Eps 5 Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan - Kho Ping Hoo.
"Hemm, Ang-hong-cu Lim Bwee Hwa, julukan Ang-hong-cu (Si Tawon Merah) memang tepat untukmu.
Engkau dapat menjadi liar dan galak seperti seekor tawon yang siap menyerang dan menyengat siapa saja, akan tetapi engkaupun dapat seperti seekor kupu-kupu yang amat cantik jelita menggairahkan.
Bwee Hwa, engkau telah terjatuh ke dalam tanganku.
Betapa mudahnya bagiku untuk membunuhmu, akan tetapi aku tidak tega membunuhmu, bahkan menyakitimupun aku tidak tega.
Engkau begini cantik jelita, kulitmu begini mulus.
Gadis seperti engkau ini pantasnya disayang dan dibelai, bukan disakiti"""
"Keparat, aku tidak membutuhkan pujian dan rayuanmu! Cepat katakan bagaimana keadaan dua orang temanku!"
"Ha-ha-ha, dua orang temanmu itu mencari kematiannya di sini. Mereka sudah mati!"
Tentu saja Bwee Hwa terkejut bukan main dan kesedihan membuat ia menjadi marah sekali.
Akan tetapi karena kaki tangannya terbelenggu sehingga ia tidak mampu bergerak, ia hanya dapat memandang dengan sinar mata penuh kebencian dan berteriak-teriak.
"Jahanam busuk! Engkau kejam, engkau keparat! Hayo lepaskan aku dan kita bertanding sampai mati! Kalau engkau pengecut dan tidak berani, hayo cepat bunuh! Aku tidak takut mati!"
Kam Ki tidak marah, malah tersenyum.
"Hem, dalam keadaan marah engkau malah semakin cantik menarik. Bwee Hwa, manis, jangan salahkan aku kalau dua orang itu mati. Mereka mencari kematian mereka sendiri karena berani menyerbu ke sini. Akan tetapi engkau""
Aku tidak mengijinkan siapapun juga membunuhmu atau bahkan melukaimu.
Aku cinta padamu, Bwee Hwa, dan aku ingin engkau menjadi isteriku dan hidup sebagai suami di sini, memimpin para anak buah.
Engkau akan hidup bahagia.......!"
"Cukup!"
Bwee Hwa membentak.
"Lebih baik aku mati daripada menjadi isteri seorang penjahat busuk macam kamu!"
Biarpun mulutnya tetap tersenyum, namun dalam hatinya Kam Ki mulai merasa dongkol.
"Lim Bwee Hwa, biar kau pikirkan lebih dulu permintaanku agar engkau lebih baik hidup dan menjadi isteriku di sini daripada engkau nekat mencari kematian. Aku akan mandi dulu. Nanti aku akan kembali mendengar keputusan dan jawabanmu."
Setelah berkata demikian, Kam Ki keluar dari kamar itu.
Setelah pemuda itu meninggalkan kamar, Bwee Hwa mulai menangis.
Tadi ia tidak sudi memperlihatkan tangisnya di depan pemuda itu.
Akan tetapi kini, setelah ditinggal sendirian, ia membayangkan kematian Ong Siong Li dan Ui Kong seperti yang dikatakan Kam Ki tadi dan ia merasa berduka sekali.
Ia memang belum mempunyai perasaan cinta sebagai seorang wanita terhadap pria kepada kedua orang pemuda itu, biarpun Siong Li merupakan seorang sahabat terbaiknya yang selalu membela dan membantunya dan Ui Kong adalah salah seorang calon tunangannya karena ia harus memilih antara Ui Kong dan Ui Kiang untuk menjadi calon jodohnya seperti yang telah ditentukan mendiang ibunya.
Akan tetapi ia menganggap Siong Li dan Ui Kong sebagai sahabat-sahabat yang amat baik dan ada rasa kagum dan sayang dalam hatinya terhadap mereka.
Kini mereka telah tewas!
Ia merasa sedih dan juga sakit hati sekali terhadap Pek-lian-kauw yang dipimpin Kam Ki, pemuda yang jahat akan tetapi juga amat lihai sekali itu.
Tak lama kemudian, terpaksa Bwee Hwa menghentikan lamunannya dan menghentikan pula tangisnya walaupun ia tidak dapat menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya karena ia mendengar langkah kaki orang memasuki ruangan itu.
Setelah orang itu datang dekat dan duduk di tepi pembaringan di mana ia diikat, ia melihat Kam Ki yang agaknya telah mandi dan kini mengenakan pakaian bersih dan indah.
Juga ketika pemuda itu di tepi pembaringan, dekat sekali dengannya, ia mencium bau harum.
Agaknya pemuda itu sengaja bersolek untuk menarik hatinya.
Akan tetapi, kemunculan pemuda yang tampak tampan dan lembut itu bukan menarik hati Bwee Hwa, bahkan membuat ia muak dan semakin membencinya.
"Ah, adik manis, kenapa engkau menangis?"
Tanya Kam Ki dengan lembut dan ia mengusap air mata dari pipi Bwee Hwa. Gadis itu menggerakkan kepalanya menolak rabaan itu.
"Bwee Hwa, bagaimana, apakah engkau telah mengambil keputusan? Maukah engkau menjadi isteriku tersayang? Percayalah, aku cinta padamu."
"Jahanam, tidak perlu merayu. Kalau mau bunuh, lakukanlah, dan jangan banyak cakap lagi!"
Bwee Hwa menghardik lalu membuang muka, tidak mau memandang pemuda yang dibencinya itu. Kesabaran mulai menyurut dari hati Kam Ki.
"Dengar baik-baik, Bwee Hwa. Sekarang engkau boleh memilih satu antara dua. Pertama, engkau menurut dengan suka rela menjadi isteriku dan kita hidup berdua di sini dalam keadaan terhormat, mulia dan serba kecukupan. Kedua, kalau engkau tetap menolak, aku akan memaksamu dan memperkosamu, setelah aku bosan engkau akan kuserahkan kepada anak buah Pek-lian-kauw agar engkau mereka permainkan beramai-ramai sampai engkau mati! Nah, engkau pilih yang mana?"
Tanpa berpikir panjang untuk memilih-milih, Bwee Hwa membentak.
"Aku memilih mati!"
Wajah Kam Ki berubah merah.
"Engkau memilih yang kedua?"
"Aku tidak sudi memilih, baik yang pertama maupun yang kedua. Aku akan membalas dendam kepadamu kalau masih hidup atau aku akan memilih mati agar arwahku dapat mengejar dan membalas dendam kepadamu, keparat!"
Kam Ki marah sekali. Akan tetapi pada saat itu, pintu kamar diketuk orang dari luar.
"Siapa berani menggangguku? Apa engkau minta mati?"
Bentak Kam Ki yang merasa terganggu.
"Ampun, pangcu (ketua). Saya tidak bermaksud mengganggu, akan tetapi hendak melaporkan bahwa di luar ada dua orang gadis cantik ingin bertemu dengan pangcu."
Jawab kepala jaga dengan suara agak gemetar karena dia merasa ketakutan. (Lanjut ke
Jilid 12) Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12 Mendengar bahwa ada dua orang gadis cantik ingin bertemu dengannya, kemarahan Kam Ki mereda. Dia bangkit berdiri, berkata kepada Bwee Hwa.
"Kau tunggu saja. Masih ada waktu untuk berpikir. Akan tetapi kalau aku kembali ke sini dan engkau masih keras kepala menolak untuk menjadi isteriku, aku akan melakukan pilihan kedua!"
Setelah berkata demikian, Kam Ki melangkah ke pintu kamar, keluar dan menutupkan kembali daun pintu kamar itu.
Kemudian, diiringkan oleh kepala jaga yang melapor itu, dia melangkah keluar.
Setelah tiba di luar, dia melihat dua orang gadis yang cantik manis berdiri dengan sikap gagah.
Yang mengagumkan hatinya, dua orang gadis itu memiliki wajah, bentuk tubuh, gelung rambut dan pakaian yang persis sama, seolah dia melihat seorang gadis dan bayangannya!
Dia menduga bahwa tentu dia berhadapan dengan sepasang gadis kembar yang cantik jelita dan gagah.
Mereka memiliki kulit yang putih mulus kemerahan, bermata tajam jeli seperti bintang, hidung mancung dan mulut yang menggairahkan.
Juga bentuk tubuh mereka amat indah.
Dua orang gadis ini tidak kalah cantik dibandingkan Lim Bwee Hwa!
Sementara itu, Can Kim Siang dan Can Gin Siang, dua orang gadis kembar tercengang melihat bahwa ketua Pek-lian-kauw yang keluar menemui mereka sama sekali bukan seorang yang berpakaian pendeta berusia lanjut seperti yang mereka duga, melainkan seorang laki-laki muda yang berpakaian mewah!
Pemuda berwajah tampan gagah, bersikap lembut dan senyumnya menawan.
Kam Ki merasa gembira dan dia segera mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai tanda penghormatan yang segera dibalas oleh sepasang gadis kembar itu.
Sio-cia(Nona Berdua), siapakah kalian dan ada keperluan apakah nona datang berkunjung?"
Tanya Kam Ki dengan suara yang lembut dan senyum memikat.
"Kami ingin bertemu dan bicara dengan ketua Pek-lian-kauw,"
Kata Can Kim Siang. Ia mengira bahwa pemuda itu tentu seorang anggauta pula. Kam Ki tersenyum.
"Akulah ketua Pek-lian-kauw di sini, nona."
Dua orang gadis itu saling pandang dan Kim Siang mengerutkan alisnya lalu berkata ragu.
"Akan tetapi, bukankah ketua Pek-lian-kauw seorang yang sudah berusia lanjut dan berpakaian sebagai pendeta? Kami mendengar bahwa Pek-lian-kauw adalah perkumpulan agama"""
"Ha-ha, memang tadinya begitu. Akan tetapi sekarang aku yang menjadi ketua di sini semenjak beberapa bulan yang lalu."
"Hemm, kebetulan kalau begitu. Kami sepasang saudara Can hanya kebetulan lewat di daerah ini dan kami mendengar berita dari para penduduk pedusunan di daerah ini bahwa banyak terjadi penculikan dan perampokan yang dilakukan oleh gerombolan penjahat yang tinggal di puncak Siong-san sini. Karena yang berada di sini adalah perkumpulan Pek-lian-kauw, maka kami minta pertang-gungan jawab ketua Pek-lian-kauw. Benarkah anak buahmu yang melakukan pengacauan dan mengganggu rakyat di pedusunan daerah ini?"
Tanya Kim Siang sambil menatap ketua perkumpulan gerombolan penjahat.
Senyum di bibir Kam Ki melebar.
Tentu saja dia tahu akan perbuatan anak buahnya itu karena dialah yang lebih dulu memilih gadis-gadis yang diculik, memilih yang dia sukai.
"Aih, nona-nona yang baik, kenapa kalian menuduh begitu? Aku ketua Pek-lian-kauw Kam Ki tidak pernah......."
Sepasang gadis kembar itu terkejut sekali sehingga Kim Siang segera memotong ucapan Kam Ki.
"Siapa namamu tadi?"
"Namaku Kam Ki dan aku tidak pernah membiarkan anak buahku berbuat jahat!"
"Kam Ki? Jadi engkau inikah yang dulu berada di lereng, Bukit Ayam Emas? Engkau yang telah berjina dengan A-hui dan A-kui? Engkau tunangan Pek-hwa Sianli?"
Kim Siang berseru marah.
"Eh, bagaimana engkau bisa tahu?"
Kam Ki bertanya, terheran-heran dan terkejut, akan tetapi sama sekali tidak takut maka diapun tidak hendak menyangkal.
Can Kim Siang dan Can Gin Siang mencabut pedang mereka.
Kedua orang gadis kembar ini bersenjata siang-kiam(sepasang pedang).
"Kam Ki, bersiaplah engkau untuk menebus dosa dan mati di tangan kami!"
Kim Siang membentak, kini tidak merasa ragu untuk memenuhi permintaan piauw-ci (kakak misan) yang juga gurunya yang pertama, yaitu Pek-hwa Sianli, dan untuk membunuh Kam Ki karena ternyata bahwa pemuda itu adalah seorang penjahat, ketua Pek-lian-kauw yang suka mengganggu penduduk dusun dan menculik gadis-gadis dusun.
"Hei, nanti dulu!"
Kata Kam Ki, masih tenang saja karena memang dia selalu memandang rendah orang lain dan menganggap diri sendiri yang paling pandai.
"Boleh saja kalau kalian hendak mencoba untuk membunuhku nanti. Akan tetapi katakan lebih dulu apa hubungannya aku bercintaan dengan Pek-hwa Sianli, dengan A-hui dan A-kui? Siapakah kalian berdua ini sebenarnya?"
"Kami adalah piauw-moi (adik misan) Pek-hwa Sianli dan ia minta kepada kami untuk membunuh engkau yang sudah mengkhianati cintanya. Kam Ki, bersiaplah untuk mati di tangan kami!"
"Ha-ha-ha!"
Kam Ki tertawa.
"Aku memang sudah siap, bukan untuk mati di tangan kalian, melainkan untuk bersenang-senang dengan kalian berdua!"
Tentu saja sepasang gadis kembar itu menjadi merah mukanya karena marah.
Mereka berpencar ke kiri kanan, lalu dari kiri kanan mereka menyerang dengan gerakan cepat dan kuat sambil mengeluarkan bentakan nyaring.
"Haiiittttt""!!"
Kam Ki terkejut bukan main.
Serangan kedua orang gadis ini benar-benar hebat dan amat berbahaya.
Dia mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan mengandalkan kecepatannya untuk mengelak ke sana-sini.
Akan tetapi dua pasang pedang itu membentuk empat gulungan sinar yang mengejarnya ke manapun dia berkelebat sehingga Kam Ki menjadi kewalahan juga.
Sesungguhnya, tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian sepasang gadis kembar ini.
Akan tetapi karena dua orang gadis itu maju berbareng dan mereka berdua agaknya memiliki hubungan batin yang amat kuat sehingga gerakan mereka dapat dipersatukan, seolah dikendalikan oleh satu pikiran saja maka mereka merupakan lawan yang amat tangguh.
Di lain pihak, sepasang gadis kembar itupun terkejut ketika serangan mereka yang gencar itu selalu gagal.
Pemuda itu dapat bergerak dengan cepat sekali sehingga tubuhnya bagaikan bayangan saja yang berkelebatan di antara sinar pedang mereka.
Dan kalau sekali-kali Kam Ki mengibaskan tangan untuk menangkis pedang dari samping, mereka merasa betapa tangan mereka tergetar hebat.
Sekarang mengertilah sepasang gadis kembar itu mengapa Pek-hwa Sianli menyuruh mereka berdua mencari dan membunuh Kam Ki.
Pek-hwa Sianli sendiri pasti tidak dapat menandingi pemuda yang amat lihai sekali.
Mereka lalu mengerahkan seluruh kemampuan mereka dengan kerja sama yang amat baik sehingga mereka mampu menekan Kam Ki walaupun tidak mudah untuk membunuhnya.
Kam Ki melihat Ang-bin Moko sudah muncul di situ dan bersama para anak buah menonton dia bertanding melawan sepasang gadis kembar itu.
"Moko, bantu aku menangkap mereka ini. Jangan bunuh dan jangan lukai, tangkap hidup-hidup!"
Kata Kam Ki.
Ang-bin Moko maklum apa yang dimaksudkan Kam Ki.
Dia lalu membanting bahan peledak di dekat dua orang gadis kembar itu.
Terdengar suara ledakan dan asap putih yang tebal membubung.
Can Kim Siang dan Can Gin Siang hendak menghindar, namun Kam Ki menghadang mereka dengan tamparan-tamparan yang mendatangkan angin kuat sehingga mereka tidak mampu menjauh dan otomatis mereka menyedot asap putih.
Seketika mereka merasa pandang mata mereka gelap dan sambil mengeluh keduanya roboh terguling, pingsan terbius oleh asap yang mengandung pembius amat kuat itu.
Sambil tertawa girang Kam Ki mengempit tubuh dua orang gadis kembar itu dan membawanya masuk ke dalam kamar besar di mana Bwee Hwa masih terikat di atas pembaringan.
Kam Ki memerintahkan anak buahnya untuk mengambilkan dua buah dipan, lalu mengikat dua orang gadis kembar itu masing-masing di atas sebuah dipan, seperti keadaan Bwee Hwa, telentang di atas pembaringan dengan kedua kaki tangan terikat kuat!
Kam Ki duduk menghadapi meja dan tertawa-tawa senang sambil memandangi tiga orang gadis itu berganti-ganti.
Ketiganya mempunyai daya tarik tersendiri.
Ketiganya cantik jelita menggairahkan!
"Ha-ha-ha!
Aku semalam tidak bermimpi kejatuhan tiga buah bintang ge-merlapan, tahu-tahu sekarang ada tiga orang gadis cantik manis siap melayaniku.
Ha-ha-ha!"
"Engkau jahanam keparat busuk!"
Bwee Hwa memaki.
Akan tetapi Kam Ki hanya tertawa sambil menuangkan arak dalam cawan dan meminumnya dengan hati senang.
Dengan perasaan berat tertindih kekhawatiran akan nasib Siong Li yang terkepung, apa lagi nasib Bwee Hwa yang tertawan oleh Kam Ki, ketua Pek-lian-kauw yang lihai itu, Ui Kong membalapkan kudanya menuruni lereng bukit.
Tiba-tiba dia melihat debu mengepul tinggi di dekat bukit dan tampak pasukan yang cukup besar, agaknya tidak kurang dari duaratus orang perajurit!
Hati Ui Kong berdebar penuh ketegangan dan harapan, lalu membalapkan kudanya ke depan.
Setelah dekat, dia melihat kakaknya, Ui Kiang menunggang kuda di depan pasukan, bersama tiga orang perwira.
Pasukan itu mulai memasuki hutan di lereng terbawah.
Melihat ini Ui Kong berseru nyaring.
"Kiang-ko""!"
Ui Kiang memandang ke depan dan segera mengenal adiknya.
Dia memberitahu para perwira agar menghentikan pasukan.
Pasukan berhenti dan sebentar saja kedua kakak beradik itu sudah saling berhadapan.
Kedua orang kakak beradik itu melompat turun dari atas kuda dan mereka berlari saling menghampiri.
"Kong-te, bagaimana keadaanmu? Di mana Hwa-moi dan saudara Siong Li?"
"Ah, celaka, Kiang-ko. Bwee Hwa tertawan dan Li-ko terancam bahaya,"
Kata Ui Kong.
"Bagaimana mungkin kalian bertiga sampai dapat dikalahkan?"
Ui Kiang berseru heran dan juga kaget.
"Kiang-ko, cabang Pek-lian-kauw itu mempunyai seorang ketua baru, masih muda dan bernama Kam Ki. Dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, amat lihai dan kami tidak mampu menandinginya,"
Kata Ui Kong.
"Kalau begitu, mari kita tolong adik Bwee Hwa dan saudara Siong Li. Engkau menjadi penunjuk jalan. Pasukan ini akan membantu kita, Kong-te!"
Ui Kong merasa lega dan dengan semangat meluap-luap karena timbul harapan baru untuk dapat menyelamatkan Bwee Hwa dan Siong Li, dia membedal kudanya, kembali naik ke Bukit Siong, diikuti oleh Ui Kiang, para perwira dan pasukan mereka.
Tak seorangpun di antara mereka melihat atau mengetahui bahwa ketika Ui Kong dan Ui Kiang bicara tadi, ada bayangan orang mengintai dan mendengarkan mereka dari atas sebatang pohon yang tinggi besar dan lebat daunnya.
Begitu mendengar nama Kam Ki disebut, bayangan itu lalu berkelebat lenyap dan mendahului pasukan itu naik ke bukit Siong.
Gerakannya amat ringan dan larinya seperti terbang cepatnya.
Bagaimana Ui Kiang dapat secara kebetulan tiba di tempat itu bersama Pasukan besar?
Kiranya setelah Ui Kong, Bwee Hwa, dan Siong Li pergi, Ui Kiang merasa tidak enak karena dia hanya mampu menyumbangkan pikiran dan tidak dapat melakukan sesuatu untuk membantu mereka.
Maka dia lalu cepat menghubungi panglima pasukan keamanan di kota Ki-lok dan menceritakan segalanya, juga tentang dugaannya bahwa sarang pembunuh yang tokoh Pek-lian-kauw itu dapat dilacak melalui gerombolan Kiu-liong-pang.
Juga dia menceritakan tentang usaha Ui Kong, Bwee Hwa, dan Siong Li yang ingin menemukan pembunuh ayahnya dan merampas kembali patung Kwan Im dari Kuil Ban-hok-si.
Dia minta bantuan panglima itu yang segera memerintahkan tiga orang perwiranya untuk memimpin duaratus orang perajurit membantu Ui Kiang yang hendak melakukan pengejaran dan membantu tiga orang pendekar.
Demikianlah, di lereng pertama Bukit Siong itu pasukan bertemu dengan Ui Kong setelah mereka mendatangi gerombolan Kiu-liong-pang di lembah Sungai Kiu-liong dan memaksa tiga orang ketua gerombolan itu untuk memberitahu di mana adanya sarang Pek-lian-kauw.
Dan siapakah bayangan yang berkelebat dan kini berlari secepat terbang mendaki Bukit Siong itu?
Dia adalah seorang pemuda yang bentuk tubuhnya sedang, wajahnya gagah namun membayangkan kelembutan, pakaiannya sederhana, kepalanya tertutup sebuah caping lebar.
Pemuda ini memiliki sinar mata yang lembut dan wajahnya selalu dihiasi senyum yang ramah, penuh kesabaran dan penuh pengertian.
Dia bukan lain adalah Sie Bun Sam, pemuda berusia duapuluh lima tahun, murid utama Leng-hong Hoatsu.
Seperti kita Ketahui, Sie Bun Sam menerima tugas dari Leng-hong Hoatsu untuk mencari sutenya, Thio Kam Ki yang menyeleweng dan berguru pada orang sesat.
Setelah beberapa bulan melacak, pada hari itu secara kebetulan dia mendengar keluhan para penduduk daerah Bukit Siong tentang kejahatan yang dilakukan gerombolan yang bersarang di puncak Bukit Siong.
Seperti halnya dua orang gadis kembar, mendengar ini Bun Sam menjadi penasaran.
Jiwa pendekarnya tersentuh dan dia mengambil keputusan untuk mendaki Siong-san dan membasmi gerombolan penjahat itu agar tidak lagi mengganggu ketenteraman kehidupan penduduk dusun di sekitar pegunungan itu.
Kebetulan sekali dia melihat pertemuan antara Ui Kong dan Ui Kiang.
Bun Sam yang ingin tahu apa yang terjadi sehingga ada pasukan besar berada di situ, cepat melompat ke atas pohon dan sempat mendengarkan percakapan Ui Kong dan Ui Kiang.
Ketika dia mendengar bahwa Pek-lian-kauw lah perkumpulan gerombolan pengacau itu dan kini gerombolan itu dipimpin oleh Kam Ki tentu saja dia terkejut dan menyesal sekali.
Tidak disangkanya bahwa sute yang amat disayangnya itu kini malah semakin dalam terperosok dalam kesesatan.
Menjadi ketua Pek-lian-kauw!
Maka dia harus cepat turun tangan mencegah sutenya itu melakukan perbuatan yang tidak baik.
Dia mendengar laporan para penduduk di kaki gunung tadi bahwa gerombolan itu mengganggu rakyat dan bahkan menculik gadis-gadis.
Hati Bun Sam terguncang, penuh keraguan.
Benarkah sutenya sekarang melakukan kejahatan seperti itu?
Rasanya sukar dipercaya!
Akan tetapi kalau dia mengingat betapa sutenya telah memukulnya pingsan dengan ilmu pukulan asing yang bersifat jahat, dia menjadi curiga.
Maka, cepat dia melompat dan berlari cepat ke puncak gunung, karena agaknya pasukan pemerintah itu siap untuk membasmi gerombolan yang dipimpin Thio Kam Ki.
Dia hendak membuktikan dulu bagaimana keadaan gerombolan itu.
Kalau benar gerombolan itu Pek-lian-kauw melakukan kejahatan dipimpin oleh Kam Ki, dia harus menentangnya.
Akan tetapi kalau semua itu hanya fitnah dan sutenya tidak bersalah, dia harus membela sutenya dari serangan pasukan!
Thio Kam Ki duduk menghadap meja dan minum arak sambil memandang ke arah tiga orang gadis yang telah diikat kaki tangannya dan rebah telentang di atas pembaringan masing-masing itu!
Dia merasa girang sekali.
Tiga orang gadis itu sungguh cantik menarik dan mereka bertiga itu sudah berada dalam tangannya.
Bagaikan tiga potong daging sudah berada dalam mangkok di depannya, tinggal makan saja!
Akan tetapi, dia merasa kecewa dan tidak puas.
Dia ingin tiga orang gadis cantik itu mau melayaninya dan membalas cintanya.
Bukan melayaninya karena dipaksa.
Kalau saja mereka bertiga suka menjadi isteri-isterinya dan hidup bersamanya di situ, tentu dia akan merasa berbahagia sekali!
Setelah puas minum arak, Kam Ki lalu menghampiri pembaringan Bwee Hwa.
Dia duduk di tepi pembaringan dan membujuk Bwee Hwa, karena bagaimanapun juga, dia lebih tertarik kepada Bwee Hwa.
"Bwee Hwa, bagaimana, apakah engkau tetap menolak? Lihat, mereka berdua menjadi tawananku. Merekapun cantik-cantik dan memiliki ilmu silat yang bahkan lebih lihai daripada kepandaianmu. Mereka tentu akan senang sekali kalau menjadi isteriku."
"Jahanam busuk! Siapa sudi menjadi isterimu? Aku tidak sudi!"
Kata Can Kim Siang yang kini sudah siuman dari pingsannya.
"Akupun tidak sudi! Lebih baik mati!"
Teriak Can Gin Siang yang juga sudah siuman.
"Huh, laki-laki tidak tahu malu!"
Bwee Hwa mengejek.
"Tulikah telingamu sehingga kamu tidak mendengar ucapan mereka? Mereka berdua menolak untuk menjadi isterimu, akupun lebih baik mati daripada menjadi isterimu. Mau bunuh boleh bunuh, akan tetapi untuk menjadi isterimu, jangan harap!"
Kata Bwee Hwa dengan suara mengandung ejekan.
Ucapan-ucapan tiga orang gadis itu mendatangkan kesan baik satu sama lain di antara mereka dan mereka merasa lebih kuat karena mengalami nasib yang sama.
Mendengar ucapan tiga orang gadis itu, wajah Kam Ki menjadi merah sekali.
Dia merasa marah bukan main.
Untung tidak ada orang lain yang melihat keadaan dan mendengar makian tiga orang gadis itu.
Kalau ada orang lain melihat dan mendengarnya, dia akan merasa malu bukan main!
Dia, seorang pemuda yang berilmu tinggi, berwajah tampan dan gagah pula, kini ditolak mentah-mentah oleh tiga orang gadis.
Bukan hanya ditolak, bahkan dimaki-maki dan dihina.
Kalau menurutkan nafsu amarahnya, ingin dia membunuh tiga orang gadis itu pada saat itu juga!
Akan tetapi tiga orang gadis itu begitu cantik dan manis, sayang kalau dibunuh begitu saja!
Untuk menenangkan hatinya yang panas dan marah, Kam Ki menuang dan minum arak dari cawannya sampai tiga kali.
Kemudian dia tertawa.
"Ha-ha-ha! Kalian ini gadis-gadis yang angkuh dan besar kepala! Kalian berani menolakku? Ha-ha-ha, kalian kira begitu mudah menghinaku, ya? Tunggu saja! Aku akan menghinamu sepuluh kali lipat! Aku akan memperkosa kalian satu demi satu di sini, mempermainkan kalian sesuka hatiku dan sepuasku! Kalau aku sudah bosan, aku akan memberikan kalian kepada anak buahku, biar kalian dibuat permainan mereka sampai kalian mampus!"
Biarpun mulut mereka diam saja, namun di dalam hatinya, sepasang gadis kembar itu merasa ngeri juga mendengar ancaman itu.
Akan tetapi mereka diam saja dan mereka berdua kagum ketika mendengar Bwee Hwa tertawa mengejek.
"Huh, ucapanmu itu hanya menunjukkan bahwa engkau adalah seorang pemuda yang tidak tahu malu dan jahat, keji, dan licik! Kalau memang engkau seorang pemuda gagah, hayo lepaskan ikatan ini dan mari kita bertanding sampai mati! Aku tidak takut padamu dan tidak takut akan ancamanmu, keparat! Kalau engkau melaksanakan ancamanmu itu, setelah mati aku pasti akan menjadi setan penasaran dan akan mengejarmu sampai di manapun juga."
Thio Kam Ki memandang kepada Bwee Hwa dengan mata melotot dan sinarnya mencorong marah.
"Hemm, Lim Bwee Hwa gadis sombong! Engkaulah yang akan kusiksa dan kuhina lebih dulu di depan dua orang gadis kembar ini!"
Setelah berkata demikian, Kam Ki bangkit dari kursinya dan menghampiri pem-baringan di mana Bwee Hwa rebah telentang dengan kaki tangan terikat.
Karena merasa tidak berdaya, Bwee Hwa memejamkan kedua matanya agar ia tidak usah menyaksikan apa yang akan dilakukan pemuda itu kepadanya.
Kam Ki yang telah banyak minum arak sehingga nafsunya semakin berkobar membakar dan mempengaruhi hati akal pikirannya, sambil menyeringai lebar berkata.
"Tunggulah sebentar, manisku. Aku merasa panas dan hendak mandi dulu biar badanku segar sehingga aku akan mampu melayani kalian bertiga berturut-turut, ha-ha-ha!"
Setelah berkata demikian, dia mengusap pipi Bwee Hwa.
Gadis itu membuang muka dan Kam Ki lalu meninggalkan kamar itu sambil tertawa bergelak.
Setelah pemuda itu pergi meninggalkan kamar, Can Kim Siang yang tadi melihat sikap Bwee Hwa dan merasa suka akan keberaniannya, bertanya.
"Sobat, siapakah engkau dan bagaimana dapat tertawan oleh bangsat itu?"
Bwee Hwa yang tadi juga melihat betapa dua orang gadis itu berani menentang dan memaki Kam Ki, segera menjawab.
"Namaku Lim Bwee Hwa, orang menyebut aku Ang-hong-cu. Aku bersama dua orang sahabatku menyerang Pek-lian-kauw untuk membunuh Pek-bin Moko dan merampas kembali patung emas Dewi Kwan Im yang dia curi dari kuil Ban-hok-si. Kami berhasil membunuh Pek-bin Moko, akan tetapi"""
Bwee Hwa berhenti sebentar karena lehernya serasa dicekik kesedihan.
"seorang sahabatku tewas dan yang lain entah bagaimana nasibnya, sedangkan aku sendiri tertawan."
"Ah""
Kami tadi berpapasan dengan seorang pemuda bertubuh tinggi tegap naik kuda dengan cepat sekali menuruni lereng bukit. Apakah itu sahabatmu yang kedua itu?"
Tanya Can Gin Siang, dan Kim Siang juga mengangguk karena menduga demikian.
"Berapa kira-kira usianya dan apa warna pakaiannya?"
Tanya Bwee Hwa.
"Usianya sekitar duapuluh tahun lebih, pakaiannya berwarna kuning,"
Kata Kim Siang.
"Ah, benar dia!"
Seru Bwee Hwa.
"Tentu dia itu Kong-ko, maksudku Ui Kong. Dia dapat meloloskan diri, syukurlah dan aku yakin dia pasti tidak akan tinggal diam begitu saja melihat aku tertawan. Aku yakin bahwa dia tentu mencari bala bantuan!"
"Ssssttt....... dia datang""!"
Kata Kim Siang dan mereka bertiga menanti dengan jantung berdebar penuh ketegangan.
Mereka bertiga sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan ikatan kaki tangan mereka, akan tetapi Kam Ki yang tahu bahwa tiga orang gadis itu memiliki kepandaian tinggi, sudah mengikat kaki tangan mereka dengan tali yang amat kuat sehingga usaha mereka bertiga selalu gagal.
Tiga orang gadis itu otomatis menengok ke arah pintu kamar.
Akan tetapi mereka tidak melihat siapa-siapa di situ dan ada suara gerakan orang di jendela kamar.
Mereka otomatis menengok ke arah jendela.
Daun jendela terbuka dari luar dan pengganjalnya dari palang itupun patah.
Sesosok tubuh orang dengan gerakan yang amat gesit melompat ke dalam kamar itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, seolah seekor burung raksasa yang terbang masuk lewat jendela.
Tiga orang gadis tawanan itu menengok dan memandang dengan heran dan hati tegang, akan tetapi ketika melihat bahwa orang itu sama sekali bukan Thio Kam Ki seperti yang mereka duga dan khawatirkan, mereka menjadi lega, akan tetapi juga heran dan bertanya-tanya dalam hati apakah masuknya orang asing ini akan mendatangkan malapetaka ataukah pertolongan.
Orang itu adalah seorang pemuda berusia kurang lebih duapuluh lima tahun, tubuhnya sedang saja, juga wajahnya tidak terlalu tampan namun juga tidak jelek, sederhana seperti pakaiannya.
Sebuah caping lebar menutupi kepalanya.
Bwee Hwa yang berada paling dekat dengan orang itu, berkata lirih.
"Siapakah engkau, kawan ataukah lawan? Kalau lawan, cepat bunuh kami! Kami tidak takut mati!"
Laki-laki itu adalah Sie Bun Sam. Dia memandang kepada Bwee Hwa dan tersenyum lembut. Pandang matanya seolah terpesona melihat wajah Bwee Hwa dan dia berkata lembut.
"Bukan kawan dan bukan lawan, nona. Akan tetapi tidak dapat aku berdiam diri saja melihat kejahatan dilakukan orang."
Setelah berkata demikian, dia mengampiri Bwee Hwa dan dua kali tangannya bergerak, ikatan pada kaki dan tangan gadis itu putus.
Hwa menggosok-gosok pergelangan kaki dan tangannya untuk melancarkan jalan darahnya lalu melompat turun dan melihat Sin-hong-kiam miliknya yang tadi dirampas Thio Kam Ki berada di atas meja, ia menyambar pedangnya itu.
Sementara itu Bun Sam sudah melepaskan ikatan pada kaki tangan Can Kim Siang dan Can Gin Siang.
Dua orang gadis kembar inipun segera mengambil Siang-kiam (pedang pasangan) masing-masing yang tadi juga dibawa Kam Ki dan berada di atas meja.
Tiga orang gadis itu merasa girang sekali, seolah-olah burung garuda mendapatkan kembali paruh dan cakarnya.
"Terima kasih, sobat!"
Kata Bwee Hwa. Sebelum Bun Sam sempat menjawab, terdengar suara ribut-ribut di luar kamar itu.
"Mereka datang mengejarku ke sini. Mari kita keluar menyambut mereka dan serahkan orang yang bernama Thio Kam Ki kepadaku!"
Bun Sam mendahului tiga orang gadis itu, membuka daun pintu kamar dan ternyata di luar kamar terdapat belasan orang anggauta Pek-lian-kauw.
Mereka adalah para anggauta yang melakukukan pengejaran terhadap Bun Sam.
Pemuda itu tadi memasuki perkampungan Pek-lian-kauw dan ketika dia dihadang tiga orang anggauta Pek-lian-kauw dengan mudah dia merobohkan mereka.
Akan tetapi dia kelihatan oleh beberapa orang anggauta lain yang segera mengumpulkan teman-temannya dan melakukan pengejaran.
Bwee Hwa, Kim Siang, dan Gin Siang yang sudah marah sekali lalu menerjang maju dan tiga orang anggauta Pek-lian-kauw terjungkal mandi darah disambar pedang mereka.
Yang lain-lain cepat berlari keluar karena mereka semua sudah maklum akan kelihaian tiga orang gadis tawanan itu.
Mereka tadi ketika mengejar Bun Sam sama sekali tidak mengira bahwa tiga orang gadis itu sudah bebas.
Melihat tiga orang rekan mereka roboh mandi darah, yang lain segera melarikan diri keluar dari rumah itu, selain untuk mencari tempat yang lebih luas sehingga mereka dapat leluasa mengeroyok, juga mereka mengharapkan bantuan para anggauta lain.
Terutama sekali mereka menanti munculnya Thio Kam Ki dan Ang-bin Moko yang mereka andalkan.
Sementara itu, ketika dia sedang mandi, Kam Ki mendengar suara hiruk pikuk itu.
Cepat dia mengeringkan tubuh lalu mengenakan pakaian, kemudian dia melompat keluar, cepat menuju ke kamar di mana tiga orang gadis tawanannya berada.
Alangkah kaget dan marahnya ketika dia tidak melihat tiga orang gadis itu di atas pembaringan masing-masing, juga pedang-pedang mereka tidak ada.
Tahulah dia bahwa mereka itu, entah bagaimana caranya, telah dapat me-lepaskan diri.
Mendengar suara ribut di depan rumah, Kam Ki cepat berlari ke-luar, merasa penasaran, kecewa dan marah.
Ketika dia tiba di pekarangan yang luas itu, dia melihat semua anak buah sedang mengepung dan mengeroyok tiga orang gadis yang telah bebas itu.
Para anak buah itu dipimpin sendiri oleh Ang-bin Moko.
Melihat Ang-bin Moko memimpin kurang lebih limapuluh orang anggautanya itu mengeroyok, Kam Ki merasa yakin bahwa dia akan mampu menangkap tiga orang gadis itu kembali.
"Ang-bin Moko, tangkap mereka hidup-hidup! Jangan bunuh atau lukai mereka!"
Teriaknya.
Tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di depan Thio Kam Ki telah berdiri Sie Bun Sam yang memandangnya dengan alis berkerut dan sinar mata penuh mengandung teguran!
"Suheng""!
Kau""
Di sini?"
Tanyanya gagap, bukan karena takut melainkan karena kaget.
Kini mengertilah dia mengapa tiga orang gadis yang ditawannya itu dapat terlepas.
Tentu suhengnya ini yang membebaskannya!
"Sute, apa saja yang kaulakukan ini?
Sungguh menyedihkan dan memalukan.
Engkau tersesat jauh sekali, sute!"
Kam Ki sudah dapat menenangkan hatinya dan dia tertawa mengejek.
"Suheng, kenapa engkau mencampuri urusanku? Ingat, aku dapat mengalahkanmu seperti dulu, engkau pernah roboh pingsan oleh pukulanku. Apakah engkau kini hendak menentangku? Suheng, kunasihatkan kepadamu. Pergilah sebelum aku hilang sabar karena aku akan menyesal kalau harus membunuhmu!"
Bun Sam tersenyum.
"Sute, dulu engkau merobohkan aku karena kecuranganmu. Sekarang dengarlah nasihatku, sute. Ingatlah, sejak dahulu aku menyayangmu, aku tidak ingin melihat engkau celaka. Maka, sadarlah, sute. Ingat akan nasihat suhu. Tinggalkan perkumpulan sesat ini dan mari kita kembali kepada suhu yang akan membimbingmu! Aku yang akan mintakan ampun kepada"""
Akan tetapi ucapan itu terpaksa dihentikan karena secara curang sekali, tiba-tiba Kam Ki sudah menyerangnya dengan pukulan Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun) yang dulu pernah merobohkan Bun Sam.
Dia tahu bahwa kalau dia menggunakan semua ilmu yang dia pelajari dari Leng-hong Hoatsu, tidak mungkin dia mampu mengalahkan Bun Sam yang memiliki tingkat lebih tinggi.
Dia menggunakan Ban-tok-ciang yang dipelajari dari Hwa Hwa Cin-jin karena Bun Sam tentu tidak mengenal ilmu ini.
Serangannya memang hebat sekali.
Kedua tangan yang sudah dialiri hawa beracun itu menyambar-nyambar ganas dan mengeluarkan bau yang amis seperti ada ratusan ular berbisa menyerang Bun Sam.
Akan tetapi sebelum turun gunung, Bun Sam sudah diberitahu gurunya bahwa dia tidak akan kalah oleh ilmu sesat sutenya kalau dia menggunakan seluruh tenaga saktinya.
Kalau dulu dia sampai terluka dan pingsan, hal itu terjadi karena dia tidak menyangka dan dia hanya mempergunakan tenaga tidak sepenuhnya agar sutenya tidak terluka.
Kini, menghadapi serangan bertubi itu, dia menggunakan kelincahan gerak tubuhnya untuk mengelak ke sana-sini, dan mencari kesempatan untuk menotok roboh sutenya.
Bagaimanapun juga, Bun Sam tetap sayang kepada sutenya yang sejak kecil hidup bersama dia di bawah asuhan Leng-hong Hoatsu.
Dia tidak tega untuk melukai sutenya itu, apalagi membunuhnya.
Maka, pertandingan itu menjadi seimbang dan Kam Ki yang licik itu agaknya maklum bahwa suhengnya mengalah.
Hal ini tidak membuat hatinya tergerak dan terharu, bahkan dia hendak mencari keuntungan dari kelemahan hati Bun Sam itu.
Dia menyerang semakin ganas, memainkan ilmu silat Ciu-kwi-kun (Silat Setan Mabok) yang dipelajari dari Hwa Hwa Cinjin.
Pertandingan itu menjadi seru sekali dan tidak mudah bagi Bun Sam untuk dapat merobohkan sutenya tanpa melukainya.
Sementara itu, tiga orang gadis, tanpa perundingan lebih dulu, sudah menghadapi pengeroyokan banyak orang dengan saling membelakangi.
Dengan demikian, mereka tidak sampai diserang dari belakang.
Ketiganya mengamuk dengan pedang mereka dan gerakan mereka memang lincah dan kuat sekali sehingga para pengeroyok tidak berani terlalu mendekat setelah ada enam orang roboh oleh pedang tiga orang dara perkasa itu.
Ang-bin Moko akhirnya dilawan oleh Bwee Hwa, sedangkan sepasang gadis kembar itu menghadapi puluhan orang anak buah Pek-lian-kauw.
"Bwee Hwa, hati-hati, tosu (pendeta) siluman itu memiliki alat peledak yang mengeluarkan asap beracun!"
Teriak Kim Siang, sambil memutar sepasang pedangnya menghadapi pengeroyokan puluhan orang itu.
Biarpun sepasang gadis kembar ini lihai sekali ilmu sepasang pedang mereka, namun jumlah pengeroyok terlampau banyak.
Mereka berdua harus memutar sepasang pedang mereka untuk melindungi diri mereka dari datangnya serangan golok, pedang, atau tombak yang seperti hujan lebat.
Mereka berdua hanya mampu melindungi diri tanpa dapat membalas karena serangan banyak orang itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk balas menyerang.
Perkelahian antara Ang-bin Moko melawan Bwee Hwa amat seru.
Tingkat kepandaian mereka seimbang sehingga perkelahian itu ramai sekali, sukar diduga siapa di antara mereka yang akan keluar sebagai pemenang.
Sesungguhnya, Bwee Hwa lebih bersemangat dan gerakannya lebih lincah.
Namun Ang-bin Moko menang pengalaman dan selain dari itu, pimpinan cabang Pek-lian-kauw ini mengandalkan banyak anggauta yang akan dapat disuruh membantunya mengeroyok Bwee Hwa kalau dua orang gadis kembar itu sudah dapat ditundukkan.
Yang membuat dia repot adalah karena tadi Kam Ki berteriak agar tiga orang gadis cantik itu ditangkap hidup-hidup, jangan dilukai atau dibunuh.
Semua anak buah mendengar dan tentu saja mereka merasa takut kepada Kam Ki kalau melanggar perintah itu.
Hal ini membuat mereka hanya mengepung rapat akan tetapi selalu menjaga agar gadis-gadis itu jangan sampai terluka atau roboh tewas.
Mendadak mendengar sorak sorai dan duaratus orang perajurit yang dipimpin para perwira tiba di puncak itu.
Mereka adalah pasukan yang diajak Ui Kiang dan kemudian bertemu dengan Ui Kong dan kini mereka tiba di puncak itu dengan Ui Kong sebagai penunjuk jalan.
Begitu tiba di perkampungan Pek-lian-kauw, para perajurit itu menyerbu masuk.
Ui Kong sendiri sudah cepat terjun ke dalam pertempuran.
Dia girang bukan main melihat Bwee Hwa masih hidup dan kini sedang bertanding mati-matian melawan Ang-bin Moko.
"Hwa-moi, mari kita basmi para iblis Pek-lian-kauw!"
Bentak Ui Kong dan dia sudah menggunakan pedangnya untuk membantu Bwee Hwa menyerang Ang-bin Moko.
Gegerlah semua anggauta Pek-lian-kauw menghadapi penyerbuan pasukan pemerintah yang amat banyak jumlahnya itu.
Mereka menjadi panik dan sebentar saja banyak anggauta Pek-lian-kauw roboh.
Yang hendak melarikan diri, tidak mendapatkan jalan karena mereka sudah terkepung ketat.
Ang-bin Moko terkejut bukan main.
Menghadapi Bwee Hwa saja dia sudah merasa repot, apalagi kini ditambah seorang musuh yang tingkat kepandaiannya tidak kalah dibandingkan tingkatnya sendiri.
Dia terdesak hebat dan terancam oleh pedang Bwee Hwa dan Ui Kong.
Dia lalu melompat ke belakang dan mengayun tangan, membanting alat peledak.
"Awas, Kong-ko, asap beracun!"
Bwee Hwa berseru dan kedua orang muda ini cepat melompat menjauhi ketika ledakan itu mengeluarkan asap yang mengandung pembius.
Beberapa orang perajurit yang berada dekat tempat ledakan, terserang asap ini dan mereka roboh pingsan!
Ang-bin Moko menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Karena tempat itu telah terkepung ketat.
Dia mengamuk dengan pedangnya dan berhasil membobolkan kepungan dengan merobohkan empat orang perajurit.
Akan tetapi pada saat itu, dua batang pedang menyambar.
Ang-bin Moko masih berhasil menangkis pedang Bwee Hwa, akan tetapi pedang Ui Kong memasuki lambungnya.
Ang-bin Moko mengeluh dan roboh, tewas seketika.
Betapapun lihainya, Thio Kam Ki kini menjadi panik.
Ketika semua ilmunya dia keluarkan untuk merobohkan Bun Sam tidak berhasil, barulah dia maklum bahwa dulu dia dapat merobohkan Bun Sam karena suhengnya itu tidak mengira dia menggunakan ilmu pukulan sesat yang dahsyat dan tidak menjaga diri dengan tenaga sepenuhnya.
Sekarang, dia mendapat kenyataan bahwa suhengnya itu memang tangguh bukan main.
Akan tetapi karena suhengnya tidak mau membunuhnya, maka dia masih mampu melawan.
Berulang kali mereka mengadu tenaga selalu Thio Kam Ki terdorong mundur.
Kini, melihat dengan jelas betapa anak buah Pek-lian-kauw berjatuhan karena tidak dapat mengimbangi kekuatan lawan yang jauh lebih banyak jumlahnya, melihat pula betapa pembantu utamanya, Ang-bin Moko juga roboh, dia menjadi khawatir sekali dan maklum bahwa kalau dilanjutkan perlawanannya, nyawanya terancam bahaya maut.
Dia lalu mengerahkan seluruh tenaga Ban-tok-ciang menyerang Bun Sam dengan pukulan jarak jauh sambil membentak nyaring dengan suara yang mengandung kekuatan sihir untuk menggetarkan jantung lawan dan membuatnya lemah.
"Yaaaaahhhhhh!"
Menghadapi serangan dahsyat ini, Bun Sam menyambut dengan kedua telapak tangan didorongkan pula.
Akan tetapi tetap saja Bun Sam membatasi tenaga karena dia sama sekali tidak ingin melukai apalagi membunuh sutenya yang masih disayangnya.
"Blaarrrr""!"
Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dan akibatnya, tubuh Kam Ki terlempar ke belakang.
Akan tetapi dia tidak terluka, hanya terdorong dan terpental seolah tenaganya bertemu dengan sesuatu yang lunak namun yang membuat dia terpental seperti menghantam sebuah bola karet besar.
Kini dia melihat kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Begitu kakinya menyentuh tanah, dia sudah melompat jauh, terjun ke dalam pertempuran antara para perajurit dan anak buah Pek-lian-kauw dan menghilang di antara banyak orang yang sedang bertempur itu.
Kam Ki mencari jalan keluar dengan merobohkan setiap orang yang berada di depannya.
Karena dia menyusup ke dalam pertempuran antara banyak orang itu maka Bun Sam tidak dapat mengejarnya, juga tiga orang gadis yang mengamuk dan Ui Kong juga tidak tahu bahwa Thio Kam Ki sedang berusaha melarikan diri.
Kejadian itu berlangsung demikian cepat dan Kam Ki berhasil meloloskan dirinya setelah merobohkan belasan orang perajurit!
Mellhat keadaan para anggauta Pek-lian-kauw sudah terdesak hebat dan para pimpinan mereka tidak ada lagi, Ui Kong dan Bwee Hwa lalu cepat memasuki bangunan induk tempat tinggal Kam Ki dan melakukan penggeledahan.
Dalam sebuah kamar, mereka menemukan patung emas Dewi Kwan Im dari kuil Ban-hok-si.
Ui Kong segera mengambilnya.
Mereka juga menemukan belasan orang gadis muda dan cantik, yaitu mereka yang selama ini diculik oleh orang-orang Pek-lian-kauw.
Ui Kong lalu menyerahkan mereka kepada para perwira pasukan agar kelak para gadis itu dikembalikan ke dusun mereka.
Akhirnya, semua anggauta Pek-lian-kauw yang tadinya melakukan perlawanan mati-matian itu terbasmi hampir semua dan sisanya, hanya belasan orang menjadi putus asa dan melemparkan senjata sambil berlutut tanda menyerah.
Mereka menjadi orang-orang tawanan.
Para perwira pasukan lalu memerintahkan para anggauta Pek-lian-kauw yang masih hidup untuk mengurus dan mengubur semua mayat yang menjadi korban pertempuran, merampas semua barang berharga yang berada di perkampungan itu, lalu membakar semua rumah yang terdapat di situ.
Kemudian pasukan meninggalkan perkampungan Pek-lian-kauw yang sudah menjadi puing, kembali ke kota Ki-lok dengan gembira karena telah memperoleh kemenangan.
Sie Bun Sam, Ui Kong, Ui Kiang, Lim Bwee Hwa dan dua orang gadis kembar dengan hormat mengurus dan mengubur jenazah Ong Siong Li yang tewas dalam perlawanannya menghadapi pengeroyokan banyak anggauta Pek-lian-kauw tadi.
Bwee Hwa tidak dapat menahan keharuan dan kesedihan hatinya ketika jenazah Siong Li telah dikubur.
Ia menangis di depan gundukan tanah itu sehingga membuat para pendekar, terutama Ui Kong dan Ui Kiang yang maklum betapa akrabnya hubungan antara Bwee Hwa dan Siong Li, yang sudah seperti kakak dan adik.
Enam orang pendekar ini menjauhi perkampungan di mana para perajurit tadi sibuk mengurus para korban, merampas barang-barang lalu membakari pondok.
Mereka tidak ingin mencampuri urusan pasukan pemerintah.
Dalam kesempatan itu, Bwee Hwa yang memandang Sie Bun Sam berkata.
"Saudara yang gagah perkasa dan budiman telah menyelamatkan kami bertiga. Kalau tidak ada engkau, mungkin kami bertiga sekarang sudah mati terbunuh atau membunuh diri."
"Benar sekali. Kami berdua kakak beradik bersyukur dan sangat berterima kasih atas budi pertolongan taihiap tadi,"
Kata Can Kim Siang sambil mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan, diikuti oleh adiknya.
"Aneh, kami bertiga berhutang nyawa kepadamu, akan tetapi kita belum saling berkenalan!"
Kata Bwee Hwa sambil tersenyum.
Agaknya kedukaannya karena kematian Siong Li hanya sebentar saja mengganggu kelincahan Bwee Hwa yang selalu bersemangat dan gembira itu.
Sie Bun Sam seolah terpesona memandang wajah dan gaya bicara Lim Bwee Hwa.
Belum pernah dia merasa seperti ini.
Sudah banyak dia melihat wanita cantik tanpa kesan, akan tetapi sekali ini, ada sesuatu pada diri Bwee Hwa yang membuat dia terpesona.
Dua orang gadis kembar itupun cantik menarik, akan tetapi bagi Bun Sam mereka itu biasa saja.
Dia merasa heran sendiri mengapa jantungnya berdebar ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Bwee Hwa dan dia menutupi debar jantungnya itu dengan senyum ramah dan dia mengangkat kedua tangan di depan dada kepada tiga orang gadis dan dua orang pemuda itu, membalas penghormatan mereka.
"Ah, sesungguhnya di antara kita tidak perlu merasa berhutang budi karena dalam menghadapi gerombolan penjahat ini kita semua telah bersatu padu. Semua juga berjasa karena telah memenuhi kewajiban masing-masing sebagai orang-orang menentang kejahatan. Bahkan aku mohon maaf dari anda sekalian akan kejahatan yang dilakukan Thio Kam Ki yang sesungguhnya adalah sute-ku (adik seperguruanku) sendiri."
Bun Sam menghela napas panjang, perasa kecewa dan menyesal sekali bahwa sute yang disayangnya itu ternyata telah tersesat amat jauhnya.
Tentu saja lima orang muda itu terkejut bukan main dan mereka semua memandang kepada Bun Sam dengan sinar mata heran.
"Sute-mu? Dia itu sute-mu? Akan tetapi mengapa dia begitu jahat dan engkau musuhi sendiri?"
Tanya Bwee Hwa. Bun Sam menghela napas panjang lalu tersenyum.
"Sebelum aku menceritakan lebih lanjut tentang Thio Kam Ki, apakah tidak sebaiknya kita saling berkenalan dulu. Rasanya tidak enak bercakap-cakap dengan orang-orang yang tidak kukenal. Nah, perkenalkan, aku bernama Sie Bun Sam, berasal dari pegunungan Himalaya."
"Aku bernama Lim Bwee Hwa dari""
Twi-bok-san."
Ia mengaku Twi-bok-san, di mana mendiang ibunya tinggal menjadi isteri mendiang Kauw-jiu Pek-wan Kui Ciang Hok, yang sekarang tentu saja menjadi haknya.
"Kami berdua adalah saudara kembar, aku bernama Can Kim Siang, dan ini adikku bernama Can Gin Siang. Kami tinggal di rumah piauw-ci (kakak perempuan misan) kami di bukit Ayam Emas."
Kim Siang memperkenalkan diri mereka, bukan hanya Bun Sam, melainkan kepada Bwee Hwa, Ui Kiang, dan Ui Kong.
"Kami berdua adalah kakak beradik. Aku bernama Ui Kong, dan yang baru datang membawa pasukan ini adalah kakakku Ui Kiang. Kami tinggal di kota Ki-lok."
Ui Kong memperkenalkan diri dan kakaknya. Setelah mereka saling memperkenalkan nama mereka, Bwee Hwa lalu berkata.
"Secara kebetulan sekali kita semua berada di sini, bersatu melawan gerombolan Pek-lian-kauw dan saling berkenalan. Sebelum kita bercerita, sebaiknya kalau kita duduk di sana, rasanya canggung kalau kita bicara sambil berdiri saja."
Semua orang setuju dan menghampiri tempat yang ditunjuk Bwee Hwa, yaitu sebuah pohon besar di bawah mana terdapat banyak batu yang dapat mereka jadikan tempat duduk.
Setelah semua orang duduk berhadapan, Bun Sam segera bercerita.
"Kami berdua, yaitu aku dan sute Thio Kam Ki, adalah murid-murid suhu Leng-hong Hoatsu di Himalaya."
"Ohh! Leng-hong Hoatsu yang mendirikan Hwe-coa-kauw?"
Tanya Bwee Hwa yang pernah mendengar cerita mendiang Siong Li tentang Hwe-coa-kauw dan tentang pertapa sakti itu. Bun Sam menggeleng kepala.
"Kabar itu sama sekali tidak benar, nona Lim Bwee Hwa"""
"Ih, twako (kakak), kenapa begitu sungkan menyebut aku dengan nona segala? Namaku Bwee Hwa, Lim Bwee Hwa, tanpa nona bagi seorang sahabat,"
Cela Bwee Hwa.
"Baiklah, Hwa-moi (adik Hwa). Kuulangi, kabar bahwa guruku menjadi pendiri Hwe-coa-kauw itu sama tidak benar. Dahulu, tigapuluh tahun lebih yang lalu, suhu Leng-hong Hoatsu pernah turun gunung dan merantau ke timur, mengajarkan agama dan kebajikan, menolong orang-orang sakit. Beliau memang mempunyai seekor ular yang aneh yang beliau temukan dalam perjalanan dan memelihara ular itu. Ular kecil itu memang mempunyai tonjolan di kanan kiri seperti sayap, dan keadaannya yang aneh itu orang-orang menamakannya Hwe-coa (Ular Terbang). Sesungguhnya ular itu tidak dapat terbang, hanya melompat dari pohon ke bawah dan tonjolan di kanan kiri itu dibentangkan untuk menahan lajunya peluncuran. Nah, orang-orang bodoh yang tahyul itu mulai menyembah-nyembah ular itu yang mereka anggap sebagai penjelmaan dewa dan bahkan mengabarkan bahwa semua kepandaian suhu adalah berkat pertolongan ular itu. Ketika orang-orang itu tidak memperdulikan bantahan suhu, maka suhu menjadi kecewa dan agar ketahyulan itu tidak berlarut-larut, beliau kembali ke Himalaya membawa ularnya. Begitulah ceritanya."
Para pendengarnya mengangguk-angguk. Bwee Hwa lalu berkata.
"Aku pernah mendengar cerita itu, Sam-ko (kakak Sam) dan ternyata cocok dengan ceritamu. Sekarang lanjutkan ceritamu tentang Thio Kam Ki."
"Sejak kecil Thio Kam Ki yatim piatu seperti juga aku. Dia dirawat dan diambil murid suhu dan sejak kecil kami berdua tinggal bersama suhu. Aku lebih tua dua tahun daripada sute, dan aku banyak membimbingnya. Beberapa bulan yang lalu, seperti biasa sute mengajak aku berlatih silat dan mengadu tenaga sakti. Dan seperti yang sudah-sudah, aku mengalah dan tidak mengerahkan seluruh tenaga karena khawatir dia terluka. Akan tetapi ketika kami mengadu sin-kang, aku terkena pukulan beracun yang asing sehingga aku jatuh pingsan. Suhu menolongku dan ternyata sute telah pergi meninggalkan pondok suhu. Suhu mengatakan bahwa aku terkena pukulan beracun yang sesat dan menduga bahwa sute telah mempelajari ilmu sesat dari orang lain. Karena suhu tidak ingin melihat sute tersesat melakukan kejahatan, maka aku disuruh mencari sute dan menghalangi kalau dia melakukan kejahatan. Ketika aku lewat di kaki bukit ini, aku mendengar keluh kesah penduduk dusun bahwa gerombolan yang berada di puncak ini sering melakukan gangguan. Aku lalu mendaki bukit dan tiba-tiba aku melihat rombongan pasukan juga mendaki bukit ini. Ketika saudara Ui Kong bicara dengan kakaknya tentang pemimpin gerombolan yang bernama Kam Ki, aku terkejut dan cepat mendahului mereka naik ke sini dan kebetulan aku dapat membebaskan adik Bwee Hwa dan kedua adik kembar ini. Selanjutnya kalian sudah tahu. Aku bertanding melawan Thio Kam Ki, akan tetapi sayang dia dapat meloloskan diri."
"Sam-ko, maafkan pendapatku ini. Aku yakin bahwa kalau engkau menghendaki, tentu Thio Kam Ki sekarang telah menggeletak tanpa nyawa. Engkau sengaja membiarkan dia lolos!"
Bun Sam diam-diam terkejut walaupun tidak dia perlihatkan, lalu sambil mena-tap tajam wajah gadis yang menawan hatinya itu, dia bertanya.
"Hwa-moi, bagaimana engkau dapat menduga begitu?"
Bwee Hwa tersenyum nakal.
"Bukan duga sembarang duga, twako. Tadi aku mendengar betapa engkau membujuk Kam Ki dan mengajaknya kembali kepada suhumu. Aku yakin engkau amat menyayang sutemu yang sejak kecil kaukenal itu, dan engkau yang memiliki budi pekerti halus dan bijaksana, tentu tidak tega untuk membunuhnya."
Bun Sam menghela napas.
"Engkau benar, Hwa-moi. Aku memang tidak mau mendesaknya, bukan karena aku berbudi baik dan bijaksana, melainkan karena aku lemah. Aku tidak patut dipuji, sepantasnya dicela!"
"Aku kagum padamu dan aku selalu memujimu, Sam-ko. Sekarang tiba giliranmu, Kong-ko. Ceritakan pengalamanmu, bagaimana engkau dapat melo-loskan diri dan datang bersama Kiang-ko dan pasukan."
"Hwa-moi, engkau dulu ceritakan apa yang terjadi. Kami sudah ingin sekali mendengarnya, terutama aku,"
Kata Ui Kiang.
"Baiklah, dan karena Sam-ko dan kedua enci kembar belum mengetahui, biar kuceritakan dari semula. Kami bertiga, aku, Kong-ko ini, dan mendiang twako Ong Siong Li, melakukan pengejaran terhadap penjahat Pek-lian-kauw yang merampok patung emas Dewi Kwan Im dari kuil Ban-hok-si dan telah membunuh paman Ui Cun Lee, ayah kakak Ui Kiang dan Ui Kong ini. Setelah kami menemukan sarang Pek-lian-kauw di puncak bukit ini, kami bertiga mendaki puncak dan....... ah, kalau aku teringat lalu aku menyadari betapa bodoh dan lancangnya aku. Mendiang kakak Ong Siong Li sudah memperingatkan bahwa tempat ini berbahaya dan sebaiknya mencari bala bantuan. Akan tetapi aku....... aku yang dungu ini membantah dan aku memaksanya nekat menyerbu perkampungan Pek-lian-kauw. Dan akibatnya....... Li-ko telah tewas....... ah, aku menyesal sekali tidak menaati peringatannya."
Teringat akan ini, Bwee Hwa memejamkan matanya mencegah mengalirnya kembali air matanya.
"Hwa-moi, akulah yang bersalah!"
Ui Kong berkata sambil mengepal tangannya.
"Aku juga membantah pendapat Li-ko dan memaksanya terus naik ke sarang Pek-lian-kauw. Dia tewas karena kebodohanku yang sombong mengandalkan kekuatan sendiri sehingga akhirnya dia malah yang menjadi korban. Li-ko tewas karena kecerobohanku!"
"Kecerobohan kita berdua, Kong-ko."
Can Gin Siang yang duduk dekat Bwee Hwa, merangkul gadis itu dan membujuk.
"Sudahlah, Bwee Hwa, tiada gunanya disesali dan ditangisi lagi. Bagaimanapun juga, dia tewas sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa."
Can Kim Siang juga menghibur Bwee Hwa.
"Benar apa yang dikatakan A Gin itu, Bwee Hwa. Setiap orang bisa saja melakukan kekeliruan perhitungan seperti itu. Lebih baik lanjutkan ceritamu."
Bwee Hwa mengangguk. Menyadari bahwa Siong Li tewas sebagai seorang pendekar gagah sedikitnya dapat menghibur hatinya.
"Setelah kami bertiga tiba di perkampungan Pek-lian-kauw, kami segera dihadapi Thio Kam Ki dan dikeroyok para anggauta Pek-lian-kauw yang dipimpin oleh Ang-bin Moko dan Pek-bin Moko. Aku sendiri menghadapi Thio Kam Ki, akan tetapi dia terlalu lihai bagiku sehingga aku tertawan dan aku masih sempat melihat kakak Ong Siong Li dikeroyok banyak anak buah Pek-lian-kauw. Si jahanam Thio Kam Ki itu menawanku dan mengikat aku ke dalam sebuah kamar. Tak lama kemudian aku mendengar ribut-ribut di luar seperti orang berkelahi dan tak lama kemudian jahanam itu masuk kamar sambil membawa kedua enci ini sebagai tawanan pula. Dia juga mengikat kaki tangan mereka seperti aku. Kami sama sekali tidak berdaya dan jahanam itu mengeluarkan ancaman-ancaman yang mengerikan. Akan tetapi ketika dia keluar dari kamar, katanya hendak mandi, muncullah Sam-ko ini yang membebaskan kami bertiga. Kami segera bersama Sam-ko keluar dan mengamuk! Nah, itulah ceritaku. Sekarang aku minta kakak Ui Kong menceritakan pengalamannya karena ketika Siong Li dikeroyok dan aku tertawan, dia masih dikeroyok banyak orang."
Ui Kong menghela napas panjang.
"Wah, menyeramkan sekali ceritamu, Hwa-moi. Untung ada Sam-ko ini! Tentang diriku....... ah, semakin sedih kalau kuingat pengalamanku. Ketika terjadi pertempuran itu aku berhadapan dengan Pek-bin Moko yang amat kubenci karena dialah yang dulu membunuh ayahku. Biarpun dikeroyok banyak orang, dengan nekat aku menerjangnya dan akhirnya aku berhasil membalaskan kematian ayah, berhasil membunuh Pek-bin Moko. Akan tetapi keadaan Li-ko dan aku semakin terdesak. Dalam keadaan seperti itu Li-twako mendesak aku agar supaya aku melarikan diri dan mencari bala bantuan. Tadinya aku membantah, akan tetapi Li-ko mendesak dan mengatakan agar aku mencari bantuan untuk menolong Hwa-moi yang tertawan. Terpaksa aku mencari jalan keluar dan Li-ko mengamuk, menahan mereka yang hendak mengejar aku. Aku berhasil mendapatkan kuda kami dan aku melarikan diri turun gunung."
"Kami berpapasan denganmu ketika kami berdua menunggang kuda mendaki puncak!"
Kata Can Gin Siang sambil memandang wajah Ui Kong.
"Ya, aku ingat dan aku sempat heran melihat dua orang gadis yang persis sama segalanya,"
Kata Ui Kong sambil tersenyum.
"Setelah tiba di lereng bawah, aku bertemu dengan kakakku Ui Kiang ini yang membawa duaratus orang perajurit. Kami lalu menyerbu ke puncak dan selanjutnya kalian sudah mengetahui."
Ui Kong mengakhiri ceritanya. (Lanjut ke
Jilid 13) Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13
"Engkau tidak perlu menyesal telah meninggalkan Li-ko, karena bagaimanapun juga, Li-ko benar. Kalau engkau tidak melarikan diri mencari bala bantuan, tentu engkaupun akan tewas dikeroyok begitu banyak orang, terutama di sana ada Kam Ki dan Ang-bin Moko yang lihai,"
Kata Bwee Hwa.
"Sekarang giliranmu, Kiang-ko. Dahulu engkau kami tinggalkan di kota Ki-lok, lalu bagaimana engkau dapat mengajak pasukan untuk menolong kami?"
Ui Kiang menghela napas panjang dan berkata dengan suaranya yang lembut.
"Setelah kalian bertiga berangkat untuk mencari penjahat yang membunuh ayah dan mencuri patung, aku merasa gelisah dan juga bersedih. Ayah dibunuh orang dan aku yang lemah ini tidak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya seorang kutu buku, seorang siucai (sastrawan) yang lemah dan tiada guna. Patung kuil Ban-hok-si dicuri orang akupun tidak dapat bantu mencarinya. Aku khawatir kalian bertiga akan menghadapi bahaya, maka aku lalu menghubungi komandan pasukan keamanan yang menjadi sahabat baik ayah dan minta bantuannya. Dia segera membantuku dengan mengirim pasukan beserta tiga perwiranya. Aku lalu mengajak mereka pergi mencari gerombolan Kiu-liong-pang dan berhasil memaksa pimpinan mereka untuk mengatakan di mana adanya sarang Pek-lian-kauw. Setelah mendapatkan keterangan, aku lalu mengajak pasukan itu ke sini dan selanjutnya kalian tahu apa yang terjadi."
Ui Kong memegang lengan kakaknya.
"Kiang-ko, biarpun engkau tidak pernah belajar ilmu silat, akan tetapi engkau berjasa besar dalam peristiwa ini. Engkau pula yang dulu memberi petunjuk kepada kami untuk mencari keterangan kepada Kiu-liong-pang dan sekarang, engkau yang menolong kami membasmi Pek-lian-kauw. Biarpun tubuhmu tidak mengandung tenaga kuat seperti kami yang telah mempelajari ilmu silat selama bertahun-tahun, namun engkau memiliki pikiran yang kuat dan pandai. Aku bangga sekali, Kiang-ko!"
"Nah, semua orang telah menceritakan pengalamannya. Kini tinggal kalian berdua, enci (kakak perempuan) kembar. Aih, aku bingung sekali kalau memandang kalian ini. Tadi kalian sudah memperkenalkan nama kalian dan aku ingat benar, yaitu Can Kim Siang dan Can Gin Siang, akan tetapi kalian begitu sama segala-galanya, bagaimana aku tahu mana yang Kim (emas) mana yang Gin (perak)?"
Kata Bwee Hwa sambil tertawa.
Mereka semua ikut tertawa.
Betapa cepatnya gadis itu melupakan kedukaannya karena kematian Ong Siong Li, sahabatnya yang paling baik.
Pada umumnya orang akan beranggapan bahwa Bwee Hwa tidak mengenal budi atau tidak sayang kepada sahabat baiknya itu.
Anggapan ini sebenarnya keliru sehingga banyak orang, demi "jangan dianggap demikian", suka berlarut-larut dalam perkabungannya karena kematian keluarga.
Bahkan ada yang mengenakan pakaian berkabung sampai setahun atau beberapa tahun sebagai tanda kedukaannya!
Biar dianggap mengenal budi dan setia kepada orang yang telah meninggal dunia.
Padahal, semua kedukaan yang tampak atau sengaja diperlihatkan itu kebanyakan hanya pada luarnya saja.
Dalam batinnya sudah lama tidak ada lagi kedukaan itu!
Bwee Hwa adalah seorang gadis yang polos, tidak suka berpura-pura.
Orang seperti Bwee Hwa ini tidak mudah terbawa emosi, tidak akan larut dalam duka dan tidak akan mabok dalam suka.
Suka dan duka hanya bagaikan angin yang melandanya, namun hanya sebentar dan setelah lewatpun tiada bekasnya lagi.
"Ah, aku tahu mana yang bernama Can Kim Siang dan mana yang Can Gin Siang,"
Kata Ui Kiang dengan senyum yang khas, senyuman yang membayangkan kesabaran hatinya.
"Aku juga tahu mana Nona Can Gin Siang, tidak mungkin salah!"
Kata pula Ui Kong dengan gembira.
Bwee Hwa membelalakkan mata dan mengangkat alisnya, senyumnya melebar.
Hemm, kakak beradik yang salah satu akan dijodohkan dengannya ini ternyata menaruh perhatian kepada gadis kembar itu!
Kalau benar dugaannya, ia merasa lega dan girang sekali.
Sesungguhnya, ia sendiri bingung kalau harus menentukan siapa di antara mereka yang harus dipilihnya.
Kedua orang pemuda itu memiliki keistimewaan masing-masing dan ia merasa yakin bahwa keduanya dapat menjadi suami yang baik.
Akan tetapi, harus ia akui bahwa biarpun ia merasa kagum dan suka kepada kedua orang kakak beradik Ui itu, seperti juga rasa kagum dan sukanya kepada Ong Siong Li, tidak ada keinginan dalam hatinya untuk menjadi isteri seorang di antara mereka bertiga.
Dulu pernah ia mengira bahwa ia mencinta Siong Li, akan tetapi akhir-akhir ini ia menyadari bahwa rasa sukanya itu hanyalah rasa sayang di antara sahabat.
Siong Li terlalu baik kepadanya sehingga ia merasa berhutang budi, kagum dan juga sayang karena ia merasa benar betapa Siong Li amat menyayangnya.
Karena itu, melihat kini kedua orang kakak beradik Ui itu tampaknya tertarik kepada sepasang gadis kembar, ia merasa senang sekali.
Karena selain ia merasa tidak ingin menjadi isteri seorang di antara mereka, juga ia merasa bingung dan kasihan kalau harus memilih salah satu karena itu akan membikin kecewa yang lain.
Sejak pertemuan pertama, kedua kakak beradik itu seolah bersaing atau berlumba untuk menarik hatinya!
"Kiang-ko dan Kong-ko, coba buktikan kalau kalian memang benar dapat membedakan antara kedua orang enci kembar ini!
Rasanya tidak mungkin engkau dapat membedakan.
Mereka begitu persis, tidak ada perbedaannya sedikitpun juga.
Wajahnya, bentuk badannya, gelung rambutnya, pakaiannya!
Wah, benar-benar membingungkan!"
Kata Bwee Hwa dan melihat gadis kembar itu tertawa, ia berseru.
"Lihat, ketawanya juga sama. Bukan main!"
"Akan tetapi aku akan selalu mengenal adik Can Kim Siang!"
Kata Ui Kiang dengan suara penuh keyakinan dan sepasang matanya memandang ke arah wajah Kim Siang.
"Dan aku akan selalu dapat mengenal adik Can Gin Siang!"
Kata pula Ui Kong tidak kalah yakin.
"Sekarang begini saja! Aku akan menguji kalian!"
Kata Bwee Hwa dan ia merasa sangat gembira.
"Akan tetapi kalian berdua pergilah dulu ke belakang semak belukar itu agar jangan dapat melihat ke sini. Nanti akan kupanggil untuk memilih satu demi satu. Jangan mengintai, jangan curang dan Sam-ko di sini yang menjadi saksinya!"
Mereka semua merasa gembira seperti sekumpulan anak-anak sedang bermain-main.
Ui Kiang dan Ui Kong dengan gembira lalu pergi ke belakang semak belukar.
Bwee Hwa berbisik kepada dua orang gadis kembar itu.
"Eh, yang mana sih enci Kim Siang?"
Kim Siang sambil tersenyum menjawab.
"Aku Kim Siang dan ini adikku Gin Siang."
Bwee Hwa mengambil sehelai sapu tangan merah dari saku bajunya.
"Kalian menurut saja, aku akan menguji mereka apakah benar-benar mereka dapat mengenal kalian."
Ia lalu menyelipkan saputangan merah itu di ikat pinggang Kim Siang sehingga tentu saja kini ia tidak bingung lagi. Kim Siang yang memakai saputangan merah di sabuknya dan Gin Siang tidak.
"Kiang-ko, engkau keluarlah!"
Bwee Hwa berseru ke arah semak belukar. Ui Kiang keluar dan menghampiri, dipandang oleh Bwee Hwa, dua orang gadis kembar, dan Bun Sam dengan senyum.
"Nah, Kiang-ko, coba katakan yang mana enci Kim Siang?"
Sejenak Ui Kiang memandang kepada dua orang gadis kembar yang tersenyum itu, kemudian tanpa ragu dia mendekati Kim Siang dan berkata.
"Inilah adik Can Kim Siang!"
Dia menuding ke arah gadis yang memakai tanda merah di ikat pinggangnya itu. Bwee Hwa dan Bun Sam mengangguk-angguk, dan Bwee Hwa lalu berseru ke arah semak belukar.
"Kong-ko, sekarang engkau keluarlah!"
Kepada Ui Kiang ia berkata.
"Kiang-ko, sekarang engkau kembalilah ke belakang semak itu."
Ui Kong datang dan Ui Kiang kembali ke belakang semak.
"Nah, katakan yang mana enci Gin Siang, Kong-ko?"
Tanya Bwee Hwa. Ui Kong sejenak memandang dua orang gadis kembar itu dan tanpa ragu lagi dia menunjuk ke arah gadis yang tidak memakai saputangan merah sambil berkata.
"Inilah adik Can Gin Siang!"
"Bagus, sekarang aku hendak menguji kalian sekali lagi. Kembalilah ke belakang semak, Kong-ko."
Sambil tersenyum Ui Kong kembali ke balik semak di mana Ui Kiang sudah lebih dulu bersembunyi.
Bwee Hwa cepat mengambil saputangan merah dari ikat pinggang Kim Siang dan memasangnya di ikat pinggang Gin Siang.
Dua orang gadis kembar itu tersenyum geli dan Bun Sam juga tersenyum, memandang kagum kepada Bwee Hwa melihat kecerdikan gadis itu menguji kebenaran pengakuan dua orang pemuda itu bahwa mereka dapat mengenal dan membedakan dua orang gadis kembar itu.
"Kiang-ko dan Kong-ko, sekarang kalian berdua keluarlah!"
Bwe Hwa berseru. Dua orang pemuda itu keluar dan sambil tersenyum menghampiri dua orang gadis kembar itu.
"Sekarang, coba kalian pilih, yang mana Emas yang mana Perak?"
Kelakar Bwee Hwa.
Dengan menukar tanda sapu tangan merah itu, ia yakin bahwa dua orang pemuda itu akan keliru atau salah pilih.
Akan tetapi yang membuat Bwee Hwa dan Bun Sam terheran-heran adalah ketika dua orang pemuda itu tanpa ragu dan tanpa meneliti lagi sudah melakukan pilihan masing-masing dengan tepat.
Ui Kiang menghampiri Kim Siang dan memegang tangan gadis itu.
"Inilah adik Kim Siang!"
Dan Ui Kong tanpa ragu-ragu menghampiri gadis yang mengenakan sapu tangan merah di sabuknya, memegang tangannya dan berkata dengan tegas.
"Inilah adik Gin Siang!"
Bwee Hwa tertawa dan bertepuk tangan memuji. Bun Sam merasa kagum, dan berkata.
"Hebat sekali kalian, Kiang-te dan Kong-te, bagaimana kalian dapat mengenal dan membedakan antara mereka dengan baik? Padahal aku harus mengakui bahwa aku sendiri akan bingung kalau disuruh membedakan di antara kedua orang adik kembar ini!"
"Kiang-ko dan Kong-ko, bagaimana kalian dapat memilih begitu tepat? Pada hal aku sudah memindahkan saputangan merah itu dari sabuk enci Kim Siang ke sabuk enci Gin Siang! Tentu ada rahasianya sehingga kalian dapat melihat perbedaan di antara mereka! Katakanlah, apa rahasia mereka itu?"
"Tidak ada rahasianya. Akan tetapi aku akan mudah mengenal adik Gin Siang, biarpun andaikata ia mempunyai seratus orang saudara kembar. Sinar pandang matanya itulah yang membuat aku dapat mengenalnya dengan segera!"
Kata Ui Kong sambil menatap tajam wajah gadis itu.
Gin Siang balas memandang dan ketika dua pasang mata itu bertemu pandang, ada sesuatu yang membuat jantung mereka berdebar dan Gin Siang, gadis gagah perkasa itu menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan seperti seorang gadis dusun yang pemalu!
"Dan bagaimana dengan engkau, Kiang ko?
Apa yang membuat engkau begitu mudah mengenal enci Kim Siang?"
Tanya Bwee Hwa.
Ui Kiang tampak malu-malu, apalagi dia baru menyadari bahwa sejak tadi dia masih memegangi tangan Kim Siang dan anehnya, gadis itupun membiarkan saja tangannya sejak tadi dipegang pemuda sasterawan itu!
"Kalau aku.......
ah, mudah saja.......
begitu adik Kim Siang tersenyum aku segera mengenalnya karena ""
Karena ada yang gingsul (bertumpang tindih) pada giginya yang atas, yang membuat senyumnya menarik sekali."
Semua orang tertawa dan Kim Siang menjadi perhatian.
Iapun ikut tertawa dan tampaklah oleh semua orang bahwa memang benar ada giginya yang gingsul sedangkan Gin Siang tidak.
Kalau keduanya tidak tersenyum, perbedaan itu sama sekali tidak tampak!
"Hei, kenapa kita semua lupa bahwa kita belum mendengar cerita kedua adik kembar ini?
Enci Kim Siang, ceritakanlah pengalamanmu, bagaimana kalian berdua sampai tertawan pula oleh si jahanam Kam Ki,"
Kata Bwee Hwa. Kim Siang menghela napas panjang.
"Kami berdua telah menjadi yatim piatu sejak kami berusia sembilan tahun. Ayah dan ibu tewas ketika terjadi perang saudara dan kami pasti terlantar kalau saja tidak ada piauw-ci (Kakak perempuan misan) kami yang menolong kami. Ia memelihara dan mendidik kami, mengajarkan ilmu silat kepada kami. Ketika kami berusia enambelas tahun, kami menjadi murid Hoa-san Kui-bo dan tinggal di Hoa-san selama tiga tahun. Setelah itu, kami kembali ke rumah piauw-ci di Kim-ke-san (Bukit Ayam Emas).
"Piauw-ci kami minta kepada kami untuk membalaskan dendam kepada seorang pemuda bernama Thio Kam Ki karena pemuda yang menjadi kekasihnya itu telah melakukan penyelewengan dan menyakitkan hatinya. Mengingat akan budi kebaikan piauw-ci itu kepada kami, terpaksa kami menyanggupi. Akan tetapi kami berdua diam-diam mengambil keputusan bahwa kalau Thio Kam Ki itu seorang pemuda yang baik-baik, kami tidak akan membunuhnya, hanya minta dia kembali ke Kim-ke-san untuk menghadap piauw-ci mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Akan tetapi di kaki bukit ini kami mendengar keluhan penduduk pedusunan tentang gerombolan pengganggu rakyat yang berada di puncak ini. Kami lalu naik untuk membasmi gerombolan. Sungguh tidak disangka bahwa pemimpin gerombolan Pek-lian-kauw ini mengaku bernama Thio Kam Ki, orang yang kami cari-cari. Tentu saja kami lalu menyerang untuk membunuhnya, pertama karena seorang kepala gerombolan yang jahat, kedua untuk memenuhi permintaan piauw-ci kami. Kemudian, kami dikeroyok dan dibuat pingsan oleh asap pembius dari ledakan benda peledak. Dalam keadaan pingsan itu kami tidak tahu apa yang terjadi dan ketika siuman, kami sudah berada di dalam kamar, terikat kaki tangan kami, bersama Bwee Hwa ini. Nah, demikianlah kisah kami."
"Sungguh luar biasa!"
Ui Kiang berkata.
"Betapa anehnya kalau Tuhan mengatur perjalanan hidup para manusia! Kita berenam ini secara kebetulan bertemu dan berkumpul di sini, bersama-sama menentang gerombolan penjahat dan kini aku mendapat kenyataan bahwa kami semua ini adalah orang-orang yatim piatu! Sungguh merupakan suatu kebetulan yang luar biasa. Karena itu, aku dan Kong-te dalam kesempatan ini mengundang kalian semua, kakak Sie Bun Sam, adik Lim Bwe Hwa, dan kedua adik Can Kim Siang dan Can Gin Siang, untuk bersama-sama berkunjung ke rumah kami. Secara kebetulan kita semua telah menjadi sahabat-sahabat baik, dan di rumah kami, kita dapat mempererat persahabatan kita dan dapat bercakap-cakap lebih leluasa. Marilah, kalian berempat kami undang!"
Kim Siang dan Gin Siang saling pandang dan Gin Siang berkata.
"Akan tetapi....... kami belum berhasil membunuh jahanam Thio Kam Ki, kami harus mengejar dan mencarinya."
"Gin Siang-moi, jangan khawatir aku akan membantumu mencari penjahat itu. Sekarang. kuharap engkau sudi singgah ke rumah kami seperti yang diminta kakakku tadi."
"Hemm, bukan aku tidak menghargai undangan kalian, akan tetapi aku harus mengejar Kam Ki agar dia tidak mendatangkan kekacauan mengganggu rakyat lebih lanjut!"
Kata Sie Bun Sam.
"Akan tetapi, Sam-ko, mengapa engkau begitu tergesa-gesa? Kam Ki itu tidak akan dapat menghilang. Seorang yang sesat biasanya tidak dapat mengubah kelakuannya yang jahat dan dia pasti akan meninggalkan jejak kejahatannya. Singgah dulu di Ki-lok hanya memakan waktu beberapa hari. Marilah, Sam-ko, kita bersama-sama singgah dulu ke rumah kakak beradik Ui. Baru nanti dari sana kita mencari jejak Kam Ki!"
Kata Bwee Hwa.
"Kita?"
Bun Sam bertanya ragu.
"Ya, twako, karena aku sendiripun tidak mau sudah begitu saja! Jahanam itu terlalu menghinaku dan aku akan terus merasa penasaran sebelum melihat dia tewas!"
"Akan tetapi, aku berniat untuk membujuknva untuk menyerah dan menghadap suhu agar dia dapat bertaubat dan mengubah jalan hidupnya yang sesat, bukan membunuhnya."
"Kalau dia tidak mau?"
Tanya Bwee Hwa.
"Kalau dia tidak mau, baru aku akan menggunakan kekerasan dan paksaan, akan tetapi bukan membunuhnya,"
Kata Bun Sam. Ui Kiang mengangguk-angguk.
"Ah, kak Bun Sam sungguh merupakan seorang pendekar budiman. Ilmu silatnya tinggi dan hatinya penuh kelembutan. Dia benar, Hwa-moi. Kita harus belajar memberi maaf kepada orang lain, apa lagi kalau orang itu mau bertaubat dan mengubah jalan hidupnya yang sesat. Manusia manakah di dunia ini yang sempurna? Hanya Thian (Tuhan) Yang Maha Sempurna. Setiap orang manusia pasti berdosa, pasti pernah melakukan kesalahan, hanya kadarnya saja yang berbeda menurut ukuran kebudayaan dan peradaban manusia sendiri. Kalau kita tidak dapat memaafkan kesalahan orang lain, bagaimana Tuhan akan sudi mengampuni kesalahan kita? Setiap orang dari kita pasti mempunyai kesalahan, maka kalau ada orang lain bersalah, sudah sepatutnya kalau kita memberi maaf. Sam-ko, kebijaksanaanmu semakin mengagumkan hatiku, maka kuharap sukalah engkau menerima undangan kami!"
"Sam-ko, aku sendiri menganggap Kiang-ko dan Kong-ko seperti kakak sendiri, maka akupun ikut mengundangmu!"
Kata Bwee Hwa yang entah bagaimana, ingin sekali memperdalam hubungan persahabatnya dengan Sie Bun Sam.
"Kalau Bu Sam-ko tidak mau menerima undangan itu, kamipun merasa tidak enak untuk menerimanya!"
Kata pula Can Gin Siang.
"Ah, Gin-moi, engkau harus datang!"
Kata Ui Kong sambil memandang wajah gadis itu dengan penuh harapan. Melihat semua orang membujuknya untuk memenuhi undangan kakak beradik Ui itu, Bun Sam tertawa.
"Aha, baiklah kalau begitu. Aku akan pergi bersama kalian."
Semua orang bergembira dan karena tadi Ui Kiang minta kepada para perwira pasukan untuk memberi dua ekor kuda lagi, maka kini enam orang itu meninggalkan tempat itu dengan menunggang kuda.
Enam orang muda itu tiba dengan selamat di rumah gedung keluarga Ui.
Ui Kiang dan Ui Kong lalu memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan pesta untuk menghormati para tamunya.
Dan atas permintaan Bwee Hwa, mereka juga mempersiapkan sebuah meja sembahyang untuk mendoakan agar arwah Ong Siong Li mendapatkan tempat yang baik.
Sepasang gadis kembar memperoleh sebuah kamar, dan masing-masing sebuah kamar untuk Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa.
Gedung keluarga Ui yang kaya itu memang merupakan gedung besar dan memiliki banyak kamar.
Kini keluarga Ui itu tinggal Ui Kiang dan Ui Kong yang tentu saja merasa repot sekali harus mengurus semua perusahaan peninggalan ayah mereka.
Untung bagi mereka, mendiang Hartawan Ui Cun Lee adalah seorang dermawan sehingga para pegawainya amat setia sehingga dapat dipercaya untuk mengurus perusahaan itu.
Malam itu, Ui Kiang dan Ui Kong menjamu empat orang tamu mereka.
Di dalam kamarnya Bwee Hwa duduk melamun.
Ia masih bingung memikirkan urusannya dengan kedua orang saudara Ui itu.
Oleh mendiang ibunya, ia dijodohkan dengan seorang dari mereka, dan mendiang ayah ibu dua orang muda itupun sudah setuju menerimanya sebagai mantu.
Akan tetapi bagaimana dengan Ui Kiang dan Ui Kong sendiri?
Mereka berdua tampak kagum dan tertarik kepadanya, bahkan seperti berlumba mengambil hatinya.
Akan tetapi hal itu bukan menjadi bukti bahwa mereka mencintanya.
Dan yang terpenting, ia sendiri tidak mempunyai rasa cinta terhadap mereka, walaupun ia suka kepada mereka berdua yang merupakan pemuda-pemuda yang baik.
Tidak ada sedikitpun keinginan dalam hatinya untuk diperisteri seorang di antara mereka.
Akan tetapi, apakah ia harus membangkang terhadap pesan terakhir ibunya?
Inilah yang membuat Bwee Hwa melamun dengan hati risau.
Dua orang kakak beradik itu memang tampan.
Yang seorang adalah sastrawan yang memiliki kebijaksaan dan berpemandangan luas tentang kehidupan.
Yang lain adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi.
Ditambah lagi mereka itu kaya-raya.
Mereka akan dapat menjadi suami yang baik, hal ini tidak diragukan hati Bwee Hwa.
Tampan, pandai, bijaksana, kaya-raya.
Apalagi yang kurang bagi seorang wanita?
Akan tetapi, ia harus mengaku dalam hatinya bahwa ia tidak mempunyai perasaan cinta seorang wanita terhadap pria, tidak ingin menjadi isteri mereka, hanya suka menjadi sahabat baik atau saudara.
Kerisauan hatinya membuat Bwee Hwa merasa panas dan ia segera keluar dari kamarnya yang menghadap ke taman.
Ia ingin mencari udara segar untuk menenangkan hatinya.
Begitu keluar dari kamar, udara segar, angin semilir lembut dan keharuman bunga-bunga menyambutnya.
Ia merasa senang dan berjalan-jalan di dalam taman yang luas dan penuh tanaman pohon-pohon buah dan bunga-bunga yang mekar semerbak harum.
Taman itu memang indah.
Apalagi malam itu bulan tiga perempat bulat berseri di langit yang tiada mendung.
Bwee Hwa menemukan sebuah kolam ikan di tengah taman dan di tepi kolam terdapat bangku panjang.
Ia lalu duduk di atas bangku.
Kerisauan hatinya sudah terbawa angin semilir dan hatinya kini merasa tenteram kembali.
Tiba-tiba ia mendengar orang-orang bicara dan langkah kaki mereka menuju ke tempat di mana ia duduk.
Bwee Hwa cepat bangkit dari bangku dan menyelinap ke balik sebatang pohon yang besar.
Siapa tahu mereka itu musuh yang datang dengan niat jahat, pikirnya.
Akan tetapi hatinya lega ketika melihat bahwa yang datang adalah Ui Kiang dan Ui Kong.
Ia hendak keluar menyambut mereka, akan tetapi menahan gerakannya ketika ia mendengar namanya disebut-sebut.
"Urusan dengan Hwa-moi harus kita selesaikan sekarang juga, Kiang-ko, selagi ia masih berada di sini agar keraguan ini dapat segera diakhiri dan diambil keputusan di antara kita."
Demikian Bwee Hwa mendengar suara Ui Kong yang berkata kepada Ui Kiang.
"Mari kita duduk dan bicara dengan hati terbuka, Kong-te. Memang selama ini aku merasa seolah kita bersaing untuk memperisteri Hwa-moi,"
Ajak Ui Kiang. Dua orang muda itu duduk dan tentu saja Bwee Hwa makin tertarik untuk mendengarkan percakapan mereka yang menyangkut dirinya.
"Biar, Kiang-ko. Terus terang saja, tadinya akau amat tertarik kepada Hwa-moi. Siapa yang tidak akan tertarik? Ia cantik jelita dan ilmu silatnya tinggi. Akan tetapi setelah aku melihat Can Gin Siang, baru aku menyadari bahwa aku jatuh cinta kepada Gin-moi dan terhadap Hwa-moi aku hanya merasa kagum dan suka sebagai seorang sahabat atau saudara. Karena itu, menikahlah dengan Lim Bwee Hwa, Kiang-ko karena engkau yang lebih berhak sebagai saudara tua."
"Wah, keadaan kita sama, Kong-te. Akupun menganggap Hwa-moi sebagai sahabat atau saudara saja. Engkau sebenarnya lebih tepat dan cocok untuk menjadi suaminya, kalian sama-sama pendekar. Selain itu, aku juga perlu membuat pengakuan, yaitu bahwa pertemuanku dengan Can Kim Siang membuat aku yakin bahwa aku mencintanya."
"Aduh, bagaimana sekarang?"
Kata Ui Kong dengan suara sedih.
Kedua orang pemuda itu berdiam diri, tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di balik batang pohon besar itu, Bwee Hwa mendengarkan percakapan mereka dan gadis itu hampir bersorak kegirangan mendengar pengakuan mereka!
Seketika lenyap keraguan dan kerisauan dari dalam hatinya.
"Akupun bingung memikirkan persoalan ini. Aku tidak berani mengaku di depan Hwa-moi bahwa aku tidak dapat menjadi suaminya. Hal itu akan menyinggung perasaannya, padahal ia begitu baik terhadap keluarga kita."
"Akupun tidak berani, koko. Padahal ia yang datang kepada kita untuk me-menuhi pesan mendiang ibunya untuk menyerahkan diri menjadi isteri seorang di antara kita. Sekarang bagaimana kita dapat menolaknya? Siapa yang berani bicara terus terang kepadanya? Ia tentu akan merasa tersinggung, merasa ditolak dan mungkin penolakan kita akan dianggap sebagai penghinaan baginya. Ah, aku bingung sekali, Kiang-ko? Bagaimana baiknya ini?"
Ui Kiang menghela napas panjang.
"Ah, aku sendiri masih bingung memikirkan hal ini, Kong-te. Dulu, aku mengira bahwa adik Lim Bwee Hwa saling mencinta dengan adik Ong Siong Li. Akan tetapi, sekarang dia telah tewas. Kalau masih ada dia, tentu saja dia dapat menolong kita. Kalau Hwa-moi dapat berjodoh dengan dia, berarti kita terbebas dari ikatan jodoh yang ditentukan ibu kita itu. Akan tetapi Ong Siong Li telah tiada."
"Bukan soal adik Lim Bwee Hwa saja yang membingungkan, Kiang-ko, akan tetapi juga mengenai perasaan cinta kita terhadap dua orang gadis kembar itu. Bagaimana kalau mereka tidak mau menerima cinta kita? Dan bagaimana pula kita akan mengajukan pinangan seandainya mereka membalas cinta kita? Ingat bahwa bukan hanya kita yang yatim piatu, akan tetapi mereka juga sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi."
"Ah, aku sendiri bingung, Kong-te. Engkau tahu bahwa akupun sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam urusan cinta dan perjodohan."
Kedua orang kakak beradik itu tampak bingung dan tidak dapat mengambil keputusan apa yang harus mereka lakukan menghadapi urusan mereka dengan Bwee Hwa dan dengan dua orang gadis kembar.
"Marilah malam ini kita masing-masing pikirkan secara mendalam agar besok kita dapat menemukan jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini,"
Kata Ui Kiang dan kedua orang kakak beradik itu, lalu meninggalkan taman itu, kembali ke kamar masing-masing.
Setelah mereka pergi, Bwee Hwa keluar dari tempat sembunyiannya, sepasang matanya bersinar dan wajahnya cerah, bibirnya tersenyum.
Hatinya merasa girang bukan main mendengar percakapan dua orang kakak beradik itu.
Masalah yang ia hadapi dengan hati bingung kini telah terpecahkan oleh pengakuan dua orang pemuda dalam percakapan mereka tadi.
Mereka tidak ingin berjodoh dengannya karena mencinta sepasang gadis kembar itu!
Hatinya merasa lega.
Ia sendiri walaupun kagum dan suka kepada mereka, akan tetapi tidak ada keinginan sedikitpun untuk menjadi isteri seorang dari mereka.
Bwee Hwa tersenyum seorang diri ketika ia mendapatkan sebuah gagasan yang amat baik menurut pendapatnya.
Ia akan menjadi comblang di antara mereka!
Kalau kedua orang kakak beradik itu dapat menjadi suami isteri Kim Siang dan Gin Siang, berarti ia bebas!
Ikatan perjodohan dengan seorang di antara kedua kakak beradik yang dulu dibuat oleh mendiang ibunya dan mendiang ibu mereka, telah putus.
Kalau hal itu terjadi karena kedua orang pemuda itu tidak ingin berjodoh dengannya, bukan berarti ia telah tidak menaati pesan terakhir ibunya!
Dengan senyum masih menghias bibirnya karena ia gembira sekali dan telah merencanakan apa yang akan dilakukannya besok untuk memenuhi gagasannya tadi, Bwee Hwa meninggalkan taman dan kembali ke kamarnya dan dapat tidur dengan nyenyak.
Sama sekali ia tidak tahu bahwa tadi ketika ia mendengarkan percakapan kedua kakak beradik itu, ada bayangan lain yang melihatnya dan ikut mendengarkan percakapan Ui Kiang dan Ui Kong itu.
Bayangan itu adalah Sie Bun Sam yang secara kebetulan, tanpa disengaja, juga mencari hawa segar di taman itu.
Pada keesokan harinya, setelah mandi dan bertukar pakaian, Bwee Hwa men-datangi kamar sepasang gadis kembar itu.
Mereka tinggal sekamar dalam se-buah kamar yang besar yang diperuntukkan mereka oleh kakak beradik Ui.
Setelah dipersilakan masuk, Bwee Hwa mendapatkan sepasang gadis kembar itu juga telah mandi dan memakai pakaian yang bersih dan rapi.
"Wah, sepagi ini engkau sudah begini cantik dan rapi! hendak ke manakah engkau, kami harap engkau tidak ingin segera pergi meninggalkan tempat ini,"
Kata Kim Siang. Bwee Hwa tersenyum mengamati mereka berdua.
"Wah, siapa yang lebih rapi dan cantik? Kalian juga tampak segar bagaikan dua kuntum bunga yang amat indah menarik. Masa aku hendak meninggalkan tempat yang indah dan menyenangkan ini? Apakah kalian tidak menganggap rumah kedua orang kakak angkatku ini kurang nyaman dan enak untuk dijadikan tempat tinggal?"
"Wah, kami senang sekali berada di sini, Hwa-moi. Rumah ini besar dan indah, juga terawat bersih dan rapi. Dari jendela kamar ini kami dapat melihat taman bunga yang juga amat indah. Kami senang sekali tinggal di sini dan pagi ini kami berdua ingin sekali melihat-lihat keadaan kota Ki-lok ini,"
Kata Gin Siang.
"Nah, itu baik sekali. Kota ini lumayan ramainya dan mendiang ayah kedua kakak Ui adalah salah seorang hartawan yang amat terkenal di sini karena kedermawanannya. Juga di luar kota kira-kira sepuluh lie (mil) dari sini terdapat Kuil Bah-hok-si yang amat terkenal dengan patung Kwan-im yang kita rampas dari sarang Pek-lian-kauw itu. Kuil itu amat besar dan indah, dikunjungi banyak orang, bahkan dari kota-kota besar lain."
"Wah, kalau begitu mari kita pergi ke sana, adik Bwee Hwa!"
Kata Kim Siang dengan gembira.
"Boleh saja, akan tetapi nanti dulu. Kunjunganku ke kamar kalian ini sesung-guhnya membawa tugas yang amat penting."
"Tugas penting?"
Gin Siang memandang penuh selidik, diikuti Kim Siang.
"Tugas apakah itu dan siapa pula yang menugaskan, Hwa-moi?"
"Terus terang saja, aku telah dianggap sebagai adik sendiri oleh kedua kakak Ui. Mereka sudah tidak mempunyai ayah ibu, maka akulah yang kejatuhan tugas ini dari mereka. Sebelumnya aku harap kalian tidak menjadi marah kepadaku."
Sepasang gadis kembar itu semakin heran.
"Eh, apa sih maksudmu, Hwa-moi? Apa hubungannya pula dengan kami berdua?"
"Nanti dulu, kalian harus berjanji dulu bahwa kalian tidak akan marah kepadaku kalau aku menceritakan apa tugasku ini."
"Tentu saja kami tidak akan marah! Kenapa kami mesti marah kalau engkau menceritakan tentang tugasmu?"
Tanya Gin Siang.
"Karena hal ini menyangkut diri kalian berdua."
"Eh? Benarkah? Engkau membuat kami ingin tahu sekali, adik Bwee Hwa! Tugas apakah itu? Katakan, kami berjanji tidak akan marah!"
Kata Gin Siang.
"Nah, kalau begitu baru aku berani menceritakan. Begini, seperti kukatakan tadi, kakak Ui Kiang dan kakak Ui Kong sudah tidak mempunyai keluarga lagi, maka mereka mengangkat aku menjadi utusannya. Dan tugasku menemui kalian berdua pagi hari ini adalah"""
Bwee Hwa berhenti lagi dan memandang wajah kedua gadis kembar itu.
"Akan tetapi benar, kalian berjanji tidak akan marah, ya?"
Sepasang gadis kembar itu menjadi tidak sabar.
"Kami berjanji tidak akan marah! Katakanlah!"
Kata mereka hampir berbareng.
"Kakak Ui Kiang dan Ui Kong adalah dua orang pemuda yang amat baik budi, sopan dan juga pemalu, maka mereka minta tolong kepadaku untuk menyatakan perasaan mereka berdua kepada kalian. Aku bertugas memberitahu kalian bahwa Kiang-ko jatuh cinta kepadamu, enci Kim Siang, dan Kong-ko jatuh cinta kepada enci Gin Siang, lega hatiku karena telah menyampaikan pesan itu! Kalian tidak marah, bukan?"
Bwee Hwa memandang wajah kedua orang gadis kembar itu dan melihat mereka segera menundukkan muka yang menjadi merah dan mereka tersenyum malu-malu, ia berani melanjutkan.
"Dan selanjutnya, biarpun ini belum resmi, kedua Kiang-ko dan Kong-ko meminang kalian untuk menjadi isteri mereka. Tentu saja kalau diharuskan, mereka akan mengajukan pinangan secara resmi, setelah itu akan diadakan upacara pernikahan dengan pesta meriah!"
Dua orang gadis itu masih menundukkan muka.
Mereka berdua merasa heran, dan malu-malu, akan tetapi juga di dalam hati mereka merasa girang sekali.
Sebetulnya secara diam-diam mereka berdua juga mengagumi kedua orang pemuda kakak beradik itu.
Ui Kong pemuda gagah perkasa dengan ilmu silat yang cukup tinggi, dan Ui Kiang, biarpun tidak pandai ilmu silat, namun dia seorang sastrawan yang cerdas dan pandai.
Lebih lagi, keduanya adalah pemuda-pemuda kaya-raya, memiliki banyak perusahaan dan mereka terkenal dermawan dan baik budi pula.
"Hei, bagaimana sih kalian ini? Diajak bicara serius malah diam saja, menunduk dan hanya tersenyum-senyum! Jawablah! Bagaimana aku harus memberi jawaban kepada kedua kakak Ui itu kalau mereka bertanya bagaimana hasil pelaksanaan tugasku ini? Enci Kim Siang dan Gin Siang, jawablah apa yang harus kuberikan kepada mereka? Hayo, jawablah dan katakan sesuatu, bukan menunduk dengan muka kemerahan dan diam seribu bahasa!"
Bwee Hwa sengaja menggoda karena sebagai seorang wanita, ia dapat merasakan bahwa bidikannya itu mengenai sasaran yang tepat.
Kalau tidak, tentu dua orang gadis itu akan marah, atau setidaknya memperlihatkan ketidak-senangan atau penolakan mereka.
Akan tetapi mereka diam dan menunduk malu-malu sambil tersenyum, ia dapat merasakan bahwa mereka itu sesungguhnya sama-sama mau tapi malu!
Akhirnya Kim Siang yang lebih pandai bicara dibandingkan adik kembarnya, menjawab dengan pertanyaan.
"Adik Bwee Hwa, benarkah semua ucapanmu tadi? Apakah engkau hanya bergurau hendak menggoda kami? Rasanya tidak mungkin dua orang pemuda sehebat mereka itu mau...... sama kami, dua orang gadis yatim-piatu melarat dan bodoh lagi......."
"Heiit! Jangan merendahkan diri seperti itu! Dan kalian menganggap mereka dua orang pemuda hebat, ya? Nah, kalau benar mereka itu hebat, lalu apalagi yang menghalangi kalian untuk segera menerima pinangan mereka? Jawablah ya, bahwa kalian sudah menerima pinangan mereka dan suka menjadi isteri mereka agar aku dapat segera menceritakan kepada mereka dan upah jerih payahku tentu banyak sekali!"
Bwee Hwa tertawa dan dua orang gadis itu juga merasa geli dan tertawa.
"Hemm, jadi sekarang engkau telah bekerja sebagai mak comblang, adik Bwee Hwa?"
Gin Siang bertanya dan kembali ketiganya tertawa.
"Mak comblang bayaran?"
"Sudah, jangan berkelakar lagi. Aku menghendaki jawaban yang tegas. Mereka itu sudah menanti-nanti dengan tidak sabar. Hayo beri jawaban, ya atau tidak?"
"Adik Bwee Hwa, bagaimana mungkin perkara perjodohan diputuskan secara kilat dan tergesa-gesa seperti ini? Bagaimanapun juga, kami masih mempunyai seorang piauw-ci (kakak misan) yang juga menjadi guru pertama kami, maka urusan perjodohan kami haruslah dilaporkan kepadanya lebih dulu untuk minta pertimbangan dan restunya,"
Kata Kim Siang.
"Enci Kim benar, adik Bwee. Kami harus mendapatkan persetujuan dari guru pertama kami, yaitu Pek-hwa Sianli yang tinggal di lereng Bukit Ayam Emas,"
Kata Gin Siang.
"Ia dapat menjadi wali kami."
"Baik, hal itu mudah dilakukan. Akan tetapi yang paling penting sekarang adalah pengakuan kalian berdua. Dua orang kakak Ui sudah menyatakan cintanya kepada kalian berdua. Sekarang bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga mencinta mereka...... eh, maksudku, apakah kalian berdua pada hakekatnya suka menjadi isteri mereka?"
Dua orang gadis kembar itu saling pandang, kulit wajah mereka yang cantik itu menjadi semakin merah, lalu keduanya....... mengangguk sambil tersenyum malu-malu.
"Nah, begitu dong! Wah, sebagai seorang mak comblang amatir, hasil karya pertamaku ini tidak mengecewakan!"
Bwee Hwa berseru gembira sekali dan kembali tiga orang gadis itu tertawa riuh.
"Heii! Kalian bertiga begitu gembira! Bolehkah kami ikut merasakan kegembi-raan itu?"
Sepasang gadis kembar itu terbelalak kaget dan menundukkan muka mereka ketika melihat bahwa yang datang adalah Ui Kiang dan Ui Kong yang agaknya tertarik oleh suara tawa tiga orang gadis itu.
Melihat mereka, Bwee Hwa terkejut.
Celaka, permainannya bisa ketahuan, pikirnya.
Maka ia lalu berlari keluar dan di depan pintu ia memegang tangan Ui Kiang dan Ui Kong, lalu di-ajaknya pergi ke ruangan lain.
"Tentu saja kalian boleh ikut gembira karena aku membawa kabar baik!"
Seru Bwee Hwa nyaring agar terdengar dua orang gadis dalam kamar itu. Kakak beradik itupun heran dan terkejut melihat Bwee Hwa menggandeng tangan mereka dan menariknya ke ruangan lain.
"Eh, Hwa-moi, ada apakah ini?"
Mereka tentu saja merasa heran karena gadis ini belum, pernah bersikap sedemikian akrab, apalagi sampai memegang tangan mereka dan menariknya masuk ke ruangan dalam itu!
Setelah tiba di ruangan itu, Bwee Hwa melepaskan tangan mereka dan berkata.
"Silakan duduk, Kiang-ko dan Kong-ko. Aku membawa kabar yang amat baik dan menggembirakan kalian!"
Kedua orang kakak beradik itu duduk berhadapan dengan Bwee Hwa meman-dang wajah ayu itu penuh selidik.
"Kabar apakah, Hwa-moi? Engkau begini penuh rahasia!"
Kata Ui Kong.
"Coba sekarang jawablah dulu pertanyaanku. Kiang-ko, engkau mencinta Can Kim Siang dan Kong-ko mencinta Can Gin Siang, bukan?"
Kakak dan adik itu terkejut sekali dan merasa khawatir kalau-kalau hal itu membuat gadis yang telah dipertunangkan dengan seorang di antara mereka itu menjadi marah.
"Bagaimana engkau dapat berkata begitu?"
Tanya mereka hampir berbareng. Melihat pandang mata kedua orang pemuda itu kepadanya mengandung kekhawatiran, maka Bwee Hwa tersenyum dan berkata.
"Akuilah saja terus terang, aku tidak akan marah. Aku akan marah kalau kalian berbohong dan tidak mau mengaku secara jantan. Nah, kuulangi pertanyaanku. Kiang-ko, engkau mencinta enci Can Kim Siang, bukan?"
Ui Kiang memandang Bwee Hwa dengan muka berubah kemerahan. Dia menghela napas panjang lalu menjawab.
"Tidak kusangkal, Hwa-moi, aku mencinta adik Can Kim Siang."
"Dan engkau mencinta Can Gin Siang, Kong-ko?"
Ui Kong akhirnya menjawab dengan tegas.
"Benar, Hwa-moi, aku mencinta adik Can Gin Siang! Akan tetapi bagaimana engkau tahu akan hal itu?"
"Ya, bagaimana engkau mengetahui rahasia hati kami itu, Hwa-moi?"
Ui Kiang juga bertanya.
"Dengarlah baik-baik! Semalam secara tidak sengaja aku mendengar percakapan kalian berdua di taman......."
"Ahh.......!"
Kakak beradik itu terkejut sekali.
"Tenanglah! Aku sama sekali tidak marah dan susah, bahkan aku merasa gembira sekali. Untuk membuktikan bahwa aku tidak marah atau susah, pagi ini aku mendatangi kedua enci kembar itu dan aku mewakili kalian berdua untuk menyatakan keinginan kalian untuk memperisteri mereka, mengajukan pinangan secara tidak resmi......"
"Ahhh......!"
Kakak beradik itu semakin terkejut.
"Jangan ber ah-ah ber uh-uh, karena hasilnya amat menggembirakan. Kedua enci kembar itu menerima cinta kasih kalian dengan girang. Mereka bersedia menjadi isteri kalian, sekarang tinggal melamar dan menanti laporan mereka kepada piauw-ci mereka di Bukit Ayam Emas, yaitu Pek-hwa Sianli. Nah, bu-kankah itu kabar yang amat membahagiakan kalian?"
Kakak beradik itu saling pandang, lalu menatap wajah Bwee Hwa.
"Aduh, terima kasih atas semua kebaikanmu ini, Hwa-moi!"
Kata Ui Kong.
"Hwa-moi, kami mohon maaf kepadamu kalau tanpa disengaja kami telah menyinggung perasaanmu,"
Kata Ui Kiang. Bwee Hwa tersenyum.
"Sama sekali tidak, Kiang-ko, aku bahkan merasa gembira sekali karena sesungguhnya, aku sendiri sama sekali belum mempunyai keinginan untuk menikah. Kalau aku sampai menghubungi kalian, itu adalah karena aku ingin menaati pesan terakhir ibuku."
"Ah, kalau begitu, sekali lagi terima kasih, Hwa-moi. Engkau sungguh seorang gadis yang bijaksana dan baik budi!"
Kata Ui Kong.
"Hwa-moi, karena kita bertiga ini sama-sama sudah yatim piatu dan tidak mempunyai sanak keluarga lain, maka kami akan merasa berbahagia sekali kalau engkau mau menjadi adik angkat kami agar hubungan baik antara ibu kita dapat dilanjutkan!"
Kata Ui Kiang.
"Aku akan senang sekali menjadi adik angkat kalian!"
Jawab Bwee Hwa.
"Bagus! Wah, kami yang merasa beruntung sekali!"
Kata Ui Kong.
"Siang ini kita rayakan pengangkatan saudara ini! Kita rayakan bersama kedua adik kembar dan juga kakak Sie Bun Sam! Kita mengadakan pesta antara kita!"
Seru Ui Kiang.
"Pesta pengangkatan saudara ataukah, pesta pertunangan kalian?"
Bwee Hwa menggoda.
"Yah....... kedua-duanya!"
Biarpun sudah mendapat kabar yang menentukan dari Bwee Hwa bahwa cinta mereka kepada dua orang gadis kembar itu mendapat sambutan, namun kakak beradik Ui itu masih belum yakin benar.
Pula mereka berdua sama sekali tidak mempunyai pengalaman tentang hubungan cinta kasih sehingga kalau bertemu dengan dua orang gadis kembar itu, mulut mereka seperti dibungkam dan mereka tidak dapat berkata apa-apa.
Melihat hal ini Bwee Hwa menjadi gemas dan penasaran juga.
Pagi hari itu Bwee Hwa menemani sepasang gadis kembar melihat-lihat keadaan kota Ki-lok, bahkan pergi berkunjung ke kuil Ban-hok-si.
Ketika mereka pulang, mereka melihat bahwa sebuah meja sembahyang telah diatur rapi karena kedua orang kakak beradik Ui itu hendak melakukan upacara sembahyangan untuk acara angkat saudara antara mereka dan Bwee Hwa.
Sie Bun Sam tampak membantu kesibukan dua orang kakak beradik itu.
Tak lama kemudian semua telah dipersiapkan.
Dari alat-alat upacara sembahyang sampai pesta antara mereka berenam di ruangan dalam, di mana ter-dapat sebuah meja besar dengan enam buah kursinya.
Dengan Ui Kiang sebagai pengatur karena dia yang lebih tahu akan upacara itu, mereka bertiga melakukan sumpah di depan meja sembahyang, sumpah pengangkatan saudara antara dua orang kakak beradik Ui itu dengan Lim Bwee Hwa.
Setelah selesai upacara pengangkatan saudara antara tiga orang itu yang disaksikan dengan penuh perhatian oleh Sie Bun Sam dan sepasang gadis kembar, Ui Kiang lalu berkata.
"Sekarang, untuk merayakan upacara pengangkatan saudara ini, kami bertiga, aku sendiri, adik Ui Kong dan adik Bwee Hwa, mengundang kakak Sie Bun Sam dan kedua adik Kim Siang dan adik Gin Siang untuk bersama kami berpesta makan minum."
Mereka berenam lalu duduk menghadapi meja makan bundar yang besar itu.
Segera para pelayan datang menghidangkan masakan-masakan yang mewah dan mahal ke atas meja, disertai anggur dan arak.
Tiga orang gadis itu tidak berani minum arak yang keras, dan hanya minta anggur yang lebih halus.
Mereka makan minum dengan gembira.
Sie Bun Sam mengangkat cawan araknya lalu dengan wajah gembira berkata.
"Aku memberi selamat kepada adik-adik Ui Kiang, Ui Kong dan Bwee Hwa atas pengangkatan saudara ini, semoga kalian bertiga dapat menjadi kakak beradik yang rukun, setia dan saling membantu. Marilah kita minum untuk itu!"
Semua orang minum dari cawan masing-masing dan pesta itu dirayakan oleh mereka berenam dengan gembira. Setelah selesai makan, Bwee Hwa mengangkat cawan anggurnya.
"Sekarang aku hendak memberi selamat kepada Kiang-ko dan Kong-ko, dan kepada enci Kim dan enci Gin atas hubungan kasih antara mereka. Semoga hubungan itu akan segera membawa mereka dua pasangan ke jenjang pernikahan yang berbahagia."
Biarpun wajah mereka berubah kemerahan, kedua saudara Ui dan kedua gadis kembar terpaksa minum dari cawan masing-masing, diikuti Bun Sam yang tersenyum.
"Sam-ko, aku ingin bicara denganmu, akan tetapi jangan didengar orang lain. Maka marilah kita keluar dan tinggalkan dua kakakku dengan kekasih mereka masing-masing!"
Ajak Bwee Hwa pada Sie Bun Sam.
Pemuda itu yang sudah maklum apa yang terjadi, tersenyum dan bangkit lalu bersama Bwee Hwa meninggalkan runangan itu.
Setelah tiba di ruangan depan, Bun Sam dan Bwee Hwa duduk di atas bangku berhadapan.
"Hwa-moi, apakah yang ingin kau bicarakan dengan aku?"
Tanya pemuda itu. Bwee Hwa tersenyum.
"Aku hanya ingin memberi kesempatan kepada dua pasang kekasih itu untuk bercakap-cakap dengan leluasa. Kehadiran kita hanya akan mengganggu mereka."
Bun Sam menghela napas panjang dan memandang gadis itu dengan sinar mata kagum.
"Adik Lim Bwee Hwa, engkau selain gagah perkasa, juga engkau memiliki kebijaksanaan. Apa yang telah kaulakukan terhadap dua pasangan itu, sungguh luar biasa dan cerdik sekali."
"Eh? Apa maksudmu?"
Tanya Bwee Hwa heran karena tidak mengira ada orang yang mengetahui akal yang ia pergunakan untuk mempertemukan dua pasang hati itu.
"Aku tahu dan menyaksikan ketika engkau mendengarkan percakapan kedua orang adik Ui di taman, dan aku tahu pula betapa pagi tadi engkau beraksi sebagai mak comblang! Padahal, menurut apa yang kudengar dari semua percakapan itu, engkaulah yang sebetulnya dijodohkan dengan seorang di antara dua kakak beradik itu."
"Ah, aku sama sekali tidak menginginkan hal itu dan kenyataan bahwa kedua orang kakak angkatku itu mencinta kedua enci kembar, merupakan jalan keluar terbaik untuk membatalkan ikatan yang dulu diadakan oleh ibu kami. Sekarang, kedua orang pemuda itu menjadi kakak angkatku dan aku merasa gembira sekali. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu kita bicarakan lagi, Sam-ko, setelah meninggalkan kota ini, engkau hendak pergi ke mana?"
"Sudah kukatakan bahwa aku ingin mencari sute-ku Thio Kam Ki untuk memenuhi pesan guruku."
"Kalau begitu, ijinkan aku ikut dan membantumu menangkap sutemu itu!"
"Akan tetapi...... setelah engkau menjadi adik angkat kedua saudara Ui, seharusnya engkau tinggal di sini membantu pekerjaan mereka, Hwa-moi."
"Hemm, jadi engkau tidak suka kalau aku ikut dan membantumu menangkap Thio Kam Ki itu?"
Bwee Hwa bertanya dan matanya mencorong memandang wajah pemuda itu.
"Ohh, tidak, bukan begitu, Hwa-moi!"
Cepat Bun Sam membantah sambil menggoyangkan kedua tangan untuk menyangkal.
"Kalau begitu, aku boleh ikut?"
Bwee Hwa cepat menyerang pemuda yang masih gelagapan itu.
"Eh, oh....... begini, Hwa-moi. Terus terang saja, aku tidak pernah melakukan perjalanan bersama seorang gadis asing......"
"Aku bukan gadis asing! Kita telah bekerja sama dan menjadi sahabat. Ataukah keliru anggapanku ini dan engkau tidak sudi menganggap aku sahabat?"
Bertubi-tubi serangan kata-kata Bwee Hwa sehingga Bun Sam menjadi kewalahan dan tidak berdaya.
"Begini maksudku......"
Katanya gagap.
"ah, engkau membikin aku bingung, Hwa-moi."
"Mengapa bingung? Urusannya sederhana. Aku ingin ikut dan membantumu menangkap Thio Kam Ki. Jawabanmu tinggal boleh atau tidak, habis perkara. Mengapa mesti bingung-bingung?"
"Hemm, engkau benar juga. Memang aku kurang pengalaman menghadapi wanita sehingga begitu engkau mendesakku, aku kehabisan akal. Akan tetapi sebelum aku memutuskan, aku ingin mendapatkan dulu penjelasanmu. Mengapa engkau ingin ikut denganku mencari sute-ku yang belum kuKetahui di mana adanya itu? Padahal engkau dapat tinggal di sini bersama kedua kakakmu? Mengapa mencari kesusahan dan kesulitan melakukan perjalanan tidak tentu arahnya dan mungkin menghadapi segala macam bahaya?"
"Baik, akan kujawab. Akan tetapi setelah itu, engkau harus pula memberi jawaban, boleh atau tidak! Begini, Sam-ko. Aku adalah seorang pengembara, ingin bertualang, tidak akan betah tinggal di rumah, betapapun baiknya dan menyenangkannya rumah itu. Selain itu, akupun mendendam sakit hati kepada Thio Kam Ki, mengingat akan kematian sahabat baikku, kakak Ong Siong Li."
"Akan tetapi, menurut apa yang kudengar dari kalian, saudara Ong Siong Li itu tewas karena dikeroyok oleh Ang-bin Moko dan anak buah Pek-lian-kauw, sedangkan Ang-bin Moko sudah tewas oleh adik Ui Kong. Bukankah itu berarti kematian saudara Ong Siong Li telah terbalas?"
Bwee Hwa menggeleng kepalanya.
"Akan tetapi penyebab tewasnya kakak Ong Siong Li adalah karena Kam Ki yang berada di sana dan memimpin Pek-lian-kauw. Kalau tidak ada dia, kami bertiga, aku Kong-ko dan Li-ko akan mampu membasmi Pek-lian-kauw dan Li-ko tidak akan tewas! Biangkeladinya adalah Thio Kam Ki dan juga aku ingin membalas karena dia pernah menangkap aku dan kedua enci Can dengan niat terkutuk dan keji!"
Bun Sam mengerutkan alisnya.
"Hwa-moi, aku tidak ingin membunuhnya, hanya menyadarkannya dan mengajak dia pulang kepada suhu agar suhu dapat menyembuhkan sakitnya."
"Sakit? Dia sakit?"
"Benar, Hwa-moi. Bukan jasmaninya yang sakit, melainkan rohaninya. Aku tidak ingin engkau membunuhnya. Dengar, Hwa-moi, dendam merupakan racun yang akan merusak hati sendiri. Dendam menimbulkan kebencian dan seorang pendekar menentang orang yang sesat untuk menghentikan perbuatan jahatnya, bukan menentang karena kebenciannya. Kebencian menghilangkan keadilan, padahal seorang pendekar harus mempertahankan kebenaran dan keadilan. Aku, pernah mendengar akan nama Sin-kiam Lojin dari guruku yang memujinya sebagai seorang pendekar pedang yang bijaksana dan baik budi. Aku percaya bahwa sebagai muridnya engkaupun tentu memiliki sifat-sifatnya yang bijaksana itu."
Bwee Hwa menundukkan mukanya dan teringatlah ia kepada gurunya, Sin-kiam Lojin dan hatinya merasa terharu. Memang dahulu gurunya sering menerangkan kepadanya soal kebijaksanaan. Setelah (Lanjut ke
Jilid 14) Kisah Si Tawon Merah Dari Bukit Hengsan (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 kini ia kehilangan ibu kandungnya, biarpun ia sudah mendapatkan dua orang kakak angkat yang baik dan sayang kepadanya, namun ia merasa rindu kepada gurunya yang telah mengasuh dan mendidiknya semenjak ia berusia delapan tahun.
Gurunya sudah tua dan tinggal sebagai pertapa, seorang diri di rumah puncak bukit Pegunungan Heng-san.
Setelah menghela napas panjang, ia berkata.
"Engkau benar, Sam-ko. Ucapanmu mengingatkan aku kepada guruku. Pernah suhu mengatakan bahwa lebih baik orang jahat yang bertaubat dan menghentikan kejahatannya daripada orang yang merasa dirinya baik karena sekali waktu dia akan dapat menyeleweng dari kebenaran. Seperti orang sakit dapat sembuh dan orang sehat sekali waktu dapat saja jatuh sakit."
"Lo-cianpwe (orang tua gagah) Sin-kiam Lojin memang seorang sakti yang bijaksana."
"Ah, bicara tentang suhu membuat aku merasa rindu sekali padanya, Sam-ko. Kalau begitu, tentang Kam Ki biar kuserahkan saja padamu apa yang akan kaulakukan terhadap dirinya. Kalau engkau tidak keberatan, aku ingin ikut padamu mencari sambil meluaskan pengalaman di dunia kang-ouw, dan kalau kita berada dekat Heng-san, aku akan berkunjung kepada suhu yang sudah tua."
"Tentu saja aku tidak keberatan, Hwa-moi. Kalau engkau setuju kita dapat mulai perjalanan kita besok."
"Besok? Aku harus bicara dulu dengan kedua orang kakakku, dan merundingkan urusan pertunangan mereka dengan kedua enci kembar."
"Wah, engkau memang pandai menjadi comblang. Mungkinkah kelak engkau juga menjadi comblang dan mencarikan seorang jodoh untukku?"
"Apakah engkau yang sudah berusia duapuluh lima tahun belum mempunyai calon jodoh, Sam-ko?"
Bun Sam tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Belum, Hwa-moi. Entah me-ngapa, akan tetapi sampai sekarang aku masih belum laku. Bahkan yang datang menawarkan belum pernah ada!"
"Ih! Memang engkau ini barang dagangan? Hayo kita temui mereka, Sam-ko. Sudah cukup lama kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk bercakap-cakap dan berunding. Mari Sam-ko!"
Mereka lalu memasuki ruangan di mana mereka tadi meninggalkan dua pasang kekasih itu bercakap-cakap dengan leluasa.
Karena tidak ingin mengganggu, maka setelah tiba di depan pintu ruangan, sebelum masuk Bun Sam mengetuk daun pintunya terlebih dulu.
"Siapa? Masuklah!"
Terdengar Ui Kiang menegur dari dalam. Bwee Hwa dan Bun Sam muncul dan serentak empat orang muda yang berada di dalam menyambut dengan gembira dan mereka berseru.
"Nah, ini mak comblang kita datang!"
Bwee Hwa memandang kepada mereka dan ikut tertawa senang melihat betapa wajah empat orang itu begitu cerah berseri dan mereka tersenyum gembira.
"Hemm, sepatutnya kalian berempat berterima kasih dan memberi hadiah kepadaku, bukan malah mentertawakan aku!"
Kata Bwee Hwa. Dua orang gadis kembar menghampiri dan merangkulnya.
"Adikku yang manis, kami memang amat berterima kasih padamu!"
Kata Ui Kiang dan Ui Kong hampir berbareng. Mereka semua duduk mengelilingi meja.
"Nah, sekarang ceritakan padaku, keputusan apa yang telah kalian ambil. Aku sebagai mak comblang harus mengetahuinya!"
"Begini, Hwa-moi. Adik Gin Siang bersama aku akan pergi mengunjungi Pek-hwa Sianli di Kim-ke-san (Bukit Ayam Emas) untuk membicarakan urusan perjodohan kami berempat, sedangkan enci Kim Siang akan berada di sini membantu Kiang-ko mengurus perusahaan kita yang cukup merepotkan. Tentu saja engkau juga harus membantu Kiang-ko mengurus beberapa macam perusahaan kita, Hwa-moi."
"Wah, sayang sekali aku belum dapat membantu, Kiang-ko dan Kong-ko. Aku juga akan pergi membantu Sam-ko mencari Thio Kam Ki, dan aku ingin me-ngunjungi guruku di Heng-san untuk memberitahu bahwa aku telah mendapatkan dua orang kakak angkat yang baik hati di Ki-lok. Aku sudah merasa rindu kepada suhu yang sudah tua."
"Tapi...... engkau harus berada di sini kalau....... kami merayakan pernikahan kami!"
Kata Ui Kiang.
"Benar, Hwa-moi! Kami tidak akan merasa bahagia kalau adik kami satu-satunya tidak hadir menyaksikan upacara pernikahan kami!"
Kata Ui Kong. Bwee Hwa tertawa.
"Hemm, jangan kalian khawatir, kakak-kakakku yang baik! Katakan saja, kapan pernikahan kalian dilaksanakan, aku pasti akan pulang pada waktunya!"
"Ah, hal ini kami belum dapat memastikan kapan, Hwa-moi,"
Kata Ui Kiang.
"Tergantung hasil pertemuan Kong-te dan Gin-moi nanti dengan Pek-hwa Sianli. Kami ingin melangsungkan pernikahan secepatnya......."
"Aih, terburu-buru amat! Tidak sabar lagi, Kiang-ko?"
Bwee Hwa menggoda sehingga muka Ui Kiang menjadi merah.
"Hussh!"
Cela Ui Kong.
"Adik macam apa kau ini, menggoda kakak yang lebih tua!"
Akan tetapi berkata begini dia sambil tertawa sehingga semua orang ikut tertawa, maklum bahwa itu hanya kelakar belaka.
"Kita semua sudah yatim piatu, maka kalau memang sudah ada keputusan, mengapa harus menunggu-nunggu lagi? Perusahaan kita yang banyak membutuhkan penanganan perlu segera kita urus, dan enci Kim beserta adik Gin dapat membantu kami. Juga engkau!"
"Begini saja,"
Kata Bwee Hwa.
"Besok pagi aku berangkat, dan bagaimana kalau setahun kemudian aku kembali? Apakah terlalu lama untuk kalian yang sudah tidak sabar lagi?"
"Setahun?"
Kata Ui Kiang.
"Nanti dulu, lama waktunya tergantung dari kepergian Kong-te berdua ke Kim-ke-san. Berapa lama kira-kira perjalanan ke sana sampai selesai dan kembali ke sini, Kim-moi?"
Kim Siang dan Gin Siang mengingat-ingat, lalu Kim Siang berkata.
"Kim-ke-san cukup jauh dari sini. Perjalanan menunggang kuda akan makan waktu sekitar dua bulan."
"Hemm, dua bulan? Jadi perjalanannya saja empat bulan pulang pergi, belum waktu yang dipergunakan untuk berunding di sana bersama Pek-hwa Sianli, dan belum lagi diperhitungkan kalau ada rintangan dalam perjalanan. Kukira kalau aku kembali satu tahun setelah besok aku pergi, aku tidak akan terlambat menghadiri upacara pernikahan kalian."
"Baiklah, Hwa-moi. Kamipun harus menghabiskan masa perkabungan kami. Jadi, setahun lagi engkau harus pulang dan kami akan menunggu kedatanganmu sampai setahun sejak besok pagi,"
Kata Ui Kiang.
Malam itu, enam orang muda ini bercakap-cakap sampai jauh malam.
Mereka bercakap-cakap dan bersendau gurau sehingga suasana semakin akrab.
Bahkan Sie Bun Sam sendiri yang selama ini tinggal di Pegunungan Himalaya yang sunyi, merasa amat gembira karena belum pernah dia mendapatkan sahabat-sahabat yang sehaluan dan sebaik mereka.
Diam-diam dia memperhatikan sikap dan ucapan Bwee Hwa dan dia mengambil kesimpulan bahwa gadis yang cantik jelita ini biarpun tampaknya keras hati, namun sesungguhnya memiliki watak yang lembut dan juga berjiwa pendekar.
Maka dia menjadi semakin tertarik kepada Ang-hong-cu Lim Bwee Hwa, Si Tawon Merah ini.
Pada keesokan harinya, Bwee Hwa berangkat pergi dengan Bun Sam.
Biarpun Bun Sam dengan sungkan menolak namun kedua orang kakak beradik Ui itu memaksanya untuk menerima pemberian mereka seekor kuda.
Bwee Hwa juga mendapatkan seekor kuda dan sekatung uang emas dan perak untuk bekal perjalanan.
Ui Kong dan Can Gin Siang juga pergi menunggang kuda.
Ui Kiang tinggal di rumah bersama Can Kim Siang yang akan membantunya mengurus perusahaan keluarga Ui yang banyak itu.
Dusun Liok-teng sebetulnya merupakan sebuah dusun yang cukup besar dan ramai, dan daerah itu sebetulnya merupakan daerah yang subur.
Hasil pertanian dan perkebunan di daerah itu melimpah sehingga sebetulnya dapat memakmurkan rakyatnya.
Akan tetapi, seperti kebanyakan keadaan dusun di waktu itu, hampir semua tanah pertanian maupun perkebunan dimiliki oleh beberapa orang hartawan saja sehingga sebagian besar rakyatnya hidup dari penghasilan mereka sebagai pekerjaan tani yang mendapat upah yang besarnya ditentukan oleh para pemilik tanah dan kebun.
Maka, keadaan di dusun Liok-teng, kalau dilihat dari rumah-rumah para penduduk, tampaknya seperti daerah yang miskin.
Rumah-rumah penduduk kebanyakan kecil dan menggambarkan kemiskinan.
Namun di situ terdapat banyak toko besar dan juga ada rumah penginapan dan rumah makan karena dusun itu didatangi banyak tamu yang berdagang dengan para hartawan.
Dan ada sepuluh rumah besar dan mewah di dusun itu, yaitu delapan buah rumah besar tempat tinggal para hartawan yang memiliki tanah dan sawah di pedusunan itu.
Yang dua buah lagi adalah rumah kepala dusun dan komandan pasukan keamanan yang hanya terdiri dua losin orang saja.
Pada suatu pagi, dusun Lok-teng geger karena dusun itu diserbu perampok yang jumlahnya tidak kurang dari limapuluh orang, dipimpin dua orang kepala perampok yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya menyeramkan.
Tentu saja pasukan kemanan dusun itu segera melakukan perlawanan.
Akan tetapi ternyata para perampok itu rata-rata tangguh dan sudah biasa berkelahi, apalagi dua orang pemimpin mereka adalah orang-orang yang amat tangguh.
Jumlah mereka juga terlampau banyak bagi dua losin perajurit yang bertugas menjaga keamanan dusun itu.
Para perajurit ini tidak pernah bertempur dan mereka itu biasanya hanya menghadapi orang-orang dusun yang tidak berani melawan.
Maka begitu menghadapi lawan yang selain jauh lebih besar jumlahnya, juga rata-rata jagoan berkelahi, sedikitnya selosin orang perajurit roboh dan sisanya melarikan diri cerai berai keluar dari dusun Liok-teng.
Para perampok itu bersorak-sorak dan mereka merampas lima buah kereta dan hendak mengisi kereta-kereta itu dengan barang-barang berharga yang akan mereka ambil dengan mudahnya dari toko-toko dan rumah gedung para hartawan.
Kepala dusun dan komandan keamanan beserta delapan orang hartawan dan keluarga mereka, bersembunyi di dalam gedung masing-masing dan tidak berani keluar.
Dua orang kepala perampok itu dengan wajah gembira berdiri di pekarangan rumah gedung milik kepala dusun karena lima buah kereta itu dikumpulkan di situ.
Limapuluh lebih perampok itu kini sambil bersorak mengangkuti barang-barang berharga yang mereka ambil dari toko-toko dan rumah gedung para hartawan tanpa ada yang berani menghalangi mereka.
Setelah melihat betapa sudah ada tiga buah kereta dipenuhi barang, tinggal dua kereta lagi yang kini sedang diisi barang-barang rampokan, dua orang perampok itu sambil tertawa-tawa dan minum arak dari guci arak yang mereka ambil dari rumah makan, mereka memberi perintah kepada anak buah mereka.
"Jangan lupa bawa para wanita muda dan cantik. Kumpulkan mereka di sini!"
Para perampok yang semua berwatak liar itu bersorak dan mulailah mereka menyerbu rumah-rumah gedung.
Terdengar jeritan-jeritan wanita yang mereka paksa keluar dari rumahnya, diseret ditarik dan ada yang dipondong dengan paksa.
Tidak kurang dari tigapuluh orang gadis dusun Liok-teng telah ditawan, dan mereka adalah gadis-gadis yang paling cantik di dusun itu.
Para gadis itu menangis sehingga suasana menjadi riuh.
Akan tetapi, tiba-tiba beberapa orang anggauta perampok terpelanting roboh.
Mereka mengaduh-aduh dan para anak buah yang lain melihat betapa ada seorang pemuda dan seorang gadis datang dan setiap orang perampok yang berani menghadang mereka robohkan dengan tamparan atau tendangan!
Pemuda dan gadis itu adalah Sie Bun Sam dan Lim Bwee Hwa.
Mereka kebetulan lewat di dusun itu dan melihat banyak orang berlarian keluar dari dusun dengan wajah ketakutan, mereka segera bertanya.
Ada yang memberitahu bahwa dusun Liok-teng kedatangan perampok yang kini sedang merampok barang-barang berharga dari dusun itu dan banyak orang, terutama para petugas keamanan, roboh oleh amukan mereka.
Mendengar ini, Bun Sam dan Bwee Hwa cepat berlari memasuki dusun Liok-teng dan mereka segera mendengar jerit tangis para wanita.
Segera mereka berlari menuju suara ribut-ribut itu dan ketika ada beberapa orang perampok hendak menghadang mereka, mereka merobohkan para penghadang itu dengan tamparan atau tendangan.
Sebentar saja delapan orang anak buah perampok terpelanting roboh dan mengaduh-aduh kesakitan.
Para anak buah perampok yang lain menjadi marah dan mereka mencabut golok.
Akan tetapi Bun Sam berbisik kepada Bwee Hwa.
"Kita tangkap dua orang pemimpin mereka itu!"
Katanya ketika melihat dua orang kepala perampok yang tinggi besar itu berdiri di pekarangan rumah gedung kepala dusun sambil tertawa-tawa dan bertolak pinggang.
Bwee Hwa mengangguk dan ketika puluhan orang anak buah perampok menyerbu hendak mengeroyok mereka dengan golok di tangan, dua orang pendekar itu melompat tinggi, melampaui atas kepala para perampok dan setelah keluar dari kepungan mereka lalu berlari menghampiri dua orang kepala perampok itu.
Dua orang kepala rampok itu tadi melihat betapa anak buah mereka ada yang roboh dan melihat pula pemuda dan gadis yang membuat beberapa orang anak buah mereka berpelantingan itu.
Akan tetapi melihat banyak anak buah mereka sudah mencabut golok dan mengepung, mereka menjadi senang dan berteriak.
"Bunuh dua orang itu!"
Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika melihat betapa pemuda dan gadis itu melompati para anak buah mereka yang mengepung dan kini tahu-tahu telah berdiri di depan mereka!
Bun Sam dan Bwee Hwa melihat ke arah dua orang kepala perampok itu.
Memang mereka ini menyeramkan sekali.
Tubuh mereka tinggi besar, hampir satu setengah kali tinggi dan besar tubuh orang biasa.
Yang seorang memiliki wajah yang penuh dengan bekas penyakit cacar, menjadi bopeng dan berlubang-lubang.
Matanya sipit seperti terpejam dan dia memelihara jenggot dan kumis tebal, agaknya dalam usahanya untuk menutupi bopengnya.
Tubuhnya gempal dan tampak kokoh sekali.
Usianya sekitar empatpuluh tahun.
Orang kedua juga sama besar dan kokoh, usianya juga sebaya.
Akan tetapi mukanya agak pucat kekuningan dan tanpa jenggot maupun kumis.
Kepalanya botak, bagian atasnya licin tanpa ada sehelaipun rambutnya.
Yang ditumbuhi sedikit rambut hanya di atas telinga dan tengkuk.
Matanya lebar melotot menyeramkan dan mulutnya juga lebar.
"Hei, dua orang bocah yang bosan hidup! Berani benar kalian mencampuri urusan kami!"
Bentak Si Muka Bopeng mata sipit.
"Kalian sudah bosan hidup berani menentang Thian Te Sai-ong,"
Bentak Si Kepala Botak mata melotot.
"Wah, kalian ini Thian Te Sai-ong (Raja Singa Langit Bumi)? Tidak pantas, baiknya diganti menjadi Raja Singa Bopeng Botak!"
Kata Bwee Hwa sambil ter-senyum mengejek. Dua orang kepala perampok itu marah sekali, akan tetapi Thian Te Sai-ong, yang menjadi pemimpin pertama, terpesona oleh kecantikan Bwee Hwa.
"Te-sai-ong (Raja Singa Bumi), bunuh pemuda itu dan aku akan menangkap yang perempuan. Gadis ini pantas untuk menjadi pendampingku, ha-ha-ha!"
Kata kepala perampok berwajah bopeng dan bermata sipit.
Te Sai-ong tadi melihat bahwa pemuda dan gadis itu lihai, akan tetapi dia tidak khawatir karena dia yakin akan kemampuan sendiri, pula kini semua anak buah perampok sudah meninggalkan kesibukan mereka dan mengepung tempat itu, membuat lingkaran sehingga gadis dan pemuda itu tidak akan dapat lari.
Mendengar perintah Thian Sai-ong, dia tertawa dan begitu tangan kanannya bergerak, dia telah mencabut sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.
"Ha-ha, bocah tolol! Berani menentang kami berarti bosan hidup! Mampuslah!"
Dia menggerakkan goloknya yang menyambar dahsyat ke arah leher Bun Sam.
Akan tetapi dengan mudah saja Bun Sam mengelak sehingga Te Sai-ong men-jadi penasaran dan marah.
Dia menyerang bertubi-tubi, namun bagi Bun Sam, gerakan orang tinggi besar botak itu amat lambat dan dia tahu bahwa lawannya lebih memiliki tenaga kasar yang besar daripada ilmu silat yang baik.
Semua serangan itu dapat dia hindarkan dengan amat mudahnya.
Sementara itu, Thian Sai-ong yang memandang ringan Bwee Hwa dan ingin segera mendekapnya, sudah menubruk bagaikan seekor singa kelaparan menubruk seekor domba muda.
Kedua lengannya yang panjang berotot itu dikembangkan dan menyambar dari kanan kiri hendak menangkap tubuh Bwee Hwa.
Akan tetapi Bwee Hwa tidak sesabar Bun Sam menghadapi kepala perampok itu.
Ia melangkah mundur dengan gerakan cepat pada saat kedua lengan itu menyambar dari kanan kiri dan begitu tangkapan itu luput Bwee Hwa bergerak ke samping lalu kakinya mencuat ke arah perut lawan.
"Bukk""!"
Perut gendut sebesar perut kerbau itu terkena tendangan, mengeluarkan suara seperti tambur besar ditabuh dan tubuh Thian Sai-ong terhuyung ke belakang.
Bwee Hwa tidak memberi kesempatan kepada lawannya.
Cepat tubuhnya melompat ke depan dan tangannya menampar.
"Crottt.......!!"
Pipi kanan Thian Sai-ong terkena tamparan tangan kiri Bwee Hwa.
Karena tamparan itu mengandung tenaga dalam yang amat kuat, maka tak dapat dihindarkan lagi, pipi itu membengkak dan beberapa buah gigi sebelah kanan copot dan bibirnya pecah berdarah!
Melihat ini, beberapa orang anak buah perampok menerjang untuk membela pimpinan mereka yang terpelanting dan mengaduh-aduh itu.
Akan tetapi mereka disambut tubuh gadis itu yang berkelebatan, hanya tampak bayangan merah dan enam orang sudah berpelantingan dan mengaduh-aduh, ada yang ditampar tangan dan ada pula yang kebagian tendangan kaki.
Thian Sai-ong menggereng seperti singa dan dia sudah mencabut goloknya.
Wajahnya yang buruk penuh bopeng itu kini menjadi semakin jelek karena pipi kanannya membengkak.
Lenyaplah semua gairah berahinya terhadap Bwee Hwa, terganti rasa benci yang membuat dia mendengus-dengus seperti kerbau gila.
Matanya yang sipit itu menjadi semakin sipit, apalagi yang kanan karena pipinya membengkak besar.
"Auurrgghhhh""."
Dia menggereng dan menyerang dengan bacokan goloknya.
"Tranggg......!"
Golok itu bertemu dengan pedang Sin-hong-kiam (Pedang Tawon Sakti) di tangan Bwee Hwa sehingga terpental dan nyaris terlepas dari tangan Thian Sai-ong yang terasa pedas dan panas sekali.
Dia berteriak memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mengeroyok gadis yang kini dia tahu amat lihai itu.
Segera belasan orang mengeroyok Bwee Hwa dengan senjata golok mereka.
Tentu saja tidak lebih dari belasan orang yang dapat mengeroyok, karena kalau terlalu banyak, tentu akan mengacaukan kawan sendiri.
Akan tetapi Bwee Hwa menggerakkan pedangnya dengan cepat, tubuhnya berkelebatan, pedangnya berubah menjadi gulungan sinar yang mengeluarkan suara berdengung seperti ratusan ekor lebah mengamuk sehingga tidak ada pengeroyok yang mampu mendekatinya.
Kalau ada yang berani terlalu dekat, tentu dia akan roboh disambar pedang.
Sekali ini Bwee Hwa teringat akan percakapannya dengan Bun Sam.
Ia merobohkan para pengeroyok tanpa membunuhnya sehingga pedangnya tidak pernah membacok leher atau memasuki tubuh, hanya melukai pundak, lengan atau kaki lawan saja.
Sementara itu, Bun Sam juga sudah dikeroyok karena Te Sai-ong juga merasa kewalahan.
Akan tetapi Bun Sam yang amat lihai itu melayani mereka dengan tenang.
Setiap ada golok menyambar, dia berani menangkis, bahkan menangkap golok itu dan sekali remas, golok itu patah-patah.
Dia merobohkan para pengeroyok dengan tendangan atau tamparan tangannya yang mengakibatkan patah tulang.
Melihat Bwee Hwa juga mengamuk dan dikeroyok, Bun Sam merasa khawatir kalau-kalau gadis itu akan melakukan banyak pembunuhan.
Maka dia membuka kepungan terhadap dirinya lalu melompat ke dekat Bwee Hwa.
Kini dia melihat betapa Bwee Hwa juga hanya merobohkan para pengeroyoknya tanpa membunuh dan hal ini menggirangkan hatinya.
Mereka berdua lalu mengamuk dan dalam waktu singkat, lebih dari setengah jumlah para perampok itu sudah mereka robohkan!
Kedua kepala perampok itupun masih mencoba untuk membunuh pemuda dan gadis itu, namun akhirnya Thian Sai-ong roboh dengan pundak terluka parah oleh pedang Sin-hong-kiam, sedangkan Te Sai-ong roboh dengan kaki kanan patah tulangnya.
Melihat ini, sisa anak buah perampok menjadi gentar sekali.
Penduduk dusun Liok-teng yang melihat betapa sepasang orang muda itu mengamuk dan banyak sekali perampok yang roboh, kini menjadi berani dan mulailah mereka menolong para gadis, membawa mereka pergi ke rumah masing-masing dan merekapun membongkar barang-barang dari kereta dan dikembalikan kepada pemiliknya!
Akhirnya sisa para perampok yang tinggal belasan orang itu, menjadi ketakutan dan mereka melarikan diri cerai berai meninggalkan mereka yang terluka!
Bwee Hwa menghampiri dua orang kepala perampok yang kini duduk di atas tanah saling berdekatan karena tadi Thian Sai-ong yang terluka pundaknya menghampiri Te Sai-ong yang patah tulang kakinya.
Melihat gadis itu menghampiri mereka dengan pedang di tangan dua orang kepala perampok ini menjadi pucat wajahnya dan memandang dengan mata terbelalak ketakutan.
Bun Sam juga melihat ini dan melihat wajah Bwee Hwa yang kemerahan karena marah itu cepat berseru.
"Hwa-moi, jangan bunuh, maafkan mereka, beri kesempatan kepada mereka untuk bertaubat!"
Bwee Hwa mengayun pedangnya dua kali. Darah muncrat dan dua orang kepala perampok itu berteriak lalu roboh terguling. Kaki kanan mereka telah buntung sebatas lutut! "Aih, Hwa-moi......!"
Bun Sam yang sudah tiba dekat menegur.
"Sam-ko, aku tidak membunuh mereka, akan tetapi kalau mereka tidak di-buntungi sebelah kaki mereka, tentu mereka akan mengulangi lagi perbuatan mereka melakukan perampokan! Kalau sudah buntung begini, tentu mereka tidak berani merajalela karena mudah dilawan dan dikalahkan,"
Bantah Bwee Hwa. Bun Sam mengeluarkan obat bubuk dan memberi dua bungkus obat kepada dua orang kepala perampok itu.
"Hemm, kalian hari ini makan buah pahit hasil tanaman kalian sendiri! Apakah kalian masih belum sadar dan bertaubat, lalu mengambil jalan yang benar?"
Setelah mengobati luka mereka sehingga kaki yang buntung itu tidak mengeluarkan darah lagi, Thian Sai-ong berkata.
"Kami akan mencoba...... kembali ke jalan benar, taihiap (pendekar besar)."
"Baik sekali kalau begitu. Nah, pergilah kalian dan ajak semua anak buahmu pergi dari sini!"
Kedua orang kepala perampok itu memanggil anak buahnya untuk membantu mereka berjalan.
Akan tetapi tidak ada seorangpun yang mau mendekati mereka.
Wibawa kedua orang kepala perampok itu agaknya sudah hilang bagi anak buahnya, melihat mereka berdua itu kini telah menjadi seorang yang buntung sebelah kaki mereka.
Melihat ini, Thian Sai-ong membentak.
"Pergilah kalian! Mulai sekarang, kalian bukan anak buah kami lagi. Gerombolan itu telah bubar dan mulai sekarang harus menanggungjawabkan perbuatan sendiri! Hayo bubar!"
Semua anak buah perampok tertatih-tatih, saling bantu, meninggalkan dusun Liok-teng.
Kedua orang kepala perampok itupun meninggalkan dusun itu sambil terpincang-pincang, berjalan hanya dengan sebelah kaki, berloncat-loncatan sehingga Bun Sam merasa kasihan.
Dia mengambil dua batang pohon sebesar lengan, membuangi daunnya sehingga menjadi dua batang tongkat, lalu dia berlari mengejar dua orang yang berloncat-loncatan itu.
"Kalian pakai ini agar lebih mudah berjalan,"
Katanya. Dua orang kepala perampok itu menerima dua buah tongkat dan kini mereka dapat maju lebih leluasa karena dibantu tongkat. Ketika Bun Sam kembali ke dekat Bwee Hwa, gadis itu berkata.
"Sam-ko, hatimu memang baik, akan tetapi terlalu lemah. Orang-orang macam mereka itu sudah sepatutnya dihajar agar benar-benar bertaubat dan menyadari bahwa kejahatan tidak akan mendatangkan akibat yang menguntungkan. Kalau sudah dihajar seperti itu, setidaknya mereka akan merasa takut, terutama sekali mereka tidak lagi dapat mengandalkan kekuatan untuk bertindak sewenang-wenang."
"Engkau benar, Hwa-moi. Akan tetapi, melihat keadaan mereka, timbul kembali rasa iba di hatiku. Bagaimanapun juga, mereka itu adalah manusia juga."
Kini berbondong-bondong penduduk dusun Liok-teng datang menghampiri sepasang muda-mudi itu, dipimpin oleh kepala dusunnya yang bernama Gan See Ki yang biasa disebut Gan-cungcu (kepala dusun Gan) berusia sekitar limapuluh tahun, bertubuh pendek gendut, mukanya bundar gemuk, tampak angkuh dan pakaiannya mewah.
Dia ditemani oleh Bu Sui yang biasa disebut Bu-kauwsu (guru silat Bu) karena dahulunya dia adalah seorang guru silat yang kemudian dijadikan kepala keamanan di dusun itu dan pakaiannya juga mewah.
Mereka berdua ini diikuti oleh delapan orang laki-laki, berusia antara empatpuluh sampai enampuluh tahun yang dari pakaian mereka mudah diduga bahwa mereka adalah orang-orang kaya.
Kemudian di belakang sepuluh orang ini, berduyun-duyun para penduduk ikut pula menghadap Bwee Hwa dan Bun Sam dan sebagian besar dari mereka berpakaian lusuh dan menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang miskin.
Melihat ratusan orang itu, Bun Sam mengajak Bwee Hwa untuk naik ke serambi gedung milik kepala dusun itu karena serambi ini agak tinggi sehingga mereka dapat melihat semua orang itu.
Menurut taksiran mereka, di antara para penduduk dusun yang berkumpul di pekarangan yang luas itu, terdapat laki-laki yang terhitung masih muda, tidak kurang dari seratus limapuluh orang banyaknya.
"Hemm, begini banyak orang akan tetapi lemah tak berdaya,"
Kata Bwee Hwa dan Bun Sam mengangguk. Gan-cungcu dan Bu-kauwsu mengikuti muda-mudi yang naik ke serambi itu, lalu mereka memberi hormat, diikuti oleh delapan orang hartawan.
"Ji-wi taihiap (dua orang pendekar besar), kami seluruh warga Liok-teng ini menghaturkan banyak terima kasih kepada ji-wi (kalian berdua) yang telah menyelamatkan kami dari gangguan gerombolan perampok tadi."
"Tidak perlu kalian berterima kasih kepada kami karena apa yang kami lakukan itu hanyalah merupakan kewajiban kami belaka. Akan tetapi kami merasa heran bukan main, kenapa penduduk dusun ini yang demikian banyak jumlahnya sama sekali tidak melakukan perlawanan ketika gerombolan itu datang mengganggu? "Sebetulnya pasukan keamanan kami telah melakukan perlawanan, akan tetapi kalah karena jumlah pasukan kami hanya dua losin orang sedangkan pasukan gerombolan itu terdiri dari limapuluh orang lebih."
Kata Bu-kauwsu.
"Engkau siapakah?"
Bwee Hwa bertanya sambil memandang wajah sepuluh orang berpakaian mewah itu berganti-ganti, sementara itu para penduduk yang lain hanya mendengarkan dari bawah serambi.
Kini Gan See Ki, kepala dusun itu yang menjawab.
"Sebaiknya kami memperkenalkan diri kepada ji-wi taihiap. Saya sendiri adalah kepala dusun di sini bernama Gan See Ki dan saudara ini adalah Bu Sui yang menjadi komandan pasukan keamanan di dusun kami. Adapun delapan orang yang berada di belakang kami adalah delapan orang pedagang terbesar di dusun ini."
"Dan yang berada di pekarangan itu adalah penduduk dusun ini?"
Tanya Bwee Hwa sambil mengamati mereka yang berada di bawah, yang rata-rata berpa-kaian lusuh.
"Benar sekali, lihiap."
"Gan-cungcu, berapa banyaknya jumlah penduduk dusun ini?"
Tanya lagi Bwee Hwa kepada kepala dusun itu. Jumlah seluruhnya ada kurang lebih seribu limaratus orang,"
Jawab sang kepala dusun.
"Berapa banyak laki-laki yang masih muda?"
"Kurang lebih tiga ratus orang."
"Apakah pekerjaan mereka, Gan-cungcu?"
Kini Bun Sam yang bertanya, sambil mengamati wajah kepala dusun itu dengan penuh selidik.
"Sebagian besar di antara mereka adalah pekerja-pekerja tani yang menggarap sawah dan kebun milik kami."
"Mereka adalah orang-orang miskin?"
"Ya, begitulah. Akan tetapi kami sepuluh orang ini yang menolong mereka dengan memberi pekerjaan dan upah yang cukup,"
Kata pula kepala dusun itu.
Tiba-tiba Bun Sam melangkah maju ke tepi serambi dan berkata kepada banyak orang itu, suaranya lantang karena dia telah mengerahkan tenaga sakti sehingga suaranya dapat terdengar sampai jauh.
Semua orang yang berkumpul di pekarangan itu dapat mendengar suaranya dengan jelas.
"Para penduduk dusun Liok-teng, dengarlah baik-baik. Kami berdua kebetulan lewat di dusun ini dan melihat gerombolan yang mengganggu kalian. Sekarang kami ingin agar ada wakil-wakil dari kalian yang hidup dalam kemiskinan untuk maju ke sini. Aku minta dua orang wakil yang dapat mewakili semua orang dan jangan takut, kami berdua yang menjamin bahwa tidak akan ada orang yang dapat mengganggu kalian berdua. Nah, pilihlah di antara kalian dan dua orang wakil majulah dan naik ke serambi ini!"
Mereka yang berada di bawah kini saling berunding, memilih-milih dan akhirnya dua orang di antara mereka maju menuju serambi.
Mereka berdua adalah orang-orang berpakaian petani, berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan tubuh mereka kurus, wajah mereka penuh garis-garis penderitaan.
Sekali pandang saja dapat tampak jelas bahwa mereka adalah orang-orang miskin, akan tetapi langkah mereka tegap dengan tubuh tegak dan sinar mata mereka menunjukkan bahwa mereka berdua bukan orang bodoh dan bersemangat.
Biarpun demikian, setibanya di bawah serambi, mereka tampak ragu karena sepuluh orang berpakaian mewah itu berdiri di atas serambi dan memandang mereka.
Melihat keraguan mereka, Bwee Hwa menjadi tidak sabar.
"Hei, kalian naiklah ke sini. Kalian seperti orang takut. Apa sih yang ditakuti?"
Mendengar ini, barulah kedua orang itu berani naik serambi yang bertangga itu dan berdiri di depan Bun Sam sambil memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata.
"Taihiap, kami yang ditugaskan oleh para teman untuk menjadi wakil dan mendengarkan apa yang taihiap perintahkan."
"Kami tidak memerintahkan, akan tetapi akan mengajak kalian bercakap-cakap dan kami harap kalian berdua bicara sebenarnya, jangan menyembunyikan sesuatu dan jangan berbohong. Ketahuilah, kami berdua hanya ingin mengatur agar kehidupan di dusun ini menjadi aman tenteram dan makmur bagi semua orang."
"Mari, ji-wi taihiap, silakan duduk agar lebih enak kita bicara,"
Kata Gan-cungcu, mempersilakan Bwee Hwa dan Bun Sam untuk mengambil tempat duduk di atas kursi yang berada di serambi itu.
Mereka semua lalu duduk mengitari sebuah meja besar.
Empatbelas orang itu duduk saling berhadapan terhalang meja bundar itu.
Dua orang wakil penduduk yang agaknya masih takut-takut sengaja mengambil tempat duduk di sebelah Bun Sam, seolah mereka ingin mendapat perlindungan.
"Nah, sekarang kami berdua ingin bertanya kepada kalian berdua yang mewakili penduduk dusun ini. Sebetulnya mengapa penduduk yang kami lihat cukup banyak ini tidak dapat bersatu dan tidak melakukan perlawanan ketika gerombolan itu datang mengganggu?"
Seorang di antara kedua wakil penduduk itu, yang tubuhnya kurus akan tetapi sinar matanya penuh semangat, setelah melirik ke arah kepala dusun Gan See Ki dan komandan keamanan Bu Sui, lalu berkata dengan suara cukup lantang.
"Ji-wi taihiap, apa yang dapat dilakukan orang-orang miskin seperti kami? Kami tidak memiliki apa-apa, maka gerombolan itu tidak dapat mengganggu kami."
"Kalian hidup dalam kemiskinan? Aneh, kami lihat dusun ini cukup ramai dan tampaknya kehidupan rakyatnya makmur karena dusun ini menghasilkan banyak hasil bumi. Sebagai petani, tentu kalian memiliki sawah ladang dan mempunyai penghasilan yang cukup."
Orang itu menggeleng kepala.
"Kami tidak mempunyai tanah, taihiap."
"Lalu tanah yang luas dan subur yang kami lihat di luar dusun itu, milik siapa?"
Tanya Bwee Hwa.
"Semua itu milik Gan-cungcu, Bu Kauwsu, dan delapan orang hartawan ini."
"Dan kalian sendiri, bekerja apa?"
Tanya pula Bwee Hwa.
"Kami hanya pekerja bayaran, menggarap sawah ladang milik mereka."
"Hemm, melihat keadaan penduduk yang rata-rata miskin, berarti upah yang kalian terima sedikit, bukan?"
Dua orang itu tampak rikuh dan beberapa kali mengerling ke arah kepala dusun dan komandan. Kemudian orang kedua menjawab lirih.
"Yah, cukup untuk makan, lihiap."
"Sekarang aku mengerti mengapa tidak ada persatuan di antara penduduk dusun ini."
Kata Bun Sam.
"Ternyata di antara yang kaya dan yang miskin tidak saling membantu. Dan ini merupakan kesalahan kepala dusun yang tidak mampu mengatur! Gan-cungcu, kami memberi ingat kepadamu. Menjadi kepala dusun haruslah mendahulukan kepentingan rakyat, jangan hanya mementingkan diri sendiri, menumpuk kekayaan untuk diri sendiri tanpa memikirkan keadaan penduduknya. Ingatlah, tanpa adanya penduduk dusun, engkau tidak akan menjadi kepala dusun! Kalau engkau tidak mampu mengatur demi kesejahteraan rakyat, engkau tidak pantas menjadi kepala dusun! Bagaimana mungkin sebagai kepala dusun engkau menjadi kaya-raya, padahal engkau tidak berdagang seperti para saudagar? Diadakannya seorang kepala dusun adalah untuk melayani dan mengatur kebutuhan penduduk dusunnya, bukan sebaliknya rakyat harus melayani kebutuhanmu! Mengertikah engkau, Gan-cungcu?"
Suara Sie Bun Sam penuh wibawa sehingga kepala dusun itu menundukkan mukanya yang berubah pucat.
"Saya...... mengerti, taihiap."
"Dan engkau, Bu-kauwsu, apakah tugasmu sebagai pemimpin pasukan keamanan di dusun ini?"
Tanya Bun Sam dengan suara keren.
"Saya...... saya bertugas menjaga keamanan di dusun ini, taihiap."
"Keamanan siapa yang kaumaksud? Engkau dan anak buahmu menjadi kea-manan mereka yang kaya-raya ataukah menjaga keamanan seluruh penduduk dusun?"
Baca Juga: Kisah Sepasang Naga 1
Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 3