Eps 2 Kim Hoa Piauw - Kho Ping Hoo
Baca online Kim Hoa Piauw - Kho Ping Hoo
Cersil Kim Hoa Piauw - Kho Ping Hoo.
Pemuda bertopeng itu mengeluarkan suara ketawa aneh lalu melompat pergi, keluar dari taman itu dan melompat ke atas genteng dengan gerakan cepat sekali.
"Bangsat rendah jangan lari!"
Hek-liong-pian Thio Cin Gan membentak sambil mengejar dengan kecepatan yang sama sehingga di atas genteng terpaksa pemuda bertopeng itu membalikkan tubuh dan menghadapi serangan Thio Cin Gan yang telah memutar ruyung hitamnya.
Pedang bertemu dengan ruyung hitam dan bunga api berpijar menyilaukan mata.
"Kau keliru, sahabat. Aku bukan penjahat. Penjahatnya sudah lari!"
Kata pemuda itu sambil menahan serangan Thio Cin Gan dengan pedangnya.
"Kalau kau bukan penjahat, siapakah? Buka topengmu dan buktikan bahwa kau orang baik-baik!"
Bentak Hek-liong-pian Thio Cin Gan.
"Aku siapa bukan urusanmu dan kau tak perlu tahu!"
Jawaban ini membikin marah pengawal pangeran Lu yang segera menubruk maju sambil menghantamkan ruyungnya ke arah kepala lawan sedangkan tangan kirinya dengan gerakan kuku harimau, menyambar ke arah muka untuk merenggut topeng.
Akan tetapi yang diserangnya tidak melawan, hanya mengelak cepat dan di lain saat, setelah mengenjotkan kedua kakinya, orang aneh itu telah melesat pergi dari situ.
Hek-liong-pian Thio Cin Gan marah sekali.
Cepat ia mengejar sambil berseru.
"Penjahat palsu, jangan lari!"
Akan tetapi, ternyata gerakan orang bertopeng itu cepat bukan main sehingga Cin Gan tertinggal.
Pengawal pangeran ini mengeluarkan sesuatu dan menyambit.
Dua sinar hitam meluncur ke arah punggung orang bertopeng itu yang menengok sebentar dan mengelak sambil mengejek.
"Ha-ha-ha, ternyata banyak orang pandai mempergunakan piauw di kota ini!"
Di lain saat si kedok hitam itu lenyap ditelan malam gelap.
Sementara itu, di lain bagian dari kota Liu-leng juga terjadi hal yang amat rame, yaitu di rumah Tikoan yang baru.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, lima orang penjahat berkedok hitam berlompatan di atas genteng menuju ke rumah Lie-Tikoan.
Mereka inilah pengganggu-pengganggu kota Liu-leng yang agaknya malam hari itu hendak turun tangan jahat kepada Tikoan baru yang tidak memperdulikan ancaman mereka.
Dari gerakan-gerakan mereka yang amat gesit itu dapat diketahui bahwa mereka rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.
Karena pakaian mereka hitam dan kedok mereka menyembunyikan seluruh muka, sukar sekali untuk mengenal siapa mereka ini dan mereka hanya dapat dibedakan satu dengan yang lain karena senjata mereka yang berbeda-beda.
Akan tetapi kedatangan mereka ini mendapat sambutan hangat.
Rumah Lie-Tikoan memang terjaga siang-malam dan selain para pengawal yang memiliki kepandaian tinggi, di situ juga kalau malam Sinchio Tan Hai dan Hok Ti Hwesio melakukan penjagaan, bahkan bermalam di situ.
Betapapun lihai lima orang penjahat itu, karena rumah gedung Lie-Tikoan terjaga rapat, kedatangan mereka dapat diketahui dan sebentar saja lima orang penjahat itu disambut oleh senjata para penjaga.
Hok Ti Hwesio memutar tongkatnya dan memaki.
"Penjahat-penjahat nekad, kalian datang menyerahkan nyawa! Bagus, kepung jangan sampai mereka lolos!"
Sinchio Tan Hai menggerakkan tombaknya dan menyambut dengan serangan hebat pula, dan selain dua orang gagah ini, masih ada belasan orang kawan Tan Hai yang bantu mengeroyok.
Sebentar saja ramailah di atas genteng rumah Lie-Tikoan.
Pertempuran sengit terjadi di mana lima orang penjahat itu dikepung dan setiap orang penjahat menghadapi dua atau tiga orang lawan.
Namun harus diakui bahwa kepandaian mereka tinggi dan lihai.
Yang seimbang dalam pertempuran itu hanya Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hai dibantu oleh dua orang penjaga.
Tiga rombongan yang lain merupakan pertempuran berat sebelah di mana para penjahat itu biarpun dikeroyok, dapat mendesak para pengeroyoknya.
Agaknya para penjahat itu sudah mengatur siasat sebelumnya.
Dua orang penjahat yang menghadapi Hok Ti Hwesio dan Tan Hai, terutama yang menghadapi hwesio itu, adalah penjahat-penjahat yang kepandaiannya paling tinggi di antara lima orang itu.
Namun menghadapi Hok Ti Hwesio, penjahat itu masih kurang lihai dan makin lama tongkat hwesio itu makin mendesaknya.
"Menyerah atau terima binasa!"
Berkali-kali Hok Ti Hwesio membentak dan dijawab dengan makian dan ketawa ejekan oleh lawannya yang membela diri mati-matian dengan sepasang pedang.
Adapun penjahat yang melawan Tan Hai mainkan ruyung dengan cara yang amat ganas dan kuat sehingga dia ini merupakan tandingan setimpal dari Tan Hai Si tombak sakti.
Berkali-kali ruyung dan tombak bertemu mengeluarkan suara nyaring dan menerbitkan bunga api berpijar dan keduanya merasa telapak tangan mereka panas.
Baik pembantu Hok Ti Hwesio maupun pembantu Tan Hai, tidak berdaya banyak hanya membantu dengan ancaman senjata atau kadang-kadang serangan tak berarti saja.
Tempo pertempuran amat cepatnya, bagaimana penjaga-penjaga itu dapat mengikuti dan menyesuaikan diri?
Yang celaka adalah para penjaga yang mengeroyok di tiga rombongan yang lain.
Mereka ini terdesak hebat dan sudah ada lima orang penjaga roboh terluka oleh senjata para penjahat itu.
Biarpun yang roboh segera diganti oleh penjaga lain, namun tetap saja keadaan para penjaga terdesak dan terancam.
Di dalam gedung juga menjadi ribut.
Lie-Tikoan telah diberitahu dan pembesar ini segera memerintahkan semua penjaga untuk mengeroyok.
"Lawan terus, jangan sampai mereka melarikan diri!"
Bentak pembesar ini.
"Sayang sekali aku sendiri tidak bisa ilmu silat,"
Katanya gemas.
"Penjaga, lekas kau panggil Kwan-Kauwsu supaya ia membantu kita!"
Adapun nyonya Lie yang juga terbangun dan menjadi ketakutan, mengejar suaminya di luar kamar, dengan tubuh menggigil memegangi lengan suaminya dan berkata.
"Mana Liong-ji...? Ah... suruh dia ke sini... berkumpul di sini..."
Memang dalam setiap bahaya, seorang ibu pertama-tama teringat kepada anaknya. Sikap panik dari isterinya menambah kejengkelan Lie-Tikoan.
"Kau ini ribut-ribut saja! Kian Liong sudah besar, bukan bayi!"
Isterinya lalu pergi berkumpul dengan para pelayan wanita yang berkelompok dan menggigil ketakutan, mendengarkan suara pertempuran yang hiruk-pikuk di atas genteng.
Pertempuran di atas genteng makin ramai dan kini terjadi perubahan hebat sekali.
Dua orang penjahat yang menghadapi Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hai telah terluka, biarpun hanya luka ringan namun cukup membuat mereka tidak berbahaya lagi.
Keadaan yang amat buruk bagi para penjahat ini menambah semangat para penjaga dan mereka mendesak makin hebat.
Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat bukan main dan begitu tangan dari bayangan ini bergerak, beberapa batang piauw menyambar dan robohlah empat orang penjaga!
Kemudian bayangan yang baru datang ini, yang ternyata adalah seorang penjahat berkedok pula, menerjang dengan toyanya, mengamuk bagaikan seekor naga siluman.
Beberapa orang penjaga roboh pula karena kemplangan toyanya yang benar-benar luar biasa lihainya.
Melihat ini, Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hai terkejut sekali.
Bukan main lihainya penjahat yang baru tiba ini.
Serentak Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hai menerjang maju menghadang penjahat lihai ini.
Pertempuran hebat terjadi.
Biarpun dikeroyok dua, tetap saja penjahat ini masih dapat melayani dengan baik serta kadang-kadang tangannya meluncurkan piauw-piauw yang selalu merobohkan seorang dua orang korban.
Keadaan berubah.
Para penjahat timbul kembali semangatnya melihat datangnya pemimpin mereka yang lihai itu dan mereka mengamuk lagi.
"Terobos kepungan, cari dan bunuh Tikoan keparat!"
Bentak pemimpin penjahat yang baru tiba itu sambil memutar toyanya sedemikian cepatnya sehingga Hok Ti Hwesio dan Tan Hai terpaksa melompat mundur.
Namun ketika penjahat ini melompat turun untuk mencari dan menyerang Lie-Tikoan, Hok Ti Hwesio dan Tan Hai juga lompat mengejar dan menyerangnya sehingga kembali terjadi pertempuran hebat sekali.
Setelah berada di atas tanah, barulah tiga orang ini dapat mengeluarkan kepandaian sepenuhnya dan pertempuran terjadi amat sengitnya.
Diam-diam Hok Ti Hwesio terkejut dan heran sekali.
Ia terkenal sebagai seorang tokoh Hoa-san-pai yang tidak saja memiliki ilmu tongkat lihai, bahkan terkenal sebagai seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga dalam amat kuatnya.
Akan tetapi sekarang menghadapi penjahat ini, ia mendapat tandingan yang setimpal.
Penjahat itu berani menahan tongkatnya dengan toya dan dalam hal tenaga, penjahat itu tidak kalah olehnya.
Lebih hebat lagi, ilmu toya dari penjahat itu ternyata amat hebat dan aneh.
"Tahan dulu!"
Seru Hok Ti Hwesio setelah memperhatikan permainan toya lawannya.
"Bukan kah kau dari partai Thian-tung kai-pang (Perkumpulan pengemis tongkat langit)?"
Hok Ti Hwesio telah mengenal perkumpulan ini yang memiliki ilmu tongkat yang luar biasa sekali, dan permainan tongkat penjahat ini mirip betul dengan ilmu tongkat Thian-tung kai-pang, sungguhpun dalam gerakan-gerakannya terdapat beberapa jurus-jurus yang aneh dan sukar sekali diduga perubahannya.
Sebagai seorang kangouw yang sudah ulung dan berpengalaman, Hok Ti Hwesio dapat menduga bahwa penjahat ini tentulah seorang tokoh Thian-tung kai-pang yang menyeleweng dan memiliki ilmu kepandaian dari cabang lain yang dicampur-adukkan.
Akan tetapi penjahat itu tidak memperdulikan permintaan Hok Ti Hwesio, sebaliknya bahkan menyerang dengan hebatnya, melakukan hantaman dari atas dilanjutkan sodokan ke ulu hati sambil membentak.
"Hwesio gundul, jangan banyak mulut! Mampuslah!"
Hok Ti Hwesio kaget setengah mati.
Menurut peraturan di dunia kangouw, pertempuran dapat ditunda sebentar atas permintaan.
Akan tetapi ternyata penjahat ini tidak mengindahkan sopan-santun dalam dunia persilatan, bahkan menyerang selagi ia tidak bersedia dengan serangan bertubi yang amat berbahaya!
Juga Tan Hai terkejut.
Cepat Si tombak sakti ini menggerakkan tombak untuk menolong Hok Ti Hwesio, akan tetapi begitu ujung tombaknya beradu dengan toya penjahat itu, toya itu terpental kembali dan hampir terlepas dari pegangannya!
Ternyata bahwa penjahat itu mengerahkan seluruh tenaganya dalam penyerangan ini.
Hok Ti Hwesio cepat memutar tongkat menangkis, akan tetapi karena tangkisannya ini terlambat, tetap saja toya telah menghantam pinggangnya dari sebelah kanan.
"Bukk...!!"
Toya terpental saking kerasnya menghantam tubuh yang sudah mengerahkan lweekang sepenuhnya.
Si penjahat kaget dan melompat mundur, akan tetapi Hok Ti Hwesio mukanya menjadi pucat dan ia muntahkan darah segar!
"Ha-ha-ha, hwesio busuk, mampuslah!"
Teriak penjahat itu yang kini memutar toya hendak mengirim serangan terakhir. Tiba-tiba dari atas genteng melayang bayangan hitam didahului oleh sinar pedang berkilauan menyambar leher penjahat itu.
"Bangsat terkutuk, kau sudah berada di sini?!"
Teriak bayangan itu yang bukan lain adalah pemuda bertopeng hitam.
Dari atas genteng ia mengenal penjahat bertoya ini yang pernah dihadapinya di dalam rumah gedung pangeran Lu.
Si penjahat menangkis pedang yang mengancamnya.
Bunga api berpijar dan penjahat itu mengeluh di dalam hatinya.
Siapakah pemuda yang selalu menghalanginya ini?
"Angin kencang!"
Teriaknya.
Inilah bahasa rahasia yang menjadi aba-aba agar supaya kawan-kawannya melarikan diri karena keadaan lawan terlampau tangguh.
Sambil berkata demikian ia melompat ke atas genteng dan melarikan diri sambil menyebar piauw ke belakang untuk mencegah para penjaga mengejar.
Para penjaga kewalahan dan gentar menghadapi penjahat-penjahat yang tangguh itu sehingga tidak ada yang berani mengejar.
Akan tetapi si topeng hitam tetap mengejar dengan pedang di tangannya.
Sebentar saja bayangan enam orang penjahat dan penolong aneh itu lenyap di dalam gelap dan keadaan di atas rumah Lie-Tikoan menjadi sunyi kembali.
Akan tetapi, tak lama kemudian, selagi orang-orang menolong mereka yang terluka, terdengar suara keras dan sesosok tubuh dilemparkan dari atas genteng, jatuh berdebuk di atas tanah.
Pelemparnya tentu seorang yang tinggi ilmunya sehingga tubuh yang dilemparkan ini tidak mengalami pecah kepala, melainkan luka-luka kecil pada tubuh yang tidak begitu berbahaya.
Ketika semua orang mengejar dan melihat, ternyata bahwa yang dilempar ke bawah itu adalah seorang laki-laki muda yang berpakaian penjahat dan masih memakai kedok di mukanya, akan tetapi kedua kaki-tangannya terikat dan pundaknya terluka oleh pedang!
Segera penjahat ini digusur dan ditahan di dalam tempat tahanan, dijaga keras, untuk menanti pemeriksaan pada keesokan harinya.
"Mana Liong-ji...?"
Terdengar suara ribut di dalam rumah Lie-Tikoan karena ketika nyonya Lie mencari anaknya, ternyata pemuda itu tidak kelihatan mata hidungnya.
Akhirnya, seorang pelayan mendapatkan pemuda itu yang ternyata bersembunyi di dalam kakus, mendekam dengan muka pucat dan tubuh bergemetar ketakutan!
Semua orang menjadi geli dan ada pula yang diam-diam memandang rendah.
Yang paling marah dan malu adalah Lie-Tikoan, akan tetapi ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
(Lanjut ke
Jilid 02 a) Kim Hoa Piauw (Pisau Terbang Bunga Emas) Karya . Kho Kiong An/Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 a Penjahat yang tertangkap dan ditawan berada dalam kamar tahanan, dijaga keras sekali oleh para penjaga yang dikepalai oleh Hok Ti Hwesio sendiri.
Hwesio ini yang tidak sabar-sabar lagi, menjelang pagi sudah memeriksa dan menanyai penjahat itu untuk mengetahui keadaan perkumpulan penjahat dan siapa kepalanya.
Namun usahanya sia-sia belaka karena penjahat itu sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Biarpun ia ditampar dan dipukul, tetap penjahat itu membungkam.
Hok Ti Hwesio tidak berani menyiksa lebih banyak karena takut kalau penjahat itu akan mati sebelum diperiksa oleh Lie-Tikoan sendiri.
Berita tentang ditangkapnya seorang anggauta penjahat menggemparkan kota Liu-leng, akan tetapi juga menggirangkan hati penduduk.
Mereka berharap bahwa dengan ditangkapnya seorang penjahat maka kumpulan pengganggu keamanan itu akan dapat digulung.
Berbondong orang datang untuk melihat macamnya penjahat yang tertangkap dan yang selama ini merupakan iblis yang membuat semua penduduk tak dapat tidur nyenyak.
tetapi Hok Ti Hwesio melarang keras, dan tak seorangpun diperbolehkan masuk kecuali mereka yang ia percaya betul.
Oleh karena itu, pagi-pagi sekali sebelum penjahat itu diperiksa, yang dapat memasuki kamar tahanan dan melihat penjahat yang sudah dibelenggu itu hanya mereka yang pernah membantu untuk menangkap para penjahat.
Berturut-turut datang guru silat Kwan Ciu Leng, Sinchio Tan Hai, dan beberapa orang pemimpin penjaga dan pengawal.
Mereka yang bertugas menjaga di empat penjuru pintu gerbang kota, pada datang melihat.
Sinchio Tan Hai yang berjasa juga dalam menghadapi serbuan para penjahat, beberapa kali masuk ke dalam kamar dan di depan para pendatang, ia menceritakan tentang pertempuran semalam dengan lagak seakan-akan ialah yang paling berjasa mengembalikan serangan para penjahat.
Tentu saja ia tidak dapat menyangkal bahwa yang menangkap penjahat itu adalah seorang aneh yang memakai topeng hitam.
Semua orang menjadi kagum dan juga terheran-heran.
Siapakah si topeng hitam itu?
Tak lama kemudian datanglah tamu yang mendapat penghormatan besar karena tamu ini bukan lain adalah Pangeran Lu Siang Tek.
Pangeran ini datang bersama Hek-liong-pian Thio Cin Gan.
Dengan terjadinya peristiwa penyerbuan penjahat di gedungnya, pangeran ini tak dapat tidur dan begitu mendengar bahwa rumah Lie-Tikoan juga diserbu bahkan lebih hebat dan bahwa ada seorang anggauta penjahat tertawan, pangeran ini cepat-cepat mengajak Hek-liong-pian Thio Cin Gan untuk datang melihat.
Lu Siang Tek segera memasuki kamar tahanan untuk melihat sendiri macamnya penjahat itu.
Ia melihat seorang laki-laki yang berusia tiga puluh lima tahun, bermuka kuning dan bermata liar, akan tetapi ia tidak mengenalnya.
Setelah ia keluar, Thio Cin Gan juga menengok penjahat itu sebentar, kemudian mengikuti majikannya yang langsung menuju ke rumah Lie-Tikoan untuk menghadiri pemeriksaan atas diri penjahat itu.
Dua orang pembesar ini lalu bercakap-cakap, saling menceritakan peristiwa yang mereka alami semalam.
Ketika Cung Hok Bi mengantar pamannya, Song Tek atau Tikoan lama, datang pula melihat, Hok Ti Hwesio memandang ke arah Cung Hok Bi dengan mata tajam menyelidik.
Diam-diam Hok Ti Hwesio mempunyai sangkaan bahwa mungkin sekali pemuda bertopeng yang semalam membantunya adalah keponakan dari Tikoan lama ini.
Bentuk tubuhnya serupa benar dan iapun sudah mendengar bahwa Cung Hok Bi adalah murid Bu-tong-pai yang amat pandai, seorang ahli pedang dan pandai pula melepas piauw.
Akan tetapi tentu saja hwesio ini tidak dapat menyatakan sesuatu karena penolong aneh yang telah menangkap penjahat itu tidak mau memperkenalkan dirinya.
Dengan sikapnya yang ramah-tamah seperti biasa, datang-datang Song Tek memberi selamat kepada Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hai.
"Kionghi... kionghi..."
Katanya gembira.
"Hok Ti Losuhu benar-benar lihai sekali. Akhirnya iblis pengganggu kota kita tertangkap juga."
Mendengar kata-kata ini, Hok Ti Hwesio menjadi merah mukanya, merasa mendapat sindiran.
"Ah, mana pinceng patut dipuji? Kalau tidak ada seorang penolong rahasia, kiranya pinceng sudah binasa dan pula tidak ada penjahat yang akan dapat ditangkap. Semua ini adalah jasa penolong budiman itu, juga karena bintang dari Lie-Tikoan terang dan baik."
Sementara itu, Cung Hok Bi memasuki kamar tahanan untuk melihat penjahat yang tertawan.
Song Tek mendengarkan cerita Hok Ti Hwesio dan Sinchio Tan Hai tentang peristiwa semalam.
Kemudian iapun masuk ke dalam kamar tahanan diantar oleh Hok Ti Hesio dan Tan Hai.
Betapapun juga, Song Tek adalah seorang bekas pembesar, maka perlu dijaga keselamatannya.
Melihat dua orang itu sudah mengantar pamannya, Cung Hok Bi tidak ikut mengantar karena sekarang ia mendapat giliran mendengarkan cerita dari seorang pengawal yang menjaga di situ.
"Inilah, Song-loya, penjahat yang selama ini mengganggu kita,"
Kata Tan Hai kepada Song Tek setelah mereka berhadapan dengan penjahat yang duduk menyandar di sudut kamar itu, kepalanya tunduk, matanya meram, kaki-tangannya terbelenggu.
"Dia amat ganas dan lihai, akan tetapi sekarang tinggal menanti keputusan untuk dipenggal batang lehernya. Ha-ha-ha...!"
Song Tek menghampiri tawanan itu, berkata keras.
"Hendak kulihat bagaimana macamnya iblis yang selama ini telah membikin pusing kepalaku!"
Dengan gemas ia lalu menjambak rambut kepala penjahat itu dan mengangkat mukanya.
Penjahat itu membuka matanya, memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat seperti mayat.
Song Tek melepaskan rambut yang dijambaknya dengan kasar sehingga muka itu tertunduk kembali.
"Jahanam busuk! Pengecut hina-dina! Kalau boleh, aku akan menyayat-nyayat tubuhnya, mencokel keluar matanya, membuntungi semua jari kaki-tangannya! Setidaknya aku akan membenturkan kepalanya pada dinding sampai hancur lebur! Baru puas hatiku!"
Hok Ti Hwesio dan Tan Hai dapat memaklumi kemarahan Song Tek kepada penjahat itu, karena sesungguhnya para penjahat yang mengganggu kota Liu-leng itulah yang membuat dia kehilangan jabatannya.
Mereka lalu keluar dari kamar tahanan setelah Song Tek memaki-maki dan menyumpah-nyumpah.
Akan tetapi baru saja mereka melangkah keluar, terdengar suara keras di dalam kamar tahanan itu.
Hok Ti Hwesio melompat masuk lagi dan apa yang dilihatnya?
Tubuh penjahat itu telah menggeletak dan kepalanya berlumur darah.
Ternyata bahwa penjahat itu telah membenturkan kepalanya sendiri pada dinding di belakangnya!
Agaknya penjahat itu gentar memikirkan hukuman yang akan ia hadapi maka ia menghabiskan nyawanya sebelum diperiksa oleh Lie-Tikoan.
* * * "Sayang sekali..."
Lie-Tikoan berkali-kali berkata sambil menarik napas.
"Penjahat itu seharusnya dapat memberi keterangan siapa gerangan pemimpin penjahat. Sayang ia mendapat kesempatan membunuh diri."
"Memang amat disayangkan hal ini terjadi,"
Kata Song Tek yang juga hadir di situ.
"Aku akan merasa gembira sekali kalau melihat dia terhukum seberat-beratnya."
Orang yang paling marah karena kejadian itu adalah Pangeran Lu Siang Tek. Ia memandang kepada Hok Ti Hwesio dan menegur.
"Hok Ti Losuhu, bagaimana hal ini bisa terjadi? Mengapa losuhu tidak melakukan penjagaan sekerasnya sehingga dapat mencegah ia melakukan pembunuhan diri?"
Merah muka dan kepala Hok Ti Hwesio.
"Pinceng sama sekali tidak mengira bahwa jahanam itu akan demikian nekad. Tadinya ia tenang-tenang saja, bahkan tidak menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pinceng. Tidak tahunya ia begitu nekad untuk membunuh diri. Hmm, ini menandakan bahwa gerombolan penjahat itu berbahaya dan setia kepada pemimpinnya, Ongya. Pinceng akan menghabiskan segala tenaga dan pikiran untuk menangkap kepalanya!"
"Sayang sekali, orang bertopeng hitam yang telah membubarkan penjahat dan menangkap seorang di antaranya, tidak mau memperkenalkan diri. Kalau dia dapat membatu kita secara terang-terangan, alangkah baiknya..."
Kata pula Lie-Tikoan dan kata-kata ini langsung menikam hati Hok Ti Hwesio.
Akan tetapi, kata-kata ini memang ada benarnya, karena sudah jelas bahwa si topeng hitam itu lihai dan dapat mengatasi sepak terjang para penjahat, sebaliknya Hok Ti Hwesio dan kawan-kawannya tidak berdaya.
"Taijin, memang si kedok hitam itu telah membantu kita, akan tetapi karena dia tidak mau muncul secara terang-terangan, kitapun tidak bisa mendesaknya. Adapun kepala penjahat itu dan kawan-kawannya memang amat lihai, maka pinceng telah menyuruh seorang murid untuk mengundang dua orang sute dari kota Leng-ti-kwan. Dengan bantuan dua orang suteku itu, kiranya pinceng akan dapat menghadapi para penjahat itu."
Lie-Tikoan girang mendengar ini.
"Siapakah dua orang sutemu itu, losuhu?"
Dengan suara bangga Hok Ti Hwesio berkata.
"Ji-sute adalah Kim-coa-pian Bu Kiat dan sam-sute adalah Sin-siangto Kwee Sin Bun. Dua orang suteku ini adalah piauwsu-piauwsu (pengawal barang kiriman) yang mendirikan perusahaan ekspedisi Ang liong-piauwkiok (perusahaan ekspedisi Naga Merah) yang amat terkenal di kota Leng-ti-kwan. Nama mereka sebagai piauwsu sudah amat terkenal dan tidak ada penjahat yang tidak takut kepada mereka."
Tentu saja semua orang menjadi girang mendengar ini. apalagi ketika Cung Hok Bi, keponakan dari Song Tek, yang tampan dan gagah serta pendiam, tiba-tiba berkata.
"Ang-liong piauwkiok? Ah, akupun sudah mendengar nama besar dari jiwi piauwsu yang gagah perkasa itu!"
"Bagus!"
Kata Song Tek sambil bertepuk tangan.
"Mampuslah sekarang penjahat-penjahat musuh kita! Hok Ti Losuhu, kapankah dua orang gagah itu akan tiba? Aku ingin sekali melihat penjahat-penjahat itu secepat mungkin tertangkap."
"Menurut perhitungan pinceng, lima hari lagi mereka pasti datang."
Jawab hwesio itu. Lie-Tikoan mengerutkan keningnya.
"Losuhu, memang baik sekali dengan adanya bantuan yang akan datang itu. Akan tetapi, sebelum kedua orang sutemu itu tiba, harap jangan lengah, perkuat penjagaan, karena siapa tahu kalau-kalau para penjahat itu akan menyerbu sebelum bala bantuan datang."
"Betul sekali kata-kata Lie-Tikoan ini!"
Kata Song Tek.
"Memang Lie-Taijin memiliki pemandangan yang luas. Dengan pimpinan Lie-Taijin, dibantu pula oleh dua orang piauwsu itu, kali ini pasti para penjahat akan mati kutunya. Selamat, selamat!"
Muka Lie-Tikoan menjadi merah dan Pangeran Lu yang merasai pula sindiran ini, berkata.
"Untuk menghadapi para penjahat ini, tidak bisa ditimpakan ke atas pundak Lie-Tikoan seorang saja. Sudah menjadi kewajiban kita bersama, ya... kewajiban seluruh penduduk Liu-leng untuk ikut pula mengamat-amati, ikut pula bergerak membantu agar penjahat-penjahat itu lekas tertangkap."
Song Tek tentu saja dapat menangkap teguran yang terkandung dalam kata-kata ini, teguran yang ditujukan kepadanya untuk membalas sindirannya tadi.
Akan tetapi dengan wajah tanpa berubah, dan senyum lebar dan ramah, ia berkata cepat.
"Tepat sekali! Memang kata-kata Lu-Ongya ini cocok betul dengan isi hatiku. Kita sekalian harus ikut membantu menjaga kota kita sendiri. Biarpun siauwte bodoh dan lemah, baiknya siauwte mempunyai pembantu, yakni keponakanku sendiri. Hok Bi, kau dengar kata-kata Lu-Ongya tadi? Sebagai anak murid Bu-tong-pai, kau jangan kalah dan jangan membikin malu nama partaimu. Hayo kau kerahkan tenaga supaya kita dapat menangkap penjahat-penjahat itu!"
Dengan kata-kata ini, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyambut kata-katanya, bekas Tikoan ini lalu berpamit dan mengajak keponakannya yang tampan dan gagah itu mengundurkan diri.
Memang tepat apa yang dikhawatirkan oleh Lie-Tikoan.
Pada malam hari berikutnya, para penjahat sudah mulai beraksi lagi.
Tiga orang hartawan menjadi korban dan seperti biasa, para penjahat ini hanya mengutamakan emas dan permata, atau barang-barang ringkas yang berharga.
Kali ini tidak jatuh korban, namun tetap saja memusingkan kepala Lie-Tikoan karena semua perbuatan penjahat-penjahat itu sama sekali tidak ketahuan oleh para penjaga.
Penjagaan dikerahkan di rumah Lie-Tikoan, sebagian pula di sekitar gedung Pangeran Lu Siang Tek dan banyak pula di pencar di sekitar kota, terutama di empat pintu gerbang kota.
Siapa sangka bahwa tanpa melalui pintu gerbang, para penjahat tahu-tahu sudah berada di dalam kota dan dengan seenaknya bekerja!
Lie-Tikoan makin bingung.
Dengan tewasnya beberapa orang penjaga pintu gerbang pada hari kemarinnya, menandakan bahwa para penjahat itu bersarang di luar kota.
Akan tetapi malam ini membuktikan bahwa para penjahat itu tahu-tahu sudah berada di dalam kota, seakan-akan para penjahat itu memang mempunyai sarang di dalam kota!
Malam kedua terjadi hal yang lebih hebat lagi.
Sekarang rumah pangeran Lu yang diserbu!
Malam itu bulan sudah mulai muncul, biarpun baru seperlima bagian, namun sudah mendatangkan cahaya remang-remang, Lie-Tikoan sudah merobah siasat dan sekarang diadakan ronda secara bergiliran akan tetapi sambung-menyambung sehingga seluruh kota berada dalam pengawasan.
Tentu saja jalan raya di depan gedung Pangeran Lu tidak begitu diperhatikan oleh para peronda, oleh karena gedung itu sudah terjaga kuat oleh Hek-liong-pian Thio Cin Gan dan anak buahnya, bahkan dibantu oleh beberapa orang penjaga yang dikirim oleh Lie-Tikoan.
Hek-liong pian Thio Cin Gan sore-sore telah melakukan penjagaan dan mengatur anak buahnya dengan tertib sekali.
Ia membagi penjagaan menjadi tiga lapisan.
Barisan pertama menjaga dan meronda di luar pagar tembok pekarangan.
Barisan kedua di sebelah dalam tembok, yakni di pekarangan di luar rumah, sedangkan barisan ketiga di luar rumah dekat tembok bangunan gedung.
Jangankan manusia biasa, biarpun burung takkan dapat melalui atap rumah tanpa terlihat oleh tiga lapisan penjaga-penjaga ini.
Adapun Cin Gan sendiri meronda di sebelah dalam dan kadang-kadang melompat ke atas genteng!
Akan tetapi, benar-benar luar biasa anehnya ketika menjelang tengah malam, di atas genteng berkelebat dua bayangan orang berkedok dan berpakaian hitam, bersembunyi di wuwungan rumah, agaknya mengatur siasat.
Lebih aneh lagi, di sebelah dalam gedung, Pangeran Lu Siang Tek sedang duduk menghadapi seorang bertopeng hitam yang temyata bukan lain adalah si topeng hitam yang pernah mengusir penjahat, yakni penolong rahasia yang perkasa itu!
Tadinya pangeran Lu yang belum tidur dan masih membaca buku, kaget melihat berkelebatnya bayangan hitam dan tahu-tahu ia melihat si topeng hitam itu berdiri di tengah kamar!
"Kim-Hoa-Piauw...!"
Kata Pangeran Lu perlahan.
Ia menyebut ini karena teringat akan cerita puterinya bahwa si topeng hitam yang tidak mau menyebutkan namanya ini telah meninggalkan sebatang piauw dengan kepala bunga emas.
Sitopeng-hitam itu tersenyum ketika mendengar sebutan ini.
"Ongya jangan kaget,"
Katanya berbisik perlahan sehingga nyonya Lu yang sudah pulas di sebelah suaminya tidak terganggu.
"Aku datang hendak menolongmu. Di atas genteng ada dua orang penjahat, Suruh Lu-siocia ke sini dan berkumpul di kamar ini agar tidak payah aku melakukan penjagaan dan perlindungan."
Bukan main kaget dan herannya hati Pangeran Lu mendengar ini.
"Akan tetapi bukankah Thio Cin Gan dan anak buahnya sudah menjaga kuat-kuat rumah ini?"
Si topeng hitam tersenyum.
"Masih kurang kuat, Ongya. Buktinya aku dapat masuk tanpa mereka lihat. Pula, penjahat-penjahat itu lihai sekali. Lekaslah, jangan terlambat. Panggil Lu-siocia ke sini..."
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat si topeng hitam itu melayang keluar dari jendela kamar dan lenyap.
Lu Siang Tek segera berlari memasuki kamar puterinya.
Lu Bwe Hwa terkejut sekali ketika dibangunkan oleh pelayannya dan lebih kaget melihat ayahnya sudah berada di dalam kamarnya.
"Ada apakah, ayah...?"
Tanyanya sambil menggosok-gosok matanya.
"Sstt, jangan berisik. Ikut saja ke kamarku..."
Kata Pangeran Lu sambil menarik tangan anaknya.
Pelayan Bwe Hwa, yaitu Siauw Hong, ikut pula dengan muka pucat ketakutan.
Setelah berada dalam pelukan ibunya, Bwe Hwa mendengar tentang kedatangan dan peringatan si topeng hitam.
Ibunya juga baru bangun dan tahu akan hal itu setelah si topeng hitam pergi dan dibangunkan oleh suaminya.
Mereka berempat, Lu Siang Tek, isterinya, Bwe Hwa, dan Siauw Hong, berkumpul di kamar itu, mendengarkan dengan menahan napas.
Tak lama kemudian mereka kaget setengah mati melihat berkelebatnya bayangan hitam yang melompat masuk melalui jendela.
Akan tetapi mereka menjadi lega hati lagi ketika melihat bahwa bayangan ini adalah si topeng hitam yang cepat menghampiri meja dan meniup padam lampu lilin.
"Jangan bergerak, berkumpul di sudut kamar. Mereka sedang menuju ke sini..."
Bisiknya. Kemudian sambil mendekati pangeran Lu yang hanya kelihatan bayangannya saja dalam kamar yang telah menjadi gelap itu, si topeng hitam berkata.
"Lu-Ongya, aku hendak mencoba menangkap kepalanya!"
Pangeran Lu membuat gerakan hendak bertanya dan mengenal siapa adanya orang aneh ini, akan tetapi orang itu berbisik.
"Stt, mereka datang..."
Benar saja, di luar jendela terdengar suara perlahan disusul bisikan.
"Agaknya dia berada di kamar orang tuanya. Bereskan saja semua!"
Berbareng dengan itu, daun jendela kamar terbuka dan dua sosok bayangan hitam melompat dengan gerakan lincah laksana kucing.
Si topeng hitam atau kita sebut saja Kim-Hoa-Piauw seperti sebutan yang dikeluarkan oleh Pangeran Lu tadi, cepat menggerakkan tangan dan dua sinar hitam menyambar ke arah bayangan itu.
"Celaka, kita terjebak!"
Seru bayangan pertama yang memegang toya sambil menyampok piauw itu dengan tangan kirinya.
cara ia menyampok piauw ini saja sudah cukup membuktikan kelihaiannya.
Bayangan kedua kurang lihai, karena ia cepat-cepat mengelak dari sambaran piauw kemudian melompat keluar dari kamar.
Penjahat bertoya juga melompat keluar, akan tetapi sambil melompat ia mengayun tangannya ke belakang dan tiga batang piauw menyambar ke dalam kamar secara membabi-buta.
Si topeng hitam memutar pedangnya.
"Traang...!"
Senjata-senjata rahasia itu sekaligus kena ditangkis dan terpental ke lantai. Kemudian si topeng hitam berseru keras.
"Jahanam keji jangan lari!"
Tubuhnya menyambar keluar, namun gerakan dua orang penjahat itu cepat bukan main dan ternyata mereka telah melompat ke atas genteng.
Bagaikan burung walet, Kim-Hoa-Piauw terus mengejar dan begitu ia melesat ke atas, ia berseru kaget dan terpaksa ia berjungkir balik dalam lompatannya untuk menghindarkan diri dari serangan toya yang luar biasa hebatnya, yang menyambut kedatangannya di atas genteng itu.
Inilah serangan dari penjahat bertoya.
"Setan, kau lagi menghadapi kami!"
Penjahat bertoya itu memaki gemas melihat seranganuya tidak berhasil.
Berkali-kali tangannya diayun dan berhamburanlah senjata piauw hitam menyambar lawannya.
Karena baru saja terlepas dari bahaya maut, si topeng hitam atau Kim-Hoa-Piauw sibuk juga menghadapi serangan yang bertubi-tubi datangnya ini.
Terpaksa ia memutar pedang melindungi tubuhnya.
Kesempatan ini dipergunakan oleh penjahat bertoya untuk melarikan diri menyusul kawannya yang sudah lari terlebih dulu.
Sementara itu, Pangeran Lu dari bawah berteriak-teriak.
"Tangkap penjahat...! Thio Cin Gan, kau di mana?!"
Seruan ini keras dan menarik perhatian para penjaga yang segera memburu ke pintu depan gedung itu.
Karena pintu itu masih ditutup dari dalam, mereka lalu mendobrak pintu dan menyerbu masuk.
Namun para penjaga ini tidak mendapatkan sesuatu.
Bahkan Hek-Iiong-pian sendiri yang tiba-tiba melayang turun dari genteng sebelah belakang, tidak mendapatkan sesuatu kecuali keluarga Pangeran Lu yang masih menggigil ketakutan.
"Kau dari mana saja?"
Bentak pangeran Lu marah setelah pengawal ini menyalakan lampu.
"Hamba sedang meronda di sebelah belakang gedung. Tadi hamba melihat berkelebatnya bayangan orang-orang di atas genteng, maka hamba lalu mengejar dan bayangan-bayangan itu menghilang di dalam gelap. Sama sekali hamba tidak mengira bahwa mereka telah dapat masuk ke dalam. benar-benar aneh sekali, penjagaan sudah hamba adakan dengan amat keras. Bagaimana mereka dapat masuk?"
Jawab pengawal itu dengan muka merah karena ia benar-benar merasa terkejut sekali.
Baiknya tidak terjadi sesuatu dengan majikannya, kalau terjadi malapetaka, tidak urung dia yang celaka, karena dialah yang bertanggung jawab.
Di luar terdengar ribut-ribut dan tak lama kemudian muncul guru silat Kwan Ciu Leng yang berpakaian ringkas dan sepasang senjatanya yang lihai, yakni poan-hoan pit atau semacam alat tulis yang dapat dipakai sebagai senjata penotok, berada di kedua tangannya.
Wajah guru silat ini nampak tegang sekali.
"Selamat semuakah, Lu-Ongya?"
Tanyanya dengan nada suara gelisah.
"Hampir saja kami celaka,"
Jawab pangeran itu, kemudian dengan cepat dan penuh curiga ia bertanya.
"Kwan-Kauwsu tengah malam buta dari manakah?"
"Hamba ikut meronda dan kebetulan lewat di tempat ini mendengar suara ribut-ribut, maka hamba lalu mengajak kawan-kawan peronda yang lain untuk menyelidiki. Sukurlah kalau Ongya dan keluarga selamat semua."
Peristiwa ini kembali menimbulkan kegemparan dan nama Kim-Hoa-Piauw di sebut-sebut orang dengan heran dan kagum.
Semua orang membicarakan serbuan yang berkali-kali di rumah pangeran Lu dan karena selalu para penjahat tidak mengganggu harta pangeran itu melainkan mencoba menculik Lu Bwe Hwa, Maka para penduduk mengabarkan bahwa kepala penjahat telah "Jatuh hati"
Kepada Lu Bwe Hwa, bunga kota Liu-leng itu.
Berita ini sampai di telinga Pangeran Lu Siang Tek dan membuat pangeran itu mengerutkan kening dengan hati mengkal.
Empat hari kemudian, di luar kota Liu-leng, di sebelah utara di mana terdapat pegunungan dan hutan pohon yangliu, pada siang hari terjadi pertempuran hebat.
Menjelang tengah hari, serombongan orang berkuda terdiri dari lima orang datang dari utara dan menuju ke Liu-leng.
Mereka ini bukan lain adalah rombongan yang dinanti-nanti di Liu-leng oleh Hok Ti Hwesio.
Orang pertama adalah seorang laki-laki tampan berusia tiga puluh lebih dan di punggungnya tergantung sebuah senjata pian yang bentuknya seperti ular dan warna kuning.
Inilah Kim-coa-pian Bu Kiat Si ruyung ular emas.
Orang kedua adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun bermuka brewok dan bertubuh tinggi besar seperti pahlawan Thio Hwi di jaman dahulu, di pinggangnya tergantung sepasang golok besar.
Dia inilah Sin-siang-to Kwee Sin Bun, dari julukannya, sepasang golok sakti, saja dapat diduga bahwa ia adalah seorang ahli ilmu silat golok.
Tiga orang yang lain adalah anak buah mereka atau anggauta-anggauta perusahaan piauwkiok.
Seorang di antaranya memegang sebuah bendera yang tertancap di tempat duduknya.
Bendera kuning yang bergambar Naga merah.
Inilah lambang dari Ang-liong piauwkiok, perusahaan ekspedisi yang amat terkenal di daerah utara.
Kim-coa-pian Bu Kiat dan Sin-siang-to Kwee Sin Bun menjalankan kuda mereka berdampingan dan mereka bercakap-cakap di sepanjang jalan.
"Aku heran sekali mengapa suheng memanggil kita hanya untuk mengurus maling-maling kecil yang mengganggu Liu-leng. Sungguh mati, kalau bukan suheng yang memanggil, aku tidak sudi membuang waktu hanya untuk menghadapi segala macam penjahat tukang colong ayam."
Kata Kim-coa-pian Bu Kiat.
"Jangan bilang begitu, sute. Belum tentu kita hanya akan dihadapkan dengan tukang colong biasa saja. Kiranya twa suheng tidak akan minta bantuan kita kalau memang dia tidak menghadapi seorang penjahat yang lihai. Apalagi aku dengar bahwa kini twa suheng bekerja di bawah perintah Lie-Taijin yang sudah terkenal kecerdikannya di Kotaraja."
Kata Sin-siang-to Kwee Sin Bun mencela adik seperguruannya.
"Bagaimanapun juga, kalau twa suheng sudah minta bantuan kita, tentu penjahat-penjahat yang mengganggu kota Liu-leng itu bukan penjahat-penjahat biasa saja. Kalau benar kita akan berhadapan dengan mereka, mudah-mudahan saja mereka suka memandang Ang-liong piauwkiok untuk mengakhiri gangguan mereka secara baik-baik. Aku takkan sayang menyumbang seratus tael kepada mereka."
"Memang benar, suheng. Pekerjaan kita memaksa kita untuk berbaik dengan penjahat-penjahat besar. Akan tetapi kalau ternyata yang membikin pusing kepala twa suheng itu hanya maling-maling kecil belaka, ruyungku tentu takkan mau sudah begitu saja sebelum memecahkan kepala beberapa orang maling kecil."
Percakapan mereka tertunda ketika dari depan terdengar derap kaki kuda dan tak lama kemudian seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya lewat di jalan itu meninggalkan debu mengepul.
Orang itu masih muda, tidak akan lebih dari tiga puluh tahun, wajahnya tampan dan kulitnya putih.
Ketika lewat, matanya memandang ke arah bendera kecil dari Ang-liong piauwkiok dan terdengar dia mengeluarkan suara ketawa mengejek.
"Hmm, sikapnya mencurigakan!"
Kata Bu Kiat dengan hati panas melihat benderanya tidak ditakuti orang.
"Turunkan bendera itu dan ganti dengan yang besar. Dia pasti kembali membawa kawan-kawannya."
Kata Kwee Sin Bun yang sebagai seorang piauwsu kawakan tentu saja sudah banyak pengalaman dan tahu akan gerak-gerik golongan rimba hijau (perampok).
Anak buahnya yang memegangi bendera lalu mengerjakan perintah ini.
Berkibarlah bendera Ang-liong piauwkiok yang besar dan megah.
Karena bendera ini dipasang di atas kuda dan kudanya dilarikan, maka bendera itu berkibar-kibar dan lukisan naga merah itu seakan-akan terbang, amat indah dan gagahnya.
Dugaan dua orang piauwsu ini memang tepat.
Hal ini dibuktikan dengan suara derap kuda yang terdengar tak lama kemudian, datang dari arah belakang dan tidak lama pula muncullah tiga orang penunggang kuda dari arah belakang.
Hampir dalam saat yang bersamaan, tiga orang penunggang kuda lain datang pula dari arah depan!
Karena Kwee Sin Bun tidak menyuruh kawan-kawannya berhenti, maka tiga orang berkuda dari depan bertemu lebih dulu dengan mereka.
Ternyata bahwa tiga orang ini semua memakai kedok hitam dan berpakaian hitam pula!
Kwee Sin Bun segera menyuruh kawan-kawannya berhenti dan bersiap-siap.
Dia sendiri lalu melompat turun dari kudanya, berdiri tegak di depan rombongannya menanti datangnya tiga orang berkuda yang memakai kedok itu.
Adapun Bu Kiat juga melompat turun dari kudanya, akan tetapi ia berdiri di belakang rombongannya menghadap ke belakang pula untuk menanti datangnya tiga orang penunggang kuda lain yang datang dari belakang dan masih agak jauh itu.
Tiga orang berkedok yang menunggang kuda, melihat Kwee Sin Bun berdiri tegak menghadang di tengah jalan, nampaknya kagum dan ragu-ragu.
Memang Kwee Sin Bun nampak angker sekali ketika itu.
Mukanya yang brewok dan gagah itu sedikitpun tidak kelihatan takut, bahkan piauwsu ini marah sekali.
Nama Ang-liong piauwkiok sudah amat terkenal di kalangan kangouw dan lioklim, bagaimana penjahat-penjahat ini demikian kurang ajar?
Tentu golongan hekto (jalan hitam, penjahat) baru yang belum mengenalnya, pikir Sin-siang-to Kwee Sin Bun sambil meraba-raba gagang dua batang goloknya yang tergantung di pinggang.
Dua orang bertopeng menahan kudanya yang berlari cepat sehingga kuda mereka meringkik dan berdiri di kedua kaki belakang dengan kaki depan terangkat tinggi-tinggi.
Akan tetapi orang ketiga bahkan menggebrak kudanya menubruk Kwee Sin Bun.
Dua kaki kuda yang berlapis besi dengan kekuatan yang dahsyat menyerang ke arah muka Sin-siang-to Kwee Sin Bun.
Namun Sin Bun adalah murid Hoa-san-pai yang berilmu tinggi, pula ia telah kenyang pengalaman pertempuran, maka serangan hebat dan keji ini ia hadapi dengan tenang, karena iapun sudah bersiap-siap untuk menghadapi serangan-serangan curang dari para penjahat itu.
Ia cepat melangkahkan kaki kiri ke belakang, memasang kuda-kuda teguh dengan muka merendah sehingga tubrukan kaki kuda itu tidak mengenai mukanya, akan tetapi masih mengancam paha kakinya.
Ia miringkan tubuh dan kedua tangannya yang dimiringkan menyampok dengan putaran kuat ke kanan, menangkis dua kaki depan kuda itu, sebenarnya bukan menangkis, melainkan dari samping dua telapak tangannya "menerima"
Pergelangan kaki kuda dan meminjam tenaga tubrukan itu ia mendorong ke kanan.
Gerakan Sin Bun kuat dan cepat.
Kuda hanya seekor binatang bodoh, tentu saja sekali gebrak ia telah tertipu dan kedua kaki depan kuda itu tertolak ke samping sehingga tubuhnya menjadi terputar.
Akan tetapi.
penunggang kuda yang berkedok itu juga bukan orang sembarangan.
Dengan menepuk tubuh belakang kuda, tiba-tiba kuda itu mengangkat dua kaki belakangnya, menyepak ke arah dada Sin Bun dengan kekuatan sedikitnya tiga ratus kati!
"Ayaaa...!"
Sin Bun kaget dan cepat melompat ke samping menghindarkan diri dari sepakan kuda, kemudian saking marahnya ia menggerakkan kedua tangan, selagi dua kaki belakang kuda itu menyepak, sebelum dua kaki itu turun kembali, Sin Bun menyambarnya dan terus mendorong ke atas meminjam tenaga sepakan.
Tiada ampun lagi tubuh kuda itu melayang ke atas berjungkir balik membawa serta penunggangnya!
Penunggang kuda berkedok itu berseru keras.
"Sungguh lihai!"
Dan cepat menekankan kedua tangan pada punggung kuda, kemudian dengan cepat sekali ia berjumpalitan ke belakang dan turun ke atas tanah dengan amat ringannya, kemudian dengan kedua tangan ia mendorong perut kudanya sehingga binatang itu tidak terbanting terlalu hebat.
Melihat ini, Diam-diam Kwee Sin Bun terkejut dan maklum bahwa ia berhadapan dengan lawan yang tinggi kepandaiannya.
Sementara itu, tiga orang penunggang kuda yang datang dari belakang, juga sudah tiba.
Seorang di antara mereka melihat perbuatan Sin Bun tadi, setelah tiba dekat mengeluarkan pekik nyaring dan tahu-tahu tubuhnya melesat dari atas kuda, melayang cepat sekali ke arah rombongan Sin Bun.
Bu Kiat yang menjaga di sebelah belakang tidak tahu apa yang hendak dilakukan oleh penjahat itu, maka ia tidak berani berlaku sembrono, hanya mencabut ruyungnya untuk berjaga-jaga.
Ternyata penjahat itu melayang ke arah orang yang memegang bendera Ang-liong piawkiok dan di lain saat, bendera itu telah dirampasnya!
Kejadian ini amat cepatnya sehingga Bu Kiat dan Kwee Sin Bun tidak sempat mencegahnya.
Sambil tertawa-tawa penjahat itu menggerakkan kedua tangannya dan "Brett...
brettt...!"
Bendera Ang-liong piauwkiok itu telah di robek-robeknya! "Bangsat hina-dina, kau minta mampus!"
Bu Kiat membentak marah dan menggerakkan ruyungnya.
Akan tetapi Kwee Sin Bun yang mengerti bahwa enam orang penjahat itu bukan orang-orang sembarangan, mendahului sutenya, memegang lengan Bu Kiat minta sute ini bersabar, kemudian ia menghadapi enam orang yang semua telah turun dari kuda.
"Enam orang sahabat mengapa main-main dengan kami? Sudah bertahun-tahun bendera kami dari Ang-liong piauwkiok itu menjadi tanda persahabatan dan dihormati oleh semua saudara di golongan liok-lim, mengapa hari ini liok-wi (saudara berenam) merobek-robeknya? Mungkinkah salah lihat? Kami berdua adalah pendiri dari Ang-liong piauwkiok, siauwte adalah Sin-siang-to Kwee Sin Bun dan ini adalah adikku Kim-coa-pian Bu Kiat. Liok-wi kalau ada perkara boleh bicara, mengapa datang-datang merobek bendera kami?"
Seorang di antara para penjahat berkedok itu tertawa bergelak, suara ketawanya nyaring dan menyeramkan.
"Ha-ha-ha, siapa mengenal segala Ang-liong piauwkiok? Jangankan Piauwkiok Si Naga-merah, biarpun Cacing-merah atau Tikus-merah, kami takut apa sih?"
Merah muka Kwee Sin Bun.
Ia maklum bahwa kata-kata ini sengaja dikeluarkan untuk menghina dan mencari perkara, maka Diam-diam ia berpikir.
Belum pernah ada penjahat-penjahat mengganggunya secara demikian berterang tanpa urusan, pula penjahat-penjahat ini berkedok.
Apakah ini tidak ada hubungannya dengan para penjahat yang mengganggu Liu-leng?
Dia dan sutenya dipanggil oleh suheng mereka datang ke Liu-leng membantu menghadapi penjahat-penjahat yang mengganggu kota itu, sekarang di tengah jalan ia dihadang oleh penjahat-penjahat yang berkedok pula!
Tak salah lagi, mereka ini tentulah konco-konco penjahat yang dilawan oleh Hok Ti Hwesio, suheng mereka.
Dengan cepat Sin Bun mencabut goloknya dan berkata.
"Kalau kalian tidak mengenal Ang-liong piauwkiok, ketahuilah bahwa kami adalah anak murid Hoa-san-pai dan orang-orang gagah dari Hoa-san-pai tidak akan mundur setapakpun menghadapi segala macam penjahat hina, biar penjahat-penjahat itu pengecut dan bersembunyi di balik kedok sekalipun!"
Melihat sikap Sin Bun ini, Bu Kiat sudah mempersiapkan ruyungnya dan tiga orang anak buah Ang-liong piauwkiok sudah mencabut golok dan toya mereka, siap menghadapi pertempuran.
Para penjahat berkedok menjadi marah sekali.
"Maju, bunuh dua tikus busuk yang hendak mengeruhkan suasana ini!"
Teriak penjahat yang tadi bicara.
Serentak mereka mengeluarkan senjata toya dan menyerbu dengan gerakan cepat dan kuat.
Sin Bun dan kawan-kawannya menyambut.
Pertempuran hebat terjadi di tempat sunyi itu.
Suara senjata tajam beradu mengerikan dan membikin takut sebelas ekor kuda yang berada di situ.
Binatang-binatang itu lari cerai-berai menjauhkan diri.
Pertemuan lima lawan enam terjadi amat sengit dan hebatnya.
Benar dugaan Sin Bun tadi, enam orang penjahat itu memiliki kepandaian tinggi dan rata-rata memiliki ilmu tongkat atau ilmu toya yang lihai.
Sin Bun dengan sepasang goloknya yang lihai masih dapat menahan desakan dua orang pengeroyoknya, sedangkan Bu Kiat dengan ruyungnya juga mempertahankan nama besarnya Sebagai Kim-coa-pian yang sudah terkenal.
Biarpun toya penjahat yang melawannya amat lihai dan tenaga penjahat itupun besar sekali, namun Bu Kiat dapat mengimbanginya dan belum sampai terdesak.
Yang payah adalah tiga orang anak buah Ang-liong piauwkiok itu.
Mereka ini sebetulnya adalah orang-orang pilihan dari Ang-liong piauwkiok dan mereka sudah kerap kali diserahi tugas mengawal barang antaran kalau Bu Kiat atau Sin Bun tidak sempat mengawal sendiri.
Ilmu silat mereka sudah lumayan dan boleh dibilang paling lihai di antara kawan-kawannya di Ang-liong piauwkiok, bahkan sudah mendapat banyak petunjuk dari Bu Kiat atau Sin Bun sendiri.
Akan tetapi kali ini mereka menemui batunya.
Tiga orang penjahat berkedok yang menghadapi mereka terlampau kuat sehingga tiga orang ini sebentar saja terdesak hebat dan hanya dapat main mundur dan tangkis saja.
Pada saat Sin Bun dan kawan-kawannya berada dalam keadaan amat berbahaya itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang penunggang kuda yang mukanya berkedok pula, akan tetapi kedoknya berbeda dengan yang dipakai oleh para penjahat itu.
Kedok orang ini hanya menutupi kedua matanya saja.
"Penjahat-penjahat rendah yang pengecut!"
Orang itu menegur setelah kudanya bagaikan terbang cepatnya tiba di tempat pertempuran.
"Jangan menjual lagak di sini!"
Tubuh yang tegap itu dengan ringan bagaikan burung walet dan cepat bagaikan kilat menyambar, telah melayang dari atas kuda dengan pedang di tangan, kemudian begitu pedang digerakkan, terdengar suara nyaring dan sebatang golok di tangan seorang penjahat terlempar dan tangan yang memegang golok tadi terluka parah.
Kemudian orang yang bukan lain adalah Kim-Hoa-Piauw ini, mengamuk dan menerjang ke kanan-kiri untuk membubarkan penjahat-penjahat yang tadinya mengepung dan menindih Sin Bun dan kawan-kawannya.
Sepak terjangnya bagaikan naga mengamuk, pedangnya lihai dan cepat sekali membuat para penjahat itu gentar menghadapinya.
Adapun Sin Bun dan Bu Kiat yang melihat datangnya bantuan lihai ini terbangun semangatnya, demikianpun tiga orang anak buahnya.
Mereka bersilat lebih bersemangat dan mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga.
"Gelombang besar! Pasang layar!"
Demikian seru seorang di antara enam orang penjahat itu.
Inilah isyarat bagi kawan-kawannya untuk melarikan diri.
Bagaikan teratur, mereka memutar senjata mencari kesempatan, kemudian lari dan di tengah jalan melompat ke atas kuda masing-masing, lalu kabur bagaikan dikejar setan.
Kim-Hoa-Piauw juga melompat ke atas kudanya dan hendak pergi, akan tetapi Kwee Sin Bun melompat cepat di depan kuda orang berkedok ini.
"Nanti dulu, taihiap! kau yang telah datang menolong kami, harap sudi memperkenalkan diri. Kami adalah orang-orang Ang-liong piauwkiok yang hendak pergi ke Liu-leng. Namaku Kwee Sin Bun dan dia itu adalah suteku Bu Kiat. Kami hendak membantu suheng Hok Ti Hwesio yang sudah bertugas di Liu-leng."
Si kedok hitam itu hanya tertawa lebar, kemudian berkata.
"Selamat bekerja di Liu-leng!."
Setelah berkata demikian, ia menggebrak kudanya yang segera lari cepat meninggalkan Sin Bun dan kawan-kawannya yang memandang kagum.
"Siapakah dia yang gagah perkasa itu?"
Tanya Bu Kiat yang masih terheran-heran.
"Entahlah, dia memakai kedok dan tidak mau memperkenalkan namanya. Melihat orangnya, ia masih muda dan wajahnya tampan. Hanya amat sukar mengenal wajah itu karena tertutup kedok. Melihat gelagatnya, penjahat-penjahat itu tentulah mereka yang mengganggu Liu-leng, dan penolong kita tadi agaknya tahu akan keadaan di Liu-leng pula, maka benar-benar amat mengherankan mengapa dengan adanya seorang gagah seperti dia, penjahat-penjahat masih dapat berlagak di kota itu."
"Belum juga masuk Liu-leng, kita sudah diserang dan hampir saja celaka di tangan penjahat, benar-benar hal ini amat tidak menyenangkan kalau diketahui orang lain."
Kata Bu Kiat.
"Memang amat tidak baik dan memalukan. Oleh karena itu, peristiwa ini tidak perlu kita ceritakan di kota Liu-leng."
Kata Sin Bun yang memesan kepada kawan-kawannya untuk menutup mulut dan jangan membocorkan peristiwa yang memalukan itu.
Maka berangkatlah lima orang ini menuju ke kota Liu-leng yang tidak jauh lagi, dengan semangat menurun banyak dan sekarang bendera Ang-liong piauwkiok tidak diperlihatkan lagi.
* * * Bekas Tikoan Song Tek nampak berlari-lari di pagi hari, diikuti oleh tiga orang pelayannya.
Bekas pembesar ini nampak girang sekali dan setiap orang penduduk yang dijumpainya di tengah jalan mendapat keterangan singkat dari Song Tek.
"Lekas lihat, kepala penjahat telah binasa, mati di tangan keponakanku malam tadi! Ha-ha, lihatlah bahwa akhirnya aku yang berhasil menangkap penjahat!"
Mendengar berita ini, orang-orang menjadi gempar.
Pangeran Lu sendiri setelah mendengar berita ini, cepat keluar dari istananya, diikuti oleh pengawalnya, Hek-liong-pian Thio Cin Gan.
Cepat mereka ini menyusul Song Tek yang pergi ke gedung Tikoan.
Di sana mereka mendapatkan Song Tek tengah dikerumuni banyak orang, di mana bekas Tikoan itu bercerita dengan lagak bangga.
"Malam tadi kepala penjahat itu berani mati mengganggu rumahku yang sudah kujaga kuat-kuat. Tidak saja keponakanku Cung Hok Bi, juga banyak penjaga sengaja kuatur untuk menjebak penjahat apabila berani datang. Akhirnya penjahat datang, kami mengepungnya sampai penjahat itu melarikan diri. Akan tetapi, sudah lama aku mempunyai dugaan siapa adanya kepala penjahat iblis itu dan malam tadi dugaanku itu terbukti tepat sekali! Aku mengajak keponakanku dan para penjaga menuju ke rumah penjahat besar itu, mengepung rumahnya dan akhirnya kami berhasil membunuh penjahat itu di rumahnya sendiri."
Dengan wajah agak pucat Lie-Tikoan bertanya.
"Song-hiante, siapakah kepala penjahat itu dan sekarang di mana dia?"
Sebelum menjawab, Song Tek tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Lie-Taijin. Sayang sekali para enghiong yang sudah kau datangkan tidak akan ada artinya lagi. Kepala penjahat itu memang sudah sejak dahulu kucurigai, hanya sayang karena belum ada bukti-buktinya maka aku belum berani mengeluarkan perintah untuk menangkapnya. Dia itu bukan lain adalah guru silat Kwan Ciu Leng dan sekarang telah menjadi mayat di rumahnya sendiri!"
Bukan main kaget dan herannya Lie-Tikoan, juga Pangeran Lu terkejut sekali mendengar ini.
"Apa buktinya bahwa dia yang menjadi kepala penjahat?"
Bentak Pangeran Lu sambil memandang tajam kepada Song Tek.
"Memang hal ini mengejutkan sekali, Lu-Ongya. Akan tetapi kenyataannya memang begitu. Pantas saja penjahat-penjahat itu sukar diberantas, tidak tahunya yang menjadi kepala adalah orang yang selama ini kita percaya, bahkan membantu dalam penjagaan kota. Ongya dapat melihat buktinya kalau melihat dia sekarang. Marilah, di sana keponakanku masih menjaga."
Berbondong-bondong mereka pergi ke rumah guru silat Kwan Ciu Leng yang tinggal seorang diri dalam sebuah rumah yang lebar pekarangannya, karena pekarangan ini dipergunakan untuk melatih orang-orang yang belajar silat.
Ternyata di situ sudah berkumpul banyak orang, akan tetapi mereka ini tidak diperbolehkan masuk oleh Cung Hok Bi yang dengan pedang di tangan menjaga di depan pintu.
Pemuda ini nampak gagah sekali, dan semua orang setelah mendengar bahwa Cung Hok Bi berhasil menewaskan kepala penjahat, memandang kepadanya dengan perhatian baru dan kekaguman.
Hanya banyak di antara mereka yang merasa penasaran, terutama sekali mereka yang belajar ilmu silat kepada Kwan Ciu Leng, atau yang menyuruh anak-anak mereka belajar di situ, karena apakah buktinya bahwa guru silat itu menjadi kepala penjahat?
"Betulkah kau berhasil menewaskan kepala penjahat?"
Tanya Pangeran Lu Siang Tek kepada Cung Hok Bi. Pemuda ini menjura dengan hormat, lalu menjawab.
"Berkat kecerdikan paman Song, berkat nasib baik penduduk Liu-leng, akhirnya hamba dapat membunuhnya malam tadi, Ongya."
Dengan tak sabar, Lie-Tikoan dan Pangeran Lu diiringkan oleh semua orang yang ingin tahu memasuki rumah itu, didahului oleh Cung Hok Bi dan Song Tek yang wajahnya berseri gembira dan bangga.
Benar saja, di ruang tengah, di mana meja kursi berantakan dan terdapat tanda-tanda bekas pertempuran hebat, menggeletak tubuh Kwan Ciu Leng yang berpakaian serba hitam dan di atas meja terdapat sehelai kedok hitam seperti yang biasa dipakai oleh para penjahat selama ini.
"Inilah kedoknya, hamba sendiri yang merenggut lepas dari mukanya setelah ia mati."
Kata Song Tek membawa kedok itu dan memberikannya kepada Lie-Tikoan.
"Betulkah dia kepala penjahatnya...?"
Terdengar Lie-Tikoan bertanya ragu.
"Sayang sekali dia sudah tewas, kalau tidak tentu dia dapat bercerita banyak tentang peristiwa semalam..."
Kata-kata ini membuat Song Tek menjadi marah.
"Lie-Tikoan! Apa kau masih tidak percaya? Aku pastikan bahwa dia inilah penjahat yang selama ini mengganggu Liu-leng. Sebelum kau menjadi Tikoan menggantikan aku, hal ini sudah kucurigakan, hanya baru sekarang terdapat buktinya, yakni selain pakaian dan kedok, juga di kamarnya kudapati peti terisi banyak barang-barang curian selama ini. Mari kau lihat sendiri buktinya!"
Song Tek mengantar mereka memasuki kamar tidur Kwan Ciu Leng dan memang di situ terdapat sebuah peti yang isinya penuh dengan barang-barang emas permata, barang-barang yang dikenal sebagai sebagian kecil dari barang-barang berharga yang selama ini dicuri oleh para penjahat.
"Memang semua ini membuktikan bahwa dia menjadi penjahat, namun belum meyakinkan bahwa dia kepalanya."
Kata pula Lie-Tikoan. Tiba-tiba Song Tek tertawa bergelak dan berkata dengan suara keras sehingga suaranya sampai terdengar dari luar rumah.
"Lie-Tikoan, semenjak kau menjadi Tikoan di sini, kapankah kau pernah menangkap penjahat? Satu-satunya penjahat yang tertawan pun dilakukan oleh seorang penjahat lain yang berkedok! Hmm, sekarang kau agaknya meremehkan jasa kami, yaitu keponakanku dan aku. Aku tidak mengharapkan terima kasih, akan tetapi sedikitnya kau harus tahu bahwa jasa ini lebih besar daripada jasamu sebagai Tikoan!"
Setelah berkata demikian, dengan sikap marah Song Tek meninggalkan tempat itu, mengajak keponakan dan pelayan-pelayannya, pulang ke rumahnya.
Lie-Tikoan menjadi merah mukanya, apalagi ketika ia melihat Pangeran Lu memandangnya dengan kening dikerutkan, tanda tidak senang hatinya.
"Hok Ti Losuhu dan semua enghiong yang membantuku harap tidak kecil hati dan jangan mengurangi kewaspadaan. Baik guru silat Kwan ini ternyata kepala penjahat atau hanya anak buahnya, namun kurasa para penjahat tidak akan tinggal diam dan akan membuat pembalasan. Harap penjagaan diperkuat. Baik sekali jiwi-enghiong (dua saudara gagah) Kwee Sin Bun dan Bu Kiat sudah tiba pula sehingga dapat memperkuat penjagaan. Kurasa penjahat-penjahat itu akan melakukan serbuan besar-besaran untuk membalas dendam."
Hok Ti Hwesio dan sute-sutenya menyatakan kesanggupan mereka.
Pangeran Lu Siang Tek tidak berkata apa-apa, hanya segera meninggalkan tempat itu, diiringkan oleh pengawalnya yang setia, Hek-liong-pian Thio Cin Gan setelah pengawal ini memberi hormat kepada Lie-Tikoan, juga kepada Hok Ti Hwesio, Kwee Sin Bun, dan Bu Kiat yang masih terhitung paman-paman gurunya sendiri dari Hoa-san-pai.
Malam hari itu tidak terjadi serbuan penjahat, akan tetapi di rumah gedung Pangeran Lu Siang Tek terjadi hal yang amat penting.
Ketika pangeran itu sedang duduk seorang diri di dalam kamar buku, mengenangkan peristiwa penjahat di Liu-leng dengan kening dikerutkan karena timbul hal-hal yang tidak diduganya, tiba-tiba terdengar suara perlahan dan tahu-tahu seorang pemuda melayang turun dari atas dengan ringan Sekali.
Pemuda itu hanya mengeluarkan suara.
"Sssttt..."
Menyuruh pangeran itu jangan berbisik.
Sedangkan Pangeran Lu sendiri setelah melihat bahwa pemuda itu adalah "Kim-Hoa-Piauw", tentu saja tidak menjadi takut, hanya berdiri dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan.
Ia memandang tajam seakan-akan hendak mengenali muka itu, hendak menembusi topeng hitam, dan ia rasa-rasanya kenal pemuda ini, hanya ia tidak yakin dan merasa bimbang.
"Kau... Kim-Hoa-Piauw yang penuh rahasia, apakah maksud kunjunganmu kali ini?"
Tanya Pangeran Lu dengan hati berdebar karena ia mengira bahwa kunjungan penolong aneh ini pasti ada hubungannya dengan serbuan penjahat-penjahat.
"Aku hanya hendak memberitahu kepadamu, Lu-Ongya, akan sebuah rahasia yang akan mengejutkan hatimu. Ketahuilah bahwa Hek-liong-pian Thio Cin Gan, pengawalmu itu, sebetulnya adalah seorang anggauta gerombolan..."
"Tak mungkin!"
Seru pangeran itu dengan muka pucat.
"Masihkah Ongya bersangsi kepadaku yang sudah mencoba untuk menghancurkan gerombolan penjahat ini? Percayalah, Ongya, bahwa Ongya sekeluarga berada dalam bahaya besar sekali dengan adanya Hek-liong-pian di sini sebagai pengawalmu."
"Kalau begitu... apakah yang harus kulakukan? Besok akan kutangkap dan kupaksa dia mengaku!"
"Jangan, Ongya. Akan lebih baik kalau kita pura-pura tidak tahu akan rahasianya. Akan tetapi untuk menjauhkan bahaya, lebih baik mulai besok, kau suruh Hek-liong-pian membantu penjagaan di rumah Tikoan. Dengan alasan memperkuat barisan untuk melawan penjahat, dia tidak akan bercuriga."
Tiba-tiba Kim-Hoa-Piauw menghentikan kata-katanya dan sekali melesat ia telah keluar dari kamar itu.
Pangeran Lu mendengar suara tindakan kaki di luar pintu.
Cepat ia membuka daun pintunya dan melihat Siauw Hong lewat di ruangan menuju ke kamar Bwe Hoa.
"Siauw Hong, apa yang kau lakukan malam-malam di sini?"
Tegurnya marah.
"Ohh..."
Gadis pelayan itu menengok kaget dan cepat-cepat memberi hormat.
"Mohon maaf, Ongya. Hamba tidak menyangka bahwa Ongya masih belum tidur dan karenanya mengganggu Ongya. Hamba mencari tusuk konde hamba yang siang tadi jatuh."
"Hmmm, dan kau sudah dapatkan atau belum?"
"Sudah, Ongya, ini dia!"
Gadis pelayan itu memperlihatkan sebuah tusuk konde yang dipegangnya.
"Pergilah, dan lain kali jangan berkeliaran di waktu malam, bikin kaget orang saja!"
Gadis itu lalu mengundurkan diri dan berjalan menuju ke belakang, ke kamarnya yang berada di dekat kamar nonanya.
Baru saja Lu Siang Tek menutup jendela kamarnya, dari jendela Kim-Hoa-Piauw melompat masuk lagi.
"Ongya, siapakah orang tadi?"
"Ah, dia hanya pelayan puteriku, Siauw Hong yang mencari tusuk kondenya."
Terdengar si topeng hitam itu tertawa geli karena tadi ia benar-benar kaget sekali mengira bahwa ada orang yang mengintai.
"Nah, harap Ongya sudi memperhatikan nasihatku tadi. Hal ini bukan hanya untuk keselamatan Ongya sekeluarga, juga untuk memudahkan kita melakukan penyelidikan. Terima kasih dan selamat malam, Ongya."
"Nanti dulu, Kim-Hoa-Piauw. Mengapa kau yang menolong kami ini merahasiakan diri? Siapakah kau?"
Akan tetapi Kim-Hoa-Piauw hanya tersenyum dan sekali ia berkelebat, tubuhnya melayang melalui jendela dan sebuah benda meluncur daripadanya, tertancap di atas meja.
Ketika Pangeran Lu memandang, benda itu bukan lain adalah sebuah Piauw-Bunga-Emas (Kim-Hoa-Piauw).
Ia menjemputnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik napas panjang.
"Heran, siapakah dia?"
Pertanyaan ini masih saja membingungkan pikiran Pangeran Lu Siang Tek ketika pada keesokan harinya setelah ia menyerahkan Hek-liong-pian Thio Cin Gan untuk membantu dan memperkuat penjagaan di rumah Tikoan membantu Hok Ti Hwesio dan sute-sutenya dan pangeran ini tengah duduk seorang diri, datang menghadap padanya bekas Tikoan, Song Tek!
Bekas Tikoan ini membawa berita penting yang amat mengejutkan hati pangeran Lu.
"Lu-Ongya, sungguh aneh sekali, mengapa Ongya menyuruh Hek-liong-pian menjaga di rumah Lie-Tikoan? Apakah maksud Ongya dengan ini?"
Tanyanya.
"Saudara Song, ada hubungan apakah antara kau dengan urusanku ini?"
Pangeran Lu balas bertanya dengan hati tak senang.
"Lu-Ongya, harap jangan salah mengerti. Sudah sejak dulu sebelum siauwte dihentikan dari jabatan Tikoan, siauwte selidiki keadaan Hek-liong-pian Thio Cin Gan dan siauwte mengetahui sebuah rahasia yang mengejutkan hati."
Berubah wajah pangeran Lu mendengar ini.
"Rahasia apakah? Harap jangan bicara seperti orang berteka-teki!"
Dengan suara perlahan Song Tek berkata, (Lanjut ke
Jilid 02 b -Tamat) Kim Hoa Piauw (Pisau Terbang Bunga Emas) Karya . Kho Kiong An/Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 b (Tamat) "Ongya, ketahuilah bahwa menurut sangkaan siauwte, Hek-liong-pian itu adalah kaki tangan penjahat!
Dengan menyuruh dia menjaga di rumah Lie-Tikoan, bukankah itu berarti memasukan mata-mata penjahat ke dalam barisan penjagaan?
Pula, tindakan Ongya ini dapat menimbulkan kecurigaannya dan siapa tahu malam nanti ia dan kawan-kawannya akan turun tangan.
Oleh karena itu, menurut pendapat hamba yang bodoh, hendaknya Ongya Diam-diam menyuruh orang-orang gagah secara sembunyi melihat gerak-geriknya malam nanti untuk menjaga segala kemungkinan."
Kata-kata ini benar-benar amat mengejutkan hati Lu Siang Tek.
Malam tadi Kim-Hoa-Piauw si topeng hitam juga menyatakan bahwa Thio Cin Gan adalah seorang anak buah gerombolan penjahat.
Sekarang Song Tek berkata demikian pula.
Ia mulai sangsi dan menyesal.
Kalau benar bekas Tikoan ini demikian pandai dan betul-betul memperhatikan peristiwa gangguan di kota, ia menyesal mengapa mengganti Tikoan dengan Lie-Tikoan yang ternyata tidak berjasa apa-apa.
Akan tetapi bagaimana pendapat Kim-Hoa-Piauw dan Song Tek ini demikian sama?
Apakah ada hubungan antara Song Tek dan si topeng hitam?
Tiba-tiba Pangeran Lu teringat akan Cung Hok Bi, pemuda keponakan Song Tek yang telah berhasil membunuh Kwan-Kauwsu yang dituduh sebagai kepala penjahat.
Mungkin sekali!
Mungkin sekali Cung Hok Bi itulah yang menjadi Kim-Hoa-Piauw, karena perawakannya pun sama, juga pemuda itu tampan dan gagah.
Pantas saja aku merasa kenal kepada Kim-Hoa-Piauw, pikir pangeran Lu.
"Keteranganmu ini penting sekali, harap kau lekas panggil Lie-Tikoan ke sini."
Kata Pangeran Lu kepada Song Tek yang menjadi girang sekali karena omongannya dipercaya. Setelah Lie-Tikoan datang, maka mereka bertiga lalu membicarakan urusan itu. Lie-Tikoan mengerutkan keningnya.
"Benar-benar urusan ini berbelit-belit dan aneh sekali,"
Katanya.
"Siapa sangka bahwa pengawal pribadi Ongya sendiri menjadi penjahat. Menurut keterangan Hok Ti Hwesio dan dua orang sutenya, para penjahat adalah bekas orang-orang Thian-tung kai-pang (perkumpulan pengemis tongkat langit) di Kotaraja. Perkumpulan ini dahulunya dipimpin oleh seorang kakek aneh yang sakti dan bernama Bu Beng Sin-kai (pengemis sakti tanpa nama). Akan tetapi semenjak kakek ini meninggal dunia, perkumpulan ini bubar. Menurut Hok Ti Hwesio dan sute-sutenya, ilmu silat dari para penjahat itu sebagian besar mirip dengan ilmu silat dari bekas perkumpulan pengemis itu. Adapun Hek-liong-pian Thio Cin Gan menurut keterangan Hok Ti Hwesio adalah anak murid Hoa-san-pai, bahkan murid keponakan dari Hok Ti Hwesio sendiri. Bagaimana ia bisa menjadi penjahat?"
"Siauwte harap dalam hal ini kau tak usah terlalu bingung dan pusing, Lie-Tikoan."
Kata Song Tek.
"Bukankah tugas kita membasmi penjahat-penjahat itu? Lebih baik kau memberi perintah kepada Hok Ti Hwesio untuk mengikuti sepak terjang Hek-liong-pian malam ini, siapa tahu kalau akan terbuka rahasianya."
"Kata-kata saudara Song Tek ini tepat sekali, harap kau suka lakukan usul ini sebaiknya. Lebih cepat gerombolan penjahat ini tertangkap, lebih baik lagi."
Lie-Tikoan tak berani membantah lalu pulang untuk berunding dengan Hok Ti Hwesio. Setelah Tikoan itu pergi, Pangeran Lu berkata kepada Song Tek.
"Keponakanmu yang gagah itu, dia itu murid partai manakah?"
"Lu Ongya maksudkan Cung Hok Bi? Ah, dia hanya anak murid Bu-tong-pai, memiliki sedikit kepandaian bermain pedang dan piauw."
"Hmm..."
Pengeran Lu mengangguk-angguk.
"Saudara Song, karena sekarang pengawalku tidak ada, kuharap kau suka tolong padaku, mengijinkan keponakanmu itu untuk sementara ini menjadi pengganti Hek-liong-pian Thio Cin Gan. Biar dia mengawaniku di sini dan menjadi pengawalku. Kelak kalau gerombolan penjahat sudah lenyap, dia boleh pulang dan akan menerima banyak hadiah untuk perlindungannya terhadap keluarga kami."
Song Tek tersenyum dan cepat memberi hormat.
"Terima kasih banyak atas kepercayaan Ongya yang besar itu. Sudah menjadi kewajiban keponakanku itu untuk menjaga ketenteraman kota, apalagi menjaga keselamatan Ongya sekeluarga. Baiklah, Ongya, hamba akan segera memberi perintah kepada Hok Bi agar sore hari ini juga pindah ke gedung ini melakukan penjagaan. Dengan adanya Hok Bi di sini, Ongya sekeluarga boleh mengaso dengan aman dan tenteram. Mana ada penjahat berani mengganggu? Kepala penjahatnya saja sudah tewas di tangan Hok Bi!"
Pangeran Lu girang mendengar ini dan menyatakan terima kasihnya sambil memberi hadiah kepada Song Tek.
* * * "Ibu, kalau aku tidak dilamarkan Lu-siocia, aku mau bunuh diri saja.
Apa artinya hidup di dunia ini kalau keinginanku yang satu ini tidak dipenuhi?"
Kata-kata yang diucapkan dengan suara merengek-rengek ini adalah ucapan Lie Kian Liong putera Tikoan Lie, pemuda yang tolol itu.
Berkali-kali ia minta dilamarkan Lu-siocia dan menyatakan bahwa ia tergila-gila.
Sudah lama ia rewel dengan permintaannya ini, namun ayah-bundanya tidak mau menuruti permintaannya.
"Liong-ji, apakah otakmu sudah miring?"
Ayahnya membentak marah sekali sambil menggebrak meja.
"Orang macam kau, hanya anak seorang Tikoan seperti aku, mau meminang puteri Pangeran Lu Siang Tek? kau bilang kalau tidak dilamarkan akan membunuh diri? Habis kalau nanti dilamar lalu ditolak, kau mau apa?"
"Ditolak? Tidak mungkin ditolak. Lu-siocia seorang yang berbudi mulia, tidak nanti mau menyakiti hatiku."
"Kau mau menang sendiri. Jawab, bagaimana kalau nanti pinanganku ditolak? Apakah kau juga mau membunuh diri?"
Tanya Lie Kim Hong marah.
"Mengapa? Kalau ditolak ya sudah! Bukan dia saja wanita di dunia ini."
Jawab Lie Kian Liong.
Memang pemuda ini aneh sekali wataknya, keras hati dan tidak mau sudah sebelum kehendaknya dituruti, kadang-kadang tolol akan tetapi kadang-kadang jawabannya bersifat gagah seperti yang baru saja ia ucapkan.
Ayah-bundanya telah mengenal sifatnya, dan tahu betul bahwa biarpun Kian Liong itu tolol, namun anak ini semenjak kecil memegang teguh kata-katanya.
Sekali bilang hitam tentu hitam pula dilakukannya, sekali putih tetap putih.
Maka dapat dibayangkan betapa susah hati mereka ketika mendengar bahwa Kian Liong akan membunuh diri kalau tidak dilamarkan Lu-siocia.
Akan tetapi, mendengar kata-kata terakhir dari anak tunggal itu bahwa dia tidak akan membunuh diri dan akan menerima kalau sampai pinangan ditolak, hati ayah dan ibu ini agak terhibur.
"Tidak ada jalan lain, biarlah kita tebalkan muka dan mencoba untuk meminang."
Kata Lie-Tikoan, dan Lie-hujin Diam-diam merasa bersedih sekali mengapa mempunyai putera seorang saja demikian bodoh dan manja.
Dengan hati berdebar dan muka merah, Lie-Tikoan dan isterinya dikawani oleh seorang perantara menghadap Pangeran Lu untuk mengajukan pinangan.
Lie-Tikoan tidak berani menyerahkan tugas ini kepada seorang perantara seperti biasanya, karena ia menjaga hubungan baik antara dia dan Pangeran Lu.
Biarlah dia menghadap sendiri dan biar dia dan isterinya yang menerima kemarahan maupun penghinaan asalkan ia jangan menyinggung hati pangeran itu dan menimbulkan permusuhan secara diam-diam seperti kalau ia menyerahkan hal ini kepada seorang perantara dan tidak secara terang-terangan menghadap sendiri.
Dengan suara yang perlahan dan sukar sekali keluarnya, Lie-Tikoan menyampaikan maksud kunjungannya, yaitu mengajukan pinangan atas diri Lu-siocia untuk puteranya.
Mendengar pinangan ini, muka pangeran Lu menjadi merah sekali.
Tepat dugaan Lie-Tikoan bahwa andaikata yang mengajukan pinangan itu seorang perantara, tentu pangeran Lu akan marah sekali dan memaki-maki.
Akan tetapi karena yang menghadap adalah Lie-Tikoan suami-isteri, maka sebagai tuan rumah, pangeran Lu tidak mau bersikap kasar.
Dengan senyum paksa ia menjawab setelah berpikir lama sekali sambil mengelus-elus jenggotnya.
"Lie-Tikoan, sudah sewajarnya seorang pria meminang seorang wanita, dan karenanya pinanganmu ini kuanggap sewajarnya. Akan tetapi, mengingat bahwa kita ini berada di kota Liu-leng yang sedang menghadapi rongrongan penjahat, kiranya belum tepat kalau bicara tentang perjodohan. Apalagi mengingat bahwa kau lah yang menjadi Tikoan di kota ini dan yang bertanggung jawab terhadap masalah gangguan gerombolan penjahat ini."
"Mohon beribu ampun, Ongya. Sesungguhnya biar sampai mati sekalipun siauwte mana berani mengganggu Ongya dengan urusan perjodohan ini dalam waktu seperti sekarang. Siauwte pun mengetahui bahwa tidak selayaknya bicara tentang urusan ini dalam waktu kita menghadapi ancaman bahaya para penjahat. Akan tetapi apa hendak dikata, putera kami yang bodoh dan manja itu mendesak supaya siauwte berdua mengajukan pinangan dengan memberanikan hati menghadapi kegagalan. Kalau tidak siauwte turuti permintaannya, dia hendak membunuh diri. Demikian besar cintanya terhadap puteri Ongya yang baru satu kali dilihatnya."
Diam-diam pangeran Lu merasa geli dan juga bangga bahwa puterinya sampai dapat mendatangkan pikiran gila pada pemuda putera Lie-Tikoan yang tampan itu.
Akan tetapi ia agak kecewa kalau teringat betapa putera Tikoan yang "terpelajar"
Dan tampan itu, mempunyai sifat-sifat yang agak aneh.
"Hmm, anak muda sekarang memang berdarah panas dan nekad,"
Katanya sebagai komentar.
"Sekarang begini saja, Lie-Tikoan. kau kerahkan seluruh kebisaanmu untuk membasmi para penjahat dan mengamankan kota Liu-leng. Kalau memang benar bahwa pembasmian penjahat nanti oleh karena jasa-jasamu, soal pinangan ini akan kami pertimbangkan masak-masak. Pendeknya, kami pada saat ini belum menolak, juga belum menerima, tergantung atas keadaan di kota ini kelak dan tergantung pula terutama sekali atas jasamu mengamankan kota Liu-leng."
Dengan jawaban ini, Lie-Tikoan dan isterinya pulang. Kian Liong sudah menunggu di depan pekarangan dan menyambut mereka dengan pertanyaan.
"Bagaimana, ibu? Diterimakah? Apa kata nona Bwe Hwa yang cantik?"
"Hushh... mari masuk dan bicara di dalam!"
Bentak ibunya marah.
"Masa urusan itu dibicarakan di luar pekarangan, di tempat umum!"
Setelah mereka masuk, dengan sabar Lie-Tikoan berkata.
"Kami telah memenuhi permintaanmu dan meminang Lu-siocia, akan tetapi..."
"Ditolak, ayah?"
Tanya Kian Liong dengan suara lemas.
"Ditolak sih belum..."
"Kalau begitu diterima?"
Suara Kian Liong seperti bersorak.
"Diterima juga belum."
"Habis, bagaimana?"
"Keputusannya menanti sampai para penjahat terbasmi habis dari kota Liu-leng, agaknya diterima atau tidaknya juga tergantung dari hasil atau tidaknya aku membasmi para gerombolan penjahat itu."
Kian Liong bersorak girang.
"Kalau begitu pasti di terima! Ha-ha, pasti diterima! Lu Bwe Hwa akan menjadi isteriku, Ayah. Mana ada penjahat yang bisa lolos dari kejaranmu?"
Dengan girang sekali Kian Liong berjingkrak-jingkrak dan menyanyi-nyanyi.
Sementara itu, Hok Ti Hwesio, Kim-coa-pian Bu Kiat, dan Sin-siang-to Kwee Sin Bun sudah bersiap-siap.
Mereka bertiga ini kaget seperti disambar petir ketika mendengar dari Lie-Tikoan bahwa mereka malam nanti harus menyelidiki dan mengikuti murid keponakan mereka sendiri, Hek-liang-pian Thio Cin Gan yang dituduh anak buah penjahat oleh Lie-Tikoan.
Tentu saja mereka tidak percaya dan menjadi penasaran.
"Kalau memang ternyata betul bahwa dia itu anggauta gerombolan penjahat, aku akan menghancurkan kepalanya!"
Kata Kim-coa-pian Bu Kiat.
"Aku akan membelah dadanya, dia membikin malu Hoa-san-pai!"
Kata Kwee Sin Bun. Malam itu Diam-diam mereka mengamat-amati Thio Cin Gan, akan tetapi agar jangan sampai kentara, Hok Ti Hwesio membagi-bagi tugas penjagaan seperti biasa.
"Kau harus menjaga di pintu gerbang sebelah selatan dan meronda sampai ke pintu barat."
Kata Hok Ti Hwesio kepada Cin Gan.
"Susiok, maafkan teeeu karena malam hari ini teeeu tidak enak badan. Kalau teeeu memaksa diri melakukan jaga malam dan terkena angin, tentu besok akan jatuh sakit."
Jawab Thio Cin Gan. Di dalam hatinya, Hok Ti Hwesio menaruh hati curiga, akan tetapi pada wajahnya tidak terbayang sesuatu, bahkan dengan sungguh-sungguh dan ramah ia berkata.
"Memang berjaga setiap malam amat melelahkan dan orang dapat jatuh sakit terkena angin malam. kau mengasolah, kurasa malam ini penjahat-penjahat takkan berani keluar karena penjagaan kita amat kuat."
Menjelang tengah malam, bayangan hitam yang berkedok nampak berkelebat bagaikan iblis, berlompatan di atas genteng-genteng rumah orang di kota Liu-leng.
Bayangan ini ternyata tahu di mana terdapat penjaga-penjaga yang menjaga kota dengan amat kuatnya, buktinya ia selalu memilih jalan yang justru tidak terjaga!
Ia tidak tahu bahwa semenjak tadi, tiga bayangan orang mengikutinya dan tiga orang ini bukan lain adalah Hok Ti Hwesio, Kwee Sin Bun, dan Bu Kiat.
Tiga orang jago Hoa-san-pai ini marah bukan main karena mereka tadi melihat sendiri betapa Thio Cin Gan murid keponakan mereka, telah keluar dari rumah dengan pakaian dan kedok penjahat!
Kwee Sin Bun dan Bu Kiat sudah gatal-gatal tangan hendak memberi hajaran kepada anak murid yang murtad ini, akan tetapi Hok Ti Hwesio mencegah mereka dan mengajak mereka mengikuti ke mana perginya Hek-liong-pian Thio Cin Gan yang kini tidak memegang pian, melainkan membawa sebuah toya.
Ternyata kemudian bahwa Thio Cin Gan menuju ke rumah gedung Pangeran Lu, cocok seperti dikhawatirkan oleh bekas Tikoan Song Tek!
Akan tetapi, baru saja kaki Thio Cin Gan menginjak genteng, dari belakang terdengar suara bentakan.
"Bangsat rendah, murid murtad. Binatang macam engkau harus binasa!"
Inilah suara Bu Kiat yang sudah tidak dapat menahan sabar lagi dan ia menyerang dengan ruyungnya yang menyambar kepala penjahat berkedok itu.
Penjahat berkedok itu yang bukan lain orang adalah benar Hek-liong-pian Thio Cin Gan kaget bukan main karena tidak menyangka bahwa ia selama itu diikuti orang.
Apalagi ketika ia mengelak dan melompat ke samping, dilihatnya tiga orang susioknya yang mengejar dan menyerangnya, ia menjadi gentar.
Ilmu silat dari Cin Gan memang tidak kalah banyak kalau dibandingkan dengan para susioknya ini karena selain mendapat latihan dari Hoa-san-pai, diapun telah mempelajari banyak macam ilmu silat tinggi.
Akan tetapi menghadapi tiga orang tokoh Hoa-san-pai ini sekaligus, ia merasa tidak sanggup.
Maka tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, ia melompat ke atas genteng depan dan hendak melarikan diri.
Celaka baginya, dari depannya berkelebat bayangan yang gesit dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pemuda yang memakai topeng hitam.
"Kim-Hoa-Piauw..."
Keluh Cin Gan dengan hati seperti berhenti detiknya.
Pemuda bertopeng hitam itu tertawa dan pedangnya menyambar bagaikan kilat cepatnya.
Cin Gan menangkis dengan toyanya dan sebentar saja mereka telah bertarung sengit.
Namun hanya beberapa gebrakan saja karena keburu datang Hok Ti Hwesio, Kwee Sin Bun dan Bu Kiat.
"Taihiap, biarkan kami menghukum murid keparat ini!"
Seru Hok Ti Hwesio yang mengenal pemuda itu sebagai orang yang pernah berkali-kali membantunya melawan para penjahat.
Juga Bu Kiat dan Kwee Sin Bun mengenal pemuda itu sebagai orang yang telah menolong mereka dari kepungan penjahat di luar kota Liu-leng.
Pemuda bertopeng atau Kim-Hoa-Piauw itu tersenyum lalu melompat ke pinggir.
Adapun tiga orang jago Hoa-san-pai itu segera maju menerjang Cin Gan dengan sengit.
Melihat ini, Diam-diam Cin Gan terkejut dan maklum bahwa ia takkan mendapat ampun lagi.
Maka ia menjadi nekad dan toyanya bergerak melindungi tubuhnya.
Biarpun ia juga anak murid Hoa-san-pai, namun ia telah banyak mempelajari ilmu silat lain dan begitu ia menahan tiga orang susioknya yang kini menjadi lawan, tiga orang jago Hoa-san-pai ini maklum bahwa bekas anak murid itu mainkan ilmu tongkat dari Thian-tung kai-pang yang lihai.
"Keparat, buka kedokmu!"
Bentak Hok Ti Hwesio.
Akan tetapi Cin Gan tidak mau memperdulikannya karena maklum bahwa andaikata ia berlutut minta ampun, tetap saja ia tidak akan bebas daripada hukuman mati, maka daripada mati mendapat malu lebih baik mati di balik kedok.
Ia menyerang makin hebat.
Bu Kiat dan Kwee Sin Bun marah bukan main.
Berbeda dengan Hok Ti Hwesio yang ingin menawan hidup-hidup penjahat itu, dua orang jago Hoa-san-pai ini bernafsu untuk membunuh bekas anak murid yang meneemarkan nama baik partai mereka.
Menghadapi kurungan senjata tiga orang jago ini, Cin Gan tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
Berturut-turut ruyung di tangan Bu Kiat dan golok di tangan Kwee Sin Bun menghantam tubuhnya dan di lain saat ia terjungkal mandi darah, berkelojotan dan terguling-guling dari atas genteng, jatuh ke bawah dan putus napasnya!
Hok Ti Hwesio melompat turun dan membuka kedok penjahat itu.
Tak salah lagi.
Dia adalah Hek-liong-pian Thio Cin Gan yang kini telah tewas.
Sementara itu, ribut-ribut ini telah menarik perhatian para penjaga dan Pangeran Lu Siang Tek sendiri sampai keluar dan sempat melihat penjahat itu roboh.
Girang hati pangeran ini melihat Kim-Hoa-Piauw berada di situ dan lebih girang lagi ketika mendapat kenyataan bahwa penjahat itu telah terbunuh.
Akan tetapi, kembali ia tertegun dan terheran-heran ketika mendapat kenyataan bahwa benar-benar penjahat itu adalah Hek-liong-pian Thio Cin Gan!
"Tepat sekali dugaan bekas Tikoan Song Tek!"
Kata pangeran itu. Ia tiba-tiba teringat kepada Cung Hok Bi keponakan Song Tek itu yang telah tinggal di gedungnya untuk sementara menjadi pengawal atau penjaganya menggantikan kedudukan Thio Cin Gan.
"Eh, di mana Cung Hok Bi? Mengapa dia tidak keluar ada ribut-ribut ini?"
Tanyanya kepada para penjaga. Tak seorangpun penjaga melihat pengawal baru ini.
"Hamba sekalian tidak melihat dia, Ongya"
Jawab seorang penjaga.
"Hmm, pengawal macam apa itu? Masa ada ribut-ribut dia masih tidur saja?"
Pangeran Lu mengomel. Tiba-tiba Kim-Hoa-Piauw berkata kepada Hok Ti Hwesio.
"Sam-wi enghiong, harap segera bawa pergi jenazah penjahat ini. Dia masih banyak kawannya dan siapa tahu kalau mereka itu menyerbu tempat kediaman Lie-Tikoan."
Kata-kata ini mengingatkan kepada Hok Ti Hwesio bahwa memang di tempat Lie-Tikoan hanya dijaga oleh anak buahnya saja dan apabila terjadi serbuan akan berbahaya sekali.
Maka cepat-cepat ia berpamit kepada Pangeran Lu dan mengajak dua orang sutenya pergi membawa jenazah bekas murid keponakan itu untuk bukti.
Setelah mereka pergi, Kim-Hoa-Piauw berkata kepada Pangeran Lu.
"Ong ya, hamba ingin bicara penting dengan Ongya."
"Mari kita masuk ke dalam."
Ajak pangeran itu yang segera menyuruh para penjaga untuk melakukan penjagaan lagi dengan tertib dan mencari Cung Hok Bi, minta kepada pemuda itu supaya berlaku waspada dan jangan tidur saja.
Kemudian bersama Kim-hoa-pianw ia masuk ke ruangan dalam.
"Ongya, sesungguhnya Cung Hok Bi tidak malas atau lalai. Semenjak tadi ia menjaga, bahkan dia yang lebih dulu menghadapi penjahat."
Kata pemuda bertopeng itu setelah mereka berada di ruang dalam.
"Apa maksudmu?"
Tanya Lu Siang Tek, tidak mengerti. Si topeng hitam itu lalu membuka topengnya sambil tersenyum.
"Kau...?"
Pangeran itu berseru kaget.
"Jadi kau kah Kim-Hoa-Piauw...?"
Pemuda itu memasang lagi topengnya.
"Harap Ongya sudi merahasiakan hal ini sampai kumpulan penjahat ini terbongkar habis. Hanya kepada Ongya hamba membuka rahasia ini. Sengaja hamba menyembunyikan diri di balik topeng ini agar lebih mudah bagi hamba melakukan penyelidikan."
Pangeran Lu mengangguk-angguk, nampaknya girang dan kagum sekali.
"Bagus sekali, kau memang amat mengagumkan dan kami berterima kasih sekali atas segala pertolonganmu. Dan selanjutnya, selain membuka rahasiamu kepadaku, hal penting apalagi yang hendak kau rundingkan?"
"Begini, Ongya. Hamba sudah tahu akan rencana dan maksud para penjahat yang hendak dilakukan terhadap keluarga Ongya. Oleh karena itu, hamba harap Ongya akan menuruti nasihat hamba demi keselamatan keluarga Ongya sendiri."
Pangeran itu menjadi pucat dan dadanya berdebar.
"Rencana apakah yang mereka hendak lakukan? Harap lekas memberitahu. Tentu saja kami akan menurut nasihat-nasihatmu."
"Pertama, seperti yang sudah mereka buktikan dengan percobaan-percobaan untuk menculik siocia, kepala penjahat itu agaknya tergila-gila kepada Lu-siocia dan hendak menculiknya. Kedua, mereka itu mencari sesuatu di dalam gedung Ongya dan menurut pendengaran hamba ketika hamba selidiki, mereka itu ingin mencuri harta pusaka dari keluarga Lu yang terdiri dari mahkota dan perhiasan-perhiasan dari nenek moyang keluarga Ongya."
Pangeran Lu menjadi pucat.
Soal pertama, tentang maksud menculik puterinya, ia tidak menjadi kaget mendengar ini karena memang sudah diduganya.
Akan tetapi soal kedua ini, benar-benar membikin ia kaget dan heran.
"Bagaimana mereka bisa tahu tentang harta pusaka itu...?"
Tanyanya. Cung Hok Bi tersenyum dan sepasang matanya berseri di balik topeng hitamnya.
"Mereka itu terdiri dari orang-orang pandai, Ongya."
"Kalau begitu... bagaimana baiknya menurut nasihatmu?"
"Melakukan penjagaan di kota ini menghadapi kawanan penjahat itu bukanlah hal yang mudah, Ongya, oleh karena sasaran para penjahat itu bukan terhadap keluarga Ongya sendiri. Maka menurut pendapat hamba yang bodoh, adalah lebih baik apabila Ongya sekeluarga membawa harta pusaka itu mengungsi untuk sementara waktu ke Kotaraja. Setelah di sini aman, barulah Ongya kembali. Biar hamba yang akan mengawal, dan kebetulan sekali paman hamba juga hendak pindah ke Kotaraja."
Pangeran Lu Siang Tek mengangguk-angguk. Memang nasihat ini baik sekali dan kiranya yang paling selamat pada waktu itu hanya mengungsi ke Kotaraja.
"Biarlah Tikoan bodoh itu melanjutkan usahanya menghadapi para penjahat. Hamba akan mengantar Ongya sampai ke Kotaraja, setelah selamat tiba di sana, baru hamba akan kembali ke sini dan hamba akan membersihkan para penjahat. Sementara hamba pergi, biarlah Lie-Tikoan mencoba kebodohannya bersama orang-orangnya yang tolol semua."
"Apakah tidak perlu minta bantuan Hok Ti Hwesio untuk mengawal?"
Tanya pangeran itu. Cung Hok Bi tersenyum menyindir.
"Hwesio itu? Ah, Ongya. Mana ada yang boleh dipercaya segala orang pengawal itu? Buktinya, Hek-liong-pian Thio Cin Gan yang tadinya menjadi pengawal pribadi Ongya, bagaimana kesudahannya? Ongya, hamba yang akan mengantar dan hamba yang menanggung bahwa segala anjing busuk tidak akan ada yang berani mengganggu Ongya. Kalau selembar rambut Ongya saja terganggu, hamba mengganti dengan nyawa hamba. Kalau Ongya membawa pengawal lain, hamba takkan ikut mengantar, karena pertanggungan jawab hamba lebih berat lagi. Apapula sekarang ini kita melakukan perjalanan bersama dengan rombongan paman Song Tek yang sudah membawa beberapa orang pengawal yang tinggi kepandaiannya. Harap Ongya tidak khawatirkan apa-apa."
"Baiklah. Bila kita berangkat?"
"Selekasnya lebih baik."
"Kurasa tiga hari lagi baru kami dapat bersiap-siap."
"Baik, Ongya. Sementara itu, dalam tiga hari ini akan hamba coba membubarkan semua penjahat."
Setelah herkata demikian, pemuda ini memberi hormat dan sekali berkelebat bayangannya lenyap ditelan malam gelap.
* * * Dua hari kemudian keluarga Lu sudah bersiap-siap.
Sudah ditetapkan bahwa besok pagi-pagi keluarga pangeran ini akan berangkat ke Kotaraja.
Pagi hari kedua itu selagi pangeran Lu memberi perintah kepada para pelayannya untuk membereskan barang-barang dan memeriksa kendaraan serta kuda yang hendak dipergunakan esok hari, muncul Lie Kian Liong, pemuda tolol putera Lie-Tikoan.
Biarpun di rumah ia terkenal tolol, namun bagi pangeran Lu dia tidak tolol karena pangeran ini belum pernah melihat sikapnya yang tolol itu, sebaliknya di depan pangeran ini, Kian Liong selalu bisa bersikap hormat dan berlagak seakan-akan seorang terpelajar tulen!
"Selamat pagi, Lu-Ongya..."
Salamnya sambil memberi hormat.
"Eh, kau Kian Liong? Ada keperluan apakah kau pagi-pagi datang ke sini? Apakah disuruh oleh ayahmu?"
"Tidak disuruh apa-apa oleh ayah, Ongya. Hanya sudah lama aku tidak bertemu dengan Ongya dan dengan... siocia. Aku ingin bertemu dengan Ongya sekeluarga dan melihat keluarga Ongya selamat dan sehat saja."
"Hmmm..."
Pangeran Lu tidak bisa berkata apa-apa karena biarpun kata-kata yang diucapkan oleh orang muda itu luar biasa, namun sifatnya ramah dan baik.
"Kau pulanglah, kami sedang sibuk bersiap-siap untuk keberangkatan kami."
"Saya mendengar Ongya sekeluarga hendak pesiar ke Kotaraja, betulkah?"
Tanya pula Kian Liong, seakan-akan tidak mendengar pangeran itu mengusirnya secara halus.
"Betul, kami semua hendak pergi ke Kotaraja. Sekarang kami sedang sibuk, kau pulanglah, aku tidak dapat melayanimu lebih lama lagi, perlu memeriksa sendiri kendaraan yang hendak dipakai besok."
Setelah berkata demikian, pangeran itu meninggalkan Kian Liong bengong di situ.
Setelah pangeran itu pergi, Kian Liong celingukan dan kembali seperti dulu ia melihat-lihat gambar di ruangan depan.
Para pelayan yang mengenal pemuda ini sebagai putera Tikoan, tidak ada yang berani menegur, hanya Diam-diam merasa geli menyaksikan tingkah laku yang aneh dan lucu itu.
Seperti dulu pula, Kian Liong tahu-tahu telah "nyelonong"
Masuk ke dalam taman. Memang ia bernasib baik dalam asmara, karena kebetulan sekali Lu Bwe Hwa berada di taman pula seorang diri, menghadapi meja taman dan duduk melamun.
"Lu-siocia, sedang melamun memikirkan siapakah gerangan?"
Tentu saja Bwe Hwa kaget setengah mati dan melompat dari tempat duduknya. Otomatis tangannya menyambar benda yang berada di atas meja dan mendekap benda itu pada dadanya.
"Kau... mengapa kau datang kesini?! Pergi kau orang kurang ajar. Ayah akan marah kalau melihat kau disini!"
"Aku sudah berjumpa dengan ayahmu, nona. Dia sedang sibuk sekali menguruskan persiapan untuk pergi besok. Nona, kau hendak pergi ke Kotaraja, untuk berapa lamakah? Jangan terlalu lama, nona, aku tidak kuat menahan rindu..."
"Mulut jahat! kau jangan bicara sembarangan!"
"Eh-eh, adikku yang baik, mengapa marah-marah? Bukankah ayahku sudah meminangmu kepada ayahmu?"
"Akupun tahu, dan ayahku tidak menerima pinanganmu!"
"He-he, bukan tidak menerima, melainkan belum menerima. Belum bukan berarti tidak, dan belum bukan berarti menolak. Karena belum diterima, berarti kita baru setengah bertunangan, bukan?"
"Cukup! Aku... aku benci padamu!"
Teriak Bwe Hwa sambil menaruh benda yang dipegangnya tadi keras-keras di atas meja.
Saking marahnya ia sampai lupa akan benda yang dipegangnya itu.
Sikap pemuda tolol ini benar-benar memuakkan hatinya.
Melihat benda itu, Kian Liong melangkah maju dan mengambil benda itu yang ternyata adalah sebuah piauw kembang emas.
"Eh, apa ini? Seperti pisau..."
Katanya perlahan. Serentak Bwe Hwa memutar tubuhnya dan mukanya menjadi merah melihat piauw itu telah dipegang oleh Kian Liong.
"Berikan padaku piauw itu!"
Bentaknya. Akan tetapi Kian Liong tidak mau memberikannya.
"Apakah ini punyamu, nona? kau main-main dengan pisau?"
"Tentu saja itu punyaku, pemberian seorang yang gagah, tidak seperti engkau. Mana kau becus mempergunakan benda itu!"
Kata gadis ini menghina.
"Eh-eh, kau memandang rendah? Apa sih sukarnya mempergunakan pisau ini? Asal saja kau beritahu bagaimana cara mempergunakannya, tentu akupun bisa!"
Pernyataan ini sungguh tolol dan menggemaskan hati, Bwe Hwa terpaksa tersenyum, senyum mengejek dan geli.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 9
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 1