Eps 2 Pedang Awan Merah - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Awan Merah - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Awan Merah - Kho Ping Hoo.
Adiknya masih marah-marah dan tidak memperdulikan dia, maka dia juga marah dan kini dia hendak keluar dari kota dan mencari Sia Han Lin!
Ingin ditumpahkan kemarahannya kepada pemuda itu dan dia tidak takut.
Kalau perlu akan ditantangnya pemuda itu!
Dengan langkah lebar dia keluar dari pintu gerbang kota, tidak tahu bahwa mulai dari pintu gerbang itu sampai keluar kota, dia dibayangi orang, yang membayanginya adalah Mulani.
Gadis ini segera mengenalnya sebagai pemuda yang bersama adik perempuannya telah menghajar pemuda berandalan anak buah Thian Te Siang-kui di rumah makan.
Dia tertarik sekali.
Bukankah Thian Te Siang-kui mencari hendak menghajar pemuda ini dan adiknya, kemudian mereka dibela oleh Sia Han Lin?
Siapa tahu, pemuda baju putih ini hendak menemui Sia Han Lin.
Maka, ia lalu mambayangi.
Kok Han yang penasaran dan marah itu tiba di tepi sebuah hutan.
Tiba-tiba muncullah Thian Te Siang-kui yang berloncatan tiba di depannya.
Thian Te Siang-kui yang tinggi besar itu tertawa girang melihat dan mengenal pemuda itu.
"Ha-ha-ha, ini namanya kelinci menyerahkan diri kepada harimau, ha-ha-ha!"
Kata Thian-kui.
"Orang muda, sekarang engkau tidak akan terlepas dari tangan kami. Engkau harus menebus perlakuanmu terhadap anak buah kami,"
Kata Tee-kui.
Kok Han terkejut sekali melihat mereka.
Melawan seorang dari mereka saja dia kalah, apa lagi melawan keduanya.
Akan tetapi, dia adalah pemuda yang tinggi hati, tidak pernah mau mengaku kalah, akan tetapi juga pemberani.
"Thian Te Siang-kui, mau apa kalian menghadangku?"
Bentaknya, sedikitpun tidak kelihatan takut.
"Ha-ha-ha, kalau tadi aku menghendaki engkau dan adikmu berlutut minta ampun kepada kami,"
Kata Thian-kui.
"Akan tetapi sekarang, selain menyerah dan minta ampun, juga engkau harus mengatakan, di mana kami dapat menemukan Sia Han Lin."
"Persetan dengan Sia Han Lin! Aku tidak tahu dia berada di mana!"
Kata Kok Han yang masih mendongkol kepada Han Lin karena pemuda itulah yang membuat adiknya marah-marah kepadanya.
Pula, andaikata dia tahu, dia tidak akan memberitahu, karena dia khawatir kalau-kalau Pedang Awan Merah akan dirampas oleh sepasang siluman ini.
"Hemm, lagakmu sombong sekali!"
Kata Tee-kui.
"Hayo cepat engkau menyerah dan berlutut!"
Tee-kui memegang gagang sepasang goloknya dengan sikap mengancam. Akan tetapi mendengar bentakan ini, Kok Han membusungkan dadanya.
"Menyerah? Aku tidak bersalah apapun juga terhadap kalian. Yang bersalah adalah anak buah kalian, mengapa aku harus berlutut dan menyerah? Selama nyawaku masih terkandung badan, aku tidak sudi menyerah!"
Berkata demikian, Kok Han juga memegang gagang pedangnya, siap melawan.
Mulani bersembunyi sambil mengintai dari balik semak-semak, memandang kagum.
Boleh juga pemuda itu, pikirnya.
Demikian gagah berani.
Thian Te Siang-kuo marah melihat sikap Kok Han.
Tee-kui lalu mencabut goloknya dan berkata.
"Orang muda sombong, engkau memang sudah bosan hidup!"
Melihat ini, Kok Han juga mencabut pedangnya.
"Lebih baik mati sebagai harimau yang melawan sampai titik darah terakhir dari pada hidup seperti babi yang diperlakukan sesukanya olehmu!"
"Sombong...!"
Thian-kui berteriak.
"Tee-kui, tangkap dia, aku ingin memaksanya untuk berlutut dengan menyiksanya!"
Tee-kui lalu menyerang dengan goloknya.
Kok Han menggerakkan pedangnya dan siap melawan mati-matian.
Terjadilah pertandingan yang berat sebelah.
Bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Kok Han masih jauh untuk dapat mengimbangi permainan golok lawannya.
Bukan saja permainan pedangnya belum dapat mengimbangi, juga terutama sekali dalam adu kekuatan kalau senjata mereka bertemu, tenaganya jauh kalah kuat oleh si katai ini.
Belum sampai dua puluh jurus, pedangnya terpental lepas dari tangannya dan sebuah tendangan kaki kecil itu membuatnya jatuh terjengkang di dekat Thian-kui.
Si jangkung ini lalu menyambutnya dengan totokan dan tubuh Kok Han lemas tak berdaya lagi.
Dua orang itu tertawa bergelak.
Akan tetapi Kok Han yang rebah terlentang memandang dengan mata terbelalak penuh keberanian.
"Hayo kau minta ampun, barangkali kami akan dapat mengampunimu!"
Kata Thian-kui sambil tertawa mengejek.
"Tidak sudi, lebih baik mati!"
Jawab Kok Han dengan nekat.
"Uh, orang sombong macam ini memang tidak ada gunanya dibiarkan hidup!"
Bentak Tee-kui dan dia mengangkat goloknya untuk membacok.
"Siang-kui, tahan dulu!"
Tiba-tiba Mulani muncul sambil berseru nyaring.
Golok yang sudah diangkat itu, perlahan-lahan diturunkan kembali.
Dua orang datuk itu tentu saja tidak takut kepada Mulani, akan tetapi karena gadis ini murid Sam Mo-ong, mau tidak mau mereka harus menghargainya.
"Nona, mengapa engkau menahan kami yang hendak membunuh si sombong ini?"
Tanya Tee-kui, nadanya memrotes.
"Thian Te Siang-kui, saudara ini seorang pendekar yang gagah berani. Habiskan saja kesalah pahaman di antara kalian, dan serahkan dia kepadaku. Biar aku yang menanganinya. Nah, tinggalkan kami!"
Nada suaranya memerintah.
Thian Te Siang-kui saling pandang.
Kalau saja mereka tidak takut kepada Hek-bin Mo-ong yang mungkin berada tak jauh dari situ, tentu akan mereka lawan gadis ini.
Akan tetapi akhirnya mereka pergi tanpa mengucapkan sepatah kata, menelan saja kedongkolan hati mereka.
Setelah mereka berdua pergi, Mulani menghampiri Kok Han dan menotok kedua pundak pemuda itu, membebaskannya.
Kok Han bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Mulani.
"Nona, terima kasih atas pertolonganmu,"
Katanya dengan kagum karena dia melihat betapa gadis ini mengusir kedua orang datuk itu begitu saja!
"Ah, kongcu, harap jangan sungkan.
Agaknya sudah ditakdirkan agar kita bekerja sama.
Pertama kali kita juga sudah bekerja sama ketika menghadapi pemuda-pemuda berandalan di dalam rumah makan itu, bukan?"
Kok Han terbelalak dan pandang matanya semakin kagum.
"Ah, kiranya engkaukah nona, yang menghajar kedua orang berandalan di rumah makan itu. Senang sekali dapat berkenalan dengan nona."
Kok Han memberi hormat lagi dan melanjutkan.
"Namaku Can Kok Han, putera ketua Pek-eng Bu-koan di kota raja, nona. Bolehkah mengetahui namamu?"
"Aih, tidak enak bicara sambil berdiri saja. Mari kita duduk di sana,"
Ajak Mulani dan mereka duduk di atas batu-batu di bawah pohon.
"Nah, sekarang ceritakan tentang dirimu, nona. Siapakah namamu, dari mana engkau datang dan bagaimana dua orang datuk seperti Thian Te Siang-kui begitu tunduk kepadamu."
Mulani menghela napas panjang.
"Sebelum aku menjawab, katakan dulu apakah engkau seorang dari mereka yang memandang rendah suku bangsa lain? Kalau begitu halnya, lebih baik kita tidak saling berkenalan. Banyak orang memandang rendah sesamanya hanya karena ia memiliki suku bangsa lain."
Gadis itu nampak bersedih dan Kok Han yang sejak pertama kali tadi sudah merasa amat tertarik kepada Mulani, cepat menjawab.
"Tidak, nona. Aku memandang seseorang dari pribadinya, bukan dari suku bangsanya ataupun kedudukannya."
"Ah, sudah kusangka. Engkau seorang pendekar budiman!"
Kata Mulani dengan girang.
"Ketahuilah, kongcu, aku seorang peranakan Mongol dan namaku adalah Mulani,"
Ia berhenti sebentar untuk melihat wajah pemuda itu.
"Engkau tidak memandang rendah suku bangsa Mongol?"
Ternyata wajah pemuda itu tidak membayangkan perubahan sama sekali.
"Ah, tidak, nona Mulani. Bukankah bangsa Mongol bahkan pernah membantu Kerajaan Tang mengusir pemberontak?"
Jawabnya tenang.
"Terima kasih! Ah, engkau memang baik sekali. Nah, setelah kita berkenalan, kau sebut saja namaku Mulani, jangan sungkan-sungkan."
Kok Han memandang, kagum dan girang. Gadis ini sungguh ramah dan baik hati, pikirnya.
"Baiklah, Mulani, kalau engkau mamang suka bersahabat denganku."
"Tentu saja aku suka bersahabat denganmu, Kok Han. Nah, lebih enak dan akrab kalau memanggil nama masing-masing, bukan? Siapa tidak suka bersahabat dengan seorang pendekar budiman seperti engkau ini?"
"Ah, engkau terlalu memuji. Kalau tidak ada engkau, tentu aku sudah tewas di tangan Thian Te Siang-kui? Ini tentu sudah menunjukkan bahwa tingkat kepandaianmu lebih tinggi dari pada mereka."
"Mereka itu orang-orang sakti, walaupun belum pernah aku bertanding melawan mereka, akan tetapi belum tentu aku dapat menandingi mereka."
"Akan tetapi mereka begitu tunduk padamu, kau mengusir mereka begitu saja!"
"Hal ini adalah karena mereka itu sungkan dan takut kepada guruku. Kok Han, tadi aku mendengar mereka bertanya tentang Sia Han Lin kepadamu. Apakah engkau mengenal orang yang bernama Sia Han Lin itu?"
Kok Han mengerutkan alisnya.
"Aku tidak bersahabat dengannya. Kami hanya kebetulan saja bertemu di rumah makan itu. Kenapa engkau menanyakan dia, Mulani?"
"Aku mendengar bahwa Sia Han Lin itu memiliki Ang-in-po-kiam, benarkah?"
"Itulah yang membuat aku benci kepadanya! Dia ternyata yang mencuri Ang-in-po-kiam dan aku memang sedang mencarinya untuk merampas pedang itu dari tangannya."
"Hemm, kalau sudah dapat kaurampas, untuk apa?"
Mulani memandang tajam.
"Tentu saja untuk dikembalikan kepada Sribaginda Kaisar yang berhak,"
Kata Kok Han.
"Kalau begitu, aku akan membantumu, Kok Han."
"Benarkah?"
Kok Han memandang gembira. Dia menduga bahwa tentu ilmu kepandaian gadis ini hebat dan kalau membantunya tentu dia akan dapat mengalahkan Han Lin.
"Terima kasih, Mulani. Akan tetapi aku tidak tahu di mana si sombong itu berada."
"Aku tahu, Kok Han. Aku mendengar bahwa dia berada di kuil tua dalam hutan di luar kota Han-cung sebelah barat."
"Bagus! Kalau begitu, mari kita berangkat ke sana,"
Ajak Kok Han penuh semangat.
Mereka lalu berlari meninggalkan tempat itu.
Kok Han sengaja mempergunakan ilmu berlari cepat.
Para murid Pek-eng Bu-koan memang memiliki kepandaian khusus dalam ilmu meringankan tubuh sehingga Kok Han dapat berlari cepat sekali.
Akan tetapi, dengan kagum dan girang dia mendapatkan kenyataan bahwa gadis Mongol itu dapat mengimbangi kecepatan larinya dengan santai saja.
Tak salah dugaannya.
Gadis ini lihai sekali dan tentu akan menjadi pembantu yang amat baik dalam mengalahkan Han Lin dan merampas Ang-in-po-kiam.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di depan kuil tua itu.
Mulani hendak memasuki kuil akan tetapi dicegah Kok Han yang sudah tahu akan kelihaian Han Lin.
Dia lalu berteriak lantang.
"Sia Han Lin, keluarlah, kami ingin bicara denganmu!"
Mereka tidak menanti lama.
Han Lin melangkah keluar dari dalam kuil itu, tongkat butut di tangannya dan dia tersenyum heran melihat pemuda berbaju putih itu sekali ini datang bersama gadis yang tadi dia lihat bersama Hek-bin Mo-ong.
Adik perempuan pemuda itu malah tidak nampak.
"Hemm, kiranya saudara Can Kok Han,"
Kata Han Lin dengan sikap tenang.
"Ada urusan apakah engkau memanggilku keluar? Apa yang hendak kau bicarakan, saudara Can Kok Han?"
"Sia Han Lin, serahkan Ang-in-po-kiam kepadaku!"
Bentak Kok Han dengan suara ketus.
"Hemm, ada urusan apakah engkau dengan pedang itu? Dan alasan apa yang kaupakai untuk minta pedang itu kuserahkan kepadamu?"
Han Lin tetap tersenyum.
Wajah Can Kok Han berubah merah.
Tentu saja dia tidak mau menceritakan sebab yang sebenarnya, tidak dapat dia berterus terang mengatakan bahwa dia ingin mengembalikan pedang itu kepada Kaisar agar mendapatkan pahal besar!
"Pedang itu milik Kaisar.
Engkau telah mencurinya, maka aku harus merampasnya darimu untuk kukembalikan kepada Sribaginda Kaisar."
Jawabnya karena merasa tersudut oleh pertanyaan itu.
"Can Kok Han, aku yang menemukan pedang ini dan aku yang berhak untuk mengembalikannya kepad Kaisar. Aku akan mengembalikan sendiri."
"Hemm, siapa percaya omonganmu? Kalau engkau memang hendak mengembalikannya, tentu sudah lama kaulakukan. Tidak, kau harus menyerahkan kepadaku, atau aku akan menggunakan kekerasan!"
Han Lin tersenyum. Orang tak tahu diri saking sombongnya, pikirnya. Kalau adik orang ini, Can Bi Lan, berada di situ, tentu gadis itu akan menegur kakaknya.
"Hemm, lalu dengan apa engkau hendak memaksaku?"
"Dengan ini!"
Kok Han menggerakkan tangannya dan dia sudah mencabut pedangnya.
"Bagus, silakan!"
Kata Han Lin menantang dan dia melintangkan tongkat bututnya di depan dada, pandang mata dan senyumnya seperti sikap seorang dewasa menghadapi seorang anak-anak yang nakal dan bandel.
Kok Han menoleh kepada Mulani dan berkata.
"Serang...!"
Dan dia sendiri sudah menggerakkan pedangnya menyerang dengan sekuat tenaga.
Mulani juga mencabut pedangnya pada saat Han Lin menangkis pedang Kok Han dengan tongkatnya yang membuat Kok Han terhuyung ke belakang.
"Lihat pedang...!!"
Mulani membentak dan diapun menyerang dengan dahsyat.
Melihat gerakan gadis itu, tahulah Han Lin bahwa tingkat kepandaian gadis itu jauh lebih tinggi dari tingkat kepandaian Kok Han.
Diapun mengelak dan kembali Kok Han menyerangnya dari belakang.
Dengan mudah Han Lin mengelak pula.
Ketika Mulani menghujankan serangan bertubi-tubi, diapun dapat menduga bahwa tentu gadis ini murid Hek-bin Mo-ong atau bahkan murid Sam Mo-ong karena ilmu silatnya tidak berselisih jauh dati tingkat para datuk sesat itu!
Sayang bahwa gadis begini cantik manis menjadi murid tiga orang datuk sesat yang amat jahat itu, pikirnya dan mulailah dia memutar tongkatnya dengan ilmu tongkat Badai dan Kilat.
Begitu ilmu Liu-tay-hong-tung dimainkan, maka angin pukulan tongkat itu menyambar-nyambar bagaikan badai dan sinar tongkat kadang mencuat bagaikan kilat.
Baru beberapa gebrakan saja pedang di tangan Kok Han terpental dan terlepas dari tangannya yang terasa panas dan pedih.
Dia mundur untuk mengambil pedangnya yang terlempar jauh.
Mulani kagum bukan main.
Belum pernah selamanya ia bertemu dengan lawan yang sehebat ini.
Gerakan pedangnya seolah terserap oleh angin badai itu, dan iapun menjadi silau oleh sinar tongkat.
Telinganya mendengar suara menderu keras dan matanya berkunang melihat tongkat itu seperti berubah menjadi puluhan batang banyaknya.
Akan tetapi tongkat itu tidak pernah menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya mendesaknya maka tahulah ia bahwa pemuda di depannya yang bernama Sia Han Lin itu sama sekali tidak ingin melukainya.
Mulailah ia merasa curiga akan keterangan Kok Han.
Pemuda seperti ini mana mungkin menjadi pencuri?
Kembali Kok Han nekat membantu dan untuk kedua kalinya, pedangnya terlempar.
Juga Mulani menerima tangkisan yang membuat pedangnya hampir terlepas dari tangannya yang terasa panas sekali.
Ia terkejut dan meloncat jauh ke belakang, dekat Kok Han yang sudah memungut kembali pedangnya.
"Kita tidak mampu menandinginya!"
Kata Mulani dan gadis ini lalu meloncat jauh meninggalkan Han Lin, diikuti oleh Kok Han yang tahu benar bahwa kalau Mulani sudah mundur, diapun tidak mungkin akan berhasil menandingi Han Lin, bahkan dia hanya akan menderita malu kalau nekat melawannya sendiri.
Han Lin menghela napas panjang.
Diam-diam dia merasa kagum.
Gadis itu lihai sekali, bahkan jauh lebih lihai dibandingkan Can Bi Lan.
Setelah melihat kedua orang itu menghilang di balik pohon-pohon di hutan itu, dia lalu masuk ke dalam kuil tua dan duduk di lantai, melamun.
Pertemuannya dengan gadis murid Sam Mo-ong itu membuatnya terkenang akan pertemuannya dengan Sam Mo-ong di masa lalu.
Guru pertamanya, Kong Hwi Hosiang, tewas di tangan Sam Mo-ong.
Juga pengasuh yang menjadi pengganti ibunya, Liu Ma, tewas akibat perbuatan Sam Mo-ong.
Masih banyak perbuatan tiga datuk sesat itu yang menimbulkan sakit hati.
Mengenangkan segala kejahatan yang dilakukan Sam Mo-ong, perbuatan yang menyakitkan hatinya mendatangkan kebencian dan Han Lin mengepalkan tinjunya dan menggigit giginya dan api kemarahan mulai membakar hatinya.
Daya-daya rendah seringkali menyusup ke dalam hati akal pikiran, dan dari pikiran inilah timbulnya segala macam perasaan suka duka, malu dan marah.
Tanpa adanya pikiran yang mengingat-ingat, mengenang, maka nafsu amarahpun tidak akan muncul.
Demikian pula, kedukaan datang mencengkeram perasaan hati kalau pikiran sudah mengenangkan hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu, atau yang sudah terlewat.
Demikian pula halnya Han Lin.
Ketika dia duduk melamun dan mengenangkan semua peristiwa yang terjadi akibat perbuatan Sam Mo-ong, timbullah amarah dan dendam.
Demikian pula, kenangan terhadap perbuatan orang lain yang menguntungkan kita, menimbulkan perasaan berhutang budi.
Namun dendam kebencian ini jauh lebih kuat dari pada hutang budi.
Kadang-kadang seribu satu budi kebaikan yang dilimpahkan orang lain kepada kita, akan hapus dalam sekejap oleh sebuah dendam sakit hati.
Dan kalau dendam kebencian sudah mencengkeram hati, maka yang timbul hanyalah keinginan untuk membalas, keinginan untuk menyakiti orang yang dibencinya.
Han Lin seolah tenggelam ke dalam lautan dendam.
Wajah Kong Hwi Hosiang dan wajah inang pengasuhnya bergantian muncul di depan matanya, terkenang dia ketika menguburkan jenazah mereka, ketika menangisi kematian mereka.
Selagi kemarahan dan kebencian mengamuk di hatinya, tiba-tiba saja seperti sinar matahari yang menerobos ke dalam awan gelap, ingatan Han Lin mendatangkan bayangan Lojin, gurunya yang kedua.
Dan terngianglah suara gurunya ini yang menasihatinya bahwa musuh utamanya adalah pikirannya sendiri.
Dia harus hati-hati dan waspada meneliti jalan pikirannya.
"Sudah menjadi tugasmu untuk menentang kejahatan, namun kalau engkau menentang kejahatan dengan perasaan benci dan dendam di hati, berarti bahwa engkaupun jahat. Benci dan dendam membuat seseorang menjadi jahat dan perbuatanmu menentang kejahatan itu berubah menjadi pembalasan dendam semata. Ingatlah ini selalu!"
Bagaikan air hujan menyiram api, seketika rasa benci dan marah yang mengamuk hati Han Lin juga padam seketika.
Dia terkejut mendapatkan dirinya dalam lautan dendam dan kebencian tiu, dan diapun segera bersila dan melakukan siu-lian untuk menenteramkan hatinya.
Sampai berjam-jam Han Lin melakukan samadhi dan dia baru membuka matanya ketika pendengarannya yang tajam terganggu oleh langkah ringan seorang yang datang ke kuil itu dari depan.
Dia menjadi waspada dan siap menghadapi pendatang itu.
Matahari sudah mulai condong ke barat, tengahari telah lewat tanpa dia rasakan.
"Han Lin, aku ingin bicara denganmu,"
Terdengar suara seorang wanita.
Han Lin terkejut dan terheran.
Bukan suara Can Bi Lan, lalu suara siapa?
Wanita mana yang menyebut namanya begitu saja dan datang hendak bicara dengannya?
Karena ingin tahu sekali, Han Lin meloncat keluar dan dia berhadapan dengan Mulani!
"Hemm, engkau...?"
Han Lin menegur sangsi dan ragu.
Gadis ini tadi datang bersama Kok Han dan membantu pemuda sombong itu untuk mencoba merampas Ang-in-po-kiam dari tangannya.
Kenapa ia datang kembali?
Tentu saja dia merasa curiga dan Han Lin memandang ke kanan kiri penus kewaspadaan.
Mulani tertawa.
"Jangan mencari, tidak ada orang lain datang bersamaku, aku datang seorang diri dan sengaja datang untuk bicara denganmu."
Han Lin mengerutkan alisnya.
"Nona, siapakah engkau dan keperluan apakah yang membawamu ke sini?"
Tanyanya. Mulani tersenyum.
"Aku tidak menyalahkanmu kalau engkau curiga dan merasa tidak senang kepadaku. Baru saja tadi aku membantu Can Kok Han untuk mengeroyokmu, dan sekarang aku muncul lagi. Akan tetapi, Han Lin, percayalah bahwa aku datang bukan dengan maksud buruk. Perkenalkanlah, namaku Mulani, aku gadis Mongol, puteri kepala suku Ku Ma Khan."
"Dan murid Sam Mo-ong!"
Sambung Han Lin. Gadis itu mengangguk-angguk.
"Pantas suhu Hek-bin Mo-ong nampak gentar kepadamu, engkau memang lihai dan cerdik. Benar, Sam Mo-ong adalah pembantu ayah, maka mereka mengajarkan ilmu silat kepadaku. Han Lin, aku kagum melihat kepandaian dan sikapmu. Maukah engkau menganggap aku sebagai sahabatmu?"
Han Lin tetap curiga. Gadis ini demikian lincah dan ramah, nampak cerdik sekali. Dia harus berhati-hati menghadapi gadis seperti ini.
"Mulani, baru beberapa jam yang lalu engkau datang bersama Kok Han dan mengeroyok aku. Kalau aku tidak memiliki sedikit kepandaian mungkin sekarang aku sudah menggeletak di sini dalam keadaan tidak bernyawa. Dan sekarang engkau mengatakan hendak bersahabat denganku! Apa artinya semua ini?"
"Aku tidak menyalahkanmu kalau engkau curiga, Han Lin. Ketahuilah, aku mendengar bahwa engkau telah mencuri pedang pusaka dari istana kaisar, yaitu Pedang Awan Merah. Nah, mendengar ini aku menjadi tertarik dan bermaksud untuk merampas pedang yang diperebutkan seluruh tokoh dunia persilatan itu. Dalam perjalanan mencarimu, aku bertemu dengan Can Kok Han yang juga sedang mencarimu. Karena kami setujuan, yaitu mencarimu dan merampas pedang, maka kami bekerja sama. Akan tetapi kami telah gagal dan melihat cara engkau menghadapi kami, tidak ingin melukai kami, maka aku yakin bahwa engkau adalah seorang pendekar yang budiman, dan tidak mungkin menjadi pencuri pedang pusaka. Karena itulah maka aku datang seorang diri ingin berkenalan denganmu, Han Lin."
"Hemm, aku tidak pernah menolak persahabatan, dari manapun juga datangnya, Mulani. Akan tetapi setelah engkau berhadapan dengan aku, katakanlah apa yang ingin kaukatakan dan bicarakan."
"Han Lin, aku percaya bahwa engkau tidak mencuri pedang. Akan tetapi bagaimana pedang itu dapat terjatuh ke tanganmu? Ingin aku mengetahui, kalau saja engkau tidak berkeberatan untuk memberitahu kepadaku."
"Pencuri pedang pusaka ini adalah mendiang Hoat Lan Siansu, ketua Hoat-kauw dan aku mengambil pedang ini darinya."
Gadis itu mengangguk-angguk dan Han Lin harus mengakui bahwa gadis itu memang manis sekali.
"Aku percaya kepadamu, Han Lin. Akan tetapi mengapa engkau tidak mengembalikan pedang itu kepada Kaisar Kerajaan Tang? Apakah engkau ingin pedang itu menjadi milikmu selamanya?"
Pertanyaan itu diajukan dengan suara wajar, tidak mengandung ejekan atau tuntutan, maka Han Lin mau menjawabnya.
"Pedang ini pasti akan kukembalikan kepada Sribaginda Kaisar, akan tetapi aku mendengar bahwa Cin-ling-pai dikabarkan mencuri pedang ini, maka aku hendak lebih dahulu menghadiri pertemuan di Cin-ling-san untuk memberitahu kepada semua orang dan membersihkan nama baik Cin-ling-pai."
"Ah, begitukah? Sudah kuduga bahwa engkau tentu seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman."
"Dan engkau sendiri, Mulani? Bagaimana seorang gadis yang cantik manis dan puteri kepala suku seperti engkau ini mau menjadi murid Sam Mo-ong, tiga orang datuk sesat yang jahat itu?"
"Aku mempelajari ilmu silat dari mereka, bukan belajar kejahatan, Han Lin. Karena mereka itu membantu ayah, dengan sendirinya aku menjadi murid mereka."
"Hemm, betapapun juga, kalau guru-gurumu datuk-datuk sesat yang jahat, tentu engkaupun tidak dipercaya orang. Katakan saja terus terang, apakah sekarang ini engkau hendak memancingku agar aku masuk perangkap? Apa sebetulnya yang hendak kaulakukan?"
Sepasang mata itu bercahaya.
"Han Lin, apakah engkau kira aku serendah itu? Aku tidak..."
Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu muncul tiga orang yang bukan lain adalah ketiga orang gurunya, yaitu Hek-bin Mo-ong yang gendut bundar pendek, Pek-bin Mo-ong yang tinggi kurus dan Kwi-jiauw Lo-mo yang pendek gendut pula seperti bola.
Sam Mo-ong lengkap kini berdiri di depan Han Lin dengan tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, bagus sekali engkau sudah dapat menemukannya, Mulani!"
Kata Hek-bin Mo-ong girang.
Han Lin memandang kepada Mulani dengan sinar mata tajam penuh teguran.
Biarpun Han Lin tidak mengeluarkan ucapan, namun Mulani merasa benar pandang mata itu dan ia menggeleng kepala.
"Tidak! Tidak! Aku tidak tahu... ah, suhu sekalian, harap jangan ganggu Han Lin!"
Mulani berteriak-teriak, akan tetapi tentu saja tidak diperdulikan oleh tiga orang datuk itu yang menganggap Han Lin sebagai musuh besar mereka.
"Mulani, seorang guru takkan jauh bedanya dengan guru-gurunya,"
Kata Han Lin tersenyum mengejek.
"Pergilah menjauh, aku tidak ingin membunuhmu. Engkau masih terlalu muda dan masih banyak kesempatan untuk mengubah jalan hidupmu yang sesat."
"Han Lin, aku tidak... ahh, engkau takkan percaya..."
Gadis itu lalu mundur dan menangis.
Kini tiga orang datuk itu menghampiri Han Lin.
Seperti diceritakan di bagian depan, Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui pergi dibantu Pek-bin Mo-ong untuk membalas dendam atas kematian cucunya yang bernama An Seng Gun yang tewas di tangan Sie Kwan Lee ketua Beng-kauw.
Dua orang datuk itu datang mengamuk di Beng-kauw, akan tetapi balas dendam mereka itu gagal karena mendapat perlawanan yang gigih dari ketua Beng-kauw, Sie Kwan Lee bersama isterinya yang juga amat lihai, yaitu Si Pedang Terbang Yang Mei Li, dibantu oleh tokoh-tokoh Beng-kauw yang cukup tangguh.
Kedua orang datuk itu dengan penasaran dan kecewa terpaksa meninggalkan Beng-kauw dan menuju ke Han-cung untuk menyusul rekannya, Hek-bin Mo-ong yang hendak menghadiri pertemuan di Cin-ling-pai itu.
Dan dari Hek-bin Mo-ong mereka mendengar bahwa musuh besar mereka, Sia Han Lin, berada di Han-cung, bahkan lebih menarik lagi, pemuda itu membawa Ang-in-po-kiam, pedang pusaka yang dijadikan rebutan itu.
Tentu saja mereka tertarik, bukan saja untuk membalas dendam kekalahan mereka dari pedua ini, akan tetapi juga untuk merampas Pedang Awan Merah.
Han Lin sudah dapat melenyapkan kebencian dan dendamnya terhadap tiga orang datuk yang menyebabkan kematian gurunya dan inang pengasuhnya ini.
Dengan tenang dia menghadapi mereka, menegur lantang.
"Sam Mo-ong, ada urusan apakah kalian datang mencariku?"
Tiga orang datuk itu agak tertegun juga melihat ketenangan pemuda itu.
Mereka tahu bahwa Han Lin amat lihai, akan tetapi kalau mereka bertiga mengeroyoknya, tidak mungkin pemuda itu akan mampu bertahan.
"Ha-ha-ha, Han Lin, engkau masih bertanya apa urusannya? Engkau telah menggagalkan semua usaha kami dan Hoat-kauw, dan untuk itu engkau sudah layak mampus!"
Kata Hek-bin Mo-ong sambil tertawa-tawa seperti biasa.
"Dan engkau ternyata merampas Ang-in-po-kiam dati tangan Hoat Lan Siansu, maka engkau harus menyerahkan pedang itu kepada kami!"
Kata Kwi-jiauw Lo-mo sambil menggerakkan kedua tangannya yang sudah disambung sepasang cakar setan.
"Hemm, kalian bertiga ini orang-orang tua masih juga belum jera. Kalian mengira aku yang menggagalkan semua usaha jahat kalian? Bukan aku, melainkan semua usaha yang jahat pasti akan hancur. Yang menghancurkan kalian adalah kejahatan kalian sendiri. Kalian masih belum jera dan sekarang masih melanjutkan kesesatan kalian. Pedang Ang-in-po-kiam adalah milik Sribaginda Kaisar, tidak akan kuserahkan kepada siapapun juga kecuali kepada Sribaginda Kaisar."
"Bocah setan, berani engkau menghadapi kami bertiga?"
Bentak Pek-bin Mo-ong yang bermuka putih seperti kapur itu.
"Untuk menentang kejahatan, aku takkan pernah mundur!"
Jawab Han Lin dengan tegas dan tenang.
Dia tahu bahwa tiga orang ini berbahaya sekali.
kalau melawan seorang dari mereka, atau paling banyak dua orang, mungkin dia masih dapat menandinginya.
Akan tetapi tiga orang maju bersama?
Sungguh merupakan lawan yang berat sekali.
Bagaimanapun juga, dia tidak gentar karena sekarang dia memiliki ilmu baru, yaitu ilmu pedang Ang-in-kiam-hoat (Ilmu Pedang Awan Merah) yang dia rangkai dari penggabungan inti sari Lui-tai-hong-tung dan Khong-khi-ciang.
"Sia Han Lin, sekali ini engkau tidak akan lepas dari kematian di tangan kami!"
Kata Hek-bin Mo-ong dan dia sudah mendahului rekan-rekannya, mengirim pukulan dingin beracun jari hitam.
Terdengar angin bercicit ketika pukulan itu menerjang ke arah Han Lin.
Namun dengan gesitnya Han Lin meloncat ke samping, mengelak.
Dia disambut pukulan jari merah oleh Pek-bin Mo-ong.
Hawa panas beracun itu menyambar dengan hebatnya.
Han Lin kembali mengelak.
Ketika sepasang cakar setan mengejarnya, dia tahu bahwa Kwi-jiauw Lo-mo juga sudah turun tangan.
Tubuhnya mencelat ke atas belakang dan dia bersalto tiga kali.
Ketika dia turun lagi, tangan kanannya sudah memegang pedang dan sinar merah nampak menyilaukan.
Itulah Ang-in-po-kiam dan tangan kirinya masih memegang tongkat butut yang tak pernah terpisah darinya itu.
Dengan pedang di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri, Han Lin berdiri dikepung tiga orang lawan itu dari tiga jurusan.
Han Lin berdiri tak bergerak, pedang tangan kanan melintang di atas kepala dan tongkat butut di tangan kiri melintang di depan dada, siap untuk menyerang atau menangkis.
Dengan teriakan yang menggetarkan pohon-pohon di sekeliling tempat itu, Kwi-jiauw Lo-mo menerjang bagaimana seekor biruang kelaparan.
"Trang-trang...!"
Nampak bunga api berhamburan ketika cakar-cakar setan itu bertemu pedang dan Kwi-jiauw Lo-mo melompat ke belakang dengan kaget sekali.
tangannya tergetar hebat oleh pertemuan cakar dengan pedang itu.
Dari kanan kiri, Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong kembali mengirim pukulan beracun.
Han Lin memutar pedang dan tongkat sehingga kedua pukulan itu terpaksa ditarik kembali.
Mulailah perkelahian yang berat sebelah.
Memang hebat permainan pedang Han Lin yang kadang dibantu tongkatnya.
Akan tetapi ketiga lawannya amat kuat.
Sekali saja terkena pukulan dingin beracun atau panas beracun dari Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong dapat berakibat celaka bagi Han Lin.
Juga sepasang cakar itu selain bergerak cepat dan kuat, juga mengandung racun.
Han Lin memang tidak takut menghadapi racun karena tubuhnya sudah kebal terhadap segala macam racun.
Ketika kecil dahulu, pernah dia menerima pukulan dingin beracun dari Hek-bin Mo-ong dan pukulan panas beracun dari Pek-bin Mo-ong secara berbareng.
Ketika dia sedang sekarat akibat dua macam hawa beracun itu, kakinya digigit ular beracun pula.
Dan sungguh ajaib, kumpulan tiga macam racun yang masing-masing dapat mematikan itu berubah menjadi obat kuat yang hebat, yang membuat tubuh Han Lin menjadi kebal terhadap segala macam racun, juga mendatangkan tenaga sin-kang yang amat kuat.
Biarpun kebal terhadap racun, namun serangan tiga orang itu masih amat berbahaya karena tenaga sin-kang tiga orang lawan itu sudah hampir setingkat dengan tenaga sin-kangnya sendiri.
Han Lin mengandalkan kegesitannya, berkelebatan di antara tiga orang itu.
Namun, tetap saja dia hampir tidak dapat mendapat kesempatan untuk balas menyerang.
Berkali-kali Mulani berteriak.
"Suhu, hentikan...! Hentikan serangan itu...!"
Akan tetapi, tiga orang datuk itu seakan tidak mendengar teriakannya, bahkan menyerang semakin hebat. Mendadak berkelebat sesosok bayangan dan seorang gadis dengan pedang di tangan muncul di situ.
"Lin-toako, aku datang membantumu!"
Ternyata gadis itu adalah Can Bi Lan dan dengan nekat ia sudah memutar pedangnya menyerang Hek-bin Mo-ong dengan tusukan ke arah lambungnya.
"Lan-moi, jangan...! Mundurlah...!"
Han Lin berseru kaget, namun terlambat sudah. Bi Lan sudah menusukkan pedangnya ke arah lambung Hek-bin Mo-ong.
"Tukk...!"
Alangkah terkejutnya hati Bi Lan ketika pedangnya bertemu lambung yang keras dan kuat seperti baja. Pedangnya melengkung dan tidak mempan.
"Pergilah! Ha-ha-ha!"
Hek-bin Mo-ong membentak dan sekali tangannya menampar pundak, tubuh Bi Lan terlempar dan terguling-guling, tak mampu bergerak lagi.
"Lan-moi...!"
Han Lin bereru dan pedangnya bergerak sedemikian hebatnya sehingga ketiga orang pengeroyoknya terpaksa mundur.
Pada saat itu, Mulani dengan pedang di tangan sudah melompat dan menghadang di tengah, menggerakkan pedangnya mengancam tiga orang gurunya.
"Suhu bertiga, hentikan serangan suhu atau terpaksa aku akan membelanya!"
"Mulani, apa yang kaulakukan ini?"
Bentak Kwi-jiauw Lo-mo marah.
"Aku tidak senang melihat ketidak adilan ini. Suhu bertiga melakukan pengeroyokan, sungguh merendahkan martabat. Biarkan dia pergi, atau aku akan melawan suhu bertiga!"
"Mulani, akan kulaporkan kepada ayahmu!"
Ancam Kwi-jiauw Lo-mo.
"Silakan, kalau ayah mendengar, suhu bertiga yang akan menerima teguran. Suhu bertiga bertindak pengecut dan ayah paling tidak suka kepada orang yang pengecut. Han Lin, cepat pergi dari sini!"
Kata Mulani yang dengan pedang terhunus menghalangi ketiga orang datuk itu.
Karena melihat Bi Lan diam tak bergerak, Han Lin menganggap perlu untuk menolong gadis itu lebih dulu.
Dia menghampiri, dan ternyata Bi Lan masih hidup, merintih lirih, pundaknya yang terpukul nampak menghitam, bajunya robek dan hangus.
Dia memondong tubuh itu lalu menoleh.
"Terima kasih, Mulani."
Dan sekali meloncat diapun lenyap dari situ. Tiga orang datuk itu marah sekali.
"Mulani, engkau membiarkan dia pergi, berarti Pedang Awan Merah tidak dapat kami rampas,"
Kata Pek-bin Mo-ong.
"Masih ada waktu lain untuk merampasnya, suhu, akan tetapi bukan dengan cara pengeroyokan. Harus dengan adu kepandaian dan siapa yang lebih kuat dialah yang berhak memiliki Pedang Awan Merah,"
Kata Mulani yang diam-diam merasa tidak senang hatinya melihat betapa Han Lin tadi menolong dan memondong gadis yang terpukul pingsan oleh Hek-bin Mo-ong itu.
Bi Lan merintih lirih dan Han Lin berhenti lalu merebahkan gadis itu di atas rumput.
"Bagaimana, Lan-moi? Nyeri sekalikah? Engkau terkena pukulan beracun dari Hek-bin Mo-ong."
"Aduh, nyeri sekali, toako. Dingin sekali, ahh..."
Gadis itu menggigil kedinginan.
Memang Hek-bin Mo-ong memiliki ilmu pukulan beracun yang dingin.
Pada hal tamparan pada pundak Bi Lan itu perlahan saja, namun racunnya telah menyerang pundak dan terus ke dalam dada.
"Lan-moi, aku khawatir sekali. Luka pukulan itu amat berbahaya. Kalau tidak cepat diobati, hawa beracun akan menjalar masuk dan kalau sudah meracuni jantungmu, akan sukar menolongmu lagi."
"Aku... aku tidak takut mati..."
"Tidak, engkau tidak akan mati, Lan-moi. Aku tidak akan membiarkan engkau mati karena engkau terluka ketika engkau mencoba untuk menolongku dari pengeroyokan Sam Mo-ong. Aku dapat mengobatimu, Lan-moi. Akan tetapi..."
Han Lin merasa ragu, bahkan untuk mengatakannya saja dia merasa sungkan.
"...bagaimana..., toako...?"
Suara itu mulai terengah.
"Begini, Lan-moi. Untuk mengusir hawa beracun itu, aku harus menggunakan telapak tanganku, ditempelkan pada punggungmu, akan tetapi... harus langsung... tidak boleh tertutup kain..."
Han Lin merasa mukanya panas karena malu.
Dia tidak berbohong.
Tanpa menempel langsung pada punggung, penyaluran hawa murni dari tubuhnya tidak akan sempurna dan dia tidak akan dapat melihat apakah racun itu sudah menipis atau menghilang, atau belum.
"...kenapa ragu..., toako..., ahh..."
Gadis itu terkulai, pingsan.
Kebetulan, pikir Han Lin.
Sebaiknya begitu, sehingga kalau dia mengobatinya, dia tidak akan merasa malu karena gadis itu tidak akan mengetahuinya.
Dengan hati-hati dia lalu membalikkan tubuh gadis itu menelungkup, lalu perlahan-lahan membuka bajunya dengan jari-jari tangan gemetar.
Selama hidupnya dia belum pernah berdekatan dengan wanita, apa lagi membuka bajunya!
Nampak kulit punggung yang putih mulus dan halus hangat.
Gadis ini harus cepat ditolongnya, pundak itu sudah menghitam dan sebagian punggungnya sudah dijalari warna kehitaman.
Dia duduk bersila dekat tubuhnya tertelungkup itu, lalu menempelkan kedua tangannya pada punggung Bi Lan.
Merasa betapa telapak tangannya bertemu kulit yang halus hangat itu, Han Lin terkejut dan cepat mengangkat kembali kedua tangannya dan jantungnya berdebar tidak karuan.
Punggung itu nampak lebih putih lembut lagi, begitu bersi dan membuat dia tiba-tiba saja timbul keinginan untuk meraba dan menciumnya.
Di kepalanya dia mendengar suara parau.
"Ingin raba, raba saja, cium saja, ia tidak akan tahu, tak seorangpun akan tahu!"
"Gila!"
Bentak Han Lin.
"Aku bukan seorang yang berwatak bejat, kurang ajar dan tidak bersusila."
"Hemm, kalau tidak ada orang melihat, siapa akan mengatakan engkau kurang ajar dan tidak bersusila? Pula, meraba dan mencium saja apa salahnya? Ia tidak akan rugi apa-apa. Lihat, betapa mulusnya punggung itu, hemm, tentu sedap baunya..."
Suara parau di kepalanya semakin mendesak sehingga tak tertahankan oleh Han Lin.
"Plakk!"
Han Lin menampar kepalanya sendiri, seolah hendak memukul si suara parau itu.
"Gila seribu kali gila! Tidak ada orang melihat kaubilang? Dan apakah aku ini kau anggap bukan orang? Setan kamu! Juga Tuhan akan melihatnya. Tidak, lekas pergi kau bedebah!"
Han Lin menyumpah-nyumpahi diri sendiri dan akhirnya suara parau itu seperti tertawa akan tetapi dari jauh dan hanya terdengar lapat-lapat.
Dia menurunkan kedua tangannya, menempelkan di punggung yang lembut itu sambil memejamkan kedua matanya agar tidak usah melihat punggung yang putih mulus itu.
Hanya kadang saja dia membuka mata untuk melihat apakah punggung dan pundak itu masih ada warna menghitam.
Ketika mula-mula dia mengerahkan sin-kangnya, dia disambut hawa dingin sekali.
Akan tetapi, begitu dia mengerahkan tenaga, hawa dingin itu dengan cepat dapat diusirnya.
Setelah menempelkan kedua tangan di punggung Bi Lan selama hampir dua jam, dia merasa tubuh itu bergerak dan dia membuka kedua matanya.
Ternyata warna hitam di pundak telah lenyap sama sekali, tanda bahwa gadis itu telah bebas dari pengaruh hawa beracun.
Akan tetapi di harus yakin benar bahwa gadis itu telah sembuh, maka dengan lirih dia berkata.
"Lan-moi, engkau sudah hampir sembuh, rebahlah sebentar lagi agar sisa hawa beracun benar-benar bersih."
"Terima kasih, Lin-toako. Engkau baik sekali..."
Kata gadis itu dengan suara terharu. Pada saat itu, terdengar makian nyaring.
"Sia Han Lin, manusia biadab! Apa yang kaulakukan kepada adikku? Engkau memperkosanya!"
Pedang di tangan Kok Han itu meluncur menusuk ke arah punggung Han Lin.
Pemuda ini yang sedang bersila dan menggunakan kedua tangan untuk tetap mengobati Bi Lan, tidak sempat menangkis.
Dia hanya mengerahkan sin-kang melindungi punggungnya.
"Brett!"
Robeklah baju di punggung Han Lin.
"Han-koko, engkau keterlaluan!"
Bi Lan menjerit dan iapun pingsan. Han Lin menoleh dan berkata tenang.
"Saudara Kok Han, tenanglah, adikmu terluka pukulan beracun yang hampir merenggut nyawanya."
Mendengar ini, Kok Han terbelalak dan wajahnya menjadi agak pucat.
Dia menyarungkan pedangnya dan berlutut di dekat tubuh adiknya.
Akan tetapi alisnya masih berkerut melihat betapa kedua tangan Han Lin menempel di punggung adiknya yang tak berbaju.
Hal ini dianggapnya keterlaluan dan melanggar susila.
Akan tetapi karena dia mengkhawatirkan adiknya, diapun menahan kemarahannya.
"Siapa yang melukai adikku?"
Tanyanya dingin.
"Hek-bin Mo-ong,"
Jawab Han Lin singkat dan dia memusatkan perhatiannya kepada kedua tangannya yang masih menempel di punggung gadis itu.
Kok Han terpaksa hanya menonton dan tidak mengganggu lagi walaupun dari kerutan alisnya menunjukkan bahwa dia tidak senang.
Tak lama kemudian, Han Lin menghentikan pengobatannya dan bangkit berdiri.
"Sekarang bahaya telah lewat, adik Bi Lan sudah sembuh, kalau ia siuman kembali ia akan sehat,"
Katanya.
"Sia Han Lin, bagaimanapun juga cara pengobatanmu ini sudah melanggar batas kesopanan. Sekarang pergilah sebelum hilang kesabaranku, dan kalau tidak mengingat bahwa engkau mengobati adikku, tentu aku tidak akan melepasmu begitu saja!"
Han Lin tersenyum.
Pemuda putera ketua Pek-eng Bu-koan ini terlalu memandang tinggi diri sendiri dan suka meremehkan lain orang.
Inilah yang membuat dia bersikap tinggi hati.
Kelak kalau sudah banyak tersandung dan terjungkal karena sikap sendiri, kalau sudah mengalami banyak hal, tentu akan berubah sendiri, pikirnya.
Pikiran ini mendatangkan kesabaran sehingga biarpun dia diusir, dia tersenyum saja dan pergi dari situ tanpa sepatahpun kata keluar dari mulutnya.
Setelah pergi, tak lama kemudian Bi Lan membuka matanya.
Dia melihat kakaknya duduk tak jauh dari situ, dan ia memandang ke kanan kiri, mencari-cari.
"Han-ko, ke mana dia?"
Tanyanya.
"Dia siapa?"
Tanya kakaknya dingin.
"Kakak Han Lin, tadi dia mengobati aku, menyelamatkan aku. Ke mana dia?"
"Hemm, dia sudah pergi,"
Jawab kakaknya dingin. Bi Lan bangkit duduk dan kini teringat ia akan tuduhan kakaknya terhadap Han Lin yang bukan-bukan. Ia membetulkan bajunya dan berkata marah.
"Han-ko, tentu engkau yang telah mengusirnya. Kalau tidak demikian, tentu dia menanti sampai aku terbangun."
"Memang aku menyuruhnya pergi. Habis, ada urusan apa lagi bocah sombong itu?"
"Koko, engkau sungguh telah bersikap keterlaluan terhadap Han Lin koko. Dia telah menyelamatkan aku dari kematian di tangan Sam Mo-ong, bahkan telah melarikan aku dan mengobati aku sampai sembuh. Dan engkau telah begitu tega menuduhnya melakukan perbuatan keji, kemudian bahkan telah mengusirnya!"
"Kenapa engkau bertanding melawan Sam Mo-ong?"
Tanyanya. Dia teringat akan pengakuan Mulani sebelum berpisah darinya bahwa gadis Mongol itu adalah murid Sam Mo-ong.
"Mana mungkin engkau mampu menandingi datuk-datuk sakti itu!"
"Bukan aku yang berkelahi dengan mereka, akan tetapi Lin-koko yang kulihat dikeroyok tiga orang datuk sesat itu. Melihat perkelahian tidak adil itu, Lin-ko dikeroyok tiga, aku lalu membantu Lin-ko. Akan tetapi aku terpukul dan kalau Lin-ko tidak menolongku, tentu aku sudah mati sekarang."
"Celaka, lagi gara-gara anak jahat itu sampai engkau terluka! Dia berkelahi dengan Sam Mo-ong, kenapa engkau ikut-ikutan membantunya? Dia pencuri pedang pusaka, tentu semua orang kang-ouw memusuhinya untuk merampas pedang itu."
"Koko, engkaulah yang sombong, engkau yang jahat! Lin-ko bukan pencuri dan dia seorang pendekar budiman yang gagah...!"
"Bi Lan...!"
"Sudahlah, aku tidak mau lagi melakukan perjalanan denganmu. Kita ambil jalan sendiri-sendiri!"
"Lan-moi, akan kuberitahukan ayah nanti!"
"Sesukamu, ayah tentu akan dapat mempertimbangkan dan tidak akan membelamu yang sombong dan jahat!"
Gadis itu lalu pergi meninggalkan kakaknya yang membanting kaki dengan marah.
Han Lin mendaki pegunungan Cin-ling-san.
Dia hendak melihat-lihat keindahan alam di sekitar pegunungan itu sambil menanti saat diadakannya pertemuan Cin-ling-pai di Han-cung besok pagi.
Dia berjalan dan lupa akan maksudnya untuk menikmati keindahan alam karena dia berjalan sambil melamun.
Beberapa kali dia menghela napas pangjang.
Dia teringat akan peristiwa ketika dia mengobati luka di pundak Bi Lan kemudian munculnya kakak gadis itu.
Kok Han tidak bersalah, pikirnya.
Cara pengobatan seperti yang dia lakukan terhadap Bi Lan memang tidak patut, dan melanggar kesopanan.
Buktinya, keadaan itu hampir saja menyeretnya kepada perbuatan yang sesat.
Membangkitkan nafsu dan kalau saja dia menuruti godaan setan, tentu dia telah melakukan hal-hal yang tidak pantas, bahkan lebih lagi dari sekedar meraba dan mencium.
Dia menghela napas panjang.
Bi Lan memang seorang gadis cantik jelita, mudah sekali membuat hati pria tertarik dan ia jatuh cinta.
Tiba-tiba wajah Mulani juga nampak menggantikan wajah Bi Lan.
Heran dia memikirkan gadis Mongol itu.
Tadinya dia mengira bahwa gadis yang tadinya membantu Kok Han mengeroyoknya itu datang dengan siasat halus untuk merampas pedang, apa lagi ketika Sam Mo-ong muncul, dia mengira bahwa gadis itu sengaja datang bersama guru-gurunya.
Akan tetapi ketika gadis itu menggunakan pedang menentang guru-gurunya sendiri, mencegah guru-gurunya mendesak dan memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan Bi Lan yang terluka, baru dia tahu bahwa gadis itu tidak bermaksud buruk terhadap dirinya.
Kenapa Mulani begitu nekat mati-matian membelanya?
Han Lin menghela napas panjang.
Pernah dia jatuh cinta kepada seorang gadis, yaitu kepada Yang Mei Li yang kini menjadi nyonya ketua Beng-kauw menjadi isteri Sie Kwan Lee yang gagah perkasa.
Cintanya bertepuk sebelah tangan karena gadis itu lebih mencinta Sie Kwan Lee.
Sejak itu, dia merasa betapa pahit dan getirnya akibat cinta gagal, maka dia selalu menjaga diri tidak ingin jatuh cinta kembali.
Pada keesokan paginya, Han Lin sudah hadir di antara banyak orang kang-ouw yang memenuhi undangan ketua Cin-ling-pai.
Banyak tokoh kang-ouw dari berbagai golongan datang untuk sekedar mendengar penjelasan tentang Ang-in-po-kiam yang menggemparkan itu.
Han Lin menyelinap di antara banyak pengunjung sehingga dia dapat setengah bersembunyi, Pedang Awan Merah dia sembunyikan di dalam buntalan pakaian yang digendongnya.
Dari tempat dia duduk, dia memperhatikan ke atas panggung.
Nampak olehnya seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, tubuhnya tegap dan gagah sekali, kumis dan jenggotnya terpelihara baik-baik dan masih hitam, sinar matanya tajam dan sikapnya berwibawa.
Tahulah dia bahwa orang itu tentulah ketua Cin-ling-pai yang dia tahu bernama Yap Kong Sin dan berjuluk Bu-eng Kiam-hiap (Pendekar Pedang Tanpa Bayangan).
Dari julukannya saja dia dapat menduga bahwa tentu ketua Cin-ling-pai itu seorang ahli pedang yang memiliki gin-kang yang sudah sempurna sehingga dijuluki Tanpa Bayangan, tentu saking cepatnya gerakan silatnya.
Di sebelah kiri orang gagah ini duduk pula seorang gadis yang cantik dan gagah sekali.
Usianya paling banyak delapan belas tahun, kulitnya putih dan tubuhnya langsing padat dengan wajah bundar seperti bulan purnama.
Gadis cantik ini juga bersikap pendiam dan penuh wibawa.
Sebatang pedang tergantung di punggungnya.
Dari seorang tamu yang duduk di dekatnya, Han Lin mendapat keterangan bahwa gadis itu bernama Yap Kiok Hwi, puteri dan anak tunggal dari Bu-eng-kiam-hiap Yap Kong Sin.
Para murid Cin-ling-pai yang rata-rata bersikap gagah perkasa itu berjaga di depan, menyambut tamu dan melayani mereka, dan ada pula sekelompok tokoh Cin-ling-pai yang tingkatnya sudah tinggi berkerumun di belakang tempat duduk guru mereka.
Mereka itu berdiri dengan teratur dan sopan, membentuk barisan, dengan kaki agak terpentang dan kedua tangan di belakang tubuh.
Setelah semua tamu mendapat tempat duduk dan ruangan yang disediakan itu sudah hampir penuh, ketua Cin-ling-pai lalu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah maju ke tengah-tengah panggung yang tingginya sekitar satu setengah meter sehingga dia dapat terlihat jelas oleh semua yang hadir, baik yang duduk di bawah panggung maupun yang mendapat kehormatan duduk di atas panggung, yaitu para ketua partai persilatan besar.
"Saudara sekalian yang terhormat,"
Demikian Bu-eng-kiam-hiap Yap Kong Sin berkata dengan suaranya yang mantap dan lantang.
"Terima kasih atas kedatangan cu-wi (anda sekalian) memenuhi undangan kami. Maksud undangan kami kepada cu-wi, selain untuk mempererat persahabatan, juga yang terpenting sekali kami hendak membersihkan nama Cin-ling-pai dari desas-desus yang amat merugikan kami. Desas-desus yang memancing permusuhan dan hal ini perlu dibersihkan sekarang juga. Desas-desus itu adalah bahwa pedang pusaka dari istana, yaitu Pedang Awan Merah, yang hilang dari gedung pusaka itu, dikabarkan dicuri oleh Cin-ling-pai. Kami menyatakan di sini bahwa desas-desus itu hanya fitnah dan bohong belaka. Agar pada saudara di dunia persilatan dapat memaklumi bahwa kami Cin-ling-pai bukanlah sebangsa maling dan perampok dan kami tidak pernah melakukan pencurian itu."
Para tamu menyambut ucapan itu dengan saling bicara sehingga suasana menjadi gaduh. Terdengar teriakan-teriakan dari sana sini.
"Kalau ada asap tentu ada apinya. Kalau ada desas-desus tentu ada penyebabnya!"
"Mana ada di dunia ini pencuri yang mengaku pencuri?"
"Memang mudah melontarkan kepada orang lain, maling teriak maling!"
Bermacam-macam suara teriakan yang datangnya dari rombongan para tamu sehingga suasana menjadi gaduh dan panas. Agaknya banyak orang tidak percaya akan keterangan ketua Cin-ling-pai itu.
"Omitohud...!"
Kata tokoh Siauw-lim-pai yang hadir dan duduk di tempat kehormatan atas panggung.
"Yap-pangcu agaknya harus dapat meyakinkan hati mereka dengan bukti yang jelas!"
Bu-eng-kiam-hiap Yap Kong Sin sendiri bingung melihat tanggapan para tamu yang agaknya tidak percaya kepadanya itu, dan mendengar ucapan hwesio itu diapun berbalik tanya.
"Kalau kami tidak mencurinya, bagaimana dapat membuktikannya?"
Tiba-tiba gadis cantik yang tadi duduk di sebelahnya, yaitu Yap Kiok Hwi, meloncat ke dekat ayahnya dan dengan suara melengking nyaring gadis itu berseru.
"Cu-wi yang hadir jangan seenaknya saja menuduh orang! Tuduhan tanpa bukti merupakan fitnah keji, dan aku menantang siap saja yang mencoba untuk memburukkan nama Cin-ling-pai! Kami minta bukti dan saksi!"
Tegas sekali ucapan gadis itu dan ayahnya hanya mengangguk-angguk karena walaupun dia merasa betapa suara puterinya itu terlalu keras, namun memang cocok dengan suara hatinya.
Diapun mendongkol mendengar teriakan-teriakan itu tadi dan karena puterinya sudah mengambil alih pembicaraan, dia sengaja mundur untuk melihat perkembangan selanjutnya.
Han Lin memandang penuh kagum.
Gadis itu memiliki semangat dan keberanian yang luar biasa.
Diapun menahan diri, hendak melihat perkembangan dulu sebelum tampil untuk mengakui bahwa pedang itu berada padanya, bahwa Cin-ling-pai tidak melakukan pencurian.
Tiba-tiba terdengr suara lantang dari bawah panggung.
"Saya bersedua menjadi saksi!"
Dan nampak orang meloncat ke atas panggung menghadapi Kiok Hwi.
Gadis itu memandang penuh perhatian.
Orang itu usianya sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya kuning, di punggungnya terselip sebatang golok besar.
"Siapa engkau, sobat, dan apa maksudmu mengatakan bersedia menjadi saksi?"
Tanya Kiok Hwi yang memaksa diri menghormati orang yang bagaimanapun juga menjadi tamu Cin-ling-pai itu.
"Saya bernama Gak Toan, dan demi kelancaran urusan ini, dan sama sekali bukan hendak memusuhi, nona, saya menjadi saksi bahwa pedang pusaka Ang-in-po-kiam itu memang berada di Cin-ling-pai!"
Gaduhlah para tamu, saling bicara sendiri mendengar ada saksi mengatakan demikian.
Kiok Hwi menjadi merah mukanya, akan tetapi dengan tenang gadis itu mengangkat kedua tangannya ke atas minta agar yang hadir tidak membuat gaduh.
Setelah suara berisik itu mereda, dara itu menghadapi Gak Toan dan memandang penuh selidik.
"Saudara Gak Toan, engkau bersedia disumpah bahwa engkau benar-benar telah menyaksikan bahwa pedang pusaka itu berada di Cin-ling-pai?"
"Saya bersumpah demi kehormatan saya, dan biarlah saya mati di ujung pedang kalau saya berbohong!"
Jawab Gak Toan dengan berani, dan dia membusungkan dadanyd menghadap para tamu.
"Hemm, sekarang ceritakan di mana engkau melihat pedang itu, saudara Gak Toan!"
Kata pula Kiok Hwi dengan sikap menantang karena ia merasa yakin bahwa pedang itu tidak berada di Cin-ling-pai.
Hanya ada dua hal, pikirnya.
Orang ini berbohong atau dia salah lihat.
Gak Toan memberi hormat kepada Kiok Hwi dan berkata lantang.
"Saudara saya katakan bahwa saya tidak berniat untuk memusuhimu, nona. Saya katakan dengan sebenarnya saja. Kemarin, ketika saya tiba di sini saya iseng-iseng naik ke Cin-ling-san dan di suatu tempat saya melihat nona Yap Kiok Hwi sedang berlatih silat pedang, dan pedang yang dipergunakan itu adalah jelas Ang-in-po-kiam!"
Gegerlah semua tamu mendengar ini dan Kiok Hwi sendiri memandang orang itu dengan mata terbelalak dan muka merah.
Ia mangangkat tangan kembali minta agar orang itu menjadi tenang.
Setelah suara gaduh itu mereda, dara itu lalu mencabut pedang dari punggungnya, mengangkat pedang itu tinggi-tinggi dan berkata.
"Saudara Gak Toan, lihat baik-baik. Inilah pedangku yang biasa kupakai latihan!"
Pedang itu adalah sebatang pedang yang baik, akan tetapi mengeluarkan sinar putih ketika ia gerakkan. Gak Toan memandang dan menggeleng kepalanya.
"Kemarin yang kulihat engkau tidak menggunakan pedang ini, nona. Jelas pedang itu Ang-in-po-kiam karena saya melihat sinarnya kemerahan."
Kiok Hwi menjadi marah.
"Saudara Gak Toan, hanya ada dua kenyataan dari ucapanmu itu. Engkau ngawur atau engkau berbohong, melempar fitnah kepadaku. Sekarang begini saja, karena saksi hanya engkau seorang dan ucapanmu itu berlawanan dengan pendapatku, maka untuk menentukan siapa yang benar dan tidak berbohong, kita mengadu ilmu di sini, disaksikan oleh semua orang. Beranikah engkau mempertahankan tuduhanmu itu dengan senjata?"
Gak Toan tertawa dan berkata dengan suara dingin.
"Nona, aku telah bicara dengan sesungguhnya dan untuk kesungguhanku itu tentu saja aku berani mempertanggung jawabkan. Aku bukan orang yang lari menghadapi tantangan!"
"Bagus, keluarkan senjatamu!"
Tantang Kiok Hwi.
Memang merupakan pantangan bagi seorang ahli silat untuk menolak tantangan mengadu ilmu silat dari siapapun, apa lagi kalau ditantang di depan para tokoh kang-ouw sebanyak itu.
Itu namanya mempertaruhkan nama dan kehormatan.
Maka, orang yang bernama Gak Toan itupun tidak menolak dan sekali tangannya meraba punggung, golok besarnya sudah terhunus.
Yap Kiok Hwi yang sudah marah sekali karena merasa difitnah oleh orang itu, sudah berseru nyaring.
"Lihat pedang!"
Dan pedangnya meluncur dalam serangan yang cukup dahsyat.
Lawannya menggerakkan goloknya menangkis dan terdengar suara nyaring ketika kedua senjata bertemu di udara, menimbulkan percikan bunga api.
Keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar, akan tetapi Kiok Hwi bahkan mundur dua langkah.
Ternyata dalam hal tenaga, orang she Gak itu lebih kuat dibandingkan lawannya, seorang gadis berusia delapan belas tahun.
Kiok Hwi membuka serangan lagi dengan jurus Sian-jin-hoan-eng (Dewa tukar bayangan), gerakannya cepat dan ringan sekali.
menghadapi serangan yang amat cepat ini, Gak Toan membela diri dengan jurus Hwai-tiong-po-gwat (Peluk bulan depan dada), goloknya memukul pedang sehingga terpental, kemudian dia mendesak dengan balasan serangannya dengan jurus Coan-jiu-ciong-to (Luruskan tangan sembunyikan golok).
Dengan jurus ini, bukan mata goloknya yang menyerang, melainkan tangan yang menggenggam gagang golok, menghantam dengan kuat sekali.
Kiok Hwi meloncat ke belakang untuk mengelak, kemudian mengelebatkan pedangnya dengan tubuh berputar dalam jurus serangan Sin-liong-tiauw-ti (Naga sakti sabetkan ekornya).
Namun lawannya juga dapat meloncat ketika kakinya diserampang pedang itu.
Mereka saling serang dan yang paling terkejut adalah Han Lin karena dia mengenal ilmu golok yang dimainkan Gak Toan itu.
Tidak salah lagi, itulah ilmu golok dari partai Hoat-kauw yang pernah dilihatnya dimainkan leh mendiang Ang-sin-liong Yu Kiat, orang pertama dari Bu-tek Ngo-sin-liong dari Hoat-kauw!
Jelas Gak Toan ini murid Hoat-kauw dan mengertilah dia sekarang mengapa Gak Toan mati-matian menuduh Kiok Hwi memegang Ang-in-po-kiam.
Kini dia mengerti bahwa yang menyebar desas-desus bahwa Cin-ling-pai mencuri pedang pusaka itu adalah sisa orang-orang Hoat-kauw!
Tentu dilakukan untuk mengadu domba antara orang-orang kang-ouw yang dulu tidak mau tunduk kepada Hoat-kauw seperti halnya Cin-ling-pai.
Dia melihat bahwa Gak Toan ini cukup lihai, tentu dia seorang murid dari Bu-tek Ngo-sin-liong atau mungkin murid dari mendiang Hoat Lan Siansu sendiri.
Seorang anggauta Hoat-kauw yang sudah tinggi tingkatnya.
Kalau perkelahian itu dilanjutkan, biarpun Kiok Hwi juga lihai, akan tetapi gadis itu tentu akan kalah.
Maka, tanpa menanti sampai Kiok Hwi kalah, Han Lin melompat dengan gerakan indah, membuat salto beberapa kali dan tiba di atas panggung.
Begitu tongkat hitamnya bergerak, sinar hitam yang dahsyat menyambar di antara dua orang yang sedang bertanding, yang memaksa keduanya mundur dengan kaget sekali.
Kiok Hwi memandang heran dna marah, akan tetapi Han Lin cepat berkata kepadanya.
"Nona, jangan layani dia. Dia ini seorang saksi palsu yang membuat kesaksian bohong!"
Suaranya lantang sehingga terdengar oleh semua orang. Kiok Hwi terkejut dan mundur. Gak Toan tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha, agaknya ada orang yang takut kalau nona muda itu kalah, maka sengaja membikin kacau. Orang muda, siapa engkau dan apa maksudnya kata-katamu tadi?"
Han Lin tidak memperdulikan orang itu dan menghadap kepada ketua Cin-ling-pai sambil berkata.
"Pangcu, saya datang bukan untuk mengacau pertemuan yang diadakan oleh Cin-ling-pai, melainkan untuk memberi kesaksian bahwa saksi ini adalah seorang pembohong besar, maka tidak perlu dia dilayani."
Bu-eng-kiam-hiap Yap Kong Sin tadi sudah melihat gerakan tongkat Han Lin dan mengenal orang pandai, maka dia membalas penghormatan Han Lin dan berkata.
"Sobat muda, coba jelaskan mengapa engkau mengatakan dia pembohong besar. Kami juga tahu dia pembohong besar, sayang kami tidak mempunyai bukti."
"Ha-ha-ha, kalian menuduh aku berbohong, akan tetapi mana buktinya bahwa aku berbohong? Kalau Cin-ling-pai tidak mampu membuktikan bahwa mereka tidak mencuri Ang-in-po-kiam, maka itu hanya berarti bahwa desas-desus itu memang benar adanya!"
Kata Gak Toan dengan suara nyaring. Banyak orang agaknya menyatakan setuju dengan pendapat Gak Toan ini dan Yap-pangcu namapk bingung dan memandang kepada Han Lin penuh harapan.
"Jelas bahwa Gak Toan ini pembohon besar kalau mengatakan telah melihat Yap-siocia memainkan ilmu dengan Pedang Awan Merah!"
Seru Han Lin dengan nyaring.
"Karena pedang pusaka itu selama ini berada di tanganku! Kalian lihat baik-baik, bukankah ini yang dinamakan Pedang Pusaka Awan Merah?"
Dia meraba buntalannya dan nampak sinar merah berkelebat ketika dia mencabut Ang-in-po-kiam.
Kembali orang-orang menjadi berisik dan semua orang mengakui bahwa itu adalah Pedang Pusaka Awan Merah.
Melihat bahwa kebohongannya terbongkar, Gak Toan yang baru sekarang ingat bahwa pemuda ini dahulu ikut menyerbu Hoat-kauw bersama pasukan pemerintah, segera mendapat akal baru.
"Saudara-saudara sekalian! Kalau begini buktinya, hanya ada dua kemungkinan! Pertama, mungkin pihak Cin-ling-pai telah menitipkan pedang pusaka itu kepada pemuda ini, atau pemuda inilah yang sebenarnya menjadi pencuri pedang itu!"
Karena semua orang melihat bahwa pedang berada di tangan pemuda itu, maka ucapan ini agaknya dapat mereka terima dan mereka nampak bergerak dan agaknya siap hendak menerjang Han Lin.
"Omitohud...!"
Kata tokoh Siauw-lim-pai dan suaranya itu biarpun lembut dapat menembus suara kegaduhan yang kacau itu sehingga semua orang diam mendengarkan.
"Orang muda, pedang pusaka itu bagaimana dapat berada di tanganmu? Jelaskanlah kalau engkau tidak mau dituduh sebagai pencurinya dari gudang pusaka."
"Benar,"
Kata tosu tokoh Hoa-san-pai.
"Harus dijelaskan benar siapa sesungguhnya pencuri pedang dari kota raja, agar nama dunia persilatan tidak menjadi cemar. Harus diketahui dengan jelas siapa yang bersalah dalam peristiwa ini!"
"Saudara sekalian yang gagah perkasa,"
Kata Han Lin.
"Pedang ini kudapatkan dari seseorang yang telah mencurinya dari gudang pusaka istana. Sebetulnya aku sedang dalam perjalanan menuju ke kota raja untuk menyerahkan kembali pedang pusaka ini kepsa pemiliknya, yaitu Sribaginda Kaisar. Akan tetapi dalam perjalanan aku mendengar tentang desas-desus bahwa Cin-ling-pai yang mencuri pedang ini dan bahwa Cin-ling-pai hari ini akan mengadakan pertemuan dengan para tokoh kang-ouw untuk membicarakan desas-desus itu. Mendengar ini, aku sengaja datang ke sini untuk membantu Cin-ling-pai membersihkan namanya. Tidak kusangka muncul Gak Toan ni yang menceritakan kebohongan besar dan aku tahu mengapa dia berbuat demikian. Saudara sekalian, ketahuilah yang melempar desas-desus melakukan fitnah kepada Cin-ling-pai adalah Hoat-kauw karena pencuri pedang yang sesungguhnya adalah mending Hoat Lan Siansu ketua Hoat-kauw yang telah dibasmi pemerintah karena bersekutu dengan bangsa Mongol untuk memberontak. Dan siapakah Gak Toan ini? Aku tadi melihat permainan goloknya dan aku yakin diapun seorang murid Hoat-kauw!"
Mendadak Gak Toan yang tadi masih berdiri di atas panggung, melompat jauh dan menyusup di antara tamu, terus melarikan diri.
Semua orang masih tercengang mendengar ucapan Han Lin sehingga tidak ada yang sempat menghalangi larinya Gak Toan.
Ributlah semua orang setelah mendengar keterangan Han Lin.
Akan tetapi masih ada juga yang merasa penasaran.
"Bagaimana kita tahu bahwa cerita itu tidak berbohong? Tadipun cerita Gak Toan terdengar meyakinkan dan ternyata dia berbohong. Dan bagaimana dengan cerita yang ini? Tanpa saksi bagaimana kita dapat menerimanya begitu saja?"
Tiba-tiba terdengar suara dari bagian para tamu kehormatan di atas panggung dan seorang tosu tinggi kurus bermata sipit bangkit berdiri.
"Siancai...! Pinto Tiong Sin Tojin dari Kun-lun-pai menjadi saksi akan kebenaran ucapan tai-hiap (pendekar besar) Sia Han Lin tadi!"
"Aku juga menjadi saksi akan kebenaran ucapannya!"
Terdengar suara melengking dan seorang pendeta wanita, yaitu Lian Hwa Siankouw wakil ketua Kwan-im-pai bangkit berdiri.
"Siancai! Pinto juga menjadi saksi. Apa yang dikatakan Sia-taihiap itu semuanya benar!"
Kini Thian Gi Tosu yang tinggi besar bermuka kehitaman, tokoh Go-bi-pai berseru dengan suaranya yang besar.
Melihat betapa tiga orang tokoh besar dunia persilatan ini memberikan kesaksian mereka, semua orang percaya dan lenyaplah keraguan mereka.
Yang paling gembira tentu saja pihak Cin-ling-pai.
Ketua Cin-ling-pai sendiri, Bu-eng-kiam-hiam Yap Kong Sin segera menghampiri Han Lin dan menarik tangan pemuda itu diajak duduk di tempat kehormatan.
Semua orang mengelu-elukan Han Lin dan ketika pesta itu bubar, Han Lin ditahan oleh keluarga Cin-ling-pai, menjadi tamu terhormat di Cin-ling-pai.
"Kami seluruh keluarga Cin-ling-pai dibikin pusing oleh fitnah itu dan kami tidak tahu bagaimana harus membersihkan nama kami. Agaknya kami harus mempertahankan nama kami dengan pertumpahan darah kalau saja tidak muncul Sia-sicu yang membersihkan kembali nama kami. Tidak tahu bagaimana kami harus membalas budi kebaikan Sia-sicu,"
Kata ketua Cin-ling-pai itu ketika dia menjamu Han Lin. Para tokoh Cin-ling-pai yang hadir dalam pesta kecil itu menganggukkan kepala dan mereka memandang kagum kepada Han Lin.
"Ah, Paman Yap, harap jangan banyak sungkan. Perbuatan saya ini merupakan kewajiban yang harus saya lakukan, sama sekali bukan budi kebaikan. Semua orang yang menjunjung tinggi kegagahan tentu akan bertindak seperti saya, membersihkan nama Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan yang gagah perkasa."
"Aku kagum sekali melihat gerakan taihiap Sia Han Lin ketika melerai pertandinganku melawan Gak Toan itu!"
Tiba-tiba Kiok Hwi berkata dengan gembira.
"Karena itu, aku mohon kepada Sia-taihiap untuk memberi petunjuk sejurus dua jurus dalam ilmu pedang!"
Han Lin berusaha untuk menolak halus, akan tetapi Yap-pangcu sendiri lalu bangkit dan memberi hormat kepada Han Lin.
"Harap Sia-sicu tidak terlalu pelit untuk memberi petunjuk kepasa puteri kami."
Terpaksa Han Lin melayani.
Mereka semua lalu pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) dari Cin-ling-pai yang luas.
Ketika berita ini terdengar oleh para anak buah Cin-ling-pai berbondong-bondong mereka datang ke lian-bu-thia untuk menonton pertandingan untuk menguji ilmu silat itu dengan gembira.
Mereka semua maklum akan lihainya sumoi mereka, yaitu Yap Kiok Hwi yang menerima gemblengan khusus dari Yap-pangcu.
Dan semua orang ingin melihat sendiri bagaimana hebatnya pemuda yang telah membersihkan nama Cin-ling-pai itu.
Kiok Hwi dengan gembira mencabut pedangnya dan memasang kuda-kuda.
Han Lin memegang tongkat bututnya dan gadis itu yang melihat ini berkata.
"Sia-taihiap, kenapa engkau tidak mencabut Ang-in-po-kiam?"
"Nona, kita hanya main-main saja, bukan? Biarlah, aku rasa sudah cukup kalau aku menggunakan tongkatku ini. Jangan pandang rendah tongkatku ini, nona. Ini tongkat wasiat peninggalan guruku!"
Karena ketika mengatakan ini suara Han Lin sungguh-sungguh, maka Kiok Hwi tidak merasa dipandang rendah dan ia mulai menggerakkan pedangnya dengan gerakan indah dari ilmu pedang Cin-ling-pai.
"Lihat pedang!"
Teriaknya dan iapun mulai membuka serangan dengan tusukan pedang ke arah dada Han Lin.
Pemuda ini miringkan tubuhnya dan tongkatnya meluncur ke arah lengan tangan gadis itu yang memegang pedang.
Kiok Hwi memiliki gerakan yang cukup gesit.
Melihat serangannya luput dan sebaliknya lengan kanan yang memegang pedang terancam, ia menarik kembali tangannya ke belakang, memutar tubuh ke kanan dan pedangnya berkelebat menyambar, kini membacok ke arah leher Han Lin dengan kecepatan kilat.
Han Lin kagum.
Ilmu pedang Cin-ling-pai memang hebat dan gadis itu sudah menguasainya dengan baik, juga memiliki kecepatan mengagumkan.
Hanya dalam tenaga sin-kang, gadis itu masih harus memperkuatnya lagi.
Dia menangkis dengan tongkatnya dan balas menyerang.
Namun Kiok Hwi juga dapat menghindarkan diri.
Ketika tongkat Han Lin menyerampang ke arah kedua kakinya, gadis itu melompat ke atas, berjungkir balik dan ketika tubuhnya menukik turun, bagaikan seekor rajawali ia menyerang dari atas, pedangnya diputar cepat dan setelah dekat menyambar ke arah dahi Han Lin!
"Bagus!"
Han Lin melempar tubuh ke samping dan berjungkir balik miring, kemudian tongkatnya diputar dan tepat dapat menangkis pedang gadis itu ang sudah berdiri dan menyabetkan pedangnya.
"Trangg...!"
Nampak bunga api terpercik dari pedang itu ketika tertangkis tongkat dan gadis itu merasa tangannya tergetar hebat.
Namun ia masih belum puas dan menyerang lagi, sekali ini mengandalkan kecepatannya sehingga nampaknya Han Lin terdesak dan terhimpit oleh gulungan sinar pedang itu.
Tentu saja Han Lin sengaja mengalah.
Dia bergerak mengimbangi gadis itu, dia tidak ingin mengalahkannya dalam waktu singkat agar tidak menyinggung harga diri nona itu.
Maka pertandingan itu nampak seru dan seimbang membuat girang hati Kiok Hwi karena ia merasa dapat mengimbangi penolong Cin-ling-pai.
Hanya ayahnya yang tahu bahwa pemuda itu banyak mengalah.
Para murid Cin-ling-pai tidak ada yang mengetahui dan memuji ilmu pedang sumoi mereka.
Setelah merasa cukup, Han Lin ingin mengakhiri adu ilmu itu, akan tetapi tidak ingin mengalahkan gadis itu secara mutlak.
Maka dia lalu mengubah ilmu tongkatnya dan memainkan Lui-tai-hong-tung (Tongkat Kilat dan Badai) dan tiba-tiba saja tongkat itu mengeluarkan angin menderu-deru.
Bukan hanya Kiok Hwi yang terkejut, juga ketua Cin-ling-pai terbelalak dan para murid Cin-ling-pai terkejut sekali.
Kiok Hwi mencoba menahan diri dan memutar pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu membentuk gulungan sinar yang seolah menjadi perisai baginya.
Namun angin badai itu masih menembus perisai sinar itu dan membuatnya terhuyung ke belakang dan hampir saja terjengkang.
Pada saat itu Yap-pangcu meloncat ke tengah di antara mereka dan diapun harus mengerahkan sin-kangnya agar tidak sampai terdorong oleh angin yang menderu itu.
"Cukup, Sia-sicu...!"
Katanya akan tetapi Han Lin sudah menghentikan gerakan tongkatnya dan angin menderu itupun lenyap.
"Wah, sungguh luar biasa sekali ilmu tongkatmu, sicu!"
Yap-pangcu memuji sambil memberi hormat.
"Sia-taihiap, ilmu aneh apakah yang kaumainkan tadi? Menimbulkan angin badai!"
Kata pula Kiok Hwi kagum.
"Ah, Yap-siocia telah mengalah kepadaku. Terima kasih."
"Mari kita melanjutkan makan minum, sicu,"
Kata ketua itu gembira sekali dan mereka kembali ke ruangan tamu.
Di situ, Yap-pangcu sendiri menuangkan anggur untuk mmeberi selamat dan hormat kepada tamunya.
Sementara itu, diam-diam Kiok Hwi merasa tertarik sekali.
Ia tahu bahwa pemuda itu hendak menjaga namanya, maka ketika mengalahkannya, tongkatnya sama sekali tidak menyentuhnya.
Pemuda itu mengalahkannya hanya dengan angin pukulan tongkatnya saja.
Bagaimana kalau menyerang dengan tongkatnya, menyerang sehingga tongkat itu mengenai tubuhnya?
Ia bergidik.
Baru angin pukulannya saja begitu hebat!
Ia tertarik sekali dan ketika matanya memandang, dari matanya terpancar sinar yang aneh, bahkan ia nampak tersipu kalau kebetulan Han Lin memandang kepadanya.
Pernah satu kali Yap-pangcu memergoki puterinya tersipu, dan diapun tersenyum.
Dia adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang berwatak jujur.
Ketika timbul gagasan untuk menjodohkan puterinya dengan pemuda penolong Cin-ling-pai itu, segera saja dia mengajukan pertanyaan bertubi kepada Han Lin untuk mengetahui keadaannya.
"Sicu, kalau aku boleh bertanya, siapakah guru sicu yang menurunkan ilmu-ilmu yang hebat itu?"
Han Lin telah dipesan oleh Lojin agar jangan memperkenalkan namanya, walaupun itu hanya Lojin (Orang Tua) saja, kepada orang lain, maka dia menjawab.
"Mendiang suhu saya adalah Kong Hwi Hosiang."
"Ah, hwesio pengembara itu. Aku pernah mendengar namanya yang terkenal sebagai seorang locianpwe yang sakti. Dan siapakah orang tuamu, sicu?"
Han Lin tersenyum untuk menutupi pedihnya hati mendengar orang bertanya tentang orang tuanya.
"Ayah dan ibu saya telah tiada, paman. Saya yatim piatu dan sebatangkara."
"Maafkan aku, sicu, kalau aku bertanya tentang mereka dan membuatmu sedih."
Han Lin tersenyum.
"Tidak mengapa, paman. Kematian adalah peristiwa yang sudah menjadi takdir, saya tidak lagi menyedihkan kematian mereka."
"Dan... berapakah usiamu, sicu?"
Ketua Cin-ling-pai mulai memancing. Han Lin masih menganggap pertanyaan itu wajar saja, timbul dari keakraban.
"Dua puluh satu tahun lebih, paman."
"Dalam usia sekian, sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, sudah tentu sicu sudah berumah tangga, bukan? Di mana tempat tinggal sicu, dan apakah sicu sudah mempunyai putera?"
Pancingan itu semakin jelas, akan tetapi Han Lin yang belum mempunyai pengalaman dalam urusan ini, masih belum mengerti dan wajahnya berubah agak kemerahan ketika dia menjawab.
"Paman Yap Kong Sin, saya belum mempunyai anak, bahkan belum menikah."
"Kenapa, sicu? Seorang pendekar seperti sicu, sudah sepantasnya berumah tangga dan membentuk keluarga agar kelak ada yang melanjutkan perjuangan sicu."
"Aih, paman. Saya seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara, tidak mempunyai apa-apa, bagaimana saya akan memikirkan tentang perjodohan?"
Girang bukan main perasaan hati ketua Cin-ling-pai itu.
Dia mengerling ke arah puterinya dan melihat gadis itu menundukkan mukanya yang berubah kemerahan dan semua tokoh Cin-ling-pai yang hadir di situ tersenyum-senyum.
Semua orang sudah tahu arah pembicaraan itu, kecuali Han Lin sendiri.
"Sia-sicu, maafkan ucapanku ini. Aku memang orang yang biasa bicara secara terbuka dan biarlah percakapan ini disaksikan dan didengar pula oleh para murid kepala dan suteku yang hadir di sini. Sicu, kami hanya mempunyai seorang ank, yaitu puteri kami Yap Kiok Hwi yang sekarang telah berusia delapan belas tahun dan masih belum juga terikat perjodohan dengan siapapun juga. Nah, kalau sicu setuju, kami bermaksud untuk menjodohkan kalian, yaitu sicu dan puteri kami."
"Aih, ayah...!"
Kiok Hwi bangkit berdiri dan tersipu-sipu lari ke dalam mencari ibunya.
Semua orang yang hadir di situ tersenyum melihat sikap Kiok Hwi.
Dari sikap gadis itu saja sudah dapat diketahui bahwa Kiok Hwi tidak berkeberatan.
Kalau keberatan tentu gadis yang juga jujur dan terbuka itu seketika sudah menyatakan penolakannya atas usul perjodohan ayahnya.
Akan tetapi ia lari tersipu malu, itu tidak lain artinya tentu bahwa gadis itu juga menyetujui.
"Bagaimana, Sia-sicu?"
Tanya Yap Kong Sin yang tadi tertawa gembira melihat ulah puterinya.
"Harap engkau tidak sungkan dan malu-malu, kami sudah biasa untuk bicara secara terbuka begini."
Tentu saja Han Lin tersipu dan merasa serba salah.
Harus diakui bahwa Kiok Hwi adalah seorang gadis yang tidak ada cacat celanya sebagai seorang calon isteri.
Masih muda, cantik jelita, gagah perkasa, puteri seorang ketua perkumpulan para pendekar pula.
Apa lagi yang kurang?
Mau cari yang bagaimana?
Dan gadis itu agaknya juga tertarik kepadanya.
Betapa akan bahagianya menerima kasih sayang seorang gadis jelita seperti Kiok Hwi.
"Paman, harap paman sekalian sudi memaafkan saya. Saya merasa amat berterima kasih dan terharu sekali atas maksud hati paman yang baik dan merasa amat terhormat. Seorang yatim piatu dan miskin seperti saya telah mendapat kehormatan dna penghargaan paman. Akan tetapi, paman, perjodohan adalah suatu peristiwa yang suci dan penting sekali dalam kehidupan seorang manusia, oleh karena itu harus dilakukan dengan keputusan hati yang bulat. Dan saya, pada saat ini, sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan, dan sama sekali belum ingin terikat tali kekeluargaan. Maka, maafkanlah saya yang tidak dapat menerima kehormatan besar ini."
Yap Kong Sin menghela napas panjang.
"Engkau benar, sicu. Agaknya kami yang tergesa-gesa. Karena itu, biarlah kami tangguhkan saja hasrat hati kami ini sampai nanti pada saat sicu sudah siap benar. Akan tetapi kami harap sicu tidak melupakan usul perjodohann kami ini sehingga kalau sicu sudah mengambil keputusan untuk berjodoh, sicu dapat mempertimbangkan keinginan kami."
"Tentu saja, paman. Akan tetapi, saya harap paman tidak menganggap ini sebagai suatu ikatan. Kalau sampai nona Yap menemukan jodohnya, harap paman tidak ragu untuk menjodohkannya tanpa memikirkan saya. Dan sekarang, saya kira sudah cukup lama saya menunda keberangkatan saya, paman. Saya akan langsung ke kota raja menyerahkan Ang-in-po-kiam kepada Sribaginda Kaisar. Selamat tinggal."
Han Lin bangkit dan memberi hormat kepada tuan rumah, dan kepergiannya diantar oleh ketua itu sampai ke pintu gerbang depan.
Han Lin melangkah menuruni lereng meninggalkan perkampungan Cin-ling-pai.
Dari puncak bukit dia memandang ke bawah dan pagi hari itu matahari bersinar cerah, pemandangan alam amatlah indahnya terbentang luas di bawah sana.
Di sekelilingnya nampak bukit-bukit menonjol dalam berbagai bentuk yang aneh-aneh.
Di sana sini nampak kabut tinpis yang membuat warna hijau pegunungan berubah menjadi kebiruan.
"Taihiap...!"
Seruan ini membuat Han Lin berhenti menahan langkahnya dan menoleh.
Kiok Hwi berlari-larian menuruni lereng itu.
Ketika tiba di depannya, gadis itu agak terengah, mukanya menjadi kemerahan karena berlarian itu, rambutnya agak awut-awutan tertiup angin.
Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan Han Lin bertanya.
"Nona Yap, kenapa engkau menyusulku? Apakah ada pesan yang kaubawa dari Paman Yap?"
Gadis itu menggeleng kepalanya, dan belum dapat menjawab.
"Lalu, apakah yang menyebabkan nona berlarian menyusulku?"
Gadis itu nampak tersipu.
"Tidak ada yang menyuruh aku, taihiap."
"Nona, tidak enak rasanya engkau menyebut aku dengan sebutan taihiap. Cin-ling-pai telah bersahabat denganku, maka jangan engkau menggunakan sebutan yang sungkan itu."
"Baiklah, Lin-ko (kakak Lin), akan tetapi engkaupun jangan menyebut aku dengan sebutan nona seperti kita ini orang yang asing satu kepada yang lain."
"Baik, Hwi-moi. Nah, katakan mengapa engkau menyusulku? Ada kepentingan apakah?"
"Tidak ada kepentingan apa-apa, Lin-ko. Tadi aku berada di kamar ibu, ketika ayah datang memberitahukan bahwa engkau telah pergi meninggalkan Cin-ling-pai, aku terkejut dan segera menyusulmu. Aku tidak mengira bahwa engkau akan terus pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku."
Han Lin tersenyum dan memberi hormat dengan kedua tangan di depan dada.
"Maafkan aku, Hwi-moi, kalau aku tidak berpamit karena tidak sempat. Aku agak tergesa karena harus cepat mengembalikan pedang pusaka kepada Sribaginda Kaisar, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan lagi atas diriku."
"Aku tidak menyangka kita akan berpisah demikian cepatnya, Lin-ko."
Han Lin tersenyum.
"Setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan, Hwi-moi. Dan sekarang kita telah bertemu, maak aku ingin mengucapkan selamat tinggal dan pamit kepadamu."
"Lin-ko, aku... aku ingin sekali ikut bersamamu ke kota raja, mengembalikan pedang pusaka itu ke istana. Aku... aku khawatir kalau terjadi apa-apa kepadamu dan aku ingin membantu. Biarkan aku menemanimu, Lin-ko."
Han Lin mengerutkan alisnya. Dia terkejut mendengar ucapan gadis itu.
"Ah, Hwi-moi, bagaimana mungkin itu? Orang tuamu tentu akan marah kepadaku kalau engkau ikut denganku."
"Aku yang bertanggung jawab!"
"Tidak, Hwi-moi. Ini tidak baik. Seorang gadis seperti engkau pergi bersamaku, apa akan kata orang terhadap diriku? Pula, aku tidak memerlukan bantuan, dan aku... tidak sanggup melindungimu. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu denganmu? Ayahmu tentu akan menyalahkan aku."
"Lin-ko, engkau... menolak permintaanku? Apakah engkau tidak sayang kepadaku, Lin-ko?"
Han Lin tersenyum dan jantngnya berdebar.
Salahkah perkiraannya bahwa dengan ucapan itu Kiok Hwi menghendaki bahwa dia sayang kepadanya?
"Bukan soal tidak sayang, Hwi-moi, melainkan soal kepantasan dan tanggung jawab.
Maafkan aku, Hwi-moi, aku sungguh tidak dapat membawamu pergi bersama.
Selamat tinggal dan terima kasih atas budi kebaikan keluargamu selama ini!"
Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban lagi Han Lin menggunakan kepandaiannya untuk meloncat dan lenyap dari situ.
"Lin-ko...! Tunggu...!"
Terpaksa Han Lin menahan langkahnya dan kembali ke depan gadis itu.
"Ada apakah, Hwi-moi?"
Kiok Hwi melepaskan seuntai kalungnya yang terbuat dari pada emas dan digantungi seekor burung Hong emas dihias permata yang indah.
"Toako, kalau engkau tidak mau membawa diriku, kau bawalah kalungku ini."
"Ehhh? Kalung? Untuk apa kalung itu bagiku?"
Tanyanya heran dan belum menerima kalung itu karena dia merasa bingung.
"Lin-ko, perjalananmu jauh dan membutuhkan biaya besar. Karena itu, aku hanya mampu membekali perhiasan ini agar kalau engkau kekurangan biaya dapat kaujual untuk keperluanmu."
Terpaksa Han Lin menerimanya. Dia sudah menolak keinginan gadis itu untuk menemaninya, kalau sekarang dia menolak pula pemberiannya, tentu akan membuat gadis itu merasa kecewa.
"Terima kasih, Hwi-moi. Engkau sungguh terlalu baik untukku."
"Baik? Aih, Lin-ko. Kalau mau bicara tentang kebaikan, engkaulah yang sudah berbuat kebaikan yang tak ternilai harganya bagi Cin-ling-pai, membersihkan nama dan kehormatan kami."
"Sudah cukup, Hwi-moi, sekali lagi selamat tinggal dan sampaikan hormatku kepada ayah ibumu."
Setelah memberi hormat, Han Lin membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Kiok Hwi mengikuti langkahnya dengan pandang mata sayu dan kedua mata gadis itu menjadi basah.
Ah, ia tidak dapat menipu diri sendiri.
Ia telah jatuh cinta kepada pemuda sederhana itu.
Kim-kok-pang adalah sebuah perkumpulan para pendulang emas yang berhasil.
Semenjak Kim-kok-pang kematian ketuanya bernama Ji Kim Ek yang terbunuh oleh orang-orang Hoat-kauw dan kedudukan ketua digantikan Ji Kiang Bwe, puterinya yang gagah perkasa, perkumpulan itu semakin maju.
Apa lagi ketika Ji Kiang Bwee menikah dengan Souw Kian Bu, pendekar yang tinggi pula ilmu silatnya, kedudukan Kim-kok-Pang di dunia persilatan semakin kokoh kuat.
Di bawah bimbingan suami isteri pendekar ini, Kim-kok-pang bukan saja menjadi perkumpulan yang makmur karena penghasilan dari pendulangan emas itu ternyata cukup mendatangkan kemakmuran kepada para anggotanya, akan tetapi juga perkumpulan itu berkembang menjadi perkumpulan besar.
Kalau dulu di waktu Ji Kiang Bwee pertama kali memegang kedudukan ketua menggantikan ayahnya yang tewas perkumpulan itu hanya memiliki anggota kurang lebih seratus orang, kini selama satu tahun, jumlah anggota mereka ada dua ratus lebih keluarga, yang berarti lebih dari lima ratus orang.
Perkampungan mereka menjadi semakin luas, dengan bangunan pondok-pondok yang memadai, walaupun tidak mewah.
Pendeknya, setiap keluarga anggota Kim-kok-pang cukup sandang pangan dan papannya.
Souw Kian Bu membantu isterinya bahkan atas kehendak Ji Kiang Bwee yang disebut ketua adalah suaminya dan ia sendiri menjadi ketua kedua atau pembantu ketua pertama!
Souw Kian Bu juga tidak tinggal diam.
Dia mengharuskan anak-anak keluarga itu untuk belajar membaca menulis lalu merangkai ilmu silat yang diambil dari inti sari ilmu-ilmu mereka, dan menamakan ilmu silat itu Kim-kok-kun (Silat Lembah Emas).
Ji Kiang Bwee tidak hanya mewarisi ilmu silat dari ayahnya, ketua pertama Kim-kok-pang, akan tetapi iapun murid Pek Mau Sian-kouw, pertapa wanita yang sakti.
Sedangkan suaminya, Souw Kian Bu, menerima gemblengan dari ayah ibunya sendiri.
Ayahnya adalah Souw Hui San, tokoh Gobi-pai yang lihai, dan ibunya Yang Kui Lan adalah murid mendiang Kong Hwi Hosiang maka tentu saja Souw Kian Bu memiliki ilmu silat yang lihai, bahkan hampir setingkat isterinya.
Kalau suami isteri ini kemudian merangkai sebuah ilmu silat, maka tentu saja ilmu silat itu hebat.
Dan kini semua anggota Kim-kok-pang diharuskan berlatih dengan ilmu Kim-kok-kun.
Kehidupan manusia di dunia ini tidak ada yang abadi, keadaannyapun tidak menentu.
Seperti berputarnya roda, maka setiap orang manusia itu kadang berada di atas, kadang di bawah.
Kadang tertawa bahagia, kadang menangis sedih.
Kemujuran dan kemalangan silih berganti melanda kehidupan.
Dan semua ini sudah wajar, seperti wajarnya atas dan bawah, kanan dan kiri, terang dan gelap dan sebagainya lagi keadaan yang berlawanan.
Seseorang tidak mungkin mengenal senang kalau dia tidak pernah mengenal susah, tidak pernah mengenal enak kalau tidak pernah mengenal tidak enak.
Mana mungkin mengenal rasa manis kalau tidak ada rasa lain yang berlawanan?
Hidup merupakan perjuangan.
Perjuangan menghadapi segala macam tantangan dan tentangan.
Justeru tantangan-tantangan inilah yang meramaikan hidup, memberi warna dan menjadi romantika kehidupan.
Bayangkan, alangkah monoton, tanpa irama dan menimbulkan jenuh kalau kehidupan ini berjalan mulus tanpa adanya halangan dan rintangan sedikitpun.
Orang akan menjadi malas dan tidak bergairah.
Bagaimana muaknya kalau setiap saat kita hanya makan yang manis melulu, tanpa adanya rasa lain seperti pahit getir asin masam sebagai imbangannya.
Betapa membosankan kalau segala sesuatu dapat dicapai secara mudah, tanpa kesukaran, tanpa halangan.
Karena itu, bahagialah orang yang dapat menghagai kesulitan seperti menghargai kemudahan, dapat mengambil hikmah dari kesengsaraan serta melihat racun dalam kesenangan.
Bukankah yang enak-enak itu biasanya mendatangkan penyakit dan obat itu hampir selalu terasa pahit?
Demikianlah pula dengan kehidupan Souw Kian Bu dan Ji Kiang Bwee yang nampaknya bahagia dan mulus.
Baru pada malam pengantin pertama saja mereka sudah harus menghadapi tantangan yang membahayakan kelangsungan hidup berumah tangga mereka.
Biarkan Souw Kian Bu merupakan seorang pemuda yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman dengan wanita, akan tetapi dari orang tuanya dia pernah mendapat pengertian tentang arti keperawanan seorang gadis.
Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa gelisah dan kecewa hatinya ketika dia mendapat kenyataan di malam pengantin pertama itu bahwa isterinya, Ji Kiang Bwee, bukan perawan lagi.
Tentu saja hal ini membuatnya menjadi murung dan bahkan dia tidak mau menjawab ketika keesokannya harinya isterinya mengajaknya bicara.
Ji Kiang Bwe akhirnya mengetahui apa yang menyebabkan suaminya murung.
"Bu-koko, aku mengerti bahwa aku sudah bukan perawan lagi, begitukah?"
Pertanyaan yang demikian terbuka dari isterinya membuat Kian Bu mengangkat muka memandang wajah isterinya penuh selidik dan terdengarlah ucapannya yang bernada dingin sekali.
"Hemm, kalau engkau sudah mengetahu dan mengerti, tentu engkau mengerti pula betapa pentingnya hal itu bagi kelangsungan suami isteri!"
"Suamiku, mencurigai dan menuduh itu adalah hakmu, boleh saja, akan tetapi itu tidak bijaksana kalau kau diamkan dan simpan di dalam hati saja. Kenapa tidak kau tanyakan sebabnya? Ada akibat tentulah ada sebabnya, bukankah begitu? Dan kalau engkau sudah mengetahui sebabnya, belum tentu engkau akan menyesal akibatnya."
Melihat isterinya bersikap tenang saja, jelas bukan sikap seorang yang bersalah, Kian Bu menjadi agak dingin hatinya dan diapun bertanya.
"Bwe moi, antara suami isteri tidak semestinya ada rahasia. Dan urusan yang mengenai dirimu juga menyangkut diriku, sebaiknya kalau engkau ceritakan semua kepadaku untuk kupertimbangkan masak-masak. Terus terang saja, bagaimana engkau kehilangan keperawananmu?"
Kiang Bwe tersenyum dan agak tersipu.
"Suamiku, percayalah, bukan karena aku pernah berjina dengan seseorang atau pernah diperkosa seseorang. Sama sekali tidak dan jauhkanlah bayangan itu dari pikiranmu. Aku sendiri tidak pernah menyadari bahwa peristiwa yang terjadi dahulu itu mengakibatkan aku kehilangan tanda keperawanan itu. Ketahuilah, ketika aku berlatih silat dengan ayahku, ayah melatihku dengan keras, mengharuskan aku melakukan jurus tendangan berantai sampai sempurna betul. Nah, dalam latihan itulah aku mengalami pendarahan, dan tentu itu agaknya telah mengakibatkan aku seperti ini."
Kian Bu mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Nah, kalau kau jelaskan begitu, tentu saja hatiku tidak merasa penasaran."
Dia merangkul dan mencium isterinya.
Agaknya selesai sudah perkara itu.
Akan tetapi ternyata belum.
Kiang Bwe melihat kerut di antara alis mata suaminya seringkali muncul dan akhirnya ia tidak tahan lagi.
Ia mengajak suaminya berkunjung ke makam ayahnya.
Kian Bu yang hanya mengira bahwa isterinya mengajaknya bersembahyang.
Akan tetapi ketika isterinya sudah memegang hio (dupa biting) yang membara dan berlutut di depan makam itu, dia mendengar isterinya berkata dengan suara lantang.
"Ayah, ayah mengetahui dan menjadi saksi ketika aku dahulu ayah paksa berlatih jurus tendangan berantai dan aku terjatuh mengalami pendarahan. Ayah menjadi saksi dan aku bersumpah telah menceritakan keadaan yang sebenarnya...."
Sampai di situ Kian Bwe menangis.
"Bwe-moi..!"
Kian Bu merangkulnya dan menghibur.
"Bwe-moi, kenapa engkau bersikap seperti ini? Aku percaya kepadamu, Bwe-moi, aku percaya...!"
Kiang Bwe masih terisak.
"Engkau tidak membohongi aku, koko. Aku dapat melihat pada wajahmu, betapa engkau kadang meragukan aku, kadang sangsi dan curiga...ah, Bu-ko, betapa hatiku tidak akan sedih dicurigai suami?"
Masalah keperawanan seorang isteri memang terkadang mendatangkan persoalan besar. Dan sikap suami seperti ini hanya menunjukkan bahwa soal itu teramat penting baginya.
"Aku tidak mencurigaimu, Bwe-moi. Sungguh!"
"Koko, sebetulnya engkau mencintai aku atau tidak?"
"Kenapa masih kautanyakan? Bukankah kita sudah menjadi suami isteri? Tentu saja aku cinta kepadamu, Bwe-moi."
"Akan tetapi engkau meributkan soal keperawanan. Engkau mencintai aku, ataukah engkau mencintai keperawanan? Kalau engkau mencintai diriku, bukan masalah lagi keperawanan itu. Kalau engkau mencintaiku, tentu akan mencintaiku dengan segala kekurangan dan keburukanku!"
"Maaf, Bwe-moi. Andaikata, aku mencintaimu sebagai seorang janda, tentu soal itu tidak akan menjadi persoalan. Seorang suami selalu ingin memandang isterinya sebagai seorang yang suci atau setidaknya baik sesuai d engan apa yang dibayangkannya. Suami isteri memerlukan keterbukaan, tidak harus ada rahasia yang tersembunyi, karena rahasia tersembunyi menunjukkan kekurang percayaan. Bahkan andaikata engkau dahulu pernah berhubungan dengan orang lain atau pernah diperkosa sekalipun, kalau hal itu sudah kuketahui sebelumnya, tentu tidak akan menjadi persoalan. Akan tetapi sekarang aku telah menyadari kesalahanku, dan aku akan mengusir semua keraguanku. Percayalah!"
Dan semenjak hari itu memang wajah Kian Bu tidak pernah lagi murung seperti yang sudah.
Agaknya peristiwa di makam ayah isterinya itu telah membuat dia percaya sepenuhnya kepada isterinya.
Namun, ada ganjalan di hati kedua suami isteri itu, yalah bahwa sampai setahun lebih mereka menikah, belum juga dikurnia seorang anak.
Dan pada suatu hari, selagi Ji Kiang Bwe melatih ilmu silat kepada para anggota wanita Beng-kauw di taman belakang rumahnya, melatih tiga belas orang wanita itu mempergunakan senjata sabuk rantai dan membentuk barisan sabuk rantai dengan tekun, tiba-tiba terdengar orang berseru.
"Bagus, sungguh merupakan barisan sabuk yang amat hebat!"
Kiang Bwe terkejut dan alisnya berkerut.
Siapa yang begitu kurang ajar berani mengintai ia sedang melatih para anggotanya.
Cepat ia membalikkan tubuhnya memandang ke arah orang yang mengeluarkan pujian itu.
D an ia terbelalak.
Seorang pria muda, berusia paling banyak dua puluh lima tahun, berwajah tampan berbadan tinggi, tegap berpakaian serba hitam, tengah berdiri sambil tersenyum memandangnya.
"Suheng....!"
Akhirnya ia berseru gembira sekali.
"Sumoi, kau baik-baik saja?"
Pria itu melangkah maju menghampiri.
Saking girangnya, Kiang Bwe memegang kedua tangan pria yang ternyata suhengnya itu.
Ketika ia menjadi murid Pek Mau Sian-kouw selama lima tahun, gurunya itu sudah mempunyai murid laki-laki bernama Gu San Ki.
Selama lima tahun Kiang Bwe belajar silat bersama suhengnya itu yang banyak membimbingnya dan hubungan mereka seperti kakak beradik saja.
"Suheng, angin apa yang membawamu datang ke sini? Dan bagaimana kabarnya dengan subo (ibu guru)?"
Gu San Ki tertawa dan sejenak mengamati sumoinya dari kepala sampai ke kaki, kemudia berkata.
"Engkau nampak sehat dan bahagia, sumoi. Sukurlah."
Melihat para muridnya memandang kepada mereka, Kiang Bwe baru ingat dan berkata.
"Ini adalah supek kalian. Beri hormat kepadanya. Dan tinggalkan kami. Tiga belas orang murid wanita itu lalu memberi hormat kepada Gu San Ki dan meninggalkan tempat itu.
"Duduklah, suheng dan ceritakan segalanya,"
Kata wanita itu sambil tersenyum gembira. San Ki memandang ke sekeliling lalu bertanya.
"Nanti dulu, sumoi. Di mana suamimu? Aku ingin berkenalan dengan dia."
"Dia sedang mengurus panen di sawah, nanti juga dia pulang. Bagaimana kabarmu dan subo? Ceritakanlah, suheng, aku sudah rindu sekali kepada kalian."
San Ki tersenyum.
"Benarkah? Engkau nampak bahagia dan....semakin cantik, sumoi. Maafkan bahwa ketika engkau menikah, aku tidak dapat hadir karena aku sedang tidak berada di rumah sedangkan subo sudah tua dan malas bepergian. Tentu suamimu gagah sekali bukan? Aku ingin berkenalan dengan pria yang beruntung sekali itu."
"Beruntung?"
Tanya Kiang Bwe.
"Tentu saja. Pria yang dapat mempersuntingmu tentulah seorang pria yang paling beruntung di dunia ini!"
Kata San Ki dengan sikap sungguh-sungguh.
"Engkau telah menjadi ketua Kim-kok-pang, dan aku mendengar bahwa engkau telah berhasil membimbing Kim-kok-pang ke jalan benar, berhasil memakmurkan anggotanya dan mempunyai seorang suami yang gagah perkasa dan mencinta."
"Suheng, sudahlah. Aku ingin mendengar tentang subo.
"Bagaimana subo sekarang?"
"Subo sudah tua, usianya sudah hampir delapan puluh tahun. Biarpun kesehatannya masih baik, akan tetapi tubuhnya sudah lemah."
"Ah, aku rindu kepada subo,"
Kata Kiang Bwe menarik napas panjang.
"Dan tidak rindu kepadaku? Padahal aku rindu setengah mati kepadamu, sumoi,"
Kata Sian Ki sambil tersenyum. Kiang Bwe memandang wajah suhengnya yang tampan gagah itu dan tertawa.
"Tentu saja akupun rindu kepadamu, suheng. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kenapa sampai sekarang belum juga mengirim kartu merahmu kepadaku?"
"Ah, orang macam aku ini siapa yang sudi, sumoi? Setelah engkau menikah, rasanya aku tidak akan menikah selama hidupku..."
Mendengar ini dan melihat wajah suhengnya nampak muram, Kiang Bwe terkejut sekali.
Ia bangkit berdiri dan menghampiri suhengnya, meletakkan tangannya di atas pundak suhengnya itu.
Suhengnya ini selalu baik kepadanya dan ia menganggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri saja, maka kata-kata itu tentu saja amat mengejutkan karena kata-kata itu jelas menyatakan bahwa suhengnya mencintanya sebagai seorang pria mencinta wanita dan agaknya dahulu mengharapkannya menjadi isterinya akan tetapi kalah dulu oleh Kian Bu.
"Gu-suheng...ingat, aku adalah sumoimu dan sejak dulu kau sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri,"
Katanya lembut dan terharu. San Ki menepuk-nepuk tangan yang berada di pundaknya itu. Aku tahu, sumoi, dan memang sudah nasibku demikian..."
Pada saat itu, terdengar suara orang.
"Bagus sekali!"
Kiang Bwe meloncat saking kagetnya dan San Ki memutar tubuh dengan kaget. Di sana sudah berdiri Kiang Bu dengan muka merah dan mata mencorong.
"Ah, Bu-koko, engkau sudah pulang? Perkenalkan, ini adalah suheng Gu San Ki yang pernah kuceritakan kepadamu. Sudah lama sekali, sejak aku meninggalkan subo, aku tidak bertemu lagi dengan dia. Kami berkumpul seperti suheng dan sumoi, selama lima tahun dan...."
"Bagus, bagus sekali!"
Kata pula Kian Bu dan suara suaminya itu amat mengejutkan Kiang Bwe.
"Ahh, sekarang aku mengerti. Betapa bodohnya aku..."
Dan Kian Bu berlari cepat memasuki rumah.
"Koko....!"
Kiang Bwe mengejarnya masuk dan San Ki yang menjadi bingung dan khawatir juga mengejarnya.
Di dalam, Kian Bu telah mengambil pedangnya dan buntalan pakaiannya.
Dia bertemu dengan isterinya di ruangan depan.
"Koko, engkau hendak pergi ke mana?"
Teriak isterinya.
"Jangan perdulikan lagi aku. Aku tidak sudi merampas kekasih orang lain!"
"Sudahlah, aku sudah mengerti semuanya sekarang. Aku telah menghancurkan hati kedua orang kekasih. Sekarang engkau bebas, Kiang Bwe dan aku tidak akan menghalanginya lagi. Engkau boleh kembali kepada kekasihmu yang lama...!"
Setelah berkata demikian, hatinya menjadi semakin panas karena dia kini teringat bahwa isterinya itu sudah tidak perawan lagi ketiak menikah dengannya.
Dan suhengnya itu sudah lima tahun hidup bersama Kiang Bwe, tentu suhengnya itulah yang dahulu menjadi kekasihnya.
Dia melompat dan pergi.
Di beranda depan dia bertemu dengan San Ki yang mencoba untuk menyadarkannya.
"Saudara yang baik, harap jangan salah sangka. Aku...."
"Jangan engkau berani mencampuri urusanku!"
Bentak Kian Bu dan dia berlari terus. Akan tetapi di halaman depan, Kiang Bwe yang memiliki gin-kang hebat itu telah dapat menyusulnya.
"Koko, engkau hendak pergi ke mana? Dengar dulu penjelasanku!"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, dan jangan menghalangiku kalau engkau tidak ingin mendengar makianku yang lebih keji lagi."
"Koko..!"
Akan tetapi Kian Bu sudah mengibaskan tangannya yang dipegang isterinya dan dia berlari cepat meninggalkan perkampungan Beng-kauw.
Kiang Bwe menangis sambil memasuki rumahnya.
San Ki menyambutnya dengan prihatin.
"Sumoi, maafkan aku. Semua ini kesalahanku belaka. Tidak seharusnya aku bersikap demikian...ah maafkan aku, sumoi."
Dia merasa menyesal bukan main telah menjadi sebab pertikaian antara suami isteri itu.
"Bukan salahmu, suheng. Memang Bu-koko sudah bersikap cemburu dan penuh curiga semenjak kami menikah. Ahhh...hu-hu-huhh...."
Wanita muda itu menangis.
Ia tahu bahwa Kian Bu makin menjadi-jadi perasaan cemburunya.
Dahulu, suaminya itu mau menerima keterangannya di depan makam ayahnya dan sudah bersikap baik.
Agaknya sekarang kecurigaannya itu muncul lagi bersama datangnya suhengnya dan tentu suaminya itu menuduh ia dahulu menjadi kekasih suhengnya.
Berat sekali pukulan bertubi yang diterimanya pagi itu.
Pertama mendapatkan kenyataan bahwa suhengnya mencintanya sebagai seorang pria mencinta wanita, ini saja sudah merupakan pukulan berat baginya.
Ditambah lagi dengan suaminya yang dipenuhi kecurigaan dan cemburu dan kini lari meninggalkan rumah.
San Ki menghela napas panjang.
"Sumoi, aku bersalah dan aku bersumpah untuk membawa suamimu kembali kepadamu."
Dia lalu meninggalkan sumoinya y ang masih menangis.
Kiang Bwe tidak memperdulikan suhengnya pergi.
Bagaimanapun juga, kedatangan suhengnya itulah yang mengakibatkan kemarahan dan kepergian suaminya.
Lebih satu jam lamanya Kiang Bwe menangis di ruangan dalam setelah tadi San Ki meninggalkannya dan iapun berlari masuk ke dalam.
Para muridnya merasa heran dan bingung melihat ketua mereka meninggalkan rumah dan ketua kedua atau isteri ketua itu menangis dan masuk ke dalam rumah tidak keluar lagi.
Itulah sebabnya ketika dua orang tamu, sepasang suami isteri itu datang berkunjung, mereka mempersilakan mereka duduk di ruangan tamu dan mereka tidak ada yang berani melapor ke dalam.
"Di mana ketua Souw Kian Bu?"
Tanya tamu pria kepada seorang murid yang menyambut mereka.
"Beliau sedang keluar,"
Jawabnya "Dan isterinya, Ji Kiang Bwe?"
Tanya tamu wanita.
"Ji-pangcu.....eh, beliau berada di dalam...."
Kata murid itu.
"Kalau begitu cepat laporkan, katakan bahwa aku Yang Mei Li, dan suamiku, Sie Kwan Lee ketua Beng-kauw,"
Kata Yang Mei Li.
Mendengar bahwa tamunya itu adalah ketua Beng-kauw dan isterinya, murid itu terkejut dan cepat ia memberanikan diri memasuki rumah itu dan mendapatkan ketuanya sedang duduk termenung di dalam ruangan tengah.
Ji Kiang Bwe sudah berhenti menangis, namun masih duduk melamun dan iapun marah melihat seorang murid berani masuk tanpa dipanggil.
"Mau apa engkau?"
Bentaknya. Murid itu cepat menjatuhkan diri berlutut dan melapor.
"Maafkan saya, pangcu. Di luar datang dua orang tamu yang mengaku sebagai ketua Beng-kauw dan isterinya."
Kiang Bwe meloncat bangun.
"Ahh, mereka datang....!?"
Lupa akan keadaan dirinya, saking gembiranya Kiang Bwe lalu berlari keluar diikuti muridnya yang merasa lega bahwa ketuanya tidak jadi marah kepadanya.
"Mei Li...!"
"Kiang Bwe...!"
Kedua orang wanita cantik itu saling rangkul dan saling mencium pipi. Ketika mencium pipi Kiang Bwe inilah Mei Li melihat mata yang merah itu dan ada bekas air mata di pipinya.
"Mei Li, engkau...engkau baru menangis! Ada apakah? Di mana koko Souw Kian Bu...?"
Kiang Bwe merangkul, menahan isaknya.
"Aku sedang bingung, Mei Li. Kebetulan engkau datang. Mari masuk, akan kuceritakan kepadamu. Ah, harap Sie-toako suka menunggu di sini dulu."
Ia memerintahkan muridnya untuk mengeluarkan minuman dan hidangan.
Dan ia menarik Mei Li masuk ke dalam rumah.
Mei Li memberi isarat kedipan mata kepada suaminya, agar suaminya maklum bahwa ada "urusan perempuan"
Yang perlu dibicarakan mereka berdua. Sia Kwan Lee mengangguk dan tersenyum. Setelah tiba di ruangan dalam di mana tidak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua, Mei Li dengan tidak sabar bertanya.
"Kiang Bwe, apakah yang telah terjadi?"
"Duduklah, Mei Li, biarkan aku mengambil napas dulu. Hatiku sesak dan tertekan sejak tadi. Ketahuilah, baru beberapa jam yang lalu suamiku, pergi meninggalkan dalam keadaan marah."
"Ehhh...? Rasanya tidak mungkin Bu-koko segalak itu. Setahuku, Bu-koko orangnya periang dan sabar. Ada peristiwa apakah, Kiang Bwe?"
"Mula-mula suhengku datang dan Bu-koko berada di sawah. Kami girang sekali dengan pertemuan itu, karena semenjak aku meninggalkan subo, kami tidak pernah saling jumpa. Aku dan suhengku itu sudah seperti saudara saja sehingga pembicaraan kami akrab sekali. Kemudian suamiku datang dan melihat aku bicara akrab dengan suhengku, suamiku menjadi marah-marah dan pergi meninggalkan aku."
"Ah, sukar dipercaya. Kakakku itu tidaklah semudah itu marah dan...agaknya dia cemburu. Akan tetapi kalau dia tahu bahwa pria itu suhengmu, tidak semestinya dia cemburu."
Kiang Bwe menghela napas panjang.
"Bukan salah dia, Mei Li, akan tetapi kesalahannya terletak kepadaku."
Mei Li mengerutkan alisnya.
"Apa? Maksudmu engkau....dan suhengmu itu...."
"Ihh, jangan menduga yang bukan-bukan, Mei Li. Saudaramu itu sejak pernikahan kami memang sudah menaruh cemburu kepadaku. Perasaan itu agaknya dipendamnya selama ini dan meledak ketika melihat aku bicara akrab dengan suheng."
"Akan tetapi mengapa cemburu sejak menikah, Kiang Bwe? Tentu ada sebabnya."
"Memang ada sebabnya, yaitu....pada malam pengantin yang pertama itu....dia....dia mengakui bahwa keperawananku sudah hilang."
Mei Li melompat berdiri dan mukanya merah ketika ia menatap wajah Kiang Bwe.
"Kiang Bwe, apa maksudmu? Kau maksudkan bahwa engkau....engkau...sudah...."
"Ya, Mei Li, akan tetapi jangan salah sangka seperti kakakmu itu. Aku sudah jelaskan kepadanya, bahkan bersumpah di depan makam ayahku yang menjadi saksi satu-satunya bahwa peristiwa itu terjadi karena ayah memaksaku untuk berlatih tendangan berantai. Latihan itu terlalu keras sehingga aku terjatuh dan terjadi pendarahan. Bu-koko sudah dapat menerima alasan ini dan selama ini agaknya dia sudah tidak mengingatnya lagi. Akan tetapi, ketika dia melihat aku bercakap-cakap dengan suheng dan kelihatan akrab, agaknya cemburu itu muncul lagi dan dia....dia marah-marah dan pergi...."Kiang Bwe menangis lagi. Mei Li mengangguk-angguk. Mengertilah ia kini dan ia tidak terlalu menyalahkan kakaknya walaupun Kiang Bwe juga tidak bersalah. Salah satu pengertian yang rumit akibat cemburu buta. Melihat Kiang Bwe menangis sedih, Mei Li maklum bahwa wanita ini amat mencita suaminya dan ini merupakan pertanda baik baginya.
"Dan suhengmu itu, di mana dia?"
Tanyanya.
"Suheng Gu San Ki juga melihat kepergian dan kemarahan suamiku, ketika aku menjelaskan kepadanya, dia merasa bertanggung-jawab dan bersalah. Diapun pergi dan berjanji akan mengembalikan suamiku kepadaku."
Mei Li menghela napas panjang.
"Sungguh mati tidak kusangka ada peristiwa seperti ini di sini. Sedangkan aku datang inipun hendak menceritakan peristiwa gawat yang terjadi pada Beng Kauw. Kiang Bwe seperti melupakan keadaannya sendiri. Ia berhenti menangis dan mengusap air matanya, memandang kepada Mei Li penuh perhatian dan ketika bertanya, ia sudah tidak menangis lagi.
"Mei Li, peristiwa gawat apakah yang menimpa engkau dan suamimu?"
"Bagaimana kalau kita ajak suamiku untuk bicara sekarang? Masalahmu sudah kaubicarakan dengan aku dan aku berjanji kalau bertemu dengan Bu-koko aku akan membujuknya dan menjelaskan kepadanya bahwa cemburunya itu cemburu buta. Kita bicarakan soal Beng-kauw sekarang, bersama suamiku."
"Baiklah, Mei Li, mari kita bicara di ruangan belakang dan kita persilakan suamimu masuk."
Dua orang wanita muda itu lalu mengundang Sie Kwan Lee menuju ke ruangan belakang di mana mereka bercakap-cakap tanpa diganggu orang lain.
"Nah, sekarang ceritakan a pa yang telah terjadi di Beng-kauw,"
Kata Kiang Bwe setelah suami isteri itu mengambil tempat duduk.
"Sepanjang yang kudengar, kalian telah berhasil membawa Beng-kauw maju pesat dan membersihkan nama Beng-kauw. Kenapa kalian bilang terjadi hal yang gawat?"
"Kami telah diserbu oleh Kui-jiauw Lo-mo dan Pek-bin Mo-ong,"
Kata Mei Li. Kiang Bwe membelalakkan matanya.
"Apa? Dua ekor kutu busuk itu masih berani membikin ribut? Hemm, mereka itu memang lihai akan tetapi bukankah mereka telah kalah ketika terjadi penyerbuan di Hoat-kauw?"
"Mereka berdua datang dan bermaksud untuk membalas dendam atas kematian Tong Seng Gun, cucu dari Kui-jiauw Lo-mo. Akan tetapi kami dapat mengusir mereka dengan kekuatan kami berdua dan para pembantu kami. Mereka dapat diusir dan kami hanya menderita beberapa orang anggota kami terluka,"
Kata Sie Kwan Lee. Kiang Bwe mengangguk.
"Ah, untuk membalas dendam atas kematian Tong Seng Gun yang tewas di tangan Sie Pangcu! Sungguh orang tidak tahu malu. Cucunya yang sesat dan jahat, masih hendak dibalaskan kematiannya. Orang macam Tong Seng Gun, biar mati seratus kali juga masih belum sepadan dengan dosa-dosanya."
"Orang-orang sesat seperti mereka itu bagaimana mungkin dapat menghentikan atau mengubah watak mereka yang buruk? Mereka sudah menjadi budak nafsu dan sampai matipun agaknya akan tetap menjadi budak nafsu,"
Kata Mei Li.
"Lalu sekarang ke mana kalian hendak pergi?"
Tanya Kiang Bwe. Yang menjawab adalah Sie Kwan Lee.
"Kami hendak merantau, mengunjungi partai-partai persilatan besar u ntuk mendengar bagaimana sikap tanggapan mereka terhadap Beng-kauw. Kami khawatir kalau orang-orang seperti Sam Mopong akan menggunakan siasat, memburuk-burukkan nama baik Bengkauw.
"Kalau bertemu dengan Sam Mo-ong dan hendak menyerang mereka, kabarkan kepadaku. Aku tentu akan membantu kalian sekuat tenagaku,"
Kata ketua Kim-kok-pang itu penuh semangat.
"Kalau kebetulan kita bertemu mereka tentu akan kami tentang mereka. Di mana-mana tentu terdapat orang gagah yang akan membantu kita menentang Sam Mo-ong. Kami pergi untuk mengadakan hubungan yang lebih erat dengan partai-patai lain setelah nama Beng-kauw dibersihkan. Juga, selagi kami belum mepunyai anak sehingga dapat lebih leluasa mengadakan perjalanan,"
Kata Mei Li.
"Mungkin akupun tidak akan lama tinggal di rumah,"
Kiang Bwe mengeluh.
"Kalau dalam waktu beberapa pekan ini suamiku belum juga pulang. Aku akan mencarinya sampai dapat!"
Kiang Bwe menahan tangisnya yang sudah berada di ujung bibirnya sehingga bibir itu gemetar.
"Aku yakin bahwa Bu-koko pasti akan pulang, Kiang Bwe. Aku tahu betul wataknya. Dia bukan seorang yang kejam dan tidak dapat menyadari kesalahannya."
Suami isteri Beng-kauw itu tinggal selama tiga hari di Kim-kok-pang, kemudiann mereka melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Kiang Bwe yang masih tenggelam ke dalam kesedihan karena kepergian suaminya tercinta.
Han Lin memasuki hutan di lereng bukit itu dengan sikap waspada.
Dia merasa betapa hutan yang lebat itu amat gawat.
Pantasnya hutan lebat itu dihuni setan dan iblis.
Seorang petani yang dia tanyai jalan memperingatkan agar dia tidak mengambil jalan melalui hutan itu, melainkan memutar dan mengelilingi bukit, akan tetapi jalan terdekat adalah melalui hutan yang merupakan jalan pintas.
Kalau dia melalui hutan itu, dalam waktu setengah hari dia akan sampai di Souw-ciu, sedangkan kalau memutari bukit, makan waktu sehari.
"Jarang ada yang berani melalui hutan itu, orang muda. Banyak binatang buas, ular-ulat besar dan kabarnya semua pelarian dan buruan pemerintah, penjahat-penjahat kejam, selalu menyembunyikan diri ke dalam hutan itu dan sukar ditemukan lagi."
"Paman, perampok atau orang jahat hanya mengincar harta, kalau aku tidak mempunyai apa-apa, tentu tidak akan diganggu,"
Kata Han Lin dan pagi itu diapun memasuki hutan dengan sikap waspada.
Dua jam kemudian dia tiba di tengah hutan yang lebat.
Memang ada beberapa ekor binatang hutan, akan tetapi mereka tidak mengganggunya, bahkan mereka berlarian ketika dia muncul.
Akan tetapi mendadak dia mencurahkan perhatian dan waspada.
Di sebelah depan ada gerakan-gerakan yang bukan gerakan binatang.
Dia berhenti melangkah dan benar saja, dari balik rumpun belukar dan pohon-pohon besar, bahkan dari atas pohon, berlompatan lima belas orang yang mengenakan pakaian hitam dan mereka semua memegang senjata.
Ada yang memegang golok, pedang atau tombak, sikap mereka mengancam dan mereka segera bergerak mengepungnya.
Han Lin berdiri tenang dan penuh kewaspadaan namun sikapnya santai saja seolah tidak mengerti akan ancaman orang-orang itu.
Setelah melihat seorang yang berkumis dan berjenggot lebat, bertubuh tinggi besar berdiri di depannya, dia tahu bahwa itulah kepala gerombolan itu, maka dia bertanya dengan lagak bodoh.
"Saudara-saudara, selamat pagi. Kalian hendak ke manakah dan harap memberi jalan kepadaku."
Semua orang tertawa seolah ucapan pemuda itu terdengar lucu dan si kumis tebal membentak.
"Orang muda, serahkan semua milikmu kalau engkau tidak ingin kami bunuh!"
Si kumis tebal itu mengamangkan golok besarnya yang berkilauan saking tajamnya. Han Lin bersikap tenang dan seperti orang bingung dia bertanya.
"Saudara-saudara ini minta milikku! Milikku hanya pakaian tua, tidak ada harganya. Harap jangan mengganggu seorang miskin seperti aku. Lihat aku hanya mempunyai pakaian tua dan tongkat butut ini."
"Hoa-ha-ha-ha!"
Si kumis tebal tertawa, mulutnya terbuka lebar dan bau dari mulutnya memuakkan menyergap hidung Han Lin sehingga dia terpaksa mundur dua langkah.
"Orang muda, jangan berlagak tolol. Yang kami maksudkan, serahkan pedang di dalam buntalan itu!"
"Pedang...?"
Han Lin masih berlagak tolol untuk memancing sampai di mana pengetahuan orang itu tentang Ang-in Po-kiam.
"Jangan berlagak bodoh. Pedang Awan Merah di punggungmu itu, serahkan kepada kami untuk ditukar dengan nyawamu."
Han Lin tidak merasa heran.
Setelah dia memperlihatkan pedang di dalam pertemuan Cin-ling-pai itu tentu saja beritanya sudah tersiar luas dan dia tahu bahwa dia menghadapi bahaya karena banyak tentu berlumba untuk mendapatkan pedang itu.
Ada yang memang ingin memilikinya, dan ada yang ingin memperoleh hadiah besar dan kedudukan dari kaisar.
"Ah, itu yang kau maksudkan? Tidak semudah itu, kawan. Sebaiknya kalian mundur saja karena aku tidak suka kalau harus terpaksa memberi hajaran kepada kalian."
Kini dia melintangkan tongkat bututnya di depan dada.
Si kumis tebal lalu memberi aba-aba kepada teman-temannya yang serentak menyerbu kepada Han Lin.
Banyak golok, pedang dan tombak meluncur ke arah tubuhnya.
Han Lin menggerakkan tongkatnya dan....angin badai bertiup menyambut lima belas orang itu.
Begitu tongkat digerakkan maka berpelantinganlah lima belas orang itu, ada yang terjengkang, ada yang tersungkur, ada yang terpelanting dan mereka semua mengaduh-aduh.
Ada yang kepalanya benjol, ada yang giginya rontok, hidungnya berdarah, salah urat atau patah tulang.
Setelah semua orang roboh dalam waktu singkat sekali, Han Lin menghentikan gerakkan tongkatnya.
"Kalian perampok-perampok cilik hanya mengganggu orang tidak bersalah. Sekali ini aku mengampunimu, akan tetapi lain kali jangan harap aku akan mau melepaskan kalian!"
Katanya sambil menggerakkan tongkat bututnya dan datanglah angin besar seperti angin topan yang merontokkan daun-daun dari pohon di sekitar tempat itu.
Melihat ini, para perampok itu menanti perintah, melarikan diri cerai-berai ke empat jurusan.
Han Lin melanjutkan perjalanan dan setelah matahari mulai condong ke barat, tibalah dia di luar kota Souw-ciu.
Dia tidak mau segera memasuki kota karena dia menduga bahwa tentu banyak tokoh kang-ouw golongan hitam yang akan menghadangnya dan sudah menantinya di sana.
Dia tidak ingin menimbulkan keributan di dalam kota dan memilih sebuah kuil tua yang berdiri di luar kota itu.
Tadinya dia mengira bahwa kuil itu kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi.
Akan tetapi dia memasukinya, ternyata tiga orang hwesio penjaga kuil yang menyambutnya dengan sopan akan tetapi mereka itu lebih banyak berdiam diri.
"Maafkan kalau saya mengganggu, Sam-wi lo-suhu (tiga pendeta tua), saya bermaksud untuk bermalam di sini semalam kalau sam-wi tidak berkeberatan."
"Silakan, sicu. Akan tetapi di sini tidak ada makanan enak, hanya nasi dan sayur sederhana saja,"
Kata hwesio tertua yang usianya sekitar enam puluh lima tahun.
"Terima kasih, lo-suhu. Nasi dan sayur sederhana amat lezat bagi perut yang lapar,"
Kata Han Lin.
"Omitohud, silahkan, sicu. Sicu boleh menempati kamar itu."
Kamar itu kotor, hanya ada sebuah dipan.
Lantainya nampaknya baru saja dibersihkan dan temboknya sudah penuh lumut.
Juga keadaan di ruangan lain kuil itu menunjukkan bahwa kuil itu memang tidak terawat.
Han Lin memasuki kamarnya dan menaruh buntalan pakaian dia atas dipan karena di situ tidak ada meja.
Dia mendengar hwesio tua tadi membaca lian-keng (doa) sambil mengetuk-ngetuk kayu yang terdengar berirama.
Setelah hari mulai gelap, seorang hwesio mempersilakan Han Lin, untuk mandi.
Bak mandi berada di belakang dan sudah terisi air, kata hwesio itu.
Han Lin merasa tidak enak kalau dia harus merepotkan para hwesio di situ.
Dia lalu menggendong buntalan pakaiannya, di dalam mana terdapat Pedang Awan Merah, lalu dia menjenguk ke tempat mandi.
Ada tiga buah bak besar di situ, sudah terisi penuh dua bak, sedangkan yang satu bak lagi masih kosong.
Dia bertanya kepada hwesio itu di mana sumber airnya dan setelah diberitahu, dia lalu memikul pikulan dua buah tempat air dari sumber air.
Dengan cepat dia dapat memenuhi satu bak yang kosong, barulah dia mandi.
Terasa segar dan sejuk sekali, rasa lelah seperti tercuci bersih bersama debu yang mengotori tubuh dan pakaiannya.
"Sicu, silakan makan,"
Kata hwesio tadi.
Diapun mengikuti hwesio itu pergi ke ruangan tengah di mana tiga orang hwesio itu lalu menghadapi meja makan.
Han Lin waspada, khawatir kalau-kalau para hwesio itu orang jahat, yang menyamar dan akan meracuninya.
Akan tetapi mereka mengambil nasi dan lauk sayur sederhana dari tempat yang sama.
Dia tidak takut diracuni karena tubuhnya sudah kebal terhadap racun.
Akan tetapi di dunia kang-ouw terdapat orang-orang yang berbahaya sekali dan siapa tahu ada racun yang akan menembus kekebalannya.
Setelah melihat mereka makan dari nasi dan sayur yang sama, Han Lin lalu makan dan ternyata memang benar.
Perut kosong ditambah kelelahan yang sudah diusir oleh mandi yang menyegarkan badan merupakan lauk yang paling lezat.
Nasi biasa saja terasa amat harum dan gurih, apa lagi ditambah sayur.
Han Lin berterima kasih sekali kepada tiga orang hwesio itu, bukan saja karena dia memperoleh makanan dan dapat membersihkan tubuh lalu akan memberi tempat melewatkan malam, akan tetapi terutama sekali karena mereka itu membuktikan bahwa mereka bukanlah komplotan yang akan mengganggunya atau mengincar pedangnya.
Han Lin malam itu tidur dengan hati tenang.
Dia menaruh buntalan pakaiannya dekat kepalanya, bahkan menggunakan pakaiannya untuk ganjal kepala.
Dia tertidur pulas dan lewat tengah malam, tanpa diketahuinya, ada asap yang memasuki kamarnya lewat jendela!
Asap itu menghitam dan tebal.
Kemudian, tiba-tiba terdengar gembreng dan kaleng dipukul orang dengan gencar di luar pintu dan jendela kamar itu, menimbulkan suara yang berisik sekali.
Han Lin terkejut, terbangun dari tidurnya dan pada saat dia meloncat dari dipan, diselubungi asap hitam tebal, dia mendengar sambaran angin dan cepat dia menggerakkan kedua tangan, mengerahkan sin-kang dan memukul dengan hawa dari tenaga saktinya.
Runtuhlah anak panah dan piauw yang menyambar dari segala penjuru itu.
Akan tetapi sambaran senjata rahasia kian gencar sehingga Han Lin meraba tongkatnya yang berada di pembaringan, lalu memutar tongkatnya sambil melompat ke arah jendela dari mana masuk asap hitam itu.
"Brakkkk....!"
Daun pintu itu jebol dan tongkatnya meluncur mengenai dada seorang yang memegang bambu yang dipakai untuk menyemprotkan asap hitam itu.
"Aduhh....!"
Orang itu terjengkang dan dari sinar lampu yang tergantung di luar, ternyata bahwa orang itu adalah hwesio kepala yang baik hati tadi.
Dari kanan kiri menyambar senjata golok.
Gerakan dua golok itu cukup kuat sehingga Han Lin cepat melompat mundur untuk melihat siapa pengeroyoknya itu.
Ternyata dua orang hwesioi yang lain!
Tahulah ia bahwa tiga orang hwesio itu memang penjahat yang menyamar seperti yang dikhawatirkannya.
Agaknya tadi mereka memang tidak memperlihatkan rahasia mereka sehingga Han Lin percaya penuh dan tidur nyenyak.
Setelah mengetahui bahwa mereka adalah tiga orang hwesio tadi, Han Lin menggerakkan tongkatnya dua kali dan dua orang hwesio yang bersenjata golok itupun roboh.
Dia teringat akan buntalan pakaiannya.
Selagi dia hendak melompat masuk kembali tiba-tiba ada serangan yang demikian hebat sehingga terpaksa dia melompat mundur lagi.
Serangan itu merupakan angin dingin menyusup tulang dan tenaganya hebat bukan main.
Begitu dia melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari pukulan jarak jauh yang dahsyat itu, kembali dari kirinya menyambar pukulan yang amat panas.
"Sam Mo-ong...!"
Serunya kaget dan dia tahu bahwa orang-orang yang dapat menyerang seperti itu hanyalah Hek bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong.
Maka dia bersikap waspada karena cuaca amat gelapnya, dan setelah dia dapat mengelak dari dua pukulan itu, dia lalu memutar tongkatnya melindungi dirinya.
Nampak bayangan banyak orang berkelebat dan mencoba menyerangnya dari kegelapan.
Han Lin menggerakkan tongkatnya, memukul roboh beberapa orang dan tiba-tiba saja semua bayangan itu lenyap dalam kegelapan malam.
Juga Hek bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong tidak nampak lagi.
Dengan gelisah Han Lin lalu melompat ke dalam kamarnya yang masih penuh asap itu melalui jendela.
Dia menghampiri dipan, meraba-raba dan......buntalan pakaiannya telah lenyap tanpa bekas!
Han Lin terkejut.
Setelah yakin bahwa buntalan pakaian berikut Pedang Awan Merah telah lenyap, dia marah sekali.
Dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya berkelebat keluar.
Akan tetapi setibanya di luar keadaan sunyi saja tidak nampak seorangpun manusia atau sesosokpun bayangan.
Para hwesio dan beberapa orang yang dirobohkan tadipun sudah lenyap.
Dia tahu bahwa dia telah terjebak, dipancing keluar dan pedangnya diambil orang.
"Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong pengecut curang!"
Teriaknya dengan suara yang menggetar dan bergema di seluruh hutan.
"Sam Mo-ong, kembalikan pedangku dan kalau kalian memang gagah, hayo keluar dan kita bertanding secara gagah!"
Percuma saja dia berteriak-teriak sampai tenggorakannya serak.
Yang menjawabnya hanya gema suaranya sendiri.
Dengan lampu gantung di tangan, dia memeriksa seluruh kuil.
Dan ternyata itu memang kuil kosong yang dipakai untuk menjebaknya.
Dengan mendongkol sekali terpaksa dia melewatkan malam di kamarnya yang tadi, karena tidak mungkin mengejar atau melakukan pencarian di hutan pada malam yang gelap pekat itu.
Pada keesokan harinya, setelah terang tanah, dia keluar dari kuil dan alangkah dongkolnya melihat buntalan pakaiannya tergantung di ranting sebatang pohon di luar kuil, tentu saja pedangnya sudah tidak berada di dalam buntalan.
"Jahanam busuk, bedebah pengecut!"
Makinya dengan gemas, gemas kepada diri sendiri yang begitu mudah percaya kepada tiga orang hwesio, mudah begitu saja ditipu musuh sehingga pedang pusaka itu lenyap.
Akan tetapi kemana dia harus mencari?
Sudah dapat dipastikan bahwa serangan semalam itu dilakukan oleh Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong.
Akan tetapi apakah yang lain itu anak buahnya, ataukah golongan lain?
Dan yang mencuri pedangnya itu Sam Mo-ong ataukah orang lain?
Dia tidak merasa heran kalau Sam Mo-ong mengetahui bahwa Ang-in Po-kiam berada di tangannya.
Pertama, dahulu Sam Mo-ong juga hadir ketika Hoat-kauw diserbu pasukan dan kedua, tokoh Hoat0kauw yang hadir di pertemuan Cin-ling0pai itu tentu menceritakan segalanya kepada Sam Mo-ong.
Dengan langkah gontai karena hatinya merasa kecewa dan gelisah, Han Lin keluar dari hutan lebat hendak melanjutkan perjalanan ke Souw-ciu.
Kemana lagi mencari jejak Sam Mo-ong kalau tidak ke Souw-ciu.
Kota itu merupakan kota terdekat dan kiranya para datuk itu tentu pergi ke sana sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana.
Ketika sudah berada di dekat kota Souw-ciu, mendadak terdengar derap kaki kuda di belakangnya.
Han Lin yang sedang murung tidak memperdulikan ini, hanya melangkah ke pinggir.
Seekor kuda putih yang besar dan kuat lewat dengan cepat, dan penunggangnya adalah seorang wanita muda yang pakaiannya ringkas berwarna hijau, rambutnya riap riapan tertiup angin dan ketika lewat dekat Han Lin, pemuda ini mencium keharuman yang menyengat hidung.
Dia menjadi tertarik dan memperhatikan wanita itu.
Tubuhnya ramping sekali dan melihat ia duduk di atas kuda yang membalap itu dengan enaknya, serasi dengan gerakan kuda sehingga seolah kuda yang mahir sekali, pikirnya.
Akan tetapi, mendadak kuda itu berhenti, mengangkat kedua kaki depan dan memutar tubuh.
Sepasang mata yang seperti mata burung Hong itu menatapnya dan kuda itupun dijalankan kembali menghampirinya.
Han Lin bersikap tenang akan tetapi hatinya merasa tegang juga.
Gadis jelita ini jelas menghampirinya dan setelah kini menghadapnya, dia melihat betapa jelitanya gadis itu.
Gadis itu kelihatannya baru berusia dua puluh tahun akan tetapi pembawaannya sudah matang betul, pinggang ramping, pinggul besar dan tubuh itu memiliki lengkung lekuk yang menantang.
Wajahnya bulat telur dan kulit mukanya putih kemerahan, dengan rambut hitam panjang terurai, alisnya kecil hitam panjang melengkung, matanya indah seperti mata burung Hong, hidung mancung dan mulutnya mendebarkan hati Han Lin.
Entah mana yang lebih indah.
Matanya atau mulutnya karena kedua bagian muka ini yang memiliki daya tarik luar biasa.
Dagunya runcing dihiasi tahi lalat hitam.
Pendeknya seorang gadis yang cantik jelita dan pakaiannya yang berwarna hijau itu ketat dan ringkas mencetak tubuhnya.
Di punggungnya tergantung sepasang pedang.
Kuda itu berhenti tepat di depan Han Lin, membuat Han Lin terpaksa menahan langkahnya dan memandang dengan mata bertanya.
Gadis itu melompat turun, gerakannya ringan seperti seekor burung dan ia melepas kudanya begitu saja.
Tentu seekor kuda yang sudah terlatih dengan baik.
Melihat gadis yang jelas menghadangnya itu, Han Lin yang sedang murung menjadi jengkel.
"Nona, apa maksudmu menghadang perjalananku?"
Tanyanya. Kalau dia tidak sedang murung, tentu sukar bersikap dingin terhadap seorang gadis sejelita ini. akan tetapi dia sedang marah dan jengkel.
"Sia Han Lin, tak perlu banyak cakap lagi. Serahkan Ang-in Po-kiam kepadaku!"
Kata wanita itu dan cara bicaranya sungguh angkuh sekali. Mendengar ucapan ini, kemarahan hati Han Lin berubah menjadi kegelian hati dan dia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha....alangkah lucunya!"
Tentu saja gadis itu mengerutkan alisnya dan membentak.
"Tidak perlu membadut di sini. Cepat serahkan pedang pusaka di buntalanmu itu atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan. Buntalan pakaianku ini? Engkau menghendaki ini?"
Perlahan-lahan Han Lin menurunkan buntalannya lalu melemparkannya ke arah gadis itu sambil berseru.
"Nah, makanlah buntalan ini!"
Karena sedang jengkel, mendengar wanita itu hendak merampas pedang yang sudah dicuri orang, Han Lin sengaja mengerahkan tenaganya ketika melemparkan buntalan pakaiannya ke arah gadis itu.
Wanita baju hijau itu dengan sigap menjulurkan tangan kiri menyambut dan dengan mudahnya ia menerima lemparan buntalan pakaian itu.
Diam-diam Han Lin terkejut.
Lemparannya mengandung tenaga sin-kang yang cukup kuat, akan tetapi gadis itu menerimanya begitu mudah.
Ini hanya membuktikan bahwa gadis ini bukan orang sembarangan dan sudah memiliki tenaga sin-kang yang kuat sekali.
Setelah menerima buntalan itu dan menekan-nekannya, gadis itu maklum bahwa di dalamnya tidak terdapat pedang, maka ia melontarkan buntalan kembali kepada Han Lin.
"Terimalah kembali barangmu!"
Han Lin menjulurkan tangan menangkap dan terasa olehnya betapa kuatnya tenaga lontaran itu.
"Hemm, kukira engkau menghendaki pakaianku,"
Dia mengejek.
"Sobat, tidak baik bermain-main di depan Jeng I Sianli (Dewi Baju Hijau) Cu Leng Si. Aku menghendaki Pedang Awan Merah. Hayo serahkan kepadaku!"
"Nama yang bagus, Cu Leng Si dan julukannya juga bagus, Dewi Baju Hijau, akan tetapi wataknya jauh dari pada bagus. Seorang gadis cantik jelita ingin merampok, mana patut?"
"Sudahlah, jangan banyak cerewet. Aku membutuhkan pedang itu, dan pedang itupun bukan milikmu. Di mana kau sembunyikan pedang pusaka itu?"
"Hemm, Cu Leng Si, dalam hal rampok-merampok atau curi-mencuri agaknya engkau masih harus belajar banyak. Engkau telah didahulu orang lain. Pedang itu semalam telah dicuri oleh Sam Mo-ong, sedangkan aku juga sedang mencari mereka, engkau malah muncul untuk merampoknya dariku. Ha-ha, bukanlah itu lucu sekali?"
Gadis itu mengerutkan alisnya yang hitam panjang melengkung seperti dilukis itu. Matanya yang seindah mata burung Hong kini mencorong seperti mata naga.
"Aku tidak percaya! Jangan menggunakan nama Sam Mo-ong, aku tidak takut kepada mereka. Sia Han Lin, kuhitung sampai tiga, kalau engkau belum juga menyerahkan Ang-in Po-kiam kepadaku, jangan salahkan aku kalau pedangku akan memenggal lehermu!"
Sing-sing....!"
Nampak dua sinar berkelebat dan tahu-tahu kedua tangan wanita itu sudah memegang masing-masing sebatang pedang yabg berkilauan saking tajamnya.
"Cu Leng Si, engkau sudah memiliki dua batang pedang yang baik, mengapa masih menghendaki Ang-in Po-kiam? Alangkah murka engkau. Engkau tidak percaya atau percaya kepadaku, terserah. Kenyataannya, pedang itu dicuri Sam Mo-ong semalam, ketika aku bermalam di kuil tua itu!"
"Bohong! Sekali lagi, aku mulai menghitung, satu...dua...tiga..!"
Dan sinar pedang itu mencuat, menyambar ke arah leher Han Lin dengan kecepatan kilat.
"....empat...lima...enam...tujuh..."
Han Lin mengelak dan melanjutkan hitungan gadis itu yang berhenti sampai tiga.
"Wah, engkau sungguh ganas dan kejam sekali, Jeng! Sianli. Tidak cocok dengan julukanmu. Engkau memakai julukan Sianli (Dewi) akan tetapi engkau galak seperti kuntilanak!"
"Kuntilanak? Kau....kau....!"
Dan kini Jeng I Sianli Cu Leng Si mengamuk.
Sepasang pedangnya menyambar-nyambar ganas.
Kalau tadi ia hanya ingin menggertak saja agar Han Lin menyerahkan pedang pusaka, kini ia menyerang dengan siang-kaimnya untuk membunuh!
Han Lin kagum.
Ilmu siang-kiam dari gadis ini hebat bukan main, mengingatkan dia kepada adik misannya Yang Mei Li yang dijuluki orang Hui-kiam Sian-Li (Dewi Pedang Terbang).
Yang Mei Li juga menggunakan sepasang pedang terbang yang gerakannya hebat bahkan sepasang pedang itu dapat "diterbangkan"
Dengan dikendalikan tali sutera panjang.
Melihat pedang menyambar cepat diapun meloncat ke belakang untuk mengelak.
Ketika pedang kedua menyusulkan serangan yang lebih ganas, Han Li menggerakkan tongkatnya menangkis.
"Trangggg...!"
Keduanya kagum.
Jeng I Sianli merasa betapa tangannya tergetar, demikian pula Han Lin.
Dan wanita itu tidak lama tertegun, sudah menerjang lagi dengan tusukan dan bacokan pedangnya.
Tongkat itu berputar cepat, menangkis dan balas menyerang.
Ketika sepasang pedang bergerak semakin hebat dan nampak dua gulungan sinar kehijauan, Han Lin tidak ragu lagi untuk mengeluarkan kepandaiannya.
Gadis ini memang lihai, tidak kalah dibandingkan dengan seorang di antara Sam Mo-ong sekalipun!
Maka dia lalu memainkan Tongkat Kilat dan Badai.
Angin besar menyambar-nyambar dan membuat baju hijau itu berkibar.
Dan rambut hitam panjang yang hanya diikat dengan sutera merah, berkibar-kibar seperti bendera hitam.
Jeng I Sianli Cu Leng Si mengeluarkan teriakan melengking.
Ia merasa kagum dan juga penasaran sekali.
Sepasang pedangnya mengamuk seperti gelombang samudera.
Han Lin merasa gembira mendapat lawan yang demikian tangguh.
Dia mengubah gerakannya lagi dan mainkan tongkatnya dengan Khong-khi-ciang.
Tongkat itu kini menyambar-nyambar tanpa mendatangkan angin pukulan sama sekali, tahu-tahu sudah mendekati sasaran dan mengancam jalan darah penting sehingga beberapa kali Cu Leng Si menjerit kaget.
Namun gadis itu ternyata mampu menghindarkan semua serangan Han Lin.
Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan bunyi seperti suling melengking-lengking dan dari balik belukar dan pohon-pohon di tepi jalan, belasan orang berlompatan dari atas kuda mereka dan mengepung Han Lin.
Mereka semua adalah wanita-wanita yang berusia dari dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun dan melihat gerakan mereka ternyata semua wanita itu gesit dan dapat bergerak cepat sekali!
Han Lin terheran-heran akan tetapi dia harus memutar tongkatnya karena belasan orang wanita itu sudah menggerakkan jala sutera yang menyerang dari berbagai jurusan, ditambah lagi serangan sepasang pedang Dewi Baju Hijau sendiri.
Betapapun lihainya Han Lin, kalau dia tidak mau melukai atau membunuh para pengeroyoknya, tentu saja dia terdesak hebat.
Kalau dia mau bertindak kejam, merobohkan para pengeroyoknya, kiranya tak mungkin Jeng I Sianli dan lima belas orang anak buahnya itu akan mampu menangkapnya.
Akan tetapi Han Lin merasa yakin bahwa mereka itu bukan orang-orang jahat, biarpun ilmu silat mereka hebat dan sikap mereka untuk menangkapnya.
Beberapak helai jala untuk menimpanya dan dia seperti seekor ikan besar dalam jala, meronta akan tetapi tidak mampu keluar lagi.
Tongkatnya bukan senjata tajam, tidak dapat membobol jala sutera yang kuat itu.
Sebuah totokan dari Jeng I Sianli yang istimewa telah membuat tubuh Han Lin menjadi lemas.
Wanita itu lalu mengikatnya dalam gulungan jalan bersama tongkatnya.
"Kalian pergilah, pulang lebih dulu dan persiapkan kamar tahanan untuk orang ini!"
Katanya kepada belasan orang wanita itu yang segera menunggangi kuda mereka dan lenyap ke dalam hutan di tepi jalan. Cu Leng Si menghampiri Han Lin yang tak mampu bergerak, meringkuk di dalam jalan.
"Nah, sekarang engkau sudah menjadi tawananku. Cepat katakan di mana Ang-in Po-kiam dan mungkin saja aku akan membebaskanmu!"
Katanya dengan ketus. Totokan itu hanya membuat Han Lin tidak mampu menggerakkan kaki dan tangannya. Dia tertawa mengejek.
"Ha-ha-ha, baru sekali ini aku melihat seorang dewi berhati kejam seperti kuntilanak. Kita belum pernah saling mengenal, belum pernah berurusan, tidak ada permusuhan. Kenapa engkau bersikap kejam kepadaku? Engkau bersikap pengecut mengeroyokku d engan belasan orang anak buahmu. Jeng I Sianli Cu Leng Si, apakah engkau tidak malu ditertawakan orang sedunia?"
"Sia Han Lin manusia sombong. Engkaulah yang membuat aku bersikap begini. Engkau keras kepala, tidak juga mau menyerahkan Ang-in Po-kiam kepadaku! Aku tidak akan sudi melepaskanmu selama engkau belum mengaku di mana pedang itu dan menyerahkan kepadaku!"
Ia meloncat ke atas kudanya dan memegang tali jala, kemudia ia menjalan kudanya dan menyeret tubuh Han Lin yang terbungkus jala itu.
Tentu saja hal ini menyakitkan karena Han Lin tidak mampu mengerahkan sin-kang untuk melindungi kulitnya yang terseret sehingga kulitnya lecet-lecet dan pakaiannya robek-robek.
"Mengakulah dan aku akan membebaskanmu!"
Kata Cu Leng Si.
"Kuntilanak, siluman rase, setan betina, apa yang harus kuakui?"
Bentak Han Lin marah karena dia me rasa dipermainkan dan dihina.
"Bagus, engkau keras kepala ya? Cu Leng Si mempercepat langkah kudanya sehingga tubuh Han Lin, terseret-seret semakin cepat. Gadis itu mengambil jalan simpangan, tidak melalui jalan besar menuju ke kota Souw-ciu, melainkan mendaki sebuah bukit. Untung bagi Han Lin bahwa rebahnya tadi telentang sehingga hanya tubuh bagian belakang saja yang babak bundas dan bajunya robek-robek. Buntalan pakaiannya tadi tergeser ke samping pundak ketika dia terseret. Han Lin terpaksa diam saja dan hanya mengeraskan hatinya agar mulutnya jangan mengeluarkan rintihan. Melihat pemuda itu diam saja, Leng Si menghentikan kudanya dan menengok. Alangkah kagetnya ketika ia melihat pemuda yang diseretnya itu rebah, telentang diam tak bergerak dengan mata terbalik dan lidah terjulur keluar.
"Celaka....!"
Teriaknya dan ia melompat turun dari atas kuda, menghampiri Han Lin dan berlutut di dekatnya.
"Han Lin...! Han Lin....!"
Mengguncang tubuh yang nampaknya sekarat itu.
Han Lin tetap tidak bergerak dan Leng Si segera menotoknya, melepaskan totokannya tadi dari balik jala.
Akan tetapi begitu totokannya terbebas, mendadak tangan Han Lin meraih dari dalam jala dan pergelangan tangan Leng Si sudah dipegangnya erat-erat!
"Nah, engkau menjadi tawananku sekarang!"
Katanya sambil tersenyum.
Leng Si terkejut setengah mati.
Dengan cepat direnggutnya tangan itu dan dengan tangan kanannya ia menotok lagi.
Han Lin yang belum dapat bergerak leluasa di dalam jala terkena totokan lagi dan menjadi lemas kaki tangannya.
Leng Si meloncat berdiri, membanting-banting kaki saking gemasnya.
Engkau menipuku, bedebah!
Engkau patut dihajar!"
Dan ia meloncat ke atas punggung kudanya lagi, kini menjalankan kudanya dengan cepat sehingga tubuh Han Lin terguncang-guncang dan terseret-seret!
Setelah lewat tiga li mereka memasuki hutan Leng Si menengok dan melihat pemuda itu telentang dan tersenyum-senyum saja, walaupun bajunya robek-robek dan kulitnya babak-bundas.
Han Lin merasa tenang saja karena dia yakin bahwa wanita itu tidak bermaksud membunuhnya.
Ketika tadi dia berpura-pura sekarat wanita itu merasa khawatir dan berusaha menolongnya.
Wanita yang aneh, tidak jahat agaknya, akan tetapi hatinya keras seperti batu!"
Leng Si meloncat turun dari kudanya.
Lalu ia melihat ke kanan kiri.
Sambil menyeret tubuh Han Lin ia menghampiri pohon besar dan sekali loncat tubuhnya melayang naik sambil memegang ujung tali jala yang panjang.
Kemudian ia melompat tutun setelah melibatkan tali jala itu dan dengan mengerahkan tenaganya, ia mengerek tubuh Han Lin ke adalam jala itu sehingga tubuh itu kini tergantung!
Ia mengikatkan ujung teli jala ke batang pohon.
Luar biasa sekali tali jala yang kecil itu, mampu menahan tubuh Han Lin.
Han Lin nampak seperti seekor ikan dalam jala yang digantung akan tetapi dia diam saja, hanya melirik dan mencoba untuk memandang wanita yang berada di bawah itu.
"Han Lin, engkau belum juga hendak mengaku di mana pedang itu kau sembunyikan?"
"Tidak ada gunanya. Mengakupun engkau tidak percaya. Lebih baik diam dan engkau boleh lakukan apa saja terhadap diriku!"
"Kepala batu!"
Leng Si memaki dan dengan muram ia lalu mengeluarkan anggur dan roti kering serta daging kering, lalu makan perlahan-lahan.
Bau anggunr membuat jakun Han Lin turun naik, akan tetapi dia tidak berkata apa-apa.
Dia mengenang kembali rentetan peristiwa yang amat tidak menyenangkan hatinya.
Mula-mula ditipu tiga orang hwesio, malamnya diserbu musuh dan Ang-in Po-kiam lenyap dicuri orang.
Kemudian dia dihadang perampok dan akhirnya dapat ditawan oleh wanita ini.
Dia belum tahu orang macam apa adanya Dewi Baju Hijau ini, dan apa maunya begitu bernapsu untuk mendapatkan Ang-in Po-kiam.
Padahal wanita ini cantik jelita dan pembawaannya, menarik, halus lembut.
Akan tetapi, dapat bersikap keras seperti baja, dan memiliki anak buah yang terlatih baik.
Apakah seorang wanita yang demikian cantik jeliata ini termasuk seorang penjahat?
Ilmu silatnya tinggi, kalau ia jahat sungguh merupakan hal yang patut disesalkan.
"Hemm, sayang...!"
Ucapan hatinya itu tercetus keluar melalui mulutnya tanpa disengaja.
Baca Juga: Si Pedang Tumpul 2
Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 6