Eps 4 Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Merah Bangau Putih - Kho Ping Hoo.
"Kalian ini orang-orang apakah maka datang-datang hendak menggangguku? Aku tidak mengenal kalian dan janganlah kau mengganggu aku yang sedang mencarikan obat untuk Ayah."
Lee Kun melangkah maju dan berkata sambil menyeringai.
"Bocah sombong, jangan banyak bicara. Ketahuilah bahwa kami adalah petugas-petugas Kaisar yang berwewenang menahan dan menangkap orang yang kami curigai."
"Aku tidak perduli akan segala macam Kaisar Mancu!"
Tiba-tiba pemuda itu membentak.
"Pergilah!"
Marahlah Lee Kun mendegar ini.
"Jahanam, kalau kau tidak mau menyerah dengan baik-baik, terpaksa aku mempergunakan kekerasan!"
Sambil berkata demikian, ia mengulur tangan kanannya hendak menangkap pundak pemuda itu.
Akan tetapi dengan sekali gerakan tubuh saja, pemuda elok itu telah dapat mengelakkan diri dari serangan lawan.
Wajahnya yang tampan dan putih itu menjadi merah.
Dengan cepat ia memasukkan kembang-kembang obat itu ke dalam saku bajunya yang putih, kemudia ketika tangannya bergerak ke belakang, tahu-tahu ia telah mencabut pedangnya.
"Ha, ha, ha!"
Lee Kun tertawa mengejek.
"Agaknya kau dapat juga mainkan sedikit ilmu silat! Baik, lebih menyenangkan menangkap orang dengan menjatuhkan lebih dulu, daripada menagkap orang yang tak becus melawan!"
Lee Kun juga mencabut pedangnya.
Hatinya besar dan berani karena di situ terdapat Encinya dan lima orang perwira yang pandai.
Sambil berseru keras ia maju menyerang dengan pedangnya.
Pemuda itu lalu menangkisnya dan mereka segera bertempur dengan seru.
Akan tetapi, baru bertempur sepuluh jurus saja, tahulah Lee Kun bahwa sebenarnya ilmu pedang pemuda itu belum terlalu tinggi tingkatnya.
Kalau ia mau, dalam belasan jurus saja ia pasti akan dapat merobohkan atau menewaskan pemuda itu.
Akan tetapi ia tidak mau berbuat demikian pertama karena memang mereka hendak menawan dan memeriksa pemuda ini yang belum diketahui kesalahannya, Kedua karena tak mungkin pemuda dengan kepandaian serendah itu dapat dianggap berbahaya, dan ketiga ia hendak menyenangkan hati Encinya.
Ia maklum bahwa diam-diam Encinya ingin mendapatkan pemuda yang tampan ini, maka kalau ia merobohkan dan menewaskan pemuda ini, biarpun lima orang perwira itu takkan menegurnya, akan tetapi tentu Encinya akan merasa kecewa sekali dan diam-diam akan marah kepadanya.
Oleh karena itu, Lee Kun lalu mengeluarkan ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut yang lihai dan sebentar saja pemuda itu menjadi bingung sekali karena lawannya lenyap dari pandangan matanya dan berputar-putar mengelilinginya dengan gerakan pedang yang menyilaukan mata!
Pada saat yang tepat, Lee Kun menggerakkan pedangnya berputaran dan "Trang!"
Pedang pemuda tampan itu terpental ke atas dan terlepas dari pegangan.
"Ha, ha, ha, bocah hijau! Apakah kau masih belum mau menyerah?"
Lee Kun mengejek sambil menyimpan pedangnya di dalam sarung pedang.
"Baru kau tahu kelihaian Lui-Kong-Ciang Lee Kun, ya?"
Dengan sombong Lee Kun mengangkat dada dan memandang pemuda yang menjadi maah dan penasaran itu.
Akan tetapi, pemuda ini ternyata tabah sekali.
Bukannya menyerah karena pedangnya telah terlempar, bahkan ia berlaku nekad dan menyerang dengan pukulan Pek-Hong Koan-Jit (Bianglala Putih Menutup Matahari) ke arah dada lawannya.
Sungguhpun serangan ini kalau ditujukan kepada seorang ahli silat yang umum saja akan merupakan serangan amat berbahaya dan mematikan, akan tetapi terhadap Lee Kun yang memiliki ilmu silat tinggi, tidak ada gunanya sama sekali.
Lee Kun tertawa mengejek, dan sekali menggerakkan kedua tangannya dengan jurus yang disebut Raja Naga Menyambar Hujan, ia telah menangkap kedua tangan lawannya itu!
Pemuda elok itu terkejut sekali dan segera mengangkat kedua kakinya menendang pusar lawan!
Lee Kun menyumpah dan terpaksa melepaskan kedua tangan pemuda itu.
Akan tetapi saking gemasnya ia lalu menyabet kaki lawan yang menendang sehingga tak dapat dicegah lagi tubuh pemuda itu terbanting di atas tanah.
"Kau hendak apa lagi sekarang?"
Lee Kun mentertawakan dan ia lalu menubruk untuk meringkus pemuda yang masih rebah di atas tanah itu.
Melihat gerakan Lee Kun yang menubruknya, tiba-tiba pemuda itu berseru ketakutan!
Selagi Lee Kun merasa terheran, tiba-tiba dari sebelah kiri menyambar benda hitam kecil dan.
"Tak"! kepala Lee Kun telah dihantam oleh benda kecil itu sehingga ia berseru kaget dan kesakitan. Ternyata bahwa benda itu hanyalah sebutir buah angco yang sudah busuk! Semua orang menengok ke arah datangnya "senjata rahasia"
Ini dan dari belakang sebatang pohon besar muncullah seorang pemuda lain yang gagah dan cakap. Pemuda ini adalah Lie Swan Hong yang dalam saat yang tepat telah menolong "pemuda"
Itu dari terkaman Lee Kun!
Pemuda yang tertolong oleh Swan Hong itu segera melompat bangun dan memungut pedangnya yang tadi terlempar, lalu berdiri memandang ke arah Swan Hong dengan bingung dan juga gelisah.
Ia tidak tahu mengapa Lee Kun memekik kesakitan dan tidak jadi menubruknya, satu hal yang amat ditakutinya!
Sementara itu, Lee Kun dan keenam orang kawannya lalu maju menghampiri Swan Hong dengan marah.
"Bangsat kecil!"
Lee Kun membentak marah.
"Siapakah kau yang berani menyerang Lui-Kong-Ciang Lee Kun secara menggelap?"
"Bangsat besar!"
Swan Hong balas memaki.
"Secara menggelap atau berterang, aku selalu tentu berani menyerangmu kalau kau berlaku sewenang-wenang menghina orang yang lemah!"
Setelah berkata demikian, Swan Hong memandang ke arah pemuda elok itu dan berkata menghibur.
"Adik yang baik, jangan khawatir, tujuh ekor babi hutan ini serahkan saja kepadaku untuk mengusirnya."
Hampir terlompat kelima orang perwira Kerajaan itu mendengar mereka disebut babi hutan.
"Manusia bermata buta! Tidak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa? Kedua orang ini adalah Sin-Kiam Siang-Hiap yang namanya telah terkenal dikalangan kang-ouw! Kalau kau yang masih muda ini belum banyak mengenal orang-orang kang-ouw yang gagah, sedikitnya kau tentu mengenal kami sebagai perwira-perwira Kerajaan yang tak boleh kau hina sesuka hatimu. Apakah kau telah bosan hidup?"
"Agaknya orang ini termasuk golongan pemberontak!"
Kata pula Lee Kim Bwe yang juga menjadi panas hatinya, terutama karena merasa khawatir kalau-kalau pemuda elok itu akan terlepas dari jeratnya.
Swan Hong di dalam perantauannya pernah mendengar nama Sin-Kiam Siang-Hiap ini, dan maklum pula bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang amat dibenci oleh orang-orang kang-ouw yang berjiwa patriot karena kedua orang ini telah menjual dirinya kepada Kaisar.
Maka ia tersenyum sinis dan menjawab.
"Dengarlah kalian semua! Aku Lie Swan Hong tidak perduli siapa adanya kalian, akan tetapi kalian menghina orang, aku takkan tinggal diam saja. Jangan kira bahwa di dunia ini tidak ada orang lain yang berani melawan kalian!"
"Jahanam hina!"
Seru Lee Kun yang merasa panas dan marah karena kepalanya disambit tadi.
Lalu secepat kilat ia telah mencabut pedangnya, langsung menyerang dengan tikaman pedang dalam gerak tipu Maling Sakti Mencuri Hati.
Tikaman ini mengarah dada kiri Swan Hong, agaknya benar-benar hendak mencuri jantung pemuda itu yang hendak disate dengan pedangnya yang tajam.
Akan tetapi ia kecele kalau mengira bahwa pemuda yang baru datang ini sama lemahnya seperti pemuda yang elok itu, karena dengan sedikit miringkan tubuh saja, Swan Hong telah berhasil mengelakkan diri sambil mencabut golok di punggungnya.
"Kau mencari penyakit!"
Seru Swan Hong sambil memutar goloknya.
Baru saja ia memutar goloknya, terkejutlah Lee Kun karena gerakan golok ini benar-benar amat lihai sekali dan hampir saja pundaknya kena dibacok!
Hal inipun terlihat dengan baik oleh Lee Kim Bwe dan kelima orang perwira itu, maka mereka tanpa banyak cakap lagi lalu maju mengeroyok Swan Hong.
Swan Hong tersenyum menghina dan cepat memainkan ilmu goloknya Pek-Ho To-Hwat (Ilmu Golok Bangau Putih) yang luar biasa.
Sinar putih yang tebal dan lebar bergulung-gulung tidak saja melindungi tubuh pemuda yang berpakaian putih ini, akan tetapi juga gulungan sinar putih itu bercabang dan menyambar ke sana sini menyerang tujuh orang lawannya dengan hebat!
Pemuda elok pencari bunga tadi ketika melihat Swan Hong dikeroyok, segera menggerakkan pedangnya untuk membantu, akan tetapi Swan Hong segera mencegah.
"Adik yang baik, jangan kau ikut campur. Biarlah aku membereskan mereka dengan tanganku sendiri. Lihat, perwira gemuk ini kurobohkan dulu!"
Sambil berkata demikian, goloknya bergerak makin cepat dan menjeritlah perwira gemuk itu karena pundaknya hampir putus terbabat golok!
Ruyung di tangannya terlempar dan tubuhnya yang gemuk dan berat itu jatuh berdebuk di atas tanah.
Terdengar Swan Hong tertawa perlahan dan berkata lagi.
"Nah, adik yang baik, sekarang lihatlah betapa babi hutan yang tadi mengganggumu akan kurobohkan!"
Ia memutar goloknya makin cepat lagi sehingga biarpun Lee Kun sudah mempertahankan diri sekuatnya, masih saja ujung golok menowel lengan kanannya sehingga ia berteriak kesakitan, pedangnya terlempar dan ia segera melompat mundur sambil memegangi lengan kanannya yang robek kulit serta dagingnya dan mengeluarkan banyak darah itu!
Bukan main terkejutnya Lee Kim Bwe dan perwira-perwira lain melihat kelihaian pemuda baju putih ini.
Terutama sekali Lee Kim Bwe yang paling tinggi kepandaiannya diantara mereka.
Wanita ini mengertak gigi dan mainkan ilmu pedang Leng-San Kiam-Sut dengan mengerahkan tenaganya sehingga pedangnya mengeluarkan angin dan berbunyi berdesing-desing menyambar bayangan putih yang gesit itu.
Akan tetapi, semua serangan ini disambut oleh Swan Hong dengan tenang dan tersenyum-senyum.
"Twako (kakak), kau robohkanlah perempuan hina itu!"
Tiba-tiba pemuda elok itu berseru gembira melihat betapa penolongnya benar-benar gagah dan berhasil merobohkan dua oran pengeroyok.
"Apa? Perempuan ini?"
Jawab Swan Hong sambil menangkis pedang Lee Kim Bwe yang menusuk tenggorokannya.
"Ah... aku agak sungkan untuk merobohkan seorang wanita, biarlah kurampas saja pedangnya!"
Setelah berkata demikian, goloknya mendesak hebat kepada Lee Kim Bwe sehingga wanita ini sibuk sekali menangkis.
Akan tetapi, tangan kiri Swan Hong lalu bergerak dan dengan gerak tipu ilmu silat tangan kosong yang disebut Sian-Jin Siu-Kiam (Dewa Mencabut Pedang) yang luar biasa cepatnya, Ia berhasil merampas pedang Lee Kim Bwe!
Sesungguhnya Lee Kim Bwe telah memiliki kepandaian tinggi dan tenaga lweekangnya juga sudah mencapai tingkat tinggi, akan tetapi jari-jari tangan kiri Swan Hong yang mencengkeram tangannya yang memegang pedang membuat tangannya menjadi gemetar dan kehilangan tenaga sehingga gagang pedang yang dipegangnya dengan mudah telah berpindah tangan!
Berbareng dengan terampasnya pedang, seorang perwira lain telah kena dilukai pahanya oleh pedang rampasan itu.
Melihat sepak-terjang Swan Hong yang hebat ini, gentarlah hati semua pengeroyok dan mereka tidak berani menyerang lagi, hanya menangkis serangan untuk menjaga diri.
Sementara itu, pemuda elok tadi tiba-tiba teringat akan keadaan Ayahnya yang sedang sakit dan membutuhkan obat, maka ia lalu berseru.
"Twako yang gagah, terima kasih atas pertolonganmu. Aku harus pulang membawa obat untuk Ayahku yang sakit!"
Setelah berkata demikian pemuda itu lalu berlari keluar dari hutan itu.
"He, tunggu dulu!"
Seru Swan Hong yang segera meninggalkan semua lawannya dan berlari menyusul pemuda itu.
Lee Kim Bwe dan para perwira tidak berani mengejar, karena mereka telah merasa jerih menghadapi pemuda baju putih yang lihai itu.
Sambil membanting-banting kaki Lee Kim Bwe menyumpah-nyumpah, karena kembali ia telah dikalahkan dan dibikin malu oleh pendekar yang begitu muda, bahkan pedang mustikanya juga terampas dan terbawa pergi oleh Swan Hong yang agaknya lupa mengembalikan pedang itu!
Terpaksa ia dan kawan-kawannya lalu menolong mereka yang terluka dalam pertempuran itu.
"He, adik yang baik, tunggu dulu...!"
Swan Hong berteriak-teriak sambil mengejar dan tak lama kemudian ia dapat menyusul pemuda elok itu yang berdiri memandangnya dengan tersenyum manis.
"Twako, ada apakah kau mengejarku? Apakah ucapan terima kasihku tadi masih kurang cukup? Kalau perlu, aku mau berlutut untuk menyatakan terima kasih itu."
Ditanya secara tiba-tiba ini, Swan Hong menjadi gugup.
"Aku"
Aku"
Tidak bermaksud apa-apa..."
"Kalau begitu, mengapa kau mengejar seperti hendak menagih hutang padaku?"
Sepasang mata yang tajam dan bening itu memandang seakan-akan hendak menembus hatinya, sedangkan mulut yang manis itu tersenyum mengejek.
Swan Hong makin bingung.
Sesungguhnya ia memang tidak mempunyai keperluan apa-apa terhadap pemuda elok ini.
Setelah beberapa kali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, pemuda ini lalu berkata.
"Sebetulnya aku... aku sejak tadi telah mencarimu, aku mendengar dari tukang warung bahwa ada seorang pemuda lewat di sini dan menuju ke hutan. Karena tempat ini amat sepi, aku menjadi tertarik dan ingin mempunyai kawan dalam perjalanan. Tidak tahunya aku bertemu dengan kau yang sedang dihina orang, maka... Maka setelah kita bertemu, mengapa kau pergi begitu saja? Aku... aku ingin berkenalan dengan kau, adik yang baik. Kau siapakah dan mengapa kau dikeroyok oleh penjahat-penjahat yang menjadi penjilat Kaisar tadi?"
"Ah, aku memang seorang yang kurang penerima,"
Jawab pemuda elok itu.
"sehingga lupa memperkenalkan diriku yang rendah dan bodoh. Baiklah, in-kong (tuan penolong), aku adalah seorang she Bun, dan aku tinggal di sebelah timur pegunungan ini, di sebelah dusun yang disebut Keng-Sin-Chung. Ayahku sedang sakit berat dan obatnya hanya kembang rumput putih yang harus kucari di hutan ini. Nah, sudah jelakah sekarang?"
Swan Hong mengangguk-angguk.
"Sudah, sudah jelas, akan tetapi harap kau jangan menyebutkan tuan penolong. Aku lebih senang disebut Twako saja. Aku adalah Swan Hong, she Lie"
"Aku sudah tahu dan sudah mendengar ketika kau tadi memperkenalkan diri kepada mereka."
Memotong pemuda elok itu yang segera disambungnya.
"Akan tetapi aku belum mendengar murid siapakah kau yang berilmu tinggi ini."
"Suhuku adalah Lam Hwat Hwesio di Thai-Liang-San yang sudah meninggal dunia."
Pemuda elok itu agaknya terkejut mendengar nama ini. Ia berpikir sebentar, lalu berkata.
"Rumahku tidak jauh dari sini, sukakah kau mampir dan berkenalan dengan orang-tuaku? Kurasa Ibuku akan girang sekali mendengar tentang Gurumu itu."
Swan Hong menjadi girang sekali, dan ia mengangguk-angguk kepala beberapa kali.
"Tentu saja aku mau, karena memang aku ingin mengenal kau dan keluargamu lebih dekat lagi!"
Pemuda itu tiba-tiba melihat pedang Lee Kim Bwe yang masih terpegang oleh Swan Hong.
"Eh, mengapa kau membawa-bawa pedang wanita jalang tadi?"
Baru Swan Hong teringat akan pedang itu. Ia mengangkat tangannya dan memandang ke arah pedang yang terukir bagus dan berkilau tajam ini lalu berkata.
"Pedang ini bukan pedang sembarangan dan tidak patut berada dalam tangan wanita busuk itu. Maka aku sengaja merampasnya dan kalau kau suka, kau boleh memiliki pedang ini!"
Ia menyerahkan pedang itu yang diterimanya oleh pemuda elok tadi dengan girang.
Pemuda itu memeriksa dan mengagumi pedang yang benar-benar indah dengan wajah berseri, akan tetapi tiba-tiba ia memandang tajam kepada Swan Hong dan berkata.
"Kau bilang pedang ini tidak patut berada dalam tangan seorang wanita busuk mengapa kau berikan kepadaku?"
Kembali Swan Hong menjadi gagap.
"Aku... aku... eh, kurasa karena kau tadi bermain pedang, maka sudah patut sekali kalau pedang ini berada di tanganmu."
"Akan tetapi ilmu pedangku masih rendah sekali."
"Ilmu pedang dapat dipelajari lagi, akan tetapi pedang macam ini sukar didapat."
"Kau mau mengajarku?"
"Mengapa tidak? Sungguhpun aku sendiri juga kurang pandai menggunakan pedang,"
Jawab Swan Hong. (Lanjut ke
Jilid 06) Naga Merah Bangau Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 Dengan, girang dan lupa mengucapkan terima kasih, pemuda elok itu lalu mengeluarkan pedangnya sendiri yang segera diselipkan di ikat pinggang, sedangkan pedang mestika itu lalu dimasukkannya di dalam sarung pedang.
"Hayo kita berangkat, Ayah dan Ibu tentu akan senang berkenalan dengan kau."
Mereka lalu berlari cepat menuju ke timur, dan Swan Hong sengaja berlari lambat agar pemuda kawannya itu tidak tertinggal.
"Eh, aku lupa. Apakah kata orang-tuamu kalau mereka melihat kau pulang bersama seorang pemuda asing? Apakah mereka takkan marah?"
Tiba-tiba Swan Hong bertanya. Mendengar ucapan ini, pemuda elok itu menahan tindakan kakinya secara tiba-tiba dan berdiri menatap wajah Swan Hong dengan mata terbelalak.
"Apa... Apa maksudmu?"
Tanyanya dengan muka merah.
"Maksudku yang mana?"
Swan Hong balas bertanya heran.
"Mengapa kau bertanya bahwa orang-tuaku akan marah melihat aku pulang dengan seorang... Pemuda asing? Kita sama-sama pemuda apakah salahnya kita datang bersama?"
Barulah Swan Hong insaf bahwa pernyataannya tadi memang menimbulkan kecurigaan, karena membayangkan seakan-akan ia telah mengetahui rahasia pemuda elok ini!
Hal ini, terutama sekali sinar mata pemuda elok itu yang demikian tajamnya, membuat ia makin bingung dan gugup.
"Tidak apa-apa... maksudku... mereka tentu akan heran melihat kau mendapat kawan... pemuda, eh... maksudku... tidak apa-apa Nona...!"
Tiba-tiba wajah pemuda elok itu menjadi pucat dan sebentar kemudian berubah merah.
Sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi-api dan dadanya berombak naik-turun.
Swan Hong ingin sekali menampar mulutnya sendiri yang sudah terpeleset dan tanpa disengaja menyebut "nona"
Tadi, maka ia hanya berdiri dengan bengong dan gelisah.
"Kurang ajar!!"
Bentaknya dan sebelum Swan Hong dapat mengelak karena ia masih kesima, tangan gadis itu bergerak cepat dan menampar pipinya.
"Plak!"
Pipi Swan Hong terasa pedas dan panas sedangkan sepasang mata gadis yang berpakaian pria itu mengeluarkan dua titik air mata!
Kemudian, melihat betapa pipi Swan Hong menjadi merah karena tamparannya, gadis itu merasa menyesal sekali dan ia mengeluarkan dua tangannya untuk menutupi mukanya sambil menundukkan muka.
"Kau... kau kurang ajar!"
Katanya menahan isak.
"Kau sudah tahu bahwa aku seorang wanita, akan tetapi kau pura-pura tidak tahu. Jadi karena itukah kau memperlihatkan kegagahanmu, menunjukkan bahwa kau budiman, menolongku, bahkan memberikan hadiah pedang ini? Ah... laki-laki ceriwis, laki-laki kurang ajar!"
Sambil berkata demikian gadis itu lalu melepaskan sarung pedangnya dan melemparkan pedang itu ke atas tanah. Mukanya menjadi merah seperti udang direbus.
"Nah, terima kembali pedangmu!"
Swan Hong menjadi bengong dan untuk sesaat tak mampu bergerak maupun mengeluarkan sepatah kata.
Ia masih bengong saja ketika gadis itu berlari pergi.
Kemudian ia mengejar cepat dan menghadang di jalan.
"Nona... Maafkan aku, Nona. Sama sekali aku tidak hendak berlaku kurang ajar! Aku memang sudah tahu bahwa kau adalah seorang gadis yang berpakaian pria, akan tetapi aku diam saja karena kalau aku katakan, aku khawatir kau akan menjadi malu karenanya. Aku... aku dengan tulus hati ingin berkenalan denganmu, seujung rambutpun tidak mengandung maksud buruk!"
"Tidak, tidak! Aku tidak dapat membawa kau pulang. Apa akan kata Ayah-Ibuku? Seorang gadis membawa pulang seorang pemuda, bukankah ini janggal seperti kata-katamu tadi? Ah... kau tentu memandangku sebagai seorang gadis yang tak tahu malu...!"
Setelah berkata demikian, gadis itu kembali berlari cepat, akan tetapi dengan beberapa kali lompatan saja Swan Hong kembali telah menghadang di depannya, bahkan kini pemuda ini lalu menjura dengan sikap hormat sekali.
"Nanti dulu, Nona. Sekali lagi aku mohon maaf sebanyaknya, dan... untuk menebus dosaku, aku bersedia memeriksa dan mengobati penyakit Ayahmu. Ketahuilah bahwa aku pernah mempelajari ilmu pengobatan, dan mudah-mudahan saja aku akan dapat mengobati Ayahmu."
Kini gadis itu memandangnya penuh perhatian, dan mukanya menyatakan keheranan dan juga kekaguman.
"Sesungguhnyakah...?"
Ia ragu-ragu.
"Nona, biarlah kau buktikan sendiri apakah aku benar-benar seorang pemuda kurang ajar yang suka menyombong atau membohong."
Untuk beberapa lama gadis itu memandang dengan matanya yang telah menjadi bening kembali, kemudian gadis itu tersenyum.
Alangkah anehnya, pikir Swan Hong dengan hati tertarik.
Baru saja mengeluarkan air mata dan sekarang sudah pandai tersenyum pula!
"Baiklah...
kalau begitu...
Ingkong."
"Sst, jangan menyebut seperti itu, Nona berat hatiku menerimanya. Cukup dengan... Twako saja."
Gadis itu tersenyum manis.
"Baiklah, Twako..."
Ketika gadis aneh itu hendak berjalan lagi, tiba-tiba Swan Hong menahannya.
"Nanti dulu, Nona."
Ia menengok heran.
"Apa lagi?"
"Pedang itu..."
Kata Swan Hong dengan muka merah dan pandang mata memohon.
"Sudilah kau menerimanya sebagai tanda ketulusan hatiku."
Untuk beberapa lama gadis itu memandangnya lalu tersenyum lebar.
"Baiklah... Twako!"
Bukan main girangnya hati Swan Hong.
Di dalam hati ia ingin sekali berjingkrak saking gembiranya, akan tetapi tentu saja ia tidak mau melakukan hal ini, hanya melompat cepat kembali ke tempat tadi untuk mengambil pedang yang dilemparkan oleh gadis itu.
Ketika ia memberikan pedang itu, gadis yang manis ini menerima dengan muka merah lalu mengenakan sarung pedang itu pada ikat pinggangnya.
Mereka berjalan lagi, kini tidak berani saling pandang.
Entah mengapa, keduanya merasa malu untuk bertemu pandang.
Keadaan menjadi sunyi, yang terdengar hanya daun-daun kering yang terpinjak oleh kaki mereka.
"Sebenarnya, bagaimanakah kau bisa mengetahui bahwa aku bukan seorang pemuda tulen?"
Suara gadis itu memecah kesunyian. Swan Hong tersenyum dan berkata.
"Aku tidak lebih pintar daripada penjahat-penjahat tadi, Nona, dan mataku juga tidak lebih awas. Sebenarnya, aku dapat mengetahui keadaanmu dari penuturan Kakek penjaga warung nasi di bawah gunung. Dialah yang menceritakan keyakinannya bahwa pemuda elok yang makan di warungnya sebelum aku tiba, adalah seorang gadis yang menyamar sebagai pemuda."
Gadis itu tertawa perlahan.
"Awas betul mata Kakek itu."
"Nona, kalau aku boleh bertanya, siapakah sebenarnya namamu?"
"Namaku Giok Cui, she Bun."
Setelah percakapan ini, gadis itu ternyata amat lincah dan pandai bergaul.
Ia menceritakan tanpa ditanya lagi bahwa ilmu silatnya adalah ajaran dari Ibunya sendiri, dan bahwa Ayahnya adalah seorang Siucai (Sasterawan) yang mengasingkan diri dan yang bertubuh lemah seringkali menderita sakit.
Iapun menceritakan bahwa Ibunya banyak mengenal dan tahu akan nama orang-orang kang-ouw yang gagah, maka ketika tadi ia mendengar nama Guru pemuda itu, ia yakin bahwa Ibunya tentu akan mengenalnya pula.
Tanpa terasa, mereka telah tiba di sebuah dusun di mana gadis itu tinggal bersama orang-tuanya.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah yang tak berapa besar akan tetapi cukup bersih dan menyenangkan.
Seorang nyonya setengah tua yang cantik menyambut kedatangan mereka dan ketika melihat betapa Giok Cui datang bersama seorang pemuda gagah, alis nyonya itu berkerut.
"Ibu...!"
Giok Cui lalu menghampiri nyonya itu dan memegang tangannya dengan sikap manja.
"Ini adalah saudara Lie Swan Hong yang telah menolongku dari serangan orang-orang jahat dan juga yang datang untuk memeriksa Ayah, karena ia pandai ilmu pengobatan."
Dengan singkat ia lalu menceritakan pengalamannya sehingga Ibunya terkejut mendengarnya.
"Harap Bibi suka maafkan aku yang berani lancang datang mengganggu."
Kata Swan Hong dengan hormat setelah gadis itu selesai bercerita.
"Sesungguhnya, Nona Giok Cui terlalu memuji, karena aku hanya mengerti sedikit saja tentang ilmu pengobatan. Akan tetapi aku bersedia untuk membantu sekuat tenaga dan hendak kuusahakan sedapatku untuk mengobati penyakit suami Bibi."
Tadinya nyonya itu tidak merasa senang di dalam hatinya melihat anak gadisnya datang bersama seorang pemuda, akan tetapi setelah mendengar betapa pemuda itu telah menolong anaknya dan melihat sikap yang halus dan sopan-santun dari Swan Hong, air mukanya berobah terang dan senang.
"Kongcu, kau baik sekali. Banyak terima kasih atas segala pertolonganmu yang tak ternilai besarnya itu. Dan lebih-lebih bersukur hatiku kalau kau bisa mengobati suamiku."
Serta merta Swan Hong lalu dibawa masuk ke dalam sebuah kamar di mana seorang laki-laki setengah tua yang tampan dan pucat rebah telentang di atas sebuah pembaringan.
Laki-laki ini sedang tidur, maka dengan hati-hati Swan Hong lalu memegang pergelangan tangannya untuk memeriksa jalan darahnya.
Setelah memeriksa jalan darah, mendengarkan pernapasan dan meraba-raba jidat si sakit, tahulah Swan Hong bahwa orang-tua ini terserang penyakit jantung lemah yang terjadi sebagai akibat dari batin yang menderita dan pikiran yang berduka.
"Kembang rumput putih itu memang baik, yakni untuk melancarkan jalan darahnya,"
Kata pemuda ini setelah mereka keluar dari kamar dan duduk di ruang dalam.
"Akan tetapi untuk memperkuat jantungnya, aku mempunyai beberapa butir pel obat buatan mendiang Suhuku."
Setelah memberikan pel itu kepada Giok Cui dan bagaimana caranya untuk memberi minum kepada si sakit, Swan Hong lalu berpamit untuk melanjutkan perjalanannya.
Giok Cui nampak terkejut dan kecewa sehingga ia lupa untuk membawa obat itu kepada Ayahnya.
"Ah, Kongcu, mengapa begitu tergesa-gesa? Lebih baik kau bermalam saja di rumah kami, karena sekarang hari sudah mulai gelap!"
Mencegah nyonya itu dengan ramah-tamah.
"Bagaimana aku berani mengganggu Bibi dan mendatangkan banyak kerepotan saja?"
Swan Hong menolak, sedangkah Giok Cui lalu masuk ke dalam karena ia tidak tahan mendengar percakapan itu tanpa ikut menahan kepergian Swan Hong.
Akan tetapi, tentu saja ia merasa malu untuk mengucapkan kata-kata ini.
Akhirnya, nyonya itu berkata.
"Kongcu, setidaknya kau harus memberi kesempatan kepada suamiku untuk menyatakan terima kasihnya dan kegembiraannya dapat bertemu denganmu. Kalau ia tahu tentang kedatanganmu dan kau sudah pergi lagi, tentu ia akan merasa kecewa sekali, mungkin akan marah kepada kami Ibu dan anak. Maka, sekali lagi kuminta kepadamu, bermalamlah disini dan tunda kepergianmu sampai besok."
Terpaksa Swan Hong menerima dan ia mendapatkan sebuah kamar di pinggir kiri, dekat tempat si sakit. Pada malam hari itu, pintu kamarnya diketok orang.
"Siapa?"
Tanyanya perlahan.
"Aku, Twako? Aku mengundang kau makan dan kaupun telah ditungguh oleh Ayah!"
"Baik!"
Kata Swan Hong bergembira dan ia segera melompat turun dari pembaringannya dan"
Bertukar pakaian!
Heran sekali, biasanya ia tidak begitu mengacuhkan tentang pakaiannya, akan tetapi sekarang lain lagi.
Ia akan bertemu dengan orang-tua gadis itu dan terutama dengan...
Giok Cui sendiri.
Sedangkan pakaiannya yang dipakai siang tadi telah kotor terkena peluh.
Setelah ia keluar dari kamarnya ternyata mereka bertiga telah menantinya.
Giok Cui, nyonya itu dan si sakit yang kini telah agak merah mukanya dan dapat duduk di atas sebuah kursi.
Swan Hong segera menjura kepada si sakit yang hanya menyambutnya sambil duduk karena tubuhnya masih terlalu lemah itu.
"Bagaimana, Paman? Banyak baikkah?"
"Terima kasih, terima kasih, Hiante. Berkat kemanjuran obatmu dan kembang rumput putih tenagaku pulih kembali."
Suara orang-tua ini halus dan tutur sapanya juga penuh sopan-santun, ciri dari seorang terpelajar tinggi.
Akan tetapi, ucapan ini hanya terdengar setengah-tengah saja oleh telinga Swan Hong karena pikiran dan hati pemuda ini sedang mengalami damparan gelombang yang dahsyat.
Hal ini terjadi di dalam dadanya setelah melihat gadis itu kini mengenakan pakaian wanita.
Bukan main hebatnya!
Kalau siang tadi gadis itu menjadi seorang pemuda yang elok sekali, kini ia nampak seperti seorang bidadari yang baru melayang turun dari kahyangan!
Wajahnya cantik-jelita, manis sekali, bagaikan setangkai kembang botan yang sedang mekar dari kuncupnya.
Rambutnya yang halus dan hitam itu mengelilingi wajahnya, seakan-akan daun-daun bunga botan yang menghias bunga itu, mendatangkan pemandangan yang amat menggairahkan hati.
Tubuhnya yang kecil ramping dan penuh itu bergoyang-goyang lemah gemulai bagaikan setangkai batang pohon yang-liu tertiup angin perlahan-lahan.
Kalau saja ia tidak menggunakan tenaga batinnya menekan gelombang yang mengalun di dalam dadanya, tentu ia akan terus menatap gadis itu!
Hidangan telah diatur di atas meja dan Swan Hong dipersilahkan ikut makan dengan keluarga kecil ini.
Pemuda ini masih hijau dan belum banyak pengalaman bergaul, maka tentu saja ia merasa sungkan dan malu-malu sehingga amat sukarlah nasi yang dimasukkan ke mulutnya itu tertelan olehnya.
Sehabis makan, mereka bercakap-cakap di ruang itu yang diterangi oleh sebuah lampu minyak.
"Hiante, aku tadi mendengar bahwa kau adalah murid seorang Pertapa di puncak Thai-Liang-San. Apakah kau kenal akan seorang Hwesio bernama Lam Kong Hwesio?"
Tanya Sasterawan yang bernama Bun Hak Lee itu.
"Kenal pribadi tidak, akan tetapi aku tahu akan nama itu, karena makamnya berada di sebelah makam Suhu,"
Jawab Swan Hong.
"Kalau tidak salah Suhu masih terhitung Supek dari Lam Kong Hwesio itu."
Nyonya itu terkejut dan nampaknya mendengar keterangan ini.
"Ah, tidak heran kau demikian lihai! Tidak tahunya kau masih terhitung Sute (adik seperguruan) dari Sukong (Kakek Guru) sendiri! Alangkah ganjil terdengarnya! Karena kalau diurutkan aku sendiri masih harus menyebut Susiok-kong (Paman Kakek Guru) kepadamu! Ketahuilah, Kongcu, Ayahku adalah murid dari Lam Kong Hwesio!"
Mendengar keterangan ini, tentu saja Swan Hong merasa tertarik hatinya.
"Sungguh kebetulan dan tak terduga sekali,"
Katanya sambil tersenyum.
"Bolehkah kiranya aku mengetahui siapa adanya Ayah dari Bibi itu?"
"Mungkin kaupun mengenalnya,"
Kata nyonya itu penuh harap.
"Ayahku bernama Lie Kai, ia""
Akan tetapi nyonya itu tidak melanjutkan kata-katanya karena bagaikan diserang oleh seekor ular dari bawah, tiba-tiba Swan Hong melompat bangun dari kursinya sambil matanya memandang kepada Giok Cui.
Gadis itu dan kedua orang-tuanya juga amat terkejut melihat wajah pemuda itu menjadi demikian pucatnya.
"Apa...?? Benar-benarkah Bibi anak dari Lie Kai? Tidak salahkah...?"
Tanyanya berbisik bagaikan orang bicara dalam alam mimpi.
"Bagaimana bisa salah?"
Nyonya itu terheran.
"Aku bernama Lie Eng, dan Lie Kai adalah Ayahku, dia murid Lam Kong Hwesio."
Swan Hong merasa betapa jantungnya seakan-akan copot.
Lenyaplah segala kegembiraan dan kebahagiaan yang tadi memenuhi hatinya, bagaikan sinar matahari yang tertutup mendung tebal.
Kalau begitu...
pikirnya dengan kepala panas dingin, gadis ini, dara jelita yang menarik hatinya, yang baru bertemu muka pertama kali saja sudah merampas hatinya, yang membuatnya jatuh cinta sampai di ujung-ujung rambutnya, gadis ini...
ternyata adalah cucu dari Lie Kai!
Ia dan gadis ini adalah saudara, saudara misan!
Sementara itu, Giok Cui yang melihat betapa Swan Hong diam saja dan berdiri bagaikan patung, menjadi tak sabar lagi.
"Twako, kau kenapakah? Mengapa kau begitu terkejut ketika mendengar nama Kongkongku?"
"Kongkongmu? Dia... Lie Kai adalah Kongkongku sendiri! Aku melakukan perantauan turun gunung justeru hendak mencari Kongkongku yang bernama Lie Kai!"
Sekarang tiga orang itulah yang bengong bagaikan mendengar suara petir di siang hari yang terang! "Tak mungkin!"
Seru Lie Eng, Ibu dari Giok Cui.
"Ayah hanya mempunyai anak aku seorang! Tidak mungkin!"
Swan Hong lalu menuturkan riwayatnya yang ia dengar dari Suhunya.
Ia menceritakan betapa Lie Kai membawanya kepada Pendeta itu, dan tidaklah mungkin kalau Gurunya membohong.
Ketika ia menceritakan keadaan Kongkongnya seperti yang ia dengar dari penuturan Gurunya, Lie Eng makin melongo dengan heran sekali.
"Bagaimana di dunia bisa terjadi hal seaneh ini?"
Bisiknya. Tiba-tiba Bun Hak Lee berkata perlahan.
"Tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi di dalam dunia yang begini luasnya. Siapa tahu kalau-kalau Gakhu (Ayah mertua) mempunyai seorang isteri dan putera di luar tahumu, dan ada juga kemungkinan Gakhu telah memungut seorang putera dan putera itu adalah Ayah dari Lie-Kongcu ini! Ah sungguh beruntung sekali, kalau begitu kita semua masih sekeluarga!"
Baru teringatlah mereka akan kenyataan ini. dan Swan Hong lalu berlutut di depan Bun Hak Lee dan menyebut . Kouthio lalu memberi hormat kepada Lie Eng dan menyebut "Kou-kou"
Yang berarti Paman dan Bibi. Lie Eng merasa terharu dan segera memegang kedua pundak Swan Hong.
"Swan Hong, kau memang patut menjadi cucu Ayahku. Kau gagah dan berbudi seperti dia, tidak seperti aku... aku anak yang Puthauw (tak berbakti) ..."
"Eng-moi..."
Suaminya mencela.
Lie Eng menahan isaknya, lalu menceritakan riwayatnya kepada Swan Hong yang mendengarkan dengan penuh perhatian.
Ternyata bahwa semenjak meninggalkan Ayahnya, pergi dengan pemuda Sasterawan Bun Hak Lee, Lie Eng lalu menikah dan menjadi suami-isteri dengan Sasterawan itu, penuh dengan kepahitan hati karena harus berpisah dari Ayahnya.
Akan tetapi mereka benar-benar saling mencinta, hidup rukun sampai memperoleh seorang puteri, yakni Bun Giok Cui.
Hati Lie Eng amat rindu kepada Ayahnya, akan tetapi oleh karena ia mengetahui akan adat Ayahnya yang amat keras, ia selalu menunda niatnya untuk mengunjungi tempat tinggal Ayahnya, takut kalau-kalau Ayahnya akan naik darah dan menjatuhkan tangan kejam.
"Oleh karena itulah, Swan Hong, maka semenjak aku meninggalkan Ayah, aku belum pernah bertemu lagi dengan dia. Ah, alangkah lamanya hal itu terjadi, sudah hampir dua puluh tahun...! Dan ternyata, ia telah mempunyai seorang cucu lain seperti engkau, hal yang tak pernah kusangka-sangka! Dalam hal ini, tentu terselip sesuatu yang rahasia, dan agaknya pemecahannya hanya kalau kita bisa bertemu dengan Ayahku!"
"Karena itu, Kou-kou, makin besar hasratku untuk segera bertemu dengan Kongkong. Besok aku akan pergi mencarinya."
"Memang seharusnya demikian."
Kata Bun Hak Lee.
"Alangkah baiknya kalau Gakhu dapat mengampunkan kami bertiga..."
"Swan Hong,"
Kata Lie Eng.
"Kalau kau hendak mencari Ayahku, kurasa ia tentu akan kembali ke tempat tinggalnya yang dulu. Cobalah kau mencarinya di Hokkian, karena di sanalah aku terlahir, dan di sana Kongkongmu itu dibesarkan. Di Propinsi Hokkian, di sebelah barat kota Nanping, di situ terdapat sebuah dusun bernama Han-Lo-Chung dan di situlah tempat tinggal Kongkongmu sewaktu muda. Siapa tahu kalau-kalau kau akan dapat bertemu dengan dia di tempat asalnya itu."
"Baiklah, Kou-kou, besok pagi aku akan berangkat mencari Kongkong."
"Ibu,"
Tiba-tiba Giok Cui yang semenjak tadi diam saja sambil menundukkan muka berkata dengan suara keras.
"aku akan ikut mencari Kongkong dengan Lie-Twako!"
Ibu dan Ayahnya terkejut lalu memandang tajam.
"Eh, Giok Cui, kau seorang wanita bagaimana dapat melakukan perantauan sejauh itu?"
Tanya Ayahnya.
"Dan Juga tidak pantas..."
Kata Ibunya sambil melirik ke arah Swan Hong.
"Ibu dan Ayah!"
Giok Cui berkata tegas dan sepasang matanya menyinarkan ketetapan hatinya yang keras.
"Bukankah baru saja akupun melakukan perjalanan seorang diri menyamar sebgai seorang laki-laki? Semenjak dulu aku ingin sekali merantau akan tetapi Ayah dan Ibu selalu mencegah dengan alasan kepandaianku belum cukup tinggi. Sekarang, ada Lie-Twako yang ternyata adalah Kakakku sendiri. Dia sudah berjanji akan melatih ilmu silat pedang kepadaku! Dengan adanya dia di dekatku, apakah yang perlu ditakuti lagi? Dan tentang pernyataanmu tadi, Ibu, mengapa tidak pantas? Kalau aku merantau sendiri, mungkin tidak pantas, akan tetapi sekarang aku ada kawan yakni seorang Kakak atau saudara sendiri, kenapa tidak pantas?"
Melihat sikap Giok Cui yang bersemangat ini, kedua orang-tuanya menjadi bohwat (habis daya).
Betapapun juga, ucapan Giok Cui mengandung cengli (aturan pantas) dan sukar dibantah lagi.
Bahkan diam-diam Lie Eng juga masih mengherankan tentang hubungan mereka dengan Swan Hong, maka alangkah baiknya kalau kedua orang muda itu menghadap Ayahnya!
Juga Bun Hak Lee mempunyai pikiran yang hampir sama dengan pikiran isterinya, maka ia lalu berkata.
"Bagiku tidak ada keberatan sesuatu, karena siapa tahu kalau-kalau hati Gakhu akan menjadi lemah dan suka maafkan kita setelah melihat anak kita."
Melihat kedua orang-tuanya setuju, Giok Cui merasa girang sekali.
"Nanti dulu, Giok Cu,"
Menegur Ibunya.
"Yang terpenting masih kau lupakan. Kita harus mendengar dulu jawaban Swan Hong apakah ia suka kau ikut bersama dia. Harus kau ketahui bahwa kalau kau ikut, berarti Swan Hong bertambah bebannya, selain mencari Ayahku, juga harus menjaga kau yang masih hijau!"
Giok Cui bangkit dari tempat duduknya dan pergi mendekati Swan Hong. Ia tidak ragu-ragu atau malu-malu lagi, seakan-akan bicara kepada Kakak kandungnya sendiri.
"Lie-Twako, benarkah kau aka merasa keberatan kalau aku ikut denganmu?"
Semenjak tadi, Swan Hong sudah merasa bingung sekali.
Hatinya yang tertarik oleh Giok Cui masih berantakan setelah mendengar kenyataan bahwa Nona ini adalah adik misannya sendiri!
Kini tiba-tiba saja Nona itu hendak ikut dia merantau, tentu saja ia merasa bingung.
"Keberatan sih tidak..."
Belum sempat ia melanjutkan alasan penolakannya, Giok Cui sudah memotong dengan suara girang.
"Nah, Ibu dan Ayah, tentu saja Lie-Twako tidak merasa keberatan. Aku akan berjalan sendiri, tidak minta digendong dan juga tidak perlu diasuh! Sekarang juga aku mempersiapkan pakaian untuk bekal!"
Gadis itu lalu berlari-lari masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang girang.
Pada keesokan harinya, berangkatlah Swan Hong dan Giok Cui disertai nasihat-nasihat Lie Eng dan Bun Hak Lee.
Giok Cui tidak menyamar sebagai pria lagi, akan tetapi ia mengenakan pakaian wanita yang ringkas berwarna kuning.
Ikat pinggang Sutera merah mengikat pinggangnya yang ramping dan rambutnya yang hitam halus itu dibungkus dengan Sutera merah pula.
Pedang pemberian Swan Hong tergantung di pinggang kiri dan ia nampak luar biasa cantiknya, akan tetapi juga gagah sekali.
Melihat gadis ini, berkali-kali Swan Hong menarik napas panjang dan mereka melakukan perjalanan tanpa banyak cakap.
Giok Cui merasa heran melihat pemuda itu demikian pendiam, tidak jenaka dan gembira seperti kemarin.
Tadinya iapun berdiam saja, akan tetapi setelah melakukan perjalanan setengah hari lamanya dan pemuda itu masih diam saja, ia tidak tahan lagi.
Ia adalah seorang gadis yang riang gembira, jenaka dan manja.
"Twako, kau kenapakah? Marahkah kau karena aku ikut?"
Swan Hong terkejut dan cepat-cepat menjawab, walaupun dengan agak lesu.
"Tidak, tidak, Nona. Aku girang sekali kau ikut."
Kedua mata gadis itu terbelalak heran.
"Apa? Kau masih menyebutku Nona? Eh, Twako, aku adik misanmu, mengapa kau masih menggunakan sebutan Nona-nonaan? Apakah kau tidak suka menyebutku Piauw-moi (adik misan perempuan), tidak suka mempunyai adik misan seperti aku?"
Swan Hong makin bingung.
Ia kembali memandang wajah gadis itu dan untuk kesekian kalinya, sinar matanya seakan-akan terikat oleh sepasang mata bintang itu sehingga sukar baginya untuk mengalihkan padang.
Akhirnya Giok Cui yang menundukkan mukanya dan gadis ini menggerakkan-gerakkan kedua alisnya.
"Lie-Twako, pandang matamu masih..."
"Masih apa...?"
"Masih seperti kemarin! Aku ... ngeri melihatnya!"
"Maaf, aku tidak sengaja menatap mukamu."
Hening sejenak, kemudian terdengar Giok Cui menegur lagi.
"Bagaimana jawabmu atas pertanyaanku tadi?"
"Pertanyaan yang mana?"
Swan Hong selalu menghindarkan untuk menyebut gadis ini, karena sesungguhnya kurang sedap rasa hatinya untuk menyebut "Piauw-moi"
"Tentang sebutan itu, dan tentang suka tidaknya kau mempunyai seorang adik misan seperti aku!"
"Tentu saja aku suka mempunyai seorang adik seperti engkau. Kau cantik, pandai, dan jenaka. Akan tetapi..."
Swan Hong tak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Akan tetapi bagaimana, Twako...?"
Swan Hong tidak menjawab, bahkan lalu menggerakkan tubuhnya berlari sambil berkata.
"Hayo, kita lanjutkan perjalanan kita."
Terpaksa Giok Cui mengejar pemuda itu, dan di sepanjang jalan tiada hentinya ia bertanya.
"Twako, katakanlah, apa lanjutan kata-katamu tadi? Kau suka mempunyai adik seperti aku, akan tetapi bagaimana selanjutnya, Twako?"
Berkali-kali Swan Hong menjawab singkat.
"Tidak ada apa-apa lagi!"
Akan tetapi Giok Cui merasa tidak puas sehingga tiba-tiba ia berhenti berlari, berdiri dengan mulut cemberut dan muka merah seperti mau menangis! "Eh, eh, kau kenapakah?"
Tanya Swan Hong sambil berhenti dan menengok.
"Kalau kau belum menjawab, aku takkan melanjutkan perjalanan, biar kau tinggalkan saja disini, aku takkan bergerak dari tempat ini sampai mati!"
Jawab Giok Cui dan Bibirnya yang manis itu makin diruncingkan makin menarik hati. Swan Hong menarik napas panjang.
"Baiklah, kalau kau memaksa. Sesungguhnya, biarpun aku senang mempunyai adik seperti engkau, akan tetapi terus terang saja, rasa hatiku lebih sedap memanggilmu dengan sebutan Nona daripada Piauw-moi!"
Makin merahlah wajah gadis itu dan kini ia memandang dengan mata mengandung keheranan.
"Eh, Twako, Piauw-ko (Kakak misan) macam apakah kau ini?"
Swan Hong menghela napas, lalu melanjutkan larinya.
"Kau yang memaksaku mengaku terus terang, Moi-moi!"
Ia lebih baik menyebut "Moi-moi" (adik perempuan) daripada Piauw-moi.
Diam-diam Giok Cui tersenyum dan matanya berseri ketika ia juga berlari di sebelah pemuda itu.
beberapa lama mereka berlari tanpa bercakap-cakap.
"Twako, kau memang seorang Piauw-ko yang aneh, Janganlah kau bersikap seaneh itu lagi, Twako."
"Tidak, Moi-moi. Maafkanlah aku. Aku akan berusaha sedapat mungkin untuk selalu mengingat bahwa kau adalah adik misanku."
"Dan, jangan kau memandangku lagi seperti tadi. Twako. Aku merasa... ngeri dan takut."
"Tidak, Moi-moi."
Akan tetapi diam-diam Swan Hong menghela napas lagi.
Ia maklum bahwa amat sukarlah baginya untuk memandang wajah gadis itu tanpa membayangkan rasa cinta yang besar!
Setelah berdiam lagi beberapa lama, Giok Cui bertanya.
"Twako, apakah kita sekarang terus menuju ke Propinsi Hokkian mencari Kongkong?"
"Tidak, Moi-moi. Kita pergi dulu ke Thai-Liang-San, karena aku mempunyai sebuah tugas penting, menemui Twa-Suhengku di bukit itu."
Ia lalu menceritakan tentang pengalamannya dengan Ji-Suhengnya, Seng Tee Hwesio, yang telah berhasil mengusir Hwesio jahat di Kelenteng Thian-Hok-Si dan betapaa Ji-Suhengnya menyuruhnya memanggil Seng Thian Hwesio untuk memegang pimpinan atas Kelenteng itu.
Giok Cui tidak membantah karena ia merasa bahwa dalam perjalanan ini, Swan Hong yang menjadi "kepalanya", dan ia hanya merupakan ekornya yang harus menurut ke mana sang kepala menuju.
Demikianlah, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Thai-Liang-San.
Di sepanjang jalan, tiap kali mereka berhenti, Swan Hong lalu memberi petunjuk-petunjuk dalam hal ilmu silat pedang kepada gadis itu yang memperhatikan dengan penuh ketekunan dan melatih ilmu silatnya di bawah petunjuk Swan Hong.
Maka dengan cepat Giok Cui mendapat kemajuan pesat, terutama sekali dalam hal ilmu pedang.
Hubungan mereka makin akrab, sungguhpun tiap kali mata mereka saling pandang, ada sesuatu yang lebih mesra daripada rasa persaudaraan bersinar dan memancar dari pandang mata mereka.
Di dalam hati Swan Hong, masih saja api cinta itu belum mau padam, sungguhpun ia telah mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk melawannya.
Dengan memaksa diri, ia menjejalkan kenyataan dan pengakuan di dalam benaknya bahwa hal ini tak boleh dilanjutkan, karena gadis itu adalah adik misannya sendiri!
Sama sekali ia tak pernah mengira bahwa tiap malam, gadis itupun berhal seperti dia, yakni melamun dengan hati mengandung kekecewaan bahwa Swan Hong adalah Kakak misannya!
Akan tetapi, gadis ini amat lincah, dan jenaka gembira, sehingga tentu saja perasaan itu sama sekali tidak nampak di luar.
Seng Thian Hwesio menyambut kedatangan Sutenya dengan heran dan matanya memandang kepada Giok Cui dengan ragu-ragu.
Biarpun mulutnya tidak menyatakan sesuatu, akan tetapi matanya penuh dengan pertanyaan yang dilontarkan ke arah Sutenya.
"Twa-Suheng,"
Kata Swan Hong buru buru memberi keterangan.
"Nona ini adalah adik misanku sendiri, juga cucu dari Kongkong. Dia adalah Piauw-moiku yang bernama Bun Giok Cui, yang ikut dengan aku untuk bersama-sama mencari Kongkong!"
Dengan singkat ia lalu menuturkan riwayatnya dan perjumpaannya dengan Giok Cui. Seng Thian Hwesio menjadi girang mendengar ini, lalu katanya.
"Ah, Sute, kau agak terlambat. Baru kurang lebih dua bulan yang lalu, Kongkongmu Lie Kai datang di sini mencari kau!"
Mendengar ucapan ini, Swan Hong dan Giok Cui melompat bangun dengan girang mendengar bahwa Kongkong mereka masih hidup, akan tetapi mereka kecewa ketika Seng Thian Hwesio menceritakan bahwa orang-tua itu telah pergi lagi hendak mencari Swan Hong.
"Kemanakah Kongkong menuju, Twa-Suheng?"
"Entahlah, Sute, dia tidak memberitahukan kemana hendak pergi. Akan tetapi, kurasa tidak akan sukar kalau mau mencari, karena nama Thiat-Thouw-Gu Lie Kai bukanlah nama yang tidak terkenal di dunia kang-ouw."
Ketika Swan Hong menceritakan tentang pengalamannya dan tentang undangan Seng Tee Hwesio kepadanya untuk turun gunung dan memimpin Kelenteng Thian-Hok-Si, Hwesio muda ini menjadi girang sekali.
Setelah tinggal selama tiga hari di atas puncak bukit itu, mereka lalu berpisahan.
Seng Thain Hwesio turun gunung untuk menyusul Sutenya di Kelenteng Thian-Hok-Si di kota Icang.
Sedangkan Swan Hong dan Giok Cui lalu turun gunung melanjutkan perjalanan mencari Kongkong mereka yakni Lie Kai.
Sebelum berpisah, Seng Thian Hwesio berkata kepada Sutenya.
"Sute, kebetulan sekali kau datang. Belum lama ini aku kedatangan beberapa orang dusun yang minta pertolonganku untuk mengusir seorang siluman yang katanya mengganggu penduduk di sebelah utara gunung ini. Siluman itu katanya tinggal di dalam sebuah Kuil rusak di luar kota Han-Kiok-Bun. Oleh karena itu, kau wakililah aku untuk membasmi anasir jahat itu untuk menolong penduduk di sana."
Swan Hong menyanggupi dan ia lalu mengajak Giok Cui menuju ke utara mencari kota Han-Kiok-Bun.
Kota ini sebenarnya cukup besar dan ramai, akan tetapi sudah beberapa bulan ini kota Han-Kiok-Bun nampak sunyi.
Apa lagi di waktu malam, baru saja matahari tenggelam diufuk barat, semua penduduk sudah menutup daun pintu rumah mereka dan bersembunyi di dalam rumah, menanti datangnya fajar pada keesokan harinya baru berani membuka pintu kembali.
Hal ini disebabkan oleh munculnya seorang siluman yang mengganggu keamanan penduduk di situ.
Orang tidak ada yang pernah melihat siluman ini dengan jelas, karena tiap kali ia muncul, yang kelihatan hanya bayangan hitam berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu ada benda berharga telah lenyap!
Bahkan akhir-akhir ini ada pula anak-anak gadis yang lenyap tidak karuan jejaknya.
Hanya terdengar teriakan mereka dan tahu-tahu gadis itu telah lenyap tanpa bekas.
Yang amat mengherankan, benda-benda yang lenyap itu adalah benda-benda yang indah, baik berupa perabot rumah maupun pakaian.
Akan tetapi sama sekali tidak ada uang yang pernah lenyap.
Siluman itu sungguh berani dan kurang ajar, karena meja di kantor tikwan yang terukir indah, yang biasanya di pergunakan untuk bersidang, juga lenyap tercuri secara gaib oleh siluman itu!
Penduduk dan pembesar setempat tidak tinggal diam.
Dikumpulkan para penjaga dan Guru-Guru silat yang pandai untuk menangkap siluman yang tadinya dikira penjahat biasa, akan tetapi pada suatu waktu, ketika siluman itu dapat terkepung di dalam gelap, siluman itu mainkan sebuah golok yang luar biasa sekali karena mencorong di dalam gelap dan dalam segebrakan saja semua senjata para pengepung telah terbabat putus!
Kemudian, siluman yang belum kelihatan jelas mukanya itu, telah melarikan diri setelah merobohkan lima orang pengeroyok dengan goloknya yang lihai.
Akhirnya diketahui oleh para petugas bahwa siluman itu tinggal di dalam sebuah Kuil rusak yang berada di luar kota, yakni di dalam sebuah hutan kecil.
Mereka mencoba untuk menggerebek ke tempat itu, akan tetapi alangkah heran dan terkejut mereka ketika mereka disambut oleh dua belas orang gadis yang bersenjata golok, dikepalai oleh siluman itu sendiri yang ternyata merupakan seorang laki-laki tua yang tertawa-tawa dan mukanya menyeramkan sekali!
Dua belas orang gadis itu adalah gadis-gadis cantik yang selama ini terculik oleh siluman itu, dan yang agaknya sudah tidak ingat akan sesuatu lagi dan hanya menurut perintah siluman itu!
Dua belas orang gadis itu kini ternyata telah memiliki ilmu silat yang lihai, lebih-lebih siluman itu sendiri.
Penduduk kota tentu saja tidak mau menyerbu para gadis itu yang berada dalam keadaan tak sadar, sedangkan untuk melawan siluman itu terlampau berat bagi mereka.
Setelah terjadi perang tanding yang mengakibatkan jatuhnya beberapa orang kurban lagi, mereka melarikan diri sambil membawa kawan-kawan yang terluka.
Demikianlah, tak seorangpun berani lagi untuk mengganggu siluman itu dan siluman yang mengerikan itu kembali mengganggu kota sesuka hatinya.
Beberapa orang gadis telah terculik lagi disamping barang-barang berharga, sehingga orang-orang yang mempunyai anak gadis lalu lari mengungsi ke kota lain karena merasa takut.
Kemudian, semua orang berunding, lalu mengambil keputusan untuk mengundang seorang yang berkepandaian tinggi untuk minta tolong mengungsikan siluman.
Mereka telah mendengar bahwa di puncak bukit Thai-Liang-San terdapat Hwesio-Hwesio yang gagah perkasa, maka beberapa orang lalu diutus naik ke bukit itu.
Mereka bertemu dengan Seng Thian Hwesio dan menyampaikan permohonan mereka.
Sebagai seorang berkepandaian tinggi, tentu saja Seng Thian Hwesio menyanggupi untuk menolong mereka, akan tetapi sebelum ia berangkat, datanglah Swan Hong dan Giok Cui sehingga Hwesio yang tidak suka bermusuhan dengan orang itu lalu menyerahkan tugas ini kepada Sutenya.
Setelah tiba di kota Han-Kiok-Bun, Swan Hong lalu mengajak Giok Cui menemui pembesar setempat dan memperkenalkan diri sebagai wakil dari Seng Thian Hwesio untuk menolong mereka dan berusaha mengusir siluman itu.
Pembesar itu menjadi girang sekali dan menyambut kedua orang muda itu dengan penuh penghormatan, akan tetapi di dalam hatinya ia merasa ragu-ragu sekali.
Bagaimanakah dua orang muda yang belum berusia dua puluh tahun ini akan dapat menghadapi siluman yang dahsyat dan berbahaya itu.
Penduduk kota Han-Kiok-Bun, ketika mendengar bahwa ada pendekar muda yang datang hendak mengusir siluman, pada datang berbondong-bondong ke rumah pembesar itu dan semua orang juga merasa ragu-ragu, sungguhpun semua orang memperlihatkan muka girang dan merasa kagum melihat pemuda dan dara yang selain elok, juga amat gagah sikapnya itu.
Ketika Swan Hong dan Giok Cui mendengar cerita tentang sepak-terjang siluman itu, Giok Cui diam-diam merasa ngeri sekali, sedangkan Swan Hong bahkan makin tertarik dan ingin sekali menghadapi siluman yang aneh dan jahat itu.
Mereka bermalam di kota itu, di rumah pembesar tadi untuk mencari keterangan yang jelas dan beristirahat, kemudian pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka menuju ke hutan yang dijadikan tempat tinggal siluman itu.
"Moi-moi, kurasa lebih baik kau jangan ikut memasuki hutan, karena agaknya siluman itu lihai sekali. Mendengar cerita orang-orang itu kemarin, apakah kau tidak merasa takut? Lebih baik kau menanti di luar hutan bersama orang-orang itu."
Memang banyak sekali orang yang mengantar mereka sampai di luar hutan, di mana mereka lalu berhenti tidak berani melanjutkan perjalanannya. Giok Cui melotot dan berkata marah.
"Twa-ko, memang kuakui bahwa ilmu silatku masih rendah sekali, akan tetapi kalau kau menyangka bahwa aku takut, kau keliru! Aku tidak takut sama sekali dan ingin mencabut jenggot siluman tua itu!"
Swan Hong tersenyum dan di dalam hatinya ia merasa geli, karena dari wajah Nona ini ia dapat menduga bahwa sebetulnya Giok Cui takut sekali.
Bahkan agaknya Nona ini kurang tidur semalam, mungkin takut kalau-kalau siluman itu datang mengganggunya!
"Baiklah kalau begitu, bersiaplah kau dengan pedangmu."
Keduanya lalu memasuki hutan, diikuti oleh pandangan semua orang yang tadi mengantarkan mereka sampai mereka lenyap di antara daun-daun pohon di dalam hutan.
Giok Cui berjalan di sebelah kiri Swan Hong dengan pedang mestika di tangannya, sedangkan Swan Hong pun bersiap siaga menghadapi serangan mendadak.
Mereka masuk terus dan ketika tiba di tengah hutan itu, benar saja mereka melihat sebuah Kuil tua dan rusak di bawah pohon yang besar, Akan tetapi setelah mereka dekat, mereka terkejut dan heran sekali karena ternyata bahwa Kuil itu setelah terlihat dari depan, nampak indah dan mewah sekali.
Di ruang depan dengan meja kursi yang terukir indah dan serba mahal, di dinding tergantung lukisan-lukisan yang biasanya hanya terdapat dalam kamar orang-orang kaya atau bangsawan.
Di setiap ambang pintu digantungi muili (tirai) Sutera dan banyak pula lian (tulisan indah) menghias pinggir pintu!
Sama sekali tempat itu tidak merupakan sebuah Kuil lagi, lebih pantas disebut ruang depan dari rumah seorang hartawan!
Ketika kedua orang muda itu saling pandang dengan penuh keheranan, tiba-tiba dari dalam Kuil itu berserabutan keluar tujuh belas orang gadis-gadis cantik yang berpakaian mewah dan masing-masing memegang sebatang golok tipis!
"Siapa berani lancang datang mengganggu rumah kami?"
Seorang diantara tujuh belas orang gadis cantik itu menegur sambil lari menghampiri Swan Hong dan Giok Cui yang masih berdiri bengong.
Melihat betapa gerakan mereka ketika berlari tidak menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat pandai, maka Swan Hong tidak mencabut goloknya, akan tetapi Giok Cui lalu melompat maju untuk menyambut keroyokan mereka.
"Moi-moi, hati-hati jangan sampai kau melukai mereka! Mereka adalah orang-orang yang tak berdosa."
Kata Swan Hong dan hal ini sebetulnya tak perlu ia katakan, karena setelah dekat dengan mereka, Giok Cui hampir berseru heran melihat betapa para gadis cantik itu seakan-akan sedang bergerak dalam mimpi!
Mata mereka bagaikan mata orang yang sedang mengigau dan tak sadar, sehingga tak terasa pula bulu tengkuk Giok Ciu bangun berdiri saking merasa seramnya.
Apakah yang terjadi di sini dan pengaruh apakah yang membuat mereka ini seperti itu?
Ia teringat bahwa gadis-gadis itu adalah gadis-gadis dari kota Han-Kiok-Bun yang tadinya sama sekali tidak mengerti ilmu silat, apalagi mainkan golok yang tajam!
Akan tetapi kini mereka itu dengan ganasnya maju mengurungnya dan menyerang dengan golok mereka bagaikan harimau-harimau betina mengamuk.
Para gadis itu tidak hanya menyerang Giok Cui, karena melihat Swan Hong berdiri disitu, sebagian dari mereka lalu berlari dengan golok terangkat menghampiri pemuda ini dan langsung menyerangnya tanpa banyak cakap lagi!
Swan Hong cepat bergerak dan begitu ia menggerakkan kedua tangannya, golok-golok itu dengan mudah terampas olehnya.
Juga Giok Cui ternyata mendapat lawan-lawan yang amat empuk.
Ilmu silat yang mereka mainkan dengan golok itu cukup hebat, akan tetapi mereka sama sekali tidak mempunyai "isi"
Dan hanya menggerakkan golok menyerang bagaikan orang menari saja!
Agaknya kalau golok mereka itu mengenai tubuhnya, paling hebat hanya akan mendatangkan luka goresan belaka.
Gadis-gadis itu ternyata tidak memiliki tenaga seorang ahli silat dan sama sekali tidak terlatih, bagaikan penari-penari yang mempelajari gerakan alat hanya khusus untuk mengambil keindahannya belaka.
Beberapa kali Giok Cui menggerakkan pedang mustikanya dan "Trang...
trak...!"
Golok-golok di tangan para lawannya itu terbang di udara, ada yang patah ada pula yang terlempar setelah kena senggol sedikit saja. Pada saat itu, dari dalam Kuil terdengar suara yang keras.
"Kurang ajar! Siapa berani mengganggu anak-anakku?"
Berbareng dengan habisnya ucapan ini, dari pintu besar muncullah seorang Kakek yang menyeramkan.
Mukanya penuh cambang bauk, sepasang matanya besar dan berputar-putar mengerikan, bukan seperti mata manusia lagi.
Rambut kepalanya awut-awutan tidak teratur sama sekali sedangkan pakaiannya biarpun terbuat daripada kain yang bersih dan baru, akan tetapi bertambal-tambal tidak karuan.
Kedua kakinyapun mengenakan sepasang yang berlainan warna dan bentuknya.
Yang kiri berwarna merah dan yang kanan berwarna hitam.
Giok Cui dan Swan Hong sudah merasa aneh sekali, akan tetapi mereka makin heran ketika melihat betapa tujuh belas orang gadis itu lalu berlari menghampiri si Kakek sambil berseru.
"Ayah...! Aah, mereka itu telah menghina kami!"
Kakek ini nampak marah sekali dan dengan penuh kasih sayang ia mengelus elus rambut "anak-anaknya"
Yang terdekat. Kemudia ia lalu melompat cepat dengan gerakan liar dan tahu-tahu ia telah berhadapan dengan Swan Hong dan Giok Cui.
"Kurang ajar!"
Teriaknya lagi sambil memandang kepada Swan Hong dengan mata melotot.
"Kau pemuda tidak tahu kesopanan! Sudah mempunyai seorang isteri atau tunangan, kenapa masih mau mengganggu anak-anakku? Siapa yang sudi mempunyai seorang mantu seperti kau?"
Tentu saja Swan Hong dan Giok Cui menjadi melongo mendengar ucapan ini.
"Hm, tidak tahunya yang disangka siluman hanyalah seorang yang miring otaknya!"
Pikir Swan Hong, kemudian dengan suara keras ia berkata.
"Orang tua, kulihat kau ini seorang manusia biasa, mengapa kau pura-pura menjadi siluman dan mengacau kota Han-Kiok-Bun? Mengapa kau menculik gadis-gadis itu dan mencuri barang-barang bahkan membunuh orang? Agaknya kau mengandalkan kepandaianmu untuk melampiaskan nafsu-nafsu jahatmu!"
"Bangsat muda yang lancang mulut!"
Kakek itu membentak marah lalu mencabut goloknya. Kagetlah Swan Hong ketika melihat golok yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata itu.
"Jangan sembarangan menuduh! Aku mengajak anak-anakku hidup bahagia di tempat ini, mengambil barang-barang yang disukai mereka, mengapa orang-orang itu menyerangku? Yang terluka dan mati adalah akibat dari kelancangan mereka sendiri, seperti juga kau yang lancang ini tentu akan mampus pula di tanganku!"
"Manusia siluman, memang kedatanganku ini hendak menamatkan riwayatmu yang buruk dan jahat!"
Seru Swan Hong sambil mencabut goloknya pula dan siap siaga menghadapi lawan yang aneh ini.
Sambil mengeluarkan teriakan buas, Kakek itu lalu maju menyerang.
Gerakan ilmu goloknya cepat dan ganas sekali, bahkan setengah mengawur membabi buta, hanya mengandalkan kecepatan gerakannya saja.
Swan Hong terkejut juga karena maklum bahwa tenaga lweekang dan ginkang dari si Kakek gila ini sesungguhnya amat mengagumkan.
Akan tetapi ilmu goloknya yang sesungguhnya memiliki dasar yang amat sempurna, akan tetapi ternyata dimainkan dengan ngawur dan tidak teratur, seakan-akan permainan seorang ahli silat yang sudah hampir lupa akan gerakan-gerakan ilmu silatnya.
Akan tetapi, baru saja sepuluh jurus mereka bertempur, ketika golok di tangan Swan Hong sedikit saja beradu dengan golok di tangan Kakek itu, bagaikan sebatang rumpun melawan pisau tajam, golok pemuda itu telah terbabat putus menjadi dua!
Kakek itu tertawa terbahak-bahak dengan suara yang amat mengerikan, sedangkan Swan Hong merasa kaget setengah mati.
Biarpun ia telah menduga bahwa golok itu tentu sebuah senjata mustika yang amat tajam dan ampuh, akan tetapi tak pernah ia mengira akan setajam itu!
Kakek itu lalu tertawa lagi dan tiba-tiba ia menubruk maju dengan serangan berbahaya.
Akan tetapi biarpun telah bertangan kosong, Swan Hong tidak menjadi gugup dan ia dapat mengelak dengan mudah.
Pada saat itu, Giok Cui tak dapat tinggal diam saja.
Melihat betapa golok di tangan Swan Hong telah putus dan tak dapat dipergunakan lagi, ia lalu berseru keras dan melompat dengan pedang di tangan, menusuk dada Kakek yang aneh itu.
Kakek itu lalu menggerakkan goloknya menangkis serangan ini.
"Trang...!"
Bunga api berpijar ketika sepasang senjata ini beradu, dan pedang Giok Cui terlempar di udara, karena ketika kedua senjata tadi bertemu, tenaga yang amat besar membuat tangan gadis itu tergetar dan tidak kuat menahan pedangnya yang terpental ke atas!
============================================== Melihat hal ini, Swan Hong cepat mengenjot tubuhnya keatas dan sebelum pedang itu meluncur ke bawah, ia telah berhasil menyautnya, lalu ia melompat ke depan Giok Cui untuk melindungi gadis itu sambil berkata.
"Moi-moi, jangan kau maju. Biar aku pinjam pedangmu ini, dan kau perhatikan saja kalau-kalau para gadis itu maju membantu Kakek gila ini!"
Akan tetapi ternyata bawah gadis-gadis yang berjumlah tujuh belas orang itu tidak bergerak dari tempatnya, berdiri berkelompok-kelompok sambil menonton pertempuran itu tanpa bergerak, bagaikan patung.
Kakek itu ketika melihat bahwa lawannya telah memegang pedang yang ternyata tidak menjadi putus ketika beradu dengan goloknya, lalu berseru keras dan menyerang lagi.
Swan Hong menangkis dengan pedang mestika itu dan kembali api memancar ke atas ketika dua senjata yang ampuh itu bertemu.
Dengan hati puas Swan Hong melihat bahwa pedang itu tidak menjadi patah, maka ia lalu mengeluarkan kepandaiannya dan mainkan ilmu goloknya Pek-Ho To-Hwat!
Senjata pedang masih terhitung "keluarga"
Dengan senjata golok, sungguhpun gerakan golok lebih banyak membacok dan pedang lebih sering menusuk, akan tetapi cara memegangnya sama.
Oleh karena itu biarpun di tangannya ia memegang pedang, Swan Hong dapat mainkan pedang itu dengan ilmu goloknya, karena ia maklum bahwa kalau ia tidak menghadapi Kakek ini dengan ilmu goloknya, akan sukar baginya mengalahkan Kakek gila ini.
Ilmu golok Pek-Ho To-Hwat memang lihai sekali, dan benar saja, kini Kakek itu terdesak hebat.
Sebetulnya, Swan Hong tidak berniat menewaskan Kakek itu, akan tetapi oleh karena Kakek itu ternyata buas sekali dan tidak mengenal bahaya serta semua serangannya dilakukan secara nekad, terpaksa Swan Hong lalu mengirim serangan-serangan maut yang berbahaya.
Hal ini memang perlu sekali, karena kalau ia mengalah, banyak bahayanya.
Ia sendiri yang akan menjadi korban golok yang tajam itu.
Setelah pertempuran berjalan tiga puluh jurus lebih, pada suatu saat, Kakek itu menyerang Swan Hong dengan gerakan mirip dengan gerak tipu Hwai-Tiong Po-Gwat (Peluk Bulan di Depan Dada).
Golok Kakek itu menyambar ke arah leher Swan Hong sedangkan tangan kiri Kakek itu tersembunyi di depan dadanya.
Sebetulnya, kalau benar gerakan itu adalah gerak tipu Hwai-Tiong Po-Gwat maka tangan kiri itu seharusnya lalu tiba-tiba menyusul gerakan golok dan mengirim pukulan ke arah lambun lawan, akan tetapi Kakek ini tidak menggerakkan tangan kirinya!
Melihat hal ini, Swan Hong menjadi girang sekali karena ia mendapat kesempatan merobohkan Kakek itu tanpa melukainya dengan pedang.
Cepat sekali ia menundukkan kepalanya sehingga golok itu menyambar lewat di atas kepala, lalu dengan gerakan yang cepat ia mengulur tangan kiri memukul dada lawan!
Tidak tahunya, tangan kiri Kakek itu tidak digerakkan bukan karena salah gerakan, akan tetapi karena memang disengaja.
Pada saat tak terduga itu, tangan kiri itu meluncur keluar dan dengan ilmu mencengkeram Houw-Jiauw-Kang (Cengkeraman Kuku Harimau), Jari-jari tangan kiri itu dengan cepat sekali telah berhasil mencengkeram dan menangkap pergelangan tangan Swan Hong yang memukul tadi!
Swan Hong mengerahkan tenaga untuk melepaskan tangannya, akan tetapi ternyata bahwa tenaga lweekang dari Kakek itu masih lebih kuat daripada tenaganya, sehingga tangan itu sama sekali tak dapat terlepas!
Pada saat yang berbahaya itu, sambil tertawa menyeramkan, Kakek itu menggerakkan goloknya membacok kepala Swan Hong!
Akan tetapi, dengan ketenangannya yang luar biasa, Swan Hong dapat menangkis golok itu dengan pedangnya, lalu dari tangkisan ini, ia meminjam tenaga lawan dan pedangnya terpental ke depan, langsung menusuk dada lawannya.
Terdengar jerit mengerikan dan Kakek itu roboh mandi darah dengan golok masih terpegang erat-erat.
"Ayah...!"
Terdengar pekik para gadis itu dan mereka lalu berlari-lari menghampiri Kakek itu dan menubruknya sambil menangis sedih!
Kembali Swan Hong dan Giok Cui saling pandang penuh keheranan dan hanya berdiri bagaikan patung.
Hampir saja mereka tidak percaya kepada mata sendiri.
Bagaimana mungkin gadis-gadis yang diculik oleh "siluman"
Itu demikian menyinta Kakek ini dan menyebutnya "Ayah"
Kakek itu bergerak perlahan dan wajahnya yang tadinya menyeramkan itu kini berobah lunak ketika ia memandang kepada tujuh belas orang gadis yang berlutut mengelilinginya sambil menangis.
"Pemuda itu gagah sekali... ilmu goloknya hebat... coba panggil dia kesini..."
Mendengar ini, tanpa dipanggil Swan Hong lalu mendekati tubuh Kakek itu dan berlutut.
"He, anak muda, bukankah ilmu golok yang kau mainkan tadi adalah Pek-Ho To-Hwat? Apakah kau murid dari Lam Hwat Hwesio?"
Swan Hong tertegun.
"Benar, Lo-Enghiong, aku adalah Lie Swan Hong murid dari Lam Hwat Hwesio. Ilmu golok itu sesungguhnya adalah Pek-Ho To-Hwat."
"Ha, ha, bagus, bagus... tidak kalah oleh Gurunya, sekarang kalah oleh muridnya"! Sama saja, aku sudah merasakan kelihaian Pek-Ho To-Hwat dan aku puas"! Anak muda golokku ini tak boleh jatuh ke dalam tangan orang yang tidak berharga, hanya orang-orang yang memiliki ilmu golok seperti aku dan kau saja yang patut memakainya. Nah... terimalah, kau... kau berhak memiliki golok ini..."
Luar biasa sekali kekuatan tubuh Kakek itu.
biarpun dadanya telah tertembus pedang, namun ia masih mampu berkata-kata selama itu.
akan tetapi kini ia telah lemah, terlalu banyak darah mengalir keluar, ia terengah-engah dan meramkan matanya, ditangisi oleh gadis-gadis itu.
"Anak muda... Awas, jangan ada yang mengganggu anak-anakku ini! Kalau mereka ini diganggu, biarpun sudah mati, aku akan keluar dari kuburan... terimalah golok ini..."
Ia mengerahkan tenaga terakhir untuk mengulur tangan memberikan golok mustika itu kepada Swan Hong yang menerimanya dengan terharu.
Maka matilah Kakek itu, diantar oleh suara tangisan tujuh belas orang gadis-gadis cantik yang mengaku sebagai anak-anaknya!
Dengan penuh keheranan, setelah tubuh yang sudah menjadi mayat itu diangkat ke dalam Kuil, Giok Cui dan Swan Hong melihat betapa keadaan di dalam Kuil itu lebih mewah lagi.
Kemudian mereka bertanya kepada para gadis itu yang segera memberikan keterangan sejelasnya.
Ternyata bahwa Kakek itu adalah seorang kang-ouw yang menjadi gila karena tiga orang anak gadisnya semua meninggal dunia terserang penyakit yang menjalar di kampungnya.
Ia menjadi gila setelah tiga orang anak dari seorang isterinya meninggalkan dia sebatangkara, lalu ia merantau sampai jauh sambil menangis-nangis dan memanggil nama anak isterinya.
Makin lama, makin hebatlah penyakit gilanya ini sehingga ketika ia tiba di tempat itu, ia menculik gadis-gadis yang diaku sebagai anaknya!
Ia memperlakukan gadis-gadis itu dengan baik sekali, melebihi seorang Ayah sejati terhadap anak-anaknya.
"Aku akan membikin kalian hidup mewah seperti puteri Kaisar!"
Demikian katanya sambil tertawa-tawa.
"Aku adalah Ayahmu dan aku akan mendidik ilmu silat kepada kalian, memberi pakaian yang paling baik, makanan yang paling lezat, rumah yang paling mewah dan indah! Kemudian, hanya pendekar-pendekar gagah perkasa dan bangsawan-bangsawan muda yang berkedudukan tinggi saja yang dapat menjadi mantu-mantuku! Ha, ha, ha, tidak... tidak...! Hanya Pangeran saja yang pantas menjadi mantu-mantuku!"
Mula-mula para gadis itu takut sekali terhadap Kakek ini, akan tetapi ketika melihat bahwa "Ayah"
Ini memang baik sekali terhadap mereka, merekapun hidup senang. Lebih-lebih karena Kakek ini memiliki sedikit ilmu hoatsut (ilmu sihir) dan dengan kepandaiannya ini ia menyihir "anak-anaknya"
Sehingga mereka menjadi penurut dan menganggap seperti Ayah sendiri!
Juga ilmu golok yang ia ajarkan kepada para anaknya itu dilakukan dengan ilmu sihir.
Dengan hanya memberi minum secawan arak yang dicampur obat dan dibacakan mantera, gadis yang minum arak itu otomatis bisa bermain silat dengan golok!
Ini adalah ilmu sihir dari daerah Mongolia Dalam.
Swan Hong lalu berlari keluar dari hutan untuk memberitahu kepada para penduduk yang menjaga diluar.
Maka berbondonglah orang-orang datang memasuki hutan.
Ayah-Ibu para gadis itu lalu berpelukan dengan anak mereka dan suasana menjadi amat riang gembira.
Swan Hon dan Giok Cui agaknya telah dilupakan orang dan ketika mereka itu teringat kembali kepada mereka, ternyata kedua orang muda itu telah pergi jauh tanpa pamit!
Swan Hong dan Giok Cui melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari Kongkong mereka.
Setiap kali tiba di suatu tempat, mereka lalu mencari tokoh silat di kota atau dusun itu, dan bertanya tentang Lie Kai yang berjuluk Thiat-Thouw-Gu!
Benar saja seperti yang diduga oleh Seng Thian Hwesio, hampir semua tokoh persilatan kenal kepada Thiat-Thouw-Gu Lie Kai atau setidaknya pernah mendengar namanya.
Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang melihatnya!
Beberapa bulan kemudian, mereka tiba di Propinsi Shensi.
Mereka mengambil jalan ini oleh karena dari seorang Piauwsu (tukang mengawal barang-barang berharga), mereka mendengar bahwa Thiat-Thouw-Gu Lie Kai berada di sekitar daerah Shensi.
Selama perjalanan yang berbulan-bulan itu, perhubungan antara Swan Hong dan Giok Cui makin erat.
Di luarnya, mereka ini seperti Kakak-beradik kandung saja, akan tetapi sesungguhnya, keduanya masih belum dapat melenyapkan perasaan cinta kasih yang lain lagi sifat.
Betapapun juga, keduanya dapat mempergunakan kekuatan iman masing-masing untuk menekan perasaan yang mereka anggap tidak pada tempatnya itu, dan demikianlah, hubungan mereka penuh dengan kesopanan dan kemesraan keluarga.
Ilmu silat Giok Cui meningkat cepat setelah mendapat latihan-latihan dan petunjuk dari Kakak misannya.
Pada suatu hari, mereka tiba di perbatasan antaran Propinsi Shensi dan Propinsi Sansi, yakni di Pegunungan LuliAng-San yang penuh dengan hutan rimba yang masih liar.
"Kita berhenti dulu di sini, Twako, karena aku ingin melatih ilmu silat pedang. Gerakan ke delapan belas yang disebut Seng-Siok Hut-Si (Musim Panas Mengebutkan Kipas) masih amat sukar."
Seperti biasa, Swan Hong selalu memenuhi permintaan adik misannya ini, karena kalau ditolak, gadis itu akan merengut, dan biarpun Giok Cui selalu menurut kata-kata Kakak misannya, akan tetapi ia lalu menjadi marah dan diam saja tidak mau berjenaka pula.
Giok Cui lalu mencabut pedangnya dan ia lalu bersilat pedang.
"Putar pedang itu dengan pergelangan tanganmu saja, lenganmu jangan ikut bergerak, dilempangkan ke depan. Dengan demikian, pergerakan Seng-Siok Hut-Si akan sempurna!"
Swan Hong memberi petunjuk setelah melihat gadis itu berlatih.
Setelah berlatih beberapa lama, pergerakan Giok Cui mulai sempurna dan gadis itu merasa girang sekali.
Ia memang rajin dan tanpa mengenal bosan ia lalu mengulang dan mengulang lagi gerakan itu.
Tiba-tiba Swan Hong berkata.
"Giok Cui, ada rombongan orang berkuda datang ke jurusan ini!"
Gadis itu menunda permainan pedangnya dan benar saja, dari jauh nampak debu mengebul dan Swan Hong lalu menarik tangan adik misannya untuk bersembunyi di balik pohon.
Ia melihat dari jauh bahwa yang datang itu adalah serombongan perwira berkuda terdiri dari lima belas orang.
Setelah rombongan itu datang dekat, kedua orang muda ini melihat dengan terkejut bahwa dua orang diantara mereka adalah Lee Kim Bwe dan Lee Kun!
Dan ditengah-tengah sekali, dua orang laki-laki dan perempuan duduk di atas kuda dengan tangan terikat!
Mereka ini agaknya tawanan-tawanan yang hendak di bawa pergi oleh rombongan perwira Kerajaan itu.
Hal ini sebetulnya tidak mengherankan, bahkan seringkali terjadi penangkapan dan pembunuhan yang dilakukan oleh perwira-perwira Kerajaan baru itu.
Akan tetapi kali ini, karena di situ terdapat kedua saudara Lee yang mereka benci, dan terutama melihat laki-laki setengah tua dan wanita yang terikat tangannya itu, Swan Hong dan Giok Cui menaruh perhatian besar.
"Kita kejar mereka!"
Bisik Swan Hong setelah rombongan itu lewat.
Entah mengapa, melihat laki-laki berpakaian sasterawan yang tertawan itu, hatinya merasa kasihan sekali dan timbul niatnya hendak menolong.
Gok Cui memang mempunyai perasaan benci yang besar sekali terhadap Lee Kim Bwe dan Lee Kun, dan juga ia tidak suka kepada para perwira itu, maka ia lalu mengangguk.
Kedua orang muda ini lalu berlari cepat mengejar rombongan berkuda itu.
"Apakah kita akan menyerang mereka?"
Tanya Giok Cui. Swan Hong menggelengkan kepalanya.
"Kita harus berlaku hati-hati. Diantara para perwira Kerajaan, banyak yang berkepandaian tinggi. Lagi pula, kita belum tahu siapakah adanya dua orang yang tertawan itu. lebih baik kita menyelidiki dulu sebelum turun tangan. Kalau memang dua orang itu orang baik-baik, tentu saja kita harus turun tangan menolong mereka!"
Karena rombongan berkuda itu tidak melarikan kuda mereka dengan cepat, maka Swan Hong dan Giok Cui dapat juga mengikutinya dan tidak tertinggal jauh.
Setibanya di dusun di luar hutan itu, rombongan berkuda berhenti dan bermalam di rumah kepala kampung yang menyambut mereka dengan penuh penghormatan.
Dua orang tawanan itu lalu dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan dan dibelenggu kaki tangannya.
Sebetulnya siapakah dua orang laki-laki dan wanita yang menjadi kurban keganasan perwira-perwira Kerajaan yang dipimpin oleh Sin-Kiam Siang-Hiap Lee Kim Bwe dan Lee Kun ini?
Mereka ini bukan lain adalah Liok Houw Sin dan isterinya Song Bwee Eng atau Ayah-Ibu dari Liok Siang Hwa gadis pendekar yang gagah perkasa itu!
sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Siang Hwa yang gagah berani ini telah menghajar habis-habisan kepada Lee Kim Bwe, dan di dalam kesemberonoannya, Sing Hwa telah memberitahukan nama, tempat tinggal, bahkan mengaku bahwa Ibunya adalah anak dari mendiang Song Liang, panglima yang telah gugur sebagai pejoang yang hendak mengusir pemerintah Mancu!
Lee Kim Bwe yang mendapat hinaan besar di depan banyak orang dalam rumah Yap Ma Ek itu, tentu saja merasa sakit hati sekali.
Apalagi setelah Lee Kim Bwe bertemu dengan Swan Hong dan Giok Ciu sehingga kembali ia menderita kekalahan, bahkan pedangnya terampas oleh Swan Hong.
Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe menjadi amat penasaran.
Ia bersumpah di dalam hati untuk membalas dendam kepada orang-orang muda yang telah mengalahkannya itu, dan untuk dapat mencapai maksud hati ini, tak lain ia harus mendapat bantuan kawan-kawan yang berilmu tinggi.
Ia dan adiknya kini telah "diakui"
Oleh Kaisar sebagai pembantu-pembantu yang setia, maka ia lalu ajak adiknya pergi ke Kotaraja.
Di sini mereka lalu berhubungan dengan para perwira Kerajaan dan berhasil minta bantuan dua belas orang perwira-perwira Kerajaan yang kepandaiannya tinggi.
Bahkan tiga orang diantara para perwira itu adalah perwira-perwira kelas satu!
Tiga orang perwira ini kepandaiannya bahkan lebih tinggi daripada Lee Kun atau Lee Kim Bwe, maka dengan bantuan orang-orang gagah ini, Sin-Kiam Siang-Hiap lalu mulai mencari musuh-musuhnya.
Pertama-tama mereka bersama dua belas orang perwira itu menuju ke kota Hancung di Propinsi Shensi, tempat tinggal Liok Siang Hwa gadis pendekar yang telah mendatangkan kehinaan hebat kepada kedua saudara Lee itu di rumah Yap Ma Ek.
Tentu saja Liok Houw Sin dan isterinya terkejut sekali ketika pada suatu hari, di depan rumah mereka datang serombongan perwira Kerajaan dengan sikap menakutkan.
Liok Houw Sin adalah seorang sasterawan yang tidak pandai silat, maka tentu saja ia merasa khawatir sekali.
Tidak demikian dengan isterinya, yakni Song Bwee Eng.
Puteri mendiang Panglima Song Liang ini pernah dilatih silat oleh Ayahnya dan ia memang memiliki ketabahan seperti Ayahnya pula.
"Apakah keperluan kalian datang di rumah kami?"
Tanya Song Bwee Eng dengan garang. Lee Kim Bwe tersenyum dan melompat turun dari kudanya lalu menghadapi nyonya itu.
"Kami datang hendak mencari seorang Nona bernama Liok Siang Hwa. Bukankah di sini rumahnya?"
Pada waktu itu, Liok Siang Hwa belum kembali dari perantauannya, dan sebagai seorang yang tahu tentang kehidupan orang-orang kang-ouw, nyonya Liok ini jug mengira bahwa orang-orang gagah ini mungkin sekali kawan-kawan anaknya.
Ia lalu menjawab.
"Memang Siang Hwa adalah anak kami, akan tetapi pada saat ini ia belum pulang dan masih merantau, entah berada di mana."
Mendengar ucapan ini, Lee Kim Bwe nampak kecewa, akan tetapi ia bertanya lagi.
"Bukankah kau adalah puteri dari Panglima Song Liang?"
Song Bwee Eng terkejut mendengar pertanyaan ini, akan tetapi ia menetapkan hatinya dan mengangguk.
"Memang, Song-Ciangkun adalah Ayahku!"
Jian-Jiu Koan-Im Lee Kim Bwe tersenyum menyindir lalu berkata nyaring.
"Bagus sekali! Ayahmu seorang pemberontak, anakmupun seorang pemberontak. Karena sekarang anakmu tidak ada, hayo kau ikut kami sebagai tawanan!"
Baru sekarang Song Bwee Eng merasa gelisah.
Ia tahu bahwa ada bahaya besar yang mengancam rumah tangganya.
Akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, suaminya telah melangkah maju di depannya dan berkata kepada Lee Kim Bwe.
"Nona, harap kau jangan mengganggu isteriku. Kami suami-isteri selalu tinggal di tempat ini dan tidak tahu menahu tentang segala pemberontakan. Kau tidak boleh menawan isteriku!"
Baru saja Liok Houw Sin berkata demikian, seorang di antara para perwira lalu berseru.
"Bukankah kau ini Pangeran Liok Han Swee??"
Sambil berkata demikian, perwira itu melompat turun dari kudanya dan memandang wajah Houw Sin yang menjadi pucat itu dengan penuh perhatian.
"Benar, kau adalah Liok Houw Sin, putera Pangeran Liok itu. Ha, ha, ha! Ini namanya sekali tepuk mendapat dua lalat! Kita sekaligus dapat menawan orang-orang penting, puteri pemberontak Song Liang, dan putera pengkhianat Liok Han Swee!"
Ia mengulur tangannya menangkap lengan Liok Houw Sin.
"Jangan mengganggu suamiku!"
Seru Song Bwee Eng sambil bergerak maju mendorong tubuh perwira itu.
Akan tetapi, tidak tahunya perwira ini adalah seorang di antara ketiga orang perwira kelas satu.
Mendengar sambaran angin serangan Bwee Eng, sambil tertawa menghina ia mengulur tangan kiri dan dengan mudah ia dapat pula menangkap pergelangan tangan nyonya itu!
Bwee Eng dan Houw Sin meronta-ronta dan hendak melawan sekuatnya, akan tetapi mereka menghadapi lawan yang amat kuat dan tangguh, dan karena Bwee Eng maklum bahwa perlawanan tidak akan ada gunanya, ia lalu berkata kepada suaminya.
"Biarlah, kita ikut saja ke mana orang-orang ini membawa kita!"
Dengan kedua tangan terikat, Bwee Eng dan Houw Sin lalu dibawa oleh rombongan berkuda itu menuju ke Kotaraja.
Mereka menjadi girang sekali, karena menganggap telah mendapatkan tawanan yang cukup berarti kali ini.
Kalau Kaisar mendengar bahwa yang ditawan adalah puteri Song Liang dan putera Liok Han Swee, tentu mereka akan mendapat hadiah.
Adapun kedua saudara Lee itu juga merasa puas karena sungguhpun mereka tidak dapat membalas sakit hatinya terhadap Siang Hwa, Akan tetapi dengan penangkapan Ayah-Bunda gadis itu berarti sudah merupakan pembalasan yang cukup hebat.
Siapa tahu kalau-kalau gadis itu akan mendapat tahu tentang penangkapan ini dan mengejar!
Kalau demikian halnya, mereka telah bersiap menangkap pula gadis musuh besarnya itu.
Lee Kim Bwe dan Lee Kun tidak takut menghadapi Siang Hwa, karena mereka telah yakin akan kelihaian kawan-kawannya, terutama tiga orang perwira kelas satu itu.
Mereka ini benar-benar kosen dan lihai sekali.
Seorang diantara mereka yang tadi mengenal muka Houw Sin, adalah seorang panglima tua yang dulu menjadi kawan Panglima Song Liang.
Panglima ini bernama Tan Gak Kong, seorang tokoh Bu-Tong-Pai yang ahli dalam permainan senjata kongce (tombak panjang bercabang dua), juga tenaga lweekangnya sudah mencapai tingkat tinggi.
Dua orang panglima kelas satu lainnya adalah Kakak-beradik bangsa Mancu yang kosen.
Yang tua adalah Tung Hacu yang menjadi ahli dalam ilmu pedang pasangan (Siang-kiam) dan memiliki ilmu pedang yang disebut Hwe-Eng Kiam-Sut (Ilmu Pedang Garuda Terbang).
Adapun adiknya, Tung Haci, memiliki tenaga kasar, bahkan tenaganya tidak kalah oleh Tan Gak Kong, sedangkan senjatanya adalah sebatang toya pendek yang terbuat daripada baja yang keras dan berat.
Tiga orang perwira kelas satu inilah yang menjadi andalan kedua saudara Lee itu, maka kini mereka mengharapkan kedatangan Siang Hwa dengan hati berani.
Dan pengharapan mereka itupun terkabul!
Bahkan bukan hanya Siang Hwa yang muncul, akan tetapi juga musuh-musuhnya yang telah merampas pedangnya, yakni swan Hong dan Giok Cui!
Demikianlah, Swan Hong dan Giok Cui melakukan pengintaian terhadap rombongan itu.
ketika rombongan itu bermalam di rumah kepala dusun, kedua orang muda ini diam-diam mendatangi rumah itu.
Dengan hati-hati mereka lalu bersembunyi di tempat gelap dan mengintai ke sebelah dalam, di mana para perwira itu sedang dijamu makan oleh tuan rumah.
Mereka itu duduk mengelilingi meja besar di ruang depan yang lega, minum arak sambil tertawa-tawa dan bercakap-cakap.
Kesombongan membuat mereka bercakap-cakap dengan keras, tak menyembunyikan sesuatu karena mereka juga tidak takut terdengar oleh siapapun juga.
Tan Gak Kong, perwira yang bertubuh pendek gemuk itu mengangkat cawan araknya sambil berkata kepada Lee Kun.
"Saudara Lee, sungguh ingin sekali aku bertemu dengan puteri mereka yang kau sohorkan amat gagah perkasa dan terutama sekali... Cantik jelita itu! Ha, ha, ha, akan gembiralah seorang tawanan yang cantik seperti dia. Siapa namanya katamu tadi? Aku lupa lagi!"
Lee Kun tersenyum. Ia maklum bahwa pengaruh arak telah membuat mulut perwira tua yang mata keranjang ini mulai mengoceh.
"Tan-Ciangkun, aku tidak membohong ketika berkata bahwa gadis itu selain gagah perkasa, juga cantik sekali bagaikan setangkai bunga botan! Namanya Siang Hwa, Liok Siang Hwa!"
"Siang Hwa...?"
Ah, namanya saja kembang harum! Aku ingin menjadi kumbang untuk mengisap madu kembang yang harum itu. Ha, ha, ha!"
Semua orang yang duduk di situ tertawa mendengar kelakar yang tidak sopan ini.
Hanya Lee Kim Bwe seorang yang tidak ikut tertawa.
Gadis ini masih tidak puas sebelum musuh besarnya tertawan agar ia dapat membalas penghinaan yang telah ia alami dari Liok Siang Hwa.
"Cuwi-Ciangkun (tuan-tuan perwira sekalian),"
Katanya sungguh-sungguh sambil memandang kepada para perwira itu.
"Gadis liar itu benar-benar berbahaya, harap jangan memandang ringan, ia adalah murid dari Sam-Lian Sianli dari Cin-Ling-San! Perjalanan ke Kotaraja baiknya kita lakukan lambat-lambat saja agar memberi ketika kepadanya untuk mengejar kita. Orang-orang macam suami-isteri she Liok yang kita tawan ini, sungguhpun mereka merupakan keturunan-keturunan dari para pemberontak besar seperti Song Liang dan Liok Han Swee, akan tetapi tidak ada artinya dan tidak berbahaya. Pemberontak yang berkepandaian seperti gadis liar Liok Siang Hwa itulah yang harus dibasmi, karena amat berbahaya!"
"Ha, ha, ha!"
Tan Gak Kong tertawa lagi.
"Jian-Jiu Koan-Im, jangan kau gelisah. Kalau Kembang Harum itu datang, serahkan saja kepada kumbang ini!"
Ia menepuk-nepuk dadanya.
"He, Tan-Ciangkun!"
Tiba-tiba Tung-Haci menegur sambil tertawa.
"Kau ini kumbang tua belum apa-apa sudah membual! Bagaimana kalau nanti gadis itu benar-benar muncul dan kau dikalahkan olehnya?"
"Apa...?? Tak mungkin! Mana ada kumbang kalah oleh kembang? Lebih baik mati saja!"
Jawab Tan Gak Kong.
Demikianlah, mereka bersenda-gurau dan tertawa-tawa sambil makan minum arak dan masakan yang dihidangkan.
Sementara itu, setelah mendengar percakapan mereka, Swan Hong menarik tangan Giok Cui keluar dari tempat persembunyian lalu berbisik.
"Moi-moi, ternyata tawanan itu adalah suami-isteri yang hendak dibawa ke Kotaraja karena tuduhan pemberontak! Kelihatannya perwira-perwira itu memiliki kepandaian tinggi, maka pekerjaan harus kita bagi. Kau masuklah dari belakang dan usahakanlah agar supaya kau dapat membebaskan kedua orang tawanan itu, lalu kau ajak lari dari sini terlebih dulu. Biar aku yang mengacau dan menyerang para perwira sehingga mereka tak dapat mengejar kau dan para tawanan yang lari."
Giok Cui mengerutkan alisnya.
Hatinya tak sedap untuk berpisah dari pemuda ini, akan tetapi oleh karena maklum bahwa siasat itulah yang terbaik untuk menolong kedua orang-tua itu, ia lalu berbisik kembali.
"Kemanakah aku harus membawa lari mereka, Twako? Bagaimana nanti kita bisa bertemu kembali?"
Swan Hong berpikir sebentar, lalu menjawab.
"Tidak ada tempat yang lebih baik selain di Kelenteng Thian-Hok-Si! Di sana ada kedua orang Suhengku yang tentu mau menolong kita. Kau pergilah ke selatan, ke kota Icang di Hopak dan bawalah kedua orang-tua itu ke sebuah Kelenteng besar di kota itu, yakni Kelenteng Thian-Hok-Si. Kau tentu masih ingat akan nama-nama kedua Suhengku, yakni Seng Thian Hwesio dan Seng Tee Hwesio."
Giok Cui mengangguk maklum. Ia telah bertemu sekali dengan Seng Thian Hwesio ketika ia ikut Swan Hong naik ke bukit Thai-Liang-San. Akan tetapi kembali ia ragu-ragu ketika ia bertanya.
"Habis kau sendiri, bagaimana Twako? Hatiku tidak enak meninggalkan kau menghadapi mereka seorang diri. Bagaimana... kalau kau... tertangkap oleh mereka?"
Swan Hong memegang tangan Giok Cui dan untuk sedetik timbul kembali kemesraan yang menghangatkan jantungnya. Akan tetapi ia cepat-cepat melepaskan lengan itu lagi dan sambil tersenyum ia berkata.
"Adikku yang manis, masih belum percayakah kau kepadaku? Aku tidak berani memastikan bahwa aku akan dapat kalahkan mereka, akan tetapi kurasa aku akan dapat menjaga diri dan takkan sampai tertawan oleh mereka. Harap kau jangan khawatir, kau berangkatlah dulu, pergunakan tiga ekor kuda mereka yang berada di kandang dan bawa lari dua orang-tua itu. Aku pasti akan menyusulmu ke Kelenteng Thian-Hok-Si!"
Terpaksa Giok Cui mentaati permintaan pemuda ini dan setelah berkata sekali lagi.
"Kau hati-hatilah menjaga dirimu, Twako,"
Lalu ia menyelinap ke dalam gelap menuju ke belakang rumah itu.
Swan Hong lalu kembali ke ruang depan dan mengintai.
Para perwira masih makan minum dengan gembira.
Swan Hong hanya menjaga saja karena ia baru akan turun tangan menyerang mereka dan mengacaukan keadaan apabila usaha Giok Cui diketahui orang, sehingga dengan demikian ia dapat mencegah mereka mengejar Giok Cui.
Akan tetapi, tiba-tiba ia dikejutkan oleh berkelebatanya bayangan orang dari atas genteng dan baru saja ia menengok ke atas bayangan itu dengan gerakan yang cepat bagaikan seekor burung besar, telah melayang ke dalam ruangan yang penuh tamu.
Ternyata ia adalah seorang gadis muda yang cantik jelita, berpakaian serba merah menyolok mata!
"Orang-orang she Lee pengecut hina dina!"
Dengan suara nyaring, gadis baju merah itu membentak marah.
"Kalau kau berani, lawanlah aku, jangan mengganggu orang-tuaku yang tidak berdosa! Kalau sekarang juga kau tidak membebaskan mereka, jangan katakan aku kejam kalau aku mengambil kepala kalian yang tak berharga!" (Lanjut ke
Jilid 07 -Tamat) Naga Merah Bangau Putih (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 (Tamat) Untuk beberapa lama, semua orang yang hadir di situ memandang dengan terkejut dan kagum.
Kemudian terdengar suara ketawa terbahak-bahak dan perwira pendek gemuk Tan Gak Kong lalu bangkit berdiri.
"Ha, ha, ha, ha! Inikah Kembang Harum itu? Ah, benar saja, benar-benar indah dan harum. Aku sudah menjadi kumbangnya...!"
"Orang-orang she Lee!"
Siang Hwa gadis baju merah itu membentak sambil memandang ke arah Kakak-beradik she Lee itu.
"Apakah kalain benar tidak berani mempertanggungkan jawabkan perbuatanmu? Jangan kau bersembunyi di belakang gentong kosong ini, karena takkan ada gunanya!"
Lee Kim Bwe dan Lee Kun yang sudah mengetahui kelihaian gadis itu, tak berani menjawab, hanya memandang marah. Sedangkan Tan Gak Kong lalu tertawa kembali.
"Ah, galak! Galak dan liar! Akan tetapi aku paling suka Kembang Harum yang liar, kembang hutan yang belum tersentuh oleh kumbang-kumbang kota yang rakus. Ha, Ha, Nona. Apakah benar kau yang bernama Liok Siang Hwa, puteri dari dua orang tawanan pemberontak itu? Kini Siang Hwa memandang kepada perwira gemuk pendek ini dan ia tersenyum menghina.
"Kau ini anjing dari manakah berani menggonggong dan bersikap kurang ajar? Apakah kau tua bangka yang sudah hampir mampus ini sudah rindu kepada kuburan?"
Merahlah telinga Tan Gak Kong mendengar hinaan yang hebat ini.
"Aduh, kalau saja kau tidak begitu cantik manis, ucapan ini saja sudah cukup membikin aku marah dan menghancurkan kepalamu! Akan tetapi sayang sayang kalau kembang yang harum dan indah ini menjadi rusak. Nona manis, demi Tuhan, aku akan berusaha membujuk para pembesar untuk memberi keringanan kepada orang-tuamu, asal saja kau suka menjadi kekasihmu!"
Hampir meledak rasa dada Siang Hwa mendengar ini.
"Monyet tua! Sebelum mengambil kepala dua ekor anjing she Lee, lebih dulu kepalamu yang buruk akan kupenggal!"
Ia lalu menggerakkan pedangnya dengan cepat sekali menyerang leher Tan Gak Hong.
Perwira ini terkejut sekali karena serangan ini benar-benar berbahaya dan amat cepat datangnya.
Ia segera membuang diri kebelakang untuk mengelak serangan ini.
Kemudian ia mengambil senjatanya konce yang tadi disandarkan pada meja.
Dengan senjata di tangan ini, ia mengangkat dadanya dan menghampiri Siang Hwa.
"Nona jangan kau mencari penyakit sendiri. Ketahuilah bahwa aku Tan Gak Hong adalah seorang panglima yang belum pernah menderita kekalahan dalam tiap pertempuran. Kau yang masih muda dan cantik, baru dapat bermain pedang sedikit saja, sudah berlagak sombong. Jangan kira bahwa setelah dapat mengalahkan dua saudara Lee, kau lalu menjagoi di seluruh dunia. Lebih baik kau menyerah, ikut padaku dan aku akan memberi pelajaran ilmu tombak dan ilmu pedang yang lebih tinggi kepadamu!"
"Tua bangka tak tahu malu! Kau boleh pentang mulut sesukamu, karena sebentar lagi mulutmu takkan dapat kau gerakkan lagi!"
Sambil berkata demikian, Siang Hwa lalu berkelebat maju dan pedangnya sudah digerakkan!
Menyerang hebat dengan gerak tipu Ang-Liong Ciong-Goat (Naga Merah Sembunyikan Bulan) sebuah tipu serangan dari ilmu pedang Ang-Liong Kiam-Sut yang lihai.
Tan Gak Kong cepat menangkis dan ketika kedua senjata itu beradu, tahulah Siang Hwa bahwa lawannya memiliki tenaga lweekang yang tinggi, maka ia lalu mempercepat gerakan pedangnya dan bersilat dengan hati-hati.
Sementara itu, Swan Hong yang tadi bengong dan kagum melihat Nona baju merah yang cantik jelita itu, kini makin kagum menyaksikan ilmu pedang yang demikian hebatnya.
Ia dapat melihat bahwa dengan ilmu pedang seperti itu, tak perlu dikhawatirkan Nona itu akan kalah atau mudah dirobohkan lawan-lawannya, maka ia lalu mempergunakan kesempatan ini untuk lari ke belakang menyusul Giok Cui.
Untung saja ia melakukan perbuatan ini, karena setelah ia tiba di belakang rumah, ia melihat Giok Cui dan nyonya yang tadi tertawan sedang menghadapi keroyokan lima orang penjaga.
Ternyata bahwa Giok Cui telah berhasil mencuri tiga ekor kuda, akan tetapi ketika ia menyerbu ke dalam dan berhasil melepaskan ikatan tangan Liok Houw Sin dan Song Bwee Eng, ia terlihat oleh para penjaga yang segera mengeroyoknya!
Bwee Eng melihat penolongnya diserang, lalu maju dan berhasil merampas sebuah pedang dari seorang pengeroyok, lalu iapun membantu Giok Cui mengamuk!
Adapun Liok Houw Sin hanya berdiri memandang dengan gelisah.
Kedatangan Swan Hong merupakan pertolongan tepat, karena beberapa kali gerakan kaki tangannya membuat para pengeroyok kocar-kacir dan jatuh bangun.
"Lekas, moi moi, lekas pergi! Biar aku yang menghadapi mereka!"
Kata Swan Hong.
"Jiwi, harap suka naik kuda dan ikut adikku ini!"
Katanya pula kepada Liok Houw Sin dan Song Bwee Eng.
Bwee Eng lalu melompat dengan sigap ke atas seekor kuda, berbareng dengan Giok Cui, akan tetapi Liok Houw Sin tak dapat bergerak secepat itu.
Melihat keadaan orang-tua ini, maklumlah Swan Hong bahwa orang-tua ini adalah seorang sasterawan yang lemah.
Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menyaut tubuh orang dan dengan ringan dan cepat sekali ia menaikkan tubuh Liok Houw Sin di atas seekor kuda.
Houw Sin menjadi kagum sekali, karena merasa seakan-akan tubuhnya diterbangkan ke atas.
Tanpa banyak cakap lagi larilah tiga ekor kuda itu, keluar dari kampung.
Belasan orang penjaga lari ke tempat itu, akan tetapi segera terdengar teriakan-teriakan mereka yang roboh karena sambutan kaki tangan Swan Hong yang cekatan.
Setelah merobohkan para penjaga ini sehingga tak dapat mengejar, Swan Hong lalu berlari ke kandang kuda, melepaskan ikatan kuda-kuda di situ dan segera mencambuk-cambuk mereka.
Kuda-kuda itu terkejut dan ketakutan dan sebentar saja mereka berlari liar keluar dari kandang!
Setelah melakukan perbuatan yang dimaksudkan untuk mencegah pengejaran, Swan Hong lalu berdiri kembali ke ruang depan.
Ternyata bahwa gadis baju merah itu masih bertempur hebat melawan Tan Gak Hong.
Tadinya Tan Gak Kong masih bertempur sambil tertawa-tawa mengejak, akan tetapi baru bertempur beberapa jurus saja, suara ketawanya hilang, karena jangankan untuk tertawa untuk bernapaspun sukar baginya!
Gerakan pedang dari Siang Hwa luar biasa sekali, merupakan segulung sinar putih yang berputaran diantara sinar merah dari pakaiannya.
Pedang Gin-Kong-Kiam di tangannya sama lihainya dan berbahayanya seperti kilat menyambar-nyambar sehingga permainan tombak dari Tan Gak Kong menjadi kacau balau!
Tadinya, para perwira lain yang telah percaya penuh akan kelihaian Tang-Ciangkun, hanya menonton sambil tertawa-tawa, ingin menyaksikan bagaimana caranya perwira itu mempermainkan Siang Hwa.
Akan tetapi, baru dua puluh jurus saja dengan terkejut mereka melihat betapa perwira itu sudah tak berdaya lagi, didesak secara hebat sehingga hanya mampu menangkis sambil mundur teratur!
Tung Hacu dan Tung Haci, kedua saudara perwira Mancu, tentu saja tidak mau membiarkan kawannya berada di dalam bahaya.
Mereka telah bangkit dari tempat duduk dan menarik keluar senjata masing-masing, siap untuk mengeroyok Siang Hwa.
Akan tetapi pada saat itu juga, seorang penjaga dengan napas terengah-engah datang melapor.
"Celaka... cuwi Ciangkun... tawanan telah terlepas dan melarikan diri!"
Suara ini membuat kedua perwira Mancu menunda gerakannya membantu Tan-Ciangkun dan kesempatan itu dengan baik dipergunakan oleh Siang Hwa.
Pedangnya berkelebat cepat dan terdengar jerit kesakitan dari Tan Gak Kong.
Senjata tombaknya terlempar jatuh dan sebelah tangan kanannya, terbabat putus sebatas siku oleh pedang Gin-Kong-Kiam yang tajam!
Melihat ini, barulah kedua orang perwira Mancu itu menyerbu maju.
Tung Hacu menggunakan siam-kiam (sepasang pedang) dan Tung Haci mengeluarkan toyanya yang berat.
Siang Hwa tidak menjadi jerih.
Ia menyambut dengan pedangnya yang mempunyai gerakan lihai.
Akan tetapi segera gadis ini mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian kedua orang perwira Mancu ini jauh lebih tinggi daripada kepandaian Tan Gak Kong yang telah dirobohkan.
Gerakan kedua perwira ini aneh sekali dan asing baginya, karena mereka bersilat dengan ilmu silat Mancu.
Sepasang pedang di tangan Tung Hacu bergerak-gerak dan berputaran seperti kitiran angin sedangkan toya di tangan Tung Haci menyambar-nyambar bagaikan seekor ular yang dahsyat sekali.
Akan tetapi, ilmu pedang Ang-Liong Kiam-Sut yang dimainkan oleh Siang Hwa adalah semacam ilmu pedang yang tinggi tingkatnya, oleh karenanya selain memiliki daya serang yang berbahaya juga memiliki daya tahan yang kuat sekali.
Dengan mainkan gerakan Ang-Liong Hoan-Sin (Naga Merah Memutar Tubuh) Siang Hwa dapat melindungi seluruh tubuhnya dengan sinar pedangnya sehingga yang nampak hanyalah bayangan merah terbungkus oleh gulungan sinar putih dari pedangnya.
Bertubi-tubi senjata di tangan kedua orang lawannya beradu dengan pedangnya, menimbulkan suara yang nyaring dan terlihatlah bunga api berpijar amat indahnya.
Akan tetapi kini beberapa orang perwira maju pula mengeroyok, sehingga keadaan Siang Hwa menjadi amat berbahaya.
Untuk menghadapi dua orang perwira Mancu ini saja, sudah amat sukar baginya untuk mengambil kemenangan, sungguhpun belum tentu ia akan dikalahkan dalam waktu lama.
Apalagi sekarang ditambah dengan sembilan orang perwira lain yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi, Karena mereka ini rata-rata adalah perwira-perwira kelas satu dan dua dari kedudukan panglima Kerajaan.
Adapun kedua orang saudara Lee ketika mendengar laporan tentang larinya tawanan, segera memburu keluar hendak mengejar.
Akan tetapi, tiba-tiba kedua saudara Lee itu menjerit ngeri dan tubuh mereka terlempar kembali ke dalam, roboh merintih-rintih tak dapat bangun pula!
Ternyata pada saat mereka hendak mengejar, Swan Hong melompat masuk dan mengirim pukulan dengan ilmu pukulan Liap-Kang Pek-Ko-Chiu yang luar biasa hebatnya ke arah Lee Kim Bee, berbareng mengirim tendangan Kim-Kong-Twi ke arah Lee Kun!
Biarpun kedua orang itu berusaha untuk menangkis, namun angin pukulan dan tendangan yang mengandung tenaga khikang tinggi ini masih saja mengenai tubuh mereka sehingga mereka terlempar jauh dan menderita luar di dalam.
Swan Hong tidak berhenti sampai disitu saja.
Ia mencabut golok mustika yang diperolehnya dari Kakek gila dulu itu, lalu menyerbu ke dalam kalangan pertempuran, dimana Swan Hong sedang sibuk sekali menghadapi hujan senjata yang ditujukan kepadanya.
Sinar putih dari golok Swan Hong lebih besar daripada sinar putih dari pedang Siang Hwa, dan begitu sinar golok itu menyambar, terdengar beberapa orang perwira berteriak kesakitan dan senjata mereka terlepas dari pegangan!
Siang Hwa cepat melirik dan alangkah kagum hatinya melihat betapa seorang pemuda yang berpakaian putih dan berwajah tampan serta gagah, mainkan golok sedemikian rupa sehingga diam-diam Siang Hwa mengakui bahwa selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan permainan golok sehebat itu!
Swan Hong juga memandang sekilas kepadanya sambil tersenyum dan berkata.
"Lihiap (pendekar wanita), jangan khawatir, orang-tuamu telah tertolong dan bebas. Adikku mengantar mereka ketempat yang aman!"
Bukan main girangnya hati Siang Hwa mendengar keterangan ini.
"Terima kasih!"
Jawabnya singkat dan karena kegembiraan ini, gerakannya menjadi makin bersemangat.
"Lihiap, kau serahkan dua ekor kerbau Boan (Mancu) itu kepadaku!"
Seru Swan Hong pula yang segera menyerbu dan menahan serangan Tung Hacu dan Tung Haci.
Pertempuran terbagi menjadi dua rombongan dan kedua anak muda yang gagah perkasa ini mengamuk bagaikan sepasang naga yang sakti.
Swan Hong menghadapi dua orang perwira Mancu ditambah dengan tiga orang perwira lain sehingga ia dikeroyok lima, sedangkan Siang Hwa dikeroyok oleh enam orang perwira!
Kedua orang muda ini sesungguhnya berkepandaian tinggi dan lihai sekali.
Akan tetapi kini mereka dikeroyok oleh banyak lawan yang tangguh, dan tempat pertempuran itu ternyata kurang lebar sehingga tentu saja gerakan mereka amat terbatas.
"Lihiap, mari kita layani mereka di luar!"
Seru Swat Hong dan Siang Hwa agaknya mengerti akan maksud pemuda ini.
"Baik, Taihiap!"
Jawabnya dan tubuhnya berkelebat merupakan bayangan merah melompat ke luar dari ruangan itu. Bayangan putih dari tubuh Swan Hong mengikutinya dan keduanya kini berdiri di pekarangan rumah yang luas.
"Kita pancing mereka ke lain jurusan agar jangan sampai menyusul orang-tuamu!"
Swan Hong cepat berkata lirih dan gadis yang cerdik itu dapat menangkap maksudnya dan mengangguk sambil tersenyum girang.
Kawanan perwira segera melompat dan mengejar.
Mereka merasa marah sekali karena selain tawanan mereka terlepas juga tiga orang kawan telah dilukai.
Mereka merasa terhina sekali dan dengan hati penuh amarah mereka lalu menerjang dan mengepung lagi rapat-rapat!
Ang-Liong Kiam-Sut (Ilmu Pedang Naga Merah) dan Pek-Ho To-Hwat (Ilmu Golok Bangau Putih) benar-benar merupakan sepasang ilmu silat yang luar biasa sekali.
Apalagi karena kedua orang muda itu mainkan ilmu silat itu dengan senjata-senjata mustika yang ampuh dan tajam.
Dan yang aneh sekali, setelah mainkan kedua ilmu silat itu, mereka mendapat kenyataan bahwa permainan mereka sesuai benar dapat saling mengisi dan saling menjaga!
Karena kenyataan ini, tanpa diperintah, mereka lalu bertempur saling mendekati dan saling membelakangi.
Dengan demikian, tak ada lawan yang dapat menyerang dari belakang dan mereka dapat melakukan perlawanan lebih baik lagi.
Pedang Gin-Kong-Kiam di tangan Swan Hwa amat ganasnya dan sebentar saja ia telah berhasil merobohkan seorang pengeroyok.
Swan Hong tidak mau kalah dan setelah ia mengeluarkan ilmunya, yakni menyerang dengan gerakan Burung Bangau Menyambar Ikan, ia berhasil melukai tangan kiri Tung Hacu sehingga perwira Mancu ini terpaksa hanya dapat melakukan penyerangan dengan tangan kanan.
Pedangnya yang kiri telah terlempar dan tak dapat dipergunakan lagi karena tangan kirinya terluka dah menjadi lumpuh.
"Lihiap, mari kita lari...! ke Barat"!"
Tiba-tiba Swang Hong berseru.
Betapapun juga, keadaan para perwira itu masih kuat dan kalau dilawan terus akan amat melelahkan.
Apalagi, tujuan mereka yang terpenting hanya membebaskan kedua orang-tua yang tertawan tadi.
Kini tujuan itu telah tercapai, maka perlu apa mengadakan perlawanan terus?
Lebih baik kini mulai memancing mereka ke barat agar jangan mengejar kedua orang-tua yang dibawa oleh Giok Cui melarikan diri ke selatan itu.
Kembali gadis baju merah itu yang berotak cerdik itu dapat menangkap maksud pemuda itu, maka iapun lalu mengikuti pemuda itu melompat keluar dari gelanggang pertempuran dan bersama-sama melarikan diri ke barat.
Mereka sengaja berlari tidak terlalu cepat sehingga perwira itu masih dapat mengejar dan menyusul mereka.
Setelah berlari agak jauh, keduanya lalu berhenti untuk membuat perlawan pula.
Kembali mereka terkurung dan pertempuran dilakukan lagi di bawah sinar bulan yang suram.
Di dalam pertempuran ini, Swan Hong dan Siang Hwa kembali merobohkan seorang perwira kemudian mereka berlari lagi.
Kejar-mengejar ini dilakukan sampai fajar dan karena jumlah pengejar makin lama makin kecil, akhirnya sisa perwira-perwira itu menjadi gentar juga dan menghentikan pengejaran mereka.
Swan Hong dan Siang Hwa kini berlari cepat dan setelah para pengeroyok tidak kelihatan lagi, Swan Hong lalu mengajak gadis itu membelok ke selatan!
Mereka berlari cepat tanpa bicara sesuatu dan agaknya diantara kedua orang muda ini terdapat keinginan untuk mencoba kepandaian masing-masing.
Diam-diam mereka mengerahkan tenaga dan mempergunakan ilmu berlari cepat yang paling tinggi sehingga biarpun tidak berjanji sesuatu, agaknya mereka hendak mengadakan balap lari!
Swan Hong mengerahkan ilmu larinya yang paling lihai, yakni ilmu lari Liok-Te Hui-Teng (Lari Terbang di Atas Bumi) sehingga tubuhnya melesat maju sedemikian cepatnya seakan-akan kakinya tidak menginjak tanah!
Akan tetapi Siang Hwa juga tidak mau kalah.
Ia mengerahkan ilmu lari cepat yang juga paling lihai, yakni ilmu lari Teng-Peng Towu-Sui (Menginjak Rumput Menyeberangi Sungai).
Tubuhnya menjadi demikian ringan seakan-akan ia dapat menginjak rumput tanpa merebahkan rumput itu dan agaknya angin yang meniup tubuhnya maju dengan kecepatan luar biasa.
Ketika tiba-tiba merasa angin tertiup dari belakang dan tubuh Siang Hwa cepat menyambar lewat, Swan Hong menjadi terkejut sekali.
Ia harus mengerahkan seluruh napas dan tenaganya agar jangan sampai tertinggal.
Sebaliknya, Siang Hwa juga merasa heran ketika ia menengok, ia mendapatkan betapa pemuda itu masih dapat tepat berada di belakang kakinya, tidak tertinggal sebakpun!
Ia mengerahkan lagi tenaganya dan melompat cepat, mempergunakan ilmu lompat Ouw-Liong Coan-Tah (Naga Hitam Menembus Menara).
Setelah tubuhnya melayang dan turun lagi ke atas tanah dan ia menengok, dengan kagum ia melihat betapa tubuh pemuda itupun melayang dengan ilmu lompat Liok-Te-Hui Teng-Kang-Hu (Ilmu Melompat Jauh Bagaikan Terbang) dan tahu-tahu telah turun tepat di sebelah kirinya!
Mereka saling pandang dan tersenyum, lalu berlari lagi secepatnya.
Diam-diam Siang Hwa membandingkan pemuda ini dengan Sim Tiong Han, pemuda pendekar pedang Kun-Lun-Pai yang dulu pernah menarik hatinya ketika mereka bersama menghajar kedua saudara Lee di rumah Yap Ma Ek!
Semenjak berpisah dengan pemuda she Sim yang gagah perkasa dan selalu tersenyum manis itu, seringkali ia terkenang dan sesungguhnya ia ingin sekali mendapat kesempatan bertemu lagi.
Dan kini ia bertemu dengan seorang pemuda yang lebih gagah lagi, maka diam-diam ia membuat perbandingan.
Betapapun tampan dan gagahnya pemuda baju putih ini, satu hal ia sudah yakin, yakni bahwa senyum pemuda ini tidak semanis senyum pemuda she Sim itu!
Sesungguhnya aneh sekali, akan tetapi pada saat itupun beberapakali Swan Hong melirik ke arah gadis baju merah yang hebat ini.
ia merasa kagum sekali karena belum pernah ia bertemu dengan seorang gadis yang sehebat si baju merah ini.
dan diam-diam iapun membuat perbandingan antara gadis ini dan...
Giok Cui!
Tadinya, diseluruh dunia ini baginya hanya Giok Cui seoranglah gadis yang paling cantik dan paling menarik hati.
Dan kini, bertemu dengan Nona ini, ia membuat perbandingan.
Harus ia akui bahwa dalam ilmu silat, sudah tentu Giok Cui kalah jauh, akan tetapi biarpun tak dapat disangkal lagi bahwa Nona baju merah ini cantik jelita dan menarik sekali, namun masih belum mengatasi kejelitaan Giok Cui adik misannya itu.
Karena merasa bahwa kini tak mungkin lagi para perwira itu dapat mengejar mereka, maka tiba-tiba Swan Hong berhenti berlari dan berkata.
"Lihiap, bagaimana pendapatmu kalau kita berhenti sebentar?"
Siang Hwa menahan larinya dan menengok sambil tersenyum.
"Lelahkah kau?"
"Lelah sih tidak, akan tetapi apakah tidak lebih baik kalau kita menuturkan keadaan masing-masing? Kita bertempur bersama, bahkan kini menuju ke tempat yang sama. Sudah sepantasnya kalau kita sedikitnya mengetahui nama masing-masing, bukan?"
Tak terasa lagi merah wajah Siang Hwa dan ia menunduk.
"Ah, memang aku seorang yang kurang mengenal budi. Kau telah bersusah payah membantu orang-tuaku, bahkan adikmu telah membebaskan dan menyelamatkan orang-tuaku, dan aku... agaknya tidak memperdulikan kau, bertanya namamupun tidak!"
"Ah, tak perlu kita bersungkan-sungkan, Nona. Ketahuilah bahwa namaku adalah Lie Swan Hong, dan aku berdua adik misanku sedang melakukan perjalanan merantau mencari seorang Kongkongku yang tak kuketahui ke mana perginya."
Siang Hwa menghela napas.
"Agaknya dalam zaman sekacau ini banyak keluarga yang cerai-berai tak tentu tempat tinggalnya! Betapapun juga kau masih beruntung, Taihiap, karena kau masih mempunyai seorang adik misan untuk menjadi kawan seperjalanan! Berbeda dengan aku yang melakukan perantauan seorang diri saja."
Siang Hwa lalu berdiam dan Swan Hong yang semenjak tadi menanti keterangan tentang diri Nona itu, akhirnya bertanya.
"Kau agaknya lupa untuk memperkenalkan dirimu, Nona, dan mengapa pula orang-tuamu sampai tertawan oleh rombongan perwira jahat itu?"
Kembali wajah Siang Hwa memerah.
"Ah, aku telah lupa akan hal itu. memang nama dan keluargaku tidak ada harganya untuk dituturkan kepada lain orang. Aku bernama Liok Siang hwa dan aku adalah murid tunggal dari Sam-Lian Sianli. Adapun tentang orang-tuaku, mereka ditangkap karena dua sebab. Pertama, karena sepasang anjing rendah she Lee itu telah menaruh hati dendam kepadaku, yakni ketika mereka terjatuh dalam tanganku di rumah seorang pendekar tua she Yap. Dan kedua, Ayah-Bundaku ditangkap oleh karena Ayahku adalah putera seorang Pangeran Kerajaan Beng-Tiauw dan karenanya dianggap musuh oleh Kerajaan sekarang, sedangkan Ibuku adalah puteri seorang panglima yang ikut berjuang melawan pemerintah baru sehingga gugur, maka tentu saja dianggap pemberontak."
Swan Hong merasa amat kagum mendengar keterangan ini.
"Ah, tidak tahunya kau yang gagah berani dan lihai ini adalah keturunan bangsawan-bangsawan tinggi! Maaf, aku telah berlaku kurang hormat, Siocia."
Gadis itu memandang tajam dan keningnya berkerut.
"Lie Taihiap, apakah bersungguh-sungguh atau hanya berkelakar? Ketahuilah bahwa bagiku tiada perbedaan antara bangsawan dan orang biasa! Bagiku, orang yang budiman dan mulia, dialah bangsawan dan orang besar yang setinggi-tingginya dan patut dihormati biarpun ia terlahir dari petani miskin. Sebaliknya, orang yang rendah budi dan jahat, dialah orang serendah-rendahnya, biar andaikata ia putera Kaisar sekalipun!"
Swan Hong makin merasa kagum dan kekaguman ini memancar dari sepasang matanya yang menatap wajah yang cantik dan gagah itu.
"Ah, ucapan ini saja sudah membuat aku merasa bahagia dapat bertemu dan berkenalan dengan kau, Liok-Lihiap!"
"Ah, kembali kau memuji-muji, saudara Lie! Apakah sudah menjadi adat setiap orang laki-laki yang selalu memuji-muji seorang wanita?"
Tanya Swan Hwa sambil mengerling tajam. Swan Hong tersenyum.
"Kalau memang wanita itu patut dipuji, mengapa aku tidak memujinya? Kau memang pantas dipuji, Nona Liok, karena selain kau gagah perkasa dan cerdik-pandai, juga kau keturunan orang-orang gagah, patriot-patriot sejati pembela nusa dan bangsa. Ketahuilah bahwa aku memandang tinggi para patriot yang sudah berusaha dan berjuang menghalau penjajah, sungguhpun usaha mereka itu gagal. Sayang pada waktu itu, aku masih kecil sehingga tak dapat ikut berjuang. Akan tetapi, Kongkongku yang sedang kucari ini, adalah seorang pejuang juga, oleh karena itu, aku selalu memandang tinggi para pejuang yang gagah berani."
Siang Hwa tersenyum.
"Kalau begitu pendapat kita tidak berbeda. Belum lama ini aku telah bertemu dengan banyak bekas pejuang, pendekar-pendekar tua yang gagah perkasa, yakni di rumah Yap Ma Ek Lo-Enghiong itu, dan di sana pulalah maka aku dapat bermusuhan dengan kedua orang anjing penjilat penjajah she Lee itu. Ah, banyak pendekar tua yang benar-benar mendatangkan rasa kagum dalam hatiku, terutama sekali seorang pendekar tua yang shenya sama dengan shemu, seorang gagah yang terkenal di kalangan kang-ouw, yakni yang bernama Thiat-Thouw-Gu Lie Kai."
Mereka bercakap-cakap sambil duduk di atas akar pohon, akan tetapi ketika mendengar nama ini disebut, tiba-tiba Swan Hong melompat bangun seakan-akan diserang oleh seekor ular dari bawah rumput.
"Apa...?? Kau telah bertemu dengan dia?? Liok-Siocia, dia itulah Kongkongku yang kucari-cari selama ini!"
Kini tiba giliran Siang Hwa yang melompat ke atas seakan-akan diserang ujung pedang yang runcing dari bawah tanah!
"Betulkah...?
Alangkah kebetulan sekali!
Seakan-akan ada tangan gaib yang membimbing kita untuk saling bertemu!
Ketahuilah, Lie-Taihiap, Kongkongku itu ketika berjuang selalu bahu-membahu dengan Kongkongmu, bahkan ketika Kongkongku terluka, ia tewas di dalam pangkuan Kongkongmu!
Bukankah ini aneh dan kebetulan sekali?"
Swan Hong juga menjadi terheran-heran, gembira dan terharu.
"Liok-Siocia, ceritakanlah... ceritakanlah pertemuanmu dengan Kongkongku... Bagaimana rupanya sekarang? Ah, ketahuilah semenjak aku ditinggalkannya dalam usia tiga tahun, sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan dia..."
Saking terharu dan tertariknya, sambi berkata demikian tanpa disengaja Swan Hong memegang lengan gadis itu erat-erat.
Siang Hwa juga menjadi terharu, dan tidak menarik lengannya yang terpegang sampai pemuda itu sadar kembali dan melepaskan pegangannya dengan muka merah.
Pemuda ini lalu duduk pula, diikuti oleh Siang Hwa yang segera menuturkan pengalamannya semenjak ia merantau untuk mencari Kongkongnya seperti halnya Swan Hong sekarang ini.
kemudia betapa ia bertemu dengan Lie Kai di rumah Yap Ma Ek dan bersama para pejuang dan pendekar tua itu melawan rombongan perwira yang dipimpin oleh Sin-Kiam Siang-Hiap, kedua saudara Lee itu.
"Karena ketika dikejar rombongan kami terpecah dua, maka Kongkongmu ikut rombongan lain sehingga terpisah pula daripadaku. Aku tidak tahu kemana dia pergi, dan semenjak itu kami belum pernah saling bertemu lagi."
Kata Siang Hwa sebagai penutup penuturannya sambil tak terasa pula ia terkenang kepada Sim Tiong han pemuda pendekar yang gagah itu.
"Benar-benar aneh..."
Kata Swan Hong setelah Nona itu selesai menuturkan pengalamannya.
"Apa yang aneh, Lie-Taihiap?"
"Sungguh aneh, seperti yang kau katakan tadi. Kakek kita saling bersahabat, bahkan berjuang bersama lebih-lebih lagi Kakekmu menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Kakekku. Kau pergi merantau mencari-cari Kongkongmu, demikianpun aku. Kita sama-sama tak dapat bertemu dengan orang yang kita cari, dan sekarang... kita bertemu dalam keadaan yang amat kebetulan sekali. Bukankah ini namanya... aneh?"
Baca Juga: Pendekar Kelana 6
Baca Juga: Jodoh Rajawali 14