Ceritasilat Novel Online

Pendekar Bunga 3

Eps 3 Pendekar Bunga - Chin Yung

Baca online Pendekar Bunga - Chin Yung

Cersil Pendekar Bunga - Chin Yung.

Tetapi belum lagi Ang Sam Kay sempat untuk melampiaskan kemendongkolannya itu dengan memaki ketiga momok tersebut, disaat itu salah seorang diantara mereka malah telah menggerakkan tangan kanannya dengan gerakan yang bukan main cepatnya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Malah, Ang Sam Kay merasakan samberan angin serangan itu luar biasa sekali.

Hal ini membuktikan bahwa tenaga serangan yang dilancarkan oleh momok tersebut memiliki kekuatan yang bukan main.

Tentu saja Ang Sam Kay jadi gusar bukan main, karena dia segera mengetahui bahwa serangan yang dipergunakan oleh momok yang seorang ini mengandung tenaga membunuh.

Jelasnya memang momok tersebut bermaksud ingin membinasakan Ang Sam Kay.

Dan mungkin juga mereka menduga bahwa Ang Sam Kay hanyalah pengemis biasa yang hanya mengerti sedikit-sedikit ilmu silat.

Dengan cepat Ang Sam Kay mengempos tenaganya, karena dia rnengetahuinya bahwa ketiga momok dari Souwciu tersebut memang merupakan momok yang bukan sembarangan, dan tidak boleh dipandang enteng.

Biar bagaimana Ang Sam Kay tidak mau mengambil risiko buat dirinya.

Di saat dia menangkis, Ang Sam Kay juga telah menyalurkan tenaga dalamnya, maka dari kedua telapak tangannya telah mengalir keluar kekuatan serangkum angin serangan yang dahsyat.

Waktu kekuatan tenaga dalam dari Ang Sam Kay membentur tenaga momok yang melancarkan serangan padanya itu, maka momok itu telah mengeluarkan suara teriakan kaget dan tubuhnya telah terhuyung mundur.

"Ihhhh......!"

Berseru kedua Momok yang lainnya waktu mereka melihat apa yang dialami oleh kawan mereka.

"Rupanya pengemis busuk tua ini memiliki kepandain yang lumayan!!"

Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, kedua Momok ini juga telah melancarkan serangan kepada Ang Sam Kay.

Namun sekarang disebabkan mereka telah mengetahui bahwa Ang Sam Kay memiliki kepandaian yang tinggi, dengan sendirinya mereka juga melancarkan serangan yang kuat dan cepat sekali.

Malah tenaga mereka merupakan tenaga maut yang dapat menghancur lumatkan batu gunung yang keras bagaimanapun juga.

Ang Sam Kay tidak jeri.

Karena diapun telah mendongkol melihat ketelengasan tangan dari ketiga Sam Sat ini, dengan sendirinya dia juga telah mempergunakan kekuatan yang bukan main dahsyatnya untuk melayani ketiga lawannya ini.

Dengan cara demikian, Ang Sam Kay berarti telah dikeroyok oleh ketiga lawannya itu, yang masing-masing memang ternyata memiliki kepandaian yang bukan main.

Eng Song melihat Ang Sam Kay dikeroyok begitu rupa, jadi memandang dengan perasaan berkuatir sekali.

Biar bagaimana dia jadi memandang dengan perasaan tegang, karena dia juga merasakan bahwa tenaga serangan dari ketiga Sam Sat itu tentunya merupakan tenaga yang mematikan, sebab kalau tidak, tentunya Ang Sam Kay dengan mudah dapat melayaninya dan meloloskan diri.

Namun kenyataan seperti ini mau tidak mau telah mengejutkan hati Eng Song, dia melihat Ang Sam Kay telah terdesak sampai tampaknya sibuk sekali untuk melayani kesana-kemari dengan gerakan yang tidak hentinya.

Dan diantara menderu angin serangan itu, Eng Song melihat debu telah mengepul tinggi, disamping daun-daun kering yang telah berterbangan terhembus oleh angin serangan dari keempat orang yang tengah bertempur ini.

Sam Sat juga tampaknya terkejut bukan main.

Tadinya mereka menyangka bahwa pengemis tua ini hanyalah pengemis biasa saja dan memiliki kepandaian yang biasa pula.

Namun siapa tahu pengemis tua ini justeru memiliki kepandaian yang demikian tinggi.

Dengan sendirinya, mau tidak mau memang hal ini membuat Sam Sat jadi begitu kaget dan telah mengeluarkan seluruh kepandaian mereka untuk merubuhkan Ang Sam Kay.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Pengemis tua Ang Sam Kay juga telah berpikir didalam hatinya, bahwa ia menghadapi Sam Sat tidak dapat dengan mempergunakan cara biasa.

Biar bagaimana memang ia harus dapat mempergunakan seluruh kepandaian yang ada padanya, agar dapat melancarkan serangan-serangan yang luar biaaa kuatnya.

Di antara semua itu, dengan cepat Ang Sam Kay telah merobah cara bertempurnya.

Dia telah memperhebat tenaga serangannya dan juga disamping itu ia telah mengempos semangat murninya, melancarkan serangan dengan penuh perhitungan.

Sam Sat yang merasakan hebatnya tenaga serangan dari Ang Sam Kay, telah terdorong mundur dan melompat kebelakang untuk menghindarkan diri dari serangkum angin serangan yang sangat berbahaya itu.

Namun apa daya, disaat itu Ang Sam Kay rupanya sudah berkeputusan untuk dapat merubuhkan ketiga lawannya yang bertangan telengas dan juga kejam sekali.

Dengan sendirinya Ang Sam Kay bertindak tidak tanggung-tanggung.

Dengan mengeluarkan suara pekik yang menyerupai raungan yang keras, sepasang tangan Ang Sam Kay telah dikebutkan, dan dengan mempergunakan gerakan "Naga Melangkah Tujuh Bulan", cepat bukan main, serangkum angin yang dahsyat sekali telah menerjang.

Terjangan tenaga dalam yang bukan main hebatnya itu telah membuat ketiga Sam Sat terhuyung mundur lagi, hal ini seumur hidupnya belum pernah dialami oleh Sam Sat.

Maka mereka jadi terkejut dan terheran-heran sekali.

"Siapa kau sesungguhnya pengemis tua yang busuk?"

Tegur salah seorang yang diantara Sam Sat dengan suara yang bengis bukan main.

"Kalian terlalu bengis dan jahat sekali, maka dari itu tidak perlu kalian mengetahui siapa aku, karena kalian memang harus mampus!!"

Kata Ang Sam Kay dalam keadaan mendongkol dan telah menggerakkan kedua tangannya, dia telah melancarkan serangan pula.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay ternyata memang hebat sekali, karena dia telah mempergunakan gerakan-gerakan ilmu simpanannya.

Dengan sendirinya, tubuh ketiga orang Sam Sat itu terhuyung kembali.

Walaupun ketiga orang Sam Sat telah berusaha untuk membendung tenaga serangan itu, namun kenyataannya mereka tidak berhasil.

Malah mereka telah terdesak seperti juga akan rubuh terguling.

Hal ini tentu saja membuat mereka jadi ciut.

Mereka segera menyadarinya bahwa si pengemis tua Ang Sam Kay ini adalah seorang pengemis yang tangguh dan memiliki kepandaian yang bukan main hebatnya.

"Hemmmm, hari ini kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk melayanimu! Tinggalkan nama dan gelaranmu, suatu hari nanti kami akan mencarimu!"

Bentak salah seorang Sam Sat dengan suara yang tetap bengis. Ang Sam Kay tertawa dingin, dia telah mendengus mengejek.

"Hemmmm.... kalau memang nanti kalian ingin mencariku, itupun boleh!!"

Dia menyahuti dingin.

"Aku biasa dipanggil Ang Sam Kay!!"

"Hemmm, baiklah! Ang Sam Kay, tunggulah kedatangan kami nanti, karena batok kepala kau juga harus sama seperti apa yang dialami Liok Sian Wie San, harus putus dari batang lehermu!"

"Mengapa tidak sekarang saja?"

Tegur Ang Sam Kay dengan suara yang mengejek.

Betapa murkanya Sam Sat, tetapi disebabkan mereka menyadari melayani pengemis tua ini juga tidak ada gunanya, karena Ang Sam Kay terlalu tangguh, maka mereka telah mengawasi mendelik dengan memperdengarkan suara tertawa mendengus mengejek, kemudian mereka telahCHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat dengan gerakan yang cepat sekali, mereka telah menghilang dengan cepat.

Ang Sam Kay telah mendengus mengejek, lalu mengajak Eng Song untuk meninggalkan tempat tersebut.

Eng Song kagum sekali melihat kepandaian pengemis tua Ang Sam Kay ini, karena dia telah menyaksikan, Sam Sat yang memiliki kepandaian yang begitu tinggi, ternyata tidak berdaya menghadapi Ang Sam Kay.

Kedua orang inipun telah melakukan perjalanan mereka lagi......

--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 8 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ SUARA gentang dan genta dipukul ramai sekali, diantara suara musik-musik terompet atau lainnya memenuhi perkampungan Wunan-sie-cung.

Karena pada saat itu kebetulan sekali jatuh pada hari pesta Goan-siauw, semacam pesta Cap-gomeh.

Orang-orang yang berkeliaran dijalan-jalan raya juga sangat banyak sekali, karena mereka memang ikut merayakan pesta Goan-siauw itu.

Semuanya berpakaian mentereng dan rapi, memakai baju baru.

Di antara keramaian yang ada, dan juga di antara orang-orang penduduk kampung yang berpakaian bagus-bagus itu, tampak berjalan seorang pengemis tua dan seoraug pengemis cilik dengan sikap yang masa bodoh pada keramaian yang ada.

Mereka telah menuju kesebuah kuil yang berada didekat mulut kampung.

Pengemis tua itu telah mengetuk pintu kuil.

Dan ketika pintu kuil di buka, tampak keluar seorang Totong (hweshio kecil).

"Ada urusan apa kalian datang ke mari?"

Tanya Totong itu tidak senang, karena tadinya dia menduga yang datang adalah orang yang ingin bersembahyang, tidak tahunya hanyalah pengemis belaka.

Dengan sendirinya dia jadi kecewa dan tidak seorang melihat kedatangan kedua pengernis ini.

Tetapi pengemis yang tua itu telah tersenyum.

"Kami ingin menumpang, Siauw Suhu!"

Katanya dengan tidak ragu-ragu.

"Ya, kami ingin menumpang, Suhu!"

Kata pengemis cilik itu juga. Muka si Totong telah berobah, dia benar-benar merasa tidak senang dan mendongkol.

"Menumpang? Kalian kira ini rumah nenek moyangmu sehingga begitu mudah mengatakan ingin menumpang?"

Tegurnya gusar.

Jilid 6

"IHHHHH........ bukankah setiap kuil harus menjalankan amal kebaikan dan selalu menulungi orang yang sedang kesusahan?"

Tanya pengemis tua itu. Tetapi Totong itu malah jadi tambah gusar, dia mendengus dengan suara mengejek.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

"Hemmmmm, kalian mencari tempat lain saja......... karena kami tidak menerima pengemis untuk menumpang di tempat kami! Lagi pula kalian hanyalah merupakan manusia-manusia pemalas yang tidak patut ditulung! Kalian masih memiliki tenaga, tetapi kalian telah menjalankan pekerjaan mengemis!! Pergilah!!"

Tetapi berbarengan dengan perkataan .

"Pergilah.....!"

Dari si Totong, tahu-tahu terdengar suara "Ploookkkkk! Plookkkk!"

Beberapa kali, disusul pula oleh suara jeritan kesakitan dari Totong kecil itu. Rupanya mulutnya telah kena ditempeleng oleh pengemis tua itu.

"Siauw Suhu, mulutmu terlalu jahat!!"

Kata pengemis tua itu mendongkol. Sedangkan si Totong dengan kesakitan telah undur kebelakang beberapa tindak. Mukanya pucat. Matanya juga telah terpentang lebar-lebar.

"Kau...... kau berani menghina orang dan menganiaya diriku disiang hari bolong seperti ini? Apakah kalian ingin merampok disiang hari?!"

Makian Totong itu rupanya bukan membawa keuntungan buat Totong itu, karena pengemis tua itu dengan cepat sekali telah menggerakkan kedua tangannya, segera terdengar suara "plooook, plooookkkk!"

Berulang kali, dan dengan mudah sekali, pengemis tua itu telah menjambak baju didekat dada Totong itu, maka diangkatnya tubuh si Totong, lalu dibantingnya diatas tanah dengan keras.

Tubuh Totong itu telah terbanting bergulingan diatas tanah, dia juga telah mengeluarkan suara jerit kesakitan yang bukan main.

Disamping itu, diantara peristiwa tersebut, pengemis kecil itu telah duduk dilatar dimuka kuil.

Tampaknya acuh tak acah.

Si Totong telah melompat berdiri sambil memaki-maki kalang kabutan.

Dia merasa murka bukan main telah diperlakukan begitu kasar oleh pengemis tua tersebut.

"Jembel busuk!! Jembel busuk!!"

Teriak si Totong dengan murka.

"Rupanya kau mencari penyakit berani mengacau dikuil kami, heh?"

Tetapi belum lagi suara si Totong habis diucapkannya, disaat itulah telah terlihat tangan dari pengemis tua itu telah bergerak lagi. Gerakannya begitu cepat, dia telah menghajar muka si Totong.

"bukkkk....!"

Dan segera juga "crrrrroooooottt!"

Darah merah mengucur keluar dari hidung si Totong kecil itu.

Totong itu juga telah mengeluarkan suara jerit kesakitan, dia ketakutan sekali dan merasa ngeri melihat darah yang mengucur keluar dari hidungnya.

Tubuhnya menggigil, karena disaat itulah nyalinya baru pecah.....!

Dengan cepat pengemis tua itu telah berkata dengan suara yang tawar .

"Jika memang kau keberatan untuk menerima kami menumpang dikuil kalian, dilain saat janganlah bicara dengan sikap yang begitu kasar. Sebetulnya jika aku menginginkan jiwamu, bisa saja aku mengambilnya, namun kali ini masih mau aku mengampuni jiwamu.....! Dan pengemis tua itu telah mengawasi mendelik Totong kecil yang telah ketakutan. Namun disaat itulah, dari dalam kuil telah melangkah keluar seorang hweshio yang berusia lanjut.

"Ada apa ribut-ribut?!"

Tanya hweshio tua yang kurang lebih berusia diantara enam puluh tahun itu dengan suara yang sabar. Dia memelihara jenggot yang panjang dan telah memutih.

"Mengapa kau menjerit-jerit ribut begitu?"CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Mendengar suara si hweshio tua, keberanian si Totong jadi terbangun.

"Suhu (guru), ada dua orang pengemis jahat yang telah memaksa ingin menumpang dan juga ingin merampok barang kali! Totong itu telah melapor. Sepasang alis si hweshio tua yang telah lanjut usianya itu berkerut. Pengemis tua yang tadi tela menghajar Totong itu juga mendengar perkataan si Totong. Tahu-tahu dia mengeluarkan seruan marah dan telah melompat mengayunkan tangannya sambil membentak .

"Ohhh, pendeta cilik bermulut jahat!! Kau telah memberikan laporan yang tidak-tidak!!"

Bentaknya disertai oleh ayunan tangannya karena dia ingin menghajar mulut Totong itu lagi.

Si Totong menjerit ketakutan.

Karena tadi dia telah merasakan betapa sakitnya dihajar oleh pengemis tua itu.

Maka dari itu, dia juga telah melompat mundur.

Di saat itulah, hweshio tua yang baru keluar telah mengibaskan lengan jubahnya.

"Berrrr!"

Serangkum angin yang kuat sekali telah menerjang menangkis serangan tangan pengemis tua itu.

Seketika itu juga si pengemis tua tersebut merasakan betapa tenaga serangannya jadi macet ditengah udara terbendung oleh kekuatan tenaga yang bukan main kuatnya.

Tentu saja pengemis tua itu jadi terkejut, karena dia dapat merasakannya bahwa bendungan tenaga dari kibasan lengan jubah pendeta tua itu terlalu kuat.

Dengan sendirinya pula, hal itu telah memperlihatkan bahwa tenaga lwekang yang dimiliki oleh pendeta tua itu bukan main tingginya.

Cepat sekali dia telah menarik pulang tangannya dan berdiri menghadapi pendeta tua itu, yang saat itu si pendeta tua tengah berdiri dengan sikap yang tenang sekali.

"Siapakah Taysu?"

Tanya pengemis tua tersebut dengan suara yang tawar.

"Lolap bergelar Wie Ceng Siansu!"

Menjelaskan pendeta tua itu.

"Dan merupakan pengurus dari kuil ini!"

Si pengemis telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah menjurah memberi hormat.

"Aku biasa dipanggil dengan sebutan Ang Sam Kay, tetapi disamping itu, aku juga biasanya dikenal sebagai pengemis tidak bernama!"

Menjelaskan pengemis tua itu.

"Dan kalau memang sekiranya Taysu tidak keberatan, kami ingin menumpang dikuil Taysu".

"Hemmmm.... urusan menumpang dikuil kami memang bukan merupakan hal yang sulit, kami selalu akan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk menumpang! Tetapi menurut penglihatan Lolap, tidak sepantasnya Siecu (tuan) melakukan kekerasan pada anak murid Lolap!"

Teguran pendeta itu bernada dingin sekali.

Tampaknya dia tidak senang melihat anak muridnya si Totong cilik itu telah dihajar oleh pengemis tua tersebut.

Pengemis tua itu, ternyata tidak lain dari Ang Sam Kay, dan pengemis cilik itu adalah Eng Song, telah tertawa.

"Mungkin Taysu salah mata....!"

Kata Ang Sam Kay dingin.

"Sesungguhnya kami datang secara baik, tetapi Siauw Suhu itu telah menerima kami dengan kasar dan mengeluarkan kata-kata makian yang terlalu kotor! Apakah sebagai seorang pengikut muda dari sang Budha pantas memiliki mulut yang begitu kotor?"

Ditegur demikian oleh Ang Sam Kay, wajah Wie Ceng Siansu jadi berobah.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

"Tegasnya Lolap tidak senang jika kedatangan siecu hanya menimbulkan onar!"

Kata si pendeta tua tersebut.

"Lalu apa yang diinginkan oleh Taysu?"

"Jelas Lolap ingin melihat berapa tinggi kepandaian Siecu sehinga ingin mengacaukan kuil kami!!"

Muka Ang Sam Kay jadi berobah. Itu urusan yang mudah! Aku juga bersedia untuk main-main beberapa jurus dengan Taysu!"

Waktu menyahuti begitu, hati Ang Sam Kay gusar sekali, sebab dilihatnya betapa pendeta tua ini juga memiliki sifat yarg terlalu kukuh, dan terlalu mau mempercayai keterangan anak muridnya belaka.

"Hemmmm...... biar bagaimana kenyataan seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!"

Kata Wie Ceng Siansu saat itu.

"Karena sekarang bisa terjadi urusan seperti ini, dan dilain waktu nanti bisa muncul peristiwa-peristiwa seperti ini pula! Maka Siecu harus mempertanggung jawabkan apa yang telah Siecu lakukan terhadap murid Lolap!!"

"Dengan cara apa Taysu ingin menyelesaikan persoalan ini?"

Tanya Ang Sam Kay dengan suara yang tawar.

"Hemmmmm......."

Mendengus pendeta tua itu dengan suara yang tawar juga, wajahnya juga dingin tidak memperlihatkan perasaan apapun juga.

"Tentunya sebagai seorang yang mengerti boge (ilmu silat) dan juga berkeliaran didalam rimba persilatan, tentunya Siecu mengerti apa yang diinginkan oleh Lolap!!"

Dan pendeta ini menyelesaikan perkataannya dengan menggerakkan tangannya dia mengibaskan lengan jubahnya yang longgar itu.

Kebutan lengan jubahnya ternyata membawa angin serangan yang luar biasa kuatnya.

"Wuttttt....!"

Angin serangan itu telah menerjang kearah pengemis tua itu.

Gerakan yang dilakukan oleh pendeta itu sangat cepat sekali.

Tentu saja hal ini membuktikan betapa kuatnya tenaga dalam yang dimiliki oleh pendeta ini.

Dan Ang Sam Kay juga menyadarinya bahwa ia tidak boleh main-main dengan pendeta yang tangguh ini.

Cepat sekali, Ang Sam Kay telah mengempos seluruh kekuatannya, dipusatkan didalam pusarnya, lalu menyalurkan enam bagian ketelapak tangannya.

Dia telah menangkisnya, keras dilawan dengan kekerasan pula.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay juga cepat bukan main.

Hal ini disebabkan Ang Sam Kay juga penasaran, ingin sekali dia mengetahui berapa tinggi kepandaian yang dimiliki oleh pengurus kuil yang sudah lanjut usianya ini.

"Bukkkkkkkkk!"

Dua kekuatan yang dahsyat telah saling bentur ditengah udara.

Dan benturan kedua tenaga raksasa yang kuat itu telah menggetarkan keadaan disekitar tempat tersebut, sehingga Eng Song yang berdiri dilatar kuil itu merasakan getaran yang terjadi.

Cepat bukan main, tampak pula angin serangan yang dilancarkan oleh Ang Sam Kay bukan merupakan satu jurus, karena telah memecah kebeberapa bagian, sehingga jubah pendeta tua itu berkibar-kibar.

"Ihhhh....!"

Wie Ceng Siansu telah mengeluarkan suara seruan.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Tampaknya dia terkejut sekali menerima kenyataan seperti ini, karena dia telah melihatnya betapa kepandaian yang dimiliki oleh pengemis tua Ang Sam Kay bukan main tingginya dan juga tenaga lwekangnya ternyata tidak berada disebelah bawahnya.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay ternyata merupakan gerakan dari "Naga Melangkah Sepuluh Penjuru", maka dari itu, tidak mengherankan jika tenaga serangannya juga bisa memencar begitu banyak jurusan.

Cepat-cepat pendeta tua Wie Ceng Siansu telah mengempos semangat dan tenaganya.

Dengan gerakan yang bukan main cepatnya dia telah menyalurkan tenaga dalamnya pada lengannya.

Dia menggerakkan kedua lengannya seperti juga gerakan seekor belut.

Disamping itu, dia juga telah mengempos mempergunakan tenaga yang hebat sekali.

Maka tidak mengherankan dari sekujur tubuhnya telah mengalir keluar tenaga yang sangat kuat sekali.

Dan juga disebabkan tenaga dalam yang meluncur keluar itu dari sekujur tubuhnya tidak mengherankan pula jika jubahnya telah berobah keras bagaikan baja.

Ternyata, kedua orang yang tengah mengadu kekuatan tenaga dalam ini, memiliki kekuatan yang berimbang dan kepandaian yang sebanding.

Cepat sekali, diantara angin yang menderu-deru itu, tampak Ang Sam Kay telah mendengus, dia telah merangkapkan sepasang tangannya.

Dengan sikap seperti seorang yang membungkuk sedikit bagaikan memberi hormat, cepat sekali dia telah menghembuskan kekuatan tenaga dalam yang luar biasa sekali.

Sedangkan pandeta tua Wie Ceng Siansu telah merangkapkan sepasang tangannya dengan sikap seperti juga sikap seorang Lohan, dia telah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya dengan sikap kedua tangan melintang dimuka dadanya.

Kembali dua kekuatan yang bukan main kuatnya telah saling bentur ditengah udara.

Benturan yang terjadi itu memang memiliki kekuatan yang sangat hebat sekali.

Dengan sendirinya, keadaan disekitar depan kuil itu tergetar lagi, bagaikan terjadinya sebuah gempa bumi.

Si Totong kecil yang tadi kena dihajar oleh Ang Sam Kay jadi berdiri bengong.

Dia jadi menggidik ngeri sendirinya membayangkan betapa tadi dia begitu berani mati berlaku kasar terhadap Ang Sam Kay.

Coba tadi kalau sampai Ang Sam Kay menurunkan tangan keras padanya, bukankah berarti dia sudah akan terbinasa disaat itu juga, sebelum gurunya itu muncul keluar dari dalam kuil?

Teringat akan hal itu, hati si Totong jadi ngiris sendirinya.

Di saat itulah, dengan mengeluarkan suara seruan yang nyaring, tampak Ang Sam Kay telah menggerak-gerakan kedua tangannya.

Dia bagaikan ingin melancarkan serangan dengan kekuatan yang ada untuk menggempur dinding pertahanan dari hweshio tua Wie Ceng Siansu.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay bukankah gerakan biasa saja.

Karena gerakan yang dilancarkan oleh Ang Sam Kay ini memiliki nama "Sepasang Naga memperebutkan Mutiara" (Jie Liong Jo Cu).

Juga diantara gelombang tenaga yang kuat seperti itu, mengandung tenaga yang bisa melumpuhkan.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Tentu saja pendeta tua Wie Ceng Siansu jadi terperanjat bukan main.

Dia mengeluh sendirinya, karena biar bagaimana dia harus dapat mempertahankan diri untuk dapat mempertahankan serangan dari Ang Sam Kay agar dirinya tidak rubuh terguling diatas tanah.

Biar bagaimana memang Wie Ceng Siansu harus mengakuinya bahwa kepandaian yang dimiliki oleh Ang Sam Kay tangguh sekali.

Maka dari itu, sambil menghadapi terjangan-terjangan dari tenaga serangan Ang Sam Kay, Wie Ceng Siansu diam-diam juga telah berpikir keras.

Entah siapa sesungguhnya pengemis tua yang bergelar sebagai Ang Sam Kay.

Selama usianya yang telah lanjut itu, sesungguhnya Wie Ceng Siansu telah banyak sekali memiliki pengalaman dan juga memang telah berkelana dibanyak tempat di dalam rimba persilatan.

Namun kenyataannya selama itu dia tidak pernah mendengar gelaran Ang Sam Kay.

Jika memang Ang Sam Kay merupakan tokoh baru didalam rimba persilatan, mengapa kepandaiannya sudah begitu tinggi dan juga memang usianya telah begitu lanjut?

Hal inilah yang telah membuat Wie Ceng Siansu jadi terheran-heran dan juga diliputi oleh berbagai pertanyaan.

Di saat itu, serangan yang dilancarkan oleh Ang Sam Kay telah menerjang datang dengan terjangan yang kuat sekali.

Mau tidak mau Wie Ceng Siansu tidak bisa berpikir lebih lanjut.

Karena biar bagaimana dia memang harus dapat mengempos tenaganya, dia telah menangkis lagi.

Begitulah, kedua orang ini telah saling terjang dan menangkis tidak hentinya.

Dan juga disaat itu pula, tampak Wie Ceng Siansu karena menyadari lawannya merupakan seorang pengemis yang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, iapun tidak berani memandang remeh dan juga.

telah bersungguh-sungguh hati untuk menghadapinya.

Di samping itu, pendeta tua Wie Ceng Siansu merasa kagum juga.

Dia penasaran pula ingin melihat betapa tinggi sesungguhnya kepandaian Ang Sam Kay.

Maka telah diemposnya seluruh kekuatannya.

Waktu dilihatnya ada kesempatan, Wie Ceng Siansu dengan cepat sekali telah melancarkan serangan yang luar biasa dahsyatnya disertai oleh suara bentakannya.

"Rubuhlah kau!"

Bentaknya.

Angin serangannya menderu kuat sekali, menghantam Ang Sam Kay.

Ang Sam Kay terkejut melihat cara menyerang Wie Ceng Siansu.

Terlebih lagi ketika Ang Sam Kay merasakan betapa angin serangan itu mengandung kekuatan yang mematikan.

Maka cepat-cepat Ang Sam Kay juga telah menangkis.

Tangkisan yang dilakukannya ini bukan sembarangan tangkisan.

Ang Sam Kay telah menangkis dengan mempergunakan sembilan bagian dari keseluruhan tenaga dalam yang dimilikinya itu, maka bisa dibayangkan betapa hebatnya kekuatan tenaga tersebut.

Wie Ceng Siansu merasakan betapa tenaga serangannya telah kena terbendung oleh kekuatan tenaga dalam Ang Sam Kay.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Dengan sendirinya, segera juga terlihat betapa tenaganya tidak berdaya untuk menerobos dan menerjang perbentengan Ang Sam Kay, sebab tenaga Wie Ceng Siansu seperti punah begitu saja.

Dengan hati penasaran, Wie Ceng Siansu telah mengeluarkan suara bentakan lagi.

Dia telah melancarkan serangan lagi dengan bentakan yang mengguntur, dan tenaga dalam yang dipergunakannya semakin keras dan kuat.

Dan sasaran yang diarahnya adalah bagian dada dari pengemis tua tersebut.

Ang Sam Kay tidak jeri sedikitpun juga melihat hebatnya tenaga serangan pendeta ini.

Malah dia jadi mendongkol sekali.

"Hemmmmm, aku mau lihat, sampai berapa tinggi kepandaian kepala gundul ini...?!"

Berpikir Ang Sam Kay dengan hati yang mendongkol.

Maka dari itu, dia telah melancarkan serangan yang kuat sekali untuk memunahkan serangan Wie Ceng Siansu.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay merupakan gerakan yang mengandung tenaga maut.

Di samping itu, juga memang merupakan gerakan yang sangat mematikan.

Hal ini mau tidak mau memaksa Wie Ceng Siansu terhuyung mundur kebelakang dan kemudian melompat lagi beberapa tombak ke belakang.

Wajahnya tampak agak pucat.

"Hemmmm....!"

Mendengus Wie Ceng Siansu dengan suara yang penuh kemurkaan.

"Ternyata kau memiliki kepandaian yang tinggi, sehingga kau memang sengaja ingin mengacaukan kuil kami!!"

Lalu dengan penasaran, Wie Ceng Siansu telah mengempos tenaganya.

Dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya yaitu "Sam Lui" (tiga petir), yang merupakan ilmu yang terlalu hebat dan tidak akan dipergunakannya jika tidak sedang dalam keadaan terpaksa benar.

Tubuh pendeta tua itu telah bergetar keras sekali, juga mukanya telah berobah merah padam.

Dia telah mengempos seluruh kekuatannya, sampai kedua kakinya yang berdiri tegap itu telah meleesak kedalam tanah dan tergetar.

Hal ini memperlihatkan bahwa ilmu yang dipergunakan oleh Wie Ceng Siansu merupakan ilmu yang bukan main dahsyatnya.

Dengan sendirinya, mau tidak mau di dalam hal merupakan hal yang terlalu hebat untuk melakukan pertempuran dengan lawan yang memiliki kepandaian biasa saja.

Karena Sam Lui merupakan pukulan yang dapat mematikan lawannya sekali saja terkena pada korbannya.

Hati Ang Sam Kay tercekat juga.

Dia memandang dengan perasaan tergoncang juga.

Karena Ang Sam Kay melihat betapa Wie Ceng Siansu tengah mengerahkan tenaga yang bukan main dahsyatnya dan tengah mempergunakan tenaga untuk menyerang yang terlalu ampuh.

Eng Song yang melihat keadaan Wie Ceng Siansu juga jadi berdebar hatinya.

Bocah ini menyadarinya bahwa Ang Sam Kay menghadapi lawan yang berat.

Maka dari itu, mau tidak mau Eng Song ikut berkuatir akan diri Ang Sam Kay.

Si Totong kecil memandang dengan perasaan puas.

Karena dia melihat gurunya telah mempergunakan ilmu yang hebat dan tampak Ang Sam Kay terkejut.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Maka dia yakin gurunya pasti akan dapat memenangkan pertempuran ini.

"Hemmm... kau terlalu hebat!"

Berseru Wie Ceng Siansu dengan suara yang mendesis.

"Dan memaksa Lolap untuk mempergunakan ilmu yang hebat pula!!"

Ang Sam Kay telah tertawa dingin.

"Tidak usah malu-malu, keluarkanlah seluruh ilmumu!"

Ejeknya.

Dengan mengeluarkan suara erangan, tampak Wie Ceng Siansu telah melancarkan serangan yang kuat sekali.

Gerakan ang dilakukan oleh Wie Ceog Siansu ternyata agak lambat.

Namun kesudahannya luar biasa sekali.

Bagaikan halilintar, tenaga dalam yang terluncur keluar itu menerjang kearah Ang Sam Kay.

Tentu saja Ang Sam Kay tidak mau menyambutinya dengan kekerasan.

Dia telah melompat kesamping mengelakkan diri.

Tenaga serangan dari Wie Ceng Siansu yang tidak berhasil mengenai sasarannya itu jadi menghantam sebatang pohon yang tumbuh didepan kuil tersebut.

"Derr...!"

Bagaikan petir, tenaga itu telah menghajar batang pohon dan seketika itu juga batang pobon ini telah hangus, bagaikan disambar petir...!

Ang Sam Kay yang menyaksikan hal ini, tercekat hatinya, karena biar bagaimana memang kenyataan seperti ini mau tidak mau telah membuatnya menggidik.

Si pengemis tua ini membayangkan, bagaimana keadaan dirinya jika tadi serangan yaag dilancarkan oleh Wie Ceng Siansu itu berhasil mengenai sasarannya?

Tentu saja Ang Sam Kay cepat-cepat memperhatikan baik-baik segala gerakan dari Wie Ceng Siansu.

Sedikit saja dia salah perhitungan, niscaya dirinya yang akan celaka.

Sedangkan saat itu Wie Ceng Siansu yang melihat serangan pertama dengan gerakan Sam Luinya itu telah gagal, dia mengeluarkan suara erangan.

Tahu-tahu kedua tangannya telah digerakkan dari kedua telapak tangannya itu, telah tersalur keluar serangkum angin serangan yang bukan main kuatnya.

Ang Sam Kay memperhatikannya baik-baik.

Belum lagi angin serangan Sam Lui yang dilancarkan oleh Wie Ceng Siansu itu tiba maka Ang Sam Kay telah merasakan betapa serangan ini menimbulkan hawa panas yang seakan ingin membakar.

Tentu saja dia terkejut.

Dia menyedotnya dalam.

Lalu menjejakan kedua kakinya, cepat luar biasa tubuhnya telah mencelat ketengah udara.

Gerakan yang dilakukan oleh Ang Sam Kay merupakan gerakan yang gesit sekali, maka kembali angin serangan yang dilancarkan oleh Wie Ceng Siansu mengenai tempat kosong.

Dengan sendirinya, serangan itu menghantam tanah dan debu bertebaran.

Ang Sam Kay sendiri telah berpikir, bahwa ia tidak boleh berlaku ayal dan juga tidak boleh membiarkan Wie Ceng Siansu selalu melancarkan serangan-serangannya itu.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Mau tidak mau dia harus mendahului melancarkan serangannya, agar Wie Ceng Siansu tidak memiliki kesempatan lagi untuk melancarkan serangan.

Maka, waktu tubuhnya tengah meluncur turun kebawah, disaat itulah Ang Sam Kay tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, dia telah mengeluarkan suara teriakan yang nyaring sambil melancarkan pukulan dengan pinggir telapak tangannya kearah batok kepala dari Wie Ceng Siansu yang gundul itu.

Wie Ceng Siansu tengah kecewa dan murka melihat betapa serangannya kembali mengenai tempat kosong.

Di saat itulah dia melihat Ang Sam Kay melancarkan serangannya akan menggeplak hancur batok kepalanya.

Maka dia jadi tambah murka.

Dengan mengeluarkan suara raungan dan erangan yang keras sekali, Wie Ceng Siansu telah menangkisnya.

"Bukkkkkkkk.......!"

Terjadilah bentrokan kedua tangan itu.

Tubuh Ang Sam Kay yang memang tengah terapung ditengah udara jadi terpental.

Keras bukan main tubuh Ang Sam Kay telah melayang-layang ditengah udara, kemudian setelah berjumpalitan beberapa kali berputar ditengah udara, tubuh Ang Sam Kay telah turun ditanah dalam keadaan selamat.

Saat itu, Wie Ceng Siansu tengah terkejut pula, karena dia merasakan waktu tadi tangannya saling bentrok dengan tangan Ang Sam Kay, dia merasakan tindihan tenaga yang bukan main kuatnya.

Tubuhnya sampai tergetar dan tergoncang keras sekali terhuyung mundur kebelakang.

Diantara berkesiuran angin serangan Ang Sam Kay yang tadi, Wie Ceng Siansu merasakan darahnya seperti meluap, membuat seluruh pembuluh darah dikeningnya jadi mengeras.

Tentu saja kejadian seperti ini mengejutkan sekali pendeta tersebut.

Biar bagaimana dia jadi terheran-heran, entah ilmu apa yang tadi dipergunakan oleh Ang Sam Kay untuk melancarkan serangan kepadanya.

Baru saja Wie Ceng Siansu ingin mengempol dan melancarkan serangan lagi dengan kekuatan tenaga yang bukan main kuatnya, disaat itulah dengan kecepatan luar biasa Ang Sam Kay telah melancarkan serangan pula dengan tubuh yang telah mencelat cepat sekali.

Wie Ceng Siansu bersiap-siap untuk menyambuti serangan Ang Sam Kay dengan tangkisan yang dahsyat.

Namun belum lagi serangan Ang Sam Kay tiba pada sasarannya, disaat itu terdengar suara seruan yang halus .

"Untuk apa mengadu jiwa?!"

Dan dengan terdengarnya suara itu, tampak menyusul beberapa titik-titik putih yang menerjang kearah Ang Sam Kay.

Dengan terkejut Ang Sam Kay menarik pulang tenaga serangannya.

Karena Ang Sam Kay merasakan waktu tubuhnya itu kena dihantam oleh butir-butir itu, maka dia merasakan serangan hawa dingin yang luar biasa kuatnya, sehingga tubuhnya menggigil keras sekali.

Tetapi benturan bintik-bintik putih itu tidak membahayakan jiwanya.

Dengan perasaan heran yang bukan main Ang Sam Kay telah meluncur turun, berdiri ditanah sambil matanya mencilak mengawasi sekitar tempat itu.

Begitu pula Wie Ceng Siansu.

Dia telah mendengar bentakan suara halus itu, juga dia telah melihatnya betapa bintik-bintik putih yang telah menghajar telak sekali tubuh Ang Sam Kay,CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

dengan sendirinya Wie Ceng Siansu jadi terheran-heran, karena dia tidak mengetahuinya, entah siapa yang malancarkan serangan itu kepada Ang Sam Kay.

Namun mereka tidak usah berpikir terlalu lama, sebab disaat itulah telah terlihat, betapa dari balik sebatang pohon disebelah kanan pintu kuil, tampak melangkah keluar sesosok tubuh berpakaian putih.

Waktu semua orang telah menoleh, mereka melihat jelas, sosok tubuh itu tidak lain dari seorang wanita yang berusia masih muda.

Seorang gadis yang cantik manis dan berpakaian serba putih, dengan topi yang bewarna putih pula, terbuat dari bulu.

Ang Sam Kay mengerutkan sepasang alisnya waktu melihat gadis ini.

Dia tidak mengenali, entah siapa gadis putih ini.

Apakah kawannya Wie Ceng Siansu.

Sedangkan Wie Ceng Siansu sendiri juga terheran-heran melihat munculnya gadis itu.

Dia sama sekali tidak mengenal siapa gadis berpakaian serba putih ini.

Si gadis yang berpakaian serba putih telah tersenyum dengan sikap yang manis sekali.

"Selamat bertemu! Selamat bertemu!"

Katanya dengan suara yang ramah.

"Mengapa kalian bertempur begitu hebat seperti juga kalian tidak menghargai jiwa masing-masing? Mengapa harus bertempur mati-matian mempertahankan jiwa begitu?"

Halus sekali suara gadis itu. Ang Sam Kay telah mendengus, dia melirik kearah pedang yang tergantung di pinggang gadis itu. Dan pedang panjang di pinggang si gadis juga berwarna putih.

"Siapa kau? Mengapa kau menyerang aku secara menggelap begitu?"

Tegur Ang Sam Kay dengan suara yang tawar. Si gadis telah tersenyum manis.

"Maafkan paman pengemis!"

Katanya dengan suara yang tetap halus.

"Tadi Siauwlie bukan melancarkan serangan menggelap! Siauwlie juga yakin, jika Siauwlie melancarkan serangan dengan cara terbuka, paman pengemis tidak mungkin dapat mengelakannya, umpamanya seperti ini...!"

Dan setelah berkata begitu, gadis yang berwajah cantik dan berpakaian serba putih itu telah menggerakkan tangannya, jari tangannya menjentikkan sesuatu.

Tampak beberapa titik-titik putih telah melesat cepat sekali kearah Ang Sam Kay.

Tentu saja Ang Sam Kay mendongkol bukan main, sambil mendengus dia mencelat kesamping untuk mengelakkan diri.

Tetapi, bintik putih itu seperti juga memiliki mata dan seperti terkendali.

Karena dengan cepat bintik-bintik putih itu juga telah terbelok dan menghantam Ang Sam Kay!

Tentu saja Ang Sam Kay terkejut bukan main, ia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Dan yang lebih mengejutkan hati Ang Sam Kay, begitu bintik-bintik putih itu menghajar tubuhnya, seketika itu juga tubuhnya menggigil dingin bukan main.

Serangkum angin yang dingin sekali, seperti menusuk kedalam tulang dan melebihi dinginnya es, telah menerjang masuk kedalam tubuhnya.

Tentu saja hal ini telah membuat Ang Sam Kay terkejut berbarengan heran.

Entah bintik-bintik putih itu merupakan benda apa yang dapat menimbulkan akibat yang demikian hebat?

Sedang Ang Sam Kay terheran-heran begitu, disaat itulah si gadis berpakaian serba putih itu telah berkata deagan suara yang dingin.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

"Hemmm, bukankah perkataan Siauwlie ada benarnya?"

Katanya.

"Biar bagaimana paman pengemis tidak bisa mengelakkan diri dari serangan Sin Tan (peluru sakti) dari Siauwlie!"

Dan kemudian gadis berpakaian serba putih itu telah tertawa dengan suara yang lembut. Dengan sendirinya, disaat itulah, Wie Ceng Siansu tertawa mengejek kearah Ang Sam Kay.

"Hemmm..... maka dari itu, janganlah menjadi seorang yang terkebur!!!"

Ejek pendeta ini dengan suara penuh kemendongkolan.

Dia mengejek begitu, rupanya Wie Ceng Siansu ingin melampiaskan perasaan mendongkolnya.

Tetapi disaat Ang Sam Kay menoleh dengan mata mendelik kearah Wie Ceng Siansu, disaat itulah gadis berpakaian serba putih telah tertawa kecil.

Tahu-tahu jari telunjuknya telah menjentik.

Dan dua titik putih menyambar ke arah Wie Ceng Siansu.

Tentu saja pendeta ini jadi terkejut bukan main, dia sampai mengeluarkan seruan marah dan bermaksud akan menyampok jatuh dua titik putih itu.

Namun dia gagal.

Karena dengan tepat sekali kedua titik putih itu telah menghantam telak dada dari Wie Ceng Siansu.

Terdengar seruan kaget dari Wie Ceng Siansu, dan tampak tubuh pendeta ini telah gemetaran keras sekali seperti orang kedinginan.

Ternyata waktu dua titik putih itu telah mengenai dadanya, memang benar tidak mendatangkan rasa sakit, tetapi Wie Ceng Siansu merasakan serangan hawa dingin yang luar biasa telah menerjang dirinya.

Hal ini tentu saja selain mengejutkannya juga sangat mengherankan sekali.

Benda putih itu, yang dinamakan oleh gadis berpakaian serba putih itu, dengan nama Sin Tan, peluru sakti, entah terbuat dari benda apa.

Hawa dingin yang menerjang kearah Wie Ceng Siansu jauh lebih dingin dari es.

"Benda...... benda apa yang kau pergunakan ini?"

Bentak Wie Ceng Siansu dengan gusar.

"Ilmu siluman apa yang kau pergunakan?"

Tetapi gadis berpakaian serba putih itu telah tertawa tawar.

"Hemmmm, Siauwlie tentu saja tidak akan mempergunakan ilmu siluman! Karena Siauwlie juga tidak akan mempelajari ilmu siluman! Guru Siauwlie mana memberikan ijinnya untuk Siauwlie mempelajari ilmu siluman? Itulah yang dinamakan Sin Tan, dan hati-hati terhadapnya, jika Sianwlie melancarkan serangan dengan mempergunakan tenaga yang disertai pada luncuran Sin Tan itu, hawa dingin yang akan menerjang pada kalian tentu akan jauh lebih hebat!"

Wie Ceng Siansu dan juga Ang Sam Kay, atau Eng Song dan si Totong kecil itu, jadi kaget bukan main.

Ajaib sekali!

Memang peluru putih yang dinamakan Sin Tan itu memiliki kehebatan yang luar biasa.

Seperti tadi Eng Song telah melihatnya, betapa tubuh Ang Sam Kay gemetaran keras sekali, disamping juga tubuh dari Wie Ceng Siansu telah menggigil keras.

bagaikan tengah kedinginan yang sangat.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Dengan sendirinya, hal itu telah memperlihatkan bahwa peluru sakti yang dipergunakan oleh si gadis memang memiliki kehebatan yang luar biasa. Muka Wie Ceng Siansu saat itu telah berobah merah padam.

"Sebenarnya siapakah engkau ini?"

Tegurnya.

"Mengapa kau muncul dikuil Lolap untuk menambah kericuhan belaka?!"

Gadis berpakaian putih itu telah tertawa manis, baru dia meyahuti .

"Siauwlie she Cu Sing Hong", katanya dengan suara yang lembut.

"Dan juga kebetulan saja tadi Siauwlie lewat disini, dan melihat kalian tengah mengadu kekuatan untuk saling bunuh! Siauwlie melihat kepandaian kalian cukup tinggi, jarang sekali orang yang memiliki kepandaian seperti kalian! Maka dari itu, jika memang kalian terbunuh, bukankah hal ini harus dibuat sayang?!"

Ang Sam Kay telah mengawasi berdiam diri, tetapi Wie Ceng Siansu yang merasa dipermainkan oleh gadis ini, jadi mendongkol bukan main, telah mendengus dengan suara yang dingin.

"Hemmmm..... memang sungguh kebetulan hari ini Lolap kedatangan tamu-tamu tidak diundang dan sengaja ingin membuat kericuhan ditempat ini! Baiklah! Sekarang Lolap ingin melihat sampai berapa tinggi kepandaian yang kalian miliki! Tadi pengemis itu telah Lolap rasakan tengannya, sekarang engkau!"

Dan tanpa menunggu habis perkataan itu, dengan cepat Wie Ceng Siansu telah melancarkan serangannya.

Dia menggerakkan kedua tangannya itu dengan gerakan yang berbareng.

Dan serangan yang dilancarkannya ini mempergunakan kekuatan tenaga lwekang yang bukan main dahsyatnya, karena Wie Ceng Siansu melancarkan serangan dengan mempergunakan ilmu Sam Lui.

Dengan sendirinya, hawa serangannya dari angin yang meluncur kearah si gadis bukan main kuatnya dan juga mengandung hawa yang panas sekali.

Gadis yang berpakaian serba putih itu tetap berlaku tenang-tenang saja, berdiri tegak ditempatnya dengan bibir yang tersenyum manis.

Dia telah menggerakkan tangan kanannya dan menyentikkan jari telunjuknya, maka meluncurlah dua titik putih lagi.

Cuma saja, kali ini dua titik putih itu telah meluncur demikian kuatnya.

Dan dua titik putih itu, tidak dapat dihindarkan oleh Wie Ceng Siansu, sehingga dia terkejut bukan main, sampai mengeluarkan suara seruan kaget.

Dengan cepat dia telah melompat kesamping, namun terlambat.

Hawa dingin telah menerobos kedalam pori-pori kulitnya, menerjang daging tubuhnya dan ketulang.

Pendeta tua ini jadi menggigil kedinginan.

Walaupun Wie Ceng Siansu telah mengempos semangat murninya untuk menghangati tubuhnya, namun dia tidak berhasil sama sekali untuk menyalurkan kekuatan hawa murni ditubuhnya itu.

sehingga dia tetap saja diserang oleh hawa dingin yang luas biasa.

Tubuh pendeta ini jadi menggigil keras, mau tidak mau dia juga merasa malu juga.

Seumur hidupnya baru mengalami kejadian aneh seperti ini.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Wie Ceng Siansu merupakan seorang tokoh didalam rimba persilatan, dia memiliki nama yang sangat harum disebabkan kepandaian yang sangat tinggi dimilikinya.

Maka dari itu, mau tidak mau hal ini telah membuat dia jadi terkenal sekali.

Namun hari ini, dia bisa menggigil begitu, tentu saja hal ini telah membuatnya dia jadi malu sekali.

Tetapi disebabkan hawa dingin yang menyerang dirinya begitu keras, sehingga giginya bercatrukan keras sekali, dengan sendirinya dia mau tidak mau jadi harus duduk bersemedhi guna memulihkan semangatnya.

Si gadis yang berpakaian serba putih itu telah tertawa lebar.

"Tadi Siauwlie hanya main-main dengan serangan Siauwlie, coba kalau Siauwlie bersungguh-sungguh, tentu jalan darah di sekujur tubuh Taysu telah membeku kaku, berarti kematian buat Taysu!!"

Tentu saja Ang Sam Kay jadi kaget setengah mati.

Begitu pula Wie Ceng Siansu, ia jadi kaget setengah mati.

Namun disebabkan serangan hawa dingin terlalu hebat, maka mau tidak mau dia tidak memperhatikan perkataan si gadis, dia telah mengempos seluruh hawa murni ditubuhnya.

Hawa hangat telah menyelubung naik kedadanya, kemudian kepusarnya, lalu kesekujur tubuhnya.

Agak sulit juga dia menyalurkan hawa murninya itu, sampai akhirnya dia berhasil juga.

Dengan bersusah payah dia dapat mengatasi serangan hawa dingin itu, maka membuktikan bahwa serangan hawa dingin tersebut memang sangat hebat.

Dan mungkin juga perkataan gadis itu memang benar, karena kalau sampai hawa dingin itu menyerang lebih hebat kepada diri si hweshio, tentunya Wie Ceng Siansu akan mengalami ancaman yang tidak kecil.

Wie Ceng Siansu jadi menggidik sendirinya membayangkan betapa beratnya tenaga serangan hawa dingin itu.

Sambil menghela napas, dia telah bangkit berdiri dengan wajah yang agak pucat.

"Terima kasih atas pelajaran Siauw Siocia (nona kecil)! Wie Ceng Siansu tidak akan melupakan budi kebaikan ini!"

Kata Wie Ceng Siansu. Si gadis tertawa.

"Jangan sakit hati, Taysu! Siauwlie hanya main-main!!"

Katanya. Tetapi Wie Ceog Siansu tengah mendongkol, dia telah menyahuti .

"Lolap kira, untuk bergurau itu ada batasnya....!"

Katanya tawar. Tetapi Cu Sing Hong telah tertawa. Dia menoleh kepada Ang Sam Kay.

"Dan kau paman pengemis, apakah kau bersakit hati juga padaku?!"

Tanyanya.

"Memang tidak adil! Kau telah melancarkan serangan satu kali, maka dari itu, kami juga harus melancarkan serangan satu kali pula!"

"Silahkan!"

Tantang si gadis.

Ang Sam Kay bersiap-siap.

Pengemis tua ini telah mengempos semangat yang dimilikinya, dia telah menyalurkan kekuatan murninya pada kedua telapak tangannya itu, dia telah mengeluarkan suara seruanCHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

nyaring, lalu tahu-tahu menggerakkan kedua telapak tangannya, sehingga mengeluarkan suara angin serangan "wuttttt!"

Yang keras sekali.

Rupanya Ang Sam Kay juga penasaran sekali melihat gadis yang muda usia ini bisa membuat dirinya bernama Wie Ceng Siansu kewalahan begitu.

Di samping menduga-duga, entah murid siapa gadis cantik yang tangguh ini, Ang Sam Kay juga ingin melihat berapa tinggi sesungguhnya kepandaian dari si gadis yang cantik manis ini.

Itulah sebabnya Ang Sam Kay telah melancarkan serangan dengan tenaga yang bukan main kuatnya.

Dia melancarkan serangannya itu dengan mempergunakan tenaga yang luar biasa sekali.

Karena dia memang ingin menerjang dengan kekuatan yang ada padanya untuk mencoba kehebatan tenaga tangkisan gadis manis itu.

Namun si gadis Cu Sing Hong hanya berdiam diri saja ditempatnya.

Sedikitpun dia tidak bergerak dari tempatnya berpijak, malah mengawasi saja datangnya serangan dari pengemis tua Ang Sam Kay.

Sikap gadis ini tentu saja telak membuat Ang Sam Kay jadi mendongkol sekali.

Maka dari itu tenaga serangannya itu tidak di kuranginya.

Dia telah melancarkan serangan dengan pukulan yang bukan main hebatnya.

Cu Sing Hong telah berseru .

"Sebuah pukulan yang kuat dan indah!"

Dan ketika pukulan yang dilancarkan oleh Ang Sam Kay hampir tiba, dengan gerakan yang gesit bukan main, tampak gadis cantik ini telah menjejakkan kakinya.

Tubuhnya dengan cepat telah mencelat kesamping, dan mempergunakan kesempatan itu, tampak kaki kanan dan gadis she Cu tersebut bergerak.

Dan gerakannya itu memiliki kecepatan yang sangat hebat, sukar diikuti oleh pandangan mata.

Dengan sendirnya, ketika tendangan itu tiba, dan telak sekali menghantam pergelangan tangan dari Ang Sam Kay, menyebabkan Ang Sam Kay merasakan pergelangan tangannya sakit luar biasa.

Hal ini mengejutkan sekali hati Ang Sam Kay, baru dia ingin menarik pulang tenaga serangannya, untuk melancarkan serangan lagi, disaat itulah telah terlihat gadis cantik she Cu itu telah melancarkan pukulan dengan telapak tangannya.

Cu Sing Hong melancarkan serangannya itu dengan jarak jauh.

Kalaupun telapak tangannya tidak bisa mencapai sasaran, tetapi yang dipentingkan olehnya adalah angin serangannya yang kuat sekali.

Tubuh Ang Sam Kay jadi mengigil.

Inilah yang sangat mengejutkan Ang Sam Kay!

Tadinya pengemis tua ini menyangka bahwa serangan telapak tangan dari si gadis she Cu itu akan menimbulkan angin serangan yang kuat sekali.

Namun siapa sangka, justeru dari telapak tangan si gadis she Cu itu mengeluarkan angin serangan yang mengandung hawa dingin luar biasaan.

Maka dari itu serangan yang aneh seperti ini membingungkan hati Ang Sam Kay.

Belum lagi mengetahui apa yang harus dilakukannya, disaat terasa hawa dingin yang menerjang dirinya dengan demikian hebat.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Ang Sam Kay merasakan tububnya bagaikan direndam didalam kolam es.

Dan belum lagi dia bisa menyadari apa yang tengah terjadi, giginya telah bercatrukan dengan tubuh yang menggigil keras sekali.

Hawa dingin yang menerjang kearah dirinya bagaikan menerobos masuk ke dalam tulang sumsumnya.

Itulah yang mengejutkan Ang Sam Kay, sehingga pengemis tua ini telah mencelat mundur kebelakang, dia telah melompat mundur begitu untuk menjatuhkan diri bersemedhi, mengatur jalan pernapasannya, mengerahkan tenaga murninya untuk menghangatkan tubuhnya.

Sambil bersemedhi begitu, giginya tidak berhentinya bercatrukan, dia seperti orang yang kedinginan.

Sedangkan si gadis sudah tidak melancarkan serangannya lagi, dia telah berdiri tegak sambil tertawa manis mengawasi apa yang dilakukan oleh Ang Sam Kay........

--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 9 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ ENG SONG yang melihat apa yang dialami oleh si pengemis Ang Sam Kay, jadi memandang bengong, karena dia terkejut sekali.

Biar bagaimana Eng Song tadi telah menyaksikan betapa Wie Ceng Siansu telah dibuat menggigil keras pula seperti yang dialami oleh Ang Sam Kay sekarang ini.

Tentu saja hal itu telah memperlihatkan bahwa kepandaian yang dimiliki gadis she Cu tersebut memang tangguh sekali.

Dengan sendirinya, mau tidak mau hal ini telah membuat dia jadi terbengong-bengong keheranan.

Setahunya kepandaian yang dimiliki oleh Ang Sam Kay sangat tangguh sekali.

Namun sekarang, hanya sekali gebrak saja Ang Sam Kay telah dapat di buat menggigil begitu rupa, tentu saja hal ini merupakan kejadian yang mengejutkan sekali.

Setelah berselang semakin lama, akhirnya Ang Sam Kay mulai dapat menghangati tubuhnya dengan mempergunakan hawa murni ditubuhnya.

Wie Ceng Siansu yang menyaksikan perihal ini, jadi kaget bukan main.

Hatinya tercekat.

Dia jadi membayangkan kalau sampai terjadi suatu pertempuran dan gadis yang sakti ini dapat melancarkan serangan yang sesungguhnya, tentu celakalah dia!

Setelah hawa dingin lenyap menyerang dirinya, Ang Sam Kay berdiri dari duduknya, dia telah merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat kepada si gadis she Cu itu.

"Aku Ang Sam Kay sungguh-sungguh kagum atas kepandaian dan ilmu yang dimiliki nona......! Kalau memang mati, sekarang aku dapat mati puas dan dengan mata meram, karena telah dapat menyaksikan ilmu yang demikian mujijat! Nah, selamat berpisah nona, mudah-mudahan nanti kita memiliki kesempatan untuk saling jumpa pula....!"

Dan setelah berkata begitu, tanpa menoleh lagi kepada Wie Ceng Siansu, si pengemis tua ini telah menggapai Eng Song, lalu mengajak si bocah untuk berlalu dari tempat tersebut......

Eng Song telah mengintil saja dibelakang pengemis tua tersebut.

Dan akhirnya, mereka telah meninggalkan kuil tersebut cukup jauh.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Ang Sam Kay baru menghentikan langkah kakinya, dia menghela napas.

"Benar-benar sangat mengagumkan!! kata Ang Sam Kay pada Eng Song.

"Gadis itu memiliki ilmu yang luar biasa! Seumur hidupku, aku belum pernah mendengar atau melihat ilmu semacam itu, yang hebat luar biasa....!!"

"Siapa sebenarnya dia, paman pengemis?"

Tanya Eng Song dengan perasaan ingin tahu.

"Justeru itu aku juga tidak mengetahui siapa dia!"

Menyahuti Ang Sam Kay.

"Karena diapun memang merupakan seorang gadis yang baru muncul didalam rimba persilatan....! Hemmm, entah siapa gurunya! Tetapi setidak-tidaknya guru gadis itu memang seorang yang memiliki kepandaian yang bukan main tingginya! Benar-benar mengagumkan sekali!!"

Eng Song menghela napas.

Pikiran si bocah jadi berputar di saat itu, karena segera juga dia berpikir, jika memang dirinya seandainya memiliki kepandaian yang tinggi seperti gadis itu, tentunya dia akan dapat melaksanakan apa yang diinginkannya.

Tetapi disaat itulah, dengan cepat sekali terlihat dari jurusan depan tengah berlari dua ekor kuda dengan cepat sekali.

Dua orang pemuda sebagai penunggang kuda tersebut, mereka melarikan kuda tunggangan mereka dengan cepat sekali.

Waktu sampai didekat Ang Sam Kay dan Eng Song, kedua penunggang kuda itu telah berhenti melaratkan kuda mereka.

Keduanya telah melompat turun dari punggung kuda dengan gerakan yang lincah dan gesit sekali.

Mereka adalah dua orang pemuda yang berwajah cakap sekali.

Salah seorang diantara mereka telah merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat.

"Kami numpang bertanya paman pengemis! kata si pemuda yang seorang ini dengan suara yang ramah.

"Apakah paman pengemis melihat seseorang yang berpakaian serba putih? Dia seorang gadis yang masih muda sekali....!!"

Mendengar perkataan pemuda ini Eng Song dan pengemis tua Ang Sam Kay jadi terheran-heran.

Karena segera juga mereka mengetahuinya bahwa yang dimaksud oleh kedua pemuda ini tentunya si gadis berbaju putih Cu Sing Hong.

"Benar! Kami belum lama yang lalu saling jumpa!"

Kata Ang Sam Kay sambil menganggukkan kepalanya.

"Apakah kalian berdua mempunyai urusan dengan gadis itu?"

Wajah kedua pemuda itu tampak berseri kegirangan. Mereka telah mengangguk.

"Ya.... kami mempunyai urusan dengannya! Adik kami yang nomor tiga telah dibinasakan olehnya! Maka dari itu, kami ingin mengejarnya untuk melakukan pembalasan dendam padanya.....!"

Mendengar ini, Ang Sam Kay jadi terkejut bukan main. Cepat-cepat dia telah mengulap-ulapkan tangannya.

"Jangan! Jangan! Lebih baik kalian jangan mencari urusan dengan gadis itu! Dia terlalu tangguh dan memiliki kepandaian yang bukan main tingginya! Lebih baik kalian jangan bentrok dengannya!"

Wajah kedua pemuda itu telah berobah seketika itu juga, tampaknya mereka tidak puas dan tidak senang.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

"Hemmmm, paman pengemis mungkin telah menyaksikan kepandaian gadis itui?"

Tanyanya. Ang Sam Kay telah mengangguk cepat sekali.

"Ya, malah aku telah bertempur dengannya!"

Kata Ang Sam Kay. Aku telah melihatnya bahwa kepandaian yang dimiliki oleh gadis itu terlalu tangguh!!"

"Sekarang dia berada dimana, paman pengemis?"

Tanya kedua pemuda hampir berbarengan, dan bagaikan mereka ini sangat bernafsu sekali, tidak sabar.

"Dia mungkin masih berada di kuil yang tidak jauh dari tempat ini!!"

Menjelaskan Ang Sam Kay.

"Terima kasih! Terima kasih!!"

Kata kedua pemuda itu hampir berbareng.

Dengan cepat mereka telah mencelat keatas punggung kuda mereka dan telah berlari-lari dengan kecepaten yang bukan main.

Ang Sam Kay yang melihat sikap kedua pemuda yang tampan itu, telah mengela napas.

"Mereka hanya mencari pencari!"

Menggumam Ang Sam Kay dengan suara yang perlahan. Eng Song jadi berkuatir sekali.

"Apakah kedua pemuda itu tidak akan dicelakai oleh gadis yang memiliki kepandaian yang tangguh itu?"

Tanya Eng Song kemudian. Si pengemis tua Ang Sam Kay telah menghela napas lagi, dia telah menggelengkan kepalanya.

"Entahlah! Aku mana tahu! Kalau saja gadis itu memang tidak bertangan telengas, tentunya kedua pemuda itu masih memiliki kesempatan untuk hidup......!"

Mendengar perkataan Ang Sam Kay, Eng Song juga jadi menghela napas.

Karena dia tidak mengelahuinya entah bagaimana nantinya nasib dari kedua pemuda itu.

Ang Sam Kay telah mengajak Eng Song untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Di dalam waktu yang singkat, mereke telah meninggalkan perkampungan tersebut sejauh belasan lie.

Dan Eng Song telah merasa letih sekali.

Mereka mengasoh ditepi jalan.

Namun ketika mereka tengah berangin untuk melenyapkan perasaan letih mereka, tiba-tiba dari arah jurusan perkampungan yang baru saja mereka tinggalkan itu, telah berlari-lari dua ekor kuda.

Dan Ang Kay yang bermata jeli, dapat mengenali bahwa kedua kuda tunggangan itu adalah milik kedua pemuda tampan yang pernah bertemu dengan mereka.

Maka dari itu, cepat-cepat Ang Sam Kay telah melompat berdiri.

Begitu pula Eng Song.

Mereka ingin mendengar bagaimana hasil pertemuan antara kedua pemuda ini dengan si gadis yang berpakaian serba putih dan bernama Cu Sing Hong itu.

Namun Ang Sam Kay jadi terheran-heran.

Karena dia melihatnya betapa kedua kuda itu tanpa penunggangnya, berlari dengan cepat sekali.

Dan begitu juga Eng Song, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan saking heran melihat betapa kuda itu tanpa penumpang.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Namun karena Ang Sam Kay memang memiliki penglihatan yang tajam, dia melihat pada kedua ekor kuda tunggangan itu terdapat sesuatu yang ganjil.

Karena mereka telah melihatnya betapa pada kedua punggung kuda itu tergemblok sesuatu.

Waktu kuda tunggangan itu berlari telah mendekat ketempat Ang Sam Kay dan Eng Song berada, maka dengan cepat pengemis tua itu telah melompat menghadangnya.

Dia telah mencekal tali pelana kuda tersebut, dan menghentikan larinya kedua kuda tersebut.

Ternyata dipunggung itu terdapat dua sosok tubuh manusia!

Dan dua sosok tubuh manusia itu telah membeku menjadi mayat.

Dari kedua sosok tubuh tersebut juga memancarkan hawa yang dingin bukan main.

Seperti juga kedua sosok mayat ini memang telah direndam didalam air kolam es.

Cepat-cepat Ang Sam Kay telah menurunkan kedua sosok tubuh itu.

Ternyata kedua mayat itu tidak lain dari kedua pemuda yang pernah bertemu dengan mereka.

Eng Song dan Ang Sam Kay sampai mengeluarkan suara seruan kaget karena tercekat hati mereka.

Terlebih-lebih Eng Song, boah ini merasakan hatinya ngiris.

Karena dia melihat kedua pemuda itu telah menemui kematiannya disebabkan tubuhnya telah kaku dingin, dan Eng Song yang memang memiliki kecerdikan yang bukan main segera dapat menerkanya, bahwa kematian kedua orang pemuda ini tentunya disebabkan oleh serangan senjata es yang dingin dari gadis yang bernama Cu Sing Hong, yaitu peluru Sin Tan yang tangguh itu.

Kedua mata dari mayat kedua pemuda itu tampak mendelik lebar-lebar, tampaknya mereka sebelum menemui kematiannya, telah menderita ketakutan yang bukan main, dan juga tubuh mereka dingin memucat seperti juga telah terserang oleh hawa udara yang dingin sekali.

Tampaknya kematian yang mereka alami begitu tiba-tiba dan membuat mereka menderita sekali.

Tentu saja kenyataan seperti ini membuat Ang Sam Kay serta Eng Song jadi memandang bengong tanpa bergerak di tempat mereka.

Begitu ngiris hati mereka melihat kematian yang dialami oleh kedua pemuda ini.

Karena mereda mungkin juga telah mati tanpa mampu untuk memberikan perlawanan sama sekali, karena mereka didalam waktu sekejap mata telah menjadi mayat demikian rupa.

Dan juga rupanya si gadis Cu Sing Hong yang telah sengaja meletakan kedua mayat mereka diatas punggung kuda mereka masing-masing.

Dengan sendirinya, mau tak mau di dalam hal ini telah membuat Ang Sam Kay tidak senang juga, karena dari kematian kedua pemuda ini menunjukkan tangan si gadis Cu Sing Hong memang telengas.

"Hemmmm.....!"

Akhirnya Ang Sam Kay telah memhela napas panjang.

"Kalau kulihat demikian keadaannya, tentu sangat menakutkan sekali perkembangan didalam rimba persilatan! Setidak-tidaknya tentu didalam rimba persilatan akan timbul pergolakan yang hebat! Entah mengapa, akhirnya ini telah bermunculan banyak sekali jago-jago yang muda usianya tetapi memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Sungguh suatu hal yang sangat menguatirkan. Dan juga, disamping itu, memang harus diakui bahwa gelombang dari golongan muda telah mendamparkan gelombang-gelombang tua."CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Eng Song telah memeriksa kedua mayat pemuda itu, dia tidak melihat luka pada tubuh kedua mayat itu.

Hanya terlihat mereka menerima kematian dengan sepasang mata mendelik begitu saja dan dari mayat mereka memancarkan hawa udara yang dingin bukan main.

Ang Sam Kay telah mengajak Eng Song untuk menggali tenah ditepi jalan itu.

Mereka menggali kuburan untuk kedua pemuda yang telah menjadi mayat tersebut.

Setelah mengubur baik-baik kedua mayat tersebut, maka tampak Ang Sam Kay menepuk pantat kedua ekor binatang tunggangan itu, agar pergi dari tempat tersebut.

Sedangkan Ang Sam Kay dan Eng Song telah melanjutkan perjalanan mereka lagi dengan langkah kaki agak lesu.

Eng Song memikirkan mengapa gadis yang bernama Cu Sing Hong dapat memiliki kepandaian begitu tinggi, sedangkan Ang Sam Kay memikirkan bahwa heboh dan pergolakan yang akan timbul didalam rimba parsilatan tentu hebat sekali.

Karena belum lagi berselang lama, telah berguguran korba-korban ditangan gadis berbaju putih.

Dan mungkin juga, jika gadis cantik Cu Sing Hong tidak melihat bahwa usia Ang Sam Kay dan Wie Ceng Siansu telah lanjut, maka kedua jago tua ini akan dibinasakan juga.

Dan disebabkan Cu Sing Hong melihat bahwa Wie Ceng Siansu dan Ang Sam Kay merupaksn jago-jago tua, maka dia segan untuk turun tangan keras.

Hanya mempermainkan belaka dengan mempergunakan Sin Tannya.

Namun yang jelas, bahwa gadis berbaju putih yang menamakan dirinya Cu Sing Hong itu, pasti akan membuat gelombang dan badai yang sangat hebat sekali, kekacauan dan pembunuhan yang mengerikan akan bergolak di dalam rimba persilatan.

Seperti gadis itu saja, dia memiliki Sin Tan, peluru saktinya itu, yang benar terlalu hebat, sehingga dapat membinasakan seorang korban dengan mati tubuh beku.

Ang Sam Kay sendiri tidak bisa membayangkan, entah kejadian hebat apa yang akan melanda rimba persilatan dengan munculnya jago-jago muda seperti Cu Sing Hong ini....

karena peristiwa-peristiwa hebat seperti apa yang akan terjadi tidak dapat diramalkan oleh Ang Sam Kay.

Hanya yang dapat dirasakan oleh pengemis tua ini, bahwa di dalam rimba persilatan akan terjadi pergolakan yang hebat.

Hari telah mendekati senja, maka Ang Sam Kay dan Eng Song mencari salah satu rumah penduduk untuk bermalam, menghindarkan diri dari serangan hawa udara malam yang dingin.

Namun malam itu, Ang Sam Kay tidak dapat tidur nyenyak, karena pengemis tua ini memikirkan betapa kalangan Kang-ouw yang akan diamuk oleh gelombang yang sangat hebat, kancah kekacauan dan juga banjir darah yang akan terjadi....

sebab jago-jago muda yang seperti Cu Sing Hong itu, jelas akan memiliki darah muda, sehingga akan mudah pula jago-jago seperti dia menurunkan tangan telengas pada lawan-lawannya, merenggut nyawanya si korban.....

Keesokan paginya Ang Sam Kay telah mengajak Eng Song untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Pagi itu udara sangat cerah, matahari juga memancarkan sinarnya yang sangat cemerlang.

Angin berhembus sejuk, diantara burung-burung yang berkicauan.

Ang Sam Kay mengajak Eng Song mengambil kearah barat, karena Ang Sam Kay bermaksud untuk mengunjungi seorang sahabatnya yang lama tidak berjumpa, yaitu seorang jago tua yang bernama Cung So Liong, bergelar Kun Lun It Kiam (Pendekar Pedang Tunggal dari Kunlun-san), dikota Ma-leng-kwan.

Letak kota itu dari tempat Ang Sam Kay berada terpisah seratus lie lebih.

Dan kurang lebih memakan waktu masa perjalanan tiga hari.

Hari pertama selama dalam perjalanan tidak terjadi suatu urusan yang menarik untuk diceritakan.

Tetapi dihari kedua telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan Ang Sam Kay dan Eng Song.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Jilid 7 WAKTU sore dihari kedua dalam perjalanan mereka itu, Ang Sam Kay dan Eng Song telah menumpang menginap di sebuah kuil kecil yang tampaknya agak mesum, yang merupakan satu-satunya kuil yang terdapat dikota Siang-ku-kwan.

Kota ini memang merupakan sebuah kota yang tidak begitu besar.

Penduduknya juga tidak begitu banyak.

Di dalam kuil tempat Ang Sam Kay dan Eng Song menginap itu, diurus oleh delapan orang paderi yang masing-masing mengerti ilmu silat.

Mereka terdiri dan hweshio-hwesio yang ramah dan menyambut kedatangan Ang Sam Kay serta Eng Song dengan sikap yang ramah dan baik hati.

Ang Sam Kay berdua Eng Song telah diberikan kamar yang terletak dibelakang kuil, letaknya cukup baik dan kamar itu walaupun tidak begitu besar, namun merupakan kamar yang baik.

Tetapi menjelang tengah malam, di saat Ang Sam Kay dan Eng Song tertidur nyenyak, telah terdengar beruntun suara jeritan yang menyayatkan hati.

Dengan terkejut, Ang Sam Kay telah terlompat bangun dari tidurnya, dia membangunkan Eng Song.

Di saat itu telah terdengar pula suara jeritan yang melengking tinggi, mengiriskan bahi, seperti juga orang yang mengeluarkan suara jeritan itu mengalami suatu bencana yang menakuti hatinya atau juga memang menghadapi suatu kematian yang mengerikan.

"Kau dengar suara jeritan itu?"

Tanya Ang Sam Kay pada Eng Song. Pada saat itu sesungguhnya Eng Song masih mengantuk, karena dia tadi tengah lelap sekali dalam tidurnya. Eng Song mengangguk, sambil menghapus matanya.

"Suara jeritan itu mengerikan sekali, apa yang sesungguhnya telah terjadi, paman pengemis?"

Tanya Eng Song kemudian dengan suara yang ragu-ragu.

"Hemmmm...... tentu telah terjadi suatu urusan yang hebat! Mari kita pergi lihat!!"

Kata Ang Sam Kay.

"Atau engkau tunggu saja disini, aku yang pergi melihatnya keluar!"

Eng Song mengangguk mengiyakan.

Karena bocah ini berpikir, ia ikut serta juga hanya atau merepotkan belaka Ang Sam Kay jika suatu saat mereka menghadapi suatu ancaman bahaya.

Maka dari itu, dia telah berdiam diri saja didalam kamar itu, untuk menantikan kembalinya Ang Sam Kay.

Dengan cepat Ang Sam Kay telah keluar dari kamarnya itu.

Dengan gerakan yang ringan pengemis tua ini telah berlari-lari keruangan depan kuil.

Suasana saat itu sangat gelap, karena api-api penerangan disekeliling kuil itu tampak tidak ada yang menyala, semuanya telah mati.

Maka dari itu, dengan sendirinya hal ini telah membuat pengemis tua tersebut jadi heran sekali.

Tidak biasanya sebuah kuil tidak memasang api penerangan.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Namun sedang Ang Sam Kay berlari-lari begitu, tiba-tiba kakinya telah tersandung sesuatu.

Benda yang agak lunak dan hampir membuat Ang Sam Kay tergelincir.

Untung saja Ang Sam Kay memiliki kegesitan yang bukan main.

Dengan cepat dia dapat mengimbangi keseimbangan tubuhnya, sehingga dia tidak perlu sampai jatuh terguling diatas tanah.

Ang Sam Kay memperhatikan benda yang menggeletak ditengah jalan itu.

Tampaknya seperti buntalan besar.

Cepat-cepat Ang Sam Kay berjongkok mendekati dengan sikap yang hati-hati.

Astaga.....!

Rupanya sesosok mayat seorang manusia yang sudah tidak berjiwa lagi.

Menggeletak dalam keadaan yang mengenaskan sekali, karena dadanya telah berlobang dengan batok kepala yang hancur bagaikan telah dihajar sesuatu.

Darah merah juga telah menggenangi sekeliling sosok mayat tersebut.

Mayat itu adalah mayat seorang hweshio!

Tentu saja Ang Sam Kay telah terkejut bukan main.

Kalau begitu yang mengeluarkan suara jeritan yang sangat mengerikan sekali tadi adalah si hweshio ini.

Siapa yang membunuhnya?

Dengan hati berdebar, Ang Sam Kay telah menjejakkan kakinya.

Bergegas dia telah berlari kedepan untuk melihat keadaan diluar kuil.

Tetapi kembali dia melihat beberapa sosok tubuh menggeletak.

Waktu didekati, ternyata tiga orang hweshio telah menggeletak tidak bernapas lagi.

Kematian mereka juga sama dengan hweshio yang satu itu, mengerikan sekali.

Tentu saja hal ini telah membuat Ang Sam Kay semakin diliputi tanda tanya dan rasa bingung yang bukan main.

Dia mengawasi sekitar tempat itu.

Tidak dilihatnya seorang manusiapun disekitar tempat itu.

Dan yang terlihat hanyalah kesunyian belaka.

Dengan sendirinya, mau tidak mau Ang Sam Kay jadi semakin heran saja.

Mengapa sekaligus bisa berjatuhan korban-korban yang terdiri dari hweshio-hwesio dikuil ini?

Lagi pula, mengapa mereka telah mengalami kematian yang demikian mengerikan?

Dengan sendirinya, mau tidak mau memang harus diakui, bahwa didalam hal ini pasti ada seseorang yang telah melakukan kekejaman ini dengan melampiaskan segala kemurkaannya.

Dan juga, yang dilihat dari mayat-mayat hweshio itu, maka bisa di tarik kesimpulan bahwa orang yang melakukan pembunuhan tersebut merupakan orang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi karena hweshio yang telah menemui ajalnya itu tidak sempat mengadakan perlawanan, dan telah menemui kematiannya dengan cara yang begitu mengerikan sekali.

Belum sempat untuk Ang Sam Kay memeriksa ketiga mayat hweshio itu, dia telah mendengar suara jerit yang melengking mengerikan sekali dari dalam kuil.

Secepat terbang Ang Sam Kay telah mencelat untuk berlari untuk menuju keruangan dalam kuil itu.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Tetapi ketika dia sampai diruangan tengah dari kuil ini, yang hanya diterangi oleh lampu obor, maka terlihatlah ditengah lantai menggeletak sesosok tubuh pula.

Waktu didekati, sosok tubuh itu ternyata sesosok mayat pula!

Mayat inipun telah menemui kematian dengan cara yang sama dengan hweshio-hwesio lainnya.

Dan hweshio yang seorang ini menemui kematiannya dengan cara yang menakutkan sekali.

Di bawah cahaya lampu obor yang tergantung di dinding, maka terlihat jelas sekali, wajah hweshio ini memperlihatkan perasaan ketakutan yang bukan main.

Melihat mayat-mayat yang bergelimpangan tersebut, tentu saja Ang Sam Kay jadi menggidik ngeri.

Tadi sore baru saja dia bertemu dengan mereka dan bercakap-cakap.

Namun siapa sangka, sekarang mereka telah menggeletak menjadi mayat-mayat yang sudah tidak bernyawa lagi.

Dengan sendirinya, mau tidak mau hati Ang Sam Kay jadi ngiris.

Siapa pembunuhnya?

Dengan cepat dan tanpa membuang-buang waktu lagi, Ang Sam Kay telah memburu kedalam ruangan kuil itu.

Telah lima hweshio yang menemui ajalnya dan tinggal tiga orang hweshio lagi.

Dan ketiga hweshio itu tidak boleh dibiarkan terbunuh oleh pembunuh yang kejam itu.

Namun Ang Sam Kay terlambat.

Karena telah terdengar beruntun suara jeritan yang saling susul, memecahkan dan merobek-robek kesunyian malam.

Suara pekik itu bukan main kerasnya dan juga mengerikan, seperti juga orang yang mengeluarkan suara jeritan tersebut menerima kematian dengan sangat menderita sekali.

Waktu Ang Sam Kay berhasil memburu keruangan dalam, dia melihat tiga sosok tubuh menggeletak diatas lantai.

Tiga mayat hweshio!

Berarti seisi penghuni kuil tersebut telah dibinasakan ludes oleh pembunuh yang kejam itu.

Dan di saat itulah, mata Ang Sam Kay yang jeli telah berhasil melihatnya betapa sesosok bayangan dengan gerakan yang gesit sekali telah melayang keluar dari ruangan dalam.

Tanpa membuang-buang waktu, Ang Sam Kay memburu dan menghadangnya.

"Berhenti!"

Bentaknya. Tetapi bayangan tersebut tetap berlari menerjang kearah Ang Sam Kay. Malah sosok bayangan tersebut telah berkata dengan suara yang dingin.

"Jangan usil mencampuri urusanku!"

Dan tangan kanannya telah digerakkan.

Dan luar biasa sekali!

Tubuh Ang Sam Kay telah terpental.

Waktu sosok bayangan tersebut menggerakkan tangan kanannya, Ang Sam Kay merasakan betapa meluncur serangan angin serangan yang bukan main kuatnya.

Dan angin serangan itu telah menerjang kearah Ang Sam Kay dengan kekuatan raksasa.

Maka tanpa ampun lagi, karena memang tidak menduga sebelumnya sehingga tidak mengadakan persiapan dan kewaspadaan, tubuh Ang Sam Kay telah terpental keras sekali.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Lalu tubuh Ang Sam Kay ambruk diatas lantai.

Namun Ang Sam Kay penasaran sekali.

Dengan mengeluarkan suara seruan yang nyaring bukan main, telah menjejakkan kakinya mengejar pula bayangan itu, yang telah berlari keluar kuil.

Dengan mengempos dan mengerahkan Ginkangnya (ilmu berlari cepatnya), Ang Sam Kay mengejarnya.

Dia penasaran bukan main tadi dia dirubuhkan dengan cara begitu.

Namun biarpua penasaran dan mendongkol, Ang Sam Kay juga telah berlaku hati-hati.

Dia mengejar deagan penuh kewaspadaan, sebab biar bagaimana memang dia menyadarinya bahwa orang yang tengah dikejarnya ini memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Terbukti kedelapan pendeta itu yang telah kena dibinasakan dengan cara yang mengenaskan sekali.

Mau tidak mau hal ini tentu saja membuat Ang Sam Kay jadi menyadari, bahwa kedelapan hweshio itu menerima kematian mereka tanpa berdaya memberikan perlawanan.

Berarti mereka telah terbinasa dengan cara yang mudah, dan kepandaian orang yang membunuhnya memang sangat tinggi sekali.

Mau tidak mau hal ini telah menjadi pemikiran Ang Sam Kay.

Dia menduga-duga, entah siapa pembunuh ini sebenarnya?

Dan apa maksud orang ini melakukan pembunuhan yang begitu bengis dan kejam.

Mau tidak mau memang Ang Sam Kay telah merasakan hatinya gusar bukan main, dia ingin mengetahui tampang dari pembunuh yang kejam itu.

Itulah sebabnya Ang Sam Kay telah mengempos seluruh kemampuannya untuk mengejar sosok bayangan itu.

Tetapi sosok bayangan itu sendiri telah mengetahuinya bahwa dirinya dikejar seseorang, oleh pengemis tua itu.

Dia telah mempercepat larinya.

Dengan penuh perasaan penasaran, Ang Sam Kay mengejarnya terus.

Mereka telah berlari-lari dengan cepat keluar dari kuil, meninggalkan kota itu.

Di luar kota ini memang keadaan alam terbuka dan luas sekali, ditumbuhi oleh pohon yang banyak bukan main.

Sehingga agak sulit bagi Ang Sam Kay melakukan pengejaran terhadap sosok bayangan tersebut.

Hal itu disebabkan sosok bayangan itu selalu berlari-lari dengan tubuh yang menyelinap-nyelinap dari pohon yang satu kepohon yang satunya lagi.

Dengan sendirinya, mau tidak mau didalam hal ini memang membuat Ang Sam Kay harus mementangkan matanya lebar-lebar dan memperhatikan sekelilingnya lebih waspada lagi.

Tiba-tiba, ketika Ang Sam Kay kehilangan jejak dari buruannya itu, dia telah merasakan samberan angin dingin yang tajam sekali.

Ang Sam Kay mengetahui bahwa dirinya tengah dibokong dengan serangan menggelap.

Maka dari itu, dengan cepat dia telah mengengoskan kesamping.

Dua buah piauw telah menyambar lewat didekat batok kepalanya.

Ang Sam Kay menggilik, coba kalau tadi dia terlambat mengelakkan samberan dari senjata itu, tentunya ia akan binasa dengan batok kepala ditancapi dua batang piauw itu.

Dengan cepat Ang Sam Kay membalikkan tubuhnya, dilihatnya orang buruannya tengah berdiri disisi sebatang pohon didekatnya dengan sikap yang tenang.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Ternyata selain memakai baju yang serba hitam dan ringkas orang itu juga telah mengenakan sebuah topeng untuk menutupi wajahaya.

Dengan sendirinya, mau tidak mau di dalam hal ini telah membuat Ang Sam Kay tidak berhasil melihat wajah orang itu dan juga tidak bisa mengenali siapa dia sesungguhnya?!

"Hemmmm, kau terlalu usil!"

Terdengar orang berkata dengan suara dingin.

"Seharusnya kau tidak perlu mencampuri urusaa ini! Tetapi karena kau terlalu banyak ingin tahu, maka engkau juga diberikan ganjaran yang setimpal dengan perbuatanmu!!"

Dan membarengi dengan perkataannya itu, tampak sosok tubuh dari orang bertopeng itu telah bergerak menerjang ke Ang Sam Kay.

Dia menggerakkan tangan kanannya melancarkan serangan pada pengemis tua itu.

Dan serangan yang dilancarkannya itu dengan mempergunakan tangannya, mengandung kekuatan yang bukan main dahsyatnya.

Ang Sam Kay yang menerima serangan tersebut, apa lagi melihat kelima jari tangan dari orang berpakaian serba hitam dan mengenakan topeng itu, berlumuran darah, yang tentunya darah dari hweshio-hweshio yang telah dibunuhnya, dengan sendirinya Ang Sam Kay jadi diliputi kemarahan yang bukan main.

Biar bagaimana rasa keadilan yang melekat dihatinya telah membuat Ang Sam Kay bertindak guna mengetahui siapa adanya pembunuh yang kejam ini.

Memang didalam rimba persilatan terdapat sebuah peraturan bahwa tidak boleh seseorang mencampuri urusan dendam seseorang.

Dan hal itu harus dihormatinya.

Biarpun Ang Sam Kay melihat ada seseorang tengah melakukan pembunuhan karena urusan sakit hati yang telah lalu, maka Ang Sam Kay tidak boleh mencampurinya.

Namun, biar bagaimana Ang Sam Kay berpikir tidak mungkin hweshio-hweshio yang baik hati itu bisa memiliki ganjalan hati dengan orang ini dan tidak mungkin pula orang tersebut memiliki dendam dengan hweshio-hweshio yang baik hati itu.

Dengan sendirinya, Ang Sam Kay menarik kesimpulan bahwa orang ini melakukan pembunuhan terhadap hweshio-hweshio itu karena dia sedang melakukan sesuatu untuk merebut sesuatu barang atau juga ingin memiliki suatu pusaka yang dimiliki hweshio-hweshio tersebut, atau benda berharga lainnya.

Dengan sendirinya, Ang Sam Kay ingin sekali dapat membuka topeng yang dikenakan orang itu, agar dia dapat melihat jelas wajahnya, sehingga dengan begitu dia akan mengetahui siapa sesungguhnya pembunuh ini.

Tetapi, gerakan orang itu sangat cepat sekali, didalam waktu yang sangat singkat, telapak tangan kanannya itu telah meluncur datang.

Namun Ang Sam Kay terpaksa menangkis sambil bermaksud mencengkeram pergelangan tangan orang itu.

Tetapi Ang Sam Kay kecele, karena dia hanya menangkap angin belaka.

Orang bertopeng itu telah menarik pulang tangan kanannya itu.

Rupanya serangannya yang dilancarkannya itu hanyalah merupakan serangan menggertak belaka.

Dan serangan yang sesungguhnya adalah tangan kirinya, yang dengan gerakan yang cepat bukan main telah menerobos dan menghantam telak sekali dada Ang Sam Kay.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

"Bukkkkk!"

Ang Sam Kay tidak dapat mengelakkan diri dari serangan telapak tangan kiri dari orang itu.

Seketika itu juga tubuh Ang Sam Kay terhuyung-huyung mundur dan rubuh terguling ditanah.

Dari mulutnya juga dia telah memuntahkan darah segar sekali.

Dan dia telah mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali akan membalas menyerang.

Namun begitu Ang Sam Kay, berusaha untuk berdiri dan mengerahkan tenaga dalamnya, seketika itu juga dia jadi memuntahkan darah lagi.

Sebab dengan mengerahkan tenaga dalamnya, berarti pembuluh-pembuluh darahnya telah mengejang dan dia jadi menyebabkan darah bergolak hebat sekali.

Maka dari itu, Ang San Kay jadi memuntahkan darah segar kembali.

Cepat bukan main orang bertopeng itu telah melompat maju, dia berdiri tidak jauh dari Ang Sam Kay, katanya dengan dingin.

"Seperti kau lihat, jika aku mau mencabut jiwamu, sebetulnya dapat kulakukan dengan mudah!"

Katanya dengan suara yang dingin.

"Tetapi aku masih mau mengampuni jiwa anjingmu ini! Jika lain kali kau berani mencampuri urusanku, hemm hemmm, aku tidak akan tawar menawar lagi, yang terpenting batok kepalamu itu hancur dulu!!"

Dan setelah berkata begitu, orang bertopeng ini telah menjejakkan kakinya, dengan cepat tubuhnya telah mencelat.

Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat sekali dan tubuhnya melambung bagaikan seekor burung garuda dan telah menghilang dalam kegelapan malam.

Sedangkan Ang Sam Kay merasakan dadanya sakit bukan kepalang.

Dengan perlahan-lahan akhirnya dia berhasil untuk berdiri, hanya dadanya itu sakit bukan buatan.

Dia kembali memuntahkan darah segar.

Tangan kanannya menekan dadanya keras-keras untuk mengurangi rasa sakit.

Di saat itulah Ang Sam Kay telah menunduk untuk melihat dadanya yang terpukul itu.

Kembali hati Ang Sam Kay tercekat.

Karena pada dadanya yang terpukul itu, bajunya telah tercopotkan dengan bentuk bekas telapak tangan, dan dada Ang Sam Kay juga hangus.

Dengan sendirinya, mau tidak man didalam hal ini telah membuat Ang Sam Kay jadi mengucurkan keringat dingin, sebab dia melihatnya, bahwa dia telah terluka hebat dan dengan tertinggalkan tanda bekas telapak tangan dari penyerang itu, menunjukkan bahwa pukulan itu sangat beracun sekali.

Tetapi mengapa orang itu tidak membunuhnya?

Bukankah kedelapan hweshio dikuil itu telah dibunuhnya?

Dengan sendirinya hal itu merupakan tanda tanya dihati Ang Sam Kay.

Mau tidak mau, didalam hal ini Ang Sam Kay harus berpikir keras.

Dia ingin menduga-duga entah siapa orang yang memakai topeng itu.

Dan dilihat dari cara dia bersilat, atau menggerakkan kedua tangannya untuk melancarkan serangannya itu, merupakan ilmu silat dari Bu Tong Pay.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Tetapi tidak mungkin ada orang Bu Tong Pay yang mau melakukan perbuatan yang begitu keji.

Maka dari itu, dugaan bahwa pembunuh itu yang berdarah dingin, adalah orang Bu Tong Pay, telah terhapus.

Dia menduga, setidak-tidaknya orang itu memiliki kepandaian dan ilmu silat yang mirip-mirip dengan ilmu silat milik pintu perguruan Bu Tong Pay.

Namun, siapa dia sesungguhnya?

Lalu apa maksudnya dengan melakukan pembunuhan terhadap delapan hweshio itu dengan cara yang begitu kejam?

Lagi pula, dia tentunya merupakan seorang tokoh rimba persilatan dari golongan tua.

Karena kalau dari golongan muda, pasti tidak akan memiliki kepandaian yang begitu hebat, hanya setiap gebrakan dapat membinasakan korbannya.

Ang Sam Kay sendiri yang memiliki kepandaian yang begitu tinggi, telah dapat dilukainya.

Lalu siapa orang itu sesungguhnya?

Pertanyaan seperti ini tetap saja menjadi tanda tanya dihati Ang Sam Kay.

Dengan tubuh yang terhuyung-huyung, Ang Sam Kay telah kembali kekuil dimana Eng Song tentunya tengah menantikannya.

Tubuh Ang Sam Kay terhuyung-huyung waktu dia tengah melangkah untuk menuju kekuil itu.

Tampaknya dia memang terluka sangat parah sekali.

Di antara semua itu, terlihat juga napasnya telah memburu keras bukan rnain.

Ketika sampai dimuka kuil, dia sudah tidak tahan, sebetulnya akan rubuh disitu.

Namun Ang Sam Kay telah menggigit, bibirnya dan berusaha sekuat tenaganya, untuk dapat memasuki kuil tersebut.

Tetapi Ang Sam Kay hanya dapat mencapai ruangan belakaug kuil itu.

Tubuhnya telah terkulai rubuh diatas lantai, dan ia berteriak .

"Song-jie...!!"

Dengan suara yang agak parau.

Eng Song tengah menantikan kembalinya Ang Sam Kay jadi terkejut mendengar dia dipanggil oleh Ang Sam Kay.

Cepat-cepat si bocah telah berlari keluar, dan dilihatnya keadaan Ang Sam Kay yang terluka parah.

"Paman pengemis.......... apa yang telah terjadi?"

Tanya Eng Song gugup dan berkuatir.

"Bawa dulu aku kekamar....... bawa dulu aku kekamar........!"

Kata Ang Sam Kay dengan napas yang memburu keras dan juga wajahnya pucat pias.

Eng Song telah mengerahkan seluruh tenaga yang ada padanya, dia telah mengangkat tubuh si pengemis tua tersebut, yang dipayangnya.

Cepat sekali dia telah merebahkan Ang Sam Kay dipembaringannya.

Betapa terkejutnya Eng Song waktu melihat bekas telapak tangan yang berwarna hitam didada Ang Sam Kay.

Sedangkan Ang Sam Kay sudah tidak sadarkan diri, ia telah rubuh pingsan.

Eng Song jadi bingung, tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Hanya duduk ditepi pembaringan dan mengawasi serta menunggui sampai pengemis itu tersadar nantinya.

Lama juga Ang Sam Kay rebah pingsan begitu, sampai akhirnya dia membuka kedua matanya perlahan-lahan.

Ketika melihat Eng Song duduk disampingnya, tengah menungguinya, pengemis tua itu telah menghela napas.

"Aku telah dilukai oleh seseorang.........!!"

Katanya dengan suara yang lemah.

"Hanya didalam satu gebrakan saja dia berhasil melukai dadaku dengan pukulan telapak tangannya. Sebelumnya orang itu telah melakukan pembunuhan terhadap delapan hweshio penghuni kuil ini...!"

Eng Song jadi terkejut bukan main mendengar cerita Ang Sam Kay. Dan diperhatikannya bekas telapak tangan yang berwarna hitam kehijauan didada si pengemis tua itu.

"Paman pengemis.... ada keanehan ditelapak tangan yang bertanda pada dadamu!"

Kata Eng Song tiba-tiba sambil mengawasi bekas telapak tangan itu.

"Ada apanya yang aneh?"

Tanya Ang Sam Kay dengan suara yang lemah.

"Orang itu memiliki jari tangan hanya empat! Jari kelingkingnya tidak ada!"

Kata Eng Song.

"Ohhhhkkkk?!"

Ang Sam Kay juga terkejut dan ingin mengetahuinya, dia menundukkan kepalanya.

Dan dilihatnya, benar saja, bekas telapak tangan itu hanya memiliki tanda empat batang jari tangan belaka, dan kelingkingnya tidak ada.

Seperti kutung.

"Kalau begitu, orang yang telah melukai diriku ini memiliki tangan kiri yang jari kelingkingnya telah tidak ada!"

Kata Ang Sam Kay.

"Ya.... jadi nanti kita agak mudah untuk melakukan penyelidikan perihal dirinya!!"

Kata Eng Song. Ang Sam Kay menghela napas, dan napasnya itu telah memburu lagi.

"Kukira.... kukira aku telah terluka berat sekali, agak parah! Kesempatanku untuk dapat hidup terus sangat tipis sekali.... hanya aku minta agar kelak jika aku tidak memiliki umur panjang, agar engkau yang pergi mencari orang itu untuk melakukan pembalasan sakit hatiku ini! Engkau harus rajin mempelajari ilmu silat Eng Song, untuk melakukan perbuatan-perbuatan bejik dan mulia! Banyak tugas buatmu!! Karena dunia Kang-ouw tengah terancam oleh kekalutan dan kekacauan!!"

Eng Song mengangguk sambil menitikkan air mata. Dia merasa kasihan bukan main pada keadaan pengemis tua yang baik hati ini.

"Jangan berkata begitu, paman pengemis.... engkau pasti masih memiliki kesempatan untuk hidup panjang umur! Lukamu ini pasti akan sembuh....!"

Mendengar perkataan Eng Song seperti itu, Ang Sam Kay menghela napas.

"Hemmm.... sulit dibilang juga!"

Katanya kemudian.

"Tetapi aku merasakan bahwa lukaku ini.... lukaku ini sangat berat.....!"

Berkata sampai disitu, napasnya telah memburu keras lagi.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

"Sudahlah paman pengemis, engkau beristirahat saja dulu, jangan terlalu banyak berkata-kata!!"

Kata Eng Song kemudian.

"Mudah-mudahan saja, luka ini cepat sembuh."

Tetapi Ang Sam Kay merasakan betapa lukanya itu sangat parah sekali.

Biar bagaimana dia tidak dapat untuk berkata-kata terlalu banyak.

Entah bagaimana napasnya jadi begitu pendek dan juga begitu tersendat.

Di antara napasnya yang memburu keras seperti ini, terlihat jelas sekali, bahwa Ang Sam Kay memang terluka parah bukan main.

Eng Song juga dihati kecilnya sangat kuatir sekali.

Karena dia menyadarinya bahwa luka yang diderita oleh paman pengemisnya yang baik hati ini memang terlalu parah.

Dia hanya diam-diam mengucurkan air mata.

Ang Sam Kay merasakan tetesan air yang hangat dilengannya.

Dia membuka kelopak matanya, dan dilihatnya Eng Song menangis dengan kedukaan yang sangat.

Bibir pengemis tua itu tersenyum berduka, terharu sekali tampaknya.

"Jangan menangis Eng Song....... jangan menangis? Kalau toh aku tidak dapat hidup lebih panjang lagi, maka engkau baik-baiklah membawa diri...... dan kudoakan semoga kelak engkau menjadi seorang pendekar yang memiliki kepandaian yang tinggi dan berhati mulia! Cuma sayangnya, aku tidak mempunyai kesempatan lagi uutuk mendidikmu! Hai...... hai...!!"

Dan sambil berkata begitu, pengemis tua tersebut telah menarik napas berulang kali.

Dengan sendirinya, Eng Song jadi tambah berduka saja.

Dia menangis sesenggukan.

Memang dia melihatnya bahwa keadaan paman pengemis itu sangat parah sekali.

Tetapi, disamping semua itu, memang Eng Song jadi berpikir, mengapa selalu pula, jika ada seorang yang berbaik hati padanya, selalu orang itu menemui kecelakaan menemui kematian?

Mengapa harus begitu?

Apakah dirinya yang selalu membawa sial yang selalu mendatangkan malapetaka?

Berpikir begitu Eng Song jadi tambah berduka dia telah menangis sesenggukan.

Dan di antara suara tangis sesenggukannya itu, terlihat jelas bahwa bocah ini memang sangat berduka bukan main.

Sedangkan si pengemis tua Ang Sam Kay telah bernapas memburu keras, tampaknya dia tengah berusaha untuk melawan segala gangguan dan terjangan rasa sakit pada lukanya.

Muka Ang Sam Kay pucat pias.

Dan di antara semua itu, terlihat jelas sekali, betapa keadaan pertahanan diri dari pengemis tua ini semakin lemah semakin lemahnya dari napasnya.

Tentu saja Eng Song semakin berkuatir saja, dia sampai menangis sesenggukan dan berkata .

"Paman pengemis..... kau jangan tinggalkan aku seorang diri didunia ini... paman pengemis....!"

Tetapi dikala Eng Song tengah sesenggukan begitu, disaat itulah terdengar suara 'nggrrrroookkkk!' dari leher si pengemis tua.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Dan pengemis tua Ang Sam Kay telah memburu keras napasnya, dia juga telah jatuh pingsan tidak sadarkan diri lagi.

Dengan sendirinya, mau tidak mau memang keadaan seperti ini telah membuat Eng Song jadi tambah berkuatir saja.

Dan dalam keadaan pingsan, suara "ngrrroookkkk!"

Itu tidak hentinya terdengar dari leher si pengemis.

Maka, tampak jelas sekali, betapa si pengemis diambang kematian.

Terlebih-lebih memang tubuhnya juga telah panas sekali, suhuna terlalu tinggi.

Eng Song bmgung sekali, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Dan belum lagi si bocah mengetahui apa yang harus dilakukanaya itu, di saat itulah si pengemis tua telah habis napasnya.

Mati dalam keadaan pingsan!

Eng Song mengeluarkan suara pekikkan yang menyayatkan hati.

Dia menangis menggerung-gerung dengan perasaan berduka bukan main.

Dengan cepat dia telah menggoncang-goncangkan tubuh pengemis tua itu tersebut.

"Paman pengemis! Paman pengemis!"

Tetapi biarpun Eng Song sesambatan begitu, namun pengemis tua tersebut sudah tidak akan bangkit dan tidak akan hidup lagi.

Maka dari itu, dengan sendirinya, di saat itu telah hilang pula seorang tokoh rimba persilatan yang sesungguhnya memiliki nama sangat harum dan nama yang sangat terkenal sekali di dalam rimba persilatan....!

Pagi harinya dengan penuh kedukaan, Eng Soog telah mengubur jenazah Ang Sam Kay, juga dia telah mengubur mayat kedelapan pendeta dari kuil tersebut.

Dihadapan kuburan mereka, Eng Song telah bersumpah .

"Disaksikan langit dan bumi, maka aku bersumpah akan membalas sakit hati paman, paman pengemis dan kedelapan suhu-suhu ini! Biar bagaimana aku akan berusaha untuk dapat mempelajari ilmu silat yang tinggi dan kemudian mencari orang yang tangan kirinya memiliki jari empat buah itu, karena jari kelingkingnya telah putus!"

Lalu setelah bersumpah begitu, Eng Song telah menangis berduka lagi.

Setelah puas menangis, barulah si bocah itu bangkit dan kemudian meninggalkan tempat tersebut.

Dia bertekad dihatinya, biar bagaimana dia harus mencari seorang guru yang liehay untuk berguru dan mempelajari ilmu silat padanya, untuk meyakinkan kepandaian yang tinggi, agar kelak dia bisa mencari musuh-musuhnya, untuk membalas sakit hati yang selama ini diterimanya.

Seluruh penasaran dan rasa muak terhadap kehidupan yang selalu dibuntuti oleh penderitaan ini, Eng Song jadi bertekad, walau bagaimana dia harus berhasil.

Dan hati bocah ini juga telah dingin sedingin es, dia hanya berpikir harus mencari seorang guru yang liehay untuk berguru padanya.

Dan juga dibayangkannya, gadis cantik seperti Cu Sing Hong bisa memiliki kepandaian yang tinggi begitu.

Maka dari itu Eng Song percaya, apa lagi dia seorang pria, tentunya dia akan dapat memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari kepandaian yang dimiliki gadis Cu Sing Hong.

Mau tidak mau didalam hai ini memang kenyataannya Eng Song telah bertekad untuk mencari seorang guru yang pandai untuk diangkat menjadi gurunya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Dan dari hari itulah, Eng Song telah mengembara dari kota yang satu ke kota yang satunya lagi dan dari kampung yang satu ke kampung yang satunya.

Dan juga, tampak jelas sekali, betapa Eng Song bertekad sungguh-sungguh, untuk dapat mencari seorang guru yang pandai....

karena setiap ada kesempatan, tentu Eng Song akan mendatangi tempat-tempat keramaian, untuk melihat-lihat, apakah ada seseorang yang memiliki kepandaian tinggi dan dapat diangkat sebagai gurunya.

Serta Eng Song tidak jarang mendatangi gunung-gunung dan tempat-tempat sunyi lainnya.

Karena menurut pikiran Eng Song, di tempat-tempat yang sunyi seperti itu tentu ada satu atau dua tokoh rimba persilatan yang telah hidup mengasingkan diri.

Namun, selama itu, Eng Song masih belum juga berhasil untuk memperoleh seorang guru yang diinginkannya.............

--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 10 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ DI LUAR kampung Su-liang-cung, tampak sesosok bayangan tengah berlari-lari diantara lebatnya air hujan yang turun deras sekali.

Waktu itu belum terlalu larut malam, namun disebabkan hujan yang lebat ini, maka sepi sekali tidak terlihat orang yang berkeluyuran.

Sosok bayangan itu ternyata seorang bocah cilik yang bertubuh kurus dan berpakaian tambal-tambalan seperti pengemis kecil.

Ia tidak lain dari Eng Song.

Dan saat itu dia telah melihat sebuah kuil tua yang telah rusak dan tidak terurus dipermukaan kampung tersebut.

Cepat-cepat Eng Song telah menghampiri kuil itu, maksudnya akan berteduh dikuil tersebut, menghindarkan diri dari derasnya air hujan.

Keadaan dikuil yang telah rusak dan banyak dindingnya yang telah gugur itu, tampak gelap gulita.

Tidak terlihat ada penerangan sedikitpun juga.

Hanya sekali-sekali, dikala kilat berkelebat, maka di sekitar kuil itu agak terlihat jelas.

Eng Song telah mendorong pintu kuil yang telah reyot dan akan rubuh itu, melangkah masuk kedalam kuil dan dia telah menuju keruangan tengah, dimana tampak meja sembahyang yang telah dilumuri abu yang sangat tebal sekali, yang menutupi permukaan meja tersebut dengan debu yang setebal beberapa dim.

Dan juga terlihat jelas sekali, batang-batang hio yang telah berabu tidak terurus.

Berbeda dengsa kuil-kuil yang masih terurus, yang selalu akan terlihat hio dan dupa yang terbakar tidak hentinya, maka kuil rusak ini malah merupakan yang sudah tidak pernah terkena asap hio dari orang-orang yang sembahyang.

Karena sudah tuanya usia kuil ini, dan sudah banyak kerusakan-kerusakannya, disamping tidak ada orang yang datang mengunjunginya untuk sembahyang, juga sudah tidak terlihat seorang hweshiopun yang mengurusinya.

Dengan sendirinya kuil tersebut seperti juga kuil tua yang kosong tidak berpenghuni.

Setelah berdiri sejenak, akhirnya Eng Song menghampiri meja sembahyang itu.

Dia telah berjongkok disitu untuk berdekatan tangan, agar tubuhnya lebih hangat.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Seluruh baju dan celananya telah basah kuyup.

Tentu saja ia jadi menderita kedinginan yang sangat.

Keadaan diruangan kuil ini sangat gelap sekali.

Lama juga Eng Song mendekam dipinggir meja sembahyang.

Dengan berdiam dan berteduh didalam ruangan kuil ini, walaupun banyak bagian-bagiannya yang telah bocor dan menetes air, namun tidak semenderita seperti tadi.

Maka dari itu, dengan sendirinya, mau tidak mau memang didalam hal ini Eng Song menderita kedinginan yang sangat.

Suatu kali, kilat telah menerangi keadaan disekitar ruangan itu, disusul suara petir yang keras bukan main.

Dan kebetulan pula Eng Song dapat melihat sesuatu!

Bulu tengkuknya jadi berdiri!

Ternyata disamping meja sembahyang yang satunya lagi, terlihat sebuah peti mati yang berukuran besar....

peti mati itu dalam keadaan tertutup.

Entah mengapa, mengetahui didalam ruangan tempat dia berteduh itu, terdapat sebuah peti mati yang bersama-sama berada diruangan ini bersamanya, Eng Song merasakan hatinya jadi berdebar dan bulu tengkuknya jadi berdiri merinding.

Beberapa kali kilat telah memancarkan sinarnya yang menyilaukan.

Dan selama beberapa kali Eng Song dapat melihat jelas peti mati itu.

Dan di dalam kegelapan, peti mati tersebut hanya merupakan sebungkah bayangan hitam yang berukuran besar dan menakutkan sekali.

Perasaan tidak enak yang menyerang hati Eng Song semakin lama jadi menyiksanya.

Dan hampir saja Eng Song bangkit dari mendekamnya dan akan meninggalkan kuil itu, menerjang air hujan untuk mencari tempat berteduh lainnya.

Namun disebabkan hujan turun semakin lama semakin lebat saja, akhirnya Eng Song tetap mendekam disamping meja sembahyang.

Namun berulang kali matanya telah melirik kearah peti mati itu.

Perasaan seram masih saja terus juga menyelubungi hatinya.

Dalam saat-saat seperti itu, telah membuat Eng Song jadi merasa ngeri sekali.

Dan suatu kejadian, telah membuat mata Eng Song jadi terpentang lebar-lebar mengawasi peti mati itu.

Karena disebabkan seringnya Eng Song melirik kearah peti mati itu, suatu kali di kala dia tengah melirik, tiba-tiba hatinya tercekat ketakutan, sebab dia melihat betapa tutup peti mati itu bergerak!

Mengerikan sekali!

Eng Song telah mengucek-ngucek matanya, dia menganggap bahwa penglihatannya yang kabur dan juga disebabkan rasa takutnya telah menimbulkan khayalan yang tidak-tidak.

Namun biarpun Eng Song telah mengucek-ngucek matanya berulang kali, ternyata tetap saja tutup peti mati itu masih bergerak perlahan-lahan seperti juga akan terbuka tutupnya.

Seluruh semangat Eng Song seperti lelah kabur dari raganya, dia merasakan tubuhnya lemas bukan main.

Tubuhnya juga agak menggigil, bukan disebabkan hawa dingin saja, tetapi disebabkan rasa takut yang bukan main.

Dengan sendirinya, mau tidak mau memang dalam hal ini telah membuat Eng Song jadi mementang matanya lebar mengawasi kearah peti mati itu.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Dan dia telah melihatnya, tutup peti mati itu telah terbuka semakin lebar.

Dan segera juga terlihat betapa sepotong tangan telah terjulur keluar.

Hati Eng Song seperti copot dari dadanya, dia jadi mengeluh lemas.

Untuk berlari keluar dari dalam kuil itu, Eng Song sudah sanggup.

Sepasang kakinya dirasakan menggigil lemas tidak bertenaga sama sekali.

Diam-diam Eng Song jadi mengeluh.

Mungkin kalau menghadap urusan hebat yang lainnya, si bocah tak akan sengeri ini.

Tetapi kali ini dia berada diruangan yang gelap dan hanya seorang diri, lalu ada sebuah peti mati, dan peti mati itu tampak terbuka perlahan-lahan tutupnya, terlihat sepotong tangan.

Siapa yang tidak akan merasa ngeri menghadapi peristiwa seperti ini?

Dan yang tambah mengejutkan Eng Song lagi, dia mendengar suara tertawa mengekeh dari arah dalam peti mati tersebut.

"Khikkkk, hikkkk, hikkkk, hikkkk......!"

Menyeramkan sekali suara tertawa itu.

Seluruh bulu-bulu ditengkuk dan ditubuh Eng Song telah berdiri.

Dan Eng Song merasakan kepalanya jadi seperti membesar sebesar tetampah.

Sepasang matanya tidak berkedip sedikitpun juta ketika tampak sesosok tubuh telah bangkit, duduk dalam peti mati itu!

Rupanya mayat yang ada didalam peti itu telah bangkit!

Eng Song saking merasa ngeri melihat pemandangan yang ada dihadapannya ini, sampai mengeluarkan seruan tertahan, tubuhnya menggigil.

Wajah si bocah juga tampak pucat pias.

Terlebih-lebih waktu itu kebetulan sekali kilat telah melancarkan sinarnya, maka Eng Song bisa melihatnya betapa sosok tubuh yang telah bangkit dari peti tersebut tidak lain dari seseorang yang memiliki wajah yang sangat menakutkan dan memakai jubah warna hitam.

Dengan sendirinya, mau tidak mau tentu saja hal ini membuat Eng Song jadi merasa ketakutan sekali.

Terlebih-lebih wajah dari orang yang duduk didalam peti mati itu berlekuk-lekuk seperti muka tengkorak.

Dengan sendirinya keadaannya sangat menyeramkan sekali, dengan rambut yang diriap panjang dan sebagian menutupi sepasang matanya yang cekung dan memancarkan sinar menakutkan.

"Apakah aku benar-benar sedang menghadapi hantu...?"

Berpikir Eng Song di dalam hatinya.

"Apakah ada hantu yang berani muncul didalam ruangan kuil...!?"

Namun ketika dia berpikir begitu, disaat itu pula terdengar sosok bayangan hantu itu telah tertawa mengekeh lagi.

Suara tertawa itu demikian menakutkan sekali, seakan juga menggetarkan ruangan kuil itu.

Eng Song memandang dengan perasaan takut yang bukan main, dia juga jadi mengeluh didalam hatinya.

Dilihatnya sosok tubuh itu telah melangkah turun peti mati itu.

"Hei bocah...... engkau sungguh berani mati datang ditempatku!?"

Tegur "mayat"

Itu dengan suara yang menakutkan sekali.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Kepada Eng Song kembali terasa membesar dan berat sekali.

Dan juga tenggorokannya seperti telah tersumbat rapat-rapat dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun juga.

Dia tampak jadi ketakutan bukan main.

"Siapa namamu, bocah?"

Tegur "mayat"

Hidup itu lagi dengan suara yang menakutkan.

"Aku........ aku bernama Eng Song.........!"

Menyahuti si bocah. Saking ketakutannya, dia sampai lupa menyebutkan shenya. Hantu itu telah tertawa.

"Hemmmm.... kau seorang bocah yang cukup tabah dan berani...... aku merasa kagum padamu, karena engkau berani datang ditempat seperti ini hanya berseorang diri saja! Apa keperluanmu datang kemari?!"

"Untuk... untuk menghindarkan diri dari derasnya air hujan....!"

Menyahuti Eng Song dengan suara yang tergetar disebabkan rasa takutnya.

Dengan sendirinya, didalam hal ini, mau tidak mau memang Eng Song ketakutan sekali.

Sedangkan hantu yang menakutkan itu, yang memakai jubah warna hitam, telah mengeluarkan suara tertawa yang mengikik.

"Hemmmm... kau berteduh untuk menghindarkan diri dari terjangan air hujan... tetapi kau telah mengetahui diriku..... kau telah melihat aku..... maka..... maka..."

Dan berkata sampai disitu, si hantu tidak meneruskan perkataannya, dia telah tertawa lagi dengan suara yang menakutkan bukan main.

Eng Song jadi tambah ketakutan.

Yang, ditakutinya ialah kalau hantu itu mencekiknya.

Karena sebagai seorang manusia, Eng Song menyadarinya tidak akan ada gunanya jika dia bermaksud untuk melawan hantu itu.

Akan sia-sia saja, sebab manusia tidak mungkin berhasil untuk berurusan dengan hantu.

Dengan sendirinya pula, diantara menderunya angin dan suara rintiknya air hujan, suara tertawa hantu itu sangat mengerikan sekali.

Terlihat Eng Song telah terduduk, karena dia tidak kuat untuk berjongkok.

Sepasang kakinya telah lemas tidak bertenaga sama sekali.

Saat itu, si hantu hidup itu telah tertawa lagi dengan suara menakutkan bukan main.

Tetapi belum lagi berkata-kata, tiba-tiba dari arah luar kuil itu juga terdengar suara orang tertawa mengikik dengan suara yang menakutkan sekali.

Di antara suara air hujan, suara tertawa yang terdengar saat itu, benar-benar menakutkan sekali, lebih nyaring dari hantu dalam ruangan kuil ini.

Eng Song jadi terbang semangatnya.

"Apakah... apakah aku tengah berada dikerajaan hantu?!"

Berpikir Eng Song didalam hatinya dengan perasaan takut bukan main.

Biar bagaimana memang dia telah mendengar suara tertawa yang menyeramkan dari luar kuil itu.

Dengan sendirinya dia mau menduga bahwa tentunya tengah mendatangi hantu lainnya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Dan hal ini bisa membuatnya celaka.

Sedangkan tampak saat itu, Eng Song telah mengawasi kearah hantu yang satunya.

Terlihat perobahan pada hantu yang satunya ini, yang tadi keluar dari peti mati.

Dia tampaknya agak gelisah dan telah melangkah mundur satu tindak.

"Hemmm.... dia datang juga...!"

Mengumam hantu tersebut.

Sedangkan suara tertawa yang menyeramkan itu terdengar semakin keras juga.

Dan tampak jelas sekali, betapa suara tertawa itu telah menggelisahkan hantu pertama.

Di susul tidak lama kemudian tampak berkelebat sesosok tubuh dengan gerakan yang terlalu ringan.

Bagaikan kedua kakinya itu tidak menginjak sama sekali tanah atau lantai didalam kuil tersebut.

Eng Song mementang matanya lebar-lebar.

Dan kembali hatinya jadi ciut.

Biar bagaimana sosok tubuh yang baru muncul ini memiliki wajah yang tidak kalah seramnya dengan hantu yang pertama.

Mukanya geradakan, seperti juga orang yang terserang kusta.

Sepasang matanya juga memiliki sorot yang tajam bukan main, disamping memang terlihat jelas pula bibirnya yang menyeringai menakutkan.

Dia memakai baju serba putih, dan juga memang telah memiliki kulit yang putih.

Berbeda sekali dengan hantu yang pertama tadi, yang memakal jubah warna hitam.

Maka disebabkan jubahnya berwarna putih, walaupun ditempat segelap itu, kenyataannya Eng Song masih bisa melihatnya cukup jelas.

"Hikhijkkkhikkkhikkkkk... ternyata engkau telah memelihara seorang kacung cilik!!"

Kata hantu yang baru datang itu, yang memakai jubah warna putih, dengan suara yang menakutkan sekali. Dan dengan cepat dia telah berdiri berhadap-hadapan dengan hantu yang berjubah hitam.

"Hemmm, aku tidak pernah mau memiliki kacung!"

Kata hantu yang memakai jubah warna hitam itu.

"Aku hanya menerima kedatangan seorang bocah yang tersesat dijalan dan menghantarkan kematian buat dirinya!"

Maka terlihat jelas sekali, betapa bola mata dari hantu yang memakai jubah warna putih itu telah mencilak-cilak memandang kearah Eng Song.

Dia memperhatikan bocah yang telah lemas tidak bertenaga sama sekali.

Biar bagaimana memang dia tampaknya tertarik pada Eng Song, karena tidak hentinya hantu yang berjubah putih itu telah mengeluarkan suara seruan .

"Anak yang bagus! Anak yang baik! Bahan yang baik!"

Eng Song tidak mengerti, entah apa yang diocehkan bantu itu.

Namun yang pasti, kedua hantu itu telah membuatnya jadi ketakutan.

Dia jadi duduk merengket, seperti juga dia ingin melompat berdiri dan berlari keluar dari kuil itu, untuk menghindarkan diri dari kedua hantu yang sangat menakutkan tersebut.

Namun disebabkan sepasang kakinya lemas tidak bertenaga begitu, mau tidak mau memang Eng Song masih juga duduk mendekam dilantai.

Napas Eng Song juga telah memburu keras karena dia sangat ketakutan sekali.

Saat itu, si hantu berjubah putih itu telah berkata tawar .CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

"Baiklah, jika memang bocah ini tidak menarik hatimu, biarlah aku yang mengambilnya.....!!"

Katanya dengan suara yang dingin dan mengawasi hantu yang berjubah hitam itu.

"Hikkkhkkkk, hikkkkk, hikkkk, enak saja kau bicara........ enak saja kau bicara....!!"

Kata hantu yang berjubah hitam itu dengan suara yang dingin.

"Jangan suka bicara enak saja, asal putar lidah... bocah itu sudah menjadi milikku, jangan kau utik-utik dia....!"

"Ihhhh...... bukankah tadi kau telah mengatakan bahwa bocah itu tidak menarik hatimu?"

Tegur si hantu yang memakai jubah serba putih.

"Benar! Tetapi dia telah datang terlebih dahulu menemui aku, maka aku yang berhak atas dirinya......!"

Menyahuti hantu berjubah hitam itu.

"Janganlah kau mencari-cari persoalan dengan diriku, karena biar bagaimana hari ini kita harus menentukan siapa yang berhak memakai gelar sebagai It Sat Kang-ouw (Iblis nomor satu didalam rimba persilatan)."

Dan setelah berkata begitu, maka Hantu berjubah hitam itu telah tertawa gelak-gelak.

Tampaknya dia bergusar dan murka sekali, karena dia telah memandang pada hantu berjubah putih yang baru datang itu dengan sorot mata yang sangat tajam sekali.

Dengan sendirinya, mau tidak mau didalam hal ini memang memperlihatkan mereka berdiri berhadap-hadapan, bagaikan kedua hantu tersebut ingin saling terjang, untuk saling menghantam dan melakukan pembunuhan.

Tentu saja hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat aneh dan lucu, karena tidak mungkin untuk dapat menyaksikan kejadian seperti ini diwaktu-waktu lainnya.

Terlebih-lebih memang Eng Song melihat, dua hantu penasaran yang hidup dapat saling ancam dan saling memaki.

Tampaknya kedua hantu ini akan melakukan suatu perkelahian.

Bukankah hal seperti merupakan suatu kejadian yang sangat langka dan juga sangat mengherankan sekali, disamping menakjubkan?!

Dengan sendirinya, Eng Song dapat menarik napas dalam untuk meluruskan napasnya, biar bagaimana jika kedua hantu itu saling tempur, tentu dirinya akan dapat terlindungkan dari cengkeraman hantu tersebut.

Maka dari itu Eng Song sangat mengharapkan sekali agar kedua hantu itu saling terjang dan saling serang.

Saat itulah, dikala hantu berjubah hitam tengah tertawa gelak-gelak, hantu berbaju putih telah mendengus.

"Hemmm... aku harus memperoleh bocah itu!"

Katanya dengan suara yang dingin.

"Tidak dapat!"

"Harus dapat!"

"Engkau datang kemari untuk menyelesaikan persoalan kita!"

Kata hantu yang berpakaian jubah hitam dan menakutkan itu.

"Itu urusan kedua! Aku mementingkan untuk memperoleh bocah itu! Aku telah merobah pikiranku jika engkau mau menyerahkan bocah itu kepadaku, maka gelar It Sat Kang-ouw boleh kau ambil untukmu! Silahkan! Asal kau mau membiarkan aku membawa pergi bocah ini!"

"Hemmm, sebelum kau dapat membinasakan diriku maka jangan harap engkau dapat membawa bocah itu!"CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Mendengar perkataan hantu yang memakai jubah warna hitam itu, tentu saja Eng Song jadi kaget setengah mati.

Apakah hantu masih bisa terbinasakan oleh salah seorang lawannya?

Apakah hantu?

penasaran seperti kedua hantu itu memang dapat menguasai diri mereka dan saling tempur, lalu saling mengambil jiwa lawannya dengan jalan membunuh?!

Apakah hantu memang dapat hidup kembali?!

Karena berpikir begitu, Eng Song jadi semakin tertarik disamping juga diliputi oleh perasaan takut yang bukan malu terhadap penglihatannya terhadap kedua hantu yang sangat mengerikan itu.

Di saat itulah, cepat bukan main, tampak Eng Song melihatnya jelas, betapa si hantu yang memakai jubah warna hitam telah mengeluarkan suara erangan yang sangat menakutkan sekali, tampak tubuhnya telah mencelat dengan kecepatan yang bukan main.

Tentu saja suara erangan yang diperdengarkannya itu sangat menakutkan sekali.

Di samping juga memang suara tertawa dan erangan dari hantu berpakaian jubah warna hitam itu menggetarkan sekitar ruangan tersebut.

Tampak dia telah menerjang untuk mencekik hantu yang memakai jubah warna putih.

Tampak jelas sekali, dia ingin membinasakan si hantu berjubah putih itu.

Tetapi, tampaknya hantu yang berjubah putih itu juga tidak jeri sama sekali.

Dia telah mengeluarkan suara teriakan yang nyaring bukan main.

Dengan kecepatan yang bukan main dia telah membalas melancarkan serangan.

Tubuhnya tetap ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun juga.

Hanya kedua tangannya yang telah digerakkan untuk melancarkan serangan.

Dan aneh!

Dari kedua telapak tangannya itu seperti juga meluncur angin yang berkekuatan seperti topan.

Dan juga hantu yang memakai jubah warna hitam itu tampaknya berani sekali.

Dia tidak merasa jeri menghadapi serangan yang begitu dahsyat dari lawannya.

Dengan kecepatan yang bukan main dia telah menggerakkan juga kedua tangannya.

Dia telah mengibas dengan kedua lengan bajunya yang longgar itu.

Dibarengi juga oleh suara bentakannya di campur oleh suara erangan, dengan sendirinya, suasana disaat itu didalam ruangan kuil, terlalu mengerikan sekali.

Malah terlihat, akibat kibasan lengan jubahnya itu, maka terlihat jelas sekali, betapa angin serangan itu telah menggagalkan serangan kedua telapak tangan dari hantu berbaju putih.

Melihat cara kedua hantu itu bertempur satu dengan yang lainnya, Eng Song semakin yakin bahwa kedua sosok hantu ini memang adalah hantu yang sesungguhnya.

Karena kedua hantu itu hanya menggerakkan kedua tangan masing-masing tanpa saling menyentuh.

Lagi pula tubuh mereka juga tetap berdiri tegak ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun juga.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Jika memang kedua hantu itu adalah manusia, tentunya mereka melakukan pertempuran bukan dengan cara seperti itu, mau tidak mau memang mereka harus saling bentur dan saling serang dengan saling menyentuh bagian tangan mereka atau tubuh.

Namun kenyataannya kedua hantu itu saling tempur dengan hanya berdiri tegak seperti itu.

Pertempuran macam apakah itu?!

Di saat itu tampak hantu yang memakai jubah warna putih telah mengeluarkan suara teriakan yang nyaring bukan main, tampak dia juga telah melancarkan serangan dengan mempergunakan tenaga yang bukan main kuatnya.

Jilid 8 KARENA angin serangan dari kedua telapak tangannya itu yang menghantam meja sembahyang telah menyebabkan alat sembahyang berterbangan.

Dengan sendirinya Eng Song tambah terkejut, karena dia menganggap bahwa itulah ilmu sihir dari seorang hantu penasaran yang dapat menerbangkan benda-benda tanpa menyentuhnya!

Eng Song jadi tambah yakin saja bahwa kedua sosok hantu ini memang hantu yang sesungguhnya dan dia jadi tambah ngeri dan takut saja.

Maka dari itu, Eng Song telah mementang sepasang matanya lebar-lebar.

Dia bermaksud kalau memang dia memiliki kesempatan untuk mengambil langkah seribu.

Dan juga memang dia bermaksud akan melarikan diri jika kedua hantu sedang terpecah perhatiannya.

Namun sampai disaat itu, Eng Song merasakan sepasang lututnya seperti juga sudah tidak bertenaga.

Dengan sendirinya dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Cepat bukan main, saat itu hantu yang berpakaian serba hitam telah mengeluarkan suara erangan yang menyerupai pekikan marah.

Tubuhnya tampak tergetar, mungkin juga hal ini disebabkan oleh kuatnya tenaga serangan yang dilancarkan oleh hantu berpakaian serba putih itu.

Dan hantu berbaju hitam itu rupanya tidak mau kalah, karena dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengandung kemarahan dia telah membalas menyerang dengan mengebut-ngebutkan kedua lengan jubahnya yang longgar itu.

Cepat dari kedua lengan jubahnya itu telah meluncur keluar serangkum angin serangan yang terlalu kuat sekali, menerjang kearah hantu yang memakai baju serba putih.

Dan dua tenaga kekuatan raksasa yang tidak terlihat oleh pandangan mata telah saling bentur ditengah-tengah udara dengan dahsyat sekali.

Dan suara menggelegar itu menyaingi kerasnya suara petir.

Eng Song sendiri merasakan telinganya seperti juga akan tuli oleh suara yang mengelegar itu.

Rupanya kedua hantu itu telah saling terjang dan saling tempur semakin hebat.

Karena mereka telah bertarung dengan mengeluarkan kepandaian dan kekuatan yang mereka miliki.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Cuma saja, kepandaian dari kedua hantu itu dimata Eng Song bagaikan ilmu sihir.

Maka dari itu, Eng Song telah memandang dengan perasaan kagum dan juga mengandung perasaan ngeri yang bukan main.

Saat itu, dengan mengeluarkan suara tertawa yang mengikik, tampak hantu yang memakai jubah warna putih telah melancarkan serangan lagi.

Angin serangan yang dahsyat kembali telah menerjang kearah hantu yang berjubah hitam itu.

Gerakan yang dilakukan oleh hantu berjubah putih itu bukan main kuatnya.

Karena dia selalu serangan dengan menambahkan kekuatan tenaga yang bukan main hebatnya, dan tenaga serangan yang dahsyat itu selalu pula mendesak kearah hantu yang berjubah hitam.

Rupanya hantu berjubah hitam itu memang agak terdesak juga oleh serangan-serangan lawannya, karena beberapa kali dia telah mengeluarkan suara teriakan kaget dan telah melompat mundur untuk menjauhkan diri dari lawannya.

Namun rupanya juga memang si hantu yang berjubah hitam inipun penasaran bukan main, sebab selain dia sering melompat, iapun sering melompat maju untuk membalas menyerang lagi.

Dengan sendirinya pertarungan seperti ini mau tidak mau telah membuat Eng Song jadi kagum sekali.

Si bocah juga tengah membayangkan, betapa jika dia sendiri yang memiliki kepandaian seperti kedua hantu itu, niscaya akan merupakan kepandaian yang luar biasa sekali di dalam rimba persilatan.

Saat itu, hantu yang memakai baju hitam itu telah menghantam lagi.

Dan hantu berbaju putih telah memunahkannya dengan menangkisnya.

Lalu cepat bukan main, hantu berbaju putih telah melompat kebelakang.

"Tahan............!"

Teriak hantu berbaju putih itu dengan suara nyaring. Hantu berbaju hitam itu menahan serangannya, lalu dengan sikap yang geram dia telah membentak garang sekali .

"Mengapa harus berhenti............ ayo maju......... mari kita bertempur seribu jurus lagi......... akan kulayani!!"

Dan sambil membentak begitu, hantu yang memakai jubah warna hitam telah mengeluarkan suara tertawa yang mengejek dan bersiap-siap untuk melancarkan serangan lagi kepada lawannya.

Tetapi hantu yang memakai jubah warna putih itu telah tertawa dingin.

"Jika pertempuran ini diteruskan, tentu tidak akan membawa paedahnya buat kau, karena percuma saja, kau akan menderita kekalahan yang besar............ maka dari itu lebih baik kau mengalah saja dan menyerahkan bocah itu kepadaku, dan urusan ini kita bikin habis............!!"

Mendengar perkataan hantu berbaju putih itu, Eng Song merasakan semangatnya seperti juga terbang dari raganya, dia kaget setengah mati.

Kalau memang hantu berbaju putih itu telah memintanya dari hantu berjubah hitam, dan hantu berjubah hitam itu mengijinkannya, bukankah berarti Eng Song akan diajaknya oleh hantu berjubah putih itu dan dengan sendirinya pula akan menyebabkan Eng Song mati?CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Dia jadi menggidik sendirinya berpikir sampai kesitu.

Biar bagaimana memang dia paling takut berurusan dengan hantu.

Untuk menghadapi penderitaan hidup yang bagaimana beratpun tidak akan membuat Eng Song jeri.

Tetapi berhadapan dengan hantu, jelas dia merasa ngeri.

Di samping itu terlihat juga bahwa Eng Song memang telah lemas.

Biarpun dia telah bersiap-siap akan melarikan diri, namun disebabkan seluruh tenaganya seperti telah lenyap, dengan sendirinya dia jadi tidak bisa melarikan diri.

Saat itu terdengar hantu yang memakai jubah warna hitam telah membentak dengan suara yang bengis .

"Hemmmmmmmm, enak saja kau bicara seperti juga bocah itu adalah turunan nenek moyangmu! Baik! Baik! Kalau memang kau dapat membinasakan diriku, ambillah bocah itu! Dan terimalah ini.........! Dan membarengi dengan suara bentakannya yang bukan main kerasnya tampak si hantu yang memakai jubah warna hitam telah melancarkan serangan pula. Serangkum angin serangan yang bukan main hebatnya telah menerjang kearah hantu yang berpakaian serba putih itu dengan dahsyat. Hantu yang memakai jubah warna putih itupun telah merasa terkejut. Karena tenaga serangan hantu hitam kali ini luar biasa cepatnya. Biar bagaimana memang kenyataannya hantu hitam itupun memiliki tenaga yang tidak lemah, lagi pula memang hantu berbaju hitam itu juga memiliki kepandaian yang luar biasa. Mau tidak mau hantu berbaju putih itu harus dapat menangkis dan memunahkan tenaga serangan dari hantu berbaju putih itu. Gerakan yang dilakukannya itu bukan main kuatnya karena dia memang memiliki kekuatan yang dahsyat juga. Kembali dua kekuatan tenaga yang sangat tangguh telah saling bentur ditengah-tengah udara. Dan suara benturan dari dua kekuatan tenaga raksasa itu bagaikan ledakan suatu barang yang dahsyat bukan main dan memekakkan anak telinga. Dengan sendirinya, mau tidak mau memang si hantu berbaju putih itu merasakan tubuhnya tergetar. Dia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring dan dia juga telah melancarkan serangan susulan. Dengan cara demikian rupanya hantu berbaju putih itu ingin membuat si hantu berbaju hitam itu tidak memiliki kesempatan sama sekali buat melakukan serangan membalas padanya. Namun kenyataannya hantu berbaju hitam itu memang liehay. Walaupun hantu putih itu telah berbalik melancarkan serangan kepadanya, namun kenyataannya hantu hitam itu dapat juga mengelakkannya. Malah hantu hitam ini telah melancarkan serangan yang jauh lebih hebat dan lebih tangguh lagi. Mau tidak mau memang hantu berjubah putih itu harus mengakui keunggulan tenaga dalam yang dimiliki hantu berjubah hitam.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Berulang kali dia merasakan hebatnya rangsekan tenaga serangan yang dilancarkan oleh si hantu hitam, dan tenaga rangsekan itu dapat merubuhkan segala benda apapun yang menghalanginya.

Kenyataan seperti ini telah memaksa si hantu berpakaian putih itu harus berhati-hati pula menghadapinya jika tidak ingin bercelaka ditangan hantu hitam itu.

Sedangkan Eng Song yang saat itu telah merasakan pulihnya sebagian tenaganya, telah berusaha untuk berdiri.

Dan disaat dia melihat ada kesempatan, dengan cepat Eng Song berlari untuk menuju kepintu kuil.

Untuk kabur.

Namun di saat itu Eng Song mendengar seruan kaget dari hantu putih.

Dan Eng Song merasakan seperti ada angin yang kuat sekali menempel dipunggungnya.

Tahu-tahu tubuhnya telah tersedot dan kemudian tertarik untuk terbanting kejengkang.

Dia bergulingan di lantai dan kemudian telah kembali mendekam di dekat meja sembahyang itu.

Cepat sekali, diantara semua itu diantara apa yang terjadi, hati Eng Song seperti mau copot.

Dia jadi mengeluh putus asa, sebab dengan adanya peristiwa seperti ini, berarti dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk kabur.

Biar bagaimana memang hantu-hantu itu memiliki kewaspadaan yang jauh tinggi dari manusia biasa.

Dan juga, tanpa mengejar, malah hantu putih itu telah dapat menarik Eng Song kembali ketempatnya, dengan hanya meminjam tenaga yang dilancarkan dari telapak tangannya, tentu saja merupakan suatu hal yang sangat mengagumkan bukan main.

Diam-diam Eng Song jadi menggidik membayangkan kehebatan yang demikian oleh hantu putih maupun hitam.

Dan memang akhirnya Eng Song menyadari pula bahwa tidak mau memang dia harus jatuh ditangan kedua hantu itu.

Kenyataan seperti ini telah membuat Eng Song hampir saja menangis saking ketakutan.

Biar bagaimana dia tidak mau kalau dirinya sampai diambil oleh setan itu, karena dengan diambilnya dia oleh setan itu, berarti dia harus mati dulu, baru nanti menjadi hantu penasaran, menjadi pengikut dari kedua hantu putih dan hitam itu.

Sungguh menakutkan sekali dan mengerikan bukan main jika Eng Song membayangkan hal itu sampai sebegitu jauh.

Dia menghela napas panjang dan memandang mendelong kearah kedua hantu putih dan hitam yang masih juga tengah melakukan suatu pertempuran yang tidak kunjung berhenti.

Saat itu hujan masih juga turun dengan deras bukan main.

Suara petir dan juga guruh telah terdengar berulang kali.

Diantara kesemua itu, suasana didalam ruangan kuil jadi sering kelap-kelap oleh sinar petir itu.

Dan juga didalam ruangan kuil ini pula menimbulkan suasana yang mengerikan sekali.

Eng Song jadi duduk mematung memandangi kedua hantu yang tengah saling tempur itu.

Biar bagaimana dia merasakan bahwa dirinya tentu tidak mungkin dapat terlepas dari kedua tangan yang tengah bertempur itu.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Jika memang dirinya tidak jatuh ditangan hantu berbaju putih itu, setidak-tidaknya dia tentu akan jatuh ditangan hantu berbaju hitam.

Kedua-duanya memang sama saja, karena kedua-duanya memang sama-sama hantu.

Inilah yang telah menakutkan sekali bagi Eng Song.

Dia memutar otak mencari akal untuk dapat meloloskan diri dari kedua hantu yang menakutkan itu.

Bisa dibayangkan, betapa manusia akan ketakutan jika memang sesungguhnya dia yakin dia sedang berhadapan dengan hantu.

Terlebih-lebih lagi memang disaat itu Eng Song juga menyadarinya bahwa kedua hantu itu seperti juga tengah memperebutkan dirinya.

Maka dari itu, dia telah bersiap-siap jika memang ada kesempatan tentu dia akan melarikan diri.

Namun biar bagaimana memang kenyataannya kalau hantu itu maha tahu.

Dan apa yang akan dilakukan oleh Eng Song tentu sebelumnya telah diketahui oleh hantu itu.

Dan kemana saja Eng Song melarikan diri, tentu hantu-hantu itu akan dapat mengejarnya.

Inilah yang sangat ditakuti oleh Eng Song, mau tidak mau dia memang harus dapat berusaha agar dirinya dapat lolos dari kedua hantu itu.

Namun disebabkan hantu-hantu itu memiliki ilmu yang hebat juga, telah membuat Eng Soag, jadi buntu akal.

Tadi saja usahanya untuk melarikan diri telah gagal sama sekali.

Karena dia telah kena di sedot dan telah dibanting begitu rupa.

Coba kalau memang hantu itu bermaksud mencekiknya dan mencelakainya, tentu dia akan bercelaka sama sekali atau binasa menjadi hantu penasaran yang tidak menentu juntrunganaya.

Setidak-tidaknya dia akan menjadi hantu penasaran sama seperti hantu putih dengan hantu hitam itu.

Di saat itu, terdengar suara erangan dari hantu yang berpakaian serba hitam itu.

Tampaknya dia tengah murka bukan main.

Karena dia telah melancarkan serangan yang bertubi-tubi dan juga setiap serangan yang dipergunakannya itu bukan main dahsyatnya.

Tenaga serangannya itu telah menderu-deru dengan keras dan cepat sekali.

Eng Song menggidik melihat tampang dari hantu berpakaian serba hitam itu.

Sedangkan hantu yang berbaju putih telah mendengus tertawa dingin.

Dia juga telah mengeluarkan teriakan yang sangat nyaring.

Menyusul mana dia juga telah mengempos semangatnya.

Dia melancarkan serangan yang tidak kalah cepatnya.

Malah setiap serangannya itu selalu pula mengandung tenaga yang mematikan.

Dindiug kuil yang terkena serangannya itu akan bobol.

Maka bisa dibayangkan betapa hebatnya tenaga serangan yang dipergunakan oleh hantu berbaju putih itu dalam dia melakukan serangannya itu.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Di saat itu pula, si hantu yang berpakaian serba hitam itu sama sekali tidak mau mengalah.

Dengan kecepatan yang bukan main dia telah mengeluarkan suara bentakan dan telah mengempos seluruh tenaga yang ada padanya, dia telah melancarkan serangan yang bertubi-tubi.

Gerakan yang dilakukan oleh hantu berbaju hitam ini memang luar biasa sekali, dia seperti juga telah menjadi nekad dan kalap.

Hantu berbaju putih itu biar bagaimana memang telah menjaga segala sesuatunya dengan penuh kewaspadaan dan ketenangan juga dimilikinya.

Melihat kekalapan yang dimiliki hantu berbaju hitam itu, dia telah mendengus dengan suara yang tawar.

Tahu-tahu dia telah melancarkan serangan yang bukan main hebatnya.

Dan dengan beruntun kedua tangannya itu telah mendorong kemuka.

Gerakan yang dilakukannya ini bukan main hebatnya dan mengandung juga tenaga yang mematikan.

Biar bagaimana memang ketakutannya tenaga serangan yang dahsyat itu membuat tubuh hantu hitam jadi terpental keras sekali.

Tentu saja hantu hitam itu jadi terkejut bukan main, dia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan.

Hampir saja tubuh dari hantu berbaju hitam itu terbanting diatas lantai.

Namun disebabkan dia memang memiliki kepandaian meringankan tubuh yang kuat bukan main, dengan sendirinya dia bisa menguasai tubuhnya.

Dia turun meluncur kelantai dengan kedua kakinya terlebih dahulu.

Dalam keadaan selamat tanpa kekurangan suatu apapun juga.

Kenyataan ini rnembuat si hantu berpakaian serba putih itu jadi penasaran sekali.

Tanpa membuang-buang kesempatan, dengan mengeluarkan suara seruan yang keras, dia telah melompat, tahu-tahu kedua tangannya telah diulurkan kembali, dia telah melancarkan serangan lagi dengan gerakan yang luar biasa kuatnya pada si hantu hitam.

Hantu berpakaian serba hitam itu waktu melihat dirinya didesak demikian rupa, jadi mendongkol bukan main, dia telah mengeluarkan suara bentakan marah dan telah menangkis serangan itu dengan kekerasan.

Gerakan yang dilakukannya itu bukan main cepat dan kuatnya.

Maka dari itu dua kekuatan tenaga saling bentur ditengah udara.

Kenyataan seperti ini membuat dua tenaga dahsyat itu saling bentrok bagaikan dua buah batu yang sangat besar saling bentur.

Suara menggelegarnya terdengar begitu keras dan memekakan anak telinga.

Kenyataan ini kembali menyebabkan Eng Song jadi terperanjat bukan main.

Karena si bocah merasakan telinganya seperti juga telah menjadi tuli disaat itu, karena gendang telinganya telah tergetar keras ketika mendengar suara getaran yang terjadi didalam ruangan kuil ini.

Baru saja Eng Song mau melompat undur untuk menjauhkan diri dari kedua hantu yang tengah saling tempur itu, si hantu yang memakai baju putih telah mengeluarkan suara bentakanCHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

keras . Jangan coba-coba untuk melarikan diri lagi, karena aku bisa saja mengirim kau ke neraka!!"

Menyeramkan bukan main suara bentakannya itu, membuat tubuh Eng Song jadi menggigil.

Terlebih lagi memang yang membentak dengan suara yang bengis begitu bukannya seorang manusia, melainkan seorang hantu gentayangan.

Dengan sendirinya Eng Song mau tidak mau memang menjadi patuh.

Dia tidak berani terlalu bergerak dari tempatnya berada, untuk menghindarkan kecurigaan pada dirinya si hantu penasaran itu.

Di saat itulah dengan cepat sekali telah terjadi urusan yang sangat mengerikan sekali.

Karena hantu hitam yang telah menjadi nekad itu, dengan mengeluarkan suara teriakan yang sangat keras sekali, telah menerjang maju.

Kali ini disebabkan kenekadannya telah membuat dia menjadi kalap.

Sepasang tangannya yang melancarkan serangan yang bukan main kuatnya itu ternyata mengandung kekuatan tenaga dalam yang dahsyat sekali.

Hantu berpakaian putih itu yang melihat keadaan demikian jadi mengeluarkan seruan kaget.

Dia merasakan betapa kuatnya tenaga serangan yang dilancurkan oleh lawannya itu, maka dari itu, dengan sendirinya angin serangannya yang telah berkesiuran itu telah menghantam pula mukanya.

Mau tidak mau memang hantu berpakaian serba putih itu harus dapat mengelakkan diri dan mengengoskan diri dari serangan lawannya.

Karena kalau memang dia menghadapinya dengan mempergunakan kekerasan niscaya akan menyebabkan mereka bercelaka sama-sama.

Itulah sebabnya, hantu berpakaian serba putih itu telah melompat mundur kebelakang, dia telah melompat dengan gerakan yang cepat bukan main.

Gerakan tubuhnya bagaikan terbang belaka, dia telah melompat kebelakeng dengan mengeluarkan suara seruan.

Dan di saat tubuhnya telah melayang ditengah udara, dia baru membarengi dengan serangan tangan kanannya.

"Jaga serangan....!"

Serunya dengan suara yang bengis bukan main.

Si hantu hitam jadi terperanjat.

Waktu dia melancarkan serangannya, lawannya itu telah menghilang begitu tiba-tiba dari pandangan matanya.

Dan ketika dia tersadar dari terkejutnya dan mengetahui bahwa hantu putih itu berada ditengah udara, dia jadi mengeluarkan seruan murka.

Namun kenyataannya hantu putih itu telah melancarkan serangan yang bukan main hebatnya.

Serangan yang dipergunakan oleh hantu hitam ini juga mengandung kekuatan.

Kembali kedua tenaga yang bukan main kerasnya itu telah saling jumpa di tengah udara.

Dan saking hebatnya benturan kedua tenaga yang bukan main itu telah menyebabkan ubin dari lantai ruangan kuil tersebut telah sempal.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Tentu saja pecahan batu lantai yang kecil-kecil itu telah berpentalan kesana kemari.

Celakanya salah satu dari pentalan pecahan lantai itu telah mengenai Eng Song, sehingga bocah ini merasa kesakitan yang bukan main.

Dengan mengeluarkan suara seruan yang kesakitan, Eng Song cepat-cepat mengusap keningnya yang terkena samberan batu kecil itu.

Dilihatnya darah merah yang membasahi telapak tangannya.

Dia jadi terkejut lagi.

Tentu saja melihat darah merah itu, hatinya bertambah keder saja.

Biar bagaimana Eng Song adalah seorang manusia belaka.

Dan usianya juga masih terlalu muda.

Maka dari itu, mau tidak mau didalam hal ini memang harus lebih berhati-hati jika tidak mau bercelaka ditangan kedua hantu itu.

Saat itu, hantu hitam telah terjatuh duduk.

Rupanya tenaga tindihan dari hantu putih itu luar biasa kuatnya.

Dan tenaga serangan hantu putih itu memang memiliki kekuatan yang bukan main dan dahsyat sekali.

Mau tidak mau memang didalam hal ini harus diakui oleh hantu hitam bahwa hantu putih memang memiliki kelebihan kepandaianbya jika dibandingkan dengan kepandaian yang dimilikinya.

Di saat itu, rupanya hantu putih itu telah merasa menang diatas angin.

Waktu melihat lawannya telah jatuh terduduk, dengan cepat sekali dia telah mengeluarkan suara seruan yang keras bukan main.

Dia telah melancarkan serangan lagi dengan kecepatan yang bukan main.

Di samping itu memang hantu berpakaian serba putih ini memang ingin mendesak lawannya dengan kekuatan yang ada padanya dan memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya.

Biar bagaimana hantu hitam itu sedang dalam keadaan di bawah angin.

Dan jika dalam keadaan seperti itu didesak dengan cepat sekali, tentu si hantu hitam akan kewalahan dan tidak berdaya sama sekali.

Saat itu hantu hitam yang sangat penasaran sekali telah mengeluarkan suara bentakan keras.

"Kau curang.....!"

Lalu membarengi dengan suara bentakannya itu, dia telah mengerahkan sebagian dari tenaga dalamnya dan nekad sekali dia menyeruduk akan menghajar perut dari hantu berpakaian putih itu.

Gerakan yang dilakukan oleh hantu berpakaian hitam itu sangat luar biasa sekali dan dilakukannya juga dengan begitu tiba-tiba.

Dengan sendirinya si hantu berpakaian serba putih tersebut jadi terkejut sekali.

Dia telah mengeluarkan suara yang menyayatkan hati.

Karena serangan dari hantu hitam itu sama sekali tidak sempat untuk ditangkisnya, dia telah kena diserang telak sekali oleh lawannya.

Tubuh hantu putih itu telah terguling-guling diatas tanah.

Dan hantu hitam juga telah menerjang lagi dengan kenekadan yang ada padanya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA

Kolektor E-Book

Serangan yang kali ini dilancarkannya pula juga mengandung kekuatan yang bukan main hebatnya.

Serangan itu mengandung tenaga yang sangat mematikan sekali.

Di samping itu memang harus diakui bahwa hantu berpakaian hitam itu di samping memang bernafsu untuk merebut kemenangan, tampaknya dia juga bermaksud akan membinasakan lawannya.

Karena setiap serangan yang dilancarkan olehnya itu selalu mengandung tenaga yang mematikan....!

Untuk mengadu jiwa seperti itu tentu saja hantu berpakaian serba putih harus berpikir dua kali.

Dia tidak mau kalau harus mati bersama-sama didalam pertempuran mereka.

Dari itu, sambil mengempos tenaga yang ada padanya, dia mencari posisi.

Gerakannya cepat sekali, dia telah menangkisnya dengan gerakan yang luar biasa gesitnya.

Dan di antara berkelebatnya sepasang tangan hantu putih itu, dia telah dapat memunahkan tenaga serangan dari hantu hitam.

Dengan cepat dia juga telah melancarkan serangan yang luar biasa sekali kearah si hantu hitam.

Gerakannya yang kali ini bukan main-main dan bukan hanya sekedar menggertak belaka.

"Rubuhlah kau!"

Bentak si hantu putih dengan suara yang keras.

Hantu hitam itu benar-benar terah terguling dilantai sambil mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan, tampaknya dia telah digempur hebat sekali dan telah menderita luka didalam.

Hantu berpakaian serba putih telah berdiri tegak mengawasi hantu hitam yang tengah merangkak untuk dapat berdiri lagi.

Tubuh hantu hitam tampak sempoyongan seperti akan rubuh.

Hal seperti itu telah membuktikan bahwa serangan yang dipergunakan oleh hantu putih itu memang sangat luar biasa sakali dan menakjubkan.

Maka dari itu, dengan cepat sekali, diantara keheningan itu, si hantu telah berkata dengan suara yang tawar .

Baca Juga: Istana Pulau Es 2

Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert