Eps 6 Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo.
"Mungkinkah kau membebaskan ikatanku......?"
Siok Lan bertanya ragu-ragu karena selain belenggu tangan, juga tubuh mereka diikat.
"Simpul ikatan berada di panggung nona, jari-jari tangan saya dapat menggapainya. Mudah-mudahan berhasil, harap nona bersikap biasa sampai saya berhasil membuka belenggu yang mengikat tangan nona!"
Siok Lan tentu saja sama sekali tak pernah mimpi bahwa pelayannya itu menggunakan sinkang untuk memutus belenggu yang amat kuat dan yang mengikat kedua pergelangan tangannya.
Ia merasa betapa jari-jari tangan pelayannya meraba-raba membetot dan menarik-narik.
Hatinya makin terharu.
Semenjak pelayannya secara berterang menyatakan cinta kasih, mencintainya dengan seluruh jiwa raga dan rela berkorban jiwa, ia memandang pelayan ini dengan perasaan lain lagi.
Tak mungkin ia (Lanjut ke
Jilid 16) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16 menganggapnya seperti seorang pelayan biasa! Melainkan lebih tepat sebagai seorang sahabat, seorang biasa seperjalanan, bahkan seorang kawan senasib sependeritaan.
"Nona, di sebelah depan ada apa? Bagaimana keadaan nona?"
"Jalan sempit dan ku melihat di depan ada hutan di sebelah kanan. Di sebetah kiri curam menurun dan agaknya pinggir sungai."
"Bagus! Hari hampir gelap, kita menanti kesempatan baik. Di hutan itu nona dapat melarikan diri. Belenggu hampir terlepas......!"
Bisik Yu Lae perlahan.
"Dan engkau......?"
Siok Lan berbisik ragu.
"Saya akan berusaha lari pula. Akan tetapi jangan nona perhatikan saya. Saya akan menggunakan akal memancing perhatian mereka agar tidak memperhatikan nona. Ingat nona. Mereka itu mementingkan nona, bukan saya. Kalau tidak ada nona di sini, mungkin saya sudah dibebaskan. Mau apa mereka menangkap saya?"
"Tapi...... tapi....... bagaimana aku bisa lari meninggalkan kau, A-liok? Aku tidak mau selamat sendiri."
"Ahhh, nona yang mulia, saya hanya A-liok seorang pelayan......"
Yu Lee menggoda, hatinya terharu sekali dan penuh kebahagiaan dan untung ia duduk beradu punggung dengan gadis pujaannya itu, kalau tidak Siok Lan tentu akan melihat dua titik air matanya yang meloncat keluar tanpa dapat ia tahan lagi.
"Husshh, jangan ulangi ucapan separti itu, A-liok. Pendeknya, aku bukan seorang yang hanya memikirkan diri sendiri. Kalau aku bebas, engkaupun harus bebas!"
Begitu besarnya hati Yu Lee sehingga ingin ia pada saat itu dapat merangkul memeluk leher itu, mendekap kepala itu ke dadanya.
Akan tetapi ia menahan perasaan cintanya dan berbisik lagi tanpa menoleh sehingga para perajurit yang berada di belakang kuda tidak tahu bahwa dia bercakap-cakap.
Pemuda itu kini menggunakan ilmunya sehingga ia berbisik tanpa menggerakkan mulut.
"Nona, harap jangan berpendirian seperti itu. Kalau nona tidak bebas lebih dahulu, bagaimana saya bisa tertolong? Sebentar lagi gelap, nona harus terbebas dan sayapun akan berusaha lari. Andaikata saya gagal tetapi nona sudah bebas, bukankah nona dapat berusaha menolong saya?"
Siok Lan dapat membenarkan pendapat ini. Ia mengangguk sedikit dan berkata.
"Bagus......! Nah, hati-hati jangan sampai kentara. Belenggumu sudah terbuka, nona......"
Siok Lan menggerak-gerakkan jari tangannya dan benar saja.
Tali pengikat kedua pergelangan tangannya sudah terlepas!
Ia tidak tahu bahwa Yu Lee mematahkan tali belenggu dengan pengerahan sinkang yang amat kuat.
"Pasukan jalan terus, biar malam ini sampai ke Thian-an-bun!"
Teriak perwira muka kuning kepada pasukannya setelah malam mulai tiba.
Pasukan di sebelah depan sudah memasang obor untuk menerangi jalan dan mulailah mereka memasuki hutan kecil di sebelah depan yang berada di sebelah selatan kota Thian-an-bun, hanya belasan lie jauhnya.
"Apakah tidak berbahaya melanjutkan perjalanan malam-malam melalui hutan?"
Tanya perwira tinggi besar.
"Ahhh, Thian-an-bun hanya tinggal belasan lie lagi dan Thian-an-bun merupakan markas besar penjagaan yang kuat. Kalau ada pemberontak, tak bakalan mereka berani mampus menyerbu daerah Thian-an-bun!"
Kata si muka kuning. Akan tetapi tiba-tiba ketenangan pasukan itu diganggu oleh teriakan Yu Lee.
"Aduh-aduh-aduh...... heeeeiii, kuda nakal! Berhenti"...! Aduh celaka! Kabur! Tolong...... tolong...... tahan kuda ini, wah, binatang sialan!"
Kuda yang ditunggangi Siok Lan dan Yu Lee itu tiba-tiba menyepak-nyepak dan meloncat ke depan, menerjang pasukan yang berada di depan dengan nekad sambil meringkik-ringkik kesakitan.
Tak seorangpun tahu, juga Siok Lan tidak, betapa tadi diam-diam Yu Lee menepuk kaki kuda sampai tulangnya retak dan tentu saja kuda yang kesakitan hebat itu mengamuk dan lari ke depan, menerjang dan merobohkan beberapa orang pasukan kemudian terus lari membalap ke depan.
"Heeeii...... kuda edan...... kuda celaka. Tolong......!"
Yu Lee berteriak-teriak, akan tetapi diam dim ia mengerahkan tenaga pada kedua kakinya menjepit perut kuda, tangannya yang sudah bebas itu menyambar kendali dan membetot kuda sehingga lari menyeleweng ke kiri.
Para pasukan yang tadinya terkejut, kini menjadi panik.
"Tawanan lari......! Kejar......! Tangkap......!"
Ramailah mereka melakukan pengejaran. Para perwira yang merasa khawtir kalau-kalau tawanan mereka yang penting lolos, segera meloncat dan menggunakan lari cepat mengejar.
"Siapkan anak panah......!"
Perwira muka kuning memberi aba-aba karena ia pikir kalau ia sampai tak dapat mengejar, sebaiknya merobohkan kuda dan tawanan dengan anak panah.
"Nona, lekas turun dan lari.......!"
Yu Lee berbisik.
"Tapi...... tapi engkau......."
"Sudahlah nona. Biar saya mengacau dan menipu mereka......."
"Tidak, A-liok...... kau akan dipanah."
Mereka telah memasuki bagian yang gelap dan lebat, menyaksikan betapa nona ini sangsi dan meragu terdorong oleh rasa khawatir tentang dirinya hati Yu Lee menjadi besar sekali.
Perasaan bahagia hebat memenuhi hatinya terdorong cinta kasihnya dan tanpa pikir panjang lagi karena dorongan hasrat hati, ia lalu merangkul leher Siok Lan dari belakang, memutar tubuh nona itu sehingga mukanya menghadapinya dan......
mencium mulut itu sepenuh cinta kasih hatinya, sepenuh getaran jiwanya.
"Aughh......"
Seketika tubuh Siok Lan menjadi lemas dan hampir nona ini pingsan dalam pelukan Yu Lee.
Pemuda itu sejenak seperti terbuai dan diayun ke langit lapis ketujuh, akan tetapi segera ia teringat akan keadaan dan setelah sadar ia kaget setengah mati akan keberaniannya sendiri yang melampaui segala batas kesopanan.
"Aduh, mati aku......!"
Ia melepaskan rangkulannya.
"Kau ampunkan aku, nona biarlah kalau aku mati, ciuman itu sebagai bekal ke neraka...... Kau larilah sekarang!"
Tanpa menanti jawaban lagi, ia mendorong dan terpaksa Siok Lan meloncat dari atas kuda kalau tidak mau terguling jatuh, lalu terdengar ia terisak dan menghilang di dalam semak-semak gelap.
"Aduh...... kuda gila...... kuda celaka!"
Yu Lee berteriak-teriak dan kini membalikkan kudanya membalap dan memapaki para pengejarnya!
Tentu saja para perajurit menjadi makin panik ketika tiba-tiba derap kaki kuda yang dikejar itu memekik dan menerjang mereka.
Mereka mencari tempat perlindungan ke belakang pohon-pohon.
Akan tetapi kuda itu ternyata tidak lewat karena telah membelok pula ke kanan.
Karena hutan itu gelap, maka para perwira dan pasukannya tidak dapat melihat jelas apakah kedua orang tawanan itu masih berada di atas kuda.
Mendengar bentakan dan teriakan Yu Lee, mereka merasa yakin bahwa kedua orang tawanan itu masih di atas kuda.
Apalagi mereka itu terbelenggu erat, mana mungkin bisa lari?
Maka sambil berteriak-teriak mereka terus mengejar, tidak tahu bahwa yang berada di atas kuda kini tinggal Yu Lee seorang dan tidak tahu pula bahwa kuda itu makin menjauhi tempat di mana tadi Siok Lan melompat turun.
Bagi Yu Lee, amatlah mudahnya kalau ia mau melompat turun dan melarikan diri.
Akan tetapi ia sengaja tidak mau melakukan hal ini, karena kalau ia lakukan hal ini tentu para pasukan akan mengubek hutan itu dan besar bahayanya Siok Lan akan ditemukan mereka.
Apalagi di situ sudah dekat dengan Thian-an-bun yang menjadi markas besar.
Lebih baik dia terus mengacau dan mengalihkan perhatian, membawa pasukan jauh dari hutan agar Siok Lan dapat menyelamatkan diri dengan aman.
"Aduh-aduh......! Heeii""
Tahan kudaku!!"
Ia berteriak dan kini karena pasukan sudah terpencar, mulailah ia terkurung.
Ketika kudanya mendekati empat orang perajurit yang siap dengan tombak hendak menusuk roboh kuda yang lewat, kaki tangan Yu Lee bergerak kacau dan......
robohlah empat orang itu, pingsan dan tombak mereka beterbangan.
Makin lama, dari sinar obor-obor yang dipasang, para perwira dapat melihat keadaan Yu Lee dan kudanya.
Betapa terkejut hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa nona tawanan mereka telah lenyap!
Mereka kaget, juga marah.
Kalau tadi mereka tidak memerintahkan menghujani anak panah adalah karena mereka menganggap betapa nona tawanan ini amat penting dan tidak baik kalau sampai terbunuh, tapi karena nona tawanan itu lenyap, mereka marah sekali.
Kalau hanya ada si pelayan, biar seratus kali mampus juga tidak ada halangannya.
"Hujani anak panah!"
Bentak si perwira muka kuning.
Mulailah kuda itu dihujani anak panah kemanapun juga ia lari.
Para pasukan telah mengurung serta menghadang dari segenap penjuru dan siap dengan anak panah mereka.
Yu Lee tentu saja mudah untuk menghindarkan diri dari hujan anak panah ini.
Dengan mengelak, mengandalkan ketajaman pendengaran dan dengan sampokan kedua tangan dan kaki, bisa saja ia membikin semua anak panah mencelat dan tidak mengenai tubuhnya.
Akan tetapi duduk di atas kuda, tak mungkin pula ia melindungi tubuh kuda yang begitu besar.
Tiba-tiba kuda itu meringkik keras dan jatuh terjungkal ke depan!
Tubuh Yu Lee yang tadinya masih duduk menghadap ke belakang terlempar ke atas dan ia lenyap ke dalam pohon.
Para pasukan segara mengurung pohon besar itu.
Akaa tetapi pada saat itu, beberapa orang perajurit memekik dan roboh terguling, tubuh mereka tertancap anak panah!
Kemudian terdengar sorak sorai riuh dan diantara sinar obor, tampak muncul puluhan orang yang menyerbu para pasukan Mongol.
Dari atas pohon besar dan tinggi di mana Yu Lee tadi bersembunyi tampaklah oleh pemuda ini bahwa para penyerbu itu bukan lain adalah tamu-tamu yang pernah ia lihat di tempat tinggal Huang-ho Sam-liong dipimpin oleh Ie Bhok orang kedua Huang-ho Sam-liong si pelajar yang pandai menggunakan senjata poan-koan-pit (alat tulis).
Dan yang mengagumkan dan juga menggelikan adalah ketika ia melihat seorang wanita baju hijau yang menggunakan pedang mengamuk bagaikan seekor singa betina layaknya!
Pedangnya berkelebatan menjadi sinar hijau merupakan serangan maut yang mencengkeram nyawa ke kanan kiri dan lebih hebat serta menggelikan lagi, pantatnya yang amat besar bergerak-gerak dan tiap kali ada lawan menerjang dari belakang, senggolan pantat besar itu cukup membuat seorang perajurit Mongol terlempar sampai tiga-empat meter jauhnya!
Dari atas pohon Yu Lee menonton dan menahan ketawanya.
Wanita itu bukan lain adalah Cui Toanio atau Cui Hwa Hwa, wanita galak yang pernah ribut mulut dan ia permalukan di sarang Huang-ho Sam-liong!
Betapapun galaknya, ternyata wanita itu adalah seorang pejuang, musuh pemerintah penjajah Mongol yang kini mengamuk bersama kawan-kawannya untuk menolong Siok Lan!
Dan tak jauh dari situ ia melihat pula tokoh-tokoh yang hadir, akan tetapi ia merasa heran tidak melihat adanya dua orang murid Kim-hong-pai yang bersikap baik terhadap Siok Lan dan dia, yaitu Pui Tiong dan sucinya, Can Bwee.
Dari atas pohon itu pula Yu Lee kini melihat Siok Lan dikeroyok oleh belasan orang penjaga dan diam-diam ia merasa kaget sekali.
Kiranya nona ini setelah tadi berhasil ia dorong meloncat turun dari kuda, tidak dapat melarikan diri keluar hutan dan melihat banyak pejuang menyerbu Siok Lan kini turut mengamuk pula.
Hal ini ia tidak herankan, karena ia mengenal watak Siok Lan.
Sepak terjang gadis itu hebat dan ganas, mengamuk dengan pedang rampasan karena pedangnya telah dirampas musuh.
Akah tetapi karena diantara belasan orang pengeroyoknya terdapat perwira muka kuning dan perwira tinggi besar, gadis ini agak terdesak.
Perwira tinggi besar bermuka hitam itu bersenjata sebuah gembolan berantai yang amat berat dan rantainya panjang, diputar-putar cepat sekali.
Siok Lan terpaksa selalu menggunakan ginkangnya untuk menghindarkan diri setiap kali gembolan ini menyambar, karena untuk menangkis ia khawatir pedang rampasannya akan rusak.
Adapun perwira muka kuning bersenjata sebatang golok aneh, golok yang punggungnya bercagak.
Senjata ini istimewa karena selain sebagai golok biasa, juga cagak di punggung itu dapat dipergunakan untuk "menangkap"
Senjata lawan dan dengan putaran tiba-tiba dapat merampas senjata lawan.
Melihat keadaan nona ini Yu Lee lalu melompat dari pohon ke pohon untuk mendekati.
Akan tetapi ia melihat bahwa keadaan Siok Lan tidaklah berbahaya, maka begitu mendengar teriakan kaget Cui Hwa Hwa dan melihat nyonya ini terhuyung ke belakang ketika pundaknya kena serempet gagang toya seorang pengeroyok, perwira tinggi kurus yang lihai, ia segera mengayun tangan.
Sebuah ranting kecil menyambar, dan perwira tinggi kurus itu berteriak kesakitan dan menjerit sambil mundur-mundur.
Ranting kecil itu melukai lehernya dan menyelamatkan Cui Hwa Hwa.
Nyonya yang dikeroyok banyak lawan dan hampir celaka, tadi tidak tahu bahwa dia di bantu oleh "pelayan"
Yang pernah membikin malu padanya, kini dengan marah sekali pedangnya bergerak ke depan dan sebelum si perwira tinggi kurus dapat menghindar, pedangnya yang berubah sinar hijau menjadi gulungan sinar melingkar-lingkar ke arah perut dan""
Perwira itu menjerit dan roboh dengan pinggang hampir putus!
Yu Lee kembali melanjutkan usahanya mendekati Siok Lan namun dari atas pohon itu ia menjadi sibuk sendiri menyaksikan bahwa jumlah penyerbu yang hanya paling banyak tigapuluh orang itu terdesak hebat oleh pasukan Mongol yang jumlahnya tiga kali lebih banyak!
Ia masih ingin menyembunyikan keadaan dirinya, apalagi Siok Lan berada di situ, maka kini Yu Lee mulai menyambar ke bawah dengan gerakan cepat, merobohkan beberapa orang tentara Mongol tanpa dilihat siapapun juga karena saking cepatnya gerakannya, yang tampak hanya bayangan hitam.
Kalau ada lawan datang membawa obor terlalu dekat, ia menyelinap atau meloncat ke atas pohon kamudian bergerak lagi di tempat yang gelap.
Agak lega hati Yu Lee menyaksikan bahwa para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi kalau dibandingkan dengan tentara Mongol, maka biarpun jumlahnya kalah tetapi masih dapat mengimbangi.
Akan tetapi perang tanding dalam hutan gelap yang hanya diterangi obor-obor itu, benar-benar amat mengerikan.
Darah membanjir, teriakan-teriakan marah berseling dengan jerit-jerit kesakitan dan pekik-pekik maut, mayat-mayat bergelimpangan.
Seperti biasa menyaksikan seperti ini membuat Yu Lee teringat akan keadaan di rumah keluarganya dahulu dan tak terasa pula ia menangis.
Suara tangis yang yang aneh keluar dari kerongkongannya melengking-lengking dan menyeramkan.
Dari atas pohon ia melempar-lemparkan batu yang tadi ia ambil dari bawah, membantu Siok Lan sama sekali tidak ada bahaya bagi gadis itn menghadapi pengeroyokan banyak lawan.
Tiap kali ada bahaya mengancam, tentu si pemegang senjata yang mengancam itu sudah tertotok batu yang menyambar dari tempat gelap.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara terompet dan derap kaki kuda.
Mendengar suara yang datangnya dari utara ini, Yu Lee cepat meloncat ke atas cabang pohon tertinggi dan memandang.
Kagetlah ketika ia menyaksikan dari arah utara datang pasukan membawa obor.
Bala bantuan dari Thian-an-bun agaknya!
Dari atas pohon itu di malam gelap dia hanya melihat obor yang banyak sekali datang dari utara sukarlah menaksir jumlah pasukan yang datang.
Akan tetapi menurut dugaan Yu Lee, tentu jauh lebih besar dari pada pasukan yang mengawal Siok Lan tadi dan agaknya tidak akan kurang dari pada dua-tiga ratus orang.
Keadaan berbahaya sekali.
Karena hatinya terguncang, kembali lengking dahsyat keluar dari kerongkongannya dan pada saat itu, ia terkejut karena berbareng terdengar bunyi lengking lain di sebelah bawah.
Lengking yang nyaring dan dikenalnya baik!
Ia cepat menuruni beberapa cabang pohon dan tampaklah olehnya bayangan berpakaian putih berkelebatan di bawah dan kemanapun juga bayangan ini berkelebat, terdengar pekik mengerikan disusul robohnya seorang tentara Mongol!
Dewi Suling!
Tak salah lagi, pikir Yu Lee, maka ia menjadi tercengang.
Mendengar suara lengking itu, jelas adalah suara suling yang biasa ditiup Dewi Suling, juga kalau suling itu dimainkan oleh wanita sakti itu mengeluarkan suara seperti itu.
Akan tetapi biarpun ia lihat gerakan bayangan putih itu amat cepat dan amat lihai seperti Dewi Suling tetaplah meragukan, mengapa Dewi Suling mengenakan pakaian putih!
Selain itu juga mengapa Dewi Suling menjadi seorang pejuang, atau setidaknya memusuhi tentara Mongol.
Dewi Suling adalah seorang sesat, seorang dari kalangan hitam.
Ahhh, mungkin saja bantah Yu Lee terhadap pikirannya sendiri.
Bukankah Huang-ho Sam-liong dan teman-temannya itu juga sebagian terdiri daripada orang-orang kang-ouw dan tokoh-tokoh liok-lim, bekas penjahat?
Banyak saja orang yang biasanya menjadi penjahat umum, berubah menjadi pejuang dikala negaranya diganggu bangsa asing dan sebaliknya orang-orang yang biasanya menjadi seorang pejuang yang dermawan menjadi pengkhianat bangsa.
Karena Yu Lee melihat betapa besar bahaya mengancam dengan munculnya pasukan besar dari jauh itu, iapun lalu melayang turun dan kembali ia menggunakan kesaktiannya untuk merobohkan para perajurit musuh, memilih tempat gelap dan menjauhi tempat Dewi Suling beraksi.
Hebat, bukan main sepak terjang dua orang ini yaitu Dewi Suling dan Yu Lee.
Mereka bergerak di tempat terpisah, keduanya mengeluarkan suara melengking mengerikan dan keduanya merobohkan musuh seperti orang membabat rumput saja.
Para pejuang atau pemberontak itu terheran-heran dan juga kagum bercampur gembira.
"Dewi Suling......"
Terdengar bisikan-bisikan.
Biarpun para pejuang tak dapat melihat jelas, namun berkelebatnya bayangan bertubuh ramping yang melengking dan merobohkan banyak lawan itu membuat mereka dapat menduga-duga.
"Pendekar Cengeng......!"
Bisik orang lain menyaksikan berkelebatnya bayangan Yu Lee.
Mereka tidak dapat melihat tegas karena pemuda itu selalu bergerak di dalam gelap dan gerakannya cepat sekali tak dapat dilihat pandangan mata, akan tetapi para pejuang itu banyak yang sudah mendengar kabar akan cara dan sepak terjang Pendekar Cengeng, apa lagi mendengar suara melengking seperti orang menangis keluar dari kerongkongan pendekar itu!
Celakalah pasukan pengawal yang diserang oleh para pejuang di malam hari itu!
Biarpun jumlah mereka tiga kali lebih banyak, akan tetapi dengan munculnya dua orang pendekar sakti yang mengeluarkan bunyi melengking-lengking dan keadaan mereka menjadi berantakan dan dalam waktu sebentar saja sebagian besar dari mereka roboh tak dapat bangkit kembali apalagi karena para pejuang yang mendapat bantuan dua orang pendekar besar itu seolah-olah mendapat tambahan semangat baru, mereka mengamuk makin hebat.
Tiba-tiba terdengar sorak sorak riuh rendah dari hutan itu seolah-olah kebakaran ketika pasukan tambahan pembantu itu tiba, meloncat turun dari kuda dan dengan obor di tangan kiri, senjata di tangan kanan mereka menyerbu.
Jumlah pasukan yang baru tiba ini ada duaratus orang!
Perang menjadi semakin hebat dan kini bagaikan......
air banjir, para pejuang yang sudah lelah itu terdesak hebat.
Untung disitu terdapat dua orang sakti yang membantu mereka sehingga meraka masih mampu melakukan perlawanan.
Betappun saktinya Pendekar Cengeng dan Dewi Suling, namun karena pihak musuh amat banyak, mereka menjadi sibuk sekali.
Dewi Suling sudah mengobral jarum-jarumnya dan pedangnya.
Hanya Yu Lee yang agak repot karena pemuda ini tetap hendak bergerak sambil bersembunyi.
Yu Lee selalu menjauhi para pejuang lain akan tetapi juga harus selalu memperhatikan keadaan Siok Lan yang mengamuk agar sewaktu-waktu dapat melindungi wanita yang dicintainya itu.
"Kalau gelagatnya begini, bisa berbahaya,"
Pikirnya, Yu Lee mulai mendekati Siok Lan dan ingin melarikan gadis itu.
Akan tetapi pada saat itu terdengar sorakan lain yang juga sangat dahsyat dan dari sebelah kiri muncul sepasukan orang gagah perkasa yang datang menyerbu, membantu para pejuang dan menghantam para tentara Mongol.
Pasukan yang gagah perkasa ini dipimpin oleh empat orang muda, dan dapat dibayangkan betapa girang hati Yu Lee ketika melihat dan mengenal mereka itu.
Dua orang pemuda tampan dan perkasa itu adalah Ouwyang Tek dan Gui Siong, murid-murid Siauw-bin-mo Hap Tojin.
Adapun dua orang pemudi yang cantik dan perkasa itu adalah Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng, murid-murid Tho-tee-kong Liong Losu!
Adapun hampir seratus orang pasukan perkasa yang dipimpin empat orang muda itu benar-benar hebat dan bertempur dengan semangat yang amat tinggi!
Keadaan perang kecil di dalam hutan itu berubah-ubah.
Tadinya pihak Mongol terdesak hebat dan lebih dari setengah jumlah pasukan tewas di tangan tigapuluhan orang pejuang pimpinan Ie Bhok orang termuda Huang-ho Sam-liong yang diam-diam dibantu oleh Pendekar Cengeng dan Dewi Suling.
Kemudian pihak pejuang terancam bahaya kehancuran ketika tiba duaratus orang pasukan Mongol yang datang dari Thian-an-bun.
Akan tetapi dalam waktu singkat, muncullah seratus orang pasukan istimewa ini, pasukan yang sebagian besar terdiri dari bekas pekerja-pekerja terusan yang melarikan diri, yang mengandung dendam dan kebencian meluap-luap terhadap orang-orang Mongol sehingga kini pasukan Mongol seperti sekumpulan pohon bambu diserang angin taufan, mereka dibabat dan dalam waktu singkat saja jatuhlah puluhan orang korban diantara mereka!
Ouwyang Tek tidak mengenal pasukan kecil yang ia bantu, akan tetapi karena pasukan kecil yang gagah perkasa itu berperang melawan tentara Mongol ia menganggap mereka itu teman-teman seperjuangan dan begitu mendengar dari penyelidik bahwa di hutan itu terjadi perang, ia lalu memimpin pasukannya untuk menyerbu dan membantu pasukan kecil itu.
Ketika mendengar suara melengking-lengking dan amukan dua orang yang bergerak seperti setan sehingga tidak tampak jelas orangnya, Ouwyang Tek, Gui Song, Tan Li Ceng dan Lauw Ci Sian menjadi terkejut, dan juga girang.
Mereka dapat mengenal lengking dan gerakan Pendekar Cengeng.
Akan tatapi mereka juga bingung dan menduga-duga siapa adanya wanita perkasa yang mengamuk itu.
Melihat gerakannya yang lihai dan mendengar suara melengking dari suling yang dipegang nya, tidak salah lagi bahwa wanita itu tentulah Dewi Suling!
Mereka menduga-duga dan terheran-heran, akan tetapi karena Dewi Suling pada saat itu bertanding memusuhi pasukan Mongol, tentu saja mereka menganggapnya tidak sebagai musuh.
Munculnya pasukan yang dipimpin empat orang muda perkasa ini mempercepat jalannya perang.
Sebagian besar pasukan musuh roboh binasa dan sisanya lalu melarikan diri berlindung pada kegelapan hutan itu.
"Yu-taihiap......! Sungguh beruntung dapat bertemu dengan taihiap di sini!"
Terdengar Ouwyang Tek berkata.
"Pendekar Cengeng"...! Pendekar Cengeng......!"
Nama ini disebut-sebut oleh para pasukan pejuang.
Siok Lan yang sudah tidak bertempur lagi mendengar disebutnya nama ini terkejut sekali ia tadi memang mendengar sura melengking-lengking dan melihat berkelebatnya dua bayangan seperti iblis cepatnya.
Ia sudah menduga-duga akan tetapi belum merasa yakin siapa gerangan dua orang aneh itu.
Karena tadi ia dikeroyok banyak sekali musuh, tentu saja ia tidak mendapat kesempatan untuk meneliti.
Kini mendengar disebutnya "Yu-taihiap"
Dan "Pendekar Cengeng"
Wajahnya menjadi berobah dan jantungnya berdebar-debar.
Benarkah tunangannya itu yang tadi mengamuk dan mengeluarkan suara melengking?
Tunangannya yang selama ini mengabaikannya dan yang ia cari untuk diajak bertanding untuk menebus penghinaan?
Cepat ia meloncat menghampiri untuk mencari dan menjumpai orang yang dicari-carinya itu.
Akan tetapi ia hanya melihat berkelebatnya bayangan cepat sekali menghilang di daerah hutan yang gelap, dan mendengar suara orang laki-laki yang berpengaruh.
"Kedua saudara Ouwyang dan Gui! Kedua nona Lauw dan Tan! Selamat bertemu dan berjuang! Maaf, saya ada urusan lain, sampai jumpa!"
Bayangan itupun lenyap dari tempat itu.
Siok Lan termenung merasa seperti kenal suara ini, ia merasa penasaran lalu meloncat mengerahkan ginkangnya mengejar di tengah hutan ke mana bayangan itu tadi berkelebat.
Bayangan yang mengamuk dan menggunakan suling sambil mengeluarkan suara melengking tadi memang Ma Ji Nio atan Ciu-siauw Sianli Si Dewi Suling.
Kini di bawah sinar banyak obor, Dewi Suling menghadapi Ouwyang Tek, Gui Siong, Lauw Ci Sian dan Li Ceng yang berdiri berjajar menghadapinya dengan pandangan mata penuh selidik.
Dewi Suling tersenyum dan cepat ia mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata.
"Sungguh merupakan karma Thian bahwa malam ini saya dapat berjumpa dengan ji-wi kongcu dan ji-wi siocia sebagai teman-teman seperjuangan!"
Empat orang muda itu memang sudah mendengar akan sepak terjang Dewi Suling selama ini yang menjadi buah bibir kaum kang-ouw karena perubahannya luar biasa.
Mereka merasa tidak senang kepada wanita yang dahulunya menjadi musuhnya ini, akan tetapi karena harus diakui bahwa saat itu mereka bukanlah musuh melainkan teman seperjuangan melawan penjajah, mereka terpaksa membalas penghormatan, bahkan Tan Li Ceng yang terpandai membawa sikap diantara mereka segera berkata.
"Kami sudah mendengar akan sepak terjang cici selama ini. Syukurlah!"
Wajah Dewi Suling berubah merah karena merasa jengah akan tetapi di dalam hatinya ia memuji Tan Li Ceng yang tidak banyak bicara.
Ia lalu berkata lagi, kali ini tidak hanya ditujukan kepada empat orang muda itu, melainkan juga kepada Ie Bhok, Cui Hwa Hwa dan teman-teman mereka.
"Diantara kita ada hubungan seperjuangan teman-teman sendiri, akan tetapi kini bukan waktunya untuk bercakap-cakap. Keadaan hutan ini amat berbahaya karena sungguhpun musuh sudah terpukul mundur akan tetapi di Thian-an-bun terdapat tidak kurang dari seribu orang perajurit Mongol. Bagaimana mungkin kita dapat melawan pasukan mereka yang begitu banyak? Karena itu, menurut pendapatku, sekiranya kita memasuki daerah hutan di sebelah barat Thian-an-bun karena daerah itu hutannya sambung menyambung amat luas daerah pegunungan sehingga mudah bagi kita untuk bersembunyi sambil melakukan penyerbuan serbuan mendadak ke Thian-an-bun. Menurut pendapat saya, kalau saudara-saudara sekalian setuju, sekarang ini juga kita berangkat ke sana memencarkan diri dan bertemu di telaga yang berada di dalam hutan sebelah barat, kira-kira duapuluh lie jauhnya dari hutan pertama. Amat baik tempat ini dijadikan markas, selain lebat juga banyak terdapat guha-guha besar."
Semua orang menyatakan setuju.
Memang pertempuran melawan tentara Mongol yang amat besar jumlahnya tadi menyatukan mereka tanpa janji lebih dahulu, yaitu pasukan yang dipimpin Ie Bhok dan Cui Hwa Hwa, dan pasukan bekas pekerja paksa yang dipimpin empat orang muda perkasa.
Beramai-ramai berangkatlah mereka sambil membawa teman-teman yang terluka dalam pertempuran tadi meninggalkan teman-teman yang tewas karena memang keadaan menghendaki demikian.
Dalam perjalanan ini, mulailah mereka berkenalan.
Ie Bhok mengirim seorang utusan untuk menyampaikan berita tentang perang semalam dan tentang rencana pasukan mereka pergi ke hutan sebelah barat Thian-an-bun kepada kedua orang saudaranya yang masih bermarkas di tepi sungai Huang-ho agar mereka dapat saling berhubungan dan saling membantu.
Semalam suntuk pasukan pejuang ini menyusup-nyusup di antara hutan dan pegunungan, berpencar akan tetapi tidak terpisah jauh sehingga mereka dapat saling mengetahui keadaan kawan memberi isyarat bunyi-bunyi burung.
Mereka ini lelah sehabis bertempur, lelah dan lapar akan tetapi kenyang oleh semangat kepahlawanan.
Hanya mereka yang pernah berjuang saja, hanya mereka yang pernah menderita dalam melaksanakan cita-cita mulia saja yang dapat merasa berapa di dalam keadaan bersama ini terdapatlah sesuatu yang nikmat dan bahagia yang mengatasi semua penderitaan jasmani.
"A-liok! A-liok......!!"
Siok Lan mencari-cari di dalam hutan sambil berkali-kali memanggil nama pelayannya.
Hatinya amat risau, sungguhpun besar harapannya bahwa pelayannya itu masih hidup dan berada di dalam hutan.
Bukankah tadi ketika ia didorong turun oleh pelayannya itu, A-liok masih berada di atas kuda dan tiba-tiba pecah pertempuran karena munculnya Cui Hwa Hwa dan yang lain-lain?
Tidak mungkin pelayannya itu ditawan karena sudah jelas bahwa pihak musuh terpukul mundur bahkan banyak yang tewas.
Akan tetapi bagaimana kalau A-liok terbunuh oleh musuh?
Hatinya makin gelisah dan kini ia mencari-cari sambil memanggil-manggil, juga melihat-lihat kalau pelayannya itu sudah menggeletak tak bernyawa lagi di dalam hutan.
Mengingat akan kesitu tubuhnya menggigil dan terngiang bisikan ucapan pelayannya sebelum mereka berpisah.
"Aku mencinta nona dengan seluruh jiwa ragaku......!"
Hati Siok Lan terharu.
Ia tidak meragukan lagi cinta kasih pelayannya terhadap dirinya.
Dan dia sendiri?
Entahlah.
Andaikata di sana tidak ada Pendekar Cengeng?
Andaikata A-liok bukan seorang pelayan!
Andaikata......
ahh, terlalu banyak andaikata yang tak mungkin terjadi.
Bahkan kini Pendekar Cengeng sudah muncul!
Ia tadi mengejar sekuat tenaga, mengerahkan ginkangnya, namun ia melihat betapa bayangan Pendekar Cengeng itu berkelebat bagaikan terbang cepatnya dan sebentar saja lenyap dari pandangan matanya.
Karena tidak berhasil mencari Pendekar Cengeng, teringatlah ia akan A-liok dan kini ia mulai mencari-cari A-liok.
Ia melihat betapa para pejuang yang tadinya menggempur pasukan Mongol itu meninggalkan hutan.
Ia sesungguhnya harus berterima kasih kepada mereka karena tanpa adanya mereka itu, tentu ia sudah binasa di bawah pengeroyokan para pasukan Mongol, atau setidaknya tentu akan tertawan lagi.
Bahkan wanita galak Cui Hwa Hwa itu telah menolongnya!
Akan tetapi ia tidak sempat menjumpai mereka.
Pertama karena ia tadi mencari Pendekar Cengeng, dan sekarang, sebelumnya ia dapat menemukan pelayannya, ia tidak akan berhenti mencari dan tidak akan menjumpai mereka.
"A-liok......! A-liok......!"
Siok Lan memanggil dengan memakai kedua telapak tangannya untuk mendekap kanan kiri mulutnya sehingga suara panggilannya bergema di seluruh hutan itu.
Kegelapan mulai menipis, terdesak oleh munculnya fajar.
"A-liok......!"
Harapan Siok Lan menipis pula dan hampir ia menangis kalau teringat betapa besar kemungkinan pelayannya itu terbunuh musuh!
Teringat akan hal ini, baru terasa olehnya betapa baiknya A-liok selama ini.
Betapa akan berat hatinya kalau harus berpisah dan benar-benar ditinggal mati oleh pemuda itu!
"A-liok......!"
Panggilannya mulai mengandung isak tangis tertahan.
Teringat Siok Lan betapa A-liok pernah mencium mulutnya dan teringat akan hal ini tak tertahankan lagi air mata bercucuran.
Apa kata pemuda itu setelah menciumnya semesra itu?
"Kau ampunkan aku, nona.
Biarlah kalau aku mati, ciuman itu sebagai bekal ke neraka......!"
"A-liok.......!"
Siok Lan menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon, terisak-isak.
Kiranya pemuda itu sudah merasa dia akan mati sehingga berani menciumnya seperti itu.
Ciuman yang selama ia hidup belum pernah ia alami atau ia terima dari orang lain, bahkan tak juga dari ayah bundanya.
Ciuman penuh kasih sayang seorang pria.
Dan kini teringat ia menerima ciuman itu bukan dengan hati marah atau benci atau jijik melainkan dengan jantung berdebar tegang dan bahagia, bahkan sekarang pun hatinya menggelora teringat akan ciuman A-liok itu.
Akan tetapi pemuda itu kini sudah tidak ada, besar kemungkinannya sudah tewas.
Makin mengguguk tangis Siok Lan dan baru sekarang ia mengakui dalam hatinya bahkan ia mencinta pemuda itu, mencinta A-liok pelayannya!
"A-liok aduh, A-liok......
hu..hu huhuhu......"
Baru sekali ini Siok Lan, dara perkasa yang berhati baja dan tidak pernah mengenal takut itu menangis tersedu-sedu.
"Nona......! Nona......!"
Siok Lan yang sedang menangis itu tiba-tiba tersentak kaget menoleh ke kanan ke kiri dengan mata terbelalak, mata yang merah dan pipi yang basah.
"A-liok......??"
Ia berbisik, setengah tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
"Nona Siok Lan......!"
Kembali terdengar suara itu perlahan akan tetapi jelas sekali, seperti terbawa angin lalu, bercampur dengan bunyi kokok ayam hutan dan kicau burung.
"A-liok......!!"
Bagaikan digetarkan tenaga dahsyat Siok Lan mencelat bangun, matanya terbelalak bersinar-sinar, pipinya berseri, dua butir air mata masih bergantung pada bulu matanya.
"A-liok......! Dimana engkau......!!"
"Aku di sini, nona......!"
Suara itu datangnya dari kanan! Siok Lan hampir bersorak, hampir menari dan dengan suara ketawa ditahan ia lalu mencelat ke kanan terus menggunakan ginkangnya lari ke arah datangnya suara.
"A-liok......! di mana engkau......?"
Teriaknya lagi.
"Di sini, nona......!"
Suara A-liok itu datangnya dari atas!
Siok Lan menengadah dan alangkah girang hatinya ketika ia melihat pemuda pelayannya itu nongkrong di atas pohon yang amat tinggi, di cabang tertinggi dan kelihatannya takut akan tetapi tangan kirinya mengempit seekor ayam hutan yang gemuk sekali!
"Eh, bagaimana kau bisa berada di situ?
Turunlah......!"
"Aku....... aku tidak berani turun......"
Siok Lan tertawa, suara ketawanya nyaring dan tiba-tiba tubuhnya terayun ke atas dan berloncatanlah ia dari cabang ke cabang sampai tiba di cabang yang diduduki A-liok.
Pemuda ini melihat nonanya tertawa-tawa dengan senyum lebar pipinya merah berseri akan tetapi pipi di bawah mata masih ada tanda air mata.
Hatinya terharu bukan main, tergetar dan......
A-liok menangis sesenggukan!
"Aihhh......kau......kenapa?"
"Saya....... saya terlalu girang, nona......."
Siok Lan tersenyum, lalu mengempit pinggang pelayannya itu, dibawa loncat turun dengan gerakan ringan sekali.
Setibanya di atas tanah, lengan kanan A-liok masih merangkul lehernya sedangkan tangan kiri pelayan itu mengempit ayam.
Sejenak mereka saling rangkul, saling pandang dengan sinar mata seperti dalam mimpi, kemudian Siok Lan teringat dan melepaskan lengannya yang merangkul pinggang, mukanya merah sekali, matanya mendelik dan mulutnya setengah tersenyum setengah merenggut!
"Kau......
kau kenapa?
Gilakah?"
"Eh, nona...... kenapa...... kenapa sih?"
Siok Lan dengan muka merah mendorong perlahan dada pemuda itu dengan jari tangannya sehingga Yu Lee mundur tiga langkah.
"Kau...... kau berhutang banyak persoalan kepadaku yang harus kau bayar! Kau harus jawab satu-satu dan awas ya! Jangan bohong dan main-main!"
Gadis yang tadi menangisi A-liok ini setelah sekarang berhadapan, segera menyembunyikan perasaan hatinya dan mengambil sikap yang sesuai sebagai seorang nona majikan terhadap seorang pelayannya.
Betapapun juga, ia merasa jengah dan malu untuk membuka rahasia hatinya begitu saja.
Diam-diam Yu Lee tertawa di dalam hati dan rasa kasih sayangnya terhadap nona ini makin menggelora dan mesra.
Tadi secara diam-diam ia mengikuti S"ok Lan dan sudah menyaksikan semua sikap gadis itu yang menangisinya!
Karena itulah ia menjadi terharu dan ikut menangis.
Sekarangpun menghadapi nona yang amat dikasihinya, nona yang dianggapnya paling cantik di dunia ini, paling gagah perkasa paling nakal dan juga paling lucu, ia masih tak dapat menahan air matanya yang menitik turun saat itu.
"Saya berhutang budi kepada nona, sampai matipun takkan terbayar lunas. Biarlah kelak dalam penitisan mendatang saya akan m"njadi anjing atau kuda nona."
"Aku tidak butuh anjing atau kuda! Yang sekarang kubutuhkan adalah keterangan-keteranganmu akan perlakuanmu selama ini! Pertama-tama, kenapa kau mendorong aku turun dari kuda?"
"Ah, nona yang mulia. Setelah nona terbebas dari belenggu tentu saja adalah amat besar kesempatan bagi nona untuk melarikan diri. Saya mendorong nona karena ingin sekali melihat nona selamat......"
"Tapi kau membiarkan dirimu sendiri terancam bahaya!"
"Aku...... aku tidak berarti......"
"Hushhh! Lain kali aku tidak mau begitu mengerti? Apa kau kira aku seorang yang bocengli (tak berbudi atau berperasaan) untuk enak-enak lari sendiri dan membiarkan kau celaka sendiri? Lain kali kau tidak boleh begitu, kalau aku selamat kau juga harus selamat, kalau celaka ya bersama-sama karena kita memang melakukan perjalanan bersama. Mengerti?"
Yu Lee mengangguk-angguk.
"Mengerti nona. Lain kali tidak berani lagi."
Karena Yu Lee menunduk, ia tidak melihat betapa Siok Lan masih geli melihat sikapnya ini. Sebaliknya, Siok Lanpun tidak tahu bahwa diam-diam ia diketawai Yu Lee.
"Sekarang yang kedua! Setelah terjadi perang, aku amat berkuatir karena kau tidak tampak. Kenapa kau tidak keluar dan menemui aku? Kenapa kau pergi dan kemana pula perginya kuda itu?"
"Wah, nona tidak tahu...... Saya dikejar dan dibacok serdadu gila, untung tidak kena punggung saya melainkan ke punggung kuda sehingga kuda itu meloncat dan melemparkan saya ke bawah sedangkan serdadu itu disepaknya dengan kaki belakang sampai pecah dadanya. Karena saya merasa takut, saya lalu memanjat pohon dan semalam suntuk saya tidak berani turun, karena takut lalu saya memanjat terus sampai di puncak, kemudian tidak dapat turun lagi."
"Hemm, aku tidak percaya kau begitu penakut."
"Memang saya bukan orang penakut, nona. Akan tetapi saya mempunyai kelemahan terhadap tempat yang tinggi. Saya menjadi pening dan takut sekali."
"Hemm, kau bilang takut di puncak pohon. Kenapa bila memegang ayam hutan begitu gemuk?"
Yu Lee tertawa.
"Wah, memang Thian itu adil, nona...... Agaknya memang orang yang baik seperti nona selalu diberi berkah sehingga tiada hujan tiada angin ada ayam menghampiri saya untuk saya panggang dagingnya dan persembahkan pada nona. Malam tadi ketika saya bersembunyi di atas sana, mungkin karena bingung dan takut mendengar pertempuran dan melihat obor, ayam ini terbang lalu menabrak cabang di dekat saya menggelepar dan pingsan sehingga mudah saya tangkap. Biarlah saya sembelih dia dan panggang dagingnya untuk nona bawa sebagai bekal menyusul rombongan pejuang yang menuju ke pegunungan di sebelah barat kota Thian-an-bun."
"Aihh, apa kau bilang? Mau apa aku ke sana? Aku hendak mencari Pendekar Cengeng! Kau tahu A-liok hampir saja aku dapat berhadapan dengan Pendekar Cengeng malam tadi!"
A-liok tersenyum dan mengangguk.
"Saya tahu, nona."
"Heeei?? Engkau tahu?"
"Saya tahu karena Yu-kongcu telah menemui saya sebelum nona datang. Ketika saya bersembunyi di atas pohon belum lama tadi tiba-tiba saja Yu-kongcu muncul di depan saya di atas pohon ini dan Yu-kongcu yang menceritakan pada saya tentang semua keadaan."
"Hemm...... di mana dia? Aku mengejar dan mencarinya, A-liok katakan, di mana dia?"
"Mau apakah nona mencarinya??"
"Mau apa lagi? A-liok, tidak usah kau pura-pura tanya lagi, hayo katakan di mana dia agar dapat kutemui sekarang juga."
Yu Lee menarik napas panjang dan menggelengkan kepala.
"Nona, Yu-kongcu tadi telah bicara dengan saya dan telah saya katakan tentang kehendak nona. Kemudian Yu-kongcu memberi keterangan sejelasnya kepada saya, harap nona suka mendengarkan."
"A-liok sesungguhnya engkau berpihak kepada siapa sekarang?"
Yu Lee memandang kaget dan hatinya sedih melihat betapa suara mesra lenyap dari mata bening itu, terganti sinar marah.
"Tentu saja saya berpihak kepada nona, akan tetapi......Yu-kongcu tidak memusuhi nona...... di...... dia bahkan ingin berbaik kepada nona. Dia menrangkan bahwa tentang pesan ikatan jodoh itu dia sama sekali tidak tahu, sama sekali tidak pernah mendengar dari mendiang keluarganya. Karena itu, dia berpesan kepada saya agar menyampaikan permintaan maafnya kepada nona, dan dia kelak hendak pergi mencari orang tua nona dan menghadap......"
"Aku tidak butuh kasihannya! Di mana dia?"
"Nona, harap dengarkan lebih dulu. Saya tidak tahu kemana dia pergi karena dia hanya meninggalkan pesan begini. Yaitu bahwa tempat ini amat berbahaya dan bahwa nona diminta segera pergi menyusul para pejuang ke pegunungan di sebelah barat Thian-an-bun. Menurut Yu-kongcu, tempat ini akan diserbu ribuan orang musuh maka nona harus cepat-cepat pergi hari ini juga. Kongcu sendiri pasti akan meggabung ke sana, maka diharap nona suka menanti di sana karena kongcu masih mempunyai beberapa urusan yang harus diselesaikan. Percayakah, nona? Yu-kongcu bukan seorang pembohong dan saya yakin bahwa sekali waktu dia akan menemui nona di sana untuk bercakap-cakap dan membereskan semua urusan."
Siok Lan mengerutkan keningnya.
Memang tidak bisa menyalahkan A-liok.
Pula, ia mendengar betapa anehnya Pendekar Cengeng, tentu saja tidak mungkin bagi A-liok, untuk mengetahui tempat sembunyi pendekar itu.
Dia sendiri tadi sudah menyaksikan kehebatan gerakan pendekar itu yang seakan-akan pandai menghilang ketika dikejarnya.
Sementara itu A-liok sudah mencabuti bulu ayam hutan yang telah ia bunuh kemudian membuat api dan memanggang dagingnya.
Bau sedap gurih mengganggu perut Siok Lan yang seketika menjadi lapar sekali.
"Kau sendiri akan kemana, A-liok?"
"Setelah nona makan dan berangkat ke sana, harap nona suka bergabung dengan para pejuang. Saya sendiri telah diminta oleh Yu-kongcu untuk menghadang di depan pintu gerbang Thian-an-bun sesudah serbuan malam nanti......"
"Apa"...? Malah mendekati Thian-an-bun sarang musuh?"
Yu Lee tersenyum.
"Nona masih belum mengenal sepak terjang kongcu yang sukar dimengerti. Akan tetapi percayalah nona. Kalau kongcu menyerbu ke Thian-an-bun, tentu dia mempunyai alasan yang amat penting. Maka sebaiknya nona menanti. Saya yang tanggung bahwa kalau urusan orang-orang Mongol ini selesai, pasti kongcu akan mencari dan menemui nona untuk diajak membereskan semua urusan yang ada diantara nona dan dia."
Siok Lan termenung dan diam saja.
Kalau keadaan sudah seperti itu, ia dapat berbuat apakah?
Mencari dan menyusul?
Ke mana?
Ke Thian-an-bun?
Seperti mencari mati.
Memang labih baik menunggu.
Seperti apakah Pendekar Cengeng yang lihai itu?
Ia memandang pelayannya dan diam-diam timbul rasa kasihan di hatinya.
Bagaimana nanti dengan hubungan cinta kasih yang bersemi di hati mereka?
Daging ayam hutan itu sudah matang dan Yu Lee memberikannya kepada Siok Lan.
"Bawalah ini sebagai bekal, nona. Dan saya kira tidak baik menanti lebih lama lagi, siapa tahu kalau-kalau musuh akan memasuki hutan ini. Harap nona segera berangkat dari sini menuju ke barat, kira-kira limapuluh lie jauhnya lalu membelok ke utara. Akan tampak pegunungan sambung menyambung dan berangkatlah nona mendaki pegunungan itu. Mereka berada di puncak gunung ketiga, dalam sebuah hutan dan dari atas puncak itu tampak kota Thian-an-bun. Nah sampai jumpa kembali, nona."
Siok Lan memasukkan panggang ayam ke buntalan pakaian, kemudian ia bertanya meragu.
"Kapan kita dapat bertemu, A-liok? "
"Tidak akan lama. Saya akan mendesak kongcu agar cepat-cepat menyusul ke sana nona."
Setelah menghela napas panjang Siok Lan meloncat dan pergi meninggalkan Yu Lee yang memandangnya dengan sinar mata penuh kasih sayang.
Siapakah gerangan dua orang sakti yang malam itu membantu para pejuang dan menghancurkan pasukan Mongol dengan sepak terjang mereka yang menyeramkan sambil melengking-lengking mengerikan itu?
Seorang di antara mereka tentu pembaca dapat menduganya, yaitu bukan lain adalah Yu Lee si Pendekar Cengeng sendiri.
Akan tetapi orang kedua yang menjadi bayangan putih, siapakah dia?
Bukan lain adalah Dewi Suling tepat seperti yang diduga oleh para pejuang yang sudah seringkali mendengar nama besar wanita sakti ini akan tetapi jarang ada yang pernah bertemu dengannya.
Seperti telah diceritakan bagian depan setelah Dewi Suling bertemu dan menerima wejangan dari Sui-lian Nikouw di kuil Kwan-im-bio, maka terjadi perubahan hebat dalam diri wanita ini, ia kini ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk menebus dosa dan memupuk kebajikan, menentang kejahatan sebanyak mungkin.
Karena inilah maka dunia kang-ouw menjadi geger dengan munculnya Dewi Suling dalam bentuk lain yang menentang kejahatan secara hebat sekali!
Berita tentang kekejaman-kekejaman yang terjadi di tempat penggalian saluran, dimana ribuan orang rakyat tidak berdosa dipaksa bekerja sampai mati, sampai pula ke telinga Dewi Suling.
Ah, di sanalah aku harus menebus dosa, pikirnya.
Makin banyak orang yang dapat ia tolong, makin baiklah dan makin cepat ia dapat mengimbangi banyaknya dosa-dosa yang pernah ia lakukan dengan perbuatan perbuatan baik yaitu menolong mereka yang sengsara!
Tanpa ragu-ragu lagi Dewi Suling lalu berangkat menuju ke tempat penggalian saluran air dan apa yang ia saksikan membuat wanita bekas penjahat ini mengucurkan air matanya!
Ia berdiri di tepi sungai, suling di tangan kiri dan bagaikan berubah menjadi arca saking terharu hatinya menyaksikan ribuan orang pekerja paksa yang bertubuh kurus-kurus seperti mayat hidup, bekerja dibawah ancaman cambuk-cambuk kejam para penjaga serdadu-serdadu Mongol!
Ia melihat rakyat dengan tubuh kurus kecil mengangkat batu-batu yang lebih berat dari pada tubuh mereka sendiri, mengangkut balok-balok besar, menyeberang air yang dalam, terjerumus, tenggelam, terhimpit, mati kelaparan, mati kelelahan dan mati oleh hantaman cambuk bertubi-tubi atau pukulan dan bacokan golok para penjaga.
Mayat mereka yang mati dikubur begitu saja di pasir sungai!
Dewi Suling dahulu adalah seorang penjahat, akan tetapi belum pernah ia menyaksikan kekejian seperti ini.
Dahulu ia suka membunuh orang karena marah, atau karena tidak ingin rahasianya disiarkan orang, atau karena orang itu musuhnya.
Namun semua pembunuhan yang dilakukan tentu ada sebabnya terdorong oleh darah panas.
Sebaliknya apa yang ia lihat dan dilakukan sekarang ini adalah penyembelihan!
Siksaan dan penyembelihan yang dilakukan dengan darah dingin!
Ia bergidik ngeri.
"Bedebah! Jahanam keji iblis neraka!"
Ia menyumpah-nyumpah sambil mengepal tinju dan menggenggam sulingnya erat-erat.
Ingin ia pada saat itu juga mengamuk, membunuhi para penjaga yang seperti anjing-anjing kelaparan menyiksa kelinci-kelinci yang tak berdaya.
Akan tetapi Dewi Suling menahan kemarahannya.
Betapapun juga, dia bukanlah seorang wanita yang bodoh dan nekad.
Ia tahu bahwa kalau ia turun tangan ia tidak akan berhasil menolong orang-orang yang sengsara itu, bahkan tak mungkin ia melawan ratusan orang penjaga yang bersenjata lengkap itu.
(Lanjut ke
Jilid 17) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 17 Sejak hari itu, mulailah Dewi Suling berubah menjadi hantu pengacau daerah penggalian terusan.
Setiap malam tentu ada penjaga yang tewas di tangannya.
Sepak terjangnya menggemparkan, datang dan pergi seperti siluman saja dan setiap ada penjaga yang memisah diri dari kawan-kawannya tentu akan menjadi korban di tangan maut Dewi Suling.
Bahkan pernah dalam waktu semalam saja membunuh belasan orang penjaga dengan jarum, suling dan tangannya.
Beberapa hari kemudian, kenyataan lain membuat Dewi Suling menjadi lebih marah lagi!
Ia telah mendengar akan kekejian para penjaga yang menangkapi wanita-wanita muda untuk diseret ke dalam markas mereka, dijadikan mangsa para perwira seperti domba-domba muda diseret masuk ke kandang penuh oleh harimau-harimau kelaparan.
Ia telah mendengar tentang perkosaan-perkosaan yang lebih mengerikan dan hebat daripada penyembelihan kaum kerja paksa.
Ia mendengar pula betapa jeritan dan raung setiap malam membubung ke angkasa keluar dari mulut wanita-wanita yang dikurung dalam markas.
Akan tetapi markas itu terlalu kuat.
Dindingnya terlalu tebal dan tinggi, penjaga amat kuatnya sehingga tidaklah mungkin bagi Dewi Suling untuk menyelinap atau menyerbu masuk.
Sudah beberapa hari ia tidak lagi mengancam para penjaga di sekitar tempat penggalian melainkan berkeliaran di luar markas di Thian-an-bun karena di tempat inilah ia melihat belasan orang gadis muda diseret masuk pagi kemaren.
Namun belum juga ia berhasil memasuki markas sehingga hatinya menjadi kesal.
Akhirnya pada malam ketiga Dewi Suling menjadi nekad.
Ia memilih dinding di mana terdapat sebatang pohon di dekatnya.
Dengan ginkangnya yang istimewa, tubuhnya melayang ke atas pohon seperti seekor burung saja.
Kegelapan malam melindungi bayangannya dan pada saat para peronda lewat, ia menggenjot tubuhnya dari cabang teratas mencelat ke atas dinding markas.
Dari sini tubuhnya melayang ke atas genteng kemudian mendekam, lalu menyelinap dan berindap-indap memasang mata dan telinga ke arah bawah.
Kota Thian-an-bun adalah pusat yang dijadikan markas besar para pasukan yang bertugas menjadi pelaksana dari penjaga para pekerja paksa pembuat saluran besar itu.
Pasukan yang berada di kota ini tidak kurang dari seribu limaratus orang.
Di benteng ini, yang menjadi panglimanya adalah seorang panglima Mongol yang bertubuh tinggi besar bertenaga kuat, bermuka penuh brewok dan terkenal keras memegang peraturan terhadap para pekerja.
Panglima ini sebenarnya bukan seorang Mongol tulen, melainkan seorang peranakan.
Akan tetapi sudah lajim di dunia ini bahwa si anjing lebih galak daripada tuannya, si pejabat lebih galak daripada atasannya dan antek-antek lebih jahat daripada majikannya.
Oleh karena itu, panglima inipun lebih bersifat Mongol daripada si Mongol yang aseli, yaitu para penjajah, lagaknya seolah-olah dialah keturunan Jengis Khan, pendiri kerajaan Mongol.
Nama panglima ini adalah Ban Ciang dan julukannya adalah Thai-lek Kwi-ong (Raja Iblis Bertenaga Dahsyat)!
Sebagai pelaksana yang bertugas menyelesaikan pembuatan saluran, dia menggunakan tangan besi dan dia sendiri sudah menyatakan bahwa kalau perlu agar saluran itu berhasil diselesaikan, ia akan menggunakan mayat-mayat rakyat pekerja paksa sebagai dasar saluran!
Disamping tangan besi ini, Ban Ciang amat pandai menyenangkan hati para perwira pembantunya, memang inilah keistimewaannya sehingga ia cepat sekali dapat mencapai kedudukan tinggi.
Ia pandai menjilat atasan, pandai membujuk bawahan untuk menjadi terkenal sehingga segala pelaporan mengenai dirinya ke istana selalu baik dan menyenangkan.
Untuk menyenangkan hati para perwiranya inilah Ban Ciang tidak segan-segan untuk menangkapi wanita-wanita ini muda setiap hari, bahkan ia menggunakan serombongan pasukan yang tugasnya menangkap dan menyeret wanita-wanita muda sampai pula ke dusun-dusun untuk di bawa ke Thian-an-bun dan dipergunakan "menjamu"
Para perwira pembantunya setelah lebih dulu memilih yang tercantik untuk diri sendiri.
Setelah para perwira bosan, maka wanita-wanita muda itu dengan royal sekali ia lalu dihadiahkan kepada anak buah, terus turun sesuai dengan pangkat mereka sampai akhirnya wanita-wanita itu lenyap karena mati dan dikubur begitu saja di sungai sama seperti para pekerja.
Sedangkan untuk para wanita muda inipun merupakan pekerja-pekerja paksa yang nasibnya malah jauh lebih sengsara dan memalukan kalau dibandingkan para pekerja pria.
Dewi Suling yang telah berhasil memasuki markas, mengintai dari atas genteng bangunan terbesar yang berada di tengah markas Thian-an-bun.
Dari atas ia melihat sinar terang dan suara tertawa-tawa dan ketika ia mengintai ke bawah ia melihat bahwa dalam ruangan bawah itu para perwira sedang mengadakan pertemuan dalam sebuah pesta pora, bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dan dilayani oleh banyak wanita-wanita muda.
Hati Dewi Suling perih sekali rasanya ketika melihat keadaan wanita-wanita itu.
Jelas bahwa wanita itu adalah orang-orang yang sedang menderita bathin, wajah mereka yang cantik-cantik dan muda itu pucat dan seluruh gerak gerik mereka membayangkan kelelahan, kedukaan dan keputus-asaan yang menyedihkan.
Disamping perasaan kasihan ini, Dewi Suling marah sekali menyaksikan pula betapa para perwira, yang hadir di dalam pesta bersikap kasar dan tidak sopan terhadap pelayan wanita yang melayani mereka, mereka tertawa-tawa, mereka kadang-kadang menarik memeluk atau mencium seorang wanita begitu saja secara menjemukan.
Dan tempat pengintaiannya.
Dewi Suling melihat panglima Thian-an-bun yang tinggi besar dan berewokan.
Mudah saja mengenal Panglima Ban Ciang karena selain pakaiannya paling megah dan gagah juga ia merupakan satu-satunya orang yang paling dihormati di dalam ruangan diantara perwira-perwira yang jumlahnya kurang lebih tigapuluh orang itu.
Ban Ciang duduk di atas kursi besar menghadapi meja, diapit oleh dua orang tercantik yang melayani dengan arak dan makanan, menyumpitkan daging menyuapinya sambil memaksa mulut yang kecil itu tersenyum-senyum.
Ban Ciang kelihatan gembira, tertawa-tawa kalau bicara kepada para bawahannya dan kadang ia mencubit dagu perempuan di kiri atau menowel pinggang perempuan di kanan.
Akan tetapi Dewi Suling tidak memperdulikan kekurang ajaran mereka itu, karena ia sedang memperhatikan percakapan mereka.
Sambil tertawa-tawa Ban Ciang menceritakan kepada bawahannya tentang seorang tawanan yang menarik Dewi Suling.
"Ha-ha-ha ...... kalian akan melihat sendiri nanti. Tawanan itu adalah puteri jelita dan gagah perkasa dan cucu dari Thian-te Sin-kiam. Julukannya Sian-li Eng-cu."
"Aduh! Hamba pernah bertemu dengan dia. Memang hebat sekali, seperti bunga mawar hutan yang harum dan liar, seperti kuda betina liar, yang tentu akan menyepak dan menggigit kalau hendak ditundukkan, ha, ha, ha!"
Kata seorang panglima bawahan.
"Heh, heh! Itulah sebabnya mengapa aku segera minta dia digusur ke mari! Belum pernah aku mendapatkan yang seperti itu!"
Kata Ban Ciang mengangguk-angguk.
"Akan tetapi, tidakkah mereka itu datang dari selatan? Dan menurut penyelidik, di hutan sebelah selatan penuh dengan kaum pemberontak. Kabarnya para pelarian yang memberontak dipimpin empat orang muda itu kini makin banyak jumlahnya."
"Dan juga ada gerakan dari pemberontak yang dipimpin Huang-ho Sam-liong......"
Mendengar ucapan dua orang perwira itu Ban Ciang tertawa bergelak.
"Ha, ha, ha, memang sengaja kubiarkan saja mereka itu agar kurang waspada. Akan tetapi kalian bersiap-siaplah untuk melakukan penyembelihan karena aku sudah mengatur pasukan untuk penyergapan dan penangkapan agar sekaligus mereka itu dapat dihabiskan. Dan kalau nanti sampai dapat menangkap hidup-hidup dua orang gadis pemimpin para pelarian itu, hemm...... kabarnya mereka hebat-hebat!"
Selagi para perwira tertawa-tawa dan bercakap-cakap tiba-tiba muncul dua orang penjaga yang langsung melapor kepada Panglima Ban Ciang.
"Pasukan yang disuruh mengumpulkan tenaga ke barat sudah tiba, mohon keputusan tai-ciangkun!"
Berseri wajah Ban Ciang "Ha, Perwira Kwa sudah kembali? Lekas, suruh dia datang menghadap!"
Dari luar terdengar suara gaduh.
Dewi Suling memperhatikan dan dia menggigit bibir menahan marah ketika mendengar suara tertawa-tawa diantara isak tangis.
Tak salah lagi tentu Perwira Kwa yang memimpin pasukan mencari tenaga pekerja ke barat itu selain berhasil memaksa rakyat pekerja, juga telah menangkapi banyak wanita muda.
Sepasang mata wanita sakti ini seperi mengeluarkan api ketika ia mendapatkan kenyataan bahwa dugaannya benar.
Perwira she Kwa itu muncul, seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam bersikap kasar sekali, dan dengan bangga sambil tertawa-tawa perwira Kwa itu memamerkan hasil pekerjaannya kepada atasannya, yaitu selain ribuan orang pekerja paksa, juga lebih dari limapuluh wanita muda yang mereka culik dan tempat sepanjang perjalanan!
"Huah-ha-ha!
Bagus sekali Kwa-ciangkun, Jangan khawatir, jasamu sekali ini akan kucatat dan sampaikan ke kota raja.
Mari kita melihat-lihat domba-domba yaag kau dapatkan, aku ingin memilih satu-dua ekor......
ha, ha, ha!"
"Sekali ini cukup dan semua rekan tentu akan mendapat bagian!"
Kata perwira Kwa sambil tertawa puas.
Para perwira yang hadir menjadi gembira sekali karena mereka akan mendapatkan penghibur baru, juga para perwira rendahan bergembira karena kalau atasan mereka mendapatkan yang baru tentu yang lama akan dilemparkan kepada mereka.
Sambil tertawa-tawa perwira Kwa bertepuk tangan memberi isyarat kepada anak buahnya.
Sebuah pintu besar sebelah belakang yang tadinya tertutup, kini dibuka dan terdengarlah makin jelas isak-isak tertahan ketika serombongan wanita muda digiring memasuki melalui pintu ini.
"Tarr-tarr......!"
Ledakan-ledakan keras ini adalah suara cambuk yang dibunyikan di tangan Kwa-ciangkun.
Perwira she Kwa ini memang seorang ahli bermain cambuk dan hebatlah permainan cambuknya yang entah sudah merenggut nyawa beberapa banyak lawan.
Kini ia telah mengeluarkan cambuknya untuk menakut-nakuti para tawanan itu dan seraya berseru.
"Hayo berbaris satu-satu, tidak boleh menangis! Hayo tersenyum! Ha-ha-ha!"
Sungguh kasihan wanita-wanita muda ini, sebagian besar gadis gadis dusun yang bodoh dan tidak tahu apa-apa, mereka dengan wajah ketakutan berbaris seperti sekawanan domba digiring ke tempat penyembelihan.
Para perwira tertawa bergelak dan Panglima Ban yang berdiri paling depan sudak memilih dengan pandang matanya yang jalang.
Tiba-tiba Kwa-ciangkun meloncat ke depan mendekati seorang diantara para tawanan mereka itu dan membentak.
"Hei......! Engkau......! Siapa engkau? Mengapa baru sekarang aku melihatmu?"
Wanita itu cantik sekali, jauh lebih cantik daripada semua tawanan yang terdiri dari wanita-wanita dusun itu.
Selain cantik jelita, juga bentuk tubuhnya menggairahkan, kerling matanya tajam dan mulutnya yang manis itu membayangkan senyum memikat.
Wanita itu bukan lain adalah Ma Ji Nio si Dewi Suling!
Ketika dia ia tadi melihat para tawanan ia bermaksud menolong mereka.
Juga kalau ia menyerbu begitu saja menurutkan hati yang marah, dia tidak akan banyak berhasil, bahkan mungkin membahayakan keselamatannya dirinya sendiri.
Oleh karena itu dia lalu melayang turun dan menyelinap mendekati puluhan orang wanita itu, dengan niat hendak mendekati Panglima Ban Ciang dan turun tangan secara tiba-tiba.
Biarpun dia hanya akan berhasil membunuh seorang Ban Ciang saja akan tetapi hal itu merupakan keuntungan besar karena panglima ini adalah kepala dari semua barisan di Thian-an-bun.
Akan tetapi siapa kira sebelum ia tiba dekat Panglima Ban Ciang, ia telah terlihat oleh Kwa-ciangkun yang menegurnya dan mendekatinya dengan cambuk di tangan.
Dewi Suling memasang aksi, tersenyum main-main dan berkata dengan suara merdu.
"Tentu saja, mana seorang ciangkun mengenal seorang rendah seperti hamba? Hamba selalu bersembunyi di antara teman-teman wanita......"
Kwa-ciangkun tercengang. Wanita ini terlalu cantik untuk tidak terlihat olehnya sebelumnya, sikapnya terlalu manis, amat mencurigakan.
"Tarr-tarrr......!"
Cambuknya berbunyi keras dan berubah menjadi segulung sinar hitam yang menyambar-nyambar dari atas.
Dewi Suling terkejut sekali, akan tetapi ia masih dapat menahan hatinya dan berpura-pura ketakutan ketika cambuk menyambar.
Tahu-tahu cambuk itu ujungnya telah melibat tubuhnya, membuat kedua lengannya terbelenggu.
Hal ini terjadi tanpa ia rasakan, kulitnya tidak terluka dan bajunya tidak robek.
Hal ini saja sudah membuktikan betapa ampuhnya cambuk ini dan betapa pandainya Kwa-ciangkun, bermain cambuk.
"Hayo engkau ikut bersamaku lebih dahulu!"
Kwa-ciangkun menarik gagang cambuknya sehingga tubuh Dewi Suling tertarik keluar dari barisan wanita.
"Eh, Kwa-ciangkun, hendak kau bawa ke mana dia? Wah-wah, dia paling cantik di antara semua......! Berikan dia padaku, ciangkun!"
Terdengar suara Panglima Ban Ciang dan hati Dewi Suling berdebar girang. Inilah yang diharapkannya. Akan tetapi alangkah mendongkol hatinya ketika ia mendengar Kwa-ciangkun menjawab.
"Maaf, Tai-ciangkun. Saya tidak berani melepaskan wanita ini sebelum memeriksanya. Dia mencurigakan, siapa tahu akan mendatangkan bahaya. Kalau sudah saya periksa dan ternyata tidak apa-apa tentu akan saya antarkan kepada ciangkun!"
Setelah memberi hormat, Kwa-ciangkun menarik cambuknya dan membentak kepada Dewi Suling.
"Hayo, kau ikut aku sebentar!"
"Aku dipilih ciangkun...... kenapa kau menghalang? Cis, tak tahu malu!"
Dewi Suling mencoba untuk membantah dengan kata-kata, akan tetapi perwira tinggi besar itu sudah menyeret cambuknya sehingga Dewi Suling terpaksa menggerakkan kaki mengikutinya, ditertawai oleh para perwira lain yang menyaksikan adegan ini dengan gembira.
"Kwa-ciangkun jangan sampai lecet kulitnya yang halus. Sayang!"
Kata seorang perwira.
"Kalau dia mata-mata, serahkan kepadaku saja!"
Teriak perwira kedua. Kwa-ciangkun tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha jangan kalian mimpi, kawan-kawan! Kalau dia tidak berdosa, tentu Tai-ciangkun yang akan memilikinya, dan kalau dia ternyata mata-mata musuh, hemm, aku sendiri sudah tahu bagaimana caranya menghukum seorang mata-mata cantik seperti ini. Ha-ha-ha!"
Dewi Suling menggigit bibir menahan kemarahannya sambil menanti kesempatan baik, wanita yang sudah "matang"
Ini tidak sembarangan menurutkan perasaannya, maka ia sengaja terhuyung-huyung ketika ditarik memasuki sebuah kamar yang ternyata adalah sebuah kamar lebar terisi sebuah tempat tidur dan meja kursi.
Dengan kerling matanya Dewi Suling melihat betapa ketika perwira tinggi besar muka hitam itu menutupkan pintu kamar, ada beberapa orang perwira dengan muka menyeringai berada di luar kamar, agaknya hendak mengintai!
Hal itulah yang membuat Dewi Suling kembali menahan sabar.
"Hayo katakan siapa engkau? Engkau mata-mata kaum pemberontak yang dikirim mereka dan sengaja menyelundup masuk Thian-an-bun, ya? Hendak menyelidiki keadaan markas di sini, bukan?"
Sambil berkata demikian perwira itu menggerakkan gagang cambuknya dan tubuh yang tadinya terbelit cambuk, kini terputar di dalam kamar lalu roboh berlutut di atas lantai.
"Hayo mengaku kau!"
Cambuk digerakkan lagi dan "tarr, tarr, tarr......!"
Ujung cambuk melecut-lecut ke arah tubuh Dewi Suling.
Kembali Dewi Suling terkejut dan kagum karena ujung cambuk seperti berubah menjadi tangan yang merenggut dan merobek-robek pakaiannya.
Sementara itu, ada tiga orang perwira mengintai di luar kamar dari celah-celah daun pintu, melihat betapa cambuk Kwa-ciangkun melecut-lecut dan merobek-robek pakaian wanita cantik itu, mula-mula pakaian luarnya kemudian pakaian dalamnya yang juga berwarna putih bersih dari sutera tipis, ketiganya melotot.
Biji mata mereka seolah-olah hendak melompat keluar, mereka menyaksikan bentuk tubuh yang amat hebat, dengan lekuk-lengkung sempurna menggairahkan, dengan kulit yang putih halus.
Dewi Suling bukanlah seorang gadis yang masih hijau.
Sama sekali bukan!
Dia bahkan bekas seorang iblis betina cabul sehingga tentu saja ditelanjangi dengan cambuk seperti itu ia sama sekali tidak merasa canggung ataupun malu.
Malah ia sengaja menggerak-gerakkan tubuhnya seperti tidak disengaja, akan tetapi sesungguhnya gerakan-gerakannya memperlihatkan pemandangan yang amat menarik hati sehingga tangan Kwa-ciangkun yang memegang gagang cambuk menjadi gemetar!
Dewi Suling melirik ke arah pintu, lalu berkata dengan lagak malu-malu.
"Aihh...... kalau ciangkun memang suka kepadaku, kenapa membikin malu seperti ini? Diintai orang dari pintu......."
"Tarrr......!"
Ujung cambuk meledak di daun pintu yang tertutup rapat disusul bentakan Kwa-ciangkun.
"Siapa berani mengintai? Hayo pergi kalian!"
Para perwira tersenyum-senyum dan mereka masih melihat betapa Kwa-ciangkun mulai membuka pakaiannya sendiri!
Karena takut kalau-kalau Kwa-ciangkun marah, sambil tertawa-tawa mereka meninggalkan tempat itu, seorang diantara mereka berkata keras.
"Wah, selamat Kwa-ciangkun!"
Sebagai jawaban atas ucapan selamat ini agaknya dari dalam kamar yang kini daun pintunya tertutup rapat itu terdengar lagi bunyi ledakan-ledakan cambuk yang makin lama makin gencar dan makin nyaring.
Akan tetapi karena tidak terdengar jerit tangis wanita, mereka yang mendengar suara ini hanya tertawa-tawa, menganggap bahwa tentu Kwa-ciangkun menakut-nakuti si wanita itu dan mereka merasa iri hati karena menganggap bahwa tentu perwira itu menikmati banyak kesenangan dengan wanita cantik jelita itu.
Ah, kalau saja mereka itu tahu!
Kalau saja para perwira yang mulai dengan pesta pora memilih dan menyeret wanita-wanita tak berdosa itu dapat menjenguk ke dalam kamar tadi!
Tentu akan geger seluruh markas Thian-an-bun.
Ketika Dewi Suling merasa yakin benar bahwa tidak ada perwira lain mengintai kamar itu, ia mulai beraksi.
Dengan gerak dan gaya yang lemah gemulai dan menarik hati, ia mendekati Kwa-ciangkun yang memandangnya dengan hati tegang.
Melihat betapa wanita cantik itu tersenyum-senyum memikat.
Kwa-ciangkun tertawa lalu menubruk dan merangkul.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba merasa tubuhnya menjadi lemas.
Ia mengerahkan sin-kangnya dan hendak meronta daripada totokan jari tangan Dewi Suling, akan tetapi kembali jari tangan yang halus telah menotok jalan darah di leher, membuat perwira Kwa tak dapat mengeluarkan sedikitpun suara.
Ia tidak roboh karena tubuhnya diterima oleh lengan Dewi Suling yang kemudian mengempit tubuhnya dan dilemparkannya ke atas pembaringan sambil merampas cambuk.
Dewi Suling mendekati tubuh yang telanjang dan telentang itu.
Ia tersenyum dan mengerling manis sekali mendekatkan mukanya ke muka si perwira sehingga tercium oleh perwira itu bau harum dari pipi dan rambutnya.
"Kwa-ciangkun engkau hendak bersenang-senang, bukan? Hi hi hi, tidak sembarang orang dapat bersenang-senang dengan aku, akan tetapi juga tidak mungkin ada orang menghinaku seperti yang kau lakukan tadi dan masih dapat hidup......! Engkau mengenal ini?"
Dari kempitan ketiaknya, Dewi Suling mengeluarkan sebatang suling berwarna merah yang tadi ia menyembunyikan ketika ditelanjangi.
Melihat itu, dan memperhatikan wanita cantik ini, bibir Kwa-ciangkun bergerak, membentuk kata-kata tak bersuara.
"Dewi Suling......!"
Dewi Suling tersenyum lebih manis lagi akan tetapi sepasang matanya menyinarkan kebencian hebat, tangannya bergerak dan mulailah cambuk itu menari-nari dan melecut-lecut mengeluarkan suara ledakan, bertubi-tubi jatuh menimpa tubuh Kwa-ciangkun yang telanjang bulat!
Dapatlah kini perwira itu merasakan penderitaan karena siksaan cambuknya seperti yang sudah sering kali ia lakukan kepada orang-orang tawanan atau pekerja-pekerja paksa.
Tubuhnya bergulingan, menggeliat-geliat seperti seekor cacing terkena abu, akan tetapi karena ia berada dalam keadaan tertotok sehingga kaki tangannya lemas, ia tidak dapat bergerak banyak.
Mulutnya menjerit-jerit dan berteriak-teriak seperti babi disembelih, akan tetapi tidak ada suara keluar dari lehernya yang tertotok pula.
Dan ujung cambuk itu bergerak terus, melecut-lecut dan menyayat-nyayat.
Dalam waktu tidak lama, ketika akhirnya Dewi Suling menghentikan gerakan cambuk itu, tidak ada bagian kulit tubuh Kwa-ciangkun yang tidak tersayat, tidak ada yang utuh kembali seolah-olah ia telah dicacah ratusan pedang yang tajam.
Ia tidak menyerupai manusia lagi karena kulitnya sudah tersayat dan terkupas habis!
Akan tetapi benda berbentuk manusia yang berdarah-darah itu masih bergerak-gerak di atas pembaringan yang menjadi merah oleh darah ketika Dewi Suling melompat keluar dari dalam kamar melalui atap rumah, wanita sakti ini telah mengenakan pakaian yang ia dapatkan di dalam kamar sebelah belakang.
Terlalu banyak peristiwa mengerikan terjadi di dalam hari itu di markas Thian-an-bun.
Terlalu banyak wanita tak berdosa menjadi korban kebiadaban para perwira yang lebih buas dari pada binatang, sehingga hati Dewi Suling seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Mendengar ratap tangis dari dalam banyak kamar di markas itu, teringatlah ia akan perbuatannya sendiri dahulu, akan dosa-dosanya.
Tidak banyak bedanya antara dia dengan perwira-perwira itu ketika ia masih sesat dahulu.
Karena menyesal timbul kemarahannya yang luar biasa.
Ia meyelinap meloncat-loncat dan mencari dari atas genteng sampai akhirnya ia berhasil menemukan kamar Panglima Ban Ciang.
Panglima brewok itu sudah tidur mendengkur seperti seekor babi dan di sisinya, dua orang wanita muda terisak-isak menangis perlahan.
Dewi Suling melompat turun dan berindap-indap menghampiri kamar yang terjaga oleh dua orang pengawal, maklum itu adalah malam pesta, tentu saja penjagaan tidak dilakukan dengan keras, apalagi kamar Panglima Ban Ciang berada di tengah-tengah markas, siapa yang akan dapat mengganggu!
Dua orang pengawal itu merasa seperti dalam mimpi dan mereka itupun tewas dalam keadaan tidak sadar ketika tiba-tiba sinar merah berkelebat dan dua kali ujung suling di tangan Dewi Suling menusuk seperti seekor ular mematok yang menembus kerongkongan dua orang itu sehingga mereka roboh tanpa dapat menjerit lagi, hanya mengeluarkan suara mengorok sedikit yang masih kalah kerasnya oleh dengkur Panglima Ban Ciang dari dalam kamar.
Dewi Suling mendorong daun pintu dan melompat masuk.
Waktu itu, keadaan amat sunyi karena lewat tengah malam.
Dua orang wanita yang menahan tangis terisak-isak mengangkat muka dan memandang kepada Dewi Suling dengan heran dan takut-takut.
Dewi Suling cepat menaruh telunjuknya di depan bibir, kemudian ia sekali meloncat telah berada di dekat pembaringan.
Sejenak ia memandang wajah yang mendengkur itu penuh kebencian.
Muka perwira berewok itu terlentang matanya setengah terbuka mulutnya celangap mengeluarkan liur dan dengkur, berewoknya bergerak-gerak amat menjijikan.
Kemudian tangan kanan Dewi Suling bergerak, sinar merah bekelebat menotok tiga jalan darah terpenting.
"Duk-dukk-dukk!"
Tubuh yang tinggi besar itu seperti kemasukan setrum bersamaan matanya terbelalak lebar, mulutnya seperti hendak berteriak akan tetapi tidak ada suara keluar dan tubuhnya tidak dapat digerakkan.
Hanya biji matanya yang dapat bergerak dan berputaran, penuh kekagetan, keheranan dan kemarahan.
Panglima benteng Thian-an-bun ini masih belum merasa takut, hanya kaget, heran dan marah karena siapakah orangnya berani mengganggu dia?
Akan tetapi ketika Dewi Suling mengamangkan suling merahnya itu di depan hidungnya sambil berkata.
"Pembesar keparat, dosamu telah bertumpuk terhadap rakyat, kini rasakan pembalasan Dewi Suling atas nama rakyat!"
Seketika wajah yang berewokan itu menjadi pucat, matanya terbelalak penuh ketakutan!
Ban Ciang sudah mendengar akan sepak terjang Dewi Suling yang dalam hal kekejaman tidak kalah oleh dia sendiri!
Ingin ia membujuk untuk bekerja sama, atau mengancam, akan tetapi betapapun juga ia mengerahkan tenaga, ia tidak mampu membebaskan, diri daripada totokan yang aneh itu.
Melihat sinar takut membayang di muka panglima itu, Dewi Suling tertawa, kemudian tangannya mengangkat dan mencengkeram tangan kirinya sudah membekap erat-erat tengkuk pembesar itu.
Lalu tubuhnya berkelebat dan wanita sakti ini sudah meloncat keluar dari kamar, membawa tubuh panglima Ban Ciang seperti seekor kucing membawa tubuh seekor bangkai tikus besar saja.
"Kau tidak boleh mati terlalu enak!"
Kata Dewi Suling perlahan.
"Harus menjadi contoh bagi pembesar-pembesar lain!"
Dia lalu melompat ke atas genteng mendekam di wuwungan ketika melihat beberapa orang penjaga meronda.
Setelah mereka ini lewat, terdengarlah bunyi melengking tinggi yang memecahkan kesunyian malam itu, suara melengking yang mengerikan dan menyeramkan lebih-lebih lagi bagi Panglima Ban Ciang yang dikempit dan dibawa melompat tinggi oleh Dewi Suling.
Wanita sakti ini mengerahkan khikang dan ginkangnya, melompat sambil membawa tubuh tawanannya ke atas tiang bendera yang berdiri di tengah-tengah markas.
Bagaikan seekor burung dara saja tubuhnya melayang kemudian tangan kanannya menyambar puncak tiang dan tangan kiri mengangkat tubuh Panglima Ban Ciang, diangkatnya ke atas lalu.......
sekali banting tubuh itu bertemu ujung tiang.
Ujung tiang tidak runcing akan tetapi karena kuatnya Dewi Suling dan karena panglima yang tertotok itu tak dapat mengerahkan tenaga, maka terdengar suara keras, baju dan kulit perut robek ketika ujang tiang bendera itu amblas memasuki perut Panglima Ban Ciang.
Di bawah kini menjadi geger!
Bukan hanya oleh suara melengking tadi, melainkan kini para peronda telah menemukan dua orang penjaga kamar Panglima Ban Ciang dan menemukan pula perwira Kwa di dalam kamarnya.
Ributlah para perwira dan pasukannya, terbangun mendadak dari tidur, obor-obor dipasang dan dalam keadaan geger seperti itu, kabar menjadi simpang siur tidak karuan.
Ada yang bilang bahwa para pemberontak menyerbu.
Ada yang bilang bahwa markas diserang iblis dan bermacam-macam lagi.
Akan tetapi ketika semua orang lari keluar dan melihat ke atas, mereka terbelalak karena kaget melihat betapa tubuh panglimanya tertancap di ujung tiang bendera yang begitu tinggi, kaki tangannya bergerak-gerak dan dari atas pucak tiang itu melayang turun bayangan putih yang mengeluarkan suara melengking.
"Dewi Suling......!"
Beberapa orang perwira menduga ketika mendengar suara itu dan melihat bayangan langsing.
"Tangkap penjahat!"
"Kepung......!"
Makin ributlah keadaan di situ ketika Dewi Suling yang sudah melayang terus menyelinap kemudian jarum-jarumnya ia hamburkan dengan royal sekali.
Akan tetapi ia tidak mau sembarangan membunuh pasukan biasa.
Ia memilih korban dan sebagian besar yang terjungkal oleh jarum-jarumnya adalah para perwira!
Dewi Suling maklum bahwa kalau ia tidak cepat-cepat pergi, keadaannya akan berbahaya sekali.
Tak mungkin ia seorang diri melawan ratusan bahkan seribu lebih pasukan di dalam benteng!
Maka ia lalu menyimpan sulingnya, menyelinap dan menggunakan kesempatan selagi keadaan kacau balau para perwira dan wanita tawanan lari berserabutan, ia berhasil menerobos keluar melalui pintu gerbang kecil sebelah kiri, membunuh lima orang penjaganya.
Ketika pasukan menyerbu ke situ bayangan Dewi Suling sudah tak tampak lagi, ditelan kegelapan hutan-hutan di luar tembok benteng.
Demikianlah karena telah mendengar percakapan antara perwira di Thian-an-bun yang hendak menyerbu barisan pejuang di dalam hutan maka ketika pasukan bekas pekerja paksa yang dipimpin oleh Ouwyang Tek, Gui Siong, Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng, dikurung kemudian dibantu oleh pasukan di bawah pimpinan Ie Bhok dan Cui Hwa Hwa.
Dewi Suling dapat datang membantu mereka dan mengamuk dengan hebatnya.
Bahkan ketika pasukan pejuang itu melarikan diri dari dalam hutan untuk menuju ke daerah pegunungan di sebelah barat Thian-an-bun ia pun diam-diam mengikuti pasukan ini untuk menjaga keamanan.
Ketika ia menyaksikan betapa akrab hubungan antara Ouwyang Tek dan Lauw Ci Sian, dan antara Gui Siong dan Tan Li Ceng diam-diam tersenyum girang dan bersyukur di dalam hatinya bahwa dua orang pemuda yang pernah ia rindukan dan kagumi sampai sekarang itu telah memperoleh pilihan hati masing-masing, dan ia mengakui bahwa pilihannya tidak keliru karena dua gadis murid Tho-tee-kong Liong Losu itu adalah dara-dara jelita dan perkasa.
Pagi keesokan harinya, pasukan pejuang ini sudah harus bertempur lagi melawan limapuluh orang penjaga yang melakukan perondaan di pegunungan itu.
Ketika pasukan Mongol ini tiba di dekat telaga, tiba-tiba mereka disergap oleh para pejuang dan terjadilah lagi perang yang amat seru dan hebat.
Keadaan pasukan Mongol itu masih segar dan pasukan itu pun merupakan pasukan pengawal pilihan dipimpin oleh beberapa orang perwira Mongol yang kosen.
Sebaliknya para pejuang sudah amat lelah, semalam suntuk melakukan perjalanan sehabis berperang mati-matian.
Untung bahwa di situ selain ada Ouwyang Tek, Gui Song, Ci Sian dan Li Ceng yang gagah perkasa, terdapat pula Dewi Suling yang mengamuk bagaikan seekor naga betina sehingga sepak terjangnya membangkitkan semangat para pejuang.
Dan pada saat ramai-ramainya pertempuran, muncullah pasukan pengemis sabuk merah dipimpin sendiri oleh ketuanya, Ang Kwi Han!
Munculnya pasukan pengemis ini merupakan tanda kehancuran bagi para perajurit Mongol.
Ketika perang selesai dengan robohnya seluruh anggauta pasukan Mongol, barulah semua pejuang melihat bahwa diantara mereka terdapat pula Liem Siok Lan, gadis perkasa yang telah mereka kenal itu!
Tentu saja Ang Kwi Han dan anak buahnya merasa tidak enak bertemu dengan gadis ini, juga anak buah Ie Bhok terutama sekali Cui Hwa Hwa.
Akan tetapi dasar Liem Siok Lan orang gadis yang tidak perdulian, tak kenal takut dan dasar wataknya riang jenaka, ia tidak perduli melihat muka yang cemberut kepadanya itu.
Akan tetapi sambil tersenyum riang ia menyambut uluran tangan Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng yang tersenyum dan berkata kepadanya.
"Sungguh bahagia bagi kami dapat bertemu dengan Sian-li Eng-cu yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw! Dan memang tepat sekali julukan adik, engkau amat cantik dan manis seperti bidadari!"
Siok Lan menyambar tangan Tan Li Ceng dan mencela.
"Wah-wah, siapa tidak melihat sepak terjangmu tadi ketika mengamuk? Aku masih kalah jauh, dan engkau menyebutku adik? Ah, aku melihat engkau tidak lebih tua dari pada aku, bukankah begitu, enci Ci Sian?"
Dua orang gadis murid Tho-tee-kong Liong Losu ini menjadi gembira dan senang sekali kepada Siok Lan yang bersikap demikian polos dan ramah jenaka.
Segera mereka menjadi sahabat-sahabat baik bercakap-cakap dan bersenda gurau.
Melihat ini, mereka yang mendongkol terhadap Sian-li Eng-cu, makin merasa tidak enak dan menahan perasaan mereka.
Betapapun juga, Siok Lan telah membuktikan bahwa gadis inipun ikut berjuang melawan penjajah, bahkan pernah dijadikan tawanan penting.
Di samping kenyataan ini, juga mereka semua masih menghormati kakek gadis ini, yaitu Thian-te Sin-kiam yang terkenal sebagai bekas pejuang besar.
Demikianlah, pendekar muda-muda yang perkasa itu berkumpul dalam sebuah pasukan pejuang yang kuat dan mereka ini bersama pasukannya cukup memusingkan para perwira di Thian-an-bun.
Apalagi setelah kematian Panglima Ban Ciang disusul oleh kematian-kematian para perwira lainnya yang hampir terjadi setiap malam.
Kematian-kematian aneh yang selalu diawali lengking tangis mengerikan dan kadang-kadang disertai tulisan darah si korban pada dinding benteng atau pada permukaan bendera bahwa selama para perwira Mongol menindas kaum pekerja paksa dan menculik wanita-wanita muda, maka pembunuhan-pembunuhan terhadap para perwira akan dilanjutkan terus?
Tentu saja semua pembunuhan gelap ini dilakukan oleh Dewi Suling yang dibantu orang-orang pandai dalam pasukan pejuang itu seperti Cui Hwa Hwa, Ang Kwi Han, kedua orang pemuda perkasa murid Siauw-bin-mo Hap Tojin dan kedua orang gadis perkasa murid Tho-tee-kong Liong Losu, tidak ketinggalan pula Sian-li Eng-cu Liem Siok Lan.
Selain orang-orang gagah ini sering kali muncul pula secara diam-diam Pendekar Cengeng!
Hal ini di ketahui ketika pada suatu malam, mereka, termasuk pula Dewi Suling mendengar lengking yang jauh lebih tinggi dan kuat dari pada lengking yang ia keluarkan kemudian melihat bayangan putih berkelebat memasuki benteng Thian-an-bun dan disusul dengan suara hiruk pikuk dan geger di dalam benteng lalu kelihatan asap mengebul di sebelah kiri benteng.
Kemudian, kembali bayangan putih berkelebat tak jauh dari tempat mereka bersembunyi, lalu turun dan melepaskan dua orang gadis tawanan yang telah berhasil diselamatkannya, kemudian sekali berkelebat bayangan itu lenyap.
Ditinggalkannya dua orang gadis tawanan itu di dekat tempat para pejuang bersembunyi menunjukkan bahwa pendekar besar itu telah tahu di mana mereka bersembunyi!
"Yu-taihiap......!"
Hampir berbareng Ouwyang Tek dan Gui Siong berseru memanggil.
"Ahh, Pendekar Cengeng! Kenapa tidak bergabung dengan kami?"
Ang Kwi Han ketua para pengemis Ang-kin Kai-pang juga berseru dengan suaranya yang parau dan nyaring.
"Pendekar Cengeng......!"
Dewi Suling juga memanggil akan tetapi perlahan dan agaknya mengeluarkan panggilan ini tanga disadari karena ia kelihatan tercengang kemudian berdiri termenung.
Semua ini terdengar dan tampak oleh Siok Lan yang berdebar-debar jantungnya.
Kiranya benar Pendekar Cengeng yang kadang-kadang muncul secara rahasia.
Tentu telah disampaikan oleh A-liok segala perasaan bencinya terhadap pendekar itu.
Tampak pula olehnya betapa munculnya pendekar itu yang hanya sebentar membuat Ci Sian dan Li Ceng menundukkan muka dan sama sekali tidak bergerak, seperti orang takut-takut atau malu-malu!
Kemudian dari jauh sekali namun dengan suara yang menggetar tanda bahwa suara itu dikemudikan khikang yang bebat, terdengar si Pendekar Cengeng menjawab.
"Harap cuwi kembali ke hutan, di sini berbahaya. Aku telah membunuh panglima mereka yang baru, karena panglima itu kejam. Hormatku kepada semua teman yang gagah perkasa. Lain waktu aku akan mengunjungi cuwi di hutan.......!"
Karena dari dalam benteng terdengar suara ribut-ribut dan keadaan memang amat berbahaya kalau pasukan di dalam benteng itu mengadakan pengejaran keluar, maka para pejuang ini lalu pulang ke tempat persembunyian mereka di hutan sambil membawa serta dua orang gadis remaja yang tadinya menjadi tawanan dan berhasil dibebaskan oleh Pendekar Cengeng.
Di dalam perjalanan kembali ke hutan ini, suasana menjadi sunyi.
Seperti biasanya, Dewi Suling tidak tampak lagi.
Memang semenjak bersama diantara para pejuang, Dewi Suling selalu menjauhkan diri, hanya bersatu dikala menghadapi musuh saja.
Agaknya wanita ini maklum bahwa para pejuang itu agak segan berdekatan dengan dia, maka ia tahu diri dan selalu menjauhkan diri dari siapapun juga sungguhpun pada hakekatnya, para pejuang kagum kepadanya juga bahwa Ouwyang Tek dan Gui Siong dua orang yang pernah menjadi korban keganasannya di waktu dahulu itu kini tidak lagi mendendam atau membencinya.
"Li Ceng, siapakah sebetulnya Pendekar Cengeng itu? Bukankah dia yang bernama Yu Lee? Dia itu orang macam apa sehingga gerak geriknya begitu aneh seperti setan, dan mengapa tidak mau menemui kita?"
Di tengah perjalanan Siok Lan berbisik kepada Li Ceng. Gadis cantik berpakaian pria itu menghela napas panjang.
"Ahhhh, siapa orangnya dapat mengikuti gerak gerik seekor naga terbang di angkasa yang amat sakti itu? Dia adalah seorang pendekar yang pada masa kini tiada keduanya Siok Lan. Dan jangan sekali-kali kau menyebutnya seperti setan karena dia adalah seorang pendekar besar dan budiman......"
"Pendekar besar apa? Budiman apanya? Aku anggap dia hanya seorang yang sombong......!"
Ucapan Siok Lan ini dikeluarkan dengan nada marah dan agak keras sehingga Ci Sian menengok dengan mata terbelalak lalu berkata.
"Shh...... adik Siok Lan, jangan berkata demikian! Dia amat sakti, mungkin sekarang juga dapat mendengarkan kata-katamu!"
Siok Lan makin panas perutnya. Ia membusungkan dada dan berkata.
"Habis, kalau dia bisa mendengar mau apa dia? Aku sih tidak takut pada seorang sombong!"
Liauw Ci Sian dan Tan Li Ceng hanya dapat saling pandang!
Untung bahwa yang lain-lain agak berjauhan, sehingga tidak dapat mendengar betapa Siok Lan memaki-maki Pendekar Cengeng, pikir dua orang gadis ini.
Mereka ini paling dekat pengaulannya dengan Siok Lan dan telah mengenal Sian-li Eng-cu sebagai seorang gadis yang berwatak polos, jujur, berani mati dan juga aneh, mudah marah dan mudah gembira, lincah jenaka akan tetapi juga amat perasa.
Mereka tidak bicara lagi karena khawatir kalau-kalau Siok Lan akan menjadi jadi dalam kemarahannya yang aneh terhadap Pendekar Cengeng.
Malam hari Siok Lan tidak dapat tidur.
Hatinya gelisah kalau ia memikirkan A-liok.
Mengapa sampai begitu lamanya pelayannya itu tidak muncul?
Dan mengapa pula Pendekar Cengeng yang sudah muncul itu seolah-olah selalu menghindarkan diri dari padanya?
Menurut Li Ceng, sudah beberapa kali selama ini Pendekar Cengeng menemui para pejuang, bahkan mengatur siasat bersama-sama mereka.
Perjuangan mereka berhasil baik.
Sudah tiga kali semenjak Panglima Ban Ciang dibunuh Dewi Suling, panglima-panglima baru yang menjabat sebagai komandan Thian-an-bun, dapat mereka bunuh sehingga sekarang kabarnya kota raja mengirimkan seorang panglima yang selain amat lihai ilmunya juga tidak kejam seperti panglima-panglima yang lain.
Panglima baru ini yang namanya Ouw Beng Tat, bekas panglima kerajaan Sung selatan, adalah seorang tokoh besar dalam dunia kang-ouw karena dia adalah seorang berilmu tinggi dan dahulu terkenal membela kerajaan Sung Selatan.
Setelah kerajaan Sung jatuh, pihak Mongol yang melihat seorang yang amat benguna ini tidak membunuhnya begitu saja, melainkan berhasil membujuknya dan mengangkat orang yang pandai ini sebagai seorang panglima di kota raja.
Kini, melihat keadaan Thian-an-bun yang didorong-dorong oleh kaum pejuang, kaisar sendiri mengutus Ouw Beng Tat untuk menenteramkan keadaan di Thian-an-bun dan menjaga agar pekerjaan penggalian terusan itu dilaksanakan dengan baik.
Ouw Beng Tat dapat ditundukkan karena orang gagah ini amat kagum terhadap Jengis Khan, pendiri kerajaan Mongol yang juga adalah seorang gagah perkasa yang sukar dicari bandingnya.
Ia dapat menghargai pengangkatan dirinya dan ketika menerima tugas di Thian-an-bun ia segera mengambil langkah-langkah penting.
Pertama-tama ia menurunkan perintah dan peringatan tegas terhadap semua perajurit agar tidak lagi menangkapi wanita-wanita, bahkan wanita-wanita yang masih dikeram di situ semua dibebaskan, mendapat pesangon dan dikirim pulang ke kampung masing-masing.
Untuk keperluan para perwira anak buahnya, ia memerintahkan agar dicarikan wanita-wanita pelacur yang dipekerjakan di Thian-an-bun.
Panglima yang pandai ini mengerti kalau kebutuhan jasmani para pasukan tidak dipenuhi sukar mencegah terjadinya gangguan terhadap wanita-wanita baik-baik, selain ini, langkah kedua yang amat penting telah pula diambilnya yaitu memperbaiki jaminan bagi kaum pekerja paksa.
Mereka ini tentu saja tidak mendapat upah, akan tetapi setidaknya, jaminan hidup bagi mereka dicukupi setiap hari mendapat makan dan cara bekerja diatur secara bergilir!
Tindakan ini amat menguntungkan pemerintah Goan sendiri, karena setelah para pekerja mendapat makan cukup dan istirahat cukup, daya kerja mereka meningkat.
Juga jangka waktu kerja paksa ini diatur, yang lama dibebaskan untuk diganti yang baru, sedangkan istilahnya juga dirobah, bukan lagi kerja paksa, melainkan kerja bakti!
Memang harus diakui, perjuangan orang-orang gagah yang masih menyembunyikan diri di hutan-hutan sebelah barat Thian-an-bun berhasil amat baik.
Tentu saja mereka tidaklah mungkin dapat mengusir penjajah atau mengalahkan barisan penjajah yang amat banyak itu.
Namun memang bukan itu tujuan utama mereka melainkan disesuaikan dengan keadaan mereka yang hanya terdiri dari ratusan orang.
Tujuan mereka adalah mencegah terjadinya penindasan-penindasan dan menolong rakyat.
Kalau keadaan rakyat tidak tertindas lagi, dan kalau mereka dapat bergabung dengan barisan pejuang lain yang lebih besar, barulah mungkin mereka akan memikirkan perjuangan untuk membebaskan tanah air dari tangan penjajah.
Siok Lan melamun seorang diri di dalam hutan.
Biasanya ia tidur bersama Li Ceng dan Ci Sian di bawah sebatang pohon besar akan tetapi malam itu ia menyendiri di tempat gelap.
Hatinya risau mengingat A-liok, juga penasaran mengingat Pendekar Cengeng.
Malam-malam yang lalu ia tidak begitu sedih karena terhibur oleh pekerjaan mengacau Thian-an-bun.
Akan tetapi semenjak Ouw Beng Tat merobah peraturan dan memperketat penjagaan, para pejuang menjadi menganggur dan mulai ia teringat akan urusan pribadi, ia harus menemui Pendekar Cengeng!
Ia teringat akan cerita Li Ceng bahwa pendekar itu kalau datang di waktu malam, datang dan pergi tanpa diketahui orang lain kecuali mereka yang hendak dijumpainya.
Teringat akan ini, Siok Lan lalu bangkit dan bergerak menyelinap di antara pohon-pohon dan malam yang gelap.
Biarlah pikirnya, aku akan melakukan perondaan dan pengintaian.
Masa aku tidak akan dapat bertemu dengannya?
Kalau ia datang menemui seseorang di hutan ini, tentu aku akan dapat melihatnya dan aku akan keluar, langsung menantangnya!
Atau terus saja menyerangnya?
Jantungnya berdebar dan tanpa disadarinya lagi, jari tangan kanannya meraba gagang pedangnya.
Malam itu tidak terlalu gelap.
Sinar bulan menerobos di antara celah-celah daun pohon dan Siok Lan dapat melihat ke depan dalam jarak sepuluh tombak.
Ia terus menyelidik dan menyelinap di tempat-tempat gelap.
Para pejuang sudah banyak yang tidur dan hanya mereka yang bertugas jaga saja yang masih berdiri di tempat penjagaan dan ada pula yang meronda.
Akan tetapi tak seorangpun dapat melihat Siok Lan yang bergerak hati-hati dan melangkah dengan kaki ringan sekali.
Tiba-tiba gadis ini menghentikan gerakannya karena ia melihat sesosok bayangan putih berkelebat cepat di sebelah depan.
Tubuh yang ramping dan pakaian yang putih itu segera dikenalnya baik-baik.
Dewi Suling!
Hatinya berdebar.
Juga Dewi Suling bergerak seperti dia, tidak sewajarnya berjalan biasa melainkan menyelinap dan dengan hati-hati seperti orang hendak mengintai.
Ia lalu diam-diam mengikuti dari belakang dan cepat menyelinap di balik pohon ketika ia melihat Dewi Suling melayang naik ke atas pohon dan diam tak bergerak.
Kagum ia menyaksikan cara Dewi Suling melompat ke atas pohon, separti burung saja.
Harus diakuinya bahwa di antara para pejuang yang berkumpul di hutan itu hanya ada tiga orang yang lebih tinggi ilmunya daripadanya.
Pertama adalah Cui Hwa Hwa kedua Ang Kwi Han dan ketiga adalah Dewi Suling.
Terutama Dewi Suling ini yang ia tahu amat lihai, lebih lihai daripada Cui Hwa Hwa atau Ang Kwi Han!
Kini tahulah ia bahwa Dewi Suling diam-diam juga mengintai, seperti dia dan jantungnya berdebar tegang ketika ia melihat seorang bertubuh tinggi tegap berpakaian putih berdiri menghadapi Ouwyang Tek dan Gui Siong.
Agaknya mereka bertiga sedang bicara dengan keras nadanya seperti orang bertengkar.
Sayang pada saat itu, orang yang berpakaian putih itu memutar tubuh sehingga membelakanginya, akan tetapi biarpun ia hanya melihat dari belakang, ia menduga bahwa dia itulah orang yang dicari-cari.
Dialah Pendekar Cengeng!
Dan ia makin yakin akan kebenarannya ketika mendengar Ouwyang Tek menyebut "Yu-taihiap"
Kepada orang itu.
Dialah Si Pendekar Cengeng Yu Lee tunangannya yang amat sombong terhadap dirinya!
Ingin ia melompat dan menerjang orang sombong itu, akan tetapi betapa ia dapat melakukan hal ini kalau Pendekar Cengeng sedang bercakap-cakap dengan dua orang pemuda itu dan di situ terdapat pula Dewi Suling yang mengintai?
Sama halnya dengan membuka kedok sendiri.
Tidak, ia harus menanti, dan percakapan antara mereka bertigapun amat menarik hatinya.
Seperti halnya dengan Dewi Suling yang berdiam di atas pohon tak bengerak Siok Lan pun diam tak bergerak di balik batang pohon, agak jauh di belakang Dewi Suling.
Terdengar olehnya orang berpakaian putih itu berkata setelah menarik napas panjang, suaranya halus.
"Sudahlah, harap ji-wi sudahi saja urusan ini dan harap jangan mendesak aku yang tidak merasa bersalah."
Ouwyang Tek membantah, suaranya tidak sabar.
"Memang, Yu-taihiap. Kami berduapun tidak menyalahkan taihiap. Ketika itu, kedua nona Ci Sian dan Li Ceng tertawan penjahat dan tentu akan mengalami bencana hebat kalau tidak taihiap menolong mereka. Akan tetapi......"
Pemuda tinggi besar yang tak pandai bicara ini tak dapat melanjutkan kata-katanya, termanggu-manggu dan mengepal-ngepal tinjunya yang besar.
"Pendeknya, Yu-taihiap harap sudi menerima mereka menjadi isteri-isteri taihiap, kalau tidak......"
"Kalau tidak bagaimana, saudara Ouwyang?"
Pendekar Cengeng bertanya nada suaranya membayangkan kekesalan hati.
"Terpaksa kami menantang taihiap untuk menyelesaikan urusan ini di ujung senjata! Kami rela mati......"
Melihat keadaan suhengnya yang sukar bicara itu Gui Siong melangkah maju dan dia berkata, suaranya lancar dan ramah tidak seperti Ouwyang Tek, namun mengandung ketegasan.
"Harap Yu-taihiap suka mempertimbangkan. Kedua orang nona itu adalah nona-nona yang suci dan gagah perkasa. Taihiap telah menolong mereka berdua ketika ditawan dan dalam keadaan telanjang bulat. Sebagai dua orang nona yang suci, tentu saja hal ini bukan urusan kecil. Bagi mereka, terlihat oleh seorang pria dalam keadaan seperti itu merupakan hal yang hanya dapat ditebus dengan nyawa kecuali kalau yang melihatnya adalah calon suami mereka. Maka, sekali lagi, kami berdua mohon dengan hormat supaya taihiap melimpahkan kebijaksanaan, sudilah memperisteri mereka untuk mencuci aib dan noda itu. Kami berdua sudah bersumpah untuk membereskan urusan ini, kalau perlu kami sanggup berkorban nyawa di depan taihiap demi kebahagiaan kedua orang nona itu."
"Hemm...... mana ada aturan seperti ini? Ji-wi (kalian) terang mencinta mereka berdua, mengapa memaksa aku harus memperisteri mereka? Tidak saudara Ouwyang dan saudara Gui aku tidak mungkin dapat menerima permintaan kalian ini. Ketahuilah, bahwa urusan jodoh bukan urusan sembarangan. Kalian mencinta mereka dan aku dapat menduga bahwa merekapun mencinta kalian, kenapa tidak kalian berdua yang menjadi suami mereka?"
"Apakah taihiap tidak mencinta mereka?"
Tanya Ouwyang Tek tidak percaya.
Masa di dunia ini ada laki-laki yang tidak mencinta dua orang murid Liong Losu itu, terutama Lauw Ci Sian!
"Hemm......
akupun seorang manusia biasa saudara Ouwyang.
Kalau kalian dapat mencinta orang akupun dapat.
Dan aku......
aku sudah mempunyai pilihan hati sendiri tak mungkin aku menikah dengan orang lain, apalagi dengan kedua orang yang menjadi pilihan hati ji-wi!"
"Tidak! Keputusan kami sudah pasti! Yu-taihiap harus mengawini mereka untuk menebus dia dari malu, kalau tidak mau, terpaksa malam ini juga kita selesaikan di ujung senjata."
"Betul seperti yang dikatakan suheng, Yu-taihiap. Tekad kami sudah bulat, malam inilah keputusan terakhir. Tinggal taihiap pilih, menerima mereka sebagai isteri atau...... taihiap harus membunuh kami berdua lebih dulu sebelum dapat menolak mereka begitu saja!"
Kata Gui Siong. Pendekar Cengeng kelihatan marah.
"Hemm...... kalian ini orang-orang muda yang keras kepala tapi bodoh. Hentikan permainan gila ini!"
"Apakah Yu-taihiap takut menghadapi kami berdua? Kalau takut dan merasa tidak adil biarlah kami maju seorang demi seorang sungguhpun dengan maju berdua kami masih bukan tandinganmu,"
Kata Ouwyang Tek. Kini Pendekar Cengeng menjadi marah.
"Baiklah kalian yang minta, bukan aku. Nah, mari kita main-main sebentar!"
Berdebar jantung Siok Lan.
Dia tidak tahu apa urusannya maka sampai terjadi peristiwa yang membingungkan itu.
Apakah......
apakah Pendekar Cengeng tunangannya itu selain sombong tidak memandang mata kepadanya juga telah melakukan sesuatu terhadap Ci Lian dan Li Ceng?
Karena kalau hanya menolong mereka dalam keadaan telanjang bulat begitu saja tidak mungkin dua orang muda yang mencinta dua orang gadis itu begitu bernafsu menantang Pendekar Cengeng.
Tidak tentu Pendekar Cengeng telah melakukan pelanggaran susila.
Ah Celaka benar.
Tunangannya ini biarpun seorang pendekar ternyata seorang laki-laki cabul!
Naik sedu sedan dari dadanya akan tetapi Siok Lan menahannya dan terus mengintai.
Ia melihat ke atas di mana tadi Dewi Suling bersembunyi akan tetapi alangkah herannya ketika ia tidak lagi melihat adanya wanita itu yang entah sejak kapan telah pergi agaknya, ia tidak memperdulikau lagi kepada Dewi Suling yang telah lenyap, melainkan mencurahkan perhatiannya ke depan dengan jantung berdebar.
Dua orang murid Siauw-bin-mo Hap Tojin itu telah mengeluarkan senjata mereka, yaitu pedang yang mengeluarkan sinar berkilau tertimpa cahaya bulan.
Di lain pihak Pendekar Cengeng sudah memungut sebatang ranting pohon yang banyak terdapat di bawah pohon.
"Harap keluarkan senjatamu, Yu-taihiap! Ataukah engkau begitu sombong dan memandang rendah kami sehingga hendak menghadapi pedang kami dengan ranting itu?"
Tanya Ouwyang Tek.
"Hemm, harap kau jangan memandang rendah ranting di tanganku, saudara Ouwyang! Atau barangkali engkau belum mendengar akan ilmu silatku Ta-kwi-tung-hwat?"
Mendengar Pendekar Cenceng menyebut nama ilmu Silat Memukul iblis itu, marahlah Ouwyang Tek, yang mengira bahwa pendekar itu menyamakannya dengan iblis.
"Bagus! Kau lihat pedangku!"
Dengan gerakan dahsyat Oawyang Tek menerjang dengan pedangnya, diikuti, oleh sutenya.
Siok Lan menonton dengan jantung berdebar.
Ia melihat betapa gerakan pedang Ouwyang Tek benar-benar dahsyat dan mengandung tenaga amat besar setiap melakukan penyerangan.
Adapun ilmu pedang Gui Siong juga indah dan berbahaya sekali, gerak geriknya halus akan tetap mengandung banyak gerak tipu yang menyesatkan lawan.
Pantaslah Ouwyang Tek memiliki ilmu pedang yang disebut Pek-lui-kiam-hoat (Ilmu Pedang Kilat) sedangkan Gui Siong memiliki ilmu pedang Bi-ciong-kiam-hoat (Ilmu Pedang Menyesatkan) sehingga ilmu pedang mereka itu memiliki sifat-sifat yang berbeda, bahkan bertentangan.
Ia diam-diam harus mengakui bahwa kalau dia dikeroyok oleh dua pemuda itu, akan sukarlah baginya untuk mencapai kemenangan sungguhpun kalau melawan satu sama satu, ia masih sanggup mengatasi mereka.
Apalagi kini Pendekar Cengeng hanya menghadapi mereka dengan sebatang ranting kayu!
Jantungnya (Lanjut ke
Jilid 18) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18 berdebar penuh kekhawatiran.
Laki-laki yang dikeroyok itu adalah tunangannya!
Yang yang dicalonkan menjadi jodohnya!
Akan tetapi alangkah bencinya ia kepada orang ini.
Pertandingan sudah dimulai dan Siok Lan menjadi bengong karena kaget, heran dan kagum.
Ia hanya melihat tubuh laki-laki berpakaian putih itu bergerak-gerak sedikit, akan tetapi ranting di tangannya membentuk lingkaran-lingkaran aneh yang membuat kedua sinar pedang lawan selalu menyeleweng arahnya!
Dan hebatnya Pendekar Cengeng seolah-olah tidak berpindah tempat, atau lebih tepat lagi, tidak pernah memutar kedudukannya sehingga begitu lama Sok Lan belum juga dapat melihat wajah laki-kaki itu karena di dalam pergerakannya menghadapi dua orang lawan tangguh, Pendekar Cengeng itu selalu membelakanginya!
Makin lama makin seru kedua orang muda itu menerjang.
Setelah lewat limapuluh jurus dan pedang mereka lama sekali belum dapat menyentuh ujung baju Pendekar Cengeng, kedua orang muda itu mulai menjadi penasaran sekali.
Mereka sudah cukup maklum akan kehebatan Pendekar Cengeng, dan mereka sudah tahu pula bahwa mereka tidak akan menang melawan pendekar sakti itu.
Akan tetapi, mereka berdua memegang pedang sedangkan Pendekar Cengeng hanya mainkan sebatang rating kayu kecil bagaimana kini mereka sama sekali tidak berdaya dan setiap penyerangan mereka selalu menyeleweng arahnya?
Benar-benarkah mereka terlalu lemah dan bodoh!
Bukan hanya itu saja malah kadang batang ranting itu tiba-tiba menyelinap dan mengancam dengan totokan ke arah tubuh mereka bagian belakang padahal lawan mereka masih berada di depan mereka!
"Yu-taihiap, lekas jatuhkan aku kalau kau mampu,"
Ouwyang Tek marah karena merasa dipermainkan.
"Yu-taihiap, aku akan mengadu nyawa denganmu!"
Teriak Gui Siong.
Dua orang muda itu kini lebih hebat menggerakkan pedang dan sama sekali tidak memperdulikan keselamatan tubuh sendiri.
Menghadapi dua orang muda yang kepandainnya juga tinggi dan amat nekad ini, Pendekar Cengeng kewalahan juga dan kini terpaksa ia kadang-kadang menggunakan lengan kirinya disampokkan ke depan.
Namun hebat bukan main tenaga sampokan ini, karena setiap kali sampokan membuat lawan terhuyung ke belakang dan gagal serangannya.
Memang itu bukanlah sembarangan pukulan melainkan ilmu pukulan Sin-kong-ciang (Pukul Sinar Sakti).
Kembali Siok Lan kagum setengah mati.
Tunangannya itu benar-benar hebat dan kalau dia melawan Pendekar Cengeng, sudah pasti ia akan kalah dalam waktu singkat!
Alangkah akan bahagia rasa hatinya memiliki seorang tunangan yang demikian gagah perkasa, akan tetapi......
hatinya menjadi panas karena teringat betapa Yu Lee tidak pernah muncul dan memberi kabar sehingga menyusahkan hati keluarganya dan membikin dia malu dan merasa terhina.
"Sudahlah, Ji-wi harap menghabisi urusan ini sekian saja. Kalau perlu sekarang juga aku akan meninggalkan tempat ini......"
"Tidak! Engkau harus dapat membunuh kami lebih dulu!"
Kata Gui Siong.
"Kalau engkau pergi melarikan diri, kami akan menggorok leher sendiri di sini!"
Kata pula Ouwyang Tek.
Yu Lee atau Pendekar Cengeng itu terkejut sekali.
Kiranya dua orang ini benar-benar sudah bertekad untuk membunuhnya kalau dia tidak mau untuk menjadi suami dua orang gadis cantik murid Liong Losu!
Dan ia tahu bahwa kata-kata yang keluar dari mulut seorang seperti Ouwyang Tek bukanlah ancaman kosong belaka.
Mungkin dia akan membunuh diri disitu kalau ia meninggalkan mereka.
Pada saat itu, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Dewi Suling telah berada disitu, berseru keras.
"Berhenti bertempur antara kawan sendiri......!"
"Cui-siauw Sianli (Dewi Suling) harap jangan mencampuri urusan kami! Ini urusan pribadi!"
Bentak Ouwyang Tek marah.
"Aku tidak mencampuri urusan pribadi siapa-siapa, hanya saat ini musuh datang menyerbu! Aku melihat adik Ci Sian dan adik Ceng ditawan musuh."
"Apa......? Di mana......!!?"
Teriakan ini keluar dari mulut Gui Siong dan Ouwyang Tek hampir berbareng.
"Lekas kalian tolong! Terlalu banyak lawan tangguh tadi sehingga aku tidak sempat menolong. Di pondok sebelah kiri dari sini...... kalian lekas tolong!"
Belum habis ucapan Dewi Suling, dua orang muda itu sudah berlari cepat seperti berlumba menuju ke arah pondok kecil yang dijadikan tempat jaga di sebelah kiri hanya sejauh satu lie dari situ.
Mereka mengerahkan seluruh ginkang mereka untuk cepat-cepat dapat menolong dua orang gadis yang menjadi pujaan hati mereka.
Dalam waktu yang sebentar saja Ouwyang Tek dan Gui Siong telah tiba di luar pondok.
Mereka melihat sinar api di dalam pondok akan tetapi kedaannya sunyi saja sehingga mereka semakin curiga.
Setelah bertukar pandang mereka menerjang pintu pondok dengan pedang di tangan.
Sekali tendang saja, pintu pondok itu jebol dan mereka melompat masuk dan......
keduanya berdiri terbelalak dengan muka pucat.
Apakah yang mereka lihat?
Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng benar-benar berada dalam pondok itu, di atas pembaringan rebah terlentang tak dapat berkutik sama sekali, agaknya tertotok, dan yang lebih hebat lagi kedua orang gadis itu berada dalam keadaan telanjang bulat sama sekali, tubuh mereka yang berkulit putih itu tidak tertutup sehelai benang pun, nampak jelas di bawah sinar lampu yang dibesarkan!
Ouwyang Tek dan Gui Siong tertegun, juga terpesona, kemudian mereka sadar, saling pandang lalu keduanya menubruk maju.
Otomatis Gui Siong melompat ke dekat Li Ceng sedangkan Ouwyang Tek melompat ke dekat Ci Sian, melihat betapa pakaian kedua gadis itu sudah hancur berkeping-keping di bawah pembaringan, mereka sudah cepat merenggut baju luar mereka dan menyelimutkan baju luar pada kedua orang gadis itu, kemudian membebaskan totokan mereka.
Ci Sian dan Li Ceng mengeluh.
Kalau tadi mereka rebah terlentang dengan air mata membasahi pipi, kini mereka terisak perlahan.
"Apakah yang terjadi? Mana musuh......?"
Tanya Ouwyang Tek, matanya liar memandang ke kanan kiri.
"Siapa yang melakukan ini adik Li Ceng? Siapa......? Biar kurobek dadanya......!"
Bentak Gui Siong.
Ci Sian dan Li Ceng turun dari pembaringan membetulkan letak jubah luar yang cukup besar dan panjang menutupi tubuh mereka dari leher sampai ke lutut.
Mereka menyusut air mata kemudian Ci Sian menggeleng kepala, berkata perlahan.
"Kami tertipu""
Tidak ada musuh......"
"Apa? Apa artinya ini? Mengapa? Siapa?"
Ouwyang Tek main beringas. Li Ceng terguguk, lalu menghela napas panjang.
"Kami tidak mengerti, akan tetapi...... enci Ma Ji Nio yang melakukan ini kepada kami. Dia...... dia secara tiba-tiba menotok kami, membawa kami ke sini kemudian merobek-robek pakaian kami lalu pergi......"
"Akan tetapi, mengapa mereka melakukan perbuatan terkutuk ini......?"
Tanya Ouwyang Tek dengan membelalakkan matanya.
"Dan dia pula yang memberi tahu kepada kami bahwa kalian ditawan musuh!"
Kata pula Gui Siong terheran-heran.
"Aaaah...... begitukah?"
Kata Ci Sian yang sudah bertukar pandang dengan Li Ceng, kemudian keduanya menundukkan kepalanya.
"Bagaimana? Mengapa?"
Ouwyang Tek dan Gui Siong mendesak.
"Kurasa, kami mengerti sekarang...... ji-wi twako...... dan ah, dia telah membuka mata kami, betapa bodohnya kami berdua selama ini."
Mendengar ucapan Li Ceng ini, kedua orang muda itu makin bingung.
Mereka saling pandang seolah-olah akan dapat keterangan dari pandang mata masing-masing akan tetapi ternyata keduanya berpandang kosong.
"Apa artinya ini?"
Desak Gui Siong kepada Li Ceng.
"Ceng-moi, kau berilah penjelasan jangan membikin bingung kami."
"Terima kasih kepada enci Ma Ji Nio......."
Kata Ci Sian dan ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Ouwyang Tek cepat menundukkan muka sambil tersenyum malu-malu.
"Apakah kalian tidak dapat menerka? Bukankah kalian tadi melihat...... melihat keadaan kami?"
Kata Li Ceng. Gui Siong mengangguk-angguk, akan tetapi dia belum mengerti.
"Habis mengapa kalian begitu?"
Li Ceng melotot kepadanya.
"Eh, masih belum mengerti? Apakah yang kalian lihat tadi?"
"Apa"...? Apa......? Penglihatan indah, eh......"
Gui Siong makin bingung karena Li Ceng tiba-tiba memandang marah.
"Maafkan, maksudku eh...... kalian dalam keadaan telanjang bulat, oooohh! Mengerti aku sekarang!"
Gui Siong menepuk dahinya sendiri. Kemudian ia memegang lengan suhengnya.
"Suheng, Dewi Suling sengaja menipu kita, sengaja menotok dan menelanjangi kedua orang nona agar kita dapat melihat mereka telanjang, ah""
Betapa bodohnya kita berempat selama ini."
Akan tetapi Ouwyang Tek tidaklah secerdas Gui Siong. Dia masih terlongo dan tidak mengerti.
"Kalau sudah begitu, mengapa?"
Ci Sian dengan halus menerangkan.
"Ouwyang koko, bukankah engkau sudah melihat aku dalam keadaan seperti yang pernah terlihat Pendekar Cengeng, bahkan lebih lagi karena aku terlentang dan api begitu terang...... bukankah aku harus membunuhmu atau...... atau"""
"Haiiiit! Benar juga! Tidak membunuhku karena aku calon suami!"
Ouwyang Tek yang kini sudah sadar lalu memeluk Ci Sian yang balas memeluk pria yang dikasihinya itu penuh kebahagiaan.
Juga Gui Siong sudah merangkul dan mendekap kepala gadis yang dikasihinya itu ke dada, seolah-olah dia takut kalau-kalau ia akan kehilangan wanita pujaan hatinya.
Mereka saling peluk di dalam pondok itu, tak bergerak-gerak, penuh kebahagiaan, tidak malu-malu lagi, dan sampai api padam karena kehabisan minyak mereka tidak sadar dan masih saling peluk!
Adapun Siok Lan yang mengintai dari balik pohon, tadi kaget sekali mendengar ucapan Dewi Suling tentang serbuan musuh.
Akan tetapi ia tidak bergerak dari tempatnya dan kini ia menyaksikan adegan yang dianggapnya lebih aneh daripada tadi, Dewi Suling kini berdiri di depan Pendekar Cengeng yang masih berdiri membelakanginya.
Ia dapat melihat jelas wajah Dewi Suling, tersinar bulan tampak putih kemerahan, dengan sepasang mata seperti bintang memandang Pendekar Cengeng, kemudian tersenyum memperlihatkan deretan gigi yang putih berkilau.
"Ah, Dewi Suling, engkau membohongi mereka, apa maksudmu? Engkau tadi mengintai lalu pergi dan kembali dengan berita bohong. Apa kehendakmu? Selama ini aku mendengar akan sepak terjangmu engkau telah berobah sama sekali. Hatiku amat bersyukur mendengar itu, akan tetapi mengapa malam ini agaknya kambuh kembali penyakitmu?"
"Yu-taihiap...... Yu-koko...... jangan salah sangka aku hanya ingin membuka mata mereka dan mata kedua gadis itu betapa bodoh mereka menyusahkan engkau. Dan tadi...... sesungguhnyakah kata-katamu terhadap kedua orang muda itu, ataukah hanya untuk alasan mencari jalan keluar saja?"
"Apa maksudmu?"
"Yu-taihiap, benar-benarkah engkau telah mempunyai pilihan hati? Ahhh, betapa jantungku ini menggetar seperti hendak pecah. Yu-taihiap, harap lekas katakan, engkau orang yang paling kuharapkan di dunia ini...... yang sekaligus telah merobah hidupku...... katakanlah secara terus terang, siapakah wanita yang telah kau cinta itu? Apakah mungkin dia itu...... aku orangnya? Aku seorang wanita hina, akan tetapi aku mencintaimu. Yu-koko, aku...... aku bersedia melakukan apa saja untukmu."
Siok Lan yang mengintai dan dapat melihat Dewi Suling, memandang dengan mata terbelalak.
Ia melihat wajah Dewi Suling yang cantik kini menjadi pucat sekali, matanya mengeluarkan pandangan sayu bahkan wanita itu kini telah menjatuhkan diri berlutut di depan Pendekar Cengeng, kedua lengannya dikembangkan, sikapnya penuh permohonan, dan minta dikasihani, Siok Lan menggigit bibirnya.
Wah, tunangannya ini benar-benar digilai banyak perempuan!
Macam apa sih wajahnya?
Ingin sekali ia melihat wajahnya, akan tetapi Pendekar Cengeng sejak tadi tidak pernah menghadap ke arahnya.
Untuk meloncat keluar, ia merasa tidak enak dan malu karena akan ketahuan bahwa ia menjadi pergintai.
Kini ia melihat Pendekar Cengeng mengulurkan kedua tangan dan memegang kedua tangan Dewi Suling.
Ia merasa heran sekali mengapa secara tiba-tiba hatinya menjadi panas!
Tidak senang ia menyaksikan mereka saling memegang tangan.
Hanya sebentar Pendekar Cengeng memegang tangan Dewi Suling karena tadi ia memegangnya untuk membangunkan wanita itu.
Terdengar suaranya halus dan terharu, akan tetapi penuh wibawa.
"Bangkitlah Dewi Suling dan sadarlah......! Sayang sekali bahwa yang kumaksudkan bukanlah engkau orangnya. Dia seorang gadis yang paling hebat di dunia ini, paling cantik, paling pandai, juga paling keras hati dan...... pendeknya, dalam pandanganku dia merupakan seorang wanita yang paling mulia di dunia ini. Dan itu hanya berarti bahwa aku mencintainya, Dewi Suling. Engkau tentu mengerti akan perasaanku ini......."
Dewi Suling menundukkan mukanya dan Siok Lan melihat betapa air mata berlinang turun dari kedua mata Dewi Suling.
Akan tetapi dia sendiri menahan air matanya yang juga sudah memanaskan matanya.
Tidak, dia tidak boleh menangis seperti Dewi Suling!
Mengapa mesti menangis?
Biar Pendekar Cengeng mencinta seribu orang wanita lain, dia tidak perduli?
Dia membencinya!
Wanita paling cantik, paling pandai, paling keras hati?
Huhh, dasar laki-laki mata keranjang tidak setia kepada ikatan janji!
Dewi Suling sudah bangkit dan terdengar suaranya lemah.
"Sudah kukhawatirkan demikian...... memang aku tidak berharga untukmu...... dan hidupku hanya untuk menebus dosa-dosaku, betapa mungkin Tuhan akan memberi karunia kebahagiaan kepada seorang penuh dosa dan noda seperti aku? Maafkan kelancanganku tadi Yu-taihiap......"
"Ah, Dewi Suling, aku sama sekali tidak menganggapmu demikian. Akulah yang minta maaf telah mengecewakan hatimu."
Akan tetapi dengan suara isak tertahan, Dewi Suling sudah berkelebat lenyap di atas pohon dan hanya sebentar daun-daun pohon bergerak.
Siok Lan menanti sampai bayangan Dewi Suling lenyap, kemudian ia menoleh ke arah Pendekar Cengeng, ternyata laki-laki itupun sudah berjalan pergi.
"Heii......! Kau......!! Tunggu......!"
Ia berseru sambil melompat keluar dan mencabut pedangnya. Akan tetapi bayangan di sebelah depan itu tidak pernah menengok dan terus saja bergerak maju.
"Heiii......! Pendekar Cengeng! Yu Lee......! Berhenti kau......!"
Siok Lan berseru dengan suara nyaring namun bayangan itu tetap tidak menengok dan terus lari ke depan, Siok Lan makin marah dan mengejar sambil mengerahkan ginkang, mempengunakan ilmu lari cepat Cou-sang-hui (Terbang di Atas Rumput) sehingga tubuhnya bergerak cepat bukan main seperti larinya seekor rusa betina muda.
Akan tetapi tetap saja jarak antara dia dan si bayangan putih tidak pernah berkurang jauh.
"Heiii......! Pendekar Cengeng! Yu Lee...... Berhenti kau, kalau tidak mau berhenti kumaki kau!"
Kembali ia berteriak setelah mengejar lebih sejam lamanya.
Tetap saja orang yang dikejarnya tidak mau berhenti, menengokpun tidak, seolah-olah tidak tahu bahwa ada orang mengejarnya.
Padahal tidak mungkin dia tidak tahu karena betapapun cepatnya Siok Lan mengejar tak pernah gadis itu dapat menyusul.
"Pendekar Cengeng-ngeng-ngeng! Laki-laki sombong! Laki-laki pengecut kau! Kalau memang pendekar dan memiliki kepandaian, hayo berhenti dan bertanding sampai sejuta jurus melawan aku! Ini aku Sian-li Eng-cu Liem Siok Lan sudah datang hendak mengambil nyawamu! Hayo berhenti kau, Yu Lee......!"
Akan tetapi yang dimakinya tetap lari sampai keluar dari hutan, naik turun gunung dan Siok Lan yang mengejarnya tidak tahu lagi dimana mereka kini berada.
Mereka berlari lari sampai hampir pagi dan ia tidak ingat lagi berapa banyaknya hutan yang dilaluinya.
Menjelang pagi, bayangan putih itu berkelebat lenyap di dalam sebuah hutan.
Siok Lan mencari-cari, akhirnya gadis ini menjatuhkan diri di bawah sebatang pohon dan menangis!
Ia menangis sesenggukan, sampai benguncang-guncang pundaknya terguguk karena hatinya merasa tidak keruan.
Kemarahannya menjulang ke langit, bercampur kekecewaan, gemas dan juga malu.
Tanpa bertempur sekalipun sudah jelas bahwa dia kalah.
Baru mengejar saja sampai semalam suntuk tidak dapat menyusul.
Semua perasaan yang berkumpul itu ditambah oleh kelelahan yang hebat.
Baru terasa kini betapa napasnya sudah terengah-engah, seluruh tubuhnya berpeluh, dua kakinya lemas sekali.
Akhirnya Siok Lan yang mencurahkan kegemasan dan kelelahannya dengan menangis mengguguk itu tertidur pula di bawah pohon, tidur nyenyak dengan kedua pipi masih basah air mata dan dari dadanya kadang-kadang keluar isak sesegukan, sisa tangis tanpa disadarinya.
Siok Lan menggeliat setelah mengejap-ngejapkan matanya.
Perutnya terasa lapar sekali dan ketika ia membuka mata, ia menggunakan tangan menutupi matanya yang menjadi silau oleh sinar matahari yang menembus celah-celah daun pohon.
Kiranya matahari telah naik tinggi!
Tiba-tiba ia teringat akan si bayangan putih yang dikejarnya.
Matanya mendadak menjadi beringas dan bergerak-gerak!
Kedua biji matanya mencari-cari ke kanan kiri.
Ketika ia melihat seorang laki-laki berpakaian putih duduk tak jauh dari tempat ia rebah secepat kilat ia meloncat bangun sambil mencabut pedangnya dan menodongkan pedang kepada orang itu.
"Eh....... eh...... nona...... mau apa ini.......??"
Siok Lan membelalakkan mata dan tangan yang memegang pedang menjadi terkulai, pedangnya cepat disarungkan kembali dan ia lalu duduk menghadapi orang itu dengan alis berkerut dan pandang mata penuh teguran.
"A-liok, minggat ke mana saja engkau selama ini?"
A-liok, atau Yu Lee tersenyum.
Alangkah rindunya ia selama ini kepada Siok Lan.
Rindu yang ditahan-tahannya karena ketika ia menjadi Pendekar Cengeng, tentu saja ia tidak mau menemui gadis ini yang ia tahu akan marah sekali dan akan timbul heboh apabila mengetahui bahwa dialah sebenarnya si Pendekar Cengeng.
Sering kali di dalam hutan, jika gadis ini sudah tidur pulas, barulah ia secara diam-diam berani mencintai dan memandang gadis kekasihnya sampai berjam-jam tanpa mengenal bosan.
Sekarang, begitu berjumpa, gadis itu sudah menegurnya dengan galak, dan justeru watak inilah yang membuat ia tergila-gila, membuat cintanya makin mesra dan mendalam.
"Maafkan saya, nona. Karena selalu terjadi pertempuran-pertempuran, maka Yu-taihiap melarang saya untuk keluar dari tempat persembunyian, khawatir kalau-kalau saya kena celaka, harap nona maafkan saya. Sekarang, setelah pertempuran mereda, baru saya berani keluar......"
"Hemmm, agaknya kau lebih senang bersama kongcumu itu daripada bersama aku, ya?"
Yu Lee menggerutkau kening dan cepat menjawab.
"Ah, mana bisa begitu, nona? Nona tentu lebih maklum betapa rindu...... eh, betapa inginnya hati saya untuk bersama dengan nona......"
Melihat sikap pemuda itu, kemarahan Siok Lan mencair.
"Eh, bagaimana dengan luka di dadamu? Sudah sembuhkah?"
Pertanyaan tiba-tiba yang memperlihatkan perhatian terhadap dirinya ini membuat Yu Lee girang dan terharu.
"Sudah, sudah sembuh, nona."
"Betulkah? Coba kulihat sebentar, takut kalau-kalau masih berbahaya bekasnya."
Yu Lee tidak membantah, lalu membuka bajunya, memperlihatkan dadanya yang berkulit putih bersih dan lebar.
Jelas tampak tenaga membayang di balik kulit dada bersembunyi diantara daging dan otot yang kuat.
Siok Lan memandang dan melihat bahwa luka itu benar-benar telah sembuh, hampir tak tampak bekasnya.
Hatinya menjadi lega dan untuk sejenak ia tak dapat menahan kekaguman membayang di dalam pandang matanya melihat dada yang kuat itu.
"Hemm, sudah sembuh. Syukurlah."
Ia melihat pemuda itu mengancingkan bajunya dan diam-diam merasa heran bagaimana seorang pelayan dapat memiliki dada yang demikian kuat dan bidang.
"Bagaimana nona bisa sampai di tempat ini? Tempat ini adalah tempat persembunyian saya dan jauh dari hutan di mana teman seperjuangan nona tinggal!"
Tiba-tiba saja Siok Lan seperti diingatkan akan Pendekar Cengeng dan matanya berubah beringas.
"Di mana dia?"
Tiba-tiba ia membentak.
"Eh, siapa maksud nona?"
"Siapa lagi kalau bukan kongcumu itu, Pendekar Cengeng laki-laki sombong dan pengecut? Tadi aku mengejarnya dan ia lenyap di hutan ini. Hayo katakan, A-liok dimanakah dia?"
Yu Lee menghela napas panjang, kemudian berkata.
"Nona, mengapa nona demikian membenci Yu-kongcu? Tidakkah nona dapat memaafkannya? Kuharap nona sudi memandang mukaku dan...... biarlah saya yang mintakan ampun untuk......"
Siok Lan memandang wajah pelayannya yang memandang kepadanya penuh permohonan, penuh kasih sayang, penuh kemesraan.
Tiba-tiba warna merah menyelimuti muka gadis ini dan ia tidak dapat menahan lagi pertemuan pandang mata mereka.
Ia teringat akan pernyataan cinta kasih pemuda ini ketika mereka duduk beradu punggung di atas kuda.
Masih teringat di telinganya semenjak itu, dan sekarangpun ia seperti mendengar suara pemuda ini menggetar penuh perasaan.
"Aku mencinta nona dengan seluruh jiwa ragaku, biarpun berkorban nyawa sekalipun untuk nona, aku rela......"
Kemudian terbayang di pelupuk matanya betapa pemuda ini telah memeluk dan mencium mulutnya ketika menghadapi maut.
"Nona Siok Lan sudilah nona mengampuni Yu Lee?"
Siok Lan mengangkat muka sehingga kembali pandangan mereka saling bertemu, bertaut dan saling melekat sampai lama, kemudian Siok Lan mengeras hatinya, menggeleng kepala dan berkata.
"Tidak! Aku harus membunuhnya......"
"Nona......"
"A-liok, tidak mengertikah engkau? Aku harus membunuhnya, karena kalau tidak...... kalau tidak kubunuh dia...... bagaimana aku dapat......?"
"Apa makaudmu, nona? Teruskanlah!"
Siok Lan memandang dengan penuh perasaan, matanya bersinar-sinar menyatakan isi hatinya.
Betapa ia akan menyambut cinta kasih A-liok yang telah ia terima dan balas dalam hatinya itu kalau ia masih menjadi calon isteri Pendekar Cengeng?
Akan tetapi A-liok agaknya tidak mengerti dan amat beratlah rasanya lidah gadis itu untuk menerangkan dengan kata-kata.
Karena jengah dan malu, Siok Lan mengalihkan pandang mata ke atas tiba-tiba wajahnya berubah pucat dan mulutnya berseru.
"Aiihhh! Kong-kong (kakek) berada dalam bahaya dan perlu bantuan!"
Yu Lee terkejut dan menengok ke belakang ke arah langit dan ia masih sempat melihat meluncurnya panah api yang berwarna merah.
"A-liok aku harus membantunya!"
Siok Lan sudah meloncat dan lari.
"Nona, kau tunggu aku......!"
"Kau boleh menyusul aku. Aku harus cepat-cepat menolong kong-kong. Kau ikuti saja jurusan ini,"
Siok Lan menunjuk ke depan ke arah meluncurnya anak panah tadi tanpa mengendurkan larinya.
Tentu saja ia tidak tahu betapa mudahnya Yu Lee menyusulnya, bahkan mendahuluinya.
Apakah yang terjadi di hutan yang dijadikan sarang kaum pejuang?
Benarkah dugaan Siok Lan bahwa kakeknya berada dalam bahaya di tempat itu ketika ia melihat tanda anak panah api melayang di udara?
Malam hari itu, para pejuang yang sudah lama tidak bertempur dan menganggap bahwa keadaan mulai berangsur baik setelah markas Thian-an-bun dipimpin oleh panglimanya yang baru, yaitu Ouw Beng Tat, agak lengah dan sebagian besar tidur nyenyak.
Mungkin hanya ada lima orang saja di antara para pejuang yang pada malam hari itu tidak tidur sama sekali, tenggelam dalam perasaan hati masing-masing.
Mereka ini tentu saja adalah Ouwyang Tek yang bercakap-cakap dan berkasih-kasihan dengan Lauw Ci Sian, Gui Siong dengan Tan Li Ceng, dan Dewi Suling yang duduk termenung seorang diri, kadang-kadang menghela napas panjang, kadang-kadang terisak perlahan menangisi nasibnya.
Matahari telah naik tinggi ketika pada keesokan harinya para pejuang ini mulai dengan kesibukan masing-masing.
Ada yang mandi atau mencuci muka di sungai, ada yang membuat api untuk memasak air, nasi dan lain-lain, ada yang mencuci pakaian.
Mereka sama sekali tidak ada yang tahu bahwa menjelang pagi tadi pasukan besar telah bergerak dengan rahasia, mengepung tempat itu, dipimpin langsung oleh Panglima Ouw Beng Tat sendiri bersama para pembantunya, yaitu perwira-perwira perkasa dan pilihan dari barisan pengawal istana!
Maka, dapat dibayangkan betapa terkejut dan paniknya para pejuang ini ketika tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan tambur yang hiruk pikuk di sekeliling hutan kemudian tampak bala tentara Mongol dengan pakaian seragam bersenjata lengkap muncul dari segenap penjuru, mengurung tempat itu seperti sebuah dinding tebal, dihitung sepintas lalu tidak akan kurang dari tiga ratus orang!
Ada barisan tombak, ada barisan panah yang sudah tiap, ada pula yang memegang senjata aneh mereka yang menggiriskan para pejuang, yaitu bola-bola peledak!
Betapapun kaget dan paniknya para pejuang, mereka itu adalah orang-orang yang sudah siap mempertaruhkan nyawa untuk perjuangan mereka, maka terdengarlah seruan di antara mereka.
"Siaaaappp......! Anjing-anjing Mongol datang......!"
Dan berserabutanlah mereka itu lari mencari senjata masing-masing.
"Tahan semua senjata! Kalau kalian melawan, kalian akan kami basmi habis!"
Bentakan ini nyaring sekali sehingga terdengar menggema dan mengandung wibawa besar sehingga banyak kaum pejuang menjadi gentar memandang panglima yang tinggi besar itu.
Biarpun belum pernah mengenalnya, namun para pejuang dapat menduga dia inilah yang bernama Ouw Beng Tat.
Dugaan itu memang benar.
Yang berseru tadi adalah Ouw Beng Tat.
Biarpun usianya sudah tua, lewat enampuluh tahun, namun tubuhnya yang tinggi besar itu masih kelihatan gagah.
Pakaiannya indah, disebelah luar tertutup dengan pakaian perang yang berlapis sisik-sisik baja di bagian dada, perut, lengan dan paha.
Sebatang pedang panjang tengantung di pinggang kiri sedangkan di pinggang kanan dan depan dada terdapat kantong-kantong senjata rahasianya yang terkenal sekali, yaitu hiang-leng-piauw semacam sebuah senjata piauw yang memakai kerincingan.
Kalau senjata ini dilontarkan menyerang lawan, akan terdengar bunyi berdencing nyaring makin lama makin keras dan suara ini dapat membuat lawan menjadi panik dan kurang waspada sehingga dapat dirobohkan dengan piauw kedua atau ketiga yang menyusul cepat.
Selain tinggi besar, juga wajah Ouw Beng Tat membayangkan kekuatan.
Sepasang matanya yang lebar itu bundar dan biji matanya menjendul keluar, seolah-olah mata itu sukar dipejamkan.
Mukanya bundar tampan, kumisnya lebat namun dipotong pendek, demikian pula jenggotnya, hidungnya besar mulutnya lebar.
Ia mirip sekali dengan Thio Hwi, tokoh dalam cerita Sam Kok yang juga merupakan seorang panglima yang kosen dan sukar dicari bandingannya.
"Siapa takut padamu!"
Bentakan ini di keluarkan oleh Ouwyang Tek yang sudah tiba disitu bersama Lauw Ci Sian, diikuti oleh Gui Siong dan Tan Li Ceng.
Ouwyang Tek membentak sambil menghampiri Ouw Beng Tat, menyerangnya dengan pukulan tangan kanan ke arah dada panglima tinggi besar itu.
Ouw Beng Tat tertawa parau, tidak bergerak dari tempatnya hanya lengan kirinya saja menangkis dan......
tubuh Ouwyang Tek terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih!
Lauw Ci Sian menjadi marah dan sudah menerjang pula, diikuti oleh Tan Li Ceng dan Gui Siong.
Mereka bertiga melawan secara beruntun menyerang dengan pukulan-pukulan ampuh, akan tetapi panglima tua itu masih tetap tertawa dan hanya menggerakkan kedua lengannya menangkis dan beruntun pula tubuh ketiga orang muda ini terlempar seperti halnya Ouwyang Tek tadi!
Namun empat orang muda yang tabah ini tidak menjadi gentar, mereka melompat bangun sambil mencabut pedang masing-masing.
Juga teman-teman mereka sudah bersiap-siap, ketiga Huang-ho Sam-liong yang pada waktu itu sudah berkumpul di situ, Cui Hwa Hwa dan lain-lain, sudah siap untuk melawan mati-matian, akan tetapi tiba-tiba Dewi Suling berbisik kepada mereka.
"Harap sabar dan tenang, jangan sembrono."
Mereka semua tidak suka kepada Dewi Suling mengingat akan watak dan perbuatan wanita ini dahulu, akan tetapi mereka harus mengakui bahwa Dewi Suling sudah amat banyak jasanya dalam perjuangan, dan mereka maklum pula bahwa diantara mereka semua Dewi Suling merupakan orang yang paling tinggi ilmu kepandaiannya, maka mereka sedikit banyak menjadi segan dan mendengar bisikan itu, mereka taat dan tak seorangpun berani bergerak.
Dengan pandang mata yang tajam Dewi Suling menyapu keadaan musuh dan risaulah hatinya.
Benar-benar musuh amat lihai dapat melakukan pengepungan secara diam-diam dan tahu-tahu mereka semua telah terkurung rapat.
Jumlah musuh sedikitnya tiga kali lebih banyak dan keadaan sungguh mengkhawatirkan.
Jalan satu-satunya harus dapat membekuk atau merobohkan para pemimpinnya, terutama panglima tinggi besar itu sendiri, untuk melumpuhkan semangat para perajurit musuh.
Maka diam-diam ia mengerahkan sinkangnya, tangan kanan menggenggam ujung suling erat-erat dan secara tiba-tiba tubuhnya telah menyambar dengan kecepatan luar biasa sekali ke arah Panglima Ouw Beng Tat.
Yang terdengar hanyalah lengking nyaring mengerikan dan bayangan putih berkelebat didahului sinar merah suling di tangannya.
Semua orang dari pihak musuh maupun pihak pejuang terkejut dan kagum.
"Trang trang trang...... weess......!"
Tiga kali terdengar suara nyaring ketika suling dan pedang di tangan Ouw Beng Tat bertemu cepat sekali, disusul muncratnya bunga api kemudian tahu-tahu tubuh Dewi Suling terlempar ke belakang sampai lima meter lebih dan ketika turun ke atas tanah ia agak terhuyung dan mukanya berubah!
Dalam segebrakan saja ternyatalah bahwa Dewi Suling bukan tandingan panglima yang kosen itu.
"Ha, ha, ha, ha!"
Panglima Ouw Beng Tat tertawa bergelak.
Gerakan kakek ini amat mengagumkan karena orang tidak dapat mengikuti kecepatannya mencabut dan menyarungkan kembali pedangnya dalam menghadapi terjangan Dewi Suling tadi.
Seolah-olah ia tidak pernah mencabut pedang, begitu cepatnya pedang itu kembali ke sarung pedang yang tengantung di pinggang kiri!
"Ha, ha, ha!
Tentu engkaulah yang disebut Dewi Suling, yang telah membunuh Panglima Ban Ciang.
Hemm dengan kepandaian seperti itu saja, jangan harap kau akan dapat membunuhku!
Kalau aku mau, apa sukarnya menumpas kalian kaum pemberontak ini?
Kalau aku menghendaki, tidak seorangpun diantara kalian yang dapat lolos hidup-hidup!"
Kembali ia tertawa, suara ketawanya keras penuh nada mengejek.
Dewi Suling yang maklum akan kehebatan kepandaian panglima tinggi besar ini, menoleh ke kanan kiri mencari-cari Pendekar Cengeng.
Bahkan mulutnya tanpa disadari mengeluh.
"Ah, dia tidak berada di sini...... telah pergi......"
Ouwyang Tek dan Gui Siong saling pandang.
Mereka berdua maklum siapa yang dimaksudkan Dewi Suling karena mereka pun tahu bahwa untuk menghadapi lawan selihai Panglima Ouw Beng Tat ini, mereka hanya dapat mengandalkan Pendekar Cengeng.
Akan tetapi, Pendekar Cengeng itu tidak tampak mata hidungnya dan kedua orang pemuda ini merasa menyesal sekali karena mereka dapat menduga bahwa pendekar itu tentu pergi karena urusan semalam, karena telah mereka tantang bertanding sampai mati!
Karena penyesalan ini, kedua orang muda itu maju dan hampir berbareng membentak ke arah musuh.
"Kami berdua tidak takut! Hayo bunuhlah kalau mau bunuh!"
Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng sudah mendengar penuturan kekasih masing-masing akan peristiwa semalam maka keduanya kini mengerti betapa besar penyesalan hati kekasih mereka.
Mereka saling pandang dan diam-diam mereka sadar bahwa kesalahan kedua orang pemuda terhadap Pendekar Cengeng itu adalah kesalahan yang menjadi akibat dari sikap mereka berdua, dari pada kebodohan mereka berdua sehingga membuat dua orang pemuda yang mencinta mereka itu berlaku nekad seperti itu.
Kini melihat kekasih mereka nekad menghadapi musuh yang amat tangguh, mereka berdua cepat maju dan menyambung.
"Kami akan melawan sampai mati!"
Melihat dua pasang orang muda itu dengan pedang di tangan siap bertempur dengan semangat meluap-meluap, pada hal tadi mereka telah mengenal kesaktiannya, Panglima Ouw Beng Tat diam-diam menjadi kagum dan mengerti mengapa pasukan Mongol berkali-kali mengalami pukulan hebat, kiranya kaum pemberontak dipimpin oleh pemuda-pemuda yang begini besar semangat dan keberaniannya.
Ia menghela napas panjang dan berkata.
"Hemm, sayang orang muda-muda seperti kalian, yang belum banyak menikmati hidup, membuang nyawa sia-sia, hanya karena menuruti jiwa petualang......"
Panglima tua ini teringat betapa dia sendiri hanya mempunyai seorang putera akan tetapi anaknya itu meninggal dunia ketika baru berusia enam tahun karena penyakit.
Kalau anaknya itu hidup, kiranya sudah sebesar pemuda-pemuda yang gagah perkasa ini!
Andaikata anaknya itu hidup, belum tentu ia kini menjadi panglima kerajaan Mongol!
Melihat keraguan Panglima Ouw Beng Tat, Dewi Suling yang cerdik segera maju dan berkata lantang.
"Ouw-ciangkun! Engkau tentu sudah tahu bahwa kami kaum pejuang memperjuangkan nasib para pekerja paksa dan para wanita tak berdosa, kami mengacau dan memusuhi pasukan pasukan Mongol karena mereka menyengsarakan rakyat tak berdosa, menyuruh rakyat bekerja sampai mati dan menyiksa mereka, menculik dan memperkosa wanita-wanita tak berdosa. Semenjak engkau memimpin Thian-an-bun kami sudah mendengar akan perubahan-perubahan yang kau lakukan ke arah kebaikan nasib rakyat yang dipekerjakan, juga tidak ada lagi penculikan-penculikan, bahkan wanita-wanita yang dikeram di dalam benteng telah kau bebaskan dan suruh antar pulang. Mengingat akan kebaikan-kebaikan yang kau lakukan itulah maka kami para pejuang berdiam diri, tidak memusuhi benteng Thian-an-bun selama kau menjadi pemimpin di sana. Akan tetapi mengapa kini secara pengecut sekali engkau diam-diam membawa barisan besar mengepung kami?"
"Hemm, manusia manusia sombong, bocah-bocah tak tahu diri!"
Ouw Beng Tat menjawab dengan suara lantang.
"Apakah kalian kira bahwa peraturan-peraturan yang kuadakan di Thian-an-bun itu menjadi tanda bahwa aku takut kepada kalian? Ha-ha-ha! Sama sekali tidak, bukan bocah nakal! Memang para panglima yang lalu kurang becus mengatur. Memang sengaja aku mendiamkan kalian semenjak aku datang karena yang penting adalah mengatur keadaan di Thian-an-bun untuk memperlancar jalannya pekerjaan menggali terusan. Sekarang, setelah semua lancar barulah aku teringat kepada kalian dan karena kalian ini anak-anak yang memberontak, harus diberi hukuman! Sekarang pilih saja, kalian semua kutumpas sampai habis, tak seorangpun lolos, atau memenuhi syarat yang kuajukan!"
Para pejuang menjadi panas telinganya mendengar ucapan yang memandang rendah mereka itu.
Ie Cu Lin, orang tertua dari Huang-ho Sam-liong, yang beralis putih dengan marah lalu melangkah maju dan menudingkan telunjuknya.
"Ouw Beng Tat, kita tua sama tua, jangan kau bicara seperti terhadap anak-anak! Engkau boleh jadi gagah perkasa, akan tetapi sudah terbukti engkau mengabdi kepada penjajah asing! Kami biarpun tidak berani menyebut diri pandai masih memiliki jiwa patriot. Aku Ie Cu Lin rela mengorbankan nyawa untuk tanah air dan bangsa, aku menantang kau bertanding sampai mati!"
"Ha-ha-ha, cecunguk yang tak tahu malu! Siapa tidak mengenalmu? Engkau orang tertua Huang-ho Sam-liong? Kepala bajak! Bangsa bajak yang kerjanya hanya membajak dan mengganggu rakyat, masih berani bilang seorang patriot? Sungguh tak tahu malu, seperti seekor harimau yang keluar tak lain hanya gonggongan menjijikan!"
Ie Cu Lin tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Ia melompat maju menerjang dengan senjatanya diikuti Ie Kiok Soe dan Ie Bhok kedua orang adiknya.
Dengan senjata di tangan, tiga orang Huang-ho Sam-liong ini menerjang dari depan penuh kemarahan.
Agaknya, Panglima Ouw Beng Tat sudah lebih dahulu memesan anak buahnya tidak bergerak kalau tidak diperintah, atau memang para anak buahnya amat takut kepada pemimpin baru ini.
Buktinya melihat tiga orang penerjang hebat dan mengancam keselamatan pemimpin mereka semua memandang tajam.
Kiranya semua perajurit dan perwira itu sudah seratus prosen percaya akan kesaktian pemimpin mereka yang benar-benar hebat dan terbukti.
Ketika ketiga orang saudara Ie itu menerjang maju.
Ouw Beng Tat masih tertawa dan sama sekali tidak bersiap-siap menyambut.
Akan tetapi tiba-tiba kelihatan tangan kiri kakek itu bergerak, terdengar suara berkerincing nyaring sekali dan tampak sinar berkilauan menyambar ke depan dari tangan kiri panglima itu, menyambar ke arah tiga orang Huang-ho Sam-liong yang berturut-turut terjungkal sambil berseru kaget dan kesakitan, senjata di tangan mereka terlepas dan mereka berkelonjotan sebentar lalu tak bergerak lagi.
Tampak di dahi mereka, tepat di antara kedua mata, sudah tertusuk senjata-senjata rahasia ampuh itu yang menancap sampai dalam memecahkan batok kepala menembus otak?
Peristiwa itu terlalu hebat sehingga kedua pihak sampai tercengang.
Huang-ho Sam-liong bukanlah orang-orang lemah.
Sebaliknya dari pada itu mereka adalah orang-orang yang telah memiliki tingkat kepandaian tinggi, akan tetapi dalam segebrakan saja mereka tewas oleh piauw-piauw panglima itu.
Padahal kalau tiga orang itu diserang senjata piauw oleh lawan biasa, senjata piauw itu tentu dengan mudah dapat mereka elakan atau tangkis.
Melihat ini saja makin yakin hati Dewi Suling bahwa Panglima Ouw Beng Tat benar-benar merupakan tandingan yang amat berat!
Pada saat itu, selagi para pejuang menjadi gelisah dan sudah mengambil keputusan untuk membela diri dengan mati-matian, akan tetapi terdengar ledakan bertubi-tubi tidak begitu keras, akan tetapi tampaklah di angkasa anak panah berapi, Ouw Beng Tat hanya mengerling ke atas sedikit lalu ia mendesak.
"Dewi Suling agaknya engkau yang menjadi pemimpin di sini. Dengarlah syaratku. Aku tidak menumpas semua pemberontak karena mereka itu tidak tahu apa yang mereka lakukan. Aku hanya ingin menangkap semua pemimpinnya untuk mempertanggung jawabkan pemberontakan mereka di depan pengadilan kaisar. Adapun para anak buah, akan diampuni nyawanya asal suka kembali bekerja, membantu penggalian terusan dan tidak usah khawatir lagi, kini mereka dijamin dan kalau sudah habis waktu kerja, mereka akan dipulangkan ke kampung dan diberi pesangon."
Dewi Suling merasa ragu-ragu untuk menjawab.
Ia menyesal sekali mengapa Pendekar Cengeng tidak berada di situ.
Kalau ada, tentu pendekar itu mampu mencari jalan keluar, atau setidaknya mengimbangi kelihaian Panglima Ouw Beng Tat ini.
Kalau dia menolak syarat itu, berarti semua pejuang yang berada di situ akan tewas semua!
Kalau ia menerima, dia dan banyak teman akan ditangkap.
Baca Juga: Jaka Lola 5
Baca Juga: Pendekar Remaja 5