cepat sampai di sana."

Gadis itu meninggalkan senyum yang manis sekali kepada mereka lalu memutar tubuh hendak melanjutkan perjalanannya sambil memandang ke arah bukit itu.

"Maaf, nona, apakah nona hendak pergi mendaki Bukit Hitam?"

Suara kakek itu yang membuat si gadis cepat membalikkan tubuh menghadapinya dan memandangnya. Dalam suara kakek itu terkandung kekhawatiran besar.

"Benar, paman. Kenapa?"

"Aahhh....... !"

Semua orang yang mendengar jawaban ini mengeluarkan suara seruan kaget dan khawatir, membuat gadis itu makin tertarik.

"Nona, ka mi tahu bahwa nona tentulah bukan orang dari daerah sini. Nona agaknya belum mengenal Bukit Hita m maka berani hendak mendakinya. Tentu nona belum pernah ke sana, bukan?"

Gadis itu menggeleng kepala.

"Belum pernah, paman, akan tetapi kenapa?"

"Aihh, kalau begitu, ka mi mohon sebaiknya nona jangan sekali-sekali mendaki bukit itu! Maut yang mengerikan menanti nona di sana!"

Kakek itu menunjuk ke arah Bikit Hita m dan mukanya agak pucat.

"En, kenapa begitu? Ada apanya sih di atas sana?"

Gadis Itu memandang dan menunjuk ke arah bukit, mulutnya tetap tersenyum.

"Apa saja yang dapat mencabut nyawa berada di sana, nona!"

Kata petani itu.

"Binatang buas, ular-ular berbisa, penjahat-penjahat pelarian yang menyembunyikan diri, dan belum lagi... setan dan iblis, siluman dan segala ma cam arwah penasaran menjadi penghuni hutan di bukit itu!"

Gadis itu membelalakkan matanya yang lebar sehingga mata itu nampak seperti sepasang bintang yang cemerlang "Ih, kalau benar di sana terdapat demikian banyaknya pencabut nyawa, kenapa kalian enak-enak saja bekerja di sini, di kaki bukit itu tanpa rasa takut?"

"Di sini lain lagi ha lnya, nona. Bukit itu telah menjadi bukit yang ditakuti semenjak nenek moyang kami yang tinggal di sini. Siapapun yang berani ke bukit itu, pasti akan menga la mi kematian mengerikan. Akan tetapi, belum pernah penghuni di kaki bukit ada yang diganggu. Maka, sekali lagi, kalau nona hanya hendak melihat pemandangan alam, pergilah ke bukit lain, jangan ke Bukit Hitam."

"Benar, nona, jangan pergi ke sana. Engkau masih begini muda..... betapa mengerikan kalau engkau menjadi korban pula!"

Kata seorang petani lain. Gadis itu tersenyum.

"Terima kasih atas nasihat para paman di sini. Akan tetapi aku mempunyai urusan dan keperluan di bukit itu. Nah, selamat tinggal!"

Gadis itu melangkah lagi.

"Nona......, nona !"

Petani itu masih berteriak gelisah.

"Urusan apa yang nona punyai di tempat seperti itu?"

Sambil terus melangkah dan menoleh sedikit gadis itu manjawab.

"Urusanku justeru ingin bertemu dengan binatang buas, ular berbisa, penjahat dan setan siluman!"

Mendengar jawaban ini, para petani menjadi bengong!

Kemudian, mata mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga ketika mereka melihat gadis itu berkelebat dan bayangannya lenyap ke arah bukit itu!

"Hiii....

ia.....

ia...."

Seorang tergagap.

"si..... si... siluman.."

Yang lain menyambung.

Belasan orang petani itu lalu bergerombol, saling berhimpitan dan dengan tubuh gemetar menanti melapetaka apa yang akan menimpa mereka.

Baru setelah lewat sejam dan tidak terjadi se suatu, mereka berani melanjutkan, akan tetapi sama sekali tidak berani membicarakan gadis tadi selama mereka bekerja di sawah.

Baru nanti setelah mereka pulang, akan ramailah di dusun mereka mendengar kisah yang aneh tentang gadis cantik yang berani mendaki Bukit Hitam dan pandai menghilang.

Mereka semua yakin bahwa gadis cantik tadi pastilah siluman!

Begitu banyaknya orang membicara kan tentang setan iblis dan siluman dan mereka semua takut kepada siluman.

Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang benar-benar melihat siluman.

Mereka sudah banyak mendengar tentang setan, akan tetapi belum pernah melihatnya sendiri secara jelas.

Kalau pun ada yang pernah melihatnya, yang terlihat hanya bayangan atau samar-samar saja sehingga tidak dapat ditentukan bahwa yang dilihatnya adalah setan!

Justeru inilah yang mendatangkan rasa takut, justeru karena tidak dapat dilihat.

Andaikata setan dan iblis dapat dilihat, maka dia tidak akan ditakuti manusia lagi.

Mahluk yang paling buas dan besarpun, asalkan dia dapat dilihat, mudah ditaklukkan oleh manusia.

Setan dan iblispun, kalau terlihat, tentu akan dapat ditaklukkan manusia.

Rasa takut timbul karena ulah permainan pikiran.

Pikiran membayangkan dan mengkhayalkan yang seram-seram, yang mengerikan, dan timbullah rasa takut.

Takut adalah permainan pikiran membayangkan hal yang belum ada, yang belum terjadi.

Orang takut terkena penyakit karena dia belum sakit.

Kalau dia sudah terkena penyakit, dia tidak takut lagi kepada penyakit itu, yang ditakuti adalah akibat lain yang belum terjadi, misalnya takut kalau-kalau sakitnya itu akan membuatnya mati, takut kalau kelak mati dia akan tersiksa dan sebagainya dan selanjutnya.

Siapakah gadis cantik jelita yang demikian besar nyalinya mendaki Bukit Hita m, bahkan yang seolah dapat mengh ilang dari pandang mata para petani?

ia bukan lah siluman, bukan iblis atau setan, ia seorang manusia biasa, dari darah dan daging, dan ia bukan lain adalah Can Kim Hong!

Dua tahun telah lewat semenjak Kim Hong diselamatkan oleh seorang kakek gagu dari tangan gurunya sendiri dan putera gurunya, yaitu Bouw Hun dan puteranya, Bouw Ki.

Bouw Ki, suhengnya itu, tergila-gila kepadanya dan hendak memaksanya menjadi isterinya, dibantu oleh ayah suhengnya atau gurunya sendiri.

ia melarikan diri akan tetapi dapat disusul mereka, dan tentu ia akan terjatuh ke tangan mereka kalau saja tidak muncul kakek gagu yang mengalahkan ayah dan anak itu, kemudian yang mengantarkan Kim Hong menyeberangi sungai ke pantai sebelah selatan.

Setelah tiba di tepi sungai sebelah selatan, Kim Hong hendak me mberi upah kepada tukang perahu yang gagu itu, akan tetapi si tukang perahu menolak, kemudian mencoba untuk menyatakan isi hatinya dengan gerakan tangan.

Namu n, Kim Hong tidak mengerti.

"Aih, paman yang gagah dan baik, apa sih yang hendak kaukatakan dengan gerakan jari tangan itu? Aku tidak mengerti!"

Kata Kim Hong.

Si gagu tersenyum dan diam-diam Kim Hong merasa senang kepada kakek itu.

Bukan hanya karena kakek itu dengan amat mudahnya mengalahkan gurunya yang merupakan datuk orang Khitan, akan tetapi juga senyum kakek itu me mbuat wajahnya nampak ra mah dan menyenang kan, juga masih nampak betapa si gagu ini adalah seorang pria yang tampan.

Dari bentuk wajahnya, sinar matanya, dapat diduga bahwa si gagu ini bukan orang kebanyakan, karena selain wajahnya tampan dan nampak rapi dan bersih, juga matanya mengandung wibawa yang besar.

Pakaiannya serba hitam sederhana, bahkan caping lebar yang menutupi kepalanya juga hitam.

Yang putih hanya rambutnya, yang panjang dan tiga perempat bagian sudah putih.

Sambil tersenyum si gagu lalu membuat coretan di atas tanah dengan sebatang ranting.

Kim Hong membaca coret-coretan yang membentuk huruf itu.

"Di depan terdapat para penjahat yang jauh lebih berbahaya dari pada dua orang tadi,"

Demikian bunyi tulisan itu.

Kim Hong tersenyum.

Kiranya orang ini hendak memperingatkan ia bahwa kalau ia melanjutkan perjalanan, akan banyak menemui penjahat yang bahkan lebih lihai dari pada gurunya!

"Aku tidak takut, paman!"

Katanya. Si gagu menulis lagi. Coretannya cepat dan bertenaga sehingga me bentuk huruf-huruf yang dalam dan mudah dibaca di atas tanah.

"Keberanian tanpa didasari kekuatan suatu kesombongan yang bodoh dan sia-sia. Nona berbakat, kalau mau menjadi muridku tentu akan memiliki bekal yang kuat untuk melakukan perjalanan seorang diri,"

Kata tulisan itu.

Kim Hong tertegun dan termenung, ia harus mencari ayah kandungnya, akan tetapi kalau baru saja keluar sudah hampir gagal karena ia kurang mampu membela diri, bagaimana kalau di depan benar-benar bertemu lawan yang lebih lihai dari Bouw Hun?

Usahanya akan sia sia, dan iapun akan tertimpa malapetaka.

Setelah mempertimbangkan, dan yakin akan kemampuan si gagu, tiba-tiba Kim Hong menjatuhkan diri berlutut di depan tukang perahu itu dan memberi hormat.

"Teecu (murid) Can Kim Hong memberi hormat kepada suhu......"

Kim Hong memandang ke atas tanah sebagai isyarat bahwa ia menunggu jawaban orang itu dengan tulisan. Si gagu ke mbali tersenyum lebar dan ujung ranting itu cepat mencoret beberapa huruf di atas tanah.

"Hek-Liong (Naga Hitam) Kwan Bhok Cu!"

Kim Hong membaca dan ia kembali memberi hormat.

"Teecu Can Kim Hong memberi hormat kepada suhu Kwan Bhok Cu yang berjuluk Naga Hitam!"

Kembali pria itu menuliskan diatas tanah setelah dengan ranting dia menghapus tulisan tadi sehingga permukaan tanah rata kembali.

"Aku mau menjadi gurumu, dengan syarat bahwa selama dua tahun engkau ikut ke manapun aku pergi, mentaati semua perintahku, berlatih dengan tekun dan sekali saja engkau mencoba meninggalkan aku sebelum kuberi ijin, aku akan membunuhmu. Bagaimana?"

Kim Hong terkejut.

Betapa kerasnya peraturan orang ini.

Akan tetapi, karena ia ingin sekali memiliki ilmu kepandaian yang dapat mengalahkan o-rang seperti gurunya, maka dengan nekat iapun mengangguk dan menjawab dengan suara yang tegas.

"Teecu bersedia!"

Si gagu lalu memberi isyarat kepada Kim Hong untuk naik kembali ke dalam perahu kecil.

Kim Hong mentaati dan merekapun kembali ke dalam perahu.

Si gagu mendayung perahu yang meluncur cepat seperti anak panah terlepas dari busu rnya.

Demikianlah, semenjak hari itu, Kim Hong menjadi murid Si Naga Hitam yang gagu.

Dia digembleng dengan keras dan tekun, dan karena Kim Hong memiliki bakat yang baik, dan iapun sudah memiliki dasar ilmu silat yang cukup mendalam berkat pendidikan Bouw Hun, ma ka dalam dua tahun digembleng, ia memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Bukan hanya ilmu silat, tenaga sakti sin-kang dan juga ilmu meringankan tubuh, akan tetapi juga gadis itu menerima ilmu bermain di dalam air.

ia bukan saja pandai renang seperti ikan, akan tetapi juga tahan menyelam sampai lama, tidak seperti kemampuan orang biasa, dan di dalam airpun ia dapat bergerak dengan gesit.

Selama dua tahun lebih, Kim Hong membuktikan bahwa biarpun ia suka berkelakar, lincah ga lak Jenaka dan ugal ugalan, namun ia taat dan tekun berlatih sehingga belum pernah gurunya yang gagu itu merasa kecewa atau menyesal.

Bahkan sejak mempunyai Kim Hong sebagai muridnya, si gagu itu nampa k selalu cerah dan berseri, selalu gembira dan diam "diam dia amat menyayang gadis itu seperti anaknya sendiri.

Itulah sebabnya maka dia ingin menjadikan Kim Hong seorang gadis yang benar-benar tangguh.

Pada suatu hari, ia memanggil Kim Hong dan gadis itu seperti biasa, telah mempersiapkan sebatang ranting untuk menjadi alat tulis bagi gurunya sebagai pengganti kata-kata.

Akan tetapi, kalau ada orang lain melihat cara guru itu "bicara"

Kepada muridnya melalui tulisan, mereka akan terlongong heran.

Si Naga Hitam sama sekali tidak mencoret ke atas tanah lagi seperti dua tahun yang lalu, melainkan dia menggunakan ranting itu untuk membuat gerakan mencoret"coret di udara!

Dan hebatnya, Kim Hong dapat mengikuti setiap gerakan corat coret itu dan membacanya, walaupun tentu saja dipandang dari sudutnya yang berhadapan, huruf "huruf yang ditulis di udara itu terbalik!

Inilah merupakan semacam ilmu yang dikuasainya karena kebiasaan.

Selama dua tahun, gurunya selalu bicara engan coretan huruf dan gadis itu sedemikian hafal dengan gerakan itu sehingga lambat laun, gurunya tidak perlu lagi menulis di atas tanah, cukup membuat gerakan menulis di udara.

Dan "ilmu"

Ini ternyata mendatangkan kemajuan pesat bukan main dalam ilmu silat Kim Hong, karena pandang matanya kini amat peka dan tajam, dapat mengikuti gerakan ranting yang sengaja dipercepat oleh si gagu kalau dia menuliskan huruf di udara.

"Semua ilmu simpanan telah kuajarkan padamu,"

Demikian bunyi coretn di udara itu, diikuti dengan seksama oleh Kim Hong.

"Akan tetapi aku ingin engkau memiliki kekebalan terhadap segala macam racun sehingga engkau tidak dapat dicurangi lawan yang jahat dan yang suka menggunakan racun untuk menjatuhkan lawan. Untuk keperluan itu, sekarang juga engkau harus pergi mencarii Ang-thouw-hek-coa (Ular Hitam Kepala Merah). Jangan kembali ke sini sebelum engkau membawa seekor Ang-thouw coa. Pergilah engkau ke Bukit Hitam di lembah sungai Yang-ce sebelah utara. Tempat itu a mat berbahaya, dan engkau berhati-hatilah. Sekali terkena gigitan ular itu, kekuatan tubuhmu tidak akan mampu melindungimu.Nah, berangkat lah dan jangan ragu!"

Seperti biasa, Kim Hong menaati perintah ini.

Setelah membawa bekal pakaian, iapun berangkat.

Dan pada suatu pagi, tibalah ia di kaki Bukit Hitam dan sikapnya membuat para petani di kaki bukit itu terkejuf dan ketakutan, mengira ia seorang siluman.

Biarpun Kim Hong memiliki watak yang lincah Jenaka, galak dan ugal-ugalan, akan tetapi iapun selalu waspada dan tidak ceroboh.

Apa lagi melihat sikap para petani di kaki bukit, ia tahu bahwa bukit yang didaki itu merupakan te mpat yang berbahaya, Juga gurunya menuliskan bahwa Bukit Hitam merupakan tempat berbahaya dan ia harus berhati-hati.

Itulah sebabnya, setelah memasuki hutan pertama, ia mendaki dengan hati-hati dan tidak tergesa-gesa waspada terhadap sekelilingnya.

Dalam keadaan seperti itu, gadis ini waspada dan seluruh pancaindera dan urat syarafnya dalam keadaan peka dan siap siaga sehingga ada gerakan sedikit saja, ada bau apa saja dari pendengaran apa saja, ia pasti dapat menang kapnya dengan cepat.

Inilah hasil dari kepekaan yang didapat karena selama dua tahun lebih, setiap hari ia mengikuti dan menangkap gerakan ranting di tangan suhunya setiap kali nbcaran ke padanya.

Bukan hanya matanya yang amat jeli, juga pendengarannya sehingga ia dapat mengikuti gerakan ranting di tangan suhunya dengan pendengarannya saja.

Tanpa melihatpun, ia dapat mendengarkan dan mengetahui huruf apa yang ditulis suhunya di udara!

Tiba-tiba ia berhenti, hidungnya yang kecil mancung itu bergerak-gerak sedikit, atau lebih tepat lagi, cuping hidung yang tipis itu kembang kempis, ia mencium sesuatu!

Di dalam hutan seperti itu yang hawanya lembab, memang terdapat banyak macam bau yang ditimbulkan oleh kebasahan tanah yang ditilami daun-daun kering membusuk, daun-daun yang basah, kembang-kembang hutan, kotoran binatang, dan sebagainya.

Akan tetapi Kim Hong mencium bau bangkai!

Tentu saja karena tidak berpengala manan dala m hal ini, ia tidak dapat me mbedakan bangkai apa yang menghamburkan bau busuk itu, bangkai binatang ataukah manusia, ia menghampiri dan menutupi hidung nya ketika melihat bahwa yang berbau busuk itu adalah mayat seorang manusia.

Agaknya baru beberapa hari orang laki-laki itu tewas.

Mukanya belum rusak, akan tetapi kulitnya sudah muai rusak dan membusuk.

Sekali pandang saja tahulah Kim Hong bahwa orang itu tewas karena luka berat di kepalanya, bahkan kepala itu me lihat bentuknya sudah tidak utuh lagi, retak atau pecah.Dan ia melihat tanda penghitam seperti jari-jari tangan di pelipis kanan mayat itu.

Kim Hong melanjutkan perjalanannya, mendaki ke atas.

Dan di sepanjang perjalanan mendaki yang sukar karena tempat itu licin dan banyak terdapat jurang yang curam, ia me lihat mayat-mayat berserakan.

Semua ada tujuh orang banyaknya!

ia semakin waspada.

Betul pesan suhunya, dan benar pula keterang an para petani tadi.

Tempat ini berbahaya sekali.

Melihat keadaan tujuh orang itu, yang tewas dengan tanda-tanda bekas jari menghitam, mereka tentulah bukan orang-orang sembarangan.

Rata-rata bertubuh tegap dan kokoh kuat, dan di dekat mereka selalu terdapat senjata, agaknya senjata mayat itu.

Ada pedang, golok, tombak dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan senjata yang cukup baik.

Ada pembunuh yang meninggalkan tapak jari hitam di tempat ini, pikirnya!

Suara mendesis dari sebelah kiri membuat Kim Hong meloncat dan menjauh.

Seekor ular yang panjangnya satu setengah depa bergerak cepat ke arahnya.

Ular itu agaknya galak, berani menyerang manusia.

Akan tetapi bukan ular yang ia cari karena ular ini belang-belang, dan panjang.

Pada hal Ang-thouw-hek-coa, menurut suhunya, hanya sebesar ibu jari tangan dan panjangnya tidak lebih dari dua tiga jengkal saja.

Tangan Kim Hong menya mbar sebatang ranting dan sekali ranting bergerak, ular itu melingkar-lingkar dan menggeliat-geliat sekarat dengan kepala tertembus ujung ranting yang menghunja m ke dalam tanah.

Tiba-tiba pendengarannya menangkap suara nyanyian aneh, terdengar asing sekali baginya, lapun menyelinap di antara pohon-pohon dengan tetap waspada karena ia tidak mau ka lau tiba-tiba kakinya dipagut ular berbisa, ia menyusup-nyusup sampa i ke tempat dari mana suara itu datang dan tak-lama kemudian, ia sudah mengintai dari balik semak belu kar dengan mata terbelalak heran.

Tigabelas orang duduk bersila di tempat terbuka dalam setengah lingkaran.

Di depan setiap orang nampak sebatang hio besar menancap di atas tanah dan terbakar membara, mengeluarkan asap yang baunya aneh.

Bau ini tadi bah kan pernah tercium oleh Kim Hong, akan tetapi disangkanya bau itu datang dari semacam kembang yang tidak dikenalnya.

Dan tigabelas orang inilah yang bernyanyi, nyanyian dalam bahasa aneh yang tidak dikenal nya.

Melihat pakaian mere ka, orang"orang itu tentu bangsa campuran.

Ada yang berpakaian Han, ada yang seperti pakaian orang Uigur Man-cu, dan Mongol.

Mereka terdiri dari se puluh orang laki-laki dan tiga orang wanita, usia mereka sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun.

Suara nyanyian mereka semakin meninggi dan menggetarkan suasana.

Kim Hong terkejut dan cepat mengerahkan sin-kan untuk melawan pengaruh suara yang menggetarkan jantungnya itu.

Dan tak lama kemudian, tercium bau yang memuakkan, amis dan keras, dan nampak puluhan ekor ulat berbondong-bondong datang, berlenggang"lenggok memasuki tempat itu, ke dalam setengah lingkaran, berkumpul di tengah dan mereka nampak jinak-jinak!

Ular-ular terus berdatangan sehingga jumlahnya tidak kurang dari seratus ekor, ada yang besar ada yang kecil dan dari bermacam warna.

Dengan tertarik sekali Kim Hong me mandang dan mengamati dari tempat pengintaiannya, akan tetapi hatinya kecewa.

Tidak seekorpun di antara banyak ular itu yang warnya seperti ular yang dicarinya.

Tidak ada Ang"thouw-hek-coa di situ!

Melihat demikian banyaknya ular, biarpun ia tidak takut, namun ia merasa jijik dan otomatis tangannya menyambar sebatang ranting untuk mempersiap kan diri kalau-kalau ular"ular menj ij ikkan itu tiba-tiba menyerangnya.

Gurunya yang pertama, yaitu Bouw Hun kepala suku Khitan, pernah memberi tahu kepadanya bahwa untuk menghadapi ular-ular, paling baik mempergunakan ranting, terutama sekali ranting bambu.

Sekali saja terkena sabetan ranting yang sebesar jari tangan, ruas tulang seekor ular dapat dibuat terlepas dan binatang itu tentu tidak dapat lari lagi.

Menggunakan pemukul yang besar tidak menguntungkan karena ular itu pandai mengelak dengan tubuhnya yang berkulit licin.

Sabetan ranting kecil yang melintang tidak dapat dielakkan.

Kini tigabelas orang itu, yang taclinya bersila, berlutut clan menyembah-nyembah ke arah sekumpulan ular, dan mulut mereka masih mengeluarkan suara nyanyian aneh itu.

Kim Hong dapat mencluga bahwa mereka ini aclalah segerombolan orang sesat penyembah ular!

Pernah ia menclengar clari Bouw Hun bahwa memang terclapat orang-orang yang menyembah ular yang dianggap sebagai clewa-clewa tanah.

Dan orang"orang seperti itu memiliki ilmu menalukkan ular, mereka aclalah pawang-pawang ular yang panclai clan juga ahli racun ular sehingga merupakan musuh yang amat berbahaya!

Akan tetapi menurut guru pertamanya itu, para penyembah ular ini bukan orang yang suka melakukan kejahatan, ticlak suka merampok atau mengganggu orang lain clan hanya bertinclak keras kalau cliganggu.

Mereka menclapatkan penghasilan dari menjual racun-racun ular kepacla rumah-rumah obat yang membutuhkan racun untuk berbagai keperluan pengobatan.

Mereka ahli mengolah racun berbagai macam ular menjacli pel, clan setiap maca m racun ular tertentu me mpunyai manfaat tertentu pula.

Racun-racun yang suclah menjacli pel itu amat mahal sehingga kehiclupan para penyembah ular ini cukup makmur.

Tiba-tiba datang pula seekor ular besar dan ular itu menggigit bangkai seekor ular lain.

Melihat ini, berdebar rasa jantung Kim Hong karena ia melihat betapa ular yang mati dan yang dibawa ular besar itu masih tertusuk ranting.

Itulah ular yang menyerangnya tadi dan yang telah dibunuhnya!

Seorang cli antara tigabelas orang itu, laki-laki berusia empat puluhan tahun, tubuhnya tinggi kurus seperti ular, matanya sipit clan hiclungnya pesek, bangkit clan menghampiri ular be sar, lalu memeriksa ular yang mati.

Alisnya berkerut dan diapun berkata clalam bahasa Han kepada ular besar yang kulitnya keputih-putihan itu.

"Pek-coa, kau cari pembunuhnya dan bawa dia ke sini, hidup atau mati!"

Ular besar putih itu seolah mengerti apa yang diucapkan si mata sipit.

Seperti seekor anjing pelacak, dia mencium-cium ke arah ranting yang masih menancap di kepala rekannya, kemudian diapun bergerak pergi dengan cepat, menghilang ke dalam rumpun ilalang!

Diam-diam Kim Hong bergidik ngeri.

Ketika ia memandang lagi, si mata sipit itu kini mengeluarkan sebatang pisau tajam, lalu melepaskan daging dan kulit ular yang mati itu dengan hati-hati agar jangan merusak tulangnya.

Kemudian, daging itu dia kerat-kerat dan dia lemparkan ke arah ular-ular yang segera memperebut kannya seperti sekumpulan ayam kelaparan dilempar jagung.

Dan tulang itu, masih utuh berikut kepalanya yang sudah dilepas dari ranting yang menembusnya, lalu dikubur di tengah "tengah lingkaran itu dengan dibantu oleh teman-temannya, kemudian mereka bersembahyang di depan "Makam"

Kecil tulang ular itu!

Kim Hong demikian tertarik sehingga dia agak lengah, tidak tahu bahwa ular besar putih itu bergerak perlahan menghampirinya dari belakang!

Ular itu cukup besar, sebesar betis orang dewasa dan panjangnya ada dua meter!

Baru Kim Hong tersentak kaget ketika hidungnya mencium bau wangi aneh di belakangnya, ia menengok dan hampir menjerit saking jijiknya ketika melihat ular putih itu sudah berada dekat di belakangnya dengan mata mencorong dan lidah merah keluar masuk moncongnya!

Jelas ular itu, seperti seekor anjing pelacak, sudah menemukan yang dicarinya dan kini siap untuk menyerang !

Kim Hong seorang gadis pemberani, bahkan tidak pernah mengenal takut.

Apa lagi setelah kini ia menjadi lihai sekali karena gemblengan Hek-liong Kwan Bhok Cu, ia menjadi semakin berani.

Akan tetapi, bagaimanapun juga ia tetap saja seorang wanita dan sebagian besar kaum wanita merasa ngeri dan jijik, bukan takut, kalau melihat ular.

Kini, dalam keadaan jijik melihat ular putih itu tiba-tiba berada di belakangnya,setelah membalikdan berhadapan, Kim Hong tidak membuang waktu lagi.

Pada saat ular itu membuka moncongnya hendak menyerang, ia mendahului dengan tusukan rantingnya yang tepat memasu ki moncong itu dan menembus ke belakang kepala!

Ular itu menggeliat-geliat, dengan ekornya ia memukul ke kanan kiri sehingga menimbulkan suara gaduh.

Dan tiba-tiba saja Kim Hong sudah mendapatkan dirinya terkepung oleh tigabelas orang itu yang memandang kepadanya dengan mata mengandung kemarahan.

"Kiranya engkau, nona muda yang kejam, yang telah membunuh ular-ular kami! Agaknya engkau pula yang telah membunuhi beberapa orang kawan kami dengan kejam!"

Bentak si mata sipit dan tiga belas orang itu sudah mencabut senjata mereka, yaitu sebatang suling baja yang ujungnya runcing seperti tombak.

Agaknya para pawang ini mempunyai suling untuk memanggi ular dan alat inipun diperguna kan sebagai senjata.

Kim Hong dapat menduga bahwa tentu ujung suling yang runcing itu mengandung racun me matikan, maka iapun bersikap waspada dan sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat ke arah tempat terbuka yang tadi dipergunakan untuk tempat sembahyang tigabelas orang itu.

Maksudnya adalah untuk mencari tempat yang lapang agar leluasa ia menghadapi pengeroyo kan mereka.

Akan tetapi, ia mendapat kenyataan yang mengejutkan, ia lupa bahwa di situ berkumpul seratus ekor ular!

Dan benar saja, begitu ia terkejut karena teringat akan ular-ular itu, terdengar suara melengking, mungkin suara sebatang suling yang ditiup, dan seratus ekor ular-ular itu serentak menyerangnya dengan ganas!

Kim Hong dalam keadaan serba salah, ia lalu meloncat pula dan tubuhnya sudah melayang naik ke atas pohon, aman dari serangan ular-ular itu.

"Tahan!"

Teriaknya kepada tiga belas orang itu.

"Aku sama sekali tidak pernah membunuh kawan kalian dan kalau aku membunuh dua ekor ular itu, aku sekedar membela diri, bukan sengaja membunuh!"

Akan tetapi tigabelas orang itu agaknya sudah marah dan penasaran sekali melihat dua ekor ular mereka terbunuh.

Mereka ra mai-ramai mengepung pohon di mana Kim Hong berada dan mengacung-acungkan suling mereka dengan si kap mengancam.

Tiba-tiba terdengar angin menyambar dahsyat, sesosok bayangan berkelebat dan seorang di antara tiga belas orang itu roboh dengan kepala retak!

Semua orang terkejut dan di situ telah berdiri seorang laki-laki.

raksasa yang menyeramkan!

Pria itu berusia enam puluhan tahun, tubuhnya tinggi besar dan kokoh kuat seperti batu karang dan yang mengerikan adalah kulitnya yang hitam seperti arang!

Yang nampak jelas hanya putih matanya saja karena rambut nya juga masih hitam semua.

Mukanya penuh dengan brewok pula.

Duabelas orang penyembah ular itu kini melupakan Kim Hong dan mereka mengepung si raksasa hitam.

Orang yang bermata sipit dan berhidung pesek menudingkan,sulingnya kepada orang itu dan berseru marah.

"Kiranya engkau yang telah membunuhi kawan-kawan kami selama beberapa hari ini?"

Kakek raksasa itu mengebut-ngebutkan ujung pakaiannya yang mewah sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Biarpun seluruh kulitnya hitam arang akan tetapi kakek raksasa itu berpakaian indah dan bersih, sampai sepatunyapun mengkilap dan dia seorang pesolek karena ra mbut-nyapun tersisir rapi dan berkilauan ka rena diminyaki.

Rambutnya diikat dengan sutera merah dan gelung rambutnya dihias tusuk gelung dari emas permat berbentuk seekor harimau.

"Ha-ha-heh-heh-heh, mereka tidak mau menyerahkan racun-racunnya kepadaku, maka kubunuh! Dan akupun membunu temanmu itu, agar kalian tidak banyak cing-cong lagi. Cepat serahkan seluruh pengumpulan racun kalian kepadaku kalau kalian menghendaki hiclup!"

Si mata sipit hiclung pesek mengeluarkan suara melengking clari mulutnya, clan seratus ekor lebih ular-ular itu kini menyerbu ke arah si raksasa hitam.

Kakek itu masih tertawa bergelak.

clan keclua tangannya bergerak menclorong ke clepan, ke arah ular-ular itu.

Dan, serangkum angin keras clan kuat sekali menyambar ke arah ular-ular itu yang terlempar jauh ke belakang seperti sekumpulan daun kering diterbangkan angin taufan!

Duabelas orang itu terkejut clan merekapun serentak maju mengeroyok kakek raksasa.

Akan tetapi, kembali kakek itu menggerakkan keclua tangannya clan empat orang yang beracla paling clekat clengannya, terjengkang ke belakang clan terguling-gu ling.

Ka lau semua o-rang terkejut, kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kalau kalian semua ma mpus clan aku ticlak memperoleh racun racun itu, berarti kita bersama menclerita rugi! Sebaliknya, cepat serahkan emua racun yang telah kalian kumpulkan, clan aku ticlak akan membunuh kalian, berarti kita bersama menclapat keuntungan!"

Jelas bahwa kakek itu ticlak segera membunuh karena clia mengharapkan untuk memperoleh pel-pel beracun yang amat berharga clari sekelompok orang penyembah ular itu.

"Orang tua yang kejam, siapakah engkau yang begitu kejam membunuhi teman-teman kami, dan untuk apa engkau henclak merampas racun-racun clari kami? Racun-racun itu merupakan sumber nafkah kami, kenapa engkau begitu ticlak tahu malu untuk merampok kami?"

"Hemm, kalau aku tidak membutuhkan racun-racun itu, untuk apa aku mengganggu kalian? Aku Hek-bin Mi ong (Raja Iblis Muka Hitam) ticlak suka ber urusan clengan orang-orang kecil maca m kalian. Cepat serahkan semua racun, atau kalian tidakakan dapat melihat matahari besok!"

"Sam-mo-ong (Tiga Raja Iblis).....??"

Beberapa orang di antara para penyembah ular itu berbisik-bisik. Mendengar bisikan ini, Hek-bin Mo-ong tertawa.

"Bagus, kalian sudah mendengar nama kami bertiga. Aku memang seorang di antara Sam-mo-ong, akulah orang pertama! Nah, cepat serahkan semua racun kalau kalian tidak ingin mampus di tangan Hek-bin Mo-ong!"

"Hek-bin Mo-ong, engkau terkenal sebagai seorang datuk persilatan yang berkedudukan tinggi. Kenapa engkau mem bunuhi re kan-rekan kami yang tidak ber dosa? Dan sekarang, setelah membunuh banyak rekan kami, engkau memaksa kami menyerahkan milik kami yang menjadi sumber nafkah kami. Tidak, ka mi tidak akan menyerahkannya!"

Teriak si mata sipit dan sebelas orang lainnya juga be rte ria k-te ria k mendu kungnya. Sepasang alis yang tebal itu ber kerut dan mata yang lebar itu mencorong.

"Kalian lebih memilih mampus? Ke parat, kalau begitu, kalian mampus..."

Tiba-tiba dia terkejut karena terdengar suara bercuit nyaring, dan sebatang benda panjang meluncur ke arahnya dari atas.

Dia mengira bahwa itu tentulah seekor ular terbang, maka cepat dia menangkis dengan lengan tangannya.

"Wuuutt..... brett..... !"

Ranting itu terpukul ke bawah dan menancap ke atas tanah sampai amblas lenyap, akan tetapi betapa kaget rasa hati Hek-bin Mo-ong ketika melihat betapa lengan bajunya robek dan kulit lengannya lecet.

Padahal, yang menyerangnya tadi hanya sebatang ranting kecil!

Bagaimana mungkin ranting dapat menembus kekebalannya?

Hek-bin Mo-ong menoleh ke arah pohon besar dari mana ranting itu tadi meluncur dan dia melihat sesosok bayangan hitam menya mbar turun dan tahu tahu di depannya telah berdiri seorang gadis yang luar biasa cantiknya!

Gadis itu mengenakan pakaian sederhana dari kain kasar yang berwarna serba hitam berkembang abu-abu, dan gadis itu berdiri bertolak pinggang dan memandang kepada nya sambil tersenyum manis, senyumyang mengandung ejekan!

"Aih-aih, selama hidupku baru sekarang aku bertemu orang yang lahir batinnya berwarna hitam!

Hek-bin Mo-ong, julukanmu Raja Iblis Muka Hitam, akan tetapi kulihat yang hitam bukan hanya mukamu melainkan seluruh kulitmu sampai menembus ke hati.

Hatimu juga hitam dan jahat sekali!"

Hek-bin Mo-ong masih bengong memandang kepada Kim"hong.

Belu m pernah dia bertemu seorang gadis yang beg ini cantik dan lincah dan berani, juga dilihat dari luncuran ranting tadi, ia tentu memiliki ilmu kepandaian yang tidak boleh dipandang ringan!

"Ha-ha-ha, akupun selama hidupku belu m pernah berte mu seorang gadis yang begini cantik jelita!

Manis, siapakah engkau dan mengapa pula engkau menyerangku tadi?

Apakah engkau juga anggauta dari para penyembah ular ini?"

"Tida k ada hubunganku dengan mereka, akan tetapi aku paling membenci orang yang jahat dan kejam, bertindak sewenang-wenang seperti kamu ini! Pergilah dan jangan ganggu lagi mereka, atau aku terpaksa akan menghajarmu!"

Sambil bertolak pinggang dan mengeluarkan ancaman seperti itu, lagak Kim Hong seperti seorang dewasa memarahi seorang anak kecil yang nakal saja.

"Ha-ha-ha, bocah sombong kau! A-kan tetapi engkau sungguh menarik, eng kau pantas untuk menemani aku bersenang-senang selama beberapa hari, ha-ha-ha!"

Setelah berkata demikian, tiba tiba saja Hek-bin Mo-ong bergerak, kedua lengannya dikembangkan dan seperti seekor biruang hitam dia sudah menubruk dan menerkam ke arah Kim Hong.

Namun, sebelum dia menerkam, gerakannya telah diketahui gadis itu, dan dengan keringanan tubuhnya, dengan mudah Kim Hong mengelak dengan loncatan ke samping, kemudian ia membalik dan kakinya sudah menyambar dan menendang ke arah la mbung lawan.

"Dukk! Uhhh!"

Tendangan itu mengenai lambung dan biarpun tidak dapat merobohkan raksasa itu, tetap saja mem buat dia terkejut dan terbatuk karena isi lambungnya terguncang.

Sebetulnya, Hek-bin Mo-ong adalah seorang datuk sesat yang memiliki tingkat kepandaian tinggi.

Kalau dia dalam segebrakan terkena tendangan Kim Hong, hal itu adalah karena dia memandang rendah dan dia tadi menubruk seperti menghadapi seorang lawan ringan saja, yang dianggapnya sekali terka m dapat menang kap gadis yang jincah menggemaskan hati i-tu.

Karena memandang rendah, dia lengah.

Apa lagi Kim Hong memiliki gerakan yang amat cepat, Sebaliknya, Kim Hong d ia m-dia m terkejut.

Tendangannya itu dapat merobohkan seorang lawan yang kuat, akan tetapi ketika tendangan itu mengenai lambung raksasa ini, hanya sempat membuatnya terbatuk kecil saja.

Ini membuktikan bahwa lawannya memang amat kuat dan kebal.

Hek-bin Mo-ong tentu saja menjadi marah bukan main.

Sebagai seorang datuk besar, dalam segebrakan lambungnya terkena tendangan.

Biarpun dia tidak roboh dan kalah, akan tetapi hal ini membuat dia merasa malu sekali.

Maka, diapun mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas dan ketika dia menggerakkan kedua tangannya di udara, digoyang-goyang seperti sepasang cakar harimau, tangan itu berubah warnya menjadi hita m tua sampai ke sikunya!

Dan melihat ini, Kim Hong maklum bahwa bekas pukulan jari tangan inilah yang dilihatnya pada mayat-mayat itu, bekas pukulan maut.

"Bocah keparat, kuhancurkan kepalamu!"

Bentaknya dan diapun bergerak menerjang dengan bengisnya.

Namun, Kim Hong sudah cepat mencabut keluar sepasang senjatanya.

Sebelum ia menjadi murid Hek-liong Kwan Bhok Cu, ia sudah mempelajari penggunaan delapanbelas macam senjata dari gurunya yang pertama, yaitu Bouw Hun, dan iapun memiliki sen jata yang khas seperti gurunya dan su-hengnya, yaitu sebatang pedang yang bentuknya melengkung.

Akan tetapi, gurunya ke dua yang gagu mengajarkan penggunaan sepasang pedang pendek seperti pisau belati yang kedua gagangnya disambung dengan sehelai tali yang amat kuat.

Sepasang senjata ini oleh gurunya dinamakan siang-hui-kiam (sepa sang pedang terbang) dan ia sudah mahir sekali memainkan sepasang pedang pendek ini.

Sepasang senjata ini lebih indah dan lebih praktis, mudah disimpan karena tidak panjang seperti dua buah pisau belati saja.

Dan sepasang pedang pendek ini terbuat dari baja pilihan yang amat baik sehingga ma mpu me matahkan senjata lain yang terbuat dari baja biasa saja.

Begitu Hek-bin Mo-ong menerjang dengan kedua tangannya yang berubah hitam sekali, Kim Hong cepat mengelak.

Tangan kedua menyusul, akan tetapi, gadis ini memiliki kelincahan gerakan yang luar biasa, membuat beberapa kali sambaran kedua tangan itu luput.

Sebaliknya, ia mulai mengge rakkan senjatanya dan tiba-tiba saja ada sinar berca haya menyambar ke arah leher raksasa itu.

Si Raja Iblis Muka Hitam cepat menggerakkan tangan untuk menangkis dan mencengkera m ke arah sinar itu tanpa takut karena memang kedua tangannya kini menjadi kebal dan beracun.

"Tringgg......!"

Pedang pendek yang tertangkis itu mengeluarkan bunyi nyaring, akan tetapi tidak dapat tertangkap karena pedang itu telah terbang kembali ke tangan pemiliknya.

Pedang yang diikat dengan tali itu ternyata dapat beterbangan, dikendalikan oleh tangan Kim Hong yang memegang ta-linya.

Dan kini, dari kiri menyambar pula pedang terbang kedua, yang me-nyambar ke arah mata kanan lawan.

"Hemmm.....!"

Raksasa hitam itu menggereng marah akan tetapi juga kaget.

Cepat dia menundukkan kepala, tubuhnya cenderung ke depan dan lengannya yang panjang telah mencengkeram ke arah dada gadis itu.

Kim Hong terpaksa melompat ke belakang, akan tetapi lawannya juga meloncat dan menyusulkan serangan yang bertubi-tubi, menggunakan sepasang lengan panjang yang memiliki cakar yang hitam beracun dan amat kuat itu.

Kim Hong maklum akan bahayanya jari-jari tangan itu, maka iapun mempergunakan kelincahannya untuk mengelak ke sana sini sambil mencari kesempatan untuk nembalas serangan lawan dengan sepa-ang pedang terbangnya.

Duabelas orang pemuda ular yang tadinya tertegun melihat gadis yang mereka serang tadi tiba-tiba bahkan mem-antu mereka menghadapi Hek-bin Mo-ong, kini bergerak dan dipimpin oleh si mata sipit, mereka maju mengepung dan membantu Kim Hong mengeroyok kakek raksasa itu.

Mereka menggunakan suling yang ujungnya runcing dan mengandung racun yang amat kuat, maka begitu di keroyok, Hek-bin Mo"ong menjadi sibuk juga.

Menghadapi Kim Hong seorang saja, raksasa itu masih belum mampu menang, apa lagi kini ditambah duabelas orang pemuda ular yang rata-rata memiliki ilmu silat lumayan dan terutama sekali racun yang mereka pergunakan a mat berbahaya.

Si mata sipit, mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku bajunya dan begitu dia menaburkan isinya ke arah Hek bin Mo-ong, tercium bau yang amat keras dan kakek hita m itu cepat menahan napas dan tubuhnya sudah melayang naik ke atas pohon!

Juga Kim Hong menahan napas dan menjauh.

"Nona telanlah pel ini untuk menjaga diri!"

Kata si mata sipit sambil melemparkan sebuah pel hitam ke arah Kim Hong.

Gadis ini sudah merasa betapa lengan kirinya gatal, mungkin terkena bubuk yang disebarkan tadi.

ia menyambut benda yang dilemparkan kepadanya, dan tanpa ragu iapun menelan pel hitam kecil itu.

Dan memang hebat sekali, begitu tertelan, dalam waktu beberapa detik saja, seluruh tubuhnya terasa hangat dan rasa gatal di lengannya pun lenyap!

Kini ia berani mendekati mereka tanpa takut terkena bubuk yang di taburkan tadi.

Mereka semua memandang ke arah pohon, akan tetapi tidak melihat raksasa hitam itu di sana.

Dan tiba-tiba dari pohon lain yang letaknya agak jauh, terdengar suara si raksasa hitam.

"Nona, kalau engkau bu kan seorang pengecut rendah, katakan siapa namamu dan di mana engkau tinggal!"

Mendengar ini, si mata sipit cepat memberi isyarat kepada Kim Hong dengan gelengan kepala agar tidak mau mengaku.

Akan tetapi, satu pantangan besar bagi seorang yang gagah, apa lagi yang wataknya keras seperti Kim Hong, adalah kalau ia disangka pengecut!

"Heii, Hek-bin Mo-ong manusia sombong!

Ternyata kepandaianmu tidak sebesar nama julukan mu!

Engkaulah yang pengecut besar, buktinya engkau melarikan diri.

Namaku tidak perlu kau keta hui, akan tetapi kalau engkau merasa penasaran dan hendak mencari aku, datang saja ke puncak Bukit Nelayan di tepi Sungai Huai.

Jelas?"

Tidak ada jawaban dari Hek-bin Mo-ong, akan tetapi Kim Hong yakin bahwa datuk itu tentu telah mencatat tempat tinggalnya dan mungkin sekali akan muncul di sana.

ia menertawakan dalam hati.

Kalau dia berani muncul di sana dan bertemu suhu, berarti dia seperti seekor ular mencari penggebuk!

Tiba-tiba ia dikejutkan oleh dua belas orang pemuja ular itu yang menjatuhkan diri berlutut dan menghadap kepadanya!

Tentu saja ia merasa heran.

"Eh-eh, apa-apaan kalian ini?"

Si mata sipit mewakili kawan-kawannya berkata.

"Nona telah menyelamatkan ka mi dan menolong ka mi dari ancaman Hek-bin Mo-ong. Bagi kami, nona adalah dewi penolong dan karena itu,mulai saat ini, kami menganggap nona seorang di antara para dewi dan kami memberi nama kehormatan bagi nona, yaitu Ouw-coa Sian-li (Dewi Ular Hitam)!"

Duabelas orang itu memberi hormat sambil berlutut dan mulut mereka tiada hentinya menyebut Ouw-coa Sian-li, lalu mereka bernyanyi seperti tadi.

Dan bermunculanlah ular-ular tadi dan kini semua ular mengelilingi tempat Kim Hong berdiri!

Meremang rasanya semua bulu di tubuh gadis itu.

ia merasa seperti bukan manusia lagi, disembah duabelas orang yang menyanyikan lagu aneh, dan dikelilingi ratusan ekor ular yang seolah juga menyembahnya.

"Saudara-saudara sekalian, sudah, cukuplah semua ini. Sesungguhnya aku datang ke Bukit Hitam ini karena suatu keperluan, akan tetapi setelah bertemu dengan ka lian, aku jadi sungkan untuk mengatakan apa keperluanku itu karena mungkin sekali kalian tidak setuju, walaupun agaknya hanya kalian pula yang akan mampu membantuku."

Si mata sipit berkata.

"Sian-li (Dewi), engkau kami anggap sebagai dewi pelindung. Apapun yang kauinginkan, kami akan membantu, walau hal itu membahayakan nyawa kami sekalipun."

"Aku disuruh oleh guruku untuk mencari seekor ular!"

"Ahhh......!"

Semua orang terkejut dan hal ini sudah diduga oleh Kim Hong.

Orang-orang ini memuja ular dan begitu sayang kepada ular, tentu tidak akan senang mendengar ia datang untuk mencari seekor ular!

"Sekali lagi maafkan, tadi aku memang telah membunuh dua ekor ular, akan tetapi hal itu hanya terjadi karena mereka menyerangku."

"Sianli mencari seekor ular? Ular apakah itu?"

Tanya si mata sipit.

"Ular istimewa yang tidak kulihat di antara semua ular ini. Menurut suhu, ular itu disebut ang-thouw-hek-coa......."

"Ahhh.......!"

Kembali dua belas orang itu berseru dan sekali ini semua mata terbelalak memandang kepada Kim Hong.

"Sianli, untuk apakah engkau mencari ular hitam kepala merah itu? Ular itu langka sekali di dunia, dan di Bukit Hitam ini pun, hanya ada sejodoh dan setiap kali bertelur, hanya sebuah!"

Kim Hong merasa girang. Jawaban itu saja menunjukkan bahwa mereka ini tentu tahu di mana adanya ular yang di carinya.

"Harap kalian semua jangan berlutut dan marilah kita duduk bicara dengan baik setelah kini kita menjadi sahabat."

Si mata sipit menurut.

Dia bangkit dan semua orang mengikutinya, dan kini mereka duduk sekelompok menghadapi Kim Hong.

Gadis ini adalah seorang yang cerdik, ia tahu bahwa agaknya, tanpa bantuan mereka ini, tidak akan mudah baginya untuk mendapatkan ular yang dicarinya.

Maka, ia harus dapat menyenangkan hati mereka dan tidak menonjolkan keinginannya sendiri.

"Sekarang kuharap kalian lebih dahulu mengurus jenazah rekan kalian yang terbunuh oleh iblis tua tadi, juga jenazah "jenazah yang kulihat di mana-mana itu. Setelah semua jenazah itu dikubur baik-baik barulah kita bicara. Aku akan menemani kalian agar tidak di ganggu lagi oleh iblis tua tadi."

Si mata sipit menghaturkan terima kasih dan mereka semua kelihatan gembira.

Semua ada tujuh orang yang terbunuh oleh Hek-bin Lo-mo, sehingga kini sisa kelompok mereka hanya tinggal duabelas orang.

Dengan ditemani Kim Hong, mereka mengambil semua jenazah dan mengumpulkannya di tempat terbuka itu, kemudian, setelah melakukan upacara sembahyang yang aneh, diramaikan pula upaca ra itu dengan sebuah tarian yang berlenggang-lenggok mirip tubuh ular, dilakukan tiga orang anggauta wanita dan tiga orang anggauta pria semua jenazah itu lalu dibakar.

Mala m itu, Kim Hong me lewatkan ma la m dengan mereka, di dekat tempat pembakaran mayat.

Baru setelah pada ke esokan harinya semua abu jenazah ditabur-taburkan terbawa angin ke mana-mana dari puncak bukit, Kim Hong mengajak mereka bercakap-cakap tentang ular hitam kepala merah.

ia menceritakan bahwa ia diutus gurunya untuk mencari ular itu sampai dapat dan ia tidak boleh kembali kalau belum membawa ular itu!

"Sian-li, kalau boleh kami mengetahui, siapakah guru sian-li yang mulia?"

Tanya si mata sipit.

"Guruku adalah Hek-liong Kwan Bhok Cu.......!"

Kata Kim Hong yang memandang heran melihat sikap semua orang mendengar nama gurunya.

"Apakah-kalian telah mengenal nama suhu?"

Si mata sipit mengge leng kepalanya.

"Aih, memang sudah nasib, sudah digariskan oleh dewa-dewa ular! Kalau guru sian"li berjuluk Hek-liong (Naga Hitam), maka tentu saja kami semua harus mengalah. Naga Hitam membutuh kan Ular Hitam, tentu saja sudah sepatutnya. Ketahuilah, sian-li. Ang"thouw-hek-coa yang dimak sudkan itu ada pada kami. Racunnya pula yang dicari-cari oleh iblis tua tadi. Dan ular sakti ini lah yang menjadi sumber rejeki kami."

"Ahh.... kalau begitu,. bagai mana mungkin aku sampai hati untuk merampas sumber rejeki kalian?"

Kata Kim Hong dengan cerdik. Si mata sipit tersenyum.

"Sebelum kita melanjutkan, kami harap sian-li melihat apa yang akan terjadi, bagaimana kami memanfaatkan daya guna Ang-thouw-hek-coa untuk memberi rejeki kepada kami."

Dia lalu memberi isyarat kepada kawan-"kawannya dan duabelas orang itu kini membentuk sete ngah lingkaran seperti kemarin, lalu mereka menyanyikan lagu yang aneh itu.

Kim Hong dipersi lakan menonton pertunjukan itu dari cabang pohon karena kata mereka, kalau gadis itu berada di atas tanah, ada saja bahayanya diserang ular.

Kim Hong meloncat dan nongkrong di atas cabang pohon paling rendah sehingga ia memperoleh tempat yang paling tepat untuk menonton apa yang akan terjadi di bawahnya.

Kini simata sipit meniup sulingnya.

Suara yang melengking "lengking terdengar dan tak lama kemu dian , ular-ular sudah berkumpul di tempat itu seperti kemarin.

Akan tetapi sekali ini lebih banyak, seolah seluruh ular di bukit itu berkumpu l.

Mereka nampak jinak dan melingkar-lingkar di tengah tempat terbuka itu.

Kemudian, si mata sipit menge luarkan sebuah keranjang dan me mbu ka tutupnya.

Dari atas, Kim Hong dapat me lihat dengan jelas bahwa keranjang itu berisi seekor ular yang kecil saja, sebesar ibu jari tangannya, tubuhnya sepanjang dua jengkal lebih dan kulit tubuh itu hitam legam mengkilat.

Akan tetapi kepalanya yang mengagumkan adalah kepalanya.

Kepala itu merah seperti api!

Dan sepasang mata ular lebih merah lagi, seperti inti api dan mencorong menyeramkan walaupun ularnya hanya sekecil itu.

Kini duabelas orang itu meniup suling mereka.

Suara duabelas batang suling yang ditiup me lengking-leng king itu senada dan seira ma, sehingga terdengar a mat menghanyutkan perasaan.

Kim Hong sendiri sa mpai merasa tergetar sehingga cepat ia mengerahkan sin-kang agar jangan sampai gemetar dan terjatuh dari atas pohon.

Kemudian, setelah beberapa menit duabelas batang suling itu ditiup dalam lagu yang aneh dan asing bagi telinga Kim Hong, ular kecil itu bergerak keluar dari dala m keranjang, turun ke atas tanah dan mulailah ular itu menari-nari.

Benar"benar menari sehingga hampir saja Kim Hong terpelanting karena menahan tawanya, ia merasa geli karena lucu bukan main.

Bayangkan saja!

Ular itu "berdiri"

Di atas ekornya dan tubuhnya meliuk-liuk seperti seorang penari yang pinggulnya besar menggoyang-goyangkan pinggul, kepalanya yang merah juga digerakkan ke kanan kiri se suai dengan irama lagu.

"Hi-hik, ular badut!"

Kim Hong terkekeh dalam hatinya.

Ular yang warnanya amat cerah, hitam mengkilap dan kepalanya merah seperti darah atau api itu, selain indah juga amat lucu ia pernah melihat ular kobra.

Rajanya ular ini pun hanya mampu mengangkat kepala dari bawah leher ke atas saja.

Akan tetapi ular hitam kepala merah ini mampu berdiri, benar"benar berdiri di atas ekornya yang tidak runcing dan ber lenggang-lenggok!

Kemudian, si mata sipit menurunkan sulingnya sedangkan yang lain masih terus meniup suling masing-masing.

Kini si mata sipit ikut menari!

Sambil duduk bersila, kedua lengannya seperti dua ekor ular yang menari pula, meniru gerakan ular hitam.

Agaknya, sang ular yang cerdik namun bodoh bagi manusia itu, menganggap bahwa dia ditemani dua ekor ular lain yang bentuknya aneh akan tetapi pandai menari seperti dia.

Atau mungkin dia sudah terbiasa ditemani dua ekor "ular"

Itu. Tangan si mata sipit memang berbentuk moncong ular dan kini tiga "ekor"

Ular itu menari-nari saling mendekati, kadang bersenggolan.

Seorang anggauta kelompok menurunkan sulingnya pula dan mengeluarkan seekor katak dari dalam kantung, seekor katak yang besar dan gendut.

Kemudian, tiba-tiba dengan gerakan cepat, si mata sipit telah menangkap leher dan belakang kepala ular hitam yang terpaksa membu ka mulutnya lebar-lebar sehingga nampak gigi yang runcing melengkung ke dalam.

Orang yang memegang katak tadi mendekatkan katak, lalu si mata sipit menyentuh katak itu dengan moncong ular yang segera menggigit katak.

Katak itu meronta sebentar lalu terdiam.

Si mata sipit menarik kepala ular sehingga terlepas, lalu menggigitkan lagi sampai berulang kali.

Tubuh katak itu berubah menghitam!

Dan gerakan ular itu makin lemah seolah-olah dia kehabisan tenaga, bahkan setelah katak yang sudah mati dan berubah hitam itu dimasu kkan kantung kembali dan ular itu dilepas, dia nampak lemas dan gerakannya lambat.

Dan Kim Hong kini menyaksikan peristiwa yang amat mengheran kan hatinya.

Seekor ular kobra yang belang-belang sebesar lengan dan nampak ganas sekali, ditangkap oleh si mata sipit.

Ular yang berbisa dan biasanya amat ganas ini jinak saja dan ketika dia dilepas di depan ular hitam kepala merah, ular kobra itu nampak ketakutan dan melingkar diam, meletakkan kepalanya di atas tanah di depan ular hitam yang lemas.

Ular hitam aga knya kini d ibangkitkan se mangatnya oleh tiupan suling yang melengking-lengking, kemudian ular hitam itu menggerakkan kepalanya yang merah, moncongnya dibuka dan dia-pun menerkam dengan moncongnya ke.arah belakang kepala ular kobra.

Ular kobra diam saja dan ular hitam Seperti mengh isap sesuatu dari kepala bagian belakang ular kobra.

Ketika ular hitam yang kini menjadi agak gesit melepaskan gigitannya, ular kobra tidak ma mpu bergerak lagi dan telah mati.

La lu si mata sipit menga mb il ular ke dua, ular yang ekornya besar dan ekor itu kalau di gerak-gerak kan dapat mengeluarkan bunyi berkerotokan!

Sungguh merupakan ular yang a-neh dan langka, akan tetapi yang racun nya jahat bukan main.

Sekali terpagut ular ini, jangan harap dapat hidup lebih lama dari dua tiga jam!

Seperti juga ular kobra tadi, ular ini "mendeka m"

Di depan ular hitamyang kini me njadi lebih lincah.

Si hitam kepala merah itu menerkam seperti tadi dan korbannya diam saja seperti terpesona, me mbiarkan racun di belakang kepalanya dihisap habis dan diapun tewas!

Baru setelah menghisap habis racun dari belakang kepala enam ekor u-lar yang paling berbisa, si hitam berkepala merah itu agaknya baru puas dan kenyang, lalu dia dimasukkan kembali ke dalam keranjang kecil oleh si mata sipit, melalui suara suling yang menuntunnya masuk ke mba li ke te mpatnya.

Selesailah pertunjukan itu dan Kim Hong dipersilakan turun.

Gadis ini kagum sekali.

"Aih, ular itu sungguh lucu. itukah Ang"thouw-hek-coa yang di cari suhu?"

Si mata sipit tersenyum akan tetapi dia menghela napas seperti orang bersedih.

"Benar, sian-li. Dan seperti sian-li melihatnya sendiri tadi, demikianlah kami mengumpulkan racun dan membuatnya menjadi pel untuk dijual. Kami mengumpulkannya melalui ular hitam kepala merah. Ketika kami menggigitkannya kepada katak tadi, maka semua racunnya berpindah ke dalam tubuh katak dan kami akan memeras darah katak yang sudah penuh dengan racun itu. Kemudian, kami memberikan beberapa ekor ular yang paling berbisa untuk dihisap racunnya oleh ang-thouw-hek-coa dan seketika pulih kemba liracun dalam tubuhnya. Dengan cara ini, maka setiap tiga hari sekali kami dapat mengumpulkan racun yang banyak karena gigitan ular hitam kepala merah itu mengeluarkan racun yang banyak sekali dan ampuh."

Kim Hong mengangguk-angguk.

"Kalau begitu pantas kalian menganggap ular hitam kepala merah itu sebagai sumber rejeki. Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan ular seperti itu untuk memenuhi perintah suhu?"

"Kami menganggap sian-li sebagai dewi penolong, maka kami hadiahkan ular ini kepada sian-li untuk diserahkan kepada Si Naga Hitam, guru sian-li!"

Kata si mata sipit dan semua o-rang mengangguk-angguk sehingga Kim Hong merasa terharu sekali.

"Akan tetapi..... itu amat merugikan kalian! Lalu bagaimana kalian dapat mengumpulkan racun untuk dijual?"

Tanyanya agak ragu walaupun tentu saja di dalam hatinya ia merasa girang sekali.

"Jangan khawatir, sian-li. Kami akan mengumpulkan racun seperti dahulu sebelum kami memiliki ular hitam kepala merah, yaitu dengan mengumpulkan dari ular-ular berbisa sedikit demi sedikit. Tentu saja tidak dapat secepat kalau melalui ular hitam kepala merah. Kalau dengan dia kami bisa mengumpulkan sebanyak itu setiap tiga hari, tanpa dia kami akan dapat mengumpulkan racun sebanyak itu dalam waktu tigapuluh hari."

"Aihh! Kalau begitu aku hanya membuat kalian menderita!"

Seru Kim Hong terkejut.

"Tidak, sian-li. Kamipun sudah kehilangan banyak kawan sehingga jumlah kami tinggal dua belas orang, kami tidak mempunyai kebutuhan yang banyak. Pula, sekitar dua tahun lagi kami akan dapat mencari anak ular ini yang tentu sudah besar dan dapat menggantikan pekerjaan itu."

Akhirnya Kim Hong menerima pemberian itu dan iapun turun dari Bukit Hita m, ditemani oleh duabelas orang itu sampai di bawah kaki bukit.

Mereka saling berpisah dan Kim Hong mengucap kan terima kasih kepada mereka.

Di puncak Bukit Nelayan, Hek-li-ong Kwan Bhok Cu yang gagu menerima ke datangan muridnya dengan wajah gembira.

Dengan caranya sendiri, yaitu menggerak-gerakkan ranting mencorat-coret huruf di udara, dia "bicara"

Kepada Kim Hong.

"Engkau dapat cepat pulang membawa ular hitam kepala merah, hal ini menunjukkan bahwa tidak sia-sia aku mendidikmu selama dua tahun lebih ini. Orang lain belum tentu bisa mendapatkan ular itu selama hidupnya, apa lagi dalam waktu sesingkat ini. Akan tetap aku melihat dari atas tadi bahwa ada tiga bayangan orang yang ikut naik mengikuti mu."

Kim Hong terkejut.

Kalau sampai ia sendiri tidak melihat dirinya dibayangi orang dari bawah bukit, hal itu membuktikan bahwa tiga orang yang membayanginya tentulah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Cepat simpan ular itu ke dalam!"

Kata pula Hek-liong Kwab Bhok Cu melalui coretan rantingnya.

Kim Hong segera menanti perintah gurunya.

Dibawanya keranjang kecil ke dala m pondok dan disembunyikannya keranjang Itu ke bawah tempat tidurnya.

Setelah itu, ia pun cepat berlari keluar dan berdiri di samping gurunya menanti datangnya tiga bayangan orang yang bergerak dengan cepat seperti terbang menda ki puncak Bukit Nelayan.

Kim Hong memandang dengan penuh perhatian dan setelah tiga orang itu tiba di depannya, diam-diam ia terkejut mengenal bahwa seorang di antara mereka adalah si raksasa hitam Hek-bin Mo-ong!

ia tadi belum sempat menceritakan pengalamannya dengan Raja Iblis Muka Hitam kepada gurunya.

Tentu saja gurunya tidak mengenal siapa raksasa hitam itu.

Dan melihat dua orang yang lain, ia dapat menduga bahwa agaknya mereka itu adalah rekan-rekan si raksasa hitam.

Agaknya tiga orang inilah yang disebut Sam Mo-ong (Tiga Raja Iblis).

Tentu si raksasa hitam itu setelah kalah menghadapi pengeroyokan para pemuja ular yang dibantu nya, pergi mengundang dua orang rekannya lalu pergi ke Bukit Nelayan, bukan membayanginya.

Kini ia teringat betapa ia mengaku kepada raksasa hitam itu bahwa ia bertempat tinggal di Pulau Nelayan.

Akan tetapi, betapa heran rasa hatinya ketika ia melihat tiga orang itu tidak memandang kepada nya, melainkan kepada gurunya dan mereka bertiga tersenyum-senyum.

"Aha, kiranya Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu yang berada di sini! "

Kata seorang di antara mereka yang tubuhnya pendek berperut gendut sehingga dia nampak bulat.

Kakinya pendek dan tertutup jubahnya yang panjang sehingga ka lau dia berjalan ke depan, nam paknya seperti menggelundung saja.

Orang ini merupa kan orang ke dua dari Sam Mo-ong dan di dunia kang-ouw terkenal sebagai datuk yang berjuluk Siauw"bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Ketawa).

Melihat wajahnya yang selalu tawa atau senyum lebar, dia nampak ra mah dan ba ik hati, akan tetapi orang akan merasa ngeri kalau melihat sepak terjangnya.

Dia kejam bukan main, suka menyiksa orang sehingga mukanya yang tertawa itu hanya sebagai kedok.

"Hemm, Kwan Bhok Cu ternyata belum mampus seperti dikabarkan orang, dan bersembunyi di tempat ini! Kalau begitu, para pimpinan Hek-kauw telah berbohong, membohongi dunia kangouw!"

Kata orang ke tiga yang tubuhnya kurus kering seperti orang berpenyakitan dan mukanya selalu cemberut dan keruh.

Inilah orang ke tiga dari Sam Mo-ong yang berjuluk Toat-beng Mo-ong (Raja Iblis Pencabut Nyawa) karena ia terkenal dengan sikap dan wataknya yang pemurung dan pemarah, sedikit saja sebabnya sudah membuat dia turun tangan membunuh orang!

Kim Hong menoleh kepada gurunya, akan tetapi suhunya itu diam saja tidak menanggapi dan kelihatan acuh saja, bahkan na mpak mengerutkan a lisnya, tanda bahwa orang tua itu merasa tidak senang.

"Ha-ha-ha, Hek-liong Kwan Bhok Cu, kenapa engkau diam saja?"

Kini Hek bin Mo-ong berkata dan senyumnya mengejek.

"Apakah engkau sudah menjadi tuli dan gagu? Atau engkau pura-pura tidak mengenal lagi kepada ka mi? Tidak mungkin engkau lupa kepada Sam Mo-ong, ha-ha-ha!"

Kim Hong berkata kepada gurunya.

"Suhu, iblis tua hitam ini adalah Hek-bin Mo-ong yang pernah bentrok dengan teecu karena dia hendak membunuhi semua pemuja ular di Bukit Hitam."

"Heh-heh, nona manis. Kiranya engkau murid Si Naga Hita m! Kalau saja engkau tidak mengero yokku dengan para pemuja ular, tentu sekarang engkau sudah bersenang-senang dengan aku, dan gurumu tentu akan merasakan bagaimana penderitaan orang dikhianati teman sendiri !"

Kim Hong memandang kepada gurunya yang menggerak"gerakkan ranting di tangannya. Kim Hong membaca coretan"co retan di udara Itu.

"Katakan kepada mereka bahwa aku tidak mempunyai urusan dengan mereka dan agar mereka cepat pergi."

Kim Hong menghadapi tiga orang kakek itu dengan sikap menantang, lalu berkata.

"Sam Mo-ong, suhu tidak mempunyai urusan dengan kalian. Maka, jangan kalian mencari penyakit dan banyak mulut. Pergilah kalau kalian tidak ingin kami hajar sampai mampus! "

Tiga orang itu terbelalak dan nampak marah sekali.

"Bocah sombong, engkau belum tahu siapa kami!"

Bentak Hek-bin Mo-ong.

"Dahulupun gurumu ini tidak mampu menandingi aku, apa lagi sekarang. Heii, Hek-liong Kwan Bhok Cu dengar baik-baik. Kami akan mengampuni semua perbuatanmu yang memalukan di masa lalu kalau sekarang kau serahkan ular hitam kepala merah dan muridmu yang molek ini kepada kami. Kalau tidak, terpaksa kami akan membunuhmu lebih dulu, lalu menggeledah pondokmu mencari ular itu, dan memaksa muridmu menjadi budak kami! "

Bukan main marahnya hati Kim Hong mendengar penghinaan yang dilontarkan raksasa hitam itu kepada gurunya.

Akan tetapi diam-diam iapun terkejut.

Bagaimana iblis ini mengetahu bahwa ia telah mendapatkan ular hitam kepala merah?.

"Hek-bin Mo-ong, jangan ngawur! Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa suhu memiliki ular hitam kepala merah?"

"Ha-ha, nona manis Para pemuja ular boleh jadi akan bungkam menutu mulut, akan tetapi anggauta perempuan mereka mana mungki n dapat menutup mulut terhadap kami?"

Kim Hong membayangkan apa yang terjadi.

Agaknya tiga orang iblis ini telah menangkap dan menyiksa anggauta para pemuja ular dan memaksanya mengaku sehingga karena tidak tahan akan siksaan yang tentu akan mengerikan, anggauta perempuan itu menceritakan segalanya.

"Jahanam busuk, engkau memang pegecut dan keji!"

Bentaknya dan ia sudah mencabut sepasang pisau terbangnya. Akan tetapi, sentuhan ranting di lengannya membuat Kim Hong menengok dan membaca gerakan ranting di tangan suhunya itu.

"Hadapi si kurus kering, awas terhadap Cakar Iblis Beracun dan serang jalan darah di bagian kedua legannya!"

Setelah membaca coretan ranting urunya, Kim Hong segera menggerakkan pisau terbangnya dan ia menyerang ke arah Toat-beng Mo-ong, orang ke tiga jari Sam Mo-ong.

Sepasang pisaunya beterbangan dan membuat gerakan bersilang menyerang dari kanan kiri!

"Hemm, mampuslah!"

Bentak Toat-Beng Mo-ong dan diapun melangkah mundur untuk menghin darkan diri, kemudian kedua tangannya bergerak dan terdengar angin bercuitan ketika kedua lengan itu bergerak dan kedua tangannya membentuk cakar yang warnya berubah-ubah, kadang merah dan kadang hitam!

Tahulah Kim Hong bahwa kedua tangan yang membentuk cakar itu berbahaya sekali, mengan dung racun yang dapat mematikan.

Sekali saja terkena hantaman atau cakaran kedua tangan itu dapat mendatang kan maut.

Maka, iapun menaati pesan gurunya dan sepasang pedangnya bergerak cepat menyambar"nyambar ke arah pergelangan tangan, siku dan pundak, ke arah jalan-jalan darah yang akan membuat kedua lengan itu lumpuh kalau terkena sedikit saja!

Sementara itu, melihat betapa To at-beng Mo-ong sudah bertanding melawan gadis itu dan mereka berdua yakin bahwa rekan mereka pasti menang, Hek-bin Mo-ong dan Siuaw-bin Mo-ong sudah menerjang dan menyerang kepada Hek-li ong Kwan Bhok Cu.

Hek-bin Mo-ong tidak menggunakan senjata.

Para datuk sesat yang ilmunya sudah tinggi memang lebih suka mengguna kan kedua tangan dari pada mengandalkan senjata.

Kedua tangan mereka telah "terisi"

Dan seperti juga sepasang tangan Toat-beng Mo-ong yang sudah menjadi sepasang cakar iblis yang amat berbahaya, juga Hek-bin Mo"ong yang menjadi orang pertama dari Sam Mo-ong, mengandalkan ilmu Jari Hitamnya.

Ilmu ini membuat kedua lengannya kebal dan berubah menghitam, dan dalam keadaan seperti itu, jari-jari tangannya ma mpu menya mbut senjata tajam lawan dan sekali saja tangannya mengenai tubuh lawan maka lawan akan terjungkal dan tewas keracunan.

Orang ke dua dari Tiga Raja Iblis itu, si gendut Siauw-bin Mo-ong, juga memiliki ilmu pukulan yang beracun, akan tetapi bedanya, kalau lengan rekannya berubah menghita m, kalau dia sudah mengerahkan ilmu itu, lengannya dari pangkal sampai ke ujung jari berubah merah.

Itu-lah ilmunya Jari Merah dan siapa terkena pukulannya, tubuh yang terkena akan terbakar hangus seperti tersentuh baja yang panas membara!

Si Naga Hitam menghadapi serangan dua orang pengeroyoknya dengan sikap tenang.

Dia tetap memegang ranting kecii yang biasanya dia pergunakan untuk "bicara"

Dengan muridnya.

Ranting itu hanya sebatang ranting kayu yang besarnya hanya seibu-jari, panjangnya sedepa.

Akan tetapi, di tangan orang sakti ini, ranting itu bagaikan berubah menjadi sebatang baja yang amat kuat dan lihai, yang dia pergunakan untuk menyerang Jalan darah kedua orang pengeroyoknya dengan totokan-totokan maut yang selain amat kuat mengandung tenaga sin-kang yang dahsyat, juga amat cepat.

Begitu ranting itu digerakkan, maka na mpak gulungan sinar kehijauan yang mengeluarkan bunyi bercuitan!

Dua orang datuk itu terkejut bukan main.

Belasan tahun yang lalu, tingkat kepandaian Si Naga Hitam ini masih sebanding dengan masing-masing dari mereka.

Akan tetapi sekarang, mereka maju berdua dengan keyakinan pasti akan mampu merobohkan pengkhianat kaum kang-ouw itu dengan mudah, tidak tahunya kini mereka berdua bahkan terancam oleh totokan-totokan maut yang a mat dahsyat!

Kiranya selama sepuluh tahun lebih ini, ilmu kepandaian Si Naga Hitam telah meningkat dengan amar hebatnya.

"Aarrgghhh..... !!"

Hek-bin Mo-ong mengeluarkan teriakan seperti gerengan seekor srigala atau biruang marah, dan kedua tangannya sudah mencapai warna hitam yang paling gelap, bahkan kini dari telapak tangannya mengepul uap yang kehitaman!

Diapun menerjang dengan dahsyat sekali, kedua lengannya dikembangkan dan jari-jari tangannya menyerang dari semua penjuru, bahkan menutup jalan keluar sehingga ke manapun lawan mengelak, dia pasti akan bertemu dengan jari tangannya!

Melihat serangan itu, bahkan Siauw-bin Mo-ong sendiri menjadi gentar kepada rekannya,khawatir kalau-kalau akan beradu tangan sendiri dengan Hek-bin Mo-ong sehingga dia akan menderita celaka.

Dia mundur dan hanya siap untuk mengeroyok kalau kese mpatannya tiba, karena serangan Hek-bin Mo-ong itu agaknya tidak akan dapat dielakkan lagi oleh Si Naga Hitam.

Akan tetapi, Si Naga Hitam sama sekali tidak mengelak.

Ranting di tangan kanan yang menyambut telapak kiri lawan, menotok ke tengah telapak tangan agak mengarah celah antara telunjuk dan ibu jari, sedangkan tangan kirinya menotok telapak tangan kanan lawan dengan sebuah jari telunjuk.

Itulah ilmu totokan lt-sin-ci (Satu Jari Sakti) yang amat hebat.

"Tuk-tukk.....!"

Adu tenaga melalui tangan itu membuat Hek-bin Mo-ong terhuyung ke belakang sedangkan Si Naga Hitam yang tergoyang sedikit yang membuktikan bahwa dalam hal tenaga sinkang, dia masih unggul dan lebih kuat dari pada si raksasa hitam!

Akan tetapi, karena kedua telapak tangan Hek-bin Mo-ong mengandung hawa beracun yang amat jahat, ranting di tangan Si Naga Hitam menjadi hangus dan patah-patah ujungnya, dan telunjuk kirinya yang menotok telapak tangan lawan dengan ilmu totok It-sin-ci, menjadi hitam kukunya!

Hek-bin Mo-ong sendiri terluka dalam karena tenaganya membalik dalam adu tenaga sinkang itu, maka dia hanya berdiri tegak sambil mengatur pernapasan dan untuk sementara tidak berani maju lagi.

Dala m keadaan seperti itu, kalau dia maju mengadu tenaga sin-kang lagi, luka di dalam tubuhnya akan menjadi semakin parah dan berbahaya.

Melihat betapa Hek-bin Mo-ong agaknya terluka dalam mengadu tenaga sinkang melawan Si Naga Hitam, Siuaw-bin Mo-ong terkejut sekali dan marah.

Akan tetapi, si gendut bulat ini cerdik.

Dia tahu bahwa kalau Hek-bin Mo-ong saja kalah kuat dalam tenaga sin-kang, dia sendiripun tidak akan mampu menandingi lawan dengan adu tenaga, maka diapun sudah menerjang dengan cepat.

Tubuhnya yang bulat itu seperti sebutir bola raksasa menggelinding dan menerjang ke arah Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu.

Kakek gagu ini menyambut dengan gerakan rantingnya yang sudah menjadi pendek karena ujungnya hangus dan patah tadi dan segera terjadi perkelahian yang seru antara mereka.

Sementara itu, perkelahian antara Kim Hong dan Toat-beng Mo-ong juga seru bukan main.

Diam-diam Kim Hong bersukur bahwa selama dua tahun ini, ia belajar dengan tekun di bawah gemble ngan gurunya yang juga bersungguh sungguh.

Kalau tidak, bagaimana mungkin ia mampu menahan serangan seorang datuk lihai seperti Toat-beng Mo-ong?

Orang kurus kering yang mukanya muram ini bukan main lihainya.

Setiap tangan nya bergerak, menyambar hawa pukulan dahsyat yang mendatangkan angin yang bercuitan.

Na mun, sepasang pedang di tangan Kim Hong juga merupakan senjata yang ampuh sekali.

Siang-hui-kiam (Sepasang Pedang Terbang) itu menyambar-nyambar bagaikan dua ekor burung walet menyambari kupu-kupu sehingga nampak dua gulungan sinar yang menyilaukan mata dan membingungkan Toat-beng Mo"ong.

Juga, gerakan gadis itu lincah dan cepat, tubuhnya lenyap menjadi bayangan hita m dan gerakan tangannya mengandung sin-kang yang cukup kuat.

Diam-dia m To at"beng Mo-ong heran dan kagum bukan main.

Belum pernah selama hidupnya dia bertemu lawan seorang gadis muda selihai ini.

Dan mengingat bahwa gadis ini murid Hek-liong Kwan Bhok Cu, dapat di bayangkan betapa lihainya sang guru.

Teringat akan ini, dia melirik ke arah kedua orang rekannya.

Diapun terkejut.

Rekannya yang paling lihai, Hek-bin Mo ong, berdiri seperti patung dan menga-tur pernapasan, tanda bahwa datuk ini telah terluka, sedangkan rekan kedua, Siauw"bin Mo-ong nampak menggelinding ke sana sini dikejar oleh bayangan ranting pendek di tangan Si Naga Hitam i-tu.

Celaka, pikirnya.

Dan hampir saja dia yang celaka.

Karena memecahkan perhatiannya ke arah dua orang rekannya, hampir saja lehernya ditembus sebatang di antara sepasang pedang Kim Hong!

Hanya kepekaannya yang terlatih saja menyelamatkan dengan cepat miringkan kepala.

Namun tetap saja ujung daun telinga kirinya disambar senjata tajam sehingga terluka dan berdarah!

Pada saat itu, juga tubuh Siuaw-bin Mo-ong terkena tendangan kaki Hek-liong Kwan Bhok Cu.

Ketiga Sam Mo-ong segera berlompatan ke belakang dan maklumlah mereka bahwa kalau perkelahian dilanjutkan, mereka bertiga akan kalah.

"Kwan Bhok Cu!"

Kata Hek-bin Mo-ong dengan marah.

"Saat ini kami mengakui keunggulan engkau dan muridmu. Salah kami yang selama ini tidak memperdalam ilmu sehingga terkejar olehmu. Akan tetapi, jangan harap engkau akan mampu menyembunyikan diri lagi. Kami akan menuntut kepada Beng-kauw! Sampai jumpa!"

Tiga orang kakek itu berlompat an dan turun dari Bukit Nelayan.

Si Naga Hitam sendiri lalu duduk bersila dan memejamkan mata, mengatur pernapas an karena dalam perkelahiannya mengadu tenaga sin-kang dengan Hek-bin Mo-ong tadi, isi dadanya terguncang dan sedikit banyak dia sudah terkena hawa beracun dari tangan hitam Hek-bin Mo-ong.

Melihat ini, Kim Hong tidak mengganggu gurunya, bahkan iapun duduk bersila di dekatnya dan menghimpun hawa murni karena perkelahian melawan datuktadi menguras tenaga sin-kangnya.

Setelah mendengar gurunya bergerak, Kim Hong membuka matanya dan mereka saling pandang.

Si Naga Hitam mengangguk dan tersenyum, lalu menggerakkan ranting yang tinggal pendek itu di udara.

Kim Hong memperhatikan dan gurunya menulis.

"Aku girang melihat ke majuanmu sehingga engkau mampu menandingi Toat-beng Mo-ong. Kalau engkau sudah minum darah Ang-thouw-hek-coa, engkau tentu tidak akan takut menghadapi pukulan beracun ke tiga Sam Mo-ong tadi. Bawa ke sini ular hitam kepala merah itu. Cepat!"

Kim Hong menahan pertanyaan yang menyesak di dadanya, dan menaati perintah gurunya. Keranjang kecil berisi ular hitam keci itu diletakkan di depan gurunya yang masih duduk bersila.

"Ambil sebuah cawan besar dari peti obatku ke sini."

Gurunya menulis lagi dan perintah inipun cepat dilaksanakan oleh Kim Hong.

Si Naga Hitam lalu memilih beberapa obat bubuk berwarna putih dan merah, menuangkan seba gian dari bungjs-an obat itu ke dalam cawan besar.

Kemudian, dia membuka tutup keranjang dan begitu ular hitam kecil itu berdiri dan kepalanya keluar dari keranjang, secepat kilat tangannya menyambar dan dia telah menangkap ular itu dengan jepitan ibu jari dan telunjuk kanannya pada leher ular!

Kemudian, jari-jari tangan lainnya menjepit tubuh ular itu dari leher, lalu ditarik ke bawah.

Kulit tubuh itu pecah dan semua darah dan benda cair yang berada di tubuh ular itupun keluar, ditampung kedalam cawan yang sudah diisi dua macam obat bubuk tadi.

Ular itu seperti diperas, dan kini tubuh yang mati itu tinggal kulit dan daging yang kering dan gepeng!

Kim Hong bergidik ketika gurunya mengaduk cairan yang setengah cawan bercampur obat itu lalu disodorkan ke padanya, ia harus minum cairan darah dan obat itu!

Baru melihatnya saja ia sudah hampir muntah!

Gurunya tersenyum dan menulis di udara.

"Jepit hidungmu, pejamkan matamu, dan minum cepat!"

Kim Hong tidak berani membantah, ia tahu bahwa darah itu tentu berbahaya bukan main karena ular itu merupakan ular yang sangat berbisa.

Darahnya tentu mengandung bisa yang amat berbahaya, dan kini gurunya minta agar ia meminumnya!

Akan tetapi, ia percaya sepenuhnya kepada gurunya.

Dengan tangan kanan memegang cawan, ia menggunakan tangan kiri menjepit hidungnya dan memejamkan matanya.

Kini ia tidak dapat melihat lagi, tidak dapat mencium lagi, maka perasaan muakpun berkurang banyak, hanya yang tersisa dalam ingatan saja.

Memang segala macam ke muakan timbul melalui peng lihatan dan penciuman, juga pendengaran walaupun tidak sekuat yang pertama.

Rasa tidak enak di mulutpun akan banyak berkurang apabila hidung dipencet dan mata dipejam.

Kim Hong menuangkan isi cawan dalam tenggorokannya dan menelannya.

Cairan itu tertelan semua dan ia me lepaskan cawan kosongnya ke atas tanah.

ia membuka mata dan bertemu pandang dengan gurunya, ia tersenyum.

Rasa masam dan manis, juga amis, memenuhi mulutnya.

Tiba-tiba ia memejamkan atanya, kepalanya berdenyut-denyut pusing, pandang matanya berkunang, tubuh nya terasa panas seperti terbakar dan iarpun ia mencoba untuk menahan, tetap saja ia tidak kuat karena tubuhnya seperti hanyut dan iapun terguling roboh dan pingsan!

Setelah ia siuman, ia mendapatkan dirinya sudah berada di atas pembaringan, di dalam kamarnya, dan gurunya duduk di bangku.

Bau yang aneh memenuh hidungnya dan melihat ada asap mengepul di sudut kamar, ia tahu bahwa gurunya sedang memasak sesuatu yang menimbulkan bau itu.

Melihat muridnya siuman, Naga Hitam lalu menulis di udara.

"Aku akan memberimu minuman untuk meredakan pengaruh darah beracun ular, akan tetapi akan bangkit kekuatan yang mungkin sukar kau kendalikan maka engkau akan kutotok dan kaki tanganmu kuikat. Jangan khawatir, itu adalah akibat bekerjanya racun dan obat. Siapkah engkau?"

Kim Hong masih merasa betapa tubuhnya panas seperti dibakar dari dalam.

Melihat ucapan yang ditulis gurunya, ia hanya dapat mengangguk, siap menghadapi apa saja untuk mematuhi gurunya.

ia pasrah sepenuhnya karena yakin bahwa semua itu dilakukan gurunya untuk kebaikan dirinya.

Dengan gerakan yang amat cepat Hek-liong Kwan Bhok Cu menggerakka ranting baru yang berada di tangannya dan menotok tujuh jalan darah di tubuh muridnya yang seketika merasa betapa seluruh tubuhnya tidak mampu digerakkan.

Kemudian, gurunya mengambil sebuah tali dari kain sutera yang kuat mengikat pergelangan kedua kaki tangannya dengan kuat sehingga andai kata ia tidak ditotok sekalipun, ia tidak akan mampu menggerakkan kaki dan tagannya.

Bahkan ia tidak dapat mengerahkan tenaga sama sekali.

"Sekarang minum kuah ini sampai habis,"

Gurunya menulis, lalu mengambil poci obat yang sudah sejak tadi di masak dan kini masih hangat, menuang isinya setengah mangkok lebih, kemudian dia membantu muridnya duduk dan dekatkan mangkok pada mulut Kim Hong.

Gadis itu dengan patuh minum obat yang terasa pahit dan berbau aneh, akan tetapi tidaklah memuakkan seperti darah ular tadi.

Kemudian ia direbahkan kembali.

Rasa panas masih mem bakar seluruh tubuhnya dan ia mendengar suara gemuruh di kedua telinga.ia memandang wajah gurunya dan Naga Hitam itu menulis lagi di udara.

"Pejamkan mata mu dan tidurlah."

Kim Hong memejamkan matanya.

Perlahan-lahan, panas yang membakar itu mulai mereda, dan makin nyaman rasanya, akan tetapi suara dalam kepalang semakin gemuruh sampai hampir tak tertahankan.

Kemudian, terasa olehnya dalam perut di bawah pusar bergolak, bergerak seolah-olah ada sesuatu yang hidup di sana.

ia yang sudah mempelajari menggunakan tenaga sin-kang, tahu bahwa di dalam tantiang di bawah pusa nya terjadi pergolakan tenaga yang dahsyat sekali, ia berusaha mengendalikan tenaga itu, akan tetapi gagal.

Tenaga itu seperti liar dan menerobos ke seluruh tubuhnya dan ia mendengar suara tulang-tulang atau otot"ototnya berkeretakan!

Dan ia merasa betapa semua jalan darahnya terbuka, bahkan yang tadinya tertotok kini terbuka dengan sendirinya!

Tenaga dahsyat itu memaksa tangan kakinya bergerak, matanya terbelalak, hidungnya kembang kempis dan kedua telinganya juga menjadi peka sekali.

ia melihat gurunya bangkit berdiri dan memandang kepadanya, ranting di tangan.

Kaki dan tangannya meronta dari ikatan, Kim Hong maklum bahwa suatu tenaga yang dahsyat dan liar.

ia mencoba untuk mengendalikan dan tidak menggerakkan tangan kaki, namun semua usaha nya sia-sia.

Bagaikan memiliki kehidupan sendiri di luar kekuasaan hati dan akal pikirannya, kaki tangannya bergerak dan......

semua tali sutera yang mengikat pergelangan kaki tangan nya putus!

Dan iapun seperti dilontarkan ke atas, meloncat turun dari pembaringan, kaki tangannya bergerak-gerak seperti orang kesetanan.

Ketika ia memandang gurunya dengan tubuh bergoyang-"goyang.

gurunya cepat menggerakkan ranting di tangan menulis di udara.

"Cepat salurkan tenaga itu untuk menyerangku!"

Memang ada dorongan hebat dari dalam untuk mempergunakan tenaga itu, tenaga dahsyat yang seolah memaksanya untuk menggera ikan kaki tangan, mempergunakannya dalam gerakan yang teratur.

Akan tetapi, Kim Hong masih menyadari bahwa ia tidak boleh menyerang gurunya.

Andaikata di situ terdapat musuh, ketiga Sam Mo"ong umpamanya, tentu tanpa diperintah lagi ia sudah menyerang mereka, menggu nakan tenaga yang bergolak di dalam tubuhnya itu.

Akan tetapi gurunya?

Tidak, ia tidak akan menyerang gurunya!

Karena pertentangan anta ra dorongan tenaga itu dan kesadaran batinnya, tubuhnya sema kin bergoyang-goyang tidak karuan, seolah ada binatang buas di dalam tubuhnya yang meronta dan mengamuk minta dilepaskan dari kurungan.

Melihat ini, tiba-tiba Hek-liong Kwan Bhok Cu menggerakkan ranting di tangannya menyerang!

Terdengar suara bercuitan nyaring ketika ranting itu meluncur dan menusuk ke arah mata Kim Hong!

Tentu saja gadis itu terkejut dan secara otomatis, ia mengelak dengan mendoyongkan tubuh ke kiri.

Dan secara refleks pula, tangannya menangkis dengan gerakan berputar.

"Wuuut, plakk!"

Dan gadis itu terkejut bukan main.

ia merasa betapa gerakannya ringan bukan main, dan ketika tangannya menangkis ranting, ia merasa betapa tangannya membentur benda yang amat kuat sehingga ia terhuyung ke samping, akan tetapi gurunya juga terhuyung!

Dan gurunya sudah menyerang lagi, lebih cepat dan dahsyat.

Karena serangan gurunya itu merupakan serangan maut, terpaksa Kim Hong melawannya.

Gadis yang amat cerdik ini tidak merasa kaget dan heran lagi karena kini ia tahu bahwa ia dikuasai tenaga mujijat akibat racun dan obat, dan gurunya melihat bahwa jalan satu-satunya agar ia dapat mengendalikan tenaga itu adalah dengan jalan mempergunakan tenaga itu dalam gerakan silat yang sungguh-sungguh!

Terjadilah pertandingan yang amat hebat.

Karena saling mengenal jurus dan gerakan masing-masing dalam me nyerang dan menangkis, maka mereka seperti sedang berlatih saja.

Akan tetapi, Si Naga Hitam mengerahkan semua tenaganya untuk mengimbangi tenaga dahsyat Kim Hong ketika gadis itu mulai membalas serangannya dan memang tenaga dari dalam tubuh gadis itu luar biasa dahsyatnya.

Setelah lewat limapuluh jurus, Kim Hong mulai dapat mengendalikan tenaga dahsyat itu.

Terasa betapa tenaga itu mulai jinak dan menurut kehendak hatinya.

Setelah merasa benar bahwa ia mampu mengendalikannya, iapun meloncat kebelakang dan berdiri tegak, tidak lagi kaki tangannya bergerak walaupun ia masih merasakan getaran di dalam tubuhnya.

"Cukup, suhu. Teecu telah dapat mengendalikannya!"

Katanya, girang dan terharu melihat betapa gurunya yang tadi melawan sungguh-sungguh itu nampak kelelahan dan mukanya basah oleh keringat.

Hek-liong Kwan Bhok Cu berhenti pula dan dia menghela napas panjang, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar"sinar.

Dia menggunakan lengan baju kiri untuk menghapus keringatnya, kemudian rantingnya bergerak menulis di udara.

"Kita berhasil! Mulai saat ini, bukan saja engkau akan kebal terhadap segala macam racun, juga tenaga sin-Kangmu menjadi amat kuat. Aku yakin engkau akan mampu mewakili gurumu mela kukan sebuah tugas yang berat."

Kim Hong menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

"Teecu siap melaksanakan perintah suhu, bagaimana beratpun!"

Gurunya menggunakan ujung ranting menyentuh pundak muridnya.

Ketika gadis itu mengangkat muka memandangnya, dia memberi isyarat kepada Kim Hong untuk memasuki pondok mereka.

Setelah mereka duduk saling berhadapan, sebelum gurunya memberi perintahnya, Kim Hong mempergunakan kesempatan itu untuk mengeluarkan dorongan hatinya yang timbul sebelum ia minum darah ular tadi, yang timbul oleh pertemuan mereka dengan Sam Mo-ong.

"Suhu, harap suka memaafkan tee-cu atas kelancangan teecu ini. Ketika Sam Mo-ong muncul dan mendengarkan ucapan mereka terhadap suhu, timbul keinginan tahu yang mendesak dalam hati teecu. Benarkah suhu dahulu tidak gagu dan mengapa sekarang menjadi gagu? Dan mengapa pula mereka mengatakan suhu telah berkhianat kepada dunia kang-ouw ? Suhu adalah satu-satunya orang yang dekat dengan teecu, sudah teecu anggap sebagai pengganti orang tua. Teecu ingin sekali mengetahui riwayat suhu."

Hek-liong Kwan Bhok Cu menghela napas panjang dan wajahnya yang masih tampan itu nampak muram, lalu dia memejamkan matanya.

Sampai beberapa la manya dia berdiam diri, dan Kim Hong tetap menanti.

Akhirnya, Si Naga Hitam menggerakkan ranting di tangannya, menulis,, diikuti penuh perhatian oleh muridnya.

Kim Hong tidak mau melepaskan sehurufpun dari tulisan gurunya karena gurunya sedang menceritakan riwayat singkatnya melalui tulisan itu.

Dengan singkat Si Naga Hitam mem buka rahasia dirinya kepada muridnya, pada hal selama bertahun-tahun ini dia menyembunyikan atau merahasiakannya.

Hal ini adalah karena dia memang merasa sayang sekali kepada muridnya itu, yang dianggap seperti anaknya sendiri.

Dalam kehidupannya yang kosong dan kering selama bertahun-tahun ini, dia merasa hidupnya ada artinya kembali setelah Kim Hong menjadi muridnya.

Gadis itu bagaikan sinar terang yang sedikit banyak menerangi pula hatinya yang gelap.

Beberapa tahun yang lalu dia masih menjadi seorang tokoh dari perkumpulan rahasia Beng-kauw, sebuah perkumpulan golongan hitam yang sesat dan aneh.

Karena Kaisar Beng Ong pernah mengirim pasukan menyerang dan mengobrak abrik sarang Beng-kauw, maka timbul dendam terhadap kaisar itu dan pada suatu hari, Kwan Bhok Cu mendapat tugas dari Bengkauw untuk membunuh Kaisar Beng Ong.

Dia mendapat kepercayaan ini karena dia merupakan orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga hidup membujang sejak muda sehingga andaikata dia gagal dalam tugasnya dan tewas, tidak ada anggauta keluarganya yang akan kehilangan.

Pada suatu malam yang gelap dan dingin, Kwan Bhok Cu berhasil menyusup ke dalam istana.

Dalam pencariannya terhadap Kaisar Beng Ong, dia melihat seorang selir kaisar yang membuatnya tergila-gila.

Dia menangkap selir itu untuk dipaksa menunjukkan di mana adanya kaisar.

Akan tetapi, selir itu bahkan membuat dia tergila-gila karena selir itu luar biasa cantiknya, ia adalah selir yang dikenal sebagai Puteri Harum, yaitu Yang Kui Hui.

Wanita cantik ini baru sebulan menjadi selir Kaisar Beng Ong, atau jelasnya, dirampas dari suaminya, yaitu Pangeran Shou dan dipaksa menjadi selir kaisar.

Mendengar betapa pria tampan dan gagah itu hendak membunuh kaisar, Yang Kui Hui membujuk nya agar jangan melakukan perbuatan nekat dan berbahaya itu.

Kwan Bhok Cu terbujuk, bahkan jatuh cinta kepada Yang Kui Hui.

Wanita ini, demi menyelamatkan nyawa kaisar, rela menyerahkan diri kepada Kwan Bhok Cu.

Mereka mengadakan hubungan dan Kwan Bhok Cu disembunyikan oleh Yang Kui Hui.

Sampai tiga hari dia berhasil bersembunyi.

Pada hari keempat, atas pemberitahuan Yang Kui Hui, dia disergap sepasukan pengawal.

Kwan Bhok Cu menggunakan kepandaiannya menyelamatkan diri keluar dari istana.

Tentu saja dia dianggap pengkhianat oleh Beng-kauw, juga oleh para tokoh kangouw, apa lagi setelah pasukan pemerintah kembali menyergap Beng-kauw dan orang-orang kangouw yang sedang megadakan pertemuan di markas Beng-kauw Pasukan dapat mengetahui sarang baru itu karena diberi tahu oleh Yang Kui hui.yang berhasil mengorek rahasia dari mulut Kwan Bhok Cu yang tergila-gila kepadanya.

"Demikianlah,"

Kwan Bhok Cu mengakhiri ceritanya melalui tulisan di udara.

"orang-orang kang ouw memusuhi ku dan hendak membunuhku. Para pimpinan Beng-kauw mengusirku dan tidak mengakui aku lagi, akan tetapi masih melindungiku dengan pernyataan bahwa mereka telah membu nuhku. Aku terpaksa menyembunyikan diri dan menjadi orang gagu. Siapa kira, hari ini rahasia ku diketahui Sam Mo-ong yang tentu akan menuntut kepada Beng-kauw, Keselamatanku terancam, aku harus pergi sekarang juga dari sini."

"Akan tetapi, suhu. Mengapa kita harus lari? Biar kita lawan siapa saja yang hendak membunuh suhu!"

Kata Kim Hong marah.

"Tidak mungkin kita mampu menandingi para tokoh Beng"kauw. Mereka terlalu banyak. Juga aku tidak mau memusuhi mereka, aku dibesarkan di antara mereka. Aku tidak ingin membuat engkau ikut menjadi korban. Di samping itu, aku mempunyai tugas untukmu yang harus kau laksanakan."

Tulis Kwan Bhok Cu.

Kim Hong merasa terharu membaca tulisan tentang riwayat suhunya itu ia dapat membayangkan ketika suhunya menangkap selir itu untuk dipaksa menunjukkan tempat di mana kaisar berada, betapa selir yang cantik jelita telah menjatuhkan hati suhunya yang selalu hidup membujang.

Karena jatuh cint kepada selir kaisar, suhunya kehilangan segala-galanya, bahkan diasingkan dari Beng-kauw, dimusuhi orang-oran kangouw.

"Katakan, apakah tugas itu, suhu ? Teecu akan melaksanakan semua perintah suhu."

"Banyak hal terjadi di kota raja,"

Tulis Si Naga Hitam.

"Panglima An Lu Shan dari Peking telah menyerbu dan menguasai kota raja Tiang-an. Kaisar melarikan diri ke barat, ke Se-cuan. kabarnya, dalam perjalanan mengungsi itu, selir Yang Kui Hui telah dijatuhi hukuman mati, demikian pula saudaranya, Menteri Yang Kok Tiong. Kaisar terlunta-lunta diSe-cuan dan mungkin sedang menghimpun kekuatan. Ada desas-desus bahwa pusaka istana yang menjadi andalan kekuasaan kaisar, yaitu Giok-ong-cu (Mestika Hong Kemala) hilang, sekarang, aku minta agar engkau suka membantu kaisar, kalau mungkin mencari dan merampas kembali pusaka itu dan mengembalikan kepada kaisar yang berhak. dan juga, engkau harus membantu Kerajaan Tang untuk bangkit kembali, membantu untuk menghancurkan pemberontak An Lu Shan itu."

Diam-diam Kim Hong merasa heran mengapa gurunya demikian sungguh-sungguh membela kaisar.

Agaknya tidak mungkin kalau hal ini didorong oleh kesetiaannya kepada kaisar.

Bukankah pernah gurunya itu bahkan hampir membunuh Kaisar Beng Ong?

Ataukah gurunya ingin menebus dosa, dan juga membela kematian Yang Ku i Hui yang tetap dicintanya?

ia tidak mengerti dan tidak mampu mencari jawabannya, juga tidak berani bertanya kepada gurunya yang nampak sudah sedemikian sedih nya.

"Baik, suhu. Teecu akan menaati perintah suhu. Lalu, kapan kiranya kita dapat bertemu dan berkumpul kembali?"

Si Naga Hitam tersenyum dan menulis.

"Jangan tanyakan itu. Kalau Tuhan masih memberiku usia panjang, suatu saat kita pasti akan saling jumpa. Aku tidak akan berada di sini lagi karena tak lama lagi tentu banyak tokoh kang-ouw akan menyerbu ke sini."

Setelah berkemas, membawa buntalan pakaian dan menerima sekantung berisi beberapa potong emas dan perak sebagai bekal perjalanan, Kim Hong berpisah dari gurunya, meninggalkan Bukit Nelayan, dan menyusuri Sungai Huai menuju ke barat, ia mempunyai dua mac m tugas dalam hidupnya, yaitu pertama ia akan pergi mencari ayahnya yang belum pernah dilihat seumur hidupnya, ia hanya tahu dari ibunya bahwa ayahnya bernama Can Bu, seorang laki-laki yang gagah perkasa, akan tetapi ia tidak tahu di mana ayahnya berada.

Akan tetapi mengingat cerita ibunya bahwa ayahnya adalah seorang perwira, besar kemungkinan ia akan mendapatkan keterangan tentang ayahnya di kota raja.

Sayang sekali, sekarang terjadi pergolakan di kota raja, bahkan kaisarnya melarikan diri dan kota raja diduduki oleh pemberontak An Lu Shan.

Adapun tugas kedua adalah tugas yang diperintahkan gurunya kepadanya, yaitu membantu kaisar, menentang An Lu Shan, dan membantu kembalinya Giok-hong-cu yang hilang.

Berita tentang hilangnya mestika burung Hong Kemala telah tersebar di dunia kangouw, menarik perhatian para tokoh kangouw karena semua orang maklum bahwa benda itu merupakan pusaka yang amat berharga bahkan menjadi tanda kekuasaan seorang kaisar!

Tentu saja setiap orang ingin memilikinya.

Kaisar sendiri dan juga Panglima Kok Cu terkejut dan terheran-heran mendengar desas-desus lenyapnya pusaka itu tersiar di luar.

Padahal, hanya mereka berdua yang mengetahuinya, bahkan, telah dibuatkan yang palsu untuk menggantikan yang hilang.

Mereka berdua tidak tahu bahwa ketika mereka bicara tentang hilang nya pusaka itu, pembicaraan mereka terdengar oleh seorang thai-kam.

Thaikam ini memang sudah menaruh curiga ketika Panglima Kok menggeledah seluruh rumah Menteri Yang Kok Tiong, bahkan menggeledah pakaian yang mene mpel di mayat bekas menteri itu!

Dan thaikam itulah yang menyebarkan berita kehilangan pusaka itu keluar.

Pemuda itu tidak pantas sekali menjadi pengemis.

Dia berusia duapuluh satu tahun, mukanya bundar dan bersih, alis matanya tebal dan sinar matanya tajam, wajah yang tampan dan tubuh yang tegap sedang itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia seorang pemuda yang lemah atau pemalas, yang pantas mengemis.

Sama sekali tidak!

Bahkan biarpun dia mengenakan pakaian yang penuh tambalan, namun pakaiannya bersih dan gerak geriknya halus lembut, bahkan agung.

Akan tetapi kenyataannya, di berada di kuil tua yang tak dipakai lagi itu, tempat yang biasanya hanya menjadi tempat persinggahan para pengemis, dengan pakaian tambal"tambalan, duduk bersila di lantai berhadapan dengan seorang pengemis lain yang usianya sudah enam puluh dua tahun, tubuhnya kurus kering dan bongkok, rambutnya riap-riapan kelabu, jenggotnya panjang, juga pakaiannya penuh tambalan.

Akan tetapi, seperti juga pengemis muda tadi, biar pakaiannya penuh tambalan, namun pakaian itu bersih, dan tubuhnya juga bersih, tanda bahwa dia sering kamar mandi membersih kan tubuhnya.

Mereka memang pengemis.

Akan tetapi mereka memang pengemis istimewa, guru dan murid yang luar biasa karena pengemis tua itu terkenal sekali di dunia persilatan.

Dia adalah Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti) yang namanya terkenal dari Tiang-an (kotaraja) sampai ke Lok"yang, ibu kota ke dua.

Dan muridnya itupun seorang pengemis aneh, karena dia adalah seorang pemuda bangsawan, putera mendiang Menteri Yang Kok Tiong, keponakan mendiang selir kaisar Yang Kui Hui yang terkenal!

Pemuda itu adalah Yang Cian Han yang seperti telah kita ketahui, dua tahun yang lalu menjadi murid pengemis tua itu dan ke manapun gurunya pergi, dia ikut dan juga dia hidup sebagai seorang pengemis.

Pengemis aseli karena dia diharuskan mengemis untuk mendapatkan uang atau makanan bagi mereka berdua!

Dapat dibayangkan betapa hebat perubahan hidup yang dialami Cin Han.

Tadinya, sebagai putera Menteri Yang Kok Tiong, dia hidup berenang dalam kemuliaan dan kemewahan.

Pakaian apapun yang dikehendaki, makanan mahal bagaimanapun yang diinginkan, dia tinggal perintah saja dan semua itu akan dihadapkan kepadanya.

Apa lagi mengemis!

Makan makanan sederhanapun belum pernah dia rasakan.

Selalu daging dan sayur pilihan, yang serba mahal dan dimasak oleh koki yang pandai.

Sekarang, untuk dapat makan bersama gurunya, dia diharuskan mengemis makanan seadanya atau uang pembeli makanan yang murah.

Terpaksa Cin Han menaati perintah gurunya.

Hanya satu hal dia pantang, yaitu menerima makanan bekas!

Biar murah dan sederhana, makanan yang cliberikan kepadanya haruslah baru dan bukan sisa!

"Suhu, teecu mohon suhu clapat mengijinkan teecu pergi.

Teecu berjanji kan segera kembali menemani clan mela-ani suhu setelah teecu tahu apa yang telah terjacli clengan ayah clan ibu teecu,"

Pemuda itu berkata dengan suara memohon. Akan tetapi, kakek pengemis itu menggeleng kepalanya.

"Tenang dan sabarlah, Cin Han. Apakah percuma saja sela ma ini aku mengajarkan ketenangan clan kesabaran kepaclamu?"

Tegur kakek itu.

Cin Han menghela napas.

Tentu saja selama dua tahun ini, selain mendapatkan tambahan ilmu silat yang hebat dari gurunya, da juga menclapatkan ha l lain yang amat berharga.

Kehiclupan sebagai pengemis membuat dia dapat merasakan kesengsaraan orang-orang yang miskin dan kelaparan, membuat dia menjacli rendah hati, dan biarpun dahulu dia bukan seorang pemuda bangsawan yang sombong, namun semua sisa keangkuhan sebagai bangsawan, kini terhapus oleh kehiclupan sebagai pengemis selama dua tahun ini.

"Suhu tentu telah mengetahui keadaan hati teecu. Teecu cukup sabar, akan tetapi, kalau teecu tidak cepat menyelidiki keadaan ayah ibu teecu, bukankah teecu menjadi seorang anak yang tidak berbakti terhadap orang tua? Tentu suhu juga tidak suka mempunyai seorang murid yang murtad kepada ayah ibu sendiri."

"Hemm, engkau tidak perlu memancing hatiku, Cin Han. Engkau tahu, peristiwa di kota raja adalah peristiwa pemberontakan, perang dan kita sama sekali tidak dapat mencegahnya. Bagaima na mungkin kita mencegah gerakan ratusan ribu pasukan? Tuhan Maha Adil, siapa menanam dia menuai dan memakan hasil tanamannya. Itulah huku m karma, Cin Han. Kalau orang tuamu dahu lu menana m bibit yang baik, tentu sekarang memetik hasil buah dari tanaman itu dan menikmati nya, kalau sebaliknya, jangan engkau penasaran! Aku mendengar bahwa Kaisar telah melarikan diri ke barat, dan kota raja telah diduduki pemberontak An Lu Shan. Engkau tidak dapat mela kukan apapun untuk me ngubahnya."

"Akan tetapi, suhu. Teccu hanya ingin melihat keadaan ayah dan ibu. Siapa tahu, mereka membutuhkan bantuan teccu."

"Baik, engkau boleh meninggalkan ku, akan tetapi engkau harus lebih dahulu menyempurnakan ilmu tongkat yang terakhir kuajarkan kepadamu."

"Tai-hong-pang (Tongkat Angin Ribut)? Wah, sukar sekali, suhu...."

"Tidak ada kata sukar bagi orang yang penuh semangat. Kalau engkau sudah menyempurnakan ilmu tongkat itu sehingga mampu menandingi ku selama lima puluh jurus dan tidak sampai roboh olehku, baru engkau boleh pergi. Kalau engkau diam-diam meninggalkan aku, aku akan mencarimu dan membunuhmu! Nah, aku sudah bicara, laksanakan!"

Melihat sikap gurunya, Cin Han tidak berani membantah.

Dan saat itu juga, dia pergi ke belakang kuil tua dan berlatih ilmu silat tongkat yang baru dipelajarinya itu dengan tekun.

Ilmu tongkat itu sukar bukan main, akan tetapi hasilnya juga luar biasa.

Kalau gurunya yang memainkan tongkatnya dengan ilmu tongkat Angin Ribut itu, maka angin menyambar"nyambar seperti badai menyerang!

Dia sudah dapat membuat tongkatnya bergerak mendatangkan angin kuat, akan tetapi belum dapat sambung menyam bung seperti kalau suhunya yang bersilat.

Siang malam Cin Han berlatih ilmu tongkat itu, hanya berhenti untuk makan kalau sudah lapar sekali dan tidur kalau sudah mengantuk sekali.

Diapun tiada hentinya minta petunjuk gurunya.

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 2

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert