Eps 3 Pendekar Dari Hoasan - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Dari Hoasan - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Dari Hoasan - Kho Ping Hoo.
"Tahan dan mundur semua!"
Teriak Ciauw In.
Tiga orang murid kepala yang belum roboh ketika melihat betapa dua batang tombak mereka dapat dirampas oleh pemuda itu dengan sekali renggut saja, menjadi terkejut dan segera mundur dengan jerih.
Tak mereka sangka bahwa pemuda kawan Sian Kim itu mempunyai kelihaian yang bahkan lebih hebat daripada kepandaian nona yang ganas itu.
Juga Sian Kim menahan pedangnya dan memandang dengan senyum simpul kepada musuh-musuhnya.
"Kalian harus tahu bahwa kalau pertempuran ini dilanjutkan, tak seorangpun diantara kalian yang akan keluar dengan tubuh utuh!"
Kata Ciauw In.
"Mengapa tidak melihat gelagat dan mundur sebelum tewas? Kami datang untuk bertemu dan mengajak pibu ketua Kim-houw-bun, bukan untuk menghadapi kalian yang tak berkepandaian!"
"Suhu sedang keluar kota, akan tetapi telah diberitahu, maka kalau kalian berdua benar-benar gagah, tunggulah sebentar kedatangan suhu yang akan membalas kejahatan ini!"
Kata seorang diantara mereka.
"Baik, kami akan menunggu di sini!"
Jawab Ciauw In yang segera memberi tanda kepada Sian Kim untuk menyimpan kembali pedangnya.
Gadis ini tersenyum menyindir, akan tetapi ia tidak membantah.
Dimasukkannya pedang itu di sarung pedangnya dan bersama Ciauw In ia berdiri menjauhi tempat itu.
Para anggauta Kim-houw-bun yang tidak terluka lalu sibuk menolong kawan-kawan mereka dan menggotong mereka ke dalam rumah perkumpulan untuk dirawat dan diobati, sedangkan Ciauw In dan Sian Kim berdiri saja melihat pekerjaan mereka itu.
"Moi-moi, mengapa kau menurunkan tangan kejam kepada mereka? Seharusnya kita bergebrak menghadapi Hui Kok Losu saja."
Ciauw In menyatakan penyesalannya, akan tetapi Sian Kim memandangnya dengan tajam dan berkata.
"Koko, tak dengarkah kau tadi betapa mereka itu menyebutku dangan kata-kata kotor? Siapa yang kuat menahan kemarahan mendengar makian mereka? Untuk menghadapi tikus-tikus busuk itu aku tidak memerlukan bantuanmu dan kalau nanti Hui Kok Losu datang, barulah mungkin aku membutuhkan bantuanmu!"
Ciauw In tidak menjawab, hanya diam-diam ia menarik nafas karena ia tidak berdaya.
Memang ia tadipun merasa marah sekali mendengar betapa kekasihnya disebut "perempuan lacur", akan tetapi ia merasa bahwa sebutan itu tak boleh dijadikan alasan untuk membunuh tiga orang dan melukai orang sedemikian banyaknya.
"Koko, kau marah kepadaku?"
Sian Kim bertanya ketika melihat pemuda itu diam saja. Ciauaw In menggeleng kepala.
"Tidak, Kim-moi, aku tidak marah. Mungkin kau benar karena mereka itu memang orang-orang jahat yang harus diberi hajaran keras. Mudah-mudahan kini mereka merasa kapok dan takkan berani berlaku sewenang-wenang dan kurang ajar pula. Yang kupikirkan adalah Hui Kok Losu, karena aku sungguh ingin sekali lekas bertemu dan mencoba ilmu kepandaiannya. Aku merasa heran sekali mengapa seorang dengan ilmu kepandaian seperti kau dapat kalah olehnya."
Sian Kim merasa girang sekali karena pemuda itu tidak menjadi marah, maka ia lalu menuturkan dengan singkat tentang kegagahan Hui Kok Losu.
"Hui Kok Losu memiliki ilmu tombak yang disebut Kim-houw-ciang-hwat dan dengan ilmu tombak yang diciptanya sendiri itu ia telah malang melintang di dunia kang-ouw tanpa menemui tandingan. Selain keahliannya dalam ilmu tombak ini, iapun mempunyai pengertian yang dalam tentang ilmu pedang hingga ia tidak kuatir menghadapi lawan yang berpedang. Selain itu, seperti dapat kau lihat pada murid-muridnya tadi, ia pandai segala macam permainan senjata tajam yang diajarkan kepada murid-muridnya menurut bakat masing-masing. Kalau aku tidak salah ingat, pernah kumendengar dia mengalahkan kepala rarnpok Oei Sam si Golok Emas di bukit Hong-na-san!"
Keterangan ini tidak berarti banyak bagi Ciauw In karena ia tidak kenal siapa adanya Oei Sam Si Golok Emas itu akan tetapi cukup mendatangkan kesan bahwa Hui Kok Losu tentu benar-benar lihai hingga kegembiraannya makin bertambah untuk segera mencoba kepandaian ketua Kim-houw-bun itu.
Kalau saja ia tidak sedang mabok asmara dan memiliki lebih banyak pengalaman hingga sudah kenal atau mendengar bahwa Oei Sam yang disebut oleh Sian Kim itu adalah seorang perampok jahat yang amat kejam, tentu setidaknya akan timbul keheranan di dalam hatinya mengapa Hui Kok Losu yang disebut jahat oleh Sian Kim itu sampai bisa bertempur mengalahkan Oei Sam!
Seorang yang memusuhi penjahat besar biasanya hanya orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan dan menjadi pembela rakyat serta pembasmi kejahatan.
Akan tetapi sayang, Ciauw In tidak berpikir sejauh itu hingga ia masih saja belum sadar.
Mereka berdua tak usah lama menanti oleh karena tak lama kemudian, terdangar suara kaki kuda mendatangi dan dua orang penunggang kuda memasuki pintu gerbang pekarangan itu.
"Nah, yang berbaju biru itu adalah Kim-houw-ciang-bun Hui Kok Losu!"
Kata Sian Kim.
"Orang kedua entah siapa karena aku belum pernah melihatnya."
Ciauw In memandang dengan penuh perhatian dan melihat bahwa orang yang disebut Kim-houw ciangbunjin (Ketua Perkumpulan Macan Emas) adalah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh sedang dengan memiliki sepasang mata yang amat tajam berpengaruh.
Sikapnya gagah sekali dan biarpun sudah tua, akan tetapi ketika ia melompat turun dari kudanya, gerakannya masih sigap sekali.
Orang kedua juga bukan orang sembarangan, karena walaupun usianya bahkan lebih tua dari Hui Kok Losu dan pakaiannya sederhana sebagai seorang petani yang bertopi besar, akan tetapi ketika turun dari kuda, ia bergerak dengan tubuh ringan sekali.
Sehingga dengan mudah Ciauw In dapat menduga bahwa ia tentulah seorang yang memiliki ilmu ginkang yang sudah amat tinggi tingkatnya.
Orang kedua ini bukan lain ialah Lui cin tong Ma Sian si Pacul Kilat.
Gagang paculnya yang kecil nampak di belakang punggungnya dan melihat benda ini, Ciauw In makin terheran karena biarpun ia pernah mendengar dari suhunya bahwa pacul yang menjadi alat pertanian ini memang dapat digunakan sebagai senjata akan tetapi kalau tidak memiliki ginkang dan kepandaian tinggi, senjata ini bukanlah senjata yang berbahaya, bahkan sukar sekali dimainkannya.
Maka ia dapat menduga bahwa petani tua ini tentu seorang yang lihai hingga ia makin bersikap hati-hati.
Sementara itu, seorang murid kepala yang menyambut kedatangan Hui Kok Losu, lalu bicara berbisik-bisik kepada suhunya yang mukanya berubah menjadi pucat.
Hui Kok Losu hanya sekali saja melirik ke arah Sian Kim tanpa memandang kepada Ciauw In kemudian langsung berlari masuk ke dalam gedungnya, diikuti oleh petani tua tadi.
Ciauw In dan Sian Kim maklum bahwa orang tua itu tentu mendengar tentang kekalahan muridnya dan kini hendak melihat keadaan murid-muridnya itu.
Dengan tenang Sian Kim menanti, sedangkan di dalam hatinya, Ciauw In berdebar-debar karena ia maklum bahwa apabila ketua Kim-houw-bun itu melihat murid-muridnya yang mati dan terluka, tentu ia akan marah sekali dan perkelahian yang akan ditempuh ini tentu akan merupakan pertempuran mati-matian!
Benar saja dugaannya, tak lama kemudian Hui Kok Losu keluar lagi dengan muka merah diikuti oleh murid-muridnya dan didampingi pula oleh Lui-cin-tong Ma Sian yang juga amat marah melihat kekejaman musuh yang datang.
Setelah berhadapan dengan Sian Kim, Hui Kok Losu lalu menuding ke arah muka nona itu dan berkata.
"Hek-lian-niocu! Kau benar-benar tak tahu malu! Dulu adalah aku yang merobohkan kau dan kalau kau datang hendak mengadakan pembalasan dan menyelesaikan perhitungan lama, mengapa kau mengganggu murid-muridku, bahkan melukai tujuh orang dan menewaskan tiga nyawa?"
"Orang she Hui! Mudah saja kau bicara. Lupakah kau bahwa dulu juga banyak sekali anggauta-anggauta perkumpulanku yang tewas karena murid-muridmu? Kematian tiga orang anggauta Kim-houw-bun anggaplah saja sebagai penebusan dosa yang dulu. Pula, kalau orang-orangmu yang kurang ajar itu tidak mengeluarkan kata-kata busuk, akupun tak sudi mengotorkan tangan membunuh kutu-kutu busuk itu. Sekarang tak perlu kau banyak cakap, kita telah berhadapan dan aku membawa seorang kawan untuk menghadapimu, membalas kekalahan yang dulu!"
Hui Kok Losu mengalihkan pandang matanya yang penuh hawa marah kepada Ciauw In yang masih bersikap tenang.
Melihat sikap pemuda yang nampak lemah ini, ia maklum bahwa pemuda ini tentulah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, karena makin lemah nampaknya seorang ahli silat, makin tinggilah ilmu kepandaiannya.
Pula, ia tahu akan kelihaian Sian Kim yang hanya kalah pengalaman apabila dibandingkan dengan dia sendiri, maka setelah kini gadis itu membawa seorang pembantu, tentulah pembantu ini lebih tinggi daripada Sian Kim!
Ia lalu menjura dan bertanya kepada Ciauw In.
"Bolehkah aku mengetahui namamu yang gagah?"
Sebelum Ciauw In sempat menjawab, ia didahului oleh Sian Kim yang tertawa sambil menjawab pertanyaan itu.
"Hui Kok Losu! Kami bukanlah jago-jago kawakan seperti kau yang sudah memiliki nama tinggi! Kawanku ini adalah Hoa-san Taihiap Lie Ciauw In yang sungguhpun namanya tidak sebesar namamu, akan tetapi aku tanggung dalam beberapa jurus saja tombak karatan di tanganmu akan patah-patah oleh pedangnya!"
Hui Kok Losu terkejut mendengar bahwa pemuda itu adalah seorang murid Hoa-san-pai.
Ia telah mendengar kebesaran nama Ho Sim Siansu yang selain gagah dan sakti, juga amat terkenal sebagai seorang tua bijaksana yang amat dikagumi dunia persilatan.
Maka ia segera berkata lagi kepada Ciauw In.
"Ah, kiranya seorang murid dari Ho Sim Siansu! Akan tetapi sungguh heran mengapa seorang murid Hoa-san-pai dapat bersama-sama dengan seorang perempuan hina dina seperti Hek-lian-niocu?"
Marahlah hati Ciauw In mendengar ini, maka ia lalu menjawab.
"Lo enghiong (orang tua gagah), seorang gagah tidak sudi mencampuri urusan pribadi orang lain dan kiranya aku bebas untuk bergaul dengan siapapun juga! Pula tidak patut bagi seorang tua yang mengaku diri gagah perkasa untuk mengeluarkan makian kotor terhadap seorang gadis pendekar seperti kawanku ini!"
Sian Kim juga segera mencabut pedangnya dan berkata.
"Hui Kok Losu! Jangan kau lepaskan lidahmu yang tua tapi busuk itu! Bilang saja bahwa kau gentar mendengar nama Hoa-san Taihiap dan tidak berani menghadapinya! Kalau kau memang takut kepada kawanku ini, biarlah aku sendiri yang maju. Biarpun aku akan kalah, akan tetapi nama besarmu akan hancur oleh karena baru menghadapi seorang pemuda saja, kau telah terkencing-kencing ketakutan tanpa berani mencoba kepandaiannya!"
Bukan main tajam dan pedasnya ucapan dari Sian Kim yang sengaja membakar hati musuhnya itu, maka sambil berseru keras Hui Kok Losu lalu menanggalkan jubahnya dan menerima tombaknya dari tangan seorang murid yang sengaja membawa senjata itu kepada suhunya.
"Siapa bilang takut? Orang yang telah menjadi sahabatmu tentu bukan orang baik-baik!"
Kemudian ia menuding kepada Ciauw In dan membentak.
"Orang muda, kau tentulah seorang kekasih perempuan hina ini! Kau majulah kalau hendak mengenal Kim-houw-ciang-hwat!"
Akan tetapi pada saat itu, petani tua tadi maju menghalangi Hui Kok Losu sambil berkata.
"Losu, biarlah aku mencoba-coba dulu kepandaian Hoa-san Taihiap?"
Kemudian ia menghadapi Ciauw In dan berkata sambil tersenyum.
"Orang muda, belum lama ini aku mendengar bahwa yang menjadi juara dalam pibu di puncak Kui-san adalah seorang pemuda murid Hoa-san-pai yang mendapat gelar Hoa-san Taihiap! Tadinya aku menjadi kagum, akan tetapi setelah melihat kau dalam keadaan seperti sekarang ini, kekagumanku lenyap sama sekali! Entah bagaimana dengan kepandaianmu, maka sekarang perlihatkanlah kepandaianmu untuk kulihat apakah akupun akan kecewa melihatnya!"
Ciauw In merasa panas hatinya mendengar sindiran ini dan ia menganggap orang tua ini keterlaluan.
Yang bermusuh dengan Sian Kim adalah Hui Kok Losu maka tidak mengherankan apabila Hui Kok Losu memaki-maki Sian Kim yang menjadi musuhnya dan bahkan yang telah membunuh muridnya, akan tetapi petani tua ini mengapa datang-datang juga menghina Sian Kim?
Dengan mengatakan bahwa melihat keadaannya membuat kekagumannya lenyap, berarti bahwa setelah melihat dia datang bersama Sian Kim, petani tua itu memandang rendah kepadanya dan hal ini secara tidak langsung berarti penghinaan bagi diri Sian Kim!
Akan tetapi, ia masih menahan marahnya dan bertanya.
"Orang tua, sudah selayaknya bagi orang-orang yang biasa bertempur untuk mencoba kepandaian. Tentu saja aku bersedia untuk melayanimu setelah kau memberitahukan namamu kepadaku."
Petani tua itu tersenyum dan menduga bahwa sikap anak muda itu tentu akan berubah setelah mendengar namanya yang cukup terkenal di kalangan kang-ouw, maka ia lalu menjawab sambil mengangkat dada.
"Aku bernama Ma Sian, akan tetapi kawan-kawan di kalangan kang-ouw memberi nama Lui-cin-tong (Pacul Kilat) kepadaku."
Akan tetapi orang tua ini kecele kalau ia menyangka bahwa pemuda itu akan merasa terkejut mendengar namanya, karena sesungguhnya Ciauw In sama sekali belum pernah mendengar nama ini, dan sikapnya sama saja kalau seandainya ia menyebutkan namanya sebagai Pacul Karatan atau Pacul Butut!
Pemuda itu hanya tersenyum dan berkata.
"Kalau begitu, kau tentu bukan seorang petani tulen!"
"Mengapa kau berkata demikian, anak muda!"
Tanya Ma Sian dengan terheran-heran.
"Seorang petani sejati hanya mempergunakan paculnya untuk berbuat kebaikan, mencangkul tanah menanam padi gandum. Akan tetapi kau yang berpakaian petani dan membawa-bawa pacul, ternyata mempergunakan alat pertanian yang mulia itu untuk mencangkul kepala orang!"
Merahlah muka Ma Sian mendengar ini.
"Pemuda buta! Ketahuilah bahwa paculku ini hanya suka menyangkul kepala orang jahat! Dan kau bersama kekasihmu itu bukan termasuk orang baik-baik! Majulah dan perlihatkan kepandaianmu."
Sambil berkata demikian, tangannya bergerak ke belakang dan kini paculnya telah dipegang dengan kedua tangan lalu memasang kuda-kuda yang mirip dengan seorang petani siap hendak mencangkul tanah.
Ciauw In juga mencabut pedangnya dan Ma Sian yang melihat berapa pemuda itu telah bersiap sedia, lalu menyerang dengan gerakan cepat.
Cangkulnya menghantam ke arah kepala Ciauw In dengan gerak tipu Petani Mencangkul Batu.
Pukulan ini keras sekali datangnya dan digerakkan dengan kecepatan luar biasa.
Ciauw In maklum akan kepandaian lawan, maka ia berlaku hati-hati.
Dengan sigapnya ia melangkah mundur menghindarkan diri dari terkaman pacul yang tajam itu, ialu maju pula untuk membalas dengan tusukan pedang ke arah leher lawan.
Akan tetapi Ma Sian benar-benar cepat gerakannya oleh karena ia sudah dapat menarik kembali paculnya dan kini ia menangkis serangan Ciauw In dengan senjatanya yang luar biasa itu.
Hoa-san Taihiap lalu memperlihatkan kepandaiannya yang aseli karena merasa bahwa menghadapi lawan yang lihai ini ia tidak boleh berlaku lambat.
Pedangnya berkelebat cepat bagaikan seekor naga sakti mengamuk hingga Ma Sian diam-diam merasa kagum dan juga terkejut.
Petani tua ini lalu mengeluarkan gerakan yang disebut Petani Membabat Rumput.
Paculnya juga bergerak cepat sedangkan kakinya maju dengan tetap dan cepat dalam gerak langkah Cin-po-lian-hoan (Majukan Kaki Secara Berantai).
Mata paculnya yang tajam itu berkilauan putih, menyambar-nyambar ke arah bagian tubuh lawan yang berbahaya.
Akan tetapi Ciauw In ternyata menang gesit dan ilmu pedangnya Hoa-san Kiam-hwat benar-benar memiliki gerakan yang aneh dan tak terduga.
Ketika pacul di tangan Ma Sian menyambar ke arah leher untuk menabas putus batang lehernya, ia lalu menangkis dengan pedangnya.
Keduanya mengerahkan tenaga dalam dan ketika kedua senjata itu beradu, terdengar suara keras dan bunga api beterbangan, sedangkan Ma Sian merasa betapa tangan yang memegang pacul menjadi kesemutan.
Dalam saat kedua senjata bertemu, Ciauw In mempergunakan gerak tipu Po-in-kian-jit (Sapu Awan Lihat Matahari).
Yakni ketika pedangnya bertemu dengan mata pacul, ia miringkan sedikit pedangnya hingga mengenai belakang pacul dan segera dilanjutkan melalui sepanjang gagang pacul itu membabat ke arah tangan yang memegang gagang!
Ma Sian sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pedang lawan itu akan dapat bergerak sedemikian cepatnya, yakni setelah senjata bertemu terus menyerang, maka ia tak dapat mengelak lagi.
Terpaksa ia berseru keras dan melepaskan paculnya karena kalau tidak, pasti kedua tangannya akan terbabat pedang musuh!
Ia melompat mundur dengan muka merah!
Sebelum Ma Sian dapat berkata sesuatu, bayangan tubuh Hui Kok Losu yang memiliki gerakan cepat sekali telah menyambar dan menghadapi Ciauw In.
Orang tua ini marah sekali melihat kawannya dikalahkan dalam sebuah pertempuran yang belum berjalan lama, maka kini dengan tombak di tangan ia membentak.
"Hoa-san Taihiap, kau mengandalkan kepandaian untuk melakukan pengacauan. Majulah!"
Sambil berkata demikian ia menggerakkan tombaknya dan Ciauw In diam-diam terkejut melihat betapa ujung tombak itu melakukan gerakan melingkar dan tergetar ujungnya sampai berubah menjadi delapan!
Ia maklum akan kelihaian orang tua ini, karena menurut penuturan suhunya, seorang ahli tombak dapat menggetarkan ujung tombaknya sampai menjadi lima atau enam, akan tetapi kakek ini dapat menggetarkan tombaknya hingga ujungnya nampak menjadi delapan buah!
Dapat dimengerti bahwa lweekang dari kakek ini tak boleh dibuat permainan.
la tidak mau didahului, dan segera maju menyerang dengan gerak tipu Sian-jin-til-lou (Dewa Menunjuk Jalan).
Pedangnya meluncur cepat ke arah ulu hati lawannya dan ketika Hui Kok Losu menggerakkan tombak menangkis dengan gerakan yang amat kuat dan cepat.
Ciauw In menarik pedangnya dan merobah gerakannya menjadi gerak tipu Liong-ting-ti-cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga).
Dengan gerak tipu ini ia membacok ke arah kepala lawan, akan tetapi kembali sekali menggerakkan kedua tangan, tombak di tangan Hui Kok Losu telah menangkis pedang yang menyambar kepalanya.
Setelah menangkis untuk kedua kalinya, mulailah kakek itu membalas dengan gerak tipu Teng-miau-po-ci (Kucing Sakti Terkam Tikus).
Tombaknya dari atas mengemplang ke bawah menuju kepala Ciauw In dan ketika pemuda itu mengelak ke kiri, ujung tombak itu diteruskan dengan sebuah tusukan maut ke arah perutnya!
Kalau ujung tombak mengenai sasaran, maka perut pemuda itu tentu akan tertembus tombak sampai ke punggung!
Akan tetapi tentu saja Ciauw In tidak membiarkan dirinya dijadikan daging untuk disate, maka cepat ia molompat ke atas dengan gerak loncat Kera Sakti Memetik Buah, kemudian ketika ia berada di atas, ia lalu membuat gerakan loh-be (berjumpalitan) dan menyerang dari atas dengan tusukan Garuda Terbang Menyambar Ikan.
Menghadapi Ciauw In yang memiliki ginkang yang demikian lihainya, Hui Kok Losu maklum bahwa pemuda ini benar-benar memiliki ilmu pedang yang jauh lebih lihai daripada Sian Kim, maka ia lalu mengeluarkan ilmu tombaknya Kim-houw-ciang-hwat (Ilmu Tombak Harimau Emas) yang lihai dan mengerahkan tenaga, kegesitan dan kepandaiannya.
Pertempuran kali ini berjalan seru dan ramai sekali karena ternyata bahwa Kim-houw-ciang-hwat benar benar merupakan ilmu tombak yang jarang terdapat di daerah selatan.
Ciauw In merasa seakan-akan menghadapi dinding baja yang amat kuat dan sukar sekali ditembuskan.
Akan tetapi sebaliknya, menghadapi Hoa-san Kiam-hwat, ketua dari Kim-houw-bun itupun merasa bo-hwat (tak berdaya) karena ilmu pedang ini selain cepat dan kuat, juga mempunyai gerakan perubahan yang amat aneh dan tak terduga.
Keduanya sama-sama maklum akan kelihaian lawan dan karena dalam hal lweekang mereka setingkat, tentu saja sukar bagi keduanya untuk saling merobohkan.
Hui Kok Losu mengambil keputusan untuk mengadu keuletan dan napas oleh karena ia pikir bahwa seorang pemuda yang bergaul dengan Sian Kim tentulah pemuda pemogoran yang bertubuh lemah.
Oleh karena itu, maka ia lalu mainkan tombaknya dengan ilmu tombak Membuat Dinding Baja Menutup Diri, sebuah bagian ilmu tombak Kim-houw-ciang-hwat yang kegunaannya untuk menjaga diri.
Ciauw In ketika melihat betapa gerakan lawannya berubah menjadi gerakan yang dititikberatkan kepada pertahanan saja, maklum bahwa lawannya hendak mengadu keuletan dan menunggu sampai ia kehabisan napas dan kelelahan untuk segera merobohkannya.
Maka ia diam-diam tersenyum girang karena hal inipun menjadi keinginannya.
Ia merasa betapa sukarnya merobohkan kakek yang menjadi ciangbunjin (ketua) dari Kim-houw-bun ini maka iapun ingin mendapatkan kemenangan dari keuletan dan kekuatan napas.
Ia merasa bahwa dalam hal ini ia tidak perlu kuatir untuk dapat dikalahkan oleh orang tua yang sudah lanjut usianya itu.
Pertempuran berjalan terus sampai hampir seratus jurus dan setelah merasa lelah, barulah Hui Kok Losu sadar akan kesalah-dugaannya.
Ia tidak tahu bahwa biarpun Ciauw In tergila-gila kepada Sian Kim, namun Hoa-san Taihiap ini adalah seorang laki-laki sejati dan seorang pemuda yang masih terkumpul sepenuhnya semua tenaga dalam tubuh, maka tentu saja ia yang sudah tua tak kuat untuk mengadu keuletan tenaga dan napas.
Kalau ia sudah mulai terengah-engah dan keringat telah memenuhi jidatnya, adalah Ciauw In masih bermain pedang dengan tenang, sedikitpun belum pernah lelah!
Melihat kesalahannya ini, Hui Kok Losu lalu hendak mempergunakan kesempatan yang masih ada.
Ia mulai merobah gerakan tombaknya dan kini melancarkan serangan-serangan yang paling berbahaya.
Tombaknya berkelebatan cepat dan mendatangkan angin dingin, menyambar-nyambar ke arah tubuh Ciauw In sehingga pemuda ini merasa terkejut sekali.
Hal ini sama sekali tak pernah diduganya, karena dalam keadaan sedemikian lelah, orang tua itu ternyata masih dapat melakukan serangan yang demikian cepat dan membutuhkan tenaga besar.
Maka iapun lalu memutar-mutar pedangnya lebih cepat lagi untuk menangkis setiap serangan dan hatinya merasa di dalam benturan senjata betapa ternyata lawannya sudah mulai banyak berkurang!
Ia maklum bahwa lawannya ini betapapun juga sudah mulai lelah dan hampir kehabisan tenaga, maka ia segera berseru keras dan mendesak dengan serangan-serangan mematikan.
Benar saja, Hui Kok Losu mulai payah dan terdesak hebat.
Beberapa kali ketika ia menyampok pergi pedang lawan, sebelah tangannya sampai terlepas dari pegangan gagang tombak dan hanya karena ia memegang tombak dengan kedua tangan saja maka senjatanya itu tidak sampai terlempar!
Melihat keadaan suhunya ini, para anggauta Kim-houw-bun merasa kuatir sekali dan tanpa diperintah lagi, mereka lalu menyerbu dan mengeroyok Ciauw In untuk membantu guru mereka!
Hui Kok Losu sebetulnya hendak mencegah hal ini, akan tetapi di dalam kelelahannya, ia tidak berani membuka mulut, oleh karena ia sedang mengerahkan tenaga terakhir, kalau ia membuka mulut dan bicara, tentu ia takkan kuat menahan lagi!
Juga Ma Sian si Cangkul Kilat ketika melihat keadaan Hui Kok Losu, tentu saja tidak rela kalau kawannya yang gagah perkasa ini sampai roboh di tangan seorang penjahat muda, maka ia segera mengangkat paculnya menyerbu!
Akan tetapi, Sian Kim sambil tertawa menghina berkata.
"Orang-orang Kim-houw-bun memang pengecut!"
Lalu ia memutar-mutar pedangnya menghadapi Ma Sian!
Pertempuran menjadi makin ramai karena kini terpecah menjadi dua bagian.
Ciauw In menghadapi Hui Kok Losu yang dibantu oleh para murid kepala yang jumlahnya tujuh orang, sedangkan Sian Kim bertempur melawan Ma Sian dan dikeroyok oleh delapan orang murid muda.
Akan tetapi, Ciauw In tetap saja berada di fihak yang menyerang.
Pemuda ini merasa marah sekali melihat kecurangan fihak lawan yang mengeroyok, karena sesungguhnya tadi ia tidak berniat mencelakai Hui Kok Losu, hanya ingin mengalahkannya saja.
Tadi ia belum dapat merobohkan Hui Kok Losu oleh karena ia hendak mencari jalan bagaimana ia dapat mengalahkan orang tua gagah itu tanpa menewaskannya atau mendatangkan luka berat.
Kalau ia bermaksud membunuh, dari tadipun ia dapat menjatuhkan tangan kejam.
Sekarang melihat datangnya para anggauta Kim-ouw-bun yang mengeroyok, timbullah marahnya dan sekali ia berseru keras dan pedangnya berkelebat, pedangnya meluncur cepat menuju tenggorokan Hui Kok Losu.
Ciangbunjin ini masih berusaha untuk menangkis, akan tetapi ia benar-benar telah kehabisan tenaga dan napas maka tangkisannya kurang kuat dan ujung pedang masih langsung menyerang dan secara tepat dan tanpa disengaja, ujung pedang Ciauw In menancap di jalan darahnya dekat leher, Hui Kok Losu menjerit ngeri dan roboh.
Ia tewas bukan hanya karena serangan Ciauw In, akan tetapi sebagian besar karena telah kehabisan napas dan tenaga!
Ciauw In merasa agak menyesal melihat betapa ia telah kesalahan tangan, akan tetapi oleh karena para pengeroyoknya kini menjadi makin sengit dan nekad, ia merasa kepalang kalau tidak bergerak terus.
Ia mengamuk dan sebentar saja tiga orang pengeroyoknya telah roboh oleh pedangnya!
Sementara itu, pertempuran di bagian lain lebih ramai karena kini menghadapi Sian Kim, Ma Sian dapat memperlihatkan kelihaiannya.
Sungguhpun kalau bertempur satu lawan satu, belum tentu ia akan dapat mengalahkan ilmu pedang Sian Kim yang juga lihai dan ganas, akan tetapi karena kini ia dibantu oleh delapan orang anak murid Kim-houw-bun, ia dapat mendesak Sian Kim yang mulai terdesak mundur.
Sian Kim menjadi marah sekali, pedangnya berkelebat makin ganas dan beberapa kali terdengar jerit kesakitan karena pedang gadis baju hitam itu telah mendapat kurban.
Namun jumlah pengeroyoknya tidak berkurang karena jatuh seorang, maju pula penggantinya yang masih banyak menanti mencari lowongan!
Juga Sian Kim telah mendapat luka pada pundak kirinya oleh pukulan pacul Ma Sian yang walaupun hanya menyerempet dan merobek bahunya serta melukai kulitnya saja, akan tetapi darah yang keluar cukup banyak, membasahi lengan baju sebelah kiri.
Setelab menjatuhkan enam orang, para pengeroyok Ciauw In yang makin bertambah jumlahnya itu mulal menjadi gentar dan mereka mengundurkan diri untuk mengeroyok Sian Kim yang sudah amat terdesak.
"Koko, bantulah aku..."
Gadis itu berseru dan Ciauw In cepat menyerbu membantu kekasihnya.
Tiga orang sekaligus roboh karena serbuannya ini sehingga semua pengeroyoknya kecuali Ma Sian, menjadi makin gentar.
Kesempatan ini digunakan secara baik oleh Sian Kim yang mengirim tusukan maut ke arah Ma Sian dengan gerakan Harimau Lapar Menubruk Kambing.
Ma Sian tidak melihat jalan keluar menghadapi serangan ini, maka ia lalu berlaku nekad hendak mengadu nyawa.
Ia tidak menangkis atau mengelak, akan tetapi lalu mengangkat cangkulnya dan menghantam kepala Sian Kim sekuat tenaga dengan senjatanya itu.
Kalau Sian Kim meneruskan serangannya, tentu ia akan terpukul kepalanya oleh pacul itu.
Akan tetapi, Ciauw In tentu saja tidak dapat berpeluk tangan melihat kepala Sian Kim yang bagus itu dihancurkan, maka ia segera menangkis dengan pedangnya sedangkan pedang Sian Kim terus meluncur dan "Crat!!"
Ujung pedangnya masuk ke dalam dada Ma Sian sampai tembus di punggung!
Ketika gadis itu mencabut senjatanya, Ma Sian masih sempat menggunakan tenaga terakhir melontarkan paculnya ke arah Ciauw In yang segera membungkuk hingga pacul itu menghantam tembok!
Tubuh Ma Sian terhuyung-huyung, kemudian rebah dan tewas!
Keadaan makin menjadi kacau dan tiba-tiba dari luar datang menyerbu penjaga-penjaga keamanan kota yang dikepalai oleh seorang perwira.
Mereka ini mendapat laporan dari seorang anggauta Kim-houw-bun tentang datangnya dua orang pengacau, maka karena perkumpulan ini amat dihormat, juga oleh petugas-petugas negara, segera serombongan petugas lari menyerbu untuk membantu menangkap dua orang pengacau itu.
Melihat serbuan ini, Ciauw In segera berseru.
"Moi-moi, mari kita lari!"
Akan tetapi, Sian Kim kini sedang bergembira membabat para anggauta Kim-houw-bun.
Setelah Hui Kok Losu dan Ma Sian tewas, maka sisa orang yang mengeroyoknya merupakan tahu empuk baginya dan tiap kali pedangnya berkelebat, robohlah seorang anggauta Kim-houw-bun.
Gadis ini tidak takut melihat kedatangan para penjaga keamanan bahkan ia lalu melompat mendekat dan menyambut mereka dengan serangan pedang yang berhasil merobohkan dua orang penjaga keamanan dengan sekali serang saja.
Oleh karena ini, ia dalam kegembiraannya menyebar maut, ia tidak mendengar seruan Ciauw In.
Pemuda ini melihat betapa lengan kiri Sian Kim penuh darah, dan juga melihat betapa jumlah penjaga keamanan yang menyerbu dari luar makin banyak jumlahnya, maka ia lalu melompat mendekati Sian Kim, menyambar pinggang kekasihnya itu dan melompat ke atas genteng!
Setelah berada di atas ganteng, barulah Sian Kim merasa betapa pundaknya perih sekali, maka iapun lalu melarikan diri bersama Ciauw In, melalui wuwungan rumah-rumah penduduk dan sebentar saja mereka telah berada di luar kota.
Akan tetapi, barisan penjaga dan sisa-sisa anak buah Kim-houw-bun tetap mengejar mereka, biarpun telah ketinggalan jauh hingga Ciauw In dan Sian Kim tidak mendapat kesempatan untuk mengaso.
Mereka ini terpaksa berlari terus ke selatan, dikejar-kejar dari belakang oleh para penjaga yang menunggang kuda!
Ciauw In sudah merasa lelah, dan Sian Kim merasa lelah apalagi karena luka kulit pundaknya terasa perih dan ngilu, maka tentu saja keadaan ini membuat mereka menjadi bingung.
Tiba-tiba dari jurusan depan datang sebuah kendaraan beroda tiga yang ditarik oleh empat ekor kuda besar.
Seorang laki-laki yang duduk di dalam kendaraan itu, membuka tirai kereta dan melongok keluar.
Ketika melihat Ciauw In dan Sian Kim, ia segera berseru.
"Ah, tidak tahunya jiwi enghiong (dua orang gagah) yang sedang mendapat kesukaran. Lekas masuk ke dalam keretaku!"
Tadinya Ciauw In dan Sian Kim tidak mengenali muka ini dan merasa amat heran melihat seorang pemuda tampan dan hartawan menegur dan hendak menolong mereka, akan tetapi melihat senyumnya, tiba-tiba Sian Kim teringat.
"Dia adalah Ong Hwat Seng murid Bu-tong-pai!"
Katanya kepada Ciauw In yang juga teringat.
Pernah ia melihat pemuda ini di puncak Kui-san ketika terjadi pertandingan persahabatan diantara orang-orang gagah.
Inilah pemuda sombong yang dulu mewakili Bu-tong-pai dan sungguhpun Ciauw In tidak suka kepada pemuda mewah dan sombong itu, akan tetapi dalam keadaan terdesak sedemikian rupa, dan pula karena Sian Kim mendahuluinya melompat ke dalam kereta, terpaksa iapun lalu melompat ke dalam kereta, menduduki bangku berhadapan dengan Ong Hwat Seng.
Sian Kim duduk di dekat pemuda itu dan Ciauw In duduk dihadapan mereka.
Pemuda itu lalu memberi perintah kepada pengemudi kereta.
"Lekas putar kembali kendaraan dan kita pulang!"
Pengemudi kereta menurut perintah.
Empat ekor kuda itu lalu diputar kembali dan segera kereta dikaburkan pesat.
Akan tetapi, tak lama kemudian para pengejar yang terdiri dari petugas-petugas kota Ouwciu dapat menyusul kendaraan itu dan dengan suara garang memerintahkan pengemudi untuk berhenti.
Sementara itu, Ong Hwat Seng memberi tanda kepada Ciauw In dan Sian Kim untuk tidak mengeluarkan suara, kemudian ketika kereta diperintahkan berhenti, ia lalu melongok dari tirai.
"Ada apakah maka kendaraan berhenti?"
Tanyanya keras-keras kepada pengemudinya.
"Siapa yang berani menahan keretaku?"
Sementara itu, para pengejar yang terdiri dari anggauta-anggauta Kim-houw-bun dan para penjaga keamanan kota Ouwciu, ketika melihat Ong Hwat Seng, segera lenyap keraguan mereka dan dengan mengangkat tangan memberi hormat dan tersenyum mereka lalu mendekati pemuda itu.
Pemimpin mereka, perwira yang bertubuh tinggi besar, segera turun dari kuda dan menjura.
"Ah, tidak tahunya Ong-siauwya (Tuan muda Ong) yang berada di dalam kereta! MaafKan kami yang tidak tahu dan telah mengganggu siauwya!"
Ong Hwat Seng memperlihatkan muka manis ketika berkata.
"Tidak apa, tidak apa! Akan tetapi ada keperluan apakah maka kalian sampai membalapkan kuda ke tempat ini dan menahan kereta? Agaknya ada hal yang amat penting terjadi!"
"Celaka, Ong-siauwya!"
Kata perwira itu.
"Di kota kami datang dua orang penjahat besar yang telah membasmi Kim-houw-bun, membunuh banyak orang, bahkan Hui Kok Lo-enghiong juga tewas dalam tangan mereka."
"Aduh, hebat benar..."
Ong Hwat Seng menggeleng-geleng kepalanya dan melebarkan matanya.
"Kami mengejar kedua penjahat itu, seorang pemuda dan seorang gadis, akan tetapi ketika tiba di tempat ini mereka tiba-tiba lenyap!"
Ong Hwat Seng memperlihatkan muka tidak senang mendengar ini. Ia mengeluarkan suara menghina dan berkata keras.
"Jadi karena itukah kalian menghentikan keretaku? Kalian menyangka bahwa aku menyembunyikan kedua orang jahat dalam kendaraanku? Ah, sungguh menyebalkan! Mari, kalian periksalah di dalam kereta!"
Tentu saja perwira itu merasa amat malu dan juga gugup mendengar ucapan ini dan melihat betapa Ong Hwat Seng menjadi tak senang hati.
Ong Hwat Seng mereka kenal baik, seorang pemuda kaya raya di kota Ouw-san yang tak jauh letaknya dari Ouwciu, dan selain kaya raya dan berpengaruh besar di kalangan pembesar karena pemuda ini adalah putera dari seorang bekas pembesar tinggi yang telah meninggal dunia, iapun terkenal sebagai seorang pemuda berkepandaian tinggi dan bahkan menjadi kenalan baik dari mendiang Hui Kok Losu!
Sudah tentu ia tidak berani berlaku kurang ajar untuk tidak mempercayai omongan pemuda bangsawan yang kaya raya dan berkepandaian tinggi itu.
"Maaf, Ong-siauwya. Tadi kami tidak menyangka bahwa kendaraan ini milik Ong-siauwya. Sama sekali kami tidak berani berlaku lancang dan sudah tentu saja kami tidak pernah menyangka bahwa siauwya menyembunyikan orang jahat. Akan tetapi, besar harapan kami semoga siauwya suka memberitahu kalau-kalau tadi melihat ke mana larinya dua orang yang sedang kami kejar-kejar itu!"
"Hm, kalau aku melihat mereka, apa kau kira mereka dapat lari jauh?"
Jawab Ong Hwat Seng dengan sombongnya.
"Aku tidak melihat mereka, akan tetapi sesampainya di rumah, aku akan melaporkan hal ini kepada kawan-kawanku pembesar setempat agar ikut membantu mencari dan menangkap mereka."
Perwira itu lalu menjura lagi dengan hormat sekali.
"Terima kasih, siauwya, dan sekali lagi harap maafkan kami yang telah berlaku lancang."
Kemudian rombongan berkuda itu melarikan kuda mereka ke lain tempat untuk mencari dua orang penjahat yang tiba-tiba lenyap itu.
Ong Hwat Seng masuk dan duduk lagi di dalam kereta sambil memerintahkan kusirnya melanjutkan kereta menuju ke Ouw-san, ia berkata kepada kusirnya.
"Akai, awas kau! Jangan kau menceritakan kepada siapapun juga tentang peristiwa tadi. Kedua tuan muda dan nona ini adalah sahabat-sahabat baikku yang datang dari Bi-hok, tahu kau?' "Baik, siauwya, saya tahu."
Ong Hwat Seng lalu memandang kepada Sian Kim dan Ciauw In sambil tersenyum bangga.
"Nah, bukankah beres sudah?"
"Kau telah menolong kami,"
Kata Ciauw In sederhana, sedangkan Sian Kim yang meringis kesakitan, memaksa tersenyum manis sambil berkata.
"Ong-Siauwya, kau benar-benar cerdik dan baik hati. Aku berterima kasih kepadamu,"
Kata ini ditutup dengan kerlingan mata menyambar hingga membuat Ong Hwat Seng menatap wajah jelita itu tanpa berkejap!
Hal ini membuat hati Ciauw In tak enak sekali dan rasa tidak sukanya kepada pemuda kaya ini makin meluap, akan tetapi ia pura-pura tidak melihatnya karena ia telah ditolong maka tidak seharusnya ia memperlihatkan muka tak senang.
Sementara itu, ketika Ong Hwat Seng melihat pundak kiri Sian Kim, ia hampir menjerit karena kaget dan kagum.
Kaget melihat darah telah membuat pakaian gadis itu menjadi merah dan kagum karena dari balik baju yang robek itu ia melihat kulit lengan yang halus dan putih menggiurkan hatinya.
Harus diketahui bahwa jago muda dari Bu-tong-pai ini selain kaya raya dan berdarah bangsawan, juga terkenal mata keranjang dan gila wajah cantik.
Maka melihat kecantikan Sian Kim dan lirikan mata yang tajam serta senyum di bibir yang mungil dan manis itu, tentu saja semenjak tadi hatinya telah berdebar-debar keras.
"Ah, kalian terlampau sungkan,"
Katanya.
"bukankah kita sudah saling bertemu di puncak Kui-san? Kita adalah orang orang segolongan, maka tak perlu bersungkan-sungkan. Sudah sewajarnya kita saling menolong. Nona, pundakmu terluka, kau perlu mendapat rawatan yang baik, akan tetapi jangan kuatir, sesampainya di rumah, aku akan panggil seorang tabib yang pandai dan ahli dalam hal mengobati luka-luka."
La tersenyum lalu menambahkan dengan sikap ceriwis sekali.
"Kecuali luka di dalam hati yang tidak ada obatnya!"
Kalau saja ia tidak berada dalam perlindungan dan pertolongan pemuda ini, tentu Ciauw In sudah menggerakkan tangan menampar mulutnya, akan tetapi ia menahan kesabarannya dan ketika ia mengerling ke arah kekasihnya, ternyata Sian Kim tersenyum mendengar ucapan yang ceriwis itu!
Kembali ia merasa tidak enak dan dalam maboknya, ia tidak mempersalahkan Sian Kim yang tidak seharusnya menghadapi keceriwisan itu dengan tersenyum, bahkan ia menimpakan seluruh kejengkelannya kepada pemuda itu!
Rumah Ong Hwat Seng merupakan sebuah bangunan gedung besar yang mewah dan indah.
Pemuda ini hanya tinggal dengan ibunya yang sudah tua, akan tetapi pemuda ini benar-benar seorang anak yang amat jahat dan tidak berbakti terhadap orang tuanya.
Ia berlaku sewenang-wenang terhadap ibunya dan ibu sudah tua ini melihat betapa anaknya makin lama makin binal dan lama sekali tidak menghormat atau menghiraukannya, menjadi amat berduka dan selalu menyembunyikan diri di dalam kamarnya.
Jarang sekali ia keluar dari kamarnya, karena sekali ia keluar, tentu timbul percekcokan mulut dengan puteranya itu.
Pernah dulu ia menegur puteranya dengan kata-kata pedas.
"Hwat seng, kau adalah putera tunggal dari keluarga Ong, dan ayahmu terkenal sebagai seorang pembesar yang dihormati orang. Akan tetapi, apa jadinya dengan kau? Ketika disuruh mempelajari kesusasteraan, kau bahkan mempelajari ilmu silat yang kasar. Apakah kau hendak menjadi tukang pukul? Dan sekarang, setelah ayahmu meninggal dunia, kau tidak menjadi baik bahkan makin menggila. Kau setiap hari hanya berpelesir saja, bergaul dengan segala buaya darat, menghabiskan uang seperti melempar-lempar pasir, sama sekali tidak ingin mencari kedudukan baik, atau berusaha sesuatu. Kalau kelak harta peninggalan ayahmu habis, kau akan hidup dari apa?"
Seperti biasa, Ong Hwat Seng cemberut dan anak yang dulunya terlalu dimanja bahkan membentak ibunya.
"Ibu, kau sudah tua, untuk apa masih suka cerewet saja? Biasanya orang tua mencari jalan terang untuk menungggu matinya, akan tetapi kau setiap hari selalu marah mengumbar hawa nafsu, tidak tahu bahwa yang kau marahi adalah anakmu sendiri. Aku sudah dewasa dan mencari sedikit kesenangan, mengapa kau marah-marah? Apakah kau iri hati?"
Terbelalak mata nyonya tua itu karena marah dan terkejut karena biarpun biasanya anak tunggalnya itu suka membantah, akan tetapi belum pernah sekasar itu.
"Bagus, Hwat Seng!"
Katanya dengan air mata mengalir turun ke atas pipinya.
"Setelah ayahmu meninggal, kau berani terhadap ibumu, ya? Begitukah sikap seorang anak terhadap ibunya? Kau seorang anak puthauw (tidak berbakti), tidak membalas cinta kasih ibu, bahkan berani bersikap dan bicara kasar jadi kau ingin melihat ibumu lekas mati?"
Melihat ibunya menangis, Hwat Seng bahkan lalu tersenyum yang merupakan seringai mengejek.
"Ibu, aku hanya berkata sebenarnya, karena siapakah orangnya yang akhirnya takkan mati? Aku sendiri kelak tentu akan mati. Dan tentang bakti atau tidak berbakti, hal ini adalah ucapan palsu yang digunakan oleh para orang tua untuk menakut-nakuti anaknya. Bila aku menghabiskan uang juga bukan dari penghasilan ibu, akan tetapi mendiang ayah yang dulu mencarinya! Ibu hanya menumpang diri, seperti aku pula. Kalau ibu hendak memakai uang peninggalan ayah dan hidup bersenang-senang, silakan, aku tidak melarang!"
"Thian Yang Maha Agung!"
Ibu yang hancur hatinya itu mengeluh sambil mendekap dadanya.
"mengapa aku mempunyai anak semacam ini? Percuma saja kau kukandung berbulan-bulan dan kupelihara dengan susah payah, kupertaruhkan jiwaku ketika melahirkanmu..."
Nyonya ini menangis lagi makin sedih.
"Sudahlah, sudahlah..."
Hwat Seng anak durhaka itu mencela, dengan muka memperlihatkan kesebalan hatinya.
"betapapun juga, ibu harus ingat bahwa aku dulu tidak minta dikandung, tidak minta dilahirkan, dan juga tidak minta dipelihara...!"
Setelah mengeluarkan ucapan-ucapan yang hanya patut keluar dari mulut iblis neraka ini, anak itu lalu meninggalkan ibunya.
Dan semenjak saat itulah maka nyonya Ong tak pernah keluar dari kamarnya, setiap hari termenung memikirkan nasibnya, berprihatin menanti saatnya tiba untuk menyusul suaminya oleh karena biarpun hidup di tengah-tengah harta benda dan kemewahan, akan tetapi ia tidak merasakan kebahagiaan hidup.
Dengan amat ramah tamah, Ong Hwat Seng lalu memberi perintah kepada para pelayan menyediakan dua buah kamar untuk Ciauw In dan Sian Kim.
Gadis itu mendapat sebuah kamar yang amat indah dan mewah, karena inilah kamar Hwat Seng sendiri yang ia berikan kepada nona manis itu, sedangkan Ciauw In mendapat sebuah kamar di ruang belakang, agak jauh dari kamar Sian Kim.
Kemudian ia mendatangkan seorang tabib yang terkenal pandai di kota Ouw-san untuk merawat luka di pundak Sian Kim yang biarpun terasa sakit, akan tetapi sebetulnya tidak berbahaya.
Ciauw In dan Sian Kim mendapat pelayanan yang luar biasa manisnya dari Hwat Seng, bahkan setiap hari kedua orang tamu itu mendapat jamuan makan yang serba mewah.
Sian Kim nampak kerasan dan senang sekali tinggal di rumah gedung yang indah itu, dan wajahnya selalu berseri-seri.
Ia tidak banyak bicara dengan Ciauw In, bahkan hanya bertemu di waktu makan, bersama dengan tuan rumah, atau bercakap-cakap di ruang tamu yang terhias perabot-perabot mahal dan indah.
"Lie-heng dan Gu-siocia,"
Kata Hwat Seng pada hari kedua ketika mereka sedang menghadapi meja makan yang penuh dengan hidangan serba mahal.
"semenjak turun dari Kui-san, tiada hentinya aku mengagumi kalian karena akupun telah mendengar betapa Lie-heng (saudara Lie) keluar sebagai pemenang dan juara. Nama Hoa-san Taihiap telah kudengar dan membuat hatiku amat kagum! Juga aku telah mendengar akan kelihaian Gu-siocia yang boleh dibilang menduduki tempat kedua. Telah lama aku merasa rindu dan ingin bertemu, siapa tahu sekarang kita dapat bertemu dan bahkan makan di satu meja dan tidur di bawah satu wuwungan! Ah, bukankah ini namanya jodoh? Kuharap saja jiwi (kalian berdua) suka tinggal lebih lama di rumahku yang buruk ini untuk bercakap-cakap."
"Kau baik sekali, saudara Ong. Akan tetapi, kami berdua masih mempunyai banyak urusan, maka setelah nona Gu sembuh, terpaksa kami bermohon diri melanjutkan perjalanan,"
Kata Ciauw In.
"Ah, mengapa terburu buru?"
Hwat Seng berseru kaget.
"Ketahuilah Lie-heng bahwa pada waktu ini menurut penyelidikan orang-orangku keadaan kalian berdua telah menjadi pembicaraan orang dan semua petugas dan alat negara telah dikerahkan untuk mencari dan menangkap kalian berdua. Tidak itu saja, bahkan orang-orang kang-ouw yang menjadi sahabat-sahabat baik dari Hui Kok Losu dan Lui-cin-tong Ma Sian yang tewas dalam tangan kalian itu, kini keluar pula untuk mencarimu dan membalas dendam. Hal ini berbahaya sekali. Kalau jiwi tinggal di sini, kutanggung takkan ada orang yang berani datang mengganggu karena takkan ada yang menaruh curiga kepadaku, sedangkan para pelayanku dapat dipercaya sepenuhnya. Kelak, kalau keadaan tidak demikian panas lagi dan nafsu mereka telah menjadi dingin, barulah kalian boleh melanjutkan perjalanan dan bahaya tidak begitu besar lagi."
Sebelum Ciauw In menjawab, Sian Kim mendahuluinya.
"Memang betul juga ucapan Ong-siauwte ini. Lie-twako, terpaksa kita harus menurut petunjuknya."
Kemudian, sambil memandang kepada tuan rumah yang muda lagi tampan itu dengan sepasang matanya yang indah dan bening, nona baju hitam itu berkata.
"Ong-siauwya, budimu sungguh besar, entah bagaimana kami harus membalasnya."
Hwat Seng tertawa senang dan mainkan bibirnya untuk menambah kegagahan mukanya.
"Siocia, jangan bicara tentang budi, membikin aku merasa tidak enak saja!"
Setelah berkata demikian, dengan ramah tamah ia lalu mempersilakan kedua orang tamunya mengambil makanan yang lezat-lezat.
Telah sepekan lamanya Ciauw In dan Sian Kim tinggal di gedung itu.
Makin lama, hati Ciauw In makin merasa tidak enak dan tidak senang.
Ia ingin cepat-cepat pergi dari situ untuk melakukan perjalanan bersama Sian Kim, untuk mereka berdua saja dengan yang dicintainya itu.
Di dalam gedung ini ia merasa seakan-akan ia dipisahkan dari Sian Kim.
Bahkan sudah dua hari ini ia jarang bertemu kekasihnya dan seakan-akan gadis itu sengaja menjauhkan dirinya.
Juga Ong Hwat Seng jarang muncul, kecuali di waktu makan.
Pada saat mereka makan bersamapun, Sian Kim dan Hwat Seng nampak pendiam dan tidak banyak bicara.
Akan tetapi, yang membuat hati Ciauw In merasa makin gelisah adalah sinar mata Sian Kim yang bersinar-sinar pada waktu gadis itu mengerling ke arah tuan rumah!
Pada malam hari kedelapan, Ciauw In merasa gelisah.
Kamar yang lega itu nampak sempit baginya dan keindahan kamar berubah menjadi amat membosankan hatinya.
Ia merasa rindu sekali kepada Sian Kim sungguhpun gadis itu berada di bawah satu wuwungan dengannya.
Ia tak dapat tidur dan segera keluar dari kamar, berjalan-jalan sepanjang deretan kamar dan ruang yang amat luas di gedung.
Maksudnya hendak mencari pintu belakang dan masuk ke dalam taman bunga besar yang berada di belakang gedung itu.
Ketika ia lewat di depan sebuah kamar di bagian belakang, tiba-tiba ia mendengar suara wanita menangis.
Ciauw In merasa heran sekali dan ia berhenti melangkah, mendekati pintu kamar itu dan memasang telinga baik-baik.
Terdengar olehnya betapa suara tangisan itu disertai keluhan yang amat sedih.
"Suamiku... tidakkah rohmu melihat betapa anakmu menjadi tersesat...? Lindungilah dia dan insafkanlah hatinya... suamiku, kalau Hwat Seng tidak segera insaf... ia tentu akan mengalami malapetaka... dan aku... aku yang disia-siakannya,... aku tetap tidak tega..."
Kemudian terdengar lagi suara wanita itu menangis Ciauw In merasa heran sekali dan tak terasa pula ia mendorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci dari dalam.
Ketika daun pintu terbuka, ia melihat seorang wanita tua, sedang berlutut di depan meja sembahyang di dalam kamar itu dan sepasang lilin nampak bernyala di atas meja sembahyang dan kamar itu penuh dengan asap hio yang harum.
Wanita itu mendengar kedatangan orang segera berdiri dan memandang.
Ketika ia melihat Ciauw In, matanya mengeluarkan sinar marah.
Tangannya dengan gemetar menuding kepada pemuda itu dan ia berkata.
"Kau,... kau penjahat yang meracun anakku... apakah kau datang hendak membunuhku dan merampas harta benda kami?"
Bukan main kaget hatinya ketika Ciauw ln mendengar tuduhan ini, maka ia lalu menjawab dengan gagap.
"Lo-hujin, kau tentu ibu dari saudara Ong Hwat Seng,"
Ia lalu menjura memberi hormat.
"akan tetapi mengapakah kau marah-marah kepadaku? Aku bukan orang jahat dan aku tidak bermaksud jahat terhadap siapapun juga..."
"Bohong! Kau datang membawa perempuan jahat untuk memikat hati puteraku hingga ia tergila-gila. Mereka main gila di dalam rumahku yang bersih! Mereka mengotorkan rumah ini mencemarkan nama keluarga kami yang terhormat! Dan kau mau berkata bahwa kau dan kawanmu itu tidak bermaksud jahat?"
Ciauw In terkejut sekali.
"Apa katamu? Kawanku adalah seorang baik-baik, seperti aku pula. Kami tidak mempunyai maksud serendah itu!"
Tiba-tiba wanita tua itu tersenyum menghina.
"Apa kau anggap aku buta? Biarpun aku sudah tua, akan tetapi aku tidak mudah ditipu oleh bajingan-bajingan muda seperti kau! Pergi! Pergilah kau dari sini!"
Wanitu itu melangkah maju hendak mencakar muka Ciauw In yang segera melompat keluar dengan hati berdebar.
tidak perdulikan lagi wanita itu karena pikirannya penuh dengan dugaan yang membuat mukanya menjadi pucat dan dadanya berdebar keras.
Cemburu yang amat besar mendesak hatinya dan seperti orang kalap ia lalu berlari masuk kembali ke dalam kamar, mengambil buntalan pakaian dan pedangnya, lalu lari ke arah kamar Sian Kim.
Ia hendak paksa kawannya itu untuk meninggalkan gedung ini.
Ia telah diusir oleh ibu Hwat Seng dan nyonya tua itu telah mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang amat keji terhadap dirinya, terutama sekali terhadap Sian Kim!
Saking marahnya, ketika tiba di depan pintu kamar Sian Kim, ia mempergunakan tenaga dalam untuk mendorong daun pintu hingga daun pintu itu terpentang lebar dan palangnya copot!
Ketika ia melompat masuk, hampir saja ia berteriak karena marah dan terkejut!
Ia melihat Ong Hwat Seng berada di kamar Sian Kim duduk menghadapi arak dan daging, sedangkan gadis itu duduk pula di dekatnya.
Mereka nampak sedang makan minum dengan amat gembira dan wajah Sian kim nampak berseri-seri!
"Apa artinya ini?"
Ciauw In membentak marah sambil mencabut pedangnya!
Kalau ada kilat menyambar ke dalam kamar pada waktu itu, belum tentu Hwat Seng dan Sian Kim akan menjadi sekaget itu.
Hwat Seng segera melompat dan sebelum ia berkata-kata, Ciauw In sudah menerkamnya dengan tusukan pedang Pemuda she Ong itu mengelak cepat dan mencabut pedangnya pula, lalu balas menyerang.
Akan tetapi dalam kegemasannya, Ciauw In bergerak cepat.
Sebuah tendangan membuat meja yang tadi dihadapi Hwat Seng terpental ke arah pemuda she Ong itu hingga Hwat Seng terpaksa melompat ke pinggir.
Akan tetapi Ciauw In mengejarnya dan kembali pemuda ini menyerang dengan tusukan kilat dan ketika Hwat Seng mencoba untuk menangkis, tiba-tiba Ciauw In merobah serangannya dengan bacokan ke arah leher!
Ong Hwat Seng menjadi terkejut sekali dan cepat miringkan tubuhnya, akan tetapi tetap saja pundaknya terbacok hingga mendapat luka.
Hwat Seng menjerit keras, melompat ke arah dinding sebelah kiri dan sekali ia menekan tempat rahasia, dinding itu terbuka dan ia melompat masuk!
Ketika Ciauw In mengejar, dinding itu tertutup kembali.
Sementara itu, Sian Kim yang tadi hanya berdiri bengong dan muka pucat, segera berseru.
"Koko, jangan...!"
Akan tetapi Ciauw In tidak mau mendengarkan cegahannya dan cepat melompat keluar kamar untuk mencari Ong Hwat Seng, karena ia tidak akan puas sebelum membunuh pemuda itu!
Hatinya panas sekali dan matanya menjadi gelap!
Cemburu yang amat besar telah membuat ia berlaku nekad untuk membunuh Hwat Seng.
Ia mengejar ke arah di mana pemuda itu masuk ke dalam dinding rahasia dan ketika ia melihat bayangan pemuda itu berkelebat jauh di depan, ia terus mengejar.
Ternyata bahwa pemuda itu berlari ke dalam kamar ibunya!
Ciauw In berseru dan mengejar terus dengan pedang di tangan.
Ia tendang pintu kamar nyonya tua tadi dan melihat betapa Ong Hwat Seng berlutut merangkul kaki ibunya sambil gemetaran seluruh tubuhnya.
Ciauw In mengangkat pedangnya, akan tetapi tiba-tiba Nyonya Ong menubruk anaknya dan melindungi dengan tubuhnya.
"Sicu (tuan yang gagah), jangan kau bunuh anakku... jangan...! Kalau mau bunuh, bunuhlah aku... kalau anakku melakukan kesalahan, biarlah aku ibunya yang menebus dosanya dengan nyawaku...!"
Sikap seorang ibu yang demikian nekad melindungi puteranya, sungguhpun putera itu adalah seorang putera durhaka, membuat Ciauw Ia tertegun dan ragu-ragu.
"Ong Hwat Seng,"
Katanya dengan suara marah.
"memandang muka ibumu, aku memberi ampun kepadamu!"
Kemudian ia membalikkan tubuh meninggalkan kamar itu.
"Lie-heng, kau salah sangka..."
Terdengar suara Ong Hwat Seng, akan tetapi Ciauw ln tidak memperdulikan padanya.
Ketika ia tiba di luar kamar, ia melihat Sian Kim telah berada di situ, lengkap dengan buntalan pakaiannya.
Gadis ini biarpun berwajah pucat, akan tetapi masih nampak amat cantik jelita dan ketika melihat Ciauw In, ia berkata singkat.
"Koko, kau terburu nafsu. Mari kita tinggalkan gedung ini dan akan kujelaskan kelak!"
Ciauw In tiba-tiba menjadi girang sekali karena tak pernah disangkanya bahwa gadis itu akan pergi bersama dia meninggalkan gedung.
Tadinya ia khawatir kalau-kalau gadis itu terpikat hatinya oleh kemewahan tempat itu dan tidak mau ikut pergi.
Maka ia hanya mengangguk dan keduanya lalu melompat keluar dan pergi dari gedung itu di waktu malam gelap.
"Twako, kau benar-benar terlalu terburu nafsu dan menjadi buta karena cemburu. Aku... aku tidak melakukan perbuatan apa-apa yang melanggar batas kesusilaan dengan Ong Hwat Seng. Dia datang dan mengajakku makan-minum untuk merayakan kemenangannya bermain dadu. Tadinya ia hendak mengajak kau, akan tetapi oleh karena kamarmu sudah tertutup pintunya, ia takut bahwa kau sudah tidur dan akan mengganggumu. Kebetulan ketika itu aku berada di luar kamar, maka ia mengajak aku makan-minum dan tentu saja aku tidak dapat menolaknya untuk membikin senang hatinya. Bukankah kita sudah berhutang budi padanya?"
"Akan tetapi... kau dan dia di dalam kamarmu... makan-minum bersama..."
Ciauw In tidak dapat melanjutkan kata-katanya, hanya memandang wajah Sian Kim dengan ragu-ragu.
Betapapun juga, ia tak dapat membenci gadis ini, dan kebenciannya ia tumpahkan seluruhnya kepada Hwat Seng.
Sian Kim tersenyum dan menggunakan kedua tangannya untuk memeluk Ciauw In.
"Kau terlalu cemburu, koko yang baik! Biarpun kami berada di dalam kamar, akan tetapi kami hanya makan minum belaka. Apa salahnya itu! Apakah kau tidak percaya kepadaku? Ah, aku tidak begitu buta dan gila untuk salah pilih, koko yang baik. Seratus orang Hwat Seng masih belum dapat menandingi seorang Ciauw In yang kucinta sepenuh hati dan jiwaku!"
Sambil berkata demikian, gadis itu dengan lagak yang amat memikat lalu menyandarkan kepala dengan rambutnya yang harum di dada Siauw In.
Pemuda ini memang telah berhari-hari merasa rindu kepada kekasihnya, maka kini melihat sikap Sian Kim, luluhlah seluruh kemarahannya dan ia lalu balas memeluk dengan hati amat bahagia.
Ia merasa seakan-akan mendapatkan kembali mustika yang disangkanya hilang.
"Nyonya tua itu... ibu Hwat Seng, ia membuat aku cemburu dan gelap mata!"
Katanya seakan-akan mengatakan kemenyesalan dan maafnya atas perbuatannya tadi.
"Ia bilang bahwa kau dan anaknya melakukan... hal-hal yang tidak selayaknya..."
Sian Kim merenggutkan kepalanya dari dada Ciauw In dan sinar matanya menyatakan bahwa ia marah sekali. Bibirnya yang manis itu cemberut.
"Nyonya gila itu...? Koko, apakah kau lebih percaya kepada seorang nyonya gila daripada aku, kekasihmu yang amat mencintamu? Kalau begitu, akan kubunuh nyonya itu sekarang juga!"
Gadis ini membuat gerakan seakan-akan hendak lari kembali ke gedung Ong Hwat Seng. Melihat sikap ini, makin besar (Lanjut ke
Jilid 06 -Tamat) Pendekar Dari Hoasan/Hoasan Tayhiap (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 (Tamat) kepercayaan Ciauw In terhadap kesucian kekasihnya, maka ia segera menubruk dan menggunakan kedua lengannya untuk memeluk pinggang Sian Kim.
"Jangan, moi-moi, tak usah kau melakukan hal itu! Thian yang menjadi saksi bahwa aku percaya kepadamu. Maafkan perbuatanku yang bodoh tadi!"
Sian Kim dengan masih cemberut lalu mengerling tajam, marah sekali.
"Lain kali jangan kau meragukan cintaku, koko, kalau kau memang tidak percaya, biarlah sekarang juga kita berpisah dan selamanya tak bertemu pula. Aku rela menderita dan patah hati, asal tidak membuat kau gelap pikiran dan mengamuk tidak karuan seperti orang gila..."
Ciauw In merasa terharu dan memeluk lebih erat.
"Maafkan aku, moi-moi, aku memang bersalah. Biarlah lain kali aku minta maaf kepada Hwat Seng."
Akan tetapi di dalam batinnya Ciauw In maklum bahwa berapapun juga, kebenciannya terhadap Hwat Seng takkan dapat lenyap.
Tentu saja Ciauw In tak pernah mengira bahwa memang sesungguhnya, semenjak tinggal di gedung keluarga Ong, Sian Kim mengadakan hubungan gelap dengan Ong Hwat Seng!
Nona ini karena menjadi penasaran dan jengkel melihat sikap Ciauw In yang bersopan-sopan selalu itu, kini bertemu dengan seorang pemuda yang selain tampan dan kaya raya, juga yang memiliki sifat sama dengan dia sendiri, maka tentu saja mereka merupakan pasangan yang amat cocok.
Di dalam kamar Sian Kim terdapat sebuah pintu rahasia dan melalui pintu inilah Hwat Seng mengadakan pertemuan dengan Sian Kim.
Setelah Sian Kim dan Ciauw In meninggalkan rumahnya, Hwat Seng merasa amat marah dan sakit hati.
Ia benci sekali kepada Ciauw In yang selain memutuskan hubungannya dengan Sian Kim, juga menghinanya dan melukai pundaknya.
Ia bersumpah untuk membalas dendam, maka pada keesokan harinya, cepat ia menyebar orang-orangnya untuk memberitahukan kepada para petugas pemerintah yang sedang mencari-cari kedua orang itu dan juga kepada para jago kang-ouw yang merasa marah mendengar betapa Hek-lian-niocu dan Hoa-san Taihiap telah membunuh orang baik-baik dan membuat kekacauan besar.
Terbunuhnya Hopak Sam-eng beserta putera mereka, dan terbunuhnya Hui Kok Losu, Lu-cin-tong Ma Sian dan banyak anggauta perkumpulan Kim-houw-bun, membuat orang-orang gagah merasa heran dan juga marah sekali terhadap Hoa-san Taihiap.
Sebentar saja menjadi buah bibir kalangan kang-ouw bahwa Hoa-san Taihiap menjadi jahat karena pengaruh Hek Lian Niocu yang sudah terkenal jahat dan menjadi pemimpin dari perkumpulan Hek-lian-pang yang juga bernama busuk itu.
Maka ketika Ong Hwat Seng, jago muda Bu-tong-pai, memberi kabar bahwa kedua orang muda yang dicari-cari itu telah mendatangi rumahnya, merampok dan melukai pundaknya, mereka segera memburu dan mengadakan pengejaran.
Dalam kemarahan dan dendamnya, Ong Hwat Seng melakukan usaha yang amat luas.
Ia bahkan memberi kabar kepada Ho Sim Siansu, tokoh Hoa-san-pai atau guru dari Ciauw In.
Ia memberi surat yang membuka semua kejahatan Ciauw In bersama Sian Kim!
Setelah meninggalkan rumah gedung Ong Hwat Seng dan mengalami peristiwa itu, hati Ciauw In tidak berubah terhadap Sian Kim, bahkan makin besar rasa cinta kasihnya dan ia makin tergila-gila.
Apalagi sekarang Sian Kim berusaha sekuat tenaga untuk menarik hati pemuda itu dengan lagak yang amat menggiurkan hati.
Namun, betapapun juga, ia tidak dapat meruntuhkan keteguhan iman Ciauw In dan pemuda itu masih dapat mempertahankan diri dan tidak melakukan pelanggaran yang melampaui batas-batas kesusilaan.
Sementara itu, di dalam tubuh Ciauw In telah mengalir racun kembang yang berasal dari saputangan hijau pemberian kekasihnya dulu.
Racun ini memang berjalan lambat sekali, dan dalam waktu kira-kira satu bulan barulah orang yang terkena racun ini akan menjadi kurban yang takkan dapat tertolong jiwanya lagi.
Dengan muslihat yang cerdik dan licin, Sian Kim mengganti pula saputangannya dan memberi Ciauw In saputangan yang baru dan yang lebih harum baunya karena mengandung racun lebih banyak.
Ciauw In yang tidak menduga sesuatu menganggap pemberian saputangan-saputangan ini sebagai tanda cinta yang lebih besar dari gadis itu!
Tiga hari kemudian, bertemulah mereka dengan orang-orang kang-ouw pertama yang berusaha mencari mereka.
Orang-orang ini bukan lain ialah Bong Hin, anak murid pertama darl Kun-lun-pai yang dulu ikut pula berpibu (mengadu kepandaian) di puncak Kui-san dan pemuda yang gagah perkasa ini dikawani oleh Gui Im Tojin, tokoh nomor tiga dari Kun-lun-pai!
Gui Im Tojin, adalah susiok (paman guru) dari Bong Hin dan ilmu kepandaiannya tinggi serta namanya telah tersohor sebagai seorang pendekar tingkat tua.
Gui Im Tojin dan Bong Hin kebetulan berada di dekat tempat itu ketika mereka mendengar berita yang ditebar oleh Ong Hwat Seng bahwa Hoa-san Taihiap dan Hek-lian Niocu berada di sekitar Ouwciu dan kebetulan sekali ketika mereka melihat Ciauw In duduk di bawah sebatang pohon siong dan Sian Kim dengan gaya yang manja sekali sedang berbaring di atas rumput dengan kepala berbantal paha pemuda itu!
Ciauw In dengan mesra sekali membelai rambut kekasihnya yang hitam, panjang, dan berbau harum.
Pemuda ini merasa amat berbahagia dan lupalah sudah ia akan segala peristiwa yang dialaminya bersama Sian Kim hingga membuat ia menanam bibit permusuhan dengan banyak orang gagah dan menimbulkan rasa benci kepada seluruh orang-orang kang-ouw.
Ciauw In membelai rambut kekasihnya sambil mencium-cium saputangan hijau.
Ia sekarang tak dapat terpisah dari saputangan itu karena seringkali ia merasa tubuhnya lemas kalau tidak mencium keharuman kembang yang menempel pada saputangan itu.
Kalau ia sudah mencium saputangan itu sambil memandang wajah Sian Kim, ia merasa betapa keharuman itu seakan-akan menjalar di seluruh tubuhnya dan membuatnva merasa segar!
Memang, racun kembang itu mempunyai pengaruh yang hampir sama dengan racun madat, dan yang membuat orang menjadi ketagihan.
Hanya bedanya, kalau madat hanya merusak kesehatan dan membuat tubuh orang menjadi kurus kering, sebaliknya racun kembang ini membuat orang merasa segar dan sehat, akan tetapi diam-diam paru-paru mereka terkena racun yang dapat merenggut jiwa tanpa disadari dalam waktu sebulan!
"Koko yang manis, kau tahu bahwa aku mempanyai banyak sekali musuh.
Agaknya semua orang sengaja hendak memusuhi aku.
Ah, sungguh malang nasibku..."
Terdengar Sian Kim berkata perlahan sambil menarik napas panjang.
"Jangan bersedih, kekasihku. Betapapun juga, masih ada aku yang mencintamu dan hendak membelamu."
"Hanya itulah pegangan hidupku, koko. Akan tetapi ada satu hal yang selalu tak dapat kukatakan padamu karena aku kuatir kalau-kalau kaupun akan memusuhiku setelah mendengar itu."
"Apakah hal itu, moi-moi? Katakanlah, kau tahu betul bahwa aku takkan merasa benci kepadamu, apapun yang telah dan akan terjadi."
"Sebetulnya, akupun dimusuhi oleh golonganmu, dan bahkan... tanpa kausadari, akupun... menjadi musuhmu pula!"
Ciauw In terkejut dan memandang wajah yang didongakkan dari bawah memandang kepadanya itu.
"Moi-moi, apakah maksudmu?"
Kembali Sian Kim ragu-ragu.
Biarpun ia sudah merasa pasti bahwa kini Ciauw In telah berada dalam genggaman tangannya, akan tetapi ia masih berkuatir kalau-kalau pemuda ini akan berubah pikirannya apabila ia membuka rahasianya.
Maka ia lalu bangkit duduk dan berkata.
"Koko, kau peluklah aku, karena aku tidak berani membuka rahasia ini tanpa merasa bahwa kau betul-betul takkan menggangguku!"
Ciauw In tersenyum dan merangkul pundaknya.
"Katakanlah adikku yang manis."
"Lie-twako, ketahuilah bahwa dulu aku pernah menjadi ketua dari perkumpulan."
"Kau sudah memberitahukan hal itu kepadaku dulu."
"Benar, akan tetapi kau tidak tahu perkumpulan apakah itu. Aku adalah pangcu (ketua) dari Hek-lian-pang yang dulu kau obrak-abrik bersama kedua adik seperguruanmu!"
Kali ini Ciauw In benar-benar terkejut kedua tangannya yang merangkul pundak Sian Kim gemetar.
"Jadi kau... kau adalah anak..."
"Ya, Gu Mo Ong yang dibinasakan oleh sumoimu itu adalah ayahku sendiri, walaupun... hanya ayah angkat saja!"
Sian Kim membohong.
Keduanya berdiam, dan tangan Ciauw In turun dari pundak Sian Kim.
Gadis itu memandang dengan hati penuh kekuatiran, dan untuk beberapa lama mereka saling pandang.
Akan tetapi, akhirnya Ciauw In kalah.
Cintanya terhadap Sian Kim sudah terlalu mendalam hingga tak mungkin baginya untuk merobah perasaannya itu.
"Bagaimana, twako? Apakah sekarang kau membenciku? Kalau kau membenci dan hendak membunuh, silakan, koko. Kau cabutlah pedangmu dan tusuk dadaku. Aku takkan melawan dan aku rela mati di dalam tanganmu."
Ciauw In diam saja, kemudian dengan napas sesak ia berkata.
"Sungguh tak kusangka sama sekali, moi-moi. Gu Ma Ong begitu jahat dan... karenanya aku membantu sumoiku untuk membunuhnya dan memukul hancur perkumpulannya."
Sian Kim menarik napas lega. la maklum bahwa pemuda ini takkan berubah pendiriannya terhadap dirinya, maka ia berkata.
"Karena mereka jahat maka aku meninggalkan perkumpulan itu. Harus kau ketahui bahwa setelah tamat belajar silat, baru aku kembali ke kota kelahiranku dan seperti telah kuceritakan dulu, ayahku tewas dalam tangan Hopak Sam-eng. Kemudian aku pergi ke Kiang-sin-ok untuk membalas dendam, akan tetapi aku dikalahkan dan di kota Ban-hong-cun aku bertemu dengan Gu Ma Ong dan perkumpulannya Hek-lian-pang. Mereka hendak menggangguku, akan tetapi aku dapat mengalahkannya, hingga aku diangkat sebagai ketua dan Gu Ma Ong sendiri mengangkat aku sebagai anak angkatnya. Akan tetapi, setelah kulihat bahwa perkumpulan itu kurang baik, aku lalu meninggalkan mereka dan datanglah kau dan kedua adik seperguruanmu yang membasmi mereka!"
Untuk beberapa lama Ciauw In tak dapat mengeluarkan kata-kata. Hatinya menjadi bingurg sekali.
"Kalau begitu... kau... kau menaruh dendam kepada sumoi dan suteku dan juga kepadaku yang telah menewaskan ayah angkatmu dan menghancurkan perkumpulanmu?"
Sian Kim menjandarkan kepalanya pada dada Ciauw In dengan gaya memikat.
"Koko, bagaimana kau bisa berkata demikian? Kalau aku menaruh dendam kepadamu, mungkinkah aku bisa mencintamu? Tidak, aku tidak dendam kepadamu!"
"Dan juga tidak kepada sumoi dan suteku?"
Sampai lama Sian Kim tak dapat menjawab.
"Hal ini terus terang saja tak dapat kuputuskan sekarang. Kau tahu bahwa ayah angkatku itu amat baik terhadapku sehingga aku telah berhutang budi kepadanya. Kini ia dibunuh oleh sumoimu, maka... bagaimanakah aku harus bersikap kepadanya? Ah, koko, hal ini jangan kita sebut-sebut dulu dan kalau saja sumoi dan sutemu mau berlaku manis terhadapku, mungkin aku akan dapat melupakan urusan itu, oleh karena mereka itu adalah saudara-saudaramu, koko."
Ciauw In menarik napas.
"Mudah-mudahan kau dan mereka tidak akan bermusuhan. Kau maafkanlah mereka, moi-moi."
Pada saat Bong Hin dan Gui Im Tojin telah datang dekat dan Bong Hin segera membentak.
"Orang-orang tak tahu malu! Kalian telah bertemu dengan kami, hendak menyerah baik-baik atau harus dirobohkan dengan senjata?"
Ciauw In dan Sian Kim melompat bangun dan melihat mereka berdua, Ciauw In terkejut sekali.
"Saudara Bong Hin!"
Ia berseru karena pernah bertanding kepandaian dengan jago muda dari Kun-lun-pai itu.
"Apakah maksud kata-katamu?"
Bong Hin tersenyum sindir.
"Tak kusangka bahwa Hoa-san Taihiap hanyalah seorang pemuda hidung belang yang lemah! Kau masih hendak bertanya lagi? Kau dan perempuan tak tahu malu ini telah membunuh banyak orang gagah tanpa alasan-alasan kuat, bahkan kalian telah berani membunuh Hui Kok Losu dan Ma Sian Lo-enghiong. Lalu melarikan diri dan mengganggu gedung Ong Hwat Seng. Sungguh tak kusangka sama sekali."
Sian Kim melangkah maju dan menuding dengan pedangnya yang tadi telah dicabut ketika melihat kedatangan mereka.
"Orang sombong! Kau mengandalkan apamu maka berani membuka mulut secara sembarangan saja?"
Sedangkan Ciauw In juga menjawab.
"Saudara Bong Hin, aku sebagai seorang yang menjunjung tinggi kegagahan, membantu Gu-siocia membasmi orang-orang jahat, apa kau mencela?"
"Hm, bagus! Kalian telah membunuh ketua Kim-houw-bun dan juga Lui-cin-tong berani menyatakan membasmi orang-orang jahat!"
"Orang Kun-lun-pai!"
Sian Kim membentak.
"Urusanku dengan Kim-houw-bun adalah urusan pribadi dan mereka itu mampus dalam sebuah pibu! Sudah layak seorang terluka atau mati dalam pertandingan silat, apa perlunya kau datang membuat ribut?"
Kini Gui Im Tojin, Tosu (Pendeta To) yang tenang sikapnya itu berkata.
"Hek-lian-niocu, memang sudah jamak orang terbunuh dalam sebuah pibu, akan tetapi kalian berdua telah menjatuhkan tangan kejam kepada orang-orang lain. Banyak anak buah Kim-houw-bun kau bunuh secara kejam. Apakah inipun termasuk pibu?"
"Kami mempunyai permusuhan pribadi, apa hubungannya dengan kamu orang-orang Kun-lun-pai?"
"Tidak hanya kami, akan tetapi semua orang gagah mencela kejahatan kalian berdua, terutama kau sebagai ketua Hek-lian-pang yang terkenal jahat. Maka kami sengaja turun gunung membantu pemerintah untuk menangkap kalian. Menyerahlah dengan baik-baik kalau kalian tidak mau merasakan kelihaian kami dari Kun-lun-pai!"
Kata Bong Hin yang biarpun telah merasai kelihaian Ciauw In, akan tetapi dengan adanya paman gurunya, ia tidak merasa takut.
"Bangsat hina dina! Kau kira aku takut padamu,"
Sian Kim berseru dan menerkam dengan pedangnya yang segera ditangkis oleh pedang Bong Hin.
Ciauw In tadinya ingin berdamai dengan orang-orang Kun-lun-pai itu, akan tetapi melihat betapa pertempuran telah terjadi, terpaksa iapun mencabut pedang untuk menjaga diri.
"Siancai, siancai, sungguh sayang Hoa-san Taihiap harus menderita kesesatan sedemikian jauh!"
Kata Gui lm Tojin sambil mengeluarkan tongkatnya yang berkepala naga. Inilah Liong-thouw-koai-tung atau Tongkat Iblis Kepala Naga yang membuat namanya tersohor untuk puluhan tahun lamanya.
"Sekali lagi, kau menyerahlah saja, anak muda!"
Katanya sambil menggerakkan tongkatnya.
Akan tetapi Ciauw In tidak mau banyak bicara lagi dan segera maju sambil memutar pedangnya.
Pertempuran segera terjadi dengan hebatnya, terpecah menjadi dua rombongan, yakni Sian Kim melawan Bong Hin, sedangkan Ciauw In menghadapi Gui Im Tojin yang lihai.
Pertempuran antara Sian Kim dan Bong Hin berjalan luar biasa seru dan sengitnya oleh karena keduanya memang menggerakkan senjata dengan maksud membunuh.
Bong Hin benci kepada Sian Kim setelah didengarnya tentang riwayat yang kotor dari gadis baju hitam ini, maka senjatanya bergerak mengarah bagian yang mematikan sedangkan Sian Kim memang memiliki ilmu pedang yang ganas dan setiap serangan mengandung hawa maut bagi lawannya.
Ilmu kepandaian Bong Hin telah terbukti kelihaiannya ketika ia maju ke panggung luitai (panggung adu silat) menghadapi lawan-lawannya hingga akhirnya ia dikalahkan oleh Ciauw In dengan susah payah.
Kalau saja ia bertanding melawan Sian Kim dengan tangan kosong, agaknya akan amat sukarlah bagi Sian Kim untuk mendapatkan kemenangan.
Akan tetapi kini mereka bertempur dengan pedang dan biarpun Bong Hin sebagai murid kepala telah mewarisi ilmu pedang Kun-lun Kiam-hwat yang lihai, namun menghadapi ilmu pedang Sian Kim yang amat ganas dan hebat itu, akhirnya ia terdesak juga!
Sian Kim tidak mau memberi hati kepada lawannya dan pada suatu saat ia menyerang dengan gerak tipu Coan-jiu-cion-kiam (Lonjorkan Tangan Sembunyikan Pedang) yakni serangan yang tadinya dilakukan dengan pukulan tangan kanan dengan pedang tersembunyi di bawah lengan, akan tetapi tiba-tiba dengan gerakan jari yang amat cepat dan kuat, pedang itu meluncur keluar dari tempat persembunyian dan tidak manyerang ke arah dada yang dipukul tangan, akan tetapi dengan tak tersangka-sangka meluncur ke bawah menusuk pusar!
Bong Hin terkejut sekali melihat datangnya serangan yang ganas ini, dan karena kedua tangannya telah berada di atas dalam usaha menangkis pukulan tadi, maka tubuh bagian bawah menjadi kosong dan ia tidak sempat menangkis lagi.
Hanya dengan gerakan Yo-cu-hoan-sin (Burung Elang Memutar Badan) barulah ia dapat menghindarkan serangan pedang.
Tubuhnya berjungkir balik cepat sekali ke belakang dan ia cepat memasang kuda-kuda lagi untuk menghadapi lawannya yang amat lihai itu.
Kini ia bertempur dengan amat hati-hati dan biarpun ia terus didesak, akan tetapi untuk sementara waktu ia dapat menjaga dirinya dengan baik sambil mengharapkan untuk segera mendapat bantuan dari susioknya.
Akan tetapi, pertempuran yang terjadi antara Gui Im Tojin dan Ciauw In juga berjalan dengan amat serunya hingga Pendeta itu tidak mempunyai ketika sedikitpun juga untuk membantu murid keponakannya yang terdesak hebat.
Tadinya ia dan Ciauw In hanya bertempur dengan maksud mengalahkan lawan saja tanpa maksud membunuh, akan tetapi setelah bertempur puluhan jurus, mereka maklum bahwa ilmu kepandaian mereka seimbang hingga tak mungkin akan mendapat kemenangan tanpa mengeluarkan serangan-serangan yang paling lihai dan berbahava.
Kini mereka bertempur dengan sungguh-sungguh, sedikitpun tidak mau mengalah lagi.
Karena merasa penasaran tidak dapat mengalahkan Hoa-san Taihiap yang biarpun berilmu tinggi akan tetapi setidaknya mempunyai tingkat yang lebih rendah dari padanya.
Gui Im Tojin merasa malu kalau tidak dapat mengalahkan Ciauw In, maka ia lalu berseru keras dan tongkatnya berputar-putar mengeluarkan angin keras.
Ia mengeluarkan ilmu silat Hok-thian-hok-te (Membalikkan Langit dan Bumi) yakni semacam ilmu pukulan yang menjadi kepandaian khusus dari ilmu tongkatnya dan yang hanya dimengerti dan dipelajari oleh tokoh-tokoh Kun-lun-pai tingkat atas saja.
Ciauw In merasa kagum dan terkejut melihat perubahan serangan ini dan ia segera terdesak mundur.
Baiknya Hoa-san Kiam-hoat memang mempunyai gerakan yang cepat dan bagian pertahanannya amat kokoh kuat, maka ia dapat menjaga diri sungguhpun serangan lawan yang mainkan Hok-thian-hok-te ini membuat ia sukar untuk mengirim serangan balasan.
Kalau tadi yang digunakan oleh Gui Im Tojin untuk menyerang hanya ujung tongkatnya saja, sedangkan bagian gagang yang berkepala naga hanya untuk menangkis, Adalah kini Pendeta itu memutar-mutar tongkatnya sedemikian rupa sehingga kedua ujung tongkat terputar dan bergantian melancarkan serangan kilat yang dilakukan dengan dorongan tenaga lweekang sepenuhnya hingga tiap kali ujung tongkat menyapu dekat tanah, debu mengebul ke atas karena sambaran angin tongkat!
Ciauw In mempertahankan diri sedapat mungkin, akan tetapi tiba-tiba ia merasa tubuhnya amat lemas dan lemah dan timbul keinginan keras untuk mencium keharuman yang timbul dari saputangannya!
Keinginan ini datangnya demikian tiba-tiba dan hebat dan yang membuat seluruh tubuh terasa lemas dan semangat bertempur menjadi berkurang!
Akan tetapi lawannya yang tangguh itu tidak memberi kesempatan padanya untuk mengeluarkan saputangan hijau dan menciumnya!
Sementara itu, Sian Kim sudah dapat mendesak Bong Hin kesatu sudut di mana tumbuh banyak pohon.
Dengan serangan yang ganas dan cepat, ia membuat pemuda itu kini hanya kuat menggerakkan pedang menangkis saja dan karena ia merasa sibuk sekali, gerakan kakinya tidak tetap.
Tiba-tiba ia berseru keras karena kakinya ketika bergerak mundur itu tersandung sebuah akar pohon yang melintang di belakangnya.
Pada saat itu pedang Sian Kim menyambar ke arah leher, maka terpaksa ia mendorong tubuh ke belakang hingga tak dapat dicegah lagi, karena kedua kakinya terganjal akar, ia roboh terguling ke belakang.
Sebelum ia sempat melompat bangun, Sian Kim telah menerkam dengan pedangnya dan "cepp!"
Pedang itu menembus ulu hati Bong Hin yang tewas pada saat itu juga!
Setelah berhasil menewaskan Bong Hin, Sian Kim dengan mata beringas lalu berbalik dan melihat betapa Ciauw In didesak hebat dan agaknya pemuda itu menjadi bingung sekali, ia lalu berseru keras.
"Jangan kuatir, koko! Aku akan membantumu membikin mampus Tosu siluman ini!"
Ia lalu menerjang Gui Im Tojin sehingsa Ciauw In mendapat ketika untuk mencabut saputangan hijaunya dan menciuminya berulang-ulang!
Aneh, tubuhrya yang lemah tadi tiba-tiba menjadi segar kembali dan kegembiraan serta semangatnya timbul.
Ia maju lagi dan sebentar saja keadaan menjadi terbalik.
Kini Gui Im Tojin yang terdesak hebat oleh kedua orang muda yang memiliki ilmu pedang luar biasa itu!
Sian Kim ketika melihat keadaan Ciauw In, diam-diam merasa terkejut sekali.
Tanda-tanda yang diperlihatkan oleh pemuda tadi menunjukkan bahwa racun yang keluar dari saputangannya itu telah mulai menyerang jantung dan paru-paru Ciauw In!
Akan tetapi, ia tidak sempat memikirkan hal ini oleh karena perhatiannya harus dikerahkan untuk mendesak Tosu yang benar-benar tangguh itu.
Keroyokan Ciauw In dan Sian Kim benar-benar tak boleh dipandang ringan dan kalau saja yang dikeroyok bukan Gui Im Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang besar, jarang ada orang dapat menghadapi mereka sampai demikian lama!
Akan tetapi, setelah bertahan selama lima puluh jurus, perlahan-lahan Pendeta tua ini merasa lelah juga dan terdesak makin hebat.
Pada saat Ciauw In menyerangnya dengan gerak tipu Angin Taufan Meniup Rumput dan pedang itu membabat dengan cepatnya dan berkali-kali ke arah kaki Pendeta itu, Sian Kim membarengi dengan gerak tipu Elang Sakti Menyambar Ular, yakni serangan yang dilakukan dengan lompatan tinggi dan pedangnya menyambar-nyambar arah kepala Gui Im Tojin.
Diserang sekaligus dari atas dan bawah oleh pedang yang gerakannya demikian cepatnya, Gui Im Tojin merasa sibuk juga.
Ia dapat menggunakan tongkatnya untuk memukul pedang Ciauw In sekerasnya hingga pedang pemuda itu terlepas dari pegangan, akan tetapi pedang Sian Kim berhasil membacok lehernya sampai hampir putus!
Gui Im Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang ternama itu roboh tanpa dapat berteriak lagi dan tewas pada saat itu juga.
Akan tetapi, berbareng dengan robohnya Gui Im Tojin, Ciauw In yang pedangnya telah terpental, juga terhuyung-huyung ke belakang dan segera ia mencabut saputangan hijau dan didekapnya di muka hidung lalu disedotnya keras-keras seakan-akan seorang yang tadinya tenggelam ke dalam air mendapat hawa udara baru!
Kesehatannya kembali pula dan ia memungut pedangnya.
Sian Kim menghampiri Ciauw In dan melihat betapa pucat wajah pemuda itu, tiba-tiba gadis ini merasa terharu dan amat berduka!
Entah dari mana timbulnya perasaan ini, akan tetapi dia yang tadinya sengaja hendak meracun pemuda itu, dengan girang melihat betapa Ciauw In masuk ke dalam perangkapnya, akan tetapi sekarang setelah berkali-kali pemuda itu membelanya dan melihat betapa racun saputangan itu mulai bekerja, tiba-tiba ia merasa tidak tega, kasihan, dan takut ditinggal mati oleh Ciauw In!
Ia menubruk Ciauw In, merangkulnya sambil menangis terisak!
Ciauw In memandang dengan mata terbelalak heran.
"Moi-moi, kau kenapakah? Apakah kau terluka?"
Akan tetapi Sian Kim tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala dan tetap menangis di pundak pemuda itu.
"Moi-moi, jangan kau kuatir,"
Kata Ciauw In yang menyangka bahwa gadis itu merasa kuatir dimusuhi sekian banyak orang gagah.
"selama aku masih hidup, aku takkan membiarkan siapapun juga menghinamu!"
Mendengar ucapan ini, bagaikan diiris-iris jantung Sian Kim rasanya. Ia menjadi makin sedih dan didekapnya dada pemuda itu sambil mengeluh.
"Koko... koko..."
Ciauw In menggandeng tangan Sian Kim, diajak pergi dari tempat itu, meninggalkan mayat kedua orang tokoh Kun-lun-pai yang tewas dalam tangan mereka itu.
Kita lihat keadaan Bwee Hiang dan Ong Su, kedua adik seperguruan Ciauw In yang kembali ke Hoa-san untuk melaporkan hasil pertemuan besar di Kui-san itu kepada Ho Sim Siansu, guru mereka.
Bwee Hiang di sepanjang jalan nampak bermuram durja, tanda dari kemurungan hatinya yang benar-benar merasa sedih melihat keadaan Ciauw In, suheng yang ia cinta itu.
Atas permintaan Bwee Hiang, keduanya berhenti dulu di Ban-hong-cun, tempat di mana dulu mereka berdua bersama Ciauw In mengobrak-abrik sarang Hek-lian-pang.
Bwee Hiang masih merasa penasaran dan hendak mencari keterangan kalau-kalau ketua Hek-lian-pang yang baru sudah berada di situ untuk sekalian dibasmi.
Mencabut pohon busuk harus dengan semua akar-akarnya, demikian pendiriannya.
Dan di kota ini mereka berdua mendengar sesuatu yang membuat keduanya saling pandang dengan muka pucat.
Ternyata dari penuturan penduduk kota Ban-hong-cun yang amat berterima kasih kepada mereka, bahwa yang menjadi ketua baru atau anak mendiang Gu Ma Ong yang mereka tewaskan, bukan lain adalah Gu Sian Kim!
"Celaka!
Kalau begitu siluman perempuan itu tentu tidak bermaksud baik terhadap suheng!"
Kata Bwee Hiang dengan muka pucat.
"Kita harus susul mereka!"
Kota Ong Su yang merasa amat kuatir akan nasib suhengnya. Akan tetapi Bwee Hiang membantahnya.
"Tak perlu! Kalau memang Sian Kim berniat buruk, mengapa kepada twa-suheng? seharusnya ia membalas kepadaku! Lagipula, sudah terbukti bahwa kepandaian suheng lebih tinggi daripadanya, maka ia akan dapat berbuat apakah?? Lebih baik memberi laporan kepada suhu lebih dulu, baru kita minta pendapat suhu tentang hal ini."
Sesungguhnya Bwee Hiang merasa demikian kecewa hingga ia hendak membiarkan dulu Ciauw In kecele, yakni menjatuhkan cintanya kepada seorang gadis yang ternyata adalah seorang penjahat perempuan yang kejam dan ganas!
Mereka melakukan perjalanan dengan cepat tanpa mampir dulu di lain tempat dan ketika mereka telah tiba di puncak Hoa-san dan menceritakan semua pengalaman mereka kepada Ho Sim Siansu, orang tua ini mengangguk-angguk senang, mendengar betapa Ciauw In berhasil menjunjung tinggi nama Hoa-san-pai.
"Dan mengapa ia tidak ikut pulang ke sini?"
Tanyanya.
Bwee Hiang dengan bernafsu lalu menuturkan tentang munculnya Sian Kim dan setelah Ho Sim Siansu mendengar bahwa Sian Kim adalan Hek-lian-pangcu yang jahat dan menjadi musuh besar Bwee Hiang berkerutlah jidat orang tua itu.
"Ciauw In adalah seorang laki-laki yang memiliki kekerasan hati, dan sekali ia menjatuhkan cintanya, sukarlah untuk mencabutnya kembali. Aku kuatir... benar-benar aku kuatir... Akan tetapi, dia adalah seorang laki-laki yang sudah dewasa dan segala perbuatannya harus ia pertanggung-jawabkan sendiri. Kalian tak perlu mencari dia dan biarlah dia insaf sendiri. Sekarang lebih baik kalian pulang ke tempat tinggal orang tuamu dan biar aku yang menanti kembalinya Ciauw In."
Kemudian, sambil memandang kepada Bwee Hiang dengan sinar mata tajam, ia berkata.
"Bwee Hiang, selanjutnya tentang keadaanmu, kau harus menurut segala petunjuk orang tuamu dan jangan membawa kehendak sendiri. Kau masih muda dan orang-orang muda selalu berpemandangan sempit dan mudah terjerumus."
Kedua orang murid itu lalu mengundurkan diri dan pada keesokan harinya setelah beristirahat, mereka lalu kembali ke rumah orang tua masing-masing.
Ong Su kembali ke dusun Kee-cin-bun dan membantu pekerjaan orang tuanya bertani, sedangkan Bwee Hiang menuju ke kota Kang-sin untuk tinggal bersama ibunya, yakni nyonya Gak Seng yang sudah menjadi janda.
Beberapa hari setibanya Ong Su di dusun orang tuanya, kedua orang tuanya itu kembali mendesak kepada puteranya tentang perjodohan yang mereka rencanakan dengan Bwee Hiang, gadis cantik dan gagah yang mereka suka.
Ong Su merasa serba salah, untuk menyetujui ke hendak orang tuanya, ia kuatir kalau-kalau pinangannya ditolak karena ia maklum bahwa sumoinya itu sebetulnya mencinta twa-suhengnya.
Akan tetapi untuk menolak kehendak orang tuanya, iapun tidak tega dan tidak berani.
Akhirnya, ayah ibunya berhasil membujuknya untuk bersama-sama pergi ke kota Kang-sin untuk mengunjungi Bwee Hiang dan ibunya, serta untuk membicarakan tentang perjodohan itu atau ringkasnya mengajukan pinangan.
Dengan adanya perlindungan Ong Su yang gagah perkasa, perjalanan mereka tidak mendapat gangguan sesuatu dan mereka tiba di kota Kang-sin dengan selamat.
Kedatangan mereka ini tentu saja mendapat sambutan hangat dari Bwee Hiang dan ibunya, akan tetapi Ong Su mendapat warta yang benar-benar mengagetkan hatinya.
Ketika ia tiba di situ, ia melihat bahwa suhunya telah berada di situ pula!
Dan ia merasa amat terkejut ketika mendengar dari suhunya yang menerima surat laporan dari Ong Hwat Seng tentang kesesatan suhengnya, yakni tentang segala perbuatan Ciauw In dan Sian Kim yang telah menewaskan banyak orang gagah, semata-mata untuk menuruti kehendak wanita jahat itu!
Sementara itu, Ho Sim Siansu yang mendengar tentang maksud pinangan dari orang tua Ong Su kepada Bwee Hiang, sambil tersenyum berkata.
"Kalau kedua fihak setuju, aku sendiri akan merasa gembira melihat kedua orang muridku ini terangkap jodoh! Bwee Hiang yang ditanya pendapatnya, menundukkan mukanya dan ia tak dapat menahan mengalirnya air matanya karena teringat kepada Ciauw In yang sekarang telah masuk dalam perangkap siluman wanita Gu Sian Kim itu. Dengan gemas ia lalu berkata perlahan.
"Aku tak dapat memutuskan tentang perjodohan sebelum dapat mencari dan membunuh wanita iblis Gu Sian Kim itu!"
Ho Sim Siansu yang waspada maklum bahwa muridnya ini mencinta Ciauw In, maka ia lalu berkata.
"Bwee Hiang dan kau Ong Su. Kedatanganku ini sebenarnyapun hendak memberi tugas kepada kalian berdua. Sekarang telah tiba waktunya bagi kalian untuk menyusul dan mencari Ciauw In, dan memanggil dia untuk datang ke Hoa-san. Kukira ia akan suka mendengar kalian mengingat hubungan persaudaraan. Kalau kalian tak berhasil memanggilnya, terpaksa aku sendiri akan mencarinya dan turun tangan!"
Setelah berkata demikian dengan suara sedih, kakek sakti itu lalu berpamit dan kembali ke Hoa-san.
Maka diputuskanlah kepada kedua orang tua Ong Su untuk menunda urusan perjodohan itu untuk sementara waktu dan kedua orang muda itu segera berangkat mencari Ciauw In untuk memenuhl pesan suhu mereka.
Kedua orang tua Ong Su menanti kembalinya putera mereka itu di rumah ibu Bwee Hiang.
Menurut petunjuk Ho Sim Siansu, Ong Su dan Bwee Hiang menuju ke Ouwciu dalam usaha mereka mencari Ciauw In.
Hati mereka makin menjadi gelisah lagi ketika mendengar berita terakhir betapa Clauw In telah menambah kesesatannya dengan membunuh Gui lm Tojin dan Bong Hin, dua tokoh Kun-lun-pai itu sehingga kini tokoh-tokoh Kun-lun-pai turun gunung untuk membalas sakit hati!
Mereka berdua, terutama Bwee Hiang, ingin sekali bertemu dengan suheng mereka dan ingin sekali memberi hajaran kepada Sian Kim, ketua Hek-lian-pang yang agaknya telah membuat Ciauw In menjadi tergila-gila.
Mereka bertemu dengan orang-orang kang-ouw yang menceritakan riwayat kotor dari Gu Sian Kim hingga makin benci dan gemaslah hati Bwee Hiang.
"Ong-suheng, ternyata apa-apa yang kukuatirkan dulu terbukti. Perempuan rendah itu ternyata bukanlah perempuan baik-baik seperti yang kusangka dulu."
Ong Su menarik napas panjang.
"Kasihan twa-suheng, kalau saja kami laki-laki mempunyai perasaan tajam seperti perempuan..."
Mereka melanjutkan perjalanan, mencari jejak Ciauw In dan Sian Kim.
Sian Kim merasa menyesal benar-benar ketika kini racun telah mulai mempengaruhi paru-paru dan jantung Ciauw In yang menyebabkan pemuda itu harus seringkali menyedot saputangannya.
Pemuda ini sendiri merasa heran dan tidak mengerti mengapa seringkali ia terserang di bagian dadanya oleh perasaan yang membuatnya lemas dan lemah baik tubuh maupun semangatnya dan baru merasa segar kembali mencium bau harum kembang dari saputangan Sian Kim itu.
Telah dua puluh hari lebih ia terserang racun yang hebat ini tanpa menyadarinya dan nyawanya hanya tinggal beberapa hari saja dapat bertahan.
Akan tetapi hal ini ia tidak tahu, dan Sian Kim yang tahu dengan baik merasa tersiksa hatinya.
Tanpa disengaja dan disadarinya, gadis ini ternyata telah mencintanya dengan sungguh-sungguh bukan cinta berdasarkan nafsu busuknya!
Pemuda ini amat jauh bedanya dengan semua pemuda yang mencintanya, karena cinta pemuda ini kepadanya bukan berdasarkan nafsu, akan tetapi benar-benar cinta murni yang membuat pemuda itu rela berkurban nyawa untuknya.
Dan ia menjadi terharu dan bersedih.
Ia telah banyak ditolong oleh Ciauw In dan sekarang keadaannya telah terjepit, orang-orang gagah di kalangan kang-ouw memusuhi dan sedang mencari-carinya.
Dengan Ciauw In disampingnya ia akan menghadapi semua itu dengan tabah, akan tetapi bagaimana kalau Ciauw In tewas karena racun itu?
Dua hari lamanya mereka melarikan diri semenjak mereka berhasil merobohkan Gui Im Tojin dan Bong Hin, dan pada waktu itu mereka tiba di sebuah dusun dan bermalam di dalam hotel kecil.
Kembali Ciauw In terserang oleh racun itu hingga ia rebah tak berdaya, sedangkan Sian Kim duduk menangis disampingnya sambil menggunakan saputangan baru yang masih keras bau kembangnya untuk membuat pemuda itu segar kembali.
"Moi-moi, entah penyakit apa yang menyerang diriku, akan tetapi jangan kau bersedih. Aku akan sembuh kembali,"
Kata pemuda itu sambil menggenggam tangan Sian Kim dengan hati terharu dan mencinta.
Ia mengira bahwa Sian Kim menangis karena besarnya cinta kasih gadis itu kepadanya, tidak tahu bahwa gadis itu sedang menyesali perbuatannya sendiri.
Akhirnya Ciauw In tertidur dengan Sian Kim masih duduk di pinggir pembaringan.
Melihat wajah pemuda yang gagah perkasa itu, bukan main sedih dan terharunya hati Sian Kim.
Ia sendiri tak dapat tidur, hanya menatap wajah Ciauw In dengan air mata berlinang-linang.
Ciauw In, jangan kau tinggalkan aku...
demikian hatinya bersambatan.
Akan tetapi rintihan hatinya ini tak terdengar oleh siapapun juga.
Setelah pemuda ini mendekati saat yang akan membuatnya menghembuskan nafas terakhir, baru ia tahu bahwa sebetulnya ia mencinta pemuda ini dengan sepenuh hatinya.
Cinta yang belum pernah terasa olehnya, karena cintanya kepada sekian banyak kekasih yang dulu-dulu hanyalah cinta main-main belaka.
Tiba-tiba ia mendengar suara kaki menginjak genteng di atas kamarnya itu dan dengan cepat Sian Kim meniup padam api lilin yang bernyala di atas meja.
Ia menggoyang-goyang tubuh Ciauw In dan ketika pemuda itu bangun, ia berbisik dengan suara penuh ketakutan.
"Koko, ada orang di atas genteng..."
Kini Ciauw In telah sehat kembali berkat saputangan hijau yang seringkali ditempelkan pada hidungnya oleh Sian Kim, maka cepat mereka mengambil pedang dan melompat keluar dari jendela kamar dan terus melompat ke atas genteng.
Dengan hati terkejut mereka melihat banyak orang di atas genteng itu dan terdengar seorang di antara mereka berseru.
"Penjahat-penjahat kejam, kalian hendak lari ke mana?"
Dan setelah tangan orang yang berseru itu bergerak, melayanglah tiga batang piauw ke arah Ciauw In dan Sian Kim.
Akan tetapi dengan mudah sekali Ciauw In dan Sian Kim memukul jatuh piauw itu dengan pedang mereka dan tak lama kemudian mereka telah dikeroyok oleh enam orang yang ternyata adalah tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang datang hendak membalas dendam atas kematian Gui Im Tojin dan Bong Hin!
Mereka ini adalah suheng dan sute dari Gui Im Tojin dan tingkat mereka di Kun-lun-pai telah menduduki tingkat kedua dan ketiga, maka tentu saja kepandaian mereka hebat dan tangguh.
Ciauw In segera membetot tangan Sian Kim dan mengajak kekasihnya itu melompat turun dari genteng untuk melarikan diri.
"Penjahat Hoa-san dan perempuan rendah! Kalian hendak lari ke mana?"
Orang-orang Kun-lun-pai itu mengejar, akan tetapi tiba-tiba dari tempat gelap di mana kedua orang muda tadi berlari, menyambar segenggam Hok-lian-ciam (Jarum Teratai Hitam) ke arah mereka.
Ternyata bahwa senjata senjata rahasia yang amat lembut ini dilepas oleh Sian Kim yang jarang mempergunakannya kalau tidak amat terdesak.
Para pengejar itu cepat mengelak, akan tetapi dua orang telah kena terserang jarum yang amat berbahaya itu karena mengandung racun yang amat jahat hingga mereka berteriak keras dan roboh terguling.
Ciauw In dan Sian Kim mempergunakan kesempatan ini untuk berlari terus di dalam gelap.
"Jangan kuatir, Kim-moi, aku akan membelamu..."
Demikianlah ucapan Ciauw In terdengar berkali-kali ketika keduanya berlari cepat, sedangkan jawaban Sian Kim hanyalah isak tangis tertahan.
Mereka berlari terus, tidak berani menunda sebentarpun juga, karena maklum bahwa apabila mereka tersusul maka pertempuran hebat akan terjadi dan belum tentu mereka dapat mengalahkan imam-imam Kun-lun-pai yang kosen itu.
Pada keesokan harinya, di waktu matahari mulai muncul, Ciauw In dan Sian Kim masih saja berlari-lari mengambil jalan kecil yang sunyi di pinggir sebuah hutan.
Mereka merasa lelah sekali dan merasa agak lega karena tempat itu sunyi sehingga mereka akan dapat mengaso melepas lelah untuk beberapa lama.
Akan tetapi mereka kecewa, karena dari depan tiba-tiba muncul sepasukan penjaga keamanan yang terdiri dari barisan tentara dikepalai oleh seorang perwira yang nampak gagah dan didampingi pula oleh beberapa orang gagah yang ketika telah dekat mereka kenal sebagai Lo Sun Kang dari Go-bi-pai dan Hwat Siu Hwesio dari Siauw-lim-pai!
"Menyerahlah untuk menerima pengadilan!"
Seru Lo Sun Kang dengan suara ketus.
"Siapa takut kepadamu?"
Bentak Sian Kim yang sudah mencabut keluar pedangnya dan diturut pula oleh Ciauw In.
Segera kedua orang itu dikepung dan terjadi pertempuran mati-matian.
Biarpun tadi merasa lelah sekali, akan tetapi melihat betapa keselamatan kekasihnya terancam bahaya, berkobar lagi semangat Ciauw In dan ia mengamuk bagaikan seekor naga terluka.
Pedangnya berkelebatan cepat, didampingi oleh sinar pedang Sian Kim yang ganas hingga kembali kedua orang ini menjatuhkan beberapa kurban diantara para anggauta tentara yang kurang tinggi ilmu silatnya.
Akan tetapi pemimpin barisan itu bersama Lo Sun Kang dan Hwat Sin Hwesio merupakan lawan yang benar-benar tangguh sehingga Ciauw In dan Sian Kim terpaksa melompat jauh dan melarikan diri ke dalam hutan.
Para musuhnya mengejar dari belakang.
Dengan bingung kedua orang muda yang sudah terkurung oleh banyak lawan itu melarikan diri ke dalam hutan yang amat luas itu, dan Sian Kim sambil memegang tangan Ciauw In mengeluh.
"Koko, kau maafkan aku yang menyeretmu ke dalam keadaan yang demikian sengsara..."
"Hush, jangan berkata demikian, moi-moi..."
"Koko,kalau kau tidak membela aku, kalau saja kau tidak... tidak mencintaku... tentu kau akan hidup bahagia dan selamat..."
Tak tertahan lagi Sian Kim menangis sambil masih berlari-lari.
"Aku... aku tak berharga kau bela mati-matian, koko... aku... aku orang busuk dan kejam..."
"Diamlah, moi-moi diamlah... kita masih ada harapan untuk melepaskan diri dari kepungan mereka... jangan kuatir, ada aku di sini yang akan membelamu!"
Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba dari atas pohon menyambar turun bayangan seorang tua dan tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang tua yang tinggi kurus dan berjubah kuning.
Inilah Kim Kong Tojin, orang yang telah menduduki tingkat kelas satu dari Kun-lun-pai!
"Hoa-san Taihiap dan Hek-lian Niocu!
Dosa-dosa kalian telah terlalu besar maka terpaksa hari ini pinto akan melanggar pantangan membunuh, kecuali kalau kalian mau menyerah dengan baik-baik."
"Siapakah totiang dan mengapa pula memusuhi kami?"
Tanya Ciauw yang terkejut sekali melihat gerakan kakek ini ketika melompat turun, karena maklum bahwa itulah gerakan seorang yang memiliki ilmu ginkang yang lebih tinggi tingkatnya dari kepandaiannya sendiri!
"Pinto adalah Kim Kong Tojin dari Kun-lun-pai dan tentu tak perlu pinto jelaskan lagi dosa apa yang telah kalian perbuat terhadap Kun-lun-pai."
Sambil berkata demikian, Tosu itu mencabut pedangnya dari pinggang.
Mendengar ini, Ciauw In maklum bahwa kali ini ia harus bertempur mati-matian untuk menentukan mati atau hidup, maka ia segera berkata kepada Sian Kim.
"Kim-moi, kau larilah, biar aku yang menghadapi totiang ini. Kau masih mempunyai kesempatan, larilah secepatnya dari sini dan mintalah perlindungan kepada suhuku di Hoa-san. Beliau seorang yang berhati mulia, tentu akan menolong seorang yang telah insaf dari kesalah-kesalahannya. Larilah, kekasihku, jangan sampai kau menjadi korban pula."
Bukannya menurut permintaan Ciauw In ini, Sian Kim bahkan tiba-tiba menangis terisak-isak dengan amat sedihnya.
Hatinya hancur luluh mendengar ucapan ini dan sadarlah ia betapa ia membikin celaka pemuda ini, telah melakukan perbuatan yang amat jahat.
Pemuda semulia ini telah ia seret ke dalam jurang kehinaan, dan cinta pemuda ini kepadanya benar-benar suci murni!
Ah, ia menyesal sekali, akan tetapi telah terlambat.
Maka ia lalu membentak Tosu itu sambil menyerang.
"Tosu keparat! Jangan banyak cakap, kalau kau ada kepandaian, bunuhlah kami berdua."
Tosu itu tersenyum mengejek dan menangkis dengan pedangnya.
Tangkisan ini demikian kuatnya hingga tangan Sian Kim terasa bagaikan lumpuh hingga gadis itu merasa amat kaget dan buru-buru menarik kembali pedangnya lalu menyerang lagi dengan ganas akan tetapi hati-hati.
Ciauw In maklum bahwa kekasihnya takkan dapat menangkan Tosu itu, maka iapun lalu maju menyerang.
Biarpun dikeroyok dua, Tosu itu ternyata benar-benar lihai sekali.
Ilmu pedang Kun-lun Kiam-hwat memang belum tentu dapat menandingi Hoa-san Kiam-hwat dalam hal kecepatan dan kelihaiannya.
Akan tetapi dalam hal lweekang dan ginkang, Tosu ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian dua orang anak muda itu, maka pedangnya merupakan sinar yang bercahaya menyambar-nyambar dan mendesak Sian Kim dan Ciauw In!
Sementara itu, teriakan-teriakan para pengejar makin lama makin terdengar jelas dari tempat pertempuran itu!
Ciauw In merasa putus harapan mendengar itu.
Untuk melarikan diri dari Tosu ini bukanlah hal yang mudah, maka ia lalu berkata kepada Sian Kim.
"Moi-moi, mari kita mengadu jiwa dengan Tosu ini!"
Sian Kim maklum akan maksud Ciauw In maka ia membarengi pemuda itu membuat serangan yang nekad kepada Tosu itu tanpa memperdulikan pertahanan sendiri!
Diserang secara hebat oleh dua orang yang memiliki ilmu pedang cukup tinggi, tentu saja Kim Kong Tojin merasa terkejut dan sibuk.
Ia menangkis pedang Sian Kim dan rangsekan pedang Ciauw In ke arah pergelangan tangannya membuat ia terpaksa melepaskan pedangnya dan mengirim pukulan dengan tangan kiri ke arah Ciauw In, yang tentu akan tepat mengenai dada pemuda itu kalau tidak Sian Kim menolongnya dengan lemparan segenggam jarum teratai hitam ke arah Tosu itu!
Kim Kong Tojin cepat menggulingkan diri ke atas tanah untuk mengelak sambaran senjata halus yang amat berbahaya ini dan saat itu digunakan oleh Sian Kim dan Ciauw In untuk melarikan diri ke dalam hutan!
Melihat kenekadan dua orang yang tak segan-segan mengadu jiwa itu, dan mengingat pula akan bahayanya jarum-jarum beracun dari Sian Kim, Kim Kong Tojin merasa ragu-ragu untuk mengejar karena hutan itu memang liar dan penuh pohon-pohon hingga mudah bagi yang dikejar untuk melakukan serangan tiba-tiba.
Ia memungut pedangnya dan menanti datangnya para pengejar lain, tiada hentinya mengagumi ilmu pedang kedua orang muda itu.
Sementara itu, dengan napas tersengal-sengal, Ciauw In dan Sian Kim berlari terus dan ketika mereka tiba di sebuah padang rumput, tiba-tiba Ciauw In roboh terguling!
Sian Kim menjerit dan menubruk pemuda itu.
"Koko... kau kenapakah? Apakah kau terluka?"
Ciauw In menggelengkan kepalanya.
"Tidak... moi-moi, aku tidak terluka... akan tetapi... penyakit lama... isi dadaku terasa lemas... kosong..."
Pemuda itu merebahkan kepalanya sambil memandang kepada Sian Kim yang menangis tersedu-sedu dan memeluki dadanya.
"Koko... koko... ampunkan aku, koko... akulah yang membuatmu begini..."
Ciauw In mengangkat tangannya yang lemas dan merangkul pinggang Sian Kim.
"Hush... jangan berkata begitu, adikku... aku sayang padamu... kau... larilah cepat-cepat tinggalkan aku... kau masih terlampau muda dan... cantik untuk tewas di sini..."
"Koko...!"
Sian Kim tak dapat mengeluarkan kata-kata lain lagi karena ia merasa lehernya seakan-akan tercekik. Kemudian ia dapat menekan perasaannya dan berkata dengan mata penuh air mata.
"Koko, dengarlah pengakuanku. Aku... akulah pembunuhmu, aku... aku tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir bagimu. Akulah yang menyebabkan kematianmu, koko, aku yang membunuhmu dengan ini..."
Ia mengeluarkan saputangan hijau dari balik baju di bagian dadanya.
Ciauw In tersenyum, mengulurkan tangan yang lemas dan mengambil saputangan itu yang terus ditempelkan pada hidungnya hingga ia menjadi agak kuat lagi.
"Kau boleh bilang... sesuka hatimu, moi-moi... akan tetapi aku... aku tetap cinta padamu sampai nafas terakhir..."
Saat itu merupakan saat yang paling sengsara dan menghancurkan hati bagi Sian Kim, perasaan yang belum pernah dirasai selama hidupnya.
Ia menyesal sekali, menyesal bukan main.
Kalau dulu-dulu ia dapat insaf dan menjadi orang baik-baik, ia tentu akan dapat hidup sebagai seorang isteri yang amat berbahagia di samping seorang suami seperti Ciauw In ini...!
Ia dicinta sepenuh jiwa oleh pemuda ini dan ternyata...
iapun mencinta Ciauw In diluar kemauan dan kesadarannya sendiri.
Dan ia mengetahui hal ini setelah terlambat, setelah pemuda ini sekarang berada dalam cengkeraman maut dan tak dapat ditolong lagi!
Sian Kim tak kuat menahan kesedihan hatinya dan makin hancur hatinya melihat betapa air muka Ciauw In makin lama makin membiru!
"Koko, jangan kau tinggalkan aku...!!"
Ia menjerit dan sambil mendekap kepala pemuda itu pada dadanva ia menangis keras. Pada saat itu, datanglah dua orang ke tempat itu dan memandang Sian Kim dengan muka penuh rasa benci.
"Perempuan keparat! Akhirnya kami dapat bertemu dengan kau di sini!"
Terdengar bentakan keras dan ketika Sian Kim manengok, ia melihat Bwee Hiang dan Ong Su berdiri di situ dengan senjata di tangan!
Dua orang musuh besarnya, bahkan ketiga-tiganya dengan Ciauw In, telah berada di hadapannya!
Juga Ciauw In mendengar dan mengenal bentakan Bwee Hiang tadi maka ia lalu menggerakkan kepalanya menengok.
Biarpun ia tak dapat menggerakkan tubuhnya lagi, akan tetapi ia masih dapat menggerakkan leher untuk menengok dan ketika melihat kepada kedua adik seperguruannya, ia berkata dengan lemah kepada Sian Kim.
"Kim-moi... kau larilah... jangan kau lawan mereka... jangan kau ganggu sumoi dan suteku... larilah kau, kekasihku... selamat... selamat..."
Dan tiba-tiba leher Ciauw In lemas dan kedua matanya tertutup lalu kepalanya terkulai! "Koko...!!"
Sian Kim menjerit ngeri dan menubruk Ciauw In yang telah menghembuskan nafas terakhir.
Kemudian dengan muka pucat Sian Kim bangkit berdiri dengan pedang di tangan.
Pada saat itu, para pengejar yang dipimpin oleh Kim Kong Tojin juga sudah tiba di tempat itu dan mereka semua lalu mengurung Sian Kim dengan senjata siap di tangan masing-masing.
Sian Kim memandang kepada mereka semua dengan mata sayu dan muka pucat, kemudian ia menatap muka Bwee Hiang dan suaranya terdengar tak bernada ketika ia berkata.
"Bwee Hiang, aku tahu bahwa kau dan semua orang datang hendak menangkap atau membunuhku! Sekarang, setelah terlambat, ku akui bahwa aku telah hidup sebagai seorang jahat! Kau telah membunuh ayahku dan sekarang terbuka mataku bahwa ayahku memang jahat pula! Kau semua berhak membunuhku dan memang orang seperti aku pantas dibunuh, akan tetapi... dia ini..."
Ia menunjuk ke arah mayat Ciauw In yang menggeletak di bawah kakinya.
"Dia ini seorang gagah... seorang yang melakukan kejahatan bukan atas kehendak sendiri... Dia mencintaku... dengarkah kalian semua? Dia mencintaku! Mencinta dengan tulus ikhlas dan suci murni! Dan aku... aku yang membunuhnya... aku yang meracuninya..."
Air matanya jatuh berderai.
"Akan tetapi aku cinta padanya...! Ya, aku cinta padanya dan aku ingin mati sebagai mempelainya...! Kalian jangan sia-siakan jenazahnya, jangan sla-siakan jenazah Hoa-san Taihiap, suamiku...! Kuburlah jenazahnya baik-baik, tentang mayatku, aku tak perduli. Aku seorang jahat, kalian boleh hancurkan mayatku kalau kalian kehendaki, aku beri makan kepada anjing, aku tak perduli!"
Setelah berkata demikian, ia menggerakkan pedangnya dan Kim Kong Tojin berseru.
"Tahan dia!"
Akan tetapi terlambat, pedang di tangan Sian Kim telah membabat leher sendiri sehingga hampir putus dan tubuhnya terguling roboh di atas tubuh Ciauw In!
Darah menyembur keluar dari lehernya, membasahi tubuhnya sendiri dan tubuh Ciauw In.
Bwee Hiang menggunakan kedua tangan untuk menutupi matanya dan ia menangis terisak-isak, sedangkan Ong Su mengepal-ngepal tinjunya.
Pikirannya tak keruan dan hatinya merasa gemas, marah, menyesal, dan juga kasihan dan bersedih.
Bwee Hiang lalu mempergunakan saputangannya menyusuti air matanya lalu sambil menghadapi semua orang, terutama Kim Kong Tojin, ia menjura dan barkata.
"Cuwi sekalian yang mulia! Kita sama-sama mendengar ucapan terakhir dari perempuan yang jahat dan biangkeladi semua malapetaka ini dan karenanya tentu cuwi sekalian maklum pula bahwa betapapun besarnya kesalahan yang telah dilakukan oleh suhengku yang kini telah tewas, namun sama sekali tidak ada sangkutpautnya dengan perguruan kami Hoa-san-pai! Orang yang berdosa telah menemui ajalnya dan kami berdua murid Hoa-san-pai mewakili suhu menghaturkan maaf sebanyaknya atas segala dosa yang telah dilakukan oleh mendiang suheng kami itu!"
Kemudian, sambil menahan mengucurnya air mata, Bwee Hiang melanjutkan kata-katanya.
"Dan kami mohon kepada cuwi sekalian untuk mengijinkan kami berdua mengurus kedua jenazah ini baik-baik."
Kim Kong Tojin menarik napas panjang dan berkata.
"Ah, memang orang-orang muda harus berhati-hati terhadap perasaan sendiri, terutama menjaga nafsu jahat yang selalu hendak menonjolkan diri, menguasai hati dan fikiran. Kalau iman kurang teguh dan kuat, maka beginilah jadinya, seperti Hoa-san Taihiap yang tadinya terkenal gagah perkasa dan budiman, ternyata runtuh imannya menghadapi seorang wanita cantik yang jahat! Anak-anak muda, tentu saja kami tidak menghubungkan kejadian ini dengan perguruan Hoa-san-pai hanya pinto merasa ikut menyesal atas kegagalan Ho Sim Siansu memilih murid..."
Setelah berkata demikian, Tosu ini lalu meninggalkan tempat itu, diikuti oleh semua tokoh Kun-lun-pai dan juga para tentara pemerintah yang melakukan pengejaran segera meninggalkan tempat itu untuk membuat laporan kepada atasan mereka.
Ong Su dan Bwee Hiang lalu mengubur jenazah Sian Kim dan Ciauw In, dijadikan dua makam yang berdampingan.
Diam-diam Ong Su makin kagum terhadap sumoinya yang selain gagah perkasa, juga berbudi mulia ini.
Dan Bwee Hiang diam-diam juga mengakui bahwa apabila dibandingkan, biarpun Ong Su tidak segagah dan setampan Ciauw In, akan tetapi ji-suhengnya ini lebih jujur, sederhana, dan beriman teguh sehingga tak mungkin tersesat seperti Ciauw In!
Mereka lalu kembali untuk membuat laporan kepada Ho Sim Siansu dan ketika pertapa tua itu mendengar peristiwa itu, ia memeramkan matanya untuk beberapa lama dan mempergunakan kekuatan batinnya untuk menahan gelora kedukaan yang menggelombang di dalam dadanya.
Suaranya terdengar lemah ketika ia berkata.
"Jadikanlah peristiwa suhengmu ini sebagai contoh, Bwee Hiang dan Ong Su. Memang tidak selamanya kepandaian itu mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan, semua tergantung dari orang yang memiliki kepandaian itu. Lebih berguna seorang berkepandaian rendah yang berhati bersih daripada seribu orang berkepandaian tinggi yang berhati kotor, karena kepandaiannya itu hanya akan mendatangkan kejahatan dan malapetaka belaka. Oleh karena itu, kelak didiklah anak-anakmu agar menjadi orang yang beriman teguh dan berbatin bersih, kuat menghadapi segala macam godaan dunia yang akan menjerumuskan diri sendiri ke jurang kesesatan!"
Setelah banyak menerima petuah dari Ho Sim Siansu, Bwee Hiang dan Ong Su lalu menuju ke kota Keng-sin untuk memberi keputusan tentang perjodohan mereka kepada orang tua masing-masing yang telah lama menanti-nanti di kota itu.
Dan keputusan mereka itu menggirangkan ibu Bwee Hiang dan kedua orang tua Ong Su yang segera sibuk memilih hari baik dan bulan baik untuk melangsungkan pernikahan kedua orang muda itu.
T A M A T andu,
http.//indozone.net
/literatures/literature/542 22 Maret 2009 jam 3.59pm
Baca Juga: Sepasang Naga Penakluk Iblis 8
Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 2