Eps 1 Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo.
Naga Merah Bangau Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Sejarah menyatakan betapa buruknya keadaan pemerintahan di Tiongkok pada jaman dahulu kala, pada waktu Raja demi Raja ganti-berganti memegang tampuk pemerintahan sebagian dari tanah air Tiongkok.
Peperangan antara Kerajaan yang satu dengan yang lain hampir tiada hentinya, hancur menghancurkan, takluk menaklukan, dan saling berusaha memperluas wilayah masing-masing.
Tentu saja yang menganggap keadaan pada masa itu amat buruk adalah rakyat kecil, terutama sekali para petani yang hidupnya amat melarat dan miskin.
Buruh tani yang merupakan sebagian besar dari rakyat kecil, hidup amat menderita, bahkan ada yang menyatakan bahwa kehidupan buruh tani lebih sengsar daripada kehidupan seekor kerbau atau kuda milik si kaya!
Hal ini terjadi karena adanya penghisapan dan penindasan dalam zaman feodal itu, pada waktu dimana terdapat dua golongan yang menganggap jaman itu adalah jaman keemasan untuk mereka.
Mereka ini pertama-tama adalah keluarga Raja dan para bangsawan berpangkat yang menganggap diri dan golongannya sebagai orang-orang terhormat dan jauh lebih tinggi derajatnya daripada golongan rakyat msikin yang dianggapnya hina.
Golongan kedua adalah Raja-Raja kecil, yakni kaum tuan tanah yang sesungguhnya hidup di dusun-dusun seperti Raja yang berkuasa besar.
Mereka ini orang-orang kaya yang memiliki tanah dan sawah, menghisap tenaga dan memeras keringat para buruh tani sampai habis.
Para rakyat tani menyewa tanah dari mereka dengan tarif yang amat tinggi dan sewenang-wenang sehingga kalau hasil panen amat baiknya maka sisa hasil sawah yang dibayarkan kepada tuan tanah hanya cukup untuk mengisi perut para petani dan keluarganya.
Akan tetapi, dan hal ini sering terjadi di Tiongkok pada masa itu, kalau bencana alam berupa musim kering yang panjang, atau air sungai yang membanjir, juga gangguan rombongan belalang atau hama sawah lainnya datang menyerang, jangan katakan untuk dimakan, bahkan untuk membayar "sewa tanah"
Saja masih tidak cukup. Lalu bagaimana kalau sampai terjadi hal demikian, yakni hasil panen tidak cukup untuk membayar sewa dan "pajak"
Tanah? inilah yang menyedihkan! Si petani itu lalu membayarkan seluruh hasil dan kekurangannya akan diperhitungkan sebagai "hutang"
Yang takkan kunjung habis, takkan dapat terbayar sampai beberapa keturunan!
Dan kalau sudah demikian halnya, maka ia seakan-akan menjadi seekor kelinci dalam cengkraman harimau, tidak berdaya sama sekali dipermainkan sesuka hatinya oleh tuan rumah.
Ia seakan-akan telah menggadaikan jiwa raganya kepada tuan tanah itu.
Oleh karena itu, bukan hal yang aneh terjadi di masa itu apabila seorang petani miskin membayar hutangnya kepada tuan tanah dengan menyerahkan anak gadisnya untuk dijadikan selir yang seringkali hanya dijadikan barang permainan belaka, atau menyerahkan anak laki-lakinya untuk dijadikan bujang yang lebih rendah kedudukannya daripada seekor kerbau!
Dalam keadaan seperti itulah, maka cerita ini dimulai.
Tiongkok pada abad ke enam belas.
Barisan petani yang dibawah pimpinan pendekar rakyat Lie Cu Seng dengan gagah berani maju terus dalam pemberontakan mereka untuk menumbangkan kekuasan Kaisar dan berhasil menduduki Peking sehingga Kaisar melarikan diri dan akhirnya membunuh diri di atas sebuah bukit.
Dengan demikian, maka tamatlah Kerajaan Beng-Tiauw dan sungguhpun pemberontakan petani ini terjadi dan timbul karena buruknya pemerintahan yang mencekik rakyat kecil sehingga pemberontakan itu dapat dianggap sebagai perjuangan perbaikan nasib, namun mendatangkan keadaan yang amat tidak menguntungkan bagi negara Tiongkok, yakni kedudukan menjadi amat lemah.
Perang saudara ini melemahkan pertahanan Tiongkok terhadap musuh yang lebih berbahaya dan kuat, yang datangnya dari utara, yakni bangsa Mancu!
Pimpinan bangsa Mancu pada waktu itu adalah Hong Taichi, putra dari Nurhacu.
Setelah Hong Taichi menggantikan kedudukan Ayahnya dan menjadi pimpinan bangsanya yang ketika itu amat kuat, ia lalu menyerang dan mentaklukan Mongolia dalam dan kemudian mengangkat diri sendiri sebagai Kaisar (dalam tahun 1626) dan mengdirikan dinasti baru yang disebut Ceng-Tiauw.
Setelah memperkuat barisannya, mulailah Kaisar Hong Taichi melakukan penyerbuan ke selatan, menuju pedalaman tanah Tiongkok!
Dengan demikian, maka Kerajaan Beng-Tiauw menghadapi dua serangan, dari luar menghadapi barisan-barisan Mancu, sedangkan disebelah dalam terjadi pemberontakan petani yang dipimpin oleh Lie Cu Seng!
Sebagaimana telah dituturkan dibagian depan, Kaisar Beng-Tiauw akhirnya tewas dan Peking terjatuh kedalam tangan pemimpin pemberontak Lie Cu Seng yang telah memimpin pemberontakan selama tujuh belas tahun.
Akan tetapi baru saja Lie Cu Seng berhasil menduduki Peking dan menumbangkan kekuasaan Kaisar Bang-Tiauw, ia harus mengadakan persiapan baru untuk menghadapi musuh dari luar yang lebih kuat dan berbahaya lagi, Yakni Kaisar Hong Taichi yang telah memimpin tentaranya masuk kedalam dari tembok besar!
Pada waktu Lie Cu Seng masuk ke Kotaraja, selain Kaisar yang melarikan diri dan kemudian tewas di puncak bukit, juga banyak kaum bangsawan melarikan diri atau terbunuh oleh barisan pemberontak.
Betapapun besar rasa bencinya kaum petani yang memberontak itu terhadap kaum bangsawan yang telah memeras dan menginjak-injak mereka selama puluhan bahkan ratusan tahun, namun banyak pula diantara kaum bangsawan yang tidak diganggu, yakni kaum bangsawan yang memang berhati budiman.
Lie Cu Seng telah memiliki daftar nama-nama bangsawan yang harus dibasmi dan bangsawan yang dapat diajak kerja sama.
Diantara para bangsawan yang tidak terganggu, terdapat seorang Pangeran yang bernama Liok Han Swee.
Dia ini menjabat kedudukan penGurus bendahara Kaisar dan tidak ikut melarikan diri dengan Kaisar atau bangsawan lain karena selain ia sudah tua, juga Liok Han Swee merasa akan kebersihan dirinya dan tidak takut menghadapi pembalasan dendam para pemberontak.
Benar saja, setelah Ibukota jatuh, bangsawan she Liok ini tidak diganggu, karena Lie Cu Seng melarang anak buahnya mengganggu orang-orang yang tidak termasuk dalam daftar hitam.
Gedung Pangeran Liok Han Swee adalah sebuah gedung besar dan kuno yang amat indah, karena gedung ini adalah milik nenek moyangnya yang dulu menjabat kedudukan tinggi sehingga mendapatkan hadiah dari Kaisar berupa gedung besar itu.
Liok Han Swee hanya mempunyai seorang putera, seorang pemuda sastrawan yang selain pandai dalam ilmu kesusasteraan juga amat tampan dan elok wajahnya.
Semenjak beberapa tahun yang lain, putranya yang bernama Liok Houw Sin telah dipertunangkan dengan puteri seorang panglima perang she Song.
Houw Sin belum pernah melihat tunangannya yang kabarnya amat cantik, akan tetapi diam-diam dia kurang puas dengan pilihan Ayahnya, karena memang pemuda sastrawan itu tidak suka kepada orang-orang yang memegang golok dan pedang, apalagi seorang panglima besar seperti calon mertuanya itu.
Sesungguhnya, bukan hal itu saja yang membuat Houw Sin tidak suka akan pertunangannya itu, akan tetapi ada hal lain yang lebih penting, yakni hubungannya dengan seorang gadis pelayan keluarga Pangeran itu.
Gadis ini semenjak kecil "dijual"
Oleh Ayahnya, seorang petani miskin, untuk membayar hutangnya kepada tuan tanah, dan akhirnya oleh tuan tanah itu ia "dihadiahkan"
Pula kepada Pangeran Liok. Memang, pada waktu itu, para tuan tanah dan hartawan selalu mendekati para pembesar untuk "mengambil hatinya"
Dengan jalan menyogok dengan uang atau apa saja yang kiranya dapat menyenangkan hati si pembesar!
Pangeran Liok tergerak hati nuraninya melihat anak perempuan yang ketika itu baru berusia kira-kira delapan tahun itu, karena memang Sui Lan, demikian nama gadis itu berwajah cantik bersih dan mempunyai sepasang mata yang jeli dan indah.
Semenjak saat itu, menjadilah Sui Lan sebagai pelayan didalam gedung besar itu dan hidupnya beruntung.
Keluarga Pangeran itu amat baik terhadap dia, karena gadis inipun tahu diri dan dapat bekerja rajin sekali.
Ia bahkan menjadi kesayangan nyonya Liok dan hanya kepada Sui Lan ia mempercayakan kamar-kamarnya untuk diatur dan di bereskan.
Usia Sui Lan hanya lebih muda dua tahun dari Houw Sin dan karena pemuda ini merupakan putera tunggal, maka Houw Sin menenukan seorang kawan bermain dalam diri Sui Lan.
Ia tidak bersaudara dan Sui Lan adalah seorang anak yang manis dan jenaka, maka tentu saja ia amat suka bermain dengan anak perempuan ini.
Bahkan ia lalu mengajar ilmu membaca dan menulis kepada pelayan kecil ini sehingga pergaulan mereka menjadi semakin erat.
Seringkali Pangeran Liok dan isterinya mengerutkan kening ketika melihat manisnya pergaulan kedua anak ini, akan tetapi oleh rasa sayangnya kepada putera tunggal yang dimanja itu, mereka tidak menegur dan menganggap bahwa putera mereka masih kecil.
"Kalau ia sudah dewasa dan tahu bahwa Sui Lan hanyalah seorang bujang, tentu ia akan malu sendiri untuk mendekatinya"
Kata Pangeran Liok.
Akan tetapi, kedua orang-tua ini sama sekali tidak tahu bahwa Houw Sin dan Sui Lan tidak saja menganggap masing-masing sebagai kawan bermain yang menyenangkan, akan tetapi juga menganggap masing-masing sebagai orang yang paling baik dan manis budi didunia ini!
Waktu berlalu cepat dan setelah kedua anak ini menginjak remaja, bersemilah tunas cinta yang mendalam di hati masing-masing.
Cinta kasih yang terjalin diantara dia dan Sui Lan inilah sesungguhnya yang memebuat Houw Sin tidak suka akan pertunangannya dengan Bwee Eng, putri dari Panglima she Song itu.
Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani menyatakan sesuatu kepada orang-tuanya, apalagi karena pertunangan itu telah diadakan semenjak dia masih kecil.
Setelah melihat betapa putera mereka yang telah dewasa itu masih saja mengadakan pergaulan yang manis dengan Sui Lan yang kini telah menjadi seorang gadis yang cantik manis, mulai khawatirlah hari Pangeran Liok dan istrinya.
Kini mulailah mereka menegur dan berusaha menjauhkan pergaulan mereka.
"Houw Sin."
Kata Ayahnya kepada pemuda itu.
"Kau sudah dewasa, dan bukan kanak-kanak lagi, Kulihat kau terlalu dekat bergaul dengan Sui Lan. Ini tidak baik, anakku. Ingatlah bahwa kau adalah puteraku dan Sui Lan hanyalah seorang pelayan kita. Sungguhpun aku percaya bahwa tidak ada pikiran kotor dalam hatimu terhadap Sui Lan, akan tetapi kalau terlihat oleh orang lain, dapat menimbulkan dugaan yang bukan-bukan!"
Sementara itu, didalam kamarnya ketika Sui Lan seperti biasa membereskan kamar majikannya, nyonya Liok juga berkata dengan suara halus namun mengandung ancaman.
"Sui Lan, sekarang kau sudah bukan anak-anak lagi, kau sudah dewasa, maka jangan kau menGurus kamar dari tuan muda lagi."
Berdebarlah jantung gadis itu, akan tetapi ia hanya menundukan mukanya yang manis sambil berkata.
"Semenjak kecil saya yang membereskan kamar Kongcu, kalau sekarang saya tidak melakukannya apakah Kongcu tidak akan marah ? dan siapakah yang akan membereskan kamar Kongcu ?"
"Ada pelayan lain yang akan melakukannya dan Kongcu tentu tidak akan marah. Tidak pantas kau memasuki kamarnya lagi, dan... Sui Lan..."
Gadis itu menengok dan menyembunyikan perasaannya yang kecewa."Jangan dilanjutkan lagi pergaulanmu dengan Kongcu.
Kau dan Kongcu sudah dewasa, tidak patut seorang tuan muda bergaul rapat dengan seorang pelayan."
Terbelalak kedua mata yang jeli dan bening itu, akan tetapi ia tidak berani mengeluarkan suara karena maklum kalau hal itu ia lakukan, tentu suaranya akan terdengar gemetar.
"Kau seorang pelayan yang baik, Sui Lan dan kami suka dan kasihan kepadamu. Hal ini tentu dapat kau rasakan semenjak kau tinggal disini. Akan tetapi, sungguh-sungguh pergaulanmu dengan Kongcu tidak patut kalau dilanjutkan, biarpun aku percaya bahwa kau tidak akan melakukan sesuatu yang memalukan. Ah... sudahlah, pendeknya mulai sekarang kau tidak boleh terlalu sering bertemu dengan Kongcu, dan kalau sewaktu-waktu ada perlu sehingga Kongcu memanggil, kau tidak boleh bicara kepadanya dengan tersenyum-senyum, tidak boleh bicara manis kepadanya."
"Nyonya..."
"Bukan sekali-kali aku hendak menuduhmu yang bukan-bukan, Sui Lan. Hanya saja, tidak patut terlihat oleh orang lain betapa kau bersikap manis dan bicara dengan Houw Sin seakan-akan ia itu kawanmu sendiri. Dulu memang demikian sewaktu kau dan Houw Sin masih kecil, akan tetapi, sekarang kalian telah dewasa dan kau adalah seorang pelayan yang seharusnya dapat bersikap selayaknya terhadap tuan muda atau majikan mudamu.!"
Setelah berkata demikian, nyonya Liok meninggalkan pelayan itu.
Semenjak tadi Sui Lan telah mendengarkan dengan muka pucat dan air mata yang ditahan-tahannya agar tidak jatuh, membuat matanya terasa panas sekali.
Kini setelah nyonya Liok pergi, tak tertahan lagi kehancuran hatinya dan dia menangis terisak-isak sambil menjatuhkan diri berlutut diatas lantai.
Betapa takkan remuk-redam perasaannya, takkan perih luka hatinya.
Di dunia ini hanya Houw Sin seoranglah pujaan hatinya.
pemuda itulah satu-satunya orang yang menjadi cahaya bagi lubuk hatinya, bagaikan matahari menerangi bumi.
Tanpa adanya Houw Sin, rumah gedung besar indah itu mungkin akan berobah menjadi neraka, dan dunia yang ramai ini akan terasa sunyi.
Ia telah melupakan asal-usulnya, melupakan orang-tuanya, melupakan kesengsaraannya hanya karena ada senyum diBibir Houw Sin dan seri sinar mata pemuda itu di kala memandangnya.
Ia telah menemukan kebahagian, menemukan kegembiraan hidup, hanya karena dari Bibir pemuda itu telah keluar pernyataan cinta kasihnya.!
Memang sebelum Pangeran Liok dan istrinya turun tangan, kedua orang muda itu telah saling menukar hati, memadu cinta kasih, yang mesra.
Sambil menangis terisak-isak didalam kamar, Sui Lan membayangkan pertemuannya dengan pemuda pujaan kalbunya itu.
Houw Sin telah menyatakan cinta kasihnya, telah bersumpah akan hidup bersama, akan melindunginya.
"Akan tetapi Kongcu,"
Demikian bantahnya terhadap pemuda yang bersemangat karena sedang dibakar oleh api cinta itu.
"Bagaimanakah hal ini bisa dilanjutkan Tak perlu lagi dibicarakan lebih mendalam, semua orang tahu bahwa tidak mungkin kita melakukan perhubungan dan tak mungkin kita menjadi suami istri. Kau adalah putera tunggal majikanku, dan aku... aku hanya seorang pelayan! kau adalah seorang putera bangsawan, putera seorang Pangeran yang berpangkat tinggi, sedangkan aku... aku hanyalah seorang yang tidak kenal lagi siapa Ayah dan Bundaku... seorang gadis yatim piatu sungguhpun belum kuketahui pasti apakah orang-tuaku telah meninggal dunia, aku seorang gadis rendah miskin dan hina..."
Akan tetapi Houw Sin menutup Bibirnya dengan tangannya dengan mesra.
"Jangan kau bicara begitu, kekasihku. Kau bukan seorang gadis seperti yang kau katakan itu. Aku telah mengenalmu semenjak kecil, telah tahu bahwa kau adalah seorang gadis termulia di dunia ini. Apakah kau berani menyatakan bahwa kau... tidak suka kepadaku?"
Sui Lan menghela nafas.
"Kongcu, tanpa kukatakann, kau tentu telah maklum akan isi hatiku. Kaulah satu-satunya didunia ini yang menjadi cahaya hidupku bersandar... akan tetapi Kongcu, kau telah bertunangan.! kau adalah calon suami dari Song Siocia, puteri panglima itu!"
"Hah, segala orang peperangan!"
Kata Houw Sin dengan sebal.
"Aku akan menolak apabila dinikahkan dengan putri pembunuh itu!"
"Hush... jangan berkata demikian, Kongcu..."
"Sui Lan,"
Houw Sin memeluknya.
"Percayalah selama hayat masih dikandung badan, aku akan melindungimu, membelamu, dan hanya kau seorang yang patut menjadi istriku."
"Kongcu"
Akan tetapi pemuda itu tidak memberi kesempatan lagi kepadanya untuk membantah lagi.
Dan apakah yang harus dibantahnya?
Semua ucapan yang keluar dari mulutnya tidak sesuai dengan suara hatinya menuntut haknya atas pemuda pujaannya ini, dan sungguhpun kesadaran dan pertimbangannya tidak membenarkan sikapnya ini, namun hati yang semenjak kecil telah haus akan kasih sayang seseorang kepadanya itu akhirnya tunduk.
Semenjak kecil ia telah kenyang akan kepahitan hidup, akan kesengsaraan hidup.
Maka kini menghadapi kebahagiaan yang diberikan oleh Houw Sin, ia runtuh.
Pemuda ini benar-benar menyintanya, ia maklum akan hal ini, dan dia...
dia seorang pelayan yang tidak mempunyai harapan, tidak mempunyai pegangan hidup, yang selama hidupnya hanya menerima perintah, hanya menerima apa saja yang orang berikan kepadanya, yang selalu taat, tunduk dan tidak pernah membantah, akhirnya ia menyerah akan kehendak Houw Sin, kehendak hatinya sendiri.
Sebagai seorang yang kehausan di padang pasir, ia mereguk apa saja yang merupakan minuman, yang dapat mengurangi rasa haus.
Ia mereguk apa saja, biar anggur manis yang memabokkan sekalipun.
Ia tidak peduli, ia menyinta Houw Sin!
Maka diserahkanlah jiwaraganya kepada pemuda junjungannya itu!
Dan kini setelah ia menjadi sebagian dari Houw Sin, setelah kini tak mungkin lagi baginya untuk memjauhkan diri dari Houw Sin, datanglah peringatan dari nyonya Liok!
Ucapan nyonya Liok yang biasanya diterimanya dengan girang, sebagai perintah yang harus ditaatinya, kini merupakan sebatang golok yang jatuh menimpa lehernya dari atas!
Merupakan keputusan maut yang akan merenggut kebahagiannya.
Cinta itu bagaikan air bah yang makin dihalangi, makin di bendung, akan menjadi makin nampak kekuasan dan tenaganya yang luar biasa.
Biarpun kedua orang muda saling mencinta, maka cinta akan berjalan tenang menurut liku-liku tertentu, bahkan ketenangan itu mungkin sekali akan berakhir dengan kesurutan kembali.
Akan tetapi coba halangi atau menjauhkan dua orang muda yang saling jatuh cinta, maka bagaikan air bah yang dibendung, cinta dan menggelora, akan mengamuk, akan mendobrak, Dan menghancurkan segala rintangan bahkan akan melampaui batas-batas, membanjir dan merajalela dengan dahsyatnya!
Demikianpun halnya dengan Sui Lan dan Houw Sin.
Setelah mendapat tentangan dari Pangeran Liok suami istri, cinta mereka tidak tenang lagi.
Perasaan gelisah dan khawatir akan kehilangan kekasih yang dicintanya, membuat cinta mereka makin dasyat menggelora, mengamuk didalam hati masing-masing.
Mereka masih mengadakan pertemuan dengan rahasia, dan larangan orang-tuanya membuat Houw Sin menjadi nekad, dan membuat Sui Lan menjadi bingung, cemas, dan kehilangan pegangan.
Hal ini membuat kedua orang muda itu menjadi gelap pikiran, menjadi lupa akan segala larangan, akan segala ikatan tata susila!
Pangeran Liok dan istrinya maklum akan hal ini dan mereka merasa semakin gelisah.
"Tidak ada jalan lain, kita harus memilih seorang pemuda untuk Sui Lan, Ia harus dinikahkan agar dapat keluar dari sini dengan baik, agar ia dapat berumah tangga sendiri,"
Kata nyonya Liok yang betapapun juga tidak tega untuk mengusir Sui Lan begitu saja. Beberapa hari kemudian, nyonya Liok memanggil Sui Lan yang menghadap dengan hati berdebar.
"Sui Lan, tahukah kamu, sudah berapa tahun usiamu sekarang?"
Sui Lan menundukan kepalanya.
Bagaimana-kah seorang gadis seperti dia dapat mengetahui usianya?
hanya putri orang-orang bangsawan saja yang dapat mengetahui usianya.
Maka ia menggelengkan kepalanya sambil masih menunduk.
"Sudah delapan tahun kau ikut dengan kami, dan ketika kali kau menginjakkan kakimu di lantai rumah kami, kau baru berusia delapan tahun, Maka sekarang kau telah berusia delapan belas tahun, Sui Lan, usia yang cukup dewasa untuk melangkahkan kaki keluar dari ambang pintu, mengikuti jejak seorang suami."
Pucatlah muka Sui Lan mendengar ini dan ia hanya mengangkat mukanya, memandang wajah nyonya majikannya yang duduk diatas kursi. Kemudian sambil masih berlutut, ia menundukkan kepala kembali.
"Sui Lan, kau tau bahwa aku selalu sayang kepadamu, dan aku tidak menghendaki kau hidup sengsara setelah kau meninggalkan kami. Oleh karena itu, aku telah mencarikan seorang suami yang baik untukmu, seorang pegawai dari kantor majikanmu sendiri. Dalam bulan ini juga pernikahan akan dilangsungkan, maka harap kau bersiap dan bergembira mendengar berita naik ini."
Tiba-tiba Sui Lan tidak dapat menahan kesedihannya lagi dan ia menjatuhkan diri menangis tersedu-sedu.
"Eh.. Eh... Sui Lan mengapa kau menangis ?"
Tanya Liok-Hujin dan suaranya mengandung kemarahan karena nyonya ini dapat menduga bahwa tangis gadis ini tentulah karena puteranya!
"Ampunkan saya, nyonya besar, saya...
saya tidak ingin menikah...
tidak ingin meninggalkan nyonya besar yang telah melepas budi kepada saya...
saya ingin melayani nyonya sampai napas terakhir..."
Sungguh ucapan ini bermaksud bahwa Sui Lan ingin menghambakan diri sebagai pelayan selamanya, akan tetapi dapat juga dimaksudkan bahwa ia ingin melayani nyonya itu selama hidupnya, yang berarti tentu saja sebagai seorang mantu!
Karena, hanya seorang mantu perempuanlah yang akan melayani mertuanya sampai kematian memisahkan mereka!
Marahlah nyonya Liok mendengar ini.
"Apa...? Kau hendak membantah ? Ingat, Sui Lan jangan kau menjadi seorang kurang penerima, seorang yang tak mengenal budi. Aku berusaha sedapatku untuk kebaikan dan kebahagiaanmu, kau tidak menerima dengan girang dan berterima kasih, sebaliknya malah menjengkelkan aku dengan tangismu!"
"Ampun... saya... Saya..."
"Sudah, pergilah kekamarmu dan hentikan tangismu! Kau tidak boleh membantah. Aku masih bersabar, akan tetapi kalau Taijin mendengar akan penolakanmu ini, ia tentu akan marah sekali kepadamu!"
Bagaikan seekor anjing kena pukul, Sui Lan mengundurkan diri dengan menundukan kepalanya.
Setibanya didalam kamarnya, ia lalu membanting diri diatas pembaringan dan menangis sepuas hatinya.
Sampai hari menjadi malam ia tidak meninggalkan pembaringannya.
Cinta dapat membuat seorang pemuda melakukan hal yang aneh-aneh, Houw Sin, putera tunggal, seorang Pangeran agung malam hari itu jalan sembunyi-sembunyi bagaikan seorang maling!
Seorang maling dalam rumah gedungnya sendiri, ia merasa gelisah karena tidak melihat Sui Lan sehari itu, dan ketika ia mendengar dari seorang pelayan lain bahwa Sui Lan habis mendapat marah dari Ibunya, ia menyesal sekali.
Malam hati itu, menjelang tengah malam, ia pergi ke kamar Sui Lan bagaikan seorang maling.
Setibanya diluar kamar Sui Lan tiba-tiba mendengar suara isak tangis tertahan, lalu mendengar suara perlahan dari dalam kamar itu.
"Kongcu... Kongcu... hanya dengan kau seorang aku mau hidup sebagai istri... kalau orang memaksaku... ah... Kongcu... kanda Houw Sin... suamiku... selamat tinggal!"
Mendengar kata-kata terakhir ini, Houw Sin terkejut sekali dan bagaikan seorang gila ia lalu melompat dan mendorong pintu kamar Sui Lan.
Sambil menahan seruannya ia melompat ke arah Sui Lan dan dengan cepat merenggutkan tali pengikat pinggang yang telah dipasang pada gantungan kelambu dan ujungnya telah merupakan tali gantungan!
"Sui Lan...
kau...
kau gilakah...?"
"Kongcu..."
Sui Lan terhuyung-huyung ke depan dan ia roboh dalam pelukan Houw Sin dalam keadaan pingsan!
Setelah siuman kembali, sambil menangis Sui Lan menceritakan kekasihnya betapa dia dipaksa hendak dikawinkan dengan seorang pemuda lain.
"Bagaimana aku dapat menjalaninya...?"
Terdengar suaranya diantara isak tangis.
"Aku telah bersumpah takkan mau menjadi istri orang lain... aku telah menjadi istrimu... bahkan... aku telah menjadi calon Ibu dari anakmu... ah Kongcu... kau bunuhlah saja aku... orang hina-dina ini..."
Hancur hati Houw Sin mendengar ini.
Ia maklum bahwa Sui Lan telah mengandung, dan ia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk minta perkenanan orang-tuanya agar ia dinikahkan dengan gadis ini.
Sekarang timbul hal yang lebih memusingkan ini!
"Sudah, jangan menangis kekasihku,"
Ia menghibur.
"Jangan kau khawatir bagaimanapun juga aku akan tetap membelamu. Kita harus mencari jalan!"
Demikian, malam hari itu mereka berunding dan akhirnya diambil keputusan bahwa Sui Lan akan ditolong oleh Houw Sin minggat dari gedung itu.
Untuk sementara Sui Lan akan disembunyikan dalam rumah bekas pelayan yang menjadi orang kepercayaan Houw Sin.
hal ini hanya untuk menghindarkan pernikahan paksaan itu.
Kemudian, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya akan diatur kelak.
Dan pada tiga hari berikutnya pada suatu malam, lenyaplah Sui Lan dari rumah gedung Pangeran Liok, dimana ia telah dibesarkan selama delapan tahun!
Tak seorangpun dapat menduga bahwa ini adalah perbuatan Houw Sin sungguhpun kedua orang-tua pemuda itu merasa curiga.
Sementara itu, Kotaraja telah mendapat ancaman hebat dari musuh, yakni balatentara Mancu yang dipimpin oleh Kaisar Hong Taichi!
Setelah dapat merebut Peking dan menumbangkan kekuasaan Kaisar, Lie Cu Seng lalu mengirim utusan untuk menghubungi dan membujuk Jenderal Gouw Sam Kwi yakni seorang jendral barisan Kerajaan Beng-Tiauw yang telah runtuh, yang pada waktu itu berkedudukan di Pegunungan San-Hai-Kuan, untuk bersama-sama menghadapi serangan tentara mancu dari utara.
Akan tetapi jendral Gouw Sam Kwi menolak ajakan ini, bahkan menyatakan lebih suka bergabung dengan tentara Mancu untuk merebut kembali Kotaraja.
Tentu saja Lie Cu Seng marah sekali, lalu memimpin dua puluh laksa tentara untuk menyerang barisan jendral itu di pegunungan San-Hai-Kuan.
Akan tetapi tiba-tiba tentara mancu yang sudah tiba disitu muncul dengan jumlah yang amat besar menyerang dari sayap kiri.
Barisan petani dibawah pimpinan Lie Cu Seng terjebak dan akhirnya terpukul mundur.
Barisan Mancu terus mengejar dan akhirnya mereka berhasil menyerbu dan memasuki Peking!!
Betapapun hebat pertahanan dan perlawanan yang dilakukan oleh Lie Cu Seng, namun ternyata kekuatan musuh lebih besar dan tidak dapat dicegah lagi, Kotaraja direbut oleh barisan musuh.
Lie Cu Seng terpaksa melarikan diri ke selatan untuk membentuk barisannya kembali.
Hal ini terjadi dalam tahun 1644 pada bulan Mei.
Dan penyerbuan tentara Mancu didalam kota Peking ini terjadi tepat sehari setelah Sui Lan melarikan diri dari gedung Pangeran Liok!
Keadaan Kotaraja menjadi kacau balau.
Tentara Mancu, seperti biasanya melakukan perampokan dan pembunuhan secara kejam sekali.
Harta benda penduduk dijadikan perebutan, orang-orang lelaki muda dibunuh dengan kejam, orang-orang tua dipukuli, anak-anak ditendangi, dan perempuan-perempuan muda diculik.
Para pembesar Kerajaan Beng-Tiauw yang dulunya tidak berani berkutik ketika Lie Cu Seng masih berkuasa di Peking, kini muncul dan mulai menjilat-jilat ujung sepatu orang Mancu!
Demikian pula, para tuan tanah yang melihat bahwa orang-orang Mancu mendapat kemenangan, segera merangkak-rangkak dan membungkuk-bungkuk membawa bingkisan untuk mengambil hati.
Pada waktu Lie Cu Seng dan barisan petani yang berkuasa, mereka ini sama sekali tidak berdaya.
Akan tetapi, bukan semua bangsawan menjilat-jilat ujung sepatu orang-orang mancu, karena ada pula beberapa orang bangsawan yang berjiwa gagah dan tidak mau tunduk terhadap orang-orang asing yang datang menjajah ini.!
Diantara mereka ini termasuk juga Pangeran Liok Han Swee.
Sebelum tentara Mancu masuk ke kota, yakni pada pagi harinya, Pangeran Liok sekeluarga telah ribut mulut.
Antara Pangeran Liok, isterinya, dan putera mereka Houw Sin terdapat pertentangan kehendak masing-masing.
Pangeran Liok menghendaki agar Houw Sin cepat meninggalkan Kotaraja menggabung dengan rombongan Panglima calon mertuanya yang akan mengungsi ke selatan, akan tetapi Houw Sin tidak mau karena pemuda ini teringat akan kekasihnya yang masih tinggal bersama bekas pelayannya.
Nyonya Liok mengajak suaminya mengungsi akan tetapi Pangeran Liok tidak mau meninggalkan gedungnya.
Akhirnya Pangeran Liok marah sekali dan berkata kepada puteranya.
"Houw Sin, kau adalah putera tunggalku. Kau masih muda dan kau tidak boleh tinggal disini karena kalau kau sampai tewas, siapakah kelak yang akan menyambung keturunan keluarga kita? Aku sudah tua dan aku tidak sudi lari hanya karena datangnya penjahat Mancu! Aku tidak takut, kalau mereka mau bunuh biar bunuh! Aku tidak mau bertekuk lutut dan juga tidak sudi melarikan diri. Akan tetapi, kau harus pergi ke rumah calon mertuamu dan ikut pergi ke selatan dengan mereka. Kemudian kau boleh melangsungkan pernikahan dengan tunanganmu. hal ini sudah kubicarakan dengan Song-Ciangkun (Panglima Song)"
Karena Ayahnya berkeras, akhirnya Houw Sin meninggalkan rumahnya, akan tetapi ia tidak pergi ke rumah calon mertuanya, melainkan pergi ke rumah bekas pelayannya untuk menemui Sui Lan!
Baru saja ia sampai ditengah jalan, keadaan sudah menjadi kacau balau karena tentara petani yang mempertahankan kota itu sudah terpukul hancur dan tentara musuh telah ada sebagian yang masuk ke kota!
Diantara gelombang manusia yang mengungsi, Houw Sin mencari kekasihnya akan tetapi ternyata rumah bekas pelayannya itu telah terbakar habis dan dia tidak menemukan kekasihnya ditempat itu!
Tidak seorangpun yang dapat ia tanyai, karena para tetangga dijalan itupun sudah pada melarikan diri!
Dengan bingung dan gelisah, Houw Sin mencari-cari akan tetapi mencari seorang gadis seperti Sui Lan diantara ribuan orang yang berlari kacau balau tentu saja tidak mungkin!
Sementara itu, kekacauan telah terjadi disana-sini.
rumah-rumah dibakar, tangis dan pekik terdengar dimana-mana.
Houw Sin akhirnya putus asa dan berlari kembali ke gedung orang-tuanya, akan tetapi apa yang dilihatnya?
Gedung itu sudah dirampok habis-habisan dan bahkan kini telah berkobar-kobar dimakan api!
Ternyata bahwa sebagai seorang bangsawan yang tidak ikut dalam rombongan bangsawan penjilat yang menyambut kedatangan musuh dengan baik.
Pangeran Liok lalu didatangi sepasukan orang Mancu dan seluruh penghuni rumah itu di bunuh, harta bendanya dirampok dan rumahnya dibakar!
Hampir saja Houw Sin jatuh pingsan melihat betapa rumahnya terbakar hebat, karena ia khawatir akan nasib Ayah-Bundanya.
kemudian ia menjadi nekad dan hendak lari memasuki pintu rumah yang sedang berkobar hebat itu.
Akan tetapi, tiba-tiba dua buah lengan yang kuat memegang pundaknya dan ketika ia menengok, ternyata yang memegangnya adalah Panglima Song Liong, Ayah tunangannya!
"Houw Sin, jangan berlaku bodoh!
kau mau berbuat apa?"
"Lepaskan...! Gakhu (Ayah mertua), lepaskan aku... aku hendak menolong Ayah dan Ibu...!"
Akan tetapi pegangan panglima yang berpa-kaian seperti orang biasa itu makin menguat.
"Tiada gunanya lagi, Akupun datang terlambat. Ayah-Bundamu, seluruh isi rumah telah terbunuh, tiada gunanya lagi. Hayo kau ikut aku menyusul rombongan keluargaku!"
"Tidak... tidak..."
Akan tetapi ia tidak berdaya dalam pegangan Song-Ciangkun yang kuat.
"Bodoh! Ayahmu sendiri juga menghendaki agar kau ikut dengan kami. Hayo dan jangan banyak ribut, kalau terdengar dan terlihat oleh musuh, kita celaka!"
Setengah memaksa Song-Ciangkun menyerat tangan Houw Sin yang masih berteriak-teriak memanggil nama Ayah-Bundanya sambil menangis itu, bahkan pemuda itu saking sedihnya lalau jatuh pingsan!
Panglima Song tidak mau membuang waktu lagi, Ia lalu memanggul tubuh pemuda itu dan membawanya lari keluar kota dari pintu selatan, menyusul rombongan keluarganya yang sudah lari terlebih dahulu.
Marilah kita ikuti pengalaman Sui Lan.
Ketika terdengar suara ribut-ribut diluar pintu rumah itu bersama bekas pelayan yang berada dirumah itu, ia lalu keluar dari pintu.
"Musuh telah menyerbu!! musuh telah memasuki kota! Lari...! Penjahat-penjahat Mancu merampok dan membunuh!"
Demikianlah teriakan-teriakan orang yang berlari-lari itu. Sui Lan menjadi pucat, juga pelayan tua itu menjadi takut sekali.
"Hayo kita melarikan diri!"
Ajaknya kepada Sui Lan, akan tetapi gadis ini tidak mau.
"Aku harus menanti Kongcu... aku tidak bisa meninggalkan dia...!"
Saking takutnya, pelayan tua itu lalu melarikan diri lebih dulu, meninggalkan Sui Lan seorang diri dirumah itu.
Gadis itu tidak pernah meninggalkan ambang pintu, dan melihat betapa orang-orang yang berlari makin banyak saja.
Ia menanti-nanti datangnya Houw Sin, akan tetapi pemuda itu tidak kunjung datang!
Bukan main gelisah dan takutnya.
Apalagi ketika melihat betapa rumah-rumah didekat situ sudah mulai dibakar dan terdengar teriakan dan tangisan yang menyayat hati.
Akhirnya, ketika melihat betapa rumah-rumah tetangga disitu yang sudah ditinggalkan penghuninyapun dibakar oleh musuh, terpaksa Sui Lan melarikan diri dari pintu belakang.
Ia berlari menurutkan arah orang-orang tadi melarikan diri, yakni ke pintu gerbang sebelah selatan.
Jalan-jalan telah menjadi sunyi dan Sui Lan berlari seorang diri secepat mungkin.
Kedua kakinya telah terasa sakit sekali, akan tetapi rasa takut membuatnya bertahan dan berlari terus.
Tiba-tiba ia mendengar suara berkata keras.
"Nona, cepat-cepat lari! Penjahat-penjahat sudah masuk kota!"
Sui Lan menengok dan melihat seorang setengah tua yang bertubuh tinggi besar melarikan diri dengan cepat sekali sambil memanggul seorang pemuda.
"Kongcu...!"
Sui Lan menjerit ketika mengenal pemuda yang pingsan dan dipanggul itu sebagai Houw Sin!
Akan tetapi, orang-tua yang bukan lain adalah Song-Ciangkun sendiri, telah berlari jauh dan tidak tahu bahwa jeritan itu ditujukan kepada calon mantunya.
"Kongcu...! Kongcu...! Kanda Houw Sin!!"
Sui Lan menjerit-jerit sambil berlari makin cepat, akan tetapi sia-sia belaka, karena Song-Ciangkun telah mempergunakan ilmu lari cepat sehingga tak nampak bayangannya lagi.
Sui Lan masih memanggil-manggil dan berlari terhuyung-huyung ke depan.
Beberapa kali ia jatuh, bangun lagi dan berlari terus ke selatan.
Pintu gerbang selatan terbuka lebar dan kosong.
Gadis itu berlari terus.
Baiknya para tentara Mancu masuk kota sambil merampok dan membakar, kalau mereka terus mengejar ke selatan, tentu mereka akan dapat menyusul Sui Lan.
Sampai hari menjadi gelap, gadis itu masih saja berlari-lari masuk ke sebuah hutan.
Larinya tidak kencang lagi karena kedua kakinya telah bengkak, tubuhnya lemas, dan sunguhpun masih terdengar tangisnya, akan tetapi air matanya tidak mengeluarkan air mata lagi.
Sudah habis air matanya ditumpahkan dan akhirnya ia tidak kuat lagi, menjatuhkan diri diatas rumput dan rebah menelungkup sambil terisak-isak.
"Kongcu...! Kongcu...!"
Bibirnya masih bergerak memanggil kekasihnya dan tak lama kemudian dia tak sadarkan diri!
Ketika ia siuman kembali, gelap pekat menyelimuti sekelilingnya, Jangankan melihat benda lain disekililingnya, sedangkan tangannya sendiripun tak tampak.
Ia menjadi ketakutan sekali dan meraba-raba ke sekitarnya.
Ketika tengannya meraba akar pohon ia lalu merangkak menuju batang pohon yang tumbuh tak jauh dari situ.
Ia teringat akan buntalan pakaian dan sedikit makanan yang dibawanya dari rumah, akan tetapi ia tidak pedulikan hal ini dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar itu.
Pikirannya melayang kembali ke peristiwa yang dialaminya.
Timbul rasa menyesal yang besar sekali.
Kalau ia tidak melarikan diri, tentu ia masih berada di gedung besar Pangeran Liok dan dalam keadaan aman!
Akan tetapi ia teringat akan Houw Sin yang dipondong dan dibawa lari oleh orang tinggi besar tadi.
Kenapakah kekasihnya itu?
terlukakah?
atau...
atau sudah meninggalkah?
Ia bergidik ngeri dan kedukaan hebat meliputi hatinya.
Ia teringat kembali akan niatnya membunuh diri di malam hari itu di dalam kamarnya ketika nyonya Liok memaksanya untuk menikah dengan orang lain.
Pikiran ini kembali timbul dalam ingatannya.
Kemana ia harus pergi?
Apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Kembali ke rumah Pangeran Liok?
Tidak Mungkin!
ia sudah melarikan diri dan lagi pula, kekasihnya telah pula pergi meninggalkan Kotaraja.
Apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Jalan amat gelap baginya, disana sini buntu, tidak ada jalan keluar.
Ia tidak mempunyai kerabat, tidak ada handai taulan, tiada kawan, sebatang kara diatas dunia yang luas ini.
Masa depannya gelap gulita, sama gelapnya dengan malam itu.
Ketika ia menengok ke arah utara, ia melihat langit disebelah utara memerah dan bergidiklah dia.
Tentu Kotaraja menjadi lautan api, pikirnya.
Sudah terang ia tidak mungkin dapat kembali ke Kotaraja.
Selain takut pada keluarga Liok, ia juga takut kepada perampok-perampok Mancu itu.
Tiada jalan lain kecuali mengakhiri hidup sengsara ini!
Pikiran ini membuatnya bertenaga kembali dan sambil merangkak-rangkak dicarinyalah bungkusannya.
Didalam bungkusan itu ia akan bisa mendapatkan sehelai ikat pinggang yang panjang, dan pohon yang disandarinya itu akan merupakan tempat menghabiskan nyawa yang baik dan kuat.
Ia mendapatkan kembali bungkusannya dan ketika dibukanya, yang terpegang terlebih dahulu adalah sebungkus roti kering yang dibawanya dari rumah tadi.
Tiba-tiba ia merasa betapa perutnya amat lapar dan perih dan ketika meraba perutnya dengan tangan kiri, terkejutlah dia.
Terduduk kembali ia dan tak terasa pula ia menangis tersedu-sedu dambil mengelus-elus perutnya.
Tidak mungkin ia membunuh diri.
Ia tidak takut untuk menghabisi nyawanya sendiri, akan tetapi dengan jalan membunuh diri, sama juga dengan membunuh pula anak dalam kandungannya!
Teringat akan hal ini lenyaplah niatnya membunuh diri.
Tidak.
pikirnya, tidak boleh.
Entah kelak kalau anak ini sudah terlahir selamat dan ada yang memeliharanya...!
tak boleh aku membawa anak yang tak berdosa itu ke alam gelap!
Aku harus hidup, harus hidup untuk memelihara anakku ini...!
Dirabanya kembali bungkusan roti kering dan untuk menghilangkan rasa perih di perutnya ia memaksa makan sepotong roti, kemudian karena pikirannya ruwet dan hatinya berduka ia menjadi lelah lahir batin dan jatuh pulas di bawah pohon itu.
Pada keesokan harinya ia melanjutkan perjalanan, tanpa tujuan dan tidak tahu kemana ia harus pergi, bahkan tidak tahu pula dimana ia berada dan kemana ia sedang menuju.
Berbulan-bulan ia melakukan perjalanan, dengan penuh harapan kalau-kalau ia akan bertemu dengan Houw Sin kekasihnya.
Setiap kali tiba di sebuah dusun atau kota, ia mencari-cari, bertanya-tanya kalau-kalau disitu terdapat pengungsi dari Kotaraja bernama Liok Houw Sin.
Baiknya ia membawa perhiasan emas yang diterimanya dari nyonya Liok ketika ia masih menjadi pelayan disana dan sedikit demi sedikit perhiasannya ini dijualnya untuk dimakan.
Dan merupakan hal yang baik pula bahwa ia sedang dalam keadaan mengandung, oleh karena kalau sekiranya tidak demikian, tentu ia telah menjadi korban gangguan laki-laki jahat.
Akan tetapi, meskipun begitu, empat bulan kemudian semenjak ia merantau dan tiba di sebuah hutan dengan maksud pergi ke kota An-Sin-Kwan yang menurut kata orang berada di luar hutan itu, hampir saja ia mendapat gangguan perampok.
Ketika ia sedang berjalan perlahan seorang diri, tiba-tiba dari belakang mendatangi sebuah gerobak kecil ditarik oleh seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang laki-laki tinggi besar dan bermuka brewok.
Melihat seorang wanita berjalan seorang diri dan wanita itu ternyata sedang mengandung, laki-laki itu menghentikan kendaraannya dan bertanya dengan suaranya yang kasar dan keras.
"Eh, Toanio, kau hendak kemanakah ? Mengapa seorang diri saja?"
Muka brewok dan kata-kata yang parau kasar itu mengejutkan hati Sui Lan, akan tetapi mata laki-laki yang usianya lebih kurang empat puluh tahun itu nampak jujur, maka ia lalu menjawab.
"Aku hendak menuju kekota An-Sin-Kwan mencari seorang sanak keluarga disana."
Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata seorang diri.
"Hm, alangkah buruknya jaman ini. Baru sekarang aku melihat seorang wanita muda, dalam keadaan mengandung pula, jalan seorang diri dalam hutan dengan maksud pergi kekota yang jauhnya tidak kurang dari tiga puluh li! Benar-benar buruk sekali.! Kemudian ia melompat turun dari kudanya, membereskan beberapa karung yang dimuat di gerobak kecil itu sehingga disitu terdapat tempat lowong, lalu berkata kepada Sui Lan.
"Toanio, Aku tidak mengenal engkau, dan aku tidak ingin tahu pula mengapa kau melakukan perjalanan seorang diri. Akan tetapi sebagai seorang laki-laki, aku tidak tega melihat kau melakukan perjalanan berat ini. Naiklah, akupun kebetulan hendak mengantar barang-barang ini ke kota An-Sin-Kwan!"
Sui Lan merasa ragu-ragu.
Ia tidak mengenal orang ini, siapa tahu kalau ia bukan orang baik-baik?
"Terima Kasih, Lopek (sebutan berarti Paman atau Uwak).
Sudah berbulan-bulan aku melakukan perjalanan seorang diri, aku tidak mau mengganggu orang lain."
Jawaban ini membuat laki-laki itu melenggong.
"Eh, kau agaknya bercuriga padaku, Toanio? hm, ketahuilah aku adalah seorang yang tidak biasa mengganggu wanita! Namaku Lie Kai dan orang menyebutku Thiat-Thouw-Gu (Kerbau Berkepala Besi) Aku pernah menjadi pemimpin sepasukan tentara petani dan perampok-perampok sudah mengenalku baik-baik. Tidak seorangpun berani memandang rendah Thiat-Thouw-Gu dan biarpun semua pekerjaan buruk dan jahat telah kulakukan, namun mengganggu wanita adalah sebuah pantangan besar bagiku!"
Sui Lan merasa tidak enak sekali karena orang itu telah dapat menduga bahwa ia mencurigai laki-laki itu, akan tetapi mendengar nama julukan ini, ia makin merasa takut.
"Tidak, Lopek, aku tidak bercuriga... akan tetapi... kakiku kini sudah kuat, aku telah melakukan perjalanan ratusan li jauhnya dan tak pernah aku mendapat gangguan orang..."
"Hmm, kau seorang wanita yang tabah dan berani, juga keras hati! Ah, Toanio (Nyonya)... melihat kau berjalan seorang diri dengan perut besar itu... hatiku tidak tega. Apalagi kalau sampai nanti kau di hadang gerombolan perampok yang menunggumu... ah.. aku merasa seperti anak perempuanku sendiri saja yang menderita kesengsaraan itu!"
Mendengar betapa suara laki-laki itu tiba-tiba menjadi halus dan seperti orang terharu, Sui Lan tidak dapat menahan keinginan tahunya dan bertanya.
"Kau juga mempunyai seorang anak perempuan, Lopek?"
Tak disangkanya sama sekali bahwa pertanyaan ini merupakan pisau tajam yang menusuk dada laki-laki brewok itu. Ia melompat turun, menghampiri sebatang pohon dan meninju pohon itu sekuatnya.
"Krak...!!!"
Batang pohon sebesar paha orang itu terkena pukulannya menjadi patah dan roboh seketika itu juga.
Sui Lan menjadi heran dan juga takut, dan mengira bahwa mungkin sekali laki-laki brewok ini miring otaknya.
"Jangan tanyakan itu... jangan tanyakan itu..."
Kata kata laki-laki brewok ini.
"Anakku... dia telah meninggal dunia..."
Ketika Sui Lan mendengar ini dan melihat betapa dua butir airmata melompat keluar dari mata orang brewok itu, ia menjadi terharu sekali.
Perasaannya yang halus membuat dia menghampiri laki-laki itu dan memegang lengannya lalu berkata perlahan.
"Maafkan aku Lopek, aku tidak tahu akan hal itu..."
Dan ketika melihat orang itu masih saja berdiri dengan pandang mata jauh seperti orang melamun sedangkan wajahnya muram sekali tanda akan kesedihan hatinya yang hebat, Sui Lan lalu berkata lagi dengan nada gembira.
"Lopek, aku turut kau! Mari kita berangkat dan kita dapat bercakap-cakap di jalan. Akan lenyap kesunyian hutan yang amat menggangguku. Hayo Lopek!"
Ia menarik tangan orang-tua itu yang menengok kepadanya dan agaknya sudah sadar kembali dari keadaan yang menekan hatinya dan yang mengingatkannya akan hal-hal yang sedih itu.
"Baik, marilah, anak yang baik! Jangan kau khawatir, kalau ada serigala-serigala hutan berani mengganggumu, akan kupecahkan kepalanya!"
"Serigala? apakah di hutan ini ada serigalanya, Lopek?"
Tiba-tiba Lie Kai si Kerbau berkepala besi itu tertawa terbahak-bahak.
"Ah, anak bodoh! mana ada serigala disini? yang kumaksudkan adalah serigala-serigala kaki dua."
Sambil berkata demikian, ia melompat keatas kuda setelah melihat bahwa Sui Lan telah duduk dengan baik didalam gerobak, lalu ia melarikan kudanya.
Sui Lan menarik nafas senang.
Memang lebih enak naik gerobak daripada berjalan kaki.
Selain kakinya tidak lelah juga perjalanan ini juga akan lebih cepat.
Sayang sekali jalan yang dilalui gerobak itu banyak kerikilnya dan tidak rata sehingga gerobak itu terhuyung-huyung ke kana kiri, depan belakang, dan ia seakan-akan dikocok-kocok di dalam gerobak.
"Lopek, jangan terlalu cepat..."
Katanya.
Lie Kai menengok dan tiba-tiba ia teringat bahwa wanita yang dibawanya itu sedang mengandung, maka ia cepat menahan kendali kudanya dan kini kudanya itu berjalan biasa sehingga Sui Lan tidak terlalu banyak menderita.
Tiba-tiba Lie Kai si Kerbau Berkepala besi yang duduk diatas kudanya, berdongak keatas dan terdengarlah ia bernyanyi dengan suara yang parau dan keras sekali.
Suara nyanyiannya terdengar gembira dan bersemangat, akan tetapi kata-katanya sungguh tidak sesuai dengan irama yang gembira dan bersemangat itu, karena kata-katanya merupakan sebuah keluhan .
"Tuan tanah kejam merampas sawah ladang Bini dan anak oleh Thian dipanggil pulang Kini tanah air dirampas oleh musuh pula. Aah! pegang golok seorang diri, Apakah gunanya?"
"He, Lopek! Kau agaknya gembira sekali!"
"Gembira katamu?"
Si brewok itu menengok sebentar.
"Aku sedang mengeluh!"
"Mengapa keluhan terdengar demikian gembira?"
"Habis, apakah kau suruh aku menangis? apa gunanya tangis dan duka? Tiada gunanya, bukan? Lebih baik hadapi segala kepahitan hidup dengan senyum dan tawa!"
Kata-kata yang kasar dan bersahaja ini berkesan di dalam hati Sui Lan.
"Lopek, apakah kau bahagia?"
"Bahagia? Apakah itu bahagia? aku gembira, itu sudah pasti. betapapun juga rahasia hatiku, aku memaksakan diri supaya bergembira. Kalau kebahagiaan diukur dari senyum atau tawa atau dari wajah berseri, atau dari kesehatan tubuh, ataupun dan makan dan pakaian cukup, nah, kau boleh sebut aku berbahagia!"
"Lopek, hidupmu tentu penuh dengan pengalaman-pengalaman hebat. Alangkah menariknya kalau kau mau menceritakannya kepadaku."
Akan tetapi sebelum Lie Kai menjawab, tiba-tiba terdengar suara keras berseru.
"Hai...! Tukang gerobak, berhenti!"
Suara ini muncul dari arah kiri dan tak lama kemudian muncullah berlompatan tujuh orang tinggi besar dari belakang pohon-pohon besar!
Tujuh orang itu kesemuanya berwajah galak menyeramkan sedangkan ditangan mereka nampak golok mengkilap!
"Aduh, Lopek...
lekas larikan kuda!
mereka itu tentu perampok jahat!"
Kata Sui Lan perlahan dengan tubuh gemetar saking takutnya. Lie Kai menengok kepadanya dan berkata sambil tertawa.
"Jangan takut, mereka itu hanya serigala-serigala kaki dua yang kukatakan tadi."
Kemudian ia memajukan kudanya, bahkan menghampiri tujuh orang tadi yang memandang ke arah gerobak dengan penuh perhatian.
"He, tukang gerobak!"
Membentak seorang diantara mereka yang memakai ikat kepala merah dan agaknya menjadi pemimpin mereka.
"Lekas kau turun dari kuda, tinggalkan kuda, gerobak dan semua isinya!"
Seorang diantara mereka yang semenjak tadi memandang kearah Sui Lan sehingga yang dipandanginya menjadi semaki ketakutan, berkata sambil tertawa.
"Ha..ha..ha..! Tukang gerobak, macammu buruk, usiamu sudah setengah tua, akan tetapi isterimu cantik sekali, ha..ha..ha!"
Tadinya Lie Kai hendak menjawab ucapan si kepala perampok, akan tetapi ketika mendengar ucapan orang ini, ia lalu balas memandang dan menjawab sambil tersenyum.
"Tolol! Dia bukan isteriku, melainkan anakku. Butakah matamu bahwa aku adalah Ayahnya?"
"Aha, kalau begitu kebetulan sekali!"
Kata perampok yang mata keranjang itu.
"Kau boleh tinggalkan semua ini, termasuk juga anak perempuanmu itu!"
"Sam-Te (adik ketiga), jangan banyak bicara saja!"
Mencela kepala rampok tadi.
"Seret saja si tua itu dari atas kuda!"
Anggota perampok yang mata keranjang itu lalu maju dan membentak.
"Turun Kau!"
Sambil berkata demikian ia lalu menangkap lengan kanan Lie Kai lalu dibetotnya dengan keras dengan maksud agar supaya si brewok itu jatuh terjungkal dari kudanya.
Akan tetapi akibat perbuatannya ini sungguh ajaib dan hebat.
Bukan Lie Kai yang terjungkal dari atas kuda, sebaliknya perampok itu yang terbetot keatas dan sekali Lie Kai menggerakan tangannya, perampok itu mencelat keatas tinggi sekali!
Perampok itu menjerit ngeri dan ketika tubuhnya jauh kembali ke atas tanah, debu mengepul tinggi dan terdengar ia bersuara.
"Ngekk!!"
Lalu rebah tak berkutik lagi!
Tentu saja keenam orang perampok yang lain merasa terkejut setengah mati, juga marah sekali.
Serentak lalu mereka maju dengan golok terangkat ditangannya, akan tetapi tahu-tahu tubuh Lie Kai telah melompat turun dan menghadapi mereka.
Amat mengagumkan gerakan Lie Kai ini.
Agaknya sukar dapat dipercaya tubuh yang tinggi besar dan kaku itu dapat melompat selincah dan seringan itu, bagaikan daun kering tertiup angin saja, tanpa bersuara kakinya menginjak bumi.
Kemudian, sebelum ada golok yang sempat menyambarnya, tubuh Lie Kai berkelebat menyerang dengan gerakan yang tak terduga cepatnya.
Terdengarlah suara.
"Duk! Plak! Ngeek!"
Ketika kedua tangannya membagi pukulan tamparan dan tendangan yang mengenai kepala, pipi, atau perut perampok itu, disusul terikan-teriakan.
"Aduh...! ampun...!"
Dan disusul pula dengan robohnya tiga orang perampok!
Kepala perampok itu menjadi marah sekali dan secepat kilat goloknya menyambar, disusul dengan dua orang kawannya yang juga menusuk dada dan pinggang Lie Kai.
Si brewok ini sambil tertawa bergelak mengelak sambaran golok kepala rampok yang mengarah ke lehernya dengan merendahkan tubuh.
Golok yang menusuk dadanya dia sambut dengan pukulan tangan dengan jari-jari terbuka yang dihantamkan dari pinggir mengenai permukaan golok.
"Krak!"
Golok itu terkena pukulan tangannya menjadi patah tengahnya. Sedangkan golok yang membabat pinggangnya itu disambut dengan tendangan kakinya ke arah pergelangan lawan.
"Blek!"
Lengan yang kena tendang itu patah tulangnya dan goloknya mencelat jauh entah kemana!
Sebelum ketiga orang perampok itu hilang rasa kagetnya.
Lie Kai sudah bergerak maju cepat sekali, tangan kanan menangkap baju kepala perampok itu pada dadanya, tangan kiri memukul ke kiri dan sebuak tendangan merobohkan ke dua penjahat yang lain!
Kepala rampok yang terpegang bajunya itu mencoba untuk menyerang dengan golok, akan tetapi sebuah ketokan pada sambungan sikunya membuat ia memekik kesakitan karena sambungan tulang pada sikunya terlepas dan tangannya menjadi lumpuh.
Dengan sendirinya golok terlepas dari pegangan.
Lie Kai melanjutkan gerakannya dan ketika dua ujung jari tangannya menotok iga, kepala rampok itu memekik kesakitan dan ketika Lie Kai melepaskan pegangannya, kepala rampok itu lalu berputar-putar bagaikan ayam terpukul batok kepalanya!
Kemudian, sambil menahan rasa sakit yang hebat pada iganya, ia lalu mejatuhkan diri berlutut di hadapan Lie Kai yang tertawa bergelak.
"Ha..ha..ha..! Segala macam rampok kecil bermata buta! Kau berani mencoba-coba bermain gila di depan Thiat-Thouw-Gu Lie Kai?"
Bukan main terkejutnya kepala rampok itu mendengar nama ini.
"Ampunkan mataku yang telah buta, tidak melihat gunung Thai San menjulang tinggi di depan mata! Tai-Ong (Raja besar, sebutan yang lazim untuk kepala rampok besar) ampunkanlah Siauwte (sebutan untuk diri sendiri untuk merendah)!"
Akan tetapi, Lie Kai menjadi marah dan sekali kaki kirinya bergerak, ia telah menendang kepala rampok itu sehingga berguling-guling beberapa kali jauhnya!
"Anjing busuk!
Siapa sudi kau sebut Tai-Ong?
Sudahkah kau mendengar bahwa telah sepuluh tahun lebih aku mencuci tangan?
pernahkah kau mendengar selama ini bahwa Lie Kai melakukan perampokan?
Buka matamu dan pasang telingamu baik-baik, bangsat!"
Kepala rampok itu menjadi girang sekali oleh biarpun dia ditendang, namun tendangan itu ternyata membebaskannya dari totokan yang amat menyakitkan iganya itu.
Ia berlutut lagi sambil mengangguk-anggukan kepalanya seperti ayam makan gabah.
"Ampun, sekali lagi ampunkan hamba, Taihiap (pendekar besar). Hamba sekali-kali tidak sengaja menyinggung perasaan Taihiap!"
"Hush, tutup mulutmu dan jangan banyak cakap pula. Siapa sudi kau sebut Taihiap? aku bukan seorang pendekar. Tanah air dijajah musuh aku tidak dapat mencegah, mana patut aku disebut pendekar? Sudahlah, aku ampunkan kalian dan ini obat untuk penyambung tulang dan untuk mengobati luka-luka!"
Ia melemparkan bungkusan kepada kepala perampok itu, kemudian berkata pula.
"Akan tetapi awas kau kalau sampai lain kali aku mendengar kalian mengganggu para pelancong atau penduduk yang tidak berdosa. Contohlah aku ketika masih menjadi tokoh Lioklim (lembah hijau) dulu! yang kuganggu hanyalah hartawan-hartawan pelit, tuan tanah-tuan tanah penghisap rakyat, dan pembesar-pembesar yang kejam! Sekarang korban-korbanmu lebih banyak pula. Tanah air telah dijajah oleh musuh dan semua pembesar negeri boleh kau ganggu, merekalah musuh-musuhmu!"
Setelah berkata demikian, Lie Kai lalu melompat keatas kudanya lagi, akan tetapi sebelum menjalankan gerobaknya, ia menengok kearah Sui Lan yang memandangnya dengan penuh kekaguman, maka berkatanya ia kepada kepala rampok itu sambil menunjuk kepala perampok mata keranjang yang masih pingsan karena bantingannya tadi.
"Dan Kau jagalah baik-baik orang itu! Kalau ia masih melanjutkan wataknya yang suka mengganggu wanita, lain kali akan kuhabisi nyawanya!"
Lie Kai lalu melanjutkan perjalanannya dengan hati puas.
Terdengar ia bernyanyi-nyanyi lagi dan lagunya masih seperti tadi, riang gembira dan bersemangat, akan tetapi kata-katanya juga masih syair yang merupakan keluh-kesah tadi!
Kini lenyaplah keraguan dalam hati Sui Lan terhadap orang-tua ini.
Ia menjadi amat kagum akan kegagahan Lie Kai dan sepak terjangnya terhadap para perampok itu benar-benar membuat ia memandang orang-tua itu dengan penuh penghormatan.
Pernah Sui Lan mendengar tentang pendekar-pendekar gagah perkasa, dan kalau pendekar-pendekar itu tadinya hanya menjadi semacam dongeng saja baginya, kini, ia merasa yakin bahwa pendekar-pendekar itu memang ada dan Lie Kai adalah seorang diantaranya.
Hidupku sebatang kara, aku seorang lemah, miskin, dan tak seorangpun mau melindungiku.
Alangkah baiknya kalau ia mendapat pelindung seperti orang orang ini, demikian Sui Lan berpikir ia teringat betapa orang-tua itu tadi mengaku dia sebagai anaknya dan hatinya terasa hangat mengenang hal ini.
Tidak terasa pula, ia segera memanggilnya.
"Lie-Lopek (Uwak Lie)!"
Lie Kai menghentikan kudanya dan menengok.
"Apakah aku menjalankan gerobak terlalu cepat?"
Tanyanya sambil tersenyum.
Senyum itu membuat hati Sui Lan terharu, karena hanya Bibirnya yang tersenyum, sedangkan pandangan mata orang-tua itu membayangkan kedukaan besar yang ditekan-tekannya.
Sui Lan menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Tidak, tidak terlalu cepat, aku hanya ingin menyatakan terima kasih kepadamu, Lie-Lopek. Kalau tidak ada kau yang menolongku, entah bagaimana jadinya dengan diriku. Kalau aku berjalan seorang diri lalu bertemu dengan orang-orang tadi... ah tentu aku telah mati mereka bunuh atau bunuh diri!"
Lie Kai maklum akan maksud kata-kata Sui Lan, akan tetapi ia hanya tertawa dan berkata.
"Hanya itu saja? Ha..ha.. kau lucu! bertemu dengan kau ataupun tidak, aku pasti akan membasmi perampok-perampok itu apabila berjumpa dengan mereka. Untuk apa terima kasih? Tak perlu kata-kata kosong itu!"
Setelah berkata demikian, Lie Kai menjalankan kudanya lagi.
"Lie-Lopek...!"
Lie Kai menghentikan kudanya lagi dan menengok.
"Ada apa lagi? Kau membutuhkan sesuatu?"
Kembali Sui Lan menggeleng kepala "Tidak, Lie-Lopek, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku senang sekali mendengar kau tadi mengakui kepada perampok itu bahwa aku adalah anakmu!
Ah...
kalau saja hal itu benar-benar aku...
akan suka sekali menjadi anakmu!"
Merahlah wajah Lie Kai mendengar ini.
"Ah, maafkan aku Toanio. Tadi aku hanya biacara untuk menjawab perampok yang kuran ajar itu. Mana patut aku menjadi Ayahmu? Dan pula, kau tentu mempunyai Ayah-Ibu yang berbahagia serta suami yang bijaksana..."
Kata-kata ini serasa menusuk ulu hati Sui Lan dan sambil meramkan mata, Sui Lan mencoba untuk menahan air matanya, akan tetapi tetap saja air matanya mengalir turun membasahi pipinya.
"Eh.. eh... kau kenapakah?"
Tanya Lie Kai terheran-heran. Sambil menghapus air matanya dengan sapu-tangan, Sui Lan berkata.
"Aku... aku telah yatim piatu..."
Lie Kai terkejut dan memandang dengan melongo.
"Aduh kasihan! dan... suamimu...? dimanakah dia? Mengapa membiarkan kau pergi seorang diri?"
Ditanya demikian, makin deraslah keluarnya air mata Sui Lan. Sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan, ia menjawab terisak-isak.
"Aku... aku tidak mempunyai suami..."
Tiba-tiba Lie Kai menggerakan tubuhnya dan dari atas kuda ia melompat dan tahu-tahu telah berdiri di depan Sui Lan, didalam gerobak.
"Apa kau bilang? Sudah... meninggal duniakah dia?"
Sui Lan tidak dapat menjawab, hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis makin sedih.
"Kalau begitu apakah dia telah menceraikanmu? telah meninggalkanmu?"
Kembali Sui Lan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Lie Kai menjadi hilang sabar. Dipegangnya kedua pundak Sui Lan dan berkatalah dia keras-keras.
"Anak, dengarlah! lihat mukaku dan percayalah kepadaku! Kalau dia meninggalkanmu, akulah yang akan mencarinya dan menyeretnya kembali serta memaksanya minta ampun kepadamu!"
Makin sedih Sui Lan menangis dan Lie Kai lalu memegang dagunya dan mengangkap muka itu, memaksa Sui Lan memandangnya melalui air mata yang masih menderas keluar.
"Katakanlah! Dimana suamimu dan mengapa kau seorang diri saja Bukankah kau hendak pergi ke An-Sin-Kwan untuk mencari keluargamu seperti yang kau katakan tadi?"
"Tidak... aku... aku tiada keluarga, aku tidak mempunyai siapapun juga didunia ini... aku sebatang kara, tiada tempat tinggal, tanpa tujuan... merantau kemana saja, kakiku membawaku... aku... aku..."
Tidak melanjutkan kata-katanya dan menangis lagi.
"Dengar!"
Lie Kai dan matanya menjadi merah karena menahan keharuan hatinya.
"Aku Ayahmu, bukan?"
Kau tadi ingin menjadi anakku, bukan? Nah sekarang kau menjadi anakku! Hayo kau ceritakan terus terang kepada Ayahmu mengapa keadaanmu menjadi begini!"
Bukan main terharu rasa hati Sui Lan dan sambil menjerit dia lalu menjatuhkan kepalanya di dada orang-tua itu lalu menangis tersedu-sedu.
Lie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya dan diam-diam ia meramkan kedua matanya untuk menahan jatuhnya air matanya.
"Mari kita turun"
Katanya sambil menuntun Sui Lan turun.
"Kita beristirahat sebentar melepas lelah. Kau ceritakanlah keadaanmu kepadaku, dan siapa pula namamu, karena sungguh amat lucu kalau seorang Ayah seperti aku tidak mengenal nama anaknya sendiri!"
Keduanya lalu duduk di bawah pohon yang teduh dan setelah dapat meredakan keharuan hatinya, Sui Lan menceritakan riwayatnya mengaku bahwa namanya Ma Sui Lan dan bahwa semenjak berusia delapan tahun ia telah dijual oleh Ayahnya untuk membayar hutang, betapa kemudian ia menjadi pelayan di rumah gedung Pangeran Liok Han Swee sampai menjadi dewasa.
Dengan terus terang dia menceritakan perhubungannya dengan Houw Sin, dengan panjang lebar ia menceritakan tentang segala peristiwa itu sehingga pengalamannya yang penuh derita semenjak berpisah dari Houw Sin.
Mendengar penuturan Sui Lan, Lie Kai menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata menghela nafas berkali-kali.
"Ah anak bernasib buruk, yang semenjak kecil sudah harus menelan segala kepahit-getiran hidup! Anak bodoh, yang menurutkan perasaan hati dan mudah tergoda oleh cinta dan nafsu! Kasihan sekali... kasihan sekali...!"
Dengan Sedih Sui Lan berkata.
"Lopek.. kau telah mendengar semua riwayatku yang penuh kecemaran... yang buruk... memang aku telah lemah, tak berpikir panjang, mabok oleh cinta, runtuh oleh godaan iblis... akan tetapi aku tidak menyesal Lopek. Aku cinta kepadanya... Lopek, kau tentu jijik melihatku, apakah kau masih mau mengaku anak kepada seorang wanita yang... yang mengandung diluar pernikahan yang sah?"
"Mengapa tidak?"
Lie Kai membelalakkan matanya.
"Aku kasihan kepadamu, dan aku akan senang sekali menjadi Ayah angkatmu."
Bukan main besar dan girangnya hati Sui Lan mendengar ini.
Seketika itu juga lenyaplah segala perasaan berat yang selama ini menekan hatinya, timbul pula pengharapannya.
Ia segera berlutut dan berkata sambil mengucurkan air mata.
"Terima kasih... terima kasih Ayah... aku berjanji hendak menjadi seorang anak yang berbakti. Aku selalu rindu kepada seorang Ayah... dan tentang Ayah anak yang kukandung ini, kalau saja aku dapat bertemu dengan dia, tentu dia akan menerimaku sebagai isterinya. Aku yakin akan hal itu, karena dia... dia menyintaiku!"
"Mudah-mudahan begitu Sui Lan, Hal ini kuharapkan benar, sungguhpun aku merasa ragu-ragu, karena aku telah mengenal hati laki-laki, yang mudah menyatakan cinta dan mudah pula melupakannya. Aku maklum benar bahwa diantara seratus orang wanita di dunia ini hanya seorang dua orang saja yang dapat berlaku curang dan tidak setia, akan tetapi sebaliknya diantara seratus orang pria, hanya seorang atau dua orang saja yang dapat berlaku jujur dan setia!"
"Ayah, kau sungguh mulia! Kau sudah mendengar riwayatku yang penuh noda, namun kau tetap sudi menjadi Ayahku. Alangkah bahagianya rasa hatiku, kau seakan-akan memberi api kehidupan baru dalam dadaku."
Lie Kai tersenyum, sungguhpun matanya makin muram ketika ia menjawab.
"Jangan menganggap demikian anakku. Kau belum mendengar riwayatku, dan kalau kau sudah mengetahui keadaan riwayatku dimasa lalu, mungkin kau takkan memandangku demikian tinggi. Akupun hanya seorang yang telah penuh dengan dosa."
Kemudian dengan singkat Lie Kai si Kerbau berkepala besi menceritakan riwayat hidupnya.
Lie Kai adalah putra seorang petani yang tinggal disebuah dusun kecil di propinci Hok-kiau.
Semenjak kecil ia hidup sengsara karena Ayahnya memiliki sebidang sawah yang tidak berapa besarnya.
Kepala daerah mengadakan peraturan pajak sawah luar biasa beratnya, ditambah pula oleh kepala dusun yang dengan cerdiknya menambahkan biaya-biaya penjagaan keamanan kampung dan lain-lain sehingga hasil sawah itu hampir habis dibayarkan pajak-pajak ini!
Ini kalau tidak terjadi bencana alam menimpa.
Pada musim kering, atau dikala hujan turun terus menerus sehingga air sungai membuat sawah ladang menjadi telaga, Keluarga-keluarga tani miskin seperti keluarga Lie ini terpaksa mengikat diri dengan uang pinjaman dengan bunga yang mengikat dan mencekik leher.
Tentu saja keadaan ini membuat mereka makin lama makin dalam tenggelam di lautan hutang, Jangankan untuk membayar induk hutang, sedangkan untuk membayar anakannya saja sudah setengah mati.
Tak mengherankan apabila hutang yang mula-mula tak berapa besar itu lama-kelamaan menjadi berlipat ganda dan akhirnya mencapai jumlah yang tidak mungkin di bayar lagi.
Kalau sudah demikian halnya, maka boleh dikatanya kehidupan sekeluarga berada dalam cengkraman kuku para pelepas uang panas itu.
Demikian pula keadaan Ayah Lie Kai yang bertambah tahun tambah tenggelam dan terpendam dalam lumpur hutang sampai lehernya.
Akan tetapi keadaan yang buruk ini belum diketahui oleh Lie Kai yang semenjak usia dua belas tahun telah pergi berGuru ilmu silat dari seorang Hwesio berilmu tinggi.
Ayah Lie Kai yang bernama Lie Cit amat menyinta putera tunggalnya itu dan ketika Lie Kai pulang enam tahun kemudian, ia segera menikahkan puteranya itu dengan seorang gadis dusun yang amat sederhana.
Perayaan pernikahan ini, sesungguhnya amat sederhana, tapi tetap saja membutuhkan biaya yang lumayan dan kembali Lie Cit yang tak berdaya diam-diam lari kepada tuan tanah yang memberi hutang kepadanya dan meminjam uang baru dengan bunga yang lebih besar.
Tiga tahun kemudian, keadaan Lie Cit tak dapat dipertahankan lagi.
Hutangnya telah terlampau banyak dan bunga-bunga uang itu makin memperbesar jumlah utang.
Akhirnya tuan tanah merangkap lintah darat pelepas uang panas itu menagih dan lalu meminta pertolongan pembesar setempat.
Karena surat hutang menjadi bukti, akhirnya sawah Lie Cit yang tak berapa besar itu dirampas untuk membayar hutang, itupun masih belum dapat melunasi hutangnya.
Lie Kai menjadi marah sekali.
Ia segera mendatangi tuan tanah itu dan memuncaklah amarahnya ketika ia melihat dari surat hutang bahwa hutang Ayahnya sesungguhnya tidak begitu besar jumlahnya.
Akan tetapi waktu yang belasan tahun lamanya itu yang telah membuat jumlah hutang menjadi puluhan kali banyaknya!
Lie Kai yang berkepandaian tinggi hendak mengamuk dan menghajar tuan tanah itu, akan tetapi isterinya menangis melarangnya, sambil menggendong seorang anak perempuan yang masih kecil.
Melihat isteri dan anaknya, lemah kembali hati Lie Kai dan ia hanya menekan kebenciannya terhadap tuan tanah itu.
Akan tetapi, tuan tanah itu ketika mendengar Lie Kai marah-marah dan hendak menyerbu rumahnya, menjadi khawatir dan segera ia meminta pertolongan pembesar setempat mengajukan tuntutan agar Lie Kai ditangkap dengan tuduhan mengancam jiwanya dan disamping itu ia menuntut pula dibayarnya sisa hutang yang belum lunas.
Kejadian ini amat menyusahkan hati Lie Cit yang sudah tua sehingga ia jatuh sakit dan meninggal dunia beberapa lama kemudian.
Dan diwaktu Lie Kai masih berkabung, datanglah pengawal pengawal pembesar setempat untuk menangkapnya!
Tentu saja hal ini membuat Lie Kai naik darah dan ia tidak dapat mengendalikan hatinya lagi.
"Jahanam busuk, manusia-manusia terkutuk!"
Teriaknya marah.
"Sudah merampas sawah menghancurkan hati Ayah sehingga Ayah meninggal, kini datang hendak menangkap dan menghina kami sekeluarga! Benar-benar kalian ini iblis-iblis bermuka manusia! Apakah kau kira tidak ada pengadilan lagi di dunia ini? Kalau pengadilan pemerintah diselewengkan untuk menjadi kepentingan si kaya menindas si miskin, kalau Thian tidak menoleh lagi pada manusia miskin yang tertindas, masih ada pengadilan lain yang akan menghukum kalian. Dan inilah hakimnya!"
Sambil berkata demikian Lie Kai mencabut dan mengacungkan goloknya, lalu mengamuklah Lie Kai dengan hebat!
Para pengawal dan penjaga yang berjumlah puluhan orang lalu datang menyerbu dan mengepungnya bahkan ada penjaga yang menyerang Ibu dan isterinya sehingga kedua wanita itu menjerit dan roboh mandi darah tak bernyawa lagi!
Anak perempuannya yang baru berusia dua tahun terlempar dari gendongan Ibunya dan menangis keras.
Bukan main marahnya hati Lie Kai melihat ini.
Matanya menjadi beringas bagaikan mata seekor harimau dan ia mengamuk makin hebat setelah berhasil menolong dan mengendong anaknya.
Goloknya yang putih sampai menjadi merah karena darah manusia dan lebih dari setengah jumlah pengeroyoknya roboh tak bernyawa lagi.
Sebagian lagi merasa jerih dan ngeri melihat amukan Lie Kai yang amat tangguh itu dan mereka melarikan diri cerai berai.
Dengan nafsu amarah masih meluap-luap dan kesedihan yang luar biasa melihat Ibunya dan isterinya menggeletak mandi darah dan tidak bernyawa lagi, Lie Kai sambil menggendong anaknya dengan tangan kiri lalu berlari cepat mendatangi rumah tuan tanah, membunuh tuan tanah itu yang menimbulkan malapetaka pada keluarganya.
Kemudian iapun pergi kepada pembesar yang diperalat oleh tuan tanah itu dengan maksud untuk membunuhnya pula.
Akan tetapi ia telah terlampau lelah dan juga pembesar itu mempunyai banyak pengawal sehingga usahanya ini tidak berhasil bahkan hampir saja ia tertawan.
Lie Kai melarikan diri sambil membawa anaknya yang menangis disepanjang jalan.
Demikianlah anak perempuannya yang bernama Lie Eng yang semenjak kecil dididiknya menjadi seorang ahli silat yang pandai.
Lie Kai hidup sebagai seorang perampok yang sebentar saja amat terkenal karena kegagahannya.
Juga Lie Eng semenjak kecil hidup di hutan-hutan digunung-gunung bersama Ayahnya, menjadi seorang gadis yang cantik akan tetapi liar.
Karena diatas dunia ini, ia hanya mempunyai Lie Eng seorang, maka tidak mengherankan apabila Lie Kai amat kasih kepada puterinya itu, amat memanjakannya.
Hanya satu saja cita-citanya yakni mencarikan suami yang baik bagi Lie Eng.
"Eng ji (anak Eng),"
Ia seringkali berkata kepada puterinya.
"Ayahmu telah banyak menderita dan semua itu bukan semata-mata dikarenakan jahatnya manusia, akan tetapi sesungguhnya terutama sekali karena buruknya keadaan dan buruknya pemerintahan Kaisar. Bukan hanya Ayahmu seorang yang menjadi korban, melainkan masih ada rIbuan, laksaan, bahkan jutaan orang lain yang hidup sengsara, tertindas oleh pembesar-pembesar jahat dan terperas oleh lintah-lintah darat dan tuan-tuan tanah. Negara sedang kacau balau dan hanya dengan kepandaian tinggi saja kita bisa menjaga diri. Oleh karena itu, kau harus menjadi seorang isteri dari pemuda gagah perkasa! Menjadi isteri seorang berpangkat sama halnya dengan menikah dengan seorang penjahat kejam! Menjadi isteri seorang pemuda Sasterawan atau pemuda tani sama halnya menikah dengan seorang pemuda lemah yang takkan mampu melindungi keluarganya!"
Kalau mendengar Ayahnya berbicara tentang pernikahan, Lie Eng hanya tersenyum dengan muka merah dan berkata.
"Ayah, siapa sih yang sudah rindu akan pernikahan? Aku tidak sudi menikah dan tidak suka meninggalkan Ayah seorang diri!"
Lie Kai tertawa tergelak dan didalam hatinya ia berkata.
"Hemm, anak sombong... kau belum bertemu dengan pemuda yang akan mencuri hatimu. Kalau sudah bertemu dengan calon jodohmu, ha... hendak kulihat apakah engkau masih akan mengeluarkan ucapan ini."
Akan tetapi, ternyata jodoh gadis itu yang datang bukan seorang yang menjadi idaman hati Lie Kai.
Pada suatu hari, di hutan tempat mereka bertinggal itu lewatlah seorang pemuda Sasterawan yang baru kembali dari Kotaraja dimana ia menempuh ujian, Lie Kai dan Lie Eng keluar dari tempat persembunyiannya dan menghadang pemuda ini.
Pemuda ini bernama Bun Hak Lee, seorang pemuda yang tampan sekali dan juga cerdas otaknya.
Melihat pemuda ini, seketika juga Lie Eng yang tinggi hati runtuhlah keangkuhannya dan hatinya penuh oleh kasih sayang yang luar biasa!
Lie Eng minta kepada Ayahya untuk menahan pemuda itu dengan alasan bahwa ia ingin mempelajari ilmu membaca dan menulis.
Hal ini disetujui oleh Lie Kai yang juga selalu kecewa kalau mengingat bahwa puterinya itu setengah buta huruf karena selain ia sendiri hanya mengerti sedikit tentang huruf, juga tidak ada kesempatan banyak membaca dan menulis, sedikit pengertian yang diajarkannya kepada puterinya itu takkan berguna.
(Lanjut ke
Jilid 02) Naga Merah Bangau Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 Demikianlah, pemuda Bun Hak Lee ditahan dan tinggal bersama dalam sebuah pondok yang dijadikan tempat tinggal Ayah dan anak itu di tengah hutan.
Dan selama Lie Eng mempelajari ilmu surat, sama sekali ia tidak mendapatkan kemajuan.
Oleh karena kini ia telah jatuh hati betul-betul dan agaknya Bun Hak Lee menyambut perasaan ini dengan baik.
Siapa orang yang tidak tertarik dan jatuh cinta menghadapi seorang dara yang demikian cantik dan gagah seperti Lie Eng?
Akhirnya Lie Kai tahu juga akan hubungan asmara antara puterinya dan pemuda itu, ia menjadi marah-marah dan mengusir Bun Hak Lee.
Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia melihat puterinya melangkah maju dan berkata dengan berani.
"Ayah, jangan kau mengusir Bun-Siangkong pergi dari sini! Aku... Aku masih sedang mempelajari ilmu menulis."
"Apa"? Apa gunanya ilmu coret-coret dengan pit itu? Lagipula, kalau hanya belajar menulis saja, aku dapat mencarikan Guru yang lebih pandai lagi. Pemuda ini harus lekas pergi dari sini, sekarang juga!"
Akan tetapi Lie Eng makin berani sikapnya.
"Tidak Ayah, Aku tidak mau belajar dari lain orang. Kalau... Kalau Ayah mengusirnya, aku mau ikut pergi dengan dia!"
Bagaikan bunyi halilintar menyambar rasanya ucapan anaknya ini bagi Lie Kai.
"Apa katamu? Sudah gilakah kau??"
"Ayah..."
Dan kini suara Lie Eng penuh permohonan.
"Tidakkah kau tahu? tidak dapatkah kau melihat bahwa aku tak dapat ia tinggalkan...?"
Melihat keadaan gadis yang dicintanya itu dalam keadaan seperti itu, Bun Hak Lee merasa kasihan dan dengan tabah ia lalu menjura kepada Lie Kai.
"Lo-Enghiong (orang tua gagah), terus terang saja aku katakan bahwa antara anakmu dan aku telah ada perjanjian untuk sehidup semati menjadi kawan hidup selamanya. Aku mencintainya dan ia... iapun suka kepadaku dan..."
Tidak dapat dikendalikan lagi amarah yang mengamuk dalam dada Lie Kai. Ia berseru keras.
"Bangsat, kau harus mampus!"
Dan melompatlah ia dengan serangan hebat, memukul ke arah dada Bun Hak Lee.
Akan tetapi tiba-tiba Lie Eng melompat dan menangkis lengan Ayahnya sehingga tubuh gadis itu terpental jauh.
Biarpun ia telah mempelajari ilmu silat tinggi, namun ia bukan tandingan Ayahnya dan tenaganya jauh kalah besar.
Lie Kai terkejut sekali melihat gerakan puterinya dan ini memperbesar amarahnya terhadap Bun Hak Lee.
Ia menerkam lagi untuk membinasakan pemuda itu dengan sekali pukul, akan tetapi kembali Lie Eng yang sudah melompat bangun itu menghadang di depan Bun Hak Lee dan menangkis pukulan Ayahnya.
"Eng-ji! Kau berani membela dia dan melawan Ayahmu sendiri?"
Lie Kai bertanya dengan muka pucat. Sebagai jawaban, Lie Eng mencabut pedangnya.
"Ayah, aku tidak sekali-sekali berani melawan Ayah, dan biarpun aku melawan juga, aku takkan dapat menang, dan akhirnya Bun-Siangkong akan tewas juga. Ayah, kau pasti akan dapat menewaskan Bun-Siangkong, akan tetapi jangan harap akan dapat memisahkan kami, karena begitu Bun-Siangkong tewas ditanganmu, akupun akan tewas di ujung pedangku sendiri!"
Sikap gadis itu berani dan nekad dan dari pandang matanya, Lie Kai maklum bahwa kata-kata ini bukanlah ancaman belaka.
"Eng-ji,..."
Suaranya lemah, berbareng dengan lemahnya seluruh tenaga yang seakan-akan hendak meninggalkan tubuhnya.
"Kau"
Kau anak tunggalku... kau benar-benar hendak mengikuti dia... mengikuti kutu-buku yang lemah ini? Eng-ji, benar-benarkah kau tega melukai hati Ayahmu, mengecewakan hati Ayahmu...?"
"Lo-Enghiong"
Tiba-tiba pemuda itu maju dan berkata.
"Biarpun aku seorang lemah, akan tetapi aku bersumpah akan membela Eng-moi sebagai isteriku yang tercinta, akan kubela dengan jiwa dan ragaku..."
"Tutup mulut...! Tiba-tiba Lie Kai membentak dan memandang kepada pemuda itu.
"Dan pergilah"
Pergilah"
Pergi sebelum aku menjadi gelap mata dan membunuhmu!"
Bun Hak Lee menghampiri Lie Eng yang kini berdiri dengan air mata berlinang, menggandeng tangannya dan berkata halus.
"Eng-moi, marilah kita pergi..."
Lie Eng menurut saja tangannya ditarik dan ia berjalan beberapa langkah meninggalkan tempat itu. Akan tetapi ia tiba-tiba ia lari kepada Ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Ayah... Ayah... ampunkan aku, Ayah... aku terpaksa meninggalkan Ayah..."
Lie Kai meramkan kedua matanya agar jangan sampai air matanya menitik keluar, kemudian dia mengangkat kedua tangan untuk ditutupkan pada kedua telinganya.
"Pergilah... pergilah... pergi...!!"
Bentaknya setengah menjerit.
Sampai lama Lie Kai berdiri, meramkan kedua matanya dan menutup kedua telinganya, tak bergerak bagaikan patung.
Ketika ia membuka kedua matanya, puterinya dan pemuda itu telah lenyap dari situ.
Dengan lemas, Lie Kai lalu menggerakkan kedua kakinya, berjalan memasuki pondoknya dimana ia rebah sampai berhari-hari tanpa makan dan tidak pernah turun dari pembaringan.
Mulutnya tidak hentinya bergerak-gerak.
"Jahanam betul pemuda she Bun itu...! Ia datang menjatuhkan anakku, membawanya pergi...! Terkutuklah orang-orang she Bun yang menurunkannya. Akan kubunuh orang-orang she Bun yang bertemu dengan aku!"
Demikianlah semenjak ditinggal pergi oleh Lie Eng, Lie Kai menjadi seorang yang sudah hancur betul-betul hatinya.
Peristiwa-peristiwa pahit yang dialaminya, semenjak Ayahnya meninggal, membuatnya ia menderita hebat sekali dan kepergian puterinya ini merupakan pukulan terakhir yang hampir tak tertahan olehnya.
Kini ia menjadi seorang gelandangan yang kadang-kadang seperti orang gila.
Ia tidak menjadi perampok lagi, merantau kemana saja kedua kakinya membawanya.
Melihat banyaknya orang-orang yang sengsara hidupnya seperti keadaannya sendiri, timbul jiwa pendekarnya dan ia lalu turun tangan membantu mereka yang tertindas, membasmi mereka yang jahat, sehingga namanya menjadi terkenal dan ia mendapat julukan Tiat-Thouw-Gu si Kerbau Kepala Besi karena pernah ia dipukul dengan sebuah penggada oleh seorang penjahat pada kepalanya, akan tetapi bukan kepalanya yang pecah melainkan ruyung itulah yang patah!
Kemudian ia mengamuk dan membasmi gerombolan penjahat itu.
Karena amukannya, seperti seekor kerbau gila, maka semenjak itu ia diberi julukan Kerbau Berkepala Besi.
Sampai sepuluh tahun ia merantau, hidup sebatang kara, dan agaknya hati dan perasaannya yang sudah terlampau banyak dipanggang oleh api penderitaan itu telah mengeras dan kebal!
Mulutnya selalu tersenyum dan tertawa, sungguhpun pandangan matanya tidak pernah berseri.
Akhirnya, sebagaimana telah dituturkan dibagian depan dari cerita ini, ia bertemu Sui Lan, seorang gadis yang hidup sebatang kara dan menderita sengsara hebat sekali.
Sui Lan merasa terharu sekali mendengar riwayat Lie Kai yang ternyata biarpun sudah mengalami berumah tangga, agaknya masih lebih sengsara daripada pengalamannya sendiri.
"Ayah, kalau begitu kau membohong ketika menyatakan bahwa anakmu Lie Eng itu sudah meninggal. Jadi ia masih hidup dan dimana ia sekarang? Bagaimana keadaannya? Apakah Ayah telah bertemu dengan ia semenjak ia pergi?"
"Sudahlah, jangan kau tanyakan itu dan jangan kita membicarakan dia lagi. Dia sudah mati dalam ingatanku! dan sekarang aku mendapatkan seorang anak baru. Kau menjadi pengganti Lie Eng, dan aku akan berusaha mencari jejak Liok Houw Sin. Aku akan berusaha membuat kau berbahagia, anakku."
Barang-barang didalam gerobak yang dibawa oleh Lie Kai itu adalah barang dagangan berupa kain-kain Sutera dan barang barang berharga lainnya milik seorang pedagang.
Memang sekarang Lie Kai telah bekerja sebagai Piauwsu (pengawal yang mengantarkan, barang-barang berharga dari satu ke lain tempat, semacam perusahaan ekspedisi).
Bahkan ia telah mempunyai sebuah rumah kecil di Kota An-Sin-Kwan, dan karena namanya mulai terkenal dan kini sepak terjangnya yang gagah perkasa dan sering membela keadilan itu membuat ia dihormati orang.
Para saudagar yang mendengar namanya, lalu sering minta pertolongan kepadanya untuk mengantarkan barang-barang dagangan dari satu ke lain tempat.
Tiap kali Lie Kai mengantarkan barang-barang, maka pekerjaan itu ia lakukan dengan baik dan barang dagangan dapat sampai ditempat tujuan dengan aman dan selamat.
Maka makin terkenallah namanya dan kini upah yang ia dapat untuk mengantarkan barang-barang itu cukup besar sehingga untuk dirinya sendiri, penghasilan itu boleh dibilang berkelebihan.
Terhiburlah hati Sui Lan setelah ia tinggal bersama Lie Kai yang amat menyayanginya sebagai anaknya sendiri.
Tadinya ia melakukan pekerjaan rumah tangga, mengatur rumah tangga yang amat kacau balau ketika ia datang itu sehingga rumah itu kini nampak bersih, rapi, dan menyenangkan.
Akan tetapi, kemudian ia dilarang oleh Ayah angkatnya untuk melakukan pekerjaan berat itu.
"Kandunganmu telah cukup tua, tak baik kalau bekerja keras,"
Kata Ayah angkatnya.
"Aku akan mencari seorang pembantu rumah tangga untuk menGurus segala pekerjaan rumah, dan kau beristirahatlah saja, jangan banyak bergerak."
Mendengar kata-kata yang penuh kasih sayang dan perhatian itu, Sui Lan merasa terharu, akan tetapi sambil tersenyum ia membantah.
"Ayah, ingatlah aku dahulupun seorang pelayan rumah tangga. Pekerjaan ini sudah biasa bagiku dan sama sekali tidak berat. Kalau memanggil seorang pembantu, aku hanya akan merasa canggung dan kikuk saja. Biarlah aku yang mencuci pakaianmu, yang memasak untukmu, menyediakan semua keperluanmu."
Diam-diam Lie Kai memuji anak angkatnya yang rajin ini.
Alangkah jauh bedanya dengan Lie Eng!
"Dan bagaimana kalau kelak kau melahirkan?
Paling lama dua bulan lagi.
Tidak kau jangan membantah, Sui Lan.
Aku sudah memesan seorang pembantu, dan aku tidak suka kalau melihat calon cucuku kau bawa-bawa kerja keras!"
Mendengar ucapan ini, tak terasa lagi teringatlah Sui Lan pada Houw Sin dan air matanya mengalir turun. Lie Kai mengerutkan keningnya dan maklum akan keadaan hati anak angkatnya ini.
"Sui Lan, kebetulan sekali aku mendapat tugas mengantarkan sejumlah uang ke daerah selatan. Akan kubuka mata dan telingaku baik untuk mencari keterangan perihal Liok Houw Sin, pemuda yang tak berbudi itu."
Sui Lan terkejut.
Ia maklum bahwa Ayah angkatnya ini kalau teringat pada pemuda itu, timbul kebenciannya, dan ia maklum pula akan kekerasan watak Lie Kai.
Houw Sin telah pergi dan bagaiman kalau Ayah angkatnya mendapatkan pemuda itu telah menikah lagi?
Ia membayangkan dengan hati berdebar, Ayah angkatnya pernah melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap tuan tanah dan pembesar yang mendatangkan malapetaka bagi keluarganya.
Ia merasa khawatir sekali kalau-kalau Lie Kai dalam kemarahannya akan membunuh Houw Sin!
"Ayah, aku hanya setuju kau pergi mencari Houw Sin dengan satu perjanjian."
"Hmm, apakah itu?"
"Yakni bahwa apapun juga yang terjadi dengan Liok-Kongcu, kau tidak boleh mengganggunya, tidak boleh... membunuhnya!"
"Bagaimana kalau dia mengkhianatimu? Kalau dia tidak bersetia dan meninggalkanmu untuk menikah dengan lain orang wanita?"
"Biarlah Ayah. Kalau demikian halnya, akupun menerima nasib. Dia memang tidak pantas menjadi Suamiku, aku hanya seorang pelayannya. dan... dahulupun dia sudah bertunangan."
"Ah, begitukah? Siapakah tunangannya itu dan puteri siapa?"
"Tunangannya adalah puteri seorang Panglima perang bernama Song Liang, kalau tidak salah tunangannya itu bernama Song Bwee Eng. Ayah berjanjilah, kalau kau berhasil menemukan Houw Sin, dan... melihat dia sudah menikah dengan gadis lagi, berjanjilah bahwa kau takkan mengganggunya!"
"Berat bagiku untuk berjanji demikian, anakku. Bagaimana aku dapat diamkan saja orang yang telah mencelakakan hidup anakku? kalau menurut suara hatiku, pemuda itu hanya tinggal memilih dua jalan, kembali kepadamu atau mampus dalam tanganku!"
"Ayah...!"
Sui Lan menutup mukanya dengan penuh kengerian.
"Jangan... kalau Ayah sampai membunuh dia... aku takkan dapat mengaku kau sebagai Ayahku lagi... aku akan pergi, atau... membunuh diri!"
Lie Kai menarik nafas panjang dan wajahnya menjadi muram sekali.
"Ah, nasib! Dua kali aku mempunyai anak perempuan dan keduanya memberatkan seorang pemuda daripada Ayahnya! Ah, sudahlah, agaknya memang semua anak perempuan akan lupa pada Ayahnya apabila mereka sudah mendapatkan jodohnya!"
Ketika Lie Kai sudah siap hendak berangkat dan telah mendatangkan seorang pembantu perempuan untuk menGurus rumah tangga dan mengawani Sui Lan, anak angkatnya yang mengantar sampai pintu berkata.
"Ayah, kau belum berjanji. Hatiku takkan tenteram sebelum Ayah mengucapkan janji itu."
"Baiklah, baiklah! Aku berjanji takkan membunuh Houw Sin. Akan tetapi aku akan menyeretnya ke sini!"
"Itupun jangan, Ayah. Kalau memang dia sudah menikah atau tidak mau memperdulikan lagi kepadaku, untuk apa kita harus memaksanya? Aku tidak mau memaksanya, Ayah, dan kaupun tentu akan ikut merasa malu melihat aku mendapatkan seorang Suami yang dipaksa-paksa!"
"Baiklah, aku akan berusaha untuk bersikap sesabar mungkin,"
Kata Lie Kai yang segera berangkat seorang diri, naik kudanya yang menarik gerobak kecil itu.
Setelah hidup bersama anak angkatnya ini, Lie Kai berubah banyak.
Pakaiannya bersih dan rapi, tidak seperti dulu lagi.
Kalau dulu matanya selalu muram, tanda bahwa jiwanya menderita, sekarang nampak cahaya menyinari kemuraman itu.
Ia nampak gagah sekali duduk diatas kudanya, tubuhnya yang tinggi tegap itu duduk dengan tegak dan lurus, goloknya terselip di punggung.
Sambil melarikan kudanya cepat-cepat, Lie Kai mengenangkan anak angkatnya dengan hati penuh kasihan.
Aku harus dapat menemukan pemuda she Liok itu, pikirnya.
Ia harus bertanggung jawab, harus dapat mendatangkan kebahagiaan pada Sui Lan.
Lie Kai mengambil keputusan untuk mengantarkan barang yang dibawanya secepat mungkin ke tempat tujuan, kemudian akan mempergunakan sisa waktunya untuk mencari Liok Houw Sin.
Ia masih mempunyai waktu sebulan lebih, karena paling cepat satu bulan setengah baru Sui Lan akan melahirkan dan ia harus sudah kembali ke rumah sebelum cucunya terlahir.
Lie Kai merasa yakin bahwa ia pasti akan dapat menemukan pemuda she Liok itu, oleh karena boleh dikata pada setiap kota ia mempunyai kenalan.
Hubungannya dalam kalangan kang-ouw luas sekali dan nama Thiat-Thouw-Gu Lie Kai bukanlah nama yang tak terkenal.
Banyak orang gagah yang siap membantunya.
Demikianlah Lie Kai melakukan perjalanan mengawal barang itu sambil mampir-mampir ke setiap kota yang dilaluinya, mencari keterangan perihal pemuda bernama Liok Houw Sin dan panglima bernama Song Liang Kalau yang dicarinya tidak berada disesuatu kota, ia lalu berpesan kepada kenalan-kenalannya di kota itu untuk membantunya menyelidiki.
Memang Lie Kai mempunyai hubungan luas sekali, terutama dengan para Piauwsu (pengawal barang kiriman), Kauwsu (Guru silat), para jagoan dan juga para orang gagah di kalangan Lioklim (rimba hijau).
Baik kita ikuti perjalanan Liok Houw Sin yang dibawa lari oleh Panglima Song Liang calon mertuanya itu.
dalam keadaan pingsan Houw Sin dipanggul oleh Panglima Song dan dibawah lari menyusul rombongan keluarganya yang telah mengungsi meninggalkan Kotaraja menuju ke selatan.
Karena Song-Ciangkun mempergunakan ilmu lari cepat maka setelah tiba di luar kota, ia dapat menyusul rombongan gerobak yang membawa keluarga berikut barang-barang berharga.
Ia lalu menurunkan Houw Sin di dalam kereta dan segera menyuruh para pengemudi membalapkan kendaraan langsung menuju ke kota Lok-Yang di Propinsi Honan.
Di kota besar ini Song Liang mempunyai sebuah rumah yang dibuatnya dulu ketika ia bertugas di Propinsi Honan.
Ketika siuman dari pingsannya Houw Sin duduk termenung dengan hati sedih sekali.
Peristiwa yang menimpa dirinya pada hari itu benar-benar hebat.
Kekasihnya lenyap entah ke mana perginya, rumah dibakar musnah dan semua keluarganya tewas!
Serasa dalam mimpi ia mengikuti perjalanan rombongan calon mertuanya itu.
bahkan berhari-hari berikutnya, ia masih saja melamun bagaikan orang yang kehilangan ingatan.
Oleh karena Panglima Song Liang memasuki kota Lok-Yang sebagai keluarga biasa, tak seorangpun tahu bahwa dia adalah bekas panglima dari Kerajaan yang telah hancur.
Selanjutnya iapun tidak pernah menyatakaan keadaan yang sebenarnya, bahkan atas desakannya Houw Sin juga merobah shenya, bukan she Liok lagi, melainkan she Gan.
Hal ini perlu dilakukan oleh karena tentara Mancu mulai mendesak terus ke selatan, dan apabila di ketahui ada seorang keturunan Pangeran Liok di situ, tentu akan celakalah nasib mereka sekeluarga, karena nama keluarga Liok telah masuk daftar hitam sebagai bangsawan dan keluarga Raja yang tidak mau takluk terhadap bangsa Mancu.
Kemudian, dalam keadaan masih terluka harinya, Houw Sin melangsungkan pernikahan dengan puteri Song Liang, yaitu Song Bwee Eng yang semenjak kecil telah dipertunangkan dengan dia.
Bwee Eng adalah seorang gadis yang cantik jelita dan juga pandai ilmu silat karena semenjak kecil ia telah dilatih oleh Ayahnya.
Sesungguhnya, Houw Sin amat berat untuk melangsungkan pernikahannya itu, karena hatinya masih selalu terkenang kepada kekasihnya, Sui Lan.
Di manakah adanya kekasihnya itu?
alangkah terharu dan gelisah rasa hatinya kalau ia teringat betapa gadis itu tidak mempunyai seorangpun di dunia ini yang dapat menolongnya.
Masih hidup atau sudah matikah dia?
Pikiran ini membuat ia seringkali duduk melamun dan pada hari-hari pertama, ia seakan-akan tidak mengacuhkan isterinya sama sekali.
Baiknya Bwee Eng adalah seorang gadis yang baik.
Ia dapat menduga bahwa tentu suamiya itu masih bersedih, teringat akan orang-tuanya yang tewas di tangan para penjahat Mancu.
Pandai sekali ia menghibur suaminya, sedikitpun tak pernah marah melihat sikap suaminya yang dingin.
Bwee Eng adalah seorang gadis yang memiliki watak keturunan Panglima Song, yakni jujur, setia dan gagah.
Begitu melihat suaminya ketika dipanggul oleh Ayahnya dulu itu, ia telah merasa sayang dan suka.
Bagi seorang gadis di masa itu, betapapun rupa calon suami yang dipilihkan oleh orang-tuanya, calon suami yang hanya dapat dijumpainya pada perayaan pernikahan, ia harus memaksa hatinya untuk merasa sayang dan suka.
Tergantung kepada nasibnya apakah ia akan mendapat seorang suami yang tampan dan goblok, ataukah seorang suami yang bopeng dan goblok!
Maka Bwee Eng merasa gembira dan beruntung sekali melihat suaminya ternyata seorang pemuda yang jauh melampaui harapannya dalam hal ketampanan dan kepandaian, hanya sedikit disayangkannya bahwa pemuda itu tidak mengerti ilmu silat.
"Tidak apa,"
Pikir gadis ini dengan hati gembira, setelah ia menjadi suamiku, ia dapat mempelajarinya dariku dan aku dapat menambah pengetahuan satra daripadanya!"
Oleh karena itu, dengan amat sabar dan penuh kasih sayang, Bwee Eng menghibur suaminya yang nampak termenung dan selalu bermuram durja.
"Mengapa kau selalu bersedih?"
Demikian katanya dengan suara halus.
"Sungguhpun peristiwa yang menimpa keluarga mendiang Gakhu (Ayah mertua) amat menyedihkan akan tetapi harap kau ingat bahwa bukan hanya kita saja yang tertimpa bencana ini. Masih ada ribuan orang lain yang mengalami penderitaan seperti kita, ada yang kematian anak, orang-tua, ada suami-isteri yang terpisah karena suami atau isterinya tewas, bahkan ada yang kehilangan tunangan dan kekasih. Betapapun juga, kita masih dapat bertemu kembali, bahkan dapat melangsungkan pernikahan kita. Ini berarti bahwa kita memang berjodoh, maka harap kau suka melihat mukaku dan janganlah selalu bermuram. Kalau kau lanjutkan kesedihanmu lalu jatuh sakit, bukankah kita sekeluarga akan menderita semua?"
Bwee Eng sama sekali tidak menduga bahwa kemuraman wajah suamiya itu sebagian besar karena teringat kepada seorang kekasihnya. Adapun Houw Sin mendengar ucapan isterinya ini, agak teranglah mukanya.
"Benar,"
Katanya di dalam hati.
"tidak hanya aku sendiri yang kehilangan Sui Lan, masih banyak orang lain yang mengalami nasib seperti aku. dan bukanlah dosaku kalau Sui Lan tidak jadi hidup di sampingku untuk selamanya, ini adalah akibat perang!"
Semenjak hari itu ia mulai menjadi biasa lagi dan dapat merasai kebaikan hati isterinya.
Diam-diam ia bersukur karena dengan adanya Bwee Eng sebagai seorang isteri yang bijaksana, lambat laun akan terlupa juga keadaan Sui Lan.
Bahkan ia mulai belajar ilmu silat dari isterinya itu untuk menyehatkan tubuh.
Timbullah kembali kegembiraan hidupnya.
Ayah mertuanya kini membuka sebuah toko yang cukup besar, dengan modal barang-barang perhiasan yang dibawa mengungsi dari Kotaraja.
Ia membantu pekerjaan mertuanya itu dan perdagangan hasil bumi di toko itu sebentar saja mengalami kemajuan yang baik sekali.
Beberapa bulan telah lewat tak terasa.
Houw Sin yang kini telah berganti she menjadi Gan Houw Sin, hidup dengan tenang dan tenteram.
Sungguhpun ia seorang keturunan Pangeran dan mertuanya juga seorang bangsawan, namun mereka semua dapat menindas perasaan keningratan yang seringkali timbul yang membuat mereka merasa seakan-akan lebih tinggi derajatnya dari orang lain, dan berlaku biasa saja.
Betapapun juga, sikap dan keadaan mereka masih jelas nampak bahwa mereka memang berbeda dengan umum.
Mereka memiliki kesopanan dan kehalusan yang lebih tinggi, serta memiliki keangkuhan yang membuat mereka nampak sombong dimata umum.
Pada suatu hari, ketika Song Liong, dan mantunya melayani langganan yang datang berbelanja ke toko mereka, tiba-tiba muncul seorang laki-laki tinggi besar yang memandang kepada Houw Sin dengan tajam, lalu sebelum ia ditanya, ia berkata dengan keras.
"Liok Houw Sin, aku datang untuk membawamu pulang. Kau harus kembali kepada anakku Sui Lan!"
Bukan main terkejutnya hati Houw Sin mendengar disebutnya nama ini.
Setahunya, Sui Lan tidak mempunyai Ayah, bagaimana orang kasar ini datang-datang mengaku sebagai Ayah Sui Lan?
"Aku aku bukan seorang she Liok..."
Katanya gagap.
"Ha, ha ha! Orang lain boleh kau tipu, akan tetapi aku Thiat-Thouw-Gu Lie Kai tidak mudah dibodohi. Hayo ikut, atau aku harus melakukan kekerasan?"
Sambil berkata demikian, tangannya diulur maju hendak menangkap Houw Sin.
Biarpun baru beberapa bulan mempelajari ilmu silat, namun Houw Sin sudah mempunyai kegesitan untuk melompat mundur.
Akan tetapi, Lie Kai segera bergerak maju dengan cepat sekali dan tahu-tahu Houw Sin merasa betapa lengan tangannya terpegang oleh sebuah tenaga yang amat kuat.
"Mau tidak mau, kau harus ikut!"
Bentak Lie Kai. Pada saat itu, tiba-tiba dari belakang si Kerbau Kepala Besi terdengar bentakan nyaring.
"Orang kasar darimanakah berani datang membikin kacau?"
Dan Lie Kai terkejut sekali ketika merasa ada sambaran angin keras dari belakang. Terpaksa ia melepaskan Houw Sin dan tangannya menyampok kebelakang.
"Duk!"
Dua buah lengan yang sama keras dan kuatnya beradu, dan Lie Kai makin heran dan terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa lengan itu cukup memiliki tenanga lweekang yang tinggi.
Ia memandang dan meihat seorang yang sebaya dengan dia, juga bertubuh tinggi besar dan bermata tajam berdiri di depannya.
Orang ini adalah Panglima Song yang menjadi marah melihat mantunya ditangkap orang.
Ia juga terkejut ketika mendengar nama Thiat-Thouw-Gu karena nama ini sudah cukup terkenal, akan tetapi ia pura-pura tidak mengenalnya dan segera menyerang dari belakang.
Akan tetapi tangkisan lengan Thiat-Thouw-Gu Lie Kai membuat ia maklum bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tinggi.
Lie Kai tertawa bergelak dan sikapnya yang menyeramkan membuat para pembeli yang datang berbelanja lari ketakutan.
"Ha, ha, ha! Kau tentulah Song-Ciangkun yang menjadi mertua Houw Sin. Bagus, bagus! Betapapun juga, Liok Houw Sin harus kubawa pergi. Hayo, Houw sin, kau harus ikut denganku!"
Kembali ia hendak maju menangkap Houw Sin yang berdri dengan muka pucat, akan tetapi dengan sekali gerakan saja tubuh Song Liang telah melompat dan menghadang di depan Lie Kai.
"Jangan main gila di rumah orang lain!"
Bentaknya.
"Orang muda ini benar bernama Houw Sin, akan tetapi ia she Gan, bukan she Liok. Dan ia adalah anak mantuku, kau datang-datang hendak menculiknya, sungguh kau berani mati!"
"Siapa menculik? Ia akan kuajak pulang ke empat di mana ia harus berada."
"Kau gila!"
Bentak Song Liang marah.
"Hayo pergi dari sini!"
Sambil berkata demikian, ia membuat gerakan mendorong dengan kedua lengannya ke arah dada Lie Kai.
Dorongan ini merupakan serangan yang hebat sekali, karena inilah gerak tipu yang disebut Siang-Jiu Kwi-San (Sepasang Tangan Mendorong Bukit) dan mengandung tenaga ratusan kati.
Lie Kai merasa betapa angin dorongan itu menyambar, maka maklumlah ia bahwa tenaga lawannya ini tak boleh dibuat gegabah.
Melihat bahwa tempat di dalam toko itu sempit dan penuh barang-barang, ia lalu mengerakkan tubuh ke belakang dan melompat keluar.
"Song Liang, jangan kau kira aku takut kepadamu! Kalau kau menghendaki pertempuran, aku Thiat-Thouw-Gu Lie Kai tidak akan mundur!"
Song Liang juga marah sekali.
Ia mengejar dan melompat pula keluar sehingga kedua orang-tua tinggi besar itu telah berhadapan di halaman toko.
Sementara itu, pelayan toko yang melihat betapa majikan muda mereka hendak dibawah lari orang, segera berlari-lari ke dalam dan mengabarkan hal ini kepada Bwee Eng.
nyonya muda ini dengan marah lalu mencabut sepasang pedangnya, senjata yang istimewa ia pelajari dengan baik, lalu berlari keluar.
Ia melihat suaminya berdiri dengan muka pucat dan melihat Ayahnya sedang menghadapi seorang laki-laki tinggi besar yang tersenyum-senyum.
"Lie Kai,"
Kata Song Liang dengan muka marah.
"Dahulu aku pernah mendengar namamu yang dipuji-puji sebagai seorang perampok gagah perkasa dan budiman. Tidak tahunya kau hanya seorang penculik rendah belaka. Kalau kau memang seorang gagah perkasa, ceritakanlah dahulu duduknya perkara mengapa kau hendak menculik mantuku!"
Lie Kai tidak mau membuka rahasia anak angkatnya, karena hal itu hanya akan mendatangkan cemar dan hinaan dari fihak mertua Houw sin maka ia hanya menjawab.
"Kau tak perlu tahu, aku tidak pernah mempunyai urusan dan permusuhan dengan kau. Aku datang hanya karena urusanku dengan Liok Houw Sin. Ia harus ikut denganku dan siapapun yang akan menghalangi kehendakku ini, akan berkenalan dengan kepalan dan golokku!"
"Bagus, hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu maka kau menjadi sesombong ini!"
Kata Song Liang sambil bersiap-siap untuk menyerang. Akan tetapi, pada saat itu tiba-tiba terdengar bentakan merdu.
"Bangsat rendah, kau berani hendak menculik suamiku?"
Berbareng dengan bentakan itu, berkelebat bayangan hijau dan cepat Lie Kai mengelak ketika ia melihat dua buah sinar pedang menyerangnya dengan cepat.
"Bwee Eng... jangan!"
Seru Song Liang yang maklum bahwa puterinya itu bukanlah lawan Lie Kai dan bahwa keadaan Bwee Eng pada waktu itu tidak mengijinkan nyonya muda itu membuat gerakan pertempuran.
Sementara itu, ketika mendengar bentakan Bwee Eng, Lie Kai memandang tajam dan ia melihat seorang nyonya muda yang cantik jelita dalam keadaan sudah mengandung berdiri didepannya dengan siang-kiam (sepasang pedang) di tangan.
Perih hatinya melihat hal ini.
"Ah"
Kau tentu isteri Houw Sin yang tidak setia itu!"
Ia menghela napas.
"Dan kau sudah mengandung pula...! Aku tidak mau melawanmu, Toanio. Kau masuk dan beristirahatlah. Aku hanya hendak meminjam suamimu sebentar saja."
"Jahanam jangan banyak mulut!"
Song Liang membentak dan segera menyerang dengan pukulan tangan kanan ke arah lambung lawannya.
Pukulan ini keras sekali dan melihat lawannya menggunakan serangan dengan gerakan Pek-Wan Hian-Tho (Lutung Putih Persembahkan Buah), Lie Kai cepat membuat gerakan Loh-Be (gerakan membalik) kemudian membalas dengan serangan dari ilmu silatnya yang lihai, Yakni ilmu silat Sha-Kak Kun-Hwat (Ilmu Silat Segi Tiga).
Song Liang adalah seorang panglima tua yang memiliki ilmu silat tinggi, karena ia adalah murid dari perGuruan silat Thai-Kek-Pai, dan disamping ilmu kepandaiannya yang tinggi, iapun telah mempunyai pengalaman luas dalam pertempuran besar.
Akan tetapi, menghadapi sepak terjang Lie Kai yang mempergunakan Ilmu Silat Segi Tiga ini, ia terdesak juga.
Pertempuran berjalan sengit dan sungguhpun kedua orang-tua itu tidak bergerak cepat, namun setiap gerakan kaki tangan mendatangkan angin yang kuat sekali.
Bwee Eng tidak berani membantu Ayahnya karena ia maklum akan ketinggian hati Ayahya yang memegang aturan keras dan junjung tinggi keadilan pertempuran.
Ayahnya takkan sudi mengeroyok, walaupun lawannya pandai dan berbahaya.
Lagipula, Bwee Eng maklum dari gerakan orang tinggi besar yang hendak menculik suaminya itu, bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dan biarpun ia mempergunakan sepasang pedang, agaknya ia takkan kuat menghadapi sambaran angin pukulan yang demikian dahsyat.
Sementara itu Houw Sin masih berdiri dengan dada berdebar kalut.
Ia tidak takut kepada Lie Kai, tidak mengkhawatirkan keselamatan diri sendiri.
Yang membuat ia gelisah dan membuat tubuhnya gemetar adalah disebutnya nama Sui Lan tadi!
Ketika Bwee Eng mendekatinya dengan sikap seakan-akan hendak melindungi suaminya itu, Houw Sin memegang tangan Bwee Eng dan nyonya muda ini merasa heran karena telapak tangan suaminya terasa amat dingin.
"Jangan takut..."
Ia menghibur, akan tetapi ketika ia melihat jalannya pertempuran, ia merasa gelisah juga.
Ternyata bahwa ilmu silat Sha-Kak Kun-Hwat dari Lie Kai itu benar-benar hebat sekali.
Serangan tangan dan kaki datang bertubi-tubi, menyerang dari tiga sudut, dan perlahan akan tetapi tentu Song Liang mulai terdesak mundur.
Song Liang juga maklum bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan kalah.
Tiba-tiba ia mempercepat gerakannya dan dengan nekat ia membalas dengan serangan-serangan mematikan.
Ia mengerahkan tenaga lweekang pada kedua tangannya dan menyerang dengan pukulan Cio-To Thian-Keng (Batu Meledak Langit Gempar) yang datangnya bertubi-tubi.
Setiap pukulan mengandung tenaga yang luar biasa besarnya karena ia telah mengerahkan ilmu pengerahan tenaga yang disebut Lui-Kong-Ciang (Tangan Geledek).
Song Liang menyerang tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri dan terang bahwa ia hendak mengadu jiwa.
Ketika Lie Kai cepat mengelak mundur, Song Liang mengeluarkan senjatanya yang lihai, yakini sabuknya yang terbuat daripada perak.
Ikat pinggang ini merupakan rantai yang panjangnya kira-kira lima kaki dan dapat bergerak cepat.
"Orang she Lie, kalau kau hendak melanjutkan maksudmu yang jahat, terpaksa aku melayani dengan senjata!"
"Ha,ha,ha! Ternyata kau cukup gagah akan tetapi jangan kira bahwa rantai itu membikin aku jerih. Niatku sudah tetap, Houw Sin harus ikut dengan aku!"
Sambil berkata demikian, Lie Kai mencabut golok yang terselip pada punggungnya! "Thiat-Thouw-Gu! Selama masih ada aku, jangan harap kau akan dapat berlaku kurang ajar terhadap mantuku!"
Teriak Song Liang sambil memutar ikat pinggangnya.
"Gakhu (Ayah mertua), tunggu dulu...!"
Tiba-tiba Houw Sin berseru sambil berlari menghampiri.
"Biarkan.. biarkan aku ikut dengan dia...!"
Tahu-tahu Bwee Eng sudah berdiri di sebelahnya dan nyonya muda ini memegang tangan suaminya.
"Kau kenapakah? Siapakah dia ini dan mengapa pula kau mau ikut dengan dia?"
Song Liang juga memandang kepada Houw Sin dan berkata dengan suara keren.
"Hiansai (mantu), sebetulnya apakah yang terjadi? Siapakah orang yang bernama Sui Lan? Apa hubungannya dengan kau?"
Lie Kai tertawa bergelak.
"Nah, biarlah kalian mendengar sendiri penuturannya!"
Dengan perih hati Houw Sin memandang isterinya dan kemudian ia bercerita dengan suara perlahan.
"Sesungguhnya, Sui Lan adalah pelayan dari Ayahku... dan... sebelum terjadi peperangan, aku dan Sui Lan telah saling menyinta... sesungguhnya sebelum bertemu dengan kau, Bwee Eng. Aku"
Aku telah bersumpah untuk hidup bersama Sui Lan.
Ayah dan Ibu tidak setuju, Sui Lan kubawa keluar dari rumah, kutitipkan pada seorang bekas pelayan, maksudku hendak pergi bersama...
kemudian datang perang dan dalam keadaan kacau-balau itu"
Sui Lan lenyap entah kemana, rumah yang ditinggalinya terbakar.
Kemudian, aku melihat betapa rumah Ayahpun terbakar dan semua keluargaku musnah!
Lalu aku bertemu dengan Gakhu dan dibawa ke sini...
Kukira Sui Lan telah meninggal dunia, dan sekarang...
sekarang"
Lo-Enghiong (orang tua gagah) ini datang mengajakku kepada Sui Lan..."
Pucatlah muka Bwee Eng mendengar ini dan dua titik air mata melompat keluar dari matanya. Melihat wajah isterinya, Houw Sin cepat menyambung.
"Percayalah, Bwee Eng, sungguh aku mencintaimu dan kaulah isteriku! Aku tidak memikirkan Sui Lan lagi selama ini, kukira ia telah tewas. Sekarang biarkan aku pergi kepadanya untuk menerangkan bahwa kini tak mungkin aku menjadi suaminya""
"Bangsat tak berbudi!"
Seru Lie Kai marah.
"Kau mau menyia-nyiakan anakku begitu saja? Tidak! kau harus ikut sekarang juga!"
Ia melompat ke depan hendak menyambar tangan Houw Sin, akan tetapi tiba-tiba Bwee Eng menyerangnya dengan pedang di tangan.
Lie Kai menggerakkan goloknya dan trang"!!
Kedua pedang di tangan nyonya muda itu terlempar jauh!
"Kau hanya isteri kedua!"
Bentak Lie Kai.
"Ketahuilah bahwa Sui Lan anakku itupun telah mengandung, bahkan sudah hampir melahirkan. Anak itu adalah anak Houw Sin!"
Mendengar ini, makin pucat wajah Bwee Eng dan kalau Houw Sin tidak cepat memeluknya, tentu ia telah roboh di atas tanah. Ia pingsan dalam pelukan Houw Sin.
"Orang she Lie, jangan kau memaksa dan membikin kacau rumah tangga kami!"
Song Liang berteriak sambil melangkah maju.
Akan tetapi Lie Kai sudah marah sekali dan ia lalu menggerakkan goloknya menyerang yang ditangkis oleh Song Liang.
Dua orang-tua ini bertempur lagi dengan hebatnya, lebih hebat daripada tadi.
Rantai perak di tangan Song Liang benar-benar lihai, akan tetapi menghadapi golok di tangan Lie Kai, ia menemui tandingan berat.
Baru saja pertempuran berjalan dua puluh jurus, Song Liang berteriak kesakitan dan terpaksa ia melepaskan rantainya dengan tangan kanan terluka oleh golok dan mengalirkan darah.
Lie Kai tertawa bergelak lagi dan kini ia menubruk maju ke arah Houw Sin yang masih sibuk berusaha menyadarkan isterinya yang pingsan.
"Kau ikut dengan aku!"
Seru Lie kai sambil memegang pundak Houw Sin.
Pegangan ini disertai tekanan pada jalan darah Houw Sin sehingga orang muda ini tiba-tiba merasa tubuhnya lemas tak berdaya lagi.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar seruan perlahan.
"Siancai... siancai... Manusia kasar dari manakah berani berlaku sewenang-wenang?"
Lie Kai merasa terkejut sekali ketika merasa betapa angin pukulan yang hebat telah membuat pundaknya tergetar.
Ia maklum bahwa ada lawan lihai sekali sedang menyerang jalan darah di bagian pundaknya, maka cepat ia menggulingkan tubuh dan menghindarkan diri dari serangan itu.
Ketika ia melompat bangun, ia melihat bahwa serangan tadi dilakukan oleh seorang Tokouw (Pendeta perempuan) yang memegang sebuah hud-tim (kebutan dewa) berbulu putih.
Pendeta perempuan itu, sudah tua, sedikitnya berusia lima puluh tahun, rambutnya telah berwarna dua, akan tetapi mukanya masih nampak nyata bahwa dahulunya ia tentu seorang wanita cantik.
Wajahnya amat ramah dan senyum manis selalu menghias mulutnya.
Ketika Song Liang melihat Tokouw ini, iapun terkejut dan cepat menjatuhkan diri berlutut dan menyebut.
"Siankouw"
Teecu Song Liang mohon maaf tak dapat menyambut kedatangan Siankouw sebagaimana mestinya."
"Kisu (orang gagah), jangan terlalu sungkan. Ada urusan apakah maka orang kasar ini hendak mengganggumu?"
Sebelum Song Liang menjawab, Lie Kai telah maju dan membentak.
"Kau adalah seorang Pertapa, mengapa bersikap tidak adil dan jail?"
Tokouw itu tersenyum sabar.
"Bagaimana kau menganggap Pinni (aku) tidak adil?"
"Sebelum mengetahui duduknya perkara, datang-datang kau telah menyerangku dan membela sepihak. Apakah ini adil namanya?"
"Hm, biarpun kau kasar dan jujur, akan tetapi kau bodoh. Pinni tidak menyerangmu, hanya berusaha agar supaya kau tidak mengganggu anak muda itu, kalau Pinni menyerang, apakah kau masih akan dapat berdiri dan bicara?"
"Tokouw sombong! Apa kau kira aku Thiat-Thouw-Gu Li Kai mudah dirobohkan begitu saja?"
Tokouw itu memperlebar senyumnya dan meng-angguk-angguk.
"Aah, tidak tahunya kaukah yang bernama Thiat-Thouw-Gu Lie Kai? Pantas, pantas! Pernah Pinni mendengar tentang kekasaranmu. Sesungguhnya, kaupun terhitung orang segolongan, mengapa kau melakukan perbuatan mengganggu Song-Kisu?"
"Kau siapakah dan perduli apakah kau akan urusanku?"
Tanya Lie Kai yang masih marah sekali.
"Pinni bernama Oei Lian Niang-Niang dari Cin-Ling-San."
Lie Kai terkejut, karena ia pernah mendengar tentang tiga tokoh persilatan yang telah dianggap menduduki tempat tertinggi diantara tokoh-tokoh lain, yakni yang disebut Sam-Lian Sianli atau Tiga Dewi Teratai dari bukit Cin-Ling-San di Propinsi Shensi!
Dan menurut pendengarannya mereka itu bernama Pek Lian Niang-Niang, Ang Lian Niang-Niang dan Oei Lian Niang-Niang.
Jadi yang berhadapan dengan dia ini adalah tokoh termuda daripada ketiga dewi itu!
Akan tetapi Lie Kai adalah seorang gagah yang tak pernah mengenal artinya takut.
Ia menggerak-gerakkan goloknya dan berkata dengan keras.
"Hm, Oei Lian Niang-Niang jauh-jauh turun dari Gunung Cin-Ling-San, apakah hanya hendak menghina aku yang lebih muda?"
"Bukan begitu, Lie-Sicu. Pinni tidak sekali-kali menghina orang lain. Akan tetapi Pinni yang kebetulan lewat di sini, dan melihat keributan di sini, maka tak dapat tiada Pinni harus memisah. Sebenarnya, apakah yang terjadi?"
"Aku tidak perlu memberitahukan urusanku kepada orang lain!"
Jawab Lie Kai. Oei Lian Niang-Niang tetap bersabar, lalu berpaling kepda Song Liang dan bertanya.
"Song-Kisu, sesungguhnya apakah yang telah terjadi?"
"Siankouw, Lie Kai ini dengan kekerasan dan secara memaksa hendak membawa pergi menantu. Teecu."
Tokouw itu mengerutkan kening dan memandang kepada Lie Kai lalu bertanya.
"Lie-Sicu, sungguh aneh sekali terdengarnya keterangan Song-Kisu ini. Mengapakah kau hendak membawa pergi anak mantu orang?"
"Oei Lian Niang-Niang, kuharap kau orang-tua jangan ikut-ikut mencampuri urusan pribadi ini. Betapapun juga sudah menjadi niatku untuk membawa Houw Sin ini pergi bersamaku. Kalau kau hendak menghalangi jangan kira bahwa aku Lie Kai takut kepadamu."
"Lie-Sicu,"
Kata Tokouw itu tak senang sungguhpun ia masih tersenyum.
"Orang yang tidak mau menuturkan alasan perbuatannya, tentulah berada di fihak salah, maka terpaksa Pinni melarang kau mempergunakan kekerasan mengandalkan kepandaianmu."
"Bagus, rasakan golokku!"
Seru Lie Kai yang segera menyerang hebat dengan golokya.
Lie Kai sebetulnya adalah murid seorang Hwesio (Pendeta Budha) bernama Lam Kong Hwesio, seorang tokoh Thai-Liang-Pai, yakni perGuruan silat yang berpusat di Gunung Thai-Liang di Propinsi Secuan.
Ilmu goloknya adalah cabang dari ilmu golok Siauw-Lim-Pai yang telah banyak berobah, maka kehebatannya juga luar biasa.
Ditambah pula dengan tenanga lweekangnya yang sudah tinggi, maka gerakan goloknya demikian cepat sehingga yang nampak hanya segulung sinar putih saja menyambar-nyambar.
Akan tetapi, begitu Oei Lian Niang-Niang mengangkat hud-tim putih di tangannya, Lie Kai berseru karena terkejut dan heran, karena entah bagaimana, bulu hud-tim itu telah melibat goloknya dan betapapun ia membetot, goloknya tak dapat terlepas dari hud-tim itu.
Ia merasa heran sekali dan menyangka bahwa Tokouw itu tentu mempergunakan ilmu sihir, maka sambil membentak marah ia memukul dengan tangan kirinya ke arah pundak kanan Tokouw itu.
"Tokouw siluman, rasakan pukulanku!"
Pukulan ini hebat sekali dan kalau mengenai sasarannya, tentu pundak Tokouw itu akan remuk tulangnya, atau setidaknya ia tentu terpaksa akan melepaskan libatan hudtimnya.
Benar saja, Oei Lian Niang-Niang tidak berani menyambut pukulan ini dan secepat kilat ia menarik kembali kebutannya dan mengelak dari pukulan lawan.
Akan tetapi ia tidak hanya mengelak biasa saja karena segera disusul dengan pukulan tangan kiri yang menyampok ke arah jalan darah di leher Lie Kai.
Si Kerbau Kepala besi terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur menghindarkan diri dari serangan ini.
Akan tetapi baru saja kakinya menginjak tanah, tiba-tiba tubuh Tokouw itu berkelebat cepat dan kebutannya berkelebat, digerak-gerakkan di depan muka Lie Kai yang menjadi pening dan tak dapat menjaga pula ketika ujung kebutan itu bergerak secepat anak panah meluncur dan menotok tulang pundaknya.
"Krek!"
Ketika ujung hud-tim yang berbulu lemas itu menotok, bulu pundak hud-tim itu berobah menjadi sedemikian kerasnya seperti tongkat baja dan sambungan tulang pundak Lie Kai terlepas!
Lie Kai meringis kesakitan dan tentu saja ia tak dapat melawan terus.
"Terima kasih, Oei Lian Niang-Niang, aku telah mendapat pelajaranmu. Lain kali kita bertemu pula!"
Katanya dan ia segera melompat sambil menggunakan tangan kiri memegangi pundak.
Melihat betapa Lie Kai yang tulang pundaknya telah terlepas sambungannya itu masih kuat memegangi goloknya dan pergi tanpa mengeluh sedikitpun juga, Oei Lian Niang-Niang tergerak hatinya karena kagum dan kasihan.
"Lie-Sicu, tunggu dulu Pinni menyambung kembali tulang pundakmu."
Akan tetapi, tanpa menengok Lie Kai berkata.
"Terima kasih, aku tidak membutuhkan pertolonganmu!"
Dan berlarilah ia makin cepat, meninggalkan tempat itu dengan muka merah. Oei Liang Niang-Niang menggeleng kepalanya dan berkali-kali menarik napas.
"Aah, sayang... Ia seorang yang gagah dan jujur. Sayang ia keras hati sekali."
Luka di tangan Song Liang tidak parah dan mereka lalu masuk ke dalam rumah.
Bwee Eng sudah siuman kembali dan kini nyonya muda ini menangis sedih.
Di dalam kamar mereka, Houw Sin berlutut minta ampun kepada isterinya.
"Bwee Eng, kau ampunkanlah aku... aku dulu tidak menceritakan hal ini kepadamu, karena aku khawatir kalau-kalau kau marah dan berduka. Sesungguhnya"
Hal ini telah lama lewat dan... dan aku hanya menyinta kau seorang. Percayalah kepadaku""
Dengan merengut Bwee Eng menjawab.
"Aku tidak perduli kau menceritakan hal itu kepadaku atau tidak, juga tidak perduli kau menyintanya atau tidak. akan tetapi, tidak dengarkah kau tadi bahwa Sui Lan telah mengandung? Kau tidak tahu perasaan seorang wanita! Bagaimana rasanya seorang wanita yang dipermainkan kemudian ditinggal pergi setelah mengandung? Kau laki-laki enak saja bermain cinta tanpa khawatir akan mendapat kesukaran! Hm, kalau aku menjadi Sui Lan dipermainkan seperti itu, akan kucari laki-laki yang mempermainkan aku dan akan kubunuh dia! aku kupenggal lehernya, akan kubelah dadanya, kukeluarkan hatinya!"
Baca Juga: Si Tangan Sakti 7
Baca Juga: Dewi Ular 5