Ceritasilat Novel Online

Pendekar Cengeng 7

Eps 7 Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Cengeng - Kho Ping Hoo.

Dia sendiri tidak perduli kalau ia ditangkap atau terbunuh sekalipun, akan tetapi bagaimana dia tega untuk membiarkan Ouwyang Tek, Gui Siong dan dua orang nona kekasih mereka yang sedang menghadapi hidup bahagia memadu kasih itu ditangkap dan dihukum pula?

Selagi Dewi Suling ragu-ragu dan bingung tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dari atas pohon yang berdekatan dengan tempat itu.

"Ha-ha-ha! Ouw Beng Tat sungguh tak tahu malu, mengabdi kepada orang Mongol mengkhianati bangsa sendiri!"

Ucapan ini disusul melayangnya tiga bayangan orang dari atas pohon melalui kepala orang-orang dan turun ke depan Ouw Beng Tat.

Semua orang memandang dan dua pasang orang yang sedang gelisah itu segera berseru girang.

"Suhu......"

"Ha! Bagus sekali. Thian-te Sin-kiam sudah tiba!"

Seru Ang Kwi Han atau Ang Kai-ong ketua Ang-kin Kai-pang dengan suara lega.

Sejak tadi kakek pengemis ini diam saja dan dia yang merupakan orang kedua dalam pasukan pejuang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi disamping Dewi Suling, tadi diam-diam telah memberi isyarat kepada anak buahnya dan sudah siap-siap mengeroyok Panglima Ouw Beng Tat yang kosen.

Memang, yang datang itu adalah tiga orang kakek yang memiliki gerakan seringan burung.

Orang pertama adalah Thian-te Sin-kiam Liem Kwat Ek, kakek atau juga guru dari Liem Siok Lan, seorang tokoh ilmu pedang yang amat terkenal, sejajar dengan nama besar Yu-kiam-sian.

Kakek ini usianya sudah tua, rambutnya sudah putih tubuhnya tinggi kurus, akan tetapi sinar mata yang tajam membayangkan kekerasan hati dan kegagahan.

Adapun orang kedua adalah Tho-tee-kong Liong Losu, hwesio gendut bertelanjang dada, tenang dan serius, kini memandang kepada kedua orang muridnya dengan alis berkerut, akan tetapi menjadi lega ketika melihat bahwa dua orang muridnya dalam keadaan sehat dan selamat.

Adapun orang ketiga, adalah Siauw-bin-mo Hap Tojin yang usianya juga sudah amat tua, tujuhpuluh tahun lebih akan tetapi sikapnya gembira dan jenaka masih seperti dulu, mukanya makin tua makin kehijauan, matanya makin sipit sehingga hampir terpejam, akan tetapi mulutnya tersenyum-senyum, tangan kiri memegang guci arak yang menghamburkan bau harum, pedang bututnya masih menempel di punggung.

Sebetulnya, sudah agak lama tiga orang sakti ini datang dan melihat ketika pasukan pejuang dikurung oleh barisan besar yang dipimpin sendiri oleh Ouw Beng Tat, mereka bertiga kaget dan khawatir.

Mereka cukup maklum akan kelihaian Ouw Beng Tat.

Lebih-lebih lagi Thian-te Sin-kiam Liem Kwat Ek yang tidak melihat cucunya di antara para pejuang hatinya amat gelisah.

Maka ia lalu melepaskan panah apinya untuk memberi tanda agar kalau cucunya berada di sekitar tempat itu dapat maklum bawa dia telah datang.

Dan memang betul panah apinya terlihat oleh Siok Lan, akan tetapi waktu itu Siok Lan berada di tempat yang jauh sehingga tidak dapat cepat-cepat tiba di situ.

Melihat munculnya tiga orang kakek yang dikenalnya dengan baik ini Ouw Beng Tat tertawa lalu menjura dan berkata dengan suara gembira.

"Wah, kalian bertiga kakek kakek tua bangka kiranya masih hidup? Ha-ha-ha sungguh lucu sekali dapat berjumpa dengan kawan-kawan lama dalam keadaan seperti ini. Ha-ha-ha-ha!"

Thian-te Sin-kiam Liem Kwat Ek yang lebih tua daripada semua tokoh yang berada disini, menudingkan telunjuk ke arah Ouw Beng Tat dan suaranya tegas dan bernada marah ketika ia berkata.

"Ouw Beng Tat, antara engkau, kami bertiga dan mendiang Yu-kiam-sian, dahulu terjalin persahabatan erat sebagai teman-teman seperjuangan melawan orang-orang Mongol, bahkan kami berempat boleh dibilang menjadi anak buahmu ketika engkau masih menjadi seorang Panglima Sung yang gagah perkasa dan kami berempat menjadi pejuang sukarela menentang penjajah. Siapa mengira, engkau dapat terbujuk dan menjadi kaki tangan kerajaan Mongol, dan kini malah tidak segan-segan menentang para pejuang bangsa sendiri! Ouw Beng Tat, aku tadi telah mendengar semua. Sekarang jelas bahwa di antara kita harus menyambung nyawa. Sahabat-sahabat pejuang semua......! Bersiaplah, bentuk lingkaran menghadapi musuh! Kita satu lawan tiga akan tetapi tidak perlu takut. Mempertaruhkan nyawa demi tanah air dan bangsa.......!"

Kakek itu masih bersemangat dan teriakannya mengingatkan orang akan sepak terjangnya di waktu muda dahulu.

Bangkitlah semangat para pejuang dan otomatis mereka bergerak, membentuk barisan lingkaran untuk menghadapi musuh yang sudah mengepung mereka.

Melihat ini Ouw Beng Tat tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha, Liem Kwat Ek, ternyata nyalimu masih belum lenyap dan engkau tak pernah tua! Ketahuilah, seorang bijaksana harus dapat menyesuaikan diri dengan keadaan, melawan secara membabi buta tanpa perhitungan bukanlah laku seorang bijaksana, melainkan seorang tolol! Aku adalah seorang panglima yang bertanggung jawab dan setia kepada tugas dan kedudukanku. Aku harus membasmi setiap orang pemberontak. Akan tetapi aku masih mengingat bangsa sendiri, maka aku mengajukan usul. Para anak buah pemberontak dapat kuterima menjadi pekerja-pekerja kembali dan diampuni dosa-dosa mereka. Akan tetapi pemimpin-pemimpinnya termasuk engkau, Siauw-bin-mo dan Tho-tee-kong, harus menyerahkan diri untuk kujadikan tawanan ke kota raja!"

"Hem, apakah kaukira demikian mudah kau akan dapat menangkap kami? Ha-ha-ha, panglima anjing bangsa Mongol, cobalah kau tangkap Siauw-bin-mo!"

Kata kakek muka hijau Hap Tojin sambil tertawa-tawa mengejek.

"Bagus! Sekarang biarlah aku menghadapi kalian dengan aturan dunia persilatan! Kalau aku mengerahkan barisanku, tentu kalian semua akan terbasmi habis dan aku tidak menghendaki ini. Sekarang biarlah kita mengadu kepandaian antara para pemimpin pemberontak dengan aku dan para perwira bawahanku. Kalau kalian kalah, anak buah kalian harus menurut menjadi pekerja-pekerja kembali, sebaliknya kalau aku dan teman-temanku kalah, biarlah kalian semua kubiarkan bebas dan aku tidak akan mengerahkan barisanku."

"Nah, itu barulah ucapan seorang gagah. Ouw Beng Tat kiranya engkau masih ingat akan sopan santun dunia kang-ouw. Nah, sekarang aku Ang Kwi Han ketua Ang-kin Kai-pang yang akan menjadi pelopor melawanmu. Lihat pedangku."

Kakek yang berpakaian aneh itu meloncat maju.

tongkatnya bergerak dan tahu-tahu tongkat itu sudah berubah.

Sebatang pedang dengan ronce-ronce merah, gerakannya cepat sekali dan pedangnya mengeluarkan angin berkesiutan.

Memang kakek ini terkenal dengan ilmu pedang Soan-hong-kiam (Pedang Angin) dan dengan ilmu pedang inilah maka Ang-kin Kai-pang menjadi terkenal.

Tingkat Kepandaian Ang Kwi Han sudah amat tinggi dan kiranya hanya Dewi Suling seorang diantara para pejuang yang dapat mengimbangi kepandaiannya.

Kalau tadi ketua pengemis ini tidak segera turun tangan adalah karena dia merupakan seorang yang banyak pengalamannya dan tidak sembrono.

Ia tahu bahwa Ouw Beng Tat amat kosen, dan baru setelah kini ia melihat datangnya tiga orang teman yang kepandaiannya boleh diandalkan sungguhpun masih diragukan apakah dapat menang menghadapi panglima itu, ia maju lebih dulu untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang pejuang yang pantang mundur dan rela mempertaruhkan nyawa!

"Wirrr......

trang......!!"

Pedang angin yang amat cepat gerakannya dari Ang Kwi Han tahu-tahu telah tertangkis oleh pedang panjang di tangan Ouw Beng Tat dan begitu api muncrat ke kanan kiri akibat benturan kedua pedang itu tampak Ouw Beng Tat mundur dua langkah, akan tetapi pangcu (ketua) itu terhuyung dan mukanya berubah agak pucat.

"Ha-ha-ha! Ang kai-ong (Raja Pengemis Ang) memang tidak bernama kosong belaka!"

"Yang lain-lain dapat dihadapi perwira-perwira, akan tetapi engkau Dewi Suling, Siauw-bin-mo, Tho-tee-kong dan Thian-te Sin-kiam sendiri adalah lawan-lawanku. Kalian berlima boleh maju bersama, boleh maju berbareng agar dapat membuktikan kelihaian Ouw Beng Tat, Ha-ha-ha!"

Sungguh sombong sekali ucapan panglima itu, akan tetapi Thian-te Sin-kiam dan dua orang kakek lain, yaitu Siauw-bin-mo dan Tho-tee-kong maklum bahwa kesombongan itu bukan kosong belaka.

Mereka ini tahu bahwa memang ilmu kepandaian Ouw Beng Tat amat tinggi maklum dahulupun mendiang Yu-kiam-sian masih tidak dapat menandinginya!

Andaikata mereka berlima sekalipun, belum tentu mereka berlima akan dapat dengan mudah mengalahkan Beng Tat.

Akan tetapi sebagai orang-orang gagah mereka agak segan untuk melakukan pengeroyokan, terutama sekali Thian-te Sin-kiam yang sudah memiliki nama besar sebagai seorang tokoh pedang yang bertingkat tinggi.

Turun tangan mengeroyok berarti mencoreng muka sendiri dan merendahkan derajat mencemarkan nama sendiri.

Akan tetapi, hati dan pendirian Tho-tee-kong Liong Losu dan Siauw-bin-mo Hap Tojin tidaklah sekeras Thian-te Sin-kiam.

Mereka berdua ini dulu pernah berjuang di bawah pimpinan Ouw Beng Tat dan sudah maklum betapa tinggi ilmu panglima itu, maka kini menyaksikan Ang Kwi Han bertanding dan dalam beberapa jurus saja sudah tertindih dan tertekan mereka berseru keras dan meloncat maju, Tho-tee-kong Liong Losu menggerakkan tongkat hwesio di tangannya dan senjata yang berat ini sudah mengaung-ngaung seperti seekor naga mengamuk.

Adapun Siauw-bin-mo Hap Tojin sambil tertawa-tawa, sudah mencabut pedangnya dan tampaklah segulung sinar pedang berkilauan menyambar-nyambar dan mengurung Ouw Beng Tat.

"Ha-ha-ha bagus sekali! Hap Tojin dan Liong Losu, puluhan tahun yang lalu kita berteman, kini (Lanjut ke

Jilid 19) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 berlawan. Memang hidup harus berganti ganti, banyak bumbu baru gembira! Ha-ha-ha!"

Pada saat tiga orang kakek itu mengeroyok Ouw Beng Tat, sesosok bayangan berkelebat memasuki tempat itu dengan cara seperti tiga orang kakek tadi, yaitu melompat dari pohon.

Bayangan itu bukan lain adalah Siok Lan yang segera menghampiri Thian-te Sin-kiam dan berseru.

"Kong-kong...... (kakek)!"

Sejenak pandang mata kakek ini berseri dan ia menggandeng tangan cucunya, lalu ia memandang lagi ke arah pertandingan dengan mata mengandung kekhawatiran.

"Kong-kong, mari kita bantu mereka......"

"Stttt...... jangan sembrono Siok Lan. Engkau tidak boleh sembarangan turun tangan, takkan ada gunanya."

Siok Lan memandang bengong dan melihat betapa panglima tinggi besar itu biarpun dikeroyok tiga namun ternyata pedangnya hebat bukan main.

Tubuhnya yang tinggi besar itu berdiri kokoh kuat seperti menara besi, pedangnya bergerak dengan tenaga yang menggetar-getar, terasa sampai jauh angin sambaran pedangnya dan betapapun juga akan lihainya tiga orang kakek yang mengeroyoknya, namun tidak pernah senjata tiga orang ini dapat menyentuh.

Tiap kali tertangkis pedang di tangan Ouw Beng Tat bahkan tongkat Liong Losu yang berat disertai tenaganya yang kuat sekalipun terpental dan hampir terlepas dari pegangan!

"Kong-kong......"

Siok Lan berbisik lagi.

"tiga orang kakek itu takkan menang, kenapa kong-kong tidak membantu mereka......?"

"Ha-ha-ha! Tepat sekali desakan cucumu, Thian-te Sin-kiam. Hayo kau maju dan bantulah. Kau juga Dewi Suling!"

Siok Lan terkejut.

Dia bicara bisik-bisik kepada kakeknya, dan panglima itu sedang bertempur dikeroyok tiga orang kakek lihai, namun masih dapat mendengarnya dan menjawab.

Sungguh hebat panglima tua itu!

"Aku tidak akan melakukan pengeroyokan Siok Lan."

"Apakah...... kong-kong sanggup menandinginya......?"

"Sukar menangkan dia...... akan tetapi aku tidak takut. Kalau semua teman kalah, biarlah kuserahkan selembar nyawa dan tubuh tua ini."

"Kong-kong......"

"Stttt, mati hidup bukan apa-apa lagi bagi seorang tua bangka seperti aku. Akan tetapi berbeda lagi dengan engkau, maka janganlah engkau sembrono. Apakah kau sudah bertemu dengan dia?"

"Siapa, kong-kong?"

"Siapa lagi, Yu Lee tentu...... bukanlah kau pergi mencari dia?"

Merah wajah Siok Lan dan dia menggeleng kepala, tidak menjawab.

Ditanya tentang Yu Lee atau Pendekar Cengeng, teringat ia kepada A-liok dan timbul kekhawatirannya.

A-liok tadi berlari-lari menyusulnya bagaimana kalau tertangkap oleh pasukan musuh?

Akan tetapi karena pasukan musuh tidak atau belum bergerak menanti perintah Panglima Ouw Beng Tat agaknya kekhawatirannya hilang dan ketika ia menolah ke kanan kiri dan belakang, ia terheran-heran melihat A-liok sudah menyelinap di antara anak buah pejuang!

Kalau saja keadaan tidak demikian menegangkan, tentu ia akan merasa heran bagaimana A-liok dapat sedemikian cepatnya menyusul ke situ padahal tadi ia mempergunakan ilmu lari cepat.

Kakeknya tidak bertanya lagi, juga Siok Lan lupa akan A-liok ketika melihat betapa pertandingan sudah mencapai puncaknya.

Baru kurang lebih tigapuluh jurus berlangsung, akan tetapi keadaan tiga orang kakek itu sudah payah!

Mereka kini terus terhimpit dan tertekan oleh sinar pedang Panglima Ouw Beng Tat yang makin lama makin lebar gulungan sinarnya.

"Pengkhianat keji biar kau rasakan pedangku!"

Yang berteriak nyaring ini adalah Cui Hwa Hwa yang agaknya tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi.

Wanita ini sudah meloncat ke depan dan Thian-te Sin-kiam dan Dewi Suling terkejut, hendak mencegah namun terlambat.

Terdengar jerit mengerikan ketika terdengar suara kerincingan dan seperti keadaan tiga orang Huang-ho Sam-liong tadi, tubuh Cui Hwa Hwa roboh berkelojotan, sebatang piauw menancap di antara kedua matanya dan ia tewas tak lama kemudian!

Sungguh hebat kepandaian Panglima Ouw Beng Tat, Cui Hwa Hva terhitung orang lihai, jauh lebih lihai daripada tiga Huang-ho Sam-liong namun tetap saja ia tidak dapat menghindarkan diri dari serangan tiga batang piauw berkerincing yang sekaligus menyambarnya tadi.

Ia dapat menghindarkan yang dua batang, namun piauw ketiga tak dapat ia hindarkan lagi.

Sambil tertawa Ouw Beng Tat mempercepat gerakan pedangnya dan Ang Kwi Han berseru perlahan, terhuyung ke belakang dan lengan kirinya sebatas siku terlepas dan jatuh ke atas tanah!

Lengannya telah terbabat pedang Ouw Beng Tat!

Namun luar biasa sekali kegairahannya dan daya tahan ketua Ang-kin Kai-pang ini, karena sambil mengeluarkan suara gerengan ia menubruk maju dengan nekat, pedangnya bergerak cepat sekali.

Ouw Beng Tat mundur dan menangkis, tangan kirinya kembali diayun dan tiga batang piauw menancap di antara mata leher dan ulu hati ketua pengemis itu yang segera roboh tak berkutik lagi.

"Auuuuggghhh......!!"

Suara ini terdengar bergema keluar dari kerongkongan puluhan orang anggauta Ang-kin Kai-pang dan mereka sudah gatal-gatal tangan untuk menerjang maju.

Melihat ini Dewi Suling cepat mengangkat lengan ke atas dan berseru.

"Saudara-saudara anggauta kai-pang harap tenang! Orang gagah selalu memegang teguh janji! Kita sudah berjanji, diwakili Liem-locianpwe tadi untuk mengadu kepandaian antara pimpinan. Tidak seorangpun anak buah boleh turun tangan tanpa komando!"

Memang Dewi Suling paling disegani oleh para pejuang maka para pengemis yang menyaksikan sendiri betapa pangcu mereka terbunuh, menahan kemarahan dan hanya dapat mencucurkan air mata sambil merawat jenazah ketua mereka seperti yang dilakukan oleh anggauta-anggauta Huang-ho Sam-liong terhadap ketua mereka dan terhadap jenazah Cui Hwa Hwa tadi.

Setelah Ang Kwi Han tewas, tentu saja Siauw-bin-mo Hap Tojin dan Tho-tee-kong Liong Losu menjadi makin repot menghadapi Ouw Beng Tat.

Panglima ini tertawa-tawa mengejek lalu berkata.

"Mengingat akan persahabatan kita, tidaklah lebih baik kalian menyerah saja daripada mati konyol di ujung senjataku?"

"Omitohud pinceng tidak takut menghadapi kematian,"

Kata Tho-tee-kong sambil terus menggerakkan tongkatnya.

"He, he, he, Ouw Beng Tat panglima boneka. Siapa takut mati? Kalau kami mati di tanganmu, apa kau kira engkau kelak tidak akan mampus juga? Kami akan mati sebagai pejuang-pejuang bangsa akan tetapi kelak engkau mampus sebagai pengkhianat, namamu akan tercemar sampai tujuh turunan. Ha-ha-ha!"

Marahlah Ouw Beng Tat.

Ia megeluarkan suara gerengan yang menbuat seluruh tempat itu tergetar, pedangnya berkelebat menyilaukan mata.

Akan tetapi kedua orang kakek gagah perkasa itu tidak gentar, menyambutnya dengan senjata masing-masing, bahkan tongkat di tangan Tho-tee-kong berhasil "menyusup"

Masuk dan menggebuk pundak kiri Ouw Beng Tat.

"Bukkk!"

Tho-tee-kong terkejut ketika merasa betapa tongkatnya membalik dan tangannya sakit-sakit.

Akan tetapi iapun girang ketika melihat Ouw Beng Tat terguling roboh, ia mengira bahwa biarpun tubuh itu kebal dan dilindungi pakaian sisik besi, namun tenaga pukulan tongkatnya membuat panglima itu terguling ia dan Hap Tojin menubruk maju untuk mengirim serangan maut.

"Awas......!"

Dewi Suling menjerit.

"Mundur......!"

Thian-te Sin-kiam memperingatkan.

Namun terlambat karena kedua orang tua yang sudah mulai lelah itu sudah terlanjur menubruk ke depan.

Pada saat itu, tangan kiri Ouw Beng Tat yang rebah miring diayun dan belasan batang piauw berkerincing menyambar cepat sekali dari jarak dekat ke arah dua orang kakek itu.

Tho-tee-kong dan Siauw-bin-mo terkejut, berusaha memutar senjata melindungi tubuh, akan tetapi tidak semua piauw dapat mereka tangkis.

Sebatang piauw menancap di lambung Tho-tee-kong dan sebatang lagi menancap leher Hap Tojin.

Mereka terhuyung-huyung lalu roboh.

"Pengkhianat keji rasakan pembalasanku!"

Teriakan ini keluar dan mulut Tan Li Ceng yang diikuti oleh Ci Sian, Gui Siong dan juga Ouwyang Tek.

Empat orang muda yang melihat suhu mereka roboh itu tak dapat menahan diri lagi dan sudah mencabut senjata dan menerjang ke depan.

"Tahan...... awas......!!"

Dewi Suling menjerit, tubuhnya melayang ke depan dan sulingnya diputar cepat di depan empat orang muda itu yang terancam oleh belasan batang piauw yang menyambar sambil mengeluarkan suara kerincing riuh rendah membisingkan telinga.

"Cring, cring, cring, cring......!!"

Belasan batang piauw itu beterbangan kena sampokan suling Dewi Suling, akan tetapi sebatang piauw masih meleset dan menancap di bahu kiri Dewi Suling, membuat wanita ini terhuyung-huyung.

Tan Li Ceng cepat memeluknya dan membawanya mundur, di mana Dewi Suling mengeluarkan obat dan mengomel.

"Kalian berempat ini apa sudah bosan hidup? Lebih baik mengurus suhu kalian dan berusaha mengobati."

Empat orang muda itu menjadi pucat.

Mereka maklum bahwa kalau tidak ada Dewi Suling, tadi mereka sendiri tidak akan mampu menyelamatkan diri dari pada sambaran belasan batang piauw yang hebat itu, Dewi Suling diam-diam juga kaget dan kagum, sambil memandang ke arah empat orang muda yang kini menolong guru masing-masing yang masih belum tewas.

Dewi Suling dapat menduga bahwa nyawa dua orang kakek itu takkan dapat tertolong lagi.

Hal ini ia ketahui dari hebatnya sambaran piauw yang ditangkis, sulingnya yang menangkis piauw-piauw itu sampai tergetar hebat, berarti bahwa piauw itu disambitkan dengan tenaga dahsyat sekali, sepuluh kali lebih hebat daripada senjata-senjata rahasia yang dipergunakan ahli senjata rahasia.

Pantas saja kalau Huang-ho Sam-liong bertiga, Cui Hwa Hwa, Ang Kwi Han.

Orang-orang yang begitu lihai tak ada yang dapat menyelamatkan diri daripada sambaran piauw dari tangan Ouw Beng Tat.

"Suhu......!"

Tan Li Ceng dan Lauw Ci Sian menangisi guru mereka yang menggigit bibir.

"Suhu......!"

Gui Siong dan Ouwyang Tek juga memanggil gurunya perlahan dengan hati hancur.

Mereka melihat betapa guru mereka itu dalam keadaan terancam mati masih tersenyum-senyum memandang mereka, namun jelas bahwa luka suhu mereka itu takkan dapat ditolong lagi.

Piauw itu menancap dalam di leher sehingga untuk mencabutnya malah mengkhawatirkan.

"Bagaimana...... dengan mereka......?"

Siauw-bin-mo menoleh ke arah kedua orang gadis murid Liong Losu.

"Kulihat...... kalian berempat...... hemm...... bagaimana......?"

Melihat betapa sukarnya suhunya bicara dengan leher seperti tercekik karena tertancap piauw itu.

Gui Siong yang maklum akan watak suhunya, menjadi terharu dan tidak tega.

Ia maklum bahwa sebelum mati gurunya ingin bertanya tentang usul perjodohan mereka dengan murid-murid Liong Losu!

"Mereka setuju suhu!

Kami berempat tinggal menanti ijin suhu......"

Gui Siong berkata dengan muka merah dan menahan air mata.

"Ha-ha-ha......! Ha-ha-ha! Setuju ...... setuju......!"

Dan Siauw-bin-mo Hap Tojin tertawa terus sampai akhirnya berhenti sama sekali karena napasnya telah putus!

Tho-tee-kong Liong Losu keadaannya tidak lebih baik daripada Hap Tojin.

Piauw menancap di lambung dekat jantung dan piauw yang mengandung racun hebat itu sudah meracuni semua darahnya, ia terengah-engah dan hanya membuka mata ketika mendengar suara ketawa terakhir Hap Tojin.

"Apa maksudnya......?"

Ia bertanya kepada Tan Li Ceng.

Tan Li Ceng maklum betapa pentingnya menyampaikan berita baik kepada suhunya yang dahulu merasa amat kecewa oleh penolakan mereka, maka kini dengan memberanikan hati menekan rasa malu ia berbisik di dekat telinga suhunya "Suhu......

kami berdua sudah sepakat menjadi......

jodoh kedua muridnya......"

"Omitohud...... lega hatiku...... ahh, Siauw-bin-mo, engkau benar...... hidup tidaklah begitu membosankan kalau hati kita lega ......"

Hwesio ini menghela napas panjang berkali-kali dan keadaan sungguh sebaliknya daripada Hap Tojin.

Kalau sahabatnya itu mati sambil tertawa-tawa hwesio ini mati sambil menghela napas!

Ketika melihat betapa para pejuang menyaksikan kematian dua orang kakek itu dengan terharu dan suasana menjadi kosong mengharukan sejenak, Ouw Beng Tat lalu tertawa dan berkata keras.

"Apakah kalian masih berkeras kepala, tidak mau menyerah dan ingin mati konyol seperti yang lain-lain? Thian-te Sin-kiam, sudah terlalu banyak tenaga-tenaga baik mati konyol karena keras hati dan kepala batunya. Yang kupandang hanya lima orang di antara kalian yang patut melawanku. Yang tiga sudah tewas, seorang sudah terluka, tinggal engkau. Apakah engkau tidak dapat melihat gelagat dan menyerah saja? Hemm, jangan kaukira aku Ouw Beng Tat seorang yang berhati kejam. Sesungguhnya aku menangis dalam hati harus membunuh bekas-bekas sahabat baik. Akan tetapi karena keadaan memaksa, apa boleh buat. Harap saja kau orang tua berpemandangan lebih luas dan aku sudah akan merasa puas kalau dapat menggiringkan engkau, Dewi Suling dan empat orang anak muda itu sebagai pimpinan pemberontak ke kota raja."

Saking marahnya, Thian-te Sin-kiam tidak menjawab melainkan perlahan-lahan tangannya bergerak dan pedang yang sudah belasan tahun menganggur itu dicabutnya.

Melihat ini Siok Lan memegang lengan kong-kongnya.

"Kong-kong, biarlah aku melawannya,"

Kata gadis itu.

"Ha-ha-ha, Thian-te Sin-kiam. Engkau sudah terlalu tua untuk berkelahi. Lebih baik engkau menyerah dan aku berjanji tidak akan menawan cucumu yang gagah ini. Selain itu, jangan mengira bahwa mereka yang kutawan dan kubawa ke kota raja tentu akan dihukum mati. Tidak sama sekali. Karena kerajaan Goan amat bijaksana dan dapat menghargai tenaga orang-orang pandai dan......"

"Tutup mulutmu, Ouw Beng Tat! Aku tidak sudi menjadi pengkhianat, lebih baik seribu kali mati daripada hidup menjadi pengkhianat bangsa seperti engkau!"

Teriak Thian-te Sin-kiam dan dadanya bergelombang saking marahnya.

Kakek ini menggerakkan pedangnya, diputar-putar di atas kepala dan terpaksa Siok Lan mundur dan memandang kakeknya penuh kegelisahan.

Lawan terlampau lihai dan kakeknya itu biarpun dahulu terkenal sebagai seorang pendekar pedang yang sukar dicari bandingnya, namun sejak dahulu sudah kalah tinggi ilmunya oleh Ouw Beng Tat, dan sekarang sudah amat tua dan mulai lemah.

"Thian-te Sin-kiam sungguh-sungguh engkau bodoh dan keras kepala! Engkau membikin hatiku merasa tidak enak sekali. Bagaimana aku dapat senang kalau harus mengadu pedang dengan orang yang dahulu menjadi anak buahku dan sudah banyak jasanya? Liem Kwat Ek, sabelum kita bertanding pedang, kau cobalah hadapi senjata rahasiaku. Kalau kau cukup tangguh menghadapi piauw-piauwku, barulah kau berharga untuk bertanding pedang denganku."

Setelah berkata demikian, kedua tangan Ouw Beng Tat bergerak dan pedangnya yang sudah dipegangnya tahu-tahu sudah kembali ke sarang pedang.

Tangan kiri dan kanan kini merogoh piauw dari kantong-kantong piauw di pinggang kanan dan dada, dan begitu kedua tangan bergerak ke depan dan terdengarlah suara nyaring dan hiruk pikuk bunyi kerincingan dibarengi dengan menyambarnya puluhan batang piauw yang menyambar ke arah jalan darah di seluruh tubuh Thian-te Sin-kiam!

"Cring, cring, cring, cring, cring......!!"

Hebat gerakan pedang Thian-te Sin-kiam.

Biarpun ia sudah tua, namun sekali kakek ini memutar pedang tubuhnya seolah-olah dilindungi benteng baja yang dibentuk oleh gulungan sinar-sinar pedang yang berkeredepan menyilaukan mata.

Sambaran duapuluh piauw itu semua dapat ia runtuhkan dengan tangkisan pedangnya.

Biarpun semua piauw runtuh namun diam-diam Thian-te Sin-kiam terkejut bukan main karena lengan kanannya yang memegang pedang seperti lumpuh rasanya saking kuatnya tenaga yang terkandung dalam senjata rahasia yang kecil seperti itu sehingga ketika menangkis tadi terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaganya.

"Ha-ha-ha, hebat kau! Coba terima ini!"

Kembali terdengar suara berkerincingan nyaring sekali, lebih nyaring dari pada tadi dan yang berkelebat menyambar adalah tujuh batang piauw yang terbang menjadi satu dengan kecepatan luar biasa menuju dada Thian-te Sin-kiam.

Kakek ini tidak dapat mengelak lagi terpaksa menangkis dengan pedangnya sambil mengeratkan tenaga.

"Tranggg......!"

Tujuh batang piauw yang menjadi satu itu terpukul runtuh akan tetapi pedang itu sendiri terlepas dari pegangan tangan Thian-te Sin-kiam!

Kiranya tujuh batang piauw itu mengandung tenaga yang amat dahsyat sehingga tidak kuat Thian-te Sin-kiam menahan pedangnya yang terlepas dan runtuh bersama tujuh batang piauw yang ditangkisnya.

Ouw Beng Tat tertawa-tawa dan kini kedua tangannya melempar-lemparkan piauw ke arah Thian-te Sin-kiam membuat kakek ini terpaksa mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana ke mari.

"Ha-ha-ha, engkau takkan dapat menghindar dari piauwku Liem Kwat Ek, akan tetapi kalau kau meayerah aku akan mengampuni nyawamu!"

"Kau boleh pergi ke neraka, Ouw Beng Tat! Bunuhlah aku kalau kau mampu, aku tidak takut mati!"

Ouw Beng Tat menjadi marah dan sengaja ia melepaskan sebatang piauw dengan pengerahan tenaga khusus, tidak seperti piauw-piauw lain yang dilepas hanya untuk mempermainkan jago pedang tua itu.

Piauw ini luar biasa sekali, menyambar cepat dan terdengarlah Thian-te Sin-kiam Liem Kwat Ek mengeluh dan tubuhnya terhuyung.

Piauw itu telah menyerempet pahanya.

Biarpun tidak hebat lukanya, namun membuat kakinya setengah lumpuh karena pengaruh racun yang terkandung di ujung piauw.

"Ha, ha, ha, kau masih belum menyerah? Ingin semua kubunuh termasuk cucumu."

"Lebih baik kami mati semua daripada menyerah, manusia busuk!"

Siok Lan memaki sambil menolong kakeknya. Dewi Suling yang sudah mengobati bahu kirinya meloncat dan berteriak, suaranya lantang.

"Ouw Beng Tat, jangan kira bahwa kami adalah orang-orang pengecut seperti engkau! Kami akan melawan sampai titik darah terakhir, dan setelah kami para pimpinan tewas jangan mengira bahwa anak buah kami akan suka tunduk begitu saja. Merekapun adalah patriot patriot sejati, orang-orang gagah yang memilih kematian daripada menjadi abdi penjajah terkutuk!"

Ucapan ini bukan merupakan pengingkaran janji, melainkan merupakan pembakaran semangat yang sengaja diucapkan Dewi Suling setelah menyaksikan betapa pihaknya akan kalah.

Ucapannya disambut sorak sorak riuh dan gemuruh oleh para anak buah pasukan pejuang yang mengacung acungkan senjata.

"Kami lawan! Kami lawan sampai mati......!!"

Tadinya para anak buah pasukan pejuang sudah mengendur semangat juangnya, gentar karena menyaksikan betapa pihak pimpinan mereka banyak yang tewas.

Terutama sekali anak buah Ang-kin Kai-pang yang kehilangan ketuanya, anak buah Huang-ho Sam-liong yang kematian tiga orang pemimpin dan hanya anak buah pimpinan Ouwyang tek, Gui Siong, Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng saja, bekas bekerja paksa itulah yang masih bersemangat tinggi.

Akan tetapi melihat sikap Thian-te Sin-kiam yang biarpun sudah tua namun masih bersemangat baja, dan sikap Dewi Suling yang gagah perkasa, timbul kembali semangat mereka sehingga dengan suara bulat mereka bertekad untuk melawan sampai titik darah orang terakhir!

Melihat sikap semua pejuang ini, kemarahan Ouw Beng Tat tak dapat ditahan lagi.

Ia menggerakkan tangan hendak mengeluarkan perintah membasmi semua pemberontak yang dianggapnya tak tahu diri itu, akan tetapi sebelum mengeluarkan aba aba tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Ouw Tai-ciangkun sebagi seorang panglima tinggi seperti engkau, apakah tidak malu menjilat ludah yang dikeluarkannya sendiri?"

Kagetlah Ouw Beng Tat dan kini ia memandang.

Yang menegurnya itu adalan seorang pemuda tampan dan gagah, berpakaian putih......

yang berdiri menghadapinya dengan tatap mata tajam dan sikap garang, menudingkan senjata yang berada di tangan pemuda ini berbentuk sebatang ranting kayu kecil yang yang masih ada dua helai daunnya di ujung ranting.

Ia tidak mengenal pemuda ini juga tidak melihat ada diantara para pimpinan pemberontak.

Sikap dan pakaian pemuda ini, seperti memang biasa saja, sama sekali tidak menimbulkan kesan, akan tetapi pandang matanya demikian mengerikan, tajam menembus jantung dan penuh keangkeran.

"Hm, siapa engkau dan apa artinya ucapan yang lancang tadi?"

Ouw Beng Tat membentak, suaranya mengguntur karena ia marah sekali.

Kalau seorang tokoh besar seperti Thian-te Sin-kiam masih tidak mampu melawannya apa pula pemuda sederhana ini?

Ouw Beng Tat bukanlah seorang pengecut dan kejam terhadap bangsa seperti yang ia katakan.

Dia merasa tidak senang harus bertanding melawan bekas sahabat seperjuangan dahulu, hatinya sakit karena ia harus membunuh orang-orang seperti Hap Tojin dan Liong Losu bekas anak buahnya.

Akan tetapi, dia orang yang setia akan tugasnya.

Sikapnya menghadapi para pemberontak adalah sikap yang menyayang bangsa dan bekas sahabat, maka ia tidak begitu saja membasmi mereka yang sesungguhnya sudah berada di dalam telapak tangannya, melainkan ia mengajukan usul bertanding agar mereka itu dapat ia taklukkan tanpa pembunuhan, atau kalaupun ada pembunuhan, tidaklah banyak.

Tentu saja dia bukan seorang bodoh dan sembrono.

Adanya dia berani menantang bertanding adalah karena dia yakin bahwa di antara para pimpinan pemberontak itu tidak seorangpun dapat mengalahkannya!

Kini ada seorang pemuda yang berani menantangnya.

Biarpun ia belum mengenalnya dan belum mengetahui sampai di mana kelihaiannya, akan tetapi tentu saja ia memandang rendah.

Pemuda ini usianya tentu takkan lebih dari duapuluh lima tahun, sepandai-pandainya juga mana mungkin mampu melawan dia yang pengalamannya saja sudah lebih lama dari pada usia si pemuda?

"Namaku tidak menjadi soal, Ouw-ciangkun, akan tetapi perlu kau ketahui bahwa aku adalah seorang di antara para pejuang.

Ucapanku tadi tidak lancang, karena sesungguhnya amat memalukan kalau seorang panglima seperti engkau menjilat ludah sendiri.

Bukankah engkau janjikan kebebasan apabila kau kalah dalam pertandingan?

Nah, pertandingan belum juga habis engkau sudah hendak mengerahkan pasukan untuk membasmi para pejuang!"

"Apa kau bilang? belum habis? Eh, orang muda dengarkan dengan kata-kataku. Semua pimpinan pemberontak sudah ku kalahkan. Siapa lagi yang masih berani melawan aku? Hayo, siapa lagi orangnya di antara para pemberontak yang berani menghadapi pedang dan piauwku? Siapa berani bertanding dengan panglima besar Ouw Beng Tat?"

Pemuda itu dengan sikap tenang lalu berkata, mengejutkan dan mengherankan Ouw Beng Tat dan semua anak buahnya.

"Akulah yang akan melawanmu, Ouw-ciangkun!"

"A-liok......! Jangan...... kau nanti mati......!"

Yang menjerit ini adalah Siok Lan. Gadis yang sudah jatuh cinta kepada bekas "pelayan"

Ini begitu kaget dan khawatir mendengar ucapan Yu Lee sehingga ia menjerit dan dengan tak disadarinya lagi ia sudah meloncat dan lari meninggalkan kakeknya, menghampiri Yu Lee dan memegang lengan pemuda itu.

"A-liok, apa kau gila? Kau hendak melawan dia? Banyak jalan kematian, mengapa memilih mati konyol! Dia bukan lawanmu. Biarlah aku yang menggantikanmu! Hayo, Ouw Beng Tat, kau lawan aku saja!"

Gadis ini dengan sikap gagah mencabut pedang. Yu Lee tersenyum, memegang kedua lengan gadis itu, berkata dengan suara halus dan penuh perasaan.

"Adik, Siok Lan, harap kau mundur, ah...... kau tenang-tenang saja, A-liokmu ini tidak akan mudah saja dibunuh orang......"

Siok Lan hendak meronta akan tetapi alangkah heran dan kagetnya ketika ia merasa betapa kedua lengannya sama sekali tidak dapat digerakkan dalam genggaman tangan bekas pelayannya itu.

Ia penasaran dan mengerahkan seluruh sinkang di tubuhnya disalurkan ke arah kedua lengan, namun sia-sia, sedikit pun ia tidak dapat bergeming.

Dengan keheranan menjadi-jadi ia mengangkat muka menatap wajah pemuda itu yang tersenyum-senyum kepadanya.

"Siok Lan......!"

Panggilan ini datang dari mulut Thian-te Sin-kiam.

"Kong-kongmu memanggil, kau kesanalah dan tenangkan hatimu, moi-moi.......!"

Semua peristiwa ini demikian mengherankan dan mengejutkan hati Siok Lan. Ia merasa seperti dalam mimpi. A-liok menyebut "adik"

Dengan sebutan begitu mesra.

A-liok memegang kedua lengannya dan ia sama sekali tidak mampu bargerak.

A-liok kini menantang untuk bertanding melawan Panglima Ouw Beng Tat yang demikian lihai sehingga kakeknya sendiripun tidak mampu mengalahkannya!

Seperti dalam mimpi, mendengar kata-kata terakhir A-liok.

Siok Lan lalu berjalan perlahan menghampiri kakeknya.

