Ceritasilat Novel Online

Pendekar Dari Hoasan 2

Eps 2 Pendekar Dari Hoasan - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Dari Hoasan - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Dari Hoasan - Kho Ping Hoo.

Gerakan ini menggagalkan tendangan Tan Bi Nio dan juga sekaligus mengelakkan sambaran senjata lawan pada lehernya.

Sedangkan sambaran senjata tombak pada pinggangnya dapat didupaknya dengan sebelah kakinya!

Cepat bukan main gerakan ini hingga Bi Nio sendiri tak pernah menyangkanya, maka tendangan kaki lawan itu tepat mengena jari tangan yang memegang senjata tombak, maka tanpa dapat dicegah lagi, tombaknya terlepas dan ia melompat mundur dengan muka merah.

"Aku menerima kalah!"

Katanya. Sian Kim yang telah melompat turun, lalu menghampiri Bi Nio, memungut tombak lawannya dan mengembalikannya lalu memeluk pundak Bi Nio sambil berkata dengan senyum manis. (Lanjut ke

Jilid 03) Pendekar Dari Hoasan/Hoasan Tayhiap (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03

"Cici, ilmu siang-kekmu benar-benar membuat aku kagum sekali. Maafkan kelancanganku tadi."

Melihat sikap ini, Tan Bi Nio merasa terharu dan juga girang. Ia balas memeluk dan berkata.

"Ah, betapapun juga, kepandaianku masih belum dapat dibandingkan dengan kehebatan ilmu pedangmu."

Keduanya lalu turun dari panggung bersama-sama untuk memberi tempat kepada peserta lain.

Menurut keputusan Pek Bi Hosiang, maka kini Ciauw In harus menghadapi Bong Hin, murid kepala dari Kun-lun-pai.

Tentu saja Bong Hin sebagai murid kepala termuda dari Kun-lun-pai, memiliki ilmu silat tinggi sekali sebagaimana yang telah dibuktikannya tadi sehingga dengan amat mudahnya ia mengalahkan dua orang peserta luar.

Diam-diam Bong Hin tadi memperhatikan gerakan pedang Ciauw In dan mendapat kenyataan bahwa Hoa-san Kiam-hwat dari pemuda itu benar-benar tangguh maka ia merasa bahwa dalam hal kepandaian dalam main senjata, belum tentu ia akan memperoleh kemenangan.

Oleh karena ini, ia mendapatkan akal.

Ia adalah seorang ahli dalam ilmu Thiat-ciang-kang, yakni Telapak Tangan Besi.

Kedua telapak tangannya telah dilatih semenjak ia masih kecil sehingga telapak tangannya memiliki kekuatan dan kehebatan yang tidak takut menghadapi serangan senjata tajam.

Ia berani memapaki bacokan golok dengan telapak tangannya dan merampas golok itu!

Maka, mengandalkan ilmu silat tangan kosong dari Kun-lun-pai dan ilmu Thiat-ciang-kang ini, ia lalu mendahului Ciauw In dengan kata-kata ramah.

"Saudara gagah dari Hoa-san, karena perguruan kita saling bersahabat, maka marilah kita main-main sebentar dengan bertangan kosong saja."

Ciauw In tersenyum dan ia dapat menduga bahwa lawannya ini tentulah mempunyai satu keistimewaan yang khusus dalam kepandaian silat tangan kosong.

Setelah melihat dan memandang dengan teliti, ia dapat melihat telapak tangan lawan yang kehitam-hitaman itu, maka diam-diam ia terkejut.

Akan tetapi, sebagai seorang murid Hoa-san-pai yang menjunjung tinggi nama perguruan sendiri, tentu saja ia tidak menjadi gentar menghadapi lawan ini.

Sambil menganggukkan kepala ia meloloskan sarung pedangnya dan melemparkannya ke arah Ong Su yang menyambutnya.

Kemudian dengan tenang ia menghadapi Bong Hin dan memasang kuda-kuda dengan gerakan Heng-Pai-koan-im atau Memuja Dewi Kwan Im Dengan Tangan Miring!

Melihat betapa lawannya telah memasang bhesi, Bong Hin tidak berlaku sungkan lagi, maka sambil berseru.

"Awas pukulan!"

Ia lalu majukan kakinya dan menyerang dengan gerak tipu Pai-in-cut-sui atau Dorong Awan Keluar Puncak!

Ia mendorong dengan telapak tangannya yang mengandung tenaga Thiat-ciang-kang hingga belum juga dorongannya mengenai tubuh Ciauw In, angin dorongan itu telah terasa kekuatannya!

Ciauw In cepat mengelak dan miringkan tubuh dan membalas dengan pukulan tangan kiri dengan gerak tipu Hong-tan-tiam-ci atau Burung Hong Pentang Sebelah Sayap.

Pukulannya tidak keras, akan tetapi di dalamnya mengandung tenaga lweekang yang menggetarkan dada Bong Hin walaupun pukulan itu belum mengenai tubuhnya!

Bong Hin merasa terkejut sekali karena tak pernah disangkanya bahwa lawannya ini memiliki lweekang yang hebat.

Ia tidak tahu bahwa Ciauw In disamping ilmu pedangnya yang lihai, juga mendapat gemblengan dan latihan Ho Sim Siansu sehingga memiliki ilmu pukulan Kim-san-ciang atau Tangan Bubuk Emas!

Tenaga luar biasa yang telah berada di kedua tangannya ini dapat dipergunakan untuk menghadapi ilmu-ilmu kekuatan tangan seperti Thiat-ciang-kang, Ang-see-jiu dan lain-lain!

Dengan cepat Bong Hin mengelak sambil menggunakan tangannya menyampok lengan Ciauw In.

Akan tetapi Ciauw In tidak membiarkan lengan tangannya beradu dengan telapak tangan lawan yang lihai itu, maka ia memutar lengannya dan mempergunakan telapak tangannya untuk membentur telapak tangan lawan ini!

Dua telapak tangan beradu, membawa tenaga raksasa yang akibatnya membuat mereka terpental mundur sampat tiga langkah!

Keduanya terkejut dan maklum akan kelihaian lawan, terutama sekali Bong Hin yang tadinya tidak menyangka akan ilmu yang dimiliki Ciauw In.

Maka setelah benturan telapak tangan ini, ia maklum bahwa ia tak dapat mengandalkan Thiat-ciang-kang untuk merobohkan lawan, dan berlaku amat hati-hati dalam gerakannya.

Ternyata bahwa dalam hal kepandaian silat tangan kosong, mereka berimbang sekali, sungguhpun harus diakui bahwa ginkang atau ilmu meringankan tubuh Ciauw In lebih tinggi setingkat sehingga gerakannya lebih gesit.

Akan tetapi ilmu silat Kun-lun-pai amat tangguhnya, terutama sekali dalam daya tahan seakan-akan Ciauw In menghadapi tembok baja yang kokoh kuat saja!

Pukulan demi pukulan dikeluarkan, tendangan melayang silih berganti, siasat dilawan tipu, kekuatan beradu kekuatan dan banyak sekali gerakan silat mereka keluarkan dalam usaha menjatuhkan lawan.

Akan tetapi mereka sama kuatnya sehingga lima puluh jurus telah lewat tanpa ada tanda-tanda siapa yang akan menang!

Bong Hin menjadi penasaran sekali dan perasaan inilah yang membuat dia akhirnya menderita kekalahan.

Karena penasaran, maka ia menjadi nekat dan melakukan serangan yang berbahaya, tidak saja berbahaya bagi lawan, akan tetapi juga berbahaya bagi dirinya sendiri.

Ia mempergunakan serangan yang disebut Pai-san-to-hai atau Menolak Gunung Menguruk Laut!

Gerakan ini luar biasa hebatnya, oleh karena dilakukan dengan kedua tangan mendorong disertai sebelah kaki menendang sekaligus ada tiga serangan dilancarkan kepada lawannya!

Ciauw In berlaku waspada dan cepat menjatuhkan diri ke kiri untuk menghindarkan diri dari serangan berbahaya itu dan karena ia melihat kesempatan terbuka, secepat kilat kakinya menendang ke arah lutut kaki kiri Bong Hin yang masih berdiri.

Ketika itu, kaki kanan Bong Hin masih terangkat dalam tendangannya tadi maka ketika lutut kaki kirinya ditendang, tak ampun lagi ia roboh terguling!

Dengan jujur, jago muda dari Kun-lun-pai ini mengakui keunggulan Ciauw In dan turun dari panggung dengan kaki terpincang-pincang.

Ciauw In berdiri di atas panggung dengan gembira sekali, tidak karena tepukan tangan para penonton yang memujinya, akan tetapi oleh karena dengan kemenangannya ini ia mempunyai kesempatan menghadapi Sian Kim, dara jelita yang menarik hatinya itu!

Sebaliknya, Sian Kim juga merasa girang oleh karena kini ia mendapat kesempatan pula untuk menghadapi pemuda yang menjadi seorang diantara tiga orang musuh besarnya, dan dapat mengukur kepandaian lawan ini!

Segera setelah mendapat tanda dari Pek Bi Hosiang, ia melompat ke atas panggung, disambut dengan senyum malu-malu oleh Ciauw In.

"Lie-taihiap, harap kau suka perlihatkan Hoa-san Kiam-hwat kepadaku!"

Kata nona baju hitam itu sambil mencabut keluar pedangnya yang berkilau tajam.

"Nona, aku hanya minta kau berlaku murah hati kepadaku!"

Jawab Ciauw In sambil memberi tanda ke bawah, Ong Su mencabut keluar pedang suhengnya lalu melemparkan pedang itu ke arah Ciauw In.

Semua penonton terkejut melihat betapa pedang yang dilempar oleh Ong Su itu meluncur bagaikan anak panah menuju ke tubuh Ciauw In!

Akan tetapi, dengan tersenyum tenang, Ciauw In mengulurkan tangan kanan dan menyambut pedang itu bukan pada gagangnya, akan tetapi pada ujungnya yang runcing, dengan jalan menjepit diantara jari-jari tangannya!

Tepuk tangan menyambut demonstrasi yang hebat ini.

Ong Su memang sengaja melakukan hal ini untuk memberi "muka terang"

Kepada suhengnya dan mereka ini di puncak Hoa-san memang sering mengadakan latihan menyambut pedang terbang ini! "Gerakan Kwan lm Menjepit Jarum itu sungguh bagus!"

Sian Kim memuji dan Ciauw In merasa kagum melihat betapa nona cantik itu mengenal gerakan tangannya, maka ia berlaku amat hati-hati karena maklum bahwa kini ia menghadapi seorang lawan yang memiliki ilmu pedang luar biasa lihainya.

Juga para penonton termasuk tokoh-tokoh besar yang hadir di situ, maklum bahwa pertandingan terakhir yang akan menentukan siapa juara ahli silat muda pada pertemuan ini, memandang dengan hati amat tertarik.

Ilmu pedang yang tadi dimainkan oleh Sian Kim memang mereka kagumi sebagai ilmu pedang lihai yang tak pernah terlihat oleh mereka, sedangkan ilmu pedang Ciauw In adalah ilmu pedang baru dari Hoa-san-pai yang juga belum pernah mereka saksikan, sungguhpun setiap tokoh persilatan telah tahu dan mendengar akan kehebatan ilmu pedang ciptaan Ho Sim Siansu itu.

Sekali lagi Sian Kim mengangguk sambil mengerling dengan matanya yang indah dan bibirnya tersenyum memikat hati, kemudian ia lalu berseru.

"Lie-taihiap, lihat pedang!"

Dan mulailah ia membuka serangannya sambil tidak menghentikan senyum manis yang menghias bibirnya.

Ciauw In menangkis dan segera membalas serangan itu dengan gerak tipu Kong-ciak-kai-bwee atau Burung Merak Buka Ekor, pedangnya digoyang-goyang di depan muka lawan untuk membingungkan lawannya lalu secepat kilat ia melanjutkan serangannya dengan gerak tipu Ayam Emas Mematuk Permata.

Pedangnya meluncur cepat ke arah tenggorokan lawannya!

Kedua gerak, ini ia lakukan untuk mencoba kecepatan dan kewaspadaan Sian Kim yang merasa kagum melihat gerakan ini lalu iapun bergerak cepat dan melakukan gerak tipu Dewi Cantik Mengebut Kipas.

Gerakan ini sekaligus menangkis serangan lawan dan membarengi dengan pedang yang terpental karena tangkisan itu diluncurkan ke bawah membabat pingggang Ciauw In.

Pemuda ini berseru memuji kecepatan Sian Kim dan cepat mengelak sambil melompat mundur, juga Sian Kim setelah serangannya digagalkan, mundur dua langkah untuk mencari posisi yang baik.

Ia maklum akan kehebatan ilmu pedang lawan, maka tidak berani berlaku sembrono dan tidak mau menyerang dulu, menanti saja diserang oleh lawan untuk kemudian membalas dengan reaksi dan gaya reflex yang mengagumkan.

Dengan jalan demikian, ia tidak terlalu menaruh diri di tempat dan kedudukan berbahaya, karena itu dapat mengukur dan menimbang keadaan lawannya daripada kalau menyerang dulu dan tidak dapat melihat perubahan gerakan lawan.

Adapun Ciauw In bukan karena jerih, akan tetapi oleh karena memang hatinya tidak tega untuk mendesak nona cantik itu!

Akan tetapi, ketika melihat betapa gadis itupun melangkah mundur, ia maklum bahwa gadis itu amat hati-hati, maka ia lalu tersenyum dan mulai menyerang dengan desakan hebat.

Ia mulai keluarkan tipu-tipu yang paling hebat dari Hoa-san Kiam-hwat untuk menguji lawannya ini.

Sebaliknya Sian Kim dengan penuh perhatian melihat perubahan gerakan pedang Ciauw In dan mengimbanginya dengan permainan yang sama cepatnya sehingga sebentar saja tubuh kedua orang ini seakan-akan menjadi satu, tertutup oleh dua gulungan sinar pedang yang bergulung-gulung dan bergumul seakan-akan dua ekor naga saling lilit dengan hebatnya!

Pecahlah sorak sorai dari para penonton, bahkan para tokoh besar yang menyaksikan pertempuran ini diam-diam merasa kagum sekali karena ilmu pedang kedua orang muda itu benar-benar merupakan ilmu pedang yang sukar dicari tandingannya.

Akan tetapi, Bwee Hiang dan Ong Su yang telah faham akan Hoa-san Kiam-hwat ketika melihat gerakan-gerakan Ciauw In, diam-diam merasa kecewa sekali.

Terutama sekali Bwee Hiang, dengan muka pucat ia memandang jalannya pertempuran dan ia merasa hatinya sakit sekali karena ternyata bahwa Ciauw In agaknya sengaja berlaku lambat dan lunak dan tidak mengeluarkan kepandaian seluruhnya!

Gadis ini maklum kalau suhengnya itu benar-benar menghendaki kemenangan, tidak sukar baginya.

Akan tetapi, suhengnya itu sengaja berlaku lambat-lambatan, seakan-akan takut kalau-kalau pedangnya melukai lawannya!

Hal ini hanya dapat disebabkan oleh satu hal saja, yakni bahwa suhengnya telah jatuh hati kepada gadis baju hitam yang cantik jelita itu!

Dan hal ini memang benar!

Biarpun ilmu pedang Sian Kim luar biasa sekali, cepat, ganas, dan kuat gerakannya, akan tetapi ia masih belum berdaya menghadapi Hoa-san Kiam-hwat.

Gadis yang cerdik inipun maklum akan hal itu, dia sendiri merasa heran mengapa pada tiap kali lawannya telah terdesak hebat dan terdapat kesempatan untuk merobohkannya, tiba-tiba tekanan pedang lawan itu mengendur sehingga ia mendapat ketika untuk memperbaiki posisi dan kedudukannya!

Akhirnya ia dapat juga menduga banwa tentu pemuda yang tampan ini tidak tega untuk melukainya!

Diam-diam hatinya berdebar keras dengan perasaan girang dan gembira sekali.

Tadinya Sian Kim mengeluh di dalam hati karena memang ternyata ilmu pedang Ciauw In ini amat hebat dan dalam hal lweekang serta ginkang, ia masih kalah sedikit oleh pemuda ini, maka harapannya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya menipis.

Akan tetapi, setelah timbul dugaannya bahwa pemuda ini agaknya tertarik oleh kecantikannya, ia mulai menggunakan siasat lain.

Dengan bibir selalu tersenyum, iapun mendesak Ciauw In dan sengaja menarik kembali pedangnya sebelum pedang itu mendekat tubuh lawannya, dan gerakan ini ia maksudkan untuk memberi tanda kepada Ciauw In bahwa iapun merasa tidak tega melukai pemuda itu!

Dan Ciauw In terkena oleh muslihat ini!

Ia percaya bahwa gadis baju hitam ini membalas perasaannya dan diam-diam ia merasa girang dan berbahagia sekali!

Ia lalu sengaja mengeluarkan kepandaiannya, dan bergerak cepat sekali.

Pada saat Sian Kim menyerangnya dengan tipu Hui-eng-bok-thou atau Elang Terbang Menyambar Kelinci, ia sengaja membiarkan sampai pedang nona itu berada dekat dengan lehernya, kemudian tiba-tiba ia memutar pedangnya yang segera menempel pada pedang nona itu karena tenaga lweekangnya ia kerahkan untuk "menyedot"

Pedang lawan, Kemudian selagi Sian Kim mengerahkan tenaga untuk membetot kembali pedangnya, Ciauw In mengulur tangan kirinya yang seakan-akan hendak menyerang leher lawannya.

Sian Kim terkejut sekali dan menyangka bahwa benar-benar pemuda itu hendak mencelakainya, akan tetapi ketika ia memandang, ternyata tangan Pemuda itu melayang naik ke arah kepalanya dan menyendal pita rambutnya yang berwarna merah!

Kalau ia mau, gadis ini dapat mengelak dan menundukkan kepalanya, akan tetapi sambil tersenyum ia sengaja membiarkan pitanya terampas.

Kemudian keduanya melompat mundur dan dengan muka kemerah-merahan dan mata mengerling disertai bibir tersenyum semanis-manisnya, ia berkata dengan suara merdu.

"Lie-taihiap, aku mengaku kalah!"

Lie Ciauw In seakan-akan tidak mendengar suara tepuk sorak para penonton yang menyambut kemenangannya ini, olen karena hatinya penuh dengan kegembiraan dan gairah ketika melihat betapa gadis itu sengaja tidak mau mengelak, seakan-akan membiarkan pitanya terampas, kemudian melihat kerling dan senyum itu, hatinya benar-benar termasuk dalam perangkap asmara!

Terdengar suara Pek Bi Hosiang yang mengumumkan bahwa Ciauw In, anak murid Hoa-san-pai menjadi juara atau pemenang, maka ia lalu menghampiri orang tua itu untuk menghaturkan terima kasih sambil menjura penuh hormat.

Sementara itu, Sian Kim melompat turun dan kembali ke tempat duduknya.

"Cuwi,"

Kata Pek Bi Hosiang dengan suara keras hingga terdengar oleh semua orang sungguhpun bagi Ciauw In, Sian Kim, dan Bwee Hiang suara itu terdengar setengahnya saja!

"Dengan berakhirnya pertandingan tadi, maka habis pulalah pibu persahabatan ini.

Sebagai mana cuwi saksikan sendiri, maka Lie Ciauw In murid Ho Sim Siansu di Hoa-san mendapat kemenangan dan oleh karena ilmu pedangnya memang hebat, maka patutlah ia mendapat kemenangan ini dan dianggap sebagai jago muda yang paling pandai!"

Terdengar suara tepuk tangan riuh menyambut pengumuman ini, akan tetapi tetap saja bagi ketiga orang muda yang sedang tenggelam dalam lamunan masing-masing itu, pidato ketua Go-bi-pai tidak begitu menarik perhatian.

Ciauw In masih berdebar-debar karena girang dan beberapa kali ia melirik ke arah tempat duduk Sian Kim, sedangkan Sian Kim yang memang selain tertarik oleh wajah cakap pemuda itu juga sengaja hendak menjalankan siasat mempergunakan kecantikannya untuk mencapai maksudnya, yakni membalas dendam, sedang duduk termenung memikirkan bagaimana akal yang harus digunakan selanjutnya.

Sementara itu, Bwee Hiang yang melihat dengan jelas bahwa twa-suhengnya yang ia cinta itu betul-betul telah jatuh hati kepada Sian Kim, duduk dengan wajah muram dan ia menahan-nahan kesedihan hatinya.

"Cuwi sekalian yang mulia,"

Terdengar Pek Bi Hosiang melanjutkan kata-katanya.

"Dengan kemenangan jago muda Lie Ciauw In itu, maka sudah sepatutnya kalau pinceng atas nama semua cabang persilatan yang diwakili oleh cuwi sekalian, memberi nama julukan Hoa-san Taihiap kepadanya!"

Kemudian, sekali lagi Pek Bi Hosiang menghaturkan terima kasih kepada mereka yang telah datang meramaikan pertemuan persahabatan ini dan memesan kepada semua pendekar-pendekar muda itu untuk menyampaikan hormat dan terima kasih kepada suhu-suhu mereka.

Maka, berangsur-angsur bubarlah semua tamu, kembali ke tempat masing-masing.

Ketika Ciauw In memandang ke arah Sian Kim, ia menjadi terkejut dan kecewa karena gadis itu tidak kelihatan lagi, entah telah pergi ke mana.

Ia mencari-cari dengan matanya, dan baru sadar ketika merasa tangannya disentuh orang.

Ia menengok dan ternyata Ong Su telah memegang lengannya dan berkata dengan wajah berseri.

"Suheng, kionghi! Kau telah mendapat julukan yang hebat sekali. Hoa-san Taihiap! Ah, suhu tentu akan girang sekali mendengar hal ini!"

Akan tetapi, seperti seorang yang kehilangan, mata Ciauw In masih mencari-cari dan ucapan Ong Su itu hanya diterima dengan senyum tawar saja.

"Twa-suheng, kau mencari siapakah? Dia sudah pergi dari sini, tak perlu dicari-cari lagi!"

Tiba-tiba Bwee Hiang berkata dengan ketus. Mendengar suara ini, barulah Ciauw In sadar dan dengan muka merah karena malu, ia pura-pura bertanya.

"Eh, siapa yang dicari? Aku tidak mencari siapa-siapa!"

Bwee Hiang tersenyum menyindir.

"Bagus sekali kalau tidak mencari siapa-siapa. Marilah kita pulang, suhu tentu menanti-nanti kita!"

Ciauw In terpaksa ikut mereka meninggalkan Kui-san.

Ciauw In merasa seakan-akan ia kehilangan sesuatu, akan tetapi ia malu untuk menyatakan kekecewaannya ini.

Mereka bertiga turun gunung dan melakukan perjalanan cepat menuju ke Hoa-san.

Pada keesokan harinya, ketiga murid Hoa-san-pai itu bermalam di sebuah dusun.

Bwee Hiang agaknya telah hilang marahnya dan ia mulai tertawa-tawa lagi, kembali sifat gembiranya seperti semula.

Juga Ong Su tiada hentinya membicarakan pertemuan orang-orang gagah itu, dan menyatakan kekagumannya terhadap jago-jago muda yang dianggapnya lihai.

Mereka duduk di ruang depan hotel di mana mereka bermalam dan selagi mereka asyik bicara, tiba-tiba nampak berkelebat bayangan hitam.

Ketika mereka bertiga menengok, ternyata bahwa seorang gadis berpakaian hitam telah berdiri di dekat mereka.

Gadis ini bukan lain ialah Sian Kim, dara jelita yang lihai ilmu silatnya itu!

Akan tetapi, kini wajah dara yang manis itu nampak muram, seakan-akan ia menderita kesusahan besar.

"Nona Sian Kim!"

Tak terasa pula terluncur seruan girang ini dari mulut Ciauw In.

Wajah pemuda ini berseri dan kedua matanya memancarkan cahaya gembira ketika tiba-tiba ia melihat nona yang telah merampas hatinya itu berdiri di depannya.

Kembali Bwee Hiang merasa betapa dadanya sakit melihat sikap suhengnya ini.

Sementara itu, ketika mendengar sebutan Ciauw In, tiba-tiba wajah Sian Kim menjadi merah, akan tetapi ia menahan senyumnya hingga bibirnya nampak manis sekali.

"Sam-wi yang gagah perkasa, harap suka memberi maaf jika aku mengganggu kalian,"

Kata Sian Kim sambil memberi hormat.

"Ah, tentu saja tidak mengganggu, nona. Silakan duduk! Kebetulan sekali kita bertemu di sini, sebetulnya kau hendak pergi ke manakah?"

Kata Ciauw In yang tiba-tiba menjadi peramah sekali, berbeda dengan sikap biasanya yang amat pendiam hingga kali ini Ong Su sendiri yang jujur dan tak pernah menyangka sesuatu sampai menjadi terheran dan memandang dengan melongo kepada suhengnya.

"Terima kasih,'' kata Sian Kim yang lalu mengambil tempat duduk menghadapi mereka bertiga.

"Aku memang sengaja datang menyusul kalian untuk bertemu!"

"Ada keperluan apakah kau mencari kami?"

Tiba-tiba Bwee Hiang bertanya sambil memandang tajam.

Sian Kim balas memandang kepada Bwee Hiang dan kalau saja pertemuan ini terdapat pada waktu siang hari, tentu ketiga murld dari Hoa-san itu akan melihat betapa sepasang mata Sian Kim yang indah itu mengeluarkan cahaya yang mengerikan ketika ia memandang kepada Bwee Hiang.

Cahaya kebencian yang besar, pandangan mata yang dipenuhi nafsu membunuh!

Akan tetapi Sian Kim cepat menundukkan kepala dan menjawab.

"Aku kuatir sekali bahwa kedatanganku ini tidak dikehendaki. Kalau memang betul, biarlah, aku pergi saja..."

Ucapannya ini terdengar amat mengharukan, seakan-akan ia berada dalam kesedihan besar.

"Ah, sama sekali tidak, nona. Katakanlah keperluanmu kepadaku, karena kau telah kami anggap sebagai teman sendiri, mengapa berlaku sungkan-sungkan? Kami merasa girang sekali dapat bertemu dengan kau!"

Kata Ciauw In sedangkan Ong Su yang berhati jujur itu berkata juga.

"Nona Gu, diantara sesama orang gagah tidak ada sungkan-sungkan, kalau ada kepentingan, lebih baik berterus terang. Kalau hanya ingin bertemu saja, kamipun merasa gembira dan kita bisa bercakap-cakap tentang pertandingan-pertandingan yang terjadi kemarin!"

Nampaklah perubahan pada muka Sian Kim yang menjadi girang sekali.

"Kalian memang baik sekali,"

Katanya tanpa memandang kepada Bwee Hiang.

"Sebetulnya aku datang untuk mohon bantuanmu!"

Bukan main girangnya rasa hati Ciauw ln mendengar ini.

Tidak ada hal yang akan lebih menggembirakan hatinya pada saat itu daripada mengulurkan tangan membantu nona yang diam-diam ia cinta ini!

"Aku bersedia membantumu!"

Katanya, lupa bahwa ia bukan seorang diri sehingga menyebut "aku"

Dan tidak "kami"! "Kalau memang kami kuasa membantumu, tentu saja kami suka membantu,"

Kata pula Ong Su, sama sekali tidak tahu bahwa Bwee Hiang mendengar semua percakapan ini dengan hati dingin. Sian Kim nampak ragu-ragu dan berkata perlahan.

"Betul-betulkah kalian suka membantuku?"

Agaknya ia merasa sungkan untuk melanjutkan kata-katanya sehingga Ciauw In mendesak.

"Katakanlah, nona. Kesukaran apakah yang kauhadapi?"

Ditanya demikian dengan suara yang mengandung penuh perhatian, tiba-tiba Sian Kim menangis sedih!

Air matanya mengalir keluar bagaikan banjir dan ia menggunakan sehelai saputangan warna hijau untuk menyusuti air mata itu dari kedua pipinya yang kemerah-merahan.

Ketika gadis ini mengeluarkan saputangannya itu dari balik baju bagian dada, terciumlah bau harum yang luar biasa sedapnya oleh Ciauw In dan Ong Su.

Sedangkan Bwee Hiang yang melihat betapa tiba-tiba Sian Kim menangis dengan amat sedihnya, menjadi heran dan menaruh perhatian pula.

"Cici, mengapakah kau menangis dan bersedih? Urusan apakah yang begitu menyusahkan hatimu?"

Betapapun Bwee Hiang adalah seorang wanita yang berperasaan halus, maka tentu saja melihat lain orang wanita menangis ia merasa terharu dan kasihan.

Dengan amat pandainya, Sian Kim perhebat tangisnya ketika mendengar pertanyaan ini, kemudian dengan susah-payah, dapat juga ia berkata.

"Aku memang bernasib malang... hanya mengharapkan bantuan... sam-wi yang mulia... untuk membalas sakit hatiku... yang amat besar ini..."

"Tenanglah, nona, dan ceritakanlah terus terang. Aku bersumpah akan membantu padamu sekuat tenagaku,"

Kata Ciauw In, sama sekali tidak ingat bahwa ucapannya ini melampaui batas.

Ia belum kenal baik kepada Sian Kim, belum tahu asal usulnya dan belum tahu pula urusan apakah yang gadis itu ingin ia bantu, akan tetapi ia telah berani bersumpah untuk membantunya!

Ong Su tentu saja merasa heran melihat sikap suhengnya ini, maka untuk membetulkan ucapan suhengnya yang dianggap salah dan hanya menurutkan hati iba, ia lalu menyambung.

"Ceritakanlah, nona. Setelah kami mengetahui duduknya persoalan, barulah kami akan mempertimbangkan apakah kami akan dapat membantumu!"

Dengan suara sedih yang sewajarnya dan mengharukan hati ketiga pendengarnya, Sian Kim lalu menceritakan riwayat bohong.

Ia menuturkan bahwa ia adalah puteri tunggal seorang hartawan di utara, dan bahwa semenjak kecil ia mempelajari ilmu silat dari seorang pengemis tua yang merantau dan memiliki kepandaian tinggi.

Bahkan atas kehendak suhunya, ia ikut pula merantau sampai sepuluh tahun hingga memiliki ilmu silat seperti sekarang ini, akan tetapi suhunya itu meninggal dunia dalam perantauan karena terserang penyakit jantung.

Kemudian ia pulang ke kota ayahnya dan hidup dengan tenteram, Ayahnya juga seorang jago silat yang kenamaan dan mempunyai banyak kenalan.

Di antara sahabat-sahabat ayahnya itu, terdapat tiga orang jago tua yang disebut Hopak Sam-eng atau Tiga Pendekar dari Hopak yang berilmu tinggi.

Seorang diantara Hopak Sam-eng ini mempunyai seorang putera dan pada suatu hari Hopak Sam-eng datang melamar Sian Kim untuk dijodohkan dengan pemuda itu.

Ayahnya setuju dan menerima lamaran itu, akan tetapi ia sendiri tidak suka dan menolak, hingga setelah ayahnya terpaksa membatalkan perjodohan itu, timbullah perasaan bermusuh dan sakit hati dari fihak Hopak Sam-eng.

Pada suatu hari, pemuda yang tergila-gila kepadanya itu datang menggoda hingga ia menjadi marah dan melukainya.

Hal ini membuat Hopak Sam-eng menjadi marah dan mereka bertiga datang menantang ke rumah orang tuanya.

Dalam pertempuran hebat, ayahnya terbunuh oleh mereka, sedangkan ia sendiri setelah berhasil melukai seorang di antara Hopak Sam-eng, dapat melarikan diri dan merantau.

Demikianlah, Sian Kim mengarang cerita bohong dan menceritakannya sambil menangis sedih.

"Apakah dayaku? Mereka itu lihai..."

Katanya sambil menyusut air mata.

"Dan aku tidak sanggup menghadapi mereka seorang diri saja. Telah berkali-kali aku menyerbu, akan tetapi selalu aku dipukul mundur, bahkan menerima hinaan-hinaan dari pemuda itu!"

Ia mengepal tinju dengan muka marah.

"Tadinya karena aku berhasil membalas dendam, aku ingin membunuh diri saja untuk mengakhiri penderitaan dan kekecewaanku. Kemudian aku mendengar tentang pertemuan dan pibu yang diadakan oleh fihak Go-bi-pai, maka timbul kembali harapanku. Aku sengaja datang dan ikut bertanding untuk mencari kawan yang kiranya dapat membantuku. Setelah mellhat kalian bertiga yang berkepandaian tinggi dan berbudi mulia, maka aku merasa yakin bahwa kalian sajalah yang dapat membantuku, terutama sekali kau, Lie-taihiap."

Sambil berkata demikian, tiba-tiba Sian Kim menjatuhkan dirl berlutut di depan Ciauw In!

Tentu saja Ciauw In merasa gugup sekali melihat hal ini dan dengan sentuhan halus ia memegang pundak Sian Kim untuk mengangkatnya bangun.

"Jangan begitu, nona. Tentu saja aku suka membantumu untuk melenyapkan bangsat-bangsat tua itu!"

"Nanti dulu, twa-suheng,"

Kata Bwee Hiang.

"hal ini harus kita bertiga rundingkan semasak-masaknya dulu, karena seharusnya kita kembali dulu ke Hoa-san untuk memberi laporan kepada suhu tentang tugas kita. Mengenai persoalan cici Sian Kim inipun ada lebih baik kalau kita minta izin dulu kepada suhu."

"Untuk melakukan hal yang baik tak perlu harus pulang dulu ke Hoa-san, sumoi,"

Kata Ciauw In.

"Betapapun juga, aku tetap hendak kembali dulu ke Hoa-san memberi tahu kepada suhu tentang pertempuran dan pibu itu. Barulah kita akan pikir-pikir untuk membantu cici Sian Kim."

"Akan tetapi, sumoi... Baru saja Ciauw In berkata sampai di sini, tiba-tiba Sian Kim lalu memotongnya.

"Ah, aku yang hina-dina hanya membuat kacau saja! Biarlah aku pergi saja dulu, dan hal ini kuserahkan kalian bertiga untuk mempertimbangkan. Aku telah mengajukan permohonanku, dan dikabulkan atau tidak itu hanya tergantung kepada nasibku. Aku akan berada di sebelah barat dusun ini pada besok pagi-pagi, kalau kalian kunanti-nanti sampai matahari naik tidak juga datang, maka itu kuanggap saja bahwa kalian tidak sudi membantuku. Kalau memang demikian, apa boleh buat, aku akan mengadu nyawaku dengan Hopak Sam-eng dan biarlah riwayatku yang penuh derita ini tamat di tangan mereka!"

Terdengar ia tersedu lagi lalu pergi melarikan diri ke dalam gelap.

"Nona..."

Kata Ciauw In, akan tetapi ia menahan mulutnya oleh karena ia anggap bahwa hal inilah yang terbaik. Kini ia dapat berunding dengan Bwee Hiang dan Ong Su.

"Bagaimana kau bisa berlaku kejam terhadap seorang yang minta pertolongan kita?"

Kata Ciauw In menegur sumoinya.

"Sumoi, tidak hanya sekarang, bahkan kemarin ketika kau bertanding di atas panggung dengan nona Sian Kim, kau telah bersikap yang kurang memuaskan sekali!"

Bwee Hiang bersungut-sungut dan menahan air matanya yang hendak meloncat keluar.

"Twa-suheng, kalau memang sikapku kurang baik, biarlah aku terima salah. Akan tetapi, kuharap kau tidak pergi memenuhi permintaan Sian Kim itu..."

"Mengapa?"

"Entahlah... aku kurang percaya kepadanya!"

"Kau tidak adil! Sute, coba kau bilang, apakah betul sikap ini dari sumoi kita?"

Ong Su merasa serba salah.

Pada dasar hatinya, ia juga kurang setuju dengan pendirian Bwee Hiang.

Sian Kim adalah seorang gadis yang harus dikasihani, mengapa tanpa alasan, Bwee Hiang agaknya benci kepadanya?

Akan tetapi, menyatakan perasaan ini di depan Bwee Hiang yang ia cinta, iapun tidak berani!

Karena Ong Su tidak menjawab, Bwee Hiang lalu berkata lagi sambil menetapkan hatinya agar suaranya tidak gemetar.

"Twa-suheng, selain perasaanku yang mungkin sekali keliru itu, kurasa kurang sempurna kalau kita atau kau sendiri pergi membantu Sian Kim menuntut balas kepada musuh-musuhnya."

Persoalan gadis itu adalah persoalan pribadi, soal perjodohan, maka perlu apa kita harus ikut mencampurinya?"

"Kau keliru, sumoi. Biarpun persoalan itu tadinya merupakan soal pribadi yang tidak harus kita campuri, akan tetapi setelah ketiga jago tua itu menurunkan tangan jahat membunuh mati orang yang tidak berdosa, bahkan menghina seorang gadis yang telah mereka bunuh ayahnya, maka sudah selayaknya kalau kita turun tangan!"

Bwee Hiang memandang kepada Ong Su minta pertimbangan dan bantuan.

"Bagaimana, ji-suheng? Menurut pendapatmu, kita harus pergi memberi laporan dulu kapada suhu, ataukah langsung pergi membantu Sian Kim?"

Ong Su merasa serba bingung dan tidak tahu harus menjawab bagaimana. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kemudian setelah batuk-batuk beberapa kali, terpaksa ia menjawab.

"Aku menjadi bingung... membantu orang memang perlu dan baik, akan tetapi melaporkan kepada suhu juga penting sekali..."

"Jawablah yang betul, sute, jangan bercabang dua! Kau setuju dengan keputusanku atau setuju dengan keputusan sumoi?"

Ketika Ong Su merasa ragu-ragu dan tidak dapat menjawab, hanya memandang mereka dengan bergantian, Bwee Hiang berkata gemas.

"Ji-suheng, kau benar-benar tidak mempunyai pendirian yang tetap!"

Ditegur dari kanan kiri, Ong Su makin gugup dan bingung. Ia lalu bangkit berdiri dan berkata.

"Sudahlah... lebih baik aku pergi tidur saja. Kuserahkan kepada kalian berdua untuk mengambil keputusan dan aku akan menurut saja keputusan apa yang kalian ambil!"

Lalu ia pergi memasuki kamarnya untuk tidur! Bwee Hiang dan Ciauw In saling pandang.

"Sumoi, betapapun juga, aku harus menolong Sian Kim! Mengapakah kau agaknya demikian benci kepadanya?"

"Karena... karena pandang matamu kepadanya begitu... begitu... mesra! Dan sikapnya kepadamu itu... ah..."

Tiba-tiba Bwee Hiang menutupi kedua matanya dengan tangan untuk mencegah keluarnya air mata, akan tetapi tetap saja air matanya tak dapat dibendung dan mengalir di sepanjang kedua pipinya.

Melihat sumoinya menangis, hati Ciauw In menjadi terharu.

Pemuda ini maklum apa yang terasa dalam hati gadis ini, maka sambil memegang lengan Bwee Hiang, ia berkata dengan suara gemetar.

"Sumoi, kita telah semenjak kecil berkumpul, maka baiklah aku berterus terang saja kepadamu. Dengarlah bahwa selain merasa kasihan kepada Sian Kim, aku... aku mencinta padanya... entah mengapa, hatiku amat tertarik... belum pernah terasa seperti ini dalam hatiku... aku cinta padanya, sumoi."

Makin keraslah tangis Bwee Hiang mendengar pengakuan ini.

"Aah... twa-suheng, sudah kuduga... sudah kuduga hal ini akan terjadi... dan aku... aku yang bodoh... aku..."

Ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tangisnya membuat kerongkongannya seakan-akan tersumbat.

"Aku tahu perasaan hatimu, sumoi. Maafkan aku... kau kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku harus menolong dan membantu Sian Kim membalas musuh-musuhnya, besok aku akan pergi bersama dia mencari Hopak Sam-eng..."

"Dan... dan aku bagaimana...?"

Pertanyaan ini keluar bagaikan seorang anak kecil yang hendak ditinggal pergi orang tuanya, dan hati Ciauw ln tertusuk sekali.

Ia merasa kasihan kepada sumoinya ini, akan tetapi cinta yang mengamuk dalam hatinya itu lebih besar pengaruhnya.

"Kau dan sute boleh kembali ke Hoa-san, memberi laporan kepada suhu tentang pibu di Kui-san itu. Setelah aku berhasil membantu Sian Kim, aku akan menyusul ke Hoa-san dan mengaku terus terang kepada suhu tentang perasaanku terhadap Sian Kim."

Dengan wajah pucat sekali Bwee Hiang lalu bangkit berdiri dengan tubuh lemas, lalu berkata tetap.

"Baiklah, suheng, semoga kau berbahagia."

Kemudian dengan isak tangis tertahan, gadis yang malang ini lalu lari ke kamarnya, meninggalkan Ciauw In yang termenung seorang diri di ruang depan hotel itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bwee Hiang sudah keluar dari kamarnya, demikianpun Ciauw In karena sesungguhnya kedua orang muda ini semalam suntuk tidak tidur sama sekali.

Ketika Ong Su bangun dan bertanya tentang keputusan mereka, Bwee Hiang menjawab dengan singkat.

"Twa-suheng akan pergi membantu Sian Kim, sedangkan kau dan aku kembali ke Hoa-san untuk memberi laporan kepada suhu."

"Ya, demikianlah keputusannya, sute. Kalau sudah selesai urusanku membantu nona Gu, aku akan menyusul cepat ke Hoa-san,"

Kata Ciauw In.

Ong Su tidak mau banyak bicara karena dari sikap kedua orang ini, ia maklum tentu telah terjadi pertentangan.

Terutama sekali ia melihat betapa wajah Bwee Hiang amat pucat dan masih nampak tanda-tanda bekas air mata di bawah pelupuk matanya yang merah.

Setelah berpamit, kedua orang muda ini lalu pergi melanjutkan perjalanan menuju ke Hoa-san.

Di tengah perjalanan, Ong Su berkata kepada sumoinya yang melakukan perjalanan tanpa bicara sedikitpun seperti sebuah patung hidup.

"Sumoi, agaknya terjadi perselisihan antara suheng dan kau!"

"Tidak ada perselisihan apa-apa. Twa-suheng memaksa untuk pergi membantu... perempuan itu!"

Ong Su menarik napas panjang.

"Sumoi, kau... agaknya amat membenci Sian Kim, berbeda sekali dengan suheng."

"Memang twa-suheng... cinta kepada perempaan itu!"

"Apa?"

Ong Su terheran juga karena hal ini belum pernah ia pikirkan.

"Twa-suheng mencinta Sian Kim."

Bwee Hiang mengulang.

"dan itulah sebabnya mengapa ia membantu perempuan itu. Malam tadi twa-suheng mengaku terus terang kepadaku."

Kembali gadis ini menahan isaknya. Tiba-tiba Ong Su menghentikan tindakan kakinya dan menarik napas panjang. Bwee Hiang juga berhenti dan memandang kepada pemuda itu.

"Kasihan sekali kau, sumoi..."

Katanya.

"Aku tahu akan keadaan hatimu. Kita memang senasib, menjatuhkan cinta kasih kepada orang yang tak dapat membalasnya!"

Untuk sesaat mereka saling berpandangan dan Bwee Hiang yang dapat menangkap maksud kata-kata suhengnya ini, mengulang ucapan Ciauw In yang diucapkan kepadanya malam tadi.

"Maafkan aku, suheng..."

Hanya itulah yang dapat ia ucapkan dan keduanya lalu melanjutkan perjalanan dengan membisu, tenggelam dalam lamunan masing-masing yang penuh kepahitan.

Sementara itu, dengan hati berdebar dan tergesa-gesa, Lie Ciauw In meninggalkan hotel dan keluar menuju ke jurusan barat.

Ketika tiba di pintu dusun, benar saja ia melihat bayangan Sian Kim dengan bentuk tubuhnya yang langsing itu telah menanti di situ.

Gadis itu duduk di atas sebuash batu besar dan ketika melihat ia datang, segera melompat bangun dan lari menyambut.

Mereka berdiri berhadapan, berseri gembira pada wajah mereka.

Dari sepasang mata gadis yang indah itu kelihatan dua titik air mata, akan tetapi mulutnya tersenyum girang.

"Ah, taihiap, kau betul-betul datang membantuku,"

Katanya dengan suara yang merdu dan gembira.

Ciauw In tertegun memandang.

Matanya menatap dengan kagum sekali.

Pada pagi harl ini, Sian Kim nampak lebih cantik lagi, bagaikan bidadari fajar.

Gadis jelita ini masih mengenakan pakaian berwarna hitam seluruhnya, akan tetapi pakaiannya terbuat daripada sutera halus dan yang amat menggiurkan hati Ciauw In ialah belahan baju pada bagian leher depan agak terlalu rendah hingga nampak membayang kemontokan dada gadis itu.

Pita rambutnya berwarna merah muda, demikianpun ikat pinggangnya yang melambai-lambai ke bawah.

Sepatunya juga berwarna hitam berkembang merah.

Pada rambut kepala sebelah kiri terhias dengan setangkai bunga merah yang segar dan berbau harum!

"Maafkan bahwa sute dan sumoiku tak dapat ikut membantumu, nona, karena mereka itu harus segera kembali ke Hoa-san melaporkan hasil pibu itu kepada suhu."

"Tidak apa, taihiap, dengan dikawani oleh kau seorangpun sudah cukup bagiku! Seorang Hoa-san Taihiap lebih berharga bagiku dari pada seratus orang kawan yang membantu?"

"Ah, kau terlampau melebih-lebihkan, nona."

"Selama hidupku, aku takkan lupa akan budimu ini, taihiap."

"Nona, mengapa kau berkata demikian? Bantuan belum kuberikan, dan belum tentu pula aku akan berhasil mengalahkan musuh-musuhmu. Kemanakah sekarang kita harus pergi mencari mereka?"

"Mereka itu telah lama pindah dari kota kelahiranku dan kini mereka berada di Kiang-sun-ok, kota di sebelah barat yang letaknya kurang lebih seratus li dari sini."

Kedua orang ini lalu berangkat menuju ke barat.

Sian Kim pandai sekali mengambil hati, mengajak kawannya bercakap-cakap dengan amat gembira hingga Ciauw In sebentar saja telah lupa kepada Bwee Hiang yang menimbulkan kasihan di dalam hatinya.

Ia makin terpikat kepada gadis ini dan merasa bahwa selama ini belum pernah ia menikmati kebahagiaan dan kegembiraan hidup.

Pohon-pohon dan kembang-kembang yang dilihatnya kini nampak berbeda dari biasanya, dan segala apa yang nampak mendatangkan kesedapan pada matanya.

Ia merasa seakan-akan hidup baru disamping gadis jelita ini.

Sian Kim sengaja melakukan perjalanan dengan lambat, akan tetapi hal ini tidak menjadikan keberatan bagi Ciauw In, Bahkan pemuda inipun menghendaki agar ia dapat berkumpul selama mungkin dengan kekasih hatinya ini.

Gadis baju hitam ini memang telah mempunyai banyak pengalaman dan tahu cara-cara memikat hati laki-laki.

Sedikitpun Ciauw In tak pernah menyangka bahwa dara jelita yang kini melakukan perjalanan bersama dia ini adalah seorang manusia berbahaya, seorang wanita yang seperti seekor ular berbisa yang berbahaya sekali!

la tak pernah mengira bahwa semua cerita gadis itu adalah cerita yang sengaja diputar-balikkan dari kenyataan.

Memang Sian Kim mempunyai permusuhan besar dengan Hopak Sam-eng, akan tetapi sebab-sebab permusuhan bukanlah seperti yang diceritakannya pada malam hari itu.

Untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, mari kita menengok riwayat Sian Kim, gadis cantik yang menjadi ketua dari Hek-lian-pang itu.

Ayah Sian Kim, yakni Gu Ma Ong, semenjak masih muda telah menjadi seorang perampok yang ganas dan lihai.

Berkat ilmu silatnya yang cukup tinggi, ia malang-melintang dan melakukan banyak kejahatan sehingga namanya amat terkenal di kalangan liok-lim atau rimba raya, yakni dunia orang-orang yang melakukan pekerjaan sebagai perampok dan begal.

Dalam kejahatannya, Gu Ma Ong berhasil menculik seorang gadis cantik puteri seorang pembesar dan memaksanya menjadi isterinya.

Wanita ini diajak hidup di dalam hutan di mana Gu Ma Ong mempunyai banyak kawan-kawan atau anak buahnya dan biarpun tinggal di dalam hutan, namun ia hidup dengan mewah sekali.

Akan tetapi, tentu saja isteri paksaan ini tidak dapat menikmati hidup bahagia dengan suaminya yang jahat itu, Dan setahun kemudian, nyonya muda yang bernasib malang ini meninggal dunia pada saat ia melahirkan seorang anak perempuan.

Anaknya ini kemudian dipelihara oleh Gu Ma Ong yang mengambil isteri lain lagi, dan anak inilah yang diberi nama Gu Sian Kim.

Karena memang sifatnya jahat dan kejam, Gu Ma Ong tidak memperdulikan puterinya ini sehingga hidup Sian Kim semenjak kecil amat sengsara, di bawah asuhan seorang ibu tiri yang kejam dan galak.

Kemudian ia terlihat oleh seorang pengemis tua yang bertubuh kurus kering.

Ternyata bahwa pengemis ini adalah seorang luar biasa yang memiliki ilmu silat tinggi sekali.

Melihat Sian Kim, pengemis sakti ini timbul rasa suka karena ia memang belum mempunyai murid.

Dimintanya anak itu dari Gu Ma Ong, akan tetapi sudah tentu saja Gu Ma Ong yang menjadi kepala rampok kaya raya itu tidak suka anaknya diambil murid oleh seorang pengemis.

Ia merasa terhina dan diserangnya pengemis iru.

Akan tetapi, biarpun semua anak buahnya maju mengeroyok, mereka tidak kuat menghadapi pengemis itu dan akhirnya Gu Ma Ong yang memang tidak begitu perduli lagi kepada puterinya, mengalah dan memberikan puterinya dibawa pergi oleh pengemis sakti yang berjuluk Pat-chiu-sian-kai atau Pengemis Dewa tangan Delapan itu!

Sian Kim dibawa merantau oleh Pat-chiu-sian-kai sambil diberi latihan silat tinggi.

Pada waktu itu, Sian Kim baru berusia enam tahun dan selama sepuluh tahun ia menjadi murid Pat-chiu-sian-kai yang berilmu tinggi, setelah ia menjadi dewasa, ternyata bahwa Sian Kim mewarisi kecantikan ibunya, bahkan ia lebih jelita dari pada ibunya!

Akan tetapi sayang sekali bahwa ia memiliki watak seperti ayahnya, yakni jahat dan kejam!

Pat-chiu-sian-kai merasa kecewa dan berduka sekali melihat watak muridnya ini.

Ia terlalu sayang dan cinta kepada muridnya yang cantik jelita, maka ia tidak tega untuk mencelakainya, sungguhpun ia merasa kuatir melihat tanda-tanda tentang kejahatan gadis itu.

Karena sedihnya, maka pengemis tua ini jatuh sakit dan serangan sakit jantung mengantarkannya ke alam baka.

Pada waktu itu, Sian Kim telah berusia enam belas tahun, bagaikan bunga mulai mekar, harum semerbak cantik jelita menggairahkan.

Ia telah mendapat tahu dari suhunya bahwa ia adalah anak tunggal dari Gu Ma Ong, seorang kepala berandal yang ditakuti orang Sian Kim tidak tertarik hatinya mendengar keadaan ayahnya ini, maka setelah suhunya meninggal dunia, ia merupakan seekor kuda tanpa kendali!

Mulailah ia melakukan perantauan sendiri dan ia menjadi binal benar-benar seperti seekor kuda liar!

Dengan kepandaiannya yang tinggi, ia merobohkan banyak orang gagah, dan seperti juga ayahnya, ia menganggap harta benda orang seperti milik sendiri saja.

Setiap saat apabila ia membutuhkan uang untuk biaya perjalanan, ia merampas dari siapa saja yang dijumpainya!

Ia merampok tanpa pilih bulu!

Beberapa tahun ia merantau dan sementara itu, ia menjadi makin dewasa.

Dan agaknya, sifat "mata keranjang"

Dari ayahnya menular pula kepada gadis yang makin cantik jelita ini, hingga tiap kali melihat seorang pemuda yang tampan dan cakap, hati Sian Kim merasa tertarik sekali!

Ketika ia berusia tujuh belas tahun, ia tiba di kota Kiang-sun-ok, dan karena ia kekurangan uang untuk biaya karena uangnya hasil curian beberapa hari yang lalu telah habis diobral untuk membeli pakaian-pakaian indah dan mahal serta untuk hidup secara royal, maka ia lalu mencari kurban!

Ia mendengar nama Hopak Sam-eng yang selain terkenal hartawan juga sebagai tiga orang jago ternama, maka hati mudanya yang tidak mau kalah terhadap siapapun juga itu menjadi panas.

Pada malam hari, didatangilah gedung Hopak Sam-eng ini untuk dicuri hartanya!

Akan tetapi kali ini ia membentur batu karang!

Hopak Sam-eng ternyata benar-benar gagah dan sungguhpun kalau melawan seorang demi seorang Sian Kim takkan kalah, akan tetapi setelah dikeroyok tiga, bahkan dikeroyok empat dengan seorang pemuda putera seorang diantara ketiga jago itu, ia menyerah dan tertangkap!

Akan tetapi, ia tertolong oleh pemuda itu, yakni yang bernama Liok Seng, karena pemuda ini merasa tertarik sekali melihat kecantikan maling wanita ini!

Juga Sian Kim yang mata keranjang itu jatuh hati kepadanya, sehingga akibat dari pada pertempuran ini bahkan membuat mereka menjadi sahabat baik!

Untuk berbulan-bulan Sian Kim tinggal di rumah gedung Hopak Sam-eng dan menjadi kekasih Liok Seng, hidup serba mewah dan senang, bercinta-cintaan dengan pemuda yang terkenal sebagai seorang pemuda hidung belang itu!

Hopak Sam-eng selain kaya raya dan berpengaruh, juga disegani dan ditakuti oleh penduduk Kiang-sun-ok, oleh karena mereka ini memang terkenal berwatak keras dan tinggi.

Juga mereka yang memiliki banyak tanah dan terkenal sebagai tuan-tuan tanah itu berlaku amat keras dan memeras para petani yang menjadi buruh tani mereka!

Seperti juga watak ayahnya, setelah beberapa bulan hidup dengan penuh kasih sayang dengan Liok Seng, Sian Kim mulai menjadi bosan dan ia mulai sering meninggalkan rumah untuk mulai dengan perantauannya, bahkan berani bermain gila dengan pemuda-pemuda lain yang cukup ganteng.

Hal ini tentu saja amat menyakitkan hati Liok Seng, dan sungguhpun pemuda ini bukan menjadi suami yang sah, akan tetapi Liok Seng amat mencinta Sian Kim dan tidak suka melihat kekasihnya bermain gila dengan pemuda lain.

Ia menegurnya, akan tetapi Sian Kim tidak ambil perduli hingga akhirnya keduanya bertempur!

Akan tetapi, Liok Seng bukanlah lawan Sian Kim, di dalam beberapa jurus saja Liok Seng telah dilukai pundaknya oleh pedang Sian Kim yang meninggalkan pemuda itu sambil menghinanya dengan kata-kata pedas.

Liok Seng adalah putera Liok Bu Tat, atau saudara termuda dari Hopak Sam-eng, maka tentu saja ketika mendengar hal ini, Liok Bu Tat menjadi marah sekali.

Demikian pula kedua jago Hopak itu yang bernama Liok Sui dan Liok Ban, Mereka ini merasa amat marah mendengar betapa keponakan mereka dilukai dan bahkan dihina oleh Sian Kim yang dianggap tak kenal budi.

Ketiga Hopak Sam-eng lalu mengejar Sian Kim dan menyerangnya dengan hebat, Sian Kim membela diri dan mengadakan perlawanan mati-matian, akan tetapi akhirnya ia tidak dapat menghadapi ketiga jago tua itu dan segera melarikan diri.

Ketika ketiga orang jago itu berhasil menyusulnya sehingga pertempuran itu terjadi, Sian Kim sedang berada berdua dengan seorang pemuda lain yang tampan sekali.

Kini melihat Sian Kim dapat melarikan diri, Hopak Sam-eng segera menumpahkan kemarahannya kepada pemuda itu yang lalu dibunuhnya.

Ketika Sian Kim mendengar berita bahwa kekasih barunya itu dibunuh oleh Hopak Sam-eng, ia menjadi sakit hati sekali dan menganggap ketiga orang jago tua itu sebagai musuh besar yang harus dibalas sewaktu-waktu.

Demikianlah sebetulnya peristiwa yang terjadi hingga menimbulkan permusuhan antara Sian Kim dan Hopak Sam-eng, akan tetapi yang diputar-balikkan ketika gadis ini menceritakannya kepada Ciauw In dan dua orang adik seperguruannya.

Setelah menderita kekalahan dari Hopak Sam-eng, Sian Kim lalu mencari ayahnya.

Gadis jelita yang kejam dan juga amat cerdik dan jahat ini, ketika melihat betapa ayahnya menjadi ketua dari Hek-lian-pang dan betapa ibu tirinya yang dulu amat bengis kepadanya, lalu menyerbu dan membunuh ibu tirinya!

Ayahnya marah sekali dan menyerangnya, akan tetapi Gu Ma Ong tidak dapat mengalahkan puterinya sendiri, bahkan kena dirobohkan!

Sian Kim lalu mengangkat diri sendiri sebagai kepala Hek-lian-pang yang baru dan menurunkan kedudukan ayahnya menjadi wakilnya!

Semua anak buah Hek-lian-pang tidak ada yang berani membantah oleh karena memang mereka telah menyaksikan sendiri bahwa gadis manis ini benar-benar lihai!

Mereka bahkan merasa gembira mendapatkan seorang ketua vang demikian cantik jelitanya dan semenjak Sian Kim berada di situ, banyak diantara anak buahnya yang tampan menjadi teman baiknya.

Gu Ma Ong yang melihat betapa puterinya bertukar-tukar kekasih dan hidup dengan hina sekali bagi seorang wanita, hanya dapat menarik napas panjang dan merasa menyesal sekali.

Ayah manakah yang takkan merasa berduka melihat anak perempuannya hidup seperti seorang pelacur yang memalukan sekali?

Gu Ma Ong tidak teringat akan perbuatannya sendiri dan tidak sadar bahwa anaknya itu ternyata mempunyai watak yang diwariskan olehnya.

Memang demikianlah sifat seorang manusia, betapapun jahatnya dia, akan tetapi ia tidak rela dan tidak suka melihat anaknya menjadi jahat pula.

Namun Gu Ma Ong tidak berdaya, karena ilmu kepandaiannya kalah jauh dan ia tidak berkuasa terhadap puterinya itu.

Semenjak Sian Kim menjadi ketua Hek-lian-pang, ia lalu bertukar pakaian dan selalu pakaiannya berwarna hitam.

Nama perkumpulan ini yang berarti Teratai Hitam, terasa cocok sekali olehnya dan ia merasa seakan-akan ia merupakan setangkai bunga teratai hitam, maka ia selalu berpakaian serba hitam.

Apalagi ketika para kekasihnya memuji-mujinya dan menyatakan bahwa gadis jelita ini pantas sekali mengenakan pakaian hitam hingga kulitnya yang putih bersih itu nampak makin menyolok, ia lalu tak pernah mengganti pakaiannya dengan warna lain!

Iapun lalu mengeluarkan para anggauta yang sudah tua dan mengganti anak buahnya dengan pemuda-pemuda yang tampan dan bahkan ia melatih silat kepada mereka!

Namun, tetap saja ia merasa bosan dengan segala kemewahan dan kesenangan ini.

Ia tidak tahu bahwa memang demikianlah sifat kesenangan duniawi, yakni membosankan!

Tidak tahu bahwa kebahagiaan abadi tidak terletak di dalam kesenangan duniawi.

Ia mulai merantau lagi dan hanya memimpin perkumpulannya selama setahun.

Kemudian, setelah ia kembali ke tempat itu dan mendengar bahwa ayahnya terbunuh mati oleh tiga murid Hoa-san, bahkan betapa banyak anggauta perkumpulannya terbasmi pula, ia segera mengejar ketiga murid Hoa-san itu dan selanjutnya menggunakan siasat untuk menjebak hati Ciauw In yang amat lihai untuk dapat diperalatnya!

Demikianlah riwayat singkat dari Sian Kim, gadis cantik jelita yang telah bernasil menjatuhkan hati Ciauw In.

Tentu orang akan bergidik kalau telah mengetahui riwayat gadis yang penuh kekotoran itu, akan tetapi siapa saja yang bertemu dengannya, memandang wajah yang ayu dan potongan tubuh yang menggiurkan, pasti takkan ada yang mengira bahwa dara jelita ini adalah seorang wanita yang jahat, kotor, dan kejam.

Hanya Bwee Hiang saja yang mempunyai perasaan halus hingga dapat meragukannya, akan tetapi Ciauw In tak dapat disalahkan.

Setiap orang laki-laki, baik ia masih muda maupun sudah tua, pasti tergiur melihat dara ini.

Ciauw In adalah seorang pemuda yang baru saja keluar dari tempat perguruan dan baru saja turun gunung menceburkan diri dalam dunia ramai, maka ia dapat diumpamakan sebagai seekor anak burung yang baru saja turun dari sarang dan baru belajar terbang.

Ia amat bodoh dan tidak berpengalaman sama sekali, sehingga lebih mudahlah bagi Sian Kim untuk menjalankan tipu muslihatnya, walaupun terdapat pula kesukaran bagi gadis ini dalam siasatnya menghadapi Ciauw In.

Kesukaran ini justeru timbul oleh kebodohan Ciauw In.

Kalau saja pemuda ini tidak sehijau itu, tentu ia akan dapat mengerti segala pernyataan cinta kasih Sian Kim dan tentu akan menyambutnya dengan hati girang.

Akan tetapi, Ciauw In terlalu bodoh dan malu-malu, demikianlah Sian Kim sering mengomel seorang diri, hingga biarpun pemuda itu memandangnya dengan mata kagum dan penuh perasaan cinta yang besar, namun belum pernah terlompat dari bibir pemuda ini tentang perasaannya yang nampak dari pandangan matanya itu.

Sian Kim cukup cerdik untuk tidak mempergunakan sikap yang terlalu menyolok dan kasar dan ia tetap bersikap malu-malu pula bagaikan seorang gadis, baik-baik.

Dari gerak-gerik dan pandangan matanya, ia membayangkan sejelas-jelasnya akan perasaan hatinya terhadap Ciauw In, sungguhpun ia tidak berani pula berterus terang seperti layaknya dilakukan oleh seorang gadis sopan.

Ia memang pandai bermain sandiwara sehingga Ciauw In betul-betul terpikat, menganggap bahwa Sian Kim adalah seorang gadis yatim piatu yang malang dan yang mencintainya seperti ia mencinta gadis itu hingga diam-diam Ciauw In merasa luar biasa gembira dan bahagianya.

Ia mengambil keputusan di dalam hati untuk segera mengajukan hal ini kepada suhunya dan minta orang tua itu untuk mengajukan pinangan!

Ia sendiri tidak kuasa membuka mulut menyatakan perasaan hatinya maka iapun diam saja dan hanya gerak bibir dan pandang matanya saja yang bicara dalam seribu bahasa dan yang dimengerti baik oleh Sian Kim.

Selama dalam perjalanan menuju ke Kiang-sun-ok tempat tinggal Hopak Sam-eng, Sian Kim menjaga dengan hati-hati hingga selalu tidak memperlihatkan sikap yang kurang sopan.

Mereka bermalam di sebuah hotel terbesar dengan kamar berhadapan.

Pada malam hari itu mereka bermalam di hotel "Lok-pin"

Di kota Siang-yu, sebelah timur Kiang-sun-ok.

Setelah makan malam mereka bercakap-cakap di ruang depan sampai jauh malam, lalu masuk ke kamar masing-masing untuk tidur.

Kira-kira menjelang tengah malam, Ciauw In yang masih belum tidur karena diam-diam memikirkan keadaan Sian Kim dengan hati amat beruntung, tiba-tiba mendengar suara kaki menginjak genteng hotel itu, tidak jauh di atas kamarnya.

Ia cepat mengambil pedangnya dan melompat keluar kamar dari jendelanya dan langsung melompat ke atas genteng.

Dilihatnya bayangan hitam berkelebat cepat, maka segera ia mengejar dan mengintai dari belakang.

Alangkah herannya ketika ia melihat bahwa bayangan itu adalah Sian Kim sendiri!

Ia hendak memanggil, akan tetapi timbul keinginannya hendak mengetahui dengan diam-diam apakah yang hendak dilakukan oleh kawan baru ini, maka ia lalu mengikutinya dengan diam-diam tanpa diketahui oleh Sian Kim.

Ciauw In terlalu memandang rendah kepada Sian Kim kalau ia menyangka bahwa gadis itu tidak tahu bahwa ia sedang mengikutinya, karena sesungguhnya Sian Kim sudah tahu bahwa Ciauw In berada tak jauh di belakangnya.

Gadis ini diam-diam tersenyum manis seorang diri dan berlaku seakan-akan ia tidak melihatnya.

Gadis ini terus menuju ke sebuah gedung besar, tempat seorang hartawan di kota itu.

Sesungguhnya, gadis ini telah kehabisan uang bekal dan seperti biasa hendak mencari uang dari gedung itu.

Ia maklum bahwa hal ini dapat ia lakukan dengan hati tenang, oleh karena "meminjam uang"

Seorang hartawan memang sudah biasa dilakukan oleh orang-orang kang-ouw yang kehabisan bekal di dalam perjalanan, hingga ia tak perlu merasa malu-malu kepada pemuda itu.

Bahkan ia ingin melihat bagaimana sikap Ciauw In dalam hal ini.

Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa malam itu kebetulan sekali ia akan bertemu dengan seorang penjahat lain!

Ketika ia berhenti di atas genteng rumah hartawan itu, tiba-tiba matanya yang tajam dapat melihat bayangan hitam berkelebat turun dari genteng dan menuju ke ruang dalam gedung itu.

Ia segera mengejarnya dan mengintai, tahu bahwa di lain tempat tak jauh dari situ, Ciauw In juga sedang mengintai pula!

Bayangan hitam ini adalah bayangan seorang laki-laki tinggi besar yang mengenakan pakaian serba hitam dan orang itu dengan hati-hati sekali menghampiri jendela sebuah kamar, lalu dengan goloknya membuka daun jendela dengan gerakan cepat dan cermat, tanda bahwa ia memang ahli dalam hal membongkar jendela kamar orang!

Setelah jendela terbuka, orang itu lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kuning yang panjang dari punggungnya.

Ternyata bahwa di dalam bungkusan itu terdapat beberapa batang hio (dupa) dan setelah dibakarnya, ia menaruh hio itu di dalam jendela dan meniupkan asap hio ke dalam kamar!

Ciauw In yang masih hijau itu, tidak tahu apakah maksud penjahat ini dengan perbuatannya itu, maka diam-diam iapun lalu mengintai ke dalam kamar.

Kamar itu indah dan mewah sekali, dan di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur yang kelambunya tertutup, akan tetapi sepasang sepatu kain yang tersulam indah berwarna merah membuat ia dapat menduga bahwa di dalam kelambu itu tentu berbaring seorang gadis, puteri tuan rumah yang sedang tidur!

Selain pembaringan ini, terdapat pula banyak barang-barang indah dan mahal serta yang menandakan bahwa penghuni kamar ini memang seorang wanita.

Pemuda ini berpikir heran mengapa penjahat ini membakar hio yang asapnya ditiupkan ke dalam kamar.

Kalau ia hendak mencuri, setelah membuka jendela, mengapa tidak langsung masuk saja dan mengambil barang-barang berharga?

Akan tetapi, Sian Kim tahu dengan baik apa artinya perbuatan itu, karena dengan marah sekali ia lalu membentak halus.

"Penjahat cabul, jangan berani main gila di depan nonamu!"

Sambil berkata demikian, gadis ini melompat keluar dari tempatnya mengintai.

Penjahat itu terkejut dan segera melompat ke atas genteng, ketika mendapat kenyataan bahwa perbuatannya ketahuan orang.

Akan tetapi Sian Kim mengejar dengan lompatan yang jauh lebih cepat daripada penjahat itu hingga ia mendahuluinya mencegat di atas genteng.

Sementara itu, Ciauw In juga menyusul dan mengintai dengan diam-diam.

Sementara itu, bukan main terkejutnya penjahat tinggi besar itu ketika melihat betapa wanita yang menegurnya tadi kini tahu-tahu telah berada dihadapannya, dan kekagetannya ini berubah menjadi ketakutan setelah ia memandang kepada Sian Kim.

(Lanjut ke

Jilid 04) Pendekar Dari Hoasan/Hoasan Tayhiap (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Kau...? Kau... di... sini...?"

Tanyanya gagap.

"Penjahat cabul tukang petik bunga! Setelah bertemu dengan aku jangan harap mendapat ampun!"

Teriak Sian Kim memotong ucapannya dan langsung pedangnya menyerang. Penjahat itu dengan tubuh gemetar terpaksa menangkis dengan goloknya dan suaranya menggigil ketika ia berkata pula.

"Ampunkan aku... ampunkan... Hek..."

Akan tetapi ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, oleh karena pedang Sian Kim telah menyambar dan tepat sekali menabas batang lehernya hingga batang leher penjahat itu hampir putus!

Ia tak sempat mengeluarkan teriakan dan tubuhnya roboh berdarah di atas genteng!

Ciauw In merasa ngeri dan terkejut sekali, maka ia tak dapat pula menahan hatinya dan segera melompat keluar.

"Nona, mengapa kau tidak mau ampunkan dia?"

Sian Kim pura-pura baru melihat Ciauw In, maka dengan membuka mata lebar-lebar ia berkata.

"Eh, eh... taihiap, mengapa pula tahu-tahu kau telah berada di sini?"

Ditanya demikian Ciauw In menjadi malu sendiri dan menjawab sejujurnya.

"Aku tak dapat tidur dan melihat kau keluar, akupun menyusul karena ingin tahu apakah yang hendak kau lakukan pada waktu seperti ini. Mengapa kau bunuh penjahat ini sedangkan ia belum melakukan kejahatan apa-apa? Dan apakah yang ia lakukan dengan pembakaran hio itu?"

Diam-diam Sian Kim merasa geli hatinya melihat kebodohan Ciauw In dan tiba-tiba timbul keinginannya untuk mencoba keteguhan hati pemuda ini.

"Ia adalah seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga),"

Katanya. Ciauw In benar-benar belum pernah mendengar akan hal ini, maka ia bertanya.

"Jai-hwa-cat? Apakah maksudnya sebutan ini? Mengapa seorang penjahat memetik bunga? Bunga apakah?"

Merahlah muka Sian Kim mendengar pertanyaan ini dan ia lalu menundukkan kepala dengan bibir tersenyum malu-malu dan mengerling dengan matanya yang tajam, membuat aksi seakan-akan seorang gadis mendengar kata-kata yang membuatnya merasa malu sekali!

"Taihiap, benar-benarkah kau belum pernah mendengar tentang hal ini?"

Ciauw In menggeleng kepala.

"Kau jelaskanlah, nona. Kalau tidak, selamanya aku akan merasa menyesal mengapa kau begitu kejam membunuh seorang yang belum diketahui kedosaannya."

"Taihiap, ketahuilah, hio yang dibakarnya tadi mempunyai pengaruh memabokkan orang yang sedang tidur. Kalau hio itu asapnya memenuhi kamar, orang yang tidur di dalamnya takkan dapat mendengar sesuatu ataupun merasa sesuatu karena ia telah tidur pulas sekali bagaikan pingsan!"

Ciauw In mengangguk-angguk.

"Tentu saja seorang maling suka mempergunakan itu agar mudah baginya mengambil barang-barang penghuni kamar."

"Kau keliru, taihiap. Penjahat hina ini tidak bermaksud mengambil barang-barang berharga, akan tetapi bermaksud memetik bunga."

"Apa maksudmu?"

"Aduh, sukar sekali bagiku untuk memberitahukan hal ini, taihiap. Bagaimanakah aku harus menceritakannya?"

Kemudian gadis yang cantik ini menggigit-gigit bibir dan tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran bagus.

"Kau hendak tahu maksudnya? Baiklah, mari kau ikut aku taihiap!"

Setelah berkata demikian, Sian Kim lalu melompat turun dari genteng, diikuti oleh Ciauw In yang terheran-heran.

Gadis itu melompat ke depan jendela kamar yang dibongkar penjahat tadi, dan setelah melihat Ciauw In melompat turun pula, ia lalu memberi tanda agar pemuda itu mengikutinya masuk ke dalam kamar melalui jendela.

Ciauw Ia mencium bau harum sekali di dalam kamar itu hingga hatinya berdebar karena maklum bahwa ia telah memasuki kamar gadis.

Ia merasa malu sekali, akan tetapi oleh karena hendak melihat apakah yang akan dilakukan oleh Sian Kim, ia mendekati gadis itu.

Sian Kim lalu menghampiri kelambu yang tertutup sambil memberi tanda kepada Ciauw ln yang mendekatinya pula.

Sian Kim lalu mengunakan kedua tangannya membuka kelambu itu dengan serentak dan nampaklah tubuh seorang gadis rebah telentang di atas pembaringan dan dalam keadaan tidur nyenyak.

Gadis yang sedang berbaring telentang itu cantik manis dan di dalam tidurnya tersenyum hingga menimbulkan pemandangan yang amat menggairahkan, apalagi karena dalam ketidaksadarannya, pakaiannya amat kusut dan tidak karuan letaknya.

Ciauw In memandang kepada Sian Kim dengan terkejut dan heran, karena ia tidak mengerti apakah maksud gadis itu membuka kelambu orang.

Ketika Sian Kim memandangnya dan melihat sinar kebodohan di wajah Ciauw In serta matanya yang mengandung penuh pertanyaan, lalu tertawa kecil dan berkata.

"Taihiap, inilah kembang yang kumaksudkan tadi."

Ciauw In menjadi bengong karena masih belum mengerti, maka sambil menahan geli hatinya, Sian Kim berkata lagi.

"Kembang yang begini indah mengharum, siapa yang tak ingin memetik? Apakah kau juga tak ingin memetiknya, taihiap?"

Barulah sekarang Ciauw In mengerti akan maksud sebutan penjahat pemetik bunga tadi, maka wajahnya tiba-tiba menjadi pucat dan tanpa berkata sesuatu ia lalu melesat dari kamar itu!

Sian Kim juga keluar dari kamar setelah tangannya menyambar kantung uang emas yang berada di atas meja dekat pembaringan.

Ia mengejar Ciauw In yang nampaknya marah.

"Taihiap, tunggu dulu,"

Katanya dan terpaksa Ciauw In menahan larinya yang cepat.

"Mengapa kau cemberut, apakah kau marah kepadaku?"

Ciauw In memandang dan di dalam hati ia mengaku bahwa ia tak dapat marah terhadap gadis ini, maka ia menggeleng kepala dan berkata.

"Aku merasa sebal mendengar kata-katamu tadi dan kalau kau tidak telah membunuh bajingan itu, tentu aku yang akan membunuhnya! Sekarang aku mengerti mengapa kau membunuh dia."

"Jadi kau tidak menganggap aku kejam lagi?"

"Tidak, tidak! Hukuman itu sudah pantas bagi seorang jahat seperti dia. Akan tetapi aku tidak mengerti mengapa penjahat itu agaknya kenal kepadamu dan apakah artinya sebutannya kepadamu tadi?"

"Sebutan bagaimana?"

Tanya Sian Kim dengan hati berdebar gelisah.

"Aku tadi mendengar ia hendak menyebutmu dengan sebuah kata-kata Hek (hitam). Apakah artinya itu?"

"Taihiap, kau benar-benar bermata tajam dan bertelinga tajam pula. Memang, sesungguhnya aku harus mengaku sejak kemarin kepadamu. Ketahuilah bahwa dalam perantauanku yang sudah-sudah. banyak aku membinasakan para penjahat sehingga namaku agak terkenal diantara mereka dan karena aku memang paling suka berpakaian serba hitam, maka mereka menyebutku Hek-lian-niocu (Nona Teratai Hitam)."

Ciauw In mengangguk-angguk dan tanpa disengaja mulutnya berkata perlahan.

"Memang kau... cantik sekali memakai pakaian hitam."

Sebetulnya Sian Kim sudah cukup mendengar ucapan ini, akan tetapi ia pura-pura tidak dengar dan bertanya mendesak.

"Apa katamu taihiap?"

Merahlah wajah Ciauw In mendengar pertanyaan ini dan ia lalu berkata lagi.

"Sesungguhnya kau... pantas mengenakan pakaian serba hitam."

"Benarkah...?"

Sambil tersenyum manis Sian Kim melirik.

"Nona, ada satu hal lagi yang masih belum kuketahui, yakni mengapakah kau malam-malam meninggalkan kamar dan pergi ke gedung itu?"

"Untuk mengambil ini!"

Kata Sian Kim dengan lagak centil dan tersenyum-senyum sambil mengangkat kantung yang tadi diambilnya dari kamar gadis itu.

"Apakah itu?"

Sian Kim tidak menjawab, hanya membuka kantung itu dan memperlihatkan isinya, yakni sejumlah uang perak dal emas.

"Eh, eh kau... kau mencuri uang itu?"

"Hush, jangan kau bilang mencuri, taihiap. Lebih baik kau menggunakan istilah kang-ouw, yakni meminjam untuk biaya perjalanan."

Ketika melihat Ciauw In agaknya kurang setuju, ia segera menyambung.

"Hal ini bukanlah hal yang amat penting dan tak perlu disusahkan, taihiap, lagi pula, bukankah aku telah menolong gadis itu dari satu bahaya yang melebihi hebatnya daripada maut? Sudah sepantasnya kalau ia memberi hadiah uang tak berapa banyaknya ini kepadaku!"

Ia lalu tertawa dan suara ketawanya demikian halus dan gembira sehingga mau tidak mau Ciauw In juga ikut tertawa.

"Kau benar-benar aneh dan... nakal, nona,"

Katanya.

Pada saat itu mereka telah tiba di depan hotel dan keduanya lalu masuk kembali ke dalam hotel melalui genteng dan sebelum mereka kembali ke kamar masing-masing, Sian Kim memandang dengan mata penuh daya memikat.

Akan tetapi Ciauw In hanya berkata.

"Nona, kuharap kau tidak menyebutku taihiap lagi. Kita telah menjadi sahabat baik dan tidak enak kalau kau memanggilku orang yang baru berkenalan saja, kau membuat aku menjadi sungkan."

Ucapan ini saja sudah merupakan kemenangan setindak bagi Sian Kim, maka sambil memandang dengan muka semanis-manisnya, ia berkata dan tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu, biarlah aku menyebutmu twako (kakak) saja. Nah, selamat malam dan selamat bermimpi, Lie-twako!"

Setelah berkata demikian, sambil berlari-lari dan tertawa-tawa kecil ia memasuki kamarnya dan sebelum menutup pintu kamar, kembali ia mengerling ke arah Ciauw In dengan penuh arti.

Ciauw la memasuki kamarnya sendiri dan setelah mengganti pakaian, ia merebahkan diri di atas pembaringan dan benar saja, malam itu ia bermimpi melihat kamar gadis hartawan yang dimasukinya tadi, akan tetapi yang rebah di atas pembaringan bukanlah gadis itu, melainkan Sian Kim!

Sian Kim dengan memakai baju pengantin dan ia sendiri memasuki kamar dalam pakaian mempelai laki-laki!

Sama sekali ia tidak tahu bahwa penjahat yang mendatangi gedung itu dan yang telah dibunuh oleh Sian Kim, sebenarnya adalah seorang bekas anak buah Hek-lian-pang, bahkan pernah pula menjadi kekasih Sian Kim!

Oleh karena inilah maka penjahat tadi merasa takut dan terkejut melihat Sian Kim muncul, karena gadis baju hitam ini selalu mengancam kepada setiap laki-laki kekasihnya untuk dibunuh apabila berani-bermain dengan wanita lain!

Semenjak peristiwa malam itu, sikap Sian Kim terhadap Ciauw In makin berani dan makin menggiurkan hati Ciauw In.

Gadis ini selalu menyebutnya "Lie-twako"

Dengan suara yang mempunyai nada istimewa halus dan merdunya, panggilan yang hanya dapat diucapkan oleh mulut seorang kekasih yang tercinta.

Perjalanan mereka pada keesokan harinya lebih menggembirakan dan kata-kata yang dikeluarkan di antara mereka makin mesra, juga lirikan mata masing-masing makin penuh arti dan perasaan.

Ketika mereka tiba dl kota Kiang-sun-ok, dengan mudah saja mereka mencari gedung tempat tinggal Hopak Sam-eng.

Untuk membuat Ciauw In percaya, dengan sengaja Sian Kim mencari keterangan kepada pelayan hotel di mana tempat tinggal Hopak Sam-eng, pada hal tentu saja ia tahu di mana letak gedung itu, oleh karena sudah berbulan-bulan ia tinggal di dalam gedung itu sebagai kekasih Liok Seng.

Ciauw In mengajak Sian Kim untuk segera mendatangi musuh-musuh besar itu dan membuat perhitungan, akan tetapi Sian Kim menolak dan berkata.

"Lie-twako, tak perlu kita tergesa-gesa. Hopak Sam-eng merupakan tritunggal yang lihai sekali, ditambah pula dengan bangsat muda Liok Seng itu, mereka benar-benar merupakan lawan tangguh. Kalau kita datang terang-terangan waktu siang dan menghadapi mereka aku kuatir kalau-kalau kita akan gagal dan tak berhasil merobohkan mereka. Lebih baik kita datang menyerbu di waktu malam dan menyerang mereka selagi mereka tidak bersedia."

Ciauw In tidak setuju dengan pendapat ini dan sebetulnya Sian Kim hanya mengeluarkan ucapan ini untuk membakar hatinya saja.

"Nona, hal seperti itu tidak layak dilakukan oleh orang-orang gagah. Lebih baik kita datang secara berterang, dan betapapun juga, kau jangan kuatir. Aku akan membantumu sekuat tenaga, biarpun aku harus berkurban jiwa!"

"Terima kasih, Lie-twako, kau memang seorang yang berhati mulia. Kalau begitu, biarlah aku mengirim surat tantangan kepada mereka itu!"

Sebelum Ciauw In menjawab, Sian Kim lalu menulis sebuah surat dan memberikan itu kepada pelayan hotel sambil memberi hadiah beberapa potong uang perak.

"Berikan surat ini kepada Hopak Sam-eng!"

Perintahnya.

Pelayan itu merasa gembira sekali oleh karena hadiah yang ia terima untuk tugas itu jumlahnya lebih besar daripada gajinya sebulan di hotel itu!

Ia membungkuk-bungkuk menerima surat sambil menghaturkan terima kasihnya, lalu pergi dengan cepat untuk menyampaikan surat itu kepada Hopak Sam-eng yang tinggal di sebelah utara, di dalam sebuah gedung yang mempunyai pekarangan amat luasnya.

Setelah beberapa lama, pelayan itu datang kembali dengan muka pucat dan datang-datang ia menuturkan pengalamannya dengan suara masih diliputi ketakutan.

"Aduh, siocia, hampir saja aku tak dapat pulang! Liok toaya yang menerima suratmu menjadi marah-marah dan memaki-maki kalang kabut. Bahkan hampir saja ia memukulku karena dikatakan berani membawa surat itu kepadanya, kalau saja tidak ada siauwya yang menghalangi kehendaknya. Ia terus memaki-maki dan akhirnya menyatakan bahwa besok jam delapan ia menanti siocia di depan rumahnya!"

Sian Kim tersenyum saja mendengar ini dan menyuruh pelayan itu pergi.

"Lie-twako, mereka telah bersiap sedia dan selanjutnya aku yang bodoh hanya mengharapkan bantuanmu."

"Jangan kuatir, nona. Aku akan membelamu terhadap mereka,"

Jawab Ciauw In dengan tenang.

Pada keesokan harinya, setelah makan pagi, Ciauw In dan Sian Kim berangkat menuju ke rumah Hopak Sam-eng.

Dari jauh mereka telah melihat empat orang berdiri di depan rumah besar itu sambil bertolak pinggang dan memandang ke arah Sian Kim dengan mata menyatakan kemarahan besar.

Sian Kim dari jauh menunjuk mereka dan memperkernalkan mereka kepada Ciauw In.

"Twako, mereka itu adalah Liok Sui, Liok Ban dan Liok Bu Tat, Hopak Sam-eng yang lengkap. Sedangkan orang muda itu adalah bajingan yang telah menghinaku, yang bernama Liok Seng, putera dari Liok Bu Tat."

Ciauw In memandang dengan penuh perhatian.

Ketiga jago dari Hopak itu semua bertubuh tinggi besar dan berwajah keren dan galak sekali.

Jelas terlihat bahwa mereka itu memiliki tenaga yang amat kuat.

Liok Sui dan Liok Ban memegang sebatang toya sedangkan Liok Bu Tat membawa pedang yang tergantung di pinggangnya.

Liok Seng adalah seorang muda yang berwajah tampan dan berpakaian merah, sikapnya lemah lembut, akan tetapi sepasang matanya galak seperti ayahnya.

Begitu mereka tiba di depan Hopak Sam-eng, Liok Bu Tat menuding kepada Sian Kim dan membentak sambil tersenyum sindir.

"Bagus, Gu Sian Kim! Kau datang mengantar nyawamu!"

Juga Liok Sui dan Liok Ban memandang dengan marah, bahkan Liok Sui, saudara tertua dari Hopak Sam-eng yang terkenal berwatak keras dan galak, segera memaki.

"Perempuan rendah! Agaknya bebarapa kali hajaran dari kami itu masih belum membuat kau kapok! Kini kau datang lagi hendak mengacau, maka sudah sepatutnya kali ini kau dibikin mampus!"

Sementara itu, Liok Seng ketika melihat betapa bekas kekasihnya ini nampak makin jelita saja, menjadi panas hati ketika melihat Sian Kim datang bersama seorang pemuda yang tampan.

Ia mencabut pedangnya dengan marah berkata.

"Perempuan sundal! Kau datang membawa kekasihmu yang baru?"

Sambil berkata demikian, ia melangkah maju dan menudingkan pedangnya ke arah muka Ciauw In.

Ciauw In semenjak tadi menahan-nahan marahnya, akan tetapi ketika mendengar ucapan Liok Seng ini, ia tidak tahan lagi dan segera membentak.

"Tutup mulutmu yang kotor!"

"Ha, ha, ha!"

Liok Seng tertawa.

"Bagus sekali, Sian Kim. Kekasihmu ini benar-benar berani membelamu dan bahkan agaknya seorarg yang sopan-santun sekali!"

"Ini adalah Lie twako atau Hoa-san Taihiap, seorang pemuda sopan dan mulia, tidak seperti kau, bajingan rendah Sian Kim balas memaki, akan tetapi Liok Seng yang dimakinya hanya tertawa bergelak dan berkata.

"Bagus, bagus! Kau memang pandai memilih kekasih, akan tetapi sebentar saja kau tentu akan merasa bosan pula kepada kekasih sopan ini!"

"Bangsat bermulut busuk! Kalau kau tidak berhenti memaki, akan kupukul mulutmu yang jahat!"

Kembali Ciauw In membentak dengan marah sekali. Kini Liok Seng maju dua langkah dan menghadapi Ciauw In sambil menggerak-gerakkan badannya.

"Kau disebut Hoa-san Taihiap? Ha, jangan kau menjadi sombong karena bisa menjadi kekasih perempuan sundal ini, sobat! Kau tahu, sebelum kau kenal padanya, akulah yang lebih dulu menjadi sahabatnya yang baik sekali. Bukan hanya kau yang dapat memiliki perempuan ini! Ha, ha, ha, karena itu jangan kau berlagak sombong."

"Bangsat bermulut keji!"

Sian Kim berteriak sambil mencabut pedangnya.

"Lie-twako, kau jagalah tiga orang tua bangka ini, biar aku memberi hajaran kepada anjing ini!"

Setelah berkata demikian, Sian Kim lalu melompat dengan pedangnya, menyerang Liok Seng yang segera menangkis.

Hopak Sam-eng melihat betapa Liok Seng diserang oleh Sian Kim, maklum bahwa orang muda itu bukanlah tandingan Sian Kim, maka mereka segera menggerakkan senjata masing-masing dan melompat untuk menghadapi Sian kim, akan tetapi tiba-tiba mereka melihat cahaya pedang berkelebat dan tahu-tahu pemuda yang disebut Hoa-san Taihiap itu telah menghadang di depan mereka dengan pedang di tangan!

"Ha, ha, ha!

Agaknya kaupun ingin mampus!"

Kata Liok Sui yang segera menyerang dengan toyanya.

Serangan ini hebat sekali datangnya karena ia ingin sekali pukul membikin roboh lawan ini atau setidaknya ingin mendesaknya agar supaya kedua adiknya dapat membantu Liok Seng yang didesak oleh Sian Kim.

Serangan toya ini adalah gerak tipu Ouw-liong-chut-tong atau Naga Hitam Keluar Gua, sebuah gerakan dari cabang persilatan Siauw-lim-si.

Toyanya menyabet pinggang dan ujung yang dipegangnya siap untuk dibalikkan dan memukul dada apabila sabetan itu dapat ditangkis atau dielakkan!

Sementera itu, Liok Ban dan Liok Bu Tat maklum bahwa kakak mereka itu cukup kuat menghadapi pemuda itu, maka mereka tidak bantu mengeroyok, melainkan segera melompat untuk menerjang Sian Kim.

Akan tetapi, baik Liok Sui, maupun kedua orang adiknya itu, menjadi terkejut sekali ketika tiba-tiba tubuh Ciauw In berkelebat dan lenyap dari depan Liok Sui dan sekaligus ia telah memutar pedangnya di depan Liok Ban dan Liok Bu Tat!

Gerakan Ciauw In ini cepat sekali hingga ketiga orang she Liok itu menjadi tercengang.

Ternyata bahwa Ciauw In benar-benar memenuhi permintaan dan dapat menahan tiga jago Hopak itu!

Mereka menjadi marah sekali dan maklum pula bahwa pemuda ini tidak boleh dipandang ringan, maka sekaligus mereka lalu maju menyerang dengan hebat dari tiga jurusan!

Ketiga orang jago Hopak ini memang pernah mempelajari ilmu silat Siauw-lim-si dan juga ilmu silat Bu-tong-pai, maka kepandaian mereka cukup tangguh dan kuat.

Akan tetapi, menghadapi Ciauw In mereka kecele sekali karena ternyata bahwa setelah pemuda itu mainkan ilmu pedangnya, pedang di tangan pemuda itu seakan-akan berubah menjadi puluhan batang dan yang sekaligus dapat menghadapi mereka dengan ganasnya.

Inilah kehebatan Hoa-san kiam-hwat yang ketika dimainkan di puncak Kui-san telah membikin kagum banyak jago-jago silat dari seluruh cabang persilatan!

Sementara itu, Liok Seng yang didesak hebat oleh Sian Kim, merasa sibuk sekali.

Ia mencoba untuk mempertahankan diri dengan pedangnya sambil mengharap-harap datangnya ayah atau kedua adiknya untuk membantu.

Akan tetapi, jangankan hendak membantunya, baru membela diri mereka tendiri dari sambaran-sambaran pedang Ciauw In saja mereka telah merasa repot sekali!

Telah dua kali Liok Seng mendapat tusukan yang menyerempet pada pundak dan pahanya hingga pakaian di bagian itu telah penuh darah.

Ia menjadi ketakutan dan gelisah sekali, maka tanpa malu-malu ia lalu berseru.

"Ayah... pek-hu... tolonglah...!"

Sian Kim tertawa bergelak yang tentu akan membuat Ciauw ln merasa serem sekali kalau saja ia tidak sedang mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi tiga jago Hopak yang kosen itu.

"Liok Seng, kau boleh merengek-rengek minta tolong, ha, ha, ha, akan tetapi, sekarang pasti kau akan mampus di tanganku!"

Sambil berkata demikian, Sian Kim memperhebat gerakan pedangnya, melancarkan serangan-serangan maut ke arah Liok Seng!

"Sian Kim...

ingatlah...

kau tahu bahwa aku mencintaimu!

Tegakah kau membunuhku yang pernah pula kau cinta...?"

Akan tetapi oleh karena kuatir kalau ucapan Liok Seng ini terdengar oleh Ciauw In, Sian Kim menjawab ucapan ini dengan tusukan-tusukan yang lebih hebat pula.

Tentu saja kepandaian Sian Kim yang jauh lebih tinggi ini, ditambah oleh nafsunya membunuh, membuat Liok Seng tak berdaya lagi dan ketika pedang di tangan Sian Kim dengan tepat sekali menusuk dan menembusi dadanya, ia memekik ngeri dan roboh, terus tewas pada saat itu juga!

Ketiga jago Hopak mendengar pekik dan melihat betapa anak muda itu roboh dan tewas di tangan Sian Kim, menjadi marah dan segera mengerahkan seluruh tenaga untuk mengalahkan Ciauw In.

Liok Sui dan Liok Ban mainkan toya mereka dengan cepat hingga kedua batang toya itu seakan-akan merupakan dua ekor ular besar yang hidup dan bergulung-gulung hendak menelan tubuh Ciauw In, sedangkan Liok Bu Tat yang merasa marah dan sedih melihat putera tunggalnya binasa, segera memutar-mutar pedangnya, mencari kesempatan untuk meninggalkan Ciauw In dan menerjang Sian Kim.

Akan tetapi, Ciauw In yang tahu akan hal lni, segera menjaga dengan pedangnya dan serangan-serangan balasannya yang cukup cepat itu membuat Liok Bu Tat tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang Sian Kim.

Kemudian, ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mendesak Ciauw In, oleh karena ia pikir lebih baik mengalahkan pemuda lihai ini dulu sebelum mengeroyok Sian Kim.

Hopak Sam-eng adalah jago-jago golongan tua yang selain bertenaga besar dan berkepandaian tinggi, juga telah mempunyai banyak sekali pengalaman pertempuran, maka kini karena mereka bertempur secara nekad dan mati-matian, maka desakan mereka luar biasa hebatnya sehingga sibuk juga bagi Ciauw In untuk mengalahkan mereka.

Terpaksa ia mainkan ilmu pedang Hoa-san kiam-hwat sebaik-baiknya, mengeluarkan tipu-tipu yang terlihai dari ilmu pedang itu.

Pedangnya terputar cepat dan tubuhnya tertutup sama sekali oleh sinar pedangnya yang putih dan berkilauan cahayanya.

Sementara itu, aneh sekali, Sian Kim setelah berhasil membunuh Liok Seng, lalu duduk di bawah pohon, menonton pertempuran yang sedang berjalan itu dan sama sekali tidak bermaksud membantu Ciauw In!

Memang aneh bagi ketiga jago Hopak melihat hal ini, sungguhpun mereka merasa lega, karena kalau Sian Kim maju pula membantu Ciauw In, mereka pasti akan roboh dalam waktu singkat!

Adapun Ciauw In tidak merasa menyesal melihat hal ini oleh karena ia memang hendak memperlihatkan kepandaian dan pembelaannya kepada gadis yang dicintainya itu.

Sebetulnya, hal ini memang disengaja oleh Sian Kim.

Kalau seandainya Ciauw In terbinasa dalam pertempuran ini, berarti ia akan kehilangan seorang musuh yang amat tangguh dan ditakuti hingga selanjutnya ia akan mudah menghadapi Bwee Hiang dan Ong Su.

Juga sebetulnya ia tidak mempunyai permusuhan besar dengan Hopak Sam-eng, karena dibunuhnya kekasihnya dulu itupun kini telah merupakan hal yang hampir terlupa olehnya.

Kini pertempuran terjadi dengan benar-benar seru dan ramai.

Biarpun ilmu pedang Ciauw In benar-benar hebat, namun tandingan kali ini merupakan tandingan yang terhebat dan terkuat baginya.

Pemuda ini belum memiliki cukup pengalaman dalam pertempuran menghadapi musuh-musuh tangguh dan ketiga orang musuhnya telah memiliki kepandaian tinggi, Baik lweekangnya maupun gerakan ilmu toya dan pedangnya kuat sekali.

Pemuda itu diam-diam mengeluh dan tidak heranlah ia mengapa Sian Kim yang lihai tidak dapat mengalahkan mereka ini.

Juga pengeroyokan mereka dilakukan dengan teratur sekali.

Kedudukan mereka merupakan segi tiga yang bergerak hidup, karena tiap kali seorang di antara mereka mengubah kedudukan, dua yang lainnya selalu cepat mengatur kedudukan masing-masing hingga selalu mereka merupakan segi tiga yang mengurungkan secara rapat sekali.

Liok Sui dan Liok Ban yang memegang toya selalu berusaha menyerang dari jarak jauh, sedangkan Liok Bu Tat yang merasa sakit hati dan nekad karena kematian puteranya itu, menyerang dari jarak dekat dengan mendapat perlindungan dan bantuan kedua orang kakaknya.

Diserang secara begini, sibuk juga Ciauw In menghadapi mereka.

Telah ia keluarkan seluruh kepandaiannya dan hanya dengan mengandalkan ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang lebih tinggi tingkatnya dari ketiga orang lawannya, barulah ia dapat menjaga dan tidak dapat dirobohkan, sungguhpun ia merasa amat lelah karena menghadapi tiga senjata yang menyerangnya secara bergantian dan bertubi-tubi.

Ciauw In mulai mencari siasat.

Diantara ketiga lawannya, yang paling dekat dengannya dan mudah dicapai hanyalah Liok Bu Tat seorang.

Ia maklum bahwa mereka bertiga itu saling membantu dan saling menjaga hingga kalau ia menyerang seorang, maka dua orang yang lain lalu serentak menyerangnya untuk menggagalkan serangannya kepada orang pertama.

Ia dapat memperhitungkan bahwa kalau ia terus menerus menjaga diri, ia akan kalah karena tentu ia akan kehabisan tenaga.

Maka ia lalu mengambil keputusan nekad untuk mencari kemenangan.

Setelah beberapa kali memperhatikan cara serangan mereka, akhirnya tibalah kesempatan itu.

Pada saat itu, pedang Liok Bu Tat menusuk dadanya dari depan, sedangkan toya di tangan Liok Sui menyerampang kakinya, toya dari Liok Ban menghantam ke arah belakang kepalanya!

Melihat kedudukan mereka ketika melakukan penyerangan ini, Ciauw In cepat mengambil keputusan nekad.

Ia menangkis pedang Liok Bu Tat dengan menggetarkan pedangnya, lalu membalas dengan tusukan sambil melompat ke atas untuk menghindarkan diri dari serampangan toya Liok Sui.

Adapun pada saat itu, toya Liok Ban telah menghantam ke arah belakang kepalanya.

Kalau ia harus menangkis atau mengelak kemplangan toya terpaksa ia harus menarik kembali serangannya terhadap Liok Bu Tat dan ia tidak mau melakukan hal ini.

Sebaliknya, ia lalu miringkan kepalanya dan menerima kemplangan toya itu dengan bahu kirinya pada pangkal lengan yang berdaging sambil mengerahkan lweekangnya!

Ia memperhitungkan dengan cepat dan cermat sehingga ketika tusukan pedangnya pada Liok Bu Tat dapat dielakkan oleh lawan dan toya Liok Ban menghantam bahunya dengan keras, tubuhnya terlempar ke arah Liok Bu Tat dengan tepat sekali dan ia lalu menggerakkan pedangnya, meminjam tenaga dorongan toya yang menghantam bahunya itu untuk menubruk Liok Bu Tat yang sama sekali tidak menyangka akan hal ini!

Hampir berbareng terjadinya hal itu, yakni ketika toya mengemplang bahunya, tubuhnya lalu terpelanting dan sesaat kemudian pedangnya berhasil menusuk leher Liok Bu Tat yang roboh mandi darah dan tewas di saat itu juga!

Akan tetatpi, Ciauw In merasa betapa bahunya menjadi sakit dan linu sehingga tangan kirinya menjadi kaku dan sukar digerakkan lagi!

Akan tetapi ia telah mendapat hati karena berhasil merobohkan Liok Bu Tat, maka ia lalu maju kembali dan memutar pedangnya secara hebat dan ganas.

Sebaliknya, Liok Ban yang tadinya merasa girang karena berhasil menghantam bahu lawan dengan toya, menjadi terkejut sekali melihat betapa pemuda itu seakan-akan tidak merasa dan tidak terluka sama-sekali, Padahal kemplangan toyanya tadi cukup keras untuk menghancurkan batu karang!

Ia hanya merasa betapa toyanya membal kembali seakan-akan memukul karet.

Dan lebih terkejut lagi ketika ia melihat betapa hasil kemplangannya ini bahkan dipergunakan oleh pemuda lihai itu untuk menewaskan adiknya!

Juga Liok Sui merasa kaget dan karena ini, kedua saudara she Liok itu menjadi kacau permainan toyanya.

Tanpa adanya Liok Bu Tat yang merupakan penyerang dekat dari bagian depan, maka permainan mereka menjadi kacau balau dan dengan mudah Ciauw In akhirnya berhasil mempergunakan gerak tipu Tiang-ging-king-thian atau Pelangi Panjang Melengkung Di Langit dan merobohkan Liok Ban.

Pedangnya telah melukai pundak Liok Ban hingga orang ini roboh dengan pundak hampir putus!

Liok Sui yang paling lihai diantara ketiga Hopak Sam-eng, dengan marah dan nekad mengadakan perlawanan dan segera mengeluarkan ilmu toya Hok-houw-kun-hwat yaitu Ilmu Toya Penakluk Harimau dari cabang Siauw-lim-si, akan tetapi tentu saja dengan seorang diri ia merupakan lawan yang lunak bagi Ciauw In, sungguhpun pemuda ini telah merasa lelah sekali dan bahu kirinya seakan-akan telah mati!

Dengan kertak gigi dan bergerak cepat, Ciauw In mengirim serangan-serangan yang paling lihai dari Hoa-san Kiam-hwat, dan akhirnya berhasil pula membuat toya lawannya terpental ke atas dan sebuah tendangan kakinya ke arah perut membuat Liok Sui jatuh terguling-guling dan tak berkutik lagi.

Ciauw In terhuyung-huyung karena kini setelah ketiga lawannya roboh baru terasa bahunya yang amat sakit itu dan juga kelelahan tubuhnya, Sian Kim memburu dan memeluk pundaknya.

"Bagaimana, twako, sakitkah pundakmu?"

Tanya gadis ini. Sambil menahan sakit, Ciauw In memandang kepada wajah gadis ini dengan mesra, lalu berkata perlahan.

"Tidak apa-apa, biar berkurban nyawapun aku bersedia untuk membelamu..."

Kemudian ia roboh pingsan dalam pelukan Sian Kim!

Gadis ini segera melepaskan tubuh Ciauw In yang roboh terguling di atas tanah, ia mencabut pedangnya dan melompat ke arah tubuh Liok Ban dan Liok Sui yang masih pingsan akan tetapi belum mati.

Dua kali ia menggerakkan pedang untuk membunuh dua orang itu, kemudian, dengan pedang yang sudah berlumur darah di dalam tangan, ia menghampiri tubuh Ciauw In yang masih menggeletak tak bergerak !

la angkat pedangnya dan telah siap untuk menutuk dada Ciauw In.

Kesempatan itu memang baik sekali baginya.

Sekali saja ia menusuk, akan tamatlah riwayat Ciauw In dan ia tak usah terlalu takut menghadapi dua orang murid Hoa-san yang lain, yang telah membunuh ayahnya dan menghancurkan Hek-lian-pang.

Akan tetapi, senyum di bibir Ciauw In membuat ia menunda tusukannya dan ia berpikir.

Pemuda ini telah masuk ke dalam perangkapnya, dan baru tadi sebelum pingsan menyatakan bersedia berkurban nyawa untuk membelanya!

Bukankah itu merupakan sebuah pernyataan cinta kasih yang besar?

Kalau dipikir-pikir lagi, yang menjadi musuh besarnya sesungguhnya hanya Bwee Hiang seorang diri.

Ciauw In hanya terbawa-bawa oleh sumoinya itu.

Dan daripada membunuh pemuda yang lihai ini, lebih baik kalau ia dapat memperalatnya untuk menjaga dirinya dan bahkan kalau mungkin, untuk mengalahkan Bwee Hiang dan Ong Su!

Dan pula, demikian Sian Kim berpikir sambil menatap wajah pemuda yang tampan itu, sukar, mendapatkan seorang kekasih setampan segagah pemuda pendekar Hoa-san ini!

Akhirnya Sian Kim memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung pedang dan ketika ia hendak mengangkat tubuh Ciauw In yang masih pingsan, tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tubuhnya dan siuman dari pingsannya.

Sian Kim cepat membantunya bangun dan sekelebatan saja Ciauw In dapat melihat bahwa dua orang lawannya yang tadi ia robohkan, kini telah tewas akibat tusukan pedang yang dapat ia duga tentulah perbuatan Sian Kim.

Selagi ia hendak menegur, datanglah orang-orang dari kota itu ketika mendengar tentang terjadinya perkelahian yang mengurbankan jiwa empat orang manusia.

Melibat hal ini, Sian Kim lalu memegang tangan Ciauw In dan berkata perlahan.

"Lie-Twako, mari kita lari cepat-cepat dari sini!"

Ciauw In melarikan diri, setengah ditarik-tarik tangannya oleh Sian Kim sehingga mereka tiba di luar kota dan berhenti di dalam hutan.

Karena telah mempergunakan sisa tenaganya yang telah hampir habis, Ciauw In merasa lelah dan lemas sekali, maka ia lalu menjatuhkan diri di atas rumput.

Sian Kim segera berlutut dan mengeluarkan sehelai saputangan hijau yang harum baunya.

Dengan mesra ia lalu menyusut muka pemuda itu yang penuh peluh dengan saputangannya dan Ciauw In mencium bau yang amat harum sehingga hatinya berguncang keras.

"Twako... kau telah membalaskan sakit hatiku. Budi yang amat besar ini selama hidup takkan kulupa...,"

Sambil berkata demikian, Sian Kim merobek ujung bajunya dan dengan cekatan sekali ia lalu membuka baju Ciauw In dan memeriksa bahunya yang tadi terpukul.

Hampir saja Ciauw In berseru kesakitan, akan tetapi dengan lemah-lembut Sian Kim lalu menggunakan ujung jari tangannya untuk menyentuh bahu yang telah menjadi biru itu, kemudian ia membalut bahu Ciauw In sambil mulutnya yang berada dekat dengan muka pemuda itu berbisik merayu.

"Koko yang baik... sampai mati aku Sian Kim takkan lupa akan budimu yang besar..."

Ketika Ciauw In memandang, ia melihat betapa dua titik air mata yang bening tergantung di bulu mata gadis itu dan Sian Kim mengejap-gejapkan mata untuk mengusir dua titik air mata dari bulu matanya.

Melihat betapa gadis yang jelita dan yang amat dikasihinya itu berlulut dekat sekali dan betapa rawatan Sian Kim penuh dengan kemesraan dan cinta kasih, tak tertahan lagi Ciauw In lalu menggunakan jari tangannya menjamah pipi Sian Kim dengan gerakan halus dan mesra sambil berbisik.

"Sian Kim... kau... cantik sekali..."

Warna merah menjalar ke atas dari leher gadis itu, membuat seluruh mukanya menjadi merah sampai ke telinga, kemudian dengan kerling memikat dan senyum malu, ia pura-pura menolak tangan itu dan berbisik kembali.

"Koko... kau juga tampan sekali..."

Demikian mesra keadaan mereka hingga Ciauw In makin mabok dan tenggelam makin dalam, sedikitpun tidak sadar bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap yang amat berbahaya.

Sian Kim memang pandai sekali merayu hati pemuda yang masih hijau itu, dan setelah selesai membalut pundak Ciauw In dan membereskan pakaian pemuda itu, Ia kembali mengeluarkan saputangannya yang harum dan berwarna hijau, disapu-sapukan ke muka sendiri, kemudian ia menyapu muka Ciauw In pula dan sengaja beberapa kali manyapukan saputangan di bawah hidung pemuda itu hingga Ciauw In makin tenggelam dalam pengaruh keharuman yang melekat pada saputangan.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa saputangan itu bukanlah saputangan sembarangan oleh karena bau harum itu sebenarnya adalah bau semacam bunga yang beracun dan yang dapat meracuni tubuh orang secara berangsur-angsur dan tanpa disadari atau dirasainya, tubuh orang yang seringkali menciumnya telah kemasukan racun yang berbahaya!

Sian Kim sendiri sudah memakai obat penawar hingga baginya, kembang beracun itu merupakan kembang harum yang tidak berbahaya.

"Twako, mengapa kau begitu memperhatikan nasibku dan demikian mulia hatimu untuk menolong dan membelaku?"

Suaranya penuh rayu dan cumbu. Ciauw In memegang kedua tangan gadis itu dan sambil menatap kedua mata yang jeli itu, ia berkata dengan suara menggetar.

"Moi-moi, aku... aku cinta padamu."

Tiba-tiba Sian Kim merenggutkan kedua tangannya dan memalingkan mukanya.

"Mengapa, moi-moi...? Marahkah kau...?"

Sian Kim menggeleng kepala, dan ketika ia memandang kembali kepada pemuda itu, Ciauw In melihat betapa kedua mata gadis itu menjadi basah oleh air mata.

"Koko, benar-benarkah ucapanmu tadi?"

"Mengapa tidak benar? Aku bersumpah, demi kehormatanku sebagai seorang gagah!"

"Benar-benarkah kau mencintaku, sungguhpun akan kau ketahui bahwa aku adalah seorang bekas penjahat...?"

Ciauw In terkejut, akan tetapi dengan suara pasti ia berkata.

"Adapun yang telah terjadi atau akan terjadi, aku tetap mencintamu, moi-moi, mencinta sepenuh jiwaku. Sebagai seorang laki-laki yang menjunjung tinggi kegagahan, aku tidak pernah jatuh cinta, akan tetapi sekali aku memberikan hatiku, aku akan tetap mempertaruhkan jiwaku demi cinta kasihku."

"Takkan berubahkah hatimu apabila kelak kau ketahui bahwa aku adalah seorang yang mempunyai banyak dosa?"

"Aku tidak percaya, moi-moi. Kau adalah seorang yang mulia, cantik dan... yang kucinta semenjak pertemuan kita pertama kali."

"Terima kasih, Koko, kau memang baik dan mulia sekali. Sudah sepatutnya kalau aku yang menerima budimu, merasa bersyukur bahwa kau pemuda yang gagah perkasa ternyata mencinta seorang gadis hina dan bodoh seperti aku."

Dengan amat girang, Ciauw In menerima kepala dengan rambut harum itu yang disandarkan ke dadanya. Mereka berdua tidak bergerak, tenggelam dalam laut asmara yang memabokkan.

"Koko, dulu kau telah merampas ikat rambutku, di manakah saputangan itu sekarang?"

Ciauw In merogoh sakunya dan mengeluarkan saputangan itu.

"Lihat, semenjak saat itu, aku tak pernah terpisah dari saputangan ini, kekasihku,"

Katanya berbisik. Sian Kim mengambil saputangan itu dari tangan Ciauw In dan menukarnya dengan saputangannya sendiri yang berbau harum.

"Selanjutnya, kau pakailah saputanganku ini, koko!"

Ciauw In menerima saputangan hijau itu dan menempelkannya di depan hidungnya.

"Alangkah harumnya saputanganmu ini, entah bunga apakah yang demikian harum baunya."

Berulang-ulang ia menyedot bau harum itu sepuas-puasnya, tidak tahu bahwa dengan jalan demikian, makin banyaklah racun yang terisap olehnya dan meracun paru-parunya.

"Koko, kalau kau benar-benar mencintaku, harap kau jangan kembali dulu ke Hoa-san."

"Kenapa begitu, adikku? Aku ingin sekali cepat-cepat pulang untuk minta kepada suhu agar supaya segera meminangmu dan agar kita dapat segera menjadi suami-isteri yang sah!"

Akan tetapi Sian Kim menggeleng kepala.

"Jangan dulu, koko. Aku masih ingin merantau, merantau berdua dengan kau, menikmati kebahagiaan ini."

Terpaksa Ciauw In menurut.

Pemuda ini sudah tunduk betul-betul dan ia merupakan tanah lempung yang lunak dalam tangan Sian Kim yang mulai menjalankan siasatnya yang kejam dan penuh tipadaya ini.

Orang yang pernah melihat dan memperhatikan cara seekor laba-laba menangkap kurbannya, tentu akan tahu betapa setelah kurban itu tertangkap oleb jaring laba-laba, binatang itu lalu akan melibat-libat tubuh kurbannya dengan jaring-jaring putih halus sehingga kurban itu tak dapat lepas lagi untuk kemudian dihisap seluruh darahnya sampai kering.

Demikianpun cara Sian Kim menawan Ciauw In.

Sedikit demi sedikit ia melontarkan tali-tali jaring yang halus berupa senyum manis, kerlingan mata tajam dan sikap yang mesra mencinta hingga makin lama hati Ciauw In makin terikat membuat pemuda itu tak berdaya dan seakan-akan menjadi buta.

Pemuda ini tidak hanya terpikat dan mencinta secara membuta, bahkan telah tergila-gila!

Akan tetapi, betapapun juga, Ciauw In memang bukan pada dasarnya berhati kotor, maka ia selalu menjaga batas-batas kesopanan dan betapapun ia tergila-gila, ia masih mempertahankan diri dan menjaga kesusilaan.

Hal inilah yang mengesalkan hati Sian Kim, oleh karena gadis jelita ini memang mempunyai sifat-sifat cabul dan tak tahu malu hingga ia telah menjadi hamba daripada nafsunya sendiri.

Beberapa kali, pada waktu mereka berdua tiba di sebuah kota, ketika memesan kamar hotel, Sian Kim mendahuluinya dan hanya memesan sebuah kamar untuk mereka berdua.

Tentu saja Ciauw In lalu menegurnya setelah mereka berada berdua di dalam kamar.

"Kim-moi, mengapa hanya memesan satu kamar? Tak baik bagi kita untuk tinggal sekamar."

Diam-diam Sian Kim merasa mendongkol sekali.

"Kenapa tidak baik. Bukankah kita saling mencinta?"

"Biarpun demikian, kita belum menjadi suami isteri dan adalah berbahaya sekali apabila kita tinggal sekamar, moi-moi,"

Kata Ciauw In terus terang karena sesungguhnya ia belum tahu bahwa hal ini memang disengaja oleh Sian Kim dalam usahanya menjerumuskan pemuda itu makin dalam.

"Aku berani menghadapi bahaya itu!"

Kata Sian Kim dengan sikap menantang dan melempar lirikan tajam yang penuh arti. Akan tetapi dengan muka merah sekali oleh karena jengah dan malu-malu. Ciauw In berkata pula.

"Jangan, moi-moi. Kau terlalu cantik dan aku tidak percaya kepada kelemahan hatiku sendiri."

Sian Kim tersenyum girang dan mendekati pemuda itu lalu memegang pundaknya dengan mesra dan sikap memikat.

"Koko, kau tentu pernah mendengar dongeng tentang Siong Kang dan Lan Bwee?"

Ciauw In makin merasa jengah.

Tentu saja ia tahu akan dongeng kuna itu yang menceritakan betapa untuk membalas budi Siong Kang pemuda yang telah menolong dirinya, Lan Bwe sampai melarikan diri dari rumah dan mengikuti pemuda itu sungguhpun karenanya ia dibenci dan dikutuk oleh orang tuanya.

Dengan ucapan ini, ternyata bahwa Sian Kim hendak menyatakan tentang cinta kasihnya yang besar dan bahwa ia sudah menyerahkan jiwa raganya bulat-bulat kepada Ciauw In!

Terpaksa pemuda itu mengalah, namun tetap saja Sian Kim tak dapat mencapai maksudnya, karena setiap kali mereka bermalam bersama, pemuda itu selalu memisahkan diri dan bahkan rela tidur di atas lantai!

Sama sekali tidak berani mendekati Sian Kim!

Hal ini membuat hati gadis itu menjadi makin penasaran dan gemas, sungguhpun diam-diam ia merasa kagum kepada Ciauw In yang teguh menjaga kesopanan.

Alangkah jauh bedanya pemuda ini dengan pemuda-pemuda lain yang pernah dikenalnya!

"Sebetulnya kau Hendak mengajak aku merantau kemanakah, moi-moi?"

Tanya Ciauw In beberapa hari kemudian setelah mereka merantau jauh ke selatan.

"Aku ingin mengunjungi Ouwciu di Propinsi Kwisai, dan mencari Hui Kok Losu,"

Jawab Sian Kim.

"Ada keperluan apakah dengan dia dan siapa pula Hui Kok Losu itu?"

"Dia adalah ciangbunjin (ketua) dari perkumpulan Kim-hauw-bun di Ouwciu."

Ciauw In memang belum luas pengetahuannya, maka ia tidak kenal nama ini.

"Bolehkah aku mengetahui apa maksudmu mencari dia?"

Sian Kim tersenyum manis.

"Tentu saja kau boleh tahu. Semua urusanku adalah urusanmu juga, bukan? Tak perlu aku menyimpan rahasia. Juga kurasa sekarang sudah waktunya bagiku untuk membuka rahasiaku sendiri. Koko, kuharap kau jangan kaget dan lebih-lebih kuharap jangan kau membenciku setelah mendengar ini."

"Adikku yang manis, betapapun juga, aku takkan dapat membencimu. Kau telah tahu akan hal ini dan sudah beberapa kali kukatakan kepadamu. Cintaku kepadamu tak dapat diukur besarnya."

Sian Kim tersenyum lagi, kemudian ia maju dan memegang lengan tangan pemuda itu dengan gaya manis.

"Koko, benar-benar kau tidak akan marah?"

Ciauw In menggunakan tangannya untuk membelai rambut yang hitam halus dan berbau harum itu, lalu berkata.

"Tidak, Kim-moi, aku berjanji takkan marah."

"Dulu, lama sekali kira-kira dua tahun yang lalu."

Sian Kim mulai menuturkan riwayatnya dengan amat hati-hati.

"aku pernah menjadi ketua dari sebuah perkumpulan."

"Ketua yang amat cantik seperti kau jarang terdapat,"

Kata Ciauw In sambil menatap wajah yang makin cantik saja baginya itu.

"Sebagaimana seringkali terjadi,"

Sian Kim melanjutkan ceritanya.

"perkumpulan suka bentrok dengan perkumpulan lain. Demikian pula telah terjadi bentrokan antara perkumpulanku dengan perkumpulan Kim-houw-bun. Soalnya biasa saja, antara anggauta dengan anggauta, ketika mereka sedang main barongsai di waktu hari tahun baru. Aku sebagai ketua perkumpulan tentu saja membela anggauta sendiri, demikian pula Hui Kok Losu, ciangbun dari Kim-houw-bun. Bentrokan ini akhirnya menjadi pertempuran pibu (adu kepandaian) antara aku dan ciangbun dari Kim-houw-bun itu dan aku kalah!"

Perhatian Ciauw In sebagian besar ditujukan untuk mengagumi bibir indah yang bergerak-gerak bicara itu dan mata bintang yang memandangnya dengan sayu merayu hingga ia hanya dapat menangkap sebagian saja daripada yang diceritakan oleh Sian Kim.

Akan tetapi mendengar kekalahan ini, ia merasa heran juga.

Bukan sembarang orang dapat mengalahkan kekasihnya ini.

"Lalu bagaimana?"

Tanyanya mulai menaruh perhatian.

"Ketika dikalahkan, aku berjanji bahwa pada suatu hari aku akan mengunjunginya di Ouwciu untuk mengadu kepandaian sekali lagi dan aku mengandalkan bantuanmu untuk menebus kekalahan itu."

Ciauw In tersenyum.

"Ah, hal ini tak perlu disusahkan. Jangankan baru menghadapi seorang ciangbunjin, biarpun harus menghadapi sepuluh orang ketua perkumpulan, aku bersedia untuk membelamu."

Sian Kim dengan muka girang sekali dan berseri-seri lalu meremas tangan Ciauw In sambil berkata.

"Kokoku yang baik, aku...aku cinta padamu..."

Ciauw In makin mabok dan merasa seakan-akan ia menjadi seorang yang paling berbagia di dunia ini.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Ouwciu yang tidak begitu jauh lagi letaknya dari situ.

Ciauw In yang sudah tergila-gila itu sampai lupa untuk mendesak dan mengetahui lebih banyak tentang keadaan perkumpulan Sian Kim, dan sama sekali ia belum pernah menduga bahwa gadis ini adalah ketua perkumpulan Hek-lian-pang dan menjadi puteri dari Gu Ma Ong musuh besar Bwee Hiang!

Dan Sian Kim yang sudah membuka sedikit rahasianya itu, masih belum berani untuk membuka lebih lebar dan belum berani mengaku bahwa sebetulnya ia mempunyai dendam permusuhan besar dengan adik seperguruan pemuda itu.

Sebetulnya apa yang ia ceritakan kepada Ciauw In tadi memang ada benarnya, yakni bahwa perkumpulan Kim-houw-bun ada permusuhan dengan Hek-lian-pang dan dengan dia pada khususnya.

Akan tetapi, sebab-sebab permusuhan itu kembali ia putar-balikkan.

Memang terjadi permusuhan dan adu kepandaian antara dia dan Hui Lok Losu, akan tetapi sama sekali bukan karena permainan barongsai.

Pertempuran yang terjadi antara anak buah Hek-lian-pang dan anak buah Kim-houw-bun terjadi sebagai akibat saja daripada sebab-sebab pertama.

Pada waktu itu, seperti biasa di waktu perayaan pesta menyambut datangnya musim semi (musim Chun) yang juga disebut Tahun Baru, banyak pemain-pemain barongsai dari kota lain datang untuk bermain barongsai di kota tempat tinggal Hek-lian-pang.

Sian Kim yang melihat betapa di antara pemain-pemain anggauta Kim-houw-bun ini terdapat seorang pemuda yang amat gagah dan tampan, lalu timbul hatinya yang dikuasai oleh nafsu jahat dan segera mengadakan perhubungan dengan pemuda Kim-houw-bun itu.

Hal ini diketahui oleh para anggautanya yang segera menjadi marah kepada pemuda itu dan timbullah benci dalam hati mereka terhadap Kim-houw-bun.

Maka ketika kedua fihak bertemu dalam waktu bermain barongsai, tak dapat dicegah lagi timbul pertempuran hebat.

Sian Kim tadinya tidak mau ambil perduli tentang hal ini, akan tetapi tidak demikian dengan ketua Kim-houw-bun.

Sebagai ketua perkumpulan pendatang, tentu saja ia tidak mau para anggautanya mendapat hinaan dari orang lain, apalagi ketika ia mendengar bahwa hal itu terjadi oleh karena kecabulan ketua Hek-lian-pang, maka ia segera datang dan menantang ketua perkumpulan Hek-lian-pang.

Dalam pertempuran yang hebat sekali, akhirnya Sian Kim harus mengakui keunggulan Kim-houw-ciang-hwat (Ilmu Tombak Harimau Emas) dari ketua Kim-houw-bun (Perkumpulan Harimau Emas) itu dan berjanji akan menuntut balas.

Sebetulnya, perkumpulan Kim-houw-bun adalah sebuah perkumpulan yang terkenal dan semua penduduk memandang tinggi perkumpulan yang dipimpin oleh Hui Kok Losu, oleh karena perkumpulan itu memang telah banyak melakukan perbuatan baik yang menolong penduduk kota Ouwciu dan sekitarnya.

Juga nama Hui Kok Losu sebagai seorang ahli tombak telah banyak dikenal di dunia kang-ouw dan ia dianggap sebagai seorang lo-enghiong (orang tua gagah) yang disegani dan dihormati.

Kepandaian ilmu tombaknya adalah ilmu tombak keturunan dan yang berasal dari ilmu tombak Lian-hoan-coa-kut-chio (Tombak Tulang Ular) yang pernah menggemparkan dunia persilatan.

Hui Kok Losu adalah murid tunggal dari Sin-chio Siauw Kiat Si Tombak Malaikat, yakni pencipta dari ilmu tombak Lian-hoan-coa-kut-chio dan karena Hui Kok Losu juga mempelajar berbagai macam ilmu silat, Maka ia lalu mencipta semacam ilmu tombak yang dijadikan ilmu tombak keturunan keluarga Hui, yakni ilmu tombak Kim-houw-ciang-hwat itu.

Pada waktu Sian Kim dan Ciauw In datang ke rumah perkumpulan Kim-houw-bun, kebetulan sekali Hui Kok Losu sedang keluar kota, mengunjungi seorang sahabat baiknya di sebuah dusun tak jauh dari kota Ouwciu.

Sahabatnya inipun seorang pendekar tua yang kenamaan, bernama Ma Sian dan bergelar Lui-cin-tong (Pacul Kilat) dan menjadi seorang petani setelah mengundurkan diri dari dunia kang-ouw.

Seringkali kedua orang tua itu saling kunjung-mengunjungi untuk mengobrol sambil minum arak dan main tioki (catur).

Ketika Sian Kim dan Ciauw In tiba di depan rumah besar yang memakai papan besar dengan tulisan yang amat indah dan gagah "Kim-houw-bun-kwan"

Atau Rumah Perkumpulan Macan Emas, Sian Kim lalu berkata dengan senyum sindir.

"Sekarang boleh menjadi macan emas, akan tetapi sebentar lagi kau akan menjadi macan mampus!"

Setelah berkata demikian, ia melompat ke atas dan sekali ia ayun tangan memukul dengan telapak tangannya, terdengar suara keras "praak!"

Dan papan itu terpukul pecah menjadi beberapa potong dan jatuh ke atas tanah.

Pada waktu itu, di ruang depan perkumpulan duduk beberapa orang pemuda anggauta Kim-houw-bun yang menjadi anak murid Hui Kok Losu.

Tadi merekapun melihat datangnya seorang gadis cantik berpakaian hitam bersama seorang pemuda tampan yang berhenti di depan rumah perkumpulan mereka, maka seperti biasanya para pemuda melihat wanita muda yang cantik jelita, mereka menghentikan percakapan dan memandang kepada Sian Kim dengan kagum.

Akan tetapi, alangkah terkejut hati mereka ketika melihat betapa nona cantik itu telah melompat dan sekali pukul menghancurkan papan nama perkumpulan mereka!

Dengan cepat empat orang pemuda itu segera memburu keluar.

Mereka merasa marah sekali, akan tetapi ketika mereka sudah datang dekat, seorang diantara mereka mengenal nona baju hitam ini oleh karena ia dulu juga ikut dalam permainan barongsai ketika perkumpulannya melawat ke kota Ban-hong-cun dan terjadi pertempuran dengan perkumpulan Hek-lian-pang.

"Siapakah kau yang telah berani mengacau di sini?"

Seorang diantara mereka membentak.

Akan tetapi pemuda yang telah mengenal Sian Kim, lalu berkata sambil tersenyum penuh arti oleh karena iapun maklum akan kecabulan nona ini yang dulu telah mengadakan hubungan gelap dengan seorang murid Kim-houw-bun sehingga timbul permusuhan, berkata kepada Sian Kim.

"Hek-lian Niocu, apakah kau datang hendak mencari Gan-suheng!"

Sambil berkata demikian, ia tersenyum-senyum.

Yang disebutnya Gan-suheng adalah pemuda yang dulu mengadakan perhubungan dengan Sian Kim, maka tentu saja Sian Kim menjadi marah sekali karena kuatir kalau-kalau rahasia ini akan terbuka di depan Ciauw In.

"Aku tidak kenal dengan segala suhengmu!"

Sian Kim membentak dan sebelum pemuda itu membuka mulut lagi, ia telah mendahului.

"Suruh tua-bangka she Hui keluar agar ia membayar penghinaannya dahulu kepadaku!"

"Kau sudah menjadi pecundang, mengapa datang-datang berlagak sombong dan merusak papan nama perkumpulan kami?"

Orang itu berkata lagi dan ia melakukan kesalahan besar dengan ucapan yang memandang rendah ini karena tiba-tiba tangan Sian Kim bergerak dan pemuda itu menjerit kesakitan sambil menggunakan kedua tangan menutup mulutnya yang berdarah.

Ternyata tamparan Sian Kim telah membuat pipinya bengkak dan beberapa buah giginya copot!

Tiga orang kawannya menjadi marah dan karena mereka ini termasuk orang-orang baru di Kim-houw-bun, maka mereka belum mengenal adanya Sian Kim.

Dengan cepat mereka mencabut pedang dan menyerang Sian Kim.

Akan tetapi gadis itu dengan gerakan kilat mendahului mereka dan tiga kali ia menyerang, tiga orang itu terlempar dan mengaduh-aduh karena masing-masing telah menerima persenan berupa pukulan dan tendangan yang membuat mereka roboh tak dapat bangun kembali!

Ciauw In melihat semua ini sambil tersenyum saja, oleh karena ia telah dapat dibujuk oleh Sian Kim yang menceritakan bahwa semua anggauta Kim-houw-bun terdiri dari orang-orang jahat.

Dan memang tadi ia melihat lagak pemuda yang memandang rendah dan kurang ajar terhadap Sian Kim yang dicintainya.

Teriakan kesakitan dari empat orang yang telah merasai bekas tangan Sian Kim terdengar oleh orang-orang di dalam rumah perkumpulan itu maka tak lama kemudian serombongan anggauta Kim-houw-bun yang terdiri dari dua belas orang menyerbu keluar.

Di antara mereka ini terdapat empat orang murid yang sudah setengah tua dan yang memiliki kepandaian lumayan, bahkan mereka sering mewakili Hui Kok Losu mengajar murid-murid yang baru.

Melihat empat orang murid muda menggeletak sambil merintih-rintih dan seorang nona baju hitam berdiri bertolak pinggang didampingi seorang pemuda yang cakap, mereka segera berlari menghampiri.

Empat orang murid kepala itu segera mengenal Sian Kim dan tanpa bertanya mereka tahu bahwa nona ini tentu datang untuk membalas kekalahannya yang dulu dan telah merobohkan empat orang kawan mereka.

Mereka menjadi marah sekali dan dua orang diantaranya lalu berlari masuk lagi mengambil empat batang tombak yang segera diberikan kepada kawan-kawannya.

"Hek Lian Niocu kau sungguh kurang ajar!"

Teriak seorang diantaranya dan segera ia mendahului kawan-kawannya menggerakkan tombak menyerang Sian Kim.

Serangannya lihai dan ia telah menggunakan gerak tipu Yan-cu-liok-sui (Burung Walet Memukul Air).

Ujung tombaknya menusuk ke arah perut Sian Kim dengan gerakan yang amat kuat hingga ujung tombak ini menggetar dan mengeluarkan angin cukup keras!

Akan tetapi Sian Kim sambil tertawa berkata.

"Tikus kecil, kau berani menghadapi aku?"

Pada saat ujung tombak menyambar perut, tiba-tiba Sian Kim bahkan melangkahkan kaki kiri ke depan sambil miringkan tubuh dan mengganti kedudukan kakinya.

Gerakannya cepat dan hatinya tabah sekali hingga tombak itu meluncur dekat sekali dengan perutnya, hanya terpisah satu dim saja!

Akan tetapi oleh karena ia melangkah maju, maka ia berada dekat dengan lawannya dan sebelum lawan itu mendapat kesempatan menarik kembali tombaknya, Sian Kim telah bergerak mendahuluinya dengan gerak tipu Bi-jin-to-hwa (Wanita Cantik Mametik Bunga).

Tangan kanan cepat memegang batang tombak dan menariknya ke belakang hingga tenaga tusukan lawan yang belum ditarik kembali itu (Lanjut ke

Jilid 05) Pendekar Dari Hoasan/Hoasan Tayhiap (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 ditambah dengan tenaga tarikannya membuat tubuh lawan terbungkuk ke depan.

Sian Kim menggunakan tangan kirinya untuk dipukulkan ke arah dada orang!

Lawannya menjadi terkejut sekali akan tetapi sebagai murid kepala dari Hui Kok Losu, tentu saja ia tidak membiarkan dirinya dijatuhkan dalam segebrakan saja.

la cukup memiliki kegesitan hingga dengan cepat sambil mengeluarkan seruan keras ia berjungkir balik ke belakang dengan gerakan Koat-hoan-sin (Siluman Naga Berjungkir Balik) hingga tubuhnya terluput dari pukulan Sian Kim, akan tetapi tentu saja ia harus melepaskan tombaknya!

Sian Kim tersenyum manis dan sekali ia menekuk tangannya, tombak itu melengkung dan "trak!!"

Patahlah tombak itu pada tengah-tengahnya. Sian Kim melempar potongan tombak ke atas tanah sambil tersenyum menghina, lalu berkata.

"Tikus-tikus kecil jangan membikin ribut saja. Lekas panggil keluar tua bangka she Hui untuk menerima beberapa gamparan!"

"Perempuan cabul jangan bertingkah!"

Teriak seorang murid kepala Kim-houw-bun dan segera ia bersama kawan-kawannya maju menggerakkan tombaknya. Marahlah hati Sian Kim mendengar makian ini, maka ia menggerakkan tangannya dan "sret!"

Pedangnya telah ditarik keluar. Matanya berapi-api dan mukanva menjadi merah.

"Bangsat-bangsat Kim-houw-bun! Kalau hari ini aku tidak berhasil membasmi kalian kutu-kutu busuk, jangan panggil aku Gu Sian Kim lagi!"

Sehabis berkata demikian, tubuhnya berkelebat didahului sinar pedang di tangannya yang bergerak bagaikan kilat halilintar membagi maut!

Beberapa batang golok dan pedang para pengeroyok dapat dibikin terpental atau bahkan terlempar berikut sebelah tangan yang tadi memegangnya akan tetapi yang kini terbabat putus oleh pedang Sian Kim!

Jerit kesakitan terdengar susul menyusul dan tubuh para pengeroyok roboh seorang demi seorang dengan cepatnya.

Ilmu silat murid-murid Kim-houw-bun bukanlah rendah, akan tetapi menghadapi ilmu pedang Hek-lian-kiam-hwat yang ganas dan lihai, mereka itu tidak berdaya sama sekali.

Sebentar saja, tujuh orang anak murid yang kepandaiannya belum tinggi betul telah roboh mandi darah, bahkan tiga orang diantara mereka telah tewas pada saat itu juga!

Ciauw In semenjak tadi hanya menonton saja oleh karena ia maklum bahwa nona kekasihnya itu tak perlu dibantu.

Akan tetapi melihat betapa para pengeroyok telah menjadi kurban keganasan ilmu pedang Sian Kim, sungguhpun ia menganggap mereka sebagai orang-orang jahat yang perlu diberi hajaran, akan tetapi hatinya merasa tidak tega juga.

Maka ia cepat melompat dan menggerakkan tangannya hingga dua batang tombak di tangan murid-murid tua dapat terampas olehnya.

Baca Juga: Suling Emas 7

Baca Juga: Pedang Ular Merah 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert