Ceritasilat Novel Online

Kim Hoa Piauw 1

Eps 1 Kim Hoa Piauw - Kho Ping Hoo

Baca online Kim Hoa Piauw - Kho Ping Hoo

Cersil Kim Hoa Piauw - Kho Ping Hoo.

Kim Hoa Piauw (Pisau Terbang Bunga Emas) Karya . Kho Kiong An/Asmaraman S. Kho Ping Hoo.

Jilid 01 a.

Hari itu kota Liu-leng kelihatan ramai sekali.

Kedai-kedai arak kelihatan penuh dikunjungi para pedagang yang melepaskan lelah setelah berjuang seharian mencari nafkah bagi anak-isterinya.

Memang, kota Liu-leng di propinsi Hopak ini adalah sebuah kota yang cukup ramai.

Penduduknya terkenal ramah dan baik-hati, tidak segan-segan menolong sesamanya yang kekurangan.

Di antara Kedai-kedai arak dikota Liu-leng itu, kedai yang didepannya digantungi papan-nama atau merk "A-SAM"

Adalah yang paling banyak dikunjungi orang.

Nama kedai itu diambil dari nama pemiliknya yang dikenal orang dengan nama A Sam.

A Sam adalah seorang tua yang suka sekali mengobrol dan juga ramah.

Justru karena kesukaannya mengobrol itulah maka banyak saudagar yang mampir di warungnya, sekadar minum beberapa cawan arak sambil mendengarkan obrolan A Sam.

Pada siang hari itu A Sam sedang melayani para pembelinya.

"Sungguh mengherankan,"

Kata seorang saudagar sambil menghirup araknya.

"Kota Liu-leng hari ini amat ramai, ada apakah gerangan?"

"Ya, tadi kulihat juga waktu lewat di depan kantor Tikoan, seluruh tempat itu dihias amat bagus seakan-akan hendak diadakan keramaian besar."

Kata pedagang kedua.

"Ada keramaian apakah?"

Tanyak pedagang ketiga.

"Rupa-rupanya saudara bertiga ini adalah tamu-tamu dari luar kota,"

A Sam memberi keterangan.

"Hari ini akan diadakan keramaian untuk meresmikan pengangkatan Tikoan baru. Kabarnya Tikoan baru ini she Lie, tadinya memegang jabatan di Kotaraja dan sekarang dipindah ke sini."

"Eh, mengapa Tikoan yang lama diganti?"

Tanya saudagar pertama.

"Bukankah Song-Tikoan itu orangnya adil dan baik menurut berita yang kudengar?"

A Sam mengangguk-angguk, kemudian berkata.

"Memang tak dapat disangkal bahwa Song-Taijin sebenarnya adalah seorang Tikoan yang bijak. Beliau banyak memberi hadiah kepada para pendeta di kelenteng, memberi sedekah kepada fakir-miskin. Akan tetapi akhir-akhir ini terjadi peristiwa-peristiwa aneh yang mengerikan dan kiranya inilah yang menyebabkan Song-Tikoan diganti oleh Tikoan baru dari Kotaraja,"

"Peristiwa-peristiwa mengerikan apakah?"

"Apa cuwi hiante belum mendengar?"

Tanya A Sam agak terheran mengapa ada orang yang belum mendengar tentang hal itu.

"Kami datang dari luar kota, dan sudah tiga bulan kami tak pernah lewat di sini. Harap kau ceritakan apakah adanya peristiwa-peristiwa itu."

Kata saudagar ketiga dengan wajah tertarik sekali.

Sebelum menjawab, A Sam mengerling ke kanan-kiri seperti orang yang ketakutan dan agaknya ia ragu-ragu untuk menceritakan sungguhpun mulut dan matanya yang tua itu membayangkan hasrat besar untuk menyampaikan berita yang menggemparkan itu.

Tidak ada kesenangan yang lebih besar baginya daripada menyampaikan berita yang hebat-hebat kepada orang lain, terutama kepada para langganannya.

"Peristiwa-peristiwa aneh dan hebat tentang mengganasnya iblis di Liu-leng ini."

Akhirnya ia berkata, menahan napas, tegang penuh perhatian ingin menyaksikan betapa reaksi daripada para pendengarnya mendengar judul ceritanya yang cukup menarik ini.

"Apa...?"

"Iblis katamu...?"

A Sam girang melihat wajah orang-orang yang mendengarkannya itu berubah dan mereka kelihatan tertarik sekali sehingga ada yang menunda cawan araknya di depan bibir tanpa meminumnya.

Kembali A Sam mengangguk-angguk dan memandang kekanan-kiri serta memperlihatkan rupa seperti orang yang merasa serem dan ketakutan.

"Aaiih, bulu tengkukku meremang semua kalau aku memikirkan hal itu. Iblis itu telah merampok dan membunuh manusia tanpa ada yang dapat menghalanginya. Bahkan belum lama ini anak gadis tetanggaku juga terbunuh secara mengerikan sekali. Lehernya hampir putus... iiihhh... dan kepalanya... kepalanya bolong-bolong seakan-akan semua isi kepalanya telah dihisap habis oleh iblis itu... hiiii...!"

A Sam menutup kedua matanya dengan tangan sedangkan tiga orang saudagar itu saling pandang, kemudian otomatis juga mereka memandang ke kanan-kiri seakan-seakan takut kalau-kalau iblis yang mengerikan itu tiba-tiba saja muncul di dekat mereka.

"Habis bagaimana selanjutnya...?"

Seorang di antara mereka akhirnya berani membuka mulut bertanya dengan suara perlahan sekali.

"Song-Taijin telah berusaha sekuat tenaga untuk menangkap iblis itu, bahkan sudah dikerahkan semua penjaga kota. Bukan itu saja, Song-tiyjin malahan menjanjikan hadiah seribu tail perak bagi siapa saja yang dapat menangkap iblis itu hidup-hidup atau mati. Akan tetapi, manusia manakah di muka bumi ini yang dapat menangkap... iblis?"

"Eh, Sam-lopek, betul-betulkah ceritamu itu? Apakah kau sendiri sudah pernah melihat iblis itu?"

Tanya seorang saudagar muda dengan nada suara tidak percaya.

Saudagar muda ini, seperti juga tamu-tamu lain yang berada di situ, tertarik oleh cerita A Sam sehingga sebentar saja A Sam sudah dikelilingi oleh belasan orang tamu yang kesemuanya ingin sekali mendengar cerita serem ini.

A Sam menyedot huncwenya yang ternyata telah mati apinya, mengetuk-ngetukkan huncwe untuk membuang abu tembakaunya, lalu menyulutnya lebih dahulu sebelum melanjutkau ceritanya.

Belasan orang pendengarnya yang tidak sabar lagi menanti, melihat semua gerakan A Sam dengan penuh perhatian, seakan-akan setiap gerakan pemilik kedai arak ini ikut bercerita tentang iblis yang mengerikan.

Kemudian A Sam mengepulkan asap huncwenya, lalu menjawab.

"Mana aku berani melihatnya? Aku hanya pernah melihat yang menjadi korbannya saja. Selain gadis tetanggaku, juga lima orang penjaga malam yang mati diterkam iblis dan mayat mereka menggeletak dalam keadaan amat mengerikan di pinggir tembok kota. Hiii... sungguh baru pertama kali itulah selama hidupku aku melihat orang-orang mati semacam mereka itu. Kepalanya berlubang-lubang dan mukanya... ayaaaa... sungguh menyeramkan sekali. Rupa-rupanya iblis itu suka makan orang, suka makan muka orang."

Keadaan menjadi sunyi, semua orang tak berani mengeluarkan suara berisik, hati mereka diliputi rasa takut.

Memang pada masa itu, tahyul merupakan penyakit umum yang percaya akan adanya iblis-iblis dan siluman jahat seperti mereka percaya akan adanya bayangan mereka sendiri.

"Apakah ada orang yang pernah melihat iblis itu, Sam-lopek?"

Tanya saudagar muda tadi. A Sam makin bangga dan girang melihat semua orang begitu tertarik kepada ceritanya. Setelah betul-betul beberapa kali, ia menjawab.

"Tentu saja, banyak yang pernah melihatnya sungguhpun aku sendiri tidak berani melihatnya. Menurut mereka yang pernah melihatnya, iblis itu rupanya hitam dan matanya sebesar kepalan tangan, merah menyala-nyala. Taringnya kelihatan, panjang dan putih. Iblis ini sedang menggerogoti tangan manusia yang masih berlumuran darah. orang-orang yang melihatnya terus roboh pingsan karena ketakutan. Untung mereka tidak diterkamnya sekali."

Sudah barang tentu cerita ini membuat para pendengarnya menjadi makin serem.

Tak seorangpun meragukan cerita A Sam yang memang pandai bercerita itu sehinngga tidak nampak sedikitpun pada mukanya, bahwa ia telah membohong.

Memang dasar daripada cerita itu tidak bohong karena memang ada orang-orang yg melihat "iblis"

Itu, akan tetapi bukan seperti yang diceritakan olek A Sam.

orang-orang yang melihat iblis itu hanya melihat berkelebatnya bayangan hitam saja, sama sekali tidak melihat iblis bertaring dan bermata api yang makan tangan manusia.

Hal ini tidak terlalu mengherankan karena sudah menjadi sifat manusia suka menambah-nambah berita dengan khayal mereka sendiri.

Sementara itu, di rumah gedung yang oleh pemerintah disediakan untuk pembesar yang berpangkat Tikoan, terjadi pula hal yang penting.

Dengan disaksikan oleh semua petugas di kota Liu-leng dan para hartawan serta orang-orang terkemuka, dilakukan upacara timbang-terima kedudukan Tikoan lama Song Tek kepada Tikoan baru Lie Kim Hong.

Di dalam ruangan tengah yang luas dari gedung itu, nampak duduk seorang pembesar bertubuh gemuk dan tinggi, pakaiannya indah, wajahnya yang selalu tersenyum nampak agung, sikapnya seperti seorang bangsawan tinggi.

Memang, pembesar ini adalah Lu Siang Tek, seorang pangeran dari keluarga kaisar yang biarpun telah mengundurkan diri dari pemerintahan, tetap saja saja masih merupakan orang penting di kota Liu-leng karena kadang-kadang ia masih melakukan tugas dari kaisar.

Kali ini Lu Siang Tek atau biasa disebut Lu-Ongya menerima tugas kaisar untuk melakukan upacara timbang-terima pangkat Tikoan.

Di sebelah kiri Lu-Ongya ini duduk Song-Tikoan, yakni Tikoan lama yang bernama Song Tek, yang pada saat itu harus menyerahkan kedudukannya kepada Tikoan yang baru.

Song Tek ini orangnya sudah setengah tua, kurang lebih empat puluh tahun namun nampak masih gagah dengan kumisnya yang tipis dan jenggotnya yang teratur rapi.

Wajahnya kelihatan terang dan mulutnya tersenyum ramah selalu, pakaiannya rapi dan kuku-kuku tangannya terpelihara baik-baik dan bersih, tanda bahwa ia seorang ahli menulis yang pandai.

Sudah bertahun-tahun ia memegang jabatan Tikoan di kota Liu-leng dan sekarang terpaksa ia harus melepaskan kedudukannya itu karena ia dianggap kurang cakap dan tidak mampu membersihkan kota Liu-leng dari gangguan penjahat yang oleh penduduk dianggap iblis.

Sebetulnya, bukan karena Song Tek tidak cakap, melainkan karena penjahat itu benar-benar lihai sekali.

Berkali-kali Tikoan ini mengerahkan orang-orang nya untuk melakukan penyelidikan, pengejaran dan pengepungan, namun sukar sekali orang dapat melihat penjahat itu.

Beberapa kali para penjaga berhasil melihatnya, namun ini hanya mengakibatkan matinya para penjaga yang bertemu dengan penjahat itu.

Oleh karena inilah maka sampai sekian lamanya tak seorangpun di kota Liu-leng dapat mengetahui siapa sebetulnya penjahat itu dan bagaimana macamnya.

Adapun orang yang duduk di sebelah kanan Lu-Ongya adalah Lie-Tikoan, yakni Tikoan baru untuk kota Liu-leng yang datang dari Kotaraja.

Ia sengaja diutus memegang kedudukan ini di Liu-leng karena para pembesar sudah percaya akan kepandaian dan kecerdasan Lie Kim Hong.

Tikoan baru ini usianya sudah lima puluh tahun, perawakannya jangkung kurus, mukanya agak muram karena bersungguh-sungguh, sepasang matanya tajam menembus pandang mata orang dan senyumnya jarang kelihatan.

Mukanya seperti kedok saja dan sukarlah bagi orang lain untuk membaca isi hatinya.

Sebetulnya nama Lie Kim Hong terkenal di Kotaraja baru-baru ini setelah dua kali ia membongkar peristiwa kejahatan yang terjadi di Kotaraja.

Selain pangeran Lu dan dua orang Tikoan lama dan baru itu, di situ hadir pula para undangan dan orang-orang penting di kota Liu-leng dan sekitarnya.

Yang terpenting di antaranya adalah Cung Hok Bi, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang bertubuh tegap berwajah tampan dengan sepasang mata yang kocak.

Dia ini adalah keponakan dari Song Tek Tikoan lama yang tinggalnya juga di rumah gedung Song-Tikoan, akan tetapi di bangunan sebelah belakang.

Cung Hok Bi ini bukan orang sembarangan, karena dia adalah murid dari partai persilatan Bu-tong-pai.

Semenjak kecil ia menjadi murid di puncak Butongsan dan terkenal sebagai seorang ahli bermain pedang dan ahli pula dalam penggunaan senjata-senjata rahasia seperti jarum, paku, dan piauw.

Kalau dahulunya Song Tek amat membanggakan keponakannya ini, adalah akhir-akhir ini ia sering marah-marah dan memaki keponakannya itu tidak becus dan tiada guna, tidak mampu menangkap penjahat yang mengganggu Liu-leng sehingga ia kehilangan kedudukannya.

Orang kedua adalah Sinchio Tan Hai, kepala penjaga kota Liu-leng yang berusia tiga puluh tahun lebih dan bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah.

Dari julukannya saja, yakni Sinchio yang berarti Tombak sakti, mudah diduga bahwa ia adalah seorang ahli silat yang pandai bermain tombak.

Dialah yang paling diandalkan oleh para pembesar di kota Liu-leng untuk menjaga keamanan, akan tetapi setelah penjahat itu muncul, nampaklah bahwa Sinchio Tan Hai ternyata tidak begitu hebat kepandaiannya seperti namanya.

Kalau dulu ketika mula-mula penjahat itu muncul, Sinchio Tan Hai menyombongkan kepandaiannya dan memastikan bahwa ia tentu akan dapat menangkap penjahat itu, sekarang ia mulai jadi pendiam dan tak berani banyak bicara apabila orang bercakap-cakap tentang penjahat itu di depannya.

Orang ketiga yang penting disebut adalah Kwan Ciu Leng.

berusia tiga puluhan, pakaiannya sudah menunjukkan bahwa dia adalah seorang Kauwsu atau guru silat yang terkenal di Lui-leng.

Ia adalah anak murid Siauw-lim-pai dan banyak orang muda di kota itu berguru kepadanya, karena memang ilmu silatnya lihai.

Pernah ia mendemonstrasikan tenaga lweekangnya.

Setumpuk bata terdiri dari lima belas buah ditumpuk di tanah dan dengan tangan miring guru silat Kwan ini dapat memukul remuk bata yang mana saja di antara yang lima belas itu.

Umpamanya seorang menghendaki agar bata ke delapan dari atas yang remuk, ia lalu memukul tumpukan itu dari atas dan benar saja, bata ke delapan remuk oleh pukulannya sedangkan bata yang lainnya tinggal utuh.

Akan tetapi, seperti juga Sinchio Tan Hai, ia tidak berdaya menghadapi penjahat yang makin lama makin berani dan kurang ajar mengacau kota Liu-leng itu.

Tentu saja iapun sudah berusaha untuk membersihkan kotanya dari penjahat ini dan sekalian mengangkat namanya, akan tetapi usahanya tak berhasil bahkan ia mendapat malu.

Setelah semua undangan berkumpul, Lu-Ongya lalu berpidato, menyampaikan perintah kaisar yang memerintahkan agar supaya Lie Kim Hong memegang pangkat di kota Liu-leng itu, menggantikan kedudukan Song Tek yang dianggap kurang cakap dan tidak mampu membersihkan kota Liu-leng dari gangguan penjahat.

Sebagai penutup pidatonya, pangeran yang juga mengenal baik Tikoan lama itu, menambahkan dengan kata-katanya sendiri.

"Kami ikut menyesal karena kejadian ini dan sekali-kali kami tidak menyalahkan Song-Tikoan yang kita sekalian cukup tahu akan kepandaiannya. Akan tetapi, tak dapat disangkal pula bahwa memang Song-Tikoan dengan bantuan kita semua penduduk Liu-leng tidak berhasil membekuk batang leher penjahat itu, maka keputusan dan perintah Kaisar ini tentu saja kita terima dengan senang hati dan dengan pengharapan mudah-mudahan saja Lie-Tikoan yang baru akan dapat berhasil membekuk penjahat yang sudah lama mengganas di kota kita ini."

Setelah berkata demikian, Lu-Ongya mengangkat cawan arak memberi selamat kepada Lie Kim Hong.

Semua tamu juga ikut memberi selamat dengan mengangkat cawan arak.

Lie Kim Hong tersiap-siap menerima penghormatan dan ucapan selamat ini, lalu dengan hormat ia menerima cap kebesaran dan segala berhubungan dengan pekerjaan Tikoan dari Tikoan lama, yakni Song Tek.

Timbang-terima ini disaksikan oleh Pangeran Lu Siang Tek dan oleh semua orang yang hadir di situ.

Kemudian para tamu bubaran, juga Pangeran Lu Siang Tek pulang ke gedungnya.

Lie-Tikoan sengaja menahan Song Tek dan minta kepada bekas Tikoan lama ini supaya menahan pula orang-orang yang mengerti tentang sepak terjang penjahat itu, terutama sekali mereka yang memiliki kepandaian silat tinggi.

Tak lama setelah bubaran, Lie Kim Hong berhadapan di depan meja perundingan dengan Song Tek, Cung Hok Bi, Sinchio Tan Hai, Kwan Ciu Leng, dan beberapa orang komandan jaga yang pernah mengejar-ngejar penjahat itu.

"Cuwi sekalian tentu sudah mendengar perintah Hongsiang yang disampaikan oleh Lu-Ongya tadi bahwa tugasku yang terutama adalah menangkap penjahat yang merajalela di kota ini,"

Kata Lie-Tikoan.

"Aku sebagai orang baru, sama sekali tidak tahu bagaimana sifat penjahat itu dan sampai berapa jauhnya ia mengganggu kota Liu-leng. Oleh karena itu, aku amat mengharapkan bantuan cuwi sekalian untuk memberi keterangan tentang penjahat itu."

Song Tek bekas Tikoan Liu-leng menarik napas panjang dan berkata.

"Sebetulnya dia itu tidak patut disebut penjahat, lebih tepat kalau dinamakan iblis. Sepak terjangnya tidak diketahui orang dan sukar sekali mengikuti jejaknya. Aku sendiri tidak malu mengaku bahwa aku sudah tidak sanggup menghadapinya, maka kedatangan Lie loheng di sini menggantikan kedudukanku, benar-benar merupakan hiburan yang melegakan hatiku."

"Apakah di antara cuwi ada yang pernah melihatnya?"

Tanya Lie-Tikoan.

"Siauwte pernah mengejarnya malam gelap, namun ia terlampau gesit dan cepat. Ketika siauwte menggunakan piauw menyerangnya, iapun menangkis serangan siauwte itu dengan piauw pula. Ternyata ia seorang penjahat yang tinggi kepandaiannya."

Kata Cung Hok Bi keponakan Song Tek. Lie-Tikoan memandang wajah pemuda tampan ini dengan tajam.

"Apakah kau tidak melihat muka penjahat itu?"

Tanyanya. Cung Hok Bi menggelengkan kepala.

"Karena siauwte mengejar di dalam malam gelap, maka sukar melihat muka penjahat itu, Taijin."

"Ketika kau mengejarnya, adakah orang lain ikut mengejar?"

Tanya pula Lie Kim Hong penuh perhatian.

"Tidak ada orang lain, Taijin. Ketika itu siauwte baru saja keluar dari rumah dengan jalan di atas genteng, karena memang siauwte pada malam hari itu ingin melakukan penyelidikan. Kiranya di atas genteng berkelebat bayangan hitam. Tentu penjahat itu bermaksud menyerbu atau mengganggu rumah pamanku. Siauwte terus mengejar dan menyerangnya, akan tetapi ia terlalu cepat dan siauwte tidak sempat melihat wajahnya."

"Memang berbahaya sekali,"

Song Tek menyambung cerita keponakannya.

"Agaknya karena aku selalu berusaha mengerahkan tenaga menangkapnya, penjahat itu hendak membalas dendam dan hendak menyerang rumah kami. benar-benar berbahaya sekali!"

Kemudian sambil menarik napas panjang ia berkata.

"Sudah banyak penjaga yang mati olehnya, ah, benar-benar ngeri aku memikirkan dan terima kasih kepada Hongsiang yang sudah membebaskan aku dari tugas berat ini."

Lie-Tikoan mengerutkan keningnya. Agaknya berat sekali tugas yang ia pikul. Akan tetapi ia tidak memperlihatkan kegelisahannya.

"Apakah para enghiong yang lain pernah bertemu dengan penjahat itu? Harap suka memberi keterangan kepadaku agar mudah aku mulai dengan penyelidikan."

Katanya. Sinchio Tan Hai berkata dengan muka merah.

"Hamba sebagai kepala jaga kota Liu-leng, terpaksa mengakui kebodohan hamba. Biasanya, kalau kota ini terganggu penjahat, hamba dan kawan-kawan hamba pasti akan dapat membasminya. Akan tetapi penjahat ini... aah, benar-benar dia orang luar biasa. Mungkin ia pandai menghilang karena siang-malam hamba dan kawan-kawan menyelidik, tak juga dapat menemukan tempat persembunyiannya.

"Pernah hamba menyergapnya ketika ia sedang melakukan perampokan di rumah Teng-Wangwe, akan tetapi hasil sergapan itu hanya kerugian belaka bagi kami. Hamba terluka di pundak dan tiga orang anak buah hamba tewas. Penjahat itu bergerak dengan luar biasa cepatnya dan mukanya memakai kedok sehingga hamba sekalian tidak dapat mengenal mukanya."

Lie Kim Hong mengelus-elus jenggomya dan mengangguk-angguk.

"Hmmm, jadi ia berkedok?"

Katanya perlahan mengulang cerita Sinchio Tan Hai.

"Benar, Taijin. Penjahat itu memakai kedok yang sama sekali menyembunyikan mukanya, hanya sepasang mata yang tajam dan liar saja kelihatan dari lubang kedok itu. Tubuhnya sedang dan tegap, akan tetapi banyak sekali orang yang bertubuh seperti dia itu bentuknya."

Kemudian Kwau-Kauwsu juga bercerita betapa ia pernah bertemu dengan penjahat itu di malam hari.

Penjahat itu sedang mengganggu gadis tetangganya yang menjerit minta tolong.

Kwan Ciu Leng membawa pedangnya dan melompat ke atas genteng dan di atas rumah gadis itu ia bertemu dengan seorang laki-laki yang gesit gerakannya sedang melarikan diri.

Kwan Ciu Leng menyerang dengan pedangnya, akan tetapi hanya dengan ujung lengan baju, orang itu menangkis dan membikin pedang Kwan-Kauwsu terpental, hampir terlepas dari pegangan.

Kemudian Kwan-Kauwsu menyerang terus sampai beberapa jurus, namun penjahat itu lihai sekali sehingga guru silat ini yang akhirnya terkena tendangan pada lututnya sehingga hampir terguling dari atas genteng.

Penjahat itu sambil tertawa mengejek lalu melarikan diri.

"Dia benar-benar lihai, Taijin. Terus-terang saja hamba belum pernah bertemu dengan lawan sepandai dia itu."

Kwan Ciu Leng menutup kata-katannya.

"Apakah kau juga tidak mengenal mukanya?"

Tanya Lie-Tikoan. Guru silat itu menggeleng kepala.

"Malam itu gelap sekali dan di atas genteng tidak ada penerangan, yang nampak hanya sosok bayangan saja. Kiranya ini pula yang menyebabkan hamba tidak mampu melawannya, karena penglihatan hamba kurang awas di dalam gelap. Agaknya penjahat itu awas sekali di dalam gelap."

Setelah mengumpulkan keterangan-keterangan ini, Lie Kim Hong membubarkan pertemuan dan ia kembali ke dalam gedungnya yang baru dengan pikiran kusut dan pusing.

Ia menghadapi penjahat yang lihai ilmu silatnya, dan agaknya para penjaga dan orang-orang ahli silat yang tinggal di kota Liu-leng sudah tidak sanggup lagi menghadapi penjahat itu.

Bagaimana ia dapat menangkapnya?

Dari para penjaga itu terang tak dapat ia mengharapkan banyak.

Isterinya dan puteranya menyambut kedatangan Lie-Tikoan.

Mereka ini merasa heran sekali melihat wajah Lie Kim Hong yang muram.

Tadinya mereka mengharapkan akan menyambut suami dan ayah yang gembira dan bangga karena kedudukan barunya ini, tidak tahunya yang disambut bermuram dan keningnya berkerut.

Apalagi ketika Lie Kim Hong melihat ke arah puteranya, kerut di keningnya makin mendalam.

Puteranya itu tidak punya guna, pikirnya.

Dan isterinya itu terlalu memanjakannya, membuat anak yang satu-satunya itu menjadi bodoh dan dungu.

Dalam keadaan sedang kesal hati, munculnya anak itu menambah kemuraman wajahnya.

Makin terasa oleh pembesar she Lie ini betapa buruk nasibnya.

Isterinya adalah puteri seorang bangsawan dan dahulu terkenal sebagai bunga kota Sui-cu.

Ia hidup rukun penuh kasih sayang dengan isterinya itu, apalagi setelah dikaruniai seorang putera yang tampan wajahnya.

Akan tetapi, nasib sial menimpa dirinya, puteranya ternyata menjadi seorang dungu.

Tidak saja bodoh, akan tetapi bahkan kakinya pincang sebelah!

Kaki itu cacat karena ketika masih kecil dan bermain-main di taman bunga, kaki anaknya itu digigit ular berbisa dan biarpun nyawa anak itu tertolong, namun kakinya yang kiri menjadi pincang.

"Ayah, mengapa ayah cemberut saja seperti orang marah?"

Tanya Lie Kian Liong, putera itu sambil terpincang-pincang menghampiri ayahnya.

Anak ini tubuhnya tegap, kulitnya putih dan wajahnya tampan.

Sayang sekali pada wajah yang tampan itu terbayang kebodohan, dan lebih sayang lagi jalannya terpincang-pincang sehingga biarpun wajahnya tampan dan pakaiannya indah, tetap saja ia merupakan seorang pemuda yang kurang menarik.

Lie-hujin juga menyambut suaminya dan bertanya mengapa suaminya nampak kesal hati.

Dengan suara membayangkan kemasygulan, Lie-Tikoan menceritakan tentang keadaan kota Liu-leng yang sedang diganggu oleh penjahat dan betapa semua tokoh di kota itu agaknya sudah tidak berdaya menghadapi penjahat ini.

"Aku harus mendatangkan bantuan orang-orang pandai dari Kotaraja, kalau tidak, bagaimana aku dapat menangkapnya?"

Akhirnya Tikoan ini berkata.

"Ayah, mengapa ayah tidak mengajak aku mengunjungi istana Pangeran Lu? Mari kita melihat-lihat ke sana, ayah!"

Kata Kian Liong tiba-tiba, dengan suara manja. Ayahnya yang sedang mencurahkan pikiran untuk urusan gangguan kota Liu-leng, mendengar ajakan puteranya ini, menoleh dan memandang heran.

"Apa kau bilang? Mengunjungi Lu-Ongya? Bagaimana kau tiba-tiba saja mendapat pikiran ini?"

Tanyanya penuh selidik. Kian Liong menjadi merah mukanya. dan tak dapat menjawab. Ibunya yang mewakilinya menjawab.

"Tadi Kian Liong keluar dan sekembalinya ia bercerita bahwa Lu-Ongya mempunyai seorang puteri yang terkenal cantik jelita dan menjadi kembang kota. Liu-leng. Inilah agaknya yang mendorongnya untuk mengajak pergi ke rumah pangeran Lu."

Lie-Tikoan makin cemberut.

"Dasar bocah tidak punya otak! Orang lain sedang pusing memikirkan penjahat, dia memikirkan gadis cantik! Gadis puteri pangeran pula yang dipikirkan, benar menyebalkan."

"Ayah siapa mau memikirkan penjahat? Aku tidak mau. Tentang memikirkan gadis cantik, apa salahnya? Bukankah ketika kita belum pindah ke sini ayah sudah pernah menyatakan bahwa aku sudah cukup dewasa dan ayah membolehkan aku melakukan pemilihan terhadap calon isteri? Ayah bilang kalau aku sudah mendapat pilihan, ayah akan melamarkan untukku. Sekarang, memikirkan gadis saja tidak boleh, bagaimana aku bisa melakukan pemilihan?"

"Tutup mulutmu! Siapa melarang kau memikirkan gadis maupun janda yang manapun juga? Aku hanya minta kau pergunakan otakmu! Ayahmu sedang sibuk menghadapi tugas berat, biarpun kau tidak becus membantu, sedikitnya kau ikut prihatin. Orang tua sedang bicara tentang cara menangkap penjahat, kau nimbrung dan bicara tentang gadis cantik. Ke mana otakmu?!"

Dimaki oleh ayahnya sudah menjadi hal lumrah bagi Kian Liong, maka iapun tidak menjadi gugup atau takut, bahkan tersenyum menyeringai, lalu menggaruk-garuk kepalanya.

"Biasanya otak berada di kepala, ayah. Aku pernah makan kepala ayam, enak sekali otaknya. Sayang cuma sedikit di dalam ke..."

"Setan, kau makin lama makin gila!"

Ayah yang mengkal hatinya itu mengangkat tangan hendak memukul puteranya.

"Sudahlah, Liong-ji sudah dewasa, tak patut dipukul."

Nyonya Lie mencegah suaminya.

"Kau inilah yang membikin dia besar kepala, manja dan goblok!"

Kemarahan Lie-Tikoan beralih kepada isterinya.

"Ayaa..., aku pula yang kau salahkan? Suamiku, tidak kasihankah kau kepada Liong-ji? Dia telah menjadi cacat kakinya dan kalau aku ingat dahulu sehabis ia digigit ular itu... ah, masih untung sekarang dia masih hidup. Tidak kasihankah kau kepadanya?"

Lie-Tikoan menarik napas panjang dan menjatuhkan diri di atas kursi.

Kalau isterinya mengingatkan ia akan keadaan puteranya itu, lemaslah ia.

Memang Kian Liong patut dikasihani.

Hampir saja tewas oleh bisa ular itu.

Baiknya ada orang pandai menolong.

Akan tetapi semenjak digigit ular, anak itu nampak bodoh dan tolol sekali.

Sudah tak kurang-kurang ia mencari obat, bahkan sudah dipanggilnya semua guru-guru pandai di Kotaraja untuk mendidik puteranya, namun sia-sia belaka, Makin besar Kian Liong kelihatan makin goblok dan pincang di kakinya makin hebat.

Anak itu sekarang sudah berusia dua puluh tahun, namun lagaknya seperti anak kecil saja.

Ketika Lie-Tikoan mengerling kearah Kian Liong, pemuda ini sedang memandang ibunya dan sepasang mata pemuda itu basah dengan airmata!

Terharu juga hati Lie-Tikoan melihat keadaan puteranya itu, dan berkali-kali ia menarik napas panjang.

Memang nasibnya yang buruk, mempunyai seorang putera seperti Kian Liong.

Tiba-tiba terdengar suara bersiut dari atas, sebuah sinar keemasan menyambar ke atas meja dan di lain saat di atas meja di dekat tempat duduk Lie-Tikoan kelihatan Sebatang piauw (senjata rahasia semacam pisau disambitkan) menancap dan gagangnya yang berupa bunga emas bergoyang-goyang.

"Ayaaa...! Celaka...!"

Teriak Kian Liong yang menjadi pucat mukanya, tubuhnya menggigil dan pemuda penakut ini lalu terpincang-pincang melarikan diri ke sebelah dalam untuk bersembunyi.

Lie-Tikoan adalah seorang pembesar yang sudah berpengalaman dan sudah seringkali ia menghadapi bahaya, maka biarpun ia merasa terkejut sekali, ia tetap bersikap tenang sekali.

Ditariknya tangan isterinya dan ia cepat menghadang di depan isterinya itu untuk melindunginya dari bahaya yang mungkin datang, sambil tidak lupa ia berseru memanggil para penjaga di depan.

Suaranya lantang dan sedikitpun tidak terdengar Tikoan ini ketakutan atau gugup.

Akan tetapi untungnya penjahat yang melemparkan pisau itu agaknya tidak berniat melakukan penyerangan gelap, karena tidak muncul lagi.

Sampai para penjaga datang menyerbu ke dalam dengan senjata di tangan, tidak terjadi sesuatu.

"Ada apakah, Taijin?"

Tanya kepala penjaga, seorang she Tan yang sudah setengah tua sambil menggerak-gerakkan goloknya.

Lie-Tikoan menarik napas sambil menuding ke arah meja di mana pisau tadi menancap dan gagangnya masih bergoyang-goyang.

"Ada orang melemparkan pisau itu! Datangnya dari atas!"

Mendengar ini, wajah Tan-Kauwsu berubah. Ia dapat menduga bahwa tentu "iblis"

Itu telah datang mengganggu, akan tetapi karena mengingat akan tugasnya, biarpun dengan takut-takut ia lalu berlari keluar dan melompat ke atas genteng untuk mengejar.

Tak lama kemudian ia kembali ke tempat itu dan melaporkan bahwa ia tidak melihat bayangan manusia di atas genteng.

Sementara itu, Lie-Tikoan sudah tenang kembali dan sudah mencabut pisau tadi.

Ternyata di bawah pisau itu terdapat sehelai kertas putih yang ditulisi dengan huruf-huruf besar, LIE-TIKOAN, LEBIH BAIK kau SEANAK-ISTERIMU PULANG KE KOTARAJA DARIPADA KEHILANGAN NYAWA DI LIU-LENG.

Surat itu tidak ditanda-tangani.

Membaca tulisan ini, Lie-hujin makin ketakutan, mukanya pucat, tubuhnya gemetaran.

"Jaga gedung ini baik-baik, jaga siang-malam dengan kuat secara bergantian. Juga lakukan penjagaan di atas genteng. Kalau dia berani datang lagi, serang dengan anak panah. Kita tak usah takut menghadapi ancaman dan gertakan penjahat itu!"

Kata Lie-Tikoan kepada para penjaga.

Membaca surat ancaman itu Lie-Tikoan bukannya menjadi takut, bahkan menjadi marah sekali.

Keberanian dan ketabahan hatinya ini mengagumkan hati para penjaga.

Dengan suara lantang dan bersemangat mereka menyanggupi dan mengundurkan diri.

"Tak usah takut-takut. Anjing yang menggonggong jarang menggigit. Surat itu hanya membuktikan bahwa penjahat tadi ternyata merasa takut kepadaku dan ia merasa gentar kalau aku terus menjabat pangkat Tikoan di kota ini."

"Dia takut padamu? Bagaimana sih maksudmu? Dia datang mengancam, kau malah bilang dia takut. Kalau dia tadi menurunkan tangan jahat, bukankah berbahaya sekali?"

Kata Lie-hujin penasaran.

"Lebih baik kau mengajukan surat permohonan untuk meletakkan jabatan dan pulang ke kampung. Puluhan tahun mengabdi negara dan sekarang tua disuruh menghadapi ancaman maut!"

"Stt, jangan kau bilang begitu, isteriku. Setiap tugas yang diserahkan kepadaku berarti sebuah penghargaan dan kemuliaan, karena makin berbahaya tugas itu, makin membuktikan bahwa negara menaruh kepercayaan kepadaku. Oleh karena itu harus kulaksanakan baik-baik. Memang penjahat itu takut kepadaku, kalau tidak demikian mengapa ia harus menggunakan surat ancaman segala? Ia agaknya merasa jerih dan mendesak supaya aku pergi saja agar ia lebih leluasa dan enak melakukan kejahatannya. Tidak! Bagaimanapun juga, aku harus melawannya dan membersihkan kota ini dari gangguannya!"

"Tapi kau harus mendatangkan bala bantuan dari Kotaraja, suamiku. Aku takut sekali... aku... aku mendapat perasaan tidak enak..."

"Tentu, dan cukup dengan semua obrolan tentang takut itu. kau sama saja dengan Kian Liong. Eh, mana dia anak tiada gua itu?"

Biarpun kata-katanya merupakan celaan dan tidak puas terhadap puteranya, namun rasa sayang membuat Tikoan ini berjalan masuk untuk mencari puteranya, diikuti oleh isterinya.

Semua pelayan yang tadinya ikut bersembunyi mendengar adanya penjahat, sudah muncul dengan muka pucat, akan tetapi di antara mereka tidak kelihatan Kian Liong.

Juga tidak seorangpun di antara mereka melihat pemuda itu.

Lie-Tikoan dan isterinya menjadi gelisah dan mencari pemuda itu sambil memanggil-manggil namanya.

Gedung itu amat besar dan mempunyai banyak kamar, akan tetapi pemuda itu tidak ada di dalam kamar-kamar ini.

Akhirnya ia ditemukan oleh seorang pelayan yang bantu mencari, yakni sedang meringkuk dengan tubuh menggigil di dalam dapur!

Karena ia amat ketakutan dan gugup, ia bersembunyi di dapur, menyelinap di antara perabot-perabot dapur yang penuh hangus sehingga tangan, muka, dan pakaiannya penuh dengan hangus hitam!

Ketika ia muncul seperti itu, para pelayan menahan ketawa mereka.

Bahkan Lie-Tikoan dan isterinya yang merasa mendongkol, hampir tak dapat menahan ketawanya melihat Kian Liong muncul seperti badut.

"Ayah, sudah... sudah tertangkapkah... dia?"

Saking mendongkolnya, Lie-Tikoan hanya dapat membanting kaki, lalu mendamprat.

"Bocah goblok dan penakut, lekas kau mencuci muka, berganti pakaian dan mari ikut aku pergi ke gedung Lu-Ongya!"

Muka yang penuh hangus itu seketika menjadi berseri-seri mendengar ini dan sambil berloncat-loncatan ia pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mencuci muka.

* * * "Aduh, bagus benar gedung Ongya, besar dan mewah sekali!"

Demikian teriakan kagum dari Kian Liong ketika ia dan ayahnya tiba di depan gedung pangeran Lu Siang Tek.

"Hush, jangan bersikap seperti orang dusun, Liong-ji. Apakah kau tak pernah melihat gedung bagus? Di Kotaraja banyak!"

Ayahnya menegurnya.

Memang tadinya Lie-Tikoan tidak mempunyai pikiran untuk mengajak puteranya, akan tetapi karena ia hendak mengajar kepada anak muda ini agar dapat bersopan-santun dan tidak canggung, maka ia pikir sudah tiba saatnya bagi Kian Liong untuk bertemu dengan orang-orang besar dan ikut memikirkan urusan penting.

Lie-Tikoan dan Kian Liong disambut oleh seorang pelayan, kemudian diantar masuk ke dalam ruang tamu.

Gedung Lu-Ongya memang besar dan bagus.

Ruangan tamu itu luas dan penuh dengan hiasan dinding berupa lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan bersajak yang amat indah.

Tak lama kemudian setelah pelayan itu meninggalkan mereka di ruang tamu, masuklah Lu-Ongya yang gemuk tinggi sambil tersenyum ramah.

"Liong-ji, sini!"

Bentak Lie-Tikoan ketika melihat puteranya tengah melihat-lihat gambar dan membaca syair-syair yang tergantung di dinding ruangan itu.

Kian Liong kaget dan cepat-cepat ia menghampiri ayahnya dan melihat Pangeran Lu, ia cepat menjura dan memberi hormat seperti yang dilakukan ayahnya.

"Lie-Tikoan, bagus sekali kau datang. Memang aku bermaksud menyuruh orang mengundangmu. Siapa orang muda ini?"

"Dia adalah anak saya yang bodoh, harap Ongya maafkan apabila sikapnya kurang sopan."

Pangeran itu tersenyum.

"Ah, sungguh kau beruntung sekali mempunyai seorang putera yang begini tampan dan agaknya mengerti tentang seni dan sastera."

"Ongya terlalu memuji. Anak saya Kian Liong ini bodoh sekali dan tidak mengerti apa-apa biarpun pernah bersekolah sampai lama di Kotaraja."

"Ha-ha-ha, kau sungguh sungkan dan terlalu merendahkan diri. Siapa tidak tahu akan nama Tikoan Lie Kim Hong yang bijaksana dan pandai? Silahkan duduk, silahkan duduk."

Lie Kim Hong dan puteranya lalu berjalan menghampiri kursi yang sudah tersedia di tengah ruangan itu.

"Eh, Lie-Tikoan, mengapa puteramu ini jalannya pincang? Sakitkah kakinya?"

Sebagai seorang yang kedudukannya lebih tinggi Lu Siang Tek tidak sungkan untuk menanyakan hal ini secara langsung.

"Ongya, dahulu ketika masih kecil, hamba pernah diserang dan digigit oleh seekor ular pada kaki hamba. Ular itu berbisa dan biarpun hamba dapat sembuh, kaki hamba tetap menjadi pincang."

Jawab Kian Liong yang menyenangkan hati ayahnya karena kali ini puteranya bicara dan bersikap cukup memuaskan.

"Betul demikian, Ongya. Dahulu saya dan ibu anak ini sudah putus asa melihat dia menggeletak dengan seluruh tubuh menjadi hitam akibat gigitan ular berbisa itu. Semua tabib di Kotaraja yang saya panggil tidak sanggup lagi mengobatinya. Baiknya Thian menolong kami. Entah dari mana datangnya, seorang kakek yang berpakaian seperti pengemis dan yang kebetulan minta sedekah di rumah kami, mendengar tentang keadan Liong-ji dan tanpa diminta pengemis tua itu masuk dan mengobati Liong-ji. Anehnya, sekali saja merawat dan memberi obat, Liong-ji sembuh dan kakek itu terus saja pergi tanpa pamit lagi."

Lu-Ongya mengangguk-angguk, tertarik sekali oleh cerita ini.

"Hm, dia tentu seorang kangouw yang pandai. Mengapa tidak kau cari dia itu?"

Tanyanya.

"Sudah saya suruh banyak orang mencarinya, namun sia-sia. Dia telah pergi dari Kotaraja. Liong-ji dapat sembuh, akan tetapi kakinya menjadi pincang."

Kembali pangeran itu mengangguk-angguk dan memandang kepada Kian Liong dengan rasa iba.

"Anak muda, kalau kau suka membaca sajak dan melihat lukisan-lukisan itu, kau pergi dan lihatlah sepuasmu. Di ruangan tengah dan belakang juga masih banyak lukisan yang baik-baik, kau boleh lihat-lihat. Ayahmu dan aku hendak merundingkan sesuatu yang penting."

Kata pangeran Lu Siang Tek.

Girang sekali nampaknya pemuda ini.

Ia cepat berdiri dan menjura kepada pangeran itu sambil mengucapkan terima kasihnya, kemudian ia meninggalkan dua orang tua itu, pergi melanjutkan pekerjaannya yang tadi, yakni meneliti, membaca dan menikmati lukisan-lukisan dan sajak-sajak itu.

Sebuah lukisan keindahan alam yang diwakili oleh burung, awan, pohon, daun dan bunga amat menarik perhatiannya.

Apalagi bunyi sajak yang tertulis di atas lukisan itu.

Saking tertariknya, tak terasa pula Kian Liong membacanya keras-keras, Burung kuning terbang bebas di udara, Awan putih berarak riang di angkasa, Di bawah langit biru angin bersuka ria, Bermain dengan daun hijau dan bunga merah.

Sayang!

Aku hanya dapat melukis mereka, Alangkah akan bahagianya Kalau dapat menjadi satu dengan mereka!

"Kian Liong!

Jangan keras-keras kau baca sajak itu!"

Ayahnya menegurnya sambil memutar tubuh di atas kursinya.

Terdengar Lu-Ongya tertawa kecil.

Baru Kian Liong sadar bahwa tadi ia telah membaca sajak itu terlalu keras.

Dengan tersipu-sipu pemuda ini lalu berjalan menjauhi tempat itu untuk melihat-lihat lukisan dan tulisan di ruangan dalam.

Sementara itu, Lie-Tikoan lalu menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di rumahnya, yakni pengiriman surat ancaman dari penjahat dan memperlihatkan surat itu kepada Pangeran Lu Siang Tek.

"Ongya, sudah jelas bahwa penjahat itu amat lihai ilmu silatnya sehingga ia berhasil menyerbu dan mengirim surat ini biarpun di rumah saya terdapat banyak penjaga. Oleh karena itu, saya harap pertolongan Ongya agar supaya diberi perkenan mendatangkan pembantu-pembantu yang berkepandaian tinggi dari Kotaraja, hanya dengan pembantu-pembantu yang tinggi ilmunya saja kiranya kita akan dapat membekuk batang leher penjahat yang lihai itu."

Lu Siang Tek mengangguk-angguk.

"Memang dia lihai sekali. Entah dari mana munculnya penjahat itu, tahu-tahu ia menggemparkan kota ini dengan perbuatan-perbuatannya yang amat jahat. Semua penduduk merasa gelisah oleh gangguannya, dan menurut perkiraanku, penjahat itu tentu mempunyai banyak kaki tangan. Anehnya, penjahat itu selalu bekerja dengan cara bersembunyi sehingga jarang sekali orang dapat melihat mukanya. Dan pernah terjadi beberapa kali ia dikeroyok dan terlihat orang, ia selalu menyembunyikan mukanya di belakang kedok. Kota Liu-leng sudah digeledah sampai di pojok-pojok untuk mencari sarang penjahat itu, namun sia-sia. Setiap kali penjahat itu diintai dan dikeroyok, ia selalu dapat membebaskan diri, bahkan seringkali merobohkan dan menewaskan beberapa orang pengeroyoknya."

"Apakah sampai sekarang belum ada yang dapat melihat wajahnya, atau setidaknya menaksir berapa usianya dan apakah dia mempunyai tanda-tanda atau cacat-cacat yang kiranya mudah diingat?"

Tanya Lie-Tikoan. Pangeran Lu Siang Tek menggeleng kepalanya.

"Sukar sekali. Menurut keterangan bekas Tikoan Song Tek, penjahat itu sukar dikenal dengan kedoknya yang menyeramkan itu, sukar pula ditaksir usianya. Juga perawakannya biasa saja, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Pendeknya, untuk menangkapnya, harus dilakukan secara serentak pada waktu ia melakukan kejahatannya atau pendeknya harus dapat menangkap basah. Bekas Song-Tikoan tidak punya guna, menangkap seorang penjahat saja tidak becus! Oleh karena itu, aku mengatur penggantian Tikoan di kota ini dan aku percaya dengan penuh keyakinan bahwa Lie-Tikoan tentu akan dapat membekuk batang leher penjahat itu!"

Lie-Tikoan menarik napas panjang dan ia tahu bahwa di balik kata-kata yang manis dan memujinya ini terdapat ancaman bahwa kalau ia tidak dapat menangkap penjahat itu, tentu iapun akan mengalami nasib seperti Song Tek, dipecat dan mendapat nama busuk.

"Saya akan berusaha sekuat tenaga, Ongya. Tentu saja dalam hal ini mengharapkan bantuan semua penduduk, dan terutama sekali mohon bantuan dari Ongya sendiri."

"Tentu saja. Siapa orangnya yang tidak ingin melihat penjahat itu mampus? Kami sendiri pernah diganggu oleh penjahat kurang ajar itu. benar-benar tak takut mampus! Rumahku terjaga kuat sekali, bahkan pengawal pribadiku Hek-liong-pian Thio Cin Gan tak pernah meninggalkan rumah ini dan tinggal di rumah samping. Namun penjahat itu berani menyerbu ke sini. Ia dikepung oleh Thio-Kauwsu dan tujuh orang penjaga yang pandai ilmu silat. Pertempuran hebat terjadi di atas genteng rumah ini pada tengah malam itu. Namun, ternyata Thio-Kauwsu sendiripun tidak sanggup mengalahkan dan menangkapnya sehingga penjahat itu dapat kabur, meninggalkan dua orang penjaga yang ia robohkan dengan piauw."

Pangeran itu menghela napas dan wajahnya muram, agaknya ia masih gelisah kalau mengingat akan serbuan itu.

Lie-Tikoan diam-diam maklum bahwa penjahat itu menyerbu tentu hendak mengganggu puteri pangeran ini, karena ia sudah mendengar bahwa penjahat itu mempunyai sifat-sifat cabul dan bahwa puteri pangeran ini amat cantiknya.

Akan tetapi tentu saja Lie-Tikoan tidak berani menyatakan soal ini.

Juga Lie-Tikoan maklum bahwa sekarang rumah pangeran ini tentu dijaga makin kuat karena tadi ketika masuk, iapun dapat menduga bahwa pelayan yang menyambutuya, dan pelayan-pelayan lain yang berada di depan rumah, nampak mempunyai tubuh yang kokoh kuat, tidak patut menjadi pelayan, patutnya menjadi penjaga-penjaga yang kuat.

Sementara itu, selagi dua orang itu sedang bercakap-cakap dengan serius tentang penjahat lihai yang mereka hadapi, Lie Kian Liong ternyata sudah ngeluyur pergi sejak tadi!

Rupa-Rupanya pemuda yang di depan Lu-Ongya nampak tertarik akan seni dan sastera itu, kini telah bosan memandangi gambar dan membaca sajak-sajak yang sebagian besar tak dimengertinya, dan diam-diam ia ngeluyur ke belakang, berjalan-jalan di taman bunga Lu-Ongya yang amat luas dan indah penuh dengan bunga-bunga beraneka macam dan warna.

Kebetulan sekali dari ruangan tengah itu terdapat sebuah pintu kecil yang ternyata menuju ke taman bunga.

Taman bunga itu sungguh indah dan amat luasnya.

Apalagi waktu itu musim bunga telah tiba sehingga hampir semua tanaman di taman itu berbunga.

Di sana-sini bunga beraneka warna berseri merupakan pemandangan yang indah menawan hati, ditambah pula keharuman bunga semerbak menyedapkan.

Sambil tersenyum-senyum senang Kian Liong melanjutkan tindakan kakinya, berjalan-jalan di taman bunga, menengok ke kanan-kiri menikmati pemandangan indah itu, hidungnya kembang-kempis tiada bosannya menyedot bau-bauan yang amat harum dan sedap.

Ia merasa begitu bebas dan gembira seakan-akan ia sedang berjalan-jalan di taman bunganya sendiri!

Ketika pemuda ini terpincang-pincang menikmati taman bunga orang dengan hati gembira sekali, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap.

Suara merdu yang diiringi ketawa lirih namun cukup mendebarkan hatinya karena hanya bangsa bidadari saja yang memiliki suara dan ketawa semerdu itu, demikian pikir Kian Liong yang cepat mengarahkan tindakan kakinya ke suara itu.

Ia tiba di tengah taman bunga di mana tumbuh bebeberapa batang pohon yang melindungi sebuah kolam ikan yang cukup besar.

Di bawah batang-batang pohon itu tumbuh pula bunga-bunga yang daunnya lebar-lebar menghijau, menghalangi pemandangan mata orang di luar tempat itu.

Setelah tiba dekat barulah Kian Liong dapat melihat dua orang wanita yang duduk dan mengobrol di dekat kolam sambil memandangi ikan-ikan yang sedang berenang ke sana-kemari dengan gerakan tubuh seperti penari-penari yang pandai.

"Aduh, nona. Syairmu bukan main bagusnya dan kau mengucapkannya seperti seorang bidadari bersajak, bukan main!"

Terdengar suara seorang wanita sambil bertepuk tangan.

"Siauw Hong, bagaimana kau tahu kalau syairku bagus? Engkau kan tidak mengerti tentang syair?"

Terdengar jawaban suara wanita yang suara dan ketawanya seperti suara bidadari menurut pendengaran Kian Liong tadi.

"Memang siocia benar, orang macam saya ini mana mengerti tentang syair? Akan tetapi, saya yang bodoh ini hanya mengandalkan mata, telinga, hidung dan mulut untuk menyatakan apakah sesuatu itu baik ataukah jelek, siocia."

"Bagaimana maksudmu?"

Terdengar pertanyaan mengandung kegelian hati.

"Kalau saya menghadapi sesuatu untuk menetapkan apakah sesuatu itu enak ataukah tidak enak, saya mengandalkan kepada mulut. Kalau mulut doyan, berarti enak, kalau tidak, ya tidak enak. Untuk menetapkan harum atau berbau busuk, saya mengandalkan hidung, dan untuk menetapkan mana yang bagus dan mana buruk, saya mengandalkan mata. Akan tetapi syair yang siocia baca tadi harus didengar, maka saya mengandalkan penilaiannya kepada telinga. Bunyinya begitu merdu, kata-katanya begitu indah, pengucapannya begitu merdu, didengarnya sedap pada telinga, tentu saja syair itu bagus!"

Terdengar suara ketawa dan kembali Kian Liong berbisik di dalam hatinya.

"Hanya bidadari yang tertawa seperti itu merdunya!"

"Siauw Hong, kalau begitu kau menilai sesuatu dari kulitnya saja! Tahukah kau bahwa belum tentu sesuatu yang indah dilihat itu baik, sesuatu yang harum baunya itu baik, dan sesuatu yang sedap didengar itu baik pula. Ada yang kelihatan tidak baik akan tetapi sebetulnya isinya jauh lebih baik daripada yang kelihatan indah."

"Ah, saya tidak mengerti, siocia. Tentu segala apa yang siocia katakan itu benar belaka, karena siocia adalah seorang terpelajar dan pintar. Akan tetapi, kalau hamba sudah memilih yang baik menurut pendengaran, penglihatan, penciuman dan perasaaan namun tetap saja salah pilih, ya sudahlah. Itu nasib sial namanya!"

Kembali dua orang gadis itu tertawa dan menurut pendengaran Kian Liong, suara ketawa gadis pelayan yang bernama Siauw Hong itu amat tidak enak didengar, seperti burung hantu menggoak!

Tentu saja tidak demikian pendapatnya kalau saja Siauw Hong tidak tertawa pada saat yang sama dengan nonanya yang memiliki suara ketawa semerdu ketawa bidadari menurut telinga Kian Liong!

Suara itu bagaikan besi sembrani menarik hati Kian Liong sehingga tak terasa lagi kedua kaki pemuda ini bergerak mendekati.

Setelah menyingkap daun-daun yang.

menghalangi pemandangan, baru ia dapat melihat tegas dan serasa terhenti detak jantungnya ketika sepasang matanya menyaksikan wajah gadis yang suaranya sudah mengagumkan pendengarannya tadi.

"Lebih cantik daripada bidadari, lebih manis daripada puteri istana kaisar!"

Bisiknya perlahan dan sepasang matanya menerkam dan menelan penuh gairah dan kagum sehingga bayangan gadis kedua yaitu Siauw Hong atau pelayan sama sekali tidak kelihatan olehnya!

Tentu dia ini jang bernama Bwe Hoa, puteri Lu-Ongya, pantas saja disebut kembang kota Liu-leng.

Cantik, manis, hemmm, hebat!"

Sekaligus Kian Liong jatuh cinta melihat Bwe Hoa.

"Siauw Hong, apakah kau mendengar tentang Tikoan yang baru? Bagaimana dia? Dapatkah kiranya menangkap penjahat yang mengganggu kota Liu-leng?'' kembali Bwe Hoa berkata kepada pelajannya.

"Saja mendengar dari Thio-Kauwsu bahwa Lie-Tikoan jang baru ini terkenal sebagai seorang yang pandai di Kotaraja. Akan tetapi, menurut Thio-Kauwsu, untuk menghadapi penjahat yang mengacau kota ini, tidak dibutuhkan orang pandai berpikir, melainkan diperlukan orang yang pandai mainkan senjata tajam. Entahlah Tikoan baru dapat atau tidak menangkap penjahat itu, siocia. Hanja saya mendengar pula bahwa dia mempunyai seorang putera yang tampan"

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan dengan suara genit, Bwe Hoa cemberut.

"Siapa tanya tentang pemuda tampan?"

"Siotjia tidak bertanya, akan tetapi saya yang menceritakan."

Siauw Hong menjawab lincah dan cerdik.

"Cuma sayangnya, saya mendengar dari Thio-Kauwsu bahwa putera Tikoan yang baru ini, biarpun tampan sekali namun bodoh seperti kerbau dan kakinya pincang!"

Setelah berkata demikian, Siauw Hong tertawa cekikikan, tidak tahu sama sekali bahwa kata-katanya ini membuat Kian Liong yang bersembunyi menjadi merah mukanya dan matanya melotot marah!

Adapun Bwe Hoa yang berhati lembut segera menegur pelayannya.

"Siauw Hong, tak baik mentertawakan orang lain karena keburukannya. Setiap manusia tentu memiliki cacat masing-masing. Eh, kau agaknya mendengar tentang segala macam hal dari Thio-Kauwsu!"

Setelah berkata demikian, Bwe Hoa memandang tajam dan Siauw Hong menjadi merah mukanya.

"Ah, siocia menggoda. Siapa sih yang main-main dengan Thio-Kauwsu?"

"Eh, eh, Siauw Hong, Siapa pernah bilang kau main-main dengan Thio-Kauwsu? Tanpa dituduh kau menyangkal. Sangkalan macam itu berarti pengakuan!"

"Ah, siocia...!"

Demikianlah, dua orang gadis itu bercakap-cakap sambil berkelakar.

Kemudian mereka mengeluarkan makanan ikan dan Bwe Hoa melempar-lemparkan makanan itu ke dalam kolam.

Puluhan ekor ikan yang indah-indah warnanya datang menyerbu makanan itu.

"Siauw Hong lihatlah, si merah itu gembul dan lahap benar, bukan main cepatnya ia makan!"

Teriak Bwe Hoa gembira sambil menudingkan telunjuknya yang runcing ke air.

"Tapi dia tidak jahat, siocia. Tidak seperti yang belang itu, lihat siocia, biarpun kecil dia galak dan gesit, berani menyerang dan merampas makanan dari depan mulut ikan besar!"

Memang amat menyenangkan memandang ikan-ikan yang berebut makanan itu.

Ikan-ikan itu jinak dan kini setelah berkumpul nampaklah warna sisik mereka yang beraneka warna.

Air berombak kecil dan kadang-kadang nampak sekilat warna merah atau biru atau kuning dari sisik ikan yang menerjang naik ke permukaan air.

Lu-siocia dan Siauw Hong duduk di pinggir kolam itu.

Karena mereka menjenguk ke dalam air maka rambut dari Lu-siocia terurai ke depan.

Gadis ini lalu membetulkan letak rambutnya yang panjang dan hitam halus itu sambil bercermin ke dalam air.

Tiba-tiba ia nampak terkejut sekali.

"Hai, Siauw Hong! Ikan apa itu yang besar dan bulat? Tuh, di situ. Ikan apa itu begitu aneh? Aku baru kali ini melihatnya!"

Bwe Hoa menuding ke air diikuti oleh pandang mata Siauw Hong.

Pelayan ini memandang penuh perhatian dan iapun terkejut dan heran.

Karena air bergerak oleh ikan-ikan yang berebut makanan, maka penglihatan menjadi kurang jelas.

benar-benar ikan aneh sekali yang ditunjuk oleh nonanya itu.

Ikan yang bentuknya, bulat seperti seekor katak yang besar sekali.

(Lanjut ke

Jilid 01 b) Kim Hoa Piauw (Pisau Terbang Bunga Emas) Karya . Kho Kiong An/Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 b.

"Ikan ajaib... i...ikan... si...siluman...!"

Siauw Hong berbisik dan tubuhnya mulai menggigil.

Dua orang gadis itu sama sekali tidak mengira bahwa yang mereka sangka ikan itu sebetulnya adalah bayang-bayang kepala Kian Liong yang kini sudah berlutut di belakang Bwe Hoa!

Hampir meledak perut pemuda itu menahan tertawa karena bayang-bayang kepalanya disangka ikan ajaib atau ikan siluman.

Dia sengaja lalu meleletkan lidahnya, pelotot-pelototkan matanya dan perat-perotkan mulutnya, lalu kepalanya itu di geleng-geleng ke kanan-kiri!

Dua orang gadis itu makin terkejut dan agak takut, cepat-cepat menjauhkan diri dari kolam.

"Panggil penjaga...!"

Kata Bwe Hoa. Akan tetapi Siauw Hong yang memandang ke dalam air dengan mata dipelototkan untuk dapat melihat lebih jelas, mulai curiga dan cepat menengok ke belakang dan...

"Astaganaga...! A...ada orang, siocia!"

Teriaknya kaget setengah mati sehingga ia perlu menekankan tangan kanannya pada dada kiri untuk menjaga jantungnya copot.

Bwe Hoa cepat berdiri dan memutar tubuh.

Ternyata di depannya berdiri seorang pemuda tampan yang tersenyum-senyum, pemuda yang berpakaian seperti seorang sasterawan.

"Ah, tidak tahunya ikan darat berkaki dua. Hati-hati, siocia, ikan macam ini jauh lebih berbahaya daripada ikan di air!"

Kata Siauw Hong yang timbul sifat genitnya melihat seorang pemuda tampan.

"Jangan percaya, siocia. Siauw Hong tukang bohong. Aku sama sekali tidak berbahaya."

Kata Kian Liong sambil tersenyum dan menjura dengan hormatnya.

"...Siapakah kau ini yang begini kurang ajar? Bagaimana kau berani mati memasuki taman bungaku?!"

Akhirnya Bwe Hoa dapat juga menegur dengan sepasang alis bersambung.

"Harap siocia maafkan aku yang karena tertarik oleh segala keindahan di taman ini telah tersasar masuk ke dalam tempat tinggal bidadari..."

"Ngaco! kau menyebut nonaku siocia akan tetapi bilang di sini tempat tinggal bidadari. Omonganmu tak karuan. Nonaku adalah puteri Lu-Ongya, bukan bidadari, dan kau jangan main-main kalau kau masih sayang nyawamu!"

Siauw Hong membentak.

"Tentu, tentu... aku masih sayang nyawaku... Ah, kiranya Lu-siocia. Pantas... pantas, mana ada bidadari secantik ini?"

"Kurang ajar kau!"

Bwe Hoa membentak, akan tetapi mukanya menjadi merah dan diam-diam hatinya girang, karena siapakah orangnya tidak senang mendengar bahwa dia lebih cantik daripada bidadari?

"Siauw Hong, kau tanyai dia, kalau kurang ajar, usir dia pergi atau panggil penjaga supaya dia diseret pergi dan diberi hajaran!"

Siauw Hong melangkah maju, menatap wajah yang tampan itu, kepalanya agak dimiringkan ke kiri dengan lagak genit.

"Kau ini ikan kaki dua hayo mengaku siapa namamu dan apa maksudmu masuk ke taman bunga ini? Mengaku yang betul dan jangan kurang ajar terhadap siocia!"

Baru sekarang Kian Liong menatap wajah pelayan ini dan mendapat kenyataan bahwa Siauw Hong adalah seorang gadis yang cantik juga.

"Aku Lie Kian Liong, masih perjaka, putera dari Lie-Tikoan yang pada saat ini tengah bercakap-cakap dengan Lu-Ongya. Karena tidak tahan dan bosan mendengarkan percakapan orang tua-tua itu, aku berjalan-jalan ke sini dan tak sengaja berjumpa dengan Lu-siocia."

Mendengar nama ini, Bwe Hoa melirik dan Siauw Hong lalu tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya.

"Ah, jadi kau kah putera Tikoan yang baru?"

Siauw Hong mengerutkan kening dan pandangannya melayang ke arah kaki pemuda itu, kemudian dengan pandangan cerdik ia berkata.

"Lie-Kongcu, tolong kau... petikkan kembang putih itu, terlalu tinggi untuk aku atau untuk siocia...!"

Bwe Hoa mengerutkan alisnya tak senang, Kian Liong mengerutkan kening terheran.

Akan tetapi pemuda ini lalu tersenyum dan lenyaplah kerut pada keningnya, lalu ia berjalan terpincang-pincang ke arah pohon kembang itu.

Sebelum tangannya yang terulur memetik kembang yang diminta oleh Siauw Hong itu, tiba-tiba Siauw Hong berkata lagi.

"Sudahlah, Lie-Kongcu, Tidak jadi saja!"

Mendengar betapa ucapan Siauw Hong ini disusul suara ketawa geli, Kian Liong cepat memutar tubuhnya.

Ia melihat Siauw Hong tertawa menutupi mulut dengan ujung lengan baju, bahkan Bwe Hoa juga mencoba untuk menyembunyikan senyumnya.

Siocia, tidak betulkah kata Thio-Kauwsu?"

Kata Siauw Hong kepada Bwe Hoa. Kian Liong terpincang-pincang menghampiri Siauw Hong.

"Mengapa kau mempermainkan aku? kau menyuruh ambil kembang lalu membatalkannya, apa sih maksudmu?"

Sambil menahan ketawa, Siauw Hong berkata.

"Aku hanya ingin melihat bagaimana cara kau berjalan."

Kian Liong menggigit bibir dengan gemas.

"Kau tidak patut bernama Siauw Hong, lebih baik diganti saja dengan Siauw Mo-li (Iblis wanita kecil)! Aku tidak mau bicara lagi dengan kau!"

Lalu pemuda ini menghadapi Bwe Hoa dan berkata.

"Lu-siocia, maafkan aku, Lie Kian Liong, kalau aku mengganggu siocia. Setelah aku masuk ke sini dan berjumpa dengan siocia, baik kita sekalian berkenalan. Aku berusia dua puluh tahun, belum menikah dan..."

"Cukup! Siapa perduli akan semua itu? Lekas kau pergi dari sini!"

Bwe Hoa membentak dengan muka merah. Akan tetapi dalam pandangan Kian Liong, gadis yang marah itu menjadi makin cantik menarik, maka ia memandang bengong.

"Nona, karena kau puteri Lu-Ongya, tentu saja aku tahu nama keturunanmu. kau she Lu, bukan? Akan tetapi siapa namamu?"

"Eh, eh, kau benar-benar kurang ajar. Lie-Kongcu, harap kau suka keluar dari sini. Kalau Lu-Ongya tahu akan kekurang-ajaranmu, kau tentu akan dipukul!"

"Kau ikut-ikutan lagi! Aku dan nonamu sudah menjadi kenalan. Sudah selayaknya kenalan mengetahui nama masing-masing. Aku sudah memberitahu namaku, akan tetapi Lu-siocia belum memberitahukan namanya..."

Siauw Hong hendak marah, akan tetapi Bwe Hoa yang mengerti bahwa pemuda itu bodoh dan tolol, mencegah pelayannya dan berkata.

"Namaku Bwe Hoa. Nah, kau pergilah."

"Bwe Hoa...? Lu Bwe Hoa..., alangkah sedap didengarnya! Nona, tadi sudah kuberitahu bahwa aku berusia dua puluh tahun dan belum menikah. Berapakah usiamu? Dan aku sudah tahu bahwa nona belum menikah, akan tetapi, tidak tahu apakah sudah ada tunangan?"

Ini sudah melampaui batas namanya! Wajah Bwe Hoa menjadi merah sekali dan Siauw Hong mencak-mencak marah.

"Orang she Lie, kau benar-benar tidak tahu aturan dan kurang ajar sekali!"

Siauw Hong menuding-nudingkan telunjuknya di depan hidung Kian Liong.

Tentu akan terjadi hal yang lebih hebat kalau saja Bwe Hoa tidak cepat-cepat memegang tangan Siauw Hong dan menyeret pelayan itu pergi meninggalkan taman bunga di mana Kian Liong masih berdiri sambil tersenyum-senyum menyeringai.

Kemudian, setelah Bwe Hoa dan pelayannya masuk ke dalam gedung, Kian Liong berjalan dengan wajah gembira, mulutnya kemak-kemik dan kadang-kadang tersenyum lebar.

Ketika ia tiba di ruangan tamu, ternyata ayahnya dan Lu-Ongya telah selesai berunding dan atas persetujuan Lu-Ongya, Lie-Tikoan akan mendatangkan seorang hwesio pandai dari Kotaraja untuk membantunya menangkap penjahat yang mengacau Liu-leng.

Hwesio ini adalah Hok Ti Hwesio, pengurus kelenteng Thian-beng-tong di Kotaraja.

Hwesio ini adalah seorang ahli silat Hoa-san-pai yang berilmu tinggi dan dahulu ketika Lie-Tikoan menjalankan tugasnya di Kotaraja, Hok Ti Hwesio juga banyak membantunya.

Di lain fihak, Lie-Tikoan merupakan penyumbang utama untuk kelenteng Thian-beng-tong itu.

Lu-Ongya menyetujuinya karena pangeran inipun kenal siapa adanya Hok Ti Hwesio yang sebenarnya masih susiok (paman guru) dari Hek-liong-pian Thio Cin Gan, pengawal pribadi pangeran Lu.

Melihat munculnya Kian Liong, Lie-Tikoan lalu bermohon diri sambil mengucapkan terima kasih.

Kian Liong juga ikut-ikutan ayahnya, berpamit sambil menghaturkan terima kasih.

Pangeran Lu mengantar mereka sampai di pintu depan dengan sikap yang ramah-tamah.

Oleh karena kebetulan sekali Kian Liong dapat membawa diri di depan pangeran ini, maka ia mendatangkan kesan baik dalam hati pangeran Lu.

Dengan gembira Lie-Tikoan lalu bercerita kepada puteranya dalam perjalanan pulang tentang hasil perundingan tadi.

Ceritanya dilanjutkan setelah mereka tiba di rumah dan Lie-hujin ikut mendengarkan.

Sebagai penutup, Lie-Tikoan berkata.

"Lu-Ongya agaknya suka kepada kita. Biar kita tunggu saat baik untuk mempererat tali persahabatan menjadi tali kekeluargaan." * * * Di rumah gedung cat hijau yang berada di sebelah barat dari kota Lio-leng, Song Tek bekas Tikoan yang dipecat, duduk di dalam ruang dalam dengan wajah muram. Ia duduk menghadapi meja di mana terdapat cawan araknya dan seguci besar arak wangi. Ternyata bekas pembesar yang sedang berduka ini menghibur diri dengan minum arak, dan dia kuat sekali minum. Buktinya, seguci arak penuh tinggal setengahnya, namun ia tidak mabok. Berkali-kali ia menarik napas panjang. Song Tek adalah seorang duda. Semenjak isterinya meninggal dunia lima belas tahun yang lalu, ia tak pernah mau menikah lagi dan tinggal membujang, kemudian melanjutkan pelajarannya dalam ilmu surat sampai ia lulus dalam ujian Kotaraja dan menerima pangkat sebagai Tikoan di Liu-leng itu. Dapat dibayangkan betapa kecewa, malu, dan dukanya karena baru saja setahun lebih menjadi pembesar sekarang sudah dihentikan. Orang kedua yang duduk di sudut meja itu adalah seorang pemuda tampan yang wajahnya bersungguh-sungguh dan muram. Pemuda ini benar-benar tampan dengan kulit mukanya yang putih, sepasang matanya yang bersinar-sinar, alis mata yang hitam tebal berbentuk golok, hidung mancung dan mulut yang membayangkan kekerasan hati. Inilah Cung Hok Bi, pendekar muda anak murid Bu-tong-pai. Dia adalah keponakan dari Song Tek, yakni putera tunggal dari adik perempuan bekas Tikoan itu. Nasib pemuda ini gelap maka semenjak masih kecil telah ditinggal mati ayah-bundanya sehingga menjadi yatim piatu. Sampai dewasa ia berada di puncak Butongsan mempelajari ilmu silat, kemudian setelah turun gunung, ia menumpang pada pamannya yang menjadi Tikoan di Liu-leng. Akan tetapi kembali nasibnya buruk karena pamannya ternyata tidak lama menjadi Tikoan dan telah dipecat.

"Kau tidak punya guna, Hok Bi. Percuma saja kau belajar silat sampai belasan tahun di Butongsan kalau kau tidak mampu menangkap penjahat itu sehingga aku dipecat."

Sudah berkali-kali paman yang berduka ini mengeluarkan ucapan penyesalan seperti ini dan akhirnya Hok Bi menjawab, suaranya bersungguh-sungguh.

"Siokhu (paman), aku hanya baru satu kali saja berkesempatan bertanding dengan penjahat itu dan setiap kali aku ikut menggerebek, ia selalu dapat melarikan diri. Sungguhpun harus aku akui bahwa penjahat itu ilmu silatnya tinggi sekali dan dalam kesempatan pertama itu aku tak dapat mengalahkannya, akan tetapi percayalah, apabila aku mendapat kesempatan kedua, pasti akan kukerahkan seluruh kepandaian dan kalau perlu aku akan mengadu nyawa dengan dia!"

Song Tek menarik napas panjang, lalu menenggak cawan araknya dengan suara menggelogok. Ia menarik napas lagi sambil mengeluarkan suara.

"Hehhh...!"

Dipandangnya wajah keponakannya yang tampan.

"Hok Bi, kau tahu bahwa aku percaya kepadamu. Aku justru menyesalkan kesempatan yang satu kali itu. Kalau saja dahulu ketika kau bertanding dengan dia, kau dapat merobohkan dia, bukankah tidak akan muncul peristiwa yang menjengkelkan ini? Hok Bi, soal kehilangan kedudukan bukan yang paling penting, akan tetapi yang lebih penting lagi adalah soal nama. kau harus bantu membersihkan namaku atau mengembalikan mukaku. Kita tidak boleh tinggal diam dan kita harus berusaha mendahului Lie-Tikoan untuk menangkap penjahat itu! Kalau sampai Lie-Tikoan berhasil menangkap penjahatnya mendahului kita, bukankah aku akan mendapat malu besar dan dianggap tidak becus? Lie-Tikoan telah mendatangkan Hok Ti Hwesio yang kudengar amat lihai ilmu silatnya."

"Aku juga mendengar tentang itu, siokhu. Memang betul, Hok Ti Hwesio adalah seorang tokoh Hoa-san-pai yang tinggi ilmu silatnya. Kalau tidak salah, ia seorang ahli lweekeh dan senjata tongkatnya amat kuat. Akan tetapi, tetap saja aku sangsi apakah dia akan sanggup menangkap penjahat itu."

"Mudah-mudahan saja jangan sampai ia menangkapnya dan mendahului kita. Hok Bi, aku sedang berusaha dan hendak menyuruh Sinchio Tan Hai menghubungi Kwan Ciu Leng Kauwsu dan mencari orang-orang gagah lain untuk menangkap penjahat itu, mendahului usaha Lie-Tikoan. Kalau usahaku ini berhasil, selain mukaku akan menjadi terang kembali, juga merupakan tamparan bagi Lie-Tikoan yang menggantikan kedudukanku. Oleh karena itu, harap kau membantuku. Tak usah kau membantuku menangkap penjahat, cukup kalau kau berusaha menggagalkan atau menghambat usaha Lie-Tikoan untuk mendahului kita. Awasi gerak-gerik Hok Ti Hwesio itu dan kalau perlu selewengkan perhatiannya agar ia tidak mudah menangkap penjahat."

Mula-mula Hok Bi terkejut mendengar ini, akan tetapi akhirnya ia dapat menangkap maksud pamannya.

Memang, ia dapat mengerti betapa malu hati pamannya dan betapa besar hasrat hati pamannya untuk menerangi kembali mukanya dan mendahului Lie-Tikoan dalam perlumbaan menangkap penjahat itu.

Maka ia lalu menyanggupi.

Pada saat itu, pelayan mengantar masuk seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan bersikap gagah, berpakaian seperti seorang jago silat.

Dia ini bukan lain adalah Sinchio Tan Hai, kepala penjaga kota Liu-leng yang dahulunya membantu Song Tek dan sekarang masih dihubungi oleh bekas Tikoan itu.

Biarpun Tan Hai masih menjadi kepala penjaga, namun karena Song Tek royal dalam memberi hadiah, kepala penjaga ini masih setia kepadanya dan ia menyanggupi permintaan Song Tek untuk memberitahukan segala gerak-gerik Lie-Tikoan dalam usahanya menangkap pejahat agar Song Tek dapat mendahului menangkap penjahat yang di kejar-kejar itu.

Melihat kedatangan Tan Hai, Song Tek lalu memberi isyarat kepada keponakannya untuk meninggalkan ruangan itu.

Cung Hok Bi memberi hormat kepada Sinchio Tan Hai, lalu pergi ke belakang dan bekas Tikoan she Song itu segera mengadakan perundingan berdua dengan Tan Hai.

Agaknya amat penting yang mereka rundingkan itu, karena mereka bicara perlahan dan dengan sungguh-sungguh.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terketuk dan seorang pelayan masuk, memberitahukan bahwa Hek-liong-pian Thio Cin Gan datang berkunjung.

Baru saja pelayan itu memberi laporan, orangnya sudah muncul di ambang pintu.

Song Tek memandang dengan muka terheran dan mata mengandung pertanyaan.

"Thio-Ciangkun, ada keperluan apakah?"

Tanyanya dengan suara hormat. Melihat Sinchio Tan Hai di situ, Hek-Iiong-pian Thio Cin Gan tersenyum, lalu menjura kepada dua orang itu.

"Siauwte diutus oleh Lu-Ongya untuk mencari keterangan tentang usaha Lie-Tikoan. Untuk itu, siauwte hendak bertanya kepada Tan-loheng. Akan tetapi, di sana siauwte mendengar bahwa Tan-loheng berada di sini maka sengaja siauwte menyusul untuk bertemu dengan Tan-loheng. Kalau kedatangan siauwte ini mengganggu Song-Taijin, harap banyak maaf."

"Ah, tidak apa, Thio-Ciangkun. Silahkan duduk,"

Jawab Song Tek dengan ramah-tamah. Sementara itu, Tan Hai sudah menyambut kedatangan pengawal pribadi Pangeran Lu Siang Tek itu dengan tertawa.

"Thio-enghiong, apakah aku harus menghadap Ongya sendiri, ataukah cukup bicara denganmu saja?"

"Cukup dengan aku saja, Tan-loheng. Akan tetapi agar jangan mengganggu tuan rumah, marilah kita keluar dan kita pergi ke kedai arak A Sam."

Song Tek mencoba untuk mencegah dan menahan mereka, akan tetapi dua orang gagah ini menghaturkan terima kasih lalu keluar dari gedung bekas Tikoan she Song itu.

Di warung arak A Sam kebetulan sedang sunyi tidak ada tamu.

Melihat datangnya dua orang itu, A Sam tersipu-sipu menyambut dan memberi hormat dengan membungkuk-bungkuk sehingga kepalanya lebih rendah daripada pantatnya.

Dua orang itu memilih tempat yang enak di mana mereka bercakap-cakap sambil minum arak.

Sinchio Tan Hai lalu menceritakan semua persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Hok Ti Hwesio dalam usahanya mencari dan menangkap penjahat, di bawah pimpinan Lie-Tikoan.

Dan Thio Cin Gan mengangguk-angguk memuji cara Lie-Tikoan mengatur penjagaan sehingga boleh dibilang seluruh kota Liu-leng telah dipasangi jerat untuk menjebak penjahat yang berani memasuki kota.

"Lie-Tikoan berpendapat bahwa penjahat itu pasti tinggal di luar kota, maka dengan bantuan Hok Ti Hwesio, apabila penjahat itu berani memasuki kota, supaya didiamkan saja dan setelah berada di dalam kota baru dikeroyok dan dicegah agar jangan sampai dapat lari keluar kota lagi,"

Demikian Tan Hai memberi keterangan.

"Akan tetapi, bukankah Hok Ti Hwesio itu susiokmu, Thio-enghiong? Kiranya dari orang-tua itu kau akan bisa mendapatkan penjelasan yang lebih baik, bukan?"

"Justru karena dia itu susiok-ku, maka kurang enaklah kalau aku terlalu mendesak dan minta keterangan kepadanya. Pula, dia hanya membantu dan yang mengatur semua ini tentu Lie-Tikoan, bukan? Nah, Tan-loheng, untuk menyatakan terima kasihku, baik kuceritakan padamu tentang pengalamanku malam tadi. Kiranya ini penting bagimu yang bertugas menyelidiki dan menangkap penjahat. Ketahuilah, dan ini rahasia karena tidak kuceritakan kepada siapapun juga kecuali kepada Lu-Ongya, bahwa malam tadi ketika aku secara iseng-iseng keluar malam, aku melihat sesuatu yang aneh. Ketika itu kurang lebih lewat tengah malam dan aku melihat bayangan hitam berkelebat di atas genteng rumah-rumah besar di sebelah utara kota. Aku cepat melompat ke atas genteng dan hendak menyapa akan tetapi tiba-tiba bayangan itu melesat cepat dan melarikan diri. Tentu saja aku mengejar, namun ternyata. Ilmu lari cepatnya hebat sekali dan sebentar saja ia lenyap. kau tahu ke mana lenyapnya? Ke jurusan rumah gedung Lie-Tikoan!"

"Apa...??"

Mata Tan Hai melotot dan mulutnya celangap.

"Tahu betulkah kau apa yang kau katakan ini? Ataukah kau sudah terlalu banyak minum arak?"

"Tidak, loheng, aku tidak mabok. Yang kuceritakan ini bukan isapan jempol belaka, akan tetapi kenyataan yang kulihat sendiri dengan sepasang mata. Bayangan itu menghilang dekat rumah gedung Lie-Tikoan dan kau tentu tahu bahwa aku tidak mencurigai siapa-apa hanya kau sebagai kepala penjaga kota Liu-leng, waspadalah jangan sampai Lie-Tikoan menjadi korban penjahat. Siapa tahu kalau-kalau penjahat itu bersembunyi di dekat atau bahkan di dalam rumah Lie-Tikoan!"

Setelah pertemuannya dengan Hek-liong-pian Thio Cin Gan ini, kepala penjaga kota Liu-leng ini menjadi makin gelisah dan tidak enak hatinya.

Sudah lama ia mendapat dugaan bahwa di dalam peristiwa kejahatan di kota Liu-leng ini terdapat rahasia yang sukar sekali dipecahkan.

Apakah Tikoan yang baru ini mempunyai hubungan dengan penjahat itu?

Apakah sengaja mengacau kota Liu-leng agar ia mendapat kesempatan merampas kedudukan Tikoan dari tangan Song-Tikoan?

Ah, ini tak mungkin.

Lie-Tikoan sudah terkenal di Kotaraja, pula, bukankah Lie-Tikoan sudah bersungguh-sungguh mendatangkan Hok Ti Hwesio dalam usahanya menangkap penjahat?

Sinchio Tan Hai merasa bingung betul dan baru kali ini selama ia menjadi kepala penjaga keamanan Liu-leng, ia merasa tak berdaya menghadapi penjahat yang lihai itu.

"Kalau aku bertemu lagi dengan dia, aku akan mengadu nyawa!"

Gerutunya dan semenjak hari itu, tiap malam ia ikut keluar sambil membawa-bawa tombaknya yang merupakan senjatanya yang paling ia andalkan. * * * "Toloonggg..., tolooonggg...!"

Jeritan ini memecah kesunyian tengah malam, akan tetapi seperti juga timbulnya yang amat tiba-tiba, demikian pula jeritan itu lenyap dengan tiba-tiba, seakan-akan leher orang yang menjerit itu dicekik.

Kemudian ternyata, bahwa gadis yang tadi menjerit itu bukan dicekik lehernya, melainkan dibacok dengan senjata tajam sehingga putus, terpisah dari tubuhnya!

Dan selain pembunuhan keji ini, sejumlah uang emas dan perak di dalam kamar Gan-Wangwe telah lenyap dicuri penjahat.

Jerit dan tangis memehuhi rumah Gan-Wangwe yang sekaligus kehilangan puterinya dan hartanya itu.

Bukan ini saja, pada saat yang hampir bersamaan, lima orang penjaga pintu gerbang di sebelah selatan kota, diserbu oleh tiga orang berkedok dan dalam beberapa gebrakan saja tiga orang yang kepandaiannya tinggi itu berhasil menewaskan lima orang penjaga tadi!

Kota Liu-leng menjadi gempar.

Peristiwa itu adalah kejahatan yang ketiga kalinya semenjak Lie-Tikoan menduduki pangkatnya, dan tiga kali terjadi berturut-turut, seakan-akan para penjahat itu berpesta pora dan sama sekali tidak perdulikan atau tidak memandang mata kepada Tikoan baru dengan sekalian penjaga dan pembantunya.

Hal ini sama sekali tak dapat dianggap sebagai akibat daripada kelalian penjagaan, karena setiap kali terjadi kejahatan itu, selalu Hok Ti Hwesio dibantu oleh lain-lain penjaga menghadapi serbuan seorang atau dua orang penjahat berkedok yang amat tinggi kepandaiannya.

Kemudian ternyata bahwa dua orang atau seorang penjahat ini hanya bertugas untuk mengikat perhatian Hok Ti Hwesio sehingga penjahat-penjahat yang lain mendapat waktu dan kesempatan banyak untuk melakukan pekerjaan mereka yang keji tanpa mendapat rintangan yang berarti karena orang-orang gagah seperti Hok Ti Hwesio dan yang lain-lain sudah sibuk mengurung penjahat yang sengaja menyerbu mereka ini.

Dan seperti yang sudah-sudah, setelah pekerjaan terkutuk itu selesai dilakukan, terdengar bunyi suitan seperti suara burung malam.

Kiranya ini sebagai tanda karena dengan kecepatan luar biasa, para penjahat itu lalu menghilang di dalam gelap malam dan tidak kelihatan lagi bekas-bekasnya!

Dengan wajah lesu dan muram Lie-Tikoan mengadakan perundingan dengan Hok Ti Hwesio pada keesokan harinya.

Hadir pula karena memang diundang oleh Lie-Tikoan, Sinchio Tan Hai yang nampak marah-marah karena lima orang anak buahnya yang menjaga pintu gerbang selatan telah tewas oleh penjahat, Kwan Ciu Leng guru silat Siauw-lim-pai di Liu-leng yang diundang pula.

Guru silat ini tentu saja tidak terikat oleh kewajiban, akan tetapi sebagai seorang ahli silat iapun memperhatikan persoalan ini dan sejak munculnya penjahat itu, ia selalu dimintai bantuan oleh fihak yang berwajib.

Juga Hek-liong-pian Thio Cin Gan hadir, bukan diundang melainkan kerena ia disuruh oleh Lu-Ongya untuk menyelidiki sampai di mana kehebatan sepak terjang para penjahat itu.

"Tidak kusangka sama sekali bahwa penjahat itu demikian banyak kaki tangannya,"

Lie-Tikoan mulai bicara.

"Dan sekarang jelaslah bahwa penjahat-penjahat itu datang dari luar kota, karena buktinya mereka telah membunuh para penjaga. Kuharap saja Hok Ti Suhu dan semua orang gagah sudi mengerahkan tenaga dan melakukan penyelidikan. Pula, mulai hari ini, harus dilakukan penjagaan yang lebih kuat lagi."

Tengah orang-orang ini berunding bagaimana caranya melakukan pengejaran terhadap para penjahat itu, datanglah Song Tek bekas Tikoan di Liu-leng.

Ia datang bersama Cung Hok Bi keponakannya.

Wajah Song Tek pucat dan pandang matanya muram.

Begitu datang ia lalu berkata dengan suara penuh teguran.

"Celaka sekali, penjahat-penjahat itu makin berani saja, seakan-akan tidak ambil perduli dan tidak memandang mata kepada semua orang gagah yang berada di sini. Celakanya, mereka itu mengganggu aku yang tidak berdosa!"

Dengan tenang Lie-Tikoan mempersilahkan bekas Tikoan itu duduk, kemudian tanyanya.

"Song-hiante, apakah yang terjadi maka kau datang-datang mengeluarkan pernyataan seperti itu?"

"Maaf, Lie-Taijin, sesungguhnya karena aku takut dan bingung maka aku bicara tidak karuan. Masih untung pagi hari ini aku dapat datang menghadap dan tidak hilang nyawaku. Malam tadi, selagi kota ribut-ribut karena serbuan penjahat-penjahat itu, rumahku tidak dilewati dan lihatlah apa yang menancap di atas meja dalam kamarku. Lie-Taijin, harap suka menolong dan melindungi aku yang lemah ini!"

Song Tek mengeluarkan sebatang piauw berikut sehelai kertas yang ada tulisannya.

Menerima dua macam benda ini, Lie Kim Hong tidak segera membaca suratnya melainkan memperhatikan dengan teliti.

Ia mendapat kenyataan bahwa baik piauw (pisau) maupun surat itu serupa benar dengan yang dahulu disambitkan di atas mejanya, tanda bahwa pengirimnya dari orang yang sama.

Baru ia membaca tulisan pada surat itu.

SONG-TIKOAN, KATAKAN KEPADA TIKOAN BARU JANGAN DIA MENANTANG KAMI.

KALAU DIA DAN JAGOAN-JAGOANNYA KEMBALI KE KOTARAJA, KAMI AKAN MENGHENTIKAN AKSI KAMI DI LIU-LENG.

KALAU DIA MEMBANGKANG, KAMI AKAN MENYEBAR MAUT DI LIU-LENG!

Seperti juga dulu, surat ini tidak ditandatangani.

Tanpa bicara apa-apa, Lie-Tikoan menyerahkan surat itu kepada Hok Ti Hwesio untuk dibaca.

Hwesio itu membacanya dan mengerutkan keningnya.

"Habis, bagaimana putusan Taijin?"

Tanyanya. Lie-Tikoan mengertak gigi, mengepal tinju.

"Kita harus dapat menangkap keparat itu, biar untuk tugas ini aku berkorban nyawa! Belum pernah ada pejabat pemerintah bertekuk lutut terhadap seorang jahanam!"

"Keputusan Lie-Taijin itu baik sekali,"

Kata Song Tek akan tetapi mukanya nampak gelisah.

"Hanya kuminta dengan sangat agar supaya aku tidak terbawa-bawa dalam peperangan ini. Kuharap saja Lie-Taijin akan berhasil dalam usahanya, aku... aku sudah terlalu banyak mendapat kaget, aku khawatir jantungku yang lemah takkan kuat menghadapi ketegangan-ketegangan ini..."

Setelah berkata demikian, dengan muka pucat dan tubuh lemas Song Tek bermohon diri, keluar dari situ diiringkan oleh keponakannya yang berjalan dengan langkah gagah.

"Pengecut itu mencurigakan juga..."

Kata Hok Ti Hwesio sambil memandang ke arah bayangan Song Tek yang sudah pergi jauh.

"Losuhu tak perlu bercuriga terhadap dia,"

Kata Hek-liong-pian Thio Cin Gan.

"Kami semua mengenal betul bekas Tikoan itu. Dia seorang yang lemah, mana bisa ada hubungannya dengan penjahat? Untuk aku, keponakannya itulah yang patut diperhatikan, karena pemuda itu adalah anak murid Bu-tong-pai yang amat lihai bermain pedang dan juga ahli dalam penggunaan amgi (senjata rahasia)."

Kata-kata pengawal pribadi Pangeran Lu Siang Tek ini dibetulkan oleh orang yang berada di situ, karena selama Song Tek menjadi Tikoan memang semua mengenalnya sebagai orang yang lemah.

Karena kelemahannya itulah agaknya maka kota Liu-leng sampai didatangi dan diganggu penjahat.

"Pendapat Thio sicu beralasan juga,"

Kata Kwan Ciu Leng sambil mengangguk-angguk.

"Siauwte sendiri sudah mencoba kepandaian Cung Hok Bi itu dan ternyata pemuda itu cukup lihai. Hanya amat disangsikan, masa pemuda itu menjadi anggauta penjahat dan mengganggu kota di mana pamannya dahulu menjadi Tikoan? Rasanya tak masuk di akal."

Kembali kata-kata guru silat ini mendapat perhatian dan semua orang menganggapnya tepat juga.

"Memang, dalam keadaan seperti ini, timbul kecurigaan di dalam hati dan timbul sangkaan yang bukan-bukan. Akan tetapi sebaliknya, kita pun tidak boleh percaya kepada setiap orang. Paling perlu, kita bersiaga dan marilah kita berusaha untuk melenyapkan gangguan kota kita ini."

Kata Lie-Tikoan.

Perundingan itu dilanjutkan sampai jauh siang, baru semua orang bubaran dengan hati tegang.

Lie-Tikoan sudah menyambut tantangan penjahat, perang sudah diumumkan dan semua orang menanti datangnya malam dengan hati berdebar-debar.

* * * Malam gelap.

Hitam pekat.

Ditambah kesunyian mencekik karena para penghuni kota Liu-leng sore-sore sudah menutup jendela dan pintu dan tidak mau keluar lagi, membuat suasana malam itu di kota Liu-leng menjadi serem menakutkan.

Bahkan para penjaga kota yang meronda, tidak berani berpencar dan tidak berani menyendiri, selalu bergerombol sedikitnya sepuluh orang, melakukan ronda malam dengan dua macam rasa takut.

Takut kepada penjahat yang lihai seperti iblis itu dan takut kalau-kalau mereka akan mendapat teguran dari atasan apabila tidak melakukan ronda sebaiknya.

Udara hitam tertutup mendung, tidak kelihatan bintang, apalagi bulan.

Awan menyelimuti langit membuat keadaan yang gelap sekali.

Para penjaga tentu takkan dapat melihat tangan sendiri kalau saja tidak ada sinar lampu yang menyorot keluar dari rumah-rumah penduduk.

Tiba-tiba, di antara sinar lampu yang suram, muncul bayangan-bayangan hitam dari tempat gelap.

Jumlah mereka ada enam orang dan kesemuanya memiliki gerakan yang amat gesit dan ringan.

Akan tetapi, di antara mereka adalah orang yang pada punggungnya terselip pedang dan tangannya memegang toya yang paling gesit.

Mereka ini kesemuanya memakai kedok yang hitam menutupi seluruh muka, hanya mata mereka saja yang nampak dari balik kedok.

Orang yang bertoya itu agaknya menjadi pemimpin karena ia menggerak-gerakkan tangan, kemudian mereka berpencar.

Lima orang itu melompat-lompat di atas genteng menuju ke rumah Lie-Tikoan sedangkan yang memegang toya tadi membalikkan tubuh dan lari dengan cepatnya menuju ke rumah Pangeran Lu!

Para penjahat itu sama sekali tak pernah menduga bahwa gerak-gerik mereka semenjak tadi di intai oleh sepasang mata yang tajam dari seorang yang bersembunyi di tempat gelap.

Orang ini juga memakai kedok, akan tetapi kedoknya hanya menutupi kedua matanya.

Sungguhpun demikian, sukarlah mengenal orang ini siapa sebenarnya.

Ketika orang berkedok ini yang sejak tadi sudah meraba pedang di punggungnya, melihat betapa enam orang itu terpencar, ia nampak bingung.

Akan tetapi ia segera mengambil keputusan dan lincah seperti seekor burung walet, tubuhnya melayang dan mengejar penjahat yang memegang toya tadi yang menuju ke rumah gedung Pangeran Lu.

Setiap malam gedung Pangeran Lu terjaga kuat, dan boleh dibilang rumah gedung itu dikurung rapat oleh para penjaga yang merupakan barisan pengawal penjaga keselamatan pangeran itu sekeluarga.

Akan tetapi, menghadapi penjahat berkedok yang memegang toya itu, para penjaga ini tidak ada artinya.

Dengan gerakannya yang amat ringan dan gesit sekali penjahat itu dapat melompat ke atas genteng melalui pohon besar di sebelah kiri rumah tanpa diketahui oleh seorangpun penjaga.

Hal ini bukan sekali-kali karena para penjaga kurang teliti atau lalai, melainkan karena orang itu memang tinggi sekali kepandaiannya sehingga ketika ia melompat ke atas cabang pohon kemudian melanjutkan lompatannya itu ke atas genteng, tidak sehelai daun pun bergoyang!

Juga para penjaga tidak melihat betapa bayangan kedua melayang dan hinggap di cabang pohon yang sama setelah penjahat itu berada di atas genteng.

Bayangan kedua ini adalah orang berkedok yang membawa pedang di punggungnya dan agaknya orang ini sengaja mengintai, hendak melihat apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh penjahat bertoya itu.

Dengan lincah dan cekatan, bayangan pertama itu berloncatan di atas genteng, mencari-cari.

Akhirnya ia melompat turun dan di lain saat ia telah mengintai ke dalam sebuah kamar dari jendela kamar yang berada di sebelah kanan ruangan belakang.

Di bawah sinar lampu, sepasang mata yang bersembunyi di balik kedok itu berseri, dapat dibayangkan bahwa mulutnya tentu tersenyum iblis.

Dikeluarkannya dua batang hio (dupa) dan dibakarnya, lalu dengan sekali tusuk menggunakan dua jari tangan, jendela itu menjadi bolong-bolong!

Dari lubang inilah ia masukkan hio yang sudah terbakar sehingga asap dupa itu memasuki kamar.

Inilah dupa yang amat berbahaya dan yang biasa dipergunakan oleh sebangsa jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) atau para maling yang sudah kawakan.

Asap hio ini khasiatnya hebat.

Orang yang sudah tidur kalau mencium asap ini akan menjadi pulas tidurnya seperti sudah mati!

Sebaliknya orang yang masih belum tidur, mencium bau hio yang harum melemahkan semangat ini tentu akan mengantuk seketika dan takkan dapat tahan membuka mata lagi.

Tiba-tiba penjahat itu mengeluarkan suara makian dan menarik kembali tangannya sehingga dua batang hio itu terjatuh ke dalam kamar itu.

Ia telah melihat berkelebatnya bayangan di atas genteng dan sekali ia membalikkan tubuh, tangan kirinya telah mengayun tiga batang piauw (senjata rahasia) yang menyambar ke arah tiga bagian tubuh yang berbahaya dari seorang yang sedang mengintainya dengan tubuh menggantung di tihang genteng.

Dia itu bukan lain adalah orang kedua yang tadi mengikuti bayangan pertama dan dengan kedua kaki dikaitkan pada tihang genteng, ia tengah mengintai dan tak terduga sama sekali penjahat itu telah melihatnya dan menyerangnya dengan tiga batang piauw!

Bukan main kagetnya orang yang diserang ini.

Ia dalam keadaan menggantung, kepala di bawah kaki di atas dan serangan piauw itu menyambar cepat sekali ke arah tenggorokan, ulu hati, dan pusar!

Untuk mengelak tak sempat lagi.

Akan tetapi ternyata bahwa orang ini pun bukan orang sembarangan.

Dengan gerakan cepat sekali, kedua tangannya bergerak-gerak menyampok tiga batang piauw itu, dibarengi dengan enjotan tubuhnya yang melepaskannya dari tihang genteng.

"Plak-plak-plak!"

Tiga batang piauw itu kena ia sampok sehingga menyeleweng ke kanan-kiri dan mengenai tihang terus amblas ke dalam tihang kayu itu, tidak kelihatan lagi.

Dengan cekatan orang itu melompat ke atas genteng dan keringat dingin membasahi jidatnya kalau ia teringat betapa hebatnya serangan tadi dan betapa nyawanya berada dalam bahaya.

Ia.

merasa kedua tangannya sakit-sakit ketika menyampok piauw, bahkan telapak tangan kirinya sampai lecet.

tanda bahwa tenaga sambitan dari penjahat cabul itu benar-benar mengandung tenaga lweekang yang tinggi.

Adapun penjahat yang memegang toya menjadi penasaran sekali melihat betapa serangan tiga batang piauwnya tidak berhasil.

Ia sekali lagi mengayun tangan kirinya dan kembali tiga batang piauw menyambar ke arah tubuh orang yang kini melompat ke atas genteng itu.

"Penjahat keji, jangan menjual lagak!"

Orang yang diserang itu berkata mengejek dan tangannya terayun ke depan.

Dari kedua tangannya itu menyambar tiga batang piauw yang serupa, maka bertemulah enam batang piauw itu, mengeluarkan suara nyaring dan bunga api berpijar sebelum keenam batang piauw itu runtuh ke atas genteng.

Penjahat itu terkejut sekali dan cepat ia mengayun tubuhnya melompat naik ke atas genteng pula.

Kini mereka berhadapan.

Penjahat itu sukar dikenal mukanya karena muka itu sama sekali tertutup oleh kedok hitam.

Akan tetapi ia dapat melihat bahwa orang yang mengganggu "pekerjaannya"

Itu adalah seorang pemuda berperawakan tegap dan mukanya tampan, sungguhpun tak mungkin mengenal muka itu karena mata dan sebagian hidung tertutup oleh kedok hitam.

Hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh dan tajam sekali.

"Penjahat keji, sekarang kau hendak lari ke mana? Terbukalah kedokmu!"

Sambil berkata demikian, pemuda bertopeng itu cepat mengeluarkan pedangnya, menanti sebentar untuk mendengar jawaban penjahat itu.

Akan tetapi penjahat berkedok hitam itu sama sekali tidak mengeluarkan suara, sebaliknya menggerakkan toyanya melakukan serangan hebat.

Pemuda itu menangkis dengan pedangnya dan kembali ia terkejut karena telapak tangannya sakit sekali, tanda bahwa pemegang toya itu benar-benar memiliki tenaga yang lebih besar daripadanya.

Namun ia tidak menjadi gentar dan cepat mainkan ilmu pedangnya yang menyambar-nyambar bagaikan angin menderu.

Sebuah pertandingan seru segera terjadi dan keduanya ternyata adalah ahli silat-ahli silat yang pandai.

Hal ini agaknya membuat keduanya terkejut dan berhati-hati.

Dengan penuh perhatian mereka bertempur dan yang terdengar hiruk-pikuk hanya suara senjata mereka yang sering bertemu.

Akan tetapi suara ribut-ribut ini menarik perhatian para penjaga istana pangeran Lu dan sebentar saja di bawah terdengar suara orang-orang dan kelihatan obor menyala.

"Ada penjahat di atas genteng...!!"

Terdengar suara keras.

"Ada pertempuran di atas!"

Kemudian berisik suara kaki menginjak genteng ketika para penjaga yang memiliki kepandaian melompat ke atas.

"Dua orang memakai kedok bertempur!"

"Yang mana penjahatnya?"

Ramai suara mereka itu, akan tetapi melihat hebatnya pertempuran dan betapa cepatnya gerakan pedang dan toya, tak seorangpun di antara para penjaga berani turun-tangan, apalagi mereka bingung dan tidak tahu harus menyerang yang mana dan membantu siapa.

Sementara itu, ketika penjahat itu melihat datangnya para penjaga, ia cepat memutar toyanya menyerang lawannya.

Pemutaran toya ini hebat dan berbahaya sekali, membuat pemuda bertopeng itu terpaksa melompat mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh si penjahat untuk melarikan diri dengan lompatan-lompatan jauh!

"Kau hendak lari ke mana?"

Pemuda itu membentak sambil mengejar.

Akan tetapi pada saat itu terdengar pekik wanita dari bawah.

Pemuda itu nampak terkejut, seperti juga para penjaga dan terdengar seruan dari bawah, yaitu para penjaga yang tidak ikut naik karena kepandaiannya kurang tinggi.

"Tangkap penjahat!"

Bagaikan seekor burung walet, pemuda bertopeng itu mendahului para penjaga yang masih tercengang di atas genteng, tubuhnya melayang turun ke bawah.

Di lain saat ia telah berada di dalam taman bunga dan melihat seorang gadis jelita tengah di seret-seret oleh seorang penjahat yang berkedok pula.

Bukan main kagetnya ketika ia melihat bahwa penjahat ini serupa benar bentuk tubuhnya dengan penjahat yang bertempur dengan dia di atas genteng tadi.

Karena penjahat inipun memakai kedok hitam yang menutupi seluruh mukanya dan kedok itu bahkan memakai sutera hitam yang menutupi leher sampai ke dada, maka sukarlah untuk menentukan apakah penjahat ini yang tadi ataukah bukan.

Akan tetapi tidak mungkin kalau yang tadi, pikir pemuda itu sambil menubruk maju.

"Jahanam busuk, lepaskan nona itu!"

Bentaknya dan pedangnya meluncur bagaikan kilat membabat tangan penjahat yang membetot-betot tangan gadis itu.

Gadis itu kelihatannya lemah, akan tetapi ia tidak mau diculik begitu saja dan meronta-ronta sambil menjerit-jerit.

Menghadapi serangan pedang ini, penjahat itu kaget sekali dan terpaksa ia melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan nona tadi.

Dengan gemas penjahat itu lalu menggerakkan toyanya dan menyerang hebat sekali pada pemuda bertopeng yang menghalangi usahanya menculik gadis itu.

Serangan ini hebat dan si penjahat sudah memperhitungkan bahwa serangannya ini pasti akan merobohkan pemuda itu.

Namun alangkah kagetnya ketika ternyata betapa dengan lincahnya pemuda ini mengelak dari serangannya.

Hal ini membuatnya penasaran dan marah dan di lain saat, toya itu sudah bekerja bagaikan angin taufan mengamuk!

"Hebat...!"

Pemuda bertopeng itu berseru dan cepat ia menggerakkan pedang melindungi tubuhnya.

Memang ilmu toya yang dimainkan oleh penjahat berkedok ini hebat sekali, malahan jauh lebih hebat daripada permainan toya penjahat yang ditempurnya di atas genteng tadi!

Gerakan toyanya lebih cepat, lebih mantep dan tenaganya lebih besar.

Kalau pertempuran dilanjutkan, kiranya akan memakan waktu lama sebelum dapat ditentukan siapa yang lebih unggul, karena diam-diam penjahat itupun mengaku bahwa lawannya pun memiliki kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi melihat betapa keadaan sudah ramai dan agaknya usahanya menemui kegagalan, penjahat itu lalu berseru keras dan tubuhnya melayang naik ke atas genteng, lalu melarikan diri, lenyap ditelan gelap malam.

Pemuda itu hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba tangan yang halus memegang lengannya dan di lain saat kepala yang berambut harum disandarkan ke bahunya, diiringi suara isak tangis.

Kiranya gadis cantik tadi saking bersyukur dan berterima kasih atas pertolongannya, juga saking tegangnya menghadapi pengalaman yang hebat dan berbahaya tadi, tanpa terasa telah memegang lengannya dan menangis untuk melepaskan ketegangan hatinya.

Sepasang mata yang tajam sinarnya di balik topeng itu tiba-tiba melembut, bibir itu tersenyum dan tangan kirinya mengelus-elus kepala dengan rambut halus dan harum itu.

"Nona, bahaya sudah lewat, kau aman sudah..."

Terdengar pemuda bertopeng itu berkata lirih, akan tetapi lengan kanannya yang dilingkarkan pada pundak gadis itu makin mendekap agaknya sayang untuk melepaskannya.

"In-kong (tuan penolong), terima kasih atas pertolonganmu... tidak tahu aku bagaimana harus membalas budimu yang besar..."

Gadis itu berkata.

"Tak usah dibalas kalau begitu,"

Jawab pemuda bertopeng itu tersenyum.

"Cukup kalau nona memberitahukan siapa nama nona...."

"Aku Lu Bwe Hwa..."

"Puteri pangeran Lu?"

Pemuda bertopeng itu lalu melepaskan lingkaran lengan kanannya yang memegang pedang, melangkah mundur lalu berkata.

"Aku girang sekali telah dapat menolong seorang gadis jelita seperti kau nona. Nah, selamat tinggal...!"

"In-kong, beritahukan dulu namamu, kau siapakah...?"

Pemuda itu tersenyum, tanpa menjawab lalu melemparkan sesuatu ke arah kaki Bwe Hwa. Gadis itu melihat sebatang piauw bunga emas di dekat kakinya dan segera memungutnya.

"Tangkap penjahat!"

Terdengar seruan keras dan muncullah Hek-liong-pian Thio Cin Gan, pengawal pribadi Lu-Ongya yang segera menyerbu dengan ruyung hitam di tangannya.

Di belakangnya ikut pula menyerbu lima orang penjaga istana itu.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 5

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert