Ceritasilat Novel Online

Legenda Pendekar Ulat Sutera 1

Eps 1 Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying

Baca online Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying

Cersil Legenda Pendekar Ulat Sutera - Huang Ying.

yoza collection Seruling Haus Darah -Halaman yoza collection Seruling Haus Darah -Halaman 0 Karya .

Huang Ying Penerbit .

CV.

Tunas Mandiri Jaya (2012) Pustaka Koleksi .

Gunawan Aj Image Source .

Awie Dermawan Edited & Ebook by .

yoza

Kolektor E-Book

adalah sebuah wadah nirlaba bagi para pecinta Ebook untuk belajar, berdiskusi, berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Ebook ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk melestarikan buku-buku yang sudah sulit didapatkan di pasaran dari kepunahan, dengan cara mengalih mediakan dalam bentuk digital.

Proses pemilihan buku yang dijadikan objek alih media diklasifikasikan berdasarkan kriteria kelangkaan, usia, maupun kondisi fisik.

Sumber pustaka dan ketersediaan buku diperoleh dari kontribusi para donatur dalam bentuk image/citra objek buku yang bersangkutan, yang selanjutnya dikonversikan kedalam bentuk teks dan dikompilasi dalam format digital sesuai kebutuhan.

Tidak ada upaya untuk meraih keuntungan finansial dari buku-buku yang dialih mediakan dalam bentuk digital ini.

Salam pustaka!

Team

Kolektor E-Book

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 2 LEGENDA PENDEKAR ULAT SUTRA Pengarang . Huang Ying Terjemahan . Liang YL. Pustaka Koleksi . Gunawan Aj. Image Sources . Awie Dermawan Ebook PDF . yoza @ Nov, 2018,

Kolektor E-Book

PENERBIT . CV. Tunas Mandiri Jaya 2012Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 1Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 3 Legenda Pendekar Ulat Sutra Pengarang . Huang Ying

Jilid Kesatu U YAN-HONG bertiga baru meninggalkan rumah An-lek-hou (An-lek=tentram dan bahagia, Hou=bangsawan yang berkuasa).

Ketika tandu Tiong Bok-lan sudah tiba.

Mendengar Ngo-hujin keluarga Lamkiong datang berkunjung, Tiong Toa-sianseng cepat-cepat mempersilahkan masuk ke dalam.

Dia merasa tegang.

Walaupun dia sering berkata kalau dia sudah bisa bebas dari aturan-aturan yang ada pada waktu itu, namun Tiong Bok-lan adalah putri kesayangan dia yang merupakan satu-satunya keluarga dia.

Dia sangat jarang berkunjung ke keluarga lamkiong.

Selain sangat jauh dari rumahnya, juga sebenarnya dia menghindari berkunjung ke sana.

Setelah ayah dan anak bertemu, Tiong Toa-sianseng merasa senang dan juga sedih.

Suaranya bergetar.

"Bok-lan, cepat bangun, biar ayah bisa melihat mu lebih jelas."

Mata Tiong Bok-lan memerah. Dia segera mendekat dan berlutut kepada Tiong Toa-sianseng. Tiong Toa-sianseng dengan cepat memapah sambil melihat nya, dan menggelengkan kepalanya.

"Kau terlihat lebih kurus!"

"Ayah juga, rambut dan jenggot ayah bertambah putih!"

"Orang bila sudah tua akan seperti ini!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 4

"Tapi ayali sebenarnya tidak terlihat tua!"

"Apakah hanya rambut dan jenggot saja yang bertambah putih? Kau selalu begitu menghibur ayah! Bagaimana kehidupanmu di sana?"

Tanya Tiong Toa-sianseng.

"Baik. Keluarga Lamkiong dari atas sampai bawah sangat baik kepadaku!"

Tiong Toa-sianseng menarik nafas.

"Beberapa tahun ini aku selalu sangsi apakah keputusanku ini benar? Mungkin kalau kau tidak masuk ke keluarga Lamkiong, hidupmu akan lebih bahagia."

Air mata Tiong Bok-lan berlinang. Dia terdiam. Hal ini membuat hati Tiong Toa-sianseng sema-kin sedih.

"Marahlah kepada ayah!"

"Ayah tidak bersalah. Ayali melakukan ini demi kebahagiaan putrimu. Apalagi ilmu silat Kakak Sie sebenarnya tinggi, sastra juga dikuasainya dengan sangat baik. Sifat kami sangat mirip. Dia sangat melin dungiku. Hanya putrimu bernasib tidak baik..."

"Mungkin ini adalah kehendak Thian, ayah tidak bisa apa-apa. Tapi kau masih muda, kehidupanmu kelak..."

"Putrimu sudah terbiasa..."

"Hidup sendiri seperti itu mana mungkin bisa bahagia?"

"Bukankah ayah juga hidup sendirian?"

"Ibumu sudah meninggal sepuluh tahun lebih, ayah sudah terbiasa!"

"Putrimu juga akan terbiasa!"

"Ayah berharap kau bisa terbiasa, tapi hidupmu masih panjang!"

Tiong Toa-sianseng menarik nafas.

"Ayah tenanglah, putrimu bisa mengurus diri sendiri!"

Raut wajah Tiong Bok-lan seperti sangat kuat. Terlihat sebelum datang kemari, dia sudah mengambil keputusan bulat. Dia segera mengalihkan pokok pembicaraan.

"mana Suheng?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 5

"Dia masuk ke dalam istana!"

Wajah Tiong Toa-sianseng terlihat penuh rasa khawatir. Ketika dia mau meneruskan pembicaraan, Tiong Bok-lan malah menutup pembicaraan.

"Mengenai masalah kerajaan, lebih baik putri mu jangan ikut campur!"

"Kau memang sangat mengerti!"

Kata Tiong Toa-sianseng.

1-1-1 Sesampainya di luar istana, Su Yan-hong bertiga sudah dicegat oleh pengawal bernama Hongpo Tiong dan Hongpo Ih.

Mereka tidak merasa terkejut.

Mata-mata Liu Kun memang berada di mana-mana.

Inilah tugas dua saudara ini.

Semua hadiah yang akan dikirim kepada kaisar harus diperiksa oleh mereka.

Tapi kata-kata mereka sangat sungkan dan sangat sopan.

Su Ceng-cau beberapa kali ingin marah tapi selalu dicegah oleh Su Yan-hong.

Di depan Su Yan-hong, gadis ini sangat penurut.

Kue dalam dus disampaikan ke tangan Hongpo bersaudara.

Katanya untuk dilihat.

Tapi sewak tu dua saudara ini membalikkan tubuh, dengan cepat kue diperiksa dengan jarum perak.

Bukan untuk memeriksa apakah ada racun tapi ingin tahu apakah di dalam kue tersimpan barang lain.

Mereka juga ingin melihat dus yang sangat bagus yang dibawa Siau Satn Kotigcu.

Tapi Su Yan-hong segera melarang.

"Yang ini tidak boleh dilihat!"

Hal ini membuat Hongpo bersaudara tam-bah penasaran. Mereka berkata.

"Hou-ya terlalu berlebihan!"

Tanya Su Yan-hong dengan dingin.

"Apakah kalian tahu barang di dalam dus adalah baju kebesaran pemberian Ong-ya kepada kaisar?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 6

"Kami baru tahu sekarang!"

Hongpo Ih masih bisa ter tawa.

"Apakah baju kebesaran kaisar bisa dibuka sembarangan untuk dilihat? Kalau tidak, kau akan bersalah dan sekeluargamu akan dihukum penggal! Maka kalian harus pikir-pikir dulu!"

Su Yan-hong. Hongpo bersaudara saling pandang dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Saat itu ter dengar suara Liu Kun berkata.

"Ada apa? Ada apa?"

Su Yan-hong dan Siau Sam Kongcu terkejut.

Kemun-culan Liu Kun lebih awal dari perkiraan mereka tapi Su Ceng-cau seperti tidak merasa tegang terhadap rahasia baju kebesaran kaisar ini.

Karena dia masih kecil, tidak berpengalaman, dan juga tidak bisa bertindak menurut keadaan, maka dikhawatirkan hal ini akan terpuruk di tangannya!

Hongpo bersaudara merasa lenang dan kem bali menyambut.

"Kalian benar-benar sangat lancang berani menghadang Hou-ya masuk!"

Jelas Liu Kun sudah menguasai gerak-gerik Su Yan-hong bertiga.

"Loya!"

"Cepat mundur!"

Liu Kun membentak Hongpo bersaudara. Dia juga melihat Siau Sam.

"Ini adai ala?"

"Aku Siau Sam!"

"Oh, Siau Sam Kongcu dari Hoa-san-pai!"

Liu Kun tertawa dan berkata lagi.

"Sudah lama kudengar bahwa di rumah Ling-ong banyak pesilat tangguh dan orang berbakat, benar-benar tidak salah!"

Su Ceng-cau melihat Liu Kun dan berkata.

"Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? Liu-congkoan atau Kiu-cian-swe (panggilan untuk kaisar adalah Ban-swe=sepuluh ribu tahun, Kiu-cian-swe=sembilan ribu tahun) "

Apa saja!"

Kata Liu Kun tertawa, melihat jelas dus mewah yang dibawa Siau Sam Kongcu katanya lagi.

"hadiah apa ini?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 7

"Ini adalah baju kebesaran kaisar yang di sulam di Soh-ciu, yang merupakan hadiah dari Ling-ong (Raja Ling) kepada kaisar!"

"Sulaman Soh-ciu memang sangat bagus dan terkenal. Ong-ya benar-benar memperhatikan kaisar. See Yan Tjin Djin barang yang begitu bagus ini apakah boleh aku melihat?"

Tanya Liu Kun.

"Bila Liu-congkoan ingin melihat, silakan!"

Su Yan-hong merasa tidak bisa menghalangi lagi, dia sendiri yang membuka dus itu. Liu Kun mendekat, matanya melihat dan tangannya juga menyentuh isi dus itu, sambil memuji.

"Benar-benar barang yang bagus! Kapan-kapan aku juga ingin menyulam bajuku di Soh-ciu!"

Dia sangat memperhatikan bagian leher dan ikat pinggangnya.

Wajah Siau Sam Kongcu tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi sebenarnya ke dua tangannya sudah mengeluarkan keringat dingin.

Setelah dilihat dengan teliti, Liu Kun baru menutup dusnya.

Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu.

"Aku masih ada urusan lain, jadi tidak bisa menemani kalian masuk!"

"Kami tidak berani merepotkan Liu-congkoan!"

"Kalian berdua ikut aku!"

Liu Kun berpesan kepada Hongpo bersaudara, yang terpaksa mengikutinya. Su Yan-hong menghembuskan nafas panjang. 2-2-2 Setelah melewati koridor, Hongpo Ih segera melapor.

"Di dalam kue tidak tersimpan sesuatu!"

"Baju kebesaran juga tidak ada? Apakah tersimpan di dalam hati? Aku ingin mencoba, apakah telinga Siau-te-lu peka atau tidak?"

Kata Hongpo Tiong.

"Mungkin mereka tidak ada tipuan!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 8

"Terhadap mereka, aku tidak pernah tenang!"

Liu Kun tertawa dingin.

"suatu hari nanti mereka akan tahu kelihaianku!"

Nadanya sangat bengis, hingga Hongpo bersaudara merasa bergidik.

3-3-3 Yang melayani kaisar adalah Siau-te-lu.

Ada beberapa selir yang kaisar sayangi dan salah satunya yang sedang melayani kaisar bernama Tltio Gong.

Thio Gong adalah salah satu dari Pat-houw (8 harimau).

Dia tidak selihai Liu Kun tapi pandai mengambil hati, maka kaisar sangat menyukainya.

Kaisar sedang beristirahat.

Setelah mendengar laporan, kaisar baru duduk kembali, tapi tetap bermalas-malasan.

Melihat Su Ceng-cau, dia segera menatapnya dengan sorot mata cabul, sehingga membuat Su Ceng-cau merasa tidak nyaman.

Walaupun Su Yan-hong tahu dia sedang pura-pura, tapi mengingat Ling-ong dan kaisar dulu adalah saudara kandung, dan kaisar dan Su Ceng-cau ada hubungan darah, dia merasa ingin tertawa.

Dia memberitahu kaisar bahwa dia adalah Tiang-lek Kuncu.

Kaisar segera berteriak seperti baru sadar.

"Aku hampir tidak mengenal dia lagi. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah ikut ayah ke Lam-kiang mengunjungi paman dan pernah bertemu denganmu, tapi waktu itu kau masih gadis kecil."

"Ini adalah Siau Sam Kongcu dari Hoa-san-pai. dia adalah guru pedang keluarga raja, yang bertanggung jawab mengajari ilmu silat Ceng-cau."

"Nama Siau Sam Kongcu sangat terkenal, benar-benar terlihat seperti seorang ksatria!"

Kaisar juga mengerti dan bisa memuji.

"Aku adalah rakyat biasa, kaisar terlalu memuji!"

Siau Sam Kongcu seperti sangat terkejut. Kaisar bertanya kepada Su Ceng-cau.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 9

"Kau jauh-jauh datang kemari membawa hadiah apa untukku?"

"Ayah sudah menyiapkan satu dus kue dan baju kebesaran bersulam naga untuk baginda!"

Su Ceng-cau tidak tahu ada rahasia dalam hal ini, maka kata-katanya tidak mengisyaratkan suatu petunjuk khusus.

"Kue Lam-kiang yang enak..."

"Tapi lebih bagus sulaman Soh-ciu..."

Kaisar segera mengerti. Dia berteriak.

"Ada barang yang begitu bagus, segera bawa kemari untuk aku coba."

Kaisar adalah orang yang bertindak tergesa-gesa, maka Siau-te-Lu Tan Thio Gong tidak mencurigai apapun.

Su Yan-hong segera membawa dus baju mendekat.

Kaisar segera masuk ke dalam.

Siau-te-Lu Tan Thio Gong segera mengikuti dari belakang.

"Cukup An-lek-hou saja yang melayani aku!"

Kaisar berhenti sebentar kemudian menoleh kepada mereka.

Thio Gong segera berhenti.

Siau-te-lu terpaksa berhenti juga.

4-4-4 Begitu masuk ke dalam kamar, kaisar langsung bersikap serius.

Ketika dia mau bertanya kepada Su Yan-hong, Su Yan-hong sudah tergesa-gesa menaruh dus dan membukanya, kemudian mengeluarkan baju kebesaran kaisar sambil melayangkan tangan memberi isyarat.

Kaisar mengerti, dia pura-pura tertawa.

"Kata orang-orang, sulaman Soh-ciu sangat bagus, benar-benar tidak salah!"

Waktu dia berbicara, Su Yan-hong dengan kukuh membuka lengan baju kanan, mengeluarkan setumpuk kertas setipis sayap serangga.

Kertas itu tertulis penuh dengan huruf-huruf kecil.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 10 Setelah kaisar mengambil dan membacanya, dia terlihat sema kin gembira.

Su Yan-hong tidak berani membiarkan konsen trasinya terpecah.

Dia tetap mendengarkan keadaan di luar.

Walaupun di luar ada Siau Sam Kongcu dan Su Ceng-cau juga Thio Gong, tapi dia harus waspada bila Siau-te-lu men-cari alasan untuk masuk.

5-5-5 Mata Siau-te-lu sedang berputar-putar.

Dia tidak punya alasan yang tepat untuk masuk.

Ketika dia merasa serba sulit, tiba-tiba dia melihat Liu Kun sudah berada di depan pintu, dia sangat senang dan langsung maju untuk menyambut.

"Kiu-cian-swe juga kemari?"

Teriak Thio Gong cepat. Liu Kun tidak menunggu laporan Siau-te-lu, dia sege-ra bertanya.

"Apakah baginda merasa baju kebesaran itu cocok? Apakah baginda menyukainya?"

Jawab Siau-te-lu.

"An-lek-hou sedang membantu baginda memakai baju itu!"

Belum lagi menyelesaikan kata-katanya, dia sudah terkena tamparan kemarahan Liu Kun.

"Kau benar-benar budak yang malas dan tidak berguna, sampai-sampai bisa melupakan tugasmu. Ini adalah pekerjaanmu. An-lek-hou adalah tamu, mengapa kau membiarkan dia menggantikanmu?"

"Perintah baginda, hamba tidak berani melawan!"

Siau-te-lu berlutut.

"Benar-benar tidak ada aturan, sekali tidak diawasi langsung berontak!"

Liu Kun dengan marah melihat Siau-te-lu, entah sedang marah kepada siapa, sambil marah dia juga masuk ke dalam kamar.

Tidak ada orang yang berani menghadang.

Su Ceng-cau seperti ingin bertindak tapi ditahan oleh Siau Sam Kongcu.

Dia tahu reaksi Su Yan-hong sangat tinggi.

Dari teriakan Thio Gong memanggilLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 11

"Kiu-cian-swe"

Tadi, dia harus sudah waspada dan masih cukup waktu untuk membereskan dokumennya.

6-6-6 Su Yan-hong tidak mengecewakan Siau Sam Kongcu.

Sebelum Liu Kun masuk, dia sudah menyim pan dokumen rahasia itu ke dalam tas kulit di tangan nya.

Bagian penting sudah dibaca kaisar.

Walaupun kaisar tidak mengingat semua pesan itu, tapi kelak Su Yan-hong akan memberitahunya.

Sebenarnya bagian yang harus kaisar ingat tidak terlalu banyak.

Su Yan-hong sebenarnya bisa mengirim dokumen rahasia ini dengan cara yang lebih aman, tapi dia tahu baginda sudah seperti burung yang terkejut.

Jika dia tidak membaca surat itu sendiri, akan sulit menenangkan hatinya.

Hanya dengan bersikap tenang, semua masalah akan berjaLan-lancar.

Ketika Liu Kun masuk, baginda sudah selesai mema-kai baju, katanya sambil tertawa.

"Kau datang tepat pada waktunya, bagaimana deng-an baju kebesaranku?"

"Sangat bagus!"

Liu Kun melihat ke kiri juga ke kanan, kadang-kadang seperti tidak sengaja membantu baginda merapikan bajunya.

Akhirnya dia melihat bukaan jahitan di bagian lengan baju, tapi dia diam kemudian melihat ke bagian ikat ping-gang melihat dengan teliti.

Orang ini benar-benar licik dan lihai.

Tapi Su Yan-hong tidak melihat hal ini, dia malah menarik nafas lega.

Akhirnya kedua tangan Liu Kun berhenti, dia tertawa kepada Su Yan-hong.

"Hou-ya pasti merasa kesal hati!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 12

"Bisa melayani baginda, itulah keberuntunganku!"

"Hal ini seharusnya dilakukan oleh Siau-te-lu. Hal kecil begitu pun tidak sanggup dia lakukan. Budak ini benar-benar membuatku kecewa!"

Liu Kun mengangguk, katanya lagi.

"kukira aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sini."

Kemudian berkata kepada kaisar.

"Kalau aku tidak pergi, mungkin anda akan marah." 7-7-7 Sampai mengantarkan Tiong Bok-lan keluar dari Wisma An-lek-hou dan melihat tandu sudah jauh, Tiong Toa-sianseng masih tetap bengong berdiri di depan tangga. Dia merasakan satu perasaan yang menggantung. Dia menarik nafas dan merasa dirinya sudah tua. Pada waktu itu Fu Hiong-kun datang ke depan pintu wisma An-lek-hou. Awalnya Tiong Toa-sianseng tidak melihat. Begitu melihatnya, dia masih mengira Tiong Bok-lan kembali lagi dan kelepasan berkata.

"Kau..."

Tapi begitu kata "Kau"

Keluar, dia segera tersadar kembali. Fu Hiong-kun merasa aneh dan terus melihatnya.."Mohon bertanya, apakah Hou-ya ada di rumah?"

"Dia...? Dia tidak ada!"

Tiong Toa-sianseng masih dalam kebingungan.

"Bagaimana dengan Tiong Toa-sianseng?"

Tiong Toa-sianseng merasa aneh. Dia melihat Fu Hiong-kun.

"Gadis kecil, apakah kau mencariku?"

"Apakah kau Tiong Toa-sianseng?"

Fu Hiong-kun me-rasa aneh.

"Aku adalah seorang tua, bukan tokoh yang terkenal, apakah ada orang yang ingin memalsukan diriku?"

Tiong Toa-sianseng tertawa. Dengan hormat Fu Hiong-kun berkata.

"Boanpwee adalah Fu Hiong-kun dari Heng-san-pai."Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 13

"Murid Ku-suthay?"

Fu Hiong-kun mengangguk, Tiong Toa-sianseng tersenyum, berkata.

"Pandangan dia benar-benar istimewa. Murid yang diterimanya sangat cekatan."

Tiong Toa-sianseng bertanya lagi.

"apakah gurumu baik-baik saja?"

"Ku-subo sudah meninggal tiga bulan lalu!"

Tawa Tiong Toa-sianseng segera membeku.

"Dia sudah pergi selama-lamanya, kukira aku yang akan pergi dulu daripada dia!"

Setelah menarik nafas, dia mempersilahkan Fu Hiong-kun masuk. Ketika melewati kebun bunga, tampak Ih-lan sedang mengejar seekor kupu-kupu. Melihat Tiong Toa-sianseng, dia segera berteriak.

"Sukong, bantu aku menanggap kupu-kupu!"

Tapi kupu-kupu malah terbang ke arah Fu Hiong-kun, ketika tangan Fu Hiong-kun diangkat, kupu-kupu sudah berada di tangannya dan tidak bisa terbang lagi.

Ih-lan berhenti di depan Fu Hiong-kun.

Matanya melotot dengan sorot aneh melihat Fu Hiong-kun.

"Apakah kau ingin menangkap kupu-kupu ini?"

Tanya Fu Hiong-kun kepadanya. Ih-lan mengangguk, dia melihat kupu-kupu itu.

"Ambillah!"

Fu Hiong-kun memberikan kupu kupu itu.

"Terima kasih Ciri!"

Dengan senang hati Ih-lan meng-ambil kupu-kupu itu. Tapi karena tidak hati-hati, kupu-kupu terbang lagi.

"Cici! Ciri!"

Ih-lan menarik lengan baju Fu Hiong-kun, berteriak dengan cemas.

"Tidak apa-apa, kakak akan menangkap lagi kupu-kupu yang lebih besar untukmu!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 14

"Sekarang ya! Sukong, Lan-Ian ingin Cici ini menangkap kupu-kupu!" » * Tiong Toa-sianseng tertawa pada Fu Hiong-kun. «p "Apakah gurumu menitipkan barang kepada ku?"

Dari pinggangnya Fu Hiong-kun menurunkan sebuah kantong kain.

"Inilah barang yang dipesankan oleh mendiang Subo, pesannya harus sampai ke tangan Lo-cianpwee!"

"Kalau begitu kau main dulu dengan Ih-lan, nanti suruh dia membawamu masuk ke dalam!"

Dia juga berpesan kepada Lan-lan.

"Ingat, harus menurut apa yang dikatakan Cici!"

"Pasti!"

Lan-lan segera menuntun Fu Hiong-kun sam-bil berlari.

"Cici, kita ke sana!"

Dia terus berlari tapi tidak mengawasi ke depan maka terpeleset. Saat dia hampir jatuh, dengan cepat Fu Hiong-kun sudah memapahnya.

"Hati-hati Lan-lan!"

Kata-katanya terdengar penuh perasaan.

Semua orang bisa melihat dia adalah seorang gadis yang baik hati.

Tiong Toa-sianseng melihatnya dan terpikir akan Su Ceng-cau.

Sifat Su Ceng-cau yang licik dan galak, dan sifat Fu Hiong-kun yang lembut, benar-benar menjadi perbandingan yang kontras.

Di dalam kantong kain ada sebuah kebutan dan sepucuk surat.

Di surat tertulis jelas, kebutannya diberikan kepada keponakannya Fu Hiong-kun.

Dia juga menitipkan Fu Hiong-kun kepada Tiong Toa-sianseng, berharap dia bisa mengurus dan memperhatikannya.

Memang Fu Hiong-kun pintar juga senang belajar, tapi pengalamannya di dunia persilatan sangat kurang.

Apa-lagi hatinya baik, jika tidak berhati-hati, akibatnya tidak terbayangkan.

Maka Ku-suthay benar-benar tidak tenang terhadap muridnya ini.

Dia juga mengatakan mengenai Su Yan-hong, dari muda istrinya sudah meninggal dan Ih-lan kurang terurus.

Dia harus menikah lagi dan Fu Hiong-kun adalah gadis yang baik hati.

Dia adalah calon istriLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 15 Su Yan-hong yang sangat tepat.

Ku-suthay 'bermaksud ingin menjodohkan mereka tapi apa boleh umurnya sudah berakhir, maka dia berharap Tiong Toa-sianseng bisa mencari kesempatan untuk men-jodohkan mereka.

Melihat surat ini, Tiong Toa-sianseng tambah terharu.

Ku-suthay sebenarnya adalah orang yang penuh perasaan, tapi apa boleh buat keadaan membuat dia sedih dan murung seumur hidup.

Dia percaya Ku-suthay tidak akan salah menilai orang.

Baru bertemu, kebaikan Fu Hiong-kun sudah terlihat dan Tiong Toa-sianseng sendiri juga mempunyai maksud yang sama.

Dia berharap Su Yan-hong bisa mendapatkan perem-puan yang baik.

Masalah seperti sangat sederhana tapi tidak mudah dijalankan.

Hal seperti ini buat Tiong Toa-sianseng adalah yang pertama kali dia temui.

Tapi tiba-tiba dia teringat putrinya sendiri.

Dia mengeluh dan merasa terharu pula.

8-8-8 Sifat Ih-lan juga sangat baik hati.

Kupu-kupu yang berada di tangan dilihatnya sebentar, kemudian dia tertawa dan melepaskannya lagi.

Yang pasti Fu Hiong-kun terus membantu dia menangkap kupu-kupu dan tidak merasa kesal.

Gadis sesabar dia memang tidak banyak.

Mereka berlarian di kebun bunga.

Akhirnya Ih-lan merasa lelah dan duduk, lalu katanya.

"Cici, kita main yang lain?"

"Aku kira sudah waktunya kau harus pulang. Kalau tidak, ibumu akan merasa khawatir!"

"Dia tidak akan mengkhawatirkan aku!"

Ih-lan menggelengkan kepala.

"Anak kecil tidak boleh berbohong!"

"Itu adalah benar. Dari kecil aku belum pernah bertemu ibuku!"

Fu Hiong-kun terpaku. Ih-lan berkata lagi.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 16

"Aku pernah bertanya kepada ayah mengapa ibu tidak pernah datang menengokku, apakah dia tidak suka kepadaku?"

"Lalu apa kata ayah?"

"Katanya ibu sudah pergi ke tempat yang jauh. Jika aku sudah besar, dia akan datang menengokku. Sekarang aku sudah 8 tahun tapi dia tidak pernah datang juga. Dia benar-benar membenciku!"

Fu Hiong-kun sudah tahu apa yang terjadi. Dia menghibur.

"Kau sangat pengertian, ibu tidak akan membencimu..."

"Itu pasti! Sebenarnya kalau dia tidak suka kepadaku, itu tidak apa-apa. Tapi dia harus pulang menengok ayali. Ayah selalu merindukan dia!"

Fu Hiong-kun mengelus-elus kepala Ih-lan.

"Salah Cici! Seharusnya jangan berbicara masa lah ini denganmu. Mari kita ke sana menangkap kupu-kupu lagi!"

"Ah, tidak mau!"

"Kalau begitu kita main apa?"

"Biarlah aku berpikir dulu!"

Tapi tiba-tiba dia meloncat dan berteriak.

"Ayah!"

Fu Hiong-kun berputar.

Terlihat Su Yan-hong, Siau Sam Kongcu, dan Su Ceng-cau sedang berjalan mendatangi.

Melihat Fu Hiong-kun, perasaan Su Yan-hong di luar dugaan.

Dia berjalan makin cepat.

Su Ceng-cau juga berjalan mengikuti.

"Nona Fu, mengapa kau berada di sini?"

"Ketika Ku-subo menghembuskan nafas terakhir, dia berpesan kepadaku untuk memberikan kantong kain ini pada Tiong-cianpwee. Kalau Tiong-cianpwee tidak ada, aku akan memberikannya padamu!"

"Guru kebetulan sedang ada di sini!"

"Aku sudah bertemu dengannya dan kantong kain sudah kuserahkan kepadanya!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 17 Su Yan-hong mengangguk. Dia ingin berkata sesuatu tapi Ih-lan datang memegang tangannya.

"Ayah, Cici ini suka kepada Lan-lan. Biarlah dia tinggal di sini menemani Lan-lan."

Su Yan-hong belum berkata apa-apa, Su Ceng-cau sudah menyela.

"Aku juga suka kepadamu, kelak aku akan datang menemanimu setiap hari!"

Lalu menarik tangan Lan-lan.

"Aku tidak mau kau yang menemani!"

Lan-lan tiba-tiba menghindar.

"Piauko coba lihat Lan-lan, dia takut bersamaku!"

Su Ceng-cau bermanja-manja kepada Su Yan-hong.

"Kau selalu menakut-nakutinya, maka dia pasti takut kepadamu!"

Kata Su Yan-hong tertawa.

"Ayah, Lan-lan suka kepada Cici ini. Ayah suruh dia tinggal di sini!"

Su Yan-hong mengangguk. Dia bertanya.

"Bagaimana pendapatmu, Nona Fu?"

"Piauko, biasanya bila aku mau menginap, kau selalu menolak. Tapi begitu marga Fu datang, kau menyuruh dia menginap!"

Teriak Su Ceng-cau.

"aku akan memberitahu pada ayah!"

Dia segera pergi.

Su Yan-hong merasa malu dan ingin memanggilnya, tapi Siau Sam Kongcu menggoyangkan tangan sambil tersenyum.

Dia segera mengikuti di belakang Su Ceng-cau.

Su Yan-hong menarik nafas dan berkata pada Fu Hiong-kun.

"Piaumoi ini bila berbicara selalu semaunya. 'Harap kau jangan marah!"

"Tidak!"

Dengan cepat Fu Hiong-kun berkata.

"aku akan menengok Tiong-cianpwee dulu!"

"Guru berada di belakangmu!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 18 Fu Hiong-kun menoleh. Benar saja, Tiong Toa-sianseng sedang berjalan mendatangi. Pertama-tama dia menanyakan.

"Apakah kau senang bermain, Lan-lan?"

"Aku senang! Sukong, aku ingin Fu-cici meng inap dulu di sini!"

"Nona Fu jauh-jauh datang kemari, mana mungkin tidak menginap?"

Kata Tiong Toa-sianseng kepada Fu Hiong-kun.

"Boanpwee masih ada urusan lain, maka tidak bisa menginap!"

Kata Fu Hiong-kun.

"Nona Fu baru pertama kali datang ke ibu kota, tentunya masih tidak mengenal jalan!"

"Orang dunia persilatan sudah biasa! Apakah masih ada hal lain yang akan Cianpwee suruh Boanpwee kerjakan? Harap berpesan!"

"Tidak ada! Ku-suthay adalah Bibinya Yan-hong. Dia juga sudah berteman lama denganku. Harap kau jangan menganggap kami adalah orang lain!"

"Cianpwee berkata terlalu berat!"

Fu Hiong-kun tersenyum lembut.

"Tugas yang dipesan oleh mendiang guru sudah selesai, Boanpwee pamit!"

"Kau ingin pergi, kami tidak berani memaksa!"

Kata Tiong Toa-sianseng. Ih-lan menarik-narik Fu Hiong-kun.

"Cici, betulkah kau mau pergi..."

Fu Hiong-kun melihat Ih-lan seperti mau menangis. Dia jadi tidak tega dan berkata.

"Cici tidak berniat untuk meninggalkan ibu kota dengan cepat, bila ada waktu Cici akan datang mencarimu!"

"Cici berjanji ya!"

Ih-lan berkata serius.

"Janji!" 9-9-9 Sampai bayangan Fu Hiong-kun tidak terlihat lagi, barulah Su Yan-hong dan Ih-lan kembali.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 19

"Apakah Cici akan datang lagi?"

Kata Ih-lan.

"Kau suka kepada Cici ini?"

Su Yan-hong balik bertanya.

"Cici juga suka kepada Lan-lan!"

"Kalau begitu dia akan datang lagi mengunjungimu!"

Su Yan-hong merasa aneh mengapa dia juga mengharapkan Fu Hiong-kun kembali. 10-10-10 Sekembalinya ke ruangan, Tiong Toa-sianseng baru bertanya.

"Yan-hong, apakah kau tahu siapa guru Nona Fu?"

"Bibi..."

Tiong Toa-sianseng mengeluarkan kebutan.

"Bibimu meninggalkan kebutan ini untukmu!"

"Kebutan ini pemberian ayah kepada bibi. Keluarga Su sangat sedikit, tidak disangka..."

"Hidup, tua, sakit,, mati tidak bisa dihindari. Bagi bibimu, itu adalah suatu pelepasan!"

Kata Tiong Toa-sianseng sambil mengeluarkan surat.

"surat ini ditujukan kepadaku, tapi kau boleh melihatnya, kau akan tahu keinginan bibimu!"

Su Yan-hong dengan heran menerima surat dan membaca. Dia merasa bingung, semua ini di luar dugaannya.

"Bagaimana menurutmu tentang Nona Fu?"

Tanya Tiong Toa-sianseng.

"Bibi lebih mengerti dia!"

"Yan-hong!"

"Guru, sekarang murid benar-benar tidak ada waktu untuk mengurus masalah pribadi!"

Tiong Toa-sianseng setuju tapi dia juga percaya jodoh diatur Thian, tidak bisa dipaksakan.

Sebaliknya jika jodoh sudah datang, tidak ada orang yang bisa menahannya.

Sebenarnya Fu Hiong-kun pertama kali masuk ke ibukota.

Dia tidak begitu mengenal jalan.

Sepanjang jalan dia berjalan sendiriLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 20 juga tidak merasa ada yang aneh.

Sekarang tujuannya sudah tercapai, dia tidak merasa bingung, juga merasa sendirian.

Dia seorang gadis yang penuh perasaan.

Dia berjalan tanpa tujuan, kemudian baru mulai merasa ada yang mengikuti dia.

Awalnya dia mengira dia salah, tapi begitu berjalan lagi dia memas tikan yang mengikuti dia adalah seorang pendeta muda, sambil menguntit dia juga melihat ke kiri dan kanan, seperti takut ada orang yang meng-ikutinya.

Dia sangat aneh.

Begitu melihat dia menoleh, pendeta muda malah melambaikan tangan kemudian masuk ke dalam sebuah gang kecil.

"Siapakah dia?"

Pikirnya sambil berjalan ke sana. Pendeta muda menunggu dia di dalam gang. Melihat dia datang, segera dia memberi hormat.

"Nona Fu!"

"Kau adalah...?"

"Aku Lu Tan!"

Pendeta itu mengangkat kepala. Dia adalah putra pejabat Lu Kian. Fu Hiong-kun tidak begitu mengingat nama Lu Tan tapi seperti pernah bertemu di mana. Setelah memutar otaknya, akhirnya dia teringat.

"Aku pernah bertemu dengannya di Bu-tong-san."

"Aku adalah murid bukan pendeta Bu-tong-pai. Walau pun dia ikut pertarungan Bu-ti-bun, tapi tetap dipilih oleh paman guru Yan Cong-thian untuk menjadi muridnya. Waktu nona mencari Wan-toako ke sana, kita pernah bertemu. Hanya saat itu aku tidak berpenampilan seperti ini!"

Begitu menyinggung naga Wan Fei-yang, Fu Hiong-kun merasa sedih lagi. Dia dengan kebingungan berkata.

"Menjadi pendeta juga bagus!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 21 Dia teringat lagi waktu di kuil dia berlutut tiga hari tiga malam memohon.

Ku-suthay tetap tidak mengijinkan dia memotong rambut untuk menjadi seorang biksuni.

Tapi Lu Tan malah berkata.

"Aku berpenampilan seperti itu karena ingin menutup mata dan telinga orang!"

"Oh?"

Fu Hiong-kun tidak merasa aneh, sebab dari gerak gerik Lu Tan, dia sudah melihat Lu Tan seperti orang yang sedang menghindari sesuatu.

"Apakah Liu Kun juga tidak melepaskanmu?"

"Kalau bukan Lam-touw Lo-cianpwee (Pencuri selatan) dan muridnya yang menyelamatkan, aku sudah mati di tangan Pak-to (Perampok utara) dan Hongpo bersaudara!"

"Dalam perjalanan menuju ibukota, aku mendengar ayahmu dicelakai oleh Liu Kun. Semua orang sedih mendengar hal ini. Hanya saja kekuatan Liu Kun terlalu besar. Kita hanya bisa diam-diam bercerita dan tidak berani menyebarkan kabar ini!"

"Dia sendiri mengaku dia adalah Kiu-cian-swe. Kaisar juga dikuasai oleh dia dan takut kepadanya, apalagi rakyat biasa."

Kata Lu Tan marah. Fu Hiong-kun juga melihat dia.

"Kau berpenampilan seperti ini dan tinggal di ibukota, apakah karena ingin mencari kesempatan untuk balas dendam?"

"Liu Kun selalu berada di dalam istana, di sebelah kiri dan kanannya selalu dilindungi oleh pesilat tinggi. Ingin membunuh dia bukanlah hal yang mudah, tapi bila ada sedikit kesempatan, aku tidak akan melepaskan dia. Tapi dunia terlalu besar, aku harus datang dan pergi ke mana?"

Fu Hiong-kun menghiburnya.

"Bila tuan menunggu untuk membalas dendam, tiga tahun juga tidak terasa. Kau bisa kembali ke Bu-tong-san dan berlatih ilmu silat, setelah lebih kuat baru mengatur rencana lagi!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 22

"Bu-tong-pai terus menerus mendapat musibah. Wan-toako entah pergi ke mana. Walaupun ada keinginan seperti ini tapi aku tidak tahu harus belajar kepada siapa?"

Fu Hiong-kun juga sedih karena memang seperti itulah keadaan Bu-tong-pai.

"Wan-toako harus pulang!"

Fu Hiong-kun ber kata sendiri.

"Setelah di Koan-jit-hong bertarung dengan Tokko Bu-ti, dia tinggal di Siauw-lim-si selama tiga tahun. Sekarang masalah Siauw-lim-si sudah beres, maka sekarang saatnya dia kembali ke Bu-tong-pai!"

"Apakah Wan-toako berada di Siauw-lim-si?"

"Sekarang sudah tidak lagi!"

Fu Hiong-kun menggelengkan kepala.

"kelihatannya kau kurang tahu tentang berita-berita di dunia persilatan."

Lu Tan mengangguk.

"Beberapa tahun ini aku selalu berada di sisi ayahku. Di ibukota memang jarang ada orang dunia persilatan. Orang-orang dari satu perkumpulan sangat sedikit dan jarang saling berkunjung!"

"Pantas saja sampai berita Wan-toako membantu Siauw-lim-si mengalahkan Put-lo-sin-sian (Dewa yang tidak pernah tua) dari Pek-lian-kau yang sangat menggegerkan dunia persilatan, kau juga tidak tahu!"

Lu Tan tertawa kecut.

"Kalau begitu di manakah aku bisa mencari Wan-toako?"

"Aku sendiri juga sedang mencari dia!"

Fu Hiong-kun terlihat sedih. Lu Tan pernah mendengar hal-hal tentang Wan Fei-yang dan Fu Hiong-kun. Melihat Fu Hiong-kun seperti itu, dia merasa terharu.

"Mungkin Wan-toako sudah kembali ke Bu-tong-san tapi sepanjang jalan aku tidak mendengar ada kabarnya!"

"Perkumpulan kami juga tidak mendengar kabarnya."Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 23

"Murid-murid Bu-tong-pai yang berada di ibu kota berjumlah berapa orang?"

"Tidak sampai 10 orang!"

"Walaupun tidak banyak tapi bagimu pasti ada kebaikan!"

"Tapi mereka tidak tahu identitasku yang sebenarnya."

"Apakah kau khawatir akan menyusahkan mereka?"

Lu Tan menggelengkan kepala.

"Ini adalah dendam pribadi!"

"Kau salah!"

Fu Hiong-kun dengan serius berkata.

"Liu Kun mendatangkan malapetaka bagi negara dan rakyat. Dia sudah menjadi musuh semua orang. Demi menghindari bencana pada orang-orang yang tidak bersalah, teman-teman yang menjaga ke adilan dan kebenaran harus bersatu, sama-sama menghadapi orang ini!"

"Apakah kau menganggap hal ini harus begitu?"

"Semua teman yang menjaga keadilan bermaksud begitu, apakah kau menganggap hal ini salah?"

Lu Tan menggelengkan kepala, tertawa kecut.

"Aku bukan benar-benar orang dunia persilatan, tapi aku kira aku akan terbiasa dengan cepat!"

"Tapi sekarang kau sudah lebih mirip orang dunia persilatan!"

Lu Tan tertawa.

"Aku harap bisa membantumu untuk masalah ini!"

Kata Fu Hiong-kun.

"Terima kasih Nona Fu!"

"Jangan sungkan! Sekarang kau mau ke mana?"

"Aku jalan-jalan dulu, mungkin bisa mendapatkan kabar yang lain. Tidak disangka bisa ber temu dengan Nona Fu! Apakah Nona Fu ada keperluan?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 24 Fu Hiong-kun dari tadi sudah memperhatikan orang di sekeliling mereka.

Orang-orang itu melihat mereka dengan sorot mata yang aneh.

Seorang gadis berbicara lama dengan seorang pendeta di gang kecil, memang terasa aneh.

Maka dia berkata.

"Sudah beres! Mari kita pergi dari sini!"

Lu Tan mengangguk.

"Di mana Nona Fu tinggal?"

"Tadi pagi aku baru datang dan masuk kota!"

"Berarti Nona Fu belum ada tempat tinggal. Bagaimana kalau sementara ini Nona tinggal di Pek-wan-koan?"

Fu Hiong-kun berpikir sebentar, dan akhirnya mengangguk.

Dia berharap bisa mengetahui keberadaan Wan Fei-yang dari murid Bu-tong-pai.

Kalau Wan Fei-yang muncul, sedikit banyak murid Bu-tong-pai akan mendapatkan kabar.

Namun kemudian terpikir olehnya, Lu Tan sampai-sampai tidak mengetahui berita Wan Fei-yang yang sudah mengalahkan Put-lo-sin-sian, hal ini membuat Fu Hiong-kun tertawa kecut.

Tapi di sisi lain ada perasaan mau pergi ke mana dan mulai dari mana sementara waktu sudah menghilang.

11-11-11 Di dalam hati Liu Kun, Lu Tan bukannya tidak penting, tapi karena orang yang harus dihadapinya terlalu banyak.

Boleh dikatakan setiap hari pasti ada calon bara yang muncul, tapi dia tidak merasa pusing, malah menganggap itu adalah menye nangkan.

Beberapa hari ini yang membuat dia cemas adalah An-lek-hou dan Tiang-lek Kuncu yang membawa baju kebesaran kaisar titipan Ling-ong kepada baginda.

Rahasia apa yang tersimpan di lengan baju?

Liu Kun tidak bisa menebak.

Maka begitu terpikir akan hal ini, dia langsung tidak enak hati.

Bila dia tidak suka, dia selalu mengomel.

Maka begitu melihat ekspresi dia yang sedang kesal, Hongpo bersaudara yang selaluLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 25 berada di sisinya segera merasakan dan selalu tidak berkomentar apa-apa.

Tapi setelah Hongpo Ih tahu penyebab kecemasan Liu Kun, dia ingin menonjolkan diri dan menunjukkan bahwa dia pintar juga cekatan, maka dia segera bertanya.

"Apakah Kiu-cian-swe teringat lagi akan baju kebesaran kaisar itu?"

Liu Kun menyahut. Hongpo Ih berkata lagi.

"Di dalam baju kebesaran pasti ada rahasiai"

"Rahasia apa?"

Liu Kun segera bertanya. Hongpo Ih terpaku. Hongpo Tiong mengeluh di dalam hati.

"Apakah ada berita khusus?"

Tanya Liu Kun.

"Pagi hari ini Ki Siang-su menjumpai Hoan-ta-hu untuk main catur..."

"Ini adalah masalah kecil..."

"Kata-kata Hoan-tai-hu tidak menaruh hormat kepada Kiu-cian-swe. Dia mengatakan Kiu-dan-swe sombong dan menguasai kerajaan!"

Liu Kun malah tertawa.

"Kutu buku seperti dia, apalagi sudah tua, tidak perlu dilayani!"

"Pejabat Tu-si-pui-ceng dan teman baiknya Liu Kian semalam mabuk arak. Mereka terus membicarakan Kiu-cian-swe. Laporan sudah diantar kemari, apakah Kiu-cian-swe ingin melihatnya?"

"Tidak perlu melihat. Aku sudah tahu apa isi laporan itu. Itu bukan pertama kalinya. Kapan-kapan cari waktu untuk menyingkirkan mereka!"

Tiba-tiba Liu Kun tertawa dingin.

"kapan dua Kaucu itu bisa masuk?"

"Malam ini jam satu akan masuk kota melalui pintu Cong-bun!"

Kata Hongpo Tiong sedikit tegang.

"Sangat baik!"

Liu Kun senang.

"Ini adalah hal yang paling penting, mengapa baru sekarang memberitahu padaku?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 26

"Kabar baru sampai. Kita membuat kejutan agar Kiu-cian-swe senang!"

Hongpo Tiong berkata dengan hormat. Liu Kun tertawa.