Thian-te Sin-kiam yang pahanya terluka itu sudah ditolong oleh Dewi Suling yang menaruhkan obat dan membalutnya.

Kini kakek ini sudah bangkit berdiri memandang cucunya dengan mata terbelalak dan segera ia menegur Siok Lan begitu gadis itu datang dekat.

"Siok Lan! Bagaimana engkau begitu berani kurang ajar? Kau...... kau menyebut dia...... A-liok? Apa-apaan ini? Siapa itu A-liok?"

"Dia A-liok pelayanku, kong-kong......"

Kata Siok Lan terheran-heran melihat betapa kong-kongnya itu memandangnya dengan mata terbelalak seperti itu.

"Apa? Pel...... pel...... pelayanmu? Dia...... pelayanmu? Ha, ha, ha, ha! Setua ini baru kali ini aku mendengar urusan begini lucu dan gila, ha, ha, ha, ha. ha......!"

Kakek itu tertawa terbahak-bahak sehingga mengejutkan semua orang yang memandangnya dengan khawatir, takut kalau-kalau kakek itu menjadi gila karena menyesal melihat pihaknya menderita kekalahan.

Tubuhnya bergoyang dan Siok Lan cepat memegang lengan kakeknya.

"Kong-kong...... mengapa......?"

Thian-te Sin-kiam memeluk cucunya menghentikan tertawanya ketika sadar bahwa sikapnya itu mengherankan semua orang.

"Diamlah, dan kau lihat saja. Lihat baik-baik dan kau akan mengerti, cucuku,"

Katanya.

Yu Lee juga menengok ke arah mereka dan ketika bertemu pandang dengan Siok Lan.

mengedipkan sebelah matanya.

Ouw Beng Tat juga mendengar percakapan antara kakek dan cucunya itu, maka ia tertawa.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau ini pelayan cucu Thian-te Sin-kiam? Seorang pelayan berani menantangku? Apakah kau sudah gila?"

"Ouw-ciangkun, sudah kukatakan tidak perduli aku siapa, akan tetapi saat ini aku mewakili semua pejuang menghadapimu. Asal saja engkau tidak menjilat ludah sendiri. Kalau kau kalah terhadap aku, engkau akan membebaskan semua pejuang yang berada di sini. Benarkah itu?"

Ouw Beng Tat menjadi penasaran.

Dia seorang panglima besar, bagaimana ia harus merendahkan diri melawan seorang.......

pelayan?

Selain Ouw Beng Tat, juga Siok Lan terheran-heran, bahkan mendongkol kepada A-liok.

Gilakah A-liok!

Mewakili semua pejuang?

Mencari mati konyol?

"Thian-te Sin-kiam, benarkan pemuda ini menjadi wakil kalian?"

Thian-te Sin-kiam tertawa lebar dan mengangguk.

"Benar, lawanlah dia kalau memang engkau lihai Ouw Beng Tat! Sekali ini engkau akan mendapat malu!"

Ouw Beng Tat masih penasaran dan menoleh ke arah Dewi Suling yang sejak tadi menundukkan mukanya yang menjadi pucat mendengar percakapan antara Thian-te Sin-kiam dan cucunya tentang pemuda yang ia kenal sebagai Yu Lee Si Pendekar Cengeng, satu-satunya pria yang dicintainya dan yang telah menolak cintanya itu.

"Dewi Suling, engkau juga setuju pemuda ini menjadi wakil kalian dan kalau dia kalah dariku, kalian semua akan tunduk akan semua keputusanku?"

"Dia memang wakil tunggal kami Ouw-ciangkun. Dialah jago kami yang sejak tadi kami nanti-nanti!"

Jawab Dewi Suling tanpa ragu-ragu lagi.

Siok Lan melongo.

Gilakah semua orang ini?

Ataukah dia yang sudah gila dan telinganya tidak dapat menangkap ucapan orang dengan benar lagi?

Namun Ouw Beng Tat masih juga meragu.

Ia tidak ingin dipermainkan dan dikatakan pengecut merendahkan diri hanya berani melawan seorang pelayan rendah.

Maka ia berkata kepada Yu Lee.

"Orang muda, sebelum aku melawanmu hendak kulihat apakah kau cukup berharga untuk menjadi lawanku! Ia menoleh ke belakang dan berkata kepada seorang perwira gemuk pendek yang memegang sebatang cambuk besi.

"Kau wakili aku, hancurkan kepala budak hina ini!"

Perwira gedut pendek itu adalah seorang tokoh pengawal istana, seorang ahli silat yang bertenaga besar dan senjatanya itu, sebatang cambuk besi, amatlah hebatnya.

Cambuk itu terbuat daripada baja lemas panjangnya tidak kurang dari tiga meter.

Dengan senyum mengejek perwira itu melangkah maju cambuknya digerakkan dan diputar-putar di atas kepala menimbulkan suara meledak-ledak keras sekali seperti halilintar.

Yu Lee maklum bahwa senjatanya, yaitu sebatang ranting berani menghadapi segala macam senjata keras, kecuali cambuk yang lemas, karena ada bahayanya ranting itu akan terbabat putus oleh cambuk yang lemas sifatnya.

Maka ia lalu menyelipkan rantingnya di pinggang, lalu bertolak pinggang ambil berkata.

"Baiklah Ouw-ciangkun. Aku akan menghadapi pembantumu ini dengan tangan kosong!"

Ucapan ini tentu saja dianggap tekebur oleh pihak lawan, dan memang ini yang diharapkan Yu Lee agar tidak diketahui orang akan rahasia kelemahan senjatanya yang amat sederhana ini.

Siok Lan menjadi pucat, menganggap bahwa A-liok benar-benar miring otaknya.

Perwira gendut itu marah sekali, merasa dipandang rendah dan dihina.

Maka sambil berseru keras ia mengerang maju sambil menggerakkan cambuknya......

"Tar-tar-tar......."

Cambuk baja itu melecut-lecut dan ujungnya menari-nari di atas kepala Yu Lee, seolah-olah mengancam hendak benar-benar menghancurkan kepala pemuda yang tampak tenang saja itu.

Melihat betapa pemuda itu tenang-tenang saja menghadapi ancaman-ancaman ujung cambuknya, si perwira gendut makin marah dan dengan bentakan keras ia kini benar-benar menyerang.

Ujung cambuknya menyambar ke arah jalan darah di leher Yu Lee setelah meledak dengan suara nyaring.

Namun dengan amat mudanya Yu Lee mengelak.

Ujung cambuk terus menyambar-nyambar dan terjadilah pemandangan yang membuat Siok Lan melongo.

"Pelayannya"

Itu kini bergerak-gerak indah sekali, indah dan cepatnya sampai membuat matanya kabur dan kepalanya pening.

Itulah ginkang yang jarang ia saksikan.

Tubuh pemuda itu seolah-olah berubah menjadi asap, begitu ringannya ia bergerak, seolah-olah ujung cambuk yang menyambar-nyambar itu lebih dulu membuat tubuhnya melayang sebelum tiba sehingga tak pernah satu kalipun ujung cambuk dapat menyentuh bajunya yang putih kasar.

Benarkah itu A-liok, pelayannya?

Kalau begitu, selama ini dia seperti seorang buta, tidak melihat bahwa pelayannya itu sesungguhnya memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada dia sendiri!

Akan tetapi mengapa A-liok berpura-pura bodoh?

Dan kakeknya mengapa terkejut mendengar bahwa A-liok pelayan dan seakan-akan telah mangenal pelayannya itu?

Mengapa pula semua pejuang, termasuk Dewi Suling, secara sewajarnya menerima A-liok sebagai jago mereika, seolah-olah sudah mengenalnya dengan baik dan tahu akan kepandaiannya?

Akan tetapi Siok Lan terpaksa harus menghentikan keheranannya karena ia amat tertarik menonton pertandingan itu.

Yu Lee yang tadinya berloncatan menghindarkan diri dari sambaran-sambaran cambuk, kini tiba-tiba berdiri tegak dengan kedua kaki di pentang lebar dan kedua tangan bertolak pinggang, menanti datangnya serangan musuh!

Perwira gendut itu berseru girang dan juga beringas, cambuknya menyambar ke arah dada Yu Lee.

Pemuda ini tadi memang sengaja mengelak terus untuk mengenal dasar gerakan ilmu cambuk lawan.

Kini ia sudah dapat mengukur dan mengenal, maka ia berdiri tegak menanti datangnya cambuk.

Begitu ujung cambuk sudah dekat dengan kulit dadanya tangan kanannya meraih dan ujung cambuk itu telah ditangkapnya dengan mudah.

Perwira itu marah membetot betot sekuat tenaga untuk merampas kembali senjatanya, namun sia-sia belaka, ujung cambuk baja itu tak dapat terlepas dari genggaman tangannya Yu Lee.

Kembali si perwira mengerahkan tenaganya yang besar, sampai mulutnya mengeluarkan suara "ah-ah-uh-uh"

Dan tiba-tiba Yu Lee melepaskan ujung cambuk itu bukan hanya dilepaskan begitu saja, melainkan ia lontarkan dengan pengerahan tenaga sinkang di tangannya.

Ujung cambuk melesat ke depan, ke arah tubuh perwira gendut yang terhuyung-huyung ke belakang karena dorongan tangannya yang membetot tadi tanpa dapat dielakkan lagi ujung cambuk yang berubah menjadi seperti anak panah yang meluncur cepat ini menusuk perutnya.

"Crattt......!"

Ujung cambuk dari baja itu menusuk perut terus menembus punggung.

Perwira gendut itu terjengkang dan berkelojotan, mengeluarkan suara seperti seekor babi disembelih.

Melihat temannya roboh tewas, enam orang perwira Mongol tanpa diperintah lagi sudah meloncat maju dan langsung menyerang Yu Lee.

Pemuda ini berseru "Bagus!"

Dan ranting yang tadi terselip di pinggang sudah dicabutnya dan mulailah ia menghadapi pengeroyokan enam orang perwira yang bersenjata pedang dan golok itu.

"Curang......! Curang ......!"

Teriak Siok Lan.

Tidak perduli pemuda itu A-liok si pelayan atau bukan, namun sudah jelas bahwa antara pemuda itu dan dia ada tali percintaan yang membuat ia siap membelanya.

Dengan pedang di tangan ia hendak menyerbu, akan tatapi tiba-tiba lengannya di pegang kakeknya yang berbisik.

"Jangan bergerak, kau lihat saja. Dia tidak akan kalah......"

Siok Lan melihat ke sekelilingnya dan semua pejuang menonton pertandingan itu dengan wajah tenang, ia menoleh kepada kakeknya dan berkata.

"Kong-kong, apakah aku mimpi? Apakah dia itu bukan A-liok pelayanku?"

"Sssttt, kau lihat saja dan kau akan mengerti."

Siok Lan menyimpan pedangnya kembali lalu menonton dengan jantung berdebar tegang.

Pelayannya ini benar-benar hebat bukan main sungguh jauh dari dugaannya.

Memang pernah ia mengira bahwa sedikit banyak A-liok tentu memiliki kepandaian ilmu silat sebagai bekas pelayan keluarga Dewa Pedang Yu.

Akan tetapi tidak dengan tingkat setinggi itu!

Kini mengertilah ia bahwa A-liok dahulu itu bukan secara kebetulan saja dapat mempermainkan Cui Hwa Hwa, dan mulailah ia mengerti pula yang memundurkan para tokoh pengemis Ang-kin Kai-pang bahkan yang mengundurkan ketuanya yang sekarang sudah tewas di tangan Ouw Beng Tat, bukan lain adalah pelayannya ini.

Itulah pelayannya tentu telah membantunya secara diam-diam dan teringat akan ini semua otomatis bulu kuduk Siok Lan meremang dan ia merasa malu kepada diri sendiri!

Kemudian teringat ia betapa A-liok pernah menciumnya di atas kuda, dan kini bukan hanya bulu tengkuknya yang meremang, bahkan semua bulu tubuhnya bangkit dan pipinya berubah menjadi merah sekali sampai leher dan telinganya!

Selain ini Yu Lee harus benar-benar mengeluarkan kepandaiannya.

Ia tahu bahwa kalau ia tidak mampu merobohkan enam orang pengeroyoknya dalam waktu singkat.

Panglima Ouw Bang Tat akan memandang rendah kepadanya dan usahanya menolong para pejuang akan gagal.

Ouw Beng Tat adalah seorang yang gagah perkasa yarg tentu akan memegang janjinya asal saja ia dapat memperlihatkan bahwa dia cukup lihai dan patut untuk menandingi panglima itu.

Ia harus mendatangkan kesan tinggi dalam pandangan panglima itu.

Oleh karena ini begitu melihat enam orang pengeroyoknya maju menerjangnya tanpa banyak aturan lagi karena marah menyaksikan kematian seorang kawan mereka, Yu Lee lalu mengeluarkan suara melengking nyaring tubuhnya mendadak lenyap berubah menjadi bayangan putih yang melengking-lengking, tongkat ranting di tangannya menjadi gulungan sinar kehijauan yang melingkar-lingkar dan mengurung para pengeroyoknya.

Bagaikan beruntun terdengar jeritan-jeritan disusul robohnya keenam orang pengeroyoknya.

Ketika orang melihat, masih pening oleh gerakan yang amat cepat itu, ternyata enam orang perwira itu telah mati karena totokan-totokan maut dan Yu Lee berdiri memegang ranting memandang ketujuh orang korbannya dengan pipi basah air mata!

"Pendekar Cengeng......"

Seruan ini mengandung rasa takut dan gentar, keluar dari mulut para anak buah pasukan Mongol.

Pucat wajah Siok Lan.

Ia berdiri dengan jari-jari......

di depan bibir, mata terbelalak memandang ke arah "A-liok", jantung berdebar tidak karuan.

Akhirnya ia terisak dan bibir mengeluarkan bisikan lirih "Dia......

dia......

A-liok.......

dia Pendekar Cengeng......!"

"Siok Lan...... Siok Lan ......!"

Thian-te Sin-kiam memanggil, akan tetapi gadis itu telah lenyap menerobos diantara kepungan tentara musuh yang tidak menghalanginya karena mereka semua sedang tegang memandang ke arah Pendekar Cengeng.

Thian-te Sin-kiam hendak mengejar, akan tetapi ia terhuyung dan tentu roboh terguling karena luka di pahanya kalau saja lengannya tidak cepat-cepat disambar oleh Dewi Suling.

"Harap locianpwe tenang, kita menghadapi urusan yang lebih gawat. Biarkanlah, adik Siok Lan sedang bingung dan kaget, kalau sudah beres akan kususul dia."

Thian-te Sin-kiam mengangguk dan menghela napas panjang, memandang lagi ke arah Yu Lee yang kini berhadapan dengan Panglima Ouw Beng Tat.

Suara pemuda itu halus akan tetapi penuh wibawa ketika ia berkata kepada panglima tinggi besar itu.

"Terpaksa aku merobohkan pembantu-pembantumu, Ouw-ciangkun. Engkau telah menewaskan tujuh orang teman kami, dan aku telah menewaskan tujuh orang pembantumu, berarti keadaan kita seri, tidak ada yang lebih unggul."

Ouw Beng Tat memandang dengan sinar mata penuh kekaguman, juga penasaran. Ia mengangguk-angguk dan berkata.

"Hemm, tidak apa. Mereka mati sebagai orang-orang gagah seperti juga teman-temanmu. Jadi kiranya engkau ini Pendekar Cengeng? Engkau cucu Yu Tiang Sin yang terlepas dari cengkeraman maut yang disebar oleh Hek-siauw Kui-bo? Hemm, bocah, siapa namamu?"

"Nama saya Yu Lee, di waktu kecil pernah kong-kong bercerita tentang kegagahan Ouw-ciangkun. Karena itu, bisalah saya mewakili mendiang kong-kong, mohon kebijaksanaan ciangkun untuk membebaskan semua pejuang yang ada di sini."

"Ha-ha-ha! Jangan terkebur, orang muda! Apa kaukira setelah berhasil mengalahkan tujuh orang pembantuku yang masih bodoh, kau dapat membuat hati Ouw Beng Tat menjadi jerih? Ha-ha-ha biar ada lima orang muda seperti engkau aku masih belum mau tunduk dan tetap mempertahankan perintahku, yaitu menawan kalian semua yang memimpin pemberontakan ini, termasuk engkau Pendekar Cengeng."

Berkerut alis Yu Lee sudah ia duga bahwa panglima yang keras hati ini tidak akan mudah dapat ditundukkan dengan kata-kata. Maka iapun lalu berkata, suaranya nyaring tegas.

"Kalau begitu, terpaksa aku menantangma Ouw-ciangkun!"

"Bagus! Memang keadaan kita masih seri bukan? Nah, sekarang tinggal pertandingan terakhir. Engkau cukup berharga untuk menjadi lawanku. Kalau sekali ini engkau kalah olehku mati atau hidup, maka pihakmu harus tunduk dan taat kepada perintahku tadi."

"Baik, kami berjanji!"

Tiba-tiba Thian-te Sin-kiam berseru.

"Akan tetapi, bagaimana kalau kau yang kalah oleh Pendekar Cengeng Ouw Beng Tat?"

"Ha-ha-ha! Tak mungkin sekali itu! Akan tetapi seandainya aku kalah, kalian semua boleh bebas, aku akan menarik mundur tentaraku?"

Ouw Beng Tat masih memandang rendah lawannya sehingga ia katakan bahwa kalau ia kalah ia masih mampu menarik mundur tentaranya, berarti ia kalah dalam keadaan seri, ia tidak percaya bahwa orang muda itu mampu menewaskannya!

"Kalau begitu mulailah, ciangkun omongan orang gagah sudah dikeluarkan, sekali keluar, biar dunia kiamat takkan dilanggarnya!"

Kata Yu Lee.

"Aku sudah mulai awas......."

"Cet-cet-cet-cet-cet.......!!"

Sinar berkilauan menyambar-nyambar dari kedua tangan panglima tua itu, bagaikan kilat berkelebat menyerang Yu Lee, disusul suara berkerincingan nyaring memenuhi udara.

Sedikitnya ada tigapuluh batang piauw menyambar secara bertubi-tubi tidak hanya ke arah belasan jalan darah di sebelah depan tubuh Yu Lee, bahkan sebagian pula menyambar ke kanan kiri dan atas menutup jalan keluar jika pemuda itu hendak mengelak.

Satu-satunya jalan mengelak bagi Yu Lee hanyalah masuk ke dalam bumi, akan tetapi, bagaimana mungkin hal ini ia lakukan?

Bahaya maut mengancam diri pemuda itu, kuku-kuku cengkeraman maut menjangkaunya dari segenap penjuru.

Thian-te Sin-kiam sendiri sampai menahan napas menyaksikan hebatnya serangan piauw ini, jauh lebih hebat daripada yang pernah ia saksikan selama hidupnya.

Juga Dewi Suling sampai menjadi pucat mukanya karena wanita ini cukup maklum betapa sukarnya menyelamatkan diri dari sambaran piauw yang susul menyusul itu.

Yu Lee bukan tidak tahu akan kelihaian senjata rahasia lawan, juga ia tidak berani memandang rendah.

Pemuda ini sudah sejak tadi mengerahkan sinkang di tubuhnya sampai tubuhnya mengeluarkan getaran, hawa sakti yang dahsyat, terutama sekali pada kedua lengannya.

Tangan kanan yang memegang ranting bergerak cepat memukul atau memecut ke arah piauw-piauw yang berdatangan sedangkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka melakukan gerakan sakti Sin-kong-ciang di dorongkan ke arah depan.

Hebat sekali kesudahannya.

Barang kecil yang bergerak cepat itu ujungnya menyambut setiap piauw yang menyambar dan begitu terpukul ujung ranting, piauw-piauw itu membalik dengan kecepatan lebih cepat lagi ada yang membentur piauw-piauw lainnya ada pula yang terus menyerang Ouw Beng Tat.

Sedangkan piauw-piauw lainnya yang terkena hawa pukulan tangan kiri Yu Lee runtuh dan mencelat ke kanan kiri!

Ouw Beng Tat memandang terbelalak sambil menyambar beberapa piauw yang di "retour"

Oleh Yu Lee. Mukanya berubah dan ia berkata seperti diluar kehendaknya.

"Ilmu silat Tu-kui-tung-hoat...... ilmu pukulan Sin-kong-ciang ....... Hei, Pendekar Cengeng ada hubungan apa engkau dengan Han-ongya (sebutan untuk Raja Muda Han It Kong )?"

"Sin-kong-ciang Han It Kong adalah suhuku yang mulia,"

Jawab Yu Lee. Panglima itu menggerakkan alisnya, wajahnya menjadi agak pucat.

"Ah......! Kiranya begitu? Sungguh tidak kebetulan bagiku! Han-ongya adalah bekas junjunganku, juga setengah guruku karena beliaulah yang memberi banyak petunjuk dan bimbingan kepadaku. Andaikata Han-ongya sendiri yang kini datang menghadapikn, aku Ouw Beng Tat bukan seorang yang tak kenal budi. Aku akan menyerahkan jiwa ragaku kepada beliau......"

Terkejut juga Yu Lee mendengar pengakuan ini.

Gurunya dahulu tidak pernah bicara tentang panglima yang kosen ini.

Yu Lee seorang pemuda cerdik, ia hendak menggunakan kesempatan itu demi keuntungan teman-temannya, maka cepat ia menjura dan berkata.

"Ah, kalau begitu, kita adalah orang-orang sendiri, bahkan ciangkun masih terhitung suheng (kakak seperguruan) dariku. Mengingat akan budi suhu, hendaknya ciangkun sudi mengalah dan membebaskan semua pejuang agar diantara kita tidak usah ada pertentangan lagi."

Ouw Beng Tat termenung sampai agak lama. Semua orang menanti dengan hati cemas dan penuh harapan. Akan tetapi panglima itu menggeleng kepala dan berkata, suaranya tegas dan parau.

"Tidak bisa! Tidak bisa! Pertama, kalau aku membatalkan pertandingan, orang akan menyangka bahwa aku Ouw Beng Tat takut bertanding melawan Pendekar Cengeng! Kedua, aku berhutang budi kepada Han-ongya, bukan kepada muridnya. Ketiga aku masih belum yakin karena belum ada bukti bahwa engkau adalah murid Han-ongya."

"Ouw-ciangkun, engkau sudah menyaksikan Tu-kui-tung-hwat dan Sin-kong-ciang, bukti apa lagi yang engkau kehendaki?"

"Hemm, belum meyakinkan. Kalau engkau benar murid tersayang Han-ongya, engkau tentu akan dapat mengalahkan aku, barulah aku akan percaya bahwa engkau murid Han-ongya!"

Panas juga hati Yu Lee. Orang ini tak mungkin dapat diajak berunding secara damai lagi, pikirnya, maka dengan sikap dingin ia berkata.

"Begitukah kehendakmu? Nah menunggu apa lagi? Aku sudah siap menghadapimu Ouw-ciangkun."

"Singgg......!"

Pedang yang tercabut itu mengeluarkan suara mendesing keras dan nyaring.

Baru sekarang Ouw Beng Tat benar-benar hendak menggunakan kepandaiannya, tadi semua lawan ia robohkan hanya dengan serangan senjata rahasianya yang ampuh saja.

Pedang itu masih menggetar ujungnya ketika ia pegang dengan tangan kanan di atas kepala dengan lengan melengkung adapun tangan kiri meraba dada sendiri, dekat kantong piauw, kedua kaki memasang kuda-kuda, siap menerjang maju, sepasang matanya memandang tajam ke arah Yu Lee.

Pendekar Cengeng yang maklum akan kelihaian lawan, juga tidak mau memandang rendah.

Ia segera memasang kuda-kuda, ranting yang dipegang tangan kanan itu melintang di dada, tangan kiri dengan jari-jari terbuka miring di depan dahi, kedua kaki di pentang lebar depan belakang, matanya memandang tajam ke depan, dicurahkan kepada gerakan lawan yang akan datang.

Melihat tangan kiri lawan, pemuda ini maklum bahwa betapapun berbahaya pedang panjang lawan itu namun yang lebih berbahaya lagi adalah tangan kiri yang setiap saat, dalam detik-detik tak terduga, dapat menyambitkan piauw dari kantong itu.

Di lain pihak, Ouw Beng Tat kini tidak lagi berani memandang rendah pemuda ini.

Kalau benar pemuda ini murid terkasih Han It Kong akan sukarlah baginya untuk mencapai kemenangan, ia sudah tahu betapa hebatnya ilmu-ilmu Sin-kong-ciang dan Ta-kui-tung-hoat yang tak mungkin ia dapat tandingi.

Dia pernah digembleng Han It Kong ketika menjadi anak buah raja muda perkasa itu, akan tetapi karena bukan muridnya, maka raja muda itu tidak menurunkan kepadanya kedua macam ilmu kesaktian yang menjadi inti dari pada Han It Kong itu.

Ia tahu bahwa ranting kecil itu lebih berbahaya dari pada senjata macam apapun juga, maka ia tidak mau memandang ringan apa lagi tangan kiri yang terbuka itu karena ilmu pukulan Sin-kong-ciang amat dahsyat dan sudah mengangkat tinggi nama besar Han It Kong di dunia kang-ouw.

Semua orang menahan napas menyaksikan kedua orang jago, yang seorang muda yang seorang tua dan saling berhadapan memasang kuda-kuda tanpa bergerak atau berkedip sedikit pun.

Ouw Beng Tat maklum bahwa pemuda itu amat hati-hati, tentu tidak akan suka menyerangnya terlebih dahulu ia menanti saat yang baik menanti pemuda itu berkedip atau bergerak salah satu bagian syarafnya.

Namun betapa kagum hatinya menyaksikan pemuda itu diam tak bergerak seperti arca batu sikapnya (Lanjut ke

Jilid 20) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 tenang sekali dan teguh kokoh kuat sukar dicari kelemahannya.

Maka ia lalu berteriak keras sekali dan mulailah ia menerjang dengan gerakan dahsyat pedangnya berdesing-desing ketika ia gerakkan dalam penyerangan berantai, yaitu pedangnya itu berputaran seperti kitiran angin, demikian cepatnya sehingga membentuk segulung sinar yang berkeredepan dan bertubi-tubi menyambar ke arah tubuh Yu Lee.

Pemuda itu menggunakan keringanan tubuhnya bergerak lincah mengelak setiap kali gerakan-gerakan sinar pedang itu menyambar ke arahnya, akan tetapi karena pedang itu berputar cepat maka tiap kali dielakkan sudah datang lagi, membuat pemuda itu sibuk dan terdesak dalam usahanya menghindarkan diri ini.

Yu Lee maklum bahwa tidak baik bagi kedudukannya kalau mengelak terus, maka bergeraklah rantingnya, bukan langsung menangkis pedang melainkan pada sepersepuluh detik setelah pedang menyambar lewat pengelakannya, rantingnya meluncur menotok pergelangan tangan yang memegang pedang.

Totokan bukan sembarangan totokan, melainkan totokan dari jurus ilmu Tongkat Ta-kui-tung-hoat sehingga kalau mengenai sasaran, biarpun orang selihai Ouw Beng Tat tentu akan melepaskan pedangnya karena urat nadinya putus!

Ouw Beng Tat mengenal bahaya.

Cepat ia menarik tangannya dan berhentilah putaran pedangnya.

Namun tidak berhenti serangannya.

Sambil menarik tangan ia menggerakkan pergelangan tangan dan pedangnya dari atas menyambar ke bawah, mengancam leher Yu Lee dengan bacokan dahsyat yang mengeluarkan suara berdesing.

Kembali Yu Lee dengan mudahnya mengelak cepat dan sinar bergulung-gulung dari gerakan rantingnya yang melakukan serangan balasan bertubi-tubi mengurung semua gerakan tubuh Ouw Beng Tat.

Kini panglima itulah yang menjadi sibuk sekali, mengelak dan menangkis karena ia maklum betapapun kecilnya ranting itu, namun sekali ia tersentuh, akan celakalah dia.

Ia menggertak gigi dan memutar pedang melindungi tubuh, pedangnya seolah-olah berubah menjadi benteng baja yang menyelimuti dirinya.

Makin lama makin seru pertandingan itu, makin dahsyat dan berjalan cepat sekali sehingga dalam waktu tidak berapa lama mereka saling serang sebanyak limapuluh jurus!

Keduanya diam-diam merasa kagum dan harus mengakui bahwa baru sekali ini mereka menghadapi lawan yang benar-benar hebat.

Bagi Yu Lee, baru pertama kali ini ia menghadapi lawan yang benar-benar tangguh, yang dapat menandingi Ta-kui-tung-hwat sampai limapuluh jurus.

Sebaliknya Ouw Beng Tat yang melakukan pertandingan entah berapa ribu kali selama ia hidup, harus mengakui pula bahwa belum pernah ia menghadapi lawan semuda Pendekar cengeng dengan kepandaian sehebat itu.

Makin lama Ouw Beng Tat menjadi makin penasaran.

Betapapun lihai pemuda lawannya ini bahkan biarpun dia murid Han It Kong sekalipun, pemuda ini belum lahir ketika ia sudah jagoan!

Masa ia tidak mampu mengalahkannya?

Dengan hati penuh kemarahan dan penasaran Ouw Beng Tat mengeluarkan seruan nyaring dan menerjang dengan mempercepat gerakannya.

Tubuhnya yang tinggi besar sampai lenyap terbungkus gulungan sinar pedangnya yang membentuk lingkaran-lingkaran lebar!

Yu Lee mengimbanginya dan terdengarlah lengking panjang kemudian lenyap pula bentuk tubuh pendekar sakti ini, terbungkus sinar kehijauan dari ranting yang diputar cepat.

Yang tampak kini hanya dua gulungan sinar saling belit, saling tindih saling himpit dan hanya kadang-kadang tampak bayangan tubuh mereka atau berkelebatnya kaki yang menginjak tanah menimbulkan debu mengebul di sekeliling tempat itu.

Saking hebatnya hawa sakti yang keluar dari dua gulungan sinar itu daun-daun pohon yang berdekatan melayang-layang turun dengan gagang yang cepat seperti dibabat dengan senjata yang tajam!

"Siingggg......

plakkkk......

Plakkkk......

Brettt......!!"

Tidak ada yang dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan jelas, bahkan dua orang sakti seperti Dewi Suling dan Thian-te Sin-kiam juga menjadi pening menyaksikan pertandingan itu dan berusaha mengikuti dengan pandangan mata.

Tahu-tahu kini keduanya mencelat ke belakang gulungan sinar lenyap dan tampak Ouw Beng Tat menyumpah dan meraba paha kirinya.

Belakang pahanya tampak karena celananya telah robek kulit paha itu terdapat guratan membiru.

Kiranya ranting dengan ilmu tongkat Ta-kui-tung-hwat telah membuktikan keampuhannya, yaitu dapat menerjang tubuh belakang lawan dari depan.

Biarpun hanya terobek celananya dan tergurat kulitnya namun hal ini cukup mengagetkan Ouw Beng Tat sehingga ia meloncat ke belakang yang diturut pula oleh Yu Lee.

Pemuda ini amat hati-hati, tidak mau sembarangan mendesak karena loncatan musuh ke belakang itu dapat juga dijadikan perangkap.

Kini mereka saling berhadapan agak jauh, terpisah kurang lebih sepuluh meter.

Kembali separti tadi pada saat awal pertandingan mereka saling pandang dengan sinar mata tajam.

Hanya tampak perbedaan pada keduanya.

Yu Lee agak berubah wajahnya, agak pucat tetapi sikapnya masih tenang, tidak tampak napasnya terengah, juga hanya pada leher dan dahinya saja agak basah oleh peluh.

Di lain pihak, Ouw Beng Tat kelihatan merah sekali mukanya, merah karena marah, muka penuh dengan keringat yang masih menetes-netes turun, napasnya agak terengah-engah.

"Kau hebat, Pendekar Cengeng. Akan tetapi jangan tertawa dulu, kau lihat seranganku!"

Tiba-tiba panglima itu mengeluarkan suara gerengan yang seperti harimau marah, keluar dari perut melalui kerongkongannya.

Tubuhnya melayang ke atas, lalu menukik ke depan, tangan kirinya bergerak cepat.

"Cat-cat-cat-cat!"

Tujuh batang piauw mengeluarkan suara berkerincingan ketika menyambar ke bawah ke arah Yu Lee yang menjadi terkejut sekali.

Di serang dari jarak begitu dekat dengan ancaman piauw dan pedang musuh, benar-benar tidak boleh dibuat main-main.

Ia mengelak, lalu menjatuhkan diri bergulingan, akan tetapi setiap saat menghadap ke atas, mengelak lagi dan ketika pedang lawan datang menyambar, ia menangkis dari samping dengan rantingnya, meminjam tenaga lawan ini untuk mencelat ke atas bangun berdiri dan pada saat terakhir, dengan pukulan Sin-kong-ciang ia berhasil meruntuhkan sebatang piauw yang menyusul paling akhir.

Serangan hebat itu gagal dan dengan seruan kecewa, tiba-tiba panglima itu menggulingkan diri, terus kini bergulingan ke arah Yu Lee, tangan kirinya tetap bergerak dan.

"cat-cat-catt......!"

Kembali tujuh batang piauw menyambar ke arah pemuda itu, kini dari bawah menyambar ke arah bagian-bagian tubuh terpenting lalu disusul tubuhnya sendiri mencelat ke atas menyusul serangan tujuh batang piauw itu dengan babatan pedangnya!

Hebat bukan main serangan tujuh batang piauw itu, lebih berbahaya dari pada jurus pertama yang menyerang dari atas tadi.

Yu Lee maklum bahwa ia menghadapi saat yang gawat, terutama sekali oleh susulan serangan pedang yang membabat, cepat mengerahkan sinkang, disalurkan ke arah ranting di tangannya lalu dari samping ia menangkis, terus menggunakan tenaga menempel dan mendorong pedang lawan, menambah tenaga luncuran pedang sehingga pedang itu menyeleweng ke kiri dan membabat lengan Ouw Beng Tat yang kiri!

Cepat bukan main terjadinya sehingga sukar diduga dan sukar pula diikuti dengan pandangan mata.

Tujuh batang piauw dapat dielakkan oleh Yu Lee dan dikebut dengan pukulan Sin-kong-ciang, akan tetapi kiranya panglima tua itu masih menyembunyikan sebatang piauw lagi yang dengan jari-jari tangan kiri disentil sedemikian rupa sehingga piauw itu menyambar ke dada Yu Lee!

Yu Lee yang sedang mengerahkan tenaga menempel pedang dan mendorong, kaget dan miringkan tubuhnya.

"Capp...... crokk......!!"

Ouw Beng Tat mengeluarkan teriakan serak seperti suara binatang liar, tangan kirinya sebatas pergelangan tangan telah terbabat putus oleh pedangnya sendiri sehingga ia terhuyung-huyung ke belakang, wajahnya pucat memandang lengannya yang sudah buntung, darah muncrat-muncrat.

Sebaliknya, biarpun sudah miringkan tubuh, Yu Lee masih tak dapat menghindarkan piauw itu yang menancap di bahu kanannya.

Pemuda inipun terhuyung-huyung ke belakang, mencabut piauw dan membuangnya.

Darah mengucur dari bahunya, akan tetapi tentu saja keadaannya tidak sehebat Ouw Beng Tat.

"Tangan kirimu terlalu jahat...... terpaksa dilenyapkan...... ciangkun......!"

Kata Yu Lee terengah-engah menahan rasa nyeri di bahunya.

"Apakah ciangkun masih belum mau mengalah?"

Sejenak Ouw Beng Tat diam, melotot dan menggereng-gereng perlahan, kemudian ia membungkuk menyambar tangan kirinya yang menggeletak di atas tanah itu dengan tangan kanan setelah menggigit pedangnya, memandang tangan itu sebentar lalu mengantonginya.

Setelah itu, dengan darah dingin ia menotok jalan darah di lengan kirinya menghentikan aliran darah sehingga tidak mengucur keluar dan menotok jalan darah yang mengurangi rasa nyeri, kemudian mengambil pula pedangnya di tangan kanan.

"Belum......! Aku belum kalah...... hayo teruskan......!"

Setelah berkata demikian, ia menggunakan pedangnya menubruk maju.

"Luar biasa sekali engkau ciangkun!"

Seru Yu Lee.

Pemuda ini, seperti juga semua orang yang menyaksikan pertandingan hebat itu memandang penuh kagum kepada panglima tua itu yang benar-benar amat gagah perkasa.

Terpaksa pemuda ini menghadapi lawannya dengan tenang.

Setelah kini lawannya tak dapat lagi menggunakan tangan kiri untuk menyerang dengan piauw tentu saja dia jauh lebih unggul.

Biarpun pundaknya terluka piauw tadi namun Yu Lee masih cukup kuat untuk menggerakkan ranting menangkis pedang, kemudian tangan kirinya menyusul dengan pukulan Sin-kong-ciang.

Pukulan yang tidak menyentuh kulit lawan, namun hawa pukulan sakti itu cukup hebat sehingga Ouw Beng Tat terjengkang dan terguling-guling!

"Masih belum cukupkah ciangkun?"

Tanya Yu Lee, suaranya sungguh-sungguh, sama sekali tidak mengandung maksud mengejek.

"Aku belum kalah......"

Ouw Beng Tat sudah meloncat bangun lagi sambil menyerang hebat.

Panglima tua ini merasa betapa tubuhnya lemas, separoh tubuh bagian kiri sakit menusuk-nusuk jantung, akan tetapi sesuai dengan wataknya yang pantang mundur dan pantang menyerah selama ia masih mampu melawan, ia terus nekad menerjang, Yu Lee merasa kagum juga penasaran.

Kakek ini benar-benar keras hati dan keras kepala, pikirnya, ia maklum bahwa kalau kakek ini belum dibikin tak berdaya, tentu takkan mau mengaku kalah.

Pedang yang panjang itu menyambar dengan kekuatan dan kecepatan dahsyat yang sukar untuk dihindarkan oleh lawan pandai sekalipun.

Namun Yu Lee yang bersikap tenang itu sengaja berlaku lambat.

Baru setelah pedang menyambar dekat leher ia secara tiba-tiba merendahkan tubuhnya dan tongkat ranting di tangannya menyambar, tetapi sekali ini menotok ketiak kanan lawan hingga pedang yang dipegang tangan yang tertotok ini terlepas.

Tangan kirinya cepat mendorong dengan Sin-kong-ciang dan hanya menyentuh sedikit dada Ouw Beng Tat, namun sekali ini cukuplah.

Pedang panglima itu terampas dan tubuh yang tinggi itu terjengkang lalu terbanting ke atas tanah!

Ouw Beng Tat mengeluh perlahan, berusaha bangkit akan tetapi tidak sanggup, sehingga ia hanya mampu duduk sambil mengelus-elus dadanya dengan tangan kanan.

Napasnya serasa terhenti oleh sentuhan pukulan Sin-kong-ciang tadi.

Setelah napasnya agak normal kembali, ia memandang Yu Lee dan berkata suaranya tersendat-sendat.

"......kau hebat...... Sin-kong-ciang dan Ta-kui-tung-hwat benar-benar hebat...... engkau benar muridnya...... murid Han-ongya...... aku mengaku kalah......."

Yu Lee menjura dengan hormat.

"Ouw-ciangkun juga hebat, gagah perkasa sukar dicari bandingannya. Apakah sekarang ciangkun suka membebaskan teman pejuang yang berada di sini ini?"

Ouw Beng Tat menarik napas panjang.

"Aku seorang panglima, membebaskan para pemberontak berarti sebuah kedosaan terhadap pemerintah dan biarlah aku akan hadapi hukumannya karena akupun seorang yang menjunjung kegagahan dan tidak akan menjilat ludah kembali. Aku telah berjanji...... aku sudah kalah ...... orang muda, kau ajaklah teman-temanmu pergi dari sini....... kubebaskan kalian......"

"Terima kasih, Ouw-ciangkun."

Yu Lee menjura lalu ia menghampiri teman-temannya dan minta kepada mereka supaya cepat-cepat pergi meninggalkan hutan ini.

Ketika para pejuang itu dengan pimpinan masing-masing membawa teman yang terluka dan jenazah pemimpin mereka meninggalkan tempat itu, ditonton dan didiamkan saja oleh pasukan Mongol.

Yu Lee ditegur oleh Thian-te Sin-kiam.

"Mengapa engkau mengaku sebagai A-liok kepada Siok Lan? Ah, apa pula artinya sandiwara itu......."

Yu Lee yang sejak tadi mencari dengan matanya tidak menjawab pertanyaan ini karena memerlukan jawaban panjang lebar, bahkan ia balas bertanya.

"Liem locianpwe, di mana dia?"

"Hemm, dia telah pergi melarikan diri ke selatan sana setelah mendapat kenyataan bahwa pelayannya A-liok itu ternyata adalah Pendekar Cengeng, Dewi Suling tadi telah menyusulnya......"

"Ah, maaf locianpwe. Saya harus mengejarnya!"

Setelah berkata demikian, tubuh Yu Lee berkelebat dan lenyap dari depan kakek itu.

Thian-te Sin-kiam Liem Kwat Ek menggeleng geleng kepala sambil menarik napas panjang.

Teringat ia akan semua pengalamannya di masa muda dahulu dan tahulah ia apa yang sedang dirasakan oleh orang-orang muda itu, maka sambil berjalan perlahan agak terpincang meninggalkan tempat itu bersama para pejuang lainnya ia berkata perlahan seorang diri.

"Hem ...... orang muda...... dan cinta......"

Sian-li Eng-cu Liem Siok Lan lari secepatnya sambil menangis terisak-isak, air matanya bercucuran seperti air hujan menuruni kedua pipinya tanpa ia perdulikan.

Ada butir-butir air mata yang setiba di pipi, di kanan kiri mulut, menyeleweng mengikuti lekuk pipi terus ke ujung bibirnya, terasa asin, tetapi inipun tidak ia perdulikan dan ia lari terus.

Hatinya terasa tidak keruan.

Dia sendiri tidak tahu mengapa ia menangis dan melarikan diri!

Kalau ia meneliti perasaan hati dan jalan pikirannya, ia bisa gila!

Betapa tidak?

Dia seharusnya merasa girang mendapat kenyataan bahwa A-liok pemuda yang dicintainya itu ternyata bukanlah seorang pelayan biasa saja, dan juga bukan seorang bodoh, melainkan dialah pendekar sakti yang dikagumi semua orang, yaitu Pendekar Cengeng, itulah sebetulnya pribadi A-liok yang hanya sebuah nama samaran saja.

Dan Yu Lee atau pendekar Cengeng ini jelas mencintainya, sudah pernah menciumnya sudah beberapa kali melindunginya, membelanya, berkorban untuknya, membiarkan dadanya terluka untuknya.

Sementara ia girang dm bahagia.

Akan tetapi, Pendekar Cengeng adalah oraug yang selama ini ia benci sekali karena telah menganggap dan memandang rendah kepadanya sebagai seorang calon jodoh.

Mengapa Yu Lee berpura-pura menjadi A-liok?

Apakah semua itu bukan untuk mempermainkannya?

Untuk mengejek?

Dan terhadap A-liok ia sudah mengungkapkan semua perasaan bencinya kepada Yu Lee!

Alangkah memalukan hal ini!

Dia merasa girang, juga marah juga malu!

Beberapa kali Siok Lan berhenti dan membanting-banting kaki sambil menangis, lalu teringat kalau-kalau ia dikejar "pelayan"

Itu maka ia lari lagi secepatnya.

Ia lari tanpa tujuan dan tidak lagi lurus menuju ke selatan, melainkan membelok-belok tidak karuan karena dia sendiri tidak tahu harus pergi ka mana, pokoknya asal lari pergi menjauhi laki-laki yang dicinta dan dibencinya, yang menimbulkan gembira dan marah itu.

Dalam keadaan kacau perasaan dan pikirannya seperti itu, Siok Lan kehilangan kewaspadaannya.

Ia tidak tahu bahwa sejak tadi ada belasan pasang mata memandangnya dan ada belasan orang mengikuti setiap gerak geriknya lalu membayanginya.

Ia tidak tahu bahwa makin lama ia tersesat makin jauh di daerah yang sama sekali tidak dikenalnya, tanpa tujuan.

Ia terus berlari dan berjalan sampai hari menjadi hampir gelap dan daerah yang dilaluinya makin lama makin liar dan tidak tampak seorangpun manusia.

Sesungguhnya gadis ini bagaikan seekor katak telah memasuki guha sarang ular berbisa.

Daerah itu menjadi tempat rahasia di mana orang-orang yang bertugas sebagai mata-mata pemerintah Mongol bersarang.

Memang pemerintah Mongol amat pandai.

Selain mengandalkan pasukan-pasukannya yang besar dan kuat, juga pemerintah berhasil menarik hati orang-orang pandai.

Diantara orang-orang pindai ini ada yang diangkat menjadi petugas sipil maupun militer seperti halnya Ouw Beng Tat, akan tetapi ada pula yang diberi tugas untuk bekerja sebagai penyelidik dan mata-mata rahasia sehingga tidak saja pemerintah penjajah ini dapat mengetahui semua peristiwa dan keadaan para pejuang yang mereka sebut pemberontak juga dapat mengetahui keadaan sehingga mudah untuk kelak menindasnya.

Diantara sekian banyak pasukan mata-mata yang bekerja secara rahasia ada kelompok yang bersarang di daerah yang kini dimasuki Siok Lan tanpa disadarinya itu!

Semenjak ia masuk daerah ini, ia telah diikuti secara diam-diam oleh belasan orang yang bergerak ringan dan gesit, tanda bahwa mereka itu memiliki kepandaiannya yang tinggi juga.

Akan tetapi agaknya mereka ini menerima tugas rahasia sehingga tidak turun tangan menangkap atau menawan Siok Lan hanya mengikuti dari jauh dan meneliti untuk mendapat kepastian bahwa gadis ini memasuki daerah itu seorang diri saja tidak membawa kawan-kawan seperjuangan.

Siok Lan merasa lelah dan lapar.

Hari sudah mulai gelap, ia memasuki hutan dan bermaksud mencari pengisi perut dan air minum.

Selagi ia celingukan mencari-cari dengan pandang matanya, dari jauh tampak berkelebat bayangan dua orang dan terdengar orang memanggil.

"Sian-li Eng-cu......!"

Siok Lan meraba gagang pedangnya, siap menghadapi segala kemungkinan.

Akan tetapi setelah dua sosok bayangan itu mendekat, ia melepaskan gagang pedangnya dan memandang dengan hati lega.

Kiranya yang muncul itu adalah seorang pemuda tampan berbaju biru, berusia duapuluh sembilan tahun, yaitu Pui Tiong murid Kim-hong-pay yang pernah ia temui dalam perjamuan di tempat Huang-ho Sam-liong.

Adapun orang kedua adalah Can Bwee, suci pemuda itu yang berusia tigapuluh tahun, pendiam dan cantik.

"Ah, kiranya ji-wi (kalian) yang memanggil, sampai terkejut hatiku. Eh, bagaimana ji-wi dapat tiba-tiba muncul di tempat sunyi ini? Dan kenapa ji-wi tidak muncul ketika kami para pejuang menghadapi musuh dan hampir saja terbasmi habis?"

Pui Tiong menjura dan berkata.

"Ah, nona tidak tahu barangkali. Memang kami dan kawan-kawan seperjuangan menjadikan tempat ini markas kami. Kami mendengar tentang pertempuran-pertempuran di sana, akan tetapi karena kami sendiri menghadapi musuh disebelah sini, kami belum dapat membantu."

Can Bwee menggandeng tangan Siok Lan.

"Marilah, adik yang gagah. Mari singgah di tempat kami, makan minum sambil bercerita. Aku ingin mendengar bagaimana keadaan teman-teman seperjuangan di sana. Aku mendengar di sana pasukan pejuang diperkuat oleh Pendekar Cengeng dan Dewi Suling? Apakah mereka banyak berhasil mengacau Thian-an-bun? Dan setelah Thian-an-bun dipimpin Ouw-ciangkun, mengapa tidak ada gerakan lagi?"

Siok Lan adalah seorang gadis yang masih belum dapat meneliti dan mengenal watak orang, ia tidak merasa heran melihat betapa Can Bwee yang biasanya pendiam itu kini dapat bersikap ramah dan sekaligus menghujankan pertanyaan demikian banyak seperti lagak seorang penceloteh yang cerewet.

Ia membiarkan dirinya ditarik karena kata-kata "makan minum"

Tadi membangkitkan seleranya dan membuat perutnya makin lapar, lehernya makin haus.

"Memang di sana ada...... Pendekar Cengeng dan Dewi Suling, tapi....... tapi baru saja kami disergap dan dikurung oleh pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Ouw Beng Tat."

"Ahhh??"

Enci adik seperguruan itu saling pandang kemudian Can Bwee mempercepat langkahnya sambil menggandeng Siok Lan.

"Adik Siok Lan marilah kita cepat-cepat ke markas dan di sana kau ceritakanlah semuanya tentu amat menarik ceritamu. Marilah."

Mereka bergegas memasuki hutan yang gelap dan di tengah hutan itu terdapat sebuah pondok besar.

Ke pondok itulah mereka ini masuk.

Hanya ada tiga orang yang bersikap seperti pelayan berada di pondok dan melayani mereka makan minum.

Siok Lan memandang ke kanan kiri.

"Di mana teman-teman seperjuanganmu?"

"Ah, pasukan kami tidak berapa besar dan mereka itu berpencaran di dalam hutan. Biarlah kupanggil mereka yang kebetulan berada dekat pondok ini!"

Kata Pui Tiong sambil berdiri.

Dia membawa dua buah jari ke dalam mulutnya lalu bersuit keras sekali tiga kali kemudian ia baru duduk lagi.

Tak lama kemudian, bermunculan belasan orang dari pintu pondok.

Mereka ini rata-rata masih muda, dan delapan orang laki-laki dan empat orang wanita yang usianya antara duapuluh lima sampai tigapuluh tahun sikap mereka rata-rata gagah dan tangkas sehingga Siok Lan memandang kagum.

Ia bangkit berdiri dan memberi hormat yang dibalas oleh semua orang.

Seorang diantara mereka berkata.

"Harap Sian-li Eng-cu banyak baik dan silakan mengaso dan makan minum."

Siok Lan tersenyum dan duduk kembali. Belasan orang itu lalu mengaso di dalam pondok. Ada yang berdiri bersandar ke dinding ada yang jongkok, dan duduk di mana saja dan ada pula yang rebahan.

"Silakan, nona!"

Kata Pui Tiong "Eh bagaimana aku bisa makan minum sendiri? Hayo kalian semua menemani aku!"

"Kami semua sudah makan. Biarlah suci dan aku saja menemanimu. Marilah."

Siok Lan bukanlah seorang pemalu!

Karena memang ia lapar dan haus, ia segera mulai menyikat hidangan di atas meja dan mendorongnya masuk ke perut dengan arak atau minuman teh yang disediakan di situ.

Pui Tiong dan Can Bwee menemaninya hanya minum saja karena sudah makan.

Sambil makan minum, mulailah Siok Lan menceritakan keadaan pertempuran di hutan yang dijadikan sarang pejuang.

Ia menceritakan betapa para pejuang suka akan perubahan peraturan yang diadakan Ouw Beng Tat maka tidak mengacau di Thian-an-bun lagi.

Kemudian dia menceritakan munculnya Ouw Beng Tat dengan pasukan besar yang mengurung pasukan pejuang, kemudian tentang pertandingan perorangan di mana Ouw Beng Tat menewaskan tujuh orang pemimpin pejuang.

Diceritakan pula tentang munculnya Pendekar Cengeng dan dalam menceritakan sepak terjang Pendekar Cengeng ini, Siok Lan mengandung kebanggaan!

"Hebat sekali Pendekar Cengeng jauh lebih hebat dari pada Ouw Beng Tat!"

Kata Siok Lan dengan mata bersinar-sinar karena pada saat ia berkata itu ia menganggap bahwa Pendekar Cengeng adalah tunangannya.

"Dengan kesaktiannya yang hebat ia membalas dan membunuh tujuh orang perwira pembantu Ouw Beng Tat dalam waktu singkat! Kemudian Pendekar Cengeng menantang Ouw Beng Tat untuk bertanding dengan taruhan bahwa jika Ouw Beng Tat kalah, panglima itu harus membebaskan semua pejuang yang terkurung.

"Aiihhh......!"

Can Bwee mengeluarkan seruan kaget, akan tetapi cepat disambungnya dengan kata-kata berlawanan.

"Bagus sekali! Pendekar Cengeng benar-benar hebat sekali! Kemudian bagaimana? Siapa yang kalah......?"

"Tentu saja Pendekar Cengeng menang. Akan tetapi aku tidak tahu, aku lalu pergi meninggalkan tempat itu, hanya aku yakin dia pasti menang......."

Mereka telah selesai makan dan Siok Lan merasa amat lelah dan mengantuk. Dua kali ia menguap, ditutupnya mulut dengan punggung tangan.

"Selain Pendekar Cengeng dan Dewi Suling, siapa lagi di antara tokoh pejuang yang hadir di sana?"

Pertanyaan Pui Tiong ini mengandung desakan, seolah-olah pemuda ini tidak perduli bahwa Siok Lan sudah amat lelah dan mengantuk, akan tetapi Siok Lan tak memperhatikan ini hanya menganggap bahwa ceritanya amat menarik hati dan orang muda yang baik hati itu.

"Kakekku juga datang bersama Siauw-bin-mo dan Tho-tee-kong yang menjadi korban......"

"Thian-te Sin-kiam juga di sana......???"

Ucapan ini terdengar dari luar pondok dan masuklah seorang tosu yang tinggi kurus dan bermuka kuning Siok Lan tidak mengenal tosu itu dan memandang tak acuh mengira bahwa ini tentu seorang diantara teman seperjuangan yang berada di situ.

Akan tetapi Pui Tiong dan Can Bwee bangkit dan menjura sambil berkata hormat.

"Suhu......"

Siok Lan terkejut dan memandang penuh perhatian.

Dia sudah pernah bertemu dengan tosu ini ketika tosu ini berkunjung kepada kakeknya, akan tetapi hal itu sudah terjadi tujuh tahun yang lalu sehingga ia sudah hampir upa.

Kini barulah ia tahu bahwa tosu ini adalah Gwat Kong Tosu dan ia mulai teringat.

Sudah banyak ia mendengar perihal tosu bekas murid Kun-lun-pai yang pernah "menyeleweng"

Ini dari kakeknya dan segera ia berbangkit untuk menjura dan berkata.

"Harap totiang banyak baik......"

Akan tetapi tiba-tiba Siok Lan mengeluh, tubuhnya menjadi lemas dan ia terhuyung.

Can Bwee cepat memeluknya dan Siok Lan sudah lemas dipelukan Can Bwee, setengah pingsan, kepalanya pening sekali dan segala apa tampak berputaran sehingga cepat-cepat ia meramkan mata.

Biarpun ia sudah lemas, akan tetapi lapat-lapat telinganya masih dapat menangkap percakapan mereka.

Terdengar suara tosu itu.

"Bagus, kalian sudah dapat merobohkannya. Masukkan di dalam sumur kering, akan tetapi jaga jangan sampai mati kelaparan. Dengan dia sebagai umpan, kita akan dapat mengangkap Thian-te Sin-kiam dan terutama sekali Pendekar Cengeng!"

"Baik, suhu. Memang tujuan kita adalah menangkap Thian-te Sin-kiam dan terutama Pendekar Cengeng."

Terdengar Pui Tiong berkata.

Kemudian Siok Lan yang menjadi terkejut mendengar ini berusaha meronta, akan tetapi tahu-tahu ia merasakan tubuhnya tak dapat bergerak karena ditotok oleh Can Bwee.

Kini mengertilah ia bahwa di dalam makanan itu dicampuri obat bius, dalam keadaan tertotok dan setengah pingsan Siok Lan masih dapat mengetahui dia dibawa ke sebelah belakang pondok dan setelah dimasukan sebuah karung, tubuhnya lalu dikerek masuk ke dalam sumur yang amat dalam.

Akhirnya ia pingsan setelah tubuhnya menyentuh dasar sumur yang gelap sekali.

Ketika Siok Lan siuman dari pingsan, ternyata malam telah berganti pagi.

Ada sedikit sinar matahari pagi memasuki sumur itu sehingga ia dapat memperhatikan keadaan di mana ia berada.

Tubuhnya sudah dapat digerakkan, kepalanya tidak pening lagi ini tandanya bahwa obat bius yang tercampur dalam makanannya malam tadi tidaklah berbahaya, dan bahwa totokan itu sudah buyar sendiri ketika ia tidur setengah pingsan.

Di dekatnya tampak sebuah panci tertutup berisi makanan dan sebuah botol berisi air minum.

Akan tetapi ia tidak perdulikan makanan dan minuman ini, lalu meloncat bangun.

Pedangnya sudah tidak ada, tentu dirampas.

"Keparat jahanam.......!"

Ia mengutuk, tahu sekarang bahwa Pui Tiong dan Can Bwee adalah pengkhianat-pengkhianat yang berpura-pura menjadi pejuang.

Juga guru mereka itu.

Dan ia dapat menduga bahwa orang-orang muda yang mengaku pejuang itu tentulah anak murid Kim-hong-pai dan bahwa Kim-hong-pai tentu membantu pemerintah Mongol!

Kiranya kehadiran Pui Tiong dan Can Bwee sebagai "anggauta"

Pejuang yang baru itu hanyalah penyeludupan belaka. Dan ia kini ditawan sebagai umpan untuk menjebak kakeknya dan Pendekar Cengeng.

"Terkutuk tujuh turunan!"

Kembali ia memaki sambil memperhatikan dasar sumur.

Ternyata biarpun di atasnya tidak begitu lebar hanya bergaris tengah satu setengah meter, namun dasar sumur ini amat lebar, bergaris tengah tidak kurang dari empat meter.

Mungkin sumur buatan yang sengaja dipergunakan untuk mengeram tawanan.

Amat dalam sumur itu entah berapa meter sukar ditaksir, akan tetapi dari bawah tampak tinggi sekali mulut sumur itu sehingga keadaannya mengerikan.

Hanya seekor burung saja yang agaknya akan dapat keluar dari dalam sumur!

"Pengkhianat terkutuk!

Pengecut jahanam!"

Siok Lan memaki-maki dengan suara keras sambil mendongak memandang ke mulut sumur di atas, kemudian menghela napas panjang dan duduk bersila di tengah dasar sumur untuk memulihkan tenaga dan menenteramkan hati.

Ia perlu memulihkan tenaganya, perlu ia menenteramkan hatinya karena ia tahu bahwa ia menghadapi bahaya maut.

Seluruh dinding sumur itu di bagian bawahnya, setinggi empat meter lebih, terlapis besi sehingga tidak mungkinlah baginya untuk menggali, pendeknya tidak ada jalan keluar lagi baginya!

Akan tetapi ia yakin bahwa ia tidak akan dibunuh, setidaknya dalam beberapa lama ini karena kalau mereka menghendaki nyawanya, tentu dengan mudah ia sudah dibunuh ketika pingsan.

Pula, ia ditawan untuk memancing Thian-te Sin-kiam dan Pendekar Cengeng, maka ia belum putus asa.

Demikianlah dengan amat tekunnya Siok Lan bersamadhi dan perlahan napasnya menjadi normal kembali dan tubuhnya terasa hangat dan segar, pikirannya tidak kacau balau lagi.

Kini yang dipikir olehnya hanya mencegah agar kedua orang itu terutama sekali kakeknya tentu saja, tidak sampai terjebak.

Ia harus dapat memperingatkan kedua orang itu apabila mereka muncul di mulut sumur.

Setelah hatinya tenang ia membuka tutup panci dan mulailah ia mengisi perutnya dengan makanan dan minuman air.

Ia perlu menjaga kesehatannya dan tidak perdulikan apakah makanan dan minuman itu diberi racun.

Dan ternyata tidak, karena memang apa perlunya meracuni seorang tawanan yang sudah tak berdaya apa-apa lagi?

Yu Lee menggunakan kepandaiannya untuk berlari cepat.

Hatinya terasa tidak enak karena ia belum dapat menyusul Siok Lan.

Kini ia tahu bahwa ia tidak akan dapat menyembunyikan rahasia dirinya lagi.

Kinilah tiba saatnya harus berterus terang kepada gadis yang dicintainya itu.

Dahulupun ia sama sekali tidak bermaksud membohong dan mempermainkan Siok Lan, hanya untuk mencegah agar gadis yang keras hati itu tidak memusuhinya, maka terpaksa ia terus menggunakan nama samaran di depan Siok Lan.

Semalam suntuk Yu Lee tak pernah berhenti mencari.

Karena tidak ada tanda-tanda yang ditinggalkan sebagai jejak gadis itu, ia tersesat jauh, kembali lagi mencari di sekeliling tempat yang ia duga dapat dicapai oleh Siok Lan pada malam itu, namun sia-sia belaka.

Barulah pada pagi harinya, ketika mata hari telah bersinar, ia melihat sesuatu yang amat mengguncangkan hatinya.

Pedang Siok Lan menggeletak diatas tanah, di luar sebuah hutan!

"Lan-moi......!"

Ia berbisik.

Jantungnya berdebar sambil dipungutnya pedang itu diteliti.

Tak salah lagi.

inilah pedang kekasihnya.

Sudah lama ia berdekatan dengan gadis itu sehingga hafal olehnya semua benda milik nona itu.

Dari pakaiannya sampai pita rambutnya, sepatu dan pedang perak serta jarum peraknya.

Ia mengenal bahwa kalau nona itu sudah melepaskan pedang, berarti dia telah kalah dalam menghadapi lawan.

Ia meloncat bangun, mencari-cari dengan pandang matanya.

"Akhh......!"

Ia melihat sebatang jarum, jarum perak berkilauan di atas tanah tertimpa sinar matahari pagi.

Cepat ia meloncat dan dipungutnya jarum itu.

Jarum milik Siok Lan!

Ternyata bukan hanya sebatang, disebelah depan ada lagi dan terus ada lagi terpisah kira-kira sepuluh meter.

Jarum itu seperti tercecer atau memang sengaja dilempar-lempar untuk meninggalkan jejak!

Makin berdebar jantung Yu Lee.

Ia tahu betapa cerdiknya kekasihnya itu.

Mungkin Siok Lan kalah oleh musuh, tertawan dan sengaja melempar-lemparkan jarumnya agar dia dapat mengikuti jejaknya.

Jejak itu masuk ke dalam hutan yang besar!

Akhirnya jarum itu habis dan sebagai gantinya tampaklah sehelai kain, robekan kain yang kecil sekali hanya setengah jari lebarnya!

Yu Lee meneliti dan hatinya gelisah.

Robekan kain dari baju Siok Lan!

Tidak salah lagi.

Siok Lan ditahan musuh dan meninggalkan jarum-jarumnya dan kemudian setelah jarum-jarumnya habis, gadis ini mulai merobek-robek bajunya dan meninggalkan robekan-robekan baju ini di sepanjang jalan!

"Lan-moi......!"

Kembali ia mengeluh dan kini ia dapat maju dengan lebih cepat karena robekan-robekan kain itu lebih mudah ditemukan.

Jejak itu membawa masuk sampai ke tengah hutan dan tiba-tiba tampaklah olehnya pondok di tengah hutan itu dan robekan kain pun habis sampai di depan pondok.

Yu Lee menjadi marah dan juga timbul harapannya untuk menemukan Siok Lan di dalam pondok ia mengerahkan sinkangnya kemudian telah meloncat, ia telah meluncur ke depan, ditendangnya pintu pondok dan ia melompat masuk.

Pondok itu kosong, dan di sekitar pondokpun kosong, tidak ada bayangan seorang pun manusia.

Ia menjadi kecewa dan penasaran.

Ditelitinya tanah di sebelah belakang dan tampak olehnya jejak-jejak kaki manusia.

Jejak sepatu dan kaki itu besar tanda bahwa itu adalah jejak kaki seorang pria.

Jelas jejak itu yang terus ia ikuti.

Jejak itu berhenti sampai di dekat sebuah sumur dan di tempat sunyi itu di dekat sumur, terdapat segulung tali.

Yu Lee cepat menghampiri mulut sumur dan menjenguk ke bawah.

Ia merasa ngeri.

Alangkah dalamnya sumur ini pikirnya, tidak seperti sumur biasa sempit dan amat dalam lima-enam kali sedalam sumur biasa.

Akan tetapi mengapa tidak ada airnya?

Tiba-tiba ia bergidik.

Tentu tempat tahanan!

"Siok Lan......!!"

Ia berteriak memanggil ke dalam sumur, dan alangkah girangnya ketika ia melihat bayangan manusia di bawah, di tengah dasar sumur kemudian dari dalam sumur itu terdengar suara Siok Lan nyaring sekali akan tetapi terbungkus gema suara yang membuat suara itu tidak dapat terdengar jelas oleh Yu Lee dari atas sumur.

Dari atas, Yu Lee hanya melihat bayangan manusia di bawah itu, tidak begitu jelas hanya tampak warna hijau pupus dan hal ini saja sudah meyakinkan hatinya ia tahu warna itu adalah warna kesayangan Siok Lan sehingga boleh dibilang semua pakaian gadis itu berwarna hijau pupus.

Juga robekan-robekan kain yang menuntunnya ke tempat itu juga berwarna hijau pupus.

"Tunggulah dan tenangkan hatimu, moi-moi...... Aku akau menolongmu......!"

Yu Lee meneliti keadaan d sekeliling tempat itu.

Ia harus berhati-hati dan menghindarkan jebakan musuh ia meloncat ke atas pohon yang tertinggi di situ dan dari atas puncak ia melakukan pemeriksaan.

Sunyi sekitar tempat itu tidak tampak bayangan manusia, hanya berkelebatnya binatang-binatang hutan yang mencari makan dan burung-burung beterbangan di antata pohon-pohon.

Ia merasa lega lalu meloncat turun kembali, kemudian tanpa ragu-ragu sedikitpun, ia mengambil gulungan tali dan mengikatkan ujungnya ke batang pohon yang tumbuh dekat sumur.

Dilepasnya gulungan tali memasuki sumur dan ternyata bahwa tali itu panjang sekali, namun tidak cukup panjang untuk mencapai dasar sumur.

"Lan-moi......! Dapatkah kau mencapai ujung tali?"

Yu Lee berseru keras dan nyaring, akan tetapi ia sendiri tidak dapat mendengar suaranya karena segera tersusul suara gema yang riuh rendah.

Dilihatnya bayangan kecil di bawah itu bergerak-gerak dan meloncat-loncat akan tetapi tetap saja tidak dapat mencapai ujung tali yang tergantung itu, Yu Lee kembali mencari-cari dengan paandang matanya Tidak ada benda untuk menyambung tali itu, dan kalau ia harus mencari lebih dulu, akan terlalu lama, Siok Lan harus cepat-cepat ditolong, dikeluarkan dari dalam sumur.

Ia harus memasuki sumur itu.

Melihat dinding sumur ia percaya bahwa dengan ilmu Sin-kong-ciang ia dapat merayap ke atas kembali sampai dapat mencapai tali, atau kalau perlu, sampai ke mulut sumur.

Siapa tahu di bawah sana Siok Lan terancam bahaya maut!

Tanpa ragu-ragu Yu Lee lalu menyambar tali yang tergantung ke dalam sumur itu dan cepat merayap turun melalui tali itu.

Terdengar olehnya betapa suara-suara dari bawah makin nyaring, seolah-olah gadis di bawah itu berkata-kata dalam keadaan tegang.

Akan tetapi telinganya yang penuh dengan gema suara yang tidak karuan itu membuat ia tidak dapat menangkap kata-kata Siok Lan dan mengira bahwa gadis itu menyuruh ia cepat-cepat menolongnya.

Karena berpikir demikian, Yu Lee mempercepat gerakannya meluncur turun sehingga ia tiba di ujung tali.

Kiranya ujung tali itu masih agak jauh dari dasar sumur.

Pantas saja Siok Lan tidak dapat mencapainya.

Kini mulailah ia mendengar ucapan gadis itu.

"Ah, kiranya engkau...... Kukira kong-kong......! Kau pergilah......! Cepat kau kembali ke atas...... kau sedang terjebak.......!"

Yu Lee terkejut.

Selagi ia tidak tahu harus kembali ke atas atau terus ke bawah, tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak dari atas.

Sesosok bayangan kelihatan di mulut sumur dan sekali bayangan itu menggerakkan tangan, tali itu putus dan tuhuh Yu Lee melayang ke bawah.

Yu Lee cepat mengerahkan ginkangnya dan ia berhasil menusukkan jari-jari tangannya ke dinding sumur, kemudian ia merayap turun sambil menyelidiki keadaan dinding yang ternyata di bagian bawah kurang lebih empat meter tingginya dilapisi baja.

Ia meloncat dan berada di dasar sumur, berhadapan dengan Siok Lan.

Mereka saling pandang, kini sinar matahari sudah cukup banyak memasuki sumur sehingga mereka dapat saling pandang dengan jelas.

Sejenak mereka lupa bahwa mereka berada di dasar sumur, lupa bahwa mereka berada dalam ancaman bencana dan maut.

Yang teringat dan tampak hanya orang yang berdiri di depannya.

Akhirnya, Siok Lan terisak dan membanting-bantingkan kakinya, mulutnya berkata gemetar.

"Kau......! Kau......! Ah, betapa benciku padamu!"

Yu Lee menundukkan mukanya.

"Adik Siok Lan kau maafkanlah aku......, hanya karena terpaksa aku telah...... telah membodohimu seolah-olah mempermainkanmu......"

Makin marah tampaknya gadis itu. Kini dua titik air mata meloncat ke atas pipinya yang kemerahan. Ia mengertak gigi dengan gemas lalu melangkah maju, tangan kanannya menyambar.

"Plakk-plakk-plakk......!!!"

Tiga kali pipi Yu Lee ditamparnya dengan keras sehingga ada bekas tapak tangan merah membayang di pipi pemuda itu.

"Kau......! Kau......! Tidak hanya memandang rendah keluargaku, mengingkari janji orang tua, acuh tak acuh karena merasa sebagai seorang berderajat tinggi dan berkepandaian tinggi. Semua itu masih ditambah dengan mempermainkan aku, diam-diam menertawakanku, membuat aku seperti seorang badut menggelikan! Kau......! kau......!"

Siok Lan lalu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis!

Sejenak Yu Lee memandang bengong.

Pipinya yang kini masih terasa panas akan tamparan keras tadi, akan tetapi hatinya mencair melihat Siok Lan menangis seperti itu.

Gadis yang keras hati ini, yang seperti api, kiranya dapat menangis seperti seorang wanita yang cengeng.

Hatinya mencair dan terharu sehingga tak dapat tahan lagi air matanya pun berhamburan turun.

"Lan-moi...... engkau tidak tahu, engkau telah keliru menduga. Aku sama sekali tidak pernah memandang rendah keluargamu, apalagi mengingkari janji. Aku bersumpah, sebelum bertemu dengan engkau, sebelum engkau menceritakan tentang hubungan keluargamu dengan keluargaku aku tidak tahu! Agaknya keluargaku tidak sempat menceritakan hal itu kepadaku keburu terbasmi habis......!"

Yu Lee berhenti dan menyusut air matanya. Kini Siok Lan sudah melepaskan tangannya dan dengan muka basah memandang kepadanya.

"Setelah mendengar dari penuturanmu, aku mencari keluargamu, aku menghadap ayah dan kong-kongmu kuceriterakan semua....... dan aku minta maaf...... kong-kongmu tahu akan semua hal. Lan moi, sungguh aku Yu Lee biarlah dikutuk Thian kalau tadinya mengetahui akan ikatan jodoh itu dan mengabaikanmu. Adapun tentang A-liok....... tadinya aku tidak sengaja mempermainkanmu...... kita bertemu di kuburan keluargaku, terhadap para musuh aku mengaku pelayan, kau datang membantuku...... kemudian kau menyatakan bencimu terhadap Yu Lee, tentu saja aku terus menyamar sebagai A-liok, karena aku....... karena aku mencintaimu moi-moi."

Berubah pandangan Siok Lan.

Matanya redup setengah terpejam.

Pipinya masih basah dan seperti tadi ketika ia menampar, kini iapun melangkah maju dan merangkul leher Yu Lee Diusapnya pipi yang masih merah bekas tamparan tadi, kemudian ia menarik leher yang diraihnya itu mencium pipi yang tadi ditamparnya.

"A-liok...... kau maafkan aku...... aku pun mencintaimu, A-liok......"

Yu Lee mengeluarkan suara setengah menangis setengah tertawa. Ia memeluk dan mendekap kepala gadis iiu, diangkatnya muka itu dan diciumnya mata yang terpejam, mulut yang masih menahan isak.

"Siok Lan, jangan kau menggodaku terus aku sudah minta ampun...... kau adalah Liem Siok Lan dan aku adalah Yu Lee. Engkau tunanganku calon isteriku...... bagaimana mungkin kau tergila-gila kepada A-liok......?"

Siok Lan membuka matanya dan ia bersandar kepada dada yang bidang itu lalu katanya manja.

"Biar aku tunangan Yu Lee sejak kecil, aku tidak mencinta Yu Lee. Buat apa pemuda yang cengeng itu? Biar pendekar besar, akan tetapi Pendekar Cengeng. Aku mencintai A-liok......"

"Lan-moi hentikan itu! Aku bisa cemburu kepada A-liok si pelayan tolol!"

"Biarpun tolol ia setia dan mencintaiku!"

"Sudah, sudah, biar sekarang kuoper kesetiaan dan kecintaan A-liok. Kalau tidak aku akan datangi A-liok dan akan kubunuh dia karena cemburu!"

Siok Lan tersenyum manja dan mereka saling rangkul penuh kemesraan, lupa bahwa mereka masih berada di dasar sumur.

Sampai lama mereka terbuai cinta kasih yang menggelora yang mereka terima seperti bunga di musim kering menerima turunnya hujan pertama.

Ketika mendengar bergemanya suara ketawa dari atas sumur barulah mereka terkejut, sadar akan keadaan mereka dan otomatis meraka saling melepaskan pelukan.

"Lan-moi, kita harus keluar dari sini!"

"Bagaimana, koko? Bagaimana mungkin......"

"Jangan khawatir. Aku akan menggunakan Sin-kong-ciang sehingga dapat merayap melalui dinding sumur. Kau ikatkan ujung tali ini pada pinggangmu dan kaupun merayap naik kubantu dengan tali ini."

Yu Lee memungut tali yang tadi dipotong dari atas dan jatuh ke dasar sumur.

Siok Lan cepat mengikatkan ujung tali pada pinggangnya ia mempunyai kepercayaan sepenuhnya kepada Yu Lee.

Bukankah pemuda ini A-liok, pemuda yang amat mencintainya dan amat setia kepadanya dan yang rela membelanya dengan seluruh jiwa raganya?

Bukankah pemuda ini juga Yu Lee si Pendekar Cengeng yang memiliki kesaktian hebat?

Yu Lee lalu mengunakan kedua tangannya yang diisi getaran hawa sakti dari Sin-kong-ciang untuk mulai merayap naik.

Dengan tingkat kepandaiannya biarpun tidak sekuat dan secepat Yu Lee, Siok Lan juga dapat melakukan ilmu merayap seperti itu akan tetapi untuk melakukan hal itu dia akan terlalu banyak membuang tenaga dalam, ia menanti sampai Yu Lee berada agak tinggi sehingga ia dapat menggantung dan merayap naik melalui tali yang akan dipanjatnya.

"Awas......!!"

Tiba-tiba Yu Lee yang baru merayap setinggi tiga meter itu berseru kaget dan meloncat turun kembali, mengejutkan Siok Lan.

Tanpa memberi penjelasan lagi karena tidak sempat lagi, Yu Lee menabrak Siok Lan dan membawa gadis itu tiarap di atas tanah di dasar sumur.

Tiga buah benda yang dilontarkan dari atas terbanting di atas dasar sumur mengeluarkan suara ledakan tiga kali dan......

asap putih mengebul tebal, memenuhi tempat itu.

"Gas racun......! Tahan napas......!"

Yu Lee berseru sambil mendekap kepala kekasihnya yang ia lindungi dengan tubuhnya.

Yu Lee dan Siok Lan menahan napas dan terbaring mepet di dinding lubang sumur itu di bagian atas sempit di bagian bawah lebar sehingga dengan mepet di dinding, mereka tidak tampak dari atas dan tidak diserang senjata rahasia Akan tetapi betapapun saktinya, Yu Lee dan terutama Siok Lan hanyalah manusia manusia biasa saja.

Bagaimana mungkin mereka dapat menahan napas sampai berjam-jam?

Benda yang meledak dan mengandung gas yang dilemparkan dari atas itu adalah buatan Mongol diisi racun pembius yang kuat, yang dibuat oleh Gwat Kong Tosu.

Kakek ketua Kim-hong-pai ini selain lihai ilmu silatnya juga terkenal sebagai ahli racun.

Dan kini benda benda itu terus dilempar ke bawah sehingga asap tebal tak pernah mengurang.

Akhirnya setelah melindungi Siok Lan yang sudah pingsan lebih dulu, Yu Lee tidak kuat menahan lagi, ia terengah dan asap memasuki paru-paru berikut bau harum yang aneh dan pingsanlah Pendekar Cengeng dengan tubuh masih melindungi tubuh kekasihnya.

Siok Lan sadar lebih dahulu dari pada pingsannya.

Gadis ini membuka matanya dan menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi kaki tangannya terikat.

Ia kini sadar betul dan mendapatkan dirinya tidak berada di dasar sumur lagi, melainkan di dalam pondok rebah di atas sebuah dipan bambu.

Di sudut ia melihat Yu Lee rebah pula masih pingsan dan dalam keadaan terikat kaki tangannya pula.

Dan di situ penuh dengan murid Kim-hong-pai, juga tampak Gwat Kong Tosu ketua Kim-hong-pai duduk di atas kursi.

Siok Lan mengerahkan tenaga, berusaha meronta dan memberontak agar terlepas dari belenggu kaki tangan.

Namun sia-sia karena ternyata selain dibelenggu juga tubuhnya dalam keadaan tertotok sehingga kaki tangannya menjadi setengah lumpuh, tak dapat ia mengerahkan sin-kang.

Maka dengan kemarahan meluap ia menoleh ke arah Gwat Kong Tosu yang tertawa melihat ia berusaha meronta tadi, lalu memaki.

"Engkau tosu tua bangka keparat! Siapa menduga bahwa engkau sekarang menjadi seorang jahat yang terkutuk, curang dan pengecut. Kalau kong-kong tahu...... ah betapa dia akan heran, kecewa dan marah!"

"Ha-ha-ha......! cucu Liem Kwat Ek mulutnya sungguh tajam, seperti kakeknya! Justeru mengingat akan ketajaman mulut kakekmu dahulu yang membuat pinto (aku) terlempar keluar dari Kun-lun-pai, maka hari ini engkau yang membayar, bocah! Engkau dan Pendekar Cengeng kekasihmu, Ha-ha-ha......"

Tiba-tiba kedua pipi Siok Lan menjadi merah sekali teringat akan keadaannya dengan Yu Lee yang tadi saling menumpahkan kasih sayang dan agaknya kakek keparat ini mengetahuinya, maka kini ia diam saja tidak mau bicara lagi.

Gwat Kong Tosu lalu mengeluarkan dua batang jarum yang berwarna hijau.

Sambil tersenyum ia berkata lagi kepada Siok Lan yang membuang muka tidak mau memandangnya.

"He-he-he, nona muda! Kini hanya ada dua jalan bagi kalian. Pertama, menakluk dan tunduk kepada pemerintah Goan sehingga selain memperoleh kebebasan, juga tentu akan diberi kedudukan yang sesuai dengan kepandaian kalian. Terutama Pendekar Cengeng. Jalan kedua adalah jalan maut jika kalian menolak karena andaikata kalian dapat membebaskan diri sekalipun, kalian tidak mampu menyelamatkan nyawa dari jarum-jarumku ini! Ha-ha-ha!"

Mau tidak mau Siok Lan menoleh ke arah dipan bambu di mana Pendekar Cengeng menggeletak pingsan ketika ia mendengar kakek itu melangkah menghampiri tunangannya.

Matanya terbelalak dan mukanya menjadi pucat sekali ketika melihat betapa Gwat Kong Tosu menusukkan jarum ke arah punggung Yu Lee yang masih pingsan.

"Kau tua bangka iblis pengecut! Kalau berani lepaskan belenggu dan mari kita bertanding sampai mampus!"

Siok Lan meronta-ronta lagi dan memaki-maki akan tetapi tentu saja semua itu sia-sia belaka karena rontaannya itu hanya menghasilkan sedikit gerak pada kaki tangannya.

Kemudian sambil tersenyum lebar Gwa Kong Tosu menghampiri, dengan tangan kiri mendorong tubuhnya miring dan tiba-tiba Siok Lan merasa punggungnya sakit dan panas ketika kakek itu menusukkan jarum kedua ke punggung gadis ini.

Jarum itu ditusukkan sampai dalam sehingga ujungnya rata dengan kulit punggung!

Pada saat Siok Lan menggigit bibir menahan rasa nyeri ini terdengar Yu Lee mengerang perlahan dan kini pemuda itupun sudah siuman dari pingsannya.

Tiba-tiba suara Yu Lee terhenti dan pemuda itu sudah tahu akan keadaan dirinya dan kini memandang ke arah Gwat Kong Tosu dengan mata tajam.

Terdengar suara Yu Lee penuh ketenangan.

"Gwat Kong Totiang, sebagai ketua Kim-hong-pai tentu totiang tidak melakukan sesuatu hal dengan sembrono dan selalu ada maksud dan dasarnya yang kuat. Totiang menawan nona Liem Siok Lan kemudian menjebak aku menggunakan gas beracun, kemudian kalau aku tidak salah, menusukkan jarum racun ngo-tok-ciam ke punggungku. Apakah artinya semua ini?"

Ada sinar kagum terbayang di wajah tosu itu.

Pemuda ini benar-benar hebat, pikirnya begitu siuman dari pingsan telah mengetahui segalanya dan sikap serta kata-katanya demikian tenang seperti seorang tokoh yang sudah berpengalaman puluhan tahun saja.

Benar-benar merupakan tenaga yang hebat kalau mau disuruh mengabdi kepada pemerintah Goan.

"Ah, Yu-taihiap benar-benar mengagumkan. Setelah mengenal ngo-tok-ciam (jarum lima racun) yang lihai tentu maklum bahwa selain dari pinto, tidak ada obat penawarnya terhadap racun itu. Sedangkan untuk menyedotnya, tak mungkin dilakukan dengan mulut karena hal ini akan menewaskan si penyedotnya. Jelas bahwa nyawa kalian berdua berada di tangan pinto dan kalian tidak perlu dibelenggu lagi. Ha-ha-ha!"

Gwat Kong Tosu melangkah maju, menggerakkan tangan beberapa kali ke arah belenggu kaki tangan Yu Lee yang segera terbebas.

Demikian pula kakek ini membebaskan Siok Lan dari pada belenggu dan totokan.

Siok Lan menjadi beringas.

Begitu kaki tangannya bebas ia meloncat turun dan menerjang ke arah Gwat Kong Tosu.

"Lan-moi, jangan......!" (Lanjut ke

Jilid 21 -Tamat) Pendekar Cengeng (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 (Tamat) Siok Lan terguling roboh tanpa disentuh Gwat Kong Tosu dan cepat-cepat Yu Lee menghampiri dan mengangkatnya bangun.

Wajah Siok Lan pucat.

Tadi ketika ia menerjang maju.

Ia mengerahkan lweekang dari pusar naik ke atas, akan tetapi tiba-tiba ketika hawa lewat di punggung, punggungnya itu seperti dibakar membuat seluruh tubuhnya lemas dan ia terguling.

Kini Yu Lee yang memegang pundaknya berkata halus dan perlahan.

"Lan-moi kita berada dalam cengkeraman racun hebat, jangan kau mengerahkan tenaga. Tenang dan bersabarlah kurasa Gwat Kong Totiang tidak mempunyai niat jahat terhadap kita."

"Tidak punya niat buruk apa? Monyet tua bangka hina dan tak tahu malu ini. Dia hendak memaksa kita menjadi kaki tangan penjajah, si keparat!"

Gwat Kong Tosu tetap tenang dan tersenyum, sama sekali tidak memperdulikan kemarahan Siok Lan yang memaki-makinya ia menghadapi Yu Lee dan berkata.

"Yu-taihiap seorang yang berpandangan luas. Naik turunnya kerajaan dan kaisar adalah urusan yang sudah ditentukan Tuhan. Manusia mana mampu mencegah kehendak Tuhan? Sudah ditakdirkan bahwa pemerintah Goan timbul, maka sudah menjadi kewajiban kita orang-orang gagah untuk mendukung kehendak Tuhan ini dan membantu pemerintah baru mengatur ketenangan dan tenteraman. Ouw-ciangkun adalah seorang demikian gagah perkasa, namun beliau dapat melihat kenyataan dan......"

"Cukup, Totiang. Dalam hal ini, kita berbeda pendapat dan akan sia-sia belaka kalau totiang hendak membujuk kami. Kami tetap tidak rela menyaksikan negara dan bangsa dijajah bangsa Mongol, dan andaikata kami tidak berdaya menentang sekalipun, di dalam hati kami tetap akan menentang. Kurasa semua orang gagah berpendapat demikian dan hanya menanti saat dan kesempatan untuk mengusir penjajah dari tanah air."

"Wah, kau keras kepala dan sombong seperti kakekmu Yu Tiang Sin. Yu Lee, apakah kau belum sadar bahwa nyawamu berada di telapak tanganku? Tidak akan sayangkah engkau yang masih muda ini mati secara konyol dan sia-sia? Dan tunanganmu ini? Bukankah kau mencintainya? Relakah kau melihat tunanganmu yang kau cinta ini mati konyol pula?"

Yu Lee tersenyum sambil memandang kekasihnya.

"Totiang, engkau agaknya tidak dapat menyelami jiwa orang-orang gagah sejati, juga tidak pernah tahu agaknya akan isi hati dua orang yang saling mencinta! Ketahuilah betapa besar bahayanya, namun seorang gagah lebih baik mati daripada mengkhianati tanah air dan bangsanya sendiri dan dua orang yang saling mencinta dengan murni lebih rela melihat kekasihnya tewas sebagai seorang patriot dari pada hidup makmur sebagai seorang pengkhianat. Sadarlah bahwa kami berdua mati demi tanah air kami, totiang."

Siok Lan girang dan bangga sekali kepada kekasihnya.

Sungguh cocok dengan isi hatinya.

Maka ia memandang Yu Lee dengan sinar mata penuh cinta kasih mesra, bibirnya tersenyum matanya membasah ia rela seribu kali mati bersama kekasihnya yang hebat ini!

Gwat Kong Tosu menjadi marah.

Ia merasa mukanya seperti ditampar.

Teringat ia akan semua pengalamannya dahulu.

Dahulu ketika ia menjadi murid Kun-lun-pai, ia melakukan pelanggaran, yaitu ia melakukan hubungan jina dengan seorang wanita yang tinggal di lereng, wanita yang sudah menjadi isteri seorang petani.

Ketika si petani, suami wanita itu, mempergoki perbuatan mereka, dalam keadaan tertangkap basah dan gugup ia memukul dada petani itu sehingga si petani menderita luka dalam.

Kemudian si petani bertemu dengan Liem Kwat Ek yang merupakan seorang murid Kun-lun-pai yang gagah, melaporkan perbuatannya itu kepada pimpinan Kun-lun-pai sehingga ia lalu ditendang keluar dari Kun-lun-pai dengan tidak hormat ia mendendam sakit hati dan perasaan akan tetapi hal ini ditahan dan disembunyikan pada hatinya, ia seolah-olah menyesali kedosaannya, bersikap haik terhadap Kun-lun-pai maupun terhadap Liem Kwat Ek.

Bahkan ketika terjadi pergolakan ia ikut pula menentang gelombang orang Mongol dan membawa semua muridnya untuk melakukan perlawanan bersama para pejuang lainnya.

Akan tetapi setelah melihat betapa kekuasaan Mongol makin kuat, ia lalu "membalik".

Dahulu ia dihina Liem Kwat Ek, sekarang kembali ia merasa dihina oleh cucu musuh besarnya itu bersama tunangannya.

"Seret mereka keluar! Ikat pada tonggak di tengah lapangan! Biarkan mereka kepanasan dan kehausan. Kalau masih berkepala batu, kita seret ke kota raja sebagai tawanan!"

Katanya lalu melangkah keluar dan pondok dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

Para murid Kim-hong-pai yang kini kesemuanya telah menjadi kaki tangan pemerintah Mongol, lalu menangkap Yu Lee dan Siok Lan yang tidak berani melakukan perlawanan.

Dua orang muda ini lalu diikat pada tonggak yang berdiri di sebuah lapangan luas yang pohon-pohonnya telah ditebang semua.

Tempat itu terbuka dan matahari dapat menimpa tempat itu sepenuhnya, Yu Lee dan Siok Lan diikat pada tonggak, saling membelakangi.

Hati mereka girang karena dengan demikian jari-jari tangan mereka dapat saling sentuh dan selama mereka itu berdekatan, hati mereka besar.

Kemudian mereka ditinggalkan serta diawasi dari jauh.

Anak buah Kim-hong-pai maklum akan kehebatan racun ngo-tok-ciam.

Sekali memasuki tubuh lawan, hanya guru mereka saja yang mampu menyelamatkannya.

Andaikata dua orang itu terbebas sekalipun dari mereka, tetap saja keduanya takkan terbebas dari maut.

"Koko ...... benarkah kita tidak ada harapan untuk hidup lagi?"

Yu Lee yang pada lahirnya tetap tenang itu, menekan perasaannya ia terharu dan merasa kasihan kepada kekasihnya.

Masih begitu muda, begitu cantik jelita dan sekali ini agaknya memang tiada harapan lagi.

"Jangan hilang harapan selama kita masih hidup, Lan-moi. Memang racun ngo-tok-ciam hebat sekali. Akan tetapi, belum tentu tidak dapat disembuhkan. Kau tenang saja, biarpun kita tidak boleh mengerahkan lweekang, agaknya dengan tenaga luar aku dapat melepaskan belenggu tangan kita. Akan tetapi, mereka tentu mengintai dan menjaga, maka kita tunggu sampai malam nanti."

Sehari itu penderitaan kedua orang muda ini amat hebat.

Panas amat teriknya dan sejak mereka terjerumus ke dalam sumur malam tadi, mereka merasa amat lelah, lapar dan haus.

Kelelahan dan kelaparan masih dapat mereka tahan akan tetapi rasa haus benar-benar amat menyiksa.

Leher terasa kering mencekik, mulut kering dan napas mereka serak.

Melihat penderitaan kekasihnya.

Yu Lee menjadi kasihan sekali.

Biarpun Siok Lan tidak pernah mengeluh dan tidak pernah nenyatakan rasa hausnya yang dapat membuat orang menjadi gila, namun Yu Lee maklum bahwa tentu gadis itu tidak beda dengan keadaannya, dicekik dan disiksa oleh rasa haus.

"Lan-moi......."

"Hemmm......"

Suara Siok Lan lemah dan hanya berbisik.

"Engkau lelah dan lapar......?"

"Tidak, koko. Hanya...... haus setengah mati!"

Dalam mengucapkan kata-kata ini, terdengar kemarahan gadis itu, marah kepada musuh-musuhnya yang membuatnya sengsara.

"Memang akupun haus. Akan tetapi kita harus bersabar, moi-moi. Eh, baru kemarin aku mendapatkan sebuah tomat yang masaknya bukan main karena lapar kumakan buah itu. Wah, seluruh urat dalam mulutku sampai kaku karena masamnya. Tahukah engkau buah yang lebih masam dari pada buah tomat yang matang?"

Siok Lan mengingat-ingat segala buah masam yang dikenalnya. Kemudian ia menyebutkan beberapa macam buah dan akhirnya mengomel.

"Koko, bagaimana sih engkau ini! Dalam keadaan begini masih membicarakan...... heee, mendadak mulutku menjadi basah mengingat buah-buah masam itu......!"

Siok Lan mengecap-ngecap mulutnya dan menelan ludah sendiri sehingga kerongkongannya tidak sekering tadi.

Kini mengertilah ia akan akal tunangannya itu.

Dengan mengingat buah masam timbul air liur yang membasahi mulut dan biarpun hal ini bukan merupakan pertolongan besar, namun sedikitnya mencegah mulut dan kerongkongan menjadi kering.

Setelah hari berganti senja, Gwat Kong Tosu datang membawa secawan besar air jernih.

Sambil memegangi cawan itu ia berkata.

"Bagaimana, apakah kalian masih juga berkeras kepala?"

"Totiang, engkau seorang tosu yang menyeleweng daripada kebenaran. Sudah bulat keputusan kami, lebih baik mati sebagai seorang gagah dari pada hidup seperti engkau, seorang pengkhianat pengecut!"

Kata Yu Lee.

"Tosu bau yang terkutuk! Biar berpakaian begitu namun lebih jahat dari pada iblis, lebih keji dan hina daripada semua penjahat yang paling hina!"

Siok Lan yaog lebih pandai memaki itu menyambung.

Gwat Kong Tosu tertawa dan minum air dari cawan sampai air itu tertumpah.

Siok Lan dan Yu Lee yang menoleh ke arah tosu itu mau tidak mau menelan ludah yang tidak ada lagi, akan tetapi kekerasan hati mereka dapat mengatasi keinginan ini dan mereka membuang muka.

"Baik, kalian memang lebih suka sengsara!"

Gerutu kakek itu lalu memerintahkan anak muridnya.

"Jaga mereka baik-baik, biarkan malam ini mereka menderita terus, besok baru kita seret mereka ke kota raja. Dan bagaimana yang mencari Pui Tiong dan Can Bwee?"

"Sudah teecu cari ke mana-mana tidak ada suhu."

"Goblok, hayo cari lagi. Bukankah tadipun mereka ikut berjaga-jaga?"

Kembali Siok Lan dan Yu Lee ditinggal dan dijaga dari jauh. Setelah malam tiba, Yu Lee berbisik.

"Moi-moi akan kulepaskan ikatan ini. Kalau sudah bebas, biar aku melarikan diri ke selatan, memancing mereka mengejarku agar engkau dapat melarikan diri, sebaliknya engkau lari ke barat, memasuki hutan yang lebih lebat......"

"Tidak! Aku tidak mau berpisah dari sampingmu, Koko. Kita berdua sudah keracunan, tinggal menanti mati. Kalau matipun, aku ingin bersamamu!"

"Moi-moi......"

Yu Lee terharu dan terisak.

"Ihhh......! Engkau tidak boleh lagi meruntuhkan air mata, koko. Kalau tetap begitu, aku selamanya tidak akan mencinta Yu Lee, melainkan lebih mencinta A-liok. Aku tidak suka melihat...... eh, kekasihku cengeng!"

Mau tak mau Yu Lee tersenyum.

Dengan Siok Lan disampingnya, dunia ini akan selalu merupakan sebuah tempat yang menyenangkan dan menggembirakan sehingga iapun tidak akan mendapat kesempatan untuk menangis lagi.

Iapun maklum akan kekerasan hati Siok Lan, dibujuk dipaksa pun akan percuma.

"Baiklah kita lari bersama mudah-mudahan dapat melarikan diri dalam gelap. Jika Thian menghendaki kita akan berhasil."

Yu Lee lalu mulai berusaha mematahkan ikatan.

Biarpun ia tidak berani mengerahkan sinkangnya karena hal ini berarti akan membuat racun di punggungnya mengamuk, namun tubuh pemuda ini tergembleng sejak kecil sehingga dia memiliki otot yang kuat.

Setelah berusaha beberapa lama, akhirnya jari-jari tangannya berhasil merenggut lepas ikatan tangannya.

Ia masih membelakangi Siok Lan ketika ia mulai berusaha membebaskan kekasihnya.

Ia melakukan hal ini secara diam-diam tidak berani merobah kedudukan karena tahu bahwa mereka diawasi orang-orang Kim-hong-pai dari jauh.

Setelah bebas, keduanya berdiri diam beberapa lama untuk membiarkan jalan darah di pergelangan tangan pulih kembali!

"Sekarang.......!"

Bisik Yu Lee dan sambil menggandeng tangan kekasihnya, pemuda ini lalu mengajak Siok Lan lari dari situ.

Keduanya tidak berani mempergunakan ginkang karena hal ini pun akan mencelakakan mereka, maka mereka hanya lari dengan menggunakan otot-otot kaki saja.

"Heii, mau lari ke mana......?"

Dua orang muda itu lari ke arah selatan dan muncullah empat orang murid Kim-hong-pai yang menjaga di selatan.

Yang lain-lain juga melihat kedua orang itu lari, akan tetapi karena mereka semua sudah maklum akan akibat racun ngo-tok-ciam, mereka memandang rendah dua orang muda itu yang tidak mungkin lagi mempergunakan tenaga dalam mereka.

Inilah yang menyebabkan mereka menjaga di tempat masing-masing dan menyerahkan kepada empat orang saudara mereka yang menjaga di selatan untuk menangkap kembali dua orang tawanan itu.

Andaikata Yu Lee dapat bergerak dan mempergunakan hawa sakti tubuhnya seperti biasa, jangankan hanya empat orang murid Kim-hong-pai, biar ada empatpuluh orang sekalipun tentu dapat ia atasi dengan mudah.

Bahkan Siok Lan sendiri saja akan dapat mengalahkan empat orang ini dengan mudah.

Akan tetapi mereka kini terpaksa hanya mengandalkan tenaga kasar tangan kaki mereka, bahkan kegesitan mereka, banyak berkurang karena tidak dapat menggunakan ginkang.

Mereka bergerak dan empat orang itu roboh, akan tetapi dapat cepat meloncat bangkit kembali dan menyerang kalang kabut mengeroyok dan menubruk dari kanan kiri.

Yu Lee mempergunakan ilmu silatnya, mengelak dan membalas, akan tetapi pukulan tenaga kasar tidak mempengaruhi empat orang anak buah Kim-hong-pai yang sudah terlatih itu.

Siok Lan marah dan menerjang maju, dalam hatinya hendak sekali serang menewaskan empat orang lawan lunak itu.

Saking marahnya ia terlupa dan dalam penyerangannya ini ia mengerahkan lweekangnya.

"Desss-dessss......!"

Dua orang pengeroyok roboh dengan kepala pecah terkena pukulan tangan Siok Lan, akan tetapi gadis itu menjerit dan roboh, muntah darah!

Yu Lee terkejut sekali, cepat berjongkok hendak menolong kekasihnya.

Saat itu dipergunakan oleh dua orang murid Kim-hong-pai yang lain untuk menerjangnya, membuat Yu Lee terguling-guling dan luka di punggungnya menghebat.

Pemuda inipun pingsan di samping Siok Lan.

Pada saat itu, berkelebat bayangan putih dan terdengar teriakan ngeri dua orang Kim-hong-pai tadi yang roboh tak bergerak lagi, mati seperti dua orang temannya yang terbunuh oleh Siok Lan.

bayangan putih ini bukan lain adalah Dewi Suling yang cepat menyambar tubuh Yu Lee dan Siok Lan, lalu meloncat dan menghilang di dalam gelap.

"Kejar......! Tangkap......!"

Gegerlah orang-orang Kim-hong-pai.

Obor-obor dinyalakan dan mereka ini dipimpin oleh Gwat Kong Tosu yang marah-marah lalu melakukan pengejaran.

Akan tetapi gerakan Dewi Suling cepat sekali.

Wanita sakti itu sudah lenyap dan para anggauta Kim-hong-pai lalu mencari-cari di seluruh hutan.

Jauh di pinggir hutan diantara para pencari ini menemukan mayat dua orang saudara mereka yang merupakan murid-murid terpandai dari Gwat Kong Tosu yaitu Pui Tiong dan Can Bwee!

Apakah yang telah terjadi?

Siapa pembunuh Pui Tiong dan Can Bwee, dua orang murid pilihan Kim-hong-pai yang telah berhasil menjebak Siok Lan dan Yu Lee?

Dan mengapa pula Dewi Suling yang tadinya mengajar Siok Lan dapat muncul tiba-tiba di malam hari itu?

Pembunuh kedua orang murid Kim-hong-pai itu bukan lain adalah Dewi Suling.

Seperti telah kita ketahui Dewi Suling membantu Thian-te Sin-kiam pergi mengejar dan mencari Siok Lan yang melarikan diri.

Karena jarak diantara mereka amat jauh Dewi suling tidak tahu ke mana perginya Siok Lan dan ia mencari-cari sampai menyeleweng jauh.

Ia melampaui hutan di mana Siok Lan ditawan, kemudian setelah amat jauh tersesat, ia kembali lagi dan sore hari itu di pinggir hutan ia melihat berkelebatnya dua orang manusia.

Ia cepat menyelinap dan mengintai, kemudian berindap menghampiri ketika mendengar suara pria dan wanita bersenda gurau dan ketawa cekikikan.

Kiranya dua bayangan itu adalah Pui Tiong dan Can Bwee.

Dua orang muda yang masih saudara seperguruan ini kiranya mempunyai hubungan cinta secara rahasia.

Kini di tempat yang mereka anggap sunyi tidak ada manusia lain itu, mereka dapat menumpahkan cinta kasih mereka dengan bebas.

Mereka bersembunyi di balik rumpun bunga, bercakap-cakap dan becumbu mesra.

Tentu orang akan merasa heran sekali kalau melihat betapa di tempat umum kedua orang ini saling menghormat dan seolah-olah tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.

Pui Tiong sebagai sute yang baik dan Can Bwee sebagai suci yang pendiam.

Namun Dewi Suling tidak heran, hanya marah bukan main ketika mendengar percakapan mereka karena mereka membicarakan Siok Lan dan Yu Lee.

"Kau gila! Kaukira aku tertarik kepada Sian-li Eng-cu? Huh, biar dia cantik dia amat galak dan dibandingkan dengan engkau, kekasihku bagaikan bumi dan langit. Sepatutnya engkau yang tertarik kepada Pendekar Cengeng......"

Kata Pui Tiong sambil mencium bibir Can Bwee. Sejenak mereka tenggelam dalam kemesraan, kemudian Can Bwee melepaskan diri dan mencubit dagu Pui Tiong sambil berkata cemberut.

"Cih kau cemburu? Kalau aku tertarik kepada segala laki-laki, masa aku masih sudi melayanimu? Kau tahu betapa besar cintaku kepadamu, betapa setiaku......."

Kembali mereka berpelukan.

Dewi Suling menanti dengan sabar.

Ia ingin mendengar tentang Siok Lan yang dicari-cari nya dan tentang Yu Lee yang juga sudah mengejar dan agaknya pendekar itu lebih beruntung, lebih dulu bertemu dengan Siok Lan.

"Hi-hik, gadis cantik itu tidak cantik lagi sekarang. Kulihat tadi betapa dia kehausan. Kenapa suhu tidak membunuh saja Siok Lan dan Pendekar Cengeng? Mengapa mesti menanti nanti lagi?"

"Ihhh, kenapa kau begini bodoh......?"

Can Bwee mencubitnya "Kurang ajar, aku ini kakak seperguruanmu, tahu? Kau berani memaki bodoh?"

Pui Tiong cepat-cepat berlutut.

"Ampun kan aku, suciku yang manis......."

"Cih...... ceriwis kau......!"

Kembali mereka bercumbuan sehingga hampir saja Dewi Suling kehabisan kesabarannya.

"Suhu mengharapkan mereka. Terutama Pendekar Cengeng suka takluk dan membantu pemerintah. Kalau suhu berhasil, bukan kecil jasa Kim-hong-pai terhadap pemerintah."

"Ah mana mungkin! Dia keras kepala apa lagi gadis galak itu. Orang-orang macam mereka lebih baik lekas dibunuh, karena kalau sampai terlepas dapat menimbulkan kekacauan."

"Mana mungkin terlepas?"

Pui Tiong membantah "Kau mengerti sendiri, orang yang sudah terkena ngo-tok-ciam, apalagi ditusukkan pada jalan darah di punggung seperti mereka itu tentu akan mati kalau tidak ditolong oleh suhu sendiri.

Mereka itu terpaksa harus menakluk kalau tidak mau mati.

Andaikata dapat lolos juga tentu mati.

Siapa orangnya mau menolong?

Ngo-tok-ciam itu hanya dapat dicabut dengan mulut dan menggunakan khikang dan sinkang juga racunnya dapat disedot keluar dengan pengerahkan sin-kang yang tinggi.

Akan tetapi penyedotnya tentu akan mati dan siapa mau mengobati mereka secara begitu?

Kecuali hanya suhu yang tahu cara mengobatinya, sedangkan kita sendiri saja tidak diberi tahu akan rahasia penyembuhan Ngo-tok-ciam itu."

Sudah cukup bagi Dewi Suling percakapan itu.

Ia tahu bahwa Siok Lan dari Yu Lee tertawan musuh dan telah terluka hebat, berada di ambang pintu kematian.

Marahlah Dewi Suling.

Terdengar suara melengking ketika ia meloncat ke balik semak-semak rumpun kembang itu disusul jeritan mengerikan dari kedua orang muda yang sedang bermain cinta, berkasih-kasihan dengan mesra itu tak dapat menghindarkan diri dari pada serangan maut Dewi Suling!

Dewi Suling lalu memasuki hutan itu dan mencari-cari.

Akhirnya ia melihat betapa Yu Lee dan Siok Lan berusaha melarikan diri dan dikeroyok empat orang anak murid Kim-hong-pai.

Ia terheran-heran menyaksikan kelemahan dua orang itu, padahal ia tahu bahwa orang-orang Kim-hong-pai itu tidak dapat dianggap lihai.

Melihat betapa Siok Lan yang menyerang dengan pengerahan sinkang lalu roboh sendiri muntah darah.

Mengertilah Dewi Suling bahwa dua orang itu telah keracunan hebat sehingga tidak boleh mengerahkan sinkang dan mengertilah ia mengapa dua orang itu kelihatan begitu lemah.

Maka ia cepat turun tangan membunuh dua orang Kim-hong-pai dan menyambar tubuh kedua orang itu yang dikempitnya dengan kedua lengan lalu ia meloncat dan melarikan diri dengan cepat.

Dewi Suling maklum bahwa keadaan dua orang itu amat berbahaya, sungguhpun ia belum tahu pasti apa sebabnya dan mengapa mereka keracunan karena ia belum mendapat waktu dan kesempatan untuk memeriksa, ia harus lebih dahulu menyelamatkan diri mereka dari pengejaran orang-orang Kim-hong-pai yang ia tahu diketuai oleh Gwat Kong Tosu yang cukup lihai.

Maka ia lari terus semalam itu tak pernah berhenti, keluar masuk hutan dan naik turun gunung.

Setelah malam berganti pagi dan matahari telah bersinar, ia tiba di dalam sebuah hutan yang liar.

Barulah ia berhenti menurunkan dua orang itu dari kempitannya dan merebahkan mereka di atas tanah berumput.

Dan mulailah ia memeriksa mereka yang masih pingsan, ketika ia menemukan jarum yang menancap di punggung dan melihat betapa kulit dan daging sekitar luka itu hitam kehijauan, ia terkejut sekali.

Dewi Suling juga tahu akan racun karena gurunya, Hek-siauw Kui-bo adalah seorang ahli racun pula, dan iapun ahli menggunakan jarum-jarum beracun.

Akan tetapi baru sekarang ia menyaksikan akibat racun yang begini hebat.

Mukanya menjadi pucat ketika ia teringat akan cerita gurunya akan hebatnya lima racun ngo-tok yang dicampur sehingga menjadi adonan racun yang amat jahat.

Untuk menyedot racun ngo-tok ini, hanyalah dapat dilalukan dengan pertolongan batu pek-seng (bintang putih).

Kalau disedot dengan mulut mempergunakan sin-kang, akan berhasil juga akan tetapi selain harus mengerahkan sin-kang yang amat kuat, juga racun itu sedemikian bebatnya sehingga kalau memasuki mulut si penyedot, tentu ia akan mati!

Sejenak Dewi Suling memandang wajah Yu Lee yang masih rebah pingsan.

Wajah yang semenjak ia kembali ke jalan benar, selalu menjadi kembang mimpi, selalu terkenang dan teringat.

Wajah orang yang amat dikasihinya, ia melihat betapa wajah Yu Lee yang pingsan itu tenang seperti orang sudah mati.

Tak tertahankan lagi ia menubruk pundak dan terisak, menciumi muka pemuda itu.

Kemudian keharuan hatinya reda dan ia menoleh ke arah Siok Lan.

Gadis yang masih remaja, segar dan bersih.

Sungguh tepat menjadi isteri Yu Lee, pikirnya.

Tidak, ia tidak cemburu, tidak iri hati.

Dia memang sama sekali tidak patut bersanding dengan Yu Lee.

Teringat ia akan semua perbuatannya di masa muda, jantungnya terasa hendak putus.

Dia dahulu jahat, jahat sekali.

Dia telah kotor, tak mungkin dicuci bersih sehingga patut menjadi sisihan Yu Lee.

Biar dicuci dengan perbuatan-perbuatan baik sekalipun!

Ia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya di depan Thian!

Dan Yu Lee akan sengsara hidupnya kalau kehilangan Siok Lan.

Makin dipikir, makin nelangsa hatinya dan tanpa ragu-ragu lagi, bahkan agak beringas seperti laku orang nekad, ia lalu membungkuk, merobek baju Siok Lan yang ia miringkan tubuhnya, kemudian menempelkan mulutnya pada luka di punggung Siok Lan.

Ia menahan napas, mengerahkan khikang dan menyalurkan sin-kang menyedot luka itu sampai mulutnya terasa beku.

Cepat ia meludahkan darah biasa yang mengandung racun itu, kemudian menyedot lagi.

Tiga kali ia menyedot sampai akhirnya darah yang disedotnya adalah darah merah yang segar.

Pening kepala Dewi Suling.

Pandangan matanya berkunang, mulutnya kaku tak dapat di gerakkan.

Lidahnya mengembung hampir memenuhi mulut.

Mukanya berubah agak kehijauan.

Ia cepat meninggalkan tubuh Siok Lan yang ia tahu telah terbebas daripada cengkeraman maut, lalu ia bersila bersemadi mengatur napas, menyedot sebanyaknya hawa segar dan berusaha menentang racun yang mulai menguasainya.

Setelah kepalanya tidak begitu pening lagi dan ia telah dapat memulihkan tenaganya ia lalu menghampiri tubuh Yu Lee yang masih rebah terlentang.

Ia mendorong miring tubuh laki-laki yang dicintainya ini, dibuka bajunya dan dikecupnya luka itu, seperti tadi ia menggigit jarum mencabutnya keluar.

Alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa luka di punggung Yu Lee lebih berat dari pada luka di punggung Siok Lan.

Agaknya ketua Kim-hong-pai yang tahu bahwa pemuda ini amat lihai, menusukkan jarum yang lebih banyak racunnya di punggung pemuda ini.

Dewi Suling mengerahkan tenaganya menyedot.

Baru setelah tujuh kali menyedot racun itu habis dan ia menyedot darah segar.

"Ahh......"

Yu Lee mengeluh membuka mata dan bangkit duduk.

Begitu melihat Dewi Suling duduk di dekatnya dan muka wanita ini kehitaman, mulutnya membengkak ia kaget sekali dan tahulah ia akan apa yang telah dilakukan wanita ini.

Ia melirik ke arah Siok Lan.

Gadis itu sudah sembuh pula mukanya tidak membayangkan keracunan, napasnya teratur, dan dalam tidur pulas.

"Kau......?"

Dewi Suling yang duduk bersila meramkau mata dan bangkit duduk.

Yu Lee bergidik.

Mata itupun bersinar kehitaman, penuh hawa racun!

Dewi Suling menggoyang kepala berkata lemah suaranya pelo karena lidahnya membengkak.

"Himpun tenagamu...... bersamadhi...... lekas......"

Yu Lee maklum bahwa keadaannyapun sudah selamat dan pada cengkeraman bahaya akan tetapi ia masih lemah iapun maklum dengan sekali pandang saja bahwa tidak ada kekuatan manusia di dunia ini yang dapat menolong Dewi Suling yang seolah-olah telah mengoper semua hawa beracun dari tubuh dia dan Siok Lan.

Bukan main terharu hatinya, akan tetapi ia tidak mau menyia-nyiakan pengorbankan Dewi Suling, ia lalu bersila dan duduk bersamadhi untuk memulihkan tenaga.

Akan tetapi betapa sukarnya sekali ini mengheningkan cipta.

Air mata mengalir dari kedua pipinya, membasahi kedua pipinya.

Perbuatan dan pengorbanan Dewi Suling selalu teringat dan terbayang, ia membuka matanya kembali lalu merangkul wanita itu, teringat akan cinta kasih yang demikian besar ia mencium dahi Dewi Suling.

Dewi Suling membuka mata dan meneteslah beberapa air matanya, mulut yang bengkak itu mencoba tersenyum, lalu menggeleng kepala lagi, minta dengan pandangan matanya agar Yu Lee bersamadhi.

Pemuda itu setelah mencium dahi dengan penuh perasaan syukur, terharu dan berterima kasih, lalu duduk bersamadhi dan kali ini ia berhasil.

Siok Lan mengeluh perlahan, membuka mata dan pertama-tama yang dilihatnya adalah Dewi Suling yang bermuka kehitaman dan bermulut bengkak, duduk bersila tak jauh dari situ.

Ia terkejut sekali, dan segera menoleh ke arah kiri di mana ia lihat Yu Lee juga duduk bersamadhi.

Wajah kekasihnya itu terang dan tenang, jelas telah bersih dari pada hawa racun ia menengok keadaannya sendiri, melihat bajunya yang robek, cepat-cepat dibenarkan, lalu meraba punggung dan tahulah ia bahwa, iapun telah sembuh, terbebas dari pada racun!

Ia mencoba pernapasannya, menahan napas mengerahkan sinkang.

Ia benar-benar telah sembuh!

Rasa girang menyelubungi hatinya akan tetapi begitu ia memandang kembali kepada Dewi Suling, wajahnya menjadi pucat.

Mengertilah Siok Lan, tentu Dewi Suling telah menolong dia dan Yu Lee, menolong dengan jalan menyedot racun dari luka-luka mereka.

Dewi Suling menolong mereka dan mengorbankan dirinya, ia bergidik.

Wajah Dewi Suling yang semula cantik manis itu kini jadi mengerikan, seperti wajah iblis sendiri!

Karena tahu bahwa dua orang itu bersamadhi, Siok Lan pun lalu bersila dan meramkan mata mengatur pernapasan memulihkan tenaga.

Belum lama mereka bersamadhi, terdengar suara banyak orang dan tahu-tahu Gwat Kong Tosu bersama duapuluh orang anak muridnya telah mengurung tempat itu!

Tosu ini begitu melihat keadaan tiga orang duduk bersila, maklum bahwa racunnya telah dipunahkan oleh wanita yang kini keracunan hebat.

"Dia Dewi Suling.......!"

Kata seorang di antara anak buahnya. Marahlah Gwat Kong Tosu.

"Tangkap......!"

Akan tetapi tiba-tiba wanita bermuka iblis itu meloncat ke atas, terdengar suara melengking hebat dan belasan batang jarum berhamburan menyerang kepada mereka yang mengurung, empat orang anak murid Kim-hong-pai menjerit dan roboh tak dapat bangkit kembali.

Gwat Kong Tosu setelah menyampok jarum-jarum dengan ujung lengan bajunya, mencabut pedang dan menerjang Dewi Suling.

Murid-muridnya membantu dan dikeroyoklah Dewi Suling.

Akan tetapi Dewi Suling yang mukanya berubah seperti setan itu berkelahi dengan kenekatan luar biasa, kenekatan orang yang tahu bahwa ia akan mati.

Dalam beberapa gebrakan saja, tiga orang anak murid Kim-hong-pai lainnya terguling oleh hantaman dan totokan sulingnya.

Akan tetapi Dewi Suling pundaknya tergores ujung pedang Gwat Kong Tosu.

Yu Lee dan Siok Lan juga sudah meloncat bangun, akan tetapi mereka itu masih lemah sekali, masih belum dapat mempergunakan kekuatan dalam.

Kini mereka dikurung dan dikeroyok sehingga Yu Lee dan Siok Lan tidak dapat membantu Dewi Suling seperti yang mereka kehendaki.

Dewi Suling mengamuk makin hebat, akan tetapi kini kepalanya pening sekali, kedua kakinya gemetaran dan berkali-kali ia terkena pedang Gwat Kong Tosu dan murid-muridnya.

Seluruh pakaiannya robek-robek berikut kulitnya dan tubuhnya sudah penuh luka akan tetapi ia masih terus mengamuk dan bunyi melengking itu makin lama makin jarang.

Akhirnya Dewi Suling terhuyung-huyung, tubuhnya basah semua oleh darah, suling masih terpegang di tangannya, pakaiannya yang putih kini menjadl merah.

Ia terhuyung ke belakang, didesak Gwat Kong Tosu.

Pada saat itu, terdengar bentakan keras.

"Gwat Kong, kau benar-benar telah menyeleweng jauh!"

Dan berkelebatlah bayangan orang yang mempergunakan pedang menangkis pedang Gwat Kong Tosu.

Ternyata bayangan ini adalah Thian-te Sin-kiam yang datang menyusul bersama empat orang muda perkasa, yaitu Ouwyang Tek, Gui Siong, Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng.

Empat orang muda ini mengamuk dengan pedang masing-masing, membuat para anak murid Kim-hong-pai yang tadi mengeroyok Yu Lee dan Siok Lan menjadi kacau balau dan banyak yang roboh.

Dewi Suling sejenak berdiri memandang pertandingan dahsyat antara Gwat Kong Tosu melawan Thian-te Sin-kiam yang mendesaknya, kemudian ia tersenyum dan roboh terguling!

Pertempuran itu tidak berlangsung lama, Gwat Kong Tosu, bekas anak murid Kun-lun-pai, tentu saja tidak dapat mengatasi ilmu pedang Thian-te Sin-kiam Liem Kwat Ek seorang tokoh Kun-lun yang lebih tinggi tingkatnya.

Belum sampai tigapuluh jurus pedang Thian-te Sin-kiam telah menusuk amblas ke dalam dadanya, dan ketika pedang dicabut, ketua Kim-hong-pai itu berteriak keras roboh berkelonjotan.

Anak-anak muridnya pun kocar kacir dan akhirnya tak seorangpun diantara mereka dapat lolos, semua tewas dalam tangan Thian-te Sin-kiam dan empat orang muda yang gagah.

Yu Lee dan Siok Lan menghampiri Dewi Suling berlutut di dekat tubuh wanita itu.

Yu Lee mengangkat kepala Dewi Suling dan menyandarkannya di dadanya.

Dewi Suling berada dalam keadaan mengerikan sekali.

Siok Lan terisak menangis, tidak tega menyaksikan wanita yang telah mengorbankan diri untuknya dan untuk kekasihnya ini.

Dewi Suling menggerakkan bibir, terpaksa Yu Lee dan Siok Lan mendekatkan telinga Bibir yang membengkak itu berbisik lirih.

"......bahagialah ...... kalian ...... aku hanya...... Minta ...... doa ...... semoga Thian sudi ...... mengampuni dosa-dosaku."

Tubuh itu lemas dan napasnyapun terhenti.

Sejenak Yu Lee meramkan mata mencegah air matanya, akan tetapi tetap saja air matanya mengalir turun.

Siok Lan sudah menangis terisak dan terdengar suara Yu Lee perlahan.

"Dewi Suling...... biarlah air mataku ini merupakan tangis penghabisan kali, tanda untukmu. Engkau pernah menyeleweng, akan tetapi engkau mengakhiri hidupmu sebagai seorang gagah seorang budiman dan seorang pejuang...... semoga Thian mengampuni dosa-dosamu"..."

Jenazah Dewi Suling diurus dan Thian-te Sin-kiam menghela napas panjang mendengar pengalaman mereka yang amat mengharukan dan pengorbanan Dewi Suling.

Kemudian bersama mereka meninggalkan tempat itu.

Keadaan para pekerja kini menjadi jauh lebih baik dan karenanya pemberontak-pemberontak juga berkurang banyak.

Hal ini bukan berarti bahwa para pendekar dan patriot rela tanah airnya dijajah bangsa Mongol, hanya karena belum terdapat kerjasama baik maka mereka belum juga berhasil menggulingkan pemerintahan penjajah.

Semangat perjuangan tak pernah terlepas dari lubuk hati masing-masing.

Dengan upacara sederhana, Yu Lee si Pendekar Cengeng menikah dengan Sian-li Eng-cu Liem Siok Lan.

Hidup bahagia di San-si.

Adapun Ouwyang Tek dan Gui Siong menjadi pengantin kembar dengan Lauw Ci Sian dan Tan Li Ceng, dirayakan oleh orang tua Tan Li Ceng yang agak mampu keadaannya.

Demikianlah cerita ini selesai sampai di sini, dengan catatan ......

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 9

Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert