Eps 2 Pendekar Bunga - Chin Yung
Baca online Pendekar Bunga - Chin Yung
Cersil Pendekar Bunga - Chin Yung.
Dan Bin An Sienie jadi sangsi bukan main.
Dia berdiam diri sejenak, dan kemudian telah berkata dengan suara ragu .
"Baiklah... kalau memang begitu juga yang menjadi persoalannya, aku tidak bisa mengatakan apa-apa....! Cuma terus terang kukatakan, bahwa pedang ini jika disimpan oleh Pienie, maka akan Pienie simpan disebuah tempat yang sukar di ketahui orang! Satu kalipun tidak akan Pienie pergunakan!"
"Bagus!"
Berseru Siauw Sin Cing dengan suara yang nyaring.
"Dan nanti kalau memang Lonie sudah bertemu dengan seseorang yang Lonie rasa cocok sebagai pewaris pedang ini, dapat Lonie serahkan kepadanya!"
Si niekouw telah mengangguk mengerti.
Maka terjadilah serah terima pedang pusaka Pedang Bunga itu.
Untuk selanjutnya Pedang Bunga berada ditangan Bin An Sienie.
Sedangkan, orang tua itu dengan senang hati telah berlalu.
Wajahnya berseri-seri, karena dia merasakan seperti terlepas dari suatu tanggung jawab yang sangat berat sekali.
Sedangkan Bin An Sienie sendiri selanjutnya mengalami gangguan yang tidak kecil.
Karena setiap harinya, sejak dari peristiwa itu, dia selalu dikejar-kejar oleh jago-jago rimba persilatan.
Dan setiap kali pula, ada-ada saja jago-jago rimba persilatan yang memiliki kepandaian lumayan tingginya telah berusaha untuk merebut pedang itu.
Keruan saja hal tersebut membuat Bin An Sienie jadi kaget sendirinya.
Bukan main terkejutnya dia memperoleh kenyataan bahwa Pedang Bunga itu membawa suatu malapetaka yang bukan main hebatnya.
Dan juga memang suatu saat memang Bin An Sienie terlalu hebat menerima serbuan dari orang-orang rimba persilatan.
Malah sampai pernah sampai duapuluh lebih dari jago-jago rimba persilatan telah mengepung Gobie Pay.
Namun berkat kepandaian dari Bin An Sienie yang bukan main tingginya, dengan sendirinya dia dapat mengusir dan menghadapi jago-jago itu.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Dan juga diantara kedua puluh jago-jago yang datang menyerbu itu, ada beberapa orang yang telah dapat dibinasakan oleh si niekouw.
Diantaranya termasuk orang she Ong, Dan semua itu akhirnya ternyata orang she Ong tersebut adalah ayah dari Ong Peng Hin.
Itulah buntut dari persoalan dendam yang membara dihati Ong Peng Hin.
Dengan sendirinya, mau tidak mau memang hal ini telah membuat Ong Peng Hin berusaha mengumpulkan kembali orang-orang rimba persilatan untuk melancarkan penyerbuannya.
--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 3 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ SETELAH menceritakan segalanya itu, maka akhirnya Bin An Sienie telah menghela napas panjang.
Tampak wajahnya sangat berduka bukan main.
Biar bagaimana memang kenyataannya dia menghadapi kesulitan yang tidak kecil.
Dan masalah Pedang Bunga ini termasuk sebagai masalah rimba persilatan.
Karena terlalu banyak jago-jago yang berusaha untuk memiliki Pedang Bunga itu.
Mau tidak mau memang kenyataan seperti ini telah memaksa Bin An Sienie untuk memeras otak untuk mencari jalan keluarnya.
Kalau memang keadaan seperti ini terus menerus, pasti lama kelamaan Gobie Pay akan mengalami kehancuran juga.
Karena dari hari kehari, penyerbuan orang-orang rimba persilatan semakin banyak saja.
Thio Sun Kie yang mendengar cerita sahabatnya ini jadi ikut bingung.
Dia telah menyaksikan tadi, berapa banyaknya orang-orang rimba persilatan yang dari berbagai golongan telah berhasil dikumpulkan oleh Ong Peng Hin.
Dengan sendirinya, jika sudah tiba waktunya, yaitu Sie-gwe Cap-go tentunya Gobie Pay akan dilanda oleh suatu yang sangat hebat.
Maka dari itu, biar bagaimana keadaan seperti ini pasti bisa membahayakan keselamatan kuil Gobie-pay itu.
Dan diantara semua itu, Bin An Sienie telah mencarikan daya.
Dia tidak pernah berhasil menemukan jalan yang dirasa paling baik.
Saking kewalahan, maka dia telah meminta agar Thio Sun Kie untuk datang berkunjung ke Gobie Pay.
Maksudnya dia ingin meminta pertimbangan dari sahabatnya ini.
Dengan sendirinya, mau tidak mau Thio Sun Kic menghadapi urusan yang cukup rumit.
Maka dia tidak bisa memberikan pertimbangan disaat itu juga.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Setelah bercakap-cakap sesaat lagi dengan Ciangbunjin dari Gobie Pay ini, merekapun telah pergi beristirahat ketempat masing-masing.
Sedangkan Thio Sun Kie dan Eng Song telah diberikan sebuah kamar tamu yang terletak dibelakang kuil.
Besok paginya, tentu dia bisa mencarikan jalan yang baik untuk kawannya itu.
Biar bagaimana Bin An Sienie harus memperoleh petunjuk dan jalan keluar yang tidak menimbulkan kegoncangan hebat buat Gobie Pay.
Malam itu Thio Sun Kie jadi tidak bisa tidur nyenyak.
Dia mengawasi Eng Song yang tidur disebelahnya dengan nyenyak.
"Kasihan bocah ini, dia belum sempat mempelajari ilmu silat yang berarti, sudah harus terlibat didalam pergolakan seperti ini! Dengan sendirinya waktuku jadi berkurang dan perhatianku juga jadi berkurang pula...! Hai! Hai!"
Dan berulang kali Thio Sun Kie telah menghela napas tidak hentinya.
Hari telah menjelang malam, suara kentongan sudah dipukul dua kali.
Hal itu menunjukkan malan telah larut benar.
Tetapi Thio Sun Kie masih juga belum dapat tertidur.
Otaknya berpikir terus.
Dan dia tetap berpikir ketika menjelang fajar.
Tetapi sampai begitu jauh, dia masih belum menemui jalan yang sebaik-baiknya buat Bin An Sienie.
Dengan sendirinya, Thio Sun Kie sendiri jadi bingung, karena dia menyadari bahwa Bin An Sienie ternyata menghadapi urusan yang tidak kecil.
Keesokan paginya, Bin An Sienie telah mengundang Thio Sun Kie dan Eng Song untuk sarapan pagi bersama.
Disaat itulah si niekouw telah berkata dengan suara mengharap .
"Bagaimana sahabatku, apakah kau telah memperoleh pikiran yang baik untuk memecahkan persoalan ini?"
Tanya si niekouw.
"Sudah!"
Mengangguk Thio Sun Kie.
"Bagus! Jalan apakah yang sekiranya kau anggap baik untuk mengatasi segala persoalan yang ada ini?"
Wajah si niekouw tampak berseri-seri. Dia girang mendengar sahabatnya ini telah memperoleh jalan keluar.
"Semalam aku telah memeras otak untuk berpikir terus menerus..... tetapi menemui jalan buntu! Sampai akhirnya dikala fajar, aku baru teringat kepada seorang sahabat lama!"
"Siapa dia?"
Tanya si niekouw tua itu dengan suara yang mengharap.
"Sahabat lamaku itu seorang aneh sekali sifatnya, dia juga sangat mudah tersinggung. Juga mudah marah. Tetapi hatinya sesungguhnya sangat lembut. Disebabkan sifatnya yang buruk itu, dia akhirnya memutuskan untuk hidup mengasingkan diri dipuncak gunung Kun Lun....!!"
"Oh aku tahu!"
Berseru si niekouw dengan suara yang nyaring.
"Siapa?"
"Ku Kuay Kiehiap!"CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
"Tepat!"
Berseru Thio Sun Kie dengan suara yang nyaring.
"Memang dia yang kumaksud!"
"Lalu apa hubungannya antara urusan Pienie dengan Ku Kuay Kiehiap?"
Tanya si niekouw kemudian sambil mengawasi tajam pada Thio Sun Kie.
"Jelas dia yang bisa menolong kita!"
Menyahuti Thio Sun Kie.
"Seperti Lonie tentu mengetahuinya, bahwa kepandaian yang dimiliki Ku Kuay Kiehiap sangat luar biasa sekali, sukar diukur dan sulit di terka! Tetapi jelasnya untuk saat-saat sekarang ini, dialah merupakan jago nomor wahid didalam dunia persilatan, tidak ada tandingnya! Bukankah begitu, Lonie?"
Si niekouw telah mengangguk.
"Tetapi untuk mengundang Ku Kuay Kiehiap kita mempunyai banyak kesulitan! Kesatu, dia seorang yang beradat aneh, belum tentu dia mau datang kemari! Lagi dari tempat ini ke Ku Lun San sangat jauh sekali, mungkin memakan waktu perjalanan selama dua bulan......! Bagaimana kita keburu untuk menghadapi orang-orang yang diundang oleh Ong Peng Hin untuk mengacau Gobie Pay ini?"
Waktu berkata begitu tampak jelas terlihat diwajahnya, niekouw ini jadi gelisah sekali.
"Tetapi Thio Sun Kie telah tersenyum sabar.
"Begini Lonie.....!"
Kata Thio Sun Kie kemudian.
"Sesungguhnya bukan aku menganjurkan untuk mengundang Ku Kuay Kiehiap...... tetapi maksudku, ialah kita meminta agar Songjie pergi menemuinya!"
"Hah!"
Tampaknya Bin An Sienie jadi terkejut sekali.
"Kenapa Lonie?"
Tanya Thio Sun Kie dengan sikapnya yang tetap tenang.
"Ini mana mungkin? Song-jie masih terlalu kecil, dengan sendirinya tidak mungkin dia bisa melakukan perjalanan yang sejauh itu! Dan umpama memang dapat, tetapi tidak mungkin dia bisa mencari tempat tinggal dari Ku Kuay Kiehiap! Bukankah urusan akan menjadi kapiran?"
Dan setelah berkata begitu, Bin An Sienie telah menghela napas berulang kali. Tampaknya si niekouw sangat masgul sekali. Tetapi Thio Sun Kie tetap tersenyum sangat tenang sekali.
"Dengar dulu keteranganku Lonie jangan kau memotongnya sebelum aku menyelesaikan perkataanku ini!"
Kata Thio Sun Kie. Si niekouw mengangkat kepalanya, katanya .
"Nah, coba kau jelaskan, Thio Kiesu!"
Thio Sun Kie telah mengambil cawannya, dia telah menghirup air tehnya. Kemudian baru berkata .
"Maksudku mengutus Song-jie untuk membawa Pedang Bunga untuk dipersembahkau kepada Ku Kuay Kiehiap!"
"Hah!!"
Kembali satu kali lagi si niekouw jadi kaget bukan main.
"Mana mungkin itu?!"
"Mungkin saja! Aku yang akan menulis sepucuk surat kepada Ku Kuay Kiehiap.... dan menjelaskan segala-galanya! Pedang Bunga bukan diberikan kepadanya, cuma kau titipkan sementara waktu padanya! Bukankah kepandaian Ku Kuay Kiehiap telah tidak ada taranya diwaktu sekarang-sekarang ini? Maka siapa yang bisa merampas pedang itu dari tangannya?"CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
"Tetapi.... aku kuatir sekali kalau-kalau dijalan Song-jie mengalami halangan! Inilah yang sangat memberatkan hatiku! Karena justeru didalam perjalanan itulah yang terlalu berat risikonya.....!"
"Kita bungkus biar rapih Pedang Bunga dan Song-jie sebagai seorang bocah cilik tidak mungkin menarik perhatian siapapun juga."
Niekouw tua yang menjadi Ciangbunjin dari Gobie-pay itu telah menghela napas panjang.
"Ya.... hal ini memang merupakan masalah yang sulit sekali! Aku telah merepotkan kau, Thio Kiesu! Tetapi didalam hal ini, biarlah kita hadapi dulu, kita lihat perkembangannya, orang-orang macam bagaimana yang diundang oleh Ong Peng Hin itu!"
Thio Sun Kie juga telah mengangguk, dia menyetujui saja usul kawannya itu.
Biar bagaimana yang memegang peranan didalam persoalan ini adalah si niekouw tua itu.
Dialah yang berkepentingan.
Dan mereka telah makan minum sesaat lamanya lagi.
Setelah selesai sarapan, Thio Sun Kie mempergunakan waktunya yang luang untuk melatih Eng Song.
Masih ada beberapa hari lagi menantikan tibanya Sie-gwe Cap-go.
Rembulan juga mulai bulat tergantung diatas langit.
Malaman Cap-go dibulan empat itu, tampak Thio Sun Kie jadi agak gelisah.
Dia merasa tidak enak sekali dihatinya.
Maka Thio Sun Kie telah keluar dari kamarnya, dia telah jalan perlahan-lahan menyusuri pekarangan kuil Gobie Pay.
Suara para niekouw yang tengah membaca Liam-keng terdengar sayup-sayup diiringi oleh ketukan pada kayu bokkhie.
Dikeheningan dan kesunyian malam dikuil tersebut, seharusnya membuat hati jadi tenang.
Namun peristiwa yang akan terjadi dan mengancam kuil tersebut, membuat hati Thio Sun Kie jadi gelisah bukan main.
Kentongan pada saat itu telah dipukul dikejauhan berbunyi tiga kali.
Sudah larut malam benar.
Disaat itulah, pendengaran Thio Sun Kie yang sangat tajam sekali telah dapat mendengar suara sesuatu yang sangat mencurigakan.
Dia telah melompat kebelakang sebatang pohon.
Dia orang she Thio tersebut telah mengintai.
Terlihat diatas genting dari wuwungan kuil itu, tampak berkelebat sesosok bayangan.
Gerakan dari bayangan itu sangat cepat sekali, bagaikan seekor kucing saja.
Dari wuwungan yang satu, dia telah melompat kewuwungan yang satunya.
Setelah sosok bayangan itu agak jauh, Thio Sun Kie keluar dari tempat persembunyiannya.
Dia telah menguntitnya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Tetapi baru menguntit beberapa jauh, sosok bayangan itu telah menghentikan langkah kakinya.
Rupanya dia merasakan ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya.
Dia telah memutar tubuhnya.
Dengan gerakan secepat kilat, tubuhnya telah berlari kembali kearah yang tadi dia datang.
Dan gerakannya itu sangat cepat sekali, sehingga dia memergoki Thio Sun Kie yang tidak keburu bersembunyi lagi.
Sebab dia tidak menyangka sama kali orang itu akan datang didalam waktu yang secepat itu.
"Sahabat....!"
Kata sosok bayangan itu, yang ternyata seseorang yang memakai topeng pada mukanya.
"Mengapa kau berada dikuil ini?"
Rupanya orang tersebut bertanya begitu, dia melihat Thio Sun Kie seorang lelaki tua.
Sedangkan kuil ini adalah kuil para niekouw.
Maka menduga tentunya Thio Sun Kie adalah tamu malam juga.
Thio Sun Kie yang mendengar partanyaan orang itu, segera memperoleh seruan ingatan.
"Aku tengah menyelidiki keadaan kuil ini atas permintaan dari Ong Peng Hin....!"
Katanya.
"Hah?"
Orang itu telah mengeluarkan suara seruan tertahan.
Dan orang itu telah mengawasi Thio Sun Kie dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Tentu saja diawasi dengan cara begitu membuat Thio Sun Kie jadi tidak senang.
Biar bagaimana dia adalah seorang tokoh rimba persilatan.
Dan sekarang dirinya telah diawasi begitu rupa, darahnya jadi meluap.
"Mengapa kau mengawasi aku seperti memandang seorang maling kecil saja heh?"
Tegurnya tidak senang.
"Ada sesuatu yang membuat aku jadi heran!"
Kata orang yang memakai topeng itu.
"Apa yang kau herankan?"
"Sangat mengherankan sekali!"
"Soal apa?"
Tanya Thio Sun Kie yang memang sudah naik darah dan gusar sekali.
"Soal Ong Peng Hin!"
"Itu adalah urusan dia!"
Kata Thio Sun Kie dengan suara mendongkol.
"Tetapi termasuk urusanmu juga!"
Kata orang bertopeng tersebut.
"Karena tadi kau mengatakan bahwa kau diminta oleh Ong Peng Hin untuk menyelidiki kuil ini....!"
"Memang benar!"
Menyahuti Thio Sun Kie cepat.
"Hemm.... apakah kau tidak salah menyebut nama itu?"
Tanya orang bertopeng tersebut. Hati Thio Sun Kie mulai tidak tenang, kegusarannya mulai meluap.
"Apa yang telah membuat kau berkata begitu, heh?"
Bentaknya dengan sengit.
"Aku telah mengatakan bahwa aku datang kekuil ini atas permintaan dari Ong Peng Hin. Titik. Dan kau sendiri, mau apa kau berkeliaran dikuil ini juga?!"CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
"Akupun telah diperintah Ong Peng Hin!"
Menyahuti orang bertopeng itu.
"Tetapi Ong Peng Hin tadi telah mengatakan bahwa hanya aku seorang diri saja yang bertugas malam ini untuk melakukan penyelidikan dikuil ini."
"Aku tidak tahu! Itu urusan dari Ong Peng Hin sendiri! Mengapa harus diributkan?! Aku hanya memenuhi permintaannya dan telah melakukan penyelidikan dikuil ini. Habis perkara!"
Mendengar perkataan Thio Sun Kie, orang bertopeng itu mengeluarkan suara tertawanya.
"Tetapi kau salah sahabat.... kau jangan marah dulu! Tetapi sudah kukatakan ada sesuatu yang sangat mengherankan sekali bagiku! Kau mengatakan bahwa dirimu telah dimintai oleh Ong Peng Hin untuk melakukan penyelidikan ditempat ini, tetapi setahuku, Ong Peng Hin tidak kenal dengan kau!"
Kata orang tersebut dengan suara yang dingin sekali.
Mendengar perkataan orang bertopeng itu, tentu saja Thio Sun Kie jadi gusar bukan main.
Dia tidak bisa membendung perasaan amarahnya.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras bukan main, dia telah melancarkan serangan yang tiba-tiba dengan tangan kanannya.
"Jaga serangan!"
Dia memperingati.
Serangan yang dilancarkan oleh Thio Sun Kie bukan main hebatnya.
Tenaga dalam yang dipergunakannya itu juga sangat kuat sekali.
Sebagai seorang tokoh rimba persilatan, jelas dia melancarkan serangannya itu dengan mempergunakan perhitungan yang matang sekali.
Dan memang maksud dari Thio Sun Kie menguntit orang yang bertopeng ini, yang sikapnya sangat mencurigakan sekali, untuk membekuknya.
Dengan membekuk orang ini, jelas dia bersama si niekouw Bin An Sienie bisa mengorek keterangan yang sangat banyak sekali.
Tetapi orang bertopeng itu rupanya juga memiliki kepandaian yang sangat tinggi.
Karena biarpun dirinya telah diserang dengan pukulan yang tiba-tiba begitu, dia tidak menjadi gugup.
Dengan mengeluarkan suara tertawa dingin, dia telah melompat kebelakang.
Dengan gerakan tubuh yang manis dan indah sekali, dia telah membarengi melompat kesamping lagi.
Dengan cara mengelakkan diri begitu rupa, ternyata si orang bertopeng telah berhasil untuk menghindarkan diri dari tenaga dalam yang bergelombang dari Thio Sun Kie.
Kenyataan seperti ini menambah kemarahan hati Thio Sun Kie saja.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang cukup keras kedua tangannya tahu-tahu telah digerakkan sekaligus.
"Weeeerrrrr.....!"
Serangkum angin serangan yang bukan main kuatnya telah menerjang orang bertopeng.
Gerakan yang dilakukan oleh Thio Sun Kie dengan kekuatan dan perhitungan yang matang.
Dia juga melancarkan serangannya itu pada jurusan yang berbahaya ditubuh orang bertopeng ini.
Sedangkan orang bertopeng itu juga jadi kaget bukan main.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Dia telah melihatnya bahwa kepandaian yang dimiliki oleh Thio Sun Kie bukan merupakan kepandaian yang dapat diremehkan begitu saja.
Angin serangannya saja sudah kuat bukan main, mendatangkan tenaga serangan yang dahsyat.
Dengan sendirinya, orang bertopeng telah berlaku lebih waspada.
Sambil menangkis dengan tangan kanannya, dia telah membentak .
"Katakanlah yang sebenarnya, siapa kau ini sesungguhnya!"
Bentakannya itu nyaring sekali, dibarengi dengan terbenturnya tangan mereka.
"Bukkkk!"
Dan tubuh mereka telah terhuyung mundur, sama-sama terpengaruh oleh akibat benturan tenaga dalam mereka itu.
Dengan sendirinya, Thio Sun Kie jadi tambah murka saja, kepalanya dirasakan berdenyut-denyut saking murkanya yang belum dapat dilampiaskan.
"Aku tidak pernah mengganti she dan nama! Akulah Thio Sun Kie!"
"Hah?!"
Berseru orang bertopeng itu waktu mendengar nama Thio Sun Kie.
"Ini.... ini....!"
Suaranya jadi begitu tergetar dan gugup sekali.
Rupanya dia sering mendengar kehebatan dari kepandaian yarg dimiliki oleh Thio Sun Kie.
Dan dia juga telah mendengar banyak mengenai kepunsuan Thio Sun Kie yang disegani lawan dan kawan.
Dengan sendirinya, sekarang dikala dia mengetahui orang tua berjanggut ini yang tengah dihadapinya ternyata adalah Thio Sun Kie yang sangat terkenal didalam rimba persilatan itu, membuat orang bertopeng itu jeri sendirinya.
Maka ketika Thio Sun Kie melancarkan serangan pula kearahnya, cepat-cepat dia telah mengelakkan diri.
"Wuttttt....!"
Angin serangan yang dilancarkan oleh Thio Sun Kie lewat dekat sisi dari orang bertopeng itu.
Dengan sendirinya, dia cepat-cepat telah menjejakkan kakinya dan melompat mundur lagi.
Sebab orang bertopeng ini ngeri kalau-kalau Thio Sun Kie membarengi untuk melancarkan serangan susulan padanya.
Maka dari itu, dia telah mencelat sejauh mungkin.
Namun Thio Sun Kie mana mau melepaskan orang bertopeng ini.
Dia memang ingin membekuknya untuk ditawan.
Melihat orang menjejakkan kaki menjauhkan diri, maka Thio Sun Kie telah membentak .
"Mau kabur kemana kau?"
Dibarengi kedua tangannya bergerak lagi.
"Wuttttt! Weeerrrrrr!"
Keras bukan main serangkum angin serangan menyambar kearah orang bertopeng itu. Dan terpaksa orang bertopeng ini tidak melihat ada jalan lain untuk mengelakkan diri.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Dia telah mengangkat kedua tangannya dan menangkisnya dengan kekerasan juga.
"Bukkkk!!"
Tubuh orang bertopeng itu jadi terpental keras sekali.
Tubuhnya bagaikan sehelai daun kering, telah terlontarkan empat tombak lebih ketengah udara.
Tentu saja hal ini membuat orang bertopeng itu jadi kaget setengah mati.
Untung saja dia memiliki kepandaian yang tinggi dan ginkang yang cukup sempurna.
Maka dalam saat yang berbahaya buat dirinya, dia telah menggentakkan kedua kakinya.
Tubuhnya seketika itu juga telah berpoksay.
Dengan cara berjumpalitan seperti itu, orang bertopeng ini telah mengurangi daya luncur dari tubuhnya yang akan terbanting jatuh ditanah.
Dan dia telah mengeluarkan suara seruan sambil menjejakkan kakinya begitu kedua kakinya itu menginjak tanah.
Tubuhnya dengan cepat sekali telah mencelat lagi ketengah udara.
Tetapi dia melompat begitu untuk menjauhkan diri.
Maksudnya tentu saja ingin kabur dari tempat itu.
Dan tampaklah jelas sekali, bahwa orang bertopeng ini memang merasa jeri bukan main pada Thio Sun Kie.
Karena orang bertopeng itu juga menyadarinya bahwa dia tidak mungkin dapat menandingi kepandaian yang dimiliki oleh Thio Sun Kie.
Mau tidak mau memang jalan satu-satunya ialah melarikan diri.
Tetapi Thio Sun Kie yang tengah bergusar itu dan bernafsu sekali untuk membekuknya, tidak mau melepaskan begitu saja orang kabur.
"Hemmm, engkau memang mudah untuk datang kemari, tetapi tidak semudah itu kau meninggalkan tempat ini!"
Mengejek Thio Sun Kie dengan suara yang dingin.
Dan dengan cepat sekali tubuh Thio Sun Kie telah mencelat gesit sekali.
Bagaikan seekor burung elang, dia telah meluncur cepat bukan main.
Kedua tangannya telah diulurkan akan mencengkeram baju orang bertopeng itu.
Tentu saja kegesitan yang dimiliki oleh Thio Sun Kie membuat orang bertopeng itu jadi kaget setengah mati.
Dengan sekuat tenaga yang ada padanya, dia telah berusaha untuk mengelakkan diri.
Tetapi sayang, kepalanya bergerak agak lambat sedikit.
Jari-jari tangan dari Thio Sun Kie, telah berhasil menjambret topeng mukanya.
"Breeeettt.....!"
Topeng itu telah berhasil ditarik terlepas oleh Thio Sun Kie.
Dengan sendirinya wajah orang bertopeng itu dapat dilihat oleh Thio Sun Kie.
Namun orang bertopeng itu masih berusaha untuk melarikan diri.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Namun Thio Sun Kie dengan kegesitan yang bukan main telah berusaha menghadangnya.
"Hemmm, sudah kukatakan tidak semudah kau datang jika ingin pergi dari tempat ini!"
Ejek Thio Sun Kie dengan suara yang bengis. Karena jago tua she Thio ini telah murka bukan main.
"Wuttt......!"
Keras bukan main angin serangan tangan dari Thio Sun Kie.
Dan serangkum angin yang bagaikan gunung runtuh itu menyambar orang bertopeng yang telah terlucutkan topengnya itu.
Mau tidak mau orang bertopeng yang sudah kena dirobek topeng mukanya oleh Thio Sun Kie, telah menangkisnya dengan sekuat tenaganya.
"Bukkkk!"
Genting dari wuwungan kuil itu telah kena terpijak pecah satu oleh orang bertopeng itu.
Tubuhnya juga telah terhuyung akibat benturan keras dari dua kekuatan tenaga raksasa ini.
Dan tubuh orang itu hampir saja terjungkel rubuh diatas tanah.
Untung saja dia masih bisa mengempos semangat dan tenaga dalamnya.
Disalurkan pada kedua kakinya.
Dengan sendirinya, kedua kakinya itu dapat berdiri tetap lagi.
Dan dia telah berdiri berhadapan dengan Thio Sun Kie.
Saat ini, Thio Sun Kie juga telah berhasil melihat wajah orang bertopeng itu.
Dia mendengus.
"Hemmmm.... kiranya kau!"
Kata Thio Sun Kie dengan suara yang dingin.
Karena segera juga Thio Sun Kie mengenalinya bahwa orang bertopeng ini kiranya Ong Peng Hin sendiri.
Pantas saja waktu Thio Sun Kie mengatakan bahwa dia telah diminta oleh Ong Peng Hin untuk menyelidiki keadaan kuil ini.
Orang bertopeng itu telah berkata-kata seperti menyelidiki dan mengejek.
Sekarang Thio Sun Kie baru mengerti, pantas saja orang she Ong itu sendiri yang telah berhadapan dengannya.
Dan disebabkan telah melihat lawannya adalah biang keladi kerusuhan yang bisa menimbulkan badai di Gobie Pay, maka darah Thio Sun Kie jadi meluap.
"Manusia kadal seperti kau ini memang tidak pantas untuk dibiarkan hidup!!"
Memaki Thio Sun Kie dengan penuh kemarahan.
Kedua tangannya telah bergerak lagi, dia telah melancarkan serangan yang bukan main kuatnya.
Angin serangan yang menyambar datang kearah Ong Peng Hin dahsyat sekali.
"Wutttt....! Burrr!!"CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Angin serangan yang dilancarkan oleh Thio Sun Kie mempergunakan hawa murni yang sifatnya Yang (panas), maka dari itu, tenaga ini juga merupakan tenaga yang mengandung unsur-unsur kekerasan.
Ong Peng Hin yang melihat tibanya serangan yang dahsyat dari lawannya ini, jadi terkesiap hatinya.
Biar bagaimana sekarang memang Ong Peng Hin telah mengetahui bahwa lawannya itu adalah seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi.
Dan memang juga Ong Peng Hin telah melihatnya, betapa setiap kali Ong Peng Hin melancarkan serangan, selalu serangannya itu mengandung tenaga yang bukan main hebatnya.
Maka, sekarang dia berlaku jauh lebih waspada dan hati-hati sekali.
Setidak-tidaknya Ong Peng Hin juga menyadarinya, kalau sampai dia berlaku lengah, niscaya dia akan terserang dan binasa disaat itu juga.
Inilah yang tidak diinginkan oleh Ong Peng Hin.
Sekarang melihat Thio Sun Kie telah melancarkan serangan lagi, mau tidak mau dalam keadaan terdesak Ong Peng Hin telah menggerakkan sepasang tangannya.
Dia telah menangkisnya dengan sekuat tenaga yang ada padanya.
"Bukkkk!"
Tempat itu telah tergetar lagi.
Dengan sendirinya, mau tidak mau tubuh Ong Peng Hin juga telah terlontar lagi ketengah udara sejauh empat tombak, saking dahsyatnya kekuatan tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Thio Sun Kie........
Tampak Ong Peng Hin berdiri agak terhuyung, tampaknya dia begitu tergempur oleh serangan yang dilancarkan oleh kakek tua she Thio itu.
Kenyataan seperti ini memang telah membuat hati Ong Peng Hin ciut dan nyalinya mulai pecah, keberanianya, sebab orang she Ong ini merasakan dadanya agak sakit dan juga dia sudah dapat mengukur berapa tinggi tenaga dalam yang dimiliki oleh Thio Sun Kie.
Tetapi Thio Sun Kie yang tengah murka bukan main, telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring, dan telah melompat tinggi sckali ditengah udara, dengan gerakan Jie Liong Jo Cu (Sepasang Naga Memperebutkan Mustika), kedua tangannya itu telah digerakkan dengan berbarengan dan dari kedua telapak tangannya itu telah meluncur angin serangan yang kuat bukan main, mengandung angin serangan yang bisa mematikan.
Ong Peng Hin jadi mengeluh, karena dia melihat kalau keadaan demikian terus menerus, tentu yang akan celaka adalah dirinya.
Maka dari itu, mau tidak mau dia harus dapat berusaha, agar dapat meloloskan diri dari serangan Thio Sun Kie.
Jalan satu-satunya yang paling baik memang cepat-cepat angkat kaki dari kuil ini.
Angin serangan yang dilancarkan oleh Thio Sun Kie telah menderu-deru keras sekali, dan didalam waktu yang singkat telah hampir sampai, dengan sendirinya, Ong Peng Hin tidak memiliki banyak kesempatan untuk dapat berpikir lagi, mau tidak mau dia memang harus dapat menangkis atau mengelakkan serangan tersebut.
Di saat itulah, dengan cepat sekali, Ong Peng Hin terpaksa mengempos seluruh kekuatan yang ada padanya, dengan nekad dia telah menangkisnya.
Tidak ada jalan lain baginya, maka mau tidak mau memang dia harus menangkisnya jika tidak mau tergempur lebih hebat oleh serangan yang dilancarkan oleh Thio Sun Kie.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Tetapi siapa sangka, begitu Ong Peng Hin menangkisnya, disaat dua kekuatan saling bentur ditengah-tengah udara di saat mana tenaga Thio Sun Kie telah tiba dengan kekuatan yang dahsyat bagaikan gunung yang runtuh, maka terdengarlah suara yang menggelegar keras sekali.
Ong Peng Hin merasakan dirinya seperti diterjang oleh suatu gempuran tenaga yang terlampau hebat, karena seketika itu juga dadanya dirasakan menyesak dan juga dia merasakan matanya berkunang-kunang, kepalanya berat dan juga tenaga murninya seperti juga bergolak hebat, naik sampai kedada.
Hati Ong Peng Hin jadi mencelos, karena dia tahu apa artinya dari semua yang tengah terjadi itu.
Kalau memang dia memaksakan diri untuk mempertahankan diri dari gempuran tenaga yang dilancarkan lawannya, dia pasti akan memuntahkan darah.
Dan jika hal itu terjadi, disaat dia memuntahkan darah berarti dia akan terluka hebat sekali dan akan menemui kematiannya.
Dengan nekad, dia telah mengempos seluruh sisa tenaganya, lalu dengan mengeluarkan suara bentakan, dia telah berusaha mendorong dengan mempergunakan seluruh tenaga yang ada padanya.
Membarengi mana, begitu tiba-tiba dia menarik pulang tenaga dalamnya dan melompat kesamping, menjatuhkan tubuhnya bergulingan diatas tanah!
Thio Sun Kie merasakan goncangan yang cukup kuat ketika Ong Peng Hin mendorong sekuat tenaganya itu, dan dia jadi terkejut waktu tubuhnya tiba-tiba ringan, karena seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh Ong Peng Hin telah ditarik pulang.
Tetapi waktu dia melihat Ong Peng Hin membuang dirinya bergulingan diatas tanah, Thio Sun Kie mendengus gusar.
"Hemmmm, mau kabur kemana kau?"
Bentaknya sambil melompat akan menerjang lagi.
Ong Peng Hin menyadari, biar bagai mana dia tidak mungkin menandingi kepandaian Thio Sun Kie.
Maka cepat-cepat dia mendekati jari tangannya kebibirnya dan terdengarlah suara siulan yang panjang.
Membarengi dengan suara siulannya yang panjang itu, maka dari tempat-tempat yang gelap sekeliling kuil itu telah melompat keluar belasan sosok tubuh dengan gerakan yang gesit bukan main.
Thio Sun Kie sebetulnya sedang bersiap-siap akan melancarkan serangan kepada lawannya ini, tetapi ketika dia melihat belasan sosok tubuh yang telah menerjang keluar dengan gerakan yang bukan main gesitnya,dia jadi terkejut.
Karena seketika itu juga Thio Sun Kie menyadarinya bahwa kuil Gobie-pay telah dikurung dan dikepung oleh orang-orangnya Ong Peng Hin.
Dan orang she Ong tersebut ternyata tidak datang hanya seorang diri.
Tentu saja kenyataan seperti ini telah membuat Thio Sun Kie tambah murka saja.
Dengan mengeluarkan suara teriakan yang mirip-mirip raungan kemarahan, kakek tua she Thio tersebut telah menjejakkan kakinya.
Tubuhnya dengan cepat telah mencelat ketengah udara akan melancarkan serangan yang mematikan kepada Ong Peng Hin.
Namun Ong Peng Hin sendiri rupanya menyadari akan bahaya yang akan menimpah dirinya.
Dengan cepat dia telah menyingkir kesamping.
Dan disaat itulah, sesosok bayangan justeru itu telah menggantikan kedudukan Ong Peng Hin, menangkis serangan yang dilancarkan oleh Thio Sun Kie.
Dua kekuatan tenaga yang dahsyat bukan main saling beradu ditengah udara, dan kesudahannya memang sangat luar biasa sekali.
Tubuh Thio Sun Kie telah terpental kebelakang ditengah udara, dan orang yang menggantikan kedudukan Ong Peng Hin untuk menangkis serangan kakek tua she Thio itu, juga telah terlambung ketengah udara.
Hal itu telah memperlihatkan, bahwa dua kekuatan yang tadi telah saling bentrok itu masing-masing memiliki tenaga yang dahsyat sekali.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Thio Sun Kie sendiri jadi terkejut, waktu dia tengah terlambung ditengah-tengah udara, dia jadi berpikir entah siapa orang liehay ini.
Dan dengan mempergunakan gerakan "Burung Hong Melayang", tubuhnya telah menjadi ringan, dan telah bergerak mengganti kedudukan dirinya.
Meluncur turun ketanah dengan kedua kaki terlebih dulu, sehingga dia tidak perlu sampai terbanting ketanah.
Sedangkan lawan Thio Sun Kie sendiri telah berhasil hinggap diatas tanah tanpa kekurangan suatu apapun juga.
Ternyata orang ini seorang lelaki tua, dengan bentuk muka yang sangat menyeramkan, karena giginya tampak bertonjolan tidak rata, kulitnya seperti telah dirusak oleh api, dan matanya memancarkan sinar yang sangat mengerikan sekali.
Usianya diantara lima puluhan tahun, dengan pakaian yang berwarna hijau tua.
Dia tampak berdiri dengan memperlihatkan sikap memandang enteng pada Thio Sun Kie.
"Aku Ban Ouw Hie, memang sudah lama mendengar nama besar dari engkau orang she Thio"
Katanya dengan suara yang dingin sekali.
"Dan hari ini, sungguh beruntung aku bisa main-main beberapa ratus jurus dengan kau!"
Dan tanpa menantikan jawaban dari Thio Sun Kie, orang yang mengakui dirinya bernama Ban Ouw Hie itu telah mengeluarkan suara seruan keras sekali, dia telah melancarkan serangan kearah Thio Sun Kie.
Saat itu Thio Sun Kie tengah terkejut bukan main mendengar orang dihadapannya ini adalah Ban Ouw Hie.
Karena orang she Ban itu adalah seorang tokoh rimba persilatan yang sukar diterka dari jalan hitam atau jalan putih.
Hal ini disebabkan Ban Ouw Hie memiliki watak yang ugal-ugalan dan selalu melakukan sesuatu sekehendak hatinya.
Kalau dia senang, tentu dia akan melakukan pekerjaan yang baik untuk membela seseorang yang lemah, namun jika sedang sintingnya datang, tidak keruan juntrung dia bisa membunuh duapuluh orang yang tidak bersalah!
Namun disebabkan serangan Ban Ouw Hie telah menyambar datang dengan cepat, dengan sendirinya, Thio Sun Kie tidak bisa berpikir terlalu lama.
Dengan cepat dia mengempos tenaga murninya, karena dia mengetahui orang she Ban ini tidak boleh dianggap remeh.
Jilid 4 BAN OUW HIE merasakan tenaga gempurannya itu telah kena ditangkis oleh lawannya, dan dia merasakan betapa tenaga serangan yang dilancarkannya itu seperti macet ditengah udara terbentur oleh hadangan yang kuat sekali.
Dengan sendirinya, dia tidak berhasil dengan serangannya itu.
Dan sebagai orang yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, dia tidak mau membuang-buang waktu.
Dengan cepat dia telah mengeluarkan suara erangan, dan telah menambah tenaga serangannya.
Begitu dia menarik pulang tangannya, dia sudah lantas membarengi dengan serangan lainnya pula.
Gerakan yang dilakukannya begitu beruntun, sehingga mau tidak mau Thio Sun Kie harus mengimbanginya.
Sebab dia merasakan tenaga dalam yang mengancam dirinya bukanlah serangan sembarangan, mau tidak mau dia memang harus dapat menghadapinya jika tidak mau dirinya kena dicelakai oleh orang she Ban itu.
Dengan sendirinya pula, mereka berdua jadi saling tempur dengan mengeluarkan kepandaian masing-masing.
Ong Peng Hin telah berdiri dikejauhan dengan belasan orang lainnya.
Semuanya bersiap-siap disuatu saat akan turun tangan untuk mengeroyok Thio Sun Kie.
Memang dikala Thio Sun Kie menghadapi Han Ouw Hie ini, hati Thio Sun Kie sendiri telah tergoncang keras, dia merasakan bahwa ancaman yang ada tentunya tidak kecil.
Jika saja belasan orang itu telah menyerbu mengeroyok dirinya, tentunya dia akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil dan hal ini dapat dibanding-bandingkan dengan kepandaian Ban Ouw Hie.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Belum lagi kepandaian dari belasan orang-orang itu yang tentunya tidak rendah.
Tanpa dirasakannya, Thio Sun Kie jadi mengeluh.
Angin serangan Ban Ouw Hie datangnya begitu bertubi-tubi, sedikitpun tidak memberikan kesempatan kepada Thio Sun Kie untuk bernapas.
Dan disaat tengah pertempuran terjadi begitu hebat, disaat itulah dari arah belakang kuil terlihat sinar merah yang membubung, agak menerangi sekitar tempat itu.
"Apiiiiii!!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan ramai dari suara niekouw-niekouw dibelakang kuil.
Rupanya semua ini pekerjaan orang-orangnya Ong Peng Hin, yang bermaksud membakar kuil Gobie-pay juga.
Tentu saja Thio Sun Kie jadi tambah murka saja, dia mengempos seluruh kekuatan tenaga dalam yang ada padanya, dia melancarkan serangan yang hebat sekali, maksudnya akan meloloskan diri dari libatan serangan orang she Ban itu, guna pergi kebagian belakang dari kuil itu.
Namun Ban Ouw Hie mana mau melepaskannya begitu saja?
Berulang kali dia telah melancarkan serangan-serangan yang mematikan, memaksa Thio Sun Kie tidak bisa melepaskan diri dari serangan-serangannya.
"Manusia-manusia jahat!!"
Mendesis Thio Sun Kie.
"Kalian terlalu licik!!"
Dan dengan penuh kemurkaan Thio Sun Kie telah mengempos seluruh kekuatan yang ada padanya, dengan cepat dia membalas melancarkan serangan-serangan yang mematikan.
Ong Peng Hin melihat Ban Ouw Hie agak sibuk juga menerima serangan-serangan Thio Sun Kie yang sedang dalam keadaan marah itu, maka cepat-cepat dia telah memberi isyarat.
Jago-jago dari berbagai golongan yang telah bekerja pada Ong Peng Hin segera bergerak.
Mereka telah melompat dan melancarkan serangan-serangan untuk mengeroyok Thio Sun Kie.
Tentu saja Thio Sun Kie jadi tambah murka, tetapi disamping itu dia juga mengeluh.
Apa lagi dia merasakan betapa tenaga serangan lawan-lawannya itu telah saling samber dengan kekuatan yang bukan main dahsyatnya, menunjukkan bahwa lawan-lawannya itu memang memiliki kekuatan dan kepandaian yang tinggi dan kosen sekali.
Ong Peng Hin sendiri juga telah melompat maju dan ikut melancarkan serangan.
Thio Sun Kie sibuk mengelakkan diri dari serangan-serangan yang mematikan dari jago-jago yang mengurung dirinya.
Tetapi karena terlampau banyaknya jago-jago yang melancarkan serangan-serangan itu padanya, suatu kali, ketika Thio Sun Kie tengah mengelakkan serangan Ong Peng Hin, tahu-tahu punggungnya telah kena dihantam oleh serangan yang dilancarkan oleh salah seorang lawannya.
Gempuran itu kuat bukan main, sampai rubuh Thio Sun Kie telah terhuyung akan rubuh terjungkel.
Lawannya yang lainnya tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada.
Dengan mengeluarkan seruan-seruan bengis dan mengandung hawa nafsu membunuh, tampak mereka telah saling lompat untuk melancarkan serangan dan pukulan yang mematikan.
Ban Ouw Hie sendiri telah menyalurkan sembilan bagian dari kekuatan sakti yang dimilikinya, dia telah melancarkan pukulan hebat sekali.
Thio Sun Kie mencelos hatinya, dia mengeluh sendirinya, karena dia melihat betapa serangan-serangan yang tengah menyambar kearahnya itu demikian cepat dan kuat sekali, sukar untuk dapat dielakkannya.
Mau tidak mau memang didalam hal ini Thio Sun Kie merasakan bahwa dirinya sulit dapat meloloskan diri dari kepungan lawan-lawannya.
Apa lagi serangan-serangan yang mereka lancarkan itu masing-masing memiliki kekuatan yang mematikan dan juga sukar untuk dipunahkan, karena memang lawan-lawan Thio Sun Kie ini terdiri dari tokoh-tokoh rimba persilatan yang masing-masing memiliki kepandaian yang bukan main dahsyatnya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Angin serangan yang kuat dan mematikan menyambar dari beberapa jurusan.
Dan juga serangan Ban Ouw Hie telah menyambar kearah jalan darah Pie-tu-hiat dari Thio Sun Kie, jalan darah yang mematikan.
Keadaan Thio Sun Kie benar-benar terancam bahaya kematian yang mengerikan.....
--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 4 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ DI BELAKANG kuil juga saat itu tengah terjadi pertempuran yang berlangsung hebat sekali.
Bin An Sienie dengan beberapa orang niekouw tengah menghadapi beberapa orang-orangnya Ong Peng Hin, yang berusaha untuk membakar gedung kuil tersebut.
Tampak Bin An Sienie telah memutar pedangnya dengan gerakan yang begitu cepat dan dahsyat, dan setiap gerakan yang diperlihatkannya itu demikian kuat dan cepat sekali, mengandung jurus-jurus yang mematikan.
Mau tidak mau memang orang-orang dari Ong Peng Hin harus dapat berusaha menghadapi kilatan pedang si niekouw tua ini jika memang mereka tidak mau terbinasa diujung pedang.
Maka mereka terbendung sementara tidak memiliki kesempatan untuk membakar kuil.
Mau tidak mau mereka harus menghadapi tikaman daa tabasan pedang dari Ciangbunjin Gobie Pay ini berikut beberapa niekouw lainnya.
Keadaan seperti ini berlangsung agak lama juga, dimana teriakan marah bercampur kesedihan karena melihat kuil yang terbakar itu, Bin An Sienie telah melancarkan serangan yang luar biasa.
Baru beberapa jurus, pedangnya telah berhasil menggores dua orang lawannya.
Walaupun tidak sampai mematikan kedua lawannya itu, setidak-tidaknya telah membuat kedua lawannya itu melompat mundur.
Api yang membakar ruangan belakang kuil semakin berkobar saja.
Dan Bin An Sienie bersama beberapa orang murid-muridnya berusaha untuk memukul mundur lawan-lawannya itu untuk dapat segera berusaha memadamkan api.
Tetapi kenyataannya itu, orang-orangnya Ong Peng Hin malah telah mengepung semakin rapat, mendesak niekouw tua yang menjadi Ciangbunjin dari Gobie Pay ini dan bersama beberapa orang niekouw lainnya, harus menghadapi mereka.
Diantara suara kayu yang terbakar di makan api, bercampur juga dengan suara bentakan-bentakan yang mengerikan sekali.
Sinar pedang dan senjata-senjata lainnya yang berkilauan tertimpah cahaya api yang berkobar besar itu, telah membuka keadaan tegang bukan main.
Melihat api yang membakar ruangan belakang kuil semakin berkobar dan bisa menjalar lebih luas, Bin An Sienie jadi kalap bukan main, dia telah mengeluarkan suara teriakan yang bengis, dan pedangnya telah bekerja.
Dan gerakan yang dilakukannya itu menyerupai seekor gajah yang terluka dan sedang mengamuk.
Beberapa orang yang mengepung didekatnya segera menjauhi diri.
Tetapi Bin An Sienie kembali berhasil melukai tiga orang lawannya, tidak urung dirinya sendiri kena dilukai oleh lawannya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Paha kanan Bin An Sienie terkena tusukan Sam-cio (tombak cagak tiga) lawannya, sehingga tubuh niekouw tua ini terhuyung.
Beberapa orang muridnya terkejut, dua orang niekouw telah melompat kedekat Bin An Sienie, untuk melindungi Ciangbunjin mereka.
Tetapi Bin An Sienie yang telah murka bukan main, sudah tidak mau menyudahi segalanya sampai disitu.
Dengan mengeluarkan suara bentakan kalap, pedangnya telah diputar dan mata pedang si niekouw tua ini telah tergetar seperti telah menjadi ratusan mata pedang.
Dengan cara demikian, Bin An Sienie membuat musuh-musuhnya tidak berani terlalu mendesak.
Namun, ketika Bin An Sienie tengah memutar pedangnya dengan cepat begitu, terdengar suara jerit kematian dari tiga orang niekouw, yang telah rubuh terguling diatas tanah.
Mereka telah terbinasa dalam keadaan yang mengerikan sekali.
Tentu saja Bin An Sienie jadi tambah murka saja, dia telah mengeluarkan suara bentakan yang menguntur dan mengamuk dengan kalap.
Tetapi lawan-lawannya terlalu licik, mereka tidak mau menghadapi dengan kekerasan, melainkan hanya main kucing-kucingan belaka.
Menambah kemurkaan dari Bin An Sienie saja.
Apa yang dilakukan oleh lawan-lawan Bin An Sienie, mereka memang ingin menahan niekouw tua ini, melibatkannya didalam suatu pertempuran, sebab dengan demikian berarti mereka bisa membendung agar si niekouw tidak berdaya untuk memadamkan api yang tengah membakar kuil.
Sedangkan beberapa orang-orangnya Ong Peng Hin, dua orang Tojin (pendeta agama To, yang memelihara rambut), dengan seorang lelaki bertubuh pendek, telah pergi kebagian lainnya.
Mereka masing-masing membawa obor ditangan, maksud mereka ingin membakar ruangan sembayang dari kuil itu.
Tentu saja hal ini bisa memusnahkan kuil Gobie-pay jika saja mereka berhasil membumi-hanguskan kuil tersebut.
Bin An Sienie jadi mengeluh dan murka sekali, tetapi dia dalam keadaan tidak berdaya, maka dia hanya bisa melihati saja orang-orang itu pergi dengan membawa obor.
Karena Bin An Sienie sendiri harus menghadapi serangan-serangan yang gencar dari lawan-lawannya.
Dan apa yang dapat dilakukan oleh Bin An Sienie hanyalah memutar pedangnya dengan gerakan yang hebat sekali, untuk dapat merubuhkan lawan-lawannya sebanyak mungkin.
Kehancuran Gobie-pay telah berada diambang pintu.
Dua orang tojin dan seorang lagi bertubuh pendek itu telah menghampiri ruangan sembayang yang terletak didekat tembok luar dari kuil Gobie-pay tersebut, disebelah utara dari kuil ini.
Mereka bersiap-siap akan membakarnya.
Tetapi deagan tidak terduga, dari balik sebatang pohon, telah melompat sesosok bayangan kecil, disertai suara bentakannya yang melengking nyaring .
"Manusia jahat! Hentikan perbuatan busukmu!!"
Ketiga orang-orangnya Ong Peng Hin ini jadi terkejut, mereka cepat-cepat memandang orang yang membentak itu.
Tetapi ketika mereka dapat melihat jelas, mereka jadi tertawa, karena orang yang baru saja muncul itu tidak lain hanyalah seoraag bocah cilik.
Bocah itu tidak lain dari Eng Song.
Tadi sebetulnya si bocah she Ma ini tengah tertidur nyenyak.
Dan dia jadi terkejut sekali sebab mendengar suara ribut-ribut.
Waktu dia keluar dari kamarnya, dilihatnya api telah berkobar begitu besar dan menyilaukan pandangan matanya.
Cepat-cepat Eng Song berlari keluar untuk melihat apakah yang sesungguhnya telah terjadi, karena si bocah tidak melihat Thio Sun Kie dikamarnya.
Disamping itu, Eng Song mendengar suara bentak-bentakan yang menyeramkan dikejauhan.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Di saat Eng Song sedang berlari begitu, dia melihat tiga orang yang tengah mendatangi dengan ditangan masing-masing membawa obor.
Cepat-cepat Eng Song telah menyelinap kebatang pohon didekatnya untuk mengintai.
Ketika mengetahui bahwa dua orang tojin dan seorang lelaki yang bertubuh pendek itu, akan membakar ruangan sembahyang kuil yang terdapat tidak jauh dari tempat tersebut, Eng Song jadi terkejut bakan main.
Itulah sebabnya dia segera melompat keluar.
Kedua tojin dan seorang kawannya yang bertubuh pendek itu waktu melihat Eng Song telah tertawa gelak-gelak mengejek.
Tadinya mereka menyangka yang membentak begitu adalah seorang jago yang tentunya merupakan tokoh rimba persilatan, yang menjadi orang undangan dari Bin An Sienie.
Tetapi siapa nyana kenyataannya malah sebaliknya.
Hanya seorang anak lelaki kecil belaka.
Salah seorang Tojin telah melangkah maju menghampiri Eng Song, dengan sikap mengejek dia telah membentak .
"Anak haram dari mana kau bisa muncul disini? Apakah kau anak haramnya dari salah seorang niekouw didalam kuil ini?"
Mendengar perkataan si Tojin yang begitu menghina dan mengejeknya keterlaluan, Eng Song merasakan darahnya meluap, dia mengeluarkan bentakan dan mengayunkan kepalan tangan kanannya yang berukuran kecil.
Si Tojin tidak mengelakkan diri dari serangan tersebut, malah sambil tertawa gelak-gelak dia memasang perutnya, menerima tibanya serangan yang dilancarkan Eng Song.
Kepalan tangan Eng Song singgah telak sekali diperut Tojin itu, tetapi kesudahannya malah celaka buat Eng Song.
Sebab pukulan yang dilancarkan Eng Song tidak memperlihatkan hasil sedikitpun juga, tubuh si Tojin berdiri tegak ditempatnya, dan malah masih tertawa mengejek.
Dan celakanya ketika Tojin itu mengembungkan perutnya, maka segera ada serangkum tenaga yang mendorong Eng Song.
Tanpa bisa ditahan lagi oleh si bocah, tubuhnya telah terguling ditanah, dia merasakan kepalanya seperti diputar-putar, matanya berkunang-kunang karena tubuhnya seperti juga sehelai daun kering yang telah terhembus angin yang keras.
Ternyata, Tojin itu memang telah mempergunakan tenaga dalamnya yang tinggi.
Dia merupakan seorang tokoh dari rimba persilatan yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, maka sekali saja dia menggerakkan tenaga dalamnya, walaupun hanya tiga bagian belaka, tetap saja telah membuat Eng Song terguling-guling begitu hebat.
Dengan menahan perasaan sakit bukan main, Eng Song telah melompat berdiri.
Karena si bocah sendiri terkejut waktu dia teringat bahwa malam ini mungkin juga penyerbuan yang dilakukan oleh Ong Peng Hin dan orang-orangnya terhadap Gobie Pay.
Dan disaat itulah Eng Song baru teringat, mungkin juga Thio Sun Kie dan Bin An Sienie, bersama beberapa niekouw dari Gobie-pay tengah sibuk menghadapi penyerbuan ini.
"Bocah! Lebih baik kau menggelinding pergi dari mata Pinto (aku) sebelum Pinto merobah pikiran dan menginginkan selembar jiwamu itu!"
Bentak si Tojin dengan suara yang bengis.
Tetapi tidak terduga, dengan nekad, justeru Eng Song telah melompat menerjang lagi, dia bermaksud akan memukul lagi dengan kedua tangannya.
Pukulan yang dilancarkan oleh Eng Song mana dipandang sebelah mata oleh Tojin itu.
Sambil tertawa-tawa mengejek, dia malah telah mengibaskan lengan jubahnya, dan tanpa ampun lagi malah telah membuat tubuh Eng Song jadi terguling-guling keras sekali diatas tanah.
Namun Eng Song benar-benar kedot, dia telah bangun kembali biarpun telah jontor terantuk batu waktu dia terguling diatas tanah.
Dengan mengeluarkan suara teriakan yang sangat nyaring, dengan kalap Eng Song telah menerjang lagi.
Si bocah pikir, memang biar bagaimana dia harus berusaha agar ketiga orang iniCHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
tidak sempat untuk membakar kuil dan ruang sembahyang Gobie-pay.
Tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya lagi, Eng Song malah bermaksud akan memukul lagi.
Tetapi, si Tojin sendiri rupanya telah habis sabar.
Obor ditangan kirinya telah di lemparkannya kesamping, keatas tanah, lalu ketika tubuh si bocah she Ma itu telah menerjang lagi, dengan cepat tojin ini telah mencengkeram baju bagian dada dari Eng Song, dia mengangkatnya tinggi-tinggi tubuh si bocah, lalu dia telah membantingnya dengan keras.
"Bukkkkk!"
Tubuh Eng Song telah terlempar tinggi ketengah udara dan terbanting keras diatas tanah dengan mengeluarkan suara menggabruk keras.
Dan seketika itu juga Eng Song merasakan dunia seperti berputar, dan juga tanah yang menerima jatuhnya dia telah bergoyang-goyang seperti terjadi gempa, langit juga seperti akan runtuh menimpah kepalanya, pandangan matanya gelap berkunang-kunang.
Tetapi rupanya tojin itu masih belum puas.
Dia telah menghampiri Eng Song dan telah mencengkeram bajunya lagi.
Dan dia mencengkeram dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya telah menempiling berulang kali muka si bocah.
Keras sekali tamparan-tamparan yang dilakukan oleh si Tojin, sampai terdengar suara "ketepok-ketepak"
Berulang kali membuat muka Eng Song seketika itu juga jadi bengap dan dia merasakan telapak tangan dari si Tojin bagaikan lempengan besi yang selalu singgah di kepala dan pipinya.
Dalam keadaan kepala yang puyeng seperti itu, Eng Song jadi nekad.
Tanpa memperdulikan perasaan sakit pada mukanya, dia tahu telah mengulurkan kedua tangannya, dicekalnya pergelangan tangan dari si Tojin, lalu ditariknya tangan pendeta itu, sedangkan Eng Song telah membarengi pentang mulutnya, mata jari telunjuk dari tangan si Tojin telah kena digigitnya!
Sekeras-kerasnya dia menggigit, sehingga si Tojin menjerit-jerit kesakitan.
Sedikitpun juga Tojin ini tidak menyangka bahwa Eng Song dapat melakukan hal seperti itu.
Mimpi juga Tojin ini bahwa jari telunjuknya bisa digigit dengan nekad oleh Eng Song, maka dari itu, dia berjingkrak-jingkrak saking kesakitan, namun Eng Song tetap menggigit jari telunjuk dari pendeta itu dan saking kesakitannya, Tojin itu melayangkan tinju tangan kirinya.
"Bukkkkk!"
Kening Eng Song kena dihajarnya telak sekali oleh kepalan tangan si Tojin, tetapi Eng Song tetap saja tidak mau melepaskan gigitan pada jari telunjuk tangan si Tojin, malah dia terus juga menggigit dengan keras.
Tentu saja Tojin itu kesakitan bukan main, saking kesakitan, dia telah melompat-lompat tidak tahu harus berbuat bagaimana.
Sedangkan Eng Song yang telah nekad, merasakan waktu keningnya dihajar oleh kepalan tangan Tojin itu, sakit bukan main.
Otaknya seperti tergetar dan seperti mau bercopotan keluar.
Kepalanya juga pusing bukan main, disamping pandangan matanya yang berkunang-kunang gelap.
Tetapi disebabkan bocah ini telah nekad, maka dia menggigit terus jari telunjuk Tojin ini.
Dan dihatinya dia berpikir .
"Hemmmm, aku mau lihat, apa yang bisa kau lakukan!!? Akan kugigit putus jari telunjukmu ini, biar seumur hidup kau menjadi manusia bercacad!!"
Dan waktu Eng Song berpikir begitu, dia memang merasakan betapa asinnya darah.
Dan juga, dia telah merasakan betapa giginya terbenam dalam sekali.
Dikala itu, tentunya si Tojin kesakitan bukan main, sebab kalau Eng Song menggigit terus, dia bisa mematahkan tulang jari telunjuk itu, yang berarti putusnya jari telunjuk si Tojin.
Setelah berjingkrak-jingkrak saking kesakitan, sampai menitikkan air mata, si Tojin mengerang murka bukan main.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Sedangkan Tojin yang seorangnya lagi bersama kawannya yang bertubuh pendek itu, memandang seperti orang kesima, mereka kaget dan hampir tidak mau mempercayai apa yang mereka lihat.
Seumur hidup mereka, baru kali ini melihat pemandangan seperti ini, seorang tokoh rimba pelsilatan seperti Tojin yang seorang itu, telah digigit jari telunjuknya oleh seorang bocah cilik seperti Eng Song.
Saat itu, saking kesakitan yang tidak tertahan, si Tojin baru teringat, mengapa tadi waktu dia menghantam kening si bocah tanpa mempergunakan tenaga dalam?
Bukankah kalau dia membuka tenaga dalamnya yang disalurkan pada kepalan tangan kirinya, dia bisa menghajar hancur batok kepala si bocah.
Berarti gigitan pada jari telunjuknya itu akan dapat dibuka?
Teringat begitu, si pendeta saking gusarnya, telah menyalurkan lima bagian tenaga saktinya pada kepalan tangan kirinya, dia telah mengayunkannya untuk menghajar batok kepala si bocah.
Tetapi biarpun Eng Song melihat bahaya yang dapat mengancam jiwanya, tetap saja si bocah tidak jeri, dia sudah nekad sekali, maka dia pikir paling tidak batok kepalanya yang akan hancur dihantam oleh kepalan tangan kiri si imam, tetapi dia tetap akan menggigit terus, binasa dengan gigi yang akan menggigit putus jari tangan si imam.
Dia puas biarpun pembalasan dan gigitannya itu harus dibayar mahal dengan jiwanya.
Tetapi dalam kenekadan yang sangat seperti itu, Eng Song mana mau memikirkan pula perihal kematian dan jiwanya lagi?
Dia lebih mementingkan asal dapat mengigit putus jari tangan si Tojin, hatinya sudah puas.
Tetapi si Tojin sendiri waktu tangannya itu meluncur akan menghantam kepala Eng Song.
disaat itu juga dia terkejut bukan main, sebab dia merasakan betapa kalau dia sampai menghajar kepala si bocah, maka si bocah akan terkejut dan kesakitan?
Dan dalam kaget dan kesakitan itu, bukankah si bocah bisa saja jadi menggigit putus jari tangannya?
Karena berpikir begitu si Tojin jadi menggidik sendirinya, dia telah membatalkan maksudnya untuk menghajar batok kepala Eng Song sampai hancur, dia hanya menarik pulang tenaga dalamnya dan meneruskan hantamannya kekening Eng Song dengan pukulan yang memiliki tenaga biasa saja.
Begitu kepalan tangan dari Tojin itu mendarat dikening Eng Song, si bocah merasakan pandangan matanya gelap sekali dan dia tidak memperdulikan perasaan sakit dari keningnya itu, dan Eng Song telah menggigit lebih keras lagi.
"Aduhhhh.... jangan menggigit begitu keras!!"
Pendeta itu telah menjerit kesakitan bukan main.
Tetapi Eng Song tidak mau memperdulikannya, dia telah menggigit terus dengan keras, maksudnya memang ingin menggigit putus jari tangan itu.
Tojin itu telah berjingkrak-jingkrak kesakitan bukan main.
Dia telah menjerit-jerit kesakitan berulang kali seperti seekor anjing yang terjepit ekornya.
Di saat itulah, si Tojin yang seorangnya lagi yang melihat kejadian seperti ini telah melompat mendekati Eng Song, dengao cepat dia mengibaskan telapak tangannya.
"Plaaakkkk!!"
Dia telah menempiling muka Eng Song dengan keras, sampai si bocah saking kaget rahangnya kena dihajar telapak tangan itu, telah celangap mulutnya terbuka.
Dan mempergunakan kesempatan itu, si Tojin telah menarik pulang tangannya.
Dilihatnya jari telunjuknya sudah tergigit dalam sekali.
Dan kalau sampai tergigit lebih lama pula, tentunya akan putus.
Si Tojin jadi menggidik ngeri bercampur perasaan gusar bukan main.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Dengan mengeluarkan seruan penuh kemarahan, dia telah melompat dan tahu-tahu tangan kanannya telah menghajar telak sekali dada Eng Song.
"Bukkkkk!!"
Tubuh Eng Song telah terpental keras sekali, lalu ambruk terguling-guling diatas tanah, tampknya dia menderita sekali, kesakitan dan merasakan dadanya seperti mau remuk.
Waktu Eng Song akan merangkak berdiri, tampak si Tojin telah menggerakkan kaki kanannya, dia telah menyepak si bocah lagi dengan keras.
Tendangan yang dilakukan oleh pendeta ini bukan main kuatnya, karena dia telah menyepak dengan mempergunakan kekuatan tenaga dalam yang bukan main.
Seketika itu pula tubuh Eng Song telah terpental keras dan rubuh ditanah terguling-guling, seketika itu pula bukan hanya pandangan mata Eng Song saja yang telah menjadi gelap, tetapi napasnya juga telah menjadi sesak seketika itu pula dan dia telah mengeluh, lalu rubuh tidak sadarkan diri pula.
Tetapi sebelum dia pingsan, Eng Song masih sempat mendengar samar-samar makian dari si Tojin yang tadi digigit jari telunjuknya .
"Hemmmmmm, biar kau mampus!"
Eng Song juga merasakan dadanya seperti diinjak dan seperti juga ada sebuah benda berat yang hinggap didadanya, napasnya seketika itu juga tambah sesak saja dan akhirnya memang Eng Song sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi, sebab dia telah pingsan.....
Ternyata Tojin itu yang jari telunjuknya hampir tergigit putus, rupanya sangat penasaran dan murka sekali.
Dialah yang telah menginjak dada Eng Song, maksudnya membunuh si bocah.
Setelah melihat Eng Song rebah tidak berkutik, dia menyangka Eng Song telah terinjak mati, maka dia telah meninggalkannya dengan penuh kemarahan.
Lalu dengan diliputi kemurkaan dan rasa dengki, dibakarnya kuil Gobie-pay itu, sehingga api berkobar semakin besar saja.
Diluar, pertempuran masih berlangsung dengan hebat dan seru sekali.
Sebab Bin An Sienie telah melancarkan serangannya dengan gerakan seperti juga mengadu jiwa.
Tetapi disamping itu, diantara gerak-gerak yang ada, memperlihatkan bahwa senjata dari Ciangbunjin Gobie-pay ini sudah tidak selincah dan segesit tadi.
Karena pedangnya itu menyambar-nyambar agak lambat.
Dengan sendirinya, hal ini menandakan bahwa Bin An Sienie memang sudah lelah, dan pertempuran yang ada telah meletikkan benar niekouw tua ini.
Apa lagi memang Bin An Sienie telah melihatnya berapa api telah berkobar semakin besar saja.
Tentu saja hal ini telah membuat si niekouw tua Bin An Sienie jadi murka setengah mati.
Tetapi Bin An Sienie dalam keadaan tidak berdaya, dia sedang dalam keadaan terkepung seperti itu, mau tidak mau hal ini telah membuat niekouw tua itu terlibat oleh pertempuran yang tidak berkesudahan.
Saat itu, dua orang lawan dari Bin An Sienie telah memperdengarkan suara bentakan yang mengguntur lalu tampak keduanya telah melompat dengan gerakan seperti dua ekor elang yang menyambar mangsanya.
Senjata mereka yang berbentuk golok itu juga telah bekerja cepat sekali.
Kenyataan seperti ini memaksa Bin An Sienie harus bergerak cepat.
Dia harus dapat mengelakkan diri sekaligus dari kedua serangan golok itu.
Namun waktu tubuh niekouw itu tengah miring kesamping, disaat itulah salah seorang lawannya telah menghantamkan ruyung ditangannya, dia telah menghajar dengan keras kearah bahu si niekouw tua ini.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
"Bukkkk!!"
Telak sekali ruyung itu telah menghajar pundaknya.
Dan Bin An Sienie merasa kesakitan yang bukan main, dia sampai mengeluh dan terhuyung-huyung akan rubuh.
Di saat itulah, dikala tubuh si niekouw yang menjadi Ciangbunjin dari Gobie-pay ini tengah terhuyung begitu, salah seorang lawannya telah menggerakkan pedangnya, dan tepat sekali mata pedang itu telah menikam paha kiri dari Bin An Sienie, maka tanpa dapat dipertahankan lagi, si niekouw telah terguling diatas tanah.
Darah juga telah mengucur keluar dari lukanya itu, dan Bin An Sienie merasakan betapa pundaknya dan pahanya sakit bukan main.
Di saat itu serangan-serangan yang dilancarkan oleh lawan-lawannya telah menyambar datang lagi.
Dan semuanya ingin mengarahkan senjata mereka kebagian-bagian yang berbahaya dan mematikan ditubuh Bin An Sienie.
Dengan sendirinya, mau tidak mau, memang Bin An Sienie terancam bahaya kematian, apa lagi memang senjata-senjata itu meluncur cepat dari segala penjuru dirinya.
Tetapi Bin An Sienie bukan orang sembarangan, tidak percuma dia menjadi Ciangbunjin Gobie-pay, sebuah pintu perguruan yang sangat besar.
Melihat senjata-senjata itu menyambar datang padanya, dan sudah tidak ada jalan lain baginya mengelakkan diri, Bin An Sienie tidak menjadi putus asa.
Dia telah mengeluarkan suara bentakan nekad yang nyaring sekali, membarengi mana dia juga telah memutar pedangnya.
Dengan cara memutar pedangnya itu, maka sekujur tubuhnya telah dilindungi oleh sinar pedang yang berputar begitu cepat sekali.
Segera juga terdengar suara benturan dari senjata?
tajam itu.
Rupanya pedang Bin An Sienie telah menyampok semua senjata lawan-lawannya itu, dan malah beberapa Tan-to ada (golok) dari lawannya yang terlepas dari cekalannya.
Hal itu disebabkan kuatnya Bin An Sienie memutarnya yang disertai oleh kekuatan tenaga dalam yang bukan main.
Dengan sendirinya, waktu pedangnya itu menyampok senjata-senjata lawannya, pada pedangnya itu telah tersalur tenaga dalam yang bukan main kuatnya.
Dia telah mempergunakan kesempatan dikala lawannya tengah melompat kebelakang mencelat mundur.
Bin An Sienie telah cepat-cepat melompat berdiri.
Tetapi tubuhnya terhuyung seperti akan rubuh lagi, hal ini disebabkan luka pada pahanya yang cukup parah dan banyak mengeluarkan darah.
Niekouw tua ini jadi mengeluh, karena dia merasakan, kalau keadaan seperti berlangsung terus, berarti dia akan menghadapi ancaman yang tidak kecil bagi jiwanya.
Saat itu lawannya si niekouw telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring.
Dan mereka telah meluruk lagi melancarkan serangan pula.
Malah kali ini senjata dari lawannya Bin An Sienie telah menyambar begitu kuat dan lebih cepat lagi.
Dengan sendirinya Bin An Sienie mati-matian telah berusaha untuk dapat menghadapinya semua serangan tersebut dengan menahan perasaan sakit pada pahanya.
Sedangkan niekouw-niekouw lainnya seorang demi seorang telah berjatuhan binasa.
Mereka rupanya telah kena dicelakai dengan berbagai akal licik oleh lawan-lawannya.
Kenyataan seperti itu memang mendukakan hati si niekouw.
Dia sampai mengeluh dan berusaha merubuhkan lawan-lawannya untuk melampiaskan kemurkaan hatinya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Dengan cepat sekali, hanya dalam waktu sekejap mata Bin An Sienie telah melancarkan serangan belasan jurus.
Tetapi disebabkan lawannya itu memang masing-masing memiliki tenaga dan kepandaian yang sangat tinggi, maka dia tidak berdaya sama sekali.
Mau tidak mau Bin An Sienie tetap terlibat dalam pertempuran itu.
Dalam kenyataan seperti ini, telah membuat Bin An Sienie jadi penasaran, tetapi tidak berdaya selain memberikan perlawanan terus terhadap lawan-lawannya itu.
Thio Sun Kie sendiri ternyata tengah menghadapi kesulitan yang tidak kecil.
Karena yang mengepung Thio Sun Kie terdiri dari jago-jago yang masing-masing memiliki kepandaian sangat tinggi dan merupakan jago-jago pilihan dari Ong Peng Hin.
Maka dari itu tidak mengherankan jika memang Thio Sun Kie terdesak hebat.
Salah seorang dari lawannya itu merupakan seorang datuk penjahat nomor satu, yang sangat ditakuti oleh orang-orang dalam rimba persilatan.
Dan serangan-serangan telapak tangannya itu selain kuat sekali, juga mengandung racun.
Dengan sendirinya, mau tidak mau di dalam hal ini membuat Thio Sun Kie benar-benar sangat terdesak.
Dia sampai mengeluh.
Terlebih lagi, memang ditubuhnya telah terdapat beberapa buah luka yang membuat gerakan Thio Sun Kie jadi lamban bukan main.
Ketika itu, Ong Peng Hin dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras bukan main telah melancarkan serangan kearah punggung Thio Sun Kie.
Serangan orang she Ong ini mengandung tenaga serangan yang bukan main kuatnya.
Dan juga memang dia sengaja melancarkan serangan dengan cara demikian, separoh membokong.
Tentu saja Thio Sun Kie jadi murka bukan main, dan dengan mengeluarkan suara bentakan marah, dia telah memutar kedua tangannya.
Dari kedua telapak tangannya itu telah mengalir keluar serangkum angin serangan yang kuat sekali.
Ong Peng Hin terkejut, karena dia merasakan senjatanya tergetar dan mencong.
Dan bclum lagi orang she Ong ini menyadari apa yang terjadi, dia merasakan dadanya sakit bukan main.
Tubuh Ong Peng Hin juga telah terhuyung-huyung hampir rubuh.
Untung saja beberapa orang diantara kawannya orang she Ong ini telah melompat dan melancarkan serangan-serangan yang mematikan pada Thio Sun Kie, sehingga mau tidak mau Thio Sun Kie harus membalas dan mengelakkan serangan itu.
Dengan demikian, maka jiwa Ong Peng Hin tertolong, sebab Thio Sun Kie tidak bisa melancarkan serangan lagi pada dirinya.
Keringat dingin jadi mengucur keluar dari tubuh orang she Ong ini.
Dengan penuh kemurkaan Thio Sun Kie telah mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur, dia telah melancarkan serangan yang hebat bukan main.
Dengan cara demikian, Thio Sun Kie ingin cepat dapat menyudahi jalan pertempuran itu.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Tetapi, dengan cepat sekali, lawan-lawannya telah mengelak dan sengaja telah main kucing-kucingan, karena biar bagaimana memang mereka ingin mengulur waktu.
Dengan mengandalkan jumlah yang banyak, tentunya mereka memang bisa berbuat banyak.
Dan juga Thio Sun Kie kalau bertempur terus menerus dengan cara demikian, tentu akan kewalahan, dan dia pasti akan dapat dirubuhkan, sebab lama kelamaan Thio Sun Kie pasti akan kehabisan tenaga.
Dan apa yang direncanakan oleh lawan-lawannya itu telah diketahui oleh Thio Sun Kie.
Dia juga sadar bahwa memang dia harus dapat berusaha dapat meloloskan diri atau juga dapat merubuhkan lawannya itu sebanyak mungkin.
Dikala Thio Sun Kie sedang melancarkan serangan kearah Ban Ouw Hie dengan pukulan tangan kirinya dan juga tengah menangkis dengan sampokan serangan dari Ong Peng Hin, disaat itulah, sebatang pedang dari lawannya yang lain telah menancap tepat dibahunya.
Thio Sun Kie telah menggerang, dia telah membalikan tubuhnya.
Dengan sekuat tenaganya dia telah menghantam telak sekali orang yang telah melancarkan serangan dengan cara membokong seperti itu.
Tubuh orang itu telah terpental keras sekali dan dengan cepat telah terbanting diatas tanah.
Seketika itu juga napasnya telah terhentikan dan dia telah berhenti menjadi manusia.
Mati.
Ong Peng Hin dan lawan-lawannya dari Thio Sun Kie yang lainnya tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, mereka serentak telah melancarkan serangan dengan mempergunakan senjata masing-masing gerakan yang mereka lakukan ini memang sangat luar biasa sekali.
Cepat bukan main, batang leher dari Thio Sun Kie kena tergores oleh mata golok salah seorang lawannya, karena Thio Sun Kie mengelakkan serangan itu kurang cepat dan kurang miring, maka dari itu, darah seketika itu juga telah mengucur keluar deras sekali.
Betapa murkanya Thio Sun Kie, dengan mengeluarkan suara bentakan .
"Aku akan mengadu jiwa dengan kalian!"
Cepat bukan main dia telah memutar kedua tangannya dan telah mengamuk dengan mengeluarkan seluruh sisa tenaga yang masih ada padanya, karena dia ingin mengadu jiwa dengan lawan-lawannya itu.
Biar bagaimana Thio Sun Kie memang telah menyadarinya, bahwa kali ini dia sudah tidak mungkin dapat menghindarkan diri dari kematian.
Karena itu dia bermaksud untuk mempergunakan sisa tenaga yang ada padanya untuk mengadu jiwa dengan lawan-lawannya dan berusaha untuk dapat membinasakan lawan-lawannya itu sebanyak mungkin.
Saat itu, Thio Sun Kie melihat betapa Ong Peng Hin tengah mengangkat pedangnya akan melancarkan serangan pula, tetapi Thio Sun Kie tidak bermaksud mengelakkannya.
Dia telah melihat pedang itu meluncur, tetapi Thio Sun Kie tidak bermaksud menghalaunya dengan kibasan telapak tangannya, melainkan dia telah mengulurkan kedua tangannya itu kedepan dan "Wuttt...!"
Keras bukan main, angin serangan dari kedua telapak tangannya itu keras sekali, tubuh Ong Peng Hin kontan terpental keras.
Dada orang she Ong itu juga telah kena terhajar sampai melesek.
Dan juga terlihat betapa orang she Ong, terbanting ditanah seperti sebatang pohon yang telah kering, karena sejak tubuhnya terapung ditengah udara, memang orang she Ong itu telah tidak bernapas lagi.
Gempuran tenaga dalam dari Thio Sun Kie telah begitu keras membentur dadanya, sehingga menghancurkan dadanya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Orang-orang yang menjadi lawan dari Thio Sun Kie terkejut melihat kematian Ong Peng Hin.
Tetapi Ban Ouw Hie yang melihat ini jadi murka.
Dan disaat Thio Sun Kie belum dapat memecahkan perhatiannya, Ban Ouw Hie telah mengeluarkan suara bentakan yang keras, dan dia telah melancarkan serangan dengan pukulan yang telak sekali menghajar batok kepala Thio Sun Kie.
Seketika itu juga Thio Sun Kie merasakan pandangan matanya jadi gelap.
Tubuhnya sempoyongan, karena batok kepalanya telah rengat.
Dan disaat dia belum bisa melakukan sesuatu, disaat itulah salah seorang lawannya yang lain telah menggerakkan pedangnya, dan "Ceeeppp!"
Mata pedang telah menancap dalam sekali, tubuh --SEBAGIAN TEKS TELAH HILANG --yang mengucur begitu banyak membuat kedua kakinya gemetaran.
Ban Ouw Hie sendiri telah mengeluarkan suara erangan keras dan melancarkan serangan.
Kawan-kawannya juga meluruk cepat sekali melancarkan serangannya.
Bin An Sienie masih berusaha memberikan perlawanan, tetapi keinginan hatinya sudah tidak dapat dituruti pula karena tenaganya seperti telah habis sama sekali, dia terjungkel ditanah, dan senjata tajam lawan-lawannya itu bagaikan hujan telah berdatangan membacok, menikam dan memotong-motong tubuh niekouw tua tersebut....!
Suatu peristiwa yang tragis sekali, seorang Ciangbunjin dari sebuah pintu perguruan yang sangat harum namanya dan setingkat dengan Siauw Lim Sie telah kena dibinasakan dalam kecelakaan yang begitu mengerikan, pembunuhan yang keji bukan main...............!
Ban Ouw Hie melihat telah berhasil membinasakan niekouw tua tersebut dan membinasakan lagi dua orang sisa niekouw murid dari Bin An Sienie, segera juga meneriakkan agar segera membakar kuil itu......
api semakin berkobar besar sekali.
Jago-jago yang tengah membakari kuil Gobie-pay tersebut seperti telah berobah menjadi serigala-serigala yang bengis menakutkan.......
--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 5 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ ENG SONG ketika membuka kedua matanya, yang pertama-tama dirasakan adalah hawa panas yag bukan main.
Dirinya seperti terpanggang.
Dia kaget setengah mati, dengan cepat melompat berdiri.
Tetapi bocah ini terhuyung, karena dia baru teringat bahwa dirinya tadi dibikin seperti bola oleh tojin yang menyiksanya.
Ketika itu Eng Song terkejut bukan main, sebab begitu dia memandang sekelilingnya, dia melihatnya api yang tengah berkobar besar sekali, disekitar kuil tersebut.
Teringat apa yang telah terjadi, Eng Song jadi gugup sekali, dia berlari kebelakang kuil itu.
Pertama-tama yang dilihatnya mayat-mayat yang bergelimpangan ditempat tersebut, mayat dari niekouw-niekouw Gobie-pay.
Dan salah seorang mayat lainnya lagi telah rusak seperti dihujani senjata tajam, tetapi wajahnya masih dapat dikenali oleh Ma Eng Song, dia tahu mayat yang rusak itu tidak lain dari Bin An Siense.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Hati Eng Song mencelos, dia menghampiri dan memeriksanya.
Waktu dia yakin sosok mayat itu memang Bin An Sienie, tanpa terasa mengucur air matanya.
Seorang Ciangbunjin dari sebuah pintu perguruan yang begitu besar dan ternama seperti Gobie-pay telah kena dibinasakan oleh rombongan orang-orang yang begitu buas.
Di saat itulah Eng Song segera teringat kepada Thio Sun Kie.
Dia segera berlari dengan cepat keluar dari kuil itu.
Kembali Eng Song jadi berdiri terpaku memandang mayat-mayat yang bergelimpangan.
Salah satu sosok mayat dikenali sebagai Thio Sun Kie.
Waktu si bocah memeriksanya, dilihatnya memang benar sosok mayat itu tidak lain dari Thio Sun Kie.
Tubuh Eng Song gemetaran dilanda oleh kedukaan dan kemarahan yang bukan main.
Dia mengucurkan air mata sambil bersumpah .
"Aku Ma Eng Song bersumpah akan membalas sakit hati dari Thio Peh-peh dan Bin An Lonie dan segenap penghuni Gobie Pay yang telah kena dianiaya oleh orang-orang busuk dan buas itu....!"
Waktu Eng Song bersumpah begitu, tubuhnya gemetaran keras sekali karena selain dia menangis sedih sekali atas kematian dari orang-orang yang dicintainya, juga dia sangat gusar dan murka bukan main.
Api berkobar menjilati tempat-tempat lainnya lagi membakar kuil lebih luas.
Eng Song melihatnya, dirinya sudah terkurung oleh kobaran api.
Dia telah berdiri perlahan-lahan.
Kemudian setelah memandangi sosok-sosok mayat itu sejenak lagi Eng Song telah berusaha menerobos keluar dari kurungan api yang tengah berkobar begitu besar.
Beberapa kali Eng Song berusaha untuk menerobos dari jilatan lidah api itu, tetapi selalu gagal.
Akhirnya Eng Song jadi bingung juga.
"Aku tidak boleh mati! Aku tidak boleh mati! Aku harus hidup terus, untuk membalas sakit hati ayah, sakit hati Thio Peh-peh, sakit hati Bin An Lonie! Aku harus hidup terus!!"
Karena berpikir begitu, Eng Song jadi bertekad, biar bagaimana harus dapat mencari jalan untuk meloloskan diri dari kurungan api yang tengah berkobar itu.
Tetapi api telah berkobar demikian besar, maka sulit bagi si bocah untuk keluar dari kurungan lautan api yang telah membubung tinggi begitu.
Dan jalan satu-satunya yang masih terhindar oleh jilatan lidah api itu adalah sebuah sungai yang terdapat tidak begitu jauh dari tempat tersebut.
Tetapi letak sungai itu sangat berbahaya sekali, selain penuh oleh batu cadas yang runcing-runcing juga penuh oleh tikungan-tikungan yang tajam, disamping memang sungai itu mengalir kebawah.
Namun Eng Song telah nekad.
Sudah tidak ada jalan lain buatnya, dia menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat cepat sekali.
Dia telah terjun kedalam sungai itu.
Seketika itu juga tubuhnya telah terbawa oleh arus sungai yang memang mengalir begitu cepat.
Tetapi celakanya.
Eng Song segera merasakan tubuhnya sakit-sakit oleh benturan batu cadas dan pedih bukan main karena kulit ditubuhnya banyak yang terluka.
Eng Song mengeluh, dia tidak tahu apakah dia akan dapat terloloskan dari kematian.
Akhirnya air sungai itu dirasakannya mengalir jauh lebih cepat lagi, tentu saja hal ini membuat Eng Song jauh lebih menderita lagi.
Dia mengeluh dan berdoa kepada Thian (Tuhan) agar dirinya dilindungi.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Disaat itulah, Eng Song telah berusaha menggerak-gerakkan kaki tangannya.
Dan dia berusaha menjambret batu cadas yang dilaluinya.
Tetapi meleset, terlampau licin, dan tubuhnya tetap saja terbawa oleh arus air sungai itu dengan cepat sekali.
Padahal, waktu Eng Song berusaha memandang sekelilingnya, dia melihat dirinya sudah terpisah jauh dari kuil Gobie-pay.
Diantara kegelapan malam itu, tampak api yang tengah merajai kuil Gobie-pay itu terlihat terang sekali, membubung ketengah udara.
Dan yang membuat Eng Song jadi terkejut bukan main, karena segera juga dia melihat dikejauhan sebuah tepian dari air ini terjun kebawah begitu tajam.
Eng Song jadi menggidik.
Kalau memang dirinya sampai terseret arus itu terjerumus masuk kedalam jurang yang begitu dalam, tentunya dia akan terbinasa disaat itu juga.
Apa lagi Eng Song juga segera terbayang, pasti didasar dari air terjun tersebut banyak sekali batu-batu ganung yang tajam-tajam.
Dengan bingung Eng Song berusaha meraih batu yang menonjol keluar.
Dia berusaha untuk memeluknya.
Tetapi arus itu begitu cepat sekali, maka dari itu dia tidak mempunyai kesempatan untuk dapat meraih batu itu.
Tubuhnya tetap saja terseret arus air tersebut.
Jarak antara Eng Song dengan air yang terjun kedalam lekukan yang dalam itu hanya terpisah belasan tombak.
Diam-diam Eng Song jadi tambah gugup disaat jarak itu semakin mendekat juga.
Dia telah memandang dengan mata terbelatak.
Disaat mana tubuhnya terus juga terseret semakin mendekati tepian dari lekukan air yang terjun kebawah itu...
suara air yang tumpah terdengar semakin jelas.
Gemuruhnya air yang tumpah itu, menunjukkan air terjun ini mempunyai ketinggian yang bukan main.
Tubuh Eng Song terseret semakin dekat, semakin dekat.....
Dan dia mengeluarkan suara jeritan yang melengking tinggi sekali, karena tubuh dengan cepat dan tidak tertahankan lagi telah terseret kedalam arus air itu turut terjun kebawah berikut dengan tumpahn air.....
Eng Song merasakan tubuhnya melayang-layang....
pandangan matanya juga jadi gelap seketika....
Arus air sungai yang membawa Eng Song merupakan air terjun yang memiliki ketinggian hampir lima puluh tombak dan juga memang air terjun itu memiliki arus yang kuat.
Namun dibawah air terjun itu terdapat sebuah kolam yang luas dan lebar menyerupai danau, yang menampung tumpahnya air, dan memiliki saluran disebelah utara, untuk terus menurun kekaki gunung.
Eng Song telah pingsan tidak sadarkan diri waktu dirinya jatuh di air kolam dibawah kaki air terjun itu, dan tubuhnya terus saja tenggelam kedalam danau itu.
Disebabkan air yang tumpah begitu keras, air danau tersebut memiliki pusaran air yang cukup luas, dan pusaran air itu yang telah menyeret Eng Song kedalam kolam itu, kedasarnya.
Sedangkan Eng Soug tetap dalam keadaan pingsan waktu tubuhnya berputar-putar dipermainkan oleh pusaran air tersebut.....
sampai akhirnya tubuh Eng Song telah terseret sampai di sebuah tepian air yang indah bukan main, penuh oleh pasir putih yang lembut, dan dia telah terlemparkan sampai ditepian kolam itu, dalam keadaan tidak sadar, rebah dipasir putih yang lembut itu bagaikan sesosok mayat belaka.
* * * MATAHARI fajar mulai memperlihatkan sinarnya yang kuning keemas-emasan.
Dan juga cahayanya yang hangat itu telah menghangati tubuh Eng Song yang masih rebah dipasir putih itu dalam keadaan pingsan.
Keadaan disekitar tepi kolam itu ternyata indah sekali.
Terlebih lagi memang matahati fajar itu telah memberikan kehidupan yang begitu nyaman dan tenteram bagi tempat ini.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Ketika Eng Song menggerakan pelupuk matanya dan tersadar dari pingsannya.
Dia jadi mengeluarkan suara jeritan.
Rupanya bayang-bayang yang mengerikan ketika tubuhnya akan terseret ketepi jurang dari air tumpah itu, telah terlekat dibenaknya dan dia menduga bahwa dirinya masih juga terbawa oleh arus air.
Tetapi waktu Eng Song memandang sekelilingnya, dia jadi silau oleh sinar matahari pagi yang telah menyinari sekitar tempat itu.
Samar-samar Eng Song juga mendengar suara kicau burung.
Waktu Eng Song memperhatikan keadaan disekitar tempat itu, dia melihatnya betapa indahnya tempat dimana dia rebah.
Dengan tubuh yang letih bukan main, Eng Song telah merangkak untuk bangun, dan dia berusaha mengerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya.
Dan Eng Song jadi seperti terpaku ditempatnya waktu dia melihatnya pemandangan disekitar tempat tersebut sangat indah luar biasa.
Dengan sendirinya mau tidak mau hal ini telah nnembuat Eng Song terpesona, sambil meluruskan jalan darahnya yang di rasakan tidak lancar.
Dan Eng Song juga memperoleh kenyataan bahwa tubuhnya sakit, bajunya sudah tidak keruan, telah koyak disana-sininya, dan juga tubuhnya luka-luka..........
Keadaan bocah ini sudah tidak keruan sama sekali.
Tentu saja Eng Song bersyukur kerena dia memperoleh kenyataan dirinya selamat dari bantingan didasar air tumpah itu, tidak sampai menemui kematian.
Perlahan-lahan Eng Song telah melangkah untuk memeriksa keadaan disekitar kolam itu, suara gemuruh air tumpah masih terdengar begitu gemuruh.
Tetapi jarak antara tempat Eng Song terdampar dengan air terjun itu sudah terpisah cukup jauh.
Eng Song melangkah perlahan-lahan, karena merasakan seluruh tubuhnya sakit.
Tidak dilihatnya seorang manusiapun disekitar tempat itu.
Sinar matahari yang menyilaukan mata itu membuat pandangan Eng Song berkunang-kunang dau juga kepalanya pening sekali.
Tetapi Eng Song berusaha untuk bertahan, dia tidak mau kalau dirinya sampai rubuh.
Kenyataan seperti ini telah membuat Eng Song harus berhenti sejenak, dan dia duduk dipasir putih yang lembut itu untuk beristirahat sambil mengatur jalan pernapasannya.
Setelah mengerahkan tenaga murni yang menimbulkan pergolakan dalam peredaran darahnya itu, Eng Song kemudian memusatkan pikirannya menurut apa yang diajari oleh Thio Sun Kie, untuk bersemedhi memulihkan tenaga.
Memang hasilnya luar biasa, karena perasaan letih dan peningnya itu perlahan-lahan berkurang.
Dia telah membuka matanya, tetapi tidak lantas bangkit, karena dia duduk sambil mengawasi pemandangan sekitar tempat itu.
Betapa indahnya pemandangan disekitar tempat ini, Eng Song telah memandang dengan terpesona.
Begitulah, dari tempatnya itu, Eng Song kemudian memutari kolam tersebut dan memeriksa keadaan disekitar tempat dimana ia terdampar.
Tidak seorang manusiapun juga yang dijumpainya, karena memang ditempat ini tidak terlihat sebuah rumah pendudukpun.
Eng Song menghela napas.
Dia telah terdampar disebuah daerah yang memang masih asing baginya, dan juga tampaknva daerah ini seperti dari bagian gunung yang tertutup dan jarang didatangi orang.
Diam-diam Eng Song jadi berpikir keras, dia duduk terpekur disebuah batu gunung dan mengawasi air yang tengah tumpah tak hentinya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Suasana yang tenang tenteram disekitar tempat itu membuat hati Eng Song jadi nyaman.
Tetapi Eng Song juga sadar, bahwa banyak tugas yang berada dipundaknya.
Lagi pula, yang menjadi pemikiran Eng Song, entah bagaimana nasib Pedang Bunga yang merupakan benda pusaka itu, karena Bin An Sienie dan Thio Sun Kie telah terbunuh.....
Dan akhirnya Eng Song mengambil keputusan, dia harus meninggalkan tempat ini, untuk pergi mencari Ku Kuay Kiehiap, karena memang Thio Sun Kie pernah menyinggung-nyinggung perihal diri jago aneh itu, karena menurut Thio Sun Kie si bocah she Ma memang ingin dikirimnya ke Kun Lun, untuk mencari Ku Kuay Kiehiap itu....
Dan Eng Song mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan ke Kun Lun, untuk menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi pada Ku Kuay Kiehiap....
Dan setelah berpikir begitu, Eng Song segera mencari jalan keluar dari tempat yang tertutup itu, berusaha mencari jalan yang bisa membawanya keluar dari tempat yang menyerupai sebuah lembah tertutup itu.......
--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 6 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ LEMBAH tertutup itu merupakan sebuah lembah yang banyak sekali ditumbuhi oleh pohon-pohon yang beraneka macam, juga pohon-pohon bunga banyak sekali terdapat didaerah ini.
Ma Eng Song telah menyusuri hampir seluruh bagian dari lembah ini, tetapi tetap saja dia tidak menemui jalan keluar untuk kedunia ramai.
Empat hari lamanya Ma Eng Song telah berputar-putar didalam lembah itu, dan selama itu hanya daun-daunan yang telah menangsel perutnya, atau buah-buahan yang memang banyak tumbuh liar dilembah tersebut.
Tetapi biar bagaimana, dengan hanya memakan buah-buahan belaka dan daun-daun saja, tanpa memperoleh daging secuilpun juga, membuat Eng Song merasakan seluruh tubuhnya lemas hampir tidak bertenaga.
Tetapi Eng Song tidak putus asa, dia terus juga berusaha untuk menemui jalan keluar.
Biar bagaimana Eng Song yakin lembah ini memiliki jalan untuk keluar.
Namun setelah putar-putar selama hampir satu bulan dilembah itu, Eng Song tetap saja tidak berhasil menemukan jalan keluar.
Hal ini lama kelamaan telah membuat Eng Song jadi panik juga.
Dia mulai putus asa.
Apa lagi pakaiannya juga sudah tidak keruan rupa dan hampir tidak bentuk seperti baju lagi, telah koyak disana-sini dan kotor sekali.
Walaupun Eng Song telah berulang kali mencucinya ditepi kolam itu, tetap saja baju itu tidak bisa bersih dari noda darah.
Malahan bertambah banyak saja yang pecah dan robek, sampai akhirnya Eng Song tidak mau mencucinya lagi.
Dalam putus asa yang begitu mendalam dihati si bocah...
Eng Song perlahan-lahan juga mulai menyukai keadaan alam sekitar lembah itu.
Setelah beberapa hari lagi dia mencari-cari jalan keluar tanpa berhasil menemukannya, akhirnya Eng Song telah benar-benar putus asa dan mulai saat itu tidak mau mencari-carinya lagi jalan keluar itu.
"Sudahlah! Mungkin memang sudah nasibku harus hidup terkurung dilembah ini! Cuma saja.... hai, hai, dendam yang begitu berat terlantar begitu saja! Betapa membuat hati menjadi penasaran sekali!"
Dan berulang kali Eng Song telah menghela napas. Teringat pada mendiangCHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
ayah dan ibunya, tanpa disadarinya menitiklah air mata dipipi Eng Song.
Dia telah menangis seperti anak kecil kehilangan barang mainannya.
Hari demi hari telah dilewati Eng Song penuh kekosongan, dan dia hanya setiap harinya mengelilingi lembah itu.
Dan walaupun pemandangan dilembah itu demikian dan menawan hati, tetapi jiwa si bocah tak dapat tenang.
Malam itu Eng Song tengah rebah direrumputan yang tebal, sehingga dapat dipergunakan sebagai penggantinya pembaringan.
Dia memandangi rembulan yang terpancar terang keemas-emasan.
Di antara kesunyian malam, suara gemuruhnya air tumpah terdengar bagaikan pengganti musik, diiringi oleh suara binatang malam yang berdendang, ditambah dengan siliran angin menimbulkan suara kresekan pada daun-daun.
Pikiran si bocah tengah melayang-layang teringat akan masa lalunya.
Dia jadi tidak habis mengerti mengapa dirinya dan keluarganya tidak habis dan tidak hentinya mengalami kemalangan yang tidak kunjung habis?!
Dan juga perihal dendam dan sakit hati pada musuh-musuhnya...!
Kalau memang dia terkurung terus menerus dilembah ini, berarti urusan sakit hati itu hanya merupakan urusan diotak Eng Song belaka, tanpa ada kenyataan untuk penyelesaiannya.
Tetapi dikala Eng Song tengah rebah dengan pikiran melayang-layang seperti itu, tiba-tiba menyambar sebutir batu kerikil kecil, menghantam keningnya, sampai mengeluarkan suara "Bretak!"
Keras sekali.
Tentu saja Eng Song jadi kaget dan kesakitan setengah mati, dan sampai mengeluarkan seruan kaget waktu dia melompat berdiri.
Diawasinya sekelilingnya, tidak terlihat seorang manusiapun juga, dan ketika Eng Song merabah keningnya, dijidatnya itu telah benjol akibat benturan batu itu.
"Apakah batu diatas tebing ini yang telah terlepas dan kebetulan telah menimpah jidatku ?"
Diam-diam Eng Song berpikir didalam hatinya.
Tetapi sedang dia berpikir begitu tiba-tiba Eng Song merasakan pinggulnya sakit seperti didupak orang, dan tubuhnya kontan terjungkel rubuh.
Untung saja dia terguling diatas tumpukan rumput-rumput yang tebal itu, sehingga tidak begitu sakit.
Cepat-cepat Eng Song melompat berdiri dengan muka agak pucat.
Dan Eng Song yakin tidak mungkin dia rubuh begitu disebabkan sampokan angin!
"Si....
siapa yang telah mempermainkan aku?"
Tegur Eng Song dengan suara yang nyaring.
Dia tidak marah, malah mengharapkan ada orang yang menggodanya, karena berarti dia bisa bertemu dengan manusia.
Tetapi jawaban yang didengarnya membuat bulu kuduknya jadi berdiri .
"Aku, setan penasaran!!"
"A......... apa?"
Suara Eng Song jadi tergetar keras sekali, tubuhnya agak menggigil, karena hatinya seketika itu juga berdebar keras, dan kepalanya seperti diguyur segayung air yang dingin sekali.
"Hemmm.... aku setan penasaran!"
Terdengar suara orang menyahuti dengan suara yang dingin, tidak berperasaan sama sekali.
Jilid 5CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
MATA Eng Song jadi jelalatan memandang sekitar tempat itu, dia ketakutan setengah mati dan mencari-cari kalau-kalau orang yang mempermainkan dirinya berada disekitar dirinya.
Tetapi Eng Song tidak melihat seorang manusiapun juga menambah perasaan ngeri dihatinya lagi saja.
Dia jadi ragu-ragu, dan berpikir, apakah didunia ini memang terdapat setan penasaran?
"Bocah!
Mau apa kau datang di tempatku ini, heh?"
Terdengar orang membentak lagi. Eng Song saat itu tengah kebingungan dicampur perasaan ngeri, mendengar dirinya ditanyai dengan suara membentak begitu. Eng Song jadi gugup dan menyahut sekenanya .
"Aku...... aku juga tidak mau lama-lama berdiam disini! Malah kalau memang kau bisa menunjukkan jalan untuk keluar dari tempat ini, aku malah sangat berterima kasih sekali......"
"Cissss! Enak saja kau bicara!"
Terdengar suara orang berkata dengan tawar.
"Kau bisa datang, tentunya kau bisa pergi, buat apa kau mau merepotkan diriku untuk mengasih unjuk padamu jalan keluar?"
"Tetapi aku datang kemari bukan atas kemauanku sendiri........"
Kata Eng Song.
"Siapa yang membawamu?"
"Air!"
"Apa?"
Terdengar suara itu mengandung kemarahan bercampur mendongkol.
"Air yang telah membawaku kemari,"
Menambahkan Eng Song.
"Aku telah terjatuh dari air terjun itu!"
"Ihhh....!"
Terdengar seruan nyaring, seperti juga orang itu terkejut sekali.
Eng Song hanya diam saja dengan hati berdebar, dia jadi ketakutan, karena ngeri kalau membayangkan yang tengah diajaknya bercakap-cakap ini adalah setan penasaran.
"Mengapa kau tidak terbanting mampus dikaki air tumpah itu?"
Terdengar suara itu bertanya dengan ucapan yang dingin sekali.
"Aku mana tahu? Aku dalam keadaan pingsan......... Yauwkwie (setan).........! menyahuti Eng Song dengan nada takut-takut.
"Apa? Kau panggil aku ini apa?"
Tegur si setan penasaran yang tidak terlihat ujutnya itu, didengar dari suara menegurnya itu memperlihatkan bahwa dia gusar bukan main.
"Hemmmmm......... bukankah tadi kau yang mengatakan sendiri bahwa kau setan penasaran? Apakah panggilanku itu salah?"
Tanya Eng Song tambah gugup.
"Bocah tidak tahu adat! Apakah dengan memanggilku dengan sebutan Yauwkwie itu merupakan panggilan yang sopan?"
Tegur si setan penasaran.
"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?"
Tanya Eng Song tambah bingung.
"Yauwkwie Loya (Tuan besar setan).........!!"
Menyahuti suara itu.
"Ohhhh!"
Eng Song jadi berseru kaget dan heran, bercampur perasaan geli didalam hatinya, karena dia baru tahu bahwa setan juga mengerti tata-krama kesopanan.
"Maafkanlah kalau tadi aku salah memanggilmu Yauwkwie Loya.........!"
"Apakah kau ingin bertemu denganku?"
Terdengar si Yauwkwie Loya telah bertanya lagi, suaranya sabar dan tidak sekeras seperti tadi.
Tetapi pertanyaan seperti ini malah telah membuat semangat Eng Song seperti terbang meninggalkan raganya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
"A......... apa?! Bertemu dengan kau?"
Menggigil suara Eng Song.
"Kenapa kau kaget? Apa kau jijik untuk bertemu denganku? Apa kau anggap aku ini setan yang tidak ada harganya dan sangat hina bertemu dengan kau?"
Mendengar nada suara si Yauwkwie Loya yang mengandung perasaan mendongkol bukan main begitu, membuat Eng Song tambah gugup.
"Bu......... bukan begitu... bukan begitu!"
Kata Eng Song cepat. Sedangkan didalam hatinya sendiri membathin .
"Bertemu dengan setan? Hu? Itulah pekerjaan gila!"
"Hahahahahahaha!"
Terdengar suara tertawa orang itu dengan suara yang nyaring.
"Kulihat wajahmu pucat sekali, apakah kau ketakutan, bocah"
"Ti..... tidak! Mengapa aku harus ketakutan?"
Tanya Eng Song cepat.
Dan suaranya dibuat agar terdengarnya gagah.
Tetapi suara yang aneh dan tidak terlihat ujudnya itu telah berkata lagi dengan suara yang nyaring .
Hmmmmmm, baiklah!
Kalau begitu kau setuju untuk bertemu denganku?"
"Tunggg...... tunggu dulu!!"
Kata Eng Song jadi gugup dan tergesa-gesa.
"Aku...... aku mau bertanya dulu padamu, tuan Setan.......!"
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah kau tidak akan marah, tuan Setan?"
Tanya Eng Song lagi.
"Mengapa harus marah? Apakah pertanyaan yang akan kau ajukan itu merupakan pertanyaan gila-gilaan?"
Tanya suara si tuan Setan itu.
"Tidak! Aku hanya ingin tahu saja."
Kata Eng Song.
"Tolong kau beritahukan kepadaku, tuan Setan, apakah keadaanmu, wajahmu, sangat mengerikan atau tidak?!"
Tidak terdengar suara sahutan untuk sementara waktu, sampai jantung Eng Song jadi tergoncang keras sekali, karena dia menduga pertanyaannya itu telah menyinggung perasaan dan hati si tuan Setan.
Akhirnya telah terdengar si tuan Setan telah menghela napas, dan berkata lambat-lambat .
"Sesungguhnya memang nasibku terlalu buruk, sebab aku memang telah menjadi setan penasaran, dengan sendirinya keadaanku sangat buruk sekali. Karena engkau ingin mengetahui perihal wajah dan tubuhku, maka engkau dengarkanlah baik-baik. Mataku tidak ada, tetapi aku bisa melihat walaupun kedua mataku itu bulat berlobang saja. Hidungku juga tidak sebagus hidungmu, karena aku hanya berlubang belaka, mulutku juga hanya terdapat gigi-gigi yang bertonjolan tidak rata, karena aku tidak memiliki bibir! Tubuhku juga hanya tinggal tulang, bukannya terbalut oleh kulit. Itulah keadaanku, apakah kau mau bertemu denganku?"
Eng Song jadi berdiri bengong dengan hati yang berdenyut duk-duk-duk tidak hentinya.
Semakin didengar, dia jadi semakin merasa ngeri.
Bayangkan saja, situan setan itu tidak lain hanya bentuk dari tengkorak, karena seperti katanya, kedua matanya hanya bentuk lubang belaka, hidungnya juga hanya lubang pula, dan bibirnya tidak ada, hanya giginya yang bertonjolan tidak rata dengan tulang-tulangnya belaka...............!
Itulah ciri-ciri dari tengkorak hidup!
Siapa yang tidak akan merasa ngeri dan jeri untuk berhadapan dengan setan?
Apa lagi si tuan Setan itu telah menamakan dirinya sebagai setan penasaran.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Dan yang menambah rasa takut dan ngeri dari Eng Song, dia memperoleh kenyataan dirinya berada dilembah yang sunyi seperti ini, tidak ada seorang manusiapun juga, ditambah lagi memang keadaan malam itu hanya diterangi oleh sinar rembulan yang redup.
"Bagaimana? Kau belum menjawab pertanyaanku?!"
Bentak si tuan Setan dengan suara mendongkol, karena Eng Song hanya berdiri seperti orang kesima, bagaikan patung saja.
"A............... apa?"
Eng Song seperti baru tersadar dari mimpi buruknya, keringat dingin telah mengucur keluar deras sekali.
"Kau mau bertemu denganku atau tidak?"
Bentak si tuan Setan.
"Ti............. tidak kalau memang bisa."
Menyahuti Eng Song gugup.
"Kurang ajar kau.............!"
Bentak si tuan Setan yang rupanya gusar.
"Mengapa kau mengatakan tidak ingin bertemu kalau memang bisa!? Memangnya aku memaksamu? Aku hanya bertanya kau ingin bertemu denganku atau tidak?! Jawab saja tidak kalau memang tidak mau bertemu denganku, sudah cukup. Dan jawab "mau"
Kalau memang kau ingin bertemu denganku!"
"Ihhhh............. manusia mana sih yang mau bertemu dengan setan?"
Berpikir Eng Song didalam hatinya mendongkol dan gugup sekali. Tetapi si bocah berusaha untuk tersenyum sambil katanya .
"Tuan Setan jangan marah................ kalau memang kau tidak keberatan aku memang tidak ingin bertemu dulu dengan kau!"
"Takut?"
"Tidak!"
"Eh, tidak takut kau?"
"Ya......... hanya belum berselera."
"Kunyuk kau! Mengapa bertemu denganku saja harus menunngu berselera atau belum?!"
Memaki si tuan Setan.
"Memangnya aku ini makanan? Tetapi kalau memang kau mau, memang dapat kau memakan tulang-tulangku ini, lumayan bisa menangsel perutmu, agar tubuhmu jangan kurus kerempeng seperti itu!"
Serasa berdiri seluruh bulu-bulu ditubuh Eng Song.
Memakan tulang-tulang belulang dari tengkorak hidup?!
Ihhh, betapa menjijikkan dan mengerikan.
Hampir Eng Song muntah-muntah disebabkan rasa mualnya yang datang begitu tiba-tiba sekali.
"Baiklah!"
Terdengar suara si setan penasaran itu.
"Kau tidak mau bertemu denganku. itupun tidak apa-apa. Cuma saja hal ini memperhatikan bahwa kau tidak bersahabat denganku!"
Dan membarengi dengan habisnya suara si Tuan Setan itu, tahu-tahu .
"ketepok", pipi Eng Song telah kena ditempeleng keras sekali. Tubuh Eng Song sampai berputar-putar, dia kesakitan dan ketakutan. Karena tempilingan yang begitu keras tanpa Eng Song mengetahui siapa sesungguhnya yang telah menempilingnya itu. Hal ini tentu saja membuatnya jadi tambah ketakutan. Dan belum lagi Eng Song merangkak untuk berdiri, tahu-tahu pantatnya telah kena didupak oleh dupakan yang keras bukan main. Tubuh Eng Song sampai terjerambab kedepan, dan mukanya mencium tanah. Kontan darah mengucur deras dari hidungnya yang terantuk membentur tanah.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Kepalanya jadi pusing dan hidungnya pedas bukan main.
"Kau.............. kau............."
Suara Eng Song begitu gugup sekali, dia gusar berbareng ketakutan. Biar bagaimana setan mana bisa dilayani?! "Mengapa kau-kauan begitu?"
Bentak si Setan Penasaran dengan suara yang bengis.
"Mengapa kau menyiksa diriku? Apa salahku?"
Tanya Eng Song, tetap hatinya keder kalau dibayangkan olehnya bahwa yang diajaknya bicara itu tidak lain dari setan penasaran.
"Hemmmm............ bukankah engkau sendiri tadi telah memperhatikan sikap yang tidak bersahabat? Maka dari itu, buat apa aku memperlakukan kau manis-manis dan bersahabat! Paling tidak aku menginginkan kau mati agar bisa bersama-sama dengan aku menjadi setan penasaran! Setidak-tidaknya menemani aku agar tidak kesepian.....! Kau mau, bukan?"
Eng Song seketika itu juga merasakan kepalanya jadi membesar dan juga hatinya tergoncang keras sekali.
Dirinya mau diajak untuk menjadi setan penasaran?
Celaka benar!
Bukankah hal itu sangat mengerikan sekali, dia jadi mengeluh sendirinya, karena biar bagaimana dia mana bisa melawan setan penasaran seperti itu?!
Di kala Eng Song berdiam diri begitu, di saat itu pula telah menyambar sebutir batu dengan gerakan yang cepat.
Dan Eng Song tidak bisa menangkisnya, karena telak sekali batu itu telah menghajar batok kepalanya, sampai mengeluarkan suara "Pletak!"
Dan Eng Song merasa kesakitan bukan main, dia sampai mengeluh dan saking takutnya si bocah hampir menitikkan butir air mata, sebab Eng Song tidak mengetahui bagaimana harus menghadapi setan penasaran yang demikian ugal-ugalan?!
"Baiklah!"
Kata Eng Song kemudian terpaksa.
"Kalau begitu aku mau bersahabat dengan kau!"
"Hemmmmm, sudah terlambat! Sekarang ini sudah apa gunanya? Sudah terlambat! Sudah terlambat! Kau mau bersahabat dengahku juga dalam keadaan terpaksa, saking ketakutan dan kewalahan, maka kau baru mau bersahabat denganku! Apa gunanya semua itu!?"
"Tetapi aku sungguh-sungguh akan bersahabat dengan kau!"
Kata Eng Song, dengan suara yang nyaring, saking kewalahan.
"Benarkah itu?"
Terdengar si Tuan Setan telah bertanya dengan suara mengandung kegembiraan yang sangat.
Eng Song merasakan dirinya tergetar dan juga hatinya berdenyut semakin keras saja, dia malah telah mengangguk, walaupun dirasakan bulu-bulu disekujur tubuhnya telah meremang berdiri.
"Benar! Aku ingin bersahabat dengan kau."
Bukankah dengan bersahabat dengan kau maka aku tidak perlu menderita diganggu oleh kau lagi?"
"Hemmmmm, kalau begitu kau mau bersahabat denganku dengan hati yang palsu!!"
Bentak si tuan Setan dengan gusar dan segera juga muka Eng Song jadi sakit karena telah terdengar suara ketepak-ketepok yang nyaring, mukanya telah kena ditempiling oleh si tuan Setan yang tidak terlihat ujutnya itu.
Tubuh Eng Song telah terpental lagi, dia menderita kesakitan yang sangat.
Tetapi Eng Song benar-benar tidak berdaya menghadapi setan penasaran seperti ini.
Dia telah merangkak bangun dan dalam keadaan terdesak seperti ini telah membuat si bocah jadi nekad, dia telah mengeluarkan suara bentakan .
"Baiklah! Kalau memang kau mau membunuhku, bunuhlah! Aku tidak takut menghadapi kematian!!"CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
"Ohhhh............... benarkah itu?"
Terdengar si tuan Setan penasaran telah bertanya dengan suara mengejek.
"Itu memang lebih bagus, karena dengan kau mampus, berarti kau akan menjadi setan penasaran, berarti juga aku akan mempunyai seorang sahabat!!"
Mendengar perkataan si setan penasaran itu, hati Eng Song jadi tergetar keras, dia jadi menggidik ngeri bukan main, karena biar bagaimana mana ada sih manusia yang tidak takut mati untuk dijadikan setan penasaran.
Di kala Eng Song sedang berdiri terpaku seperti itu, karena disebabkan terlalu kaget, maka si Hantu penasaran itu telah tertawa gelak-gelak.
"Dan sekarang kau bersiap-siaplah untuk menjadi setan penasaran!!"
Kata si setan penasaran itu dengan suara yang nyaring.
Eng Song berdiam diri saja, dia tidak menyahuti, karena dia anggap tidak ada gunanya dia melayani setan penasaran tersebut.
Si tuan Setan rupanya juga jadi penasaran melihat Eng Song berdiam saja.
"Kau tidak takut mampus?"
Bentak si Tuan Setan mendongkol rupanya, sebab suaranya begitu keras.
"Hemmmm, buat apa takut? Apa lagi memang aku mati bisa menjadi setan penasaran, tentu aku bisa untuk melihat kau dan aku tentunya dapat mengejarmu, untuk mencekik mampus dua kali buat kau!!"
"Ihhhhhhh................"
Terdengar suara seruan yang nyaring dari si Tuan Setan itu. Tetapi kemudian terdengar suara gelak-gelak tawanya. Dia telah menghela napas, dan kemudian katanya .
"Bocah, ternyata kau memang cukup tabah! Baiklah! Baiklah! Aku akan keluar memperlihatkan diri padamu!!"
Mendengar perkataan si tuan Setan itu, maka Eng Song tergoncang kembali hatinya.
Biar bagaimana dia sanggup untuk berhadapan dengan setan penasaran?.
Si bocah jadi tegang sendirinya, dia telah membuka matanya lebar-lebar mengawasi sekelilingnya.
Bola matanya jadi terpentang lebar-lebar dan jelalatan memandang sekitar lembah itu, karena si bocah merasa ngeri kalau-kalau nanti setan penasaran itu muncul dibelakangnya.
Dan sedang Eng Song merasa takut dan gugup seperti itu, tahu-tahu bahunya ada yang colek.
Kontan Eng Song merasakan kepalanya jadi membesar dan sekujur tubuhnya telah menggigil dengan bulu-bulu yang meremang berdiri ditengkuknya.
Darah Eng Song telah mendesir semakin cepat.
"Kau......... kau jangan main-main....! kata Eng Song dengan perasaan ngeri.
"Siapa yang main-main dengan kau?"
Membalik si Setan penasaran itu.
"Apakah kau anggap aku ini sebagai kekasihmu sehingga mau bergurau dengan kau?"
Ditanggapi begitu oleh si setan penasaran.
Eng Song jadi tambah gugup.
Biar bagaimana dia memang tengah diliputi oleh perasaan seram dan gugup.
Tetapi dikala Eng Song sedang panik begitu, dia mendengar si setan penasaran itu telah tertawa gelak-gelak.
Menyusul mana telah muncul seseorang dari balik batu gunung.
Orang yang baru muncul itu melangkah dengan tindakan kaki perlahan-lahan.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Tampaknya dia melangkah tenang sekali dan Eng Song mementang matanya lebar-lebar karena dia ingin melihatnya apa sesungguhnya yang dinamakan setan penasaran itu.
Dengan hati yang tergoncang keras, Eng Song mementang matanya lebar-lebar untuk mengawasi sosok tubuh yang baru muncul itu.
Dan Eng Song melihatnya sosok tubuh itu seorang manusia biasa.
Seorang lelaki tua yang memelihara jenggot yang telah memutih.
Hanya pakaiannya yang tambal sulam, memperlihatkan cara berpakaiannya itu dia adalah seorang pengemis tua belaka.
Tetapi Eng Song yang sejak tadi diliputi oleh perasaan ngeri dan seram, waktu melihat pengemis tua ini, si bocah jadi berpikir, apakah tidak boleh jadi setan penasaran itu tengah menyamar untuk menjadi pengemis seperti itu?
Bukankah setan penasaran memang paling pandai menyamar?
Dengan sendirinya, hati Eng Song masih tergoncang keras saja.
Dia beberapa kali melirik kearah kaki pengemis itu.
Sering Eng Song mendengar jika setan maka kakinya tidak menginjak bumi.
Tetapi orang tua yang baru keluar ini menginjak bumi dengan mempergunakan kedua kakinya.
Dengan adanya hal ini, berarti orang ini memang sesungguhnya seorang manusia.
Hati Eng Song jadi agak tenang.
Apa lagi orang tua itu telah berkata .
"Anak............. maafkan atas gurauanku tadi!!"
Eng Song menarik napas dalam-dalam.
"Siapakah lopeh (paman)?"
Tanya Eng Song ingin mengetahuinya.
"Dan......... dan apakah memang sesungguhnya Lopeh seorang manusia?"
Orang tua itu tertawa.
"Di dunia mana ada setan?"
Balik tanya si orang tua dengan suara yang sabar.
"Tadi aku hanya ingin bergurau dengan kau saja! Hal ini disebabkan aku melihat kau berada ditempat sesunyi seperti ini hanya berseorang diri! Apa lagi mengingat kau hanyalah seorang bocah kecil belaka! Entah apa yang sedang kau lakukan ditempat yang sesunyi ini, anak"
Mengetahui bahwa orang tua dihadapannya ini memang manusia sesungguhnya, hati Eng Song jadi girang bukan main, walaupun tadi dia telah dipermainkan oleh orang tua ini tetapi Eng Song tidak jadi kecil hati.
Malah Eng Song sangat bergirang hati dapat bertemu dengan seorang manusia dilembah seperti ini, setelah sekian lama terkurung disitu saja.
"Siapakah Lopeh?"
Tanya Eng Song.
"Aku seorang pengelana yang tidak tetap tempat tinggalku!!"
Kata orang tua itu dengan suara yang sabar.
"Dan kebetulan lewat ditempat ini, aku sempat melihatmu, maka aku jadi heran bukan main.......... mengapa anak sekecil engkau bisa berada ditempat seperti ini..........!!"
Melihat kakek tua itu seperti menghindarkan diri dari pertanyaan Eng Song, dan tidak mau menyebutkan namanya, Eng Song mengerti orang tua itu tentunya keberatan untuk memperkenalkan dirinya.
Dia tidak mendesak lebih jauh.
Dan Eng Song telah menceritakan pengalaman yang telah dialaminya.
"Apa?"
Teriak orang tua itu dengan suara yang menunjukkan dia terkejut bukan main. Gobie-pay telah diserbu orang-orang buas seperti itu?!"
Eng Song mengangguk dan meneruskan ceritanya menuturkan apa yang diketahuinya.
Juga Eng Song telah menceritakan, betapa selain Ciangbunjin dari Gobie-pay, yaitu Bin An Sienie, yang telah terbunuh bersama seluruh murid-muridnya, juga Thio Sun Kie dijumpai Eng Song telah menggeletak menjadi mayat.
Muka pengemis tua dihadapan Eng Song jadi berobah agak hebat, dan tubuhnya juga telah menggigil, rupanya berita yang didengarnya telah mengejutkan hatinya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
"Thio............ Thio Sun Kie telah terbunuh juga?"
Terdengar pengemis itu telah bertanya dengan suara yang tergetar menahan pergolakan dihatinya.
Eng Song telah mengangguk dengan wajah yang berduka sekali, karena jika dia teringat akan peristiwa yang telah terjadi itu, hatinya sedih bukan buatan.
"Ya............!"
Jawab Eng Song dengan suara yang parau menahan kedukaan hatinya.
"Hemmmmm............ manusia-manusia hina dina itu ternyata telah membuat kerusuhan yang demikian hebat?!!"
Mengumam si pengemis tua itu dengan suara tergetar.
"Aku tidak menyangka bahwa akan muncul badai yang demikian hebat didalam rimba persilatan! Dengan dibakarnya kuil Gobie-pay berarti akan timbulnya urusan yang hebat sekali! Karena murid-murid Gobie Pay tersebar luas didalam rimba persilatan!! Tentunya kematian dari Bin An Sienie akan membangkitkan kemarahan dari murid-murid Gobie Pay!! Dan lagi pula, seorang pendekar besar dan bijaksana Thio Sun Kie telah ikut menjadi korban, inilah hebat! Terlalu berani orang-orang yang menyerbu kuil Gobie Pay itu!!"
Dan setelah berkata begitu, si pengemis tua ini telah menarik napas berulang kali.
"Maukah mengantarkan aku untuk melihat-lihat keadaan kuil Gobie Pay?"
Tanya si pengemis itu. Eng Song jadi memandang bengong sejenak pada si pengemis itu.
"Kenapa?"
Tanya pengemis tua waktu melihat Eng Song tidak menyahuti, hanya memandang kearahnya dengan tatapan mata mendelong begitu.
"Ba.......... bagaimana kita bisa keluar dari lembah ini?!"
Kata Eng Song.
"Aku sudah berbulan-bulan lamanya mencari-cari jalan untuk keluar dari lembah ini, namun kenyataannya tidak pernah berhasil, sebab lembah ini merupakan lembah yang tertutup dan tidak memiliki sebuah jalan kecil untuk keluar dari lembah ini.........!"
Mendengar perkataan Eng Song, si pengemis telah tersenyum sabar.
"Jangan takut, aku Ang Sam Kay akan membawa kau keluar dari lembah ini!!"
Kata pengemis tua itu. Mendengar perkataan si pengemis tua tersebut, Eng Song jadi girang bukan main.
"Be......... benarkah itu, Lopeh?"
Tanyanya dengan suara tergetar. Pengemis tua Ang Sam Kay, telah menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.
"Ya! Mari kita berangkat!"
Kata Ang Sam Kay.
Dengan girang Eng Song telah mengangguk.
Dan belum lagi Eng Song menyahuti tahu-tahu Ang Sam Kay telah mengulurkan tangannya, tahu-tahu pinggang Eng Song telah dikempitnya.
Kemudian Ang Sam Kay telah menjejakkan sepasang kakinya, dengan ringan tubuhnya itu telah mencelat tinggi ketengah udara.
Walaupun ditangannya dia mengempit tubuh Eng Song, namun gerakannya tidak terganggu.
Waktu tubuhnya akan meluncur turun, si pengemis tua Ang Sam Kay ini telah menggerakkan tangan kanannya, dari telapak tangan kanannya itu telah meluncur keluar serangkum angin serangan yang kuat sekali.
Angin pukulan itu telah menghantam dinding lembah tersebut.
Terdengar suara benturan yang keras, dan dengan meminjam tenaga benturan itu, tubuh si pengemis Ang Sam Kay telah mencelat keatas lagi, walaupun dia masih tetap mengempit Eng Song.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Dengan cara demikian, beberapa puluh kali dia memukul dinding lembah itu, akhirnya tibalah si pengemis di permukaan bibir lembah.
Eng Song diturunkannya, sehingga si bocah ketika melihat dirinya telah berada diatas bibir lembah itu, tentu saja jadi girang.
Dan Eng Song juga sangat kagum sekali atas kepandaian yang dimiliki oleh pengemis tua itu.
Dengan hanya mengandalkan ginkangnya, pengemis tua tersebut bukan hanya dapat melompat naik berseorang diri, melainkan telah membawa serta Eng Song.
Setelah Eng Song diturunkan dari kempitan tangannya, pengemis tua tersebut, Ang Sam Kay, telah duduk bersemedhi untuk mengatur jalan pernapasannya.
Hal ini disebabkan tadi apa yang dilakukan oleh pengemis tua itu sangat melelahkannya.
Maka dari itu, mau tidak mau dia memang harus meluruskan kembali jalan pernapasannya.
Eng Song melihat apa yang dilakukan oleh pengemis itu, maka Eng Song tidak berani mengganggunya.
Dia hanya duduk diam di batu gunung yang kebetulan menonjol keluar dan juga dia duduk ditempatnya itu Eng Song hanya mengawasi apa yang tengah dilakukan oleh pengemis itu.
Mau tidak mau Eng Song sangat berterima kasih sekali pada Ang Sam Kay.
Karena pengemis tua ini telah menyelamatkan jiwanya dari kematian terkurung di dalam lembah yang sangat rapat dan merupakan lembah yang tertutup.
Saat itu, Ang Sam Kay telah selesai bersemedhi memulihkan tenaga dalamnya, dia telah melompat berdiri.
"Mari kita tengok kuil Gobie-pay yang kau ceritakan tadi telah dibakar oleh manusia-manusia pengecut yang beraninya hanya main keroyok itu..........!"
Eng Song mengangguk.
Dan menurut Ang Sam Kay, untuk menghemat waktu, dia telah mengempit si bocah, diajaknya berlari-lari dengan gerakan yang cepat bukan main, sebab si pengemis tua Ang Sam Kay telah mempergunakan Ginkangnya yang sempurna.
Eng Song merasakan hanya angin dingin yang telah menerpah-nerpah wajah dan tubuhnya, karena sampokan angin itu menerjang dikarenakan larinya Ang Sam Kay terlampau cepat, seperti terbang belaka.
Eng Song memejamkan matanya, dia tidak berani melihat betapa pohon-pohon yang dilalui mereka itu seperti saling kejar dan berterbangan.
Di dalam waktu yang singkat Ang Sam Kay telah mencapai tempat yang ditujunya.
"Kita telah sampai!!"
Kata Ang Sam Kay dengan suara yang nyaring dan dia menurunkan Eng Song dari kempitan tangannya.
Eng Song telah turun berdiri ditanah, tetapi disaat itulah si bocah melihat betapa kuil Gobie-pay yang tadinya begitu gagah dan megah, ternyata telah musnah dimakan api dan yang terlihat hanyalah sisa puing-puingnya belaka..........
Pemandangan yang ada pada saat itu telah membuat hati Eng Song jadi berduka bukan main, karena si bocah segera teringat kembali, betapa Bin An Sienie menemui kematian dengan cara yang begitu mengenaskan dan mengerikan sekali.
Sedangkan Thio Sun Kie juga telah terbinasa dianiaya oleh lawan-lawannya dengan kejam.
Sakit hati seperti ini sangat besar sekali.
Maka dari itu Eng Song telah bersumpah, disamping dia akan mencari dan nanti membalas sakit hati kematian ayahnya, juga dia akan menuntut balas atas kematian Bin An Sienie dan juga Thio Sun Kie.
Orang-orang yangCHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
tersangkut didalam pembunuhan terhadap Bin An Sienie dan juga Thio Sun Kie akan segera diselidikinya.
Saat itu, muka Ang Sam Kay telah berobah merah padam, tampaknya dia murka bukan kepalang.
Juga matanya memancarkan sorot yang sangat tajam bukan main, dia memandang sekeliling dengan perasaan kaget bercampur murka.
Kaget karena melihat kuil Gobie-pay yang tadinya begitu mewah dan besar, ternyata sekarang telah menjadi puing-puing belaka, disamping Ciangbunjin dari Gobie-pay yang telah terbinasa juga.
Sedangkan perasaan murka yang berkecamuk didalam hati si pengemis tua tersebut disebabkan dia penasaran sekali orang-orang yang menyerbu kuil Gobie-pay telah melakukan perbuatan yang sangat pengecut sekali, telah main keroyok dan tidak mengenal malu.
Dengan sendirinya, maka Ang Sam Kay telah memandang perbuatan itu adalah suatu perbuatan yang rendah dan juga sangat hina dina.
Setelah memandang bengong sejenak kearah puing-puing dari kuil Gobie-pay, Ang Sam Kay telah menghela napas panjang-panjang.
Dengan wajah murung, dia telah bertanya pada Eng Song .
"Apakah kau mengetahui nama dari orang-orang yang telah melakukan penyerbuan kekuil ini?"
"Menurut keterangan yang diberikan oleh Thio Peh-peh, orang yang memimpin jago-jago untuk menyerbu dan mengacaukan Gobie-pay ini bernama Ong Peng Hin......!"
"Ong Peng Hin?"
Tanya Ang Sam Kay terheran-heran dan mementang matanya lebar-lebar. Eng Song telah mengangguk.
"Ya....! Ada sesuatu yang tidak beres, Lopeh?"
Tanya Eng Song. Ang Sam Kay telah menggelengkan kepalanya perlahan-lahan, lalu katanya .
"Aku baru pertama kali ini mendengar nama Ong Peng Hin ini.... cuma saja anehnya, justeru dia yang telah memimpin jago-jago dari berbagai golongan untuk melakukan penyerbuan kekuil Gobie-pay?!"
Dan benar-benar Ang Sam Kay jadi terheran-heran karenanya.
Tetapi sedikitpun, maupun Ang Sam Kay atau memang Eng Song tidak mengetahuinya, bahwa sesungguhnya Ong Peng Hin sendiri telah dapat dibinasakan oleh Thio Sun Kie didalam pertempuran itu.
Waktu itu, Ang Sam Kay telah menghela napas.
"Sungguh suatu kehancuran yang sangat menyedihkan sekali!!"
Mengumam pengemis tua ini.
"Sesungguhnya Gobie-pay merupakan partai dan pintu perguruan yang cukup besar, sejajar dengan pintu perguruan Siauw Lim Sie! Tetapi dengan dihancurkannya demikian rupa, aku yakin didalam rimba persilatan akan timbul bermacam-macam pergolakan yang mengerikan!!"
Di saat itulah, Eng Song tiba-tiba teringat akan sesuatu, maka tanyanya .
"Dan kalau memang boleh aku bertanya Lopeh, sesungguhnya Pedang Bunga itu sebangsa pedang apa itu?"
Mendengar disebutnya perihal Pedang Bunga itu, tentu saja si pengemis tua Ang Sam Kay jadi kaget bukan main, mukanya juga telah berobah hebat.
"Kau....... kau tahu dari mana perihal Pedang Bunga itu?"
Tegur Ang Sam Kay sambil menatap Eng Song tajam-tajam, seperti ingin menyelidikinya.
Tetapi Eng Song segera menceritakannya, bahwa dia memang telah direncanakan oleh Thio Sun Kie dan Bin An Sienie untuk membawa Pedang Bunga itu kepada seseorang.
"Thio Peh-peh yang telah banyak bercerita mengenai Pedang Bunga itu.........!!"
Menjelaskan Eng Song pada akhir ceritanya. Ang Sam Kay telah menghela napas.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
"Sungguh diluar dugaan, kalau demikian urusannya, tentu pengeroyokan dan juga pembakaran kuil Gobie-pay tentunya disebabkan urusan pedang itu!"
Mendengar perkataan Ang Sam Kay, Eng Song telah mengangguk cepat.
"Benar Lopeh, karena memang Bin An Sienie telah mengatakan bahwa dengan adanya Pedang Bunga ditangan, berarti pemiliknya akan mengalami kesulitan yang tidak kecil. Maka dari itu memang kenyataannya sekarang Bin An Sienie mengalami urusan yang demikian mengenaskan sekali, setelah dia berhasil memiliki Pedang Bunga itu, atas titipan dari Siauw Sin Cing Lopeh....!"
Mendengar perkataan Eng Song yang terakhir, orang tua yang berpakaian seperti pengemis itu telah menghela napas lagi berulang kali.
Tampaknya dia jadi begitu masgul sekali, dicampur oleh perasaan duka yang tiada taranya.
"Baiklah!"
Mari kita berlalu!!"
Kata Ang Sam Kay.
"Kau ingin menuju kemana? Aku bersedia mengantarkan kau!"
Eng Song menghela napas panjang waktu ditanya begitu oleh pengemis tersebut.
Ia sendiri tidak mengetahui harus kemana dirinya ini pergi, karena memang ia telah menjadi anak yatim piatu, tanpa sanak famili dan juga memang sudah tidak memiliki sahabat atau juga kenalan.
Dengan sendirinya, mau tidak mau Eng Song hanya dapat menggelengkan kepalanya saja.
Ang Sam Kay ketika melihat si bocah menggelengkan kepalanya, seperti mengerti perasaan si bocah, maka tanyanya .
"Apakah kau tidak memiliki sanak famili?"
Tanyanya lagi dengan suara yang lembut. Eng Song mengangguk.
"Ya.....!"
Sahutnya dengan suara yang perlahan dan tampaknya berduka sekali. Si pengemis tua itu telah menghela napas waktu mendengar penyahutan Eng Song.
"Baiklah....... kalau begitu kau turut denganku saja!"
Kata pengemis tua tersebut.
"Kemana aku pergi, maka kau kesana pula pergi.... kau akan kulindungi, agar tidak diganggu oleh orang-orang jahat...........!"
Mendengar perkataan si pengemis Ang Sam Kay, Eng Song jadi girang bukan main. Cepat ia telah merangkapkan sepasang tangannya, menjurah pada si pengemis.
"Terima kasih atas maksud baik dari paman....."
Katanya kemudian dengan terharu.
Ang Sam Kay tersenyum, ia telah cepat-cepat meminta si bocah agar tidak banyak peradatan.
Maka kedua orang itu telah berangkat meninggalkan tempat tersebut......
--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 7 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ HAWA udara diluar perkampungan Wie-san-cung, terasa nyaman dan sejuk sekali.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Walaupun disaat itu tengah hari dan seharusnya matahari bersinar terik, nyatanya hawa udara disekitar diluar perkampungan Wie-san-cung tersebut sangat cerah dan sejuk, karena matahari tidak lagi bersinar dengan sinarnya yang terlalu terik.
Di dalam cuaca yang demikian baik, tampak dua orang tengah melakukan perjalanan.
Yang seorangnya itu berpakaian seperti pengemis dan telah berusia lanjut, sedangkan yang seorangnya lagi merupakan seorang bocah yang baru berusia belasan tahun.
Wajah bocah itu cakap sekali, walaupun agak dekil dengan pakaian yang kotor.
Sambil berlari-lari kecil bocah itu telah memetiki bunga-bunga yang turnbuh di pohon-pohon bunga yang banyak bertumbuhan disekitar tepi jalan tersebut.
Sedangkan pengemis tua itu sambil berjalan telah bersiul-siul kecil.
Wajahnya juga cerah sekali, tampaknya memang pengemis tua itu dan juga si bocah melakukan perjalanan dalam keadaan gembira.
Namun, disaat mereka berjalan tidak lama lagi, dari arah jurusan kampung Wie-san-cung tampak berdiri beberapa ekor kuda dengan cepat sekali.
Semua penunggang kuda itu terdiri dari lelaki yang bertubuh tinggi besar dan wajah mereka juga tampak bengis-bengis bukan main.
Di samping itu juga tampaknya mereka tengah memburu waktu, terlihat dari cara mereka telah melaratkan kuda tunggangan mereka dengan cepat dan tampaknya begitu tergesa-gesa sekali.
"Minggir! Minggir! Buka jalan!!"
Teriak penunggang-penunggang kuda itu dengan suara yang lantang dan nyaring bukan main, di samping bengis.
Si bocah dan pengemis tua itu bermaksud untuk menepi guna membuka jalan kepada penunggang-penunggang kuda itu.
Tetapi gerakan si bocah kurang cepat, terlambat sedikit, sehingga kuda yang berlari paling muka telah sampai, penunggangnya jadi sengit menduga bahwa si bocah ingin menghadang jalannya.
"Tarrrr.....!"
Keras bukan main cambuk ditangannya telah bergerak.
Punggung si bocah telah kena dihajar oleh cambuk itu keras sekali, sehingga si bocah selain menderita kesakitan dan kaget, juga telah terguling diatas tanah...........
menderita kesakitan bukan main.
Si pengemis yang menjadi kawan perjalanan si bocah waktu melihat apa yang dialami oleh bocah tersebut, tentu saja jadi terkejut bukan main.
Kegusaran si pengemis disebabkan ia telah melihat betapa penunggang kuda itu terlalu telengas dan juga galak sekali.
Dengan cepat dan mengeluarkan seruan perlahan, pengemis tua tersebut telah menggerakkan tangan kanannya menghantam kearah punggung si penunggang kuda.
Ternyata pengemis tersebut telah melancarkan serangan jarak jauh.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali .
"Rubuhlah!"
Dari telapak tangannya itu telah meluncur angin serangan yang kuat bukan main, dan meluncur cepat sekali kearah punggung kuda itu.
Sedangkan penunggang kuda yang tadi telah menghajar punggung si bocah dengan cambuknya, merasakan samberan angin serangan yang kuat bukan main, serangkum angin serangan yag menuju kepunggungnya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Dengan mengeluarkan suara seruan tertahan karena terkejut, ia telah memutar tubuhnya sambil mengibaskan tangan kanannya, maksudnya akan menangkis angin yang tengah menyambar kearah dirinya.
Tetapi apa lacur, justeru ia menangkis, seketika juga ia merasakan tekanan tenaga yang bukan main kerasnya.
Dan tubuhnya telah terjungkel dari punggung kuda tunggangannya itu, jatuh bergulingan diatas tanah.
Kuda tunggangannya itu telah meringkik dengan sepasang kaki depannya diangkat tinggi-tinggi, lalu berhenti.
Seperti juga binatang tunggangan tersebut mengerti bahwa majikannya telah terguling rubuh dari punggungnya.
Kawan-kawan si penunggang kuda yang memang berlari disebelah belakangnya, jadi terkejut melihat apa yang dialami kawan mereka yang seorang itu.
Dengan mengeluarkan suara yang keras, mereka telah menahan larinya kuda masing-masing.
Dengan gerakan yang ringan, mereka telah berlompatan turun dari kuda masing-masing.
Lalu mereka telah memandang kearah si pengemis tua dengan sorot mata yang bengis dan wajah memancarkan kemurkaan.
"Siapa kau pengemis buruk?"
Bentak mereka hampir berbareng.
"Mengapa kau demikian usil telah berani begitu kurang ajar mengganggu kawan kami?"
Suara orang itu bengis dan bukan main galaknya, mereka memperlihatkan sikap seperti ingin menghajar pengemis tua tersebut.
Tetapi pengemis tua tersebut bersikap tenang sekali.
Dia malah tertawa dingin, katanya dengan suara yang tawar.
"Hemmm, seharusnya bukan kalian yang bertanya kepadaku, tetapi justeru akulah yang harus bertanya kepada kalian, mengapa kawanmu itu begitu usil, tidak hujan tidak angin telah menghajar kawan kecilku itu dengan cambuknya, sehingga kawan itu terjungkel? Aku Ang Sam Kay paling tidak senang melihat orang berlaku sewenang-wenang! Jika memang kalian tidak bersikap usil, tentu akupun tidak akan mau tahu apa yang ingin kalian kerjakan!"
Maka penunggang-penunggang kuda itu telah berobah hebat, mereka berjumlah enam orang dan telah mengeluarkan suara erangan yang sangat bengis, karena rupanya tengah diliputi kemarahan yang bukan main.
Tampaknya perkataan pengemis tua itu telah membuatnya jadi begitu gusar.
"Hemmm, pengemis busuk yang tidak tahu mampus! Kau berani mencari urusan dengan Liok Sian Wie San (Enam Dewa dari Wie-san-cung)?"
Bentak salah seorang diantara mereka dengan suara yang seram sekali. Bengis bukan main.
"Berarti kau mencari mampus untuk dirimu sendiri dan juga si setan kecil itu...!"
Dan membarengi dengan suara bentakannya itu, dengan cepat sekali orang tersebut, telah menggerakkan tangan kanannya dia telah melancarkan serangan dengan pukulan yang mengandung tenaga serangan yang kuat sekali mengincar dada dari pengemis tua tersebut, yang tidak lain dari Ang Sam Kay.
Melihat orang telah melancarkan serangan seperti itu, Ang Sam Kay mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin.
Dia mana jeri berurusan dengan serangan seperti itu?!
Dengan mengeluarkan suara tertawa dingin, dia telah menggerakan tangan kanannya, cepat bukan main ia telah melancarkan tangkisan yang kuat sekali.
Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay mengandung kekuatan tenaga dalam yang bukan main, sehingga telah membuat tubuh orang yang menyerang dirinya itu terhuyung-huyung akan rubuh terguling diatas tanah.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Tentu saja hal ini selain membuat terkejut penyerangnya, juga telah membuat terperanjat kawan-kawannya.
Mereka tidak menyangka bahwa pengemis tua yang tampaknya sudah lanjut benar usianya dan kurus kerempeng seperti berpenyakitan, ternyata memiliki kekuatan tenaga yang bukan main hebatnya.
Dengan sendirinya mereka tidak berani memandang rendah lagi pada pengemis tua tersebut.
Disamping itu, kenyataan seperti ini juga telah membuat keenam orang Liok Sian Wie San itu tambah penasaran sekali.
Terlebih lagi memang kawan mereka yang seorang itu, yang tadi telah kena dirubuhkan oleh serangan pengemis tersebut.
Tentu saja dia murka bukan main, sampai tububnya menggigil.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras dan bengis sekali, tampak ia telah menjejakkan kakinya.
Tubuhnya bagaikan terbang telah melayang akan menerjang dan malancarkan serangan pada Ang Sam Kay.
Melihat cara menyerang orang tersebut, Ang Sam Kay mendengus dingin, lalu dengan cepat sekali dia telah menggerakkan kedua tangannya menangkis.
Gerakan yang dipergunakannya adalah Kim Liong Sam Cut (Naga Emas tiga kali keluar), kedua tangannya itu memiliki tenaga serangan yang keluar secara bergelombang sebanyak tiga kali.
Gerakan yang dilakukan oleh orang ini mengandung tenaga serangan yang bukan main kuatnya.
Di samping itu, ia juga memang mengincer bagian-bagian yang mematikan ditubuh Ang Sam Kay.
Tentu saja lawan dari Ang Sam Kay terkejut, dikala tenaga mereka tengah bentrok begitu, tiba-tiba telah menerjang pula pada dirinya serangkum angin serangan yang lainnya dan belum lagi ia mengetahui apa yang terjadi, telah menyambar lagi serangkum serangan yang kuat dan dahsyat bukan kepalang, sehingga tanpa ampun lagi tubuh orang itu telah terpental, ambruk diatas tanah, lalu menggeliat kesakitan, memuntahkan darah segar.
Rupanya ia telah terluka berat sekali.
Kelima orang Liok Sian Wie San yang menyaksikan saudara mereka yang seorang itu telah kena dirubuhkan begitu rupa dan malah telah kena dilukai hebat demikian, tentu saja jadi murka.
Mereka bermaksud akan menerjang berbareng untuk melakukan pengeroyokan.
Tetapi belum lagi kelima orang Liok Sian Wie San sempat untuk melancarkan serangan kepada Ang Sam Kay, tiba-tiba dikejauhan telah terdengar suara tertawa yang begitu menyeramkan, karena suara tertawa yang terdengar cukup jauh itu merupakan suara tertawa bercampur tangis.
Kontan muka kelima orang Liok Sian Wie San berobah pucat pias, tampaknya mereka ketakutan bukan main.
"Akhhh, mengapa kita harus melayani pengemis busuk ini! Bukankah kita tadi tengah mengejar waktu uutuk menjauhkan diri dari ancaman ketiga momok itu?!"
Kata salah seorang diantara mereka. Dan kelima orang ini bersiap-siap untuk mengangkat saudara mereka yang seorang itu, yang tengah berada dalam keadaan terluka parah.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Tetapi belum lagi mereka sempat untuk kabur, dan disaat Ang Sam Kay serta Eng Song hanya mengawasi dengan terheran-heran, suara tertawa itu telah terdengar semakin keras.
Dan kelima Liok Sian Wie San semakin gugup dan ketakutan setengah mati, tubuh mereka juga menggigil.
Ang Sam Kay jadi mengerutkan sepasang alisnya.
Kalau menurut penglihatannya bahwa kepandaiannya yang dimiliki Liok Sian Wie San cukup lumayan, walaupun tidak dapat disebut sempurna, namun memang cukup tinggi.
Maha dari itu, siapakah pemilik suara tertawa yang terdengar menyeramkan itu, yang telah membuat keenam Liok Sian Wie San telah ketakutan begitu rupa?
Sedangkan orangnya belum muncul, baru mendengar suara tertawanya saja, Liok San Wie San telah ketakutan setengah mati.
Dengan sendirinya, Ang Sam Kay dapat menduganya, setidak-tidaknya pemilik suara itu adalah seorang yang memiliki kepandaian yang tinggi dan juga memiliki tangan yang telengas sekali.
Satu lagi bukti yang bisa diperlihatkan bahwa orang itu memiliki kepandaian yang tinggi.
Karena pertamanya suara tertawanya terdengar perlahan, tetapi kemudian didalam waktu yang singkat sekejap mata saja, telah terdengar begitu dekat, hal ini tentu saja memperlihatkan bahwa Ginkang (ilmu meringankan tubuh) dari orang yang memiliki suara tertawa yang menyeramkan itu sangatlah tinggi.
Dan belum lagi Ang Sam Kay sempat untuk berpikir terlebih jauh, disaat itulah telah terdengar suara tertawa yang jelas dan tampak muncul tiga sosok tubuh yang berkelebat cepat sekali.
Kelima orang Liok Sian Wie San tampak jadi begitu gugup.
Mereka telah berdiri dengan tubuh yang agak gemetar.
Malah tubuh dari kawan mereka yang seorang yang telah terbinasa itu, yang tadinya telah terangkat sebagian, telah terlepas dan jatuh ambruk ditanah kembali.
Tampaknya mereka ketakutan bukan main, dan ketiga sosok tubuh yang baru muncul itu seperti juga tiga orang yang sangat ditakuti oleh mereka.
"Liok Sian Wie San...!"
Terdengar salah seorang dari ketiga orang tersebut telah membentak dengan suara yang keras bukan main.
"Biarpun kalian melarikan diri keujung bumi sekalipun, tetap saja kalian harus mampus!!"
"Ihhh....!"
Terdengar salah seorang diantara ketiga orang itu yang lainnya, dengan suara seperti juga dia sangat terkejut sekali.
"Rupanya seorang dari Liok Sian Wie San telah mampus! Hmmm! Ini meringankan beban kita!"
Liok Sian Wie San tampak tambah ketaktuan bukan main.
Mereka semua berdiri dengan muka yang agak pucat.
Dan rupanya disebabkan mereka menyadari juga bahwa mereka tidak mungkin untuk dapat melarikan diri, dengan sendirinya mereka jadi nekad.
Cepat sekali mereka telah mengeluarkan suara bentakan dan tahu-tahu kelima Liok Sian Wie San telah menerjang serentak dengan gerakan yang cepat sekali.
"Kami akan mengadu jiwa dengan kalian!"
Teriak dua orang Liok Sian Wie San.
"Kalian terlalu mendesak kami!!"
Dan setelah itu, kelima orang dari Liok Sian Wie San telah mengempos semangat mereka dan telah melancarkan serangan yang beruntun sekali.
Gerakan yang dilakukan oleh kelima Liok Sian Wie San ini memiliki kekuatan yang bukan main, dan juga mengandung tenaga lwekang yang dahsyat.
Hal ini disebabkan mereka memang menyadari, bahwa mereka harus mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang ada padanya untuk dapat menyerang lebih dahulu dari ketiga orang yang menakuti hati mereka.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Ketiga orang yang baru tiba itu telah mendengus dengan suara yang dingin, salah seoraag telah berkata .
"Souwciu Sam Sat (Tiga Momok dari Souwciu) paling pantang memberikan kesempatan kepada korbannya untuk hidup terus! Kalian memang harus mampus!!"
Di saat itu serangan kelima dari Liok Sian Wie San telah tiba.
Mereka memang telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
Namun dengan tenang, ketiga orang yang menamakan dirinya sebagai Souwciu Sam Sat itu telah mengeluarkan suara tertawa gelak-gelak, kemudian telah bergerak dengan gerakan yang cepat serta gesit.
Malah tampak mereka telah menggerakkan kedua tangan mereka masing-masing.
Gerakan mereka begitu cepat dan hebat sekali, maka terjadi suatu hal yang mengerikan!
Dengan tidak terduga-duga, kelima orang Liok Sian Wie San telah terpental dengan mengeluarkan suara yang mengerikan sekali.
Dan yang lebih hebat serta mengerikan adalah kesudahannya, tampak lima batok kepala bergelinding!
Rupanya kelima orang Liok Sian Wie San telah terbinasa oleh Souwciu Sam Sat dengan batok kepala masing-masing telah terputus dari batang leher!
Mengerikan bukan main kematian mereka, sehingga Ang Sam Kay serta Eng Song telah memandang dengan perasaan ngeri.
Karena Liok Sian Wie San telah menemui kematian yang sangat mengerikan seperti itu.
Terlebih-lebih waktu mereka bisa melihat jelas wajah dari ketiga orang yang menamakan diri mereka sebagai Souwciu Sam Sat.
Hati mereka semakin ngiris.
Mereka melihatnya ketiga orang yang bergelar Souwciu Sam Sat itu masing-masing memiliki wajah yang sangat buruk sekali, sehingga wajah mereka menyerupai muka seekor kera.
Dan lebih mirip sebagai muka tengkorak.
Dengan sendirinya hal ini membuat mereka jadi begitu buruk.
Mungkin pula sebagai manusia yang paling buruk di permukaan bumi.
Kenyataan seperti ini, tentu saja cocok dengon gelaran mereka, yang bergelar sebagai Souwciu Sam Sat, memang wajah mereka mirip sekali sebagai tiga orang momok yang sangat menakutkan sekali.
Di antara semua itu, diantara keheningan yang mengerikan itu, diantara kesemua yang ada itu, didengarnya ketiga orang momok yang sangat menakutkan bukan main itu telah mengeluarkan suara tertawa gelak-gelak yang sangat menakutkan sekali.
Sedangkan Ang Sam Kay telah menghampiri orang momok tersebut.
Dia telah merangkapkan sepasang tangannya menjurah.
"Terima kasih atas bantuan kalian bertiga yang telah membereskan nyawa kelima orang manusia jahat itu....!"
Kata Ang Sam Kay. Tetapi dengan tidak terduga, ketiga orang momok yang bergelar Souwciu Sam Sat itu telah mengeluarkan suara tertawa mengejek.
"Hemmm, apa bagusnya kami menolongi kalian berdua pengemis busuk? Kalian tidak ada artinya dimata kami! Kami melakukan semuanya ini bukan untuk kepentingan kalian berdua, tetapi untuk kepentingan kami sendiri! Karena kalian telah menyaksikan peristiwa seperti ini maka kalian berdua, setan kecil dan tua bangka, harus mampus!"
"Hahh?"
Tentu saja Ang Sam Kay jadi kaget berbareng heran, dicampur oleh perasaan mendongkol.
Baca Juga: Dewi Maut 11
Baca Juga: Jaka Lola 8