"Mereka mau membantu kita, semua masalah akan beres!"

Kemudian dia berkata lagi.

"apakah barang yang mereka butuhkan sudah disiapkan?"

"Kiu-cian-swe tenang saja, semua sudah siap!"

"Semua ini aku serahkan kepada kalian!"

Kemudian dia segera berbaring di ranjang.

Malam hari.

Dari pintu belakang kota Cong-bun, ada dua peti mati digotong masuk.

Prajurit yang beijaga di pintu kota sudah diganti dengan orang-orang Liu Kun.

Setelah mencocokkan kata-kata rahasia, Hongpo bersaudara segera menyuruh membuka pintu kota dan membiarkan peti mati masuk.

Delapan orang laki-laki yang menggotong peti mati terlihat seperti orang biasa.

Baju kerja mereka tidak bercela, itu pasti sudah dipilih dengan teliti.

Di sepanjang jalan selalu ada orang-orang Liu Kun yang diam-diam melindungi dan mengawasi mereka.

Bila ada orang yang dicurigai, langsung di cegat mereka.

Untuk menghindari perhatian orang, dua bersaudara Hongpo tidak berjalan bersamaan.

Mereka berdua berjalan ke sisi.

Delapan orang laki-laki yang menggotong peti mati melewati jalan besar, gang kecil, dan akhirnya masuk ke toko Tiang-seng.

Peti mati masuk ke kota Tiang-seng sangat wajar untuk menutup mata dan telinga orang.

Memang itu adalah cara yang paling bagus.

Di dalam toko Tiang-seng ada sebuah terowongan rahasia untuk masuk ke kota Hu-hiang.

Jalan rahasia ini tidak mudah dibuat dan kamar rahasia yang menyambung ke tempat rahasia di bawah sana' tidak sederhana.

Peti mati ditaruh di kamar rahasia itu.

Delapan laki-laki tegap segera berlutut di sisi.

Di dalam kamar sudah ada puluhan orangLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 27 yang penampilannya berbeda-beda menunggu, mereka juga ikut berlutut.

Sebuah pintu rahasia terbuka.

Hongpo bersaudara juga datang.

Mereka tidak berlutut tapi berdiri dengan tegak dan serius.

Penutup peti pelan-pelan meluncur membuka, tanpa suara terjatuh ke tanah.

Dua orang laki-laki setengah baya duduk di peti mati.

Mereka berbaju emas, wajahnya kering, tinggi dan kurus seperti mayat hidup.

Dua orang ini adalah anak buah Put-lo-sin-sian dari Pek-lian-kau, Thian-kun (Langit yang terhormat) dan Te-kun (Bumi yang terhormat) dari Sam-kun.

Sekarang orang dunia persilatan menjuluki mereka Eng-hai Siang-yauw (Sepasang iblis dari Eng-hai).

Couw Put-sian dan Couiu Put-hwi, 2 bersaudara.

Mereka yang tadinya berbaju perak, sekarang sudah diganti menjadi baju emas.

Wajah mereka masih seperti dulu, hanya kulit tubuh dan rambut yang sudah berubah.

Rambut yang hitam menjadi putih keabuan.

Di kulit tubuh yang putih terlihat muncul nadi-nadi darah.

Mata yang tadinya bagian putih lebih banyak dari hitam, sekarang ada lingkaran darah yang memenuhi bola mata, membuat orang merasa mereka lebih mirip siluman.

"Bunga teratai bersih tidak terkena tanah, terang juga bersih. Buddha turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia!"

Murid-murid Pek-lian-kau terus berseru di dalam kamar rahasia.

"Kaucu panjang umur!"

Thian-te-siang-kun tertawa dan berdiri.

Walau pun mereka belum menemukan Bi-giok-leng (Perintah giok hijau) untuk memimpin semua murid Pek-lian-kau, tapi di depan murid Pek-lian-kau yang mendukungnya, mereka sudah seperti menjadi ketua Pek-lian-kau yang tidak resmi.

"Kami Hongpo bersaudara menemui Ji-wi Kaucu!"

Hongpo Tiong dan Hongpo Ih mendekat untuk memberi hormat.

"Kalian berdua tidak perlu sungkan!"

Thian-kun melayangkan tangan.

"apakah kalian dikirim oleh Kiu-cian-swe?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 28

"Betul!"

Jawab Hongpo Ih.

"di wisma Kiu-cian-swe sudah mengatur semuanya, hanya menunggu kedatangan Ji-wi Kaucu!"

"Kadang-kadang banyak masalah yang tidak leluasa kita lakukan di wisma Kiu-cian-swe!"

Thian-kun tertawa.

"apakah ada gerakan orang dunia persilatan di ibukota?"

"Tidak ada!"

"Apakah di antara mereka ada yang sulit dihadapi?"

"Mereka adalah Lo-taikun dari keluarga Lam-kiong, dan ketua Kun-lun-pai Tiong Toa-sianseng."

Hongpo Tiong tidak menyebut nama Lam-touw (Pencuri selatan).

Walaupun ilmu mereka kalah dari Lam-touw tapi mereka selalu menganggap Lam-touw hanyalah sejenis Pak-to (Perampok utara), tidak bisa disamakan dengan Lo-taikun dan Tiong Toa-sianseng.

Thian-te-siang-kun saling pandang.

Thian-kun berkata.

"Suruh Kiu-cian-swe tenang. Lo-taikun dan Tiong Toa-sianseng tidak perlu ditakuti. Kami dua bersaudara akan mengatasi mereka!"

Dia bertanya pada seorang anak buahnya.

"Apakah barangnya sudah siap?"

"Lapor kepada Ji-wi Kaucu! Semua sudah siap dan kapanpun bisa digunakan!"

"Baik!"

Thian-kun tertawa. Suaranya membuat orang merasa takut.

"Sudah sampai waktunya!"

Te-kun melayangkan tangan.

Dua murid Pek-lian-kau segera menekan tombol di dinding, terdengar suara CHA!

CHA!

Pintu rahasia segera terbuka.

Kemudian ada suara dua anak kecil menangis.

Thian-te-siang-kun seperti hantu gentayangan melayang masuk ke dalam pintu rahasia dan pintu segera menutup.

Murid Pek-lian-kau tadi segera memberi hormat kepada Hongpo bersaudara.

"Silahkan kalian berdua!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 29 Pintu yang dimasuki Thian-te-siang-kun tadi masih terbuka, Hongpo bersaudara tidak banyak bicara, mereka segera masuk.

Murid-murid Pek-lian-kau ikut masuk.

Sewak tu pintu tertutup, terdengar suara anak berteriak memilukan dari ruangan rahasia.

Sekelompok murid Pek-lian-kau seperti tidak merasakan apa-apa.

Tapi Hongpo bersaudara yang setelah mendengar suara itu malah bergetar seperti kedinginan.

Walaupun mereka adalah orang dunia hitam, juga tahu Thian-te-siang-kun sedang berlatih ilmu sesat, tapi begitu tahu bahan pokoknya adalah anak kecil, hati mereka tetap tidak nyaman!

*** Berita-berita diperoleh Liu Kun dengan sangat cepat.

Bila dilihat dari luar, An-lek-hu Su Yan-hong, Tiong Toa-sianseng dan Ci-cu-wan keluarga Lam-kiong tidak melakukan tindakan yang merugikan Liu Kun.

Menanggapi An-lek-hu Su Yan-hong yang di temani Tiang-lek Kuncu mengantarkan baju kebesaran kepada kaisar, Ci-cu-wan tetap tenang.

Kejadian ini tidak berbeda dengan dulu ketika Lo-taikun pernah masuk ke ibukota untuk bersembahyang.

Sebenarnya Ci-cu-wan memang tenang.

Dari luar, semua orang tidak merasa ada yang tidak beres dan seperti sudah terbiasa.

Terkecuali Kang Bing-cu.

Tadinya dia siap berangkat ke ibukota untuk bersenang-senang tapi semua orang memilih untuk tinggal.

Di Ci-cu-wan, kecuali Tiong Bok-lan yang pernah keluar sekali, yang lain tidak tertarik untuk keluar.

Keinginannya untuk keluar membuat Bing-cu segera teringat kepada Tiong Bok-lan.

Dia juga biasanya lebih akrab dengannya.

Pagi-pagi dia sudah datang mencari Tiong Bok-lan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 30 Tiong Bok-lan merasa aneh.

Pada saat itu dia sedang melukis.

Tiba-tiba Bing-cu masuk.

Tiong Bok-lan ingin menyimpan lukisannya, tapi tidak sempat lagi.

Dia melukis bunga dan pohon, dan menulis dua kalimat puisi, tapi semua ini bisa melukiskan keadaan pikirannya.

Maka dia takut Bing-cu mengetahui apa yang sedang dia pikirkan.

Memang Bing-cu punya mata yang tajam dan juga pikiran yang lincah, tapi dia sedang memikirkan hal lain.

"Bibi kelima, apakah kau merindukan paman kelima lagi?"

Tiong Bok-lan menghembuskan nafas, matanya memerah.

"Apakah kau datang mencariku?"

"Apakah hari ini bibi mau ke ibukota?"

Bing-cu bertanya dengan suara kecil. Tiong Bok-lan menggelengkan kepala. Bing-cu segera berkata lagi.

"Carilah satu alasan, Tai-kun akan mengijin-kan kita pergi ke ibukota!"

"Mengapa?"

Tiong Bok-lan sedikit terkejut.

"Asal kau membuka mulut, Tai-kun pasti akan setuju denganmu!"

Akhirnya Bing-cu menyampaikan isi hatinya.

"Setiap hari tinggal di Ci-cu-wan, aku merasa bosan!"

"Jika Tai-kun tahu, dia akan marah padaku!"

"Kalau bibi tidak memberitahunya, mana mungkin dia bisa tahu?"

"Tapi bila dia bertanya, aku tetap akan mem-beritahu. Tapi hari ini aku masih..."

Bing-cu menyela.

"Aku benar-benar ingin ke kota untuk melihat lihat!"

Tapi Tiong Bok-lan tetap menggelengkan kepala.

Bing-cu tahu sifatnya maka dia tidak berkata apa-apa lagi.

Dia menghentakkan kaki, membalikkan tubuh keluar dari kamar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 31 Tiong Bok-lan seperti ingin memanggilnya.

Begitu berdiri, dia lalu duduk kembali lagi sambil menggelengkan kepala.

12-12-12 Keluar dari kamar Tiong Bok-lan, Bing-cu masih berlari berbelok-belok melalui kebun, hampir-hampir bertabrakan dengan Kiang Hong-sim yang baru keluar dari pintu.

Bing-cu masih berlari.

Kiang Hong-sim berteriak.

"Bing-cu, kau mau ke mana?"

"Tidak tahu!"

"Siapa yang membuatmu marah? Beritahukan kepadaku, biar aku marahi dia!"

"Aku sangat bosan tinggal di Ci-cu-wan. Aku meminta bibi kelima membawaku ke kota, tapi dia mengkhawatirkan ini dan itu. Kalau tidak memberi tahukan pada Tai-kun, kita pergi diam-diam dan pulang diam-diam, mana mungkin Tai-kun bisa tahu?"

"Kau mau ke kota? Kukira ada apa, ternyata hanya itu..."

Kiang Hong-sim tertawa.

"Bagaimana kalau bibi kedua yang membawamu pergi?"

"Betulkah?"

"Asal jangan kau bocorkan hal ini!"

"Itu pasti!"

"Lihat dirimu, begitu cemas!"

Kiang Hong-sim melihat ke sekeliling, kemudian menarik Bing-cu masuk ke dalam hutan bambu.

Di ujung hutan bambu ada sebuah dinding tinggi.

Asal bisa melewati dinding ini, maka sudah berada di luar Ci-cu-wan.

Dengan ilmu meringankan tubuh mereka, melewati dinding ini mudah seperti membalikkan telapak tangan.

13-13-13 Sim-sa-hai adalah tempat yang menarik.

Sekali pun bagi orang yang sudah tinggal lama di ibu kota, tempat ini tetap menarik,Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 32 apalagi bagi Bing-cu yang baru pertama datang.

Di sepanjang jalan dia melihat ke kiri dan ke kanan.

Begitu mendengar ada suara simbal dan dari Kiang Hong-sim dia mengetahui bahwa itu adalah tukang obat, dia bertambah senang dan ribut ingin ke sana untuk melihat-lihat keramaian.

Kiang Hong-sim tidak melarang, juga tidak ikut ke sana.

Dia hanya berpesan kepada Bing-cu.

"Bila kau ingin ke sana, jangan pergi ke mana-mana, nanti aku akan ke sana mencarimu!"

"Bibi kedua mau ke mana?"

"Aku ingin membeli bedak dan pemoles bibir!"

"Bibi kedua begitu cantik, apakah masih mem butuhkan bedak dan pemoles bibir?"

"Anak kecil tahu apa?"

"Aku tidak tertarik dengan barang ini!"

Bing-cu sudah lari ke dalam kerumunan orang.

Setelah dia pergi jauh, Kiang Hong-sim baru berjalan dengan sikap serius.

Dia berkata kepada Bing-cu kalau dia ingin membeli bedak, tapi sekarang dia malah berjalan ke sebuah toko kulit.

Toko kulit ini adalah toko kulit Hu-hiang tempat Thian-te-siang-kun bersembunyi.

Pemilik toko adalah murid Pek-lian-kau.

Melihat ada tamu yang datang, dia segera melayani.

Tapi begitu melihat Kiang Hong-sim, dia terpaku.

Tangan kanan Kiang Hong-sim ditaruh di atas meja.

Kelima jarinya bersatu seperti sekuntum bunga yang mekar.

Begitu pemilik toko melihat tangannya, dia baru pelan-pelan membuka jarinya satu persatu.

Jari yang pertama dibuka adalah jari tengah kemu dian diikuti oleh jari telunjuk, jari manis dan kelingking.

Telapak kiri pemilik toko berada di meja.

Dia seperti tidak sengaja menutup kemudian membuka telapak tangannya tiga kali.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 33 Jari Kiang Hong-sim berubah dua kali, kemudian dia bertanya.

"Lo-pan, apakah ada yang lebih bagus?"

"Ada! Masuklah ke dalam untuk melihat-lihat!"

Dia membawa Kiang Hong-sim masuk.

Tawanya sangat licik dan aneh.

Sorot mata Kiang Hong-sim juga tampak seperti itu.

14-14-14 Siau Cu sangat rajin seperti biasanya.

Sebelum Bing-cu datang menonton, dia sudah memasang jenggot dan rambut palsu berwarna putih keabuan.

Wajahnya dilukis dengan cat berwarna.

Dia sudah berubah menjadi seorang tua.

Dia meniru gerakan Lam-touw, hanya tidak membawa Holou yang berisi arak.

Tapi gerak mabuknya sudah sangat mirip, benar-benar mirip.

Semua orang yang melihat pertunjukan mereka adalah pelanggan lama.

Gerakan lucu Siau Cu membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.

Lam-touw tidak menyangka Siau Cu bisa meniru dia dengan begitu mirip, maka dia terus menghentakkan kaki.

Keenam indranya seperti akan mengeluarkan asap.

Dia marah, kemudian minum arak lagi.

Siau Cu tidak peduli.

Setelah itu, dia lalu bermain sulap.

Satu demi satu trik sulap dimainkan-nya, yang terakhir adalah 'Pa-pui-ki-tan (Telur ayam ada di mana).

Terlihat kedua tangannya terus ber-gerak.

ke kiri mencengkram, ke kanan juga, di atas kepala, hidung, telinga, bibir, mata, di semua tempat yang dicapai tangannya muncul telur ayam, dan diisi penuh ke dalam sebuah keranjang.

Semua orang tahu itu hanya trik kecepatan tangan.

Tapi semua orang kagum pada kecepatan tangannya, dan merasa heran di mana dia bisa menyimpan telur sebanyak itu?

Di akhir sulapnya, dia meminta sumbangan uang.

Sambil membawa wadah mengelilingi lapangan, uang logam masuk keLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 34 wadahnya.

Jumlahnya lumayan banyak.

Lalu penonton perlahan-lahan bubar.

Ketika Siau Cu pertama kali melewati Bing-cu, Bing-cu sama sekali tidak ada reaksi.

Dia hanya melihat sepasang tangan Siau Cu dengan aneh.

Tapi Siau Cu tidak melayaninya.

Setelah berkeliling satu putaran dan melihat Bing-cu masih berdiri di sana, maka wadah uangnya segera ditujukan ke Bing-cu.

Bing-cu melemparkan satu tail perak ke dalam wadah, yang mengeluarkan suara yang sangat keras.

Siau Cu segera berhenti.

Dia merasa hal ini di luar dugaan, dia melihat Bing-cu melihat sekeliling, kemudian dia teringat Su Ceng-cau.

Umur Su Ceng-cau dan Bing-cu hampir sama tapi dia lebih royal.

Tapi memang keadaannya berbeda.

Waktu itu Su Ceng-cau memecahkan banyak piring juga mengusir banyak penonton.

Kecuali Siau Sam Kongcu, pengawal, pembantu sampai berjumlah banyak.

Bing-cu terus menatap dengan diam.

Penampilannya seperti orang yang mempunyai hubungan dengan kaisar.

Di sekelilingnya tidak ada pengawal.

Dia terlihat masih muda dan polos.

Siau Cu melihat Bing-cu.

Dia menggelengkan kepala.

"Gadis kecil, tidak perlu memberi uang begitu banyak, beberapa uang kecil sudah cukup!"

"Paman, anggaplah uang itu untuk aku belajar pengetahuan!"

Bing-cu berkata serius. Siau Cu terpaku, sekarang dia baru memperhatikan, ternyata Bing-cu begitu cantik. Tapi dia tetap tidak tahan dan tertawa.

"Gadis kecil suka bercanda! Menjual obat, menjual teknik tidak ada harapan baik. Apa yang bisa kau pelajari?"

"Bukankah tadi semua orang sangat suka? Bila aku sudah belajar dan sulapku ditonton orang, bukankah mereka juga akan senang?"

Bing-cu menarik lengan baju Siau Cu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 35

"Paman, ajarilah aku sulap Pa-pui-ki-tan!"

Siau Cu melihat tangan Bing-cu yang putih.

"Apakah kau benar-benar mau belajar?"

"Betul!"

Bing-cu segera mengambil beberapa butir telur.

"sebenarnya butir-butir telur ini tadi kau sembunyikan di mana?"

"Kau harus belajar memegang telur dulu, nanti baru belajar yang lain!"

Bing-cu mengambil sebutir telur dengan tangan kanan. Dia mempelajari cara Siau Cu memegang telur.

"Kalau begitu cara memegangnya, mana bisa kita bergerak? Lihat yang jelas, harus begini!"

Siau Cu mengambil telur yang lain.

Bing-cu memperhatikan, juga belajar.

Dia memang gadis pintar, tapi memegang telur dia kurang bisa.

Dari beberapa sudut Siau Cu memperagakan caranya agar Bing-cu bisa melihat dengan jelas.

Terakhir Siau Cu memegang tangannya.

"Waktu memegang telur, jari telunjuk dan jari tengah jangan terlalu kuat. Lihat! Harus begitu baru benar!"

Siau Cu hanya ingin Bing-cu bisa menguasai teknik Pa-pui-ki-tan, agar Bing-cu tidak membenci dia.

Dia sama sekali tidak bermaksud kurang ajar.

Bing-cu juga tidak merasakan apa-apa, tapi dari bela kang tiba-tiba ada tangan yang mencengkram dan menariknya.

Dia menoleh, ternyata adalah Kiang Hong-sim, dia dengan marah melihat Siau Cu.

"Bibi kedua, apa yang terjadi?"

Tanya Bing-cu aneh. Kiang Hong-sim melepaskan cengkramannya. Dia menggelengkan kepala.

"Kau masih gadis, mana boleh membiarkan seorang laki-laki memegang tanganmu?"

"Dia sudah tua..."

Siau Cu masih bingung di tempatnya. Dia ikut berkata.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 36

"Betul, kalau bukan karena aku hidup tidak mujur, cucuku juga sudah sebesar dia."

Mata Kiang Hong-sim segera melihat tangan Siau Cu. Dia tertawa dan marah.

"Kau kurang ajar! Masih ingin membela diri!"

Segera telapak Kiang Hong-sim sudah menyerang.

Angin pukulan sangat keras, yang pasti Siau Cu tidak mau dirugikan, dia cepat menghindar.

Kiang Hong-sim terus menyerang berturut-turut sam pai 17 jurus.

Siau Cu hanya menghindar.

Yang pasti dia merasa malu.

Dia berteriak.

"Laki-laki yang benar tidak akan bertarung dengan perempuan!"

Tapi Kiang Hong-sim menyerang lagi.

Siau Cu harus menundukkan kepala baru bisa menghindar.

Tapi Kiang Hong-sim segera mengayunkan telapak menyerang matanya.

Siau Cu segera bersalto ke belakang untuk menghindari serangan ke matanya, tapi rambut palsu yang dipakainya sudah terbang sejauh 3 depa.

Siau Cu segera berguling ke bawah dan langsung meloncat bangun.

Dia menepuk-nepuk kepala.

"Perempuan yang kejam! Untung reaksiku cepat, kalau tidak kepalaku akan berpindah!"

Kiang Hong-sim tidak mengejar. Dia tertawa dingin.

"Dari awal aku sudah curiga, mengapa tangan seorang tua begitu licin dan segar, benar saja tidak salah!"

Bing-cu melihat Siau Cu dengan bengong. Siau Cu menarik jenggot palsunya dan bertanya.

"Apa yang salah?"

"Tidak ada! Wah, pemuda yang tampan untuk apa kau harus berdandan seperti seorang tua? Kau benar-benar menusuk citra sendiri, kau benar-benar berdosa!"

Siau Cu mundur dua langkah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 37

"Kalau kau terus menyerang, aku tidak akan sungkan membalas!"

"Mana mungkin aku berani tidak sopan bertarung dengan seorang guru?"

Kata Kiang Hong-sim.

"Guru?"

Siau Cu terpaku.

"Bing-cu ingin belajar ilmu sulap kepadamu. Sulit mendapatkan guru yang menguasai ilmu sulap dengan baik, mana mungkin kita melewatkan ini dengan sia-sia? Bing-cu, bagaimana kalau kita sama-sama belajar ilmu Pa-pui-ki-tan?"

Bing-cu melihat Siau Cu, tanpa sengaja menarik sepasang tangannya ke belakang, wajahnya menjadi merah.

Bing-cu benar-benar cantik, Siau Cu melihatnya dengan bengong.

Kiang Hong-sim melihat keadaan itu, dia tetap bertanya.

"Adik! Bagaimana, berapa biayanya?"

"Uang tidak masalah, asalkan kalian suka!"

Sorot mata Siau Cu tetap menatap wajah Bing-cu.

"Kapan bisa dimulai?"

Kiang Hong-sim mendekat.

"sekarang?"

Tangannya sudah mencengkram pundak Siau Cu. Siau Cu seperti tidak sengaja menghindar, dia menjawab.

"Di sini banyak orang. Kalau teknik sudah dipelajari orang-orang ini, kelak aku akan kehilangan pelanggan. Besok jam 2 pagi kutunggu kalian di kuil di timur kota, bagaimana?"

Mata Kiang Hong-sim yang besar berputar-putar. Dia segera tertawa.

"Baik. Bing-cu, ingat waktu dan tempatnya!"

Setelah itu, dia segera membawa Bing-cu meninggalkan tempat itu.

Siau Cu masih melihat bayangan punggung Bing-cu dengan bengong, sampai dia merasa ada sese orang mendekat.

Dia adalah Lam-touw yang tertawa dengan misterius.

"Guru!"

Kata Siau Cu sambil menggelengkan kepala.

"Pantas mati."Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 38

"Bicaramu harus jelas, yang pantas mati itu siapa?"

"Tentu saja aku! Aku selalu suka mengambil keputusan sendiri, tidak bertanya kepada guru terlebih dulu!"

"Tapi kali ini kau tidak membuat kesalahan!"

"Apakah guru juga setuju bila aku mengajari perempuan itu?"

"Mungkin kau tidak sanggup mengajari perempuan itu!"

"Ada guru, mana mungkin tidak bisa mengajar dia?"

"Bocah licik, sampai guru juga kau libatkan!"

Lam-touw marah, kemudian dia minum arak.

"Mengenai hal yang sangat menyenangkan ini, mana mungkin guru tinggal diam?"

"Lebih baik dia datang sendiri. Gadis kecil itu jangan ikut di sisinya!"

Kata Lam-touw.

"Ikut juga tidak apa-apa, aku yang akan melayani dia!"

Sorot mata Siau Cu melihat ke arah Bing-cu pergi tadi. Lam-touw memutar tubuh. Dia menghadang di depan Siau Cu.

"Kalau aku bukan gurumu, aku akan mengira kau adalah penjahat yang memetik bunga!"

"Guru jangan bercanda!"

"Di sini tidak ada cermin. Kalau ada, lihatlah kau benar-benar seperti penjahat!"

Kata Lam-touw sambil melihat ke kiri dan kanan. Siau Cu mengalihkan pokok pembicaraan.

"Bagaimana cara kita mengajar perempuan itu?"

"Tidak perlu membuat rencana, yang pasti kita sesuaikan dengan keadaan waktu itu!"

Lam-touw tertawa dingin.

"kalau hatimu tidak konsentrasi, lebih baik kurangi bicaramu. Semakin banyak bicara, semakin banyak salah. Sudahlah! Ambil telur ini!"

Dia memberikan sebutir telur kepada Siau Cu.

Siau Cu memang tidak konsentrasi, tangannya memegang agak kuat sehingga telur ayam segera pecah di tangannya.

Dia berteriak terkejut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 39 Ternyata memang Lam-touw sengaja bercanda dengannya, dia tertawa terbahak-bahak.

Siau Cu yang melihatnya hanya bisa tertawa kecut.

Bing-cu dan Kiang Hong-sim keluar dari Ci-cu-wan dengan memanjat dinding, demikian juga pulangnya memanjat dinding yang sama.

Sepertinya tidak ada yang tahu.

Tapi begitu melewati hutan bambu, ada yang membentak.

"Berhenti!"

Mendengar suara ini, Bing-cu dan Kiang Hong-sim bergetar. Begitu memutar tubuh, mereka melihat Lo-taikun berdiri, tangannya memegang tong kat kepala naga.

"Ke mana kalian pergi?"

"Kami tidak kemana-mana!"

Jawab Kiang Hong-sim.

"Aku mencari kalian di Ci-cu-wan tapi kalian tidak ada, masih berani berkata tidak kemana-mana!"

Lo-taikun marah. Melihat Lo-taikun marah, Kiang Hong-sim tidak berani berbohong lagi. Dia pelan-pelan berkata.

"Aku membawa Bing-cu keluar jalan-jalan!"

Dengan ketakutan Bing-cu berkata.

"Aku bosan terus tinggal di Ci-cu-wan, maka •meminta bibi kedua membawaku ke kota!"

"Mau ke mana pun sama saja. Singkatnya, keluar diam-diam dari Ci-cu-wan adalah salah. Liu Kun sudah menyuruh orang mengawasi kita, kalian malah keluar dari Ci-cu-wan untuk bermain. Kalau terjadi sesuatu bukankah akan membuat kita repot?"

"Kami yang bersalah!"

Kiang Hong-sim pintar. Dia segera mengakui kesalahan.

"Lain kali kami tidak berani lagi!"

Kata Bing-cu.

Begitu mengucapkan kata-kata ini.

dia baru ingat janjinya dengan Siau Cu besok malam.

Tapi kata-katanya yang sudah keluar tidak mungkin di tarik kembali.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 40 Lo-taikun melihat wajah Bing-cu.

Akhirnya dia tertawa.

"Baik, kali ini aku maafkan kalian! Kalau terjadi hal seperti ini lagi, aku akan menghukum kalian dengan berat!"

Bing-cu tundukkan kepala, Lo-taikun menggelengkan kepala, membalikkan tubuh pergi meninggalkan tempat. Setelah Tai-kun pergi jauh, dia baru tertawa.

"Aku sudah bilang dia tidak akan menghukum kita!"

"Lebih baik kau jangan lupa apa yang sudah kau katakan tadi!"

"Tapi kita sudah berjanji besok malam...."

Kata Bing-cu pelan-pelan.

"Sudahlah! Semua kata-kata sudah keluar dari mulutmu. Bila Tai-kun marah, aku tidak berani bertanggung jawab!"

"Bibi kedua!"

"Kita hanya menonton dan merasa tertarik, bukan berarti harus belajar sulap. Anggaplah hal ini tidak terjadi!"

Bing-cu menundukkan kepala.

Kiang Hong-sim melihatnya.

Dia tertaw, memang dia tidak ingin Bing-cu ikut.

Bila dia ikut, maka akan merusak sua sana.

Dia juga tahu bila dia tidak menemani Bing-cu, Bing-cu tidak akan berani meninggalkan Ci-cu-wan, karena Bing-cu tidak mengenal situasi kota.

15-15-15 Di pinggir kota.

Walaupun tidak ada suara orang memukul kentongan, Siau Cu yang berpengalaman melihat langit sudah tahu sekarang ini jam dua pagi.

Malam ini begitu terang, bila ingin meng-hitung waktu, itu adalah hal yang mudah.

Satu jam sudah lewat.

Bing-cu belum datang.

Siau Cu sedikit cemas.

Teringat Bing-cu, terbayang lagi wajah Bing-cu yang memerah ketika dia memegang tangan Bing-cu tadi pagi.

Dia bengong sendiri.

Terdengar suara baju ter .sapu angin, Kiang Hong-sim sudah berada di depan pintu kuil.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 41

"Kau sudah datang!"

Kata Siau Cu terkejut. Melihat Kiang Hong-sim datang sendiri, dia merasa kecewa.

"Kau sudah menunggu lama?"

Kiang Hong-sim tertawa genit.

"Mana Bing-cu?"

Tanya Siau Cu.

"Dia malu dan tidak berani datang. Tapi tidak apa-apa. Aku belajar dulu, kalau sudah bisa, aku akan mengajari dia!"

Dalam hati Siau Cu sudah memperkirakan hal ini, tapi dia tetap terlihat kecewa.

"Mengapa kau bisa menyulap begitu banyak telur?"

Tanya Kiang Hong-sim.

"Sebenarnya, dari semula aku sudah menyem bunyikan telur-telur di dalam baju. Orang yang bermain sulap harus bertangan cepat. Mata orang yang melihat lebih lambat maka telur seperti keluar dari baju!"

"Dalam baju bisa tersimpan begitu banyak telur?"

Tanya Kiang Hong-sim sambil tertawa.

"kau simpan di mana? di sini?"

Tangannya sudah masuk ke dalam baju Siau Cu.

"Kau mau apa?"

Siau Cu terkejut dan mundur.

"Aku adalah perempuan tapi tidak malu. Sedangkan kau laki-laki malah malu?"

Tubuh Kiang Hong-sim sudah menempel.

Siau Cu mundur lagi.

Kiang Hong-sim tertawa terbahak-bahak.

Sepasang tangannya menekan pipi Siau Cu.

Siau Cu membalikkan kepalanya ke belakang, dia terus mundur dan mundur.

Di belakangnya adalah dinding.

Di belakang Siau Cu seakan ada mata, begitu punggungnya mengenai dinding, tubuhnya segera bergeser ke sisi, kemudian dia masuk melalui sebuah jendela yang usang.

Kiang Hong-sim masih tertawa ketika melewati jendela.

Tapi begitu keluar dari jendela, tawanya terhenti karena tampak olehnya sebuah kolam di luar jendela itu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 42 Siau Cu terlihat sudah mengenali situasi di sana.

Begitu tubuhnya berbalik, kedua tangan sudah memegang dinding seperti seekor cecak tergantung di sana.

Hati Kiang Hong-sim mungkin terus memikirkan hal yang cabul tapi reaksi dia juga cepat.

Di udara dia segera bersalto, dan memegang dinding dengan tangannya.

Tapi pada waktu itu tiba-tiba sebuah sepatu memukul telapak tangammya.

Memang tenaga pukulan itu tidak begitu kuat, tapi cukup untuk membuat telapaknya bergeser.

Maka kelima jari tangan tidak bisa mencengkram dinding, sehingga dia terjatuh ke kolam.

Kolam ini tidak dalam.

Setelah Kiang Hong-sim tenggelam, dia segera muncul dan tepat pada saat itu dia melihat Siau Cu seperti seekor kera.

Kedua tangan memegang dinding kemudian terus merangkak naik.

Hanya sebentar saja, dia sudah berada di atas genteng.

Siau Cu juga tahu kapan Kiang Hong-sim bisa muncul dari air, dan pas di saat itu dia menoleh dan tertawa.

Kiang Hong-sim tahu Siau Cu sedang mempermainkan dirinya.

Wajahnya berubah.

Dia mengambil nafas.

Tubuhnya segera muncul di permukaan air, kemudian dengan kedua telapak tangannya dia menepuk permukaan air.

Angin pukulannya membentak air seperti tiang.

Dengan tenaga ini, tubuh Kiang Hong-sim terangkat dan segera mengejar Siau Cu.

Siau Cu langsung kelabakan, dia menginjak genteng dan kabur.

"Kau mau kabur ke mana!"

Saat mengucapkan kata-kata ini, tubuh Kiang Hong-sim sudah hampir mendarat di genteng.

Pada waktu itu dia melihat Lam-touw sedang terbaring di atas genteng.

Dia tersenyum senang.

Holou besar sedang menyambut telapak kakinya.

Kiang Hong-sim berteriak terkejut, belum lagi teriakannya berhenti, dia sudah membentur Holou.' Walaupun kekuatan benturan tidak begitu besar tapi sanggup menggoyahkan posisinya.

Karena tidak ada tempat untuk berpegangan, dia kembali terjatah ke dalam air.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 43 Lam-touw tertawa terbahak-bahak.

Dia mengejar Siau Cu dengan hanya memakai sebelah sepatu.

Rupanya yang melempar sepatu kepada Kiang Hong-sim tadi itu adalah Lam-touw.

Siau Cu tertawa terbahak-bahak.

Kaki dan tangannya terus bergerak, membuat genteng hancur dan terjatah ke bawah.

Waktu Kiang Hong-sim sekali lagi muncul dari air, Lam-touw dan Siau Cu sudah tidak ada.

Dia marah-marah dan berjanji jika bertemu mereka, dia akan membalas dendam dengan segala cara.

16-16-16 Liu Kun sudah minum arak.

Hongpo Tiong dan Hongpo Ih, Tiang-seng, In Thian-houw juga ada di sana.

Mereka tahu Liu Kun tidak tanang gara-gara baju kebesaran kaisar itu.

Ling-ong memberi baju kepada baginda.

Hal ini sudah membuat Liu Kun tidak nyaman.

Sekalipun orang biasa yang mengantarkan hadiah itu, dia akan memeriksanya dengan sangat berhati-hati.

Apalagi sewaktu diperiksa, tidak diragukan lagi ada sesuatu yang tersimpan di lengan baju.

Sampai sekarang dia masih belum tahu barang apakah itu.

Satu-satunya hal yang Liu Kun tahu adalah beberapa hari ini kaisar terlihat sangat gembira.

Hal ini semakin membuat hatinya tidak nyaman.

Pada waktu itu juga orang kepercayaannya datang melapor.

"Ada seorang tabib sedang bolak-balik di luar pintu, dan dia berteriak ada obat yang bisa mengobati sakit hati!"

Begitu Liu Kun mendengarnya, dia segera tertawa.

"Sakit hati harus diobati dengan obat sakit hati. Jarang ada tabib seperti itu, cepat persilakan dia masuk!"

Saat orang kepercayaannya itu keluar, Hongpo Ih bertanya.

''Bila Kiu-cian-swe sakit, mengapa tidak mencari tabib istana?

"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 44 Hongpo Tiong ingin melarang perkataan ini tapi tidak sempat lagi.

Dia takut Liu Kun marah.

Siapa tahu Liu Kun justru tertawa berkata.

"Tabib tidak bisa mengobati penyakitku. Tampak nasibku sedang bagus!"

Hongpo Ih ingin bertanya tapi Hongpo Tiong segera mencegat.

"Apakah Kiu-cian-swe butuh kita untuk meng aturnya?"

"Yang datang hanya seorang tabib, apalagi kita sudah terbiasa bekerja sama."

Sela Tiang-seng. Hongpo Tiong mengangguk. Liu Kun tersenyum.

"Semua orang mempunyai ilmu yang tinggi, tapi terhadap masalah akulah yang mampu dengan tenang berpikir matang. Aku tetap nomor satu!"

Tiang-seng terpaksa setuju. 17-17-17

"Resep turunan keluarga mengobati macam-macam penyakit yang sulit diobati. Bila sakit tidak enak hati, satu butir sudah cukup!"

Tabib ini adalah seorang laki-laki setengah baya. Dia bolak-balik di luar pintu berulang-ulang berkata begitu, sampai orang kepercayaan Liu Kun datang kepadanya berkata.

"Dipersilakan oleh Kiu-cian-swe!"

Daging wajahnya seperti sudah kaku, sedikit ekspresi juga tidak ditunjukkan olehnya.

Dia diam mengikuti di belakang orang kepercayaan Liu Kun.

Kejadian itu dilihat oleh Lu Tan.

Dia bersembunyi di sebuah gang kecil dan selalu mengawasi rumah Liu Kun untuk mencari kesempatan.

Itu bukan hari pertamanya di sana, tapi sampai sekarang dia tidak mendapatkan kesempatan.

Hari ini di luar dugaan dia melihat tabib penjual obat ini.

Siapa dia?

Mengapa dia ke sini menjual obat sakit hati?

Lu Tan merasa aneh.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 45 18-18-18

"Katamu kau mempunyai resep keluarga untuk mengobati penyakit yang sulit diobati?"

Liu Kun melihat tabib ini. Dia tertawa senang.

"Apalagi penyakit di dalam hati!"

Dengan hormat tabib itu berkata.

"Aku sedang mempunyai sakit di dalam hati. Obat yang ada di istana sudah kucoba, tapi tidak ada hasil!"

Liu Kun mengeluh.

"Kalau begitu, cobalah obat dari resep keluargaku!"

Tabib mengambil dari kantong. Hongpo Ih dan Hongpo Tiong, Tiang-seng, In Thian-houw segera bergerak, tapi Liu Kun seperti tidak takut dan bertanya.

"Dari nada bicaramu, kau bukan orang utara?"

"Aku datang dari selatan!"

Tabib mengeluarkan sebuah kotak giok. Dia melihat Hongpo Ih, Hongpo Tiong dan lain-lain. Mata Liu Kun segera berputar.

"Mereka adalah orang kepercayaanku, bila ada yang mau disampaikan, katakanlah!"

Tabib segera berlutut. Dengan kedua tangan nya, dia mengangkat kotak giok tinggi-tinggi.

"Aku adalah Soat Boan-thian dari Wisma Ling-ong. Ong-ya berpesan kepadaku untuk memberi salam kepada Kiu-cian-swe!"

"Oh, ternyata tabib adalah salah satu Sat-jiu dari Wisma Ling-ong! Bangunlah untuk berbicara!"

"Terima kasih Kiu-cian-swe!"

"Apakah Ong-ya baik-baik saja?"

Liu Kun tidak mengambil kotak itu.

"Baik, terima kasih Kiu-cian-swe."

Liu Kun tertawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 46

"Hal yang aku khawatirkan sangat banyak. Ong-ya siang hari memberi kabar, katanya setelah tahu aku sakit di dalam hati maka dia menyuruh orang untuk mengantar obat kemari!"

"Obat untuk sakit di dalam hati berada di dalam kotak giok!"

Liu Kun baru melihat kotak giok.

"Di kotak ada cap pribadi Ong-ya dan sebuah obat lilin!"

"Ong-ya hanya berharap sepanjang jalan kotak giok ini bisa aman sampai Kiu-cian-swe sendiri yang membukanya!"

Kata Soat Boan-thian.

"Baik!"

Liu Kun melihat Hongpo Tiong. Hongpo Tiong segera mengerti. Dia mendekat dan mengambil kotak giok. Liu Kun berpesan lagi.

"Buka!"

Hongpo Tiong segera memutar kotak dengan jari telunjuk, mengarahkan bukaan kotak ke Soat Boan-thian.

Kemudian dengan kuku dia membuka lapisan Ulin baru bisa membuka kotak giok itu.

Seandainya di dalam kotak giok tersimpan senjata rahasia, orang pertama yang terkena adalah Soat Boan-thian.

Semua ini sesuai dengan perkiraan Soat Boan-thian.

Tingkahnya tidak berubah, dia tetap bersikap seperti biasa.

Sebenarnya pada kotak giok juga tidak dipasang tombol apapun.

Dalam kotak giok dilapisi kain sutra.

Di sana tersimpan sebuah lilin bulat sebesar telur merpati.

Tiang-seng yang berada di samping berkata.

"Biar aku yang mejyibantu Kiu-cian-swe membuka butiran lilin itu!"

Dia segera mengambil lilin itu.

Tanpa menggunakan tenaga banyak lilin sudah hancur, keluarlah sehelai kertas yang sangat tipis.

Kertas tipis seperti sayap serangga tapi kertas penuh tertulis dengan huruf kecil-kecil.

Uu Kun membaca dengan teliti, tersenyum.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 47

"Baginda terlalu banyak khawatir. Aku hanya melihat dia masih muda dan tidak cukup berpengalaman, maka sementara ini membantu dia mengurus kerajaan. Dia malah menyangka aku ingin merebut kekuasaannya dan diam-diam memberitahu Ong-ya untuk menolongnya, maka terjadilah banyak hal!"

"Ong-ya juga berpikiran sama, maka mengirim surat balasan di lengan baju kebesarannya. Dia ingin supaya baginda tenang!"

Kata Soat Boan-thian.

"Sekarang aku lebih tenang. Ong-ya memang pintar, penyakitku yang berat sudah sembuh hanya dengan sebutir obat!"

"Harap Kiu-cian-swe bisa menulis beberapa kalimat untuk kubawa kepada Ong-ya!"

Soat Boan-thian tetap berkata dengan hormat.

Liu Kun setuju dan segera menyuruh orang menyiapkan alat tulis.

Kertas yang dipakai tetap kertas yang tipis.

Surat dilipat hingga kecil dan ditaruh di dalam sebuah uang logam kemudian dijepit lagi dengan uang logam yang lain.

Setelah surat diselipkan di antara dua uang logam, Tiang-seng kemudian menekannya.

Kedua uang logam segera menempel.

Ketika Soat Boan-thian melihatnya, sorot mata nya menjadi terang.

Liu Kun berpesan.

"Uang logam jangan digunakan untuk membeli barang di jalan!"

"Aku pasti akan menyimpannya dengan hati-hati!"

Dengan hati-hati Soat Boan-thian menerima uang logam itu dari Tiang-seng.

"Jangan disimpan dengan sengaja, asal saja. Kalau menyimpannya dengan sengaja berarti kau memberitahu orang kalau di uang logam ada sesuatu. Kalau dibiarkan seperti biasa, tidak ada yang akan memperhatikan."

"Teruna kasih Kiu-cian-swe sudah memberi petunjuk!"

"Apakah perlu mengirim orang untuk mengantarmu setengah jalan?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 48

"Aku datang ke ibukota hanya seorang diri!"

Dengan ilmu silat yang dimilikinya, Soat Boan-thian sangat percaya diri.

Dia tidak menginap, malam itu juga dia berangkat.

19-19-19 Setelah berjalan tidak berapa lama, Soat Boan-thian sudah tahu Lu Tan mengikuti dari belakang.

Dia adalah orang yang sangat berpengalaman.

Dia tidak mempercepat jalan, juga tidak menghindar, hanya berjalan seperti biasa saja.

Hanya mata dan telinganya lebih hati-hati.

Dia ingin tahu berapa banyak orang yang mengikutinya.

Lu Tan mengira dia sudah cukup hati-hati dan tidak diketahui oleh Soat Boan-thian.

Ketika berada di tempat sepi, dia tidak tahan lagi.

Beberapa kali meloncat, dia sudah berada di depan Soat Boan-thian.

Reaksi Soat Boan-thian adalah terkejut dan takut.

Kepura-puraan dia terlihat nyata, paling sedikit sanggup membuat Lu Tan tidak melihat kalau dia sedang berpura-pura.

"Kau siapa?"

Suara Soat Boan-thian gemetar.

"Kau juga siapa?"

Lu Tan balik bertanya.

"Aku hanya seorang tabib yang menjual obat..."

"Kau mau berbohong kepada siapa?"

Tiba-tiba Lu Tan menyerang dada Soat Boan-thian.

Soat Boan-thian tidak bisa menghindar.

Dia terjatuh terkena pukulan.

Sambil merintih kesakitan, dia merangkak bangun.

Tidak menunggu Lu Tan mendekat, dia berteriak minta ampun.

"Aku hanya punya sedikit uang, harap anda jangan merebut uangku!"

"Kurang ajar! Apa tujuanmu masuk ke rumah Liu Kun?"

"Hamba menjual obat melewati rumah Kiu-cian-swe..."

"Kau orang mana?"

"Dari sini juga..."Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 49

"Kau sembarangan bicara! Dari nada bicaramu kau jelas-jelas adalah orang selatan. Orang selatan jauh-jauh datang ke ibukota sengaja mondar-mandir di depan rumah Liu Kun dan tidak pergi. Apalagi dengan kedudukan Liu Kun sekarang, paling sedikit ada 10 orang tabib di rumahnya. Mana mungkin dia mau membeli obat darimu untuk mengobati penyakit nya?"

"Hamba menjual obat sakit di dalam hati..."

"Aku ingin tahu obat yang kau jual seperti apa?"

Lu Tan segera mencengkram kantong obat Soat Boan-thian.

Senjata rahasia Soat Boan-thian yang bera da di dalam lengan baju, sudah ditembakkan keluar.

Lu Tan menghindar dengan lincah, begitu terdengar ada suara, tubuhnya sudah berguling ke bawah.

Dia mengeluarkan pedang keluar dari sarung dan menahan pedang di dada.

Dari 14 senjata rahasia yang datang, 13 sudah dihindari atau ditahan, tapi ada satu yang menancap di dadanya.

Senjata rahasia berbentuk aneh.

Ada kaitan di ujungnya tapi bagian tengahnya kosong.

Begitu menancap di daging, darah segera keluar dari lubang senjata rahasia dan menyembur keluar.

Yang pasti senjata rahasia ini dirangkai khusus untuk mematahkan tenaga dalam.

Itu adalah senjata rahasia yang kuat.

Lu Tan terkejut.

Dia tergesa-gesa menutup selang itu dan segera menyerang Soat Boan-thian dengan pedang.

Pedang belum sampai pada Soat Boan-thian, dia sudah meloncat jauh.

Dia meloncat ke atas pohon tinggi, masih menembakkan senjata rahasia dengan dua tangan.

Lu Tan ikut meloncat, tapi begitu meloncat lukanya terasa sakit.

Tenaganya tidak bisa terkumpul.

Tapi pedang masih bisa berputar untuk menahan senjata rahasia yang datang menyerang.

Setelah Soat Boan-thian meloncat, dia sudah sampai ke tempat yang lebih tinggi.

Dia tertawa dingin kemudian meloncat pergi dari atas pohon.

Hanya sebentar dia sudah menghilang di kegelapan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 50 Kalau dia bermaksud membunuh Lu Tan, seharusnya tidak sulit baginya.

Tapi dia mempunyai tugas yang berat.

Dia juga tidak tahu siapa Lu Tan.

Bila masih bisa pergi dengan selamat, dia tetap memilih itu.

Tawa dingin Soal Boan-thian seperti sebuah pedang menusuk hati Lu Tan.

Dia akhirnya mengerti, walaupun berilmu tinggi tapi bila tidak berpengalaman dan ceroboh, dia tetap akan terluka oleh tangan tabib ini.

Ingin mengejar tabib ini, sudah pasti dia tidak sanggup.

Satu-satunya keberuntungan Lu Tan adalah senjata yang menancap di dada bukan senjata beracun.

20-20-20 Setelah Soat Boan-thian pergi, Liu Kun segera termenung, dia terbaring di kasur yang empuk, memejamkan mata.

Tidak ada yang berani menggangu atau berbicara dengannya, sebab mereka sudah tahu sifat dan kebiasaan Liu Kun.

Sampai matanya membuka, mereka berempat baru mendekat.

Hoa Hu-ie yang pertama berkata.

"Selamat Kiu-cian-swe!"

"Oh? Selamat apa?"

Tanya Liu Kun.

"Ternyata Ling-ong sangat setia kepada Kiu-cian-swe. Tentang baju kebesaran baginda, Kiu-cian-swe tidak perlu khawatir lagi..."

"Ling-ong yang kecil, jauh di Kanglam pula. Aku memang tidak pernah mengkhawatirkannya!"

Tawa Liu Kun. Kata Hongpo Tiong.

"Katanya Ling-ong mempunyai pesilat tangguh seperti Siau Sam Kongcu dan lain-lain. Mereka sangat setia kepada Ling-ong. Memang tidak menjadi ancaman tapi tetap repot, jika..."

"Kalian percaya kepada Ling-ong?"

Tanya Liu Kun tertawa. ' Tiang-seng menyela.

"Dia mengantarkan surat-surat yang biasa dia kirim kepada orang lain, tapi diperlihatkan kepada Kiu-cian-swe..."

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 51

"Dengan begitu ketahuan bahwa dia orang yang licik!"

Kata Liu Kun.

"orangnya berada di Kang-lam tapi hatinya berada di ibukota. Di satu pihak dia surat-menyurat secara rahasia kepada kaisar, tapi di pihak lain dia diam-diam mengabarkannya kepadaku. Apa maksudnya?"

"Kiu-cian-swe tidak percaya orang ini?"

Tanya Tiang-seng merasa aneh.

"Dia bermarga Cu, tidak ada alasan untuk pergi berlindung kepada marga lain!"

Liu Kuri tertawa dingin.

"biarkan apa yang dia lakukan. Terhadap orang ini kita harus hati-hati!"

"Kata Kiu-cian-swe orang ini bukan orang yang pintar?"

Tanya Tiang-seng.

"Mungkin dia ingin kita berpikir seperti itu. Sementara waktu, aku belum bisa menebak tentang orang ini."

"Kita harus mengirim orang untuk mengejar Soat Boan-thian!"

"Apakah kau mengira Ling-ong tidak terpikir akan hal ini?"

Liu Kun menggelengkan kepala.

"kalau Soat Boan-thian hanya dipergunakan untuk menyesatkan perhatian kita, mengejar Soat Boan-thian hanyalah satu keborosan."

"Kiu-cian-swe tidak yakin..."

"Maka kalian harus semakin hati-hati!"

Liu Kun memejamkan mata dan tenggelam dalam pikiran lagi.

21-21-21 Senjata rahasia memang tidak beracun, tapi karena ada kaitan, mencabutnya bukanlah hal yang 'mudah.

Lu Tan terpaksa mencari Fu Hiong-kun.

Dia tahu Fu Hiong-kun menguasai ilmu pertabiban.

Bila Fu Hiong-kun tidak ada di ibukota atau senjata rahasia harus segera dicabut, dia tetap akan melakukannya sendiri.

Bagi Fu Hiong-kun/mencabut senjata rahasia berkail adalah hal yang mudah.

Pertama, syaraf-syaraf yang di sekeliling luka ditotok terlebih dahulu.

Kemudian dia menggunting kaitan dari senjataLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 52 rahasia, selang tengah dicabut, baru mencabut kaitan yang di dalam.

Terakhir luka diberi obat luar.

Ketika Lu Tan ingin membuka totokan, Fu Hiong-kun menggelengkan kepala.

"Setelah 6 jam nadi akan terbuka sendiri."

"Apakah tidak bisa sekarang?"

"Akan membuat darah terus mengalir, mungkin 4-5 hari baru bisa pulih. Jika bisa menghindari hal ini, mengapa tidak menghindar."

"Tidak disangka senjata rahasia ini begitu lihai!"

Kata Lu Tan.

"Untung kau tidak mencabutnya pada waktu itu. Kalau kau mencabutnya, syaraf-syaraf di sekeliling akan putus terkait‘senjata rahasia. Itu akan sangat merepotkan!"

Lu Tan tertawa kecut.

"Memang tadinya aku ingin mencabutnya, tapi karena terlalu banyak bergerak langsung merasa sakit. Tadinya aku kira asal tidak ada racun pada senjata rahasia ini tidak masalah. Tidak disangka senjata ini lebih lihai daripada senjata beracun!"

"Bila terkena senjata rahasia yang mengandung racun, racun bisa dikeluarkan. Tapi bila syaraf putus, akan sulit disambung kembali. Kalau tidak' hati-hati akan ada resiko!"

"Untung ada Nona Fu!"

"Senjata rahasia jenis ini, aku pertama kali melihatnya. Anak buah Liu Kun sangat banyak, kau harus hati-hati. Kelak jangan sembarangan bertindak."

Lu Tan menarik nafas panjang.

"Aku tahu kau ingin mencari bukti bahwa Liu Kun ingin mengambil alih kerajaan."

"Hanya dengan begitu aku bisa mencuci bersih nama baik ayahku!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 53

"Belum tentu! Liu Kun mencelakakan negara dan rakyat, semua orang sudah tahu. Kau kira kaisar sama sekali tidak tahu? Mungkin kekuatan Liu Kun sangat besar maka kaisar juga takut kepada dia!"

"Dari ayahku, aku tahu bahwa kaisar belum mengetahuinya, semua dokumen penting tidak bisa sampai di tangan kaisar!"

"Mungkin bisa mencari orang dekat kaisar untuk membantu!"

Lu Tan segera menggelengkan kepala.

"Semua pejabat di kerajaan sudah tunduk kepada kekuasaan Liu Kun, mana mungkin ada orang yang berani melawannya?"

"Apakah An-lek-hou juga?"

"An-lek-hou?"

"Apakah kau tidak tahu orang tersebut?"

Lu Tan menggelengkan kepala.

"Orang ini seharusnya bukan orang Liu Kun tapi aneh, mengapa dia tidak melakukan tindakan apa-apa?"

"Apakah dia tidak mengenal Liu Kun? Tapi sepertinya tidak mungkin. Orang ini selalu berkelana di dunia persilatan!"

"Apakah kau mengenal dia?"

Tanya Lu Tan.

Waktu Fu Hiong-kun mau menjawab, seorang murid Bu-tong-pai datang melapor.

Ada seorang tua marga Tiong membawa seorang anak yang bernama Lan-lan datang mencari dia.

Ini bukan hal yang aneh.

Setelah Fu Hiong-kun tinggal di ibukota, ketika melewati rumah An-lek-hou, dia pernah masuk untuk menemani Lan-lan bermain.

Dia juga memberitahu kepada Lan-lan tempat tinggalnya.

Kedatangannya sekarang adalah waktu yang sangat tepat.

"Lan-lan adalah putri An-lek-hou!"

Ketika mengucapkan kata-kata ini, Fu Hiong-kun sudah mengambil keputusan akan mengunjungi rumah An-lek-hou.

22-22-22Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 54 Kadang-kadang terjadi hal yang sangat kebetulan.

Tadinya Tiong Toa-sianseng ingin keluar mengunjungi teman tapi Lan-lan memaksa ingin ikut.

Tiong Toa-sianseng tahu bahwa Lan-lan tidak suka mendengar pembicaraan orang tua maka begitu mele wati Pek-wan-koan, dia teringat Fu Hiong-kun dan ingin menyerahkan Lan-lan kepada Fu Hiong-kun untuk mengurusnya.

Tentu saja Lan-lan setuju.

Di dalam hati Lan-lan, mengikuti Fu Hiong-kun adalah hal yang sangat menyenangkan.

Fu Hiong-kun bisa mengantarkan Lan-lan pulang.

Yang pasti Tiong Toa-sianseng sangat senang.

Dia teringat akan pesan terakhir Ku-suthay, yang berpesan padanya untuk mencomblangkan Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun, hanya dia tidak tahu bagaimana caranya.

Tentu saja dia tidak tahu Fu Hiong-kun sama sekali tidak ada niat untuk hal lain.

Kali ini dia mau mengantarkan Lan-lan pulang karena ingin bertemu Su Yan-hong untuk mendiskusikan cara membantu Lu Tan.

Fu Hiong-kun adalah orang dunia persilatan yang belum lama mengenal Su Yan-hong.

Boleh dikatakan sama sekali tidak mengenalnya, jika sudah mengenalnya, dia tidak akan mengunjungi Su Yan-hong.

Apalagi memilih hari ini adalah kesalahan yang besar.

Tapi Fu Hiong-kun tidak melihat ada yang tidak beres, maka kesalah pahaman terjadi.

23-23-23 Waktu pulang ke rumah An-lek-hou, Lan-lan sudah lelah.

Tapi dia tetap membawa Fu Hiong-kun masuk mencari Su Yan-hong, sambil berlari dia juga berteriak.

Kecuali orang tuli, semua orang tahu Fu Hiong-kun hadir di sana.

Su Yan-hong menunggu di dalam.

Melihat Fu Hiong-kun pelan-pelan masuk, sikapnya sedikit aneh.

Tapi Fu Hiong-kun tidak melihatnya, apalagi pembicaraan Su Yan-hong sangat sungkan.

Begitu mengangkat bicara tidak adaLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 55 waktu menemani Lan-lan, dia seperti ingin Fu Hiong-kun cepat-cepat meninggalkan rumahnya.

Tapi Fu Hiong-kun tidak merasa, dia masih mengira karena tidak bisa menemani Lan-lan maka Su Yan-hong merasa bersalah.

Fu Hiong-kun segera mengatakan apa yang harus dia katakan.

"Hou-ya berada di kerajaan, mempunyai tang gung jawab yang berat. Yang pasti tidak bisa seperti kami orang dunia persilatan yang setiap hari tidak ada pekerjaan!"

Su Yan-hong mengira Fu Hiong-kun men-tertawakan dirinya sendiri. Dia segera menjawab.

"Aku malah berharap menjadi seorang dunia persilatan, hidup lebih santai..."

Fu Hiong-kun segera mencegat.

"Orang dunia persilatan sangat mementingkan keadilan. Bisa terluka dan berdarah demi keadilan. Bila pejabat kerajaan juga mempunyai pikiran seperti ini, tidak perlu khawatir negara dan rakyat hidup tidak tenang."

Akhirnya Su Yan-hong merasa ada maksud lain di balik kata-kata Fu Hiong-kun, maka dia melihat Fu Hiong-kun dengan sorot mata yang aneh.

"Apakah Hou-ya pernah mendengar nama Lu Kian?"

Tanya Fu Hiong-kun. Su Yan-hong baru mengerti.

"Aku tidak begitu mengenal orang ini!"

"Tantu Hou-ya tahu dia mati karena apa."

"Lebih baik kita tidak membicarakan dendam pribadi!"

"Tampak Hou-ya tidak jelas mengenai masalah ini. Kalau hanya masalah pribadi, aku tidak akan kemari!"

"Apa hubungan nona dengan Lu Kian?"

"Putranya Lu Tan adalah murid Bu-tong-pai!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 56

"Nona mengenal Lu Tan maka semua yang nona tahu tentang Lu Kian berasal dari Lu Tan?"

"Apakah Hou-ya mencurigai ini bukan yang sebenarnya?"

"Ini hanya perkataan sepihak..

"Siapa Liu Kun? Apakah Hou-ya masih belum jelas Lu Kian terbunuh karena Liu Kun menyingkirkan orang yang berbeda pendapat dengannya!"

Fu Hiong-kun mengira Su Yan-hong masih belum jelas, katanya lagi.

"Dia memberi julukan dirinya Kiu-cian-swe. Dia juga mendirikan pengadilan sendiri, dengan hukuman siksa pribadi..."

"Nona Fu, kau jangan sembarangan menebak. Liu-congkoan adalah orang kepercayaan kaisar. Dia secara khusus membantu kaisar mengurus semua masalah!"

Kata Su Yan-hong.

"Maksud Hou-ya, semua karena perintah kaisar?"

"Tentang ini..."

Su Yan-hong tidak tahu apa yang harus dia jawab. Fu Hiong-kun melihat Su Yan-hong, bertanya.

"Apakah Hou-ya juga takut pada Liu Kun?"

"Masalah kerajaar, lebih baik nona jangan bertanya!"

"Tampaknya aku sudah salah memilah orang, juga salah datang ke sini!"

"Nona Fu!"

"Aku berterima kasih Hou-ya tidak membunuh aku!"

Fu Hiong-kun memberi hormat.

"Apa maksudmu?"

Tanya Su Yan-hong.

"Biasanya kalau menceritakan kejelekan Liu Kun, selalu tidak ada akibat yang baik. Hou-ya tidak mengirim aku ke tempat Liu Kun, itu sudah sangat beruntung, mana mungkin aku tidak berterima kasih kepadamu?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 57 Su Yan-hong dengan bengong melihat Fu Hiong-kun. Sampai sekarang Lan-lan belum tahu apa yang mereka katakan. Maka dengan aneh berkata.

"Ada apa dengan kalian?"

Fu Hiong-kun bengong. Dia menarik nafas.

"Tidak ada apa-apa! Cici mau pergi, Lan-lan antarkan Cici keluar ya?"

Dia segera menuntun Lan-lan keluar.

Yang pasti Lan-lan tidak menolak.

Walaupun ada Lan-lan, bila Su Yan-hong ingin menjelaskan, itu adalah hal yang sederhana.

Tapi dia tidak melakukan ini.

Dalam hati dia mengira belum waktunya untuk menjelaskan.

Setelah Lan-lan dan Fu Hiong-kun pergi, Su Yan-hong baru menarik nafas dan baginda keluar dari sekat belakang.

"Yan-hong, kau benar-benar sudah dipersalah kan!"

Yang jelas baginda sudah mendengar semua pembicaraan tadi.

"sulit mendapat seorang perempuan yang mengerti dirimu, tapi kau terpaksa..."

Su Yan-hong segera mendekat dan berkata.

"Seharusnya Siau-te-lu berada di sisi baginda, tapi dia tidak mengikuti baginda kemari. Berarti Liu Kun sudah mempunyai rencana lain, mungkin dia sudah mengatur orang lain..

"Kau curiga di sini bersembunyi mata-mata?"

Kaisar bertanya dengan aneh.

"Tidak mungkin, tapi lebih baik kita berhati-hati. Apalagi aku tidak mengenal Nona Fu dengan dalam!"

"Melihatmu begitu hati-hati, aku jadi tenang!"

"Kita harus hati-hati! Bila rahasia ini bocor, kelak kita akan sulit menghadapi Liu Kun!"

"Baik, aku harap Ling-ong tidak membuatku kecewa!"

Terdengar semua harapannya terletak pada Ling-ong.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 58 Soat Boan-thian memasuki ibukota.

Ini adalah sebuah rahasia di pihak Ling-ong, sampai-sampai Tiang-lek Kuncu Su Ceng-cau juga tidak tahu apa-apa.

Kalau tidak, mana mungkin dia ada waktu mengurus masalah Siau Sam ICongcu.

Semenjak bertemu dengan Tiong Bok-Ian, Siau Sam Kongcu selalu murung.

Nasi jarang dimakan dan teh jarang diminum, tapi arak semakin banyak diminum.

Semua terlihat oleh Su Ceng-cau.

Dia tidak tahu banyak mengenai masalah Tiong Bok-lan dan Siau Sam Kongcu, tapi cukup untuk membuat dia mengerti apa yang terjadi.

Memang Siau Sam Kongcu menyimpan rahasia di dalam hati, tapi ketika dia mabuk semua rahasia sudah keluar tanpa disengaja.

Kata-kata yang masuk ke telinga Su Ceng-cau tidak banyak, tapi sifatnya yang selalu bertanya membuat Siau Sam Kongcu membocorkan sedikit rahasia ini.

Dengan begitu, berita yang terjadi di antara mereka sudah banyak terkumpul.

Su Ceng-cau memang selalu semaunya sendiri tapi dia berhati baik.

Melihat Siau Sam Kongcu seperti itu, dia juga sedih, dia berusaha menghibur tapi tidak berguna.

Terakhir dia terpikir akan satu cara.

Yang pasti cara ini tidak diketahui Siau Sam Kongcu, kalau tahu, dia akan menolak.

Su Ceng-cau melakukan rencananya waktu Siau Sam Kongcu masih dalam keadaan mabuk.

24-24-24 Su Ceng-cau tiba-tiba muncul di Ci-cu-wan.

Semua penghuni Ci-cu-wan merasa aneh.

Lo-taikun juga tidak terkecuali.

Dia segera keluar menyambut.

Su Ceng-cau sangat pintar, awalnya dia bilang kalau dia menyukai Ci-cu-wan, setelah itu dia berbicara berputar-putar untuk menghindar dari Lo-taikun dan lain-lain, sampai hanya tinggalLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 59 Tiong Bok-lan yang menemani dia!

Yang muda berbicara dengan yang muda, Lo-taikun dan lain-lain tidak ingin .masuk ke lingkungan pembicaraan mereka.

Dia malah menyuruh Bing-cu dan Tiong Bok-lan melayaninya.

Sampai di belakang Ci-cu-wan, Su Ceng-cau segera mencari alasan untuk menyuruh Bing-cu pergi.

Bing-cu tidak merasa ada masalah.

Walaupun umur mereka hampir sama tapi sifat mereka berbeda.

Apalagi Su Ceng-cau terus berbicara dengan Tiong Bok-lan.

Dia bersikap seperti tidak menginginkan Bing-cu berada di sana.

Akhirnya Tiong Bok-lan tahu Su Ceng-cau datang karena dia.

Dan Su Ceng-cau pun berkata.

"Sebenarnya aku datang mencarimu!"

"Kuncu!"

Tapi begitu kata-kata ini diucapkan, Su Ceng-cau mengangkat tangannya dan mencegat.

"Tidak perlu sungkan, tidak perlu sungkan seperti ini!"

"Ini adalah aturan ada atas, bawah, ada penghormatan..."

"Semua orang adalah manusia, mengapa harus dibagi atas bawah dan lain-lain...aku hanya ingin menyampaikan satu hal!"

"Tentang apa?"

"Nasehatilah guruku!"

"Siau Sam Kongcu? Ada apa dengan dia?"

"Setiap hari dia terlihat tidak ceria, sampai-sampai mengajariku ilmu silat juga tidak semangat. Kalau kau tidak menasehati dia, entah apa yang akan terjadi!"

"Mungkin dia sedang tidak enak badan, bantu lah dia mencari seorang tabib. Aku sama sekali tidak mengerti ilmu pertabiban, aku tidak bisa membantu."

Su Ceng-cau menatap Tiong Bok-lan dengan dingin. Setelah menunggu Tiong Bok-lan selesai berbicara, dia berkata.

"Apakah kau kira aku tidak tahu masalah kalian?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 60 Tiong Bok-lan terpaku. Su Ceng-cau kemudian berkata.

"Ini adalali masalah kalian berdua, apa yang orang lain katakan biarlah mereka katakan. Maksud ku beberapa hari ini bila malam tiba, Siau Sam Kongcu selalu bengong dan sedih. Bila kau memperhatikan dia, harap malam ini bisa ke sana sebentar!"

Tiong Bok-lan tertawa kecut dan menggelengkan kepala. Su Ceng-cau tertawa dingin.

"Yang pasti aku tidak bisa memaksamu melakukan hal yang tidak mau kau lakukan!"

"Tolong sampaikan salamku kepadanya, suruh dia menjaga dirinya baik-baik..

"Aku tidak ada waktu mengurus masalah kalian!"

Su Ceng-cau marah.

Dia membalikkan tubuh segera lari dari sana, hanya tinggal Tiong Bok-lan bengong di sana.

Tadinya dia ingin memanggil Su Ceng-cau, tapi akhirnya tidak jadi karena pikirannya kacau.

25-25-25 Setelah meninggalkan Ci-cu-wan, Su Ceng-cau segera pergi ke rumah An-Iek-hou.

Dia ingin mencari Su Yan-hong, membuktikan dia adalah orang yang berani mencintai juga berani membenci.

Dia tidak ragu-ragu, tidak seperti Tiong Bok-lan.

Dia selalu mengaku dia suka kepada Su Yan-hong, itu sudah beberapa tahun yang lalu.

Waktu itu dia masih kecil, orang dewasa sering bertanya kepada dia.

Sebenarnya tidak bermaksud apa-apa, tapi dia malah teringat sampai sekarang.

Sekarang siapa yang akan menanyakan pertanyaan ini lagi?

Sampai di rumah An-lek-hou, hatinya bertentangan.

Walaupun dia selalu memuji dirinya berani melakukan sesuatu, tapi bila dia sendiri ingin mem-beritahu Su Yan-hong tentang masalah ini, dia tetap merasa risih dan malu.

Kemudian dia juga terpikir, bagaimana bila Su Yan-hong tidak menerima apa yang akan dia katakan?

Maka begitu tahu Su Yan-Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 61 hong tidak ada di sana, dia’ malah merasa lega.

Dia pun mencari Lan-lan.

Melihat dia dari jauh, Lan-lan sudah menghindar.

Dia mencari Lan-lan sampai ke belakang dan menemukan Tiong Toa-sianseng sedang berlatih ilmu pedang.

Dia teringat masalah Tiong Bok-lan dan Siau Sam Kongcu.

Tiong Toa-sianseng tidak peduli orang lain meli liatnya, dia terus berlatih.

Jurus pedangnya tidak ada perubahan yang besar tapi sangat pelan.

"Jurus pedang apa ini?"

Tanya Su Ceng-cau tiba-tiba.

"Jurus pedang Kun-lun-pai!"

Tiong Toa-sianseng tidak berhenti berlatih.

"Kata orang, ilmu pedang Kun-lun-pai sangat lincah dan terus berubah. Perubahannya sulit ditebak, hari ini aku baru melihatnya!"

"Orang sudah tua, tenaga juga berkurang!"

Kata Tiong Toa-sianseng, dia tahu mengapa Su Ceng-cau berkata seperti itu.

"Tiong-cianpwee adalah ketua perkumpulan, nama Cianpwee sudah tidak diragukan lagi. Yang pasti ilmu silat Cianpwee di atasku. Tapi ilmu pedang seperti ini, Boanpwee tetap ingin mencobanya!"

Ini menunjukan nama Tiong Toa-sianseng hanyalah nama kosong saja. Tiong Toa-sianseng tetap seperti tidak tergang gu. Dia juga tertawa. Su Ceng-cau tidak menunggu dia tidak menjawab sudah berkata lagi.

"Guruku memang nama dan budinya tidak setinggi Tiong-cianpwee, tapi dia adalah pesilat tangguh dari Hoa-san-pai maka murid yang diajarnya seperti aku pasti sangat kuat. Seharusnya tidak membuat Tiong Toa-sianseng kecewa!"

"Kuncu adalah orang kerajaan..."

"Anggaplah aku orang dunia persilatan!"

Pedang Su Ceng-cau segera dikeluarkan. Yang pasti itu adalah sebuah pedang bagus.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 62

"Aku sudah tua, mana mungkin bisa melawan anak muda?"

Akhirnya Tiong Toa-sianseng menghen tikan latihannya. Ketika dia mau memasukkan pedangnya ke dalam sarung, Su Ceng-cau sudah menekan pedangnya ke atas sarung pedang Tiong Toa-sianseng.

"Kau meremehkan aku atau tidak sudi bertarung denganku?"

"Perkataan Kuncu terlalu berat!"

Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala.

"Harap beri petunjuk!"

Begitu mengucapkan kata-kata ini, Su Ceng-cau segera menarik pedang tapi pedang sudah dipegang. Inilah permulaan dari Hoa-san-kiam-hoat.

"Kalau begitu, aku terpaksa harus melakukan. nyai"

Pedang Tiong Toa-sianseng diturunkan ke bawah, dia terpaksa melihat ke langit.

Su Ceng-cau membentak, pedangnya mulai menyerang.

Terlihat dia benar-benar pernah berlatih dengan baik.

Ilmu pedangnya sangat teratur, perubahan ilmu pedang juga dikuasai dengan baik.

Tiong Toa-sianseng merasa ini di luar dugaan.

Dia pelan-pelan berkata sendiri, 'Oh!' Kemudian pedang dari bawah dinaikkan ke atas.

Perkiraannya sangat tepat.

Ujung pedangnya tepat mengenai pedang Su Ceng-cau.

Ada suara "TING!", pedang Su Ceng-cau tergetar keluar.

Tapi ilmu pedang Su Ceng-cau yang tadinya terputus, sekarang sudah menyambung dengan cepat.

Dia seperti kupu-kupu yang berkeliaran di bunga-bunga lalu berputar-putar di sisi Tiong Toa-sianseng.

Ilmu pedangnya juga berputar dan menyerang dari semua arah.

Tiong Toa-sianseng berdiri di tempatnya dan tidak bergerak.

Pedang diperagakan dengan tidak bersemangat tapi setiap jurusnya selalu memukul ke ujung pedang lawan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 63 Walaupun Su Ceng-cau berputar ke belakang, Tiong Toa-sianseng juga mempertahankan keadaan begitu.

Bagian belakang kepala Tiong Toa-sianseng seakan ada mata.

Dengan pedang yang menggurat ke belakang, dia bisa menghadapi pedang yang datang kepadanya.

37 serangan berikutnya juga tetap seperti ini.

Su Ceng-cau jadi marah.

Tiba-tiba dia melemparkan pedang ke bawah dan berteriak.

"Aku tidak mau bertarung lagi!"

Tiong Toa-sianseng baru membalikkan tubuh. Tadinya dia ingin menghibur tapi Su Ceng-cau berkata marah.

"Kau jangan mengira aku sudah kalah darimu! Aku kalah karena beberapa hari ini guruku sama sekali tidak bersemangat mengajariku!"

"Ternyata begitu!"

Kata Tiong Toa-sianseng.

"Apakah kau tahu mengapa dia seperti itu?"

"Bagaimana aku bisa tahu?"

Tiong Toa-sianseng tertawa.

"Karena dia terganggu oleh percintaannya!"

"Oh?"

Tiong Toa-sianseng mengerutkan alis.

"Aku benar-benar tjdak mengerti, seorang laki laki yang gagah tapi tidak berani berbicara dan selalu disimpan di dalam hati!"

"Kalau isi hatinya dikatakan, dia akan merasa nyaman!"

Tiong Toa-sianseng ingin mengatakan sesuatu tapi sudah dicegat oleh Su Ceng-cau.

"Betul! Apakah menyukai seseorang adalah dosa?"

"Tentu saja tidak..."

"Berarti kau juga setuju?"

Tanya Su Ceng-cau. • Dalam hati Tiong Toa-sianseng mulai mengerti, dengan santai dia berkata.

"Gurumu sudah dewasa, dia mempunyai prin sip sendiri. Kuncu boleh dari samping memberi pendapat!"

Su Ceng-cau menggelengkan kepala.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 64

"Orang yang dia rindukanlah yang harus berbicara kepadanya. Aku sudah lelah menasehati, tapi tidak ada gunanya!"

"Mungkin dia tidak butuh orang lain menasehati!"

Tiong Toa-sianseng memutar tubuh, dia mulai berlatih pedang lagi. Su Ceng-cau memutar ke depannya.

"Apa hanya ini yang bisa kau katakan?"

Tiong Toa-sianseng tidak menjawab, dia hanya tertawa.

Su Ceng-cau menghentakkan kaki dan membalikkan tubuh pergi.

26-26-26 Seharian berlari ke sana ke sini, tapi Su Ceng-cau merasa tidak ada hasilnya sedikitpun.

Dia juga tidak melihat ada pertunjukkan Lam-touw dan Siau Cu di Sin-sa-hai.

Akhirnya dia memilih pulang.

Dia sama sekali tidak menyangka kepergian-nya ke Ci-cu-wan tidak hanya membuat hati Tiong Bok-lan bergejolak besar, juga membuat banyak orang terkena musibah.

Balikan Lam-touw juga hampir terbunuh.

27-27-27 Semenjak Lam-touw dan Siau Cu pulang dari Sin-sa-hai, mereka tinggal di penginapan dan terus minum arak.

Sampai sore hari, arak yang di minum Lam-touw hampir berkurang separuh dari arak yang dia minum di hari biasa.

"Apakah Suhu ada beban pikiran?"

Tanya Siau Cu.

"Aku benar-benar tidak mengerti!"

Lam-touw kelepasan bicara, kemudian melihat Siau Cu.

"Suhu tidak mengerti apa?"

"Apa yang tidak kymengerti, apakah kau bisa mengerti?"

Yang tidak dimengerti Lam-touw adalah Kiang Hong-sim dari keluarga Lamkiong.

Malam itu pandangannya terhadap Kiang Hong-sim berubah.

Dia yakin ilmu silat yang dikuasai Kiang Hong-Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 65 sim bukan ilmu silat keluarga Lamkiong.

Yang lebih aneh lagi, mengapa di keluarga Lamkiong ada perempuan yang begitu cabul.

"Satu orang berakal pendek, dua orang berakal panjang!"

Siau Cu menambahkan kalimat ini.

"Kau tahu aku orang yang berakal pendek, itu sudah cukup!"

Lam-touw segera berdiri, kemudian dia membereskan baju. Melihat gerakannya, Siau Cu tahu Lam-touw akan pergi, pergi membereskan masalah yang tidak dimengerti olehnya. Maka dia segera berkata.

"Apakah tangan guru gatal lagi? Kalau mendapatkan keuntungan, jangan lupa bagian murid!"

"Bila aku dipukuli, aku tetap tidak akan lupa membaginya sebagian kepadamu!"

"Setidaknya beritahukan kau akan kernana, agar kita bisa saling memberikan perhatian!"

"Apakah agar kau bisa melapor ke kantor polisi?"

"Tecu hanya takut kalau guru tidak sanggup menghadapinya sendiri!"

"Bila tidak sanggup, aku akan kabur!"

Kata Lam-touw.

"dulu sebelum mempunyai murid sepertimu, guru selalu bebas berpergian ke mana pun. Sekarang malah seperti terikat!"

"Sejujurnya, guru mau ke mana?"

Siau Cu tidak tertawa lagi.

"Pokoknya bukan ke kolam naga atau sarang harimau, tapi yang penting begitu pergi tidak ada kebaikan!"

"Bila terlalu berbahaya, jangan pergi!"

Siau Cu sudah lama mengikuti Lam-touw, Dia sudah meli hat tempat Lam-touw tuju bukan tempat biasa.

"Muridku memang tidak berguna, hanya membesarkan ambisi musuh dan menjatuhkan kewibawaan sendiri!"

Lam-touw tertawa.

Sambil berjalan keluar, Holou merah dilemparkan lalu dijemput.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 66 Siau Cu tidak mengejar tapi dia tidak tenang.

Dia juga tahu Lam-touw tidak mau dia ikut, juga tidak mengijinkan dia diam-diam mengikuti di belakang.

Dengan keahlian dan pengalaman Lam-touw, semua tidak bisa membohongi dia.

Satu-satunya yang membuat Siau Cu tenang adalah berdasarkan pengalaman Lam-touw, bila dia kalah dari lawan dia akan kabur.

Kabur bagi dia adalah hal yang tidak sulit.

Lam-touw pasti mempunyai kepercayaan diri.

Kalau tidak, dia tidak akan ringan seperti itu.

27-27-27 Sesampainya di luar Ci-cu-wan, Lam-touw pelan-pelan menggeser tubuhnya, benar-benar seperti seekor kucing.

Kemudian dia sudah meloncat ke atas dinding pagar.

Setelah itu tubuh ditarik, dia masuk ke dalam kegelapan.

Pada waktu itu, ada seorang perempuan yang berbaju malam, perempuan itu keluar seperti burung walet yang terbang keluar dari hutan bambu, kemudian turun dari pagar tembok.

Setelah melihat ke sekeliling, dia berlari cepat.

Melihat perempuan ini, Lam-touw segera teringat Kiang Hong-sim.

Apalagi melihat perempuan ini mengendap-endap, dia semakin yakin.

"Bila seorang sedang mujur, jalannya benar-benar akan diatur dengan baik. Malam ini aku akan melihat ke mana kau mau pergi,"

Lam-touw senang, dan mengejar perempuan itu dari belakang. Begitu dia bergerak, Kiang Hong-sim segera keluar dari hutan bambu. Wajahnya tertawa, senang dalam hatinya.

"Malam ini benar-benar ramai, orang tua tunggulah, kau akan terima akibatnya."

Mana mungkin Kiang Hong-sim bisa melupakan waktu dia diperolok Lam-touw di kuil San-sian.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 67 Lam-touw tidak menyangka Kiang Hong-sim mengikuti dia dari belakang, juga tidak melihat bahwa orang yang dia ikuti sebenarnya adalah Tiong Bok-lan.

Ternyata setelah berpikir lama, akhirnya Tiong Bok-lan mengambil keputusan untuk menemui Siau Sam Kongcu, supaya dia bisa menjelaskan dan Siau Sam Kongcu bisa mengerti keputusannya.

Dia sudah sangat hati-hati.

Di sepanjang jalan dia selalu menoleh ke belakang.

Lam-touw adalah orang berpengalaman di dunia persilatan.

Dia menjaga jarak dengan sangat tepat, sehingga setiap kali bisa menghindar dari pandangan Tiong Bok-lan.

Dengan jarak yang dijaga Lam-touw, yang pasti dia tidak bisa membedakan wajah Tiong Bok-lan.

Yang penting Lam-touw yakin perempuan itu adalah Kiang Hong-sim.

Dia sama sekali tidak bisa membedakan.

28-28-28 Tempat yang bernama Toan-cang-poh bukan tempat yang bagus.

Pada pagi hari tempat ini sudah membuat orang tidak nyaman.

Apalagi pemandangan di malam hari, lebih menyedihkan.

Tempat ini bukan tempat yang senang didatangi orang pada umumnya.

Namun Siau Sam Kongcu sangat suka tempat ini, karena pemandangannya, juga karena namanya Toan-cang-poh (Tanjakan kesedihan yang menghancurkan hati).

Setelah mengetahui Tiong Bok-lan menikah dan masuk ke keluarga Lamkiong, dia mematahkan pedangnya.

Dan dia mengaku jika Toan-cang-kiam-kek tidak berada di Toan-cang-poh, ke-mana dia harus pergi?

Untunglah Toan-cang-poh tidak jauh dari rumah Ling-ong di ibukota, maka memungkinkan bagi Toan-cang-kiam-kek ini untuk pulang-pergi ke sana.

Orang ini memang mempunyai perasaan yang mendalam, boleh dikatakan dalamnya sampai tahap yang berlebihan.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 68 Jika hubungan mereka lancar, Tiong Bok-lan dan dia akan sangat bahagia, tapi keadaan mempermainkan orang.

Semua terjadi tidak sesuai keinginan mereka.

Setelah berubah seperti sekarang ini, kedua pihak merasa sedih.

Siau Sam Kongcu tidak bisa masuk ke Ci-cu-wan untuk bertemu dengan Tiong Bok-lan.

Kalau bisa masuk ke sana, kedua pihak akan lebih nyaman.

Setidaknya Tiong Bok-lan tidak akan kesal hati seperti sekarang ini.

Setelah menikah dan masuk keluarga Lamkiong, dia sudah siap seumur hidup di sana, hal yang lain tidak lagi dia pikirkan.

Siau Sam Kongcu tahu keadaan Tiong Bok-lan, tapi dia sudah dikendalikan oleh perasaannya.

29-29-29 Di langit tampak bulan.

Bulan yang dingin.

Siau Sam Kongcu seperti orang bodoh, berdiri bengong di Toan-cang-poh.

Dia melihat bulan sabit, bibirnya terus bergerak, tenggorokan terus berbunyi, entah apa yang dia bacakan.

Ketika Tiong Bok-lan datang ke hutan di pinggirnya, dia tetap tidak merasakannya.

Melihat Siau Sam Kongcu seperti ini, Tiong Bok-lan sangat sedih, dia bengong melihat Siau Sam Kongcu, akhirnya dia berjalan keluar dari hutan.

Akhirnya Siau Sam Kongcu merasakan kehadiran seseorang di sana.

Dia adalah seorang pesilat tangguh, telinga dan matanya lebih peka daripada orang biasa.

Begitu menoleh dan melihat orang itu adalah Tiong Bok-lan, mulutnya menganga seperti orang bodoh.

"Bok-lan!"

Akhirnya dia bisa memanggil, kata nya dengan senang.

"akhirnya kau datang bertemu denganku!"

"Sebenarnya aku tidak pantas datang! Sudah beberapa tahun..."

"Beberapa tahun pun aku pasti akan menunggu..."

Mata Siau Sam Kongcu seakan memancarkan cahaya yang panas.

"kita segeraLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 69 tinggalkan tempat ini. Ujung langit penjuru laut pasti ada tempat untuk kita tinggal!"

"Kali ini aku keluar dari keluarga Lamkiong hanya ingin menjelaskan kepadamu. Kita tidak mung kin menikah. Ini adalah pertemuan terakhir!"

Kata Tiong Bok-lan sangat tenang.

Siau Sam Kongcu seperti disambar petir, dia berdiri bengong.

30-30-30 Lam-touw bersembunyi di dalam hutan.

Dia sudah melihat jelas wajah Tiong Bok-lan juga mendengar apa yang mereka bicarakan, dan sadar dia salah sasaran.

'Mengapa aku bisa ceroboh seperti itu!' Dia marah kepada dirinya, 'kalian berdua berbicaralah terus, aku harus pergi!' Dia berbicara sendiri dalam hati dan mengayunkan tangan kepada Tiong Bok-lan dan Siau Sam Kongcu, dan segera membalikkan tubuh siap pergi.

Seketika itu terdengar angin keras datang.

Sebuah batu besar sudah dilemparkan ke arah Lam-touw.

Dengan cepat dia menghindar dan batu besar itu mengenai pohon di sisinya.

Sebenarnya dia bisa menjemput batu itu, tapi agar tidak mengejutkan Siau Sam Kongcu dan Tiong Bok-lan maka dia memilih untuk tidak menjemputnya.

Batu yang dilempar itu bergesekan dengan pohon-pohon sehingga menimbulkan suara yang lumayan keras.

Dengan pendengaran Siau Sam Kongcu, mana mungkin tidak terdengar olehnya!

Maka dia berusaha untuk tidak menjemput dan berlari ke arah datangnya batu.

Tapi Siau Sam Kongcu sudah membentak.

"Siapa?" 'Aku tahu siapa yang melempar batu, jelas-jelas dia ingin mencelakakan aku!' dalam hati Lam-touw menjawab. Terdengar suara baju tertiup angin. Lam-touw sadar dia tidak sempat lagi mencari orang yang melempar batu, maka dia segera masuk ke semak-semak dan siap kabur.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 70 Dia bukan takut kepada Siau Sam Kongcu, melainkan hanya khawatir repot. Tubuhnya bergerak-gerak, dia sudah keluar dari semak-semak dan siap turun dari tanjakan. Tapi Siau Sam Kongcu sudah seperti seekor burung elang turun mencegatnya.

"Berhenti!"

Siau Sam Kongcu bergerak. Timbul angin keras.

"Ampun tuan!"

Dua tangan Lam-touw terus bergoyang.

"hamba hanya merasa aneh dan bukan sengaja..."

"Sebenarnya siapa yang menyuruhmu datang mengawasi kami?"

Sebenarnya dalam hati Siau Sam Kongcu yakin bahwa Lam-touw adalah orang keluarga Lamkiong.

Jika dia kembali dan menyebarkan kabar ini, Tiong Bok-lan akan terganggu, dalam kecemasannya, muncul hawa membunuh.

"Hamba hanyalah seorang rakyat kecil dan kebetulan lewat sini!"

"Rakyat kecil bisa mempunyai ilmu meringan kan tubuh yang begitu hebat? Cepat katakan siapa kau!"

"Hatimu sudah tertutup oleh cinta, mengapa tidak bisa melihat..."

Sebelum Lam-touw menyelesaikan kata-katanya, pedang yang sudah putus dikeluar kan Siau Sam Kongcu dari sarung, dia siap menyerang.

Lam-touw menarik nafas.

Dia bersalto tiga kali.

Dengan Holou yang besar berwarna merah, dia menahan 7 kali serangan pedang Siau Sam Kongcu.

"Tuan benar-benar mempunyai ilmu yang bagus!"

Yang pasti Lam-touw melihat Siau Sam Kong cu siap membunuhnya. Dia seperti sengaja juga seper ti tidak sengaja menggigil, dia mulai siap kabur lagi.

"Ingin kabur, tidak semudah itu!"

Hawa pedang Siau Sam Kongcu bertambah kental.

"Benar-benar tidak ada alasan, aku benar-benar dipersalahkan! Mengapa kau orang yang tidak punya akal!"

"Katakan siapa yang menyuruhmu kemari?"

Tanya Siau Sam Kongcu.

"apakah Lo-taikun?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 71 Lam-touw menarik nafas panjang.

31-31-31 Waktu Siau Sam Kongcu mulai bergerak, tubuh Tiong Bok-lan juga bergerak.

Walaupun dia bimbang tapi dia tidak terpikir akan kabur.

Dia berhenti di pinggir hutan dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Bok-lan!"

Kiang Hong-sim muncul di belakangnya.

"Kau?"

Tiong Bok-lan menoleh, wajahnya jadi pucat.

Di dalam hatinya Kiang Hong-sim adalah orang yang galak dan banyak mulut.

Bila hal ini dia tahu, dia pasti akan memberitahukan kepada Lo-taikun.

Akibatnya akan fatal.

"Cepat pergi dari sini!"

Kata Kiang Hong-sim.

"Pergi?"

Reaksi Tiong Bok-lan terlihat lamban.

"Bila ada orang lain melihat kau janjian dengan Siau Sam Kongcu, apa yang akan mereka katakan? .Keluarga Lamkiong akan tercoreng!"

"Kau..."

Tiong Bok-lan merasa aneh.

"Kita sama-sama perempuan dan dalam satu keluarga, masa aku tidak mau menolongmu?"

Kiang Hong-sim menarik tangan Bok-lan.

"Sebenarnya aku datang bertemu dia untuk yang terakhir kali..."

"Tapi orang lain belum tentu berpikir seperti itu, cepat kita pergi!"

"Tapi mereka..."

Kata Tiong Bok-lan.

"Tenang, tidak ak'an terjadi apa-apa!"

Kiang Hong-sim menarik Tiong Bok-lan.

"Siapa orang itu?"

"Seorang tua yang ingin tahu masalah orang lain dan suka membuka rahasia orang lain!"

Kiang Hong-sim berkata dengan marah.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 72 32-32-32 Pedang Siau Sam Kongcu melayang lagi, sinar pedang berkilauan.

Pasir dan tanah beterbangan karena terbawa oleh angin kibasan pedang.

Lam-touw seperti ingin bertahan, tapi tubuhnya bergerak.

Dia malah meloncat ke bawah sebuah pohon.

Punggung menempel ke batang pohon, dia seperti seekor cecak terus naik ke atas.

Siau Sam Kongcu mengejar ke bawah pohon.

Waktu dia mau naik ke atas pohon, tiba-tiba Lam-touw berkata.

"Temanmu sudah ditangkap oleh orang lain!"

"Apa?"

Kata Siau Sam Kongcu sambil melihat ke arah yang ditunjuk Lam-touw. Terlihat bayangan pohon yang ditiup angin terus bergoyangan. Lam-touw tertawa, katanya.

"Aku kebetulan bertemu dengan kalian. Jika kau tidak percaya, aku juga tidak bisa apa-apa!"

Tubuhnya meloncat ke pohon yang lain lagi. Siau Sam Kongcu tetap kembali ke hutan dan terus memanggil.

"Bok-lan!"

Beberapa kali memanggil tidak ada yang menjawab, dia kembali ke tempat mereka bertemu tadi, Tiong Bok-lan sudah tidak ada.

Siau Sam Kongcu dengan kesal terduduk ke bawah.

Hatinya benar-benar sedih.

Tiba-tiba dia teringat Holou besar itu.

Betul, dia adalah orang tua yang menjual teknik sulap di Sin-sa-hai, mana mungkin orang ini ada kaitan dengan keluarga Lamkiong?

Apakali dia kebetulan bertemu dengan mereka?

Dia segera merasa curiga dengan kata-kata Lam-touw.

Bila Tiong Bok-lan tidak mau pulang ke keluarga Lamkiong, dengan ilmu silatnya bukanlah hal yang mudah bagi orang yang ingin membawanya pergi.

Apakali ini pertemuan mereka yang terakhir?Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 73 Dia melihat sekeliling.

Matanya menunjukkan kesedihan karena tidak bisa berbuat apapun.

33-33-33 Sesampainya di dinding pagar Ci-cu-wan, Tiong Bok-lan dan Kiang Hong-sim baru berhenti.

Melihat di belakang mereka tidak ada orang yang mengejar, Tiong Bok-lan baru merasa agak tenang.

Kiang Hong-sim melihat dia, lalu menggeleng kan kepala.

"Untung dia tidak datang mengejar kemari!"

Kata Tiong Bok-lan.

"Siapa yang tidak datang mengejar?"

Satu suara yang keluar dari semak bambu. Tiong Bok-lan terkejut, Kiang Hong-sim juga.

"Siapa?"

Bentak Kiang Hong-sim. Orang yang berbicara keluar dari kegelapan, ternyata adalah Tiong Toa-sianseng, Hal ini membuat Tiong Bok-lan terkejut. Dia memanggil.

"Ayah!"

"Mengapa Tiong-cianpwee berada di sini?"

Tanya Kiang Hong-sim.

"Sebenarnya aku ingin masuk ke Ci-cu-wan untuk mencari Bok-lan. Dari jauh aku melihat kalian datang!"

Kata Tiong Toa-sianseng.

"Ada perlu apa ayah mencariku?"

"Tidak ada apa-apa, hanya datang menengok. Ada apa dengan kalian?"

Tiong Bok-lan tidak tahu harus menjawab apa. Kiang Hong-sim segera berkata.

"Kami hanya berjalan-jalan..."

"Memakai baju malam, berjalan-jalan kema-na?"

Tiong Bok-lan dan Kiang Hong-sim saling melihat. Kiang Hong-sim segera berkata.

"Tiong-cianpwee bukan orang lain, bagaimana kalau kita terus terang saja?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 74 Wajah Tiong Bok-lan berubah. Kata Kiang Hong-sim kemudian.

"Kita keluar malam, sebenarnya ada tugas!"

"Tugas apa?"

Tanya Tiong Toa-sianseng.

"Memeriksa seorang tua yang misterius!"

Reaksi Kiang Hong-sim sangat cepat, mulutnya juga berbakat.

"di luar, orang tua itu itu menjual sulap dan meminta uang, tapi sebenarnya dia melakukan kejahatan, dia selalu melirik perempuan-perempuan!"

Setelah mengatakan itu, pipinya seperti memerah.

"Melirik perempuan untuk apa?"

"Dia melihat Bok-lan cantik, mana mungkin melepaskannya. Kita bukan lawannya, tapi untung kita berdua bisa berlari cepat!"

Kata Kiang Hong-sim.

Kiang Hong-sim pintar berbicara, dia terlihat seperti bukan berbohong.

Walaupun Tiong Toa-sianseng adalah orang dunia persilatan yang berpengalaman, tapi ini per-.tama kali dia menghadapi seorang perempuan yang berbohong.

Mendengar putrinya dilirik, hatinya mera sa tidak enak juga marah.

"Orang ini sungguh berani, siapakah dia.."

"Kami hanya tahu dia menjual sulap di Sin-sa-hai, tangannya memegang sebuah Holou besar. Bila ingin mencari dia tidak terlalu sulit!"

"Kalau ada kesempatan orang itu harus di beri pelajaran!"

"Kalau dia masih seperti itu pasti ada kesempatan!"

Tujuan Kiang Hong-sim sudah tercapai, dia segera ingin pergi. Dia berkata lagi.

"kalian berbica-ralah, aku masuk dulu!"

Dia terbang naik ke dinding pagar. Setelah Kiang Hong-sim pergi, Tiong Bok-lan bertanya.

"Ayah malam-malam mencariku, apakah ada perlu?"

"Hari ini Tiang-le Kuncu mencariku ke rumah An-lek-hou dan menceritakan keadaan Siau Sam."

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 75

"Apa?"

Wajah Tiong Bok-lan berubah lagi. Tiong Toa-sianseng menarik nafas.

"Ayah berpikir lama, akhirnya mengambil ke-putusan. Aku akan mencari kesempatan denganmu-untuk pergi menengok Siau Sam!"

"Tidak perlu lagi!"

Tiong Bok-lan membalikkan tubuh. Air matanya berlinang.

"Seumur hidup ayah tidak pernah berbuat hal yang membuat ayah merasa bersalah, hanya ini..."

"Aku sudah beberapa kali berkata, masalah ini sudah berlalu. Malam ini putrimu sudah lelah, lebih baik ayah juga pulang untuk beristirahat."

Tiong Toa-sianseng masih ragu.

Tiong Bok-lan sudah meloncat melewati dinding besar dan masuk ke Ci-cu-wan.

Pendengaran Lam-touw benar-benar peka.

Kepekaan adalah ilmu dan keahliannya.

Dia lebih peka daripada banyak pesilat tangguh.

Kalau pencuri-pencuri biasa ingin bertingkah di depannya, itu hanyalah mencari penghinaan sendiri.

Walaupun dia adalah seorang Pak-to (Perampok utara), dia selalu membanggakan tentang ini.

Karena itulah, keahlian ini menjadi malapetaka baginya, sampai-sampai dia sendiri juga merasa terkejut.

Maka dari itu dia tidak bisa menguasai diri dan masuk ke dalam perangkap ini.

Siau Cu sedang bermain sulap, sulap Pa-pui-ki-tan (telur ayam ada dimana).

Semenjak Lamkiong Bing-cu ingin belajar ilmu sulap Pa-pui-ki-tan ini, setiap hari dia selalu memainkan teknik ini beberapa kali.

Yang pasti bila sulap semakin aneh maka penon ton juga tidak bosan.

Tapi begitu Lam-touw melihatnya, dia menggeleng-gelengkan kepala.

Saat menggelengkan kepala, tiba-tiba dia melihat ada hal yang sangat menarik.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 76 Seorang gadis berbaju ungu seperti tidak sengaja menerobos ke depan, menabrak seorang ga-'dis berbaju mewah yang sedang menonton.

Siau Cu sedang bermain sulap telur.

Gadis berbaju mewah mempunyai seorang pembantu, yang sedang melihat sulap dengan penuh konsentrasi.

Yang pasti dia tidak akan mencegat aksi gadis berbaju ungu.

Gadis berbaju mewah segera berteriak terkejut.

Gadis berbaju ungu segera berkata.

"Maaf!"

Dia segera marah kepada seorang laki laki setengah baya yang berdiri di belakang.

"Kenapa kau terus mendesak-desak?"

Wajah laki-laki setengah baya itu terlihat bengong, dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.

Tapi Lam-touw tahu, dia melihat jelas gadis berbaju ungu menabrak gadis berbaju mewah, kemudian mengambil uang yang tersimpan di kantong uang gadis berbaju mewah.

Kemudian dia memasukkan ke lengan kanan baju.

Sewaktu dia memarahi laki-laki setengah baya, kantong yang dari lengan baju dimasukkan ke tali pinggangnya.

Gerakan dia sangat lincah, sampai Lam-touw juga harus mengaku orang ini mempunyai ilmu copet yang jarang dia lihat.

Karena ingin tahu, maka dia segera maju dan berkata kepada gadis berbaju ungu.

"Gadis kecil!"

"Ada apa?"

Gadis berbaju ungu terkejut.

"Aku ingin meminta barang yang bukan milik mu!"

Lam-touw tertawa, seperti bercanda seperti bersorot cabul.

"Kau jangan sembarangan bicara."

Wajah gadis berbaju ungu mulai berubah.

Sepasang matanya melotot besar.

Lam-touw tidak banyak bicara.

Satu tangan sudah memegang tali pinggang gadis berbaju ungu.

Gadis ini tidak bisa menghindar.

Kantong uang sudah berada di tangan Lam-touw.

Lam-touw mengikuti caranya melemparkan uang ke dalam lengan baju.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 77 Gadis berbaju ungu berteriak terkejut.

"Kau mau apa?"

Kantong uang itu segera muncul di tangan Lam-touw.

"Kau jangan kira aku sudah tua dan mata sudah buram!"

"Apakah kalau umur tua boleh memegang-megang seorang gadis?"

Sebagian penonton sudah datang, yang pasti Siau Cu sudah berhenti bermain sulap telur. Ketika dia datang, keadaan bertambah ramai.

"Betul, mengapa kau sudah tua masih memegang tangan gadis ini?"

Guru dan murid ini sudah terbiasa saling mengejek. Tapi kali ini Lam-touw tidak menjawab pertanyaan Siau Cu. Dia berkata kepada gadis berbaju ungu.

"Apakah kau tidak mencuri kantong uang .gadis itu?"

Tiba-tiba dia merasa ada yang aneh, tapi anehnya di mana?

Semakin melihat gadis berbaju ungu, semakin dia yakin gadis ini bukan pencuri biasa.

Sorot matanya terlalu tajam, berarti dia mempunyai ilmu tenaga dalam yang tinggi.

"Mana mungkin terjadi seperti itu!"

Gadis berbaju ungu segera membantah. Lam-touw bertanya kepada gadis berbaju mewah.' "Nona, apakah kantong uang ini milikmu?"

Gadis berbaju mewah dengan ketakutan meng gelengkan kepala. Pelayannya cepat maju.

"Nona kami selaki menyimpan uang di dalam lengan baju!"

Dia segera mengambil kantong uang dari lengan baju gadis berbaju mewah. Lam-touw segera sadar, dia sudah terjebak. Dia segera tertawa.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 78

"Kalau bukan milik dia, berarti milikmu!"

Dia melempar kembali kantong uang itu. Tapi setelah mengambil kantong uang, gadis berbaju ungu segera menangis. Kepala Lam-touw seperti berubah menjadi dua.

"Mengolok-olok gadis di siang bolong begitu, apakah ada hukum?"

Entah ada siapa yang berteriak di dalam kerumunan orang. Yang satu lagi berteriak.

"Tangkap dia dan serahkan ke polisi!"

Orang lain juga terus berteriak.

Seorang laki-laki maju mencengkram Lam-touw.

Lam-touw sampai setua itu, baru pertama kali bertemu hal seperti ini.

Dia kerepotan, dan menahan tangan laki-laki itu.

Mungkin karena terlalu berat, laki-laki itu terjatuh.

Yang lain melihatnya dan merasa marah.

Mereka segera datang mengepung.

Lam-touw sudah membuat kerumunan orang marah.

Sementara tidak bisa dijelaskan, dia terpaksa harus kabur.

Sangat mudah bagi dia untuk kabur.

Dia dengan Holou besarnya sudah berguling ke dalam kerumunan orang.

Banyak tangan yang ingin menang kap dia tapi tidak satupun yang bisa menceng-kramnya.

Dengan cepat dia sudah keluar dari kerumunan orang.

Kerumunan orang itu tidak mencari Siau Cu.

Siau Cu merasa sangat beruntung, dia menundukkan kepala membereskan barang.

Melihat telur sulap terinjak olehnya, dia menggelengkan kepala sambil tertawa kecut.

Kali ini dia membereskan peralatan sulap dengan teliti.

Di satu sisi dia berusaha menghindari sorot mata aneh dari orang-orang, di sisi lain dia berpikir, walaupun masih bisa menjual sulap di Sin-sa-hai tapi sudah tidak ada artinya lagi.

Mengenai keselamatan Lam-touw, dia malah tidak mengkhawatirkannya.

Dengan ilmu silat yang dimiliki Lam-touw, sangat mudah baginya untuk 'kabur.

Dia tidak tahu selain orang-orang ini, masih ada ketua Kun-lun-pai, Tiong Toa-sianseng!

Gadis berbaju ungu dan gadis berbaju mewah ternyata adalah satu kelompok.

Sandiwara ini sebenarnya sengaja dibuat untukLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 79 diperlihatkan pada Tiong Toa-sianseng.

Yang mengatur jebakan ini bukanlah orang lain melainkan Kiang Hong-sim.

Sekarang Kiang Hong-sim sedang bersembunyi menonton keramaian.

Melihat Tiong Toa-sianseng mengejar Lam-touw, Kiang Hong-sim langsung tertawa kejam.

Dia melakukan ini hanya untuk membalas dendam kepada Lam-touw atas kejadian malam itu ketika dia sudah diolok-olok.

Dia tahu Lam-touw memiliki ilmu silat tinggi.

Dia juga tahu ilmu Tiong Toa-sianseng juga tinggi.

Seorang Cianpwee perkumpulan pasti sangat tinggi ilmunya, kalau tidak itu malah aneh.

Dia tidak peduli dengan akibat yang akan terjadi.

Dia sudah senang dapat membuat Lam-touw malu.

34-34-34 Lam-touw sekaligus berlari masuk ke dalam sebuah hutan di daerah sana.

Dia baru menarik nafas lega, tapi tidak lama dua alisnya mulai berkerut lagi.

Dia adalah pesilat tangguh, walaupun tubuh Tiong Toa-sianseng sangat ringan dan mendarat tanpa bersuara, tapi begitu mendekat dia segera dapat merasakannya dan tahu yang datang adalah seorang pesilat tanguh.

Sewaktu dia membalikkan tubuh, Tiong Toa-sianseng sudah keluar dari semak-semak.

Dia berwajah dingin, sorot matanya seperti petir terus melihat Lam-touw.

"Siapa?"

Lam-touw masih bisa tertawa.

"Orang yang datang untuk menghajarmu!"

Kata Tiong Toa-sianseng, Sekali mendengar sudah tahu dia bukan bercanda. Tenaga dalam yang sangat kuat terpancar dari suaranya.

"Lo-heng, aku kira kau sudah salah paham!"

Kata Lam-touw. Tiba-tiba Lam-touw bertanya.

"ada hubungan apa dua gadis itu denganmu?"

Tiba-tiba dia merasa Tiong Toa-sianseng dan dua gadis itu adalah satu komplotan, tapi setelah berbicara dia berpikir ini tidak mungkin.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 80

"Tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka, tapi ada hubungannya dengan perempuan sebelum ini!"

"Kau dan dia satu komplotan?"

Lam-touw segera teringat Kiang Hong-sim.

Karena di dalam ingatannya, perempuan yang baru dia perolok hanya Kiang Hong-sim sendiri.

Mendengar kata-kata Lam-touw ini, Tiong Toa-sianseng mengira Lam-touw mengaku telah mengolok-olok Tiong Bok-lan, maka kedua alisnya segera terangkat.

Lam-touw segera bersalto keluar dan masuk ke dalam semak-semak.

Tiong Toa-sianseng langsung mengejar Lam-touw ke semak-semak.

Ketika Tiong Toa-sianseng mengejar Lam-touw, dia menyerang dengan kedua telapak tangan nya sehingga membentuk angin keras yang membelah semak-semak.

Tapi Lam-touw tidak ada di sana, yang tampak hanya sebuah ranting kayu.

Tiong Toa-sianseng berteriak.

"Tertipu lagi!"

Dia tertawa dingin, sepasang kakinya menginjak semak-semak terus mengejar.

Kali ini tubuhnya tidak bergerak cepat.

35-35-35 Dengan 7 cara Lam-touw keluar dari hutan itu.

Dia tahu dengan 7 cara ini Tiong Toa-sianseng akan bingung mengejar ke arah mana, bahkan mungkin bisa tersesat.

Tapi begitu tahu perhitungan dia tidak seperti Thian, Tiong Toa-sianseng sudah seperti seekor burung turun dari langit.

Dia terpaku.

Tiong Toa-sianseng melihatnya.

"Apakah kau masih ada cara lain? Keluarkanlah!"

"Tidak ada lagi! Ilmumu turun dari langit tadi, apa namanya?"

Tiong Toa-sianseng belum menjawab, dia sendiri sudah menjawab.

"Kalau tidak salah lihat, seharusnya Kun-lun-pai!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 81

"Kalau benar, ada apa?"

Tiong Toa-sianseng ter tawa dingin.

"Tidak banyak yang bisa berlatih sampai tahap ini, siapa nama tuan?"

"Marga Tiong!"

"Tiong Toa-sianseng!"

Teriak Lam-touw.

"Betul! Apakah kau menyerahkan diri untuk ikut aku kembali?"

"Katanya tuan mempunyai anak perempuan yang menikah masuk ke keluarga Lamkiong?"

Tiong Toa-sianseng mengangguk.

"Dialah gadis yang kau olok-olok semalam!"

"Semalam?"

Kata Lam-touw sambil menggelengkan kepala.

"apa yang terjadi?"

Berkata begitu, dia tiba-tiba teringat sesuatu.

Semalam dia salah mengejar orang.

Apakah orang yang diam-diam keluar dari keluarga Lamkiong semalam, dan bertemu dengan Siau Sam Kong-cu itu adalah putri Tiong Toa-sianseng?

Waktu itu, karena ada orang melempar batu maka Siau Sam Kongcu datang mengejar.

Orang itu •sangat mungkin, waktu dia bolak balik di luar keluarga Lamkiong, sudah tahu dia berada di sana, maka dia adalah orang keluarga Lamkiong.

Orang keluarga Lamkiong yang punya masalah dengan dia hanyalah Kiang Hong-sim.

Sekarang Lam-touw mulai mengerti.

"Perempuan yang lihai!"

Lam-touw menarik nafas. Dia berkata lagi.

"sekarang aku mengerti apa yang terjadi."

"Melihat ilmu silatmu, kau bukanlah orang yang tidak ada nama. Dengan ilmu silat dan kelakuanmu, seharusnya kau sudah sangat terkenal karena kejahatanmu. Kalau kau tidak mau bicara, kami akan menangkapmu ke kantor polisi. Di sana pasti akan lebih jelas!"

"Apa?"

Lam-touw ingin tertawa.

"Lo-heng, tentang hal ini aku sendiri tidak tahu harus mulai ber cerita dari mana!"

"Kalau mau bicara, bicaralah di kantor polisi!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 82

"Apakah kau serius?"

Mengucapkan kata-kata ini, Lam-touw seperti memberi gamparan kepada diri sendiri.

"pantas mati, sekarang masih berani omong kosong!"

"Kau mau jalan sendiri atau aku sendiri yang menyeretmu!"

"Lo-heng, masalah ini ada kesalah pahaman!"

"Semalam aku tidak ada di tempat, tapi hari ini aku melihat dengan mata kepala sendiri. Apakah masih salah?"

Tiong Toa-sianseng melayangkan tangan.

"Ayo, jalan!"

"Kau menyuruhku jalan!"

Dia berlari cepat.

Dia cepat, tapi Tiong Toa-sianseng lebih cepat.

Tiong Toa-sianseng sudah menghadang di depan Lam-touw.

Ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang dari Kun-lun-pai sangat bagus.

Tadi Lam-touw sudah melihat ilmu meringankan tubuh Tiong Toa-sianseng dan tahu dia tidak bisa kabur dari Tiong Toa-sianseng.

Tujuan dia berlari barusan tadi adalah memancing musuh.

Begitu Tiong Toa-sianseng men-dekat, dia segera membalikkan tubuh.

Holou besar segera membentur Tiong Toa-sianseng.

Tapi sebelah tangannya digerakkan melewati bawah Holou untuk menotok nadi di dada Tiong Toa-sianseng.

Tiong Toa-sianseng mundur tiga kaki, mengeluarkan pedang dari sarung.

Pedang menggores Holou yang besar berwarna merah.

Lam-touw sangat sayang kepada Holou-nya.

Ketika menarik kembali tangannya, Holou besar sudah berputar di belakang tubuhnya.

Dia mundur untuk menghindari serangan pedang.

Tapi pedang datang lagi menyerang ke alisnya.

Dia mundur lagi untuk menghindar.

Tiong Toa-sianseng terus mengejar, terlihat dia ingin memaksa Lam-touw menyerah.

Dengan posisinya sebagai seorang ketua perkumpulan, serta dengan ilmu silatnya yang hebat dan nama yang besar, tapi diaLegenda Pendekar Ulat Sutra -1 83 harus menggunakan senjata.

Jika lawan adalah orang yang tidak ada nama, itu akan benar-benar membuat orang sulit mempercayainya.

Paling sedikit dialah orang pertama yang tidak percaya.

Dia menggunakan pedang karena perlu mema kai pedang.

Ilmu pedang Kun-lun-pai lebih bagus daripada ilmu tendngan atau pukulan.

Kalau tidak menggunakan pedang, dia benar-benar tidak percaya dia bisa dengan tangan kosong menyambut Holou besar dari Lam-touw.

Lam-touw juga melihat maksud Tiong Toa-sianseng.

Die memperagakan jurus mabuk dengan baik.

Jurus mabuk terlihat lucu, tapi yang pasti dia bisa menghindar dari serangan Tiong Toa-sianseng.

Serangan pedang Tiong Toa-sianseng semakin cepat juga semakin aneh.

Dia sudah melihat itu adalah jurus mabuk.

Tidak terpikir olehnya di dunia persilatan masih ada orang yang bisa menguasai jurus mabuk dengan begitu bagus.

Semangat Tiong Toa-sianseng semakin tinggi.

Ilmu silat dia sudah sampai di tahap dimana dia sulit mencari lawan.

Kalaupun dia ingin benar-benar bertarung juga sulit baginya.

Orang berilmu silat rendah tidak akan berani bertarung dengan dia.

Orang yang taraf ilmu silatnya yang hampir sama dengannya kebanyakan adalah kawannya.

Biasa berlatih dengan kawan, yang jelas ada keuntungan bagi dua pihak.

Karena seperti berlatih seringkali sampai di tahap tertentu yang benar-benar tidak bisa berkata puas.

Dengan begitu hatinya terasa kembali menjadi muda.

Ilmu silat menjadi pelan.

Lam-touw melihat dia sama sekali tidak senang.

Dia bukan Su Ceng-cau.

Dengan pengalamannya dia bisa melihat tadi, walaupun jurus Tiong Toa-sianseng keras tapi hanya berubah bertambah cepat dan tetap banyak celah.

Asal dia melihat celah itu, dia pasti bisa menghindar.

Sekarang ilmu pedang kembali ke dasar.

Hawa pedang memenuhi tempat itu, terlihat seperti banyak celah tapi sebenarnya padat.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 84 Gerakan dia juga pelan, dia terus mengawasi ujung pedang Tiong Toa-sianseng.

Tiong Toa-sianseng sadar, Lam-touw harus mengawasi jurus pedang baru menghindar maka dia berteriak.

"Hati-hati!"

Jurus pedang dan nadanya sama-sama datar, Serangan demi serangan terus membanjir, Lam-touw menghindari gerakan pedang.

Jurus pertama masih bisa dilewati tapi jurus kedua terlihat tidak bisa dihindari.

Terpaksa Holou besar digunakan, tapi walau masih bisa menahan juga bisa mengacaukan serangan Tiong Toa-sianseng.

Holou besar ini pasti akan hancur oleh ujung pedang.

Tidak ragu-ragu lagi ini, dia juga mempunyai persiapan seperti itu tapi Holou yang sudah dikeluarkan separuh ditarik kembali.

Tubuhnya berguling ke bawah, seperti menghindar dengan tenaga terakhir.

Tapi ketika tubuhnya berguling ke bawah, pedang sudah berada di bawah tulang iganya.

Dan CES!

Darah mengucur.

Tubuh berhenti berguling.

Dia tertusuk.

Tiong Toa-sianseng segera menarik kembali pedang.

Dengan aneh dia melihat Lam-touw.

"Mengapa kau tidak menggunakan Holou untuk menahan pedangku?"

Lam-touw merangkak dari bawah, mulutnya mengeluarkan darah.

"Holou ini adalah pemberian ayahku. Ayahku sangat suka kepada Holou ini. Sebelum meninggal, dia berpesan agar aku menjaganya dengan baik..."

Nada suaranya sangat lemah. Sikapnya terlihat sangat dikasihani. Tiong Toa-sianseng berkata sendiri.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 85

"Sepertinya kau bukan orang yang terlalu jahat. Tadinya aku mengira kau masih bisa mencairkan jurus ini!"

Dari kata-kata Tiong Toa-sianseng, terdengar dia menyesali serangan tadi.

Karena dia mengira Lam-touw akan menggunakan Holou besar untuk menahan ujung pedangnya, dan bersiap setelah ini dia akan menggunakan jurus Thian-liong-pat-sut.

Tapi Lam-touw sama sekali tidak peduli ancamannya dan tidak rela Holou-nya rusak.

Itu benar-benar di luar dugaannya.

Holou yang sudah dikeluarkan malah ditarik kembali.

Waktu dia melihat hal itu, sekalipun mempunyai ilmu silat yang tinggi, tapi menarik kembali pedang dalam waktu sesingkat itu sama sekali tidak mungkin dilakukan.

Kalau Lam-touw bukan seorang pesilat tangguh, Tiong Toa-sianseng pasti akan mengeluarkan semua jurus pedang yang keras.

Dia akan ada perhitungan.

Dua pesilat tangguh bertarung, kalah atau menang seringkah sedikit yang didapatkan.

Sekarang ujung pedang sudah menusuk ke dalam tubuh Lam-touw.

Tapi Lam-touw masih bisa tertawa, tapi yang pasti tawanya sangat sedih.

"Bisa mati oleh pedangmu, aku benar-benar merasa bangga!"

"Kau..."

Tiong Toa-sianseng ingin mendekat melihat luka Lam-touw, tapi Lam-touw melarang. Lam-touw dengan terengah-engah berkata.

"Apakah ini sebuah kesalahpahaman, dan siapa aku, aku hanya berharap kau setuju dengan satu permintaanku!"

"Katakan!"

Tiong Toa-sianseng tidak ragu.

"Siau Cu yang sering menjual sulap bersama ku selalu mengira aku adalah ayahnya, tapi sebenarnya bukan. Sebenarnya dia adalah seorang bayi buangan. Tentang riwayatnya, di dadaku ada sepucuk surat yang ditulis oleh ibu kandungnya dengan .darah, Merepotkanmu untuk memberikan surat ini kepadanya agar dia tahu riwayat dirinya."

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 86

"Ini adalah masalah kecil!"

Lam-touw ingin mengambil surat yang ditulis darah itu, tapi baru mengulurkan tangannya, tubuhnya terhentak.

Kepalanya terjatuh ke belakang.

Matanya terpejam.

Gerakannya pun berhenti.

Tiong Toa-sianseng memasukkan kembali pedang ke sarungnya.

Dia menarik nafas.

"Seharusnya aku menyisakan sedikit jarak pedangku tapi tenanglah» suratmu akan kusampaikan ke tangan Siau Cu!"

Dia maju ke depan dan mengulurkan tangan mengambil surat itu.

Tiba-tiba Lam-touw membuka kedua matanya.

Dua tangan dan kaki sudah bergerak.

Tiong Toa-sianseng sadar dia terjebak dan berteriak.

Nadi di tangan sudah ditotok, kedua lutut juga ditendang oleh Lam-touw dan mengenai jalan darahnya.

Dia merasa lemas.

Tapi tenaga dalam Tiong Toa-sianseng sangat tinggi, Begitu tenaga dalam mengalir di tubuh, dua tangan sudah bisa bergerak lagi, dan dengan tenaga pinggangnya dia sudah terbang keluar.

Lam-touw sambil berteriak, segera kabur.

Tubuh Tiong Toa-sianseng sudah mendarat; tapi dua kaki masih terhuyung-huyung.

Tenaga dalamnya segera dikerahkan ke tangan kanan.

Terdengar suara tiga kali, jalan darah yang ditotok sudah terbuka.

Dia segera mencabut pedangnya.

Dengan gagang pedang membuka dalan darah di tangan kiri yang tertotok.

Waktu dia melihat, Lam-touw sudah menghilang di dalam semak-semak.

"Kurang ajar, kalau bertemu lagi kau pasti kusiksa!"

Tiong Toa-sianseng tidak mengejar karena ke dua kakinya masih lemas.

Yang pasti dia sulit mengerahkan ilmu meringankan tubuh, jadi mana mungkin mengejar Lam-touw.

Kemudian dia memperhatikan dua kantong Lam-touw yang tertinggal.

Ada darah keluar dari kantong itu.

Dia segera mengerti.

Pedang dia tadi sudah menusuk di kantong besar.

Sedangkan darah yang dimuntahkan Lam-touw sebenarnya adalah kantong kecil yang tersimpan di dalam mulut.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 87 Yang pasti itu bukan darah.

Tiong Toa-sianseng tidak perlu menciumnya, dia sudah tahu itu adalah obat merah.

Dia adalah orang berpengalaman di dunia persilatan tapi tetap tertipu, maka dia tertawa kecut.

Terhadap Lam-touw, dia semakin tertarik.

36-36-36 Lam-touw kembali ke penginapan.

Dia tidak masuk melalui pintu, melainkan dari gang kecil lalu naik ke pagar dan masuk melewati jendela.

Siau Cu sedang berbaring di ranjang dengan malas-malasan.

Matanya melihat ke atas atap, entah apa yang sedang dia pikirkan.

Mendengar ada suara, dia segera tahu gurunya sudah kembali.

Dia tetap tidak mempedulikan.

Waktu Lam-touw menabrak meja dan bernafas terengah-engah, dia baru tahu ada yang tidak beres.

Melihat keadaan Lam-touw yang memalukan, dia cepat meloncat dari ranjang dan memapahnya.

Lam-touw segera berteriak.

"Apakah kau sengaja ingin mencabut nyawa guru, begitu datang langsung mengenai luka guru?"

"Luka?"

Siau Cu segera melepaskan tangannya, dia baru melibat ketiak kanan Lam-touw, baju sudah tergores dan ada luka di sdna.

"Senjata apa yang membuat guru terluka?"

"Pedang!"

"Untung lukanya tidak begitu dalam!"

"Sudah cukup dalam, jika lebih dalam sedikit lagi kau tinggal menerima mayat!"

Lam-touw melotot kepada Siau Cu. Dia segera duduk bersila untuk mengatur nafas.

"Apakah orang yang menggunakan pedang mempunyai tenaga dalam tinggi?"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 88

"Tiong Toa-sianseng dari Kun-lun-pai, coba kau bayangkan tenaga dalamnya seperti apa."

"Apakah guru ingin jadi pesilat nomor satu di dunia ini, maka menantang ketua Kun-lun-pai?"

"Sembarangan bicara, kau masih mengejek?"

"Sebenarnya demi apa?"

"Masalah hari ini!"

"Tiong Toa-sianseng mencurigai guru adalah orang seperti itu?"

Kata Siau Cu tertawa.

"Kau masih bisa tertawa, kau kira Tiong Toa-sianseng hanya kebetulan lewat? Apakah kau tidak melihat itu adalah jebakan?"

"Siapa yang mengatur jebakan ini? Kita tidak mempunyai musuh? Apakah musuh guru yang dulu datang menagih hutang lama?"

"Apakah betul beberapa hari ini kita tidak ada dendam dengan orang lain?"

"Perempuan itu!"

Siau Cu segera ingat.

"Kau yang mendatangkan kerepotan ini. Mem punyai murid sepertimu benar-benar siai 8 generasi! Coba lihat apakah kelak kau masih sembarangan mencari gara-gara?"

Siau Cu tertawa kecut.

"Aku tidak tahu akan mendatangkan seorang ketua Kun-lun-pai!"

"Sebenarnya ketua Kun-lun-pai bukan datang sendiri!"

Kata Lam-touw marah.

"tetapi gara-gara perempuan lihai itu!"

"Semalam guru kabur..."

"Guru terlalu mengurus masalah orang lain. Mengapa keluarga Lamkiong bisa seperti itu, benar-.benar sewenang-wenang!"

"Semalam guru pergi ke keluarga Lamkiong?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 89

"Keluarga ini benar-benar tidak sederhana, sampai-sampai ketua Kun-lun-pai bisa menjadi tukang pukul mereka!"

Lam-touw mengerutkan alis.

"Sekarang guru menyesal?"

Siau Cu masih bisa tertawa.

"Menyesal juga tidak sempat lagi!"

Kata Lam-touw tertawa dingin.

"kau masih tertawa? Guru sudah mendatangkan kerepotan, kau yang menjadi murid juga tidak bisa nyaman!"

"Guru boleh tenang, muridmu pasti akan menolongmu dan tidak akan membiarkanmu!"

Siau Cu menepuk pundak Lam-touw.

Tepukan ini menggetarkan luka, Lam-touw segera kesakitan dan mengerutkan alis, hampir dia berteriak.

Siau Cu melihat dia tidak berpura-pura, Lam-touw melihat ke sekeliling.

"Tempat ini sepertinya tidak aman lagi."

"Kata-kata ini seperti bukan kata-kata guru. Biasanya guru tidak pernah takut kepada siapapun!"

"Tubuh terluka mana mungkin tidak takut. Apalagi orang yang mau mencariku untuk balas dendam sangat banyak!"

Kata Lam-touw sambil tertawa dingin.

"guru sering mengajar, aku, laki-laki sejati juga mencari kerugian di depan mata!"

"Sekarang aku tahu guru adalah seorang laki-laki sejati!"

Tangan Lam-touw melayang. Holou besar sudah ditumbukan. Siau Cu menghindar dan berkata.

"Kita jangan menunggu lagi, secepatnya kita tinggalkan tempat ini!"

Lam-touw belum menjawab, sudah ada yang mengetuk pintu. Siau Cu segera bertanya.

"Siapa?"

"Siau Sam-cu!"

Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 90 Siau Cu menarik nafas lega. Siau Sam-cu adalah pelayan penginapan, Siau Cu sering mengobrol dengannya. Pintu dibuka. Kata Siau Sam-cu serius.

"Siau Cu, ada seorang gadis kecil mencarimu!"

"Oh?"

Dengan heran Siau Cu melihat Siau Sam-cu, tapi dia tidak melihat Siau Sam-cu sedang bergurau.

"Gadis kecil itu sangat cantik!"

Siau Sam-cu menepuk dada Siau Cu.

"ternyata kau hebat juga."

"Cepat lihat siapa dia."

Kata Lam-touw. Siau Cu belum menjawab, Lam-touw berkata lagi.

"Hati-hati, jangan buat guru menerima pukulan lagi!"

Tiba-tiba Siau Cu ingat akan seseorang.

Dia segera keluar dan menutup pintu kembali, lalu berlari pergi.

Yang terpikir oleh Siau Cu adalah Lamkiong Bing-cu.

Dan benar saja yang datang adalah Lamkiong Bing-cu.

Siau Cu tidak menduga kedatangan Lamkiong Bing-cu, maka dia sangat senang.

"Ternyata kau!"

Suara Siau Cu ber-getar.

"Kau kira siapa?"

Lamkiong Bing-cu balik ber tanya.

"Tidak ada yang lain. Bagaimana kau bisa kemari?"

"Aku bukan orang bisu!"

"Kau masih mau belajar sulap? Malam itu mengapa kau tidak datang ke kuil San-sian?"

"Sangat tidak baik bagi seorang gadis untuk diam-diam keluar pada malam hari, apalagi pergi ke kuil San-sian!"

"Betul juga! Kuanggap kau adalah orang dunia persilatan!"

"Bukankah keluarga Lamkiong juga orang dunia persilatan?"

Siau Cu terpaku. Bing-cu menceritakan apa yang terjadi kemarin ini.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 91

"Waktu kami melihat kau bermain sulap, saat itu kita sedang keluar dengan diam-diam. Maka setelah pulang dan ketahuan oleh Lo-taikun, kami dimarahi!"

"Sebenarnya Lo-taikun yang tidak mengijin-kan keluar?"

"Tapi bukan karena ingin belajar sulap!"

Bing-cu mengangguk. Siau Cu bertanya lagi.

"Kali ini kau juga diam-diam keluar, sebenarnya ada apa?"

"Sebenarnya aku datang untuk memberi tahu mu sesuatu!"

"Tentang apa?"

"Jika kau menganggap aku adalah teman, berjanjilah kepadaku!"

Kata Bing-cu.

"Kau menganggap aku teman?"

Siau Cu sangat senang dan berteriak.

"kau ingin aku berjanji apa?"

"Untuk meninggalkan gurumu!"

"Apa? Dan mengapa?"

Tanya Siau Cu heran.

"Dia bukan orang baik-baik!"

Siau Cu terpaku lagi. Wajah Bing-cu memerah.

"Kata bibi kedua, dia suka mempermainkan perempuan baik-baik, sampai-sampai bibi kelima juga... katanya mereka ingin mencari Tiong Toa-sianseng untuk membereskan masalah ini dan akan menghajarnya!"

"Sudah dihajar!"

Kata Siau Cu tertawa.

"Kau tertawa apa?"

Bing-cu melotot.

"Jika kau berkata guruku suka minum arak atau yang lain, aku setuju. Tapi jika mengolok-olok perempuan baik-baik, Hahaha...itu tidak mungkin!"

"Oh?"

Bing-cu merasa aneh mengapa Siau Cu begitu yakin.

"Seorang murid pasti mengerti adat gurunya!"

Lam-touw keluar dari kamar.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 92 Melihat Lam-touw keluar, Bing-cu mundur. Lam-touw maju selangkah dan menarik nafas.

"Gadis kecil, kau lihatlah umurku sudah tua, apakah masih melakukan hal iseng?"

"Siapa tahu?"

Bing-cu tertawa dingin.

"Kalau aku adalah orang seperti itu, apakah akan mempunyai murid yang pantas kau percayai?"

Bing-cu terpaku. Lam-touw tertawa, berkata.

"Apalagi kalau kami guru dan murid melakukan hal ini, bagaimana kita berdua bisa berlalu lalang menjual sulap?"

"Kami sudah lama tinggal di ibukota!"

Kata Siau Cu. Bing-cu melihat Lam-touw, lalu melihat Siau Cu, dan terdiam.

"Benar atau salah, pasti akan ketahuan. Aku sudah tua. Tadinya aku tidak peduli orang lain salah paham, tapi kesalahpahaman ini membuatku tidak nyaman. Dan di dalam kehidupan, aku paling tidak suka terhadap orang seperti ini!"

Kata Lam-touw "Menjadi murid orang seperti ini adalah hal yang menyenangkan!"

Sorot mata Siau Cu mengarah ke wajah Bing-cu.

"Guruku benar-benar bukan orang yang seper ti kau katakan. Sebenarnya dia dijebak orang lain!"

"Siapa yang menjebak dia?"

"Sementara belum begitu jelas, tapi kau harus percaya kepada kami!"

Akhirnya Bing-cu mengangguk.

"Guru sekarang terluka dan tempat ini tidak bisa kami tempati lagi. Kami segera akan keluar dari sini. Bila sudah mendapatkan tem-pat tinggal, aku akan mencari kesempatan untuk memberitahu pada mu!"

Kata Siau Cu.Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 93 Dari noda di baju Lam-touw, Bing-cu tahu dia terluka.

Dia tidak tahu itu adalah obat merah.

Sekarang semakin dilihat, Lam-touw semakin tidak mirip orang jahat.

Maka dia berkata.

"Gurumu sudah terluka, seharusnya mencari tabib dulu..."

"Jika guruku sendiri tidak bisa mengobati diri nya, maka tidak ada tabib yang bisa mengobatinya. Kau keluar diam-diam, sekarang kau harus pulang dulu..."

"Ingat, bila kalian pindah ke tempat lain, kau harus beritahu tempat itu kepadaku!"

Kata Bing-cu dengan serius.

"Pasti!"

Siau Cu juga serius.

"Kalau begitu aku pergi dulu! "Tidak disangka ada juga perempuan yang • menyukai muridku!"

Lam-touw tertawa. Kali ini Siau Cu tidak menjawab. Boleh dikatakan dia sama sekali tidak ada reaksi. Dia hanya melihat arah Bing-cu pergi.

"Kalau sekarang kita tidak pergi, mau tunggu kapan lagi."

Bentak Lam-touw Siau Cu seperti tersadar bangun dari tidur.

Dia tertawa malu.

*** Malam ini tidak berbintang dan bulan juga tidak tampak di langit, maka di jalan yang panjang ini tiba-tiba menyala lebih dari 20 lampion hijau yang terang benderang.

Siau Cu dan Lam-touw merasakan mata mereka bercahaya.

Yang memegang lampion adalah perempuan-perempuan yang memakai baju ketat dan berwajah dingin seperti es.

Mereka sudah menghalangi jalan Lam-touw dan Siau Cu.

"Ceng-teng-sat-jiu!"

Kata Lam-touw. (Pembunuh lampion hijau) "Apa yang guru maksud Ceng-teng-sat-jiu?"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 94

"Bila bisa hidup melewati malam ini, baru aku ceritakan kepadamu!"

Lam-touw mengangkat Holou dan minum beberapa teguk arak.

Pembunuh-pembunuh lampion hijau segera mencabut pedang dan menyerang.

Pedang mereka semua berbentuk seperti daun Yang-liu, panjang dan tajam.

Begitu angin datang, pedang terus bergerak dan mengeluarkan suara.

Lam-touw melihat.

Dia berpesan lagi.

"Terhadap orang-orang ini, jangan ada perasaan dan harus menyerang dengan keras!"

Kata-katanya baru disampaikan, pembunuh-pembunuh lampion hijau sudah datang mengepung.

Mereka menyerang ke tempat-tempat penting.

Siau Cu berlari menghadang di depan Lam-touw, mengeluarkan kepalannya.

Baru saja memukul mundur dua pembunuh, dia sudah dikepung lagi oleh pembunuh lampion hijau yang lain.

Pembunuh-pembunuh itu memisahkan Siau Cu dan Lam-touw, dan menyerang lebih keras.

Walaupun perempuan tapi mereka menyerang dengan bengis, tidak kalah dengan perampok-perampok dan pembunuh-pembunuh.

Mereka sama sekali tidak takut mati.

Asal mereka ada sedikit tenaga, mereka selalu ingin menyerang lawan.

Awalnya Siau Cu masih menyerang dengan ragu-ragu dan tidak keras, tapi dia malah hampir terluka oleh tusukan pedang.

Untung dia bisa meng-'hindar dengan cepat.

Maka sekarang dia menyerang tanpa ragu-ragu lagi.

Terdengar kepalannya sudah mengenai jalan darah penting mereka.

Lam-touw lebih parah dari pada Siau Cu, sekali bergerak lukanya terasa sakit.

Sakit yang terasa sampai ke tulang menghalangi kelincahan tubuhnya, tapi dia masih harus mengawasi Siau Cu.

Dia berteriak.

"Bila kau tidak mendengarkan kata-kata guru, kau akan menyesal!"Legenda Pendekar Ulat Sutra -1 95

"Mana mungkin . murid tidak mendengar petunjuk dari guru!"

Di tengah-tengah udara, Siau Cu bersalto menghindari serangan dari Liu-yap-kiam.

Pada saat yang bersamaan dia juga menendang ke tenggorokan pembunuh lampion hijau.

Terdengar bunyi tulang hancur.

Pembunuh lampion terlempar.

Lam-touw melihatnya, dia berteriak.

"Bagus!"

Ketika mengucapkan kata-kata ini, dia merasa kan ada hawa pedang yang dingin datang dari belakang.

Dia berusaha menghindar.

Kalau saja dia tidak sedang terluka, serangan ini akan mudah dihindari.

Tapi karena dia sudah terluka, maka tubuh' tidak selincah biasanya, sehingga punggung tetap tergores oleh pedang yang mirip daun Yang-liu.

Dari hawa pedang, dia tahu yang datang adalah musuh tangguh.

Dia tahu orang yang bisa mengambil celah untuk menyerang adalah pesilat yang tangguh, sehingga membuat dia tidak bisa menghindari serangan pedangnya.

Waktu dia membalikkan tubuh, dia sudah melihat orang yang menyerangnya.

Perempuan ini juga memakai baju hijau ketat tapi bahan bajunya berbeda dengan yang lain.

Pedang yang dia pakai juga lebih bagus dan berkualitas lebih baik.

Dia cantik tapi sepasang matanya seperti mata ular beracun, membuat orang bergetar.

Baca Juga: Raja Silat 2

Baca Juga: Kesatria Baju Putih 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert