Naga Merah Bangau Putih 3

Eps 3 Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo.

Yap Ma Ek makin terkejut dan diam-diam ia kagum melihat kemajuan lawannya ini, ia tahu bahwa kain merah ditangan kiri Bhok Kwi itu malah lebih berbahaya daripada goloknya, karena kain merah itu dapat dipergunakan untuk menotok, menyampok, atau merampas senjata.

Ia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menjaga agar jangan sampai dirobohkan oleh bekas perampok ini.

Pertempuran itu berjalan cepat sekali dan juga seru dan mendebarkan hati semua penonton yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi.

Kepandaian dua orang yang bertempur itu sudah mencapai tingkat tinggi, sehingga Lie Kai sendiri hanya dapat melihat bahwa biarpun Yap Ma Ek cepat sekali gerakannya, namun penjagaan diri lawannya itu cukup kuat sehingga agaknya tidak mudah bagi Yap Ma Ek untuk menjatuhkan lawannya.

Akan tetapi Siang Hwa memiliki mata yang lebih tajam.

Ia tahu bahwa akhirnya Yap Ma Ek tentu akan kalah, karena permainan golok dari si telinga buntung itu benar-benar hebat.

Apalagi kain merahnya merupakan ancaman yang amat berbahaya.

Benar saja, setelah pertempuran berjalan empat puluh jurus lebih, tiba-tiba Bhok Kwi berseru keras.

Kain merahnya dapat melibat pedang lawan dan dibetotnya sekuat tenaga.

Akan tetapi Yap Ma Ek juga mengerahkan tenaga sehingga kain itu tidak dapat merampas pedangnya.

Tiba-tiba Bhok Kwi menggerakkan goloknya membacok kearah tangan kanan yang memegang pedang.

Terpaksa Yap Ma Ek melepaskan pedangnya kembali melompat mundur.

Mukanya pucat dan ia merasa malu sekali.

"Ha, ha, ha! Orang she Yap, tidak tahunya kepandaianmu hanya begini saja."

"Bhok Kwi dengan jujur aku mengaku kalah. Habis, kau mau apakah?"

"Yap Ma Ek, peribahasa menyatakan bahwa hutang uang harus dibayar uang, hutang jiwa dibayar jiwa. Menurut patut, hutang yang sudah sepuluh tahun lamanya harus berbunga. Kalau dulu kau hanya menebas daun telingaku dan melukai jidatku, sekarang kau harus membayar dengan lehermu! Akan tetapi, melihat muka para tamu yang berkumpul disini, biarlah aku berlaku murah hati. Kau lihat, telingaku lenyap sebelah dan telinga itu telah kuhadiahkan kepadamu. Sekarang sebagai gantinya, aku minta sebelah daun telingamu untuk kujadikan tanda mata!"

Yap Ma Ek adalah seorang gagah yang tidak takut mati. Ia menganggap bahwa permintaan Bhok Kwi sebagai orang yang menangkan pertandingan cukup adil. Maka jawabnya dengan gagah.

"Baiklah, ini telingaku, kau boleh ambil!"

Sambil berkata demikian, Yap Ma Ek mendekatkan kepalanya ke arah Bhok Kwi.

Kembali Bhok Kwi tertawa dan ia mengangkat goloknya, siap untuk membacok putus daun telinga musuh besarnya itu.

Ia merasa puas dan girang sekali, karena kemenangannya dan perbuatannya ini akan menjatuhkan nama Yap Ma Ek dan ini sudah cukup baginya.

Penghinaan yang ia alami di dalam hutan tanpa ada orang yang menyaksikan itu tidak akan lebih hebat daripada penghinaan yang ia balas terhadap Yap Ma Ek di depan sekian banyak orang gagah!

"Tahan dulu!"

Tiba-tiba terdengar teriakan orang dan Lui-Kong-Ciang Lee Kun melompat dari kursinya.

"Di depanku, kau tidak boleh menghina tuan rumah!"

Bhok Kwi menengok ke arah pemuda yang bicara itu, akan tetapi ia tidak ambil pusing, hanya berkata.

"Orang luar tidak boleh ikut campur!"

Dan ia mengayunkan goloknya ke arah kepala Yap Ma Ek! Akan tetapi, belum sampai golok itu membabat daun telinga Yap Ma Ek, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakannya dan "trang"!"

Sebuah pedag di tangan Lui-Kong-Ciang Lee Kun telah menangkis golok itu dan Bhok Kwi merasa terkejut sekali ketika merasa telapak tangannya tergetar!

Gerakan yang dilakukan oleh Lee Kun itu benar-benar mengagumkan.

Tempat di mana Lee Kun berdiri dengan tempat pertempuran tadi bukanlah dekat, sedikitnya ada empat tombak jauhnya.

Akan tetapi, dengan gerak lompat Ouw-Liong Coan-Tah (Naga Hitam Menembus Menara) ia telah melesat dengan cepat sekali dan masih sempat menolong Yap Ma Ek dari bahaya kehilangan sebelah telinganya!

Bahkan Siang Hwa sendiri ketika melihat gerakan ini, diam-diam merasa kagum dan dapat menduga bahwa orang she Lee ini benar-benar memiliki kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.

Sementara itu, Bhok Kwi yang selama sepuluh tahun menyembunyikan diri untuk mempelajari ilmu silat sehingga ia tidak mengetahui banyak tentang munculnya tokoh-tokoh baru yang masih muda, menjadi marah sekali.

"Bangsat tidak tahu aturan! Bagaimana kau berani menghalangi dan mencampuri urusanku? Apakah kau tidak tahu bahwa kau sedang berhadapan dengan Oei-Houw Bhok Kwi?"

Lee Kun tersenyum menghina.

"Siapa kenal segala macam harimau yang tak berkuku lagi? Aku Lui-Kong-Ciang Lee Kun tidak kenal segala perampok, apalagi perampok busuk dan hina-dina, biarpun ada sepuluh orang macam engkau, aku tidak akan membiarkan menghina tuan rumah di mana aku menjadi tamunya, mengerti?"

Bukan main marahnya Bhok Kwi mendengar ucapan yang amat menghina ini.

tangannya menggigil dan sepasang matanya memandang tajam, seakan-akan mengeluarkan cahaya berapi-api.

Sementara itu, Yap Ma Ek merasa malu sekali melihat Lee Kun ikut campur, maka ia melangkah maju sambil berkata.

"Lee-Taihiap, aku adalah seorang laki-laki sejati dan aku tidak akan menarik kembali bicara ku. Aku sudah menyatakan janji. Aku siap menerima pembalasan itu!"

"Tidak!"

Bantah Lee Kun marah.

"Yap Lopek jangan terlalu mengalah terhadap seorang bangsat perampok macam ini! Perbuatan Lopek dulu sudah patut dan adil, dan Lopek masih berlaku murah hanya dengan membabat putus lengannya. Seharusnya Lopek membabat putus lehernya! Biarlah, Yap Lopek, aku sendiri yang bertanggung jawab menghadapi bangsat ini!"

"Kurang ajar!"

Seru Bhok Kwi yang tidak dapat menahan amarahnya lagi mendengar makian dan hinaan yang keluar dari mulut Lee Kun berkali-kali itu.

Ia maju dan menyerang dengan goloknya menusuk perut Lee Kun, sedangkan kain merah di tangan kirinya bergerak menotok jalan darah orang muda itu.

Lee Kun mengeluarkan suara jengkel dan tubuhnya melesat ketika senjata-senjata lawan sudah datang dekat.

Kemudian ia membalas dengan serangan pedangnya yang mengeluarkan sinar menyilaukan ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut benar benar hebat sekali sehingga baru sekarang Siang Hwe memandang penuh perhatian.

Memang ilmu pedang adalah permaianan silat yang paling ia sukai, maka setiap kali melihat ilmu pedang yang bermutu tinggi, tentu saja ia amat tertarik.

Betapapun hebat permainan silat Bhok Kwi, namun baru bertempur belasan jurus saja sudah dapat terlihat bahwa ia menghadapi lawan yang lebih tinggi setingkat kepandaiannya.

Sebentar saja sinar pedang di tangan Lee Kun telah menGurung dan mendesaknya secara hebat sekali.

Bhok Kwi terkejut sekali dan pada waktu ia melakukan serangan berganda dengan cepat ke arah kaki Lee Kun dan untuk melakukan gerakan menyerang ini, Bhok Kwi merendahkan tubuhnya sambil menekuk lutut, sedangkan kain merah di tangan kirinya di sabetkan menuju ke ulu hati Lee Kun.

Dengan gerakan yang amat indahnya, Lee Kun melompat ke atas.

Ketika golok menyambar lewat di bawah kakinya dan kakinya masih berada di tengah udara, tiba-tiba kedua kakinya itu dapat digerakkan beruntun mengirim tendangan ke arah dada lawannya dan berbareng pedangnya bergerak cepat menyampok kain merah yang menyerang ke arah ulu hatinya!

Gerakan ini selain indah, juga hebat sekali serta tak terduga sama sekali oleh Bhok Kwi.

Siang Hwa melihat gerakan ini, tak terasa lagi ia berseru memuji.

"Bagus sekali"

Akan tetapi gerakan ini ternyata tidak bagus bagi Bhok Kwi, karena dalam saat yang berbareng kain merahnya terbabat putus oleh pedang Lee Kun sedangkan sebuah tendangan masih mengenai pundaknya sungguhpun ia telah mengelak.

Ia terhuyung-huyung ke belakang dan merasa betapa pundak kanannya sakit sekali sehingga tangannya seakan-akan menjadi lumpuh!

Lee Kun menengok ke arah Siang Hwa dan tersenyum manis lalu mengangguk seakan-akan menyatakan kegiranganya mendengar pujian tadi.

Siang Hwa merasa jengah dan merah mukanya.

Ia merasa benci melihat lagak Lee Kun dan pujiannya tadi dikeluarkan tanpa disengaja, karena memang ia merasa kagum melihat gerakan yang benar-benar indah itu.

Melihat lawannya terhuyung-huyung mundur.

Lee Kun merasa bangga dan girang mendengar pujian Siang Hwa tadi, bergerak maju lagi dengan pedang mengancam!

Akan tetapi Yap Ma Ek melompat maju dan menghadang di depan Lee Kun.

"Cukup, Lee Taihiap, tak boleh ada pertumpahan darah karena urusanku ini!"

Sementara itu, dengan muka merah Bhok Kwi lalu berlari keluar gedung itu tanpa menengok lagi.

Terdengar pujian-pujian terhadap kegagahan Lee Kun yang membuat Lee Kun berseri-seri wajahnya.

Ia menjura ke empat penjuru seperti seorang pemain panggung yang menerima tepuk tangan para penonton, lalu berkata.

"Cuwi sekalian, harap cuwi maafkan bahwa aku terpaksa turun tangan terhadap seorang jahat yang hendak menghina Yap Lopek! Kalau aku tidak turun tangan, berarti bahwa kita sekalian telah mendapat hinaan dari seorang perampok! Dengan perbuatannya tadi terhadap tuan rumah, bukankah itu berarti bahwa bangsat tadi tidak memandang sebelah mata kepada kita?"

"Betul... betul...!"

Terdengar seorang menyambut.

"Setuju...! Memang perbuatan Lee Taihiap tepat sekali!"

Lee Kun melenggang dengan gayanya dan duduk kembali ke atas kursinya.

Ia mengerling ke arah Siang Hwa dan melempar senyum, sehingga gadis itu terpaksa membuang muka, tak sudi melihat muka pemuda sombong itu.

Setelah keadaan menjadi reda dan tidak tegang lagi, Yap Ma Ek sebagai tuan rumah lalu mengadakan sambutan dan berkata kepada semua yang hadir.

"Cuwi sekalian yang terhormat. Sebagaimana cuwi sekalian tentu telah dapat menduga pertemuan yang kita adakan kali ini selain untuk memperat tali persahabatan dan saling mengenal nama-nama yang sudah lama didengar, juga untuk bertukar pikiran tentang keadaan tanah air yang telah tercengkeram oleh penjajah! Kita semua adalah orang-orang yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, melakukan tugas sebagai orang-orang gagah. Keadaan negara sekarang telah berobah sama sekali dan penjajah-penjajah asing telah menguasai seluruh tanah air. Mungkin diantara saudara sekalian, terutama yang gagah, akan dapat mengemukakan usul bagaimana caranya untuk menolong rakyat dari perasaan para penjajah."

Mendengar ucapan yang bersemangat ini, semua orang yang hadir diam tak berkata sesuatu.

Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing dan diantara mereka yang pernah berjuang seperti Lie Kai dan lain-lain, terkenanglah mereka pada masa perjuangan yang ternyata berakhir dengan kegagalan itu.

Tiba-tiba seorang Hwesio tinggi kurus berdiri dan berkata.

"Cuwi sekalian, sesungguhnya biarpun Pinceng hanya seorang Hwesio yang tidak seharusnya menGurus segala soal peperangan, akan tetapi Pinceng dari Hong-San-Pai menjunjung tinggi nama mendiang Suhu bahwa di dalam perjuangan membela tanah air, siapapun juga dan dari golongan manapun juga, ia harus ikut membela tanah air. Pinceng merasa terharu sekali mendengar tentang perjuangan para Enghiong yang gagah perkasa. Menurut pendapat Pinceng, tidak mudah untuk menggerakkan tentara dan melawan balatentara Mancu yang demikian kuat dan besar jumlahnya. Maka jalan satu-satunya ialah bergerak sendiri-sendiri dan membasmi pembesar-pembesar Mancu. Dengan gangguan ini, maka para hati pembesar Mancu akan menjadi lemah dan mungkin sekali Kaisar Mancu akan merasa jerih."

Tiba-tiba, dari luar ruangan itu terdengar suara orang berkata dengan suaranya yang amat tinggi.

"Bagus sekali! Orang-orang yang mau menimbulkan pemberontakan, memancing terjadinya per-tempuran sehingga rakyat kecil menjadi menderita karenanya, masih mau menganggap diri sebagai pendekar-pendekar gagah?"

Berbareng dengan lenyapnya suara itu, dari pintu luar berkelebat masuk dua bayangan orang yang gesit sekali gerakannya.

Siapakah mereka ini?

Bukan lain adalah Kakek pengemis yang pandai melukis dan kawannya, Hwesio gemuk yang telah bertempur melawan Lie Kai pagi tadi!

Kakek yang berpakaian seperti pengemis dan pandai melukis itu sebenarnya adalah seorang gagah di dunia kang-ouw yang bernama Lui Kok, sedangkan Hwesio gendut yang menjadi kawannya itu bernama Ban Sek Hosiang.

Mereka ini adalah dua diantara sekian banyak orang gagah yang telah kena terbujuk oleh pemerintah Mancu dan diantara kaki tangan Kaisar.

Kedua orang ini kini bertugas untuk membujuk orang-orang gagah agar supaya suka bekerja untuk kepentingan pemerintah yang baru.

Kaisar Mancu maklum bahwa di Tiongkok terdapat banyak sekali orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka oleh karena pemberontakan terjadi dimana-mana, dan sukar sekali ditindas, ia lalu mencari jalan lain.

Ia pikir bahwa kalau semua orang gagah dan berkepandaian tinggi dapat dibujuk untuk membantunya, maka pemberontakan-pemberontakan itu pasti akan bubar dengan sendirinya.

Dalam menjalankan tugas mencari orang-orang gagah dengan pancingan berupa umpan pangkat tinggi dan harta benda, Akhirnya kedua orang ini tiba di Propinsi Hunan.

Mereka tetah berhasil memikat hati banyak orang gagah.

Akhirnya mereka mendengar bahwa Yap Ma Ek mengundang banyak orang gagah, maka mereka lalu menuju ke kota Heng-Yang.

Di samping tugasnya itu, Lui Kok yang mempunya kepandaian melukis, di tiap kota membuat lukisan keadaan kota itu untuk dibawa ke Kotaraja dan dipersembahkan kepada Kaisar Mancu yang suka akan lukisan-lukisan Tiongkok.

Selain menyukai gambar-gambar yang indah itu, juga lukisan-lukisan itu ada gunanya.

Tanpa menjelajah sendiri, Kaisar itu akan dapat menyaksikan ke-adaan kota dari negara besar yang baru saja dijajahnya.

Tentu saja untuk lukisan-lukisan itu, Lui Kok mengharapkan hadiah yang besar.

Ia selalu berpakaian tambal-tambalan untuk menyembunyikan keadaan sebenarnya.

Ketika mereka tiba di rumah Yap Ma Ek mereka dengan sembunyi melihat pertemuan besar itu dan menyaksikan pula betapa Bhok Kwi datang mengacau.

Dengan girang kedua orang itu melihat adanya Lee Kim Bwee dan Lee Kun, karena sesungguhnya kedua orang saudara yang gagah perkasa inipun telah mereka jumpai dan telah menyatakan setuju untuk membantu Kaisar dan pemerintah yang baru!

Karena melihat kedua Kakak-beradik inilah maka dengan hati berani dan tabah mereka lalu melompat dan mencela dengan kata-kata besar.

Lui Kok yang lebih pandai bicara daripada Ban Sek Hosiang selalu menjadi juru bicara dan kini ia menjura kepada semua orang yang memandang kepada mereka lalu berkata dengan suaranya yang kecil dan nyaring.

"Cuwi sekalian, sebelum masuk ke ruangan ini, kami berdua telah mendengar ucapan-ucapan gagah yang diucapkan oleh Yap Ma Ek Lo-Enghiong dan Hwesio tinggi kurus dari Hong-San-Pai ini. Maafkan kami, Yap-Lo-Enghiong, sesungguhnya karena kami berdua tidak menerima undangan, tidak sepantasnya kami masuk ke sini. Akan tetapi mendengar ucapan-ucapan tadi, terpaksa kami memberanikan hati dan masuk juga. Kami akui bahwa ucapan-ucapan tadi bersemangat dan gagah, sesuai dengan jiwa pendekar-pendekar perkasa. Akan tetapi, sayang sekali bahwa ucapan-ucapan yang gagah itu diucapkan tidak pada tempatnya dan bahkan mendekati kebodohan-kebodohan besar!"

Lui Kok dan Ban Sek Hosiang adalah tokoh-tokoh persilatan yang tidak asing lagi bagi beberapa orang gagah yang hadir disitu, akan tetapi ucapan Lui Kok ini sungguh-sungguh mengherankan semua orang.

Hwesio dari Hong-San-Pai yang bernama Kim Kong Hosiang itu menjadi marah, demikian pula seorang Tosu kecil pendek yang bermata tajam.

Ia melompat dari kursinya dan tahu-tahu tubuhnya telah berkelebat dan berdiri di hadapan kedua orang tamu yang tak diundang itu, disebelah kanan Kim Kong Hosiang.

"Lui Kok, Pinto pernah melihatmu dan kalau tidak salah, kau sekarang telah menjadi penjilat Kaisar Mancu! Sekarang kau berani datang di sini hendak mengucapkan obrolan kosong apa lagi?"

Melihat Tosu ini, Lui Kok terkejut. Inilah Soan Cu Tojin yang telah membuat nama besar di daerah timur. Akan tetapi sambil tersenyum ia menjawab.

"Soan Cu Tojin tidak semua orang gagah berpikiran cerdik dan mempunyai pandangan luas. Sudah lajim seorang manusia membuat kekeliruan, demikian pula dengan kau dan cuwi Enghiong yang berkumpul di sini. Cuwi sekalian maklum dan tentu masih ingat betapa buruknya keadaan negara dan rakyat ketika masih dipegang oleh dinasti Beng-Tiauw. Penjahat-penjahat merajalela, pembesar-pembesar mengeduk uang negara, memeras rakyat, kelaparan terjadi di mana-mana! Sekarang Kerajaan Beng-Tiauw telah roboh dan terganti oleh Kerajaan baru, yakni dinasti Ceng-Tiauw yang besar! Aku sudah membuktikan sendiri betapa bijaksana dan budiman adanya Kaisar yang baru. Beliau telah menyediakan pangkat tinggi dan harta benda untk setiap orang gagah di kalangan kang-ouw yang suka membantu memulihkan keamanan dan memperbaiki keadaan. Kalau sekarang ada orang gagah yang bercita-cita memberontak, bukankah berarti ia memancing kekeruhan dan mendatangkan kesengsaraan kepada rakyat? Padahal usaha itu akan sia-sia belaka. Kerajaan Ceng amat kuat, besar, dan tak mungkin dikalahkan. Bukankah itu berarti membunuh diri sendiri?"

Berdirilah alis mata kedua orang yang berhadapan dengan mereka.

"Bangsat pengkhianat! Penjilat Kaisar asing yang rendah budi! Manusia macam kau ini harus dibasmi lebih dulu!"

Teriak Kim Kong Hosiang sambil mencabut sepasang goloknya.

"Manusia beriman rendah!"

Soan Cu Tojin juga memaki sambil menggerak-gerakkan tongkatnya.

"Bagi kami, lebih baik mati sebagai sebagai naga dan harimau, daripada hidup sebagai anjing penjilat macam kau!"

Sambil memaki-maki marah, Kim Kong Ho-siang dan Soan Cu Tojin menyerang Lui Kok dan Ban Sek Hosiang yang juga mengeluarkan senjata masing-masing, yakni sepasang golok dan sebatang joan-pin.

Kim Kong Hosiang yang memegang sepasang golok pula.

Hebatlah pertempuran antara Lui Kok dan Kim Kong Hosiang.

Keduanya mempergunakan sepasang golok sehingga empat batang golok itu menyambar-nyambar bagaikan empat ekor naga, sinarnya menyilaukan mata.

Adapun Soan Cu Tojin yang bersenjata tongkat disambut oleh Ban Sek Hosiang yang bersenjata joan-pin.

Juga kedua orang tokoh persilatan yang berilmu tinggi ini bertempur dengan hebat dan seru sekali.

Akan tetapi, diam-diam Siang Hwa yang juga merasa gemas mendengar ucapan kedua orang pengkhianat itu, menjadi girang ketika melihat bahwa kepandaian Soan Cu Tojin dan Kim Kong Hosiang masih lebih unggul daripada kedua orang pengkhianat itu.

Memang hal inipun dirasai oleh si Kakek pelukis dan Hwesio gemuk, sehingga mereka menjadi sibuk dan jerih sekali.

Tak disangkanya bahwa disitu berkumpul orang orang yang berkepandaian setinggi ini.

Baru dua orang saja yang menyerang mereka, sudah begini tangguh, apalagi kalau masih ada orang-orang yang tidak cocok dengan bujukan mereka!

Mereka didesak mundur dan kini sinar golok Lui Kok makin lemah gerakannya sedangkan joan-pian dari Ban Sek Hosiang pun hanya dapat menangkis saja menghadapi tongkat di tangan Tosu yang lihat itu!

Dalam kebingungan karena desakan hebat dari lawannya, Lui Kok teringat kepada kedua Kakak-beradik she Lee, maka ia segera berseru.

"Sin-kiam Siang hiap, tolonglah!"

Sungguh seruan yang tak kenal malu sekali yang keluar dari mulut Lui Kok ini.

Semenjak tadi, Lee Kim Bwe dan Lee Kun merasa gelisah sekali melihat kedua orang utusan Kaisar itu datang mengacau.

Mereka anggap bahwa kedua orang itu terlalu semberono dan tergesa-gesa dalam melakukan tugasnya.

Kedua saudara Lee ini sudah tertarik oleh mereka, bahkan telah menerima hadiah uang emas, yang banyak jumlahnya dari mereka, maka tentu saja mereka tidak enak kalau tinggal diam saja.

Setelah saling pandang dan memberi tanda, keduanya berdiri dan sekali berkelebat, tubuh mereka telah melayang ke arah mereka yang sedang bertempur.

Dua batang pedang di tangan mereka berkelebat cepat dan.

"Trang... Trang...!"

Sebuah golok di tangan Kim Kong Hwesio patah menjadi dua sedangkan tongkat Soan Cu Tojin terbabat oleh pedang Lee Kim Bwe sehingga mencelat jauh!

Tentu saja kedua orang pendekat itu terkejut sekali dan melompat mundur.

Alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa yang membantu kedua orang pengkhianat itu adalah Kakak-beradik, tamu yang dihormati itu.

Mereka tak dapat mengeluarkan perkataan, hanya memandang dengan bengong.

Lee Kim Bwe mengedipkan mata kepada kedua orang utusan Kaisar itu dan dengan gerakan kepala ia menyuruh mereka menyingkir.

Lui Kok dan Ban Sek Hosiang mengerti isarat ini dan tanpa banyak cakap lagi mereka lalu melompat keluar dari rumah itu dan melarikan diri.

Sementara itu, Lee Kim Bwe menjura kepaa kedua orang Pendeta dan berkata.

"Maaf, jiwa Enghiong. Sesungguhnya kalian telah berlaku gegabah sekali dengan niat kalian membunuh atau melukai mereka. Karena sesungguhnya, apa yang mereka ucapkan tadi memang betul!"

Kalau perbuatan kedua she Lee tadi telah membuat banyak orang terheran-heran, ucapan ini makin hebat lagi akibatnya. Semua orang saling pandang dan memandang kepada mereka dengan mata terbelalak.

"Apa maksudmu, Lee-hiap?"

Tanya Soan Cu Tojin.

"Apakah kau juga hendak membela Kaisar penjajah?"

Merah wajah Lee Kim Bwe mendengar pertanyaan ini sehingga wajahnya yang cantik itu menjadi makin menarik.

"Dengarlah kau, Totiang, dan juga semua orang yang berada di sini! Aku sudah banyak melihat korban jatuh di antara golongan kita ketika mereka mengadakan perlawanan yang membuta dan bodoh terhadap pemerintah yang baru. Seperti yang dikatakan oleh kedua orang tadi, belum tentu Kaisar yang sekarang atau pemerintah Ceng lebih buruk daripada pemerintah Beng yang sudah roboh! Kita lihat saja dulu bagaimana buktinya!"

"Baik atau tidak, kita tidak sudi tanah air dijajah oleh pemerintah asing!"

Teriak Kim Kong Hosiang marah.

"Ah, apa perlunya main gagah gagahan kalau tidak ada gunanya? Apakah kau kira akan dapat melawan kebesaran pemerintah yang sekarang? Lebih baik kita lihat saja dulu, kalau betul pemerintah ini tidak mendatangkan kebaikan bagi kita, masih belum terlambat bagi kita untuk bertindak! Kalau memang pemerintah ini mendatangkan keuntungan biarpun bangsa Mancu, apakah salahnya? "Celaka sekali kalau orang Han berpikir seperti ini!"

Soan Cu Tojin mengejek.

"Tidak semua orang sudi menjadi penjual negara dan tanah air!"

"Diam!"

Lee Kim Bwe membentak marah.

"Siapa yang menjadi penjual tanah air? Aku hanya bicara dengan otak waras dan pikiran sehat. Kurang banyakkah bukti-bukti yang menyatakan bahwa usaha kalian itu tiada gunanya sama sekali, hanya mengorbankan nyawa dengan sia-sia? Jangan menyontoh perbuatan yang bodoh dan hanya menyombongkan kepandaian untuk akhirnya binasa secara menyedihkan seperti halnya Panglima Song Liang yang goblok itu! Dulu diapun seorang Panglima Kerajaan Beng, akan tetapi setelah Kerajaan jatuh, ia bahkan menggabungkan diri dengan tentara petani yang sesungguhnya merupakan perusak hebat! Bukankah barisan petani yang sesungguhnya merobohkan Kerajaan Beng-Tiauw? Kalau tidak ada Kerajaan baru yang turun tangan, bukankah segala macam pemberontak yang berasal dari orang-orang rendah itu yang akan berkuasa? Bukankah negara akan menjadi makin rusak? Dan buktinya bagaimana dengan Panglima Song Liang? Ia mampus sebelum usahanya yang membuta berhasil."

"Tutup mulutmu!"

Tiba-tiba Lie Kai berseru keras dan sekali melompat ia telah berada di depan Lee Kim Bwe.

Tadinya ketika mendengar orang menyebut nama Kongkongnya, Siang hwa menjadi pucat, apalagi ketika mendengar bahwa Kongkongnya telah meninggal, ia merasa terkejut sekali.

Ia marah dan panas hati mendengar Kongkongnya dimaki orang, akan tetapi sebelum ia bergerak, ia telah didahului oleh Lie Kai sehingga ia merasa heran sekali.

"Orang she Lee, jangan kau sembarangan membuka mulut memaki orang lain! Ketahuilah bahwa aku berjuang bahu membahu dengan Panglima Song Liang dan aku berani pastikan bahwa dia adalah seorang jantan sejati, seorang pendekar gagah perkasa. Kau seorang wanita yang memihak pengkhianatan, berani sekali memaki seorang gagah yang seribu kali lebih mulai daripadamu!"

Sepasang mata Lee Kim Bwe seakan-akan menyinarkan api ketika ia mendengar ucapan Lie Kai itu.

Juga orang-orang lain merasa tegang dan khawatir, karena jarang ada orang berani menghina Jian-Jiu Koan-Im seperti itu!

"Thiat-Thouw-Gu"

Kata Lee Kim Bwe sambil tersenyum manis, akan tetapi matanya menyinar cahaya maut.

"Kau seorang tua yang gagah dan kalau aku tidak mengingat akan usiamu yang sudah tua, tentu sekarang juga kau akan menggelundung tanpa kepala!"

Setelah mengeluarkan ucapan yang sombong itu. Lee Kim Bwe menyimpan kembali pedangnya, demikian pula Lee Kun. Lie Kai merasa dadanya seakan hendak meledak karena marahnya.

"Pengkhianat rendah, lebih baik menggelundung tanpa kepala daripada melihat orang macam kau berlagak disini!"

Setelah berkata demikian, Lie Kai lalu menubruk maju mengirim pukulan hebat kepada Lee Kim Bwe dengan gerak tipu Siok-lui-kik-ting (Petir Menyambar Kepala).

Dengan kecepatan luar biasa kedua tangannya yang dikepal memukul dari kanan kiri mengarah kepala Kim Bwe, karena Lie Kai bertubuh tinggi besar, maka pukulan yang datangnya dari kanan kiri ini benar-benar berbahaya sekali bagi Kim Bwe.

Lee Kim Bwe tidak percuma mendapat julukan Jian-Jiu Koan-Im atau Dewi Koan Im Bertangan Seribu.

Melihat datangnya pukulan ini, ia menggunakan Kim-Coa Coan-Po (Ular Emas Terjang Ombak).

Dengan merendahkan tubuhnya ia dapat mengelak dari pukulan yang mengarah kepalanya, kemudian ia bergerak maju dengan kaki tangan menyerang dengan gerakan yang disebut Jian-Jiu Lauw-Goat (Seribu Tangan Mencari Bulan).

Serangan ini bukan main cepat dan hebatnya.

Kedua tangan Kim Bwe yang halus dan kecil itu bergerak-gerak bagaikan dua ekor ular yang sukar sekali dilihat ke arah mana hendak menyerang.

Lie Kai sudah berusaha mengelak dengan melempar diri ke belakang, namun masih saja dua jari tangan wanita perkasa itu menotok pundaknya.

Si Kerbau Kepala Besi berteriak keras dan terbanting ke belakang dalam keadaan kaku!

Ia sama sekali tak dapat bergerak lagi dan hanya matanya saja masih mendelik dan memandang dengan penuh kemarahan.

Kim Kong Hosiang dan Soan Cu Tojin yang masih berdiri di situ menjadi marah sekali dan serentak maju menyerang.

Akan tetapi sebuah tendangan dari Kim Bwe dan sebuah pukulan tangan Lee Kun membuat kedua orang Pendeta tua itu terguling!

Sin-Kiam Siang-Hiap benar-benar hebat ilmu kepandaiannya.

Dalam segebrakan saja, Kakak-beradik ini telah berhasil menjatuhkan orang-orang gagah seperti Lie Kai, Kim Kong Hosiang dan Soan Cu Tojin.

Tentu saja para tamu lain yang juga merasa tak senang kepada mereka, kini menjadi jerih dan tak berani sembarangan bergerak.

Siang Hwa yang amat berduka mendengar tentang kematian Kongkongnya yang sedang dicari-cari, untuk sesaat duduk termenung dengan hati terharu.

Setelah melihat betapa kedua saudara Lee yang sombong itu merobohkan Lie Kai, Kim Kong Hosiang dan Soan Cu Tojin, barulah ia berdiri dari kursinya dan dengan tindakan tenang akan tetapi gesit ia lalu menghampiri Lee Kim Bwe.

Kedua saudara Lee ini masih berdiri di tengah ruangan dengan tersenyum-senyum, seakan-akan menanti datangnya lawan baru dengan sikap menantang.

Kini, melihat Siang Hwa mendatangi, Lee Kun buru-buru melangkah maju dan menyambutnya dengan senyum simpul.

"Nona Liok, harap kau jangan terlalu dekat. Siapa tahu masih ada orang yang merasa penasaran dan hendak mencoba kami. Kalau terjadi pertempuran dengan senjata tajam, bukankah berbahaya sekali kalau kau terlalu dekat? Sayang kalau sampai kau terkena senjata yang nyeleweng!"

Siang Hwa tidak menjawab, bahkan melihatpun tidak.

Dara baju merah ini langsung menghampiri Lie Kai, dan sekali saja ia menepuk pundak orang-tua itu, Lie Kai telah dapat dipulihkan kembali jalan darahnya yang tadi terkena totokan Kim Bwe yang lihai.

Juga ia lalu memulihkan kesehatan Soan Cu Tojin yang tertotok oleh Lee Kun.

Kedua orang Nona ini berdiri berhadapan dan Kim Bwe tersenyum mengejek ketika ia bertanya.

"Kau mau apakah? Gurumu telah kurobohkan, apakah kau murid Thiat-Thouw-Gu Lie Kai hendak membalas kekalahan itu?"

Semua orang memandang dengan amat khawatir.

Kalau Lie Kai sendiri saja roboh dalam segebrakan menghadapi Kim Bwe, bagaimana seorang gadis muda yang menjadi murid Lie Kai berani melawan Dewi Koan Im Bertangan Seribu yang lihai itu?

Akan tetapi, jawaban yang keluar dari mulut Siang Hwa benar-benar mengejutkan semua orang.

Bahkan Lie Kai sendiri juga menjadi heran dan terkejut.

"Kau telah menghina Kongkongku!"

Ucapan yang keluar dari Bibir Siang hwa lambat-lambat dan jelas sekali dan sepasang mata dara jelita itu memandang tajam.

"Kalau kau tidak lekas-lekas menarik kembali kata-katamu yang menghina Kongkongku, dan tidak minta maaf, jangan harap kau akan dapat keluar dari sini dengan mulut utuh!"

Lee Kim Bwe sendiri sampai menjadi bengong mendengar ucapan gadis muda itu.

Saking herannya melihat keberanian yang luar biasa ini, ia sampai lupa untuk marah!

Bahkan ia menjadi ingin tahu sekali mengapa gerangan gadis ini menjadi demikian marah.

"Siapa menghina Kongkongmu? Siapa pula gerangan Kongkongmu?"

Tanya Lee Kim Bwe.

"Kau tadi telah menghina Panglima Song Liang, dialah Kongkongku, seorang panglima dan pejuang tanah air yang gagah berani. Lekas kau menarik kembali kata-katamu dan minta maaf jangan membikin aku kehabisan kesabaranku!"

Tiba-tiba terdengar gelak tertawa dari Lee Kun ketika ia mendengar ucapan Siang Hwa ini.

"Ha, ha, ha alangkah lucunya! Nona Liok, kau murid Thiat-Thouw-Gu Lie Kai berani mengancam kepada Ciciku Jian-Jin Koan-Im? Ha, ha, ha!"

Akan tetapi tiba-tiba ia harus menutup mulutnya dan cepat melompat ke belakang, oleh karena tiba-tiba tangan Siang hwa telah menyambar dan menampar pipinya!

Betapapun cepatnya mengelak, namun masih saja telapak tangan Siang Hwa dengan cepat mengenai pipinya.

"Plok!"

Terdengar bunyi nyaring dan pipi Lee Kun menjadi merah! "Itu hanya sekedar untuk peringatan, manusia sombong dan ceriwis!"

Katanya kepada Lee Kun yang berdiri dengan mata terbelalak. Bukan main cepatnya gerakan tangan Nona itu, sehingga ia sendiri tak melihatnya.

"Eh, kiranya kau memiliki kepandaian juga!"

Kata Kim Bwe.

"Tarik kembali kata-katamu dan minta maaf!"

Tanpa memperdulikan omongan lawan, Siang Hwa mendesak.

"Bocah bermulut besar kalau aku tidak mau, kau mau apa?"

"Kuhancurkan mulutmu!"

Kata Siang hwa dan secepat kilat ia menggerakkan tangannya memukul mulut Lee Kim Bwe.

Kim Bwe cepat miringkan kepalanya, akan tetapi ia tidak mengira bahwa Siang Hwa memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada yang dikiranya semula.

Kalau orang lain yang memukul dielakkan dengan miringkan kepala saja, pukulan itu tentu akan mengenai angin, akan tetapi, Siang Hwa memiliki gerakan yang cepat dan setiap kali menggerakkan tangan, maka gerakan ini telah terdapat pecahan-pecahannya sehingga ia dapat menahan serangan di tengah jalan untuk dirobah menjadi serangan lain.

Demikianpun, ketika tadi ia memukul mulut Kim Bwe dengan gerak tipu Oan-Jiu Hoan-Hwe (Melonjorkan Tangan Mencari Bunga) dan pukulannya ini dapat dihindarkan lawan, tiba-tiba tangan yang terkepal itu dibukanya dan arah pukulannya dirobah sehingga kini ia menampar dengan cepat dan tak terduga sama sekali.

"Plak"!!"

Kembali terdengar suara ketika telapak tangan Siang Hwa berhasil menampar pipi kanan Lee Kim Bwe! Sesungguhnya selain cepat gerakannya, juga tamparan-tamparan yang di "bagi-bagikan"

Oleh Siang Hwa kepada Lee Kun dan Lee Kim Bwe, dilakukan dengan tenaga lweekang yang hebat.

Kalau saja orang lain yang terkena tamparan ini, tentu sedikitnya akan rontok gigi dan pecah kulit.

Akan tetapi, kepada kedua saudara Lee itu, tamparan ini hanya mendatangkan rasa pedas dan pipi merah.

Betapapun juga, hampir Lee Kim Bwe menjadi pingsan saking gemasnya.

Ia merasa heran, terkejut, marah, malu sekali.

Dia, Jian-Jiu Koan-Im si Dewi Koan Im Tangan Seribu, yang sudah terkenal di dunia kang-ouw, yang tadipun dengan segebrakan saja dapat membuat orang-orang gagah ternama terguling-guling, kini terkena tamparan seorang gadis yang masih hijau!

"Bangsat perempuan hina dina!

Kalau hari ini aku tidak dapat membunuhmu, percuma saja aku hidup!"

Setelah mengeluarkan ancaman dengan suara setengah menjerit ini, Lee Kim Bwe lalu mencabut pedangnya.

Tadi Siang Hwa sudah menyaksikan ilmu pedang Kim Bwe maka ia tidak berani memandang ringan.

Dengan cepat, iapun mencabut pedang Gin-Kong-Kiam dari pinggangnya dan siap siaga menanti datanganya serangan.

Lee Kim Bwe menubruk dengan serangannya yang cepat dan ganas.

Pedangnya dipegang lurus ke depan dan dengan tangan kiri dibelakang pedangnya meluncur menusuk ke arah ulu hati Siang Hwa.

Ini adalah gerakan ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut yang hampir sama dengan gerakan tipu Sian-Jin Tit-Louw (Dewa menunjuk Jalan).

Ketika Siang Hwa melihat datangnya tusukan yang cepat berbahaya ini, ia lalu menangkis dengan pedangnya.

Kim Bwee tiba-tiba menarik kembali pedangnya dan dengan cepat telah merobah pula gerakan pedang itu, kini menggunakan gerak tipu yang disebut Seng-Siok Hut-Si (Musim Panas Mengebut Kipas).

Gerakan ini tidak ditujukan untuk menyerang tubuh lawan, melainkan dipergunakan untuk menyabet pedang Siang Hwa sekuat tenaga.

Ketika melihat gerakan pedang Siang Hwa, Lee Kim Bwe dapat melihat bahwa ilmu pedang gadis muda itu cukup lihai, maka ia berlaku cerdik.

Ia telah melatih diri dan memiliki tenaga lweekang yang cukup lihai, maka kini ia hendak mempergunakan tenaganya itu untuk membuat pedang lawan terlepas dari pegangan.

"Trang...!"

Dua batang pedang itu beradu dengan kerasnya.

Tadinya Kim Bwe telah merasa pasti bahwa kalau pedang lawannya tidak terlepas karena terpental oleh tenaganya yang besar, pasti pedang lawan itu akan terbabat putus oleh pedangnya yang merupakan pedang pusaka yang ampuh.

Akan tetapi, ternyata bahwa kedua harapannya ini kosong belaka.

Ketika sepasang pedang beradu, berpijarlah titik-titik bunga api menyilaukan mata dan dengan terkejut Kim Bwe merasa betapa tangannya menjadi tergetar hebat.

Ketika ia memandang ke arah lawannya, ia melihat Siang Hwa berdiri tegak sambil tersenyum sinis, pedang di tangan lawannya itu berkilauan mengeluarkan cahaya putih, sedikitpun tidak patah ataupun gempil!

Tahulah ia bahwa pedang lawannya itupun sebuah pedang mustika, maka kemarahannya memuncak.

Sambil berseru nyaring, ia lalu menyerang lagi dan kini ia mainkan gerak-gerak tipu dari Leng-San Kiam-Sut yang cepat dan kuat.

Pedangnya berobah menjadi sinar bergulung-gulung menyerang ke arah Siang Hwa.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan merah ketika Siang Hwa menggerakkan tubuh dan byangan merah ini dilindungi oleh sinar putih yang bergulung-gulung dari pedangnya.

Bukan main hebatnya pertempuran antara kedua orang wanita itu, dan para penonton memandang dengan mulut melongo.

Mereka telah maklum akan kehebatan ilmu pedang Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe, maka permainan pedang Lee Kim Bwe yang hebat itu tidak mengherankan mereka.

Yang membuat mereka menjadi bengong adalah kehebatan ilmu pedang Siang Hwa, gadis muda yang sama sekali tidak ternama dan yang tadinya mereka pandang rendah.

Hal ini tidak mengherankan, karena siapakah yang akan mengira bahwa seorang gadis murid dari Lie Kai akan sehebat itu kepandaiannya?

Yang paling merasa terkejut adalah Lee Kim Bwe sendiri dan juga Lee Kun.

Lee Kim Bwe merasa kaget dan dadanya berdebar gelisah ketika ia menyaksikan kehebatan gerakan pedang lawannya.

Selama pengalamanya bertempur yang banyak menghadapi ilmu-ilmu pedang lawan, belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang seperti yang dimainkan oleh Siang Hwa.

Untuk jurus-jurus pertama memang ia berlaku ganas dan galak, mencoba untuk mendesak Siang Hwa dengan serangan-serangan mematikan dan bertubi-tubi.

Akan tetapi segera ia menjadi kecele dan juga matanya menjadi kabur ketika Siang Hwa mainkan ilmu pedang yang jauh lebih cepat daripada permainannya sendiri.

Demikian kuat gerakan pedang Siang Hwa sehingga tiap kali menyerang, pedangnya terpental kembali diikut oleh serangan-serangan pembalasan dari Siang Hwa yang membuatnya sibuk sekali.

Belum dua ppuluh jurus mereka bertempur, Lee Kim Bwe sudah mulai mundur dan jarang dapat membalas serangan lawan yang lihai itu.

Lee Kun ketika melihat ini, tidak mau tinggal diam.

Tadinya ia ingin mempermainkan Siang Hwa akan tetapi semenjak mendapat hadiah tamparan pada pipinya tadi, ia mulai berlaku hati-hati dan tidak berani memandang rendah.

Apalagi setelah kini ia menyaksikan betapa Cicinya sama sekali tidak berdaya menghadapi ilmu pedang Siang Hwa.

"Bangsat wanita kau harus membayar untuk tamparanmu tadi!"

Ia berseru dan menerjang maju dengan pedangnya.

Ucapan itu hanya untuk menutup rasa malunya saja, karena sesungguhnya amat memalukan mengeroyok seorang gadis muda yang tadinya mereka pandang rendah.

Akan tetapi, sebelum ia sempat menyerang, tiba-tiba dari luar pintu berkelebat bayangan biru dan mendadak didepannya telah berdiri seroang pemuda berpakaian biru yang memegang sebatang pedang.

Pemuda ini berusia paling banyak dua puluh tahun mukanya Bundar, matanya berseri dan mulutnya selalu tersenyum, wajahnya tak dapat dikatakan tampan sekali, akan tetapi siapa juga yang berkenalan dan melihat wajahnya, tentu akan tertarik dan suka.

Wajah inilah yang biasa disebut wajah simpatik, selalu mendatangkan kegembiraan kepada siapa yang bicara kepadanya.

Namun bagi orang yang membenci dan bermusuh dengannya wajah ini akan selalu nampak mengejek dan menggemaskan!

Pakaiannya sederhana, berwarna biru dan di pinggang kini tergantung sebuah kantong kulit kecil, yakni kantong berisi senjata rahasia.

"Lee Kun, sampah neraka, baru sekarang aku dapat menyusulmu!"

Katanya dengan suara mengandung kemarahan, akan tetapi mata dan Bibirnya tetap berseri.

"Orang she Sim!"

Kata Lee Kun marah.

"Benar-benarkah kau hendak mencari permusuhan?"

"Bangsat besar, siapa mencari permusuhan? Sebelum kau menyatakan bertobat dan minta maaf, sampai ke neraka sekalipun aku akan tetap membayangimu!"

Lee Kun merasa menyesal sekali kalau ia mengenangkan perbuatannya yang membuatnya bermusuhan dengan pemuda yang lihai ini.

Hal ini terjadi kurang lebih dua pekan yang lalu ketika ia dan Cicinya masih berada di Propinsi Kwantung.

Dalam sebuah kota, ketika ia mengunjungi Kelenteng besar di kota itu, ia melihat seorang gadis cantik dengan keluarganya sedang bersembahyang di Kelenteng.

Lee Kun memang mempunyai sifat mata keranjang dan ketika ia melihat kecantikan gadis itu, ia merasa tertarik sekali dan tidak dapat menahan nafsu hatinya untuk menggoda.

"Eh, Siocia (nona), apakah kau bersembahyang minta jodoh. Kalau benar demikian, tak usah kau mencari jauh-jauh, Siocia, akupun masih bujangan!"

Ucapannya yang kurang ajar ini hanya untuk menggoda saja, tidak disangkanya sama sekali bahwa di antara rombongan keluarga gadis itu terdapat seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, pemuda ini adalah adik misan gadis itu yang bernama Sim Tiong Han, seorang anak murid Kun-Lun-Pai yang berilmu tinggi.

Tentu saja Sim Tiong Han marah sekali mendengar Piauwci-nya (Kakak misannya) dihina orang, maka ia lalu membentak.

"Bangsat bermulut kotor! Kau keluar dari Kelenteng ini kalau memang jantan! Jangan hanya berani menggoda kepada wanita yang lemah!"

Lee Kun yang memiliki watak sombong, tentu saja tidak memandang sebelah mata kepada pemuda berpakaian biru itu, dan dengan tindakan lebar ia lalu melangkah keluar dari Kelenteng.

Setelah tiba di halaman Kelenteng yang lebar, ia berdiri bertolak pinggang, menanti datangnya pemuda yang menantangnya itu.

"Siapakah kau dan mau apa kau mengajak aku keluar?"

"Bangsat, cabul! Kalau kau belum bertobat dan minta ampun kepada ku, Sim Tiong Han. Aku takkan membiarkan kau pergi begitu saja!"

Kata pemuda baju biru itu.

"Ha, ha, ha, anak muda. Mungkin matamu buta atau telingamu tuli! Tidak tahukah kau bahwa kau sedang berhadapan dengan Lui-Kong-Ciang Lee Kun?"

"Bagus! Sudah lama aku mendengar kabar bahwa orang yang bernama Lee Kun adalah seorang manusia sombong yang mengagulkan kepandaiannya. Ternyata kabar itu masih belum lengkap, karena sesungguhnya Lee Kun adalah seorang manusia sombong yang berwatak rendah dan hina. Lekas kau minta ampun dan bertobat!"

"Kurang ajar!"

Seru Lee Kun dan ia cepat menyerang dengan pukulan tangannya.

Pukulannya inilah yang membuat ia dijuluki Lui-Kong-Ciang (Tangan Geledek) karena ia memiliki ilmu pukulan Pek-Lek-Jiu (Pukulan Halilintar) yang mengandung tenaga bukan main kuatnya.

Ia akan membikin pemuda itu roboh dengan sekali pukul.

Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa Sim Tiong Han adalah anak murid Kun-Lun-Pai yang memiliki ilmu pukulan Gin-Kong-Ciang yang tidak kalah hebatnya.

Melihat pukulan yang mendatangkan angin keras ini, Sim Tiong Han tidak menjadi takut, bahkan lalu menggerakkan tangannya menangkis dengan tenaga Gin-Kong-Ciang yang diandalkan.

"Duk!"

Kedua lengan tangan bertemu dan kalau Sim Tiong Han hanya mundur dua tindak, adalah Lee Kun terhuyung-huyung ke belakang sampai tujuh langkah!

Lee Kun merasa terkejut sekali dan ia maklum bahwa ilmu silat pemuda ini amat tinggi.

Ia merasa menyesal bahwa untuk godaan yang tak berarti itu ia harus menghadapi bencana.

Melihat bahwa di situ banyak sekali terdapat penonton yang rata-rata memandangnya dengan marah, ia lalu melarikan diri secepatnya!

"Bangsat, jangan harap akan dapat melarikan diri sebelum minta ampun!"

Seru Sim Tiong Han.

Akan tetapi ternyata dalam hal ilmu berlari cepat Lee Kun masih menang setingkat sehingga setelah berkejar-kejar beberapa lama.

Lee Kun dapat melepaskan diri dari pengejarnya dan menjumpai Cicinya yang berdiam di sebuah Kuil Nikouw (Pendeta-Pendeta perempuan).

Ia tidak berani menceritakan pengalamannya kepada Lee Kim Bwe, karena Cicinya itupun tidak suka mendengar kenakalannya terhadap wanita.

Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke Hunan, dan karena tidak melihat bayangan Sim Tiong Han, Lee Kun menjadi lega hatinya.

Tidak tahunya bahwa Sim Tiong Han masih tetap mengejarnya dan kini, di dalam rumah Yap Ma Ek, selagi Cicinya terdesak hebat oleh Siang Hwa, tiba-tiba saja pemuda Kun-Lun-Pai itu muncul di depannya.

Lee Kun tidak melihat jalan lain, karena ia takut kalau-kalau pemuda itu akan membongkar rahasianya dan membikin ia malu di depan sekian banyak orang kang-ouw.

Sambil berseru marah ia lalu menyerang pemuda itu dengan pedangnya.

Kini pertempuran terbagi menjadi dua golongan dan keadaan makin tegang.

Semua orang tidak mengenal Sim Tiong Han dan mereka kagum melihat gerakan pedang pemuda baju biru ini, yang ternyata tidak kalah lihainya daripada Lee Kun.

Kaum tua yang berada di situ makin tercengang.

Hari ini mereka mengalami kejadian luar biasa dan menyaksikan kepandaian yang amat hebat.

Banyak diantara mereka menghela napas dan mengakui kebodohan sendiri.

Ternyata kini banyak muncul orang-orang muda seperti Liok Siang Hwa dan pemuda baju biru ini yang sama sekali tidak terkenal, akan tetapi yang memiliki ilmu silat yang benar-benar tinggi.

Kalau dulu Lee Kun terkejut melihat Sim Tiong Han dapat menangkis pukulannya Pek-Lek-Jiu dan membuatnya terhuyung mundur, kini ia menjadi makin gelisah karena ternyata Kun-Lun Kiam-Hwat yang dimainkan oleh pemuda itupun kuat sekali!

Sambil bertempur ia melirik kearah pintu mencari jalan lari untuk menyelamatkan diri.

Sementara itu, Sim Tiong Han sambil bertempur melirik ke arah Nona baju merah yang sedang mendesak Lee Kim Bwe dan ia diam-diam merasa girang dan takjub.

Ia mengenal gerakan ilmu pedang Ang-Liong Kiam-Sut yang pernah dilihatnya sekali, dan bukan main kagumnya melihat ilmu pedang yang sukar itu kini dimainkan dengan amat baiknya oleh seorang gadis muda.

Iapun menjadi gembira dan tidak mau kalah mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mendahului Sing Hwa merobohkan lawannya.

Kepandaian Lee Kun masih setingkat lebih rendah daripada kepandaian Lee Kim Bwe, terutama sekali dalam hal ilmu pedang.

Kini karena didesak hebat oleh Sim Tiong Han, ia tak dapat menahan lagi.

Karena tidak mendapat kesempatan untuk membalas serangan lawan.

Lee Kun lalu berniat mengadu nyawa.

Ia menangkis bacokan lawannya dan membarengi dengan tusukan pada dada Sim Tiong Han.

Tentu saja Tiong Han tidak sudi mengadu nyawa, dan cepat menarik pedangnya lalu menangkis dengan gerakan "menempel".

Kedua pedang menempel erat-erat dan kini keduanya mengadu tenaga yang disalurkan melalui pedang mereka.

Tiong Han lalu mengerahkan tenaga dan sambil berseru keras ia membuat gerakan yang disebut Angin Puyuh Menggulung Daun.

Pedangnya diputar sehingga Lee Kun terpaksa mengikuti gerakan memutar ini.

Tiba-tiba pedang Tiong Han maju ke depan dan mengancam pergelangan tangannya.

Terpaksa Lee Kun melepaskan pedangnya dan menarik kembali tangannya agar terhindar daripada tusukan ujung pedang lawan!

"Trang..."

Pedang itu jatuh di atas lantai, disusul pula oleh bunyi "Trang"!"

Yang nyaring lagi ketika pedang di tangan Lee Kim Bwee terlepas pula karena terpental oleh serangan pedang Siang Hwa!

Seperti sudah berjanji sebelumnya, dalam waktu yang berbareng Siang Hwa dan Tiong Han dapat melucuti senjata lawan dan keduanya lalu menodongkan ujung pedang di depan dada lawan masing-masing!

"Hayo lekas tarik kembali kata-katamu yang menghina Kongkong dan minta maaf!"

Bentak Siang Hwa kepada Lee Kim Bwe yang berdiri dengan muka pucat saking malu dan penasarannya.

"Hayo kau lekas menyatakan tobat dan minta ampun!"

Bentak Tiong Han kepada Lee Kun.

Lee Kim Bwe hampir menangis saking malunya.

Belum pernah selamanya ia menderita kekalahan, apalagi dari seorang gadis muda seperti Siang Hwa.

Ia menggigit Bibirnya dengan muka pucat.

"Bukan seorang gagah untuk berlaku garang dengan pedang di tangan terhadap lawannya yang bertangan kosong!"

Katanya dengan keras, berusaha mengurangi perasaan malunya.

"Hem, begitulah? Kau benar-benar keras kepala! Agaknya kau harus dihajar lebih dulu!"

Kata Siang Hwa sambil menyarungkan pedangnya kembali. Tiong Han yang melihat sikap Siang Hwa ini merasa amat kagum dan iapun lalu turut-turut menyimpan pedangnya.

"Kau masih belum mau mengaku kalah?"

Bentaknya kepada Lee Kun yang sesungguhnya sudah merasa jerih sekali menghadapi pemuda konsen itu.

Lee Kim Bwe merasa heran melihat pemuda tampan yang telah mengalahkan adiknya itu, karena sesungguhnya ia tidak tahu siapa adanya pemuda itu dan mengapa tahu-tahu menyerang adiknya.

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia tidak mau banyak bertanya, dan hanya mengira bahwa pemuda itu tentulah kawan dari Liok Siang Hwa.

Ketika ia melihat Siang Hwa menengok kepada Tiong Han karena gadis inipun merasa kurang senang melihat betapa pemuda baju biru seakan-akan menirunya, lalu melihat kesempatan terbuka.

Dengan cepat ia lalu mengirim pukulan keji ke arah dada Siang Hwa!

"Awas, Nona!"

Seru Tiong Han melihat gerakan ini dan ia hendak menolong Siang Hwa, akan tetapi dari samping, Lee Kun menyerangnya dengan pukulan Pek-Lek-Jiu!

Terpaksa ia menGurungkan niatnya menolong Siang Hwa dan cepat menangkis pukulan Lee Kun, lalu membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.

Sementara itu, sebetulnya Tiong Han tak perlu memperingatkan Siang Hwa, oleh karena gadis ini biarpun masih muda, akan tetapi telah mendapat latihan-latihan cukup banyak dari ketiga orang Gurunya.

Biarpun diserang dengan mendadak dan dengan curang tanpa memberi tahu lebih dulu, akan tetapi ia telah memiliki gerakan tubuh yang otomatis.

Begitu telinganya mendengar desir angin pukulan dari arah kiri menuju ke dadanya, tiba-tiba tubuhnya bergerak ke belakang seperti terjengkang, Kemudian disusul dengan kedua kakinya melayang ke atas berjungkir balik tiga kali di udara dan turun lagi dengan kaki lebih dulu.

Gerakannya demikian ringan dan gesit, turun tubuhnya bagaikan selembar bulu burung, sehingga semua orang yang melihat gerakan Burung Hong Menyambar Turun ini merasa demikian kagum sampai mereka bertepuk tangan memuji!

Tanpa banyak cakap lagi, Siang Hwa lalu membalas dengan serangannya.

Kini mereka bertempur dengan tangan kosong, lebih hebat dan mati-matian daripada tadi.

Kalau Lee Kun memiliki ilmu pukulan Pek-Lek-Jiu, adalah Lee Kim Bwe memiliki ilmu Tiam-Hwat (menotok jalan darah) yang amat lihai.

Siang Ha sudah mengetahui hal ini, bukan hanya karena tadi ia melihat betapa Lie Kai terkena totokan Lee Kim Bwe yang lihai, akan tetapi juga karena ia melihat betapa pada kedua tangan Kim Bwe, jari tengah dan jari telunjuk sama panjangnya.

Ini menunjukkan bahwa semenjak kecil, kedua tangan Lee Kim Bwe itu telah dilatih menotok sehingga bertumbuhnya dua jari itu sama dan selain cocok untuk ilmu totok, juga keras sekali dan dapat dipergunakan untuk ilmu pukulan Hun-Kin Coh-Kut, yakni semacam ilmu pukulan menggunakan dua jari yang telah keras sama panjangnya itu untuk memutuskan otot dan melepaskan tulang lawan!

Akan tetapi, setelah mereka bertempur belasan jurus, kembali Lee Kim Bwe dibikin pening kepalanya oleh ginkang atau ilmu meringankan tubuh dari Siang Hwa yang benar-benar hebat itu.

Gerakan gadis itu bagaikan seekor burung walet yang sukar sekali diserang, apalagi ilmu totok dari Lee Kim Bwe adalah ilmu Tiam-Louw yang dilakukan pada jalan darah tertentu, bukan seperti ilmu totok Coat-Meh-Hwat dari Bu-Tong-Pai yang tak perlu mencari jalan darah.

Sukar bukan main untuk dapat menotok seorang lawan yang memiliki gerakan secepat Siang Hwa.

Sebaliknya, Lee Kim Bwe juga maklum bahwa lawannya yang masih muda tapi lihai sekali itu sengaja mempermainkannya, karena lawannya tidak menyerangnya dengan sungguh-sungguh.

Hal ini membuat ia diam-diam mengeluarkan keringat dingin dan bulu tengkuknya berdiri karena merasa serem.

Belum pernah ia bertemu dengan seorang lawan sehebat ini!

Sementara itu, Sim Tiong Han juga mempermainkan Lee Kun bagaikan seekor kucing mempermainkan tikus kecil.

Ia mengocok Lee Kun sampai Lui-Kong-Ciang si Tangan Geledek itu menjadi pening.

Berkali-kali terdengar suara "Plak-Plok!"

Ketika tangannya menampar pipi, menempeleng kepala dan menendang tubuh belakang lawannya itu. Lee Kun dipermainkan tanpa dapat membelas sedikitpun juga.

"Belum mau bertobatkah engkau?"

Terdengar Tiong Han berseru dan "Plak!"

Kembali tangan kirinya menempeleng belakang kepala Lee Kun untuk kesekian kalinya.

Lee Kun hampir menangis saking jengkel dan malunya.

Ia maklum bahwa kalau lawannya yang lihai itu berniat jahat, tentu tamparan itu telah dapat dirobah menjadi pukulan maut dan nyawanya takkan tertolong lagi.

Pada saat itu ia bahkan mengharapkan lawannya menghabiskan nyawanya saja daripada mengirim tempelengan-tempelengan yang hanya bersifat menghina itu.

Adapun Siang Hwa setelah puas mempermainkan Lee Kim Bwe yang sedikitpun tak pernah dapat menyentuhnya, lalu mengambil keputusan untuk memberi sedikit hajaran kepada Jian-Jiu Koan-Im ini.

ketika ia melihat lawannya menusuknya dengan totokan ke arah pundaknya, ia cepat mengerahkan tenaga dan mempergunakan ilmu Pik-Ki Hu-Hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah).

Ketika jari tangan Lee Kim Bwe dengan tepat mengenai pundak, si Dewi Koan Im Tangan Seribu ini terkejut sekali karena merasa betapa kulit pundak Siang Hwa lunak dan licin.

Ia cepat hendak menarik kembali tangannya, akan tetapi terlambat.

Siang Hwa telah mendahuluinya menyambar dua jari tangannya itu dan sebelum ia dapat menarik tangan, dua jari tangannya yang digunakan untuk menotok itu telah terkena cengkeraman tangan Siang Hwa!

Lee Kim Bwe mengerahkan tenaganya dan ia mengandalkan kekerasan jari-jari yang terlatih itu, akan tetapi tiba-tiba ia merasa sakit luar biasa pada kedua jarinya dan terdengar suara.

"Krek!"

Membuat ia merasa kesakitan sekali dan menjeritlah ia tanpa disadari.

Ternyata bahwa sambungan tulang jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya telah terlepas!

Bukan main sakitnya tangan itu, sampai terasa ke ulu hatinya, dan seluruh urat-urat tangannya seakan-akan ditusuk-tusuk jarum!

"Kau masih belum mau minta maaf?"

Tanya Siang Hwa sambil bertolak pinggang.

Akan tetapi Lee Kim Bwee benar-benar keras hati.

Biarpun rasa sakit membuat matanya mengeluarkan air mata dan membuat mukanya menjadi pucat sekali, namun tetap ia tidak mau menuruti permintaan Siang Hwa.

Sebaliknya, Lee Kun ketika melihat keadaan Cicinya dan juga karena ia merasa matanya berkunang-kunang karena tempelengan tangan Tiong Han yang terakhir amat kerasnya, segera berseru.

"Sudahlah"

Maafkan aku, aku menerima salah!"

Sim Tiong Han menunda serangannya dan kini iapun berdiri bertolak pinggang dan memandang dengan puas.

"Berhari-hari aku mengejar, hanya untuk mendengar ucapanmu ini! seorang laki-laki yang gagah perkasa takkan malu mengakui salahnya, akan tetapi dasar kau laki-laki berbatin rendah, kalau belum dipaksa dan dihajar belum mau mengakui kesalahan! Kau sendirilah yang mencari penyakit dan sombong, jangan menganggap aku Sim Tiong Han berlaku keterlaluan!"

Sementara itu, Siang Hwa masih membentak-bentak Lee Kim Bwe, minta bekas lawannya itu menarik kembali penghinaan atas nama Kongkongnya dan minta maaf.

Akan tetapi jawaban yang diterimanya dari Kim Bwe hanyalah lototan mata saja.

"Keparat!"

Teriak Siang Hwa.

"Kau memang besar kepala!"

Tangan kirinya menampar dan "Plak!"

Pipi Kim Bwe kena ditampar sampai kepala wanita itu menjadi miring. Darah menetes keluar dari mulutnya.

"Kau belum puas?"

Teriak Siang Hwa yang sudah marah sekali.

"Cici, Bwe, sudahlah kau mengaku salah dan minta maaf saja!"

Kata Lee Kun yang tidak tega melihat keadaan Kakaknya. Akan tetapi Lee Kim Bwe tidak menjawab tetap memandang dengan amarah meluap-luap.

"Liok-Lihiap, biarlah aku mewakili Ciciku minta maaf dan menarik kembali ucapan yang tak sengaja menghina nama Song-Ciankun tadi."

"Pengecut!"

Seru Kim Bwe dan sekali kakinya bergerak, tubuh adiknya telah terpental beberapa kaki jauhnya terkena tendangannya! Kemudian ia menundingkan jari tengahnya kepada Siang Hwa dan berkata.

"Liok Siang Hwa! Nama ini takkan kulupakan sebelum aku mati, dan kalau kau bukan seorang pengecut, katakanlah siapa nama Gurumu dan apa pula hubunganmu dengan mendiang Siong Liang!"

Liok Siang Hwa tersenyum sindir.

"Kim Bwe aku ampunkan jiwa anjingmu, karena biarpun kau berjiwa pengkhianat dan jahat serta sombong, namun kau memiliki kegagahan yang cukup membuat aku kagum. Dengarlah baik-baik, aku takkan menyembunyikan nama dan keadaanku. Panglima Song Liang adalah Ayah dari Ibuku, dan adapun Guruku ialah Sam-Lian Sianli dari bukit Cin-Ling-San! Baik kau ketahui sekalian bahwa tempat tinggalku di kota Han-Cung Propinsi Shensi."

Semua orang menjadi amat terkejut mendengar bahwa gadis ini adalah murid dari Tiga Dewi Teratai dari Cin-Ling-San.

Pantas saja demikian lihai, pikirnya.

Juga Kim Bwe terkejut sekali dan diam-diam menyumpah-nyumpah nasibnya yang sial sehingga hari ini ia bertemu dengan murid Ketiga Dewi Teratai yang amat tersohor itu!

Tanpa banyak cakap lagi ia lalu membalikkan tubuh dan berlari keluar dari rumah itu, diikut oleh Lee Kun yang juga sudah merangkak bangun setelah ditendang oleh Cicinya tadi.

Liok Siang Hwa lalu melompat ke dekat Lie Kai dan bertanya.

"Lie-Lopek, sesungguhnya bagaimanakah keadaan Kongkongku? Benarkah ia telah gugur?"

Lie Kai semenjak tadi berdiri bengong memandang kepada Nona baju merah ini.

ternyata bahwa Nona yang telah menolongnya itu adalah cucu Song Liang, bekas musuhnya dan juga bekas kawan seperjuangan!

"Kau"

Kau"

Apakah kau ini puteri dari Liok Houw Sin?"

Siang Hwa terkejut.

"Eh, jadi kau juga sudah mengenal Ayahku, Lopek?"

Lie Kai mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.

Ia tidak ingin menceritakan keadaannya dengan Ayah Nona ini, karena hal ini berarti akan membongkar rahasia Houw Sin yang kurang pantas, berhubung dengan pengalamannya dengan Sui Lan dulu.

"Memang Song Liang telah gugur. Ia tewas sebagai seorang pahlawan bangsa, dan aku sendiri yang menyaksikan ketika ia menarik napas terakhir. Di atas pangkuankulah ia binasa, terkena senjata musuh. Telah bertahun-tahun kami berjuang bahu-membahu dan terus terang saja, Nona Liok, sungguhpun Kakekmu itu kepandaian silatnya tidak amat tinggi, namun siasat perangnya amat mengagumkan. Ia telah banyak berjasa terhadap perjuangan para patriot."

"Dimanakah ia dimakamkah, Lie Lopek?"

Tanya Siang Hwa menahan kekecewaannya. Lie Kai menghela napas.

"Ah, waktu kacau seperti itu, di mana ada waktu untuk mengubur para pahlawan yang gugur? Kami terdesak hebat dan terpaksa melarikan diri meninggalkan kawan-kawan yang tewas atau terluka."

Ia lalu menceritakan pengalamannya ketika berjuang di samping Song Liang.

"Ah, tiada gunanya lagi dicari.."

Kata Siang Hwa.

"Sudahlah, perkenankan aku pergi dan terima kasih atas kebaikanmu, juga terima kasih kepadamu, Yap Lo-Enghiong,"

Katanya kepada Lie Kai dan Yap Ma Ek.

Setelah berkata demikian.

Ia lalu melangkah keluar, akan tetapi tiba-tiba Tiong Han melangkah maju dan menjura kepadanya "Liok-Lihiap, aku amat kagum menyaksikan kepandaianmu dan amat beruntung rasa hatiku dapat bertemu dengan murid dari Sam-Lian Sianli yang tersohor!"

Merahlah wajah Siang Hwa dan untuk sekejap mata ia memandang wajah pemuda yang tampan dan gembira itu, lalu menjawab.

"Ah, kau terlalu memuji. Sim-Enghiong. Kepandaianku belum tentu akan dapat menyamai kepandaianmu. Ilmu pedangmu Kun-Lun Kiam-Hwat amat lihai!"

"Ah, kau sudah mengenal ilmu pedangku pula? Alangkah bahagianya hatiku kalau aku mendapat kesempatan bertukar pikiran tentang ilmu pedang dengan kau, Nona. dan memetik sedikit kepandaian daripadamu."

Kembali muka Siang Hwa memerah. Ia cepat menjura dan berkata.

"Mudah-mudahan lain kali kita akan dapat bertemu dan mempunyai kesempatan untuk saling memberi petunjuk, Sim Enghiong. Akan tetapi pada waktu ini aku tidak mempunyai banyak tempo. Maafkan aku!"

Ia lalu melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Setelah Siang Hwa yang amat dikagumi itu pegi, semua orang mencurahkan perhatiannya kepada Sim Tiong Han yang juga telah mereka saksikan kelihaiannya.

Maka semua orang lalu mengelilingi pemuda ini untuk memuji dan belajar kenal.

"Yap Lo-Enghiong, harap maafkan Siauwte yang telah berlancang masuk ke rumah ini tanpa minta ijin lebih dulu. Sesungguhnya, telah berhari-hari Siauwte mengejar penjahat Lee Kun yang telah berani menghina adik misanku,"

Secara singkat ia lalu menceritakan pengalamannya.

Ketika Tiong Han asyik bercerita, tiba-tiba berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu Siang hwa telah berdiri di situ pula.

Muka gadis ini nampak merah dan bersungguh-sungguh, alisnya yang bagus dikerutkan (Lanjut ke

Jilid 05) Naga Merah Bangau Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05

"Semua siap sedia!"

Katanya dengan sikap tenang akan tetapi suaranya menyatakan ketegangan hatinya.

"Kedua orang pengkhianat tadi, Lui Kok dan Ban Sek Hosiang, telah datang membawa sepasukan tentara Mancu dan beberapa orang perwira yang agaknya berkepandaian tinggi!"

Terkejut semua orang dan segera mereka mengambil senjata masing-masing dan berlari keluar.

"Jumlah musuh terlalu banyak, kulihat sedikitnya ada seratus orang. Lebih baik melarikan diri sebelum mereka datang!"

Kata Siang Hwa pula.

Akan tetapi ternyata peringatannya telah terlambat karena segera terdengar derap kaki kuda dari jauh!

Dari depan muncul kurang lebih tiga puluh orang, sebagian besar berpakaian sebagai panglima-panglima Mancu, dan ditengah mereka nampak Lui Kok, Ban Sek Hosiang, bahkan kedua saudara Lee tadipun nampak di situ menunggang kuda!

"Tangkap para pemberontak!"

Teriak Lui Kok.

"Bangsat pengkhianat!"

Tiong Han dan Siang Hwa memaki hampir berbareng dan kedua orang muda ini lalu memutar pedang menyambut keroyokan para panglima Mancu, dan di belakang mereka, dua puluh lebih orang gagah juga lalu menggerakkan senjata masing-masing menyambut serangan musuh.

Yang membuat Siang Hwa dan Tiong Han merasa gemas adalah karena mereka tidak melihat lagi bayangan kedua saudara Lee tadi.

Mereka ingin sekali mendapat kesempatan membunuh kedua orang saudara Lee khianat itu.

Akan tetapi, Siang Hwa masih terasa puas karena dalam amukannya, ia berhasil melukai Ban Sek Hosiang pada pahanya dan Tiong Han lebih berhasil lagi, karena tangan kiri Lui Kok telah terbabat putus oleh pedangnya!

Kedua orang muda ini yang memiliki kepandaian paling tinggi, mengamuk bagaikan dua ekor naga sakti, di mana saja pedang mereka berkelebat tentu senjata musuh terbabat putus atau tubuh seorang lawan terguling.

Akan tetapi, jumlah musuh terlalu banyak.

Para perajurit yang tadinya hanya menGurung, Ketika melihat betapa para pemimpin mereka kewalahan, lalu dikerahkan maju dan dua puluh lebih orang-orang gagah yang tadinya berkumpul di rumah itu telah terkurung rapat!

Di antara para penglima musuh, banyak yang berkepandaian tinggi dan sebaliknya di antara para orang-orang kang-ouw terdapat juga yang kurang pandai, maka tak lama kemudian, banyak juga orang kang-ouw yang roboh mandi darah.

Bahkan Yap Ma Ek, pendekar tua itu, tiba-tiba berteriak keras dan roboh dengan dada terluka oleh ujung tombak seorang panglima.

Melihat hal ini, timbullah kekhawatiran di hati Siang Hwa.

Ia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, oleh karena mengandalkan kepandaiannya, agaknya takkan sukar baginya untuk melepaskan diri dari kepungan.

Akan tetapi ia mengkhawatirkan orang-orang gagah lainnya, kecuali Tiong Han karena pemuda inipun lihai sekali.

"Sim-Enghiong, kita pecahkan menjadi dua rombongan. Kau membuka jalan dari kiri dan aku dari kanan!"

"Baik, Liok-Lihiap!"

Jawab Tiong Han dengan suara gembira.

Di dalam ketegangan dan pertempuran sehebat itu, pemuda ini masih saja tersenyum-senyum gembira.

Mereka lalu memecah rombongan menjadi dua.

Lie Kai bertempur dalam rombongan Sim Tiong Han dan pendekar tua ini timbul pula kegembiraannya.

Pertempuran ini mengingatkan ia akan pertempuran di dalam peran melawan bala tentara Mancu waktu dulu!

Terdengar teriakan-teriakannya yang menyeramkan, ketika ia mainkan goloknya dengan gagah sekali.

Thiat-Thouw-Gu Lie Kai memang menaruh dendam yang amat hebat pada balatentara Mancu, anjing penjajah itu.

Ia kerahkan segala kepandaiannya.

Akhirnya, berkat kegagahan mereka, terutama sekali Siang Hwa dan Tiong Han, terlepaslah mereka dari kepungan, dan mereka lalu melarikan diri, dikejar oleh pasukan Mancu itu.

Siang Hwa lalu memencar pula rombongannya, bahkan ia lalu menyuruh mereka yang tadi mengikutinya untuk melarikan diri terlebih dulu sedangkan ia sendiri tertinggal di belakang untuk menyambut para pengejar!

Bukan main gagahnya dara ini, gagah dan juga tabah sekali.

Akan tetapi ia tidak tahu bahwa hal yang seperti ini pula terjadi di lain jurusan.

Seperti telah berjanji lebih dahulu, juga Tiong Han melakukan siasat yang sama seperti Siang Hwa.

Ia menyuruh kawan-kawan lain melarikan diri lebih dulu dan ia sendiri mencegat para pengejar yang segera mengeroyoknya.

Setelah merasa bahwa orang-orang yang melarikan diri mendapat tempat-tempat sembunyi yang aman, barulah Tiong Han memutar tubuh dan lari dengan cepat, sebentar saja meninggalkan para pengejarnya.

Akan tetapi ketika tiba di pinggir sebuah hutan, tiba-tiba dari atas pohon melompat turun seorang tinggi besar dan orang ini adalah Lie Kai!

Ia sengaja menanti Tiong Han di situ dan dengan girang ia tertawa.

"Sim-Taihiap, aku sengaja menanti di sini karena aku ingin sekali belajar kenal dengan kau yang muda dan gagah ini!"

Sim Tiong Han tertawa girang.ia memang suka kepada Kakek yang gagah ini dan mereka lalu melanjutkan perjalanan bersama-sama.

Sementara itu, Siang Hwa juga melarikan diri setelah kawan-kawan lain dapat menyelamatkan diri dari para pengejarnya.

Dan setelah melihat bahwa tidak ada seorangpun kawan yang ikut melarikan diri terancam bahaya lagi, Siang Hwa lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Propinsi Shansi, hendak pulang dan memberi laporan kepada Ayah-Bundanya tentang hasil usahanya mencari Kongkongnya.

Kita tinggalkan dulu Lie Kai dan Tiong Han yang melakukan perjalanan bersama itu, dan Liok Siang Hwa yang kembali ke kotanya, karena sudah terlalu lama kita meninggalkan Lie Swan Hong, pemuda puteri Sui Lan yang turun gunung bersama Suhengnya yang bernama Seng Tee Hwesio, untuk melakukan dharmabakti sebagai seorang pendekar yang melakukan perantauan, dan juga untuk mencari Kakeknya yang bernama Lie Kai dan berjuluk Thiat-Thouw-Gu si Kerbau Kepala Besi.

Seng Tee Hwesio pernah turun gunung beberapa kali untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh mendiang Suhunya, maka kini ia dapat memberi petunjuk dan menceritakan keadaan sesuatu tempat yang mereka lalui kepada Swan Hong sehingga pemuda itu menjadi gembira sekali.

Dari atas bukit Thai-Liang-San di Secuan, mereka menuju ke selatan, kemudian mereka lalu mengambil jalan air, naik perahu sepanjang sungai Yang-Ce.

Karena sukar untuk mendapat perahu tambangan yang murah, dan karena perjalanan mereka juga tidak tentu tujuannya, maka mereka lalu membuat perahu sendiri.

Bukan perahu biasa terbuat daripada batang pohon, melainkan sebuah rakit atau getek yang terbuat daripada beberapa potong batang bambu yang ditumpuk-tumpuk dan dijajarkan, serta diikat dengan tali bambu pula.

Dengan rakit yang sederhana inilah mereka melakukan perjalanan air.

Di sepanjang jalan mereka mengalami banyak kegembiraan karena memang tamasya alam di kanan kiri sungai amat indahnya.

Sepanjang perjalanan ini, mereka dapat menangkap ikan yang banyak terdapat di sungai itu.

Seng Tee Hwesio sengaja melepaskan pantangannya dan ikut pula makan daging ikan, karena memang amat sukar untuk memegang teguh pantangan makan dan hanya makan sayur saja apalagi dalam perjalanan.

Berhari-hari mereka melakukan perjalanan tanpa ada rintangan yang berarti.

Ada beberapa orang bajak sungai yag melihat perjalanan mereka, akan tetapi melihat bahwa yang melakukan pelayaran hanya seorang pemuda dan seorang Hwesio yang tidak membawa barang berharga, bahkan yang ditumpangipun hanya rakit bambu, maka para bajak itu tiada nafsu untuk merampok mereka!

Ketika rakit yang mereka naiki itu tiba di kota Icang di Propinsi Hopak, mereka meminggirkan rakit dan mendarat di kota yang besar dan ramai itu.

mereka telah melakukan pelayaran hampir sebulan lamanya dan sudah mengunjungi banyak dusun dan kota yang dilalui oleh sungai Yang-Ce.

Keadaan kota ini amat menarik perhatian Seng Tee Hwesio karena menurut kabar, disitu terdapat sebuah Kuil Buddha yang besar, yakni yang disebut Kuil Thian Hok Si.

Pusat keramaian kota Icang adalah sebuah jalan besar yang penuh dengan toko-toko di kanan kirinya.

Terdapat pula rumah-rumah penginapan yang memasang merek besar di samping restoran-restoran yang dari jauh sudah memanggil dan menarik perhatian orang dengan bau masakan sedap yang menimbulkan selera.

Swan Hong dan Seng Tee Hwesio juga amat tertarik oleh bau masakan yang amat sedap, yang datang dari sebuah restoran di sudut sana.

Masakan udang dari Icang amat terkenal dan udang yang diambil dari sungai itu segar-segar dan besar-besar.

Seng Tee Hwesio pernah menikmati masakan udang ini, maka ia lalu mengajak Sutenya mampir ke rumah makan itu.

Di dalam ruang restoran banyak orang yang sudah duduk dan sedang makan.

Mendengar percakapan mereka, dapat diketahui bahwa sebagian besar orang yang makan di situ adalah orang luar kota dan orang luar daerah.

Memang, kota Icang banyak dikunjungi orang-orang jauh, bukan hanya untuk berdagang, akan tetapi juga untuk berpesiar karena pemandangan di wilayah lembah sungai Yang-Ce memang indah.

Swan Hong dan Seng Tee Hwesio disambut oleh seorang pelayan dan mereka mendapat tempat duduk di meja dekat pintu yang baru saja ditinggalkan tamu yang sudah selesai makan.

Memang lezat masakan restoran itu sehingga Seng Tee Hwesio sampai lupa akan jubah Pendeta yang dipakainya dan kalau Swan Hong habis seporsi, Hwesio ini habis dua porsi.

Pada waktu mereka tengah menikmati masakan itu sambil minum arak ringan, datanglah seorang Hwesio lain yang bertubuh gemuk dan berkepala klimis.

Hwesio ini tangan kanannya memegang tongkat yang besar dan berat, sedangkan tangan kirinya bukan membawa tasbeh atau batok seperti biasa, melainkan mengepit sebuah buku catatan besar!

Tadinya Swan Hong dan Seng Tee Hwesio yang duduk di dekat pintu, mengira bahwa Hwesio itu hanya berdiri di ambang pintu lalu mengetok-ngetokkan tongkat pada lantai.

Yang aneh sekali, ketika penGurus rumah makan melihat kedatangan Hwesio ini, ia segera tersenyum lebar, tertawa dan membungkuk-bungkuk dengan sikap menjilat sekali sambil berlari menghampiri, menyambut Hwesio itu.

tentu saja Swan Hong dan Seng Tee Hwesio merasa heran mengapa untuk menyambut seorang Hwesio, sampai penGurus sendiri yang keluar dari kantornya, bukan oleh pelayan yang banyak terdapat di situ.

"Silahkan masuk, Twa-Suhu. Sumbangan sudah kusediakan."

Akan tetapi Hwesio gemuk itu tidak menggerakkan tubuhnya, bahkan lalu membuka buku catatannya, dan setelah mencari-cari di dalam buku catatan, ia lalu berkata perlahan.

"Hm, hanya lima tail? Terlalu sedikit untuk rumah makan yang dikunjungi tamu sebanyak ini. mulai pekan ini Pinceng naikkan menjadi sepuluh tail!"

PenGurus rumah makan itu menjadi pucat ketika mendengar bahwa uang sumbangan untuk sepekan dinaikkan sampai sepuluh tail, maka sambil menjura ia berkata dengan suara memohon.

"Twa-Suhu, mohon maaf sebanyaknya. Sepuluh tail terlampau berat bagiku, keuntunganku tak ada, sekain banyaknya dalam sepekan? Twa-Suhu, kasihanilah kami, perusahan kami akan bangkrut kalau membayar sepuluh tail sepekan!"

Tiba-tiba sepasang mata Hwesio gemuk itu melotot.

"Apa...? Menyumbang harus dengan hati rela! Kalau kau menolak dan membikin marah Sang Buddha sehingga air sungai membanjir menenggelamkan rumah makan ini, apakah itu bukan berarti semua milikmu akan musnah?"

Setelah berkata demikian, Hwesio gemuk itu memutar tubuhnya dan meninggalkan rumah makan itu dengan langkah lebar.

"Twa-Suhu nanti dulu..."

Si penGurus rumah dengan muka pucat lalu mengejar dan keluar dari rumah makan itu.

Swan Hong dan Seng Tee Hwesio merasa heran sekali mendengar percakapan itu.

Ketika pelayan datang untuk mengambil mangkok-mangkok kosong dan menerima uang pembayaran, Swan Hong lalu menambah pembayaran itu dengan beberapa potong uang kecil, lalu bertanya kepada pelayan yang berterima kasih menerima hadiah itu.

"Lopek, sesungguhnya siapakah Hwesio tadi dan ada urusan apakah dia dengan rumah makan ini?"

Agaknya pelayan itu merasa ragu-ragu untuk menjawab, akan tetapi setelah menengok ke kanan kiri dan melihat bahwa tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka, dengan suara berbisik ia berkata.

"Hwesio itu adalah pengumpul sumbangan dari klenteng Thian-Hok-Si dan..."

Tiba-tiba ia memandang kepada Seng Tee Hwesio dengan curiga.

"Akan tetapi... Apakah Siauw-Suhu ini bukan anggauta Thian-Hok-Si?"

Seng Tee Hwesio menggelengkan kepalanya yang gundul.

"Bukan, Pinceng datang dari tempat yang jauh dan ingin mengetahui apakah yang terjadi dengan Hwesio gemuk tadi?"

Pelayan itu bernapas lega lalu melanjutkan keterangannya.

Dengan singkat ia menceritakan bahwa sudah terjadi kebiasaan di Kelenteng Thian-Hok-Si bahwa setiap pekan, semua pedagang di kota Icang harus memberi keuntungan yang sudah ditentukan jumlahnya.

Tiada ada orang yang berani menolak jumlah sumbangan yang ditentukan oleh Hwesio itu, karena siapa yang menolak tentu akan tertimpa malapetaka.

Ada beberapa orang yang berani menolak, malamnya tewas dengan tiba-tiba dan tidak diketahui sebabnya.

Tidak terdapat luka di tubuhnya, akan tetapi orang itu tahu-tahu mati di dalam kamarnya!

"Oleh karena itulah, maka majikan kami tidak berani menolaknya."

Berkerut alis Seng Tee Hwesio mendengar hal ini.

Mana ada sumbangan yang dikumpulkan dengan paksa?

"Dan ia tadi bicara tentang banjir, apakah artinya itu?

dan peraturan sumbangan ini apakah sudah terjadi semenjak dahulu?"

Tanyanya.

"Sudah, sudah lama sekali terjadi, dan menurut cerita orang-orang yang sudah lama tinggal di sini, memang beberapa puluh tahun yang lalu kota ini disapu bersih oleh air sungai Yang-Ce yang meluap jauh. Sumbangan ini dilakukan kurang lebih sudah tiga tahun yang lalu, semenjak Kelenteng itu diketuai oleh seorang Hwesio bernama Ban Sek Hosiang.

"Agaknya pelayan itu merasa telah bicara terlampau banyak, maka ia lalu meninggalkan kedua orang tamunya itu sambil minta maaf karena tak berani melanjutkan percakapan itu. Setelah keluar dari rumah makan itu, Seng Tee Hwesio berkata.

"Sute, keadaan Kelenteng Thian-Hok-Si itu benar-benar mencurigakan. Marilah kita berkunjung kesana melihat-lihat!"

Swan Hong juga menyatakan penasarannya, maka kedua orang ini lalu menuju ke Kuil Thian-Hok-Si yang berada di ujug sebelah barat.

Dari jauh sudah nampak bangunan itu, banyak sekali pengunjung yang hendak bersembahyang atau membayar kaul.

Selain patung Ji-Lai-Hud yang dipuja di Kelenteng ini, juga terdapat banyak sekali patung-patung Dewa yang dipuja.

Bangunan Kelenteng ini kuno sekali, akan tetapi masih kokoh dan agaknya mendapat rawatan yang baik sehingga cat-catnyapun nampak baru dan mewah.

Di atas genteng yang tebal, terdapat sepasang naga batu yang indah seakan-akan hidup.

Di ruang depan, lantainya terbuat daripada batu halus yang bersih mengkilap dan meja-meja sembahyang yang dipasang di situ amat besar dan panjang, penuh dengan hidangan-hidangan mahal.

Lilin-lilin yang terpasang di atas meja juga lilin-lilin berwarna yang digambari, besar dan panjang, lilin mahal-mahal belaka.

Penutup meja dari kain bersulam gambar dewa-dewa, disulam dengan benang emas dan indah sekali.

Pendeknya, Kelenteng ini mewah sekali dan belum pernah kedua orang murid dari Thai-Liang-San itu melihat sebuah Kelenteng seindah ini.

terutama sekali Seng Tee Hwesio, ia merasa kagum dan suka sekali kepada Kelenteng yang besar dan baik ini seakan-akan kehilangan kesuciannya karena terlampau mentereng dan penuh dengan keindahan dan kemewahan duniawi.

Ketika Swan Hong dan Seng Tee Hwesio masuk ke ruang depan, terjadi pula hal yang terasa janggal oleh Seng Tee Hwesio.

Seorang diantara para Hwesio penyambut, datang menyambut mereka dengan tersenyum dan mengangkat kedua tangan sambil bertanya.

"Apakah jiwi hendak bersembahyang?"

Hal ini bagi orang lain terdengar biasa saja, akan tetapi bagi Seng Tee Hwesio, ia merasa amat heran.

Biasanya, dimana saja kalau seorang Hwesio mengunjungi Kelenteng tempat lain, pasti ia akan disambut sebagaimana layaknya saudara seagama, dibawa masuk ke dalam untuk bertemu dengan Hwesio kepala, dan mendapat pelayanan seperti seorang saudara yang datang dari jauh.

Akan tetapi kini ia disambut seperti orang biasa saja yang datang hendak bersembahyang!

Hal ini hanya dapat terjadi karena dua hal, yaitu Hwesio penyambut itu tidak tahu aturan, atau Hwesio kepala memang seorang yang sombong.

Adapun Swan Hong ketika mendengar pertanyaan dari Hwesio penyambut, menggelengkan kepala dan menjawab.

"Tidak kami hanya hendak melihat-lihat saja."

Mendengar jawaban ini, Hwesio penyambut itu nampak kurang senang, lalu katanya acuh tak acuh.

"Kalau hanya melihat-lihatpun, boleh asal memenuhi dua peraturan di sini."

Mendongkol sekali hati Seng Tee Hwesio mendengar ini, dan cepat ia berkata.

"Aturan macam apakah ini?"

Hwesio penyambut memandang kepadanya dengan mata tajam lalu tersenyum menyeringai dan berkata.

"Pertama, tidak boleh masuk ke ruang tengah, pendeknya tak boleh melalui pintu-pintu itu, dan kedua harus menyumbang sekadarnya dengan memasukkan uang ke dalam kantong di sudut sana!"

Setelah berkata demikian, Hwesio penyambut itu meninggalkan mereka untuk menyambut orang-orang lain yang baru datang.

Swan Hong dan Seng Tee Hwesio saling pandang dengan heran, penasaran dan mendongkol.

Luar biasa sekali Kelenteng ini, pikir Seng Tee Hwesio, tahunya hanya ingin menerima uang sumbangan saja!

"Hm, ingin sekali aku bertemu muka dengan Hwesio kepala.

Orang macam apakah dia yang memimpin Kelenteng menjadi tempat pemerasan dan kemewahan?"

Kata Seng Tee Hwesio.

"Benar, Ji-Suheng (Kakak seperGuruan kedua), akupun ingin sekali melihat mukanya!"

Kata Swan Hong.

Akan tetapi tiba-tiba pemuda ini mengutik tangan Seng Tee Hwesio sambil memandang keluar.

Dari luar pintu pekarangan Kelenteng berjalan masuk dua orang sambil bercakap-cakap.

Yang seorang adalah Hwesio gemuk pengumpul sumbangan tadi, sedangkan orang kedua adalah seorang yang berpakaian sebagai Tosu, sudah tua dan tangan kirinya putus sampai pada sikunya!

Swan Hong dan Seng Tee Hwesio lalu menyelinap di antara para tamu dan dengan diam-diam mereka mendekati dua orang yang berjalan sambil bercakap-cakap itu.

"Lui Totiang, kali ini dia harus diberi hajaran keras! Usahanya demikian maju dan uang sepuluh tail saja..."

Tiba-tiba tanpa disengaja Hwesio gemuk itu melihat Seng Tee Hwesio, maka ia menghentikan percakapannya, sedangkan Seng Tee Hwesio juga pura-pura tidak melihat atau mendengarnya.

Melihat keadaan orang-orang yang berkunjung ke situ agaknya tidak memperdulikan Tosu buntung itu.

Swan Hong dan Suhengnya dapat menduga bahwa Tosu buntung itu tentu sudah biasa terlihat di tempat ini.

Dugaan mereka memang betul karena Tosu buntung itu bersama Hwesio gemuk pengumpul sumbangan, lalu terus saja masuk ke dalam pintu yang terlarang bagi Swan Hong dan Seng Tee Hwesio tadi!

Pembaca yang sudah tahu akan Ban Sek Hosiang yang ternyata menjadi ketua Kelenteng sebagaimana yang dituturkan oleh pelayan restoran tadi kepada Swan Hong, tentu dapat menduga siapa adanya Tosu buntung ini.

memang, dia ini bukan lain adalah Lui Kok, pengemis tua pandai melukis yang kini telah mengubah pula pakaiannya dan menyamar sebagai seorang Tosu!

Tangan kirinya buntung karena terbabat putus oleh Sim Tiong Han, pemuda gagah perkasa murid Kun-Lun-Pai itu.

Semenjak mereka gagal dalam penyerbuan mereka terhadap orang-orang gagah di rumah pendekar tua Yap Ma Ek, mereka mendapat teguran keras sekali dari pemerintah Mancu dan untuk menghibur hatinya dan mengobati tangannya yang buntung, Lui Kok beristirahat di Kelenteng Ban Sek Hosiang yang menjadi sahabat baiknya.

Akan tetapi sesungguhnya tak tepat kalau dikatakan ia beristirahat, karena ia diam-diam menjadi pembantu utama dari Ban Sek Hosiang dalam menjalankan dan membuktikan kutukannya terhadap orang-orang yang tidak mau menyumbangkan uang untuk Kelenteng Thian-Hok-Si.

Lui Kok inilah yang keluar di waktu malam gelap, mendatangi orang-orang yang keras kepala itu untuk memberi peringatan atau bahkan membunuh sesuai dengan perintah Ban Sek Hosiang!

"Suheng tentu mendengar ucapan si gemuk tadi dan maklum akan maksudnya?"

Tanya Swan Hong kepada Suhengnya.

Seng Tee Hwesio mengangguk dan wajah Hwesio ini agak pucat karena marah dan penasaran sekali melihat orang-orang yang menyebut diri sebagai seorang suci ternyata merupakan segerombolan orang jahat, atau perampok-perampok yang berkedok agama!

"Aku tahu dan malam hari ini kita harus menjaga keselamatan pemilik rumah makan itu!"

Malam hari itu gelap dan sunyi.

Melihat bahwa udara diliputi mendung tebal dan agaknya akan turun hujan, toko-toko sudah menutup pintu lebih siang daripada biasanya dan keadaan di jalan-jalan sunyi-senyap.

Di dalam kegelapan itu, nampak berkelebat bayangan yang gesit sekali di atas genteng-genteng rumah penduduk kota Icang.

Dengan enaknya, bayangan ini melompat-lompat bagaikan katak dari rumah satu ke rumah yang lain, dan ia menuju ke restoran Kouw-Lok yang terkenal masakan udangnya itu.

Bagaikan seekor kucing, ia melompat ke atas genteng restoran itu, lalu setelah menengok ke sekitar tempat itu yang sunyi-senyap, ia melompat ke atas tanah bagaikan seekor burung walet menyambar.

Tanpa mengeluarkan suara kakinya menginjak tanah dan tangan kanannya lalu mencabut sebatang golok yang tergantung di pinggang.

Orang ini adalah Lui Kok si tangan buntung yang hendak melakukan pekerjaannya memberi "Hajaran"

Kepada pemilik restoran yang berani ragu-ragu dan menolak uang sumbangan sepuluh tail sepekan!

Golok itu dicabut hanya untuk dipergunakan sebagai pembongkar jendela atau pintu, karena seperti biasa, ia tidak mau turun tangan mempergunakan senjata tajam.

Cukup dengan sekali totok pada belakang kepala atau ulu hati korbannya, maka pada keesokan harinya si korban itu akan dinyatakan mati karena kutukan Dewa di Kelenteng Thian-Hok-Si.

Dengan mudah, biarpun tangannya hanya tinggal satu.

Lui Kok membuka jendela dan setelah menyimpan goloknya kembali, ia melompat masuk melalui jendela yang sudah terbuka itu.

Ia mencari-cari dan akhirnya masuk ke dalam kamar terbesar di rumah itu, terus memasuki pintu dengan amat beraninya.

Kamar itu besar dan hanya remang-remang saja karena hanya diterangi oleh sebuah lilin kecil di atas meja.

Dengan langkah tetap, Lui Kok lalu menghampiri tempat tidur dan merasa pasti bahwa calon korbannya tentu telah tidur nyenyak.

Ia melihat dua buah pasang sepatu di depan ranjang, sepasang sepatu laki-laki dan sepasang sepatu perempuan.

Ha, tentu dia sudah tidur dengan isterinya, pikir Lui Kok sambil tersenyum-senyum.

Alangkah akan terkejutnya nyonya itu apabila besok pagi-pagi ia melihat suaminya telah tewas tanpa terluka sedikitpun juga!

Tentu rumah makan itu akan berkabung penuh suara tangisan dan kemudian memberi sedekah yang besar untuk Kelenteng Thian-Hok-Si agar supaya kemarahan Dewa dapat berkurang!

Akan tetapi, ketika ia membuka kelambu, ia hanya melihat seorang laki-laki saja tidur berselimut, tidak kelihatan ada orang perempuan tidur di situ.

Karena keadaan amat gelap dan iapun tidak mau banyak pusing lagi, ia lalu menggerakkan tangan kanannya, mengirimkan pukulan yang berupa totokan ke arah ubun-ubun kepala orang laki-laki yang sedang tidur itu!

Tiba-tiba laki-laki itu tertawa menghina dan tubuhnya bergerak cepat mengirim tendangan ke arah dada Lui Kok!

Hal ini sama sekali tak pernah diduga oleh Tosu palsu ini, dan biarpun tendangan itu cepat sekali datangnya sehingga terpaksa ia harus menarik kembali tangannya dan menGurungkan niatnya menyerang, namun berkat ketangkasannya ia masih dapat melangkah mundur untuk mengelak.

Akan tetapi, tiba-tiba dari kolong ranjang itu, sepasang tangan yang kuat sekali bergerak maju dan menangkap kedua kaki Lui Kok.

Sekali kedua tangan itu membetot, tak ampun lagi tubuh Lui Kok terguling di atas lantai!

Ternyata bahwa yang membetot itu adalah Seng Tee Hwesio yang segera menunggangi tubuh Lui Kok dan mengirimkan tempelengan beberapa kali.

Lui Kok berkuik-kuik bagaikan seekor anjing digebuk karena tangan itu terasa antep sekali.

Ia maklum bahwa Hwesio ini bukan orang sembarangan.

Dalam kenekatannya ia mengirimkan pukulan dengan tangan kanannya, akan tetapi Seng Tee Hwesio mendahului dengan menotok pundak kanannya.

Lumpuhlah tangan kanan Lui Kok karena jalan darahnya bagian Thian-Hu-Hiat telah kena ditotok.

Orang laki-laki yang tidur di atas pembaringan tadi sebetulnya adalah Swan Hong sendiri.

Sore hari tadi ia dan Suhengnya telah menjumpai si pemilik restoran dan menceritakan tentang kehendak Hwesio kepala memberi hajaran kepadanya.

Pemilik restoran itu menjadi ketakutan setengah mati dan ketika Swan Hong menghiburnya, ia lalu menjatuhkan diri berlutut.

"Mohon pertolongan jiwi Enghiong yang mulia?"

"Sudahlah, jangan banyak ribut dan berlaku tenang. Memang sudah menjadi kewajiban Pinceng (aku) dan Suteku ini untuk membasmi Hwesio-Hwesio yang jahat itu."

Maka mereka lalu berunding dan mengadakan rencana.

Para pedagang lainnya yang seringkali mendapat gangguan pula, diberi tahu oleh pemilik restoran itu sehingga pada sore hari itu banyak sekali orang-orang berkumpul di rumah itu.

Bahkan atas usul Seng Tee Hwesio, kepala daerah juga diberi tahu akan rencana mereka menangkap penjahat yang menyamar sebagai Hwesio-Hwesio di Thian-Hok-Si.

Kepala daerah itu terkejut sekali, akan tetapi karena ia seorang yang penakut, ia hanya mengirim seorang wakilnya untuk datang di restoran itu.

Lebih dari dua puluh orang berkumpul dan Seng Tee Hwesio lalu minta agar supaya malam hari itu mereka berkumpul di toko sebelah restoran dan kalau sudah tertangkap penjahat itu, mereka baru boleh keluar untuk menjadi saksi.

Demikianlah, dengan amat mudah Lui Kok dapat terjebak dan tertangkap oleh kedua jago muda dari Thai-Liang-San itu dan biarpun ia tidak diikat kaki tangannya, namun ia sudah tidak berdaya lagi terkena totokan Seng Tee Hwesio.

Swan Hong lalu memberi tanda kepada semua orang yang berkumpul di toko sebelah dengan hati berdebar, dan kini mereka datanglah beramai-ramai untuk melihat wajah penjahat.

Ketika mereka melihat bahwa penjahat yang dimaksudkan itu adalah Tosu buntung yang seringkali terlihat di Kelenteng Thian-Hok-Si, mereka tercengang dan marah sekali.

Ingin mereka memukul Lui Kok sampai mampus untuk menyatakan kemarahan mereka, akan tetapi Seng Tee Hwesio melarangnya lalu berkata.

"Cuwi sekalian jangan turun tangan sendiri. Lebih baik kita bawa bangsat ini sekarang juga ke pada Tikwan (Jaksa) dan minta perkenan Tikwan untuk membasmi penjahat yang bersarang di Kelenteng Thian-Hok-Si."

Semua orang menyatakan setuju dan demikianlah pada malam itu juga, Lui Kok di seret di hadapan Tikwan yang terpaksa bangun dari tidurnya.

"Siapakah ini yang menjadi kepala dari semua kejahatan ini?"

Bentak Tikwan, akan tetapai dengan keras kepala Lui Kok tidak mau memberi jawaban.

"Hayo jawab!"

Kata Swan Hong sambil menekan pundak Lui Kok.

Karena yang ditekan adalah jalan darah yang terbesar dan yang langsung berhubungan dekat dengan jantungnya, maka Lui Kok merasa nyeri yang hebat sekali.

Ia malu untuk menjerit dan digigitnya Bibirnya sampai berdarah sedangkan jidatnya penuh dengan peluh sebesar kacang.

"Aku menjawab"

Aku menjawab..."

Katanya terengah-engah dan ketika Swan Hong melepaskan tangannya, lenyaplah rasa nyeri itu.

"Aku hanya disuruh oleh sahabatku, Ban Sek Hosiang."

"Hwesio kepala dari Thian-Hok-Si?"

Tanya Tikwan terkejut.

"Hayo ceritakan keadaan Kelenteng itu sejelasnya."

Terpaksa Lui Kok lalu menceritakan bahwa sesungguhnya Ban Sek Hosiang yang merencanakan semua pemerasan terhadap toko-toko dikota itu, dan bahwa semua korban yang tadinya disangka kena kutukan Kelenteng, sesungguhnya adalah terbunuh oleh dia atau oleh Ban Sek Hosiang sendiri.

Tikwan itu menjadi marah sekali, akan tetapi ia merasa gelisah juga karena mendengar dari Lui Kok bahwa Ban Sek Hosiang memiliki kepandaian tinggi dan mempunyai pembantu-pembantu yang pandai silat pula.

"Taijin tak perlu gelisah."

Kata Seng Tee Hwesio dengan tenang.

"Pinceng dan Suteku ini siap siaga untuk membongkar kejahatan ini dan menawan Ban Sek Hosiang!"

Tikwan merasa girang sekali, dan karena pemeriksaan itu berlangsung sampai fajar, ia lau memberi perintah kepada sepasukan penjaga untuk mengikuti Swan Hong dan Suhengnya, sedangkan Lui Kok dimasukkan kedalam tahanan.

Swan Hong dan Seng Tee Hwesio, dengan diikuti oleh pasukan penjaga sebanyak lima puluh orang, dan diikut pula oleh banyak penduduk kota Icang yang merasa penasaran dan marah, lalu cepat menuju ke Kelenteng Thian-Hok-Si.

Kedua orang gagah ini lalu menyuruh para pengikut untuk berhenti di tempat yang agak jauh karena mereka berdua hendak melakukan pemeriksaan dan hendak mengintai keadaan di dalam Kelenteng itu terlebih dahulu.

Dengan kepandaian mereka yang tinggi, Swan Hong dan Suhengnya mudah sekali melompat ke atas genteng Kelenteng itu dan setelah mereka mengintai keadaan di sebelah dalam, mereka saling pandang dengan penuh keheranan.

Keadaan di sebelah dalam, terutama sekali di beberapa buah kamar besar didalam Kelenteng, nampak amat indah dan mewah, melebihi kamar seorang bangsawan!

Di situ tidak terlihat perabot-perabot yang biasanya digunakan didalam Kelenteng, melainkan perabot rumah tangga yang mahal dan indah.

Pada dinding nampak lukisan-lukisan indah, bahkan ada beberapa gambar cabul.

Ketika mereka mengintai di atas sebuah kamar yang terindah dan terbesar, tiba-tiba dari dalam ranjang yang berkelambu Sutera tipis, terdengar bentakan keras.

"Bangsat kurang ajar. Siapa itu yang berani mengintai dari genteng?"

Berbareng dengan ucapan ini, dari balik kelambu itu melompat keluar seorang Hwesio gemuk yang gerakannya gesit sekali.

Hwesio ini adalah Ban Sek Hosiang sendiri yang segera menjemput senjatanya yakni joan-pian yang berat dan besar, lalu ia melompat melalui genteng dan langsung ke atas!

Seng Tee Hwesio tertawa menyindir sambil melompat kembali ke bawah dan berdiri di pekarangan depan Kelenteng itu.

Ban Sek Hosiang mengejar diikut oleh beberapa orang Hwesio lain yang menjadi pembantu-pembantunya dan yang telah dikagetkan oleh suara gaduh itu.

Setelah Ban Sek Hosiang dan lima orang kawannya berdiri berhadapan dengan Seng Tee Hweio dan Swan Hong, kemudia Seng Tee Hwesio menjawab.

"Omitohud, inikah macamnya penjahat yang menyamar sebagai Hwesio? Benarkah Pinceng berhadapan dengan Ban Sek Hosiang?"

"Betul, Pinceng adalah Ban Sek Hosiang, ketua dari Kelenteng ini. Kau siapakah? Mengapa kau mengeluarkan kata-kata menghina yang tak pernah keluar dari mulut seorang Pendeta?"

Kembali Seng Tee Hwesio tersenyum.

"Pandai betul kau berlagak! Tak perlu kau berpura-pura lagi karena kami telah mengetahui siapa sebetulnya kau ini! kau telah mengotori Kelenteng yang suci ini dan telah melakukan kejahatan. Tidak saja kau mengotori Kelenteng, bahkan kaupun telah mencemarkan sama seluruh umat Buddha! Ban Sek Hosiang, kau menyerahlah untuk kami bawa ke pengadilan, dan ketahuilah bahwa sahabat baikmu yang bernama Lui Kok juga telah tertangkap!"

Bukan main terkejutnya Ban Sek Hosiang dan kawan-kawannya mendengar ini.

mengetahui bahwa rahasia mereka telah pecah, maka seorang diantara para Hwesio itu lalu bersuit keras memberi tanda kepada anak buahnya dan sebentar saja puluhan orang Hwesio dengan pedang atau golok di tangan muncul dari semua jurusan, mengepung kedua orang tamu itu?

"Ban Sek Hosiang,"

Kata pula Seng Tee Hwe-sio.

"Ketahuilah bawah Pinceng adalah Seng Tee Hwesio, seorang Pendeta pengembara yang kebetulan sekali lewat di kota ini. percuma aja kau melawan, karena semua rahasiamu telah terbongkar dan diketahui oleh semua orang. Dengarlah nasihatku, sebagai sesama Hwesio, Pinceng masih bersedia untuk berlaku murah hati kepadamu. Kau menyerahlah, bubarkan orang-orangmu yang jahat dan kalau mereka itu juga bertobat, masih banyak harapan mereka akan menjadi manusia baik. Kau sendiripun asal saja mau bertobat dan mau bersumpah takkan tersesat lagi, Pinceng bersedia memberi ampun dan melepaskanmu pergi dari sini."

"Keparat sombong! Kau kira aku Ban Sek Hosiang takut kepadamu?"

Sambil berkata demikian, joan-pian di tangan Pendeta ini bergerak cepat menyerang Seng Tee Hweso.

Ia ingin merobohkan Hwesio ini dengan cepat, sama sekali tidak memperdulikan Swan Hong yang masih muda dan yang dianggapnya tentu tak memiliki kepandaian yang perlu ditakuti.

Akan tetapi, ketika Seng Tee Hwesio melompat mundur untuk mengelak, ia menjadi terkejut sekali mendengar pemuda itu berseru.

"Suheng, biarkan aku yang memukul anjing budukan ini!"

Ban Sek Hosiang marah sekali.

Joan-pian di tangannya diputar cepat dan kuat sehingga senjata itu menyambar ke arah dada Swan Hong dengan gerak tipu Kapak Dewa Membelah Batu.

Swan Hong dengan tenang merendahkan tubuhnya dan berbareng mencabut keluar goloknya.

Ketika Ban Sek Hosiang menyerangnya lagi dengan gerakan Raja Ular Menerkam Harimau, sebuah serangan joan-pian yang amat berbahaya dan cepat datangnya, pemuda ini lalu menangkis dengan goloknya.

"Trang!"

Bunga api berpijar ketika sepasang senjata ini beradu.

Golok di tangan Swan Hong hanya sebuah golok biasa saja, maka ketika senjatanya beradu dengan joan-pian yang keras dan kuat itu, Swan Hong cepat mementalkan goloknya agar jangan sampai menjadi rusak.

Kemudian ia mulai mainkan ilmu golok Pek-Ho To-Hwat dan menyerang dengan hebat.

Ban Sek Hosiang terkejut sekali ketika tiba-tiba melihat betapa golok lawannya itu berobah menjadi segulung sinar putih yang besar dan yang bergerak cepat serta bergulung-gulung bagaikan angin taufan yang menyerang dirinya.

Ia kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena maklum bahwa setelah pertemuannya dengan kedua orang muda yang amat lihai di rumah Yap Ma Ek, Kembali sekarang ia bertemu pula dengan seorang pemuda yang amat tinggi kepandaiannya.

Sementara itu, lima orang Hwesio yang memiliki kepandaian lumayan juga, melihat kepala mereka sudah mulai bertempur, segera maju pula membantu, akan tetapi mereka disambut oleh bentakan Seng Tee Hwesio yang memutar tongkatnya.

Sebentar saja Seng Tee Hwesio sudah terkurung oleh lima orang Hwesio tadi, akan tetapi murid kedua dari Lam Hwat Hwesio ini dengan tenang dapat menangkis setiap serangan, bahkan dapat membuat tongkatnya merupakan dinding batu karang yang tak memungkinkan senjata lawan dapat mengenai tubuhnya.

Adapun Ban Sek Hosiang yang telah terdesak hebat oleh golok di tangan Swan Hong, ternyata hanya sanggup mempertahankan diri selama dua puluh jurus saja.

Pada saat ia mulai merasa pening karena sinar golok yang luar biasa itu, tiba-tiba ia menjerit keras dan joan-piannya terlepas dari tangannya karena dengan tangannya tergurat ujung golok.

Ia terhuyung-huyung dan sebuah tendangan pada lambungnya membuat ia terguling roboh dan merintih-rintih kesakitan.

Para Hwesio yang puluhan banyaknya dan yang telah siap dengan senjata di tangan, ketika mendengar jerit kesakitan tadi, sesungguhnya sebagian besar adalah Hwesio-Hwesio lama yang telah berada disitu ketika Ban Sek Hosiang datang.

Mereka ini bukan orang-orang jahat, hanya saja mereka terpengaruh oleh Ban Sek Hosiang, sehingga mau atau tidak, mereka harus menurut segala perintah Ban Sek Hosiang yang kosen dan yang mereka takuti itu.

Kini, mereka melihat bahwa yang datang menyerang Kelenteng adalah seorang Hwesio pula, bersama seorang pemuda.

Melihat kelihaian kedua orang itu, mereka merasa ragu-ragu dan hanya menonton agak jauh.

Kini melihat betapa Ban Sek Hosiang telah roboh, mereka menjadi takut dan merasa telah berdosa karena mengikuti jejak kepala itu.

Larilah mereka keluar dari Kelenteng untuk melarikan diri dari para penyerbu.

Akan tetapi alangkah kaget mereka ketika melihat bahwa Kelenteng itu kini telah terkepung oleh para penjaga keamanan dan beberapa orang penduduk.

Terpaksa mereka kembali ke pekarangan Kelenteng dan kini lima orang Hwesio pembantu Ban Sek Hosiang juga sudah roboh oleh Seng Tee Hwesio yang dibantu oleh Swan Hong!

Para petugas setelah melihat bahwa Hwesio kepala dan para pembantunya telah roboh, lalu serentak maju hendak menangkapi semua Hwesio yang berjumlah empat puluh orang itu, akan tetapi tiba-tiba Seng Tee Hwesio mengangkat tangannya dan mencegah.

"Jangan tangkap mereka!"

Suaranya nyaring dan berpengaruh sekali.

"Yang menjadi biang keladi adalah Ban Sek Hosiang dan para pembantunya ini. saudara-saudara yang lain tidak bersalah, dan hanya terpengaruh belaka. Buktinya, apakah mereka tadi melakukan perlawanan? Tidak, mereka tidak boleh diganggu dan Pinceng yang berani bertanggung jawab bahwa mereka sejak saat ini tentu akan menjalankan tugas sebagai Pendeta-Pendeta yang baik. Kalau hendak menangkap tangkaplah Ban Sek Hosiang yang jahat ini bersama kelima orang pembantunya!"

Pada saat itu, kepala daerah yang telah mendengar tentang penyerbuan terhadap Kelenteng itu datang sendiri diikut oleh para pamong praja lainnya.

Ia masih sempat mendengar ucapan Seng Tee Hwesio, maka sambil melangkah maju kepala daerah ini memberi perintah.

"Tangkap Hwesio kepala yang jahat dan palsu itu!"

Akan tetapi, sebelum para petugas melakukan perintah ini, Ben Sek Hosiang yang sudah dapat berdiri kembali, lalu menghampiri kepala daerah itu dan menjura sambil berkata.

"Taijin harap jangan tergesa-gesa menangkap Pinceng. Sukalah taijin memeriksa surat ini lebih dahulu."

Sambil berkata demikian, Ban Sek Hosiang lalu mengeluarkan segulung surat dari saku jubahnya dan memberikannya kepada kepala daerah.

Pembesar itu mengerutkan alis dan dibacanya surat itu.

Tiba-tiba wajahnya berobah dan ia menganggukkan kepala.

"Pergilah Lo-Suhu dengan kawan-kawanmu, aku akan membebaskan pula Lui Kok dari tahanan, akan tetapi harap jangan bergerak di dalam kota ini, karena kalau sampai terjadi keributan, aku pulalah yang bertanggung jawab dan pusing!"

Ia menyerahkan kembali surat itu kepada Ban Sek Hosiang dengan sikap menghormat.

Ban Sek Hosiang memandang kepada Seng Tee Hwesio dengan mulut tersenyum menyeringai akan tetapi matanya mengandung kebencian, kemudian ia lalu mengisyaratkan kepada lima orang pembantunya, untuk pergi dari situ.

Keenam Hwesio itu lalu peri dengan cepat!

Semua orang bengong melihat peristiwa ini.

Swan Hong sendiri juga merasa penasaran dan cepat melangkah maju.

"Taijin...!"

Ia menegur.

"Mengapa...?"

Akan tetapi kepala daerah itu memberi isyarat dengan tangan agar supaya pemuda gagah itu tidak melanjutkan kata-katanya, kemudian sambil menghadap para Hwesio yang berdiri sambil menundukkan kepala mereka yang gundul, ia berkata.

"Suhu sekalian! Hendaknya peristiwa hari ini dijadikan contoh oleh Suhu sekalian. Alangkah malunya mendapat nama buruk sebagai pejabat dan pengacau, sedangkan sebetulnya seorang Pendeta bahkan harus menjaga keamanan lahir batin dari sesama manusia. Sekarang, berkat pertolongan kedua orang gagah ini, keadaan telah menjadi beres. Harap Suhu sekalian suka mengangkat seorang kepala baru untuk menjadi ketua Kelenteng ini."

"Kami mengangkat Suhu yang gagah perkasa dan budiman ini!"

Tiba-tiba terdengar beberapa orang Hwesio berkata sambil menunjuk ke arah Seng Tee Hwesio!

Juga para penduduk kota, terutama para pedagang yang seringkali diganggu oleh Ban Sek Hosiang, menyatakan persetujuannya.

"Setuju sekali! Kepala Kelenteng ini haruslah seorang Hwesio jujur, budiman, dan pandai menjaga keamanan Kelenteng!"

Maka serentak semua orang memilih Seng Tee Hwesio menjadi ketua Kelenteng! Pembesar itu lalu tersenyum dan mengangguk-angguk kepala sambil berkata kepada Seng Tee Hwesio.

"Siauw-Suhu, kau telah mendengar sendiri pilihan orang-orang yang berada di sini, bahkan semua Hwesio Kelenteng inipun memilihmu! Maka harap kau suka menerimanya, sehingga tidak sia-sialah usahamu hari ini!"

Di dalam hatinya, Seng Tee Hwesio merasa suka sekali untuk memberi pimpinan kepada para Hwesio.

Memang inilah cita-citanya, mencari tempat yang cocok baginya dan bagi Kakaknya, yakni Seng Thian Hwesio.

Akan tetapi ia merasa ragu-ragu melihat kelakuan pembesar itu tadi yang melepaskan begitu saja Ban Sek Hosiang.

Ia menjura kepada orang banyak dan menjawab.

"Terima kasih, saudara-saudara sekalian, yang telah memilih Pinceng yang masih muda dan bodoh. Pinceng suka menerima tugas ini, akan tetapi bukan untuk Pinceng sendiri, melainkan untuk seorang Pendeta yang lebih baik, jauh lebih pandai, lebih bijaksana dan lebih faham tentang agama kita daripada Pinceng sendiri. Adapun tentang ilmu silat, jangan khawatir karena orang itu adalah Suhengku sendiri. Ia bernama Seng Thian Hwesio dan sekarang masih berada di puncak bukit Thai-Liang-San di Secuan!"

Semua orang menyatakan setuju karena mereka telah percaya penuh kepada Seng Tee Hwesio.

Kalau adiknya saja sudah sepandai ini, tentu Suhengnya lebih pandai lagi, pikir mereka.

Pada keekokan harinya, Seng Tee Hwesio berkata kepada Sutenya.

"Sute, seperti kau lihat sendiri, agaknya aku dan Suheng sesuai untuk tinggal di sini, memimpin Kelenteng ini. kedudukan ini cocok sekali untuk Suheng, dan tentu diapun akan suka sekali melakukan tugas di sini. Adapun aku, aku lebih suka merantau dan bertugas di dunia ramai. Akan tetapi, untuk sementara ini, sebelum Suheng datang, lebih baik aku memimpin Kelenteng ini lebih dulu, membersihkan segala kekotoran yang masih menempel di Thian-Hok-Si. Kau harap suka kembali dulu ke Thai-Liang-San untuk mengundang Suheng. Siapa tahu kalau-kalau Kongkongmu sudah naik ke gunung itu pula."

Swan Hong tidak membantah dan berangkatlah ia menuju Thai-Liang-San untuk menemui Twa-Suhengnya, yakni Seng Thian Hwesio.

Adapun Seng Tee Hwesio mulai hari itu segera mengadakan peraturan baru untuk para anggauta Kelenteng itu.

Ia mengeluarkan segala kemewahan yang memenuhi Kelenteng, membagi-bagikan harta benda kepada fakir miskin, sebagian pula uang yang banyak terdapat di situ ia kembalikan kepada penyumbang-penyumbang paksaan.

Akan tetapi, para pedagang tidak mau menerimanya dan mengusulkan agar supaya uang itu dipergunakan untuk memperbaiki bangunan Kelenteng pada bagian-bagian yang telah rusak.

Kelenteng Thian-Hok-Si menjadi bersih kembali, yakni bersih dari pengaruh jahat dan para Hwesionya mulai tekun mempelajari agama dan melakukan penghidupan yang beribadat.

Penduduk kota Icang amat girang dan berterima kasih sekali kepada Seng Tee Hwesio dan Sutenya.

Nama Hwesio ini terutama nama Swan Hog yang gagah perkasa amat dihormat dan dijunjung tinggi Dalam perjalanannya ke Gunung Thai-Liang-San, Swan Hong menggunakan jalan darat.

Setiap hari ia melakukan perjalanan sambil menikmati keindahan alam yang sesungguhnya amat berbeda dengan tamasya alam di lembah Sungai Yang-Ce.

Ia melalui gunung-gunung dan hutan-hutan.

Apabila ia tiba di tempat-tempat yang indah atau di kota-kota, ia berjalan perlahan, dan baru mempergunakan ilmu berlari cepat apabila ia tiba di dalam hutan atau di pegunungan yang sunyi.

Pada suatu hari ia tiba di perbatasan Propinsi Hopak dan Secuan, yakni di Pegunungan Tapa-San.

Pegunungan ini cukup luas dan mempunyai beberapa puncak yang menjulang tinggi di angkasa.

Banyak pula terdapat hutan-hutan liar yang amat gelap.

Karena Swan Hong belum pernah melakukan perjalanan di daerah ini, yang menjadi pedomannya hanyalah matahari di waktu siang dan bulan di waktu malam.

Ia maklum bahwa untuk sampai di Propinsi Secuan, ia harus terus menuju ke barat.

Ketika ia tiba di lereng pegunungan yang tanahnya subur, ia melihat sebuah dusun dari jauh dan mampirlah ia ke dusun itu untuk membeli makanan.

Warung nasi satu-satunya yang berada di dusun itu dilayani oleh seorang Kakek yang keriputan dan doyan mengobrol.

Kebetulan sekali di situ tidak ada lain tamu, maka Kakek itu mengajak Swan Hong mengobrol.

"Kongcu (Tuan muda),"

Katanya dan sudah menjadi kebiasaannya untuk menyebut Kongcu kepada setiap orang muda yang agaknya datang dari kota.

"Mendengar tekanan suaramu, agaknya kau bukan orang daerah ini, dan melihat sepatu dan pakaianmu yang penuh debu dan lumpur, tentu Kongcu telah melakukan perjalanan jauh. Hendak kemanakah kau Kongcu?"

Diam-diam Swan Hong memuji ketajaman otak Kakek dusun ini. Ia tersenyum dan setelah minum air tehnya, ia menjawab.

"Benar dugaanmu, Lopek. Aku hendak menuju ke Propinsi Secuan."

"Apa?? Menuju ke barat melalui pegunungan ini dan keluar masuk hutan yang liar itu?"

"Mengapa?"

"Ah..."

Ia menghela napas.

"memang anak muda jaman sekarang amat tabah dan gagah perkasa. Di jamanku dulu, orang muda yang halus seperti kau ini, jangan kata memasuki hutan liar, baru melihat kucing saja sudah terkencing-kencing karena ketakutan. Jangankan menempuh hujan dan badai, baru tertiup angin kecil saja sudah roboh telentang! Pandainya hanya menggerakkan pit dan membaca kitab."

"Bukan kepandaian yang buruk, Lopek."

"Memang, bukan kepandaian yang buruk, akan tetapi apa gunanya? Paling-paling hanya untuk menulis surat yang bagus untuk mendatangkan fitnah kepada orang lain! Kau sungguh tabah dan berani Kongcu. Terus terang saja aku sendiri yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini, kalau harus melakukan perjalanan seorang diri melalui pegunungan di barat itu, aku tidak berani!"

"Kenapakah, Lopek? Apakah di situ terdapat banyak binatang buas?"

"Binatang buas tidak sangat menakutkan, Kongcu. Betapapun liarnya, binatang buas meyerang dari depan dan tak pandai bermanis mulut. Tidak ada binatang yang lebih jahat daripada seorang manusia jahat yang pandai meggoyang lidah dan bermanis mulut."

"Apakah kau hendak mengatakan bahwa di sana banyak perampoknya, Lopek?"

Kata Swan Hong sambil memandang ke arah gundukan-gundukan tanah bukit di barat itu.

"Perampok-perampok mungkin ada, Kongcu."

"Aku tidak takut, biarlah mereka mencegatku kalau mereka kehendaki!"

Kata Swan Hong dengan gagah sambil meraba gagang goloknya.

"Hm, agaknya kau pandai bersilat, Kongcu. Aneh, aneh!"

"Lho, apakah yang aneh, Lopek? Orang bijaksana berkata sebagai nasihat bahwa jangan melakukan perjalanan jauh apabila kau tak pandai main golok."

"Aneh, sudah dua kali hari ini aku mendengar ucapan itu! Jangan melakukan perjalanan jauh apabila kau tak pandai main golok! Ya, demikian pula yang ia katakan tadi, sambil meraba-raba dua buah gagang pedang yang tergantung di pundaknya. Aneh!"

"Dia siapa, Lopek?"

"Itulah yang aneh. Seorang pemuda pula, lebih halus, lebih tampan, dan mungkin lebih muda daripada kau sendiri. Bicaranya lebih halus daripada kata-katamu, sikapnya lemah lembut, akan tetapi keberaniannya mungkin lebih besar daripada keberanianmu?"

"Dan dia juga menuju ke barat?"

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Ya, pergi ke barat, memasuki hutan seorang diri saja. Ah, pemuda yang halus kulitnya dan lemah lembut gerakannya itu..."

Swan Hong merasa tertarik.

Ia memang sudah bosan untuk melakukan perjalanan di tempat-tempat yang sunyi itu seorang diri saja.

Dulu ketika pergi meninggalkan gunung, ia berdua dengan Suhengnya, maka sekarang setelah melakukan perjalanan seorang diri, ia merasa sunyi sekali.

"Lopek, aku harus berangkat sekarang!"

Kata Swan Hong sambil membayar harga makanan dan minuman.

"Eh, eh, mengapa begitu terburu-buru?"

"Aku hendak menyusul orang muda yang halus itu!"

"Sudah kenalkah kau kepadanya?"

"Belum, akan tetapi apa susahnya berkenalan di tempat sunyi ini? Agaknya"

Akupun takkan merasa sedap hati masuk keluar hutan liar tanpa kawan."

Ketika Swan Hong sudah melangkah keluar, tiba-tiba Kakek itu memanggilnya kembali.

"Kongcu "

Swan Hong memutar tubuhnya dan berkata.

"Ada apa lagi, Lopek?"

"Karena kau baik dan menyenangkan hatiku, baiklah aku membuka rahasia orang muda itu. Aku berani melakukan hal ini karena aku yakin kau bukan orang jahat."

"Rahasia? Rahasia apakah itu?"

Kakek itu tertawa.

"Ha, ha, pemuda itu tak dapat menipu mataku, yang biarpun tua akan tetapi mempunyai pengalaman banyak sekali. Tak seorangpun wanita di dunia ini yang akan dapat menipuku, betapapun pandaipun ia menyamar!"

"Jadi... dia adalah wanita, Lopek?"

"Tentu ia takkan mau mengaku, buktinya ia berpakaian seperti laki-laki, akan tetapi aku tahu pasti bahwa ia seorang gadis yang cantik! Jadi jika kau ingin menyusulnya, kau harus mengambil jalan ke kiri setelah tiba di jalan perempatan di luar hutan Siong. Ia menanyakan jalan tadi kepadaku dan aku menujukkan jalan itu yang terdekat."

"Terima kasih, Lopek!"

Entah mengapa ia sendiri tidak tahu.

Swan Hong cepat-cepat pergi dan berlari sambil mengerahkan ilmunya berlari cepat.

Timbul keinginannya untuk segera dapat menyusul gadis yang menyamar sebagai pemuda itu!

Swan Hong yang berlari cepat mendaki lereng bukit setelah tiba di jalan perempatan di luar sebuah hutan pohon Siong, lalu membelok ke kiri sesuai dengan petunjuk Kakek penjaga warung nasi itu.

Ia ingin sekali cepat menyusul gadis yang menyamar sebagai pemuda, seperti yang diceritakan oleh pelayan tadi.

Akan tetapi, karena orang yang dikejarnya itu telah lebih dulu setengah hari daripadanya, ia tidak melihat bayangan seorangpun di sepanjang jalan.

Ketika ia meliwati sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon Pek dan banyak pula terdapat tanaman-tanaman bunga yang sedang mekar, ia lalu masuk ke dalam hutan itu.

Entah mengapa ia masuk ke situ, mungkin karena ia menghubungkan gadis dan kembang.

Di mana banyak kembang di situ tentu terdapat seorang gadis cantik, pikirnya!

Sungguhpun pikiran ini hanya mengawur saja, akan tetapi kebetulan sekali memang tepat.

Orang yang dicarinya memang berada di dalam hutan itu!

Baru kira-kira satu li ia memasuki hutan ini, tiba-tiba ia mendengar suara senjata beradu seakan-akan di dekat situ terdapat orang yang sedang bertempur.

Ia segera mempercepat tindakan kakinya dan di sebuah lapangan terbuka, Ia melihat lima orang yang berpakaian sebagai perwira-perwira Kerajaan sedang berdiri sambil bertolak pinggang dan tersenyum-senyum menonton pertempuran yang sedang berlangsung.

Seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berwajah cantik dan berpakaian mewah.

Wanita inipun berdiri sambil menonton pertempuran antara seorang laki-laki muda berpakaian indah dengan seorang pemuda yang tampan sekali.

pemuda ini memakai pakaian baju putih dan celana biru, kepalanya diikat dengan saputangan lebar.

Mukanya benar-benar elok sekali, matanya jernih dengan bulu mata yang panjang, alisnya berbentuk indah dan Bibirnya merah bagaikan berdarah.

Karena sudah mendapat keterangan dari penjaga warung nasi, Swan Hong dengan mudah dapat menduga bahwa gadis yang menyamar sebagai laki-laki tentulah pemuda yang elok ini!

Maka ia memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Laki-laki yang bertempur dengan pemuda itu, berusia kira-kira dua puluh delapan tahun, bersenjata pedang dan gerakannya hebat dan ganas sekali.

Dia ini bukan lain adalah Lui-Kong-Ciang Lee Kun, sedangkan wanita cantik yang berdiri menonton adalah Encinya, yakni Lee Kim Bwe yang berjuluk Jian-Jiu Koan-Im!

Bagaimana Sin-Kiam Siang-Hiap Sepasang Pendekar Pedang Sakti ini bisa berada di situ dan siapakah lima orang perwira itu?

Seperti yang telah dituturkan di bagian depan, kedua saudara Lee ini menderita kekalahan dan pukulan hebat di dalam rumah Yap Ma Ek, dikalahkan oleh dua orang muda yang baru muncul di dunia kang-ouw, yakni Liok Siang Hwa dan Sim Tiong Han.

Dengan hati terluka dan sakit hati, kedua saudara ini lalu berangkat ke Kotaraja sambil membawa surat dari Ban Sek Hosiang yang menjadi kaki tangan Kaisar, lalu menghadap kepada para pembesar di Kotaraja yang bertugas "membersihkan para pemberontak"

Dan "memperalat orang-orang gagah."

Setelah menghadap untuk memperkenalkan diri, kedua saudara Lee ini diterima dengan penuh penghormatan, dijamu dan diberi hadiah sehingga mereka makin tunduk dan setia terhadap pemerintah Mancu yang baru dan yang dianggapnya baik dan murah hati.

Mereka lalu menyanggupi untuk mengadakan pembasmian kepada orang-orang kang-ouw yang dianggapnya masih mempunyai maksud memberontak atau tidak suka kepada pemerintah yang baru.

Tentu saja para pembesar itu maklum bahwa kedua saudara Lee yang sudah lama malang-melintang di dunia kang-ouw ini tahu dengan baik siapakah orang-orang kang-ouw yang dapat dibujuk dan siapa pula yang kiranya berbahaya.

Demikianlah, sambil membawa sepasukan tentara pilihan dan beberapa orang perwira yang terpandai ilmu silatnya, Lee Kim Bwe dan Lee Kun lalu mulai melakukan perjalanan untuk menyebar maut kepada para orang kang-ouw yang tidak mau tunduk, dan juga untuk membujuk banyak orang gagah agar supaya suka bekerja di bawah perintah Kaisar yang baru.

Dalam kesempatan ini, Sin-Kiam Siang-Hiap lalu mempergunakan pengaruhnya untuk mencelakakan orang yang dianggapnya musuh, Dan mereka tiada hentinya mencari Siang Hwa, Tiong Han, Lie Kai dan lain-lain orang gagah yang dulu mengunjungi rumah Yap Ma Ek untuk dibasminya dan membalas sakit hatinya.

Pada hari itu, ketika Lee Kim Bwe dan Lee Kun, bersama lima orang perwira yang berkepandaian tinggi melalui hutan di Pegunungan Tapa-San, tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda yang tampan sekali berjalan seorang diri, lalu memetik bunga-bunga rumput putih yang tumbuh di bawah pohon besar di pinggir jurang.

Tergerak hati Lee Kim Bwe melihat pemuda yang luar biasa eloknya itu sehingga dadanya terasa berdebar aneh.

Biarpun Lee Kim Bwe tidak mata keranjang seperti adiknya, akan tetapi melihat seorang pemuda yang demikian tampannya, ia tertarik juga dan timbul hati suka dan menyinta.

Ia lalu maju dan menegur sambil tersenyum manis.

"Kongcu, kau seorang diri di hutan ini mencari bunga untuk apakah?"

Pemuda itu terkejut dan menengok.

Mukanya berobah merah ketika melihat betapa wanita cantik yang berpakaian mewah dan mukanya dibedaki tebal itu melirik dan tersenyum-senyum kepadanya dengan sikap yang genit sekali.

"Aku mencari kembang untuk obat. Ayahku sedang menderita sakit dan kembang ini adalah obat yang mujarab untuknya,"

Jawabnya lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan mereka.

Betapapun juga, Lee Kim Bwe tentu saja merasa malu untuk menyatakan perasaan hatinya di depan adiknya dan lima orang perwira itu, maka ia lalu mendapat akal.

Mereka memang sudah biasa menawan orang-orang yang dicurigai, bahkan membunuh orang-orang yang dianggapnya berbahaya.

Lalu katanya kepada kawan-kawannya.

"Pemuda ini mencurigakan sekali. Jangan-jangan ia memang sengaja mencegat kita dan ingin mengetahui rahasia kita. Lebih baik kita tangkap dia untuk diperiksa lebih lanjut."

Lee Kun diam-diam maklum akan pikiran Encinya, akan tetapi lima orang perwira itu tentu saja tidak tahu dan mengira bahwa Lee Kim Bwe bicara sewajarnya.

Maka majulah mereka serentak menGurung pemuda itu yang menjadi marah dan berkata keras.

Baca Juga: Bu Kek Siansu 10

Baca Juga: Pedang Naga Hitam 3

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger