Ceritasilat Novel Online

Naga Merah Bangau Putih 2

Eps 2 Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo.

"Bwee Eng"!"

Houw Sin menjerit sambil menutupi mukanya.

"Kasihanilah aku, Bwee Eng! Jangan kau menginjak-injak hatiku yang telah hancur! Apa kau kira aku seorang laki-laki yang demikian rendah dan tak bertanggung jawab? Sudah kukatakan tadi, bahwa tadinya aku tidak bermaksud meninggalkan Sui Lan. Kalau tidak terjadi penyerbuan musuh ke dalam Kotaraja, tentu takkan terjadi hal ini, mungkin aku takkan bertemu dengan kau selama hidupku! Akan tetapi"

Keadaan sudah begini"

Isteriku, kasihanilah aku dan berilah nasihat, apakah yang harus kulakukan?"

Bwee Eng tak dapat menjawab dan ia dapat memahami keadaan suaminya.

"Aku akan menyuruh orang mencari Sui Lan!"

Katanya dengan suara tetap.

"Kasihan dia...!"

Sementara itu, di ruang depan, Song Liang menyambut Oei Lian Niang-Niang. Mereka bercakap-cakap tentang keadaan negara yang kini terjajah oleh bangsa Mancu.

"Song-Kisu,"

Kata Oei Lian Niang-Niang.

"Kedatangan Pinni ini sesungguhnya mempunyai maksud. Orang-orang gagah di daerah selatan mulai mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Mancu. Dimana-mana kawan-kawan kita mengadakan penyerbuan dan berusaha mengusir musuh yang menjajah. Tenaga kita cukup banyak, hanya sayang tenaga pimpinan amat kurang. Dalam pertempuran besar, tidak hanya dapat mengandalkan kepada kepandaian silat perseorangan, harus ada ahlinya yang dapat mengatur barisan dan menghadapi musuh dengan teratur sehingga pihak kita dapat melakukan perlawanan sebaik mungkin. Oleh karena itu, Pinni yang meninjau di daerah selatan, walaupun Pinni sudah terlalu tua dan sudah mencuci tangan untuk ikut mencampuri usaha para pejuang itu, namun melihat kekurangan akan tenaga pimpinan ini, membuat Pinni merasa tak tega. Pinni teringat bahwa Kisu adalah seorang bekas panglima besar yang banyak pengalaman dan dalam hal ilmu peperangan, kepandaian Kisu jauh lebih tinggi daripada para pemimpin yang ada. Maka, apabila Kisu tidak berkeberatan masih mempunyai semangat cinta tanah air, Pinni atas nama semua pejuang mengharap bantuanmu untuk memimpin para pejuang di daerah selatan sepanjang Sungai Huai!"

Tergeraklah hati Song Liang mendengar ucapan ini. Setelah berpikir beberapa lamanya, ia menjawab dengan suara tetap.

"Baik, Siankouw. Teecu menerima tugas ini, akan tetapi Teecu sebaliknya mohon pertolongan Siankouw."

Oei Lian Niang-Niang tersenyum girang dan menjawab.

"Pertolongan apakah, kisu?"

"Sebagaimana Siankouw menyaksikan sendiri tadi, tanpa alasan Lie Kai telah memusuhi kami dan terus terang saja, Teecu tidak dapat mengalahkannya. Apabila kalau Teecu sudah pergi, bagaimana kalau dia datang kembali dan mengacau rumah tangga anak Teecu? Di dalam rumah Teecu, yang mempunyai sedikit kepandaian hanya Bwee Eng seorang, akan tetapi sekarang ia berada dalam keadaan mengandung. Oleh karena itu, Teecu mau pergi membantu perjuangan melawan musuh, asal saja Siankouw sudi menjaga keselamatan Bwee Eng dan suaminya sampai anak yang dikandungnya terlahir dengan selamat, kemudian Siankouw menurunkan beberapa kepandaian silat kepada Bwee Eng yang kiranya dapat dipergunakan untuk menghadapi Lie Kai."

Oei Lian Niang-Niang mengangguk-angguk.

"Baiklah, Pinni juga tidak mempunyai urusan sesuatu. Akan Pinni lakukan permintaanmu itu."

Demikianlah, dua hari kemudian setelah mendapat petunjuk dari Oei Lian Niang-Niang ke mana ia harus menggabungkan diri dengan para pejuang, berangkatlah Song Liang menunggang kuda.

Oei Lian Niang-Niang tinggal di rumah itu dan Houw Sin melanjutkan perdagangan mertuanya seperti biasa.

Hatinya merasa aman dan tenteram karena dengan adanya Tokouw itu di situ, ia tak perlu takut kepada siapapun juga.

Akan tetapi semenjak terjadi peristiwa itu, lenyaplah kegembiraannya.

Ia seringkali duduk melamun dan terbayanglah wajah Sui Lan di depan matanya.

Bwee Eng kini bersikap dingin saja kepadanya dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bercakap-cakap bersama Tokouw itu, mempelajari teori-teori ilmu silat tinggi.

Mulai menyesallah hati Houw Sin mengingat akan semua perbuatannya di masa lampau.

Tak pernah disangkanya bahwa dulu ketika imannya lemah dan runtuh menghadapi nafsu hatinya, kini mendatangkan malapetaka besar dan mendatangkan kesedihan yang tak dapat dihibur lagi, kerusakan yang tak dapat diperbaiki lagi.

Ia merasa menyesal mengapa ia dahulu tidak mempelajari ilmu silat, kalau ia memiliki kepandaian tinggi, tentu sekarang ia telah ikut pergi bersama Ayah mertuanya untuk mengabdikan jiwa raganya kepada tanah air, ikut berjuang mengusir penjajah.

Luka di pundak Lie Kai masih terasa ringan apabila dibandingkan dengan luka hatinya.

Kekalahannya terhadap Oei Lian Niang-Niang tidak membuatnya sakit hati, karena ia maklum bahwa kepandaian Tokouw itu masih jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.

Kepandaian Tokouw itu masih beberapa tingkat lebih tinggi daripada kepandaiannya.

Yang membuat ia merasa perih di dalam hatinya adalah kenyataan bahwa Houw Sin telah menikah dan bahkan telah hampir mempunyai anak.

Alangkah akan kecewanya dan hancurnya perasaan anak angkatnya.

Karena memikirkan Sui Lan inilah yang membuatnya merasa begitu berkasihan sehingga menyakitkan hatinya!

Luka pada pundaknya masih mudah disembuhkan.

Sebagai seorang ahli silat, tentu saja ia tahu cara bagaimana harus mengobati pundaknya.

Akan tetapi memikirkan keadaan Sui Lan benar-benar membingungkan hatinya dan ia tidak tahu bagaimana harus menceritakan kepada anak angkatnya itu tentang Houw Sin.

Dengan susah payah ia telah mencari Houw Sin dalam perjalanan hampir dua bulan lamanya.

Dan setelah bertemu, ternyata tidak saja perjalanannya itu sia-sia belaka, bahkan ia mendapat luka!

Ia teringat bahwa waktu itu telah tiba masanya Sui Lan melahirkan.

Maka setelah mengobati pundaknya,ia segera mempercepat perjalanannya menuju pulang ke An-Sin-Kwan.

Ketika ia tiba di rumah, Sui Lan menyambutnya dengan girang.

nyonya muda ini sudah merasa bahwa tak lama lagi ia tentu akan melahirkan dan tidak adanya Ayah angkatnya membuat hatinya amat gelisah.

Selama ini ia telah menanggung derita yang bukan main hebatnya, dan sungguhpun pada lahirnya, ia nampak sehat dan gembira apabila bercakap-cakap dengan Ayah angkatnya, namun sesungguhnya hatinya selalu berdarah dan luka di hatinya kambuh pula apabila ia teringat akan Houw Sin.

"Ayah, bagaimana? Apakah Ayah bertemu dengan dia"?"

Tanyanya segera setelah Ayah angkatnya duduk dan minum air teh. Lie Kai menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepala.

"Tidak, tidak bertemu..."

Katanya singkat.

Ia segera menundukkan mukanya ketika melihat betapa kecewa wajah Sui Lan ketika mendengar keterangn ini.

Dan semenjak saat itu, Lie Kai selalu duduk termenung.

Ia adalah seorang jujur dan berat sekali hatinya menyimpan rahasia pertemuannya dengan Houw Sin.

Kalau saja ia tidak ingat bahwa Sui Lan sudah mengandung tua dan amat berbahaya menyampaikan berita tentang keadaan Houw Sin itu, tentu ia telah menceritakan dengan sebenarnya.

Sebaliknya, Sui Lan adalah seorang wanita yang cerdik dan ia dapat menduga bahwa tentu Ayah angkatnya menyembunyikan sesuatu.

Tidak terlepas dari pandang matanya akan perobahan pada sikap Lie Kai.

Maka berkali-kali ia bertanya dan Ayah angkatnya hanya menjawab dengan gelengan kepala dan berkata singkat.

"Tidak bertemu... tidak bertemu..."

Tibalah saatnya Sui Lan hendak melahirkan.

Lie Kai nampak gugup dan bingung sekali.

Seorang Bidan setengah di pondong dan diseretnya pulang untuk membantu anak angkatnya, dan kemudia ia berjalan mondar-mandir di depan rumah bagaikan seorang gila.

Hatinya berdebar-debar, dan ia merasa bingung, gelisah dan takut.

Sungguh nampak lucu dan aneh melihat Lie Kai, jago kawakan yang menghadapi lawan berpuluh orang masih dapat tersenyum-senyum itu, kini menghadapi anak angkatnya yang hendak melahirkan, nampak begitu pucat, gugup dan terkenanglah ia kembali kepada masa lalu, di waktu isterinya akan melahirkan anaknya.

Karena dulupun seperti itulah keadaannnya.

Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam dan hampir saja Lie Kai melompat karena kaget.

Ia segera memegang lengan tangan Bidan tua itu dan bertanya.

"Bagaimana...? Mengapa kau keluar? Mengapa aku tidak mendengar tangisnya...?"

Lie Kai merasa malu sendiri karena suaranya gemetar.

"Sukar sekali..."

Bidan tua itu menggeleng-geleng kepalanya.

"Perasaan dan hatinya amat terganggu, ia menyebut-nyebut nama Houw Sin dan agaknya amat bersedih hati sehingga ia tidak mempunyai tenaga lagi untuk membantu terlahirnya bayi! Aku khawatir sekali, kau lekaslah berusaha, berilah nasihat kepadanya agar supaya ia jangan berduka."

Mereka masuk ke dalam kamar dimana Sui Lan rebah telentang di atas pembaringan.

Seluruh tubuhnya sampai ke lehernya tertutup dengan sehelai selimut.

Melihat wajah yang amat pucat bagaikan mayat itu, dengan mulut terbuka menahan sakit, mata di meramkan dan peluh membasahi seluruh mukanya, Lei Kai terkejut sekali dan ia cepat berlutut di dekat pembaringan.

"Eng-ji... Anakku"

Kuatkanlah, nak... kuatkan tubuhmu dan tenangkan hatimu, jangan memikirkan apa-apa..."

Sui Lan membuka matanya, menengok perlahan dan senyum tipis membayang pada Bibirnya.

Rasa kasihan yang amat besar terhadap orang-tua ini memenuhi hatinya.

Ia maklum bahwa Lie Kai amat menyinta puterinya yang telah meninggalkannya itu, dan sudah beberapa kali, seperti baru saja didengarnya tadi, Lie Kai seringkali keliru meyebutnya seringkali memanggilnya "Eng-ji" (anak Eng), agaknya lupa bahwa dia bukan Lie Eng.

Ia tahu bahwa kalau ada Lie Eng di situ, belum tentu Lie Kai akan sayang kepadanya.

Ia hanya menjadi pengganti Lie Eng dan di dalam hati orang-tua itu hanya Lie Eng saja yang dicinta dan disayangnya sebagai anak tunggalnya.

"Ayah..."

Katanya lemah.

"Kau tolonglah aku, Ayah... Menurut bidan, aku terlalu berduka dan tak dapat memusatkan perhatian dan pikiran kepada anak yang akan terlahir... Memang aku selalu memikirkan keadaan Houw Sin, Ayah... katakanlah terus terang di mana ia berada dan bagaimana keadaannya. Kalau aku sudah mengetahuinya, agaknya aku akan dapat melenyapkan bayangannya yang mengganggu..."

Lie Kai menggigit Bibirnya, kemudian ia memberi isarat kepada Bidan itu untuk keluar sebentar. Bidan itu menurut dan bertindak keluar, duduk di luar pintu kamar, siap menanti panggilan.

"Sesungguhnya, anakku,"

Katanya sambil memegang pergelangan tangan Sui Lan.

"Sesungguhnya aku telah bertemu dengan Liok Houw Sin."

Sui Lan memandangnya tajam.

"Tentu ia telah menikah Ayah...?"

Lie Kai mengangguk, tak kuasa menjawab.

"Dengan Song-Siocia puteri panglima itu?"

Kembali Lie Kai mengangguk.

"Isterinya juga sudah mengandung."

Hanya demikian saja ia dapat berkata.

Tiba-tiba terdengar Sui Lan tertawa nyaring dan Lie Kai merasa betapa bulu tengkuknya berdiri dan tubuhnya menjadi dingin.

Ia seakan-akan melihat mayat tertawa dan dengan melongo ia memandang kepada Sui Lan.

"Ha, ha, ha... bagus, bagus... kau bagaikan kumbang yang menghisap madu kembang, setelah madu habis, kau terbang melayang mencari kembang lain... ha, ha, Houw Sin aku yang bodoh... aku yang dungu"

Yatim-piatu hina-dina, seorang pelayan mengharapkan majikan muda!

Dan aku selalu mengenangmu, merindukanmu, mengharap kedatanganmu, dan kau...

Kau, bersenang-senang dengan seorang puteri cantik yang lebih tepat menjadi isterimu..."

Kembali ia tertawa dan tiba-tiba ia menangis sedih! "Sui Lan... Sui Lan... akan kubunuh Houw Sin si keparat itu! Akan kubunuh dia, kucekik lehernya! Aku bersumpah"

"Ayah diam! Jangan kau berkata demikian...! Jangan kau mengganggunya, aku takkan rela kau mengganggu dia yang sudah hidup bahagia! Jangan! Aku tidak berduka lagi, mengapa aku harus berduka? Tidak ada yang mengganggu hatiku lagi, aku bebas kini! Bebas daripada rasa rindu, bebas dari mengharap-harap. Ah, aku kuat melahirkan, mengapa tidak! tidak ada yang kukhawatirkan lagi! Ayah, kau keluarlah dan panggil Bidan itu!"

Dengan menahan air mata, Lie Kai melangkah keluar dan tak lama kemudian, setelah Bidan itu masuk ke dalam kamar, terdengarlah suara yang amat gaduh di dalam kamar itu.

Suara jerit bercampur Bidan tercampur dengan suara tangis bayi dan suara keluhan Sui Lan.

Tangis bayi itu keras sekali dan Lie Kai berjingkrak-jingkrak di luar kamar.

Tangis itu bagaikan nyanyian yang amat merdu, akan tetapi kadang-kadang berubah bagaikan pisau yang menusuk-nusuk hatinya.

Ia dikejutkan oleh pekik Bidan itu.

"Lie-Piauwsu! Lie-Piauwsu! Lekas tolong! Aah... bagaimana ini...??"

Lie Kai terkejut dan melompat, menerjang masuk dari pintu.

Dan apa yang dilihatnya di dalam kamar, di atas pembaringan itu hampir membuatnya roboh pingsan!

Lie Kai adalah seorang yang sudah kenyang akan pertempuran hebat dan darah bukanlah pemandangan yang aneh atau mengerikan baginya, akan tetapi ketika ia melihat betapa darah merah mengucur keluar dari leher Sui Lan, ia merasa ngeri dan terkejut sekali.

Ia menubruk ke pinggir pembaringan, tidak memperdulikan akan pakaian dan tangannya yang terkena darah.

Ia memegang pundak anak angkatnya, melihat betapa di dekat leher anaknya telah menggeletak sebuah gunting yang berlepotan darah.

"Eng-ji Sui Lan..."

Jeritnya gagap.

"Kau... kau kenapakah...? Ya Tuhan Yang Maha Agung...!"

Orang gagah yang sudah hampir lupa akan nama Tuhan ini kini menyebut nama Thian dengan sepenuh hatinya.

"Mengapa kau lakukan ini, Sui Lan...? Mengapa...??"

Ia menggoyang-goyang pundak anak angkatnya yang sudah lemas dan pucat sekali itu, sedangkan Bidan itu, kini dibantu oleh pelayan rumah tangga yang juga berlari memasuki kamar, sambil menangis merawat bayi yang baru dilahirkan itu.

Sui Lan ternyata telah membunuh diri dengan menggunakan gunting yang disediakan untuk memotong pusar bayi!

Begitu bayi itu lahir, ia lalu menyaut gunting dan ditusukkan kepada lehernya sendiri!

Kini, mendengar jeritan Lie Kai, nyawanya yang sudah melayang keluar itu seakan-akan kembali ke dalam tubuhnya.

Ia membuka kedua matanya perlahan-lahan, dan Bibirnya bergerak mengeluarkan bisikan.

Lie Kai harus mendekatkan telinganya ke mulut Sui Lan untuk dapat menangkap kata-katanya.

"Ayah... Jangan ganggu Houw Sin"

Jangan beritahu anakku... Tentang... tentang Ayahnya..."

Setelah berbisik tubuh nyonya muda itu menjadi lemah dan napasnyapun berhenti.

Lie Kai perlahan berdiri, kedua tangannya mengepal, dari sepasang matanya mengalir turun air mata di sepanjang pipinya yang penuh keriput dan cambang.

Tanpa disadarinya, tiba-tiba semua rambut di kepalanya telah berobah putih!

Telah dua kali ia ditinggalkan anaknya!

Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Sui Lan.

Kemudian ia berdiri menatap wajah anak angkatnya itu tanpa bergerak bagaikan patung.

Jerit tangis bayi itu menyadarkannya dan ia menengok ke belakang.

Kini pelayan itu mendekat dan ketika melihat bahwa Sui Lan telah meninggal dunia, menjerit dan menangislah dia.

"Diam kau!!"

Bentak Lie Kai dengan kerasnya sehingga pelayan itu terkejut dan diam seketika itu juga.

Akan tetapi, masih ada yang menangis yakni bayi itu.

tangisnya bukan main kerasnya, seakan-akan ia menangisi Ibunya.

Bidan itu repot membungkus tubuh kecil itu dengan kain dan berusaha mendiamkannya, akan tetapi anak itu bahkan menangis makin keras.

Suara tangis itu mengiris-iris jantung Lie Kai.

"Diam...!! Diam kau...!!"

Bentaknya sambil memandang kepada bayi itu dengan mata merah.

Bidan dan pelayan itu terkejut dan takut kalau-kalau Lie Kai akan merampas dan membanting bayi itu.

Bidan itu berusaha sedapat mungkin, akan tetapi sang bayi seakan-akan tidak takut kepada bentakan Lie Kai dan menangis makin keras, bagaikan menantang.

"Diam...! Tutup mulutmu...!!"

Lie Kai membentak lagi dan kemudian ia menjambak-jambak rambutnya sendiri sehingga ada beberapa genggaman rambut yang jebol, lalu ia berlari ke luar dari kamar sambil masih berteriak-teriak "Diam...!

Diam...!!

Sampai di dalam kamarnya sendiri Lie Kai melemparkan tubuh di atas pembaringan dan rebah menelungkup dengan perasaan hancur.

Setelah bangsa Mancu berhasil menggulingkan pemerintaha Beng-Tiauw yang lebih dulu jatuh ke dalam tangan para pemberontak petani, perlawanan dari rakyat terjadi di mana-mana.

Bukan merupakan pekerjaan mudah bagi bangsa Mancu untuk menguasai daerah Tiongkok seluruhnya.

Di mana saja mereka berada, mereka menghadapi perlawanan dari para patriot Tiongkok yang berusaha mengusir penjajah ini dari tanah airnya.

Sisa-sia barisan Kerajaan Beng-Tiauw bahkan bergabung dengan pasukan-pasukan rakyat untuk mengadakan perlawanan bersama.

Orang-orang gagah dari kalangan kang-ouw dan Lioklim meninggalkan tempat tinggal dan pekerjaan mereka untuk menggabungkan diri dengan para pejuang.

Di Tiongkok selatan terbentuklah kesatuan-kesatuan yang kuat dibawah pimpinan orang-orang gagah yang berjiwa patriot.

Sie Ko Fa, pemimpin besar yang gagah berani memimpin sisa-sisa tentara Beng-Tiauw dan barisan rakyat melakukan pertahanan di Yang-Chouw dan sekitar lembah sungai Yang-Ce sebelah utara.

Akan tetapi, sungguh amat disayangkan bahwa diantara bangsa Tiongkok pun tidak sedikit terdapat penghianat-penghianat dan penjilat-penjilat yang mabok dan silau oleh harta dan kedudukan sehingga mereka ini membantu pergerakan tentara penjajah.

Oleh karena itu, balatentara Mancu makin besar dan mendapat bantuan dari manusia-manusia yang rendah budi ini.

Karena tentara Mancu memang amat kuat, ditambah pula dengan bantuan para pengkhianat, maka segala usaha perlawanan rakyat dapat dihancurkan oleh penjajah, betapapun hebat perlawanan dari rakyat.

Darah mengalir dan membajir di mana-mana.

Air sungai Yang-Ce seakan-akan berobah menjadi darah semua.

Pasukan-pasukan Mancu melakukan penyembelihan, perampokan dan segala macam kekejian terhadap rakyat Tiongkok.

Ratusan ribu rakyat dibinasakan secara kejam sekali.

Terpaksa pahlawan Sie Ko Fa menarik mundur sisa pasukannya ke Yang-Chouw dan membuat pertahanan mati-matian di tempat ini.

Kota dikepung musuh yang jauh lebih besar jumlahnya.

Peperangan yang luar biasa hebatnya terjadi.

Sungguhpun keadaan amat terjepit dan jumlah barisan musuh jauh lebih banyak, namun para pejuang itu tidak mau menyerahkan diri begitu saja.

Mereka berperang dan bertahan sampai tujuh hari tujuh malam sebelum menyerah karena kehabisan tenaga dan ransum.

Pahlawan Sie Ko Fa ditawan, akan tetapi pahlawan patriot yang gagah perkasa ini tidak sudi menyatakan takluk sehingga akhirnya ia dibunuh oleh bangsa Mancu.

Tewasnya Sie Ko Fa sebagai kusuma bangsa tidak meredakan pemberontakan dan perlawan rakyat.

Di mana-mana, orang-orang gagah mengikuti jejak pahlawan ini.

Bukan main pusingnya bangsa Mancu menghadapi perlawanan-perlawanan rakyat ini sehingga pemerintah Mancu lalu mengeluarkan peraturan agar semua orang, Semua rakyat Tiongkok, yakni orang-orang lelakinya, mencukur rambut kepalanya, meninggalkan bagian atasnya saja yang harus dikucir ke belakang!

Peraturan ini diadakan agar supaya para petugas dapat membedakan lawan dan kawan dengan mudah, di samping maksud untuk menghina rakyat Tiongkok dan mendatangkan rasa rendah diri kepada rakyat dan memperlihatkan kekuasaan bangsa Mancu.

Peraturan ini bukannya melemahkan perlawanan, bahkan sebaliknya merupakan minyak yang disiramkan kepada api yang sedang berkobar.

Makin menghebatlah amarah rakyat terhadap penjajah dan makin besar pula perlawanan yang mereka lakukan.

Setelah bala tentara Mancu bergerak sampai di Propinsi-Propinsi Cekiang dan Hokkian, rakyat di kedua Propinsi itupun bangkit serentak melakukan perlawanan.

Muncullah pendekar-pendekar dan pahlawan besar seperti Cheng Cheng Kung, Chang Huang Yen, dan lain-lain untuk memimpin para pejuang menghadapi penjajah Mancu.

Perang, perang lagi timbul di mana-mana.

Kembali penyembelihan terjadi, darah mengalir dan mayat berserakan!

Di antara api peperangan yang berkobar-kobar itu, pada suatu hari nampak seorang laki-laki tua menggendong seorang anak laki-laki berusia tiga tahun lebih melakukan perjalanan dengan amat cepatnya menuju ke Secuan.

Dia ini bukan lain adalah Thiat-Thouw-Gu Lie Kai si Kerbau Berkepala Besi yang meninggalkan tempat tinggalnya di An-Sin-Kwan yang telah jatuh ke dalam tangan penjajah.

Semenjak Sui Lan meninggal dunia, Lie Kai hidup bersama cucunya, yakni anak yang dilahirkan oleh Sui Lan.

Anak itu adalah anak laki-laki dan diberi nama Lie Swan Hong.

Teringat akan pesan terakhir dari Sui Lan agar supaya anaknya jangan diberitahu tentang Ayahnya, maka Lie Kai lalu memberi nama keturunan Lie kepada anak ini.

Lie Kai menyerahkan perawatan dan pemeliharaan anak itu kepada seorang inang pengasuh.

Melihat keadaan negara yang kacau-balau, di mana-mana terjadi pertempuran-pertempuran antara para pejuang melawan penjajah, tangan pendekar tua ini sudah gatal-gatal untuk mencabut golok dan menggabungkan diri dengan para pejuang, akan tetapi ia tidak tega meninggalkan cucunya, Lie Swan Hong.

Setelah Swan Hong berusia tiga tahun lebih dan sudah cukup kuat untuk melakukan perjalanan jauh, maka ia lalu membawa anak itu menuju ke Propinsi Secuan.

Ia hendak menyerahkan cucunya itu kepada Suhunya.

Lian Kong Hwesio di Gunung Thai-Liang-San, agar anak itu dididik menjadi seorang ahli silat yang pandai.

Ia sendiri hendak segera menggabungkan diri dengan para pejuang untuk bertempur mengusir penjajah.

Dengan ilmu lari cepat Keng-Sin-Sut, ia melakukan perjalanan cepat sekali dan hatinya berdebar girang setelah ia tiba di kaki bukit Thai-Liang-San dan mulai mendaki bukit itu.

telah belasan tahun ia tidak pernah bertemu Suhunya.

Apakah orang-tua itu masih hidup?

Bagaimana kalau tempat Pertapaan Suhunya di sebuah Kuil dipuncak bukit itu telah kosong?

Bagaimana kalau Suhunya sudah meninggal dunia?

Pikiran ini membuat ia ragu-ragu dan ingin tahu sekali, maka dipercepatlah langkah kakinya sehingga ia mendaki bukit itu bagaikan terbang.

Setelah tiba di depan sebuah Kuil kecil di puncak bukit, di mana Suhunya dulu tinggal, Lie Kai berhenti dan berdiri dengan ragu-ragu.

Kuil itu nampak sunyi seakan-akan tiada penghuninya, akan tetapi halaman depannya bersih, tanda bahwa setiap hari tentu ada orang yang membersihkannya dan menyapu lantainya.

Baru saja Lie Kai yang masih menggendong Swan Hong yang tertidur karena lelah itu hendak melangkah masuk ke dalam Kuil, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap dan dua orang Hwesio kecil berjalan keluar sambil membawa sapu.

Kedua Hwesio kecil itu memandang heran ketika mereka melihat Lie Kai berdiri di depan Kuil.

Melihat sikap gagah Lie Kai dan nampak gagang golok tersembul di belakang pundak, seorang diantara Hwesio itu lalu menegur halus.

"Sicu, kau hendak mencari siapakah?"

"Siauw-Suhu,"

Jawab Lie Kai.

"Apakah Lam Kong Suhu berada di dalam?"

Kedua Hwesio kecil itu saling pandang, kemudian seorang diantaranya berkata.

"Lam Kong Suhu telah berada di dalam tempat tinggalnya yang kekal."

Ia menunjuk ke sebelah kiri Kuil.

"Itu di sana makamnya. Sicu siapakah?"

Bukan main kagetnya hati Lie Kai mendengar bahwa Suhunya telah meninggal dunia. Ia tidak memperdulikan pertanyaan itu dan bahkan cepat bertanya.

"Bilakah Suhu meninggal?"

"Sudah setahun yang lalu, Sicu, kau datang terlambat."

Dengan kedua kaki lemas, Lie Kai lalu melangkah menuju ke sebelah kiri Kuil dimana terdapat segunduk tanah kuburan.

Kedua orang Hwesio kecil itu memandangnya dengan kasihan dan heran.

Kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya membersihkan Kuil.

Setibanya di depan kuburan itu Lie Kai menurunkan Swan Hong yang sudah bangun dari tidurnya, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di depan batu bongpai dari makam Suhunya itu.

perasaan kecewa, menyesal dan duka bercampur aduk di dalam hatinya.

Hal yang dikhawatirkan ketika ia mendaki bukit tadi, ternyata benar terjadi.

Suhunya telah meninggal dunia.

Apakah yang harus dilakukan sekarang?

Untuk membantu perjuangan, adalah hal yang tak mungkin, karena bagaimana dengan Swan Hong?

Harapannya untuk melihat anak itu kelak menjadi seorang yang pandai juga musnah, karena selain mendiang Gurunya, siapa pula yang dapat mendidik cucunya menjadi seorang ahli silat yang lebih tinggi kepandaiannya daripada dia sendiri?

Saking jengkel dan dukanya, ia mengeluarkan ucapan keras di depan makam Suhunya, seakan-akan menyatakan penyesalannya kepada Suhunya yang sudah mati.

"Suhu mengapa Suhu meninggalkan Teecu yang sedang amat membutuhkan pertolongan Suhu? Teecu hendak menyerahkan anak ini dalam asuhan Suhu agar Teecu dapat membantu perjuangan. Sekarang"

Cita-cita Teecu untuk menghabiskan sisa usia dalam mengabdi kepada tanah air dan melihat cucu Teecu menjadi seorang pendekar gagal sama sekali!"

Setelah meratap dan mengeluh, Lie kai berlutut dan termenung dengan sedihnya.

Ia tidak mendengar bahwa seorang Hwesio tua sekali semenjak tadi telah berdiri tak jauh dari situ, memperhatikan dan mendengar semua keluhan tadi.

Sementara itu, karena di tempat itu terdapat banyak tanaman bunga, Swan Hong menjadi gembira dan bermain-main seorang diri.

Ia mengejar-ngejar seekor kupu-kupu bersayap kuning yang indah sekali dan berterbangan di atas bunga-bunga.

Akan tetapi sukar baginya untuk menangkap kupu-kupu yang terbang tinggi itu dan betapapun ia berloncat-loncatan, ia tak dapat juga menangkap binatang itu.

anak itu lalu diam dan memperhatikan gerakan kupu-kupu yang ternyata sedang tertarik kepada sebatang bunga yang sedang mekar indah dan banyak madunya.

Tiba-tiba Swan Hong lalu memetik tangkai bunga itu dari bawah, lalu bunga itu dipergunakannya sebagai umpan!

Usahanya berhasil, karena kupu-kupu itu memang sedang mengincar bunga ini dan ketika ia melihat bunga itu tiba-tiba merendah, ia lalu terbang rendah untuk mencuri madu di dalam bunga.

Tiba-tiba tangan kanan Swan Hong digerakkan cepat dan ia berhasil menangkap kupu-kupu itu!

Hwesio tua yang semenjak tadi melihat pula perbuatan Swan Hong, diam-diam tersenyum dan mengangguk-angguk karena ia merasa kagum melihat kecerdikan anak itu.

ia lalu meniup dengan mulutnya ke arah tangan Swan Hong yang sedang memegangi kupu-kupu dan ketika angin tiupan itu menyambar tangannya, tiba-tiba terlepaslah kupu-kupu yang dipegangnya.

Swan Hong terkejut dan ketika menoleh ia melihat seorang Hwesio tua berdiri di dekatnya.

Anak ini lalu menangis keras, sebagian karena kecewa melihat kupu-kupu itu terlepas dan juga karena takut melihat Kakek yang datang tiba-tiba itu.

"Kupu-kupuku"

Dia terbang""

Anak itu menangis.

"Tak baik menangkap kupu-kupu yang terbang bebas. Tak baik mengganggu binatang""

Kakek itu berkata.

Lie Kai terkejut mendengar cucunya menangis dan ketika ia melihat Hwesio tua berdiri di dekat cucunya sambil mengeluarkan ucapan yang sifatnya menegur itu.

Pada saat itu, Lie Kai sedang ruwet pikirannya dan karenanya membuat wataknya yang keras timbul.

"Kenapa kau menangis?"

Tanyanya kepada anak itu.

"Pinceng telah melepaskan kupu-kupunya!"

Hwesio tua itu menjawab sambil memandang tajam.

"Hwesio tua usilan! Kau menambah kepusinganku saja!"

Lie Kai membentak marah dan ia melompat berdiri lalu mendorongkan kedua tangannya ke arah Hwesio itu dengan maksud merobohkannya!

Akan tetapi, Hwesio itu dengan tenang lalu mengebutkan ujung lengan bajunya ke arah Lie Kai.

Hebat sekali gerakan ini, karena biarpun ujung lengan bajunya itu tidak mengenai tubuh Lie Kai, tetapi sambaran anginnya telah menyambut serangan Lie Kai dan tak dapat tertahan lagi Lie Kai terlempar ke belakang!

"Orang kasar,"

Hwesio itu berkata dengan suara keren.

"Kalau Suhumu masih hidup, tentu akan dijewernya telingamu! Kau berani berlaku kurang ajar terhadap Supekmu (Uwak Gurumu)?"

Bukan main terkejutnya dan herannya Lie Kai ketika mendengar ucapan ini.

Ia teringat akan cerita Suhunya bahwa Suhunya itu mempunyai seorang Suheng (kakak seperGuruan) yang bernama Lam Hoat Hwesio, yang menurut kata Suhunya, mempunyai kepandaian lebih tinggi daripada Guru dari Suhunya sendiri!

Ia tidak pernah bertemu dengan Supeknya itu, karena Supeknya telah berpuluh tahun lamanya bertapa di Pegunungan Gobi yang luas dan mengasingkan diri daripada keramaian dunia, bahkan menurut Suhunya, Lam Hoat Hwesio ini sambil bertapa menciptakan berbagai ilmu silat yang tinggi-tinggi!

Sambaran angin tadi telah membuat Lie Kai jatuh terduduk setengah rebah terlentang.

Dalam keadaan masih terduduk ia segera bertanya.

"Apakah Teecu berhadapan dengan... Lam Hoat Supek?"

Hweesio tua itu tersenyum.

"Supekmu hanya aku seorang, kalau bukan Lam Hoat Hwesio, habis siapakah aku ini?" (Lanjut ke

Jilid 03) Naga Merah Bangau Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 Lie Kai, lalu merangkak maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Hwesio itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

"Ampun, Supek! Teecu memang patut dijewer dan dipukul! Teecu tidak tahu bahwa Supek yang mulia telah tinggal di tempat ini."

Selain ahli dalam ilmu silat tinggi, Lam Hoat Hwesio juga mempelajari ilmu pengobatan.

Pada hari itu, iapun sedang mencari dan mengumpulkan daun dan bunga obat ketika ia melihat Lie Kai dan Swan Hong di depan kuburan Sute (adik seperGuruan)nya.

Ia telah setahun lebih tinggal di atas puncak Gunung Thai-Liang-San, semenjak Sutenya meninggal dunia.

Gunung ini amat indah dan banyak terdapat daun-daun obat, maka Lam Hoat Hwesio merasa suka tinggal di tempat itu.

Dua orang Hwesio kecil adalah murid-muridnya dalam ilmu pengobatan dan juga bekerja sebagai pembantunya di dalam Kuil itu.

"Pinceng pernah mendengar dari mendiang Suhumu tentang kau, Lie Kai, dan mendengar akan cita-citamu membantu perjuangan para patriot, Pinceng merasa senang sekali. Kau telah banyak melakukan hal-hal buruk, juga hal-hal yang baik dan pengabdianmu kepada tanah air memang baik sekali. Tentang anak ini... biarlah aku menggantikan Suhumu untuk mendidik dan merawatnya."

Girang sekali hati Lie Kai mendengar ini. Berulang-ulang ia menyatakan terima kasihnya.

"Siapakah nama anak ini dan di mana orang-tuanya?"

"Anak ini adalah cucu Teecu sendiri dan bernama Lie Swan Hong. orang-tuanya telah meninggal dunia."

Jawaban yang singkat ini membuat Hwesio tua itu maklum pasti ada terjadi apa-apa dengan kedua orang-tua anak itu, akan tetapi ia tidak mau bertanya lebih banyak.

Ia menghampiri anak itu, lalu mengangkatnya.

"Anak baik, mulai sekarang kau harus tinggal bersama Pinceng!"

Swan Hong memandang wajah Hwesio tua yang peramah itu dan agaknya wajah itu menyenangkan hatinya, buktinya anak itu tertawa girang dan menarik-narik jenggot Kakek yang sudah putih semua itu!

"Supek, apakah Teecu harus pergi sekarang juga?"

"Hal itu terserah kepadamu, Lie Kai, hanya menurut pendapat Pinceng (aku), cita-cita luhur tak mungkin hari esok, tak patut ditunda-tunda dan harus dilakukan sekarang juga. Menunda pekerjaan mulia sampai besok atau lusa hanya dilakukan oleh orang-orang malas atau orang-orang yang memang tidak memiliki kesetiaan dalam cita-citanya."

"Kalau begitu, Teecu akan berangkat sekarang juga, Supek!"

Lie Kai memberi hormat sekali lagi, berdiri dan mengusap-usap rambut Swan Hong beberapa lama, kemudian ia lalu lari turun gunung setelah menjura dihadapan kubur Suhunya!

Lam Hoat Hwesio memandang bayangan Lie Kai dan terdengar ia menarik napas panjang.

"Orang yang jujur, kasar, dan berhati mulia!"

Kemudian, perlahan-lahan ia berjalan sambil menggandeng tangan Swan Hong, menuju ke Kuilnya.

Lie Kai lalu menuju ke timur dan tiap kali bertemu dengan pasukan rakyat yang berjuang melawan penjajah, ia lalu membantu sekuat tenaga.

Telah banyak musuh yang jatuh di bawah goloknya dan Lie Kai berpindah-pindah dari satu ke lain tempat.

Bertahun-tahun ia maju dan mundur bersama pejuang dan akhirnya ia sampai di Propinsi Kiangsu.

Ia ikut mempertahankan kota Kiang-Jin dan Ciating di propinsi itu dimana diadakan perlawan yang gagah berani sehingga pertempuran mempertahankan kedua kota ini dari tangan penjajah telah diingat orang dan dimasukkan dalam buku sejarah.

Akan tetapi kekuatan musuh amat besar.

Tentara Mancu berjumlah dua puluh empat laksa orang lebih sehingga akhirnya perlawanan rakyat dapat juga dihancurkan.

Akan tetapi, tentara Mancu baru bisa menjatuhkan Kiang-Jin setelah bertempur hampir tiga bulan dengan mengorbankan nyawa puluhan ribu tentaranya, sedangkan kota Ciating juga dapat diduduki setelah diadakan pertempuran selama dua bulan lebih!

Lie Kai selamat dalam pertempuran-pertempuran itu dan akhirnya ia lari menggabungkan diri dengan pasukan yang dipimpin Cheng Cheng Kung dan Chang Huang Yen, dua orang pahlawan yang terkenal gagah perkasa itu.

Lie Kai sudah mulai terkenal di antara para pejuang.

Ia dianggap gagah dan amat berani menyerbu musuh sehingga ia mendapat banyak pujian.

Pada suatu hari, ketika pasukan-pasukan pejuang dari lain daerah menggabungkan diri, Lie Kai terkejut setelah melihat bahwa pasukan ini dipimpin oleh...

Song Liang!

Dua orang yang pernah bertempur dan bermusuhan ini saling berhadapan dalam satu perjuangan!

Lie Kai terpaksa memberi hormat terlebih dulu oleh karena Song Liang menjadi kepala pasukan kedudukannya tinggi, sedangkan ia hanya seorang perajurit suka rela biasa saja.

Juga Song Liang mendapat nama baik karena bekas panglima perang ini amat pandai mengatur siasat pertempuran, dan sudah banyak jasanya dalam menghantam musuh.

Kedua orang pemimpin besar, Cheng Cheng Kung dan Chang Huang Yen, memimpin barisan besar terdiri dari seratus ribu orang lebih, lalu mempergunakan ribuan buah perahu yang dilayarkan sepanjang Sungai Yang-Ce.

Mereka ini menuju ke Nanking untuk menGurung kota itu dan menghantam musuh di sepanjang Sungai Yang-Ce.

Rakyat membantu pergerakan ini dan makin lama makin besarlah barisan itu.

Juga Lie Kai dan Song Liang berada dalam barisan ini.

Lie Kai selalu mendekati kepala pasukan ini, karena ia telah menantang Song Liang untuk mengadu kepandaian bilamana perjuangan itu telah selesai!

"Pada waktu ini, kita menjadi kawan seperjuangan,"

Kata Lie Kai kepada Song Liang.

"Akan tetapi, apabila perjuangan telah selesai, kita akan menjadi musuh! Kau telah merampas mantuku, sehingga anak perempuanku menderita karenanya. Maka kau harus mati di tanganku!"

Song Liang tentu saja tidak takut, sungguhpun ia maklum akan kegagahan Lie Kai.

"Baik, kalau perjuangan telah selesai, aku akan menghadapimu, dan kita akan sama lihat, siapa diantara kita dua orang-tua bangka yang akan mampus lebih dulu!"

Jawab Song Liang.

Pertempuran hebat susul-menyusul.

Korban dikedua fihak jatuh bertumpuk-tumpuk.

Dalam sebuah pertempuran hebat di tepi Sungai Yang-Ce, pasukan yang dipimpin oleh Song Liang terkurung hebat dan agaknya ia serta pasukannya takkan tertolong lagi.

Akan tetapi, Song Liang dan anak buahnya mengadakan perlawanan hebat, mengamuk bagaikan naga-naga perkasa.

Apalagi Lie Kai yang juga berada dalam pasukan itu, ia mengamuk sehingga membuat musuh merasa kagum dan ngeri.

Karena jumlah musuh amat besar, akhirnya pasukan dibawah pimpinan Song Liang yang gagah perkasa itu dipukul hancur.

Sebatang anak panah meluncur cepat dan menancap dada kepala pasukan Song Liang.

Ia roboh mandi darah dan ketika seorang perajurit musuh hendak menusuknya dengan tombak, Lie Kai datang menolongnya.

Dengan sekali tendang saja terlemparlah perajurit musuh dan jatuh tak bernyawa lagi.

Lie Kai menghampiri Song Liang dan memangku kepalanya.

Ternyata tidak ada harapan lagi bagi Song Liang perwira gagah perkasa itu.

anak panah tadi telah menancap dan hampir menembus punggungnya.

"Lie Kai... Ternyata aku yang tewas lebih dulu...! tidak merepotkan kau, kini kau tak perlu bersusah-susah membunuhku lagi!"

Sambil tersenyum, panglima tua ini menarik napas terakhir dalam pelukan Lie Kai.

Dua orang musuh menjadi sahabat dalam perjuangan.

Alangkah sucinya perjuangan membela tanah air!

Lie Kai bangkit dan mengamuk bagaikan seekor harimau kehilangan anaknya.

Akhirnya, hanya dia dan beberapa orang kawan lain yang gagah perkasa saja dapat melepaskan diri dari kepungan dan lari menggabung dengan pasukan lain.

Betapapun gagahnya dua orang pemimpin besar Cheng Cheng Kung dan Chang Huang Yen, namun kekuatan bala tentara Mancu jauh lebih besar.

Akhirnya pasukan-pasukan pejuang itu terpaksa mundur dari Sungai Yang-Ce dan kembali ke Amoi.

Tentara Mancu mengejar terus dan beberapa tahun kemudian, Chang Huang Yen tertawan dan dibunuh oleh penjajah Mancu.

Hancurnya pasukan-pasukan pejuang ini membuat mereka berpencaran dan tidak adanya pimpinan membuat mereka menjadi lemah.

Pemberontakan-pemberontakan yang terjadi hanya merupakan pemberontakan golongan atau perseorangan saja, yang tidak begitu berarti bagi penjajah.

Lie Kai merasa bosan dan lelah, pula ia telah mulai menjadi tua.

Terutama sekali ia merasa rindu kepada cucunya yang telah ditinggalkannya tiga belas tahun lamanya itu!

Ia kembali ke barat, menuju ke Propinsi Secuan dan mendaki Bukit Thai-Liang-San.

Kita tinggalkan dulu Lie Kai yang mendaki Thai-Liang-San untuk menjumpai cucunya yang telah ditinggalkan belasan tahun lamanya itu, Dan marilah kita kembali menengok keadaan Houw Sin dengan keluarganya.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, setelah mendapat pertolongan dari Oei Lian Niang-Niang dari ancaman Lie Kai, dan setelah Song Liang berangkat untuk ikut berjuang melawan barisan penjajah.

Oei Liang Niang-Niang tinggal di rumah Houw Sin untuk menjaga keselamatan sepasang suami-isteri itu dan untuk memberi pelajaran ilmu silat tinggi kepada Song Bwee Eng.

Akan tetapi ternyata sampai terlahirlah anak yang dikandung oleh Bwee Eng, tak pernah ada gangguan dari Lie Kai.

Anak itu adalah anak perempuan dan diberi nama Siang Hwa.

Ketika Oei Liang Niang-Niang mendengar bahwa Houw Sin merobah shenya karena takut kepada bangsa Mancu, Tokouw ini menyatakan tidak setuju.

"Mengapa harus mengganti nama keluarga? Kalau memang ada orang Mancu yang mengganggu takut apakah? Bwee Eng mempunyai cukup kepandaian untuk menghadapi orang yang mau mengganggu"

Oleh karena itu,maka kini Houw Sin menggunakan shenya sendiri lagi, dan Siang Hwa diberi she sebenarnya, yakni she Liok.

Atas kehendak Bwe Eng, setelah Siang Hwa berusia lima tahun, anak itu lalu diantarkan ke tempat Pertapaan Oei Liang Niang-Niang yang sudah kembali ke bukit Cin-Ling-San di Propinsi Shensi.

Houw Sin tidak berkeberatan bahkan merasa setuju sekali, oleh karena ia maklum bahwa dalam jaman sekacau itu, kepandaian silat jauh lebih penting untuk menjaga diri daripada kepandaian menulis.

Oei Liang Niang-Niang dan kedua sucinya (kakak seperGuruan) yakni Pek Lian Niang-Niang dan Ang Lian Niang-Niang suka sekali menerima Liok Siang Hwa sebagai murid, apalagi setelah kedua sucinya itu mendengar bahwa Liok Siang Hwa bukanlah keturunan sembarangan.

Kakek dalam (Ayah dari Ayah) anak itu adalah seorang Pangeran, dan Pangeran Liok Han Swee terkenal sebagai seorang bangsawan yang jujur dan baik budi.

Adapun Kakek luar (Ayah dari Ibu) anak itupun seorang pahlawan bangsa yang terkenal, yakni panglima Song Liang yang sampai saat itu masih ikut berjuang bersama para patriot lainnya!

Akan tetapi, ketika barisan Mancu menyerbu sampai di Lok-Yang tempat tinggal mereka, Houw Sin dan isterinya terpaksa mengungsi juga.

Mereka lalu lari ke Propinsi Shensi, dan tinggal di kota Han-Cung yang berada di kaki bukit Cin-Ling-San.

Mereka sengaja pindah ke tempat ini agar berada dekat dengan bukit di mana puteri mereka belajar silat dibawah asuhan Sam-Lian Sian-Li (Tiga Dewi Teratai) dari bukit Cin-Ling-San itu.

Di kota Han-Cung, Houw Sin dan Bwee Eng hidup tenteram dan damai.

Bwee Eng telah me-maafkan suaminya dan Houw Sin juga telah melupakan Sui Lan.

Akan tetapi ada satu hal yang amat mengganggu pikiran mereka, yakni Ayah Bwee Eng yang telah pergi sampai bertahun-tahun itu sama sekali tidak ada beritanya.

Mendengar betapa dimana-mana pasukan pejuang dihancurkan oleh balatentara Mancu, mereka menjadi gelisah sekali.

Setelah semua perlawanan para pejuang bangsa dapat dipatahkan dan api pemberontakan dipadamkan, masih juga belum ada berita dari Song Liang.

Tentu saja Bwee Eng dan Ibunya yang ikut pula pindah ke Han-Cung, menjadi amat gelisah hatinya.

Telah beberapa kali Bwee Eng menyuruh orang mencari kabar tentang Ayahnya, bahkan pernah ia sendiri bersama suaminya pergi sampai tiga bulan mencari-cari Ayahnya, akan tetapi tetap saja usahanya tak berhasil.

Mereka hanya mendengar bahwa Panglima Song Liang telah mundur ke selatan untuk memperkuat pertahanan di sana.

Maka tak ada lain jalan bagi mereka kecuali menanti di Han-Cung dengan penuh pengharapan.

Mereka telah memberi pesanan kepada kawan-kawan yang dikenalnya di Lok-Yang agar supaya memberitahukan alamat baru mereka jika sewaktu-waktu Song Liang kembali ke Lok-Yang Waktu berjalan amat cepatnya dan tak terasa pula sepuluh tahun telah lewat semenjak Liok Siang Hwa belajar ilmu silat di puncak Cin-Ling-San.

Selain mempelajari ilmu silat, ia juga menerima pendidikan ilmu surat dari Pek Lian Niang-Niang dan menerima pula kiriman kitab-kitab pelajaran kesusteraan dari Ayahnya, sehingga gadis inipun mempunyai pengertian tentang ilmu sastera yang cukup lumayan.

Kini Siang Hwa telah menjadi seorang dara berusia lima belas tahun.

Tubuhnya tinggi ramping dan wajahnya cantik seperti Ibunya, dan sungguhpun ia bersikap halus dan lembut seperti Ayahnya, namun ia memiliki kekerasan hati yang agaknya diwarisi dari Kakeknya, Song Liang!

Ia amat berbakat dalam ilmu silat sehingga semua pelajaran ilmu silat yang diturunkan oleh Sam-Lian Sian li kepadanya dapat diterimanya dengan baik sekali.

Tidak mengherankan apabila dalam waktu sepuluh tahun lamanya itu, ia telah dapat menghisap sari pelajaran ilmu silat tinggi, dan kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang mengagumkan.

Keistimewaannya adalah ilmu pedang ciptaan ketiga orang Tokouw itu, yakni yang di sebut Ang-Liong Kiam-Sut( Ilmu Pedang Naga Merah)!

Ilmu pedang ini diciptakan bersama oleh tiga orang Tokouw yang berilmu tinggi itu, maka tentu saja amat hebat dan luar biasa sekali.

Pek Lian Niang-Niang, Tokouw yang tertua, adalah seorang ahli lweekang, Ang Lian Niang-Niang seorang ahli ginkang yang mempunyai gerakan bagaikan seekor burung gesitnya, sedangkan Oei Lian Niang-Niang pernah mempelajari ilmu silat yang mengutamakan Tiam-Hwat (ilmu menotok jalan darah).

Tiga orang Tokouw ini memasukkan keistimewaan masing-masing ke dalam ilmu pedang Ang-Liong Kiam-Sut ini.

Oleh karena itu tidak mudahlah untuk mempelajari ilmu pedang ini yang selain membutuhkan tenaga lweekang yang sudah kuat, gerakan ginkang yang tinggi, juga harus mengenal dasar-dasar ilmu silat tinggi.

Setelah Sing Hwa belajar ilmu silat delapan tahun lamanya, barulah ia mulai mempelajari ilmu pedang ini selama dua tahun!

Ia amat suka akan ilmu pedang ini dan dengan rajin serta tekunnya ia melatih diri setiap hari selama dua tahun.

Tak mengherankan apabila ia dapat mewarisi ilmu pedang ini dan apabila ia mainkan pedangnya, ketiga orang Gurunya diam-diam merasa bangga dan puas sekali.

Mereka sendiri belum tentu akan dapat mainkan ilmu pedang sebaik itu, yakni dalam gaya dan kegesitannya.

Setelah Siang Hwa berusia enam belas tahun, ketiga orang Gurunya memanggilnya menghadap.

Pek Lian Niang-Niang lalu berkata.

"Siang Hwa muridku. Telah cukup lama kau mempelajari ilmu silat di bukit ini dan sekarang sudah tiba waktunya bagimu untuk turun gunung dan hidup dengan orang-tuamu. Kau sudah dewasa dan kiranya tak perlu Pinni mengingatkan lagi bahwa semua ilmu yang kau pelajari di sini baru ada artinya apabila kau pergunakan untuk kebaikan sesama manusia yang perlu mendapat pertolonganmu."

Ang Lian Niang-Niang yang amat mencinta Siang Hwa juga berkata.

"Muridku, sungguhpun kau telah mempelajari kepandaian di sini dan kami tidak merasa kecewa melihat kemajuanmu, akan tetapi jangan sekali-kali kau menganggap bahwa kepandaianmu itu sudah amat sempurna. Ingatlah selalu bahwa di dunia ini tidak ada orang yang terpandai. Kepandaian tak terbatas, dan dimana saja serta bilamana saja, biarpun kau sudah menjadi nenek seperti Pinni, masih banyak kepandaian yang dapat kau pelajari. Kesombongan dan menganggap diri sendiri pandai mendatangkan kecerobohan yang akan menjerumuskan diri sendiri ke jurang kekecewaan. Sebaliknya, orang yang dapat merendahkan diri dan mengetahui kekurangan serta kebodohan sendiri akan mendatangkan kewaspadaan dan orang seperti inilah yang akan berhasil dalam hidupnya, dan akan mencapai kemajuan pesat."

Oei Lian Niang-Niang, Tokouw termuda, tersenyum dan sambil mengelus-elus rambut muridnya dengan penuh kasih sayang ia berkata.

"Muridku, kau perhatikanlah baik-baik semua nasihat-nasihat Gurumu, Pinni hanya akan memberi ini kepadamu, karena untuk Pinni sudah tidak ada gunanya lagi."

Sambil berkata demikian, Oei Liang Niang-Niang lalu mengambil sebuah pedang panjang yang tak pernah dipergunakan atau dipakainya.

Pedang ini adalah sebuah pedang mustika yang kuno dan terukir indah gagangnya, di mana terdapat tiga huruf emas yang berbunyi "Gin-Kong-Kiam" (Pedang Sinar Perak).

Telah bertahun-tahun Oei Liang Niang-Niang menyimpan saja pedang ini dan kalau ia turun gunung, ia cukup bersenjata sebuah hud-tim (kebutan) saja.

Siang Hwa berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada ketiga orang Gurunya kemudia ia lalu turun gunung menuju ke rumah orang-tuanya di kota Han-Cung yang terletak di kaki Bukit Cin-Ling-San.

Tentu saja Houw Sin dan Bwee Eng merasa amat girang melihat puterinya telah turun gunung.

Apalagi ketika Siang Hwa mainkan pedangnya untuk memenuhi permintaan Ibunya.

Kedua suami-isteri ini merasa kagum, takjub dan bangga.

Akan tetapi, setelah tinggal bersama kedua orang-tuanya yang hidup dari hasil beberapa petak sawah, dan tinggal menganggur saja, Siang Hwee merasa kurang betah tinggal di rumah.

Apalagi ia melihat betapa Ayah-Bundanya seringkali termenung dan bermuram durja.

"Ibu, aku melihat Ibu dan Ayah agaknya mempunyai sesuatu yang menjadi buah pikiran, agaknya seperti bersedih. Sesungguhnya apakah gerangan yang menyedihkan hati Ibu dan Ayah?"

Tanya Siang Hwa ketika ia duduk di depan Ayah dan Ibunya. Ibunya menghela napas, lalu memandang kepala suaminya dan kemudian karena melihat suaminya tidak berkeberatan, ia berkata.

"Anakku, sesungguhnya Ayah-Ibumu memang sedang berduka. Tak lain kami sedang memikirkan Kongkongmu (Kakekmu), yaitu Ayahku. Kau tentu belum tahu dan belum diceritakan pula oleh Gurumu Oei Lian Niang-Niang, bukan?"

Memang Siang Hwa belum pernah mendengar tentang Song Liang, Kongkongnya itu, bahkan ia belum pernah melihat muka Kakeknya itu yang telah pergi semenjak ia belum terlahir.

"Belum pernah, Ibu. hanya diam-diam tadinya kukira bahwa aku sudah tidak mempunyai Kakek lagi."

"Memang orang-tua Ayahmu telah meninggal dunia sebelum kau terlahir, dan tak perlu kuceritakan lagi bahwa Ibuku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, karena kau tentu masih ingat akan hal itu. akan tetapi, sesungguhnya, Ayahku atau Kongkongmu itu masih ada. Ia telah pergi berjuang melawan musuh negara enam belas tahun yang lalu sebelum kau terlahir. Akan tetapi sampai sekarang, kami belum pernah mendengar beritanya."

Siang Hwa mengerutkan kening.

"Apakah Ibu sudah pernah mencarinya?"

"Sudah, bahkan pernah Ibu dan Ayahmu sendiri pergi mencari. Akan tetapi hasilnya sia-sia belaka. Kabarnya Kongkongmu itu bersama pasukannya mundur ke selatan. Akan tetapi sekarang sudah tidak ada perang lagi dan Kongkongmu belum juga kembali. Ah, aku benar-benar gelisah sekali, nak. Kami tidak tahu apakah Kongkongmu itu masih hidup atau telah gugur dalam peperangan. Keraguan inilah yang membimbangkan dan membingungkan hati."

Bwee Eng lalu menceritakan kepada puterinya tentang keadaan Song Liang dan diam-diam Siang Hwa yang sering mendengar cerita-cerita tentang kepahlawanan dan patriot-patriot negara dari ketiga orang Gurunya, merasa amat bangga dan kagum terhadap Kongkongnya.

"Ah, kalau begitu Kongkong adalah seorang pendekar tua, seorang pahlawan bangsa yang besar! Alangkah senangku kalau aku dapat bertemu dengan dia!"

Kemudian ia teringat akan sesuatu.

Ia memang tak kerasan lagi berada di rumah orang-tuanya menganggur saja dan ketiga orang Gurunya juga berpesan agar supaya ia mempergunakan kepandaiannya menolong sesama manusia.

Kalau ia duduk saja di dalam kamar dirumah orang-tuanya, bagaimana ia dapat mempergunakan kepandiannya?

"Ayah...

Ibu...!"

Katanya dengan wajah girang dan matanya berseri-seri memandang kepada orang-tuanya.

"Biarlah aku yang pergi mencari Kongkong! Aku tentu akan berhasil mencarinya!"

Kedua suami-isteri itu saling pandang dengan khawatir.

Houw Sin merasa khawatir sekali karena sebagai seorang yang tidak memiliki ilmu silat tinggi tentu saja ia mengkhawatirkan puterinya.

Bagaimana seorang gadis dewasa hendak pergi merantau seorang diri dalam saat yang kacau ini?

Juga Bwee Eng merasa khawatir.

Ibu muda ini maklum dan cukup percaya akan kepandaian Siang Hwa, akan tetapi Siang Hwa belum pernah merantau dan sama sekali belum mempunyai pengalaman di dunia ramai.

Bagaimana kalau ia bertemu dengan orang jahat yang akan mengalahkannya dengan tipu muslihat!

"Jangan, Siang Hwa!"

Ayahnya berkata cepat-cepat, sambil menggoyang-goyangkan tangannya.

"Bagaimana seorang gadis seperti kau pergi merantau seorang diri? Kalau kau bertemu dengan perampok-perampok, bukankah kau akan mendapat celaka?"

Siang Hwa tersenyum dan memandang kepada Ayahnya dengan lucu.

"Perampok, Ayah? Berapa orang banyaknya? Kalau baru seratus orang saja anakmu masih sanggup untuk merobohkan seorang demi seorang!"

Houw Sin mengangkat kedua alisnya dan memandang tak percaya. Siang Hwa lalu berkata lagi sambil memegang tangan Ayahnya dengan sikap manja.

"Ayah, aku tadi bukan bicara menyombong, hanya untuk menghibur dan menetapkan hatimu. Sesungguhnya, Ayah, bukan percuma saja Ayah mengirim aku ke atas puncak Cin-Ling-San sampai lebih dari sepuluh tahun lamanya! Untuk apa aku belajar ilmu silat tinggi? Sebagai seorang ahli silat, aku harus melakukan perjalanan dan memberantas kejahatan, membela keadilan, dan melindungi orang-orang yang tertindas, Ayah. Bukankah kau akan senang pula kalau melihat aku dapat berbuat sesuatu bagi bangsa sendiri? Bagi kemanusiaan? Ingatlah, Kongkong adalah seorang pahlawan besar, orang gagah perkasa yang rela meninggalkan keluarga untuk membela tanah air, apakah aku sebagai cucunya harus tinggal di rumah saja makan angin setiap hari?"

"Tapi, kau wanita..."

Ayahnya coba membantah.

"Ayah, apakah perbedaan antara wanita dan pria dalam melakukan tugas perikemanusiaan? Wanita juga manusia, seperti pria pula. Apakah salahnya kalau aku pergi merantau barang setahun, sekalian mencari Kongkong? Siapa tahu Ayah, kalau-kalau akulah yang menemukan Kongkong dan membawanya pulang!"

Houw Sin kehabisan akal dan tidak tahu harus menjawab bagaimana, maka ia hanya memandang kepada isterinya.

Bwee Eng semenjak tadi memandang dan mendengarkan ucapan-ucapan puteri isterinya itu, di dalam hatinya ia merasa girang sekali.

"Siang Hwa, sesungguhnya Ayahmu maupun aku sendiri tidak keberatan kau melakukan perantauan, meluaskan pengalaman dan melakukan tugas sebagai seorang pendekar silat. Apalagi karena kau hendak berusaha mencari Kongkongmu. Akan tetapi... memang ada yang harus dikhawatirkan. Kau belum berpengalaman, nak. Dan ketahuilah, di dunia ini banyak sekali terdapat orang jahat yang tidak harus ditakuti kepandaian silatnya, akan tetapi akal bulusnya. Kau belum tahu bahwa tipu muslihat, mulut manis, dan akal bulus seorang penjahat jauh lebih berbahaya daripada seribu batang pedang. Dengan kepandaianmu, mungkin kau akan dapat menjaga diri dari serangan beratus senjata tajam lawan-lawanmu, akan tetapi, tanpa pengalaman bagaimana kau akan dapat menghadapi tipu-tipu muslihat keji.?"

Untuk sesaat Siang Hwa menjadi bengong akan tetapi kata-kata Ibunya ini tidak melemahkan semangatnya dan tidak mengurangi kegembiraannya.

"Ibu, ketiga orang Guruku telah memberi banyak nasihat tentang kewaspadaan, dan kalau ditambah lagi dengan nasihat Ayah dan Ibu tentang keadaan dunia ramai, bukankah itu merupakan bekal yang cukup untuk menghadapi semua kepalsuan itu? aku tidak takut, Ibu, dan aku berjanji akan berlaku hati-hati dan waspada, tidak mau mempercayai sembarang mulut manis."

Karena melihat betapa Siang Hwa sudah tetap pendiriannya, maka Bwee Eng dan Houw Sin tidak dapat menahannya lagi.

Akan tetapi mereka tidak mau membiarkan Siang Hwa pergi sebelum gadis itu untuk berhari-hari lamanya mendengarkan nasihat-nasihat mereka tentang kepalsuan-kepalsuan dan tipu-tipu muslihat yang mungkin akan dihadapi oleh puterinya ini.

Segala macam akal bangsat yang pernah mereka dengar atau alami sendiri, mereka buka rahasianya di depan Siang Hwa.

Bwee Eng yang juga pernah merantau di waktu mudanya, menceritakan segala macam pengalamannya dan segala macam kejahatan yang mungkin dilakukan orang di kota-kota besar.

Beberapa pekan kemudian, berangkatlah Siang Hwa memulai perantauan dengan tujuan mencari Kongkongnya, panglima Song Liang di daerah selatan.

Ia menunggang seekor kuda bulu putih karena Ayahnya memaksanya agar supaya ia melakukan perjalanan berkuda.

Selain bungkusan pakaian yang cukup besar dan bekal uang yang cukup banyak, Siang Hwa juga membawa sehelai kain putih yang merupakan peta, peta buatan Ayah-Ibunya.

Peta itu dibuat secara sederhana, hanya untuk memberi garis besar kepada puteri mereka dan dapat melakukan perjalanan dengan tujuan ke arah kota-kota tertentu.

Siang Hwa paling suka akan warna merah, melakukan perjalanan dengan mengenakan pakaian ringkas warna merah, juga bekal pakaian sebagian besar berwarna merah.

Pedang Gin-Kong-Kiam tergantung pada pinggangnya dan ia nampak gagah serta cantik sekali.

Kedua orang-tuanya memandang puteri mereka sampai bayangan merah di atas kuda itu lenyap di balik debu yang mengebul di belakang kuda.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, dengan hati girang Thiat-Thouw-Gu Lie Kai si Kerbau Kepala Besi mendekati bukit Thai-Liang-San untuk menjumpai cucunya, yakni Lie Swan Hong yang belajar silat di gunung itu.

ia ingin sekali melihat cucunya yang telah ditinggalkan kurang lebih empat belas tahun lamanya itu.

Ah, ia tentu telah menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.

Memiliki ilmu silat tinggi karena telah digembleng oleh Supeknya yang berilmu tinggi yakni Lam Hoat Hwesio!

Pikiran ini menambah kegembiraannya dan orang-tua ini lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat dan tidak memperdulikan kedua kakinya yang telah terasa lelah sekali karena melakukan perjalanan amat jauh.

Keadaan di Gunung Thai-Liang-San tidak berobah.

Belasan tahun lalu dan gunung itu masih saja seperti dulu ketika ia datang di situ mengantarkan Swan Hong.

Bahkan masih sama dengan puluhan tahun yang lalu, ketika ia masih belajar silat pada mendiang Gurunya.

Lam Kong Hwesio.

Memang, bukit dan sungai selalu masih sama, sukar dilihat perobahannya, tidak seperti manusia.

Sungguh mengherankan kalau ia teringat betapa waktu empat belas tahun itu saja sudah mendatangkan perobahan luar biasa pada diri seorang manusia.

Dulu, empat belas tahun yang lalu, ia meninggalkan Swan Hong sebagai seorang anak kecil.

sekarang, tentu anak itu telah menjadi seorang manusia dewasa!

Padahal gunung dan sungai masih sama saja, seakan-akan empat belas tahun itu hanya sehari saja!

Akan tetapi, seperti juga dulu ketika ia mengantarkan Swan Hong, kembali setelah tiba di puncak, di depan Kuil tua itu, ia menjumpai kekecewaan besar.

Dulu ketika ia mengantarkan Swan Hong mencari Suhunya, ia mendapat kenyataan bahwa Suhunya itu telah meninggal dunia.

Dan sekarang, begitu tiba di depan Kuil, seperti juga dulu, Kuil itu nampak sunyi sekali, sungguhpun masih bersih dan terawat seperti dulu.

Ia melangkah masuk ke ruang depan Kuil dan mendengar suara orang berdoa, sebagaimana biasa dilakukan oleh para Hwesio.

Lie Kai adalah seorang jujur yang tidak biasa menggunakan banyak peradatan atau sopan-santun, maka ia terus saja bertindak masuk ke ruang dalam.

Ia melihat seorang Hwesio muda yang usianya paling banyak dua puluh lima tahun, sedang berlutut dan membaca Liamkeng (berdoa).

Setelah Hwesio itu berhenti dan berdiri, Lie Kai masih dapat mengenal bahwa Hwesio ini adalah seorang di antara dua orang Hwesio kecil yang dulu juga menyambutnya.

Hwesio ini sekarang nampak tampan dan mempunyai wajah yang sabar dan manis budi, sungguh amat mengagumkan bagi wajah seorang yang masih semua itu.

"Ah, kiranya Lie-Sicu yang datang!"

Kata Hwesio itu sambil mengangkat kedua tangan memberi hormat. Lie Kai cepat membalas penghormatan itu dan serta-merta mulutnya bertanya.

"Siauw-Suhu, dimanakah adanya cucuku Swan Hong?"

Hwesio muda itu tersenyum.

"Sute (adik seperGuruan) tidak berada di sini, Lie-Sicu, ia telah turun gunung kurang lebih setahun yang lalu."

Lie Kai mengertak gigi untuk menekan perasaan kecewanya.

"Dan Supek di mana? Aku mohon menghadap padanya."

Kini Hwesio itu tersenyum duka dan mengge-lengkan kepalanya.

"Sekali lagi kau terlambat, Sicu. Suhu telah meninggal dunia hanya beberapa hari sebelum Sute turun gunung. Karena Suhu meninggallah maka Sute lalu turun gunung."

Mendengar hal ini Lie Kai benar-benar terpukul hatinya sehingga tak terasa lagi ia menjatuhkan diri duduk di atas sebuah bangku yang berada di dekatnya.

Ia duduk termenung bagaikan patung, hanya dadanya yang bergerak karena ia menarik napas panjang berkali-kali.

Hwesio muda itupun mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku dan ia lalu menuturkan keadaan Swan Hong selama berada di atas gunung itu sampai pergi lagi meninggalkan perGuruan setelah Gurunya meninggal dunia.

Semenjak ditinggalkan oleh Lie Kai, Swan Hong yang baru berusia tiga tahun lebih itu lalu dirawat dengan amat sabarnya oleh Lam Hwat Hwesio.

Karena Swan Hong adalah seorang anak yang lucu dan penurut maka kedua orang murid Lam Hwat Hwesio, yakni dua orang Hwesio cilik yang bernama Seng Thian Hwesio dan Seng Tee Hwesio juga amat suka kepada Swan Hong.

Maka tidak terlantarlah penghidupan anak kecil itu yang tinggal bersama ketiga orang Pendeta itu di dalam Kuil itu.

Lam Hwat Hwesio yang menjadi ahli dalam ilmu pengobatan itu, lalu mulai menggembleng tubuh anak kecil itu dengan obat-obatan dari luar dan dalam.

Selain memaksa anak itu minum obat beberapa hari sekali untuk memperkuat tubuh bagian dalam, juga ia menggosok tubuh anak itu dengan obat yang direndam dalam arak.

Dengan rawatan yang luar biasa dan penuh ketekunan ini, Swan Hong memperoleh kekuatan yang luar biasa pada tubuhnya.

Kemudian, setelah ia berusia lima tahun, mulailah ia menerima pelajaran-pelajaran dasar dari Suhunya yang amat menyintainya itu.

Juga dari kedua orang Suhengnya, yakni Seng Thian dan Seng Tee, ia mendapat petunjuk-petunjuk dan mereka berdua ini merupakan kawan bermain dan berlatih yang membuat ia selalu bergembira dan cepat maju.

Ilmu kepandaian Lam Hwat Hwesio sesungguhnya amat tinggi.

Hwesio tua ini pernah diajak pibu oleh tokoh-tokoh dari Go-Bi-San dan juga dari Kun-Lun-San, akan tetapi akhirnya tokoh-tokoh itu menyatakan takluk dan amat mengagumi kepandaiannya yang benar-benar luar biasa.

Yang paling hebat adalah ilmu goloknya yang disebut Pek-Ho To-Hwat (Ilmu Golok Bangau Putih), semacam ilmu golok ciptaan Hwesio itu sendiri.

Sungguhpun Lam Hoat Hwesio juga merupakan seorang ahli dalam permainan segala macam senjata, namun melihat bakat yang baik dari muridnya, ia lalu menurunkan ilmu golok itu kepada Swan Hong.

Di samping ini, ia juga memberi pelajaran bermacam-macam ilmu silat yang ia ketahui sehingga Swan Hong benar-benar menerima ilmu silat yang tinggi dan jarang bandingannya di dunia ini.

Tiga belas tahun lamanya ia mempelajari ilmu silat dengan tekun dan rajin, bahkan ia dapat pula mempelajari sedikit ilmu surat dan ilmu pengobatan yang perlu-perlu bagi penjagaan diri.

Beberapa kali Swan Hong bertanya kepada Suhunya tentang orang-tuanya, akan tetapi oleh karena Lam Hwat Hwesio sendiri juga tidak tahu dengan jelas, lalu ia menjawab dengan kata-kata menghibur.

"Muridku, Pinceng menerimamu dari Kongkongmu, seorang gagah perkasa yang menjadi murid keponakanku sendiri. Ia bernama Lie Kai berjuluk Thiat-Thouw-Gu dan kini sedang melakukan tugas suci berjuang disamping pahlawan-pahlawan bangsa dalam usaha mereka mengusir penjajah dari tanah air. Pada suatu hari, kau tentu akan bertemu dengan Kongkongmu itu dan ia akan menceritakan segala hal mengenai orang-tuamu. Hanya pernah Pinceng mendengar dari Kongkongmu, bahwa kedua orang-tuamu telah meninggal dunia. Maka janganlah kau banyak berpikir tentang hal itu muridku, dan sekarang kau belajarlah dengan giat dan rajin agar kau tidak mengecewakan harapan Kongkongmu dan juga pengharapanmu sendiri."

Setelah ia mewarisi seluruh kepandaian Suhunya, pada suatu hari Lam Hwat Hwesio yang gagah perkasa dan berilmu tinggi itu terpaksa mengaku kalah terhadap hukum alam dan usia tua.

Usianya sudah tinggi sekali dan pada suatu hari ia jatuh sakit tak dapat bangun lagi.

"Muridku,"

Katanya kepada Swan Hong yang duduk bersama kedua Suhengnya, menunggu Guru yang sakit itu dengan gelisah.

"Kau tak perlu berduka. Sudah semestinya oran yang dilahirkan akan mengalami kematian. Lahir dan mati adalah sama halnya dengan siang dan malam, tak dapat dipisah-pisahkan. Ada kelahiran pasti ada kematian, seperti halnya ada siang pasti ada malam. Aku tidak penasaran, karena sudah cukup lama aku hidup. Penyakitku ini bukanlah penyakit karena kelemahan tubuh, akan tetapi penyakit tua yang sudah semestinya datang pada tubuh yang sudah terlalu tua. Besi yang sedemikian keras, kalau sudah terlalu tua akan berkarat dan lapuk. Batang pohon yang bagaimana keraspun kalau sudah terlalu tua akan menjadi rapuh. Apalagi tubuh manusia dari kulit dan daging."

"Akan tetapi, Suhu. Kalau Suhu sudah pergi meninggalkan Teecu, bagaimanakah akan jadinya dengan nasib Teecu? Kong kong pergi dan sampai kini belum kembali, orang-tua Teecu sudah meninggal dunia, dan satu-satunya orang yang selama ini menjadi sandaran Teecu lahir batin, hanya Suhu seorang. Kalau Suhu pergi..."

"Swan Hong, lucu benar kata-katamu ini. Tengoklah di sekelilingmu, berobahkah semua itu setelah Kongkongmu pergi atau setelah aku pergi? Di sini ada kedua Suhengmu dan di bawah gunung ini masih ada ratusan ribu manusia lain yang menjadi saudara senasib. Mengapa kau bersikap seolah-olah kau akan kutinggalkan seorang diri di atas dunia ini? Jangan berpikir bodoh, muridku. Kalau seandainya aku tidak pergi, kau tentu akhirnya akan turun gunung juga meninggalkan aku. apa kau kira selama hidupmu kau akan berada di sini mempelajari ilmu? Untuk apa ilmu dipelajari tanpa dipergunakan? Ilmu silat sama halnya dengan ilmu-ilmu lain di dunia ini, muridku, selalu mempunyai dua sifat, baik dan buruk. Semua ini tergantung daripada pemilik ilmu itu. Dengan kepandaianmu sekarang ini, akan mudah saja bagimu untuk menindas lain orang, mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri sebanyak-banyaknya, memperkaya diri atau bahkan dapat pula kau merebut kedudukan tinggi mengandalkan ketajaman golokmu. Akan tetapi, dengan golok dan kepandaianmu, dapat pula kau menolong sesama manusia yang tertindas, membela keadilan dan kebenaran, membasmi kejahatan, dan berlaku sebagai seorang pendekar budiman. Tak perlu kujelaskan, jalan mana yang harus kau tempuh, karena sudah cukup kiranya segala nasihat dan pelajaran yang kau terima selama ini."

Swan Hong menjadi terharu mendengar ucapan Suhunya ini. Pada saat-saat terkahir, Suhunya masih selalu teringat kepadanya, masih berusaha meninggalkan wejangan-wejangan untuknya.

"Suhu, Teecu bersumpah akan menjunjung tinggi dan mentaati semua petunjuk dan petuah Suhu yang amat berharga itu."

Demikianlah, Lam Hwat Hwesio hanya menderita sakit sehari semalam dan pada keesokan harinya Pendeta tua yang arif bijaksana ini menghembuskan napas terakhir tanpa banyak menderita.

Swan Hong dan kedua orang Suhengnya lalu menGurus jenazah Suhunya dan menguburnya di dekat makam Lam Kong Hwesio, di sebelah kiri Kuil itu.

Sungguhpun Seng Thian Hwesio dan Seng Tee Hwesio juga menerima pelajaran ilmu silat dari Lam Hwat Hwesio, namun ilmu silat mereka tidak setinggi kepandaian Swan Hong.

Hal ini oleh karena kedua orang Hwesio itu tidak mencurahkan seluruh perhatian untuk ilmu silat.

Seng Thian Hwesio lebih mementingkan pelajaran kebatinan, sedangkan Seng Tee Hwesio telah dapat mewarisi ilmu pengobatan dari Gurunya.

Betapapun juga, kalau dibandingkan dengan ahli-ahli silat lain, mereka masih menang jauh!

Beberapa hari kemudian, Lie Swan Hong menyatakan kepada Seng Thian Hwesio yang kini menggantikan Suhunya menjadi ketua dari Kuil di puncak gunung itu.

"Twa-Suheng (kakak seperGuruan tertua), setelah Suhu meninggal, aku tidak tahan lagi untuk menanti Kongkong di sini dengan menganggur saja. Aku ingin sekali menunaikan pesan Suhu untuk merantau dan melakukan dharma bakti ke arah prilaku kebajikan, untuk memenuhi tugasku sebagai seorang ahli silat. Twa-Suheng, perkenankanlah aku turun gunung dan melakukan perjalanan merantau, sekalian hendak mencari Kongkong"

"Baiklah, Sute, aku cukup maklum akan perasaan hatimu. Akan tetapi jangan kau pergi seorang diri. Ji Sute (adik seperGuruan ke dua) akan mengawanimu, karena menurut pendapatku, diapun perlu turun gunung untuk mencari tempat yang baik bagi kami berdua agar kami dapat melakukan tugas kami pula, yaitu memperkembangkan keagamaan dan penerangan kepada rakyat tentang kesempurnaan hidup. Belum waktunya bagi kami untuk mengasingkan diri bertapa di atas gunung yang suci ini."

Demikianlah, Seng Tee Hwesio dan Swan Hong turun gunung melakukan perantauan dengan jalan kaki.

Swan Hong mengenakan pakaian serba putih karena ia masih harus berkabug atas kematian Suhunya.

Dan kelak ia akan terus ber-\pakaian putih karena sudah menjadi biasa dan kesukaannya.

"Nah, begitulah, Lie-Sicu,"

Kata Seng Thian Hwesio yang menuturkan semua itu kepada Lie Kai.

"Kurang lebih setahun yang lalu, kedua orang Suteku itu turun gunung untuk merantau dan juga sekalian mencarimu."

"Ah, memang kemalangan dan kesialan selalu menimpa diriku,"

Jawab Lie Kai sambil menghela napas.

"Maafkan Pinceng yang muda kalau Pinceng menyatakan pendapat Pinceng yang bodoh, Sicu. Menurut pendapat Pinceng, tidak ada kemalangan atau kesialan dalam hidup, kemalangan dan kesialan hanya ada karena ciptaan hati manusia sendiri. Segala sesuatu yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya, selalu dianggap sebagai kesialan. Tidak akan ada kemalangan atau kesialan apabila orang sudah terbuka matanya akan hukum alam, dan karenanya ia dapat menerima segala macam kejadian di dunia ini dengan penuh pengertian dan kesadaran bahwa segala hal itu terjadi atas garis-garis yang nyata, tak dapat diperkecil maupun diperbesar. Dengan kewaspadaan ini kita akan maklum bahwa segala hal, baik yang menyenangkan hati maupun yang tidak sudah semestinya terjadi dan usaha kita satu-satunya hanyalah menerima dengan tenang dan waspada, tanpa mengurangi kebijaksanaan dalam segala macam tindakan kita."

Lie Kai tertegun mendengar ini dan ia memandang kepada Hwesio itu dengan kagum dan heran.

Bagaimana seorang muda yang usianya belum tiga puluh tahun, biarpun ia seorang Hwesio, dapat mengeluarkan ucapan-ucapan sedalam itu?

akan tetapi, Lie Kai lalu tersenyum mengejek dan berkata.

"Dari manakah Siauw-Suhu mendapat pengetahuan itu? tentu dari dalam kitab, bukan?"

Seng Thian Hwesio mengangguk.

"Dari kitab-kitab dan dari ajaran mendiang Suhu."

Lie Kai tertawa.

"Ha, aku jadi teringat akan seorang pelajar kecil yang diajar oleh Gurunya membaca kitab Tao-The-King dari Lao Tse! Pandai mengucapkan syair-syair tanpa mengetahui isinya. Bagaimana seorang yang belum pernah menderita pahit-getir hidup seperti Siauw-Suhu yang muda ini dapat bicara tentang kemalangan dan kesialan hidup? Ah, Siauw-Suhu, kalau kau sudah mengalami kegagalan hidup, sudah menderita bagaimana rasanya orang yang tertimpa malapetaka dan sengsara, tentu kau takkan berani sembarangan membicarakan filsafat itu."

Seng Thian Hwesio menjawab dengan suara dingin dan wajah bersungguh-sungguh.

"Maaf Sicu. Mungkin kau takkan menganggap semua pengalaman yang Pinceng rasakan semenjak kecil sebagai derita hidup, akan tetapi sesungguhnya semenjak kecil aku sudah banyak mengalami hal-hal yang cukup mematahkan semangat dan menenggelamkan batin seseorang. Aku dan adikku melihat betapa kedua orang-tua kami disembelih di depan mata kami oleh para perampok bangsa Mancu, betapa barang-barang kami dirampok dan rumah kami dibakar habis, betapa seluruh keluarga kami dibinasakan dan seorang Kakak perempuan kami diculik. Kemudian kami juga dipukul dan pasti kami berdua sudah tewas kalau tidak keburu datang mendiang Suhu yang menolong lalu membawa kami ke tempat ini!"

Kembali Lie Kai tertegun.

"Ah... Maaf Siauw-Suhu, tak kusangka sama sekali bahwa kau telah mengalami hal yang demikian hebatnya."

Seng Thian Hwesio tersenyum.

"Seperti juga kau, Sicu, tadinya aku dan adikku merasa sedih dan menganggap bahwa Thian tidak adil, bahwa nasib kami amat buruk, malang dan sial. Akan tetapi setelah menerima pelajaran dari mendiang Suhu, terbukalah mata kami, dan kami maklum bahwasanya hal itu memang sudah seharusnya terjadi, tak mungkin dapat dicegah lagi! Itu hanya ulangan dari semua peristiwa yang telah terjadi sebelumnya, dan akan terulang terus sampai manusia dapat membebaskan diri daripada ikatan karma. Karena itulah, maka kami Kakak-beradik mengambil keputusan untuk mencari jalan keluar, mencari kesempurnaan dan sedapat mungkin memberi penerangan kepada sesama hidup agar ia dapat membebaskan dirinya pula daripada ikatan mata rantai yang berputar tak pernah putus itu!"

Makin tunduklah Lie Kai setelah ia bercakap-cakap dengan Hwesio muda itu.

Kini tahulah ia mengapa banyak orang mau menjadi Hwesio dan rela melakukan ibadat dan hidup dalam keadaan yang amat sederhana.

Tidak tahunya di dalamnya terdapat sesuatu yang mendatangkan kenikmatan dan ketentraman rohani, yang dapat membebaskannya daripada segala macam nafsu dan perasaan.

Akan tetapi, ia tidak cocok dengan semua itu.

Ia telah terikat erat-erat dengan segala peristiwa dunia, dan ia cukup menikmati keadaannya, menikmati kesenangan dan kesusahan dunia yang menimpa dirinya!

Setelah bersembahyang di depan makam Suhu dan Supeknya, Lie Kai lalu turun gunung lagi, hendak berusaha mencari cucunya yang amat dirindukannya itu.

Akan tetapi, memang belum sampai waktunya ia bertemu dengan Swan Hong karena setelah merantau berbulan-bulan lamanya belum juga ia bertemu dengan cucunya yang amat dikasihinya itu.

Beberapa bulan kemudian, ketika ia tiba di Propinsi Hunan di kota Heng-Yang, ia mengalami peristiwa yang membuat ia bertemu dengan seorang yang tak pernah diimpi-impikannya.

Kota Heng-Yang adalah kota besar dan ramai.

Tidak seperti kota-kota lainnya yang banyak rusak karena penyerbuan tentara Mancu, kota ini boleh dibilang masih utuh dan tidak mengalami banyak kerusakan, bahkan sekarang nampak makin ramai daripada sebelum diduduki oleh pemerintah Mancu.

Hal ini terjadi karena ketika tentara Mancu menyerbu ke dalam propinsi Hunan dan memasuki kota Heng-Yang di situ terdapat seorang panglima perang yang bertugas menjaga daerah Hunan selatan bertindak sebagai pengkhianat.

Ia mengadakan hubungan dengan barisan Mancu yang hendak menyerbu dan menyatakan takluk!

Oleh karena itu, tentara Mancu dapat memasuki kota itu tanpa dapat banyak perlawanan kecuali dari para pejuang rakyat.

Lie Kai masuk ke dalam kota itu dan menemui bangunan-bangunan yang besar dan perdagangan yang ramai.

Ketika ia tiba di sebuah jalan perempatan yang ramai, dipinggir jalan ia melihat banyak orang berdesakan, agaknya sedang menonton sesuatu yang menarik hati.

Ternyata bahwa yang sedang ditonton itu adalah seorang tua berpakaian sebagai pengemis.

Ia seorang biasa saja, seorang tua yang berambut putih dan bermuka keriputan, pakaiannya rombeng dan bertambal-tambal di sana sini.

Akan tetapi yang menarik perhatian semua orang bukanlah orangnya, melainkan sehelai kain putih yang dibentangkan di atas tanah dan pada keempat ujungnya ditindih dengan batu agar supaya jangan digerakkan oleh angin.

Kakek pengemis itu sedang melukis!

Dan lukisannya inilah yang benar-benar amat indah menarik dan juga dilakukan dengan cara yang amat mengherankan sekali.

Pelukis ini tidak menggunakan pit sebagai alat melukis sebagaimana yang selalu dipergunakan oleh para pelukis, akan tetapi ia mempergunakan jari dan kukunya yang panjang untuk melukis!

Tangan kirinya memegang tempat bak dari tanah, sedangkan tangan kanan berikut lima buah jarinya sudah berlepotan bak semua.

Lie Kai hampir tak dapat mempercayai penglihatannya sendiri.

Ia melihat betapa Kakek itu memasukkan tangannya ke dalam tempat bak, mengibas-ngibaskannya agar supaya bak yang di jari jarinya jangan terlampau banyak.

Kemudian ia menggerakkan lima jarinya ganti berganti.

Coret sana, coret sini, tekan sana dan...

di atas kain putih itu telah nampak lukisan-lukisan yang menggambarkan jalan raya kota itu berikut semua orang-orang yang berjalan hilir mudik.

Benar-benar amat mengherankan!

Ketika di jalan itu kebetulan lewat seorang perajurit Mancu berkuda, Kakek itu sambil tersenyum-senyum mempergunakan Ibu jari dan telunjuknya mencoret sana menggurat sini dengan kukunya dan...

jadilah gambar perajurit Mancu di atas kudanya itu, demikian hidup seakan-akan perajurit yang telah pergi tak nampak lagi itu kini telah "berpindah"

Ke dalam lukisan itu! Para penonton berseru kagum dan gembira. Mereka seakan-akan melihat anak kecil yang pandai melukis. Terdengar usul-usul di sana sini.

"Mana toko obat itu? Belum terlukis!"

Dan si Kakek lalu menengok ke arah toko obat itu lalu beberapa coretan telah menciptakan gambar toko itu di dalam lukisannya.

"Mana pohon di kanan jalan itu?"

Kemudian si Kakek mencoret-coret dan jadilah pohon itu persis seperti aslinya.

"Ah, Lopek (orang tua), kau lupa melukis awannya!"

Kakek jembel itu mencelupkan Ibu jarinya pada bak, lalu menggosok-gosok Ibu jari itu pada rambutnya agar supaya bak itu jangan terlalu tebal.

Ketika ia melihat Ibu jarinya dan mendapat kenyataan bahwa bak itu masih terlalu tebal juga ia lalu meludahi Ibu jarinya itu sehingga dengan tambahan air ludah, bak itu kini menjadi encer.

Kemudian ia menempelkan Ibu jarinya pada kain lukisannya dan dengan gerakan yang luar biasa cepatnya Ibu jarinya menari-nari di atas dan terciptalah awan bergumpal-gumpal yang berwarna hitam keputih-putihan!

Orang-orang bersorak girang.

"Bagus, bagus"

Bagus sekali! Lihat awan itu seakan-akan bergerak maju!"

"Sayang mataharinya belum ada!"

Seru seorang dan semua orang melihat dengan penuh perhatian, karena tidak tahu bagaimana Kakek itu akan dapat melukiskan matahari!

Juga Lie Kai menjadi amat tertarik dan gembira.

Selama hidupnya, belum pernah ia melihat seorang pelukis yang dapat melukis dengan cara sehebat dan luar biasa itu.

Tiba-tiba Kakek itu mendongkakkan kepalanya memandang awan dan mengerutkan kening.

"Tidak ada matahari""

Katanya dan suaranya ternyata amat tinggi dan kecil seperti suara orang perempuan.

"Nanti akan turun hujan, dapat diduga dari panasnya hari ini, lebih baik aku membuat hujan! Kota Heng-Yang dalam hujan, alangkah bagusnya judul ini!"

Setelah berkata demikian, Kakek itu lalu mengangkat tempat bak, lalu menuangkan bak itu ke dalam mulutnya!

Tentu saja semua orang menjadi bengong melihat perbuatan ini, bahkan Lie Kai sendiri ikut membelalakkan mata.

"Gilakah orang ini?"

Pikirnya.

Kakek jembel itu tidak memperdulikan keheranan semua orang, lalu bangkit berdiri.

Setelah itu ia lalu menyemburkan bak yang berada di dalam mulutnya itu ke arah kain yang masih terbentang di atas tanah.

Hebat sekali!

Bak yang kini bercampur air ludah dan menjadi cair itu kini menyemprot keluar bagaikan uap karena tipisnya.

Benar-benar bagaikan air hujan uap ini turun ke atas kain lukisan itu.

Takjublah semua orang ketika memandang lukisan tadi.

Uap itu setelah tiba di atas kertas, benar-benar merupakan titik-titik air hujan yang membuat lukisan itu menjadi suram seakan-akan seluruh kota Heng-Yang diselimuti air hujan tipis-tipis!

"Bagus sekali!"

Seru Lie Kai terkejut.

Orang gagah ini tidak hanya terkejut melihat kelihaian Kakek jembel melukis, akan tetapi ia lebih terkejut sekali karena maklum bahwa yang diperlihatkan tadi adalah demonstrasi tenanga lweekang yang luar biasa!

Tanpa memiliki tenaga lweekang yang tinggi, disertai tenaga khikang yang sudah sempurna, tak mungkin dapat mengatur semprotan itu sehingga air dapat menyemprot keluar demikian tipisnya merupakan uap!

Tentu saja selain Lie Kai, orang-orang yang menonton itu tidak mengerti akan hal ini dan agaknya Kakek jembel itu merasa gemas menyaksikan kebodohan orang-orang ini.

ia masih ada air bak dimulutnya dan tiba-tiba ia memutarkan tubuhnya sambil menyemprotkan bak itu dari mulutnya.

Berhamburanlah hujan air bak pada pakaian semua penonton yang segera lari cerai-berai, takut terkena air hitam itu!

Hanya Lie Kai seorang yang masih berdiri disitu dan ia juga meniup ke depan untuk menghalau uap yang menyemprot ke arahnya.

Kakek jembel itu tertawa terbahak-bahak dan ternyata bahwa mulutnya sama sekali tidak menjadi hitam karena air bak tadi.

Untuk beberapa lamanya ia memandang kepada Lie Kai dengan mata yang amat tajam sehingga mengejutkan hati Lie Kai, kemudian sambil mengambil kain lukisannya tadi, Kakek jembel itu lalu pergi dari situ dengan langkah kaki lebar.

Lie Kai merasa penasaran dan ia hendak mengetahui lebih jelas tentang pengemis aneh ini.

melihat tindakan kaki yang cepat itu, iapun lalu berjalan cepat melakukan pengejaran.

Orang-orang yang tadi menonton, hanya saling tunjuk sambil tertawa melihat betapa pakaian mereka telah terkena titik-titik hitam, akan tetapi alangkah terkejut mereka ketika memeriksa, ternyata bahwa pakaian mereka yang terkena titik hitam air bak itu telah menjadi bolong!

Barulah mereka maklum bahwa Kakek pelukis tadi adalah seorang yang amat tinggi ilmu kepandaiannya, bahkan di antaranya ada yang berbisik.

"Celaka! Ada siluman muncul di siang hari!"

Dan bergegas ia lari pulang!

Lie Kai yang mengejar Kakek jembel pelukis itu melihat betapa Kakek itu lari keluar dari kota dan setelah tiba di luar kota Kakek yang aneh itu mempercepat larinya sambil menoleh dua kali ke belakang.

Agaknya ia tahu bahwa dirinya dikejar orang yang tadi dapat meniup kembali serangan uap air bak.

Lie kai melihat orang itu mempergunakan ilmu berlari cepat, merasa makin penasaran dan iapun lalu mengerahkan kepandaiannya berlari cepat.

Ia hanya ingin berkenalan dengan orang aneh itu yang diduganya tentulah seorang Hiapkek (pendekar) yang melakukan perantauan.

Setelah tiba di pinggir sebuah hutan di luar kota Heng-Yang terlihat olehnya seorang Hwesio gemuk melompat keluar dari hutan dan menegur Kakek itu sambil tertawa.

"Lui-Enghiong, cepat benar kau kembali. Apakah gambar itu sudah selesai?"

"Sudah, sudah, Ban-Suhu. Di kota Heng-Yang tidak ada harimau atau naga, yang ada hanya anjing-anjing pemakan tulang belaka. Ada seekor serigala akan tetapi ia agaknya galak dan semenjak tadi mengejar-ngejar aku!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan begitu tangan kirinya bergerak, sebatang piauw bersayap menyambar ke arah leher Lie Kai yang sedang menghampiri mereka!

Piauw adalah semacam senjata rahasia yang dipergunakan untuk menyerang lawan dengan cara disambitkan.

Biasanya piauw ini hanya runcing pada satu ujung dan di belakangnya digantungi ronce-ronce untuk pemantas.

Akan tetapi piauw yang dipergunakan oleh Kakek pelukis itu di kanan kirinya dipasangi pinggiran seperti bentuk sayap untuk menjaga keseimbangannya, maka luncurannya amat cepat dan lurus.

Lie Kai terkejut melihat serangan tiba-tiba ini dan dengan cepat ia miringkan kepalanya sehingga piauw itu meluncur lewat di dekat lehernya.

Akan tetapi kembali meluncur dua buah piauw, kali ini mengarah pinggang dan dadanya!

Lie Kai cepat miringkan tubuh, piauw yang menyambar dada dapat ia sampok dengan tangan, sedangkan yang menyambar pinggang ia tendang dengan ujung sepatunya dari samping.

Kedua piauw itu runtuh ke atas tanah.

"Bagus!"

Seru Lie Kai marah sekali.

"Beginikah cara seorang gagah menyambut tamunya! Aku datang untuk berkenalan, akan tetapi tidak dinyana bukan arak atau air teh yang dikeluarkan, bahkan tiga batang piauw? Eh sahabat di depan, aku Thiat-Thouw-Gu Lie Kai bukanlah seorang pengecut, mengapa kau menyambutku dengan cara yang pengecut?"

Kalau Lie Kai tidak memperkenalkan nama dan julukan, mungkin kedua orang itu akan suka berkenalan, akan tetapi mendengar namanya, kedua orang itu saling pandang dan tiba-tiba mereka mencabut senjata mereka!

Hwesio gemuk itu mencabut sebatang joan-pian (cambuk lemas) terbuat dari kuningan, sedangkan Kakek pelukis itu mengeluarkan sepasang siang-to (golok sepasang) yang amat tipis dan lebar dan yang tadi disembunyikan di balik bajunya yang lebar dan bertambal tambal itu!

"Kau mata-mata pemberontak!

Kau tidak mengaku menjadi pengecut akan tetapi kau mengikuti orang, cobalah rasakan kerasnya senjata kami!"

Bentak Hwesio itu dengan suaranya yang parau dan besar.

Lie Kai adalah seorang yang berwatak keras dan pemarah.

Mendengar makian ini, ia marah sekali dan secepat kilat ia mencabut goloknya.

Kedua orang itu lalu menyerbu dan diterimanya dengan sabetan golok.

Terjadilah pertempuran yang hebat sekali!

Akan tetapi, segera Lie Kai menjadi terkejut sekali karena ternyata permainan silat kedua orang ini amat tinggi!

Untuk menghadapi seorang saja di antara mereka, belum tentu ia akan bisa mendapat kemenangan, apalagi kalau dikeroyok dua!

Gerakan sepasang golok di tangan Kakek pelukis itu amat cepat bagaikan sepasang naga menyambar-nyambar, sedangkan joan-pian di tangan Hwesio gemuk itu tidak kurang berbahaya.

Tiap kali goloknya beradu dengan joan-pian itu, terdengar suara nyaring dibarengi berpijarnya bunga api, sedangkan ia merasa betapa telapak tanannya menjadi pedas dan panas!

Akan tetapi, Lie Kai adalah seorang jago tua yang tak kenal takut.

Sungguhpun ia maklum benar-benar bahwa amat sukar baginya untuk mengalahkan dua orang lawannya yang tangguh ini, namun ia tidak mau menyerah kalah mentah-mentah begitu saja.

Ia mempertahankan diri sekuat tenaga, memutar goloknya bagaikan angin taufan cepatnya, sehingga goloknya itu berputaran melingkari tubuhnya, merupakan benteng golok yang amat kuatnya.

Hwesio gemuk dan Kakek pelukis itu merasa penasaran sekali dan diam-diam mereka juga memuji kegagahan orang ini.

mereka mendesak makin cepat dan kuat sehingga Lie Kai terpaksa bersilat mempertahankan diri sambil mundur, sedikitpun tidak mendapat kesempatan membalas serangan-serangan mereka.

Setelah tiga puluh jurus terlewat tanpa dapat merobohkan si Kerbau Kepala Besi itu, Kakek pelukis menjadi marah sekali.

Ia berseru keras dan menyimpan golok di tangan kirinya.

Kini ia hanya mempergunakan golok tunggal di tangan kanan dan tangan kirinya merogoh kantong piauwnya.

Ketika tangan kirinya bergerak, maka saling susul datangnya piauw menyambar ke arah Lie kai, menuju ke jalan-jalan darah yang berbahaya!

Baru menghadapi senjata mereka saja, Lie Kai sudah mandi keringat dan terdesak hebat, apalagi kini ditambah dengan serangan piauw, ia menjadi sibuk sekali.

Berkali-kali hampir saja ia terkena sebatang piauw dan terpaksa ia melompat ke sana ke mari sambil menangkis sambaran senjata musuh.

Goloknya yang hanya sebatang itu tak mungkin dapat menangkis semua serangan senjata dan piauw.

Akhirnya ia terpaksa juga menyerah ketika sebatang piauw yang ditangkis dengan goloknya telah melejit ke samping dan terus meluncur maju mengenai pangkal lengan kanannya!

Lie Kai menggertak giginya menahan rasa sakit dan mengerahkan tenaga sehingga golok masih tergenggam di dalam tangannya.

Akan tetapi ketika ia hendak menggerakkan goloknya, tangannya terasa kaku dan linu, ternyata bahwa piauw itu masih mengenai urat besar lengannya sehingga mengganggu jalan darahnya!

Ia terhuyung mundur untuk mengelak dari sambaran golok Kakek pelukis itu, akan tetapi sambaran joan-pian di tangan Hwesio masih dapat menghantam pahanya!

Lie Kai mengerahkan lweekang untuk menyambut pukulan ini sehingga daging pahanya mengeras dan tulang tak sampai terluka atau patah, akan tetapi kulit pahanya berikut celana yang menutup kulit itu menjadi hancur!

Sedikitpun tidak terdengar keluhan dari mulut jago tua ini ketika ia roboh terguling.

Joan-pian yang panjang itu kini diayun dan ujungnya menyambar ke arah kepalanya!

Lie Kai tidak dapat mengelak lagi, akan tetapi sepasang matanya melotot dengan berani menanti datangnya ujung joan-pian yang hendak meremukkan kepalanya.

Pada saat itu, tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu terdengar suara keras "Trang...!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata dan terdengar seruan kaget dari Hwesio itu, karena ia merasa betapa tangannya menjadi sakit dan hampir saja ia melepaskan joan-piannya.

Ketika ia melihat ke arah senjatanya, alangkah kagetnya melihat ujung joan-piannya telah putus!

Juga Lie Kai melihat bayangan merah berkelebat itu tanpa dapat menyaksikan orangnya karena gerakan itu luar biasa cepatnya bagaikan kilat menyambar.

Setelah bayangan merah itu dapat menangkis joan-pian dan mematahkannya, barulah terlihat oleh mereka bertiga bahwa bayangan itu adalah seorang dara cantik berpakaian serba merah dengan pedang berkilauan saking tajamnya di tangan kanan!

Hwesio dan pelukis itu marah sekali melihat Nona cantik ini.

"Perempuan bangsat! Berani kau mencampuri urusan kami?"

Bentak Kakek pelukis itu. Gadis itu tersenyum dan alangkah manisnya.

"Alangkah gajil dan anehnya melihat dua orang Kakek, bahkan yang seorang adalah Hwesio yang seharusnya bermurah hati, mengeroyok seorang tua pula. Apakah yang diperebutkan sehingga kalian hendak membunuh Kakek ini?"

"Kau tak perlu tahu dan jangan mencampuri urusan orang-orang tua!"

Bentak Hwesio itu sambil menahan marahnya karena kehebatan gerakan gadis tadi benar-benar mengecutkan dan membuatnya merasa jerih juga.

"Nona, aku sendiri juga tidak mengerti mengapa dua orang jahat ini menyerangku!"

Kata Lie kai sambil menahan rasa sakit pada pahanya dan bangun berdiri.

"Aku Thiat-Thouw-Gu Lie Kai selamanya tak pernah bermusuhan dengan mereka bahkan bertemupun baru kali ini. Selama membantu perjuangan, aku kenal banyak orang-orang berkepandaian tinggi tetapi tidak ada yang securang mereka ini! Mereka tidak berani bertempur secara laki-laki, main mengeroyok bahkan mempergunakan senjata rahasia. Sungguh menjemukan dan memalukan!"

Mendengar ucapan ini, hati gadis itu segera tertarik dan suka kepada Lie Kai. Ia belum pernah mendengar nama Lie Kai, akan tetapi mendengar bahwa orang-tua ini adalah bekas pejuang, ia merasa simpati.

"Hm, sesungguhnya apakah kalian kehendaki maka kalian mengeroyok orang-tua gagah ini?"

"Jangan banyak cakap!"

Bentak Hwesio itu dan ia maju menyerang dengan joan-piannya yang patah ujungnya.

Juga pelukis itu lalu maju mengeroyok sambil mengeluarkan goloknya yang sebuah lagi.

Gadis baju merah itu tertawa nyaring dan ketika ia menggerakkan pedangnya, nampak sinar putih yang menyilaukan mata.

Alangkah terkejutnya dua orang-tua itu.

belum pernah mereka menyaksikan ilmu pedang sehebat itu.

Gerakan pedang itu selain cepat sekali, juga setiap serangan maupun tangkisan disertai getaran halus keras yang membuat tangan mereka ikut tergetar setiap kali senjata mereka bertemu dengan pedang Nona baju merah itu!

Sebentar saja gadis itu telah dapat menGurung kedua orang lawannya dengan sinar pedangnya dan agaknya kalau ia mau, akan mudah baginya merobohkan lawan-lawan ini.

Akan tetapi ia tidak mau melukai orang, karena ia tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan dua orang-tua ini.

Sebaliknya Hwesio dan pelukis tua yang maklum bahwa mereka takkan dapat mengalahkan si Nona baju merah, tiba-tiba beseru keras dan melompat ke belakang terus melarikan diri!

Gadis itu hanya tersenyum dan tidak mengejar, bahkan menghampiri Lie Kai yang berdiri bengong dan kagum.

Ia telah mengobati luka di pangkal lengan dan pahanya dan telah mengerahkan tenaga dalamnya untuk membuat jalan darahnya biasa dan lancar kembali.

"Nona, kau hebat sekali! Ilmu pedangmu membuat aku orang-tua merasa takluk!"

Kata Lie Kai sambil memandang wajah yang cantik dan gagah itu.

"Siapakah kau, Nona, yang semuda ini telah memiliki kepandaian tinggi?"

"Lo-Enghiong (orang tua gagah), jangan kau terlalu memuji! Aku bernama Liok Siang Hwa dan seorang biasa saja, tidak seperti kau yang sudah kudengar namamu sebagai seorang pejuang yang gagah perkasa. Aku selamanya mengagumi para pejuang."

Lie Kai menekan perasaan kecewanya mendengar bahwa gadis yang gagah perkasa dan yang telah menolongnya ini mempunyai nama keturunan Liok. Ia teringat kepada Liok Houw Sin yang dibencinya.

"Apakah kau datang dari propinsi Honan, Nona?"

Tiba-tiba ia bertanya, menduga kalau-kalau Nona ini ada terikat keluarga dengan Liok Houw Sin yang tinggal di Liok-Yang Propinsi Honan.

Akan tetapi gadis baju merah itu menggeleng kepala dan tersenyum.

"Bukan, aku tinggal di Honan, melainkan di kota Han-Cung Propinsi Shenshi. Mengapa kau bertanya demikian, Lo-Enghiong?"

Merahlah wajah Lie Kai mendengar pertanyaan ini. Tentu saja ia tak dapat menceritakan kepada orang lain tentang Liok Houw Sin dan Sui Lan.

"Ah, tidak apa-apa, Nona. Aku hanya menduga-duga saja. Sebetulnya, kalau aku boleh bertanya, kau hendak pergi kemanakah?"

Ia mengalihkan percakapan ke arah lain.

"Aku seorang perantau, Lo-Enghiong dan aku sedang menuju ke dusun Sin-Ke-Chung di belakang hutan ini. Aku mendengar bahwa di dusun itu kini sedang diadakan pertemuan antara orang-orang gagah, atas undangan seorang pendekar tua bernama Yap Ma Ek."

"Kau maksudkan orang she Yap yang berjuluk Kim-Ci-Eng (Garuda Sayap Emas)?"

Tiba-tiba Lie Kai bertanya dengan wajah berseri. Gadis itu mengangguk.

"Menurut keterangan orang memang Yap Ma Ek berjuluk Kim-Ci-Eng. Kenalkah kau kepadanya?"

"Kenal? Ha,ha,ha! tentu saja aku kenal dia! Kami bertempur melawan penjajah bahu-membahu, dia kawan baikku! Eh, Nona ada keperluan apakah kau hendak mengunjungi dia? apakah kau juga mendapat undangan?"

Gadis itu menarik napas panjang.

"Bagaimana seorang tak terkenal seperti aku mendapat udangan dari orang-orang gagah? Aku hanya tertarik dan ingin sekali bertemu dengan orang-orang kang-ouw, tidak ada keperluan khusus."

"Bagus, jangan kau khawatir, Nona. Setelah mengetahui bahwa Kim-Ci-Eng Yap Ma Ek tinggal di dekat sini, tak dapat tidak aku harus mengunjunginya! Kalau kau mau pergi bersamaku, untuk masuk ke rumahnya tak perlu mendapat Undangan lagi. Akulah pengganti kartu undangan dan aku yang akan memperkenalkanmu."

Nona baju merah itu menjadi girang sekali.

Sebagaimana telah dituturkan, Nona yang sesungguhnya adalah Liok Sing Hwa ini, setelah meninggalkan orang-tuanya, yakni Liok Houw Sin Dan Bwee Eng, lalu melakukan perantauan dalam usahanya mencari Kongkongnya, yakni Song Liang.

Tentu saja niatnya hendak mengunjungi Yap Ma Ek itu selain ingin bertemu dengan orang-orang gagah, juga sekalian hendak melihat kalau-kalau Kongkongnya yang juga seorang pejuang terdapat pula diantara para tamu yang datang berkumpul.

Semenjak keluar pintu rumah melakukan perantauan tiga bulan yang lalu, Siang Hwa telah beberapa kali menghadapi pertempuran, yakni dengan para perampok yang hendak mengganggunya.

Akan tetapi dengan mudah saja ia menghajar dan mengobrak-abrik semua perampok yang berani mencoba untuk mengganggunya.

Baru kali ini menghadapi dua orang lawan yang agak tangguh, akan tetapi juga harus mengakui keunggulan dan kelihaian ilmu pedang Ang-Liong Kiam-Sut yang tadi dimainkannya.

Demikialah, kedua orang itu, Siang Hwa dan Le Kai, lalu melakukan perjalanan dengan cepat menuju ke dusun Sin-Ke-Chung untuk mengunjungi pendekar tua Yap Ma Ek.

Keduanya sama sekali tidak pernah menduga bahwa diantara mereka terdapat hal-hal yang amat penting dan yang akan mengejutkan mereka apabila mereka mengetahuinya.

Lie Kai sama sekali tak pernah menyangka bahwa gadis baju merah yang telah menolongnya ini adalah puteri dari Houw Sin dan Bwee Eng yang pernah diserangnya, atau cucu dari Song Liang yang dulu menjadi musuh besarnya!

Adapun Siang Hwa sebaliknya sama sekali tak pernah mengira bahwa Lie Kai tidak saja tahu tentang Kongkongnya yang kini ia cari, bahkan Song Liang telah meninggal dunia di dalam pelukan Lie Kai!

Siang Hwa merasa suka dan menghormat kepada Lie Kai karena mengingat bahwa orang-tua ini adalah seorang pejuang tanah air yang gagah perkasa seperti juga Kongkongnya sendiri.

Tadinya ia ingin menanyakan kepada Lie Kai, kalau-kalau mengenal Kongkongnya, akan tetapi ia berpikir lagi bahwa lebih baik melihat dulu kalau-kalau Kongkongnya berada di antara orang-orang gagah yang datang mengunjungi pendekar tua Yap Ma Ek.

Sungguhpun Lie Kai terluka pahanya, akan tetapi ia masih dapat berlari cepat sekali sehingga diam-diam Siang Hwe merasa kagum akan kekerasan hati Kakek ini.

Gadis ini baru saja sebulan meninggalkan rumah, telah menjual kudanya, karena ia merasa kurang leluasa melakukan perantauan dengan berkuda.

Ia tak perlu tergesa-gesa dan kalau sewaktu-waktu ia perlu bergerak cepat, ilmu lari cepatnya takkan kalah oleh lari kuda.

Yap Ma Ek yang bergelar Garuda Sayap Emas adalah seorang pendekar tua yang dulu juga ikut berjuang bersama Lie Kai dibawah pimpinan Song Liang.

Kepandaian Yap Ma Ek amat lihai, terutama sekali dalam hal ilmu ginkang, ia telah mencapai tingkat tinggi.

Gerakannya dapat gesit dan cepat laksana seekor burung garuda, maka ia mendapat julukan Garuda Sayap Emas.

Juga sebagai seorang pendekar, ia terkenal di kalangan kang-ouw karena perbuatannya yang gagah dan selalu membela kebenaran.

Semenjak masa mudanya, tiada hentinya ia mengulurkan tangan dan mempergunakan pedangnya untuk membela fihak yang tertindas dan membasmi orang-orang jahat.

Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan ini tidak hanya mendatangkan nama harum dan perasaan terima kasih dari banyak orang yang tertolong, akan tetapi juga dendam dan kebencian dari para lawan yang dibasmi dan dikalahkannya.

Biarpun perjuangan melawan penjajah Mancu telah mengalami kegagalan dan orang-orang gagah yang berjuang di mana-mana telah dihancurkan oleh balatentara Mancu yang banyak jumlahnya dan juga yang banyak dibantu oleh orang-orang pandai yang berjiwa khianat, namun seperti juga orang-orang lain, Yap Ma Ek tak pernah putus harapan.

Api perjuangan yang membakar hatinya tak pernah padam.

Oleh karena itu, ia lalu mengirim undangan kepada para orang gagah di kalangan kang-ouw, sebagian besar bekas kawan-kawan seperjuangan, untuk mengadakan pertemuan dan bertukar pikiran di rumahnya yang besar di dusun Sin-Ke-Chung.

Ia menganggap bahwa pertemuan orang-orang gagah di dusun itu pasti aman oleh karena Yap Ma Ek amat terkenal dan berpengaruh di dusun itu, bahkan para pejabat yang berkuasa di dusun itupun telah berada di bawah pengaruhnya.

Ketika Lie Kai dan Siang Hwa tiba di depan rumah Yap Ma Ek, ternyata di situ telah berkumpul banyak sekali orang gagah dari berbagai daerah.

Sebagian besar adalah bekas-bekas pejuang dan ada pula muka-muka baru, yakni orang-orang yang tersebar di kalangan kang-ouw dan yang masih menganggap bahwa sepak-terjang mereka sesuai dan sefaham dengan para pejuang itu.

orang-orang yang pandai ilmu silat akan tetapi yang merasa telah melakukan perbuatan-perbuatan sesat takkan berani mengunjungi pertemuan orang-orang gagah ini, karena banyak kemungkinan ia akan menerima hukuman.

Ketika mendengar bahwa seorang bernama Lie Kai telah berada di depan pintu rumahnya.

Ma Ek sendiri berlari-lari menyambut dan ketika ia melihat bahwa benar-benar yang datang adalah kawan lamanya, ia segera menubruk dan memeluknya.

"Ah, setan tua! Bagaimana kau bisa tahu akan pertemuan ini?"

Lie Kai tersenyum girang dan menepuk-nepuk bahu kawannya itu.

"Bagaimana tidak tahu? Beritanya telah tersiar dimana-mana. O, ya! Perkenalkan dengan Nona ini, dia bernama Liok Siang Hwa."

Siang Hwa menjura dengan hormat dan Yap Ma Ek memandang dengan kagum.

"Ah, tentu muridmu, bukan? Kau beruntung sekali, setan tua. Muridmu ini cantik dan gagah. Tentu ilmu silatnya lihai pula seperti Gurunya!"

Lie Kai hendak membantah, akan tetapi Siang Hwa mengedipkan mata kepadanya dan tuan rumah telah menggandeng tangannya diajak masuk.

"Mari, mari kita masuk ke dalam bertemu dengan kawan-kawan lama! Dan kau juga, Nona Liok, silahkan masuk!"

Sambil bercakap-cakap, Yap Ma Ek dan Lie Kai memasuki gedung besar dan kuno itu, sedangkan Siang Hwa berjalan di belakang mereka sambil memasang mata penuh perhatian.

Ia telah diberitahu oleh Ibunya bagaimana bentuk dan wajah Kongkongnya dan bahwa Kongkongnya memakai sehelai ikat pinggang dari rantai perak yang juga merupakan senjatanya yang istimewa.

Ruang tamu di sebelah dalam telah penuh dengan kursi-kursi yang diduduki oleh banyak orang yang bermacam-macam pakaiannya.

Ada yang seperti Hwesio, seperti Tosu, ada pula yang berpakaian seperti Guru-Guru silat, Piauwsu (pengawal barang), bahkan ada yang berpakaian compang-camping seperti pengemis.

Akan tetapi rata-rata mereka itu bersikap gagah, Siang Hwa tidak menjadi kecil hati ketika ternyata bahwa tamu-tamu yang jumlahnya hampir tiga puluh orang itu semua laki-laki belaka, tidak seorangpun wanitanya.

Ia datang bukan untuk bertamu, akan tetapi untuk mencari Kakeknya, atau setidaknya untuk mencari keterangan dari orang-orang kang-ouw itu perihal Kakeknya.

Lei Kai merasa gembira sekali karena ternyata di antara para tamu itu banyak yang telah dikenalnya.

Segera ia duduk bercakap-cakap dengan amat gembira, menceritakan pengalaman-pengalaman masing-masing.

Adapun Sing Hwa lalu mengambil tempat duduk di pojok, di dekat tiga orang laki-laki yang berpakaian sebagai Piauwsu.

"Nona."

Seorang di antara mereka bertanya sambil memberi hormat.

"kau datang bersama Thiat-Thouw-Gu yang gagah perkasa. Kalau boleh kami bertanya, ada hubungan apakah dengan Lie-Lohiap?"

"Aku adalah muridnya,"

Jawab Siang Hwa dengan senyum sederhana.

"Ah, alangkah senangnya mendapat kesempatan belajar silat dari pendekar tua itu! Kami bertiga Kakak-beradik amat gembira dapat berkenalan dengan Nona. Perkenalkanlah, kami adalah tiga saudara Oei dari Hong-Kwan yang membuka Piauwkiok (perusahaan ekspedisi) dan disebut orang Kang-Jiu Sam-Eng (Tiga Pendekar Bertangan Baja)."

Kata orang itu pula mengangkat dada.

Sesungguhnya nama merekapun bukan tak terkenal, maka mereka mengira bahwa Nona ini tentu pernah mendengar nama mereka yang tersohor.

Akan tetapi sesungguhnya Siang Hwa belum pernah mendengar nama ini, karena gadis inipun baru saja keluar dari pintu rumah, bahkan belum lama turun dari gunung.

Akan tetapi, ia telah mendapat banyak pelajaran tata-susila dari ketiga orang Gurunya, maka sambil menjura ia berkata.

"Aku mendapat kehormatan besar sekali dapat bertemu dengan Kang-Jiu Sam-Eng, dan namaku yang tidak besar dan rendah adalah Liok Siang Hwa."

"Siapakah nama julukan Nona? Barangkali kami pernah mendengarnya,"

Kata di antara tiga saudara ini, yang termuda. Siang Hwa tersenyum.

"Aku tidak mempunyai julukan apa-apa."

Pada saat itu, nampak kesibukan di bagian depan dan Yap Ma Ek menyambut datangnya dua orang tamu yang nampaknya mendapat perhatian besar dari para tamu-tamu dan penghormatan daripada tuan rumah.

Siang Hwa memandang dengan penuh perhatian dan ia melihat bahwa dua orang tamu itu adalah seorang wanita cantik berusia kurang lebih tiga puluh tahun, mengenakan pakaian hijau yang bersulam benang emas dan mewah sekali.

Pada pinggang wanita ini tergantung pedang yang sarungnya terukir indah.

Wanita ini masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum-senyum seakan-akan mengejek dan sama sekali tidak memperdulikan para tamu yang telah hadir di situ terlebih dulu.

Bahkan ada beberapa orang tamu yang segera berdiri memberi hormat kepadanya tidak dibalasnya sama sekali!

Orang kedua adalah seorang laki-laki tampan yang usianya lebih muda tiga tahun dari wanita itu, juga pakaiannya mewah sekali, dari Sutera biru yang mahal.

Pada pinggang laki-laki inipun tergantung sebatang pedang dan lagak laki-laki ini bahkan lebih angkuh lagi.

Ia berjalan mengangkat dada dan hanya kepada Yap Ma Ek saja ia membalas penghormatan yang diberikan kepadanya.

Dua orang ini memang merupakan sepasang pendekar yang amat terkenal di daerah selatan dan tak seorangpun di dalam ruang tamu yang luas itu, kecuali Siang Hwa, yang tidak mengenal mereka.

Bahkan Lie Kai juga lalu berdiri, mendekati Siang Hwa dan duduk di dekat gadis itu sambil berkata memperkenalkan dua orang tamu yang sementara itu telah mendapat tempat kehormatan yakni di kursi-kursi besar dekat tuan rumah.

(Lanjut ke

Jilid 04) Naga Merah Bangau Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Mereka adalah tokoh kang-ouw yang amat terkenal, yakni sepasang Kakak-beradik yang biasa disebut Sin-Kiam Siang-Hiap (Sepasang Pendekar Pedang Sakti). Wanita itu adalah Kakaknya yang bernama Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe (Dewi Koan Im Tangan Seribu), sedangkan yang lelaki adalah adiknya bernama Lui-Kong-Ciang Lee Kun (si Tangan Geledek). Mereka adalah ahli waris dari ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut, kepandaiannya tinggi dan orangnya sombong!"

Siang Hwa mengeluarkan ujung lidahnya dari mulut mendengar nama-nama julukan yang menyeramkan itu.

Timbul keinginan hatinya untuk menyaksikan sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian kedua orang itu.

Sementara itu, ketika melihat bawah di situ hanya ada seorang tamu wanita lain yang duduk di sudut ruangan.

Lee Kim Bwe lalu berbisik kepada Yap Ma Ek yang segera melangkah maju ke arah tempat duduk Siang Hwa dengan mulut tersenyum girang.

Setelah tiba di depan Siang Hwa dan Lie Kai, tuan rumah ini sambil tersenyum berkata.

"Ah, setan tua, muridmu menarik perhatian Jian-Jiu Koan-Im dan mendapat kehormatan agar supaya duduk di sana menemaninya,"

Kemudian ia berkata kepada Siang Hwa.

"Nona Liok, kau mendapat kesempatan baik sekali. Jian-Jiu Koan-Im biasanya tidak memperdulikan orang lain, akan tetapi ingin berkenalan dengan kau dan minta supaya Nona suka duduk di sana untuk bercakap-cakap!"

"Yap Lo-Enghiong,"

Jawab Siang Hwa sambil menahan kegemasan hatinya.

"Aku tidak kenal dengan dia dan kalau memang Jian-Jiu Koan-Im menghendaki untuk bercakap-cakap dengan aku, mengapa ia tidak datang ke sini saja?"

Yap Ma Ek tertegun mendengar jawaban yang tidak disangka-sangkanya ini dan memandang dengan bengong, sedangkan Lie Kai juga terkejut mendengar jawaban Nona itu.

Ia maklum bahwa Nona ini memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, akan tetapi kalau sampai ia mendatangkan marah kepada Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe, hal ini akan berbahaya sekali.

"Nona Liok, apa salahnya kalau kau datang kesana untuk bercakap-cakap dengan Jian-Jiu Koan-Im? Bukankah kau ingin meluaskan pengalaman dan mengenal tokoh tokoh kang-ouw yang gagah? Nah, sekarang kesempatan tiba dengan amat baiknya."

"Dia yang ingin bercakap-cakap dengan aku, dan siapa yang membutuhkan, dialah yang harus datang!"

Jawab Siang Hwa.

Percakapan ini membuat Yap Ma Ek kembali tercengang.

Bagaimana seorang murid dapat bicara seperti itu terhadap Suhunya?

Akan tetapi, oleh karena sudah jelas baginya bahwa Nona Liok ini tidak mau pindah ke tempat duduk tamu agungnya, ia terpaka kembali dan menyampaikan pesan Siang Hwa kepada Jian-Jiu Koan-Im.

Wanita baju hijau itu mengerutkan alisnya yang hitam dan panjang.

Ini tak diduganya sama sekali.

"Siapakah dia? Apakah dia orang penting di kalangan kita?"

"Bukan, Lihiap,"

Jawab Yap Ma Ek.

"Dia seorang gadis biasa saja, murid sahabatku Thiat-Thouw-Gu Lie Kai."

"Hm, mengapa ia berani menyombongkan diri seperti itu? Agaknya Kerbau Kepala Besi itu yang mengajar muridnya bersikap tak patut."

Karena mendongkol sekali, Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe ingin bangun dari tempat duduknya dan menegur Lie Kai, akan tetapi, adiknya yang bernama Lee Kun segera mencegahnya dan berkata dengan tertawa kepada Yap Ma Ek.

"Yap Lopek, karena Enciku memang tidak ada kawan, biarlah kau orang-tua tolong menyediakan dua tempat duduk di dekat Nona cantik itu. lebih baik duduk di sana bercakap-cakap dengan seorang Nona yang demikian tabah dan gagah, daripada duduk di sini menjadi tontonan orang. Aku suka melihat orang muda yang berani dan tabah, daripada melihat orang-orang yang suka menjilat-jilat! Bukan begitu, Cici?"

Biarpun hatinya masih mendongkol, akan tetapi Kim Bwe amat sayang kepada adiknya ini dan tidak mau membuat adiknya kecewa, maka ia menganggukkan kepala kepada Yap Ma Ek yang bergegas menyuruh pelayan mengambil dua kursi besar dan diletakkan di dekat tempat duduk Siang Hwa.

Dengan tindakan kaki gagah Lee Kun dan Lee Kim Bwe menghampiri Siang Hwa yang memandang ke arah mereka dengan tak acuh.

"Thiat-Thouw-Gu!"

Lee Kim Bwe menegur sambil tersenyum mengejek.

"Telah lama kami mendengar namamu yang besar, dan kami ingin sekali berkenalan dengan kau dan muridmu yang gagah dan cantik ini!"

Lie Kai buru-buru berdiri dan membalas penghormatan wanita baju hijau itu.

"Ah, jangan terlalu memuji, Lee Lihiap. Telah lama aku mengagumi nama kalian berdua yang menggemparkan dunia kang-ouw. Aku merasa terhormat sekali bahwa jiwi (kalian berdua) sudi membuat perkenalan."

Ia lalu berpaling kepada Siang Hwa yang masih duduk, lalu berkata memperkenalkan.

"Ini adalah Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe dan Lui-Kong-Ciang Lee Kun, yang keduanya di sebut sebagai Sin-Kiam Siang-Hiap yang tersohor!"

Terpaksa Siang Hwa berdiri dan menjura kepada dua orang itu.

"Baru saja tadi aku yang tak terkenal dan bodoh mendengar nama jiwi yang besar. Perkenalkanlah, aku bernama Liok Siang Hwa dan sama sekali tidak mempunyai julukan."

Kemudian dengan wajah merah jengah melihat pandangan mata Lee Kun yang menatap secara kurang ajar, ia duduk kembali.

Lee Kim Bwe tersenyum dan menduga bahwa gadis muda ini tentu merasa iri melihat kecantikan, kemewahan, dan nama besarnya.

Maka iapun lalu duduk di kursi yang disediakan itu sambil tersenyum bangga karena ia maklum bahwa boleh diumpamakan kembang, ia lebih menarik daripada Siang Hwa.

Memang Siang Hwa sederhana, mukanya tidak dilapisi bedak dan gincu, bahkan rambutnya banyak yang terlepas dari ikatan dan awut-awutan, pakaiannya tidak mewah.

Berbeda dengan Kim Bwe yang serba rapih itu, dengan mukanya yang cantik memakai bedak wangi, Bibirnya diberi merah-merah sedikit, dan alisnya ditambah hitam dengan alat penghitam alis.

Akan tetapi Kim Bwe lupa bahwa sebagian besar laki-laki lebih menyukai kembang yang asli, lebih tertarik akan kecantikan murni yang timbul dari alam.

Di dalam kesombongan, ia lupa pula bahwa ia telah berusia tiga puluh tahun, sedangkah Siang Hwa baru belasan tahun.

Memang, kalau sekiranya Kim Bwe merupakan wanita tunggal di ruangan itu, tentu ia akan menarik perhatian, akan tetapi dengan adanya Siang Hwa di situ, semua mata para tamu muda mengerling ke arah Siang Hwa!

Dan oleh karena gadis itu duduk di dekatnya maka Kim Bwe mengira bahwa lirikan-lirikan itu ditujukan kepadanya, maka sambil tersenyum-senyum bangga ia duduk mengatur sikap!

Pada saat tuan rumah sedang mengepalai serombongan pelayang yang menyuguhkan arak, tiba-tiba seorang laki-laki tinggi besar yang kepalanya dibungkus kain merah sampai menutupi kedua telinganya masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa sebuah bungkusan kain merah.

Yap Ma Ek cepat menyambutnya dan mempersilahkan duduk.

"Yap-Enghiong,"

Kata laki-laki itu dengan suara keras.

"Agaknya kau telah lupa kepadaku. Terimalah salam berikut hadiah ini dan setelah kau membuka hadiahku, tentu kau akan teringat kembali siapa adanya aku ini!"

Suara ini cukup keras sehingga banyak mata memandang ke arahnya.

Yap Ma Ek memandang tajam dan agaknya ia sudah pernah melihat muka ini, akan tetapi lupa lagi entah kapan dan dimana.

Ia menerima hadiah itu sambil mengucapkan terima kasih.

"Duduklah, sahabat. Setiap orang gagah yang di sini adalah sahabatku. Maafkan kalau mataku yang sudah kabur dan ingatanku yang sudah tumpul membuat aku lupa siapa kau ini. Harap kau sudi memberitahukan namamu yang mulia."

Orang itu tersenyum dan senyumnya tidak menyenangkan hati.

"Orang she Yap, bukalah dulu hadiahku dan kau tentu akan tahu namaku!"

Mendengar nada ucapan orang ini, makin tak enaklah hati Yap Ma Ek, akan tetapi dengan tenang ia lalu menghampiri sebuah meja, meletakkan bungkusan kain merah itu di atas meja, dan dengan perlahan membukanya.

"Ayaa""! ia berseru dan memandang dengan mata terbelalak kepada isi bungkusan kain merah itu. Semua orang terkejut mendengar teriakan ini dan semua mata kini memandang ke arah tuan rumah dan tamu aneh itu.

"Ha, ha, ha, ha! Yap Ma Ek, kau tentu teringat kembali kepadaku, bukan?"

"Kau... kau Bhok Kwi si Harimau Kuning?"

Kata Yap Ma Ek sambil memandang kembali kepada isi bungkusan yang mengerikan itu, karena ternyata bahwa isi bungkusan itu adalah sebuah daun telinga manusia yang masih utuh!

"Hm, ternyata ingatanmu masih tajam, orang she Yap!"

Bho Kwi membentak marah. Dan untuk tidak meragukan kau lagi, lihat aku baik-baik!"

Sambil berkata demikian, Bhok Kwi merenggut kain merah penutup kepalanya dan kini semua orang melihat betapa orang itu telah kehilangan daun telinga sebelah kanan dan bahkan pada jidat bagian atas terdapat luka bekas bacokan.

"Lihatlah baik-baik,"

Katanya lagi.

"Aku datang memenuhi janji untuk mencarimu sepuluh tahun kemudian! Masih ingatkah kau? Sepuluh tahun bukan waktu yang amat lama?"

Yap Ma Ek menentramkan hatinya dan ia menjawab dengan dingin.

"Bhok Kwi! Tentu saja aku masih ingat baik-baik akan hal itu! Kau datang hendak membalas dendam? Baiklah, jangan kau kira bahwa aku Kim-Ci-Eng Yap Ma Ek takut kepada seorang perampok seperti kau!"

"Bagus kebetulan banyak orang berkumpul di sini biar mereka menjadi saksi!"

Jawab Bhok Kwi yang segera mencabut senjatanya berupa golok besar dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap memegang kain pengikat kepala yang berwarna merah tadi.

Seorang diantara tamu, yang masih muda dan berwatak keras berangasan, melompat dari kursinya dan berkata kepada Yap Ma Ek.

"Yap Lo-Enghiong, untuk apa melayani segala macam cecunguk? Biarkan Siauwte membereskan dan mengusirnya!"

Yap Ma Ek tersenyum dan menggelengkan kepala.

"Kui Hiante, dan juga cuwi Enghiong sekalian yang hadir disini. Pekenankanlah aku membereskan urusanku dengan sahabat ini sebentar, dan harap jangan ikut campur, karena urusan ini adalah urusan pribadi."

Kemudian ia bertindak menuju ke ruang di dekat situ yang lega sambil berkata.

"Orang she Bhok, marilah kita main-main sebentar."

Ia lalu mencabut pedangnya yang selama berpuluh tahun telah banyak berjasa itu.

Pedang ini pula yang dulu memotong telinga Bhok Kwi dan melukai jidatnya.

Melihat pedang ini, Bhok Kwi menjadi merah mukanya.

Seperti pernah dituturkan dahulu, Yap Ma Ek adalah seorang pendekar yang banyak dimusuhi orang, terutama para perampok yang pernah dirobohkannya.

Pendekar she Yap ini memang benci sekali kepada para perampok dan dulu ketika mendengar tentang perampok yang mengganas dalam sebuah hutan, didatanginya perampok itu dan dalam pertempuran hebat, ia berhasil merobohkan perampok itu dan mengutungi sebelah daun telinganya.

Perampok itu adalah Oei-Houw Bhok Kwi yang bersumpah untuk membalas dendam sepuluh tahun kemudian, sambil pergi membawa daun telinganya yang putus.

Ia menyimpan dan merendam telinga itu dalam arak dicampuri obat sehingga bagian tubuh yang terlepas itu tidak menjadi rusak.

Kemudian ia belajar ilmu silat selama sepuluh tahun sehingga memiliki kepandaian tinggi, lalu dicarinya musuh besarnya itu.

Melihat musuh besarnya telah mencabut pedang, dengan terjangan dahsyat ia menyerang.

Goloknya menyambar secepat kilat dan ketika Yap Ma Ek mengangkat pedangnya menangkis, tiba-tiba tangan kirinya yang memegang kain merah itu bergerak.

Kain merah itu meluncur maju dengan cepat sekali dan menjadi kaku karena ia mempergunakan lweekangnya.

Yap Ma Ek terkejut sekali karena gerakan ini saja memperlihatkan bahwa lawannya ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada dahulu.

Cepat ia melompat mundur dan Bhok Kwi tertawa bergelak lalu menyerang lagi.

Yap Ma Ek tidak percuma mendapat julukan Kim-Ci-Eng si Garuda Sayap Emas, karena gerakannya benar-benar lincah dan gesit sekali.

Ilmu ginkangnya sudah amat tinggi dan ketika tubuhnya berkelebat sambil mainkan pedangnya, maka lenyaplah ia terbungkus oleh sinar pedangnya sendiri.

Para tamu banyak yang merasa kagum sekali melihat kegagahan tuan rumah yang sudah tua itu.

Akan tetapi kali ini ia menjumpai lawan berat.

Bhok Kwi yang pernah dijatuhkannya itu maklum bahwa akan kelihaian Yap Ma Ek dalam ilmu ginkang, maka ia sengaja mempelajari ilmu golok dan ilmu mainkan kain merah panjang itu sambil melatih lweekangnya.

Kini dengan kedua senjatanya itu ia dapat melakukan perlawanan amat baiknya.

Goloknya diputar secepat angin melindungi seluruh tubuhnya dari serangan dan gerakan pedang lawan, sedangkan kain merahnya bergerak-gerak mencari sasaran pada tubuh lawan.

Baca Juga: Asmara Berdarah 8

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert