Ceritasilat Novel Online

Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan 3

Eps 3 Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo.

"Nanti dulu, ayah. Siapakah itu keluarga Lim Sun dari So-jiu? Kurasa Kiang-ko (kakak Kiang), seperti juga aku sendiri, belum pernah mendengar tentang keluarga itu!"

"Kong-te (adik Kong), kembali engkau memotong pembicaraan ayah. Kenapa engkau begitu kasar?"

Tegur Ui Kiang. Ui Kong mengangguk kepada ayahnya dan berkata, lebih halus.

"Maafkan aku, ayah."

"Sudahlah, kalian dengarkan saja baik-baik. Lim Sun adalah seorang sahabat karibku di So-jiu, juga isterinya menjadi sahabat mendiang ibumu. Kami suami isteri bergaul dengan akrab. Kami saling berpisah ketika aku dan ibumu pindah ke Ki-lok ini. Akan tetapi sebelum kami berpisah, ibumu dan isteri Lim Sun telah saling berjanji bahwa mereka berdua kelak akan menjodohkan anak masing-masing. Mereka mempunyai seorang anak perempuan."

Kakak beradik itu terkejut dan otomatis mereka menoleh dan saling berpan-dangan.

Ui Kong sudah menggerakkan mulutnya, akan tetapi baru saja bibirnya terbuka, belum sempat bersuara, kakaknya sudah memberi isyarat dengan telunjuk menekan mulut agar adik itu tidak memotong cerita ayah mereka.

Ui Kong teringat dan menutup bibirnya rapat-rapat!

"Tadinya aku hanya mendengar bahwa Lim Sun telah tewas terbunuh penjahat dan anak isterinya hilang entah ke mana.

Akan tetapi kemudian muncul Ong Siong Li itu dan dialah yang bercerita banyak tentang keluarga Lim Sun.

Dia bercerita bahwa Lim Sun terbunuh oleh seorang kepala perampok berjuluk Kauw-jiu Pek-wan dan isterinya dipaksa menjadi isteri perampok itu, sedangkan anaknya juga menjadi anak tiri si perampok."

Tiba-tiba Ui Kong melompat berdiri dari kursinya.

"Kauw-jiu Pek-wan Kiu Ciang Hok! Jahanam busuk itu memang jahat sekali. Pernah aku bersama beberapa orang suheng (kakak seperguruan) mencari untuk membasminya, akan tetapi dia menghilang dan tak seorangpun tahu di mana dia berada! Sungguh keji dan biadab! Sudah membunuh suaminya, memaksa isterinya untuk menikah dengannya pula!"

"Kong-te, tidak bisakah engkau diam sejenak agar ayah dapat melanjutkan ceritanya?"

Tegur Ui Kiang marah.

Ui Cun Lee menghela napas panjang.

Dua orang anaknya itu memiliki sikap yang demikian jauh berbeda, akan tetapi keduanya memiliki kebenaran masing-masing.

Kalau Ui Kiang mengutamakan sikap baik bersusila, Ui Kong lebih mengutamakan sikap gagah menentang kejahatan.

"Menurut cerita Ong Siong Li, anak perempuan yang bernama Lim Bwee Hwa itu kemudian menjadi seorang gadis yang lihai ilmu silatnya. Kemudian, seorang sakti yang entah siapa namanya aku lupa lagi, merampas Lim Bwee Hwa dari tangan ayah tirinya kemudian dijadikan murid orang sakti itu. Nah, setelah dewasa, Lim Bwee Hwa itu mencari ibunya yang setelah bertemu dengannya, mati karena sakit dan terlantar, sedangkan Kauw-jiu Pek-wan menikah lagi. Lim Bwee Hwa lalu membunuh ayah tiri yang juga pembunuh ayah kandungnya dan menyia-nyiakan ibunya itu!"

"Bagus! Hebat""!"

Ui Kong bersorak, akan tetapi teringat akan teguran kakak-nya, dia melirik kepada kakaknya dan duduk.

"Sebelum ibunya mati, Nyonya Lim Sun memesan kepada Lim Bwee Hwa bahwa gadis itu telah dijodohkan dengan puteraku seperti telah dijanjikan oleh mendiang ibu kalian. Maka, gadis itu lalu mencari sampai di kota ini dan ia me-nyuruh Ong Siong Li, yang menurut cerita pemuda itu menjadi sahabat baiknya, untuk menjadi walinya, menemuiku dan membicarakan urusan perjodohan ini. Nah, bagaimana menurut pendapat kalian? Karena ibumu sudah tidak ada, terpaksa hanya dengan kalian aku dapat berunding. Akan tetapi, akupun tidak ingin mengingkari janji yang sudah diucapkan ibumu."

Kembali Ui Kiang dan Ui Kong saling pandang.

Mulut mereka tidak mengatakan sesuatu, akan tetapi pandang mata mereka menyatakan berbagai macam perasaan.

Terkejut, heran, ragu, cemas dan bimbang, bahkan seolah takut kalau-kalau dirinya terpilih oleh ayah mereka harus menikah dengan gadis yang sama sekali tidak mereka kenal itu!

"Ui Kiang, engkau lebih dulu mengatakan, bagaimana menurut pendapatmu menghadapi persoalan ini?"

Tanya Ui Cun Lee kepada anak sulungnya. Ui Kiang terkejut, lalu memandang kepada ayahnya dan berkata dengan tenang dan lembut.

"Tidak dapat disangkal lagi, ayah. Pesan ibu yang sudah meninggal merupakan pesan wasiat yang sama sekali tidak boleh diabaikan dan harus dilaksanakan. Janji mendiang ibu harus dipenuhi, tidak boleh diingkari karena hal itu menyangkut kehormatan keluarga ibu, yaitu ayah, saya dan Kong-te. Karena itu, sayapun setuju kalau ayah hendak memenuhi janji ibu itu. Adapun siapa di antara saya dan Kong-te yang harus memenuhi janji itu dan menjadi jodoh Nona Lim Bwee Hwa, hal itu saya kira harus dipertimbangkan dengan penuh kebijaksanaan. Menurut cerita ayah tadi, nona itu adalah seorang ahli silat yang pandai, seorang gadis pendekar. Keadaannya itu sama benar dengan keadaan Kong-te, maka saya kira mereka berdua akan lebih cocok dan serasi untuk menjadi suami isteri. Begitulah pendapat saya, ayah. Maafkan kalau ada kesalahan dalam kata-kata saya tadi."

Ui Cun Lee mengangguk-angguk senang.

Pendapat putera sulungnya itu memang cocok sekali dengan pendapatnya sendiri.

Memang, kalau dilihat dari keadaannya, gadis itu lebih cocok menjadi isteri Ui Kong, sama-sama ahli silat dan berjiwa pendekar!

Kini orang tua itu memandang kepada anak bungsunya.

"Dan sekarang aku minta pendapatmu, Ui Kong!"

Ui Kong juga terkejut.

"Aku, ayah? Ah, aku sih setuju dengan pendapat Kiang-ko bahwa janji mendiang ibu harus ditepati. Itu merupakan keharusan! Kalau tidak, berarti kita mengkhianati ibu. Akan tetapi aku sama sekali tidak setuju dengan pendapat Kiang-ko bahwa akulah orangnya yang tepat menjadi suami gadis itu. Mana ada aturan seperti itu? Kiang-ko adalah saudara tua, anak sulung! Masa kakak sulung belum menikah, adik bungsu harus menikah lebih dulu melangkahi kakaknya? Tidak mungkin ini, ayah. Aku tidak mau menjadi terkutuk karena kesalahan ini. Kiang-ko yang tepat untuk menaati pesan ibu dan menikah dengan Nona Lim Bwee Hwa itu. Dia seorang siucai (sastrawan) dan Nona Lim Bwee Hwa seorang lihiap (pendekar wanita). Alangkah sudah serasinya ini. Kelak anak mereka tentu menjadi bun-bu-cwan-jai (ahli sastra dan silat)! Ayah akan mempunyai cucu-cucu yang hebat!"

Mendengar ini, Ui Kiang cemberut dan mengerutkan alisnya, akan tetapi Ui Cun Lee tertawa.

Pendapat putera bungsunya itu pun cocok dengan pendapatnya.

Akan tetapi dia teringat akan kericuhan ini dan menghela napas panjang.

"Inilah yang membuat hatiku bingung. Memang, kalau mengingat kepatuhan, seharusnya Ui Kiang yang menikah lebih dulu, akan tetapi kalau mengingat keahlian yang sama, agaknya Ui Kong lebih tepat menjadi jodoh gadis itu."

"Akan tetapi, apakah ayah sudah memutuskan?"

Kedua orang kakak beradik itu bertanya, suara mereka hampir berbareng.

"Belum. Biarpun terkadang aku gelisah dan jengkel memikirkan betapa sampai sekarang, setelah Kiang-ji (anak Kiang) dan Kong-ji (anak Kong) berusia duapuluh empat dan duapuluh satu tahun belum juga mau menikah, akan tetapi dalam urusan ini aku tidak mau memaksa kalian. Kalian harus menentukan jodoh kalian masing-masing. Akan tetapi, aku telah mengambil keputusan agar janji mendiang ibu kalian tidak kita ingkari, dan kalian berdua juga menyetujui hal itu, maka aku telah mengambil suatu keputusan."

"Keputusan yang bagaimanakah itu, ayah?"

Tanya Ui Kong dan kedua orang pemuda tampan itu menanti jawaban ayah mereka dengan jantung berdebar tegang.

"Keputusanku ini telah kusampaikan kepada Ong Siong Li dan diapun sudah menyetujuinya. Besok pagi-pagi, kita bertiga akan pergi sembahyang untuk arwah ibumu di Kuil Ban-hok-si di sebelah timur kota itu dan pada waktu itu, Ong Siong Li akan mengajak Lim Bwee Hwa ke kuil itu, melihat orang-orang yang melakukan upacara sembahyang. Dengan demikian kalian dapat bertemu dan berkenalan dengan Lim Bwee Hwa dan kita lihat saja nanti, siapa di antara kalian yang suka dan bersedia menjadi calon suaminya."

"Akan tetapi, ayah. Bagaimana kalau pilihan itu jatuh kepadaku? Aku tidak mau, tidak berani melangkahi Kiang-ko dan menikah lebih dulu."

"Kong-te (adik Kong), jangan hiraukan hal itu. Aku tidak apa-apa walau engkau melangkahiku dan menikah lebih dulu. Aku rela sepenuhnya!"

"Akan tetapi aku yang akan celaka, kualat! Arwah ibu juga tentu akan marah besar kepadaku kalau ia melihat aku melangkahimu dan menikah lebih dulu!"

"Sudahlah jangan ribut. Kalian berdua harus mau saling mengalah sedikit. Begini saja. Kalau yang merasa suka itu Kiang-ji, maka tidak ada masalah dan dia boleh menikah dengan Bwee Hwa, akan tetapi seandainya yang cocok dan suka itu Kong-ji, maka dia akan bertunangan dulu dengan Bwee Hwa dan baru akan dilangsungkan pernikahan kalau Kiang-ji sudah mendapatkan jodohnya. Nah, ini merupakan perintah yang tidak boleh kalian bantah lagi!"

Sejenak dua orang kakak beradik itu diam.

Mereka tidak berani membantah lagi karena memang keputusan ayah mereka itu mereka anggap sudah seadil-adilnya.

Tidak ada unsur paksaan, dan tidak ada masalah lagi.

"Bagaimana, kalian setujukah? Hayo katakan kalau setuju dan kalau tidak setuju juga katakan terus terang dan kemukakan alasannya,"

Kata Hartawan Ui itu.

"Maaf, ayah. Saya sama sekali bukan tidak setuju, bahkan mendukung keputusan ayah yang sudah adil itu. Akan tetapi, kita harus memikirkan kemungkinan ketiga. Kemungkinan ketiga yang akan menghancurkan sama sekali rencana ayah yang amat baik ini."

"Hemm, kemungkinan ketiga yang bagaimana itu?"

Hartawan Ui bertanya dengan alis berkerut.

Hatinya sudah senang dengan keputusannya yang disetujui kedua orang anaknya itu dan yang dianggapnya merupakan rencana yang pasti berhasil karena tidak ada halangan apapun lagi.

Maka adanya "kemungkinan ketiga"

Yang dikatakan Ui Kiang ini membuat dia gelisah.

"Kemungkinan itu, ayah, adalah bagaimana kalau di antara Kong-te dan saya tidak ada yang suka atau cocok dengan gadis itu? Bagaimana kalau misalnya ia cacat atau....... jelek sekali wajahnya sehingga kami berdua tidak suka sama sekali?"

"Wah, benar sekali itu, ayah! Lebih celaka lagi, kalau ia ternyata seorang gadis yang sesat dan jahat, mengingat bahwa ayah tirinya juga sesat dan jahat, tentu biar matipun aku tidak sudi menjadi suaminya!"

Kata Ui Kong penuh semangat. Hartawan Ui menghela napas panjang.

"Mudah-mudahan tidak begitu dan aku percaya tidak akan muncul kemungkinan ketiga itu. Aku ingat benar bahwa Lim Sun seorang laki-laki yang berwajah tampan, sedangkan isterinya juga lembut dan cantik. Suami isteri itu memiliki watak yang amat baik. Tidak mungkin kalau anak tunggalnya cacat badan dan batinnya. Kecuali kalau Thian menghendaki lain apa boleh buat, kita akan bicarakan lagi seandainya memang terjadi kemungkinan ketiga itu. Bersiaplah kalian, besok pagi-pagi kita berangkat ke kuil Ban-hok-si!"

Kuil Ban-hok-si adalah sebuah kuil besar di mana dipuja beberapa tokoh dewa.

Akan tetapi yang membuat Ban-hok-si (Kuil Selaksa Rejeki) terkenal adalah pemujaan terhadap Kwan Im Pouwsat (Dewi Welas Asih) yang patungnya ter-buat dari emas terukir indah.

Patung Dewi Kwan Im emas itu merupakan hadiah dari Kaisar Yung Lo yang memindahkan kota raja dari Nan-king di selatan ke Peking di utara, setelah dia berhasil merampas singasana dari keponakannya sendiri, Kaisar Hui Ti.

Kaisar Yung Lo adalah putera dari Kaisar Thai Cu atau yang tadinya bernama Cu Goan Ciang, pendiri dinasti Beng.

Melihat keponakannya diangkat menjadi kaisar, dia merasa lebih berhak maka dia yang menjadi panglima berkedudukan di Peking lalu memberontak, menyerbu ke Nanking dan merampas kedudukan kaisar.

Dia menjadi kaisar dan berkedudukan di kota raja Peking.

Ketika kisah ini terjadi, Kaisar Yung Lo telah memerintah selama kurang lebih sepuluh tahun.

Ketika Yung Lo menyerbu ke selatan untuk merampas tahta kerajaan, dia terpisah dari pasukannya dan sudah terkepung pasukan tentara selatan.

Dia melarikan diri ke kuil Ban-hok-si itu dan bersembunyi di dalam kuil.

Secara aneh sekali, pasukan selatan yang melakukan pengejaran dan pencarian tidak dapat menemukannya.

Padahal, Yung Lo bersembunyi di bawah meja patung Kwan-im Pouwsat yang tertutup kain.

Kalau dia dapat ditemukan tentu akan dikeroyok dan tewas.

Tentara musuh sudah memasuki ruangan itu, namun tiada seorangpun menyingkap kain dan menemukannya.

Peristiwa yang ganjil ini oleh Kaisar Yung Lo dianggap sebagai perlindungan Kwan-im Pouwsat kepadanya, maka dia lalu melanjutkan penyerbuannya ke selatan.

Setelah dia berhasil merebut tahta kerajaan Beng dari tangan keponakannya, Kaisar Hui Ti, dia lalu memerintahkan kepada seorang ahli pembuat patung emas terpandai untuk membuatkan patung Kwan-im Pouwsat dari emas itu dan menaruhnya di Kuil Ban-hok-si sebagai pengganti patung yang sudah lama dan buruk.

Demikianlah, riwayat patung itu menambah kepercayaan penduduk, apalagi ditambah kesaksian mereka yang merasa tertolong dan terpenuhi permohonannya melalui Dewi Kwan Im, maka kini Kuil Ban-hok-si menjadi kuil yang dikunjungi banyak orang.

Apalagi pada hari-hari tertentu, seperti pada hari itu yang merupakan hari sembahyangan umum, menyembahyangi arwah para leluhur, kuil itu menjadi ramai sekali.

Banyak sekali pengunjung, bukan hanya mereka yang memang hendak sembahyang, melainkan banyak di antara mereka yang sekadar melihat-lihat keramaian.

Mereka yang membayar kaul karena merasa permohonan mereka terpenuhi, ada yang menyewa para pemain ba-rong-sai, liong (naga) dan po-te-hi (wayang golek).

Banyak pula penjaja makanan memenuhi pelataran kuil amat luas, melayani kebutuhan para pengunjung.

Bahkan kesempatan itu dipergunakan pula oleh muda-mudi untuk mencari jodoh.

Siapa tahu, berkat kemurahan hati Dewi Kwan Im, mereka akan saling berkenalan dan menemukan jodohnya di tempat itu!

Sementara itu, ketika Ong Siong Li kembali dari rumah Hartawan Ui dan menceritakan pertemuan dan percakapannya dengan Ui Cun Lee kepada Bwee Hwa, berbagai macam perasaan teraduk dalam hati gadis itu.

Ia merasa bersyukur bahwa calon ayah mertua pilihan ibunya itu ternyata seorang hartawan yang dermawan.

Hal ini tentu saja menyenangkan hatinya.

Coba andaikata ia mendengar bahwa calon ayah mertuanya itu seorang penjahat seperti mendiang ayah tirinya, tentu saja ia akan menolak perjodohan itu mentah-mentah!

Ia mendengar pula bahwa Nyonya Ui telah meninggal dunia dan bahwa Ui Cun Lee mempunyai dua orang putera, keduanya belum menikah.

"Karena kedua orang putera Paman Ui Cun Lee itu masih belum menikah, maka menurut dia, yang berhak menikah lebih dulu adalah putera sulungnya yang bernama Ui Kiang. Ternyata Paman Ui seorang yang bijaksana sekali, Hwa-moi. Biarpun dia setuju untuk memenuhi janji mendiang ibumu dan ibu pemuda itu, namun dia tidak mau memaksakan kehendaknya kepada kalian. Dia ingin agar engkau dapat bertemu dan berkenalan dengan puteranya itu dan kalau kalian berdua setuju, barulah pernikahan dapat dilangsungkan. Bukankah itu menunjukkan bahwa dia seorang tua yang bijaksana sekali?"

Bwee Hwa mengangguk-angguk.

"Memang bijaksana sekali, Li-ko. Akan tetapi bagaimana aku dan Ui Kiang itu dapat bertemu dan berkenalan? Tentu aku merasa tidak enak dan sungkan untuk berkunjung ke rumah mereka."

"Hal itupun dimaklumi oleh Paman Ui. Karena itu, dia sudah mengambil cara yang dapat kuterima karena merupakan rencana yang baik dan sopan. Besok pagi kebetulan ada upacara sembahyangan umum di Kuil Ban-hok-si, kurang lebih sepuluh lie (mil) di sebelah timur kota ini. Nah, dia dan kedua orang puteranya akan berada di sana untuk menyembahyangi arwah isterinya dan dia minta agara engkau dan aku berkunjung pula sana. Besok kuil itu menjadi tempat perkunjungan umum sehingga tidak akan ketahuan orang bahwa pertemuan itu diatur. Kita berdua akan bertemu mereka di sana, engkau dapat berkenalan dengan mereka dan kalian berdua yang sudah dijodohkan dapat menarik kesan hati masing-masing."

Bwee Hwa menundukkan mukanya yang berubah merah. Biarpun ia seorang gadis bebas yang tidak pernah malu-malu namun bicara tentang perjodohan dengan Siong Li membuat ia tersipu juga.

"Berapa usia pemuda bernama Ui Kiang itu, Li-ko?"

"Aku tidak tahu, Hwa-moi. Paman Ui tidak mengatakan itu. Akan tetapi aku ingat....... ketika hendak meninggalkan rumah itu, di pekarangan aku berpapasan dengan seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, berwajah tampan gagah, usianya kurang lebih duapuluh satu tahun. Kami hanya saling mengangguk. Aku tidak tahu siapa dia dan kalau dia itu putera Paman Ui, engkau sungguh beruntung, Hwa-moi. Dia tampan, gagah, dan dari gerakan langkahnya, aku yakin bahwa dia itu seorang ahli silat yang pandai."

"Hemm, itu bukan merupakan syarat yang paling utama untuk seorang calon suami, Li-ko."

"Ehh? Lalu syarat utamanya apa, Hwa moi?"

"Syarat utamanya adalah budi yang baik, bersusila, sikap yang adil dan penentang kejahatan, seperti....... misalnya seperti....... engkau, Li-ko."

Siong Li menjadi salah tingkah wajahnya merah mendengar ini. Akan tetapi dia pura-pura tidak mendengar ucapan terakhir itu dan berkata.

"Aku yakin bahwa putera Paman Ui tentu seorang yang baik budi, mengingat betapa Paman Ui sendiri seorang dermawan. Aku telah melihat betapa dia membagi-bagikan beras kepada orang-orang miskin."

Biarpun agak segan dan sungkan, akhirnya Bwee Hwa tidak dapat menolak rencana Hartawan Ui untuk mempertemukan ia dan putera Hartawan Ui yang telah dijodohkan sejak kecil oleh ibu masing-masing.

"Pakailah pakaianmu yang paling baru dan indah, Hwa-moi,"

Ong Siong Li berkata sambil tersenyum.

"Di tempat keramaian itu semua orang, terutama wanitanya, pasti mengenakan pakaian baru."

"Hemm, kenapa aku harus memakai pakaian baru, Li-ko?"

Tanya Bwee Hwa.

"Karena biasanya, orang dihargai karena pakaiannya!"

"Hemm, aku tidak pernah menilai seseorang dari pakaiannya! Mungkin banyak sekali orang jembel yang compang-camping pakaiannya memiliki budi pekerti yang jauh lebih bersih daripada seorang hartawan atau bangsawan yang berpakaian serba indah!"

Siong Li tersenyum.

"Tepat! Akupun berpendapat demikian, Hwa-moi. Akan tetapi dalam hal ini lain lagi. Engkau akan bertemu dan berkenalan dengan calon suamimu. Tidak pantas kalau pakaianmu tampak kumal dan wajahmu muram. Hayolah, kenakan pakaian yang paling baik."

Bwee Hwa sudah mandi dan berganti pakaian, walaupun bukan pakaiannya yang terbaik, melainkan pakaian biasa yang berwarna merah, warna kesukaannya.

Ia menunduk, memandang ke arah pakaian yang dipakainya.

"Apakah pakaian ini tidak patut bagiku?"

Siong Li memandang dan terpaksa dia mengatakan apa yang menjadi suara hatinya.

"Patut, pantas sekali! Akan tetapi kalau ada yang lebih baru lagi......."

"Sudahlah, Li-ko, hayo berangkat. Cerewet amat sih engkau! Kaya nenek-nenek saja!"

Siong Li tertawa dan mereka berdua lalu berangkat, keluar dari kota Ki-lok menuju ke timur.

Ternyata jalan menuju ke kuil itu ramai sekali.

Banyak orang berjalan ke arah kuil itu, ada pula yang naik kereta atau menunggang kuda.

Dan benar saja seperti yang diperkirakan Siong Li tadi, kebanyakan orang-orang itu mengenakan pakaian baru seperti hendak merayakan pesta!

Tak lama kemudian sampailah mereka di depan Kuil Ban-hok-si.

Di sana sudah terdapat banyak orang.

Kurang lebih duaratus orang, laki-laki dan perempuan, tua muda, telah berkerumun di situ.

Ada pula yang sedang sibuk melakukan upacara sembahyang.

Di luar kuil terdapat banyak orang berjualan bermacam-macam makanan.

Siong Li mulai mencari-cari dengan pandang matanya, tentu saja mencari Hartawan Ui Cun Lee.

Akan tetapi orang yang dicarinya itu tidak berada di dalam pekarangan yang penuh orang itu.

Mungkin berada di dalam kuil, sedang bersembahyang, pikirnya.

Bukankah mereka datang ke kuil untuk sembahyang?

Tiba-tiba dia merasa lambungnya disikut orang.

Dia menoleh ke kiri dan melihat Bwee Hwa memberi isyarat dengan kedipan mata padanya.

Gadis itu lalu menunjuk dengan dagunya ke arah kiri.

Aneh, apakah Bwee Hwa sudah dapat menemukan Hartawan Ui yang belum pernah dilihatnya itu?

Akan tetapi ketika dia memandang ke arah yang ditunjuk oleh Bwee Hwa dan pandang matanya mencari-cari, dia terkejut juga melihat tiga orang yang sudah dikenalnya dengan baik.

Di sana, di antara kerumunan orang banyak, dekat ruangan depan bagian kuil yang menjadi tempat pemujaan Dewi Kwan Im, berdiri tiga orang yang bukan lain adalah Sam-kauwcu (Ketua Agama Ketiga) yang bertubuh tinggi berwajah tampan pucat berusia kurang lebih empatpuluh tahun, Lie Hoat yang buntung lengan kirinya, dan Souw Ban Lip.

Dua orang terakhir ini adalah para pembantu kepala gerombolan Gak Sun Thai.

Sam-kauwcu dapat lolos ketika Siong Li dan Bwee Hwa membasmi para gerombolan perampok, sedangkan Lie Hoat buntung lengan kirinya oleh pedang Siong Li dan Souw Ban Lip terkena senjata rahasia jarum tawon yang lihai dari Bwee Hwa.

Sam-kauwcu dan Li Hoat yang pendek kurus mata juling itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun, sedangkan Souw Ban Lip berusia sekitar enampuluh tahun.

Siong Li mengerutkan alisnya.

Mau apa tiga orang penjahat itu berada di tempat itu?

Sudah pasti tidak mempunyai niat yang baik, pikirnya.

Tiba-tiba dia menyentuh lengan Bwee Hwa dan menunjuk ke arah dua orang yang berada di belakang tiga orang penjahat itu.

Bwee Hwa memperhatikan.

Dua orang itu berpakaian serupa, dengan pakaian serba putih dan di sebelah luar memakai jubah longgar berwarna kuning.

Rambut kepala mereka digelung ke atas, diikat dengan pita putih, model gelung para tosu (Pendeta Agama To) dan di punggung mereka tergantung sebatang pedang.

Dari belakang, dua orang yang layak disangka pendeta itu tampak kembar dan serupa, akan tetapi ketika mereka miring sehingga tampak wajah mereka, Siong Li memegang lengan Bwee Hwa dengan kuat sehingga gadis itu mengerutkan alis dan merenggut lepas lengannya.

Siong Li menyadari hal ini dan berbisik.

"Maaf, akan tetapi aku terkejut sekali melihat wajah mereka. Tidak salah lagi, mereka itulah yang di dunia kang ouw (sungai telaga, persilatan) dikenal sebagai Pek-bin Moko (Iblis Muka Putih) dan Hek-bin Moko (Iblis Muka Hitam), dua orang tokoh besar dari Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih)!"

Bwee Hwa terkejut juga dan teringat betapa ketiga kepala agama, yaitu Toa-kauwcu, Ji-kauwcu dan Sam-kauwcu adalah tiga orang yang lihai sekali.

Ilmu silat mereka adalah Go-bi-kiam-sut (Ilmu Pedang Go-bi) bercampur dengan ilmu yang aneh dan berbahaya dari ilmu-ilmu Pek-lian-kauw seperti yang pernah ia dengar dari gurunya.

Kalau Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko itu dua orang tokoh Pek-lian-kauw, ilmu-ilmu mereka pasti hebat dan jelas bahwa kehadiran lima orang itu tentu mempunyai maksud tertentu yang buruk!

"Cepat kita dekati dan bayangi mereka, Li-ko!"

Bisiknya dan mereka berdua kini tidak perduli lagi akan Hartawan Ui.

Ada tugas di depan mata, yaitu mencegah terjadinya kejahatan yang pasti akan dilakukan oleh lima orang, terutama dua orang tokoh Pek-lian-kauw itu.

Kedua orang itu lalu menyelinap di antara banyak orang, menghampiri ke arah ruangan bagian kuil di mana terdapat patung Dewi Kwan Im, di mana mereka bersembahyang.

Dugaan Bwee Hwa dan Siong Li memang tidak meleset.

Pada waktu itu, sekitar tahun 1413, semasa pemerintahan kerajaan Beng dipegang oleh Kaisar Yung Lo yang sepuluh tahun lalu merebut tahta kerajaan dari tangan Kaisar Hui Ti, keponakannya.

Yung Lo telah mengadakan pembangunan besar-besaran di Cina.

Tembok Besar Cina yang terkenal di seluruh dunia itu diteruskan pembangunannya, karena tembok besar yang panjangnya sekitar selaksa mil ini merupakan benteng pertahanan yang kokoh kuat untuk menahan gangguan dan serbuan bangsa-bangsa di utara, terutama bangsa Mongol.

Juga terusan besar yang menghubungkan Sungai Yang-ce dan Huang-ho dibangun, diteruskan dan diselesaikan.

Kota raja baru Peking juga dibangun sehingga pada masa itu, kota raja Peking merupakan kota raja yang terkenal memiliki bangunan-bangunan yang serba indah dan besar.

Namun, tiada gading yang tak retak.

Tidak ada keindahan buatan manusia yang sempurna.

Pembangunan besar-besaran itupun mempunyai akibat sampingan yang menyedihkan.

Hampir sebagian pembesar yang menangani pembangunan, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melakukan tindak tercela korupsi besar-besaran.

Banyak pula yang menindas rakyat jelata, memperkerjakan mereka seperti kuli rodi sehingga dalam pembangunan Tembok Besar dan Terusan Besar itu banyak rakyat menjadi korban.

Di mana-mana rakyat merasa penasaran dan muncullah pemberontakan-pemberontakan.

Walaupun dengan tangan besi Kaisar Yung Lo dapat membasmi para pemberontak, bahkan menalukkan kembali daerah Yun-nan dan daerah selatan yang tadinya membebaskan diri, namun masih ada gerombolan-gerombolan pemberontak yang selalu merongrong pemerintah.

Di antara para gerombolan pemberontak itu, yang paling terkenal adalah munculnya Pek-lian-kauw, gerombolan pemberontak yang berkedok agama baru yang berdasar Agama To dan Agama Buddha yang diselewengkan, bercampur dengan segala macam ilmu sihir dan ilmu sesat.

Pek-lian-kauw yang menentang pemerintah itu bahkan tidak mengharamkan cara-cara yang biadab.

Dalam mencari dana untuk kegiatan yang mereka namakan "perjuangan", mereka tidak segan-segan untuk melakukan pencurian atau perampokan.

Kalau ada yang menentang atau menghalangi perbuatan ini, merekapun tidak merasa bersalah untuk melakukan pembunuhan.

Dengan tindakan seperti itu, maka rakyat juga tidak suka kepada Pek-lian-kauw, walaupun banyak juga rakyat dapat dikelabuhi oleh cara-cara mereka yang seolah melindungi rakyat kecil dengan sihir-sihir mereka.

Bagi para pendekar, Pek-lian-kauw dianggap sebagai sebuah perkumpulan sesat yang menggunakan cara-cara yang biasa dipakai para penjahat.

Seperti kita ketahui, Lie Hoat yang kini buntung lengan kirinya, dan Souw Ban Lip yang pernah terluka lehernya, oleh Hong-cu-ciam (Jarum Tawon) senjata rahasia Bwee Hwa, adalah pembantu-pembantu mendiang Gak Sun Thai yang dahulu menjadi anak buah mendiang Kauw-jiu Pek-wan Kiu Ciang Hok.

Mereka berdua itu tidak dibunuh oleh Bwee Hwa atas permintaan Siong Li yang merasa kasihan kepada mereka.

Dua orang ini lalu terpaksa menggabungkan diri dengan Pek-lian-kauw karena merasa bahwa gerombolannya sendiri sudah hancur dan untuk "berdiri sendiri"

Merasa kurang kuat.

Yang mengajaknya untuk masuk menjadi anggauta Pek-lian-kauw adalah Sam-kauwcu yang sesungguhnya bernama Ban Kit yang sebelumnya memang pernah menjadi anggauta Pek-lian-kauw sebelum menjadi ketua agama dengan kedudukan sebagai Sam-kauwcu (Ketua Agama Ketiga).

Mereka bertiga diterima baik oleh para pimpinan Pek-lian-kauw dan karena mereka bertiga memiliki ilmu silat yang lumayan tingginya, maka mereka diangkat menjadi tokoh-tokoh yang ditugaskan untuk aksi-aksi yang penting.

Pada pagi hari itu, mereka bertiga dikawal oleh dua orang pimpinan Pek-lian-kauw yang lebih tinggi tingkatnya, yaitu Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko, dikirim oleh Pek-lian-kauw ke Kuil Ban-hok-si dengan tugas khusus, yaitu untuk merampas patung emas Dewi Kwan Im yang berada di kuil itu, karena benda itu merupakan benda bersejarah dan terbuat dari emas yang tentu saja amat mahal nilainya.

Mereka berlima berangkat dan sama sekali mereka tidak tahu bahwa pada hari itu merupakan hari sembahyangan umum sehingga tempat itu menjadi ramai sekali dan penuh orang.

Mereka agak terkejut dan ragu.

Akan tetapi dasar mereka berlima adalah orang-orang yang selalu memandang rendah orang lain dan amat mengagulkan diri sendiri, maka mereka berlima bersepakat untuk nekat melanjutkan niat mereka untuk merampas patung itu seperti yang diperintahkan para pimpinan mereka.

Mereka memandang rendah orang banyak itu yang mereka anggap tidak akan ada yang mampu menghalangi mereka!

Setelah menerima isyarat dari dua orang pimpinan Pek-lian-kauw, lima orang itu menyelinap memasuki ruangan di mana banyak keluarga antri untuk melakukan upacara sembahyang.

Karena pada saat itu yang melakukan sembahyang adalah keluarga Hartawan Ui Cun Lee, yaitu ayah dan dua orang puteranya yang dikenal baik dan dihormati semua orang karena kedermawanan mereka, maka keluarga lain tidak mau mengganggu.

Mereka bahkan mundur dan memberi tempat yang luas kepada tiga orang itu untuk melaksanakan upacara sembahyang mereka.

Melihat betapa di depan meja sembahyang, di balik tirai sebelah dalam dari balik meja sembahyang itu, hanya terdapat Hartawan dan dua orang pemuda, dilayani oleh tiga orang hwesio penjaga atau pelayan kuil Ban-hok-si, maka ini dianggap sebagai kesempatan baik oleh lima orang penjahat itu.

Hanya enam orang lemah!

Mereka segera melompat masuk ruangan itu.

Melihat ada lima orang berlompatan memasuki ruangan dan mereka semua membawa senjata, semua orang terkejut dan mundur menjauh saling bertabrakan.

(Lanjut ke

Jilid 07) Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 Tiga orang hwesio pelayan itu melihat gelagat buruk dan agaknya merasa bahwa lima orang itu berniat buruk, segera maju untuk menegur dan menghalangi.

Akan tetapi, Sam-kauwcu menggerakkan pedangnya, Lie Hoat yang lengan kirinya buntung itu menggerakkan tangan kanan dengan ilmu Tiat-see-ciang (Tangan Pasir Besi), dan Souw Ban Lip menggerakkan goloknya dan.......

tiga orang hwesio itupun roboh mandi darah!

Tentu saja semua orang menjadi kaget, panik ketakutan.

Wanita-wanita menjerit, orang orang berdesakan untuk berlumba melarikan diri menjauhi tempat itu.

Pek-bin Moko dan Hek-bin Moko cepat bertindak.

Pek-bin Moko yang mukanya putih pucat seperti dikapur itu melompat ke atas meja untuk mengambil patung Dewi Kwan Im.

Sementara itu, ketika melihat seorang pemuda tinggi tegap dan tampan yang bukan lain adalah Ui Kong melompat maju hendak menghalangi Pek-bin Moko, Hek-bin Moko yang mukanya hitam pekat seperti dicat arang itu, menyambutnya dengan tamparan tangan kirinya yang mengandung tenaga sin-kang (tenaga sakti) yang ampuh sekali.

Tamparan itu menyambar ke arah kepala Ui Kong dari samping.

Ui Kong maklum bahwa serangan itu berbahaya, maka dia cepat menangkis dengan tangan kanannya sambil mengerahkan tenaga Liap-kiang Pek-ko-jiu yang membuat tangan dan lengannya menjadi sekeras baja.

"Dukkk""!"

Keduanya terpental ke belakang.

Hek-bin Moko terkejut bukan main.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa di tempat itu dia akan bertemu seorang pemuda yang demikian lihainya!

Sementara itu, Pek-bin Moko karena tidak ada yang menghalanginya, dengan mudah dapat menyambar patung Dewi Kwan Im yang beratnya sekitar duapuluh kati itu dan mengempitnya dengan tangan kiri.

Dia melompat dari atas meja.

Melihat ini, Ui Kiang yang biarpun tidak pandai silat seperti adiknya, mencoba untuk menghalanginya.

"Jangan curi patung itu!"

Katanya. Akan tetapi Pek-bin Moko menyambutnya dengan bacokan pedang yang sudah dicabutnya dengan tangan kanan.

"Singgg""

Carttt""!"

Darah muncrat dan tubuh Hartawan Ui roboh mandi darah karena pundak dan dadanya terbacok pedang. Ui Kiang menubruk ayahnya.

"Ayahhhhhh""!"

Dia berteriak dengan sedih.

Ayahnya tadi sengaja menghadang serangan pedang Pek-bin Moko untuk melindunginya, dan ayahnya yang menjadi korban pedang itu!

Pek-bin Moko menggerakkan pedangnya lagi untuk membacok Ui Kiang, akan tetapi tiba-tiba sesosok bayangan merah berkelebat masuk.

"Trangggg""!"

Bunga api berpijar ketika pedang di tangan Pek-bin Moko itu bertemu dengan Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) di tangan Bwee Hwa yang menangkisnya.

Merasa betapa tangannya yang memegang pedang tergetar hebat, Pek-bin Moko terkejut dan marah.

Dia lalu menyerang Bwee Hwa yang melompat ke belakang untuk mencari tempat yang lebih lega.

Pek-bin Moko mengejar dan mereka berdua sudah terlibat dalam perkelahian pedang yang seru dan mati-matian.

Sementara itu, Sam-kauwcu atau Ban Kit, Lie Hoat dan Souw Ban Lip, setelah merobohkan tiga orang hwesio, kini diserang oleh Siong Li yang sudah mengamuk dengan pedangnya.

Pemuda itu marah sekali dan merasa menyesal mengapa tadi dia dan Bwee Hwa terhalang banyak orang sehingga kedatangan mereka di ruangan itu agak terlambat dan para penjahat telah merobohkan tiga orang hwesio dan juga Hartawan Ui.

Dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya sehingga tiga orang penjahat itu agak kewalahan dan akhirnya mereka bertiga berloncatan keluar untuk mencari tempat yang lebih luas sehingga pengeroyokan mereka akan lebih leluasa.

Ui Kong juga terkejut melihat ayahnya roboh mandi darah.

Dia mencabut pedangnya dan hendak menyerang Pek-bin Moko yang telah membunuh ayahnya, akan tetapi Hek-bin Moko sudah menyerang dengan pedang sehingga terpaksa dia melayani Iblis Muka Hitam itu.

Ui Kiang tidak memperdulikan mereka yang bertempur.

Dengan bantuan dua orang hwesio yang berindap-indap menghampiri dengan takut, dia mengangkat tubuh ayahnya yang mandi darah ke sebelah dalam kuil.

Seorang hwesio tua yang paham akan ilmu pengobatan berusaha untuk menolong Hartawan Ui dengan memberi obat kuat untuk diminumkan, lalu obat untuk menghentikan keluarnya darah dan membalut lukanya yang parah.

Hartawan Ui belum tewas, akan tetapi keadaannya payah sekali.

Luka di pundak terus ke dada itu cukup dalam.

Napasnya terengah-engah dan dia berada dalam keadaan tidak sadar.

Sementara itu, perkelahian di luar ruangan depan kuil itu yang kini tampak sepi karena semua pengunjung telah kabur melarikan diri, masih berlangsung seru.

Melihat betapa gadis baju merah yang menjadi lawannya itu hebat bukan main memainkan pedangnya yang mengeluarkan bunyi berdengung seperti ada banyak lebah mengurungnya, Pek-bin Moko sengaja bergerak mendekati rekannya, Hek-bin Moko yang masih bertanding melawan Ui Kong.

Ternyata pemuda she Ui inipun gagah perkasa karena dia mampu menandingi kehebatan ilmu pedang tokoh Pek-lian-kauw itu.

Yang agak kerepotan malah Siong Li.

Biarpun tingkat kepandaiannya lebih tinggi daripada lawan-lawannya, akan tetapi karena mereka maju bertiga me-ngeroyoknya, dan ketiganya memang cukup tangguh, maka dia kewalahan dan Siong Li terpaksa hanya dapat memutar pedangnya sehingga gulungan sinar pedangnya menjadi perisai melindungi seluruh tubuhnya.

Ban Kit yang dulu menjadi ketua agama tingkat tiga memiliki ilmu pedang yang dasarnya adalah Go-bi-kiam-sut (Ilmu Pedang Aliran Go-bi), akan tetapi telah bercampur dengan ilmu pedang Pek-lian-kauw yang memiliki gerakan aneh dan curang sehingga cukup berbahaya.

Adapuh Lie Hoat, biarpun lengan kirinya telah buntung dalam perkelahian melawan Siong Li dahulu, ternyata tangan kanannya masih ampuh dengan ilmu silat Kang-jiauw-eng (Garuda Cakar Baja) masih ampuh sekali, tidak kalah berbahayanya dibandingkan senjata tajam.

Souw Ban Lip juga amat tangguh dengan goloknya yang lebar dan tipis, amat tajam.

Melihat betapa kawan-kawannya ditandingi orang-orang yang tangguh dan tampaknya tidak akan mudah menang, Pek-bin Moko menjadi khawatir.

Dia khawatir kalau-kalau tugas yang mereka pikul gagal.

Para pimpinan tertinggi Pek-lian-kauw tentu akan memberi hukuman berat kalau tugas tidak dapat dilaksanakan dengan hasil baik.

Karena itu, paling penting adalah menyelamatkan patung emas Kwan-im Pouwsat yang sudah dikempitnya!

"Hek-te (Adik Hitam), dan tiga orang kawan-kawan, lawan terus!"

Katanya dan tiba-tiba dia meloncat jauh ke depan. Ketika Bwee Hwa mengejarnya dan berseru nyaring.

"Keparat, hendak lari ke mana engkau?"

Tiba-tiba Pek-bin Moko membanting sebuah benda ke atas tanah.

Sebuah ledakan terdengar dan tampak asap hitam mengepul tebal.

Bwee Hwa terkejut dan cepat melompat ke belakang karena khawatir kalau-kalau asap itu beracun.

Akan tetapi ternyata tidak dan ketika ia hendak mengejar, bayangan Pek-bin Moko telah lenyap.

Dengan marah sekali ia lalu memandang ke arah Hek-bin Moko yang masih bertanding pedang dengan hebatnya melawan pemuda tampan gagah yang lihai itu.

Ia terkejut ketika melihat betapa dasar gerakan ilmu pedang yang dimainkan pemuda itu sama benar dengan dasar gerakan ilmu pedangnya sendiri.

Ia teringat!

Itulah Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) yang juga menjadi dasar dari Sin-hong Kiamsut (Ilmu Pedang Tawon Sakti) yang sengaja dirangkai oleh gurunya, Sin-kiam Lojin untuk disesuaikan dengan gerakan seorang wanita dan diajarkan kepadanya!

Melihat betapa pemuda itu mampu mengimbangi permainan pedang Iblis Muka Hitam, bahkan mampu mulai mendesaknya, ia menoleh ke arah Siong Li dan terkejutlah ia ketika melihat betapa Siong Li yang dikeroyok tiga oleh lawan-lawannya yang tangguh itu terdesak hebat dan hanya mampu melindungi diri saja!

Bwee Hwa menjadi marah sekali.

Cepat ia melompat ke arah medan pertempuran itu, tangan kirinya siap dengan jarum-jarumnya.

"Bangsat-bangsat rendah, mampuslah!"

Bentaknya dan ia telah menggerakkan tangan kirinya.

Jarum-jarum lembut yang mengeluarkan suara berdengung menyambar ke arah tiga orang yang mengeroyok Siong Li.

Souw Ban Lip dapat menangkis dengan senjata mereka akan tetapi Lie Hoat yang hanya mengandalkan tangan kanan yang tak bersenjata, tak sempat mengelak dan dia roboh terpelanting ketika ada jarum mengenai pundak dan tengkuknya.

Bwee Hwa mengayun pedangnya dan tewaslah Lie Hoat!

Setelah membunuh Lie Hoat, Bwee Hwa menyerang Ban Kit yang dulu sempat meloloskan diri.

Ban Kit terkejut dan juga gentar bukan main melihat kini gadis yang berjuluk Ang-hong-cu (Si Tawon Merah) itu menyerangnya dengan pedang yang me-ngeluarkan bunyi seperti ratusan tawon itu.

Dia melawan mati-matian, akan tetapi karena gugup dan takut, gerakannya menjadi kacau dan pedang di tangan Bwee Hwa menyambar dari samping.

Lambungnya tersayat dan Ban Kit terjungkal roboh untuk tidak bangun kembali.

Pada saat itu juga, Souw Ban Lip juga roboh oleh pedang Siong Li.

Setelah dia hanya menghadapi seorang lawan saja, Siong Li yang memang lebih tinggi tingkat kepandaiannya, dengan mudah mengalahkan Souw Ban Lip.

Tiga orang anak buah Pek-lian-kauw itu tewas semua.

Melihat betapa tiga orang kawannya tewas dan Pek-bin Moko sudah melarikan diri sehingga dia tinggal seorang diri, Hek-bin Moko menjadi gentar dan diapun ingin melarikan diri.

Dia sudah mengeluarkan sebuah alat peledak dan siap membanting alat peledak yang menimbulkan asap tebal itu.

Akan tetapi sekali ini Bwee Hwa telah waspada karena tadi ia telah tertipu oleh Pek-bin Moko dengan alat peledak itu sehingga ia kehilangan lawannya yang menggunakan akal licik.

Kini ia telah siap siaga, maka begitu Hek-bin Moko mengambil sesuatu dari kantung jubahnya, ia mendahuluinya dan begitu tangan kirinya bergerak, sinar sinar lembut meluncur ke arah tubuh Hek-bin Moko.

Pendeta atau anggauta pimpinan cabang Pek-lian-kauw itu tidak menduga akan diserang dengan senjata rahasia yang meluncur demikian cepatnya.

Beberapa batang Hong-cu-ciam (Jarum Tawon) mengenai tenggorokan, dada dan perutnya dan robohlah Hek-bin Moko.

Alat peledak itupun ikut terbanting dan terdengarlah ledakan dibarengi asap tebal mengepul.

Akan tetapi setelah asap itu membuyar, tampak tubuh Hek-bin Moko terbujur kaku karena sudah tewas.

Siong Li menhampiri, menyingkap jubahnya dan di bawah jubah itu tampak lukisan setangkai bunga teratai putih di bajunya yang putih, yang membuktikan bahwa dia adalah seorang pimpinan Pek-lian-kauw.

Tiba-tiba Ui Kong berseru.

"Ayah......!"

Dan tanpa memperdulikan Bwee Hwa dan Siong Li, dia melompat dan berlari memasuki kuil yang telah kosong dan sepi itu.

Siong Li memberi isyarat kepada Bwee Hwa dan keduanya juga lari memasuki kuil karena tadi Siong Li juga melihat robohnya Hartawan Ui.

Ketika Siong Li dan Bwee Hwa memasuki ruangan dalam kuil itu, mereka melihat laki-laki berusia limapuluh tahun itu menggeletak di atas dipan.

Bajunya telah ditanggalkan dan tampak pundak dan dadanya dibalut kain putih.

Laki laki ini adalah Ui Cun Lee yang telah dikenal Siong Li.

Ui Kiang duduk di atas bangku dekat dipan dan Ui Kong yang baru datang berlutut di dekat dipan.

Seorang hwesio kurus tua duduk di atas sebuah kursi.

"Ayah""!"

Ui Kong berseru, lalu dia memegang lengan kakaknya.

"Kiang-ko, bagaimana keadaan ayah kita?"

Ui Kiang memandang adiknya dan menghela napas dengan wajah sedih.

"En-tahlah, Kong-te, lo-suhu ini sudah berusaha mengobatinya, akan tetapi lukanya amat parah dan dia mengeluarkan banyak darah"""

Ui Kong lalu bangkit berdiri dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan hwesio tua itu.

"Lo-suhu, tolonglah ayah kami. Obati dan sembuhkan dia, lo-suhu......!"

"Omitohud, siapa yang tidak akan suka menolong Ui-wangwe ( Hartawan Ui) yang terkenal bijaksana dan dermawan? Pinceng (saya) sudah berusaha se-mampunya, akan tetapi semua hasilnya terserah kepada Yang Maha Kuasa, Omitohud!"

Kata pendeta itu sambil merangkap kedua tangan di depan dadanya. Pada saat itu, Hartawan Ui bergerak membuka matanya dan mengeluh panjang.

"Ayah""!"

Ui Kiang dan Ui Kong berseru, mendekati ayah mereka. Akan tetapi Ui Cun Lee mencari-cari dengan pandang matanya, lalu bertanya, suaranya lemah.

"Mana ia.......? Mana Lim Bwee Hwa.......?"

Kedua orang kakak beradik itu bingung karena mereka sendiri tidak tahu di mana gadis yang ditanyakan ayah mereka itu.

Akan tetapi mendengar pertanyaan ini, Siong Li segera menarik tangan, Bwee Hwa untuk maju menghampiri pembaringan dan berkata.

"Paman Ui, inilah nona Lim Bwee Hwa!"

Ui Kiang dan Ui Kong menoleh dan terbelalak memandang gadis berpakaian merah yang tadi mereka lihat membela mereka dengan gagah perkasa.

Mereka lalu bangkit dan memberi ruang kepada Siong Li dan Bwee Hwa.

Gadis itu merasa terharu dan iba kepada Ui Cun Lee.

Ia maju dan berlutut di dekat pembaringan sambil berkata.

"Paman, sayalah Lim Bwee Hwa dan maafkan bahwa saya terlambat menolong paman tadi."

Hartawan Ui melebarkan matanya untuk dapat memandang gadis itu lebih jelas. Lalu dia tampak tersenyum girang.

"Hemmm, engkau cantik seperti ibumu dan seperti ayahmu! Aku.......aku senang........."

Hartawan Ui itu terengah-engah, lalu menoleh kepada anak-anaknya.

".......Kiang-ji dan Kong-ji......."

"Ya, ayah."

Kedua orang pemuda itupun berlutut tak jauh dari Bwee Hwa.

"""

Katakan....... siapa di antara""

Kalian""

Yang setuju""?"

"Saya siap melaksanakan perintah ayah,"

Kata Ui Kiang.

"Aku setuju, ayah!"

Kata Ui Kong. Biarpun dengan lemas, lemah dan napas terengah-engah, Hartawan Ui tertawa sehingga dia terbatuk-batuk.

"Ha-ha...... ugh-ugh-ugh""

Kalian selalu berebut""

Sekarang, kuserahkan keputusannya""

Kepadamu, Bwee Hwa....... Engkau kuterima...... menjadi mantuku....... dan engkau berhak....... memilih di antara...... kedua...... putera...... ku...... i...... ni......."

Hartawan Ui terkulai, matanya terpejam dan napasnya berhenti.

"Ayah......!!"

Ui Kiang dan Ui Kong menubruk ayah mereka, mengguncang tubuh itu, akan tetapi Ui Cun Lee telah mati.

Ui Kiang menangis seperti anak kecil.

Ui Kong tadinya juga menangis, akan tetapi kemudian tiba-tiba dia bangkit berdiri, mencabut pedangnya dan sambil mengacungkan pedangnya ke atas, dia berkata dengan suara bergetar penuh kemarahan dan dendam.

"Aku Ui Kong, bersumpah, tidak akan berhenti sebelum dapat membalas dendam kematian ayahku. Akan kubunuh jahanam bermuka putih itu dan konco-konconya!!"

Mendengar ucapan yang lantang ini, Ui Kiang juga berdiri dan merangkul adiknya. Dia mengusap air matanya dan berkata kepada adiknya.

"Kong-te, tenanglah. Yang terpenting sekarang kita bawa pulang jenazah ayah dan mengurus pemakamannya baik-baik."

Siong Li yang merasa kasihan kepada kakak beradik ini lalu berkata.

"Jiwi Ui-kongcu (kedua tuan muda Ui), perkenalkan, nona ini adalah Nona Lim Bwee Hwa dan aku sendiri bernama Ong Siong Li, seorang sahabat yang ikut merasa berduka atas musibah yang menimpa keluarga ji-wi (anda berdua)."

Empat orang itu saling memberi hormat dengan nnengangkat kedua tangan depan dada.

"Perkenalkan, aku bernama Ui Kiang dan ini adalah adikku Ui Kong. Kami berdua mengucapkan terima kasih atas bantuan Nona Lim Bwee Hwa dan saudara Ong Siong Li yang ikut menghadapi lima orang penjahat tadi."

Bwee Hwa merasa tidak enak kalau berdiam diri saja. Memang pada dasarnya ia seorang gadis yang bebas dan tidak malu-malu, maka iapun berkata.

"Apa yang dikatakan Ui toa-kongcu (tuan muda pertama Ui) tadi memang benar sekali. Ui ji-kongcu (tuan muda kedua Ui) harap tenang dan bersabar. Memang, penjahat muka putih yang lolos itu, yang menurut keterangan Li-ko adalah Pek-bin Moko, harus dikejar dan bersama teman-temannya harus dibasmi. Percayalah, aku dan Li-ko siap membantu untuk membalas kematian Paman Ui dan juga untuk merebut kembali patung Kwan-im Pouwsat dari kuil ini."

Dua orang kakak beradik Ui itu memandang dan mendengarkan ucapan Bwee Hwa. Keduanya merasa kagum bukan main. Gadis yang "dijodohkan"

Dengan seorang di antara mereka itu benar-benar hebat.

Cantik jelita, gagah perkasa, dan juga cerdik dan pandai bicara, tidak malu-malu seperti gadis biasa.

Sungguh jauh melampaui perkiraan mereka!

"Aku protes, nona!

Sungguh tidak enak dan terasa asing mendengar engkau menyebut kami dengan sebutan Ui toa-kongcu dan Ui ji-kongcu, juga mendengar saudara Ong Siong Li menyebut kami kongcu (tuan muda).

Bukankah di antara kita terdapat hubungan dekat?

Apalagi setelah kita bersama-sama melawan lima orang penjahat tadi.

Nona, tidakkah sudah sepantasnya kalau engkau menyebut kakakku ini cukup dengan Kiang-ko (kakak Kiang) dan menyebut aku dengan Kong-ko (kakak Kong) saja, sedangkan kami menyebutmu dengan Hwa-moi (adik Hwa)?"

Bwee Hwa tersenyum dan mengangguk.

"Begitupun baik dan boleh saja, Kong-ko."

"Bagus!"

Kata Ui Kong.

"Terima kasih, Hwa-moi. Dan engkau, saudara Ong Siong Li. Engkaupun kami anggap sebagai sahabat baik sendiri, maka sudah sepatutnya kita saling memanggil seperti saudara, menurut banyaknya usia masing-masing. Berapa usiamu sekarang?"

Siong Li juga tersenyum. Dia menyukai sikap keterbukaan Ui Kong yang tampak jujur dan yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup lihai itu.

"Usiaku sekarang duapuluh dua tahun,"

Jawabnya.

"Wah, kalau begitu, di antara kita bertiga, Kiang-ko yang paling tua, kemudian engkau, dan yang paling muda adalah aku. Jadi aku harus menyebutmu Li-ko (kakak Li). Nah, sekarang kita seperti keluarga sendiri dan kami ingin sekali mengetahui riwayat kalian masing-masing,"

Kata Ui Kong.

"Kong-te, kurasa hal itu akan terlalu panjang dan makan waktu untuk dibicarakan. Padahal, yang terpenting sekarang adalah membawa jenazah ayah pulang dan mengurus pemakamannya. Biarlah kelak kalau semua pengurusan jenazah beres, kita sambung lagi pembicaraan ini."

"Tepat sekali apa yang dikatakan Kiang-ko itu, Kong-te!"

Kata Siong Li yang merasa kagum kepada putera pertama Hartawan Ui yang bijaksana.

"Akupun setuju!"

Kata Bwee Hwa.

"Mari kita atur untuk membawa pulang jenazah Paman Ui, Kiang-ko dan Kong-ko!"

Dengan bantuan para hwesio Kuil Ban-hok-si, jenazah Ui Cun Lee dinaikkan ke atas kereta keluarga Ui yang masih berada di luar pekarangan.

Jenazah itu diangkut ke kota Ki-lok, dikawal oleh empat orang muda itu.

Adapun para hwesio Kuil Ban-hok-si sibuk menguburkan empat orang mayat para penjahat yang tewas dalam pertempuran tadi.

Selama upacara kematian sampai ke pemakaman yang makan waktu tiga hari tiga malam, di mana seluruh penduduk kota Ui Cun Lee datang melayat.

Bwee Hwa dan Siong Li mendapatkan masing-masing sebuah kamar di rumah gedung keluarga Ui yang kini hanya tinggal Ui Kiang dan Ui Kong berdua.

Setelah upacara pemakaman selesai dan jenasah Ui Cun Lee dimakamkan di tanah kuburan di luar kota Ki-lok yang jaraknya belasan lie (mil) dari kota itu, kakak beradik Ui itu mengajak Bwee Hwa dan Siong Li bicara di ruangan depan rumah gedung mereka.

Melihat wajah kedua orang kakak beradik itu muram, Bwee Hwa merasa iba dan setelah mereka duduk mengelilingi sebuah meja besar sambil minum teh yang disuguhkan pelayan, ia berkata.

"Kiang-ko dan Kong-ko, aku sungguh ikut merasa berduka cita atas kematian ayah kalian."

"Hemm, aku pasti akan membalas dendam kepada mereka, setelah jenazah ayah dimakamkan!"

Kata Ui Kong dengan gemas.

"Sudahlah, Hwa-moi, hal itu sudah berlalu. Setiap kematian memang menda-tangkan duka, akan tetapi setiap kematianpun adalah takdir manusia yang tak dapat dihindarkan. Kita tidak boleh terlalu tenggelam dalam duka. Sekarang, mari kita lanjutkan perakapan kita tempo hari dengan menceritakan riwayat masing-masing agar perkenalan di antara kita lebih akrab,"

Kata Ui Kiang.

"ltu benar!"

Kata Ui Kong.

"Kita mulai dari riwayatmu, Hwa-moi. Aku tertarik sekali melihat permainan pedangmu karena kalau tidak salah, permainan pedangmu itu memiliki dasar yang sama dengan ilmu pedangku. Dari manakah engkau mempelajari ilmu pedangmu itu?"

"Aku sendiripun heran melihat engkau memainkan pedangmu, Kong-ko, karena akupun melihat persamaan dasar ilmu pedang kita. Bahkan aku dapat menduga, kalau tidak salah ilmu pedangmu itu adalah Sin-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti), bukan?"

"Wah, tepat sekali! Eh, Hwa-moi, cepat katakan, siapa yang mengajarmu ilmu pedang itu? Aku sudah ingin sekali mendengarnya!"

Kata Ui Kong.

"Yang mengajarkan adalah Sin-kiam Lojin (Orang Tua Pedang Sakti),"

Kata Bwee Hwa.

"Sin-kiam Lojin dari Heng-san? Dia itu adalah Toa-suhengku (kakak sepergu-ruan tertua)! Bahkan dia yang mengajarku, mewakili mendiang suhu Pek-mau Sanjin (Manusia Gunung Rambut Putih). Jadi, biarpun kedudukannya sebagai kakak seperguruanku, sebenarnya dia itu guruku juga,"

Seru Ui Kong girang.

"Kalau begitu, engkau masih suhengku (kakak seperguruanku) sendiri, Kong-ko!"

Kata Bwee Hwa gembira.

"Hemm, kalau melihat kedudukan kalian, Kong-te adalah susiok-mu (paman seperguruanmu), Hwa-moi. Engkau adalah keponakan muridnya,"

Kata Ui Kiang.

Diam-diam Siong Li mendengarkan dengan hati risau.

Tampak benar bahwa kakak dan adiknya itu seolah bersaing untuk memperebutkan hati Bwee Hwa!

"Riwayatmu telah kami dengar dari mendiang ayah seperti yang diceritakan Li-te (adik Li) ini kepadanya, Hwa-moi.

Dan engkaupun tentu sedikit banyak sudah mendengar cerita Li-te tentang keluarga kami seperti diceritakan mendiang ayah kepadanya.

Nah, sekarang kami ingin mendengar tentang riwayatmu, Li-te.

Bukankah engkaupun sekarang telah menjadi sahabat kami?"

Kata Ui Kiang lebih lanjut. Siong Li tersenyum.

"Wah, sebenarnya tidak ada sesuatu yang menarik untuk diceritakan tentang diriku."

"Aih, hayolah, Li-ko. Berceritalah! Semenjak aku mengenalmu, beberapa bulan yang lalu sampai sekarang, engkau tidak pernah menceritakan tentang asal usulmu kepadaku. Engkau tidak ingin merahasiakan dirimu dari kami semua, bukan?"

Kata Bwee Hwa. Ong Siong Li menghela napas panjang.

"Baiklah, akan kuceritakan tentang diriku yang tidak menarik ini."

"Tidak menarik?"

Bantah Bwee Hwa.

"Kiang-ko dan terutama engkau, Kong-ko. Ketahuilah bahwa di dunia kang-ouw kakak Ong Siong Li ini terkenal dengan julukan It-kak-liong (Naga Tanduk Satu)!"

"Eh? Kenapa julukannya begitu aneh? Kulihat Li-te tidak bertanduk, kenapa pakai julukan Naga Bertanduk Satu?"

Tanya Ui Kiang dengan heran.

"Wah, pernah aku mendengar julukan itu! Menurut kabar yang pernah kudengar, adalah seorang tokoh Thai-san-pai yang lihai? Benarkah itu, Li-ko?"

Kata Ui Kong. Siong Li tersenyum.

"Untuk menjawab pertanyaan Kiang-ko tadi, mungkin yang dimaksudkan orang-orang yang memberi julukan Naga Bertanduk Satu kepadaku, yang dimaksudkan dengan tanduk itu adalah pedangku ini. Dan apa yang kaudengar itu, Kong-te, memang benar. Aku adalah seorang murid Thai-san-pai (Aliran Persilatan Thai-san)."

"Kiang-ko dan Kong-ko, biarkan Li-ko menceritakan tentang asal usulnya dari semula, tidak dipotong-potong begitu!"

Cela Bwee Hwa. Ong Siong Li lalu terpaksa menceritakan tentang dirinya.

"Dia berasal dari sebuah dusun di kaki pegunungan Thai-san sebelah timur, yaitu dusun Ban-ki-cung. Ketika dia berusia sekitar lima tahun, dusun Ban-ki-cung dilanda wabah yang amat ganas. Hampir separuh penduduk dusun itu, berjumlah ratusan orang tewas karena penyakit menular yang ganas. Untung bahwa pada saat wabah itu mengganas, kebetulan Cheng-han Tojin, seorang pertapa yang menjadi ketua dari Thai-san-pai di Thai-san yang sakti dan pandai ilmu pengobatan, lewat di dusun itu. Biarpun dia hanya seorang diri dan kebetulan saja lewat di situ, namun melihat penderitaan rakyat, Cheng-han Tojin bekerja keras dan cepat bertindak. Setelah memeriksa dan mengetahui jelas jenis wabah penyakitnya, dia lalu mencari akar-akar dan daun-daun obat, kemudian dia mengobati mereka dan ratusan orang dapat diselamatkan. Betapapun juga, sudah ratusan orang mati, termasuk ayah dan ibu Ong Siong Li. Melihat keadaan anak itu, Cheng-han Tojin merasa kasihan dan dia lalu membawa Siong Li ke Thai-san. Di Thai-san dia dan murid-murid tertuanya menggembleng Siong Li dengan ilmu-ilmu silat Thai-san-pai, juga mengajari ilmu membaca menulis. Cheng-han Tojin sendiri yang lebih banyak duduk diam bersamadhi, lebih banyak mengajarkan tentang filsafat, budi pekerti dan keagamaan kepada Siong Li. Setelah berusia duapuluh tahun dan menjadi seorang pemuda dewasa, Cheng-han Tojin yang seolah merupakan pengganti orang tuanya, menyuruh dia turun gunung untuk merantau dan mencari pengalaman. Dalam waktu hampir setahun saja Siong Li telah melakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, menentang penjahat-penjahat besar sehingga dia memperoleh julukan It-kak-liong (Naga Tanduk Sakti). Ketika perkumpulan Hwe-coa-kauw merajalela di Tit-le, Siong Li bersama beberapa orang suhengnya dan para pendekar dari aliran lain, bersatu menentang perkumpulan sesat yang amat kuat itu dan akhirnya setelah terjadi pertempuran besar, para pendekar dapat membasmi sarang Hwe-coa-kauw di Title. Akan tetapi seorang suheng dari Siong Li tewas dalam pertempuran itu. Hal ini membuat pemuda itu sakit hati dan mulailah dia melakukan penyelidikan dan dalam perjalanan ini dia bertemu dengan Bwee Hwa dan bersama-sama membasmi sisa-sisa anggauta Hwe-coa-kauw."

"Nah, demikianlah riwayat hidupku. Tidak ada yang menarik,"

Siong Li meng-akhiri ceritanya.

"Menarik sekali, Li-ko. Ternyata engkau seorang pendekar sejati, aku kagum sekali padamu!"

Kata Ui Kong.

"Dan bagaimana engkau dapat menjadi suheng....... eh, susiok dari Hwa-moi, Kong-te?"

Tanya Siong Li.

"Sejak kecil aku suka mempelajari ilmu silat dan ketika aku berusia sepuluh tahun, secara kebetulan aku bertemu dengan Pek-mau Sanjin (Orang Gunung Rambut Putih). Karena aku melihat dia melompati sebuah jurang di luar kota, aku lalu mohon menjadi muridnya. Dia mengunjungi ayah dan setelah berbicara, ayah mengijinkan aku belajar silat dari Pek-mau Sanjin. Aku lalu diajak ke rumahnya yang berada di puncak Bukit Cemara. Di sana aku digembleng ilmu silat. Akan tetapi karena suhu Pek-mau Sanjin sudah tua renta, aku lalu dilatih oleh dua orang muridnya, yaitu Sin-kiam Lojin dan Beng-san Cinjin. Suhu meninggal dua tahun kemudian dan setelah toa-suheng Sin-kiam Lojin pindah ke Heng-san, aku selanjutnya dilatih oleh ji-suheng (kakak seperguruan kedua) Beng-san Cinjin. Setelah tamat belajar aku pulang."

"Hemm, menarik juga ceritamu,"

Puji Siong Li.

"Yang lebih menarik lagi ternyata kita semua ini orang-orang yatim piatu, tidak punya ayah ibu lagi,"

Kata Bwee Hwa.

Ucapan wajar ini ternyata bagi Ui Kiang yang amat perasa dan peka merupakan tikaman pada jantungnya.

Tak tertahankan lagi dia menutupi mukanya dengan kedua tangan.

Walaupun dia menahan isak tangisnya, namun kedua pundaknya bergoyang-goyang dan ada juga air mata menetes dari celah-celah jari tangannya.

Sejak perkenalan pertama, Bwee Hwa merasa kasihan kepada Ui Kiang.

Ia tahu bahwa Ui Kiang tidak mempelajari ilmu silat, akan tetapi dia seorang sastrawan, juga seniman.

Wataknya yang lembut, sikapnya yang penuh sopan santun, perasaannya yang peka mendatangkan rasa kagum tersendiri dalam hatinya.

Melihat keadaan pemuda itu demikian terpukul oleh ucapannya, Bwee Hwa menyadari kesalahannya.

Ia teringat bahwa kakak beradik Ui itu baru saja beberapa hari kehilangan ayah mereka.

Maka iapun segera bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Ui Kiang dan menyentuh pundak pemuda itu.

"Kiang-ko, ah, maafkan kata-kataku tadi. Aku tidak bermaksud menyakiti ha-timu, Kiang-ko."

Mendengar ucapan gadis ini dan merasakan sentuhan pada pundaknya, Ui Kiang cepat mengeluarkan saputangan dan menghapus air matanya sampai bersih, lalu berusaha tersenyum dan memandang kepada Bwee Hwa.

"Terima kasih, Hwa-moi. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Akulah yang harus minta maaf karena aku terlampau cengeng. Engkau benar dengan kata-katamu tadi, kita semua ini yatim piatu. Setidaknya kebersamaan ini mengurangi rasa sakit di hati karena mendapat sahabat senasib sependeritaan."

Bwee Hwa tersenyum girang dapat menghibur hati Ui Kiang dan ia duduk di atas kursinya. Ui Kong bangkit berdiri, kedua tangannya terkepal.

"Kiang-ko, jangan bersedih. Hari ini juga aku akan berangkat mencari musuh besar kita, pembunuh ayah kita! Baik-baiklah saja di rumah, aku tidak akan kembali sebelum berhasil membunuh Pek-bin Moko itu!"

Siong Li kembali merasa cemas.

Dia tahu bahwa secara diam-diam kedua orang kakak beradik Ui itu sedang bersaing untuk menjadi suami Bwee Hwa.

Dia dapat melihat api cemburu bersinar di mata Ui Kong melihat sikap lembut Bwee Hwa terhadap kakaknya tadi!

Maka diapun cepat berkata kepada Ui Kong yang masih berdiri.

"Kong-te, kuharap engkau suka tenang dan bersabar. Silakan duduk. Ketahuilah bahwa Hwa-moi dan aku sendiri sudah mengambil keputusan untuk membantumu mencari Pek-bin Moko dan kawan-kawannya, selain untuk membalas kematian Paman Ui, juga untuk merampas kembali patung Dewi Kwan Im dari Kuil Bak-hok-si."

"Benar, Kong-ko. Duduklah dan mari kita rundingkan dulu bagaimana baiknya,"

Bwee Hwa ikut membujuk Ui Kong yang masih berdiri dengan muka merah dan tangan terkepal. Mendengar bujukan Bwee Hwa ini, Ui Kong lalu duduk kembali dan dia berkata.

"Akan tetapi apalagi perlu dirundingkan? Kita pergi saja sekarang juga dan melakukan pengejaran dan pencarian, habis perkara,"

Kata Ui Kong yang masih belum hilang kemarahannya karena teringat kepada Pek-bin Moko yang telah membunuh ayahnya.

"Ingat, Kong-te, musuh kita tidak boleh dipandang rendah. Engkau menyaksikan sendiri bahwa Hek-bin Moko yang tewas itu adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw, jelas tampak dari pakaian sebelah dalam, di mana terdapat gambar teratai putih. Tentu pasangannya, Pek-bin Moko juga seorang tokoh Pek-lian-kauw. Jadi yang kita hadapi bukan perorangan, melainkan perkumpulan pemberontak golongan sesat itu. Tiga orang anak buah yang tewas itupun merupakan anggauta gerombolan sesat, yang seorang tokoh Hwee-coa-kauw dan yang dua orang lagi bekas anak buah Kauw-jiu Pek-wan. Agaknya mereka bertiga sudah menggabungkan diri dengan Pek-lian-kauw."

"Nah, kalau begitu kita cari sarang Pek-lian-kauw dan kita basmi mereka!"

Kata Ui Kong.

"Maaf, Kong-te. Agaknya engkau belum mempunyai banyak pengalaman di dunia kang-ouw. Tahukah engkau di mana sarang pusat perkumpulan Pek-lian-kauw itu?"

Tanya Siong Li. Ui Kong menggeleng kepalanya.

"Akan tetapi kita dapat mencari keterangan sampai dapat menemukan sarang mereka!"

"Tidak perlu susah mencarinya. Pusat Pek-lian-kauw berada di Pegunungan Teratai di Propinsi Ho-pei."

"Kalau begitu sekarang juga kita pergi ke sana!"

"Ucapanmu itu membuktikan bahwa engkau sama sekali tidak mengenal Pek-lian-kauw, Kong-te. Ketahuilah, perkumpulan itu pada pusatnya sana teramat kuat. Mereka menduduki daerah Pegunungan Teratai di Propinsi Ho-pei sebelah selatan sampai menyeberang propinsi ke lembah Sungai Kuning bagian utara. Jumlah anggauta mereka mencapai seribu orang lebih. Kaisar sendiri yang bertangan besi, beberapa kali sudah mengerahkan pasukan, namun tak pernah berhasil membasmi perkumpulan itu sampai ke akarnya. Paling-paling hanya membuat perkumpulan itu lari mengungsi, berpindah-pindah di daerah yang sulit karena penuh dengan perbukitan dan anak sungai yang curam itu."

"Wah, kalau begitu, bagaimana kalian dapat mencari pembunuh ayah itu? Tak mungkin kalian bertiga melawan ribuan orang Pek-lian-kauw!"

Seru Ui Kiang gelisah.

"Aku yakin bahwa Pek-bin Moko bukan anggauta pusat, Kiang-ko. Pek-lian-kauw mempunyai banyak sekali cabang. Cabang-cabang ini tempatnya tersembunyi, dan anggautanya juga tidak berapa banyak. Kalau Pek-lian-kauw sampai mau mencuri patung emas, berarti pelakunya tentu anggauta sebuah cabang saja untuk mengumpulkan dana. Karena itu, sekarang yang harus dicari adalah di mana adanya cabang Pek-lian-kauw yang berada di sekitar daerah ini,"

Siong Li menjelaskan. Ui Kong tampak lemas dan menghela napas.

"Ah, memang sayang sekali, sete-lah dulu aku dilatih oleh suheng Sin-kiam Lojin dan beliau pindah ke Heng-san, aku tidak mau ikut, sehingga aku tidak sempat merantau jauh dan mencari pengalaman. Setelah tamat belajar, aku lalu pulang dan tak pernah meninggalkan ayah. Aku hanya menentang kejahatan yang terjadi di sekitar daerah Ki-lok saja sehingga aku hampir buta tentang dunia kang-ouw."

"Aih, tidak perlu berkecil hati, Kong-ko. Aku sendiripun tidak memiliki penge-tahuan seluas Li-ko mengenai dunia kangouw. Dunia kang-ouw itu luas sekali dan memiliki tokoh-tokoh yang terhitung banyaknya. Sekarang jalan terbaik adalah melakukan penyelidikan di mana kiranya ada cabang Pek-lian-kauw di daerah Ki-lok ini atau di daerah Propinsi Hok-kian."

"Sayang aku bukan seorang ahli silat sehinga aku tidak berdaya untuk mem-bantu kalian. Akan tetapi menurut pendapatku, akan lebih berhasil kalau kalian mencari sarang cabang Pek-lian-kauw itu dari para penjahat di daerah ini. Bukankah ada ucapan orang bijaksana yang mengatakan bahwa burung gagak selalu bergaul dengan burung gagak dan burung Hong hanya mau berpasangan dengan burung Hong lainnya? Mencari sarang perkumpulan jahat harus melalui para penjahat. Dan aku mendengar bahwa dalam Propinsi Hok-kian ini, gerombolan penjahat yang paling terkenal adalah Gerombolan Sembilan Naga di lembah Sungai Kiu-liong (Sungai Sembilan Naga). Entah benar atau tidak pendapatku ini."

"Wah, hebat! Benar sekali pendapatmu itu, Kiang-ko! Hampir aku lupa. Memang, gerombolan yang menamakan dirinya Gerombolan Sembilan Naga itu amat terkenal dan sukar dibasmi karena daerah mereka amat luas, di sepanjang lembah Sungai Kiu-liong,"

Kata Ui Kong.

"Kalau begitu, ke sanalah kita pergi! Biasanya, gerombolan penjahat akan lari mengungsi kalau diserbu pasukan pemerintah yang besar jumlahnya. Akan tetapi kalau hanya kita bertiga yang muncul, tentu mereka akan memandang rendah dan kita dapat bertemu dengan pimpinan mereka untuk mencari keterangan tentang cabang Pek-lian-kauw di Propinsi Hok-kian ini,"

Kata Siong Li.

"Bagus, kita berangkat sekarang!"

Kata Bwee Hwa.

Kedua orang kakak beradik Ui itu mengadakan persiapan.

Ui Kiang yang tidak pandai ilmu silat tentu saja tidak dapat ikut karena dia tidak akan dapat membantu malah hanya menjadi beban karena yang lain harus melindunginya.

Ui Kiang dan adiknya mempersiapkan tiga ekor kuda yang baik.

Juga Ui Kong membawa sekantung uang bekal dalam perjalanan yang belum mereka ketahui berapa lamanya itu.

Setelah persiapan selesai, tiga orang muda perkasa itu, Ui Kong, Siong Li, dan Bwee Hwa, berangkat menunggang kuda keluar dari kota Ki-lok, menuju ke lembah Sungai Kiu-liong.

Melakukan perjalanan diapit dua orang pemuda yang ia tahu sama-sama mencintanya, Bwee Hwa merasa bingung.

Apalagi kalau ia teringat Ui Kiang yang tidak ikut.

Ia tahu bahwa Ui Kiang, pemuda sasterawan itu, juga jatuh cinta padanya.

Tiga orang pemuda mencintanya dan ia harus memilih seorang di antara mereka!

Atau lebih tepat lagi, karena oleh mendiang ibunya ia sudah dijodohkan dengan putera keluarga Ui, ia harus memilih antara Ui Kiang dan Ui Kong.

Secara resmi, Siong Li sudah berada di luar hitungan.

Semua ini membuat ia merasa bingung sekali.

Dua orang saudara Ui itu sama baiknya, yang seorang lemah lembut dan bijaksana, juga terpelajar tinggi.

Yang seorang lagi gagah perkasa, memiliki ilmu silat yang tangguh.

Keduanya sama tampan menarik pula!

Baru memilih di antara keduanya ini saja sudah membingungkan.

Apalagi kalau ia teringat kepada Siong Li!

Pemuda ini telah banyak jasanya, dan ia sudah membuktikan sendiri bahwa pemuda ini amat mencintanya, juga merupakan seorang pendekar yang gagah perkasa dan baik budi.

Ia menjadi bingung, tidak tahu harus memilih yang mana!

Bwee Hwa tidak tahu betapa sejak tadi Ui Kong memperhatikannya.

Ketika itu, matahari telah naik tinggi.

Mereka telah melakukan perjalanan beberapa hari dan terik matahari yang menyengat membuat mereka merasa lelah.

Juga kuda mereka tampak kelelahan.

"Sebaiknya kita berhenti mengaso di sini agar kuda kita juga dapat mengaso,"

Kata Siong Li yang dianggap sebagai pemimpin mereka.

Mereka berhenti di tepi sebuah hutan, melepas kuda agar dapat makan rumput yang tumbuh subur di bawah pohon-pohon.

Mereka bertiga lalu duduk di bawah pohon yang teduh, duduk di atas batu-batu yang banyak terdapat di situ.

Ui Kong segera menurunkan bekal makanan dan minuman dari atas sela kudanya.

Roti dan daging kering merupakan makanan lezat pada saat itu, dan minumannya hanya air jernih yang dituang dari guci.

Sehabis makan mereka membiarkan tubuh mereka beristirahat dan kesempatan ini dipergunakan oleh Ui Kong untuk menyatakan perasaan hatinya melihat Bwee Hwa sejak tadi banyak termenung.

"Hwa-moi, aku melihat wajahmu sejak tadi tampak muram. Kenapakah, Hwa-moi? Ah, aku merasa menyesal sekali bahwa karena urusan keluarga kami, engkau dan juga Li-ko menjadi ikut repot dan bersusah payah menemani aku untuk mencari pembunuh ayah."

"Ah, kenapa engkau berpendapat seperti itu, Kong-ko? Aku termenung bukan sekali-kali karena merasa repot mengejar pembunuh ayahmu. Hal itu memang sudah menjadi kewajibanku menentang kejahatan!"

Kata Bwee Hwa.

"Benar apa yang dikatakan Hwa-moi, Kong-te. Selain mencari pembunuh Paman Ui Cun Lee, juga kita sudah sepatutnya merampas kembali Patung Kwan Im yang dicuri dan dilarikan Pek-bin Moko tokoh Pek-lian-kauw. Semua itu, seperti dikatakan Hwa-moi tadi, sudah menjadi tugas kewajiban kita, sama sekali tidak merepotkan dan menyusahkan!"

Ui Kong tersenyum dan mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

"Terima kasih banyak. Memang jiwi (kalian berdua), Hwa-moi dan Li-ko adalah pendekar-pendekar budiman yang bijaksana dan gagah perkasa. Akan tetapi, aku melihat Hwa-moi banyak melamun sehingga timbul pertanyaan itu dalam hatiku. Maafkan aku."

Bwee Hwa tersenyum.

Pada dasarnya, ia seorang gadis periang sehingga tidak dapat lama terbenam dalam lamunan tentang cinta yang membingungkan hatinya tadi.

Kini ia memandang wajah Ui Kiong dan tertawa.

"Heheh, engkau ini lucu, Kong-ko. Orang melamun saja ditafsirkan. Aku tadi memang melamun karena teringat akan keadaanku yang hidup sebatang kara di dunia yang penuh kejahatan ini."

"Aih, Hwa-moi, kenapa hal seperti itu diingat lagi? Apa engkau sudah lupa bahwa aku juga seorang yatim piatu dan hidup sebatang kara di dunia ini?"

Kata Siong Li sambil tertawa pula.

"Dan aku bagaimana? Juga kakakku Kiang-ko? Kami juga tidak mempunyai ayah dan ibu lagi!"

Kata Ui Kong pula.

"Nah, selain kita berempat, masih banyak sekali manusia di dunia ini yang sudah menjadi yatim piatu. Akan tetapi jangan katakan bahwa kita hidup sebatang kara di dunia yang penuh kejahatan ini, Hwa-moi. Kita tidak sebatang kara. Kita hidup dengan banyak manusia lain. Setidaknya, bukankah kita sekarang ini saling bersahabat dan saling membantu? Dunia tidak hanya terisi kejahatan, Hwa-moi, akan tetapi juga terdapat banyak kebaikan."

"Ah, aku jadi ingat kepada kakakku. Kiang-ko seringkali bicara tentang kehi-dupan ini, tentang kebaikan dan kejahatan. Sering aku menjadi termangu keheranan kalau dia bicara tentang kehidupan, dan sama sekali kata-katanya itu tidak dapat dibantah dan aku harus mengakui kebenaran ucapannya,"

Kata Ui Kong. Hati Bwee Hwa menjadi tertarik sekali. Iapun dapat merasakan bahwa Ui Kiang yang lemah tak pandai silat itu memiliki kelebihan dalam lain hal.

"Apa yang dia katakan tentang kebaikan dan kejahatan, Kong-ko? Aku ingin sekali mendengarnya,"

Kata Bwee Hwa.

"Dia bicara tentang dua unsur yang membuat dunia ini berputar, yang membuat segala sesuatu berimbang, yaitu Im dan Yang (positive dan negative). Tanpa adanya kedua unsur yang saling berlawan an namun saling menunjang ini, segala sesuatu di alam ini akan mandeg, segala kegiatan alam akan berhenti. Karena itu, keduanya sama pentingnya, misalnya siang dan malam, terang dan gelap, pria dan wanita, dan segala sesuatu dengan kebalikkannya. Juga kebaikan dan kejahatan. Satu antara lain dia berkata begini. Kalau tidak ada kejahatan, mana bisa ada kebaikan? Sebaliknya karena ada kebaikan, maka timbul kejahatan. Yang satu tidak lebih penting daripada yang lain. Demikianlah yang dikatakan kakakku itu."

Bwee Hwa mengerutkan alisnya.

"Kejahatan tidak kalah pentingnya dari pada kebaikan? Wah, yang ini aku kurang mengerti, Kong-ko. Bukankah kejahatan itu bertolak belakang dengan pandangan kita? Bukankah kita oleh guru-guru kita selalu dianjurkan untuk menentang kejahatan? Bagaimana bisa dikatakan bahwa kebaikan tidak lebih penting daripada kejahatan?"

Ui Kong mengangkat kedua pundaknya.

"Begitulah yang dikatakan kakakku. Kalau engkau hendak mengetahuinya lebih jelas seharusnya ditanyakan kepada Kiang-ko. Aku sendiri juga tidak mengerti jelas."

Lalu Ui Kiong menoleh kepada Siong Li dan berkata.

"Li-ko memiliki pengalaman luas, barangkali dapat menjelaskan dan menjawab pertanyaan Hwa-moi tadi?"

Siong Li tersenyum.

"Ucapan Kiang-ko itu mengandung arti yang mendalam dan tak dapat dibantah kebenarannya, akan tetapi bagi yang tidak mengerti dapat menimbulkan salah-paham, apalagi bagi orang yang suka berbuat jahat, akan dapat membenarkan perbuatan jahatnya yang dianggap sama pentingnya dengan perbuatan baik."

"Nah, itulah yang membingungkan aku, Li-ko. Kalau dianggap sama, lalu untuk apa kita membela kebenaran dan menentang kejahatan? Kalau dianggap sama pentingnya, lalu apakah kita seharusnya melakukan kejahatan seperti kita melakukan kebaikan?"

Bantah Bwee Hwa penasaran. Siong Li tertawa.

"Ha-ha! Bukan begitu, Hwa-moi. Kejahatan, atau keadaan apapun juga yang kita anggap tidak baik, merupakan tantangan dalam hidup ini. Misalnya kalau ada gelap kita akan berusaha untuk mengatasinya kegelapan dengan menyalakan api penerangan dan sebagainya. Kejahatan seperti juga penyakit dan kita harus mengatasinya, menentangnya. Menentang kejahatan dan melakukan kebaikan merupakan kewajiban dalam hidup ini. Melakukan kebaikan berarti membiarkan diri menjadi alat Tuhan, sebaliknya melakukan kejahatan berarti membiarkan diri menjadi alat setan."

"Nah, kalau begitu, bagaimana dikatakan bahwa kebaikan tidak lebih penting daripada kejahatan? Dan engkau tadi mengatakan bahwa pendapat itu tidak dapat dibantah kebenarannya! Bagaimana ini, Li-ko?"

"Memang sesungguhnya, kita yang tidak mau menjadi alat setan akan selalu menentang kejahatan. Akan tetapi kejahatan itu sendiri amat penting bagi kehidupan, karena merupakan perimbangan keadaan, seperti siang dan malam tadi, yaitu Im dan Yang. Kalau tidak ada perbuatan jahat, mana ada perbuatan baik? Justeru kejahatan merupakan tantangan bagi manusia untuk memacu kebaikan. Makin hebat kejahatan merajalela, makin tekun orang memperhatikan pelajaran tentang kebaikan. Makin liar setan merajalela, manusia semakin bersemangat untuk mendekatkan diri kepada kepada Tuhan. Makin ganas si penyakit, makin tekun orang mencari obatnya. Semua itu memang harus berimbang, Im dan Yang, saling bertentangan akan tetapi juga saling menunjang. Kekuasaan Tuhan tampak jelas melalui perimbangan ini, melalui Im dan Yang. Bahkan segala yang tampak di dunia ini terjadi karena perpaduan antara Im dan Yang."

"Wah, aku menjadi pening, Li-ko, biarpun aku dapat mengerti sedikit pen-jelasanmu itu,"

Kata Bwee Hwa sambil tertawa.

"Ha-ha-ha, sama dengan aku, Hwa-moi!"

Kata Ui Kong.

"Akupun sering merasa pening kalau Kiang-ko bicara tentang semua itu. Akan tetapi dia pernah memberi perumpamaan yang lebih agak jelas. Begini katanya. Dalam batin manusiapun Im dan Yang bekerja sepenuhnya. Baik dan buruk bekerja dalam batin manusia, seolah manusia itu berbatin setengah malaikat setengah iblis. Maka setiap orang manusia itu ada baiknya dan ada pula jahatnya. Kalau dia baik sepenuhnya, maka bukan manusia namanya, melainkan malaikat. Kalau jahat sepenuhnya, diapun bukan manusia melainkan iblis. Terkadang baik dituntun malaikat, terkadang jahat dituntun iblis, itulah manusia!"

Mereka bertiga tertawa.

Mereka kini sudah cukup beristirahat dan tiga ekor kuda mereka juga sudah cukup mengaso dan makan rumput.

Dengan hati gembira setelah bercakap-cakap tadi, Bwee Hwa tidak melamun lagi dan rasa lelah setelah melakukan perjalanan selama tiga hari rasanya hilang.

Setelah menyeberangi hutan itu, tibalah mereka di lembah sungai dan ketiganya mulai bersikap waspada karena mereka telah memasuki daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Kiu-liong-pang (Perkumpulan Sembilan Naga).

Nama perkumpulan yang sesungguhnya merupakan gerombolan penjahat yang suka merampok dan mencuri ini, amat terkenal di Propinsi Hok-kian.

Mereka sering melakukan perampokan ke dusun-dusun dan bahkan berani menjarah sampai ke kota.

Pada mereka yang berani melakukan perjalanan melewati lembah sungai itu, tentu akan bertemu anggauta gerombolan yang minta semacam "uang pajak".

Kalau permintaan ini ditolak, mereka akan menggunakan kekerasan, membunuh dan merampok dengan kejam.

Juga mereka yang melakukan perjalanan dengan perahu di Sungai Kiu-liong, pasti akan mereka hadang pula dan mereka mintai uang, kalau menolak mereka akan membajak dan membunuh.

Ada sudah usaha para pedagang yang melakukan perjalanan, baik melalui darat maupun melalui air, menyewa para piauw-su (pengawal kiriman) untuk melindungi mereka dari gangguan para anak buah gerombolan Kiu-liong-pang itu.

Namun, setelah beberapa kali piauw-su itu bahkan menjadi korban, maka para pedagang mengalah dan merasa lebih aman untuk membayar "pajak"

Kepada gerombolan itu.

Kiu-liong-pang dipimpin oleh tiga orang pemimpinnya yang terkenal tangguh dan amat lihai ilmu silatnya.

Mereka biasa disebut sebagai Toa-liong (Naga Pertama), Ji-liong (Naga Kedua) dan Sam-liong (Naga Ketiga), merupakan tiga orang kakak beradik seperguruan yang berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun.

Gerombolan Kiu-liong-pang itu memiliki anak buah yang cukup banyak, tidak kurang dari seratus orang.

Karena itu kedudukan mereka amat kuat.

Pihak pemerintah sudah pula berusaha untuk membasmi gerombolan ini dengan mengerahkan pasukan yang besar jumlahnya.

Akan tetapi, kalau diserbu pasukan yang besar, semua anak buah gerombolan melarikan diri dan karena daerah lembah Sungai Kiu-liong itu amat luas dan panjang, melewati hutan-hutan lebat, maka sukar sekali bagi pasukan pemerintah untuk membasmi mereka.

Bwee Hwa, Siong Li dan Ui Kong yang telah tiba di lembah sungai dan mengharapkan dapat bertemu dengan anggauta gerombolan Kiu-liong-pang, sampai menjelang senja belum juga menemukan mereka.

Daerah itu sunyi bukan main karena memang merupakan daerah yang dianggap berbahaya sehingga jarang ada yang berani melakukan perjalanan lewat lembah itu.

Terpaksa ketiga orang muda itu berhenti di tepi sungai yang terbuka, melepaskan kendali kuda dan menambatkan kuda mereka pada pohon yang tumbuh dekat tempat mereka berada.

Ui Kong lalu mencari dan mengumpulkan kayu kering untuk persiapan membuat api unggun.

Api unggun amat penting bagi mereka dalam melewatkan malam di tempat seperti itu.

Selain dapat mengusir hawa malam yang dingin, juga terutama sekali dapat mengusir nyamuk-nyamuk yang tentu akan sangat mengganggu.

Sementara itu, Siong Li mencari anak sungai yang menumpahkan airnya ke Sungai Kiu-liong.

Biasanya dalam hutan terdapat banyak anak sungai kecil yang jernih airnya.

Setelah mendapatkan anak sungai yang jernih airnya, Siong Li memberi tahu Bwee Hwa dan gadis ini lalu pergi mandi dan berganti pakaian bersih.

Setelah ia selesai, lalu Ui Kong mandi dan yang terakhir giliran Siong Li.

Mereka bertiga merasa segar sehabis mandi dan berganti pakaian bersih.

Setelah itu, kembali mereka makan roti dan daging kering yang dibawa Ui Kong sebagai bekal.

Sejak siang tadi mereka tidak pernah bertemu dengan dusun atau bahkan orang lain sehingga mereka tidak dapat membeli makanan lain.

Bagi Bwee Hwa dan Siong Li yang sudah terbiasa melakukan perjalanan dan mengalami makan seadanya dan tidur di tempat seadanya pula, keadaan seperti itu sama sekali tidak merupakan gangguan.

Mereka dapat makan apa saja dengan lezat asalkan perut mereka lapar dan tidur di manapun asalkan mata mereka mengantuk.

Akan tetapi tidak demikian dengan Ui Kong.

Biarpun pemuda ini pernah mempelajari ilmu silat sampai tingkat tinggi, namun dia tidak pernah melakukan perantauan seperti itu dan hidupnya selalu bergelimang kemewahan dan kecukupan.

Makan selalu dengan lauk pauk yang serba lengkap dan mewah, tidurpun di kamar indah dengan tempat tidur yang lunak.

Maka pengalaman selama tiga hari ini cukup membuat dia merasa menderita.

Ketika mereka makan roti dan daging kering, makanan yang itu-itu juga yang mereka makan selama tiga hari ini, Bwee Hwa melihat betapa Ui Kong makan dengan alis berkerut, sama sekali tidak lahap seperti ia dan Siong Li yang merasa lapar.

Setelah selesai makan, Ui Kong berkata.

"Biarlah malam ini aku yang berjaga di sini. Kalian mengaso dan tidurlah." (Lanjut ke

Jilid 08) Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08

"Ah, mana bisa begitu, Kong-te? Kita melakukan penjagaan dengan bergilir. Setidaknya kita berdua yang bergiliran dan Hwa-moi boleh mengaso dan tidur."

"Ah, tidak bisa! Akupun harus mendapat giliran seperti dua malam yang lalu. Aku tidak mau enak-enakan sendiri tidur sedangkan kalian berdua melakukan penjagaan!"

Kata Bwee Hwa.

"Sebetulnya tidak perlu bergilir, biar aku saja yang berjaga semalam ini. Ba-gaimanapun, kalau tiba giliran kalian, tetap saja aku tidak dapat pulas."

Bwee Hwa yang sejak hari pertama perjalanan sudah memperhatikan pemuda yang tampak menderita melakukan perjalanan itu, tersenyum.

"Ah, engkau tidak dapat tidur pulas karena tempatnya, Kong-ko?"

Ui Kong tersenyum dan mengangguk, lalu berkata sejujurnya.

"Ya, begitulah."

"Kulihat tadi engkau makan juga tidak lahap, seperti dipaksakan. Makanannya kurang enak bagimu, ya?"

Tanya Bwee Hwa. Ui Kong mengerutkan alisnya.

"Sialan itu gerombolan Kiu-liong-pang! Di mana saja sih mereka itu, belum juga menampakkan diri? Membuat aku kesal!"

"Nah, inilah sebabnya mengapa dulu guruku pernah mengatakan bahwa jauh lebih baik membiasakan diri hidup sederhana daripada hidup bermewah-mewahan,"

Kata Siong Li.

"Akan tetapi, Li-ko, apakah orang yang keadaannya cukup atau kaya harus hidup sederhana? Lalu untuk apa semua harta yang diperolehnya dalam pekerjaannya?"

Bantah Ui Kong.

"Tentu saja tidak begitu yang dimaksudkan suhu. Hidup sederhana bukan berarti orang kaya harus hidup serba kekurangan atau melarat. Yang dimaksudkan agar dalam kehidupan sehari-hari tidak bermewah-mewah, tidak berlebihan. Hidup sederhana berarti merasa puas dengan apa yang ada, tidak main royal-royalan memanjakan nafsu keinginan yang bersifat angkara murka. Kalau kita sudah terbiasa dengan apa adanya, maka makanan apapun akan terasa lezat kalau kita lapar dan tempat tidur manapun akan terasa nyaman kalau kita mengantuk. Hidup sederhana merupakan pencerminan jiwa yang sederhana, dalam arti kata tidak menginginkan sesuatu yang tidak ada dan dapat menerima dan menikmati apa yang ada sehingga setiap saat kita dapat bersyukur kepada Thian (Tuhan) akan apa yang diberikanNya kepada kita."

Ui Kong mengangguk-angguk.

"Aku mengerti sekarang, Li-ko. Agaknya yang kaumaksudkan adalah agar kita tidak memanjakan keinginan nafsu-nafsu kita yang selalu haus akan kesenangan. Begitukah?"

"Kurang lebih begitulah, Kong-te,"

Kata Siong Li.

Malam itu, ketika giliran Ui Kong untuk tidur, dia dapat tidur nyenyak di bawah pohon, di atas tanah begitu saja.

Melihat ini, Siong Li tersenyum.

Ternyata pemuda hartawan itu sudah dapat memetik manfaat dari percakapan mereka tadi!

Mereka tidur bergiliran dan pada keesokan harinya, setelah membersihkan badan, mereka hendak melanjutkan perjalanan mereka.

Akan tetapi, tiba-tiba mereka mendengar tiga ekor kuda mereka meringkik ketakutan.

Mereka cepat menengok dan tampaklah belasan orang laki-laki muncul dan tiga orang di antara mereka sudah menguasai kuda-kuda mereka yang tadinya ditambatkan pada batang pohon.

"Keparat busuk, lepaskan kuda-kuda kami!"

Bentak Bwee Hwa marah dan gadis ini sudah siap untuk menyerang para pencuri kuda-kuda itu dengan jarum-jarumnya.

Akan tetapi Siong Li cepat memegang lengannya.

Pemuda ini khawatir kalau-kalau Bwee Hwa akan membunuh orang.

Kalau hal itu terjadi, akan sukarlah bagi mereka untuk mencari keterangan tentang cabang Pek-lian-kauw.

Diapun menghadapi belasan orang yang kini menghadang di depan mereka, lalu berkata dengan sikap bersahabat dan tersenyum ramah.

"Kalau kami tidak salah duga, cu-wi (anda sekalian) tentu anggauta-anggauta dari Kiu-liong-pang, bukan?"

Seorang dari mereka yang bertubuh tinggi kurus, memandang tajam dan menoleh ke arah kawan-kawannya yang rata-rata bertubuh kokoh kuat dan bersikap kasar.

"Kawan-kawan, mereka mengenal kita!"

Kata si tinggi kurus lalu menjawab pertanyaan Siong Li.

"Benar, kami adalah orang-orang Kiu-liong-pang. Setelah kalian bertiga mengetahui, hayo cepat serahkan buntalan-buntalan itu dan gadis ini harus ikut bersama kami sebagai oleh-oleh untuk ketua kami!"

Ucapan si tinggi kurus ini disambut tawa terbahak oleh orang-orang kasar itu. Bwee Hwa mengerutkan alisnya dan wajahnya berubah merah sekali. Melihat ini, Siong Li berbisik kepadanya.

"Hwa-moi, jangan bunuh orang, kita perlu keterangan mereka."

Bwee Hwa menjawab.

"Jangan khawatir, aku tidak akan bunuh orang, akan tetapi mulut orang itu harus dihajar!"

Setelah berkata demikian, ia melangkah ke depan, menghadapi si tinggi kurus lalu membentak.

"Jahanam bermulut busuk! Hayo cepat berlutut dan minta maaf atas kelancangan mulut busukmu, atau aku akan menghancurkan mulut busukmu itu!"

Si tinggi kurus adalah seorang anggauta Kiu-liong-pang yang agak menonjol kemampuannya, maka dia diangkat menjadi kepala dari belasan orang itu.

Melihat sikap dan mendengar ucapan Bwee Hwa itu, dia tertawa bergelak, diikuti tawa para kawannya yang menganggap gertakan gadis cantik jelita itu terdengar amat lucu!

"Awas, Boan-ko, mulutmu akan digigitnya hancur kalau engkau menciumnya!"

Kata seorang anggauta dan ucapan inipun memancing tawa bergelak.

"Boan-ko, kalau engkau memberikan gadis ini kepada toa-pangcu (Ketua Pertama), engkau tentu akan menerima hadiah besar. Toa-pangcu paling suka kepada wanita cantik dan galak seperti ini. Katanya dia paling suka kuda betina liar!"

Kata anggauta perampok yang lain. Si tinggi kurus yang bernama Boan Kit itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, nona manis, engkau hendak menghancurkan mulutku? He-heh, bagaimana engkau akan menghancurkannya? Dengan gigitanmu, ha-ha-ha!"

Tiba-tiba saja tubuh Bwee Hwa bergerak ke depan dan kedua tangannya menyambar dari kanan kiri, cepat bukan main, seperti kilat menyambar sehingga gerakan kedua tangan itu tidak tampak jelas.

"Wuuutttt""

Plakkkk! Plokkk!!"

Tubuh tinggi besar itu terjengkang ke belakang dan dia mengeluarkan suara merintih, kedua tangan menutupi mulutnya yang pecah berdarah karena ditampar oleh kedua tangan Bwee Hwa dari kanan kiri.

Bibirnya pecah-pecah dan beberapa buah giginya rontok!

Boan Kit jatuh terduduk dan mengaduh-aduh dengan suara yang tidak jelas.

Kawan-kawannya marah bukan main, juga terkejut dan heran.

Boan Kit adalah seorang yang bagi mereka merupakan orang pandai silat dan tangguh, akan tetapi mengapa sekali serang saja gadis itu mampu benar-benar menghancurkan mulutnya seperti ancamannya tadi?

Empatbelas orang anggauta Kiu-liong-pang itu adalah orang-orang kasar yang biasa melakukan kekerasan.

Mereka adalah orang-orang bodoh dan nekat, sudah terbiasa memaksakan kehendak sendiri.

Maka, hajaran kepada Boan Kit itu masih belum menyadarkan mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang lihai sekali.

Robohnya Boan Kit itu malah membuat mereka marah dan empatbelas orang itu sudah mencabut golok masing-masing, lalu sambil mengeluarkan teriakan-teriakan ganas mereka menyerbu dan menyerang tiga orang muda itu!

"Jangan bunuh orang!"

Sekali lagi Siong Li memperingatkan Ui Kong dan Bwee Hwa.

Mereka bertiga menyambut serbuan para anggauta Kiu-liong-pang dengan tangan kosong.

Dengan tamparan-tamparan dan tendangan, tiga orang itu mengamuk dan dalam waktu singkat saja, empatbelas orang itu sudah berpelantingan dan golok mereka beterbangan!

Mereka terkejut bukan main dan barulah mereka kini mengadari bahwa tiga orang muda itu adalah pendekar-pendekar yang amat lihai.

Mereka menjadi ketakutan dan merangkak bangun untuk melarikan diri, termasuk Boan Kit.

Akan tetapi Siong Li sudah melompat ke depan dan menangkap lengan Boan Kit.

Bwee Hwa juga menangkap seorang anggauta gerombolan, demikian pula Ui Kong menangkap seorang lain.

Yang lain-lain dapat meloloskan diri, termasuk tiga orang anggauta gerombolan yang sudah lebih dulu melarikan tiga ekor kuda.

"Dengar kalian bertiga!"

Kata Siong Li kepada tiga orang anak buah gerombolan yang mereka tawan.

"Kami tidak ingin memusuhi kalian maka tadi kami tidak membunuh kalian. Kami hanya ingin bicara dengan pimpinan kalian. Nah, sekarang bawalah kami bertemu dengan pimpinan Kiu-liong-pang!"

Boan Kit dan dua orang kawannya yang tertawan itu sudah tidak berdaya dan mati kutu.

Mereka maklum sepenuhnya bahwa di depan tiga orang ini mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa dan masih untung bahwa mereka tidak dibunuh.

Mereka mengangguk lalu menjadi penunjuk jalan bagi tiga orang yang mengikuti mereka berjalan ke barat, menyusuri sepanjang pantai Sungai Kiu-liong.

Akan tetapi belum terlalu lama mereka berjalan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari depan dan tak lama kemudian tampak tiga orang laki-laki menunggang kuda tiba di depan mereka.

Siong Li, Ui Kong dan Bwee Hwa mendongkol sekali melihat betapa tiga orang itu menunggang kuda mereka yang dicuri tadi!

Akan tetapi sebelum Bwee Hwa melampiaskan kemarahannya, Siong Li sudah memberi isyarat kepadanya agar bersabar dan diam.

Pemuda ini lalu melangkah maju, menghadapi tiga orang yang juga sudah berlompatan turun dari atas kuda mereka.

Tiga orang anggauta gerombolan yang ditawan itu cepat maju dan memegang kendali tiga ekor kuda yang tadi ditunggangi tiga orang ketua mereka.

Siong Li memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dadanya, lalu bertanya.

"Apakah kami berhadapan dengan para pemimpin Kiu-liong-pang?"

Orang yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok menjawab dengan suaranya yang besar dan parau sambil menatap wajah Bwee Hwa bagaikan mata seekor srigala melihat seekor domba.

"Benar, kami adalah pimpinan Kiu-liong-pang! Siapakah kalian bertiga yang sudah berani menyiksa anak buah kami?"

"Kami tidak menyiksa. Adalah mereka yang hendak mengganggu kami, terpaksa kami membela diri. Kalau kami berniat buruk, tentu mereka semua telah mati di tangan kami. Ketahuilah, pangcu (ketua), kami hanya ingin bertemu dan membicarakan sesuatu dengan pimpinan Kiu-liong-pang, tidak ingin bermusuhan. Namaku Ong Siong Li dan di dunia kang-ouw dikenal dengan julukan It-kak-liong (Naga Tanduk Satu). Saudara ini bernama Ui Kong, pendekar dari kota Ki-lok dan nona ini adalah Lim Bwee Hwa yang dijuluki Ang-hong-cu (Si Tawon Merah). Kalau boleh kami ketahui, siapakah sam-wi (anda bertiga) ini?"

Siong Li sengaja menyebutkan nama-nama julukan, bukan untuk pamer atau menyombongkan diri, melainkan untuk membuat tiga orang kepala gerombolan itu tidak memandang rendah mereka dan mau diajak bicara baik-baik.

Dan usahanya ini memang berhasil baik.

Mendengar nama-nama julukan ini, tiga orang itu saling pandang, lalu si tinggi besar brewok yang usianya sekitar limapuluh lima tahun itu memperkenalkan diri.

"Aku disebut Toa-liong, ketua pertama Kiu-liong-pang!"

"Aku Ji-liong!"

Kata orang kedua yang bertubuh gendut pendek dan matanya sipit sekali seperti terpejam.

"Dan aku Sam-liong!"

Kata orang ketiga yang bertubuh tinggi kurus. Siong Li tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Ah, kiranya sam-wi (anda bertiga), Toa-liong (Naga Pertama), Ji-liong (Naga Kedua) dan Sam-liong (Naga Ketiga) yang menjadi pimpinan Kiu-liong-pai? Bagus, memang kami ingin berjumpa dengan sam-wi untuk menanyakan sesuatu, harap sam-wi suka memberi keterangan yang kami butuhkan."

"Hemm, apa yang hendak kalian tanyakan?"

Tanya Toa-liong, suaranya tidak ramah, bahkan agak ketus karena dia masih marah mendengar laporan para anak buahnya betapa belasan orang anak buahnya dihajar oleh tiga orang muda ini.

Dan sejak tadi, pandang mata Toa-liong tidak pernah lepas dari wajah dan tubuh Bwee Hwa, biarpun dia bicara kepada Siong Li.

Melihat kenyataan ini saja, Bwee Hwa sudah merasa muak dan marah sekali.

Ui Kong juga merasa mendongkol melihat betapa si tinggi besar brewokan itu selalu memandang kepada Bwee Hwa dengan pandang mata kagum yang tidak disembunyikan sehingga kelihatan kurang ajar sekali.

Ui Kong yang sudah tidak sabar langsung berkata.

"Kami ingin mengetahui di mana adanya Pek-bin Moko tokoh Pek-lian-kauw itu. Harap kalian memberitahu kepada kami!"

Mendengar ucapan Ui Kong yang galak itu, Toa-liong berkata dengan senyum mengejek.

"Hemm, kalian sudah tahu sendiri bahwa Pek-bin Moko adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw. Tentu saja dia berada di Pek-lian-kauw dan kami tidak mempunyai urusan dengan Pek-lian-kauw!"

Jawaban ini tidak kalah kasarnya dibandingkan ucapan Ui Kong tadi. Siong Li segera berkata untuk mencegah Ui Kong atau Bwee Hwa bicara dengan marah.

"Kami juga mengerti bahwa Pek-bin Moko sebagai seorang tokoh Pek-lian-kauw tentu berada di Pek-lian-kauw, Toa-pangcu. Akan tetapi masalahnya, kami tidak tahu di mana adanya cabang Pek-lian-kauw di Propinsi Hok-kian ini. Karena itulah maka kami mengharapkan keterangan dan petunjuk darimu."

Tiga orang pimpinan Kiu-liong-pang itu saling pandang dan Ji-liong atau ketua yang kedua, yang bertubuh gemuk pendek itu berkata dengan suaranya yang parau.

"Enak saja kalian bertiga ini. Hendak minta keterangan dari kami akan tetapi merobohkan belasan orang anak buah kami!"

"Bukan kesalahan kami!"

Bwee Hwa berseru.

"Kami sudah memberitahu mereka bahwa kami hendak bertemu dan bicara dengan pimpinan mereka, akan tetapi mereka malah menyerang dan hendak merampok kami!"

"Dan engkau sudah memukul mulut anak buah kami Boan Kit sampai terluka parah!"

Bentak pula Sam-liong yang tinggi kurus dan bermuka pucat.

"Tentu saja! Habis mulutnya kotor dan busuk menghinaku! Masih untung aku hanya menghancurkan mulutnya bukan kepalanya!"

Teriak lagi Bwee Hwa. Siong Li segera berkata kepada Toa-liong.

"Sudahlah, Toa-pangcu. Yang sudah terjadi itu hanya salah paham yang dimulai oleh belasan orang anak buahmu sendiri. Bahkan mereka telah melarikan tiga ekor kuda kami. Sekarang kami harap engkau suka memberi petunjuk kepada kami agar kami dapat menemukan Pek-bin Moko dan biarlah aku yang memintakan maaf atas peristiwa yang terjadi tadi."

"Hemm, tidak begitu mudah, It-kak-liong!"

Kata Toa-liong kepada Siong Li.

"Anak buah kami telah kalian robohkan, kami sebagai pimpinan mereka merasa ditantang!"

"Lalu apa yang engkau kehendaki, pangcu?"

Tanya Siong Li, masih bersikap tenang dan sabar.

"Sekarang diatur begini saja. Kalian tiga orang dan kami pimpinan Kiu-liong-pang juga tiga orang. Mari kita bertanding satu lawan satu. Kalau kami kalah, barulah kami akan bicara tentang Pek-lian-kauw dan mengembalikan tiga ekor kuda kalian. Akan tetapi kalau kami yang menang"""

Toa-liong menghentikan kata-katanya dan sepasang matanya memandang kepada Bwee Hwa dengan senyum menyeringai yang artinya dapat diduga dengan jelas.

Bwee Hwa dan dua orang pemuda itu merasa marah sekali, akan tetapi karena niat kotor yang terkandung dalam pandang mata dan senyum ketua pertama Kiu-liong-pang itu tidak diucapkan, merekapun hanya dapat menahan diri.

"Kalau kami yang kalah, lalu apa? Kalau kami kalah tentu saja kami siap untuk minta maaf,"

Kata Siong Li.

"Hemm""

Hemm""

Biarlah kami akan tentukan nanti apa yang harus kalian lakukan kalau kalian kalah. Nah, beranikah kalian bertanding melawan kami satu lawan satu?"

Pada saat itu terdengar suara banyak orang dan datanglah berbondong-bondong anak buah Kiu-liong-pang yang kurang lebih limapuluh orang banyaknya.

Anak buah yang lain berada terpencar di tempat lain, akan tetapi yang berkumpul di situ sudah cukup banyak.

Sikap mereka kasar dan menyeramkan.

Akan tetapi BWee Hwa sama sekali tidak menjadi gentar dan ia bahkan menjawab dengan lantang.

"Siapa takut kepada kalian? Aku hanya sangsi apakah kalian benar-benar berani bertanding satu lawan satu, melihat begini banyaknya anak buah kalian berkumpul di sini!"

Kata Bwee Hwa dengan suara mengejek.

"Jangan mengira bahwa kami takut menghadapi puluhan orang anak buah kalian. Akan tetapi perlu kuperingatkan kalian bahwa kalau semua anak buahmu berani mengeroyok kami, sekali ini kami tidak akan memberi ampun lagi dan semua anak buah Kiu-liong-pang akan mati di sini!"

"Hemm, gadis sombong! Kuda betina liar! Lihat saja nanti, aku yang akan menjinakkan kamu!"

Kata Toa-liong sambil menyeringai. Sam-liong, ketua ketiga yang tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat itu sudah melompat ke depan dan menantang dengan sikap congkak.

"Nah, aku maju pertama, siapa si antara kalian bertiga yang berani menandingiku?"

Ui Kong segera melangkah ke depan menghadapi Sam-liong. Tiga orang pendekar itu memiliki tingkat kepandaian yang hampir seimbang maka siapapun yang maju lebih dulu atau paling akhir sama saja.

"Aku yang akan melayanimu, Sam-liong!"

Kata pemuda itu dengan sikap tenang. Sam-liong tersenyum dan mukanya yang pucat itu tampak menyeramkan ketika dia tersenyum, seperti mayat tersenyum! "Bagus! Kalau begitu bersiaplah kamu!"

Kata Sam-liong dan dia lalu memasang kuda-kuda.

Kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangannya juga dipentang seperti sayap burung yang terbang, tubuhnya rendah seperti berjongkok.

Melihat lawannya memasang kuda-kuda yang digagah-gagahkan itu, Ui Kong tampak tenang saja, masih berdiri santai dengan kedua tangan tergantung di kanan kiri tubuhnya.

Pemuda bertubuh tinggi tegap ini adalah murid seorang sakti dan sudah mempelajari ilmu silat tinggi, maka melihat kuda-kuda yang tampaknya saja gagah akan tetapi sebetulnya memiliki banyak kelemahan itu, dia dapat menilai bahwa ilmu silat orang itupun tidak seberapa hebat, hanya gagah bagian luarnya saja namun tidak "berisi".

"Mulailah, Sam-liong, aku sudah siap,"

Kata Ui Kong biarpun dia masih berdiri santai dan tidak memasang kuda-kuda, namun seluruh urat syarafnya siap siaga menghadapi serangan yang bagaimanapun juga.

Melihat pemuda itu berdiri santai tidak memasang kuda-kuda, Sam-liong menilai bahwa pemuda itu belum belajar silat secara mendalam, maka dia memandang rendah.

"Sambut seranganku!"

Bentaknya dan diapun menyerang, tubuhnya menerjang ke depan dengan kedua tangan membentuk cakar menerkam ke arah Ui Kong, tangan kanan mencengkeram ke arah leher dan tangan kiri mencengkeram ke arah perut.

Inilah serangan dengan jurus Leng-mouw-po-ci (Kucing Menerkam Tikus) yang dilakukan dengan cepat dan dengan menggunakan tenaga dalam yang cukup kuat.

Namun bagi Ui Kong serangan itu sama sekali tidak berbahaya.

Dia yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang sudah tinggi tingkatnya, dapat bergerak lebih cepat daripada gerakan lawan.

Maka dengan mudah saja dia mengelak dari serangan itu.

Serangan pertama yang dapat dielakkan lawan dengan mudah itu membuat Sam-liong menjadi penasaran.

Dia cepat mengubah gerakannya dan kini menyerang lagi dengan jurus Pek-wan-hian-ko (Lutung Putih Memberi Buah).

Tangan kanannya menjadi kepalan dan memukul lurus ke arah ulu hati lawan sedangkan tangan kirinya menyusulkan pukulan berikutnya ke arah pelipis kanan Ui Kong.

Serangan kedua ini cukup berbahaya karena Sam-liong yang merasa penasaran mengerahkan seluruh tenaganya.

Ui Kong lalu bergerak dengan ilmu silat Sin-liong-kun (Silat Naga Sakti).

Dia menangkis dengan Sin-liong-tian-jiauw (Naga Sakti Mementang Cakar), kedua tangannya bergerak dari dalam keluar, menangkis serangan dua lengan tangan lawan.

"Duk-dukk!"

Kedua lengan mereka bertemu dan tubuh Sam-liong terhuyung ke belakang.

Hal ini membuat Sam-liong menjadi semakin penasaran dan marah.

Dia lalu menghujani Ui Kiong dengan serangan yang nekat dengan gerakan mengamuk seperti orang gila.

Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilakukan dengan kemarahan meluap-luap itu, Ui Kong tetap bersikap tenang.

Dengan ginkangnya yang istimewa, tubuhnya berkelebatan dan selalu dapat mengelak dari semua pukulan, tamparan dan tendangan lawan.

Ui Kong memang hanya mempermainkan lawan.

Dia tahu bahwa dia membutuhkan tiga orang pemimpin Kiu-liong-pang ini, maka dia tidak akan melukai para lawannya, apalagi sampai membunuh.

Setelah merasa cukup lama hanya menyambut serangan lawan dengan tangkisan dan elakan, sampai lewat belasan jurus, tiba-tiba Ui Kong membalas.

Setelah mengelak ke kiri, dia membalik dan mendorongkan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka ke arah kedua pundak Sam-liong.

"Mundurlah!"

Teriaknya dan dengan jurus Sin-liong-tui-in (Naga Sakti Tolak Awan) itu dia mengerahkan tenaganya.

Sam-liong berusaha untuk menangkis kedua lengan yang mendorong itu, akan tetapi tetap saja dia terpental ke belakang dan terhuyung-huyung sampai lima langkah!

Sudah jelas bahwa dia kalah dalam pertandingan tangan kosong itu, akan tetapi dia tidak mau menerima kekalahan.

Malah dia menjadi penasaran dan marah.

Dicabutnya senjatanya, yaitu sebatang ruyung besi, semacam penggada yang berduri dan tampak berat dan menyeramkan.

Dia memutar ruyung itu di atas kepalanya dan terdengar suara mengiuk nyaring.

Melihat betapa lawannya mengeluarkan sebatang ruyung dan senjata itu tampaknya berbahaya, Ui Kong juga menghunus pedangnya.

Dia tersenyum.

"Sam-liong, engkau masih belum menyudahi pertandingan ini dan hendak mempergunakan senjata? Baiklah, kalau engkau belum merasa puas dan hendak melanjutkan pertandingan, silakan maju, aku sudah siap menghadapi senjatamu itu!"

Kata Ui Kong dengan sikapnya yang masih tenang.

Sam-liong sudah merasa penasaran dan marah sekali, juga malu karena bagaimanapun juga, diakuinya atau tidak, sudah jelas bahwa dalam pertandingan silat tangan kosong tadi dia menderita kekalahan.

Maka untuk menebus kekalahannya itu, dia hendak nekat dan menggunakan senjatanya untuk menebus kekalahannya, kalau perlu membunuh lawannya.

Maka, mendengar tantangan Ui Kong itu, dia tidak menjawab hanya mukanya yang pucat dan muram itu cemberut dan matanya mengeluarkan sinar berapi.

Kemudian dia melangkah cepat menghampiri Ui Kong dan menerjang seperti seekor serigala yang haus darah.

Ruyung yang tadinya diputar-putar di atas kepala itu lalu dipergunakan untuk menyerang.

Serangannya ganas bukan main, dengan jurus yang disebut Hek-in-ci-tian (Awan Hitam Keluarkan Kilat).

Ruyung itu menyambar ganas dari atas mengarah kepala Ui Kong.

Ruyung itu berat dan digerakkan oleh tangan yang mengandung lweekang (tenaga dalam) yang amat kuat sehingga dapat dibayangkan kalau sampai mengenai kepala orang.

Permukaannya yang berduri itu tentu akan meremukkan kepala!

Ui Kong juga maklum akan ganasnya serangan ini.

Dia menarik tubuhnya ke kiri sehingga ruyung itu lewat bersiut di samping kepalanya.

Diapun cepat menggerakkan pedangnya dengan ilmu silat pedang yang bernama Sin-liong-kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Sakti) dan memainkan jurus Sin-liong-sia-hui (Naga Sakti Terbang Miring).

Pedangnya menyambar dari samping dengan tubuhnya miring dan pedang itu mengancam pergelangan tangan kanan Sam-liong yang memegang ruyung.

Sam-liong terkejut bukan main sampai dia mengeluarkan seruan kaget dan cepat memutar pergelangan tangannya sehingga ruyungnya menyambar ke bawah dan menangkis pedang lawan yang mengancam pergelangan tangannya itu.

"Tranggg.......!!"

Bunga api berpijar ketika dua senjata itu bertemu dan Ui Kong merasa betapa berat dan kuatnya ruyung itu.

Ternyata lawannya menjadi jauh lebih lihai setelah menggunakan senjata ruyungnya.

Akan tetapi tentu saja dia tidak menjadi gentar dan cepat dia mainkan pedangnya dengan Sin-liong-kiam-sut yang merupakan ilmu pedang tingkat tinggi.

Pedangnya lenyap berubah menjadi gulungan sinar seolah seekor naga sakti yang melayang-layang di udara, menyambar-nyambar dengan cepatnya seperti kilat menyambar.

Tubuh pemuda itupun lenyap, hanya kadang-kadang saja tampak kaki tangannya, selebihnya dia hanya seperti bayangan yang terbungkus gulungan sinar pedang.

Menghadapi ilmu pedang yang luar biasa dan jauh lebih tinggi tingkatnya daripada ilmu silat ruyungnya sendiri yang hanya mengandalkan berat senjata ditambah tenaga dalamnya, Sam-liong menjadi bingung.

Bagi pandang matanya, lawannya itu seolah berubah menjadi banyak orang yang mengeroyoknya dari empat penjuru!

Tiba-tiba Ui Kong membuat gerakan berputaran sehingga lawannya menjadi pening karena harus mencari dan menduga di mana adanya tubuh lawan dan pada saat Sam-liong kebingungan itu, Ui Kong berseru nyaring.

"Awas pedang!"

Tahu-tahu ujung pedang Ui Kong sudah menempel di leher Sam-liong.

Ketika Sam-liong hendak menggerakkan ruyungnya menangkis, tangan kiri Ui Kong bergerak memukul dengan bacokan pinggir tangan ke arah pergelangan tangan Sam-liong yang memegang ruyung.

"Dukk.......! Auhhh.......!"

Sam-liong berteriak kesakitan dan ruyung itu terlepas dari tangan kanannya yang tiba-tiba terasa nyeri dan lumpuh.

Sementara itu, ujung pedang di tangan Ui Kong masih menempel di lehernya.

Betapapun keras kepala dan hati Sam-liong, sekarang mau tidak mau dia harus mengaku kalah.

Dia menghela napas panjang dan melangkah mundur.

Ketika melihat betapa Ui Kong tidak mengejarnya, bahkan menarik kembali pedangnya dan memasukkan pedang ke sarung pedangnya, Sam-liong lalu kembali ke dekat dua orang rekannya.

Melihat betapa Sam-liong sudah kalah, Ji-liong yang merasa penasaran lalu melompat ke depan.

Tingkat ilmu silatnya tentu saja lebih tinggi daripada tingkat Sam-liong dan orang yang bertubuh gemuk pendek bermata sipit dan berusia limapuluh dua tahun ini terkenal lihai sekali memainkan siang-to (sepasang golok).

Sepasang goloknya itu tipis dan panjang, ringan dan tajam sekali.

Melihat kekalahan Sam-liong, Ji-liong berpikir cerdik.

Dia tahu bahwa dia dan dua orang rekannya kurang pandai bersilat tangan kosong dan selalu mengandalkan senjata.

Kalau dia harus bertanding tangan kosong, sukar baginya untuk menang.

Akan tetapi kalau dia mengandalkan sepasang goloknya yang biasanya dia banggakan dan selama ini belum terkalahkan, hatinya menjadi besar dan banyak kemungkinan dia akan dapat mengalahkan lawannya.

"Nah, aku Ji-liong, ketua kedua Kiu-liong-pang sekarang maju. Seorang di antara kalian boleh maju menandingi aku!"

Katanya dan dia menggerakkan kedua tangannya ke punggung.

Tampak dua sinar berkelebat dan kedua tangannya sudah memegang golok yang berkilau saking tajamnya.

Siong Li memandang kepada Bwee Hwa untuk menawarkan kalau-kalau Bwee Hwa ingin menandingi orang kedua dari Kiu-liong-pang ini agar nanti ketua pertamanya yang tentu paling lihai itu dia yang akan menandinginya.

Akan tetapi Bwee Hwa yang marah terhadap Toa-liong, berkata.

"Biar engkau saja yang menghadapinya, Li-ko."

Siong Li tersenyum. Dia sudah mengenal benar watak gadis yang berhati baja ini, maka dia berkata lirih.

"Asal engkau ingat dan tidak sampai membunuh orang, Hwa-moi."

"Aku tahu!"

Jawab Bwee Hwa singkat.

Siong Li lalu maju menghadapi Ji-liong dan dia melihat Toa-liong menyeringai, agaknya senang karena dia mendapatkan lawan Bwee Hwa!

Akan tetapi Siong Li tidak memperdulikannya.

Dia percaya penuh akan kemampuan gadis itu.

Tidak jauh bedanya apakah dia yang maju melawan Toa-liong, ataukah Bwee Hwa.

Hanya dia khawatir kalau-kalau Bwee Hwa tidak dapat menahan diri dan membunuh ketua Kiu-liong-pang itu.

Setelah berhadapan dengan Ji-liong yang telah memegang kedua goloknya, disilangkan di depan dada, dia lalu mencabut pula pedangnya.

"Ji-liong, aku sudah siap. Mulai dan seranglah!"

Katanya menantang.

Ji-liong tidak bersikap sungkan lagi.

Dia lalu mengambil sikap dan memasang kuda-kuda.

Tubuhnya yang sudah pendek itu menjadi lebih pendek lagi ketika dia menekuk kedua lututnya sehingga karena kedua kakinya memang pendek, pantatnya hampir menyentuh tanah.

Kedua tangan digerakkan dan sepasang golok itu diputar di atas kepalanya, lalu berhenti bergerak dengan sepasang golok bersilang di depan, menunjuk ke atas.

Kemudian, dia mengeluarkan teriakan panjang dan tubuhnya yang gendut pendek sehingga tampak bulat itu seolah menggelinding ke depan dan dia sudah menerjang Siong Li dengan sepasang goloknya melakukan serangan kilat.

Golok tangan kiri membacok ke arah leher, disusul golok di tangan kanan membabat ke arah kaki lawan.

Jurus serangan ini dalam Ilmu golok yang dikuasai Ji-liong disebut Siang-kwi-jio-beng (Sepasang Setan Berebut Nyawa)!

Memang hebat dan berbahaya sekali.

Serangan golok ke arah leher itu membuat perhatian lawan tertuju ke atas, tidak tahunya yang amat berbahaya adalah serangan susulan lain golok yang membabat ke arah kedua kaki!

Namun, Siong Li adalah seorang pendekar yang sudah berpengalaman dan sering bertanding melawan tokoh-tokoh sesat yang memiliki ilmu silat yang ganas, curang dan penuh tipu muslihat.

Karena itu, menghadapi Ji-liong dia sudah waspada.

Maka, ketika serangan ke arah lehernya dilakukan lawan, dia tidak lengah dan dapat melihat gerakan kedua yang merupakan serangan susulan dan juga merupakan serangan inti.

Maka, ketika golok menyambar ke arah lehernya, dengan tenang dia menangkis dengan pedangnya.

"Tranggg......!!"

Ketika golok kedua membabat kaki, dia melompat dan sambil melompat itu, pedang yang tadi menangkis golok sudah dikelebatkan mengancam ke arah ubun-ubun kepala si pendek gendut! "Hehh!"

Ji-liong terkejut dan cepat melompat ke belakang.

Lawan yang diserang dengan sepasang goloknya itu bukan hanya dapat menghindarkan diri, malah berbalik mengirim serangan balasan kontan yang tidak kalah dahsyatnya!

Ji-liong lalu menerjang lagi, memainkan sepasang goloknya dengan cepat dan kuat sekali.

Tampak dua gulungan sinar golok menyambar-nyambar.

Siong Li meimbangi sepasang golok lawan dengan Thai-san Kiam-sut (Ilmu Pedang Aliran Thai-san-pai) yang cepat dan indah gerakannya.

Dua orang itu lalu bertanding dan tampaknya memang ramai dan seru sekali.

Gulungan sinar pedang beradu dan saling dorong, saling belit melawan dua gulungan sinar golok.

Bagi para anak buah Kiu-liong-pang tampaknya pertandingan itu seru sekali dan mereka tidak tahu siapa yang lebih unggul di antara kedua orang itu.

Akan tetapi, Toa-liong, Sam-liong, Bwee Hwa dan Ui Kong dapat melihat dengan jelas bahwa sesungguhnya, perlahan-lahan sinar pedang itu mulai mendesak dan menindih dua sinar golok yang makin lama menjadi semakin sempit gulungan sinarnya.

Sebaliknya sinar pedang itu semakin luas, menyambar-nyambar dengan dahsyat.

Ji-liong mulai menjadi bingung.

Tadi dia masih dapat mengamuk dengan sepasang goloknya.

Akan tetapi perlahan-lahan, gerakan sepasang goloknya selalu bertemu sinar pedang yang amat kuat dan selalu membuat sepasang goloknya terpental.

Akhirnya, dia hanya mampu menangkis dengan kedua batang goloknya, hanya mampu memutar sepasang goloknya untuk melindungi dirinya dari ancaman pedang.

Inipun tidak banyak menolong.

Sinar pedang itu masih terus mengancamnya sehingga terpaksa dia harus mundur dan terus mundur karena terdesak dan tertekan.

Siong Li mendesak terus dengan pedangnya.

Kalau dia mau, tentu saja dia dapat merobohkan lawannya.

Akan tetapi untuk dapat melakukan hal itu, dia harus menyerang dengan jurus maut.

Padahal dia tidak mau membuat Ji-liong terluka parah, apalagi sampai terbunuh.

Dia mencari kesempatan baik untuk dapat mengalahkan pemimpin kedua dari Kiu-liong-pang itu tanpa harus melukai dengan parah.

Akhirnya, kesempatan yang dinanti-nantikan itu tiba.

Ketika dia menyerang dengan bacokan pedangnya dan ditangkis oleh golok di tangan kiri Ji-liong, dia sengaja mengerahkan seluruh tenaga pada bacokan itu.

"Trangggg""!"

Ji-liong terkejut dan tidak dapat mempertahankan goloknya yang sebelah kiri.

Ketika dia menangkis pedang itu, dan goloknya beradu dengan kuatnya dengan pedang, dia merasa betapa lengan kirinya tergetar hebat dan jari-jari tangannya tidak mampu lagi menahan pegangan goloknya.

Golok yang kiri itu terlempar jauh dan pada saat dia terkejut sekali, tiba-tiba kaki Siong Li mencuat dengan amat kuatnya, tepat menendang tangan kanannya yang memegang golok.

Rasa nyeri yang hebat membuat tangan itu terpaksa melepaskan golok kedua itu dan tiba-tiba ujung pedang di tangan Siong Li telah menodong dadanya!

Si gemuk pendek ini tak mampu berbuat atau berkata sesuatu.

Matanya menjadi semakin sipit seperti terpejam dan mulutnya menyeringai, tersenyum masam.

Lenyap semua kesombongannya dan dia hanya dapat berha-ha-ha-he-he lalu mundur mendekati dua orang rekannya.

Siong Li juga tidak mengejar dan menyimpan kembali pedangnya.

Siong Li lalu berkata kepada ketua pertama gerombolan itu.

"Toa-liong, di pihakmu, dua orang telah kami kalahkan, berarti pihakmu telah kalah dan pertandingan ketiga tidak perlu diadakan lagi. Andaikata engkau menang sekalipun, tetap saja pihakmu menderita kalah, dua lawan satu."

Siong Li memang ingin mencegah Bwee Hwa bertempur mengingat akan keganasan gadis itu.

"Hemm, tidak bisa begitu!"

Kata Toa-liong dengan suaranya yang berat dan parau.

"Aku harus bertanding dengan nona ini, dengan Ang-hong-cu (Si Tawon Merah). Kalau aku kalah, ha-ha-ha!"

Dia tertawa, seolah merasa geli mendengar dia akan kalah melawan gadis muda yang tampaknya masih remaja itu.

"Kalau aku kalah, tentu saja kami akan menceritakan apa yang kami ketahui tentang Pek-lian-kauw menurut perjanjian. Akan tetapi kalau aku menang"""

Dia menghentikan kata-katanya.

"Kalau engkau menang, tetap saja pihakmu kalah!"

Kata Ui Kong.

"Tidak bisa!"

Bantah Toa-liong.

"Kalau dalam pertandingan antara aku dan Si Tawon Merah ini aku yang menang, maka aku akan menantang kalian berdua agar maju satu demi satu melawanku. Kalau aku dapat mengalahkan kalian berdua pula, berarti pihakku yang menang dan akulah yang berhak menentukan apa yang selanjutnya kita lakukan!"

"Baik, kami terima aturan itu. Sudah, jangan banyak cakap lagi, mari kita bertanding!"

Bentak Bwee Hwa.

"Ha-ha-ha, nanti dulu, Ang-hong-cu,"

Kata Toa-liong yang agaknya memang sengaja hendak memancing kemarahan tiga orang pendekar itu karena kemarahan membuat orang menjadi lengah.

Ketua pertama ini memang seorang yang licik dan banyak pengalaman karena dalam usianya yang sudah limapuluh lima tahun sudah banyak dia malang melintang di dunia kang-ouw (sungai telaga, persilatan).

"Aku belum menjelaskan, Ang-hong-cu. Kalau aku yang dapat mengalahkan kalian bertiga satu demi satu, maka kalian bertiga harus menerima hukuman karena kalian bertiga sudah berani merobohkan belasan orang anak buahku. It-kak-liong dan Pendekar Ki-lok ini harus berlutut minta maaf kepada kami, menyerahkan kuda dan barang-barang kalian, sedangkan engkau, Ang-hong-cu, engkau harus menjadi tamuku selama tiga hari tiga malam, ha-ha-ha!"

Merah wajah Bwee Hwa mendengar ucapan yang bukan saja amat sombong, akan tetapi juga menghinanya karena sudah jelas bahwa dalam ucapannya yang mengharuskan ia menjadi tamu selama tiga hari tiga malam itu mengandung maksud yang kotor dan rendah!

"Jahanam keparat engkau, Toa-liong!

Tutup mulutmu yang busuk dan mari kita mulai bertanding!"

Bentak Bwee Hwa dan tidak seperti dua orang temannya yang tadi bersikap tenang dan sabar, gadis ini sudah mencabut pedang pusaka Sin-hong-kiam dan begitu dicabut, saking cepat dan kuatnya, pedang yang berada di tangannya itu tergetar dan mengeluarkan suara berdengung seperti tawon terbang!

"Ingat, Hwa-moi, jangan bunuh orang!"

Kata Siong Li. Tanpa menoleh kepada Siong Li, Bwee Hwa menjawab pendek dan ketus.

"Anjing ini tidak perlu dibunuh, hanya harus diberi hajaran agar mulutnya tidak menggonggong terus!"

Siong Li menghela napas panjang dan saling pandang dengan Ui Kong.

Tanpa bicara kedua orang pendekar ini sudah sepakat, yaitu, bahwa mereka akan menjaga dan mencegah kalau Bwee Hwa akan membunuh Toa-liong.

Terbunuhnya ketua Kiu-liong-pang itu mungkin saja akan membuat dua orang ketua lainnya menutup mulut dan tidak mau bercerita tentang Pek-lian-kauw.

Sementara itu, melihat Bwee Hwa bermuka merah dan sikapnya menunjukkan bahwa gadis itu marah besar, Toa-liong tertawa.

Itulah yang dia kehendaki.

Memang ketua ini terlalu mengandalkan kepandaian sendiri dan memandang rendah seorang lawan yang hanya seorang gadis muda remaja.

Apalagi yang dalam keadaan marah seperti itu, tentu akan mudah dia kalahkan.

Diapun menghunus sebatang pedang yang panjang dan besar lagi tajam berkilauan.

"Lihat serangan pedangku!"

Bwee Hwa membentak dan ia yang mendahului mengirim serangan kilat.

Pedangnya membentuk sinar yang panjang dan mengeluarkan bunyi berdengung-dengung.

Toa-liong terkejut juga, akan tetapi dia juga sudah menggerakkan pedangnya yang panjang dan berat, menangkis sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk mematahkan pedang lawan atau setidaknya untuk membuat pedang gadis itu terlepas dari pegangannya.

"Tranggg""!"

Bunga api berpijar, akan tetapi dengan kaget Toa-liong melihat betapa pedang lawan itu tidak terlepas, bahkan pedang yang kecil dibandingkan pedangnya yang panjang besar itu demikian kuatnya sehingga membuat telapak tangannya yang memegang gagang pedang tergetar dan panas ketika pedang mereka saling beradu.

Setelah Toa-liong membalas serangan Bwee Hwa dan, mencoba untuk mendesak gadis itu, namun semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis Bwee Hwa, ketua pertama Kiu-liong-pang itu menjadi penasaran dan marah.

Akan tetapi kini diapun tidak berani meremehkan lawannya lagi, maklum bahwa gadis itu ternyata memang lihai bukan main.

Lenyaplah gairah berahinya, kalau tadinya dia hendak menundukkan gadis itu dengan ilmu pedangnya dan tidak ingin melukainya karena dia ingin mendapatkan gadis yang cantik denok itu, kini mulailah dia menyerang dengan sepenuh tenaganya dan mengeluarkan semua jurusnya yang paling ampuh.

Kini dia bermaksud merobohkan gadis itu, tidak perduli bahwa pedangnya akan dapat mendatangkan luka parah.

Kalau perlu dia akan membunuh gadis yang berbahaya itu.

Bwee Hwa juga merasakan betapa lawannya kini mengamuk dengan sekuat tenaga.

Iapun mengimbangi ilmu pedang lawan yang cukup berbahaya itu dengan Ilmu Pedang Tawon Sakti.

Karena maklum bahwa ilmu pedang Toa-liong itu jauh lebih berbahaya dibandingkan kedua orang ketua yang lain, maka Bwee Hwa juga mengerahkan seluruh tenaga dan memainkan pedangnya dengan cepat.

Pedangnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan terdengarlah bunyi berdengung-dengung seperti ada ratusan ekor tawon yang beterbangan dan menyambar ke arah Toa-liong.

Pertandingan antara Toa-liong dan Bwee Hwa ini paling seru dan ramai di antara pertandingan melawan dua orang ketua yang lain tadi.

Toa-liong memang lebih lihai dibandingkan kedua orang rekannya.

Akan tetapi kini dia berhadapan dengan Si Tawon Merah yang amat lihai.

Setelah mati-matian melawan sampai tigapuluh jurus lebih, perlahan-lahan Bwee Hwa mulai dapat mendesak lawannya.

Toa-liong menjadi semakin penasaran.

Sukar baginya untuk dapat percaya bahwa gadis muda yang tampaknya masih remaja ini mampu mendesaknya!

Dia, ketua Kiu-liong-pang yang ditakuti, yang telah berusia limapuluh lima tahun dan sudah tigapuluh tahun malang melintang di dunia kang-ouw, sudah banyak pengalaman, kini harus kalah melawan seorang perempuan, masih muda remaja lagi, masih hijau dan patutnya hanya menjadi muridnya atau anaknya?

Tiba-tiba Toa-liong mengeluarkan teriakan seperti seekor biruang marah dan tangan kirinya yang besar itu dengan telapak tangan terbuka mendorong ke arah dada Bwee Hwa, pada saat pedangnya untuk ke sekian kalinya beradu dengan pedang Bwee Hwa.

"Tranggg""

Wuuuutttt""!!"

Pukulan jarak jauh dengan tangan kiri yang mengandung sin-kang (tenaga dalam) kuat itu mendatangkan angin menyambar ke arah dada Bwee Hwa.

Gadis ini maklum akan kehebatan serangan tangan kiri itu.

Akan tetapi ia sama sekali tidak merasa gentar.

Bukannya mengelak, Bwee Hwa malah menyambut pukulan tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya pula sambil mengerahkan ilmu Liap-kang Pek-ko-jiu yang dapat mengeraskan tangan, juga yang mengandung tenaga dahsyat.

"Dessss""!"

Tangan Bwee Hwa yang lunak, mungil dan indah itu bertemu dengan telapak tangan Toa-liong dan akibatnya, Bwee Hwa terdorong mundur dua langkah, akan tetapi Toa-liong terhuyung-huyung ke belakang.

Selagi dia mengatur keseimbangan tubuhnya yang hampir jatuh terjengkang, Bwee Hwa sudah bergerak cepat sekali.

Pedangnya menyambar-nyambar.

Toa-liong tidak mampu melindungi dirinya dengan baik.

"Srattt""!"

Seperti kilat menyambar pedang itu berkelebat di depan muka Toa-liong.

Begitu tajam ujung pedang Sin-hong-kiam dan begitu cepat gerakan tangan Bwee Hwa sehingga Toa-liong sendiri tidak menyadari apa yang telah terjadi dengannya.

Tiba-tiba saja kaki Bwee Hwa sudah menendang tangannya yang memegang pedang dan pedangnya terlepas dari tangan dan terlempar jauh, sedangkan semua orang memandang kepadanya dengan mata terbelalak.

Ada darah di kanan kiri mulutnya.

Ketika merasakan perih-perih pada mulutnya, Toa-liong meraba mulutnya dan baru dia tahu bahwa mulutnya terluka ketika melihat tangannya berdarah.

Tepi mulutnya, kanan kiri, telah terobek ujung pedang sehingga mulutnya bertambah lebar.

Ketika dia hendak mengeluarkan suara, baru terasa betapa mulutnya perih dan nyeri dan dia lalu menutupi mulutnya dengan kedua tangan!

Siong Li dan Ui Kong terkejut, akan tetapi hati mereka lega ketika Toa-liong tidak roboh dan ternyata hanya luka ringan, ujung bibirnya kanan kiri dirobek ujung pedang!

Toa-liong memberi isyarat dengan tangan kepada anak buahnya untuk mengeroyok.

Akan tetapi tiga orang pendekar muda itu sudah berloncatan dan pedang mereka sudah ditodongkan ke dada tiga orang ketua itu.

Siong Li membentak kepada anak buah Kiu-liong-pang yang sudah mengepung tempat itu.

Limapuluh orang lebih itu sudah mencabut senjata, siap mengeroyok!

"Semua mundur atau kami akan membunuh tiga orang pimpinan kalian kemudian membasmi kalian sampai tidak ada seorangpun dapat lolos!"

Gertakan ini manjur.

Melihat betapa tiga orang pimpinan mereka sudah ditodong dan menyadari betapa lihainya tiga orang muda itu, para anak buah Kiu-liong-pang menjadi bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Mereka memandang ke arah tiga orang pimpinan mereka, tidak berani sembarangan bergerak.

"Kalian mundur semua! Tolol! Hayo mundur!"

Teriak Ji-liong dan Sam-liong karena Toa-liong tidak mampu bersuara dengan mulutnya yang robek itu.

Mereka berdua merasa betapa ujung pedang yang menodong mereka itu telah menembus baju dan ujungnya yang runcing terasa menempel di kulit dada mereka.

Karena maklum bahwa nyawa mereka terancam, maka mereka menjadi ketakutan dan cepat membentak para anak buah agar mundur.

Mendengar bentakan dua orang pimpinan itu, puluhan anak buah Kiu-liong-pang segera mundur.

"Nah, Ji-liong dan Sam-liong, kalian telah kalah semua dan harus memenuhi janji. Karena Toa-liong tidak dapat bicara, maka kalian berdua harus mewakilinya. Cepat katakan di mana adanya Pek-bin Moko dan di mana pula cabang Pek-lian-kauw di daerah ini!"

Kata Siong Li.

"Sam-liong, engkau wakililah kami,"

Kata Ji-liong setelah memandang kepada Toa-liong dan ketua pertama ini masih menutupi mulutnya dengan kedua tangan, mengangguk.

"Sesungguhnya kami tidak mempunyai hubungan dengan Pek-lian-kauw dan tidak mengenal tokohnya yang berjuluk Pek-bin Moko,"

Kata Ji-liong.

"Itu tidak perlu. Katakan saja di mana sarang cabang Pek-lian-kauw di daerah ini,"

Kata pula Siong Li, dan Ui Kiong menekankan pedangnya ke dada Sam-liong sehingga orang tinggi kurus bermuka pucat ini menyeringai kesakitan.

"Cepat katakan!"

Bentak Ui Kong.

"Baiklah, Pek-lian-kauw mempunyai cabang yang bersarang di puncak Bukit Siong di sebelah utara itu!"

Kata Sam-liong sambil menuding ke arah sebuah bukit yang tampak dari situ.

"Katakan, siapa pemimpin mereka dan berapa banyak jumlah anak buah mereka!"

Kata pula Siong Li.

"Kami hanya tahu bahwa pimpinan mereka terdiri dari tiga orang yang berjuluk Ang-bin Moko (Iblis Muka Merah), Hek-bin Moko (Iblis Muka Hitam) dan Pek-bin Moko (Iblis Muka Putih). Akan tetapi kami tidak mengenal mereka. Ada pun berapa jumlah anak buah mereka, kami tidak tahu, hanya kabarnya anak buah mereka tidak banyak akan tetapi ilmu kepandaian para pimpinan itu tinggi sekali,"

Kata pula Sam-liong.

Tentu saja tiga orang pendekar muda itu tidak merasa gentar, bahkan mereka telah menewaskan Hek-bin Moko.

Sambil memandang ke arah bukit yang ditunjuk itu, sebuah bukit yang tidak berapa tinggi dan bukit itu tampak menghijau, tentu banyak hutan dan pohon Siong di sana, Siong Li berkata dengan suara lantang.

"Baik, aku percaya akan keterangan kalian. Akan tetapi awas, kalau ternyata kalian berbohong, kami akan mencari kalian dan tidak akan memberi ampun! Sekarang, hayo kembalikan tiga ekor kuda kami berikut semua barang yang berada di atas kuda! Awas, kami tidak akan mengampuni kalau ada sebuahpun barang kami dicuri. Cepat!"

"Cepat taati perintah itu dan kembalikan kuda dan barang-barang mereka!"

Bentak Ji-liong kepada anak buah mereka. Bergegas para anak buah itu menuntun tiga ekor kuda yang tadi mereka rampas. Juga semua barang mereka kembalikan ke atas sela kuda.

"Coba periksa isinya, Hwa-moi dan Kong-te."

Ui Kong dan Bwee Hwa lalu saling pandang dan seperti telah mengerti maksud masing-masing mereka bergerak cepat menotok dan Toa-liong roboh terkulai, berbareng dengan Sam-liong yang juga roboh terkulai karena tertotok jalan darah mereka.

Setelah membuat dua orang ketua ini tidak berdaya, Ui Kong dan Bwee Hwa menghampiri kuda mereka dan memeriksa.

Ternyata buntalan pakaian mereka masih utuh, juga kantung uang yang dibawa Ui Kong sebagai bekal.

Mereka lalu mengangguk kepada Siong Li dan cepat sekali Siong Li juga bergerak menotok Ji-liong yang roboh terkulai pula.

Tiga orang ketua itu tertotok roboh dan tak mampu bergerak.

Siong Li berteriak kepada para anggauta Kiu-liong-pang.

"Para pimpinan kalian kami robohkan dan sebelum lewat satu jam, mereka tidak akan dapat bergerak. Awas, jangan ada yang menghalangi kami pergi dari sini!"

Setelah Siong Li berkata demikian, tiga orang pendekar muda itu lalu melompat ke atas punggung kuda masing-masing dan segera melarikan kuda ke arah utara di mana tampak bukit yang diceritakan Sam-liong sebagai sarang cabang Pek-lian-kauw, yaitu Bukit Siong.

Apa yang pernah diceritakan oleh Ong Siong Li tentang Leng-hong Hoatsu memang benar.

Leng-hong Hoatsu adalah seorang pertapa yang datang dari Himalaya, seorang peranakan dari ayah bangsa Han dan ibu bangsa India.

Sejak muda dia mengasingkan diri di Himalaya, bertemu dengan orang-orang sakti, pertapa-pertapa yang tinggi ilmunya dan dia memang suka sekali mempelajari ilmu kesaktian sehingga akhirnya dia menjadi seorang tua yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Dia merantau ke timur, ke daratan Cina dan mengajarkan Agama Buddha bercampur Agama Hindu.

Dia menasihati rakyat agar hidup jalan kebenaran karena jalan itulah yang membawa kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan selama hidup di dunia.

Dia juga selalu mengulurkan tangan menolong mereka yang terserang penyakit karena di samping ilmu silat dan ilmu sihir, Leng-hong Hoatsu juga mahir ilmu pengobatan.

Pertapa sakti ini mempunyai peliharaan, seekor ular yang aneh.

Di kanan kiri bawah leher, ular itu memiliki tonjolan yang dapat mekar seperti sayap sehingga ular itu disebut Hwee-coa (Ular Terbang).

Sesungguhnya bukan terbang, melainkan melompat dari pohon ke pohon dan ketika melompat, tonjolan di kanan kiri itu berkembang sehingga ular itu dapat melayang.

Akan tetapi, pada waktu itu, rakyat, terutama di dusun-dusun, masih amat tahyul.

Mereka mulai menyembah ular itu yang mereka anggap seekor ular sakti penjelmaan dewa dan mereka bahkan lebih menghormati ular itu daripada Leng-hong Hoatsu sendiri.

Kakek pertapa itu berusaha untuk membantah.

Namun, ketahyulan yang sudah mencengkeram hati dan pikiran manusia memang sukar sekali untuk dihilangkan.

Akhirnya Leng-hong Hoatsu kembali ke barat karena dia tidak ingin ular peliharaannya dipuja-puja orang.

Kakek sakti ini mempunyai dua orang murid.

Yang pertama bernama Sie Bun Sam, pada saat kisah ini terjadi, telah berusia duapuluh lima tahun.

Sie Bun Sam adalah seorang pemuda yatim piatu dan telah menjadi murid Leng-hong Hoatsu sejak dia berusia lima tahun dan hidup sebatang kara dan terlantar karena ayah bundanya mati karena wabah yang mengamuk di desanya, di daerah Sin-kiang.

Sie Bun Sam berwajah sederhana saja, seperti pemuda dusun kebanyakan, tidak buruk akan tetapi juga tidak terlalu tampan.

Namun ada sesuatu yang amat menarik pada wajahnya, yang membuat orang yang bertemu dengannya timbul rasa suka.

Mungkin mulutnya yang selalu dihias senyum, dan matanya yang bersinar lembut penuh pengertian dan kesabaran itu.

Tubuhnya sedang saja, tidak membayangkan bahwa pemuda ini adalah seorang yang sakti dan lihai sekali.

Pakaiannya juga sederhana namun bersih.

Kesukaannya memakai sebuah caping lebar yang melindungi mukanya dan kepalanya dari sengatan matahari dan guyuran air hujan.

Dia juga tidak membawa senjata apapun, namun kalau berada di tangannya, benda apapun dapat dijadikan senjata yang ampuh!

Sie Bun Sam, seorang pemuda yang berbudi luhur, setia dan berbakti kepada gurunya, maka Leng-hong Hoatsu amat sayang kepada murid ini.

Selain Sie Bun Sam, Leng-hong Hong masih mempunyai seorang murid lain, bernama Thio Kam Ki.

Sebetulnya, Leng-hong Hoatsu yang bermata tajam dan peka perasaannya itu tidak begitu suka kepada anak ini, akan tetapi karena Thio Kam Ki juga ditemukan sebagai seorang anak berusia tiga tahun yang sebatang kara dan terlantar, dia merasa kasihan dan membawa anak ini ke pondoknya.

Pada saat sekarang, Thio Kam Ki berusia duapuluh tiga tahun.

Dia memiliki tubuh sedang dan wajahnya tampan dan pasti akan menarik perhatian banyak wanita.

Berbeda dengan Sie Bun Sam suhengnya (kakak seperguruannya) yang sederhana, sebaliknya Thio Kam Ki ini sejak kecil suka akan kemewahan.

Dia suka iri hati dan pandai mengambil hati dengan sikap yang manis buatan.

Karena sifat-sifat ini maka Leng-hong Hoatsu lebih sayang kepada Sie Bun Sam dan dia mengajarkan lebih banyak ilmu kepada murid pertamanya itu.

Diam-diam Thio Kam Ki tahu ini dan dia merasa iri hati kepada suhengnya.

Tanpa setahu guru dan suhengnya, diam-diam ketika dia berusia duapuluh tahun, dia berguru kepada (Lanjut ke

Jilid 09) Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 seorang pendeta aliran sesat yang juga bertapa di Pegunungan Himalaya, tidak begitu jauh dari tempat pertapaan Leng-hong Hoatsu.

Dengan jalan sembunyi-sembunyi, selama dua tahun Thio Kam Ki mempelajari beberapa ilmu silat dan sihir yang sesat dari pertapa aliran sesat itu.

Pendeta itu berjuluk Hwa Hwa Cinjin yang mengajarkan ilmu sihir aliran sesat yang biasa disebut sihir hitam.

Setelah menjadi guru secara rahasia dari Thio Kam Ki selama dua tahun, Hwa Hwa Cinjin meninggalkan tempat pertapaannya di Himalaya.

Hal ini terjadi setahun yang lalu dan ketika itu Kam Ki berusia duapuluh dua tahun.

Kam Ki kini merasa bahwa dirinya sudah memiliki ilmu yang amat tangguh.

Biarpun tadinya dia merasa iri hati kepada Sie Bun Sam karena guru mereka, Leng-hong Hoatsu mengajarkan ilmu yang lebih banyak kepada suhengnya itu, namun setelah selama dua tahun menimba ilmu dari Hwa Hwa Cinjin, Kam Ki merasa bahwa kini dia tidak akan kalah oleh suhengnya.

Pada suatu sore, seperti biasa setelah menyelesaikan semua tugas pekerjaan mereka seperti membersihkan rumah dan pekarangan tempat tinggal guru mereka, mengumpulkan dan memotongi kayu bakar, mengangkut air dari sumber dan memenuhi semua kolam kamar mandi, mempersiapkan makan malam untuk Leng-hong Hoatsu dan mereka sendiri, kedua orang kakak beradik seperguruan itu berada di kebun belakang pondok guru mereka.

Biasanya, sebelum mereka mandi, mereka akan lebih dulu berlatih silat untuk menyegarkan tubuh.

Bun Sam sudah duduk di atas bangku di kebun itu ketika sutenya, Kam Ki, datang menghampirinya.

"Suheng.......!"

Kam Ki menegur sambil tersenyum akrab.

"Eh, sute. Apakah engkau sudah membersihkan kamar samadhi suhu? Hari ini giliranmu membersihkannya, ingat?"

Sambil tersenyum lebar Kam Ki berkata.

"Jangan khawatir, suheng! Tentu saja aku ingat dan aku sudah membersihkannya dengan rapi!"

"Bagus! Eh, sute, sudah beberapa lama ini aku sering melihat engkau malam-malam meninggalkan pondok. Pergi ke mana saja sih engkau?"

"Ah, aku mencari tempat yang sunyi untuk berlatih dengan tekun, suheng. Juga aku perlu tempat sunyi dan dingin untuk menghimpun hawa murni dan memperkuat tenaga sakti. Selama ini aku memperoleh banyak kemajuan, suheng. Maukah engkau melayani aku berlatih sore ini? Hitung-hitung engkau memberi petunjuk kepadaku agar aku dapat memperbaiki kekuranganku."

Bun Sam tersenyum.

Memang sudah lama sekali dia tidak pernah latihan ber-sama sutenya ini karena dahulu, kalau mereka berdua latihan, tingkat kepandaian adik seperguruannya ini masih jauh di bawahnya.

Sekarangpun dia merasa yakin bahwa sutenya ini bukan lawan seimbang.

Akan tetapi untuk menyenangkan hati sutenya, dia mengangguk.

"Baiklah, sute. Mari kita latihan bersama."

Mereka berdua segera mulai latihan dengan ilmu silat yang diajarkan oleh Leng-hong Hoatsu, yaitu Hwe-coa-sin-kun (Silat Sakti Ular Terbang).

Mereka berdua sudah mempelajari ilmu silat yang amat hebat ini.

Kedua lengan mereka bergerak seperti ular, meliuk-liuk dan selain cepat gerakannya dan tidak mudah diikuti lawan karena perubahan-perubahannya yang aneh, juga mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat.

Karena Bun Sam maklum bahwa tenaga sutenya tidak seimbang dengan tenaganya, maka dia hanya mengeluarkan sebagian tenaganya saja, membatasi gerakannya dan sesekali kalau sutenya membuat gerakan atau jurus yang kurang sempurna, dia memberi tahu.

Mereka saling serang sampai puluhan jurus dan tidak kurang dari sepuluh kali Bun Sam menunjukkan kesalahan atau ketidaksempurnaan gerakan sutenya.

Akhirnya Bun Sam merasa cukup dan begitu dia mempercepat gerakannya, dia berhasil mendorong pundak sutenya sehingga tubuh Thio Kam Ki terdorong ke belakang dan dia harus membuat salto sampai tiga kali ke belakang agar tidak terjengkang.

Akan tetapi dia tidak terluka karena memang Bun Sam tadi membatasi tenaganya.

"Cukup, sute. Engkau memang telah memperoleh kemajuan pesat!"

Kata Bun Sam untuk menyenangkan dan memberi semangat kepada Kam Ki.

Wajah Kam Ki berubah pucat lalu kemerahan.

Namun dia tersenyum dan tidak merasa kecewa.

Mereka tadi berlatih menggunakan ilmu silat yang sama.

Kalau dia kalah matang, gerakannya kalah gesit maka hal itu tidaklah mengherankan.

Sekaranglah tiba saatnya untuk memberi hajaran kepada suhengnya yang telah lama mulai dibencinya karena perasaan iri hati yang memenuhi hatinya.

Bagaimanapun juga, kalau dia bertanding melawan suhengnya mempergunakan ilmu silat, pasti dia akan kalah.

"Terima kasih, suheng. Akan tetapi aku masih ingin menguji sampai di mana kemajuanku dalam hal tenaga dalam. Karena itu, sambutlah seranganku ini, suheng!"

Bun Sam hendak menolak untuk mengadu tenaga sakti, akan tetapi sutenya telah memasang kuda-kuda dan menggerakkan kedua lengan untuk melancarkan pukulan jarak jauh dengan dorongan tenaga sakti.

Maka, terpaksa dia harus menyambut, selain untuk melindungi dirinya, juga untuk mengukur sampai di mana kekuatan tenaga sakti sutenya agar dia mengetahui kemajuannya.

Biasanya, dia dapat mengukur kekuatan tenaga sakti sutenya itu sekitar setengah ukuran tenaganya sendiri.

Maka, karena mengira bahwa tenaga sakti sutenya mungkin sudah agak naik kekuatannya, dia menambah sedikit tenaganya, menggunakan tiga perempat bagian tenaganya dan mendorongkan kedua tangan ke depan menyambut serangan sutenya.

Tentu saja dia menggunakan tenaganya untuk menahan saja, bukan untuk menyerang.

Dengan demikian, maka dia akan memenangkan adu tenaga itu tanpa melukai sutenya, hanya membuat sutenya terpental mundur saja dan paling hebat terjengkang dan terbanting jatuh.

Akan tetapi dia kaget sekali melihat mulut sutenya berkemak-kemik dan gerakan kedua lengan ketika mendorong itu sama sekali berbeda dengan apa yang diajarkan guru mereka.

Dia menjadi curiga akan tetapi terlambat dan pada saat itu, dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara, di antara mereka.

"Wuuuutttt""

Blaaarrr""!!"

Tubuh Bun Sam terlempar ke belakang dan dia terbanting roboh dalam keadaan pingsan!

Melihat ini, Kam Ki menghampiri suhengnya untuk memeriksa dan melihat kakak seperguruannya itu benar-benar jatuh pingsan, dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang berubah merah lalu berdongak dan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha""!"

Akan tetapi tiba-tiba dia teringat akan Leng-hong Hoatsu dan suara tawanya itu terhenti seperti dicekik.

Timbul rasa takutnya.

Kalau Leng-hong Hoatsu sampai mengetahui perbuatannya, dia pasti celaka!

Bahkan guru gelapnya sendiri, Hwa Hwa Cinjin, merasa takut kepada Leng-hong Hoatsu dan ketika Hwa Hwa Cinjin mengetahui bahwa Kam Ki adalah murid Leng-hong Hoatsu, dia melarikan diri meninggalkan tempat itu.

Hwa Hwa Cinjin takut kalau dituduh merampas murid Leng-hong Hoatsu, maka dia melarikan diri ketakutan.

Apalagi dia!

Berpikir demikian, Thio Kam Ki lalu melarikan diri turun dari lereng bukit, tidak berani mengambil pakaiannya yang berada di dalam pondok.

Dia berlari cepat dengan hati ngeri seolah mendengar langkah Leng-hong Hoatsu mengejarnya!

Ketika peristiwa itu terjadi, Leng-hong Hoatsu sedang tekun dalam samadhinya.

Tiba-tiba ada perasaan tidak enak mengusiknya dan dia lalu membuka matanya dan bangkit berdiri.

Tidak terdengar suara dalam pondok kayunya yang cukup besar itu, menandakan bahwa kedua orang muridnya tentu berada di luar pondok.

Dia lalu melangkah keluar pondok.

Karena dia tahu bahwa biasanya dua orang muridnya itu berlatih silat di kebun sebelum mereka mandi, Leng-hong Hoatsu lalu melangkahkan kakinya menuju kebun.

Tak lama kemudian Leng-hong Hoatsu sudah berjongkok dekat tubuh Bun Sam dan memeriksa keadaan muridnya itu.

Bun Sam masih pingsan dan pernapasannya sesak.

Leng-hong Hoatsu membuka baju pemuda itu dan dia mengerutkan alisnya dan menggumam.

"Hemm, siapa yang memukulnya dengan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang keji ini?"

Karena maklum bahwa nyawa Bun Sam terancam bahaya maut, Leng-hong Hoatsu cepat turun tangan.

Baca Juga: Suling Emas 13

Baca Juga: Naga Sakti Sungai Kuning 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert