Eps 2 Pembakaran Kuil Thian Lok Si - Kho Ping Hoo
Baca online Pembakaran Kuil Thian Lok Si - Kho Ping Hoo
Cersil Pembakaran Kuil Thian Lok Si - Kho Ping Hoo.
Kakek itu menarik napas panjang, dan mempersilakan tamunya mengambil tempat duduk, ia lalu berkata.
"Keluarga kami she Li semenjak beberapa keturunan telah membuat guci-guci arak, dan demikian pula beberapa banyak keluarga lain di kota Li-kiang ini. Di anatara pembuat-pembuat guci yang terbesar dan paling terkenal adalah keluarga kami dan keluarga she Tan di ujung utara kota ini. Mereka juga pembuat-pembuat guci yang pandai. Akan tetapi di antara keluarga she Tan dan keluarga kami timbullah persaingan hebat yang terjadi semenjak kakekku masih hidup."
"Apakah yang menimbulkan persaingan itu? Apakah penjualan guci di satu pihak ada yang tidak laku?"
Tanya Kong Sian.
"Bukan demikian soalnya, sebenarnya hanya soal keangkuhan dan saling tidak mau mengalah. Guci-guci keluaran Li-kiang tidak ada yang tidak laku, bahkan pembuat-pembuat guci yang kurang pandaipun tak pernah mengeluh karena dagangannya tidak laku. Apa yang di sini dianggap kurang baik, di daerah lain sudah menjadikan orang-orang kagum. Mungkin sekali pihak she Tan itu merasa iri hati oleh karena mereka kalah dalam hal memberi lukisan pada guci-guci. Di sana tidak ada orang yang ahli dan pandai betul melukis sepeti yang ada pada kami. Inilah agaknya yang membuat mereka menjadi penasaran sekali dan mengambil sikap bermusuh dengan kami. Bahkan seringkali terjadi perkelahian oleh karena saling merasa panasdan saling menganggap guci masing-masing lebih bagus. Kong Sian merasa heran sekali.
"Locianpwe, kau orang tua bukanlah orang sembaranganan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, apakah mungkin locianpwe masih mempunyai darah panas yang membuat kedua pihak saling bermusuhan hanya karena urusan kecil saja?"
"Anak muda, kau tidak tahu. Permusuhan yang memanaskan otak dan hati bukanlah tergantung dari pada sebab-sebab permusuhan itu timbul. Kalau rasa amarah sudah naik di kepala dan rasa dendam dan benci sudah membuat mata menjadi gelap, orang tidak mengingat lagi akan segala sebab-sebab permusuhan terjadi. Kami hanya mempertahankan nama dan menjaga kehormatan keluarga kami belaka. Soal kehormatan memang soal yang penting dan yang sudah selayaknya dibela dengan berkorban apapun juga."
Kong Sian amat tertarik mendengar urusan permusuhan antara tukang pembuat guci ini.
Ia merasa ragu-ragu dan penasaran karena hanya mendengar keterangan di satu pihak, maka ia lalu berpamit dan langsung mengunjungi keluarga Tan di sebelah utara yang juga membuat guci arak.
Seperti halnya dengan rumah keluarga Li, di depan rumah keluarga Tan banyak bertumpuk guci-guci arak yang dijemur.
Ketika Kong Sian memperhatikan, benar saja bahwa lukisan guci itu tidak seindah lukisan di guci buatan keluarga Li.
Akan tetapi, buatan keluarga she Tan ini lebih halus dan ukiran-ukiran di pinggir guci lebih indah.
Hingga kekalahan lukisan itu dapat tertutup oleh keindahan ukiran yang lebih tinggi mutunya dari pada ukiran guci buatan keluarga Li.
Kalau ia menjadi pembeli, tentu ia bingung untuk memilih, mana yang lebih indah menarik di antara buatan kedua keluarga itu.
Yang satu lebih indah ukirannya, yang lain lebih menarik gambarnya.
"Kongcu, apakah kau hendak membeli guci?"
Tanya seorang wanita setengah tua ketika melihat ia memperhatikan guci-guci yang sedang dijemur itu.
Kong Sian cepat memberi hormat karena ia sudah kapok dengan pengalaman di rumah keluarga Li yang datang-datang menyerang tadi.
"Tidak, aku hanya hendak melihat-lihat saja. Guci-guci di sini lebih indah ukirannya dari pada guci-guci buatan keluarga Li di selatan itu,"
Katanya memancing sambil menatap wajah wanita itu. Tiba-tiba wanita itu berseri mukanya mendengar ini.
"Memang! Mana bisa keluarga Li yang sombong itu melawan guci buatan kami? Semua mata yang awas dapat membedakan mana barang buruk dan mana yang lebih baik. Guci buatan kami memang jauh lebih dari pada buatan mereka."
Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seekor anjing besar yang berlari sambil menggonggong dan menyerbu ke arah Kong Sian.
Pemuda ini tidak menjadi gugup dan dengan dorongan tangan kiri ia berhasil melemparkan anjing itu ke samping sambil berseru.
"Jangan sembarangan menggigit orang!"
"Bagus!"
Kata wanita itu dan segera membentak anjingnya yang lari ke dalam rumah kembali sambil menyembunyikan ekor di bawah perut.
"Kau lihai juga, kongcu,"
Katanya, kemudian seperti yang tidak memperdulikan lagi kepada Kong Sian, ia lalu mengambil guci yang bertumpuk-tumpuk di situ lalu melempar-lemparkan ke atas dengan ringan sekali.
Tangannya bekerja cepat dan sebentar saja tujuh buah guci yang tadi bertumpuk, telah dilemparkan dan melayang-layang di udara.
Ketika guci pertama melayang turun, lalu disambut oleh wanita itu dan dilemparkannya kembali ke atas, demikianpun dengan guci kedua dan seterusnya.
Guci-guci itu berterbangan di udara bagaikan burung-burung besar dan lemparan wanita itu demikian tepat hingga guci-guci itu tidak saling beradu di tengah udara.
Diam-diam Kong Sian merasa kagum sekali.
Ia maklum bahwa untuk dapat memainkan guci-guci itu sedemikian rupa, orang harus berlatih puluhan tahun dan juga harus memiliki tenaga iweekang yang besar, karena guci itu berat dan besar.
Setelah melemparkan setiap buah guci tiga kali ke atas, wanita itu lalu menaruh guci-guci itu perlahan-lahan di atas tanah dan ditumpuknya kembali seperti tadi sambil berkata.
"Kalau begini guci-guci ini lekas kering."
"Pehbo, kau hebat sekali!"
Kong sian memuji dan diam-diam ia kagum sekali. Kota Li-kiang ini memang luar biasa sekali. Baru tukang-tukang pembuat gucinya saja sudah lihai sekali.
"Anak muda, sebenarnya apakah kehendakmu datang ke sini? Kalau orang datang ke sini tanpa maksud membeli guci, ia hanya mempunyai semacam maksud yang buruk."
"Misalnya, menjadi penyelidik dari keluarga Li?"
Kata Kong Sian menyindir.
"Mungkin! Akan tetapi, mengapa kau tahu tentang hal itu? Kau siapakah?"
Kong Sian lalu mengaku bahwa ia adalah seorang perantau yang kebetulan lewat saja dan bahwa ia tadi telah mengunjungi keluarga Li dan mengalami peristiwa yang tidak enak sekali.
"Memang, memang mereka itu musuh-musuh kami. Mereka itu orang-orang busuk yang merasa iri hati melihat bahwa guci buatan kami lebih baik."
"Akan tetapi, apakah lukisan-lukisan di sini juga lebih baik dari pada buatan mereka?"
Kong sian bertanya dan tiba-tiba wajah wanita itu menjadi muram.
"Memang lukisan mereka lebih baik sedikit, akan tetapi ukiran kami lebih sempurna. Orang membeli guci melihat ukirannya bukan melihat lukisannya."
Biarpun di dalam hati Kong Sian hendak menjawab bahwa kalau ia membeli guci, ia akan memperhatikan kedua-duanya, akan tetapi mulutnya tak menyatakan sesuatu dan ia lalu berpamit dan kembali ke hotelnya, ia merasa heran sekali melihat orang-orang yang aneh akan tetapi berkepandaian tinggi itu.
Pada senja hari itu, ketika Kong Sian baru saja kembali dari berjalan-jalan di dalam kota, ia mendengar ribut-ribut dan ketika bertanya kepada pelayan, ia mendengar bahwa telah terjadi pertempuran lagi antara keluarga Li dan keluarga Tan.
Kong Sian cepat berlari keluar dan menuju ke tempat pertempuran, yakni di rumah keluarga Li.
Wanita she Tan yang kosen tadi telah datang membawa empat orang kawannya dan di depan rumah itu terjadi pertempuran "pertempuran sengit.
Kakek yang kosen dari keluarga Li bertempur melawan wanita she Tan, keadaan merekalah yang paling hebat karena keduanya berilmu silat tinggi.
Yang lain-lain main gebuk dan hantam hingga banyak guci yang berada di luar itu roboh dan pecah-pecah.
"Tahan, tahan!"
Kong Sian berseru keras dan melompat ke tengah medan pertempuran. Melihat datangnya pemuda yang bergerak cepat ini, kedua pihak berdiri dan menghentikan pertempuran dengan mata merah karena marah.
"Kau!"
Tegur kakek she Li.
"Mau apa kau anak murid Kunlun-san datang menahan kami?"
"Maaf, cuwi sekalian,"
Kata Kong Sian sambil menjura.
"Kedatangan siauwte ini tak lain hanya hendak mencegah terjadinya pertempuran ini lebih lanjut."
"Pergi kau! Siapa sudi mendengar omongan orang luar seperti kau?"
Bentak nyonya she Tan itu dengan galaknya.
"Benar, kau pergilah!"
Kata kakek she Li.
"Atau, terpaksa kami akan melemparmu keluar!"
Tiba-tiba Kong Sian tertawa geli dan suara tawanya yang bergelak ini mengherankan semua orang.
"Aneh, aneh! Cuwi sekalian ini agaknya cocok dalam satu hal akan tetapi bertentangan dalam lain hal pula!"
"Apa maksudmu?"
Tanya kakek Li. Kong Sian lalu menghadapi dua orang pemimpin keluarga itu dan setelah menjura lagi lalu berkata.
"Jiwi, dengarlah baik-baik. Ketika jiwi menghadapi siauwte, jiwi mempunyai anggapan dan pikiran yang sama, yakni keduanya menghendaki aku keluar dan tidak ikut campur. Ini namanya cocok dan akur atau sama pendapat. Mengapa jiwi tidak mau mempergunakan kecocokkan ini untuk membereskan perselisihan dan permusuhan dengan jalan damai pula? Mengapa jiwi tidak mau tanam saja permusuhan ini dan bekerja dengan tekun dan tidak saling mengganggu?"
"Tak mungkin!"
Kata kakek Li "Tak sudi!"
Jawab nyonya Tan.
"Maaf, jiwi! Jiwi adalah orang-orang gagah dan pandai. Orang yang berani mengalah dan mengakui kesalahan barulah patut disebut orang pandai. Permusuhan jiwi hanya disebabkan oleh persaingan dalam pembuatan guci-guci ini. Semua orang telah tahu bahwa guci buatan keluarga Li lebih menang dalam lukisan, akan tetapi kalah dalam ukiran, sebaliknya guci keluaran keluarga Tan kalah dalam hal lukisan dan menang dalam ukiran. Alangkah baiknya kalau kalian semua berani mengakui kesalahan dan berani melihat kekurangan sendiri, lalu berdamai dan saling bekerja sama, saling tolong. Kalau keluarga Li dapat memberikan kepandaian melukisnya kepada keluarga Tan, sebaliknya keluarga Tan juga suka mengajarkan ilmu ukir kepada keluarga Li, bukankah nanti guci-guci keluaran kedua keluarga akan menjadi benda-benda yang amat indah dan tiada cacad celahnya? Dan bukankah hal ini merupakan kebanggaan kota Li-kiang dan sekalian penduduknya."
"Benar, benar. Tepat sekali!"
Terdengar seruan keras yang serempak keluar dari banyak mulut, dan ketika Kong Sian menengok, ternyata tempat itu telah penuh dengan orang-orang yang datang menonton.
Kedua pemimpin keluarga itu termenung dan saling pandang.
Akhirnya kakek she Li itu menjura kepada nyonya Tan dan berkata.
"Kata-kata anak muda ini tepat juga. Maukah kau memikir-mikirkan hal ini?"
Nyonya Tan mengangguk dan kemudian ia lalu mengajak keluarganya meninggalkan tempat itu dengan aman.
Sementara itu, Kong Sian sudah menyelinap pergi di antara penonton karena ia tidak mau dijadikan perhatian orang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ia telah melanjutkan perjalanannya.
Ia tidak tahu bahwa ucapannya itu benar-benar berhasil baik dan kedua keluarga yang bermusuhan itu kini telah berbaik kembali, bahkan tak lama kemudian seorang putera keluarga Tan dijodohkan dengan seorang puteri keluarga Li.
Setelah meninggalkan kota Li-kiang, Un Kong sian cepat melanjutkan perjalanannya menuju ke barat.
Pada malam hari, ia bermalam di dusun-dusun, bahkan kadang-kadang di dalam hutan kalau kebetulan ia berada di hutan yang luas pada waktu malam hari tiba.
Demikian, tak terasa pula beberapa pekan telah lewat dan ia makin dekat dengan daerah pegunungan Kunlun-san.
Makin ke barat, makin banyaklah hutan dan makin jarang dusun, hingga pada suatu malam, ia terpaksa bermalam di sebuah hutan yang liar.
Seperti biasa, ia naik ke sebatang pohon besar untuk bermalam.
Ketika ia sedang enak-enak melonjorkan kaki melepas lelah, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap.
Pada malam hari itu, bulan bersinar penuh hingga ia dapat melihat bayangan lima orang laki-laki berjalan perlahan sambil bercakap-cakap.
Kong Sian tertarik hatinya dan menduga bahwa mereka ini kalau bukan pedagang-pedagang keliling, tentulah perampok-perampok.
Maka diam-diam ia melompat ke cabang yang lebih rendah dan mendengarkan percakapan mereka.
"Tapi dia itu lihai sekali. Kemaren dulu, aku dan sam-te hampir saja celaka dalam tangannya. Ilmu pedangnya benar-benar tinggi dan sukar dilawan,"
Kata seorang di antara mereka.
"Ah, sampai dimana lihainya seorang wanita?"
Mencela yang lain dengan suara menghina.
"Dulu kau hanya berdua, akan tetapi sekarang kita berlima. Apa yang harus ditakutkan?"
"Betapapun juga, kita harus cerdik dan hati-hati!"
Kata orang ketiga yang lebih tenang bicaranya.
"Baiknya diatur begini saja. Kalian berempat besok pagi-pagi menyerangnya dengan tiba-tiba dan aku akan menangkap anaknya. Kalau anaknya sudah kutawan, tentu ia akan menyerah kepada kita demi keselamatan anaknya. Bukankah ini sebuah akal yang cerdik?"
"Ha, ha, ha... Memang twako banyak sekali akalnya. Bagus, bagus. Kau memang berhak mendapatkan dia lebih dulu."
Terdengar mereka tertawa menjemukan dan mendengar ini, bukan main marahnya hati Kong Sian karena ia dapat menduga bahwa mereka ini tentulah golongan orang-orang ceriwis dan jahat yang suka mengganggu anak bini orang.
Maka ia lalu melompat turun di belakang mereka dan mengikuti mereka.
Ternyata bahwa ke lima orang ini menuju ke sebuah kelenteng rusak yang berada di dalam hutan itu untuk bermalam di situ.
Kong Sian juga bermalam di atas pohon dekat kelenteng tua itu, menanti datangnya fajar.
Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali kelima orang laki-laki itu keluar dari kelenteng dan ternyata oleh Kong Sian bahwa mereka itu adalah orang-orang yang bersifat kasar dan usia mereka rata-rata tiga puluh tahun.
Dari gerak-gerik mereka, dapat diduga bahwa mereka ini memang penjahat-penjahat yang suka mengganggu orang, yakni orang-orang gelandangan yang tidak mempunyai keluarga dan pekerjaan tetap, yang hidup mengandalkan bantuan kawan-kawan dan suka berkelahi dengan keroyokan.
Mereka menuju ke sebelah dalam hutan dan Kong Sian diam-diam mengikuti mereka.
Tak lama kemudian, Kong Sian melihat sebuah tempat terbuka dalam hutan itu.
Dan aneh sekali, pada pagi hari itu, di sebelah belakang rumah terdengar suara wanita bernyanyi.
Merdu juga suara itu dan yang membuat Kong Sian heran adalah tempat yang sunyi itu.
Di situ bukan dusun atau kampung, akan tetapi mengapa di tempat sesunyi ini ada seorang wanita yang tinggal di dalam gubuk sederhana itu dan mendengar suaranya yang pagi-pagi sudah menyanyi itu agaknya hidup tentram dan damai?
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil berseru memanggil ibunya.
Lima orang itu, yang telah terlihat oleh anak kecil tadi, segera berlari ke arah rumah dan Kong Sian juga bergerak cepat sambil mengintai.
Empat orang penjahat lari ke belakang dan segera mereka mengurung seorang wanita muda yang melawan serangan mereka dengan sepotong kayu di tangan.
Agaknya wanita itu tidak mendapat kesempatan untuk mengambil pedang dan terpaksa menghadapi empat orang pengeroyoknya dengan sepotong kayu yang dimainkannya dengan kuat dan hebat sekali hingga empat orang pengeroyok yang bersenjata pedang dan golok itu tak dapat mendekatinya.
Sementara itu, seorang penjahat yang mengatur siasat malam tadi masuk ke dalam rumah melalui pintu depan hingga tak terlihat oleh wanita muda itu.
Kong Sian maklum akan maksudnya, yakni menculik anak kecil yang berseru tadi, maka dengan cepat ia lalu melompat ke arah orang itu.
Sekali tangannya bergerak, orang itu telah kena ditamparnya di bagian pundak hingga orang itu mengaduh lalu roboh terguling.
Ketika ia bangun berdiri dan melihat seorang pemuda kurus tampak berdiri di depannya sambil bertolak pinggang, penjahat itu menjadi marah sekali dan mencabut goloknya yang tergantung di pinggang lalu menyerang dengan hebat.
Akan tetapi, ketika tubuh Kong Sian berkelebat, dalam tiga gebrakan saja ia berhasil mengetuk pergelangan tangan lawan yang memegang golok hingga senjata itu terlempar jauh, kemudian menempeleng lagi yang tepat mengenai pangkal telinga orang itu hingga orang itu terhuyung-huyung, matanya terbalik ke atas, lalu terputar-putar terus roboh mencium tanah.
Pingsan?
Kong Sian tak mau membuang waktu lalu segera ia melompat ke belakang.
Dilihatnya bahwa biarpun wanita itu cukup lihai, namun menghadapi empat orang laki-laki yang bersenjata tajam hanya dengan sepotong kayu ditangan, maka ia mulai terdesak juga.
Kong Sian maklum bahwa kalau yang dipegang oleh wanita itu bukan kayu akan tetapi pedang, tentu sebentar saja empat orang penjahat itu dapat dirobohkan.
Ia lalu berseru keras dan melompat bagaikan seekor naga melayang turun dari angkasa.
Begitu kaki dan tangannya bergerak, berteriaklah dua orang pengeroyok yang terlempar dan tak dapat bergerak lagi.
Kesempatan ini digunakan oleh wanita itu untuk mengerjakan tongkatnya, sambil mengaduh-aduh, dua orang lain kena digebuk sedemikian rupa hingga mereka roboh tak dapat bergerak lagi.
Kong Sian memandang dengan kagum, dan wanita itupun memandang dengan terimah kasih.
Dua pasang mata bertemu dan...!!
"Lin Hwa...!"
"Kong Sian... kau... kau...?"
Lin Hwa melangkah maju dan ketika kedua lengan tangan Kong Sian terulur ke depan, ia lalu menubruk pemuda itu, menjatuhkan mukanya di dada Kong Sian dan menangis terisak-isak.
Sementara itu, ke lima orang penjahat yang kena gebuk dan pukul tadi, telah siuman dari pingsannya dan melihat keadaan yang tidak menguntungkan mereka, mereka ini lalu bangkit, membantu kawan-kawan yang agak berat mendapat bagian, lalu berjalan pergi sambil terpincang-pincang dan terhuyung-huyung.
Sampai lama kedua orang itu tidak bergerak maupun bersuara, yang bergerak hanyalah tubuh Lin Hwa karena tangisnya, sedangkan yang terdengar hanyalah suara sesenggukan tangisnya.
"Lin Hwa... soso... mengapa kau sampai tinggal di sini?"
"Kong Sian, jangan sebut aku dengan sebutan itu. Panggil saja namaku, itu lebih baik... jangan ingatkan aku akan hal-hal dulu lagi..."
Lin Hwa lalu mengundurkan diri dan sambil menghapus pipinya yang basah, ia lalu menatap wajah pemuda itu.
Tiba-tiba timbul senyumnya hingga pipinya nampak manis sekali dengan lesung pipit di kanan kiri.
"Kong Sian, kau... kau kelihatan lebih tua dan kurus sekali."
"Dan kau nampak... bertambah manis saja, Lin Hwa. Oh ya, mana anakmu? Ingin sekali aku memeluk nya, Mana dia?"
"Cin Pau..."
Lin Hwa memanggil dengan suara merdu dan nada menarik.
Suara nyonya muda ini terdengar gembira sekali hingga ia sendiri merasa heran, seakan-akan tidak mengenal suaranya sendiri.
Belum pernah ia mendengar suaranya sendiri segembira ini dan mengingat akan hal-hal ini tiba-tiba saja kulit mukanya menjadi kemerah-merahan.
Seorang anak kecil berusia kurang lebih empat tahun berlari-lari dari dalam rumah dan menghampiri ibunya.
Anak itu ketika melihat Kong Sian, lalu berhenti berlari dan memandang dengan sepasang matanya yang lebar dan bagus.
Kong Sian tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya ke arah anak itu.
Anak kecil itupun lalu tersenyum, kemudian dengan muka berseri-seri ia lalu berseru.
"Ayah...! Ayah...!"
Sambil berseru demikian, Cin Pau yang masih kecil itu lalu berlari cepat dan menubruk Kong Sian.
Kong Sian dengan hati amat terharu lalu memondong dan memeluk anak itu, menciumi rambutnya yang hitam dan penuh dan ketika ia melirik ke arah Lin Hwa, ternyata nyonya muda itu telah membalikkan tubuh agar Kong Sian tidak melihat betapa ia menangis dengan hati terharu karena melihat Cin Pau berteriak memanggil "Ayah"
Kepada Kong Sian, seakan-akan sebilah pedang telah menusuk jantungnya.
Seringkali anak itu menanyakan ayahnya dan selalu Lin Hwa membohonginya dan menjawab bahwa ayahnya sedang pergi memburu binatang liar dan bahwa ayahnya pada suatu waktu tentu akan datang mengunjungi mereka.
Cin Pau yang masih kecil tidak tahu bahwa ibunya telah membohong dan percaya akan keterangan ini, maka ketika melihat Kong Sian, seorang laki-laki yang baik hati, penuh kasih sayang, ia tidak ragu-ragu lagi menduga bahwa orang ini tentulah ayahnya.
Kong Sian memeluk erat-erat tubuh kecil itu dan ia diamkan saja ketika berkali-kali Cin Pau menyebutnya ayah.
Ketika ia melihat Lin Hwa membalikkan tubuh hendak menegur anaknya dengan mata basah, diam-diam Kong Sian menaruh telunjuknya pada bibir dan melarang Lin Hwa membantah sebutan itu.
Ia pikir bahwa anak yang masih kecil ini tak perlu dilukai hatinya dengan kenyataan tentang ayahnya, maka apa salahnya kalau anak ini mengaku ayah kepadanya.
Bahkan, ia merasa girang dan senang sekali mendengar sebutan ini, sebutan yang membuat hatinya makin terikat dengan hati Lin Hwa.
"Ayah mana harimau dan biruang yang kau bunuh? Kata ibu, ayah pemburu binatang buas yang pandai dan gagah. Aku telah melihat kelihaian ayah tadi ketika bertempur dengan penjahat-penjahat karena aku mengintai dari dalam. Ayah hebat sekali. Benar kata ibu bahwa ilmu-ilmu silat ayah tinggi luar biasa. Lihat, ayah, akupun belajar dengan rajin. Kata ibu, kalau aku belajar dengan rajin kelak akan menjadi gagah seperti ayah."
Sambil berkata-kata dengan gembira dan cepatnya, Cin Pau lalu merosot turun dari pondongan Kong Sian, lalu ia mulai bersilat di depan Kong Sian dengan gerakan yang lincah.
Kong Sian merasa kagum dan senang sekali karena nyata baginya bahwa Lin Hwa tidak membuang waktu percuma dan telah mulai mendidiknya dengan dasar-dasar ilmu silat yang dapat dimainkan dengan baiknya oleh Cin Pau yang baru berusia empat tahun itu.
Untuk menyenangkan hati Cin Pau, Kong Sian membiarkan anak itu melihat dan mengagumi pedangnya dan ketika anak itu bertanya seribu satu macam tentang perburuan binatang buas, ia lalu mengarang cerita tentang perburuan binatang yang menarik hingga anak itu sambil duduk di atas pangkuan "Ayahnya", mendengarkan dengan mulut celangap dan beberapa kali menyebut.
"Kau hebat sekali ayah!"
Melihat kelakuan puteranya ini, Lin Hwa membenarkan isarat Kong Sian tadi dan iapun tidak tega untuk menceritakan kepada anak itu bahwa pemuda ini bukanlah ayahnya.
"Ah, Cin Pau, kau nakal sekali. Kong..., eh ayahmu baru saja datang, sudah kau ganggu dengan kecerewetanmu. Dia lelah dan mungkin lapar sekali!"
Anak itu lalu melompat turun dari pangkuan Kong Sian dan berlari ke dalam rumah sambil berkata.
"Biar kupanggangkan daging kelinci yang kemarin kita tangkap."
Memang, karena berada berdua di hutan itu, Lin Hwa telah memberi banyak pelajaran kepada puteranya, hingga Cin Pau yang masih kecil itu sudah pandai memanggang daging dan bahkan pandai menangkap kelinci dengan anak panah kecil.
Pada malam harinya, setelah Cin Pau tidur nyenyak, barulah Lin Hwa dan Kong Sian duduk saling berhadapan dan bercakap-cakap menuturkan pengalaman masing-masing selama berpisah.
Melihat sikap Lin Hwa yang dari pandangan matanya jelas membisikkan sesuatu yang selalu menjadi kenangannya, Un Kong Sian tak kuasa menuturkan bahwa ia telah kawin dan mempunyai rumah tangga yang tidak berbahagia.
Ternyata bahwa Lin Hwa sudah tahu akan nasib suaminya dan nasib Ma Gi karena iapun mencari tahu akan hal itu dan mendengar berita-berita dari luar kuil ketika ia masih berdiam di kuil Thian-an-tang.
Dan setelah ia pergi meninggalkan kuil Thian-an-tang, ia lalu merantau dengan puteranya dan akhirnya tiba di hutan itu dan bersembunyi di situ bersama anaknya yang masih kecil.
Lin Hwa tidak suka tinggal di dusun yang banyak orangnya, oleh karena ia seringkali mengalami gangguan, maklum karena ia masih muda lagi cantik dan janda pula.
Ketika Kong Sian memberitahukan bahwa ia hendak pergi ke Kunlun-san, Lin Hwa memandang dengan hati tertarik dan berkata.
"Sudah lama sekali aku mendengar tentang keindahan bukit Kunlun dan kemashuran nama Kunlun-pai. Alangkah senangnya kalau kami bisa ikut kau pergi ke sana."
Kong Sian hampir melompat karena girangnya.
"Mengapa tidak? Tadi baru saja aku hendak mengajak kau dan Cin Pau ikut. Dengarlah, Lin Hwa, aku mempunyai usul yang baik sekali bagi puteramu. Biarpun aku percaya penuh akan keahlianmu mengajar dan memdidik anakmu, akan tetapi dalam hal ilmu silat, anakmu perlu mendapat didikan orang yang lebih pandai dari pada kita agar kelak Cin Pau menjadi seorang yang betul-betul gagah dan tidak mengecewakan. Oleh karena itu, lebih baik kita bawa Cin Pau ke Kunlun-san dan di sana aku akan mintakan kepada suhu supaya anak itu diterima menjadi murid. Bagaimana pikiranmu?"
Berseri wajah Lin Hwa mendengar ini.
"Kong Sian, kau memang seorang sahabat yang mulia dan berbudi. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana jadinya dengan aku dan puteraku kelak."
"Eh, eh, jangan memuji-muji saja, bagaimana jawabmu tentang pergi ke Kunlun-san?"
"Tentu saja aku turut dengan segala senang hati, jangan baru ke Kunlun-san, biarpun ke ujung dunia sekali pun kalau kau yang mengajak, tentu aku takkan ragu-ragu lagi untuk ikut."
"Kenapa begitu?"
Tanya Kong Sian dengan hati berdebar dan menatap wajah Lin Hwa dengan tajam.
"Karena aku yakin bahwa maksudmu mulia dan baik,"
Jawab Lin Hwa sederhana.
Demikianlah, setelah bermalam untuk satu malam di dalam pondok kecil itu, pada keesokkan harinya, pagi-pagi benar Kong Sian, Lin Hwa dan Cin Pau yang digendong oleh Kong Sian, berangkat meninggalkan hutan itu untuk menuju ke Kunlun-san.
Cin Pau yang masih kecil dan tidak kenal artinya susah itu selalu bergembira di sepanjang jalan hingga kegembiraannya mempengaruhi kedua orang muda itu dan membuat perjalanan terasa mudah dan lancar.
Oleh karena Cin Pau selalu menyebut "Ayah"
Kepada Kong Sian, maka setiap orang yang mereka jumpai di dusun-dusun tentu menganggap bahwa ini adalah sepasang suami isteri dengan anaknya.
Pernah di dalam perjalanan itu, Lin Hwa berkata kepada Kong Sian ketika Cin Pau tertidur.
"Kong Sian, kau masih belum mempunyai putera akan tetapi telah disebut ayah. Apakah... apakah kau tidak merasa malu dengan sebutan itu?"
"Malu? Mengapa mesti malu? Aku bahkan senang sekali dengan sebutan itu. Dan... bukankah aku pantas sekali menjadi ayah Cin Pau?"
Jawaban ini membuat seluruh muka Lin Hwa menjadi merah sampai ke telinganya dan sambil tersenyum manis ia mengerling ke arah pemuda itu dengan sudut matanya.
Percakapan-percakapan dan senda gurau seperti ini membuat hubungan mereka lebih erat lagi dan tanpa terasa, tanpa pernyataan dengan kata-kata yang langsung, keduanya membangun dan memperkokoh perasaan cinta kasih yang besar dalam hati masing-masing.
Dan kemesraan Cin Pau yang benar-benar menganggap Kong Sian sebagai ayahnya, membuat kedua orang muda itu merasa seakan-akan benar-benar mereka menjadi suami isteri sejak dulu.
Kurang lebih satu bulan mereka melakukan perjalanan menuju ke Kunlun-san, tidak dengan tergesa-gesa dan selalu beristirahat sebelum Cin Pau merasa lelah.
Akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan.
Sambil memondong anak itu, Kong Sian mengajak Lin Hwa mempergunakan ilmu lari cepat mendaki puncak kedua dari pegunungan Kunlun di mana suhunya tinggal.
Ketika mereka tiba di kuil tua yang dijadikan tempat tinggal Beng Hong Tosu, kebetulan sekali pendeta tua ini sedang duduk di depan kuil, bermain catur dengan seorang kakek tua yang jubahnya penuh tambalan, akan tetapi jubah itu bersih sekali.
Melihat kedatangan muridnya yang membawa seorang wanita muda dan seorang anak kecil, Beng Hong Tosu lalu berdiri menyambut.
Kong Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Beng Hong Tosu dan menyebut.
"Suhu!"
Sedangkan Lin Hwa juga mengajak Cin Pau berlutut di depan pendeta sakti itu.
Cin Pau turun dari gendongan ibunya dan anak itu dengan tabah sekali lalu menghampiri tosu berjubah tambalan itu dan bertanya dengan suara yang nyaring bersih.
"Kakek tua, permainan apakah di atas meja itu?"
Kakek tua berbaju tambalan itu mengangkat alisnya dan kemudian tertawa bergelak.
"Anak baik, ini adalah biji-biji catur."
Kemudian ia mengambil sepuluh biji catur dan satu demi satu ia lemparkan ke udara.
Biji-biji catur itu melayang tinggi sekali dan saling susul.
Anehnya, ketika biji-biji catur itu turun kembali, kesemuanya telah bertumpuk menjadi satu dengan rapinya dan melayang bersama-sama ke arah tangan kakek itu yang menerimanya dengan tangan kiri.
Cin pau bertepuk tangan dengan girang.
"Bagus, bagus! Dengan mempunyai biji catur ini dan bisa melempar seperti kau, untuk menangkap burung tak perlu mempergunakan busur dan anak panah lagi."
Kembali kakek tua itu tertawa bergelak-gelak.
"Kau cerdik! Maukah kau mempelajari permainan tadi?"
"Tentu saja mau, tentu mau,"
Kata Cin Pau sambil bertepuk-tepuk tangan, kemudian ia menghampiri dan memeluk ibunya.
"Ibu, bolehkah aku belajar menimpuk dengan biji catur pada kakek tua ini?"
Melihat hal ini, Beng Hong Tosu tersenyum dan berkata.
"Bu Eng Cu (Si Tanpa Bayangan), kau diam-diam telah memilih murid!"
Kakek yang disebut Bu Eng Cu itu tertawa lagi.
Dia adalah seorang tokoh persilatan yang aneh dan berilmu kepandaian tinggi sekali, bernama Tiauw It Lojin dan berjuluk Bu Eng Cu.
Ia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap karena memang biasa merantau ke gunung-gunung menikmati pemandangan indah.
Akan tetapi, seringkali ia datang berkunjung kepada Beng Hong Tosu yang menjadi sahabat baiknya di masa mudanya.
Kakek inilah yang dulu pernah mendemonstrasikan ilmu silatnya dan yang dilihat oleh Kong Sian ketika ia masih belajar di Kunlun-san dan ketika ia bersama Lin Hwa tertolong di kuil Thian Lok Si, ia melihat betapa ilmu silatnya hwesio muka hitam yang disebut Lokoay itu mirip betul dengan ilmu silat kakek tua ini.
Maka, mengingat hal ini, ia memberi hormat dengan berlutut di depan kakek itu sambil berkata.
"Locianpwe, teecu Kong Sian memberi hormat. Apakah selama ini locianpwe sehat-sehat saja?"
"Baik, Kong Sian, aku baik saja. Kau pun baik ku lihat!"
Jawaban ini membayangkan sifatnya yang terus terang dan tidak suka pakai banyak kata-kata muluk.
Memang Bu Eng Cu ini terkenal beradat polos, bahkan kadang-kadang aneh sehingga ucapannya sukar dimengerti.
"Kong Sian, pinto telah mendengar tentang nasib kedua suhengmu,"
Kata Beng Hong Tosu sambil menghela napas.
"kehendak Thian tak dapat ditentang dan memang sudah nasib mereka harus berkorban demi membela orang tua. Akan tetapi, mereka tewas dengan gagah perkasa dan tidak memalukan nama guru dan orang tua. Harus pinto puji dan hormati perbuatan kedua suhengmu dan ayah-ayah mereka. Memang mereka itu orang-orang berjiwa besar dan yang berani melakukan perbuatan besar pula tanpa takut menanggung akibatnya. Memang seharusnya demikianlah. Setiap orang harus berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga demi kebaikan. Adapun akan hasil dan tidaknya, itu bukan soal kita dan ketentuan terakhir bukan berada dalam kekuasaan kita. Namun, tetap manusia harus berikhtiar sekuatnya tanpa memusingkan tentang hasil atau tidaknya. Dua orang sastrawan tua itu telah melakukan sesuatu yang baik, sesuai dengan jiwa mereka. Dan lihatlah, ratusan ribu orang bergelora semangatnya dan berhasil menumbangkan pemerintah yang lalim. Akan tetapi, tetap saja hasil yang mereka peroleh itu bukanlah hasil yang baik dan sebagaimana yang dicita-citakan oleh orang yang paling sengsara. Keadaan tetap buruk dan sedikit sekali perbedaannya dengan keadaan dulu. Kau tentu maklum dan telah menyaksikan sendiri."
"Teecu mengerti, suhu. Memang, keadaan masih sama, hanya berganti majikan!"
Kata Kong Sian.
"Itulah! Akan tetapi, kita tak dapat menyalahkan kedua orang sastrawan besar itu. Bukan salah mereka, dan bukan demikian yang mereka kehendaki. Semua adalah kehendak Thian yang maha kuasa. Namun, lepas dari soal berhasil atau tidak, tetap saja harus diakui bahwa kedua orang itu telah melakukan tugas sebagai manusia-manusia baik!"
Mendengar betapa guru dan murid ini bicara tentang mertuanya dan suaminya yang telah tewas, tak tertahan lagi mengalirlah air mata di sepanjang kedua pipi Lin Hwa.
Luka lama yang selama ini telah mulai mengering, kini terbuka pula dan terasa perih.
Beng Hong Tosu memandang kepada Lin Hwa dan bertanya kepada Kong sian.
"Kong Sian, siapakah kawanmu ini?"
"Suhu, dia adalah isteri Khu suheng dan anak itu adalah anaknya."
Pada saat itu, Cin Pau sedang bermain-main dengan biji-biji catur sehingga ia tidak mendengarkan semua percakapan yang memusingkan kepalanya itu sehingga ia tidak mendengar pula kata-kata Kong Sian ini.
Beng Hong Tosu mengangguk-angguk dan memandang kepada Lin Hwa dengan terharu dan iba.
Kemudian, Kong Sian dengan panjang lebar lalu menceritakan kepada suhunya tentang semua pengalaman-pengalaman semenjak peristiwa pembasmian kedua keluarga Khu dan Ma itu terjadi.
"Oleh karena itu, suhu. Teecu mohon kepada suhu sudilah kiranya menaruh hati kasihan kepada Khu-soso ini dan sudi menerima puteranya sebagai murid di Kunlun."
Kong Sian mengakhiri ceritanya.
"Bagus, bagus Beng Hong Toyu (sahabat), anak itu sendiri ingin belajar dari aku, akan tetapi muridmu ini hendak memaksanya belajar dari kau."
Beng Hong Tosu tertawa dan meraba-raba jenggotnya yang putih dan panjang.
"Kong Sian, kau mendengar sendiri? Hayo lekas kau aturkan beribu terima kasih kepada Bu Eng Cu!"
Kong Sian dan Lin Hwa lalu berlutut di depan Tiauw it Lojin dan menghaturkan terima kasih bahwa orang tua itu suka menerima Cin Pau menjadi muridnya.
"Tak usah berterima kasih. Aku tidak memberi apa-apa, pengetahuan takkan berkurang atau hilang biarpun diberikan kepada seribu orang. Kalau kalian tidak keberatan, maka anak itu hendak ku bawa ke tempatku sekarang juga."
Lin Hwa lalu berdiri dan menhampiri Cin Pau yang lalu dipeluk dan diciuminya.
"Anakku yang baik,"
Katanya sambil menahan bercucurnya air mata.
"Kau ingin belajar ilmu dari locianpwe ini, bukan?"
Cin Pau mengangguk.
"Kalau begitu, sekarang kau harus ikut kepadanya. Kau harus menjadi murid yang taat dan penurut, harus rajin-rajin belajar. Cin Pau, jangan mengecewakan ibumu, ya? Jagalah dirimu baik-baik!"
"Apa ibu tidak ikut?"
Tanya anak itu dengan kedua matanya yang lebar memandang ibunya.
"Tidak, nak. Tidak boleh ibu ikut. Kau yang hendak belajar, bukan ibumu. Akan tetapi, tak lama ibu tentu akan menyusulmu, nak. Kau ikutlah dengan gurumu!"
"Hayo, Cin Pau, hayo kita pergi!"
Kata Bu Eng Cu Tiauw It Lojin sambil menggandeng tangan anak itu. Cin Pau tidak membantah dan menjawab dengan gagah.
"Baik, suhu."
Kemudian kedua orang itu meninggalkan tempat itu setelah Bu Eng Cu berkata kepada Beng Hong Tosu.
"Sampai ketemu lagi, toyu."
Cin Pau beberapa kali berpaling memandang ibunya dan ketika melihat betapa pipi ibunya basah air mata, ia berseru nyaring.
"Ibu jangan menangis, kelak aku akan kembali kepadamu!"
Kemudian, kepada Kong Sian ia berseru.
"Ayah, jaga ibu baik-baik!"
Setelah bayangan mereka lenyap di satu tikungan jalan, Beng Hong Tosu bertanya dengan suara heran kepada Kong Sian.
"Mengapa dia menyebutmu ayah?"
Merahlah wajah Kong Sian, akan tetapi dengan suara tetap ia menjawab.
"Anak itu belum tahu akan hal ihwal ayahnya dan begitu bertemu dengan teecu, ia telah menyebut ayah. Teecu tidak tega untuk melukai hatinya yang masih suci."
Beng Hong Tosu mengangguk-angguk dan berkata.
"Anak itu baik sekali, boleh diharapkan kelak."
Setelah tinggal di situ selama tiga hari, Kong Sian lalu berpamit kepada suhunya untuk pulang ke kota raja karena telah lama meninggalkan ibunya.
Lin Hwa juga menyatakan hendak pergi dan mencari kuburan suaminya.
"Pergilah,"
Kata Beng Hong Tosu.
"Dan berhati-hatilah, terutama terhadap musuh di dalam dada!"
Setelah meninggalkan pesan ini, pendeta itu lalu masuk ke dalam pondoknya untuk bersamadhi.
Kong Sian dan Lin Hwa saling pandang dengan muka merah karena sungguhpun mereka tidak dapat menangkap arti kata-kata pendeta itu dengan jelas, namun mereka seakan-akan mendapat sindiran bahwa pendeta tua itu telah maklum akan apa yang menjadi perasaan hati mereka berdua.
Sesungguhnya Lin Hwa memang ingin sekali mencari kuburan suaminya, akan tetapi, yang lebih tepat lagi, ia ingin pergi bersama Kong Sian karena hatinya merasa berat sekali kalau kini setelah ditinggal puteranya, ia harus berpisah lagi dari pemuda ini.
Ia ingin bersembahyang di depan makam suaminya, ingin mengeluarkan segala hatinya dan ingin minta perkenan dari suaminya untuk...
untuk...
kemungkinan kawin lagi dengan Kong Sian.
Demikianlah, kedua orang muda itu lalu turun gunung, kini lebih cepat perjalanan mereka, karena tidak disertai Cin Pau.
Pada suatu malam yang dingin dan gelap, Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa tiba di dalam sebuah hutan.
Ketika keduanya melompat naik ke atas pohon tinggi untuk mencari-cari dan melihat-lihat barangkali di dekat situ terdapat dusun, Ternyata tak nampak dusun atau cahaya api penerangan di dekat dan di sekitar hutan itu, maka terpaksa mereka harus bermalam di hutan itu.
Akan tetapi, tiba-tiba datang hujan dan angin ribut sehingga mereka menjadi bingung.
Mula-mula mereka berteduh di bawah pohon yang berdaun lebat sekali, akan tetapi oleh karena hujan turun makin besar hingga air hujan menembus daun-daun pohon dan membuat mereka menjadi basah kuyup seluruh pakaian dan tubuh mereka, terpaksa mereka lalu mencari-cari tempat yang kiranya dapat digunakan untuk tempat berteduh di malam itu.
Tubuh mereka terserang dingin yang luar biasa hingga kalau saja mereka tidak memiliki lweekang yang dapat disalurkan pada jalan-jalan darah untuk membuat hangat tubuh, tentu mereka tak kuat menahan rasa dingin yang menusuk tulang itu.
"Bagaimana baiknya? Kemana kita harus pergi berlindung?"
Tanya Lin Hwa yang telah mulai menggigil kedinginan, karena kepandaiannya masih belum tinggi betul.
Melihat keadaan Lin Hwa, Kong Sian menjadi kasihan sekali.
Ia melepaskan mantelnya dan menyelimuti tubuh Lin Hwa, akan tetapi oleh karena mantel itu pun telah menjadi basah kuyup, maka pertolongan ini tiada artinya.
Kilat menyambar-nyambar dan angin membuat semua pohon di hutan itu seakan-akan bergerak-gerak mengamuk.
Lin Hwa mulai terhuyung-huyung dan tubuhnya lemah serta lelah sekali hingga Kong Sian terpaksa harus memeluknya dan menariknya di dalam hujan badai itu, maju terhuyung-huyung ke depan, mencari pohon-pohon yang lebih besar.
"Kong Sian... aku...aku... tak kuat lagi rasanya..."
"Ah, masa kau begitu lemah?"
Kong Sian menghibur dan mencoba berkelakar.
"Sebentar lagi hujan badai ini juga berhenti."
Akan tetapi, jangankan berhenti, bahkan lebih lebat datangnya air hujan dari atas, dan angin makin besar mengamuk.
Mereka berjalan berhimpit-himpitan, saling peluk dan hanya mengandalkan tenaga Kong Sian saja mereka dapat bergerak maju.
Ketika cahaya kilat menyinari hutan itu, tiba-tiba Kong Sian melihat bayangan sebuah bangunan dari jauh.
Ia menjadi girang sekali dan sambil menarik tubuh Lin Hwa yang setengah dipondongnya itu, ia berkata.
"Cepat, di depan itu kulihat bangunan!"
Setelah berjalan beberapa lama, benar saja, di dalam cahaya kilat yang sebentar-sebentar menyambar, mereka melihat sebuah bangunan kuno di tengah hutan.
Bangunan ini adalah sebuah kelenteng kuno yang telah rusak dan yang atapnya sebagian besar telah hancur.
Akan tetapi masih ada juga sedikit bagian yang kuat dan dapat menahan turunnya air, maka Kong Sian lalu mendukung tubuh Lin Hwa dan masuk ke dalam kelenteng itu.
Mereka girang sekali karena di situ terdapat sebuah meja sembahyang terbuat dari pada kayu besi yang hitam dan kuat hingga buru-buru mereka berlindung di bawah meja itu.
Dan dengan girang Kong Sian mendapatkan kayu-kayu kering di bawah meja, bahkan terdapat pula batu-batu api.
Ia menduga bahwa ini tentu barang orang-orang yang telah pernah bermalam di tempat ini, maka cepat ia membuat api dengan susah payah, karena walaupun benda-benda itu tidak terserang air, bahan bakar itu menjadi lembab.
Akan tetapi, akhirnya ia berhasil juga dan tak lama kemudian menyalahlah kayu-kayu kering di bawah meja itu.
Terdengar Lin Hwa mengeluh perlahan dan ketika Kong Sian memandang, ia melihat wajah yang cantik itu memucat dan nampak lemah sekali.
Akan tetapi pada saat itu, Lin Hwa menyandarkan kepalanya pada pundak Kong Sian dan memandang pemuda itu dengan pandangan mata yang mesrah dan penuh perasaan.
Diangatkan oleh nyala api, akhirnya Lin Hwa dapat juga tidur dengan kepala masih tersandar di bahu Kong Sian.
Pemuda itu lalu dengan hati-hati dan lemah lembut menidurkan kepala Lin Hwa ke atas lantai berbantalkan mantelnya yang digulung.
Kemudian ia menambah kayu pada api unggun kecil di bawah meja besar itu.
Setelah itu Kong Sian lalu duduk bersamadhi, mengatur napasnya hingga hawa yang hangat menjalar di seluruh tubuhnya, mengusir kelelahan dan kedinginan yang menyerangnya.
Menjelang fajar, hujan berhenti dan ketika matahari mulai menyinarkan cahayanya mengusir sisa-sisa kegelapan, terdengar burung-burung dan ayam-ayam hutan berbunyi riang, seakan-akan mereka ini sama sekali telah lupa akan amukan hujan badai malam tadi yang membuat banyak sarang mereka hancur dan telur serta anak-anak mereka rusak binasa.
Melihat bahwa Lin Hwa masih tidur dengan nyenyak, Kong Sian lalu keluar dari kuil itu dan membungkuk dengan hormat dihadapan sebuah patung yang telah rusak, seakan-akan menyatakan terima kasihnya karena kalau tidak cepat-cepat mendapat tempat berteduh yang aman sentausa itu, entah bagaimana nasib mereka malam tadi.
Kemudian ia lalu keluar dan mencari makanan di dalam hutan yang liar itu.
Tak lama kemudian, ia kembali ke kuil sambil membawa beberapa butir buah dan seekor kelinci yang ditangkapnya.
Akan tetapi, ketika ia tiba di dekat kelenteng rusak itu, tiba-tiba terdengar jerit Lin Hwa dari dalam kelenteng.
Kong Sian melempar semua bahan makanan itu ke atas tanah dengan cepatnya melompat ke dalam kelenteng.
Alangkah marah dan kagetnya ketika melihat betapa Lin Hwa telah diikat kaki tangannya dan rebah di lantai dengan pakaian tidak karuan, sedangkan di situ berdiri seorang saikong (pertapa) bermuka penuh cambang-bauk seperti seekor harimau sedang tertawa bergelak.
"Jahanam keparat!"
Kong Sian membentak sambil mencabut pedangnya lalu menyerang. Saikong itu mengelak dan membentak marah sambil melototkan matanya yang lebar.
"Bangsat kecil! Kau berani main gila di depan Pit Lek Hoatsu?"
Kong Sian terkejut mendengar nama ini karena ia pernah mendengar nama ini sebagai seorang pendeta cabul dan jahat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.
Dulu suhunya pernah bercerita bahwa suhunya pernah turun gunung untuk membasmi saikong jahat ini, akan tetapi karena Pit lek Hoatsu memang gagah dan juga licin sekali, suhunya tak berhasil membekuknya.
Akan tetapi, melihat betapa pendeta keparat itu hendak mengganggu Lin Hwa, Kong Sian tak mengenal arti takut dan menyerang dengan hebatnya hingga saikong itu terpaksa melayaninya.
Pit Lek Hoatsu benar-benar lihai sekali.
Ketika ia membentak marah, dari pinggangnya ia mencabut keluar sabuknya yang terbuat daripada perak, merupakan rantai perak yang berujung tajam.
Dan setelah ia putar-putar senjatanya ini, Kong Sian merasa terkejut sekali karena gerakan saikong ini luar biasa cepat dan buasnya.
Tiap kali pedangnya terbentur oleh rantai itu, ia merasa telapak tangannya sakit sekali sehingga setelah empat kali mengalami benturan hebat, ia tidak berani lagi menangkis dengan pedangnya, dan hanya bergerak cepat mengelakkan diri dari bahaya maut yang disebar oleh rantai perak itu.
Kong Sian terdesak hebat dan Lin Hwa yang terikat kaki tangannya dan duduk menyandar dinding, memandang keadaan ini dengan mata terbelalak dan kuatir sekali.
Pada saat yang berbahaya itu, tiba-tiba dari luar kuil terdengar suara orang menyebut nama Buddha.
"Omitohud! Pit lek Hoatsu, tidak tahukah kau kepada kemuliaan Buddha?"
Berbareng dengan habisnya ucapan ini, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang hwesio yang tua dan berjenggot putih telah menyambar dan dengan ujung bajunya ia menyampok rantai perak Pit Lek Hoatsu.
Sampokan ini hebat sekali karena rantai itu terbentur dan membalik, hampir saja menghantam muka Pit Lek Hoatsu sendiri.
Saikong itu terkejut dan melompat ke belakang berjungkir balik, dan ketika memandang hwesio yang baru tiba itu, ia menjadi terkejut dan berseru.
"Pek Seng Hwesio! Kau datang mencampuri urusanku?"
"Pinceng bukan mencampuri urusan siapa-siapa, hanya berusaha mencegah terjadinya perbuatan sesat,"
Jawabnya tajam. Pit Lek Hoatsu ragu-ragu. Ia maklum akan kelihaian hwesio tua ini, kemudian sambil tertawa menyeringai ia lalu menyimpan rantainya dan berkata.
"Biarlah aku memandang mukamu dan lain kali kita bertemu pula!"
Kemudian ia melompat pergi dan terdengar suara ketawanya yang menyeramkan.
Kong Sian lalu cepat melepaskan tali yang mengikat kaki tangan Lin Hwa, menggunakan mantelnya untuk menyelimuti tubuh Lin Hwa karena pakaiannya banyak yang robek.
Kemudian, kedua orang muda itu lalu maju dan berlutut di depan Pek seng Hwesio, ketua dari kuil Thian Lok Si itu.
"Hm, kalian lagi,"
Kata hwesio tua itu.
"Dan di mana puteramu, toanio?"
"Cin Pau telah teecu serahkan kepada Tiauw It Locianpwe untuk dididik,"
Jawab Lin Hwa dengan penuh hormat. Kong Sian lalu menceritakan pengalaman mereka di puncak Kunlun-san dan Pek Seng Hwesio mengangguk-angguk sambil berkata.
"Pantas saja tadi ketika pinceng mengunjungi Kunlun, di sana tidak ada siapa-siapa. Suhumu Beng Hong Toyu telah turun gunung dan pinceng tidak dapat bertemu dengan dia. Tadinya pinceng memang bermaksud mencari Ong-toanio ini yang menurut perkiraan pinceng tentu berada di Kunlun-san oleh karena mendiang suaminya atau suhengmu adalah anak murid Kunlun-pai."
"Losuhu mencari teecu ada keperluan apakah?"
Tanya Lin Hwa. Pek Seng Hwesio tersenyum.
"Memang puteramu bukan jodohku, tadinya pinceng bermaksud mengambil murid padanya, akan tetapi telah didahului oleh Tiauw It Lojin. Biarlah, Bu Eng Cu juga seorang tokoh yang berilmu tinggi dan puteramu tidak kecewa kalau menjadi muridnya."
Setelah berkata demikian, Pek seng Hwesio lalu berkelebat dan pergi dari situ.
Kong Sian dan Lin Hwa saling pandang dengan penuh takjub.
Tak mereka sangka bahwa Pek Seng Hwesio demikian lihai ilmu silatnya sehingga saikong jahat itupun agaknya jerih menghadapinya.
"Untung kau lekas datang, Kong Sian. Kalau tidak..."
"Jangan bilang untung karena aku datang, karena kalau hwesio tua itu tidak datang menolong, biarpun ada aku, agaknya sia-sia belaka,"
Kata Kong Sian sambil menghela napas.
"Kong Sian...,"
Kata Lin Hwa sambil memandang dengan tajam.
"Ya...?"
"Mengapa kau sebaik ini kepadaku?"
Kong Sian terkejut karena pertanyaan ini tak disangka-sangkanya sehingga membuat ia tak tahu harus menjawab bagaimana.
"Kenapa kau bertanya demikian? Manusia harus saling berbaik dengan sesama hidupnya."
Lin Hwa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Akan tetapi kau berbeda sekali, sahabatku. Kau... kau terlalu baik padaku, dan... dan ini tentu ada sebabnya."
Kong Sian maklum bahwa Lin Hwa menuntut kepastian darinya dan ia berpikir sekaranglah saatnya untuk menyatakan isi hatinya. Ia lalu melangkah maju dan memegang kedua tangan Lin Hwa.
"Lin-moi... aku... aku cinta padamu."
Lin Hwa tidak terkejut mendengar ini, hanya mukanya menjadi merah dan ia tidak berani menentang pandang mata Kong Sian.
Lama sekali mereka berdiam saja dan Lin Hwa juga tidak berusaha menarik kedua tangannya dari pegangan Kong Sian.
"Kong Sian... telah lama aku dapat menduga hal ini dan... dan... terus terang saja akupun suka sekali kepadamu. Kau seorang yang berhati mulia dan gagah dan takkan ada hal yang lebih membahagiakan hatiku selain dari pada menjadi... isterimu yang setia. Kau baik kepada ku dan... dan puteraku pun sayang pula kepadamu. Kau lah satu-satunya orang yang patut menjadi ayah Cin Pau."
"Lin Hwa, sayang..."
Kata Kong Sian dengan suara menggetar.
"Kong Sian, ketahuilah bahwa aku memang hendak mencari makam suamiku untuk minta perkenan agar aku boleh... kawin denganmu, yakni kalau... kalau kau meminangku..."
Ia menundukkan kepala dengan malu-malu.
"Tentu saja aku suka meminangmu, Lin Hwa. Akan teranglah dunia ini bagiku dan akan bahagialah hidupku apabila kau sudi menjadi isteriku."
"Biarpun aku seorang janda yang telah mempunyai seorang putera dan kau..."
"Biarpun kau seorang janda, akan tetapi tidak ada duanya di muka bumi ini."
"Dan kau..."
"Dan aku bagaimana?"
"Dan biarpun kau masih muda belia, masih jejaka, tidak malukah kelak mengawini seorang janda yang sudah berputera?"
Ucapan ini bagaikan kilat menyambar kepala Kong Sian.
Tiba-tiba ia melepaskan kedua tangan Lin Hwa, lalu menjatuhkan diri terduduk di atas lantai dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.
"Kong Sian! Ada apakah...? Kong Sian, maafkan kalau aku bersalah, kalau aku mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaanmu. Kong Sian..."
Lin Hwa memeluk bahunya.
"Tidak, Lin Hwa, tidak! Kau tidak bersalah apa-apa. Akulah yang bersalah, akulah yang sesat dan aku yang telah menipumu!"
"Kong Sian, apa maksudmu?"
Kong Sian menurunkan kedua tangannya dan Lin Hwa menjadi terkejut sekali melihat betapa pucat wajah pemuda itu dan dua titik air mata telah keluar dari matanya.
"Lin Hwa, selama ini aku telah berlaku curang kepadamu. Aku... aku telah berlaku pengecut, tidak berani mengaku terus terang, sebenarnya, sebenarnya... aku telah mempunyai seorang isteri!"
Pada saat itu, tangan kanan Lin Hwa masih ditaruh di atas pundak Kong Sian dan ketika mendengar ini, Lin Hwa secepat kilat menarik kembali tangannya, seakan-akan pundak pemuda itu terasa panas membakar tangannya.
Wajahnya pucat sekali dan ia bertanya.
"Apa... apa artinya ini semua?"
Dengan cepat Kong Sian lalu menuturkan bahwa semenjak menolong Lin Hwa dulu, ia telah jatuh hati kepadanya akan tetapi apa daya, ia telah bertunangan semenjak kecil dan ketika ibunya mendesak, ia tak dapat menolak hingga akhirnya ia terpaksa kawin dengan Oey Bi Nio, tunangannya semenjak kecil, Akan tetapi ia tak merasa berbahagia dalam perkawinan itu dan bahkan merasa tersiksa.
Semua ini ia ceritakan kepada Lin Hwa dengan sedih sekali.
Lin Hwa mendengarkan dengan kalbu terasa hancur dan hati perih.
Akan tetapi, wanita gagah ini dapat menekan perasaannya dan tidak memperlihatkan reaksi sesuatu pada mukanya.
Ia diam saja, bahkan ketika Kong Sian bertanya.
"Bagaimana pikiranmu, Lin Hwa? Apakah hal ini merobah perasaanmu terhadap aku?"
Ia menjawab.
"Kong Sian, kau tidak tahu akan perasaan seorang wanita. Kalau sekali wanita itu menyatakan cintanya, ia takkan dapat merobahnya lagi, sebaliknya kalau sekali menyatakan bencinya, iapun takkan dapat melenyapkannya dengan mudah. Aku suka kepadamu dan betapapun juga, aku tetap akan suka kepadamu!"
Bukan main girang hati Kong Sian dan ia ingin memeluknya, akan tetapi Lin Hwa mengelak dan tersenyum berkata.
"Bukankah kau tadi sudah pergi mencari makanan? Mana makanan itu?"
Kong Sian tertawa dan menyatakan bahwa kelinci yang ditangkapnya telah lari lagi, ketika ia menolong Lin Hwa tadi.
"Sayang sekali,"
Kata Lin Hwa dengan sungguh-sungguh.
"Aku ingin sekali makan daging kelinci."
Pada saat ini, tidak ada makanan yang lebih lezat dari pada daging kelinci bagiku."
Kong Sian memandang heran lalu berkata sambil tertawa, (Lanjut ke
Jilid 04) Pembakaran Kuil Thian Lok Si (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 04
"Apa sukarnya? Biarlah aku menangkap seekor lagi untukmu!"
"Pergilah, Kong Sian, dan tangkaplah seekor yang besar!"
Dengan hati girang Kong Sian perrgi mencari kelinci.
Hatinya girang sekali oleh karena kini ia tidak menaruh hati was-was lagi.
Dulu ia seringkali merasa berdebar kuatir karena Lin Hwa belum tahu bahwa ia telah beristeri.
Ia takut kalau-kalau hal ini akan memutuskan hubungannya dengan wanita yang dicintainya itu.
Akan tetapi sekarang, ia telah menceritakan semua dan Lin Hwa tidak berubah perasaannya.
Ia masih menyinta.
Sekali sayang, selamanya tetap sayang, katanya.
Alangkah merdu dan indahnya kata-kata ini.
Kong Sian sengaja mencari dan menangkap seekor kelinci putih yang besar dan gemuk untuk menyenangkan hati Lin Hwa, maka perginya agak lama juga.
Setelah berhasil menangkap seekor ia lalu kembali dengan cepat dan dengan hati girang "Lin Hwa...!
Lihat ini, aku telah menangkap seekor yang muda dan gemuk!"
Serunya bangga ketika tiba di luar kelenteng. Akan tetapi, Lin Hwa tidak nampak keluar. Ia lalu melompat sambil memegang kelinci itu pada kedua telinganya.
"Lin Hwa...!"
Akan tetapi wanita itu tidak berada di bawah meja.
Ia mencari-cari sampai di belakang kuil sambil memanggil-manggil, akan tetapi sia-sia, Lin Hwa tidak kelihatan.
Kong Sian mulai cemas.
Jangan-jangan saikong jahat itu datang lagi dan pergi menculik Lin Hwa.
Mengingat akan hal ini kedua kakinya menggigil.
"Lin Hwa...!"
Teriaknya keras sekali agar dapat terdengar oleh wanita itu.
Karena biarpun andaikata Lin Hwa terculik, dan dibawa lari, tentu ia akan mendengar teriakan ini dan akan menjawab.
Ia memasang telinga baik-baik, akan tetapi tidak terdengar jawaban dari Lin Hwa.
Kong Sian melemparkan kelinci yang berada ditangannya hingga untuk kedua kalinya.
Kelinci yang sudah ditangkap lari lagi.
"Lin Hwa...!"
Berulang kali Kong Sian memanggil sampai suaranya menjadi serak.
Dikerahkannya khikangnya untuk membuat suara panggilan ini melayang jauh.
Kemudian dengan hati kuatir sekali ia lalu kembali ke dalam kelenteng untuk melakukan pemeriksaan.
Kalau terjadi pertempuran, tentu ada tanda-tandanya di situ.
Ketika ia tiba di tempat di mana tadi Lin Hwa duduk, ia melihat coretan-coretan aneh di atas lantai.
Ia lalu mendekati dan tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas.
Ternyata bahwa coretan-coretan itu adalah tulisan Lin Hwa yang dilakukan dengan mempergunakan arang hitam bekas api unggun.
Tulisan ini singkat saja dan berbunyi.
"Mari kita lawan musuh dalam dada kita sendiri"
Kata-kata ini singkat, akan tetapi mengingatkan Kong Sian akan nasehat suhunya ketika ia hendak turun gunung bersama Lin Hwa.
Ia dapat menangkap artinya.
Ternyata Lin Hwa bersedia berkorban, bersedia mengundurkan diri dan tidak hendak mengganggu rumah tangganya.
Ia tahu bahwa Lin Hwa juga menderita batinnya karena wanita itupun mencintainya dan tetap akan mencintainya.
Karena itu ia mengajak melawan musuh dalam dada sendiri-sendiri.
Alangkah mulianya hati wanita itu.
"Lin Hwa..."
Kong Sian berbisik dengan hati hancur dan tubuh lemah.
Ia tidak hendak mengejar karena akan percuma saja dan sedikit coretan di atas lantai itupun membuat dia sadar bahwa hubungan mereka memang tak mungkin dilanjutkan.
Bagaimana dengan Bi Nio, isterinya?
Kalau ia menceraikannya, apakah ia takkan menghancurkan hati isterinya dan juga menghancurkan hati ibunya?
Ah, nasib...
Kong Sian menutup mukanya dan air mata mengalir melalui cela-cela jari tangannya.
"Lin Hwa..."
Kembali ia berbisik lemah.
Ketika Kong Sian berseru keras memanggil namanya, Lin Hwa yang belum lari jauh mendengar juga, dan suara ini seakan-akan menarik-nariknya untuk segera kembali.
Lin Hwa sambil menyucurkan air mata lalu menggunakan jari-jari tangan untuk menutup telinganya dan berlari terus makin cepat.
Masih saja panggilan suara Kong Sian yang keras menembus penutup telinga dan terdengar olehnya.
"Tidak... tidak... tidak...!!!"
Ia menjerit sambil berlari terus dan air matanya mengucur makin deras.
Pemberontakan kaum tani yang berhasil menumbangkan kekuasaan kaisar Tang yang melarikan diri mengungsi ke Secuan itu, hingga ibu kota Tiang-an dikuasai oleh pemberontak pula, ternyata tidak dapat tahan lama.
Kaisar yang melarikan diri itu lalu mengadakan persekutuan dengan tentara Turki barat yang disebut Shato dan dengan bantuan tentara Turki yang besar jumlahnya dan kuat ini, kaisar lalu menyerbu kembali ke Tiang-an.
Kembali rakyat mengalami perang hebat dan pasukan petani menderita kekalahan besar sehingga pemimpin pemberontak Oey Couw akhirnya berputus asa dan membunuh diri di puncak gunung Thai-san.
Hal ini terjadi lima tahun kemudian setelah pemberontakan terjadi.
Un Kong Sian yang mengalami berbagai kekecewaan dan bahkan kemudian menderita "patah hati"
Dalam hubungannya dengan Ong Lin Hwa, setelah berpisah dengan Lin Hwa lalu kembali ke Tiang-an.
Ibunya dan isterinya terkejut sekali melihat betapa Kong Sian menjadi kurus dan nampak sedih.
Setelah didesak-desak oleh ibunya, akhirnya sambil menangis Kong Sian menceritakan dengan terus terang, bahkan mengaku bahwa ia tak dapat hidup terus dengan Bi Nio biarpun isterinya itu cukup baik dan setia.
"Ampunkan anakmu yang malang ini, ibu. Aku tidak dapat menipu dan mengkhianati Bi Nio lebih lama lagi. Aku tak dapat mencintainya oleh karena hatiku telah tertambat sepenuhnya kepada Lin Hwa. Aku tak dapat menjadi suami Bi Nio pada lahirnya akan tetapi mengasihi wanita lain di dalam hati."
Ibunya merasa berduka dan kecewa sekali dan Bi Nio yang mengetahui hal ini lalu pulang ke rumah orang tuanya yang kaya dan akhirnya dikabarkan bahwa ia mencukur gundul kepalanya dan menjadi nikouw.
Kong Sian tinggal dengan ibunya yang selalu berduka karena memikirkan keadaan putera tunggalnya itu hingga akhirnya ibu yang telah tua ini jatuh sakit sampai meninggal.
Un Kong Sian lalu menjual semua barang dan rumah, setelah mengumpulkan hasil penjualan itu ia membawanya ke kuil Thian-Lok-Si, di mana ia lalu mendermakan semua uang itu kepada kuil tersebut dan dengan suara sedih ia berlutut dan menuturkan kepada Pek Seng Hwesio tentang segala pengalamannya.
Hwesio itu tersenyum maklum.
"Anak muda, kau hanya mengalami kepahitan hidup yang hanya dapat diderita oleh orang-orang yang masih belum sadar. Kepahitan-kepahitan hidup itu memang telah diramalkan oleh Sang Buddha dan pengalaman-pengalaman seperti itu memang selalu akan menimpa manusia yang belum sadar. Pinceng hanya dapat merasa iba kepadamu."
"Suhu, teecu telah kehilangan pegangan, teecu hidup sebatang kara tanpa cita-cita dan tanpa tujuan. Tolonglah Suhu."
Pek Seng Hwesio berkata tenang.
"Pertolongan apa lagi yang dapat diberikan oleh seorang Hwesio tua dan miskin seperti pinceng selain penerangan tentang kebatinan? Kalau kau suka menjadi muridku dan menjadi hwesio, mungkin akan terobat hatimu yang terluka itu."
Dengan serta merta Kong Sian menyatakan suka dan sanggup, maka sekali lagi di dalam kuil Thian-lok-si, rambut kepalanya dicukur gundul.
Akan tetapi, kalau dulu ia dicukur untuk melakukan penyamaran dan kini ia dicukur betul-betul untuk menjadi seorang hwesio.
Ketika kepalanya dicukur, tak dapat tidak ia teringat dan terkenang lagi akan pengalaman ketika ia dan Lin Hwa mencukur rambut di kuil ini dulu hingga tak tertahan lagi ia mencucurkan air mata.
Pek Seng Hwesio lalu memberi nama padanya dan nama baru ini tidak banyak berbeda dengan namanya sendiri karena hanya dibalikkannya saja, yakni Sian Kong Hosiang.
Demikianlah bertahun-tahun Sian Kong Hosiang menjalani ibadat dan selain mempelajari ilmu kebatinan menurut ajaran Sang Buddha, juga ia mempelajari ilmu silat yang tinggi dari Pek Seng Hwesio hingga ilmu kepandaiannya bertambah pesat sekali.
Bukan main girang hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian Pek Seng Hwesio benar-benar tinggi bahkan mungkin tak kalah tingginya dari suhunya yang dulu, yakni Beng Hong Tosu, tokoh Kunlun-san.
Waktu lewat dengan tak terasa dan cepat sekali, hingga tahu-tahu tujuh belas tahun telah lewat semenjak terjadinya peristiwa pembasmian keluarga Khu dan Ma.
Pada suatu hari, dari sebuah lereng bukit di pegunungan Gobi yang luas, turun seorang berpakaian merah dengan tindakan kaki cepat seakan-akan ia melayang atau terbang saja.
Ternyata bahwa orang yang berpakaian merah ini adalah seorang gadis muda berusia enam belas tahun yang sedang berlari mempergunakan ilmu ginkang yang luar biasa hingga nampaknya ia tidak menginjak tanah.
Mata orang biasa hanya akan melihat berkelebatannya bayangan merah saja dan mata ahli silat tentu akan terkejut sekali karena melihat bahwa gadis muda itu sedang mempergunakan ilmu lari cepat Keng Sin Sut yang luar biasa.
Dara ini cantik jelita dan manis sekali.
Pakaiannya yang berwarna merah berkibar-kibar tertiup angin ketika ia lari, rambutnya yang hitam halus dan panjang itu dikuncir menjadi dua dan ujungnya bergantungan di punggung, bersembunyi di bawah mantelnya yang lebar dan panjang berwarna kuning.
Kedua kakinya kecil, bersepatu warna hitam, gerakannya demikan gesit dan ringan seakan-akan rumput yang kena injakpun tidak rusak.
Di pinggang kirinya tergantung sebatang pedang panjang yang gagangnya diukir indah berbentuk kepala naga dengan terhias ronce-ronce biru.
Sukar untuk melukiskan kecantikan wajah dara ini, karena segala bagian yang terkecil pun menarik hati dan menggairahkan kalbu hingga sekali mata orang tertuju kepadanya, takkan mudah bagi orang itu untuk mengalihkan pandangannya.
Entah apanya yang paling menarik hati, entah sepasang matanya yang lebar dan kocak, bersih bening bagaikan mata burung hong itu, atau hidungnya yang lurus kecil dan mancung, atau bentuk bibirnya yang merah, kecil penuh dan melengkung sempurna bagaikan bentuk gendewa itu.
Mungkin sekali setitik kecil tahi lalat di sudut bibir yang membuatnya nampak begitu manis dan ayu, atau potongan tubuhnya yang ramping atau kulitnya yang putih kuning dan halus.
Ah, sukarlah untuk memilih mana yang paling menarik, dan lebih mudah untuk menyatakan bahwa dara ini memang seorang gadis yang cantik jelita dan sikapnya gagah.
Gadis muda ini bukan lain ialah Gak Siauw Eng.
Gak Siauw Eng atau Ma Siauw Eng, puteri mendiang Ma Gi dan Kwei Lan.
Seperti diketahui, nyonya janda Ma Gi yang bernama Kwei Lan itu dilarikan oleh perwira Gak Song Ki dan kemudian setelah Siauw Eng terlahir, nyonya janda itu menjadi isteri Gak Song Ki yang tampan dan gagah.
Ketika Kwei Lan melihat betapa besar rasa sayang suaminya kepada Siauw Eng, maka ia tidak menaruh hati keberatan ketika Gak Song Ki mengusulkan supaya she anak tirinya itu dirobah, hingga Siauw Eng yang tadinya she Ma, menjadi she Gak.
Semenjak kecil, Siauw Eng telah mendapat didikan sastera dari ibunya dan ilmu silat dari ayah tirinya yang dianggapnya ayah tulen itu.
Ternyata bahwa Siauw Eng berotak cerdas sekali, terutama dalam pelajaran ilmu silat.
Setiap jurus pukulan baru dilatih satu dua kali saja telah dapat dilakukannya dengan gerakan sempurna hingga makin sayanglah Gak Song Ki kepadanya.
Setelah Siauw Eng berusia dua belas tahun, habislah sudah semua kepandaian Gak Song ki dipelajarinya dan dalam usia semuda itu Siauw Eng telah memiliki kepandaian tinggi dan lihai.
Melihat kemajuan anak ini dan bakat besar yang dipunyainya, Gak Song Ki lalu mengirim mengirim Siauw Eng ke Gobi-san, ke tempat pertapaan suhunya, yakni Cin San Cu.
Pertapa yang sakti ini begitu melihat Siauw Eng, timbul rasa kagumnya karena benar-benar anak ini memiliki bakat besar untuk menjadi seorang pendekar, maka dengan girang ia lalu menerima Siauw Eng menjadi muridnya.
Semenjak itu, Gak Siauw Eng tinggal di Gobi-san, ikut suhunya belajar silat tinggi, bahkan ketika Bok San Cu, sahabat baik dan saudara seperguruan Cin San Cu, datang ke Gobi-san dan melihat Siauw Eng, tosu inipun lalu menurunkan kepandaiannya pula.
Dengan semangat dan tekun sekali Gak Siauw Eng mempelajari ilmu pedang Pek Tiauw Kiam Hwat (ilmu pedang rajawali putih) dan Sin Coa Kiam Hwat (ilmu pedang ular sakti) dari Bok San Cu, dan mempelajari ilmu silat tangan kosong dan latihan iweekang dan ginkang dari Cin San Cu.
Tentu saja, digembleng oleh dua orang tokoh Gobi-san yang berilmu tinggi ini, Siauw Eng mendapat kemajuan pesat sekali dan ketika ia telah hampir lima tahun belajar ilmu silat di bawah asuhan dua orang guru besar itu, ia telah menjadi seorang gadis yang gagah perkasa dan lihai sekali.
Sebetulnya, menurut kedua orang suhunya, ia masih harus mematangkan pelajarannya sedikitnya dua tahun lagi, akan tetapi oleh karena Siauw Eng telah merasa rindu sekali kepada ayah bundanya yang telah ditinggalkannya hampir lima tahun lamanya, maka dara itu memohon dan mendesak kedua gurunya untuk memperkenankan ia turun gunung dan pulang ke rumah orang tuanya.
"Muridku, dengan dua macam Kiamhwat yang telah kau pelajari dengan baik itu, kau tak usah takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun,"
Kata Bok San Cu yang memang memiliki watak sombong dan mengagulkan kepandaian sendiri.
"Akan tetapi kau harus melatih diri baik-baik karena gerakan-gerakanmu belum sempurna benar, baru delapan bagian yang sempurna."
"Tentu akan teecu perhatikan, suhu, akan tetapi betul-betulkah tidak akan ada orang yang dapat mengalahkan ilmu pedang teecu?"
Tanya Siauw Eng yang semenjak kecil dimanja orang tuanya dan kini dimanja kedua suhunya hingga dara inipun menjadi angkuh dan merasa dirinya paling pintar.
"Kalau ada yang mengalahkan ilmu pedangmu, aku Bok San Cu hendak melihat siapa orangnya?"
Kata guru itu membesarkan hati Siauw Eng.
"Siauw Eng,"
Kata Cin San Cu yang lebih tua dan lebih sabar sikapnya.
"betapapun juga, kau jagalah dirimu baik-baik dan jangan sekali-kali memandang rendah kepandaian orang lain karena di dunia ini banyak sekali terdapat orang pandai. Kau pulanglah dan bantulah ayahmu yang menghadapi banyak kesukaran. Sekarang setelah pemerintah telah kembali dalam tangan Kaisar, maka tentu banyak terjadi kekacauan yang ditimbulkan oleh sisa-sisa pemberontak, maka sudah menjadi tugasmu sebagai puteri seorang komandan perwira untuk membantu mengamankan seluruh negeri. Kalau kau bisa membantu dan berjasa, berarti kau telah membalas dan menjunjung tinggi nama kami berdua sebagaiguru-gurumu."
Siauw Eng menyanggupi dan setelah mendapat berbagai nasehat dari kedua gurunya yang amat sayang kepadanya itu, ia lalu turun gunung.
Ia berangkat pagi-pagi benar dan pagi hari yang cerah itu menimbulkan kegembiraan hatinya.
Ia merasa girang dan gembira karena kini ia telah mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan sedang pulang untuk bertemu kedua orang tuanya.
Alangkah rindunya kepada kedua orang tua itu, terutama sekali kepada ibunya.
Dalam kegembiraannya, Siauw Eng berlari cepat sekali sehingga ia hanya merupakan bayangan merah yang maju cepat dari atas lereng bukit.
Daerah Gobi-san amat luasnya, hingga biarpun Siauw Eng mempergunakan ilmu lari Hui Heng Sut yang tinggi dan dalam sehari saja dapat melalui ratusan li, akan tetapi setelah melakukan perjalanan selama tiga hari, barulah ia keluar dari daerah Gobi yang luas.
Ia berjalan terus menuju ke timur dan belum melalui kota besar, baru melalui beberapa buah dusun yang amat kecil sederhana, dusun para petani miskin yang hidup seakan-akan terasing dari kota-kota besar.
Pada suatu hari, Siauw Eng tiba dalam sebuah hutan pohon Siong yang liar dan besar.
Ia mendapat keterangan dari penduduk dusun di luar hutan itu bahwa hutan ini amat panjang, lebih dari tiga puluh li jauhnya dan di dalamnya banyak terdapat binatang buas dan kabarnya belum lama ini ada serombongan perampok bersarang di hutan itu.
Akan tetapi, Siauw Eng hanya tersenyum saja mendengar penuturan ini dan sama sekali tidak nampak gentar, bahkan ia berkata dengan lagak sombong.
"Kebetulan sekali, lopek, sudah lama aku tidak makan daging naga dan harimau, dan sudah lama pula aku tidak membasmi gerombolan perampok!"
Mendengar ini, orang dusun yang sudah tua itu memandangnya dengan kaget dan heran, kemudian ia berdiri tercengang ketika melihat betapa dengan sekali berkelebat saja, tubuh dara baju merah itu telah lenyap dari depannya.
Empek-empek ini menggeleng-gelengkan kepalanya dan berbisik.
"Siluman atau bidadarikah ia?"
Dengan hati tabah, Siauw Eng masuk ke dalam hutan yang memanjang dari barat ke timur.
Benar saja, hutan itu liar sekali hingga di situ belum ada jalan kecil atau lorong yang biasa dilalui orang.
Terpaksa ia mencabut pedangnya dan membacok roboh semua penghalang berupa rumput-rumput dan tetumbuhan kecil lainnya.
Kadang-kadang ia menghadapi jurang yang lebar dan curam karena hutan itu berada di lereng bukit, akan tetapi dengan gesit ia lalu melompati jurang itu.
Hampir setengah hari ia berjalan perlahan karena tak mungkin berjalan cepat di dalam hutan liar itu, akan tetapi ia tidak bertemu dengan seekor binatang buas pun, kecuali beberapa ekor musang dan kelinci yang indah dan banyak sekali burung-burung yang berkicau merdu.
Ia tersenyum geli kalau teringat kepada orang dusun tadi yang dianggapnya selalu melebih-lebihkan.
"Memang benar kata suhu,"
Pikirnya dengan hati geli.
"orang tak boleh merasa takut, karena rasa takut menimbulkan khayal yang bukan-bukan. Mungkin seekor kucing akan kelihatan seperti harimau dan seekor ular biasa kelihatan seperti naga oleh petani yang penakut tadi."
Sambil masih tersenyum-senyum geli dan menyabet-nyabetkan pedangnya pada serumpun alang-alang yang tinggi dan yang menghadang di depannya, Siauw Eng melanjutkan perjalanannya.
Tiba-tiba ia mendengar orang berlari di depan dan ketika ia memandang, ternyata bahwa dari jauh datang tiga orang laki-laki dengan tombak di tangan, dan mereka ini berlari-lari keras bagaikan dikejar setan.
Ketika mereka tiba di dekat tempat Siauw Eng dan melihat banyak pohon di situ, mereka berlumba memanjat pohon yang tinggi sambil membawa tombaknya.
Seorang di antara mereka ketika melihat Siauw Eng, cepat berseru.
"Nona, cepat...! Lekas kau naik ke pohon! Macan iblis mendatangi dari sana! Lekas...!"
Akan tetapi, Siauw Eng tidak mau mempedulikan seruan ini dan berdiri dengan tenang sambil menanti datangnya macan iblis yang mereka takutkan itu.
Dan tak lama kemudian, datanglah harimau itu dan diam-diam Siauw Eng juga merasa terkejut karena binatang itu sungguh besar dan tinggi seperti seekor lembu muda.
"Nona panjatlah pohon di dekatmu itu!"
Kembali pemburu itu berteriak dengan suara gemetar.
Mereka itu berpakaian seperti pemburu-pemburu yang gagah, akan tetapi kini melarikan diri dari seekor harimau yang seharusnya diburunya.
Sungguh lucu, pikir Siauw Eng, yang diburu memburu dan yang memburu menjadi buruan.
Akan tetapi ia tidak sempat memikirkan kelucuan ini terlebih jauh oleh karena pada saat itu terdengar auman keras sekali hingga menggetarkan seluruh hutan, bahkan seorang di antara pemburu yang telah duduk dengan amannya di atas cabang tertinggi, hampir terjatuh dari tempat duduknya oleh karena tubuhnya menggigil dan lemas mendengar auman harimau yang dahsyat itu.
Siauw Eng berlaku waspada karena menduga bahwa harimau itu pasti akan menyerangnya dengan sebuah lompatan seperti biasa harimau menyerang.
Dulu ia pernah ikut suhunya menangkap seekor harimau hingga tahu akan gerak-gerik penyerangan binatang liar itu, Akan tetapi harimau yang ditangkap gurunya dulu tidak ada setengahnya dari harimau yang berdiri dihadapannya sekarang ini.
Dugaannya benar karena tiba-tiba harimau itu merendahkan tubuh dan kemudian melompat dengan sebuah terkaman hebat.
Agaknya ia hendak merobek tubuh calon mangsa berwarna merah ini dengan sekali terkam.
Akan tetapi, lebih cepat lagi Siauw Eng mengelak dengan sebuah lompatan ke kanan.
Sambil melompat, dara itu membalikkan tubuh hingga sebelum harimau itu berbalik, ia telah lebih dulu menghadapi harimau itu dari samping.
Tanpa menyia-nyiakan waktu, ia lalu menusuk dengan pedangnya ke arah kaki belakang, akan tetapi alangkah heran dan terkejutnya ketika tiba-tiba ekor harimau itu menyabet dan hampir saja lengannya yang memegang pedang kena sabet.
Ekor itu menyabet keras bagaikan pecut dan melenggak-lenggok bagaikan ular hingga berbahaya sekali.
Siauw Eng cepat menarik kembali tangannya dan kini ia lebih berhati-hati pula karena ternyata bahwa macan ini lihai sekali dan pantas saja disebut macan iblis oleh pemburu-pemburu itu.
Sementara itu, ketika harimau tadi menerkam, ketiga orang pemburu yang berada di atas pohon telah menutup mata masing-masing karena mereka tidak tega melihat betapa tubuh gadis baju merah yang luar biasa cantiknya itu dirobek-robek oleh kuku dan gigi harimau.
Akan tetapi, ketika tidak terdengar sesuatu, mereka merasa heran dan membuka mata.
Alangkah heran dan girang hati mereka ketika melihat betapa Siauw Eng masih hidup dan masih menghadapi harimau itu dengan pedang di tangan dan dengan sikap tenang.
Ternyata dara baju merah itu telah berhasil mengelakkan diri dari terkaman macan yang mereka takuti itu.
Luar biasa sekali!
Mereka lalu duduk dan menonton pertempuran yang terjadi dan kini terbukalah mata mereka karena heran dan takjub melihat sepak terjang Siauw Eng.
Gadis baju merah itu loncat sana loncat sini dengan amat lincahnya, mempermainkan harimau itu dan mengelak dari setiap terkaman dan sambaran kaki harimau, bahkan kadang-kadang mencibirkan bibirnya yang manis, tertawa-tawa mengejek dan meniru-niru geraman binatang yang makin lama makin panas dan marah itu.
Dengan terkaman yang dahsyat, yakni mengembangkan keempat kakinya ke kanan ke kiri dan tubuhnya ditekuk hingga dapat digerakkan pula mengikuti ke mana korbannya hendak mengelak.
Inilah terkaman luar biasa hebatnya karena apabila Siauw Eng mengelak, tentu harimau itu sebelum turun dapat melanjutkan terkamannya dan mengubah luncuran tubuhnya.
Agaknya tiada jalan lagi bagi Siauw Eng dan untuk balas menyerang, seakan-akan ia hanya akan mengadu jiwa.
Ketiga orang pemburu sudah menahan napas karena melihat betapa harimau itu menubruk hebat dan dara baju merah itu masih belum bergerak seperti orang ragu-ragu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar Siauw Eng berseru nyaring dan tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke atas, lebih tinggi dari lompatan harimau itu.
Tentu saja hal ini membuat harimau itu tidak berdaya karena tak mungkin ia menggerakkan tubuhnya berbalik ke atas, dan sebelum keempat kakinya kembali ke atas tanah, tiba-tiba ia merasa ekornya sakit sekali.
Ia mengaum keras dan memutar-mutar tubuhnya cepat sekali seakan-akan hendak menggigit ekor sendiri, dan ternyata bahwa ekornya yang panjang itu telah terpotong di tengah-tengah oleh sabetan pedang Siauw Eng yang dilakukan ketika ia masih berada di udara dan pada saat harimau itu tidak menyangka.
Setelah kehilangan ekornya, gerakan harimau itu tidak sehebat tadi dan kegesitannya banyak berkurang.
Agaknya selain merasa sakit, iapun mulai jerih menghadapi makhluk warna merah yang luar biasa ini.
Tubrukannya makin lemah dan jarang, sedangkan aumnya juga berbeda, seringkali ia berdiri saja sambil menggerak-gerakkan kepala seperti sedang ketakutan.
Akan tetapi Siauw Eng tidak mau memberi hati kepadanya dan kini dara ini balas menyerang dengan pedangnya.
Hebat sekali serangannya dan harimau itu tidak kuasa mengelak lagi.
Sambil mengaum keras yang berbunyi seperti keluhan, harimau itu roboh miring ketika pedang Siauw Eng memasuki dada dan tepat mengiris jantungnya.
Setelah berkelonjotan beberapa kali, harimau yang besar dan buas dan yang telah makan banyak manusia itu mati.
Terdengar seruan-seruan kaget dari atas pohon karena sungguh mati ketiga orang pemburu itu tak pernah menyangka bahwa seorang gadis muda sehalus dan secantik itu dapat membunuh harimau iblis itu seorang diri dengan pedang dan dalam waktu sedemikian cepatnya.
Mereka melorot turun dari pohon dan berdiri memandang gadis itu dengan mata terbelalak.
Kemudian, serta merta ketiga orang itu menjatuhkan diri berlutut di depan Siauw Eng.
Mereka menghaturkan banyak terima kasih sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Siauw Eng tersenyum geli dan berkata dengan suara bangga karena penghormatan ini?
"Mengapa kalian menghaturkan terima kasih?
Biarpun harimau ini tidak kubunuh, ia juga tak dapat mengganggu kalian yang berada di atas pohon!"
"Lihiap tidak tahu, bukan saja lihiap telah menolong jiwa kami bertiga, bahkan lihiap telah menolong keselamatan jiwa orang sekampung kami."
Siauw Eng merasa heran dan lalu minta diberi penjelasan.
"Kami bertiga tinggal di kampung sebelah selatan hutan ini dan pekerjaan kami adalah pemburu. Boleh dibilang semua orang laki-laki di kampung kami adalah pemburu-pemburu yang mencari penghasilan dengan jalan memburu binatang di hutan ini. Dengan banyaknya binatang di hutan luas ini, maka untuk beberapa lama keadaan kami cukup dan hasil-hasil buruan dapat kami jual ke kampung lain.Akan tetapi, baru kira-kira sebulan ini, muncullah harimau besar ini yang tidak saja mengganggu keamanan, bahkan telah membunuh mati tiga orang kawan kami dan bahkan berani menyerang sampai ke kampung kami dan menerkam seorang anak kecil. Semenjak ada harimau ini, maka kami tidak berani memburu terlalu jauh di dalam hutan hingga penghasilan kami banyak berkurang. Maka, kini lihiap telah membunuh binatang ini, bukankah itu berarti lihiap telah menolong jiwa kami sekampung?"
Kembali ketiga orang itu berlutut dan menghaturkan terima kasih.
Bangga sekali hati Siauw Eng mendengar ini.
Baru saja turun gunung, ia telah dapat menolong jiwa orang sekampung.
Alangkah bangga dan senangnya kalau kedua suhunya mendengar tentang hal ini.
"Apakah selain harimau ini masih ada lagi binatang lain yang mengganggu kalian?"
Tanyanya. Ketiga orang pemburu itu saling pandang dan agaknya ragu-ragu untuk menjawab, akan tetapi kemudian yang tertua di antara mereka berkata.
"Lihiap, ada sebuah bencana yang telah lama mencekik leher kami akan tetapi yang sebetulnya tak berani kami ceritakan kepada siapapun juga. Namun, melihat kegagahan lihiap, kami sangat mengharapkan pertolongan lihiap untuk tidak tanggung-tanggung menolong kampung kami hingga kalau saja lihiap dapat menolong kami bebas dari gangguan yang satu ini, sampai tujuh keturunan kami akan menjunjung tinggi nama lihiap yang mulia."
Berseri sepasang mata Siauw Eng yang indah itu.
"Coba lekas katakan, siapa dan apa yang mengganggu agar dapat kubasmi sekarang juga."
Kemudian orang itu menuturkan seperti berikut.
Di sekitar hutan itu terdapat beberapa buah dusun yang biarpun kecil dan sederhana, namun cukup makmur karena banyak penghasilan didapat di daerah itu.
Setiap dusun mempunyai seorang kepala kampung sendiri yang dipilih oleh orang sedusun dan biasanya yang diangkat menjadi kepala kampung adalah orang tertua dan terkaya.
Akan tetapi, kurang lebih setengah tahun yang lalu, di daerah ini datang seorang laki-laki yang berusia kurang lebih empat puluh tahun yang mengaku di utus oleh Kaisar untuk mengepalai daerah itu.
Oleh karena ia tidak membawa bukti-bukti dan tanda-tanda ia benar-benar utusan Kaisar, tentu saja orang-orang dusun itu tidak percaya sehingga timbul perkelahian.
Akan tetapi, ternyata bahwa orang yang bernama Ci Lui itu amat kosen dan tak seorangpun di antara semua pemburu dan penduduk di daerah itu dapat melawannya.
Akhirnya, dengan menggunakan kekerasan, semua orang terpaksa menurut dan tunduk hingga Ci Lui mengangkat diri sendiri menjadi pemimpin atau kepala dari daerah itu.
Ia mengharuskan kepada setiap lurah untuk memberi bagian pajak yang besar kepadanya yang katanya harus dikirimkan ke kota raja, pada hal semua orang dapat menduga bahwa hasil perasan itu masuk kantongnya sendiri.
Ia membuat semua rumah gedung di sebuah dusun dan mengawini lebih dari lima orang gadis dusun yang tercantik.
Pendeknya, setelah mengangkat diri dengan paksa menjadi kepala daerah di situ, Ci Lui hidup seperti seorang raja dan tak seorangpun berani menentangnya.
"Sebetulnya kami tidak berani menceritakan ini kepada lihiap oleh karena kalau sampai terdengar oleh kepala kampung, kami tentu akan mendapat hukuman. Semua kepala kampung takut sekali kepadanya dan kami tidak berdaya karena memang tidak kuat melawan dia. Kalau lihiap berani dan berhasil menghalau penghalang yang satu ini, tidak saja sekampung kami, bahkan seluruh penduduk di daerah ini akan berterima kasih sekali kepada lihiap."
"Bangsat betul manusia itu!"
Siauw Eng mencaci maki.
"Mari kau tunjukkan di mana rumahnya padaku agar aku dapat memotong kedua telinganya!"
Girang sekali hati ketiga orang pemburu itu mendengar akan kesanggupan ini dan mereka lalu mengajak Siauw Eng pergi ke dusun tempat tinggal mereka.
Sambil memanggul bangkai macan yang berat itu hingga terpaksa mereka memanggul dan menggotongnya bergantian, mereka dengan wajah girang mengantar Siauw Eng.
Penduduk kampung yang melihat bahwa harimau siluman telah dapat dibunuh, menyambut dengan girang sekali, bahkan ada yang mencucurkan air mata karena girang dan terharunya.
Dan dipimpin oleh kepala kampung yang sudah lanjut usianya, semua penduduk lalu berlutut di depan Siauw Eng.
Bukan main bangga hati Siauw Eng karena benar saja seperti yang dikatakan oleh ketiga orang pemburu tadi, semua orang kampung menghormat dan menyatakan terima kasihnya dengan sungguh-sungguh dan dengan terharu.
Ketika kepala kampung menanyakan nama, dara itu menjawab.
"Namaku adalah Siauw Eng, she Gak dan aku datang dari Gobi-san."
"Kalau begitu, siocia pantas disebut Gobi Ang Sianli (Bidadari Merah Dari Gobi),"
Kata kepala kampung itu dengan suara keras hingga semua orang kampung bersorak girang menyatakan persetujuan mereka. Siauw Eng dengan muka kemerah-merahan dan mata berseri-seri menjawab.
"Kalau memang kalian hendak menyebutku demikian baiklah mulai sekarang aku memakai julukan Gobi Ang Sianli."
Kembali semua orang bersorak dan pada malam hari itu semua orang dalam keadaan pesta pora dan semua mendapat bagian daging harimau yang mereka benci itu.
Bahkan, untuk membalas sakit hati anak-anak, anak kecilpun diberi makan sedikit daging harimau.
Akan tetapi, Siauw Eng yang mendengar bahwa harimau itu telah banyak makan manusia, menjadi jijik dan tidak mau ikut makan.
Ketika ketiga orang pemburu yang bertemu dengan Siauw Eng di dalam hutan menceritakan kepada kepala kampung bahwa nona pendekar itu hendak membasmi Ci Lui, ia menjadi pucat sekali dan segera menghadap Siauw Eng.
"Lihiap,"
Katanya dengan gemetar.
"Kuharap lihiap jangan sampai mengganggu orang she Ci itu sungguhpun tidak ada keinginan yang lebih besar di dalam hatiku selain melihat manusia itu mampus sekarang juga."
Siauw Eng memandang heran.
"Eh, kau ini aneh sekali, lopek. Kau ingin melihat dia mampus akan tetapi melarang orang mengganggunya, bukankah ini bertentangan sekali?"
"Lihiap, orang itu datang dari kota raja dan agaknya ia berpengaruh sekali di sana. Kalau sampai ia diganggu dan kemudian hal ini terdengar oleh para pembesar, bukankah kampung kita akan mendapat hukuman berat?"
Siauw Eng tertawa dan menjawab.
"Lopek, jangan kuatir. Ketahuilah, aku sendiri adalah orang yang tinggal di ibukota Tiang-an dan bahkan ayahku adalah seorang perwira, seorang komandan yang memimpin pasukan besar, maka apakah yang harus ditakutkan menghadapi seorang penipu rendah seperti orang she Ci itu?"
Mendengar ini, kepala kampung segera berlutut dengan hormatnya.
"Ah, tidak tahunya lihiap adalah puteri seorang pembesar tinggi."
Biarpun hatinya merasa bangga dan senang, namun Siauw Eng merasa tak enak juga melihat kepala kampung yang tua itu berlutut di depannya.
"Sudahlah, lopek. Besok pagi saja antarkan aku menemui orang itu, hendak kulihat sampai di mana kebusukkannya."
Berita tentang kenyataan bahwa nona baju merah yang gagah perkasa itu puteri seorang pembesar tinggi, membuat semua orang makin tunduk menghormat dan kagum.
Pada keesokkan harinya, dengan diantar oleh serombongan pemburu karena kepala kampung sendiri tidak berani mengantarnya, Siauw Eng dengan langkah gagah menuju ke dusun di mana tinggal Ci Lui yang memiliki sebuah rumah gedung besar.
Orang she Ci ini keluar sendiri menyambut kedatangan serombongan pemburu yang disangkanya hendak memberi hadiah hasil buruan seperti biasanya karena memang banyak orang yang menjilat dan berusaha mengambil hatinya.
Akan tetapi ia heran sekali melihat bahwa rombongan pemburu itu tidak membawa hasil buruan, dan melihat pula bahwa mereka itu mengikuti seorang nona baju merah yang bersikapgagah dan wajahnya cantik luar biasa.
Sebaliknya Siauw Eng yang mendapat bisikan bahwa orang tinggi besar yang keluar dari gedung itu adalah Ci Lui sendiri, lalu melangkah maju dengan tindakan kaki lebar dan setelah berdiri di depan Ci Lui, ia menuding.
"Kau kah manusia jahanam yang bernama Ci Lui?"
Bukan main marah dan terkejutnya Cilui mendengar betapa nona cantik ini datang-datang memakinya manusia jahanam.
Matanya yang bundar itu bergerak-gerak berputar-putar dan sambil bertolak pinggang ia membentak.
"Perempuan hina dina yang mau mampus. Siapa kau dan dari mana kau datang? Hai, kalian membawa orang liar ini dari manakah? Dan apa maksud kalian? Awas, hal ini tentu akan kulaporkan kepada kota raja dan kalian tentu akan dihukum sebagai pemberontak-pemberontak jahat!"
Semua pemburu ketakutan dan menundukkan kepala tanpa berani bergerak. Akan tetapi Siauw Eng memperdengarkan suara sindiran sambil tertawa.
"Gertak samabal segala bajungan kecil mana dapat menakutkan aku? Eh, keparat, kalau kau memang benar seorang utusan Kaisar dari kota raja, kenalkah kau kepada seorang perwira bernama Gak Song Ki?"
Ci Lui tertawa dan membelalakkan matanya.
"Mengapa tidak kenal? Aku kenal baik Gak-ciangkun itu. Bukankah ia yang tinggal di sebelah selatan kota dan memiliki rumah gedung yang bercat kuning?"
Siauw Eng terkejut juga, akan tetapi dengan suara gagah ia bertanya lagi.
"Kalau kau kenal baik dengan Gak Ciangkun, tentu kau tahu pula bahwa dia mempunyai seorang puteri yang gagah?"
"Puterinya...?"
Ci Lui ragu-ragu dan bingung.
"O, ya, ya... aku tentu saja kenal puterinya itu yang gagah."
"Hm, bangsat rendah pembohong tolol. Akulah puteri Gak ciangkun yang datang hendak menghukummu!"
Kata Siauw Eng sambil mencabut pedangnya.
"Bagus! Kau perampok wanita dari mana dan siapakah namamu?"
Teriak Ci Lui dengan marah pula dan ketika tangannya meraba ke belakang punggung, iapun telah mengeluarkan sebatang pedang tajam.
"Dengarlah baik-baik. Aku adalah Gak Siauw Eng yang berjuluk Gobi Ang Sianli!"
Sambil berkata demikian, secepat kilat Siauw Eng lalu maju menyerang yang dapat ditangkis oleh Ci Lui dan dibalas dengan serangan hebat.
Dan keduanya lalu bertempur dengan seru dan mati-matian.
Ci Lui sebetulnya adalah seorang penjahat yang berkepandaian tinggi.
Ia pernah menjadi perampok dan belum lama ini ia bergelandangan di kota raja, bercampur gaul dengan semua buaya dan penjahat, bahkan pernah menjadi tukang pukul seorang pangerandi kota raja.
Oleh karena ini, sedikit banyak ia kenal atau tahu tentang para pembesar dan perwira di kota raja.
Ilmu silatnya cukup lihai, terutama ia telah mempelajari ilmu pedang Thai kek yang boleh juga, biarpun hanya dipelajarinya secara menjiplak dan bukan langsung dari seorang tokoh Thai Kek.
Akan tetapi, kini ia menghadapi Siauw Eng, anak murid Gobi tulen yang baru saja turun gunung setelah mendapat gemblengan hebat bertahun-tahun di bawah pimpinan ayahnya yang gagah, kemudian hampir lima tahun di bawah pimpinan Cin San Cu dan Bok San Cu.
Setelah mencoba dengan dengan segala tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak Siauw Eng, akhirnya Ci Lui terpaksa mengakui kelihaian gadis baju merah itu dan ia terdesak hebat tanpa dapat melakukan serangan balasan lagi.
Siauw Eng mempercepat gerakan pedangnya dan dengan teriakan keras.
"Lepaskan telinga kananmu?"
Pedangnya menyambar dan Cilui menjerit kesakitan ketika ujung pedang Siauw Eng membabat dan membikin daun telinganya putus.
Sambil mendekap telinga kanan yang kini tidak berdaun lagi serta mengeluarkan banyak darah itu, Ci Lui menyerang lagi dengan nekad dan mati-matian, akan tetapi sebuah tendangan kilat telah membuat pedangnya terlepas dari pegangan dan tendangan kedua membuat ia tak kuasa berdiri karena sambungan lututnya kena tendang.
Siauw Eng menggerak-gerakan pedangnya dan berkata.
"Sekarang kau mengakulah bahwa kau hanya seorang penipu rendah dan bahwa kau sama sekali bukan seorang utusan Kaisar. Baru aku mau mengampuni jiwamu."
Sementara itu, semua orang kampung yang melihat bahwa musuh besar yang diam-diam mereka benci itu telah mendapat hajaran hebat, makin lama makin banyak berkumpul dan orang-orang dusun lain juga berdatangan berikut kepala-kepala kampung mereka.
Mereka ini lalu berseru dan berteriak-teriak.
"Bunuh saja penipu ini!"
"Nah, kau mendengar itu? Ayoh membuat pengakuan!"
Bentak Siauw Eng lagi. Terpaksa Ci Lui lalu merayap berdiri dan berkata dengan suara lemah.
"Aku... aku memang bukan utusan siapa-siapa..."
Orang-orang berteriak marah dan para pemburu mengangkat tombak hendak menyerang Ci Lui, akan tetapi Siauw Eng mengangkat tangan ke atas mencegah.
"Jangan bunuh dia, aku telah memberi janjiku!"
"Lihiap, dia terlalu jahat, pantas mendapat hukuman mati!"
Teriak seorang kepala kampung dengan marah.
"Hukumannya terlalu ringan!"
Teriak orang lain. Siauw Eng lalu membentak Ci Lui.
"Kau tidak lekas minggat dari sini?"
Mendengar ini, sambil memegang tempat di mana telinganya tadi berdiri, Ci Lui lalu berkata kepada Siauw Eng.
"Lain kali kita bertemu pula!"
Lalu ia melarikan diri secepatya meninggalkan tempat itu.
Orang-orang yang berkumpul dari beberapa dusun itu dengan girang sekali lalu berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada Siauw Eng dan setelah gadis gagah ini memberi nasehat agar harta benda Ci Lui dibagi-bagi di antara mereka dengan adil dan memperlakukan serta menolong bekas isteri-isteri penipu itu dengan baik pula, lalu pergi meninggalkan dusun itu.
Benar sebagaimana ramalan ketiga orang pemburu yang dulu bertemu dengan Siauw Eng, nama gadis ini sebagai Gobi Ang Sianli, dipuji-puji dan dikenang oleh para penduduk dusun-dusun di daerah itu sampai beberapa turunan.
Beberapa pekan kemudian, Siauw Eng mulai melalui kota-kota besar hingga menggembirakan hatinya karena sudah lama sekali ia tidak pernah melihat kota-kota besar dengan rumah-rumah dan bangunan-bangunan indah.
Akan tetapi, berbeda dengan ketika ia melewati dusun-dusun, kini hampir semua mata memandangnya dengan kagum dan bahkan pandangan mata orang-orang muda yang melihatnya di dalam kota membuat ia mendongkol sekali oleh karena pandangan itu mengandung maksud kurang ajar.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa hal itu bukanlah semata-mata salahnya para pemuda itu, akan tetapi oleh karena kecantikannya memang menyolok mata sekali.
Pada masa itu, sukar sekali melihat gadis cantik oleh karena para gadis jarang meninggalkan kamar dan apabila mereka keluar selalu tentu naik joli yang menutupi seluruh tubuh mereka.
Banyak juga wanita-wanita kangouw yang melakukan perjalanan, akan tetapi belum pernah ada wanita secantik Siauw Eng yang berjalan di jalan umum dan terlihat oleh setiap orang.
Ketika pertama kali memasuki kota dan dipandang sedemikian rupa oleh orang-orang yang bertemu di jalan, memang ia merasa bangga dan senang, akan tetapi lambat laun karena terlalu banyak orang memandangnya, dengan kagum, ia menjadi jemu dan bosan.
Maka ia lalu buru-buru mencari sebuah hotel di tengah kota.
Seorang pelayan yang telah agak tua usianya menyambutnya dan pelayan yang peramah ini lalu mempersilakannya memilih kamar.
Ketika melihat betapa pandang mata pelayan tua ini sama saja dengan orang-orang di kota, Siauw Eng tidak tahan lagi untuk tidak menegur.
"Eh, Lopek! Kau ini sudah tua akan tetapi pandangan matamu sama saja dengan orang-orang lelaki muda yang kurang ajar. Agaknya semua lelaki di dalam kota ini memang kurang ajar dan tidak sopan."
Mula-mula pelayan itu terkejut mendengar teguran ini, akan tetapi ia lalu tersenyum geli dan sambil membongkok-bongkokkan tubuhnya ia berkata.
"Maaf, li-enghiong (pendekar wanita), memang kau ini luar biasa sekali. Aku memang kagum padamu, akan tetapi jangan salah sangka, lihiap, kekagumanku berbeda dengan kekaguman orang lain. Biarpun aku juga kagum melihat lihiap yang cantik seperti bidadari ini, akan tetapi aku lebih mengagumi keberanian dan kegagahanmu."
Siauw Eng senang mendengar omongan pelayan yang suka ngobrol ini, maka setelah ia mendapatkan sebuah kamar yang menyenangkan, lalu ia bertanya lagi.
"Bagaimana kau dapat mengagumi keberanian dan kegagahanku kalau kau belum menyaksikannya sendiri?"
"Li-enghiong, dengan berjalan seorang diri dan membiarkan dirimu yang cantik jelita ini kelihatan oleh umum, sudah termasuk keberanian luar biasa sekali. Jangankan diperlihatkan kepada umum, sedangkan yang disimpan-simpan juga didatangi dan dicuri orang."
Siauw Eng terkejut dan heran karena ia tidak mengerti apa maksudnya.
Kemudian dengan suara perlahan dan dengan muka menunjukkan ketakutan, pelayan tua itu lalu menceritakan bahwa di dalam kota itu telah terjadi kejahatan-kejahatan mengerikan, yakni bahwa telah beberapa pekan ini kota itu diganggu oleh seorang Jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang pekerjaannya mengganggu anak bini orang secara kejam sekali.
Dua orang gadis telah tewas dipenggal lehernya karena gadis itu berteriak minta tolong ketika ia datang di malam hari untuk mengganggu.
Bukan main marahnya hati Siauw Eng mendengar penuturan ini, akan tetapi ia tidak berkata sesuatu.
Setelah hari menjadi malam, Siauw Eng lalu mengenakan pakaian ringkas dan dengan hati-hati ia membuka jendela kamarnya dan melompat naik ke atas genteng.
Ia bermaksud untuk mencari dan membekuk penjahat yang telah membuatnya marah sekali itu.
Penjahat semacam itu harus dihukum mati pikirnya dengan gemas.
Malam itu kebetulan malam terang bulan dan langit bersih dari awan hingga keadaan cukup terang.
Ketika ia sedang berlari-lari di atas genteng rumah-rumah orang dengan gerakan demikian gesit dan ringan bagaikan seekor kucing, tiba-tiba ia melihat di atas genteng agak jauh dari situ berkelebat bayangan putih yang gesit sekali.
Berdebarlah hati Siauw Eng karena ia merasa pasti bahwa itulah penjahat yang dicari-carinya.
Karena gemasnya ia lalu mencabut pedangnya dan mempercepat gerakannya mengejar bayangan itu.
Ia merasa heran mengapa penjahat itu demikian beraninya, memakai pakaian warna putih, tidak seperti penjahat biasa yang lebih sering mengenakan pakaian warna hitam.
Akan tetapi, gerakan bayangan putih itu cepat sekali hingga sebentar saja lenyap dari pandangan matanya.
Siauw Eng merasa penasaran dan mencari-cari.
Tiba-tiba bayangan itu muncul lagi di atas rumah lain yang tak berapa jauh letaknya dari tempat di mana ia berada, maka Siauw Eng lalu melompat dan mengejar.
Tadinya Siauw Eng hendak mengintai dan melihat apa yang akan dilakukan oleh bayangan itu untuk mendapat kepastian bahwa bayangan itu memang benar penjahat yang dicarinya, akan tetapi melihat bahwa bayangan itu gesit sekali gerakkannya, maka ia kini ingin menyusul dan langsung menyerang.
Bayangan putih itu agaknya telah melihatnya, karena ia berpaling dan kemudian melarikan diri cepat sekali menuju ke luar kota.
Siauw Eng merasa penasaran dan mengejar.
Ketika orang yang dikejarnya melompat turun, iapun melompat turun dan mengerahkan ilmu jalan cepat terus mengejar.
Setelah tiba di luar kota dan berada di jalan dekat sawah, tiba-tiba bayangan itu berhenti dan menanti Siauw Eng sambil bertolak pinggang.
Siauw Eng mempercepat larinya dan mempererat pegangan pedangnya, dan setelah tiba dihadapan bayangan itu, ia melihat dengan tercengang bahwa orang itu adalah seorang laki-laki yang masih muda dan yang mempunyai wajah cakap dan tampan sekali.
Pakaiannya berwarna putih dan sederhana sekali, sedangkan kakinya mengenakan sepatu berlapis besi di bawahnya.
Rambutnya diikat ke atas dengan sehelai kain putih, dan pada ikat pinggangnya yang berwarna kuning itu tergantung sebuah kantung piauw.
Di punggungnya nampak gagang pedang beronce benang merah emas.
Sungguh seorang pemuda yang tampan dan gagah.
Akan tetapi Siauw Eng tidak mempedulikan ketampanan atau kegagahan orang, segera langsung menyerang dengan pedangnya dan membentak.
"Bangsat rendah. Bersedialah untuk mampus untuk menebus dosamu!"
Melihat sambaran Pedang Siauw Eng yang amat berbahaya itu, pemuda baju putih ini cepat mengelak dan berkata perlahan.
"Hm, garang sekali!"
Siauw Eng cepat menyerang lagi dan karena gerakan pedangnya memang cepat dan luar biasa, pemuda itu lalu mencabut pedangnya pula dan sebentar saja keduanya lalu bertarung dengan hebat.
Siauw Eng terkejut sekali karena setelah bertempur belasan jurus, ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang lawannya ini tinggi dan luar biasa sekali hingga sama sekali ia tidak dapat mendesak.
Maka ia lalu berseru keras dan mengeluarkan ilmu pedang Sin Coa Kiam hwat yang mempunyai gerakan-gerakan lihai dan tak terduga, seakan-akan serangan ular yang bersembunyi dibawah rumput.
Pemuda itu mengeluarkan seruan kagum.
Ia tidak menyangka bahwa gadis muda berpakaian merah ini demikian lihai, sedangkan tadinya ia memandang rendah.
Ketika tadi berlari-larian di atas genteng, ia mendapat kenyataan bahwa orang baju merah yang mengejarnya itu walaupun memiliki ginkang yang cukup sempurna, namun masih belum dapat mengatasi ginkangnya sendiri, maka ia memandang rendah dan sengaja menanti.
Tak diduganya sama sekali bahwa orang berbaju itu adalah seorang anak gadis jelita yang begini kosen.
Oleh karena ia memang hendak mencoba kepandaian orang, maka setelah melihat bahwa ilmu pedang Siauw Eng benar-benar tangguh dan kalau dilawan tentu akan sukar menjatuhkannya, maka tiba-tiba pemuda itu berkata.
"Sudahlah, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berlatih pedang dengan kau!"
Pedangnya lalu diputar hebat sekali sehingga mengeluarkan cahaya berkilauan dan memaksa Siauw Eng melompat mundur dengan kaget, akan tetapi saat itu digunakan oleh pemuda tadi untuk melompat pergi.
"Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana?"
"Mulutmu busuk sekali, datang-datang mengobral makian!"
Jawab pemuda itu sambil menoleh dan terus berlari menegur.
"Bangsat kurang ajar, pengecut hina dina,"
Siauw Eng memaki lagi sambil terus mengejar. Tiba-tiba pemuda itu berhenti dan memutar tubuh.
"Apa? Kau boleh memaki sesuka hatimu, akan tetapi makian pengecut hina dina itu tak dapat kuterima!"
Katanya marah sambil menangkis serangan Siauw Eng dengan pedangnya.
"Memang kau pengecut hina dina! Beraninya hanya mengganggu wanita lemah dan kalau bertemu wanita gagah lalu melarikan diri!"
Bentak Siauw Eng sambil terus menyerang lagi.
"Eh, eh, nona galak. Tahan dulu! Kau ini memaki siapakah?"
"Memaki kau, siapa lagi?"
"Apa salahku?"
"Kau penjahat Jai-hwa-cat tak tahu diri. Sudah menjadi penjahat masih berpura-pura lagi."
"Eh, eh, buka dulu lebar-lebar matamu dan lihat sedang berhadapan dengan siapa? Aku Ong Cin Pau selama hidupku belum pernah mengganggu wanita, apalagi menjadi Jai-hwa-cat "Bohong! Buktikan kalau kau memang bukan Jai-hwa-cat!"
Seru Siauw Eng. Tentu saja pemuda itu tak dapat membuktikannya, maka ia lalu tertawa dan menjawab.
"Kau berlagak pintar akan tetapi sebenarnya goblok sekali! Coba kau sekarang yang buktikan kalau aku benar-benar seorang penjahat busuk."
"Buktinya kau gentayangan di malam buta di atas rumah orang,"
Jawab Siauw Eng.
"Dan kau sendiri juga berkeliaran di atas rumah orang pada waktu yang sama."
Marah sekali gadis itu.
"Kau... kau pandai memutar lidah. Kau penjahat busuk hina dina!"
Sambil memaki-maki dengan marah sekali Siauw Eng lalu menyerang lagi dengan hebatnya, akan tetapi pemuda itu melawan dengan baiknya dan ternyata bahwa ilmu pedangnya tinggi dan lihai sekali.
"Sudahlah, kau gadis bodoh kurang pengalaman yang bisanya hanya menuduh orang secara membuta. Apa kaukira kau sendiri saja yang cukup gagah dan berani menangkap penjahat? Aku tidak mempunyai banyak waktu lagi!"
Kemudian ia lalu melompat cepat dan ketika Siauw Eng mengejar, pemuda itu lari masuk ke dalam sebuah hutan.
Siauw Eng merasa penasaran sekali.
Menurut kebiasaan orang-orang gagah, juga menurut nasehat guru-gurunya, seorang lawan yang telah lari ke dalam hutan tak boleh dikejar, oleh karena hal ini berbahaya sekali.
Akan tetapi Siauw Eng yang marah dan penasaran tidak memperdulikan pantangan ini dan terus mengejar masuk ke dalam hutan.
Pemuda yang berpakaian serba putih, berwajah tampan dan berkepandaian tinggi itu memang benar Ong Cin Pau, putera Lin Hwa dan mendiang Khu Tiong yang telah diambil murid oleh Bu Eng Cu Tiauw It Lojin si Tanpa Bayangan dan di bawa ke tempat pertapaannya, yakni di sebuah bukit di pegunungan Kunlun-san sebelah utara.
Lin Hwa, ibu Cin Pau, setelah berpisah dari Kong Sian dengan hati patah dan hancur, lalu kembali ke Kunlun-san dan akhirnya dapat mencari tempat tinggal Bu Eng Cu dan diperkenankan tinggal bertapa di sebuah gua, mendekati puteranya dan hidup mengasingkan diri di puncak Kunlun-san itu.
Cin Pau mendapat gemblengan ilmu silat dari Tiauw It Lojin selama belasan tahun, dari usia empat tahun sampai tujuh belas tahun.
Dan ketika ia telah berusia tujuh belas tahun, ibunya yang kini telah menjadi seorang pertapa itu, lalu menceritakan kepadanya tentang riwayat hidupnya yang penuh penderitaan.
Bukan main hancurnya hati Cin Pau mendengar penuturan ini.
Tadinya ia masih menyangka bahwa ayahnya adalah Kong Sian yang baik hati itu dan yang tetap dianggapnya sebagai ayah sendiri.
"Kong Sian bukanlah ayahmu, pau-ji (anak Pau), dia itu adalah pamanmu karena ia adalah sute dari ayahmu. Akan tetapi dia baik sekali, anakku, dialah orang termulia dalam dunia ini setelah ayahmu. Kita berhutang budi kepadanya dan boleh dibilang bahwa kita dapat hidup sampai sekarang ini berkat jasa dan pertolongannya."
Kemudian dengan panjang lebar Lin Hwa menceritakan betapa Un Kong Sian telah membelanya mati-matian ketika dikejar oleh para perwira kerajaan.
"Dimana dia sekarang, ibu? Mengapa pula ia yang begitu baik telah meninggalkan kita di sini?"
Ibunya tersenyum.
"Tentu saja dia harus pergi, anak bodoh. Dia mempunyai rumah tangga sendiri di Tiang-an, di rumahnya menunggu seorang ibu yang sudah tua dan seorang isteri yang setia."
"Dan di mana makam ayah dan Ma susiok yang terbinasa oleh perwira-perwira kerajaan itu, ibu?"
"Aku sendiri juga tdak tahu, anakku. Dulu ayahmu dan saudara seperguruannya itu dikepung dalam sebuah hutan di luar kota raja. Hal ini kiraku hanya Un Kong Sian yang dapat memberi keterangan karena dia itu tahu akan segala peristiwa dengan jelas."
Cin Pau termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata.
"Ibu, anak mau turun gunung!"
Ibunya terkejut.
"Eh, mengapa begitu tiba-tiba? Hendak ke mana?"
"Beritahukan kepadaku, ibu, kepada siapa aku harus menuntut balas atas kematian ayah dan Ma-susiok!"
Katanya dengan gagah. Ibunya menghela napas dan menjawab.
"Tidak ada gunanya segala balas membalas itu, nak. Dulu ibumu memang merasa penasaran sekali dan ingin menghancurkan setiap perwira kerajaan. Akan tetapi sekarang aku dapat melihat bahwa tak baik menuruti hawa nafsu. Perwira kerajaan demikian banyaknya dan aku tidak tahu senjata dan tangan siapa yang melayangkan nyawa ayahmu. Tidak mungkin dan tidak seharusnya kalau kita menaruh dendam kepada setiap perwira kerajaan, karena masih kuingat bahwa di antara para perwira itu, banyak pula yang gagah dan budiman. Kakekmu dan kakek she Ma dikhianati oleh pangeran Gu Mo Tek hingga keluarga kita dan keluarga Ma hancur binasa oleh para perwira yang hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Kaisar yang juga hanya karena sudah seharusnya membasmi mereka yang memberontak terhadapnya. Jadi pada hakekatnya, sakit hati hanyalah terhadap pangeran Gu saja dan ayah serta susiokmu telah berhasil membalas dendam itu dengan membunuh pangeran Gu Mo Tek. Kalau kuingat-ingat, aku merasa menyesal sekali mengapa ayah dan susiokmu itu juga membunuh kedua putera pangeran Gu karena kuanggap mereka tidak berdosa."
Kembali Lin Hwa menghela napas dan diam-diam ia merasa khawatir karena ia maklum pula bahwa pada waktu peristiwa itu terjadi, isteri kedua putera pangeran itu, yang seorang telah mempunyai anak dan yang kedua telah mengandung.
Mendengar kata-kata ibunya yang panjang lebar itu, Cin Pau menundukkan kepalanya dan biarpun ia masih muda, namun ia telah menerima banyak pelajaran batin baik dari ibunya maupun dari suhunya, maka pandangannya luas dan ia dapat membenarkan pendapat ibunya ini.
"Kalau begitu, biarlah anak turun gunung untuk mencari makam ayah dan untuk menghaturkan terima kasih kepada... Un Kong Sian susiok!"
"Memang seharusnya kau pergi mencari makam ayahmu, nak, dan kalau sudah tahu di mana tempatnya, kelak akupun ingin sekali melihatnya. Akan tetapi, kau harus mendapat perkenan dari suhumu lebih dulu."
Cin Pau lalu kembali ke tempat pertapaan Tiauw It Lojin untuk minta perkenan dari gurunya ini. Tiauw It Lojin tersenyum dan pertapa yang sudah tua ini lalu berkata.
"Cin Pau, memang sudah tiba waktunya bagimu untuk turun gunung. Akan tetapi, kau harus mampir dulu di tempat pertapaan Beng Hong Tosu di puncak selatan itu. Dulu aku pernah berjanji bahwa apabila kau telah tamat belajar di sini, kau akan ku kirim kepadanya untuk menerima satu dua macam pelajaran darinya. Ketahuilah, Beng Hong Tosu adalah suhu dari mendiang ayahmu. Ia seorang jago Kunlun yang tinggi ilmu silatnya."
Cin Pau sudah pernah melihat Beng Hong Tosu, karena selain dulu ketika masih kecil dan datang bersama ibunya ia pernah melihat pendeta itu, juga telah dua kali semenjak ia tinggal di pegunungan Kunlun, tosu itu datang mengunjungi Tiauw It Lojin untuk bermain catur.
Setelah berpamit dari suhunya dan ibunya, Cin Pau lalu turun gunung, mempergunakan ilmu kepandaiannya untuk berjalan cepat dan melompati jurang-jurang hingga sebentar saja ia sudah nampak mendaki puncak yang berada di sebelah selatan puncak tempat tinggal gurunya.
Ketika ia tiba di lereng bukit itu, dari jauh ia melihat bayangan Beng Hong Tosu berlari cepat dan sebentar saja pendeta tua itu telah berada dihadapannya.
Cin Pau cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Beng Hong Tosu yang ketika melihatnya lalu tertawa-tawa.
Ia membungkuk dan menggunakan kedua tangannya memegang pundak pemuda itu untuk membangunkannya.
Cin Pau tiba-tiba merasa betapa kedua tangan itu seakan-akan bukit yang menindih pundaknya, maka tahulah dia bahwa kakek pendeta ini sedang menguji tenaganya.
Dengan cepat ia lalu mengerahkan iweekangnya untuk melawan tekanan hebat itu dan tiba-tiba ia merasa tenaga tarikan yang amat hebat hingga tubuhnya hampir saja tertarik berdiri.
Akan tetapi karena ia tidak mau membikin malu suhunya yang telah menggemblengnya dengan sungguh-sungguh, ia lalu mengerahkan khikangnya dan mempertahankan diri dengan ilmu Ban Kin Cui (Beratkan Tubuh Selaksa Kati).
Menghadapi Cin Pau yang mengeluarkan ilmu ini hingga tubuhnya tiba-tiba menjadi berat seakan-akan berakar pada tanah.
Beng Hong Tosu merasa girang sekali.
Ia lalu mengerahkan kepandaiannya dan berkata.
"Anak baik, berdirilah kau!"
Bukan main hebatnya tenaga dari tokoh Kunlun-san ini, karena benar-benar tubuh Cin Pau terangkat naik ke atas, akan tetapi tetap saja tubuh pemuda itu masih berada dalam keadaan berlutut seperti tadi.
(Lanjut ke
Jilid 05) Pembakaran Kuil Thian Lok Si (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo
Jilid 05
"Bu Eng Cu benar-benar tidak menyia-nyiakan waktu baik. Pinto tak dapat mengajarmu dalam hal iweekang dan khikang, kau sudah cukup kuat. Ayoh berdirilah dan coba kau melawan pinto!"
Karena maklum bahwa pendeta sakti ini sedang mengujinya, maka tanpa ragu-ragu lagi Cin Pau lalu berdiri dan setelah berkata.
"Maaf!"
Ia lalu menyerang dengan pukulan berbahaya.
Beng Hong Tosu lalu mengelak dan membalas dengan pukulan-pukulan terlihai dari cabang Kunlun.
Biarpun keduanya berada di puncak pegunungan Kunlun, akan tetapi asal dan dasar ilmu silat Beng Hong Tosu dan Tiauw It Lojin jauh berbeda.
Memang, banyak orang mengira bahwa cabang persilatan Kunlun-pai atau cabang silat Kunlun hanya ada sebuah saja.
Pegunungan Kunlun-san adalah sebuah pegunungan yang daerahnya luas sekali sampai ratusan bahkan ribuan mil persegi, dan di atas puncak-puncak banyak bukit itu tinggal banyak sekali orang-orang sakti yang mengasingkan diri atau bertapa.
Memang, kuil tempat tinggal Beng Hong Tosu telah terkenal dan dianggap sebagai tempat pusat cabang persilatan Kunlun, akan tetapi selain di situ, masih banyak sekali guru-guru besar yang diam-diam mengajarkan ilmu silat kepada murid-muridnya, seperti halnya Bu Eng Cu Tiauw It Lojin itu.
Dalam hal ilmu silat tangan kosong, pelajaran Tiauw It Lojin masih menang setingkat dengan ilmu kepandaian Beng Hong Tosu dan hal ini terasa benar oleh Beng Hong Tosu ketika ia menghadapi serangan-serangan Cin Pau.
Pemuda ini telah mempelajari ilmu keraskan tangan latihan Bu Eng Cu yang disebut Cin Kang Kim Ko Jiu dan yang membuat tangannya selain kuat, juga memiliki tenaga pukulan lihai sekali, terutama sekali pelajaran Coat Meh Hoat semacam ilmu tiam hwat atau totokan jalan darah yang mirip dengan ilmu totok dari Butong-pai, amat mengejutkan hati Beng Hong Tosu.
Hanya berkat pengalaman dan kelihaian iweekangnya saja maka Beng Hong Tosu dapat mempertahankan diri terhadap serangan-serangan Cion Pau.
"Bagus, bagus, lihai sekali!"
Berkali-kali Beng Hong memuji dan tiba-tiba tubuhnya berjungkir balik di udara dan melompat kebelakang agak jauh.
"Cukup, sekarang marilah kita bermain pedang!"
Katanya.
Cin Pau tak membantah dan mencabut pedangnya, yakni pedang ibunya yang diberikan kepadanya ketika ia hendak berangkat.
Beng Hong Tosu yang tidak membawa pedang, lalu mematahkan sebatang ranting dari pohon yang tumbuh di situ dan melawan Cin Pau dengan ranting itu.
Kalau dalam ilmu pukulan tangan kosong, kepandaian Cin Pau boleh dibilang lebih lihai dari pada Beng Hong Tosu, adalah dalam hal ilmu pedang, pemuda ini tertinggal jauh sekali.
Ilmu pedang Kui Hwa Koan Kiam hoat dari Beng Hong Tosu bukan main lihainya, hingga biarpun yang dipegangnya bukan pedang tulen, akan tetapi hanya sebatang ranting saja, namun setelah bertempur belasan jurus saja, Cin Pau telah menjadi pening karena ujung ranting kakek itu seakan-akan telah berubah menjadi puluhan batang yang menyerangnya dari segala jurusan.
Baiknya Cin Pau memiliki ilmu ginkang yang tinggi karena suhunya yang berjuluk si Tanpa Bayangan itu memang ahli ginkang yang luar biasa, kalau tidak tentu ia telah kena dirobohkan oleh serangan-serangan ranting yang hebat ini.Akhirnya ia tak dapat menahan lagi dan buru-buru melempar pedangnya ke atas tanah dan maju berlutut.
"Teecu mohon diberi petunjuk,"
Katanya. Beng Hong Tosu tertawa senang dan ia lalu mengajak pemuda itu ke kuilnya.
"Cin Pau, dalam hal lain-lain kepandaian, pinto yang bodoh tak berani mengajarmu, hanya mungkin dalam hal ilmu pedang, pinto dapat menambah pengetahuanmu sedikit saja."
Semenjak saat itu, Cin Pau menerima latihan ilmu pedang Kui Hwa Koan Kiam-hoat yang luar biasa itu dari Beng Hong Tosu.
Dulu ayahnya, yakni mendiang Khu Tiong, Ma Gi dan juga Un Kong Sian juga mempelajari ilmu pedang Kui Hwa Koan Kiam-hoat ini, akan tetapi selama belasan tahun ini, ilmu pedang tersebut telah mengalami banyak sekali perubahan karena Beng Hong Tosu sebagai penciptanya, Tiap kali menghadapi lawan tangguh tentu dapat melihat kekurangan-kekurangan ilmu pedangnya dan oleh karenanya ia lalu mengadakan perubahan di mana perlu hingga dibandingkan dengan belasan tahun yang lalu, Kui Hwa Koan Kiam-hoat mengalami kemajuan hebat dan juga jauh lebih lihai.
Cin Pau telah memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi hingga ilmu pedang itu dapat dipelajari dengan cepat.
Dia hanya memerlukan waktu dua bulan untuk memahami ilmu pedang itu dan telah dapat memainkannya dengan baik sekali, hanya hanya perlu latihan-latihan lebih lanjut.
Bukan main girang hati Beng Hong Tosu dan ketika Cin Pau memohon diri untuk melanjutkan maksudnya merantau mencari makam ayahnya, tosu tua itu mengeluarkan sebilah pedang yang berkilauan dan putih cahayanya, memberikan pedang itu kepada Cin Pau sambil berkata.
"Muridku, kau terimalah Pek Kim Kiam ini dan pergunakanlah untuk membela keadilan dan membasmi kejahatan. Kaulah muridku yang terakhir dan terpandai, maka kau berhak menerima pedang ini dan apabila pinto telah meninggal dunia yang kotor ini, dengan pedang ini berhak menyebut diri menjadi ketua Kunlun-pai yang kudirikan."
Cin Pau menerima pedang itu dengan girang sekali karena pedang Pek Kim Kiam ini memang dibuat khusus untuk bermain ilmu pedang Kui Hwa Koan hingga berat dan ukurannya tepat sekali dan enak dipakai.
"Pedang ibumu biar kau tinggalkan saja di sini karena sekarang juga pinto hendak mengunjungi suhumu dan ibumu. Biarpun telah mengasingkan diriakan tetapi seorang wanita gagah seperti ibumu itu tidak boleh ditinggal oleh pedangnya."
Cin Pau lalu berlutut dan setelah menghaturkan terima kasih kepada suhunya yang kedua ini, ia lalu melanjutkan perjalanannya turun gunung, Semenjak kecilnya, Cin Pau diberi pakaian putih oleh ibunya yang biarpun tidak memberitahukan tentang kematian ayah anak itu, namun diam-diam ia menganggap bahwa puteranya telah berkabung untuk kematian ayahnya.
Akan tetapi, warna putih itu akhirnya menjadi warna kesukaan Cin Pau dan anak ini tidak mau dibuatkan pakaian dari lain warna.
Sekarang setelah dewasa, pakaiannya pun tetap putih dan berpotongan sederhana sekali.
Pada suatu senja, ketika Cin Pau berjalan cepat untuk keluar dari sebuah hutan dan mencari penginapan di dusun atau kota terdekat, tiba-tiba matanya yang tajam melihat bayangan dua orang yang bergerak cepat sekali memasuki hutan.
Ia lalu cepat bersembunyi di balik pohon dan ketika bayangan itu lewat, ternyata bahwa mereka ini adalah dua orang saikong atau pendeta yang bermuka jahat dan kejam.
Seorang di antaranya adalah tua, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar dan mukanya yang penuh berewok dengan sepasang mata lebar itu membuat ia kelihatan seperti seekor barongsai mengerikan.
Seorang lagi adalah seorang tinggi kurus yang bermuka pucat, juga berjubah lebar seperti seorang pendeta perantau.
Di punggung masing-masing nampak gagang pedang dan pakaian mereka yang mewah dan terbuat dari kain indah dan mahal itu cukup mendatangkan kesan kurang baik pada diri kedua orang pertama itu.
Cin Pau menjadi curiga dan diam-diam ia mengikuti mereka memasuki hutan kembali.
Baca Juga: Pendekar Tanpa Bayangan 1
Baca Juga: Pendekar Bodoh 2