Eps 4 Pedang Awan Merah - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Awan Merah - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Awan Merah - Kho Ping Hoo.
Lewat lima hari, tenaga Cin Mei telah pulih kembali dan selama lima hari itu, nampak benar oleh Leng Si bahwa Han Lin mencinta adik seperguruannya.
Malam itu, seorang diri ia menemui Han Lin.
Cin Mei yang telah tidur ditinggalkannya dan ia mengetuk pintu kamar Han Lin.
"Han Lin, bukalah pintu,"
Teriaknya memanggil perlahan.
"Eh, enci Leng Si, ada apakah?"
"Mari ke taman di belakang, aku ingin bicara."
Tentu saja Han Lin merasa heran melihat kerahasiaan gadis itu, akan tetapi dia tidak membantah dan setelah menutupkan daun pintu kamarnya, diapun mengikuti Leng Si pergi ke taman di belakang penginapan itu di mana terdapat penerangan lampu merah dan terdapat pula beberapa buah bangku.
Leng Si mengajaknya duduk di situ dan setelah mereka duduk berhadapan, Leng Si langsung saja bertanya, nada suaranya menyerang.
"Han Lin, engkau seorang laki-laki, seorang jantan, karena itu tidak layak kalau engkau tidak berterus terang dan tidak jujur kepadaku."
"Enci, apa kesalahanku...!"
"Tidaku salah apa-apa, akan tetapi jawablah pertanyaanku ini sejujurnya. Apakah engkau mencinta sumoi?"
Ditanya seperti itu, Han Lin merasa seolah-olah dia ditodong dengan pedang yang runcing dan dia terbelalak sambil bangkit berdiri.
"Tidak usah kaget, jawab saja yang sebenarnya kalau engkau tidak ingin kukatakan laki-laki pengecut dan palsu. Hayo jawab sejujurnya. Engkau adalah adik angkatku, dan ia adalah sumoiku. Keduanya kuberatkan maka engkau tidak boleh main-main, harus menjawab dengan jujur. Sekali lagi, apakah engkau mencinta sumoi Lie Cin Mei?"
"Wah, ini...ini..."
"Jawab, jangan mencia-cia plintat-plintut!"
"Ampun, enci Leng Si. Bagaimana aku harus menjawab? Aku sama sekali tidak berhak! Engkau sudah tahu bahwa aku telah mempunyai isteri, telah menikah dan terikat..."
"Menikah macam apa itu!? Tidak ada ikatan yang dipaksakan. Itu sama akal bulus saja. Aku bertanya tentang isi hatimu, perasaanmu dan tidak ada urusan berhak atau tidak berhak. Katakan, apakah engkau mencinta sumoi? Hayo jawab, jangan membikin aku hilang sabar dan berteriak-teriak membangunkan semua orang."
Han Lin merasa ngeri akan ancaman ini.
kalau gadis ini sudah berteriak-teriak dan semua orang mendengar, apa lagi terdengar oleh Cin Mei, mau ditaruh ke mana mukanya?
"Ssstt, enci, jangan ribut-ribut.
Aih, enci telah mendesak dan menghimpitku, betapa tega hatimu, enci."
"Hsuhh, siapa menghimpitmu. Aku hanya ingin pengakuan jujur seorang jantan. Dan adikku haruslah berjiwa jantan, jangan plin-plan. Nah, lepas dari engkau sudah menikah atau belum, katakanlah apakah engkau mencinta Cin Mei?"
"Baiklah, aku akan mengaku terus terang, enci. Aku berani disumpah bahwa selama ini aku tidak pernah jatuh cinta kepada wanita lain semenjak cintaku kepada adik misanku Yang Mei Li ditolak dan ia memilih untuk menikah dengan pria lain. Aku tidak pernah jatuh cinta lagi dan tadinya aku mengira tidak akan dapat jatuh cinta lagi kepada seorang wanita. Akan tetapi semenjak Kwan Im Sian-li Lie Cin Mei muncul, yaitu ketika ia membebaskan aku dari tanganmu aku telah jatuh cinta kepadanya, enci. Aku tergila-gila kepadanya, akan tetapi ternyata nasih menghendaki lain. Secara tidak terduga-duga, terpaksa sekali aku menjadi suami Mulani dan tentu saja aku tidak berani mengharapkan sumoimu untuk...."
"Hushh, siapa bicara tentang nasib? Nasibmu berada di tanganmu sendiri, Han Lin. Thian tidak akan mengubah nasibmu kalau engkau tidak berusaha mengubahnya. Kalau benar engkau mencinta sumoi, Han Lin. Engkau seorang yang berbahagia, karena sesungguhnya sumoi juga mencintamu."
"Ohhhh....!"
Terdengar jerit tertahan dan ketika menengok, Han Lin masih sempat melihat berkelebatnya bayangan putih yang melarikan diri pergi meninggalkan taman itu.
"Mei-moi...!"
Dia melompat mengejar, terkejut bukan main karena tidak mengira bahwa Cin Mei telah mengintai mereka, mendengarkan semua percakapan mereka.
Biarpun dia tersipu malu dan khawatir sekali namun melihat gadis itu melarikan diri, dia menjadi gelisah dan segera mengejarnya untuk mohon ampun atas kelancangannya karena dia tahu bahwa percakapannya dengan Leng Si tadi tentu terdengar oleh Cin Mei dan betapa percakapan tentang diri Cin Mei itu tentu amat menyinggung perasaan gadis itu.
Akan tetapi Cin Mei yang sudah pulih kembali kekuatannya itu dapat berlari amat cepatnya dan Han Lin terpaksa harus mengerahkan tenaga sekuatnya untuk dapat menyusulnya.
"Mei-moi, tunggu....!"
Akhirnya Cin Mei berhenti di tepi jalan yang sunyi itu. Malam itu bulan muncul sepotong, namun cukup memberi penerangan yang remang-remang.
"Mei-moi, maafkan aku...!"
Han Lin menundukkan muka berdiri di depan Cin Mei.
"Tidak ada yang harus dimaafkan, twako."
"Siauw-moi, aku bersalah. Aku telah menyinggung perasaanmu yang suci, aku telah merendahkanmu. Siauw-moi, kau ampunkanlah aku..., aku siap untuk meneriima hukuman."
Dan saking gelisah dan terharunya Han Lin tidak segan-segan untuk menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Cin Mei!
"Aih, twako, jangan begitu.
Bangitlah, twako, aku mohon padamu, bangkitlah dan jangan berlutut kepadaku,"
Suara itu terdengar sedih dan gemetar.
"Katakan dulu bahwa engkau mengampuni semua ucapanku kepadamu, baru aku mau bangkit berdiri."
"Thian saja yang berhak mengampuni kesalahan manusia, aku tidak berhak, apalagi aku tidak merasa bahwa engkau bersalah apa-apa kepadaku. Akan tetapi kalau engkau memaksa, baiklah. Aku maafkan engkau. Nah, bangkitlah."
Han Lin bangkit dengan hati lega.
"Terima kasih, siauw-moi. Alangkah bijaksana hatimu. Siauw-moi, engkau tentu telah mendengar semua percakapanku dengan enci Leng Si tadi, bukan?"
Gadis itu mengangguk dan biarpun sinar bulan hanya remang, Han Lin dapat melihat betapa pucat wajah gadis itu.
"Aku tidak seharusnya bicara begitu. Aku yang bersalah, aku tidak berhak..."
"Tidak berhak apa, twako. Katakanlah."
"Tidak berhak menyatakan cinta kepadamu. Ahhh...biarlah aku mengakui saja kepadamu. Aku cinta padamu, siauw-moi, sejak pertemuan kita yang pertama kali. Aku cinta padamu, walaupun sesungguhnya aku tidak berhak."
"Twako, jangan berkata demikian, twako. Demikian banyak wanita mencintamu, engkau tinggal memilih saja. Di antara mereka adalah Mulani yang berkeras memaksamu menjadi suaminya, dan di sana masih ada Can Bi Lan yang sungguh mencintamu."
"Siauw-moi, apakah ucapanmu itu berarti engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak cinta kepadaku?"
"Ahh, bukan...tapi engkau telah terikat dengan isterimu, twako. Jangan hancurkan hati wanita-wanita itu. Aku akan merasa berdosa kepada mereka."
"Siauw-moi, hatimu terlalu baik engkau selalu mengalah dalam segala hal, Siauw-moi. Aku tidak menuntut jawaban sekarang. Akan tetapi janganlah engkau pergi seperti ini. mari kita kembali ke penginapan. Enci Leng Si tentu akan merasa bersalah kepadamu kalau engkau pergi meninggalkannya begitu saja, mengira engkau tentu marah kepada k ami. Marilah, siauw-moi."
"Aku mau kembali akan tetapi dengan satu syarat bahwa engkau tidak akan bicara lagi tentang cinta."
"Baiklah, aku tidak akan bicara lagi tentang cinta yang hanya akan menimbulkan penasaran dan kedukaan di hatiku."
Mereka lalu berjalan perlahan kembali ke rumah penginapan.
Karena tadi keduanya menggunakan ilmu berlari cepat, maka letak rumah penginapan itu sudah cukup jauh.
Akan tetapi setelah mereka tiba di sana, tidak nampak Leng Si.
Cin Mei memasuki kamarnya dan menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan Leng Si.
Sumoi dan Han Lin, Karena suatu urusan penting, Aku terpaksa tidak dapat ikut Pergi ke kota raja.
Sumoi, engkau mewakili aku, Pergilah dengan Han Lin ke kota raja menyerahkan pedang itu kepada kaisar, Dan mohonlah kepada kaisar agar ayahku dibebaskan.
Aku sangat berterima kasih Kepada kalian.
Dari.
Cu Leng Si "Siauw-moi, apakah enci Leng Si berada di kamarmu?"
Tanya Han Lin dari luar kamar.
Cin Mei keluar dan tanpa berkata apa-apa ia menyerahkan surat itu kepada Han Lin.
Pemuda ini membacanya dengan alis berkerut, di dalam hatinya merasa gembira sekali akan tetapi tentu saja hal ini tidak diperlihatkan kepada Cin Mei walaupun dia tidak dapat menyembunyikan perasaan gembira itu dari suaranya yang terdengar mantap.
"Bagaimana pendapatmu dengan ini, siauw-moi?"
"Maksudmu?"
"Sudikah engkau pergi bersamaku ke kota raja untuk menyerahkan Ang-in Po-kiam kepada kaisar dan mohon pengampunan bagi ayah enci Leng Si?"
"Apa boleh buat, suci menghendaki demikian dan aku harus menghormati permintaannya itu. Kapan kita berangkat?"
"Besok pagi-pagi sekali."
"Baiklah, twako. Sekarang, selamat tidur."
"Selamat tidur, siauw-moi."
Malam itu Han Lin tidur dengan nyenyaknya, mulutnya tersenyum, agaknya mimpi yang indah-indah menjadi bunga tidur malam itu.
Berbeda dengan Cin Mei yang tidur gelisah di atas pembaringannya.
Terjadi pertentangan dalam batinnya.
Ia harus mengakui diri sendiri bahwa ia juga mencinta pemuda itu, akan tetapi iapun merasa iba kepada Mulani, juga kepada Bi Lan.
Ia akan mengalah kepada wanita manapun juga dalam hal cinta.
Baginya, cinta tidak harus menjadi suami-isteri.
Ia dapat mencinta Han Lin, walaupun tidak menjadi isterinya atau kekasihnya.
"Twako, kita singgah dulu di Nan-yang. Aku ingin menengok guruku,"
Kata Cin Mei kepada Han Lin.
Kini mereka menunggang dua ekor kuda karena Han Lin membeli seekor kuda lagi untuk gadis itu dan mereka telah melakukan perjalanan jauh.
Hari itu mereka tiba di luar kota Nan-yang dan Cin Mei mengusulkan untuk singgah di situ.
"Tentu saja, siauw-moi, kita tidak tergesa-gesa. Ah, jadi gurumu, Thian-te Yok-sian, tinggal di kota ini?"
Jawab Han Lin senang.
Dia merasa betapa bahagia hidupnya melakukan perjalanan bersama Cin Mei.
Seolah-olah pemandangan alam menjadi jauh lebih cantik menarik dari pada biasanya.
Sinar matahari lebih cerah, kicau burung di pagi hari lebih merdu, bahkan ketika mereka makan bersama, makanan apapun yang dimakannya terasa lebih nikmat.
Dia tahu bahwa semua itu terjadi karena cintanya kepada Cin Mei dan berdekatan dengan orang yang dicinta memang merupakan kenikmatan yang tiada taranya.
Biarpun sikap Cin Mei biasa saja dan tidak pernah memperlihatkan perasaannya, namun dia dapat merasakan pula bahwa Cin Mei merasa tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakannya, yaitu berbahagia dan gembira sekali.
Cin Mei yang menunggang kuda coklat, memasuki kota lebih dulu karena Han Lin mengikuti di belakangnya.
Gadis itu langsung saja menuju ke rumah gurunya, sebuah rumah Thian-te Yok-sian itu karena setiap hari ada saja orang mencarinya untuk bertobat.
Akan tetapi Dewa Obat ini mempunyai suatu kebiasaan.
Kalau yang datang itu menderita penyakit biasa saja, dia tidak mau mengobati dan mengusirnya untuk pergi saja ke tabib lain.
Barulah apa bila ada orang sakit yang amat parah, yang tidak dapat disembuhkan oleh tabib-tabib biasa, dia mau mengobatinya dan kalau sudah mengobatinya, dia tidak pernah minta bayaran.
Mereka yang disembuhkan itu dengan suka rela lalu mengirim bahan makanan atau pakaian kepada Dewa Obat ini, dan kalau demikian halnya, diapun tidak menolak.
Akan tetapi, jangan ditanya berapa biayanya karena dia akan marah sekali dan mengusir orang itu.
Baginya perjuangan yang berbahaya dan berat, dan kemenangannya atau penyakit yang berat itulah yang menjadi sumber kebahagiaannya.
Usianya sudah tujuh puluh tahun, namun dia masih nampak sehat dan cekatan kalau memeriksa pasien.
Ketika dua orang penunggang kuda itu tiba di depan rumah Yok-sian, mereka merasa heran melihat pintu rumah itu tertutup.
Pada hal hari telah cukup siang sehingga tidak mungkin kalau Dewa Obat itu masih tidur.
Selagi mereka termangu, seorang anak-anak berusia dua belas tahun menghampiri dan melihat Cin Mei, dia segera berseru girang.
"Suci....!!"
"Ah, engkau ini, Kun Tek? Di mana suhu dan mengapa rumahnya ditutup? Cin Mei melompat turun dari kudanya diikuti oleh Han Lin.
"Aih, panjang ceritanya, suci. Mari silakan masuk, kita bicara di dalam saja."
Han Lin melihat bahwa anak itu, biarpun masih kecil namun sudah nampak cerdik.
Anak itu membuka daun pintu dengan kunci yang diambilnya dari saku bajunya dan mereka bertiga memasuki rumah itu setelah mengikat kendali kuda pada pohon di depan rumah.
Setelah duduk di ruangan dalam tiba-tiba Kun Tek menjatuhkan di depan Cin Mei sambil menangis.
Sekarang barulah dia benar-benar nampak bahwa dia masih kanak-kanak.
"Huushh, Kun Tuk. Jangan menangis, ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi,"
Kata Cin Mei menghibur dan mengangkat anak itu disuruh bangkit dan duduk kembali di kursi. Kun Tek menyusut air matanya.
"Baru lima hari ini terjadinya, suci. Tadinya ada lima orang perajurit utusan Panglima Kwan dari Lok yang minta agar suhu ikut mereka untuk mengobati keluarga Panglima Kwam. Tentu saja suhu menolak karena suhu tidak pernah pergi mengunjungi pasien. Harus pasien yang datang untuk berobat dan bagi suhu, peraturan ini berlaku untuk semua orang. Bahkan suhu pernah berkata, bahwa biar kaisar sendiri kalau membutuhkan pertolongannya, harus datang ke sini. Maka dia menolak keras dan menuntut bahwa apa bila pasien keluarga Panglima Kwan itu benar-benar sakit keras dan membutuhkan pertolongannya, harus dibawa ke sini. Lima orang itu lalu pergi dengan penasaran."
"Lalu bagaimana?"
Tanya Cin Mei dengan suara tenang.
"Kemudian kemarin datang sebuah kereta dan Panglima Kwan sendiri datang, marah-marah dan memaki-maki suhu lalu memaksa suhu untuk ikut dengannya. Suhu menolak, akan tetapi para pengawal Panglima Kwan itu lalu menggunakan kekerasan, mereka menyeret suhu ke dalam kereta yang kemudian meninggalkan kota ini dan sampai sekarang belum ada kabarnya. Ah, suci, tolonglah suhu, aku khawatir suhu mendapat celaka di sana."
"Tenanglah, Kun Tek. Biar aku yang urus suhu dan engkau jaga saja rumah ini, rawat yang bersih agar kalau suhu pulang keadaannya tetap bersih."
"Baik, suci."
"Twako, mari kita menyusul suhu ke Lok-yang!"
Kata gadis itu dan Han Lin mengangguk. Mereka lalu keluar lagi, menunggang kuda dan keluar dari kota Nan-yang menuju ke Lok-yang dengan cepat.
"Panglima itu sungguh bertindak sewenang-wenang terhadap suhumu, siauw-moi. Biar kita hajaran kepadanya! "Ah, jangan begitu, twako. Pertama, dia adalah seorang panglima yang tentu mempunyai pasukan yang puluhan ribu orang banyaknya. Kedua, semua perbuatan itu tentu ada sebabnya dan sebelum mengetahui sebabnya dia memaksa suhu, tidak baik kalau kita bertindak, apa lagi dengan kekerasan. Biarkan aku yang menangani persoalan ini, twako."
Pada keesokan harinya, barulah mereka memasuki kota Lok-yang yang besar karena Lok-yang merupakan kota raja kedua setelah Tiang-an.
Tidaklah sukar bagi kedua orang muda itu untuk memberi tahu di mana tempat tinggal Panglima Kwan.
Dia adalah seorang di antara banyak panglima di Lok-yang dan rumahnya merupakan gedung besar yang di luarnya dijaga oleh pasukan pengawal.
Cin Mei dan Han Lin merasa lega bahwa panglima itu tidak tinggal di dalam benteng karena kalau demikian halnya tentu akan lebih sukar bagi mereka untuk menemuinya dan berusaha untuk membebaskan Yok-sian yang dipaksa mengobati keluarga panglima itu.
"Berhenti! Siapakah kalian dan ada keperluan apakah datang ke sini?"
Bentak opsir penjaga yang bertugas jaga di depan gedung megah itu.
Biarpun pertanyaan itu diajukan kepada Han Lin, namun karena Cin Mei yang akan menangani persoalan itu, Han Lin tidak menjawab melainkan menoleh kepada Cin Mei.
"Kami datang untuk menghadap Kwan ciangkun. Saya bernama Lie Cin Mei dan sahabatku ini bernama Sia Han Lin. Aku adalah seorang ahli pengobatan, dan mendengar bahwa ada keluarga Kwan-ciangkun yang menderita sakit keras, maka akan saya coba untuk mengobatinya."
Mendengar ucapan itu, berubah sikap opsir itu.
"Ah, kalau begitu, akan kami laporkan kepada ciangkun. Harap ji-wi (kalian berdua) menanti sebentar."
Tak lama kemudian, opsir itu datang lagi dan mempersilakan dua orang muda itu masuk.
Mereka diterima oleh seorang panglima yang bertubuh tinggi besar bermuka merah.
Setelah dipersilakan duduk, panglima itu mengamati Cin Mei dan bertanya dengan suara meragu.
"Apakah nona yang mengatakan pandai mengobati orang sakit?"
"Benar, ciangkun. Saya mendengar bahwa ada keluarga ciangkun yang sedang sakit, maka kalau boleh, saya akan mencoba untuk memeriksa dan mengobatinya."
"Apakah engkau berani tanggung bahwa engkau akan dapat menyembuhkan puteraku yang menderita sakit itu, nona?"
"Ciangkun, bagaimana saya dapat menentukan sebelum memeriksanya?"
"Baik, mari kau periksa dia dan beri obat sampai sembuh, nanti akan besar hadiahnya untukmu kalau engkau dapat menyembuhkannya."
Dikawal oleh selosin perajurit, panglima itu lalu mengajak Cin Mei dan Han Lin masuk ke kamar di bagian belakang gedung yang besar itu.
Baru tiba di depan kamar saja sudah tercium bau tidak enak sekali dari dalam kamar.
Seperti bau bangkai.
"Nah, yang sakit adalah puteraku dan dia di dalam kamar ini. silakan periksa dia, nona,"
Kata panglima itu.
Agaknya panglima itu perhatiannya tercurah kepada puteranya yang sakit sehingga dia tidak lagi menanyakan siapa nama kedua orang tamunya, walaupun tadi sudah dilaporkan oleh opsir.
Dengan menahan kemuakan oleh bau yang busuk itu, Cin Mei menghampiri pembaringan di mana rebah seorang pemuda yang berusia baru dua puluh tahun, akan tetapi seluruh tubuh pemuda itu timbul bisul kecil-kecil yang mengeluarkan bau busuk.
Melihat Cin Mei, pemuda itu hendak bangkit dan menjulurkan kedua lengannya.
"Aduh, cantik manis! Marilah, manis, tidur bersamaku....!"
Suaranya lemah akan tetapi dia hendak bangkit untuk merangkul Cin Mei.
Han Lin cepat menggunakan tongkatnya menotok jalan darah pemuda itu sehingga rebah kembali dengan lemas.
Cin Mei lalu memeriksa nadinya.
Tak lama kemudian ia menggelengkan kepala dan memberi isarat kepada Han Lin untuk keluar dari kamar.
Han Lin menotokkan tongkatnya membebaskan pemuda itu dan mereka keluar dari kamar itu.
Di belakang mereka, pemuda yang sakit itu memanggil-manggil Cin Mei.
"Ke sinilah, manis. Jangan tinggalkan aku, sayang...!"
Gila, pikir Han Lin.
Sudah sakit demikian hebat, masih saja bersikap mata keranjang.
Pantasnya orang macam itu mati saja.
Setelah gadis itu keluar dari dalam kamar si sakit, panglima itu lalu mengajaknya ke ruangan tadi dan setelah duduk, dia bertanya.
"Bagaimana, nona. Bagaimana keadaannya dan dapatkah engkau menyembuhkan?"
Han Lin melihat bahwa ruangan itu terjaga oleh belasan orang pengawal, dan ketika dia memandang kepada panglima itu, dia melihat wajah yang merah itu diliputi penuh kegelisahan.
"Ciangkun, puteramu itu terkena penyakit berat. Mungkin timbul karena dia terlalu banyak bergaul dengan pelacur-pelacur dan darahnya sudah keracunan. Bahkan saya melihat racun sudah menjalar sampai ke otak."
"Hemm, cocok dengan ucapan tabib itu!"
Kata Kwan-ciangkun.
"Dan saya me lihat bahwa dia telah mendapat obat penahan dan pengurang rasa nyeri. Kalau tidak mendapat obat itu, tentu dia tidak akan tahan sakitnya dan akan berteriak-teriak."
"Kembali cocok, nona. Engkau memang pandai dan kuharap engkau akan dapat mengobatinya sampai sembuh betul tidak seperti tabib itu yang hanya dapat memberi obat penahan rasa nyeri saja."
"Ciangkun, sebelum saya menjawab dan memberi obat, saya ingin bertanya di mana tabib yang sudaha memeriksa dan memberinya obat itu?"
"Di kamar tahanan! Dia mengaku sebagai Dewa Obat, akan tetapi dia mengatakan bahwa dia tidak dapat menyembuhkan anakku. Maka dia kumasukkan tahanan dan kalau sampai anakku mati, dia akan ikut mati!"
Kata panglima itu dengan gemas.
"Harap ciangkun suka suruh panggil dia ke sini, karena saya perlu bertukar pikiran dengan dia untuk dapat mengobati puteramu."
"Ah, benarkah engkau dapat menyembuhkan puteraku?"
Tanya panglima itu penuh harapan.
"Mudah-mudahan saja, akan tetapi saya perlu bertukar pikiran dan pendapat dengan tabib itu."
"Baik!"
Panglima Kwan lalu memanggil kepala pengawal dan memerintahkan agak membawa tawanan tabib itu datang ke situ.
Tak lama kemudian, pengawal itu datang kembali sambil mengiringkan seorang kakek tinggi kurus.
Melihat suhunya, Cin Mei lalu memberi hormat dan berkata.
"Saya mohon mendapat lo-cian-pwe untuk menentukan obat bagi putera Kwan-ciangkun."
Tentu saja Thian-te Yok-sian mengenal muridnya.
Dia tahu bahwa tidak seperti dia yang hanya tahu ilmu pengobatan, muridnya itu memiliki ilmu silat tinggi dan tentu datangnya untuk menolongnya.
Dia khawatir sekali akan keselamatan muridnya itu, maka dia berkata.
"Mau bertanya apa lagi? Penyakit Kwan-kongcu sudah amat berat. Semua karena ulahnya sendiri bermain-main dengan para pelacur. Kini penyakit itu sudah menjalar ke otak."
"Kalian harus dapat menyembuhkannya. Kalau tidak, kalian bertiga tidak akan kuperkenankan meninggalkan tempat ini!"
Bentak Kwan-ciangkun. Han Lin yang sejak tadi diam lalu berkata.
"Kami tahu mengapa ciangku menghendaki demikian. Tentu ciangkun khawatir kalau kami di luaran akan menceritakan tentang keadaan penyakit Kwan-kongcu, bukan?"
"Tutup mulutmu, orang muda!"
Kwan-ciangkun membentak marah.
"Pendeknya kalian harus dapat menyembuhkannya!"
Kini dengan suara tenang penuh kesabaran Cin Mei berkata.
"Ciangkun, kami hanya manusia biasa dan bukan Tuhan. Yang menentukan mati hidup hanyalah Thian. Saya kira penyakit putera ciangkun itu sudah terlalu parah. Dan andaikata obat kami menyelamatkan nyawanya, tidak mungkin dapat menyelamatkan otaknya. Dia dapat sembuh, akan tetapi akan menjadi....maaf, gila."
"Apa...??"
Bentak Kwan-ciangkun sambil berdiri dari tempat duduknya, mukanya pucat dan matanya terbelalak.
"Ohhh, saya sudah tahu akan hal itu, akan tetapi tidak berani mengatakan kepada ciangkun. Saya kira, keadaan Kwan-kongcu sudah demikian parah. Hiduppun akan menderita hebat, maka satu-satunya yang terbaik baginya adalah kematian yang akan membebaskan dari semua rasa nyeri dan ancaman gila."
"Tidak! Tidak, kalian harus menyembuhkannya sama sekali atau kalau tidak, kalian akan kutahan dan kalau dia mati, kalian akan ikut mati!"
Mendadak Han Lin meloncat dan biarpun panglima itu menyambutnya dengan pukulan, tetap saja dia sudah dapat menotok panglima itu sehingga panglima itu menjadi lumpuh.
"Kwan-ciangkun, engkau keterlaluan,"
Bisik Han Lin.
Sementara itu, belasan orang pengawal yang melihat ini sudah menyerbu dengan golok dan tombak di tangan.
Akan tetapi ketika mereka menyerang ke arah Cin Mei dan Yok-sian, mereka melihat bayangan putih berkelebat dan berturut-turut mereka roboh tertotok, suara golok dan tombak yang terlempar berkerontangan.
Melihat lima orang roboh oleh wanita berpakaian putuh itu, para pengawal lain tertegun dan jerih.
Sementara itu Han Lin, menekan leher Kwan-ciangkun.
"Ciangkun, perintahkan pengawalmu untuk mundur, kalau tidak terpaksa aku akan membunuhmu sekarang juga."
Karena tidak berdaya dan nyawanya di tangan orang, Kwan-ciangkun lalu berteriak.
"Kalian semua mundur!"
Dan para pengawal itu pun tidak ada yang berani bergerak.
"Biarkan kami pergi dari sini dengan aman, ciangkun."
"Buka jalan dan biarkan mereka pergi!"
Bentak pula Kwan-ciangkun. Cin Mei menghampiri meja dan menuliskan sebuah resep dengan cepat, lalu berkata kepada panglima itu.
"Ciang-kun, resep ini adalah obat untuk membuat puteramu merasa tenang dan tidak menderita nyeri, akan tetapi sama sekali bukan untuk menyembuhkan. Hanya kalau Thian menghendaki, puteramu dapat sembuh. Mudah-mudahan saja."
Mereka bertiga lalu melangkah keluar, dan Han Lin masih tetap memegangi lengan panglima itu yang dibawanya keluar sehingga tidak ada seorang pengawal berani mengganggu mereka.
"Siauw-moi, kau pergi dulu bersama suhumu, tunggu di luar kota,"
Bisik Han Lin kepada Cin Mei.
Gadis itu mengangguk, sebenarnya ia tidak menyukai jalan kekerasan yang diambil Han Lin akan tetapi ia maklum bahwa itulah satu-satunya jalan untuk dapat lolos dengan selamat.
Ia lalu membawa suhunya keluar dari situ dengan cepat, pulang dan menunggang kedua ekor kuda keluar dari kota dan menanti Han Lin.
Setelah menanti sampai beberapa lama, barulah Han Lin melepaskan panglima itu.
"Jangan mengejar kami, ciang-kun. Kami sudah bersikap baik kepadamu, bahkan meninggalkan obat untuk puteramu. Ingat, kalau engkau mengirim pasukan mengejar, dengan mudah saja aku akan datang untuk mencabut nyawamu."
Setelah berkata demikian, diapun pergi dengan cepat.
Sekali berkelebat diapun lenyap dari situ.
Karena sibuk dengan puteranya panglima itupun tidak melakukan pengejaran, melainkan menyuruh orang membeli obat dengan resep yang ditinggalkan oleh Cin Mei.
Cin Mei mengajak Thian-te Yok-sian dan Kun Tek untuk mengungsi ke sebuah dusun yang menjadi kampung halaman Thian-te Yok-sian, sebuah dusun nelayan di tepi Huang-ho, di mana Thian-te Yok-sian masih mempunyai sebuah rumah dan selanjutnya dia hidup di situ, dilayani oleh Kun Tek dan kehidupannya ditunjang oleh keluarga nelayan di dusun itu karena merekapun membutuhkan pertolongan Yok-sian untuk mengobati mereka yang menderita sakit.
Pemuda yang bercaping lebar itu tidak menarik perhatian orang, walaupun pedang yang berada di punggungnya menunjukkan bahwa dia seorang yang biasa menggunakan ilmu silat untuk menjaga diri.
Dia seorang laki-laki muda berusia dua puluh dua tahun, wajahnya tampan dan periang, akan tetapi pada saat itu sinar matanya muram.
Ketika memasuki rumah makan di kota Souw-ciu itu, dia melihat bahwa di situ sudah ada seorang pemuda lain yang nampak gagah berpakaian serba putih dan wajahnya tampan.
Juga pemuda ini mempunyai sebatang pedang di punggungnya dan usianya sekitar dua puluh lima tahun.
Mereka berdua hanya saling lirik saja akan tetapi tidak saling menegur karena memang tidak saling mengenal.
Pemuda yang bercaping lebar itu adalah Souw Kian Bu.
Seperti telah kita ceritakan di bagian depan, Souw Kian Bu dengan hati panas penuh cemburu telah meninggalkan isterinya.
Putera Souw Hui San dan Yang Kui Lan ini pergi dengan hati remuk karena dia menduga bahwa isterinya tentu dahulu menjadi kekasih suheng isterinya yang bernama Gu San Ki itu.
Dia merasa telah dicurangi dan ditipu oleh isterinya!
Semenjak pergi meninggalkan isterinya, dia merasa berduka dan kesepian sekali.
Dia kehilangan isterinya, kehilangan kemesraan dan keramahan isterinya.
Harus diakuinya bahwa isterinya bersikap ramah dan mesra, akan tetapi bayangan bahwa isterinya telah bergaul dengan pria lain sebelum menikah dengannya, selalu menggerogoti dan meracuni hatinya dengan rasa cemburu.
Cemburu timbul apa bila kita menganggap orang yang kita cinta sebagai milik kita.
Seperti kalau kita memiliki suatu benda yang indah dan kita sayang, maka kita selalu cemburu dan tidak ingin orang lain memilikinya, menjaganya agar benda itu selalu menjadi milik kita.
Benarkah bahwa tanpa cemburu bukalah cinta namanya?
Ataukah sebaliknya, kalau ada cemburu maka bukanlah cinta sejati?
Yang jelas, cemburu adalah sakitnya hati yang merasa miliknya diambil orang.
Cinta yang sifatnya memiliki dan dimiliki, tentu mengandung cemburu.
Padahal, cinta berarti kepercayaan mutlak kepada yang dicinta.
Kalau dua orang sudah saling mencinta, tentu ada kepercayaan yang tulus.
Karena cinta tidak mungkin bertepuk tangan sebelah.
Kalau ada keraguan, ketidak percayaan, maka percuma saja orang mengaku cinta.
Dan cemburu merupakan racun yang amat berbahaya bagi kehidupan suami isteri.
Kian Bu sedang diamuk cemburu.
Dan orang yang cemburu selalu membayangkan yang bukan-bukan, segala kemungkinan yang tidak-tidak, yang dianggapnya mungkin dilakukan oleh orang yang dicinta dicemburuinya.
Kian Bu mencinta Ji Kiang Bwe, akan tetapi dia ingin memiliki isterinya secara mutlak, baik sekarang maupun masa lalu dan masa mendatang.
Dia mencinta bayangan, yaitu bayangan wanita yang sempurna, tidak ternoda, dan bayangan itu diharapkan akan dapat terwujud dalam bentuk tubuh isterinya.
Kian Bu sadar dari lamunannya ketika pelayan menghampirinya dan bertanya apa yang dipesannya.
Dia memesan arak dan masakan mi.
Pada saat itu, terdengar suara keras orang menggebrak meja dan seorang yang baru saja memasuki rumah makan itu menggebrak meja dan mengeluarkan teriakan nyaring.
"Cepat pelayan! Cepat sediakan arak, aku sudah haus sekali!"
Bergegas pelayan mendatangi meja itu dan membawa seguci arak.
Orang itu lalu membuka tutup guci, menuangkan arak dari guci begitus aja ke mulutnya, tidak mau menggunakan cawan lagi.
Souw Kian Bu memperhatikan.
Orang itu berusia lima puluh satu tahun, tubuhnya jangkung kurus, jangkung sekali lebih tinggi sekepala dibandingan orang lain dan pinggangnya dililit rantai baja yang nampaknya berat.
Tentu seorang yang kuat, pikirnya dan melihat cara dia minum arak dapat diduga bahwa dia tentulah seorang kang-ouw yang terkenal pula.
Kian Bu baru saja makan mi-nya ketika dia melihat pemuda berpakaian putih itu menggerakkan tangannya dan sebatang sumpit meluncur seperti anak panah cepatnya, tepat mengenal guci yang sedang dituangkan isinya ke mulut kakek jangkung itu.
"Pyarr...!"
Guci itu pecah dan isinya berhamburan membasahi pakaian si jangkung.
Tentu saja si jangkung ini marah bukan main.
Dia bangkit berdiri dan matanya memandang ke kana dari mana sumpit tadi menyambar gucinya.
Dia bukan lain adalah Thian-kui, orang tertua dari Thian Te Siang-kui dan ketika dia melihat pemuda baju putih, dia marah sekali.
Dia segera mengenal Can Kok Han, pemuda dari Pek-eng Bu-koan yang sudah pernah bertanding dengannya buhkan nyaris pemuda itu tewas oleh dia dan adiknya kalau saja tidak muncul Mulani melarang dia membunuhnya.
Kini Mulani tidak ada, dan tidak ada orang yang akan melarangnya, maka tentu saja kemarahannya memuncak.
"Bocah sombong, berani engkau mengganggu mulut harimau? Tempo hari engkau lolos dari tanganku, sekarang agaknya engkau memang sudah bosan hidup!"
"Thian-kui, manusia iblis, justeru aku yang akan membunuhmu sekali ini!"
Kata Kok Han, pemuda yang tidak mau merasa kalah oleh siapapun juga itu.
Pada saat itu, pemilik rumah makan tergopoh menghampiri pemuda baju putih itu.
Dia agaknya sudah tahu siapa Thian-kui, seorang datuk yang sakti dan tidak berani dia minta kepada Thian-kui agar tidak berkelahi di tempat itu.
Akan tetapi Kok Han adalah seorang pemuda tampan dan pakaiannya bersih, gerak-geriknya sopan, maka kepada pemuda inilah dia bermohon.
"Taihiap, kami mohon agar tai-hiap tidak berkelahi di tempat kami dan merusakkan perabot rumah makan kami, juga membikini takut para tamu kami."
Sementara itu para tamu memang sudah ketakutan dan siap meninggalkan meja masing-masing agar jangan terlibat perkelahian itu.
"Thian-kui, aku menantangmu untuk bertanding di luar rumah makan kalau engkau memang berani!!"
Kata Kok Han yang lalu melompat keluar dari dalam rumah makan itu.
"Pemuda tolol, engkau sudah bosan hidup!"
Kata Thian-kui dan dengan marah sekali dia lalu menyusul keluar.
Melihat ini, Souw Kian Bu yang tadi terkejut mendengar julukan Thian-kui, diam-diam ikut pula keluar.
Tentu saja dia pernah mendengar julukan Thian-te Siang-kui dan dia khawatir sekali akan nasib pemuda tampan itu.
Dia pernah mendengar bahwa sepasang iblis itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali.
Biarpun dia belum tahu urusannya, tidak tahu mengapa kedua orang ini bermusuhan, akan tetapi karena dia tahu bahwa Thian-kui adalah seorang datuk sesat yang jahat, tentu saja pemuda itu berada di pihak benar yang patut untuk dibantunya kalau terancam bahaya.
Selain Kian Bu, banyak juga yang keluar untuk menonton perkelahian walaupun mereka itu tidak takut dan menonton sambil bernyanyi.
Kok Han sudah berhadapan dengan Thian-kui.
"Bocah ingusan, engkau sudah gila barangkali. Sudah beberapa kali engkau masih hendak mengantarkan nyawa? Sekali ini jangan harap engkau akan dapat meloloskan diri dari tanganku!"
"Thian-kui, tidak perlu banyak cakap lagi. Sekali ini engkaulah yang akan mampus di tanganku untuk menebus semua kejahatanmu!"
Kata pemuda itu dengan lagak gagah dan dia sudah mencabut pedangnya.
Gerakannya ketika melompat keluar rumah makan dan ketika mencabut pedang memang meyakinkan, sehingga Kian Bu merasa agak lega karena agaknya pemuda ini memang seorang pendekar perkasa.
Thian-kui melolos rantai baja dari pinggangnya.
Rantai baja itu kurang lebih dua meter panjangnya dan ketika dia gerakkan, terdengar suara berciutan, tanda bahwa senjata itu berat dan tenaga yang menggerakkannya besar.
Namun dengan lincahnya Kok Han meloncat ke belakang dan membalas dengan serangan yang dilakukan sambil meloncat seperti burung menyambar.
Pedangnya menusuk ketika tubuhnya menukik.
Kian Bu kagum.
Pemuda ini memang boleh juga, akan tetapi dia meragukan apakah pemuda itu tangguh untuk menandingi Thian-kui yang senjatanya lebih panjang dan gerakannya demikian kuat.
Segera setelah pertandingan berlanjut, tahulah Kian Bu bahwa seperti dikhawatirkan, pemuda itu bukan tandingan Thian-kui.
Dia jauh kalah kuat tenaganya, dan hanya karena memiliki kegesitan seperti seekor burung saja yang membuat pemuda itu masih dapat bertahan setelah mereka bertanding selama dua puluh jurus lamanya.
Namun pemuda itu sudah terdesak hebat dan tinggal menanti saat robohnya saja.
Kian Bu sudah bersiap-siap untuk membantu pemuda itu ketika tiba-tiba Kok Han melompat jauh ke belakang dan tangan kirinya bergerak melempar benda ke dekat Thian-kui.
Terdengar ledakan keras dan asap tebal mengepul.
Thian-kui mengeluarkan gerengan parau dan diapun terhuyung lalu roboh!
Setelah asap menghilang, Kian Bu melihat Thian-kui sudah roboh terlentang, dan Kok Han menghampirinya dengan pedang di tangan, agaknya siap untuk membunuhnya.
Sebetulnya melihat ini, Kian Bu merasa tidak senang.
Kemenangan pemuda itu adalah kemenangan curang, apa lagi kini pemuda itu hendak membunuh musuhnya yang sudah pingsan, perbuatan yang sama sekali tidak dapat dibilang gagah.
Akan tetapi pada saat itu, seorang yang pendek kurus, mengeluarkan teriakan melengking dan sudah menerjang kepada Kok Han dengan sepasang goloknya.
Dia adalah Tee-kui yang hampir saja terlambat menolong kakaknya.
"Bocah sombong dan curang, rasakan tajamnya golokku!"
Tee-kui menyerang dengan dahsyat sehingga repot Kok Han harus memutar pedangnya untuk menangkis.
Kini dia tidak sempat lagi untuk menyerang dengan bahan peledak karena Tee-kui sudah mengetahui akan kelihaian senjata rahasia itu, makaa tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk menjauhkan diri.
Sepasang goloknya berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyilaukan mata dan mengurung Kok Han sehingga pemuda ini terdesak hebat.
Melihat keadaan itu, Kian Bu tidak dapat tinggall diam saja.
Tidak bisa dia melihat pemuda baju putih itu terbunuh oleh Tee-kui yang demikian tangguh.
Dia melompat cepat sambil mencabut pedangnya dan menyerang Tee-kui dari samping.
Mendengar suara pedang berdesing menyerangnya, Tee-kui terkejut dan ketika dia menangkis dengan golok kirinya, dia merasa betapa tangan kirinya tergetar hebat, tanda bahwa penyerangnya memiliki tenaga sin-kang yang tangguh.
Hal ini membuat dia menjadi jerih karena harus menghadapi pengeroyokan dua orang, maka dia mengeluarkan gerengan dahsyat dan sepasang goloknya menyerang sedemikian hebatnya sehingga Kok Han dan Kian Bu terpaksa melangkah mundur untuk menghindarkan diri dari sambaran sinar golok.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tee-kui untuk meloncat ke dekat rekannya dan dia memondong tubuh Thian-kui yang masih pingsan itu, lalu meloncat jauh untuk melarikan diri.
Kok Han memandang kepada Kian Bu.
Dasar dia seorang yang congkak, apa lagi setelah dia berhasil merobohkan Thian-kui, maka dia tidak merasa akan kelemahan diri sendiri, tidak maun mengerti bahwa sebenarnya dia tadi terancam bahaya di tangan Tee-kui.
Dengan muka cemberut dia bukan berterima kasih kepada Kian Bu, malah menegur.
"Siapa minta engkau membantuku?"
Tentu saja Kian Bu mendongkol bukan main.
Kalau dia tidak menyabarkan hatinya, tentu sudah diserangnya pemuda baju putih itu.
Melihat sikap congkak itu, dia memutar tubuh hendak meninggalkan begitu saja.
Pada saat itu terdengar seruan wanita.
"Ah, engkau kiranya pemilik bahan peledak yang mengandung racun pembius itu, Kok Han?"
Kok Han menoleh dan melihat munculnya Mulani, dia terkejut bukan main.
"Apa... apa maksudmu, Mulani?"
Tanyanya dan nampak olehnya betapa cantiknya gadis Mongol itu.
"Jadi, dahulu yang meledakkan racun pembius sehingga aku dan Sia Han Lin menjadi pingsan adalah engkau? Mengakulah, karena peledaknya sama benar dengan yang kaulepaskan untuk merobohkan Thian-kui tadi."
Kok Han menggigit bibirnya. Dia tidak dapat mengelak lagi.
"Benar, Mulani. Panas hatiku melihat engkau dengan Han Lin... karena aku cinta padamu..."
"Jadi engkau... engkau yang melakukan... terhadap diriku..."
Kok Han adalah seorang yang biasanya melakukan kegagahan, menganggap diri sebagai pendekar, hanya cinta dan cemburu telah meracuninya.
Kini dia merasa bahwa dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap Mulani.
"Terus terang saja, Mulani, aku tidak ingin engkau menjadi isteri Sia Han Lin..."
Tiba-tiba Mulani tersenyum manis dan mendekati Kok Han.
"Kalau begitu, engkaulah suamiku yang sesungguhnya. Apakah engkau cinta benar kepadaku, Kok Han?"
Bukan main girangnya hati Kok Han.
"Kalau tidak mencinta padamu, untuk apa aku melakukan semua itu, Mulani? Aku cinta padamu, aku tergila-gila pada..."
Tiba-tiba saja ucapan Kok Han itu terhenti, matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar dan saat itu Mulani sudah melompat ke belakang.
"Mulani, kau... kau...!"
Pada saat itu, terdengar bentakan melengking.
"Perempuan iblis, engkau bunuh kakakku?"
Dan sebuah benda meledak dekat Mulani yang tidak sempat menghindar sehingga ia terbatuk-batuk dan terhuyung-huyung dan pada saat itu, Bi Lan sudah menyerangnya dengan sebatang pedang.
Ia tidak mampu menghindar lagi dan lambungnya tertembus pedang sehingga ia roboh mandi darah, tak jauh dari tubuh Kok Han yang dadanya tertembus pedang yang ditusukkan Mulani.
Setelah asap membuyar, Bi Lan berlutut dekat tubuh kakaknya.
"Han-ko, Han-ko... engkau tidak apa-apa...?"
"Lan-moi, ah, kenapa engkau lakukan itu? Mulani... tidak... berdosa... aku yang bersalah... aku telah memperkosanya selagi ia pingsan... aku... ahh..."
Ia terkulai dan tewas. Sementara itu, mendengar betapa tadi wanita itu menyebut nama Sia Han Lin, kakak misannya, Kian Bu juga sudah melompat dekat dan berlutut di dekat tubuh Mulani yang sekarat.
"Nona, aku adalah anggauta keluarga dari Sia Han Lin. Ada urusan apa dengan dia dan di mana dia sekarang?"
Mulani membuka matanya.
"...katakan kepada Han Lin, aku... aku minta maaf, dia tidak bersalah, dia bukan pelakunya, pelakunya adalah Can Kok Han... ahh, dia... dia boleh bebeas sekarang... katakan aku... aku cinta padanya..."
Dan Mulani juga terkulai, tewas. Kian Bu dan Bi Lan saling pandang, tidak saling mengenal, akan tetapi Bi Lan dapat mendengar percakapan antara Kian Bu dan Mulani.
"Aku... menyesal sekali telah membunuh Mulani... melihat kakakku dibunuhnya..."
Mendadak datang serombongan orang yang berpakaian seperti orang asing, jumlah mereka dua puluh orang lebih.
Kian Bu sudah melompat bangun dan siap siaga menjaga segala kemungkinan, demikian pula Bi Lan.
Akan tetapi orang-orang itu tidak menggangu mereka, hanya mengangkat jenazah Mulani dan pergi dengan cepat dari tempat itu dan terdengar suara mereka menangis.
Biarpun menjadi saksi utama dari serangkaian peristiwa tadi, Kian Bu dapat menduga bahwa Bi Lan bukanlah orang jahat.
Kalau gadis ini tadi membunuh si wanita, adalah karena ia melihat kakaknya terbunuh dan dia tidak dapat menyalahkannya.
Dia merasa kasihan juga melihat gadis itu menangis tanpa suara.
"Nona, mari kubantu engkau mengurus jenazah kakakmu ini,"
Katanya dan ketika dia mengangkat jenazah itu, si gadis tidak mencegah dan memandang kepadanya berterima kasih.
Dara ini tadi juga mendengar pengakuan pemuda ini sebagai saudara misan Han Lin.
Mereka berdua lalu pergi ke luat kota membawa jenazah itu.
Bi Lan menangis di depan makam yang baru itu.
Makam yang sederhana sekali, di lereng sebuah bukit di luar kota Souw-ciu.
Kian Bu juga berada di situ, dan orang muda itu membiarkan saja Bi Lan menangisi kematian kakaknya.
Setelah tangis Bi Lan mereda, gaids itu meboleh dan agaknya baru teringat bahwa di situ ada orang lain.
"Maafkan aku. Betapa hatiku tidak akan sedih melihat kakak dibunuh orang dan bagaimana aku kelak harus memberitahukan ayah ibu?"
"Wajar saja kalau engkau bersedih, nona. Akupun ikut bersedih menyaksikan itu semua. Akan tetapi apa artinya semua ini? Bukan aku ingin mengetahui urusan orang lain, akan tetapi karena di sini agaknya tersangkut saudaraku Han Lin, aku jadi ingin sekali mengetahuinya."
"Aku sendiri juga tidak tahu. Tadi melihat betapa kakakku dibunuh secara curang oleh wanita itu, tentu aku tidak dapat menerimanya dan aku menggunakan obat peledak untuk membunuhnya. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, hanya mendengar pengakuan kakakku tadi, ahh, sungguh sukar untuk dipercaya bahwa dia telah memperkosa wanita itu. Sekarang tidak ada lagi yang dapat ditanya karena keduanya telah meninggal dunia, ahh, aku menyesal sekali..."
"Kurasa kita masih dapat menanyakan kepada seseorang..."
"Maksudmu, Lin-koko?"
"Eh, nona, apakah engkau juga mengenal Sia Han Lin?"
"Mengenal? Dia adalah seorang sahabat baikku!"
Kata BI Lan penuh semangat dan mukanya berubah kemerahan.
"Tadi aku mendengar bahwa engkau adalah saudara..."
"Maksudku, bukan aku, melainkan ibuku yang masih enci dari ibu kakak Sia Han Lin."
"Ah, begitukah? Kalau begitu aku harus memperkenalkan diri padamu. Aku bernama Can Bi Lan dan yang meninggal ini kakakkku bernama Can Kok Han. Kami adalah anak-anak dari ketua Pek-eng Bu-koan."
"Nona Bi Lan, aku bernama Souw Kian Bu. Tahukah engkau di mana adanya kakak Sia Han Lin sekarang?"
"Aku tidak tahu, sudah beberapa pekan kami berpisah dan aku sedang hendak pulang ketika lewat di sini dan melihat peristiwa tadi. Aku sekarang harus cepat pulang untuk mengabarkan kepada ayah ibuku."
Ia memandang kepada gundukan tanah dan kembali matanya menjadi basah.
"Ketika aku bertemu dengan Lin-koko, dia sedang hendak menuju ke Souw-ciu. Karena itu ketika aku tidak menemukan jejak kakakku di utara, akupun menuju ke Souw-ciu dengan harapan dapat bertemu dengan Lik-koko, tidak tahunya aku malah bertemu dengan kakakku. Pada waktu aku bertemu dengannya, dia melakukan perjalanan bersama Kwan Im Sianli Lie Cin Mei."
Kian Bu melihat betapa ketika menyebutkan nama Kwan Im Sianli, wajah gadis itu menjadi muram dan pandang matanya membayangkan kekeruhan, tanda bahwa ia tidak senang dengan wanita itu.
Cemburu!
Apa lagi kalau bukan cemburu?
Diapun sudah dapat mendengar nama Kwan Im Sianli yang kabarnya selain tinggi ilmu silatnya dan pandai mengobati orang, juga cantik jelita dan masih belum menikah.
"Ah, kalau begitu aku akan pergi ke Souw-ciu. Barangkali saja aku akan dapat bertemu dengan dia di sana,"
Kata Kian Bu.
"Baiklah, saudara Souw Kian Bu, selamat berpisah, aku hendak pulang melapor kepada orang tuaku. Tolong sampaikan salamku kepada Lin-koko kalau engkau bertemu dengan dia, dan sekali lagi aku mintakan maaf kalau mendiang kakakku bersalah kepadanya."
Mereka berpisah dan Souw Kian Bu cepat-cepat pergi memasuki kota Souw-ciu lagi.
Akan tetapi kalau saja dia datang lima hari yang lalu, tentu dia dapat bertemu dengan Han Lin.
Dia sudah terlambat dan setelah selama beberapa hari menanti dan mencari-cari tanpa hasil, diapun meninggalkan kota itu.
Maka dia lalu mengambil keputusan untuk pergi ke Wu-han, ke rumah orang tuanya yang membawa toko kain di kota itu.
Urusan dengan isterinya itu sebaiknya dia mintakan pendapat atau nasihat ayah ibunya agar hatinya tidak menderita seperti sekarang in.
Semenjak meninggalkan isterinya, hidupnya terasa hampa tidak ada artinya.
Setiap saat yang dirasakan hanyalah kesepian, duka dan penyesalan.
Akan tetapi bagaimana mungkia dia dapat pulang kepada isterinya?
Bayangan Gu San Ki selalu nampak di depan matanya.
Tidak, dia tidak akan kembali kepada isterinya.
Biar dia menderita kalau perlu sampai mati.
Dia tidak akan kembali kepada isterinya, seperti seorang pengemis, mengemis cinta.
Betapapun dia mencinta isterinya, kalau isterinya mencinta orang lain, untuk apa dia merendahkan diri?
Pikiran ini, biarpun terasa menyedihkan, namun memberinya semangat untuk membusungkan dada, mendatangkan harga diri dan keangkuhan, dan mungkin menjadi penunjang hidupnya agar dia tidak putus asa.
Pemuda itu memang ganteng dan menarik perhatian orang ketika dia memasuki rumah makan itu.
Akan tetapi pemuda yang tinggi tegap dan berpembawaan gagah itu tidak mempergulikan pandangan orang, dia melangkah dengan tegap dan mencari meja yang masih kosong.
Akan tetapi semua meja sudah penuh, bahkan setiap meja sudah penuh, bahkan setiap meja sudah dikelilingi tiga atau empat orang.
Kecuali sebuah meja di sudut yang hanya dihadapi seorang wanita saja.
Wanita cantik berpakaian serba hijau.
Pemuda itu dengan langkah tegap menghampiri meja itu dan mengangkat kedua tangan di depan dada.
"Mohon maaf, nona. Karena tempat ini sudah penuh sekali, kalau sekiranya nona tidak keberatan dan menaruh kasihan kepada seorang yang sudah hampir kelaparan, bolehkan aku menumpang duduk di sini untuk makan?"
Wanita itu mengangkat mukanya memandang.
Mula-mula alisnya berkerut karena dianggapnya pria itu tidak sopan dan terlalu lancang berni minta menumpang duduk bersamanya satu meja, padahal sama sekali belum mengenalnya.
Akan tetapi ketika melihat laki-laki yang gagah itu, yang wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekurang ajaran, bahkan sepasang mata itu memandang jujur, ia tidak menjadi marah.
"Boleh saja, ini memang tempat untuk umum, bukan?"
Kata wanita itu dengan dingin dan ia tidak memandang lagi.
"Terima kasih. Nona ternyata bijaksana dan berbudi baik sekali,"
Kata pria itu yang lalu duduk di seberang. Seorang pelayan menghampiri dan pemuda itu berkata.
"Aku memesan makanan dan minuman, dan karena kami semeja, maka pesananku sama dengan apa yang dipesan oleh nona ini."
Wanita itu sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia memperhatikan atau mengambil perduli.
Dan pemuda itupun tidak berani bicara lagi karena melihat sikap orang seolah tidak ingin diajak bicara.
Dia hanya memandang dengan sopan, tidak langsung.
Ternyata wanita itu memang cantik jelita.
Usianya nampak baru sekitar dua puluh tahun walaupun kalau melihat sikapnya tentu sudah lebih banyak lagi.
Wajahnya bulat telur, dan kulit mukanya putih kemerahan.
Sepasang matanya tajam dan indah seperti mata burung Hong.
Rambutnya hitam panjang sampai ke pinggul diikat pita kuning.
Hidungnya mancung, dan mulutnya menantang dengan bibir merah basah.
Dagunya runcing, ada tahi lalat di dagu itu.
Alisnya kecil panjang melengkung.
Tubuhnya padat, ramping dengan lekuk lengkung sempurna.
Sungguh seorang wanita cantik sekali, dan pakaiannya juga dari sutera mahal.
Ketika duduk di depan wanita itu, ada bau semerbak harum datang dari wanita itu.
Diam-diam pemuda itu kagum, sama sekali tidak tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal sekali, yaitu Jeng I Sianli (Dewi Baju Hijau) Cu Leng Si!
Pendekar wanita berhati baja yang menjadi murid pendeta wanita sakti Wi Wi Siankouw.
Sementara itu, dari sudut matanya, beberapa kali Leng Si memperhatikan pemuda itu.
Tinggi tegap gagah.
Usianya paling tidak tentu sudah dua puluh lima tahun.
Wajahnya jantan, hidungnya besar mancung dan dagunya berlekuk.
Mata itu tajam akan tetapi menyinarkan kejujuran dan pedang di punggungnya menunjukkan bahwa dia juga seorang ahli silat.
Leng Si tidak pernah mimpi bahwa dia berhadapan dengan Gu San Ki, murid dari Pek Mau Siankouw bibi gurunya sendiri karena Pek Mau Siankouw adalah sumoi (adik seperguruan) Wi Wi Siankouw.
Mereka memang tidak pernah saling jumpa, seperti juga guru mereka yang tidak pernah saling jumpa atau berhubungan.
Makanan yang dipesan Leng Si datang lebih dulu.
Sebelum makan, ia hanya mengangguk kepada San Ki.
Pemuda inipun hanya mengangguk dan membuang muka agar jangan kelihatan bahwa dia memandangi orang yang sedang makan.
Akan tetapi mendengar wanita itu makan, mau tidak mau jakunnya naik turun karena beberapa kali dia menelan ludah.
Perutnya sudah lapar, tenggorokannya sudah haus.
Dan Leng Si juga mengetahui hal ini, akan tetapi ia hanya melanjutkan makan sambil mulutnya mengembang ke arah senyum ditahan.
Setelah makanan untuk San Ki datang, makanan yang sama, diapun mengangguk kepada Leng Si dan mulailah dia makan dengan lahapnya.
Melihat ini, Leng Si merasa geli.
"Lahap benar makanmu,"
Tegurnya. San Ki hampir tersedak. Dia cepat minum untuk mendorong makanan yang mengganjal di tenggorokannya dan mukanya berubah merah oleh teguran teman semeja yang tidak dikenalnya itu.
"Ah, maafkan aku, nona. Sejak kemarin aku belum sempat makan."
Mereka melanjutkan makan dan tidak bicara lagi.
Akan tetapi keduanya maklmu bahwa di meja sebelah, seorang berpakaian sebagai opsir pasukan bersama tiga orang perajuritnya sedang makan minum pula.
Dan mereka itu seperti orang berpesta saja.
Makanan termahal dipesannya, dan mereka sudah banyak minum arak sehingga dari kepala yang bergoyang-goyang itu dapat diketahui bahwa mereka tentulah sudah setengah mabok.
Empat orang yang setengah mabok itu nampak berbisik-bisik, akan tetapi baik Leng Si maupun San Ki yang memiliki pendengaran terlatih dan tajam dapat menangkap perintah opsir itu kepada bawahannya untuk mengundang "gadis cantik berbaju hijau"
Itu untuk makan bersama di mejanya.
Akan tetapi mereka berpura-pura tidak mendengar saja dan melanjutkan makan minum dengan tenang.
Seorang di antara perajurit itu kini bangkit berdiri dan dengan langkah yang gontai menghampiri meja Leng Si.
"Nona, kapten kami minta kepada nona untuk makan bersamanya di meja sana, dan biarlah saya yang menemani saudara ini makan minum."
Kalau menuruti wataknya, Leng Si tentu sudah mengamuk.
Akan tetapi karena di mehanya duduk pemuda itu, ia menahan dirin dan cawan tehnya yang masih setengah itu tiba0tiba ia siramkan kepada perajurit itu.
Biarpun hanya air teh, akan tetapi karena yang menyiramkan adalah Jeng I Sianli yang melakukannya dengan tenaga sin-kang, maka perajurit itu merasa seperti wajahnya ditusuk-tusuk jarum.
Dia berteriak dan terhuyung ke belakang sambil menutupi muka dengan kedua tanannya karena matanya tidak dapat dibukanya.
Pedas dan perih rasanya.
Kapten itu bangkit berdiri dan marah sekali.
"Berani engkau memukul perajuritku?"
Leng Si sudah menyambar poci tehnya, akan tetapi sebuah tangan yang lembut namun kuat sekali telah menangkap tangannya dan ketika dengan marah ia memandang ke depannya, pemuda itu menggeleng kepala dan berkata lirih.
"Nona, poci teh ini akan dapat membunuhnya. Tidak baik membunuh perajurit, apa lagi seorang kapten."
Leng Su teringat, lalu tangannya memegang sumpit, dengan cepat disumpitnya sepotong bakso. Pada saat itu, sang perwira sdah memerintahkan dua orang perajuritnya yang lain.
"Tangkap wanita itu, Tang..."
Belum habis dia bicara, sepotong bakso meluncur bagaikan peluru dan tepat memasuki mulutnya yang sedang erbuka dan bakso itu terus menyelonong ke dalam kerongkongannya.
Dua bakso lain menyambar ke arah muka dua orang perajurit.
Yang seorang terkena mata kirinya sehingga mata itu menjadi hitam, dan seorang lagi terkena hidungnya dan bocorlah hidung itu keluar darahnya.
Biarpun mereka sendiri kesakitan, melihat atasan mereka terbatuk-batuk karena ada bakso mengganjal kerongkongan, dua orang itu menolongnya dan menepuk-nepuk punggungnya sampai akhirnya bakso itu dapat tertelan.
Tentu saja perwira itu marah bukan main.
Dia lari keluar diikuti tiga orang perajuritnya dan di luar dia berteriak-teriak memanggil pasukannya yang terdiri dari tiga losing orang yang segera berlari-lari menghampiri kapten mereka yang memanggil mereka.
"Tangkap perempuan setan itu! Tangkap! Cepat!"
"Nona, sebaiknya kita keluar. Tidak baik kalau ribut di sini merusakkan prabot rumah makan."
San Ki berkata lembut dan sungguh aneh sekali.
tidak biasanya Leng Si yang berhati baja itu mau menurut kata-kata orang.
Akan tetapi sekarang, untuk kedua kalinya iapun mengangguk dan mereka berdua melangkah keluar dengan tenangnya.
Sampai di luar, mereka dihadapi oleh puluhan orang perajurit yang sudah mencabut golok.
Akan tetapi tiga losin perajurit itu tentu saja merasa ragu.
Mereka disuruh mengeroyok seorang gadis yang demikian cantik?
"Tangkap perempuan setan itu!"
Kembali si perwira berseru sambil menundingkan telunjuknya ke arah leng Si.
Kini tidak ragu lagi para perajurit itu dan mereka berbondong seperti hendak berlumba menghampiri Leng Si dengan golok di tangan untuk menakut-nakuti.
Mereka lebih senang kalau disuruh menangkap hidup-hidup, ada kesempatan bagi mereka untuk memeluk dan menggerayangi tubuh yang denok itu.
Akan tetapi begitu mereka dekat, Leng Si menggerakkan kaki tangannya dan robohlah empat orang yang berada paling depan.
Semua orang yang berada paling depan.
Semua orang yang menjadi kaget dan marah, dan kini mereka menyerang dengan golok merka.
Leng Si mengamuk, dengan tnagan kosong saja karena ia memandang rendah pada pengeroyoknya.
Melihat gadis itu dikeroyok begitu banyak orang, San Ki memandang penuh perhatian dan terkejutlah dia.
Tentu saja dia mengenal gerakan wanita itu.
Itulah jurus kong-jiu-jip-pek-to (Tangan Kosong Serbu Ratusan Golok) yang amat dikenalnya karena itu merupakan suatu jurus ampuh dari perguruannya untuk menghadapi pengeroyokan banyak orang yang bersenjata golok atau pedang!
Karena wanita itu menggunakan jurus dari perguruannya ini, timbullah rasa akrab di hati San Ki dan diapun terjun ke dalam pertempuran, juga menggunakan jurus yang sama menghadapi para perajurit yang bergolok itu.
Gerakan mereka persis sama.
Bahkan cara memutar tubuh menendang dengan kedua kaki bergantian dan sekaligus merobohkan lima enam orang juga tidak berbeda.
Leng Si juga melihat ini dan iapun tertegun.
Jelas bahwa pria itu menggunakan ilmu silat yang sama dengan ilmu silatnya.
Ia sengaja mengubah jurus-jurusnya dan semua jurusnya ditiru oleh pria itu dengan sempurna!
Leng Si bergerak mendekati pria itu.
Para pengeroyok mulai jeri akan tetapi karena jumlah mereka banyak, mereka masih mengepung dengan mengamang-amankan golok.
Kesempatan selagi mereka tidak menyerang itu dipergunakan Leng Si untuk bicara.
"Sobat, engkau tentu murid bibi guru Pek Mau Siankouw, bukan?"
"Dan engkau tentu murid bibi guru Wi Wi Siankouw!"
"Benar, mari kita hajar mereka ini!"
"Akan tetapi jangan membunuh perajurit, bisa gawat!"
San Ki memperingatkan.
Mereka lalu mencabut senjata masing-masing.
Biarpun tanpa senjata, mereka dapat menandingi pengeroyokna tiga puluh lebih orang itu, akan tetapi bagaimanapun juga menghadapi banyak orang yang memegang senjata dapat berbahaya bagi mereka.
Setelah kini mreka memegang pedang, maka dengan mudah mereka dapat membabati golok mereka sehingga banyak golok beterbangan atau patah-patah.
Dua orang itu, setelah mengetahui keadaan masing-masing sebagai saudara seperguruan, menjadi semakin gembira dan bersemangat.
Dalam waktu kurang dari seperempat jam, semua golok sudah dapat mereka patahkan atau terbangkan.
Mendadak sebuah kereta berhenti dekat situ dan terdengar suara dari dalam kereta.
"Berhenti, jangan srang lagi!"
Semua perajurit menengok dan ketika melihat siapa orangnya yang memberi aba-aba, mereka lalu mundur dengan memegang golok buntung atau bahkan sudah tidak memegang senjata lagi.
Mereka bahkan mereasa lega disuruh berhenti menyerang karena mereka memang sudah merasa jerih sekali terhadap kedua orang itu.
Para penonton yang menyingkir jauh-jauh juga merasa kagum abhwa dua orang dapat memorak-porandakan tiga losin perajurit.
Leng Si dan San Ki sudah menyimpan kembali pedang mereka dan kini mereka memandang pria yang berdiri di ambang pintu keretanya itu.
Seorang pembesar dengan pakaian kebesarannya yang gemerlapan, dijaga oleh selosin pengawal yang kelihatannya kuat dan angker.
Pembesar itu tinggi kurus, berusia kurang lebih lima puluh tahun dan nampak wajahnya cerah dan dia tersenyum sambil memandang kagum.
Dengan sikap bersahabat, pembesar itu mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Leng Si dan San Ki!
Dua orang ini tentu saja merasa heran dan cepat merekapun balas memberi hormat.
Aneh rasanya pembesar yang kelihatannya berkedudukan tinggi itu memberi hormat lebih dahulu kepada mereka.
"Taihiap dan lihiap, harap maafkan pasukan yang berlaku keras dan lancang terhadap ji-wi (kalian berdua). Sebetulnya, apakah yang menyebabkan dua orang pendekar seperti ji-wi sampai ribut dengan pasukan ini?"
Karena Leng Si nampaknya segan menjawab, San Ki yang mewakilinya menjawab.
"Bukan kesalahan kami, taijin. Ketika kami sedang makan di rumah makan, ada seorang perwira hendak memaksa adik saya ini untuk menemaninya makan. Adik saya menolak dan terjadilah pengeroyokan ini."
Pembesar itu kelihatan marah sekali dan dia menoleh ke arah pesukan.
"Perwira mana yang melakukan kekurang ajaran itu? Hayo cepat maju ke sini!"
Dengan wajah pucat dan tubuh gemetar perwira yang dijejali bakso oleh Leng Si tadi maju, diikuti oleh tiga orang perajuritnya.
Mereka menghadap pemberas itu dan sang perwira memberi hormat diikuti tiga anak buahnya.
"Harap maafkan kami berempat, taijin. Kami tadinya hanya bermaksud main-main saja."
"Keparat! Main-main dengan seorang pendekar wanita? Hayo kalian minta maaf kepada mereka dan siap menerima hukuman cambuk masing-masing dua puluh kali!"
Perwira itu lalu menghampiri Leng Si dan San Ki, memberi hormat dan berkata.
"Harap maafkan kami, taihiap dan lihiap, kami mengaku bersalah."
Leng Si hanya mendengus saja dan San Ki berkata.
"Sudahlah, harap saja lain kali jangan suka menggangu orang."
Pembesar itu lalu berkata kepada pengawalnya.
"Gusur mereka dan beri cambukan dua puluh kali!"
Empat orang itu lalu dibawa pergi oleh pasukan pengawal. Pembesar itu lalu berkata kepada San Ki dan Leng Si.
"Harap ji-wi ketahui bahwa kami adalah Gubernur Coan dari Nan-yang. Kami sangat menghargai orang-orang gagah di dunia kang-ouw dan melihat kegagahan ji-wi, kami merasa kagum bukan main. Oleh karena itu, kami mengundang ji-wi untuk naik kereta ini dan bersama kami datang berkunjung untuk bertukar pikiran."
Sebetulnya kedua orang itu merasa tidak senang untuk berkenalan dengan seorang pembesar tinggi, akan tetapi karena Gubernur Coan itu dengan hormat mengundang mereka, maka merekapun merasa tidak enak kalau menolak.
Kini Leng Si yang bicara, suaranya hormat akan tetapi tegas.
"Banyak terima kasih atas undangan taijin. Akan tetapi kami masih ada urusan, oleh karena itu harap paduka pulang dulu dan lain hari kamu berdua akan datang menghadap."
Gubernur Coan menghela napas panjang, lalu mengangguk-angguk. Agaknya dia sudah mengenal watak yang aneh-aneh dari para pendekar.
"Baiklah, lihiap. Kunjungan ji-wi selalu kunantikan."
Dia lalu memasuki kembali keretanya dan berjalanlah kereta itu meninggalkan Leng Si dan San Ki. Para penonton pada bubaran dan peristiwa itu menjadi bahan cerita mereka sampai berbulan-bulan.
"Sungguh pertemuan kita ini luar biasa sekali!"
Kata San Ki kepada Leng Si ketika mereka memasuki kembali rumah makan itu untuk bercakap-cakap tanpa gangguan. Leng Si tersenyum memandang wajah yang jantan itu.
"Gara-gara keceriwisanmu maka kita dapat bertemu dan bersama-sama menghadapi pengeroyokan pasukan dan bahkan menemukan kenyataan bahwa kita saudara seperguruan."
Berkata demikian itu Leng Si sambil tersenyum dan tidak nampak marah.
"Ceriwis? Aku ceriwis? Aih, kenapa? Karena semua meja penuh dan engkau makan seorang diri, dan akupun sudah minta ijin kepadamu dan engkau sudah memperbolehkan dan..."
"Sudahlah. Bagaimanapun juga, hal itu menguntungkan, bukan. Kalau tidak begitu, kita tidak akan saling mengenal. Akupun baru mendengar namanya saja gurumu yang bernama Pek Mau Siankouw itu, mendengar dari subo. Siapa sih namamu?"
"Ah, aku lupa belum memperkenalkan diri. Namaku Gu San Ki, yatim piatu dan sebatang kara maka aku diangkat murid oleh subo dan dianggap seperti anak sendiri. Dan siapakah namamu, sumoi?"
"Orang kang-ouw menyebut aku Jeng I Sianli, namaku Cu Leng Si."
San Ki nampak terkejut.
"Ahh, jadi yang disebut Jeng I Sianli itu adalah engkau? Pantas...! namamu terkenal sekali, sumoi, dan aku sungguh kagum kepadamu."
"Ki-suheng, sekarang engkau tinggal di mana, dan engkau datang dari mana hendak ke mana?"
"Aku masih tinggal bersama subo. Subo sudah tua dan tidak ada yang mengurusnya. Tadinya ada sumoi Ji Kiang Bwe yang mengurus subo, akan tetapi setelah sumoi kembali kepada orang tuanya, apa lagi sekarang telah menikah, maka terpaksa akulah yang menjaga dan merawat subo. Aku sedang dalam perjalanan mencari suami dari sumoi yang... pergi merantau."
"Dan isterimu? Sudah berapa orang puteramu, suheng?"
San Ki menghela napas panjang.
"Aku belum menikah, sumoi. Siapa sih yang mau menjadi isteri seorang melarat seperti aku ini? Oya, dan engkau sendiri, sumoi? Di mana engkau tinggal dan dengan siapa? Ke mana engkau hendak pergi?"
"Aku mempunyai tempat tinggal di lereng Taihang-san, tinggal seorang diri saja bersama beberapa orang pengikut dan pembantu rumah. Aku belum berkeluarga pula, suheng. Aku sedang merantau meluaskan pengalaman. Juga... aku sedang berusaha untuk membebaskan ayahku yang ditahan oleh Kaisar."
"Ahh? Kenapa, dan di mana ayahmu?"
"Ayahku bernama Cu Kiat Hin dan dia menjadi pejabat bagian perpustakaan istana. Karena dia berani menentang seorang thaikam penkilat Kaisar yang korup, maka dia difitnah oleh thaikam itu dan ditangkap."
"Hemm, kalau begitu mari kita berdua datangi thaikam itu dan memberi hajaran kepadanya, memaksa padanya untuk membebaskan ayahmu!"
Kata San Ki penuh semangat. Hangat rasa hati Leng Si melihat sikap San Ki yang membela itu.
"Terima kaish, suheng. Akan tetapi sekarang ada seseorang yang sedang pergi kepada Kaisar dan akan menyelamatkan ayahku."
"Siapa dia?"
"Namanya Sia Han Lin. Dialah yang menemukan Ang-in-po-kiam dari istana dan dia akan menyerahkan kembali pedang itu kepada Kaisar yang sudah menjanjikan hadiah besar kepada siapa yang menemukan pedang itu. Nah, Sia Han Lin itu kini ditemani sumoiku untuk menghadap Kaisar dan mintakan ampun untuk ayahku."
"Sumoimu?"
"Subo mempunyai seorang puteri yang bernama Lie Cin Mei, berjuluk Kwan Im Sianli. Ialah sumoiku."
"Ah, aku sudah mendengar tentang Kwan Im Sianli. Bukankah yang memiliki kepandaian mengobati? Kiranya ia puteri bibi guru Wi Wi Siankouw? Subo pernah bercerita bahwa bibi guru mempunyai anak perempuan, akan tetapi subo sendiri tidak tahu namanya. Jadi ia bersama... siapa tadi, Sia Han Lin, kini pergi ke kota raja untuk menyerahkan pedang yang menghebohkan dunia kang-ouw itu dan mintakan agar ayahmu dibebaskan?"
"Benar, suheng."
"Ah, aku ingat sekarang. Undangan Gubernur Coan itu mungkin berguna bagimu. Bukankah seorang gubernur itu dekat dengan Kaisar dan menjadi kepercayaan atau wakil Kaisar untuk memimpin dan menguasai daerah yang luas sekali? tidak ada buruknya kalau kita mengunjungi dia dan siapa tahu dia dapat pula menolong ayahmu."
"Sebetulnya aku tidak suka berkenalan dengan segala macam pembesar, akan tetapi mengingat sikapnya yang baik, dan mengingat ucapanmu tadi, memang sebaiknya kalau kita pergi ke sana untuk mendengar apa yang akan dibicarakan."
Keduanya lalu membayar makanan dan meninggalkan rumah makan itu, lalu melakukan perjalanan menuju ke Nan-yang.
Mereka tidak saling berjanji, tidak saling bersepakat, akan tetapi pergi berdua begitu saja seolah-olah hal itu sudah semestinya.
Baru sekali ini mereka saling menemukan kawan baru yang cocok.
Mereka masih terhitung saudara seperguruan, keduanya belum menikah dan keduanya saling tertarik dan saling kagum.
Gubernur Coan menyambut dengan gembira dan juga dengan sikap menghormat.
Mereka segera dipersilakan memasuki kamar tamu yang luas dan dijamu dengan hidangan mewah sedangkan semua pengawal diperintahkan keluar oleh sang gubernur.
Bukan itu, saja, bahkan Gubernur Coan memanggil isteri-isterinya dan tiga orang puteranya untuk ikut mendampinginya menjamu dua orang muda itu.
Jelas bahwa dia amat menghormati tamunya dan menganggap mereka seperti tamu agung atau keluarga sendiri.
Setelah perjamuan selesai dia mengajak mereka berdua untuk masuk ke ruangan dalam dan di dalam sebuah kamar baca, sang gubernur mengajak mereka berdua itu bicara bertiga saja, tidak dihadiri orang lain.
"Nah, di sini kita dapat bicara dengan santai dan bebas,"
Katanya kepada Leng Si dan San Ki yang merasa aneh akan sikap tuan rumah yang demikian ramah dan manisnya.
"Paduka telah mengundang kami dan menerima kami dengan baik sekali, taijin,"
Kata San Ki.
"Sebetulnya apakah yang hendak taijin sampaikan kepada kami atau mungkin taijin menghendaki sesuatu dari kami?"
Gubernur Coan tertawa.
"Ha-ha, kami memang suka bergaul dengan para pendekar dan kami kagum sekali atas kelihaian ji-wi. Sayang sekali kalau tenaga yang demikian hebat seperti ji-wi tidak dimanfaatkan untuk negara dan bangsa."
"Hemm, apakah penguasa dapat menghargai tenaga rakyat jelata?"
Kata Leng Si penuh penasaran.
"Penguasa lebih suka mendengarkan bujukan manis dan penjilatan para pembesar korup dari pada mendengarkan nasihat pejabat yang baik. Kaisar sekarangpun tidak adil terhadap pejabatnya yang baik."
Tiba-tiba Leng Si yang treingat akan ayahnya berkata, agak ketus. Akan tetapi gubernur itu tidak marah.
"Ahh, agaknya lihiap mempunyai penasaran. Kalau memang banyak terdapat penjilat dan pembesar korup, justeru ini merupakan tugas orang-orang gagah seperti lihiap untuk memberantasnya! Katakanlah, lihiap, penasaran apa yang lihiap rasakan? Apakah karena sikap kurang ajar dari perwira itu? Dia sudah minta maaf dan dia sudah dihukum cambuk."
"Bukan dia, taijin. Dia itu merupakan urusan kecil yang tidak ada artinya. Akan tetapi Sribaginda Kaisar!"
Gubernur itu nampak terkejut atas keberanian wanita itu memburukkan nama Kaisar, di depan dia lagi.
"Ada apakah, lihiap?"
"Kaisar lebih mendengarkan bujuk rayu manis dari para thaikam yang berhati palsu dari pada ucapan yang jujur dari pejabatnya yang setia."
"Maksud lihiap, apakah yang telah terjadi?"
"Ayah saya adalah seorang pejabat perpustakaan istana, dan karena dia berani menentang kekuasaan thaikam penjilat yang lalim, thaikam itu melemparkan fitnah kepadanya dan Sribaginda Kaisar malah menyuruh tangkap ayah saya."
"Ah, itu penasaran sekali!"
Kata gubernur dan suaranya terdengar penuh semangat.
"Siapakah nama ayah nona itu?"
"Ayahku bernama Cu Kiat Hin!"
"Ah, kiranya Cu-taijin itu ayah lihiap? Saya juga pernah mendengar urusan yang penasaran itu dan sampai sekarang ayah nona menjadi tahanan di rumah Kiu Thaikam, akan tetapi jangan khawatir, semua itu mungkin hanya kesalah pahaman di pihak Kui-thaikam. Saya mengenal baik Kui-thaikam dan saya akan dapat minta kepadanya agar membebaskan ayah nona."
"Terima kasih, taijin, kalau taijin dapat mengeluarkan ayahku dari tahanan, saya akan berterima kasih sekali."
"Jangan khawatir, lihiap. Eh, ya, siapakah nama lihiap dan siapa pula nama taihiap?"
"Nama saya Cu Leng Si, taijin. Dan ini suhengku bernama Gu San Ki."
"Gu-taihiap dan Cu-lihiap, urusan Cu-taijin itu serahkan saja kepadaku. Kami tanggung dalam waktu singkat ayah lihiap itu akan dapat dibebaskan. Memang Sribaginda Kaisar terlalu lemah dan menjadi kewajiban kita untuk mengubah keadaan ini."
Dua orang muda itu terkejut. Ucapan itu berbau pemberontakan! "Apa yang taijin maksudkan?"
Tanya San Ki.
"Bukankah kalau sebuah pemerintahan itu tidak baik dan merugikan rakyat, sudah sepatutnya kalau diubah, dirombak dan diganti? Nah, itulah yang kami maksudkan, apakah ji-wi merasa tidak setuju?"
"Tentu saja kami setuju sekali!"
Jawab Leng Si dengan spontan karena dara ini memang merasa jengkel dan marah karena ayahnya ditangkap dan ditahan.
Jawaban yang keras in disambut Gubernur Coan dengan gembira dan dia mengajak mereka berdua mengangkat cawan arak untuk persamaan pendapat itu.
"Bagaimana kalau untuk tujuan mulia ini ji-win bekerja kepadaku? Kami membutuhkan orang-orang gagah yang patriotik, yang suka membela rakyat seperti ji-wi ini, untuk menumpas pejabat yang menindas rakyat jelata. Bagaimana pendapat ji-wi?"
Leng Si dan San Ki saling pandang dan keduanya sangsi dan ragu-ragu. Kemudian, dengan cerdik Leng Si berkata.
"Taijin, karena urusan ini gawat dan penting sekali, maukah taijin memberi kesempatan kepada kami berdua untuk berunding lebih dulu sebelum memberikan jawabannya?"
Gubernur Coan tertawa.
"Tentu saja, bahkan bagus sekali. untuk memutuskan suatu urusan penting haruslah dirundingkan semasak-masaknya. Bagaimana kalau malam ini ji-wi bermalam di sini. Selama menginap di sini, ji-wi dapat berunding berdua dan baru pada keesokan harinya memberi keputusan kepada kami?"
"Baik, taijin."
Gubernur itu lalu memanggil pelayang dan diperintahkan pelayan untuk mempersiapkan dua buah kamar untuk mereka.
Kemudian dia memesan pula kepada pelayan agar dua orang tamu itu dilayani sebaik mungkin.
"Nah, sampai besok, taihiap dan lihiap. Kami masih mempunyai banyak urusan yang harus diselesaikan."
"Silakan, taijin. Sampai besok!"
Kata Leng Si dan San Ki.
Malam itu, setelah memeriksa dengan teliti bahwa ruangan di depan kamar mereka tidak ada orang lain dan percakapan mereka tidak dapat didengarkan oleh orang lain, San Ki dan Leng Si bercakap-cakap dan berunding.
"Bagaimana pendapatmu, Ki-suheng?"
Tanya Leng Si setelah mereka berada berdua saja.
"Hemm, aku mencium sesuatu yang busuk, berbau pemberontakan, sumoi."
"Akupun demikian, suheng. Dan kita bukanlah keturunan pemberontak. Aku tidak sudi diperalat oleh pembesar yang agaknya menghendaki pemberontakan."
"Benar, kita sependapat, sumoi. Menurut pembicaraannya, agaknya gubernur ini membenci atau setidaknya tidak suka kepada Kaisar. Bahkan dia mengatakan bahwa dia mengenal baik thaikam Kui. Aku jadi curiga atas sikapnya yang ramah dan bersahabat itu. Jelas bahwa dia agaknya hendak mempergunakan kita, sumoi."
"Aku sendiri tidak pernah mendendam kepada Kaisar, suheng, biarpun ayahku ditangkap. Aku mengerti bahwa ini adalah ulah Kui-thaikam. Kaisar memang lemah, bukan berarti Kaisar jahat. Lalu apa yang harus kita lakukan, suheng?"
"Hanya ada dua pilihan bagi kita, sumoi. Pertama, kita tolak mentah-mentah ajakannya untuk bekerja untuk dia dan kita pergi dari sini. Kedua, kita terima uluran tangannya, dan kita pura-pura bekerja untuknya, akan tetapi sesungguhnya itu untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya hendak diperbuat. Agar kalau benar dia merencanakan pemberontakan seperti yang kita duga, kita dapat melakukan sesuatu untuk membela kerajaan."
Leng Si mengangguk-angguk kagum.
"Engkau benar, dan aku setuju memilih yang kedua itu, hitung-hitung sebagai petualangan yang menarik. Bagaimana pendapatmu kalau kita terima saja uluran tangannya itu? Siapa tahu, kalau Han Lin dan sumoi sampai gagal membebaskan ayahku, dengan bantuan gubernur ini ayahku dapat dibebaskan."
"Akan tetapi kalau begitu kita berhutang budi kepadanya, sumoi."
"Benar, akan tetapi hutang budi bukanlah harus dibalas dengan membantu pemberontakan. Sudahlah, soal ayahku begaimana nanti sajalah. Yang penting, kita sudah sepakat unutk menerima uluran tangannya. Kita harus selalu waspada dan bekerja sama. Kita tolak kalau disuruh melakukan kejahatan atau yang sifatnya pemberontakan."
"Baik, sumoi. Aku setuju dan aku girang sekali bertemu dengan engkau dan dapat bekerja sama seperti ini."
"Aku juga girang sekali, suheng."
Keduanya saling bertemu pandang dan keduanya merasa bahwa telah terjalin keakraban dan kecocokan satu sama lain.
Akan tetapi San Ki teringat kepada Ji Kiang Bwe dan dia mengerutkan alisnya sambil menarik napas panjang.
Leng Si yang memperhatikannya melihat perubahan pandang mata itu.
Pandang mata itu tadinya begitu mesra dan bahagia ketika memandangnya, dan tiba-tiba saja mata itu termenung dan alis itu berkerut ditambah tarikan napas panjang tanda bahwa hati pemuda itu terganggu sesuatu.
"Ada apakah, Ki-suheng? Engkau kelihatan berduka."
"Aku tiba-tiba saja teringat akan urusan yang menimpa diriku, yang sangat memusingkan hatiku, sumoi."
"Ada urusan apakah, suheng? Atau merupakan rahasia pribadimu yang tidak boleh diungkapkan kepada orang lain?"
"Memang urusan pribadi yang tidak boleh dketahui orang lain, akan tetapi kepadamu aku tidak dapat merahasiakannya, sumoi. Entah mengapa, timbul kepercayaan besar dalam hatiku terhadapmu. Baiklah, kau dengarlah masalahku yang memusingkan hatiku."
San Ki lalu bercerita tentang Ji Kiang Bwe dan suaminya, Souw Kian Bu.
Betapa dia datang berkunjung kepada sumoinya yang seperti adiknya sendiri itu, dan ketika mereka bertemu dengan suasana akrab, suami sumoinya itu menjadi cemburu dan kini suami sumoinya itu lari pergi meninggalkan rumah dengan marah.
"Aih, mengapa dia begitu pencemburu? Terus terang saja, suheng, apakah ada apa-apa antara engkau dengan sumoimu itu?"
"Sumoi, sudah kukatakan tadi bahwa kepadamu aku tidak dapat menyimpan rahasia. Biarlah engkau ketahui semuanya walaupun hal ini merupakan rahasia pribadi, bahkan rahasia hatiku. Tidak kusangkal bahwa dahulu, ketika kami masih sama-sama menjadi murid subo Pek Mau Siankouw, aku telah jatuh cinta kepada sumoi Ji Kiang Bwe. Akan tetapi karena ia hanya menyayangiku sebagai kakak sendiri, akupun tidak berani menyatakan cintaku, sampai ia kembali ke Kim-kok-pang bahkan menjadi ketuanya. Sejak itu, tentu saja aku jauh darinya dan baru setelah berpisah bertahun-tahun, aku berkunjung kepadanya. Akan tetapi siapa mengira, hal itu bahkan menjadikan terjadinya malapetaka bagi sumoi. Suaminya merasa cemburu dan meninggalkannya pergi. Aku merasa bersalah, sumoi, karena itu aku pergi ini sebetulnya untuk mencari Souw Kian Bu, suami dari sumoi."
Leng Si menghela napas panjang.
Ia tidak kecewa mendengar masa lalu pemuda yang dikaguminya itu, karena bukankah ia sendiri juga pernah jatuh cinta kepada Han Lin?
"Memang tidak enak sekali kalau kita bertepuk tangan sebelah dalam urusan cinta..."
Katanya. San Ki segera berkta.
"Walaupun dahulu aku pernah jatuh cinta kepada sumoiku, setelah ia menikah dengan sendiri tidak ada sedikitpun pikiran yang bukan-bukan dalam hatiku. Aku bukanlah orang macam itu, Si-sumoi. Setelah suami sumoiku pergi, aku bersumpah kepadanya untuk mencari dan membawa pulang kepadanya suaminya itu."
"Memang itu baik sekali, Ki-suheng. Setidaknya membuktikan bahwa engkau memang tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan sumoi Ji Kiang Bwe itu. Suaminya itu orang macam apakah, begitu pencemburu?"
"Dia seorang yang gagah perkasa, sumoi. Souw Kian Bu adalah seorang pendekar muda yang telah membuat nama besar dengan sepak terjangnya yang gagah perkasa."
"Akan tetapi dia pencemburu, tanda bahwa dia tidak mampu menguasai nafsunya sendiri. Aku akan membantumu, suheng. Kalau bertemu dengan dia, demi sumoi Ji Kiang Bwe, aku akan memaki-makinya dan mengingatkannya bahwa isterinya sama sekali tidak bersalah, bahwa cemburunya itu tidak berdasar dan bodoh sekali."
Pada keesokan harinya, mereka berdua menghadap Gubernur Coan yang menyambut mereka dengan ramah dan memerintahkan orangnya untuk menghidangkan santapan apgi untuk mereka.
Setelah makan pagi yang ditemani sendiri oleh Gubernur Coan bertanya.
"Bagaimana, ji-wi sudah mengambil keputusan mengenai tawaran kami kemarin?"
San Ki memang sudah menyerahkan kepada sumoinya untuk menjadi wakil pembicara, karena sumoinya itu memang lebih pandai bicara.
"Sudah, taijin. Kami telah membicarakan semalam. Setelah kami mempertimbangkannya masak-masak, maka kami anggap bahwa pendapat taijin itu benar dan kami bersedia unutk membantu taijin. Apakah tugas yang diberikan taijin kepada kami?"
"Untuk sementara, biarlah kalian menjadi pengawal pribadi kami. Kebetulan hari ini kami hendak mengunjungi rapat pertemuan yang teramat penting, yang sehubungan dengan niat kita untuk mengubah keadaan. Karena itu, kalain harap suka menjadi pengawalku dan ikut hadir pula dalam pertemuan agar kalian mengerti apa yang harus dilakukan."
San Ki dan Leng Si saling lirik dan Leng Si berkata.
"Baik, taijin kami gembira sekali dapat bekerja untuk taijin."
Demikianlah, mulai hari itu kedua kakak beradik seperguruan itu bekerja pada Gubernur Coan, mendapatkan kamar untuk masing-masing di bagian belakang gedung gubernur itu.
Dan pada hari itu juga, setelah hari menjadi malam, gubernur mengajak mereka pergi, akan tetapi kepergian gubernur ini tidak resmi.
Buktinya dia berjalan kaki, tidak naik kereta dan juga mengenakan pakaian seperti penduduk biasa!
Gubernur Coan pergi dengan menyamar dan ketika San Ki dan Leng Si mengikutinya, mereka pergi ke sebuah rumah penginapan besar yang berada di kota Nan-yang, bahkan masuk dari pintu belakang.
Penjaga pintu belakang hotel itu agaknya sudah tahu karena dia hanya membungkuk-bungkuk dengan hormat dan mempersilakan Gubernur Coan dan dua orang pengikutnya masuk ke dalam ruangan luas yang tertutup.
Dan ternyata di situ telah berkumpul beberapa orang yang tidak dikenal San Ki.
Akan tetapi ketika Leng Si melihat tiga orang kakek yang juga berada di situ bersama orang-orang lain, ia terkejut.
Mereka itu adalah Sam Mo-ong!
Ada urusan apa tiga orang datuk sesat yang ia tahu bekerja untuk kepala suku Mongol itu hadir di tempat ini, di tengah kota Nan-yang dalam sebuah pertemuan rapat yang dihadiri Gubernur Coan?
Juga Sam Mo-ong mengenal Jeng I Sianli Cu Leng Si, maka mereka merasa tidak enak sekali.
Akan tetapi Leng Si datang sebagai pengikut Gubernur Coan, merekapun diam saja, pura-pura tidak mengenalnya.
Yang hadir di situ adalah Kwan-ciangkun, panglima berusia lima puluh tahun bermuka merah yang gagah, kepala pasukan di Lok-yang dan mengepalai pasukan yang kuat dan besar jumlahnya.
Dia hadir bersama dua orang panglima bawahannya yang juga menjadi semacam pengawalnya dan Sam Mo-ong ternyata datang sebagai pengikut seorang yang gendut pendek berusia lima puluh lima tahun, pakaiannya seperti seorang pembesar dalam istana dan dia ini bukan lain adalah Kui-thaikam, yang mengepalai seluruh thaikam di istana.
Kui-thaikam yang lebih dulu memperkenalkan tiga orang pengikutnya ini dengan bangga kepada Kwan-ciangkun dan Gubernur Coan.
"Kwan-ciangkun dan Coan-taijin, perkenalkan tiga saudara ini. Mereka adalah Sam Mo-ong seperti yang pernah saya bicarakan. Yang ini adalah Hek-bin Mo-ong, dan yang ini Pek-bin Mo-ong. Yang di sana itu adalah Kwi-jiauw Lo-mo dan mereka sudah menunjukkan surat kepercayaan dari Ku Ma Khan."
Sam Mo-ong cepat bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada semua orang. Kini tiba giliran Gubernur Coan memperkenalkan dua orang pengikutnya.
"Ini adalah dua orang pembantuku yang baru, harap dikenal baik karena mereka ini adalah orang-orang yang sudah kami percaya dan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Nona ini bernama Cu Leng Si dan ini adalah suhengnya bernama Gu San Ki. Mereka telah menyatakan hendak membantu kita semua memperbaiki keadaan negara yang kacau karena lemahnya pemerintahan ini."
Seperti yang dilakukan oleh Sam Mo-ong, Gu San Ki dan Leng Si yang memandang kepada semua orang segera bangkit berdiri dan memberi hormat.
Diam-diam Leng Si memperhatikan orang yang berpakaian thaikam gendut itu karena ia sudah dapat menduga bahwa orang gendut yang matanya tajam seperti mata burung rajawali itu tentulah thaikam yang terkenal berkuasa itu, yaitu orang yang menyebabkan ayahnya ditangkap!
Gubernur Coan cukup cerdik untuk tidak membicarakan dulu tentang ayah Leng Si yang ditangkap itu, akan tetapi segera membicarakan persoalan yang lebih umum dan penting.
"Sekarang kita telah berkumpul, apa yang hendak kita bicarakan lebih dulu, Kui-taijin?"
"Benar, kita harus membicarakan hal-hal yang terpenting dulu, agar kedatangan kita dari jauh tidak sia-sia dan dapat menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil,"
Kata Kwan-ciangkun yang datang dari Lok-yang.
Dari pertanyaan gubernur dan panglima itu saja mudah diketahui bahwa kendali persekutuan ini berada di tangan Kui-thaikam!
Dialah yang akan memimpin rapat dan menentukan langkah.
Dan hal ini tidak aneh karena dia ang berada di istana dan tahu akan segala keadaan di istana.
"Pertama-tama setelah memperkenalkan Sam Mo-ong kepada ji-wi, kita ingin membicarakan pesan dari Ku Ma Khan yang dibawa oleh mereka. Nah, Sam Mo-ong. Sekarang jelaskan untuk kedua kalinya pesan itu kepada Gubernur Coan dan Kwan-ciangkun, juga kepada yang lain-lain."
Kwi-jiauw Lo-mo yang menjadi pemimpin dari Sam Mo-ong, segera melirik ke arah Leng Si dan berkata.
"Harap maafkan kami, Kui-taijin, akan tetapi kami merasa tidak enak dan tidak aman kalau bicara di depan orang-orang yang kalau bukan benar-benar berada di pihak kita, kelak bahkan akan dapat mencelakakan kita sendiri."
Kwan-ciangkun mengerutkan alisnya.
"Apa yang dimaksudkan oleh Kwi-jiauw Lo-mo? Apakah tidak percaya kepada kami? Dua orang pengikut kami adalah dua orang panglima bawahan kami yang terpercaya!"
"Maaf, ciangkun. Tentu saja bukan kedua ciangkun itu yang saya maksudkan."
"Ahh, agaknya Sam Mo-ong tidak percaya kepada kedua orang pengikutku yang baru ini? Kalau kalian tidak percaya kepada mereka, sama saja hendak mengatakan bahwa kalian tidak percaya kepadaku!"
Kata Gubernur Coan dengan wajah berubah merah.
"Maafkan, taijin. Tentu saja saya tidak bermaksud demikian, akan tetapi sebaiknya kita berhati-hati karena kebetulan sekali saya mengenal wanita ini yang berjuluk Jeng I Sianli!"
Leng Si bangkit berdiri.
"Kwi-jiauw Lo-mo, perlu apa mengusik dan menyebut-nyebut urusan pribadi? Urusan pribadi tidak perlu dibawa-bawa ke dalam perundingan mengenai negara! Atau, apakah perlu aku membongkar semua rahasia pribadi Sam Mo-ong yang terkenal busuk jahat dan banyak melakukan hal-hal yang memuakkan di dunia kang-ouw dan persilatan? Kalau memang begitu kehendakmu, hayo kita saling membongkar rahasia pribadi. Aku hendak melihat kejahatan apa yang pernah dilakukan Jeng I Sianli dan kejahatan apa yang pernah dilakukan Sam Mo-ong!"
Mendengar ledakan ini, tentu saja Sam Mo-ong menjadi gentar.
Bagaimanapun juga, tadinya mereka hanya ingin berhati-hati karena mereka tidak mempercayai Jeng I Sianli yang pernah membantu Sia Han Lin, musuh besar mereka.
Dan mereka memang tidak dapat membongkar rahasia pribadi Leng Si karena memang belum pernah Jeng I Sianli melakukan kejahatan.
Sedangkan mereka bertiga, memang mereka tidak pernah pantang melakukan apa saja.
Mendengar ucapan Leng Si yang demikian berkobar.
Gubernur Coan menjadi tidak enak juga.
"Sam Mo-ong, harap tidak membicarakan urusan pribadi. Nona Cu Leng Si adalah orang kepercayaanku, maka kalian boleh bicara secara terbuka, dan nona ini adalah tanggung jawabku!"
"Baiklah, kalau Coan-taijin berkata demikian. Kamipun tidak hendak menimbulkan urusan pribadi, hanya hendak bersikap hati-hati saja, demi kebaikan ciangkun dan taijin sendiri. Nah, seperti telah kami laporkan kepada Kui-taijin, kami datang diutus oleh raja kami Ku Ma Khan untuk mempererat hubungan kita. Raja kami telah mengirim beberapa puluh kati emas sebagai sumbangan agar pergerakan yang diatur cu-wi berjalan lancar. Juga raja kami telah mempersiapkan pasukan di perbatasan, supaya kalau sewaktu-waktu dibutuhkan dapat segera maju menolong lancarnya gerakan kalian. Raja kami juga menyatakan kagum dan penghargaan atas usaha kalian yang hendak membersihkan pemerintahan, agar dapat menjalin hubungan dengan bangsa kami dan tidak menimbulkan perang yang hanya akan meyengsarakan rakyat jelata."
Kwan-ciangkun dan Coan-taijin mengangguk-angguk.
Memang, bangsa Mongol yang dipimpin Ku Ma Khan itu mendatangkan kesulitan besar, dan penyerbuan mereka dari utara dan barat mengganggu sekali kesejahteraan pemerintahan.
Andaikata Kaisar diganti sekalipun, kalau masih ada gangguan itu tentu tidak akan ada kedamaian, maka kalau dapat berdamai dengan bangsa Mongol, maka hal itu akan baik sekali.
Dan usaha berdamai dengan bangsa Mongol ini memang telah dirintis oleh Kui-thaikam sejak lama dan baru sekarang ini, dengan perantaraan Sam Mo-ong, hubungan langsung dapat dilakukan.
"Benar, seperti yang dilaporkan Sam Mo-ong,"
Kata Kui-thaikam.
"Bingkisan emas itu telah kami terima dan kami simpan untuk penambahan biaya persiapan gerakan kita. Dan tentang bantuan pasukan, mungkin saja kita perlukan kalau-kalau para panglima di Tiang-an dan perbatasan akan mengadakan perlawanan. Kami memang telah berhasil menghubungi para panglima, akan tetapi para panglima tua sukar sekali dibujuuk dan masih tetap setia kepada Kaisar yang lemah itu."
"Kalau para panglima di Lok-yang tidak perlu dikhawatirkan karena semua telah sepakat untuk membantu gerakan kita,"
Kata Kwan-ciangkun dengan tegas.
"Juga di Nan-yang ini dapat dikuasai dengan mudah karena pasukan di Nan-yang tidaklah begitu kuat dan kami akan mengunjungi dan membujuk para komandan pasukan di selatan. Setelah kami sekarang memiliki dua orang pembantu yang dapat diandalkan ini, kami merasa lebih leluasa bergerak dan merekahlah yang akan kami utus mengunjungi dan mengadakan kontak dengan para komandan pasukan di selatan."
"Bagus, kalau begitu masng-masing membagi tugas. Sam Mo-ong harap kembali dan melapor kepada Ku Ma Khan tentang pertemuan ini, dan agar segera pasukan di perbatasan itu diperkuat dan dipersiapkan. Akan tetapi harap menanti datangnya utusan dan jangan sembarangan bergerak kalau belum ada pemintaan dari kami."
"Baik, taijin, akan kami sampaikan kepada raja kami,"
Kata Kwi-jiauw Lo-mo.
"Dan Kwan-ciangkun harap memperkuat pasukan di Lok-yang sehingga kalau kami sudah memberi isyarat, dapat melakukan gerakan menuju ke kota raja."
"Baik, jangan khawatir, taijin, kami memang sudah mempersiapkan segalanya."
"Dan Coan-taijin, kamu harap suka lebih banyak mengadakan hubungan dengan para pejabat, karena makin banyak yang mendukung usaha kita akan lebih lancar."
"Siap, taijin. Akan tetapi bagaimana dengan gerakan di istana?"
"Hal ini adalah tugasku. Kita sudah membagi tugas dan urusan dengan Kaisar menjadi tugas utamaku. Serahkan saja kepadakuu dan kalau usaha itu berhasil, berarti kalian harus membuat gerakan serentak. Nah, kita sudah cukup bicara, sampai dalam pertemuan mendatang. Kalian akan menerima undangan dariku, untuk menentukan tempat pertemuan itu."
Semua orang menyatakan setuku dan pertemuan itupun dibubarkan tanpa ada yang mengetahui bahwa di bagian dalam hotel itu baru saja diadakan pertemuan penting dan perundingan orang-orang yang hendak memberontak terhadap Kaisar Thai Tsung.
Setelah mengiringkan Gubernur Coan pulang ke rumah sendiri, tentu saja Leng Si dan San Ki segera mengadakan perundingan sendiri.
"Wah, gawat, suheng. Seperti yang kukhawatirkan, Gubernur Coan merencanakan pemberontakan bersama sekutunya. Bahkan yang menjadi pimpinan adalah Kui-thaikam yang menjebloskan ayah ke dalam penjara! Apa yang harus kita lakukan sekarang, suheng?"
"Tenanglah, sumoi. Kita tidak boleh gegabah, tidak boleh tergesa, harus menanti saatnya yang baik. Kalau kita sekarang tergesa, apa yang dapat kita lakukan? Melapor kepada Kaisar? Tidak ada buktinya dan bahkan kita yang dapat ditangkap Kaisar dan dituduh melakukan fitnah besar-besaran."
"Akan tetapi kita tidak boleh tinggal diam. Sudah jelas sekali kehendak thaikam itu walaupun tidak dia jelaskan. Tindakan apa terhadap Kaisar yang akan dia lakukan? Tentu hendak membunuh Kaisar dan menggantikannya dengan calon lain, mungkin seorang di antara para pangeran yang diperalatnya!"
"Kurasa demikian, akan tetapi kita harus berhati-hati. Kurasa tidak ada jalan lain kecuali menghubungi pejabat atau panglima di kota raja yang masih setia kepada Kaisar. Kalau saja kita mengenal panglima yang masih setia dan yang menguasai pasukan..."
"Ah, aku ingat, suheng. Ayah mempunyai seorang sahabat baik, yaitu Panglima Lo. Menurut ayah, kini yang tidak pernah korupsi dan tetap setia kepada Kaisar tidaklah banyak, akan tetapi di antara mereka yang paling menonjol adalah Panglima Lo. Karena kesetiaannya dan kejujurannya itulah maka dia selalu tergeser dan kedudukannya menjadi tidak penting, tidak menguasai pasukan besar. Akan tetapi kukira dialah yang paling tepat untuk dipercaya akan mampu menolong Kaisar kalau sampai benar thaikam gendut itu berniat tidak baik terhadap Kaisar."
"Baik, sumoi. Kau dengar bahwa kita akan diutus oleh Gubernur untuk menghubungi para pejabat. Bagaimana kalau kita mengusulkan agar kita mengunjungi para pejabat di kota raja dan membujuk mereka agar ikut dalam persekutuan busuk ini? Dengan demikian, kita akan mendapat kesempatan untuk mencari Lo-ciangkun."
"Bagaiman kalau dia tidak setuju dan tidak mengirim kita ke sana?"
"Ke manapun dia mengirim kita, atau setuju atau tidak dia, kita dapat saja diam-diam pergi ke kota raja mencari Lo-ciangkun, bukan? Bagaimanapun juga, kita sudah mengetahui rahasia persekutuan busuk itu."
"Baik, suheng."
Dan ternyata cocok dengan yang mereka inginkan, pada esok harinya, Gubernur Coan mengutus mereka untuk mengunjungi seorang pejabat tinggi di kota raja menyampaikan suratnya memperkenalkan mereka dan minta agar pejabat itu mendengarkan apa yang dipesankannya kepada mereka.
Kemudian, gubernur itu memesan agar San Ki dan Leng Si membujuk pejabat tinggi bagian keuangan itu agar suka masuk ke dalam persekutuan mereka.
Berangkatlah San Ki dan Leng Si dengan gembira ke kota raja.
Mereka berdua melakukan perjalanan dengan hati senang, karena mendapatkan kesempatan untuk bergaul lebih akrab.
Sam Mo-ong pernah mencoba untuk mengacau dunia persilatan, mengadu domba antara partai-partai besar, akan tetapi semua usahanya gagal.
Juga mereka gagal menyerang Beng-kauw, maka kini mereka melakukan usaha lain untuk membuat Kerajaan Tang menjadi semakin lemah.
Mereka menyebar orang-orang mereka untuk memimpin gerombolan orang-orang jahat melakukan perampokan atau lain kejahatan.
Pendeknya untuk mengacaukan rakyat untuk membuat keadaan menjadi tidak aman sehingga kelak kalau tiba saatnya, rakyat akan setuju untuk mengganti Kaisarnya yang dianggap tidak becus mengatur pemerintahan.
Pada suatu pagi di luar kota Lok-yang.
Seorang gadis cantik jelita berjalan seorang diri.
Ia masih muda, tidak akan lebih dari sembilan belas tahun usianya.
Tubuhnya langsing dengan pinggang kecil dan pinggul besar, langkahnya gontai seperti seekor harimau betina, wajahnya bundar dengan kulit putih mulus.
Sikapnya gagah dan berwibawa.
Gadis cantik mani ini bukan lain adalah Yap Kiok Hwi, puteri ketua Cin-ling-pai.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kiok Hwi yang cantik ini jatuh hati kepada Han Lin dan ketika pemuda itu pergi, ia memberikan kalungnya kepada Han Lin dengan dalih bahwa kalau pemuda itu kehabisan biaya di perjalanan, kalung itu dapat dijual untuk penambah biaya.
Setelah Han Lin pergi, Kiok Hwi merasa kesepian.
Seolah-olah semangatnya terbawa pergi oleh pemuda yang dikaguminya itu.
Ia dapat bertahan sampai setengah tahun, akan tetapi setelah selama itu tidak ada berita apa-apa dari pemuda yang dikasihinya, ia lalu mengambil keputusan untuk pergi merantau.
Kepada ayahnya ia menyatakan hendak mengunjungi seorang pamannya yang tinggal di Lok-yang.
Pamannya itu bernama Yap Gun dan membuka toko obat di sana karena Yap Gun selain ilmu silat, juga ahli pengobatan.
Demikianlah, ia meninggalkan Cin-ling-san melakukan perjalanan jauh seorang diri.
Berkat ilmu silatnya yang tinggi, ia dapat mengatasi segala gangguan di dalam perjalanannya.
Akan tetapo tentu saja ia tidak pernah berhenti bertanya-tanya orang tentang Sia Han Lin karena sesungguhnya kepergiannya ini untuk mencari pria yang dirindukannya itu!
Ia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa pemuda yang dirindukannya itu telah mengalami berbagai macam pengalaman hebat, bahkan terpaksa menikah di utara dengan Mulani, puteri Ku Ma Khan, kepala suku bangsa Mongol!
Dan pada pagi hari itu, ia berjalan dengan santai menuju ke Lok-yang dengan hati lemas karena selama ini ia tidak pernah mendengar sesuatu tentang Han Lin.
Ia memasuki daerah yang berhutan dan kota Lok-yang masih sekitar dua puluj li dari tempat itu.
Ia tidak tahu bahwa di tempat itu bersembunyi segerombolan penjahat yang menjadi satu di antara gerombolan bentukan Sam Mo-ong!
Dan kebetulan sekali yang dipimpin oleh Tee-kui, orang kedua dari Thian Te Siang-kui yang kini dapat ditarik oleh Sam Mo-ong untuk bekerja kepada mereka.
Ketika Kiok Hwi sedang berjalan dengan santainya, tiba-tiba dari balik pohon dan semak belukar berlompatan tiga belas orang yang kelihatan buas dan liar.
Mereka itu rata-rata bertubuh tinggi besar kokoh, tanda bahwa mereka memiliki tenaga yang kuat, berpakaian ringkas dan di punggung mereka nampak gagang golok.
Ketika tiga belas orang ini melihat bahwa yang mereka hadang adalah seorang gadis yang cantik jelita, mereka semua segera tertawa-tawa menyeringai dengan sikap yang kurang ajar dan menjemukan sekali.
"Aduh, cantiknya seperti bidadari!"
"Ah, toako tentu akan senang sekali melihatnya!"
"Wah, kalau sudah jatuh ke tangan toako, kita tidak mungkin kebagian!"
"Ha-ha, nona manis membawa pedang di punggung, sungguh berani sekali mengadakan perjalanan seorang diri. Jangan-jangan ia lihai sekali!"
"Ha-ha, makin lihai semakin menarik. Aku tidak suka dengan wanita yang lemah."
"Kalau yang ini agaknya kuda liat, tentu toako akan gembira sekali."
"Hayo tangkap gadis ini! Toako tentu akan memberi hadiah."
Kiok Hwi mendiamkan saja mereka itu.
Ia sudah terbiasa dengan godaan, dan tidak gentar menghadapi orang-orang kasar yang ia duga tentu segolongan perampok itu.
Ia tidak tergesa-gesa menghajar mereka karena kelancangan mulut mereka yang tidak sopan, karena ia ingin mendengar kalau-kalau mereka itu mengetahui tentang Han Lin.
"Eh, sobat, perlahan dulu. Aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian mengerti di mana adanya seorang pemuda bernama Sia Han Lin?"
"Heei, nona manis. Kenapa mencari yang namanya Sia Han Lin? Cari saja aku, namaku Bouw Mo Sin!"
Semua orang tertawa-tawa sampai bergelak. Kiok Hwi mengerutkan alisnya. Orang-orang seperti ini tidak mungkin diajak bicara secara baik-baik.
"Kalau tidak ada yang tahu, sudahlah. Kalian pergi, jangan menggangguku atau aku akan marah dan tidak mengampuni kalian lagi!"
Ucapan ini mengandung ancaman, akan tetapi tiga belas orang yang biasa menggunakan kekerasan terhadap siapapun juga itu, mana takut menghadapi ancaman seorang gadis jelita berusia sembilan belas tahun kurang?
Mereka menganggap gadis itu membual dan bergurau saja, maka mereka terkekeh-kekeh.
"Aduh, bidadari manis. Kami minta ampun!"
"Minta cium... ha-ha-ha!"
Marahlah Kiok Hwi.
"Singgg...!"
Pedang telah terhunus di tangannya dan pedang yang terbuat dari baja yang baik itu berkilauan saking tajamnya.
"Wah-wah-wah, benar berani perempuan ini. Hendak melawan kita? Ha-ha-ha! Hayo kawan, kita berlumba menangkap dan serahkan kepada toako!"
Belasan orang itu mengepung dan karena melihat pedang gadis itu demikian tajam berkilauan, untuk berjaga diri, merekapun menghunus golok masing-masing dan mengepung dengan sikap mengancam sekali.
"Kalian mencari mampus!"
Tiba-tiba Kiok Hwi berseru dan ketika ia menggerakkan pedangnya, namapk sinar berkelebat.
Ia membalik dan menyerang orang yang berada di belakangnya, yang tidak menyangka-nyangka bahwa dia yang akan lebih dulu diserang.
Karena itu, tak dapat dihindarkan lagi pedang itu melukai pahanya.
Dia mengaduh dan terjengkang, darah mengucur dari pahanya yang tersayat pedang!
Semua orang menghentikan tawa mereka dan memandang marah karena seorang kawan mereka dilukai.
"Perempuan setan, berani engkau melukai teman kami?"
Bentak mereka dan kini dua belas orang itu menyerang dengan golok mereka.
Agaknya, melihat darah membasahi paha seorang rekan telah membuat mereka lupa akan kecantikan gadis itu dan kini golok mereka menyambar-nyambar dahsyat seperti ekumpulan burung elang menyambari seekor kelinci yang diperebutkan.
Namun, ternyata Kiok Hwi bukan kelinci melainkan seekor harimau betina.
Ia memainkan ilmu pedang Cin-ling-pai yang indah dan gerakannya amat lincahnya, tubuhnya bagaikan seekor burung walet beterbangan ke sana sini, pedangnya menyambar-nyambar dan setelah lewat belasan jurus, sudah ada tiga orang yang terluka oleh sabetan pedangnya dan tidak mampu melanjutkan pengeroyokan.
Sembilan orang penjahat itu menjadi marah dan juga berhati-hati.
Rata-rata mereka memiliki ilmu silat lumayan, maka setelah mereka berhati-hati dan melakukan pengeroyokan dengan teratur, mulailah Kiok Hwi terdesak.
Namun, gadis ini memutar pedangnya melindungi tubuh sehingga semua sambaran golok itu dapat tertangkis oleh sinar pedangnya.
Pada saat itu terdengar bentakan nyaring.
"Banyak orang laki-laki mengeroyok seorang gadis, sungguh tidak tahu malu!"
Dan melompatlah seorang pemuda bertubuh sedang, berpakaian serba biru dan begitu melompat, pemuda ini sudah menggerakkan sebatang pedang dan ternyata gerakannya mengandung tenaga yang cukup kuat.
Tanpa banyak cakap lagi pemuda itu mengamuk dan membantu Kiok Hwi yang tentu saja menjadi tambah bersemangat.
Mereka berdua mengamuk dan kembali tiga orang roboh oleh pedang Kiok Hwi dan pemuda itu.
Enam orang yang masih dapat melanjutkan pengeroyokan mulai menjadi gentar karena kepandaian pemuda berbaju biru itu tidak kalah lihainya dibanding kepandaian si gadis cantik.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara tawa yang mengandung gema keras dan muncullah seorang pendek kurus yang memegang sepasang golok.
"Mundurlah kalian dan biarkan aku menghadapi mereka berdua!"
Teriak si cebol ini yang bukan lain adalah Tee-kui, orang kedua dari Thian Te Siang-kui (Sepasang Iblis Langit Bumi).
Tee-kui atau iblis bumi ini bertubuh pendek kurus, akan tetapi ilmu kepandaiannya cukup tinggi dan diapun seorang laki-laki yang cabul.
Begitu melihat Kiok Hwi yang cantik jelita, mulutnya segera mengilar dan dia mengacungkan goloknya.
"Nona manis, siapakah engkau dan siapa pula pemuda ini?"
Timbul pula harapan di hati Kiok Hwi untuk dapat memperoleh keterangan tentang Han Lin dari si katai ini.
Kalau anak buahnya tidak pernah mendengar tentang Han Lin, barangkali si katai ini yang menjadi pimpinan mereka pernah mendengarnya.
"Paman, aku kebetulan saja lewat di sini dan diganggu oleh anak buahmu. Saudara ini juga kebetulan saja datang menolong karena kami tidak saling mengenal. Paman, aku hanya ingin mengetahui apakah engkau mengenal seorang bernama Sia Han Lin dan tahu di mana dia sekarang?"
Tentu saja Tee-kui tahu siapa Sia Han Lin, Pendekar Pedang Awan Merah. Akan tetapi dia tidak mau mengakui, karena diapun tidak tahu di mana adanya Han Lin.
"Heh-heh-heh, Sia Han Lin sudah mampus. Kenapa mencari dia? Lebih baik ikut dengan aku dan menjadi isteriku, pasti senang!"
"Jahanam busuk!"
Bentak Kiok Hwi marah sekali bukan hanya karena ucapan kurang ajar itu, melainkan dikatakan bahwa Han Lin telah tewas. Dara itu sudah menggerakkan pedangnya menyerang.
"Trangg...!"
Tee-kui menangkis dan Kiok Hwi merasa betapa tangannya tergetar hebat, tanda bahwa si katai ini biarpun badannya kecil namun tenaganya besar sekali.
mereka lalu bertanding dan sepasang golok di tangan Tee-kui segera mengepung gadis itu.
Melihat ini, pemuda berpakaian biru itu sudah menggerakkan pedangnya pula membantu Kiok Hwi.
Melihat Tee-kui dikeroyok dua, anak buahnya yang tinggal enam orang karena yang lain sudah terluka itu segera maju membantu Tee-kui sekarang berbalik Kiok Hwi dan pemuda baju biru itu yang dikeroyok.
Kiok Hwi dan pemuda itu tersesak hebat.
Baru menghadapi Tee-kuo saja mereka sudah kalah tingkat, apa lagi Tee-kui dibantu oleh enam orang anak buahnya.
Akan tetapi Kiok Hwi dan pemuda itu mengamuk dengan hebat, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.
Namun, tetap saja mereka terdesak dan keadaan mereka sudah gawat.
"Bunuh pemuda ini akan tetapi jangan lukai gadis ini. Aku membutuhkannya, ha-ha-ha!"
Tee-kui sudah tertawa-tawa girang, membayangkan betapa akan senangnya dia nanti kalau mendapatkan gadis yang cantik jelita ini. Akan tetapi pada saat itu muncul seorang pria muda bercaping lebar.
"Setan katai di mana-mana membikin kacau saja!"
Bentaknya dan dia sudah mencabut pedangnya dan dia sudah mencabut pedangnya lalu menerjang ke arah Tee-kui.
Tee-kui terkejut bukan main mengenal Souw Kian Bu yang pernah membantu ketika dia menyerang Can Kok Han.
Dengan masuknya Souw Kian Bu yang lihai, dia merasa gentar dan dengan sigapnya dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri.
Anak buahnya tentu saja melarikan diri pontang panting ketika melihat pimpinan mereka sudah lebih dulu melarikan diri, termasuk mereka yang terluka, terseok-seok melarikan diri.
Kian Bu dan Kiok Hwi juga tidak mengejar, demikian pula pemuda berpakaian biru.
Kiok Hwi mengangkat tangan memberi hormat kepada Kian Bu dan pemuda baju biru.
"Ji-wi telah datang menolongku, sungguh merupakan budi besar sekali dan aku menghaturkan terima kasih."
"Nona, tidak perlu berterima kasih. Sudah selayaknya kalau kita saling tolong menghadapi penjahat, bukan?"
Kata si baju biru.
"Perkenalkan, nona, aku Ting Bun, secara kebetulan saja lewat di sini dan melihat nona dikeroyok banyak orang. Dan saudara ini, siapakah?"
"Aku juga kebetulan lewat saja dan dapat membantu kalian. Namaku Souw Kian Bu. Tidak tahu, siapakah nona yang kalau tidak salah, memiliki ilmu pedang yang mirip ilmu pedang Cin-ling-pai?"
"Aku memang murid Cin-ling-pai!"
Kata Kiok Hwi gembira.
"Ketua Cin-ling-pai adalah ayahku."
"Ah, jadi nona ini puteri Bu-eng-kiam-hiap? Pantas saja ilmu pedang nona demikian bagus!"
Kata Souw Kian Bu memuji.
"Harap Souw-taihiap tidak terlalu memujji. Kalau taihiap tidak keburu datang membantu, tentu aku dan Ting-taihiap ini akan kalah melawan si katai tadi. Entah siapa dia, begitu lihainya."
"Dia? Dia adalah Tee-kui, orang kedua dari Thian Te Siang-kui,"
Kata Souw Kian Bu.
"Ahh, pantas ilmu kepadaiannya demikian hebat!"
Seru Kiok Hwi terkejut dan kini dia teringat kepada Han Lin, maka kepada kedua orang itu dia bertanya.
"Sekarang aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan, barangkali ji-wi telah mengetahuinya. Aku sedang mencari seorang bernama Sia Han Lin, apakah ji-wi mengetahui dia berada di mana?"
Ting Bun menggeleng kepalanya.
Pemuda yang berpakaian serba biru sederhana ini bertubuh sedang, berwajah tampan dan pendiam.
Dia tak pernah mendengar nama Sia Han Lin, maka dia menggeleng kepala dengan hati kecewa karena dia ingin sekali dapat membantu nona yang sejak pertama kali melihatnya telah membuat hatinya jatuh bangun ini.
"Sia Han Lin? Kalau boleh aku bertanya, apakah hubunganmu dengan Sia Han Lin, nona?"
Kiok Hwi memandang tajam, jantungnya berdebar. Dari pertanyaan ini saja jelas bahwa pemuda bercaping ini sudah mengenal Han Lin.
"Aku sahabatnya, taihiap. Apakah taihiap mengenalnya? Di mana dia sekarang?"
Kian Bu adalah seorang laki-laki yang sudah berpengalaman.
Dari sikap dan pertanyaan itu saja dia sudah dapat menduga bahwa Kiok Hwi tentu telah jatuh cinta kepada saudara misannya itu.
Dan diapun teringat kepada Can Bi Lan.
Juga gadis puteri ketua Pek-eng Bu-koan itu jatuh cinta kepada Han Lin!
"Tentu saja aku mengenalnya karena dia adalah kakak misanku sendiri."
"Ahhh... ohhh...!"
Kiok Hwi menjadi girang sekali sampai ber-ah-oh-oh.
"dapatkah engkau mengatakan di mana dia berada sekarang?"
"Aku sendiri juga sedang mencarinya, nona. Aku hendak menyampaikan berita yang amat buruk baginya."
Wajah Kiok Hwi berubah.
"Berita buruk? Apakah itu, taihiap? Boleh aku mengetahui berita buruk apa yang hendak kausampaikan kepada Lin-koko?"
"Berita bahwa isterinya telah tewas,"
Kata Souw Kian Bu sambil memandang tajam. Wajah Kiok Hwi menjadi pucat seketika.
"Is... isterinya...? Sejak kapan dia menikah, taihiap?"
"Dia sudah menikah dengan seorang gadis Mongol."
"Ah, dan isterinya itu... tewas...?"
Suara Kiok Hwi bercampur isak.
"Kasihan sekali, Lin-ko..."
Souw Kian Bu menjadi lega.
Bagaimanapun juga, gadis ini berhati baik.
Tidak memperlihatkan cemburu, dan tidak marah, malah mengatakan kasihan.
Tidak pencemburu, tidak seperti...
dia!
"Nona, mati hidup seseorang telah ditentukan oleh Thian.
Oleh karena itu, tidak perlu disesalkan,"
Kata Ting Bun dengan nada suara menghibur.
"Harap nona tidak terlalu sedih mendengar nasib sahabatmu itu, nona."
Mendengar ucapan itu, Kian Bu menghela napas panjang.
"Benar yang dikatakan saudara Ting Bun ini. Segala sesuatu yang menimpa kehidupan seorang manusia sudah ditentukan sesuai dengan keadilan Thian, tidak perlu disesalkan. Akan tetapi betapa sukarnya... ah, sudahlah, aku harus melanjutkan perjalananku. Nona, kalau sekali waktu engkau bertemu dengan Han Lin, sampaikan pesanku kepadanya bahwa isterinya telah tewas dan kalau dia hendak mengetahui lebih banyak agar mencari aku di Wu-han."
"Baiklah, taihiap."
"Nona, karena engkau sahabat kakak misanku, engkau sahabatku pula dan tidak semestinya menyebut aku taihiap. Namaku Souw Kian Bu dan engkau dapat kuanggap seperti adikku."
"Terima kasih, Bu-ko. Akan kusampaikan pesanmu kepada Lin-ko kelak, kalau saja aku dapat bertemu dengannya."
"Nah, selamat tinggal, Hwi-moi dan selamat tinggal, saudara Ting Bun."
"Selamat jalan,"
Kata mereka berdua. Setelah Kian Bu pergi, barulah Kiok Hwi dan Ting Bun menyadari bahwa sejak tadi mereka berdua diam saja, tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara. Akhirnya Kiok Hwi yang bicara.
"Taihiap..."
"Sudah sepatutnya kalau engkau juga jangan menyebut taihiap kepadaku, nona. Kalau engkau menyebut koko (kakak) kepada saudara Souw Kian Bu, kenapa kepadaku tidak?"
Kiok Hwi tersenyum.
"Aku tidak berani, akan tetapi kalau engkau menghendaki..."
"Tentu saja, moi-moi, karena bukankah kita telah menjadi sahabat setelah pertemuan yang kebetulan ini?"
"Baiklah, Bun-ko."
"Hwi-moi, sekarang engkau hendak ke manakah?"
"Aku akan mencari paman ke Lok-yang."
"Aih, kebetulan sekali, Hwi-moi. Akupun hendak pergi ke Lok-yang mencari saudaraku. Kalau begitu, jika engkau tidak berkeberatan, bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama ke Lok-yang?"
"Tentu saja tidak berkeberatan, Bun-ko. Malah aku girang sekali karena dengan melakukan perjalanan berdua, kita tidak perlu khawatir kalau seandainya Tee-kui tadi menghadang dan mengganggu lagi."
"Tepat sekali ucapanmu, Hwi-moi. Mari kita berangkat."
Mereka melakukan perjalanan bersama dan dalam kesempatan ini mereka saling mempererat persahabatan dengan menceritakan keadaan diri masing-masing.
Kiok Hwi bercerita bahwa ia hendak mengunjungi pamannya yang sudah lama tidak dijumpainya, sekalian merantau untuk meluaskan pengalamannya.
"Pamanku bernama Yap Gun dan dia membuka toko obat di Lok-yang, dan sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengna paman dan bibi."
Ting Bun uga menceritakan keadaan dirinya. Dia sudah yatim piatu dan sejak kecil menjadi murid Bu-tong-pai bersama adiknya yang bernama Ting Bu. Adiknya itu pergi ke Lok-yang dia hendak menyusulnya.
"Kami berdua juga merantau untuk meluaskan pengalaman,"
Kata Ting Bun.
"Dan adikku itu memang bandel, ingin berpisah agar dapat memperoleh pengalaman hebat."
Dia tersenyum.
"Karena itu, dari Tiang-an dia lalu berangkat mendahului aku ke Lok-yang. Sekali ini kalau dia tersusul olehku, takkan kubiarkan dia meliar sendiri. Ternyata di daerah ini terdapat banyak penjahat yang lihai dan berbahaya sekali."
"Kalau adikmu itu menjadi murid Bu-tong-pai seperti engkau sendiri, kurasa tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia pasti mampu berjaga diri."
"Benar juga katamu, Hwi-moi. Akan tetapi engkau melihat sendiri, gerombolan perampok yang mengganggu kita tadi berbahaya dan lihai."
"Akupun heran, Bun-ko. Sekarang ini keadaan bertambah parah, dan di mana-mana bermunculan gerombolan perampok yang lihai."
Ting Bun menghela napas panjang.
"Demikianlah kalau pemerintah lemah. Para pejabat hanya berkorupsi tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat. Penjagaan keamanan amat kurang, maka para penjahat berani merajalela dan keamanan hidup rakyat tidak terjamin."
Mereka memasuki kota Lok-yang dan berkunjung ke rumah Yap Gun, yaitu paman Kiok Hwi, adik dari Bu-eng-kiam-hiap Yap Kong Sing.
Yap Gun seorang laki-laki berusia empat puluh enam tahun, tinggal di Lok-yang berdua dengan isterinya karena dia tidak mempunyai keturunan.
Tubuhnya tinggi tegap, akan tetapi ilmu silatnya tidaklah sehebat ilmu kakaknya yang menjadi ketua Cin-ling-pai, karena sejak muda ia lebih tekun mempelajari obat-obatan dan ilmu pengobatan dari pada ilmu silat.
Yap Gun menerima kunjungan Kiok Hwi dan Ting Bun dengan alis terangkat karena dia merasa tidak mengenal dua orang muda itu.
"Gun-siok (paman Gun), lupakah paman kepadaku? Aku adalah Yap Kiok Hwi dari Cin-ling-pai!"
Seru Kiok Hwi yang geli melihat pamannya tidak mengenalnya. Barulah laki-laki itu bangkit dan wajahnya berseri-seri.
"Ahh, Kiok Hwi! Bagaimana aku dapat mengenalmu? Engkau sudah dewasa sekali sekarang!"
Lalu orang itu berteriak memanggil isterinya. Seorang wanita setengah tua muncul dan berbeda dengan suaminya, wanita ini segera mengenal Kiok Hwi dan merangkulnya.
"Kiok Hwi, ah, betapa kami merindukanmu!"
Kata bibi itu yang memang amat sayang kepada Kiok Hwi karena ia sendiri tidak mempunyai anak.
"Kiok Hwi, dan siapakah pemuda ini?"
"Ah, ya, paman. Ini adalah saudara Ting Bun, seorang sahabatku yang kebetulan bertemu di jalan, kami berdua menghadapi serombongan perampok. Dia murid Bu-tong-pai, paman."
"Ah, bagus. Aku mendengar bahwa Bu-tong-pai banyak mempunyai murid yang menjadi pendekar yang pandai."
"Paman terlalu memuji,"
Kata Ting Bun merendah.
Mereka berempat lalu masuk ke dalam.
Yap Gun menyuruh para pegawainya untuk berjaga toko dan dia bersama isterinya lalu bercakap-cakap dengna Kiok Hwi dan Ting Bun di ruangan belakang.
Setelah ditanya tentang perampokan itu dan Kiok Hwi menceritakan semua, gadis itu berbalik bertanya.
"Bagaimana keadaan di Lok-yang sendiri, paman? Di luar kota banyak perampok, bagaimana dengan di dalam kota?"
"Ah, di sini juga sekarang banyak sekali terjadi hal-hal yang menggelisahkan. Baru sepekan yang lalu terjadi geger di tempat tinggal Kwan-ciangkun, panglima yang paling berkuasa di Lok-yang."
"Apa yang terjadi?"
"Putera Kwan-ciangkun sakit parah. Akupun pernah dipanggil, akan tetapi dengan terus terang aku mengatakan bahwa aku tidak dapat mengobatinya karena penyakitnya amat parah. Apa yang dilakukan Kwan-ciangkun? Menghukum aku dengan tiga puluh cambukan. Akhirnya terpaksa aku memberitahu bahwa di Nan-yang terdapat sahabatku yang ahli dalam hal pengobatan, yaitu Thian-te Yok-sian, dan agar puteranya dibawa ke sana untuk minta Thian-te Yok-sian mengobatinya. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Kwan-ciangkun? Dia mengirim pasukan memaksa dan menculik sahabatku itu dibawa ke sini dan disuruh mengobati, kalau gagal akan dibunuh!"
"Hemm, sungguh sewenang-wenang!"
Kata Kiok Hwi dan Ting Bun hampir berbareng.
"Seperti yang kuduga, Thian-te Yok-sian sendiri agaknya tidak sanggup mengobati penyakit yang parah itu, penyakit yang kotor menjijikkan. Dengan dikawal pasukan, Thian-te Yok-sian mengunjungi aku untuk mencari obat-obat yang paling manjur. Namun, itu hanya menolong sementara saja dan keselamatan nyawa Thian-te Yok-sian terancam. Akan tetapi, sepekan yang lalu muncullah muridnya bersama seorang pemuda yang kabarnya bernama Sia Han Lin..."
"Lin-ko...!"
Kiok Hwi berseru girang.
"Engkau mengenalnya?"
"Tentu saja, paman. Dia pernah membersihkan nama baik Cin-ling-pai yang tercemar."
"Karena kelihaian pemuda itu dan murid Thian-te Yok-sian maka dewa obat itu dapat disingkirkan, dilarikan oleh kedua orang itu. Menurut desas-desus, mereka bahkan mengancam Kwan-ciangkun dan akan membunuhnya kalau tidak membebaskan si dewa obat."
"Hebat!"
Seru Kiok Hwi gembira.
"Dan sekarang mereka berada di mana, paman?"
"Kukira mereka tidak akan berani kembali ke Nan-yang karena tentu Kwan-ciangkun tidak akan tinggal diam. Akan tetapi aku tahu bahwa Thian-te Yok-sian berasal dari daerah Huang-ho. Besar kemungkinan oleh murid dan penyelamatnya dia diantar ke Huang-ho."
"Kalau begitu, aku mau menyusul ke Huang-ho, Bun-ko, maukah engkau menemani aku pergi ke Huang-ho untuk menyusul mereka? Aku ingin sekali bertemu dengan Lin-ko!"
Ting Bun menghela napas panjang.
Dia teringat adiknya, akan tetapi diapun lebih berat kepada Kiok Hwi walaupun hatinya merasa tidak enak sekali.
Dia tidak tahu apa yang menyebabkan Kiok Hwi begitu ingin bertemu dengan Han Lin.
"Kalau memang penting sekali pergi ke Huang-ho..."
"Bun-ko, apakah engkau lupa akan pesan Souw Kian Bu koko? Bukankah ada berita penting tentang kematian isterinya..."
Wajah pemuda itu mendadak berseri.
Kalau itu kepentingannya, tentu saja dia senang untuk menemani.
Dia khawatir kalau-kalau Kiok Hwi hendak menyusul Han Lin karena mencinta pemuda itu.
Dia tidak tahu bahwa memang tadinya Kiok Hwi mencinta Han Lin, akan tetapi sejak mendengar bahwa Han Lin telah menikah dengan gadis Mongol yang kemudian terbunuh, cintanya juga sudah menghilang, bahkan perhatian hatinya kini beralih kepada Ting Bun.
Malam itu mereka bermalam di rumah Yap Gun dan semalam itu dimanfaatkan oleh Ting Bun untuk berkeliaran di Lok-yang mencari adiknya.
Namun usahanya sia-sia, dia tidak dapat menemukan adiknya itu, maka pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia dan Kiok Hwi pergi meninggalkan Lok-yang menuju ke daerah Huang-ho.
Kiranya tidak akan mungkin mencari seseorang yang tinggal di daerah Huang-ho kalau tidak diberitahu daerah mana dan apa nama dusunnya.
Huang-ho (Sungai Kuning) beribu-ribu mil panjangnya dan daerahnya amat luas, meliputi beberapa propinsi.
Akan tetapi Kiok Hwi sudah mendapat keterangan jelas dari pamannya.
Thian-te Yok-sian berasal dari daerah Tong-beng, di lembah Huang-ho tak jauh dari Lok-yang, yaitu di sebelah timurnya.
Maka merekapun melakukan perjalanan cepat menuju ke Tong-beng.
Baru saja mereka tiba kurang lebih sepuluh li dari Tong-beng, di sebelah barat, pada pagi hari itu selagi berjalan dengan Ting Bun, tiba-tiba Kiok Hwi berseru.
"Lin-ko..."
Ting Bun mengangkat muka memandang dan melihat dua orang sedang berjalan mendatangi dari depan. Seorang pemuda dan seorang gadis.
"Lin-ko...! Lin-ko...!"
Kiok Hwi berlari menyambut pemuda dan gadis itu.
Terpaksa Ting Bun mengikuti dari belakang.
Pemuda dan gadis itu memang Han Lin dan Lie Cin Mei.
Mereka baru saja mengantar guru Lie Cin Mei ke dusun kampung halamannya dan hendak melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja.
Tentu saja Han Lin segera mengenal gadis yang berteriak-teriak memanggilnya itu dan dia terheran-heran melihat Kiok Hwi, puteri ketua Cin-ling-pai itu berada di situ, datang bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya.
"Hwi-moi...! Kau di sini? Hendak ke mana dan dari manakah engkau, Hwi-moi?"
"Aih, Lin-ko, susah payah aku mencarimu. Ada berita penting sekali yang harus kusampaikan kepadamu dan betapa girang hatiku dapat bertemu dengan engkau di sini..."
Akan tetapi Kiok Hwi memandang gadis jelita di samping Han Lin itu dengan penuh keraguan. Han Lin menyadari akan kehadiran Cin Mei dan dia lalu memperkenalkan.
"Hwi-moi, perkenalkan. Ini adalah adik Lie Cin Mei yang berjuluk Kwan Im Sianli, murid dari paman Thian-te Yok-sian. Dan adik Cin Mei, ini adalah Yap Kiok Hwi, puteri dari Bu-eng-kiam-hiap Yap Kong Sin, ketua Cin-ling-pai."
Dua orang gadis yang sama cantik jelita itu saling memberi hormat, dan Kiok Hwi juga teringat akan kehadiran Ting Bun, maka diapun memperkenalkan.
"Lin-ko, ini adalah saudara Ting Bun, murid Bu-tong-pai yang membantuku ketika aku diserang oleh Tee-kui dan anak buahnya. Bun-ko, inilah kakak Sia Han Lin yang kucari-cari."
"Hwi-moi, berita penting apakah yang katanya hendak kausampaikan padaku?"
"Boleh aku bicara sekarang?"
Tanya Kiok Hwi sambil melirik ke arah Cin Mei. Gadis yang halus perasaannya ini lalu berkata lirih.
"Kalau ingin bicara penting, lebih baik aku menjauhkan dii dari sini..."
Dan ia hendak melangkah pergi akan tetapi Han Lin segera memegang tangannya.
"Siauw-moi, jangan begitu. Engkau tentu saja boleh mendengarkan apa saja yang akan disampaikan oleh Kiok Hwi. Hwi-moi, katakanlah apa yang akan kaubicarakan dengan aku."
"Hal ini mengenai isterimu, Lin-ko,"
Kata Kiok Hwi lalu memandang tajam.
"Isteriku...?"
Han Lin berseru heran karena dia sendiri merasa tidak pernah beristeri. Hampir lupa dia akan keadaan Mulani yang sudah menjadi isterinya.
"Perempuan Mongol itu!"
Kata Kiok Hwi memperingatkan.
"Perempuan Mongol? Engkau sudah tahu tentang itu? Ada apakah dengannya, Hwi-moi?"
"Ia... ia telah tewas, Lin-ko."
Han Lin terkejut setengah mati.
Biarpun dia tidak mencinta Mulani sebagai seorang suami, akan tetapi dia sayang kepada gadis Mongol itu dan bagaimanapun juga, gadis itu sudah menikah dengannya, walaupun hanya menikah upacara saja.
"Apa...? apa yang telah terjadi dan bagaimana engkau dapat mengetahuinya? Ia berada di utara dan kau..."
"Lin-ko, akupun hanya mendengar dari pemberitahuan orang. Bun-koko ini yang menjadi saksi. Lin-ko, kenalkah engkau dengan orang yang bernama Souw Kian Bu?"
"Souw Kian Bu? Dia adalah saudara misanku."
"Nah, kalau begitu benar sudah. Souw Kian Bu yang menceritakan kepadaku, memesan bahwa apa bila aku bertemu denganmu, aku harus menyampaikan berita bahwa isterimu telah meninggal dunia, Lin-ko."
Wajah Han Lin berubah layu. Kalau Souw Kian Bu yang menceritakan, tentu tidak dapat diragukan lagi.
"Akan tetapi mengapa? Apa yang telah terjadi dengannya?"
Melihat ini, Kiok Hwi merasa kasihan sekali. Wajah Han Lin nampak terkejut dan juga sedih.
"Maafkan kalau aku membawa berita yang begini buruk bagimu, Lin-ko. Aku sendiri tidak tahu mengapa, karena kakak Souw Kian Bu tidak memberitahu padaku. Dia hanya berpesan agar kalau bertemu Lin-ko, aku mengabarkan tentang kematian itu dan kalau Lin-ko ingin tahu lebih jelas lagi, katanya agar Lin-ko pergi menyusul dia ke Wu-han."
"Wu-han?"
Han Lin teringat bahwa orang tua Souw Kian Bu tinggal di Wu-han.
"Baik, dan terima kasih banyak, Hwi-moi, sekarang juga aku akan pergi menyusul ke Wu-han. Selamat berpisah, Hwi-moi, jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal, saudara Ting Bun."
"Selamat jalan, Lin-ko, engkau juga jaga dirimu baik-baik!"
"Mari, siauw-moi,"
Ajak Han Lin kepada Cin Mei dan mereka bergegas pergi dari situ. Kiok Hwi dan Ting Bun saling pandang.
"Hwi-moi, engkau pernah sangat sayang kepada pemuda itu, bukan?"
Ting Bun bertanya dengan jujur. Melihat keterbukaan pemuda ini dalam mengajukan pertanyaan, Kiok Hwi mengangguk.
"Dia pernah menyelamatkan nama Cin-ling-pai, menyelamatkan kehormatan dan nama baik Cin-ling-pai. Aku bersukur dan berterima kasih sekali kepadanya, dan mengaguminya, akan tetapi sebelum aku mendengar bahwa dia telah menikah dengan wanita Mongol..."
"Aku girang sekali mendengar ini, Hwi-moi."
"Eh, kenapa girang?"
"Entahlah, akan tetapi aku merasa girang sekali mendengar bahwa engkau tidak memikirkan dan mengharapkan dia lagi."
Wajah Kiok Hwi menjadi merah sekali karena dia dapat merasakan apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu.
"Bun-ko, sekarang engkau hendak pergi ke manakah? Mungkin kita harus berpisah di sini."
"Ahh! Kenapa begitu? Engkau sendiri hendak ke mana, Hwi-moi?"
"Untuk sementara aku akan tinggal di rumah paman Yap Gun, untuk beberapa hari atau beberapa pekan."
"Bagus, akupun hendak ke Lok-yang, aku belum dapat menemukan adikku. Pula, apakah engkau tidak tertarik akan halnya Kwan-ciangkun yang bertindak sewenang-wenang? Aku ingin melakukan penyelidikan dan kalau perlu menambah ancaman yang diberikan oleh saudara Sia Han Lin kepadanya. Orang macam itu harus diberi hajaran, kalau tidak dia akan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata."
"Aku setuju sekali, Bun-ko. Aku akan minta kepada paman Yap Gun agar membolehkan engkau sementara tinggal di rumahnya."
"Ah, tidak, Hwi-moi. Hal itu akan amat mengganggu beliau, dan juga tidak pantas karena aku bukan sanak keluarganya. Biarlah aku mencari adikku lebih dulu dan mudah bagiku untuk mencari tempat penginapan bersama adikku."
Mereka segera kembali ke Lok-yang dan tentu Yap Gun girang menerima keponakan yang tersayang itu, demikian pula isterinya.
Ting Bun tidak tinggal di situ dan segera mencari adiknya.
Hampir setiap hari dia datang berkunjung dan hubungan mereka semakin akrab.
Biarpun keduanya tidak pernah menyatakan cinta, namun keduanya sudah maklum akan isi hati masing-masing karena segala kemesraan itu dapat mudah dilihat dari pandang mata mereka, dari suara mereka dan senyum mereka.
Kalau dua hati sudah saling mencinta, bagi kedua orang itu mudah saja mengetahuinya, tidak dibutuhkan lagi kata-kata yang hanya pandai merayu.
Souw Kian Bu sudah tiba di rumah orang tuanya.
Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan tentu saja merasa girang akan tetapi juga heran melihat putera mereka datang berkunjung seorang diri saja.
"Kian Bu, mana isterimu? Kenapa tidak ikut bersamamu berkunjung ke sini?"
Tanya ibunya heran.
"Ia sibuk dengan urusan Kim-kok-pang, ibu."
"Ah, Kian Bu, seharusnya engkau datang berkunjung bersama isterimu. Bagaimana engkau tinggal ia begitu saja?"
Tanya ayahnya.
"Ayah, sudah kukatakan, ia sibuk sekali dan aku sudah rindu sekali kepada ayah dan ibu, maka aku datang seorang diri saja."
Akan tetapi suami isteri itu saling pandang dan mereka merasa tidak enak hati.
Mereka khawatir kalau ada apa-apa antara putera dan mantunya, setidaknya ada percekcokan.
Walaupun hati mereka menduga demikian, namun mereka tidak bertanya apa-apa lagi.
Dan kecurigaan mereka semakin mendalam ketika mereka melihat sikap putera mereka selama berhari-hari tinggal di situ.
Souw Kian Bu pada dasarnya adalah seorang muda yang periang, akan tetapi selama berada di situ nampak murung selalu dan kalau memperlihatkan wajah gembira, maka kegembiraan itu dibuat-buat.
Kerut di antara alisnya tak pernah hilang dan sinar matanya juga muram.
Pada suatu pagi Kian Bu duduk termenung di halaman rumah yang berada di samping toko kain ayahnya.
Dia tidak membantu toko, hanya termenung memandang ke pekarangan yang ditumbuhi bermacam bunga tanaman ibunya.
Ayah dan ibunya sibuk melayani pembeli di toko kain mereka.
"Bu-te (Adik Bu)...!"
Kian Bu terkejut mendengar panggilan dan mengangkat mukanya.
Di pekarangan itu telah masuk dua orang muda, yang seorang segera dikenalnya sebagai Sia Han Lin saudara misannya sedangkan yang kedua adalah seorang gadis yang cantik jelita dan sikapnya lemah lembut.
"Lin-toako...!"
Serunya girang dan diapun bangkit berdiri lalu berlari menyongsong mereka di pekarangan.
"Bu-te, perkenalkan, ini adalah Kwan Im Sianli Lie Cin Mei, dan adik Cin Mei, ini adalah adik misanku Souw Kian Bu."
Kedua orang yang diperkenalkan itu saling memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada. Akan tetapi mereka berdua itu segera sudah dicekam perasaan hati masing-masing.
"Lin-toako, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa aku berada di rumah orang tuaku?"
Tanya Kian Bu.
"Bu-te, aku telah bertemu dengan Kiok Hwi, ia yang mengatakan bahwa... Bu-te, apa yang telah terjadi?"
"Lin-ko, mari kita bicara di taman saja agar jangan ada orang lain mendengarnya. Nona, silakan nona duduk menanti di kamar tamu sementara aku dan Lin-toako..."
"Bu-te, tidak mengapa kalau adik Cin Mei mendengarnya. Ia sudah mengetahui semua. Ceritakan saja, aku tidak mempunyai rahasia apapun terhadap adik Cin Mei."
Ucapan Han Lin ini saja sudah cukup jelas bagi Kian Bu akan perasaan hati Han Lin terhadap Kwan Im Sianli.
"Baiklah, mari kita masuk ke taman."
Dia mendahului mereka memasuki taman bunga yang berada di sebelah kiri rumah itu, sebuah taman yang cukup indah karena terawat oleh tangan Yang Kui Lan yang memang mencintai bunga.
Mereka duduk di bangku panjang dekat kolam ikan emas di tengah taman.
"Peristiwanya terjadi di kota Souw-ciu,"
Kian Bu mulai bercerita.
"Ketika berada di rumah makan, aku melihat Thian-kui berkelahi dengan seorang pemuda yang kemudian kuketahui bernama Can Kok Han. Mereka bertanding akan tetapi keadaan mereka tidak seimbang."
"Tentu saja, Can Kok Han tidak mungkin mampu menandingi Thian-kui yang lihai itu,"
Kata Han Lin.
"Tiba-tiba Kok Han melemparkan sesuatu yang meledak dan membuat Thian-kui roboh pingsan. Kok Han hendak membunuhnya akan tetapi muncul Tee-kui yang menyerangnya dengan hebat sehingga Kok Han tidak sempat lagi menggunakan bahan peledaknya yang lihai itu. Aku lalu muncul membantunya dan Tee-kui segera lari membawa tubuh Thian-kui yang pingsan. Dan kau tahu bagaimana sikap Can Kok Han? Dia malah marah dan tidak senang terhadap bantuanku. Pemuda itu sungguh angkuh luar biasa."
"Hemm, memang pemuda itu memiliki watak sombong,"
Kata Han Lin, teringat akan pengalamannya dengan Bi Lan.
"Lalu bagaimana, Bu-te?"
"Ketika aku hendak pergi, muncul seorang wanita Mongol..."
"Mulani...!"
"Benar, Lin-ko. Yang muncul adalah Mulani yang menegur Kok Han karena menggunakan obat pembius yang meledak itu dan menuduhnya dahulu juga melakukannya terhadap ia dan engkau. Kok Han mengaku dan pada saat itu, tanpa disangka-sangka, Mulani menghujamkan pedangnya ke dada Kok Han sehingga tewas seketika."
"Ahh...! Kiranya Kok Han pelakunya itu...!"
Han Lin mengepal tinju dan dapat membayangkan betapa Kok Han melempar bahan peledak yang membius, kemudian ketika dia dan Mulani pingsan, pemuda itu memperkosa Mulani dan menelanjangi dia dan Mulani untuk memberi kesan bahwa dialah yang memperkosa Mulani.
"Pada saat itu terdengar ledakan lain dan muncullah seorang gadis yang kemudian kuketahui bernama Can Bi Lan, adik dari Can Kok Han itu dan ketika Mulani terpengaruh peledak yang membius, Bi Lan menyerangnya dengan tusukan pedang."
"Ahhh..., jadi Bi Lan yang membunuhnya!"
"Tenang, Lin-ko. Menurut aku, Can Bi Lan itu tidak dapat disalahkan. Ia teidak tahu duduknya perkara dan melihat kakaknya dibunuh orang, wajah kalau ia membalas kematian kakaknya itu. Setelah Mulani menceritakan semuanya, barulah Bi Lan sadar dan ia merasa menyesal sekali telah membunuh Mulani, apa lagi ketika kakaknya sendiri yang mengaku telah memperkosa Mulani dan menjatuhkan fitnah kepadamu."
"Ahh, Mulani..."
"Ketika itu Mulani masih sempat berpesan kepadaku bahwa ia minta maaf telah memaksamu menikahinya dan ia mengatakan bahwa engkau telah bebas, tidak lagi menjadi suaminya karena bukan engkau yang melakukan perbuatan terkutuk itu."
"Ahhh, Mulani..."
Melihat Han Lin seperti orang yang menyesal sekali, Kwan Im Sianli Lie Cin Mei berkata.
"Lin-koko, tidak perlu disesalkan. Bagaimanapun juga, mereka meninggal dunia setelah mengetahui semua persoalannya. Engkau tidak bersalah, dan yang bersalah sudah tewas. Adapun kematian Mulani, kurasa hal itu bahkan sebaiknya ia masih hidup dan mengetahui aib yang menimpa dirinya itu, tentu hidupnya akan penuh dengan kegetiran dan kedukaan. Semua telah terjadi, koko, dan yang terpenting, engkau tidak melakukan suatu kesalahan."
"Adik ini berkata tepat sekali, toako. Dan kiranya tidak bijaksana kalau engkau mendendam kepada Can Bi Lan."
"Aku tidak mendendam kepada siapapun, Bu-te, hanya aku kasihan sekali kepada Mulani. Biarpun ia puteri kepala suku Mongol, harus diakui bahwa ia memiliki watak yang baik."
Pada saat itu, asyik-asyiknya mereka membicarakan soal kematian Mulani, mereka tidak tahu bahwa ada seseorang laki-laki memasuki taman itu dan dia berseru.
"Souw Kian Bu, aku hendak bicara denganmu!"
Semua orang menengok dan ketika Kian Bu mengenal siapa orangnya yang memanggilnya, dia meloncat berdiri dan mukanya berubah merah sekali.
matanya melotot memandang pemuda yang datang itu dan suaranya membentak nyaring.
"Engkau...? Berani benar engkau datang ke sini! Apa maumu?"
Pemuda itu bukan lain adalah Gu San Ki, suheng isterinya yang dicemburuinya itu. San Ki tidak gentar menghadapi bentakan ini.
"Souw Kian Bu, aku datang ke sini untuk membawamu pulang ke Kim-kok-pang, sekarang juga!"
"Apa? Beraninya engkau berkata begitu? Dasar manusia kurang ajar, pengkhianat cabul, kembalilah engkau kepada kekasihmu itu, jahanam!"
Han Lin dan Cin Mei sampai kaget setengah mati melihat sikap Kian Bu.
Pemuda yang periang dan bersikap ramah dan sopan itu saat ini nampak seperti setan, begitu marahnya sampai memaki-maki orang yang baru datang.
Pada saat itu terdengar suara melengking nyaring.
"Aihh, inikah orangnya yang bernama Souw Kian Bu? Pantas, sikapnya begini tengik dan tidak tahu diri!"
Dan di situ muncullah Jeng I Sianli Cu Leng Si.
"Enci Leng Si...!"
Seru Han Lin.
"Suci...!"
Teriak Cin Mei.
"Han Lin, Cin Mei, hangan kalian berani ikut-ikut. Aku harus membereskan laki-laki sombong, suami yang tidak tahu diri ini!"
Bentak Leng Si dan iapun sudah menghampiri Kian Bu yang menjadi semakin marah.
"Siapa engkau, wanita, yang datang-datang memaki orang?"
Bentaknya marah.
"Dan kaukira engkau ini siapa begitu San Ki muncul lalu kau maki-maki seenak perutmu sendiri? Engkau suami pencemburu yang sudah tidak ketolongan lagi. Engkau berpikiran kotor, buruk, membyangkan yang bukan-bukan, dan mengukur baju orang lain dengan tubuh sendiri, mengira semua laki-laki sebusuk engkau! Engkau mencumburui Gu San Ki dengan isterimu, bukan?"
Kian Bu demikian marahnya sehingga hampir dia tidak mampu menahan diri lagi.
"Kalau memang benar demikian, engkau mau apa? Aku mempunyai alasanku sendiri mencemburui dia! Engkau ini siapakah hendak mencampuri urusan kami?"
"Ketahuilah olehmu, Souw Kian Bu. Gu San Ki tidak perlu kaucemburui karena dia adalah tunanganku! Dan aku tidak rela tunanganku kaucemburui!"
Kian Bu terkejut. Gu San Ki sudah mempunyai tunangan dan agaknya wanita galak ini dikenal baik oleh Han Lin dan bahkan disebut suci oleh Cin Mei? "Enci Leng Si, harap bersabar dulu!"
Kata Han Lin.
"Souw Kian Bu ini adalah adik misanku, mengapa engkau caci maki seperti itu?"
"Sia Han Lin, kau dengar tadi atau tidak? Dia yang lebih dulu memaki-maki Gu San Ki yang datang dengan baik-baik hendak mengajaknya pulang kepada isterinya."
Souw Kian Bu yang biasanya pandai bicara, sekali ini merasa tidak berdaya menghadapi Leng Si yang galak seperti kucing beranak itu.
Dan pada saat itu, ramai-ramai itu terdengar dari luar taman dan muncullah Souw Hui San dan Yang Kui Lan.
"Kian Bu, ada apakah ramai-ramai ini? Heii, bukankah itu Sia Han Lin? Kapan kau datang?"
Tegur Yang Kui Lan. Han Lin segera memberi hormat kepada paman dan bibinya.
"Maafkan, paman dan bibi kalau saya belum sempat menghadap paman dan bibi, dan lebih dulu bercakap-cakap dengan Bu-te."
"Tidak apa, Han Lin. Dan mereka semua ini siapakah? Dan ada apa ramai-ramai tadi? Kami masih sempat mendengar nona ini memaki-maki, siapa yang dimakinya?"
Tanya Souw Hui San.
"Apakah paman dan bibi ini orang tua Souw Kian Bu? Kalau begitu, harap paman dan bibi dapat mengatur putera paman dan bibi ini yang telah bertindak keterlaluan!"
Kata Leng Si, kini mengatur kata-katanya dengan sopan. Yang Kui Lan yang berwatak lembut itu mengerutkan alisnya.
"Apa sebetulnya yang telah terjadi? Kian Bu, kenapa engkau diam saja? Katakan, apa yang telah terjadi?"
Han Lin segera berkata.
"Bibi, agaknya persoalan ini membutuhkan keterangan kedua pihak, dan kurasa amat tidak baik kalau kita bicara di tempat terbuka seperti ini. Bagaimana kalau kita semua bicara di dalam rumah?"
"Tepat sekali,"
Kata Souw Hui San.
"Marilah, mari kalian semua ikut kami masuk ke dalam rumah dan bicara baik-baik seperti orang sopan."
Mereka semua lalu ikut masuk ke dalam rumah dan memasuki ruangan belakang yang luas dan tertutup pintu dan jendelanya. Setelah duduk mengelilingi meja besar, barulah Souw Hui San berkata.
"Nah, sekarang harap kalian jelaskan, apa sesungguhnya yang telah terjadi."
"Semua ini terjadi karena gara-gara kehadiran saya, oleh karena itu, kalau Souw Kian Bu membolehkan, biarlah saya yang akan menceritakan semua. Kalau saya bicara salah, nanti Kian Bu boleh saja menyanggahnya. Apakah ini disetujui?"
Kata Gu San Ki. Kian Bu mengerutkan alisnya dan tidak membantah. Kemudian Gu San Ki mulai bercerita.
"Nama saya Gu San Ki dan saya masih terhitung suheng dari isteri Souw Kian Bu karena saya adalah murid subo Pek Mau Siankouw."
"Ah, kalau begitu masih terhitung suhengku sendiri!"
Kata Cin Mei.
"Sekarang aku ingat, engkau murid bibi guru Pek Mau Siankouw yang pernah datang berkunjung ke rumah kami!"
"Benar, sumoi,"
Kata San Ki.
"Selama lima tahun saya tinggal di rumah subo bersama sumoi Ji Kiang Bwe dan sejak sumoi meninggalkan perguruan, kami tidak pernah saling jumpa lagi. Sumoi Ji Kiang Bwe dan saya sudah seperti kakak beradik sendiri saja. Nah, beberapa bulan yang lalu, saya yang mendengar bahwa sumoi sudah menjadi ketua Kim-kok-pang dan sudah menikah, datang berkunjung. Pertemuan antara sumoi dan saya terjadi penuh kegembiraan kedua pihak dan sumoi yang sudah menganggap saya sebagai kakak sendiri begitu gembira sampai sumoi memegang kedua tangan saya. Pada saat itu muncul suaminya ini yang kemudian menjadi marah-marah, menyangka yang bukan-bukan lalu dia malah lari meninggalkan isterinya. Sumoi menangis dengan sedih dan yang merasa bersalah adalah saya. Oleh karena itu, saya lalu berjanji kepada sumoi untuk mencari Souw Kian Bu sampai dapat dan membawanya pulang kepada isterinya!"
"Akan tetapi begitu Ki-koko muncul, disambut oleh Souw Kian Bu dengan maki-maki, maka saya menjadi marah dan membalas memaki-maki dia. Saya sebagai tunangan Ki-koko tidak terima mendengar tunangan saya dicemburui dan dimaki-maki,"
Sambung Leng Si.
Han Lin dan Cin Mei memandang kepadanya dengan terheran-heran.
Leng Si sudah bertunangan?
Luar biasa sekali dan yang mersa paling gembira adalah Han Lin.
Pemuda ini tahu bahwa kakak angkatnya itu pernah menyatakan cinta kepadanya, maka kini dia gembira bahwa kakak angkatnya itu telah mendapatkan seorang kekasih yang demikian gagah.
"Han Lin, benarkah engkau menyaksikan bahwa Kian Bu memaki-maki Gu San Ki ini, sehingga dia dibalas makian oleh nona ini?"
Demikian Souw Hui San bertanya, dia bersikap seadilnya.
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 2
Baca Juga: Memburu Iblis 12